Welcome to topmdi - ebook collection
Jilid 01 MATAHARI sudah menjadi semakin
tinggi. Sinarnya menusuk celah-celah dedaunan di pepohonan, membuat
lukisan yang cerah di atas tanah yang lembab. Sekali lagi Buntal
berpaling. Dipandanginya sebuah rumah tua yang kecil, dan apalagi
mir ing. Rumah yang untuk beberapa bulan didiaminya bersama paman
dan bibinya. Anak itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah memutuskan
untuk meninggalkan rumah itu. Sejak ia menjadi yatim piatu, ia
tinggal bersama paman dan bibinya. Tetapi paman dan bibinya ternyata
mengalami banyak kesulitan. Untuk memberi makan dan pakaian
saudara-saudara sepupunya, anak paman dan bibinya itu sendiri,
mereka telah mengalami kekurangan. Apalagi ia berada di rumah itu
pula. Karena itu sekali lagi ia membulatkan niatnya. Meninggalkan
rumah itu. Pagi itu, selagi paman dan bibinya pergi ke ladangnya
yang hanya secuwil kecil, dan saudara-saudara sepupunya bermain-
main di kebun belakang, Buntal memutuskan untuk berangkat tanpa
membawa bekal apapun.Kadang-kadang ia menjadi ragu-ragu juga, akan
kemana saja ia membawa langkahnya. Tetapi iapun kemudian menengadah
ke langit, dan tanpa disadarinya ia berdoa semoga Tuhan Yang Maha
Pengasih dan Maha Penyayang, yang menurut ayahnya yang telah
meninggal, agar menuntun langkahnya. Buntalpun kemudian berjalan
cepat-cepat agar ia segera menjadi semakin jauh. Meskipun paman dan
bibinya miskin, tetapi kepergiannya pasti tidak akan mereka
kehendaki. Karena itu, maka iapun telah meninggalkan keluarga miskin
itu tanpa pamit. “Keadaan menjadi semakin buruk” desis Buntal di
dalam hati. Ia tidak mengerti, perubahan apakah yang telah terjadi
dalam tata pemerintahan. Namun terasa baginya, dan bahkan bagi
anak-anak yang lebih kecil dari dirinya, bahwa sesuatu telah
terjadi. Langkahnya semakin lama membawanya semakin jauh dari rumah
paman dan bibinya. Ketika matahari berada dipuncak langit ia mulai
membayangkan, bahwa paman dan bibinya pada saat-saat yang demikian
itu kembali sejenak dari sawah untuk beristirahat. Apabila kebetulan
ada, mereka sekedar makan seadanya bersama-sama dengan anak-anak
mereka. “Paman dan bibi ttentu mencar i aku” desisnya. Tetapi Buntal
berjalan terus. Ia mencoba untuk meneguhkan hatinya, agar ia tidak
menjadi ragu-ragu atau bahkan melangkah kembali ke rumah itu, rumah
paman dan bibinya yang miskin. Namun ketika matahari menjadi condong
ke Barat, terasalah sesuatu di perutnya. Lapar. Buntal mulai menjadi
gelisah. Sebelumnya ia t idak memikirkan, bagaimana ia mendapatkan
makan di sepanjang perjalanannya. Dan kini baru ia sadar, bahwa ia
menjadi sangat lapar.Memang kadang-kadang sehari penuh ia tidak
makan nasi di rumah paman dan bibinya yang miskin. Tetapi ada saja
yang dapat diambilnya dari kebun, untuk sekedar mengisi perutnya.
Kadang-kadang pohung, kadang-kadang nyidra atau garut atau apapun
juga. Tetapi di perjalanan ini, ia tidak dapat menemukan apapun
juga. Keragu-raguan di hati Buntal mulai melonjak. Kadang- kadang
timbul pula niatnya untuk kembali saja ke rumah paman dan bibinya.
Tetapi ia t idak sampai hati melihat keadaan rumah dan keluarga itu
sehari-har i. Kadang-kadang Buntal harus menahan gejolak
perasaannya, apabila ia mendengar adik sepupunya yang masih berumur
setahun menangis karena lapar. Anaknya yang lebih tua duduk tepekur
sambil menyeka air matanya. Yang lain tidur terlentang dengan
lemahnya di amben bambu. Sedang yang sulung, yang tiga tahun lebih
muda daripadanya, duduk tepekur sambil menganyam keranjang. Buntal
menarik nafas dalam-dalam. Umurnya sendiri belum mencapai limabelas
tahun, sehingga adik sepupunya yang sulung itu belum mencapai
duabelas tahun. Dan anak yang belum mencapai umur duabelas tahun itu
harus sudah bekerja keras membantu ayah dan ibunya untuk mencari
nafkahnya sehari-hari. Tetapi kini perutnya sendiri merasa lapar.
Sedang perjalanannya sama sekali tidak berketentuan. Ia tidak akan
dapat menghitung sampai kapan ia harus berjalan. Dan kemanalah.
tujuan yang akan didatanginya. Ia tidak lagi mempunyui saudara yang
agak jauh sekalipun. Namun Buntal tidak berhenti. Ia melangkah terus
dengan lemahnya. Semakin lama semakin lemah, sehingga akhirnya ia
jatuh terduduk diatas sebuah batu di pinggir jalan. Ketika tanpa
disadarinya Buntal menengadahkan kepalanya ke langit, dilihatnya
cahaya yang kemerah-merahan telahmulai membayang, sehingga sebentar
lagi senja akan segera turun. Buntal menarik nafas dalam-dalam.
Ketika ia mendengar gemericik air parit, maka terasa lehernya
menjadi semakin kering. Karena Itu, maka perlahan-lahan ia beringsut
mendekati parit itu. Apalagi ketika dilihatnya air yang bening
mengalir diatas rerumputan yang hijau di dasar parit bercampur pasir
yang keputih-putihan, maka iapun segera berjongkok diatas tanggul.
Dengan kedua belah telapak tangannya ia mengambil seteguk air untuk
menghilangkan hausnya yang tidak tertahankan, meskipun ia sadar,
bahwa air itu tidak bersih sama sekali dari kotoran, karena diparit
itu pula para petani mencuci kaki, tangan dan alat-alatnya apabila
mereka pulang dari sawah. Tetapi lehernya terasa haus sekali. Buntal
menarik nafas dalam-dalam ketika terasa tenggorokannya telah menjadi
basah. Perlahan-lahan ia berdiri dan memandang daerah di sekitarnya.
Tetapi daerah itu adalah daerah yang asing baginya. Dan dengan
demikian ia sadair, bahwa ia telah benar-benar terpisah dari paman
dan bibinya. Ia tidak akan dapat menemukan jalan kembali, apabila ia
tidak bertanya-tanya dengan susah payah. Buntal menarik nafas
dalam-dalam. Kecemasan semakin merayapi batinnya. Sebentar lagi
malam akan tiba, dan sebentar lagi seluruh permukaan bumi ini akan
menjadi gelap. “Apakah aku akan tetap berada di bulak dan t idur
diatas rerumputan?“ Tiba-tiba tengkuknya meremang. Dikejauhan
dilihatnya seonggok pepohonan yang rimbun. Kalau itu sebuah ujung
dari hutan yang membujur, meskipun hutan yang rindang, kadang-kadang
masih ada juga seekor harimau yang tersesat keluar hutan dan mencar
i makan ke padukuhan. Mungkinseekor lembu, mungkin kambing dan
apabila ia berada di bulak itu mungkin dirinya. Dalam kecemasan itu,
Buntal melihat sebuah gubug yang bertiang agak tinggi. Sebuah gubug
yang di siang hari dipakai untuk menunggu dan menghalau burung.
“Mungkin tempat itu merupakan satu-satunya tempat yang paling baik
buat bermalam. Tangga gubug itu cukup kecil, sehingga aku kira
tidak, akan ada harimau yang dapat memanjat keatas. Meskipun agak
ragu, Buntalpun berjalan juga menyusur pematang ke gubug itu. Besek
pagi-pagi benar aku harus bangun dan meninggalkan gubug itu. Kalau
aku kesiangan, dan ada seseorang yang menemukan akju masih tidur,
maka aku akan mendapat seribu macampertanyaan. Ternyata gubug itu
cukup panjang untuk menjelujurkan kakinya. Sambil menggeliat ia
berbaring. Kepalanya diletakkan diatas kedua telapak tangannya.
Senjapun semakin lama menjadi semakin gelap. Seperti perut Buntal
yang menjadi semakin lapar. Sekali-kali Buntal menarik nafas
dalam-dalam. Udara yang segar terhisap masuk ke dadanya. Namun dada
itu masih juga tetap gelisah dan cemas. Dengan demikian Buntal tidak
segera dapat tertidur. Berbagai macam perasaan bergulat di dalam dir
inya. Cemas, gelisah, takut dan juga lapar dan penat. Bahkan ia
menjadi cemas pula apabila tiba-tiba saja pemilik gubug itu datang
di malamhari untuk menengok sawahnya “Mudah-mudahan t idak malam
ini” desisnya “mudah- mudahan ia t idak menengok sawahnya
malamhari”Namun kegelisahan itu membuatnya tidak segera dapat
memejamkan matanya, apalagi karena perutnya terasa menjadi semakin
lapar. Namun oleh kepenatan yang sangat, kantuk yang tidak terlawan
dan udara yang segar, akhirnya membuat Buntal terlena diatas gubug
itu. Anak itu tidak menyadari, berapa lamanya ia tertidur diatas
gubug itu. Namun ia terkejut ketika terasa olehnya sinar matahari
mulai menggigit kakinya. Dengan tergesa-gesa Buntal bangkit. “O,
matahari telah tinggi“ Sejenak kemudian Buntal telah duduk di gubug
itu sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya. Beberapa orang
dilihatnya telah bekerja di sawahnya. Beberapa yang lain sedang
menyelusur i par it yang mengalirkan air yang bening. “Aku harus
segera pergi” desisnya “kalau yang mempunyai gubug ini datang, aku
akan mengejutkannya dan mungkin aku disangkanya telah berbuat
sesuatu yang merugikannya” Tetapi selagi Buntal membenahi dirinya,
ia merasa gubug itu terguncang, sehingga karena itu maka dadanya
segera menjadi berdebaran. Ia sadar, bahwa seseorang pasti sedang
naik keatas gubug itu. Belum lagi ia sempat berbuat sesuatu,
tiba-tiba sebuah kepala telah menjenguk dari balik alas gubug itu.
Seorang gadis kecil yang sama sekali tidak menyangka, bahwa ada
seseorang diatas gubugnya, sedang memanjat naik untuk menyimpan
bakulnya diatas gubug itu. Tetapi tiba-tiba saja ia melihat seorang
anak muda yang belumdikenalnya di dalamgubugnya itu. Karena itu,
betapa ia terperanjat. Sejenak ia membeku, namun kemudian iapun
segera meluncur turun. Tetapi karenaia terlampau tergesa-gesa, maka
iapun terperosek diantara mata tangga dan jatuh diatas tanah yang
basah. Tanpa sesadarnya gadis kecil itu menjerit. Kemudian tubuhnya
terbanting ke dalam lumpur yang kotor. Jerit gadis kecil itu
ternyata telah mengejutkan beberapa orang yang berada di sekitar
tempat itu. Bahkan Buntalpun terkejut pula. Dengan serta-merta ia
menjengukkan kepalanya dan dilihatnya gadis itu sedang bergulat
untuk bangkit dari lumpur yang licin. Buntal tidak berpikir apapun
lagi. lapun segera turun dengan tergesa-gesa dan berusaha menolong
gadis yang berlumuran tanah yang kotor itu. Sesaat kemudian beberapa
orangpun datang berlari-lar i ke gubug itu. Yang mereka lihat,
Buntal sedang menarik gadis itu dan mencoba membantunya berdiri.
Sedang tubuh gadis itu sendiri tiba-tiba menjadi lemas seperti tidak
bertenaga. Karena terkejut yang amat sangat, maka gadis kecil itu
menjadi pingsan karenanya. “He, apakah yang kau lakukan atas anak
itu?“ bentak seorang yang bertubuh pendek, tetapi sekuat kerbau
jantan, yang ternyata dari urat-uratnya yang menonjol di permukaan
kulitnya. “Aku tidak berbuat apa-apa” jawab Buntal ketakutan
”Lepaskan“ teriak seorang anak muda. “Tetapi, tetapi….““Lepaskan”
teriak yang lain. Tetapi Buntal tidak segera melepaskannya. “He,
kenapa kau tidak mau melepaskan?” “Ia lemas. Lemas sekali” suara
Buntal tergagap “kalau aku lepaskan ia akan terjatuh” Sejenak
orang-orang yang mengerumuninya saling berpandangan. Kemudian dua
orang anak muda meloncat maju dan merenggut tubuh gadis itu dari
tangan Buntal. Ternyata bahwa gadis itu benar-benar telah lemas dan
jatuh pingsan. “Bawa dia menepi. Bersihkan tubuhnya dari lumpur”
Gadis itupun kemudian dipapah oleh dua orang anak-anak muda yang
kemudian meletakkannya di pematang. Dengan selendangnya, wajah gadis
yang berlumuran lumpur itupun kemudian dibersihkannya. “Ayahnya
belumdatang?“ bertanya seseorang. “Belum, la datang seorang diri”
Kini semua mata tertuju kepada Buntal. Orang yang bertubuh pendek
dan berotot menonjol melangkah maju sambil menggeram “Apa yang kau
lakukan he?“ Buntal menjadi semakin ketakutan. Ia menyesal bahwa ia
telah terbangun kesiangan, sehingga ia harus mengalami perlakuan
yang mendebarkan itu. “Kau apakan anak itu he?“ “Aku, aku tidak
apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa” “ Bohong” sahut seorang anak
muda yang bertubuh tinggi “mungkin kau ingin berbuat jahat. Apapun
yang akan kau lakukan. Mungkin kau melihat gadis itu memakai
perhiasan.Atau kau memang akan berbuat jahat kepada gadis itu
sendiri” “Tidak, aku tidak berbuat apa. Aku semalam memang tidur di
gubug itu. Mungkin ia terkejut melihat aku” “Jangan mengada-ada. Dan
kenapa kau berada di gubug itu? Siapa kau dan dimana rumahmu?“
Buntal menjadi semakin kebingungan. Ingin ia menyebut nama paman dan
bibinya. Tetapi jika demikian, dan persoalan yang tidak
diharapkannya ini menjadi persoalan yang berkepanjangan, maka paman
dan bibinya akan tersangkut pula. Padahal mereka sudah selalu dalam
kesulitan untuk hidup mereka sehari-hari. Kalau mereka harus berbuat
sesuatu untuk dirinya, maka hidup merekapun akan semakin
terbengkelai. “Siapa kau he?“ seorang yang bertubuh t inggi
membentak. “Namaku Buntal” jawabnya. Suaranya sudah menjadi gemetar.
“Buntal, Buntal. Dimana rumahmu he?“ Buntal ragu-ragu sejenak.
“Dimana?“ t iga orang berbareng membentak. Suara Buntal menjadi
semakin gemetar. Jawabnya “Aku anak yatim piatu” “He?“ “Aku
yatimpiatu” “Bohong. Bohong. Dimana rumahmu. Meskipun seandainya kau
yatimpiatu, namun kau pasti mempunyai tempat tinggal” Buntal menjadi
semakin bingung. Tetapi ia sudah bertekad untuk tidak menyeret paman
dan bibinya yang sudah terlampau sulit itu untuk mendapatkan
kesulitan-kesulitan baru. Karena itu, maka ia ingin menunjukkan
rumah yangsudah lama dit inggalkan, setelah ayahnya meninggal. Dan
rumah itu sama sekali bukan rumahnya karena ia t inggal di
pengengeran sekeluarga. “Dimana, dimana he? Apakah kau menjadi bisu”
bentak orang-orang yang marah itu. “Aku, aku tidak mempunyai rumah
karena ayahku hanya seorang pelayan. Seorang abdi” “Dimana?
“Surakarta” “Surakarta? Yang kau maksud kau tinggal di dalam kota
Surakarta?“ “Ya” “O, jadi kau anak orang kota? Tetapi kau sama
sekali t idak tahu adat?“ “Bukan, aku bukan orang kota. Ayah sekedar
seorang abdi dari seorang bangsawan. Ayah adalah seorang juru
pangangsu yang dahulu datang dari padesan juga” “Dimana ayahmu
sekarang?“ “Meninggal. Ayah sudah meninggal” “Dan kau?“ “Aku diusir
dari rumah bangsawan itu” “Pantas. Pantas. Kau pasti berbuat tidak
senonoh di rumah bangsawan itu. Kau pasti berbuat iahat seperti yang
baru saja kau lakukan” “Tidak. Aku tidak berbuat apa-apa. Tetapi
bangsawan- bangsawan memang terlampau kejamsekarang” “Omong kosong.
Kau pasti yang jahat” “Tidak. Aku tidak jahat. Sejak rumah itu
sering dikunjungi kumpemi, Raden Tumenggung Gagak Barong telah
berubah”“Kumpeni?“ “Ya” “Omong kosong. Kau memang seorang yang
pandai berbohong. Sekarang kau masih mencoba berbohong, meskipun
kami dapat melihat sendiri apa yang sudah kau lakukan” “Aku tidak!
berbuat apa-apa” Tiba-tiba seorang anak muda yang bermata setajam
burung hantu maju kedepan. Dengan serta merta anak muda itu menerkam
baju Buntal yang sudah kusut. Sambil menarik ia menggeram
“Berkatalah berterus terang. Siapa kau sebenarnya, dan kenapa kau
berada disini?“ “Aku sudah mengatakan semuanya” “Bohong. Bohong“
anak muda itu mulai mengguncang- guncang baju Buntal. Buntal menjadi
semakin gemetar. Apalagi ketika dilihatnya beberapa orang maju
mendekat dengan pandangan mata yang seakan-akan langsung menusuk
jantung. “Ayo, berkatalah sebenarnya“ orang lain berteriak. Dan
Buntal menjadi semakin terkejut ketika tiba-tiba seseorang telah
meloncat maju dan langsung menggenggam rambutnya. “Kalau kau
berbohong sekali lagi, aku pukul mulutmu” Buntal benar-benar telah
kehilangan akal. Tubuhnya menggigil seperti semalam suntuk terendam
air. Wajahnya menjadi pucat seperti kapas. “Jawab. Apa yang sudah
kau lakukan?“ Mulut Buntal bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak
terdengar.“Jawab pertanyaanku” Buntal masih belum dapat mengucapkan
kata-kata, sehingga orang-orang itu menjadi semakin marah. Kepala
Buntal terputar ketika sebuah telapak tangan menampar pipinya. “Ayo
bilang. Bilang bahwa kau telah mengganggu gadis, kecil itu diatas
gubug. Untunglah bahwa ia justru terlempar dan sempat menjerit”
“Tidak. Tidak“ hanya itulah yang dapat diucapksn oleh Buntal karena
tangan yang lain telah memukul dagunya. Alangkah sakitnya. Dan
alangkah sakit hatinya. Ia sama sekali tidak dapat melawan. Ketika
rambut dan bajunya dilepaskan dan sebuah tangan lagi memukul
pipinya. Buntal benar-benar telah terlempar dan terbanting jatuh
diatas pematang, namun iapun kemudian terguling ke dalam lumpur.
Tertatih-tatih ia mencoba berdiri. Namun ia tidak sempat tegak
karena sebuah tendangan mengenai lambungnya, dan mendorongnya sekali
lagi jatuh ke dalam lumpur. “Bawa saja kepada Ki Jagabaya” berkata
salah seorang dari mereka. “Pukuli saja disini. Di dalam keadaan
seperti ini, orang- orang gila pantas dibunuh saja” “O, jangan,
jangan” teriak Buntal. “Kau sudah berani berbuat gila, kau harus
mempertanggung jawabkannya. Kenapa kau takut?“ “Aku tidak berbuat
apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa“ hanya kata-kata itulah yang
dapat diucapkan oleh Buntal. Ia tidak dapat menemukan
kalimat-kalimat yang lain di dalam keadaannya itu. Tetapi
orang-orang itu tidak menghiraukannya lagi. Beberapa orang segera
menariknya ke pematang. KemudianBuntal diseret seperti seonggok
batang pisang kejalan di tengah-tengah sawah itu. Sejenak kemudian
wajahnya telah dihujani dengan pukulan-pukulan dan bahkan beberapa
orang telah meludahinya. Kepala Buntal segera menjadi pening.
Kepalanya serasa menjadi retak dan pandangannya berkunang-kunang.
Tetapi ia masih mendengar setiap orang memaki-makinya. “Gadis itu
masih pingsan” terdengar seseorang berkata ”bunuh saja anak jahanam
itu. Ia membuat pedukuhan ini ternoda” “Ya bunuh, bunuh saja” Buntal
tidak berdaya sama sekali untuk melakukan pembelaan. Sekilas
terlintas di kepalanya, kenangan atas perjalanannya yang panjang
sehingga ia sampai ke tempat ini. Dan terlintas pula di kepalanya,
perjalanan yang seakan-akan telah terbentang di hadapannya. Jalan
yang jauh lebih panjang dari jalan yang baru saja dilaluinya itu.
“Aku akaa menyeberangi langit” katanya di dalam hati. Dan sesaat
kemudian Buntal itu menjadi pingsan, la tidak merasakan lagi
pukulan-pukulan yang bertubi-tubi mengenainya. Dengan lemahnya ia
terkapar di tanah tanpa dapat berbuat sesuatu. Dalam pada itu,
selagi Buntal masih mengalami hukuman yang sama sekali t idak
diduganya, seorang tua berlari-lari diikuti oleh seorang anak muda
yang sebaya dengan Buntal menuju ke pematang. Orang tua itu adalah
ayah dari gadis yang pingsan itu. Seseorang telah memberitahukan
kepadanya apa yang telah terjadi di sawah. Ketika ia sampai disisi
anak gadisnya, segera ia berlutut. Diraba-rabanya tubuh anaknya,
kemudian dipijit-pijitnya tengkuknya. Tetapi wajahnya tampak menjadi
agak cerahketika ia mendengar anaknya itu merengek seperti dimasa
kanak-kanaknya. “Arum” desis orang tua itu “kenapa kau?“ Arum, gadis
itu, membuka matanya. Dilihatnya ayahnya berjongkok di sampingnya.
“Apakah yang terjadi?“ Arum masih biugung sejenak. Namun kemudian
ditolong oleh ayahnya ia mengangkat kepalanya. Sejenak ia mencoba
mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Perlahan-lahan, namun
semakin lama menjadi semakin jelas. Dan tiba-tiba saja ia berkata
kepada ayahnya “Aku terjatuh ayah. Aku terkejut sekali” Ayahnya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba pula anaknya itu
memandang ke jalan yang membujur diantara tanah persawahan. “Apa
yang terjadi disana ayah?“ ia bertanya sambil menunjuk orang-orang
yang berkerumun sambil menyepak- nyepak. “Anak itu. Anak yang
barangkali sudah berbuat jahat kepadamu” “Kenapa dengan anak itu?“
“Orang-orang telah menganggapnya bersalah. Mereka memukuli anak itu”
“Tidak ayah. Anak itu tidak berbuat apa-apa. Aku hanya terkejut dan
aku terjatuh ketika aku meluncur turun, la berada diatas gubug,
sedang aku baru saja naik keatas. Dan aku masih berdir i di tangga”
“Aku sudah minta anak mas Juwiring untuk mencegahnya” Arum kemudian
duduk bersandar kedua tangannya. Kepalanya masih terasa pening.
Namun ia menjadi cemas,apabila terjadi sesuatu atas anak yang
dilihatnya duduk diatas gubugnya. Dalam pada itu, Juwiring telah
berdiri ditengah-tengah lingkaran orang-orang yang mengerumuni
Buntal yang terbaring di tanah. Sejenak ia masih melihat beberapa
pasang kaki menyepak- nyepak tubuh yang sudah tidak berdaya itu.
Namun katika anak muda yang bernama Juwir ing itu berdir i diantara
mereka sambil memandang berkeliling, maka tiba-tiba saja orang-
orang yang berkerumun itu bergeser surut. “Kenapa dengan anak ini
paman?“ bertanya Juwiring, Meskipun umurnya belum sampai tujuh belas
tahun, tetapi terasa wibawa yang besar memancar dari nada
kata-katanya. Tidak seorangpun yang segera menyahut. Beberapa orang
saling berpandangan. Tetapi mulut mereka masih tetap terkatup
rapat-rapat. Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia
membungkukkan badannya dan meraba tubuh Buntal, ia berdesis
“Pingsan. Anak ini telah, pingsan” Tiba-tiba mata Juwiring menjadi
tajam memandang setiap wajah yang ada di sekelilingnya. Satu-satu
wajah itu tertunduk lemah. “Apakah salah anak ini?“ sekali lagi ia
bertanya. Tetapi tidak ada yang segera menjawab, sehingga akhirnya
Juwiring maju selangkah mendekati orang yang bertubuh pendek kekar
dan berotot seperti jalur-jalur pohon merambat di seluruh tubuhnya.
“Paman” bertanya Juwring “apakah salah anak itu?“ Orang itu tergagap
sejenak. Namun karena tatapan mata Juwiring bagaikan menusuk
jantungnya, akhirnya ia menjawab “Anak ini telah mengganggu
Arumdiatas gubugnya”“O“ Juwiring mengerutkan dahinya. Sekali ia
berpaling, namun Buntal masih terbaring diam. “Apakah yang sudah
dilakukannya? Apakah ia merampas barang-barang milik Arum, ataukah
ia berbuat lain?“ Orang bertubuh kekar itu menjadi semakin bingung.
Namun kemudian ia menjawab “Kami hanya mendengar Arum menjer it. Dan
kami datang berlar i-larian. Kami melihat kemudian anak itu sedang
memeluk Arum yang lemah dan kotor” “Diatas gubug?“ Orang itu
menggeleng “Tidak. Di dalam lumpur” “Kalian yakin bahwa anak ini
berbuat jahat?“ Tidak seorangpun yang menjawabnya. “Kalian yakin
bahwa anak ini akan berbuat jahat terhadapi Arum?” “Ya?” “Begitu?”
Masih belumada seorangpun yang menjawab. “Bagaimana kalau Arum
terpekik karena ia terjatuh, dan kemudian anak ini justru
menolongnya dari lumpur?“ Orang-orang itu masih terdiam. “Atau,
apabila kalian yakin bahwa anak ini bersalah, akupun tidak
berkeberatan anak ini dihukum. Apalagi kalau ia langsung akan
berbuat jahat kepada Arum itu sendiri” anak muda itu terdiam sejenak
sambil memandang berkeliling, lalu selangkah ia bergeser mendekati
orang yang tinggi “Kau juga yakin ia bersalah?” Orang tinggi itu
menundukkan kepalanya, sementara Juwiring bergeser lagi. Seorang
demi seorang didekatinya dandengan nada datar bertanya kepadanya,
apakah anak itu memang bersalah. Tetapi setiap kepala tertunduk
karenanya. “Baiklah. Kalian tidak ada yang menjawab dengan tegas,
letapi karena kalian telah bertindak, maka kalianpun pasti sudah
meyakini kesalahannya. Karena itu, akupun akan ikut serta memutuskan
bahwa anak ini bersalah, karena ia telah berbuat jahat kepada Arum“
Juwiring berhenti sejenak. Namun tiba-tiba ia melangkah mendekati
seseorang yang berdiri di paling belakang. Tanpa berkata apapun
juga, orang itu diputarnya. Kemudian diambilnya sebuah sabit yang
terselip dipunggungnya. Semua mata memandang Juwiring dengan
tegangnya. Apalagi ketika setapak demi setapak ia maju mendekati
Buntal yang masih pingsan. “Agaknya kalian telah berkeputusan untuk
membunuhnya. Sekarang, biarlah aku yang melakukannya. Kalau kalian
yakin anak ini bersalah, akupun yakin pula, sehingga pantaslah
apabila ia dihukum mati” Sekali lagi Juwiring memandang berkeliling.
Karena tidak seorangpun yang menyahut, maka iapun melangkah maju.
Dengan kaki renggang ia berdiri disisi Buntal yang terbaring di
tanah. Setelah memandang wajah anak yang pingsan itu sejenak, maka
katanya “Aku akan membunuhnya. Aku akan membelah perutnya karena ia
sudah berbuat jahat” Tetapi ketika Juwir ing berjongkok di samping
tubuh Buntal yang pingsan, tiba-tiba seorang yang berkumis keputih-
putihan berkata terbata-bata “Tetapi, tetapi kami belum yakin bahwa
ia memang bersalah” Juwiring mengangkat wajahnya. Dipandanginya
orang yang berkumis putih itu. Bahkan kemudian anak muda itupun
berdiri dan melangkah mendekatinya “Kau paman Dipa.Sepengetahuanku,
membunuh t ikuspun kau tidak mau. Tetapi agaknya kau ikut serta
menyakiti anak ini?“ Orang berkumis putih dan bernama Dipa itu
terdiam. Sekali ia menelan ludahnya. Namun tidak sepatah kata lagi
yang meluncur dari mulutnya. “Jadi bagaimana?“ Juwir ing bertanya.
Karena tidak ada yaug menjawab, Juwiring menepuk pundak seseorang
“Apakah sebaiknya aku membunuhnya?“ Orang itu menjadi tegang. Namun
kemudian ia berkala gemetar “Tidak. Tidak. Akupun tidak meyakini
kesalahannya” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia
memandang seorang yang berwajah pucat, tanpa ditanya apapun orang
itu berkata “Ya. Kami belum pasti, bahwa ia pantas dihukum, apalagi
dibunuh” Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika sekali lagi
ia memandang setiap wajah, maka setiap wajah itupun menjadi semakin
tunduk ke tanah. “Nah, ternyata kalian telah melakukan sesuatu
dengan tergesa gesa. Setelah anak ini pingsan, dan bahkan hampir
mati, barulah kalian menyadari, bahwa kalian tidak berbuat atas
dasar keyakinan. Seorang diantara kalian berteriak bahwa anak ini
bersalah, maka kalian tidak sempat lagi berpikir. Seperti kehilangan
dir i, kalian berebutan menjatuhkan hukuman atas anak ini. Dipa,
Naya, Angga yang aku kenal sebagai orang-orang yang ramah dan baik
hati, di dalaM keadaan tanpa sadar, telah melakukan perbuatan ini”
Kepala-kepala itupun menjadi semakin tunduk lagi. Kalau saja
mungkin, mereka akan berlar i dan menyembunyikan wajah-wajah yang
serasa menjadi panas. Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya.
Perlahan- lahan ia mendekati Buntal. Dan Buntal agaknya masih juga
pingsan.“Panggil Kiai Danatirta itu” berkata Juwir ing kemudian.
Dipa yang paling gemetar, segera berdiri dan berjalan tertatih-tatih
di pematang, pergi ke tempat Kiai Danatirta menunggui anaknya Arum.
“Kiai, Raden Juwiring memanggil Kiai” “O, baiklah. Duduklah disini
Arum” “Aku ikut ayah” “Kau masih terlampau lemah” “Tidak. Aku sudah
baik” Kiai Danatirta memandang anaknya sejenak. Namun kemudian
katanya “Marilah” Kiai Danatirtapun kemudian membimbing anaknya di
sepanjang pematang pergi mendapatkan Juwiring yang masih berdiri
ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang kebingungan itu. “Kiai”
berkata Juwiring kemudian “anak ini pingsan” “O“ Arumlah yang
menyahut “Kenapa? Kenapa ia pingsan, Raden?“ “Bertanyalah kepada
orang-orang ini” Arum memandang orang-orang yang berdiri membeku
itu. Kemudian perlahan- lahan ia melangkah maju bersama ayahnya,
Kiai Danatirta, mendekati Buntal yang pingsan. “Ayah“ Arum hampir
memekik “wajahnya merah biru” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan
kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis “Apakah anak ini pantas
mendapat hukuman yang begini berat?“ “Ia tidak bersalah” berkata
Arum kemudian.Dan ternyata kata-kata Arum itu bagaikan menyengat
setiap hati yang membeku di sekitar Buntal yang pingsan itu.
“Ambillah air” desis Kiai Danatirta. Seseorangpun kemudian mengambil
air dengan sehelai daun yang disobeknya pada sebatang pohon pisang
yang tumbuh di pinggir parit. Setitik demi setitik, Kiai Danatirta
meneteskan air di mulut Buntal. Sambil memijit-mijit bagian tubuhnya
yang lain, Kiai Danatirta berusaha membangunkan Buntal yang pingsan
itu. Sejenak kemudian terdengar anak itu merintih. Semakin lama
semakin keras. Bahkan kemudian terdengar ia mengaduh. “Ia telah
sadar” desis Kiai Danatirta. Juwiringpun kemudian berjongkok pula di
sampingnya. Ditatapnya wajah yang biru pengab itu dengan dada yang
berdebar-debar. Juwiring menyadari, betapa sakitnya wajah itu, dan
bahkan seluruh tubuhnya. “Terlalu“ Juwir ing berdesis “mudah-mudahan
anak ini berjiwa besar” Ketika sebuah pedati lewat di jalan
persawahan itu, maka Juwiringpun segera menghentikannya. Dengan
sangat ia minta agar pemiliknya bersedia menolong membawa Buntal ke
rumah. Ke rumah Kiai Danatirta. Ternyata pemilik pedati itu tidak
berkeberatan. Dengan senang hati ia memenuhi permintaan Juwir ing
dan Kiai Danatirta itu. Perlahan-lahan tubuh Buntal itu diangkat dan
dibaringkan di dalam pedati. Setiap kali terdengar ia mengaduh.
Namun matanya masih terpejam, dan kesadarannya masih belum pulih
sama sekali.Ketika Buntal perlahan-lahan membuka matanya, tampaklah
atap rumah yang samar-samar. Semakin lama menjadi semakin jelas.
Kemudian dilihatnya wajah-wajah yang cemas di sisinya. Wajah yang
belum pernah dilihatnya. Namun ketika ia mencoba menggerakkan
tubuhnya, terasa seakan-akan seluruh tulang belulangnya berpatahan.
Alangkah sakitnya, sehingga tanpa sesadarnya iapun mengaduh
tertahan-tahan. “Jangan bergerak dahulu. Tubuhmu masih terlampau
lemah. Bahkan mungkin terlampau sakit. Buntal menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia masih harus selalu menyeringai apabila rasa
sakit mulai menusuk kulitnya. “Apakah kau haus?“ Buntal memandang
orang yang bertanya kepadanya. Seorang yang sudah memanjat ke
pertengahan abad. Sedang seorang lagi ada lah seorang anak muda yang
sebaya dengan dirinya. Seandainya ada selisih umur, maka selisih itu
tidak lebih dari saru atau dua tahun. “Dimanakah aku ini?” desis
Buntal hampir tidak terdengar. “Kau berada di rumahku, di rumah Kiai
Danatirta. Dan anak muda ini adalah Raden Juwir ing” Buntal menarik
nafas dalam-dalam, seakan-akan ia mencoba mengurangi perasaan sakit
yang menusuk-nusuk. “Tenangkan hatimu” berkata Juwiring “Kau akan
dirawat dengan baik disini” Buntal memandang Juwiring dengan heran.
Tetapi ia tidak segera bertanya apapun juga. Namun sejenak kemudian
Buntal terkejut ketika ia melihat seorang gadis yang memasuki bilik
itu sambil membawa sebuah belanga kecil. Gadis itulah yang
dilihatnya memanjat tangga gubug dan kemudian jatuh ke dalam
lumpur.Karena itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Dipandanginya
gadis itu seperti memandang hantu. Bahkan kemudian terloncat
kata-katanya “Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa
terhadapnya” “Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
lembut “Ya. kau memang tidak berbuat apa-apa” Buntal heran mendengar
jawaban itu. Karena itu iapun justru terdiam sejenak. “Arum” berkata
Kiai Danatirta “letakkan belanga itu disini” Gadis itupun kemudian
meletakkan belanga kecil itu di lantai di dekat pembaringan Buntal.
Sejenak ia memandang anak yang terbaring kesakitan itu dengan
pandangan iba. Bahkan tanpa sesadarnya ia bertanya “Kau sakit?“
Buntal menjadi bingung, bagaimana ia akan menjawab pertanyaan itu,
sehingga karena itu, ia terdiam membeku. Arum yang berdiri
termangu-mangu itupun kemudian menundukkan wajahnya. Sebelum ia
mendengar jawaban Buntal, ia telah pergi meninggalkan bilik itu. “Ia
adalah anakku” berkata Kiai Danatirta. “O“ Buntal menjadi bertambah
cemas “Tetapi aku tidak berniat berbuat apa-apa” “Ya, ya. Aku
percaya kepadamu. Kau tidak berbuat apa- apa. Anakku, Arum, juga
berkata bahwa kau tidak berbuat apa-apa” “O“ Buntal mengerutkan
keningnya. “Siapa namamu?“ bertanya Juwiring kemudian.Buntal
memandang anak muda itu sejenak, lalu jawabnya “Buntal. Namaku
Buntal” “Buntal” ulang Juwir ing “dimana rumahmu?“ Buntal
menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak mempunyai rumah. Aku t
idak mempunyai ayah dan ibu lagi” “Yatimpiatu?“ “Ya” “Tetapi kenapa
kau berada di gubug itu. sehingga Arum terkejut karenanya?“ “Aku
berjalan menuruti langkah kakiku. Ketika aku kemalaman, aku
bermalamdi gubug itu” Kiai Danatirta yang ikut mendengar keterangan
itu mengangguk-angguk. Sebagai seorang yang mempunyai pandangan yang
luas tentang hidup dan kehidupan, ia melihat kejujuran di wajah
Buntal. Karena itu maka ia sama sekali tidak berprasangka apapun
kepada anak yang kesakitan itu. “Aku akan mencoba mengobati badanmu
yang merah biru” berkata Kiai Danatirta. Buntal memandangnya dengan
penuh keheranan. Ia melihat wajah kedua orang yang menungguinya itu
bagaikan titik-titik embun di hatinya yang gersang. “Bergeserlah
sedikit menepi” berkata orang tua itu kemudian. Buntal mencoba
bergeser sedikit. Tetapi terasa seluruh tubuhnya menjadi sakit,
seolah-olah tulang-tulangnya telah menusuk-nusuk kulit dan
dagingnya. Namun ditahankannya perasaan itu sekuat-kuatnya. Meskipun
ia menyeringai, tetapi ia kini tidak mengeluh lagi. “Tolong anak
mas” berkata Danatirta kepada Juwir ing “peganglah belanga
ini”Juwiringpun kemudian memegang belanga yang berisi cairan yang
berwarna coklat kehitam-hitaman, sementara Kiai Danatirta mulai
mengendorkan seluruh pakaian Buntal. Dengan lembut Kiai Danatirta
mulai mengusap seluruh bagian badan Buntal dengan cairan itu. Cairan
yang terasa hangat di tubuh yang biru pengab. “Dengan demikian
tubuhmu tidak akan membengkak Buntal” desis Kiai Danatirta. Buntal
tidak menyahut. Namun tiba-tiba terasa getaran- getaran yang aneh
mengusik hatinya. Sentuhan tangan yang lembut itu telah menumbuhkan
sebuah kenangan di hati Buntal. Kenangan kepada ayah dan ibunya yang
telah mendahuluinya. Ia masih teringat semasa kanak-kanak, apabila
ia terjatuh dan terkilir, ibunya selalu mengusapnya dengan pipisan
beras kencur. Di sore hari setelah mandi, menjelang tidur. Meskipun
ayah dan ibunya orang yang miskin, tetapi mereka berusaha
sejauh-jauh dapat mereka lakukan, untuk membuat Buntal menjadi
seorang anak yang baik. Yang memeliharanya dengan penuh kasih
sayang. Dari ucapan tangan Kiai Danatirta itu ternyata telah
mengungkat kenangan itu. Terbayang kembali di rongga matanya, ibunya
duduk di bibir pembaringannya, sedang ayahnya berjalan mondar mandir
dengan tangan bersilang di dadanya, apabila ia menjadi sakit. Bahkan
kadang-kadang ia melihat titik air mata di sudut mata ibunya yang
redup. Tiba-tiba perasaan haru yang sangat melonjak djdasar hatinya.
Bagaimanapun juga ia bertahan, namun setitik air mata telah
mengembun di pelupuknya, bahkan kemudian mengalir di pipinya yang
pengap. Juwiring melihat air mata yang meleleh itu. Sehingga tanpa
sesadarnya ia bertanya “Apakah tubuhnya justru menjadi sakit
sekali?“Pertanyaan itu mengejutkan Buntal. Dengan sisa tenaganya ia
mengangkat tangannya dan mengusap matanya. “Tidak” jawabnya “tubuhku
merasa semakin baik” “Tetapi kenapa kau justru menangis? Selagi kau
dipukuli dan pingsan di pinggir jalan, aku tidak melihat matamu
menjadi basah. Tetapi kini justru kau mulai menit ikkan air mata”
Buntal mencoba menggelengkan kepalanya. Jawabnya perlahan-lahan
“Tidak. Aku tidak menangis” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia
tidak bertanya lagi meskipun ia merasakan sesuatu yang menyentuh
perasaan anak itu, meskipun anak itu tidak mau mengatakannya.
Apalagi ketika Kemudian Kiai Danatirta berkata “Sudahlah Buntal.
Tenangkan hatimu. Cobalah untuk tidur agar tubuhmu menjadi segar”
Namun t iba-tiba “Apakah kau sudah makan?“ Pertanyaan itu
benar-benar telah mengetuk hati Buntal, sehingga betapa ia bertahan,
tetapi tilik air matanya menjadi semakin deras mengalir di pipinya.
Kiai Danatirta ternyata mampu membaca perasaan anak itu, sehingga ia
berkata kepada Juwiring “Tungguilah anak ini anak mas. Aku akan
pergi ke belakang sebentar” Juwiring menganggukkan kepalanya. Namun
ia mengerti juga apa yang akan dilakukan oleh Kiai Danatirta.
Agaknya anak ini memang belum makan. Sejenak kemudian seorang gadis
masuk, ke dalam bilik itu. Tampaknya ia sudah menjadi sehat benar,
seolah-olah tidak ada lagi bekasnya, bahwa ia baru saja terjatuh dan
pingsan karenanya. “Minuman hangat” desisnya sambil meletakkan
sebuah mangkuk ber isi air jahe yang panas dengan segumpal gula
kelapa diatas sebuah nampan kayu. Sejenak ia berdirimemandang wajah
Buntal yang biru pengab. Sepercik penyesalan membayang di wajah
Arum. “Kalau aku tidak berteriak” katanya di dalam hati “orang-orang
itu tidak akan berbuat apa-apa atasnya” namun lalu “Tetapi aku sama
sekali t idak sengaja. Aku terkejut sekali” Tetapi Arum tidak
mengucapkan kata-kata lagi. Iapun melangkah keluar dari bilik itu.
Seorang pembantu telah menyediakan makan nasi hangat buat Buntal
setelah Kiai Danatirta memberitahukan bahwa anak itu perlu makan.
Dan Arumlah yang membawa makanan itu masuk ke biliknya. “Makanlah”
berkata Juwiring selelah makanan itu tersedia. Buntal menarik nafas
dalam-dalam. Ia bertahan sekuat- kuatnya agar perasaannya tidak
meledak. Diusapnya air matanya yang membasah. “Makanlah” ulang
Juwiring “Aku kira kau belum makan” Buntal mengangguk- angguk
perlahan. “O” desis Juwir ing “Kau belum dapat bangkit sendiri?
Marilah, aku tolong kau bangun” Juwiringpiin kemudian menolong
Buntal untuk bangkit dan duduk di pembaringan. Tubuhnya yang sudah
dilumur i dengan param oleh Kiai Danatirta kini merasa agak menjadi
segar. “Makanlah” sekali lagi Juwir ing mempersilahkan.Buntal merasa
agak malu juga. Tetapi tiba-tiba terasa perutnya yang lapar meronta,
justru ketika hidungnya mulai disentuh, oleh asap nasi hangat dan
sepotong ikan air kering. Buntal menelan ludahnya. la bukan saja
belum makan pagi ini, tetapi kemar in sehari penuh ia juga belum
makan. Juwiring bergeser maju. Sambil tersenyum ia bertanya “Kau
dapat makan sendir i?“ “Ya, ya. Aku dapat makan sendiri” jawab
Buntal terbata- bata. “Tanganmu tidak sakit?” Buntal menggeraktkan
tangannya. Sebenarnya lengannya juga merasa sakit. Tetapi ia
menggeleng “Tidak. Lenganku tidak sakit” “Kalau begitu makanlah
sendiri” Buntal merasa agak malu-malu juga. Seandainya perutnya
tidak terasa sangat lapar, ia akan berkeberatan makan sendiri di
pembaringan, seperti seseorang yang kecukupan dan dilayani oleh
pembantu-pembantunya. Tetapi karena perutnya yang mendesak, akhirnya
disenduknya juga nasi dari celing bambu dengan entong tempurung.
Dengan sayur dedaunan yang hijau dan sepotong ikan kering, maka ia
mulai menyuapi mulutnya yang sakit. Alangkah nikmatnya. Jarang
sekali ia sempat makan nasi hangat dengan sepotong ikan air,
meskipun ia dapat mencarinya sendiri di sungai. Apalagi apabila
perutnya sedang sangat lapar seperti saat itu, setelah meneguk air
jahe dengan gula kelapa. “Tetapi harganya terlampau mahal” katanya
di dalam hati “wajahku harus menjadi biru pengab dan seluruh tubuhku
terasa sakit. Untunglah bahwa aku belum mati diinjak-
injak”Demikianlah setelah makan dan minum, tubuh Buntal terasa
menjadi semakin segar. Kini ia tinggal berjuang melawan rasa sakit.
Tidak lagi melawan rasa lapar pula. Bahkan sejenak kemudian tanpa
disadari, Buntal berbaring sambil memejamkan matanya. Lambat laun
semuanya tidak dapat diingatnya lagi. Tetapi kini ia tidak pingsan.
Ketika Buntal telah tertidur nyenyak maka Juwiringpun
meninggalkannya sendiri di dalam bilik itu. Sekali Arum menengoknya
juga dari ambang pintu, namun kemudian iapun melangkah pergi sambil
menutup pintu itu. Demikianlah, maka semua yang telah terjadi itu,
menjadi sebab, bahwa Buntal untuk seterusnya diminta tinggal di
rumah Kiai Danatirta. Sebuah padepokan kecil disebuah padukuhan yang
subur. Padepokan yang dinamainya Padepokan Jati Aking didekat
padukuhan Jatisari. “Bukankah kau tidak mempunyai orang tua lagi?“
bertanya Kiai Danatirta setelah Buntal dapat berjalan-jalan lagi
meskipun kekuatannya belumpulih kembali. “Ya Kiai. Aku sudah
yatimpiatu” “Jika demikian, kau tidak akan menolak seandainya aku
minta kau tinggal untuk seterusnya di padepokan ini” Terasa sesuatu
melonjak di hati Buntal. Ia tidak menyangka bahwa ia akan terdampar
pada suatu tempat yang terlampau baik buat dir inya, meskipun ia
sadar, bahwa untuk seterusnya ia tidak akan diperlakukan seperti
pada saat-saat ia masih belum dapat bangkit dan berjalan sendir i.
Namun apapun yang akan dilakukan, tinggal di padepokan yang bersih
dan sejuk ini pasti akan sangat menyenangkan. “Aku sudah biasa
bekerja keras. Seandainya aku disini harus bekerja keras, maka aku
tidak akan berkeberatan. Tetapi padepokan ini rasa-rasanya memiliki
kesejukan yang tenang“ Buntal bergumamdi dalamhatinya.“Bagaimana
menurut pendapatmu?“ Buntal menundukkan kepalanya. Namun terdengar
ia menjawab lirih “Aku senang sekali Kiai, apabila aku diperkenankan
tinggal disini. Aku memang tidak mempunyai lagi tempat untuk
menompangkan diri” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu “Jadi, kemanakah sebenarnya tujuanmu ketika kau bermalam di
gubug itu sehingga kau mengalami nasib kurang baik?“ “Aku memang
tidak mempunyai tujuan Kiai. Aku berjalan saja menurut langkah
kakiku” Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula. Kemudian dimintanya
Buntal berceritera tentang dir inya. Dengan singkat Buntal
mengisahkan r iwayatnya. Tetapi ia masih tetap melampaui nama-nama
paman dan bibinya. Ia tidak ingin menyangkutkan kedua orang itu
bersama anak- anaknya pada persoalan apapun juga agar mereka tidak
semakin terlibat dalam kesulitan. “Jadi ayah dan ibumu menjadi abdi
Katumenggungan?“ “Ya Kiai, Tumenggung Gagak Barong” “Tumenggung
Gagak Barong. Aku pernah mengenal nama itu. Tetapi apakah ia
sekarang berhubungan dengan orang- orang asing yang mulai banyak
berkeliaran di Surakarta?“ Buntal mengangguk lemah. Kiai Danatirta
memandang Buntal dengan tatapan mata iba. Seandainya anak itu tidak
mendapatkan tempat yang baik, maka hari depannya pasti akan menjadi
sangat suram. Banyak sekali didengarnya ceritera tentang anak-anak
yang tersesat masuk ke dalam lingkungan orang-orang jahat. Anak yang
sebenarnya mempunyai bekal yang baik jasmaniah dan rohaniah, namun
karena ia berada di lingkungan yang hitam, akhirnya hati merekapun
menjadi hitam pula.Dan kini, selain para penjahat yang berhati
kelam, maka Surakarta menghadapi persoalan baru. Persoalan
orang-orang yang berhati hitam tetapi berkulit putih. Orang-orang
yang bukan saja membentuk kelompok-kelompok kecil yang merampok
orang-orang kaya, tetapi orang berhati hitam dan berkulit put ih itu
telah membentuk suatu kelompok raksasa yang merampok bukan saja
orang-orang kaya, tetapi juga orang-orang miskin. “Buntal” berkata
Kiai Danatirta kemudian “Kalau kau memang t idak berkeberatan,
baiklah. Tetapi kau harus menyesuaikan dirimu dengan keadaan disini.
Setiap orang di padepokan ini harus bekerja sesuai dengan tugas
masing- masing. Semua harus bekerja keras. Hanya dengan bekerja
keras kita dapat mencukupi kebutuhan kita“ “Ya Kiai. Aku akan
berusaha bekerja apa saja yang harus aku kerjakan” “Bagus. Kalau kau
memang sudah berbekal tekad di hatimu, maka kau pasti akan dapat
melakukannya. Kau akan menjadi kawan Raden Juwir ing” Buntal
mengangguk-angguk kecil. Sejak ia melihat untuk pertama kalinya, ia
agak tertarik pada bentuk dan ujud jasmaniah Raden Juwiring yang
agak berbeda dengan ujud anak-anak padesan. Tetapi ia tidak berani
menanyakannya hal itu kepada Kiai Danatirta. Tetapi agaknya orang
tua itu mengerti pertanyaan yang tersimpan di hati Buntal, sehingga
iapun kemudian berkata “Buntal, Raden Juwir ing tidak berasal dar i
padepokan ini atau padukuhan di sekitar padepokan ini. Ia berasal
dari kota, dan bahkan ia adalah anak seorang bangsawan. “Bangsawan?“
bertanya Buntal. Tiba-tiba saja wajahnya menegang, sehingga Kiai
Danatirta melihat perubahan itu dengan jelas. Karena itu Kiai
Danatirta melihat pula sesuatu yang tersirat di dalam hati
Buntal.“Apakah kesanmu tentang seorang bangsawan, Buntal?“ Buntal
menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut. “Coba katakan, apa
kesanmu tentang seorang bangsawan. Katakan seperti yang sebenarnya
tersimpan di dalam hatimu. Raden Juwiring tidak duduk bersama kita
sekarang, dan aku tidak akan mengatakan apapun kepadanya, apakah
kesanmu baik atau buruk” Buntal masih menundukkan kepalanya.
“Katakan Kau pasti sudah mengenal Tumenggung Gagak Barong. Kau pasti
mengenal keluarganya dan kalau ada, anak- anaknya. Apakah kau
mempunyai kesan khusus atau kau menganggapnya bahwa seorang
bangsawan tidak ada bedanya dengan orang kebanyakan?“ Buntal masih
juga ragu-ragu. Tetapi Kiai Danatirta berkata lebih lanjut “Wajahmu
menunjukkan kesan yang lain, Buntal” Buntal tidak dapat ingkar lagi.
Karena itu maka jawabnya “Ya Kiai. Aku memang terpengaruh sekali
oleh keadaanku selagi aku masih tinggal di Tumenggungan. Pada
umumnya seorang bangsawan adalah orang yang keras hati dan
menganggap kami, orang-orang kebanyakan, sama sekali tidak berarti
di dalam tata kehidupan. Mereka dapat berbuat apa saja atas kami.
Dan mereka selalu menganggap kami bersalah” Kiai Danatirta
mengangguk. Buntal berusaha untuk mengatakannya dengan hati-hati
sekali. “Jadi, apakah kau diperlakukan seperti itu di
Katumenggungan, Buntal?“ Buntal menganggukkan kepalanya. “Juga
ayahmu?“Sekali lagi Buntal mengangguk. Namun diantara nafasnya yang
memburu ia berkata terbata-bata “Terlebih-lebih di saat terakhir”
“Dan kau diusirnya? “Ya Kiai” Kiai Danatirta menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian ditepuknya bahu Buntal yang menundukkan
kepalanya dalam- dalam “Memang Buntal. Ada bangsawan yang bersikap
demikian. Yang merasa dir inya lebih tinggi derajadnya dari
kebanyakan orang. Mereka merasa diri mereka keturunan raja-raja yang
berkuasa” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Tetapi seperti
manusia kebanyakan, dimanapun juga dan di dalam lingkungan apapun
juga, ada beberapa perkecualian. Diantaranya adalah Juwiring. Raden
Juwiring” Buntal mengangkat wajahnya sejenak, namun wajah itupun
kemudian tertunduk kembali. “Raden Juwiring adalah seorang anak muda
yang baik. Buntal, meskipun ia lahir dari tetesan darah seorang
bangsawan. Dan demikianlah agaknya, bahwa kita dilahirkan dalam
lingkungan yang berbeda, tetapi tiada berbeda. Sifat- sifat yang
kemudian melekat pada diri kita masing-masing itulah yang membuat
kita menemukan bentuk pribadi kita. Dan sifat-sifat itu dipengaruhi
oleh, banyak hal diluar diri kita sendiri, dikehendaki atau tidak
dikehendaki” Buntal mengerutkan keningnya. Dengan susah payah ia
mencoba menangkap maksud Kiai Danatirta. Namun perlahan- lahan ia
melihat juga, meskipun samar-samar, maksud dari kata-kata itu.
“Karena itu Buntal” berkata Kiai Danatirta selanjutnya “Cobalah
untuk mengenal Juwiring sebaik-baiknya tanpa prasangka”Buntal
menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Maaf Kiai. Mungkin aku terdorong
perasaan dan mempunyai penilaian yang salah terhadap seseorang.
Tetapi aku baru saja mengetahui bahwa Raden Juwiring adalah seorang
bangsawan” “Dan kau sudah mempunyai bekal anggapan tentang seorang
bangsawan, meskipun ia bukan Juwiring. Anggapan itulah yang harus
kau nilai. Mungkin kau tidak hanya melihat Tumenggung Gagak Barong
saja. Mungkin kau mendengar dari kawan-kawanmu, mungkin dari orang
lain tentang sifat seorang bangsawan. Dan semuanya itu membuat
bayangan- bayangan yang kelam di dalam hatimu. Namun cobalah, untuk
memandang dengan cara lain atas Raden Juwiring yang kebetulan juga
seorang bangsawan” Sekali lagi Buntal mengangguk-angguk. Jawabnya
lirih “Ya Kiai. Aku akan mencoba untuk memandangnya sebagai Raden
Juwiring itu sendiri, tanpa pengaruh prasangka yang sudah membekas
di dalam hati” Kian Danatirta tersenyum. Ternyata Buntal bukan anak
yang terlampau dungu meskipun ia hanya anak seorang abdi. Tetapi
seperti yang dikatakannya sendiri, semua unsur manusiawi dapat
ditemuinya disetiap kelahiran, di dalam lingkungan yang berbeda
tetapi tidak berbeda itu. “Kau sudah berpijak pada alas yang benar
Buntal. Raden Juwiring hanya kebetulan saja lahir disela-sela
lingkungan bangsawan. Kau harus menilainya sebagai unsur badaniah.
Tetapi tidak sebagai unsur rohaniah” Buntal menjadi agak bingung.
Namun Kiai Danatirta berkata “Kenang sajalah kata-kataku. Kalau kau
masih belum jelas sekarang, pada suatu saat kau akan dapat
menilainya. Dalam pada itu, sikapmu sendiripun sudah menjadi semakin
matang”“Ya Kiai” sahut Buntal. Kepalanya masih tertunduk dan seperti
yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, sebagian dari persoalan itu baru
dapat diingatnya saja di dalam kepalanya. Tetapi ia masih belum
dapat memecahkannya. “Nah, sejak sekarang kau dapat berbuat sesuatu
sebagai seorang kawan yang paling dekat dengan Raden Juwiring,
karena di padepokan ini t idak ada orang lain kecuali kalian berdua,
anakku Arum, dan beberapa orang pembantu yang agaknya dunianya sudah
tidak sesuai lagi dengan Raden Juwiring, karena mereka pada umumnya
sudah berumur jauh lebih tua” Buntal menganggukkan kepalanya sambil
menjawab “Terima kasih atas kesempatan ini Kiai” “Cobalah
menyesuaikan dir i, hidup djpadepokan kecil yang sepi ini” Tetapi
suasana di padepokan kecil itu ternyata sangat menarik bagi Buntal.
Ia merasa jemu hidup di dalam kebisingan rumah Tumenggung Gagak
Barong. Derap kuda dan kereta yang hilir mudik. Bentakan-bentakan
yang keras dan menyakitkan hati. Kesibukan yang tidak pernah
selesai, di dapur, di halaman dan dimana saja. Sejak matahari terbit
sampai matahari terbenamsetiap orang harus berbuat sesuatu dalam
hiruk pikuk yang menjemukan. Menggosok tiang-tiang pendapa yang
berukir dan bersungging halus, membersihkan lantai yang sudah
bersih. Menjatahkan diri dan duduk bersila dimanapun juga mereka
bergapasan dengan Raden Tumenggung. Dan segala macam pekerjaan yang
gelisah. Berbeda dengan keadaan di padepokan ini. Bukan berarti
bahwa setiap orang di padepokan ini hanya sekedar bermalas- malasan.
Tetapi kerja yang dilakukan justru membawa ketenteraman di hati.
Bekerja di antara dedaunan yang hijau segar. Di dalam silirnya angin
dan desir ranting-ranting yang bergerak lembut. Di kejauhan
terdengar suara tembang yangngelangut dibarengi dengan suara
seruling gembala di rerumputan. Demikianlah maka Buntal merasa
kerasan tinggal di padepokan itu. Dari hari ke hari ia mulai
mengenal Juwiring lebih dalam. Selain itu juga Arum. Seperti yang
dikatakan oleh Kiai Danatirta, sebenarnyalah bahwa Juwiring
mempunyai sifat dan ciri-cir i yang berbeda dari kebanyakan
bangsawan yang pernah dikenalnya. Raden Juwiring ternyata tidak
memandang orang lain jauh lebih rendah dari dirinya. Ia menganggap
setiap orang saudaranya. Sedangkan Arum adalah seorang gadis yang
berhati lembut. Kadang-kadang masih terucapkan olehnya, penyesalan
yang dalam, justru karena ia berteriak di saat-saat mereka bertemu
untuk pertama kali. “Kau tidak sengaja mencelakakan aku” berkata
Buntal. “Aku hanya terkejut sekali waktu itu. Aku tidak menyangka
bahwa ada orang lain diatas gubug sepagi itu” Buntal tersenyum.
Bahkan kemudian ia berkata “Jika tidak demikian, maka aku tidak akan
mendapat kesempatan tinggal di padepokan ini” Arumpun tersenyum
pula. Katanya “Alangkah senangnya kalau kau datang ke rumah ini
tanpa biru pengap seperti itu” “Alangkah senangnya. Tetapi itulah
yang terjadi” Keduanya tertawa. Tawa yang segar di padepokan yang
tenteram. Namun demikian ada sebuah teka-teki bagi Buntal yang masih
belum terjawab. Tetapi ia tidak dapat menanyakannya kepada siapapun
karena keseganannya. “Kenapa Raden Juwiring itu berada di padepokan
ini?” Tetapi Buntal selalu menggelengkan kepalanya sambilbergumam
kepada diri sendiri “Ah, itu bukan persoalanku. Ia sudah berada
disini. Dan ia bersikap baik kepadaku” Dengan demikian maka anak
muda yang berada di padepokan itu berhasil menyesuaikan dir i mereka
masing- masing. Bukan saja Buntal dan Juwir ing yang sedikit lebih
tua daripadanya, tetapi juga Arum. Tetapi ternyata bahwa mereka
tidak saja harus bekerja keras di sawah dan ladang setiap hari. Ada
sesuatu yang Baru bagi Buntal. Di padepokan itu Raden Juwiring tidak
saja hidup sederhana seperti kehidupan orang kebanyakan, tetapi ia
juga mempelajari sesuatu dari Kiai Danatirta. Mula-mula Buntal hanya
diperkenankan menyaksikan. Di tempat yang tertutup Raden Juwiring
mempelajar i ilmu olah kanuragan. Ilmu ketangkasan badaniah dan tata
bela diri. “Menarik sekali” berkata Buntal di dalam hatinya. Tetapi
ia tidak berani mengatakannya kepada siapapun. Namun setiap
kesempatan yang didapatnya untuk menyaksikan latihan- latihan olah
kanuragan. Buntal merasa beruntung sekali. Agaknya Kiai Danatirta
melihat minat yang begitu besar tersirat di wajah Buntal yang
sengaja diperkenankannya melihat latihan-latihan itu. Bahkan, pada
suatu saat, tanpa disadari oleh Buntal, Kiai Danatirta melihat anak
itu menirukan gerak-gerak yang dilihatnya pada latihan-latihan Di
tempat tertutup itu. “Buntal” berkata Kiai Danatirta kepada Buntal
yang dipanggilnya menghadap “Apakah kau tidak jemu melihat
latihan-latihan bagi Raden Juwiring itu?“ Buntal mengangkat
wajahnya. Tampak sesuatu tersirat di wajah itu. Namun kemudian wajah
itu tertunduk. Perlahan-lahan terdengar Buntal menjawab “Tidak Kiai.
Aku senang sekali melihatnya”“Raden Juwiring telah agak lambat mulai
dengan penyadapan ilmu olah kanuragan. Tetapi aku masih
berpengharapan, bahwa ia akan segera maju dan menguasai ilmu yang
aku berikan kepadanya” Buntal hanya dapat mengangguk-anggukkan
kepalanya saja. “Buntal“ suara Kiai Danatirta menjadi dalam “Apakah
kau juga berminat untuk ikut mempelajari ilmu semacam itu?“ Sekali
lagi Buntal mengangkat wajahnya. Dari sorot matanya, Kiai Danatirta
melihat gejolak di dada anak muda itu. “Apakah kau juga ingin?“
ulang Kiai Danatirta. “Sebenarnyalah Kiai. Tetapi aku tidak berani
mengatakannya” Kiai Danatirta tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia
berkata “Aku memang sudah menduga. Dan aku tidak berkeberatan
apabila kau tidak saja mengawani Raden Juwiring setiap hari, tetapi
juga mengawaninya menyadap ilmu kanuragan itu” “Terima kasih Kiai.
Apabila aku diperkenankan, aku berterima kasih sekali” Kiai
Danatirta menepuk bahu Buntal. Kalanya “Tetapi olah kanuragan bukan
sekedar suatu permainan, Buntal. Bukan seperti permainan jirak,
sembunyi-sembunyian di bulan terang. Juga tidak serupa dengan binten
dan bantingan di pasir tepian sungai. Meskipun binten dan bantingan
juga memer lukan ketangkasan, tetapi itu sekedar permainan. Tidak
ada cara lain yang pernah dipergunakan dalam binten selain cara-cara
yang sampai sekarang berlaku. Juga bantingan. Siapa yang berada di
bawah dalam hitungan tertentu la akan kalah. Tidak boleh menggigit,
tidak boleh menggelitik dan menarik rambut”Buntal
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tetapi ilmu olah kanuragan memer
lukan waktu untuk mengerti dan apalagi mendalaminya” Kiai Danatirta
berhenti sejenak, lalu “Apakah kau dapat mengira-ngirakan, berapa
waktu yang kau per lukan untuk mempelajari ilmu itu?“ Buntal tidak
menyahut. “Kau memerlukan waktu bertahun-tahun Buntal. Ya,
bertahun-tahun. Tetapi kau dapat melakukannya bertahap. Setapak demi
setapak. Dan setiap langkah, merupakan kebulatan-kebulatan tertentu”
Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Apakah kau sanggup?“ Buntal
memandang Kiai Danatirta sejenak, lalu “Ya Kiai. Aku sanggup”
“Apakah kau sudah berpikir baik-baik” “Sudah Kiai” Kiai Danatirta
mengangguk-angguk. Ia tahu bahwa sebenarnya Buntal memang ingin
sekali melakukannya. Tetapi seperti yang dikatakan, ia tidak berani
mengemukakannya kepada siapapun. “Kalau begitu baiklah. Aku memberi
kesempatan kepadamu untuk berlatih olah kanuragan. Tetapi kau harus
bersungguh- sungguh. Di dalam tiga bulan, aku akan melihat
kemajuanmu. Kalau kau t idak berhasil mencapai taraf yang
sewajarnya, maka sayang sekali, kau tidak akan dapat meneruskannya”
Buntal memandang Kiai Danatirta sejenak. Kemudian kepalanya
terangguk-angguk kecil. Namun demikian terbayang di wajahnya, tekad
yang mantap untuk ikut serta berlatih dir i, menyadap ilmu olah
kanuragan itu.“Kau masih belum jauh ketinggalan dari Raden Juwiring”
berkata Kiai Danatirta selanjutnya “Aku akan mencoba menyesuaikan
ilmu yang bersama-sama akan kalian pelajari” “Ya Kiai” jawab Buntal.
Terasa sesuatu melonjak di dadanya. Ia sama sekali t idak bermimpi
bahwa ia akan mendapat kesempatan yang baik itu. “Tetapi Buntal. Ada
beberapa pantangan dan kewajiban yang harus kau lakukan dengan
tertib, apabila kau mulai mempelajari ilmu olah kanuragan” berkata
Kiai Danatirta selanjutnya “Apakah kau akan bersedia melakukannya”
Buntal menganggukkan kepalanya. “Buntal. Kalau sekali kau mencecap
ilmu dari padepokan ini maka untuk seterusnya kau tidak akan pernah
dapat melepaskan dir i dari kewaj iban-kewaj iban dan pantangan-
pantangan itu. Seumur hidupmu. Kau mengerti arti dari tanggung jawab
itu?“ Buntal menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia
menganggukkan kepalanya. Katanya “Aku mengerti Kiai” “Baiklah. Aku
akan mencobanya. Tetapi seandainya kau gagal setelah tiga bulan,
namun pantangan dan kuwaj iban itu masih akan tetap berlaku bagimu
sepanjang hidupmu, kecuali apabila kemudian kau berniat melepaskan
dir i dari keluarga kami untuk seterusnya pula, serta menanggung
segala akibatnya” Buntal masih mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dengarlah baik-baik” berkata Kiai Danatirta kemudian “pantangan
lahiriah yang dapat aku beritahukan sebagai salah satu contoh
adalah, kau harus merahasiakan bahwa di padepokan ini telah
dilakukan penurunan ilmu olah kanuragan, sehingga dengan demikian
kau tidak boleh menunjukkan kemampuanmu dimanapun juga apabila kau
tidak terpaksasekali. Dan kau harus menghindarkan kesan, bahwa ilmu
yang kau miliki itu kau dapat dari padepokan ini” Buntal
menganggukkan kepala. “Kemudian, sebenarnyalah bahwa semua
kemungkinan itu sumbernya adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Kau harus
berjanji, bahwa ilmu yang kau dapat itu, sejauh-jauh mungkin kau
pergunakan untuk kemanusiaan dan mencari ridho dari Tuhan Yang Maha
Kuasa“ Buntal termangu-mangu sejenak. “Maksudku, bahwa dengan ilmu
itu kelak, kau harus berusaha berjalan dalam kebenaran” “O“ Buntal
mengangguk- angguk “Ayahku dahulu juga berkata begitu. Aku harus
pasrah diri kepada Tuhan” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya.
Katanya “Jadi ayahmu juga berkata begitu?“ “Ya Kiai” Kiai
Danatirtapun mengangguk. Ternyata meskipun ayah Buntal sekedar
seorang pelayan, tetapi ia memperhatikan sekali kepada anaknya,
bukan saja hidup jasmaniahnya, tetapi juga hidiup rohaniahnya. Tentu
saja sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya. Demikianlah, maka
kesempatan yang diberikan kepada Buntal itu sangat menggembirakan
Raden Juwiring. Mempelajari olah kanuragan seorang diri, terasa
kurangmenggairahkan. Tetapi berdua, agaknya suasananya akan menjadi
lebih hidup. Keduanya dapat saling mengisi kekurangan-kekurangan
yang ada pada diri masing-masing Sedangkan Kiai Danatirta sendiri
akan mendapat bahan pertimbangan dari perkembangan kedua mur id-mur
idnya itu. Namun demikian, tidak seorangpun yang mengetahui bahwa di
padepokan kecil itu dua orang anak-anak muda sedang menerima ilmu
olah kanuragan. Karena tidak seorangpun yang tinggal di padukuhan
itu yang mengetahui, bahwa Kiai Danatirta adalah seorang yang
mumpuni. Mereka hanya mengenalnya sebagai seorang tua yang baik,
yang mempunyai pengetahuan yang luas dan menjadi tempat untuk
mendapatkan nasehat dan petunjuk-petunjuk apabila di dalam
perjalanan hidup seseorang dijumpai kesulitan. Namun tidak
seorangpun yang menyangka, bahwa dibalik wadagnya yang tampaknya
lemah, Kiai Danatirta memiliki ilmu yang tinggi dalam olah
kanuragan. Seperti yang dijanjikan kepada diri sendiri, ilmu itu
hanya akan diberikan kepada mereka yang sesuai di hatinya. Dan yang
sesuai baginya adalah anak-anak muda yang lembah manah. Anak-anak
muda yang rendah hati dan jujur. Terlebih- lebih adalah anak-anak
muda yang mengenal dirinya sendiri sesuai dengan tempatnya di dalam
alam semesta, serta hubungan yang akrab antara alam yang besar dan
alam kecil di dalam putaran waktu dan kejadian, dalam ikatan sebab
dan akibat, yang berporos pada suatu sumber gerak yang Maha
Mengetahui. Dan pilihan Kiai Danatirta pertama-tama jatuh pada
seorang keturunan bangsawan yang sedang berprihatin. Raden Juwiring.
Namun kemudian ia melihat sesuatu yang tidak kalah bobotnya yang
terdapat di dalam diri anak muda yang sederhana, yang diketemukannya
dengan cara yang aneh. Buntal.Meskipun demikian Kiai Danatirta cukup
berhati-hati la t idak segera menuangkan pokok-pokok ilmu yang
sebenarnya dari ilmunya. Yang sebenarnya diberikan dalam bulan-bulan
pertama sampai ketiga adalah sekedar olah kanuragan yang pada
umumnya dikuasai oleh anak-anak muda dan apalagi prajurit-prajurit,
yang tidak mempunyai ke khususan sama sekali. Namun demikian, mur
id-mur idnya itu seakan-akan sudah harus bekerja berat dan berlatih
mati-matian. Sehingga dengan demikian Kiai Danatirta dapat menilai,
apakah ia akan dapat melanjutkan atau harus diambil keputusan lain.
Kiai Danatirta tidak mau mengulangi kesalahannya lagi. Bagaimanapun
juga, sebagai manusia ia pernah khilaf. Orang yang mula-mula dapat
menumbuhkan kepercayaannya, ternyata telah menimbulkan banyak
kesulitan padanya, sehingga ia harus meninggalkan padepokannya yang
lama dan tinggal di padepokannya yang baru ini. Orang yang pertama
kali berhasil memasuki perguruannya ternyata bukanlah orang yang
diharapkannya. Kiai Danatirta selalu menghela nafas dalam-dalam
apabila ia terkenang masa-masa lampau yang pahit itu. Tetapi seluruh
kesalahan itu tidak dapat aku timpakan padanya desisnya setiap kali
“Anakku juga ikut bersalah” Dan terbayang kembali hubungan yang
sangat akrab antara muridnya itu dengan anak puterinya. Dan saat
itu, Kiai Danatirta yang masih mempergunakan nama lain, sama sekali
tidak berkeberatan. Bahkan ia mengharap bahwa mur idnya itu kelak
akan menjadi pewaris ilmunya, sekaligus menantunya. Tetapi ternyata
harapan itu sama sekali tidak dapat terwujud. Bahkan yang terjadi
adalah sebaliknya. Malapetaka. Ternyata puterinya sama sekali tidak
bermaksud hidup bersama muridnya. Hubungan yang akrab itu adalah
sekedar hubungan antara orang serumah. Sejauh-jauhnya hubunganantara
kakak beradik. Ternyata puterinya telah menjatuhkan pilihan atas
cintanya kepada orang lain. Kepada anak muda yang lain. Kiai
Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Peristiwa itu selalu
mengingatkannya, bahwa ia adalah seorang manusia biasa. Seorang
manusia yang lemah, jasmaniah dan rohaniah. “Tuhan telah menegur aku
dengan cara yang sangat keras “ keluh Danatirta “Aku waktu itu
memang terlampau bangga atas kelebihanku dari orang-orang
kebanyakan. Tetapi Tuhan telah menunjukkan kelemahanku. Kelemahan
yang tidak dipunyai oleh orang lain yang aku anggap jauh lebih lemah
daripadaku” Orang tua itu menar ik nafas dalam-dalam, dan ia
melanjutkannya di dalam hati “ternyata yang lemah itu memiliki
kekuatan, dan yang kuat itu memiliki kelemahan. Mungkin aku dapat
menunjukkan kelebihanku dalam olah kanuragan, tetapi tidak dalam
menuntun anak. Orang yang paling lemah di dalam olah kanuragan dapat
menuntun anaknya sampai ke puncak kemampuan untuk sesuatu bidang
unsur hidup manusiawi. Tetapi aku tidak” Orang tua itu mengelus
dadanya dengan telapak tangannya, seakan-akan ingin menekan gejolak
yang meronta-ronta di dalamdadanya itu. Terbayang kembali betapa
anak perempuannya itu menolak segala nasehatnya, dan atas
kehendaknya sendiri, ia telah dilarikan oleh laki- laki yang
dicintainya. Namun itu bukan peristiwa yang terakhir. Muridnya yang
menjadi panas tanpa setahunya telah mencari kedua anak- anak muda
itu. Betapa pahitnya ketika ia kemudian mengetahui bahwa kedua laki-
laki muda itu mati sampyuh di dalam satu perkelahian yang jantan.
Keduanya mempergunakan keris dengan warangan yang kuat, dan
kedua-duanya ternyata telah tergores oleh keris itu, sehingga jiwa
mereka t idak tertolong lagi.Dengan demikian, maka tidak ada yang
dapat dilakukan sebagai seorang ayah untuk mengambil anaknya
kembali, anaknya yang justru telah mengandung. Hidup yang pahit itu
harus ditanggungkannya. Ketika cucunya lahir, maka ibu yang selalu
dibebani oleh perasaan bersalah itu tidak dapat tertahan hidup lebih
lama lagi. Anak perempuan Kiai Danatirta yang melahirkan anak
perempuan itupun kemudian meninggal. Kiai Danatirta menarik nafas
dalam-dalam. Cucunya itulah yang kini bernama Arum. Tetapi tidak
seorangpun yang mengetahui bahwa Arum adalah cucunya. Di tempatnya
yang baru itu. Sejak ia membuka padepokan kecil yang dinamainya
seperti hatinya yang kering, padepokan Jati Aking, di sebelah
padukuhan Jatisari, ia sudah menganggap Arum sebagai pengganti
anaknya yang telah hilang dari hatinya itu. Dengan sepenuh hati Kiai
Danatirta mendidik cucunya itu, agar ia dapat menebus kelengahannya
selagi ia momong anaknya perempuan, sehingga terjadi peristiwa yang
sangar membekas di hatinya. Namun tiba-tiba Kiai Danatirta itu
bagaikan terlonjak di tempat duduknya. Dengan suara gemetar ia
berkata kepada diri sendiri “Sekarang aku telah menyediakan minyak
itu didekat api. O, alangkah bodohnya aku ini. Di padepokan ini
sekarang ada dua orang anak muda. Aku sendirilah yang menempatkan
mereka disini. Di padepokan ini, bersama-sama dengar Arum” Kesadaran
itu ternyata telah mencemaskan hati Kiai Danatirta. Sekali-sekali
terbayang wajah Raden Juwiring yang selalu dihiasi dengan senyum
yang menawan. Kemudian wajah Buntal yang sederhana tetapi
bersungguh-sungguh penuh pengertian atas alas keprihatinan.Kiai
Danatirta menar ik nafas dalam-dalam. Keduanya telah terlanjur
berada di padepokannya. Dan keduanya baginya adalah anak muda yang
baik. “Suatu masa pendadaran bagiku“ berkata Kiai Danatirta, lalu
“sampai umurku setua ini, aku masih harus menjalani ujian yang
berat. Mudah-mudahan kali ini aku dapat mengatasinya. Dan
mudah-mudahan kedua anak-anak muda ini mempunyai perhatian yang
berbeda dari muridku yang dahulu. Atau tergantung kepadaku,
bagaimana caraku mengarahkan hubungan mereka bertiga” Namun
kesadaran itu telah membuat Kiai Danatirta menjadi berhati-hati. Dan
ia merasa bersyukur atas kenangan yang selalu membayang, sehingga
seakan-akan ia selalu dihadapkan pada sebuah cermin untuk selalu
melihat cacat di wajahnya. Dan setiap kali Kiai Danatirta selalu
berkata, bukan saja kepada diri sendiri, tetapi juga kepada
murid-mur idnya “Di dalam kekuatan terdapat kelemahan, dan di dalam
kelemahan terdapat kekuatan. Tetapi pada pekan-pekan pertama ia
mulai member ikan latihan kepada muridnya itu, telah timbul suatu
persoalan baru bagi Kiai Danatirta. Anaknya, Arum minta kepadanya
dengan sepenuh hati, bahkan sambil merengek, agar ia diperkenankan
ikut mempelajari olah kanuragan. “Kau seorang gadis” berkata ayahnya
“Tidak menjadi kebiasaan seorang gadis mempelajari olah kanuragan”
”Tetapi aku ingin sekali ayah. Biarlah orang lain tidak. Kalau ayah
mau menurunkan ilmu itu kepada orang lain, kenapa tidak kepadaku?
Kepada anaknya, meskipun aku seorang perempuan?“ “Arum. Mempelajari
ilmu kanuragan bukanlah sekedar menjadi seorang yang tangguh. Tetapi
sesuai dengan wadag seorang Laki-laki, ia pantas pergi dari satu
tempat ke tempatyang lain untuk mengamalkan ilmunya. Tetapi tidak
bagi seorang gadis. Tidak pantas sama sekali, dan bahayanya jauh
lebih dahsyat dari seorang laki-laki” “Apakah seorang laki-laki
tidak dapat menjumpai bahaya? Apakah seorang Laki- laki tidak akan
pernah menjumpai lawan yang melampauinya, tetapi selalu demikian
bagi perempuan? Dan perempuan selalu tidak akaln dapat melepaskan
diri dari bahaya?“ “Bukan begitu Arum. Bahaya yang paling besar bagi
seorang laki- laki adalah maut. Tetapi tidak bagi perempuan. Kau
mengerti? Masih ada bencana yang lebih dahsyat dari maut, justru
karena ia terlepas dari maut itu” Arum menundukkan kepalanya, la
mengerti maksud ayahnya. Perempuan memang mempunyai kelemahannya
sendiri. Mungkin dalam sebuah perjalanan ia bertemu dengan orang
yang tidak dapat dikalahkannya. Tetapi orang itu tidak membunuhnya.
Dan karena justru ia tidak dibunuh itulah ia akan jatuh ke dalam
neraka yang lebih jahat dari mati. Tetapi tiba-tiba saja Arum
mengangkat wajahnya sambil menyahut dengan serta meria “Aku akan
membunuh dir i di dalam keadaan yang demikian” “Arum” suara Kiai
Danatirta merendah “bunuh diri bukannya penyelesaian yang baik.
Justru seorang yang bunuh diri akan menjumpai persoalan tanpa
selesai, karena persoalannya beralih menjadi persoalan dan
pertanggungan jawab kepada Tuhan Yang Maha Penyayang. Jelasnya bunuh
diri apapun alasannya adalah perbuatan dosa” “Baiklah, aku tidak
akan membunuh diri. Tetapi aku akan memilih melawan sampai mati
seperti Laki- laki. apabila kebetulan saja aku mengalami perist iwa
yang pahit itu” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Hati anak
perempuannya itu memang keras, sekeras hati ibunya.Dengan demikian
maka kecemasan mulai merayapi dada orang tua itu. Kalau pada suatu
saat anaknya ini tergelincir, maka ia akan mengeraskan hatinya di
dalam kesesatannnya itu seperti ibunya. Karena Kiai Danatirta tidak
segera menjawab, maka Arum mendesaknya “Kenapa ayah diam saja?“
“Baiklah aku memikirkannya Arum” “Kenapa harus dipikirkan?“
“Tunggulah sehari dua hari. Aku akan menimbang baik dan buruknya”
Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Tetapi kenapa kau tiba-tiba
saja ingin ikut serta mempelajari olah kanuragan? Kenapa t idak
sebelum ini?“ “Aku tidak tahu ayah. tetapi memang tiba-tiba saja aku
ingin mempelajar inya” “Baiklah. Baiklah. Aku akan
mempertimbangkannya” “Apa yang harus dipertimbangkan? Aku menyatakan
keinginanku mempelajarinya. Bukan untuk dipertimbangkan. Akulah yang
bermaksud berbuat dan aku akan berbuat” Dada Kiai Danatirta berdesir
mendengar jawaban itu. Jawaban itu mirip benar dengan jawaban ibunya
ketika ia mencoba mencegahnya berhubungan dengan seorang Laki-laki
diluar padepokannya. Ibu Arum itu menjawab “Ayah tidak perlu
mempersoalkannya. Akulah yang akan kawin. Bukan ayah. Karena itulah,
akulah yang memutuskannya” Pada saat itu. hampir saja ia menampar
mulut anaknya. Untunglah bahwa ia masih dapat mengendalikan dirinya,
meskipun saat itu ia mengancam “Kalau laki- laki itu masih datang
lagi kepadamu, aku bunuh dia” Tetapi yang terjadi justru anaknya
dibawa lari, Dan mur idnyalah yang membunuh laki- laki itu sampyuh
dengan kematian sendir i. Dua j iwa telah menjadi korban.Sejenak
Kiai Danatirta merenung. Namun karena ayahnya tiba-tiba saja
memandang kekejauhan, dan bahkan terbayang perasaan yang pedih di
matanya tanpa diketahui sebab yang sebenarnya, Arum menjadi
berdebar-debar. Ia menyangka, bahwa kata-katanya lelah menyakiti
hati ayahnya. Sama sekali tidak terbayang di kepalanya, bahwa
ayahnya yang sebenarnya adalah kakeknya itu sedang membayangkan
suatu masa lampau yang panjang. “Ayah” tiba-tiba Arum berjongkok di
hadapan ayahnya yang duduk di bibir amben “Kenapa ayah merenung?“
“O” Kiai Danatirta terkejut. Kemudian iapun tersenyum sambil berkata
“Tidak apa-apa Arum” “Apakah kata-kataku melukai hati ayah?“ Kiai
Danatirta menarik nafas dalam. Jawabnya “Tidak Arum. Tetapi ayah
ingin anaknya menuruti kata-katanya. Tentu saja, ayah tidak selalu
benar. Tetapi kadang-kadang seorang tua, betapapun bodohnya,
mempunyai firasat tentang anak- anaknya” “Maafkan aku ayah” suara
Arum merendah “Aku tidak akan memaksa ayah. Aku akan menurut segala
nasehat ayah. Aku hanya sekedar menyatakan keinginan hatiku. Tetapi
terserahlah kepada ayah” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam.
Inilah bedanya Arum dengan ibunya. Ternyata Arum mempunyai
kelembutan di samping kekerasan hatinya. Karena Kiai Danatirta tidak
segera menjawab, maka Arumpun berkata pula “Apakah ayah marah
kepadaku?““O, tidak. Tidak Arum. Aku t idak marah” “Tetapi ayah diam
saja “ “Aku sedang berpikir” “Ayah tidak usah memaksa diri untuk
mengambil keputusan sekarang. Aku akan menunggu” Kiai Danatirta
memandang Arum sejenak. Kemudian sekali lagi ia tersenyum “Ya. Kau
memang harus menunggu” Meskipun Arum kemudian meninggalkan Kiai
Danatirta, namun Kiai Danatirta masih tetap dibebani oleh persoalan
itu. Dicobanya untuk menilai untung ruginya. Permintaan Arum baginya
merupakan suatu persoalan yang memang baru. Ibunya dulu sama sekali
tidak tertarik pada olah kanuragan. Bahkan sebagian hidupnya telah
dihabiskannya bekerja di sawah dan di dapur. Dan sebagian yang lain
untuk dengan diam-diam menemui laki- laki yang kemudian
melarikannya. “Apakah ada baiknya aku memberi kesempatan kepada Arum
untuk mempelajari olah kanuragan?“ pertanyaan itu mulai merayap di
hatinya “Ia akan mempunyai suatu perhatian khusus di dalamhidupnya”
Namun demikian, Kiai Danatirta masih selalu dibayangi oleh
keragu-raguan. Ia memang pernah mendengar atau membaca di dalam
kitab-kitab, bahwa pernah ada raja-raja perempuan di Tanah Jawa ini.
Pahlawan-pahlawan perempuan di ceritera pewayangan dan
prajurit-prajurit perempuan. Tetapi lingkungannya sendiri belum
pernah melahirkan seorang perempuan yang mumpuni di dalamolah
kanuragan. “Aku akan melihat kemungkinan-kemungkinannya” berkata
Kiai Danatirta kemudian kepada dir i sendiri. Sebagai seorang yang
memiliki ilmu yang masak, maka Kiai Danatirta mampu menilai setiap
unsur gerak dari ilmunya dari beberapa segi. Dan itulah sebabnya,
maka sejak ia mulai mempertimbangkan kemungkinan memberikan
ilmukanuragan kepada Arum Kiai Danatirta mulai melakukan penilaian
lebih saksama lagi atas ilmunya. Di malam hari, ketika seisi
padepokan itu sudah tidur, maka masuklah ia ke dalam bilik
tertutupnya. Diamatinya kembali setiap tata gerak dari yang paling
sederhana sampai kepada yang paling sulit. Tiba-tiba Kiai Danatirta
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menemukan beberapa unsur gerak
yang dapat disesuaikan dengan kemampuan kodrati seorang perempuan.
Tetapi Kiai Danatirta masih belum puas dengan penemuannya yang hanya
sekedar unsur-unsur gerak yang terselip di dalam keseluruhan tata
gerak, sehingga tidak merupakan suatu kebulatan yang utuh. Namun
justru karena itu, maka Kiai Danatirta ternyata telah memulai dengan
suatu kerja yang baru. Menyusun ilmu kanuragan khusus untuk seorang
perempuan, namun yang tidak kalah dah-syahnya dari ilmu yang
diperuntukkannya bagi seorang laki-laki berdasarkan perbedaan
wadagnya. Setiap kali Kiai Danatirta berletnu dengan Arum, tampaklah
pertanyaan tersirat di wajah anak itu. Tetapi Kiai Danatirta masih
belum memberikan jawaban. Dan betapapun gelisahnya dada gadis itu,
namun Arum juga tidak bertanya kepada ayahnya. Dalam pada itu. Raden
Juwiring dan Buntal masih teras melakukan latihan-latihan di bawah
tuntunan Kiai Danatirta. Meskipun masih merupakan gerak-gerak dasar
dan bersifat umum, tetapi kedua anak-anak muda itu merasa bahwa
mereka harus bekerja keras dan dengan penuh kesungguhan. Ternyata
kedua anak-anak muda itu member ikan kepuasan kepada Kiai Danatirta.
Keduanya adalah anak-anak yang baik. Dan keduanya mempunyai tubuh
yang memungkinkan bagi mereka untuk melakukan latihan- latihan yang
berat seperti yang dikehendaki oleh Kiai Danatirta.Namun di malam
hari, apabila padepokan itu sudah sepi, Kiai Danatirta masih berada
dibilik tertutup itu sendiri. Dengan tekun ia mematangkan bentuk
baru dari ilmunya, meskipun isinya tidak berbeda. Pada suatu malam
yang sepi, Arum terkejut ketika ia mendengar pintu biliknya
bergerit. Dengan serta merta ia bangkit dan duduk di pembaringannya.
Namun gadis itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat ayahnya
berdiri dimuka pintu. “Apakah kau sudah tidur Arum?“ Arum
menggelengkan kepalanya “Belum ayah. Udara panas sekali sehingga aku
tidak dapat tidur” Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya kemudian
“Kalau kau masih belum ingin tidur, kemarilah Marilah kita duduk
diluar sejenak, untuk menyegarkan badan” Arum mengerutkan keningnya.
Tetapi ia tidak bertanya lagi. iapun segera bangkit berdiri dan
membenahi pakaiannya. Kemudian diikutinya ayahnya melangkah keluar
melalui pintu pringgitan melintasi pendapa. Arum menarik nafas.
Ayahnya itupun kemudian duduk di tangga pendapa. “Disini tidak
begitu panas” berkata ayahnya. “Ya ayah” “Duduklah disini“ Arumpun
kemudian duduk di samping ayahnya. “Arum” suara ayahnya menjadi
dalam “Apakah kau masih tetap pada keinginanmu?“ “Apa ayah?“
bertanya Arum. “Olah kanuragan?““O. Ya ayah. Aku hampir tidak sabar
menunggu jawaban ayah. Aku kira ayah sudah melupakannya, atau
sengaja membiarkan saja persoalan itu” “Kenapa kalau begitu?“ “Aku
tidak mau ayah. Aku harus mendapatkan ilmu seperti orang lain di
padepokan ini, meskipun aku perempuan” “Bagaimana kalau ayah
berpendirian lain?“ “Tidak. Ayah tidak akan berpendirian lain. Aku
memer lukannya. Kalau aku tidak minta kepada ayah, lalu kepada
siapa?” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Inilah sifat
Arum yang sebenarnya. Sekeras sifat ibunya. Namun Kiai Danatirtapun
kemudian berkata “Jadi kau telah mencabut pendir ianmu itu?“
“Pendirian yang mana? Aku tidak pernah mencabut sikap yang telah aku
tentukan” “Arum” berkata ayahnya “Bukankah kau mengatakan waktu itu
kepada ayah, bahwa kau menyerahkan semuanya kepadaku. Apakah aku
akan mengij inkan atau tidak? Bukankah kau tidak akan memaksa ayah
dan menurut segala nasehat ayah” “O“ kepala gadis itupun tertunduk.
Perlahan-lahan ia berdesis “Maafkan ayah. Aku memang tidak akan
memaksa ayah dan aku akan menurut segala kehendak ayah” Kiai
Danatirta menar ik nafas dalam-dalam. Di samping sifat-sifatnya,
Arum telah berhasil menguasai dir inya sendiri meskipun
kadang-kadang terlepas. Tetapi untuk seterusnya, ia harus
berhati-hati, agar Arum tetap dapat memelihara keseimbangan itu.
Bahkan agar ia semakin dekat dengan penguasaan diri tanpa memanjakan
perasaannya. Dan inilah kelebihan Arum dar i ibunya. Melihat Arum
menundukkan kepalanya dalam-dalam denganpenuh kecewa Kiai Danatirta
menjadi iba. Karena itu maka katanya “Bagus Arum. Kau adalah anak
yang baik. Kau akan tetap menurut nasehat ayah dan tidak akan
memaksa. Bukankah begitu?” “Ya ayah” suara Arum dalam sekali. Bahkan
hampir t idak terdengar, karena Arum sedang berusaha untuk menahan
air matanya yang telah memanasi pelupuknya. Tetapi tiba-tiba ia
terperanjat ketika ayahnya berkata “Arum. Tetapi bukankah aku belum
mengatakan keputusanku tentang permintaanmu?“ Arum mengangkat
wajahnya. Sepercik harapan membayang di wajahnya. Tanpa sesadarnya
ia bertanya “Jadi maksud ayah?“ Kiai Danatirta menarik nafas
dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berkata “Arum. Sebenarnya memang
kurang laj im seorang gadis mempelajari olah kanuragan. Namun karena
kau adalah anakku, maka aku telah mencoba untuk menyingkirkan
kejanggalan itu dari hatiku” Sebelum Kiai Danatirta melanjutkan
kata-katanya, Arum telah melonjak dan berlutut di hadapan ayahnya
sambil berkata “Terima kasih ayah. Terima kasih” Sebuah senyum yang
cerah membayang di bibirnya, meskipun di matanya secercah air telah
membasahi pelupuknya. Namun sebenarnya Kiai Danatirta mempunyai
kepentingan yang. lain pula. la ingin mempergunakan keinginan Arum
untuk mempelajari ilmu kanuragan itu sebagai cara untuk
menghindarkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak dikehendaki, justru
karena di padepokan itu sudah terlanjur terdapat dua orang anak-anak
muda.Demikianlah, maka Arum merasa bahwa dadanya menjadi terlampau
lapang. Keinginannya akan terwujud. Bukan saja laki- laki yang boleh
menyadap ilmu kanuragan, tetapi ayahnya kini sudah memperkenankannya
untuk ikut serta. “Tetapi” berkata ayahnya “Kau harus tetap seorang
gadis Arum. Kau harus tetap berlaku sebagai seorang gadis. Dan kau
harus tetap menunjukkan sifat-sifatmu di antara kawan- kawanmu. Kau
tidak boleh menunjukkan perubahan apapun yang terjadi pada dirimu,
seandainya kelak kau berhasil menguasai ilmu kanuragan ini” “Aku
berjanj i ayah” “Dan kau tidak pernah ingkar janji?“ Arumtersenyum.
Tetapi ia tidak menyahut. Dalam pada itu, maka Arum tidak sabar lagi
menunggu hari-hari berikutnya. Ia ingin segera mulai. Ia ingin
segera mempelajari ilmu yang selama ini hanya dapat dilihatnya.
Tetapi ayahnya masih belum memulainya, meskipun beberapa hari telah
lewat. “Apakah ayah hanya sekedar menyenangkan hatiku saja” berkata
Arum di dalam hatinya “Tetapi untuk seterusnya ilmu itu tidak pernah
diberikannya?“ Namun pada suatu senja, Arum telah dipanggil ayahnya
dibangsal latihan. Ketika ia masuk, ternyata di dalam bilik yang
agak luas itu telah menunggu Raden Juwiring dan Buntal. “Apakah
kalian akan berlatih” bertanya Arum. Hampir berbareng keduanya
menggeleng. Juwiringlah yang kemudian menjawab “Kami telah dipanggil
oleh Kiai Danatirta di luar saat-saat berlatih” Arum mengerutkan
keningnya. Agaknya ayahnyalah yang masih belumada di ruang
itu.Tetapi Arum tidak menunggu terlalu lama. Sebentar kemudian maka
Kiai Danatirtapun telah datang pula ke dalam ruangan itu.
“Anak-anakku” berkata orang tua itu sejenak kemudian “aku memang
memanggil kalian bersama-sama. Ada sesuatu yang harus aku
beritahukan kepada kalian” Ketiga anak-anak muda itu menjadi
berdebar-debar. “Pertama-tama, aku memberitahukan kepada Raden
Juwiring dan Buntal, bahwa Arum ternyata menyatakan keinginannya
untuk mempelajari olah kanuragan. Suatu hal yang janggal bagi
seorang gadis. Tetapi itu adalah keinginannya. Dan akupun tidak
berkeberatan” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Tetapi sudah
barang tentu, bahwa meskipun ilmu kalian bersumber pada sifat dan
watak yang sama, namun pasti ada perbedaannya di dalam ungkapan,
karena bagi seorang laki-laki tentu ada bedanya dari seorang
perempuan” Ketiga anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak.
Terbayang sebuah senyum di bibir Arum. Sedang Juwiring dan Buntal
mengangguk-angguk tanpa sesadarnya. Tetapi terlebih-lebih lagi, aku
akaln memberitahukan kepada kalian, hubungan yang harus kalian
mengerti setelah kalian berguru bersama-sama” Kiai Danatirta
berhenti sejenak. Dipandanginya wajah ketiga anak-anak muda itu satu
demi satu. Lalu “ Setelah kalian menjadi murid dari satu perguruan,
maka kalian akan menjadi tiga orang bersaudara. Tidak ada bedanya
dengan saudara sekandung. Akulah yang menjadi ayah kalian dan ilmu
yang akan kalian serap itu adalah pengikat dari persaudaraan kalian”
Ketiga anak-anak muda itupun menundukkan wajahnya. “Nah, biarlah aku
menentukan siapakah yang paling tua di antara kalian, di antara
saudara sekandung di dalam penyadapan ilmu ini” berkata Kiai
Danatirta kemudian “Bukanberdasarkan waktu kehadirannya di padepokan
ini. Jika seandainya demikian, maka Arumlah yang akan menjadi paling
tua. Tetapi berdasarkan umur, Raden Juwiring akan menjadi saudara
tertua. Buntal akan menjadi anak kedua dan yang bungsu adalah Arum.
Sudah tentu sejak sekarang, kalian tidak akan memanggil dengan
istilah lain dari istilah persaudaraan ini, dan kalian akan
memanggil aku ayah. Memang agak berbeda dengan sebutan perguruan,
tetapi aku memang tidak ingin menunjukkan kepada tetangga-tetangga
kita. bahwa kita telah mendirikan suatu perguruan kanuragan” Ketiga
anak muda itu mengangguk-angguk. Sejenak mereka terpukau oleh
kata-kata Kiai Danatirta. “Apakah kalian tidak berkeberatan?“
bertanya Kiai Danatirta kemudian “terutama Raden Juwiring, yang
berasal dari keluarga yang agak berbeda dengan kami disini. Dengan
Buntal dan dengan Arum” “Ah“ Juwir ing berdesah “Apakah bedanya?“
“Jadi kau tidak berkeberatan?“ bertanya Kiai Danatirta. Juwiring
menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak berkeberatan sama sekali.
Aku merasa menemukan saudara sekandung yang dapat aku hayati
daripada saudaraku yang sebenarnya. Disini aku menemukan kedamaian
hati yang sebenarnya. Di istana ayahnda aku merasa tersiksa.
Meskipun aku tinggal rumah yang mewah dan besar, tetapi setiap saat
selalu dibayangi oleh kedengkian dan ir i” Kiai Danatirta
mengangguk-angguk pula. “Baiklah kau memang tidak berkeberatan.
Untuk seterusnya aku hanya akan memanggil nama kalian masing-masing,
karena kalian adalah anak-anakku. Tetapi aku sama sekali tidak
berhasrat untuk merubah nama itu” Ketiga anak-anak muda itu tidak
menyahut.“Nah, dengan demikian maka kita mempunyai keluarga baru
yang besar sekarang. Tetapi jangan menunjukkan perubahan apapun
kepada orang lain. Kepada tetangga- tetangga dan kawan-kawan kalian
di padukuhan ini. Kalian harus tetap seperti kemarin. Juga Juwiring
masih tetap seperti Raden Juwiring, karena setiap orang mengetahui
bahwa kau adalah seorang bangsawan yang dititipkan kepadaku, untuk
mendapatkan tuntunan olah kajiwan. Bukan olah kanuragan” Juwiring
mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menyahut Sesaat terbayang
kehidupan yang telah ditinggalkannya. Terbayang sebuah istana yang
megah dari seorang bangsawan yang kaya. Tetapi justru karena ayahnya
seorang yang kaya, dan tidak hanya mempunyai seorang isteri, maka
rumah yang megah itu telah menjadi sarang kedengkiain dan iri.
Setiap orang selalu curiga kepada orang lain. Kebencian tidak lagi
dapat dihindarkan lagi. Sehingga akhirnya ia terlempar ke padukuhan
kecil itu karena bermacam-macam alasan yang sebagian terbesar tidak
benar sama sekali, la sadar, bahwa ia sekedar disingkirkan dari
lingkungannya yang sedang bergulat berebut kesempatan untuk
mendapatkan warisan terbesar. “Hem“ Juwir ing menarik nafas
dalam-dalam. Terbayang pula wajah adik seayah tetapi tidak seibu
yang umurnya hampir bersamaan dengan umurnya ”Rudira” Juwiring
terkejut ketika ia mendengar Kiai Danatirta berkata “Sudahlah. Aku
tidak mempunyai persoalan lagi kini. Kalian dapat meninggalkan
ruangan ini. Besok kita akan mulai dengan ilmu kanuragan dari
padepokan ini yang sebenarnya. Selama ini, kalian sekedar mendapat
dasar-dasar olah kanuragan pada umumnya. Meskipun waktu yang aku
tetapkan sebagai waktu percobaan dan pendadaran belum habis, tetapi
aku percaya kepada kalian, bahwa kalian akan selalu melakukan semua
petunjukku sebaik-baiknya”Demikianlah maka ketiga anak-anak muda itu
meninggalkan bilik tempat mereka berlatih. Terasa sesuatu yang lain
di dalam diri mereka Kini mereka harus menganggap yang satu dengan
yang lain sebagai saudara. Saudara sekandung. Dihari-har i
berikutnya, seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, ketiganya
mulai mendapatkan latihan-latihan khusus. Mereka mulai mempelajari
unsur-unsur gerak yang agak lain dari unsur-unsur gerak yang selama
ini mereka pelajari. Sedangkan Arum telah mendapat waktu tersendiri
di dalam latihan-latihan yang memang hanya diperuntukkan baginya.
Tetapi di dalam tata gerak dasar, mereka kadang-kadang juga berlatih
bersama. Ternyata mereka tidak mengecewakan hati Kiai Danatirta.
Mereka bertiga berlatih bersungguh-sungguh. Kadang-kadang diluar
dugaan, bahvta mereka mampu melakukan latihan- latihan yang berat
untuk waktu yang melampaui waktu yang sudah ditentukan oleh gurunya.
“Mereka benar-benar telah melakukan dengan sepenuh hati “berkata
Kiai Danatirta di dalamhatinya. Namun dalam pada itu, darah
keturunan Juwiring masih tetap menjadi teka-teki bagi Buntal. Ia
sama sekali tidak berani bertanya, darimanakah sebenarnya ia datang.
Dan putera siapakah ia sebenarnya. “Apakah ia putera seorang
pengeran yang lahir dari seorang selir?“ pertanyaan itulah yang
selalu melonjak di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, meskipun
Juwir ing telah menjadi anak angkat yang sekaligus murid Kiai
Danatirta, namun pengaruhnya bagi orang-orang di sekitarnya masih
tidak berubah. Bagaimanapun juga ujud lahir iahnya adalah seorang
bangsawan yang memang lain dari orang-orang kebanyakan.Bagi
tetangga-tetangga Kiai Danatirta, kehadiran seorang bangsawan di
padepokan itu mempunyai pengaruh tersendiri. Sikap mereka yang
sangat hormat dan segan kepada Juwiring sama sekali tidak berubah,
meskipun mereka lahu bahwa sesuatu telah terjadi, sehingga Juwiring
harus berada di padepokan Kiai Danatirta untuk menuntut ilmu kaj
iwan. Mempelajari kesusasteraan dan tata kesopanan. Tetapi diluar
dugaan mereka, bahwa di samping itu semua, Juwiring juga mempelajari
ilmu kanuragan. Demikianlah dar i waktu ke waktu, ketiga anak-anak
muda di padepokan Kiai Danatirta itu berkembang dengan pesatnya,
sesuai dengan idaman orang tua itu. Bukan saja dalam olah kanuragan.
Tetapi tabiat dan sifat merekapun menunjukkan ketulusan hati mereka.
Di siang hari mereka bekerja seperti kebanyakan anak-anak padukuhan
itu. Mereka pergi ke sawah. Membawa alat-alat pertanian dan pupuk.
Sedang Arum pergi kesungai mencuci pakaian dan berbelanja kepasar.
Kemudian ikut menanjak nasi dan masak di dapur seperti kebanyakan
gadis-gadis padesan. Demikianlah kehidupan yang tenang itu berjalan
terus, sehingga pada suatu saat, seekor kuda yang tegar berlari
memasuki halaman padepokan itu. Seorang laki-laki selengah umur yang
kemudian menarik kekang kuda itu, segera meloncat turun. Kiai
Danatirta yang berada di pr inggitan, bergegas menjengukkan
kepalanya. Tiba-tiba saja ia berlari-lari kecil menyongsong orang
berkuda itu sambil menyapanya “O, kau Dipanala” Orang yang kini
telah berdir i di halaman itu menganggukkan kepalanya, jawabnya “Ya
kakang” “Kemarilah. Sudah lama kau tidak datang” Dipanalapun
kemudian naik ke pendapa dan dipersilahkan masuk ke
pringgitan.Keduanyapun kemudian duduk berhadapan diatas sehelai
tikar pandan. Sejenak mereka saling menanyakan keselamatan
masing-masing setelah agak lama mereka tidak bertemu. “Sudah lama
sebenarnya aku ingin datang kepedukuhan ini. Tetapi aku masih
terlampau sibuk” “Apa kerjamu sebenarnya? Bukankah kau hanya harus
menghadap setiap keliwon dan duduk di regol dalam?“ “Ya, tetapi aku
mempunyai pekerjaan juga di Dalem Kapangeranan” “Apa kerjamu?“
bertanya Kiai Danatirta. Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya
kemudian “Memang tidak ada. Tetapi rasa-rasanya aku menjadi sangat
sibuk. Semakin lama rumah itu menjadi semakin gersang” “Kenapa?
Bukankah di dalamnya tersimpan harta benda yang tidak ternilai
jumlahnya” “Justru itulah sebabnya. Sekarang Raden Ayu Manik sudah
tidak ada lagi di Dalem Kapangeranan” “Raden Ayu Manik? Bagaimana
mungkin?“ “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Istana
Pangeran Ranakusuma. Tidak seorangpun akan menyangka bahwa pada
suatu saat Raden Ayu Manik keluar dari istana itu dan kembali ke
ayahandanya”“Bagaimana sikap Pangeran Raksanagara ketika puterinya.
dikembalikan kepadanya?“ “Betapa panas hati Pangeran tua itu. Tetapi
ia tidak dapat, berbuat banyak. Ia tidak lagi dapat menantang perang
tanding, karena tata kehidupan kebangsawanan sudah bergeser. Kini di
Istana Pangeran Ranakusuma sering terjadi semacam bujana makan dan
minum untuk menghormat tamu- tamunya” “Siapakah tamu-tamu itu?“
Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Itulah yang sangat
mencemaskan. Tamunya adalah orang-orang asing” “Kumpeni maksudmu?“
Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Kiai Danatirta berdesah
sambil mengusap dadanya. Terbayang kini di rongga matanya, tata cara
yang asing itu mulai merayap masuk ke dalam tata kehidupan para
bangsawan dan pembesar di pusat pemerintahan. Meskipun Kiai
Danatirta menyadari bahwa tidak semua adat dan tata cara orang asing
itu jelek, karena menurut anggapan lahiriah merekapun orang-orang
beradab, telapi kadang-kadang ada yang terasa seperti duri di
dalamdaging sendiri. “Jadi siapakah yang sekarang berkuasa di istana
Pangeran Ranakusuma?“ “Raden Ayu Sontrang “ “Raden Ayu Sontrang?“
“Ya, nama panggilan dari Raden Ayu Galihwar it, puteri Pangeran yang
agak kurang waras itu” “Pangeran Sindurata?“ “Ya”Kiai Danatirta
hanya dapat mengelus dadanya. Meskipun sepengetahuan orang banyak ia
bukan seorang bangsawan yang mempunyai lingkungan hidup setaraf
dengan mereka menurut bentuk lahir iah, tetapi yang terjadi itu
membuat hatinya terlampau pedih. Sehingga tanpa sesadarnya ia
berkata “Jadi bagaimana dengan Raden Juwir ing?“ Ki Dipanala
mengedarkan tatapan matanya keseputarannya. Seakan-akan ia sedang
mencari seseorang di ruangan itu. “Raden Juwiring tidak ada di
rumah. Ia pergi ke sawah dengan Buntal” “Siapakah Buntal itu?“
“Seorang anak pedesaan, sekedar untuk mengawani Raden Juwiring
disini. Tetapi nanti aku ceriterakan tentang anak itu” “Jadi anak
itu tidak ada?“ “Tidak” “Kakang Danatirta” berkata Dipanala kemudian
“nasib anak muda itu memang kurang baik. Selama ini, sepeninggal
ibunya, nasibnya seakan-akan tergantung dari belas kasihan Raden Ayu
Manik, karena meskipun ia anak tirinya, Raden Ayu Manik sendiri
tidak mempunyai anak. Tetapi sekarang Raden Ayu Manik tidak ada lagi
di istana itu. Hidupnya akan menjadi semakin terasing dari ke
luarganya, sehingga pada suatu saat ia akan dilupakan. Apalagi
derajat ibunya tidak setingkat dengan Raden Ayu Manik dan Raden Ayu
Sontrang” Dantirta menundukkan kepalanya. Desisnya “Ya, Rara Putih
memang tidak setingkat dengan Raden Ayu keduanya. Tetapi aku
meletakkan harapan kepada Raden Ayu Manik, bahwa ia akan berhasil
membawa Raden Juwir ing kembali ke istana itu meskipun untuk waktu
yang lama. Tetapi harapan itu akan menjadi semakin suram”“Ya kakang.
Yang sekarang hampir tidak dapat dikendalikan adalah Raden Rudira
dan adiknya Raden Ajeng Warih. Mereka merasa lebih berkuasa dari
ayahanda Pangeran Ranakusuma” “Aku sudah menyangka. Karena kedua
anak-anak itulah agaknya Raden Ayu Sontrang sampai hati
menyingkirkan saudara sepupunya sendiri dari istana” Kiai Danatirta
berhenti sejenak, lalu “Tetapi sebenarnya Raden Ayu Galihwar it yang
disebut Sontrang itu tidak usah berusaha mengusir puteri itu, karena
ia tidak berputera. Raden Ayu Manik tidak akan memer lukan pembagian
kekayaan suaminya, karena ia tidak mempunyai anak keturunan” “Bukan
anak keturunannya sendiri. Raden Ayu Manik selalu berbicara tentang
Raden Juwiring yang kini ada di padepokan ini. Itulah sebabnya Jika
demikian, maka hak Raden Juwiring akan menjadi sama dengan hak Raden
Rudira. Itulah yang membuat Raden Ayu Sontrang berusaha
menyingkirkan Raden Ayu Manik” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan
kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya “Apakah kau mengetahui cara
yang dipergunakan untuk mengusir Raden Ayu Manik?“ “Seperti yang
dilakukan buat mengusir Raden Juwiring. Adalah kebetulan sekali
bahwa Pangeran Raksanagara, ayah Raden Ayu Manik, sangat membenci
kepada kumpeni. Dan kebencian itu dapat dimanfaatkan dengan baik
sekali oleh Raden Ayu Sontrang. Ia minta bantuan kumpeni untuk
mendesak Pangeran Ranakusuma, agar Raden Ayu Manik, puteri seorang
yang memberi kumpeni itu dikembalikan kepada ayahnya. Kalau tidak,
kumpeni tidak akan mau berhubungan dengan Pangeran Ranakusuma di
dalam segala hal” “Gila. Benar-benar perbuatan yang sangat licik.
Alangkah bodohnya orang-orang asing itu. Mereka telah diperalat
untuk kepentingan pr ibadi dan nafsu ketamakan”“Tidak kakang. Bukan
suatu kebodohan. Orang-orang asing itu juga orang-orang tamak.
Mereka adalah orang-orang yang selalu kehausan apapun juga” “Tetapi
apakah yang mereka dapatkan dari Pangeran Ranakusuma?“ “Kumpeni
ingin mendapatkan dukungan yang kuat dari kalangan istana Surakarta
untuk dapat memberikan tekanan- tekanan lebih berat lagi bagi
Kangjeng Sunan. Kalau para Pangeran sudah berhasil dipengaruhinya,
dengan segala macam cara. sebagian dengan janji-janj i dan sebagian
lagi dengan harta benda, maka kedudukan Kangjeng Sunan akan menjadi
semakin lemah. Dengan demikian maka semua persetujuan yang
dipaksakan oleh kumpeni tidak akan dapat ditolaknya lagi” Dipanala
berhenti sejenak, lalu “Tetapi secara pribadi kumpeni itu juga
mendapat imbalan dari persoalan pribadi Raden Ayu Sontrang dan Raden
Ayu Manik” “Apa yang mereka dapatkan?“ Dipanala menarik nafas
dalam-dalam. Ditatapnya wajah Kiai Danatirta sejenak. Namun kemudian
ia hanya menelan ludahnya saja -sambil menundukkan kepalanya.
“Apakah yang mereka dapatkan secara pribadi?“ desak Kiai Danatirta”
“Maaf kakang. Sebenarnya aku tidak sampai hati untuk mengatakannya.
Tetapi apaboleh buat. Kau memang perlu mendapat gambaran seluruhnya”
Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu “berat sekali untuk
mengatakannya, justru menyangkut nama baik seorang puteri bangsawan”
Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Ketajaman perasaannya segera
menangkap persoalan yang belum dapat dikatakan oleh Ki Dipanala.
Karena itu justru Kiai Danatirtalah yang kemudian berkata “Dipanala.
Aku mengerti. Bukankah kau bermaksud mengatakan bahwa
kumpeni-kumpeni itu mendapat imbalan secara pribadi juga? Aku tahu
bahwaRaden Ayu Galihwarit, meskipun sudah berputera sebesar Raden
Rudira, namun nampaknya masih muda dan cantik. Menilik
sifat-sifatnya yang licik, maka memang mungkin sekali terjadi, bahwa
ia telah mengorbankan kehormatannya sebagai seorang puteri bangsawan
untuk mendapat jalan, mengusir Raden Ayu Manik” Ki Dipanala
menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menyahut “Dugaan itu tepat
kakang. Ia bahkan mendapatkan segala-galanya. Bukan sekedar bantuan
mengusir Raden Ayu Manik, tetapi ia memang memerlukannya. Bukankah
kau tahu, bahwa Pangeran Ranakusuma tidak lagi dapat berbuat apa-
apa untuknya?“ “Hem“ Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam
“benar- benar suatu perbuatan yang memalukan. Memalukan bukan saja
bagi para bangsawan, tetapi juga bagi kita seluruhnya. Bagi orang
berkulit sawo matang ini” Ki Dipanala mengangguk-angguk. Tetapi
kata-katanya terputus ketika Arum melangkah masuk ke pr inggitan
sambil menj inj ing mangkuk minuman. “Arum” desis Ki Dipanala “Kau
sudah prigel menghidangkan suguhan buat tamu-tamu ayahmu” “Ah paman“
Arum berdesah “Tetapi marilah paman. Sekedar air untuk menghilangkan
haus” “Terima kasih Arum. Berapa pekan paman tidak datang kemari.
Kau tampaknya cepat tumbuh dan sekarang kau benar-benar seorang
gadis dewasa. He, berapa umurmu?“ Arumt idak menjawab. Ia hanya
menundukkan kepalanya. “Ia pantaran dengan anakku yang bungsu.
Bukankah begitu kakang?“ Kiai Danatirta menganggukkan kepalanya.
Jawabnya “Ya. Hanya berselisih dua pekan”Ki Dipanala
mengangguk-angguk pula. Katanya kemudian “Sering datanglah ke rumah
paman. Kau akan banyak melihat“ “Terima kasih paman. Lain kali kalau
ayah mengijinkannya “Ki Dipanala tersenyum. Dipandanginya Arum yang
bergeser surut kemudian meninggalkan pringgitan. “Anakmu cepat
menjadi besar kakang” Kiai Danatirta mengangguk” “Tampaknya jauh
lebih dewasa dari anakku yang masih senang bermain pasaran di
halaman” Kiai Danatirta tertawa. “Ia akan menjadi gadis yang tinggi
besar seperti ibunya” berkata Ki Dipanala kemudian. Kiai Danatirta
tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba saja wajahnya menjadi suram. Terasa
sesuatu berdesir di dada Ki Dipanala. Ia menyesal bahwa ia telah
menyebut ibu Arum yang sudah tidak ada lagi itu. Karena itu, maka
dengan serta merta ia berusaha mengalihkan pembicaraan “Kapan Raden
Juwiring kembali dari sawah?“ “Biasanya setelah tengah hari” jawab
Kiai Danatirta “Apakah kau akan menemuinya?“ Dipanala merenung
sejenak, lalu “Tetapi aku kali ini t idak membawa apapun buat Raden
Juwiring. Aku sama sekali tidak berhasil mendapat sekedar belanja
buat anak muda yang malang itu. Apalagi sepotong pakaian” “Ah,
jangan kau pikir lagi tentang belanja dan pakaian. Ia sudah berhasil
menyesuaikan diri dengan kehidupan di padepokan ini. Jangan kau
rusakkan lagi dengan kebiasaan yang cengeng di istana Kapangeranan
itu” Dipanala mengangguk-angguk.“Kalau kau ingin bertemu dengan
Raden Juwiring, jangan kau katakan apa yang terjadi di rumah itu. Ia
akan menjadi semakin prihatin. Kalau perasaan mudanya tidak dapat
dikendalikannya, maka pada suatu saat akan meledak dengan
dahsyatnya. Padahal ia tidak mempunyai kekuatan apapun di
belakangnya, sehingga ledakan itu pasti hanya akan menghancurkan
dirinya sendiri” “Ya kakang. Tetapi sebaiknya ia mengetahui, bahwa
kadang-kadang Raden Rudira menyebut namanya. Bahkan anak itu ingin
melihat dimana Raden Juwiring tinggal” “Buat apa ia melihat tempat
ini?“ “Itulah yang mencemaskan. Aku kira ia masih belum puas bahwa
Raden Juwiring hanya sekedar tersisih. Ia pasti mempunyai tujuan
yang lain yang barangkali tidak akan dapat kita bayangkan, hati
apakah yang sudah bermukim di dadanya” Kiai Danatirta
mengangguk-angguk. Terbayanglah tatapan mata yang tajam seorang
bangsawan muda yang bernama Rudira itu. Bangsawan muda yang berhati
hitam seperti hati ibunya, Raden Ayu Galihwarit yang juga disebut
Raden Ayu Sontrang. Seorang perempuan bangsawan yang bertubuh tinggi
besar, berkulit kuning langsat. Wajahnya yang bulat seperti bulan
purnama dihiasi dengan sepasang mata yang berkilat-kilat. Tetapi di
dalam dadanya yang mendebarkan jantung itu, tersembunyi hati yang
hitam lekam. Dan kehitaman hatinya itu telah menurun kepada kedua
anak- anaknya. Raden Rudira dan adiknya. “Kalau hal itu kau anggap
perlu Dipanala, katakanlah. Tetapi hati-hati, jangan menimbulkan
kecemasan yang berlebih-lebihan di hatinya. Dipanala mengangguk
sambil menjawab “Aku mengerti kakang“ “Tunggulah sambil minum. Ia
akan segera datang”Keduanyapun kemudian meneguk air panas yang
disuguhkan oleh Arum. Seteguk demi seteguk. Namun angan- angan
mereka masih saja terlambat pada persoalan keluarga Pangeran
Ranakusuma. Keluarga seorang bangsawan yang kaya raya. Tetapi tidak
memiliki kemantapan berkeluarga karena seisi rumah yang selalu
curiga-mencurigai dan saling membenci. Sejenak kemudian, ternyata
Juwiring dan Buntal telah pulang dari sawah. Mereka langsung menuju
ke ruang belakang. Mereka sudah menduga, bahwa ayah angkat mereka,
pasti sedang menerima seorang tamu karena seekor kuda tertambat di
halaman. Tetapi mereka tidak mengetahui, siapakah tamu ayahnya itu.
Baru ketika Juwiring meletakkan cangkulnya, Arum mendekatinya sambil
berbisik “Paman Dipanala, kakang Juwiring” “He, Dipanala? Eh,
maksudku paman Dipanala?“ “Ya” Juwiring mengangguk-angguk.
Dipandanginya Buntal yang termangu-mangu itu sekilas. Namun kemudian
dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh. “Sudah agak lama ia
tidak datang. Kabar apakah yang dibawanya?“ “Aku tidak tahu. Paman
Dipanala sedang berbincang dengan ayah. Agaknya memang ada sesuatu
yang penting” Tetapi anak-anak muda itu terkejut ketika terdengar
suara dipintu “Tidak. Tidak ada yang penting. Dipanala hanya sekedar
menengok keselamatan Juwiring” Ternyata Kiai Danatirta telah berdiri
di belakang mereka. Sambil tersenyum ia berkata “Marilah Juwiring.
Kalau kau sudah membersihkan diri, temuilah paman Dipanala sejenak.
Ia ingin bertemu setelah sekian lama ia tidak datang”Arum
menundukkan kepalanya. Tanpa diketahuinya ayahnya mendengar
kata-katanya. Sedang Juwiring memandang Kiai Danatirta dengan
pertanyaan-pertanyaan yang membayang disorot matanya. Tetapi
pertanyaan-pertanyaan itu tidak terucapkan. Bahkan iapun kemudian
berkata “Baiklah ayah. Aku akan membersihkan dir i lebih dahulu”
Demikianlah Juwir ing segera pergi ke pakiwan. Setelah berganti
pakaian, ia segera pergi ke pringgitan untuk menemui Dipanala yang
datang dari kota setelah agak lama ia tidak berkunjung. Sepeninggal
Juwiring, tinggallah Buntal bersama Arum yang berdiri
termangu-mangu. Sejenak mereka saling berpandangan, namun sejenak
kemudian, setelah Juwiring berada di pringgitan, dan setelah Buntal
berhasil mengatasi keragu-raguannya, iapun mendekati Arum. Perlahan-
lahan ia berbisik “Siapakah yang datang?“ “Paman Dipanala” “Siapakah
paman Dipanala?“ Ia masih mempunyai hubungan keluarga dengan ayah”
“Dengan Kiai Danatirta, eh, ayah atau dengan Juwiring” “Dengan ayah.
Tetapi ia tinggal di Dalem Kapangeranan. Pangeran Ranakusuma” Buntal
mengerutkan keningnya. Ia berusaha untuk mengusir keragu-raguannya
sama sekali. Ia benar-benar ingin mengetahui, siapakah sebenarnya
Raden Juwiring itu. Dan kali ini agaknya ada kesempatan baginya.
Kesempatan yang tidak menimbulkan kecurigaan apapun juga. “Siapakah
Pangeran Ranakusuma?” bertanya Buntal. “Ayah Raden Juwiring”“O, jadi
ayahnya seorang Pangeran?“ Buntal mengangguk- anggukkan kepalanya
Ternyata Juwiring benar-benar seorang bangsawan yang masih terhitung
dekat dengan istana. Ia adalah keturunan kedua dari Kangjeng Sunan.
“Jadi“ Buntal melanjutkan “Apakah hubungan Juwir ing dengan paman
Dipanala?“ “Hubungan keluarga yang sudah agak jauh, atau katakanlah
tidak ada hubungan apa-apa, selain paman Dipanala t inggal di Dalem
Kapangeranan itu” “Benar-benar tidak ada hubungan keluarga?“ Arum
tidak segera menjawab. Sejenak dipandanginya pintu ruang belakang
itu. Tetapi ia hanya menarik nafas panjang. Buntal tidak
mendesaknya. Meskipun ia sudah dianggap sebagai saudara kandung oleh
Arum, tetapi ia tidak dapat mendesaknya untuk menceriterakan sesuatu
yang agaknya tidak ingin dicer iterakannya. Namun dengan demikian
Buntal kini mendapat sedikit gambaran tentang Juwiring. Meskipun ia
sadar, bahwa keterangan yang didengarnya dari Arum itu baru sebagian
kecil dari keseluruhan Juwir ing seutuhnya, namun ia sudah mendapat
alas untuk mengetahui keadaan lebih lanjut. Dalam pada itu, Juwiring
telah berada di pringgitan bersama dengan Kiai Danatirta dan
Dipanala. Dengar ragu- ragu Dipanala menceriterakan apa yang telah
terjadi di istana Kepangeranaa. Meskipun tidak seluruhnya
dikatakannya agar anak muda itu tidak menjadi semakin berkecil hati,
namun Juwiring yang berotak cerah itu dapat membuat gambaran
sendiri, apa yang telah terjadi, berdasarkan pengenalannya selagi ia
masih tinggal di rumah itu. “Tidak aneh bagi ibunda Galihwarit
apabila ia sampai hati menyingkirkan ibunda Manik dar i rumah itu”
berkata Juwiring sambil menahan perasaannya yang hendak bergolak
“Akusudah menduga sejak dahulu, bahwa pada suatu saat hal itu akan
terjadi” “Ya. Dan sekarang Raden Ayu Sontranglah yang paling
berkuasa di rumah itu bersama kedua puteranya” Juwiring menar ik
nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Biarlah paman. Aku t idak mempunyai
sangkut paut lagi dengan rumah itu. Aku merasa diriku lebih baik di
padepokan mi. Aku tidak akan Bermimpi lagi memiliki apapun dari
istana itu, meskipun hanya selembar kain atau sepotong perhiasan.
Biarlah aku hidup seperti sekarang ini. Ayahku sekarang adalah Kiai
Danatirta dan aku sudah mempunyai dua orang saudara. Bukan Rudira
dan Warih, tetapi Buntal dan Arum. Dan itu sudah cukup bagiku”
Dipanala menundukkan kepalanya. Suaranya hampir t idak dapat
meluncur dari sela-sela bibirnya “Itu suatu sikap terpuji Raden. Aku
adalah pemomong Raden sejak kecil. Resmi atau tidak resmi.
Sebenarnya ada juga sakit hatiku melihat nasib yang Raden alami.
Tetapi agaknya hati Raden telah mengedap. Dan itu adalah kurnia
Tuhan yang tidak ada nilainya Tentu akan jauh lebih berharga dari
harta benda itu sendiri. Dengan pasrah dir i Raden akan menemukan
ketenteraman. Tetapi tidak demikian agaknya dengan harta benda itu,
yang justru menimbulkan kegelisahan, dengki dan kebencian” “Karena
itu paman, namaku jangan dihubungkan lagi dengan istana Ranakusuman.
Aku sekarang adalah anak padepokan Jati Aking di padukuhan Jati Sar
i. Aku mempunyai banyak kawan disini. Aku dapat hidup seperti cara
hidup mereka. Dan aku senang menjalaninya. Itulah yang penting.
Keikhlasan hati” Tanpa sesadarnya Dipanala memandang wajah Kiai
Danatirta. Agaknya Kiai Danatirtalah yang mengajari Juwiring untuk
berbicara tentang keikhlasan hati dan penyesuaian dir i, sumber dari
kedamaian hati yang diketemukannya disini.Namun karena itulah, maka
Dipanala tidak sampai hati untuk mengusik ketenteraman itu dengan
mengatakan rencana Rudira untuk masih membuat persoalan yang dapat
menumbuhkan ketegangan ketegangan baru dengan kakaknya. “Kalau Raden
Rudira mengetahui, bahwa Juwiring tidak lagi mempunyai nafsu untuk
mendapatkan bagiannya dari warisan itu, aku rasa, ia tidak akan
berbuat apa-apa lagi, karena warisan itulah pusar dari peristiwa
yang berurutan terjadi di istana Ranakusuman” berkata Dipanala di
dalam hati, sehingga dengan demikian niatnya untuk mengatakan
sesuatu tentang Raden Rudira telah dibatalkan. “Dipanala“ yang
berbicara kemudian adalah Kiai Danatirta “Agaknya pendirian Juwir
ing sudah jelas. Kau tidak usah bersusah payah mengusahakan apapun
dari istana Ranakusuman. Kami disini mengucapkan terima kasih atas
usahamu itu. Tetapi untuk seterusnya, seandainya kau sajalah yang
datang tanpa membawa apapun, sudah cukup membuat hati kami gembira”
Dipanala mengangguk-angguk. Katanya “Kadang-kadang hati ini yang
tidak dapat aku tahankan” Tetapi Kiai Danatirta tersenyum “Anakmas
Juwiring yang mengalaminya langsung telah berhasil
mengendapkanperasaannya. Tentu kau juga dapat mengendapkan perasaan
itu” “Ya kakang. Aku akan mencoba. Tetapi ada beberapa soal yang
selalu mengungkat perasaan ini. Kami, yang sudah tinggal
bertahun-tahun di Dalem Kapangeranan, masih selalu merunduk-runduk
apabila kami naik ke pendapa, apalagi apabila Pangeran Ranakusuma
atau salah satu dar i isteri- isterinya ada di pendapa. Kami selalu
berjalan sambil berjongkok, kemudian duduk bersila sambil
menundukkan kepala dalam-dalam setelah menyembah. Tetapi kini,
orang- orang asing itu dengan tanpa ragu-ragu lagi naik ke pendapa
masih juga memakai alas kakinya yang kotor. Duduk tanpa menghiraukan
adat dan kebiasaan kami. Bahkan kadang- kadang mereka berkelakar
tanpa batas. Tertawa berkepanjangan sehingga terdengar sampai ke
seluruh kota” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Ketika tanpa
sesadarnya ia memandang wajah Juwir ing, terasa sesuatu bergolak di
dada anak muda itu. Wajah anak muda itu menjadi merah padam. Dengan
susah payah Juwiring berusaha untuk menahan perasaannya. Ditundukkan
wajahnya dalam-dalam untuk menyembunyikan kesan yang melonjak. Namun
kesan itu tertangkap pula bukan saja oleh Kiai Danatirta, tetapi
juga oleh Ki Dipanala. Bahkan akhirnya Juwiring tidak dapat bertahan
lagi, dan meluncurlah pertanyaannya yang tertahan-tahan “Sampai
kapan hal itu akan terus terjadi?“ Ki Dipanala menggelengkan
kepalanya. “Rumah kami sudah menjadi kandang sampah yang paling
kotor. Orang-orang asing itu telah menodai rumah itu dengan segala
macam kejahatan dan kemaksiatan. Agaknya ayahanda Pangeran adalah
seorang laki-laki yang lemah hati. Yang silau oleh kilatan
benda-benda duniawi. Termasuk harta benda dan perempuan”“Sudahlah
anakmas Juwiring” berkata Danatirta ”Jangan hiraukan lagi apa yang
terjadi. Bukankah kau sudah memutuskan di dalam hatimu untuk tidak
mengaitkan diri lagi dengan rumah itu?“ “Ya ayah. Aku sudah
memutuskan. Tetapi apakah aku dapat melepaskan dir i dari gangguan
perasaanku, bukan oleh harta warisan, tetapi oleh kesamaan warna
kulit dan rambut ini? Bahwa ada di antara kita yang telah menjual
harga dirinya kepada orang-orang asing itu untuk sekedar mendapatkan
harta dan benda? Apalagi orang-orang yang telah berbuat demikian itu
adalah orang-orang yang bersangkut paut dengan aku. Orang-orang yang
berhubungan darah dengan aku. Aku dapat memutuskan segala ikatan
lahir iah. Tetapi siapa yang dapat memutuskan hubunganku dengan
ayahanda, hubungan antara ayah dan anak?“ Ki Dipanala hanya dapat
mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sebenarnya hatinya sendiri juga
terbakar setiap kali ia melihat orang-orang asing yang berkeliaran
di pendapa Kapangeranan tanpa menghiraukan tata kesopanan dan adat.
Siang maupun malam” Tetapi Kiai Danatirtalah yang selalu berusaha
menekan perasaan yang bergolak itu. Katanya “Sudahlah. Persoalan itu
bukan persoalan kecil Bukan sekedar persoalan kita. Persoalanku,
persoalanmu dan persoalan istana Ranakusuman. Tetapi persoalan itu
adalah persoalan Surakarta. Kita harus menemukan saluran yang tepat,
apabila kita ingin ikut berbicara tentang orang-orang asing itu”
Juwiring menundukkan kepalanya semakin dalam. Dadanya serasa
terbakar. Tetapi ia masih berusaha untuk mendinginkan darahnya. Ia
sadar, bahwa Kiai Danatirta berkata sebenarnya. Persoalan itu bukan
persoalan satu dua orang. Tetapi persoalan itu adalah persoalan
Surakarta. Sehingga karena itu, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa
seorang diri. Atau katakanlah dengan kelompok yang kecil.Mungkin ia
akan dapat berbuat sesuatu di rumahnya. Tetapi itu bukan
penyelesaian bagi orang-orang asing. Itu hanya sekedar penyelesaian
masalahnya sendirinya. Masalah pribadinya. Namun demikian,
orang-orang asing itu masih tetap menjadi persoalan di dalam
hatinya. Sekilas ia teringat kepada ceritera Buntal, bahwa di rumah
Tumenggung Gagak Barongpun orang-orang asing itu berbuat sesuka
hatinya. Tentu juga seperti yang dilakukan di rumah Ranakusuman.
“Semakin banyak orang yang kehilangan pribadinya” berkata Juwiring
di dalamhati. Namun dalam pada itu Juwiring mengangkat wajahnya
ketika Kiai Danatirta berkata “Sudahlah Juwir ing. Kalau kau ingin
beristirahat, beristirahatlah. Pamanmu akan bermalam disini malam
nanti” Kiai Danatirta berhenti sejenak sambil memandang wajah
Dipanala, lalu “Bukankah begitu?“ Dipanala mengerutkan keningnya.
Namun kemudian iapun tersenyum “Baiklah kalalu kakang menghendaki.
Aku memang sedang mendapat waktu ist irahat. Bahkan semakin sering
aku minta waktu untuk beristirahat, orang-orang di istana
Ranakusuman akan menjadi semakin senang. Mereka dapat berbuat apa
saja tanpa ada yang mengganggunya” “Jadi sebagian besar dari
orang-orang di rumah itu sudah dimabukkan oleh kepuasan lahir iah?“
bertanya Juwiring. Dipanala mengangguk. Namun cepat-cepat ia berkata
“Tetapi sudahlah. Aku akan bermalam disini. Nanti maliam kita akan
dapat berbicara panjang” Juwiringpun mengangguk-angguk. Kemudian
katanya “Silahkan paman duduk. Aku akan beristirahat di belakang“
“Silahkan, silahkan“ Dipanalapun mengangguk-angguk pula. Juwiringpun
segera meninggalkan pringgitan. SementaraKiai Danatirta dan Ki
Dipanala masih berbicara tentang berbagai macampersoalan. “Dipanala“
yang berbicara kemudian adalah Kiai Danatirta “Agaknya pendirian
Juwir ing sudah jelas. Kau tidak usah bersusah payah mengusahakan
apapun dari istana Ranakusuman. Kami disini mengucapkan terima kasih
atas usahamu itu. Tetapi untuk seterusnya, seandainya kau sajalah
yang datang tanpa membawa apapun, sudah cukup membuat hati kami
gembira” “Aku tidak sampai hati merusak kedamaian hatinya kakang”
berkata Ki Dipanala “peristiwa yang terjadi di istana Ranakusuman
sudah membuatnya gelisah. Tetapi aku kira ia akan segera dapat
meletakkan masalah itu pada tempat dan keadaan yang wajar. Tetapi
yang menyangkut langsung dirinya sendir i benar-benar tidak dapat
tertuang sama sekali” “Maksudmu?“ “Niat Raden Rudira. Aku tidak tahu
pasti, apakah sebabnya Raden Rudira masih saja ingin menemui
kakaknya yang sudah terasing itu” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu
“Aku tidak mau membuatnya selalu dalam kecemasan” “Biar lah aku yang
akan mengatakannya kelak” berkata Kiai Danatirta “Tetapi aku harus
mempertimbangkan waktu“ Demikianlah keduanya masih terus berbicara
dari satu soal ke soal yang lain. Sedang sementara itu, Juwiring
telah berada di ruang belakang. Betapa ia mencoba menyembunyikan
perasaannya, namun Buntal dan Arum dapat menangkap, bahwa sesuatu
sedang bergolak di hatinya” Tetapi baik Buntal maupun Arum tidak
segera bertanya kepadanya. Dibiarkannya Juwiring mendekati mereka
dan duduk diatas amben bambu yang panjang.Arum dan Buntal hanya
saling berpandangan sejenak. Namun merekapun kemudian menundukkan
kepala mereka pula. Juwiring menarik nafas. Dan tiba-tiba saja ialah
yang pertama-tama berbicara “Memang ada hal yang penting, Arum“ Arum
mengangkat wajahnya. Demikian juga Buntal. “Jadi persoalan itu
memang ada?“ bertanya Arum. “Ya. Persoalan itu membuat hatiku
menjadi pepat. Aku ingin mengurangi beban itu sedikit. Apakah aku
dapat mengatakannya kepada kalian meskipun persoalannya tidak
menyangkut kalian sama sekali?“ “Tentu menyangkut. Persoalan yang
menyangkut salah sedang dari kita, akan menyangkut kita semua”
Juwiring mengangguk-angguk. Tetapi suaranya yang datar meluncur dan
sela-sela bibirnya “Ya, begitulah, Tetapi persoalan ini adalah
persoalan keluargaku yang sebenarnya sudah ingin aku lupakan” “O”
desis Buntal “Tetapi kalau kau t idak berkeberatan, ceriterakanlah“
Dengan singkat Juwir ing berceritera tentang keadaan rumah yang
ditinggalkannya. Tetapi ceriteranya ditekankannya kepada kehadiran
orang-orang asing yang seakan-akan lebih berkuasa dari orang-orang
yang sudah bertahun-tahun menghuni rumah itu. “Jadi orang-orang
asing itu juga yang membuat ayahanda Pangeran Ranakusuma semakin
gelap hati” berkata Juwiring “Agaknya mereka telah menyusup ke
setiap sudut kota Surakarta. Kalau orang-orang di istana. Susuhunan
lengah, maka akhirnya istana itupun akan segera dikuasainya”Buntal
mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata “Demikian juga di
istana Tumenggung Gagak Barong. Aku juga melihat hal yang serupa”
“Tentu tidak hanya di istana Tumenggung Gagak Barong dani istana
ayahanda Ranakusuma. Tentu di rumah-rumah Kapangeranan yang lain. Di
rumah Bupati Nayaka, di rumah setiap bangsawan di Surakarta” Buntal
tidak menyahut. Pengetahuannya tentang para bangsawan memang sangat
terbatas. Tetapi karena ia pernah tinggal di rumah seorang
bangsawan, maka ia dapat membayangkan apa yang. sudah terjadi di
rumah-rumah yang besar dan megah itu. Makan minum, gelak tertawa
yang tidak tertahankan, mabuk dan akhirnya mereka terkapar tidur
setelah muntah- muntah. Tetapi itu adalah peristiwa-peristiwa
sesaat. Yang lebih mengerikan, apakah yang telah terjadi di balik
peristiwa- peristiwa sesaat itu. Tetapi seperti kata-kata Kiai
Danatirta, Juwiringpun berkata “Namun demikian, itu bukan persoalan
kita seorang demi seorang. Itu adalah persoalan Surakarta. Karena
itu, kita harus mendapatkan saluran untuk menyatakan hati kita”
“Saluran?“ bertanya Buntal. “Ya. Tentu saluran. Bukan kita berbuat
sendiri-sendir i. Itu tidtak akan berguna dan hanya akan membuang
waktu dan tenaga, bahkan mungkin j iwa kita” Buntal
mengangguk-angguk. Memang tidak mungkin untuk berbuat
sendiri-sendiri. Tetapi kalau mereka harus mencari saluran,
dimanakah mereka akan mendapat? Tetapi Buntal tidak bertanya. Ia
kadang-kadang lebih senang berteka-teki kepada dir i sendiri dar
ipada melepaskan pertanyaan. Rasa-rasanya sangat berat untuk
bertanyasesuatu. Ia masih merasa dirinya terlalu bodoh, sehingga
mungkin pertanyaannya justru salah. Demikianlah, di malam harinya,
Dipanala benar-benar bermalam di padepokan itu. Mereka, seisi rumah
itu, sempat duduk dan berbicara panjang lebar dengan Ki Dipanala.
Bukan saja Juwiring, tetapi juga Arum dan Buntal yang mendapat
kesempatan memperkenalkan dirinya. Tetapi mereka tidak membicarakan
masalah-masalah yang dapat menegangkan perasaan. Mereka berbicara
tentang keadaan mereka sehari- hari, tentang sawah dan ladang, air
dan ternak. Di pagi har inya Ki Dipanala minta dir i kepada keluarga
Jati Aking. Ia masih tetap tidak dapat mengatakan sesuatu tentang
Rudira yang agaknya masih belum puas melihat kakaknya tersingkir
sampai ke padukuhan Jati Sari. Sepeninggal Ki Dipanala, maka. Kiai
Danatirtalah yang member ikan banyak petunjuk kepada Juwiring dan
Buntal. Seperti yang disanggupkan, ia akan memberi tahukan, meskipun
samar-samar, bahwa ia harus tetap berhati-hati terhadap adik
seayahnya, Raden Rudira. “Juwiring” berkata Kiai Danatirta
“sebenarnya pamanmu Dipanala tidak ingin mengatakan apa yang terjadi
di Dalem Ranakusuman. Tetapi kadang-kadang perasaannya yang ingin
mendapatkan saluran itu tidak tertahankan lagi. Tanpa disadarinya
masalah-masalah yang semula akan tetap disimpannya di dalam hati.
agar hatimu tidak menjadi semakin sakit itu, sedikit demi sedikit
telah terloncat keluar. Apalagi tanggapanmu yang tajam telah
memancing semua persoalan. Tetapi ingat, jangan cepat berbuat
sesuatu. Masalah yang kau hadapi adalah satu segi dari rangkaian
masalah yang besar” Juwiring yang memang sudah menyadari keadaan
sepenuhnya itupun menganggukkan kepalanya. Sementara Kiai Danatirta
berkata seterusnya “Namun ada juga sangkut pautnya dengan masalahmu
sendiri. Kau harus tetap berhati- hati. Raden Rudira adalah adikmu.
Tetapi di dalam persoalanini, ia berdiri berseberangan dengan kita
semua. Ia bergaul rapat dengan orang-orang asing, dan ia dalah
putera dari Raden Ayu Galihwarit” “Aku mengerti ayah” jawab Juwir
ing. “Sokur lah. Tetapi tanggapanmu jangan berlebih-lebihan. Mungkin
hatinya tidak sejahat yang kita sangka” Juwiring hanya dapat menarik
nafas dalam-dalam. Ia masih belum dapat membayangkan, betapa warna
ini dada adiknya itu yang sebenarnya. Namun semuanya itu telah
mendorong Juwiring untuk berbuat lebih banyak. Bersama-sama dengan
Buntal dan Arum mereka telah menempa diri sejauh-jauh dapat mereka
lakukan. Ketiga anak-anak muda itu berkeputusan, bahwa apapun yang
akan mereka lakukan, namun mereka harus mengumpulkan bekal
sebaik-baiknya. Dan bekal yang paling baik menurut pertimbangan
mereka adalah olah kanuragan. Demikianlah kemelutnya hati anak-anak
muda itu membuat mereka semakin cepat maju. Rasa-rasanya dari hari
demi hari, hati mereka menjadi semakin panas seperti panasnya udara
Surakarta, sejak orang kulit putih semakin berpengaruh. Beberapa
orang bangsawan benar-benar telah terbius oleh kesenangan lahiriah
yang dibawa oleh orang-orang asing itu, sehingga lambat laun,
semakin tipislah kesetiaannya kepada tanah tempat mereka dilahirkan.
Hubungan yang akrab membuat mereka melupakan batas yang ada di
antara para bangsawan itu dengan orang-orang asing. “Apa salahnya
kita saling berhubungan” berkata seorang bangsawan kepada seorang
pelayannya “manusia di dunia mempunyai ikatan hakekat yang sama.
Merekapun mengatakan bahwa bagi mereka tidak ada lagi batas-batas di
antara manusia sedunia. Mereka datang dengan hikmah
persaudaraan”Pelayan-pelayannya hanya mengangguk-angguk, saja,
karena mereka sama sekali tidak mengetahui, apakah sebenarnya yang
telah terjadi. Tetapi karena mereka ikut pula menikmati kesenangat
duniawi yang melimpah ruah, maka merekapun mengiakannya dengan
sepenuh hati. Tetapi para bangsawan yang tinggal di batas-batas
dinding yang tinggi, di halaman yang luas dan bersih, yang semakin
lama menjadi semakin cerah karena mereka mendapatkan hadiah-hadiah
yang merupakan barang-barang baru bagi rumah-rumah dan istana-istana
mereka, sama sekali tidak melihat apa yang telah terjadi di padesan
dan di padukuhan kecil. Rakyat yang merasakan langsung penghisapan
yang mulai terjadi diatas tanah kelahiran ini. Ternyata mereka yang
mengatakan, bahwa kedatangan mereka adalah atas dorongan
persaudaraan manusia yang tanpa batas itu. sebenarnya mempunyai
kepentingan yang besar bagi mereka. Bagi satu pihak dari yang
dikatakannya tanpa batas itu. Dan merekalah yang mendapatkan
keuntungan terbesar dari suasana yang mereka kembangkan suasana
tanpa ada batas, suasana tanpa jarak. Karena apa yang mereka katakan
itu bukan kata nurani mereka yang sebenarnya, sehingga sikap
orang-orang asing di Surakarta itu sama sekali hukan suatu sikap
yang jujur. Untunglah, bahwa tidak semua bangsawan terbius oleh
keadaan itu. Ada juga bangsawan yang menyadari keadaan yang
sebenarnya. Yang merasakan betapa janggalnya keadaan Surakarta pada
saat itu. Ternyata bahwa perpindahan istana dari Kartasura ke
Surakarta sama sekali t idak membawa hikmah apapun juga. Bahkan
sinar yang memancar dari keagungan Susuhunan Paku Buwana, semakin
lama menjadi semakin suram. Salah seorang yang memandang keadaan itu
dengan tajam adalah seorang Pangeran yang berhati bening. Pangeran
Mangkubumi.Kepadanyalah beberapa bangsawan yang tidak dapat menerima
keadaan yang berkembang itu meletakkan harapan. Kepadanyalah mereka
berharap, agar pada suatu saat, lahir suatu sikap yang dapat
menyelamatkan Surakarta. Tetapi Pangeran Mangkubumi bukan seorang
yang berhati panas. Ia masih mampu menilai keadaan dengan tenang.
Setiap tindakan diperhitungkannya sebaik-baiknya, agar ia tidak
terjerumus ke dalam suatu tindakan dan pengorbanan yang sia-sia.
Karena itulah, maka tidak jarang Pangeran Mangkubumi itu berusaha
melihat dengan mata kepala sendiri, kehidupan yang sebenarnya dari
rakyat Surakarta, yang lambat laun mengalami masa surut yang parah.
Berlawanan dengan Pangeran Mangkubumi, maka beberapa orang bangsawan
berusaha menikmati hidup mereka sebaik-baiknya tanpa menghiraukan
nasib siapapun. Seandainya mereka pergi keluar kota, mereka, sama
sekali tidak ingin melihat dan tidak mau melihat kehidupan rakyat
yang sebenarnya. Adalah menjadi kebiasaan mereka pergi berburu.
Mereka sengaja membiarkan beberapa bagian dari hutan yang dibuka
menjadi tanah garapan. Hutan-hutan itu mereka pergunakan sebagai
daerah perburuan yang mengasikkan. Demikianlah, ketika orang-orang
Jati Sari sibuk dengan kerja mereka di sawah dan ladang, mereka
dikejutkan oleh derap beberapa ekor kuda yang berlari-lari di jalan
persawahan menyusuri bulak yang panjang. Namun orang- orang Jati
Sari itupun kemudian tidak menghiraukannya lagi, karena mereka telah
mengenal, bahwa ir ing-ir ingan orang berkuda itu adalah iring-
iringan beberapa orang yang pergi berburu. Dan salah seorang atau
dua orang dar i mereka adalah bangsawan.Hanya beberapa orang sajalah
yang masih sempat melihat seorang anak muda yang gagah berkuda di
paling depan, dan di belakangnya beberapa orang pengawalnya mengir
ingnya. Arum yang kebetulan berjalan di lorong itu pula membawa
makanan untuk Juwiring dan Buntal yang sedang bekerja di sawah,
dengan tergesa-gesa menepi. Namun dengan demikian, sejenak ia tegak
berdiri memandang anak muda yang berkuda di paling depan. Dadanya
berdesir ketika ia melihat wajah anak muda itu. Begitu mirip dengan
wajah Juwiring. Namun Arumpun segera memalingkan wajahnya. Tidak
seorangpun yang berani memandang wajah seorang bangsawan apalagi ia
sedang memandang pula. Tetapi Arum terperanjat ketika ia sadar,
bahwa kuda yang paling depan itu tiba-tiba saja berhenti. Dengan
demikian, kuda-kuda yang berada di belakangnyapun berhenti pula
dengan tiba-tiba, sehingga beberapa di antaranya meringkik dan
berdiri diatas dua Kaki belakangnya, karena kendali yang terasa
menjerat leher. Sejenak Arum mengangkat wajahnya. Tetapi ketika
matanya bertatapan dengan sorot mata anak muda yang berada diatas
punggung kuda itu, kepalanyapun segera tertunduk. “He, siapa kau
anak manis?“ terdengar suara anak muda yang berada di punggung kuda
itu. Arum bingung sejenak. Ia tidak pernah berhubungan dengan
orang-orang yang masih asing baginya. Sehari-hari ia hanya berada di
rumahnya, di padepokan Jati Aking atau di sawah. Sekali-sekali ia
pergi ke pasar. Tetapi jarang sekali seorang Laki- laki langsung
menegurnya. “Kenapa kau malu? Angkatlah wajahmu. Pandang aku. Dan
jawablah pertanyaanku. Siapa namamu?“Kata-kata yang mengalir itu
seolah-olah merupakan pesona yang tidak dapat dielakkan, sehingga
hampir tanpa disadari ia menjawab “Namaku Arum” “Arum” ulang anak
muda yang berkuda itu “nama yang bagus sekali. Dimana rumahmu he?“
Arum tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya sajalah yang kini
justru tertunduk dalam. “Dimana rumahmu?“ Arum masih tetap diamsaja.
Namun terasa bulunya berdiri ketika anak muda itu tiba- tiba saja
meloncat turun dari kudanya. Arum sama sekali tidak berani
mengangkat wajahnya. Bahkan ia beringsut mundur beberapa jengkal,
sehingga hampir saja ia terjatuh ke dalamparit. Karena iring-
iringan itu berhenti di tengah bulak, maka kini seluruh perhatian
orang-orang yang ada di sawah itupun tertuju kepada anak muda yang
kemudian sudah berdiri dimuka Arum. “Kau belum menjawab
pertanyaanku” berkata anak muda itu. Tetapi Arum tetap diam. Hatinya
menjadi semakin kecut ketika ia menyadari, bahwa orang-orang yang
lainpun telah turun pula dari kuda mereka. “Jangan takut dan jangan
malu. Aku tidak apa-apa. Aku hanya terpesona oleh kecantikanmu.
Memang gadis-gadis padesan justru mempunyai paras yang cantik, yang
jarang diketemukan pada wajah-wajah gadis bangsawan. Ciri-ciri yang
lain, menumbuhkan perhatian yang lain pula pada gadis- gadis padesan
seperti kau. He, dimana rumahmu?” Arum menjadi gemetar ketika anak
muda itu berdiri semakin dekat. Di dalam keadaan itu, sama sekali
tidak terlintas di dalam angan-angannya untuk melawan.
Untukmempergunakan ilmu kanuragan yang telah dipelajarinya, karena
pada pendapatnya, tidak seorangpun yang dapat melawan seorang
bangsawan. Bahkan ia pernah, mendengar ceritera, tentang gadis-gadis
desa. yang terpaksa menjadi selir di istana-istana Pangeran dan
bahkan bangsawan-bangsawan di dalam urutan drajat yang lebih rendah.
Seorang cucu Susuhunan misalnya. Karena itu maka hatinyapun menjadi
semakin kecut. Tetapi ketika tangan anak muda itu meraba pipinya,
dengan, gerak naluriah, Arum meloncat mundur. Meskipun ia berdiri
membelakangi parit, tetapi tanpa disadarinya, kemampuan olah
kanuragannya lelah mendorongnya melompati par it itu tanpa
berpaling. “He“ anak muda itu tiba-tiba terpekik. Wajahnya menjadi
cerah seperti anak-anak mendapat mainan. Dengan nada tinggi ia
berkata “Lucu sekali. Kau dapat meloncati parit ini tanpa memutar
tumbuhmu. Bukan main. Hampir tidak masuk akal bagi seorang gadis
desa seperti kau. Coba ulangi sekali lagi. Aku senang sekali
melihat. Ternyata selain cantik, kau adalah seorang gadis yang
sangat lincah. Seandainya kau seekor burung, kau tidak selembut
burung perkutut. Tetapi kau selincah burung branjangan. Dan aku
memang lebih senang burung branjangan dari burung perkutut yang
seperti mengantuk sepanjang hari” Tetapi dada Arum menjadi semakin
berdebar-debar. Ia menjadi semakin bingung, apakah yang akan
dilakukannya. “Jangan takut. Aku tidak akan marah” Wajah Arum
menjadi semakin pucat. Hampir saja ia terduduk
lemas.
Jilid 02 DAN anak muda itu berkata terus
“Aku tidak akan marah anak manis, meskipun kau telah melanggar adat.
Meskipun kau tidak berjongkok ketika aku lewat. Setiap orang yang
berada di jalan yang sama yang dilalui seorang bangsawan harus
berjongkok. Tetapi kau tidak. Tetapi aku tidak marah” Arum telah
benar-benar kehilangan akal. Hampir saja ia meloncat berlari di
sepanjang pematang, tetapi niatnya diurungkan. Bahkan mulutnya
tampak bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun yang keluar
Dalam pada itu, selagi semua orang memandang Arum yang pucat,
tiba-tiba anak muda bangsawan itu bersama pengiringnya terkejut
ketika mereka mendengar suara di belakang mereka “Hanya apabila
seorang Raja yang lewat, maka setiap orang harus berjongkok. Tetapi
tidak bagi kau. Tidak ada keharusan berjongkok bagi rakyat yang
paling rendah derajadnya sekalipun” Serentak orang-orang yang datang
berkuda itu berpaling. Darah mereka tersirap ketika mereka melihat
seorang anak muda yang kotor karena lumpur berdiri menj injing
sebuah cangkul. Namun dari sorot matanya, memancar wibawa yangtidak
kalah tajamnya dari anak muda yang berkuda di paling depan. Bahkan
dengan suara gemetar terdengar anak muda yang bertanya kepada
Arumitu berdesis “Kamas Juwiring” “Ya adimas Rudira” Sejenak kedua
anak muda itu saling berpandangan. Dari sorot mata keduanya memancar
pengaruh yang dalam. Namun sejenak kemudian anak muda yang bernama
Rudira itu memalingkan wajahnya. Untuk melepaskan ketegangan di
hatinya ia bertanya kepada seorang pengiringnya “He, bukankah ia
kamas Juwir ing”? “Ya tuan. Ya, ia adalah Raden Juwiring” “Kebetulan
sekali kamas” berkata Rudira “Aku memang ingin menemui kamas
Juwiring. Sudah lama aku tidak bertemu dan aku merasa rindu
karenanya. Aku hanya mendengar bahwa kamas berada di padepokan Jati
Aking. Apakah kita sudah berada dekat dengan padepokan Jati Akjng?“
“Bertanyalah kepada pengikutmu. Mereka tahu dimana Jati? Aking dan
dimana Jati Sari” Rudira mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia
tersenyum “Kamas masih sekeras dahulu. Tetapi sekarang kamas menjadi
bertambah hitam. Apalagi pakaian dan tubuh kamas kotor karena
lumpur” “Lumpur lah yang member ikan makan kepada kita. Kepadaku dan
kepadamu. Kepada orang-orang kota. Dan lumpur ini pulalah yang telah
menarik perhatian kumpeni itu, karena lumpur ini adalah lumpur yang
sangat subur” “O“ sekali lagi Rudira mengerutkan keningnya “benar.
Tetapi tanpa menyentuh lumpur itu sendir i, aku dapat mengambil
hasil dari kesuburannya, Seperti kamas lihat, akupun makan sehari
tiga kali. Dan barangkali apa yang aku petik dari hasil lumpur yang
subur itu jauh lebih banyak dariyang kamas peroleh meskipun kamas
langsung bergulat dengan lumpur yang subur itu” “Ya“ Juwir ing
mengangguk “Kaupun benar. Inilah yang aku sebut harga diri. Aku maka
hasil keringatku sendiri meskipun sedikit. Tetapi kau tidak” “Itupun
wajar sekali” sahut Rudira “Tidak semua orang harus turun ke sawah.
Tidak semua orang di dalam suatu negeri harus menjadi petani. Pasti
harus ada pekerjaan lain. Pemimpin pemerintahan, prajurit, Adipati
dan para Abdi Dalem. Tidak sewajarnya para bangsawan harus
mencangkul sendiri” Rudira diam sejenak, lalu “Seperti kau, kamas.
Kau tidak usah turun ke sawah. Meskipun kamas berada di padepokan
untuk mempelajari ilmu kajiwan dan kasampurnan, tetapi kamas tidak
perlu makan dar i ker ingat sendiri. Kamas seorang bangsawan. Kamas
dapat memer intahkan apa saja yang kamas perlukan. Dengan mengotori
diri sendiri kamas akan merendahkan derajad kebangsawanan kamas, dan
mencemarkan nama keluarga Ranakusuma” “Adimas Rudira, manakah yang
lebih cemar. Berdiri diatas lumpur yang kotor tetapi bersih atau
berdir i diatas permadani yang bersih tetapi kotor” Rudira
mengerutkan keningnya. “Apakah kau tidak menyadari? Apakah arti
kedatangan kumpeni setiap kali ke rumah kita. Ke istana Ranakusuman?
Kenapa?“ “O. Kamas memang benar-benar harus mempelajari ilmu
kasampurnan. Kamas masih membatasi diri dalam hubungan manusia. Apa
salahnya kita bersahabat dengan setiap orang di muka bumi” “Kita
memang harus bersahabat dengan manusia di seluruh sudut bumi. Tetapi
tanpa mengorbankan dir i sendir i. Kalau kau bersedia bersahabat
dengan setiap orang di muka bumi,kenapa justru kau terlampau jauh
dari manusia yang hidup di sekitarmu. Manusia yang setiap hari
bergulat dengan lumpur?“ Rudira terdiam sejenak. Namun wajahnya
menjadi semburat merah. Tetapi ternyata anak muda itu pandai
bersamu-dana. Sejenak kemudian iapun tersenyum sambil berkata
“Sudahlah. Kita tidak usah membicarakan masalah-masalah yang kurang
sesuai bagi kita. Marilah kita berbicara tentang keadan yang kita
hadapi ini” Rudira berhenti sejenak, lalu “Kamas, aku sangat
tertarik kepada gadis Jati Sar i ini” Tanpa disadari terasa darah
Juwiring menggelepar. Tiba- tiba saja ia berpaling. Ketika
terpandang wajah Buntal yang berdiri di sampingnya, Juwiring menarik
nafas dalam-dalam. Wajah itupun menjadi tegang. “Siapakah gadis ini
kamas? Kamas yang sudah lama tinggal di Jati Sari, pasti
mengenalnya. Agaknya akupun pada suatu saat harus mempelajari ilmu
kaj iwan di Jati Aking seperti kamas Juwiring” Juwiring menarik
nafas ,dalam-dalam. Katanya “Gadis itu adalah gadis padepokan Jati
Aking” “He“ Rudira terkejut. “Ia adalah gadis padepokan kami. Ia
adalah anak Kiai Danatirta” “O“ Rudira mengangguk-anggukkan
kepalanya “pantas. Pantas, bahwa gadis itu gadis padepokan. Bukan
gadis padesan biasa” Tiba-tiba saja dada Buntal menjadi pepat. Ia
tidak mengerti, kenapa hatinya menjadi sangat gelisah ketika ia
mendengar seorang anak muda yang memuj i kecantikan Arum.“Ia adalah
adikku” berkata Buntal di dalam hatinya. Tetapi ada perasaan lain
dari perasaan itu. Dari perasaan seorang kakak kandung terhadap
adiknya Dalam pada itu Juwir ing berkata “Sudahlah adimas Rudira.
Jangan menjadi tontonan disini. Kalau kau akan pergi berburu,
pergilah. Aku melihat kau membawa busur dan anak panah. Demikian
juga pengir ing-pengiringmu. Di hutan perburuan itu memang banyak
sekali kijang” “O“ Rudira mengangguk-angguk “Ya. Kami memang akan
berburu. Tetapi buruanku ternyata sudah ada disini” Darah Buntal
tersirap mendengar kata-kata iitu. Bukan saja Buntal tetapi juga
Juwiring. Apalagi ketika ia melihat Rudira tertawa sambil berpaling
kepada Arum yang berdir i ketakutan. “Kamas” berkata Rudira
“Marilah, antarkan aku ke padepokan Jati Aking. Sudah lama aku ingin
mengenal padepokan itu. Aku juga mulai memikirkan tentang masa
depanku. Dan agaknya aku ingin juga belajar ilmu kaj iwan dan ilmu
kasampurnan. Mungkin juga ilmu- ilmu yang lain yang berhubungan
dengan pemerintahan. Aku dengar Kiai Danatirta juga seorang yang
mumpuni di dalam ilmu kasusastran” Tetapi Juwiring menggelengkan
kepalanya. Katanya “Pekerjaanku belum selesai” “O. kalau begitu biar
lah gadis itu mengantarkan aku ke padepokan ayahnya" “Kau lihat
bahwa ia baru datang? Ia membawa makan dan minumanku. Setiap hari ia
pergi ke sawah apabila aku ada di sawah. Jangan kau ganggu anak itu.
Biarlah ia melanjutkan pekerjaannya” Rudira memandang Juwir ing
dengan tatapan mata yang mulai menyala. Tiba-tiba saja ia berkata
“Kamas Juwiring. Kau tidak berhak menghalang-halangi aku. Aku dapat
berbuatsesuka hatiku. Apalagi rakyat kecil seperti Arum dan ayahnya
Sedang kaupun tidak berhak mencegah aku” “Aku tidak
menghalang-halangi. Aku hanya minta, kau jangan mengganggu kerjaku
dari kerja anak itu. Kalau kau akan pergi ke padepokan Jati Aking
pergilah. Setiap orang tahu dimana tempatnya. Dan kau dapat bertanya
kepada mereka. Bahkan kau dapat memaksa mereka dengan gelar
kebangsawananmu untuk mengantarkan kau. Tetapi tidak aku dan tidak
gadis itu” Wajah Rudira menjadi merah semerah matanya. Selangkah ia
maju sambil berkata “Kamas jangan menghina aku di hadapan rakyat
Surakarta. Aku dapat bertindak tegas. Aku adalah seorang bangsawan
penuh. Ayahku seorang bangsawan dan ibuku seorang bangsawan pula.
Kau? Benar kau putera ayahanda Ranakusuma, tetapi ibumu adalah
seorang gadis yang lahir di antara rakyat kecil” “Tetapi aku
mempunyai harga diri. Ibuku tidak pernah mimpi untuk menjadi seorang
puteri bangsawan, seperti aku juga. Apalagi bermimpi untuk menjual
harga diri kepada orang asing berapapun ia akan membelinya” “Kamas“
potong Rudira “Jangan menghina keluarga kita sendiri. Seandainya kau
terasing dari keluarga kita karena pokalmu sendir i, namun jangan
menjadi pengkhianat bagi keluarga Ranakusuma” “Bukan aku yang
berkhianat. Justru aku ingin mempertahankan martabat ayahanda
Ranakusuma sebagai seorang bangsawan dari Surakarta. Kalianlah yang
telah berkhianat, karena kalian telah menjual nama dan keagungan
kebangsawanan kepada orang asing itu” “Cukup” bentak Rudira
“sebenarnya aku tidak ingin bertengkar. Tetapi kau telah memancing
persoalan. Jangan kau kira bahwa aku tidak dapat bertindak
terhadapmu, kamas.Meskipun kau lahir dahulu, sehingga kau menjadi
saudara tuaku, tetapi derajatku lebih tinggi dari derajatmu”
“Derajat tidak ditentukan oleh darah keturunan. Tetapi ditentukan
oleh perbuatan. Perbuatan kita sendiri” Mata Rudira benar-benar
telah menyala. Selangkah ia maju mendekati Juwir ing. Namun Juwiring
sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan cangkulnyapun
kemudian diletakkannya di tanah. “Kau mulai menentang keluarga
Ranakusuma” geram Rudira. “Mudah-mudahan ada orang yang dapat
menilai apia yang telah terjadi” Rudira menggeram. Tetapi sejenak ia
masih berdir i diam di tempatnya. Dalam pada itu, orang-orang yang
ada di sawah, yang bergeser mendekati kedua anak-anak muda yang
bertengkar itu, menjadi berdebar-debar. Tetapi tidak ada seorangpun
yang berani berbuat apapun juga. Keduanya adalah putera Pangeran
Ranakusuma. Sehingga tidak ada yang berani untuk berbuat sesuatu
atas keduanya. Orang-orang yang menyaksikan itu hanya berharap,
mudah-mudahan para pengiring Raden Rudira dapat mencegah peristiwa
yang tidak mereka harapkan. Tetapi ternyata para pengiringnya itupun
hanya berdiri saja dengan mulut ternganga. “Kamas” berkata Rudira
“Cepat, mintalah maaf. Aku masih member i kesempatan, karena kau
adalah saudara tua bagiku, meskipun derajatku lebih t inggi” “Aku
tidak merasa bersalah” berkata Juwiring “Justru aku berdiri di pihak
yang benar. Buat apa aku minta maaf. Kalau kau jantan, kaulah yang
minta maaf kepadaku, kepada Arum dan kepada ayahnya”“Persetan, aku
adalah seorang bangsawan. Kalau aku memang menghendaki, aku dapat
mengambilnya kapan saja” Juwiring menggelengkan kepalanya. Katanya
“Selama aku masih ada di Jati Aking tidak ada seorangpun yang dapat
berbuat demikian atasnya. Apalagi kau bukan seorang Pangeran” Darah
Rudira benar-benar telah mendidih. Karena itu, ia tidak dapat
menahan diri lagi. Ternyata bahwa perasaan yang membekali hati
masing- masing pada pertemuan itu telah membuat jantung mereka
semakin panas. Rudira yang ingin menjauhkan Juwiring dari
keluarganya, dan Juwiring yang. merasa dir inya telah di fitnah.
Dengan demikian maka persoalan yang tumbuh itu hanyalah sekedar
bagaikan api yang menyentuh minyak. Hati anak-anak muda yang belum
terkendali itupun segera berkobar membakar segenap urat darah.
Sejenak kemudian kediua anak muda itu telah berdiri berhadapan.
Keduanya adalah putera Pangeran Ranakusuma. Tetapi ternyata bahwa
nama Ranakusuma tidak mampu menjadi pengikat yang baik bagi
keluarganya, sehingga kebencian, iri dan dengki telah mencengkam
seisi Dalem Kepangeranan “Kau benar-benar keras kepala kamas” geram
Rudira. “Kita sama-sama keras kepala” “Meskipun kau saudara tua,
tetapi kau tidak pantas dihormati. Apalagi derajatmu yang tidak
setingkat dengan derajatku” “Memang. Terapi darahku masih sepanas
darahmu” “Persetan. Aku akan membuktikan bahwa aku lebih baik darimu
dalamsegala hal” “Dan hatimu lebih hitamdar i hatiku”Penghinaan di
hadapan banyak orang itu benar-benar tidak dapat dimaafkan lagi.
Tiba-tiba saja tangan Rudira terayun ke mulut Juwir ing. Demikian
cepatnya dan tidak terduga-duga, sehingga Juwiring terkejut
karenanya. Tetapi gerak naluriahnya telah memutar leher dan
menariknya mundur, sehingga tangan itu hanya menyentuh sedikit saja
di pipinya. Beberapa orang yang menyaksikan gerakan itu berdesah
tertahan. Hanya suara Arum sajalah yang terdengar melengking. Namun
iapun kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ternyata
Juwiring tidak membiarkan dir inya diperlakukan demikian. Dengan
marah pula ia mempersiapkan dir inya. Dan agaknya Rudira memang
benar-benar ingin berkelahi, sehingga tiba-tiba saja ia telah
menyerangnya. Tetapi Juwiring telah siap pula. Karena itulah, maka
sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang
seru. Rudira yang tinggi hati itu tidak lagi berusaha mengekang
dirinya Ia ingin benar-benar mengalahkan saudara seayahnya dan
membuatnya jera. Namun agaknya Juwir ing t idak membiarkan Rudira
ber laku sesuka hatinya. Latihan-latihan yang diperolehnya,
tiba-tiba saja telah membuatnya menjadi garang. Sejenak kemudian
tanpa sesadarnya, ialah yang justru menyerang adiknya itu dengan
serangan-serangan beruntun, sehingga Rudira menjadi bingung
karenanya. Untuk menghindarkan dirinya, Rudira meloncat surut,
tetapi Juwiring mengejarnya terus. Berkali-kali tangannya berhasil
mengenai tubuh Rudira. Bahkan kemudian terdengar Rudira mengaduh
ketika kaki Juwiring berhasil menghantam lambung. Para pengiring dan
pengawal Rudira yang sebenarnya ingin pergi berburu itupun menjadi
berdebar-debar. Meskipun ketika mereka berangkat, ada juga pesan
Rudira, bahwa merekaakan berusaha singgah di padepokan Jati Aking
untuk menemui Juwiring, namun mereka tidak menyangka, bahwa
pertengkaran akan begitu cepat berkobar. Namun pada umumnya para
pengiring itupun mengetahui, bahwa sejak lama pada keduanya telah
tersimpan perasaan yang buram. Sikap bermusuhan memang sudah mereka
lihat sejak keduanya masih tinggal di istana Ranakusuman, sampai
pada suatu saat Juwiring disingkirkan dan dengan banyak alasan
dikirim ke Jati Aking atas saran Ki Dipanala. Bagi Dipanala,
Juwiring lebih baik berada di Jati Aking daripada di tempat lain
yang masih belum diketahuinya. Kalau ia jatuh kerangan orang yang
tidak bertanggung jawab, maka nasibnya akan menjadi semakin buruk.
Dan kini, perasaan yang agaknya telah lama tersimpan di dalam hati
kedua anak muda itu telah meledak. Karena itulah maka para pengir
ingnya menjadi termangu- mangu sejenak. Baru setelah Rudira mulai
terdesak, beberapa orang di antara mereka sadar, bahwa mereka dapat
berusaha mencegah perkelahian yang semakin lama menjadi semakin
sengit. Namun demikian mereka masih ragu-ragu juga. Mereka mengenal
Rudira baik-baik. Anak muda yang keras hati dan keras kepala itu,
tidak akan mudah mendengarkan kata-kata mereka. Dan bahkan mungkin
Rudira akan menjadi semakin marah. Sehingga dengan demikian, para
pengawalnya itu hanya berdiri sa)a termangu-mangu. Tetapi akhirnya
salah seorang dari mereka tidak dapat menahan perasaannya lagi. Ia
tidak sampai hati melihat kedua putera Pangeran Ranakusuma itu
berkelahi. Karena itu, maka iapun bergeser setapak maju. Tetapi
langkahnya segera terhenti ketika tangan yang kuat menggamitnya.
Tangan kawannya sendiri. Seorang pengawal yang bertubuh tinggi kekar
dan berkumis lebat.“Biar saja. Juwiring memang perlu dihajar”
Kawannya yang ingin melerai perkelahian itu mengerutkan keningnya.
Dan orang berkumis itu berkata seterusnya “Kalau Raden Rudira tidak
dapat menghajarnya, aku pasti akan mendapat kesempatan” “Kenapa kita
tidak mencegahnya, justru malahan akan ikut campur?“ Orang itu
tersenyum. Katanya “Tuan kita adalah Raden Rudira. Bukan Juwiring
yang sudah dibuang kepadesan itu” Kawannya tidak menyahut. Ia sadar,
bahwa orang berkumis itu mempunyai beberapa kelebihan dari padanya
dan kawan-kawannya yang laia. Karena itu, iapun tidak berani lagi
membantah. Namun dengan demikian hatinya menjadi semakin
berdebar-debar. Kalau orang itu benar-benar mendapat perintah dari
Rudira, maka nasib Juwir ing akan menjadi kurang baik. Dengan
ragu-ragu orang-orang itu mencoba memandang wajah-wajah
kawan-kawannya yang lain. Seperti orang yang baru sadar akan dir
inya, ia terperanjat. Ternyata orang-orang yang ada di dalam iring-
iringan untuk pergi berburu itu kebanyakan adalah orang-orang yang
dikenalnya sebagai abdi yang paling setia kepada Raden Ayu
Galihwarit. Satu dua di antara bahkan termasuk bukan saja abdi
setia, tetapi penjilat- penjilat. Orang-orang itu menarik nafas
dalam-dalam. Ia sendiri sebenarnya juga seorang penjilat. Tetapi ia
menyadari, bahwa yang dilakukan itu sekedar untuk mempertahankan
sumber penghidupannya beserta isteri dan anaknya. Kalau ia dipecat
dari Ranakusuman, maka akan sulit baginya untuk mendapatkan
pekerjaan baru di Surakarta. Apalagi ia tidak mempunyai lagi sawah
dan ladang di padesan. Tetapi kawan-kawannya yang lain menjadi
penjilat bukan saja karena penghidupannya, tetapi mereka memang
inginmendapatkan puj ian, borang-orang yang tidak pernah mereka
miliki sebelumnya dan uang yang lebih banyak lagi. “Tidak banyak
yang berani berbuat dan bersikap seperti Dipanala” katanya di dalam
hati “Tetapi aku yakin, sebentar lagi iapun pasti akan tersisih dan
bahkan mungkin, nasibnya lebih jelek lagi daripada itu” Dan kini, ia
menyaksikan perkelahian itu menjadi berat sebelah. Rudira ternyata
benar-benar telah terdesak. Bagaimanapun juga Rudira berusaha, namun
Juwiring tidak dapat dikalahkannya. Rudira sama sekali tidak
menyangka, bahwa Juwiring mampu juga berkelahi. Bahkan ternyata,
Juwiring tidak dapat dikalahkannya. Tetapi ternyata bahwa Rudira
bukan seorang bangsawan yang berhati satria. Setelah ia yakin bahwa
ia tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu, tiba-tiba saja ia
berteriak “Sura. Hajar orang ini. Aku tidak mau mengotori tanganku
dengan menyentuh tubuhnya yang berlumpur ini” “Juwiring berdesir
mendengar nama itu. Ia tahu, bahwa Sura adalah seorang abdi
Ranakusuman yang paling ditakuti oleh kawan-kawannya, tetapi juga
dibenci. Ia memiliki beberapa kelebihan karena tubuhnya yang kokoh
kuat, meskipun otaknya sedungu kerbau. Sebenarnya Juwiring tidak
gentar apabila ia harus berkelahi melawan Sura itu, setelah ia
mempunyai dasar-dasar pengetahuan ilmu olah kanuragan. Karena ia
yakin, bahwa bukan kekuatan tubuh semata-mata yang dapat diandalkan
dalam perkelahian. Tetapi juga pikiran dan pengamatan yang tepat
Tetapi untuk berhadapan dengan dua orang, ia memang merasa
ragu-ragu. Apakah ia akan mampu berkelahi melawan dua orang
sekaligus.Ketika orang berkumis yang ternyata bernama Sura itu
beringsut maju, maka dada orang-orang yang menyaksikan perkelahian
itu menjadi semakin berdebar-debar. Orang itu bertubuh tinggi, tegap
dan kekar. Kumisnya menyilang di bawah hidungnya, membuat wajahnya
yang kasar menjadi semakin mengerikan. “Kemarilah“ berkata Rudira
masih sambil berkelahi “Anak ini t idak seberapa Tetapi tubuhnya
terlampau kotor untuk di sentuh. Karena itu, bantinglah dan benamkan
sama sekali ke dalam lumpur. Biar lah ia menjadi semakin kotor,
karena lumpur baginya adalah sumber penghidupannya“ Arum yang
melihat kehadiran orang itupun menjadi cemas juga. Menilik tubuhnya
yang besar, maka ia pasti mempunyai kekuatan yang besar pula. Dengan
demikian apakah Juwiring seorang diri mampu melawannya, apalagi
apabila Rudira sendiri masih ikut serta berkelahi. Dengan menahan
nafas ia melihat Sura melangkah setapak demi setapak mendekati
arena. Juwiring dan Rudira masih juga berkelahi dengan serunya.
Sekali-sekali mereka berdua berpaling kearah orang berkumis yang
mendekat perlahan- lahan, seperti seekor harimau yang sedang
mengintai mangsanya. Rudira perlahan-lahan berusaha menggeser
perkelahian itu. Demikian Sura memasuki arena, maka ia akan dapat
segera meloncat menepi. Langkah Sura setapak demi setapak itu,
terasa berdentangan di dada Arum. Wajahnya semakin lama menjadi
semakin tegang. Dengan gelisah dipandanginya otot-otot yang merambat
di segenap wajah kulit orang yang bernama Sura itu. Dalam pada itu,
Juwir ingpun menjadi berdebar-debar. Dengan sekuat tenaga ia
berusaha menjatuhkan Rudira sebelum Sura memasuki arena. Tetapi ia
tidak segera berhasil,justru karena ia mulai gelisah melihat bentuk
tubuh raksasa itu. Namun adalah di luar dugaannya, dan di luar
dugaan semua orang yang menyaksikan perkelahian itu sambil menahan
nafas. Tiba- tiba saja tanpa berkata sepatah katapun, seorang anak
muda melontarkan dirinya langsung menyerang Sura dari samping.
Tubuhnya yang ringan dan sikapnya yang mapan, menunjukkan bahwa ia
pernah mengenal ilmu olah kanuragan. Kaki kanannya terjulur lurus
menyamping. Tubuhnya bagaikan seorang yang sedang berbaring miring.
Seperti halilintar, kakinya menyambar tengkuk Sura yang sedang
berjalan perlahan-lahan maju. Benar-benar serangan yang tidak
disangka-snagkanya dari arah yang tidak disangka- sangka pula.
Demikian kerasnya serangan itu dan langsung mengenai tengkuk,
sehingga raksasa yang bernama Sura itu sama sekali tidak sempat
berbuat apapun juga. Tumit yang menghantam tengkuknya serasa
membuatnya kehilangan keseimbangan. Terhuyung-huyung ia terdorong
beberapa langkah ke samping. Dengan susah payah ia mencoba menahan
keseimbangan tubuhnya. Tetapi, kaki yang mengenai tengkuknya itu,
begitu berjejak diatas tanah, langsung melontar kembali. Kali ini
dengan sebuah putaran mendatar. Tumit itu pulalah yang kemudian
menghantam perutnya, sehingga tanpa ampun lagi, Sura yang bertubuh
raksasaitupun terduduk perlahan-lahan setelah berjuang dengan sekuat
tenaganya untuk menjaga keseimbangannya. Ternyata serangan yang
datang masih belum tuntas. Kini sisi telapak tangan anak muda itulah
yang menghantam pelipisnya sehingga wajah itu tertengadah sejenak.
Disusul oleh sebuah pukulan di bawah telinga kanan. Sura yang
bertubuh raksasa itu benar-benar tidak berdaya. Serangan yang datang
beruntun itu benar-benar mengejutkannya dan mengejutkan semua orang
yang menyaksikannya. Tidak seorangpun yang menyangka bahwa hal itu
akan terjadi, sehingga Sura sama sekali tidak mendapat kesempatan
untuk berbuat apapun juga, karena yang terjadi itu berlangsung
begitu cepatnya. Sejenak kemudian Sura telah duduk bersimpuh.
Kepalanya terkulai dengan lemahnya, sedang kedua belah tangannya
memegang perutnya yang serasa berputar-putar. Matanya menjadi
berkunang-kunang, sedang telinganya berdesing keras sekali, seperti
seribu sendaren bersama-sama mengaum di dalam telinganya itu. Anak
muda itu agaknya masih belum puas. Tetapi ketika ia mengangkat
tangannya sekali lagi terdengar suara Juwiring “Buntal” Anak muda
itu tertegun. Iapun kemudian berpaling sambil berkata “Aku tidak
akan dapat melawannya apabila ia sempat melakukan. Ia harus
kehilangan kemampuannya itu, dan tidak berdaya untuk selanjutnya”
Juwiring berdir i termenung sejenak. Rudirapun menjadi bingung
sesaat, sehingga perkelahian itu menjadi terhenti dengan sendirinya.
“Jangan Buntal” cegah Juwiring. Buntal memandanginya dengan heran.
Kenapa justru Juwiringlah yang mencegahnya. Karena itu, sejenak ia
berdirikebingungan. Sekali-sekali dipandanginya wajah Rudira,
kemudian Juwir ing dan bahkan beredar pada setiap wajah yang ada di
sekitarnya. Sejenak arena itu dicengkam oleh kediaman yang tegang.
Semua mata kini tertuju kearah Buntal. Anak muda yang berdiri di
samping seorang raksasa yang duduk bersimpuh menahan sakit di
seluruh bagian tubuhnya. Namun kediaman itu, segera dipecahkan oleh
suara Rudira yang tiba-tiba menyadari keadaannya “Hancurkan kedua
anak gila ini. Tidak ada ampun lagi bagi mereka” Juwiring terkejut
mendengar perintah itu. Selama ini, selama ia berkelahi melawan
Rudira, ia masih belum kehilangan pegangan. Ia masih tetap sadar,
bahwa lawannya itu adalah adiknya. Tetapi agaknya Rudira benar-benar
telah menjadi mata gelap. Sura bukannya orang yang dapat menahan dir
i dan menimbang perasaan. Kalau Sura sempat berbuat sesuatu, maka ia
pasti akan menjadi parah. Ternyata Buntal mempunyai perhitungannya
sendiri dan melumpuhkan raksasa itu sebelum berbuat sesuatu. Tetapi
kini Rudira telah memerintahkan orang-orangnya yang lain Tidak
kurang dari tujuh orang. Bahkan lebih. Dalam pada itu,
orang-orangnya menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka
tersentak ketika Rudira berteriak “Cepat, sebelum mereka melar ikan
dir i. Aku akan bertanggung jawab. Kalau ada orang lain yang ikut
campur, mereka akan mengalami nasib serupa” Seperti terbangun dari
mimpi merekapun kemudian bergerak hampir bersamaan. Kuda-kuda
mereka, begitu saja mereka lepaskan. Empat orang dari mereka dengan
tergesa- gesa mengepung kedua anak-anak muda itu, namun yang lain
masih juga agak ragu-ragu. “Siapa yang berkhianat, aku tidak tahu
akibat yang akan menimpa dirinya di istana nanti”Ancaman itu telah
mendorong orang-orang yang mengiringi Rudira itu semakin maju.
Apapun yang ada di dalam hati, namun mereka harus berbuat seperti
yang dikehendaki oleh anak muda bangsawan itu. Tetapi agaknya
Juwiring sama sekali tidak ingin menyerah. Demikian juga Buntal yang
sedikit lebih muda daripadanya. Ke duanya justru menyiapkan diri,
menghadapi segala kemungkinan. Pada saat itu, Sura mulai bergerak.
Dengan segenap ketahanan yang ada padanya, ia mencoba mengatasi rasa
sakit di tubuhnya. Ketika ia mendengar aba-aba Rudira, timbullah
niatnya untuk ikut berkelahi dan membalas serangan-serangan yang
tidak sempat dielakkannya. “Cepat. Aku mau kalian bertindak
sekarang. Sekarang!” Ketika orang-orang yang mengepung kedua anak
muda itu mulai bergerak. Surapun berusaha untuk berdiri. Tetapi
Buntal yang berdiri di sisinya sama sekali tidak memberinya
kesempatan, la sadar sepenuhnya. bahwa orang yang bernama Sura itu
orang yang paling berbahaya di antara para pengiring Rudira. Karena
itulah, maka sebelum Sura berhasil berdiri, dengan sekuat tenaganya,
tanpa peringatan apapun juga. Buntal sekali lapi menghantam tengkuk
orang itu. Kali ini dengan sisi telapak tangannya. Sura adalah
seorang yang seakan-akan bertubuh liar. Tetapi ternyata pukulan
Buntal itu membuatnya keriangan kekuatan. Sambil menyeringai ia
mengpeliat, Tetapi sekali lagi pukulan yang sama telah diulang oleh
Buntal. Kali ini Sura benar-benar tidak dapat bertahan 1agi.
Kepalanya segera tertunduk dan tubuhnya terkulai dengan lemahnya.
Pada saat itulah, para pengawal Rudira mulai menyerang. Ada yang
menyerang dengan mantap dan sepenuh hati, tetapi ada juga yang masih
ragu-ragu, sebab merekapun tahu, bahwa Juwirng adalah putera
Pangeran Ranakusnma sepertiRudira. Tetapi karena Rudira kini
berkuasa di istana Ranakusuman, maka tidak seorangpun yang berani
melawan kehendaknya. Juwiring dan Buntal terpaksa berkelahi melawan
mereka. Tetapi di antara mereka tidak lagi terdapat Sura yang telah
hampir menjadi pingsan sambil duduk bersimpuh. Kepalanya yang
terkulai mencium tanah dialasinya dengan kedua tangannya yang lemas.
Arum berdiri membeku di pinggir parit. Ia berdiri di antara dua
kemungkinan yang sama-sama berat. Kalau ia sama sekali tidak berbuat
apa-apa, adalah terlalu sulit bagi Juwir ing dan Buntal untuk
bertahan melawan tujuh orang bahkan lebih. Arum yang merasa memiliki
kemampuan setingkat dengan Juwiring dan Buntal, yang hanya karena
kodrat kegadisannya sajalah yang memberikan selisih sedikit dalam
olah kanuragan, merasa mampu juga ikut di dalam arena perkelahian.
Tetapi jika demikian, maka ia akan menjadi orang aneh di padukuhan
Jati Sari. Ia akan menjadi pusat perhatian untuk waktu yang lama,
yang bahkan tidak akan ada habisnya. Kawan-kawannya pasti akan
bersikap lain kepadanya, bahkan mungkin gadis- gadis Jati Sari akan
menjauhinya, sehingga ia akan terkurung di padepokan Jati Aking
saja. Dalam keragu-raguan itu, ia mendengar suara Juwir ing lantang
“Jangan berbuat sesuatu Arum. Tinggallah disitu. Atau pergilah jauh-
jauh” Arum mengerti maksud Juwiring. Ia harus menahan hati. Ia harus
tetap merupakan seorang gadis biasa di mata kawan- kawannya dan
orang-orang Jati Sari. Karena itulah maka ia justru melangkah surut
Namun dengan demikian ia menjadi cemas akan nasib kedua saudara
seperguruannya itu. Dalam pada itu, Juwiring dan Buntal berkelahi
mati-matian untuk mempertahankan diri. Untunglah bahwa t idak semua
pengawal Rudira berkelahi bersungguh-sungguh, sehinggameskipun
jumlah mereka cukup banyak, namun Juwiring dan Buntal masih tetap
dapat bertahan. Tetapi agaknya Rudira melihat hal itu, sehingga
karenanya ia berteriak keras-keras” sekali lagi aku peringatkan.
Siapa yang berberkhianat akan mengalami nasib jelek di istana. Tidak
ada orang yang dapat mencegah tindakan yang akan aku ambil atas
kalian” Dada para pengiringnya itupun menjadi berdebaran. Mereka
tidak boleh berkelahi berpura-pura. Dan mereka tidak akan dapat
menyembunyikan sikapnya itu. Jika demikian, maka mereka akan dapat
diusir dari pekerjaan mereka. Karena itu, tidak ada pilihan lain
daripada berkelahi benar- benar. Di dalam hati mereka berkata “Bukan
tanggung- jawabku. Aku hanya menjalankan perintah” Dengan demikian
maka perkelahian itu menjadi semakin lama semakin sengit.
Bagaimanapun juga Juwiring dan Buntal menjadi semakin terdesak.
Badan mereka mulai merasa lelah dan sakit, karena setiap kali mereka
tidak berhasil mengelakkan serangan-serangan lawan yang datang dari
segala penjuru, sedang ilmu yang mereka kuasai baru sekedar ilmu
dasar, dari ilmu yang sesungguhnya. Arum menjadi bertambah gelisah.
Ia tidak akan dapat minta bantuan kepada ayahnya yang bagi
orang-orang Jati Sari, Kiai Danatirta dari padepokan Jati Aking,
adalah seorang tua yang hanya mesu kajiwan dan kasampurnan batin.
Sama sekali bukan seseorang yang mendalami ilmu kanuragan. Sehingga
dengan demikian Arum menjadi semakin bingung. Dalam pada itu,
keadaan Juwiring dan Buntal menjadi semakin sulit seperti hati Arum.
Mereka terdesak semakin jauh, sehingga hampir tidak dapat bertahan
lagi. Bahkan sekali-sekali Buntal terdorong beberapa langkah. Hanya
karena kekerasan hatinya sajalah maka ia masih tetapbertahan dan
berkelahi terus, meskipun keningnya telah menjadi kebiru-biruan dan
pipinya mulai membengkak. Pada saat-saat yang berat itu, justru Sura
mulai bergerak dan tertatih-tatih berdiri. Sejenak ia masih
memegangi perutnya dan kemudian meraba-raba tengkuknya. Namun
sejenak kemudian ia sudah berhasil berdiri tegak. Ketika ia melihat
bahwa perkelahian masih berlangsung, maka iapun menggeram. Kini ia
tidak melangkah setapak demi setapak perlahan-lahan. Tetapi dengan
tergesa-gesa ia mendekati arena sambil berteriak “Lepaskan yang
kecil itu. Itu adalah bagianku. Kalan semuanya tinggal mempunyai
seorang lawan. Terserah perintah dari Raden Rudira terhadap kalian
atas Raden Juwiring Tetapi anak gila itu serahkan kepadaku” Buntal
menjadi berdebar-debar. Ia melihat api yang menyala di mata orang
yang bernama Sura itu. Namun seperti yang telah terjadi. Benar-benar
di luar dugaan, bahwa dalam keadaannya. Buntal berhasil menyusup,
sesaat perhatian lawannya tertarik oleh suara Sura. Sekali lagi ia
melontarkan dir inya dan kaki terjulur lurus menghantam raksasa itu.
Kali ini mengarah ke dadanya. Namun Sura sempat melihat serangan
yang dianggapnya terlampau gila itu. Tetapi ia tidak sempat
mengelak. Dengan demikian maka dengan tergesa-gesa disilangkannya
tangannya di depan dadanya itu untuk menangkis serangan Buntal. Daya
lontar Buntal ternyata cukup besar. Ternyata benturan itu membuat
Sura terdorong surut beberapa langkah, sedang Buntal sendiri
terlempar jatuh di tanah Tetapi cepat ia bangkit berdiri meskipun ia
harus menyeringai karena pergelangan kakinya seiasa akan patah. Sura
berhasil mempertahankan keseimbangan meskipun hampir saja ia
terjatuh. Serangan itu begitu tiba-tiba.Didorong pula oleh daya
lontar yang kuat, sedang tubuh Sura sendiri masih belum pulih sama
sekali. Tetapi kini Sura mengetahui, bahwa kekuatan anak itu tidak
terlampau mencemaskan. Kalau ia sempat melawan, maka baginya Buntal
bukanlah lawan yang harus diperhitungkan, meskipun kelincahannya
mengagumkannya pula. Kini Sura memusatkan perhatiannya kepada
Buntal, sementara yang lain mulai melingkari Juwir ing. “Hancurkan
mereka. Itu perintahku. Aku akan bertanggung jawab. Buatlah mereka
untuk selanjutnya tidak akan dapat melawan kita lagi. Mungkin tangan
mereka atau kaki merekalah yang membuat mereka terlampau sombong”
“Bagus” geram Sura “Aku akan melakukan sebaik-baiknya. Tangan anak
ini memang terlampau cekatan” Dada Buntal benar-benar berguncang
ketika ia melihat Sura mendekatinya. Tetapi ia sudah terlanjur
basah. Karena itu, apapun yang akan terjadi akan dihadapinya. Dalam
pada itu, Juwiringpun menjadi berdebar-debar. Sura memang bukan
lawan Buntal yang masih terlalu muda itu. Bahkan ia sendir i yang
lebih tua, masih harus mempergunakan bukan saja tenaganya, tetapi
terlebih-lebih adalah otaknya untuk melawan orang yang bernama Sura
itu. Dan agaknya pertimbangan pikiran Buntalpun masih belum cukup
dewasa menanggapi lawannya itu, sehingga apabila ia hanya sekedar
mempergunakan tenaga dan dasar-dasar ilmunya, maka ia tidak akan
dapat melawannya. Apalagi apabila sekali anggauta badannya teraba
oleh Sura, maka tulang-tulangnya pasti akan retak karenanya. Tetapi
Juwiring tidak dapat berbuat apa-apa, karena beberapa orang telah
berdiri melingkarinya. Kalau ia bergerak, maka itu akan berarti, ia
harus berkelahi melawan orang- orang itu.Sejenak Juwiring berdiri
termangu-mangu. Ia melihat Buntal telah bersiap menghadapi setiap
kemungkinan, meskipun kemungkinan yang paling besar akan terjadi
adalah kemungkinan yang kurang menyenangkan baginya. “Jangan
menyesal” geram Sura “Kau sudah menyakiti aku. Sekarang aku akan
menyakit i kau” Buntal tidak menyahut. Tetapi ia tidak mau
didahului. Menurut pertimbangannya, memang lebih baik mendahului
daripada didahului. Karena itu, maka selagi Sura melangkah
mendekatinya, sekali lagi Buntal melontarkan serangan sekuat-kuat
tenaganya. Untuk melawan raksasa itu, Buntal lebih percaya kepada
kekuatan kakinya, meskipun ia sadar, bahwa ia menghadapi kekuatan
yang lebih besar dari kekuatannya. Juwiring mengerutkan keningnya.
Buntal memang masih terlampau muda. Kalau ia mencoba melawan
kekuatan dengan kekuatan, maka sebentar lagi, ia pasti akan
diremukkan oleh raksasa Ranakusuman yang mengerikan itu. Dugaan
Juwiring tidak jauh meleset. Sekali lagi kaki Buntal menghantam
tangan Sura. Kali ini Sura mengir ingkan tubuhnya, dan membenturkan
lengannya. Namun kekuatan lengannya telah mampu melemparkan Buntal
dan membantingnya jatuh di tanah, meskipun Sura sendiri juga
terdorong beberapa langkah surut. Buntal menyeringai menahan sakit
di punggungnya yang membentur batu padas. Tetapi iapun segera
berusaha berdiri untuk menghadapi setiap kemungkinan yang bakal
terjadi, meskipun pergelangan kakinya semakin terasa sakit. Arum
yang masih berdir i Di tempatnya menjadi semakin, bingung. Sudah
tentu ia tidak akan dapat berdiam dir i, apabila bahaya yang
sebenarnya telah mengancam kedua saudaranya itu. Apapun yang akan
dikatakan orang, dan apapun yang akan terjadi pada dirinya
seterusnya ia tidakmempedulikannya lagi. Sehingga karena itu, iapun
justru melangkah mendekat, setelah ia meletakkan selendangnya.
“Tetapi aku memakai kain panjang” berkata Arum kepada diri sendir i
di dalam hatinya “sedang disini banyak orang. Kalau aku berada di
halaman rumah sendir i di malam hari aku dapat menyingsingkan saja
kain panjang ini. Tetapi bagaimana disini?“ Arum menjadi
termangu-mangu. Tetapi ketika terpandang olehnya Buntal yang tampak
terlampau kecil berdiri berhadapan dengan Sura, maka iapun
menggeretakkan giginya “Apa peduliku dengan orang-orang itu. Aku
dapat menyangkutkan kain seperti Buntal dan Juwir ing” Dalam pada
itu, dada Arum berdesir ketika ia melihat Sura mulai menyerang
lawannya. Sebuah pukulan yang keras mengarah ke pelipis Buntal.
Tetapi Buntal cukup cekatan sehingga ia masih sempat mengelak.
Bahkan kemudian dengan. lincahnya ia mencoba menyerang lambung Sura
dengan kakinya. Dengan gerak naluriah Sura mengibaskan tangannya,
memukul kaki itu. Terdengar Buntal mengeluh tertahan. Terasa
betisnya bagaikan dipukul dengan sepotong besi, sehingga ia terputar
setengah lingkaran sebelum ia meloncat menjauhi Sura yang
mengejarnya. Juwiring sendiri masih berdir i termangu-mangu. Agaknya
orang-orang yang mengurungnyapun menjadi termangu- mangu juga.
Mereka masih menunggu apa yang harus mereka lakukan, sementara semua
perhatian terikat oleh perkelahian antara Buntal dan Sura. Hampir
saja Arum menjerit, ketika ia melihat sekali lagi kekuatan mereka
berbenturan, karena Sura t idak pernah berusaha mengelakkan serangan
Buntal. Sekali lagi Buntal terlempar. Kali ini cukup keras, sehingga
ia tidak dapat mempertahankan keseimbangannya lagi. Dengan derasnya
iajatuh terbanting dan berguling kokoh kuat yang seperti sepasang
tiang terpancang jauh ke dalam bumi. Ketika ia meloncat berdiri
sambil menyeringai, ia sempat melihat orang itu. Seorang yang
bertubuh tinggi kekar, bermata tajam dan berwajah sedalam lautan.
Menilik raut mukanya yang meskipun kotor oleh debu dan keringat,
orang itu bukan orang kebanyakan. Tetapi menilik pakaiannya, ia
adalah seorang petani miskin yang baru berada dalam perjalanan yang
jauh. Bajunya dibuka dan dililitkan di lambungnya. Kain panjangnya
disingsingkannya pula, sehingga celananya yang sampai di bawah
lututnya tampak kumal dan kotor sekotor wajahnya itu. Kehadiran
orang itu ternyata telah menarik perhatian. Sejenak ia berdiam dir i
memandang Buntal yang tertatih-tatih berdiri. Kemudian memandang
orang-orang yang berada di sekitar arena perkelahian itu. “Kenapa
tuan-tuan berkelahi disini?“ bertanya orang itu dengan suara yang
berat. “Siapa kau?“ Rudiralah yang bertanya. “Aku seorang petani
yang berada dalam perjalanan yang jauh tuan. Dan siapakah tuan?
Menilik pakaian tuan, tuau adalah seorang bangsawan” “Ya. Aku adalah
putera Pangeran Ranakusuma” “O“ petani yang bertubuh tinggi itu
mengangguk dalam- dalam “Maafkan aku tuan. Aku tidak tahu, bahwa
tuan adalah seorang putera Pangeran” “Sekarang kau sudah tahu.
Minggirlah. Kami sedang menyelesaikan persoalan kami” “Maaf tuan,
apakah aku boleh bertanya?“ Rudira memandang orang itu dengan
tajamnya. Tetapi jaraknya-tidak begitu dekat“Kenapa perkelahian ini
tidak dilerai? Dan agaknya anak muda yang seorang itupun sudah
terkepung pula?“ Itu urusanku. Pergilah. Jangan mencampur i
persoalan orang lain. Aku adalah putera Pangeran Ranakusuma. Aku
mempunyai wewenang untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keinginanku
atas orang-orang kecil yang tidak tahu adat ini” “Jadi, tuanlah yang
sedang melakukan tindakan kekerasan atas orang-orang kecil ini?“
“Ya” “Apakah salah mereka?“ “Kau tidak mempunyai sangkut paut apapun
juga dengan mereka. Pergilah, supaya kau tidak tersangkut di dalam
persoalan ini” bentak Rudira. “Aku sudah berjalan jauh tuan. Tetapi
aku t idak pernah menjumpai persoalan serupa ini. Seharusnya tuan
dan pengawal-pengawal tuan melindungi orang-orang kecil ini dari
segala macam kesulitan” “Diam, diam“ tiba-tiba Rudira membentak “Kau
tahu akibat dari kata-katamu itu he? Bahwa kau berani membantah
kata- kataku, itu adalah alasan yang baik bagiku untuk bertindak.
Kau mengerti?“ “Mengerti tuan. Tetapi perjalananku yang jauh
mengajar kepadaku, agar aku tidak cukup sekedar mengerti sikap orang
lain, tetapi aku harus menilainya pula, apakah sikap itu benar atau
tidak” Tiba-tiba mata Rudira bagaikan menyala. Ia tidak menyangka
bahwa orang yang tiba-tiba saja datang melihat perkelahian itu,
bersikap sangat menyakitkan hati. “He, apakah kau bukan kawula
Surakarta?“ “Aku kawula Surakarta”“Kenapa kau berani bersikap
semacam itu kepadaku. Kepada putera Pangeran Ranakusuma” “Aku pernah
berjalan berkeliling kota Surakarta. Dan aku memang pernah mendengar
siapakah Pangeran Ranakusuma itu. Kalau tuan puteranya, maka tuan
pasti pernah melihat, ayahanda tuan adalah sahabat yang baik dari
orang-orang yang berkulit aneh itu. Kulitnya tidak seperti kulit
kita dan matanya tidak seperti mata kita. Tetapi itu bukan alasan
untuk menarik batas antara kita yang berkulit kotor dan bermata
gelap ini dengan mereka, tetapi tindak dan sikap merekalah yang
membuat jarak antara kita dengan orang-orang asing itu. Memang tidak
ada bedanya di dalam hakekat, bahwa kita adalah mahluk Tuhan seperti
mereka. Tetapi juga tidak akan dibenarkan apabila yang satu mulai
melakukan penghisapan kepada yang lain. Bangsa yang satu atas bangsa
yang lain. Nah, tolong, sampaikan kepada ayahanda tuan, bahwa akulah
yang berkata demikian” “Siapa kau?“ “Seorang petani dari Sukawati”
“Huh“ Raden Rudira menjadi semakin marah “Apa artinya seorang petani
bagi ayahanda. Pergi dari tempat ini, atau kau harus mengalami nasib
seperti anak itu?“ “Anak ini adalah benih yang baik buat masa
mendatang. Aku sebenarnya sudah melihat perkelahian yang terjadi
disini dari kejauhan. Tetapi ketika aku melihat benih masa mendatang
ini akan dipatahkan, aku merasa sayang, sehingga akupun mendekat”
Jawaban itu bagaikan iebuah tamparan yang langsung diwajab Rudira,
sehingga wajah itupun menjadi merah padam. Dengan suara bergetar ia
berkata “Jadi jadi, apa maksudmu he? Apa yang akan kau lakukan?““Aku
melihat dua orang anak petani ini dapat berbuat banyak di saat-saat
mendatang, Karena itu, jangan tuan mengganggunya” “Persetan. Kau
tidak dapat mencegah aku. Atau kau sendiri yang akan menjadi
pengewan-ewan disini?” “Tuan, aku sudah mendekati arena. Karena aku
merasa sayang kepada dua orang anak muda yang berkelahi melawan
beberapa orang inilah maka aku datang. Anak ini memang bukan lawan
raksasa yang dungu itu” “Gila“ Sura hampir berteriak “Apakah kau
akan turut campur?“ “Maaf. Aku terpaksa turut campur” “Sura” teriak
Rudira yang tidak sabar lagi “selesaikan orang itu” “Baik tuan”
jawab Sura sambil membusungkan dadanya. Lalu katanya “Petani dari
Sukawati, jangan menyesal bahwa kau hari ini telah salah langkah”
“Aku akan menerima segala nasib yang akan menimpaku hari ini” jawab
petani itu. Namun dalam pada itu Buntal tiba-tiba berkata “Pergilah.
Pergilah supaya kau tidak terlibat dalampersoalan ini” “Aku memang
melibatkan diriku, anak muda” jawab petani itu.Tetapi petani itu
tidak sempat lagi mengucapkan kata-kata yang sudah di kerongkongan,
karena tiba-tiba saja Sura telah menyerangnya. Tangannya terayun
dengan derasnya ke wajah petani yang kotor itu. Tangan Sura yang
mempunyai kekuatan melampaui kekuatan kawan-kawannya abdi
Ranakusuman. Yang melihat ayunan tangan Sura itu menahan nafas.
Demikian juga Juwiring, Buntal dan bahkan Rudira sendiri. Kalau
tangan itu mengenai pelipis petani itu, maka ia pasti akan pingsan
seketika. Tetapi yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Setiap
orang yang menyaksikan hanya dapat berdiri dengan mulut ternganga.
Mereka hampir tidak percaya atas apa yang telah terjadi. Dengan
tenangnya, petani dri Sukawati itu menggerakkan tangannya. Tenang
tetapi secepat gerak tangan Sura. Hampir tidak dapat dilihat dengan
mata telanjang, tiba-tiba saja orang itu telah berhasil menggenggam
pergelangan tangan raksasa yang marah itu. Demikian cepatnya,
sehingga Sura tidak sempat menar iknya. Bahkan sekejap kemudian
terdengar Sura itu mengaduh pendek. Tangannya ternyata jelah
terpilin di punggungnya. Kemudian suatu hentakkan yang keras
mendorongnya, sehingga Sura itupun jatuh menelungkup dengan
derasnya, sehingga wajahnya telah menyentuh tanah. Tidak seorangpun
yang dapat mengatakan, apa yang telah dilakukan oleh petani yang
mengaku berasal dari Sukawati itu. Tetapi yang mereka lihat kemudian
Sura berusaha dengan susah payah bangkit berdiri. Ketika ia meraba
dahinya, terasalah sepercik darah dari kulitnya yang tersobek karena
benturan sepotong batu padas. Peristiwa yang sesaat itu, ternyata
telah membuat gambaran yang jelas kepada semua orang yang
menyaksikan, apa saja yang dapat dilakukan oleh petani yang sedang
dalamperjalanan jauh itu. Karena itu, maka dada merekapun menjadi
berdebaran. Rudira yang menyaksikan hal itupun seolah-olah telah
membeku. Hampir tidak masuk akal, bahwa raksasa itu dapat
dijatuhkannya dengan mudah dalam perkelahian beradu muka. Berbeda
dengan serangan Buntal yang tidak terduga- duga. Tetapi kali ini
justru Suralah yang telah menyerang orang itu. Hal itu membuat
jantung Rudira menjadi susut. Tetapi darahnya yang menggelegak
membuatnya berteriak “He petani dungu. Kau sudah melawan keluarga
Ranakusuma. Kau akan menyesal. Kami akan beramai-ramai mencincangmu
tanpa tuntutan apapun juga” “Silahkanlah tuan. Disini aku tidak
berdiri sendiri. Setidak- tidaknya aku mempunyai dua orang kawan
untuk melawan tuan bersama kawan-kawan tuan. Dan sebelumnya aku akan
memper ingatkan kepada tuan, bahwa tuan bersama pengiring tuan
seluruhnya, tidak akan dapat melawan kami bertiga” Rudira menggeram.
Tetapi ia tidak begitu saja mempercayainya. Karena itu, ia berteriak
“Hancurkan orang itu lebih, dahulu” Kini para pengiringnya memandang
petani itu dengan penuh keragu-raguan. Tetapi apabila Raden Rudira
memer intahkan, merekapun harus melakukannya. Berkelahi dengan
petani yang dengan sekilas telah menunjukkan kelebihan yang hampir t
idak masuk akal. “Cepat” teriak Rudira “Orang itu harus kalian
selesaikan dahulu, sebelum cucurut-cucurut kecil itu” Para pengiring
Rudirapun mulai bergerak, betapapun dada mereka diguncang oleh
keragu-raguan. Apapun yang akan mereka alami, namun mereka tidak
akan dapat menolak perintah Raden Rudira. Tetapi langkah mereka
terhenti, ketika mereka melihat Juwiring dan Buntalpun mulai
bergerak pula.Dengan nada yang dalam Juwir ing dan Buntalpun mulai
bergerak pula. Dengan nada yang dalam Juwiring berkata “Terima kasih
atas pertolonganmu, petani dari Sukawati. Dan kini sudah barang
tentu bahwa aku tidak akan membiarkan orang-orang itu mengerubutmu
beramai-ramai. Aku dan adikku akan turut campur dalam setiap
pertengkaran dengan kau apapun alasannya. Apalagi karena kau telah
menolong aku dan adikku” “Terima kasih. Kita akan berkelahi
bersama-sama melawan mereka” jawab petani dari Sukawati itu.
Ternyata hal itu telah mengguncangkan jantung Rudira. Sejenak ia
memandang Juwiring, kemudian Buntal dan yang terakir petani dari
Sukawati itu. Namun tiba-tiba saja ia menyadari keadaannya. Para
pengiringnya tidak akan dapat melawan mereka bertiga. Orang yang
bertubuh tinggi kekar itu memiliki kemampuan yang tidak
terduga-duga. Kalau ia memaksakan perkelahian, maka ia pasti akan
menderita malu jauh lebih banyak lagi. Sehingga karena itu, maka
Rudira yang masih sempat menilai keadaan itu tiba-tiba saja berkata
lantang “Gila, semuanya sudah gila. Dan kita tidak akan terseret ke
dalam kegilaan ini. Marilah kita tinggalkan orang-orang gila yang
tidak berharga ini. Kita akan pergi berburu. Lebih baik
menghunjamkan anak panah kita ke tubuh seekor kancil dar ipada harus
dikotori dengan darah orang-orang yang tidak tahu adat ini. Tetapi
ingat, bahwa keluarga Ranakusuma tidak akan tinggal diam. Kami akan
mengambil tindakan yang pantas bagi kalian. Pada saatnya kami akan
pergi juga ke Sukawati untuk menemukan seorang petani yang sombong
macam kau” Petani itu menengadahkan wajahnya. Jawabnya “Aku akan
menunggu tuan. Dan aku akan mengucapkan banyak terima kasih atas
kunjungan tuan di Sukawati”“Persetan. Kau akan menyesal” lalu ia
berteriak kepada para pengiringnya “tinggalkan cucurut-cucurut ini.
Tangan kita jangan dikotori oleh lumpur yang melekat di tubuh
mereka” Keputusan itu terasa seperti embun yang menitik di hati para
pengiringnya yang kering. Perintah itu tidak perlu diulang lagi.
Ketika Rudira kemudian pergi ke kudanya dan langsung meloncat naik
ke punggungnya, maka para pengiringnyapun segera berbuat serupa.
Sejenak kemudian maka kaki-kaki kuda itu berderap diatas tanah yang
berbatu padas, melontarkan debu putih yang mengepul di udara.
Beberapa pasang mata mengikutinya dengan debar jantung yang terasa
semakin cepat. Juwiring memandang debu yang semakin lama menjadi
semakin tipis, dan yang kemudian lenyap disapu angin, seperti
kuda-kuda yang berderap itu hilang di kejauhan. Sambil menarik nafas
ia berpaling kepada petani yang mengaku dari Sukawati itu. Kemudian
dengan mantap ia berkata ”sekali lagi aku mengucapkan terima kasih
Ki Sanak” Petani itu menarik nafas dalam-dalam pula, seakan-akan ia
ingin berebut menghirup udara dengan Juwir ing. Katanya “Kita
sekedar saling tolong menolong” lalu sambil memandang kepada Buntal
ia berkata “Bukankah kau t idak apa-apa” Buntal menggeleng. Jawabnya
“Tidak. Aku tidak apa-apa” “Sokur lah. Ternyata bahwa mereka,
maksudku Putera Pangeran Ranakusuma beserta pengiringnya bukan
orang- orang yang kuat lahir dan batinnya. Sebenarnya pertengkaran
semacam ini tidak perlu terjadi” Juwiring akan menyahut. Tetapi
suaranya terputus ketika ia melihat seorang tua yang berlari-lari
langsung mendapatkan Arumsambil berkata “Kenapa kau Arum,
kenapa?“Arum mengerutkan keningnya. Dilihatnya ayahnya dengan nafas
tersengal-sengal mendatanginya dengan wajah yang tegang. “Aku tidak
apa-apa ayah” “Sokur lah. Sokurlah. Aku dengar Raden Rudira lewat di
jalan ini dan kebetulan sekali berpapasan dengan kau” “Ya ayah.
Untunglah ada kakang Juwiring dan Buntal” Arum berhenti sejenak,
dipandanginya petani dari Sukawati itu sambil berkata “selebihnya
orang itulah yang telah menolong kami” Kiai Danatirta memandang
petani dari Sukawati itu dengan seksama. Sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya ia berkata “Terima kasih Ki Sanak atas semua
pertolonganmu. Tetapi apakah dengan demikian kau sendir i tidak
terancam oleh bencana karena tingkah laku Raden Rudira itu. Aku
datang dengan tergesa-gesa ke tempat ini setelah seseorang member
itahukan kepadaku, apa yang terjadi. Aku masih melihat perkelahian
yang ber langsung, dari kejauhan” Petani itu mengerutkan keningnya.
Lalu jawabnya “Mereka tidak akan menemukan aku Kiai” “Siapakah Ki
Sanak sebenarnya?“ “Aku seorang petani dari Sukawati” Kiai Danatirta
mengerutkan keningnya. Ia melangkah semakin dekat dengan orang yang
menyebut dirinya petani dari Sukawati itu. Tetapi sebelum ia dekat
benar, petani itu berkata “Sudahlah Kiai. Aku akan meneruskan
perjalananku kembali ke Sukawati. Aku baru saja menempuh perjalanan
jauh mengunjungi sanakku“ “Tunggu” cegah Kiai Danatirta “Aku masih
ingin bertanya” Petani itu tertegun. Tetapi katanya “Sudahlah. Tidak
ada yang dapat aku terangkan lagi”“Kenapa Ki Sanak membantu
anak-anakku? Apakah Ki Sanak sudah mengenal mereka?“ “Belum Kiai.
Tetapi mereka adalah harapan di masa datang. Karena itu aku merasa
sayang apabila benih yang baru tumbuh itu akan dipatahkan” Orang itu
berhenti sejenak, lalu “Sudahlah Kiai. Aku akan pergi” “Tunggu,
tunggu“ Kiai Danatirta menjadi semakin dekat. Dipandanginya wajah
orang itu dengan saksama, seakan-akan ada yang dicarinya pada wajah
orang itu. Tiba-tiba saja, semua orang yang melihatnya terperanjat
bukan buatan. Dengan serta-merta Kiai Danatirta berjongkok di
hadapannya sambil menyembah “Ampun Pangeran. Anak-anak itu tidak
tahu, siapakah sebenarnya yang telah menolongnya” Tetapi dengan
cepatnya orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itupun
menangkap lengannya dan menariknya berdiri “Jangan berjongkok. Kalau
kau mengenal aku, jangan kau beritahukan hal itu kepada siapapun”
Tetapi Juwiring dan Buntal telah melihat sikap yang aneh pada
gurunya. Demikian juga agaknya Arum, sehingga hampir berbareng
mereka melangkah maju dengan penuh keragu- raguan. Kiai Danatirta
tidak lagi berjongkok di hadapan petani dari Sukawati itu. Tetapi
sikapnya menjadi berlainan sekali. Bahkansambil menyembah ia berkata
“Ampun. Pangeran. Kami tidak menyangka bahwa tuan akan datang ke
tempat ini” Ternyata panggilan itu telah mengguncangkan dada anak-
anak muda yang sudah semakin dekat, dan dapat menangkap kata-kata
itu. Sejenak mereka berdiri tegak sambil saling berpandangan.
“Anak-anakku” berkata Kiai Danatirta “Kemar ilah. Kau pasti belum
mengenalnya. Juwiring yang sudah lama tinggal di Ranakusumanpun
pasti belum mengenalnya dengan baik, karena Pangeran ini jarang
berada di antara kaum bangsawan. Bahkan Raden Rudirapun t idak.
Juwiring memandang petani dar i Sukawati itu dengan dada yang
berdebar-debar. Baru kini ia melihat sinar yang tajam memancar dari
sepasang mata orang itu. Sementara Buntal yang sudah sejak semula
melihat kelainan di wajah pelani itu menjadi semakin gelisah. Ia
adalah orang yang pertama-tama berdiri paling dekat dengan orang
itu, ketika ia terbanting jatuh dan berguling beberapa kali Pampir
saja menyentuh sepasang kakinya yang kuat. Dan sejak ia melihat
wajah itu dari jarak yang sangat dekat, ia sudah melihat kelainan
itu. Arum yang seakan-akan tanpa menyadarinya bertanya
perlahan-lahan “Siapakah orang itu ayah?“ “Petani dari Sukawati”
jawab orang itu. Tetapi Kiai Danatirta berkata “Perkenankanlah
anak-anak ini mengenal siapakah tuan” Orang itu menarik nafas
dalam-dalam. “Bukankah tuan t idak berkeberatan?“ “Baiklah Kiai.
Tetapi hanya anak-anakmu, meskipun aku tahu, bahwa mereka bukan
anakmu sendiri”“Terima kasih tuan“ Kiai Danatirtapun kemudian
berpaling kepada anak-anaknya, katanya “Inilah yang bergelar
Pangeran Mangkubumi” “Pangeran Mangkubumi?” desis Juwir ing. Hampir
saja ia berlutut di hadapan orang itu, seandainya orang yang
ternyata adalah Pangeran Mangkubumi itu tidak berkata “Jangan
membuat kesan yang aneh di tengah sawah ini. Aku adalah petani dari
Sukawati. Lihat, masih banyak orang berada di sekitar tempat ini
meskipun agak jauh. Tetapi jika mereka melihat sikap kalian, maka
mereka pasti akan bertanya-tanya” “Tetapi, tetapi…” suara Juwiring
menjadi bergetar “tuan adalah Pangeran Mangkubumi” “Ya. Apakah
salahnya kalau aku Mangkubumi” Pangeran Mangkubumi berhenti sejenak,
lalu “Kaupun pasti bukan anak Kiai Danatirta. Meskipun belum terlalu
rapat, aku sudah berkenalan dengan orang yang menjadi ayahmu ini,
sehingga ia berhasil mengenali aku dalam pakaianku ini. Bahkan aku
sudah mengotori wajahmu dengan debu. Tetapi siapa kau sebenarnya?“
“Namanya Juwiring“ Kiai Danatirtalah yang menjawab “Ia adalah juga
putera Pangeran Ranakusuma” “O“ Pangeran Mangkubumi
mengangguk-anggukkan kepalanya ”jadi kau adalah putera Kamas
Ranakusuma? Jadi apamukah yang berkuda itu?“ “Ia Putera Pangeran
Ranakusuma yang muda tuan. Tetapi keduanya berlainan ibu. Raden
Juwiring putera yang lahir dari seorang ibu dari rakyat jelata, atau
katakanlah seorang bangsawan yang telah agak jauh dari lingkungan
istana, sedang Raden Rudira, adiknya itu adalah putera yang lahir
dari ibunda Raden Ayu Sontrang” “Jadi yang berkuda itu anak Sontrang
yang terkenal itu?“ “Ya tuan”“Pantas sekali. Aku memang sudah
mendengar serba sedikit apa yang terjadi di Ranakusuman. Tetapi aku
tidak pernah datang berkunjung kehadapan kamas Ranakusuma. Aku muak
melihat bekas alas kaki orang asing yang tidak dilepas yang
mengotori pendapa rumahnya yang pernah terasa keagungannya. Jadi
anak inilah yang lahir dari seorang perempuan yang bernama Rara
Putih?“ “Ya tuan” “Dan Rudira itu anak Sontrang yang telah berhasil
menyisihkan Diajeng Manik, puteri paman Reksanagara?“ “Ya tuan”
Pangeran Mangkubumi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku
tahu betapa tamaknya perempuan itu. Ia mewarisi sikap ayahnya,
pamanda Sindurata. Sikap yang sangat bertentangan dengan pamanda
Reksanagara. Agaknya kumpeni telah ikut campur pula di dalam
persoalan ini, sehingga mempercepat tersisihnya putera pamanda
Reksanagara dari Ranukusuman” Buntal mendengarkan keterangan itu
dengan heran. Ternyata bagaimanapun juga ia tidak dapat mengerti,
bahwa orang-orang yang masih terikat di dalam hubungan keluarga,
bahkan masih terlalu dekat, dapat juga saling memfitnah, saling
mendesak dan yang satu mengorbankan yang lain” “Mereka adalah
saudara sepupu“ katanya di dalam hati “bahkan Raden Rudira dan Raden
Juwir ing adalah saudara seayah” Terbayang sekilas paman dan bibinya
yang miskin. Mereka sama sekali tidak mempunyai kelebihan apapun
juga dari pendapatan mereka sehari-har i. Bahkan untuk makan
merekapun masih belum memenuhi. Tetapi mereka mau juga
memeliharanya. Mau juga memberinya tempat di antara keluarganya yang
miskin itu.“Aku tidak tahu” katanya pula di dalam hatinya “Apakah
justru orang-orang besar itulah yang kadang-kadang tidak lagi saling
mengasihi di antara sesama. Mereka hidup berpegangan kepada
kepentingan dir i sendir i. Mereka sama sekali tidak lagi merasa
terikat hubungan seorang dengan yang lain. Bahkan kalau perlu yang
seorang berdiri beralaskan sesamanya tanpa menghiraukan sakit dan
pedihnya” Terkilas diangan-angan Buntal nasehat Kiai Danatirta “Kita
hidup bumi yang sama. Tuhan yang Satu walaupun Ia mempunyai sembilan
puluh sembilan nama dan kitapun diciptakan dar i tanah yang sama.
Itulah sebabnya maka kita harus saling sayang menyayangi. Saling
menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran”
Dalam pada itu, Buntal seakan-akan tersadar dari mimpinya ketika ia
mendengar Pangeran Mangkubumi itu bertanya “Lalu siapakah anak muda
ini” “Aku menemukannya di bulak ini tuan. Menurut pengakuannya
ayahnya seorang abdi dari Katumenggungan Gagak Barong” “O.
Tumenggung itu lagi” desis Pangeran Mangkubumi “Bagaimana ia sampai
disini” “Ia menjadi yatim piatu, sehingga ia harus pergi
meninggalkan Katumenggungan itu” “Itu lebih bagus baginya” Pangeran
itu mengangguk- angguk, lalu “gadis itu?“ “Itu adalah anakku tuan.
“Anakmu?“ Kiai Danatirta menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi
karena Arum ada di dekatnya, maka iapun mengangguk sambil menjawab
“Ya tuan. Ia adalah anakku”“Agaknya anakmu itulah yang telah menar
ik perhatian Rudira. Bukankah begitu?” “Ya tuan” “Lalu, Juwir ing
mencoba melindunginya. Apakah Juwiring ada di padepokanmu?“ “Ya
tuan. Ia terusir dari istana Ranakusuman. Bahkan sebelum Raden Ayu
Manik” “Bagus. Tinggallah pada Kiai Danatirta. Aku akan sering
berkunjung ke padepokan itu. Aku sering melakukan perjalanan semacam
ini untuk melihat kenyataan. Bukan sekedar mendengar berita dari
tembang rawat-rawat. Aku sendiri ingin melihat kebenaran. Apalagi
setelah kumpeni mulai berpengaruh di Surakarta. Sebenarnya itu
sangat menyakitkan hati. Tetapi tidak mudah untuk menolak pengaruh
itu. Justru semakin lama agaknya malahan menjadi semakin kuat. Kiai
Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia juga menyadari
kebenaran kata-kata Pangeran Mangkubumi. Kata- kata itu bukan
sekedar meloncat karena dorongan perasaan yang sedang meluap. Tetapi
agaknya Pangeran Mangkubumi sudah memikirkannya masak-masak. Dalam
pada itu, maka Pangeran Mangkubumipun berkata kepada Kiai Danatirta
“Sudahlah. Aku akan meneruskan perjalanan. Aku sedang menjelajahi
daerah Surakarta dari ujung Selatan” “Apakah tuan tidak singgah
barang sebentar di padepokan kami agar tuan dapat beristirahat”
“Terima kasih. Aku adalah pejalan yang tidak mengena! lelah. Aku
memang membiasakan dir i Berjalan tanpa berhenti dari matahari
terbit sampai matahari terbenam” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan
kepalanya Ia percaya kepada keterangan itu. Pangeran
Mangkubumimemang sering berjalan dar i matahari terbit sampai
matahari terbenam, atau sebaliknya dari matahari terbenam sampai
matahari terbit. Bahkan kadang-kadang Pangeran Mangkubumi sengaja
tidak berbicara sama sekali selama perjalanannya. Demikianlah maka
petani dari Sukawati itupun minta diri kepada Kiai Danatirta dan
ketiga anak-anak angkatnya. Namun baginya, padepokan Jati Aking
telah menarik perhatiannya. Sepeninggal Pangeran Maugkubumi,
Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak tahu sama
sekali, bahwa orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu
adalah Ramanda Pangeran Mangkubumi” “Aneh sekali” desis Buntal
“Bukankah tidak terlalu banyak jumlah Pangeran di Surakarta?“
“Tetapi Pangeran Mangkubumi jarang sekali ada di kota. Apalagi
jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah berhubungan dengan
ayahanda Pangeran Ranakusuma, sehingga aku hampir t idak mengenalnya
lagi. Memang sekali dua kali aku pernah melihatnya sepintas. Tetapi
dengan mengotori wajahnya dan dengan pakaian yang kumal, aku tidak
mengenalnya sama sekali, dan apalagi aku tidak menyangka bahwa
Pangeran Mangkubumi akan menyamar diri serupa itu. Tentu adimas
Rudira tidak mengenalnya pula. Untunglah, bahwa adi mas Rudira
segera meninggalkan tempat ini, sebelum Ramanda Mangkubumi bertindak
lebih jauh. “Ternyata bahwa Pangeran Maugkumi benar-benar bertindak
atas suatu sikap. Bukan kebetulan saja ia berbuat sesuatu disini”
berkata Kiai Danatirta. “Aku dengar sikap Ramanda Pangeran
Mangkubumi terhadap Kumpeni agak keras” berkata Juwir ing.“Ya.
Itulah sebabnya Pangeran Mangkubumi tidak pernah berhubungan dengan
Pangeran Ranakusuma, karena Pangeran Mangkubumi tahu, bahwa Pangeran
Ranakusuma agak dekat dengan orang-orang asing itu“ Juwiring
mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan tatapan mata yang tajam
dipandanginya petani dari Sukawati yang semakin lama menjadi semakin
hilang ditelan kejauhan. Ketika Pangeran Mangkubumi itu sudah tidak
tampak lagi, Kiai Danatirta beserta anak-anaknya seolah-olah telah
tersadar dari angan-angannya. Tiba-tiba saja orang tua itu berkata
“Kita masih berada di tengah-tengah bulak. Mar ilah, lanjutkan kerja
kalian” “O“ Juwir ing dan Buntalpun segera memungut alat-alat mereka
sambil memandang Arum yang masih berdir i di pematang. “Kau juga”
berkata Juwiring. Arum mengangguk. Diambilnya selendangnya, dan
digendongnya pula bakul yang berisi makanan buat Juwiring dan Buntal
yang kemudian kembali turun ke sawah. “Aku akan kembali ke
padepokan” berkata Kiai Danatirta “hari ini aku tidak ikut bekerja
bersama kalian. Tetapi hati- hati. Jangan kau katakan kepada
siapapun, bahwa petani dari Sukawati itu adalah Pangeran Mangkubumi”
Demikianlah, ketika Juwir ing dan Buntal sudah berada di sawahnya
kembali, maka beberapa orang dengan ragu-ragu telah mendekatinya.
Bagaimanapun juga mereka ingin juga mendengar, apakah yang
sebenarnya terjadi, dan siapa sajakah yang telah terlibat di dalam
persoalan itu. “Raden” berkata seseorang “Kami menjadi
berdebar-debar menyaksikan apa yang telah terjadi. Untunglah bahwa
semuanya telah selamat” “Ya paman” sahut Juwir ing “Tidak ada
apa-apa lagi”“Tetapi siapakah anak muda yang berkuda diikuti oleh
para pengiring itu? Apakah ia juga seorang Pangeran?“ “Ia putera
seorang Pangeran” “O” Orang-orang yang mendengar jawaban itu
mengangguk-angguk. Itulah agaknya mengapa Raden Juwiring berani
menentang kehendaknya, karena orang-orang itupun tahu, bahwa Raden
Juwiring adalah seorang bangsawan pula meskipun bukan seorang
Pangeran. “Tetapi, tetapi…” bertanya seseorang “Apakah anak muda itu
tidak akan mendendam dan di kesempatan lain berbuat sesuatu di luar
dugaan?“ Juwiring menarik nafas. Jawabnya “Memang mungkin. Tetapi
apaboleh buat” “Apakah Raden belum mengenalnya sebelum ini?“
bertanya yang lain. Juwiring menjadi termangu-mangu. Tetapi ia tidak
mengatakan bahwa anak muda itulah yang bernama Raden Rudira, adiknya
seayah. “Aku sudah mengenalnya” jawab Juwir ing, lalu “Apakah kau
tidak mendengar percakapan kami dan mendengar ia menyebut namanya?“
Orang-orang itu menggelengkan kepalanya. Salah seorang menjawab
“Kami t idak berani mendekat. Dan kami menjadi semakin
berdebar-debar melihat seorang dari Iikungan kami ikut campur.
Apakah orang itu tidak tahu, bahwa yang lagi bertengkar adalah para
bangsawan” Juwiring mengerutkan keningnya. Ketika tanpa sesadarnya
ia berpaling kepada Buntal, dilihatnya anak muda itu menundukkan
kepalanya. Namun Juwiringpun kemudian menjawab “Tidak seorangpun
yang mengenal petani itu. Ia sadar, bahwa tidakmudah untuk
menemukannya, sehingga karena itu ia berani menolong kami” “Tetapi
bukankah para bangsawan mempunyai banyak abdi yang dapat mencari dan
menemukannya?“ “Berapapun banyaknya, tetapi pasti sangat sulit untuk
mencari seorang petani di seluruh daerah Surakarta ini” Orang yang
kemudian telah berkerumun di sekitar anak- anak muda anak angkat
Kiai Danatirta itu mengangguk- angguk. Alasan itu memang masuk akal.
Adalah sulit sekali untuk menemukan seseorang di seluruh wilayah
Surakarta yang luas ini. “Tetapi” berkata salah seorang dari mereka
“Apakah Raden sendiri dengan demikian tidak merasa terancam?“
Juwiring menggelengkan kepalanya ”Tidak” jawabnya “asal aku tidak
memusuhi seseorang, maka aku pasti t idak akan mengalami apapun
juga. Apa yang aku kerjakan adalah, membela dir i dan melindungi
saudaraku“ Orang itupun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Sekilas
mereka memandang Buntal yang sudah mulai sibuk dengan cangkulnya.
Satu dua orang yang menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan
menjadi heran. Ternyata Buntal adalah seorang anak muda yang
bersikap keras. Ia langsung menyerang lawannya tanpa menunggu apapun
juga Raksasa itu dapat dijatuhkannya. Jika tidak ada orang lain yang
harus dilayani, maka raksasa itu pasti tidak akan sempat bangun.
“Tetapi ia tidak berbuat apapun juga ketika karena salah paham anak
itu dipukuli di bulak ini” berkata beberapa orang di dalam hatinya
“ternyata ia mampu berkelahi. Jika saat itu ia melawan dan apalagi
mendapatkan sepucuk senjata jenis apapun, maka ia akan sangat
berbahaya dan barangkali, kami akan lari tunggang langgang Tetapi
saat itu ia tidak melawansama sekali sehingga kami dapat memukulinya
sepuas-puas kami” Tetapi orang-orang itu sama sekali tidak mengerti,
bahwa Buntal menemukan kemampuannya justru sesudah ia berada di
padepokan Jati Aking. Dalam pada itu, Rudira yang marah memacu
kudanya secepat-cepatnya. Di sepanjang jalan ia mengumpat tidak
habis-habisnya. Bahkan kemudian ia berteriak memanggil “Sura, Sura.
Kemar i” Sura mencoba mempercepat derap kudanya, agar ia dapat
menyusul Raden Rudira. Tetapi kuda Raden Rudira terlampau cepat,
sehingga Sura tidak juga berhasil mendekatinya. “Sura cepat kemari “
Rudira berteriak “Apakah kau sudah tuli” “Ya, ya Raden. Aku sedang
berusaha” Jawaban itulah yang membuat Rudira sadar, bahwa derap
kudanya ternyata terlampau cepat, sehingga Sura tidak segera
berhasil menyusulnya. Karena itu, sambil berpaling ia memper lambat
lari kudanya. “Kau sekarang sudah gila” bentak Rudira. Sura yang
kemudian berada sedikit di belakangnya hanya menundukkan kepalanya
saja. “Kemari, cepat” Sura tidak dapat membantah, sehingga karena
itu ia berpacu di sisi Rudira yang marah. “Kenapa kau tidak dapat
berbuat apa-apa terhadap petani gila itu, he? Kenapa kau tidak dapat
berbuat garang seperti biasanya?“ Sura tidak segera menjawab.
“Kenapa?“ Rudira berteriak.Sura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia
merasa tidak perlu ingkar lagi. Jawabnya kemudian “Raden, orang itu
mempunyai kekuatan yang luar biasa. Tangannya seperti besi, sehingga
tidak akan ada kekuatan yang dapat mengimbanginya” “O, jadi kau
sekarang sudah bukan raksasa Ranakusuman lagi ya? Kau sekarang tidak
ada bedanya dengan tikus-tikus piti yang berkeliaran di kandang
kuda, itu? Bagaimana mungkin kau telah kehilangan kekuatan yang
selama ini kau banggakan?“ Raden Rudira berhenti sejenak, lalu
“mula-mula kau hampir saja dibunuh oleh anak itu. Untunglah Juwiring
telah mencegahnya. Kemudian kau sama sekali Tidak berdaya menghadapi
petani dari Sukawati itu. Kalau saja ia mau membunuhmu, ia pasti
dapat melakukannya” Sura tidak dapat segera menjawab. Nafasnya
terasa semakin cepat mengalir lewat lubang hidungnya. “Tetapi kita
tidak akan diam. Kita akan mencarinya di Sukawati. Kalau ia
memberikan keterangan palsu, kita akan mencarinya di seluruh
Surakarta, sampai kita dapat menemukannya dan memberinya sedikit
peringatan, bahwa apa yang dilakukan itu tidak berkenan di har iku,
putera Pangeran Ranakusuma. Aku dapat mengajak kawanku. Orang kulit
putih itu” Sura mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja diberanikan
dirinya untuk berkata “Jangan Raden. Jangan membawa orang asing itu”
“Kenapa? Kau sama sekali sudah tidak berguna lagi bagiku“ “Tetapi
orang asing itu akan berbuat terlampau kasar. Aku adalah orang yang
paling kasar. Tetapi masih juga terasa sesuatu yang kurang mapan di
dalam hati apabila orang asing itu memperlakukan keluarga kita
dengan semena-mena” “Apa katamu? Sejak kapan kau menjadi guruku he?“
bentak Rudira hampir berteriak “Apakah kau takut
kehilangankedudukanmu j ika aku mendapat orang baru untuk memaksakan
kehendakku?“ Sura menundukkan kepalanya. “Kita akan melihat, apa
yang akan kita lakukan kelak. Tetapi aku ingin menemukan orang yang
menyebut dir inya petani dari Sukawati itu. Aku harus dapat membalas
sakit hatiku. Ia akan mendapat hukuman yang jauh lebih berat dari
kamas Juwiring sendiri” Sura tidak berani menyahut lagi.
Ditundukkannya saja kepalanya dalam-dalam, meskipun dadanya masih
tetap bergolak. Bagaimanapun juga ia lebih senang bertindak sendiri
dengan kekasaran yang tidak tanggung-tanggung daripada melihat orang
asing itulah yang berbuat kasar kepada orang- orang Surakarta.
Demikianlah iring-ir ingan itu berpacu semakin cepat. Untuk beberapa
lamanya mereka tidak berbicara apapun juga. Wajah Raden Rudira
tampak gelap seperti mendung yang menggambang di langit.
Kegagalannya menyentuh seorang gadis manis dari padepokan Jati Aking
membuat hatinya kelam. Bukan karena gadis itu sendir i, karena ia
masih akan dapat mencari gadis yang lebih cantik dari Arum, tetapi
justru karena Juwiringlah yang merintanginya. Apalagi tiba-tiba saja
muncul seorang petani yang bodoh sekali, yang berusaha membantu
Juwiring dan anak gila yang hampir saja membuat Sura pingsan.
Pikiran-pikiran itulah yang membelit perasaannya selama ia berada di
punggung kudanya. Perburuan yang dilakukan kali ini benar-benar
tidak menggembirakannya. Meskipun demikian Rudira sampai juga di
hutan perburuan. Setelah beristirahat sejenak, maka iapun mulai
memasuki hutan yang tidak begitu lebat, untuk mencari binatang-
binatang buruan yang memang banyak berkeliaran di antara
semak-semak.Tetapi karena hatinya yang sedang pepat, maka adalah
kebetulan sekali, ia tidak menemukan seekor kelincipun.
Binatang-binatang hutan itu seolah-olah telah mengetahui kehadiran
beberapa orang pemburu, sehingga merekapun bersembunyi jauh ke dalam
daerah yang lebih rapat. “Gila“ Rudira mengumpat-umpat” Kemana
binatang- binatang ini bersembunyi” Pengiringnya tidak ada yang
berani menyahut. Tetapi mereka berpendapat di dalam hati “Tentu
tidak akan mendapat seekor binatangpun, jika cara berburu ini
dilakukan seperti sekelompok orang-orang menebas hutan, sehingga
binatang di seluruh hutan ini pasti akan berlari- larian” Akhirnya
Rudira menjadi lelah. Keringatnya membasahi seluruh pakaiannya.
Namun belum seekor biuatangpun yang didapatkannya. “Kita berhenti”
teriak Rudira kemudian “nanti malam kita ulangi. Kita akan
mendapatkan harimau yang paling besar di hutan ini, atau rusa jantan
yang bertanduk sepanjang badan kita” Maka perburuan itupun dihent
ikannya. Mereka kemudian mencari tempat untuk beristirahat dan
menunggu matahari terbenam di Barat. Memang di malam hari
kadang-kadang mereka dapat mengintai harimau yang keluar dari
sarangnya mencari mangsa. Dari atas pepohonan mereka dapat membidik
dan melepaskan anak panah tepat mengenai pangkal kaki depannya.
Biasanya harimau itu tidak akan dapat lari terlampau jauh. Dengan
demikian maka beramai-ramai mereka akan dapat membunuhnya, kalau
mungkin tanpa membuat luka- luka di tubuh har imau itu. Semakin
sedikit luka-luka pada kulit harimau itu, maka belulang yang
didapatnya akan menjadi semakin berharga. Namun tidak seperti
biasanya Raden Rudira selalu gelisah. Ia sama sekali tidak menerima
keadaan yang baru sajadialami. Petani dari Sukawati itu memang
pantas untuk dihukum seberat-beratnya. Tiba-tiba saja Rudira tidak
berhasil menahan perasaannya lagi. Dengan serta-merta ia berteriak
“Kita kembali ke Ranakusuman. Kita membawa beberapa orang lagi. Kita
pergi ke Sukawati. Baru setelah itu aku dapat dengan tenang berburu”
Sura menjadi termangu-mangu. Tetapi seperti kawan- kawannya yang
lain ia sama sekali tidak berani mencegahnya. Karena itu, ketika
Raden Rudira menyiapkan kudanya, yang lainpun berbuat serupa pula.
Ternyata mereka meninggalkan daerah perburuan itu. Kuda-kuda itu
berpacu secepat-cepatnya kembali ke Surakarta melalui jalan lain.
Mereka tidak mau lagi berjumpa dengan petani dari Sukawati sebelum
membawa kawan lebih banyak lagi. Atau bertemu dengan Juwir ing dan
kawan-kawannya di tengah-tengah bulak. Kedatangan mereka di istana
Ranakusuman menjelang sore hari telah mengejutkan beberapa orang
pelayan. Biasanya Rudira berada di daerah perburuan dua sampai tiga
hari. Tetapi baru pagi tadi ia berangkat, kini ia telah datang
kembali dengan wajah yang buram. Setelah meloncat dari punggung
kudanya, ia langsung berlari-lari masuk ke ruang belakang mencari
ibunya yang sedang duduk dihadap oleh para pelayan. “Ibu“ Rudira
hampir berteriak. Raden Ayu Galihwarit terkejut. Dengan serta-merta
ia berdiri menyongsong puteranya yang manja itu. “Kau sudah
kembali?“ “Ada orang-orang gila yang menghalangi
perjalananku”“Siapa? Ada juga orang yang berani berbuat demikian?
Apakah karena mereka tidak tahu bahwa kau adalah putera Pangeran
Ranakusuma atau mereka dengan sengaja ingin menentang ayahandamu?“
“Yang kedua. Orang itu tahu benar siapa aku” “Benar begitu? Siapakah
orang itu?” “Kakang Juwiring” “Juwiring. Juwiring anak dungu itu?“
“Ya bunda” “Dimana kau bertemu dengan Juwiring?“ “Di tengah-tengah
bulak, la sekarang tidak ubahnya seperti seorang petani biasa.
Bekerja di sawah penuh dengan noda- noda lumpur di pakaiannya yang
kotor. Tetapi ia masih berani menghalang-halangi aku” “Apa yang
dilakukannya? Apakah ia menghent ikan perjalananmu atau dengan
sengaja mengganggumu tanpa sebab?“ Rudira terdiam sejenak.
Diedarkannya pandangan matanya kesekelilingnya, seakan-akan ada yang
sedang dicarinya. “Dimana ayahanda?“ Ia bertanya. ”Kenapa?“ “Apakah
ayahanda pergi ke istana menghadap Kangjeng Susuhunan” Ibunya
menggelengkan kepalanya. Ayahandamu ada di rumah” “Aku akan
menghadap. Aku memer lukan beberapa orang“ “Untuk apa? Apakah kau
berselisih dengan Juwir ing? Jika demikian bukankah kau sudah
membawa Sura dan beberapa orang lagi?“Rudira tidak segera menyahut.
“Apakah Sura tidak dapat mematahkan lehernya, kalau anak-itu memang
berani menentangmu Kau bukan anak-anak sederajatnya Derajatmu lebih
tinggi, meskipun kau adalah saudara seayah” “Ya. Aku tahu. Yang
penting bagiku bukan kakang Juwiring. Tetapi seorang petani dari
Sukawati” “Seorang petani?“ “Ya. Ialah yang membantu kakang Juwiring
sehingga aku. gagal memaksakan kehendakku atasnya” “Seorang petani
kau bilang?“ “Ya ia seorang petani dari Sukawati. Ia berani melawan
aku meskipun aku sudah mengatakan bahwa aku adalah putera Pangeran
Ranakusuma. Ia mungkin menganggap, bahwa aku tidak akan dapat
menemukannya. Tetapi aku benar-benar akan mencarinya ke Sukawati.
Raden Ayu Galihwarit yang juga disebut Raden Ayu Sontrang termenung
sejenak. Tetapi kemudian katanya “Menghadaplah. Ayahandamu ada di
ruang dalam” “Ayahanda” desis Rudira. Pangeran Ranakusuma berpaling
Dilihatnya Rudira berdiri sambil menundukkan kepalanya. “Apa?“
pertanyaan ayahnya terlampau singkat. “Aku memer lukan sesuatu
ayahanda” “Apa? “Perkenankan aku membawa lima orang pengawal
ayahanda selain Sura dan pengiringku sendir i” Rudira berhenti
sejenak, lalu “bahkan apabila ayahanda berkenan, aku akan mengajak
kawan ayahanda““Kumpeni maksudmu?“ “Ya. Mereka mempunyai jenis
senjata yang menakjubkan” “Ada apa sebenarnya” “Seorang petani lelah
berani menghina aku, ayahanda. Aku akan mencarinya ke rumahnya. Ia
mengaku petani dari Sukawati. Selebihnya aku juga akan membuat
perhitungan dengan kakang juwir ing” Pangeran Ranakusuma mengerutkan
keningnya. Ia masih duduk Di tempatnya. Tatapan matanya sudah
kembali menerobos pintu-pintu yang membatasi ruangan-ruangan di
dalam rumah itu langsung menikam cahaya matahari di halaman. “Kenapa
kau selalu membuat ker ibutan Rudira” pertanyaan itu sama sekali
tidak diduganya, sehingga karena itu, sejenak ia terbungkam. Bahkan
dadanya menjadi berdebar-debar dan kakinya bergetar. “Juwiring sudah
jauh dari istana ini. Kau masih juga menyusulnya sekedar membuat
persoalan. Apakah sebenarnya yang kau kehendaki? Dan apalagi dengan
seorang petani dari Sukawati. Buat apa kau minta kumpeni melibatkan
diri dalam persoalan itu. Mungkin karena merasa tidak dapat menang
atas petani itu atau atas Juwiring, maka kau ingin mematahkan
lawanmu dengan senjata api itu. Bukankah dengan demikian kau berarti
telah membunuhnya dengan meminjamtangan orang asing?“ Rudira masih
berdiam dir i. “Katakan apa yang sudah terjadi” Rudira tidak dapat
ingkar. Maka diceriterakan apa yang sudah terjadi. Ketika ia
tiba-tiba saja tertarik pada seorang gadis desa yang berada di
tengah-tengah bulak. Ternyata gadis itu adalah anak Kiai
Danatirta.“Kau yang salah” desis Pangeran Ranakusuma “seharusnya
seorang putera Pangeran tidak berlaku demikian” Sekali lagi Rudira
terkejut. Ia banyak mendengar ceritera tentang bangsawan yang
manapun yang ia sukai. Kemudian apabila perempuan itu mengandung,
maka perempuan itu diberikan saja sebagai triman kepada
pelayan-pelayannya atau kepada bebahu padesan. Mereka akan merasa
mendapat kehormatan besar menerima tr iman seorang perempuan yang
sudah mengandung. Karena anak yang akan lahir memiliki aliran darah
seorang bangsawan. Tetapi ayahnya berkata selanjutnya “Juwiring
adalah kakakmu. Bagaimanapun juga ia adalah anakku pula” Rudira
tidak menyahut. “Lalu bagaimana dengan petani itu” “Ia telah
membantu kakang Juwiring meskipun aku sudah mengatakan bahwa aku
adalah Putera Pangeran Ranakusuma?” Pangeran Ranakusuma tidak segera
menyahut. Ia merenung sejenak, lalu “ Biarkan saja mereka. Suatu
pelajaran buatmu, agar kau tidak berbuat sewenang-wenang. Sekali
lagi aku beritahukan kepadamu, bahwa kaulah yang bersalah. Bukan
Juwiring. Sedang petani itu adalah seorang yang ingin berdiri diatas
kebenaran. Mungkin ia mengetahui, bahwa kau dan Juwiring adalah
kakak beradik. Karena itu ia berani ikut campur”Rudira menjadi
semakin tunduk. Ia t idak lagi berharap bahwa ayahandanya akan
membantunya menebus malu yang tercoreng di kening. “Kamas
Ranakusuma“ tiba-tiba terdengar suara melengking sehingga Pangeran
Ranakusuma berpaling. Dilihatnya isterinya yang muda, Raden Ayu
Sontrang berdiri di samping anaknya “Kenapa kamas sekarang
berpendirian lain? Sebaiknya kamas membesarkan hati Rudira, bukan
sebaliknya. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mempercayainya.
Bersama Rudira beberapa orang pengiring akan dapat memberikan
keterangan” “O“ Pangeran Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kita memang tidak perlu menghukum Juwir ing. Tetapi
Setidak-tidaknya Juwiring perlu mendapat peringatan agar ia tidak
selalu mengganggu Rudira” Pangeran Ranakusuma mengangguk “Ya. ya. Ia
memang perlu mendapat peringatan” “Dan sudah barang tentu, kita
tidak akan dapat tinggal diam apabila seorang petani telah berani
melawan Rudira. Petani dari. Sukawati itu” “Ya. ya. Memang petani
itu adalah seorang yang deksura sekali” “Nah, jika demikian apa yang
dapat kita lakukan?“ “Jadi. apakah yang diminta oleh Rudira?“ “Lima
orang pengawal dan apabila mungkin kumpeni. Bukankah begitu?“ “Kita
tidak akan dapat minta kumpeni untuk kepentingan! serupa ini” “Bukan
secara resmi. Kita mempunyai banyak kawan yang pasti akan bersedia
menolong kita secara pribadi”“Aku kira itu sama sekali tidak perlu.
Kalau Rudira ingin- membuat petani itu jera, apakah sekian banyak
orang tidak akan mampu melakukannya? Ia akan membawa Sura dengan
pengiringnya yang lain bersama lima orang pengawal. Apalagi?“
“Petani itu memiliki kemampuan yang luar biasa. Dengan sekali hentak
Sura sudah menjadi lumpuh” Pangeran Ranakusuma mengerutkan
keningnya. Katanya kemudian “Apakah ada seorang petani yang dapat
melawan sepuluh orang lebih sekaligus. Apalagi di antara sepuluh
orang itu terdapat Sura dan lima orang pengawal” “Apa salahnya
membawa seorang kawan. Aku akan minta kepada mereka secara pribadi.
Nanti malam pasti ada satu dua orang yang datang kemari” Pangeran
Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam Ia tidak dapat membantah setiap
keinginan isterinya. Isterinya itu baginya, merupakan seorang yang
berhak mengambil keputusan apapun. Juga hubungan dengan orang-orang
asing itu, meskipun Pangeran Ranakusuma menaruh juga sedikit
kecurigaan terhadap hubungan mereka dengan Raden Ayu Sontrang.
Tetapi Pangeran Ranakusuma bagaikan orang yang kena pesona. Karena
ketakutannya ditinggalkan oleh isterinya yang cantik itulah, maka
seakan-akan ia harus menuruti semua permintaannya. Meskipun demikian
kali ini karena persoalannya akan menyentuh tanah Sukawati ia masih
mencoba memper ingatkan “Ingatlah, kedatangan orang asing itu masih
belum dapat diterima sepenuhnya oleh rakyat Surakarta. Apalagi
persoalannya akan menyangkut daerah Sukawati. Kita tahu bahwa daerah
Sukawati adalah daerah yang berada di bawah perlindungan adimas
Pangeran Mangkubumi. Dan kita tahu, bahwa adimas Pangeran Mangkubumi
bukanlah orangyang dapat diajak berbicara dengan baik mengenai
orang- orang asing itu” “Apa peduli kita dengan Pangeran Mangkubumi?
Kalau Pangeran Mangkubumi berani menentang kedatangan orang- orang
asing itu, berarti ia akan menentang kekuasaan Kangjeng Susuhunan.
Dan itu tidak akan mungkin terjadi” “Memang demikian. Tetapi
alangkah baiknya kalau kita tidak ikut serta mempertajam
pertentangan itu. Biarlah Rudira membawa pengawal berapapun yang
dibutuhkan. Tetapi ingat, jangan merusakkan daerah Sukawati. Ia
hanya dapat mengambil orang yang diperlukan. Bahkan orang itu sama
sekali tidak berasal dari Sukawati, tetapi sengaja menyebut dirinya
orang Sukawati” “Aku sudah memperhitungkannya ayahanda. Tetapi
seandainya bukan orang Sukawati, aku akan mencarinya. Aku akan
menjelajahi bulak-bulak panjang, karena aku menduga ia memang
seorang petualang” “Kau akan membuang-buang waktu” “Tentu tidak
setiap hari. Kadang-kadang aku akan memer lukan melewati jalan-jalan
padesan. Hatiku benar-benar telah disakiti” Raden Ayu Sontrang
menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata “Begitulah
ayahandamu Rudira. Terlalu banyak pertimbangan dan kecemasan.
Sebagai seorang bangsawan sebenarnya ayahandamupun mempunyai banyak
keleluasaan. Tetapi ayahandamu selalu ragu-ragu” Pangeran Ranakusuma
tidak menyahut. Ia hanya menarik nafas saja dalam-dalam. “Baiklah”
berkata ibu Rudira “kali ini kau tidak usah membawa kumpeni.
Pergilah sendir i ke Sukawati. Meskipun Sukawati berada dalam
perlindungan Pangeran Mangkubumi, tetapi kau berhak mengambil
seseorang yang telah berbuatsalah kepadamu. Kau dapat menemui Demang
Sukawati dan membawanya serta. Ia tidak akan berani membantah
perintahmu apalagi atas nama ayahandamu Pangeran Ranakusuma” “Baik
ibu. Aku akan pergi besok. Aku harus mengambil petani itu. Aku masih
ingat bentuk dan ciri-cirinya. Kalau butan aku, Sura dan para
pengiring tentu masih ingat pula. Aku akan mengambilnya, dan
mengadilinya di luar daerah Sukawati” “Hati-hatilah” berkata
Pangeran Ranakusuma “Aku segan terlibat dalam suatu persoalan dengan
adimas Pangeran Mangkubumi. Meskipun ia lebih muda dari aku, tetapi
ia memiliki sesuatu yang tidak dapat aku sebutkan” “Ah, kamas selalu
berkecil hati. Apakah lebihnya Pangeran Mangkubumi?“ Pangeran
Ranakusuma tidak menjawab, tetapi tatapan matanya kembali menembus
langsung kehalaman depan. “Pangeran Mangkubumi tidak disukai oleh
kalangan istana dan Kumpeni” berkata Raden Ayu Sontrang sambil
mengangkat wajahnya “Kalau kita bukan orang-orang yang baik hati,
kita dapat mempercepat dan mematangkan persoalan, sehingga Pangeran
Mangkubumi tidak mendapat tempat lagi di istana” “Apakah keuntungan
kita dengan berbuat demikian?” bertanya Pangeran Ranakusuma
“Bagaimanapun juga ia adalah saudaraku” “Tetapi ia keras hati kalau
tidak dapat disebut keras kepala. Kenapa ia menjauhi kami, yang
disebutnya orang-orang yang telah berhubungan dengan orang asing?“
“Sudahlah. Itu bukan persoalan kita. Kalau pihak istana akan
bertindak atasnya, biarlah mereka bertindak” Pangeran Ranakusuma
menar ik nafas, lalu katanya kepada puteranya“Rudira. Batasi
persoalanmu dengan petani yang kau maksud itu saja“ “Ya ayah” “Tidak
akan ada manfaatnya kau bertindak lebih jauh dari itu.
Perselisihan-perselisihan yang timbul sudah cukup memusingkan
kepalaku. Jangan membuat persoalan baru” “Kamas Pangeranlah yang
sebenarnya terlalu baik hati. Tetapi di jaman ini orang yang
terlampau baik, pasti justru akan terinjak. Kita harus memanfaatkan
yang ada di hadapan kita. Termasuk orang asing itu” Pangeran
Ranakusuma memandang wajah isterinya yang tengadah itu sejenak.
Isterinya itu memang seorang yang cantik. Pantas dengan sebutannya.
Kulitnya yang halus dan wajahnya bagaikan telaga yang memantulkan
cahaya matahari pagi. Tetapi Pangeran Ranakusumapun menyadari, bahwa
hubungan isterinya itu dengan kumpeni sangat mencur igakan. Namun
demikian, Pangeran Ranakusuma sendiri tidak tahu, pengaruh apakah
yang sudah mencengkamnya, sehingga seolah-olah isterinya itu adalah
orang yang paling berkuasa di dalam rumah ini. Bahkan ia telah
mengantarkan isteri pertamanya kembali kepada ayahnya, dan
menyingkirkan anaknya yang tua ke padepokan Jati Aking. Pangeran
Ranakusuma berpaling ketika Rudira berkata “Besok pagi-pagi benar
aku akan berangkat ayah” Pangeran Ranakusuma mengangguk. Jawabnya
“Baiklah. Tetapi jika Ramandamu Pangeran Mangkubumi ada di Sukawati,
kau harus mohon ij in kepadanya” “Ya ayahanda. Tetapi aku tidak
terlalu dekat dengan Ramanda Mangkubumi. Aku jarang sekali melihat
dimanapun, karena Ramanda Pangeran Mangkubumi jarang sekali
berkumpul dengan para Pangeran. Ia seakan-akan seorang Pangeran yang
terasing dari lingkungan keluarga besar”“Tidak” jawab Pangeran
Ranakusuma “Adimas Pangeran Mangkubumi bukan orang terasing. Ia
dekat sekali dengan para Bangsawan yang sependirian. Terutama
menghadapi kedatangan orang-orang asing itu di Surakarta. “Ah. Itu
hanyalah sekedar bayangan di dalam kegelapan. Sebentar lagi ia harus
menyesuaikan diri dengan keadaan” Sahut Raden Ayu Sontrang. Pangeran
Ranakusuma tidak menjawab lagi. Ia kembali duduk memandang
kekejauhan. “Pergilah” berkata Raden Ayu Sontrang kemudian kepada
puteranya “siapkan keperluanmu itu. Tetapi hati-hati1ah. Petani itu
pasti bukan petani yang tidak mengerti menanggapi keadaan yang
dihadapinya” “Baik ibu” sahut Raden Rudira sambil bergeser
meninggalkan ruang itu. Sepeninggal Raden Rudira, Raden Ayu Sontrang
maju perlahan-lahan mendekati suaminya dan berdiri di belakangnya.
Kemudan sambil memij it pundaknya ia berkata “Kamas terlampau
hati-hati. Sudahlah, jangan dirisaukan lagi adimas Pangeran
Mangkubumi” Pangeran Ranakusuma tidak menyahut. Namun setiap kali,
sentuhan tangan isterinya itu seolah-olah telah meluluhkan segala
akalnya, sehingga apapun yang dikatakannya tidak dapat dibantahnya
lagi. Di har i berikutnya. Raden Rudira sudah siap dengan para
pengiringnya. Ia benar-benar akan mencari petani yang sudah
membuatnya terlampau sakit hati. Jika petani yang demikian itu tidak
dihukum, maka akibatnya akan dapat membahayakan kedudukan para
Bangsawan. Petani itu akan membuat orang- orang kecil yang lain
berani pula melawan. “Kalau Ramanda Pangeran Mangkubumi ada, aku
akan mohon ijin. Tetapi jika tidak diij inkan, atas nama
ayahandaPangeran Ranakusuma aku akan bertindak. Ayahanda Ranakusuma
adalah saudara tua Ramanda Mangkubumi, sehingga wewenangnya pasti
lebih besar dari yang muda” berkata Raden Rudira di dalam hatinya.
Meskipun ia tidak terlalu sering bertemu, tetapi ia pernah beberapa
kali bertemu dan bahkan pernah berbicara satu kali di halaman Masjid
Agung. “Ramanda Pangeran Mangkubumi mudah dikenal” berkata Rudira di
dalam hatinya pula “wajahnya yang agung dan tatapan matanya yang
tajam. Ia seorang pendiam dan penuh dengan wibawa” Namun ternyata
hatinya tiba-tiba saja berkeriput. Kalau benar Pangeran Mangkubumi
ada di Sukawati, apakah ia akan berani berbuat sesuatu?. “Tetapi
Ramanda Pangeran Mangkubumipun pasti akan membantu Petani itu harus
dihukum. Ramanda Pangeran Mangkubumipun pasti tidak akan senang
mendengar ceritera tentang seorang petani yang berani melawan
seorang Bangsawan” Rudira mencoba menenteramkan hatinya sendiri.
Demikianlah, setelah semuanya siap, dan setelah minta diri kepada
ayah dan ibunya, Raden Rudirapun meninggalkan rumahnya diiringi oleh
beberapa orang. Agar perjalanannya tidak menimbulkan pertanyaan,
maka merekapun telah membawa pula kelengkapan berburu. Seakan-akan
mereka adalah iring- iringan beberapa orang yang pergi ke hutan
perburuan. Tetapi perjalanan yang mereka tempuh kali ini adalah
perjalanan yang agak jauh. Lewat tengah hari mereka baru akan sampai
di tempat yang mereka tuju. Tetapi kadang- kadang mereka pasti harus
berhenti dan beristirahat. Kalau bukan kuda-kuda mereka yang haus,
maka mereka sendir ilah yang haus di bawah terik matahari sehingga
baru di sore hari mereka akan sampai ke daerah Sukawati.“Ramanda
Pangeran Mangkubumi pasti tidak ada disana. Meskipun jarang berada
di lingkungan para bangsawan, tetapi Pangeran Mangkubumi pasti
berada di kotar Mungkin hanya sebulan sekali atau bahkan t iga bulan
sekali, ia pergi ke Sukawati yang sepi itu” Rudira berusaha
menenangkan kegelisahannya sendiri. Namun demikiap kadang-kadang
hatinya masih juga menjadi berdebar-debar. Tetapi perjalanan itu
sendiri adalah perjalanan yang menyenangkan. Kadang-kadang mereka
masih harus menyusup di antara hutan rindang dan lewat di Padukuhan-
padukuhan kecil. Para petani yang melihat iring- iringan itu menjadi
ketakutan, dan merekapun segera berjongkok di pinggir jalan, karena
mereka tidak dapat segera membedakan, apakah yang lewat itu seorang
bangsawan dari tingkat pertama, atau tingkat berikutnya. Namun kuda
yang tegar, pakaian yang gemerlapan dan pengiring yang banyak,
membuat para pelani dan orang-orang kecil lainnya berdebar- debar.
Demikianlah maka perjalanan Rudira tidak menjumpai rintangan apapun
di perjalanan. Sekali-sekali mereka berhenti, member i kesempatan
kepada kudanya untuk minum seteguk dan beristirahat sejenak Dalam
pada itu Rudira sempat juga memandang daerah yang terbentang di
hadapannya. Daerah yang hijau segar. Sawah yang uas, dibatasi oleh
padukuhan dan pategalan. Sungai yang berliku liku menyusup di antara
pebukitan padas yang rendah. Tetapi semakin dekat ir ing-ir ingan
itu dengan Sukawati, maka hati Rudirapun rasa-rasanya menjadi
semakin gelisah. Bukan saja Rudira, tetapi para pengiringnyapun
menjadi gelisah pula, meskipun di antara mereka terdapat lima orang
pengawal dan beberapa orang pengiring Rudira di bawah pimpinan
Sura.“Apakah orang-orang Sukawati akan membiarkan kami mengambil
salah seorang warga pedukuhan mereka?“ pertanyaan itu yang selalu
menyelinap di dalam hati “Jika mereka berkeberatan, dan Raden Rudira
berkeras hati, maka akibatnya akan dapat menimbulkan pertengkaran.
Bahkan mungkin pertumpahan darah. Jika demikian, persoalan ini tidak
akan berhenti sampai sekian. Pasti masih ada persoalan- persoalan
berikutnya. Sura menarik nafas dalam-dalam. Ia adalah orang yang
paling kasar di antara para pengiring Rudira. Tetapi setiap kali
terbayang olehnya, orang-orang berkulit putih itu ikut campur di
dalam persoalan orang orang Surakarta, hatinya menggelonjak. Tetapi
apabila persoalan petani dari Sukawati itu akan berkepanjangan, maka
mau tidak mau, Raden Rudira lewat ibunya pasti akan menyeret
beberapa orang kulit pulih ikut serta di dalam persoalan ini, karena
Pangeran Ranakusuma tidak akan dapat menggali kekuatan dari rakyat
di Tanah Kelenggahannya. Demikianlah maka menjelang sore hari,
iring- iringan itu benar-benar telah mendekati Sukawati. Dari
kejauhan mereka. sudah melihat padukunan yang hijau subur. Beberapa
padukuhan yang terpencar itu terikat di dalam satu wilayah
Kademangan di bawah perlindungan Pangeran Margkubumi, karena daerah
itu merupakan Tanah Kalenggahannya. Tanpa sesadarnya, semakin dekat
dengan daerah Sukawati, Rudira berpacu semakin lambat. Bahkan
akhirnya iapun berhenti berapa ratus tonggak dari induk padukunan di
Sukawati. “Dimanakah rumah Demang di Sukawati?” Ia bertanya. Tidak
seorangpun yang segera menjawab. “Dimana“ Raden Rudira hampir
berteriak “Sura, apakah kau sudah tuli”“O, maksud Raden, rumah
Demang Sukawati?“ “Ya, rumah Ki Demang. Apakah kau pernah melihat”
“Pernah Raden. Aku memang pernah pergi ke Sukawati. Aku pernah
singgah di rumah Demang Sukawati” “Kau sudah mengenalnya?“ “Sudah.
Aku sudah mengenalnya” “Baik. Bawa aku kepadanya. Aku akan bertanya
kepadanya tentang petani gila itu" Ia harus dapat menemukannya dan
membawa kepadaku” Sura akan berbicara beberapa patah kata. Tetapi
kata- katanya tersangkut di kerongkongan. sehingga karena itu, ia
hanya sekedar menelan ludahnya saja” “Marilah, tunjukkan aku rumah
Ki Demang itu” Sura mengangguk-angguk kecil. Jawabnya terbata-bata
“Baik, baik Raden” “He, kenapa kau menggigil seperti orang
kedinginan? Kau takut he?” “Tidak. Tidak” jawab Sura. Namun demikian
Sura sendir i melihat, wajah Raden Rudira menjadi pucat. Baik Rudira
maupun Sura dan para pengiring yang lain, tidak tahu, apakah
sebabnya sehingga mereka merasa cemas dan tegang. Bagi mereka,
seorang rakyat kecil tidak akan banyak berarti. Apa saja yang
dikehendaki atas mereka, biasanya tidak pernah urung. Demikianlah,
Raden Rudira dan pengiringnya mencoba menenteramkan hati mereka yang
bergolak ketika mereka sudah berada di mulut lorong tanah Sukawati
Para pengawal yang merupakan orang-orang khusus di Dalem
Kapangeranan itupun merasa debar jantungnya menjadi semakin
cepat.Rasa-rasanya mereka tidak sekedar akan bertindak terhadap
seorang petani betapapun tinggi kemampuan tempurnya. Tidak ada
seorang petanipun yang dengan tergesa-gesa berjongkok apalagi sambil
menyembah. Mereka tetap pada pekerjaan mereka. Satu dua di antara
mereka berpaling, namun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Sura
yang ada didekatnya “Gila“ Raden Rudira menggeram. Sura yang
didekatnya memang ikut merasakan suasana yang lain di padukuhan
Sukawati. ”Agaknya kita terpengaruh oleh Ramanda Pangeran Mangkubumi
memiliki daerah Sukawati itu” berkata Raden Rudira dengan suara
menghentak, seolah-olah ingin melepaskan tekanan yang terasa
memberati dadanya “Tetapi Ramanda Pangeran Mangkubumi pasti tidak
akan mencegah kita, karena kita tidak akan mengganggu Tanah
Sukawati. Kita hanya akan mengambil seseorang yang telah berani
menentang para bangsawan di Surakarta. Sudah tentu Ramanda Pangeran
akan justru membantu menemukan orang itu apabila ia berada di
Sukawati. Kalau tidak, kita akan dapat berbuat lebih leluasa” Tidak
ada seorangpun yang menyahut. Tetapi setiap orang merasa, betapa
getaran suara Raden Rudira mengandung kecemasan yang sangat, seperti
kecemasan yang ada di dalam hati mereka masing-masing. “Begini besar
perbawa Pangeran Mangkubumi” desis Sura di dalam hatinya “Pangeran
Ranakusuma dengan tanpa ragu-ragu telah mengembalikan puteri
Pangeran Raksanagara. Pangeran yang sebenarnya pernah mempunyai
pengaruh yang besar sebelum kedatangan orang asing yang semakin
banyak di bumi Surakarta. Tetapi kini, kami menjadi menggigil
ketakutan sebelum kami memasuki wilayah Sukawati untuk mengambil
hanya seorang rakyat yang telah memberontak. Apakah sebenarnya yang
membuat Pangeran Mangkubumi rasa-rasanya lebih berwibawa dari
Pangeran Raksanagara dan Pangeran yang lain?“ Tetapi Sura tidak
mengucapkan kegelisahan itu, betapapun hai itu benar-benar telah
memberati perasaannya. Semakin dekat, semakin menekan di dalam dada.
Ketika mereka mendekati pintu gerbang padukuhan induk di Sukawati,
mereka menjadi semakin berdebar-debar. Mereka masih melihat beberapa
orang petani di sawah masing- masing. Tetapi para petani itu agaknya
acuh tidak acuh saja atas kedatangan mereka. Sama sekali tidak
seperti para petani di sepanjang jalan yang mereka lalui. Tidak ada
seorang petanipun yang dengan tergesa-gesa berjongkok, apalagi
sambil menyembah. Mereka tetap pada pekerjaan mereka. Satu dua di
antara mereka berpaling, namun kemudian tidak menghiraukannya lagi.
“Gila“ Raden Rudira menggeram. Sura yang ada di dekatnya memang ikut
merasakan suasana yang lain di padukuhan Sukawati. “Kita langsung ke
rumah Demang di Tanah Sukawati ini“ geramRaden Rudira. “Apakah Raden
tidak datang ke pasanggrahan Ramanda Pangeran Mangkubumi?“ bertanya
Sura dengan suara yang patah-patah. “Tidak“ Raden Rudira hampir
berteriak t idak sesadarnya. Tetapi kemudian ia berkata “Ramanda
tidak ada di Sukawati.Pasti. Dan aku akan membawa Demang Sukawati
menghadap ke pesanggrahan untuk memastikannya” Sura tidak bertanya
lagi. Diikutinya saja kuda Raden Rudira yang menjadi semakin lambat.
Di belakang Raden Rudira dan Sura, para pengawalpun menjadi
berdebar-debar. Tugas mereka kali ini rasanya begitu berat, sehingga
dada mereka menjadi tegang. Setiap orang di dalam ir ing-ir ingan
itu terkejut ketika mereka melihat, di dalam regol di mulut lorong
yang memasuki Tanah Sukawati itu, beberapa orang berdiri di sebelah
menyebelah jalan. Mereka berdiri saja seakan-akan tidak menghiraukan
derap kuda yang sudah berada di gerbang padukuhan mereka. Dengan
tangan bersilang di dada mereka memandang Raden Rudira yang berada
di paling depan. Namun mereka sama sekali tidak bertanya apapun.
Raden Rudiralah yang kemudian menar ik kekang kudanya, sehingga kuda
Itu berhenti. Sejenak ia memandang beberapa orang yang berdiri diam
seperti patung itu. Wajah-wajah mereka bagaikan wajah-wajah yang
kosong tanpa perasaan apapun melihat kehadiran Raden Rudira dan
pengir ingnya. Sejenak Raden Rudira menjadi bimbang, Orang-orang itu
benar-benar membuatnya kebingungan. Menilik pakaian mereka, mereka
adalah petani-petani. Tetapi mereka sama sekali tidak bersikap
sebagai seorang petani yang melihat hadirnya seorang bangsawan di
padukuhan mereka yang terletak agak jauh dari kota.
Padukuhan-padukuhan yang jauh ini pada umumnya, menjadi gempar
apabila seorang bangsawan memasuki wilayahnya. Bahkan ada di antara
mereka yang berlari-lari bersembunyi, ada yang dengan tiba- tiba
saja menjatuhkan dir i berlutut di pinggir jalan. Jika bebahu
padukuhan itu melihatnya, maka ia akan menyongsong sambil
terbungkuk-bungkuk dan kemudian berjalan sambil berjongkok
mendekatinya.Tetapi petani-petani di Sukawati itu berdir i saja
sambil menyilangkan tangannya di dada, seakan-akan mereka telah
berjanji yang satu dengan yang lain untuk berbuat demikian. Sedang
wajah-wajah yang beku itu sama sekali tidak membayangkan kesan
apapun yang ada di dalamhati mereka. “He, bukankah kalian
orang-orang Sukawati?” Raden Rudira berteriak untuk mengatasi
gejolak di dalam dadanya. Petani yang berdiri di paling ujung
berpaling memandanginya. Kemudian iapun menjawab “Benar Raden. Kami
adalah orang-orang Sukawati” “Kenapa kalian berkumpul disini he?“
“Kami akan pergi ke sawah. Tetapi ketika kami melihat iring- iringan
kuda menuju ke padukuhan ini, kamipun menunggu sampai Raden lewat.
Silahkanlah kalau Raden akan lewat. Kami akan pergi ke sawah”
“Persetan. Apakah kalian tidak tahu siapa aku?“ “Kami hanya tahu
bahwa tuan adalah seorang bangsawan. Tetapi kami tidak tahu,
siapakah tuan” “Aku adalah Raden Rudira. putera Pangeran Ranakusuma”
Tanggapan dari para petani itupun benar-benar mengejutkan. Mereka
sama sekali tidak tertarik pada nama itu. Meskipun mereka
mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi sikap yang beku itu sama
sekali tidak berubah. “He, apakah kalian dengar, bahwa aku putera
Pangeran Ranakusuma?” “Ya, kami dengar tuan” “Jadi, begitukah kalian
bersikap terhadap seorang bangsawan?“Para petani itu menjadi heran
mendengar pertanyaan Raden Rudira. Petani yang berdiri di paling
ujung itupun bertanya “Jadi apakah sikap kami keliru?“ “Kalian tidak
sopan. Kalian berhadapan dengan putera seorang Pangeran. Siapakah
yang mengajar kalian bersikap deksura itu he?“ “O, jadi kami
bersikap deksura?“ petani di paling ujung itu terdiam sejenak, lalu
“Tetapi maaf Raden. Kami memang diajar bersikap demikian” “Ya, aku
sudah menduga. Siapa yang mengajarmu?“ “Pangeran Mangkubumi” “He?“
mata Raden Rudira terbelalak mendengar jawaban itu. Demikian juga
para pengir ingnya. Namun dengan demikian dada mereka serasa telah
berguncang. Sejenak Raden Rudira termangu-mangu. Namun kemudian
dengan suara yang gemetar ia bertanya “Jadi Ramanda Pangeran
Mangkubumi mengajarmu bersikap demikian?“ “Ya tuan. Kamipun
sebenarnya tahu, bahwa kami harus berjongkok apabila seorang
bangsawan lewat di jalan yang kebetulan kami lalui juga. Tetapi
hanya bagi para Pangeran. Bukan kepada setiap bangsawan. Biasanya
kami hanya mengenal seorang bangsawan pada sikap dan pakaiannya
serta para pengiringnya. Dan kami semuanya menganggap mereka seorang
Pangeran, sehingga kami langsung berjongkok di pinggir jalan. Tetapi
bagi kami, orang-orang di daerah Sukawati mendapat kekhususan dari
Pangeran Mangkubumi. Jangankah bangsawan di tingkat berikutnya,
sedangkan terhadap Pangeran Mangkubumi sendir i, yang menguasai
Tanah Sukawati dan seorang bangsawan tertinggi, kami t idak
diharuskan berjongkok” “O, itu salah, salah sekali. Itu akan merusak
sendi-sendi tata kesopanan rakyat Surakarta”“Kami berpegangan kepada
perintah Pangeran Mangkubumi” “Persetan. Tunjukkan kepada kami.
dimana rumah Demangmu” Sejenak para petani itu termangu-mangu.
Sedang Sura yang berada di sebelah Raden Rudira berbisik. “Aku sudah
tahu tempat itu Raden” “Aku akan bertanya kepada mereka” sahut Raden
Rudira. Sura menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia
memandangi para petani itu seorang demi seorang. Mereka sama sekali
tidak beranjak dari tempatnya, sedang tangan mereka masih tetap
bersilang di dadanya. “Coba katakan, kemana aku harus pergi?“ “Tuan
sudah mengambil jalan yang benar. Tuan dapat berjalan terus lewat
lorong ini. Sekali tuan berbelok ke kiri di tengah-tengah padukuhan
ini, di tikungan di bawah pohon preh yang besar” Raden Rudira
mengerutkan keningnya. Sambil berpaling kepada Sura ia bertanya
“Benar begitu?“ Sura menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya tuan.
Benar begitu” Raden Rudira termenung sejenak. Namun kemudian ia
berkata kepada para pengiringnya “Kita pergi ke rumah Demang di
Sukawati” Tanpa minta diri kepada para petani yang masih saja
berdiri tegak dengan tangan bersilang itu, Raden Rudira melanjutkan
perjalanannya, menyusuri jalan di tengah-tengah padukuhan, sambil
memperhatikan rumah-rumah yang ada di sebelah menyebelah jalan.
Meskipun letak rumah-rumah itu masih cukup jarang, tetapi terasa
bahwa Tanah Sukawati akan segera menjadi ramai. Lewat diatas pagar
batu di setiaphalaman, Raden Rudira dan pengir ingnya melihat rumah-
rumah yang bersih dan teratur. Halaman yang rapi dan kebun yang
penuh dengan tanaman palawija, garut dan ganyong. Beberapa batang
ubi dan gadung merambat pada pohon metir, merayap sampai ke
puncaknya. Tiba-tiba saja Raden Rudira berkata “Pangeran Mangkubumi
telah merusak adat di Surakarta. Sikap itu pasti akan mempengaruhi
sikap para petani kecil di sekitar Tanah Sukawati. Lambat atau
cepat” Tidak ada seorangpun yang menjawab. Sura masih saja
termangu-mangu sambil menundukkan kepalanya. Sejenak kemudian
merekapun telah sampai di tikungan. Tetapi sekali lagi dada mereka
berdesir, ketika mereka melihat beberapa orang laki-laki yang sedang
berdir i pula di sebelah menyebelah jalan t ikungan itu. Seperti
orang-orang yang berdiri di mulut lorong, maka orang orang itupun
berdiri dengan wajah membeku sambil menyilangkan tangannya di
dadanya. Melihat sikap yang bagaikan patung-patung batu itu, terasa
bulu-bulu tengkuk Raden Rudira meremang. Tetapi ia harus mengatasi
goncangan perasaannya, sehingga karena itu, iapun juga berhenti di
hadapan orang-orang itu. Sekali lagi ia bertanya dengan lantang “He,
apakah kalian diajari untuk menjadi patung? Atau memang demikianlah
adat Sukawati untuk menghormat seorang bangsawan?“ Orang-orang itu
memandang Raden Rudira hanya dengan sudut matanya. Kemudian orang
yang paling pendek di antara mereka menjawab “Kami diajari untuk
bersikap sopan terhadap siapapun. Juga terhadap para bangsawan” “He”
jawaban itu benar-benar mengejutkannya “Coba ulangi““Tuan” jawab
petani yang pendek itu “Kami diajari untuk bersikap sopan kepada
siapapun. Juga kepada para bangsawan” “Kenapa juga kepada para
bangsawan? Kenapa justru tidak kepada para bangsawan baru kepada
yang lain?“ Petani pendek itu mengerutkan keningnya. Tetapi wajahnya
kemudian seakan-akan telah membeku kembali. Katanya “Kami t idak
melihat perbedaan itu. Tetapi kami memang mengenal tingkat tata
penghormatan. Namun pada dasarnya, kami menghormati siapa saja”
“Siapa yang mengajarimu?“ ”Pangeran Mangkubumi” “Cukup, cukup“ Raden
Rudira berteriak. Nama itu rasa- rasanya seperti sebutan hantu yang
paling menakutkan baginya. Karena itu tanpa berkata sepatah katapun
lagi ia meneruskan perjalanannya menuju ke rumah Ki Demang di Tanah
Sukawati. Namun di jalan yang semakin pendek itu, Raden Rudira dan
pengiringnya masih juga menjumpai satu dua orang yang berdiri acuh
tidak acuh saja melihat kehadirannya. Bahkan mereka yang kebetulan
berada di halaman pun hanya sekedar berpaling tanpa menghentikan
kerjanya. Anak-anak yang sedang berlari-larian berhenti sejenak,
lalu berlari lagi masuk ke dalam rumah masing-masing. Perasaan Raden
Rudira semakin lama menjadi semakin terguncang-guncang. Rasa-rasanya
ia telah memasuki suatu daerah asing yang belum pernah dijajaginya.
Bahkan rasa- rasanya seperti di daerah mimpi yang mengawang di
antara bumi dan langit. “Sura” berkata Raden Rudira kemudian “Apakah
memang begini sikap orang Sukawati? Bukankah kau pernah datang
kemari dahulu?”“Tidak tuan. Sikap orang-orang Sukawati tidak
seganjil ini. Aku tidak mengerti, perubahan apa yang telah terjadi
disini” Raden Rudira menjadi semakin berdebar-debar. Setiap kali ia
melihat seseorang yang berdiri tegak di pinggir jalan dengan tangan
bersilang di dada, jantungnya berdetak semakin cepat, sehingga
hampir saja ia tidak tahan. “Aku ingin memukul kepalanya” geramnya.
Tetapi dengan mengerahkan keberaniannya Sura mencegahnya, katanya
“Maaf tuan. Jangan melakukan hal itu. Lebih baik kita menemukan
orang yang kita cari tanpa membuat persoalan dengan orang lain”
Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia dapat mengerti
nasehat Sura itu, sehingga iapun tidak berbuat apapun juga. Namun
dengan demikian hatinya serasa semakin lama menjadi semakin berker
iput kecil sekali. “Raden” berkata Sura kemudian “gerbang yang
tampak itu adalah gerbang Kademangan” Raden Rudira mengerutkan
keningnya. Gerbang itu. termasuk sebuah pintu gerbang yang bagus
bagi sebuah Kademangan. Namun dengan demikian gerbang itupun telah
membuat detak jantungnya semakin berdentangan. Tetapi Raden Rudira
tidak mau melangkah surut. Ia telah benar-benar merasa terhina
karena tindakan petani yang menyebut dirinya berasal dari Sukawati
itu. Karena itu maka ia harus berhasil menemukannya dan
menghukumnya, sebagai seorang rakyat kecil yang berani menentang
para bangsawan. Karena itu, betapa hatinya berdebaran, Rudira tetap
maju mendekati pintu gerbang itu. Ketika kudanya sudah berada di
depan pintu, dilihatnya dua orang mendatanginya. Dua orang dalam
pakaian yang agak lain dar i pakaian para petani.“Itulah bebahu
Kademangan Sukawati” desis Raden Rudira “Ia harus tahu bahwa
rakyatnya telah bertindak tidak sopan. Dan itu tidak dapat
dibiarkannya. Tentu bukan Ramanda Pangeran Mangkubumi yang
mengajarinya. Tentu orang-orang yang ingin mengeruhkan tata
kehidupan Surakarta yang selama ini tenang dan tenteram” Di depan
pintu, di dalam halaman, kedua orang itu berhenti sambil
menganggukkan kepala mereka. Ternyata mereka memang lebih hormat
dari sikap para petani di sepanjang jalan yang mereka lalui. Dengan
sopan salah seorang dari mereka berdua bertanya “Apakah kami dapat
berbuat sesuatu untuk tuan?“ “Aku akan bertemu dengan Demang di
Sukawati” sahut Raden Rudira langsung “Apakah ia ada di rumah?“ “O“
orang itu mengangguk-angguk “ada tuan. Marilah tuan kami persilahkan
masuk” Tanpa turun dari kudanya Raden Rudira memasuki halaman
Kademangan. Ternyata halaman itu adalah halaman yang luas dan
bersih. Beberapa batang pohon tanjung berada di pinggir, sedang
sepasang pohon sawo kecik berada tepat di depan pendapa. “Mana Ki
Demang?“ bertanya Raden Rudira. “Marilah, kami persilahkan tuan naik
ke pendapa” “Di mana Ki Demang he?“ “Nanti kami akan memanggilnya”
“Panggil ia kemari” “Tuan, kami telah mempersilahkan tuan duduk.
Kami akan segera memanggilnya” orang itu berhenti sejenak, lalu
“Silahkan tuan turun dari kuda”“Tidak, aku akah menunggu Ki Demang
disini. Aku memer lukannya. Ia harus mengantar aku ke pesanggrahan
Ramanda Pangeran Mangkubumi apabila Ramanda ada disana” “Tuan, kami
persilahkan tuan turun” “Aku tidak mau turun. Kau tidak tahu siapa
aku he? Aku adalah Putera Pangeran Ranakusuma“ “Tetapi ada semacam
ketentuan, siapapun dipersilahkan turun apabila berada di kuncung
pendapa ini. “Aku seorang Putera Pangeran” “Bahkan seorang
Pangeranpun bersedia untuk turun dari kudanya apabila ia berada di
bawah kuncung ini” “Aku tidak peduli. Tetapi aku tidak mau turun.
Hanya seorang Pangeran yang tidak tahu akan harga dirinya sajalah
yang bersedia turun dari kudanya, meskipun di kuncung pendapa
sekalipun, justru hanya pendapa seorang Demang” ”Tetapi justru kami
sangat hormat kepadanya” “Siapa?“ “Pangeran Mangkubumi” “Pangeran
Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi. Apapun yang kalian bicarakan kalian
menyebut Pangeran Mangkubumi“ Rudira hampir berteriak. “Kedua bebahu
itu menjadi terheran-heran melihat sikap Raden Rudira. Namun
kemudian salah seorang dari mereka berkata “Raden, kami tetap
mempersilahkan tuan turun. Kecuali kalau tuan tidak berada di bawah
kuncung pendapa, meskipun di halaman” “Aku tidak mau. Aku adalah
putera Pangeran Ranakusuma Aku bukan Pangeran Mangkubumi. Ayahanda
PangeranRanakusuma pasti tidak akan turun pula meskipun kudanya naik
ke pendapa sekalipun” Kedua bebahu Kademangan itu saling
berpandangan sejenak. "Kemudian salah seorang berkata “Jika
demikian, kami t idak akan memanggil Ki Demang” “Apa, kalian tidak
akan memanggil Ki Demang?“ “Ya. Jika tuan tidak bersedia turun”
“Gila. Kau berani menentang aku he? Aku datang untuk mencari
seseorang yang berani menentang seorang bangsawan. Kini kau akan
menentang aku pula. Apakah kau tahu akibatnya?“ “Kami sekali-kali
tidak akan menentang tuan. Tetapi kami hanya mematuhi ketentuan yang
berlaku di Kademangan ini. Sebenarnyalah bahwa kami takut sekali
kepada Raden, apalagi setelah kami tahu bahwa Raden adalah putera
Pangeran Ranakusuma. Tetapi apaboleh buat. Ketentuan yang berlaku
harus tetap berlaku” “Tidak. Aku tidak mau. Dan kalian harus tetap
memanggil Ki Demang di Sukawati. Jika kalian tidak bersedia, maka
aku akan menghukum kalian” “Raden” berkata salah seorang dari
keduanya “Tanah Sukawati mempunyai kekhususan. Yang langsung
membimbing pemer intahan Kademangan Sukawati adalah Pangeran
Mangkubumi sendir i, karena tanah ini adalah tanah kalenggahan” “Aku
tidak peduli. Aku yakin bahwa Ramanda Pangeran Mangkubumi akan
membenarkan sikapku dan berpihak kepadaku. Panggil Demang itu,
cepat” “Sebelum tuan turun dari kuda, kami tidak akan memanggil.
Kami tidak berkeberatan atas mereka yang masih tetap berada di
punggung kuda di halaman, tetapi tidak di bawah kuncung
pendapa““Persetan. Apakah aku harus mencarinya sendir i dan
memaksanya menghadap aku kemari?“ “Jika tuan berkenan di hati, kami
akan mempersilahkannya dengan senang hati” “Tuan” jawab salah
seorang dari mereka sambil berpaling “kami t idak bertanggung jawab
lagi apa yang dapat terjadi dengan tuan, karena tuan tidak mematuhi
peraturan yang berlaku di Kademangan Sukawati” “Kalian sudah gila.
Aku adalah putera seorang Pangeran. Dengar perintahku. Seperti kau
lihat, aku sudah membawa beberapa orang pengiring” “Tuan akan
berburu. Tuan membawa kelengkapan sekelompok pemburu yang akan
berburu rusa di hutan rindang” “Kami sudah melampaui beberapa daerah
perburuan. Tetapi kami memang akan pergi ke Sukawati. Karena itu
jangan mengganggu kami sehingga dapat menimbulkan kemarahan kami”
Hampir berbareng keduanya mengangguk dalam-dalam. Salah seorang di
antaranya berkata “Baiklah. Kami tidak akan berbuat apa-apa” Dan
tiba-tiba saja keduanya melangkah surut. Kemudian di luar kuncung,
di depan tangga terakhir yang mengelilingi pendapa Kademangan
keduanya berdiri sambil menyilangkan tangannya di dada. Sikap
merekapun telah berubah, mirip dengan orang-orang yang ditemuinya di
sepanjang jalan. Ternyata sikap itu telah membuat seluruh tubuh
Raden Rudira meremang. Bahkan pengir ingnyapun menjadi gelisah,
sehingga untuk sesaat mereka bagaikan telah terpukau oleh sikap itu,
sehingga mereka sama sekali tidak bergerak.Untuk mengatasi hatinya
yang kecut, maka Raden Paidira itupun telah memaksa dirinya untuk
berkata lantang “He, apakah kalian telah menjadi patung?“ “Tuan”
jawab salah seorang dari mereka sambil berpaling “Kami tidak
bertanggung jawab lagi apa yang dapat terjadi dengan tuan karena
tuan tidak mematuhi peraturan yang berlaku di Kademangan Sukawati”
ia berhenti sejenak, lalu “Dan Ki Demangpun tidak akan bersedia
mengantar tuan pergi ke pasanggrahan Pangeran Mangkubumi. Memang
tuan dapat memaksanya dengar kekerasan. Tetapi kami kira tuan tidak
akan berhasil. Bukan karena Ki Demang mempunyai sepasukan pengawal
yang dapat melindunginya. Tetapi karena kekerasan halinya, ia akan
memilih akibat yang bagaimanapun beratnya dari pada ia melihat
peraturan yang dibuatnya tidak ditaati“ “Gila, permainan apakah
sebenarnya yang telah kalian lakukan? Apakah kalian sedang diamuk
oleh suatu kepercayaan tahyul yang membuat kalian, orang-orang
Sukawati menjadi seperti orang-orang gila” “Tuan keliru” jawab salah
seorang dari kedua pengawal “sikap kami adalah sikap yang mewujudkan
kediaman kami menghadapi keadaan dewasa ini, dimana kita merasa
berdiri di atas bara justru di kampung halaman sendiri”Jawaban itu
benar-benar tidak diduga, sehingga Raden Rudira terdiam untuk
beberapa saat. Namun wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang.
Tetapi ternyata Raden Rudira tidak mau surut. Meskipun hatinya
bergejolak dahsyat sekali, namun ia mencoba mengatasinya dengan
berteriak sekali lagi “Panggil Ki Demang di Sukawati” Betapapun ia
berteriak, tetapi kedua bebahu Kademangan Sukawati itu sama sekali t
idak beranjak dari tempatnya. Kemarahan Raden Rudira hampir tidak
terkekang lagi, Namun ketika dadanya bagaikan akan meledak, Sura,
pengiringnya yang selama ini paling dibanggakan itu telah meloncat
turun dari kudanya. Perlahan-lahan ia mendekatinya. Dengan suara
bergetar ia berkata “Raden, kami persilahkan Raden turun dari kuda.
Bukan suatu sikap merendahkan dir i, tetapi barangkali demikianlah
yang dikehendaki oleh Ramanda Pangeran Mangkubumi” “Persetan“ Raden
Rudira berteriak “Kau juga sudah menjadi pengecut?“ “Bukan Raden.
Bukan soalnya, berani menentang ketentuan itu atau tidak. Tetapi
kita ingin mendapat bantuan dari Ki Demang di Sukawati. Bukankah
tujuan kita untuk mendapatkan petani yang telah menghina Raden di
tengah bulak itu?“ Karena itu, sebaiknya kita tidak membuat
persoalan-persoalan baru disini” Darah Raden Rudira bagaikan
mendidih karenanya. Namun perlahan-lahan ia mulai menyadari
kata-kata Sura. Kalau ia bertindak kasar, maka ia hanya akan
menambah kesulitan diri sendiri tanpa mendapatkan Hasil apapun dari
kepergiannya ke Sukawati. Dan lebih dar ipada itu, sebenarnyalah di
dalam sudut hatinya tersirat kecemasan yang sangat melihat sikap
orang-orang Sukawati itu.Namun sudah barang tentu Raden Rudira tidak
membiarkan dir inya terlempar surut tanpa pembelaan. Dengan lantang
ia berkata kepada kedua bebahu itu “Baiklah. Aku akan turun. Bukan
karena aku takut menghadapi sikap kalian yang gila itu. Tetapi aku
secepatnya ingin menangkap petani yang telah berani menghinakan aku
di tengah bulak” Raden Rudirapun segera meloncat dari punggung
kudanya sambil berteriak “Aku sudah turun. Panggil Ki Demang di
Sukawati” Tetapi Raden Rudira terkejut, ketika sebelum kedua orang
itu beranjak, telah terdengar suara dari balik pintu pringgitan di
pendapa “Aku sudah disini tuan” Darah Raden Rudira tersirap. Di
tengah-tengah pintu yang kemudian terbuka ia melihat seorang laki-
laki yang bertubuh sedang, berkumis tipis, yang kemudian berjalan
melintas pendapa mendekatinya. “Kau disitu sejak tadi?“ “Ya. Aku
sudah berada di balik pintu sejak tuan datang. Tetapi aku menunggu
tuan turun dari kuda. Maaf. Itu sudah menjadi ketentuan kami. Sekali
kami melanggar ketentuan itu, maka untuk selanjutnya ketentuan itu
tidak akan berarti, karena pelanggaran yang serupa akan terjadi
lagi. Sekali lagi dan sekali lagi, sehingga ketentuan itu tidak
berarti apa-apa lagi. Baik bagi kami maupun bagi setiap orang yang
datang ke padukuhan ini” “Persetan” jawab Raden Rudira “Aku tidak
perlu sesorahmu. Aku memer lukan kau” “O“ Ki Demang yang kemudian
turun dari pendapa rumahnya mengangguk hormat “Kami akan membantu
tuan. Apakah yang harus kami lakukan?“ Raden Rudira memandang Demang
Sukawati itu dengan herannya. Ia tidak mengerti, apakah yang
sebenarnya tersiratdi dalam hatinya. Setelah ia memaksanya turun
dari kudanya, maka iapun kemudian bersikap sopan dan ramah. Tetapi
Raden Rudira tidak mempedulikannya lagi. Dengan kasar ia berkata
“Aku sedang mencari seseorang” “O. Siapa?“ “Aku tidak tahu namanya.
Ia menyebut dirinya petani dari Sukawati” Tampak Ki Demang
mengerutkan keningnya sejenak. Tetapi iapun kemudian berusaha untuk
melenyapkan kesan itu. Bahkan kemudian ia bertanya “Kenapa Raden
mencarinya? Apakah petani dari Sukawati itu telah menjual sesuatu
kepada Raden dan Raden akan membayarnya sekarang, atau persoalan
apapun yang pernah terjadi dengan petani itu?“ “Ia menghina aku di
tengah-tengah bulak Jati Sari” “O“ Ki Demang dar i Sukawati terkejut
“di Jati Sari?” “Ya” “Begitu jauh dari Sukawati” “Ya. Orang itu
mengaku petani dari Sukawati. Ia tentu seorang petualang. Nah,
tunjukkan kepadaku, siapakah yang sering bertualang disini” Ki
Demang tidak segera menjawab. Dengan sudut matanya ia memandang
kedua pembantunya yang kini berdiri termangu-mangu pula. “He, apakah
kau tidak dapat mengenal orang-orangmu?“ “Maaf tuan. Aku tidak dapat
mengingat semua orang di Kademangan Sukawati. Mungkin aku mengenal
mereka, tetapi tentu tidak akan dapat mengerti kebiasaan mereka
sehari-hari dengan pasti”“Tetapi bertualang bukan kebiasaan yang
wajar bagi seorang petani. Karena itu, seharusnya kau dapat segera
mengetahui orang yang aku maksudkan” Tetapi Ki Demang itu
menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya “Maaf. Aku tidak dapat
segera mengatakan, siapakah yang Raden maksud itu” “Kalau begitu,
antarkan aku menjelajahi Kademangan ini. Aku akan mencar inya
sendiri” “Tuan akan menjelajahi Kademangan Sukawati?“ “Ya” Ki Demang
menjadi termangu-mangu. Sekali lagi ia memandang kedua
kawan-kawannya. Kini keduanyapun menunjukkan kegelisahannya. “Tuan”
berkata Ki Demang “tanah Sukawati adalah tanah kalenggahan” “Aku
mengerti“ Rudira memotong “maksudmu, kau akan menyebut nama Ramanda
Pangeran Mangkubumi?“ “Ya tuan” “Antarkan aku ke pasanggrahan
Ramanda Pangeran Mangkubumi. Aku akan menghadap dan mohon ijinnya.
Tentu Ramanda akan member ikan ij in itu. bahkan akan membantuku
mencari orang-orang yang deksura dan berani menentang para
bangsawan” Ki Demang di Sukawati mengangguk-angguk. Tetapi kemudian
ia berkata “Tetapi Pangeran Mangkubumi tidak sedang berada di
Sukawati. Apakah Raden tidak menjumpainya di istana Kapangeranan di
kota?“ Sesuatu terasa bergetar di dalam dada Rudira. Seolah-olah ia
terlepas dari tekanan kecemasan yang menghimpit dadanya, sehingga
tanpa sesadarnya ia menarik nafas dalam- dalam.“Jadi Ramanda
Pangeran tidak ada di Sukawati?“ Ki Demang menggelengkan kepalanya
“Tidak tuan. Tidak” Tetapi tiba-tiba saja Rudira membentak “Bohong.
Kalian pasti mencoba berbohong, karena kalian, orang-orang Sukawati
adalah orang-orang yang deksura. Kalian takut juga bahwa aku akan
mengatakan kepada Ramanda Pangeran Mangkubumi tentang kalian.
Tentang petani-petani yang berdiri membeku di regol padukuhan dan
mereka yang seperti patung mati di tikungan. He, kenapa
orang-orangmu kau ajari deksura terhadap para bangsawan? Dan
sekarang kau takut membawa aku menghadap Ramanda Pangeran” Ki Demang
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya “Aku minta maaf tuan.
Orang-orangku adalah orang-orang padesan yang jauh dari kota. Kami
sama sekali tidak berniat untuk berlaku kurang baik dan apalagi t
idak sopan. Tetapi kami, orang-orang padesan memang kurang mengerti
tata- krama. Kadang-kadang kami kehilangan akal, apa yang harus kami
lakukan untuk menunjukkan hormat kami. Demikian juga para petani di
Sukawati, dan barangkali juga petani yang tuan sebut, berjumpa
dengan tuan di bulak Jati Sari” “Tidak. Ia tidak sekedar kurang
tata-krama. Tetapi ia benar-menentang aku” Rudira berhenti sejenak,
lalu “antarkan aku ke pasanggrahan Ramanda Pangeran” Ki Demang
menarik nafas. Lalu “Baiklah. Marilah Raden aku antarkan ke
pesanggrahan itu. Tetapi aku sudah mengatakan bahwa Pangeran
Mangkubumi tidak ada di pesanggrahan itu” Rudira seolah-olah tidak
menghiraukannya Meskipun hal itu baginya adalah suatu kebetulan.
Namun di hadapan Ki Demang ia bersikap seakan-akan ia kecewa bahwa
Pangeran Mangkubumi t idak ada dipasanggrahannya. Tanpa menunggu
lebih lama lagi, maka Raden Rudirapun segera meloncat ke punggung
kudanya. Dengan tatapan mata aneh Ki Demang memandanginya. Tetapi
Raden Rudira tidakmenghiraukannya. Ia duduk diatas punggung kudanya,
meskipun kudanya masih berada di kuncung pendapa Kademangan.
“Berjalanlah di depan“ berkata Rudira kemudian “Aku akan mengikut
imu” Ki Demang termangu-mangu sejenak. Kemudian ia bertanya “Apakah
kami harus berjalan kaki saja?“ “Ya. Kalian berjalan kaki saja.
Kalian tidak perlu berkuda seperti kami” “Tetapi pesanggrahan itu
terletak di padukuhan lain, meskipun t idak begitu jauh. Nanti
perjalanan ini akan memakan waktu apabila kami hanya sekedar
berjalan kaki” “Aku tidak peduli Adalah pantas sekali, kalau kau
berjalan kaki, dan kami naik diatas punggung kuda. Dengan demikian
perbedaan derajad kita akan tampak dengan jelas” Wajah Ki Demang
berkerut sejenak. Tetapi iapun kemudian tersenyum dan berkata
“Baiklah tuan. Kami akan mengantarkan Raden ke pesanggrahan itu
dengan berjalan kaki. Tetapi sudah kami katakan, bahwa perjalanan
ini akan memakan waktu. Sebentar lagi malam akan segera turun.
Apalagi Pangeran Mangkubumi t idak ada di pesanggrahan” “Aku tidak
peduli” “Tetapi bagaimana kalau tuan kemalaman?“ “Aku akan bermalam
di pasanggrahan?“ “Di pesanggrahan? Selagi Pangeran Mangkubumi tidak
ada?” Rudira mengerutkan keningnya. Ia berpaling kepada Sura yaug
masih berdiri di samping kudanya. Tetapi Sura menggeleng kecil tanpa
sesadarnya.“Sekarang, jangan banyak bicara” bentak Rudira kemudian
“berjalanlah. Kita harus segera sampai ke pesanggrahan itu” “Baiklah
tuan” jawab Ki Demang. Dengan isyarat, maka kedua kawannya itupun
diajaknya, sehingga mereka berjalan bertiga di depan kuda Raden
Rudira. Sedang Sura masih menuntun kudanya sejenak. Baru ketika
mereka sudah keluar dari halaman, maka iapun segera meloncat naik.
Demikian pula para pengiring yang lain, yang telah turun pula dar i
kudanya. Perlahan-lahan ir ing- iringan itu berjalan meninggalkan
regol Kademangan. Namun betapa hati Raden Rudira dan para
pengiringnya menjadi berdebar-debar. Tanpa mereka ketahui darimana
datangnya, mereka melihat beberapa orang anak- anak muda yang
berdiri di sebelah menyebelah jalan di luar regol dengan sikap yang
mendebarkan itu. Mereka berdiri tegak sambil menyilangkan tangan di
dadanya. Sekali-sekali Raden Rudira memandang wajah-wajah itu.
Wajah-wajah yang seakan-akan membeku. Mereka sama sekali tidak
memandang orang-orang yang lewat. Mereka seakan-akan berdiri asal
saja berdiri di pinggir jalan. Namun Ki Demanglah yang kemudian
menegur salah seorang dari mereka “Kalian sudah pulang dari sawah?“
Seorang anak muda yang tinggi kekurus-kurusanlah yang menjawab
mewakili kawan-kawannya “Sudah Ki Demang” “Baiklah. Dan sekarang
ketahuilah, yang berkuda di paling depan ini adalah Raden Rudira,
putera Pangeran Ranakusuma di Surakarta” “O“ hanya itulah yang
terloncat dari mulut anak muda itu. Tidak ada bayangan kekaguman,
heran atau takut sedikkpun juga. Ia masih tetap berdiri seperti
sediakala dengan menyilangkan tangannya di dadanya. “Persetan“
Rudira bergumam di dalam dadanya.Ketika mereka sudah melampaui
anak-anak muda yang berdiri di sebelah menyebelah jalan itu, Raden
Rudira yang marah segera bertanya kepada Ki Demang “Ki Demang,
kenapa anak-anak mudamu tidak kau ajari sopan santun” ”Maksud
Raden?“ bertanya Ki Demang. “Mereka harus tahu, bagaimana caranya
menghormati seorang bangsawan. Seorang putera Pangeran” “Apakah
sikap mereka salah?“ ”Tentu. Mereka sama sekali tidak sopan. Mereka
harus berjongkok atau membungkukkan kepala mereka dalam- dalam” “O“
Ki Demang mengangguk-angguk “begitukah yang benar?” “Ya” “Kalau
begitu selama ini kami telah membuat kesalahan Kami tidak pernah
berbuat begitu. Itulah agaknya tuan tidak senang terhadap rakyat
kami. Tetapi sekali lagi agar tuan ketahui, rakyat kami adalah
rakyat yang jauh dari kehidupan para bangsawan sehingga barangkali
kami tidak mengenal keharusan yang berlaku di kota, untuk menghormat
para bangsawan. Sebenarnyalah bahwa di padukuhan yang terpencil ini
kami hanya mengenal seorang bangsawan, Daripadanyalah kami mengenal
tata-krama. Tetapi agaknya tata-krama yang kami anggap sudah cukup
baik itu masih kurang dalam pandangan tuan” “Tentu. Dan siapakah
yang telah mengajar kalian cengan cara yang salah
itu?“
Jilid 03 TETAPI selagi Ki Demang akan
menjawab, Rudira memotongnya dengan lantang “Aku sudah tahu. Aku
sudah tahu” Ki Demang menar ik nafas dalam-dalam. Nama yang sudah
ada di ujung lidahnya seakan-akan ditelannya kembali. Demikianlah
maka mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan padukuhan yang semakin
lama menjadi semakin sempit. Mereka berbelok beberapa kali pada t
ikungan-t ikungan yang suram, karena matahari telah tenggelam.
Padukuhan Sukawati itu semakin lama menjadi semakin gelap, sedang
jalan di bawah kaki kuda merekapun menjadi semakin jelek. “He,
apakah kau menunjukkan jalan yang benar?“ bertanya Rudira yang
menjadi jemu berjalan di jalan sempit yang gelap. ”Ya tuan, jalan
inilah yang menuju ke pesanggrahan Pangeran Mangkubumi” Raden Rudira
mengerutkan keningnya. Sesaat, ia berpaling kepada Sura yang
dianggapnya sudah mengetahui jalan-jalandi daerah Sukawati. Tetapi
Sura menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Namun di dalam. harl, Sura merasakan sesuatu yang lain dari anggukan
kepalanya. Ia memang mengetahui jalan-jalan di daerah Sukawati
meskipun tidak kenal benar. Dan ia kenal jalan lain yang lebih baik
dar i jalan yang ditempuhnya sekarang ke pesanggrahan Pangeran
Mangkubumi. “Ki Demang agaknya telah tersinggung” berkata Sura
didalam hatinya “Kalau Raden Rudira tidak melarangnya naik kuda,
maka kita tidak akan melewati jalan ini, dan barangkali kita jauh
lebih cepat sampai” Tetapi Sura tetap berdiam diri, meskipun
kemudian ia yakin, bahwa memang demikianlah agaknya. Jalan yang
mereka lalui adalah jalan yang sempit dan sangat gelap karena tidak
ada seorangpun yang memasang lampu di regol- regolnya yang kecil.
“Kita seperti berjalan di dalam goa” desis Raden Rudira. “Inilah
kehidupan di daerah padesan tuan” sahut Ki Demang “Tetapi kami sudah
biasa hidup di dalam keadaan seperti ini, sehingga kami tidak merasa
canggung lagi. Mungkin agak berbeda atau bahkan jauh berbeda,
seperti bumi dan langit dengan kehidupan di kota-kota yang ramai.
Apalagi di Negari Ageng seperti Surakarta” Raden Rudira tidak
menyahut, meskipun hatinya terasa menggelepar. Namun akhirnya iring-
iringan itupun mendekati pesanggrahan. Dari kejauhan telah nampak
cahaya obor yang terang di regol. Dan bahkan lampu-lampu minyak yang
melontarkan cahayanya di pendapa. “Itukah pesanggrahan Ramanda
Pangeran Mangkubumi?” bertanya Raden Rudira.“Ya, itulah pesanggrahan
Pangeran Mangkubumi” sahut Ki Demang di Sukawati. Dada Raden Rudira
menjadi berdebar-debar. Menurut Ki Demang, Pangeran Mangkubumi saat
itu tidak berada di pesanggrahannya. Karena itulah pesanggrahan itu
tampaknya sangat lengang. Ketika mereka sampai di regol pesanggrahan
itu, dua orang pengawal telah membuka pintu. Sambil membungkukkan
kepalanya dalam-dalam salah seorang dari mereka bertanya “Siapakah
yang kau antar kemar i Ki Demang?“ “Putera Pangeran Ranakusuma “
jawab Ki Demang di Sukawati. “O” desis salah seorang dari keduanya
itu pula “Aku sudah menyangka. Tentu seorang bangsawan dari kota
meskipun tidak membawa songsong. Agaknya Raden akan pergi berburu”
“Aku akan menghadap Ramanda Pangeran Mangkubumi” berkata Rudira.
Namun terasa bahwa suaranya bergetar karena hatinya yang bergetar
pula. “O. Maaf tuan. Pangeran Mangkubumi tidak ada di pesanggrahan”
Raden Rudira mengerutkan keningnya, dan Ki Demang di Sukawati itu
menyahut “Aku sudah memberitahukan bahwa Pangeran Mangkubumi tidak
ada di pesanggrahan” Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Namun
demikian Raden Rudira berkata “He, apakah kami tidak kau
persilaihkan masuk?“ “Kalau tuan menghendaki, silahkan. Tetapi
supaya tuan tidak kecewa, kami telah memberitahukan bahwa Pangeran
Mangkubumi t idak ada di pesanggrahan”“Aku akan masuk pesanggrahan
Ramanda Pangeran. Meskipun Ramanda tidak ada, tetapi aku sudah
berusaha menghadap” “Tetapi apakah yang akan tuan dapatkan di
pesanggrahan ini jika Pangeran tidak ada?“ Raden Rudira mengerutkan
keningnya. Ternyata kedua pengawal yang tampaknya sangat hormat itu
membuatnya jengkel juga. Seharusnya mereka mempersilahkannya masuk
dan duduk di pendapa pesanggrahan. Bahkan mempersilahkannya bermalam
di pesanggrahan itu juga. Tetapi agaknya kedua pengawal itu memang
tidak mempunyai kesopanan sama sekali. Ia hanya sekedar diajari
untuk membungkuk dan menghormat. Seterusnya, ia tidak mengenal sopan
santun sama sekali. “Aku akan masuk” berkata Raden Rudira kemudian.
“O, silahkan. Mungkin tuan belum pernah melihat pesanggrahan Ramanda
Pangeran Mangkubumi” “Aku tidak sekedar ingin melihat. Tetapi aku
adalah kemanakannya” “O Baiklah. Silahkanlah” Kedua pengawal itupun
kemudian membuka regol pesanggrahan itu semakin lebar. Keduanya
berdiri dengan hormatnya di sebelah menyebelah pintu. Tetapi ketika
Raden Rudira mulai melintasi regol halaman, maka kedua pengawal
itupun maju bersama-sama sambil berkata “Maaf tuan. Kami harap tuan
turun dari kuda” “He“ Raden Rudira terkejut “Aku harus turun dar i
kuda?“ “Ya tuan” “Kalian menghina aku. Kalau rakyat kecil memasuki
halaman pesanggrahan ini memang harus turun darikendaraannya. Tetapi
aku tidak. Aku adalah Raden Rudira Putera Pangeran Ranakusuma” “Maaf
tuan. Hanya seorang yang diperkenankan naik kuda di halaman ini.
Pangeran Mangkubumi. Selain Pangeran Mangkubumi, siapapun harus
turun. Bahkan pengiring- pengiring Pangeran Mangkubumipun harus
turun dari kudanya meskipun mereka datang bersama dan mengiringi
Pangeran Mangkubumi sendiri” “Bohong. Kau sangka aku tidak
mengetahui peraturan yang berlaku? Seorang putera Pangeran pasti
diperkenankan memasuki halaman Kapangeranan diatas punggung kuda,
meskipun ia harus turun sebelum sampai di depan pendapa, dan
kemudian mengikatkan kudanya di depan gandok” “O“ “Peraturan itu
berlaku dimanapun. Dan sekarangpun aku tidak perlu turun dar i kuda”
“Maaf tuan. Aku adalah seorang pedesan. Meskipun aku bekerja pada
Pangeran Mangkubumi, tetapi aku berasal dari Sukawati ini. sehingga
aku t idak mengetahui peraturan yang seharusnya berlaku. Tetapi di
pesanggrahan ini, tuan harus turun dari kuda apabila tuan memasuki
regol ini” “Tidak. Aku tidak akan turun” “Tuan“ berkata pengawal itu
“Aku hanyalah seorang abdi. Aku tidak, dapat menolak per intah
tuanku. Karena itu, jika tuan kasihan kepada kami, agar kami tidak
berbuat salah dan yang mungkin mempunyai akibat yang luas bagi kami
berdua dan keluarga kami, kami persilahkan tuan turun” Sebelum
Rudira menjawab, Ki Demang di Sukawati telah mendahului “Tuan, kami
berharap bahwa tuan berusaha menyesuaikan dir i dengan keadaan ini.
Tanah Sukawati adalah tanah kalenggahan. Karena itu semua peraturan
yang berlaku disini bersumber kepada Pangeran Mangkubumi.
Memangmungkin dengan demikian ada beberapa perbedaan dengan
peraturan yang berlaku di tempat lain, bahkan di Negari Ageng
sekalipun. Tetapi demikianlah yang dikehendaki oleh Pangeran
Mangkubumi” Raden Rudira menggeram. Dengan mata yang menyala ia
berkata lantang “Apakah hal ini bukan sekedar pokal kalian? Sejak
aku memasuki padukuhan ini aku sudah melihat sikap orang-orang
Sukawati yang mencurigakan, seperti sikap petani yang aku jumpai di
bulak Jati Sari. Dengan demikian aku menjadi semakin yakin, bahwa
orang itu memang berkata sebenarnya. Agaknya memang menjadi ciri
orang-orang Sukawati yang suka menentang perintah orang-orang yang
seharusnya dihormati” Ki Demang menar ik nafas dalam-dalam. Katanya
“Apakah keuntungan kami dengan berbuat demikian? Kami sekedar
menjalankan tugas kami seperti yang dikatakan oleh para pengawal
pesanggrahan ini” Raden Rudira menggeretakkan giginya. Tanpa
disadarinya ia berpaling kepada Sura. Tetapi Sura telah mendahului
meloncat dari punggung kudanya diikut i oleh para pengiringnya yang
lain serta kelima pengawal Ranakusuma. Raden Rudira tidak dapat
berbuat lain daripada memenuhi. Tetapi betapa hatinya menjadi sakit.
Dua kali ia dipaksa turun dari kudanya. “Kalau aku tahu, bahwa kali
ini aku harus turun untuk kedua kalinya, aku tidak akan turun tadi
di halaman Kademangan“ Ia menggerutu di dalam hatinya. Setelah
meloncat turun, maka iapun segera menyerahkan kudanya kepada
pengiringnya. Sambil menjinj ing wiron kain panjangnya ia berjalan
menuju ke pendapa pesanggrahan Pangeran Mangkubumi. Sejenak ia
berdiri termangu-mangu di muka pendapa. Ada hasratnya untuk
menunjukkan kebesaran dirinya denganmelangkahi tangga naik ke
pendapa. Tetapi hatinya tiba-tiba menjadi ragu-ragu. Pendapa yang
sepi lengang itu terasa terlampau agung baginya. Pendapa yang sama
sekali tidak berisi peralatan apapun juga itu, rasa-rasanya
mengandung pengaruh yang tidak terkatakan. “Apakah tuan akan naik?“
bertanya para pengawal. Rudira menjadi ragu-ragu. Tetapi untuk
mengatasi keragu- raguan itu ia bertanya “Kaulah yang seharusnya
mempersilahkan aku naik. Aku adalah tamu disini” “Jika demikian,
maka baiklah aku beritahukan bahwa tuan rumah tidak berada di
rumahnya. Apakah tuan akan menunggu atau tuan akan kembali?“
Pertanyaan itu benar-benar telah menggetarkan dada Raden Rudira. Ia
tidak menyangka sama sekali bahwa orang- orang Sukawati itu adalah
orang-orang yang sama sekali tidak mengenal sopan santun dan tata
hubungan dengan para bangsawan. Karena itu, rasa-rasanya darahnya
telah mendidih di dalam jantungnya. Tetapi ia harus tetap menahan
diri, agar ia tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan
persoalan dengan para pengawal pesanggrahan itu dan para bebahu
Kademangan. Justru karena itulah maka dadanya menjadi sesak
karenanya. Dengan demikian maka sejenak suasana menjadi tegang.
Raden Rudira berdiri dengan tubuh gemetar. Sedang Sura dan para
pengiring yang lain menjadi termangu-mangu, menunggu perintah Raden
Rudira selanjutnya Namun agaknya Raden Rudira masih berusaha untuk
mempertahankan harga dirinya. Karena itu maka iapun kemudian berkata
kepada para pengawal “Aku adalah keluarga Ramanda Pangeran
Mangkugumi. Hubunganku dengan Ramanda Pangeran adalah jauh lebih
dekat dari hubungan kalian yang hanya sekedar sebagai seorang
abdidengan tuannya. Karena itu, kalianpun harus menghormati aku
sebagai keluarga dekat dar i tuanmu” “Tentu tuan. Kami akan tetap
menghormati tuan dalam batas-batas yang diijinkan” “Aku akan
bermalam di pesanggrahan ini bersama pengiringku” Para pengawal itu
terkejut mendengar kata-kata itu. Sejenak mereka saling
berpandangan. Salah seorang dari merekapun kemudian berkata “Tuan,
saat ini Pangeran Mangkubumi tidak ada di pesanggrahan ini. Karena
itu, kami tidak dapat menentukan, apakah kami dibenarkan mener ima
tuan bermalamdi pesanggrahan ini“ “Pesanggrahan ini adalah
pesanggrahan Ramanda Pangeran. Pesanggrahan pamanku sendir i. Kenapa
kalian membuat pertimbangan yang terlalu berbelit-belit” “Bukan
maksud kami. Tetapi kami tidak berani menentukan“ pengawal itu
menyahut “Tetapi jika tuan memang menghendaki, tuan kami persilahkan
bermalam di gandok sebelah kanan” “Di gandok? Jadi aku, Raden
Rudira, Putera Pangeran Ranakusuma harus bermalam di gandok?“ “Bukan
maksud kami merendahkan tuan. Apalagi tuan adalah putera Pangeran
Ranakusuma. Tetapi kami tidak berani menerima tuan bermalam di Dalem
Agung dari pesanggrahan ini, karena kami tidak mendapat wewenang
untuk itu” “Bodoh sekali. Kalian tidak lebih dari seekor kuda penar
ik pedati. Kalau kendali ditarik ke kiri, baru kau berbelok ke kir
i. Kalau kendali ditarik kekanan baru kau berbelok kekanan” “Maaf
tuan. Demikianlah keadaan seorang abdi yang sebenarnya. Kami memang
tidak lebih dari seekor kuda pedati. Karena itu kami t idak berani
mener ima tuan di DalemAgung” pengawal itu berhenti sejenak, lalu
“Tetapi di gandokpun tersedia perlengkapan yang cukup Tuan akan
dapat berbaring dengan tenang dan beristirahat secukupnya” Dada
Raden Rudira rasa-rasanya akan meledak. Timbul juga menyesalannya
bahwa ia telah sampai ke padukuhan Sukawati. Ternyata orang-orang
Sukawati. adalah orang-orang yang memang keras kepala. Seperti juga
petani yang pernah ditemuinya di bulak Jati Sar i. Karena itu, maka
untuk sejenak Raden Rudira menggeram. Hampir saja ia memaksa para
pengawal itu. Persoalan yang dapat timbul kemudian dapat diserahkan
kepada ayahnya, seandainya Ramanda Pangeran Mangkubumi menjadi
marah. Kalau perlu ayahandanya dapat minta bantuan kepada Kumpeni.
Kalau Pangeran Ranakusuma berkeberatan, maka ibunya pasti akan
bersedia mengusahakannya, sehingga Pangeran Mangkubumi tidak akan
dapat bertindak apapun juga atasnya. Tetapi ketika ia melihat dua
orang pengawal, Ki Demang Sukawati, dan dua orang bebahu Kademangan
yang menyertainya, hatinya serasa bergetar. Satu dari para petani di
Sukawati sudah dikenal kemampuannya. Apalagi kini ia berhadapan
dengan lima orang, bukan saja petani biasa. Tetapi seorang dari
mereka adalah Demang Sukawati, yang lain bebahunya dan dua orang
pengawal pesanggrahan. Tanpa disadarinya ia memandang para
pengiringnya. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Apakah para pengiringnya
termasuk lima orang pengawal yang paling baik dari Ranakusuman itu
mampu menghadapi orang-orang Sukawati. Tetapi ketika terbayang
olehnya orang-orang yang berdiri di sebelah menyebelah jalan sambil
menyilangkan tangannya di dada, ia merasa ngeri sendir i.
Orang-orang itu memang tidak ubahnya seperti kuda pedati. Mereka
tidak akan mampu berpikir. Jika atasannya memerintahkannya untuk
berkelahi, maka merekapun akan berkelahi, siapapun yang akan
menjadilawannya. Jika ternyata mereka mempunyai kemampuan seperti
petani yang ditemuinya di bulak Jati Sari itu. maka seluruh
rombongannya akan mengalami bencana. Dan ternyata betapapun Raden
Rudira membusungkan dadanya, ia memang bukan seorang yang berjiwa
besar. Karena itu, ia tidak memilih meninggalkan pesanggrahan itu
meskipun harus bermalam di tengah hutan. Ternyata betapa dadanya
menggelegak, ia berkata “Hanya karena aku tidak mau berselisih
dengan keluarga Ramanda Pangeran Mangkubumi sajalah aku bersedia
menginap di gandok. Jika aku memaksa, maka akan dapat menimbulkan
salah paiham di antara kami dan Ramanda Pangeran Mangkubumi,
meskipun seandainya Ramanda Pangeran Mangkubumi mengetahui persoalan
yang sebenarnya, tentu kalianlah yang akan mengalami bencana. Baik
bagi kalian sendiri, maupun bagi keluarga kalian” Tidak soorangpun
yang menjawab. Seolah-olah mereka membiarkan saja apa yang akan
dikatakan oleh Raden Rudira. Namun ia dengan terpaksa telah bersedia
menginap di gandok bersama para pengiringnya. “Nah tuan” berkata Ki
Demang kemudian “Tuan telah mendapat- tempat yang baik untuk
menginap. Karena itu, kami minta diri untuk kembali ke Kademangan”
“Tetapi aku memer lukan kau. Besok sejak pagi-pagi kau harus
mengantarkan aku, mengelilingi padukuhanmu untuk mencari petani yang
telah menghinakan kami” “Baik tuan. Di pagi-pagi hari aku sudah ada
di halaman pesanggrahan ini” Rudira tidak menyahut lagi.
Dipandanginya saja Demang Sukawati yang kemudian minta diri kepada
kedua pengawal pesanggrahan itu. Demikianlah, maka Raden Rudira
malam itu bersama para pengiringnya Di tempatkan di gandok sebelah
kanan. Betapasakit hati putera Pangeran Ranakusuma, tetapi ia tidak
dapat memaksa untuk tinggal di DalemAgeng pesanggrahan itu. Ketika
di malam har i Raden Rudira membentak-bentak Sura, yang baginya
terasa sama sekari tidak dapat membantunya, maka seorang pelayan
telah mendatanginya. Dengan hormatnya ia bertanya kepada Raden
Rudira “Apakah yang telah terjadi tuan? Agaknya tuan marah sekali
kepada pengiring tuan itu” “Jangan turut campur. Itu adalah
persoalanku” “Kami, para abdi di pesanggrahan ini terkejut dan
bahkan ada yang menjadi ketakutan” “Apa pedulimu” “Sebaiknya tuan
tidak membentak-bentak” “Kau, kau memerintah aku ya? Aku adalah
putera seorang Pangeran” “Apalagi putera seorang Pangeran, sedang
seorang Pangeranpun tidak berlaku seperti tuan. Pangeran Mangkubumi
t idak pernah membentak-bentak seperti tuan“ “Aku tidak peduli”
“Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang tenang. Sikapnya matang
sebagai sikap seorang Pangeran. Tetapi ia adalah seorang yang ramah
tidak dibuat-buat. Kalau ada di antara kami yang berbuat salah, maka
Pangeran Mangkubumi member ikan nasehat kepada kami, agar kami tidak
mengulangi kesalahan itu” “Aku tidak peduli. Aku tidak peduli”
Tetapi abdi pesanggrahan itu sama sekali t idak menghiraukannya. Ia
berkata terus ”Namun dengan demikian sikapnya memiliki perbawa.
Pandangannya tajam dan setiap katanya bernilai buat kami” ia
berhenti sejenak, lalu “Tuan. sebenarnya Pangeran Mangkubumipun
selalu berada digandok. Tetapi gandok sebelah kir i. Jarang sekali
Pangeran Mangkubumi berada di Dalem Agung, yang dengan demikian
seakan-akan terpisah dari lingkungannya. Kami adalah sahabat-sahabat
yang sangat dekat dengan Pangeran Mangkubumi meskipun kami adalah
abdinya. Seakan-akan tidak ada batas di antara kami. orang-orang
kecil yang sama sekak tidak mempunyai setitikpun darah keturunan
dari kraton, dengan Pangeran Mangkubumi, keturunan pertama dari
seorang raja, karena bagi Pangeran Mangkubumi, di antara kami memang
tidak ada batasnya” “Bohong, bohong. Kau berbohong” “Aku berkata
sebenarnya tuan Itulah Pangeran Mangkubumi. Meskipun tuan adalah
kemanakannya, tetapi ternyata bahwa kami lebih dekat dengan Pangeran
itu daripada tuan. Bukan saja dekat dalam pengertian lahir iah,
tetapi hati kamipun terlalu dekat pula” “Bohong, bohong“ ternyata
Raden Rudira telah berteriak pula Abdi pesanggrahan itu terkejut
mendengar bentakan- bentakan yang semakin keras itu. Tetapi iapun
kemudian berusaha menguasai dirinya dan berkata lebih lanjut “Apakah
tuan akan mengenal Ramanda tuan itu lebih dekat?“ “Apa maksudmu?“
“Agar tuan tidak menyangka aku berbohong, maka mar ilah tuan
melihat-melihat apa yang ada di dalam bilik Pangeran Mangkubumi di
gandok sebelah kir i. Bukan di Dalem Ageng. Karena di Dalem Ageng
tuan akan menjumpai kelengkapan pesanggrahan seorang Pangeran.
Sebuah batu hitam beralaskan kulit harimau tempat duduk Pangeran
Mangkubumi. Sebuah songsong bertangkai panjang. Beberapa buah tombak
pusaka, meskipun bukan pusaka Pangeran Mangkubumi yang paling
bertuah, dan beberapa kelengkapan yang lain. Tetapi berbeda sekali
dengan isi gandok, yangjustru merupakan tempat tinggal Pangeran
Mangkubumi yang sebenarnya apabila ia berada di Pesanggrahan ini”
Sejenak Raden Rudira menjadi ragu-ragu. Ditatapnya wajah Sura yang
kosong. Kemudian beberapa orang pengiringnya. “Apakah tuan
ragu-ragu?“ tiba-tiba pelayan itu bertanya. “Ya” jawab Raden Rudira
“Apakah ada manfaatnya?” “Tentu ada Raden. Agar tuan dapat mengenal
Ramanda tuan dengan baik. Sebagai seorang kemanakan, tuan akan dapat
lebih mendekat lagi kepadanya” Raden Rudira masih tetap ragu-ragu.
Meskipun sebenarnya ia memang kemenakannya, tetapi rasa-rasanya
jarak antara Ranakusuman dan Mangkubumen memang terlampau jauh.
Tetapi ternyata abdi pesanggrahan itu mendesaknya “Tuan. marilah.
Tuan akan melihat Ramanda Pangeran Mangkubumi seutuhnya” Dada Raden
Rudira menjadi berdebar-debar. Tetapi ada juga keinginannya untuk
melihat, apakah yang dimaksud oleh pelayan itu. Sehingga karena itu,
maka iapun kemudian menjawab “Baik. Aku akan melihat gandok sebelah
kir i” Lalu katanya kepada Sura “Sura, ikuti aku” Keduanya itupun
kemudian diantar oleh abdi pesanggrahan itu pergi ke gandok sebelah
kir i Dengan ragu-ragu Raden Rudira mengikuti langkah pelayan itu.
Ada juga timbul kecurigaannya menilik sikap dan sifat-sifat orang
Sukawati yang seolah-olah disaput oleh rahasia yang baur. Ketika
mereka memasuki ruang depan dar i gandok itu, dilihatnya
perlengkapan yang sederhana. Lebih sederhana dari perlengkapan yang
ada di gandok kanan. Di ruang itu terdapat sebuah amben bambu yang
besar. "Sebuah bancik lampu dan geledeg bambu. Buat apa amben
sebesar ini?“ bertanya Raden Rudira.“Ini adalah kehendak Pangeran
Mangkubumi sendir i. Jika Pangeran Mangkubumi mengunjungi
rumah-rumah orang miskin, maka, selalu ditemukannya sebuah amben
sebesar ini, atau katakanlah satu-satunya kelengkapan rumah rakyat
kecil adalah amben semacam ini. Ada juga yang memiliki geledeg bambu
dan bancik dlupak minyak kelapa seperti ini” “Huh“ tiba-tiba Raden
Rudira berdesah “Apakah sebenarnya gunanya Ramanda Pangeran membuat
suasana pesanggrahan serupa ini?“ “Pangeran Mangkubumi ternyata
merasa tenteram berada di dalam suasana ini. Jauh lebih tenteram
daripada berada di Dalem Ageng dalam suasana yang penuh ketegangan.
Disini Pangeran Mangkubumi dapat duduk selonjor bersandar tiang atau
dinding sambil minum air panas dan makan jagung rebus. Tetapi tidak
di Dalem Ageng. Jika Pangeran Mangkubumi duduk dialas batu yang
beralaskan kulit harimau itu dan dihadap oleh para bebahu
Kademangan, suasananya memang menjadi kaku dan tegang. Karena itu
Pangeran Mangkubumi lebih senang menerima Demang di Sukawati di
ruangan ini sambil duduk seenaknya” Raden Rudira tiba-tiba merasa
dadanyalah yang menjadi tegang Tingkah laku Pangeran Mangkubumi itu
sama sekali tidak disukainya. Dengan demikian Pangeran itu telah
merendahkan derajadnya sendiri. Derajad yang sebenarnya harus
dipertahankan, Seandainya Raden Rudira itu juga seorang Pangeran,
maka ia pasti akan berbuat sesuatu untuk menghentikan solah Pangeran
Mangkubumi itu. “Akibatnya dapat dilihat langsung“ Ia berkata di
dalam hatinya “ternyata orang-orang Sukawati tidak menaruh hormat
lagi kepada para bangsawan. Mereka menganggap aku ini sederajad saja
dengan mereka” Dalam pada itu, maka pelayan pesanggrahan itupun
berkata “Marilah tuan, silahkan tuan masuk ke ruang dalam. Ke bilik
Pangeran Mangkubumi”Raden Rudira menjadi ragu-ragu, sehingga pelayan
itu berkata “Ramanda tuan tidak akan marah. Tempat ini seperti
banjar Kademangan saja. Semua orang boleh masuk. Tetapi tidak di
Dalem Ageng. Hanya orang-orang tertentu dan dalam keadaan tertentu
saja orang boleh memasuki PalemAgeng” Raden Rudira mengerutkan
keningnya. Tetapi iapun kemudian mengikut i pelayan itu memasuki
sebuah bilik di ruang dalamgandok sebelah kiri itu. Tiba-tiba dada
Raden Rudira merasa berdentangan ketika ia melihat beberapa potong
pakaian tergantung di dinding. Dengan serta merta ia bertanya
“Pakaian siapakah itu?“ “Pangeran Mangkubumi” jawab pelayan itu.
”Bodoh kau, yang aku maksud adalah pakaian yang tergantung itu.
Bukankah pakaian itu pakaian seorang petani. Tutup kepala yang besar
dan ikat pinggang kulit kasar itu?“ “Ya. Itu adalah pakaian Pangeran
Mangkubumi j ika Pangeran ada disini” “Bohong. Bohong” sekali lagi
Rudira berteriak “pakaian itu adalah pakaian seorang petani” Pelayan
itu menjadi heran. Jawabnya “Ya, pakaian itu memang pakaian seorang
petani” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi kenapa tuan harus
berteriak-teriak. Para abdipesanggrahan ini tidak biasa mendengar
seseorang membentak-bentak seperti tuan. Kenapa seseorang harus
membentak-bentak? Dan kenapa orang lain harus dibentak- bentak?“
”Diam, diam kau. Kau jangan membuat aku marah” “Baiklah. Tetapi aku
tidak biasa melayani seseorang seperti tuan. Jika tuan jemu
menyaksikan ruangan Ramanda Pangeran, tuan aku persilahkan kembali
ke bilik tuan di gandok sebelah kanan” Rudira berdiri tegak seperti
patung. Jawaban itu menyakitkan hatinya. Tetapi yang lebih
mendebarkan jantungnya adalah pakaian yang tergantung di dinding
itu. “Apakah benar pakaian itu. pakaian Ramanda Pangeran?“
pertanyaan itu telah mengetuk dinding jantungnya. Serasa semakin
lama semakin keras. Namun tiba-tiba sekali lagi ia berkata
keras-keras “Bohong sekali. Tentu tidak benar bahwa pakaian itu
adalah pakaian Ramanda Pangeran” Tetapi pelayan itu menyahut
“Terserahlah kepada tuan, apakah tuan mempercayainya atau tidak.
Tetapi pakaian itu sebenarnyalah pakaian Pangeran Mangkubumi”
“Tetapi kenapa pakaian itu sekarang tidak dipakainya?“ “Tentu
Pangeran Mangkubumi tidak hanya mempunyai pakaian sepengadeg itu”
Terasa sesuatu telah menggetarkan dada Raden Rudira. Seakan-akan ia
pernah melihat pakaian seperti pakaian yang tergantung di dinding
itu. Karena itu. untuk melepaskan ketegangan yang tiba-tiba telah
mencengkam dadanya, Raden Rudira berkata lantang “Cukup. Aku sudah
cukup melihat-melihat gandok ini. Aku tidak percaya bahwa Ramanda
Pangeran Mangkubumi selaluberada di gandok ini. Pakaian ini pasti
pakaian kalian, abdi- abdi pesanggrahan yang deksura dan tidak
mengenal sopan santun. Kalau Ramanda Pangeran mengetahui, bahwa
kalian telah berani berada di gandok ini seperti berada di rumah
kakek dan nenekmu sendir i, maka Ramanda Pangeran pasti akan menjadi
marah sekali. Kalian akan dipecat dan bahkan kalian akan mendapat
hukuman” “Tuan” sahut abdi itu “Kalau Pangeran Mangkubumi t idak
berkenan di hatinya. apakah mungkin, kami para abdi berani
memasukkan amben sebesar itu ke dalam gandok ini meskipun Pangeran
tidak ada di pesanggrahan?“ “Diam, diam. Jangan membual lagi, Aku
tidak mau mendengarnya. Aku akan kembali ke gandok kanan. Ternyata
pesanggrahan ini diliputi oleh suasana yang tidak menyenangkan
apabila Ramanda sedang t idak berada disini. Kalian merasa,
seolah-olah pesanggrahan ini adalah milikmu sendiri” Abdi itu menar
ik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Baiklah jika tuan tidak percaya
Marilah, aku persilahkain tuan kembali ke gandok sebelah kanan.
Tetapi aku telah berkata sebenarnya, Terserahlah atas penilaian
tuan“ Kemarahan Raden Rudira rasa-rasanya tidak lagi dapat ditahan.
Hampir saja ia berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirinya sendiri.
Untunglah, selagi ia berjuang menahan perasaannya, Sura telah
menggamitnya. Dan sentuhan tangan Sura itu seakan-akan membuat Raden
Rudira semakin menyadari keadaannya. Demikianlah, maka Raden Rudira
itupun diantar kembali ke gandok sebelah kanan. Namun sepatah
katapun Raden Rudira tidak berbicara lagi dengan pelayan
pesanggrahan itu" Tetapi dalam pada itu, di kepalanya sedang
berkecamuk persoalan yang hampir tidak masuk akalnya. Pakaian
yangtergantung itu, menurut keterangan pelayan pesanggrahan adalah
pakaian Ramanda Pangeran Mangkubumi. “Bohong. Orang itu mencoba
membohongi aku” Dan terasalah olehnya, bahwa pesanggrahan itu
agaknya telah diliputi oleh suatu rahasia. Seperti di dalam kabut di
waktu pagi, maka yang dapat dilihatnya itu adalah sekedar bentuk
yang samar-samar. Ketika ia sudah duduk kembali di dalam bilik di
gandok sebelah kanan, maka iapun mulai mengumpat-umpat tidak
habis-habisnya. Para pengiringnya yang berada di luar bilik itupun
mendengar langkah kakinya yang gelisah. Kadang- kadang Raden Rudira
membanting dirinya, duduk di pembaringan. Namun kadang-kadang dengan
tergesa-gesa ia meloncat berdir i dan berjalan hilir-mudik.
Akhirnya, dada Raden Rudira serasa tidak tahan lagi merendam
perasaannya. Dengan serta-merta dipanggilnya Sura yang berada di
luar biliknya Dengan tergesa-gesa Sura melangkah terbungkuk-bungkuk
mendekati Raden Rudira yang berdiri di sudut biliknya. “Sura”
berkata Raden Rudira “Apakah kau percaya kepada abdi pesanggrahan
ini?“ Sura termangu-mangu sejenak. Terasa berat sekali untuk
mengatakan yang sebenarnya tersirat di dalamhatinya. “Apakah kau
percaya he?“ “Maaf Raden” berkata Sura “sebenarnyalah bahwa aku
percaya kepada abdi pesanggrahan itu” “Kau percaya he? Kau
mempercayainya?“ Sura menundukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab
dengan suara bergetar “Ya tuan. Aku mempercayainya”“Jadi kau percaya
juga bahwa pakaian itu pakaian Ramanda Pangeran?” “Ya Raden “ “Gila.
Kau juga sudah gila” Raden Rudira berhenti sejenak, lalu “Aku merasa
pernah melihat pakaian serupa itu. Tetapi tentu ada lebih dari
seribu rakyat kecil yang mengenakan pakaian serupa itu. Kain lurik
kasar, tutup kepala lebar dan baju lur ik bergaris tebal” “Tuan
benar. Tuan memang pernah melihatnya?” “Ya, dan sudah aku katakan,
ada seribu orang yang mengenakan pakaian serupa itu. Tentu para abdi
di pesanggrahan inipun sering mengenakan pakaian serupa itu” “Apakah
tuan ingat, dimana tuan melihat pakaian serupa itu yang terakhir
kali?“ Meskipun Rudira t idak senang mendengar pertanyaan itu,
tetapi ia mencoba mengingat-ingat. Namun ia menggelengkan kepalanya
“Tidak. Aku tidak mempunyai kesempatan mengingat-ingat pakaian
petani kecil” “Tetapi petani yang seorang ini agak lain Raden” sahut
Sura kemudian. “Maksudmu?“ “Apakah tuan ingat pada petani yang tuan
cari?“ “Ya” “Pakaiannya?“ Rudira mengingat-ingat sejenak. Lalu
tiba-tiba ia berkata lantang “Ya. Itulah yang kita cari. Orang yang
mengenakan pakaian itu. Tentu ia orang Sukawati. Kita akan
segeramenemukannya. Bahkan mungkin ia orang pesanggrahan ini pula”
“Raden” berkata Sura kemudian “Jika tuan menghubungkan pakaian itu
dengan petani dari Sukawati yang tuan cari, dan ceritera tentang
pakaian itu oleh abdi pesanggrahan ini, tuan pasti akan dapat
mengambil kesimpulan” “He?“ tiba-tiba wajah Rudira menjadi pucat.
“Dan apakah tuan dapat membayangkan kembali bentuk petani dari
Sukawati itu” “Tidak. Tidak“ tiba-tiba Rudira berteriak. Namun
kemudian tubuhnya menjadi gemetar. Terbayang kembali petani yang
dijumpainya di bulak Jati Sari. Petani yang bertubuh tegap kekar,
dan mengenakan pakaian serupa yang tergantung di dinding itu. Atau
bahkan pakaian itulah yang memang dipakainya. “Orang itu bertubuh
tinggi, besar, bermata tajam. Ia memiliki kemampuan yang hampir t
idak terkatakan. Ia menguasai olah kanuragan yang sempurna. Aku
merasakan langsung sentuhan tangannya yang membuat aku hampir
kehilangan semua kekuatan” desis Sura. “Cukup, cukup” “Raden.
Bayangkan wajah yang kotor oleh debu itu. Apakah Raden tidak
mengenalnya? Aku tidak dapat segera mengenal waktu itu, tetapi
setelah aku merenung justru sekarang aku mengetahui dan yakin . . .
. . . . . . . . . . . ” Kata-kata Sura terputus, karena tiba-tiba
saja Rudira telah menampar mulutnya, sambil berteriak “Diam, diam
kau” Sura hanya terdorong selangkah surut. Meskipun tangan Rudira
itu terasa sakit di pipinya, namun ia meneruskan “Orang yang tuan
cari sekarang itulah Pangeran Mangkubumi”“Diam. diam, diam“ Rudira
berteriak-teriak, sehingga para pengiringnya mengerutkan keningnya.
Tetapi mereka mendengar percakapan di dalam bilik itu. Dan merekapun
menjadi berdebar pula karenanya. Surapun kemudian terdiam. tetapi
rasa-rasanya dadanya sudah menjadi lapang. Yang tidak pernah berani
dilakukan, telah dilakukannya. Selagi Rudira membentak-bentak,
bahkan telah menampar pipinya, ia masih juga berbicara terus dan
berhasil mengucapkan nama itu, Pangeran Mangkubumi. Ternyata nama
itu telah mempengaruhi setiap dada dari para pengiring Raden Rudira.
Jika yang dikatakan Sura itu benar, apakah mungkin mereka akan
meneruskan usaha mereka untuk menemukan petani yang deksura di bulak
Jati Sari itu?. Suasana yang tegang sejenak telah mencengkam semua
orang di dalam iring- iringan Putera Pangeran Ranakusuma yang sedang
dicengkam oleh kebimbangan. Kadang-kadang ia berusaha juga
membayangkan wajah Petani yang dijumpainya di Jati Sari. Namun t
iba-tiba ia menggeleng sambil menggeretakkan giginya, seolah-olah ia
ingin menghalau pengakuan kenyataan yang di hadapinya. “Tidak
mungkin, tidak mungkin” tiba-tiba ia menggeram. Sura tidak menyahut.
Ia mengerti bahwa yang dimaksud oleh Raden Rudira adalah petani yang
dijumpainya di Jati Sari itu. Namun Sura sama sekali tidak berbuat
sesuatu. Tidak berkata apapun juga dan t idak bergerak dari
tempatnya. Dan tiba-tiba saja Raden Rudira membentaknya “Kau
berbohong Sura. Kau sudah menjadi pengecut, Karena kau melihat sikap
orang-orang Sukawati, kau telah membuat bayangan khayal itu, agar
aku mengurungkan niatku mencarinya dengan menjelajahi seluruh
wilayah Sukawati. Sura tidak menjawab. Kepalanya tertunduk
dalam-dalam,“Aku tidak percaya. Besok kita meneruskan usaha ini. Aku
harus menemukannya dan membawanya ke istana Ranakusuman” geram Raden
Rudira. Meskipun demikian terasa betapa ia sedang berusaha mengatasi
gejolak di dalam hatinya sendiri. Dalam pada itu Sura masih tetap
diam. Ia masih saja menundukkan kepalanya. Ia sudah mengatakan apa
yang tersirat di hatinya. Dan ia sudah puas karenanya, Apapun yang
akan terjadi atas Raden Rudira dan pengiringnya termasuk dirinya
sendiri tergantung sekali kepada sikap dan tanggapan Raden Rudira.
Sura terkejut ketika tiba-tiba saja Raden Rudira berteriak “Pergi,
pergi kau pengecut” Sura membungkukkan badannya dalam-dalam.
Kemudian iapun melangkah surut sambil terbungkuk-bungkuk pula
meninggalkan bilik Raden Rudira itu. Di luar Sura segera dikerumuni
oleh kawan-kawannya dan pengawal khusus dari Ranakusuman itu. Sambil
berbisik-bisik mereka minta agar Sura menjelaskan, kenapa ia
menyebut- nyebut nama Pangeran Mangkubumi. “Itulah Pangeran
Mangkubumi” berkata Sura kemudian “Tidak seorangpun yang dapat
menatap tajam pandangan matanya. Kekuatan yang ada di dalam dir inya
bagaikan kekuatan seratus banteng ketaton, dan ilmu kanuragan yang
dikuasainya, meliputi segala macam kemungkinan yang ada. Namun
ternyata hatinya bersih sebersih mata air di lereng pegunungan” “He,
apakah kau sedang bermimpi?“ bertanya salah seorang kawannya yang
tahu benar tentang keadaan Sura selama ini. “Aku sadar, bahwa aku
adalah penjilat yang paling rendah di dalam Ranakusuman. Tetapi
menghadapi PangeranMangkubumi aku mempunyai kesan tersendiri di
antara para Pangeran yang. ada di Surakarta” Kawan-kawannya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka mendesak
“Jadi menurut dugaanmu, petani yang kita jumpai di bulak Jati Sari
itulah Pangeran Mangkubumi itu sendiri” “Ya. Dan ini bukan sekedar
bayangan ketakutan karena aku berada di tengah-tengah rakyat
Sukawati yang aneh, yang diliputi oleh rahasia ini. Tetapi ketika
aku melihat pakaian yang tergantung di gandok sebelah kir i, dan
abdi pasanggrahan ini menyebut bahwa pakaian itu adalah pakaian
Pangeran Mangkubumi. maka aku mulai merenungi wajah itu lagi. Wajah
yang waktu itu kotor oleh keringat dan debu. Tetapi kalau kita
berhasil membayangkan kembali sorot matanya, ialah Pangeran
Mangkubumi itu” “Ah” berkata salah seorang pengawal “mungkin kau
keliru. Apakah Pangeran Mangkubumi merendahkan dir inya berpakaian
sebagai seorang petani dan berjalan menyusuri bulak Jati Sari”
“Memang hampir mustahil. Tetapi aku meyakininya” "Aku kenal betul
wajah Pangeran Mangkubumi” berkata salah seorang pengawal “Jika kita
berhasil menjumpainya, aku akan dapat mengenal” “Tetapi dalam
pakaian seorang petani yang kotor dan kumal, serta wajah yang basah
oleh keringat dan noda-noda debu, wajah itu memang berubah, sehingga
aku tidak segera dapat mengenalnya. Tetapi sekarang aku yakin. Yakin
sekali” suara Sura menjadi semakin mantap. Tidak seorangpun yang
kemudian menyahut. Tetapi mereka mencoba membayangkan kembali wajah
petani itu, kecuali para-pengawal yang saat itu tidak ikut bersama
mereka.“Seperti kita melihat bintang Bima Sakti” tiba-tiba salah
seorang berdesis. “Maksudmu?“ bertanya Sura. Semakin tajam kita
berangan-angan maka bentuk itu menjadi semakin jelas, seolah ada
gambar Bima yang cemerlang di langit yang terjadi dari taburan
bintang-bintang yang gemerlapan. Tetapi itui adalah gambaran kita
sendir i. Kitalah yang membuat gambar Bima itu. Tidak di langit,
tetapi di dalam angan-angan kita” “O, jadi maksudmu demikian juga
dengan petani dari Jati Sari itu?“ sahut Sura “Kita sendirilah yang
membuat gambaran seolah-olah orang itu Pangeran Mangkubumi? Gambaran
kitalah yang menyesuaikan bentuk orang itu dengan Pangeran
Mangkubumi?“ “Itulah yang benar” tiba-tiba mereka terkejut. Ternyata
Rudira mendengarkan percakapan mereka, dan tiba-tiba saja ia
menyahut ketika ia sudah berdir i di ambang pintu biliknya.
Selangkah demi selangkah Raden Rudira berjalan mendekati para
pengiringnya. Satu-satu dipandanginya wajah- wajah yang kemudiar
tertunduk. Lebih-lebih lagi Sura. Ia merasa bahwa kepercayaan Rudira
kepadanya semakin menurun. Namun ada sesuatu yang melonjak di dalam
hatinya. Kekaguman yang luar biasa kepada sikap Pangeran Mangkubumi.
Di dalam angan-angannya terbayang kebesaran Pangeran itu Seakan-akan
seisi Kademangan Sukawati ini berada di dalam genggamannya. Setiap
orang mengarahkan kiblat pandangan hidupnya kepada Pangeran
Mangkubumi. Setiap kali nama itu selalu diucapkan oleh siapapun juga
di dalam Kademangan ini. Tetapi jiwa Sura yang kerdil tidak cukup
kuat untuk mengungkapkan perasaannya itu. Bagaimanapun juga telah
hidup untuk bertahun-tahun lamanya sebagai seorang penjilat di dalam
istana Pangeran Ranakusuma. sehingga untukmelepaskan dir i dar i
jalan hidup yang sudah terlalu lama dihayatinya itu terlampau sulit
baginya. Dengan demikian, ketika Raden Rudira berdiri di hadapannya,
kepalanya menjadi semakin tunduk. Ia sendiri tidak dapat
mengatakannya, kekuatan apakah yang telah mendorongnya untuk
mcnyatakan keyakinannya, bahwa orang itu adalah Pangeran Mangkubumi.
Tetapi kini ia sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk
mempertahankan keyakinannya itti. “Sura” berkata Raden Rudira
kemudian “Aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba kau sudah berubah. Sudah
bertahun-tahun kau berada di Ranakusuman. Selama ini kau adalah abdi
yang paling setia dan kau memang memiliki kelebihan dari kawan-
kawanmu. Tetapi tiba-tiba kini kau berkerut menjadi seorang
pengecut” Sura tidak menjawab, tetapi kepalanya menjadi semakin
tunduk “Hanya karena kau sudah lama berada di Ranakusuman, maka aku
tetap membiarkan kau pada kedudukanmu yang sekarang. Tetapi jika kau
benar-benar sudah tidak bermanfaat lagi bagi kami, kau akan segera
tersisih, karena orang lain cukup banyak yang memiliki syarat-
syarat seperti yang kau miliki sekarang” Sura masih tetap membeku.
Dalam keadaan ymg demikian rasa-rasanya ia sama sekali tidak
mempunyai kesempatan apapun juga melain menundukkan kepalanya. Sura
dalam keadaan yang demikian, sama sekali tidak mencerminkan
kekasaran yang keganasannya seperti apabila ia sedang berkelahi.
Berkelahi untuk kepentingan tuannya yang selama ini telah
melimpahkan pemberian kepadanya dan kepada keluarganya. Tetapi
adalah aneh sekali, bahwa di saat ia harus menunduk semakin dalam,
ada perasaan lain yang menyelinap di dalam hatinya. Setiap kali
perasaannya itu selaludipengaruhi oleh nama yang bagaikan bergema
tidak ada henti-hentinya di seluruh Kademangan Sukawati. “Alangkah
bedanya” katanya di dalam hati “Aku dan orang- orang Sukawati. Aku
seorang abdi dan orang-orang Sukawati itu juga seorang abdi seperti
abdi pesanggrahan itu, tetapi rasa-rasanya mereka tidak harus selalu
menundukkan kepalanya” Bahkan terbayang di rongga mata Sura itu.
bahwa abdi Mangkubumen kadang-kadang sempat juga berkelakar dengan
Pangeran Mangkubumi, memberikan pendapat dan pertimbangan, bahkan
sampai pada persoalan-persoalan yang penting dan pr ibadi. “Ah tentu
tidak“ Sura berkata kepada dirinya sendiri “itu pasti hanya
gambaranku saja. Seperti aku menciptakan bentuk Bima Sakti di langit
karena angan-anganku” Sura terkejut ketika Rudira berkata “Sura. Kau
harus mencoba memperbaiki kesalahan-kesalahan yang lelah kau perbuat
untuk. mengembalikan kepercayaanku dan ayahanda Pangeran Ranakusuma
kepadamu. Kalau kau tidak berhasil, maka nasibmu akan menjadi sangat
jelek” Tanpa disadarinya Sura mengangguk perlahan sambil menjawab Ya
tuan. Aku akan mencoba memperbaikinya” Namun suasana itu tiba-tiba
telah dipecahkan oleh suara tertawa perlahan. Hampir berbareng
setiap orang berpaling kearah suara itu. Ternyata salah seorang
pengawal yang ikut serta di dalam iring- iringan itu menutup
mulutnya dengan telapak tangannya. “Kenapa kau tertawa?“ bertanya
Raden Rudira. “Pengecut itu” jawabnya sambil menunjuk Sura. Wajah
Sura menjadi merah padam. Tetapi ia tidak sempat menjawab ketika
Rudira berkata “Teruskan. Kau tentu mempunyai alasan untuk
menyebutnya sebagai pengecut”“Ia menjadi ketakutan melihat sepotong
pakaian tergantung di dinding seperti ceriteranya sendiri” “Kau
benar” berkata Raden Rudira. Ketika ia berpaling memandang wajah
Sura, dilihatnya orang itu menggertakkan giginya “Jangan marah. Ia
berkata sebenarnya. Aku memang sudah berpikir untuk member ikan
kesempatan kepada orang lain. Tetapi sudah aku katakan, bahwa karena
kau sudah terlalu lama berada di Ranakusuman, maka kau masih
mendapat kesempatan jika kau berhasil memulihkan kepercayaanku
kepadamu. Terutama selagi kita berada di dalam keadaan yang gawat
sekarang ini” Sura tidak menyahut. Sekali-sekali ia masih memandang
pengawal itu dengan sudut matanya. Tetapi pengawal itu seolah-olah
acuh t idak acuh saja. Tanpa disadarinya Sura mulai menilai pengawal
itu. Sudah lama ia mengenalnya. Tetapi ia tidak menduga sama sekali,
bahwa pada suatu saat ia akan berbuat demikian. Tubuhnya yang tinggi
kekar dan dijalari oleh otot-otot yang kuat, membayangkan keadaan
orang itu. Tidak jauh badannya dengan dirinya sendiri. Orang itupun
dapat juga disebut raksasa di Ranakusuman. Dan agaknya orang itu
sengaja memancing persoalan di dalam saat yang menguntungkan
itubaginya. Arahnya dapat jelas dilihat oleh Sura, bahwa orang itu
ingin menggantikan kedudukannya. Tetapi di dalam hal yang demikian,
Sura adalah orang yang kasar, dan bahkan hampir liar. Karena itulah
maka jantungnya segera dibakar oleh dendamyang menyala di dadanya.
“Kalau ada kesempatan, aku akan menyelesaikan masalah ini” katanya
di dalam hati. Tetapi Surapun sadar, bahwa orang itu pasti tahu juga
akibat yang bakal dihadapinya. Dan agaknya urang itupun sama sekali
tidak takut. “Memang salah seorang dari kami harus pergi” berkata
Sura di dalamhatinya. Tetapi sementara itu, pengawal yang bertubuh
raksasa seperti Sura itupun berkata di dalam hatinya “Kau sudah
terlalu lama berkecimpung dalam genangan pemberian yang berlimpah-
limpah dari Pangeran Ranakusuma dan Raden Rudira hanya karena kau
membasahi tanganmu dengan darah. Akupun dapat berbuat seperti kau,
dan salah seorang di antara kita memang harus pergi dar i
Ranakusuman. Di Ranakusuman cukup ada seorang raksasa saja, dan yang
seorang harus pergi” Tetapi keduanya menyimpan masalah itu di dalam
hati mereka. Kini mereka harus mendengarkan Rudira berkata “Besok
kita teruskan usaha ini. Kita tidak menghiraukan kicau abdi
pesangerahan ini tentang pakaian yang tergantung di dinding gandok
kiri itu” “Kita sudah siap” berkata pengawal yang bertubuh raksasa
itu, sementara Sura hanya menganggukkan kepalanya saja. “Sekarang
kalian boleh beristirahat” Ketika Rudira masuk ke dalam bilik yang
disediakan olehnya, Sura dan pengawal yang bertubuh raksasa itu
saling memandang untuk, beberapa saat. Namun mereka sama sekali t
idak berbicara apa-apa, karena beberapa orang yangmengerti akan
keadaan itu Segeja berusaha mengalihkan perhatian mereka berdua.
Sura yang hatinya sedang dibelit oleh berbagai persoalan itu sama
sekali tidak menghiraukan lagi kawan-kawannya. Ia langsung
membaringkan dir inya diatas tikar disudirt ruangan. Sedang beberapa
orang yang lain masih juga duduk sambil berbicara. “Suasana menjadi
panas” berkata salah seorang pengiring Rudira “pengawal itu
terlampau bernafsu. Sebenarnya ia dapat mencari kesempatan lain”
“Akibatnya tentu tidak menyenangkan bagi keduainya” sahut yang lain.
Tetapi suara mereka seakan-akan hanya dapat mereka dengar sendir i.
Mereka menganggap bahwa para pengawal pasti berada di pihak raksasa
itu. Tetapi ternyata bahwa kawani pengawal yang bertubuh raksasa
itupun kecewa terhadap sikap itu. Namun demikian mereka tidak
berniat untuk mencampur inya. Meskipun pada umumnya mereka adalah
orang-orang yang memiliki kemampuan melampaui orang kebanyakan,
namun mereka segan untuk bertengkar dengan kawan sendir i di pihak
manapun mereka akan berdir i. Demikianlah maka malam itu mereka
membaringkan diri masing masing dengan ketegangan yang menyesak di
dalam dada. Bukan saja karena kawan-kawan mereka bertengkar, tetapi
juga karena petani yang mengandung rahasia itu. Dengan demikian,
maka hampir t idak seorangpun yang dapat tidur nyenyak. Sura yang
tampaknya berbaring diam di sudut ruangan ternyata hatinya bergolak
semakin dahsyat. Semakin tenang keadaan ruangan itu, terasa hatinya
menjadi semakin sakit mengingat sikap pengawal yang bertubuh raksasa
itu. “Mandra memang sudah gila” katanya di dalam hati “Aku tidak
menyangka bahwa ia begitu bernafsu dan tanpa malu-malu berusaha
merebut kedudukan” tiba-tiba saja Sura menggeram “Aku tidak peduli.
Tetapi aku pasti akan membual perhitungan, Salah seorang dari kami
memang harus pergi” Namun ternyata bahwa Rudirapun tidak dapat
memejamkan matanya. Pakaian yang tergantung di gandok sebelah kiri
membuat hatinya menjadi bingung. Kadang- kadang ia mempercayainya,
bahwa pakaian Pangeran Mangkubumi. Dan petani yang dijumpainya di
bulak Jati Sari itu benar-benar Pangeran Mangkubumi pula. “Tidak
mungkin. Tidak mungkin“ setiap kali ia berusaha mengusir perasaan
itu ”hanya seorang Pangeran yang gila sajalah yang berbuat demikian.
Dan sudah barang tentu tidak dengan Ramanda Pangeran Mangkubumi”
Namun demikian, perasaan yang bergolak tidak juga dapat
ditenangkannya, sehingga Raden Rudira menyadari keadaannya ketika ia
mendengar kokok ayam jantan yang penghabisan. “Fajar” ia berdesis.
Namun ternyata fajar itu telah mengurangi ketegangan di dalam dada
Rudira. Ia lebih baik berpacu diatas punggung kuda daripada berada
di dalam bilik yang sempit tanpa dapat memejamkan matanya. Sehingga
karena itu, maka iapun segera pergi keluar biliknya. Dilihatnya
beberapa orang pengiringnya masih tertidur meskipun dengan gelisah,
namun Sura yang berada di sudut ternyata telah duduk bersandar
dinding. “Kau sudah bangun?“ bertanya Raden Rudira. “Ya tuan” “Kau
pasti tidak dapat tidur sama sekali” “Raden benar“ jawabnya.
“Kemarilah”Surapun mendekat. Dilangkahinya saja kawan-kawannya yang
masih tertidur diatas tikar yang dibentangkan di lantai gandok itu.
“Cari pelayan pasanggrahan itu. Suruhlah mereka menyediakan air
panas. Aku akan mandi” Sura termangu-mangu sejenak. Pesanggrahan ini
adalah pesanggrahan Pangeran Mangkubumi Pelayan-pelayan itu adalah
pelayan Pangeran Mangkubumi. Apakah mereka tidak menjadi sakit hati
apabila Raden Rudira memberikan perintah semena-mena. “He, kenapa
kau diam saja? Cepat. Suruh pelayan-pelayan itu menyediakan air
panas” “Baik, baik tuan. Aku akan mencarinya” Surapun kemudian
keluar dari gandok sebelalah kanan. Langit menjadi semakin terang
oleh cahaya merah yang semakin cerah. Tetapi hati Sura justru
menjadi semakin gelap. Ia tidak mengerti, kenarfa kini ia dihinggapi
oleh sikap ragu-ragu. Sebagai seorang hamba yang setia, didukung
oleh sifat- sifatnya yang kasar, biasanya Sura menjalankan tugas
yang diberikan kepadanya tanpa berpikir. Sura menarik nafas
dalam-dalam. Namun demikian rasa- rasanya ia mulai menemukan dirinya
kembali setelah untuk waktu yang lama ia terbenam dalam sikap yang
rendah. Menjilat. “Ternyata selama ini aku telah kehilangan otakku”
berkata Sura kepada diri sendir i ”Aku tidak pernah sempat berpikir.
Ternyata aku memang tidak lebih dari seekor kuda penarik pedati
seperti yang dikatakan oleh abdi pesanggrahan ini kemarin. Meskipun
ia mengatakan tentang dirinya sendiri, namun akulah yang lebih dungu
dari padanya”Namun demikian, tidak mudah untuk merubah sikap dengan
tiba-tiba. Demikian juga Sura yang perlahan-lahan dirayapi oleh
ketidak puasan terhadap dirinya sendiri itu. tidak dapat berbuat
lain dari pada mematuhi perintah yang diterimanya. Tetapi ia kini
tidak dapat berbuat tanpa berpikir, justru karena ia sudah mulai
berpikir. Dengan ragu-ragu Sura pergi kebagian belakang dari
pesanggrahan itu. Dilihatnya di dapur api sudah menyala. Ketika ia
menjengukkan kepalanya, dilihatnya dua orang perempuan sedang sibuk
memanasi air dan menanak nasi, sambil menuang air untuk mengisi
jambangan pencuci alat- alat dapur. Sejenak Sura berdiri
termangu-mangu. Apakah ia akan berbuat seperti yang selalu
dilakukannya selama ini? Berbuat tanpa berpikir? Ia dapat saja
menyampaikan per intah Raden Rudira itu. Tetapi itu tidak benar
menurut perasaannya kini. Ia sudah mendapat kesempatan untuk
bermalam. Tetapi apakah ia masih harus memer intah para pelayan,
menyediakan air panas untuk mandi. Ternyata ada sesuatu yang menahan
Sura. sehingga ia tidak sampai hati menyampaikan perintah yang
semena-mena itu. Tetapi ia juga tidak dapat menolak perintah Raden
Rudira untuk menyediakan air panas. Karena itu, maka ia berusaha
untuk menemukan jalan. Kedua perempuan yang ada di dapur itu
terkejut melihat Sura yang kemudian muncul dipintu. Tetapi Sura
segera mengangguk sambil tertawa kecil “Eh maaf. Mungkin aku telah
mengejutkan kalian” Kedua perempuan itu saling berpandangan sejenak.
Tetapi tampak kecemasan di wajahnya. “Aku adalah salah seorang
pengawal Raden Rudira yang bermalam di gandok”“O“ kedua perempuan
itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari merekapun bertanya “Apakah
yang kau perlukan sekarang?“ “Aku mendapat perintah agar menyediakan
air panas untuk mandi. Apakah aku dapat menumpang merebus air?“ “O”
sahut salah seorang dari mereka “Aku sedang merebus air” “Tetapi
bukankah air itu untuk minum?“ “Tetapi air itu cukup banyak. Kalau
masih kurang, aku dapat menambahnya. Aku akan mengambil secukupnya
untuk membuat air minum. Yang lain dapat kau ambil untuk mandi tamu
pesanggrahan ini” Sura menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia masih
berpura- pura berkata “Tetapi itu akan merepotkan kalian” “Tidak.
Tidak mengapa, Kami akan menyediakannya” Ternyata hal itu merupakan
suatu pengalaman baru bagi Sura. la mendapatkan apa yang dikehendaki
tanpa membentak dan mengancam. “Beberapa hari yang lalu, aku tentu
bersikap lain dari sekarang” berkata Sura di dalam hatinya
“barangkali t iga hari yang lalu, jika aku mendapat perintah itu,
aku akan masuk ke dapur ini sambil bertolak pinggang dan berteriak
“Sediakan air untuk tuanku” Sura menarik nafas dalam-dalam. Dengan
demikian ia memang akan mendapat air. Tetapi ternyata bahwa dengan
cara yang lain ia mendapatkan air panas itu juga. Bahkan sama sekali
tanpa menyakiti hati orang lain. Mereka membantunya dengan senang
hati dan dengan wajah yang terang, tanpa perasaan takut dan tegang.
“Bodoh sekali” berkata Sura di dalam hatinya “Kenapa baru sekarang
aku tahu”Sura terkejut ketika salah seorang perempuan itu berkata
“Silahkan kau menunggu saja. Tidak pantas kau berada di dapur,
Selain kau seorang laki-laki, kau adalah tamu-tamu kami” “Terima
kasih. Terima kasih” sahut Sura terbata-bata “Aku akan menunggu di
luar” Surapun melangkah per lahan-lahan keluar dapur. Tanpa
disadarinya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata bahwa apa
yang pernah dilakukan selama ini, membentak- bentak, mengancam,
bahkan dengan kekerasan badaniah, adalah suatu kebodohan dan merusak
hubungan baik antar manusia. Demikianlah dengan kewajaran hubungan
dan tanpa menimbulkan persoalan apapun. Sura berhasil memenuhi
perintah Raden Rudira, dengan menyediakan air panas di jambangan
pakiwan. Bagi Sura, pengalaman yang kecil itu semakin membuka
hatinya, bahwa sebenarnyalah selama ini ia tidak mempergunakan
otaknya Ia telah dibutakan oleh sikap menj ilat dan limpahan
borang-orang dari keluarga Ranakusuman. Tanpa disadarinya, bulu-bulu
kuduk raksasa itu berdiri. Terbayang keluarga Ranakusuman yang
seorang demi seorang telah dilemparkan keluar. Ia memegang peranan
yang cukup penting, dalam hal yang kini terasa olehnya, terlampau
kasar. bahkan sekilas terbayang pula olehnya, Raden Juwiring yang
terpaksa meninggalkan istana Panakusuman dengan seribu macam alasan,
dan berada di padepokan Jati Aking di Jati Sari. “Hampir saja aku
mencelakainya“ gumamnya “untunglah seorang petani yang penuh dengan
rahasia itu menyelamatkannya”Terlintas pula tandang seorang anak
muda yang mengagumkannya. Dengan tanpa ragu-ragu anak itu
menyerangnya, sehingga untuk sesaat ia t idak berdaya. “Luar biasa“
Sura berdesis “mereka akan menjadi anak- anak muda yang perkasa
kelak. Jauh lebih perkasa dari Raden Rudira” Sura yang sedang
merenung itu terperanjat ketika Raden Rudira memanggilnya dari dalam
biliknya di gandok. Dengan tergesa-gesa ia meloncat berdir i dan
berlari- lari kecil menghampirinya. Ternyata bahwa ia tidak dapat
dengan serta-merta berbuat lain dar i perbuatan seorang penj ilat.
“Suruhlah semua pengir ing bersiap. Kemudian panggillah Demang di
Sukawati. Aku akan segera berangkat mengelilingi padukuhan ini untuk
mencari orang yang telah merusak sendi tata hubungan antara
orang-orang kecil dan para bangsawan itu” Sura menganggukkan
kepalanya sambil menjawab “Baik, baik tuan” Tetapi masih ada yang
agaknya tersangkut di kerongkongannya. Namun ketika Raden Rudira
membentaknya, sambil terbungkuk-bungkuk Sura menyahutnya. “Ya, ya
tuan. Aku akan melakukan” Sikap Sura itu ternyata tidak lepas dari
sorotan mata Raden Rudira. Ia melihat suatu kelainan, meskipun
samar-samar. Kadang-kadang Sura bersikap biasa sebagai seorang abdi
yang setia. Tetapi kadang-kadang matanya memancarkan sinar yang
aneh, yang tidak dikenalnya selama ini. “Kenapa raksasa itu
benar-benar menjadi ketakutan di Sukawati dan sekitarnya ini?“
pertanyaan itulah yang selalu menyentuh hati Raden Rudira. Ia sama
sekali tidak menyangka bahwa di dalam hati Sura telah berkembang
suatu sikap yang lain, meskipun masih terlampau dalam diliputi oleh
ketebalan kabut yang selama ini membungkus isi dadanya.Sejenak
kemudian maka para pengiring itupun sudah siap. Dua orang abdi
pasanggrahan sempat juga menghidangkan minuman untuk Raden Rudira
dan para pengir ingnya. “Panggil Demang yang malas itu” berkata
Raden Rudira kemudian “matahari akan menjadi semakin tinggi, dan aku
masih saja berada disini” Tetapi sebelum Sura pergi ke Kademangan,
muncullah dua orang bebahu Kademangan di halaman pesanggrahan.
Mereka langsung menemui Raden Rudira sambil berkata “Raden, kami
berdua mendapat pesan dari Ki Demang, bahwa Raden bersama para
pengring diminta untuk datang ke Kademangan. Ki Demang ingin menjamu
makan, karena agaknya Raden bersama para pengir ing masih belum
makan sejak kemarin malam“ Sejak Raden Rudira termenung. Secercah
kegembiraan membayang di setiap wajah yang memang sudah merasa
lapar. Namun tiba-tiba Raden Rudira membentak “Kenapa Ki Demang
tidak datang kemar i sendir i?“ Kedua bebahu Kademangan Sukawati itu
mengerutkan keningnya. Sejenak mereka saling berpandangan. Salah
seorang dari merekapun kemudian menjawab “Maaf Raden. Ki Demang
sedang sibuk sekali menyiapkan jamuan bagi Raden dan para pengiring.
Ki Demang tidak dapat mempercayakannya kepada para pelayan, agar
jamuan itu tidak mengecewakan Raden” Raden Rudira mengangguk-angguk.
Sebelum ia menjawab dipandanginya setiap wajah para pengiringnya.
Agaknya merekapun mengharap undangan itu dapat diterima, karena
sebenarnyalah mereka menjadi lapar. Jika mereka berburu, maka
semalam mereka pasti sudah makan dengan daging hasil buruan mereka.
Tetapi ternyata semalam mereka terbaring dengan gelisah karena di
antara kawan-kawan mereka sendiri telah terjadi
perselisihan“Baiklah” berkata Rudira kemudian “Kami akan pergi ke
Kademangan sebentar lagi. Suruhlah Ki Demang bersiap, bahwa kita
akan segera pergi mencari petani yang telah berani melanggar tata
kesopanan terhadap para bangsawan di bulak Jati Sari. Kau dengar”
“Ya, ya Raden. Kami akah menyampaikannya kepada Ki Demang di
Sukawati” “Pergilah mendahului. Kami akan mempersiapkan segala
sesuatu yang perlu bagi kami. Kami akan langsung pergi mencari
petani itu tanpa kembali ke pasanggrahan ini lagi” “Baik Raden. Kami
akan mendahului” Raden Rudira memandang kedua bebahu yang
meninggalkan pesanggrahan itu dengan kerut-merut dikeningnya.
Sejenak kemudian, kedua orang itupun segera lenyap di balik regol,
disusul oleh derap kaki-kaki kuda yang berlari kencang. “Mereka
berkuda” berkata Raden Rudira kepada dir i sendir i. Demikianlah
maka Raden Rudira bersama pengiringnya, segera mempersiapkan dir i
masing-masing. Mereka akan segera meninggalkan pesanggrahan itu
dengan membawa semua bekal mereka, karena mereka tidak akan kembali
lagi ke pesanggrahan itu. “Sura“ Panggil Raden Rudira kemudian
“Panggil para pelayan, Beritahukan, bahwa aku akan pergi” “Baik,
baik Raden” sahut Sura. Tetapi ia masih ragu-ragu, Apakah ia harus
memberitahukan kepada para pelayan, atau sebaiknya ia minta dir i.
“Kenapa kau masih berdir i disitu?“ bentak Raden Rudira. “O“ Sura
menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Iapun kemudian pergi ke
belakang mencar i para pelayan.Tetapi pengalamannya telah membuatnya
menjadi seorang yang mempunyai pertimbangan atas tingkah lakunya.
Ketika ia bertemu para pelayan, ia sama sekali tidak sekedar member
itahukan bahwa Raden Rudira akan meninggalkan pesanggrahan, tetapi
katanya kepada pelayan itu “Ki Sanak, Raden Rudira akan minta diri.
Kami akan pergi ke Kademangan, tetapi selanjutnya kami akan langsung
meninggalkan Sukawati tanpa singgah ke pesanggrahan ini” “O“ pelayan
itu terkejut “begitu tergesa-gesa? Kami akan menyiapkan makan buat
kalian. Kami harap kalian bersabar sebentar” “Terima kasih. Ter ima
kasih sekali. Kami terpaksa sekali tidak dapat menerima kebaikan
hati Ki Sanak. Ki Demang agaknya menduga bahwa tidak ada persediaan
di pasanggrahan ini. Karena itu Ki Demang sudah menyediakan makan
buat kami. Baru saja dua orang pesuruhnya datang menjemput kami”
“Jadi?“ “Kami minta maaf” “Lalu buat apa nasi sebanyak ini?“ “Kami
sudah terlanjur menyanggupi Ki Demang di Sukawati. Aku kira nilainya
sama saja buat kami. Kami telah menerima kebaikan hati rakyat
Sukawati” Pelayan itu tampak kecewa sekali. Tetapi iapun kemudian
berdesah “Apaboleh buat” “Lain kali kami akan datang. Dan lain kali
kami akan menolak pemberian siapapun juga. Kini kami dihadapkan pada
pilihan yang sama-sama berat” Pelayan itu mengangguk-angguk.
“Sekarang, kami akan minta diri. Raden Rudira dan para pengiringnya
yang lainpun akan minta diri pula”Pelayan itu menganguk-angguk.
Dengan tergesa-gesa ia membenahi pakaiannya. Kemudian diajaknya
seorang kawannya menyertainya ke gandok sebelah kanan. Raden Rudira
hampir tidak sabar menunggu. Ketika ia melihat Sura membawa dua
orang pelayan mendekatinya, dari kejauhan Raden Rudira sudah berkata
“Kami tergesa-gesa” Kedua pelayan itupun berjalan semakin cepat.
Sambil membungkukkan kepala mereka berhenti beberapa langkah di
hadapan Rudira. Salah seorang dari mereka berkata “Kami mengucapkan
selamat jalan Raden. Sebenarnya kami sedang menyiapkan makan buat
Raden dan para pengiring” “Aku tidak sempat” jawab Raden Rudira “Aku
akan pergi ke Kademangan. Selanjutnya aku akan mencar i orang yang
telah menyakitkan hatiku itu” Pelayan itu mengerutkan keningnya.
Namun kemudian ia berkata sekali lagi “Kami mengucapkan selamat
jalan” Raden Rudira menjadi acuh tidak acuh. Bahkan ia merasa bahwa
ternyata para pelayan itu kini telah berubah sikap. Mereka terpaksa
menghormat inya sebagaimana seharusnya menghormat i seorang
bangsawan. “Aku akan pergi” “Silahkan tuan. Kami sangat berterima
kasih bahwa tuan sudi singgah ke pasanggrahan ini” “Aku singgah di
rumah pamanku, tidak di rumah kakekmu “ jawab Raden Rudira. Kedua
pelayan itu saling berpandangan. Tetapi mereka tidak mengucapkan
sepatah katapun. Dan Raden Rudira tidak menghiraukannya lagi. Ia
ingin menunjukkan bahwa ia memang seorang bangsawan yang seharusnya
dihormati. Tingkah laku para pelayan itu kemarin sangat menyakitkan
hatinya. Kini agaknya mereka menyadari,dan menempatkan diri mereka
pada keadaan yang seharusnya bagi seorang pelayan. “Bawa kudaku
kemari” tiba-tiba saja Raden Rudira berteriak. Dengan tergesa-gesa
seorang pengiring berlari- lari sambil membawa kuda Raden Rudira.
Tetapi Raden Rudira itu menjadi sangat terkejut ketika pelayan yang
disangkanya menyesali tingkah lakunya kemarin itu berkata “Tuan,
maaf. Tuan tidak dapat menaiki kuda tuan di halaman. pesanggrahan
ini” “He“ wajah Raden Rudira tiba-tiba menjadi merah padam. Ternyata
ia salah sangka. Ternyata pelayan-pelayan pesanggrahan ini masih
saja seperti kemarin. Deksura dan tidak sopan sama sekali. Namun
dengan demikian Raden Rudira justru terdiam. Hanya giginya sajalah
yang terdengar gemeretak, serta wajahnya yang semakin merah. Sura
berdiri tegak seperti patung. Kini tanggapannya atas sikap Raden
Rudira menjadi lain. Seakan-akan ia melihat seorang bangsawan yang
lain dari yang selalu diikutinya. Namun iapun kemudian menyadari,
bahwa bukan Raden Rudiralah yang berubah, tetapi tanggapannya atas
Raden Rudira itu. Kedua pelayan itupun menundukkan wajah-wajah
mereka. Mereka tidak mau memandang warna-warna merah di wajah Raden
Rudira. Namun demikian mereka sama sekali tidak menarik
keterangannya itu. Sejenak kemudian, barulah Raden Rudira dapat
berbicara “Jadi kalian masih tetap tidak menyadari kebodohan
kalian?“ Kedua pelayan itu terheran-heran. Sejenak mereka saling
berpandangan.“Tuan” berkata salah seorang dari mereka kemudian “Kami
hanyalah abdi-abdi pesanggrahan ini. Kami hanya sekedar melakukan
tugas kami. Demikianlah yang diperintahkan kepada kami. Tidak
seorangpun yang boleh naik kuda di halaman, selain Pangeran
Mangkubumi” “Tetapi aku adalah putera Pangeran Ranakusuma” “Tidak
seorangpun yang diperbolehkan, siapapun orang itu” “Gila.
Kau-bohong. Seandainya Ramanda, Pangeran ada, maka justru Ramanda
Pangeran akan menyuruh aku naik diatas punggung kuda bersama semua
pengir ingku” “Mungkin, jika itu dikehendaki oleh Pangeran
Mangkubumi sendiri. Tetapi tentu kami tidak berani melanggar
perintah yang pernah kami terima” “Aku tidak peduli. Aku tidak
percaya bahwa Ramanda Pangeran benar-benar membuat peraturan itu.
Itu hanya karena kalian ingin menunjukkan, bahwa kalian berkuasa
disini apabila Ramanda Pangeran tidak ada. Sekali-sekali abdi yang
paling rendahpun ingin menunjukkan kekuasaannya atas orang yang
lebih luhur derajadnya. Tetapi aku tidak peduli, Aku tidak mau
mendengar peraturanmu yang cengeng itu” “Maaf Raden” berkata pelayan
itu “Kami sama sekali tidak berusaha mengada-ada Apakah keuntungan
kami dengan membuat peraturan-peraturan yang berbelit-belit itu,
yang hanya akan mempersulit diri kami sendiri. Tetapi kami mohon
dengan hormat, tuan dapat mengerti” Darah Raden Rudira mendidih
sampai keubun-ubun. Tanpa disadarinya ia mengedarkan tatapan
matanya. Namun hatinya menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya, dua
orang penjaga regol depan telah menutup pintu. Keduanya kemudian
berdiri sambil memeluk tombak-tombak panjang mereka. Di sudut
halaman ia melihat seorang, juru taman berdir i bersandar dinding
Sapu lidinya telah disandarkannya pada dinding halaman. Sedang di
tempat lain dilihatnya dua orang abdipesanggrahan itu juga berdiri
sambil menyilangkan tangannya di dada. “Gila” Raden Rudira menggeram
“Aku akan menyampaikan perlakuan gila-gilaan ini kepada Ramanda
Pangeran Mangkubumi. Kalian akan diusir dari pesanggrahan ini” Tidak
seorangpun yang menjawab. Wajah kedua pelayan yang ramah itu,
tiba-tiba saja telah menjadi buram. Raden Rudirapun kemudian
melemparkan ujung kendali kudanya kepada pengiringnya yang masih
berdir i di sampingnya. Dengan tanpa berbicara separah kalapun ia
berjalan dengan tergesa-gesa melintasi halaman yang luas menuju ke
regol halaman. Hatinya menjadi semakin panas, ketika kedua penjaga
regol itu tanpa diperintahnya telah membuka pintu. Demikian Raden
Rudira melangkah di hadapan mereka, maka merekapun menundukkan
kepala mereka dalam-dalam. Tetapi Raden Rudira sama sekali tidak
berpaling. Ia berhenti sejenak menunggu kudanya. Kemudian dengan
menengadahkan dadanya ia meloncat ke punggung kudanya dan berpacu
cepat-cepat meninggalkan pesanggrahan yang telah membuat hatinya
menjadi pedih. Para pengiringnyapun kemudian berloncatan naik ke
punggung kuda masing-masing. Merekapun segera berpacumengikut i
Raden Rudira yang tanpa! berpaling menjauhi regol itu. Namun dalam
pada itu Sura masih sempat berkata kepada kedua penjaga regol itu
“Terima kasih. Selama kami berada di pesanggrahan kami mendapat
pelayanan yang menyenangkan sekali. Para penjaga regol itu tidak
menyahut. Namun keduanya tersenyumsambil mengangguk. Sura terkejut
ketika ia mendengar namanya dipanggil oleh Raden Rudira. Dengan dada
yang berdebar-debar ia mempercepat langkah kudanya menyusul Raden
Rudira yang berada di paling depan. “Kau tahu jalan ke Kademangan?
Aku tidak sempat mengingat-ingat lagi jalan yang kita tempuh
kemarin” Ketika Sura telah berada disisi Raden Rudira, maka iapun
berkata “Raden, apakah kita akan mengikuti jalan yang kemarin, atau
kita akan mengambil jalan lain yang lebih dekat?“ “Apakah ada jalan
lain?“ “Ada Raden” “Apakah jalan itu lebih baik atau justru lebih
jelek?“ “Aku sudah lama tidak melalui jalan itu. Aku tidak tahu
apakah jalan itu sekarang menjadi lebih jelek atau masih seperti
dahulu” Raden Rudira berpikir sejenak. Tetapi kemudian ia berkata
“Kita lewati jalan yang pasti. Jalan yang kemarin. Mungkin jalan
yang kau kenal itu sekarang sudah dibongkar atau sudah menjadi
pategalan” Sura menarik nafas. Tetapi agaknya itu memang lebih baik.
Jika jalan yang akan ditunjukkannya itu jalan yang lebih baik,maka
Rudira pasti akan marah dan merasa bahwa ia telah dipersulit oleh
Demang Sukawati. Demikianlah maka mereka menempuh jalan yang semalam
dilalui. Meskipun terasa sulit, tetapi di siang hari mereka dapat
memilih sisi yang baik untuk dilalui. Namun semakin dekat dengan
regol Kademangan. dada Raden Rudira menjadi semakin berdebar-debar.
Masih terngiang kata-kata Ki Demang ketika ia dipaksa turun dari
kudanya, ketika ia sampai di kuncung pendapa Kademangan Sukawati.
“Seorang Pangeranpun akan turun dari kudanya” berkata Demang
Sukawati itu. Dan Pangeran yang dikatakannya itu adalah Pangeran
Mangkubumi. “Mangkubumi, Mangkubumi“ Rudira menggeram di dalam hati
”setiap orang menyebut namanya, tingkah lakunya yang aneh dan
melanggar sendi-sendi tata pergaulan di Surakarta, hubungan antara
seorang bangsawan dan rakyat kecil, akan menggoncangkan tata
kehidupan di Surakarta” Tetapi terasa juga kengerian merayap di
hatinya. Ia merasa berada di daerah asing yang penuh dengan rahasia.
Di perjalanan ke Kademangan inipun ia menjumpai beberapa orang yang
berdiri di sebelah menyebelah jalan dengan tangan bersilang di dada.
Meskipun mereka melihat Raden Rudira lewat di hadapan mereka, maka
mereka hampir tidak member ikan penghormatan apapun juga, selain
mengangguk betapapun dalamnya. “Daerah ini harus dimusnakan” t
iba-tiba saja Raden Rudira menggeram di dalam hatinya “Surakarta
harus mengetahui apa yang telah terjadi disini. Kumpeni juga pantas
diberi tahu. Mungkin aku memer lukan bantuan mereka. Raden Rudira
menyadari angan-angannya ketika ia sudah berada di regol Kademangan.
Ia melihat Ki Demang danbeberapa orang bebahu Kademangan sudah siap
menyambutnya. “Gila” desis Raden Rudira “kadang-kadang mereka
bersikap sangat sopan. Tetapi kadang-kadang sikap mereka sangat
deksura” Namun dengan demikian, terasa bahwa rahasia yang menyaput
padukuhan ini menjadi semakin tebal. Meskipun Raden Rudira berusaha
menengadahkan kepalanya, tetapi terasa juga dadanya bergetar semakin
cepat. Ki Demang di Sukawati yang tampaknya ramah dan hormat itu,
memancarkan tatapan mata yang aneh baginya. “Silahkan tuan, kami
sudah menunggu” berkata Ki Demang Sukawati. Raden Rudira
mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya pendapa Kademangan
yang sudah terisi oleh bentangan tikar yang putih serta beberapa
jenis makanan. Rudira menarik nafas dalam-dalam. Beberapa langkah
kudanya berjalan memasuki halaman itu. Tetapi sekali lagi ia merasa
debar jantungnya menjadi semakin cepat, ketika ia melihat kuncung
pendapa Kademangan itu. Ia harus turun apabila kudanya memasuki
kuncung itu. Karena itu, Raden Rudira tidak mau pergi ke kuncung
pendapa. Tetapi ia menarik kendali kudanya ke kiri, sehingga kuda
itu melangkah ke samping dan berhenti di depan tangga disisi
pendapa. Ki Demang berdiri termangu-mangu. Tetapi iapun kemudian
menyusul Raden Rudira yang meloncat dari punggung kudanya langsung
ke tangga pendapa yang terakhir. Selangkah ia naik, maka ia sudah
berdir i di pendapa. Seorang pengiringnya segera memegang kendali
kudanya dan menuntunnya menepi, mengikatnya pada tonggak- tonggak di
sebelah gandok.Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat
kekerasan hati Putera Pangeran Ranakusuma itu. Namun ia melihat juga
bahwa sebenarnya hatinya bukanlah hati yang kuat dan tabah. Apalagi
ia sama sekali bukan seorang bangsawan yang berjiwa besar. Ia masih
memer lukan bersikap angkuh yang berlebih- lebihan untuk mengangkat
kewibawaannya yang tentu dirasakannya sendiri, masih belum setinggi
yang diharapkannya. Tetapi Ki Demang tidak mempersoalkannya lebih
lanjut. Dipersilahkannya Raden Rudira dan pengiringnya duduk
melingkari makanan yang lelah disediakan. Tetapi rasa-rasanya
makanan yang berlimpah-limpah itu tidak memberikan rangsang bagi
Raden Rudira sendiri untuk makan dengan tenang. Berbeda dengan para
pengiringnya yang menyuapi mulutnya dengan penuh gairah, maka Raden
Rudira rasa-rasanya selalu digelisahkan oleh kesamaran Kademanga
Sukawati itu. Bahkan tiba-tiba saja Raden Rudira terkejut ketika ada
seekor kuda berlari kencang di halaman. Tanpa berhenti di samping
pendapa kuda itu langsung masuk ke longkangan belakang. Begitu kuda
dan penunggangnya itu hilang di balik sudut pendapa, maka
seakan-akan suara derap kaki kuda itupun segera menghilang. Beberapa
orang pengiring Raden Rudira berhenti juga menyuapi mulut
masing-masing dan berpaling. Tetapi mereka tidak menghiraukannya
lagi, setelah kuda itu hilang dari tatapan mata mereka, karena
mereka kembali disibukkan oleh makanan di hadapan mereka. Tetapi
Raden Rudira yang memang selalu dibayangi oleh kecurigaan itu
menjadi semakin cur iga, meskipun ia tidak berbuat apapun juga Namun
belum lagi hatinya menjadi tenang, sekali lagi seekor kuda dengan
penunggangnya berlar i memasukihalaman itu, dan seperti yang
terdahulu, kuda itupun seakan- akan lenyap di balik sudut pendapa.
Raden Rudira tidak dapat menahan kecurigaannya lagi. Dengan
ragu-ragu ia bertanya kepada Ki Demang “Siapakah mereka?“ “O“ Ki
Demang tersenyum “Mereka adalah keluargaku, tuan“ “Keluargamu?
Maksudmu, apakah mereka bebahu Kademangan atau sanak kadangmu?“
“Yang terdahulu adalah anakku laki-laki” berkata Ki Demang “Anakmu?
Kenapa ia berkuda terus sampai ke longkangan?” “Itu sudah menjadi
kebiasaannya tuan” “Yang kedua?“ “Adik iparku” “Juga kebiasaannya
berkuda sampai ke longkangan?“ “Ya. Umur keduanya hampir sebaya.
Kemanakan dan paman itu memang anak-anak bengal. Mungkin mereka
tidak menyadari bahwa tuanlah yang berada di pendapa” “Tetapi ia
tidak sopan sama sekali, jika ada tamu di pendapa, seharusnya ia
tidak berbuat begitu. Apalagi tamu seorang bangsawan. Lihat, debu
itu menghambur kemari. Terlebih- lebih lagi kau menyuguh makanan
bagi kami” “Maaf tuan. Aku akan member i tahukan kepadanya kelak”
“Tetapi hal itu sudah terjadi” Raden Rudira mengangguk-angguk.
Tetapi kecur igaannya masih saja membayang di wajahnya. Apalagi
ketika Ki Demang kemudian berkata “Mereka adalah pengiring-pengiring
Pangeran Mangkubumi apabila Pangeran itu berada di pesanggrahan dan
berkenan untuk pergi berburu” “Pengiring Ramanda Pangeran
Mangkubumi? Bohong. Pengiring Ramanda Pangeran pasti
pengawal-pengawal Kapangeranan yang tingkatnya hampir serupa dengan
prajurit-prajurit Kerajaan” “ Memang” sahut Ki Demang “Tetapi di
pesanggrahan Pangeran Mangkubumi senang sekali bergaul dengan
anak-anak muda. Mereka banyak mendapat kesempatan. Dua di antara
mereka adalah anak dan iparku itu. Mereka adalah pemburu-pemburu
yang baik di hutan-hutan perburuan di daerah Sukawati. Pangeran
Mangkubumi memang membiarkan beberapa bagian hutan menjadi lebat.
Berburu di hutan rindang tidak lagi menyenangkan baginya dan bagi
anak-anak Sukawati itu” Wajah Raden Rudira menjadi tegang. Namun
kemudian ia bertanya “Jadi ada juga abdi Ramanda Pangeran yang
khusus mengikut inya berburu?“ “Bukan abdi, tetapi kawan berburu”
“He?“ Raden Rudira membelalakkan matanya “Kau katakan anak dan
iparmu itu kawan berburu bagi Ramanda Pangeran Mangkubumi?“ “Ya
tuan” “Apakah kau sudah mabuk pangkat hanya karena kau menjadi
seorang Demang di Sukawati?“ Raden Rudira membelalakkan matanya “Aku
tidak senang kau menyebut anak dan iparmu itu sebagai pengiring
Ramanda Pangeran. Yang pantas mereka adalah hamba-hambanya. Sekarang
justru kau menyebutnya sebagai kawan” Ki Demang menjadi
terheran-heran. Sejenak ia memandang Raden Rudira. Kemudian para
bebahu di Sukawati. Dengan ragu-ragu menjawab “Maaf tuan. Tetapi
demikianlah Pangeran Mangkubumi menyebutnya. Mereka adalah
kawan-kawanberburu. Tentu aku tidak akan berani menyebutnya
demikian, jika Pangeran Mangkubumi sendiri tidak mengatakan
demikian” “Bohong, bohong” Raden Rudira hampir berteriak. Tetapi
iapun kemudian berusaha menahan hatinya. Namun dengan demikian
dadanya menjadi semakin sesak. Para pengiring dan pengawal yang
sedang sibuk menelan makanan, terpaksa berhenti juga sejenak.
Dipandanginya wajah Raden Rudira yang merah. Tetapi ada pula di
antaranya yang tidak menghiraukannya lagi selagi makanan
dihadapannya masih tersisa. Namun demikian, mereka terpaksa menelan
dengan susah payah ketika tiba-tiba saja Raden Rudira berkata “Kita
pergi sekarang. Antarkan kami mencari petani yang telah berani
melawan aku dan para bangsawan itu. Ki Demang terkejut. Dengan
ragu-ragu ia bertanya “Tetapi silahkan menyelesaikan dahulu tuan.
Juga para pengiring sedang makan” “Cukup. Sudah cukup” Beberapa
orang dengan tergesa-gesa menyuapkan makanan yang tersisa, sehingga
kadang-kadang mereka terpaksa menarik leher yang serasa sesak,
disusul oleh beberapa teguk air hangat untuk mendorong makanan itu
turun ke dalamperut. Agaknya Raden Rudira tidak sabar lagi menunggu.
lapun segera berdiri dan berjalan turun dari pendapa. “Ambil kudaku”
teriaknya. Para pengiringnyapun kemudian dengan tergesa-gesa
berdiri. Ada juga satu dua orang yang sempat memasukkan beberapa
bungkus makanan ke dalam kantong-kantong baju mereka. Nagasari dan
hawug-hawug. Ada juga yang tidak sempat lagi mengunyah makanan yang
sudah ada di dalammulutnya, sehingga hampir saja makanan itu
menyumbat lehernya, jika ia tidak segera menelan beberapa teguk
minuman. “Tunggu sebentar tuan” berkata Ki Demang “Aku akan
menyiapkan kudaku” “Kau berjalan kaki” bentak Raden Rudira. Namun
kemudian ia menyadari bahwa dengan demikian akan menelan waktu
terlampau lama, sehingga katanya kemudia “Cepat, ambil kudamu” Ki
Demang menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun segera
berlari-lari ke belakang menyiapkan kudanya bersama beberapa orang
bebahu yang lain, yang akan memakai kuda- kuda dari Kademangan itu
pula. Ki Demang hanya memer luka waktu sedikit, karena kudanya
memang sudah siap. Kuda itu adalah kuda yang baru saja berlari
memasuki halaman Kademangan itu. Demikianlah maka Raden Rudira
diantar oleh Ki Demang di Sukawati meninggalkan Kademangan. Dengan
nada yang datar Rudira berkata “Kita kelilingi padukuhan induk ini
sebelum kita pergi ke setiap padukuhan yang lain” “Tetapi tuan”
berkata Ki Demang “Jika Raden ingin bertemu dengan para petani di
saat-saat begini, pada umumnya mereka berada di sawah atau di
sungai?” Raden Rudira mengerutkan keningnya. Sambil
mengangguk-angguk ia berkata ”Ya, pada umumnya mereka berada di
sawah. Tetapi kenapa ada juga yang di sungai?“ “Mereka yang telah
selesai dengan kerja di sawah, ada juga yang pergi menjala ikan di
sepanjang sungai tuan. Sekedar untuk tambah membeli garam“ “Apakah
banyak petani-petani yang pergi menjala okan di sungai
itu?““Beberapa. Ada lima atau enam orang dari padukuhan ini. Tetapi
ada padukuhan yang hampir semua laki- laki dewasa pergi mencari ikan
di saat-saat tidak ada kerja di sawah. Di saat-saat mereka tinggal
menunggu padi yang sudah mulai menguning“ “Persetan” geram Raden
Rudira “bawa aku ke sawah” Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Diiringi oleh Ki Demang, maka Raden Rudira bersama pengawal-
pengawalnya melintas keluar dari padukuhan dan menuju ke bulak yang
luas di sebelah padukuhan itu. Tetapi sawah yang terbentang di
hadapannya terlalu luas. Hampir sampai kebatas penglihatan. Di
cakrawala barulah tampak sebuah padukuhan yang lain, padukuhan
kecil. Di sebelah yang lain ada juga padukuhan kecil serupa, Tetapi
jarak itu tidak terlalu dekat. “Untunglah Demang itu berkuda”
berkata Rudira di dalam hatinya” Kalau tidak, maka sehari penuh aku
tidak akan dapat mengelilingi bulak yang satu ini” Demikianlah maka
kuda itupun segera berpacu. Dilihatnya beberapa, orang laki-laki
yang sedang bekerja di sawah. Ketika mereka mendengar derap kaki
kuda, merekapun mengangkat kepala mereka. Tetapi kepala itupun
segera tertunduk kembali menekuni kerja yang belum selesai. “Gila”
berkata Raden Rudira di dalam hati “Kenapa rakyat Sukawati ini acuh
tidak acuh terhadap seorang yang asing?“ Tetapi ia tidak
mengucapkannya. Yang dikatakannya adalah “Sura, jangan lengah. Lihat
setiap orang. Kalau kau melihat orang yang kita cari, kau harus
mengatakan kepadaku” Sura mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak
segera menjawab. “Sura, apakah kau sudah tuli atau bisu?““Ya, ya
Raden?” Sura menjawab terbata-bata. Namun ketegangan melonjak ketika
di antara para pengawal terdengar suara tertawa pendek. Ketika semua
orang berpaling, dilihatnya Mandra menutup mulutnya dengan telapak
tangannya. “Kenapa kau tertawa?“ bertanya Raden Rudira. “Apakah
pengecut itu berani menunjuk orang yang Raden cari? Sayang, aku
tidak melihatnya sebelumnya. Kalau aku pernah melihat, maka pasti
aku akan segera menemukannya” Sura yang mendengar jawaban itu
menjadi merah padam. Tetapi ia tidak sempat menjawab, karena Raden
Rudira berkata “Ia masih harus membuktikan bahwa ia masih Sura yang
dahulu” Sura sama sekali tidak menyahut. Telapi hatinya menjadi
semakin sakit ketika ia mendengar Mandra itu tertawa tertahan-tahan.
Meskipun demikian ia masih lelap berdiam diri sambil menahan hati.
Demikianlah irin- iringan itu melintasi bulak yang panjang di
tengah-tengah sawah yang sedang digarap. Beberapa orang laki- laki
sibuk membajak tanah yang digenangi air. Yang lain mengatur
pematang, sedang yang lain lagi mulai menyebarkan rabuk kandang.
Tetapi di antara mereka tidak terlihat petani yang sedang mereka
cari. “Dimana orang itu he?“ tiba-tiba Rudira yang mulai jengkel
berteriak. Tetapi tidak ada seorangpun yang menjawab” Dimana Ki
Demang? Dimana orang itu?” Ki Demang menjadi bingung sejenak. Namun
kemudian ia menjawab “Kami tidak mengetahui orang yang Radenmaksud,
sehingga kami tidak akan dapat membantu menunjukkan dimana ia
berada” “Orangnya bertubuh tinggi, kekar. Bermata setajam mata
burung hantu. Ayo, tunjukkan orang yang berciri serupa itu” Ki
Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak pernah melihat
orang itu. Mungkin orang itu sengaja ingin menjelekkan nama Sukawati
sehingga ia mengaku orang Sukawati” “Tentu tidak. Hampir semua orang
Sukawati mempunyai sikap serupa dengan orang itu. Deksura dan tidak
tahu adat” “Apakah begitu?“ “Ya” “Jika begitu, akan semakin sulit
lagi untuk menemukannya Seorang di antara sekian banyak orang yang
mempunyai ciri hampir sama” “Bodoh sekali” teriak Raden Rudira “Aku
akan dapat mengenalinya jika aku menemukannya” “Dan ternyata tuan
masih belum menemukannya sekarang” sahut Ki Demang “Tetapi Sukawati
adalah daerah yang luas. Mungkin kita tidak dapat menemukan di bulak
ini, tetapi kita akan dapat menjumpainya di bulak yang lain. Atau
mungkin pula orang itu sedang berada di sungai, atau seperti yang
tuan katakan, ia seorang petualang yang sedang bertualang. Sehingga
dengan demikian, maka kita tidak akan dapat menjumpainya disini”
“Kita harus menemukannya, harus” Ki Demang t idak menyahut lagi.
Ditebarkannya saja tatapan matanya ke bulak di sekitarnya. Para
petani masih juga sibuk dengan kerja mereka, seakan-akan tidak acuh
sama sekali akan iring- iringan di jalan yang membelah tanah
persawahan itu.Kuda-kuda itupun berderap semakin cepat. Ketika
mereka sampai ke ujung bulak dan tidak menemukan orang yang
dicarinya, merekapun berbelok lewat jalan sempit mengitari bulak
itu. Tetapi sampai pada satu lingkaran penuh, mereka masih belum
menemukannya. “Kita terus ke bulak di sebelah lain” berkata Rudira
“Aku tidak akan kembali ke Ranakusuman tanpa membawa orang itu”
”Silahkanlah” berkata Ki Demang “Aku akan mengantarkan tuan sampai
orang itu kita ketemukan” Kuda-kuda itupun berpacu terus. Setiap
orang tidak luput dari pengawasan Raden Rudira dan pengiringnya.
Namun sama sekali tidak ada orang yang mirip dengan orang yang
mereka cari. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Raden Rudira, mereka
tidak berhenti. Mereka berkeliling dari satu bulak ke bulak yang
lain di seluruh Kademangan Sukawati. Sampai lewat tengah hari mereka
sudah menempuh hampir semua daerah persawahan tidak saja di seputar
padukuhan induk, tetapi juga di Padukuhan-padukuhan kecil lainnya.
“Gila” geram Raden Rudira “Kau suruh orang itu bersembunyi?“ ”Tentu
tidak Raden“Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Terasa juga
tubuhnya menjadi lelah. Karena itu, maka iapun berhenti sejenak di
sudut padukuhan induk. “Tuan” berkata Ki Demang “Kami ingin
mempersilahkan tuan dan para pengiring untuk ber istirahat sejenak
di Kademangan. Nanti aku akan mengantar Raden meneruskan pencaharian
ini. Bukan saja ke bulak-bulak. tetapi aku akan mencarinya dari
pintu ke pintu” “Tidak. Aku tidak akan beristirahat dimanapun. Aku
akan mencari terus” Namun demikian terasa nafas Raden Rudira
mengalir semakin cepat. Panas matahari yang mulai condong ke Barat,
rasa-rasanya bagaikan membakar kulit, sehingga dengan demikian, maka
hati Raden Rudirapun rasa-rasanya telah ikut terbakar pula. Tetapi
yang dicar inya belum juga dapat diketemukan. Sementara itu para
pengiringnyapun telah menjadi lelah dan haus, bahkan jemu. Mereka
hampir tidak mengharap akan menemukan orang yang dicarinya. Seorang
di antara sekian banyak orang-orang Sukawati. Bahkan mungkin orang
itu sama sekali bukan orang Sukawati. Untuk menghilangkan jejak,
dapat saja ia menyebut dirinya orang Sukawati. Namun demikian,
seperti yang dikatakan oleh Rudira, ada juga ciri-cir i yang sama
pada orang-orang Sukawati itu. Mereka bersikap acuh tidak acuh
terhadap bangsawan. Dan hal itu agaknya terbawa oleh sikap Pangeran
Mangkubumi yang rendah hati, sehingga bagi orang Sukawati, bangsawan
bukannya manusia yang melampaui manusia yang lain. Demikianlah,
setelah mereka beristirahat sejenak, terasa tubuh mereka dan
kuda-kuda mereka menjadi segar. Karena itu maka Raden Rudira yang
sudah siap melanjutkan perjalanan bersama pengiringnya berkata “Kita
teruskan. Kita jelajahi seluruh Kademangan ini”“Tetapi tuan” berkata
Ki Demang “Aku sudah, lelah sekali. Mungkin aku sudah terlalu tua
untuk berkuda sepanjang hari” “Pemalas. Aku tahu. kau hanya malas
atau barangkali dengan demikian kau menghindari tanggung jawabmu
atas orang-orang diwilayahmu“ “Tidak tuan. Aku sama sekali tidak
ingin menghindari tanggung jawab. Tetapi ternyata nafasku memang
hampir putus. Panas matahari rasa-rasanya hampir memecahkan kepala”
“Persetan” geram Raden Rudira “Aku akan berangkat” Ki Demang menar
ik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Apakah aku diperkenankan
menunggu disini? Jika tuan memer lukan aku, salah seorang dar i
pengiring tuan aku persilahkan memanggil aku disini” “Tidak, kau
harus ikut” Tetapi Demang itu menggeleng “Maaf tuan. Jika tuan sudi
beristirahat sampai nanti senja, aku akan mengantar tuan. Berapa
haripun asal aku mendapat kesempatan beristirahat. Aku sekarang
tidak kuat lagi” “Aku tidak peduli. Kau harus pergi bersama kami.
Kau kami perlukan di daerah ini” “Maaf tuan. Aku akan pingsan di
bulak itu” Raden Rudira menjadi marab sekali. Namun tiba-tiba saja
Sura yang tidak pernah berselisih pendapat dengan tuannya, karena
selama ini ia hanya sekedar mengiakan, tiba-tiba berkata “Raden, Ki
Demang memang sudah terlalu tua. Bagaimana kalau seperti yang
dikatakannya, biarlah ia menunggu disini. Kita akan mencarinya di
seluruh Kademangan atas ijin Ki Demang” Raden Rudira justru
terbungkam sesaat. Ia tidak menduga sama sekali bahwa Sura berani
menyatakan pendapat yangberbeda dengan pendapatnya sendiri. Namun
karena itu ia justru hanya dapat membelalakkan matanya tanpa
mengucapkan kata-kata. Yang menyahut kemudian adalah pengawal Rudira
yang bertubuh besar itu “Sura, kau adalah seorang hamba. Kau hanya
dapat melakukan perintahnya. Tidak menentang dan tidak mengguruinya”
Tetapi sesuatu telah berkembang di hati Sura, sehingga ia menyahut
“Aku adalah seorang hamba yang tidak ingin melihat tuanku berbuat
kesalahan” “Kau berani menyalahkan Raden Rudira?“ teriak Mandra.
“Aku tidak menyalahkannya sekarang, karena Raden Rudira belum
berbuat kesalahan. Tetapi aku mencoba mencegah agar ia tidak berbuat
kesalahan itu” Sura berhenti sejenak, lalu “selama ini aku adalah
seorang hamba yang jelek. Yang tidak pernah mencoba mencegah suatu
kesalahan. Aku selalu mengiakan dan membenarkan semua yang
diputuskan oleh momonganku. Tetapi ternyata itu tidak benar. Jika
aku ingin menjadi hamba yang baik, aku harus mengatakan yang benar
menurut pendapatku, bukan selalu membenarkan sikap tuanku” “Kau
mengigau. Aku tidak mengerti yang kau maksudkan. Tetapi, aku adalah
hamba yang setia, yang tidak senang melihat kau mulai berkhianat”
“Pikiran itulah yang menyesatkan kita dan justru tuan kita.
Kesetiaan yang mati telah menjerumuskan kita bersama-sama, bersama
Raden Rudira sendiri ke dalam suatu sikap yang salah“ “Diam, diam
kau Sura “ t iba-tiba Raden Rudira berteriak. Sura menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian diam meskipun tidak menundukkan
kepalanya seperti biasanya.Perubahan sikap itu semakin terasa pada
Raden Rudira. Sura yang sekarang, memang lain dati Sura yang dahulu
tidak pernah bertanya apapun yamg diperintahkannya. “Ki Demang”
berkata Rudira kemudian “Aku tidak peduli tentang keadaanmu. Kau
harus mengikuti kami mencari orang itu sampai kita dapat
menemukannya” Tetapi Ki Demang menggeleng sambil berkata “Maaf tuan.
Aku mohon Raden dapat menundanya sampai senja nanti, setelah aku
beristirahat sebentar. Aku sudah terlalu lelah” “Tidak” Raden Rudira
membentak. Tetapi Ki Demangpun tetap menggeleng juga “Tidak. Aku
tidak akan dapat meneruskan perjalanan. Aku dapat menjadi pingsan”
“Aku tidak peduli. Matipun aku tidak peduli. Biarlah orang- orang
Sukawati menguburmu” “Maaf tuan, aku tidak dapat” “Jangan banyak
mulut” tiba-tiba Mandra membentak “ berangkat, atau kau akan
menyesal” Ki Demang memandang pengawal Raden Rudira yang bertubuh
raksasa itu. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata “Ki Sanak, aku
sudah tua. Kalau aku masih semuda dan segagah Ki Sanak, aku tidak
akan ingkar. Tetapi maaf, dalam keadaanku serupa ini, aku tidak
dapat memaksa diri berjalan terus. Kudakupun sudah lelah karena kuda
ini bukan kuda sebaik kuda Ki Sanak” “Aku tidak peduli. Raden
Rudirapun tidak peduli. Ayo pergi” Ki Demang masih tetap
menggelengkan kepalanya. Katanya “Ki Sanak jangan memaksa aku. Aku
bukan bawahan Ki Sanak dan bukan bawahan Raden Rudira. Aku adalah
abdi tanah kelenggahan Pangeran Mangkubumi. Hanya Pangeran
Mangkubumi atau para hambanya yang dipercaya sajalahyang dapat
memerintah aku. Kau tidak, siapapun tidak. Jika Ki Sanak mencoba
memaksa kami, itu berarti Ki Sanak telah melanggar hak Pangeran
Mangkubumi” Mandra menjadi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya
Raden Rudira yang agaknya sedang dilanda oleh kebimbangan. Namun
tiba-tiba saja Raden Rudira berteriak “Aku akan mengatakannya kepada
Ramanda Pangeran Mangkubumi. Akulah yang bertanggung jawab” Mandra
mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian sambil mendekati Ki Demang
ia berkata “Jangan membantah lagi” Ki Demang mengerutkan keningnya.
Namun dalam pada itu Surapun bergeser setapak sambil berkata
“Mandra, jangan berbuat apapun yang dapat membuai Pangeran
Mangkubumi murka. Kau akan tahu akibatnya” “Sura“ Raden Rudira
berteriak “Ia berbuat atas namaku” Sura mengerutkan keningnya. Ia
masih mencoba mencegah “Tetapi tuan, kekerasan sama sekali tidak
bijaksana di dalam masalah ini” “Ia tidak akan mempergunakan
kekerasan” berkata Raden Rudira “Tetapi Mandra akan menawarkan
kudanya. Mungkin dengan demikian Ki Demang tidak akan berkeberatan
untuk berjalan terus” “Bukan saja kudaku, tetapi terutama adalah
badanku sendiri “ Ki Demang menyahut. Raden Rudira benar-benar
menjadi marah. Seorang Demang di Sukawati telah berani menentang
kehendaknya, seperti petani di Sukawati itu. Ternyata kekecewaan,
kemarahan, bahkan hinaan telah dialaminya berturut-turut selamai ia
berada di Sukawati.“Orang-orang Sukawati memang gila“ Ia menggeram
di dalam hatinya. Namun tiba-tiba ia menggeretakkan giginya sambil
berkata kepada dir i sendir i “Jika Demang itu kelak menuntut lewat
Ramanda Pangeran Mangkubumi, biarlah ia berurusan dengan ayahanda.
Tentu ayahanda Ranakusuma memiliki kekuasaan lebih besar dari
Ramanda Pangeran Mangkubumi karena ayahanda Ranakusuma adalah
saudara tua dan ayahanda pasti lebih dekat pada Kangjeng Susuhunan
dari pada Ramanda Pangeran Mangkubumi. Apalagi ibunda mempunyai
sahabat-sahabat orang asing yang mempunyai kelengkapan jauh lebih
baik dari orang-orang Surakarta yang manapun juga” Oleh pikiran itu,
serta luapan perasaan yang bertimbun- timbun maka Raden Rudirapun
menjadi semakin berani. Dengan wajah yang tegang ia berkata “Kau
tidak mempunyai pilihan lain Ki Demang” “Aku dapat menentukan
sikapku sendiri Raden. Hanya Pangeran Mangkubumilah yang dapat
memaksa aku. Orang lain yang manapun tidak. Aku sudah berbuat
sebaik-baiknya menyambut kedatangan Raden Rudira di Sukawati. Bahkan
aku sudah membiarkan Raden bermalam di pesanggrahan Pangeran
Mangkubumi. Tetapi ternyata Raden adalah orang yang tidak mengenal
terima kasih. Kini Raden masih memaksa aku untuk melakukan pekerjaan
di luar kemampuan tenagaku” “Diam, diam” teriak Raden Rudira
“apaklah kau tidak dapat menutup mulutmu” “Maaf Raden, aku hanya
sekedar memberikan penjelasan” “Bungkam mulutmu” teriak Raden
Rudira. Biasanya Sura tidak perlu mendapat perintah untuk kedua
kalinya. Tetapi kini Sura masih berada di tempatnya. Ia masih duduk
tanpa bergerak diatas punggung kudanya. Namun ada juga orang yang
mulai bergerak maju. Mandra.Dengan wajah yang tegang Sura
mengawasinya. Tanpa sesadarnya iapun bergerak. Tetapi perintah Raden
Rudira masih belum dapat diatasinya ketika perintah itu terasa
mencengkamdadanya “Kau tetap di tempatmu Sura. Ternyata kau tidak
aku perlukan lagi“ Sura masih belum mampu menembus batas yang
digoreskan oleh Raden Rudira itu. Karena itu, bagaimanapun juga ia
tidak dapat melanggarnya. Dalam pada itu Mandra yamg mengambil alih
tugas Sura, maju semakin dekat. Namun ternyata ia tidak mau berbuat
sesuatu selagi ia masih berada di punggung kuda. Karena itu, maka
iapun segera meloncat turun sambil berkata “Ki Demang, kau tidak
mempunyai pilihan lain. Mengantarkan kami, atau kau menjadi seorang
tawanan yang akhirnya harus menyertai kami juga mengelilingi
Kademanganmu ini, karena kami berkeputusan untuk memaksamu ikut
serta” Tetapi ternyata. Ki Demang dengan tenang menjawab “Tidak ada
orang yang dapat memaksa aku Ki Sanak” “Aku akan memaksamu. Turunlah
dari kudamu, supaya jika kudamu lari kau tidak terseret olehnya dan
mengalami luka- luka parah karena kulitmu terkelupas. Aku hanya
ingin membuat kau jera untuk berkeras kepala” Ki Demang tidak
menyahut. Tetapi dari matanya yang semula redup itupun ternyata
memancar sorot kemarahan yang memuncak. “Apakah kau akan memaksa aku
dengan kekerasan?“ bertanya Ki Demang. “Apaboleh buat” sahut Mandra.
Ki Demang tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
“Baiklah. Jika demikian kami terpaksa membela diri”“He“ Mandra
terkejut mendengar jawaban itu. Ia tidak menyangka bahwa Ki Demang
berani menjawab demikian. Menilik tubuhnya yang kecil dan seperti
yang dikatakannya sendiri, nafasnya sudah mulai terengah-engah,
masih juga ia berani mengatakan untuk membela dir i. Mandra menjadi
semakin heran ketika ia melihat Ki Demang melambaikan tangannya
kepada seorang bebahu yang mengikut inya. Seorang pendiam yang
bertubuh sedang, berkulit hitamdan berkumis t ipis dialas bibirnya
yang tebal. “Cegah orang itu“ perintah Ki Demang pendek. Perintah
itupun ternyata telah menggetarkan setiap dada. Meskipun perintah
itu hanya pendek, tetapi seakan-akan mempunyai kekuatan perbawa yang
luar biasa. Bukan saja atas orang yang mendapat perintah, tetapi
juga atas orang- orang yang mendengarnya. Orang yang bertubuh sedang
dan berkulit hitam itupun kemudian meloncat turun pula dari kudanya.
Setelah menyerahkan kendali kudanya kepada kawannya, iapun kemudian
berjalan dengan tenangnya dan berdiri tegak di muka Ki Demang
menghadap kearah Mandra. “Kau berani melawan orangku?“ bertanya
Raden Rudira dengan marahnya. “Maaf tuan. Seperti tuan juga berani
melawan orang-orang Pangeran Mangkubumi” “Persetan, aku adalah
Putera Pangeran Ranakusuma yang lebih tua dan lebih berkuasa dari
Ramanda Pangeran Mangkubumi” “Terserahlah kepada tuan. Tetapi aku
tidak mau dipaksa oleh siapapun” “Mandra, jangan menunggu lagi.
Sebentar lagi hari akan benar-benar menjadi senja”“Baik Raden” jawab
Mandra yang kemudian siap menghadapi orang berkulit hitam itu.
Ternyata orang berkulit hitam dan berkumis jarang itu sama sekali
tidak berkata apapun. Ia berdiri saja dengan penuh kewaspadaan
menghadapi segala kemungkinan. Mandra yang berusaha untuk mendapat
kepercayaan dan kedudukan yang baik menggantikan Sura yang mulai
goyah itu. segera melangkah mendekat. Semakin dekat ia pada orang
berkulit hitam itu, maka orang itupun menjadi semakin siaga dan
merendah diatas lututnya. Tiba-tiba saja Mandra itupun langsung
menyerangnya. Ia menganggap orang-orang Sukawati bukan orang-orang
kuat yang pantas diperhitungkan. Namun ternyata, bahwa serangannya
yang pertama itu gagal, bahkan orang berkulit hitam itu ternyata
dengan lincahnya telah berhasil memukul pundaknya dengan sisi
telapak tangannya. “Uh, Gila“ Mandra menyeringai sambil meloncat
mundur. Kini ia terbangun dar i lamunannya. Ternyata lawannya
bukannya seorang pedesaan yang tidak mampu berbuat apa- apa. Karena
itu, maka iapun kini harus mempergunakan segenap kekuatan dan
kemampuannya. Ia harus berhasil menundukkan orang itu di dalam waktu
yang paling pendek, supaya tampak oleh Raden Rudira, bahwa ia memang
seorang yang pilih tanding. Dengan demikian, maka Mandrapun
mengulangi serangannya. Kini menjadi semakin dahsyat. Namun lawannya
yang bertubuh lebih kecil daripadanya itupun telah siap pula
menghadapi serangannya. Dengan tangkasnya ia menghindar, dan dengan
tangkasnya pula ia menyerang kembali. Tetapi Mandra berhasil
menangkis serangan itu dengan sikunya, meskipun ia terdorong
beberapa langkah surut.Dengan demikian, maka Mandra dapat menilai
kekuatan lawannya. Ternyata ia tidak menyangka bahwa lawannya yang
lebih kecil daripadanya, dan pendiam pula, seolah-olah tidak
bertenaga sama sekali itu mempunyai kekuatan yang dapat mendorongnya
surut meskipun ia tidak berada dalam sikap perlawanan sepenuhnya.
Sejenak kemudian keduanyapun terlibat dalam, perkelahian yang
sengit. Perkelahian yang sama sekali tidak diduga-duga, baik oleh
Mandra, maupun oleh Sura dan kawan-kawannya. Bahkan Raden Rudira
menjadi terheran-heran melihat kemampuan orang Sukawati itu. Mandra
adalah salah seorang pengawal terpilih dari Ranakusuman. Ia memiliki
tenaga raksasa sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar itu. Namun
menghadapi seorang yang bertubuh, sedang dan pendiam itu, Mandra
tidak banyak mendapat kesempatan. Di dalam benturan-benturan
kekuatan yang terjadi, Mandra memang memiliki kelebihan tenaga.
Tetapi orang yang hitam itu memiliki kelebihan yang lain. Ia mampu
bergerak secepat tatit, sesigap sikatan menyambar bilalang. Itulah
yang kadang-kadang membuat Mandra menjadi bingung. Selagi ia
bergulat mengerahkan kekuatannya untuk melumpuhkan lawannya itu,
tiba-tiba saja lawannya itu seakan-akan telah hilang. Sebelum ia
sadar, maka ia sudah dihadapkan pada serangan yang bagaikan kilat
menyambar di langit. Demikianlah maka akhirnya Mandra menjadi
semakin bingung Setiap kali ia kehilangan lawannya. Dan setiap kali
serangan lawannya, meskipun tidak dengan tenaga sekuat tenaganya,
telah berhasil mengenainya. Betapapun besar daya tahan tubuhnya,
namun lambat laun, serangan-serangan itu telah menyakitinya. Raden
Rudira yang melihat perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Sura
yang masih duduk diatas punggung kudanya rasa-rasanyi bagaikan
membeku. Mandra tidak akandapat mengalahkan orang berkulit hitam
itu. Dan seandainya ia sendiri yang turun ke arena, itupun pasti
tidak akan berhasil mengalahkannya. Ki Demang Sukawati duduk dengan
tenangnya, diatas punggung kuda. Ia menonton perkelahian itu seperti
menonton adu ayam. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya. Kemudian
mengangguk-angguk. “Pantas ia menjadi keras kepala“ Raden Rudira
mengumpat di dalam hati “Agaknya ia mempunyai seorang pelindung yang
baik. Tetapi aku tidak mau kepalang tanggung. Keadaan sudah
terlanjur memburuk. Aku tidak perduli lagi apakah Ramanda Pangeran
akan marah kepadaku. Aku akan mendapat perlindungan dar i ayahanda
Pangeran Ranakusuma dan ibu akan mendapatkan bantuan kumpeni.
Sukawati memang harus diper ingatkan, karena Sukawati telah merusak
sendi-sendi adat pergaulan rakyat Surakarta” Karena itu, ketika
Mandra semakin lama justru menjadi semakin terdesak, Raden Rudira
sudah tidak dapat berpikir bening. Ia tidak ingat lagi dimana ia
berada dan akibat-akibat yang dapat timbul karenanya. Sementara itu
Mandra memang menjadi semakin sulit. Serangan lawannya yang berkulit
hitam dan berkumis jarang itu menjadi semakin lama justru semakin
cepat. Betapapun kuatnya daya tahan tubuhnya, namun lambat laun
Mandra menjadi semakin lemah juga. Serangan-serangan yang cepat
kadang-kadang membuatnya bingung dan tanpa dapat berbuat sesuatu, ia
harus menerima serangan-serangan dari arah yang tidak diketahuinya.
“Persetan“ Raden Rudira menggeram, lalu katanya di dalam hati “Aku
tidak peduli. Demang ini harus ditangkap dan dibawa ke kota. Ia
harus diadili karena ia berani menentang aku”Dengan demikian Raden
Rudira telah mengambil keputusan, bahwa orang-orangnya harus turun
tangan tanpa mempedulikan apapun. Demang itu harus ditangkap. Harus.
Dengan wajah yang tegang Rudira berpaling kepada orang- orangnya
yang menjadi tegang pula. Namun ia menjadi heran, bahwa
orang-orangnya sama sekali tidak memperhatikan arena perkelahian
yang semakin berat bagi Mandra. Mereka melihat ke kejauhan dengan
sorot matanya yang aneh. Tanpa disadarinya Raden Rudirapun memandang
kekejauhan pula, kearah tatapan mata para pengiringnya. Tiba-tiba
saja jantungnya serasa berdentangan semakin keras. Dilihatnya
beberapa orang laki-laki berdiri berjajar di pinggir desa di
seberang parit. Dengan wajah yang seakan- akan beku mereka berdiri
dengan tangan bersilang di dada memperhatikan orang yang berkulit
hitam, yang sedang berkelahi melawan Mandra. Tetapi ternyata bukan
hanya di seberang par it, tetapi juga di dalam pagar batu tampak
tundung kepala berjajar-jajar. Di bawah tudung kepala itu tampak
wajah-wajah yang membeku. “Gila“ Raden Rudira mengumpat di dalam
hatinya “ini sudah suatu pemberontakan” Namun demikian wajahnya yang
merah semakin lama menjadi semakin pucat. Kalau seorang di antara
mereka berhasil mengalahkan Mandra, apa yang dapat dilakukan oleh
orang-orang yang berdiri di seberang parit dan di balik pagar batu
itu.Ki Demang agaknya mengerti persoalan yang bergejolak di dalam
hati Raden Rudira. Karena itu sambil tersenyum ia berkata “Mereka
adalah petani-petani yang berpikir sederhana tuan. Mereka melihat
aku, Demang di Sukawati yang mereka anggap sebagai pemomong mereka
mendapat kesulitan, maka merekapun datang berkerumun. Mereka adalah
petani-petani yang kita lihat bekerja di sawah dan ladang. Dan kita
tidak dapat menemukan petani yang justru tuan cari” Rudira tidak
menyahut. Tetapi dadanya berdesir ketika ia melihat Mandra terlempar
beberapa langkah surut, ketika kaki orang berkulit hitam itu
terjulur ke dadanya. Sejenak Mandra mencoba bertahan, namun ternyata
bahwa keseimbangannya sudah tidak dapat dikuasainya lagi, sehingga
akhirnya iapun terjatuh di tanah. Meskipun demikian, dengan susah
payah ia mencoba bangun. Dikerahkan segala sisa tenaganya yang ada.
Tetapi selagi kedua kakinya belum tegak benar, serangan lawannya itu
telah meluncur sekali lagi. Kali ini mengenai pundaknya, sehingga
Mandra terputar satu kali dan sekali lagi jatuh terbanting di tanah.
Wajah Raden Rudira menjadi merah padam. Orang berkulit hitam itu
berdiri hanya selangkah disisi Mandra yang agaknyabenar-benar sudah
kehabisan tenaga meskipun ia tidak mengalami luka yang berbahaya.
“Sudahlah” berkata Ki Demang di Sukawati “tinggalkan orang itu“
Orang berkulit hitam itu berpaling. Dipandanginya Ki Demang sejenak,
lalu dianggukkan kepalanya sedikit. Perlahan-lahan ia berjalan
meninggalkan lawannya yang masih terbaring di tanah, tanpa Pepatah
katapun meloncat dari bibirnya. “Gila kau Mandra” teriak Raden
Rudira “bangun atau kau akan tinggal disini“ Dengan susah payah
Mandra berusaha untuk bangkit. Ketika ia memutar tubuhnya menghadap
Ki Demang di Sukawati, maka orang berkulit hitam yang sudah berdiri
di samping kudanya, melangkah setapak maju. Tetapi Ki Demang
menggamitnya sehingga iapun berhenti. “Apakah kalian sudah
memperhitungkan akibat perlawanan kalian“ Raden Rudira menggeram.
Suaranya bergetar penuh kemarahan. “Sama sekali belum Raden, karena
kami harus mengambil sikap dengan tiba-tiba. Tetapi akulah yang
seharusnya bertanya, apakah Raden sudah memperhitungkan akibat yang
timbul dari sikap Raden itu?“ “Aku akan mempertanggung jawabkannya“
“Tetapi orang yang tuan percaya itu tidak mampu melawan orangku.
Apakah tuan akan mengambil sikap lebih keras lagi dan memerintahkan
para pengir ing Raden menangkap aku?“ Raden Rudira tidak segera
menjawab. Tetapi ia sadar bahwa Ki Demang dengan sengaja
menyindirnya, karena ia merasa kuat Petani-petani yang ada di sawah
dan melihat perkelahian itu ternyata telah berkerumun meskipun dari
jarak agak jauh.Kemarahan Raden Rudira seakan-akan telah bergejolak
sampai keubun-ubun. Tetapi ia sama sekali t idak berdaya untuk
mengambil suatu sikap, karena orang-orang Sukawati ternyata adalah
orang-orang yang keras kepala. “Tanggung jawab atas sikap yang gila
ini terletak pada. Ramanda Pangeran Mangkubumi” berkata Rudira di
dalam hatinya jika Ramanda Pangeran tidak bersikap keliru dan
memanjakan orang-orangnya di daerah Sukawati ini, maka hal-hal
semacam ini pasti tidak akan dapat terjadi” Tetapi Rudira tidak
dapat berbuat apa-apa saat itu. Betapapun dadanya serasa akan retak,
namun ia harus menahan dir i. la tidak tahu, kemampuan apa yang
tersimpan di balik wajah-wajah yang beku dan tangan-angan yang
bersilang di dada itu. Karena Raden Rudira tidak segera menjawab,
maka Ki Demang Sukawati itu menarik nafas dalam-dalam, sambil
berkata “Sudahlah Raden. Kadang-kadang kita memang dihanyutkan oleh
perasaan yang meledak-meledak. Aku tahu, umur Raden yang masih
sangat muda itulah yang membuat Raden kurang pertimbangan. Tetapi
itu bukan suatu kesalahan yang perlu disesalkan sekali, meskipun
harus selalu diingat sebagai pengalaman. Sekarang, lupakan saja apa
yang telah terjadi. Aku rasa orang di rumah sudah menyediakan makan
siang buat Raden dan para pengir ing. Bagaimanapun juga, aku tetap
ingin mempersilahkan Raden dan para pengiring untuk makan siang di
rumah kami, karena disini tuan adalah tamu kami“ Kata-kata itu
rasa-rasanya justru membual hati Rudira semakin panas. Tanpa
menjawabnya Raden Rudira berteriak kepada Mandra “Cepat naik ke
kudamu. Kita akan pergi” “Raden” berkata Ki Demang dengan serta
merta “Kami persilahkan Raden singgah sejenak”Rudira tidak menjawab.
Bahkan ia memalingkan wajahnya. Katanya kepada pengiringnya “Kita
akan meninggalkan neraka ini. Tetapi kita tidak akan membiarkan
daerah ini tetap dikuasai oleh kebodohan serupa ini. Aku adalah
pulera Pangeran Ranakusuma” Raden Rudira tidak menunggu lebih lama
lagi. lapun segera menyentuh perut kudanya dengan tumitnya, sehingga
kudanya mulai bergerak. Tetapi tiba-tiba saja Raden Rudira menarik
kendali kudanya yang sudah mulai berlari, sehingga kuda itu terkejut
dan melonjak berdiri. Beberapa orang pengir ingnyapun terkejut pula.
Bahkan Mandra yang dengan lemahnya duduk diatas punggung kudanya
mengangkat wajah dan mencoba mengerti, kenapa t iba-tiba saja Raden
Rudira berhenti. Dengan mata yang terbelalak Raden. Rudira memandang
ke sudut desa yang sedikit menjorok masuk ke tanah persawahan.
Dilihatnya beberapa orang petani berdiri berjajar sambil
menyilangkan tangannya di dadanya. Namun yang berdiri di paling
ujung, agaknya petani yang sedang dicar inya. Sura yang berkuda di
antara merekapun terkejut pula melihat orang yang berdiri t idak
terlalu jauh dar i jalan yang sedang dilaluinya. Namun tanpa
disadarinya, mulutnya berdesis “Benar dugaanku. Orang itu adalah
Pangeran Mangkubumi” Desis Sura itu mengguncangkan dada Raden
Rudira. Laki- laki yang berdiri di ujung itu adalah laki- laki yang
sedang dicarinya. Wajah. laki-laki itupun kotor oleh lumpur yang
melekat disana-sini. Seperti petani-petani yang lain, disisinya
terletak sebuah cangkul, pakaian yang kotor dan basah, serta wajah
yang beku. Tetepi yang seorang ini memiliki sepasang mata yang tajam
dan rasa-rasanya sedang membara. Raden Rudira menjadi termangu-mangu
sejenak. Namun tiba-tiba kengerian yang sangat telah merayapi
hatinya.Siapapun orang itu, namun kemampuannya tentu berlipat-lipat
dari orang yang berkulit hitam. Sura di bulak Jati Sari sama sekali
tidak berdaya menghadapinya. Kini Mandra telah dilumpuhkan oleh
orang berkulit hitam itu. “Apalagi kalau benar orang itu adalah
Ramanda Pangeran Mangkubumi“ tanggapan itu tiba-tiba saja melonjak
di dadanya. Dengan demikian tanpa disadarinya sekali lagi Raden
Rudira memandang orang itu. Tiba-tiba saja jantungnya serasa
berhenti berdenyut” Orang itu memang mir ip sekali dengan Ramanda
Pangeran Mangkubumi” Tetapi iapun kemudian mencoba membantahnya
sendiri “Ada seribu orang yang mir ip di dunia ini” Meskipun
demikian, Raden Rudira segera memacu kudanya. Semakin lama semakin
cepat diikuti oleh para pengiringnya. Debu yang putih berterbangan
menyelubungi jalan yang kering. Yang berpacu di paling belakang
adalah Sura. Tetapi bagaimanapun juga, rasa-rasanya masih ada ikatan
yang tidak dapat dilepaskannya, bahwa ia harus mengikut i Raden
Rudira kembali ke Surakarta. Ternyata bahwa perasaan Raden Rudira
telah benar-benar menjadi kisruh. Darahnya bagaikan mendidih. Tetapi
hentakan di dadanya Tanpa mengucapkan sepatah katapun Raden Rudira
berpacu kembali ke kota. Ia tidak menghiraukan lagi panas yang
semakin lama menjadi semakin lemah dan cahaya langit yang
kemerah-merahan. “Kita akan sampai ke kota jauh malam“ desis
seseorang di antara para pengawalnya, itu masih harus tetap
disimpannya paling dalam.“Ya. Tetapi tidak terlalu malam. Lihat,
matahari masih agak tinggi” Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun ia berdesis “Aku haus sekali” “Aku tidak hanya sekedar haus.
Aku lapar sekali” Kawannya berpaling. Dilihatnya orang yang merasa
lapar itu menjadi pucat meskipun cahaya kemerah-merahan masih
memancar di langit dan jatuh di setiap wajah. Dalam pada itu, Mandra
masih tampak terlalu lemah, meskipun ia mampu juga berpacu Namun
tampaknya ia tidak sesegar ketika berangkat, dan bahkan rasa-rasanya
lain sekali dengan Mandra yang selalu mentertawakan Sura. Sedang
Sura sendiri berpacu di paling belakang. Angan- angannya masih saja
dicengkam oleh kenangannya atas petani yang dijumpainya di bulak
Jati Sari. Petani itu pasti petani yang berdiri di ujung itu. Dan
keduanya adalah Pangeran Mangkubumi itu sendiri. Sebenarnya bukan
saja Sura yang bertanya-tanya di dalam hati. Tetapi pertanyaan
tentang petani itu tumbuh juga di hati para pengiring Raden Rudira
yang pernah mengikutinya berjalan di tengah bulak Jati Sari. Dan
mereka yang mengenal Pangeran Mangkubumi akan berkata di dalam hati
“Orang itu memang mir ip sekali dengan Pangeran Mangkubumi. Apalagi
jika ia mengenakan pakaian yang pantas dan baik. Seandainya ia bukan
Pangeran Mangkubumi, maka seseorang pasti akan dapat keliru” Namun
keragu-raguan yang berkembang di dalam setiap dada itu, membuat
mereka menjadi semakin lama semakin dicengkam oleh kecemasan. Bahkan
akhirnya mereka hampir meyakini, bahwa orang itu memang Pangeran
Mingkubumi. Tetapi Raden Rudira seakan-akan telah menutup pintu
hatinya, la tidak mau mengakui kenyataan penglihatannya.Baginya
orang itu adalah seorang petani yang telah memberontak terhadap para
bangsawan di Surakarta. Menurut Raden Rudira, mereka harus mendapat
hukuman. “Ibunda akan memanggil beberapa orang asing. Dengan senjata
api mereka tidak akan dapat dilawan oleh Pangeran Mangkubumi
seandainya mereka mempertahankan Sukawati” Dengan dada yang
berdentangan Raden Rudira memacu kudanya terus. Ia tidak berhenti
sama sekali, seandainya kudanya tidak gelisah kehausan. “Pemalas“ Ia
menggeram. Meskipun demikian Raden Rudira member i kesempatan juga
kepada kudanya untuk meneguk air bening yang mengalir di parit di
pinggir jalan. Demikian juga kuda-kuda yang lain. Kuda Mandra dan
kuda Sura. Dalam pada itu Sura bergeser mendekati seorang kawannya
sambil berbisik “Aku tidak tahu tanggapanmu atasku. Mungkin kau
menjadi muak melihat sikapku. Aku tidak peduli. Tetapi aku ingin
meyakinkan perasaanku. Coba katakan, apakah orang yang kita lihat
tadi adalah petani di bulak Jati Sari?“ Kawannya ragu-ragu sejenak.
“Aku mungkin kau tuduh berkhianat kepada Raden Rudira. Aku tidak
ingkar, Tetapi katakan dengan jujur, apakah benar orang itu petani
yang berada di bulak Jati Sari?“ Meskipun masih ragu-ragu, tetapi
kawannya itu menjawab “Aku kira begitu” “Bagus. Apakah kau kenal
Pangeran Mangkubumi” “Kenal, tetapi tidak dari dekat” “Apakah orang
itu Pangeran Mangkubumi?” Kawannya tidak menyahut. Tetapi ia
menundukkan kepalanya ”Kau t idak mau menjawab?“Kawannya masih tetap
berdiam dir i. Sura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bertambah
yakin karenanya. Sejenak kemudian maka Raden Rudirapun sudah berpacu
kembali. Rasa-rasanya semakin lama semakin cepat. Kemarahan,
keragu-raguan dan bahkan kecemasan telah bercampur baur di dalam
hatinya. Bagaimanapun juga ia tidak dapat melupakan wajah petani
yang seorang itu. la tidak dapat ingkar, bahwa wajah itu adalah
wajah seorang Pangeran yang pernah berbicara dengannya satu kali di
halaman. Masjid Agung. “Tidak“ Ia menggeletakkan giginya “Tentu
hanya mirip” Seperti yang mereka perhitungkan, maka mereka memasuki
regol halaman istana Pangeran Ranakusuma setelah jauh malam. Derap
kaki-kaki kuda itu telah mengejutkan para penjaga dan para abdi yang
tinggal di dalam dinding istana itu. Bahkan orang-orang yang tinggal
di tepi-tepi jalanpun terkejut pula dan bertanya-tanya di dalam hati
“Siapakah yang berpacu di malambegini?“ Tetapi ketika derap
kaki-kaki kuda itu sudah menjauh, maka merekapun segera tidur
kembali. Mereka tidak menghiraukannya lagi ketika suara itu telah
lenyap dari pendengaran. Namun tidak demikian halnya dengan
orang-orang yang tinggal di dalam halaman istana Pangeran
Ranakusuma. Beberapa orang penjaga segera bersiaga. Namun ketika
mereka melihat bahwa yang datang itu Raden Rudira bersama
pengiringnya, maka merekapun menjadi semakin heran. Tetapi tidak
seorangpun yang berani bertanya. Mereka hanya sekedar menganggukkan
kepala, sedang beberapa orang yang lain berlari-lari menyusulnya
sampai ke tangga pendapa.Demikian Raden Rudira meloncat dari
punggung kudanya, maka orang yang berlari-lari itupun segera
menangkap kendali kuda itu. Dengan tergesa-gesa Raden Rudira naik ke
pendapa. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat pendapa yang
masih dikotori oleh titik-t itik air yang berwarna
kekuning-kuningan. Beberapa potong makanan masih terkapar di sudut.
“He” bertanya Raden Rudira kepada seorang pelayan “Apakah baru saja
ada tamu?“ “Ya tuan. Baru saja mereka meninggalkan halaman ini”
“Siapa?“ “Beberapa orang kumpeni. Ibunda tuan baru saja menjamu
beberapa orang sahabatnya, setelah ibunda menerima undangan mereka
dan berkunjung ke rumah Tumenggung Santidarma yang dipinjam oleh
kumpeni untuk menjamu ibunda tuan” “Bersama ayalianda?“ “Tidak.
Ayahanda Raden Rudira sedang menghadap Kangjeng Susuhunan di istana.
Utusan dari istana datang lewat tengah hari” “Dan sekarang?“
“Ayahanda dan ibunda ada di dalam. Keduanya sudah di istana ini
sebelum para tamu datang” “Dada Raden Rudira berdentangan mendengar
jawaban abdi itu. Ia sebenarnya tidak senang jika ibunya diundang
untuk menghadir i perjamuan yang diselenggarakan oleh kumpeni di
rumah Tumenggung Santidarma atau di rumah Tumenggung Nitiraga.
Meskipun ia belum pernah menyaksikan pertemuan itu, dan meskipun ia
tidak pernah mendengar apa yang terjadi di dalam pertemuan-pertemuan
semacam itu, tetapi ia mempunyai firasat bahwa pertemuan itu tidak
wajar diselenggarakan untuk beberapa orang bangsawan.“Tetapi dengan
demikian ibunda mempunyai banyak kawan dari lingkungan mereka.
Mudah-mudahan aku dapat mengambil manfaat dari hubungan ibunda
dengan orang- orang bule itu” berkata Raden Rudira di dalam hatinya.
Dan apabila ia sudah mulai terbentur pada kepentingan sendir i, maka
iapun t idak akan peduli lagi, apa yang akan dilakukan oleh ibunya,
meskipun kadang-kadang ia dihantui oleh kemungkinan yang paling
buruk yang dapat terjadi. “Ayah tidak melarangnya” berkata Raden
Rudira itu pula di dalam hatinya. Anak muda itu menarik nafas
dalam-dalam. Namun kemudian dihentakkannya tangannya. Baru saja ia
mengalami kegagalan mutlak. Dan kini ia menghayati suatu perasaan
yang terasa pedih di hatinya, meskipun ia dapat mengambil keuntungan
daripadanya. “Persetan“ Raden Rudira itupun segera menuju ke pintu
pringgitan yang tengah. Tetapi pintu itu sudah digerendel dari
dalam. “Tuan“ salah seorang pelayannya mempersilahkan “sebaiknya
tuan mengambil jalan dari longkangan” Raden Rudira mengerutkan
keningnya. Namun iapun kemudian melangkah turun dari pendapa, lewat
longkangan menuju ke pintu butulan. Dengan kerasnya ia mengetuk
pintu yang sudah tertutup itu pula, sehingga seorang pelayan yang
ada di dalam terkejut karenanya. “Siapa?“ pelayan itu bertanya
setelah ia berdiri di muka pintu. “Aku. Bukalah pintu” sahut Rudira.
“Aku siapa?“ “Cepat, aku puntir kepalamu”Tetapi pelayan itu masih
ragu-ragu, sehingga Raden Rudira membentak “Buka pintu. Jika kau
mempermainkan aku, aku pukul kepalamu sampai pecah” Tetapi pelayan
yang terkejut itu masih berdiri kebingungan. Ia berpaling ketika ia
mendengar suara dari pintu dalam “Bukalah. Raden Budira“ “Ampun
Raden Ayu“ Orang itu terbungkuk- bungkuk “Aku, aku t idak tahu”
“Nah, sekarang bukalah” Dengan gugup orang itu segera membuka pintu.
Demikian pintu terbuka, Raden Rudira yang marah langsung menggenggam
rambut pelayannya ambil membentak. “Lain kali, buka telingamu Kau
harus mengenal suaraku” “Ampun tuan, ampun” “Sudahlah, lepaskan. Ia
terkejut mendengar ketokan pintu itu, karena itu ia menjadi bingung”
Raden Rudira melepaskan rambut pelayan itu. Perlahan- lahan ia
melangkah memasuki istananya dengan wajah yang suram. “Bagaimana
dengan perjalananmu? Dan kenapa kau pulang dijauh malambegini?“
“Gagal” sahut Raden Rudira pendek?”“Kau tidak dapat menemukan?“
“Tidak” jawab Raden Rudira. Tetapi terbayang di rongga matanya,
petani yang dicarinya itu berdir i berjajar di antara para petani
yang lain. Tetapi demikian besar pengaruh tatapan matanya, sehingga
ia justru tidak berani berhenti dan berbuat sesuatu atasnya, setelah
sekian lama dicarinya. “Gila” tiba-tiba penyesalan yang sangat telah
melanda dinding jantungnya. Lalu katanya di dalam hatinya pula
“Kenapa aku justru pergi meninggalkan padukuhan itu setelah Mandra
kalah? Gila, barangkali aku juga sudah gila melihat sikap
orang-orang Sukawati yang seolah-olah semuanya sudah kerasukan iblis
itu” Raden Rudira mengangkat wajahnya ketika ibunya berkata
“Sudahlah. Jangan selalu kau renungi kegagalanmu. Itu tidak baik
sama sekali. Besok atau lusa kau dapat mengulanginya. Mungkin orang
itu sedang bersembunyi karena ia sudah menduga bahwa kau akan datang
ke Sukawati” Raden Rudira menganggukkan kepalanya. ”Karena itu,
justru apabila mereka sudah tidak membicarakannya lagi, kau pergi
dengan tiba-tiba saja ke padukuhan Sukawati itu” Sekali lagi Raden
Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja Raden
Rudira itu dengan tergesa-gesa pergi ke pintu butulan kembali.
Ketika dilihatnya seseorang pelayan lewat maka dipanggilnya pelayan
itu mendekat. ”Panggil Mandra dan beberapa orang pengiring yang
lain” “Baik tuan” “Apakah yang akan kau lakukan Rudira?“ Bertanya
ibunya yang menjadi heran.Tetapi Rudira tidak menyahut. Dari
kejauhan di bawah sinar obor di halaman ia melihat beberapa orang
mendatanginya. “He” berkata Raden Rudira setelah orang-orang itu
berada di hadapannya “Siapakah yang dapat pergi ke istana Ramanda
Pangeran Mangkubumi“ Tidak seorangpun yang menyahut. “Siapa yang
mempunyai satu atau dua orang saudara yang. menjadi abdi di istana
Ramanda Pangeran?“ “Apa yang akan kau perbuat Rudira?“ bertanya
ibunya. Raden Rudira tidak menghiraukan pertanyaan ibunya. Sekali
lagi ia bertanya kepada orang-orangnya “Siapa yang mempunyai saudara
yang tinggal di Dalem Istana Ramanda Pangeran Mangkubumi he?“
Sejenak orang-orangnya itu termangu-mangu. Namun kemudian seseorang
di antara mereka berkata “Aku Raden. Aku mempunyai seorang kakak
yang bekerja disana. Menjadi abdi pekatik Pangeran Mangkubumi”
“Bagus, pergilah menemui kakakmu itu” “Rudira“ ibunya memotong
“Apakah kau sadari perintahmu itu?“ “Aku sadar sepenuhnya ibu.
Bukankah bunda ingin mengaitkan bahwa hari telah larut malam?“ “Ya“
“Tidak ada. Orang itu harus menemui kakaknya saja. Apapun alasannya.
Ia dapat menyebut bahwa ayahnya sakit atau ibunya atau siapa saja,
sehingga ia mendapat ijin penjaga regol untuk memasuki halaman dan
bertemu dengan kakaknya”“Jika ia sudah menemui kakaknya, apa yang
harus dikerjakan?“ “Hanya sekedar bertanya, apakah Ramanda Pangeran
ada di istananya. “Kenapa?“ bertanya ibunya. “Aku ingin meyakinkan,
apakah Ramanda Pangeran ada di istana” “Kenapa tidak besok saja
Rudira” “Aku memer lukannya sekarang ibu. Ada sesuatu yang memaksa
aku untuk mengetahuinya sekarang” Ibunya mengerutkan keningnya.
Tetapi agaknya keinginan Rudira itu tidak dapat ditundanya lagi.
Meskipun demikian ibunya berkata “Rudira, lebih baik kau mohon
nasehat ayahandamu” Rudira mengerutkan keningnya. Namun t iba-tiba
ia menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak memer lukan nasehat
apapun, karena aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin
mengetahui, apakah Ramanda Pangeran ada di istananya. Hanya itu”
“Kenapa kau ingin mengetahuinya?“ “Ramanda Pangeran tidak ada di
pesanggrahan” “Dan kenapa harus sekarang?“ Raden Rudira
termangu-mangu sejenak. Lalu jawabnya "Tidak apa-apa. Tetapi aku
ingin mengetahuinya sekarang” Ibunya tidak dapat mencegahnya lagi.
Karena itu, iapun tidak mencoba menahannya. “Pergilah” berkata
Rudira kepada orang yang mengaku mempunyai seorang kakak yang
bekerja menjadi pekatik di DalemPangeran Mangkubumi itu.Orang itu
menjadi termangu-mangu sejenak. Namun Rudira segera membentak
“Pergi, cepat” “Ya, ya tuan. Aku akan pergi” Maka dengan
tergesa-gesa orang itupun meninggalkan istana Ranakusuman.
Bagaimanapun juga ia tidak dapat menolak lugas itu. Sambil
melangkahkan kakinya, maka iapun mulai mereka-reka, alasan apakah
yang akan dikemukakannya kepada para penjaga regol agar ia
diperkenankan menemui kakaknya itu. “Kakek sakit keras“ desisnya
“mungkin alasan itu dapat diterima, meskipun kakek sudah lama
meninggal. Lebih baik aku menyebut orang yang sudah meninggal
daripada aku harus menyebut ayah dan ibuku. Bagaimana kalau mereka
benar-benar menjadi sakit” Sementara itu, di istana Ranakusuman,
Rudira masih- berdiri di muka pintu sambil berkata “Mandra, siapkan
pengiring-pengiringku. Besok kita akan pergi lagi” “Kemana Rudira?“
bertanya ibunya. “Aku harus menebus sakit hatiku. Lebih baik
mengurus gadis kecil itu dar ipada petani Sukowati yang gila itu”
“Maksudmu?” “Ada gadis cantik di Jati Aking. Ia dapat diambil
sebagai abdi di istana ini. Ibunda tentu memerlukannya seorang
dayang yang dapat membantu ibunda menyediakan tempat sirih dan
botekan” “Siapakah anak itu?“ “Anak Danatirta, Jati Aking”
“Danatirta?” Raden Ayu Sontrang mengerutkan keningnya “Maksudmu dari
padepokan Jati Aking, tempat tinggal Juwiring sekarang?““Ya” “Apakah
kau pergi ke Jati Aking” “Ya. bukankah aku pernah mengatakan bahwa
aku bertemu dengan petani gila itu di bulak Jati Sari?“ Raden Ayu
Sontrang mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya “Ya. Kau memang
pernah mengatakannya. Tetapi bagaimana dengai gadis itu?“ “Aku akan
mengambilnya dan menyerahkannya kepada ibunda” “Aku tidak memer
lukannya” “Barlah ia berada di istana ini. Gadis itu cantik. Jika ia
tetap berada di Jati Aking bersama-sama dengan kamas Juwiring,
agaknya akan berbahaya baginya” “Jangan kau urusi orang itu” “Aku
tidak akan mengurusi kamas Juwiring, tetapi aku akan menyelamatkan
gadis itu. Aku akan minta Kepada ayahnya, agar anak gadisnya
diserahkan kepada ibunda” “Kau akan menambah persoalan Rudira.
Danatirta bukan anak-anak macam Sura” ibunya berhenti sejenak, lalu
tiba-tiba “He, dimana Sura sekarang?“ ”Ia menjadi liar. Bahkan
hampir berkhianat” “Tidak mungkin. Ia adalah abdi tertua disini”
“Bertanyalah kepada orang-orang kita yang lain, ibu. Mereka akan
memberikan keterangan dengan jujur. Tanpa ditambah dan tanpa
dikurangi” Raden, Ayu Sontrang mengerutkan keningnya. Tetapi ia
masih tetap ragu-ragu atas keterangan puteranya itu. Meskipun
demikian ia tidak bertanya lagi dan berkata “Sudahlah. Hari sudah
jauh malam, beristirahatlah”Raden Rudira menar ik nafas dalam-dalam.
Kemudian dilemparkannya segala kelengkapan yang masih merekat di
tubuhnya. “Aku akan mandi. Kemudian aku memer lukan makan, aku
lapar” Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Disuruhnya pelayannya
membangunkan pelayan yang lain. juru masak dan pembantu-pembantunya.
Puteranya memerlukan makan meskipun sudah jauh malam. Sambil
menggerutu pelayan-pelayan di dapur itupun mulai menyiapkan makan
bagi Raden Rudira dengan tergesa-gesa. Apalagi Raden Rudira termasuk
orang yang agak sulit dilayani, justru karena ibundanya sangat
memanjakannya, terlebih- lebih lagi setelah Juwir ing t idak ada
lagi di istana itu. “Raden Juwiring makan apa yang ada” berkata
seorang juru masak kepada pembantunya “Tetapi Raden Rudira memer
lukan lauk yang disenanginya. Kapanpun ia ingin makan. Untunglah
yang disenanginya tidak begitu sulit dicari. Telur ayam, otak lembu
dan udang, yang hampir setiap hari pasti tersedia di dapur
DalemRanakusuman” Dalam pada itu. selagi Raden Rudira mandi, ibunda
Raden Ayu Sontrang menunggunya di ruang dalam. Tetapi ia tidak
membangunkan Pangneran Ranakusuna yang baru saja tidur, yang agaknya
lelah juga selelah menghadap ke istana Susuhunan. Sejenak Raden Ayu
Sontrang duduk seorang dir i di bawah lampu minyak yang menyala
terang di ruang dalam. Sejenak ia sempat merenungi keadaan puteranya
laki-laki. Ia berharap agar puteranya kelak menjadi satu-satunya
pewaris segala kekayaan yang berlimpah di Ranakusuman ini. Bahkan
Raden Ayu Sontrang masih belum puas dengan kekayaan yang ada. Ia
masih juga mener ima banyak sekali pemberian dari beberapa orang
perwira kumpeni yang menjadi kawan- kawannya terdekat.Kadang-kadang
terasa bulu-bulunya meremang jika dikenang, imbalan yang harus diber
ikan kepada perwira- perwira berkulit putih itu. Kulit yang kasar
dan sikap yang kasar. Tetapi gemerlapnya permata memang telah
menyilaukannya. “Kamas Ranakusuman tidak menghiraukannya” berkata
Raden Ayu Sontrang ini. Karena Kamas Ranakusuma juga memer lukan
dukungun dari ilm orang-orang kulit putih itu untuk mendapat tempat
terbaik di istana. Dukungan t imbal balik” Tetapi Raden Ayu Sontrang
kemudian mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tidak mau mendengarkan
persoalan yang tumbuh di hatinya tentang dirinya sendiri. Apapun
yang terjadi atas dirinya sudah dilakukannya dengan sadar, sehingga
seharusnya tidak ada persoalan lagi baginya. Dalam pada itu, seorang
abdi yang diperintahkan oleh Raden Rudira pergi ke Mangkubumen,
semakin lama menjadi semakin dekat dengan regol yang sudah tertutup.
Dengan hati yang berdebar-debar ia mendekat, sementara ia masih juga
mengatur alasan yang akan dikemukakannya. “Memang lebih baik kakek”
desisnya. Tetapi tiba-tiba “Jika kakek yang sakit, kenapa tampaknya
aku terlampau gugup. Kakek pasti sudah tua. Jika ia sakit keras, itu
sudah wajar” Pelayan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
“Tetapi kakang telah diangkat menjadi anak kakek itu” Tiba-tiba saja
langkahnya terhenti. Tanpa disadarinya ia sudah berdiri di luar
regol Dalem Mangkubumen. Dengan tangan gemetar ia mengetuk lubang
dipintu regol. Ketika lubang persegi empat itu terbuka, dilihatnya
seraut wajah yang menjenguk dari lubang itu. “Siapa?” Ia mendengar
orang di dalam regol itu bertanya. “Aku, Sampir”“Sampir siapa?“ “Aku
akan menemui kakangku yang bekerja disini sebagai pekatik”
“Malam-malambegini?“
Jilid 4 “KAKEK sakit keras. Aku
segera ingin menemui kakangku dan jika perlu, mengajaknya
mengunjungi kakek” “Kakangmu siapa?“ “Sada” “Sada pekatik itu?“ “Ya”
“Datanglah besok pagi” “Kakek sakit keras. Kakang Sada adalah
cucunya terkasih. Ia sudah diambil anak angkat oleh kakek. Hampir
setiap saat ia mengigau memanggil nama kakang Sada” Penjaga itu
merenung sejenak. Terdengar suara mereka berbisik-bisik. Agaknya
mereka sedang membicarakan permintaan abdi Ranakusuman itu”
Tiba-tiba pintu regol itu terbuka perlahan-lahan. Seorang pengawal
berdiri di dalam regol sambil memandanginya. Katanya “Tunggulah
sebentar. Aku akan memanggilnya”“Apakah aku boleh mengunjungi di
dalambiliknya” “Tunggulah di sini. Di dalam” Pelayan Raden Rudira
itu termangu-mangu. Jika ia harus berbicara di regol itu. di hadapan
para pengawal, maka ia tidak akan dapat menyampaikan pertanyaan yang
sebenarnya harus ditanyakannya. Karena itu. maka sekali lagi ia
minta “Sudahlah, jangan membuat kalian terlalu repot. Biar lah aku
datang ke biliknya” “Apakah kau pernah mengunjunginya” “Pernah,
tetapi di siang hari. Dan aku belum tahu letak biliknya itu.
Meskipun demikian, aku ingin datang kepadanya supaya aku dapat
mengatakannya dengan hati-hati, agar ia tidak terkejut karenanya”
Para petugas regol itu menjadi termangu-mangu sejenak. Ia melihat
kegelisahan, bahkan kekisruhan pada jawaban pelayan Ranakusuman itu.
Untunglah bahwa mereka mengira, orang itu benar-benar sedang ditimpa
kemalangan, bukan karena kecemasan bahwa niat kedatangannya yang
sebenarnya akan dapat diketahui oleh para penjaga itu. Sejenak
kemudian maka penjaga itu berkata “Jadi manakah yang benar? Apakah
kau pernah mengunjunginya atau belum?“ Pelayan itu berpikir sejenak,
lalu “Keduanya benar. Aku pernah mengunjunginya kemari. Tetapi tidak
tahu dimana ia tinggal, maksudku, aku bertemu ia di muka regol ini”
“Sudahlah“ potong salah seorang dari para penjaga “Marilah, aku
antarkan saja kau kepondoknya di belakang, di sebelah kandang”
“Terima kasih, terima kasih” sahut pelayan itu terbata-bata. Maka
dengan hati yang berdebar-debar iapun mengikuti penjaga yang
membawanya ke belakang. Dekat di sebelahkandang kuda terdapat sebuah
pondok kecil. Di situlah kakaknya tinggal bersama isterinya. Sada
terkejut ketika pintu rumahnya diketok orang di malam hari. Dengan
tergesa-gesa ia bangkit dan melangkah menuju ke pintu. “Siapa?“ Sada
bertanya. “Aku kakang, Sampir” “He“ Sada semakin terkejut “Kau
datang di malambegini?“ “Ya, ada perlu yang penting” Ketika
terdengar selarak pintu dibuka, maka Sampirpun berkata kepada
penjaga yang mengantarkannya “Terima kasih. Terima kasih. Orang itu
benar-benar kakakku” Penjaga itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia
tidak mau mencampur inya, sehingga dit inggalkannya Sampir di muka
pintu yang kemudian terbuka. “O, kau diantar oleh penjaga regol
itu?“ “Ya” “Masuklah. Apakah yang penting?“ Sampirpun segera
melangkah masuk. Sikapnya yang gelisah membuat kakaknya
bertanya-tanya. Baru ketika pintu sudah ditutupnya, Sampir berkata
“Aku datang membawa persoalan yang penting kakang” “Kau membuat aku
berdebar-debar. Apakah yang penting itu?” “Kepada para penjaga aku
berkata bahwa kakek sakit keras” “Kakek? Kakek yang mana?“ “Kakek
kita”“He“ Sada mengerutkan keningnya “Apakah kau kesurupan? Bukankah
kakek sudah meninggal?“ “Itulah. Aku hanya sekedar memberikan
alasan, agar aku dapat masuk dan menemui kau” “Apa sebenarnya yang
penting itu?“ Sampir menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia
berbisik Apakah tidak ada orang yang akan mendengar?“ “Aku tidak
mengerti, apakah yang akan kau katakan?” “Aku mendapat perintah dari
Raden Rudira” “Apa yang harus kau kerjakan?“ “Apakah tidak ada yang
mendengar?“ “Ada, mungkin mBokayumu. Ia terbangun juga tadi
mendengar pintu diketuk keras-keras. Dan barangkali kuda- kuda di
kandang sebelah” “Baiklah“ Sampir menelan ludahnya “Raden Rudira
ingin mengetahui, apakah Pangeran Mangkubumi ada di istana?“ “Di
istana Kangjeng Sunan?“ “Tidak. Maksudku di istananya sendiri. Di
rumah ini. Bukan di istana Kangjeng Susuhunan” “Kenapa?“ “Aku tidak
tahu. Tetapi ia sedang digelisahkan oleh wajah yang kembar.
Setidak-t idaknya mirip sekali” “Aku tidak mengerti” Sampir menar ik
nafas dalam-dalam. “Cobalah, tenangkan sedikit hatimu, supaya
kata-katamu tidak bersimpang siur” “Apakah ada minum?“ “Ada, ada
meskipun dingin”Sadapun kemudian mengambil semangkuk air dan
diberikannya kepada adiknya yang gelisah. Setelah menelan seteguk
air, dan sekali lagi menarik nafas dalam-dalam, maka iapun mulai
berceritera, apa yang diketahuinya tentang perasaan Raden Rudira
yang gelisah. Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Jadi
Raden Rudira putera Pangeran Ranakusuma mencari seorang petani yang
telah melawannya. Adalah kebetulan sekali bahwa petani itu mirip
benar dengan Pangeran Mangkubumi?“ “Ya. Tetapi bukan itu saja. Di
pesanggrahan Pangeran Mangkubumi diketemukan pakaian petani yang
menurut para pelayan di sana, pakaian itu adalah pakaian Pangeran
Mangkubumi” Sada mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Sambil
tersenyum ia kemudian menjawab “Memang Pangeran Mangkubumi sering
mempergunakan pakaian seorang petani. Itu menjadi kegemarannya”
Sampir mengerutkan keningnya. Terbata-bata ia bertanya “Jadi petani
itu Pangeran Mangkubumi sendir i?“ “Belum tentu. Kapan Raden Rudira
melihatnya?“ “Sore tadi” “Sore tadi?“ Sada merenung sejenak, lalu
“Pangeran Mangkubumi ada di istana ini” “He, jadi Pangeran
Mangkubumi ada di rumah, eh, maksudku di istananya?“ “Ya. Sejak
beberapa hari Pangeran tidak meninggalkan istananya. Ia baru samadi
di sanggarnya” “Kau melihat sendiri?“ “Kudanya ada di kandang. Kalau
kau tidak percaya, tunggulah sampai fajar. Hampir setiap fajar,
PangeranMangkubumi berjalan-jalan mengelilingi halaman Kapangeranan
ini” “Tetapi tadi kau katakan bahwa Pangeran Mangkubumi sedang
samadi di sanggarnya” “Ya. Namun setiap pagi Pangeran Mangkubumi
turun dari sanggar dan berjalan-jalan mengelilingi halaman” Sampir
mengangguk-angguk. Tetapi ia masih ingin meyakinkan “Tetapi kau
benar-benar melihatnya” “Aku yakin. Sebelum aku pergi tidur, aku
melihat Pangeran Mangkubumi berada di pendapa sejenak” Tetapi Sampir
justru menjadi semakin bingung. Namun kemudian ia berkata “Aku akan
mengatakannya kepada Raden Rudira. Terserah, kesimpulan apakah yang
akan diambilnya” Sada yang melihat adiknya menjadi semakin bingung
justru tersenyum sambil berkata “Kau jangan ikut menjadi bingung.
Banyak rahasia yang tidak diketahui tentang Pangeran Mangkubumi.
Tetapi ia adalah seorang Pangeran yang baik, yang ramah dan rendah
hati. Tetapi pendir iannya keras sekeras besi baja. Ia tidak mudah
terpengaruh oleh persoalan-persoalan baru yang tampaknya memikat
hati” Sampir mengangguk-angguk. “Katakan apa yang kau dengar tentang
Pangeran Mangkubumi. Ia ada di istananya malam ini. Jika yang
dijumpainya di Sukawati itu juga Pangeran Mangkubumi, maka hal
itupun mungkin pula terjadi” “Jadi bagaimana? Apakah Pangeran
Mangkubumi bergegas kembali ke Dalem Kapangeranan?“ “Tidak perlu
bergegas. Jika dikehendaki, ia dapat menempuh jarak dari Sukawati ke
istana ini dalam sekejap.Mungkin ia berada di Sukawati, dan sekejap
kemudian berada di sini” “Bagaimana mungkin hal itu terjadi?“
“Apakah kau belum pernah mendengar, bahwa Pangeran Mangkubumi
memiliki aji Sepi Angin” “O“ Sada tertawa tertahan melihat wajah
adiknya yang tegang. “Jangan bingung. Jangan hiraukan tentang Sepi
Angin. Tetapi katakan saja kepada Raden Rudira, bahwa Pangeran
Mangkubumi ada di rumahnya. Dengan demikian ia akan menjadi tenang”
“Tidak. Bahkan sebaliknya. Ia pasti akan semakin bernafsu mencari
petani itu kembali. Hanya karena ia ragu-ragu, bahwa petani yang mir
ip Pangeran Mangkubumi itu benar-benar Pangeran Mangkubumi itu
sendir ilah, maka ia tidak berbuat apa-apa dan memerintahkan aku
malam-malam begini menemuimu” Sada masih tertawa. Katanya “Sudahlah.
Jangan kau bicarakan lagi. Apakah kau akan tidur di sini atau
kembali? Sebentar fajar akan menyingsing” Sampir menjadi ragu-ragu.
Namun kemudian ia berkata “Raden Rudira menunggu aku. Dan aku sudah
terlanjur mengatakan kepada para penjaga, bahwa kakek sedang sakit.
Kau harus menyesuaikan dir imu” Tetapi kakaknya masih saja tertawa,
katanya “Jangan gelisah. Aku akan mengatakan kepada mereka, bahwa
kakek memang sakit. Dan aku akan pergi menengoknya. Karena itu, kita
berangkat setelah fajar” Sampir merenung sejenak. Tetapi sebelum ia
menjawab, terdengar suara seorang perempuan bertanya dari dalam
bilik tidurnya“Siapa yang sakit?“ “Ia mendengar percakapan kita.
Tetapi agaknya hanya yang terakhir. Rupa-rupanya ia tidur terlampau
nyenyak, sehingga ia tidak mendengar percakapan kita sebelumnya. Ia
tertidur lagi, setelah aku membuka pintu dan tahu, bahwa yang datang
adalah kau” Sampir mengangguk-anggukkan kepalanya, dan suara itu
bertanya lagi “Siapakah yang sakit?“ “Kakek” sahut Sampir. “Kakek
siapa?“ “Ssst, nanti aku beritahu” sahut suaminya. Perempuan itu
diam. Tetapi ia tidak keluar dari biliknya. Setelah mereka terdiam
sejenak, maka Sampirpun bertanya “Jadi kau akan pergi juga” “Tentu,
bukankah kau sudah mengatakan kalau kakek sakit?“ “Baiklah, jika
demikian, biarlah aku menunggu sampai fajar menyingsing” Kakaknya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sejenak kemudian iapun berdir
i dan membuka pintu pondoknya. Sambil menengadahkan kepalanya ia
berkata “Sudah semburat“ “Apa?“ “Fajar. Aku akan mandi dan minta
diri agar pekerjaanku dapat dikerjakan oleh orang lain. Di sini
hanya ada dua pekatik, apalagi kami merangkap juru taman” Sampir
tidak menjawab. Kakaknyapun kemudian melangkah Keluar membersihkan
wajahnya dipakiwan. Ternyata ia tidak mandi sepenuhnya, selain
kepalanya dan kaki tangannya.Setelah member ikan pesan secukupnya
kepada isterinya, maka iapun minta diri. Ia akan mengunjungi
kakeknya yang sakit seperti yang dikatakan adiknya dan berpesan pula
kepada kawannya, mungkin ia lambat kembali. “Apakah kau akan pergi
sampai tengah hari?“ “Menjelang tengah hari, aku kira aku sudah
kembali” Demikianlah keduanya meninggalkan pondok Sada pada saat
fajar menyingsing. Seperti yang sudah terlanjur dikatakan, keduanya
kan pergi ke rumah kakeknya yang sedang sakit. Tetapi tiba-tiba
langkah mereka terhenti di sudut pendapa. Sesosok bayangan berjalan
perlahan-lahan di dalam keremangan fajar. Sambil mengayunkan
tongkatnya, orang itu melangkah menyilang dar i sudut halaman yang
satu ke sudut yang lain” “Itulah Pangeran Mangkubumi” desis Sada.
“O“ tiba-tiba wajah Sampir menjadi pucat. Dengan serta merta ia
menjatuhkan dir i berjongkok ketika orang yang disebut sebagai
Pangeran Mangkubumi itu berpaling kearah mereka. Tetapi Sada tidak
berjongkok. Sada hanya menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Sampir
menjadi semakin berdebar-debar ketika orang itu memperhatikannya dan
berkata “Kenapa ia berjongkok” Barulah Sada sadar, dan segera
menarik adiknya berdir i. “Bukankah itu Pangeran Mangkubumi“ bisik
Sampir. “Ya, Pangeran Mangkubumi tidak mengharuskan abdinya
berjongkok setiap saat. Hanya dalam keadaan tertentu” Tetapi Sampir
masih ragu-ragu. Ia menjadi gemetar ketika ia melihat Pangeran
Mangkubumi itu mendekatinya.Tampaklah di dalam cahaya lampu pendapa,
wajah Pangeran yang penuh wibawa itu. Berpandangan tajam tetapi
lembut. “Orang ini, memang orang di Sukawati itu” tiba-tiba Sampir
berkata di dalam hatinya “petani itu bukan saja mirip, tetapi tepat
tidak ada bedanya sama sekali” “Siapakah kau?“ bertanya Pangeran
Mangkubumi kepada Sampir yang masih belum mau berdir i. “Ampun tuan.
Hamba adalah abdi Ranakusuman” Pangeran Mangkubumi
mengangguk-angguk. Kemudian iapun bertanya “Kenapa kau di sini
pagi-pagi benar?“ “Hamba, eh, hamba ingin menemui kakak hamba ini”
“Ada apa?“ Tiba-tiba saja terasa mulutnya seakan-akan membeku.
Dibawah tatapan mata Pangeran Mangkubumi, Sampir sama sekali tidak
dapat berbohong. Ia tidak tahu. pengaruh apakah yang sudah
mencengkamnya. Namun tidak sepatah katapun yang dapat diucapkan.
“Adik hamba mengabarkan bahwa kakek sedang sakit tuan“ Sadalah yang
menyahut sambil membungkuk dalam-dalam. “O“ Pangeran Mangkubumi
mengangguk-angguk ”Dan kau akan pergi mengunjunginya?“ “Ya tuan”
Sada menjawab. “Dan kau adiknya?“ “Hamba tuan“ Sampir menyembah.
“Aku sudah mengira, bahwa ia bukan abdi Mangkubumen“ berkata
Pangeran Mangkubumi “sikapnya bukan sikap orang- orangku di sini”
Keduanya tidak menjawab.“Baiklah, kalau kau akan pergi menengok
kakekmu itu. Apakah kau sudah member itahukan kawanmu? Bukankah kau
pekatik?“ “Ya tuan. Hamba sudah member itahukan kepada kawan hamba.
Hamba berharap, sebelum tengah hari hamba sudah datang“ Pangeran
Mangkubumi mengangguk-angguk. Kemudian iapun berjalan lagi
meninggalkan kedua orang itu termangu- mangu. “Kenapa kau tidak
berjongkok” bertanya Sampir kemudian setelah Pangeran Mangkubumi
menjauh “Kami harus berjongkok di hadapan Pangeran Ranakusuma”
“Sudah aku katakan. Kami tidak harus berjongkok setiap saat” jawab
kakaknya. Sampir tidak bertanya lagi. Tetapi ia masih memandang
Pangeran Mangkubumi yang menjauh. Rasa-rasanya ada sesuatu yang lain
padanya dari Pangeran Ranakusuma. Demikianlah keduanyapun kemudian
meninggalkan istana Mangkubumen. Bagi Sada, kepergiannya itu
sebenarnya hanyalah sekedar untuk menutup ceritera adiknya tentang
kakeknya yang sakit. Kakek yang sangat mengasihinya. “Sekarang
kemana aku harus pergi?“ t iba-tiba saja Sada berdesis. Sampir tidak
segera menjawab. Iapun tidak tahu, kemanakah sebaiknya Sada pergi.
“Aku akan pergi ke Ranakusuman” berkata Sada tiba-tiba. “O“ adiknya
termangu-mangu. “Lebih baik pergi ke tempatmu daripada aku harus
mengelilingi kota sampai tengah har i”“Baik, baik. Kau akan dapat
memberikan keterangan tentang Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian
mereka tidak akan dapat menuduh aku berbohong” Sada mengangguk.
Namun tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk mengetahui, apa saja
yang akan ditanyakan oleh Raden Rudira kepadanya tentang Pangeran
Mangkubumi? Kenapa ia begitu gelisah sehingga mengir imkan adiknya
di jauh malam untuk menemuinya dan sekedar bertanya, apakah Pangeran
Mangkubumi ada di rumah. Karena itu, maka iapun membulatkan niatnya
untuk ikut bersama adiknya pergi ke Ranakusuman. Dalam pada itu, di
Ranakusuman, Raden Rudira ternyata hanya tertidur beberapa saat. Di
pagi-pagi benar ia sudah terbangun dan langsung mencari Sampir.
“Anak itu belum datang“ seorang pelayan memberitahukan kepadanya.
“He, sampai fajar anak itu masih belum datang? Apakah ia mati di
pinggir jalan atau dicekik hantu regol Mangkubumen?” Pelayannya
tidak berani mengangkat wajahnya. “Cari anak itu sampai ketemu. Ia
harus menghadap aku segera” Pelayan itu hanya dapat mengangguk
dalam-dalam sambil berdesis dengan suara gemetar “Ya tuan. Aku akan
mencarinya” “Cepat“ Orang itupun segera meninggalkan Raden Rudira
yang marah- marah. Tetapi ia tidak tahu, kemana ia harus mencari
Sampir. Ia tahu bahwa Sampir pergi ke Mangkubumen. Tetapi apakah ia
harus menyusulnya?Selagi ia kebingungan, maka dilihatnya dua orang
memasuki regol halaman. Orang itu adalah Sampir. “Cepat“ Orang itu
berlar i-lari “Kau dicari oleh Raden Rudira” “O“ Sampir
mengangguk-angguk. Sambil berpaling kepada kakaknya ia berkata
“Marilah, Raden Rudira akan senang sekali dapat bertemu dengan kau”
Sada mengangguk-angguk. Iapun kemudian mengikuti adiknya berberjalan
cepat ke serambi belakang” “He, Raden Rudira tidak ada di situ”
berkata pelayan yang mencarinya. Sampir tertegun. Terbata-bata ia
bertanya “Dimana?“ “Di gedogan. Ia sedang menengok kudanya yang
baru” keduanya segera pergi kekandang kuda. Meskipun hari masih agak
gelap, tetapi ternyata Raden Rudira sudah berada di kandang kudanya
yang baru, seekor kuda yang tegar berbulu coklat kehitam-hitaman.
“He, cepat, kemarilah“ Panggil Raden Rudira ketika ia melihat Sampir
mendekat. “Apakah Ramanda Pangeran ada di istana?“ langsung Raden
Rudira bertanya Sampir menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Ya
Raden, Pangeran Mangkubumi ada di istananya” “Nah, bukankah aku
benar. Laki- laki itu sama sekali t idak ada hubungannya dengan
Ramanda Pangeran Mangkubumi. Bodoh sekali, kenapa aku tidak berbuat
sesuatu” Tiba-tiba saja Raden Rudira berteriak “Sura, eh, aku tidak
memer lukannya lagi, Mandra. Panggil Mandra kemari” Pelayannyapun
segera berlari-lari memanggil pengawal yang bertubuh raksasa yang
bernama Mandra untuk menghadap Raden Rudira.Namun dalam pada itu,
sesosok tubuh yang lain berada di balik dinding gedogan dengan dada
yang berdebar-debar. Ia mendengar semua pembicaraan, la tahu bahwa
Raden Rudira sudah tidak memerhatikannya lagi, karena orang itu
adalah Sura. Tetapi Sura yang sudah menemukan dirinya, tidak
memperdulikannya lagi. Ia sama sekali tidak menyesal, badwa ia akan
dikeluarkan dari istana Ranakusuman, tempat ia bekerja
bertahun-tahun. Namun sikap Raden Rudira, semakin lama semakin tidak
disukainya. Sura yang berada di belakang dinding itu mendengar derap
kaki Mandra berlar i-lari. Bahkan dar i celah-celah dinding yang
tidak rapat, ia melihat orang yang bertubuh tinggi kekar itu dengan
tenang datang menghadap Raden Rudira. Sambil menganggukkan kepalanya
dalam-dalam ia bertanya “Apakah tuan memanggil aku?” “Ya. Aku
memerlukan kau” “Aku selalu siap menjalankan perintah tuan” “Dengar”
katanya “petani itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ramanda
Pangeran Mangkubumi” Mandra menjadi bingung mendengarnya. Ia tidak
segera mengerti apa yang dikatakan oleh Raden Rudira. “He, kenapa
kau mendengarnya dengan mulut ternganga?” bentak Raden Rudira.
Mandra masih merenung sejenak, baru kemudian ia mengangguk-angguk
sambil berkata “O, tentu, tentu Raden. Memang tidak ada hubungan
apapun juga antara petani itu dengan Pangeran Mangkubumi. “Jadi, aku
harus menangkapnya. Aku harus menemukannya kembali, selagi ia belum
lari dari Sukawati. Suralah yang agaknya telah berkhianat. Mungkin
ia menjadi sangat ketakutan setelah ia dikalahkan oleh petani
itu”“Sura memang tidak berarti apa-apa tuan. Jika tuan menghendaki,
aku sanggup mengantarkan tuan meskipun tanpa orang lain. Aku sanggup
menangkapnya sendiri dan membawanya kemari, menyeretnya di belakang
kuda dengan tangan terikat” “Bagus. Kita akan mengambilnya. Hatiku
masih belum puas, Jika aku belum berhasil menangkapnya” Raden Rudira
menggeram “Kita akan mengambil petani itu sekaligus dengan perempuan
dari Jati Aking” “Perempuan dari Jati Aking?“ Mandra bertanya. ”Ya.
Petani itu pulalah yang telah menggagalkan rencanaku atas gadis Jati
Aking itu” Mandra masih belum jelas, apakah hubungan antara petani
itu dengan seorang gadis dar i Jati Aking, meskipun ia pernah
mendengar bahwa petani itu dijumpai pertama-tama di bulak Jati Sari.
Namun selagi Mandra bertanya-tanya di dalam hati dan mencoba
menghubung-hubungkan ceritera yang pernah didengarnya itu dengan
perempuan yang dimaksud Raden Rudira, tiba-tiba saja Sada yang
selama itu hanya mendengarkan saja berkata “Tetapi tidak mustahil
bahwa Pangeran Mangkubumilah petani yang tuan maksud itu” Raden
Rudira membelalakkan matanya. Dipandanginya orang itu tajam-tajam.
Kemudian ia bertanya “Siapakah laki- laki ini?“ “Ampun tuan“
Sampirlah yang menjawab “Orang ini adalah kakakku. Ia adalah abdi di
Mangkubumen. Kepadanya aku bertanya tentang Pangeran Mangkubumi, dan
adalah kebetulan sekali bahwa aku telah melihatnya sendiri” “Tetapi
kenapa ia berkata begitu?“ Sada seakan-akan sama sekali tidak
mengerti, akibat apa yang dapat timbul dari kata-katanya. Seenaknya
ia berkata“Memang Mungkin sekali. Pangeran Mangkubumi dapat berada
di sembarang tempat di setiap waktu” Raden Rudira menjadi tegang
”Maksudmu?“ “Pangeran Mangkubumi mempunyai aji Sepi Angin” Wajah
Raden Rudira menjadi merah. Sejenak ia memandang wajah Sada. Namun
sejenak kemudian dipandanginya wajah pelayan-pelayannya yang ada di
sekitarnya. Dan ternyata bahwa wajah-wajah itupun menegang juga.
Namun tiba-tiba ia berteriak “Bohong. Bohong kau” Tetapi masih
seenaknya Sada menggeleng “Kenapa aku berbohong? Aku hanya
memperingatkan tuan, agar tuan tidak salah langkah. Dari Sampir aku
mendengar bahwa tuan menjadi ragu-ragu melihat seorang petani yang
mir ip dengan Pangeran Mangkubumi. Memang tidak mustahil bahwa
petani itu memang Pangeran Mangkubumi” Raden Rudira memandang Sada
dengan tajamnya. Ia sama sekali tidak senang melihat sikapnya.
Seakan-akan ia sedang berbicara dengan orang-orang sejajarnya.
Apalagi persoalan yang dikatakannya telah menimbulkan keragu-raguan
yang sangat di dalam hatinya. Karena itu, maka dengan wajah yang
merah ia membentak ”Aku tidak memerlukan keteranganmu. Aku tidak
memer lukan kau. pergi. Pergi dari sini. Sikapmu tidak menyenangkan
dan kau mulai membual seperti pelayan-pelayan pesanggrahan itu. Aku
harus melaporkannya kepada Ramanda Pangeran Mangkubumi bahwa pasti
ada seseorang dari abdi-abdinya yang dengan sengaja mengacaukan
susunan tata-krama” Sada terkejut mendengar bentakan-bentakan itu,
sehingga tanpa sesadarnya ia berkata “Kenapa tuan membentak-bentak
aku?“.“Kau tidak mengenal sopan santun. Dan kau sengaja membuat aku
gelisah” lalu Raden Rudira berkata kepada Sampir “bawa orang ini
meninggalkan halaman” Sampir menjadi termangu-mangu. Karena itu ia
tidak segera berbuat sesuatu sehingra Raden Rudira membentaknya pula
“Cepat, bawa orang ini pergi” “Ya, ya tuan“ Ia menyahut
terbata-bata. Sadapun kemudian menyadari, bahwa ia tidak disukai
oleh Raden Rudira. Karena itu, maka iapun menganggukkan kepalanya
sambil berkata “Baiklah Raden. Aku minta diri. Aku minta maaf, bahwa
aku berbuat sesuatu yang tidak berkenan di hati Raden. Mungkin hal
ini terbawa oleh kebiasaan kami di istana Pangeran Mangkubumi”
“Cukup, Cukup. Kau tidak usah sesorah sekarang tinggalkan halaman
ini” “Baiklah Raden” sahut Sada sambil membungkuk sekali lagi.
Demikianlah, Sampir telah membawa kakaknya keluar regol halaman
Ranakusuman, sambil minta maaf kepadanya. “Kau tidak apa-apa.
Baiklah aku berjalan berkeliling kota sampai menjelang tengah hari,
seolah-olah aku sudah menengok kakek yang sedang sakit” Dalam pada
itu Raden Rudira benar-benar telah dicengkam kembali oleh
keragu-raguan yang dahsyat. Keterangan Sada membuatnya semakin
bingung, sehingga dendam yang tersimpan di dalam dadanya seakan-akan
menghentak-hentak tanpa mendapat saluran. Dalam kebingungan dan
kebimbangan itulah, tiba-tiba. Raden Rudira mencari sasaran yang
paling lunak untuk melepaskan kemarahannya. Katanya kepada Mandra
“Sebentar lagi matahari akan terbit. Jika panasnya mulai menyentuh
atap gandok kulon, kalian harus sudah siap. Akuakan pergi ke Jati
Aking. Aku akan mengambil gadis itu atas perintah ibunda. Ibunda
Ranakusuma memerlukan seorang pelayan untuk menyiapkan tempat
sirihnya setiap saat” Perintah itu itu sebenarnya sangat
mengejutkan. Apalagi Sura yang berada di balik dinding dengan
gelisah. Jika Rudira masih saja berdir i di situ sampai matahari
naik, maka kehadirannya pasti diketahui oleh salah seorang yang ada
di sekitar kandang itu. Untunglah bahwa kemudian jatuh perintah
Raden Rudira yang mengejutkan itu, sehingga sejenak kemudian Raden
Rudirapun meninggalkan kandang itu sambil menggeram “Aku harus
mengambilnya. Tidak seorangpun dapat menentang perintah seorang
Pangeran. Dan ayahanda lewat ibunda menghendaki gadis itu” Para
abdinya yang termangu-mangu iupun sejenak kemudian telah
meninggalkan kandang itu pula Meskipun mereka harus menggerutu,
tetapi mereka tidak dapat menolak. Betapapun lelahnya, mereka harus
segera mempersiapkan diri untuk pergi ke Jati Sar i. “Mudah-mudahan
petani itu tidak kita jumpai lagi di Jati Sari” desis salah seorang
dari mereka. Jika benar orang itu Pangeran Mangkubumi yang mempunyai
aji Sepi Angin, tidak mustahil tiba-tiba saja ia sudah berada di
padepokan Jati Aking itu” sahut kawannya. “Tetapi Pangeran
Mangkubumi tidak mengetahui rencana yang tiba-tiba saja meledak
karena kemarahan yang tidak tersalurkan. Tindakan ini semata-mata
adalah semacam pelepasan yang hampir-hampir tidak dapat dimengerti”
“Sst, siapa tahu, selain aji Sepi Angin, Pangeran Mangkubumi juga
mempunyai aji Sapta Pangrungu. Ia mendengar setiap pembicaraan yang
dikehendakinya”“Apakah ia sekarang sedang mendengarkan pembicaraan
kita dan pembicaraan Raden Rudira beberapa saat tadi?” “Mungkin,
karena Sampir baru saja meninggalkan istana Pangeran Mangkubumi itu.
Pangeran Mangkubumi ingin mengetahui yang akan dilaporkannya kepada
Raden Rudira” “Terasa tengkuk orang itu meremang. Baginya Pangeran
Mangkubumi dan petani di bulak Jati Sari itu adalah orang- orang
yang menyimpan rahasia yang tidak terpecahkan. Tetapi mereka harus
pergi, meskipun mereka tahu, bahwa Raden Rudira hanya sekedar ingin
melepaskan kemarahan yang bergejolak di hatinya. Ia tentu ingin
membuat Raden Juwiring menjadi semakin sakit hati karena gadis yang
diambilnya itu. “Apakah gadis itu bakal isteri Raden Juwiring?“
bertanya seseorang kepada kawannya. “Siapa yang bilang? Gadis itu
adalah anak Danatirta. Jika di antara mereka timbul juga perasaan
saling mencintai, itu wajar sekali. Setiap hari mereka bertemu dan
bergaul. Apalagi Raden Juwiring adalah seorang anak muda yang tampan
dan rendah hati” Merekapun kemudian terdiam Namun tangan merekalah
yang sibuk dengan alat-alat yang harus mereka bawa. Alat- alat
berburu yang tidak akan dipergunakannya karena sebenarnya mereka
tidak akan berburu binatang di hutan- hutan perburuan. Dengan
tergesa-gesa merekapun makan pagi. Jika matahari naik, tentu Raden
Rudira akan segera membawa mereka pergi. Demikianlah, dugaan mereka
itu ternyata benar-benar terjadi. Ketika langit menjadi semakin
cerah, dan sinar matahari mulai jatuh diatas atap gandok kulon, maka
Raden Rudira segera mempersiapkan orang-orangnya. Ia sama
sekalitidak menghiraukan lagi kepada Sura. Apakah ia ada di halaman
istana atau tidak. Tetapi Raden Rudira tidak membawanya serta,
karena ternyata Sura tidak lagi Sura yang setia. Demikianlah maka
Raden Rudira beserta para pengiringnya segera berpacu ke Jati Aking.
Beberapa orang yang melihat menjadi terheran-heran. Baru saja mereka
melihat Raden Rudira berangkat berburu dua hari yang lalu. Sekarang
mereka melihat Raden Rudira telah berangkat lagi. Raden Ayu Sontrang
hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalannya saja. Ia tidak dapat
lagi mencegah anaknya yang bernafsu untuk melepaskan kemarahannya
kepada orang- orang yang dianggapnya menjadi sebab. Jika Juwiring
dan orang-orang Jati Aking itu tidak mengganggunya saat itu, maka
petani itupun t idak akan berbuat apa-apa. “Kemanakah Rudira itu
pergi?“ bertanya Pangeran Ranakusuma kepada isterinya. Raden Ayu
Sontrang tidak segera menjawab. Tetapi sambil tersenyum ia berkata
“Makan telah kami sediakan. Silahkan kamas makan pagi” “Rudira itu
pergi kemana?“ Pangeran Ranakusuma mengulang. “Isterinya masih saja
tersenyum. Katanya “Janganlah kamas terlampau menghiraukan anak itu.
Ia sudah meningkatdewasa. Ia akan dapat menemukan jalannya sendir i
yang dianggapnya baik” “Aku hanya bertanya, ia akan pergi kemana”
Raden Ayu Sontrang justru tertawa. “Baru semalam ia datang. Belum
lagi aku sempat berbicara, ia telah pergi lagi. Aku tidak tahu
tabiat anak-anak muda sekarang. Terlampau sulit untuk diketahui
kemauannya” “Kamas menganggapnya masih terlampau kanak-kanak”
“Tidak. Justru aku menganggap ia sudah meningkat dewasa, maka ia
harus menemukan kepribadiannya. Selama ini Rudira hampir tidak
pernah berbuat apa-apa yang dapat berarti bagi hidupnya kemudian. Ia
sama sekali tidak mau mempelajari tata pemerintahan, tidak
mempelajari ilmu kehidupan dan ilmu tata susunan alam dan
bintang-bintang. Ia malas membaca kitab-kitab dan kidung yang berisi
ilmu kasampurnan, dan ia t idak pula maju dalam ilmu kanuragan” “O“
Raden Ayu Sontrang mengerutkan keningnya, namun kemudian ia duduk di
sebelah suaminya sambil berkata “pada saatnya hatinya akan terbuka.
Kamaslah yang wajib menuntunya. Sampai sekarang kamas terlampau
sibuk dengan pemerintahan di Surakarta berhubung dengan kehadiran
orang-orang asing itu” “Dan kau sibuk pada jamu-jamuan yang
diselenggarakan oleh mereka itu dan jamuan yang kita adakan untuk
mereka. Terasa dada Raden Ayu Sontrang berdesir. Baru semalam,
sebelum anaknya pulang ia menghadiri jamuan tamu-tamu asing itu dan
kemudian menjamu mereka pula. Jamuan yang tidak sekedar makan dan
minum. Namun sejenak kemudian Raden Ayu Sontrang itu sudah tersenyum
kembali sambil berkata “Tetapi masih belum terlambat. Kita akan
segera menebus kelambatan itu. Bukankah kitadapat memanggil guru
yang cakap untuk menuntun Rudira di dalam bermacam-macam ilmu?“
Pangeran Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil menatap
kekejauhan ia berkata “Tetapi kalau kita tidak segera melakukannya,
pada suatu saat, kita baru akan sadar, jika kita sudah terlambat”
Isterinya tidak menyahut, tetapi diangguk-anggukkannya kepalanya
pula. Bahkan kemudian katanya “Kamas, silahkan makan. Semuanya sudah
tersedia. Bukankah kamas akan segera menghadap ke istana?“
Demikianlah, ketika Pangeran Ranakusuma berangkat ke istana, maka
Raden Rudira berpacu secepat-cepatnya di tengah-tengah bulak menuju
ke Jati Aking. Ia mengurungkan niatnya untuk kembali ke Sukawati
karena keragu-raguan yang mencengkam dadanya. Sekali-sekali
terbayang wajah petani itu, namun kadang-kadang ia diganggu oleh
wajah Pangeran Mangkubumi yang memang hampir tidak dapat
dibedakannya. “Persetan dengan petani itu” geramnya “Aku harus
melepaskan sakit hatiku kepada kakang Juwir ing. Mandra pasti akan
lebih berhasil dar i Sura yang berkhianat itu” Dengan demikian, maka
mereka berpacu semakin cepat. Ketika matahari merayap semakin
tinggi, maka merekapun telah membelah daerah persawahan di Jati Sar
i. “Kita hampir sampai” desis Rudira. Yang berpacu di sebelahnya
kini adalah Mandra Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bertanya
“Apakah mereka t idak sedang berada di sawah?“ “Aku tidak peduli.
Aku harus pergi ke Jati Aking menemui Kiai Danatirta. Ia harus
menghadap dan membawa Juwir ing, anak dungu yang hampir saja
mencelakai Sura dengan licik itu. dan anak gadisnya. Aku memer lukan
gadis itu. Tidakseorangpun akan dapat mencegahnya. Kalau perlu, kau
dapat bertindak dengan kekerasan” “Jangan cemas” sahut Mandra “Aku
tidak akan mengecewakan tuan seperti Sura. Aku akan berhasil membawa
gadis itu. Meskipun Raden Juwiring kini memiliki aji Lebur Seketi
dan Tameng Waja seperti yang pernah dimiliki oleh Kangjeng Sultan
Pajang, namun ia tidak akan berhasil mencegah aku” “Ia tidak akan
dapat berbuat banyak. Yang gila adalah petani dari Sukawati itu.
Hampir tanpa berbuat sesuatu ia sudah berhasil mengalahkan Sura”
Raden Rudira berhenti sejenak, lalu “Apakah ia mempunyai kekuatan
gaib pada tatapan matanya yang tajam itu, yang sering disebut
sebagai aji Candramawa” “Aku tidak peduli tuan. Aku akan memaksa
mereka menurut segala per intah tuan. Dan jika tuan kehendaki, aku
dapat mengikat mereka dan menuntun mereka di belakang kaki kuda ini”
Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak
menjawab. Ia memang mengharap, mudah-mudahan Mandra adalah orang
yang lebih baik dari Sura. Demikianlah, maka menjelang tengah hari,
mereka telah berada di bulak Jati Sari. Sebentar lagi mereka akan
memasuki padepokan Jati Aking, padepokan yang agak terpisah, di luar
padukuhan Jati Sar i meskipun tidak begitu jauh. “Apakah kita akan
langsung pergi ke padepokan Jati Aking?“ bertanya Mandra. “Ya. Jika
kakang Juwir ing dan orang-orang yang kita cari sedang berada di
sawah, maka Danatirta harus memanggil mereka” sahut Raden Rudira.
Mandra mengangguk-angguk. Namun ia menjadi berdebar- debar. Kali ini
ia ingin menunjukkan kemampuannya bertindakmelampaui Sura, agar ia
benar-benar mendapat tempat untuk menggantikan orang yang
dianggapnya sudah terlalu lama menduduki tempat yang paling baik di
Ranakusuman. “Aku harus mengatasi“ Mandra bergumam kepada diri
sendiri “Jika aku gagal kali ini, maka aku tidak akan berhasil
mengusir Sura meskipun Sura sudah berkhianat. Raden Rudira pasti
akan mencar i orang lain yang Setidak-tidaknya tidak lebih jelek
dari Sura” Sejenak kemudian, maka iring-ir ingan itupun sudah
menjadi semakin dekat dengan padepokan Jati Aking. Beberapa orang
yang melihat ir ing- iringan itu menjadi cemas. Mereka masih belum
melupakan perist iwa beberapa hari yang lalu di bulak Jati Sari.
Beberapa orang yang tidak sempat menyingkir dari jalan yang dilalui
Raden Rudira memberikan hormat yang sedalam- dalamnya. Bahkan ada
yang menjadi ketakutan dan berjongkok meskipun mereka mengerti,
bahwa mereka tidak harus berbuat demikian. Raden Rudira tidak
mengacuhkan mereka. Tetapi penghormatan yang diterimanya sedikit
menawarkan kemarahannya, setelah ia mengalami per lakuan yang
menyakitkan hati si Sukawati. Orang-orang Sukawati seakan- akan
tidak mengacuhkannya ketika ia lewat. Mereka berdiri saja dengan
tangan bersilang di dada. Tetapi ternyata orang- orang Jati Sari
lebih bersikap sopan. Mereka membungkuk dalam-dalamatau bahkan
berjongkok di tepi jalan. Seorang pengiring yang pernah pergi ke
Jati Aking diperintahkan oleh Raden Rudira berkuda di paling depan.
Kemudian di belakangnya adalah Raden Rudira dan Mandra. Ketika
pengiring yang berkuda di paling depan itu berhenti di depan regol
padepokan, maka Raden Rudirapun mendahuluinya sambil berkata “Kita
berkuda terus. Tidak ada orang yang berhak melarang”Demikianlah maka
sejenak kemudian kuda-kuda itu berderap di halaman padepokan yang
bersih gilar-gilar dibayangi oleh sepasang pohon sawo kecik yang
sejuk. Ternyata derap kaki-kaki kuda itu telah terdengar oleh para
penghuninya, sehingga dengan tergesa-gesa Kiai Danatirta
menjengukkan kepalanya lewat pintu depan. Raden Rudira yang sudah
berada di depan pendapa melihat kepala yang terjulur disela-sela
pintu itu sehingga dengan serta merta ia berkata “Ha, aku datang
Kiai” Kiai Danatirtapun kemudian muncul dar i balik pintu. Dengan
berlari-lari kecil ia melintasi pendapa. Dengan hormatnya ia
menyambut kedatangan Raden Rudira di tangga pendapa, sementara Raden
Rudira masih berada di punggung kudanya. “Silahkan Raden“ dengan
ramahnya ia mempersilahkam tamunya “Agaknya aku mendapat anugerah
tiada taranya, Raden sudi berkunjung ke padepokan ini” Raden Rudira
termangu-mangu sejenak. Diedarkannya tatapan matanya kesekeliling
padepokan. Halaman yang bersih dan terawat. Rerumputan yang hijau
dan pohon-pohon bunga yang tumbuh di sekeliling halaman itu.
Beberapa sangkar burung bergantungan dipepohonan yang rindang.
Burung dari bermacam-macam jenis. Jenis burung bersiul dan jenis
burung mendekur. Di tengah-tengah halaman itu sepasang pohon sawo
kecik yang belum tua benar tumbuh dengan r imbunnya, membuat halaman
itu semakin sejuk dan segar. Sedang beberapa pohon buah-buahan yang
lain bertebaran di sana-sini memenuhi halaman dan kebun padepokan
itu. Karena Rudira tidak menjawab, maka sekali lagi Kiai Danatirta
mempersilahkan “Tuan, mar ilah, silahkan tuan naik ke
pendapa”Seperti kena pesona maka Raden Rudirapun turun dari kudanya
diikuti oleh para pengir ingnya. Selangkah demi selangkah ia naik
tangga pendapa. Demikian juga para pengiringya. Ternyata di
tengah-tengah pendapa itu sudah terbentang beberapa helai tikar yang
putih seperti seputih janggut yang tumbuh di dagu Kiai Danatirta
meskipun tidak begitu lebat dan panjang. “Silahkan tuan” Raden
Rudira memandang tikar yang terhambar itu sejenak Kemudian iapun
bertanya “Apakah kau tahu bahwa aku akan datang kemar i?” Kiai
Danatirta tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi ia berka ia
“Kunjungan tuan sangat menngejutkan. tetapi juga membesarkan hati,
bahwa padepokanan yang kecil ini mendapat juga perhatian tuan”
“Jangan mengada-ada” sahut Raden Rudira “Kamas Juwiring berada di
sini. Bukan untuk sekedar berkunjung” “Justru karena ia sudah ada di
sini, maka tidak ada lagi yang menarik padanya. Tetapi kedatangan
tuan adalah suatu kehormatan bagiku” Raden Rudira mengangguk-angguk.
Ketika ia akan duduk diatas tikar yang sudah terhampar itu, sekali
lagi ia bertanya “Apakah kau tahu, bahwa aku dan pengir ingku akan
datang?“ Seperti tidak mendengar pertanyaan itu Kiai Danatirta
mempersilahkan ”Marilah tuan, silahkan duduk di sini. Biarlah para
pengiring duduk di sebelah” Raden Rudira maju beberapa langkah dan
duduk di hadapan Kiai Danatirta yang segera duduk pula, di sebelah
Mandra.Sementara itu para pengiring Raden Rudirapun telah duduk pula
di sebelah t iang tengah, melingkar saling berhadapan. Sejenak
mereka saling berpandangan, seakan-akan saling bertanya, apakah yang
akan segera terjadi? Dalam pada itu Kiai Danatirtapun bertanya
sekedar keselamatan Raden Rudira dan pengiringnya. Dan Rudirapun
menjawab acuh tak acuh karena ia tahu, bahwa hal itu hanyalah
sekedar kelengkapan adat sopan santun, yang bahkan dirasakan sangat
mengganggunya, karena ia tidak segera dapat mengatakan maksudnya.
Baru kemudian, Rudira sempat berkata “Aku datang untuk suatu
keperluan yang penting Kiai“ Kiai Danatirta mengerutkan keningnya.
Sambil mengangguk-angguk ia bertanya “Silahkan Raden duduk dahulu.
Silahkan Raden menikmati hidangan yang akan kami suguhkan. Bukankah
Raden tidak tergesa-gesa. Raden dapat tinggal di padepokan ini
sehari atau bahkan beberapa hari yang Raden ingini. Sekali-sekali
Raden dapat melihat kehidupan padesan, sekali-sekali Raden dapat
melihat kenyataan hidup petani-petani miskin di daerah Surakarta.
Terasa sesuatu berdesir di dada Rudira. Namun dengan demikian ia
bahkan menjadi semakin ingin cepat menyampaikan maksudnya. Katanya
“Aku tidak mempunyai banyak kesempatan” “O, tetapi tunggulah
sebentar tuan. Kami harus menjamu tuan meskipun hanya sekedar apa
yang ada di padepokan” “Aku tidak sempat menunggu. Aku harus segera
kembali sebelum ayahanda mencar i aku” “Bukankah ayahanda tuan
mengetahui bahwa Raden pergi kemari?“ “Ayahandalah yang
memerintahkan aku pergi kemari”Kiai Danatirta mengerutkan keningnya.
Katanya kemudian “Apalagi ayahanda Raden sendirilah yang
memerintahkan Raden kemari” “Tetapi ayahanda berpesan agar aku
segera kembali” Kiai Danatirta tersenyum. Katanya “Silahkan tuan
duduk sejenak” “Jangan pergi. Aku akan segera kembali” Tetapi Kiai
Danatirta seakan-akan tidak mendengar kata- kata Raden Rudira itu.
Iapun segera beringsut dan meninggalkan tamu-tamunya masuk ke dalam.
Sejenak kemudian ia sudah kembali. Sambil tersenyum ia duduk Di
tempatnya. Katanya “Kami akan menghidangkan air. Hanya air untuk
penawar haus” Raden Rudira tidak sempat menjawab ketika pintu
pringgitan kemudian segera terbuka. Seorang gadis keluar sambil menj
injing sebuah nampan berisi beberapa mangkuk air panas. Sejenak
Raden Rudira terpesona. Gadis itulah yang dilihatnya di
tengah-tengah bulak beberapa saat yang lalu, sehingga tanpa
disadarinya ia telah terlibat dalam suatu pertengkaran dengan petani
dari Sukawati itu. Dan kini gadis itu datang untuk menghidangkan air
panas baginya. Dada Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Ia sudah
tertarik melihat gadis itu di bawah terik matahari. Dalam pakaian
seorang anak petani yang membawa makanan ke sawah. Kini gadis itu t
idak dibakar oleh panasnya sinar matahari, dan dalam pakaian yang
lebih baik pula, sehingga bagi Raden Rudira, gadis itu tampak
menjadi semakin cant ik. Dengan cekatan gadis itu kemudian
berjongkok dan bergeser mendekat. Ketika ia sudah berada di sudut t
ikar, iapun segera duduk sambil meletakkan nampannya di
hadapannya.“Maaf tuan” berkata Kiai Danatirta, sehingga Raden Rudira
terkejut karenanya “Ia adalah seorang gadis padesan, sehingga
barangkali solah tingkahnya kurang berkenan di hati tuan” “O, tidak.
Tidak“ Rudira menggelengkan kepalanya. Namun wajahnya menjadi merah
ketika ia melihat Kiai Danatirta tersenyum sambil mengambil
mangkuk-mangkuk itu dari nampan dan menghidangkannya kepada Raden
Rudira dan Mandra. Tetapi selagi Raden Rudira termangu-mangu melihat
wajah Arum yang cerah, tiba-tiba sekali lagi pintu berderit. Ketika
Raden Rudira berpaling, maka kini dadanya berguncang. Ia melihat
seorang anak muda yang pernah dikenalnya di bulak Jati Sari. Anak
itulah yang dengan garangnya menyerang Sura, sehingga hampir saja
Sura tidak berdaya, karena ia sama sekali tidak mengira, bahwa anak
itu akan menyerangnya bagaikan arus banjir bandang. Kali ini anak
muda yang bernama Buntal itupun membawa sebuah nampan seperti yang
dibawa oleh Arum. Tetapi Buntal kemudian membawa hidangannya kepada
para pengiring Raden Rudira. Bukan saja Raden Rudira, tetapi para
pengir ing yang melihat tandang anak muda itu di bulak Jati Sari
menjadi berdebar-debar. Menilik sikapnya kini, sama sekali tidak
terbayang kesan kegarangannya. Sambil berjalan terbungkuk- bungkuk
di wajahnya terlukis sebuah senyum yang ramah. “Itu adalah seorang
cantrik di padepokan ini yang aku ambi! menjadi anak angkatku”
berkata Kiai Danatirta, meskipun sebenarnya ia tahu, bahwa baik
Raden Rudira maupun sebagian dari pengiringnya pernah melihatnya.
Tidak seorangpun yang menyahut. Hanya beberapa orang pengawal yang
belum pernah melihatnya mengangguk- anggukkan kepalanya. Tetapi
wajah Raden Rudira sendiri tiba-tiba telah menjadi muram. Ternyata
di samping gadis yang cantik itu terdapat seorang anak muda yang
tampan, bahkan di rumah ini masih ada Raden Juwiring. Karena itu,
maka setelah keduanya selesai menghidangkan mangkuk minuman, Rudira
tidak sabar lagi untuk menunggu. Ia ingin segera mengatakan, bahwa
ibunya memer lukan seorang gadis pembantu. Karena Juwiring berada di
sini, maka alangkah baiknya kalau gadis dari padepokan ini berada di
DalemRanakusuman. Tetapi belum lagi ia sempat mengatakannya, sekali
lagi gadis ini datang menghidangkan makanan bagi Raden Rudira,
disusul oleh Buntal pula, yang membawa makanan bagi para
pengiringnya. Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia
melihat kedua anak-anak muda itu masuk ke pringgitan dan kemudian
menutup pintu dari dalam, terasa hatinya melonjak, sehingga kesan
itu tampak di wajahnya. Kiai Danatirta adalah seorang tua yang
memiliki ketajaman indera, sehingga ia melihat kesan yang tersirat
di wajah Raden Rudira. Karena itu, maka segera ia berusaha
memindahkan perhatian Raden Rudira “Silahkan Raden, silahkanlah
minum” “O“ Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mereka
adalah anak-anak padesan. Barangkali ada kekurangan tata kesopanan,
harap Raden memaafkan” Raden Rudira hanya mengangguk-angguk tanpa
menjawab sepatah katapun. Dalam pada itu, para pengiringnya tidak
menunggu dipersilahkan untuk kedua kalinya. Merekapun segera
mengangkat mangkuk masing-masing. meneguk minuman yang hangat sambil
mengunyah sebongkah gula kelapa. Namun ternyata Raden Rudira tidak
dapat menahan gejolak di dalam hatinya. Sejalan dengan tabiatnya
yang kasar dantergesa-gesa, maka tiba-tiba saja ia berkata “Kiai
Danatirta, kedatanganku bukannya sekedar untuk singgah di
padepokanmu yang sejuk. Tetapi kedatanganku mengemban perintah
ayahanda Pangeran Ranakusuma” Kiai Danatirta mengangguk-angguk.
Jawabnya “Sekarang tuan telah meneguk air dari padukuhan Jati Aking
yang dihidangkan oleh anakku dan anak angkatku. Silahkan tuan
menyampaikan kepentingan tuan” “Kiai” berkata Raden Rudira “ibunda
Raden Ayu Ranakusuma memerlukan seorang pembantu” “O” Kiai Danatirta
mengangguk-angguk “maksud Raden, apakah ibunda Raden Rudira ingin
memerintahkan kepada kami di padepokan ini untuk mencari seseorang?
Barangkah Raden dapat menyebutkan, tugas apakah yang akan diserahkan
kepada pembantu itu sehingga aku dapat mencari orang yang tepat”
“Ibunda memerlukan seorang gadis yang cakap dan pantas untuk
melayaninya setiap saat. Karena ibunda sering menerima tamu-tamu
bukan saja para bangsawan, tetapi juga orang-orang asing, maka
pelayannyapun harus seorang yang pantas untuk diketengahkan di dalam
setiap perjamuan, karena pelayan itu adalah pelayan khusus buat
ibunda di setiap saat, di setiap kepentingan” “O” Kiai Danatirta
mengangguk-angguk pula. Kemudian katanya “Jadi ibunda Raden Ayu
Ranakusuma memer lukan seorang gadis” “Ya. Gadis yang pantas”
“Baiklah Raden. Aku akan berusaha. Mudah-mudahan aku akan segera
dapat menemukan gadis yang tuan maksud. Apakah kemudian aku harus
membawanya ke Dalem Pangeran Ranakusuma dan menyerahkannya kepada
ibunda Raden Rudira?““Tidak itu tidak perlu. Ibunda memer intahkan
aku membawanya sekarang juga. Ibunda memerlukan pelayan itu
secepatnya, untuk segera diajari melayani ibunda terutama apabila
ibunda menerima tamu di dalam jamuan yang memang sering diadakan”
“Tetapi bagaimana mungkin sekarang, Raden. Aku harus mencarikannya.
Mencari seorang gadis yang pantas dan tentu saja memiliki kecerdasan
yang cukup. Aku kira aku memer lukan waktu barang satu dua pekan”
“Itu terlalu lama” potong Raden Rudira “Aku memerlukan sekarang”
Kiai Danatirta menggeleng “Apakah tuan akan menunggu sampai aku
mendapatkan anak itu? Aku harus pergi ke padukuhan Jati Sar i. Aku
yakin bahwa orang-orang Jati Sari akan merasa mendapat kanugrahan
apabila anak gadisnya dipanggil masuk ke Dalem Pangeranan. Setiap
orang pasti akan menyerahkan dengan hati yang ikhlas. Tetapi yang
sulit adalah memilih satu dari antara gadis-gadis itu. Tentu saja
aku tidak akan dapat menyerahkan sembarang gadis, karena jika
ternyata gadis itu tidak memenuhi syarat yang dikehendaki, tuan akan
marah kepadaku” “Kau tidak perlu bersusah payah mencarinya Kiai“
Raden Rudira tidak sabar lagi “Aku sudah menemukan gadis itu” “O,
jadi tuan sendiri sudah menemukannya? Jika demikian soalnya tidak
akan begitu sulit. Tuan dapat datang kepada Demang Jati Sari, dan Ki
Demang pasti akan dengan senang hati menyampaikan maksud tuan kepada
orang tua gadis itu” “Persetan dengan Demang di Jati Sari. Aku sudah
langsung datang kepada orang tuanya” Kiai Danatirta mengerutkan
keningnya. “Aku datang kemari, karena aku akan mengambil Arum”
berkata Raden Rudira dengan tegas.Mandra menahan nafasnya sejenak.
Ia menyangka bahwa Kiai Danatirta akan terkejut. Jika orang tua itu
keberatan, maka akan menjadi tugasnya untuk memaksanya menyerahkan
anak gadisnya. Ia tidak mau gagal lagi seperti di Sukawati. Jika
sekali ini ia gagal, kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya tidak
akan datang lagi. Raden Rudira akan melepaskannya pula, dan
barangkali Sura akan dipanggilnya kembali. Kegagalannya di Sukawati
adalah permulaan yang buruk baginya. Tetapi ternyata Mandra menjadi
heran. Ia sama sekali tidak melihat kesan apapun di wajah Kiai
Danatirta, seakan-akan apa yang dikatakan oleh Raden Rudira itu
sudah diketahuinya. Raden Rudirapun memandang wajah orang tua itu
sesaat. Untuk meyakinkan tanggapannya yang aneh iapun sekali lagi
berkata kepada orang tua itu “Aku datang untuk mengambil anakmu.
Bukankah anakmu bernama Arum?“ Kiai Danatirta menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian katanya “Tuan. Adalah tidak dapat aku
mengerti, bahwa untuk tugas yang penting itu ternyata tuan telah
memilih Arum. Arum adalah seorang gadis yang dungu, manja dan tidak
dapat berbuat apa-apa, selain menyampaikan makanan ke sawah. Kenapa
tuan memilihnya? Apakah ibunda tuan yang memer intahkan tuan untuk
mengambil gadis itu?” “Aku tidak tahu. Ibundalah yang
menghendakinya. Dan atas persetujuan ayahanda maka aku datang
kemari. Ingat Kiai Danatirta. Kau tidak akan dapat menolak. Ayahanda
adalah seorang Pangeran” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya.
Tetapi ia masih bertanya “Tuan. adalah aneh sekali jika ibunda Raden
Rudiralah yang menghendakinya. Bukankah ibunda tuan belum pernah
melihat anakku itu? Tuanlah yang pernah melihatnya di bulak Jati
Sari beberapa waktu yang lampau. Dan tuanlah yang pertama-tama telah
tertarik kepada anakku. Entah karena anakku memang mempunyai cir i
dan tampangseorang pelayan, sehingga tiba-tiba saja tuan ingin
mengambilnya menjadi pelayan di Ranakusuman. atau hal yang lain”
Wajah Raden Rudira menjadi merah padam. Ia merasakan sindiran yang
tajam dari Kiai Danatirta. Meskipun demikian Raden Rudira masih
mencoba untuk menahan hati. Katanya “Memang akulah yang
menyampaikannya kepada ibunda tentang anakmu. Ibunda setuju dan
ayahandapun menyetujuinya. Nah, tidak ada persoalan lagi. Serahkan
anakmu kepadaku. Aku akan membawanya menghadap ibunda” Kiai
Danatirta memandang wajah Raden Rudira yang tegang Kemudian
ditatapnya Mandra sejenak. Sambil mengepalkan tangannya Mandra
bergeser setapak maju. “Tuan” berkata Kiai Danatirta “Apakah yang
sebenarnya terjadi atas tuan sehingga tiba-tiba saja kami, penghuni
padepokan yang jauh ini telah menjadi ajang dan sasaran kemarahan,
kekecewaan dan kebencian tuan?“ Dada Raden Rudira berdesir.
Seolah-olah Kiai Danatirta itu mengerti apa yang sebenarnya terjadi
atas dirinya. Karena itu Raden Rudira justru menjadi semakin tegang
dan hampir berteriak ia berkata “Jangan mengada-ada. Ayahanda
Pangeran Ranakusuma menghendaki aku mengambil Arum untuk pelayan
ibunda. Kau yang tinggal di padepokan Jati Aking tidak dapat
menolak, karena ayahanda mempunyai wewenang khusus dar i Kangjeng
Susuhunan atas Rakyat Surakarta” “Tuan” berkata Kiai Danatirta “Aku
tidak akan menolak wewenang khusus itu. Tetapi bagaimanakah jika
seorang yang lain, yang juga mempunyai wewenang yang serupa
menghendaki lain?” “Ada beberapa tingkat kekuasaan para bangsawan.
Pada umumnya yang lebih tualah yang lebih berhak”“Tetapi
bagaimanakah j ika karena sesuatu hal terjadi t idak demikian?”
“Cukup. Aku tidak peduli. Sekarang aku memerlukan Arum. Jika ada
kekuasaan yang lebih tinggi yang dapat menolak perintah ini, lekas
katakan” Tetapi Kiai Danatirta menggeleng “Aku tidak dapat
mengatakan tuan, siapakah yang berkeberatan atas perintah Pangeran
Ranakusuma lewat tuan dan aku juga tidak dapat mengatakan kekuasaan
manakah yang akan dapat mencegahnya. Tetapi lebih dari pada itu, aku
adalah ayahnya. Aku mohon kepada tuan, agar tuan tidak mengambilnya
sekarang. Aku akan mencoba mendidiknya agar ia menjadi seorang gadis
yang dapat menempatkan dir inya di antara kaumbangsawan” “Itu tidak
perlu. Ibunda akan mengajarinya” “Tetapi Arum masih terlalu bodoh
tuan. Aku harus member ikan dasar lebih dahulu sebelum ia berada di
Dalem Ranakusuman. Apalagi, Arum adalah anak yang manja, yang
belumpernah terpisah dari keluarganya” “Ia sudah cukup dewasa untuk
hidup dalam lingkungan yang lebih baik. Tidak di padepokan yang
sepi. Ia akan berkembang menjadi seorang gadis yang memiliki
pengetahuan melampaui kawan-kawannya di padepokan dan bahkan
diselunih Kademangan Jati Sari” “Aku mengucapkan terima kasih yang
tidak terhingga atas perhatian tuan dan ayahanda tuan, Pangeran
Ranakusuma. Tetapi perkenankanlah aku mohon, agar anak itu jangan
dibawa sekarang” “Tidak“ Raden Rudira hampir kehilangan kesabaran
“Kau jangan membantah. Kau tidak mempunyai hak menolak perintah yang
diberikan oleh ayahanda. Suruhlah anakmu bersiap. Bawalah pakaian
secukupnya saja karena ibunda pastiakan memberikan jauh lebih banyak
dari yang dimilikinya sekarang” Kiai Danatirta merenung sejenak.
Namun kemudian ia menggeleng “Maaf tuan. Aku tidak sampai hati
melepaskan anakku” “Kau tidak dapat menolak” suara Rudira menjadi
semakin keras. Kiai Danatirta menar ik nafas dalam-dalam. Dan
tiba-tiba saja ia memanggil Arum tanpa beranjak dar i tempatnya.
Agaknya Arum sudah berada di balik pintu. Demikian namanya disebut,
demikian pintu itu terbuka. “Kemarilah“ Sejenak Arum menjadi
ragu-ragu. Tetapi iapun kemudian mendekati ayahnya dan duduk
bersimpuh di belakangnya. Kehadiran Arum ternyata membuat Raden
Rudira menjadi gelisah. Sejenak ia memandang wajah gadis itu, namun
kemudian dilemparkannya tatapan matanya ke halaman, ke celah-celah
dedaunan yang bergetar ditiup angin. “Arum” berkata Kiai Danatirta
“ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu, dan aku ingin
mendengar pendapatmu”“Kiai“ potong Raden Rudira “sebaiknya Kiai
member itahukan persoalannya. Kiai tidak per lu mendengar
pendapatnya” “Bukankah anak ini yang akan menjalaninya” “Tetapi Kiai
dapat memerintahkan kepadanya tanpa mendengar pendapatnya” “Raden,
aku adalah orang tua. Aku adalah ayahnya. Tentu aku tidak dapat
berbuat sekasar itu kepada anak gadisku sendiri” “Kau berhak
menentukan sikap, dan anakmu harus tunduk kepadamu. Kepada orang
tuanya” Kiai Danatirta mengangguk- anggukkan kepalanya. Sejenak ia
berpaling memandangi wajah anaknya, dan bersamaan dengan itu Raden
Rudirapun memandang wajah gadis itu pula. Tetapi ia menjadi heran.
Ia tidak melihat kesan yang tegang di wajah Arum. Bahkan dengan
tenangnya ia bertanya “Apakah sebenarnya yang akan ayah katakan?“
Kiai Danatirta berpaling pula kepada Raden Rudira sambil berkata
“Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya kepada anakku“ Raden
Rudira menarik nafas dalam-dalam untuk menahan kegelisahan di
dadanya, sementara Kiai Danatirta mengatakan kepentingan Raden
Rudira datang ke padepokan ini. Sekali lagi Raden Rudira menjadi
heran. Arum mengikuti keterangan ayahnya, kata demi kata. Tetapi ia
sama sekali tidak menunjukkan perubahan wajah dan tanggapan yang
bersungguh-sungguh. Baru saja ayahnya selesai, ia sudah menjawab
“Aku t idak mau”Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya kepada Raden Rudira “Raden sudah mendengar sendir i. Anakku
tidak mau” “Aku tidak peduli“ Raden Rudira hampir berteriak “Aku
dapat memaksa. Jika aku menyampaikan penolakan ini kepada ayahanda,
maka ayahanda akan menjadi sangat marah dan dengan wewenang yang
didapat dari Kangjeng Susuhunan, maka kau sekeluarga dapat dihukum
seberat-beratnya” “Tentu ayahanda tuan tidak akan berbuat sekejam
itu” “Kenapa tidak? Tetapi akulah yang tidak ingin semua itu
terjadi. Aku akan membawa Arum sekarang” “Jangan Raden. Ia tidak
sanggup” “Terserah kepadanya. Kalau tidak, maka kaulah yang akan aku
bawa. Kau akan diikat di belakang kuda dan dituntun sebagai
pengewan-ewan, sebagai seorang pemberontak yang menentang kekuasaan
Surakarta. Tidak ada seorangpun yang akan menyalahkan aku dan tidak
ada seorangpun yang berani menolongmu, karena aku bertindak atas
nama ayahanda. Dan semua orang tahu bahwa ayahanda adalah orang yang
dekat sekali dengan Kangjeng Susuhunan, di antara beberapa bangsawan
yang lain” “Ayah” tiba-tiba Arumnampak menjadi cemas. “Pertimbangkan
hal itu. Kau dapat memilih, kau pergi ke Surakarta, tinggal bersama
ibunda, atau ayahmu yang akan dituntun ke alun-alun” “Kedua-duanya
tidak tuan” jawab Kiai Danatirta “Tentu aku juga keberatan
mengalaminya. Aku kira ayahanda tuan, Pangeran Ranakusuma tidak akan
berbuat demikian. Dan kekuasaan resmi di Surakartapun tentu tidak.
Apalagi seorang saudara tuan ada di sini. Kakanda tuan. Raden
Juwiring” “Persetan dengan kakanda Juwiring. Aku tidak memer
lukannya. Aku mempersoalkan Arumdi sini”“Tetapi aku bukan orang
asing bagi Pangeran Ranakusuma justru karena kakanda tuan ada di
sini” “Aku tidak peduli” Kiai Danatirta tidak sempat menjawab ketika
tiba-tiba pintu pringgitan itu terbuka lagi. Kali ini seorang anak
muda yang tegap berdiri di muka pintu. Raden Juwiring. “Sebenarnya
aku tidak ingin mencampur i persoalanmu adinda Rudira. Aku tidak mau
peristiwa di bulak Jati Sari itu terulang. Kita pasti akan
ditertawakan orang, karena justru kita bersaudara. Alangkah jeleknya
apabila dua orang yang bersaudara selalu saja bertengkar” Raden
Rudira memandang kakaknya dengan sorot mata yang membara. Tiba-tiba
saja ia berdiri sambil berkata “Kakanda Juwiring memang tidak usah
turut campur” “Aku berusaha untuk menutup telingaku. Tetapi kau
terlampau kasar. Sikapmu kepada Kiai Danatirta bukannya sikap
seorang anak muda kepada seorang yang sudah lanjut usia” “Aku putera
seorang bangsawan” “Itulah kesalahanmu yang terutama. Kau terlampau
sadar, bahwa kau seorang bangsawan. Dan itu adalah sumber
kesalahanmu” “Persetan” jawab Rudira “kakanda Juwiring. Kali ini aku
tidak akan bermain-main. Aku akan berbuat sungguh-sungguh untuk
membuatmu jera. Aku akan bertindak tegas seperti terhadap petani di
Sukawati itu” Juwiring tidak sempat menjawab, karena Rudira segera
berpaling kepada Mandra “Mandra. Kau dapat memaksanya pergi. Aku
tidak senang melihat kehadirannya di sini” Juwiring mengerutkan
keningnya. Lalu katanya masih dengan sikap yang tenang “Kau membawa
orang lain adindaRudira. Kenapa kau tidak membawa Sura? Apakah ia
sekarang sudah menjadi jera karena anak yang tadi menghidangkan
makanan itu” “Aku tidak memer lukan Sura lagi. Tetapi bukan karena
anak gila itu“ lalu katanya kepada Mandra “Cepat Mandra. Doronglah
ia masuk. Akulah yang bertanggung jawab” Semua yang berada di
pendapa sudah berdiri. Para pengiring Raden Rudira, Kiai Danatirta
dan Arum. Suasana menjadi semakin tegang ketika Mandra melangkah
setapak demi setapak maju. “Cepat Mandra” berkata Raden Rudira “Aku
tidak mau menunggu terlalu lama” Mandra mengerutkan keningnya.
Kemudian iapun melangkah selangkah maju sambil menatap wajah Raden
Juwiring dengan sorot mata yang membara. Namun tiba-tiba saja
langkahnya terhenti. Bahkan semua orang berpaling ketika mereka
mendengar suara dari samping pendapa di pojok longkangan “Kau memang
garang Mandra” Mandra tersentak ketika ia melihat orang yang berdiri
di pojok di bawah tangga pendapa itu. Apalagi Raden Rudira sehingga
darahnya serasa berhenti mengalir. Dengan suara gemetar ia berkata
“Kau Sura” “Ya, ya tuan. Aku adalah Sura” Raden Rudira memandangnya
dengan mata yang tidak berkedip. Sejenak ia berpaling kepada Mandra,
namun kemudian kembali ia memandang Sura tajam-tajam. Ter lebih-
lebih lagi ketika ia melihat di sebelah Sura itu berdiri anak muda
yang bernama Buntal dan seorang lagi yang membuat jantung Raden
Rudira semakin berdentangan. Orang itu adalah Dipanala. “Kalian
telah berkhianat” geram Raden Rudira.“Apa yang sudah aku lakukan
tuan? Tuan t idak memer lukan aku lagi, dan akupun pergi dari Dalem
Ranakusuman. Apakah aku berkhianat” “Persetan. Aku tidak mau melihat
mukamu lagi. Pergi dari sini” “Orang itu tamuku tuan” sahut Kiai
Danatirta “Ia datang bersama Dipanala” “Aku muak melihatnya” berkata
Raden Rudira “Kalau ia tamumu, suruh ia pergi” “Maaf tuan. Padepokan
ini dapat menerima siapapun juga. Orang-orang yang tidak disukai,
yang terasing dan yang dibenci oleh siapapun, dapat diterima di
padepokan ini” “Tetapi tidak orang itu” Raden Rudira merenung
sejenak, lalu “Tentu itulah sebabnya, kalian mengetahui bahwa aku
akan datang kemari. Karena pengkhianat itu pulalah kalian telah
mempersiapkan dir i dengan segala macam jawaban, keberatan dan
apapun juga. Orang itu memang harus digantung” “Tuan” berkata Sura
kemudian “sebenarnya aku tidak pernah merasa sakit hati terhadap
tuan. Tuan adalah bendara yang aku ikuti, bahkan sejak tuan masih
terlalu kecil. Kalau tuan sudah jemu terhadap aku, maka sudah
sewajarnya jika tuan mengusirku. Tetapi yang paling memuakkan bagiku
adalah orang yang bernama Mandra itu. Ia telah menjilat tuan lebih
daripadaku. Aku memang seorang penjilat. Aku pulalah yang ikut
melaksanakan mengusir kakanda tuan, Raden Juwiring dari istana. Yang
kemudian dibawa oleh Ki Dipanala ke padepokan ini. Tetapi ternyata
ada penjilat yang lebih besar daripadaku” “Diam, diam“ Mandra tidak
dapat menahan perasaannya. Tetapi Sura tertawa. Katanya “Jangan
sakit hati Mandra. Kita sama-sama seorang yang berhati kerdil.
Seorang yangtidak tahu malu. Mengorbankan orang lain untuk mendapat
keuntungan bagi dir i sendiri” “Tutup mulutmu Sura. Kau telah
dicekik oleh perasaan iri yang melonjak- lonjak di dalam kepalamu.
Itu salahmu sendir i. Kau tidak mampu lagi melakukan tugasmu. Jangan
mencari kesalahan orang lain” “Tidak. Jangan salah paham. Aku tidak
mencari kesalahan orang lain. Aku menyalahkan dir iku sendiri,
setelah aku merenungi beberapa hari. Sebelum ini aku tidak pernah
mempergunakan nalar untuk menilai suatu tindakan. Namun sekarang aku
bersikap lain. Dan agaknya yang sudah aku sadari itu ternyata baru
kau mulai sekarang” “Persetan. Aku akan membungkam mulutmu” “Terus
terang Mandra. Aku memang ingin melihat, apakah kau dapat
melakukannya” Tubuh Mandra menjadi gemetar karenanya. Sejenak ia
berdiri tegang. Namun sejenak kemudian ia berkata “Aku ingin
membuktikan, bahwa aku dapat melakukannya” Sura bergeser setapak.
Katanya “Aku sudah siap. Aku akan meminjam halaman padepokan ini
sejenak, siapakah yang akan berhasil membungkam mulut kita
masing-masing. Kau atau aku” “Kau akan menyesal“ Lalu Mandra
berpaling kepada Raden Rudira “Raden, perkenankanlah aku
menyelesaikan orang ini lebih dahulu. Ternyata orang-orang di
padepokan ini merasa tidak gentar terhadap kehadiran kita karena di
sini ada orang ini” Raden Rudira merenung sejenak, lalu “Terserah
kepadamu” “Nah, kau sudah mendapat ijin Mandra. Marilah kita
mencobanya. Aku memang mendahului kedatanganmu, dan minta kesempatan
ini kepada Kiai Danatirta sebelum iaberbuat sesuatu atasku karena
kesalahanku beberapa waktu yang lalu” Mandra tidak sabar lagi
menunggu. Iapun segera meloncat turun ke halaman. Raden Rudira. Kiai
Danatirta dan orang-orang lainpun mengikut inya dan membuat sebuah
lingkaran mengelilingi kedua orang raksasa yang sudah
berhadap-hadapan itu. “Kita mengambil saksi” berkata Sura “Aku harap
kedua bersaudara, Raden Rudira dan Raden Juwiring menjadi saksi dari
perkelahian ini. Apakah kita akan mempergunakan senjata atau tidak”
“Tidak, tidak“ Kiai Danatirtalah yang menyahut “Jika kalian
mempergunakan senjata, kalian harus pergi dari halaman ini” “Aku
setuju. Bagaimana dengan kau?“ Mandra menggeretakkan giginya.
Katanya “Sebenarnya aku ingin memenggal lehermu. Tetapi, baiklah.
Kita tidak bersenjata” Mandrapun kemudian melepaskan senjatanya dan
melemparkannya menepi. “Nah, kita dapat segera mulai. Apakah
tandanya bahwa salah seorang dari kita sudah kalah?“ bertanya Sura.
“Mati” teriak Mandra. “Tidak. Tidak” sekali lagi Kiai Danatirta
menengahi “Aku tidak mau melihat pembunuhan terjadi di sini” Sura
memandang Mandra dengan tatapan mata yang aneh. Ia tidak menyatakan
pendapatnya tentang hal itu, sehingga Mandralah yang menyahut
“Sampai kita meyakini kemenangan kita” Sura sama sekali tidak
menyahut. Tetapi ia sudah benar- benar mempersiapkan dirinya.
Kesempatan inilah yangditunggunya. Hatinya yang panas karena sikap
Mandra memer lukan penyaluran agar tidak selalu menghentak-hentak di
dalam dadanya. Sura tidak peduli lagi, apakah dengan demikian ia
akan ditangkap oleh Raden Rudira dan pengiringnya, kemudian dibawa
dan diadili di Dalem Ranakusuman. Ia tidak peduli lagi seandainya ia
akan dikubur hidup-hidup di halaman belakang atau di samping
kandang. Tetapi sakit hatinya sudah dilepaskannya. Bahkan seandainya
ia akan dapat dikalahkan sekalipun oleh Mandra dan dicekiknya sampai
mat i, ia tidak akan mempedulikannya lagi. Demikian juga agaknya
dengan Mandra. Iapun menunggu kesempatan ini. Kesempatan untuk
menunjukkan kelebihannya dari Sura. Kegagalannya di Sukawati hampir-
hampir menghilangkan kepercayaan Raden Rudira yang sedang tumbuh.
Jika ia kini dapat mengalahkan Sura, maka yakinlah, bahwa ia akan
dapat menggantikan kedudukan Sura sebagai lurah para abdi di
Ranakusuman. Namun sekali-sekali dadanya berdesir jika dilihatnya
Dipanala ada di halaman itu pula. Dipanala adalah orang yang tidak
begitu disukai di Dalem Ranakusuman. Tetapi tidak ada yang dapat
mengusirnya. Bahkan Pangeran Ranakusumapun tidak pernah berbuat
apapun atasnya. “Persetan dengan Dipanala. Di sini ada Raden Rudira.
Jika ada persoalan dengan Dipanala, biarlah Raden Rudira yang
menyelesaikannya” berkata Mandra di dalamhatinya. Demikianlah kedua
orang yang dibakar oleh dendam dan nafsu itu telah berdiri
berhadapan. Beberapa orang yang mengelilinginya menjadi
berdebar-debar. Kiai Danatirtapun menjadi berdebar-debar pula.
Apalagi jika ia melihat sorot mata pada kedua orang raksasa yang
berdiri di tengah-tengah lingkaran itu. Sorot mata yang memancarkan
kebencian, dendam, dan yang lain nafsu ketamakan dan pamrih yang
berlebih-lebihan.Di sekeliling arena itu berdiri dengan tegangnya
Raden Rudira bersama pengiringnya, Raden Juwiring, Buntal, Arum dan
Ki Dipanala, sedang di kejauhan beberapa orang penghuni padepokan
itupun berdiri dengan termangu-mangu. Tetapi mereka tidak berani
mendekat karena mereka tahu, bahwa orang yang berdiri berhadapan di
tengah-tengah itu adalah orang-orang yang sedang marah dan siap
untuk berkelahi. Sejenak halaman padepokan Jati Aking itu dibakar
oleh ketegangan yang memuncak. Perlahan-lahan kedua raksasa yang
marah itu saling mendekat. Di dalam kesiagaan sepenuhnya terdengar
Mandra menggeram “Jangan menyesal kalau kau tidak akan bangun lagi
Sura. Riwayat petualanganmu akan habis sampai di sini” “Jika kau
berhasil, maka riwayat petualanganmu baru dimulai hari ini. Ternyata
kau seorang penjilat yang lebih baik dari aku” Kemarahan Mandra
tidak lagi tertahankan. Karena itu, maka iapun segera meloncat
menyerang lawannya dengan garangnya. Tetapi Surapun sudah siap
menghadapi setiap kemungkinan, sehingga karena itu, maka iapun
dengan tangkasnya menghindari serangan yang pertama itu dengan
sebuah loncatan pendek. Demikianlah maka perkelahian itupun segera
mulai dengan dilandasi oleh kebencian yang sangat. Karena itulah
maka perkelahian itupun segera meningkat menjadi semakin seru.
Masing-masing tidak lagi mengekang diri, dan bahkan dengan sepenuh
tenaga berusaha untuk segera mengalahkan lawannya. Ketika
tangan-tangan mereka telah mulai dibasahi oleh keringat, maka tidak
ada lagi yang tersirat di dalam hati, selain mengalahkan lawannya
dan bahkan membunuhnya sama sekali meskipun mereka tidak
bersenjata.Tetapi ternyata keduanya adalah orang-orang yang memiliki
kemampuan berkelahi yang luar biasa. Ketahanan tubuh mereka
benar-benar mengagumkan. Sebagai raksasa di Ranakusuman keduanya
memiliki tenaga yang luar biasa. Namun apabila serangan-serangan
mereka kadang-kadang mengenai lawannya, lawannya itupun masih juga
mampu mempertahankan keseimbangannya. Semakin lama perkelahian itu
justru menjadi semakin dahsyat Mandra memang seorang pengawal yang
dapat dipercaya. Kakinya bagaikan tidak berjejak diatas tanah.
Meskipun tubuhnya bagaikan tubuh raksasa, namun ia mampu ber
loncatan dengan cepatnya. Sekali melenting sambil menyambar
lawannya, namun kemudian kakinya menyerang mendatar bagaikan lembing
yang meluncur dengan derasnya. Tetapi lawannya adalah seorang yang
telah bertahun-tahun hidup dalam suasana kekerasan. Sura adalah
lambang dari kekuasaan Raden Rudira yang dialasi dengan kekuatannya
untuk bertahun-tahun lamanya. Namun tiba-tiba lambang itu kini
menjadi goyah. Tetapi kemampuan Sura ternyata tidak goyah. Ia masih
mampu bertempur sebaik beberapa tahun yang lampau. Bahkan oleh
kemarahan dan Wajah Raden Rudira yang merah seakan-akan menjadi
semakin menyala karenanya. Bahkan kemudian terdengar ia
menggeretakkan giginya sambil berkata “Aku dapat memaksakan
kehendakku“Kebencian yang menyala di hatinya, maka seakan-akan
tenaganya kini menjadi berlipat. Tangannya yang kadang- kadang
bagaikan membeku di depan tubuhnya, tiba-tiba saja bergerak
menyambar lawannya. Dengan jari-jarinya yang mengembang, Sura
merupakan orang yang sangat berbahaya. Tandangnya yang kasar dan
garang menggetarkan dada setiap orang yang menyaksikan di seputar
arena itu. Raden Juwiring memandang perkelahian itu dengan tajamnya.
Di halaman padepokan Jati Aking ini telah terjadi perkelahian antara
hamba-hamba dari Dalem Ranakusuman ditunggui oleh adiknya Raden
Rudira. “Inilah ciri kekuasaan Rudira” berkata Juwiring di dalam
hatinya “Ia telah menimbulkan dengki dan ir i hati di antara
pelayan-pelayan di dalam lingkungannya. Sengaja atau tidak sengaja
ia telah menyabung kedua raksasa ini” Juwiring menarik nafas
dalam-dalam. Sejenak dipandanginya wajari Rudira yang tegang.
Kemudian ia berkata pula di dalam hatinya “Jika adinda Rudira
mendapat kesempatan untuk memimpin pemer intahan, maka nasib
rakyatnyalah yang akan menjadi sangat jelek. Ia pasti menimbulkan
pertentangan di dalam lingkungannya. Dan pertentangan itu agaknya
membuatnya semakin kuat, karena di dalam setiap pertentangan yang
timbul, rakyatnya tidak akan sempat menilai kebijaksanaannya, dan
setiap pihak akan berusaha untuk mendapat kesempatan mendekatinya”
Juwiring menggigit bibirnya, lalu “dan kini di dalam lingkungan
kecil itu Mandra telah berkelahi dengan penuh dendam dan kebencian
melawan Sura” Dalam pada itu perkelahian itu sendiri menjadi semakin
dahsyat pula. Keduanya hampir tidak lagi mempertimbangkan tata
geraknya dengan nalar, karena hentakan perasaan yang tidak
terkekang. Benturan-benturan kekuatan yang terjadi, membuat keduanya
sekali! terlontar surut beberapa langkah. Kemudianhampir berbareng
mereka meloncat maju. Dan bahkan hampir berbareng tangan-tangan
mereka berhasil mengenai tubuh lawannya. Ketika Sura terputar oleh
pukulan tangan Mandra yang mengenai pelipisnya, matanya seakan-akan
menjadi berkunang-kunang. Tetapi ia cepat berusaha menguasai
keadaannya, sehingga ketika Mandra menyerangnya sekali lagi dengan
kakinya mengarah kelambung, Sura masih sempat menghindar. Bahkan
dengan garangnya ia menangkap kaki Mandra dan memutarnya dengan
sepenuh tenaga. Tetapi Mandra tidak membiarkan kakinya patah. Ia
justru menjatuhkan dir inya sambil berputar, kemudian menghentakkan
kakinya itu sambil menyerang dengan kakinya yang lain. Tetapi Sura
sempat melepaskan kaki yang ditangkapnya. Ketika serangan kaki
Mandra yang lain hampir mengenai dadanya, Sura dapat mengelak.
Demikian ia surut selangkah, maka Mandrapun melenting berdiri.
Tetapi Sura agaknya lebih cepat, karena tiba-tiba saja kakinya telah
meluncur ke dada lawannya. Mandra tidak sempat mengelak, karena
serangan itu bagaikan tidak dibatasi oleh waktu. Yang dapat
dilakukan hanyalah sekedar menahan serangan itu dengan tangannya.
Sambil melipat tangan ia memir ingkan tubuhnya. Namun kakiSura
terlampau kuat, sehingga dorongan pada lengan tangannya membuatnya
terlempar beberapa langkah surut. Sura tidak membiarkannya. Dengan
cepatnya ia memburu lawannya. Sekali lagi ia memutar kakinya
mendatar. Tumitnya tepat mengarah kebagian bawah perut Mandra.
Mandra terkejut melihat serangan yang begitu cepat datang beruntun.
Tetapi kali ini ia masih mempunyai kesempatan. Ia menarik sebelah
kakinya sambil membungkukkan badannya, sehingga tumit Sura terbang
sejengkal saja dari tubuhnya. Pada saat itulah Mandra mempergunakan
kesempatan sebaik- baiknya. Ia meloncat mendekat. Tangannya mematuk
dagu Sura dengan cepatnya sehingga terdengar gigi Sura gemeretak
beradu. Bahkan kepala Sura terangkat sejenak. Pada saat itulah Sura
mengeluh pendek. Tangan Mandra yang lain ternyata tepat mengenai
perut Sura. sehingga Sura terbungkuk sejenak. Saat itu dipergunakan
oleh Mandra sebaik-baiknya. Dengan kedua tangannya ia berusaha
memukul tengkuk Sura, sehingga dengan demikian ia berharap dapat
segera mengakhir i perkelahian. Tetapi Sura yang masih sempat
berpikir tidak membiarkan tengkuknya dikenai. Karena itu, selagi
Mandra mengayunkan tangannya Sura bergeser sedikit karena ia tidak
mungkin berbuat lebih dari itu. Namun yang sedikit itu ternyata
telah menyelamatkan tengkuknya. Tangan Mandra yang menghantam keras
sekali itu ternyata mengenai pundak lawannya. Sura menyeringai
menahan sakit. Tetapi akibat pukulan itu tidak membuatnya pingsan
seperti seandainya tangan itu mengenai tengkuknya. Mandra tidak mau
melepaskan kesempatan itu. Ketika ia sadar bahwa tangannya tidak
berhasil mengenai tengkuk lawannya, maka sekali lagi ia berusaha
mengulangi, selagiSura masih belum sempat beranjak dari tempatnya,
bahkan agaknya ia masih sedang menahan sakit. Tetapi ketika Mandra
sekali lagi mengangkat tangannya, Sura mempergunakan kesempatan yang
ada padanya. Dengan sisa tenaganya ia membenturkan dirinya ke dada
Mandra. Bahkan ia masih sempat mengangkat lututnya dan langsung
menghantam perut lawannya dengan kerasnya, sementara tangannya masih
juga berusaha mencengkam leher. Mandra terkejut sekali mengalami
serangan yang tidak diperhitungkannya. Selagi tangannya sedang
terangkat, ia terdorong dengan derasnya, sehingga ia tidak mampu
lagi mempertahankan keseimbangannya. Sejenak kemudian keduanya jatuh
berguling. Sura yang telah melepaskan segenap kekuatannyapun tidak
dapat bertahan lagi, dan jatuh menimpa Mandra. Beberapa saat
keduanya berguling-guling. Namun sejenak kemudian keduanya sempat
juga berdiri. Tetapi ternyata bahwa kekuatan mereka telah hampir
terkuras habis. Dari mulut Sura tampak meleleh darah yang merah
kehitam-hitaman, sedang sambil menyeringai Mandra memegangi perutnya
yang bagaikan lumat. Sejenak keduanya berdiri termangu-mangu. Nafas
mereka meloncat satu-satu dari lubang hidung. Ketika dengan tangan
kirinya, Sura mengusap mulutnya, maka tangannyapun menjadi merah
oleh darah. Melihat darah itu mata Sura menjadi semakin menyala.
Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa tenaganya semakin lama menjadi
semakin tipis, dan nafasnyapun menjadi semakin dalam di dasar
perutnya. Arumyang juga menyaksikan perkelahian itu menjadi nger i.
Meskipun ia sudah mempelajari olah kanuragan, tetapi ia jarang
sekali melihat kekerasan yang sebenarnya. Dan kini iamelihat dua
orang raksasa sedang bertempur mati-mat ian di halaman rumahnya
Terasa bulu-bulu gadis itu meremang. Rasa-rasanya tangannya bergetar
dan kadang-kadang bergerak-gerak tanpa disadarinya. Bahkan
kadang-kadang seakan-akan tangan- tangan yang kasar dari kedua
raksasa itu telah menyentuh tubuhnya. Sekilas ia memandang wajah
ayahnya yang tegang. Ia tahu bahwa ayahnya adalah seorang yang
memiliki ilmu yang hampir sempurna. Ia yakin bahwa kedua orang yang
sedang bertempur itu sama sekali bukan orang-orang yang mengagumkan
bagi ayahnya. Namun dalam pada itu, Arum melihat suatu segi dunia
yang rasa-rasanya lain dari dunia yang dikenalnya sehari-hari.
Kedamaian di padepokan Jati Aking yang sejuk serta hubungan yang
ramah di antara penghuninya. Meskipun mereka berlatih ilmu olah
kanuragan, namun Arum belum pernah melihat kebencian yang sebenarnya
seperti yang dilihatnya kini. Ia melihat pertengkaran di bulak Jati
Sari, dan perkelahian di antara saudara-saudara seperguruannya
dengan para pengiring Raden Rudira, adalah sebagai suatu
pertentangan yang masih dapat dilihatnya sebagai suatu peristiwa
yang dapat saja terjadi. Tetapi kali ini terpancar dari tatapan mata
keduanya, kebencian yang melonjak-lonjak. Bukan sekedar persoalan
yang tiba-tiba saja timbul karena perbedaan pendapat, tetapi mereka
agaknya sudah menyimpan dendam di hati masing- masing. Demikianlah
Arum mulai menjumpai lontaran dendam. Dendam yang tersimpan di hati,
yang pada suatu saat memer lukan lontaran yang dahsyat. Sejenak Sura
dan Mandra masih berdiri berhadap-hadapan dengan nafas yang
tersenga-sengal. Tampak bahwa kekuatan keduanya sudah jauh susut.
Namun dendam yang membara di hati masih tetap membakar perasaan
mereka, sehinggadengan demikian mereka sama sekali tidak
menghiraukan kenyataan, bahwa sebenarnya mereka sudah menjadi sangat
lelah. Raden Rudirapun menjadi berdebar-debar. Kehadiran Sura di
padepokan itu sama sekali di luar perhitungannya. “Pengkhianat itu
memang harus mati” geram Raden Rudira “Kenapa Mandra tidak
bersenjata saja dan memenggal lehernya sama sekali” Tetapi Raden
Rudira tidak dapat berbuat lain kecuali memperhatikan saja
perkelahian yang ber langsung itu. Ternyata bahwa baik Sura maupun
Mandra tidak mau surut dari arena. Setelah nafas mereka agak
teratur, merekapun saling mendekat dan tanpa berkata sepatah
katapun, Mandra telah mulai menyerang lawannya. Meskipun serangannya
sudah tidak segarang semula, namun lawannyapun juga sudah tidak lagi
cukup cekatan. Sehingga karena itu, maka ayunan serangan mereka
kadang-kadang sama sekali tidak terarah lagi, meskipun lawannya
tidak menghindar. Bahkan kadang-kadang mereka terseret oleh ayunan
tangannya sendiri dan terhuyung-huyung jatuh tertelungkup. Namun
lawannya yang masih dibakar oleh nafsunya untuk memenangkan
perkelahian itu dan yang dengan tergesa-gesa ingin mempergunakan
kesempatan, ternyata kemampuan tubuhnya tidak lagi memungkinkan,
sehingga justru iapun terjatuh sendiri hanya karena kakinya
tersentuh sebuah batu kecil. Demikianlah perkelahian itu sudah
berubah bentuknya. Tenaga kedua orang itu sama sekali tidak mampu
lagi mengimbangi dendam yang masih menyala di hati. Seakan- akan
mereka masih ingin menghancur lumatkan lawan masing-masing,
seolah-olah mereka masih mempunyai tenaga yang cukup untuk meremas
gunung dan mengeringkan lautan. Namun setiap kali mereka berdir i,
maka kaki mereka menjadigemetar dan seakan-akan tulang belulang
mereka telah menjadi selemas serat nanas. Akhirnya, betapapun mata
mereka masih menyala, namun keduanya sudah tidak mampu lagi untuk
berbuat sesuatu. Sura berdiri terhuyung-huyung sambil mengusap
bibirnya yang berdarah, sedang Mandra bertelekan pada pinggangnya,
untuk menahan perasaan mual yang mengaduk perutnya. Kiai Danatirta
yang melihat bahwa perkelahian itu sudah mendekati akhirnya, menarik
nafas dalam-dalam. Ternyata kekuatan dua orang raksasa itu ber
imbang. Karena itu, maka katanya kemudian “Sudahlah. Marilah Ki
Sanak, kita sudahi kebencian yang menyala di hati kalian
masing-masing. Marilah kita duduk sejenak untuk berist irahat. Tidak
ada gunanya kita selalu dicengkam oleh dendam dan kebencian” Sura
dan Mandra tidak sempat menjawab karena nafas mereka yang memburu,
bahkan seakan-akan hampir terputus di kerongkongan. Namun dalam pada
itu dada Raden Rudiralah yang serasa menyala. Terbayang kegagalan
lagi yang akan ditemuinya di padepokan ini. Kegagalan demi kegagalan
harus ditelannya. Alangkah pahitnya. Dengan wajah yang merah padam
tiba-tiba terdengar suaranya menggelegar “Sura, kau sudah berkhianat
lagi. Ternyata kau sudah mendahului aku, dan mengabarkan kehadiranku
kepada Kiai Danatirta. Apakah keuntunganmu dengan berbuat demikian?“
Sura memandang Raden Rudira yang rasa-rasanya agak kabur. Namun
disela-sela nafasnya yang terengah-engah ia berkata “Ya. Aku memang
mendahului setelah aku mendengar kalian membicarakan rencana ini di
kandang kuda” “Persetan” geram Raden Rudira “Apakah kau tahu akibat
dari perbuatanmu?““Aku mengharap akibat inilah yang terjadi. Aku
berharap bahwa aku akan dapat melumatkan Mandra. Tetapi aku ternyata
gagal” “Anak demit” sahut Mandra “Akulah yang akan melumatkan
kepalamu” Sebuah senyum yang masam tampak di bibir Sura “Kita
melihat kenyataan ini” “Tetapi kau tidak akan terlepas dari hukuman
pengkhianatanmu” sahut Raden Rudira lalu dipandanginya Kiai
Danatirta “kau jangan melibatkan dir i pada pengkhianatannya.
Biarlah ia menanggungnya sendir i” Kiai Danatirta memandanginya
pula. Sorot keheranan memancar dari sepasang matanya yang lembut.
Dengan terbata-bata ia bertanya “Apakah aku tuan anggap terlibat
dalam persoalan antara kedua abdi tuan ini?“ Pertanyaan itu ternyata
membingungkan Raden Rudira. Namun kemudian ia menjawab lantang “Ya.
Kau sudah melindungi pelayanku yang berkhianat. Dengan demikian kau
akan terlibat pula karenanya” “Raden” berkata Kiai Danatirta “Aku
tidak mengetahui sama sekali persoalan antara kedua abdi tuan ini.
Persoalan tuan di sini adalah persoalan gadis itu” “Tetapi kau sudah
mempergunakan orang yang tidak aku sukai lagi untuk mengacaukan
pembicaraan kita. Kedatangannya untuk berkhianat ini kau sambut
dengan senang dan dengan demikian akan menguatkan sikap penolakanmu”
Raden Rudira berhenti sejenak, lalu “Aku jangan kau anggap anak yang
sama sekali tidak dapat menghubungkan persoalan yang satu dengan
persoalan yang lain. Siapapun kalian, tetapi kali ini kalian
mempunyai kepentingan yang dapat saling menguntungkan. Itulah
sebabnya Sura ada di sini”Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam.
Dengan hormatnya ia menjawab “Memang kadang-kadang sikap seseorang
dapat menimbulkan akibat yang tidak dikehendakinya sendiri.
Sebaiknya aku tidak ingkar, bahwa sebenarnyalah abdi tuan yang
bernama Sura itu datang mendahului tuan. Tetapi yang penting
baginya, bukan karena tuan akan mengambil anakku. Ia ingin mendapat
kesempatan untuk melepaskan dendamnya terhadap kawannya yang bernama
Mandra itu” “Dan kau yang menyebut dirimu Kiai Danatirta ternyata
telah membakar nafsu dendam di hati seseorang” ”Bukan itu. Lebih
baik dendam itu meledak di bawah saksi serupa ini daripada mereka
mencari kesempatan sendiri. Tentu hal itu akan menjadi jauh lebih
berbahaya” “Bukan itu. Yang penting bagimu, kau dapat menggagalkan
niat kami membawa anakmu” potong Raden Rudira “Tetapi kau keliru.
Meskipun seandainya Mandra tidak lagi dapat memaksamu karena ia
harus berdiri berhadapan dengan pengkhianat itu, aku masih membawa
beberapa pengiring yang akan dapat memaksamu” Kata-kata itu ternyata
bagaikan api yang menyentuh telinga Buntal. Tetapi ketika ia
bergeser setapak Juwiring telah menggamitnya. Agaknya anak muda itu
dapat berpikir lebih tenang dari Buntal. “Raden” bertanya Kiai
Danatirta “Akupun tetap pada permohonanku. Jangan tuan membawanya”
“Kami akan memaksa. Anak itu atau kau” Sebelum Kiai Danatirta
menjawab, Ki Dipanalalah yang menyahut sambil melangkah maju “Raden.
Akupun adalah seorang abdi di Dalem Ranakusuman. Tetapi tuan jangan
tergesa-gesa menuduh aku seorang pengkhianat. Aku ingin tuan
mempertimbangkan keputusan tuan untuk mengambil Arumdar i rumah
ini”“Maksudmu, agar aku membantah perintah ayahanda?“ “Raden,
seperti Raden yang sudah bukan kanak-kanak lagi sehingga Raden dapat
mengetahui apa yang sudah terjadi di padepokan ini dengan
penghubungan peristiwa-peristiwa dan persoalan-persoalan yang telah
terjadi, maka akupun demikian pula. Sudah tentu Kiai Danatirta yang
sudah berusia lebih tua daripadaku itupun dapat mengerti, bahwa tuan
datang tidak tidak atas perintah ayahandan tuan” Wajah Raden Rudira
menjadi merah padam. “Kau juga berkhianat” “Tidak tuan. Aku adalah
seorang tua. Ayahanda tuan banyak mendengarkan pendapatku, meskipun
tidak semuanya dibenarkan. Aku berharap tuan mendengarkan aku.
Barangkali tuan tidak senang mendengar pendapatku, tetapi bukan
maksudku menyenangkan hati tuan dengan membenarkan segala sikap tuan
seperti Sura sebelum tuan anggap ia berkhianat. Dan aku memang
berbeda dari Sura, sehingga kadang-kadang Sura membenciku saat itu.
Tetapi bagiku, bagi seorang abdi yang ingin berbakt i, tidak
seharusnya selalu membenarkan sikap tuannya, namun sebaiknya ia
menunjukkan kebenaran kepadanya” “Omong kosong” bentak Raden Rudira
“Kau memang pandai berbicara. Kau sangka ayah akan berterima kasih
dengan sesorahmu itu” “Ya. Aku memang menyangka demikian. Dan aku
akan menghadap ayahanda tuan” Wajah Raden Rudira yang merah
seakan-akan menjadi semakin menyala karenanya. Bahkan kemudian
terdengar ia menggeretakkan giginya sambil berkata “Aku dapat
memaksakan kehendakku” “Jika terjadi benturan kekerasan, aku menjadi
saksi, bahwa bukan tuan yang berada di pihak yang benar. Dan sudah
tentuaku tidak akan berdiri di pihak yang salah. Aku tidak hanya
pandai berbicara, tetapi seperti yang tuan ketahui dari ayahanda
tuan jika ayahanda tuan pernah berceritera, aku adalah seorang
prajurit” Dada Raden Rudira bagaikan retak mendengar kata-kata
Dipanala. Sejak ia berpaling kepada para pengiringnya yang berada di
sekitarnya. Namun tampaklah wajah mereka yang ragu-ragu. Dan
jantungnya terasa berdesir ketika ia memandang wajah-wajah yang lain
wajah Dipanala, Juwir ing, Buntal dan bahkan wajah Arum sendir i.
Tampaklah ketegangan yang mantap memancar di mata mereka. “Adimas
Rudira“ Juwiringlah yang kemudian berbicara “Aku tidak mengerti,
bagaimana kau menganggap aku Tetapi aku tetap merasa bahwa aku
adalah saudara tuamu. Aku adalah kakakmu. Mungkin derajadku memang
lebih rendah dari padamu namun sebagai saudara tua, aku ingin
menasehatkan kepadamu, urungkan saja niatmu” “Aku tidak memerlukan
nasehatmu. Aku tahu, kau t idak mau kehilangan gadis itu” “Adimas
Rudira” potong Juwir ing “Kau jangan salah mengerti. Ia adalah
adikku. Di dalam padukuhan ini, kami bertiga adalah putera Kiai
Danatirta” “Bohong. Jika kau tidak berkepentingan, kau tidak akan
bertahan. Kau bahkan harus menasehatkan kepada Kiai Danatirta agar
gadis itu masuk ke istana Ranakusuman. Itu akan menguntungkan
baginya dan bagi hari depannya” Tetapi Raden Juwiring menggelengkan
kepalanya. Katanya “Aku adalah seorang putera Bangsawan. Aku pernah
hidup di lingkungan para bangsawan. Tidak seorangpun yang dapat
menyatakan bahwa ibuku, yang dahulu juga masuk ke dalam lingkungan
para bangsawan dengan harapan yang berlebih- lebihan, kemudian
menemukan kebahagiaannya. Dan aku.anaknya, anak seorang bangsawan,
tidak dapat hidup dengan tenang di rumah ayahnya sendiri” Sejenak
Raden Rudira bagaikan membeku. Ia tidak dapat membantah kenyataan
yang dikatakan oleh Juwir ing, karena anak muda itu telah
mengalaminya sendiri. “Adimas Rudira” berkata Juwiring kemudian
“sebenarnya ibunda Galihwar it tidak memerlukan seorang gadis untuk
membantunya, karena di istana ayahanda Ranakusuma ada adinda Warih.
Biarlah adinda Rara Warih mulai berkenalan dengan kerja sehari-hari
yang pantas bagi seorang gadis” “Apa, apakah katamu kamas Juwiring?
Kau akan menjadikan Diajeng Warih seperti seorang pelayan he?
Seperti aku, adinda Warih derajatnya lebih t inggi dari kau. Dan kau
sekarang berani mengatakan bahwa Diajeng Warih harus bekerja
meskipun di rumah sendir i” Juwiring menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Bukankah tidak ada salahnya untuk melayani ibu sendir i?“
“Kau yang pantas melakukannya. Bukan aku dan bukan adikku yang lahir
dari ibunda Galihwarit” potong Rudira yang menjadi semakin marah
“Tetapi Arum. Gadis padepokan ini. Ia pantas melayani keluarga kami,
selain kau” Wajah Juwiringpun menjadi merah pula. Namun Kiai
Danatirtalah yang menyahut “Tuan, aku berterima kasih atas
kesempatan yang terbuka bagi anakku, tetapi sayang, kali ini anakku
belumbersedia menerima kesempatan itu” Ketika Raden Rudira akan
menyahut, Dipanala mendahului “Silahkan tuan kembali. Aku akan
menghadap ayahanda tuan. Jika ayahanda tuan berkeras untuk mengambil
Arum, akulah yang akan menyampaikannya dan membujuknya agar ia
bersedia. Tetapi jika ayahanda tuan dapat mengerti alasan Arum dan
ayahnya, aku persilahkan tuan menahan perasaan. Karena kekerasan
tidak akan menguntungkan tuan di sini. Kentongan itu akan dapat
banyak berbicara, meskipun tuanseorang bangsawan. Cantrik padepokan
tidak ubahnya seperti kuda tunggangan bagi gurunya. Apapun yang
diperintahkannya akan dilakukan, seperti Sura pada saat-saat ia
masih belum sempat berpikir. Apapun yang tuan perintahkan pasti akan
dilakukannya juga, meskipun seandainya ia harus berkelahi melawan
Pangeran Mangkubumi. Karena per intah Raden bagi Sura waktu itu
adalah keputusan yang tidak dapat dibantah seperti perintah Kiai
Danatirta bagi cantrik-cantriknya. Dan seperti yang sudah aku
katakan, aku ingin mengatakan kebenaran kepada tuan, bukan sekedar
membenarkan kata tuan” “Gila“ Rudira menggeram. Tetapi ia
benar-benar merasa berdiri diatas minyak yang setiap saat dapat
menyala. Ki Dipanala sudah menentukan sikapnya. Dan itu berarti
bahwa ia akan berdiri di pihak Juwiring, anak muda yang bernama
Buntal dan para cantrik. Namun demikian rasa-rasanya terlalu pedih
untuk sekali lagi mengalami kegagalan. Wajah-wajah yang dilihatnya
tegang di halaman itu bagaikan wajah-wajah orang-orang Sukawati yang
menyilangkan tangan di dadanya, dan bahkan seperti wajah petani
Sukawati yang sangat dibencinya itu. Tiba-tiba saja Rudira berkata
“Kalian memang harus dimusnahkan seperti orang-orang Sukawati.
Kalianpun harus disingkirkan dari bumi Surakarta, seperti Sukawati
harus dipisahkan dari Ramanda Pangeran Mangkubumi. Jika kalian tetap
berkeras kepala, kalian akan menyesal” Tidak seorangpun yang
menjawab. Baik Kiai Danatirta, maupun Raden Juwir ing dan Ki
Dipanala mengerti, bahwa di dalam dada Raden Rudira sedang terjadi
pergolakan yang sengit. Karena itu maka merekapun membiarkannya
untuk segera mengambil keputusan. Tetapi sekali lagi Raden Rudira t
idak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapi. Ia tidak tahu apa
yang sebenarnya dipikirkan oleh penghuni-penghuni padepokan itu,
yangdisebut oleh Ki Dipanala sebagai cantrik-cantrik yang tidak
mampu berpikir seperti Sura beberapa saat yang lampau. Raden Rudira
tidak mengerti bahwa mereka bukannya cantrik- cantrik yang meneguk
ilmu kanuragan di padepokan Jati Aking, karena Kiai Danatirta tidak
menyatakan dir inya sebagai seorang guru di dalam ilmu kanuragan
itu. Namun bahwa beberapa orang mengawasinya dari kejauhan, ternyata
membuat hati Raden Rudira semakin susut. Dan sekali lagi Raden
Rudira terpaksa mengambil keputusan yang sangat pahit. Ia tidak
dapat memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Selain Sura, ternyata
Ki Dipanala telah menentangnya pula. Namun kedudukan Ki Dipanala
agak berbeda dengan Sura. Betapapun Ki Dipanala tidak disukai,
tetapi rasa-rasanya masih juga ada pengaruhnya terhadap ayah dan
ibundanya. Karena itu, betapa pahitnya, maka Raden Rudira terpaksa
berkata “Baiklah. Kali ini kalian menang. Aku terpaksa membatalkan
niatku untuk membawa gadis itu atas perintah ayahanda. Tetapi kalian
tidak akan dapat menikmati kemenangan kalian. Juga kakanda Juwiring.
Jangan kau sangka bahwa kau akan tetap berhasil mempertahankan Arum.
Pada suatu saat kaulah yang akan kecewa, bahwa Arumakan lepas dari
tanganmu. “Adimas Rudira” potong Juwiring “Kau salah paham” Tetapi
Rudira ingin mengurangi kepahitan di hatinya. Karena itu ia tertawa
sambil berkata “Jangan menyangkal. Kau lebih kerasan di padepokan
ini daripada di rumah kita karena di sini ada Arum. Tetapi Arum
tidak pantas berada di rumah ini bersama kau dan anak setan itu,
apalagi dilingkungi oleh suasana padesan yang kasar” “Arum memang
anak padesan Raden” sahut Kiai Danatirta “ sejak lahir ia adalah
anak padepokan”“Tetapi ia tumbuh seperti sekuntum bunga. Tetapi
bunga itu berkembang di batu karang yang gersang” Raden Rudira
menyahut “Namun kamas Juwiring tidak akan berhasil memetik kembang
itu” “Dengar adimas” potong Juwiring “Kau salah paham Bukan
kehendakku sendir i bila aku berada di padepokan ini” “Dan kau tidak
mau pergi lagi dari tempat ini” “Bukan maksudku”. Raden Rudira
tertawa pula. Dipandanginya Arum sejenak. Dan wajah gadis itu
menjadi merah padam. “Aku tinggalkan padepokan ini. Tetapi aku akan
kembali dengan suatu sikap yang pasti” Raden Rudira tidak menunggu
jawaban lagi. Iapun segera pergi ke kudanya. Para pengiringnya
menjadi termangu- mangu sejenak, namun merekapun kemudian
mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tetapi Mandra yang
tertatih-tatih masih juga mengumpat “Sura aku tidak puas dengan
perkelahian ini. Kita akan mengambil kesempatan lain. Aku ingin kita
mempergunakan senjata” Sura memandangnya dengan tajam. Tetapi
kemudian ia menarik nafas sambil menjawab “Baiklah. Memang kita
adalah orang-orang yang mendambakan dendam di hati” “Persetan” geram
Mandra. Namun ia tidak sempat berbicara terlalu banyak, karena
kawan-kawannya telah berloncatan keatas punggung kuda. Sejenak
kemudian iring- iringan itupun telah berpacu meninggalkan padepokan
Jati Aking. Derap kaki-kaki kuda yang berlari-lari itu telah
menghamburkan debu yang putih, berterbangan meninggi, namun kemudian
pecah bertebaran dihembus angin, sepertipecahnya hati Raden Rudira,
Putera Pangeran Ranakusuma itu ternyata telah gagal lagi. Dengan
demikian timbunan kekecewaan dan buhkan dendam semakin tebal
mengendap di hatinya. Setiap saat kebencian dan dendam itu akan
dapat meledak seperti meledaknya Gunung Kelut. Namun dalam pada itu,
kepergian Raden Rudira telah menumbuhkah kesan yang aneh di hati
anak-anak muda di padepokan Jati Aking. Selama ini mereka tidak
pernah mempersoalkan hubungan mereka yang satu dengan yang lain.
Namun tiba-tiba kini mereka seperti dihentakkan dalam suatu
kesempatan berpikir tentang diri mereka. Bahwa mereka sebenarnya
adalah anak-anak muda yang meningkat dewasa. Buntal yang mendengar
semua percakapan kedua kakak beradik itu menjadi berdebar-debar.
Tiba-tiba saja ia merasa dirinya memang terlalu kecil. Ia adalah
seorang anak yang diketemukan di pinggir jalan oleh orang-orang Jati
Sari, bahkan setelah dipukuli sampai merah biru. Sedang meskipun
tersisih dari keluarganya, namun Raden Juwir ing adalah putera
seorang Pangeran. Tanpa disadarinya Buntal memandang Arum yang masih
juga belum beranjak dari tempatnya memandangi debu yang berhamburan
di regol halaman padepokannya. Terasa sesuatu berdesir di dada
Buntal Sepercik perasaan melonjak di hatinya “Arum memang terlalu
cantik” Tetapi kepala itupun segera tertunduk. Didekatnya berdiri
seorang yang lahir oleh tetesan darah seorang bangsawan. Juwiring.
Buntal terkejut ketika seseorang menggamitnya. Ketika ia mengangkat
wajahnya, dilihatnya Juwir ing berdiri disinya. “Jangan hiraukan
mereka. Mereka tidak akan bertindak lebih jauh lagi. Paman Dipanala
sudah menjanj ikan akan menemui ayahanda Pangeran Ranakusuma?”Buntal
tergagap sejenak. Namun kemiudian ia bertanya “Apakah ayahandamu
akan mendengarkan keterangannya?“ “Sampai saat ini ayahanda masih
mendengarkan. kata- katanya. Mudah-mudahan dalam hal inipun
kata-katanya masih mendapat perhatian ayahanda” Buntal
mengangguk-angguk. Dilihatnya Kiai Danatirta naik ke pendapa bersama
Ki Dipanala dan Sura. Sura yang pernah diserangnya dengan
serta-merta tanpa diduga-duga terlebih dahulu, sehingga hampir
raksasa itu dapat dijatuhkannya. Sementara Arum bergegas melintasi
pendapa masuk ke ruang dalam. Sekali lagi Buntal menar ik nafas
dalam-dalam. Kemudian iapun berjalan berir ingan dengan Juwiring
masuk ke longkangan samping. “Kita masih sempat pergi ke sawah”
berkata Juwiring. Buntal menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya, aku
akan berganti pakaian” Mereka berduapun segera masuk ke dalam bilik
masing- masing Namun demikian pintu bilik Buntal tertutup, iapun
merebahkan dirinya diatas amben bambu pembaringannya. Tiba-tiba saja
batinya telah dirayapi oleh sesuatu yang kurang dimengertinya.
Seakan-akan ia merasa dibayangi oleh kemuraman yang samar-samar.
“Gila“ tiba-tiba Buntal menghentakkan dirinya sendiri “Aku sudah
menjadi gila. Aku tidak boleh berpikir dengan hati yang kerdil.
Agaknya aku telah dicengkam oleh kehendak iblis yang paling jahat”
Dengan sekuat tenaga Buntal mencoba melupakan perasaan yang aneh
itu, yang seakan-akan dengan tiba-tiba telah mencengkamnya. Memang
setiap kali terpercik juga pujian atas gadis yang cantik itu, namun
kata-kata Rudira justru serasa menusuk jantungnya dan menghunjamkan
perasaan yang aneh itu ke dalamnya.Dengan tergesa-gesa Buntal
berganti pakaian. Bahkan sebelum ia selesai, didengarnya suara
Juwiring di depan biliknya “Apakah kau belum selesai?“ “Sudah,
sudah” suara Buntal agak tergagap. Tetapi ia tidak sempat mengenakan
ikat kepalanya, sehingga ikat kepala itu hanya dibelitkan saja di
kepalanya. Sambil menyambar cangkulnya Buntal melangkah keluar.
Derit pintu biliknya mengejutkannya sendiri, apalagi ketika Juwiring
bertanya “Kenapa kau menutup pintu bilikmu rapat- rapat?“ Buntal
tersenyum meskipun dipaksakannya. Tidak apa-apa Hampir t idak
sengaja karena aku masih memikirkan Raden Rudira” Juwiring
mengangguk-angguk. Katanya “Jangan hiraukan. Anak itu memang terlalu
manja. Ibunyalah yang sebenarnya bersalah. Adiknya, adinda Warih
tidak kalah manjanya dari adinda Rudira” Buntal mengangguk-angguk
pula. “Ternyata bahwa sifatnya yang manja itu telah membahayakan
dirinya. Nafsunya menyala seperti api yang ingin membakar setiap
bentuk tanpa kendali, sehingga tingkah lakunya seakan-akan tidak
berbatas lagi” Buntal masih mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian
bertanya “Apakah ia tidak akan berbahaya bagimu. Jika tidak
sekarang, apakah pada suatu saat ia tidak akan berbuat jauh lebih
kasar lagi?“ Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Aku t
idak tahu Buntal. Tetapi kemungkinan itu memang ada. Namun yang
paling mencemaskan sebenarnya bukan aku sendiri. Bagaimanapun juga
aku masih mempunyai lambaran yang dapat mengimbangi kebengalannya.
Tetapi nafsu kemudaannya kini berbahaya bagi Arum”Dada Buntal
berdesir mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak segera menjawab.
Dan Juwiring berkata terus “Adalah tidak menguntungkan bagi Arum
untuk tinggal di Ranakusuman. Seperti yang aku katakan, nasib ibuku
tidak terlalu baik sampai saat meninggalnya, meskipun ia adalah
isteri seorang Pangeran. Justru karena ibuku tidak mempunyai darah
keturunan setingkat dengan isteri-isteri ayahanda yang lain” Buntal
mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia bertanya “Tetapi bagaimana
dengan Raden Ayu Manik? Bukankah ia juga mempunyai derajat yang
setingkat dengan Raden Ayu Galihwar it itu?“ Juwiring menarik nafas
dalam-dalam. Jawabnya “Persoalannya, adalah persoalan manusia
Galihwarit dan Manik. Tetapi ayahanda Ranakusuma juga ikut
menentukan ketidak-wajaran yang telah terjadi itu. Lebih daripada
itu. ada pihak lain yang mengambil keuntungan” “Orang asing
maksudmu?“ Juwiring memandang Buntal sejenak. Namun kemudian ia
mengangguk. Buntal tidak berbicara lagi. Ketika mereka lewat di
depan pendapa, dilihatnya Kiai Danatirta masih duduk bersama Sura
dan Ki Dipanala. “Ayah, kami akan pergi ke sawah” berkata Juwiring
kepada Kiai Danatirta. Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Jawabnya
“Pergilah. Nanti jika sempat aku akan menyusul. Apakah kalian akan
pulang di waktu makan, atau Arum harus membawa makananmu ke sawah?”
“Kami akan pulang sore hari. Sesiang ini kami baru
berangkat”“Baiklah. Biarlah Arum pergi membawa maka kalian siang
nanti” Sura dan Dipanala memandang kedua anak muda yang berjalan
melintasi halaman sambil membawa cangkul. Terasa sesuatu bergetar di
dalam hati keduanya. Juwiring adalah putera seorang Pangeran.
Siapapun ibunya, tetapi ayahnya adalah seorang Pangeran. Tetapi kini
dengan ikhlas ia memanggul cangkul pergi ke sawah. turun ke dalam
lumpur. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Sura berkata “Baru
sekarang aku menyadari, betapa besar dosaku atas anak muda yang
lapang dada itu. Ia sama sekali tidak tampak mendendam kepadaku,
meskipun aku ikut serta berusaha menyingkirkannya dari Dalem
Ranakusuman” Lalu tiba-tiba saja ia berpaling kepada Ki Dipanala “Ki
Dipanala, apakah Raden Juwiring tidak mengetahui bahwa aku ikut
menyingkirkannya?“ “Ia tentu mengetahuinya. Ia kenal siapa kau waktu
itu” jawab Dipanala “Tetapi ia memang seorang anak muda yang berhati
lautan. Sebagian adalah karena tuntutan Kiai Danatirta” “Ah“ desah
Kiai Danatirta “Ia belum cukup lama di sini untuk dapat membentuk
wataknya. Jika hatinya lapang selapang lautan adalah karena
pembawaannya. Dan itu adalah suatu karunia bagi Raden Juwiring” Sura
mengangguk-anggukkan kepalanya. Lambat laun ia merasa bahwa dirinya
telah menjadi manusia kembali dengan segala macam gejolak di dalam
hatinya. Ia kini sempat mempertimbangkan nalar dan perasaannya. Ia
sempatmemperhitungkan persoalan tentang dirinya dan persoalan di
luar dirinya. Hubungan antara manusia di sekitarnya dan antara
dirinya, manusia dan alam besar yang meliputi bentuk- bentuk alam
yang kecil. Pengaruh timbal balik dar i getaran di dalam dirinya
terhadap alam di sekitarnya dan getaran alam di sekitarnya dan
getaran alam di sekitarnya terhadap dirinya. Sura menarik nafas
dalam-dalam. Rasa-rasanya seperti ia dilahirkan-kembali dengan tanpa
bekal apapun, sehingga ia merasa dir inya betapa bodohnya. Sura
terkejut ketika ia mendengar Ki Dipanala bertanya kepadanya “Sura,
lalu apakah yang kau kerjakan? Apakah kau akan kembali ke
DalemPangeran Ranakusuma atau tidak?“ Sura mengerutkan keningnya.
Tetapi iapun kemudian menjawab “Aku akan kembali ke Dalem
Ranakusuman. Aku adalah abdi Ranakusuman. Jika Pangeran Ranakusuma
sudah tidak memerlukan aku lagi. aku akan pergi. Tetapi sebelum aku
diusirnya, aku akan tetap berada di sana apapun yang akan terjadi,
dan perlakuan apapun yang akan diperbuat oleh Raden Rudira dan
Mandra. Aku masih mempunyai kepercayaan, bahwa beberapa orang abdi
yang lain tidak akan ikut melibatkan dir inya di dalampersoalanku
dengan Mandra” Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
“Baiklah Sura. Aku tidak akan melepas tangan. Persoalannya sudah
menyangkut aku pula” “Tetapi kedudukan Ki Dipanala t idak segoyah
kedudukanku meskipun aku sudah tinggal berpuluh tahun di istana itu”
“Karena itu, aku akan membantu memecahkan persoalan- persoalan yang
mungkin kau jumpai” “Terima kasih. Mudah-mudahan hal itu justru
tidak menyulitkan Ki Dipanala sendiri”Kiai Danatirta yang selama itu
mendengarkan percakapan mereka berdua, tiba-tiba menyela “Jika
kalian tidak mendapat tempat lagi di Ranakusuman, tinggallah di
padepokan ini. Kalian akan menjadi kawan yang baik bagi Raden Juwir
ing dan Buntal” “Ya Kiai” jawab Sura “dan aku berterima kasih atas
kesempatan itu. Namun aku masih juga mempunyai secuwil tanah warisan
di padesan yang sempat aku perluas dengan uang yang aku dapat dari
istana Ranakusuman itu pula dengan menjual kemanusiaanku” Kiai
Danatirta mengangguk-angguk. Namun Ki Dipanalalah yang berkata
kemudian “Kau akan lebih aman berada di padepokan ini. Banyak hal
yang dapat terjadi atasmu karena sikapmu yang tiba-tiba berubah
terhadap Raden Rudira” “Aku menyadari. Tetapi aku mempunyai anak
isteri yang tentu tidak akan dapat tinggal bersama-sama di sini.
Jika demikian maka padepokan ini akan penuh dengan keluargaku saja”
“Padepokan ini cukup luas” sahut Kiai Danatirta. “Aku mengucapkan
banyak terima kasih” Kiai Danatirta tidak menyela, lagi. Sambil
mengangguk- anggukkan kepalanya ia menekur seakan-akan sedang
merenungi sesuatu yang amat penting. Dalam pada itu, Sura masih
berbicara tentang berbagai persoalan dengan Ki Dipanala. Dan
akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Ranakusuman menjelang
senja. “Apakah kalian tidak bermalam saja di sini agar Raden Rudira
menjadi agak tenang sedikit. Jika kalian hadir di halaman
Ranakusuman hari ini maka kemarahan Raden Rudira akan masih mudah
terangkat kembali”Tetapi Ki Dipanala menggeleng. Katanya “Lebih baik
kita tuntaskan persoalan ini jika memang Raden Rudira menghendaki,
tetapi mudah-mudahan Pangeran Ranakusuma masih mau mendengar
kata-kataku kali ini meskipun besok atau lusa aku akan diusir pula
dari Ranakusuman. Jika aku yang diusir maka aku akan terpaksa
tinggal di padepokan ini untuk sementara bersama keluargaku, sebelum
aku mempertimbangkan untuk kembali saja ke Madiun” “Apakah kau
pernah berpikir untuk kembali ke Madiun, saja?“ “Ya. Tetapi
kadang-kadang menjadi kabur lagi” “Tinggallah di sini. Aku akan
senang sekali jika kau bersedia, dan Arumpun akan mendapat kawan
lagi yang sebaya” Ki Dipanala mengangguk-angguk. Jawabnya “Aku akan
mempertimbangkannya” Demikianlah maka mereka masih duduk beberapa
saat di pendapa. Namun Kiai Danatirta yang masih mempunyai beberapa
pekerjaan itupun segera mempersilahkan kedua tamunya untuk
beristirahat di gandok. “Terima kasih Kiai” jawab Sura “padepokan
ini memang merupakan tempat yang dapat memberikan kesejukan. Aku
akan menikmat i ketenangan ini meskipun hanya sejenak, sebelum aku
kembali ke Surakarta menjelang senja” Ketika kedua tamunya kemudian
pergi ke gandok maka Kiai Danatirtapun segera masuk ke ruang dalam.
Orang tua itu terkejut ketika dari sela-sela pintu bilik Aram, ia
melihat gadis itu menelungkup di pembaringannya. Karena itu maka
dengan tergopoh ia mendekatinya sambil bertanya “Kenapa kau Arum?“
Arum mengangkat wajahnya. Tampaklah setitik air mata membasahi
pelupuknya.“Ada apa ngger?“ bertanya ayahnya pula. Perlahan-lahan
Arum bangkit dan duduk di pinggir ambennya. Ditatapnya wajah ayahnya
sejenak. Namun justru titik air di matanya terasa menjadi semakin
banyak. “Katakan Arum” bisik ayahnya. “Kenapa aku justru membuat
ayah mengalami kesulitan?” “Kenapa??” bertanya ayahnya. “Kenapa
Raden Rudira berbuat begitu terhadap ayah?“ Kiai Danatirta menarik
nafas dalam-dalam. Gadis itu merasa, bahwa dirinyalah yang menjadi
sumber kesulitan yang tumbuh di padepokan itu. Namun Kiai Danatirta
itu berkata “Jangan berpikir begitu Arum. Bukan kau satu-satunya
sumber persoalan antara padepokan ini dengan Dalem Ranakusuman.
Sejak Raden Juwiring dibawa kemari oleh pamanmu Dipanala, aku sudah
merasa, bahwa persoalan yang lain akan menyusul. Kau adalah salah
satu alasan saja yang diberikan oleh Raden Rudira untuk menumbuhkan
persoalan- persoalan baru yang dapat mengguncangkan ketenangan
padepokan ini, yang sebenarnya sebagian terbesar ditujukan kepada
kakaknya, Raden Juwiring” “Jika ayah sudah mengetahui, kenapa ayah
menerima Raden Juwiring itu di padepokan ini?“ tiba-tiba saja Arum
bertanya. Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia
merenung untuk mendapatkan jawaban yang dapat dimengerti oleh Arum.
“Arum” berkata Kiai Danatirta kemudian “Memang sukar untuk
mengatakan, apakah sebabnya aku menerima Raden Juwiring di padepokan
ini justru karena aku mengerti bahwa persoalannya masih akan
berkepanjangan. Tetapi sebagian terbesar adalah karena aku tidak
dapat menolak permintaan pamanmu Ki Dipanala. Raden Juwiring adalah
seorang anakbangsawan yang baik, tetapi hidupnya tersia-sia. Bahkan
ayahnya sendiri sampai hati untuk menyingkirkannya, bukan karena
anak itu nakal atau tidak mau tunduk kepada ayahnya. Tetapi karena
kedengkian orang lain terhadapnya. Dengan alasan untuk mendapat ilmu
kejiwaan, maka iapun dikir im kemari atas pendapat Dipanala” Arum
tidak menjawab. Namun tampak di wajahnya, beberapa persoalan sedang
bergulat di dalam hatinya. Kata- kata Kiai Danatirta itu seakan-akan
merupakan bayangan yang dapat dilihatnya. Seorang anak muda dari
seorang bangsawan yang dengan kepala tunduk meninggalkan istana
kapangeranan dan kemudian t inggal di sebuah padepokan kecil.
“Memang Raden Juwiring adalah anak yang baik” tiba-tiba saja timbul
pengakuan di dalamhati Arum. Sekilas terbayang kembali wajah anak
bangsawan itu. Senyumnya yang ramah di wajahnya yang selalu cerah.
Arum menarik nafas dalam-dalam. Di sebelah bayangan wajah Raden
Juwiring itu membayang wajah anak muda yang lain. Wajah yang
tampaknya selalu bersungguh-sungguh dan prihatin. Wajah Buntal, anak
muda yang diketemukan di pinggir jalan itu. Namun ternyata iapun
adalah anak yang baik. “Sudahlah Arum” berkata Kiai Danatirta
“Jangan kau pikirkan lagi. Persoalan yang baru saja terjadi, dan
seandainya masih akan terjadi, adalah persoalan padepokan ini
keseluruhan, bukan persoalan yang kau timbulkan. Dan yang lebih pent
ing Arum, jangan menyalahkan dir i sendiri. Jika demikian maka kau
akan kecewa atas dirimu sendir i, dan itu berarti bahwa kau kecewa
terhadap karunia yang telah kau terima” Arum tidak menjawab. Tetapi
air di matanya masih mengambang di pelupuknya.Kiai Danatirta
memandang anak gadisnya itu sejenak. Namun hampir saja ia terseret
oleh kenangan tentang anaknya yang sebenarnya, tentang ibu Arum.
Wajah yang cantik dan sikap yang baik justru telah menyeretnya ke
dalam kesulitan. “Apakah kecantikan Arum akan membawanya ke dalam
kesulitan pula?” Kiai Danatirta bertanya kepada diri sendir i.
Untunglah bahwa orang tua itu segera berhasil menguasai perasaannya
yang hampir bergejolak itu, sehingga kemudian dipaksanya bibirnya
untuk tersenyum sambil berkata “Arum, kakak-kakakmu sudah pergi ke
sawah. Mereka baru akan pulang menjelang sore. Karena itu, kau masih
mempunyai tugas. Kau harus pergi ke sawah untuk mengantar makan
mereka” Arum menganggukkan kepalanya. Hampir setiap har i ia
melakukannya, sehingga karena itu, maka hal itu bukan merupakan hal
yang baru baginya. Demikianlah pada saatnya, ketika nasi sudah
masak, dan mata hari sudah bergeser ke Barat, Arumpun segera
berangkat ke sawah untuk menyampaikan nasi beserta lauk pauknya
kepada kedua saudara angkatnya yang sedang bekerja di sawah.
Meskipun pekerjaan ini sudah dikerjakan setiap hari, namun tiba-tiba
saja hatinya menjadi berdebar-debar. Ketika ia menyusuri pematang,
dilihatnya Juwiring aan Buntal yang sudah lelah, sedang beristirahat
di bawah gubugnya. SejenakArum memandang keduanya berganti-ganti,
namun sejenak kemudian terasa suatu getar yang aneh di dalam
hatinya. Terngiang kata-kata Raden Rudira yang menyebut-nyebut
hubungannya dengan Juwiring dan kebencian bangsawan muda itu kepada
Buntal. Arum tidak pernah memikirkan hubungan itu. Keduanya serasa
benar-benar seperti saudaranya sendiri. Tetapi tiba-tiba kini ia
melihat keduanya sebagai anak-anak muda yang berasal dari
padepokannya. Seolah-olah Arum itu sadar, bahwa Raden Juwiring
adalah Putera Pangeran Ranakusuma yang dititipkannya di padepokan
Jati Aking dan Buntal adalah anak muda yang asing, yang dikeroyok
orang karena mengejutkannya ketika ia memanjat gubug yang berkaki
tinggi itu. Untunglah bahwa Arumpun segera berhasil menguasai
dirinya. Sejenak kemudian iapun sudah tersenyum ramah seperti
kebiasaannya sehari-hari. Sambil meletakkan bakulnya ia berkata
“Maaf, aku agak lambat. Tetapi bukan salahku. Nasi baru saja masak.
Agaknya para pelayan sedang sibuk melihat perkelahian di halaman,
sehingga mereka lambat mulai menanak nasi” “Kamipun lambat
berangkat” sahut Juwiring. “Tetapi kami tidak ingin lambat pulang”
berkata Buntal kemudian. Arum memandang Buntal sejenak, lalu “Aku
membawa gembrot sembukan. Bukankah kakang Buntal senang sekali
gembrot sembukan? Dan aku membawa pecel lele bagi kakang Juwiring”
Buntal sudah mendengar kata-kata Arum berpuluh kali sejak ia berada
di padepokan itu. Tetapi kali ini hatinya serasa tersentuh.
Seolah-olah baru kali ini ia mendapat pelayanan dengan wajah yang
bening tanpa keluhan kepr ihatinan.Seolah-olah baru kali ini ia
menemukan suatu kehidupan yang sejuk. Tetapi Buntalpun menahan
perasaannya sejauh-jauh dapat dilakukan. Ia sama sekali berusaha
menghapus kesan itu dari gerak lahir iahnya, dari warna-warna kerut
di wajahnya dan dari tatapan matanya. Karena itu maka iapun tertawa
sambil berkata “Kau t idak pernah melupakan kegemaran kami. Terima
kasih “Ia berhenti sejenak, lalu “Marilah kakang Juwiring”
Juwiringpun tersenyum, la mengerti. bahwa orang-orang yang berada di
dapur padepokan Jati Aking mengenal kegemarannya, dan demikian juga
kegemaran penghuni- penghuni lainnya. Dan pecel lele yang dibawa
Arum itu telah benar-benar membangkitkan seleranya. Demikianlah
kedua anak-anak muda itupun kemudian makan dengan lahapnya. Arum
yang duduk di pematang memandang keduanya dengan terenyum kecil. Ia
memang selalu senang apa bila kedua anak-anak muda itu makan kiriman
yang dibawanya dengan lahap. Dalam pada itu, Juwiring yang sedang
mengunyah nasi dan pecel lelenya, sekali-sekali memandang wajah Arum
juga. Meskipun gadis itu tinggal bersamanya unluk waktu yang panjang
namun kali ini ia benar-benar memperhatikan wajahnya. Sambil menar
ik nafas dalam-dalam ia berkata di dalam hatinya “Gadis ini memang
cantik. Pantas adinda Rudira sangat tertarik kepadanya. Tetapi
adalah berbahaya sekali apabila ia berada di istana, ayahanda
Ranakusuma ia tidak akan dapat bertahan untuk tiga bulan dari
ketamakan adinda Rudira, yang memantaskan segala cara untuk mencapai
tujuannya”Namun ia terkejut ketika tiba-tiba saja sepucuk duri ikan
lelenya tersangkut di kerongkongan, sehingga Juwiring itu menjadi
terbatuk-batuk karenanya. “Minum kakang” berkata Arum sambil
mengacungkan sebuah gendi ber isi air dingin. Juwiring menerima
gendi itu, lalu diteguknya air yang terasa telah menyejukkan seluruh
badanya, bukan saja sekedar melarutkan dur i dar i kerongkongannya.
Demikianlah ketika mereka sudah beristirahat sejenak setelah makan,
mulailah mereka bekerja kembali, sedang Arumpun membawa sisa-sisa
makanannya pulang ke padepokan. Menjelang senja, kedua anak-anak
muda padepokan Jati Aking itu sudah berada kembali di padepokannya.
Mereka mengerti bahwa Sura dan Ki Dipanala akan kembali ke
Surakarta. Karena itu, mereka pulang dengan tergesa-gesa untuk dapat
bertemu lagi dengan kedua orang yang akan meninggalkan padepokannya
itu. “Hati-hati1ah“ pesan Kiai Dinatirta kepada keduanya. “Ya Kiai.
Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di istana Ranakusuman jawab Ki
Dipanala. “Mudah-mudahan” Sura menyahut “Tetapi rasa-rasanya hati
ini selalu bergetar. Aku mempunyai persoalan yang agak berbeda
dengan Ki Dipanala” “Memang persoalanmu lebih gawat Sura Kebencian
dan dendam itu dapat tertumpah kepadamu. Seperti kita lihat,
kegagalan Raden Rudira di Sukawati telah membawanya keman. Temya ia
ia gagal sekarang. Karena itu, kau akan merupakan sasaran yang
kemudian dari padanya” “Aku menyadari. Tetapi aku tidak akan lari”Ki
Dipanala mengangguk-angguk. Dipandanginya Raden Juwiring dan Buntal
sejenak, lalu katanya “Kalianpun harus berhati-hati. Kalian sekarang
mengenal Raden Rudira lebih banyak, la dapat berbuat apa saja tanpa
menghiraukan apapun iuga. Karena itu, kalian harus mengawasi adik
kalian itu. Mungkin Raden Rudira mengambil cara lain untuk membawa
Arum. Jika Arum sudah berada di istana Ranakusuman, maka akan sangat
sulit bagi kalian untuk mengambilnya kembali apabila ibunda Raden
Rudira, Raden Ayu Sontrang, ikut mencampuri persoalan ini” Juwir ing
dan Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti
sepenuhnya maksud Ki Dipanala. Mungkin Rudira dapat mengupah
sekelompok orang untuk mengambil Arum dengan paksa, atau menculiknya
selagi Arum berada di bulak. Karena itu sambil mengangguk-angguk,
Juwiring menjawab “Baiklah paman. Kami akan mengawasinya” Ki
Dipanala mengangguki pula. Lalu katanya kepada Kiai Danatirta
“Baiklah kami segera minta dir i. Doakan agar kami tidak terjerumus
ke dalam kesulitan yang lebih parah lagi” “Amiin“ sahut Kiai
Danatirta “dan mudah-mudahan pula Pangeran Ranakusuma masih mau
mendengarkan kata- katamu” “Terima kasih. Semuanya masih merupakan
teka-teki bagiku. Dan aku akan memasuki halaman Ranakusuman setelah
malam menjadi gelap dan suasana di Dalem Kapangeranan yang gelap
pula” Demikianlah. Sura dan Ki Dipanala meninggalkan padepokan Jati
Aking menjelang senja. Derap kaki kuda mereka berdetak di sepanjang
jalan padukuhan dan sejenak, kemudian merekapun segera berpacu
diengah bulak Jari Sari yang panjang. Betapapun mereka sudah
bertekad untuk menghadapi setiap persoalan yang mungkin tumbuh,
namun hati merekamenjadi berdebar-debar juga ketika mereka menjadi
dekat dengan kota. Keduanya hampir tidak berbicara sama sekali di
sepanjang perjalanan oleh gejolak perasaan masing-masing. Sehingga
tanpa mereka sadari mereka telah menyusuri jalan kota yang gelap
karena malam yang menyelubungi seluruh Surakarta. Sekali-sekali
mereka memandang lampu- lampu minyak yang bergayutan di sudut-sudut
gardu dan di simpang- simpang empat. Nyala yang kemerah-merahan
terayun-ayun disentuh angin yang lembab. Sura menarik nafas
dalam-dalam. Kesunyian kota membuat hatinya semakin sunyi. Jika
terjadi sesuatu dengan dirinya, maka seluruh keluarganya pasti akan
menderita. Tetapi ia tidak akan dapat kembali kepada suatu dunia
tanpa perasaan dan nalar seperti yang pernah dilakukannya. Dunia
yang seakan-akan tidak pernah berakhir, sehingga apa yang
dilakukannya sama sekali tidak pernah memikirkan hari akhirat, tidak
memikirkan hubungan antara dirinya dengan Tuhan Yang menciptakanNya.
Semestinya yang dilakukannya adalah melakukan urusan dunia sesuai
dengan garis-garis yang sudah ditentukan oleh agama dan dalam r idho
Tuhan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan
juga melakukan ibadah-ibadah dan amalan yang diperintahkan oleh
agama. Kini ia menyadari betapa pentingnya hubungannya dengan sesama
manusia dan lingkungan di sekitarnya bersamaan dengan hubungannya
dengan Tuhan Sang Pencipta Alam semesta. Namun debar jantungnya
terasa semakin cepat ketika dari kejauhan mereka melihat regol Dalem
Ranakusuman ysng telah tertutup. Dengan tajamnya keduanya memandang
regol itu tanpa berkedip, seolah-olah ingin mengetahui, apakah
yangtersenyum di balik pintu serta dinding yang tinggi, yang
mengelilingi halaman itu. Bahkan bagi Sura, bayangan-bayangan yang
suram telah merambat di angan-angannya, seakan-akan di balik dinding
dan pintu yang tertutup itu telah berbaris beberapa orang yang
menunggunya dengan tombak yang merunduk, siap untuk menyobek
perutnya apabila ia memasuki pintu regol. “Apaboleh buat” berkata
Sura di dalam hatinya. Meskipun demikian, hatinya telah dicengkam
pula oleh ketegangan. Ketika kedua orang itu sudah sampai di muka
regol. maka keduanyapun turun dari kuda masing-masing. Sejenak
mereka berpandangan Ki Dipanalalah yang mula bertanya “Kita bawa
kuda-kuda ini ke dalam atau kita akan mengembalikannya lebih dahulu
ke kandangnya?“ “Aku ingin segera melihat, apa yang bakal terjadi.
Biarlah kita bawa kuda ini masuk” Ki Dipanala mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ternyata kegelisahan di hati Sura justru memaksanya untuk
segera melihat akibat yang bakal terjadi atasnya tanpa membawa kuda
itu lebih dahulu ke rumah Dipanala yang terletak di belakang Dalem
Ranakusuman dan dihubungkan dengan sebuah butulan kecil. Bahkan
Dipanala menduga, bahwa Sura menganggap kuda itu setiap saat akan
diper lukannya. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun sejenak
kemudian tangan Sura yang gemetar telah mengetuk pintu regol itu.
Sesaat kemudian terdengar seseorang menyapa dari dalam “Siapa
diluar?“ Sebelum Sura menyahut, Ki Dipanalalah yang telah
mendahuluinya “Aku, Dipanala”Ketika sebuah lubang persegi terbuka,
Dipanala berdiri tepat di muka lubang itu, sehingga wajahnya
seakan-akan telah memenuhi seluruh lubang persegi itu. O, Ki
Dipanala“ desis para penjaga itu. Namun terasa suara mereka
menyimpan nada yang lain dari kebiasaan mereka. “Agaknya orang-orang
ini sudah mengetahui apa yang terjadi” berkata Ki Dipanala di dalam
hatinya. Sejenak kemudian pintu regol itu berderit, dan perlahan-
lahan terbuka. Yang mula-mula berdiri di muka pintu yang terbuka itu
memang Ki Dipanala yang memegangi kendali kudanya. Namun kemudian
para penjaga itupun melihat, bahwa Dipanala tidak datang sendir i.
Para penjaga itu seakan-akan membeku sejenak ketika mereka melihat
Sura berdir i di belakang Ki Dipanala. Melihat wajah-wajah yang
tegang itu Surapun bertanya “Kenapa kalian memandang aku seperti
itu?“ “Kau kembali juga ke Ranakusuman ini?“ bertanya seseorang.
“Ya, kenapa?“ Para penjaga itu saling berpandangan sejenak. Tetapi
Sura tidak menghiraukannya lagi. Seperti Ki Dipanala iapun langsung
memasuki regol Ranakusuman sambil menuntun kudanya. “Orang itu sudah
Gila“ berbisik para penjaga. “Apakah ia memiliki nyawa rangkap
sehingga ia berani datang lagi ke halaman ini” desis salah seorang
dari mereka. “Ia tidak akan dapat lari, karena ia harus membawa
keluarganya. Kecuali jika ia ingin menyelamatkan dir inya sendiri
tanpa menghiraukan anak isterinya” sahut yang lain.Dan seorang yang
berkumis lebat berkata “Bagaimanapun juga Sura adalah seorang yang
berani. Ia bukan seorang yang licik menghadapi persoalan-persoalan
yang gawat. Ia berani bersikap jantan, akibat apapun yang akan
dihadapi” Beberapa orang yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bagaimanapun juga ada kekaguman dar i para penjaga terhadapnya.
Dalam keadaan yang bagaimanapun juga, ia tidak melarikan diri
seperti seorang pengecut. Namun ternyata di halaman Ranakusuman
tidak ada persiapan apapun untuk menunggu kedatangan Sura.
“Barangkali mereka memang menganggap bahwa aku tidak akan datang
lagi ke halaman rumah ini” desis Sura di dalam hatinya. Bersama Ki
Dipanala merekapun langsung pergi ke halaman samping. Kuda merekapun
segera diikat pada sebatang pohon di belakang gandok. Tanpa mereka
sadari, ternyata keduanya telah menjadi bahan pembicaraan
orang-orang yang melihat kehadiran mereka. Ketika mereka sejenak
berdiri termangu-mangu di bawah pohon tempat mereka menambatkan
kuda-kuda mereka, ternyata beberapa pasang mata mengawasi mereka
dengan sorot yang aneh. Tiba-tiba seorang dari antara mereka
menyeruak kedepan sambil mengumpat. Dengan tangan di pinggang orang
yang bertubuh raksasa itu berkata “Sura, apakah kau sudah gila dan
karena itu berani memasuki halaman ini lagi?“ Sura yang mendengar
suara itu berpaling. Dilihatnya Mandra berdiri di antara beberapa
orang pengawal yang lain yang agaknya masih berkumpul di serambi
gandok. Sura tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Mandra yang
tegang dan sorot matanya yang berapi-api.“Sura. Kau benar-benar
tidak tahu malu. Kau sudah berkhianat dan bahkan memberontak. Kenapa
kau datang lagi kemari? Apakah kau sedang mengantarkan nyawamu, atau
kau akan bersimpuh sambil mohon ampun atas pengkhianatanmu dan
pemberontakanmu? sia-sia Sura. Tidak ada orang yang dapat mengampuni
kau. Juga kawanmu yang merasa dir inya mempunyai pengaruh atas isi
halaman ini. Kalian akan menyesal, karena semuanya sudah pasti,
bahwa kalian adalah musuh dari Raden Rudira, berarti musuh dari
seluruh isi halaman ini” Sura yang hatinya mulai terbakar ingin
menjawab. Tetapi Dipanala menggamitnya sambil berdesis “Jangan kau
tanggapi. Kita tidak memer lukan orang itu. Kita memer lukan
Pangeran Ranakusuma” “Tetapi bagaimana dengan orang itu?” “Biarkan.
Kita berdir i saja di sini sambil menunggu kesempatan. Jika Raden
Rudira mengetahui kehadiran kita, ia pasti akan berbuat sesuatu. Aku
mengharap, aku akan mendapat kesempatan, karena semua tindakan yang
diambil di halaman ini biasanya mendapat perhatian dari Pangeran
Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit ” Sura tidak membantah. Ia
percaya kepada Dipanala, karena selama ini Dipanala memang mendapat
beberapa kesempatan yang lebih baik dari orang-orang lain, meskipun
Dipanala adalah orang yang tidak disukai. Tetapi Mandra masih saja
bertolak pinggang sambil berkata “Sura, apakah kau sekarang tuli
atau bisu? Atau barangkali kau memang mempunyai nyawa yang liat,
yang tidak dapat lepas dari tubuhmu” Dan sekali lagi Dipanala
berdesis “Biarkan saja ia berteriak. Suaranya akan memanggil Raden
Rudira dan ibundanya yang banyak ikut campur dalam setiap
persoalan”Sura menggeram. Tetapi ia masih tetap berdiam diri ”Sura.
Sura“ Mandra berteriak semakin keras. Sikap Sura yang diam itu
membuatnya semakin
marah.
Jilid 05 MANDRA berpaling. Ketika ia
melihat Raden Rudira. maka ia pun segera berkata “Tuan. Cucunguk itu
datang kemar i” “Siapa?” “Sura dan Dipanala” “Sura dan Dipanala?“
Raden Rudira terkejut. “Itulah mereka” Raden Rudira memandang ke
dalam keremangan cahaya lampu yang sayup-sayup saja sampai. Tetapi
iapun segera mengenal mereka berdua. Mereka benar-benar Sura dan
Dipanala. Terdengar Raden Rudira menggeretakkan giginya. Lalu
tiba-tiba keluar perintahnya sebelum ia sempat berpikir “Kepung
mereka. Jangan sampai keduanya dapat lari dari halaman ini. Ikat
mereka pada pohon sawo di halaman depan. Kita akan menunjukkan
kepada semua abdi dan pengawal, bahwa yang terjadi adalah akibat
dari pengkhianatan mereka”Sejenak para pengawal menjadi ragu-ragu.
Tetapi ketika Mandra mendahului melangkah mendekati Sura. maka yang
lainpun segera mengikutinya. “Jangan melawan Sura” bisik Dipanala.
“Apakah aku akan membiarkan dir iku mati dengan sia-sia” “Apakah kau
masih percaya kepadaku?“ Sura merenung sejenak. Namun kemudian ia
menganggukkan kepalanya sambil berdesis “Ya. Aku masih percaya
kepada Ki Dipanala” “Jika kau masih percaya kepadaku, jangan
melawan. Aku masih mengharap bahwa kita tidak akan mati sambil
terikat” “Aku tidak mau mati dengan tangan terikat. Aku ingin mati
dengan pedang di tangan” “Percayalah kepadaku” Sura menarik nafas
dalam-dalam. Sementara itu orang- orang yang mengepungnya menjadi
semakin rapat. Namun Sura tidak berbuat apa-apa seperti juga
Dipanala. “Tangkap mereka. Jika mereka melawan, patahkan tangannya”
teriak Raden Rudira. Ki Dipanala memandanginya sejenak, lalu
jawabnya “Kami tidak akan melawan” “Bagus. Jika demikian ikat tangan
mereka pada pohon sawo di halaman depan” Terdengar gigi Sura yang
gemeretak. Tetapi ia tidak melawan seperti yang dinasehatkan Ki
Dipanala, meskipun sebenarnya hatinya tidak mau menerima perlakuan
itu. Dengan kasarnya Mandra mendorongnya dan kemudian beberapa orang
mengikat tangannya dan menyeretnya kesebatang pohon sawo di halaman
depan.“Tutup pintu regol. Jangan seorangpun yang diperbolehkan
masuk” berkata Raden Rudira dengan lantang. Para penjaga di regol
halaman, segera menutup pintu yang sudah tertutup itu menjadi
semakin rapat dan memalangnya kuat-kuat. “Aku curiga, bahwa
sebenarnya Sura tidak datang hanya berdua saja. Awasi semua sudut”
Mandra mengerutkan keningnya, lalu berkata kepada kawan-kawannya
“Benar juga. Mungkin mereka tidak hanya berdua saja. Awasi semua
sudut” Beberapa orangpun segera memencar. Di dalam keremangan mereka
mengawasi dinding-dinding halaman Dalem Ranakusuman. Mereka
memperhatikan setiap desir dan setiap gerak. Tetapi tidak ada
seorangpun yang mereka jumpai. Meskipun demikian mereka tetap Di
tempatnya masing-masing. “Kau akan tetap terikat sampai besok Ki
Dipanala” berkata Rudira “dan kau Sura, barangkali nasibmu akan
lebih jelek lagi” Sura memandang Ki Dipanala sejenak, namun
tampaknya wajah orang itu masih tetap tenang-tenang saja. Tetapi
ketenangan Dipanala agaknya membuat hati Rudira semakin panas,
sehingga iapun kemudian berteriak “Nasibmupun tidak perlu kau
sesali. Besok, j ika matahari naik sampai keujung pepohonan, semua
abdi dari istana ini akan berkumpul di halaman dan menyaksikan
bagaimana aku memukul kalian dengan rotan sampai tubuh kalian tidak
berbentuk. Setelah itu aku akan melemparkan kalian keluar regol
halaman rumah ini untuk selamanya” Dipanala tidak menyahut sama
sekali. Tetapi wajahnya masih tetap tenang dan seakan-akan yakin,
bahwa tidak akan pernah terjadi sesuatu atas dirinya.Ternyata
keributan dan teriakan-teriakan Raden Rudira telah membangunkan
seisi istana itu. Bahkan Pangeran Ranakusuma yang telah nyenyakpun
terbangun pula. Sambil bangkit dari pembaringannya ia berdesah
“Apalagi yang dilakukan anak itu” Dengan wajah yang kusut Pangeran
Ranakusuma keluar dari biliknya dan memukul sebuah bende kecil
disisi pintu biliknya. Seorang pelayan dalam berlari-lari kecil
mendekatinya. Beberapa langkah di hadapan Pangeran Ranakusuma
pelayan itupun segera berjongkok sambil menundukkan kepalanya
dalam-dalam. “Ada apa di luar?“ Pangeran Ranakusuma bertanya. “Raden
Rudira sedang marah tuan” Pangeran Ranakusuma menar ik nafas
dalam-dalam. Ia berpaling ketika didengarnya suara isterinya, Raden
Ayu Galihwar it “Siapakah yang kali ini dimarahinya?“ “Menurut
pendengaran hamba, agaknya Raden Rudira marah-marah kepada Sura dan
Ki Dipanala” “He?“ Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Tetapi
yang bertanya lebih dahulu adalah Raden Ayu Sontrang “Maksudmu Ki
Dipanala abdi Ranakusuman ini?“ “Hamba dengar demikian“ Sejenak
Raden Ayu Galihwarit menjadi tegang. Tetapi iapun berusaha untuk
menghilangkan kesan itu dari wajahnya. “Dimanakah mereka sekarang?“
“Di halaman depan tuan” Pangeran Ranakusuma termenung sejenak. Lalu
ia bertanya kepada isterinya “Apakah ia mengatakan sesuatu tentang
kedua orang itu?““Ya kamas. Ia merasa dikhianati oleh keduanya. Ia
tidak berhasil mengambil gadis Jati Aking itu” “Gadis Jati Aking?
Siapa?“ “Anak Danatirta” “He“ Pangeran Ranakusuma mengerutkan
keningnya “Jadi Rudira ingin mengambil anak gadis Danatirta?“ “Ya
kamas. Aku memang memer lukan seorang pelayan untuk menjediakan
kinangan dan botekan, khusus buatku” “Tetapi kenapa anak Danatirta?
Aku sudah menit ipkan Juwiring di padepokan itu, dan sekarang Rudira
ingin mengambil anaknya” “Apakah salahnya?“ Pangeran Ranakusuma
menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Tidak. Aku tidak boleh
membiarkannya. Keluarga kita tidak boleh menyakit i hatinya. Aku
yakin, bahwa Danatirta tentu keberatan memberikan anaknya itu, dan
Rudira tidak boleh memaksanya” “Tetapi itu dapat berarti menurunkan
martabat kita kamas” “Kenapa?“ “Akan menjadi kebiasaan seorang
rakyat kecil menolak perintah seorang bangsawan, apalagi seorang
Pangeran seperti kamas Ranakusuma” “Tetapi perintah itu sama sekali
tidak wajar” “Kenapa tidak? Bukankah sudah menjadi kebiasaan seorang
bangsawan untuk mengambil seorang perempuan yang disukainya?“
Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat
membantah karena ia pernah melakukannya, dan isterinya itupun
mengetahuinya pula. Namun demikian, iamasih berkata “Tetapi
Danatirta adalah seorang yang mengasuh anakku pula” “Ah, kamas masih
selalu memikirkannya. Kamas masih selalu memperhitungkan anak itu,
sedangkan yang sekarang menghadapi persoalan adalah Rudira, Putera
kamas pula” Pangeran Ranakusuma menjadi termangu-mangu. Setiap kali
ia dihadapkan pada persoalan yang rumit. Dan kali ini, ia berdiri
disimpang jalan yang sangat membingungkan. Selagi ia termangu-mangu,
maka Raden Rudirapun berjalan bergegas masuk ke ruang tengah dan
langsung ke pintu bilik ayahandanya yang terbuka, sedang ayah dan
ibunya masih berdiri di muka pintu dihadap seorang pelayan.
“Ayahanda masih belum tidur?“ “Aku terkejut mendengar kau
berteriak-teriak di halaman, aku baru bertanya apa yang sudah
terjadi” “Aku telah menangkap Sura dan Ki Dipanala, keduanya aku
ikat pada pohon sawo kecik di halaman untuk menjadi pengewan-ewan”
“Rudira“ hampir berbareng ayah dan ibunya memotong. Namun hanya
ayahanyalah yang melanjutkannya “Kau akan menghukum mereka?“ “Ya
ayahanda. Aku akan menghukum kedunya” Wajah Ranakusuma menjadi
tegang sejenak. Tanpa disadarinya ia berpaling memandang wajah Raden
Ayu Galihwar it. Ternyata wajah itupun menegang pula. “Rudira”
berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Sura dan Dipanala adalah
abdi-abdi Ranakusuman yang telah bertahun. Karena itu, setiap
hukuman bagi mereka harus dipertimbangkan sebaik-baiknya” “Aku sudah
mempertimbangkan ayahanda. Mereka adalah pengkhianat-pengkhianat
yang harus dihukum. Mereka telahmenghina aku sebagai seorang putera
Pangeran. Keduanya telah mencegah keinginanku mengambil seorang
gadis dari padepokan Jati Aking. Mereka sama sekali tidak berhak
berbuat demikian ayah” Pangeran Ranakusuma merenung sejenak. Dan
sebelum ia menyahut. Raden Ayu Sontrang sudah mendahuluinya “Jangan
berbuat sewenang-wenang terhadap keduanya Rudira. Terutama Ki
Dipanala” “Kenapa dengan Ki Dipanala?“ bertanya Rudira “Ia tidak ada
bedanya dengan abdi yang lain, sehingga karena itu, maka iapun waj
ib mendapat perlakuan yang sama seperti Sura” Sejenak ayah dan ibu
Rudira itu termenung. Namun kegelisahan yang sangat telah membayang
di wajah mereka. Karena itu, tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma
berkata “Aku ingin melihat mereka” “Tidak usah sekarang ayahanda.
Biarlah mereka merasakan betapa dinginnya sisa malam ini” “Mereka
tidak akan kedinginan karena hatinya yang panas” “Jika demikian,
biarlah mereka merasakan panasnya sengatan rotan di punggung mereka
besok siang” “Jangan kehilangan keseimbangan Rudira. Aku memerlukan
Dipanala” “Ya“ sambung Raden Ayu Galihwar it “ Setidak-tidaknya
Dipanala harus mendapat pertimbangan lebih banyak” Pangeran
Ranakusuma mengerutkan keningnya. Timbullah pertanyaan di dalam
hatinya, apakah Raden Ayu Sontrang juga mempunyai kepentingan dengan
Dipanala seperti dirinya? Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak bertanya
kepada isterinya. Kepada pelayan dalam ia berkata “Antarkan aku ke
halaman depan”“Ayahanda“ Raden Rudira berusaha mencegah “biarkan
mereka terikat sampai besok menjelang tengah hari. Biarlah mereka
sekarang kedinginan, dan besok kepanasan” Tetapi Pangeran Ranakusuma
t idak menjawab. Ia melangkah diikuti oleh Raden Ayu Galihwarit dan
Raden Rudira. Di belakang mereka adalah pelayan dalam yang mendapat
perintah untuk mengikutinya pula. “Aku masih memer lukan Dipanala”
“Ya” sahut Raden Ayu Sontrang “Kau harus melepaskan Dipanala,
Rudira” “Apakah yang lain pada Dipanala? Kenapa ayahanda agak
terikat kepadanya?“ Ayahnya tidak menyahut. Tetapi jantung Raden Ayu
Galihwar itpun menjadi berdebar-debar. Jika Rudira bertanya demikian
kepadanya maka ia akan mengalami kesulitan untuk mencari jawabnya.
Untunglah bahwa Rudira tidak bertanya kepadanya. Pangeran Ranakusuma
sama sekali tidak menjawab pertanyaan Raden Rudira. Pelayan dalam
itu bergegas membuka pintu samping ketika Pangeran Ranakusuma
berkenan melalui pintu yang sudah ditutup rapat itu. Seusap angin
malam yang berhembus dari Selatan telah membuat Pangeran Ranakusuma
berdesis. Tetapi ketegangan di dalam hatinya membuatnya seolah-olah
sama sekali tidak kedinginan. Bahkan beberapa titik keringat telah
mengembun di dahinya. Kedatangan Pangeran Ranakusuma, Raden Ayu
Galihwarit dan Raden Rudira membuat Sura menjadi berdebar-debar.
Namun ia tidak mengerti, kenapa justru Ki Dipanala tersenyum
karenanya. Senyum yang sama sekali tidak dapat dibaca
maknanya.Beberapa orang prajurit yang ada di halaman itupun segera
berjongkok. Berbagai pertanyaan telah timbul di dalam hati mereka.
Apakah Pangeran Ranakusuma tidak sabar menunggu sampai besok?.
Sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma sudah berdiri di hadapan Ki
Dipanala. Dengan tajamnya ia memandang orang yang terikat itu. Namun
sejenak kemudian, ia berpaling kepada Sura. Dan pertanyaan yang
pertama-tama diberikan adalah justru kepada Sura “Sura, apakah benar
kau sudah berkhianat?“ “Bukan maksud hamba berkhianat Pangeran”
jawab Sura terbata-bata. “Jadi apakah maksudmu?“ “Hamba sekedar
mulai berpikir dan menilai perbuatan- perbuatan hamba sendiri”
“Apakah selama ini kau tidak pernah memikirkan perbuatan-perbuatan
dan tindakan-tindakanmu?“ Sura menggelengkan kepalanya “Tidak tuan.
Selama ini hamba t idak memikirkan perbuatan hamba” “Untuk apa
sebenarnya kau mengabdikan dir imu, sehingga kau kehilangan
kepribadianmu?“ Sura menundukkan kepalanya. Pertanyaan itu telah
membelit hatinya kuat-kuat. “Ya. untuk apa?” Ia bertanya kepada dir
i sendiri. Dan tiba-tiba saja ia menemukan jawab “Hamba ingin
membuat keluarga, anak dan isteri hamba hidup agak baik tuan. Hamba
telah menjual kepribadian hamba untuk itu” “Bukankah keputusan yang
kau ambil itu juga hasil pemikiran? Apakah dengan demikian, bukan
sebaliknya yang terjadi, bahwa justru sekaranglah kau telah
kehilangankesempatan untuk berpikir? Untuk memikirkan keluargamu?
Apakah dengan demikian, justru baru sekarang kau telah kehilangan
arti dari dirimu sendir i? Kau memiliki kemampuan yang disertakan
alam sejak kelahiranmu, dan kau dapat mempergunakannya
sebaik-baiknya atas pertimbangan nalar untuk kesejahteraan
keluargamu” Sura menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Ampun tuan.
Jika hamba memandang dari segi itu, agaknya memang demikian. Hamba
sudah kehilangan arti dari kemampuan yang hamba miliki bagi keluarga
hamba. Tetapi pengenalan arti yang hamba maksudkan adalah pengenalan
atas baik dan buruk, atas kebenaran yang kesesatan” “O“ Pangeran
Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya “Kau mulai berguru olah
kajiwan. Apakah kau ikut serta dengan Juwiring belajar pada Kiai
Danatirta? Atau tiba- tiba saja kau mendapat ilham yang mengajarmu
tentang baik dan buruk dan tentang kebenaran dan kesesatan?“ “Ampun
Pangeran. Hamba tidak mempelajarinya dari Kiai Danatirta. Tetapi
hamba mempelajari dar i jalan hidup hamba sendiri. Meskipun
pengenalan atas baik dan buruk itu ada sejak aku sadar akan diriku
di masa kanak-kanak, tetapi pengakuan dan penghayatannya itulah yang
seakan-akan telah membuat aku manusia yang lahir kembali sekarang
ini” “He, darimana kau belajar menyusun pembelaan ini? Kau memang
mengagumkan Sura. Aku kira kau tidak pernah belajar apapun juga, dan
tidak mempelajari ilmu kaj iwan dan pandangan hidup. Tetapi kau
dapat menyebut kalimat-kalimat yang bernafas kajiwan. Bahkan aku
telah mengagumi kata- katamu” Sura menunduk dalam-dalam. Ia tidak
dapat menjawab pertanyaan itu. Menurut pengertiannya, tiba-tiba saja
ia menyadarinya. Dan ia t idak dapat menyebutkan sumber yang manakah
yang telah mengalir i hatinya, sehingga ia mampu mengucapkan
kata-kata itu.“Sura” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Sayang,
bahwa justru pengalamanmu atas dirimu sendir i itulah yang membuatmu
telah berkhianat. Berkhianat kepada bendara dan berkhianat kepada
kesadaranmu berkeluarga. Jika kau dihukum karenanya, maka keluargamu
pasti akan terlantar” Dada Sura menjadi berdebar-debar. Sekilas ia
memandang wajah Ki Dipanala yang masih terikat. Tetapi wajah itu
masih tetap tenang dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa atasnya.
“Apakah justru Ki Dipanala ini sekedar berpura-pura untuk
menjebakku. Kemudian ia akan terlepas dari semua tanggung jawab yang
mereka tuduhkan pengkhianatan ini?“ “Sura” berkata Pangeran
Ranakusuma kemudian “Kau adalah abdi yang sudah lama. Lama sekali.
Tetapi sekarang kau dihadapkan pada suatu kenyataan, bahwa kau
terpaksa mendapat hukuman. Sudah barang tentu bahwa itu adalah
sekedar akibat dari kekeliruanmu” Sura sama sekali tidak menjawab.
“Tetapi kau memang seorang laki-laki. Kau menghadapi semuanya dengan
sikapmu yang jantan. Itulah yang masih ada padamu satu-satunya.
Kejantanan” Sura masih tetap berdiam diri. Ia mengangkat wajahnya
sebentar ketika Pangeran Ranakusuma kemudian berpaling kepada Ki
Dipanala “Dipanala. Persoalanmu agak berbeda dengan Sura. Jika kau
bersedia minta maaf kepadaku dan kepada Rudira. kau akan dibebaskan
dari segala tuntutan” Pertanyaan itu telah mendebarkan dada Sura.
Jika Dipanala sekedar minta maaf, dan kemudian dilepaskan tanpa
menghiraukan dir inya, maka sadarlah ia bahwa sebenarnya Dipanala
telah menjebaknya sehingga ia tidak melawan sama sekali ketika kedua
tangannya diikat.Tetapi jawaban Dipanala benar-benar mengejutkannya
“Tuan. Hamba tidak bersalah. Karena itu hamba tidak akan mohon maaf
kepada siapapun juga” “Dipanala” tiba-tiba saja wajah Ranakusuma
menjadi tegang. “Hamba hanya sekedar mencoba meluruskan jalan yang
dilalui oleh Raden Rudira terhadap Arum, anak gadis Kiai Danatirta.
Apakah hal itu sudah cukup kuat dipergunakan sebagai alasan untuk
menyebut pengkhianat dan mengikat hamba di sini?“ “Kenapa kau ikut
mencampur i persoalan ini?“ “Barangkali hamba memang suka mencampur
i persoalan orang lain. Bukan baru kali ini hamba mencampuri
persoalan penghuni Dalem Ranakusuman ini” “Cukup” tiba-tiba Raden
Ayu Galihwarit berteriak memotong. Semua orang berpaling kepadanya.
Bahkan Pangeran Ranakusuma memandangnya dengan heran. Apalagi Raden
Rudira. Namun Raden Ayu Galihwarit segera menyadari keadaannya
sehingga ia berkata seterusnya “Kau tidak usah mengigau. Seandainya
kau memang pernah mencampuri urusan orang lain pula, aku tidak
peduli. Tetapi aku minta kau jangan mencampuri persoalan anakku”
Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang
peristiwa-peristiwa yang suram yang terjadi di dalam halaman istana
Ranakusuman ini. Namun kemudian ia berkata “Terserahlah kepada
penilaian tuan. Tetapi hamba dan kawan hamba ini tidak bersalah.
Jika hamba akan dihukum, maka sudah tentu hamba tidak akan mau
mengalami derita seorang diri atau hanya berdua dengan Kawan hamba
ini” Raden Ayu Galihwarit menggigit bibirnya. Namun wajah Pangeran
Ranakusumapun menjadi tegang.“Jangan hiraukan orang itu ayahanda”
berkata Raden Rudira kemudian “Aku akan memanggil para pengiring
besok setelah matahari terbit. Aku dapat menghukum keduanya dengan
cara yang paling menarik, selain hukumpicis” “Apa yang dapat kau
lakukan Rudira?” “Macam-macam sekali ayah. Aku dapat membakar dua
potong besi sehingga membara. Jika ujung-ujung besi itu tersentuh
mata keduanya, maka akibatnya akan dapat dibayangkan” Terasa
bulu-bulu tengkuk Raden Ayu Galihwarit meremang. Namun sebelum ia
berkata sesuatu, Pangeran Ranakusuma telah mendahului “Rudira. Kita
hidup pada jaman peradaban. Kita bukan lagi orang-orang liar yang
dapat dengan sekehendak hati kita memperlakukan sesama manusia”
Rudira menjadi heran mendengar kata-kata ayahnya. Ayahnya tentu
tahu, bahwa ia tidak akan memperlakukan kedua orang itu seperti yang
dikatakan. Tetapi ia benar-benar akan mendera keduanya dengan cambuk
atau rotan. Belum lagi keragu-raguan itu mereda, tiba-tiba saja
Pangeran Ranakusuma berkata “Lepaskan Dipanala” Kata-kata itu
benar-benar telah mendebarkan jantung Raden Rudira. Namun selain
Rudira, Surapun menjadi berdebar-debar pula. Perintah Pangeran
Ranakusuma hanya berlaku bagi Dipanala. Tetapi tidak berlaku
baginya. Namun ternyata Dipanala bertanya “Apakah aku akan
dilepaskan sendiri?“ “Ya, kau akan dilepaskan atas perintahku. Kau
sudah lama sekali t inggal di rumah ini. Karena itu, aku masih juga
mempunyai perasaan iba” “Tuan” berkata Dipanala “Masa pengabdianku
dan Sura tidak terpaut banyak. Karena itu, hamba mohon agar Sura
juga mendapatkan kesempatan seperti hamba”“Gila” bentak Pangeran
Ranakusuma “Aku hanya memaafkan engkau. Itu tergantung atas
kehendakku” “Jika tuan tidak berbuat adil, maka biarlah hambapun
mengalami perlakuan seperti yang akan dialami Sura. Hambapun tidak
berkeberatan mengalami dera dengan cambuk atau rotan seratus kali
pada badan hamba” “Dipanala. kau jangan berbuat bodoh dan gila. Aku
tidak mau berbuat lain kecuali mengampuni kau meskipun Rudira tidak
setuju. Sedang Sura, bagiku bukan seseorang yang aku perlukan lagi”
“Tuan, soalnya bukan diper lukan atau tidak diperlukan. Soalnya aku
dan Sura dapat dianggap berbuat kesalahan yang sama“ “Tidak. Jauh
berbeda” sahut Raden Rudira “meskipun aku ingin menghukum kalian
berdua, namun sebenarnya kesalahan Sura jauh lebih besar dari
kesalahanmu. Sura dengan tegas menentang kehendakku. Ia berani
melawan Mandra yang bertindak atas namaku“ Dipanala mengerutkan
keningnya. Namun katanya “Tergantung kepada Pangeran. Tetapi hamba
mohon Sura juga dilepaskan” “Tidak. Jika ayahanda ingin memaafkan
kau Ki Dipanala, aku masih dapat mengerti, karena selama ini kau
nampaknya mempunyai pengaruh atas ayahanda. Tetapi tidak dengan
Sura. Ia benar-benar sudah berkhianat. Bukan saja dengan
angan-angan. tetapi sudah dilakukan dengan perbuatan” “Dipanala”
berkata Pangeran Ranakusuma “Kau hanya mempunyai dua pilihan.
Menjalani hukuman bersama Sura, atau kau mohon maaf dan aku
lepaskan” “Hamba memang mempunyai dua pilihan. Dilepaskan
bersama-sama atau harus menjalani hukuman bersamanya. Perbedaan
hukuman dan pengampunan sama sekali tidak adil.Dan hambapun sama
sekali tidak berbuat kesalahan menurut hemat hamba” Raden Rudira
menggeretakkan giginya. Katanya “Aku akan menghukum kedua-duanya “
Sejenak Pangeran Ranakusuma termenung. Ketika ia berpaling memandang
isterinya, tampaklah betapa ketegangan yang memuncak membayang di
wajahnya. “Apakah pertimbanganmu?“ tiba-tiba Pangeran Ranakusuma
bertanya. Raden Ayu Galihwarit mendapatkan kesulitan untuk menjawab
pertanyaan itu, sehingga karena itu Pangeran Ranakusuma mendesaknya
“Apa yang baik kita lakukan sekarang?“ Tubuh ibunda Raden Rudira itu
menjadi gemetar. Disela- sela deru nafasnya ia berkata “Yang manapun
yang baik menurut kakanda” Dipanala menjadi berdebar-debar juga.
Memang ia mempunyai keuntungan dengan sikapnya. Tetapi kemungkinan
yang lain justru pahit sekali. Baik Pangeran Ranakusuma, maupun
Raden Ayu Galihwarit dapat memer intahkan untuk segera membunuhnya,
agar mulutnya tidak lagi dapat mengucapkan kata-kata. “Jika demikian
yang terjadi, apaboleh buat. Tetapi aku pasti masih mempunyai
kesempatan untuk berteriak meskipun hanya beberapa kata. Dan yang
beberapa kala itu akan membawa Pangeran Ranakusuma suami isteri
untuk bersama- sama mengalami kenyerian yang tiada taranya meskipun
berbeda bentuknya. Namun Pangeran Ranakusuma tidak segera berbuat
sesuatu, la masih berdiri saja mematung memandang Dipanala yang
terikat itu. Sekali-sekali dipandanginya pula wajah Sura yang
tegang.Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Keduanya
adalah abdi yang termasuk paling lama bekerja di Ranakusuman. Tetapi
Sura bagi Pangeran Ranakusuma tidak lebih dari benda-benda mati.
Jika ia tidak terpakai lagi, maka apa salahnya jika ia dibuang.
Tetapi agaknya tidak demikian dengan Dipanala. Namun karena itu,
Dipanala menjadi lebih tidak disukai lagi. Bahkan memang terlintas
di angan-angan Pangeran Ranakusuma “Kenapa orang ini tidak segera
mati saja?“ Selagi Pangeran Ranakusuma termangu-mangu, maka Raden
Rudira berkata “Serahkan kepadaku ayahanda. Mungkin ayahanda tidak
akan sampai hati karena orang-orang ini sudah terlalu lama berada
dan mengabdikan dir i kepada ayahanda. Tetapi penghinaan yang
diberikan kepadaku sepantasnya untuk diperhitungkan sebaik-baiknya.
Dan aku tidak berkeberatan sama sekali untuk melakukannya. Wajah
Pangeran Ranakusuma menjadi semakin tegang. Keringat dingin mulai
mengalir di punggung dan tengkuknya. Raden Rudira menjadi heran
melihat sikap ayahandanya. Bahkan sikap ibundanya Galihwar it.
Seakan-akan ada sesuatu yang menghantui mereka berdua, sehingga
mereka berdua tidak segera berani mengambil suatu sikap terhadap
Dipanala. Setelah mengalami perjuangan yang berat di dalam
jantungnya, tiba-tiba dengan suara gemetar Pangeran Ranakusuma
berkata kepada anaknya “Lepaskan mereka” “Ayahanda“ Raden Rudira
hampir berteriak “Mereka telah menghina aku. Sura terlebih- lebih
lagi. Ia menghina aku di Sukawati dan kemudian di padepokan Jati
Aking. Apakah ia harus dilepaskan?“ Terasa tubuh Pangeran itu
menjadi semakin gemetar. Dipandanginya wajah Dipanala yang tenang.
Lalu iapun menggeram “Kau memang licik seperti setan, Dipanala.
Tetapijangan kau berharap bahwa lain kali kau dapat mempergunakan
akal licikmu ini” “Tuan” berkata Dipanala “hamba sama sekali tidak
ingin berbuat licik. Hamba hanya memohon agar tuan sudi
mempertimbangkan untuk melepaskan kami, karena kami tidak bersalah.
Sehingga karena itu maka kami berkeberatan untuk memohon maaf kepada
Raden Rudira” “Diam, diam kau” teriak Pangeran Ranakusuma yang
menjadi semakin marah. Tiba-tiba saja tangannya telah menampar mulut
Dipanala, sehingga wajah Dipanala terdorong dan membentur batang
sawo. Namun kemudian dengan suara yang bergetar Pangeran Ranakusuma
berkata “Lepaskan mereka. Lepaskan setan-setan licik ini” “Ayahanda“
“Lepaskan, lepaskan. Apakah kalian mendengar?“ Raden Rudira menjadi
tegang. Apalagi ketika ia melihat beberapa orang berdiri
termangu-mangu di kejauhan. Di antara mereka adalah Mandra. Karena
Rudira masih termangu-mangu, maka ayahandanya Pangeran Ranakusuma
berteriak sekali lagi “Lepaskan. Lepaskan, apakah kalian tuli he?“
Selagi Raden Rudira berdiri termangu-mangu, maka ibunya, Raden, Ayu
Galihwarit mendekatinya sambil berbisik “Jangan membantah per intah
ayahanda, Rudira. Lepaskan. Kau tidak memer lukan keduanya” Terasa
kerongkongan Raden Rudira seperti tersumbat. Bahkan matanya terasa
menjadi panas. “Tetapi, tetapi . . ” ia masih akan berkata lebih
banyak lagi. Namun dengan jari-jarinya ibunya menyentuh bibir
puteranya sambil berkata pula “Rudira, bukankah kau satu-satunya
Putera ayahanda yang paling patuh? Nah, lepaskan mereka seperti yang
diperintahkan oleh ayahanda”Betapa kecewa menghentak-hentak dada
Raden Rudira. Hampir saja ia berteriak dan menangis
terlolong-lolong. Kekecewaan yang datang beruntun membuat hatinya
serasa pecah. Dan kali ini ayahandanya dan ibundanya sendirilah yang
membuatnya kecewa. Kecewa sekali, seperti saat ia gagal mengambil
Arum. “Ibu membiarkan aku pergi ke Jati Aking” suara Rudira
terputus-putus ”Tetapi ibu membiarkan pula aku terhina” “Bukan
maksudku Rudira. tetapi sebaiknya kau melakukan perintah ayanda”
Raden Rudira tidak dapat membantah lagi. Dengan mata yang menjadi
merah, ia berteriak kepada pelayan dalam yang berdiri mematung
“Lepaskan, lepaskan” Pelayan dalam itu termangu-mangu sejenak, namun
kemudian ia maju beberapa langkah dan melepaskan tali pengikat kedua
orang itu pada batang-batang sawo di halaman itu. Ketika tali-tali
itu terlepas, maka Dipanala dan Sura hampir berbareng menarik nafas
dalam-dalam. Dengan nada yang dalam Dipanala berkata “Tuan, hamba
mengucapkan beribu terima kasih” “Diam, diam“ Pangeran Ranakusuma
berteriak. Dipandanginya Dipanala dan Sura sejenak. Namun iapun
kemudian segera melangkah meninggalkan halaman depan itu kembali
memasuki ruangan dalam istananya diikut i oleh isterinya. Raden
Rudira masih berdir i sejenak di halaman. Sorot matanya yang membara
itu bagaikan menyala. Dengan suara gemetar ia berkata “Dipanala,
apakah kau dapat menyihir dan memaksa ayahanda mengambil keputusan
itu lewat tatapan matamu?” “Tidak tuan. Aku sama sekali tidak
mengenal ilmu itu”“Tetapi kau sanggup memaksa ayah melepaskan kau
berdua. Tetapi jangan tertawa atas kemenanganmu kali ini. Kau tahu
siapa Raden Rudira. Pada suatu saat, aku akan menebus semua
kegagalanku sekaligus. Petani Sukawati, Arumdan kau berdua” Dipanala
tidak menyahut. Bahkan ditundukkannya wajahnya. Dan Rudira masih
berkata “Dengan kemenanganmu sekarang ini ternyata telah mendekatkan
kau kejalan kematianmu. Kau harus tahu, bahwa aku sama sekali tidak
dapat menerima keadaan serupa ini” Dipanala masih tetap berdiam dir
i. lapun mengerti, betapa kecewa hati anak muda itu. Karena itu, ia
tidak ingin membakarnya sehingga dapat menghanguskannya sama sekali.
Dalam pada itu di dalam istana, Pangeran Ranakusuma duduk dengan
wajah yang suram. Isterinya, Raden Ayu Galihwar it berdir i
bersandar bibir pintu biliknya. “Kenapa kau kali ini bersikap lain?“
bertanya Pangeran Ranakusuma. “Maksud Pangeran?“ “Kau biasanya
terlalu memanjakan anakmu. Tetapi kenapa kali ini kau membenarkan
sikapku?“ “Pertanyaan Pangeran sangat aneh” sahut isterinya
“bukankah aku berusaha untuk ikut memberikan bimbingan kepada
Rudira, dan mendidiknya untuk mematuhi perintah ayahandanya”
Pangeran Ranakusuma tidak bertanya lagi. Terasa sesuatu yang lain
pada sikap isterinya saat itu. Kenapa ia tidak justru memaksanya
untuk menyerahkan Dipanala dan Sura kepada Rudira?Tetapi Pangeran
Ranakusuma tidak bertanya lagi. Apalagi ketika anak gadisnya
terbangun pula dan datang mendekati ibunya “Apa yang terjadi
ibunda?“ ”Tidak apa-apa sayang. Tidurlah” “Saat apakah sekarang ini?
Apakah masih belumpagi?“ “Belum. Hari masih malam” “Tetapi kenapa
ayahanda dan ibunda tidak t idur pula?“ “Kami terbangun karena
keributan di halaman. Kakandamu Rudira sedang sibuk dengan
hamba-hamba istana yang licik dan berkhianat” “O, apakah kamas
Rudira sedang menghukum mereka” “Ya” “Aku akan melihatnya” “Jangan,
jangan“ tiba-tiba Raden Ayu Galihwarit menangkap lengan anaknya.
Kemudian dibimbingnya anak itu masuk ke dalam biliknya sambil
berkata kepada Pangeran Ranakusuma “Perkenankan aku menidurkan anak
ini kamas” Pangeran Ranakusuma menganggukkan kepalanya. Tetapi ia
tidak menjawab sepatah kalapun. Sepeninggal Raden Ayu Galihwarit,
Pangeran Ranakusuma masih saja duduk di tempatnya. Terbayang sekilas
beberapa peristiwa yang tidak akan dapat dilupakan. Dan peristiwa
itulah yang memaksanya untuk tidak dapat membiarkan Dipanala mener
ima hukumannya, apabila ia tidak ingin terseret ke dalam kesulitan.
“Setan itu sebaliknya lekas mati. Aku akan segera berusaha memeras
aku. tetapi pada suatu saat ia dapat berbahaya bagiku” Tetapi
melenyapkan Dipanala bukan suatu pekerjaan yang mudah. Pangeran
Ranakusuma tahu benar, bahwa Dipanalaadalah seorang bekas prajurit
yang mumpuni. Tetapi kini ia hampir tidak pernah bersikap dengan
berlandaskan kepada kemampuannya dalam olah kanuragan. Namun
demikian, di dalam keadaan yang memaksa, maka Dipanala adalah seekor
harimau yang garang. Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam.
Harimau itu kini tampaknya menjadi j inak. Bahkan ia sama sekali t
idak berbuat apa-apa ketika Rudira dan pengir ingnya mengikatnya
pada pohon sawo. Apabila Dipanala dan Sura itu melakukan perlawanan,
maka akibatnya seisi istana Kapangeranan ini akan terlibat. Untuk
berhasil menundukkan kedua orang yang bekerja bersama itu,
diperlukan waktu dan tenaga. Dalam kebingungan itu Pangeran
Ranakusuma melihat Raden Rudira memasuki biliknya tanpa berkata
sepatah katapun. Dibantingnya tubuhnya di pembaringannya dengan
kesalnya. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak menghiraukannya. Ia masih
tetap duduk sambil merenung. Di bilik yang lain. Raden Ayu
Galihwarit berbaring disisi anak gadisnya. Sekali-sekali puterinya
itu bertanya, namun. Raden Ayu Galihwarit selalu menghindar dan
menjawab “Tidurlah. Tidurlah” “Sebentar lagi hari akan menjadi
terang. Aku tidak dapat Tidur lagi ibu” “Kalau begitu, ibulah yang
akan tidur. Ibu terlalu lelah“ Puterinya tidak menyahut.
Dibiarkannya Ibundanya berbaring diam disisinya. Tetapi ketika ia
memandang wajah ibundanya dengan sudut matanya, ternyata mata Raden
Ayu Galihwar it itu tidak terpejam. Dalam pada itu. Raden Ayu
Galihwarit yang memandangi atap biliknya itu benar-benar sedang
digelisahkan oleh peristiwa-peristiwa yang beruntun terjadi. Namun
yang palingmenggelisahkannya adalah karena Dipanala sudah tersangkut
pula di dalamnya. “Setan itu memang licik “Ia berkata di dalam
hatinya “kenapa la tidak mati saja” Raden Ayu Galihwarit menarik
nafas dalam-dalam, sehingga desah nafasnya telah membuat puterinya
berpaling. Tetapi gadis itu sama sekali tidak bertanya. Persoalan
yang diketahuinya itu agaknya telah dipergunakannya sebagai alat
untuk menyelamatkan diri Bahkan mungkin di saat-saat mendatang ia
berbuat lebih berani lagi“ Raden Ayu Ranakusuma itu meneruskan di
dalam hati “meskipun sampai saat ini ia belum pernah melakukan
pemerasan, tetapi apakah hal itu pada suatu suat tidak terjadi?
Raden Ayu Galihwarit itupun menjadi heran, bahwa sikap Pangeran
Ranakusuma t iba-tiba saja menjadi begitu lunak terhadapnya. Bahkan
Pangeran Ranakusuma terpaksa menurut i permintaan Dipanala untuk
melepaskan Sura pula. “Pengaruh apa pula yang ada pada Dipanala
terhadap kamas Ranakusuma?“ Pertanyaan itu ternyata telah sangat
mengganggunya. Jika tidak ada sesuatu yang menyebabkannya. Pangeran
Ranakusuma tentu tidak akan berbuat sedemikian lunaknya terhadap
Dipanala dan kepada Sura. Meskipun kadang-kadang Pangeran Ranakusuma
tidak sependapat dengan tingkah laku anak laki- lakinya. tetapi ia
jarang sekali mengurungkan keputusan yang sudah diambil oleh anak
itu. Namun kali ini. Pangeran Ranakusuma telah menggagalkan niat
Raden Rudira untuk menghukum kedua orang itu. Mutlak. Ketika Raden
Ayu Galihwar it berpaling, dilihatnya puterinya telah tertidur
nyenyak di sampingnya. Karena itu, maka perlahan-lahan ia bangkit
dan meninggalkan pembaringan itu.Raden Ayu Galihwarit menarik nafas
dalam-dalam ketika dari celah-celah pintu ia masih melihat Pangeran
Ranakusuma duduk termenung. Tetapi ia sama sekali tidak menyapanya,
bahkan Raden Ayu Galihwarit itu pun langsung pergi ke pembaringannya
sendiri. Dalam pada itu, di halaman Sura masih berdiri termangu-
mangu. Seperti bermimpi ia melihat orang-orang yang sudah siap untuk
menghukumnya itu berlalu. Sejenak kemudian ia menarik nafas
dalam-dalam. Dipandanginya Dipanala sejenak. Namun akhirnya ia tidak
dapat menahan keinginannya untuk mengetahui, apakah sebabnya
semuanya itu sudah terjadi. “Apakah seperti kata Raden Rudira, kau
sudah menyihirnya Ki Dipanala?” bertanya Sura. Ki Dipanala memandang
Sura sejenak. Namun iapun kemudian tersenyum sambil menyahut “Aku
tidak mengenal ilmu itu” Tetapi kenapa Pangeran Ranakusuma memenuhi
permintaanmu, bahkan melepaskan aku sekaligus” Ki Dipanala
mengangkat bahunya. Namun ia tidak menjawab. “Dan yang lebih
mengherankan lagi, karena Raden Ayu Sontrang itu kali ini tidak
memaksakan kehendak anak laki- lakinya yang manja itu? Jika Raden
Ayu Galihwarit itu mencoba menekan Pangeran Ranakusuma, jangankan
aku dan kau, sedangkan isterinya yang lain telah disingkirkannya,
dan bidikan puteranya Raden Juwiring” Dipanala tidak menjawab.
Tetapi kepalanya terangguk- angguk kecil. “Apakah sebabnya?“ Sura
mendesak.Tiba-tiba saja Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya
“Aku tidak begitu mengerti Sura. Tetapi aku masih mempunyai
keyakinan bahwa kata-kataku masih juga didengar, justru oleh yang
tua-tua. Tidak oleh Raden Rudira sendiri, karena ia belum mengenal
aku sejauh-jauhnya” “Tidak banyak yang mengenal kau ki Dipanala.
Meskipun kita bersama-sama berada di rumah ini bertahun-tahun,
tetapi aku masih juga tidak mengerti, apa yang sebenarnya telah kau
lakukan terhadap isi istana ini, sehingga seakan-akan kata-katamu
merupakan keputusan bagi mereka” Sekali lagi Ki Dipanala menggeleng.
Katanya “Entahlah. Mungkin karena aku mereka anggap sebagai orang
tua di sini. Atau barangkali karena aku sudah terlalu lama t inggal
di rumah ini” Sura memandang Dipanala dengan tatapan mata yang aneh.
Namun seolah-olah Ki Dipanala itu diliputi oleh suatu rahasia yang
tidak dapat diduganya. Tetapi Sura tidak bertanya lagi. Ia mengerti,
bahwa Ki Dipanala tidak akan mengatakannya meskipun ia berulang kali
mendesaknya. “Yang harus kau ketahui Sura” berkata Ki Dipanala
kemudian “bahwa karena kata-kataku seakan-akan harus mereka dengar
itulah, maka sebenarnya aku berada di ujung bahaya”Sura menjadi
semakin tidak mengerti. Karena itu ia berkata “Kau bagiku seperti
bayangan dikegelapan. Aku tidak dapat melihat garis-gar is bentukmu
Ki Dipanala” “Mereka lebih senang melihat aku mati daripada aku
masih harus berbicara, karena kata-kataku ternyata masih harus
mereka dengarkan” “Aku menjadi semakin tidak mengerti. Tetapi Ki
Dipanala tidak akan menjelaskannya kepadaku” “Ya. Karena
persoalannya memang tidak dapat dijelaskan“ Sura menarik nafas
dalam-dalam. “Sudahlah” berkata Ki Dipanala “Marilah kita kembalikan
kuda-kuda itu ke kandangnya” Sura tidak menjawab. Diikutinya saja Ki
Dipanala yang mengambil kudanya dan menuntunnya. “Kita akan lewat
regol depan” Sura mengangguk. Namun kemudian ia bertanya “Apakah aku
masih akan dapat masuk lagi?“ “Kau akan memasuki halaman ini
bersamaku” Sura mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanyapun kemudian
menuntun kuda-kuda mereka keluar halaman. Setelah mengitari dinding
samping maka merekapun memasukkan kuda itu di kandangnya. di halaman
belakang rumah Ki Dipanala. “Aku tidak mengerti Ki Dipanala. apakah
sebaiknya aku tetap berada di Dalem Ranakusuman” “Kau belum diusir.
Tetapi jika kau ingin pergi, sebaiknya kau siapkan tempat baru itu,
supaya keluargamu tidak terlantar”“Tetapi j ika terjadi sesuatu
dengan aku di Dalem Ranakusuman, apakah isteri dan anak-anakku harus
menyaksikannya?“ Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya, ia
dapat mengerti keberatan itu, sehingga katanya “Memang, sebaiknya
kau bawa keluargamu pergi. Tetapi kau harus minta diri kepada
Pangeran Ranakusuma, selagi aku masih dapat berbuat sesuatu untuk
keselamatanmu dan keluargamu. Jika sampai saatnya aku sendiri akan
dipancung, maka semuanya sudah akan lewat. Aku tidak akan dapat
berbuat apa-apa lagi” Sura mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia
bergumam “Apakah aku dapat menghadap Pangeran Ranakusuma untuk minta
diri?“ “Aku akan mengusahakan. Dan itu harus terjadi segera, sebelum
keadaan berubah. Mungkin aku sudah tidak diperlukan lagi atau
mungkin aku sudah terbunuh” “Lalu bagaimana dengan Ki Dipanala
sendiri? Apakah Ki Dipanala t idak akan meninggalkan
DalemRanakusuman?“ Ki Dipanala tidak segera menjawab. Sorot matanya
memancarkan keragu-raguan. Namun kemudian ia menggeleng “Sementara
ini belum. Aku masih didengar oleh Pangeran Ranakusuma. Senang atau
tidak senang” “Tetapi apakah Ki Dipanala dapat mengetahui, sampai
kapan Ki Dipanala akan mendapatkan kepercayaan itu, maksudku, bahwa
kata-kata Ki Dipanala masih didengar oleh Pangeran Ranakusuma?“ Ki
Dipanala menggeleng. Jawabnya “Aku tidak tahu” Keduanyapun kemudian
saling berdiam dir i sejenak. Namun Ki Dipanala kemudian berkata
Sura, kita masih mempunyai kesempatan sedikit untuk beristirahat.
Meskipun langit sudah menjadi merah, namun kita masih sempal tidur
meskipun hanya sekejap dan kita akan bangun kesiangan”“Apakah kita
tidak kembali ke Ranakusuman?“ “Besok saja kita kembali ke
Ranakusuman. Para penjaga regol itu akan menjadi jengkel, jika
setiap kali kita minta mereka membuka pintu untuk kita” Sura tidak
menyahut. Diikutinya saja Ki Dipanala pergi ke serambi depan
rumahnya yang tidak begitu besar. “Kau dapat berbaring di amben ini.
Aku tidak dapat mempersilahkan kau tidur di dalam, karena tidak ada
lagi tempat” “Dan kau?“ “Aku akan tidur di ketepe itu” “Apakah
anyaman belarak itu masih ada?“ “Untuk apa?“ “Aku juga lebih suka
tidur di lantai, diatas ketepe belarak seperti kau” Ki Dipanala
termenung sejenak Namun kemudian iapun mengetuk pintu rumahnya untuk
mengambil tikar. “He, apakah kita benar-benar tidak akan t idur di
dalam?“ bertanya Ki Dipanala kemudian “meskipun hanya di lantai?“
“Aku akan tidur di luar saja” Namun Ki. Dipanalapun kemudian
berbaring juga diatas tikar pandan di samping Sura. Ternyata Sura
masih juga sempat tidur mendekur. Meskipun agak gelisah, tetapi ia
masih sempat melepaskan ketegangan di dalam hatinya. Tidur adalah
suatu pelepasan yang baik bagi orang-orang yang mengalami himpitan
perasaan seperti Sura. Tetapi Ki Dipanala sendiri sama sekali tidak
dapat memejamkan matanya. Ia ternyata lebih gelisah dari Sura.Yang
terbayang di dalam angan-angan Ki Dipanala justru karena ia masih
juga mempunyai pengaruh yang mantap terhadap Pangeran Ranakusuma dan
Raden Ayu Galihwarit. “Tetapi pada suatu saat, mereka akan
melenyapkan pengaruh ini, karena pengaruh itu terjadi bukan karena
persoalan yang wajar. Bukan karena aku orang tua, bukan karena aku
sudah terlalu lama berada di Dalem Ranakusuman, dan bukan karena
nasehat-nasehatku mempunyai pengaruh yang sangat baik, atau bukan
karena aku seorang yang pandai dan mumpuni” berkata Ki Dipanala di
dalam hatinya. Sambil berbar ing terbayang kembali per
istiwa-peristiwa yang pernah dialaminya. Peristiwa yang hanya karena
kebetulan saja ia berkesempatan untuk mengambil keuntungan
daripadanya. Dipanala menar ik nafas dalam-dalam Namun ia t idak
mencoba untuk membayangkan kembali apa yang sudah terjadi dengan
Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwar it. Namun, betapa Ki
Dipanala dicengkam oleh kegelisahan, tetapi oleh lelah dan udara
yang dingin segar, maka Ki Dipanala itupun terlena meskipun hanya
sebentar. Dan ternyata bahwa Ki Dipanalapun telah terbangun lebih
dahulu. Dibiarkannya saja Sura masih terbaring diatas tikar sambil
memejamkan matanya. Agaknya ia dapat juga tidur nyenyak dalam
keadaan yang bagaimanapun juga. Namun tidak lama kemudian, Surapun
sudah terbangun pula. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke pakiwan untuk
membersihkan dir inya dan membenahi pakaiannya. “Kita pergi ke Dalem
Ranakusuman Ki Dipanala” bertanya Sura. “Sepagi ini?“ “Tidak ada
pagi tidak ada sore bagiku sekarang”Ki Dipanala mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kegelisahan yang sangat telah merayapi dada Sura begitu
ia terbangun dari tidurnya. Ia justru ingin segera masuk ke halaman
istana Ranakusuman. Ia ingin segera mengerti, akibat atau hukuman
apa lagi yang akan diterimanya. Dan apakah masih ada kesempatan
baginya untuk meninggalkan halaman itu tanpa meninggalkan kepalanya.
Karena agaknya Raden Rudira benar-benar menganggapnya sebagai
seorang pengkhianat. “Baiklah Sura” berkata Ki Dipanala “Memang t
idak ada batasan waktu bagimu sekarang. Marilah, aku antarkan kau
masuk ke halaman itu” “Jika aku masih mendapat kesempatan” berkata
Sura “Aku akan segera meninggalkan Ranakusuman bersama seluruh
keluargaku” “Kau belum mempersiapkan tempat untuk keluargamu Sura?“
“Aku mempunyai sekedar war isan meskipun hanya sejengkal. Dan aku
sudah memperluasnya sedikit dengan uang yang aku terima selama aku
menj ilat di Ranakusuman” “Apakah rumah warisan itu sudah siap kau
pergunakan?“ “Siap atau tidak siap. Soalnya, semakin lama aku
tinggal di Ranakusuman, maka kemungkinan-kemungkinan yang buruk akan
selalu dapat terjadi. Kadang-kadang akupun kehilangan pengendalian
diri apabila aku melihat tampang Mandra” Ki Dipanala
mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti perasaan Sura, bagaimana ia
merasa dirinya didesak oleh Mandra dan tersingkir karenanya. Ketika
mula-mula Raden Rudira menjumpai Arum di bulak Jati Sari, sebelum
mereka selalu dihantui oleh wajah Petani dari Sukawati, maka Sura
masih menjadi orang pertama di antara para pengiring dan pengawal di
Ranakusuman. Namun kini Sura hampir sudahtidak berarti lagi, bahkan
hampir saja ia mengalami hukuman cambuk yang sangat pedih.
Demikianlah keduanyapun segera kembali masuk ke halaman Ranakusuman
lewat regol depan. Para penjaga yang melihat kedatangan mereka hanya
menar ik nafas dalam- dalam. Ternyata keduanya adalah orang-orang
aneh di dalam pandangan mereka. Bahkan seakan-akan keduanya dengan
sengaja hilir mudik memamerkan dir i. Namun ketika salah seorang
abdi berdesis di samping Sura yang kebetulan lewat “Kau datang
kembali Sura?“ Maka Sura menjawab tanpa berhenti “Untuk yang
terakhir kalinya” “Mudah-mudahan kau dapat keluar lagi dari halaman
ini” sahut abdi itu. Tetapi Sura sudah semakin jauh sehingga ia sama
sekali tidak mendengarnya. Dalam pada itu, Ki Dipanalalah yang
berusaha untuk dapat menghadap Pangeran Ranakusuma. Lewat seorang
Pelayan Dalam, Kj Dipanala menyampaikan permohonan untuk mendapat
waktu beberapa saat saja. “Ampun tuan” berkata Pelayan Dalam itu
sambil berjongkok dan menyembah. “Persetan dengan Dipanala. Katakan
kepadanya, aku tidak mempunyai waktu. Suruh ia pergi sampai saatnya
aku memanggilnya” Pelayan Dalam itu membungkukkan kepalanya. Tetapi
sebelum ia pergi Raden Ayu Galihwarit berkata “Ber ilah orang itu
waktu barang sekejap kamas. Aku ingin mendengar, apa yang akan
dikatakannya” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Ditatapnya
wajah isterinya sejenak, namun ketika Galihwarit tersenyum, Pangeran
Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam sambil berkata “Aku hanya
mempunyai waktu sedikit”Pelayan Dalam itu membungkuk sekali lagi
sambil menyembah, kemudian bergeser surut sambil berjongkok. Baru
ketika ia sudah menuruni tangga, iapun berdiri terbungkuk-bungkuk.
Ki Dipanala dan Surapun kemudian dibawanya menghadap. Namun ketika
Pangeran Ranakusuma yang duduk di serambi belakang melihat kehadiran
dua orang itu ia mengerutkan keningnya. Kemudian tampak semburat
merah terlintas di wajahnya sambil menggeram di dalam hati “Apakah
Dipanala itu sekarang mulai memeras? Aku kira ia tidak akan berbuat
sejahat itu waktu itu. Kalau saja aku tahu, aku pasti sudah
membunuhnya “ Pangeran Ranakusuma masih belum beranjak ketika kedua
orang itu kemudian seolah-olah merangkak dan duduk di hadapannya,
Sejenak kedua orang itu duduk sambil menundukkan kepalanya. Sebelum
Pangeran Ranakusuma bertanya sesuatu, mereka berdua sama sekali
tidak berani berkata apapun juga. Baru kemudian Pangeran Ranakusuma
bertanya “Apakah maksudmu memohon waktu untuk menghadap?” Ki
Dipanala mengangkat wajahnya. Namun sebelum ia berkata sesuatu,
dilihatnya Raden Ayu Galihwarit sudah berdiri di belakang Pangeran
Ranakusuma. Perempuan bangsawan itu memandanginya sejenak dengan
sorot mata yang penuh kecurigaan. Ki Dipanala menarik nafas
dalam-dalam. Dan terdengar Pangeran Ranakusuma membentaknya “Cepat,
katakan. Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk melayanimu” “Maaf
tuan” berkata Ki Dipanala “hamba berdua memberanikan dir i untuk
memohon waktu sekedar. Sebenarnya bukanlah hamba yang mempunyai
kepentingan, tetapi Sura. Suralah yang ingin menyampaikan suatu
permohonan kepada tuan”Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya.
Dipandanginya wajah Sura yang masih tetap menunduk itu sejenak. Lalu
tiba-tiba ia membentak “Cepat cepat katakan” “Ampun Pangeran“ Sura
terkejut sehingga ia tergeser sejengkal surut. ”Hamba ingin
mengajukan permohonan kehadapan tuan” “Katakan, katakan” “Ya tuan”
suara Sura bergetar juga betapapun ia berusaha untuk berbuat
setenang-tenangnya “hamba sudah cukup lama bekerja dan mengabdi di
hadapan Pangeran. Namun agaknya akhir akhir ini hamba tidak lagi
mampu mengikuti perkembangan yang terjadi di Dalem Kapangeranan ini,
khususnya Raden Rudira, sehingga seakan-akan hamba tidak lagi diper
lukan di sini, bahkan menurut istilah yang dipergunakan oleh Raden
Rudira, hamba telah berkhianat. Maka dengan t idak mengurangi
perasaan terima kasih bahwa selama ini hamba seakan-akan telah
mendapatkan tempat berteduh di Dalem Ranakusuman ini, maka
perkenankanlah kini hamba mohon dir i. Semisal hamba ini selembar
daun, maka agaknya daun itu sudah menguning dan sampai saatnya lepas
dari tangkainya” Terasa sesuatu berdesir di hati Pangeran
Ranakusuma. Bagaimanapun juga, Sura adalah orangnya yang sudah lama
sekali bekerja padanya dan kemudian mendapat kepercayaan mengasuh
dan melindungi anak laki- lakinya. Namun sampai pada suatu saat,
orang itu telah dianggap berkhianat oleh anak laki-lakinya itu.
Meskipun demikian Pangeran Ranakusuma telah berusaha menyembunyikan
perasaannya itu. Bahkan dengan kasar ia membentak “Jika kau merasa
telah berada di rumah ini untuk waktu yang lama kenapa kau
berkhianat?” “Pangeran, benar-benar tidak terlintas di hati hamba,
bahwa hamba akan berkhianat. Hamba yang sudah merasamapan menjadi
abdi di Dalem Kapangeranan ini, kenapa hamba harus berkhianat? Namun
barangkali bahwa hamba telah mencoba memberikan pendapat hamba
itulah, maka terutama Raden Rudira menganggap hamba tidak lagi
tunduk kepada perintahnya. Tetapi sebenarnyalah bahwa hamba ingin
Raden Rudira tidak mendapatkan kesulitan di hari mendatang,
terlebih-lebih lagi sehubungan dengan Petani dari Sukawati yang
menurut pendapat hamba adalah tidak lain adalah dari Pangeran
Mangkubumi itu sendiri” “Bohong, bohong” tiba- tiba saja terdengar
suara Rudira dari dalam biliknya. Tanpa menghiraukan orang-orang
yang ada di ruangan itu, ia langsung melangkah kehadapan Sura dengan
wajah yang merah padam. Bahkan dengan serta merta ia mengayunkan
kakinya menghantampundak Sura. Sura terdorong surut. Meskipun ia
mampu bertahan apabila ia mau, tetapi ia terjatuh berguling. Namun
kemudian dengan tergesa-gesa ia bangkit dan duduk kembali sambil
menundukkan kepalanya. Agaknya Raden Rudira masih belum puas. Ia
telah dikecewakan oleh ayahnya, karena ia tidak boleh memukul kedua
orang itu dengan rotan selagi mereka terikat di pohon sawo. Namun
sebelum ia berbuat lebih jauh Ki Dipanala berkata “Ampun tuan. Hamba
mengharap bahwa tuan mencegah t indakan puteranda lebih jauh
lagi”Terasa sesuatu bergetar di hati Pangeran Ranakusuma. Ada
sesuatu yang seakan-akan menekan hatinya sehingga terasa nafasnya
menjadi sesak. “Persetan“ Raden Rudira menggeram. Namun Pangeran
Ranakusuma kemudian mencegahnya “Rudira. Cobalah berbuat dengan
nalar. Kau sudah menjadi semakin dewasa. Unsur dari perbuatanmu
sebaiknya bukan saja penimbangan perasaan, tetapi juga nalar. Jika
kau tidak mampu mendapatkan keseimbangan nalar dan perasanmu, maka
semisal timbangan, kau akan menjadi berat sebelah, sehingga
tindakan-tindakan yang lahir darimu, bukannya tindakan-tindakan yang
terpuji” Wajah Raden Rudira yang merah menjadi semakin merah.
Ditatapnya wajah ibunya yang penuh dengan kebimbangan, la mengharap
bahwa kali ini ibunya dapat membantunya. Tetapi ia menjadi sangat
kecewa ketika ibunya berkata “Bersabarlah Rudira. Seperti kata
ayahandamu, kau sudah menjadi semakin dewasa” Kata-kata ibunya itu
membuat dada Raden Rudira menjadi semakin pepat. Tetapi ia tidak
dapat berbuat apa-apa. Bahkan ketika sekilas ia memandang wajah
ibunya, wajah itu bukan saja dibayangi oleh kebimbangan, tetapi
rasa-rasanya Raden Ayu Sontrang bagaikan berdiri di depan sarang
hantu. Ketakutan. Raden Rudira benar-benar tidak dapat mengerti,
apakah sebabnya bahwa ayah dan ibunya sama sekali tidak dapat
berbuat apa-apa di hadapan Dipanala. Namun Raden Rudira tidak ingin
bertanya di hadapan kedua orang itu. Karena itu, maka sambil
menghentakkan kakinya, iapun segera pergi meninggalkan mereka yang
masih terpancang Di tempat masing-masing. “Sura” berkata Pangeran
Ranakusuma kemudian setelah Rudira pergi “ada bermacam-macam
tanggapan terhadapmusekarang. Tetapi baiklah, aku mengambil
kesimpulan, bahwa sebenarnya kau memang sudah tidak diperlukan lagi
di rumah ini. Karena itu. jika memang kau kehendaki, aku tidak
berkeberatan kau pergi meninggalkan tempat pengabdianmu yang sudah
kau lakukan bertahun-tahun, karena tiba-tiba saja kau telah
dicengkam oleh mimpi yang kau anggap dapat member i kepuasan
batiniah itu” Sura tidak menyahut. Rasa-rasanya memang terlampau
berat untuk meninggalkan pengabdian yang sudah lama dilakukan dengan
penuh kesetiaan bahkan seakan-akan tanpa sempat memikirkan benar dan
salah. “Nah, jika kau memang akan pergi, pergilah. Tetapi ingat
Sura. Kau pernah menjadi abdi yang setia di rumah ini. Akupun merasa
seakan-akan kau telah termasuk di dalam lingkup keluarga. Tetapi kau
ternyata tidak menyesuikan dirimu lagi. Itu tidak apa. Tetapi kau
jangan sebenarnya berkhianat. Pengkhianatan adalah bentuk yang
paling jahat dari hubungan antar manusia. Apakah kau mengerti?“ “Ya
Pangeran. Hamba mengerti” “Dan kau Dipanala? Apakah kau juga akan
berkhianat?” Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Tidak
tuan. Memang tidak terlintas di hati hamba untuk berkhianat. Dan
Surapun tidak. Karena hamba sadar, pengkhianatan yang sebenarnya
adalah perbuatan bukan saja yang paling jahat dari hubungan antar
manusia, tetapi juga yang paling licik, pengecut, dan segala macam
ist ilah yang paling buruk. Namun sayang sekali, bahwa setiap orang
mempunyai penilaian yang berbeda-beda tentang arti dari
pengkhianatan itu. Bahkan sebagian orang melihat pernyataan
kebenaran justru sebagai suatu pengkhianatan” “Diam, diam“ Pangeran
Ranakusuma membentak keras sekali sehingga Dipanala terkejut
karenanya. Namun ia masih tetap dapat menguasai perasaannya. Bahkan
ia masih sempatmemandang wajah Raden Ayu Galihwarit yang menjadi
pucat karenanya. Namun Dipanala itu kemudian berkata “Ampun tuan.
Hamba akan berusaha mengartikan pengkhianatan itu sebagaimana yang
tuan kehendaki” Hampir saja Pangeran Ranakusuma kehilangan
kesabarannya. Untunglah bahwa ia masih menyadari keadaannya,
sehingga ia masih tetap berhasil menguasai dirinya. Bahkan tiba-tiba
saja terasa tangan isterinya. Raden Ayu Galihwarit meraba pundaknya
sambil berkata “Sudahlah kamas. Biarkan mereka pergi. Mereka tidak
lagi kita perlukan” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Yang akan pergi hanyalah Sura saja. Biarlah Dipanala tetap
berada di rumah ini. Aku masih mengharap bahwa ia menemukan dirinya
kembali sebagai seorang pemomong yang sudah puluhan tahun berada di
sini. Dengan umurnya yang semakin tua, ia seharusnya menjadi semakin
mendekatkan dir inya pada ketenangan. Bukan justru sebaliknya” Ki
Dipanala mengangguk-angguk. Katanya “Hamba tuan. Memang hamba tidak
berniat untuk meninggalkan istana ini. Hamba akan mencoba
menyesuaikan diri hamba yang menjadi semakin tua ini” “Baiklah,
suruh Sura pergi j ika itu yang dikehendaki. Aku mengijinkan ia
membawa semua miliknya yang ada dipondoknya di halaman Kapangeranan
ini” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak, lalu katanya kepada Sura
“mudah-mudahan kau menemukan hari-har i tuamu tanpa keprihatinan
yang semakin mencengkam karena pokalmu sendiri” “Ya tuan. Hamba akan
mencoba hidup sebagai seorang petani di padukuhan hamba dengan
secuwil sawah dan pategalan”“Tetapi kau dapat menjadi orang yang
berbahaya bagi padukuhanmu, justru karena kau merasa memiliki
kelebihan dari orang lain. Selama ini kau hidup dengan bekal
kemampuanmu berkelahi. Kebiasaan itu tidak akan dapat lenyap sehari
dua hari. Dan malanglah nasib tetangga- tetanggamu itu” Sura menarik
nafas dalam-dalam. Tetapi per ingatan itu justru menjadi cambuk
baginya, bahwa ia adalah manusia biasa yang harus dapat hidup
sebagai manusia biasa yang lain. Kelebihan itu adalah suatu
kebetulan saja. Tetapi dengan kelebihan itu ia tidak akan dapat
hidup terpisah dari manusia yang lain. Demikianlah, maka pada hari
itu, Sura benar-benar meninggalkan halaman Ranakusuman. Dengan
sebuah pedati ia membawa barang-barangnya yang tidak begitu berarti.
Namun ketika pedati itu meninggalkan regol Ranakusuman, terasa
sesuatu bergetar di dalam hatinya. Seakan-akan ia kini merasa
menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang mengerti hubungannya antara
dia dengan Tuhan Yang Menciptakannya, dan antara dia dengan sesama
manusia dan lingkungannya. Sura sendiri, tidak tahu, darimanakah ia
menemukan kesadaran itu justru setelah ia mengalami benturan yang
dahsyat ketika, ia sama sekali tidak berdaya melawan petani dari
Sukawati itu. Namun hatinya masih bergejolak ketika ia melihat
Mandra yang berdiri di sebelah regol sambil bertolak pinggang
memandanginya. Suara tertawanya yang semakin lama menjadi semakin
keras terasa menggelitik hati. Tetapi ketika ia melihat Ki Dipanala
berdiri dengan tenangnya justru di sebelah Mandra itu terasa hatinya
bagaikan disentuh oleh titik air yang sejuk dingin. Namun demikian
di sepanjang jalan. Sura tidak habis berpikir, apakah sebabnya
Dipanala mempunyai pengaruh yang begitu besar, meskipun jelas, bahwa
ia bukan orangyang disenangi oleh Pangeran Ranakusuma, apalagi oleh
Raden Rudira. “Apakah benar-benar ia mempunyai ilmu semacam ilmu
sihir yang mampu mempengaruhi perasaan orang lain dengan tatapan
mata nya?“ pertanyaan itu masih saja selalu terngiang di hatinya.
Namun Surapun kemudian tidak mempedulikannya lagi. Kini ia sudah
tidak mempunyai hubungan apapun juga dengan istana Ranakusuman.
Dengan Raden Rudira dan dengan Mandra. Tetapi tiba-tiba terlintas di
kepalanya bayangan seorang dari keluarga Ranakusuman yang justru
tidak tinggal di istana itu. Seorang anak muda yang meskipun agak
mirip dengan Raden Rudira pada bentuk lahiriahnya, namun mempunyai
sikap dan pandangan hidup yang berbeda. Jauh berbeda. Tiba-tiba saja
timbul keinginan Sura untuk menemui Raden Juwiring. bahkan tiba-tiba
saja timbul keinginannya untuk lebih dekat lagi dengan putera
Pangeran Ranakusuma yang pernah disingkirkannya itu. “Aneh, kenapa
saat itu Ki Dipanala justru membawanya pergi? Padahal ia mempunyai
pengaruh yang kuat terhadap Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu
Galihwarit. Jika ia menghendaki maka ia pasti akan dapat
mencegahnya, sehingga Raden Juwiring masih akan tetap berada di
istana. Demikian juga dengan orang-orang lain yang telah tersingkir”
Namun Sura tidak kunjung menemukan jawabnya, sehingga ia sampai ke
padukuhannya dan memulai suatu kehidupan baru sebagai seorang
petani. Mula-mula memang agak canggung hidup di dalam dunia yang
baru baginya. Seperti kata Pangeran Ranakusuma, memang ada tersembul
nafsu untuk menguasai orang-orang di sekitarnya justru karena ia
merasa memiliki kelebihan. Tetapi untunglah, bahwa ia menyadarinya
sehingga ia selaluberhasil menahan dir i dan mencoba hidup seperti
orang kebanyakan. Meskipun kadang-kadang sebagai orang baru ia
mendapat berbagai macam kesulitan karena ada juga orang erang yang
keras kepala dan menganggap Sura sebagai seorang yang tidak pantas
berada di antara mereka. Namun Sura telah berhasil melampaui masa
itu. Bahkan ia lelah berhasil luluh di dalam kehidupan para petani
tanpa memper lihatkan kekerasan dan kemampuannya. Meskipun demikian
ia masih belum berhasil melupakan keinginannya untuk menemui Raden
Juwir ing di padepokan Jati Aking. “Pada suatu saat aku akan pergi
ke padepokan itu” berkata Sura di dalam hatinya “mudah-mudahan
kehadiranku di padepokan itu tidak menimbulkan persoalan bagi Raden
Juwiring. Sebab kebencian Raden Rudira terhadap kakaknya itupun
melonjak setinggi langit, sehingga dapat saja ia menuduh kakaknya
telah berhubungan dengan aku, seorang pengkhianat” Dan keragu-raguan
semacam itulah yang selalu menunda- nunda kepergian Sura ke
padepokan Jati Aking di Jati Sari. Namun dalam pada itu, anak-anak
muda yang berada di Jati Aking ternyata mempergunakan waktunya
sebaik-baiknya. Mereka dengan tekun melatih dir i, seakan-akan ada
firasat yang membisikkan ketelinga mereka, bahwa sesuatu akan
terjadi. Bahkan kadang-kadang Kiai Danatirta menjadi heran,
kesungguhan yang luar biasa, bahkan agak berlebih-lebihan telah
mendorong Buntal berlatih tanpa mengenal waktu. Bukan saja di
saat-saat seharusnya ia berlatih di malam hari, atau di saat-saat
lain yang ditentukan oleh gurunya. Tetapi juga di saat-saat ia
seharusnya beristirahat setelah ia bekerja keras di sawah,
kadang-kadang dipergunakannya juga untuk mematangkan ilmu yang
dikuasainya.Namun di dalam tangkapan gurunya, Buntal anak muda yang
sedang tumbuh itu, memang sedang dibakar oleh gairah yang
menyala-nyala di dalam dadanya. Sekali-sekali Kiai Danatirta
terpaksa memperingatkan, agar kemauan yang begitu keras itu tidak
justru mengganggu kesehatannya. “Kau harus menjaga keseimbangan
hasrat dan batas kemampuan wadagmu Buntal” berkata gurunya “Aku
senang sekali melihat perkembangan yang pesat padamu dan pada
Juwiring, tetapi aku tidak dapat membiarkan kau tenggelam dalam
latihan yang berlebih-lebihan. Dengan demikian, jika terjadi sesuatu
dengan kesehatanmu, akulah yang harus mempertanggung jawabkannya”
Setiap kali Buntal hanya menganggukkan kepalanya saja. Kemudian
menunduk dalam-dalam. “Kau mengerti?“ Sekali lagi Buntal mengangguk
sambil berdesis lambat sekali “Ya guru. Aku mengerti” Tetapi setiap
kali, tanpa disadarinya, terasa sesuatu yang memacunya untuk
berlatih lebih banyak. Dan hampir di luar sadarnya, kadang-kadang
terbersit perasaan “Aku tidak boleh kalah dari Raden Juwiring. Raden
Juwiring adalah seorang bangsawan, sedang aku adalah seorang
pidak-pedarakan yang di ketemukan di pinggir jalan. Jika aku tidak
dapat mengimbangi ilmunya, maka aku adalah seorang anak muda yang
tidak akan berarti apa-apa dlpadepokan ini” Namun setiap kali Buntal
menjadi malu sendiri. Apalagi apabila terpandang olehnya tatapan
mata Arum yang lunak sejuk seperti tatapan mata ayahnya, Kiai
Danatirta. Meskipun Buntal mempergunakan waktu yang lebih banyak
dari Raden Juwiring untuk berlatih, namun hampir t idak dapat
dimengerti oleh Buntal sendiri, bahwa setiap kali mereka berlatih
bersama, ilmunya ternyata tidak lebih matang dari ilmu Raden
Juwiring. Ia hanya mempunyai kelebihan tenagasedikit saja dari
putera Pangeran itu, namun justru kemampuan menguasai tata gerak dan
kecepatan, Raden Juwiring masih melampauinya. Dan itulah kelebihan
Raden Juwiring dari Buntal. Raden Juwiring seakan-akan tidak
menghiraukan sama sekali, jika Buntal mempergunakan hampir setiap
waktu untuk menempa diri. Raden Juwir ing kadang-kadang pergi saja
berjalan-jalan di kebun belakang dan duduk di bawah batang-batang
kayu yang rindang, atau tinggal di dalam biliknya, berbaring sambil
memandangi atap biliknya. Tetapi Buntal t idak tahu, bahwa Raden
Juwiringpun mempergunakan waktu-waktu senggangnya untuk mematangkan
ilmunya. Tetapi ia mempunyai cara yang lain dari cara yang dipakai
oleh Buntal. Raden Juwiring ternyata tidak mempercayakan diri pada
tenaga wadagnya semata-mata. Tetapi ia mempergunakan otaknya pula.
Sambil duduk di bawah pohon yang rindang di sore hari di kebun
belakang, atau jauh malam hari, bahkan menjelang dini hari di dalam
biliknya, Raden Juwiring bermain- main dengan rontal dan
kertas-kertas yang berwarna kekuning-kuningan. Dibuatnya beberapa
buah gambar yang meskipun kurang baik namun dapat menyatakan gejolak
di dalam batinnya mengenai tata gerak ilmunya. Raden Juwiring
ternyata tidak hanya berlatih dengan badannya, tetapi ia mampu
membuat rencana tata gerak yang bermanfaat bagi ilmunya.
Kadang-kadang dipadukannya beberapa macam unsur gerak yang ada dan
yang pernah dipelajarinya. Bahkan dengan unsur-unsur gerak alam dan
binatang. Dan itulah sebabnya Raden Juwiring sering duduk termenung
merenungi burung-burung yang berterbangan. Burung-burung kecil yang
lincah cekatan menyambar bilalang. Tetapi juga burung elang yang
dengan garangnya menyambar anak ayam. Bahkan juga bagaimana seekor
domba membenturkan kepalanya padalawannya jika terpaksa mereka
berlaga. Ayam jantan, dan kadang-kadang dilihatnya kerbau jantan
yang sedang-marah. Bukan saja binatang yang ada di sekitarnya.
Tetapi terbayang juga, bagaimana seekor harimau menerkam mangsanya
dan bagaimana seekor kelinci menghindarkan diri justru menyusup di
bawah kaki binatang-binatang yang menerkamnya. Betapa lucunya gerak
seekor kera namun betapa gesitnya ia memanjat, menangkap sesuatu dan
berloncatan. Itulah yang selalu dipikirkan oleh Raden Juwiring. Dan
hal itu sama sekali tidak terlintas di kepala Buntal. Dan perbedaan
perhatian itulah yang merupakan perbedaan kepribadian mereka. Buntal
lebih senang langsung memantapkan tata gerak dan kekuatan
jasmaniahnya, namun Raden Juwiring memperkaya tata gerak dari paduan
gerak yang beraneka macam dan kegunaannya yang berlain-lainan. Namun
mereka berdua berkembang dengan pesatnya menurut jalur yang
digariskan oleh gurunya, Kiai Danatirta. Sebagai seorang yang
berpengalaman, maka Kiai Danatirta melihat perbedaan di dalam dir i
kedua muridnya itu. Namun Kiai Danatirta tidak melihat keberatannya
sama sekali atas perkembangan kepr ibadian masing-masing. Bahkan di
dalam latihan-latihan bersama Kiai Danatirta dapat memanfaatkan
kemajuan kedua mur idnya itu dan meramunya dalam satu ciri- ciri
ilmu yang tidak terpisah. Hanya karena perbedaan kepribadian itu
sajalah, tampak perbedaan pula dalam ungkapan inti ilmu perguruan
Jati Aking, namun pada dasarnya keduanya sama. Berbeda dari keduanya
adalah Arum. Ia langsung mendapat tuntunan dari ayahnya menurut
petunjuk-petunjuk dan nasehat-nasehatnya. Arum lebih mementingkan
pada kecepatan bergerak dan kemampuannya menguasai arah gerak.
Kadang-kadang ia justru dapat mengambil keuntungan dari serangan
lawannya karena dorongan gerak serangan itusendiri. Dalam keadaan
yang khusus Arum mendapat latihan untuk mempergunakan tenaga dorong
lawannya. Bahkan Arum mampu mempergunakan tenaga lawannya untuk
melemparkan dir inya sendiri apabila diper lukan, dan dalam
kesempatan tertentu Arum dapat merobohkan lawannya karena ayunan
tenaga lawan itu sendiri. Bagaimanapun juga, maka Kiai Danatirta
tidak mau meninggalkan keturunannya sendiri di dalam olah kanuragan.
Sejalan dengan kemajuan yang dicapai oleh Juwir ing dalam keragaman
unsur geraknya beserta kegunaannya, dan sejalan dengan kemajuan
kekuatan tenaga Buntal, maka Arum adalah seorang gadis yang lincah
cekatan, seperti seekor kijang di padang rumput yang hijau segar.
Dalam ujudnya masing-masing, ketiga murid Kiai Danatirta itu
berkembang dengan pesatnya, justru oleh dorongan di dalam dir i
murid-mur id itu sendiri. Memang kadang-kadang ada juga kecemasan di
hati orang tua itu, bahwa murid- mur idnya sudah terjerumus ke dalam
suatu pacuan yang berbahaya. Namun atas kebijaksanaannya, Kiai
Danatirta mampu mengarahkannya sesuai dengan ajaran-ajaran keagamaan
dar i padepokan Jati Aking. Mur id-mur idnya bukan saja mendapat
tempaan kanuragan, tetapi mereka mendapat pengarahan yang mantap di
bidang agama. Mereka langsung diperkenalkan kepada Tuhan Yang Maha
Esa. Mereka ditunjukkan, bahwa pertanggungan jawab tertinggi dari
perbuatan manusia adalah pertanggungan jawab terhadap Tuhannya.
Meskipun demikian, Buntal adalah seorang anak muda yang lengkap.
Yang utuh. Jasmaniah dan rohaniah. Itulah sebabnya maka Buntalpun
mengenal apa yang dikenal oleh orang lain. Di waktu matahari terbit,
Buntal kadang-kadang berdiri di ujung halaman sambil memandang
cahaya yang kemerah- merahan di langit. Ujung pegunungan nampak
sepertiseonggok batu akik yang berukir dalam berbagai warna antara
hijau dan merah. Juga di malam hari Buntal kadang-kadang merenungi
kilauan bintang yang berhamburan di langit. Dikala bulan terang,
anak muda itu mampu juga menangkap sesuatu yang menyentuh
perasaannya. Ternyata bahwa Buntal, seorang anak muda yang ditemukan
di pinggir jalan itu, mempunyai selera rohaniah yang lengkap. Dan
karena itulah ia mengenal bentuk-bentuk keindahan. Bukan saja
bentuk-bentuk keindahan yang tersebar di sekitarnya, namun ada
sesuatu yang indah yang setiap hari direnunginya. Semakin lama
justru menjadi semakin memikat. Yang lebih indah dari yang paling
indah dari alam di sekitarnya itu adalah Arum yang mekar seperti
mekarnya bunga menur yang berwarna putih. Betapapun juga ia mencoba
mengelak, namun ia selalu dibayangi oleh kenyataan itu. Berterima
kasihlah Buntal, bahwa Tuhan telah rezeki berbentuk mata yang dapat
melihat, melihat keindahan dari alam di sekitarnya. Namun keindahan
yang satu ini ternyata telah membuatnya selalu berdebar-debar.
Selalu cemas dan kadang-kadang menjadi bingung. Sebenarnya iapun
mengucapkan terima kasih bahwa setiap hari ia dapat menikmati
keindahan itu. Tetapi tanpa disadarinya, ia dirayapi oleh suatu
keinginan, bukan saja menikmatinya sebagai suatu bentuk keindahan,
namun lebih daripada itu. “O, aku menjadi semakin gila” keluh
Buntal. Sudah beberapa lama ia bertahan dan bahkan mencoba mengusir
perasaan itu. Namun yang terlontar dari dir inya adalah kemauan yang
semakin keras untuk melatih diri. Seolah-olah ia sedang berpacu
untuk mencapai garis batas terlebih dahulu dengan taruhan yang tiada
taranya.“Tidak. Arum bukan barang taruhan. Ia dapat menentukan
sikapnya sendiri. Dan tidak seorangpun dapat merubah keputusan yang
akan diambilnya” Demikianlah ketenangan padepokan itu rasa-rasanya
mulai terganggu. Terasa dadanya bergetar jika ia melihat Arum sedang
bergurau dengan Juwir ing. “Sejak aku pertama kali menginjakkan
kakiku di padepokan ini, keduanya telah ser ing bergurau“ Buntal
ingin mencoba mempergunakan nalarnya. Namun setiap kali ia tenggelam
dalam arus perasaannya. Tetapi Buntal selalu menekan perasaan itu
dalam-dalam di dasar hatinya. Endapan yang semakin lama menjadi
semakin tebal itu tidak luput dari tatapan mata hati Kiai Danatirta.
Gurunya itu melihat, bahwa Buntal semakin lama menjadi semakin
dalamterendamoleh kediaman yang murung. Justru karena itulah, maka
Buntalpun kadang-kadang tampak menyendiri duduk sambil merenungi
bintik-bintik di kejauhan. Namun sejenak kemudian iapun segera
berlari ke bangsal tempat berlatih. Dicurahkannya segenap
kemurungannya pada gerak-gerak jasmaniahnya. Seolah-olah anak muda
itu tidak mengenal lelah sama sekali. Di saat-saat yang demikian
itu, kedua saudara seperguruannya kadang-kadang memperhatikannya
juga. Bahkan di dalam hati merekapun tumbuh berbagai macam
pertanyaan, apakah sebenarnya yang telah bergolak di hati anak muda
itu. Buntal terkejut ketika pada suatu ketika ia sedang melarikan
diri di dalam bangsal latihan itu. seseorang telah menyapanya
“Buntal” Buntal mulai menahan tenaganya, sehingga akhirnya ia
berhenti. Ketika ia berpaling dilihatnya Arum berdiri di sudut bilik
itu.Buntal menarik nafas. Tetapi nafas itu setiap kali seakan- akan
saling memburu. “Apakah kau tidak lelah?“ Buntal memandang Arum
sejenak. Dan Arum yang kini bukan lagi Arum yang manja yang
berlari-lar ian di pematang sambil menyingsingkan kain panjangnya.
Meskipun setiap kali Arum masih juga pergi ke sawah mengantarkan
makanan, tetapi sikapnya sudah lain dar i Arum yang terkejut melihat
kehadirannya diatas gardu sawahnya. “Kau ber latih terlampau banyak
Buntal” Buntal menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan ragu- ragu ia
menjawab “Tidak Arum. Aku belum lelah” “Kau memiliki tenaga dan
ketahanan nafas yang luar biasa. Tetapi kau harus beristirahat.
Setiap kali kau mempunyai waktu tertuang, kau selalu berada di
dalambangsal ini” Buntal tidak menyahut. “Beristirahatlah” Buntal
masih tetap diam. “Marilah. Kita pergi ke dapur. Makan sudah
tersedia” Buntal memandang Arum dengan tajamnya, dan di luar
sadarnya ia bertanya “Dimana Raden Juwir ing” Arum mengerutkan
keningnya. Sebelum ia menjawab, dengan tergesa-gesa Buntal
menyambung “Maksudku, apakah ia akan makan bersama kita?“ “Ya.
Kakang Juwiring sudah ada di dapur” Buntal mengangguk-anggukkan
kepalanya ” aiklah. Aku akan membersihkan diri dahulu” Arum
menganggukkan kepalanya. Dipandanginya langkah Buntal yang lesu
dengan kepala tunduk. Sama sekali tidaksegairah ketika ia berlatih
seperti yang baru saja dilakukannya di bangsal ini. “Apakah ada
sesuatu yang mengganggu perasaannya?” Arum bertanya kepada diri
sendiri. Tetapi sudah barang tentu bahwa ia tidak akan dapat
menemukan jawabnya. Dengan langkah yang berat Buntal pergi ke
pakiwan. Ia berdiri saja sejenak di bawah sejuknya dedaunan sebelum
ia membersihkan dirinya. Dibiarkannya keringatnya susut. Dan barulah
kemudian ia mencuci muka, kaki dan tangannya. Ketika kemudian ia
memasuki pintu dapur, hatinya tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar.
Dilihat Arum dan Juwiring duduk di amben yang panjang. Agaknya
keduanya sedang asyik berbincang. Pembicaraan keduanya berhenti
ketika mereka melihat Buntal masuk. Sambil tersenyum Juwiring
berkata “Marilah. Aku menunggumu. Bukankah kita akan makan
bersama-sama seperti biasanya?“ Buntal menganggukkan kepalanya.
Dicobanya pula untuk tersenyum sambil menjawab “Aku agak lupa waktu
karena aku berada di bangsal latihan” “Arum menyusulmu?“ “Ya” jawab
Buntal pendek. Keduanyapun kemudian makan bersama, dan seperti
biasanya Arum melayani kedua saudara seperguruannya dan yang telah
dijadikannya saudara angkatnya itu. Demikianlah, dari hari ke hari,
kediaman Buntal menjadi semakin menar ik perhatian. Juwiring yang
masih juga selalu bersama-sama pergi ke sawah menjadi heran.
Meskipun setiap kali Buntat masih berusaha menunjukkan senyum dan
tawanya, tetapi rasa-rasanya senyumdan tertawa itu hambar. Ternyata
bahwa yang paling besar menaruh perhatian atas keadaan Buntal adalah
justru gurunya. Karena itu, tanpadisangka-sangka oleh Buntal,
gurunya telah memanggilnya bersama dengan kedua saudara angkatnya.
Dan tanpa diduganya pula, maka Kiai Danatirta telah langsung
bertanya kepadanya “Buntal. Jangan kau merasa tersinggung jika aku
memerlukan bertanya kepadamu. Kau adalah tidak ubahnya dengan anakku
sendiri. Karena itu pengamatanku atasmu tidak ada bedanya dengan
pengamatanku atas Arum dan Juwir ing” Kiai Danatirta terdiam sesaat,
lalu “Akhir-akhir ini Buntal, aku melihat sesuatu yang lain padamu.
Sesuatu yang perlahan-lahan tumbuh pada sikap dan kebiasaanmu.
Mungkin kau sendir i tidak menyadari. Tetapi bagaimanapun juga,
pasti ada sebab yang membuat kau menjadi demikian. Mungkin sebab itu
seharusnya dapat diabaikan. Namun mungkin pula, bahwa aku, guru dan
sekaligus orang tuamu, saudara- saudaramu. dapat membantumu
menemukan jalan yang baik, yang dapat membawamu keluar dari suasana
yang sekarang. Suasana yang tampaknya tidak begitu cerah seperti di
hari-hari yang lewat” Terasa dada Buntal menjadi berdeburan. Seakan-
akan isi dadanya telah bergolak dengan dahsyatnya. Dan dalam pada
itu Kiai Danatirta meneruskan “Jangan kau simpan persoalan itu di
dalam hatimu Buntal. Jika demikian kau akan menjadi tertekan
sendiri, sedang saudara-saudaramu dan aku tidak dapat ikut
memecahkannya. Karena itu, katakanlah. Kami bukan orang lain lagi
bagimu”Kepala Buntal tertunduk dalam-dalam. Bagaimana mungkin ia
akan dapat mengatakan persoalannya itu. Persoalan yang bagi dir inya
sendiri masih dianggapnya sebagai suatu persoalan yang gila. Dan
nalarnyapun menganggapnya bahwa perasaan yang tumbuh di dalam
dirinya itu adalah perasaan yang tidak waras. “Kau tidak usah merasa
segan terhadap kami Buntal” berkata Juwiring kemudian “anggaplah aku
sebagai saudara tuamu dan Arum sebagai adikmu. Kami sudah meningkat
dewasa, dan karena itu, kami sudah mampu membuat
pertimbangan-pertimbangan yang barangkali dapat membantumu” Jika
sekiranya Buntal masih kanak-kanak, ingin rasanya ia menjer it dan
menangis sekeras-kerasnya untuk melepaskan himpitan di dalamhati.
Tetapi dalam keadaannya kini, ia t idak akan dapat melakukannya. Ia
adalah seorang laki-laki dewasa yang sudah ditempa di padepokan Jati
Aking. Karena itu, ia bukan lagi seorang anak yang cengeng yang
menangis meronta-ronta jika hatinya tersentuh sedikit saja. Namun
Buntal menyadari, bahwa ia tidak akan dapat berdiam dir i. Ia harus
menjawab pertanyaan gurunya dan saudara-saudara angkatnya. Karena
itu, Buntal terpaksa berbohong “Ayah” suaranya bergetar di bibirnya
“sebenarnya apa yang tersangkut di dalam hati ini tidak pantas aku
katakan” “Tetapi juga tidak sebaiknya kau simpan di dalam hati
sedang wajahmu hampir setiap saat tampak muram. Dalam perkembangan
berikutnya, hatimu akan terpengaruh dan kau dapat terperosok ke
dalam suatu keadaan yang tidak menguntungkan bagimu sendir i” Buntal
mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Ayah, tiba-tiba saja sebuah
kenangan tentang keluargaku lelahmembayangi aku untuk beberapa hari
terakhir. Ada semacam kerinduan yang tidak dapat aku singkirkan,
meskipun aku tahu. bahwa aku tidak akan pernah dapat menjumpai
mereka lagi. Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Itulah agaknya yang
merisaukan hatimu” Buntal tidak menyahut. Tetapi kepalanya menjadi
semakin tunduk. Tiba-tiba saja ia merasa suatu beban baru telah
tersangkut di hatinya. Ia sudah berbohong. Dan kebohongan itu harus
dipertahankan. Bahkan untuk menyembunyikan suatu kebohongan ia
kadang-kadang harus mengatakan kebohongan- kebohongan yang lain.
Buntal tiba-tiba merasa denyut jantungnya menjadi semakin cepat.
Namun ia tidak akan berani mengatakan perasaannya yang sebenarnya.
“Buntal” berkata gurunya “Aku dapat mengerti. Memang tebuah kenangan
kadang-kadang tiba-tiba saja mempengaruhi perasaan kita. Namun kau
harus mampu membuat pertimbangan-pertimbangan dengan nalar, agar
hidupmu tidak disaput oleh kenangan dan bayangan-bayangan yang
terpisah dari kehidupanmu yang sebenarnya” Buntal
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kita sudah lama berkumpul di
padepokan ini. Dan kita harus melihat kenyataan ini. Orang tuamu
sekarang adalah aku, dan saudara-saudaramu adalah Juwiring dan Arum.
Memang kita tidak dapat membendung hadirnya sebuah kenangan pada
diri kita, seperti kita membendung air di par it- parit. Namun kita
harus mampu menguasai perasaan kita dan membuat
pertimbangan-pertimbangan dengan nalar” Kiai Danatirta berhenti
sejenak, lalu “Memang ada semacam kerinduan apabila kenangan itu
hinggap pada diri kita.Kerinduan pada masa lampau. Tetapi kita harus
sadar, bahwa kita tidak akan dapat kembali kepada masa lampau itu”
Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas ditatapnya wajah Kiai
Danatirta yang bersungguh-sungguh. Dan Buntalpun merasa bersalah
pula, bahwa ia telah memaksa orang tua itu menasehatinya sedang
persoalan yang sebenarnya adalah persoalan yang lain. “Nah, cobalah”
berkata Kiai Danatirta mudah-mudahan kau berhasil. Mudah-mudahan kau
dapat menjadikan masa lampaumu sebagai kenangan yang dapat
mendorongmu menjelang masa depan yang cerah” “Ya ayah” jawab Buntal
dengan suara gemetar. “Pandanglah saudara-saudaramu. Juwiring juga
mempunyai kenangan yang dapat membuatnya rindu pada masa lampaunya
di istana Ranakusuman. Arum juga mempunyai masa lampaunya sendiri
dalam pelukan kasih sayang ibunya. Dan kaupun mempunyai kerinduan
pada masa lampau itu. Tetapi masa lampau itu jangan merusak masa
kini dan apalagi menyuramkan masa-masa datangmu” Buntal menarik
nafas dalam-dalam. Ia berusaha untuk mengambil arti dari nasehat
gurunya, meskipun persoalan yang sebenarnya, berbeda dengan yang
sedang dialaminya. “Nah, kita akan semakin banyak mengisi waktu kita
dengan latihan-latihan kanuragan” berkata Kiai Danatirta kemudian
“dengan demikian kalian telah membangun hari depan kalian, di
samping ilmu pengetahuan dan kesusasteraan. Kalian tidak boleh
melupakan membaca kitab suci yang berisi nasehat- nasehat dan
petunjuk-petunjuk tentang hidup dan jawaban dari persoalan-persoalan
kita” Ketiga anak-anak muda itupun mengangguk-angguk. Di padepokan
itu mereka memang mendapat ilmu yang hampir menyeluruh. Agama,
pengetahuan dan Kanuragan.“Nah” berkata Ki Danatirta kemudian
“Kalian boleh mendengar serba sedikit, apa yang terjadi di
Surakarta. Keadaan agaknya menjadi semakin panas. Orang asing itu
menjadi semakin deksura. Kekuasaan Surakarta menjadi semakin
terbatas. Dan itulah yang menyebabkan beberapa orang Pangeran tidak
mau mener ima keadaan ini. Bagaikan api semakin lama menjadi semakin
membara, sehingga pada suatu saat, kemungkinan yang paling dekat
adalah meledaknya api itu dan membakar seluruh Surakarta. Karena
itu, kalian harus mempersiapkan diri. Siapa tahu, bahwa tenaga
kalian yang lemah itu diperlukan bersama dengan anak-anak muda yang
lain” Buntal mengangkat wajahnya sejenak, lalu kepala itu tertunduk
lagi. Ada semacam perasaan malu yang menyelinap di sudut hati.
Selagi orang-orang di Surakarta mempersoalkan negara dan bangsanya,
ia dicengkam oleh kegilaannya sendiri. Demikianlah, maka ketiga
anak-anak muda itu di har i-hari berikutnya berlatih semakin mantap.
Dengan susah payah Buntal berusaha untuk menghilangkan kesan
kemurungan dari wajahnya. Meskipun demikian, di luar sadarnya.
kadang- kadang ia memandang Arum dari kejauhan. Baik selagi ia
berlatih dalam olah kanuragan, maupun apabila gadis itu mengambil
air untuk mencuci mangkuk di dapur. Buntal menarik nafas
dalam-dalam. la tidak dapat menentang gerak alamiah bagi seorang
laki- laki. Yang dapal dilakukannya adalah sekedar membatasi diri
dengan nalar seperti yang dikatakan oleh gurunya, meskipun dalam
persoalan yang berbeda. Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa suasana
menjadi semakin buruk. Udara Surakarta seakan-akan menjadi semakin
panas. Beberapa orang Pangeran tidak dapat menerima keadaan yang
sedang dihadapinya, namun beberapa orang yang lain justru
memanfaatkan keadaan itu sebaik-baiknya bagi keuntungan diri
sendiri.Demikianlah yang terjadi di istana Ranakusuman. Istana itu
nampaknya semakin lama menjadi semakin cerah. Barang- barang pecah
belah yang selamanya belum pernah dimiliki oleh Pangeran yang
manapun juga, telah terdapat di Ranakusuman. Hadiah yang mengalir
seperti mengalirnya Kali Bengawan yang diterima oleh Raden Ayu
Galihwarit, membuat istana Ranakusuman menjadi semakin cemer lang.
Namun dalam pada itu, Raden Rudirapun menjadi semakin manja.
Kekayaan yang ada pada keluarganya membuatnya menjadi semakin
sombong dan bahkan ia merasa menjadi seorang putera Pangeran yang
paling kaya di seluruh Surakarta, tanpa mengerti dari mana kekayaan
itu didapatnya. Ia hanya pernah mendengar ibunya berkata kepada
ayahandanya “Sikap kakanda yang bersahabat terhadap orang asing itu
ternyata menguntungkan sekali. Aku sering menerima hadiah yang tidak
aku mengerti darimana dan dari siapa, meskipun aku tahu, pasti dari
salah seorang sahabat kakanda itu” Pangeran Ranakusuma menarik nafas
dalam-dalam, la memang telah terjerumus ke dalam sikap yang
menguntungkan orang-orang asing itu. Bukan saja karena Pangeran
Ranakusuma t idak mempunyai keyakinan yang teguh atas kemampuan
Surakarta untuk tegak sebagai suatu negara yang berkuasa, namun
rumahnya seakan-akan sudah menjadi ajang pertemuan bagi orang-orang
asing itu. Isterinya yang ramah dan mempunyai kelincahan bergaul
membuat istana Ranakusuman menjadi sering dikunjungi oleh orang-
orang asing. Karena itu. Pangeran Ranakusuma sama sekali tidak
mengerti kenapa isterinya kadang-kadang mengingkarinya. Isterinya
mengatakan kepadanya, bahwa kadang-kadang ia tidak mengerti dari
siapa hadiah-hadiah itu datang, meskipun isterinyalah yang lebih
banyak berhubungan dengan orang- orang asing itu.Dan bagi Raden Ayu
Galihwarit, hubungannya dengan orang-orang asing itu banyak
memberikan pengalaman baru. Pengalaman rohaniah dan jasmaniah,
sehingga ia mengenal adat dari orang-orang asing itu di dalam tata
pergaulannya serba sedikit. Hubungan tata pergaulan yang belum
pernah dialami sebelumnya. Raden Ayu Galihwarit sama sekali tidak
menghiraukan, apabila di dalam pertemuan-pertemuan resmi para
Pangeran, beberapa orang isteri Pangeran duduk mempercakapkannya.
Sambil berbisik-bisik mereka memandanginya dengan sudut mata.
“Mereka adalah orang-orang yang dengki dan ir i hati” berkata Raden
Ayu Galihwarit di dalamhatinya. Namun di saat-saat terakhir. Raden
Ayu Galihwarit merasa terganggu oleh sikap Dipanala. Sepeninggal
Sura, rasa- rasanya Dipanala justru dengan sengaja berbuat banyak
hal yang membuatnya berdebat. Setiap kali ia menjadi curiga apabila
Dipanala menghadap Pangeran Ranakusuma untuk kepentingan apapun,
sehingga setiap kali ia selalu berusaha mengetahui atau mendengar
percakapan mereka. Tetapi demikian juga agaknya Pangeran Ranakusuma.
Ia tidak pernah membiarkan Dipanala menghadap isterinya untuk
kepentingan apapun, sehingga setiap abdi terdekatnya dan pelayan
dalam, dipesannya agar mendengar apa saja yang dikatakan oleh
Dipanala kepada siapapun juga. Ternyata betapa kebencian memuncak di
hati Pangeran Ranakusuma serta Raden Ayu Galihwarit, namun mereka
tidak dapat berbuat banyak atas orang itu. Mereka tidak dapat
mengusir dan apalagi menghukumnya. Hal itu sama sekali tidak dapat
dimengerti oleh Raden Rudira. Baginya Dipanala bagaikan dur i di
dalam daging. Setiap kali orang itu menghalang-halangi niatnya,
ayahanda dan ibundanya tidak dapat mencegahnya. Jika dahulu sebelum
Sura meninggalkan istana, Dipanala jarang atau hampir tidakpernah
mencampuri persoalan ayahanda dan ibunda, namun kini, Dipanala
justru menjadi lebih sering menghadap. “Aku harus mengetahui, kenapa
setan itu tidak disingkirkan atau dibunuh saja oleh ayahanda
Ranakusuma. Kenapa ia masih-bebas berkeliaran dan bahkan
kadang-kadang dipanggil menghadap oieh ayahanda dan ibunda?“
bertanya Raden Rudira di dalam hatinya. Sebenarnyalah bahwa Dipanala
memang sering dipanggil baik oleh Pangeran Ranakusuma, maupun oleh
Raden Ayu Galihwar it. Namun sebenarnya Dipanala sama sekali tidak
sedang diajak berunding. Bahkan Pangeran Ranakusuma selalu
mengancamnya dan menakut-nakutinya. Ki Dipanala sendiri memang tidak
pernah berniat jahat. Ia menyadari keadaannya dan sama sekali t idak
timbul niatnya untuk mencelakakan orang lain. Tetapi kadang-kadang
ia berani juga mencegah niat yang bertentangan dengan nuraninya.
“Kau terlalu banyak mencampuri persoalanku Dipanala” berkata
Pangeran Ranakusuma kepada Ki Dipanala pada suatu saat. “Apa yang
sudah hamba lakukan Pangeran? Hamba t idak pernah berbuat apa-apa”
“Kau sudah membuat anakku membencimu. Dan kadang- kadang kau berani
berterus terang memper ingatkan tingkah lakuku di hadapan anak itu.
Kau tidak usah mengurusi hubunganku dengan asing, atau hubungan
Rudira dengan Juwiring dan petani dari Sukawati itu. Kau harus
merasa berterima kasih bahwa kau dapat hidup layak di belakang
istana ini. Aku masih tetap memberikan penghasilanmu, meskipun kau
sama sekali tidak bermanfaat bagiku” “Justru karena hamba masih
selalu mener ima pemberian tuanku itulah, hamba kadang-kadang ingin
juga memberikan sedikit bahan pertimbangan. Juga atas hubungan tuan
denganorang asing itu dan niat Raden Rudira yang tidak ada redanya
untuk mencelakakan kakandanya. Hamba tahu, bahwa Raden Rudira
menaruh perasaan cemburu, karena di padepokan itu ada seorang gadis
cantik yang bernama Arum. Tetapi sebenarnyalah bahwa tidak ada
hubungan apapun antara Raden Juwiring dengan Arum” Kedua orang yang
sedang berbicara itu terkejut ketika tiba- tiba saja mereka
mendengar suara Raden Ayu Galihwarit “Dipanala. Aku akan member imu
tambahan penghasilan jika kau berjanji tidak akan mengganggu gugat
masalah-masalah kami. Masalah kakanda Pangeran dalam hubungannya
dengan orang asing itu, dan masalah anakku. Bahkan sebaiknya kau
membujuk Kiai Danatirta, agar ia mau menyerahkan anaknya kemari. Aku
memang memer lukannya. Sedang hubungan kakanda Pangeran dengan orang
asing itu mendatangkan banyak keuntungan bagi kami, bagi rumah
tangga kami. Istana kami adalah istana yang paling cerah dari semua
istana Kapangeranan di Surakarta. Sahabat-sahabat kakanda Pangeran
telah mengirimkan hadiah yang tidak ternilai dan yang sebelumnya
belum pernah kita lihat dan apalagi kita miliki” Dipanala menarik
nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Raden Ayu Galihwarit sejenak.
Sekilas Dipanala melihat kecantikan yang memancar di wajah itu.
Meskipun Raden Ayu Galihwar it sudah memiliki dua orang anak yang
menjelang dewasa, namun ia sendir i masih tampak segar dan cantik.
Tetapi kecantikan lahiriah itu sama sekali tidak bersumber pada
kecantikan rohaniah. Kulitnya yang kuning bersih tidak mencerminkan
hatinya yang sebenarnya buram, yang dikuasai oleh nafsu ketamakan
yang tiada taranya. Ketamakan akan harta dan kekayaan, sehingga
apapun yang ada padanya telah dikorbankannya untuk mendapatkan
kekayaan dan harta benda yang diinginkan.“Pangeran” berkata Ki
Dipanala kemudian “hamba senang sekali apabila hamba mendapatkan
tambahan penghasilan yang dapat memperbaiki kehidupan hamba
sekeluarga. Tetapi hambapun cemas melihat mendung yang mengambang
diatas Surakarta sekarang ini. Orang asing itu tidak disukai oleh
beberapa orang Pangeran” “Bodoh sekali. Itu adalah suatu kebodohan“
Raden Ayu Galihwar itlah yang menjawab “Apakah keberatan mereka atas
kehadiran orang-orang asing itu? Hanya karena mereka tidak berhasil
bersahabat dengan mereka dan tidak pernah mendapatkan pemberian
apapun juga, mereka menganggap bahwa orang-orang asing itu tidak
disenangi di Surakarta” Ki Dipanala tidak segera menjawab. Sudut
pandangan Raden Ayu Galihwarit berbeda dari sudut pandangan dan
sikap pemer intahan di Surakarta. Namun agaknya Raden Ayu Galihwar
it itu sama sekali tidak mau tahu, apakah sebenarnya yang telah
terjadi di Surakarta ini. “Sudahlah Dipanala” berkata Pangeran
Ranakusuma kemudian “Seperti yang aku katakan, kau jangan terlampau
banyak mencampuri persoalan kami. Aku tidak senang. Kau mengerti?“
“Hamba Pangeran. Hamba tidak akan banyak mencampuri persoalan yang
ada di istana ini. Namun perkenankanlah hamba memperingatkan, bahwa
sikap Pangeran Mangkubumi terhadap orang-orang asing itu menjadi
semakin tegas” “Aku sudah mengerti…!!!“ Pangeran Ranakusuma
membentak. Namun suaranya kemudian menurun “Tetapi ia tidak akan
berbuat apa-apa” “Mudah-mudahan” sahut Dipanala. “Seandainya ia akan
berbuat sesuatu, apakah yang dapat dilakukan? Meskipun ia seorang
Pangeran yang pilih tanding, tetapi ia akan berdiri seorang dir i.
Dan ia t idak akan berani menentang kekuasaan Susuhunan Paku Buwana,
sehinggaapabila Susuhunan Paku Buwana sudah menentukan, maka semua
Pangeran akan tunduk?” “Tetapi bagaimana dengan beberapa orang
Pangeran yang telah meninggalkan kota dan melakukan perlawanan?“ “O,
apakah yang dapat mereka lakukan? Mereka hanya berlari-lari dari
satu padukuhan ke padukuhan yang lain, dan sama sekali jauh dari
kota Surakarta. Sebentar lagi mereka akan digiring dan dipaksa untuk
menyerah” “Tetapi j ika kemudian di antara mereka terdapat Pangeran
Mangkubumi?“ Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Namun
sebelum ia menjawab Raden Ayu Galihwarit telah menyahut “Apa bedanya
Pangeran Mangkubumi dengan yang lain- lain itu?“ Ki Dipanala
memandang Raden Ayu Galihwarit sejenak, lalu berpindah kepada
Pangeran Ranakusuma “Apakah benar Pangeran dan Raden Ayu tidak tahu
kelebihan Pangeran Mangkubumi” “Cukup, cukup” bentak Pangeran
Ranakusuma ”kenapa kau mengajukan pertanyaan yang gila itu?“ Ki
Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Baginya hal itu merupakan
pengakuan, betapa Pangeran Ranakusuma segan kepada saudara mudanya
itu. Namun ternyata bahwa Raden Ayu Galihwaritlah yang menjawab “Aku
tahu, kelebihan Pangeran Mangkubumi adalah pada ilmu kanuragan.
Meskipun ia kebal atas segala macam senjata tajam, namun ia tidak
akan dapat melawan senjata orang kulit putih itu. Sebutir peluru
akan menembus jantungnya, dan ia akan mati seperti kebanyakan orang
mati. Dan ia tidak akan dapat hidup kembali” Tiba-tiba saja kepala
Pangeran Ranakusuma tertunduk dalam-dalam. Ada sesuatu yang bergolak
di dadanya.Bagaimanapun juga, ia tidak dapat ingkar bahwa kulitnya
tidak seputih kulit orang asing itu. Meskipun seandainya ia tidak
memperhitungkan warna kulit, namun ia tahu benar niat kedatangan
orang-orang asing itu di Surakarta. Seperti Pangeran Mangkubumi maka
iapun merasa cemas melihat perkembangan Surakarta. Tetapi
kadang-kadang semuanya itu lenyap jika ia melihat kepada dir inya
sendiri. Apakah arti pengabdiannya kepada Surakarta, jika kedatangan
orang asing itu menguntungkan dirinya. Pribadinya. “Apakah yang
dapat aku petik dari kekuasaan Surakarta ini sekarang secara
langsung?“ pertanyaan itu kadang-kadang melonjak di hatinya
“sedangkan orang-orang asing ini banyak member ikan sesuatu yang
memang aku perlukan, dan yang diperlukan oleh isteriku” Tetapi jika
kemudian terbayang pergaulan yang terlalu rapat antara orang-orang
asing itu dengan isterinya. maka hatinya menjadi berdebar-debar
pula. Namun untuk mengusir perasaan yang bercampur aduk di dalam
hatinya, tiba-tiba Pangeran Ranakusuma berteriak “Pergi, pergi kau
Dipanala. Awas jika kau masih mengganggu kami. Aku dapat berbuat
baik, tetapi aku juga dapat berbuat kasar” “Ampun tuan” berkata Ki
Dipanala kemudian. Tetapi ia masih juga berkata “Sebelum hamba mohon
dir i, hamba mohon agar tuanku bertanya kepada puteranda Raden
Rudira. apakah yang diketahuinya tentang Sukawati” “Diam, diam“
Pangeran Ranakusuma berteriak “Aku tidak mau mendengar lagi tentang
adinda Pangeran Mangkubumi” “Tidak Pangeran, bukan tentang Pangeran
Mangkubumi itu sendiri, tetapi tentang orang-orang di daerah
Sukawati dan sekitarnya. Daerah kalenggahan Pangeran Mangkubumi”
“Aku tidak mau mendengar. Pergi”Ki Dipanalapun mengangguk
dalam-dalam. Kemudian ia berdesis “Ampun tuan. Sekarang
perkenankanlah hamba mengundurkan dir i” Pangeran Ranakusuma tidak
menjawab, sedang Raden Ayu Galihwar it berdiri dengan gelisah. Orang
itu memang berbahaya baginya. Dan tiba-tiba saja ia mengumpat di
dalam hati “Kenapa orang itu tidak disambar petir saja kepalanya?“
Dari lubang pintu yang terbuka Raden Ayu Galihwarit melihat Ki
Dipanala keluar dari serambi belakang. Langkahnya lurus menuju ke
pintu butulan di dinding belakang. Orang itu sama sekali tidak
berpaling. Namun terasa sesuatu berdesir di hati Raden Ayu Galihwar
it ketika ia melihat seorang raksasa berdiri bertolak pinggang
memandangi langkah Ki Dipanala. Tetapi raksasa itu sama sekali tidak
berbuat apa-apa. “Mandra” desis Raden Ayu Galihwar it di dalam
hatinya “sepeninggal Sura, orang itulah yang dipercaya oleh Rudira”
Sejenak Raden Ayu Galihwarit berdiri membeku. Terbersit di dalam
hatinya “Jika Dipanala tidak juga disambar petir, kenapa tidak ada
orang yang membinasakannya saja? Dengan demikian semua persoalan
yang diketahuinya tentang diriku akan ikut terkubur bersamanya”
Raden Ayu Galihwarit itu menggigit bibirnya. Namun pikiran itu
tiba-tiba saja melekat di hatinya. Dan ia mempunyai kekuatan untuk
melakukannya. Ia mempunyai seorang anak laki- laki yang gagah dan
berani bersama beberapa orang pengiringnya. Namun untuk beberapa
lamanya, ia masih harus menyimpan pikiran itu sebaik-baiknya sebelum
dipertimbangkannya masak-masak. Tetapi dari hari kehari Dipanala
benar-benar merupakan duri di pusat jantungnya. Setiap detak dan
setiap tarikan nafasterasa jantungnya menjadi pedih. Kenangan
mengenai peristiwa itu benar-benar telah menghantuinya. “Jika
Dipanala menjadi gila, maka akupun akan dibuatnya gila pula.
Lenyaplah semua rencana dan harapan yang telah tersusun ini” namun
kemudian “Tetapi j ika ia ingin mencelakakan aku, kenapa tidak
sekarang, atau saat aku mengusir Juwiring atau karena
perbuatan-perbuatanku yang lain?“ Raden Ayu Galihwarit menarik nafas
dalam-dalam. Memang terasa olehnya bahwa sampai saat ini Ki Dipanala
tidak berniat berbuat jahat kepadanya. Namun dalam keadaan yang
terpaksa maka orang itu dapat menjadi orang yang paling berbahaya
baginya. “Rudira akan dapat menyelesaikannya” berkata Raden Ayu
Galihwar it di dalam hati “bersama Mandra, Dipanala bukan lawan yang
berat baginya meskipun Ki Dipanala pernah menjadi seorang prajurit.
Tetapi akan lebih baik apabila Mandra dan Rudira sendiri tidak ikut
menangani, agar tidak menambah beban lagi bagiku jika usaha ini
gagal. Mereka dapat mencari seseorang yang dapat dipercaya. Atau
katakanlah sekelompok kecil orang-orang yang diperhitungkan dapat
melakukan tugas itu” Demikianlah ternyata bahwa di dalam tubuh Raden
Ayu Galihwar it yang cantik itu tersimpan hati yang keras dan hitam.
Dan agaknya, pikiran itu tetap dipertimbangkannya. Semakin hari
justru terasa semakin mendesak. Apalagi setiap kali ia masih melihat
Ki Dipanala berada di halaman istana Ranakusuman seolah-olah tidak
terjadi sesuatu apapun atasnya. “Orang itu memang berhati batu”
berkata Raden Ayu Galihwar it di dalam hatinya” Ia sama sekali tidak
merasa bahwa ia tidak diperlukan lagi di sini. Agaknya Sura yang
kasar itu masih juga memiliki perasaan, sehingga karena itu ia
mintadiri untuk meninggalkan istana ini. Tetapi Ki Dipanala tidak.
Ia masih tetap saja berkeliaran setiap hari” Namun hal itu agaknya
telah mematangkan rencananya untuk melenyapkan saja Ki Dipanala itu.
Untuk melakukan hal itu Raden Ayu Galihwarit sama sekali tidak
berbicara lebih dahulu dengan suaminya. Ia tidak ingin Pangeran
Ranakusutna bertanya kepadanya, dan mendesaknya, kenapa hal itu
dilakukannya. Karena itu, maka satu-satunya orang yang dibawanya
berbicara adalah anak laki- lakinya, Raden Rudira. Tetapi ternyata
bahwa Raden Rudirapun bertanya kepada ibunya “Kenapa orang itu harus
dilenyapkan ibu?“ “Ia sangat berbahaya bagi kita Rudira” “Ya, tetapi
kenapa? Aku sudah lama merasakan bisa ludahnya. Seakan-akan ayahanda
tidak dapat ingkar akan kata-katanya” Raden Ayu Galihwarit menarik
nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Aku tidak tahu Rudira. Mungkin ada
rahasia yang tersimpan antara ayahandamu dan Ki Dipanala. Tetapi
yang pasti, kehadirannya sangat merugikan aku dan terutama kau. Jika
orang itu dilenyapkan, maka banyak hal yang dapat kau kerjakan tanpa
gangguan. Sebab sebenarnyalah jika ayahanda berkeberatan tentang apa
pun juga, asalnya dari mulut Dipanala itu pula”Rudira
mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya “Aku dapat membunuhnya
bersama Mandra” Raden Ayu Galihwarit memandanginya sejenak. Namun
kemudian ia berkata “Mungkin kau dan Mandra dapat melakukannya
Rudira. Tetapi sebaiknya bukan kau tangani sendiri. Semula aku juga
ragu-ragu. Apakah kau sendiri bersama Mandra atau orang lain. Tetapi
jika gagal karena sesuatu sebab, maka kau tidak akan dapat ingkar
lagi bahwa kau sudah berusaha membunuhnya“ “Tetapi j ika orang lain
ibunda” jawab Rudira “persoalannya hampir sama saja. Jika ia
tertangkap, maka ia akan berceritera tentang kita, bahwa kitalah
yang telah menyuruhnya membunuh Ki Dipanala” “Amat-amati dari
kejauhan. Jika ia gagal, kau dapat menyelesaikannya. Bukankah kau
pandai berburu” “Maksud ibu, aku harus membunuh Dipanala dengan
panah?“ “Jika mungkin. Jika tidak, maka orang-orang yang harus
membunuh Dipanala itulah yang harus kau bunuh?“ Raden Rudira
mengangguk-angguk. la sadar, bahwa dengan demikian mereka akan
menghilangkan jejak. Karena itu, sambil mengangguk-angguk ia berkata
“Aku mengerti ibu, tetapi apakah ayahanda sudah mengetahui rencana
ini?“ “Aku tidak usah mohon kepada ayahandamu. Sebenarnya ayahandamu
juga berniat demikian. Tetapi karena ada semacam hubungan yang sudah
terlampau lama terjalin, maka ayahandamu tidak akan sampai hati
melakukannya. Namun jika Dipanala itu masih saja berada di istana
ini, ia akan menjadi iblis yang paling jahat” Raden Rudira masih
mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Jadi, aku harus mencari orang
yang mampu melakukannya dan dapat dipercaya”“Ya” Raden Rudira menar
ik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian ia berkata “Aku akan
berbicara dengan Mandra. Mungkin ia dapat menemukan orangnya. Tentu
tidak hanya seorang Ki Dipanala adalah bekas seorang prajurit. Tentu
ia memiliki kemampuan untuk berkelahi. Mungkin Mandra harus
menyiapkan tiga atau empat orang yang yakin akan dapat membunuh
Dipanala itu” Raden Ayu Galihwarit mengangguk-angguk. Katanya
kemudian “Kita sudah mulai. Kita tidak boleh berhenti sampai di
tengah. Jika Dipanala sudah tersingkir, akan datang giliran Juwiring
sehingga ia tidak akan dapat lagi menuntut hak atas warisan
ayahandamu. Tetapi selama Dipanala masih ada, semuanya itu pasti
akan dihalanginya” Rudira mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah ibu,
serahkan semuanya kepadaku. Aku dan Mandra akan menyelesaikan
sebaik-baiknya, meskipun barangkali aku memer lukan uang yang cukup
untuk mengupah orang-orang yang akan melakukan pembunuhan itu”
“Jangan cemas” sahut ibunya “Aku akan menyediakan uang berapa saja
yang kau perlukan” Rudira termenung sejenak. Kemudian iapun minta
diri kepada ibunya untuk menemui Mandra. ”Kau harus secepatnya
mengatakan kepadaku jika kau sudah mendapatkan orang itu” pesan
ibunya. “Baik ibu. Aku akan segera memberitahukan” Demikianlah
Rudira pergi menemui Mandra tanpa orang lain yang mendengar
percakapan mereka. Meskipun sebenarnya bagi Rudira, Mandra yang
sekarang ini masih belum sebaik Sura sebelum ia berkhianat, namun
agaknya orang inipun cukup memadai juga. “Kenapa bukan aku sendir
i?“ bertanya Mandra.“Kau sudah cukup dikenal, bahwa kau adalah
pengiringku. Aku juga sudah minta kepada ibunda, karena bukan aku
dan kau. Tetapi ibunda ragu-ragu. Dan ibunda memutuskan untuk
mengambil orang lain, tetapi di bawah pengawasan kita” lalu
diceriterakannya apa yang harus dilakukan seandainya usaha itu
mengalami kegagalan. “Tidak mungkin gagal” berkata Mandra “meskipun
Dipanala seorang bekas prajurit tetapi ia menjadi semakin tua.
Kemampuannya tidak lagi berkembang, justru menurun karena ia tidak
berusaha memalangkan pelepasan tenaga cadangan” “Tetapi bagaimanapun
juga ia cukup berbahaya” “Baiklah. Aku akan mencari liga atau empat
orang yang sama sekali belum dikenal” “Ya. Kita akan mengatur segala
sesuatunya. Ayahanda atau ibunda akan menyuruh Ki Dipanala pergi ke
Jati Aking untuk menyampaikan sesuatu kepada kamas Juwir ing. Pada
saat itulah, Ki Dipanala harus dibinasakan” Mandra
mengangguk-angguk. “Kau harus menyiapkan orang itu di bulak Jati
Sari. Lebiti baik jika kau beri pakaian kepada mereka seperti petani
dari Sukawati itu. Jika mungkin seseorang melihat meskipun dari
kejauhan, maka ia akan dapat mengatakannya” “Lebih baik kita lakukan
di malam hari” “Tentu, Tetapi ada kalanya di malam hari orang pergi
ke sawah melihat air” Mandra mengangguk-angguk pula. Katanya “Baik,
baik. Aku akan melakukan dengan cermat. Tetapi tentu dengan kerja
sama yang baik dengan ibunda Raden Rudira supaya waktu yang
ditentukan itu tidak meleset”“Tentu. Pada saatnya kita akan menyusun
rencana sebaik- baiknya” Dengan demikian, maka di luar pengetahuan
Pangeran Ranakusuma, Raden Ayu Galihwarit dan anak laki-lakinya
sedang menyusun rencana untuk membunuh Dipanala, orang yang dianggap
paling berbahaya baginya. Akhirnya Mandra dan Rudira menemukan juga
orang yang dapat dipercayanya untuk melakukan tugas itu. Mereka
adalah kawan-kawan Mandra yang hidup dalam dunia yang gelap, sebagai
orang yang mendapatkan nafkahnya dengan cara yang dikutuk oleh
sesama. “Tetapi kau harus berhasil” berkata Mandra kepada mereka.
Salah seorang dari mereka tertawa. Katanya “Pekerjaan itu sama
sekali bukan pekerjaan yang sulit bagi kami. Membunuh Dipanala
apakah sukarnya?“ “Jangan berkata begitu” sahut Mandra
“kadang-kadang ada masalah lain yang berada di luar perhitungan”
“Jangan cemas. Pokoknya kami akan membunuhnya, dan kami harus
mendapat upah seperti yang kami minta” “Aku sudah menyanggupi.
Tetapi jika gagal, kalian harus melarikan diri. Jangan sampai ada di
antara kalian yang tertangkap hidup dan mengatakah, bahwa akulah
yang menyuruh kalian melakukan pembunuhan itu” “Kami bukan anak-anak
lagi. Kenapa kalian harus mengatakan pesan itu?“ “Jangan sombong.
Kelemahanmu justru karena kau terlampau sombong. Aku tahu, bahwa kau
memiliki kemampuan. Tetapi yang kau hadapi jangan kau anggap ringan,
agar kau tidak terjerumus dalam kegagalan”“Kau terlalu banyak
bicara. Nah, beritahukan waktunya, kapan kami harus mencegatnya di
bulak Jati Sar i” “Kami akan mengatur sebaik-baiknya” Demikianlah,
maka semuanya segera diatur serapi-rapinya. Raden Ayu Galihwarit
berusaha untuk mengetahui dengan pasti, kapan Ki Dipanala akan pergi
ke Jati Aking. “Sudah lama kita tidak mengir imkan perbekalan bagi
Juwiring” berkata Raden Ayu Galihwarit. Pangeran Ranakusuma menjadi
heran. Biasanya Galihwarit tidak pernah mempersoalkan perbekalan
bagi Juwir ing yang tinggal di Jati Aking. Tetapi tiba-tiba kali ini
ia mempersoalkannya. “Siapakah yang akan pergi mengir imkan
perbekalan?“ bertanya Pangeran Ranakusuma yang mulai curiga, bahwa
kesempatan ini akan dipergunakan oleh Raden Rudira, karena menurut
keterangan yang didengarnya Rudira telah tertarik pada gadis
padepokan Jati Aking yang bernama Arum, yang membuat Rudira dan
Juwiring, dua orang saudara seayah, menjadi semakin renggang. Tetapi
jawaban Raden Ayu Galihwarit ternyata tidak diduganya sama sekali
“Bukankah biasanya Ki Dipanala juga yang membawanya ke Jati Aking?“
Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia terlampau
berprasangka terhadap isteri dan anaknya. Isteri yang justru paling
berpengaruh atasnya. “Baiklah” berkata Pangeran Ranakusuma “biarlah
dipersiapkan perbekalan bagi Juwir ing. Biar lah Ki Dipanala
membawanya ke Jati Aking” “Semuanya sudah siap. Tentu kita tidak
usah mengirimkan beras, karena Jati Sari adalah lumbung beras yang
subur”“Apakah aku pernah mengir imkan beras ke Jati Aking?“ bertanya
Pangeran Ranakusuma. “Tidak. Memang tidak. Maksudku, biarlah Ki
Dipanala membawa beberapa lembar kain dan uang. Ki Danatirta tentu
memer lukan uang untuk membeayai padepokannya. Mungkin beberapa
lembar juga untuk gadis itu” Pangeran Ranakusuma menarik nafas
dalam-dalam. Akhirnya isterinya menyebut gadis itu juga. Namun
dengan demikian Raden Ayu Galihwarit telah menghilangkan kecurigaan
Pangeran Ranakusuma, tentang hal yang lain-lain. Menurut dugaannya,
Raden Ayu Galihwarit sedang mengambil hati gadis itu. yang dengan
perlahan-lahan akan dipancing ke rumah ini. Tentu saja bagi Raden
Rudira. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak berkeberatan dengan cara
itu. Asal Rudira tidak melakukan kekerasan dan merampas gadis itu
dari padepokan Kiai Danatirta. Jika dengan cara itu, Arum berhasil
diambil masuk ke istana Ranakusuman dan tidak menumbuhkan persoalan
apapun dengan Kiai Danatirta, maka Pangeran Ranakusuma tidak akan
mencegahnya. “Mungkin Danatirta memang perlu disumbat mulutnya
dengan uang atau Barang-barang lainnya, sehingga ia tidak
berkeberatan. melepaskan anaknya. Sedang gadis itu sendiri tidak
akan banyak menimbulkan persoalan apabila ayahnya sudah
menyerahkannya” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya. Karena
bagi beberapa orang bangsawan hal serupa itu bukannya hal yang baru
pertama kali akan terjadi. "Bahkan kadang-kadang jika seorang gadis
sudah mengandung, maka diserahkannya gadis itu kepada abdinya
sebagai triman untuk mendapat pengesahan perkawinan. Ternyata
Pangeran Ranakusuma sama sekali t idak menduga, bahwa saat yang
ditentukan untuk mengutus Ki Dipanala ke Jati Aking itu menjadi
perhatian Raden Rudira dan Mandra. Merekapun segera menyiapkan
segala sesuatunya.Orang-orang yang ditugaskannya untuk membunuh
Dipanala itupun sudah diber itahukannya. “Jika kalian berempat
gagal, maka hancurlah semua rencana. Kalianpun akan digantung karena
kalian berusaha membunuh seseorang j ika kalian tertangkap” Salah
seorang dari orang-orang itu tertawa berkepanjangan. Katanya “Kau
memang banyak bicara Mandra” “Kaulah yang terlampau sombong” jawab
Mandra “Kau tahu bahwa aku dapat membunuh orang seperti kau dengan
mudah. Tetapi aku tidak menganggap pekerjaan ini terlampau ringan”
Orang itu masih tertawa. Namun katanya “Baiklah. Aku akan bertindak
hati-hati sekali” “Jangan lupa. pakai pakaian seperti yang aku
katakan” “Agar ujud kami tidak seperti perompok. Tetapi seperti
petani biasa, begitu maksudmu?“ “Sebagian begitu” “Tetapi bagimu
sebenarnya lebih aman jika kami berpakaian seperti yang kami pakai.
Justru kami akan mempertegas bentuk kami sebagai perampok.
Orang-orang akan mengatakan, jika ada. yang melihat, bahwa Ki
Dipanala telah dirampok orang. Dan habis perkara” Mandra
mengangguk-angguk. Tetapi agaknya ada niat lain pada Raden Rudira.
Ia ingin memberikan kesan, bahwa petani perantau yang mengaku dari
Sukawati itu dan kawan- kawannya ternyata telah merampok Dipanala
pula di bulak Jati Sari. Demikianlah semuanya sudah ditentukan.
Tetapi ternyata sangat sulitlah bagi Raden Ayu Galihwar it untuk
memaksakan keinginannya agar Ki Dipanala dapat pergi ke Jati Aking
dimalam hari. Yang dapal diusahakan hanyalah memper lambat persiapan
agar Dipanala berangkat di sore har i. “Tunggulah sebentar” berkata
Raden Ayu Galihwarit ketika Dipanala mohon dir i kepada Pangeran
Ranakusuma untuk berangkat ke Jati Aking “Aku masih mempunyai
selembar kain lurik yang halus untuk anak Danatirta itu” “Pemberian
Pangeran Ranakusuma sudah terlampau banyak kali ini Raden Ayu”
berkata Ki Dipanala. “Aku sudah menyediakannya, dan aku ingin member
ikan kepadanya” Ki Dipanala tidak dapat menolak lagi. lapun terpaksa
menunggu beberapa saat ketika Raden Ayu Galihwarit masih
berpura-pura mencar inya. “Aku sudah menyediakannya. Aku simpan kain
itu baik- baik. Tetapi karena itu aku justru lupa. dimana aku
menyimpannya” Ki Dipanala hanya dapat menarik nafas dalam-dalam,
sedang Pangeran Ranakusumapun tidak dapat berbuat apa- apa. Ia tahu,
bahwa isterinya akan menjadi sangat kecewa jika kain yang sudah lama
disediakan itu tidak dapat dibawa serta. Meskipun demikian ketika
Raden Ayu Galihwarit terlalu lama belum juga dapat menemukannya,
Pangeran Ranakusuma berkata “Biarlah lain kali Dipanala membawanya.
Ia masih akan pergi lagi ke Jati Aking” “Tidak. Tidak untuk lain
kali. Tetapi aku ingin kain itu segera sampai ke tangan gadis itu”
Ketika kain yang dicari itu ketemu, maka matahari sudah mulai
condong ke Barat. Sejenak Raden Ayu Galihwarit member ikan beberapa
pesan agar disampaikan kepada Kiai Danatirta.“Katakan kepadanya”
berkata Raden Ayu Galihwarit “Aku sama sekali tidak mempunyai maksud
apa-apa. Persoalannya lepas sama sekali dengan persoalan yang pernah
timbul karena tingkah Rudira. Aku benar-benar ingin memberikan
sesuatu tanpa pamrih apapun juga” “Baik Raden Ayu. Biarlah hamba
sampaikan kepada Kiai Danatirta dan kepada anak gadis itu sendiri”
“Dan pesanku kepada Juwiring” berkata Raden Ayu Galihwar it “Ia
berada di padepokan Jati Aking untuk mempelajari ilmu kaj iwan dan
kesusasteraan. Jangan terlampau banyak membuang waktunya untuk
belajar bertani. Itu tidak penting baginya kelak. Jika ternyata kita
melihat hasil yang baik, maka pada saatnya Juwiring kembali ke
istana ini, Rudiralah yang akan mempelajari ilmu yang serupa” Ki
Dipanala dan Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Sejenak
mereka saling berpandangan, seakan- akan mereka mendapat kesan yang
sama, bahwa sebenarnya Raden Ayu Galihwar it memang ingin memisahkan
Juwiring dari Arum dan member ikan kesempatan kepada Raden Rudira,
meskipun cara yang dipakainya adalah cara yang tampaknya wajar
sekali, bahkan terlalu baik terhadap anak tirinya.Demikianlah mereka
berbicara beberapa saat lamanya. Kemudian Ki Dipanalapun minta diri
kepada kedua suami isteri itu. “Hamba akan sampai di Jati Aking
senja har i Pangeran” berkata Dipanala. “Kau akan bermalam?“ “Ya.
Hamba memang sering bermalam di padepokan itu” “Baiklah” “Tetapi,
masih ada satu yang terlupa” berkata Raden Ayu Galihwar it “Aku
masih mempunyai sesuatu buat anak-anakmu” “O, terima kasih. Hamba
akan langsung berangkat ke Jati Aking. Besok j ika hamba kembali,
hamba akan menghadap lagi“ “Ah, kau. Jangan terlalu malas. Bukankah
kau dapat melintas halaman belakang dan lewat pintu butulan sejenak
menyerahkannya kepada anak-anakmu” Ki Dipanala menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi iapun mengangguk sambil menjawab “Hamba
mengucapkan beribu terima kasih” Maka dengan demikian sebelum
berangkat Ki Dipanala masih harus pulang sejenak, untuk menyerahkan
sebuah bungkusan kecil kepada anak-anaknya. “O, jadi ayah belum
berangkat?“ bertanya anaknya yang kebetulan ada di halaman. “Segera
akan berangkat. Simpanlah“ “Apakah ini ayah?“ “Nanti kau akan tahu.
Ayah akan segera berangkat” “Apakah aku boleh membukanya” “Bukalah
di dalamrumah. Ayah tergesa-gesa sekali”“Dimanakah ayah membeli
ini?“ “Bukan ayah yang membeli. Tetapi itu adalah hadiah dari Raden
Ayu Galihwarit” “O, hadiah dari Raden Ayu Galihwarit” anaknyapun
kemudian berlari menghambur masuk ke dalam rumah untuk segera
mengetahui isi bingkisan kecil itu. Ki Dipanalapun kemudian dengan
tergesa-gesa kembali ke istana Ranakusuman untuk sekali lagi mohon
diri dan member itahukan bahwa hadiah itu sudah diserahkannya kepada
anak-anaknya. Ketika kudanya mulai berlar i di luar regol istana
Ranakusuman Ki Dipanala menengadahkan wajahnya kelangit. Matahari
sudah semakin condong. Karena itu maka katanya di dalam hati “Aku
akan sampai ke Jati Aking sesudah padepokan itu menjadi gelap.
Mudah-mudahan kedatanganku tidak mengejutkan kakang Danatirta”
Sekali Ki Dipanala berpaling. Diamatinya sebungkus kain dibagian
belakang kudanya. Kemudian dirabanya sebuah kampil kulit yang
diikatkan di lambung kuda itu pula. Di dalam kampil itu disimpannya
uang yang harus diserahkannya kepada Kiai Danatirta. “Banyak sekali
yang harus aku bawa kali ini” berkata Ki Dipanala di dalam hati.
Sebenarnya ia merasa heran, kenapa tiba-tiba saja Raden Ayu
Galihwarit menjadi begitu baik terhadapnya. Masih terasa tali-tali
yang mengikatnya pada sebatang pohon sawo ketika Raden Rudira
menjadi sangat marah kepadanya. Hampir saja ia menjadi
pengewan-ewan. Dan sekarang, tiba-tiba anak-anaknyapun telah
menerima hadiah dari Raden Ayu yang garang itu. Tetapi Ki Dipanala
sama sekali t idak mengerti bahwa jumlah Barang-barang dan uang yang
dibawanya adalah jumlah yang dijanjikan oleh Raden Rudira kepada
keempat kawan-kawan Mandra. Jika mereka dapat membunuh Dipanalamaka
apa yang dibawanya dapat diambilnya. Uang dan Barang-barang yang
sebelumnya sudah disetujui jumlahnya. Bagi Ki Dipanala, Raden Ayu
Sontrang itu sedang berusaha untuk membujuk secara halus, agar Arum
akhirnya dapat juga diambil ke istana bagi Raden Rudira. Tidak lebih
dari dugaan itu. Meskipun dugaan itu sudah cukup membuatnya berkeluh
kesah. “Apakah yang dapat aku katakan kepada kakang Danatirta jika
iapun menaruh curiga pula?“ Ki Dipanala bertanya kepada diri
sendiri. Tetapi Ki Dipanalapun kemudian menggelengkan kepalanya.
Dipacunya kudanya semakin cepat. Seleret teringat pula olehnya bulak
Jati Sari yang panjang itu. “Jika ada seseorang yang mengetahui aku
membawa barang-barang dan uang, ada juga bahayanya bulak panjang di
Jati Sari itu” katanya di dalam hati. Tetapi bagi Ki Dipanala, hal
itu tidak begitu dihiraukannya meskipun sekali-sekali ia menyentuh
hulu keris yang diselipkan di lambungnya. Demikianlah kuda itu
berpacu semakin lama seakan-akan menjadi semakin cepat. Apalagi
ketika Ki Dipanala sudah meninggalkan pintu gerbang kota. Kudanya
berlari seperti anak panah yang lepas dar i busurnya. Di perjalanan
Ki Dipanala seakan-akan tidak berhenti sama sekali untuk ber
istirahat. Hanya jika kudanya terasa terlalu lelah berlari, maka
dikuranginya kecepatannya sedikit, dan sekali diberinya kesempatan
kudanya minum beberapa teguk air jernih dari parit di pinggir jalan
yang dilaluinya. Meskipun demikian, maka seperti yang sudah
diperhitungkan bahwa ketika ia mulai memasuki daerah Jati Sari, maka
gelap malampun mulai turun perlahan- lahan.Tetapi jaraknya sudah
tidak terlampau jauh lagi. Ki Dipanalapun mulai merasa tenteram,
bahwa ia akan dapat menyampaikan Barang-barang itu kepada yang
berhak. Dalam keremangan malam yang semakin temaram Ki Dipanala
memandang bulak Jati Sari yang panjang. Di ujung bulak itu terletak
salah satu desa kecil dari kelompok pedukuhan Jati Sari. Dan di
seberang bulak sempit ber ikutnya terletak padepokan kecil Jati
Aking. Sementara itu, disebuah batu ditanggul parit yang membujur di
sepanjang bulak itu duduk seseorang yang berpakaian seperti pakaian
seorang petani. Tetapi dengan kain yang membelit lambung dan sebuah
tutup kepala bambu yang lebar, agaknya petani itu baru saja menempuh
sebuah perjalanan yang jauh. Ia telah duduk diatas balu itu sejak
senja mulai turun. Sekali-sekali ia mengedarkan pandangan matanya ke
daerah di sekitarnya. Sawah yang terbentang luas. Batang-batang padi
yang hijau segar. Satu dua masih dilihatnya beberapa orang berjalan
pulang kedesanya masing-masing yang terpencar di sekitar bulak yang
luas itu. “Tentu ada di antara mereka yang sudah melihat aku duduk
disini” berkata petani itu di dalam hatinya. Dan iapun tetap duduk
saja Di tempatnya ketika seorang petani Jati Sari lewat di jalan di
hadapannya" Petani Jati Sari itupun tidak berhenti dan tidak
menyapanya. Ia belum mengenal orang itu. Ia hanya dapat menduga
bahwa orang itu adalah seseorang yang sedang beristirahat setelah
lelah berjalan. Dan karena petani yang sedang beristirahat itu tidak
mengatakan apa-apa, maka menurut pendapatnya, ia memang tidak
memerlukan bantuan apapun juga. Namun ketika senja menjadi gelap,
ternyata bahwa petani itu tidak hanya seorang diri. Ternyata dua
orang lainnya telahmenyusulnya dan kemudian duduk di pematang,
terlindung oleh batang batang padi, dan seorang lagi duduk di
seberang jalan, sehingga jumlah mereka semuanya adalah empat orang.
“Apakah orang itu justru sudah lewat?“ bertanya salah seorang dari
antara mereka kepada kawannya. Petani yang bertudung lebar dan duduk
diatas batu itulah yang menyahut “Aku berada di sini sejak senja. Ia
belum lewat” Kawannya menarik nafas. Katanya “Jika kita terlambat,
kita harus menempuh jalan lain” “Apa?“ bertanya kawannya.
“Mendatangi padepokan itu” “Gila. Kau sangka di padepokan itu tidak
ada orang lain?” “Cantrik-cantrik maksudmu? Yang biasanya hanya
menyabit rumput? Mereka sama sekali tidak berarti” “Raden Juwiring?“
“Ah, kita buat ia pingsan dengan sebuah pukulan di tengkuk. Kemudian
kita bunuh Dipanala. Kita rampas kembali semua Barang-barang dan
uang yang sudah diserahkan kepada Danatirta. Dan jika ada, justru
kekayaan padepokan itu dapat kita bawa sama sekali” “Kau memang
gila” Percakapan itu tiba-tiba terhenti ketika mereka mendengar
derap kaki kuda di kejauhan. Sejenak mereka mengangkat kepala untuk
mendengarnya. Ketika mereka sudah pasti, maka orang yang berpakaian
petani itu berkata “Bersembunyilah. Aku akan menghentikannya” Yang
lainpun segera bersembunyi rapat-rapat. Mereka berjongkok di dalam
lumpur berlindung batang-batang padi.Gelap malam yang semakin buram
telah menyembunyikan orang-orang itu semakin rapat. Sejenak kemudian
derap kaki-kaki kuda itu menjadi semakin dekat. Meskipun sudah
menjadi pekerjaan dan kebiasaan mereka merampok dan menyamun, namun
kali ini keempat orang itu masih juga berdebar-debar, karena yang
bakal mereka hadapi adalah Ki Dipanala. “Ia sudah semakin tua” desis
salah seorang dari mereka tanpa disadari. “Kenapa?“ bertanya
kawannya. “Ia tidak akan dapat apa-apa untuk membela dir inya” “Kau
takut?“ “Tidak. Sebaliknya. Kenapa kita harus menyembunyikan diri
dan menyergap dengan tiba-tiba” Kawannya memandanginya sejenak.
Namun tiba-tiba kawannya itu tersenyum sambil berbisik “Kau
berdebar-debar. Jangan ingkar. Aku juga” “Ah“ Tetapi ia tidak
menyahut. Derap kuda itu terdengar semakin keras seperti detak
jantungnya yang menjadi semakin berdentangan di dalam dadanya.
Memang terasa aneh sekali, bahwa kedatangan orang setua Dipanala
masih juga mendebarkan jantung. Apalagi mereka berempat, yang selama
ini telah menyimpan banyak sekali pengalaman bagaimana mereka harus
melayani orang- orang yang akan disamunnya. Dalam keremangan malam
yang menjadi semakin gelap, orang yang duduk diatas batu itu masih
juga melihat seekor kuda yang tegar berlari. Semakin lama semakin
dekat. Dan tiba-tiba saja ia berdir i. Dilepaskan tudungnya yang
lebar serta dilambaikannya sebagai suatu isyarat.Bukan saja kuda
yang berlari itulah yang agak terkejut karenanya, tetapi Dipanala
juga terkejut karena tiba-tiba saja orang yang semula duduk diam itu
meloncat ketengah-tengah jalan yang dilaluinya. Dengan serta-merta
Ki Dipanala menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu berdir i tegak
sambil mer ingkik. Tetapi sesaat kemudian kuda itu sudah dapat
dikuasainya dan menjadi tenang kembali. “Ki Sanak” berkata orang
yang berpakaian petani dengan tudung yang besar itu “Apakah Ki Sanak
akan pergi ke Jati Aking?“ Ki Dipanala menjadi ragu-ragu sejenak.
Lalu iapun bertanya “Siapakah kau?“ “Aku petani dari Sukawati. ”
“He?” Ki Dipanala menjadi ragu-ragu. Dicobanya mengamati wajah orang
itu. Ia belum pernah mengenal orang yang berdiri di tengah jalan
itu. Meskipun wajahnya yang samar di bawah bayangan kegelapan, namun
Ki Dipanala pasti, bahwa ia belum pernah melihat orang itu. Namun
nama petani dari Sukawati seperti yang pernah didengarnya membuat
hatinya menjadi berdebar-debar. Nama itu menurut pendengarannya
mempunyai arti yang tersendiri. Sebagai bekas seorang prajur it Ki
Dipanala mempunyai naluri yang tajam dalam menghadapi
persoalan-persoalan yang meragukannya. Karena itu, sebelum ia
berbuat sesuatu, maka iapun memandang ke sekitatnya tanpa
disengajanya. “He, kenapa kau tidak turun dari kuda?“. berkata orang
yang berdiri di tengah-tengah jalan itu. “Apakah maksudmu
menghentikan aku?“ bertanya Ki Dipanala.“Turunlah. Kita akan
berbicara. Aku mempunyai beberapa pesan yang harus kau sampaikan
kepada Juwir ing” Ki Dipanala menjadi semakin ragu-ragu. Sejenak ia
seakan- akan membeku diatas punggung kudanya. “Turunlah “ Hampir
saja Ki Dipanala meloncat turun, jika tangannya tidak menyentuh
kampil uang yang diikat di lambung kuda itu, serta beberapa macam
barang yang harus diberikannya kepada Juwiring, Kiai Danatirta dan
Arum. “Turunlah “ “Katakanlah pesan itu” berkata Ki Dipanala
kemudian “Aku akan segera melanjutkan perjalanan” “Turunlah. Kau
harus berbuat sopan terhadapku” “Siapa kau sebenarnya?“ “Petani dari
Sukawati” Sekali lagi jantung Ki Dipanala dijamah oleh kebimbangan
yang sangat. Tetapi ia masih tetap bertahan duduk diatas kudanya
sambil menjawab “Kenapa aku harus turun dari kuda jika aku
berhadapan dengan seorang petani meskipun dari Sukawati?“ “Kau belum
pernah mendengar siapakah petani dari Sukawati itu?“ Ki Dipanala
menggeleng ”Aku belumpernah mendengar“ “Aku adalah Pangeran
Mangkubumi” “Bohong” tiba-tiba Ki Dipanala berteriak. Kini ia yakin
bahwa ia berhadapan dengan bahaya. Katanya “Pangeran Mangkubumi yang
berpakaian petani tidak akan berkata bahwa inilah Pangeran
Mangkubumi. Apakah arti pakaian petani baginya jika ia masih
menyebut dir inya Pangeran Mangkubumi”Namun ternyata penyamun itu
masih dapat menjawab dengan tenang “Kepada orang lain aku tidak
memperkenalkan diriku yang sebenarnya. Tetapi karena aku mempunyai
kepentingan dengan, kau dan Juwiring, maka aku mengatakan siapakah
aku. Bukankah Juwiring sudah mengetahui bahwa petani di Sukawati itu
sebenarnya adalah Pangeran Mangkubumi?“ Tetapi Ki Dipanala masih
juga menjawab dengan keyakinan “Jika benar kau Pangeran Mangkubumi,
kau tidak akan menunggu aku lewat, karena kau tidak tahu bahwa aku
lewat” “Kau lupa bahwa aku mempunyai aj i Sapta Pameling dan Sapta
Pangrungu, Sapta Pangganda dan Sapta Pangrasa. Aku tahu bahwa kau
akan lewat dan karena itu aku menunggumu di sini” “Sekali lagi kau
berbuat kesalahan. Jika kau mempunyai aji Sapta Pameling, maka kau t
idak memer lukan aku untuk menyampaikan pesanmu kepada Raden
Juwiring. Kau dapat duduk di sini dan memanggil Raden Juwiring
menghadap dengan aji Sapta Pamelingmu” Orang yang mengaku petani
dari Sukawati itu diam sejenak. Namun kemudian sambil menggeretakkan
giginya ia berkata “Turun dari kudamu. Aku tidak peduli apakah kau
percaya tentang aku atau tidak” “Katakan, apa maksudmu” jawab Ki
Dipanala tegas. “Turun dahulu, sebelum aku menyeretmu” “Aku tidak
akan turun” Orang itu menggeram. Selangkah ia maju, namun Ki
Dipanalapun segera mempersiapkan dirinya menghadapi setiap
kemungkinan yang bakal terjadi. Kini ia benar-benar harus berbuat
sesuatu untuk mempertahankan tugasnya, dan sudah barang tentu
mempertahankan hidupnya.Sejenak kemudian, petani itu berdiri tegak.
Tetapi ia tidak mau kehilangan korbannya. Jika kuda itu meloncat dan
berlari, maka akan lepaslah ia dari tangannya. Karena itu selagi hal
itu belum terjadi maka iapun segera memberikan isyarat kepada
kawan-kawannya. Dada Ki Dipanala menjadi berdebar-debar. Ia benar-
benar berhadapan dengan empat orang penyamun. Namun demikian timbul
juga pertanyaan di dalam hati “Darimana orang ini mengetahui
beberapa masalah mengenai Petani dari Sukawati, Raden Juwiring dan
bahwa aku akan lewat membawa Barang-barang dan uang bagi padepokan
Jati Aking. Sekilas memang terlintas di dalam benaknya, bahwa di
istana Ranakusuman banyak terdapat orang yang tidak menyukainya.
Orang-orang yang menjilat dan bahkan Pangeran Ranakusuma berdua.
Apalagi Raden Rudira dan orang-orang yang berdiri di belakangnya.
Salah seorang dari mereka dapat saja berhubungan dengan para
penyamun dan member itahukan bahwa ia membawa Barang-barang berharga
ke Jati Aking. Tetapi di saat yang gawat itu ia tidak dapat sekedar
mencari-cari, siapakah yang telah berbuat jahat dan berkhianat
atasnya itu. Yang harus dilakukannya adalah mempertahankan
barang-barang yang menjadi tanggung jawabnya. – Jilid
06 “MENYERAHLAH” berkata orang yang semula mengaku petani dari
Sukawati itu ”Kau memang mempunyai pandangan yang tajam. Kau tidak
segera percaya bahwa aku adalah petani dari Sukawati itu” Ki
Dipanala sama sekali t idak menjawab. “Nah, menyerahlah. Kami akan
memperlakukan kau sebaik- baiknya” Berkata orang itu pula “serahkan
semua Barang- barang yang akan kau bawa ke Jati Aking” Ki Dipanala
masih tetap berdiamdiri. “Kau hanya seorang diri. Kau tidak akan
dapat mengharapkan bantuan siapapun juga di sini. Aku memang masih
melihat, seorang dua orang lewat sebelum kau, Jika sekarang masih
ada juga yang melihat kita berdiri di sini, mereka t idak akan
berani berbuat apapun juga” “Aku tidak mengharap siapapun juga”
desis Ki Dipanala “Aku percaya kepada dir iku sendir i”“Omong
kosong“ Orang yang mengaku petani, dari Sukawati itu tertawa
”suaramu bergetar. Kau sedang ketakutan” “Aku adalah lekas seorang
prajur it. Adalah suatu anugerah bahwa aku masih tetap hidup setelah
tugasku selesai. Dengan demikian maka mati bagiku bukan lagi
bayangan yang menakutkan. Tetapi mungkin bagi kalian, karena selama
hidup kalian, kalian selalu berbuat dosa, sehingga mat i adalah
akhir yang paling mengerikan bagi kalian, kalian akan sengsara di
akhirat” “Tutup mulut” bentak penyamun itu “Jangan menakut- nakuti
aku dengan kepercayaan tahyul semacam itu. Tidak seorang pun yang
dapat berbicara tentang mati. Tidak ada kehidupan setelah mati itu”
“Jika benar demikian, kenapa aku takut mati?“ potong Dipanala
“Apalagi aku percaya bahwa ada kehidupan akhirat yang abadi dan
surga yang dijanjikan bagi mereka yang percaya kepada Tuhan Yang
Maha Suci dan tidak ada sekutu bagiNya, dan kepercayaan itulah yang
membuat aku semakin tidak takut kepada mati” “Persetan” sahut
penyamun itu “Jika kau tidak takut kepada mati, maka kau akan takut
menjelang saat-saat matimu, karena kami berempat dapat berbuat apa
saja atasmu sebelum kau mati” “Aku tidak akan menyerahkan leherku
untuk kau jerat” “Tetapi kau tidak akan berdaya menghadapi kami
berempat. Pilihlah. Menyerah, dan aku akan membunuhmu segera, atau
kau akan melawan tetapi berakibat sangat buruk di saat menjelang
mati” “Yang kedua. Tetapi tidak seluruhnya. Aku akan melawan dan
membuat kalian menyesal sebelum kalian mati”“Omong kosong“ salah
seorang dari para penyamun yang selama itu mengikuti pembicaraan
menjadi sangat marah. Lalu “Kita terlalu banyak berbicara. Mari.
kita seret dan kita bunuh segera” “Ya, sekarang” sahut yang lain. Ki
Dipanala tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba kerisnya telah
digenggamtangannya. Hampir berbareng keempat orang itu menyerang.
Namun Ki Dipanala sudah bersiap meskipun ia masih diatas punggung
kudanya. Tetapi ternyata bahwa kejutan-kejutan yang sengaja
dilakukan oleh orang-orang itu, membuat kuda Ki Dipanala sukar
dikendalikan sehingga kadang-kadang hampir saja ia kehilangan
kesempatan untuk menghindar dan menangkis serangan-serangan yang
mulai berdatangan. Karena itu, tidak ada cara lain daripadanya
adalah turun dari kudanya. Ia sudah tidak melihat lagi kemungkinan
untuk menembus kepungan keempat orang itu, karena dua dari mereka
berdir i di depan dan dua yang lain di belakang. sehingga kali ini
ia harus benar-benar berkelahi. “Tetapi tentu satu atau dua dari
orang-orang ini akan melarikan kudaku” berkata Ki Dipanala itu di
dalamhati. Tetapi itu lebih baik bagi Ki Dipanala dar ipada dadanya
ditembus ujung pedang. Katanya pula di dalam hati “Jika aku berlasil
menangkap seorang saja dari keempatnya, maka aku akan dapat
mendengar keterangannya dan mencari kuda serta muatannya kembali.
Atas perhitungan itulah maka Ki Dipanalapun kemudian meloncat turun
dari kudanya. Dengan demikian ia justru merasa menjadi lebih lincah
untuk melawan keempat orang yang mengeroyoknya.Ternyata bahwa
dugaannya tentang kudanya adalah keliru. Tidak seorangpun dari
keempat orang itu menghiraukan kuda yang kemudian menepi dan
seakan-akan berdiri melihat apakah pemiliknya akan dapat mengatasi
kesulitan yang sedang dihadapinya. Memang tidak seorangpun dari
keempat lawannya yang menghiraukan kuda itu. Tugas mereka tidak
sekedar merampas Barang-barang yang dibawa oleh Ki Dipanala, tetapi
membinasakannya. Itulah sebabnya maka yang penting bagi mereka
justru kematian Dipanala. Baru mereka akan menghitung uang dan
Barang-barang yang ada padanya, apakah sesuai atau tidak dengan
pembicaraan yang telah diadakan. Tetapi ternyata, meskipun Ki
Dipanala sudah menjadi semakin tua, namun ia masih mampu bergerak
secepat burung sikatan. Kakinya dengan ringan melontar-lontarkan
tubuhnya dan kerisnyapun menyambar-nyambar dengan dahsyatnya di
antara kilatan keempat ujung pedang lawannya. Meskipun pedang
lawan-lawannya jauh lebih panjang dari keris Ki Dipanala. namun
kecepatannya bergerak mampu mengimbangi kecepatan keempat ujung
pedang yang lebih panjang itu. Demikianlah mereka segera terlibat
dalam perkelahian yang sengit. Keempat orang penyamun itupun segera
mengerahkan kemampuan mereka untuk mengatasi kecepatan bergerak
lawannya. Namun bagaimanapun juga, ternyata bahwa Ki Dipanala memang
tidak dapat mengimbangi keempat lawan-lawannya yang juga cukup
berpengalaman. Perlahan-lahan semakin jelas, bahwa tenaganya
terpaksa harus diperasnya untuk mempertahankan dir i. Tetapi dengan
demikian maka tenaga itupun menjadi cepat surut. Sejenak kemudian,
maka Ki Dipanalapun mulai terdesak. Ujung senjata lawannya
seakan-akan telah mengurungnya,sehingga ia tidak mendapat kesempatan
sama sekali untuk menyerang. Semakin lama semakin terasa olehnya,
bahwa senjatanya memang terlampau pendek. Namun demikian tidak
terkilas pada Ki Dipanala untuk menyerah. Ia harus bertahan atau
menyelamatkan dir i. Bukan karena ia takut mat i. Tetapi ia harus
mendapat keterangan, apakah latar belakang dari penyamun ini.
Sekedar Barang- barangnya, atau benar-benar suatu usaha pembunuhan
atas dirinya. Jika sekedar perampokan, maka ia harus mendapat
keterangan, siapakah yang sudah berkhianat dan member itahukan
kepada para penyamun tentang keberangkatannya dan tentang
Barang-barang yang dibawanya. Tetapi menilik tingkah laku dan sikap
keempat orang itu, maka perhatian pertama dari mereka adalah
kematiannya. Dengan demikian, maka Ki Dipanala kadang-kadang
terpaksa mencari jalan untuk melepaskan dir i dari kepungan itu.
Namun ternyata ia bahwa kepungan itu cukup rapat, sehingga usahanya
selalu sia-sia. Akhirnya, tidak ada pilihan lain bagi Ki Dipanala
selain berkelahi sejauh-jauh dapat dilakukan. Jika ia akhirnya harus
mati, maka ia harus memberikan bekas pada perkelahian itu.
Lawannyapun harus ada yang mati pula bersamanya. Karena itu, maka
perlawanan Ki Dipanala justru menjadi semakin sengit. Ia berkelahi
dengan sepenuh tenaga yang ada padanya, meskipun tenaga itu sudah
menjadi semakin susut. Selagi Ki Dipanala tidak lagi dapat
melepaskan diri dari kesulitan itu, maka tiba-tiba seseorang telah
berlari- lari diatas pematang yang pendek. Dengan langkah yang r
ingan ia meloncati parit dan sejenak kemudian ia sudah berdiri di
pinggir jalan, di sebelah dar i arena perkelahian itu. “Kenapa
kalian berkelahi di sini?“ t iba-tiba saja ia bertanya
lantang.Keempat perampok itu menjadi berdebar-debar. Salah seorang
dari mereka menjawab “Jangan hiraukan yang terjadi. Kami adalah
penyamun yang sedang menyelesaikan korban kami. Jika kau ikut
campur, maka kaupun akan menjadi korban pula meskipun kalian tidak
mempunyai apa-apa” “Aku memang tidak mempunyai apa-apa” berkata
orang itu “karena aku kebetulan saja melihat perkelahian ini selagi
aku mengikut i arus air untuk mengair i sawah. Tetapi perkelahian
yang tidak seimbang ini sangat menar ik perhatianku“ “Pergilah, aku
tidak memer lukan kau” berkata salah seorang perampok itu “Atau
kalau mau nonton, nontonlah, bagaimana kami membantai korban kami
yang melawan kehendak kami. Kami tidak memer lukan kau, karena
bajupun kau tidak mempunyai” Orang itu tidak segera pergi. Bahkan
selangkah ia maju mendekat. Katanya “Sebenarnya aku tidak baru saja
datang ke tempat ini. Aku sudah melihat kau sejak senja. Duduk
diatas batu dan mengaku dir imu petani dari Sukawati. Itulah yang
menarik perhatianku” Keempat orang yang sedang berkelahi melawan Ki
Dipanala itu tanpa mereka sadari telah menghentikan serangan-
serangan mereka, meskipun mereka tetap berdiri melingkari korbannya.
Dengan bertanya-tanya di dalam hati mereka memandang orang yang
justru berjalan mendekat itu. “Aku tertarik pada pakaian dan
pengakuanmu kepada paman Dipanala” berkata orang itu kepada yang
berpakaian seperti petani dari Sukawati “semula aku menyangka,
karena aku hanya melihat dari jarak yang agak jauh bahwa kau
benar-benar petani dari Sukawati itu. Itulah sebabnya aku menunggu
sejenak dan kemudian berusaha mendekat. Tetapi ketika aku melihat
kau menyamun, maka aku memastikan bahwa kau sama sekali tidak ada
hubungan dengan petani dari Sukawati itu”“Persetan. Siapa kau?“
bentak orang yang mengaku petani dari Sukawati itu. Orang itu tidak
menjawab. Tetapi ia melangkah semakin dekat. Dalam keremangan malam,
maka semakin dekat, Ki Dipanalapun menjadi semakin jelas, siapakah
orang yang dalang itu. Meskipun ia belum begitu rapat mengenal anak
muda itu serapat Raden Juwiring, namun akhirnya ia mengenal juga.
Karena itu, maka katanya kemudian “Buntal. Bukankah kau Buntal?“ “Ya
paman. Aku tahu benar, bahwa paman sedang dalam bahaya, karena sudah
agak lama aku berada di sini, justru karena orang yang berpakaian
seperti petani dari Sukawati itu. Pakaian itu sangat menarik
perhatianku, sehingga aku mendekatinya dengan diam-diam, karena aku
masih meragukannya. Aku mulai curiga karena orang itu tidak
mengetahui kedatanganku, sehingga orang itu pasti tidak mempunyai
aji Sapta Pangrungu, atau jika bukan aj i Sapta Pangrungu maka
pendengarannya masih belum terlatih cukup baik untuk menangkap
kehadiran seseorang di sekitarnya” “Gila” potong orang itu “Kau
berada pada jarak yang terlampau jauh bagi pendengaran yang
bagaimanapun juga tajamnya” “O. Mungkin begitu. Tetapi akhirnya aku
yakin, bahwa paman Dipanala telah dicegat oleh beberapa orang
penyamun di bulak Jati Sari yang panjang ini” “Ya. Aku tidak ingkar.
Bukankah aku sudah mengatakan sejak kau datang” “Tetapi tentu tidak
mungkin bahwa aku harus begitu saja meninggalkan paman Dipanala yang
sedang menghadapi bahaya maut” “Siapa, kau sebenarnya, siapa?““Paman
Dipanala sudah menyebut namaku, Buntal. Aku tinggal bersama-sama
Raden Juwiring di padepokan Jati Aking” Sejenak para penyamun itu
termenung. Namun kemudian salah seorang berkata “Ya, bukankah nama
itu disebut-sebut juga oleh kawan kita itu?“ Yang lain
mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti bahwa orang inilah
yang dimaksud oleh Mandra, anak muda yang ada di padepokan yang
harus diperhitungkan juga. “Ya” sahut yang lain “anak ingusan ini
memang suka mencampur i urusan orang lain” lalu katanya kepada
Buntal “Buntal, aku masih memberimu kesempatan. Aku akan merampok
semua milik Ki Dipanala dan membunuhnya sekali karena sudah melawan
kehendakku sejak pertama kali aku member inya peringatan. Pergilah,
atau kalau kau mau nonton, nontonlah. Kemudian katakan kepada Raden
Juwiring, bahwa kiriman baginya sudah habis dirampok orang, sedang
Ki Dipanala sudah terbunuh di tengah jalan sebagai seorang pahlawan
yang mempertahankan tanggung jawabnya. Kau mengerti?“ “Sayang, bahwa
aku tidak dapat berbuat begitu” jawab Buntal ”Aku mengenal Ki
Dipanala dengan baik. Aku mengenal Raden Juwiring yang akan mener
ima Barang-barang itu, dan bahkan aku tentu akan mendapat bagian
pula apabila barang- barang yang akan kau rampok itu sampai ke
padepokan” “He, kau sekedar ingin mendapat bagian? Aku akan member
imu” sahut perampok itu. “Itu tidak baik. Aku akan menerima
barang-barang yang sudah bernoda darah meskipun j ika Ki Dipanala
terbunuh, tidak ada yang akan dapat mengatakan darimana aku
mendapatkannya. Tetapi pada suatu saat orang-orang dari Ranakusuman
akan mengenal barang-barang itu. Dan akuakan digantungnya pula.
Tetapi j ika aku menerimanya langsung dari Ki Dipanala, aku dapat
memakainya dengan tenang” “Diam” bentak orang yang berpakaian
seperti petani dari Sukawati “Kau mau pergi atau tidak?“ Buntal
menggeleng “Tidak” “Jika tidak, aku akan membunuhmu” “Silahkan. Aku
akan membantu Ki Dipanala. Jika aku dapat mengurangi seorang saja
dari keempat lawannya, maka paman Dipanala akan dapat bertempur
dengan baik melawan tiga orang di antara kalian” “Persetan”
tiba-tiba orang yang berpakaian petani itu menggeram “bunuh anak
ini. Serahkan Dipanala kepadaku berdua, dan kalian berdua membunuh
anak yang gila itu, supaya pekerjaan kita cepat selesai. Setelah
anak itu mati dan kau lemparkan ke dalam parit, kita bunuh Dipanala
pula” “Ya“ sahut yang lain “ mencampur i persoalan orang lain.
Orang-orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Sejenak kemudian
mereka sudah berloncatan menyerang. Yang dua orang menyerang Buntal,
dan dua yang lain menyerang Ki Dipanala. Menurut perhitungan mereka,
membunuh Buntal tidak memerlukan waktu sepanjang membunuh Ki
Dipanala. Namun baik Buntal, maupun Ki Dipanala sudah siap pula
menghadapi segala kemungkinan, sehingga karena itu, maka merekapun
masih sempat mengelakkan serangan-serangan pertama itu, dan membalas
dengan serangan-serangan yang tidak kalah cepatnya pula. Dalam pada
itu, Buntal yang t idak siap untuk bertempur, tidak membawa senjata
yang memadai untuk melawan dua buah pedang di tangan dua orang
penyamun yang garang. Yang ada padanya hanyalah sebuah parang
pembelah kayu yang dibawanya bersama sebuah cangkul ke sawah.
Danparang itulah yang kemudian dipergunakannya untuk bertempur
melawan sepasang pedang lawannya. Orang yang menyebut dirinya petani
dari Sukawati itu menyangka, bahwa dua orang kawannya akan segera
membunuh Buntal. Dengan demikian maka mereka akan segera dapat
menyelesaikan Dipanala yang sudah hampir kehabisan tenaga itu.
Meskipun ia masih tetap lincah. Tetapi melawan empat orang, ternyata
ia tidak dapat berbuat banyak. Tetapi ternyata perhitungan itu tidak
tepat. Meskipun hanya mempergunakan sebilah parang pembelah kayu,
namun anak muda yang bernama Buntal itu ternyata memiliki kemampuan
yang tinggi. Para penyamun itu tidak mengetahui, betapa tekunnya
anak muda ini berlatih. Bagaimana Buntal setiap hari berusaha
menambah kekuatan jasmaniah dan kepr igelan bermain senjata. Karena
itulah, maka melawan dua orang penyamun itu, ia tidak segera dapat
mereka kuasai. Bahkan sebaliknya. Buntal sekali-sekali berhasil
membuat lawangnya menjadi bingung. Dalam pada itu, meskipun tenaga
Ki Dipanala sudah susut, tetapi kini seakan-akan ia hanya menghadapi
separo dari lawan-lawannya yang terdahulu. Karena itu, maka iapun
masih juga sempat bernafas. Sekali-kali bahkan ia sempat menyaksikan
bagaimana Buntal dengan kekuatannya yang luar biasa kadang-kadang
berhasil mendesak lawannya. Setiap benturan senjata, membuat tangan
lawannya menjadi sakit dan pedih. Jika Buntal saat itu menggenggam
pedang yang kuat, maka ia akan segera berhasil melemparkan
senjata-senjata lawannya apabila lawan-lawannya tidak menghindari
benturan langsung dengari senjatanya. Kali ini lawan- lawannyalah
yang berusaha melepaskan senjata buntal. Mereka menyangka bahwa
parang pembelah kayu itu akan segera terlepas dari tangan anak muda
itu. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Tangan kedua orangitulah
yang menjadi pedih. Sehingga karena itu, selanjutnya mereka telah
mencoba menghindari benturan-benturan langsung dengan parang itu.
Namun Buntal sendir i menyadari, bahwa parangnya sudah mulai
pecah-pecah di bagian tajamnya, karena parang itu tidak terbuat dari
besi baja yang baik. Tetapi dengan demikian maka tajam parang Buntal
itu bahkan seakan-akan menjadi bergerigi menger ikan. Demikian
perkelahian dikedua lingkaran itu menjadi semakin seru. Ternyata Ki
Dipanala yang hanya melawan dua orang lagi itu masih juga mampu
bertahan. Bahkan kadang- kadang ia masih sempat mendesak lawannya
pula. Sekali- sekali ia berhasil menyerang dengan garangnya sehingga
hampir saja mengenai sasaran. Namun, kerja sama dari kedua lawannya
benar-benar sangat rapi, sehingga setiap kali, Ki Dipanala harus
menarik serangannya karena ia harus menghindari serangan dari
lawannya yang lain. Meskipun demikian, setelah lawannya tinggal dua
orang, perkelahian itu tidak lagi membahayakan jiwanya, jika ia
tidak membuat suatu kesalahan di dalam perlawanannya. Buntal yang
masih muda ternyata agak berbeda dengan Ki Dipanala. Bukan saja ia
memiliki kekuatan yang sangat besar, tetapi keringat yang mulai
membasahi tubuhnya, membuatnya semakin panas. Apalagi setiap kali
kedua lawannya. itu. membuat gerakan-gerakan yang dapat
membingungkannya dan bahkan kadang-kadang hampir membahayakan
kedudukannya. Itulah sebabnya maka darah mudanyapun semakin lama
menjadi semakin panas, dan akhirnya, ketika ujung pedang lawannya
menyentuh kulitnya, ia tidak lagi dapat mengekang dir inya. Ternyata
bahwa ujung pedang lawannya itu telah menitikkan darahnya di antara
titik-titik keringat. Meskipun tidak begitu dalam dan panjang,
tetapi goresan itu benar- benar telah membakar jantungnya.Meskipun
demikian ia tetap sadar, bahwa kedua lawannya mempunyai keuntungan
dengan senjata yang lebih panjang dan lebih baik daripadanya,
apalagi lawannya bertempur berpasangan Tetapi Buntal telah ber latih
tidak mengenal waktu untuk memantapkan ilmunya. Karena itu, maka
sejenak kemudian ketika ia sudah sampai pada puncak kemarahannya,
maka tandangnyapun menjadi semakin garang. Serangan- serangannya
tidak lagi terkendali. Tangannya yang terjulur tidak lagi ditariknya
jika ia melihat lawannya menyeringai. Kini tangannya bagaikan
bergerak bebas menurut kehendak sendiri, meskipun t idak lepas dari
pusat kemauannya. Demikianlah akhirnya Buntal semakin sering dapat
menguasai lawannya. Semakin lama semakin nyata, sehingga kedua
lawannya hampir tidak sempat melakukan perlawanan sebaik-baiknya
selain meloncat-loncat surut. Dalam pada itu, jika Ki Dipanala
menghendaki, kesempatan untuk melepaskan dir i kini sudah terbuka
luas. Tetapi Ki Dipanala tidak mau melakukannya lagi, karena di
antara perkelahian itu terdapat Buntal. Dengan demikian, maka iapun
telah mengambil keputusan untuk bertempur terus bersama- sama dengan
anak muda yang telah menolongnya itu. Tetapi keadaan Ki Dipanala
sudah menjadi semakin baik. Ia dapat bertahan dari serangan-serangan
kedua orang lawannya bagaimanapun juga mereka berusaha. Bahkan
sekali-sekali ia masih sempat melihat di dalam keremangan malam,
Buntal melontarkan dir i dengan kecepatan yang mengagumkan,
menyerang kedua lawannya berganti-ganti. Ternyata bahwa kedua lawan
Buntal itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Mereka benar-benar
mendapat lawan yang tidak terduga-duga. Mereka yang menyangka bahwa
untuk membunuh anak muda itu tidak diperlukan waktu yang lama,
tetapi ternyata bahwa dua orang itu justru semakin lama menjadi
semakin terdesak.Dalam pada itu, orang yang mengaku dirinya petani
dari Sukuwati itu harus mengambil langkah untuk mengatasi kesulitan
ini. Karenu itu, maka dengan tergesa-gesa ia kemudian berkata kepada
seorang kawannya yang berkelahi bersama-sama melawan Ki Dipanala
”Bantulah kedua kawan- kawanmu itu untuk mempercepat kerja mereka.
Bunuh saja anak itu tanpa belas kasihan karena ia sudah mengganggu
tugas kami. Serahkan Ki Dipanala kepadaku” Seorang kawannya itu
ragu-ragu sejenak. Namun kemudian dilepaskannya Ki Dipanala dan
iapun segera bergabung dengan kedua kawannya yang lain. Dengan
demikian maka orang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati itu
harus bertempur melawan Ki Dipanala seorang lawan seorang.
Betapapun, beratnya ia harus berusaha bertahan, meskipun hanya
sekedar berloncat- loncatan. Ia berharap bahwa tiga orang kawannya
itu akan segera dapat menyelesaikan anak muda yang bernama Buntal
itu. Namun kemarahan Buntal menjadi kian memuncak. Ia sama sekali
tidak gentar menghadapi tiga orang lawan. Bahkan seakan-akan ia
mendapat kesempatan untuk berlatih menghadapi bahaya yang
sebenarnya. Bukan sekedar latihan- latihan di dalam sebuah bangsal
yang tertutup rapat, bersama dengan orang-orang yang setiap hari
sudah diketahui tingkat ilmunya dan yang berkembang bersama-sama.
Ternyata bahwa Buntal mampu bertahan melawan ketiga orang itu.
Bahkan ketika ia mengerahkan segenap kemampuannya, masih tampak
bahwa ia kadang-kadang memiliki kesempatan untuk menguasai
perkelahian itu meskipun dengan susah payah, karena
lawan-lawannyapun telah memeras segenap kemampuan mereka untuk
segera menghentikan perkelahian. Tetapi agaknya kedua belah pihak
tidak segera berhasil. Kedua belah pihak seakan-akan memiliki
kesempatan yang seimbang.Tetapi petani yang menyebut dir inya
berasal dari Sukawati itulah yang kemudian mengalami, kesulitan
karena ia harus melawan Ki Dipanala seorang diri. Meskipun Ki
Dipanala seorang diri. Meskipun Ki Dipanala sudah menjadi semakin
tua, tetapi bahwa ia bekas seorang prajurit yang memiliki kemampuan
yang tinggi masih tampak pada sikap dan tata geraknya. Apalagi
agaknya Ki Dipanala tidak mau melepaskan peluang itu, selagi la
mendapat kesempatan. Karena itulah maka ia justru berusaha segera
mengalahkan lawannya, sebelum ketiga orang penyamun yang lain dapat
mengalahkan Buntal. Tetapi baik yang berkelahi melawan Ki Dipanala,
maupun yang bertempur bertiga melawan Buntal, sama sekali tidak ada
tanda-tanda bahwa mereka akan dapat memenangkan perkelahian itu.
Itulah sebabnya penyamun yang menyebut dirinya petani dari Sukawati
itu harus menyadari keadaannya. Ia tidak boleh mengingkar i
kenyataan itu. Bahwa pada suatu saat, maka dirinya pasti akan
dikalahkan oleh Ki Dipanala. Kemudian ketiga kawannya itupun seorang
demi seorang akan berjatuhan. “Tentu tidak menyenangkan digantung di
alun-alun karena aku telah menyamun utusan Pangeran Ranakusuma”
berkata penyamun itu di dalam hatinya “dan terlampau sulit bagiku
untuk mengkaitkan dir iku dengan Raden Rudira. Dengan mudah ia akan
dapat ingkar, dan justru menuduhku telah memfitnahnya“ Berbagai
pertimbangan di kepala penyamun itu, agaknya telah mendorongnya
untuk mengambil suatu sikap. Daripada ia harus mengalami siksaan
untuk mengaku siapakah yang telah memerintahkannya, jika tidak, dari
siapa ia mengetahui bahwa Dipanala membawa Barang-barang berharga,
dan kemudian digantung di alun-alun, maka lebih baik bagi mereka
untuk melarikan diri. Kemungkinan itulah satu-satunya yangdapat
ditempuh dalam, keadaan seperti ini, selagi kekuatan mereka masih
utuh, sehingga sambil melar ikan dr i, mereka masih dapat melawan
sejauh-jauh dapat dilakukan apabila kedua lawannya mengejarnya.
Akhirnya, penyamun yang berpakaian seperti seorang petani itu
mengambil keputusan, bahwa mereka harus lari. Karena itu, maka iapun
segera memberikan isyarat, dengan sebuah suitan yang nyaring, agar
kawan-kawannya melepaskan lawannya. Demikianlah, maka seperti
berebut dahulu, para penyamun yang tidak dapat mengingkar i
kenyataan itu berloncatan menjauhi lawannya, dan kemudian
bersama-sama melarikan diri meninggalkan calon korbannya yang gagal.
Tetapi ternyata bahwa Buntal tidak melepaskan mereka begitu saja.
Dengan serta merta ia meloncat dan menerkam salah seorang penyamun
itu, yang justru baru saja melepaskan Ki Dipanala dan berlari tidak
jauh dar i Buntal menyusul kawan-kawannya. Sejenak mereka
berguling-guling. Namun Buntal tidak mau melepaskannya. Dengan
sekuat tenaganya, penyamun yang mengaku dirinya sebagai petani dari
Sukawati itu mencoba melepaskan diri. Tetapi kejutan-kejutan yang
tiba-tiba, dan yang karena itu telah membantingnya ke tanah, telah
melepaskan senjatanya dari tangannya. Karena itu yang dapat
dilakukannya adalah melawan Buntal dengan tangannya. Tetapi
Buntalpun cukup tangkas. Sebuah pukulan mengenai tengkuk orang itu,
sehingga pandangan matanyapun kemudian menjadi berkunang-kunang.
Hampir saja ia menjadi pingsan. Namun dengan demikian, maka
kekuatannyapun bagaikan lenyap sama sekali. Selagi ia bertahan agar
matanya tidak menjadi gelap sama sekali, Buntal telah berhasil
memilintangannya ke punggungnya dan menekan tubuhnya pada tanah
berbatu-batu. Dalam pada itu, kawan-kawannya yang sedang berlari
sejenak berhenti termangu-mangu. Tetapi mereka melihat Ki Dipanala
telah siap untuk melawan mereka. Apa lagi ketika mereka melihat
kawannya itu sama sekali tidak berdaya. Karena itulah maka mereka
menganggap bahwa lebih baik lari menyelamatkan dir i daripada ikut
tertangkap seperti kawannya yang seorang itu. Ki Dipanala yang
sebenarnya sudah cukup payah tidak mengejar ketiga penyamun yang
sedang berlari. Baginya cukup seorang saja yang dapat ditangkap.
Yang seorang ini pasti akan dapat member ikan banyak, keterangan.
Bahkan dari yang seorang ini pasti akan diketahui dimana
persembunyian ketiga kawan-kawannya itu. Karena itu, ketika Ki
Dipanala melihat Buntal memilin tangan orang itu sehingga orang itu
menyeringai kesakitan iapun segera mendekatinya. “Jangan, jangan kau
patahkan tanganku“ Orang itu hampir berteriak. “Kau harus dibunuh
karena kau sudah berniat membunuh paman Dipanala” “Tidak. Aku tidak
benar-benar akan membunuhnya. Aku hanya akan merampas
Barang-barangnya” “Aku tidak percaya. Kau sudah siap membunuhnya.
Karena itu, kaupun harus mati. Buntal yang marah itupun segera menar
ik rambut orang yang sudah tidak berdaya itu. Sekali ia membenturkan
kepala orang itu pada batu yang berserakkan di sepanjang jalan.
“Jangan“ Orang berteriak. “Jangan” terdengar suara Ki Dipanala di
belakang Buntal.“Aku akan membunuhnya” berkata Buntal ”Aku akan
membunuh dengan tanganku” “Kau tidak dapat membunuhnya. Orang ini
harus diserahkan kepada wewenang yang akan mengadilinya. Kita tidak
dapat menghukumnya sendir i” “Tetapi ia adalah seorang penyamun
paman. Ia akan membunuh kita j ika kita t idak membunuhnya” “Ia
tidak berhasil membunuh kita” “Kita membela diri” “Kita sudah
menangkapnya. Ia sudah tidak akan dapat melawan lagi” “Tidak ada
orang yang tahu, apa yang telah terjadi sebenarnya” “Kita
masing-masing mengetahuinya” Buntal menarik nafas dalam-dalam.
Sekilas terbayang saat dirinya sendiri terbaring di jalan ini pula.
Di buIak Jati Sari, pada saat ia diketemukan oleh Juwir ing dan Kiai
Danatirta. Orang-orang hampir saja membunuhnya pula karena ia
disangka berbuat jahat atas Arum. Padahal ia tidak berbuat apa-apa
pada waktu itu. Sedang orang ini adalah seorang penyamun. Namun ia
masih mendengar Ki Dipanala berkata “Kita harus dapat menguasai dir
i kita sendir i. Sebagai seorang yang berperi-kemanusiaan, kita
wajib menghidupinya. Selain itu kita masih mempunyai kepentingan
dengan orang ini. Ia adalah sumber keterangan yang dapat kita
pergunakan untuk mencari jejak perampokan ini” Buntal
mengangguk-angguk. Perlahan-lahan dilepaskannya orang yang sudah
tidak berdaya itu. Ketika Buntal sudah berdir i, maka Ki Dipanalapun
berkata kepada penyamun itu “Berdirilah. Aku memerlukan kau”Dengan
tubuh gemetar orang itupun merangkak. Dari dahinya masih mengalir
darah yang hangat, meskipun tidak begitu banyak. Buntalpun kemudian
memungut pedang orang itu dan parangnya sendiri. Ia masih memer
lukan parang itu untuk membelah kayu di padepokan atau untuk
kepentingan yang serupa di sawah. “Cepat berdiri” berkata Ki
Dipanala “Kita akan meneruskan perjalanan ini ke Jati Aking. Kau
akan tinggal semalam di sana. Besok kau akan aku bawa ke Surakarta,
dan aku serahkan kepada yang berwenang mengadilimu. Tetapi
sebelumnya aku ingin tahu, siapa kau dan siapakah yang menunjukkan
kepadamu tentang Barang-barang dan uang yang aku bawa” Orang itu
sama sekali tidak menyahut. Dengan lengan bajunya ia mengusap darah
yang meleleh didahinya. “Cepat. Kita akan segera meneruskan
perjalanan Jati Aking sudah dekat” Tertatih-tatih orang itu berdiri.
Badannya masih terasa lesu dan lemah. Tangannya terasa sakit bukan
buatan karena Buntal benar-benar hampir mematahkannya. “Kita
berjalan” berkata Ki Dipanala “Kita tidak akan berbicara di sini
tetapi di Jati Aking” Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun Buntal
mendorongnya sambil berkata “Cepat, sebelum aku mendorongmu dengan
ujung pedang Berterima kasihlah bahwa kau masih tetap hidup”
“Tetapi, tetapi aku tidak tahu apa-apa. “Jangan berkata sekarang.
Kita akan berbicara di padepokan Jati Aking”.Orang itu terdiam.
Ketika ujung pedangnya sendiri yang kini berada di tangan Buntal
menyentuh punggungnya, maka iapun. berjalan dengan langkah yang
sangat berat. “Ambil tudung kepalamu” berkata Buntal, kemudian
“supaya lengkap pakaianmu. Pakaian petani dar i Sukawati” “Bukan
maksudku” sahut orang itu gemetar “Aku hanya, ingin menakut-nakuti
Ki Dipanala” “Ambillah“ Orang itupun segera membungkuk mengambil
tudung kepalanya yang terjatuh di tengah-tengah jalan. Adalah di
luar dugaan siapapun, bahwa sesuatu yang mengejutkan telah terjadi.
Ketika orang yang membungkukkan badannya mengambil tudung kepalanya
itu berdir i tegak, maka tiba- tiba saja ia memekik tinggi. Sejenak
tubuhnya terhuyung- huyung, sehingga Buntal dengan serta-merta
menangkapnya. “Kenapa?“ bertanya Ki Dipanala. Orang itu mengerang
sekali. Namun kemudian tubuhnya menjadi tidak berdaya. “Panah ini
paman. Panah” “He?” Dan keduanya dengan mata terbelalak melihat
sebuah anak panah menancap tepat di dada orang itu.“Gila” teriak Ki
Dipanala. Buntal tidak berkata apapun juga. Diletakkannya orang itu,
kemudian iapun meloncat ber lari ke arah anak panah itu dilepaskan.
“Buntal, Buntal, jangan” teriak Ki Dipanala “berbahaya bagimu”
Tetapi Buntal tidak menghiraukannya. Ia belari terus sambil
berloncatan di tanggul parit, untuk menghindari bidikan anak panah
atas dirinya. Tetapi terlambat. Sebelum Buntar menemukan seseorang
di dalam kegelapan, ia melihat dua sosok bayangan di kejauhan
menghilang ke dalam gerumbul. Ia masih akan mengejar terus. Namun
sejenak kemudian derap dua ekor kuda yang meluncur dari balik
gerumbul itu telah memecah sepinya malam. “Gila. Gila” teriak Buntal
seorang dir i. Di saat ia dapat mengerti betapa pentingnya orang
yang ditangkapnya itu bagi keterangan seterusnya, maka seseorang
telah membunuhnya dengan licik sekali. Sambil mengumpat-umpat Buntal
berlar i-lari kembali mendapatkan orang yang telah terbaring di
tanah. Diam. Meskipun masih terdengar nafasnya satu-satu, tetapi
orang itu hampir sudah tidak memiliki kesadaran akan dir inya lagi.
Sambil menempelkan mulutnya di telinga orang itu Ki Dipanala berkata
“Sebutkan, siapakah yang telah menyuruhmu mencegat aku. Tentu orang
yang membunuhmu itu. Aku berjanji akan mencarinya dan membalas
dendam bagimu” Yang terdengar hanyalah desah nafas yang semakin
lambat dan tidak teratur.“Apakah kau masih dapat mendengar suaraku”
desak Ki Dipanala “sebut saja namanya. Aku akan berbuat sesuatu
untukmu dan untuk dir iku sendir i” Orang itu mencoba menggerakkan
bibirnya. Tetapi ia hanya mampu menyeringai dan berdesah. Kemudian
sebuah tarikan nafas yang panjang. Sesaat kemudian maka orang itupun
telah melepaskan nafasnya yang terakhir. “Ia sudah mati” desis Ki
Dipanala. Buntal menggeretakkan giginya. Bukan saja ia ikut merasa
kehilangan kemungkinan untuk mengetahui siapakah orang ini
sebenarnya, tetapi ia juga merasa tersinggung oleh perbuatan
pengecut itu. Dengan wajah yang tegang Buntal menyaksikan Ki
Dipanala menarik anak panah dari tubuh orang itu, dan kemudian
memperhatikannya dengan saksama. Tetapi di dalam gelapnya malam ia
tidak dapat menemukan. sesuatu pada anak panah itu. Karena itu maka
katanya ”Aku akan membawa anak panah ini” Buntal mengerutkan
keningnya. Ia tidak begitu memperhatikan anak panah itu, karena
perhatiannya tiba-tiba saja tertarik kepada kuda Ki Dipanala yang
justru sedang mengunyah rumput yang segar. Tetapi niatnya meminjam
kuda itu untuk mengejar orang- orang yang lelah membunuh penyamun
itu dengan licik diurungkannya karena ia menyadari bahwa pada kuda
itu tersangkut Barang-barang yang bernilai dan uang. Buntal
tersandar ketika Ki Dipanala memanggilnya dan berkata “Marilah kita
bawa orang ini ke padepokanmu“ “Baik, baik paman” “Marilah Kita
sangkutkan saja tubuhnya pada kuda itu. Kita akan melaporkannya
besok kepada Ki Demang di Jati Sari, agar ada kesaksian atas
peristiwa yang baru saja terjadi“Demikianlah mayat orang itupun
kemudian disangkutkannya pada Kuda Ki Dipanala, setelah Barang-
barang yang akan diserahkan kepada orang-orang di Padepokan Jati
Aking disisihkan, agar tidak bernoda darah. Di dalam keremangan
malam, Ki Dipanala dan Buntal berjalan menuntun kuda yang membawa
mayat penyamun yang terbunuh itu. Beribu-ribu pertanyaan bergulat di
dalam hati mereka. Dan adalah tiba-tiba saja Buntal itu bertanya
“Siapakah orang yang membunuh penyamun ini paman? Apakah ia ingin
menolong kita, atau sebaliknya?“ “Sebaliknya Buntal” jawab Ki
Dipanala “Orang itu pasti berhubungan rapat dengan penyamun ini.
Bahkan menurut dugaanku, orang itulah yang telah menyuruh penyamun
ini merampok dan membunuhku” “Jika demikian, kenapa ia tidak
membunuh paman saja dengan anak panahnya?“ “Mungkin aku berdir i di
balik orang yang terbunuh itu, sehingga seolah-olah aku telah
dilindunginya tanpa sengaja. Tetapi mungkin atas dasar perhitungan
yang lain. Jika ia membunuh aku, maka kau akan dapat bertindak
cepat. Menyingkirkan orang itu dan berusaha mendapatkan orang yang
telah melepaskan anak panah itu” “Orang itu dapat menyerang aku
selagi aku menghindari panah dari kawan mereka” “Kau dapat
melumpuhkannya dengan cepat, tanpa membunuhnya dan melemparkannya ke
dalam parit atau di balik pematang. Dan orang yang bersembunyi itu
tentu tidak yakin, apakah ia dapat membunuhmu, karena ia melihat
bagaimana kau dengan tangkas berhasil melawan penyamun- penyamun
itu” sahut Ki Dipanala, lalu “Atau atas perhitungan yang lain lagi,
aku t idak tahu. Tetapi yang paling pasti bagi mereka untuk
menghilangkan jejak percobaan pembunuhanini adalah membunuh orang
yang dapat menjadi sumber keterangan” Buntal mengangguk-anggukkan
kepalanya. Sejenak ia merenungi kata-kata Ki Dipanala itu. Namun
tiba-tiba langkah mereka tertegun ketika dari arah yang berlawanan
mereka melihat sebuah bayangan hitam mendekat. Semakin lama semakin
dekat. Namun agaknya bayangan ilupun menjadi ragu-ragu. Langkahnya
diperlambat dan sikapnya menjadi sangat berhati- hati. “Siapa?“
Buntallah yang bertanya pertama-tama. “Buntalkah itu?“ terdengar
orang itu justru bertanya. “Ya, aku” “Aku mengenal suaramu” “Kakang
Juwir ing. Aku juga mengenal suaramu. Aku datang bersama paman
Dipanala” “O“ bayangan yang ternyata adalah Raden Juwiring itupun
kemudian menjadi semakin dekat, lalu “Kami di padepokan menjadi
cemas karena kau terlalu lambat pulang. Ternyata kau bertemu dengan
paman Dipanala di bulak Jati Sari” “Ya” sahut Buntal. Namun ketika
Juwir ing menjadi kian dekat, maka dilihatnya sesosok tubuh yang
tersangkut di kuda Ki Dipanala, sehingga dengan serta-merta ia
bertanya “Siapakah itu paman Dipanala?“ Ki Dipanala menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Ceriteranya cukup panjang Raden. Tetapi pada
pokoknya, ada usaha untuk membunuhku” “Dan paman membunuhnya lebih
dahulu?“Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Bukan aku
yang membunuhnya dan bukan Buntal” “Jadi?” Sebelum Ki Dipanala
menjawab, Juwiring berseru dengan tegang “Petani itu?“ “Bukan” sahut
Juwiring “Bukan petani itu. Justru ia berpakaian mirip sekali”
Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Lalu “Baiklah. Aku akan bertanya
lebih banyak lagi di padepokan. Tadi ayah Danatirta menjadi sangat
cemas, kenapa Buntal terlambat sekali kembali ke padepokan dari
sawah. Ternyata ada sesuatu yang telah terjadi” Demikianlah maka
merekapun berjalan semakin cepat kembali ke padepokan Jati Aking.
Untunglah bahwa di sepanjang jalan mereka tidak bertemu lagi dengan
seseorang. Bahkan ketika mereka memilih jalan sempit di padukuhan
sebelum mereka sampai ke padepokan Jati Aking, mereka juga tidak
menjumpai seorangpun. Apalagi dengan sengaja mereka menghindari
jalan yang di tunggui oleh para peronda di gardu-gardu. Ketika
mereka sampai di padepokan, ternyata bahwa sosok mayat itu telah
mengejutkan penghuni-penghuninya. Arum yang masih juga duduk di
pendapa bersama ayahnya menunggu kedatangan Buntal dan Juwir ing.
menjadi termangu-mangu. “Aku telah mengejutkan kakang Danatirta”
berkata Ki Dipanala. “Ya. Aku terkejut sekali. Tetapi mar ilah,
naiklah” Setelah mengikat kendali kudanya, maka Ki Dipanalapun
segera naik ke pendapa. Sekali-sekali ia masih berpaling memandang
mayat yang tersangkut di punggung kudanya. Namun ia masih juga
membiarkannya.”Kau benar-benar mengejutkan. aku. Siapakah yang kau
bawa diatas punggung kuda itu?“ “Kita harus melaporkannya kepada Ki
Demang, kakang. Agar ada kesaksian, bahwa aku tidak membunuh orang”
Ki Danatirta mengangguk-angguk. Katanya “Tetapi kau belum mengatakan
kepadaku, siapakah orang itu. Dan dimana kau berjumpa dengan Buntal
dan Juwiring” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Raden
Juwiring juga ingin mendengar tentang orang itu. Aku belum
mengatakan kepadanya. Tetapi Buntal mengetahui sendir i, apa yang
sudah terjadi di bulak Jati Sar i” Kiai Danatirta memandang Juwir
ing dan Buntal berganti- ganti. Namun kemudian kalanya kepada Ki
Dipanala “Katakanlah” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian iapun mulai mer iceriterakan apa yang dialaminya di bulak
Jati Sari yang panjang itu. Kiai Danalirla, Arum dan Juwiring
mendengarkan dengan penuh perhatian. Bahkan sekali-kali mereka
mengangguk- angguk, dan kadang-kadang menggeleng-gelengkan kepalanya
“Aku memang hampir mati” berkata Ki Dipanala. Lalu “Untunglah Buntal
berhasil menolongku. Aku belum sempal mengucapkan terima kasih
kepadanya” “Aku hanya sekedar membantu” berkata Buntal “Paman
sendirilah yang sebenarnya telah menyelamatkan dir i sendir i”
Seakan-akan tidak mendengar kata-kata Buntal, Ki Dipanala berkata
selanjutnya “Aku ikut berbangga, bahwa anak padepokan Jati Aking
memiliki ketangkasan jasmaniah seperti Buntal, dan sudah barang
tentu Raden Juwiring” Mereka melatih dir i mereka sendir i sahut
Kiai Danatirta.Ki Dipanala tidak membantah, tetapi senyum di
bibirnya melantarkan suatu sikap hatinya terhadap anak-anak muda
yang berada di padepokan Jati Aking. Namun kemudian terdengar Kiai
Danatirta bertanya “Jadi kau sama sekali tidak mengetahui, siapakah
yang sudah melepaskan anak panah itu?“ Dengan ragu-ragu Ki Dipanala
menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak kakang” “Apakah peristiwa
ini didahului dengan kejadian-kejadian yang dapat menarik suatu
dugaan tentang peristiwa itu?“ Sekali lagi Ki Dipanala menggelengkan
kepalanya. Jawabnya “Juga tidak” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan
kepalanya. Desisnya “Jika demikian persoalan ini akan tetap menjadi
gelap. Apakah kau tidak mempunyai bahan sama sekali untuk mengurai
peristiwa ini?” Ki Dipanala masih menggelengkan kepalanya. “Tidak
kakang. Tidak ada apa-apa yang dapat aku pergunakan sebagai bahan”
katanya kemudian. “Baiklah” berkata Kiai Danatirta “besok kita akan
memperhatikan tempat itu. Mungkin kita dapat menemukan sesuatu” ia
berhenti sejenak, lalu “sekarang, bagaimana dengan mayat itu?“ “Aku
akan membawanya kepada Ki Demang agar aku tidak mendapat tuduhan
yang bukan-bukan” sahut Ki Dipanala. “Baiklah. Buntal akan
menyertaimu” “Aku akan ikur serta dengan paman Dipanala” berkata
Raden Juwiring.Kiai Danatirta berpikir sejenak. Kemudian jawabnya
“Pergilah. Kalian dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi”
Demikianlah maka mereka bertigapun segera pergi ke Kademangan
meskipun malam menjadi semakin malam. Mereka tidak ingin terlambat
apabila kemudian timbul persoalan karena kematian penyamun itu.
Barulah ketika Ki Demang di Jati Sari mengerti akan persoalan yang
sebenarnya terjadi, Ki Dipanala dapat bernafas lega, seakan-akan ia
telah terbebas dari kemungkinan yang dapat menyeretnya ke dalam
kesulitan. “Biar lah anak-anak meletakkan mayat itu di banjar”
berkata Ki Demang kemudian “besok mereka akan menguburnya” “Baiklah
Ki Demang. Aku mengucapkan terima kasih atas pengertian Ki Demang
tentang peristiwa ini” Demikianlah, maka mayat itupun kemudian
diusung oleh anak-anak muda yang sedang meronda ke banjar Kademangan
untuk mendapat perawatan sebagaimana seharusnya besok pagi. Dalam
pada itu, Ki Dipanala bersama Juwir ing dan Buntalpun segera kembali
ke Padepokan. Setelah mereka membersihkan dir i masing-masing, maka
merekapun duduk kembali di pendapa. Tetapi Ki Dipanala tidak
menambah keterangannya mengenai orang yang terbunuh itu. “Orang itu
akan tetap merupakan suatu teka-teki Ki Dipanala” berkata Kiai
Danatirta “Ia sudah membawa rahasia tentang dirinya ke dalam kubur”
Ki Dipanala hanya mengangguk-angguk saja. Namun ketika tiba-tiba ia
teringat akan Barang-barang dan uang yang dibawanya, maka iapun
segera berkata “Aku akan menyerahkan Barang-barang itu kepada kakang
Danatirtasekarang. Barang-barang itu membuat dir iku diintai oleh
bahaya maut” “Aku mengucapkan banyak terima kasih” berkata Kiai
Danatirta. Ki Dipanala t idak menyahut. Iapun segera pergi ke
kudanya dan mengambil Barang- barangnya serta uang di dalam kampil
yang tersangkut di lambung kudanya pula. ”Bukan main” berkata Kiai
Danatirta “pemberian Pangeran Ranakusuma bagi Juwir ing dan keluarga
padepokan ini terlampau banyak sekali ini. Ditambah lagi dengan uang
dan kain untuk Arum” Raden Juwiring mengerutkan keningnya melihat
Barang- barang itu. Ia belum pernah menerima kiriman sebanyak itu.
Namun sejenak kemudian ia tersenyum “Kita akan mengucapkan terima
kasih kepada ayahanda Pangeran Ranakusuma dan ibunda Galihwarit” Ki
Dipanala tersenyum. Jawabnya “Aku. akan menyampaikannya bersama
laporan tentang dir iku sendir i” Demikianlah pemberian itu bukan
hanya, untuk Juwiring saja, tetapi keluarga padepokan Jati Aking itu
mendapat bagiannya masing-masing. Namun demikian hal itu ternyata
justru telah menimbulkan berbagai pertanyaan di hati Kiai Danatirta
meskipun tidak diucapkannya. Sekali-sekali dipandanginya wajah Ki
Dipanalayang seolah-olah di saput oleh mendung yang membayangi
sebuah rahasia. Tetapi Kiai Danatirta tidak bertanya apapun. Bahkan
dengan sebuah senyum di bibir ia berkata “Nah anak- anak, bawalah
pemberian yang banyak sekali ini ke dalam. Simpanlah baik-baik dan.
kita akan mempergunakan dengan baik pula” “Baiklah” sahut Raden
Juwiring. Lalu diajaknya Buntal dan Arum membawa Barang-barang itu
masuk ke dalam. “Tetapi uang ini?“ bertanya Juwiring kepada Kiai
Danatirta. “Bawalah masuk. Simpanlah. Kita akan memer lukannya”
Ketiga anak muda itupun segera masuk ke dalam. Disimpannya
Barang-barang itu dengan baik. Namun sekali-sekali Arum masih juga
melekatkan kain di badannya sambil berkata “Bagus sekali. Aku kira
aku pantas mempergunakan kain ini” “Pantas sekali” berkata Juwiring
“kau akan bertambah cantik” “Ah“ wajah Arum menjadi kemerah-merahan.
Diletakkannya kain itu sambil berkata “Terlalu baik. Aku tidak
pantas memakainya” “Kenapa?“ bertanya Juwiring “Ayahanda dan ibunda
Galihwar it menghadiahkannya kepadamu” Arum tidak menjawab. Tetapi
sekali lagi kain itu diraihnya dan dibentangkannya diatas amben
sambil tersenyum- senyum. Buntal yang duduk di sudut ruangan merasa
seakan-akan ia dihadapkan pada sebuah cermin untuk melihat dir inya
sendiri. Tidak ada seorangpun yang mengirimkan apapun kepadanya
seperti Juwiring. Tidak ada sanak keluarganya yang memiliki sesuatu
untuk diberikannya kepada Arum. Apalagi kain sebagus itu, dan
sebenarnyalah akan membuat Arum semakincantik. Bahkan untuk dianya
sendiri, ia kini menggantungkan sama sekali kepada pemberian Kiai
Danatirta. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa dirinya
menjadi semakin kecil disisi Juwir ing. Juwir ing putera seorang
Pangeran yang kaya. Meskipun ia tersisih, tetapi ayahnya masih juga
mumber ikan barang-barang sejumlah itu. Ia tidak dapat membayangkan,
berapa nilai barang-barang itu. Apalagi Pangeran Ranakusuma masih
juga menyertakan uang di dalam kampil untuk Kiai Danutirta. Buntal
terkejut ketika Juwiring berkata “He Buntal, kau dapat memilih.
Manakah yang paling sesuai bagimu?“ Anak muda itu memaksa bibirnya
untuk tersenyum. Katanya “Aku sesuai dengan semuanya itu” Juwiring
tertawa pendek. Lalu “Kita akan memilih sendri mana yang kita sukai
dari kiriman-kiriman ini” ia berhenti sejenak, lalu ”dan yang paling
berhak memilih lebih dahulu adalah Buntal, selain yang memang khusus
untuk Arum, karena Barang-barang ini hampir saja lenyap dibawa
penyamun. Bukan saja Barang-barang ini, tetapi bahkan jiwa paman
Dipanala sendir i“ “Ya” sahut Arum “tanpa kau kakang Buntal, maka
kita tidak akan melihat paman Dipanala membawa barang-barang ini
sampai ke padepokan” “Ah“ Buntal berdesah “hanya suatu kebetulan”
“Bukan suatu kebetulan saja. Jika kau tidak tertarik kepada orang
yang berpakaian petani, itu, maka yang terjadi akan berbeda sekali”
Buntal tidak menyahut. “Nah pilihlah. Kemudian aku akan memilih pula
setelah Kiai Danatirta dan tentu saja kita tidak akan dapat
melupakan paman Dipanala. Hidupnya sendiri tidak begitu baik.
Iamenerima upah yang sangat sedikit dari ayahanda. Tetapi ia adalah
orang yang setia” Dalam pada itu, selagi anak-anak muda di dalam
sedang sibuk membicarakan Ki Dipanala, di pendapa, Kiai Danatirta
mulai bertanya bersungguh-sungguh “Dipanala. Apakah kau benar-benar
tidak dapat menduga, siapakah yang sudah melakukannya dan apakah kau
tidak mendapatkan tanda apapun dalamperkelahian itu?“ Ki Dipanala
memandang pintu yang sudah tertutup. Kemudian ia berkata lambat
“Mungkin aku dapat menduga kakang. Tetapi sekedar menduga. Jika
dugaanku salah, maka aku sudah berdosa menuduh orang yang tidak
bersalah” “Tetapi bukankah kau belum berbuat apa-apa” sahut Kiai
Danatirta “Kita baru menduga. Tentu saja dugaan kita mungkin keliru”
Ki Dipanala itupun tiba-tiba berdir i. Katanya “Aku membawa anak
panah yang menghunjam di dada orang yang terbunuh itu” Kiai
Danatirta mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menyahut Ki
Dipanala sudah melangkah turun dari pendapa. Dari pelana yang
dilepasnya dari punggung kudanya, ia mengambil sepucuk anak panah
dan dibawanya naik ke pendapa. Ia berhenti sejenak di bawah nyala
pelita. Sambil mengerutkan keningnya ia mengamat-amatinya dengan
saksama. “Kau mengenalnya?“ bertanya Kiai Danatirta. Ki Dipanalapun
kemudian duduk kembali di hadapan Kiai Danatirta. Keningnya masih
berkerut-merut Sedang tatapan matanya menjadi agak tegang,
“Bagaimana?”Kiai Danatirta mendesak.“Kakang. ada semacam perasaan
takut padaku untuk menerima kenyataan ini. Aku memang sudah
mencurigainya. Pemberian Pangeran Ranakusuma yang berlebih-lebihan
dan caranya melepaskan aku pergi ketika aku berangkat” “Jadi
bagaimana?“ “Semula aku tidak memikirkannya, bahwa Raden Ayu
Galihwar it berusaha memperlambat keberangkatanku. Ada- ada saja
alasannya, sehingga aku akhirnya berangkat sesudah lewat tengah
hari, bahkan sudah sore hari. Dengan demikan menurut perhitungan
mereka, aku akan sampai di bulak Jati Sari setelah gelap” Kiai
Danatirta mengangguk-angguk ketika Ki Dipanala mencer iterakan
kembali, bagaimana sikap Raden Ayu Galihwar it sebelum ia berangkat.
“Dan anak panah itu?” Ki Dinanala menar ik nafas dalam-dalam. Sekali
lagi ia mengamat-amati anak panah yang bernoda darah itu. “Ada
seribu anak panah yang mirip bentuknya” berkata Ki Dipanala. “Ya”
sahut Kiai Danatirta “barangkali kau tidak akan dapat mengenal anak
panah sebuah demi sebuah. Tetapi apakah sepintas lalu, kau pernah
melihat anak panah seperti itu?“ Ki Dipanala menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Mungkin belum. Tetapi aku sudah dipengaruhi
oleh peristiwa yang terjadi sebelumnya, sehingga karena itu, aku
merasa seakan- akan aku mengenal anak panah ini” Kiai Danatirta
mengerutkan keningnya. Katanya “Ya, kau memang takut melihat
kenyataan. Kau kecewa sekali bahwa hal semacam itu sudah terjadi
atasmu, sehingga kau berusaha untuk mengaburkan penglihatanmu atas
kenyataan itu. Ternyata kau masih seorang yang setia terhadap
Pangeran Ranakusuma. meskipun ada semacam persoalan yangbergejolak
di dalam hatimu. Tetapi kesetiaanmu ternyata berbeda dengan
kesetiaan Sura pada waktu itu dan mungkin Mandra pada waktu ini. Kau
adalah seorang yang benar-benar setia. Bukan sekedar menjilat dan
menundukkan kepala dalam-dalam. Tetapi kau berani menyebut kesalahan
dan kecurangan keluarga istana Ranakusuman justru karena kesetiaanmu
itu. Tetapi tidak banyak orang yang mengerti, bahwa demikianlah
adanya. Justru karena itulah, maka kau menjadi orang yang paling
dibenci di Ranakusuman” “Mungkin kakang benar. Aku memang cemas dan
bahkan takut melihat perkembangan yang terjadi di istana
Ranakusuman. Mungkin aku memang orang yang setia, yang ingin
memperingatkan dengan niat baik. Kadang-kadang aku mencoba mencegah
dan bahkan aku menghalang-halangi” “Kenapa mereka tidak mengusir kau
saja daripada mereka harus bertindak kasar dan licik semacam itu?
Meskipun kau belum mengatakan, tetapi aku sudah menduga, apa yang
ada di dalam hatimu. Yang menakut-nakutimu dan yang membual kau
menghindari penglihatanmu atas kenyataan itu” Ki Dipanala tidak
menyahut. “Ki Dipanala, apakah anak panah itu. anak panah Raden
Rudira?“ Ki Dipanala tidak segera menyahut. Wajahnya menjadi
kemerah-merahan. Sesuatu agaknya sedang bergejolak di dalam hatinya.
Sejenak kemudian terdengar suaranya parau “Aku tidak tahu kakang.
Aku tidak tahu” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya “Kali ini kau tidak usah mengingkari kata hatimu Dipanala.
Kau sudah berada di ujung tanduk seekor kerbau liar yang dungu. Kau
harus melihat kenyataan itu dengan dada terbuka” Ki Dipanala tidak
segera menjawab.“Menurut urutan ceriteramu Dipanala, ternyata bahwa
orang orang di istana Ranakusuman, Setidak-tidaknya sebagian dari
mereka memang berusaha membunuhmu. Kau tidak disukai di Ranakusuman,
tetapi mereka tidak dapat mengusirmu. Dan kau juga tidak dapat
meninggalkan mereka seperti Sura, karena kau bukan sekedar penjilat
yang akan lari jika tidak ada lagi tulang-tulang yang dilemparkan
kepadanya. Kau adalah seorang yang sadar akan dir i dan harga
dirimu” Kiai Danatirta berhenti sejenak! lalu “Namun demikian kaupun
harus melihat kenyataan yang dapat terjadi” Ki Dipanala menjadi
tegang sejenak. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil.
“Dipanala. Sebenarnya kau dan aku sependapat. Setidak- tidaknya kita
menduga, benar atau salah, bahwa ada yang dengan sengaja
menjerumuskan kau ke dalam suatu perangkap pembunuhan. Salah atau
benar, kita sama-sama menduga bahwa yang berusaha menutup mulut
penyamun itu untuk selama-lamanya adalah orang-orang Ranakusuman.
Karena kita tahu, bahwa Raden Rudira adalah seorang pemburu yang
cakap, maka ia akan dapat membidik dengan tepat meskipun di malamhar
i” Kepala Ki Dipanala menjadi semakin tunduk. Kata-kata Kiai
Danatirta itu bagaikan guruh yang melingkar-lingkar di kepalanya.
Namun ia tidak dapat lari dari suara itu, karena di dalam hatinya
suara itupun telah berkumandang sebelum Kiai Danatirta
mengucapkannya. "Bagaimana menuruti pendapatmu Dipanala?“ "Ki
Dipanala masih terdiamsejenak. “Apakah kau tidak berani melihat hal
itu?“ Ki Dipanala menarik nafas dalam sekali. Katanya “Aku memang
takut melihatnya. Tetapi aku tidak dapat lari dari pengakuan itu”
“Kau sependapat?“Ki Dipanala menganggukkan kepalanya ”Ya kakang”
“Nah, jika kau sependapat, maka kita akan dapat melhat lebih jauh
lagi. Kenapa di saat kau dijerumuskan ke dalam tangan para penyamun
justru kau harus membawa Barang- barang yang cukup banyak beserta
uang sekampil?“ Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku
tdak tahu kakang. Mungkin orang-orang yajg ingin membunuhku itu
benar-benar membuat kesan, seakan-akan aku telah dirampok” “Jika
Barang-barang itu hilang, atau jika kau sama sekali tidak membawa
apa-apa, bukankah sama saja akibatnya bagi orang lain yang menemukan
kau mati di tengah bulak?“ Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam.
Namun sekali lagi ia menggeleng “Aku tidak mengerti. Perhitungan
apakah yang membuat mereka berbuat demikian” “Kita memang tidak
dapat menebak semua teka-teki dari percobaan pembunuhan ini. Tetapi
bersukurlah kepada Tuhan bahwa kau telah terlepas dari bencana“ Ki
Dipanala tidak segera menyahut. Namun iapun menyadari bahwa ia masih
dilindungi oleh Tuhan Yang Tunggal, sehingga ia selamat dari tangan
para penyamun itu, dengan membiarkan Buntal tetap berada di sawah
meskipun langit menjadi buram, karena ia melihat orang yang
berpakaian seperti petani dar i Sukawati itu. “Semua itu adalah
kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang” katanya di dalamhati. “Dipanala” berkata Kiai Danatirta
kemudian “Jika kita tetap tidak dapat memecahkan teka-teki tentang
Barang-barang yang justru kau bawa, apakah kau dapat mencari alasan,
kenapa kau akan dibunuhnya? Apakah sekedar karena kau pernah
berusaha mencegah Raden Rudira membawa Arum?“Ki Dipanala menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Aku dan Sura memang pernah diikat pada
sebatang pohon di halaman istana Pangeran Ranakusuma. Aku dan Sura
akan mendapat hukuman cambuk di hadapan para abdi di Ranakusuman”
“Tetapi bukankah keluarga Sura dan keluargamu tinggal di dalam dan
di belakang halaman istana itu?“ Ki Ki Dipanala mengangguk. “Jadi
bagaimana jika keluargamu, anak-anakmu dan anak- anak Sura
melihatnya?“ “Mungkin memang itulah yang dimaksudkannya” Kiai
Danatirta menarik nafas dalam-dalam. “Tetapi aku dapat memaksa
Pangeran Ranakusuma dan isterinya yang cantik itu untuk mengurungkan
niatnya” desis Dipanala. “Itulah yang aku heran. Kadang-kadang kau
berhasil memaksakan pendapatmu” Kiai Danatirta berhenti sejenak,
lalu “Tetapi hal itu pulalah agaknya yang telah membuat mereka ingin
membunuhmu. Memang ada dua kemungkinan. Raden Rudira yang membencimu
karena ayahandanya selalu mendengarkan kata-katamu atau Pangeran
Ranakusuma sendiri atau Raden Ayu Galihwaritlah yang ingin
membunuhmu, karena kau terlampau berpengaruh atas mereka karena
sesuatu sebab” “Agaknya kedua-duanya kakang. Meskipun yang satu
tidak tahu alasan yang tepat dari yang lain, namun ada semacam
pertemuan pendapat, bahwa aku memang harus dilenyapkan. Raden Rudira
tentu tahu rencana ini, ternyata jika dugaan kita benar, maka ia
telah membunuh penyamun itu. Menurut dugaanku pula Raden Ayu
Galihwaritpun tahu akan rencana ini, karena ia telah memperlambat
keberangkatanku” “Bagaimana dengan Pangeran Ranakusuma?“Ki Dipanala
menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu kakang. Tetapi tampaknya
Pangeran Ranakusuma acuh tidak acuh saja atas rencana ini” Kiai
Danatirta mengangguk-angguk pula. Namun kemudian ia bertanya “Tetapi
apakah alasan Raden Ayu Galihwarit? Apakah seperti juga Raden Rudira
yang sakit hati karena Pangeran Ranakusuma selalu mendengar
kata-katamu “ Ki Dipanala terdiam sejenak. Sekali lagi ia berpaling
memandang piatu yang sudah tertutup. “Kakang, dimanakah anak-anak
itu?“ “Mereka ada di dalam. Agaknya mereka sedang sibuk dengan
barang-barang kiriman yang kau bawa. Selama ini mereka hanya
mengenal kain lurik yang kasar. Sedang yang kau bawa adalah kain
yang halus dan Barang-barang yang jarang dan bahkan hampir t idak
pernah dilihat oleh Arum dan Buntal” Ki Dipanala mengangguk-angguk
pula. Tetapi seakan-akan ia tidak yakin bahwa anak-anak itu tidak
mendengar pembicaraan itu. “Ada yang ingin aku katakan kakang.
Tetapi aku berharap agar anak-anak itu tidak mendengarnya.
Pengaruhnya agak kurang baik bagi mereka” Kiai Danatirtapun
mengangguk. Agaknya yang akan dikatakan oleh Ki Dipanala adalah
suatu rahasia yang lama disimpannya. “Sebenarnya aku tidak ingin
mengatakannya kepada siapapun. Juga kepada kakang, orang yang paling
aku percaya. Tetapi karena tindakan yang telah diambilnya adalah
suatu pembunuhan, maka ada baiknya orang lain mengetahuinya. Jika
pada suatu saat aku benar-benar mati, maka ada orang yang tahu
alasan sebenarnya atas kematianku itu”Kiai Danatirta merenungi wajah
Ki Dipanala sejenak. Kemudian iapun berdiri sambil berkata “Coba aku
lihat anak- anak itu” Ketika Kiai Danatirta masuk ke ruang dalam,
maka ternyata ruangan itu sudah sepi. Barang-barang yang-semula di
bentang selembar demi selembar, telah tersusun rapi dan diletakkan
dalam tumpukan yang teratur di geledeg. Bahkan di sampingnya
terletak kampil yang berisi uang. Kiai Danatirta menar ik nafas.
Anak-anak, itu tentu menganggap bahwa t idak akan ada seorangpun
yang akan mengusik Barang-barang itu. Apalagi mengambilnya, karena
padepokan ini memang tidak pernah kehilangan karena tangan
seseorang. Jika ada barang yang hilang itu hanyalah disebabkan
kekurang telitian dari antara mereka yang menyimpan Barang-barang
itu dan barang itu tidak dapat diketemukan lagi. Tetapi mungkin
sebulan dua bulan barang yang hilang itu tanpa disengaja telah
dijumpai oleh seseorang yang justru tidak sedang mencarinya. Dengan
hati-hati Kiai Danatirta pergi ke bilik Arum. Dilihattiya dari
sela-sela daun pintu yang tidak tertutup rapat, gadis itu telah
terbaring di pembaringannya meskipun agaknya belumtertidur. Dari
bilik Arum, Kiai Danatirta pergi ke bilik Juwiring dan Buntal.
Keduanyapun sudah ada pula di dalam biliknya, meskipun keduanya
masih berbicara tentang sesuatu. Kiai Danatirta itupun segera
kembali ke pendapa. Mereka sengaja berbicara di pendapa, tidak di
pringgitan, agar tidak mudah orang lain ikut mendengarnya justru
karena pendapa itu terbuka. “Kakang” berkata Ki Dipanala kemudian
“sebenarnya ceritera ini sudah berlangsung lama. Dan karena ceritera
inilah maka aku seakan mempunyai pengaruh di Ranakusuman meskipun
aku tidak disukai oleh siapapun juga”Kiai Danatirta tidak menyahut.
Dibiarkannya Ki Dipanala meneruskan ceriteranya. “Adalah suatu
kebetulan pula bahwa aku melihat hal itu terjadi. Dan karena itu
pula aku seakan-akan mempunyai perbawa atas Raden Ayu Galihwarit.
Sebenarnya aku sama sekali t idak berniat untuk memerasnya. Aku
sudah berjanji untuk merahasiakan apa yang sudah terjadi itu. Namun
agaknya Raden Ayu. Galihwarit selalu dihantui oleh bayangannya
sendiri, la selalu curiga kepadaku. Bertahun- tahun hal itu terjadi.
Tetapi pada suatu saat, karena persoalan-persoalan lain yang
berkembang, agaknya sampai juga suatu keputusan pada Raden Ayu
Galihwarit untuk membunuhku” Kiai Danatirta hanya mengangguk-angguk
saja. Ia ingin segera mendengar cer itera yang sesungguhnya,
sehingga Raden Ayu Galihwarit harus mengambil sikap itu. Membunuh
atau mendengar setiap pendapat Dipanala. “Pada saat itu. Raden Ayu
Galihwarit sedang berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk menyingkirkan
Juwiring. Dengan berbagi macam cara dan hasutan, sehingga akhirnya
Pangeran Ranakusuma mulai mendengar kata-kata itu” Ki Dipanala
berhenti sejenak, lalu “Namun di samping itu, Raden Ayu Galihwarit
mulai dihinggapi penyakit yang sekarang menjadi semakin parah” Kiai
Danatirta hanya mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk saja. “Pada
suatu malam, selagi aku pergi ke tempat seorang saudaraku, aku
melihat sebuah kereka berhenti di pinggir jalan di pinggir kota, di
bawah bayangan kegelapan. Aku menjadi curiga. Semula aku mengira
saisnya tentu sedang mempunyai kepentingan di kegelapan. Dan menurut
dugaanku kereta yang bagus itu tentu kosong. Jika ada penumpangnya,
sais itu tentu tidak akan berani berhenti. Apalagi menurut dugaanku
kereta itu tentu kereta seorang perwira kumpeni” KiDipanala berhenti
sejenak, kemudian di teruskannya “Tetapi kemudian aku melihat sais
itu berdir i bersandar sebatang pohon agak jauh dari keretanya.
Kemudian berjalan mondar- mandir. Aku menjadi semakin heran.
Timbullah keinginanku untuk mengetahui, apakah yang sebenarnya sudah
terjadi. Karena itu, dengan diam-diam aku mendekati kereta itu tanpa
diketahui oleh saisnya” tiba-tiba saja Ki Dipanala menjadi tegang.
Katanya “Kakang, peristiwa berikutnya adalah peristiwa yang paling
kotor yang pernah aku lihat” “Apa?“ “Setelah aku berhasil mendekati
kereta yang memang berada di kegelapan itu, aku mendengar suara di
dalamnya. Suara seorang perempuan dan seorang laki-laki. Menilik
warna suaranya tentu seorang laki-laki asing” nafas Ki Dipanala
serasa menjadi semakin cepat mengalir “Kakang, aku tidak tahan
menyaksikan hal serupa itu. Orang asing itu telah mengotori kota ini
dengan kebiadaban. Aku mengira bahwa mereka yang katanya membawa
peradaban yang tinggi, ternyata memiliki tata kesopanan yang sangat
rendah. Mereka akan mencemarkan nama kota ini dengan perbuatan yang
kotor di jalan-jalan. Karena itu, dengan tidak sabar aku meloncat.
Dengan sekuat tenaga aku tarik pintu kereta yang sekaligus terbuka”
Dada Ki Dipanala menjadi seakan-akan berdebaran meskipun ia hanya
sekedar berceritera. Lalu suaranya menjadi terputus-putus “Tetapi,
tetapi sama sekali tidak aku duga. Ketika pintu itu terbuka,
seseorang telah terdorong dan jatuh keluar. Seorang perempuan.
Kemudian disusul seorang laki-laki asing meloncat pula. Tetapi, yang
sama sekali tidak aku duga. ternyata perempuan itu bukannya
perempuan yang aku sangka diambilnya di pinggir jalan. Perempuan itu
adalah Raden Ayu Galihwarit yang sejak sore pergi memenuhi undangan
perwira asing yang mengadakan pertemuan makan bersama dengan
beberapa orang bangsawan. Tetapi karena kesibukannya, maka Pangeran
Ranakusuma sendiri tidak dapat datang dan membiarkanisternya
dijemput dan diantar kembali ke istana Ranakusuman. Tetapi agaknya
yang mengantar Raden Ayu Galihwarit saat itu adalah seorang perwira
kumpeni yang, gila dan setengah mabuk” Kiai Danatirta
mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa bulu-bulunya meremang juga.
Itulah sebabnya maka istana Ranakusuman menjadi penuh dengan
berbagai macam Barang-barang hadiah dar i orang-orang asing itu.
Barang- barang yang tidak terdapat di Surakarta sendiri. Sejenak
kemudian, setelah menarik nafas dalam-dalam, Ki Dipanala meneruskan
“Kakang dapat membayangkan, bagaimana perasaan Raden Ayu Galihwarit
yang kemudian dibantu oleh orang asing itu berdir i memandang aku.
Meskipun di dalam kegelapan, tetapi ia segera mengenal aku pula.
“Dipanala” katanya dengan suara gemetar. Aku menjadi bingung. Tetapi
akupun kemudian mengangguk sambil menjawab “Ya Raden Ayu” Sejenak
Raden Ayu Galihwarit memandang aku. Kemudian terdengar la
menggeram“Apakah kau sudah gila?“ “Maaf Raden Ayu, hamba tidak tahu”
“Gila. Kenapa kau mencampuri persoalan orang lain. Seandainya kau
tidak tahu siapa yang ada di dalam, apakah hubunganmu dengan hal
ini?” “Ampun Raden Ayu.Hamba adalah seorang penghuni kota ini. Hamba
tersinggung bahwa hal ini sudah terjadi di jalan- jalan raya di kota
Surakarta yang amat hamba junjung tinggi ini” “Tetapi itu bukan
urusanmu” “Terdorong oleh rasa tanggung jawab hamba semata-mata,
atas kota ini”“Kakang Danatirta, sebenarnya aku sudah akan berlutut
minta maaf kepada Raden Ayu Galihwarit. Tetapi orang asing yang
agaknya sudah dapat mempergunakan bahasa kita itu ikut memaki. “Kau
memang anj ing tidak tahu dir i” katanya. Dan Raden Ayu itu t idak
melindungi aku sama sekali, bahkan iapun memaki “Kau merupakan
malapetaka bagiku Dipanala” “Ampun Raden Ayu, hamba tidak akan
berbuat apa-apa. Hamba akan pergi dan melupakan apa yang pernah
hamba lihat ini” Raden Ayu Galihwarit memandangku dengan tajamnya.
Namun agaknya Raden Ayu Galihwarit t idak mempercayaiku. “He anjing
busuk” berkata kumpeni itu “Kau berani mengganggu Raden Ayu dan aku
ya? Kau sudah menghina aku” “Ia sangat berbahaya bagiku” berkata
Raden Ayu Galihwarit kepada orang asing itu. “Jadi apakah maksud
Raden Ayu orang ini dilenyapkan saja?“ Dadaku berdesir mendengar
pertanyaan itu. Dan apalagi setelah aku mendengar jawabnya
“Terserahlah kepada tuan” Hatiku bergejolak mendengar orang asing
itu tertawa. Apalagi ketika tiba-tiba saja tangannya meraba sesuatu
di balik bajunya. Aku tahu, bahwa ia mengambil senjata api. Jika
senjata api itu meletus, sebutir peluru akan menembus dadaku dan aku
akan mat i seketika, sedang tidak akan seorangpun di sekitar tempat
itu yang akan berani berbuat sesuatu, karena mereka sadar bahwa
suara itu adalah suara senjata yang sangat menakutkan. Tetapi
alangkah takutnya aku kepada mati pada waktu itu. Kematian bagiku
lebih menakutkan daripada kumpeni itu dan juga daripada Raden Ayu
Galihwarit. Itulah sebabnya aku tiba-tiba saja berbuat sesuatu untuk
menghindarkan dir i dari kematian. Ketika aku melihat tangan orang
asing itu menggenggam benda yang menakutkan itu tiba- tiba saja aku
kehilangan pertimbangan lain. Aku menganggap bahwa membela dir i
adalah jalan satu-satunya untuk melepaskan dir i dari ketakutanku
akan mati. Karena itu ketika orang asing itu mengacungkan senjatanya
kepadaku, tiba-tiba saja aku meloncat. Dengan kakiku aku berhasil
menghantam pergelangan tangannya sehingga senjata itu terloncat dari
tangannya sebelum meledak. Tetapi orang asing itu sama sekali tidak
kehilangan akal. lapun segera mencabut pedangnya yang panjang.
Dengan serta merta ia mencoba menusuk dadaku dengan pedang itu.
Untunglah aku masih sempat menghindar. Namun ia benar- benar
bertekad membunuhku, sehingga iapun segera memburu. Akupun telah
bertekad membela dir iku. Karena itu maka tiba-, tiba saja kerisku
sudah berada di dalam genggaman tanganku. Ternyata bahwa orang asing
itu tidak begitu pandai berkelahi. Ia hanya dapat mengayun-ayunkan
pedangnya. Tetapi kakinya seolah-olah mati. Ia mempercayakan
tatageraknya pada gerak tangannya. Tetapi aku tidak demikian
bodohnya. Aku mempergunakan semua anggauta badan kita. Kaki dan
tangan. Karena itu, ketika aku meloncat-loncat ia menjadi bingung.
Aku sendir i tidak ingat lagi. Aku sadar ketika aku mendengar orang
asing itu mengeluh tertahan. Suaranya serak dan kemudian hilang
ditelan seninya malam. Yang terdengar kemudian adalah suara tubuh
itu roboh di tanah. Mati. Ternyata aku telah menusuknya tepai di
dadanya. Raden Ayu Galihwarit melihat perkelahian itu dengan tubuh
gemetar. Dengan suara yang parau ia berkata “Kau gila Dipanala. Kau
dapat dibunuh oleh kumpeni. Kau sudah membunuh seorang perwira. Dan
kau akan menebus kebodohanmu” “Tidak ada orang yang melihat
pembunuhan ini” “Aku dan sais itu” Aku berpaling. Aku lihat sais
itupun ketakutan berdiri disisi sebatang pohon yang besar. “Sais itu
tidak mengenal hamba“ kataku. Aku tidak tahu dari mana aku mempunyai
keberanian untuk berbantah dengan Raden Ayu Galihwarit. “Aku
mengenalmu. Aku dapat mengatakan kepada Pangeran Ranakusuma dan
kepala pimpinan kumpeni bahwa kau telah membunuh salah seorang dari
mereka” “Raden Ayu tidak akan mengatakannya” “Kenapa tidak? Aku akan
mengatakannya. Dan kau akan digantung di alun-alun, atau dipancung
di perapatan” Tetapi aku tetap menggeleng dan berkata perlahan-lahan
“Jangan terlalu keras Raden Ayu. Hamba tidak mau sais itu mendengar
dan mengetahui tentang hamba” “Aku akan mengatakan. Aku akan
mengatakan”“Raden Ayu tidak akan mengatakan. Baik kepada kumpeni,
kepada Pangeran Ranakusuma maupun kepada sais itu. Bukankah dengan
demikian Raden Ayu akan membuka rahasia Raden Ayu sendiri? Selama
ini Pangeran Ranakusuma kadang- kadang bertanya-tanya juga, kenapa
Raden Ayu sering sekali mengunjungi makan bersama dengan orang-orang
asing itu meskipun pada saat-saat Pangeran Ranakusuma berhalangan.
Ternyata justru saat-saat yang demikian itulah yang menyenangkan
bagi Raden Ayu. Apakah Raden Ayu tidak mengetahui, bahwa perasaan
seorang suami kadang-kadang tergetar jika isterinya berbuat seperti
apa yang Raden Ayu lakukan meskipun tidak melihatnya sendiri? Apakah
Raden Ayu tidak mencemaskan kemungkinan yang buruk bagi Raden Ayu
jika Pangeran Ranakusuma mengetahui hal ini” “Tidak ada yang
mengetahuinya” “Hamba dan sais itu. Jika tuan berusaha menjerumuskan
hamba ke tiang gantungan atau hukuman apapun, maka hambapun akan
sampai hati pula mengatakan kepada siapapun tentang Raden Ayu”
“Kumpeni tidak akan percaya. Seandainya percaya, maka mereka pasti
akan merahasiakannya, karena banyak sekali di antara mereka yang
terlibat dajam keadaan yang sama. Bahkan bukan dengan aku sendir i.
Ada puteri-puteri bangsawan yang lain yang melakukan seperti yang
aku lakukan” “Tetapi Raden Ayulah yang paling menonjol di antara
mereka itu” “Tutup mulutmu” “Dan Raden Ayupun akan menutup mulut.
Jika Raden Ayu sampai hati membunuh hamba, hambapun akan sampai hati
mengatakan yang terjadi. Mungkin Kumpeni tidak akan mempercayai
bahwa ada perwira-perwiranya yang berbuat demikian, atau dengan
sengaja menyembunyikan kenyataanitu, karena sebagian besar dari
mereka terlibat. Namun hati Pangeran Ranakusuman pasti akan
terketuk. Jika Pangeran Ranakusuma menangkap getaran isarat dalam
lubuk hatinya, maka tuan akan mengalami nasib yang kurang baik.
Bukankah isteri Pangeran Ranakusuma tidak hanya seorang? Dan
bukankah isteri yang lain meskipun tidak selincah Raden Ayu tetapi
ia adalah seorang isteri yang setia? Dan apakah tuan tahu, betapa
pahitnya perasaan seorang suami jika mengetahui bahwa isterinya
tidak setia seperti Raden Ayu meskipun Pangeran Rana kusuma adalah
seorang suami yang longgar, yang member i banyak kesempatan kepada
Raden Ayu untuk keluar rumah tanpa suaminya. Apalagi tuan sudah
berbuat tidak senonoh dengan seorang asing, seorang bule“ “Diam,
diam“ “Jangan berteriak. Aku mencegah. Tetapi wajah Raden Ayu
Galihwar it menjadi pucat. “Nah Raden Ayu“ kataku kemudian
“terserahlah kepada Raden Ayu. Sebelum ada orang yang mengetahui
tentang aku, maka aku akan pergi. Tetapi jika hamba ditangkap oleh
siapapun juga karena membunuh kumpeni. hamba akan mengatakannya juga
kepada siapapun. bahwa tuan sudah berbuat sesat. Maka nama Raden
Ayu, seorang puteri bangsawan yans menjadi isteri seorang Pangeran
pula. akan tercemar. Dan tuan akan tersisih dari pergaulan. Mungkin
Raden Ayu akan disingkirkan dari Ranakusuman dan ayahanda Raden Ayu
tidak akan menerima Raden Ayu lagi. Dengan demikian Raden Ayu akan
dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada Raden Ayu. Terasing
dan dihinakan oleh seluruh rakyat Surakarta. Yang terbayang pada
Raden Ayu hanyalah tinggal satu jalan, semakin jauh terperosok ke
dalam kesesatan” “Tidak, tidak” t iba-tiba Raden Ayu Galihwarit
menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Terdengar isak
tangisnya tertahan-tahan.“Sudahlah Raden Ayu“ kataku kemudian aku
akan pergi dan hentikan semuanya yang pernah Raden Ayu lakukan,
mumpung belum ada seorangpun yang mengetahui dari keluarga tuan.
Dari keluarga Ranakusuman, apalagi putera Raden Ayu yang meningkat
dewasa itu” Aku tidak menghiraukannya lagi. Akupun segera pergi
meninggalkannya. Meninggalkan Raden Ayu Galihwarit yang sering
disebut Raden Ayu Sontrang itu, dan mayat seorang kumpeni di pinggir
jalan yang sepi. Aku tidak peduli lagi kepada sais yang aku sangka
ketakutan itu” “Kenapa sekedar kau sangka?“ tiba-tiba Kiai Danatirta
bertanya. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai
Danatirta sejenak, lalu “Ceriteranya masih panjang kakang. Apakah
kakang t idak menjadi jemu?“ “Ceriterakanlah” berkata Kiai Danatirta
kemudian. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. “Aku ingin
mendengar kelanjutan ceriteramu. Nanti saja kau makan hidangan yang
ada. Sekarang kau berceritera terus” Ki Dipanala tersenyum. Namun
dar i matanya memancar perasaannya yang pahit mengenangkan apa yang
pernah terjadi itu. “Jadi, aku sudah membunuh seorang kumpeni
kakang” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya “Itulah yang ingin
aku katakan. Jadi perwira kumpeni yang mati itu kaulah yang
membunuhnya?“ Ki Dipanala mengangguk. “Ternyata Raden Ayu Galihwarit
benar-benar tidak membuka rahasiamu” “Ya kakang. Raden Ayu
Galihwarit tidak membuka rahasiaku. Ia tidak mengatakannya kepada
siapapun. Danakupun memenuhi janj iku pula. Aku merahasiakannya.
Tidak seorangpun yang pernah mengetahui hal itu terjadi. Kepada
kakangpun baru sekarang aku mengatakannya” Ki Dipanahi berhenti
sejenak, lalu “Agaknya sesuatu telah menggerakkan hati Pangeran
Ranakusuma. Tetapi, meskipun ia mulai curiga, bahkan anak
laki-lakinya itupun mulai bertanya-tanya tentang tabiat ibunya,
namun Pangeran Ranakusuma itu masih saja membiarkannya berbuat
demikian. Mungkin Pangeran itu ingin menemukan bukti-bukti yang
mantap” “Jadi Raden Ayu itu tidak sembuh meskipun kau pernah
menemukannya?“ “Hanya untuk beberapa waktu. Tetapi penyakit, itu
kambuh kembali. Namun aku semula tidak mempedulikannya lagi. Aku
tidak akan mencampuri persoalannya. Jika aku membunuh orang asing
itu, sama sekali bukan karena aku ingin mencampur i persoalan Raden
Ayu Galihwarit meskipun hatiku menjadi sakit sekali” Kiai Danatirta
mengangguk-angguk. “Dan sais itupun tidak mengatakan kepada siapapun
juga tentang kau dan tentang Raden Ayu Sontrang?“ Ki Dipanala menar
ik nafas dalam-dalam. Katanya “Sekarang tidak dapat berkata kepada
siapapun juga” “Kenapa?“ “la sudah mati” “Mati?“ “Ya” “Apakah Raden
Ayu Galihwarit mencurigainya dan menyuruh seseorang membunuhnya”
Sejenak Ki Dipanala termenung. Namun kemudian katanya- lambat
“Akulah yang membunuhnya”“Kenapa kau?“ “Sais itu sebenarnya sama
sekali tidak ketakutan ketika aku membunuh orang asing itu. Meskipun
ia t idak mengatakan kepada siapapun juga, namun ia mempunyai maksud
tertentu” Ki Dipanala berhenti sejenak “kakang, bukankah saat itu
Surakarta menjadi gempar? Tetapi saat itu Raden Ayu Galihwar it
mengatakan, bahwa ia tidak tahu menahu tentang pembunuhan itu.
Tiba-tiba saja ketika orang asing itu mengantarkannya pulang seperti
dipesankan oleh Pangeran Ranakusuma. ia sudah diserang oleh
seseorang yang tidak dikenalnya” “Tetapi“ Kiai Danatirta memotong
“Apakah tidak seorangpun yang bertanya, kenapa kereta itu lewat
jalan yang sepi di pinggir kota?“ “Beberapa orang telah mencurigai
sais itu kakang. Bahwa ia dengan sengaja telah mengumpankan perwira
kumpeni itu. Mereka mempertimbangkan, bahwa orang-orang yang duduk
di dalam kereta, tidak mengetahui, jalan manakah yang sudah mereka
lewati karena mereka tidak memperhatikannya. Apalagi orang asing itu
masih belum begitu mengenal jalan- jalan di Surakarta. Tetapi Raden
Ayu Galihwar it yang mencemaskan nasibnya sendiri, bahwa sais itu
akan berceritera tentang dirinya, mencoba membelanya. Menurut Raden
Ayu Galihwarit, orang asing itu memang ingin melihat beberapa bagian
dari kita Surakarta” “Di malam hari?“ “Di siang hari ia tidak
mempunyai waktu lagi. Apalagi malam masih belum terlampau larut”
“Apa tidak ada seorangpun yang justru mencur igai Raden Ayu
Galihwarit?“ “Kumpeni-kumpeni itu yakin, kalau perempuan bangsawan
itu dapat dipercaya”Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Lalu “Tetapi
bagaimana sais itu kemudian terbunuh? Apakah Raden Ayu Galihwar it
mengupahmu?“ Ki Dipanala menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak
menerima upah dan aku memang bukan seorang pembunuh. Tetapi agaknya
Raden Ayu Galihwarit tidak mau melibatkan orang lain lagi di dalam
persoalan ini. Itulah sebabnya ia datang kepadaku dan minta
kepadaku, agar aku membunuh sais itu” “Apakah sais itu akan membuka
rahasia?“ Ki Dipanala mengangguk “Sais itu mengancam akan membuka
rahasia” “Ia memeras?“ “Ya” “Barangkali itulah yang ditakutkan
atasmu. Mungkin pada suatu saat kau akan memerasnya juga. Setelah
sais itu, maka datang giliranmu untuk disingkirkan” Ki Dipanala
mengangguk-angguk. Jawabnya “Kakang benar” “Apakah sais itu memeras
harta benda Ranakusuman” “Jika demikian, aku sudah berjanj i untuk t
idak mencampuri persoalan itu. Tetapi sikapnya yang sangat
menyinggung perasaan itulah yang membuat aku marah dan membunuhnya.
Apalagi ia dengan sengaja melawan aku. Karena itu, sebenarnya ia
bukan seorang penakut yang gemetar melihat aku membunuh orang asing
itu” “Jadi apa yang diperas?“ “Itulah yang gila. Sais yang masih
muda itu telah memeras Raden Ayu Galihwarit”“Ya, tetapi apakah yang
ingin didapatkannya dari Raden Ayu itu?“ “Raden Ayu itu sendir i”
“He“ Kiai Danatirta benar-benar terkejut mendengar jawaban Ki
Dipanala. “Ya kakang. Yang diinginkan oleh sais itu adalah Raden Ayu
Galihwar it yang meskipun lebih tua daripada sais itu, namun
kesegarannya telah membuat sais itu menjadi gila. Sais itu ingin
berbuat terlalu banyak atas Raden Ayu Galihwarit seperti orang asing
yang telah aku bunuh itu” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam
sambil mengusap dadanya. Katanya “Apakah dunia ini benar-benar sudah
hampir kiamat? Kenapa hal yang serupa itu dapat terjadi diatas bumi
Surakarta ini” “Ya kakang. Itulah yang telah memuakkan aku. Jika
Raden Ayu Galihwarit menolak, maka ia akan membuka rahasia
pembunuhan itu kepada kumpeni dan kepada Pangeran Ranakusuma serta
membuka rahasia hubungan Raden Ayu Galihwar it dengan orang-orang
asing yang banyak diketahuinya“ “Dan kau percaya begitu saja?
Mungkin itu hanya sekedar ceritera Raden Ayu Galihwarit untuk
memaksamu membunuh sais itu” “Semula aku menyangka demikian kakang.
Tetapi ternyata tidak. Ketika hal itu aku tanyakan langsung kepada
Raden Ayu Galihwar it, maka ia bersedia membukt ikan apa yang
dikatakannya” “Apa yang sudah dilakukannya?“ “Ia member itahukan
kepadaku, apa yang harus dilakukannya untuk memenuhi niat sais yang
gila itu. Sais itu akan menjemput Raden Ayu Galihwarit seolah-olah
ia mendapat perintah dar i kumpeni. Raden Ayu Galihwarit
harusberusaha agar ia pergi seorang diri tanpa emban atau pengawal
seperti yang sering dilakukan j ika ia dijemput oleh orang-orang
asing dari rumahnya. Orang asing yang banyak member i harapan bagi
Pangeran Ranakusuma dan banyak member ikan kecemerlangan bagi
istananya, sehingga Pangeran Ranakusuma tidak dapat melarang, jika
isterinya pergi mengunjungi pertemuan yang diselenggarakan oleh
kumpeni, apalagi penyelenggaraan itu dilakukan di rumah para
bangsawan pula” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu ”Tetapi saat yang
ditentukan itu sama sekali bukan atas perintah kumpeni tetapi atas
kehendak sais itu sendir i” “O. Dosa itu berkembang begitu cepatnya”
“Ya kakang. Dan aku harus melindungi dosaku dengan dosa baru yang
harus aku lakukan. Aku harus membunuh lagi” Kiai Danatirta
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku harus menunggu di tempat yang
sudah ditentukan oleh sais itu sendiri menurut petunjuk Raden Ayu
Galihwarit, yang ternyata adalah sebuah pondok kosong milik orang
tua sais yang gila itu. Di dalam pondok itu aku harus menanti dengan
hati yang berdebar” “Dan mereka datang?” Kiai Danatirta menjadi
tidak sabar. “Ya. Ketika senja mulai turun aku mendengar derap kaki
kuda. Justru sebelum gelap. Langit masih merah oleh sisa cahaya
matahari yang tersangkut di tepi gumpalan awan yang mengapung di
langit” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. “Sebenarnyalah
bahwa dada ini akan retak oleh kemuakan ketika aku mendengar mereka
mendekati pintu rumah sais yang kosong itu” Ki Dipanala berhenti
sejenak. Kemudian katanya “Silahkan Raden Ayu” berkata sais itu di
luar pintu. Suaranya benar-benar membuat kepala pening kakang” Kiai
Danatirta menahan nafasnya.Dan Ki Dipanala meneruskan “Aku mencoba
menahan nafas ketika aku mendengar pintu berderit terbuka. Dan aku
dengar Raden Ayu Galihwarit mengumpat “Kau gila. Kau akan dibunuh
oleh Pangeran Ranakusuma” Tetapi sais itu tertawa “Tuan tidak akan
mengatakannya seperti yang dikatakan oleh pembunuh orang asing itu”
“Gila, kau dengar percakapan kami” “Aku dengar Raden Ayu” “Tetapi
kalau kau masih menggangguku, kau akan menyesal” berkata Raden Ayu
itu. “Kenapa tidak. Setiap saat kita dapat singgah ke rumah ini.
Jika tuan puteri akan melayani orang-orang bule itu, tuan puteri
akan aku persilahkan singgah dahulu. Bukankah aku berkulit sawo
matang seperti Raden Ayu, dan orang-orang asing itu berkulit semerah
kulit manggis dan jauh lebih kasar dari kulitku” “Gila, kau memang
gila. Aku tidak mau berbuat gila seperti itu?” “Raden Ayu tidak
mempunyai pilihan lain” “O“ terdengar Raden Ayu Galihwarit menahan
tangisnya. “Jangan menangis Raden Ayu. Marilah kita hayati satu-
satunya pilihan yang dapat tuan puteri lakukan agar aku tidak
mengambil keputusan lain” “Kau lebih baik membunuh aku “ tangis
Raden Ayu itu. “Silahkan duduk. Bukankah aku harus mengantar Raden
Ayu kembali setelah gelap? Sebaiknya kita tidak membuang waktu“ Aku
mendengar suara Raden Ayu Galihwarit gemetar. Mula- mula aku menjadi
ragu-ragu untuk bertindak. Mungkin RadenAyu itu memang harus
menanggung dosanya dan mendapat hukuman karenanya. Tetapi aku tidak
dapat menahan perasaan muak yang menyesak dada ini, sehingga karena
itu, maka nafaskupun menjadi tersengal-sengal. Bahkan bukan saja
perasaan muak. tetapi juga oleh kekhawatiran, bahwa apabila orang
itu dikecewakan oleh Raden Ayu Galihwarit pada suatu saat, dimana
puleri bangsawan itu sudah tidak dapat bertahan lagi mengalami
pemerasan yang paling parah itu, maka ia akan sampai pada suatu
keputusan untuk membuka rahasia Raden Ayu Galihwar it dan rahasiaku
sendiri. Sais yang gila itu tentu tidak akan mempedulikan lagi,
malapetakan apa yang akan aku alami dan kehinaan yang akan dihayati
oleh Raden Ayu Galihwar it. meskipun jika Raden Ayu Galihwarit
membuka rahasia tentang sais itu sendiri, ia akan dapat dihukum mati
pula” Kiai Danatirta masih mengangguk-angguk. Tetapi terasa kulit di
seluruh tubuhnya meremang. Yang terjadi itu adalah hukuman yang
paling laknat bagi Raden Ayu Galihwarit. “Dan kau tidak
membiarkannya terjadi?” Ki Dipanala menggelengkan kepalanya.
Jawabnya “Hatiku bagaikan terpecah-pecah. Aku tidak dapat
membiarkannya terjadi. Ketika kegilaan sais itu menjadi semakin
meretakkan dada ini, tiba-tiba saja aku sudah meloncat masuk ke
ruangan itu. Meskipun Raden Ayu Galihwarit mengetahui bahwa aku ada
di rumah itu pula, tetapi kehadiranku di ruang itu membuatnya
terpekik kecil. Sejenak wajahnya menjadi merah. Namun kemudian
sepercik harapan tampak di matanya. Sais itupun terkejut bukan
kepalang. Seperti yang aku duga. bahwa ia tidak akan menjadi
ketakutan dan berdiri gemetar. Ternyata kehadiranku membuatnya marah
bukan buatan.“Kau” geramnya. “Akupun sudah dibakar oleh kemarahan
yang meluap- luap, sehingga aku menjawab kasar Aku datang untuk
menghentikan kegilaan ini” “Kau sudah membunuh orang asing itu.
Apakah kau juga aku membunuh aku“ sais itu bertanya. “Ya” Tetapi
ternyata orang itu tidak takut sama sekali. Bahkan iapun tertawa
sambil berkata “Kau sangka aku menjadi ketakutan seperti yang kau
lihat di bawah pohon pada saat kau membunuh orang asing itu” “Aku
tidak peduli” “Jangan menyesal kalau kaulah yang akan mati. Memang
sepantasnya kau mati, supaya tidak ada orang lain yang akan memeras
lagi kepada Raden Ayu Galihwarit, karena jika kau berhasil membunuh
aku, maka kaulah yang akan melakukannya” “Aku bukan binatang buas
yang pantas diburu“ Tetapi ia masih juga tertawa. Suara tertawanya
yang tidak begitu keras itu membuatku semakin terbakar. Karena
itulah maka akupun kemudian kehilangan pengamatan diri. Apalagi
tidak ada jalan yang memang lebih baik dari membungkam untuk selama-
lamanya. Dengan demikian, maka akupun berkata langsung kepadanya
“Sekarang aku tidak mempunyai pilihan lain. Membunuh kau atau aku
akan terbunuh. Jika kau tetap hidup, artinya akan sama saja dengan
kematian bagiku, karena kati tidak akan lagi menyembunyikan rahasia
yang pernah kau lihat itu” “Ya. Aku akan membunuhmu atau akan
menyeretmu di belakang keretaku sehingga kulitmu akan terkelupas di
sepanjang jalan kita ini. Bila kau masih hidup, makakumpenilah yang
akan menyelesaikanmu meskipun terlebih dahulu luka- lukamu akan
dibasahi dengan air garam” Memang mengerikan sekali j ika hal itu
benar-benar terjadi. Diseret di belakang kereta yang dilarikan
kencang-kencang. “Nah, kau memang tidak ada pilihan lain” katanya
“dan Raden Ayu Galihwarit pasti akan tetap berdiam dir i” Aku sudah
tidak dapat menahan kemarahan di dalam dada. Tetapi aku masih dapat
berpikir sehingga aku tidak mau tenggelam dalam kehilangan nalar
karena kemarahanku. Meskipun aku sudah siap, tetapi aku tidak segera
menyerangnya. Aku menunggu sampai orang itupun menjadi sangat marah
dan akan lebih baik kalau sais itulah yang kehilangan nalar dan
bertempur dalam nyala kemarahan yang tidak terkendali. “Ayo, apa
lagi yang kau tunggu?“ katanya. “Kumpeni” jawabku “Bukankah kereta
itu kereta seorang perwira kumpeni? Mungkin yang sudah mati aku
bunuh, tetapi mungkin kereta orang lain. Tetapi pasti bukan keretamu
sendiri. Orang yang memiliki kereta itu pasti akan mencarimu. Mereka
pasti akan melihat kereta berhenti di pinggir jalan itu dan
mencarimu ke rumah ini” “Aku akan selamat. Raden Ayu Galihwarit
tentu akan tetap diamdan melindungi aku” “Tidak. Raden Ayu
Galihwarit sebenarnya dapat berterus terang saja kepada kumpeni
karena semua yang kau kehendaki masih belum terlanjur terjadi.
Mereka tidak akan menyampaikan rahasia itu kepada Pangeran
Ranakusuma, karena mereka sendiri akan terlibat di dalamnya. Dan
sudah tentu bahwa karena kau terlampau banyak mengetahui, maka
kaupun akan dibunuhnya juga” “Gila” Orang itu menggeretakkan
giginya.“Jangan menyesal” “Persetan dengan kau. Apapun yang akan
terjadi atasku tetapi niatku tidak boleh gagal. Kau akan aku bunuh,
dan aku akan melaksanakan niatku. Aku tidak peduli kepada kereta itu
dan kepada kumpeni yang akan mencar inya” “Omong kosong. Kau tidak
akan berani melakukan karena itu akan berarti kematianmu” Orang itu
termangu-mangu sejenak. Namun agaknya ia telah benar-benar menjadi
marah. “Aku akan segera membunuhmu” ia menggeram sambil melangkah
maju. “Semakin cepat semakin baik” Dan tiba-tiba saja bahwa orang
itu menarik sebuah pisau belati dari balik bajunya Raden Ayu
Galihwarit mundur selangkah sambil membenahi pakaiannya. Kilatan
pisau itu mendebarkan jantungnya. Ia mengharap bahwa aku dapat
memenangkan perkelahian yang sebentar lagi tentu akan terjadi.
Dengan demikian maka ia berharap dapat terlepas dari nafsu sais yang
gila itu. “Tetapi apakah Dipanala tidak akan melakukan kegilaan yang
sama?“ Raden Ayu Galihwarit mungkin bertanya kepada diri sendiri.
Tetapi agaknya baginya aku masih lebih baik dari sais yang ganas
itu. Selain ia memang sudah mengenal diriku ini dengan baik, maka
akupun adalah seorang, hamba istananya dan bekas seorang prajurit
pula yang memiliki tingkatan yang tidak terlampau rendah. Sejenak
kemudian maka Raden Ayu Galihwarit melangkah semakin surut melekat
di sudut dinding ketika ia melihat sais itu meloncat menerkam aku
sambil mengayunkan pisaunya. Tetapi aku sudah bersedia sepenuhnya.
Bahkan ketika aku meloncat mengelak, aku telah menar ik kerisku dari
wrangkanya.Sejenak kemudian terjadilah perkelahian yang seru.
Ternyata sais itu bukannya sekedar seorang sais yang hanya pandai
mengendalikan kuda. Ternyata ia adalah seorang yang mengenal dengan
baik tata olah kanuragan, sehingga ia untuk beberapa lamanya mampu
mengimbangi ilmuku. Tetapi aku adalah bekas seorang prajurit yang
pernah mendapat kepercayaan dari atasanku di medan- medan perang.
Dengan bekal yang ada padaku, ternyata aku memiliki beberapa
keunggulan. Meskipun orang itu memiliki ilmu yang sudah lengkap,
tetapi ia masih jauh dari aneka warna pengalaman, sehingga masih
banyak kesempatan bagiku untuk menembus pertahanannya. Demikianlah,
maka akhirnya akupun sampai pada puncak dari perkelahian itu.
Setelah aku mengetahui kelemahan dan kekuatan yang ada padanya, maka
akupun segera berusaha mengakhir inya. Meskipun semula terasa agak
sulit, namun akhirnya aku berhasil mendesak dan menguasainya
sehingga saat-saat yang menentukan itu datang. Tiba-tiba saja sais
itu menjadi pucat. Dengan suara Terbata-bata ia berkata “Apakah
benar-benar kau akan membunuhku?“Tidak ada kegilaan seperti
perasanku pada saat itu. Aku sama sekali tidak lagi dapat mengekang
diri. Meskipun sais yang tidak menyangka mendapat lawan yang dapat
mengalahkannya itu benar-benar menjadi cemas akan dirinya, namun aku
tidak menghiraukannya lagi. “Jangan bunuh aku“ Aku masih mendengar
suaranya. Tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku desak ia ke
sudut dan aku tidak mau mendengar lagi ia berkata separah katapun.
Karena itu, maka ketika aku melihat mulutnya mulai bergerak di
saat-saat yang paling menetukan, aku tidak mau menunggu. Sebuah
tikaman yang tepat telah menghunjam di dadanya. Yang terdengar
kemudian adalah orang itu mengerang. Ketika aku menarik kerisku,
iapun terjerembab jatuh. Mati. Sejenak aku berdiri dengan tangan
bergetar. Baru sesaat kemudian aku sadar, bahwa di ruang itu ada
seorang perempuan yang gemetar ketakutan. Ketika aku memandang
sela-sela daun pintu yang tidak tertutup rapat, maka senjapun sudah
menjadi semakin suram. Ternyata aku tidak berkelahi terlalu lama.
“Raden Ayu harus segera kembali ke istana Ranakusuman“ Aku berkata
kepada perempuan itu. Aku sudah tidak begitu jelas lagi melihat
perubahan wajahnya di dalam keremangan malamyang sudah turun
perlahan- lahan. “Bagaimana aku akan pulang?“ bertanya Raden Ayu.
“Terserah kepada Raden Ayu. Tugasku sudah selesai” “Tetapi, apa yang
dapat aku katakan kepada Pangeran Ranakusuma tentang diriku”
“Terserah kepada Raden Ayu” “Tidak. Aku memer lukan pendapatmu”Aku
tidak peduli. Tetapi ketika aku melangkah pergi, Raden Ayu
Ranakusuma telah menahanku, bahkan berpegangan lenganku. “Aku tidak
dapat pulang sendiri dan aku tidak mempunyai alasan untuk mengatakan
sesuatu kepada Pangeran Ranakusuma” “Terserah kepada Raden Ayu. Itu
bukan urusanku” “Dipanala, Dipanala. jangan tinggalkan aku sendir i
di sini“ tangisnya sambil berpegangan lenganku erat-erat. Untunglah
bahwa aku sudah setua ini. Atau aku memang bukan sejenis orang yang
memiliki darah yang terlampau panas, sehingga aku tidak mudah
dibakar oleh nafsu yang gila itu meskipun Raden Ayu Ranakusuma
agaknya sudah benar- benar kehilangan keseimbangan berpikir. Pada
saat itu Raden Ayu Galihwarit pasti sudah kehilangan nalarnya
sehingga untuk membawanya pulang dan menyerahkannya dengan selamat
dan alasan-alasan yang dapat diterima oleh Pangeran Ranakusuma,
apapun imbalannya pasti akan diberikan. Namun justru karena itu aku
menjadi semakin muak. Hampir saja aku lemparkan perempuan itu.
Untunglah bahwa aku segera sadar, bahwa aku adalah hambanya. Aku
adalah seorang abdi Ranakusuman. Karena itu, maka akupun mencoba
untuk menenangkan diri dan pengendapkan perasaan. Dalam keremangan
yang semakin kelam aku masih melihat sesosok tubuh yang terbujur di
lantai bergelimang darah. “Antarkan aku pulang” sekali lagi aku
mendengar tangis Raden Ayu Galihwarit. Akhirnya akupun berpikir,
bagaimana membawa Raden Ayu itu kembali ke rumahnya. “Marilah, hamba
antar Raden Ayu pulang dengan kereta itu“ Akupun kemudian mengambil
keputusan.“Tetapi apa yang akan aku katakan kepada Pangeran
Ranakusuma?“ “Raden Ayu dapat mengatakan apa saja” “Ya, tetapi apa?
Dan kenapa tiba-tiba kau membawa kereta ini kembali ke Ranakusuman?
Dan bagaimana dengan mayat sais itu?“ “Raden Ayu dapat mengirimkan
utusan kepada orang yang mempunyai kereta itu. Orang itu tentu akan
berkata bahwa bukan dia yang menyuruh sais itu menjemput Raden Ayu”
“Lalu kenapa kau yang membawa itu, dan kenapa sais itu mati?“ “Sais
itu menipu Raden Ayu” “Ia memang menipu, maksudku memeras. Tetapi
bagaimana aku harus mengatakan?“ “Sais itu menipu, kemudian ingin
merampok Raden Ayu. Ketika kereta ini dipacu. Raden Ayu melihat
hamba di pinggir jalan. Raden Ayu berteriak memanggil, dan hamba
sempat menghentikan kereta itu. Hamba bunuh saisnya dan hamba
membawa Raden Ayu kembali” “Tetapi kenapa di rumah ini” “Ia mencoba
bersembunyi” “Lalu apakah alasanmu bahwa kau berada di jalan yang
dilalui kereta ini” “Serahkan kepada hamba” Sejenak Raden Ayu
Galihwarit berpikir. Namun kemudian iapun berkata sambil mengangguk
kecil “Baiklah. Mudah- mudahan kamas Ranakusuma tidak bertanya
terlampau banyak” “Mudah-mudahan“Raden Ayu Galihwaritpun kemudian
berjalan tertatih-tatih ke kereta yang masih ada di tepi jalan. Aku
mengikutinya dengan hati yang berdebar-debar. Namun akupun mulai
berpikir, apakah yang harus aku katakan kepada Pangeran Ranakusuma.
Ternyata bahwa usaha Raden Ayu Galihwarit untuk membersihkan dirinya
berhasil. Seorang kumpeni datang ke Ranakusuman sambil memaki-maki.
Ia merasa menyesal bahwa keretanya telah dipergunakan oleh sais itu
untuk merampok. “Untunglah bahwa usaha itu gagal” katanya dengan
nada yang kaku. Kedatangan orang asing itu memang mempengaruhi sikap
Pangeran Ranakusuma. Ia percaya bahwa isterinya telah tertipu dan
aku yang kebetulan melihatnya telah menolongnya. “Tentu sais itu
pula yang menjebak kawanku, perwira yang terbunuh itu” berkata orang
asing itu “Tetapi agaknya ia belum sempat merampok saat itu. Sejak
saat itu sebenarnya aku sudah cur iga, tetapi Raden Ayu sendiri yang
mengatakan bahwa sais itu tidak bersalah” Demikianlah semua
kesalahan telah berhasil dilemparkan kepada sais yang mati itu. Dan
akupun terlepas pula dari segala sangkut paut dan keterlibatan atas
kematian sais itu. Sementara Raden Ayu Galihwaritpun berhasil
menghindarkan diri dari kemarahan Pangeran Ranakusuma” Kiai
Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya “Jadi itulah
agaknya yang menjadi sebab, kenapa Raden Ayu Galihwarit t idak dapat
berbuat apa-apa atasmu” “Demikianlah agaknya kakang” “Sayang, bahwa
ia justru tidak melakukannya karena ia merasa berterima kasih
kepadamu. Jika demikian, maka iaakan menghent ikan semua kelakuannya
yang binal itu, dan berbuat baik kepadamu dengan jujur. Ternyata
bahwa yang dilakukan justru kebalikan dari itu. Ia sama sekali tidak
merasa menyesal dan bahkan menganggap kau sebagai orang yang paling
berbahaya baginya” “Ternyata demikian yang terjadi kakang. Meskipun
di antara kami dengan diam-diam ada semacam perjanjian, bahwa kami t
idak akan saling membuka rahasia, namun agaknya Raden Ayu Galihwarit
menganggap bahwa dengan membunuhku, maka persoalannya menjadi lebih
jernih. Ia akan berhasil melenyapkan semua rahasia yang hanya aku
ketahui, jika rahasia itu aku bawa mati seperti sais itu pula” Kiai
Danatirta masih mengangguk-angguk. Lalu katanya “Ternyata Raden Ayu
Galihwarit adalah orang yang sangat berbahaya. Lebih berbahaya dari
yang aku duga. Ia sampai hati melakukan pembunuhan meskipun tidak
dengan tangan sendiri. Sudah barang tentu bahwa nasib Raden
Juwiringpun pada suatu saat terancampula olehnya” “Ya kakang.
Kemungkinan itu memang dapat terjadi” Kiai Danatirtapun terdiam
sejenak. Wajahnya yang tenang dan dalam itu t iba-tiba seakan-akan
bergejolak. Tetapi hanya sejenak, karena sejenak kemudian maka
perasaan yang melonjak sesaat itupun segera dapat dikuasainya
kembali. Namun demikian bagi Dipanala masih ada persoalan yang
dihadapinya. Setelah ia terlepas dari maut, lalu apakah yang akan
dilakukannya? Karena itu, maka iapun kemudian minta pertimbangan
kepada Kiai Danatirta tentang persoalannya itu. Persoalan yang
sangat rumit baginya. “Apakah aku masih akan kembali ke istana
Ranakusuman kakang?“ Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam.
Memang sulit bagi Ki Dipanala untuk menentukan sikap. Jika ia tidak
kembalike Ranakusuman, maka Raden Ayu Galihwarit pasti akan menjadi
semakin cemas akan dirinya sendiri. Raden Ayu itu tentu menduga,
bahwa Dipanala mengetahui bahwa ia telah berusaha membunuhnya.
Dengan demikian, maka nafsu membunuh itu akan menjadi semakin
bergejolak di dalam hatinya, dan sebelum ia berhasil, ia pasti tidak
akan berhenti, karena masalahnya akan menyangkut namanya dan
kedudukannya. Apalagi keluarga Dipanala masih tinggal di belakang
istana Ranakusuman, sehingga mungkin Raden Ayu yang garang itu akan
melepaskan dendamnya kepada keluarga Dipanala, atau mempergunakan
keluarga itu untuk memaksakan kehendaknya atas Dipanala. Tetapi jika
ia kembali ke Ranakusuman, maka iapun akan berada di dalam bahaya.
Namun setelah berpikir sejenak, Kiai Danatirta itu berkata
“Sebaiknya kau kembali Dipanala?” Ki Dipanala memandang wajah Kiai
Danatirta yang dalam, itu. “Berbuatlah seolah-olah kau tidak
mengetahui apa yang telah terjadi atasmu. Kau tidak usah
menyinggung-nyinggung masalah itu sebagai masalah yang menyangkut
keluarga Ranakusuman” “Tetapi bukankah Raden Rudira mengetahui,
bahwa aku sudah mengalami? Jika aku diam sama sekali, apakah hal itu
justru tidak mencurigakan bagi mereka” “Maksudku, kau jangan
menyinggung nama penghuni Ranakusuman. Kau dapat melaporkan bahwa
kau telah dirampok di perjalanan. Kau dapat mengatakan apa yang
terjadi. Tetapi kau tidak tahu siapakah yang lelah melakukan itu” Ki
Dipanahi mengangguk-angguk. ”Namun bagaimanapun juga, kau harus
berhati-hati. Usaha itu tentu tidak akan berhenti sampai sekian.
Semakin lama kaupasti dianggapnya sebagai orang yang semakin
berbahaya bagi Raden Ayu Galihwarit” “Ki Dipanala mengangguk-angguk.
la sadar sesadar- sadarnya, bahwa kini ia benar-benar di dalam
kesulitan, apapun yang dilakukannya. “Ki Dipanala” berkata Kiai
Danatirta kemudian “Aku adalah orang tua. Mungkin aku tidak
mempunyai kemampuan apapun juga untuk membantumu. Tetapi karena
sedikit banyak persoalan ini menyangkut hubunganmu dengan padepokan
ini, maka jika kau sempat, katakanlah kesulitan-kesulitanmu
kepadaku” “Ah, kakang tidak terlibat. Semuanya adalah hasil
perbuatanku sendiri. Dan aku memang harus mempertanggung
jawabkannya” “Tetapi kemarahan Raden Rudira kepadamu terutama karena
kau telah menentang niatnya untuk membawa Arum. Bahwa ibu dan
ayahnya mengurungkan niatnya untuk menderamu di halaman Ranakusuman,
bukannya karena mereka melarang, tetapi mereka takut jika kau
membuka rahasia itu kepada setiap orang” Ki Dipanala
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Terima kasih kakang.
Sebenarnyalah bahwa aku memer lukan perlindungan. Pada suatu saat
mungkin aku memang harus menyingkirkan keluargaku dari rumah yang
sekarang aku diami” “Memang mungkin mereka mengusirnya. Tetapi jika
mereka sudah berhasil membinasakan kau” “Bukan saja karena Raden Ayu
Galihwarit ingin membunuhku. Tetapi kota Surakarta memang menjadi
semakin panas. Pengaruh orang asing yang semakin lama menjadi
semakin terasa menjerat kaki dan tangan kita sendiri, telah
menumbuhkan persoalan baru. Beberapa orang Pangeran tidak menerima
keadaan ini. Dan menurut RadenRudira yang baru datang dari Sukawati,
aku mendengar bisik- bisik di antara para pelayan dan hamba yang
lain yang mendengarnya, bahwa keadaan Sukawati terasa sangat aneh.
Rakyat Sukawati seakan-akan bukan lagi merupakan rakyat biasa
seperti yang kita lihat di padukuhan-padukuhan lain. Rakyat Sukawati
mempunyai bentuknya tersendiri” “Bagaimana dengan rakyat Sukawati
itu?“ “Mereka memiliki sifat-sifat yang aneh. Seorang pengiring yang
mengikut i Raden Rudira ke daerah Sukawati mengatakan bahwa ia
seakan-akan masuk ke dalam suatu mimpi yang menggetarkan.
Seakan-akan setiap orang di Sukawati adalah prajurit-prajurit yang
siap untuk bertempur” “Tentu itulah sikap Pangeran Mangkubumi. Jika
Raden Rudira mengatakan hal itu kepada ayahanda Pangeran Ranakusuma,
maka kumpenipun tentu akan segera mendengarnya” “Tetapi Sukawati
sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Mereka sama sekali tidak
gentar menghadapi kemungkinan yang manapun jika Pangeran Mangkubumi
memang sudah bersikap demikian” “Sebenarnyalah harapan kita
tergantung kepadanya” “Menilik suasananya kakang, agaknya bagaikan
bisul yang sudah masak. Entah pagi, entah sore, maka bisul itu akan
segera pecah” “Apakah kau sudah merasakan?“ “Ya kakang. Baru-baru
ini datang utusan kumpeni dari Semarang. Tentu ada persoalan yang
akan berkembang lagi. Dan aku yakin bahwa hal itu pasti akan
menyangkut persoalan Pangeran Mangkubumi dan segala kegiatannya”
“Tentu kita tidak akan dapat tinggal diam. Jika angin bertiup maka
kita harus bersikap. Tetap tegak ataskemampuan diri atau merunduk ke
arah angin. Dan orang asing itu adalah angin yang sangat deras. Ki
Dipanala mengangguk-angguk. Lalu katanya “Aku berada di padang
ilalang” “Yang akan merunduk karena hembusan angin” “Ya kakang. Aku
mengetahui dengan pasti sikap Pangeran Ranakusuma” “Kau tidak dapat
memberikan pendapat? Bukankah sampai sekarang suaramu masih di
dengar?“ Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Tetapi
persoalannya hampir sama dengan persoalan Raden Ayu Galihwar it”
“He?” Kiai Danatirta terkejut. “Tetapi bukan secara kebetulan.
Pangeran Ranakusuma memang melakukannya dengan sengaja meskipun
akhirnya ia terjerat oleh kebiasaannya itu. Aku pernah dijadikan
penghubung antara Pangeran Ranakusuma dengan Raden Ayu Retnasasi”
“Raden Ayu Retnasasi? Aku pernah mendengar namanya. Tetapi bukankan
Pangeran Ranakusuma memang beristeri lebih dari seorang?“ “Jika
Raden Ayu Retnasasi itu orang lain, maka persoalannya tidak akan
terlampau sulit. Pangeran Ranakusuma dapat mengawininya. Mungkin
Raden Ayu Galihwar it akan marah, tetapi tidak akan bertahan lama
dan persoalannya akan berkembang seperti yang pernah terjadi. Tetapi
yang lebih parah adalah karena Raden Ayu Retnasasi adalah adik
kandung Raden Ayu Galihwarit sendiri” “He, itupun suatu kegilaan
yang berlebih-lebihan” “Demikianlah keadaan istana Ranakusuman”“Jika
terjadi sesuatu dengan Raden Ayu Retnasasi apakah yang dapat
dilakukan oleh Pangeran Ranakusuma?“ “Tidak apa-apa. Raden Ayu
Retnasasi sudah bersuami” “O” Kiai Danatirta memijit-mijit keningnya
sambil menggeleng-geleng lemah ”Bukan main. Aku ingat sekarang.
Raden Ayu Retnasasi agak berbeda dari kakaknya Raden Ayu Galihwar it
yang juga disebut Raden Ayu Sontrang. Raden Ayu Retnasasi bertubuh
kecil, tetapi lincah seperti burung sikatan” “Ya. Begitulah
kira-kira” “Ternyata keluarga yang tampaknya menyilaukan itu,
agaknya adalah keluarga yang rapuh sekali. Pada saatnya akan datang
kekecewaan yang mencengkamseisi rumah itu” “Termasuk aku kakang,
karena akupun sudah terlibat begitu jauh dar i seluruh persoalan
yang ada di istana itu” “Tetapi kau dapat menyingkir Dipanala”
“Terlambat kakang. Aku harus mempertanggung jawabkan semua yang
pernah aku lakukan selama aku berhubungan dengan Keluarga itu.
Bahkan hampir saja aku digilasnya. Tetapi agaknya lambat laun hal
itu akan terjadi juga, karena mereka tentu t idak akan berhenti
berusaha” “Tetapi kau tidak akan sekedar menundukkan kepala sambil
mengacukan ibu jarimu untuk mempersilahkan mereka memenggal lehermu.
Apalagi kau memiliki senjata yang dalam keadaan yang paling
berbahaya masih dapat kau pergunakan” Ki Dipanala menarik nafas
dalam-dalam. “Namun adalah kewaj ibanmu untuk berusaha melindungi
dirimu sendir i. Kau memang harus berhati-hati sekali” “Kali ini
agaknya Pangeran Ranakusuma belum terlibat dalam usaha untuk
menyingkirkan aku. Tetapi lain kali. mungkin ialah yang
melakukannya, dan tentu jauh lebih cermat dari usaha isterinya”Kiai
Danatirta mengangguk-angguk pula, tetapi ia t idak menyahut,
sehingga dengan demikian keduanyapun berdiam diri untuk beberapa
saat lamanya. Dalam pada itu, malampun menjadi semakin malam. Angin
yang dingin berhembus menyentuh kulit. Di kejauhan terdengar derik
bilalang bersahut-sahutan disela-sela r intih angkup yang
samar-samar. “Sudahlah” berkata Kiai Danatirta kemudian
“beristirahatlah. Kau tentu lelah setelah menyelesaikan perjalanan
yang kurang menyenangkan itu. Apalagi kau masih harus berkelahi” Ki
Dipanala tersenyum. Jawabnya “Terima kasih kakang” “Tidurlah di
gandok kir i” “Terima kasih” Ketika Ki Dipanala berdiri bersama-sama
dengari Kiai Danatirta, maka ia berkata “Aku akan membawa anak panah
itu kembali besok. Aku akan berpura-pura tidak tahu, siapakah
pemilik anak panah itu, dan aku tidak akan mengatakan bahwa Buntal
terlibat dalam perkelahian ini. Kiai Danatirta tersenyum “Cobalah,
mudah-mudahan pancinganmu mengena” Demikianlah maka keduanyapun
kemudian meninggalkan pendapa. Ki Dipanala pergi ke gandok kir i.
sedang Kiai Danatirta masuk ke ruang dalam. Ternyata bahwa kedua
anak-anak muda itu sudah tidur. Juwiring tidur sambil memegang
bajunya yang dilepasnya. Agaknya ia merasa udara terlalu panas malam
itu, sedang Buntal pun juga t idak berbaju. Sambil mengangguk-angguk
Kiai Danatirta meninggalkan bilik itu. Ia berhenti ketika ia melihat
bilik Arum masih terbukasedikit. Dari celah-celah pintu itu ia
melihat Arum terbaring di pembaringannya. Tetapi agaknya ia masih
belumtidur. Arum terkejut ketika ia mendengar pintu itu berderit
perlahan-lahan. Dengan cekatan ia meloncat bangkit. Namun gadis
itupun menar ik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Kiai Danatirta
berdiri di muka pintu. “Ayah mengejutkan aku” gadis itu
bersungut-sungut. Kiai Danatirta tersenyum. Kemudian ia bertanya
“Kenapa kau belum tidur?“ “Belum ayah. Udara panas sekali malam ini”
“Kau memikirkan kir iman itu? Bukankah kau mendapat kiriman khusus
dari Raden Ayu Ranakusuma, di samping kiriman-kiriman yang lain”
“Ah” desis gadis itu. “Kain itu tentu bagus sekali” “Ah” sekali lagi
Arumberdesis. “Tidurlah” berkata Kiai Danatirta kemudian. Arumpun
segera membaringkan dir inya. Ia hanya berpaling sambil tersenyum
ketika ia melihat ayahnya menutup pintu biliknya rapat-rapat.
Sejenak kemudian Kiai Danatirtapun masuk pula ke dalam biliknya.
Tetapi seperti Ki Dipanala, maka orang tua itu tidak segera dapat
tertidur. Angan-angannya berterbangan mengitari setiap persoalan
yang seakan-akan saling susul menyusul dengan cepatnya. Arum,
Juwiring, Buntal, Sura, Dipanala kemudian tentang Surakarta dan
kumpeni. Menjelang dini hari, barulah Kiai Danatirta dapat tidur
sejenak. Karena sebentar kemudian ayam jantan telah berkokok saling
sahut menyahut.Dalam pada itu, Raden Rudira dan Mandra masih berada
di simpang empat di luar kota. Mereka duduk sambil berbincang,
meskipun keduanya tampak gelisah. “Kenapa sampai gagal, Mandra?“
bertanya Rudira geram. “Aku tidak menyangka Raden. Tetapi menurut
pengamatanku ada seseorang yang ikut serta dalam perkelahian itu”
“Ya” “Apakah Raden mengetahuinya?“ Raden Rudira menggelengkan
kepalanya. Katanya “Dari mana aku tahu. Di dalam malam gelap dan
jarak yang tidak terlalu dekat” “Tetapi Raden dapat membidik dengan
tepat” “Untuk membidik seseorang aku hanya memerlukan bentuknya.
Bukan garis-garis wajahnya” “Tetapi apakah Raden tidak keliru?“ “Aku
yakin tidak. Aku adalah pemburu yang baik” “Ya. Raden adalah seorang
pemburu yang baik” gumam Mandra mudah-mudahan Dipanala tidak
mengetahui apakah yang sebenarnya lelah terjadi” “Lalu apa yang akan
kita katakan kepada ibunda?“ “Apa yang ada saja tuan. Mungkin usaha
ini harus diulangi.”Raden Rudira merenung sejenak, lalu tiba-tiba
saja ia berkata “Kenapa kau suruh cucurut-cucurut itu melakukan
tugas yang penting ini Mandra, sehingga kita telah melewatkan
kesempatan yang bagus ini” “Maaf Raden. Aku kira mereka akan dapat
menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Tetapi jika tidak ada orang
lain yang ikut campur aku kira Dipanala sudah terbunuh” “Aku harus
tahu siapakah orang itu” “Dari siapa tuan akan tahu?“ Raden Rudira
merenung sejenak. Namun kemudian katanya “Dipanala pasti akan
kembali ke Ranakusuman. Ia akan berceritera tentang perjalanannya”
“Apakah jika ia mengetahui bahwa kita terlibat di dalamnya ia masih
juga akan kembali?“ Raden Rudira tidak segera menyahut. Namun sekali
lagi ia menggeram “Kau memang terlampau bodoh untuk memilih orang”
“Aku minta maaf Raden” Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian iapun bergumam seperti kepada diri sendiri “Mudah-mudahan
Dipanala kembali ke Ranakusuman. Ia akan berceritera, siapakah yang
membantunya” “Mudah-mudahan ia masih berani kembali ke Ranakusuman”
“Ia harus kembali” bentak Raden Rudira “Jika ia t idak kembali,
berarti ia mengetahui bahwa kita sudah terlibat. Dan itu berbahaya
sekali. Kita harus memburunya kemana ia pergi dan membunuhnya” “Ya,
ya Raden. Kita harus membunuhnya““Tetapi apa yang sekarang harus
kita lakukan?“ Raden Rudira menahan kemarahan yang masih bersarang
di dadanya. Tetapi ia tidak mau menyakiti hati Mandra agar iapun
tidak berkianat. “Marilah kita kembali. Tuan akan mengatakan apa
yang sebenarnya terjadi” Raden Rudira menarik nafas dalam. Lalu
“Marilah kita segera kembali. Mudah-mudahan kita masih menemukan
jalan yang sebaik kali ini, agar kita tidak usah memburunya seperti
memburu kijang di hutan perburuan itu. Keduanyapun kemudian dengan
lesu pergi ke kuda mereka yang tertambat di pohon perdu. Dengan lesu
pula mereka meloncat naik dan berjalan memasuki kota Surakarta. Kota
yang masih lengang itu udaranya terasa sangat panas sepanas hati
mereka karena kegagalan yang dialaminya untuk yang kesekian kalinya.
“Pada suatu saat aku harus berhasil” geram Raden Rudira di dalam
hati “Jika besok Dipanala kembali dan menyebut orang yang
membantunya itu, aku akan segera mengambil sikap. Sebaiknya tidak
tanggung-tanggung” Dalam pada itu, semalam suntuk Raden Ayu
Galihwarit sama sekali tidak dapat tertidur sekejappun. Dengan
gelisah ia menunggu kedatangan puteranya yang mengawasi tugas
orang-orang yang mencegat Dipanala. Semakin dekat fajar menyingsing.
Raden Ayu Galihwarit menjadi semakin cemas. Jika terjadi sesuatu
dengan Raden Rudira dan rahasia itu dapat diketahui oleh Dipanala,
maka orang itu pasti akan membuka segala rahasianya pula, meskipun
itu akan berakibat mati bagi Dipanala, karena dalam keadaan yang
memaksa Raden Ayu Galihwarit pasti akan membuka rahasia Dipanala
pula, karena Dipanala sudah membunuh seorang perwira kumpeni.Tetapi
jika Pangeran Ranakusuma dan terlebih- lebih anak laki- lakinya ini
mendengar rahasianya, maka iapun pasti akan terhina untuk
selama-lamanya. Ia akan tersisih dari pergaulan yang wajar para
bangsawan dan ia pasti akan diusir dari Ranakusuman. Meskipun
Pangeran Ranakusuma adalah seorang bangsawan yang tidak terlampau
ketat memegang kebiasaan yang berlaku bagi isteri-isterinya, karena
hubungannya yang luas dengan orang-orang asing, namun apakah ia akan
dapat membiarkan isterinya berbuat terlampau jauh. Dan apakah kata
putera laki- lakinya tentang dirinya?” Kegelishan itu memuncak
ketika ayam jantan sudah mulai berkokok bersahut-sahutan menjelang
pagi. Namun Raden Rudira dan Mandra masih juga belum kembali. Dalam
kegelisahan yang tidak tertahankan lagi, maka Raden Ayu
Galihwaritpun segera bangkit dan keluar dari biliknya. Beberapa
orang abdi melihatnya dengan heran. Tidak menjadi kebiasaan Raden
Ayu Galihwarit bangun terlampau pagi, karena ia adalah seorang
perempuan bangsawan yang mendambakan kamukten yang
berlebih-lelbihan, sehingga sama sekali t idak terlintas di dalam
angan-angannya untuk berbuat sesuatu yang dianggapnya dapat
merendahkan martabat kebangsawanannya. Seperti orang yang sedang
dicengkam oleh kebingungan yang sangat. Raden Ayu Galihwarit duduk
di ruang depan, meskipun ia belum membenahi dir inya. Dan hal itupun
adalah di luar kebiasaannya, la belum keluar dari biliknya sebelum
ia yakin bahwa ia sudah menjadi sangat cantik. Raden Ayu Galihwarit
tersentak ketika ia melihat regol terbuka. Yang, pertama dilihatnya
adalah kepala seekor kuda yang tersembul dari sela pintu. Namun
Raden Ayu Galihwarit sudah mengenal kuda itu baik-baik. Kuda itu
adalah kuda puteranya Raden Rudira.Karena itu, maka Raden Ayu
Galihwaritpun segera berdiri dan melangkah dengan tergesa-gesa ke
tangga depan. Demikian Raden Rudira masuk, maka iapun segera
memanggilnya. Raden Rudira berpaling mendengar suara ibunya. Dan
iapun segera berbelok ke tangga pendapa Ranukusuman diikuti oleh
Mandra. Dengan tidak sabar Raden Ayu Galihwarit menyongsong
kedatangan anaknya. Hampir berlari- lari ia turun tangga dan berdiri
di bawah kuncung. Demikian Raden Rudira meloncat dari kudanya,
ibunya segera bertanya “Bagaimana?” Raden Rudira menarik nafas
dalam-dalam. Sekali ia berpaling kepada Mandra. namun orang itu
sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Bagaimana?“ sekali lagi
Raden Ayu Galihwarit berdesis. “Aku berhasil mengawasi mereka ibu”
jawab Raden Rudira. “Sst, jangan terlampau keras. Ayahanda masih
tidur di dalam biliknya. Ia tidak boleh mengetahui rencana ini”
Raden Rudira mengangguk. Namun terasa tenggorokannya bagaikan
tersumbat. Ternyata terlampau berat baginya untuk mengatakan
kegagalannya. Tetapi ia tidak dapat mengelak lagi. Ketika ibunya
mendesaknya, maka iapun harus menceriterakan apa yang sudah terjadi.
Tiba-tiba saja wajah Raden Ayu Galihwarit yang gelisah itu menjadi
pucat. Dengan suara yang terputus-putus ia bertanya “Jadi, jadi
Dipanala itu masih hidup?“ “Ya. Aku menyesal sekali bahwa aku gagal
lagi kali ini”“Bodoh sekali. Kenapa kalian tidak berhasil membunuh
kelinci yang akan dapat menjadi sebuas serigala itu?“ “Sekarang kami
gagal ibu. tetapi percayalah bahwa pada suatu saat ia akan mati.
Akulah orang yang paling mendendamnya. Akulah yang akan selalu
berusaha memusnakannya” “Jangan menunggu ia menerkamaku” “Kenapa
dengan ibu?“ bertanya Raden Rudira. Pertanyaan itu telah mengejutkan
Raden Ayu Galihwarit. Namun dengan tergesa-gesa ia menyambung
“Tidak. Maksudku, menerkam kita semuanya. Ia akan dapat berkhianat
seperti Sura” “Ibunda dan ayahanda terlalu memanjakannya. Aku sudah
ingin menderanya dengan rotan sambil mengikatnya pada pohon sawo
kecik itu. Tetapi ayahanda dan ibunda melarangnya” Dada Raden Ayu
Galihwarit menjadi semakin berdebar- debar. Katanya “Itu tidak
bijaksana. Jika didengar oleh Pangeran-Pangeran yang lain, maka kita
seakan-akan menjadi orang yang paling kejam di Surakarta” Raden
Rudira menarik nafas dalam-dalam. “Tetapi orang itu harus
dimusnahkan“ gumam Raden Ayu Galihwar it. Lalu “Kenapa bukan
Dipanala saja yang kau bunuh dengan panahmu. Jika kau berhasil
membidik orang itu, kaupun pasti berhasil membunuh Dipanala” “Tetapi
orang yang tertangkap itu akan sangat berbahaya ibu. Ia dapat
mengatakan siapakah yang menyuruhnya” “Orang itupun kau bunuh pula”
“Itulah yang sulit. Orang yang berkelahi di pihak Dipanala itu
mempunyai kesempatan untuk menyeretnya dan memukulnya hingga
pingsan. Kemudian menyembunyikannyadi balik tanggul. Tentu aku tidak
dapat mendekatinya, agar aku tidak dapat dikenai oleh orang yang
memihak Dipanala itu, karena aku belum pasti dapat membunuhnya”
“Siapakah orang itu?“ “Aku tidak mengenalnya di dalam gelap dan
jarak yang tidak cukup dekat” Raden Ayu Galihwarit menundukkan
kepalanya. Persoalan itu justru membuatnya semakin gelisah. Namun
tiba-tiba saja ia menggeram “Tetapi orang itu harus dibunuh. Segera”
Ketika ia menyadari keadaannya, ia menyambung “Jika tidak, maka
semua keinginanmu pasti akan dihalang-halanginya. Sebenarnya aku
tidak berkeberatan jika kau mengambil gadis itu Mungkin ia berguna
bagiku dan bagimu. Apa salahnya kau mengambil seorang gadis
padepokan, karena kau putera seorang Pangeran?“ Ternyata kata-kata
itu berhasil membakar hati Raden Rudira, sehingga iapun menyahut
“Ya. Ia akan aku bunuh segera. Jika aku tidak berbuat cepat, maka
gadis itu akan menjadi selir kamas Juwir ing, karena mereka tinggal
bersama- sama di padepokan itu” Raden Ayu Galihwarit tidak
menghiraukan kata-kata itu. Baginya yang penting adalah, Dipanala
terbunuh. “Jika Dipanala kembali, ia tentu akan berceritera tentang
orang yang menolongnya itu” berkata Raden Rudira kemudian. “Apakah
mungkin orang yang selalu kau sebut-sebut sebagai petani dari
Sukawati itu?“ bertanya ibunya. Dada Raden Rudira berdesir. Namun
iapun kemudian menjawab “Tentu bukan. Ia memer lukan waktu untuk
mengalahkan lawan-lawannya. Tentu tidak demikian dengan petani dari
Sukawati itu. Dengan gerak yang sederhana iaberhasil memaksa Sura
untuk menyerah dan tidak berdaya lagi” “Ya, Dipanala akan
berceritera. Tetapi apakah ia akan berani kembali kemari?“ “Ia tidak
tahu bahwa akulah yang membunuh tangkapannya. Jika ia tidak kembali
kemari, artinya ia mengetahui rahasia ini” “O“ Raden Ayu Galihwarit
menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Kenapa ibu?“ “Aku kasihan
kepadamu. Jika ia tahu akan rahasia ini, maka namamu akan tercemar”
“Jangan hiraukan. Aku dapat menyebutnya sebagai fitnah belaka karena
ia tidak akan dapat membuktikannya” Raden Ayu Galihwarit
menganggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menundukkan wajahnya
dalam-dalam. “Sudahlah ibu” berkata Rudira “Jangan hiraukan lagi.
Aku akan menyelesaikan semuanya. Sekarang aku akan menyingkirkan
kuda ini” Raden Ayu Galihwarit mengangguk pula meskipun terasa
hatinya menjadi semakin parah. Tetapi ia masih mempunyai harapan
bahwa Rudira akan segera menyelesaikannya. “Tentu Dipanala t idak
mengetahui bahwa yang membunuh tangkapannya itu adalah Rudira”
berkata Raden Ayu Sontrang di dalam hatinya. Demikianlah Raden
Rudira dan Mandrapun meninggalkan Raden Ayu Galihwarit. Sejenak
Raden Ayu itu masih berdiri di tempatnya. Namun ketika dilihatnya
seorang juru taman menyapu halaman, maka iapun segera menyadari
keadaannya. Dengan tergesa-gesa ia masuk ke ruang dalam. Sejenak ia
berdiri di muka bilik suaminya. Dari sela-sela pintuia melihat di
pembaringan di sebelah pintu itu, Pangeran Ranakusuma masih
terbaring diam. “Kamas Ranakusuma masih tertidur. Tetapi pintu
biliknya sudah terbuka. Tentu ia sudah pergi ke pakiwan dan tidak
rapat menutup pintu biliknya” pikir Raden Ayu Galihwarit. Tetapi
Raden Ayu Galihwarit terkejut ketika ia mendengar suara suaminya
yang masih berbaring “Masuklah“ Perlahan-lahan Raden Ayu Galihwarit
melangkah maju. Hatinya yang gelisah menjadi semakin gelisah.
“Apakah Pangeran Ranakusuma mengetahui pembicaraanku dengan
Rudira?”Ia bertanya kepada diri sendiri. Ketika Raden Ayu Galihwarit
sudah berdiri di depan pintu dalam bilik, Pangeran Ranakusumapun
segera bangkit. Sambil duduk di bibir pembaringannya ia bertanya
“Kau bangun terlalu pagi hari ini, apakah ada sesuatu yang penting?“
Raden Ayu Galihwarit menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak kamas.
Tetapi tiba-tiba saja. aku menjadi gelisah. Biasanya aku melepaskan
Rudira pergi berburu dengan hati yang tenang” “Apakah anak itu pergi
berburu?“ Raden Ayu Galihwarit mengangguk. “Berbeda dengan
kebiasaannya, ia membawa beberapa orang pengiring” “Aku sudah
bertanya kepadanya. Tetapi kini ia mempergunakan cara lain. Orang
yang berjumlah semakin banyak, akan mengganggu binatang buruannya”
“Apakah ia mendapat sesuatu?“ Raden Ayu Galihwarit menggeleng.
Jawabnya “Tidak”Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Akhirnya sama saja. Dengan atau tidak dengan pengiring, ia
tidak mendapat seekor kelincipun” Raden Ayu Galihwarit tidak
menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan getar di
dalam hatinya. “Dimana Rudira sekarang?“ “Di belakang, kamas”
“Tingkah lakunya menjadi semakin aneh sekarang. Dahulu ia berburu di
malam har i. Kadang-kadang dua tiga malam ia berada di hutan buruan.
Bahkan dahulu ia ser ing membawa seekor rusa atau Setidak-tidaknya
kulitnya, jika rusanya sudah dimakan bersama pengir ing-pengir
ingnya di tengah-tengah hutan. Tetapi akhir-akhir ini ia tidak
berhasil mendapatkan apa-apa. Menurut penilaianku ia adalah seorang
pembidik yang baik. Tetapi ia malas sekali mengikut i buruannya”
Raden Ayu Galihwarit tidak menyahut, la ingin segera diperkenankan
meninggalkan suaminya yang masih tetap duduk di bibir
pembaringannya. Raden Ayu Galihwarit menarik nafas lega ketika
Pangeran Ranakusuma berkata “Apakah kau akan mandi?“ “Ya kamas, aku
belum mandi“ “Mandilah. Suruhlah seseorang menyediakan air panas
buatku” “Baiklah Pangeran” sahut Raden Ayu Galihwarit sambil
bergeser surut.Tetapi ketika ia sampai di pintu Pangeran Ranakusuma
memanggilnya sambil bertanya “Apakah Dipanala sudah kembali?”
“Sepengetahuanku belum kamas“ jawab Raden Ayu Galihwar it dengan
dada yang semakin berdebar-debar. Rasa- rasanya lantai yang
dipijaknya menjadi panas. “Kenapa belum?“ ”Bukankah sudah menjadi
kebiasaannya bermalam di padepokan itu? Bahkan pernah ia bermalam
sampai dua malamberturut-turut” Pangeran Ranakusuma mengangguk. Lalu
katanya “Mandilah” Dengan tergesa-gesa Raden Ayu Galihwaritpun
segera meninggalkannya sebelum Pangeran Ranakusuma bertanya lebih
banyak lagi. Dalam pada itu, selagi Raden Ayu Galihwarit kemudian
sibuk mempercantik dir inya. Sementara itu di padepokan Jati Aking
Ki Dipanalapun sedang berkemas, ia benar-benar ingin kembali ke
Ranakusuman, justru secepat-cepatnya. “Aku tiba-tiba saja ingin
segera menghadap Pangeran Ranakusuma berdua. Aku ingin tahu kesan di
wajah mereka ketika mereka melihat kehadiranku. Juga anak
laki-lakinya itu apabila ia berada di istananya” gumam Dipanala
sambil mengusap leher kudanya. Kiai Danatirta yang berdiri sarribil
bersilang tangan berkata “Tetapi hati-hatilah Dipanala. Banyak hal
yang tidak terduga- duga dapat terjadi. Tetapi juga mungkin karena
kita salah menilai keadaan” “Ya kakang. Aku akan selalu
berhati-hati”“Bukan saja karena keadaan di Ranakusuman sendir i,
tetapi keadaan Surakarta pada umumnya. Jika terjadi huru hara,
cobalah menghubungi kami di padepokan ini. Tetapi kau juga harus
menjaga dir imu, karena dalam keadaan yang demikian, kesempatan
untuk membunuhmu tanpa perkara akan menjadi semakin besar. Tidak ada
orang yang sempat mengurus kematianmu j ika benar-benar pecah
perartg karena ketidak puasan yang sudah tidak lagi dapat tertahan
di dada beberapa orang Pangeran yang justru berpengaruh” “Ya kakang.
Aku akan mencoba” “Ki Dipanala. Apakah tidak sebaiknya keluargamu
sajalah yang lebih dahulu kau singkirkan?“ “Aku juga berpikir
demikian kakang, tetapi tentu tidak segera agar tidak menumbuhkan
kecur igaan bahwa aku akan melarikan dir i karena percobaan
pembunuhan yang gagal ini” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya
“Baiklah. Tentu aku tidak akan berkeberatan jika kau bawa keluargamu
kemari. Arum akan mendapat kawan yang sebaya” Ki Dipanala menarik
nafas dalami. Katanya “Terima kasih kakang. Kau terlalu baik
terhadapku, terhadap keluargaku dan terhadap momonganku, Raden Juwir
ing” “He, apa yang sudah aku lakukan?“ bertanya Kiai Danatirta. Ki
Dipanala tersenyum. Mereka kemudian terdiam ketika Juwiring datang
mendekat. Sambil tersenyum ia berkata “Biarlah aku memasang pelana
kuda paman. Agaknya paman sedang dicari oleh Arum” “Kenapa?“
bertanya Ki Dipanala. “Makan pagi telah tersedia” Ki Dipanala
tertawa. Dan Kiai Danatirtapun kemudian mempersilahkannya masuk ke
ruang dalam.Setelah makan pagi, maka Ki Dipanalapun segera minta
diri kepada Kiai Danatirta dan ketiga anak-anak muda yang mengantar
mereka sampai ke regol halaman. Dengan wajah yang cerah Ki Dipanala
berkata “Aku akan kembali ke Ranakusuman. Mudah-mudahan aku segera
mendapat tugas serupa, membawa Barang-barang yang lain lagi kemar i”
Juwiringpun tertawa pula. Katanya “Tetapi paman harus membawa
beberapa orang pengawal agar paman tidak dirampok orang di
perjalanan. Tentu Buntal tidak dapat setiap hari menunggu kedatangan
paman di sawah” Yang mendengar kata-kata Juwiring itupun tertawa
pula. Buntal bahkan menyahut “Aku akan menyongsong paman ke
Surakarta jika aku tahu kapan paman akan datang, dan apakah paman
membawa kain lur ik berwarna cerah buatku” Ki Dipanalapun tertawa
pula, meskipun ia tidak dapat menyingkirkan debar dadanya karena
peristiwa yang telah terjadi itu. “Tetapi paman tidak usah membawa
apa-apa lagi buatku“ berkata Arum kemudian. “Kenapa? Kain itu
pemberian Raden Ayu Galihwarit. Apakah kain itu kurang baik buatmu?“
“Bukan kurang baik, tetapi terlalu baik. Dan apakah pemberian itu
tidak menyimpan pamr ih apapun” Ki Dipanala tersenyum. Jawabnya “Aku
tidak tahu. Tetapi jika aku yang diber inya, aku akan menerimanya
dengan senang hati, apapun pamrih yang tersimpan di dalam hatinya.
Asal aku tidak goyah dari sikap dan pendirianku” “Itulah yang
namanya memanfaatkan keadaan” sahut Kiai Danatirta sambil tertawa.
Demikianlah, maka ketika matahari semakin tinggi dan panasnya terasa
mulai menggigit kulit, Ki Dipanalapun meninggalkan padepokan Jati
Aking. Dipacunya kudanyamenyusur jalan persawahan yang dilaluinya
pada saat ia datang ke padepokan itu. Ketika ia sampai Di tempat ia
dicegat beberapa orang perampok yang sekaligus akan membunuhnya itu,
maka iapun berhenti. Agar tidak menimbulkan kecur igaan orang-orang
yang berada di sawah masing-masing, maka iapun membiarkan kudanya
minum seteguk di parit di pinggir jalan, sementara ia memperhatikan
keadaan di sekelilingnya. Ternyata di sebelah parit induk yang agak
besar terdapat gerumbul-gerumbul perdu diatas tanggul. Namun agaknya
tanggul itu cukup lebar untuk berpacu diatas punggung kuda. “Dari
sana anak panah itu dilepaskan“ Ia bergumam. Lalu “Ketika Buntal
memburunya sambil berloncat-loncatan, mereka lari ke kuda mereka
yang ditambat di balik gerumbul- gerumbul itu dan berpacu menjauh”
Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Disentuhnya sebuah batu di
pinggir jalan dengan kakinya. Di situlah orang yang berpakaian
petani dengan tutup kepala yang lebar itu duduk menunggunya. Tetapi
ternyata orang itu telah dibinasakan oleh Raden Rudira sendiri.
Sejenak kemudian barulah Ki Dipanala meloncat ke punggung kudanya
dan meneruskan perjalanannya kembali ke istana Ranakusuman. Tetapi
setiap kali ia terngiang pesan Kiai Danatirta
“Hati-hatilah”
Jilid 7 KI DIPANALA menarik nafas
dalam-dalam. Di perjalanan Ki Dipanala tidak terlalu sering ber
istirahat meskipun ia tidak berpacu terlalu cepat. Sekali-sekali ia
berhenti sejenak untuk memberi kesempatan kudanya beristirahat.
Apalagi ketika ia sudah mendekati kota. Kudanya berjalan semakin
lamban. Ia berharap bahwa apabila ia datang di istana Ranakusuman,
Pangeran Ranakusuma sudah ada di istana, jika Pangeran itu pergi
menghadap Susuhunan. Karena itulah maka ketika ia mendekati regol
Ranakusuman matahari sudah condong jauh ke Barat, meskipun panasnya
masih terasa menyengat kulit Meskipun sejak ia memasuki kota ia
sudah berusaha mengatur perasaannya, namun ia masih merasa berdebar-
debar juga ketika ia berdir i di depan regol yang terbuka. Dengan
agak gemetar ia meloncat turun dari kudanya dan menuntunnya masuk
halaman.Para penjaga regol mengangguk sambil menyapanya. Salah
seorang bertanya “Kau bermalamdi padepokan itu?“ “Ya” jawab Ki
Dipanala. Lalu yang lain “Kau bawa ubi manis atau gembili?” Ki
Dipanala mencoba terserryum. Jawabnya “ Sayang, aku tidak sempat.
Aku datang lewat senja, dan pagi-pagi aku sudah berangkat lagi“
“Seharusnya kau membawa gembili ungu. Manisnya bukan main” Ki
Dipanala masih saja tersenyum, namun ia t idak menjawab. Debar
jantungnya terasa justru menjadi semakin keras sehingga sejenak ia
masih saja berdiri di regol sambil termangu-mangu. Namun kemudian
hatinyapun menjadi bulat. Apapun yang akan dihadapi. Karena itu,
maka iapun melangkah maju sambil menuntun kudanya. Ki Dipanala
terkejut ketika ia mendengar suara seorang perempuan menyapanya.
Ketika ia berpaling dilihatnya Raden Ayu Galihwarit berdiri di pintu
butulan. “He, kau sudah pulang Dipanala?“ Ki Dipanala mengangguk
dalam-dalam sambil menjawab “Ya Raden Ayu. Baru saja hamba datang”
“Kemarilah“ Panggil Raden Ayu Galihwarit. “Apakah hamba
diperkenankan menambatkan kuda ini?“ “Ikat saja pada pohon itu.
Kemar ilah” Ki Dipanala menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia
tidak dapat membantah. Diikatnya kudanya pada sebatang pohon soka
putih yang tumbuh di halaman samping, dan dengan hormatnya ia
mendekati Raden Ayu GalihwaritDadanya berdesir ketika ia melihat di
belakang Raden Ayu itu berdir i anak laki-lakinya. Raden Rudira.
Ketika Ki Dipanala berjalan mendekat, maka Raden Ayu Galihwar itpun
masuk ke ruang dalam dan duduk menghadap pintu, sementara Ki
Dipanala merayap naik tangga dan kemudian duduk bersila di lantai di
hadapan Raden Ayu Galihwar it. Raden Rudira yang kemudian masuk ke
ruang itu pula berdiri di sisi ibundanya. Dengan tajamnya.
dipandanginya Ki Dipanala yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.
”Bagaimaha. kabar kepergianmu ke padepokan Jati Aking?” bertanya
Raden Ayu Galihwarit. “Hamba telah melakukan tugas hamba
sebaik-baiknya Raden Ayu. Hamba telah sampai ke padepokan Jati
Aking” “O“ Raden Ayu Galihwar it mengangguk-angguk. Lalu “Apakah kau
sudah bertemu dengan Juwiring?“ Namun sebelum Ki Dipanala menjawab,
ia mendengar suara dari ruang dalam “Suruh Dipanala kemar i” Raden
Ayu Galihwarit mengerutkan keningnya. Tetapi ia kenal betul, bahwa
suara itu adalah suara Pangeran Ranakusuma sehingga ia tidak dapat
lagi membantahnya. “Menghadaplah” berkata Raden Ayu Galihwarit. Ki
Dipanalapun kemudian bergeser sambil berjongkok bagaikan merayap
masuk ke ruang dalam menghadap Pangeran Ranakusuma yang duduk dengan
wajah yang buram, sementara Raden Ayu Galihwarit mengikutinya di
belakang, dan yang kemudian duduk di sisi Pangeran Ranakusuma.
Tetapi Rudira tidak ikut masuk ke ruang dalam. Bahkan dengan wajah
bersungut-sungut ia berjalan keluar menemui Mandra di halaman
belakang.“Dipanala sudah datang” bisiknya di telinga Mandra. “O.
apakah yang dikatakannya kepada Pangeran“ “Aku tidak tahu. Ibunda
duduk bersama ayahanda. Lebih baik aku menyingkir” Mandra
mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Kita menunggu per intah Raden
Ayu” Dalam pada itu, Dipanala yang menghadap Pangeran Ranakusuma
duduk tepekur. Ia tidak berani mengangkat wajahnya sebelum Pangeran
Ranakusuma bertanya sesuatu kepadanya. Baru sejenak kemudian
terdengar suara Pangeran Ranakusuma ”Apakah semua kiriman kami sudah
kau sampaikan?“ “Sudah Pangeran. Hamba sudah sampai di padepokan
Jati Aking. Hamba sudah bertemu dengan Kiai Danatirta dan Raden
Juwiring” “Baik. Mereka tentu senang menerima kir iman itu.
Barangkali kali ini adalah kir iman kami yang paling banyak sejak ia
berada di padepokan itu” “Hamba Pangeran” “Dan apakah kir imanku
untuk Arum juga sudah kau sampaikan?“ bertanya Raden Ayu Galihwarit.
“Sudah Raden Ayu. Hamba sudah menyampaikannya langsung kepada anak
itu” “Apa katanya?“ “Anak padepokan itu belum pernah melihat kain
sebagus itu sehingga ia menjadi kagum karenanya. Bahkan hampir tidak
dapat mengerti, bahwa ada kain yang sebagus itu” Raden Ayu
Galihwarit tersenyum sambil mengangguk- angguk. Tetapi hatinya
mengumpat tidak habis-habisnya. Kainitu seharusnya tidak sampai ke
tangan Arum. Kain itu seharusnya merupakan hadiah khusus bagi
penyamun- penyamun yang berjanj i akan membunuh Ki Dipanala “Dan
uang itu?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. “Semuanya sudah hamba
sampaikan. Raden Juwir ing dan Kiai Danatirta beserta anak
perempuannya mengucapkan beribu-riibu terima kasih atas kemurahan
Pangeran” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Ia sama sekali
tidak berprasangka apapun terhadap perjalanan Dipanala. Karena itu
maka ia tidak bertanya lebih lanjut. Bahkan iapun kemudian berkata
“Baiklah. Beristirahatlah. Kau sendiri tentu akan mendapat bagianmu
juga” “Hamba telah mener imanya sebelum hamba berangkat Pangeran”
“Itu masih belum cukup. Aku akan menambah besok” “Terima kasih
Pangeran. Hamba mengucapkan beribu-r ibu terima kasih” “Kau boleh
pulang sekarang” berkata Pangeran Ranakusuma. “Tetapi tuan, apakah
hamba diperkenankan member itahukan apa yang terjadi di perjalanan
yang baru saja hamba jalani” “He?“ “Maafkan hamba Pangeran, bahwa
hamba akan sekedar berceritera. “Tentang apa?“ bertanya Pangeran
Ranakusuma. “Tentang perjalanan hamba yang baru saja hamba lakukan”
“Tentu perjalanan yang menarik sekali” potong Raden Ayu Galihwar it,
namun diteruskannya “sebenarnya PangeranRanakusuma sudah akan
beristirahat. Karena itu aku tidak menghadapkan kau kepada Pangeran,
jika Pangeran sendiri tidak memanggilmu karena aku tidak mau
mengganggunya. Simpanlah ceriteramu itu untuk besok atau lusa
apabila Pangeran tidak sedang sibuk atau akan ber istirahat seperti
sekarang ini” “O“ Ki Dipanala menjadi kecewa. Tetapi ia masih
menunggu perintah Pangeran Ranakusuma. Sejenak Pangeran Ranakusuma
berpikir. Lalu katanya “Sebenarnya aku memang ingin tidur sebentar.
Tetapi baiklah, katakan apa yang kau alami” Hati Raden Ayu
Galihwarit menjadi berdebar-debar. Tetapi seperti yang dikatakan
oleh Rudira, jika Dipanala menuduh Rudira telah membunuh perampok
itu, maka Dipanala harus dapat membuktikannya. Jika tidak, maka ia
justru dapat dianggap memfitnahnya. Karena itu Raden Ayu Galihwarit
tidak dapat mencegahnya lagi. Mau t idak mau ia harus mendengar apa
yang akan dikatakannya. Tetapi jika Dipanala itu berceritera sampai
kepada ceritera yang paling dirahasiakannya, maka semuanya pasti
akan menjadi kacau. “Pangeran” berkata Dipanala kemudian “ternyata
bahwa perjalanan hamba kali ini mengalami sebuah gangguan yang
hampir saja menewaskan hamba” “He“ Pangeran Ranakusuma terkejut
mendengar ceritera Dipanala itu, sehingga ia tergeser maju “Apa yang
kau katakan?” “Empat orang penyamun telah menunggu hamba di bulak
Jati Sari. Tidak jauh lagi dari padepokan Jati Aking” “Penyamun?“ Ki
Dipanala mengangguk sambil menjawab “Hamba Pangeran”Wajah Pangeran
Ranakusuma menjadi tegang. Sementara itu Ki Dipanala mencoba untuk
menilainya, apakah Pangeran Ranakusuma benar-benar tidak mengetahui
apa yang terjadi. Namun menilik sikapnya, agaknya Pangeran
Ranakusuma benar-benar tidak terlibat di dalamnya. Ketika Ki
Dipanala mencoba memandang wajah Raden Ayu Galihwar it, tampaklah
wajah itu menjadi merah. Namun sejenak kemudian terdengar Raden Ayu
itu bertanya “Bagaimana mungkin penyamun itu menunggumu di bulak
Jati Sari?“ “Hamba tidak mengerti Raden Ayu, tetapi sebenarnyalah
hamba telah ditunggu oleh empat orang penyamun. Apakah penyamun itu
sengaja menunggu hamba atau tidak, hamba sama sekali tidak tahu.
Tetapi yang hamba heran, penyamun itu mengetahui bahwa hamba membawa
Barang-barang dan sekedar uang ke padepokan Jati Aking” “Ah, aneh
sekali” sahut Raden Ayu Galihwarit. “Apakah di bulak itu memang
sering terjadi hal serupa itu menurut ceritera orang-orang Jati
Sari?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. Ki Dipanala menggelengkan
kepalanya “Tidak Pangeran. Bulak itu adalah bulak yang aman. Bahkan
seluruh daerah Jati Sari hampir tidak pernah lagi terdengar
kerusuhan apapun yang terjadi” Pangeran Ranakusuma merenung sejenak.
Ceritera itu ternyata sangat menarik perhatiannya. “Tetapi“ Raden
Ayu Galihwaritlah yang berkata kemudian “sekarang kerusuhan memang
mulai menjalar. Orang-orang yang tidak tahu diri berusaha menentang
persahabatan antara orang-orang asing itu dengan bangsa sendir i.
Mereka yang berjiwa kerdil menganggap bahwa persahabatan itu
merugikan dir i sendir i”Pangeran Ranakusuma menarik nafas
dalam-dalam. “Tetapi hal itu masih belum terasa sampai ke padepokan
Jati Aking Raden Ayu” Sahut Dipanala. “Mungkin baru sekarang
kerusuhan itu mulai, dan kau adalah korban yang pertama. Dengan
alasan yang dibuat- buat, seolah-olah orang-orang itu mencoba
menegakkan harga diri, namun sebenarnya mereka hanya sekedar
menumbuhkan keributan dan akibatnya mereka dengan leluasa dapat
melakukan kejahatan” Terasa dada Ki Dipanala berdesir. Kata-kata itu
sama sekali tidak dapat diterima oleh perasaannya. Namun ia tidak
membantahnya, karena kata-kata itu diucapkan oleh Raden Ayu
Galihwarit di hadapan Pangeran Ranakusuma yang berkuasa di
lingkungan istana Ranakusuma ini. Pangeran Ranakusuma sendir i tidak
menyahut. Namun kemudian ia justru bertanya “Tetapi bukankah kau
berhasil melepaskan diri dari tangan para penyamun itu?“ “Ya
Pangeran. Hamba terpaksa berkelahi melawan mereka. Tetapi karena
hamba hanya seorang dan hamba tidak lebih hanya bersenjatakan
sebilah keris yang pendek maka hamba hampir saja tidak dapat melihat
sinar matahari yang terbit di pagi hari ini dan hamba tidak akan
dapat menghadap Pangeran sekarang ini” “Jadi? Kenapa kau masih
hidup?“ “Seseorang telah menolong hamba” “Siapa?“ bertanya Raden Ayu
Galihwarit dengan serta- merta. Seperti Raden Rudira, maka iapun
ingin sekali mendengar nama orang yang telah menolong Dipanala itu.
Sejenak Dipanala berpikir. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya
sambil berkata “Sayang Raden Ayu, hamba tidak mengenal orang itu.
Hamba hanya melihatnya sepintas di dalamgelap, dan ia adalah seorang
petani”“Petani dari Sukawati itu?“ bertanya Pangeran Ranakusuma
dengan wajah tegang. “Hamba tidak dapat mengatakan dengan pasti.
Malam sudah terlampau gelap, dan hamba tidak mendapat kesempatan
untuk berbicara terlampau lama, karena orang itu segera meninggalkan
hamba” “Kenapa ia segera pergi?“ Ki Dipanalapun lalu menceriterakan
bahwa orang yang menolongnya itu berhasil menangkap seorang dari
para penyamun itu, tetapi sayang, sebuah anak panah telah membunuh
penyamun itu. “Orang itupun kemudian memburu orang yang melepaskan
anak panah itu Pangeran” berkata Dipanala kemudian “dan hamba tidak
bertemu lagi sampai sekarang, sehingga hamba masih belumsempat
mengucapkan iterima kasih” “Tidak mungkin” tiba-tiba saja Raden Ayu
Galihwarit membantah “Kau tentu tahu siapa orang itu” Ki Dipanala
menjadi terheran-heran. Dipandanginya Raden Ayu Galihwarit dan
Pangeran Ranakusuma berganti-ganti. “Kalau orang itu tidak
mengenalmu dan sebaliknya, tentu ia tidak akan menolongmu. Dan di
daerah yang jauh terpencil itu tentu tidak banyak orang yang mampu
memberikan pertolongan kepadamu melawan para perampok itu” Ki
Dipanala masih juga terheran-heran. Lalu jawabnya “Ampun Raden Ayu.
Hamba benar-benar tidak tahu. Dan apakah salahnya jika hamba tahu
siapakah yang menolong hamba itu mengatakan kepada Raden Ayu dan
Pangeran Ranakusuma?“ Wajah Raden Ayu Galihwarit menjadi gelisah
sejenak. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata lembut
“Sebenarnya aku ingin tahu siapakah orang itu. Ia sudah
menyelamatkan kau dan barang-barang yang kamikirimkan ke padukuhan
Jati Sari. Seharusnya kamipun mengucapkan terima kasih dan sekedar
hadiah baginya dengan tulus” “Ya” sahut Pangeran Ranakusuma “Kami
wajib mengucapkan terima kasih kepadanya” Ki Dipanala mengumpat di
dalam hati. Ada saja alasan yang lapat diberikan oleh Raden Ayu
Galihwarit untuk membayangi sikapnya. Hampir saja ia berhasil
memancing sikap Raden Ayu itu sehingga menimbulkan kecur igaan
Pangeran Ranakusuma, tetapi ada juga cara untuk mengaburkannya.
Namun dalam pada itu, Ki Dipanala masih belum mengatakan semuanya
yang telah dipersiapkannya. Masih ada satu persoalan lagi yang akan
dikatakannya. Karena itu maka katanya kemudian “Pangeran, hamba akan
berusaha untuk menemukan orang itu. Memang Di tempat terpencil tidak
banyak orang yang dapat membantu hamba berkelahi melawan empat orang
perampok. Tentu tidak banyak petani yang memiliki kemampuan serupa
itu di Jati Sari. Hanya petani-petani di Sukawati sajalah yang
memiliki kemampuan demikian” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu
“ternyata bahwa petani dari Sukawati itu pulalah yang pernah ikut
campur dalam persoalan putera-putera tuanku di bulak Jati Sari
beberapa waktu yang lalu” Pangeran Ranakusuma menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi Raden Ayu Galihwarit berkata “Tidak semua petani
di Sukawati. Tentu hanya satu dua orang yang kebetulan memiliki
kemampuan serupa itu, seperti juga satu dua orang Jati Sari”
“Mungkin juga demikian Raden Ayu?” sahut Ki Dipanala “dan karena
itulah hamba akan mencarinya untuk mengucapkan terima kasih hamba
sendir i dan pernyataan terima kasih dari Pangeran berdua”“Kau harus
segera menemukannya” berkata Raden Ayu Galihwar it “supaya ia tidak
sempat menganggap kami sebagai orang yang tidak mengenal terima
kasih” “Tetapi itu bukan salah kami“ Pangeran Ranakusumalah yang
menjawab “Ia sengaja merahasiakan dir inya” “Belum tentu. Mungkin ia
mengejar orang yang. melepaskan anak panah itu sampai jarak yang
jauh. Ketika ia kembali Dipanala sudah meninggalkan tempatnya”
“Seandainya demikian, itupun bukan salah kami pula. Ia tentu tahu
bahwa semuanya itu terjadi karena ketidak sengajaan” Ki Dipanala
menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa pembicaraan itu
seakan-akan merupakan pembicaraan yang tidak mapan. Masing-masing
mencari kelemahan dan mencoba menyembunyikan kenyataan yang
sebenarnya diketahuinya, kecuali Pangeran Ranakusuma yang
kadang-kadang menjadi bingung mendengar pembicaraan itu. Dalam pada
itu Raden Ayu Galihwaritpun menjawab pula “Tetapi bukankah lebih
cepat akan menjadi lebih baik Pangeran?” “Ya, memang lebih cepat
lebih baik” lalu katanya kepada Dipanala “Bukankah lebih cepat lebih
baik Dipanala?“ “Ya Pangeran. Hamba akan mencarinya
secepat-cepatnya. Lebih cepat memang lebih baik “Ia berhenti
sejenak, lalu “Tetapi hambapun akan mencari perampok-perampok yang
berhasil melarikan dir i itu. Hambapun akan mencari orang yang
membunuh perampok yang telah tertangkap itu. Hamba tahu bahwa orang
yang melepaskan anak panah itu tentu mempunyai sangkut paut dengan
penyamun yang terbunuh itu” “Ya. Itu dapat dimengerti. Orang itu
tentu sekedar ingin menghilangkan jejak”“Atau dengan tujuan lain
yang tidak kita mengerti“ Raden Ayu Galihwarit memotong “Tetapi
bagiku Dipanala, mencari orang yang telah menolongmu itu jauh lebih
pent ing dari mencari pembunuh itu. Sebenarnya kita tidak bersangkut
paut dengan pembunuh itu. Apalagi kau sudah dapat kembali dengan
selamat” “Tentu tidak“ Pangeran Ranakusumalah yang menjawab “Ia
masih tetap berbahaya bagi Dipanala. Lain kali, jika Dipanala pergi
ke Jati Aking, ia akan mengalami keadaan yang serupa jika orang itu
masih belum diketemukan” Raden Ayu Galihwarit menarik nafas
dalam-dalam. Dengan dada yang berdebar-debar ia mengikuti
pembicaraan selanjutnya. Dan Ki Dipanalapun berkata “Pangeran,
sebenarnyalah hamba mempunyai bahan untuk memulainya, mencari orang
yang melepaskan anak panah itu. Walaupun terlampau kecil dan
barangkali kurang cukup untuk sampai pada orang yang aku car i itu”
Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Namun Raden Ayu
Galihwaritlah yang menjadi sangat berdebar-debar dan cemas. “Apakah
yang kau punyai?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. “Apakah hamba dapat
mengambilnya tuan?“ bertanya Ki Dipanala. “Ambillah. Aku ingin
melihatnya” Ki Dipanalapun kemudian bergeser surut dan turun ke
halaman samping mengambil barang yang dikatakannya. Kemudian sambil
menj injing sebuah anak panah ia menghadap Pangeran Ranakusuma dan
Raden Ayu Galihwar it kembali. “Inilah yang dapat hamba bawa
Pangeran. Anak panah inilah yang telah membunuh penyamun itu. Anak
panah iniadalah satu-satunya landasan yang dapat hamba pakai untuk
menemukan siapakah pembunuh penyamun itu yang seperti tuan katakan,
bahwa pembunuh itu tentu tersangkut dalam usaha perampokan itu”
Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya, sedang wajah Raden Ayu
Galihwarit menjadi tegang. “Berikan anak panah itu” berkata Pangeran
Ranakusuma. Ki Dipanalapun bergeser maju untuk menyerahkan anak
panah itu. Anak panah yang masih dikotori dengan noda-noda darah
yang sudah kering. Ketika Pangeran Ranakusuma, melihat anak panah
itu, tiba- tiba saja jantungnya serasa menghentak-hentak. Tangannya
menjadi gemetar dan keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya.
Sebagai seorang ayah yang sering ikut serta dalam kesenangan anaknya
yang paling dimanjakannya, Pangeran Ranakusuma dapat mengenal anak
panah itu meskipun belum pasti, karena pada umumnya setiap anak
panah telah diberinya ciri tersendiri sebagai suatu kebanggaan. Anak
panah yang kemudian dipegang oleh Pangeran Ranakusuma itu adalah
anak panah yang pernah dikenalnya dengan ciri-ciri yang jelas pada
warna dan garis-garis yang melingkar. Warna kuning emas di pangkal
anak panah itu dan sebuah guratan pada bedornya. Guratan yang tidak
terdapat pada anak panah yang lain selain jenis anak panah itu.
Bukan saja Pangeran Ranakusuma, tetapi Raden Ayu Galihwar itpun
menjadi pucat. Jika Dipanala dapat mengenal ciri-ciri anak panah
itu, maka ia akan mendapat rint isan jalan untuk menemukan pembunuh
itu. Raden Ayu Galihwarit tidak begitu mengerti akan cir i-ciri anak
panah puteranya. Tetapi ia tahu bahwa ciri-ciri itu pasti ada karena
puteranya dapat membedakan antara anak panahnya dengan anak panah
pemburu-pemburu yang lain apabila kebetulan mereka berbareng pergi
ke hutan perburuan.Namun Raden Ayu Galihwarit tidak dapat mengatakan
apapun juga. Ia hanya menunggu saja, apa yang akan diperbuat oleh
Pangeran Ranakusuma. Ki Dipanala yang memperhatikan wajah-wajah itu
dapat meraba, bahwa sebenarnyalah Pangeran Ranakusuma dapat
mengenali anak panah itu meskipun ia belum mengatakannya. Sedang
kecemasan yang membayang di wajah Raden Ayu Galihwar itpun mempunyai
kesan tersendiri pada Ki Dipanala, sehingga ia hampir pasti bahwa
yang terjadi adalah seperti yang diduganya. Dan iapun hampir pasti
bahwa rencana pembunuhan itu hanya dibuat oleh Raden Ayu Galihwarit
dan Raden Rudira di luar pengetahuan Pangeran Ranakusuma. Pangeran
Ranakusuma masih dengan tegang mengamat- amati anak panah yang
kemudian sudah di tangannya. Namun ia tidak mengatakan sesuatu
tentang anak panah itu. “Pangeran“ Ki Dipanala yang mula-mula
berkata “Apakah Pangeran dapat mengenal anak panah itu? Jika
Pangeran dapat mengenalnya, maka pembunuh itu akan segera dapat
diketemukan” “Bodoh sekali” tiba-tiba Pangeran Ranakusuma membentak.
Wajahnya menjadi merah padam. Dengan anak panah itu ia menunjuk
hidung Ki Dipanala sambil berkata “Kau sangka aku seorang cucuk yang
melayani para bangsawan yang sedang berburu, sehingga dengan
demikian aku dapat mengenal anak panah yang beratus-ratus jenisnya
itu? Dan alangkah bodohnya jika kau berpikir bahwa pemilik anak
panah inilah yang telah membunuh penyamun itu. Tentu siapapun juga
dapat mempergunakan anak panah yang manapun. Mungkin satu dua anak
panah jenis ini tertinggal di hutan perburuan. Orang yang menemukan
anak panah itu dapat saja mempergunakan untuk berbuat apa saja.
Hanya orang gila sajalah yang percaya dan pasti bahwa pembunuh itu
adalah pemilik anak panah ini”Ki Dipanala yang ditunjuk hidungnya
bergeser sejengkal surut. Namun kemudian ia memberanikan dir i
berkata “Pangeran. Memang demikianlah kemungkinan itu dapat terjadi.
Tetapi kemungkinan seperti yang hamba katakanpun dapat pula terjadi.
Karena itu, apakah salahnya jika anak panah itu hamba simpan dan
hamba jadikan bukt i dalam pengusutan. Seandainya tuduhan itu salah,
maka bukankah tertuduh belum menjalani hukuman apapun juga” “Tuduhan
adalah hukuman yang paling keji bagi orang yang tidak bersalah.
Karena itu, anak panah ini sama sekali tidak ada gunanya dan tidak
ada harganya sebagai barang bukti” Adalah di luar dugaan Dipanala
bahwa dengan wajah yang seakan-akan terbakar Pangeran Ranakusumapun
kemudian mematahkan anak panah itu menjadi potongan-potongan yang
kecil. Menghancurkan bulu-bulu dijuntainya dan melemparkannya ke
sudut ruangan. “Pangeran” desis Ki Dipanala. “Jangan kau sebut lagi
anak panah itu. Kau sudah cukup lama menghamba di istana ini setelah
kau tidak lagi menjadi seorang prajurit. Menurut pendengaranku kau
adalah prajurit yang cakap. Tetapi ternyata kau bodoh sekali seperti
kerbau yang paling dungu” Raden Ayu Galihwarit yang melihat Pangeran
Ranakusuma menghancurkan satu-satunya bukti itu menarik nafas dalam-
dalam. Ia merasa seakan-akan dadanya yang terbakar itu tersiram oleh
air yang sejuk. Dengan demikian maka tidak ada bukti lagi yang dapat
dipergunakan unluk menuduh Rudira jika benar ciri-ciri panah itu
adalah ciri-ciri anak panah puteranya. Dalam pada itu Ki Dipanala
yang masih duduk di lantai berkata “Pangeran, apakah tindakan yang
Pangeran lakukan itu cukup bijaksana?““Aku meyakini perbuatanku. Aku
akan sangat merasa malu atas kebodohanmu jika orang lain
mengetahuinya. Karena itu sekarang pergilah. Pulang ke rumahmu dan
kalau kau ingin mencari orang yang telah menolongmu, carilah. Juga
jika kau ingin menemukan pembunuh itu usahakanlah. Tetapi jangan
mempergunakan cara yang paling bodoh dan memalukan itu” Ki Dipanala
menar ik nafas dalam-dalam. Lalu iapun bertanya ”Tetapi bagaimanakah
cara yang paling baik dapat hamba tempuh Pangeran” “Aku tidak sempat
memikirkannya” Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
“Memang banyak sekali kenyataan yang tidak dapat diungkapkan.
Kenyataan yang paling buruk dan kenyataan yang paling baik. Mungkin
hamba tidak dapat menemukan penolong hamba, tetapi hamba juga tidak
dapat menemukan pembunuh penyamun itu. Kedua-duanya adalah kenyataan
yang telah terjadi, tetapi kedua-duanya tetap tidak akan pernah
dapat diketahui kebenarannya. Siapakah mereka itu” “Cukup. Cukup.
Kau tidak usah mengigau” bentak Pangeran Ranakusuma. “Baiklah
Pangeran” jawab Ki Dipanala “Memang demikianlah agaknya. Seperti
kenyataan yang berlaku atas diri hamba sendir i. Mungkin hambapun
pernah melakukan perbuatan-perbuatan yang terkutuk tanpa diketahui
orang lain, sehingga perbuatan hamba itu akan tetap tersembunyi
untuk selama- lamanya tanpa mendapat hukuman apapun” Tiba-tiba saja
wajah Pangeran Ranakusuma menjadi pucat. Dan hampir bersamaan itu
pula. keringat dingin mengalir di tubuh Raden Ayu Galihwarit.
Kedua-duanya menjadi sangat cemas bahwa Ki Dipanala akan mengatakan
rahasia yang selama ini telah disimpannya rapat-rapat. Rahasia yang
ada pada kedua-duanya dan yang kedua-duanya diketahui oleh Ki
Dipanala.Tetapi Ki Dipanala kemudian menar ik nafas dalam-dalam
sambil lerkata “Baiklah hamba mohon diri. Hamba melihat bahwa
Pangeran dan Raden Ayu agaknya merasa terganggu oleh kehadiran hamba
di sini. Hamba mohon maaf. Hamba sama sekali tidak bermaksud membuat
Pangeran dan Raden Ayu menjadi gelisah. Hamba akan berusaha
menemukan orang yang telah menolong hamba dan sekaligus pembunuh
penyamun itu tanpa mengganggu ketenangan dan ketenteraman Pangeran
berdua” “Aku tidak peduli” sahut Pangeran Ranakusuma “pergilah. Aku
akan ber istirahat. Aku akan mencoba melupakan kebodohan yang pernah
kau perbuat” Ki Dipanala mengangguk dalam-dalam. Tetapi katanya
“Namun perkenankanlah hamba sekali lagi menyampaikan terima kasih
putera Pangeran, Raden Juwiring, Kiai Danatirta dan anak gadisnya
Arum” Pangeran Ranakusuma tidak menjawab. Wajahnya masih buram,
serta tatapan matanya hinggap di sudut yang jauh. Ki Dipanalapun
kemudian bergeser surut. Raden Ayu Galihwar itlah yang kemudian
berkata “Ber istirahatlah. Jika kau masih terlalu lelah, jangan kau
hiraukan lagi apa yang sudah terjadi. Kau sudah diselamatkan
sehingga kau wajib mengucap sukur kepada Tuhan. Dan kau t idak per
lu mencari keributan lagi dimana-mana dengan mencari orang yang
tidak jelas tanda-tandanya” “Baiklah Raden Ayu. Hamba akan
melepaskan persoalan ini seperti persoalan-persoalan yang telah
pernah hamba jumpai sebelumnya. Sengaja atau tidak sengaja” Sepercik
warna merah membayang di wajah Raden Ayu Galihwar it, sedang
Pangeran Ranakusuma membelalakkan matanya memandanginya. Tetapi Ki
Dipanala menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil bergeser surut.
Akhirnya ia turun dari tangga dan meninggalkan pintu ruang
dalam.Sejenak ia berdiri sambil menghela nafas dalam-dalam, serasa
udara di halaman itu menjadi semakin segar. Ketika ia mengedarkan
tatapan matanya di halaman samping itu, dilihatnya Raden Rudira dan
Mandra berdir i agak jauh di kebun belakang. Tetapi Ki Dipanala
tidak menghiraukannya lagi. Kini ia sudah mendapat kepastian justru
karena tingkah laku Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit.
Karena itu, kemudian iapun melepaskan kudanya dan menuntunnya ke
belakang. Seperti yang diperintahkan oleh Pangeran Ranakusuma maka
iapun langsung lewat pintu butulan pulang ke rumahnya di belakang
dinding halaman istana Ranakusuman. Sepeninggal Ki Dipanala, maka
Pangeran Ranakusumapun masih duduk merenung di tempatnya. Raden Ayu
Galihwar it yang duduk di sampingnya tidak berani menegurnya,
sehingga dengan demikian keduanya duduk sambil berdiam diri untuk
beberapa saat lamanya. Masing-masing dihanyutkan oleh angan-angan
yang buram tentang peristiwa yang baru saja terjadi atas Dipanala,
tentang anak panah dan tentang usaha Dipanala untuk menemukan orang
yang menolongnya dan sekaligus orang yang telah membunuh penyamun
itu dengan anak panah. Anak panah yang sebenarnya dapat dikenal
langsung oleh Pangeran Ranakusuma. Raden, Ayu Galihwarit menjadi
berdebar-debar ketika ia melihat Pangeran Ranakusuma bangkit dari
tempat duduknya dan berjalan ke sudut ruangan. Diambilnya anak panah
yang telah dipatah-patahkannya dan sekali lagi diamat-amatinya.
“Apakah kau mengenal anak panah ini?“ bertanya Pangeran Ranakusuma
kepada isterinya. Raden Ayu Galihwarit termangu-mangu sejenak.
Kemudian jawabnya “Apalagi aku Pangeran. Aku sama sekali tidak
mengetahui ciri-ciri dari anak panah milik siapapun karena aku tidak
pernah melihatnya”“Bukan milik orang lain. Tetapi anak panah semacam
ini?” Raden Ayu Galihwarit menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku
tidak tahu, kamas” Pangeran Ranakusuma memandang isterinya dengan
tajamnya. Sebagai seorang Pangeran ia memiliki pandangan yang jauh
dan luas, ia mampu mengurai persoalan yang dihadapinya dan kemudian
mengambil kesimpulan. Pembicaraan yang singkat dengan Dipanala dan
anak panah yang dikenalnya baik-baik itu member ikan gambaran
kepadanya, siapakah yang telah merencanakan pembunuhan atas Ki
Dipanala itu. Pangeran Ranakusumapun masih dapat mengingat apa yang
telah dilakukan oleh isterinya ketika Dipanala akan berangkat ke
padepokan Jati Aking. “Itulah sebabnya, ia berusaha memperlambat
keberangkatan Ki Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam
hati. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak tahu pasti, alasan apakah
yang telah mendorong Raden Ayu Galihwarit untuk melakukan rencana
pembunuhan itu. Setelah merenungi anak panah yang telah patah-patah
itu, Pangeran Ranakusumapun berkata “Baiklah. Aku akan beristirahat.
Aku akan tidur” “Silahkanlah Pangeran” sahut Raden Ayu Galihwar it.
Raden Ayu Galihwarit mengantarkan suaminya sampai ke pintu biliknya.
Ketika Pangeran Ranakusuma masuk maka Raden Ayu itupun berdiri
sejenak di muka pintu. Kemudian pintu itupun didorongnya dan
tertutup rapat. Dengan tergesa-gesa pergi ke ruang dalam. Disuruhnya
seorang pelayannya memanggil puteranya Raden Rudira. Dengan gelisah
Raden Rudira mendapatkan ibunya yang tidak kalah gelisahnya. Dengan
suara yang dalam dan lambat Raden Ayu Galihwarit berkata “Ki
Dipanala membawa anakpanah yang bernoda darah. Anak panah yang telah
membunuh penyamun itu” “He“ wajah Raden Rudira menjadi pucat. Lalu “
Di manakah anak panah itu sekarang?“ “Ada pada ayahandamu. Ketika
ayahandamu menerima anak panah itu, ia menjadi marah dan anak panah
itu dipatahkannya” “Apakah ayahanda mengetahui bahwa anak panah itu
anak panahku?“ “Mungkin” “Dan ayahanda marah kepadaku?” “Tidak“
Raden Ayu Galihwar it menggeleng. Lalu diceriterakannya apa yang
dilakukan dan dikatakan oleh Pangeran Ranakusuma kepada Ki Dipanala.
Raden Rudira menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Jadi ayah justru
marah kepada Dipanala?“ “Ya” “Memang Dipanala bodoh sekali. Jika ada
orang yang tahu hahwa anak panah itu anak panahku, tentu itu tidak
dapat menjadi bukti yang kuat, bahwa aku telah melakukannya. Aku
memang sering kehilangan anak panah selagi aku berburu seperti yang
dikatakan oleh ayahanda itu” Raden Ayu Galihwarit
mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun menjadi agak tenang pula,
bahwa anaknya tidak dapat langsung mendapat tuduhan. Tetapi ia masih
tetap gelisah tentang dirinya sendiri. Apakah pada suatu saat
Dipanala tidak akan membuka rahasianya? Karena itu maka Raden Ayu
Galihwaritpun berkata “Tetapi Rudira, bagaimanapun juga Dipanala
adalah orang yang paling berbahaya bagi kita sekarang. Tentu ia
masih tetapmenuduhmu, karena agaknya Dipanalapun mengenal anak panah
itu” “Ia akan segera terbunuh” geramRaden Rudira. “Tetapi biarlah ia
menemukan orang yang menolongnya lebih dahulu. Orang itupun cukup
berbahaya bagi kita” “Mustahil kalau ia tidak mengetahui siapakah
yang menolongnya itu” ”Mungkin petani dar i Sukawati itu” Raden
Rudira menggeretakkan giginya. Katanya “Seharusnya Sukawatipun
dihancurkan pula. Kumpeni harus mengambil tindakan yang tegas
terhadap Pangeran Mangkubumi” “Ssst” desis ibunya “itu bukan
persoalanmu. Kangjeng Susuhunan dan Kumpeni tentu sudah membuat
perhitungan sebaik-baiknya. Mereka menyadari sikap Pangeran
Mangkubumi” “Tetapi tidak boleh terlambat. Jika terlambat, maka
semuanya akan menyesal, karena agaknya Sukawati sudah sampai pada
persiapan untuk melakukan perang. Perang yang sebenarnya” “Apakah
yang dapat dilakukan oleh orang-orang Sukawati untuk melawan senjata
kumpeni?“ “Ya“ Raden Rudira mengangguk-angguk pula “Mereka akan
ditumpas. Tetapi lebih baik membunuh anak macan daripada menunggu ia
menjadi besar dan buas” Ibunya mengangguk-angguk. Tanpa sesadarnya
ia berkata “Aku akan berusaha meyakinkan Kumpeni“ Raden Rudira
mengerutkan keningnya. Katanya “Ibunda akan meyakinkan mereka?““Ya.
Bukankah aku mengenal beberapa orang perwira yang sering berkunjung
kemari“ Raden Rudira tidak segera menjawab. Kumpeni baginya adalah
orang-orang yang aneh. Ia kadang-kadang merasa bahwa kehadiran
kumpeni di Surakarta itu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pr
ibadinya. Tetapi kadang-kadang ia merasa bahwa kumpeni itu sangat
menyinggung perasaannya. Ia tidak senang melihat ibunya bergaul
terlampau rapat dengan mereka. Bahkan kadang-kadang Raden Rudira
merasa cemas, bahwa ia akan kehilangan ibunya yang sangat
mengasihinya dan memanjakannya. Dan Raden Rudira tidak dapat
mengerti kenapa ayahandanya tidak berbuat sesuatu melihat ibunya
kadang- kadang hadir di dalam pertemuan-pertemuan tanpa dikawaninya.
Betapapun sibuknya ayahandanya dalam keadaan yang gawat akhir-akhir
ini, tetapi ia wajib member ikan sebagian waktunya bagi ibunya. Atau
jika tidak, ayahandanya dapat melarangnya sama sekali. Tetapi Raden
Rudira yang sudah menginjak dewasa itu dapat mengerti juga bahwa
ayahandanya memer lukan kumpeni. Untuk mendapatkan kekuasaan yang
lebih besar di istana, ayahnya memerlukan dukungan. Kini kumpeni
ternyata mempunyai pengaruh yang kuat di istana, sehingga dukungan
dari kumpeni akan dapat menentukan. Namun setiap kali Raden Rudira
memikirkan hal itu, terasa kulitnya meremang. Tetapi ia selalu
berusaha menghindarkan diri dar i perasaannya yang kadang-kadang
dengan kuat mencengkamnya ”Apakah ayahanda telah mempergunakan
ibunda untuk kepentingan dir inya dan apakah agaknya ibunda sendiri
merasa bahwa hal itu justru suatu kesempatan baginya?“ Raden Rudira
terkejut ketika ibunya berkata “Apakah yang kau renungkan
Rudira?““O“ Rudira tergagap “Tidak apa-apa ibu. Tetapi anak panah
itu?“ “Anak panah itu sudah di tangan ayahandamu. Dan sudah tentu
bahwa ayahandamu tidak akan berbuat apa-apa. terhadapmu” “Apakah ibu
yakin?“ “Ibu yakin. Mungkin ayahanda akan bertanya kepadamu. Tetapi
sebaiknya kau menghindar untuk sementara” Raden Rudira
mengangguk-angguk. Memang masih belum terlintas di kepalanya, untuk
mengucapkan pengakuan meskipun kepada ayahnya sendiri. Ia masih akan
berusaha untuk melakukan tugasnya sampai berhasil. Dipanala harus
mati. Pada saat yang bersamaan, di dada ibunyapun menggeletar
semacam keputusan yang pasti “Dipanala harus mat i” Tetapi mereka
tidak dapat mengerti, apakah yang sebenarnya dipikirkan oleh
Pangeran Ranakusuma. Sambil berbaring ia mencoba untuk melihat
kembali apa yang sudah dilakukan oleh isteri dan anak-anaknya,
sehingga akhirnya ia sampai pada suatu kesimpulan, bahwa
sebenarnyalah Rudira telah melakukannya bersama-sama dengan Raden
Ayu Galihwar it. “Aku harus meyakinkannya. Aku harus mendengar
sendiri dari mereka pengakuan itu” katanya sambil menghentakkan
tangannya. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak bertindak tergesa-gesa.
la tidak segera memanggil anaknya selagi ada ibunya. Untuk
mendapatkan waktu itu sebenarnya Pangeran Ranakusuma tidak terlampau
sulit. Ketika Raden Ayu Galihwar it mengajaknya pergi atas undangan
seorang Pangeran yang sedang menyambut kedatangan seorang perwira
kumpeni setelah senja, Pangeran Ranakusumaberkata “Aku sedang sibuk
sekali. Keadaan menjadi semakin panas. Pergilah sendir i dan
katakan, bahwa aku minta maaf karena aku tidak dapat hadir. Aku
harus menghadap ke istana” “Apakah kakanda tidak dapat menunda
sampai esok pagi?” “Tidak. Aku harus segera menghadap” Pangeran
Ranakusuma berhenti sejenak, lalu “Apakah pertemuan itu harus aku
hadiri?“ “Bukankah Pangeran juga menerima undangan khusus” “Terlalu
mendadak. Seharusnya mereka mengundang aku sehari atau dua hari
sebelumnya, sehingga aku sempat mengatur waktu” “Pertemuan ini bukan
pertemuan resmi kamas. Sekedar pertemuan di antara beberapa orang
terpenting di Surakarta” “Tetapi aku lebih penting menghadap
Susuhunan malam ini“ “Kamas Pangeran selalu membiarkan aku pergi
sendiri” “Maaf, aku adalah seorang Pangeran yang selalu harus member
ikan pertimbangan-pertimbangan yang penting bersama dengan beberapa
orang penasehat Susuhunan. Itulah sebabnya aku harus hadir dalam
pertemuan-pertemuan khusus” “Baiklah Pangeran“ Raden Ayu Galihwarit
memberengut “Aku terpaksa pergi sendiri. Tetapi aku akan kembali
segera sebelum terlampau malam” “Bawalah keretanya jika kau
perlukan” “Tidak Pangeran. Bukankah biasanya mereka datang
menjemput?“ Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia
tidak berkata apapun lagi.Namun demikian setiap kali Pangeran
Ranakusuma harus menahan perasaannya melihat Raden Ayu Galihwarit
itu mer ias dirinya agak berlebih-lebihan, seperti seorang gadis
yang terlambat kawin menghadiri peralatan sambil mengharap untuk
mendapatkan perhatian dari para jejaka. Sebenarnya di dalam hati
kecilnya, ada juga perasaan yang menggelitik hatinya. Namun karena
Pangeran Ranakusuma mengharapkan kekuasaan yang terlalu besar di
istana Kangjeng Susuhunan, maka kadang-kadang ia menghindarkan diri
dari perasaan-perasaan di hatinya itu. Bahkan kadang- kadang ia
bersikap t idak jujur kepada dir i sendir i dan berkata “Ia adalah
seorang isteri yang setia. Aku member ikan apa yang dimintanya.
Tentu ia tidak akan membiarkan orang lain melanggar pagar ayu”
Tetapi bagaimanapun juga, Pangeran Ranakusuma tidak dapat menghapus
getar yang kadang-kadang mengguncangkan dadanya. Derap kereta yang
kemudian membawa Raden Ayu Galihwar it pergi meninggalkan halaman
istana Ranakusuman terasa menggetarkan jantung Pangeran Ranakusuma.
Meskipun hal itu bukan untuk yang pertama kalinya, namun ia tidak
dapat mengingkar kata hatinya meskipun kadang-kadang ia berhasil
berpura-pura dan acuh tidak acuh. Ternyata bukan saja Pangeran.
Ranakusuma yang memandang kereta itu sampai hilang ditelan pintu
regol. Raden Rudirapun memandang dari kejauhan dengan hati yang
berdebar-debar. Ibunya selalu pergi dengan atau tidak dengan
ayahnya. Meskipun ibunya mengasihi dan memanjakannya, tetapi
rasa-rasanya perhatian ibunya terhadap pertemuan- pertemuan,
makan-makan dan kegembiraan di antara para bangsawan dan orang-orang
asing itu telah merampas sebagian perhatian ibunya terhadap dirinya.
“Tetapi pada suatu saat ibunda memer lukan orang asing itu” berkata
Raden Rudira di dalam hatinya. Tetapi RadenRudira itu sekedar
berpikir tentang dirinya sendiri. Jika orang asing itu dapat
dimanfaatkan oleh ibunya, maka hal itupun sekedar untuk
kepentingannya sendiri. Raden Rudira hampir tidak pernah memikirkan
pergolakan yang terjadi di Surakarta dari sumber persoalannya. Ia
melihat Surakarta pada permukaannya saja. Dan ia berusaha untuk
mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri tanpa menghiraukan
masalah lain yang akan bersangkur paut. Raden Rudira yang sedang
merenung tingkah ibunya itu mengerutkan keningnya, ketika seorang
pelayan datang kepadanya dan berkata “Raden dipanggil oleh ayahanda”
“Ayahanda memanggil aku?“ Rudira menjadi berdebar- debar. “Ya.
Ayahanda Raden ada di ruang dalam” Raden Rudira mengerutkan
keningnya. Namun ia harus datang menghadap. Dengan dada yang
berdebaran Raden Rudira masuk ke ruang dalam. Dilihatnya ayahandanya
duduk dengan wajah yang berkerut merut. “Kemarilah” suara Pangeran
Ranakusuma datar. Raden Rudira menjadi termangu-mangu sejenak.
Dipandanginya wajah ayahnya yang dingin dan sama sekali tidak
memandang kepadanya. Tetapi iapun melangkah semakin dekat dan
kemudian berdir i termangu-mangu. Sikap ayahnya itu bagi Raden
Rudira adalah sikap yang agak lain dari sikapnya sehari-hari
terhadapnya. “Duduklah” desis ayahnya. Raden Rudirapun kemudian
duduk dengan gelisah menunggu apakah yang akan dikatakan oleh
ayahnya.Tetapi untuk beberapa saat lamanya Pangeran Ranakusuma masih
berdiam diri, sehingga Raden Rudirapun menjadi semakin gelisah pula.
Akhirnya Raden Rudira tidak dapat menahan desakan di dalam hatinya
yang meronta-ronta. Karena itulah maka iapun memaksa dirinya untuk
bertanya “Apakah ayahanda memanggil aku?“ Ayahnya menganggukkan
kepalanya. Jawabnya “Ya. Aku ingin berbicara sedikit” “Apakah yang
akan ayahanda bicarakan?“ Raden Rudira memandanginya sejenak. Namun
kemudian dilemparkannya pandangannya kembali kekejauhan. “Rudira”
berkata ayahanda kemudian ”apakah kau sudah mendengar cer itera yang
terjadi atas Dipanala?“ Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Namun
iapun menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Ya ayah. Aku sudah
mendengar“ Ayahnya mengangguk. Tetapi pembicaraan itupun terputus
ketika seorang abdi menyalakan semua lampu di setiap ruangan di
dalam istana Ranakusuman. Dari ruang yang paling belakang sampai
pendapa dan bahkan regol halaman, melengkapi beberapa buah lampu
yang sudah dinyalakan lebih dahulu. Raden Rudira menundukkan
kepalanya. Rasanya ia sedang menghadap untuk diadili karena
kesalahan yang telah dilakukannya. “Rudira” berkata ayahandanya
lebih lanjut “Apakah kau tidak tertarik oleh ceritera itu?“ Raden
Rudira menarik nafas dalam-dalam untuk menenteramkan hatinya.
Jawabnya “Ceritera itu menarik sekali ayahanda. Ternyata di daerah
Surakarta mulai terjadikerusuhan-kerusuhan sejak beberapa orang
bangsawan yang iri hati melihat perkembangan kekuasaan bangsawan
yang lain, menarik diri dari pemer intahan di Surakarta” Ayahandanya
terkejut dan bertanya “Siapa yang mengatakan kepadamu?“ “Bukankah
ayahanda pernah mengatakan?“ “Bukan menar ik diri. Tetapi ada
beberapa orang putera Pangeran yang lolos dari kota. Karena itulah
maka ayah mereka untuk sementara terpaksa membekukan diri dari
pemerintahan karena tingkah anak mereka. Tetapi sekelompok anak-anak
muda itu bukan pergi dari rumah mereka untuk merampok” “Tetapi
akibat dari kerusuhan yang mereka lakukan, maka ketenteraman menjadi
semakin buruk di Surakarta” “Memang hal itu mungkin sekali. Tetapi
menurut pendengaranku, mereka sama sekali tidak berbuat apa-apa.
Salah seorang dari mereka telah bertapa di lereng pegunungan untuk
mendapat pepadang, apakah yang sebaiknya dilakukannya” “Tetapi jika
mereka dibiarkan saja berkeliaran di luar kota Surakarta ayah,
keadaan pasti akan bertambah buruk. Apalagi jika ayahanda mengetahui
keadaan padukuhan Sukawati. Karena itu Kangjeng Susuhunan seharusnya
mulai memperhatikan sikap Pangeran Mangkubumi” “Rudira” berkata
ayahandanya kemudian “lepas dari setuju atau tidak setuju terhadap
tujuan dan cara mereka mencapai tujuan, namun aku masih menaruh
hormat kepada mereka, karena mereka adalah anak-anak muda yang
bercita-cita. Mereka ikut memikirkan hari depan Surakarta menurut
penilaian mereka” “Ayah sependapat dengan mereka?“Ayahnya
menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak. Aku tidak sependapat
dengan mereka. Tetapi aku menghormati mereka dengan cita-citanya”
“Tetapi bukankah ayah berpihak kepada Kangjeng Susuhunan dan
Kumpeni, sehingga jika terjadi sesuatu, ayah pasti akan berhadapan
dengan siapapun yang melawan kekuasaan Kangjeng Susuhunan di
Surakarta?“ Pangeran Ranakusuma menganggukkan kepalanya. Jawabnya
“Ya. Tetapi aku tetap hormat kepada mereka. Soalnya adalah perbedaan
pendapat antara mereka dan aku. Aku tetap setia kepada kekuasaan
Raja, dan mereka memer lukan perubahan” Raden Rudira tidak menjawab
lagi. Kepalanya terangguk- angguk kecil. “Nah Rudira” berkata
ayahandanya “seharusnya kaupun mulai memperhatikan keadaan yang
berkembang terus ini. Kau harus mulai menempatkan dir imu dalam
sikap tertentu. Bukankah saudara-saudara sepupumu yang sebaya dengan
kau sudah mulai bersikap pula?“ “Yang ayahanda maksud, mereka yang
meninggalkan kota?” “Ya, dan mereka yang setia. Kau tidak dapat
berdiri sendiri di dalam keadaan yang gawat. Kau harus tergabung di
dalam suatu kelompok bersama saudara-saudara sepupumu yang sesuai
pendir ian dan sikapnya” Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau
termasuk anak muda yang memiliki kemampuan. Kau adalah pembidik yang
baik. Jika kau masih saja menurut i kata hatimu sendir i, pada suatu
saat yang paling gawat, kau akan mendapat kesulitan” Raden Rudira
tidak menjawab. Tetapi kepalanya masih terangguk-angguk.“Tetapi j
ika berada di antara saudara-saudaramu itu, kau pasti akan mendapat
tempat yang baik karena kelebihanmu. Bukankah mereka menyebutmu
sebagai pemburu terbaik di antara mereka?“ “Ya ayah” “Nah, karena
itu, beradalah di lingkungan mereka agar kau dapat mengikut i
perkembangan keadaan secara terus- menerus” Raden Rudira tidak
menyahut. Tetapi ia masih agak bingung. Apakah yang dikatakan
ayahandanya itu ada sangkut pautnya dengan ceritera tentang Dipanala
yang ditanyakannya itu. “Rudira” suara ayahnya tiba-tiba menjadi
dalam “karena itu kau jangan terlampau dalam hanyut dalam
kepentinganmu sendiri. Dalam pergolakan yang semakin panas ini,
setiap keadaan akan menjadi sepercik api yang dapat menyala dan
membakar suasana. Pertentangan yang tidak perlu harus dihindarkan.
Kita harus dapat mengikat hati rakyat Surakarta, agar mereka tidak
mudah dipengaruhi oleh sikap dan usaha yang tampaknya akan
menguntungkan mereka” Raden Rudira mengerutkan keningnya. Tetapi
terasa debar jantungnya menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya ayahnya
sudah mulai mempersoalkan dirinya dan tindakannya atas Ki Dipanala.
Dan dugaannya itu tidak salah. Sejenak kemudian ayahandanya berkata
“Rudira. Seharusnya kaupun membantu agar rakyat Surakarta menganggap
bahwa para bangsawan yang kini berkuasa di bawah perintah Kangjeng
Susuhunan Pakubuwana sekarang ini, adalah pelindung rakyat. Dengan
demikian kau jangan menyakiti hati rakyat dan orang-orang terdekat
yang dapat menimbulkan kesan kesewenang- wenangan” Raden Rudira
masih tetap berdiamdiri.“Nah, barangkali kau tahu maksudku. Kiai
Danatirta adalah orang yang berpengaruh atas lingkungannya. Kau
harus bersikap baik terhadapnya dan terhadap keluarganya” Raden
Rudira sama sekali masih belum menyahut. Tetapi jantungnya
seakan-akan berdetak semakin cepat. Namun demikian Raden Rudira
menjadi heran, bahwa ayahnya mulai dari Kiai Danatirta. Apakah
ayahnya tidak akan berbicara tentang Dipanala? “Jika kau berbuat
kasar terhadap mereka, Rudira, maka orang-orang di Jati Sari akan
mempunyai kesan yang kurang baik terhadap kita. Dengan demikian maka
mereka akan dengan cepat dapat dipengaruhi oleh para bangsawan yang
menentang kekuasaan Kangjeng Susuhunan” Dengan suara yang dalam
Raden Rudira menjawab “Ya ayahanda” Namun ia mengharap agar ayahnya
hanya sekedar membicarakan hubungannya dengan Kiai Danatirta. Dan ia
mengharap agar itulah yang dimaksud dengan ceritera Dipanala.
Mungkin Kiai Danatirta pernah mengeluh kepada Ki Dipanala, atau
barangkali persoalan- persoalan lain yang dikemukakan kepadanya.
Atau persoalannya sekedar rentetan dari persoalan yang dahulu pada
saat ia hampir saja menghukum Dipanala dengan caranya.Namun
rasa-rasanya jantungnya berhenti berdenyut ketika ayahnya kemudian
berkata “Rudira, kenapa kau sakiti hati Dipanala? Tentu bukan karena
sekedar dendam bahwa niatmu membawa anak gadis Danatirta itu gagal”
Rudira menjadi semakin gelisah. “Dipanala dan Danatirta mempunyai
hubungan yang rapat. Menurut katamu Sukawati sudah menyusun bentuk
yang aneh yang menurut dugaanmu adalah suatu persiapan dari usaha
mereka menyusun kekuatan. Apakah kau ingin Jati Sari juga membentuk
dirinya menjadi padukuhan yang dibayangi oleh rahasia seperti
Sukawati? Mungkin Jati Sari tidak mempunyai seorang seperti Adimas
Pangeran Mangkubumi. Tetapi orang- orang Jati Sari dapat mencari
hubungan dan bergabung dengan mereka” Sekali-sekali Rudira mencoba
memandang ayahnya, namun kemudian wajahnya tertunduk dalam-dalam.
“Rudira” suara Pangeran Ranakusuma menjadi dalam “Kenapa kau mencoba
membunuh Dipanala?“ Pertanyaan itu bagaikan menghentak isi dadanya.
Sejenak Rudira menjadi tegang dan bahkan terbungkam. “Kenapa?“ desak
ayahnya “Katakan. Kau dan ibumu sudah mencoba melakukan pembunuhan
dengan mengupah beberapa orang penjahat. Tetapi karena mereka tidak
berhasil, dan justru salah seorang dari mereka tertangkap, maka kau
telah membunuhnya” Rudira tidak segera dapat menjawab. Wajahnya
bagaikan membeku dalam ketegangan. Dengan mata yang tidak berkedip
ditatapnya wajah ayahnya. Namun ketika ayahnya memandangnya iapun
segera melemparkan pandangannya dan jatuh pada ujung jari kakinya.
“Kenapa?“ desak ayahnya.“Aku, aku tidak melakukan ayah” sahut Rudira
tergagap setelah ia memaksa dirinya untuk menjawab. “Rudira, aku
bukan orang yang terlampau dungu. Karena itu jangan menipu aku. Kau
dan ibumu sudah bersepakat untuk membunuhnya” Raden Rudira masih
akan mengingkarinya lagi. Tetapi ayahnya kemudian melemparkan anak
panah yang sudah terpotong-potong kehadapan Rudira, sehingga karena
itu, maka anak muda itupun telah terbungkam lagi. “Agaknya dendam
yang membakar jantungmu sudah kau tiup-tiupkan ketelinga ibumu
sehingga ibumu telah membantumu untuk memusnakan Dipanala, meskipun
aku agak curiga, bahwa alasan itu terlampau kecil untuk mengambil
keputusan untuk membunuh seseorang“ Rudira sama sekali tidak dapat
menjawab lagi. Karena itu dengan mulut yang bagaikan terbungkam ia
menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Rudira“ Ia mendengar suara
ayahnya “Apakah pantas bagimu dan ibumu, bahwa karena persoalan yang
kecil itu, kau sudah memutuskan untuk membunuhnya? Jika masalahnya
adalah masalah Arum yang saat itu gagal kau bawa, sama sekali bukan
alasan yang kuat untuk membunuhnya. Nah, apakah kau tahu alasan lain
yang lebih dapat diterima dengan akal, bahwa Ki Dipanala harus
dibunuh?“ Rudira sama sekali tidak menyahut “Rudira“ Ayahnya
mendesak “jawablah pertanyaanku. Apakah kau mengetahui alasan lain
atau alasanmu sendiri yang lebih mantap agar orang itu dapat
dibunuh?“ Rudira masih belum menjawab. “Apakah kau tidak mendengar
pertanyaanku, atau kau memang tidak dapat mengatakan apapun
juga?““Aku tidak tahu ayah. Aku sama sekali tidak tahu” “Jadi
alasanmu satu-satunya adalah karena Dipanala selalu mengganggu
niatmu? Hanya itu?“ Rudira mengangguk. “Jika itu Rudira, kau adalah
anak muda yang paling kejam dan bengis. Dipanala mempunyai keluarga.
Mempunyai anak- anak yang makan karena jerih payahnya. Jika kau
membunuhnya, maka anak anak itu akan terlantar, dan kau tidak akan
mendapat keuntungan apa-apa karena Danatirta sendiri akan dapat
mencegahnya” Rudira tidak dapat menjawab lagi. Dan kepalanya yang
tunduk menjadi semakin tunduk. “Rudira” berkata ayahnya “seharusnya
untuk melakukan hal serupa itu, kau harus minta pertimbangan
kepadaku, kepada ayahmu. Masalahnya adalah masalah yang besar. Jiwa
manusia. Dan kau agaknya hanya berbicara dengan ibumu. Aku tidak
tahu kenapa ibumu dapat menyetujui rencanamu yang bengis itu” Rudira
menjadi semakin tunduk. “Kenapa?“ tiba-tiba ayahnya membentak
sehingga Raden Rudira menjadi terkejut karenanya. Tetapi ia sama
sekali tidak dapat menjawabnya. “Rudira, aku ingin mendengar
jawabmu. Sebelum kau menjawab dengan jawaban yang dapat aku
mengerti, kau masih harus tetap duduk di situ” Dada Raden Rudira
menjadi berdebar-debar. Hampir di luar sadarnya ia berkata “Ibunda
justru menganjurkan aku membunuhnya ayah” “He?” Ayahnya terkejut.
Tetapi kesan di wajahnya itupun segera lenyap. Bahkan wajah Pangeran
Ranakusuma itu seakan-akan menjadi semakin terang.Raden Rudira yang
mencoba memandang wajah ayahnya sekilas menjadi heran Ayahnya
tampaknya menjadi tidak marah lagi kepadanya. Bahkan kemudian ia
melihat Pangeran Ranakusuma itu tersenyum. Katanya “Jadi ibundamu
yang menganjurkan kepadamu agar Dipanala dibunuh saja?“ Raden Rudira
menjadi ragu-ragu. Lalu jawabnya “Ya ayah. Ibundalah yang
menganjurkan agar aku membunuh Dipanala” “Apakah alasan ibumu?“
“Dipanala dapat mengganggu semua cita-citaku. Ia adalah orang yang
berbahaya karena mulutnya berbisa“ Raden Rudira berhenti sejenak,
lalu tiba-tiba ia bertanya dengan hati yang kosong “Kenapa ayahanda
selalu mendengarkan kata- katanya? Ibunda kadang-kadang. merasakan
suatu kejanggalan, seakan-akan Dipanalalah yang menentukan semua
keputusan di sini. Ayahanda selalu menuruti pendapatnya, meskipun
pendapat itu bertentangan dengan kepentinganku dan kepentingan
ibunda” “He?“ Sekali lagi Pangeran Ranakusuma terkejut. Namun kesan
itupun segera lenyap pula dari wajahnya. Namun demikian, terasa
sesuatu bergetar di dalam hatinya. Bahkan kemudian timbul pertanyaan
di dalam dir inya “Apakah Galihwar it mengetahui hubunganku dengan
adiknya?“ Tetapi iapun kemudian menjawabnya sendiri “Tentu tidak.
Jika demikian tentu bukan Dipanala yang akan dibunuhnya” Sejenak
Pangeran Ranakusuma itu merenung. Sekali-sekali dipandanginya kepala
Rudira yang tertunduk. Kemudian dilemparkannya pandangannya itu jauh
menembus kegelapan di luar daun pintu yang terbuka. Namun dalam ada
itu tumbuh pula persoalan di dalam dirinya dibumbui oleh perasaan
yang selama ini dicobanya untuk menekan dalam-dalam di dalam lubuk
hatinya, apabila ia melihat sikap dan rias isterinya itu agak
berlebih-lebihan jikaia pergi mengunjungi pertemuan dan
kadang-kadang makan dan minum bersama orang-orang asing itu. Dengan
atau tidak dengan dirinya. Bahkan dengan bercermin kepada dir i
sendir i, maka t imbul pertanyaan pula “Apakah isteriku juga
menyimpan suatu rahasia yang diketahui oleh Dipanala sehingga ia
akan membunuhnya?“ Sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma itu
mengangguk- anggukkan kepalanya. Katanya kepada anaknya “Rudira.
Kenapa kau tidak membicarakan rencanamu itu dengan ayahmu?“ Rudira
tidak berani menengadahkan wajahnya, dan sama sekali t idak
menjawab. Tetapi kata ayahnya lebih lanjut sama sekali tidak
diduganya. “Jika kau membicarakannya dengan aku, mungkin aku akan
dapat memberimu jalan sehingga kau t idak akan gagal” Tiba-tiba saja
Raden Rudira mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah ayahnya dengan
penuh pertanyaan. Tetapi ayahnya itu justru tersenyumkepadanya “Kau
tidak percaya?“ Raden Rudira tidak menyahut. Ia masih belum mengerti
tangkapan yang sebenarnya dari ayahanda itu. “Rudira” berkata
ayahnya kemudian “Kau menjadi bingung?” “Aku tidak mengerti
ayahanda, perasaan apakah yang sekarang bergolak di dalamhatiku”
“Kau memang sedang bingung. Tetapi baiklah. Dengarlah. Aku akan
membantumu jika kau dapat mengatakan alasan, kenapa ibumu
menganjurkan kepadamu untuk membunuh Dipanala? Apakah benar bahwa
hal itu sekedar karena cintanya dan kasih sayangnya kepadamu? Jika
demikian, maka ia dapat mengambil jalan lain. Karena itu, untuk
kepentinganmu dan kepentingan ibundamu sendir i Rudira,cobalah,
usahakanlah mengerti, apakah alasan ibumu yang sebenarnya” “Apakah
aku harus bertanya kepada ibunda?“ “Terserahlah kepadamu. Tetapi
hati-hati. Jangan menyakiti hati ibundamu. Ia memang sangat
mengasihimu” ayahandanya berhenti jenak, lalu “Jika aku mengetahui
alasan yang sebenarnya itu. Maka aku akan menentukan sikap. Jika
masalahnya memang pentingi sekali dan wajar, aku akan menolongmu”
Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. “Nah, pergilah. Tetapi untuk
selanjutnya kau harus berhati- hati. Jangan berbuat sesuatu yang
dapat mencelakakan kau sendiri dan dapat menimbulkan kesan yang
tidak baik. Jika terjadi sesuatu, dan rakyat yang bodoh itu dapat
dibakar, maka kita akan menjadi sasaran pertama apabila kita selalu
menyakit i hati mereka” Raden Rudira mengangguk kecil sambil
menjawab “Ya ayah. Aku akan mengingat semuanya” Sejenak kemudian
maka Raden Rudirapun segera minta diri, sementara ayahandanya masih
duduk di tempatnya. Jika Rudira berbasil menemukan alasan ibundanya
yang sebenarnya, dan alasan itu benar-benar dapat dimengertinya,
maka hal itu pasti akan menenteramkannya. Ia tidak akan selalu
dikejar oleh perasaan curiga dan cemas. Ia akan dapat berbuat
sesuatu dengan mantap, karena sebenarnyalah Ki Dipanala tidak
berguna lagi baginya sekarang. Hubungannya dengan adik kandung Raden
Ayu Galihwar it telah berjalan dengan lancar tanpa diketahui oleh
siapapun, kecuali oleh Ki Dipanala. “Jika Galihwarit mengetahuinya
dan terlebih-lebih lagi suami adik kandungnya itu, maka keadaan
pasti akan bergejolak. Suaminya itu pasti akan menentukan sikap dan
barangkali kami terpaksa melakukan perang tanding” berkataPangeran
Ranakusuma di dalam hatinya “Tetapi itu tentu memalukan sekali
meskipun aku dapat berbuat lebih dahulu dengan bantuan kumpeni”
Sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma itupun segera berkemas. Ia
memang benar-benar harus pergi ke istana meskipun hanya sekedar
untuk mendengarkan perkembangan terakhir dari Kerajaan Surakarta di
bawah pemer intahan Kangjeng Susuhunan Pakubuwana. Namun yang
semakin lama tampak menjadi semakin suram karena selalu dibayang-
bayangi oleh kekuasaan asing yang semakin dalam mencengkeram
kekuasaan di Surakarta. Dalam pada itu Raden Rudira duduk termenung
di ruang belakang. Tetapi ia selalu saja gelisah karena kata-kata
ayahnya. Tetapi tidak seperti yang dikehendaki oleh ayahnya, agar ia
dapat mengemukakan alasan ibunya seperti yang dikehendaki oleh
ayahandanya, tetapi hatinya justru ditumbuhi oleh kecurigaan. Bahkan
setiap kali timbul pertanyaan di dalam hatinya “Apakah benar ada
alasan rahasia yang tidak dikatakan oleh ibunda tentang rencana
pembunuhan itu? Jika demikian apakah alasan itu dapat langsung aku
tanyakan kepada ibunda?“ Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam.
Sekilas terbayang ibunya yang cantik dan masih tampak selalu muda
itu berada di antara orang asing yang meskipun tidak banyak
jumlahnya, tetapi cukup mencemaskannya. “Apa saja yang dilakukan
oleh ibunda dan kadang-kadang bersama ayahanda di dalam
pertemuan-pertemuan serupa itu? Apalagi jika ibunda pergi seorang
diri?“ Perasaan kasih seorang ibu kepada anaknya, terasa setiap saat
membelai hati Raden Rudira, Namun setiap kali ia selalu dicemaskan
oleh tindak dan sikap ibunya. Bahkan kadang- kadang ia tidak rela
apabila ibundanya pergi dan duduk didalam sebuah kereta bersama
orang asing itu, meskipun kadang-kadang ibunya berkata kepadanya
sebelum ia bertanya “Bagi mereka, hal serupa itu adalah menjadi
kebiasaan. Mereka bukan orang-orang yang lekas menjadi cemburu
seperti kita. Mereka menganggap persahabatan sebagai sesuatu yang
harus dihormati, seperti mereka menghormat i diri mereka sendir i.
Karena itulah maka tidak seorangpun dari mereka yang berbuat tidak
senonoh” Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya
“Mereka menghormati persahabatan seperti dirinya sendiri. Dengan
demikian mereka tentu akan menghormati keluarga dan ikatan keluarga
sahabat-sahabat mereka. Dan merekapun akan menghormati ibunda dan
ayahanda, apalagi ayahanda adalah seorang Pangeran“ Meskipun
demikian hati Raden Rudira tidak juga menjadi tenteram. Sebagai
seorang anak laki-laki yang dewasa, ia dapat membayangkan
kemungkinan yang dapat timbul. Tetapi setiap kali terngiang
kata-kata ibunya “Mereka menghormati persahabatan seperti dirinya
sendiri. Seperti dirinya sendiri” Raden Rudira menar ik nafas
dalam-dalam. Ketika ia kemudian berdir i dam melangkah keluar,
dilihatnya bayangan lampu obor yang menyala di sudut istananya
bergetar oleh angin malamyang lembut. Tanpa maksud tertentu Rudira
berjalan saja di halaman di sebelah rumahnya. Dingin malam yang
semakin menggigit terasa membuat hatinya agak sejuk. Ketika ia
kemudian menengadahkan kepalanya, dilihatnya bintang-bintang
gemerlapan di langit yang seakan-akan tanpa batas. Rudira terkejut
ketika seseorang menyapanya dari kegelapan. Namun mendengar suaranya
yang agak parau, Rudira segera mengenalnya, bahwa orang itu adalah
Mandra.“Apakah tuan menghadap ayahanda?“ bertanya Mandra. Raden
Rudira menganggukkan kepalanya. “Apakah yang ditanyakan oleh
ayahanda tuan kepada tuan ada hubungannya dengan kegagalan kita?“
Sekali lagi Raden Rudira mengangguk sambil menjawab “Ya. Ayah
bertanya tentang penyamun itu, tentang anak panah yang ternyata
telah disimpan oleh Dipanala, dan kemudian ayah langsung menunjuk
hidungku sambil bertanya “Kenapa kau berusaha membunuh Dipanala?“
“Apakah tuan mengiyakan?“ “Sebenarnya aku ingin mengingkar inya
seperti pesan ibunda. Tetapi aku tidak berhasil. Ayah mempunyai
alasan yang kuat untuk menuduh aku” Mandra menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian ia bertanya “Dengan demikian apakah ayahanda
tuan juga menyebut namaku?“ “Tidak” “Tetapi Pangeran Ranakusuma
tentu mengetahuinya. Jika yang seorang Raden Rudira, maka yang
seorang tentu aku” “Apaboleh buat” “Tetapi, tetapi apakah ayahanda
marah?“ Rudira menggeleng. Katanya “Aku harus mengetahui alasan
ibunda yang sebenarnya, kenapa ibundapun dengan sangat bernafsu
ingin membunuh Ki Dipanala. Akupun mulaimempertimbangkannya, jika
tidak ada alasan yang kuat, ibunda tentu tidak akan mengambil
langkah demikian” Mandrapun mengangguk-anggukkan kepalanya pula
sambil berkata “Ya. Tentu ada alasan yang cukup kuat” “Itulah yang
harus aku tanyakan kepada ibunda” Mandra tidak menyahut. Tetapi
menurut dugaannya, alasan itu memang dapat saja alasan yang lain,
tetapi mungkin juga bagi seorang ibu yang sangat memanjakan anaknya,
kegagalan Rudira di Jati Aking, membuatnya marah sekali sehingga
hampk di luar sadarnya ia memerintahkan agar orang yang bernama
Dipanala itu dibunuh saja. Tetapi tidak mustahil pula bahwa memang
ada alasan lain yang cukup kuat bagi Raden Ayu Galihwarit. “Aku
memer lukan waktu” berkata Rudira kepada pengiringnya yang-setia
itu. “Tetapi tidak terlalu lama. Keadaan kota ini bagaikan bisul
yang akan pecah. Dan itu dapat terjadi siang, malam, pagi atau sore”
Raden Rudira mengangguk-angguk. Namun katanya “Tetapi kenapa justru
ibunda semakin sering pergi dengan atau tidak dengan ayahanda?
Kumpeni sama sekali tidak menghiraukan keadaan yang sebenarnya
terjadi di Surakarta. Mereka masih saja mengadakan bujana makan dan
minum. Justru semakin lama bagaikan orang-orang yang tidak mempunyai
persoalan sama sekali selain makan, minum bersenang-senang dan
seakan-akan melepaskan semua kekangan nafsunya” “Ya, demikianlah
agaknya” Namun ternyata kata-kata Raden Rudira itu telah mengejutkan
dir inya sendiri. Tiba-tiba saja kecurigaannya menjadi semakin
memuncak. Sekali lagi terngiang kata- katanya sendiri yang
seolah-olah begitu saja terlontar darisela-sela bibirnya “Makan,
minum, bersenang-senang dan seakan-akan melepaskan semua kekangan
nafsunya” “Apakah betul begitu?” Ia bertanya kepada dir i sendir i.
Namun pertanyaan yang lain telah membuat hatinya semakin gelisah
“Jika tidak, apa saja yang mereka lakukan? Pada suatu saat mereka
tentu akan jemu makan dan minum betapa enak dan beraneka macamnya
makanan. Tetapi mereka tentu mencar i kepuasan yang lain, tidak
sekedar makan minum” Terasa bulu-bulu Raden Rudira meremang. Sekilas
terbayang wajah ibunya yang cantik dan masih selalu tampak muda.
Pakaian dan r ias yang berlebih-lebihan. “Apakah ayahanda tidak
pernah merasa cemburu, atau justru karena dengan demikian ayah akan
mendapatkan apa yang dikehendakinya. Jabatan, kekuasaan dan segala
macam benda yang selama ini belum pernah kita miliki?“ “Tidak. Tentu
tidak” tiba-tiba saja hatinya melonjak “Ayah tentu tidak akan
mengorbankan harga dirinya sampai serendah itu. Apalagi ayahanda
adalah seorang Pangeran. Jika terjadi sesuatu yang menyimpang dari
keterangan ibunda, bahwa mereka menghormat i persahabatan seperti
dirinya sendiri, maka ayahanda tentu akan bertindak. Tentu ayahanda
tidak akan menjual harga dir inya, berapapun juga mereka akan
membeli” Tiba-tiba terasa hati Raden Rudira itu menjadi panas. Ia
tidak mau, meskipun sekedar di dalam angan-angan, ibunya akan
membagi kasih sayangnya. Ibunya mencintainya dan mencintai
ayahandanya. Dan tidak boleh ada sangkutan kasih yang lain pada
ibunya, apapun alasannya. Sadar atau tidak sadar, jujur atau tidak
jujur. Tetapi Raden Rudira bahkan telah dicengkam oleh perasaan
curiga yang amat sangat. Dan perasaan itu bagaikan mengorek dasar
hatinya yang manja.Karena itu, maka terbersit suatu keinginan di
dalam hatinya untuk sekali-sekali mengetahui meskipun dari kejauhan,
apakah yang sebenarnya dilakukan oleh ibunda di dalam
pertemuan-pertemuan serupa itu. ”O“ Raden Rudira mengeluh di dalam
hati “Apakah aku sudah kehilangan kepercayaan kepada ibunda?“ Tetapi
Raden Rudira. tidak dapat menyingkirkan keinginan itu. Bahkan
semakin ia mencoba melupakannya, rasa-rasanya bagaikan semakin dalam
menghunjam ke dalam jantungnya. Dalam pada itu, pengaruh
perkembangan hubungan antara pimpinan pemerintahan di Surakarta dan
kumpeni mempunyai pengaruh di dalam kehidupan sehari-har i. Beberapa
orang bangsawan dengan tegas menunjukkan penolakan atas pengarus
yang semakin besar mencengkam Surakarta, sedang beberapa orang
Pangeran yang lain dengan senang hati menerima keadaan itu sebagai
suatu karunia bagi mereka yang haus akan kekayaan dan kemewahan yang
melimpah- limpah, tanpa menghiraukan kemungkinan apapun yang dapat
terjadi atas bangsa dan negaranya. Pertentangan itulah yang bagaikan
jalur yang menyelusur dari atas sampai ke bawah. Pengaruh para
Pangeran ternyata mempunyai warna tersendiri di daerah palenggahan
mereka atau di daerah pengaruh mereka masing-masing. Dan itulah yang
menyedihkan. Mereka yang tidak banyak mengerti tentang persoalan
yang menyangkut pemerintahan dan hubungannya dengan perkembangan
tanah mereka, menjadi terpecah pula. Sebagian dengan sadar
menentukan sikap, dan yang sebagian lagi tanpa memikirkan sebab dan
akibatnya, langsung saja berpihak. Dalam keseluruhan Surakarta sudah
mulai retak. Para bangsawan saling mencur igai di antara mereka. Dan
demikian juga rakyat di suatu daerah terhadap rakyat di daerah yang
lain. Seakan-akan mereka bukan lagi terdir i dari kesatuanyang
selama ini telah bersama-sama membina Surakarta dengan segala kepr
ihatinan. Di Jati Aking, udara yang panas itupun sudah terasa
semakin. panas. Dengan demikian maka baik Raden Juwiring maupun
Buntal telah menempa diri sejauh-jauh dapat dilakukan dengan cara
masing-masing. Buntal masih saja mengisi segenap waktunya tanpa
mengenal lelah, sedang Juwiring mempergunakan cara yang lebih
sederhana namun mempunyai hasil yang cukup mengagumkan. Sedang Arum
di bawah bimbingan khusus dari Kiai Danatirta, justru karena ia
seorang gadis, meningkat dengan cepatnya pula mengiringi kemajuan
kedua saudara angkatnya meskipun mereka adalah laki- laki. Namun
sejalan dengan kemajuan mereka di dalam olah kanuragan, maka di mata
Buntal, Arumpun berkembang seperti kuncup yang mulai mekar. Baunya
yang semerbak dan warnanya yang cerah semakin menumbuhkan kesan yang
lain. di dalam dirinya. Tetapi setiap kali ia masih saja harus
mengusap dadanya, betapa ia merasa dirinya terlampau kecil. Di
antara dirinya dan gadis itu seakan-akan telah berdiri seorang
raksasa yang perkasa. Raden Juwiring. Setiap kali Buntal melihat
Arum memakai pakaiannya yang paling bagus, yang diterimanya dari
Raden Ayu Galihwarit, hatinya menjadi berdebar-debar. Sekali-sekali
teringat pula olehnya Raden Rudira yang setiap saat dapat datang ke
padukuhan ini atas perintah ayahandanya untuk mengambil gadis itu.
Dengan umpan yang tidak ternilai harganya atau dengan kekerasan.
Tetapi seandainya Raden Rudira itu tidak datang lagi ke padepokan
ini makar di sini masih ada Raden Juwiring. Namun hal itu telah
mendorongnya untuk menempa diri tanpa mengenal batas waktu. Kapan
saja ia ingin, maka hal itu dilakukannya. Bahkan kadang-kadang di
tengah malam, selagi ia terbangun dari tidurnya dan ia tidak
berhasil memejamkanmatanya kembali, ma ka iapun kemudian pergi ke
tempat yang sepi dan jarang disentuh kaki para penghuni padepokan
itu, apalagi di malam hari, untuk melakukan latihan seorang diri.
“Meskipun aku keturunan pidak pedarakan, tetapi aku tidak mau kalah
dengan keturunan bangsawanan” katanya di dalam hati. Namun apabila
kemudian ia sadar, ia menjadi malu sendiri, seakan-akan ia telah
memusuhi Raden Juwiring yang bersikap terlalu baik kepadanya. “Gila”
desisnya “hatiku sudah dicengkam oleh kuasa iblis yang paling jahat.
Tidak demikian seharusnya aku bersikap, di dalam perbuatan dan
angan-angan terhadap saudara angkat apabila aku seseorang yang
jujur” Namun setiap kali persoalan itu kembali menggelitik hatinya.
Adalah suatu hal yang mengejutkannya ketika pada suatu hari Kiai
Danatirta telah memanggilnya bersama Raden Juwiring. Dengan wajah
yang bersungguh- sungguh Kiai Danatirta itupun berkata “Anak-
anakku, ternyata keadaan kini menjadi semakin gawat. Di sebelah
Timur telah timbul kegelisahan yang sangat. Mungkin masih belum
terasa dari daerah yang aman seperti Jati Sari. Namun kadang-kadang
telah terjadi bentrokan yang gawat. Masih sering terjadi kesalah
pahaman, sehingga seakan-akan yang terjadi adalah perselisihan di
antara rakyat Surakarta. Seolah-olah terjadiperselisihan antara
padukuhan jang satu dengan padukuhan yang lain, tetapi tidak
demikian yang sebenarnya, Persoalannya jauh lebih dalam dari
persoalan padukuhan yang kecil dan barangkali persoalan kerusuhan
biasa” Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Apakah
sebabnya yang terjadi adalah demikian ayah? Bukankah dengan demikian
para petanilah yang menjadi korban tanpa menyentuh sasarannya.
Bukankah kerusuhan yang demikian itu tidak akan berarti apa-apa bagi
kumpeni?“ Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Jawabnya ”Ya. Jika yang
terjadi demikian, memang Kumpeni tidak akan merasa terguncang. sama
sekali. Bahkan mereka dapat memanfaatkan bentrokan-bentrokan kecil
yang telah terjadi itu. Tetapi bagaimanapun juga yang telah terjadi
itu merupakan persoalan. Jika para bangsawan masih saja berbeda
sikap dan pendirian, maka hal serupa itu masih saja akan terjadi.
Yang parah adalah apabila Kumpeni justru dapat mengambil keuntungan
dan meniupkan pertentangan di antara kita menjadi lebih besar lagi”
Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan dengan
suara yang dalam Raden Juwiring berkata “Dengan menyesal aku harus
menyaksikan sikap ayahanda yang condong berpihak kepada kumpeni”
"Ya” sahut Kiai Danatirta “Tetapi tanpa sesadarnya. Raden Ayu
Galihwaritlah yang telah mendorongnya. Seperti yang dikatakan oleh
Ki Dipanala, bahwa pemberian kumpeni yang berlimpah- limpah itu
agaknya telah mengaburkan sikap satria yang seharusnya dimiliki oleh
para bangsawan di Surakarta” Raden Juwiring mengangguk-angguk.
Tetapi wajahnya menjadi semakin buram. Agaknya sesuatu sedang
bergejolak di dalam hatinya. “Anak-anakku” berkata Kiai Danatirta
kemudian “dalam keadaan yang gawat ini, sebenarnya Surakarta memer
lukanseorang yang kuat. Seorang yang dapat berdiri diatas segala
kepentingan, sehingga justru tidak terjadi benturan di antara kita
sendiri. Dan jauh sebelum semuanya terjadi, kita harus sudah memilih
tempat. Dan aku percaya, bahwa Ki Demang di Sambi Sari akan
sependapat dengan kita. Sebelum kita semua terlambat, kita harus
mengambil sikap, agar apabila banjir bandang melanda Surakarta, kita
tidak akan sekedar hanyut dan hilang tenggelam tanpa arti. Kita
harus merupakan butir- butir air dalamarus banjir bandang, atau
menjadi sebutir debu dari batu karang yang tidak tergoyahkan” Kedua
anak-anak muda ku mengangguk-angguk. Mereka mengerti sikap guru dan
sekaligus ayah angkatnya. Dalam keadaan yang paling gawat dan
menentukan, mereka tidak dapat menunggu. Dan ternyata bahwa Kiai
Danatirtapun kemudian berkata “Karena itu anak-anakku, jika kita
ingin menentukan sikap, maka kita harus memilih sekarang, juga. Kita
sudah dapat menduga, siapakah yang dapat dijadikan sandaran di dalam
saat yang paling gawat” Juwiring mengangkat wajahnya. Tetapi ia
tidak bertanya sesuatu. Dan Kiai Danatirta berkata selanjutnya
“Anak-anakku. Sebenarnya aku ingin mendengar pendapatmu. Yang kita
kenal dan pasti, ada dua pihak yang berdir i bersebarangan di
Surakarta. Katakaniah, bahwa yang satu pihak telah dipengaruhi oleh
kehadiran orang asing itu dan justru membantunya mempersempit
kemerdekaan dir i, sedang yang lain berdir i pada atas yang
sewajarnya dibumi sendiri. Bukan untuk sesuatu yang
berlebih-lebihan. Mereka yang tidak dapat menerima pengaruh yang
semakin besar dari orang asing itu tidak menginginkan sesuatu di
luar haknya. Mereka hanya ingin agar rumah tangganya tidak
terganggu. Dan itu adalah wajar sekali” Wajah Raden Juwiring menjadi
semakin berkerut.“Sekarang, menurut pendapatmu, dimana kita harus
berdiri? Aku tahu bahwa Juwir ing menghadapi masalah yang cukup
berat bagi dir inya sendir i, karena kebetulan ia adalah putera
Pangeran Ranakusuma” Wajah Raden Juwiringpun menjadi semakin tunduk.
“Karena itu” berkata Kiai Danatirta lebih lanjut “pikirkanlah
sebaik-baiknya. Dimanakah kau akan berdir i. Tentu kau tidak akan
dapat menjawabnya sekarang. Aku tidak mau kau mengambil keputusan
yang tergesa-gesa. Hal ini akan menyangkut masalah yang sangat luas
bagimu” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. “Namun sementara itu
Juwiring, aku ingin memberitahukan kepada kalian, bahwa aku berniat
untuk menghubungi Pangeran Mangkubumi atau orang-orangnya di
Sukawati. Aku ingin mendapat penjelasan, apakah yang telah mereka
lakukan, karena menurut pendengaranku, mereka telah mempersiapkan
diri jika terjadi sesuatu” Juwiringpun kemudian mengangkat wajahnya.
Dengan ragu-ragu ia, berkata “Ayah, aku memang menjadi bingung
sekali. Tetapi pada dasarnya aku adalah salah seorang yang lahir dan
dibesarkan diatas bumi Surakarta. Itulah yang mendorong aku untuk
mencintai tanah ini. Meskipun aku wajib mencintai ayah dan ibunda,
tetapi apakah salahnya bahwa aku tidak menempuh jalan yang sama
seperti yang dilakukan oleh ayahanda Pangeran Ranakusuma. Apalagi
seperti ibunda Galihwar it” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun
ia masih berkata “Kau tergesa-gesa Juwiring. Jika aku mengambil
sikap itu adalah sikap padepokan Jati Aking. Tetapi aku tidak
mengharuskan kau bersikap seperti aku. Aku tidak akan marah dan
apalagi mengingkari kau sebagai murid dan anak angkatku. Aku
menghargai perbedaan pendirian. Jika kita memang harus menempuh
jalan yang berbeda, kita akanberjalan diatas jalan kita
masing-masing. Tetapi jika kita bersetuju untuk menempuh satu jalan,
aku akan senang sekali” “Ayah, aku seolah-olah tidak mempunyai
tempat lagi di rumah ayahanda Pangeran Ranakusuma. Karena itu, aku
tidak akan dapat berada di dalam lingkungannya” “Apakah itu
alasanmu? Sekedar untuk menempatkan diri dalam lingkungan yang baru
karena kau kehilangan tempat di lingkunganmu yang lama?“ “Tidak
ayah, bukan itu. Tetapi aku merasa bahwa aku tidak sesuai lagi
dengan lingkungan ayahanda bukan karena aku disingkirkan, tetapi
juga karena sikap ayahanda terhadap Kumpeni dan pengaruhnya” “Jadi
bukan semata-mata sebuah luapan dendam terhadap kedudukanmu dalam
keluargamu?“ “Sama sekali bukan ayah” Kiai Danatirta menarik nafas
dalam-dalam. Lalu “Meskipun demikian kau masih mempunyai kesempatan
yang panjang untuk memikirkannya” Kiai Danatirta berhenti sejenak,
lalu “sementara itu, hubungan yang aku inginkan dengan Sukawati,
akan aku teruskan” Sejenak Kiai Danatirta termangu-mangu. Namun
kemudian katanya selanjutnya “Anak-anakku. Aku ingin kalianlah yang
pergi ke Sukawati. Apalagi setelah aku mendengar isi hati Juwiring.
Sambil berjalan ke Sukawati ia dapat berpikir dan memperbincangkan
kedudukannya di dalam lingkungannya dengan kau Buntal. Bersikaplah
jujur terhadap diri sendir i, sehingga semua tindakan yang akan
kalian lakukan adalah tindakan yang berakar di dalam hati” Kedua
anak muda itu tidak menjawab ”Apakah kalian sanggup melakukannya?“
Buntallah yang lebih dahulu menjawab meskipun nada suaranya agak
dalam “Tentu kami akan bersedia ayah. Sepertiyang selalu ayah
pesankan kepada kami, bahwa tanah yang kami injak, air yang kami
minum dan butir-but ir beras yang kami makan adalah bagian dari bumi
yang mengandung kami, seperti seorang ibu yang mengandung dan
kemudian membesarkan anaknya. Adalah wajib bagi kami untuk berbuat
sesuatu terhadapnya sesuai dengan tuntutan keadaan dan kemampuan
kami masing- masing” “Bagus Buntal“ Kiai Danatirta mengangguk-angguk
“Jika demikian, aku percaya kepada kalian berdua. Kalian adalah
anak-anakku yang akan pergi ke Sukawati. Aku sudah tidak sangsi
lagi. Jika Pangeran Mangkubumi tidak ada, maka bertemulah dengan
orang-orang yang dipercayanya atau Ki Demang di Sukawati” “Bagaimana
kami dapat menghadap Pangeran Mangkubumi ayah?” Kiai Danatirta
mengerutkan keningnya. Dalam keadaan seperti ini, tentu setiap orang
mempunyai prasangka terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya.
Karena itu, setelah merenung sejenak, maka Kiai Danatirtapun berkata
“Kau harus menemukan jalan yang tepat. Jika tidak, kau t idak akan
sampai padanya” orang itu berhenti sejenak, lalu “Aku mempunyai
seorang sahabat yang tinggal di Sukawati. Aku berharap bahwa iapun
ikut di dalam arus pergolakan yang telah terjadi di daerah itu.
Menurut pendengaranku, orang-orang Sukawati bukan saja mempersiapkan
segala jenis senjata, tetapi merekapun sibuk menyempurnakan ilmu
mereka lahir dan batin. Beberapa orang lelah menempa dir i di dalam
olah kanuragan. Yang lain mengasingkan dir i di lereng-lereng gunung
dan tebing-tebing untuk mendapatkan jalan terang dan petunjuk, namun
juga untuk membajakan ilmu mereka dan menyadap kekuatan alam di
sekitarnya”Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
”Sahabatku adalah seorang yang memiliki kemampuan yang cukup. Itulah
sebabnya aku mengharap bahwa iapun mempergunakan kemampuan itu untuk
kepentingan tanah kelahiran ini” Kiai Danatirta berhenti sejenak,
lalu “Orang itu bernama Kiai Sarpa Srana, yang sering disebut orang
Kiai Sarpa Ireng. Ia adalah seorang yang menguasai hubungan dengan
ular. Seakan ia dapat berbicara dengan segala jenis ular. Ia dapat
mempergunakan racun ular untuk kepentingan yaing dianggapnya baik”
Kedua anak-anak muda itu mengangguk-angguk pula. “Temuilah Kiai
Sarpa Ireng. Katakanlah bahwa kau berdua adalah muridku. Katakanlah
apa maksud kedatanganmu. Mudah-mudahan orang itu dapat menolongmu”
Juwiring mengangkat kepalanya, lalu katanya “Kami siap melakukannya
ayah. Kapankah kami harus berangkat?“ “Jika matahari besok terbit,
kalian berangkat dari padepokan ini. Sekarang kalian sempat
menyediakan bekal secukupnya. Sukawati tidak terlalu jauh, meskipun
bukan jarak yang dekat” “Baiklah ayah. Kami akan berkemas” “Kalian
bukan saja harus menyediakan bekal, tetapi juga alat untuk menjaga
dir i” “Senjata?“ “Ya” “Pedang maksud ayah, atau tombak” Kiai
Danatirta menggeleng. Jawabnya “Bukan senjata yang justru dapat
mengundang kesulitan. Bawalah senjata yang dapat kalian
sembunyikan”“Pisau?“ “Semacam itu. Kau dapat membawa sebilah keris
dan beberapa buah pisau kecil. Bukan semata-mata karena kalian ingin
berke lahi. Tetapi keadaan ternyata sangat gawat. Semakin lama
semakin panas. Jika karena sesuatu hal, di daerah Sukawati kau
bertemu dengan kumpeni yang memiliki senjata yang dapat meledak dan
membunuh dari jarak yang jauh, kau dapat melawannya dengan
pisau-pisau kecil itu j ika perlu, meskipun jangkau lontaran
tanganmu tidak sejauh jangkau peluru” Kedua anak-anak muda itu
mengangguk-angguk. Mereka memang sudah melatih dir i melontarkan
pisau-pisau kecil untuk menghadapi lawan pada jarak yang tidak dapat
dijangkau dengan tangan. Dan jika mereka bertemu dengan Kumpeni,
maka mereka mempunyai senjata yang dapat menyerang mereka dar i
jarak yang jauh. Meskipun demikian Buntal masih juga bertanya “Ayah,
apakah Kumpeni akan pergi ke Sukawati?“ “Hanya suatu kemungkinan
Buntal. Menurut pendengaranku, Kumpeni sangat membenci daerah itu.
Jika mereka datang kesana, maka akan mungkin sekali timbul bentrokan
karena orang-orang Sukawati juga membenci mereka sampai keujung
rambut” Buntal mengangguk-angguk. Meskipun tidak begitu jelas,
tetapi ia mendengar juga dari Ki Dipanala atau kadang-kadang justru
dari para pedagang yang keluar masuk kota Surakarta, bahwa keadaan
memang memanjat semakin panas. “Nah, sekarang kalian dapat
beristirahat” berkata Kiai Danatirta “besok pagi-pagi kalian akan
berangkat” Kedua anak-anak muda itupun kemudian meninggalkan gurunya
yang telah mengangkat mereka menjadi anak- anaknya. Perintahnya
memberikan sesuatu yang terasa lain di hati kedua anak-anak muda
itu. Jika selama ini merekaditempa untuk melatih dir i di dalam
ruangan yang tertutup dan hampir t idak dilihat orang lain, maka
kini mereka mendapat tugas untuk pergi keluar dari lingkungan
mereka, meskipun tugas itu sekedar tugas yang pendek dan hampir
tidak memer lukan kemampuan apapun juga, karena mereka hanya sekedar
pergi untuk menemui seseorang seperti jika mereka di har i-hari yang
senggang mengunjungi kakek dan nenek di padukuhan lain. Selagi
mereka berdua berada di bilik mereka, maka kedua anak-anak itupun
mulai berbincang. Meskipun Kiai Danatirta tidak menyebutkan dengan
jelas, tetapi mereka sudah dapat menangkap maksud- gurunya menyuruh
mereka berdua menghadap Pangeran Mangkubumi atau orang yang
dianggapnya berwenang. “Apa yang akan kita katakan?” bertanya
Buntal. “Kita akan berterus terang. Kita akan menyerahkan semuanya
kepada Pangeran Mangkubumi. Maksudku, kita menyediakan diri untuk
melakukan segala perintahnya. Bukankah menurut tangkapanmu juga
demikian yang dimaksud oleh ayah?“ “Ya. Tetapi yang siap untuk
melakukan segalanya barulah kita di padepokan ini, sedangkan rakyat
Jati Sari masih memer lukan banyak persoalan” “Jika Pangeran
Mangkubumi menerima penyerahan kita, maka kita akan segera mulai.
Tentu rakyat Jati Sari tidak akan dapat menyamai rakyat Sukawati.
Tetapi persiapan yang sedikit itu tentu akan banyak membantu
menghadapi arus kekuasaan asing di bumi Surakarta. Setidak-tidaknya
kita dapat member ikan gambaran siapakah yang akan kita lawan, dan
kemampuan yang ada pada mereka. Senjata mereka yang ganas itu dan
cara mereka menyerang lawan-lawannya”“Aku kira Pangeran Mangkubumi
tidak akan menolak meskipun tentu ada juga kecurigaannya terhadap
kita dan padepokan Jati Aking” Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu
katanya “Ya, karena di Jati Aking ada aku. Dan aku adalah Putera
Pangeran Ranakusuma. Setiap orang di Surakarta mengetahui,
bagaimanakah sikap ayahanda terhadap orang asing itu” Buntal tidak
menyahut lagi. Ia tidak ingin mengorek luka itu lebih dalam lagi.
Bagaimanapun juga ia dapat merasakan betapa berat persoalan yang
dihadapi oleh Raden Juwiring. Di satu pihak, ia merasa ikut
bertanggung jawab meskipun hanya seperti setitik air, tahwa
Surakarta harus dipertahankan. Bukan hanya sekedar bentuk
lahiriahnya saja, tetapi juga kekuasaan dan hakekat dari kekuasaan
itu. Tetapi di pihak yang lain, ia merasa wajib juga berbakt i
kepada ayahandanya dan menurut perintahnya. Jika ayahandanya memer
lukan untuk ikut berjalan diatas jalan yang dibuatnya, maka Raden
Juwiring akan berdir i di simpang jalan. Jalan yang ditunjukkan oleh
ayahnya dan jalan yang telah diyakininya. Keduanyapun kemudian
berdiam diri untuk sejenak. Dan yang mula-mula berkata adalah
Juwiring “Sebaliknya kita berkemas. Mungkin kita akan bermalam
beberapa malam di Sukawati. Mungkin kita harus menunggu Pangeran
Mangkubumi sehar i dua hari” Buntal menganggukkan kepalanya sambil
menjawab “Baiklah. Apakah kita akan membawa pakaian beberapa
potong?“ “Ya. Sepotong baju, sepotong celana dan sehelai kain
panjang. Itu saja” Buntal mengangguk-angguk. Tetapi seperti kata
gurunya, ia harus menyiapkan bukan saja pakaian, tetapi juga
senjata. Karena itu, maka Buntalpun kemudian mempersiapkan
pisau-pisaunya. Ia masih mempunyai kesempatan untukmencobanya sekali
lagi. Di dalam ruang latihannya Buntal mulai berlatih. Selain untuk
membiasakan jari-jari tangannya, ia merasa perlu mengisi waktunya
yang seakan-akan berjalan terlampau lambat. Hampir ia t idak sabar
menunggu malam menjelang pagi. Demikianlah maka akhirnya waktu yang
ditunggunya itu datang juga. Malam itu Buntal hanya tertidur
beberapa saat saja. Menjelang fajar ia sudah terbangun dan kemudian
berwudhuk sebelum melakukan kewaj ibannya sebagai seseorang hamba
yang mengakui adanya Tuhan. Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Ternyata Juwiringpun telah melakukannya pula dalam waktu
yang hampir bersamaan, sehingga sejenak kemudian merekapun segera
bersiap untuk melakukan perjalanan yang tidak diketahui apakah yang
akan terjadi di sepanjang jalan karena keadaan yang tidak menentu.
Mungkin mereka tidak akan menjumpai apapun di perjaianan bahkan
mungkin seseorang yang baik hati akan member inya beberapa butir
buah kelapa muda. Tetapi mungkin juga mereka akan bertemu dengan
segerombolan perampok yang memanfaatkan setiap keadaan untuk
kepentingan mereka sendiri, atau mereka akan berpapasan dengan
sekelompok peronda yang di antaranya terdapat beberapa orang
Kumpeni.Tetapi betapa terkejut kedua anak-anak muda itu ketika
tiba-tiba saja pintu bilik mereka itu terbuka. Ketika mereka
serentak berpaling dilihatnya seseorang berdiri di muka pintu. “Aku
sudah siap. Bukankah kita akan berangkat pagi ini?” “Arum” desis
Juwir ing dan Buntal hampir berbareng. “Bukankah kita akan pergi ke
Sukawati?“ bertanya Arum. “Kamilah yang akan pergi. Tetapi kau t
idak” “Aku juga. Ayah menyuruh kita bertiga pergi di pagi ini”
Juwiring dan Buntal saling berpandangan sejenak. Namun kemudian
Juwir ing berkata “Tidak Arum. Tentu ayahmu tidak akan membiarkan
kau pergi” “Ayah menyuruh aku pergi bersama kalian ke Sukawati
menghadap Pangeran Mangkubumi. Aku tahu benar. Bukankah kita harus
lebih dahulu menemui Kiai Sarpasrana dan mengatakan maksud
kedatangan kita?“ Sekali lagi kedua anak muda itu saling
berpandangan. Arum mengerti per incian tugas mereka, sehingga dengan
demikian mereka menjadi ragu-ragu. Apakah benar Kiai Danatirta telah
memer intahkan Arum untuk pergi bersama mereka. “Kenapa kalian
menjadi bingung. Ayah tidak membedakan aku dengan kalian. Meskipun
aku seorang gadis, tetapi aku juga mendapat tuntunan dari ayah dalam
olah kanuragan. Aku juga diajarinya melontarkan pisau-pisau kecil
jika aku bertemu dengan Kumpeni yang mempunyai senjata yang dapat
meledak dan melontarkan sebutir peluru api. Tetapi jika aku mendapat
kesempatan, maka pisaukupun mampu membunuh mereka sebelum mereka
berhasil meledakkan senjata mereka itu” Juwiring menarik nafas
dalam-dalam. Dalam keragu-raguan iapun berkata “Baiklah Arum. Aku
akan menemui Kiai Danatirta sejenak.“Buat apa kau menemuinya? Aku
sudah minta diri atas nama kalian” “Ah, kau aneh” sahut Buntal
“Tentu kita harus mohon diri dan barangkali masih ada pesan-pesannya
terakhir sebelum kita berangkat” “Ah, kalian seperti seorang gadis
yang mau ngunggah- unggahi. Akulah seorang gadis. Tetapi aku tidak
cengeng seperti kalian” “Kau memang aneh Arum. Minta dir i dan mohon
restu bukan suatu sikap yang cengeng” sahut Juwiring “adalah wajar
sekali jika kita menghadap ayah dan minta diri serta mohon restu
agar perjalanan kita selamat. Juga barangkali pesan-pesan
terakhirnya, apakah yang sebaiknya kita lakukan dan kita sampaikan
kepada Pangeran Mangkubumi agar Pangeran itu yakin bahwa niat kita
adalah baik bagi Pangeran Mangkubumi dan bagi bumi Surakarta ini”
Arumt idak menyahut. Tetapi ia berdir i saja di muka pintu. “Marilah
Arum. Jika memang Kiai Danatirta menyuruh kita bertiga pergi,
marilah kita bersama-sama mohon restunya” Arum mengerutkan
keningnya. Namun kemudian ia berkata sambil bersungut-sungut
“Pergilah menghadap. Aku sudah minta dir i. Kalian agaknya tidak
percaya kepadaku” “Sama sekali bukan t idak percaya” berkata Buntal
“Tetapi selain restu, itu adalah kewajiban kami sesuai dengan tata
kesopanan kita” “Pergilah, pergilah” Tetapi Arum masih berdiri di
muka pintu. Bahkan kemudian ia berpegangan tiang-tiang pintu sambil
berkata lebih lanjut “Agaknya kau ingin mendapat bekal uang dari
ayah” “Kami tidak memerlukan uang” “Jika demikian buat apa kalian
menghadap?““Sudah aku katakan, itu adalah kuwajiban dan tata
kesopanan” Arum menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tanpa berkata
sesuatu iapun pergi meninggalkan kedua saudara angkatnya. “Apakah ia
benar-benar sudah mendapat ijin dari ayah?“ bertanya Buntal. “Itulah
yang kita sangsikan” “Tetapi kenapa ia tahu betul tugas yang harus
kita lakukan?” “Mungkin ia kemar in mengintip di balik dinding dan
mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Kiai Danatirta”
Keduanya termenung sejenak. Namun kemudian keduanyapun tersenyum.
“Memang, boleh jadi. Dan itulah kemungkinan yang terbesar”
Demikianlah maka kedua anak-anak muda itupun pergi menghadap Kiai
Danatirta untuk minta diri karena langit sudah menjadi semakin
terang. Sebentar lagi matahari akan merayap naik ke atas bukit. Dan
haripun akan menjadi semakin siang karenanya. Setelah mereka mohon
dir i, maka Juwiringpun kemudian bertanya “Apakah ayah memerintahkan
Arum untuk pergi bersama dengan kami?“ “Arum“ kening Kiai Danatirta
menjadi berkerut-merut. “Ya ayah” “Tidak. Aku tidak menyuruhnya
pergi. Tentu tidak. Ia searang gadis meskipun ia mampu menjaga dir
inya. Apalagi dalam keadaan yang gawat dan panas ini”Kedua anak muda
itu saling berpandangan. Sebelum salah seorang dari mereka menjawab,
Kiai Danatirta sudah bertanya “Apakah Arum mengatakan demikian?“ “Ya
ayah. Bahkan Arum sudah siap dengan pakaian yang sering dipergunakan
untuk ber latih” Kiai Danatirta merenung sejenak, lalu “Dimana anak
itu sekarang?” “Ia masih ada di dalam” jawab Juwir ing. “Panggillah
ia kemari” Juwiringpun kemudian meninggalkan ruangan itu. Sejenak
kemudian ia telah kembali bersama Arum. “Duduklah Arum” berkata Kiai
Danatirta kemudian dengan nada yang datar. Arumpun kemudian duduk
sambil menundukkan kepalanya. Tetapi sekilas tampak bahwa wajahnya
menjadi buram. “Arum” berkata ayahnya kemudian “Apakah kau akan
mengikut i kedua kakakmu pergi ke Sukawati?“ Arum mengangkat
wajahnya sejenak. Tetapi wajah itu kemudian tertunduk lagi. “Kedua
kakakmu mengatakan bahwa kau justru sudah siap untuk berangkat dan
apakah aku telah menyuruhmu?“ Wajah Arum menjadi semakin muram.
Sambil bersungut- sungut ia berkata “Ayah tidak adil. Kenapa hanya
anak laki-laki saja yang boleh pergi ke Sukawati? Ayah tidak
memanggil aku dan menyuruh aku pergi bersama dengan kakang Juwiring
dan Buntal” “Untunglah bahwa kakakmu datang memberitahukan kepadaku
bahwa kau akan ikut serta, bahkan katamu, akulah yang menyuruhnya”
Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Arum. Jika ayah tidak
menyuruhmu, tentu ayah mempunyai alasan. Bukan ayah membedakan
murid-muridnya di dalamolah kanuragan, tetapi menurut kodratmu kau
adalah seorang gadis. Adalah tidak pantas jika kau ikut menempuh
perjalanan ini. Selain jalan yang akan dilalui oleh kedua kakakmu
itu masih merupakan sebuah daerah yang gelap karena kita tidak tahu
apa yang akan mereka jumpai, adalah juga tidak pantas jika kau pergi
bersama mereka. Setiap orang di padepokan dan padukuhan ini
mengetahui, bahwa kedua anak muda itu sebenarnya bukan saudaramu
yang sesungguhnya” “Ah apakah salahnya aku berjalan bersama kedua
saudara angkatku? Aku menganggap mereka seperti sudaraku sendir i.
Benar-benar seperti saudara kandung” Arum memandang ayahnya sejenak,
namun kemudian kepalanya tertunduk lagi. Namun ia masih berkata “Dan
seandainya jalan yang akan dilalui itu gawat, apakah jalan itu dapat
membedakan antara seorang laki- laki dan perempuan? Jika jalan itu
gawat bagiku, maka jalan itu gawat juga bagi kedua kakakku. Atau
barangkali ayah menganggap bahwa kemampuanku lebih rendah dari
kemampuan kedua kakakku? Jika demikian, ayahpun tidak adil pula”
“Ah, pikiranmu selalu bergeser jauh dari persoalan yang sebenarnya
sedang kita bicarakan. Bagaimanapun juga bahaya bagi seorang gadis
menurut kodratnya adalah lebih besar bagi seorang laki-laki. Jika
seorang laki- laki batas bencana bagi dirinya adalah mati, maka bagi
seorang gadis masih ada lagi bencana yang lebih jahat dari itu,
bencana yang akan menyiksa sepanjang umurnya” “Aku mengerti ayah,
tetapi aku tidak akan menyerahkan diriku untuk mengalaminya, karena
aku akan memilih mat i” ”Kadang-kadang yang terjadi bukan yang kita
pilih Arum” “Apakah aku harus menyerah sebelum berbuat sesuatu?”
Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Anaknya memang keras hati.
Jika ia sudah mempunyai niat yang mantap, maka sulitlah untuk
menahannya. Jika karenaterpaksa Arum dapat dicegah, namun ia akan
mencari arah pelarian dari kekecewaannya. Kadang-kadang dengan t
ingkah laku yang berbahaya. “Jadi, bagaimanakah sebenarnya niatmu
Arum?“ bertanya Kiai Danatirta kemudian. “Sudah jelas ayah. Aku akan
ikut pergi ke Sukawati” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Hatimu terlalu keras Arum. Sekeras batu karang” “Aku hidup
disela-sela batu karang yang keras ayah. Karena itulah jiwaku
terbentuk sesuai dengan lingkunganku” “He, siapakah yang mengatakan
kepadamu?“ Arumt idak menjawab. Tetapi tampak diwajahnya, bahwa ia
sama sekali tidak ingin mengurungkan niatnya. “Arum” berkata ayahnya
kemudian “Apaboleh buat, jika kau memang berkeras untuk pergi.
Tetapi aku mempunyai beberapa syarat” “Apakah syarat itu ayah?“ “Kau
tidak boleh mengganggu tugas kakak-kakakmu” “Apakah aku sering
mengganggu mereka?“ “Aku belum selesai Arum, Maksudku, karena kau
seorang gadis yang hampir t idak pernah melihat daerah yang agak
jauh, kau jangan memburu kesenanganmu sendiri. Kau jangan membiarkan
kedua kakakmu mengikuti keinginanmu untuk melihat-melihat daerah
yang baru bagimu. Mungkin tanah pegunungan yang hijau, sungai yang
bening dan hutan-hutan perburuan dengan binatang-binatangnya yang
liar tetapi memikat” Arum menganggukkan kepalanya. “Dan masih ada
syarat lagi “Arum mengangkat wajahnya yang menjadi tegang.
“Sebaiknya kau memakai pakaian seorang laki-laki sepenuhnya. Itu
lebih baik bagimu dan bagi perjalananmu. Hindarilah sejauh mungkin
orang-orang padukuhan ini meskipun kita mengharap, agar mereka tidak
mengenalmu dalam pakaian yang tidak pernah kau pergunakan keluar
rumah itu” Arum menarik nafas dalam-dalam. “Masih ada lagi.
Sebaiknya kau tidak berbicara di antara orang banyak, agar mereka
tidak segera mengenalmu sebagai seorang gadis” Arum menjadi
bersungut-sungut. Katanya seperti kepada diri sendir i “Ternyata
bahwa laki-laki mempunyai kesempatan lebih banyak dari seorang
perempuan” “Tidak Arum. Bukan itu maksudku“ “Ternyata aku harus
menjadi seorang laki- laki. Kenapa aku tidak boleh bersikap dalam
keadaanku yang sebenarnya?“ ”Jangan sekarang. Mungkin dalam keadaan
yang lain” Arum masih saja bersungut-sungut. Tetapi iapun kemudian
berkata “Jika demikian kehendak ayah, apaboleh buat. Tetapi aku akan
ikut serta” “Bagus” gumam Kiai Danatirta, namun kemudian “Tetapi
ambillah jalan yang lain dari jalan yang biasa kalian lalui. Kalian
dapat mengambil jalan belakang padepokan ini dan menyusur jalan
sempit itu sehingga kalian akan turun ke bulak panjang.
Mudah-mudahan tidak banyak orang yang berada di sawah dimusimbegini”
Demikianlah maka Arumpun segera berkemas dan berpakaian sepenuhnya
seperti seorang laki-laki. Dengan ikat kepalanya menutup rambutnya
yang panjang, yang dilipatnya di bawah ikat kepalanya itu.Juwiring
dan Buntal tersenyum-senyum melihat Arum dalam pakaian laki- laki
itu. Namun mereka terpaksa menyembunyikan senyumnya ketika Arum
bergeremang “Aku tidak mau. Jika kakang berdua mentertawakan aku,
aku tidak jadi” “Itu lebih baik” sahut Juwir ing. “Maksudku, aku
tidak jadi memakai pakaian ini. Aku akan memakai pakaianku yang
paling baik, yang aku terima dari Surakarta. Biar saja ayah marah.
Aku t idak peduli” “Ah, jangan merajuk. Cepatlah. Hari sudah semakin
siang. Kita akan kepanasan di perjalanan” “Aku tidak takut
kepanasan. Nah, ini suatu bukti bahwa tidak selalu seorang perempuan
lebih lemah dari laki-laki” Juwiring dan Buntal menahan senyum di
bibir mereka. Namun Juwir inglah yang kemudian berkata “Sudahlah
Arum. Marilah. Aku tidak mentertawakan kau lagi” Ketiganyapun
kemudian sekali lagi minta dir i. Kiai Danatirta hanya dapat
mengusap dadanya melihat anak perempuannya itu berjalan di antara
kedua saudara angkatnya. Sikap Arum memang lebih mirip seorang anak
laki-laki dalam pakaiannya itu, sehingga tentu banyak orang yang
tidak dapat mengenalnya lagi. Bahkan mungkin gadis-gadis kawannya
bermainpun tidak akan dapat segera mengenalnya. Ketika matahari
hinggap di punggung pebukitan, ketiga anak-anak muda itu keluar dari
regol butulan padepokannya diantar oleh Kiai Danatirta sampai
kejalan sempit di sebelah luar dinding halaman, sambil memberikan
pesan-pesannya. Dengan langkah yang tetap ketiganyapun kemudian
berjalan semakin lama semakin jauh, menyusup di bawah bayangan
dedaunan yang tumbuh di sebelah menyebelah jalan.Ketika ketiga
anak-anak muda itu telah hilang di balik kelokan jalan, maka Kiai
Danatirtapun menar ik nafas dalam- dalam. Di dalam hatinya ia
bergumam “Anak yang keras hati, sekeras hati ibunya. Mudah-mudahan
ia tidak memilih jalan yang sesat seperti jalan yang dilalui ibunya
itu, sehingga yang terjadi adalah sebuah malapetaka” Namun seperti
yang pernah terjadi, dada Kiai Danatirta menjadi berdebar-debar jika
ia mengenangkan dua orang anak muda yang tinggal bersama di
padepokannya. Dua anak muda yang memiliki sifat yang berbeda justru
karena atas tempat mereka berpijakpun berbeda pula. Tetapi kedua-
duanya memiliki kelebihan mereka masing-masing di samping kelemahan
yang wajar terdapat pada setiap orang. “Mudah-mudahan tidak akan
pernah timbul persoalan di antara mereka bertiga justru karena salah
seorang dari mereka adalah seorang gadis“ gumam Kiai Danatirta di
dalam hatinya. Dengan kepala tunduk orang tua itupun masuk kembali
ke halaman samping padepokannya dan berjalan melintasi sebuah
petamanan yang sempit. Akhirnya segalanya harus dipasrahkan kepada
Tuhan Yang Suci. “Kemanakah mereka pergi Kiai?“ bertanya seorang
cantrik. Kiai Danatirta berpaling. Dilihatnya cantriknya yang setia
berdiri di belakangnya. Seorang yang telah mendekati usia setengah
abad. “O” sahut Kiai Danatirta “Mereka pergi melihat-lihat daerah di
luar padepokan ini. Mereka harus mempunyai gambaran tentang
kehidupan di alam yang luas. Bukan selalu hidup dan melihat
kehidupan yang sempit di padepokan ini saja” Cantrik itu
mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Memang pengalaman itu sangat
perlu. Tetapi kenapa justru saat ini?““Kenapa dengan saat ini?“
bertanya Kiai Danatirta. “Kiai” jawab Cantrik itu “hampir setiap
orang mempersoalkan keadaan yang berkembang masa kini. Rasa- rasanya
kota Surakarta telah dipanggang diatas bara yang semakin lama
menjadi semakin panas” “Tetapi mereka tidak akan pergi ke kota
cantrik. Mereka akan menyelusur i desa yang satu ke desa yang lain.
Aku sudah menunjukkan kepada siapa mereka harus datang dan apakah
yang harus dikatakannya” Cantrik itu mengangguk-angguk pula. Namun
ia masih menjawab “Tetapi udara yang panas itu telah memanasi
padesan dan padukuhan di daerah ini, Kiai, jalan yang semula aman
dan tenteram, semaki lama menjadi semakin gelisah karena hal-hal
yang tidak jelas” Kiai Danatirta tersenyum, katanya “Itulah yang
sedang dilihat oleh anak-anak itu cantrik?“ Cantrik itu menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Sebenarnya hal itu terlampau berbahaya
bagi mereka Kiai. Mereka masih terlampau muda dan
belumberpengalaman” Sambil menepuk bahu cantrik itu Kiai Danatirta
berkata “Terima kasih cantrik. Kau sangat memperhatikan mereka.
Mudah-mudahan mereka selamat. Tetapi sekali-sekali mereka memang
harus berlatih menjelajahi daerah ini. Mengenal lingkungan di
sekitarnya dan menghayati perjalanan yang kadang-kadang sulit”
Cantrik itu masih mengangguk-angguk. “Nah, kembalilah kepada
pekerjaanmu. Akupun akan pergi ke sawah. Karena kedua anak-anakku
itu tidak ada di rumah, akulah yang harus membuka pematang untuk
mendapatkan air” “Bukankah aku dapat juga pergi Kiai?““Kau mempunyai
tugasmu sendiri” Cantrik itupun kemudian pergi ke belakang.
Digapainya kapaknya dan iapun melanjutkan kerjanya, membelah kayu
bakar. Dalam pada itu, ketiga anak muda dari padepokan Jati Aking
itupun telah melintasi parit dan turun kejalan yang lebih besar.
Untunglah tidak banyak orang yang mereka jumpai, sehingga mereka
tidak perlu menjawab pertanyaan- pertanyaan mereka, karena semua
orang di Jati Sari dan sekitarnya sudah mengenal mereka sebagai
anak-anak angkat Kiai Danatirta. Apalagi merekapun mengetahui, bahwa
Raden Juwiring adalah putera seorang Pangeran. Seorang yang masih
harus diagungkan dan dihormati meskipun Juwiring sendiri sama sekali
tidak menghendakinya. Ternyata pula bahwa Arum tidak menarik
perhatian mereka justru karena mereka t idak menyangka sama sekali.
Perjalanan itupun kemudian menjadi semakin laju ketika mereka keluar
dari daerah yang telah mengenal mereka. Daerah yang telah mengenal
mereka. Daerah yang masih agak asing bagi Arum, meskipun
kadang-kadang ia ikut ayahnya pergi kekenalan-kenalannya di padesan
di sekitar Kademangan Jati Sari. Orang-orang yang berpapasan dengan
ketiga anak-anak muda itu sama sekali tidak mengira, bahwa seorang
dari mereka adalah seorang gadis. Dalam pakaian laki- laki Arum
memang benar-benar seperti seorang laki- laki. Langkahnya yang tegap
dan tandang geraknya yang cekatan. Hanya apabila ia berbicara, maka
suaranyalah yang terutama memperkenalkannya bahwa ia adalah seorang
gadis. Kadang- kadang juga kenianjaannya dan wajahnya yang berubah-
ubah. Kadang-kadang ia tersenyum, bahkan tertawa. Tetapi hampir
tanpa sebab ia memberengut dan bersungut-sunguit. Tetapi Juwiring
dan Buntal yang sudah bergaul lama dengan Arum, sudah mengenalnya
dengan baik. Karena itu,mereka hampir t idak terpengaruh karenanya.
Dibiarkannya Arum bersungut-sungut ketika ia melintasi par it yang
kotor dan melemparkan bau yang tidak sedap di hidungnya. Tetapi ia
tertawa karena ia melihat seorang anak kecil yang duduk diatas
punggung kerbau yang digembalakannya. Ketika mereka kemudian
melintasi jalan sempit di sebelah sebuah hutan perburuan yang tidak
begitu lebat, maka Arumpun bertanya “Apakah kita tidak dapat
menyusup lewat hutan ini?“ “Mungkin kita akan dapat sampai pula.
Tetapi aku masih menyangsikannya” sahut Juwir ing. “Marilah kita
coba. Kita masuk ke dalam hutan ini. Jika kita mengetahui arahnya,
kita akan dapat menyelusur sampai ke tepi di sebelah lain” “Ah“
Buntallah yang kemudian menjawab “Bukankah ayah sudah berpesan,
jangan menuruti kesenangan sendir i” “Tetapi aku tidak berbelok dari
tugas yang aku bawa. Aku tetap pergi ke Sukawati. Aku hanya ingin
berjalan di dalam hutan perburuan yang belum pernah aku lihat”
“Binatang buruan adalah binatang yang memikat“ sela Juwiring.
“Tergantung kepada kita. Jika kita tidak terpikat, kita tidak akan
terganggu karenanya” “Lebih baik kia berjalan di luar hutan” berkata
Buntal kemudian. “Apakah kalian takut bertemu dengan seekor
harimau?“ Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu iapun kemudian
bertanya “Apakah kau pernah melihat seekor har imau, Arum?“ “Tentu
sudah” jawab Arum dengan serta-merta “di padang perdu, di sebelah
padepokan kita, masih berkeliaran beberapa ekor harimau. Di
pegunungan yang membujur ke Barat itupunterdapat beberapa ekor yang
sering mengganggu padukuhan di sekitarnya karena harimau-harimau itu
sering mencuri kambing” “Harimau tutul. Harimau yang agak kecil
dibanding dengan harimau gembong yang berkulit loreng” “Kau takut?“
“Bukan takut. Tetapi perjalanan kita dapat terganggu. Kita harus
memanjat dan menunggu sampai harimau itu pergi” “Ah, kita akan
membunuhnya. Kita bunuh harimau itu dengan pisau-pisau kita. Kita
melemparkan bersama-sama tiga buah pisau. Sebuah di pangkal pahanya
yang depan, sebuah dikeningnya dan yang lain diarah jantung”
Juwiring dan Buntal mengerutkan keningnya. Hampir di luar sadarnya
Juwiring bertanya “Kenapa di pangkal pahanya yang depan?“ “Kau
bertanya, atau sekedar ingin tahu apakah aku mengerti kata-kata yang
aku ucapkan“ “Ah“ Juwir ing tersenyum“kedua-duanya” Arum
memandangnya dengan tajam, lalu “Baiklah. Menurut ayah ketika ia
menangkap seekor harimau yang berwarna kehitam-hitaman, pangkal paha
depan dapat melumpuhkannya. Harimau itw tidak akan dapat lari
kencang lagi” “Apakah Kiai Danatirta pernah membunuh seekor
harimau?“ “Dahulu ketika aku masih kecil. Kalian belum ada di
padepokan” Juwiring dan Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi
bagaimana dengan kita?“ t iba-tiba saja Arumbertanya sambil
berhenti.“Kenapa kau berhenti?“ bertanya Buntal. “Aku akan menyusup
hutan r indang ini” “Ah” “Jika kalian tidak mau, aku akan menembus
hutan ini sendiri” “Kau sudah mulai rewel Arum” desis Juwiring.
“Terserahlah kepada kalian” Kedua anak muda itu saling berpandangan
sejenak. Tetapi mereka sadar, bahwa Arum memang keras kepala. Jika t
idak, ia tentu tidak akan ikut serta bersama mereka. “Jangankan
kami” berkata kedua anak muda itu di dalam hatinya “sedang Kiai
Danatirtapum tidak dapat mencegahnya” “Apakah kalian akan ikut?“
tiba-tiba saja Arum bertanya sambil melangkah mendekati hutan
perburuan itu. Juwiring dan Buntal berpandangan sejenak. Keduanyapun
kemudian mengangkat bahunya. “Apaboleh buat” desis Juwir ing. Dengan
demikian maka keduanyapun segera melangkah mengikut inya.
Bagaimanapun juga hati mereka bergeremang, namun mereka tidak akan
dapat mencegah gadis itu lagi. Apalagi sebenarnya keduanyapun
mempunyai keinginan betapapun kecilnya, untuk sekali-sekali
melihat-melihat daerah perburuan. Kadang-kadang beberapa orang
bangsawan memasuki hutan itu dan berburu kijang atau rusa. Meskipun
demikian kadang-kadang mereka bertemu juga dengan seekor harimau
yang besar. Adalah di luar pengetahuan ketiganya bahwa hutan
perburuan itu merupakan hutan yang tertutup. Karena binatang buruan
menjadi semakin berkurang, maka hanya para bangsawan sajalah yang
kemudian diperkenankanberburu di hutan itu. Dan Juwir ing yang
pernah juga berburu, tidak mengetahui bahwa di saat terakhir telah
dibuat peraturan serupa itu. Dengan berlari-lar i kecil Arum
memasuki hutan yang tidak begitu lebat itu. Hutan yang baginya
merupakan tempat bermain yang menyenangkan sekali. Juwiring dan
Buntal hanya mengikutinya saja. Jika kemudian Arum hilang dari
pandangan mata mereka, merekapun sekedar berteriak memanggil. “Aku
di sini” jawab Arum dari kejauhan. “Jangan terlalu jauh. Kau dapat
tersesat. Atau jika kita semuanya tersesat, kita tidak akan pernah
bertemu lagi. Tetapi jika kita bersama-sama, tersesat atau tidak,
kita tetap bersama-sama” Arumpun agaknya dapat mengerti juga. Karena
itu, iapun tidak lagi ber lari-lar i terlalu jauh. “Begitukah caramu
berburu Arum” bertanya Juwiring “Jika demikian maka
binatang-binatang buruan akan berlar i-larian menjauh sebelum kau
sempat melihatnya” “Ah, jangan memperbodoh aku” sahut Arum “Bukankah
kita tidak sedang berburu. Jika kita sedang berburu, kita harus
mengetahui arah angin. Kita harus duduk didahan beberapa lama, dan
jika kita harus menyelusuri jejak binatang, kitapun harus berjalan
sangat berhati-hati atau menunggunya didekat sumber air di tengah
hari, menunggu saat binatang buruan menjadi haus dan minum di sumber
itu” Juwiring dan Buntal mengerutkan keningnya. Tetapi Juwiring
segera menyahut “Tentu Kiai Danatirta yang memberi tahukan kepadamu”
“Tentu. Jika bukan ayah, siapa lagi?“ Kedua anak-anak muda itu
tersenyum.Namun dalam pada itu, ternyata suara mereka yang keras dan
bergema di dalam hutan itu jika mereka saling memanggil, telah
didengar oleh beberapa orang prajur it yang mendapat tugas merondai
hutan itu. Prajurit-prajurit itu harus mencegah jika ada pemburu
liar yang mereka sebut mencuri binatang di hutan itu. Itulah
sebabnya, maka sejenak kemudian terdengar derap beberapa ekor kuda
yang ber lari-lar i di hutan yang r indang itu. Juwiring, Buntal dan
Arumpun kemudian terkejut mendengar derap kaki kuda itu. Mereka
menyangka bahwa ada seorang bangsawan yang sedang berburu. Karena
itu, maka Juwir ingpun berkata “Marilah kita menghindarinya. Aku
tidak mau menemui siapapun. Mungkin pemburu itu adalah adimas
Rudira, mungkin adimas atau kamas sepupuku atau barangkali pamanda
Pangeran siapapun juga” “Kenapa kita harus menghindar?“ bertanya
Arum “Aku ingin melihat cara mereka berburu” “Arum, kali ini aku
minta dengan sangat. Cobalah mengerti perasaanku. Kau tidak boleh
ingkar, bahwa kau mengetahui tentang diriku, bahwa aku adalah putera
seorang Pangeran” Arum mengerutkan keningnya. Kemudian iapun
menjawab “Apa salahnya jika kau putera seorang Pangeran. Justru
mereka akan mengenalmu dan bahkan mungkin mengajak kita untuk ikut
berburu” “Ah, kau aneh Arum. Aku adalah seorang putera Pangeran yang
seakan-akan telah tersisih. Maka lebih baik bagiku apabila aku tidak
berhubungan lagi dengan para bangsawan. Setidak-tidaknya untuk
sementara, karena aku merasa dir iku telah terpisah dari mereka”
Bagaimanapun juga keras hati gadis itu, tetapi ia melihat
kesungguhan membayang di wajah Juwiring. Karena itu maka iapun
kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata“Terserahlah
kepadamu. Kau adalah saudara yang tertua di antara kami bertiga.
Kaulah yang akan menentukannya” “Baiklah” jawab Juwiring “Terima
kasih” Ia berhenti sejenak untuk mendengar langkah kaki-kaki kuda
yang menjadi semakin dekat. “Kita berhenti saja di sini” berkata
Juwir ing kemudian. Ketiganyapun kemudian duduk di bawah sebatang
kayu yang besar. Mereka seakan-akan tidak menghiraukan langkah
kaki-kaki kuda itu. Biar saja orang-orang berkuda itu lewat. Mereka
tidak akan mengganggu. Tidak akan menyapa dan sama sekali tidak akan
memperhatikannya. Bahkan Juwiring mengharap agar orang-orang berkuda
itu tidak melihatnya, agar mereka bertiga tidak usah menghormati
mereka dengan tata cara yang tidak disukainya. Apalagi mereka
bertiga memakai pakaian petani yang sederhana. Tetapi ternyata derap
kaki-kaki kuda itu menjadi kian dekat. Kadang-kadang berhenti dan
kemudian terdengar lagi. Dalam pada itu, orang-orang berkuda yang
sedang mencari anak-anak muda itu berusaha untuk mengikuti jejak
yang telah mereka ketemukan. Bekas-bekas kaki ketiga anak-anak muda
itu tampak pada ranting-ranting perdu yang patah dan rerumputan yang
roboh. “Mereka masih berada Di tempat ini” berkata salah seorang
dari mereka ”Suara mereka terdengar dari arah ini” “Ya” Suara itu
bergema. Sangat sulit untuk menemukan arahnya” “Tetapi kita
menemukan jejak kaki yang baru di daerah ini. Kita dapat mengikut i
jejak ini dan kemudian menemukan mereka. Ternyata menilik jejaknya,
mereka tidak hanya seorang diri.“Ya. Tentu, bukan hanya seorang,
karena mereka saling memanggil” Demikianlah mereka maju
perlahan-lahan. Selangkah demi selangkah, sehingga para prajur it
itupun telah berloncatan dari punggung kuda mereka, agar mereka
dapat mengikuti jejak itu dengan saksama. “Kita berpencar” berkata
pemimpin sekelompok prajurit yang sedang menyusuri jejak itu. Jika
salah seorang dari kita menemukannya, kita akan memberikan
tanda-tanda. Di sini jejak itu berpisah. Dan kitapun berpisah” Maka
sekelompok prajurit itupun kemudian berpencar. Karena jejak yang
mereka ikutipun berpencar. Jejak yang memisahkan dir i itu adalah
jejak Arum. Namun jejak itu tidak berpisah terlampau lama. Akhirnya
jejak itupun bergabung kembali sehingga para prajurit itupun berkata
di antara mereka “Jejak ini menyatu lagi” Pemimpin prajurit peronda
itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya mencoba memecahkan
teka-teki itu Agaknya ia kehilangan binatang buruannya” “Atau karena
kawannya memanggilnya. Bukankah lamat- lamat kita mendengar suara
mereka memanggil” sahut salah seorang prajurit. Pemimpin kelompok
peronda itu mengangguk-angguk pula. Lalu katanya “Baiklah, kita maju
terus. Tetapi sebaiknya kita agak menebar” Sambil menuntun kuda
masing-masing maka beberapa orang prajurit itupun maju terus.
Semakin lama mereka memang menjadi semakin cekat dengan tempat Juwir
ing dan adik-adik angkatnya duduk di bawah sebatang pohon yang
besar.Seorang prajurit yang berada di paling depan akhirnya melihat
ketiga anak-anak muda itu, sehingga karena itu, maka iapun berhenti
dan member itahukannya kepada pemimpinnya. Pemimpinnyapun kemudian
maju di samping orang itu. Dan dilihatnya tiga orang duduk di bawah
sebatang pohon sambil menundukkan kepala mereka. “Hem, itulah
mereka” gumam pemimpin kelompok itu. “Ya. Tetapi mereka tidak
menunjukkan sesuatu yang mencur igakan. Mereka tidak membawa senjata
untuk berburu” sahut seorang prajurit. “Bagaimanapun juga mereka
sudah melanggar peraturan. Marilah kita dekati dan kita bertanya
kepada mereka, apakah yang mereka car i disini” Maka beberapa orang
prajurit itupun kemudian mendekati mereka yang sedang duduk sambil
menunduk itu. Juwiring, Buntal dan Arum menyadari, bahwa beberapa
orang sambil menuntun kuda mereka, telah berjalan mendekat. Menilik
pakaian mereka, maka orang-orang itu adalah prajurit-prahurit
Surakarta, sehingga karena itu, maka hati Juwiringpun menjadi
semakin berdebar-debar. Beberapa langkah dari tempat ketiga
anak-anak muda itu duduk, para prajurit itu berhenti. Sementara itu
Juwiring berbisik kepada Buntal ”jawablah pertanyaan mereka” Buntal
mengerutkan keningnya. Namun ia mengerti bahwa Juwiringbenar-benar
ingin menyembunyikan dir inya, agar ia tidak dikenal oleh para
prajurit itu sebagai seorang bangsawan. Karena itu, ketika
orang-orang itu mendekatinya, maka Buntallah yang kemudian
mengangkat wajahnya. “He, siapakah kalian?“ bertanya pemimpin
prajurit itu. “Kami adalah anak-anak padepokan Jati Aking di Jati
Sari tuan” “Kenapa kalian ada di tengah-tengah hutan perburuan ini?“
“Tidak apa-apa tuan. Kami hanya sekedar lewat. Kami akan melintasi
hutan ini dari sebelah sisi sampai kesisi yang lain. Sebenarnyalah
bahwa kami sedang mencar i jalan yang memintas” Pemimpin prajurit
itu mengangguk-angguk. Kemudian maka iapun bertanya “Kemana kalian
akan pergi?“ Buntal menjadi termangu-mangu sejenak. Sedang
Juwiringpun menjadi berdebar-debar. Mereka sama sekali belum
mengetahui sikap para prajur it itu. Apakah mereka termasuk orang
yang berpihak kepada orang-orang asing itu dan membenci Pangeran
Mangkubumi atau sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang bersikap
memusuhi kumpeni dan sependapat dengan. Pangeran Mangkubumi Karena
itu Buntal tidak segera menjawab. Dipandanginya Juwiring sejenak,
tetapi Juwiring masih menundukkan kepalanya. “Kemana kalian akan
pergi he?“ Buntal harus segera menjawab. Karena ia tidak mempunyai
jawaban lain, maka iapun akhirnya menyahut “Kami akan pergi ke
Sukawati tuan” “Sukawati? Kenapa kau pergi ke Sukawati he?“Dada
Buntal menjadi kian berdebar-debar. Namun ia menyahut juga “Kami
akan menengok kakek kami yang tinggal di daerah Sukawati. Sudah lama
kami tidak menengoknya dan kakek kami yang sering datang ke Jati
Aking sudah lama pula t idak datang” Prajurit itu mengerutkan
keningnya. Meskipun ia sudah lama berada dan menjadi prajurit
Surakarta, tetapi ia tidak mengetahui siapakah yang disebut
penghuni-penghuni Jati Aking di Jati Sari, karena tugasnya yang
berpindah-pindah. Karena itu nama-nama tempat itu sama sekali tidak
menar ik perhatiannya. “He, kenapa kalian lewat hutan tertutup ini?”
bertanya prajurit itu lebih lanjut. Buntal terkejut mendengar
pertanyaan itu, apalagi Juwiring. Namun Juwiring masih saja
menundukkan kepalanya meskipun ia ingin bertanya beberapa hal kepada
prajurit itu. Untunglah bahwa Buntalpun bertanya pula kepada
prajurit itu “Tetapi bukankah hutan ini hutan perburuan? Menurut
pendengaranku hutan ini terbuka bagi siapapun juga yang ingin
berburu binatang” “Sekarang tidak lagi. Hutan ini hanya
diperuntukkan bagi para bangsawan” “O, kami tidak mengerti tuan.
Kami mohon maaf. Kami akan segera keluar dari hutan ini. Kami berani
memasuki hutan ini karena kami mengira bahwa hutan ini masih bukan
hutan tertutup“ “Apa, begitu saja minta maaf dan akan pergi
meninggalkan hutan ini?“ bertanya prajurit itu. Buntal mengerutkan
keningnya. “Kau sudah berbuat kesalahan. Di dalam keadaan yang panas
ini, kami tidak dapat berbuat terlalu baik terhadap siapapun. Dan
aku tidak yakin jika kalian adalah anak-anakmuda yang sekedar tidak
mengetahui bahwa hutan ini adalah hutan tertutup” “Tuan” berkata
Buntal “Kami adalah anak-anak padepokan. Kami sama sekali tidak
mengetahui perkembangan keadaan. Kami tidak tahu apakah yang sedang
terjadi saat ini dan kamipun tidak tahu bahwa hutan ini adalah hutan
larangan. Sehari-hari kami bergulat saja dengan padepokan kami.
Sawah dan ladang dan sedikit olah kajiwan” “Aku tidak peduli. Kalian
telah melanggar peraturan. Karena itu kalian harus ditangkap” Dada
Buntal menjadi semakin berdebar-debar. Demikian juga agaknya
Juwiring dan Arum. Arum merasa bahwa ialah yang telah menjerumuskan
mereka bertiga dalam persoalan yang tidak mereka sangka-sangka.
Tetapi seperti pesan yang diterimanya, bahwa sebaiknya ia tidak
berbicara kepada orang lain sehingga tidak segera menimbulkan kecur
igaan. Setidak- tidaknya mereka pasti akan bertanya, kenapa
berpakaian seperti seorang laki-laki. “Tuan” berkata Buntal kemudian
“Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya tuan. Kami benar-benar tidak
mengerti, bahwa hutan ini sekarang menjadi hutan tertutup. Menurut
pengetahuan kami, hutan ini adalah hutan yang terbuka karena kami
pernah juga melihat orang-orang berburu di hutan ini beberapa saat
lampau tanpa kami sengaja, ketika kami dalamperjalanan seperti
sekarang ini” “Omong kosong” bentak prajurit itu “ikut kami” Buntal
menjadi bingung. Karena itu, maka digamitnya Juwiring yang masih
menunduk memeluk lututnya. “Jangan membantah perintah kami. Jika di
dalam pemeriksaan selanjutnya kalian tidak bersalah, kalian akan
kami lepaskan” “Apakah kami akan dibawa ke Surakarta?“ bertanya
Buntal.“Tidak. Kalian akan kami bawa ke induk penjagaan hutan ini.
Mereka, pemimpin kami yang lebih tinggi, akan menentukan apakah
kalian boleh pergi atau tidak” Buntal menjadi termangu sejenak. Jika
mereka dibawa pergi ke induk penjagaan hutan ini, dan para prajurit
menemukan senjata di dalam tubuh mereka, maka hal itu pasti akan
menjadi persoalan yang berkepanjangan. Apalagi di saat-saat seperti
sekarang, saat Surakarta dipanggang diatas bara api ketidak pastian.
Setiap orang tidak mengerti dengan pasti apa yang sebaiknya
dilakukan selain mereka yang sudah bersikap. Karena itu, untuk
menemui pemimpin prajurit yang bertugas di hutan perburuan itupun
Buntal menjadi ragu-ragu. Jika para prajurit menjadi cur iga dengan
senjata-senjata mereka, dengan pisau-pisau yang terselip pada ikat
pinggang di bawah baju mereka, maka akan dapat timbul salah paham
dengan para prajurit itu. “Cepat“ prajurit itu membentaknya “berdiri
dan berjalan ke induk penjagaan itu. Jika kalian memang merasa tidak
berbersalah, maka kalian tentu tidak akan berkeberatan. Tetapi jika
kalian menolak, kami akan memaksa dengan kekerasan karena itu
berarti bahwa kalian memang bersalah” Debar di dada Buntal menjadi
semakin keras, Sekali-sekali dipandanginya prajurit-prajurit yang
berdiri di sekitarnya dengan sudut matanya, seakan-akan Buntal ingin
menjajagi kemampuan para prajur it itu. Namun demikian ia masih
sempat juga berpikir, bahwa akibatnya jika ia menolak akan
berkepanjangan juga, karena ia sudah terlanjur berterus terang bahwa
ia adalah penghuni padepokan Jati Aking di Jati Sari. Selagi Buntal
kebingungan, maka sambil menundukkan kepalanya Juwiring berkata
“Kita pergi bersama mereka”Buntal termangu-mangu sejenak. Arum yang
sudah mengangkat wajahnya, tidak jadi mengucapkan sepatah katapun,
karena tiba-tiba-tiba saja ia teringat kepada pesan agar ia tidak
berbicara. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Juwiringpun kemudian
berdiri meskipun kepalanya masih tetap tunduk. Ditariknya lengan
Arumsambil berkata “Marilah” Arum dan Buntal masih tampak ragu-ragu.
Tetapi merekapun kemudian mengangguk pula. “Marilah” berkata Buntal
kepada prajurit itu. “Jangan berbuat sesuatu yang dapat membuat
kalian menyesal“ perintah pemimpin prajur it itu. Ketiga anak-anak
muda itu tidak menjawab. “Ikutlah aku“ perintah prajurit itu
kemudian baik ke atas punggung kuda masing-masing. Buntal, Juwiring
dan Arumpun kemudian berjalan di belakangnya. Tetapi agaknya
prajurit itu tidak mau melelahkan kakinya untuk berjalan. Ketika
ketiga anak-anak muda itu sudah mengikutinya, maka iapun kemudian
meloncat ke atas punggung kudanya. Para prajurit yang lain mengikuti
di belakang ketiga anak muda dari Jati Aking itu. Tetapi merekapun
segera berloncatan ke atas punggung kuda masing-masing. Buntal
memandang para prajurit itu dengan hati yang bergejolak. Namun
ketika ia sadar, bahwa ia bersama kedua saudara angkatnya itu
berpakaian seperti seorang petani yang sederhana, maka iapun mencoba
untuk menenangkan perasaannya. “Betapa rendahnya martabat seorang
petani, tetapi sikap itu adalah sikap yang deksura” berkata Buntal
di dalam hatinya.Namun ia masih juga berjalan terus bersama kedua
saudara angkatnya mengikuti prajurit yang berkuda di hadapan mereka.
Kadang-kadang mereka harus berlari- lari kecil dan bahkan
berloncatan jika mereka sampai di bawah sebatang pohon tua dengan
dahan-dahannya yang berpatahan. Dalam pada itu selama mereka
berjalan, Buntal sempat bertanya kepada Juwiring “Bagaimanakah j ika
mereka menemukan senjata-senjata kita?“ “Biar lah kita
mengatakannya, bahwa senjata-senjata itu sekedar untuk menjaga dir
i” “Tetapi senjata-senjata kami bukannya senjata yang biasa
dipergunakan oleh orang kebanyakan. Mereka tentu akan bertanya
terus-menerus tentang senjata-senjata kita yang pasti mereka anggap
aneh” Juwiring mengerutkan keningnya. Ketika sekilas ia berpaling
maka diketahuinya bahwa prajurit-prajurit yang membawanya itu belum
mengenalnya atau jika ada yang pernah melihatnya, mereka tidak dapat
mengenalinya karena pakaian yang dipakainya adalah pakaian seorang
petani yang sederhana. “Aku harap mereka percaya” berkata Juwiring
kemudian “Jika tidak, kita akan mencari jalan lain” “Melarikan diri?
Aku sudah terlanjur mengatakan, bahwa kita adalah anak-anak Jati
Aking. Mereka pasti akan mencari kita dan jika mereka tidak
menemukan kita, maka Kiai Danatirtalah yang harus bertanggung jawab.
Aku yakin bahwa Kiai Danatirta tidak akan berbohong” Juwiring menar
ik nafas dalam-dalam. Memang agak sulit untuk memecahkan persoalan
yang tiba-tiba saja harus mereka hadapi. Tetapi Juwiring dan Buntal
t idak mau melemparkan kesalahan kepada Arum. Bagaimanapun juga
mereka harus mempertanggung jawabkan bersama-sama.Hanya Arum
sendirilah yang merasa di dalam hatinya, bahwa ia adalah sumber dari
kesulitan ini. Bahkan tiba-tiba saja ia berbisik perlahan sekali
agar suaranya yang bernada tinggi itu tidak didengar oleh para
prajurit “Bagaimanakah jika kita nanti dibawa ke Surakarta?“
Juwiring memandanginya sejenak, namun iapun kemudian tersenyum
“Tidak apa-apa. Bukankah sekali-sekali kau ingin juga bertamasya ke
Surakarta” “Ah kau“ Arum bersungut-sungut. Namun sebelum ia
meneruskan kata-katanya, Juwiring menyahut “Bukan maksudku. Tetapi
jika kita terpaksa dibawa ke Surakarta, maka aku mengharap bahwa ada
satu dua orang perwira atasan yang mengenal aku, bahwa aku adalah
putera ayahanda Ranakusuma. Dengan demikian, maka kita akan dapat
bebas dari segala tuduhan, meskipun perjalanan kita terhambat”
“Tetapi dengan senjata-senjata kita yang aneh ini?“ “Kita memang
ingin berburu” jawab Juwiring “dan aku harap, mereka tidak akan
memperpanjang persoalan lagi” Arum mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi Juwiring sendiri tidak yakin akan kata-katanya. Meskipun ia
putera Pangeran Ranakusuma, maka kumpeni dan para bangsawan yang
berpihak kepadanya akan dapat mencurigainya, karena ternyata banyak
pula para bangsawan yang menentang mereka. Dalam pada itu merekapun
menjadi semakin dekat dengan induk penjagaan hutan itu. Dari
kejauhan telah tampak sebuah gardu yang agak besar. Beberapa ekor
kuda masih tertambat di pepohonan. Dua tiga orang prajurit duduk di
serambi gardu itu sambil berbicara dengan asyiknya. Ketika mereka
melihat prajurit berkuda yang di paling depan, maka merekapun segera
berdiri. Seorang yang sudahsetengah umur memandang prajurit itu
dengan sorot mata yang tajam. “Kami membawa mereka” berkata prajurit
itu sambil meloncat dari kudanya. “Siapa?“ bertanya prajurit yang
sudah agak lanjut usia “Anak muda yang ser ing mencuri binatang
buruan” “Kami tidak pernah mencur i “ Buntal menyahut. “Diam” bentak
prajurit itu. “Dimana kau temukan anak-anak itu?“ bertanya prajurit
yang sudah ubanan. “Di tengah-tengah hutan ini ketika aku meronda.
Mereka mencoba mencuri binatang buruan“ “Tidak“ sekali lagi Buntal
menyahut. Namun Juwir ing yang selalu menundukkan kepalanya itupun
menggamitnya. Prajurit-prajurit yang lainpun telah berdiri di
belakang ketiga anak-anak muda itu. Tetapi mereka masih belum
berbuat apa-apa. “Dimana Ki Lurah” bertanya pemimpin peronda itu
kepada prajurit yang sudah setengah umur itu. “Di dalam” “Mari ikut
aku” bentak pemimpin peronda itu kepada Buntal. “Kemana?“ beritanya
Buntal. “Ikutlah” desis Juwir ing. Buntal termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian Juwiring berbisik “Katakan bahwa kita memang ingin
berburu”
-
Jilid 8 BUNTAL mengerutkan keningnya.
Dan iapun bertanya perlahan “Berburu atau sekedar untuk membela diri
?“ “Berburu. Katakan bahwa kita akan berburu.“ bisik Juwi- ring
“kemudian jangan menolak apapun juga keputusan mereka. Kita
berhadapan dengan prajur it2.“ Buntal menganggukkan kepalanya.
Tetapi terbayang bahwa ia akan menghadapi kesulitan. “Cepat.“ bentak
pemimpin peronda itu “ikut aku.” Buntalpun kemudian melangkah
mengikuti pemimpin peronda itu memasuki gardu induk penjagaan hutan
perburuan itu. Diruang dalam, seorang prajurit yang bertubuh tinggi
tegap duduk diatas sebuah ambin kecil sambil bersandar tiang. Ia
berpaling ketika ia melihat pemimpin peronda itu masuk bersama
Buntal. “Siapa itu ?“ bertanya prajurit yang tinggi jtegap
itu.“Seorang pencuri binatang buruan“ jawab prajur it yang membawa
Buntal masuk. Prajurit yang tinggi tegap, yang agaknya adalah
perolmpin «liiri seluruh penjagaan hutan itupun kemudian mengerutkan
keningnya. Dipandanginya Buntal dengan tajamnya. Lalu katanya “Bawa
ia masuk.Suruh ia duduk disitu.“ Prajurit itupun berpaling kepada
Buntal dan kemudian menyuruhnya duduk disebuah dingklik kayu yang
rendah “Duduk“ Buntal menjadi ber-debar2. Tetapi iapun duduk di
dingklik kayu itu. Prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu
memandangnya dengan sorot mata yang mendebarkan jantung. Lalu
katanya dengan nada yang datar “Jadi inilah orangnya yang sering
mencur i binatang buruan itu, sehingga semakin lama binatang buruan
dihutan ini menjadi semakin tipis.“ Lalu tiba2 suaranya menyentak
“He, kau dari mana?“ “Aku anak padepokan Jati Aking tuan.“ “Jati
Aking, Jati Aking“ ia meng-ingat2 “aku pernah mendengar nama itu.”
“Jati Aking terletak di padukuhan Jati Sari tuan.“ “Jadi kau anak
Jati Sar i? “ “Ya tuan.“ “Kenapa kau mencur i binatang dihutan ini
he?“ “Aku tidak mengetahui tuan, bahwa hutan ini merupakan hutan
tertutup, sehingga aku sama sekali tidak berniat untuk mencur i.
Itulah sebabnya kami bertiga sama sekali tidak berusaha bersembunyi
atau melarikan diri ketika para peronda lewat.““Bertiga ? Jadi kau
bertiga ?“ “Ya tuan.“ . “Kalian tidak tahu bahwa hutan ini hutan
tertutup ?“ “Sungguh tidak tuan.“ “Bohong“ sahut prajurit yang
membawa Buntal itu masuk. “hutan itu telah diberi gawar dengan
hampir segenggam lawe, berwarna kuning.“ Buntal mengerutkan
keningnya. Jika benar hutan itu telah di beri tanda dengan gawar
lawe berwarna kuning, maka pelanggaran yang dilakukan adalah
pelanggaran yang cukup berat. Tetapi justru diluar dugaannya,
prajurit yang bertubuh tinggi tegap itulah yang bertanya kepada
prajurit yang membawanya “Apakah gawar itu mengelilingi seluruh
hutan ini sehingga setiap lubang masuk telah ditandai “ Prajurit itu
mengerutkan keningnya. Jawabnya “Tidak Ki Lurah. Tetapi jalan masuk
yang biasa dilalui orang sudah kami tandai.“ Prajurit yang tegap itu
meng-angguk2. Lalu iapun bertanya kepada Buntal “Dar imana kau masuk
?“ “Kami semula berjalan menyusur pinggir hutan. Tiba2 saja kami
ingin masuk untuk me- lihat2. Seandainya kami digolongkan dengan
pemburu2, maka niat kami untuk menangkap binatang buruan, hanyalah
tiba2 saja tumbuh setelah kami berada didalam hutan itu.“ Pemimpin
prajurit itu bergeser sejengtal, lalu “Jadi apa niatmu sebenarnya?“
“Kami sekedar berjalan dipinggir hutan. Kami sedang dalam perjalanan
kerumah keluarga kami, kakek kami yang tinggal di Sukawati.“Pemimpin
prajur it itu mengerutkan keningnya. Dan tiba- tiba saja ia bertanya
“Apakah orang ini membawa busur dan anak panah?“ Prajurit yang
membawanya ter-mangu2 sejenak. Namun kemudian ia menggeleng sambil
menyahut “Tidak. Mereka tidak membawa busur dan anak panah.“
Pemimpinnya meng-angguk2. Lalu “Apakah kau hanya membawa keris itu ?
“ Buntallah yang menjadi ter-mangu2 sejenak. Lalu “Ya. Aku membawa
ker is ini, dan jenis senjata kecil untuk menangkap binatang. Maksud
kami apabila diperjalanan kami, kami bertemu dengan binatang2 yang
harus kami lawan. Dan mungkin juga ada seekor kijang dipinggir
hutan. Namun sebenarnyalah kami t idak tahu bahwa hutan ini
merupakan hutan tertutup.“ Pemimpin prajurit itu bergeser lagi.
Katanya “Jawabanmu ternyata tidak lurus. Mungkin kau ingin
mengatakan bahwa kau benar2 tidak tahu bahwa hutan ini hutan
tertutup. Tetapi apakah yang kau maksud dengan senjata2 kecil itu ?“
Buntal menjadi semakin ber-debar2. “Apa ?“ desak pemimpin prajurit
itu. Sebenarnyalah Buntal menjadi bingung. Ternyata menjawab
pertanyaan prajurit2 itu tidak semudah yang diduganya. Apalagi ia
memang tidak siap menghadapi' keadaan serupa itu. “Tunjukkanlah
senjata kecil yang kau maksud.“ Buntal tidak dapat berbuat lain.
Dibukanya bagian dada bajunya, dan tampaklah beberapa buah belati
kecil terselip diikat pinggangnya. Tiba2 saja Lurah prajurit itu
melonjak berdiri. Dengan wajah yang tegang ia berkata lantang
“Tidak. Kau bukan anakJati Aking. Kau bukan anak seorang petani yang
pergi kerumah kakekmu.“ Buntal terkejut sehingga iapun berdir i
diluar sadarnya. Tetapi tiba2 saja prajurit itu menghentakkan
bajunya dan meraba bagian belakang ikat pinggangnya. Ternyata bahwa
pisau kecil itu terdapat diselingkar perutnya. Dengan nada yang
berat prajurit itu berkata “Kau bukan pencuri binatang buruan. Kau
bukan sekedar ingin mengunjungi kakekmu di Sukawati. Tetapi kau
benar2 orang yang pantas dicurigai dalam saat2 seperti ini.“ “Kenapa
?“ bertanya Buntal. “Jarang sekali aku menjumpai jenis2 senjata aneh
seperti ini. Hanya orang2 yang khusus, yang memiliki kemampuan
lontar yang tinggi sajalah yang membawanya. Dan kau tentu salah
seorang daripadanya. Sudah tentu kau adalah perusuh2 yang harus
ditangkap“ “Tidak tuan“ Buntal mencoba menjelaskan. Seperti pesan
Juwiring, maka ia harus mengaku bahwa senjata2 itu adalah senjata
berburu “Kami mempergunakannya untuk berburu tuan. Jika perlu kami
dapat membuktikannya. Karena itulah maka kami t idak membawa busur
dan anak panah, karena senjata ini adalah ganti dar ipada anak panah
itu.“ “Bohong. Apakah kau dapat mendekati binatang buruan sedekat
jarak lontaran pisau. ?“ Buntal menjadi agak bingung. Tetapi ia
sempat menjawab “Kami harus nyanggong diatas pohon tuan. Jika
binatang itu lewat dibawah kami, kami melontarkan pisau kami. Dua
buah sekaligus mengarah kepangkal paha, kemudian disusul dengan
lontaran berikutnya kearah jantung atau diantara kedua matanya
apabila kami berkesempatan menghadapinya.“Lurah prajurit itu
mengerutkan keningnya. Ternyata Buntal dapat menyebutkan cara yang
baik, meskipun Buntalpun hanya sekedar mendengar keterangan Arum.
Namun demikian, tiba2 Lurah prajurit itu memerintahkan kepada
prajurit yang membawa Buntal masuk “Bawa yang lain menghadap. Apakah
mereka juga membawa senjata serupa ini.“ Buntal menjadi ber-debar2.
Tetapi ia tidak dapat berbuajt apa-apa. Bahkan Lurah prajurit itu
kemudian memerintahkan “Kau duduk saja disitu. Duduk. Jangan berbuat
sesuatu yang dapat mencelakakan dirimu. Pisau2 itu memang dapat
berbahaya bagi orang lain. Tetapi tidak bagiku.“ Dada Buntal
bagaikan menjadi pepat. Ter-lebih2 lagi ketika ia melihat beberapa
orang prajurit yang lain membawa Juwiring dan Arum masuk keruang
itu. Dengan wajah yang tegang pemimpin prajur it itu memandang
keduanya. Namun ia tidak dapat melihat wajah2 itu dengan jelas,
karena keduanya menundukkan kepalanya. “Anak ini juga membawa
senjata serupa ?“ bertanya Lurah prajurit itu “bawa ia maju.“
Seorang prajurit mendorong Arum ke-tengah2 ruangan. Dan pemimpin
prajurit itu membentaknya Kau masih terlalu muda. Apakah kau ikut
juga terlibat dalam kerusuhan2 yang sering terjadi ?“ Arum tidak
menjawab. Tetapi keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya.
“Kemarilah“ berkata pemimpin prajurit itu. Arum berdiri membeku
ditempatnya. “Kau tentu membawa senjata serupa itu“ berkata lurah
prajurit itu “buka bajumu.“Perintah itu telah menggetarkan jantung
Buntal dan Juwiring. Tentu tidak mungkin Arum harus membuka bajunya
dihadapan beberapa orang prajurit itu. “Buka bajumu, cepat“ pemimpin
prajurit itu berteriak. Namun Arum masih saja berdir i tegak.
Sebagai seorang gadis yang jarang sekali keluar dari padepokannya,
maka perintah itu telah membuatnya pucat. “Cepat, apakah aku harus
memaksamu ?“ prajur it itu menjadi semakin marah. Meskipun demikian
Arum masih tetap berdiri membeku. Ternyata pemimpin prajurit itu
tidak sabar lagi. lapun meloncat maju sambil menjulurkan tangannya.
Namun selagi tangan itu belum menyentuh baju Arum, Buntal dan
Juwiring meloncat hampir berbareng, dan berdiri tepat dimuka Arum.
“Jangan tuan“ hampir berbareng pula mereka mencegah. Pemimpin
prajurit itu menjadi semakin marah bukan kepalang. Dengan tangan
kirinya ia menampar wajah Buntal dan Juwiring ber-ganti2. Namun
kedua anak muda yang telah mengalami pem-bajaan diri itu,' hampir
tidak tergerak karenanya. “Kau gila. Apakah kau sadar bahwa
perbuatanmu ini dapat Menyeretmu kelubang kubur?“ Juwiring dan
Buntal tidak menyahut. Tetapi ketika mereka sempat melihat para
prajurit disekitarnya dengan sudut mata, maka merekapun melihat
ujung2 senjata yang telah terjulur kearah mereka. “Kenapa kau
menghalangi aku he?“ bertanya lurah prajurit itu. Juwiringlah yang
kemudian membuka bajunya dan berkata “Kami memang membawa senjata
serupa ini“Pemimpin prajurit itu memandangi ikat pinggang Juwiring.
Seperti ikat pinggang Buntal, maka beberapa buah pisau kecil
terdapat pada ikat pinggang itu. “Aku ingin metihat yang seorang
itu. Jika kalian berkeberatan, aku akan mempergunakan kekerasan.“
“Tetapi, tetapi“ suara Juwiring ter-putus2. Ia menjadi bingung,
bagaimana mungkin ia mencegah lurah prajurit itu membuka baju Arum.
“Bawa kedua anak ini menepi“ perintah pemimpin prajurit itu “aku
akan melihat, apa yang tersimpan dibawah baju anak yang tampaknya
paling muda ini.“ Juwiring dan Buntal menjadi bingung. Ter-lebih2
lagi Arum. Wajahnya menjadi semakin pucat, dan tubuhnya gemetar.
Namun demikian didalam hati gadis itu, terbersit suatu tekat, jika
mereka memaksa, maka ia akan melawan dengan se- kuat2 tenaganya.
Bahkan terngiang ditelinganya kata2 ayahnya “Bagi seorang anak muda,
bahaya yang paling pahit adalah mati“ Dan kini Arum mengalami, bahwa
sebelum ia sampai pada bahaya yang paling besar bagi seorang gadis,
maka yang terjadi mipun sudah hampir membuatnya pingsan. “Aku akan
memilih mati.“ waktu itu ia menjawab. Dan ayahnya berkata bahwa
kadang2 yang terjadi bukannya yang dipilihnya. Jika saat itu ia
menjadi pingsan, maka ia tidak akan dapat memilih mat i itu. Ketika
beberapa orang prajurit melangkah maju dan menekan-Vnn ujung
pedangnya ditubuh Juwiring dan Buntal, maka t idak ada pilihan lain
bagi Juwir ing untuk melakukan usaha terakhirnya.Karena itu, ketika
ujung pedang itu menekannya semakin keras, maka tiba2 saja ia
menarik ikat kepalanya yang kumal dan sama sekali membuka bajunya.
Dengan suara yang bergejtar ia memanggil “Ki Lurah Bausasra.“ Lurah
prajurit itu terkejut. Dengan tajamnya ia mengamati Juwiring yang
tidak menundukkan kepalanya lagi, dan apalagi kini kepalanya tidak
tertutup lagi oleh ikat kepala yang sudah kumal itu sebagaimana
kebiasaan seorang petani. “Kau mengenal namaku ?“ “Ya Ki Lurah. Aku
mengharap Ki Lurah juga mengenal aku atau se-tidak2nya salah seorang
dari kalian.“ Lurah prajurit yang bernama Bausasra itu menjadi ter-
heran2. Dipandanginya anak muda yang menyebut namanya itu dengan
saksama. Dengan suara yang ragu2 ia bertanya “Siapa kau, siapa ?“
“Pandanglah aku. Adalah kebetulan kita sudah pernah bertemu.
Kebetulan sekali kau pernah datang kerumahku, dan kita pernah
ber-cakap2. Tentu kau lupa kepadaku, karena kau adalah seorang
prajurit yang menunaikan tugasmu tidak disatu tempat. Tetapi aku
tidak lupa kepadamu.“ “Siapa, siapa ?“ Bausasra bertanya semakin
keras “sebut namamu j ika nama itu dapat mengingatkan aku kepadamu.
Namun meskipun kau sudah mengenal aku, itu bukan berarti bahwa aku
dapat melepaskan tanggung jawabku sebagai seorang prajurit yang
menjaga hutan buruan ini.“ Juwiring menarik keningnya. Sambil
meng-angguk2kan kepalanya ia berkata “Kau benar. Meskipun aku
mengenal kau dan kau mengenal aku, itu bukan berarti bahwa kau dapat
melepaskan tanggung jawabmu. Kau kini sedang bertugas mengawasi
hutan bunian ini, dan melarang setiap orang berburu disini. Bukankah
itu tugasmu ? Tugasmu sama sekali tidak untuk menangkap orang
dalamtuduhan yang lain kecuali melarang peraturan hutan tutupan
ini.““Tidak. Aku adalah seorang prajurit. Jika aku menjumpai
kesalahan yang lain, apalagi perusuh2, meskipun tidak-sedang berada
didaerah tugasku, aku memang wajib menangkapnya. Dan sekarang kalian
menimbulkan kecurigaanku karena sikapmu, senjatamu dan itentu ada
suatu rahasia yang tersembunyi pada anak yang masih terlalu muda
itu.“ “Ki Lurah“ berkata Juwiring kemudian “marilah kita batasi
persoalan kita. Kau bertugas dihutan buruan ini. Dan menurut
peraturan, para bangsawan diperkenankan berburu dihutan ini. Dan aku
pernah melihat Raden Rudira berburu disini.“ “Tentu, apakah yang kau
maksud adalah Raden Rudira putera Pangeran Ranakusuma?“ “Ya.“
“Tentu. Raden Rudira boleh berburu, dan ia memang sering berburu
kemari.” “Dan aku ?“ Ki Lurah Bausasra menjadi ter-mangu2. Orang
yang tinggi tegap itu memandang Juwir ing dengan tajamnya. Kini
diamatinya anak muda itu dari ujung kaki sampai keujung rambutnya.
“Siapa kau ?“ suaranya menjadi rendah. Juwiring tersenyum. Katanya
“Apakah benar2 tidak ada seorangpun yang mengenal aku disini.“ Ki
Lurah memandang berkeliling. Beberapa orang prajurit menjadi
ter-mangu2. Dan yang lain menggelengkan kepalanya. Tetapi dalam
ruang yang tidak begitu luas itu seorang dari antara mereka tiba2
mendesak maju sambil berkata “Maaf, apakah aku boleh berbicara?“
“Apa yang akan kau katakan ?“ “Apakah aku boleh menyebut anak muda
ini, meskipun barangkali tidak benar.“Pemimpin prajur it yang tegap
itu mengangguk “Sebut namanya.“ “Apakah, apakah tuan berasal dari
istana Ranakusuman juga seperti Raden Rudira ?“ perajurit itu justru
bertanya. Juwiring tersenyum mendengar pertanyaan itu. Hatinya
menjadi agak dingin. Jika ada seorang saja dari antara mereka yang
mengenal, maka keadaannya akan menjadi semakin baik. Namun dalam
pada itu, pemimpin prajur it yang tegap dan bernama Bausasra itu
terkejut. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya “Dari Ranakusuman
maksudmu?“ Prajurit itu mengangguk. Jawabnya “Ya. Aku pernah
melihatnya dahulu. Sudah agak lama. Tetapi aku masih ingat.“ “Jadi
siapa anak muda ini, siapa ?“ Ki Lurah Bausasra menjadi tidak sabar.
“ “Kalau aku t idak salah, tetapi kalau tidak salah, bukankah anak
muda ini Raden Juwir ing.“ “Raden Juwiring. He? Apakah anak muda ini
Raden Juwiring ?“ Juwiring menganggukkan kepalanya. Katanya “Ya Ki
Lurah Hausasra. Aku adalah Juwiring, Juwiring dari Ranakusuman.
Karena itu aku mengenalmu meskipun kau t idak lagi dapat mengenali
aku.“ “O, jadi, jadi?“ Ki Lurah Bausasra agak gugup. “Mungkin
pakaianku dan sikapku membuatmu semakin tidak mengenal aku.“
Bausasra mengamati Raden Juwiring dengan saksama. Dan sejenak
kemudian ia berteriak “Pergi, semuanya pergi dari ruangan mi.
Biarlah ketiga anak2 muda ini tinggal bersama aku.“Para prajurit
itupun menjadi ter-mangu2. Pedang yang masih telanjangpun kemudian
tertunduk lesu. “Pergi“ sekali lagi. Bausasra berteriak. Beberapa
orang prajurit yang ada didalam ruangan itupun kemudian melangkah
surut dengan dada yang bcr-debar2. Dan ketika mereka sudah sampai
dipintu, maka merekapun ber-desak2an meloncat keluar, se-akan2
ruangan itu menjadi terlampau panas bagi mereka. Ketika mereka sudah
ada diluar, maka seorang dari prajurit itu berdesah “Kenapa kau
tidak mengatakannya sejak tadi ? Jika Raden Juwiring itu menjadi
marah, maka kita semuanya akan ? kena akibatnya,“ “Aku hampir tidak
mengenalnya lagi. Baru ketika ia melepas ikat kepalanya sama sekali
dan kemudian menyebut nama Raden Rudira. Bukankah Raden Rudira itu
adiknya ?“ “Aku kurang mengerti. Dan barangkah aku memang kurang
mengenalnya karena aku hampir tidak pernah bertugas didalam kota
Surakarta sendiri. Apalagi aku belum lama menjadi seorang prajur
it.“ Prajurit ijtu berhenti sejenak, lalu “tetapi yang aneh adalah
Ki Lurah Bausasra. Kenapa ia tidak mengenal putera Pangeran
Ranakusuma? Seharusnya ia mengenalinya.“ “Bukan hanya Ki Lurah
Bausasra. Sebagian terbesar dari kita harus sudah mengenalnya.
Tetapi pakaiannya dan keadaan yang tampak pada lahiriahnya, ia
seperti seorang petani biasa. Petani kecil yang sederhana.“ Dan
tiba2 seorang prajurit yang sudah beruban dikening menyahut
“Bukankah Raden Juwiring sudah beberapa saat tidak berada diistana
Ramakusuman ? Adalah benar kata anak muda yang pertama, bahwa mereka
adalah anak2 Jati Sari. Raden Juwiring itu tentu berada di padepokan
yang disebutnya Padepokan Jati Aking itu.“Prajurit2 itu terdiam
sejenak. Tetapi mereka masih tetap berdebat. Pangeran Ranakusuma
adalah seorang Pangeran yang berpengaruh diistana, apalagi di-saat2
terakhir ketika orang2 asing menjadi semakin banyak di Surakarta.
Namun dalam pada itu didalam ruang dalam, Juwiring berkata kepada Ki
Lurah Bausasra sambil tersenyum “Bukan salahmu Ki Lurah.“ “Kami
mohon maaf Raden. Kami benar2 tidak mengenal K adai Juwiring. Tetapi
tentu Raden Tidak percaya. Aku memang pernah berbicara dengan Raden
ketika aku menghadap ayahanda l'angeran Ranakusuma, sebelum aku
bertugas ke Timur untuk beberapa lamanya. Setelah aku kembali sampai
sekarang, barulah kali ini aku bertemu lagi dengan Raden Juwiring.
dan itupun dalam keadaan yang tidak aku duga sama sekali.” Juwiring
masih tersenyum. Katanya “Tidak apa2. Aku tahu bahwa kau menjalankan
tugas yang dibebankan kepadamu, meskipun barangkali kau tidak sesuai
dengan tugas ini.“ Ki Lurah Bausasra menar ik nafas dalam2. Dengan
ragu2 ia berkata “Memang Raden. Didalam suasana yang panas ini,
setiap prajurit ingin berbuat sesuatu yang besar. Yang bernilai bagi
seorang anak Surakarta. Tetapi aku justru mendapat tugas mengawasi
binatang buruan. Hanya mengawasi beberapa ekor kijang dan har imau
kumbang.“ Juwiring meng-angguk2kan. Katanya “Itu adalah tugas yang
dapat diberikan kepadamu sekarang. Mungkin para pemimpin di
Surakarta masih belum yakin akan sikapmu, sehingga kau masih belum
mendapatkan tugas yang lebih baik dari mengawasi sebuah hutan
tertutup.“ Ki Lurah Bausasra menar ik nafas dalam2. Sejenak
dipandanginya anak2 muda yang kemudian dipersilahkan duduk diamben
bambu.“Mungkin Raden benar“ sahut Ki Lurah “aku memang sudah jauh
ketinggalan dari keadaan yang berkembang. Karena itu pula aku tidak
mengenal Raden lagi. Sekali lagi kami mohon maaf Raden.“ Raden
Juwiring tertawa. Katanya “Jangan kau sebut lagi hal itu. Sebenarnya
kami memang tidak bermaksud mengejutkan kalian. Sebenarnyalah kami
tidak mengetahui bahwa hutan ini sekarang menjadi hutan tertutup.
Jika kau tidak memaksa adikku ini untuk membuka bajunya, maka aku t
idak akan menyatakan diriku. Kami masih berusaha untuk dapat
membebaskan diri tanpa memperkenalkan diriku yang sebenarnya. Tetapi
kecurigaan kalian beralasan. Senjata2 Ini memang senjata yang aneh,
yang tidak lazim, dipakai oleh para pemburu Tetapi kami dapat
mempergunakannya dengan baik.“ Ki Lurah mengangguk. Tetapi ia
bertanya “Siapakah yang Raden maksud dengan adik Raden?“ “Keduanya
adalah adik seperguruanku didalam olah kajiwan dan kanuragan.
Ssperti yang sudah dikatakan, kami kini tinggal ber-sama2
dipadepokan Jati Aking. Dan adikku yang bungsu ini adalah anak Kiai
Danatirta dari Jati Aking. “ “O, aku minta maaf. Aku tidak mengerti.
Tetapi penolakan Raden terhadap permintaanku sangat menambah
kecurigaanku.“ “Kau benar. Tetapi bertanyalah, siapakah nama anak
itu“ Arum termangu-mangu mendengar kata-kata Juwiring. Tetapi iapun
kemudian mengerti maksudnya. Karena itu ketika Bausasra memandang
kepadanya, ia menjawab “Namaku Arum.“ “He“ mata Bausasra terbelalak
karenanya. Dengan suara gemetar ia bertanya “Apakah kau seorang
gadis, atau suaramu sajalah yang seperti suara seorang gadis.““Ia
memang seorang gadis, meskipun bentuknya seperti seorang anak
laki2.“ “O“ keringat yang dingin mengembun didahi Ki Lurah Bausasra
“Aku minta maaf yang se-besar2nya. Untunglah disini ada Raden
Juwiring.“ Arum tertunduk dalam2. Dipipinya membayang warna semburat
merah. Tetapi iapun tersenyum pula seperti Juwiring dan Buntal.
“Sudahlah“ berkata Juwiring “marilah kita lupakan saja peristiwa
ini. Aku akan segera melanjutkan perjalananku ke Sukawati.“ Ki Lurah
Bausasra masih dicengkam oleh kegelisahan. Bahkan kemudian ia
berkata “Aku minta maaf kepada kalian semua. Aku benar2 tidak
mengerti, bahwa aku berhadapan dengan Raden Juwiring dan kedua adik
seperguruannya. Apalagi seorang daripadanya adalah seorang gadis.“
“Bukan salahmu Ki Lurah. Aku tahu, kau dan para. prajurit itu sedang
melakukan kuwajibannya. Akupun minta maaf, bahwa aku telah membuat
kau dan prajur itmu menjadi sibuk.“ “Tidak. Tidak. Raden tidak
bersalah Raden berhak berburu dihutan ini seperti juga Raden Rudira
dan putera2 Pangeran yang lain.“ “Terima kasih. Kami tidak ingin
berburu.“ Ki Lurah Bausasra mengerutkan keningnya. Namun Juwiring
tertawa dan berkata “Mungkin keterangan kami ber- belit2 dan kadang2
saling bertentangan. Jika kalian tidak mengenal kami, maka kalian
tentu akan menjadi semakin curiga. Tetapi sebenarnyalah bahwa kami
memberikain keterangan yang tidak sebenarnya, karena semula kami
tidak bermaksud mengatakan tentang diri kami masing2 yang
sebenarnya. Terutama aku sendir i, sehingga kami mencobauntuk
men-car i2 alasan, sehingga dengan demikian keterangan kami menjadi
ber-belit2.” Ki Lurah Bausasra tidak menyahut. Dan Raden Juwiring
berkata selanjutnya “Tetapi sebenarnyalah kami hanya ingin lewat
Kami akan pergi ke Sukawati.“ Ki Lurah Bausasra meng-angguk2. “Oleh
guru kami, kami dibekali dengan senjata2 kecil ini. Justru karena
keadaan semakin lama menjadi semakin kisruh dan tidak menentu.“ Ki
Lurah Bausasra masih meng-angguk2. “Kami sengaja tidak membawa
senjata yang menyolok selain keris dan pisau2 belati kecil ini.
Senjata2 ini dapat sekedar melindungi dir i kami apabila kami
perlukan, namun tidak memancing perhatian dan persoalan, karena kami
dapat menyembunyikannya dibawah baju kami.” “Kami mengerti“ jawab Ki
Lurah Bausasra “kini aku percaya. Semula keterangan Raden dan adik2
seperguruan Raden memang membingungkan dan mencur igakan. Tetapi
kini kami dapat mengerti, kenapa Raden dan adik2 Raden berusaha
untuk meng hindarkan diri dar i pertanyaan2 kami dan tidak menjawab
sebenarnya seperti yang akan Raden lakukan.“ “Ya. Terima kasih atas
pengertian Ki Lurah. Dan sekarang kami akan minta dir i.“ “Tetapi
tentu bukan untuk mengunjungi seorang kakek yang sudah lama tidak
bertemu.“ Raden Juwiring tersenyum. “Sebenarnya aku juga menunggu
kesempatan, kapan aku dapat menghadap Pangeran Mangkubumi.“ desis
Bausasra. “He ?“ Juwir ing mengerutkan keningnya. Namun iapun
kemudian menar ik nafas dalam2. Ia harus hati2 menghadapiorang yang
tidak begitu dikenalnya. Mungkin Bausasra hanya sekedar
memancingnya, dan kemudian melaporkannya kepada pimpinan prajurit di
Surakarta, yang mempunyai wewenang untuk melakukan penangkapan atas
para bangsawan. Namun tiba2 Ki Lurah Bausasra itu menjadi sangat
gelisah. Dan dengan suara yang bergetar ia bertanya “Tetapi Raden.
Apakah Raden akan menghadap pamanda Pangeran Mangkubumi ?“ Juwiring
masih tetap ber-hati2, meskipun se-akan2 acuh tidak acuh saja ia
menjawab “Tidak Ki Lurah. Kami t idak akan menghadap pamanda
Pangeran Mangkubumi. Kami akan pergi kepada seorang sahabat Kiai
Danatirta.“ “O“ Ki Lurah Bausasra menjadi semakin gelisah. Namun
seperti tidak terjadi apapun juga Raden Juwir ing berkata “Nah,
sekarang kami akan minta diri. Sekali lagi kami minta maaf bahwa
kami sudah mengganggu kalian. Tolong katakan kepada prajuritmu,
bahwa kita lupakan saja apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah
kita perbuat masing2.“ “Baik, baik Raden. Terima kasih atas
kesempatan ini. Mudah-mudahan lain kali kami tidak membuat
kesalahan. Nanti aku akan memerintahkan agar gawar lawe yang
berwarna kuning itu tidak hanya disangkutkan pada lorong2 masuk
kedalam hutan ini, tetapi direntangkan disekitar hutan yang
menghadap kejalan yang Raden lalui, agar orang lain nanti tidak
terjebak dalam kesalahan yang sama seperti Raden yang tidak
mengetahui bahwa hutan ini adalah hutan tertutup. Untunglah bahwa
Raden memang berhak melakukannya. Jika terjadi atas orang lain,
akibatnya akan tidak menyenangkan bagi orang itu, meskipun
sebenarnya ia memang tidak bersalah. “ “Baiklah.“ berkata Raden
Juwiring. “Aku minta diri.” Buntal dan Arumpun kemudian minta diri
pula kepada Ki lurah Bausasra, Merekapun kemudian diantar oleh Ki
Lurah itusampai kehalaman dan selanjutnya meninggalkan barak
penjagaan prajurit Surakarta itu. Beberapa langkah kemudian, Buntal
bertanya kepada Juwiring “Jadi, bukankah Ki Lurah Bausasra agaknya
tidak berpihak kepada Kompeni, atau se-tidak2hya tidak terlalu menj
ilat mereka “ “Mungkin sekali. Tetapi aku masih ragu2. Kita tidak
dapat berbuat ter-gesa2 terhadap orang yang belum kita kenal dengan
baik. Mungkin Ki Lurah Bausasra sedang memancing kita. Tetapi
menilik sikapnya, aku mempunyai dugaan, bahwa sebenarnya ia tidak
ber-pura2. Ternyata ia justru menjadi gelisah.“ “Kenapa justru
gelisah ?“ “Ki Lurah Bausasra mengerti kalau aku adalah Putera
ayahanda Ranakusuma. Dan Ki Lurah Bausasrapun tahu, bagaimana sikap
ayahanda terhadap perkembangan keadaan kini.“ Buntal dan Arum
meng-angguk2kan kepalanya. Agaknya Ki Lurah Bausasra menjadi
gelisah, karena menurut dugaannya Raden Juwiring pasti mempunyai
sikap seperti ayahandanya. Tetapi mereka tidak mempersoalkannya
lagi. Arum yang merasa tidak akan terganggu lagi di hutan tutupan
itu mulai tertarik lagi pada gerumbul2 liar yang berserakan diantara
pepohonan yang semakin lama semakin pepat. “Dalam gerumbul itu tentu
bersembunyi binatang buruan. Kijang atau rusa.“ desisnya. “Atau
harimau.“ sahut Buntal. “Apa salahnya seekor harimau.“ “Tentu bukan
harimau. Disekitar tempat ini tentu tidak ada seekor harimaupun saat
ini.“ desis Juwiring. “Kenapa kau tahu ?“ beritanya Arum.“Lihat.
Disini banyak kera berkeliaran. Jika didaerah ini ada seekor harimau
atau seekor ular yang besar, maka tentu tidak akan ada seekor
kerapun yang tampak. Mereka akan menyisih jauh2. Bahkan jika seekor
ular besar sedang lapar dan mengikatkan ujung ekornya pada sebatang
dahan yang besar, bukan saja tidak ada seekor kerapun yang tampak,
tetapi juga burung2 akan berterbangan pergi. Apabila arah angin
tepat bertiup kearah kita, maka kita akan mencium bau yang langu.“
“Kau mengetahui banyak tentang hutan dan perburuan“ “Aku dahulu
sering ikut berburu seperti adinda Rudira. Tetapi kemampuan berburu
adinda Rudira berkembang karena ia kemudian mendapat kesempatan
untuk pergi berburu sendiri dengan beberapa orang pengiring. Tetapi
aku kemudian mendapat kesempatan lain. Mempelajari olah kanuragan,
kajiwan serta' ilmu pergaulan dan tata pemerintahan dari Kiai
Danatirta, meskipun adinda Rudira pasti juga mendapat dari orang
lain.“ Buntal dan Arum ineng-angguk2. Tanpa mereka sedari mereka
merasakan betapa pahitnya perasaan Raden Juwiring, karena ia telah
tersisih dari lingkungan keluarganya, apapun alasannya. Namun
sejenak kemudian perhatian Arum telah tertuju kepada hutan
disekitarnya. Jika Juwiring dan Buntal setiap kali tidak
mencegahnya, maka ia pasti sudah ber-lari2an diantara semak2 yang
lebat. “Ada beberapa kemungkinan Arum“ berkata Juwiring “kau
bukannya berburu, tetapi diburu oleh binatang liar, atau tersesat. “
“Mungkin aku dapat tersesat. Tetapi seandainya ada binatang liar,
akulah yang akan menangkapnya. Bukankah yang ada hanyalah rusa atau
kijang ? Bukankah disini tidak ada harimau. Bahkan seandainya ada
harimau sekalipun akutidak takut. Aku dapat memanjat dan membunuhnya
dengan pisau2 ini.“ “Bukan seekor harimau Arum. Tetapi yang paling
berbahaya bagi pemburu adalah ular kecil yang berbisa. Hanya orang2
tertentu sajalah yang dapat mengobati gigitan ular weling, welang
atau bandotan. Tetapi tidak kalah bahayanya adalah serangga2 yang
berbisa. Laba2 biru atau lebih kendit, yang bergaris putih
dipinggangnya yang ramping.“ Arum mengerutkan keningnya. Namun
kemudian sambil rnemberengut ia berkata “Kau membohongi aku. Aku
percaya kalau dihutan ini banyak ular berbisa. Tetapi tidak dengan
serangga2 semacam itu.“ “Sebaiknya kau mempercayainya Arum“ berkata
Buntal “Kakang Juwiring mempunyai pengalaman dan pengenalan atas
hutan ini dan barangkali di-hutan2 yang lain.“ Arum tidak menjawab.
Tetapi wajahnya menjadi gelap. Dan tiba2 saja ia berkata ”Kita
keluar dari hutan ini. Jika kita bertemu dengan peronda yang lain
lagi, yang belum mengetahui tentang kita, maka kita harus berurusan
lagi dengan mereka, dan Lurah itu akan memaksa lagi aku membuka
baju.“ Juwiring dan Buntal tersenyum.“Kalian mentertawakan aku?“
“Mereka tidak tahu Arum. Justru karena itu membukt ikan bahwa kau
pantas berpakaian seperti seorang laki-laki“ sahut Buntal. Arum
tidak menjawab. Tetapi ia berjalan lebih cepat lagi mendahului kedua
saudara seperguruannya. Demikianlah akhirnya merekapun keluar dari
hutan tertutup itu. Mereka berjalan menyusur jalan sempit dipinggir
hutan itu. Dan sebenarnyalah mereka dibeberapa tempat melihat gawar
lawe berwarna kuning sebagai pertanda bahwa hutan itu adalah hutan
tertutup. Perjalanan merekapun tidak terganggu lagi oleh keinginan
Arum mencar i binatang buruan dihutan, setelah mereka menjadi
semakin jauh dari hutan tertutup itu. Bahkan kemudian mereka sampai
didaerah pategalan yang sudah ditanami dengan berbagai macam pohon
buah2an. Dan sejenak kemudian merekapun sampai ilibulak persawahan
yang panjang. Ketika matahari menjadi semakin rendah di Barat, maki
merekapun berist irahat dibawah sebatang pohon yang rindang. Namun
mereka sama sekali masih belum dapat duduk dengan tenang, karena
Sukawati masih cukup jauh. Apalagi perjalanan mereka terganggu oleh
prajur it2 yang bertugas di hutan tutupan itu. Dengan bekal yang
hanya sedikit, mereka mengisi perut mereka sebelum melanjutkan
perjalanan dibawah terik matahari menjelang sore. Meskipun panasnya
sudah mulai susut, namun rasa2nya masih juga menyengat kulit yang
se-akan2 menjadi merah seperti tembaga. Pakaian mereka telah basah
oleh ker ingat dan kotor oleh debu. Tetapi mereka berjalan
terus.“Kita harus sampai kerumahnya“ berkata Juwiring seakan kepada
diri sendir i. Tetapi Buntal menyahut “Ya. Kita harus langsung
sampai kerumah Kiai Sarpasrana meskipun lewat tengah malam.“ Arum
tidak berkata apapun. Tetapi ia tidak berkeberatan seandainya ia
masih harus berjalan sampai lewat tengah malam. Mes kipun ia seorang
gadis, tetapi latihan2 yang teratur dan mapan, membuat ketahanan
tubuhnya menjadi sangat tinggi, seperti juga luwiring dan Buntal.
Dalam pada itu, mataharipun semakin lama menjadi semakin rendah.
Langit menjadi ke-merah2an oleh sinarnya yang lemah. Dan ujung mega
di atas pegunungan bagaikan membara. Arum yang se-akan2 telah mandi
keringat, sempat memandang langit yang ditaburi oleh sisa2 sinar
matahari menjelang senja. Angin yang lembut mengusap wajahnya yang
basah. Sekali2 gadis itu mengusap keringat dikeningnya dengan lengan
bajunya dengan acuh tidak acuh. Perhatiannya sedang dicengkam oleh
warna2 yang dengan cepatnya be- rubah2 disore har i. Juwiring yang
berjalan agak didepan menundukkan kepalanya. angan2nya telah
mendahuluinya menemui Kiai Sarpasrana. Berbagai macam gambaran telah
bergerak di kepalanya. Mungkin orang itu akan menyambutnya dengan
baik, tetapi mungkin sebaliknya. Dalam pada itu, Buntal untuk
beberapa saat terlempar kedalam dunia kenangan. Di-saat2 ia berjalan
tanpa tujuan. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit
dengan warnanya, yang semakin gelap. Seperti warna yang pernah
dilihatnya di bulak Jati Sari. Betapa warna itu bagaikan bayangan
hantu yang akan menerkamnya saat itu.Se-akan2 masih terasa
tengkuknya bagaikan patah ketika orang orang Jati Sari memukulinya.
Masih juga terngiang pekik Arumyang terkejut melihatnya diatas
gubug. Buntal menarik nafas dalam2. Diluar sadarnya dipandanginya
wajah Arum sekilas. Hanya sekilas. Tetapi Buntal melihat ujung
rambutnya yang ber-gerak2 ditiup angin yang lembut, bagaikan rumbai2
yang menghiasi seraut wajah yang bulat cerah. Buntal menar ik nafas
dalam2. Setiap kali ia mencoba mengusir pikiran gila itu dar i
kepalanya. Namun setiap kali wajah itu ter bayang juga meskipun ia
sudah berusaha untuk mengenyahkannya. “Kenapa aku harus membayangkan
wajahnya“ Buntal membentak dir inya sendiri didalam hati “anak itu
ada disini. Aku dapat memandanginya se-puas2nya. Bukan sekedar
bayangan didalamangan2“ Buntal terkejut ketika ia mendengar suara
Juwiring “Di malam hari, lebih sulit bagi kita untuk menemukan rumah
Kiai Sarpasrana.“ Sejenak Buntal tergagap. Namun iapun kemudian
menjawab “Ya. Tidak ada tempat untuk bertanya.“ “Mungkin di gardu2
parondan“ sahut Arum. Juwiring meng-angguk2. Katanya “Ada dua
kemungkinan. Di gardu2 peronda kita akan mendapat petunjuk, atau
justru dicurigai dalam keadaan seperti sekarang ini.“ “Ya“ Buntal
menyahut “kita dapat dicur igai seperti prajurit2 itu mencurigai
kita. Agaknya saat ini adalah saat saling curiga mencur igai
diantara sesama orang Surakarta dan wilayahnya“ “Ya. Kedatangan
orang2 asing itulah yang telah menggunjingkan sendi2 kehidupan di
Surakarta.“ Juwiring berhenti sejenak, lalu “apakah kalian
sependapat, apabila kita teruskan perjalanan kita sampai ke Sukawati
malam ini,meskipun sampai j«uih dan bahkan lewat tengah malam?
Tetapi baru besok pagi2 !? iia mencari rumah Kiai Sarpasrana?“
Tetapi Arum menggelengkan kepalanya “Kita sampai kerumahnya malam
ini. Jika kita menunggu dimanapun juga, masih akan ada kemungkinan2
lain yang dapat terjadi.“ Buntal menganggukkan kepalanya “Ya. Tentu
didaerah Sukawati peronda2 selalu nganglang hampir setiap saat.
Lebih baik kita berterus terang kepada mereka.“ Juwiring
meng-angguk2 pula. Katanya “Baiklah. Kita akan berusaha untuk
menemukan rumah itu“ Ketiga anak muda itupun kemudian terdiam
sejenak. Sementara langit menjadi buram dan ujung pegunungan telah
menjadi pudar. Hampir tanpa mereka sadari, maka per-lahan2 malampun
mulai turun. Cahaya matahari yang tersangkut ditepi langit telah
padam sama sekali. Bintang2 satu demi satu mulai memancar didalam
kegelapan. Ketiga anak2 muda itupun berhenti pula sejenak untuk
melepaskan lelah. Meskipun mereka cukup terlatih menguasai diri,
tenaga dan tubuh, namun mereka masih juga memer lukan ber istirahat
sejenak. Membasahi kaki mereka dengan air parit yang bening. Bahkan
kemudian tangan dan wajah mereka yang bagaikan hangus dibakar sinar
matahari. “Kita duduk sejenak“ berkata Arum kemudian “bukan karena
lelah Tetapi aku ingin menikmati segarnya udara“ Juwiring dan Buntal
tersenyum, namun mereka t idak menjawab. Meskipun demikian Arum
berkata “Kalian tidak percaya?“ “Tentu kami percaya“ jawab Juwiring
“akupun ingin duduk sebentar. Angin terasa sejuk sekali.““Apakah
perjalanan kita masih jauh?“ bertanya Arum kemudian. “Tidak begitu
jauh lagi“ jawab Juwir ing “aku kira tidak sampai tengah malam kita
sudah akan mencapai daerah Sukawati.” Arum tidak bertanya lagi. Ia
duduk diatas rerumputan sambil bersandar sebatang pohon. Namun
kemudian sambil berpaling memandang kedalam kegelapan bayangan
pepohonan ia berkata “Bukankah aku tidak bersandar sebatang pohon
hutan tutupan?“ “Tidak Arum“ Buntallah yang menjawab “kita berada di
daerah pategalan.“ “O“ Arum menyandarkan dir inya lagi sambil
memandang kekejauhan. Namun tiba2 Arum terkejut. Hampir bersamaan
Juwir ing dan Buntalpun mengangkat kepala mereka memandang
kekejauhan. “Beberapa buah obor“ desis Arum. “Ya“ Juwiring dan
Buntal hampir bersamaan. “Siapakah mereka?“ bertanya Arumpula
Juwiring menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak tahu.“ Arumpun
kemudian berdiri. Dilihatnya beberapa buah obor itu berjalan
beriringan. Tidak banyak. Ada tiga buah yang jaraknya agak
berjauhan. “Mereka menuju kemari“ desis Buntal yang telah berdiri
pula. “Ya. Obor itu menuju kemari.“Ketiganyapun kemudian berdiri
ter-mangu2. Mereka memandangi obor yang semakin lama menjadi semakin
dekat itu dengan saksama. “Mereka akan melewati jalan ini“ berkata
Arum kemudian Juwiring merenung sejenak, lalu “Kita bersembunyi.“
“Menyingkir?“ beritanya Arum. “Tidak. Aku ingin melihat siapakah
mereka.“ Buntal menganggukkan kepalanya sambil bergumam “Ya kita
bersembunyi dibalik semak2 untuk melihat, siapakah mereka itu.“
Demikianlah ketiganyapun kemudian segera bersembunyi di-balik semak2
yang rimbun. Apalagi didalam gelapnya malam. “Hati2lah, jangan
menimbulkan suara apapun yang dapat menarik perhatian mereka“
berkata Juwiring. Kedua adik2 seperguruannya itu tidak menjawab.
Tetapi mereka menyadari, bahwa apabila mereka membuat kesalahan,
maka akibatnya (tidak dapat dibayangkan karena mereka t idak
mengetahui siapakah yang akan lewat itu. Arum yang telah mendapat
pengalaman dari kesulitan yang dialaminya dihutan tertutup itupun
menjadi agak ber-hati2. Apalagi apabila mereka berhadapan dengan
orang2 yang sama sekali tidak diketahuinya. Mungkin perampok2,
mungkin prajurit2 yang sedang mengejar perampok atau mencari apapun,
(tetapi mungkin juga orang2 asing yang kadang2 dapat menjadi buas
menghadapi gadis2, seperti cerita yang pernah didengarnya. Bahkan
ketika obor2 itu menjadi semakin dekat, Arum telah menahan nafasnya,
agar tidak terdengar oleh orang2 yang kemudian lewat di jalan
dipinggir pategalan itu. Ketiga anak2 muda itupun kemudian
memperhatikan sebuah iring2an yang mendebarkan jantung.
Sebagianterbesar dari mereka adalah laki2 bersenjata Bahkan ada
diantara mereka yang berpakaian seperti prajurit Surakarta. Sedang
dibagian tengah dari iring-ir ingan itu, adalah beberapa orang
perempuan dan bahkan anak2. Hampir saja Arum membuka mulutnya untuk
bertanya kepada Buntal yang ada disebelahnya. Untunglah bahwa ia
segera sadar sehingga niatnya itupun diurungkannya. Namun yang
paling tegang dari ketiga anak2 muda itu adalah Juwiring. Dibawah
cahaya obor yang menerangi terutama dibagian perempuan dan anak2
itu, dilihatnya seorang yang pernah dikenalnya. Sejenak ketiganya
se- akan2 telah membeku. Tetapi dengan demikian mereka berhasil
tidak menarik perhatian orang2 yang lewat beberapa langkah saja
dihadapan mereka. Baru ketika ir ing2an itu sudah lewat agak jauh,
ketiga anak2 muda itu bangkit dari persembunyiannya Per- lahan2
mereka bergeser maju. Dengan hati2 mereka menyusup diantara semak2
dan muncul dijalan yang baru saja dilalui oleh iring2an yang
mendebarkan jantung itu. “Siapakah mereka ?“ desis Arum, Buntal
menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku tidak tahu” “Apakah belum ada
orang yang kau kenal sama sekali ?“Sekali lagi Buntal menggeleng.
Katanya “Belum. Aku belum pernah mengenal mereka.“ Arum menar ik
nafas dalam-dalam. Tetapi ketika ia berpaling kepada Juwir ing,
dilihatnya didalam kesuraman malam, anak muda iiu merenung. “Apakah
ada yang kau kenal ?“ bertanya Arum kepada Juwiring. Juwiring t idak
segera menjawab. Ia masih memandang cahaya obor dikejauhan, yang
se-akan2 bagaikan seberkas bara yang berterbangan didalam gelapnya
malam. Bahkan Arum berdesis seperti kepada dir i sendir i “Seperti
beberapa ekor burung kemamang.“ Juwiring meng-angguk2. Katanya
kemudian “Se-akan2 aku pernah mengenainya salah seorang dar i
mereka.“ “Siapa ?.“ bertanya Buntal dan Arum hampir bersamaan. “Yang
berjalan diluar iring2an. Kebetulan saja ia melintas disebelah obor
yang ada didepan perempuan dan anak2 itu.” “Ya siapa ?“ Arum tidak
sabar. “Juga seorang bangsawan“ “Bangsawan ? Siapa ? Raden Rudira ?
Atau siapa ? Laki-laki atau perempuan ?“ bertanya Arum. Juwiring
masih belum menjawab, sehingga Arum mendesaknya lagi “Yang. kau
maksudkan seorang laki2 atau seorang perempuan “ “Seorang laki2“
desis Juwiring. “Namanya ? Tentu ia mempunyai nama.“ “Raden Mas
Said.“ “Raden Mas Said“ Arum dan Buntal mengulang. “Siapakah Raden
Mas Said itu?” bertanya Buntal.Juwiring menarik nafas dalam2.
Katanya “Aku tidak yakin, apakah aku benar. Tetapi jika benar ia
Raden Mas Said, maka ia adalah puteranda paman Ar ia Mangku Negara.”
“Tetapi apakah yang dilakukannya dengan perempuan dan anak2 itu ?“
“Aku tidak tahu pasti. Tetapi menilik sikapnya, apabila ia benar2
Raden Mas Said, maka ia pasti sedang menyingkir dari Surakarta.
Laki2 bersenjata itu adalah pasukannya dan perempuan itu pasti
keluarga mereka. Sikap pamanda Aria Mangku Negarapun sudah jelas
bagi Surakarta.“ Buntal menarik nafas dalam2. Sambil meng-angguk2kan
kepalanya ia berkata “Ternyata bahwa Surakarta benar2 terbelah.
Bahkan keluarga Ranakusumapun terbelah “ “Lebih dari itu Buntal.
Banyak diantara para bangsawan yang hatinya sendiri terbelah. Penuh
ke-ragu2an dan tidak menentu. Bahkan tidak tahu apa yang sedang
dilakukannya“ Buntal meng-angguk2kan kepalanya. Ia dapat
membayangkan betapa kacaunya sikap para bangsawan dan pimpinan pemer
intahan di Surakarta. Prasangka, curiga mencur igai, dan saling
menfitnah. Setiap orang dapat menanggapi keadaan sesuai dengan
kepentingan masing2. Tetapi bahwa api mulai berkorbar di Surakarta,
agaknya sudah tidak dapat diingkari lagi. Dalam pada itu Arumpun
kemudian bertanya “Lalu apa yang harus kita lakukan?“ “Sementara ini
tidak berbuat apa2“ berkata Raden Juwi-miir “Kita melanjutkan
perjalanan. Malam ini kita akan menemukan rumah Kiai Sarpasrana.
Ternyata banyak ceritera yang dapat k:ta katakan kepadanya. Mungkin
ia tahu agak banyak tentang pasukan yang baru saja lewat“ Marilah“
sahut Arum. “Kita jangan terlampau lama berdiri saja disini sambil
berbicara tanpa ujung pangkal.““Ya. Kita melanjutkan perjalanan.
Mungkin kita harus segera berbuat sesuatu apabila kita sudah bertemu
dengan Kiai Sarpasrana.“ Ketiga anak2 muda itupun kemudian
meneruskan perjalanan mereka ke Sukawati. Meskipun mereka telah
menempuh perjalanan yang cukup panjang, namun karena kemauan yang
mantap didalam liati, maka tampaknya mereka sama sekali tidak
menjadi lelah. Apalagi tubuh mereka telah cukup terlatih, sehingga
mereka mampu mengatur tenaga yang ada didalamdiri mereka
se-baik2nya. Disepanjang perjalanan mereka kemudian, hampir t idak
seorangpun yang berbicara. Mereka berjalan saja dengan langkah yang
cepat. Angan2 mereka ternyata telah dipengaruhi oleh bayangan mereka
masing2 tentang iring2an yang baru saja mereka lihat. “Ada yang
membawa senjata api“ berkata Juwiring didalam hatinya, karena secara
kebetulan pula ia melihat seseorang didalam ir ing2an itu membawanya
“tentu didapatnya dari orang asing-asing itu dengan kekerasan.“
Tetapi Raden Juwiring tidak mengatakannya kepada kedua adik
seperguruannya. Demikianlah, tanpa beristirahat lagi, merekapun
memasuki tlatah Sukawati. Karena itu, mereka menjadi semakin ber-
hati2. Sukawati agak berbeda dari padukuhannya. Meskipun Sukawatipun
termasuk daerah yang tidak banyak diganggu oleh penjahat, namun
agaknya Sukawati mempunyai persiapan yang khusus menghadapi keadaan
yang semakin memuncak di Surakarta. Apalagi merekapun sadar, bahwa
banyak orang2 di Sukawati yang memiliki kelebihan dari orang
kebanyakan, sehingga apabila mereka kurang ber-hati2, maka mereka
akan terjerumus kedalam kesulitan.Karena itu, agar mereka tidak
membuat salah paham, maka mereka berkeputusan untuk langsung pergi
kegardu yang pertama2 akan mereka temui dan langsung bertanya,
dimanakah rumah Kiai Sarpasrana yang juga sering disebut Kiai Sarpa
Treng. “Belum tengah malam“ bisik Buntal ketika ia menengadahkan
kepalanya melihat bintang2 yang bersinar di langit “Ya“ sahut
Juwiring “bintang Gubug Penceng sudah hampir tegak lurus. Sebentar
lagi kita akan menginjak tengah malam. Dan mudah2an kita sudah
sampai pada Kiai Sarpasrana.“ Arum meng-angguk2kan kepalanya
meskipun ia tidak menyahut sama sekali. Demikianlah, ketika mereka
melihat cahaya obor digardu perondan, maka merekapun langsung
menghampirinya. Lebih baik mereka bertanya lebih dahulu daripada
mereka dicur igai oleh para peronda itu. Para peronda yang ada
didalam gardu itupun terkejut. Mereka segera berloncatan turun
ketika mereka melihat tiga orang anak muda yang belum mereka kenal
mendekati gardu mereka. “Siapakah kalian ?“ bertanya pemimpin
peronda itu. “Kami datang dari Jati Sari Ki Sanak“ Juwir inglah yang
menyahut “Siapa ?“ “Namaku Juwiring. Keduanya adalah adikku.“
Peronda itu ter-mangu2 sejenak, sedang Juwiring menjadi berdebar. Ia
tidak sempat menyembunyikan namanya, apalagi membuat nama buat Arum
jika ia dipaksa untuk menyebutnya.“Mudah2an mereka tidak mengenal
Raden Juwir ing dari Ranakusuman“ berkata Juwiring didalamhatinya.
Untunglah bahwa peronda itu sama sekali tidak mempersoalkan namanya
dan t idak bertanya pula nama kedua adik seperguruannya. Yang
ditanyakan kemudian adalah “Kemanakah kalian akan pergi dimalam
begini ?“ “Kami kemalaman di jalan. Ki Sanak. Tetapi kami tidak
berani berhenti dan bermalam dijalan. Karena itulah kami memaksa dir
i untuk meneruskan perjalanan.“ “Kalian akan pergi kemana ?” desak
peronda itu. “Kami akan mengunjungi paman Sarpasrana yang juga
disebut Sarpa Ireng Karena kami belum pernah melihat rumahnya, maka
kami sengaja datang ke gardu ini. Juga agar tidak timbul salah
paham, karena kami memasuki padukuhan ini ditengah malam. “ Peronda
itu merenung sejenak. Kemudian iapun berpaling kearah kawan2nya,
tetapi tidak seorangpun yang mengatakan sesuatu. “Apa hubungan
kalian dengan Kiai Sarpasrana ?“ bertanya peronda itu. “Ayahkulah
yang mempunyai hubungan dengan Kiai Sarpasrana, tetapi tidak lebih
dar i seorang sahabat. Sekarang aku disuruh oleh ayahku untuk datang
menemuinya. Tetapi kami belum pernah melihat rumahnya.“ “Apakah
kepentinganmu atau kepentingan ayahmu itu ?“ “Tidak ada kepentingan
apa2. Ayahku sudah lama tidak bertemu Lalu disuruhnya aku
menengoknya, apakah Ki Sarpasrana sehat2 saja.“Peronda itu menjadi
ragu2. Ditatapnya saja wajah Juwiring yang menjadi semakin
ke-merah2an oleh cahaya obor digardu pemuda itu. “Orang ini tentu
tidak akan berani berbohong“ berkata prajurit itu didalam hatinya
“Kiai Sarpasrana bukanlah orang kebanyakan. Seandainya orang2 ini
berhasil menemuinya, tentu mereka tidak akan berani berbuat jahat.
Seandainya mereka berani, maka merekapun pasti akan segera
dibinasakan oleh Kiai Sarpasrana dan murid2nya.“ Dalam ke-ragu2an
itu, ia kemudian bertanya lagi “Apakah benar kalian tidak bermaksud
apa2?“ “Tentu“ jawab Juwiring “kami akan mengunjunginya. Hanya
mengunjunginya saja. Tentu kami tidak akan dapat berbuat macam2
dihadapan Kiai Sarpasrana.“ Peronda itu menarik nafas dalam2. Anak
muda itu se-olah2 dapat membaca isi hatinya. Dan sejenak kemudian ia
berkata “Baiklah. Tetapi jangan mencoba mencelakai dirimu sendiri
dengan perbuatan yang aneh2 dihadapan Kiai Sarpasrana. Jika kalian
berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya, maka kalian pasti
akan menyesal, karena Kiai Sarpasrana adalah orang yang keras.
Sangat keras.“ Juwiring menganggukkan kepalanya sambil menyahut
“Tentu. Kami tidak akan mencelakai dir i kami sendir i.” Peronda
itupun kemudian menyuruh dua orang kawannya untuk mengantar Juwiring
dan adik2 seperguruannya kerumah Kiai Sarpasrana yang juga disebut
Kiai Sarpa Ireng. Namun disepanjang jalan para peronda itupun cukup
ber-hati2. Dipersilahkannya Juwir ing dan kedua adik seperguruannya
itu berjalan didepan. Ternyata untuk mencapai rumah Kiai Sarpasrana
mereka masih harus berjalan beberapa lamanya. Mereka masih melalui
beberapa gardu peronda dan sebuah bulak kecil,karena Kiai Sarpasrana
itu terletak disebuah padukuhan kecil yang terpisah dari padukuhan
induk Sukawati. “Itulah rumahnya“ berkata peronda yang mengantar
ketiga anak2 muda itu “ber-hati21ah. Kiai Sarpasrana adalah orang
yang dihormati. Meskipun tampaknya ia agak kasar, tetapi ia adalah
orang yang baik. Ia mengerti perasaan orang2 Sukawati sehingga
karena itulah maka iapun dekat dengan Pangeran Mangkubumi.“ “O“
Juwir ing menganggukkan kepalanya. “Didalam olah kanuragan, iapun
memiliki beberapa kelebihan meskipun agaknya ia belum mendekati
Pangeran Mangkubumi” Ketiga anak muda itu masih meng-angguk2.
Sekilas terbayang wajah seorang tua yang keras hati. Namun melintas
juga bayangan seorang Pangeran yang luar biasa, yang pilih tanding.
Bahkan menurut beberapa orang, Pangeran Mangkubumi memiliki beberapa
macam ilmu yang jarang dikuasai oleh orang lain. “Tetapi apakah Kiai
Sarpasrana tidak menjadi marah karena kedatangan kami ditengah malam
begini?“ tiba-tiba saja Buntal bertanya. “Jika kau mempunyai alasan
yang kuat, maka Kiai Sarpasrana tentu tidak akan marah Bagi orang
yang belum mengenalnya, sikapnya memang seperti orang yang sedang
marah. Tetapi kemudian sikap itu akan berubah. Apakah kau sudah
sering bertemu dengan orang itu ?“ Juwiring menggelengkan kepalanya.
“Apakah ayahmu juga berpesan kepadamu. tentang sifat dan kebiasaan
Kiai Sarpasrana itu ?“ Juwiring ragu2 sejenak. Namun kemudian
jawabnya “Hanya sedikit. Tetapi kami sudah mempunyai gambaran
tentang orang itu.““Jadi kalian sama sekali belum pernah menemuinya?
Maksudku j ika sekali2 Kiai Sarpasrana itu berkunjung kepada ayahmu
yang katamu adalah sahabatnya ?“ “Belum. Kami memang belum pernah
bertemu dengan Kiai Sarpasrana. Tetapi menurut pesan ayahku, jika
aku menyebut bahwa aku adalah anak2nya, maka Kiai Sarpasrana pasti
akan segera mengenal aku.“ Peronda itu meng-angguk2- Dalam pada itu,
merekapun sudah berdiri didepan regol halaman rumah Kiai Sarpasrana.
Halaman yang cukup luas dengan berbagai macam pepohonan. Didalam
gelapnya malam Juwir ing t idak segera dapat mengenal, pohon apa
sajalah yang tumbuh di halaman rumah itu. “Masuklah“ berkata peronda
itu “regol ini t idak pernah diselarak.“ Juwiring ragu2 sejenak.
Lalu iapun bertanya “Apakah kalian tidak masuk.“ Peronda itupun
menjadi ragu2 pula. Namun salah seorang dari mereka berkata
“Baiklah. Marilah, kami antar kau mengetuk pintu pendapa.”
Demikianlah dengan hati2 mereka membuka pintu regol halaman
Per-lahan2 mereka maju melintasi halaman menuju ketangga pendapa.
“Naiklah, dan ketuklah pintu pringgitan“ berkata peronda itu. Tetapi
agaknya peronda itu sendir i ragu2 pula.“Apa boleh buat“ berkata
Juwiring “kami sama sekali tidak berniat jelek.“ Tetapi ketika
Juwiring baru menginjak anak tangga yang pertama, hampir saja mereka
terlonjak karena terkejut. Peronda2 itu-pun terkejut pula ketika
mereka mendengar suara seseorang dari kegelapan “Jangan mengetuk
pintu.“ Semua orang berpaling kearah suara itu. Didalam kegelapan
bayangan dedaunan mereka melihat seseorang yang berdiri tegak dengan
kaki renggang. “O“ peronda itu hampir berbareng berdesis. Kemudian
yang seorang melanjutkan “kami sekedar mengantar tiga anak muda ini
ingin menghadap Kiai Sarpasrana“ “Dimalam hari begini ? Apakah kau
sangka Kiai Sarpasrana itu sebangsa ular yang tidak pernah tidur ?
Dan apabila sudah mulai tidur sebulan sama sekali tidak terbangun ?“
“Tetapi, tetapi anak2 ini akan dapat member ikan penjelasan lenapa
mereka baru sampai disini ditengah malam.“ “Penjelasan atau tidak
dengan penjelasan, ternyata kalian datang tengah malam. Kalian
sebenarnya mempunyai otak untuk berpikir bahwa dimalam begini pada
umumnya seseorang sedang tidur.“ “Tetapi ada juga yang karena
sesuatu hal belum tidur.“ Juwiring mencoba menyahut “misalkan kami
dan maaf, barangkali Ki Sanak juga“ “Persetan“ geram orang itu “itu
bukan bicara seseorang yang cukup bijaksana. Sekarang kalian harus
pergi sebelum Kiai Sarpasrana merasa terganggu.“ “Tetapi“ Juwiring
masih ingin menjelaskan lebih lanjut. Agar ia segera mendapat
perhatian, maka katanya “Tetapi kami adalah putera2 Kiai Danatirta
di Jati Aking.““He ?“ orang itu agaknya memang menaruh perhatian
atas nama itu Namun kemudian ia berkata “Siapapun kalian, namun
kalian t idak dapat mengganggu Kiai Sarpasrana.“ “Ki Sanak“ berkata
Juwiring “sebenarnya kami memang tidak ingin mengganggu. Tetapi kami
terpaksa datang kerumah Kiai Sarpasrana ditengah malam. Jika kami
sempat menemuinya, kami akan dapat member ikan keterangan tentang
perjalanan kami.“ Orang itu diam sejenak. Lalu “Pergilah. Sebaiknya
kalian pergi saja dari halaman rumah ini. Sebaiknya para peronda itu
kembali saja kegardu kalian.“ Para peronda itu ter-mangu2.
“Kembalilah. Kalian membawa orang2 ini. Dan orang2 ini sudah sampai
kepadaku. Tinggalkan mereka. Aku akan memaksa mereka pergi. Tetapi
tugasmu sudah selesai. Kalian tidak akan bersangkut paut lagi dengan
anak2 gila ini.“ Para peronda itupun kemudian melangkah surut sambil
berkata “Baiklah. Kami minta dir i. Kami sekedar menunjukkan ketiga
anak muda ini.“ “Baiklah. Pergilah sebelum Kiai Sarpasrana bangun
dan marah pula kepadamu“ Para peronda itu memandang Juwir ing,
Buntal dan Arum ber-ganti2. Namun merekapun kemudian melangkah surut
sambil berkata “Kami sudah membawa kalian sampai ketempat yang
kalian cari.“ “Terima kasih“ sahut Juwiring. Para peronda itupun
kemudian dengan ter-gesa2 pergi. Ketika mereka sudah hilang dibalik
pintu regol, maka orang didalam kegelapan itu berkata lagi
“Kalianpun harus cepat pergi. Jika Kiai Sarpasrana mengetahui bahwa
dengan sangat bodoh kalian minta agar Kiai dibangunkan, maka ia
pasti akan marah sekali. Bukan karena ia dibangunkan, karena
meskipuntidak, tetapi jika ia mengetahui pikiran gilamu untuk
membangunkannya ditengah malam, ia akan marah. Meskipun baru didalam
angan2mu sekalipun, jika itu dapat dimengertinya, ia pasti akan
marah karena ada seseorang yang sama sekali tidak menghormatinya,
yang berniat, jadi atau tidak jadi, untuk membangunkannya selagi ia
tidur nyenyak.“ Juwiring menjadi ragu2 sejenak. Ditatapnya wajah
Buntal yang kemudian menjadi tegang “Bagaimana ?“ bertanya Juwiring
kepada Buntal perlahan- lahan sekali. “Memang membingungkan. Tetapi
jika kita dapat bertemu dengan Kiai Sarpasrana sendiri, kita akan
sempat mengatakan kepentingan kita, dan siapakah kita ini.“ “He,
kenapa kalian saling berbisik“ bertanya orang didalam kegelapan itu
“cepat pergi.“ “Tunggu Ki Sanak“ Buntallah yang kemudian berbicara
“Kami minta kesempatan untuk mengetuk pintu. Jika kemudian Kiai
Sarpasrana marah, biarlah marah kepada kami. Apapun yang akan
dilakukan atas kami. kami tidak akan mengelak. Tetapi j ika kami
berkesempatan mengatakan bahwa kami adalah anak2 Kiai Danatirta,
mudah2an Kiai Sarpasrana tidak menolak kehadiran kami disini.“
“Persetan“ geram orang itu “aku mempunyai wewenang menerima atau
menolak setiap orang yang akan menemui Kiai Sarpasrana.“ “Tetapi
siapakah Ki Sanak sebenarnya ?“ “Aku adalah Putut Srigunting Aku
mempunyai kekuasaan seperti Kiai Sarpasrana dihalaman rumah ini.“
Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ditatapnya wajah Buntal
yang tegang. Sementara Arum memandang kedua anak2 muda itu
berganti-ganti.“Cepat pergi sebelum aku menjadi marah“ berkata orang
yang menyebut dir inya Putut Srigunting. “Ki Sanak“ berkata Juwiring
“apakah salahnya jika kami mencoba menemui Kiai Sarpasrana.“ “Kalian
benar2 tidak tahu sopan santun. Kau lihat bintang Gubug Penceng yang
sudah bergeser ke Barat itu ? Kini tengah malam sudah lewat. Dan
kalian akan mengejutkan Kiai Sarpasrana yang sedang tidur nyenyak?“
Juwiring tidak segera menjawab. Ia memang mengharap agar perbantahan
itu menjadi semakin keras dan dapat membangunkan Kiai Sarpasrana.
Jika Kiai Sarpasrana menengoknya keluar, dan bertanya tentang
dirinya dan kedua adik seperguruannya, maka mereka tentu akan
diterima, meskipun mungkin Kiai Sarpasrana akan mem-bentak2nya
dengan kasar karena sifatnya. “He, kenapa kalian masih saja berdir i
disitu ?“ bertanya Putut itu. “Ki Sanak. Baiklah. Jika kami tidak
dapat diterima malam ini. biariah kami menunggunya sampai fajar.
Kami akan duduk saja dipendapa ini tanpa mengganggunya“ berkata
Juwiring kemudian. Baginya itu lebih baik daripada pergi
meninggalkan halaman rumah ini dan berkeliaran disepanjang jalan.
Tetapi jawab Putut itu “Tidak. Kalian harus pergi. Aku tidak mau
melihat kalian berkeliaran dihalaman rumah ini Kalian telah membuat
halaman ini menjadi kotor. Kami tidak biasa menerima tamu semacam
kalian, apalagi memaksa untuk menemui Kiai Sarpasrana dimalam hari.
Hanya orang2 besar sajalah yang dapat menemuinya. Bukan petani2
miskin seperti kalian.“ Terasa dada ketiga anak2 muda itu berdesir.
Ternyata ada alasan lain dari Putut Srigunting itu untuk menolaknya.
Dan penolakan itu benar2 telah menyakitkan hati. Karena itu maka
Juwiringpun berkata “Ki Sanak. Jangan menghinakan kamipetani2
miskin. Apakah di Sukawati ini tidak ada petani miskin ? Dan apakah
Pangeran Mangkubumi juga membenci petani2 miskin“ “Aku tidak peduli
orang2 Sukawati. Aku tidak peduli sikap Pangeran Mangkubumi. Tetapi
aku tidak dapat membiarkan kalian, petani2 miskin dari Jati Sari
untuk menemuinya. Bukan Danatirta tinggal dipadukuhan Jati Aking di
Kademangan Jati Sari? “ “Ya Ki Sanak.“ “Nah, pergi kepada Danatirta.
Beritahukan bahwa ia tidak berhak membuat hubungan dengan Kiai
Sarpasrana. Martabat keduanya tidak sama. Danatirta adalah seorang
petani miskin yang tinggal dipadepokan kecil, kotor dan buruk.
Tetapi Kiai Sarpasrana tinggal disebuah padukuhan tersendiri. Besar
dan berpengaruh” Kata2 itu benar2 menyakitkan bati ketiga anak2 muda
itu. Hampir saja Arum menjawabnya dengan marah. Tetapi ketika ia
melangkah maju, Buntal sempat menggamitnya. “Ki Sanak“ berkata
Juwiring “kami tidak menyangka, bahwa kami akan mendapat sambutan
yang begini hangat. Menurut Kiai Danatirta, kami akan diterima
dengan baik oleh Kiai Sarpasrana, karena Kiai Danatirta adalah
sahabat baik Kiai Sarpasrana. Tetapi yang kami jumpai justru
sebaliknya.“ “Danatirtalah yang tidak tahu diri Ia membayangkan dir
inya sejajar dengan Kiai Sarpasrana.“ orang itu berhenti sejenak,
lalu “sekarang pergi Cepat pergi “ ”Baik“ suara Juwiring menjadi
bergetar “tetapi aku masih ingin mengatakan kepadamu Putut. Jika aku
sempat bertemu dengan Kiai Sarpasrana sendiri, tentu kami tidak akan
menjumpai sikap sekasar sikapmu. Mungkin Kiai Sarpasrana akan marah
kepada kami. Tetapi ia memang berhak marah. Dan kamipun tidak akan
sakit hati karenanya. Tetapi kau, apahakmu marah kepada kami. Kau
adalah seorang Putut. Seharusnya kau menyampaikan persoalan ini
kepada Kiai Sarpasrana. Jika kau tidak berani membangunkan, aku
sendiri akan mengetuk pintu. Dan j ika kau mendapat pesan agar Kiai
Sarpasrana tidak diganggu, kau t idak usah bersikap begitu bodoh
terhadap kami. Betapa rendahnya martabat Kiai Danatirta, tetapi ia
adalah bapaku, guruku dan aku menghormat inya. Jika kau hinakan
bapaku dan sekaligus guruku itu, maka adalah wajar sekali apabila
aku merasa tersinggung karenanya.“ “O, kau merasa tersinggung.
Danatirta-memang orang yang bodoh, yang mengir imkan anak2 ingusan
itu untuk datang kemari. Jangan kau sangka bahwa Kiai Sarpasrana
akan menundukkan kepalanya jika ia mendengar nama Danatirta. Akupun
mengenal orang yang bernama Danatirta itu. Nah, kalian mau apa ?“
Juwiring yang masih muda seperti juga Buntal dan Arum itu ternyata
sulit untuk menguasai perasaannya. Bagi Juwiring dan kedua adik2
angkatnya itu. Kiai Danatirta adalah orang yang paling dihormati.
Karena itu, maka Juwiringpun berkata “Putut Srigunting- Aku tetap
menghormati Kiai Sarpasrana, karena gurukupun menghormatinya. Tetapi
maaf, aku sama sekali tidak dapat menghormatimu. Seharusnya kau
masih belum pantas untuk menjadi seorang Putut. Kau masih harus
magang untuk beberapa tahun lagi sebelum kau menjadi seorang
cantrik. Apalagi Putut atau Jejanggan.“ Orang didalam kegelapan itu
menggeram. Selangkah ia maju sambil berkata “Kau memang gila. Aku
adalah Putut Srigunting mur id terpercaya dari Kiai Sarpasrana. Kau
ternyata berani menghinakan aku. Apakah kau sudah jemu hidup“
“Ternyata kau bukan mur id yang baik. Kepercayaan Kiai Sarpasrana
telah kau sia2kan. Mungkin Kiai Sarpasrana tidak pernah melihat
sikap sombongmu itu.“ Juwiring berhenti sejenak, lalu “memang
seorang budak yang bodoh kadang2ingin bersikap garang melampaui
tuannya. Tetapi dengan demikian setiap orang tahu, bahwa
sebenarnyalah ia belum pantas mendapat sedikit kekuasaan yang sudah
mulai di salah gunakan.“ “Diam, diam“ orang itu berteriak. Juwiring
terdiam. Tetapi ia menjadi heran. Tidak seorangpun yang terbangun di
padepokan itu- “Apakah Kiai Sarpasrana tidak ada dipadepokan ?“ ia
bertanya didalam hatinya. Namun yang terdengar adalah orang itu
berkata lebih lanjut “Kau membuat aku marah. Jika sekali lagi kau
menghina akU, aku akan membunuhmu.“ “Aku tidak pernah berhasrat
untuk menyombongkan dir i. Aku sama sekali tidak pernah berniat
untuk memamerkan ilmu Jati Aking. Tetapi sudah sepantasnya kalau aku
harus mempertahankan diriku, mempertahankan martabatku dan martabat
guruku.” “O, kau memang ingin mati. Jika aku membunuh orang
dipadepokan ini, tidak ada orang yang berani mengurusnya, karena
tidak ada orang yang berani menentang Kiai Sarpasrana. Bahkan
Pangeran Mangkubumipun tidak.“ “Dan hal itu bagimu merupakan alasan
yang paling baik untuk berbuat se-wenang2.“ Juwiring yang marah
menjadi gemetar karenanya. Bahkan Buntal merasa se-akan2 dadanya
sudah retak oleh kemarahan yang meng-hentak2. Sedang Arum, yang
merasa dirinya anak Kiai Danatirta mengatupkan giginya rapat2. Dalam
pada itu orang didalam kegelapan itupun telah menggertakkan giginya.
Dengan suara gemetar karena marah ia berkata “Aku tidak pernah
berbuat se-wenang2. Tetapi aku dapat berbuat apa saja yang aku
kehendaki dihalaman padepokan Kiai Sarpasrana selama Kiai Sarpasrana
tidakmelarang. Dan kini kau harus menyadari, bahwa Kiai Sarpasrana
tidak mencoba mencegah aku meskipun aku yakin bahwa Kiai Sarpasrana
mendengar perbantahan ini. Dengan demikian, maka berarti bahwa
umurmu tidak akan sampai besok pagi.“ “Dan kaupun jangan mengharap
dapat melihat matahari terbit besok“ Putut Srigunting tidak dapat
menahan diri lagi. Tiba2 ia berkata lantang sambil meloncat
menyerang “Kau memang sombong sekali. Mulutmu memang harus diremas
sampai lumat.“ Tetapi Juwiringpun sudah siap. Karena itu. ketika
serangan itu meluncur kedadanya. ia masih sempat menghindar. Bahkan
dengan putaran diatas tumitnya, kakinya terayun mendatar menebas
lambung. Namun Purut Srigunt ingpun lincah sekali. Dengan loncatan
ganda ia berhasil menghindari serangan Juwiring. Bahkan yang paling
menyakitkan hati, ternyata bahwa ia tidak saja menghindari serangan
Juwir ing, tetapi sekaligus ia menyerang Buntal yang berdir i
ter-mangu2. Buntal terperanjat menerima serangan itu Untunglah bahwa
loncatan Putut itu tidak begitu cepat, sehingga Buntal masih sempat
menjatuhkan dirinya dan menghindarkan serangan yang langsung
mengarah ke dadanya. Dengan cekatan ia meloncat bangkit dan siap
untuk menyerang Srigunting pula.Tetapi Srigunting itu sudah meloncat
menjauh. Sejauh ia mengamati lawan2nya. Kemudian sambil merendahkan
dir inya ia merentangkan tangannya. Juwiring yang sudah mapan,
mendahuluinya menyerang. Serangannya datang bagaikan hentakkan
tenaga angin yang dahsyat. Namun Putut Srigunting masih mampu
menghindar dengan lincahnya bahkan sekaligus iapun mencoba untuk
menyerang sasaran ketiga seorang anak muda yang sejak semula hanya
berdiri sambil mengatupkan giginya rapat2. Juwiring terkejut melihat
serangan itu. Hampir bersamaan dengan Buntal ia berteriak “Arum
hati2“ Arum menyadari serangan itu berbahaya baginya. Karena itu,
iapun segera meloncat kesamping. Tetapi Putut itu masih akan
menyerangnya. Ketika Putut itu menggerakkan tangannya, maka
datanglah serangan ber- sama2 dari jurusan yang berbeda. Buntal
meloncat dengan kaki mendatar mengarah kedada Putut itu. sedang
Juwiring mempergunakan sisi telapak tangannya menghantam tengkuk.
Serangan Putut Srigunt ing itupun diurungkan karena ia terpaksa
menghindar i serangan Juwiring dan Buntal yang hampir bersamaan itu.
Namun ternyata bahwa Putut Srigunting benar2 lincah dan mampu
bergerak secepat angin. “Bagus“ katanya “kalian bertiga harus
terlibat dalam perkelahian ini supaya ada alasanku untuk membunuh
kalian. Jika yang lain tidak, maka sulitlah basiku untuk
mempertanggung jawabkan pembunuhan ini terhadap Kiai Sarpasrana.”
Ketiga anak-anak muda itu t idak menyahut. Namun merekapun bertempur
semakin sengit. Sedang Putut Sriguntingpun bergerak semakin cepat
pula. Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Ketiga
anak-anak muda itu mengerahkan se«enapkemampuan mereka. Bukan saja
untuk mempertahankan hidup mereka, tetapi juga martabat perguruan
Jati Aking. “Inilah murid2 Jati Aking“ berkata Putut itu ”kalian
bertiga tidak dapat mengalahkan aku.“ “Kami bukan murid yang paling
baik di Jati Aking“ sahut Buntal “j ika kami bertiga tidak dapat
segera membunuhmu, bukanlah salah perguruan Jati Aking. Tetapi itu
adalah karena kebodohan kami- Tetapi dengan demikian. Jati Aking
akan mengirimkan mur idnya yang terbaik untuk membunuhmu pula pada
suatu saat. “ “O“ Putut itu tertawa “jangankan muridnya terbaik. Aku
ingin Danatirta sendir i datang kemari.“ “Persetan“ Arum tidak dapat
menahan dir i lagi, sehingga iapun menggeram sambil menyerang. Putut
Srigunting sempat menghindari serangan Arum. Bahkan ia masih juga
tertawa dan berkata “Nah, aku sudah menduga, seorang dari kalian
bukannya seorang laki2. Bukankah yang bernama Arum ini seorang
perempuan. Bagus, perguruan Kiai Sarpasrana tidak mempunyai murid
seorang gadis. Kau harus tinggal disini dan menjadi seorang endang.“
“Tutup mulutmu“ geram Buntal Serangannya menjadi semakin dahsyat
disusul oleh serangan2 Juwiring dan Arum berurutan seperti datangnya
banjir bandang. Tetapi ternyata bahwa Putut itu benar2 lincah dengan
cekatan. Ia masih saja mampu menghindarkan dirinya dari serangan2
yang datang beruntun itu. Bahkan sekali2 ia masih juga sempat
menyerang sambil berbicara “Jika aku membunuh kedua laki2 ini, maka
kiai Sarpasrana tentu akan menghadiahkan gadis ini kepadaku.”
”Jangan mengigau“ bentak Juwiring. Namun betapa ia mengerahkan
tenaganya, namun Putut itu masih juga mampu menghindarkan dir
inya.Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin cepat. Serangan
anak Jati Aking itupun menjadi semakin dahsyat pula. Namun Putut
Srigunting memang mampu bergerak seperti seekor burung Srigunting.
Cepat dan serangan2nya benar2 berbahaya Juwiring yang paling tua
dari ketiga anak2 muda itu mulai menilai keadaan. Sebenarnyalah
bahwa Putut Srigunting mempunyai banyak kelebihan dar i mereka
bertiga ber-sama2. Serangan2 yang dilancarkannya, sepenuh tenaga dan
kemampuan, sama sekali tidak berhasil menyentuhnya. Bahkan sekali2
tubuh mereka justru telah mulai disentuh oleh tangan Putut
Srigunting itu. Namun demikian, untuk menjunjung nama perguruan
mereka, Juwiring tidak akan meninggalkan gelanggang. Apalagi Putut
itu tahu benar, bahwa ketiganya datang dari Jati Aking, murid2 Kiai
Danatirta. Karena itu. Juwiring telah membulatkan tekadnya, ia akan
berkelahi sampai kemungkinan yang terakhir, meskipun benar-benar
seperti yang dikatakan oleh Putut itu, bahwa ia t idak akan dapat
lagi melihat esok pagi. Tetapi ternyata bahwa Putut itu benar2
lincah dan cekatan. Ia masih mampu menghindarkan dirinya dari
serangan2 yang datang beruntun itu. Ternyata Buntalpun telah
berpendirian demikian pula. Dikerahkan segenap kemampuan yang ada
padanya untuk mempertahankan dirinya dan martabat perguruannya
Karena itu maka iapun sama sekali tidak menghiraukan lagi, apakah
yang akan terjadi atas dirinya diakhir perkelahian ini. Tetapi yang
paling gelisah adalah Arum. Ia mulai menyadari kebenaran yang
dikatakan oleh ayahnya. Ketika ia berada dihutan perburuan yang
tertutup itu, ia masih dapat mengelakkan per istiwa itu sebagai
suatu ketidak-sengajaan. Tetapi kini ia pasti, bahwa Putut
Srigunting bukan sekedartidak sengaja, tetapi justru dirinyalah yang
menjadi sasaran setelah Putut itu mengetahui bahwa ia adalah seorang
gadis. Namun dengan demikian, Arum menjadi semakin muak. Iapiun
bertempur semakin cepat. Serangan2nya datang beruntun isi mengisi
dengan kedua kakak seperguruannya. Tetapi serangan2 itu se-akan2
tidak berarti sama sekali bagi Putut Sr igunting Ia mampu bergerak
lebih cepat lagi. Serangan ketiga orang bergantian yang datang
kepadanya, sama sekali tidak dapat mengenai sasarannya. Juwiring
mulai menjadi gelisah. Bukan karena dir inya sendiri. Ia sadar,
bahwa ia tidak perlu mempertanggung jawabkan dir inya sendiri
apabila ia terbunuh diperkelahian ini. Tetapi bagaimana dengan Arum.
Jika Arum benar2 akan dipaksa untuk tinggal dipadepokan ini, maka
pertentangan inipun akan menjalar menjadi semakin besar. Kiai
Danatirta tentu tidak akan tinggal diam. Dan ia pasti akan berjuang
untuk mengambil anaknya. “Alangkah bodohnya aku“ berkata Juwiring
didalam hati “ternyata aku tidak dapat menyelesaikan tugas ini
dengan baik. Jika hal ini dapat ditebus dengan mati, persoalannya
akan segera selesai. Tetapi bagaimana dengan Arum“ Bukan saja Juwir
ing yang digelisahkan oleh pikiran itu. Tetapi juga Buntal. Hatinya
serasa terbakar mendengar kata2 Putut Srigunting itu. Se-akan2 Putut
itu dengan sengaja menghinanya. Tetapi semuanya itu harus
diselesaikan dengan kekerasan. Tidak ada jalan penyelesaian lain
kecuali bertempur mati2an. Dengan demikian, maka pertempuran itu
semakin lama menjadi semakin dahsyat. Juwiring, Buntal dan Arum
adalah mur id2 Kiai Danatirta yang sudah diberinya bekal yang cukup.
Namun menghadapi Putut Srigunting, ketiganya se-akan2 tidak
berdaya-Mereka sama sekali tidak mampu berbuat apa2, selain
menghindari serangan2 Putut itu. Bahkan kadang2mereka bertiga
menjadi bingung dan yang dapat mereka lakukan hanyalah menghindarkan
diri jauh2, sebelum mereka dapat menyusun diri mereka kembali.
Setiap kali terdengar Putut itu tertawa nyaring. Suara tertawa yang
sangat menyakitkan hati. Suara tertawa yang se- akan2 dengan sengaja
diperdengarkan untuk memanaskan hati ketiga anak2 muda. dari Jati
Aking itu. Akhirnya Juwiringpun sampai kepada puncak usahanya. Tidak
ada jalan lain baginya untuk menyelamatkan Arum selain dengan
terpaksa sekali mempergunakan senjata2 mereka. Apabila mungkin tanpa
membunuh seseorang, tetapi jika itu harus terjadi, apaboleh buat.
Karena itu, ketika Juwiring sudah tidak lagi dapat berbuat lain,
maha betapapun beratnya dan betapa semula ke-ragu2an membelit
hatinya, akhirnya Juwiring telah menggenggam ker isnya. “Ha“ Putut
Srigunt ing tertawa pula “kau sekarang bersenjata“ “Apaboleh buat“
berkata Juwiring “kegilaanmu memang harus dihentikan. Kau tentu
berbuat serupa dengan orang2 lain yang bermaksud baik. Orang2 yang
tidak sempat menghadap Kiai Sarpasrana karena pokalmu.“ “Jangan
banyak bicara. Ayo, kalau kau ingin berkelahi dengan senjata,
lakukanlah.“Juwiring t idak menjawab lagi. Dengan hati2 ia mendekati
lawannya dengan senjata ditangannya. Ia sadar, bahwa dengan demikian
ia dapat memaksa Putut Srigunting itu untuk mempergunakan senjatanya
pula, namun ia memang harus berkelahi mati2an. Apapun yang akan
terjadi. Bahkan ia sadar sepenuhnya bahwa jika ia harus
menyelamatkan Arum dengan melukai atau membunuh Putut itu, maka
tanggapan Kiai Sarpasrana tentu tidak akan sebaik yang diharapkan
“Mudah2an Kiai Sarpasrana benar2 berjiwa besar. Dan dapat mendengar
dan mengerti apa yang telah terjadi.“ Dalam pada itu, karena
Juwiring telah menggenggam kerisnya, maka hampir diluar sadarnya,
Buntal dan Arumpun telah bersenjata pula. Dengan dada yang bergelora
mereka mengepung Putut Sr i gunt ing dar i tiga arah. Putut
Srigunting memperhatikan ketiga lawannya yang kini telah bersenjata
itu dengan saksama. Kini ia benar2 harus ber- hati2. Tiga ujung ker
is dari Jati Aking itu dapat benar2 membunuhnya apabila ia tergores
meskipun hanya seujung rambut. Sejenak kemudian, Juwiring yang
memimpin kedua adik seperguruannya itu mulai menyerang kembali
disusul oleh Buntal dan Arum. Meskipun tampak ketiga anak2 muda itu
masih ragu2 mempergunakan senjatanya, namun dengan keris ditangan,
Putut Srigunting tidak dapat lagi dengan leluasa bergerak. Bahkan
ketika mereka sudah terlibat lagi dalam pertempuran yang sengit,
tampaklah Putut Srigunting mulai terdesak-Tiga ujung ker is ditangan
ketiga anak2 muda itu benar2 berbahaya baginya. Juwiringpun melihat
hal itu. Setapak demi setapak ketiga anak anak muda itu dapat
mendorong Putut Srigunting kesudut halaman.“Kau akan mati“ berkata
Juwiring “kecuali j ika kau bersedia menyampaikan kedatanganku
kepada Kiai Sarpasrana.“ Putut Srigunting tidak menjawab. Tetapi ia
masih saja bertempur terus dengan sekuat tenaganya. Namun ia masih
tetap lincah dan cekatan menghindari serangan2 ketiga anak2 muda
itu. Bahkan sekali2 ia masih mampu menyerang, menembus putaran
ketiga ujung keris anak2 muda itu. Tetapi lambat laun, semakin
jelas, bahwa Putut Srigunting tidak akan dapat melawan ketiga anak2
muda yang bersenjata itu. Meskipun demikian Juwiring dan kedua
adik2nya menyadari bahwa Putut Srigunting masih belum mempergunakan
senjata. Agaknya ia benar2 seorang yang sangat sombong, yang ingin
menghadapi ketiga lawannya dengan tanpa senjata. Tetapi Putut
Srigunting t idak dapat bertahan terus. Karena ia selalu terdesak,
dan bahkan akhirnya ia sudah tersudut pada dinding halaman, ia tidak
dapat berbuat lain daripada melawan juga. dengan senjata. Dalam
keadaan yang sulit, tiba2 saja Putut Sr igunting itu berbuat sesuatu
yang mengejutkan sekali. Ketika ia berdiri tersandar dinding halaman
yang tinggi, sedang ketiga ujung keris anak2 muda yang melawannya
itu teracu kepadanya, Putut Srigunting tampaknya tidak akan lagi
dapat berbuat apapun. Dalam keadaan itu Juwiring masih sempat
berkata “Putut Srigunting. Sejak semula kami tidak ingin berkelahi.
Kamipun tidak ingin mencelakai siapapun, apalagi membunuh. Satu2nya
keinginan kami adalah bertemu dengan Kiai Sarpasrana. Karena memang
itulah tujuan kedatangan, kami“ Putut Srigunting tidak menjawab.
“Karena itu, Putut Srigunting. Meskipun kami akan dapat membunuhmu
sekarang, namun kami masih tetap ingin menghindari nya. Berjanjilah
bahwa kau akan menyampaikan kedatangan kami kepada Kiai
Sarpasrana.“Putut Srigunting itu memandang ketiga lawannya dengan
wajah yang tegang. Namun tiba2 saja ia berkata “Anak2 yang bodoh.
Jika Kiai Sarpasrana bersedia menerima kedatangan kalian, aku tentu
tidak usah menyampaikan kepadanya sekarang. Ia tentu mendengar apa
yang terjadi. Karena itu, jangan berbuat sia-sia. Pergilah dan
katakan kepada Danatirta bahwa ia tidak berhak berhubungan dengan
Kiai Sarpasrana sekarang“ “Jangan menghina lagi“ Juwir ing membentak
“tangan kami sudah gemetar. Kami akan mengalami kesulitan untuk
menahan perasaan kami.“ “Jangan berbuat bodoh. Pergi sajalah dari
halaman ini.” “Tidak“ Buntallah yang menjawab “kita harus membuat
sebuah perjanjian. Perjanjian jantan yang harus kita tepati. Kita
akan melepaskan kau j ika kau berjanji untuk membawa kami menghadap.
Apapun yang akan dilakukan oleh Kiai Sarpasrana atas kami, sama
sekali bukan urusanmu lagi.“ “Persetan. Kalian tidak dapat memaksa
aku Biarlah aku mengalami apapun juga, tetapi aku akan tetap pada
pendirianku. Dan aku sudah bertekad untuk membunuh kalian.“ “Kau
tidak akan mendapat kesempatan lagi. Ujung keris kami telah siap
untuk menerkam dadamu. Apakah kau akan mengingkar i kenyataan ini?“
“Kenyataan apakah yang sedang aku hadapi sekarang? Kalian benar2
anak-anak yang bodoh. Apa yang dapat kau lakukan atasku sekarang. ?“
“Apakah kau tidak melihat kenyataan ini“ Buntal menjadi tidak sabar
lagi. Dan bahkan Arum menambahkan “Agaknya kau ingin memilih mati.“
Orang itu masih dapat tertawa- Katanya “Apa artinya mati bagiku ?
Tetapi kalian tidak dapat membunuh aku. Aku adalahPutut Srigunting.
Cobalah j ika kalian memang dapat melakukannya.“ Suara tertawanya
memang benar2 menyakitkan hati. Karena itu, maka Juwiring ingin
membungkam suaranya itu meskipun ia tidak benar2 ingin membunuhnya,
karena ia masih mempertimbangkan kemungkinan yang dapat terjadi jika
Kiai Sarpasrana kehilangan Putut yang agaknya paling dipercayainya.
Dengan sebuah gerakan mendatar Juwiring mengayunkan kerisnya. Ia
memang tidak ingin menggoreskan ker is itu ditubuh Putut Srigunting,
sehingga karena itu, keris itu sama sekali t idak menyentuhnya.
Namun Putut itu benar2 telah membakar hati ketiga anak muda itu. Ia
masih saja tertawa dan berkata “Kalian tidak akan berani menyentuh
tubuhku. Sentuhan kerismu berarti mati Dan kalian tidak akan berani
membunuhku dihalaman padepokan ini karena kalian tidak akan dapat
mempertanggung jawabkannya kepada siapapun. Kepada Kiai Sarpasrana
dan kepada Ki Demang di Sukawati. Karian adalah penjahat2 yang
membunuh orang dirumahnya sendiri.“ “Kau memang gila“ Juwiring
menggeram “tetapi aku dapat membuatmu jera tanpa membunuhmu.“ Dengan
kemarahan yang serasa menghentak dadanya, Juwiringpun kemudian
meloncat menyerang orang itu dengan kakinya. Serangan yang cepat dan
keras sekali, sambil mengerahkan ilmu dan kekuatan yang ada padanya.
Tetapi orang itu sempat menghindar kesamping sehingga kaki Juwir ing
justru mengenai dinding batu yang kuat itu. Karena itulah maka
Juwiring mengeluh tertahan. Rasa2nya kakinya akan retak karenanya
Ternyata dinding itu tidak roboh karenanya, meskipun kekuatan
Juwiring yang mengagumkan itu mampu mengguncang dan membuat sebuah
retak kecil membujur kebibir atas.“Bukan main“ Putut itu masih
sempat berkata “kekuatanmu adalah kekuatan raksasa.“ Tetapi Putut
itu terpaksa menutup mulutnya, karena serangan Buntal telah menyusul
pula. Buntal tidak menyerang dengan kakinya, tetapi dengan tangan
kirinya mengarah kepelipis Putut itu. Tetapi Buntal sempat
memperhitungkan jarak jangkaunya sehingga ketika Putut itu
membungkukkan dirinya, tangannya tidak menghantam dinding. Namun
demikian Putut itu membungkukkan kepalanya, kaki Arumlah yang
terayun mengarah kekeningnya. Bahkan hampir berbareng serangan
Juwiringpun telah meluncur pula. Sisi telapak tangannya terayun
dengan derasnya mengarah keteng-kuk Putut itu. Ternyata Putut itu
benar lincah. Ia masih sempat menghindar kesamping sambil semakin
merendahkan tubuhnya condong hampir rata dengan tanah Buntal tidak
me-nyia2kan kesempatan itu. lapun segera meloncat dengan garangnya.
Meskipun ia masih tetap sadar, bahwa ia tidak akan mempergunakan ker
isnya jika tidak terpaksa sekali. Dengan kakinya ia berusaha
menyerang Putut yang se- akan2 telah terbaring ditanak Disusul
dengan serangan Arumdan Juwir ing sekaligus. Dan yang terjadi itulah
yang hampir tidak masuk akal bagi ketiga anak2 muda itu. Putut itu
sempat membuat suatu gerakan yang tidak dapat dimengerti.Ketiga
serangan2 itu meluncur, Putut itu sempat meloncat. Tidak dengan
kakinya, tetapi justru dengan tangannya. Kakinyalah yang terlempar
keatas. Dan dengan kekuatan lontar tangannya Puput itu melenting t
inggi. Ketiga anak2 muda yang kehilangan sasaran itu menjadi bingung
sejenak. Dan ketika mereka menyadari keadaannya, maka mereka melihat
Putut itu telah bertengger, berjongkok diatas dinding halaman itu.
Yang terdengar adalah suara tertawanya. Tertawa berkepanjangan
sehingga tubuhnya ter-guncang2. Ketiga anak2 muda itu menggertakkan
giginya. Hampir saja ketiganya meloncat menyusulnya, meskipun hati
mereka dicengkam oleh keheranan yang tiada taranya. Kemampuan yang
diperlihatkan oleh Putut itu benar2 telah membuat mereka sangat
kagum. Tetapi sebelum ketiga anak2 muda itu berloncatan naik, maka
terdengar Putut itu berkata “Jangan meloncat naik. Tidak ada
gunanya“ Ketiganya ter-mangu2 sejenak. Dan Juwiringpun berkata
“Jangan mencoba melar ikan dir i.“ “Aku tidak akan lari meskipun aku
dapat melakukannya dengan leluasa. Aku dapat meloncat keluar dari
halaman ini dan pergi kemanapun aku mau. Tetapi aku masih akan
membunuh kalian.“ Tiba-tiba saja timbul sebuah pikiran dikepala
Juwir ing sehingga iapun bertanya “He, apakah kau bukan Putut dari
padepokan ini?“ Sekali lagi orang itu tertawa. Katanya “Aku memang
bukan Putut dari perguruan Ki Sarpasrana.“ “Gila. Seharusnya aku
membunuhmu.“ sahut Buntal.“Aku sudah mencoba mencegah kalian, tetapi
kalian t idak mendengarkan.“ “Siapa kau he ? Apakah kau pencuri ?
Pencuri yang justru sedang mencuri dipadepokan ini ?“ Orang itu
masih saja tertawa. Katanya kemudian “Jika kau mendengarkan aku, kau
tidak akan terlibat dalam kesulitan dengan aku. Tetapi kau memang
keras kepala. Dan jangan menyesal, aku tidak akan membiarkan kau
hidup dan meninggalkan padepokan ini. Sebenarnyalah bahwa Kiai
Sarpasrana tidak akan dapat menemui kalian, karena aku sudah
membunuhnya.“ “He“ serentak ketiga anak2 muda itu bergeser “kau
membunuh Kiai Sarpasrana“ “Ya“ “Tidak mungkin“ sahut Buntal “kau
,tidak akan dapat membunuh Kiai Sarpasrana.” “Kau ingin melihat
mayatnya?“ “Omong kosong“ Juwir ingpun hampir berteriak “jangan
mengigau. Kiai Sarpasrana bukan anak ingusan. Dan kau tidak akan
dapat lari dari ujung keris kami.“ “Kau ingin melihat jenis
senjataku ?“ “Senjata apapun juga, kami tidak gentar.“ Orang itu
ter-mangu2 sejenak. Namun kemudian ia mengurai sehelai rantai baja
yang dilingkarkan dilambungnya. Pada ujung rantai baja itu terdapat
sebuah cakram bergerigi. “Kalian akan digigit oleh senjataku ini.
Kerismu sama sekali tidak akan berarti apa2.“ Juwiring dan kedua
adik seperguruannya ter-mangu2 melihat senjata itu. Senjata itu
memang lebih panjang dari kerisnya. Kemampuannyapun agaknya dapat
dibanggakanNamun ketiga anak2 muda itu tidak mau menyerah. Hampir
berbareng pula mereka meraba pisau2 kecil mereka yang terselip
diikat pinggang. “Apakah kalian masih akan melawan ?“ bertanya orang
vzng berdiri diatas dinding batu itu. “Ya., Kami akan melawan dan
akan membunuhmu sama sekali“ Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia
menjadi tegang ketika ia melihat tiba2 saja Juwiringpun telah
meloncat naik diatas dinding itu pula disusul oleh Buntal, sedang
Arumtetap berada di bawah orang yang berdir i diatas dinding itu.
“Kau tetap disitu Arum“ berkata Juwiring “jika ia lari turun
kehalaman itu, kau harus berbuat sesuatu. Kau dapat melemparnya
dengan pisau2mu. Jika ia lari keluar, Buntallah yang harus
mencegahnya. Aku akan mencoba berkelahi diatas dinding dengan pisau2
kecil ini“ Tanpa mendapat perintah lagi, maka Buntalpun bersiap
menghadapi segala kemungkinan. Tetapi ia tidak meloncat keluar. Ia
masih berdiri diatas dinding batu, seberang menyeberang dengan
Juwiring. Sejenak mereka terpaku diam. Namun .sejenak kemudian
dengan herannya Juwiring, Buntal dan Arum melihat orang yang berdiri
diatas dinding itu melipat senjatanya sambil berkata “Aku menyerah.“
Ketiga anak2 muda itu menjadi heran. Orang itu sama sekali belum
mencoba melakukan perlawanan dengan senjatanya. Bahkan ia se-akan2
merasa sangat yakin akan senjatanya itu. Namun tiba2 saja ia
menyatakan dirinya menyerah. “Apakah pisau2 kecil ini telah
menggetarkan jantungnya ?“ bertanya ketiga anak muda itu
didalamhatinyaTanpa menghiraukan ketiga lawannya orang itupun segera
meloncat turun masuk kehalaman padepokan Kiai Sarpasrana, beberapa
langkah disebelah Arum. Arum yang semula dicengkam keheranan, tiba2
saja telah bersiaga. Ia menduga, bahwa orang itu sedang mencari
kesempatan selagi ia lengah. Dengan sigapnya, Arum telah menggenggam
sehelai pisau ditangan kanannya, sedang kerisnya berpindah ditangan
kir i. Jika orang itu mencoba menyerangnya, maka pisau itu siap
untuk dilemparkannya. Tetapi orang itu sama sekali tidak berbuat
apa2. Ia hanya berpaling saja ketika mereka mendengar Juwiring dan
Buntalpun berloncatan turun. “Aku sudah menyerah“ berkata orang itu
“aku benar2 tidak akan berkelahi lagi,“ “Siapakan kau sebenarnya ?“
desak Juwiring. “Nanti kau akan mengetahuinya Jika sekarang aku
mengatakannya, maka kaupun tidak akan percaya.“ Juwiring menjadi
heran. Dan ia mencoba mendesak lagi “Jangan mempermainkan kami.“
“Tidak. Aku tidak mempermainkan kalian. Marilah dan duduklah
dipendapa.“ Keheranan didalam dada ketiga anak2 muda dari Jati Aking
itu menjadi semakin mencengkam. Meskipun demikian mereka tidak
kehilangan kewaspadaan. Ketiganya masih saja menggenggam senjata
masing2, dan balikan Arum masih juga menggenggam sebilah pisau
selain ker isnya. Orang itu naik kependapa tanpa segan2- Kemudian
dipersilah-kannya ketiga anak2 muda itu naik pula. Katanya
“Duduklah. Aku akan masuk sebentar.“ Juwiring dan kedua adik
seperguruannya saling berpandangan sejenak. Mereka menjadi semakin
ber-debar2ketika dengan suatu isyarat, seseorang yang bertubuh
kekar, tinggi dan berwajah tenang berumur dipertengahan abad keluar
dari ruang dalam. “Temuilah mereka lebih dahulu“ Orang bertubuh
tinggi kekar itu mengangguk hormat. Jawabnya “Baik Kiai.“ “Mereka
datang dari Jati Aking. Mereka adalah murid2 pamanmu Danatirta.“
lalu katanya kepada Juwiring dan kedua adik seperguruannya “Inilah
Putut Srigunting yang sebenarnya. Tubuhnya yang seperti raksasa itu
sama sekali tidak pantas menamakan dirinya Srigunt ing, karena
Srigunting adalah seekor burung yang lamping.“ Ketiga anak-anak muda
dari Jati Aking itu menjadi semakin bigung. Mereka t idak tahu apa
yang sedang dihadapi sebenarnya. Sejenak kemudian maka orang yang
telah berkelahi itupun masuk kedalam, dan orang yang bertubuh tinggi
kekar itu melangkahh mendekat. Wajahnya yang tenang itu bagaikan air
yang sama sekali tidak bergerak. “Silahkan duduk Ki Sanak“
suaranyapun dalam sekali, seakan berputar didalam dadanya saja.
Juwiringlah yang kemudian menjawab “Ter ima kasih. Tetapi kami
menjadi bingung. Kami tidak mengerti, apakah yang telah terjadi.“
Wajah itu berkerut sejenak Namun kemudian sebuah senyum yang lembut
tampak dibibirnya. Berkata orang yang disebut bernama Putut Srigunt
ing yang sebenarnya itu ”Jangan cemas. Duduklah.“ “Tetapi siapakah
sebenarnya orang yang mengaku bernama Putut Srigunting itu, dan
kemudian menyebut Ki Sanak juga bernama Putut Srigunting.““Disini
hanya ada seorang yang bernama Putut Sr igunting. Benar akulah yang
bernama Putut Sr igunting itu.“ “Dan orang itu ?“ “Ia akan segera
menemui kalian dan ia akan segera menyebut namanya yang sebenarnya.“
Juwiring menjadi semakin bingung. Demikian pula Buntal dan Arum-
Hampir diluar sadarnya Buntal bertanya “Tetapi apakah orang itu juga
penghuni Padepokan ini?“ “Ya. Ia juga penghuni padepokan ini.“ “Ia
menyebut dir inya Putut Srigunting, kemudian mengaku bahwa ia tidak
berasal dari padepokan ini. Sekarang ia masuk kedalam se-akan2 sudah
menjadi kebiasaannya. Kami benar2 menjadi bingung Ki Sanak.“
“Sebentar lagi kalian akan meyakini apakah yang sebenarnya telah
terjadi. Jangan cemas.“ Juwiring dan kedua adik seperguruannya
mengangguk. Ketika kemudian pintu bergerit, mereka melihat orang
yang menyebut dir inya Putut Srigunting itu keluar. Tetapi rasa2nya
kesan diwajahnya telah berbeda sekali dengan wajah itu pula, yang
dilihatnya didalamgelapnya malam Meskipun pada wajah itu masih
tampak kekerasan hati dan sikap, tetapi wajah itu kini dihiasi oleh
senyum yang ramah. Orang yang mula2 menyebut dirinya Putut
Srigunting itupun kemudian duduk pula diantara mereka. Rambutnya
yang terjurai sedikit diluar ikat kepalanya, tampak sudah ke-
putih2an dibawah cahaya obor dipendapa. “Iapun sudah berumur tidak
kurang dari setengah abad“ berkata Juwiring didalam hati setelah ia
dapat melihat wajah itu dengan jelas. Orang yang mula2 menyebut
dirinya Putut Srigunting itupun telah duduk diantara mereka. Dengan
sorot mata yangtajam ia memandang ketiga anak muda itu ber-ganti2.
Kemudian sambil tersenyum ia berkata “Kalian benar2 anak2
Danatirta.“ Juwiring dan kedua adik seperguruannya tidak segera
mengerti maksud orang itu. Sejenak mereka saling berpandangan, namun
tidak seorangpun yang mengucapkan kata2 “Anak2ku“ berkata orang itu
“tentu tidak setiap orang dapat langsung mempercayai keterangan
orang lain yang belum pernah dikenalnya. Akupun tidak segera dapat
mempercayai kalian, j ika kalian mengatakan bahwa kalian adalah
murid2 Kiai Danatirta. Itulah sebabnya, aku harus meyakinkan.“
“Tetapi“ suara Juwiring sendat “siapakah Ki Sanak, maksudku,
siapakah Kiai ini?“ Orang itu tertawa. Katanya “Akulah orang yang
kau cari“ “Jadi, Kiailah yang bernama Kiai Sarpasrana ?“ “Ya. Akulah
Sarpasrana.“ “O“ hampir berbareng ketiga anak2 muda itu berdesis.
“Jadi, Kiaikah yang kami cari ?“ suara Juwiring terputus2 “kami sama
sekali tidak mengetahui, bahwa Kiailah yang kami cari sehingga kami
berani berbuat deksura, dan bahkan berani melawan Kiai. Jika kami
tahu, kami tidak akan berani menyombongkan diri kami” “Tidak apa2“
berkata Kiai Sarpasrana “aku memang memancing perkelahian. Karena
itu aku membuat kalian marah dengan segala macam cara. Jika tidak
terjadi perkelahian, aku tidak akan tahu, apakah kalian benar2 murid
Kiai Danatirta.“ Juwiring termenung sejenak. Dan Kiai Sarpasrana
berkata terus “Hanya dengan cara itu aku dapat mengetahui,
bahwakalian benar2 mur id Kiai Danatirta. Aku mengenalnya dengan
baik. Dan bahkan aku mengenal ilmunya. Ketika kita bertempur, sejak
mula2 aku percaya, bahwa tata gerak dan sikap kalian adalah tata
gerak dan sikap Kiai Danatirta, meskipun pada anak2 muda yang dua
ini sudah mendapat perkembangannya sendiri, sedang pada angger yang
bernama Arum, ilmu Kiai Danatirta masih lebih murni, tetapi angger
Arumternyata memiliki kelincahan yang luar biasa.“ “Maafkan kami
Kiai“ berkata Juwiring kemudian “aku adalah yang tertua dari kami
bertiga. Akulah yang bertanggung Jawab atas kesalahan ini“ “Tidak.
Kalian tidak bersalah. Jika kalian tidak berani berkelahi, kalian
tentu bukan murid Kiai Danatirta.“ Ketiga anak2 muda itu
meng-angguk2. Itulah sebabnya, meskipun ada hiruk pikuk dihalaman,
tidak seorangpun yang tampak terbangun dan apalagi keluar halaman.
Ternyata yang berkelahi itu adalah Kiai Sarpasrana sendiri. Dan
orang yang bertubuh tinggi, kekar dan bernama Putut Sr igunting itu
pasti mengetahui pula dan bahkan mungkin dari cela2 dinding ia
mengikut i perkelahian itu. Betapa ketiga anak2 muda itu kini
dicengkam oleh perasaan yang aneh. Ternyata Kiai Sarpasrana
mempunyai cara tersendiri untuk mengetahui kebenaran pengakuan
mereka. Ketiga anak muda itu mengangkat wajah mereka, ketika Kiai
Sarpasrana kemudian berkata “Aku bangga terhadap kalian seperti aku
selalu kagum melihat Kiai Danatirta, apalagi dimasa mudanya. Agaknya
sifat2nya menurun kepada kalian, dan bahkan kepada seorang gadis.“
“Arum adalah puteri Kiai Danatirta Kiai“ “He?“ Kiai Sarpasrana
mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia berkata “Jadi gadis
ini puteri Kiai Danatirta ?““Ya Kiai“ Sejenak Kiai Sarpasrana
merenung. Ia memang pernah melihat seorang gadis puteri Kiai
Danatirta. Tetapi menurut ingatannya, gadis itu tentu sudah jauh
lebih tua dari gadis yang bernama Arum. Namun itu sudah lama lampau.
Setelah itu, ia tidak sempat bertemu lagi dengan sahabatnya. Tetapi
tanpa di-sangka2nya, suatu ketika dijumpainya Danatirta itu didaerah
Jati Sari. Namun sayang, bahwa saat itu ia tidak sempat menanyakan
tentang seluruh keluarganya. “Mungkin Kiai Danatirta mempunyai anak
selain gadis yang pernah aku lihat itu“ Kiai Sarpasrana bergumam
didalam hatinya. Namun agar tidak menumbuhkan salah paham, ia tidak
bertanya lebih jauh lagi kepada anak2 muda itu tentang Arum.
“Sekarang“ berkata Kiai Sarpasrana “kalian masih mendapat waktu
untuk berist irahat Kalian dapat membersihkan diri di pakiwan,
kemudian kalian dapat tidur nyenyak digandok. Sedang Arum dapat
menempati bilik di ruang dalam.“ Arum mengerutkan keningnya.
Dipandanginya kedua kakak seperguruannya ber-ganti2. Ia lebih senang
t inggal bersama kedua kakak seperguruannya digandok. Bukan karena
ia tidak percaya kepada Kiai Sarpasrana. tetapi ia merasa lebih
tenang berada diantara kedua saudaranya itu. Agaknya Kiai Sarpasrana
dapat membaca perasaan Arum, sehingga sambil tersenyum ia berkata
“Baiklah Arum. Jika kau berkeberatan, kau dapat berada digandok
bersama saudara2 seperguruanmu. Disana ada sebuah ruangan yang cukup
luas dan amben bambu yang besar, yang cukup untuk berbaring sepuluh
orang sekaligus. Meskipun sebenarnya lebih baik bagimu untuk berada
didalam bilik yang lain“ Arum tidak menjawab. Hanya kepalanya
sajalah yang tertunduk dalam2.“Baiklah. Saat ini kau bukan seorang
gadis. Tetapi kaupun seorang laki2.“ Kiai Sarpasrana masih saja
tersenyum “sekarang kalian dapat pergi ke pakiwan. Aku tahu, banyak
masalah yang akan kau katakan. Tetapi katakanlah besok pagi. Kalian
tentu lelah dan barangkali kalian juga belum makan.“ Ketiga anak2
muda itu tidak segera menjawab. “Nah. jika kalian memang belum
makan, kalian dapat makan dahulu sebelum tidur.“ “Kami sudah membawa
bekal sekedarnya Kiai. Dan kami sekarang tidak lapar.“ jawab Juwir
ing. Kiai Sarpasrana tertawa. Katanya “Aku tahu. Meskipun seandainya
kalian tidak membawa bekal sekalipun, murid Kiai Danaratirta tidak
akan kelaparan hanya karena sehari tidak makan. Tetapi dalam keadaan
yang wajar, makan perlu untuk kekuatan jasmaniah. Karena itu, jangan
menolak. Aku akan menjamu kalian tuakan setelah kalian membersihkan
diri“ “Tetapi itu akan merepotkan Kiai.“ “Tidak“ Kiai Sarpasrana
menggelengkan kepalanya “bagi orang tua seperti aku, maka tempat
nasiku dan tenong lauk pauk, tentu selalu terisi. Siang dan malam.
Karena rumah ini menjadi sasaran penghubung dar i Surakarta, dan
selain itu juga sanak kadangku sendiri yang datang dari jauh tanpa
mengingat waktu.“ Kiai Sarpasrana berhenti sejenak, lalu “tetapi
tidak semuanya mengalami sambutan seperti kalian. Selain aku memang
belum mengenal kalian, juga karena kalian menyebut nama Kiai
Danatirta, sehingga aku ingin meyakinkannya. “ Ketiga anak2 muda itu
tidak menyahut. “Nah, pergilah kepakiwan.“ Juwiring dan kedua adik
seperguruannyapun kemudian pergi membersihkan dir inya. Kakinya,
tangannya danwajahnya Mereka iidak sempat untuk mandi, karena mereka
menyadari, bahwa Kiai Sarpasrana dan Putut Srigunting sedang
menunggunya. Demikianlah maka ketika mereka sudah selesai dengan
membersihkan diri, merekapun segera dijamu oleh Kiai Sarpasrana.
Mereka duduk melingkar dipringgitan menghadapi hidangan yang
meskipun sudah dingin, namun kelelahan dan gelisah yang sebelumnya
mencengkam mereka, membuat mereka bernafsu untuk makan
se-banyak2nya. Apalagi Kiai Sarpasrana dan Putut Srigunting ikut
makan pula bersama mereka. Namun dalam pada itu, selagi mereka
makan, Juwiring ingin Mempergunakan kesempatan yang sedikit itu.
Meskipun agak ragu2 iapun kemudian berkata “Kiai, diperjalanan kami
bertemu dengan ir ing2an orang bersenjata. “ “He“ Kiai Sarpasrana
tertarik pada ceritera itu “dimana dan apakah kau mengetahui ir
ing2an itu ?“ Juwiring menggelengkan kepalanya. Tetapi ia berkata
“Yang aku ketahui, diantara mereka terdapat Raden Mas Said. Tetapi
mungkin aku keliru, karena aku tidak berani mendekati iring2an itu“
Kiai Sarpasrana menarik nafas dalam2. Sejenak ia merenung dan tanpa
disadarinya kepalanya ter-angguk2 kecil. Dari sela2 bibirnya ia
berkata “Api memang sudah mulai menyala di Surakarta.“ Juwiring dan
kedua adik seperguruannya saling berpandangan sejenak, lalu mereka
mendengar Kiai Sarpasrana meneruskan “Memang hal itu tidak akan
dapat dihindar i. Api itupun akan berkobar di Sukawati“ Juwiring
merasa mendapat kesempatan untuk mengatakan tentang gurunya. Karena
itu maka iapun berkata “Kiai, sebenarnya dalamsoal itu pulalah aku
bertiga diutus oleh guru kami menghubungi Kiai.“Tetapi ketiga anak2
muda itu menjadi heran ketika mereka melihat justru Kiai Sarpasrana
tertawa “Sudahlah. Makanlah. Jika kalian mengatakan tentang api
semacam itu lebih panjang lagi, maka kalian tidak akan dapat
menikmati nasi liwet dari Sukawati yang sudah dingin ini. Sekarang
makanlah, dan kemudian kalian akan dapat, tidur nyenyak. Nanti pagi2
kalian tidak usah ter-gesa2 bangun. Kalian dapat tidur sampai tengah
hari. Barulah kemudian kalian bercer itera tentang padepokanmu,
gurumu dan keperluanmu.“ Juwiring t idak dapat meneruskan kata2nya.
Sambil memandangi kedua saudara seperguruannya, ia menyuapi mulutnya
sehingga perutnya terasa kenyang. Sebenarnyalah, baru dihari
berikutnya, ia akan mendapat kesempatan untuk berbicara agak panjang
dengan Kiai Sarpasrana,, sehingga saat itu, Juwiring tidak berani
memaksakannya lagi. Setelah selesai makan, maka merekapun segera
diantar kegandok oleh Putut Srigunting yang sebenarnya.
Dipersilahkannya mereka tidur diatas sebuah amben yang besar diruang
yang terbuka. Mula2 mereka agak segan juga, karena meskipun
tampaknya mereka sebagai tiga orang anak-anak muda, tetapi
sebenarnyalah bahwa mereka mengetahui bahwa seorang dari mereka
adalah seorang gadis Tanpa berjanji maka Arumpun memilih ujung amben
yang besar itu, sedang kedua saudaranya dengan sendirinya berada
diujung yang lain. Oleh sejuknya angin malam yang menyusup dinding
gandok itu. merekapun segera dipengaruhi oleh perasaan kantuk.
Sehingga selelah makanan yang mereka makan tidak lagi terasa sesak
didada. mereka, maka merekapun segera berbaring di-ujung2 amben
itu.Oleh perasaan letih diperjalanan dan perkelahian yang mereka
lakukan, maka merekapun segera jatuh tertidur pula. Arum dan
Juwiring yang tidak mempunyai perasaan apapun tidak menunggu terlalu
lama, dan merekapun segera tenggelam kedalam mimpi yang segar.
Tetapi Buntal tidak dapat segera tertidur. Bahkan sekali2 ia
memandang Arum dengan sudut matanya. Arum yang tidur dengan
nyenyaknya diujung lain. Dalam sepinya malam, Buntal tidak dapat
melawan perasaannya yang terasa mencengkam dadanya. Ia tidak dapat
ingkar lagi, bahwa sebenarnyalah wajah yang sedang tenang didalam
tidurnya itu adalah wajah yang sangat cantik baginya Sekali2 Buntal
menarik nafas dalam2. Dicobanya ia memejamkan matanya dan
membelakangi Arum yang tidur diujung lain. menghadap Juwir ing yang
juga tertidur nyenyak. Tetapi setiap kali hampir diluar sadarnya
iapun menelentang menghadap atap yang. ke-hitam2an. Namun setiap
kali pula sudut matanya mencur i pandang kewajah yang bening,
bagaikan wajah anak2 yang belum, mengetahui apapun juga. “Hatikulah
yang sangat kotor “ berkata Buntal didalami hatinya. Namun demikian,
kadang2 timbul juga perasaan aneh didalam dadanya, apalagi setiap
kali ia sadar, bahwa Juwiring mempunyai kelebihan didalam segala hal
daripadanya. “Ah“ bahkan Buntal itu berdesah. Dicobanya untuk
memejamkan matanya. Setelah lama ia berjuang, barulah ia berhasil
pada saat ayam jantan berkokok menjelang fajar, terlena beberapa
lama. Sebenarnyalah bahwa Kiai Sarpasrana tidak mengganggu anak-anak
muda yang sedang .tidur nyenyak itu. Dibiarkannya saja mereka
menikmati sejuknya pagi dipembaringan. Tetapi kebiasaan ketiga anak2
muda itu bangun pagi, telah membangunkan mereka. Yang mula2 bangkit
adalah Juwir ing.Tetapi derit pembaringan yang besar itu se-akan2
telah membangunkan kedua adik seperguruannya. “Matahari telah
terbit“ desis Juwiring. “Kita agak terlambat bangun.“ sahut Buntal
“marilah kita pergi ke Pakiwan.“ “Pergilah kau dahulu Arum“ berkata
Juwiring kemudian. Demikianlah ketiganya ber-ganti2 membersihkan
dirinya. Arum masih juga mengenakan pakaian laki2nya ketika mereka
kemudian menghadap Kiai Sarpasrana di pringgitan Dipendapa Putut
Srigunting sedang duduk bersama dua orang yang agaknya juga penghuni
padepokan itu. Mereka sedang berbincang ber-sungguh2. Tetapi
Juwiring dan kedua adik seperguruannya itu tidak mendengar, apa saja
yang mereka percakapkan. “Apakah kalian sudah tidak mengantuk ?“
bertanya Kiai Sarpasrana. “Tidak Kiai. Kami sudah cukup lama tidur.“
jawab Juwiring “dan perkenankanlah sekarang kami menyampaikan pesan2
dari guru kami.“ “Tunggu, kalian belum makan pagi.“ “Ah“ Juwir ing
berdesah “kami t idak biasa makan pagi, Kiai.“ “Tetapi kalian adalah
tamuku Kalian harus mengikuti kebiasaanku disini.“ Ketiga anak2 muda
itu hanya dapat menarik nafas dalam2 dan saling berpandangan. Mereka
masih harus menyimpan pesan itu didalam hatinya, sehingga mereka
selesai makan pagi. Baru setelah mereka selesai makan pagi, Kiai
Sarpasrana berkata “Nah, semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi
yangharus kalian kerjakan. Sekarang, katakanlah pesan gurumu itu.”
Juwiring, yang tertua dari ketiga mur id Kiai Danatirta itupun
kemudian mengemukakan persoalan yang dibawanya. Hubungan yang
mungkin dapat dijalin antara Jati Sari dan Sukawati dimasa yang
gawat ini. “Apa yang diketahui oleh gurumu tentang Pangeran
Mangkubumi, sehingga ia mengir imkan kalian kemari?“ “Menurut
pendengaran kami, Pangeran Mangkubumi adalah, seorang yang dapat
mengurai keadaan sekarang dengan se-baik2nya. Pangeran Mangkubumi
bukan seorang yang begitu saja dapat ditakar oleh perasaannya,
tetapi penilaiannya terhadap keadaan kini adalah yang pahng sesuai
bagi Kiai Danatirta“ “Coba katakan, apakah yang kira2 akan dilakukan
oleh Pangeran Mangkubumi menurut dugaanmu atau dugaan gurumu.“
“Kiai“ Juwiring menar ik nafas dalam2 “agaknya guru sesuai dengan
sikap Pangeran Mangkubumi, bahwa Pangeran Mangkubumi tidak ingin
mengorbankan harga dir i kita sebagai bangsa dan merunduk dibawah
kekuasaan bangsa lain.“ Kiai Sarpasrana meng-angguk2kan kepalanya.
Katanya “Gurumu dapat menilai dengan tepat. Dengan demikian maka ia
tidak sekedar sedang menjajagi. Tetapi apakah gurumu sudah
mempertimbangkan kemungkinan2 yang dapat terjadi atas dirinya dan
Jati Aking? “ “Guru sudah menyebutnya.“ Kiai Sarpasrana meng-angguk2
pula. Tetapi agaknya masih ada yang belum memuaskan baginya, la
masih merasakan sesuatu yang kurang mapan. Setelah merenung sejenak,
maka dengan hati2 orang tua itupun bertanya “Menurut keteranganmu
Arum adalah puteriKiai Danatirta Tetapi siapakah kalian berdua?
Maksudku, sebelum kalian menjadi murid Kiai Danatirta. Aku melihat
secara lahiriah, perbedaan yang jauh dari kedua anak2 muda ini.“
Juwiring mengerutkan keningnya, sedang dada Buntal menjadi
berdebaran. Pertanyaan itu se-akan2 menghadapkan dirinya pada sebuah
cermin sehingga ia melihat kekurangan yang jauh pada dir inya dari
Juwiring. Namun dalam pada itu. Kiai Sarpasrana melanjutkan
“Maksudku, aku tidak membedakan siapakah kalian, karena ke-dua2nya
adalah mur id Kiai Danatirta. Dan aku percaya bahwa Kiai Danatirta
bukan anak2 sehingga pilihannyapun dapat dipercaya pula. Tetapi jika
aku bertanya tentang kalian, justru karena aku melihat pada yang
seorang ini, tetesan darah seorang bangsawan. Aku justru minta maaf,
bahwa aku ingin tahu tentang hal itu, karena sikap para bangsawan
yang ber-beda2.“ Juwiringlah yang kemudian menjadi ber-debar2
Ternyata Kiai Sarpasrana adalah seorang yang teliti menghadapi
persoalan ini. Namun Juwir ing t idak ingin berbohong. Ia ingin
mengatakan tentang dirinya dengan jujur. “Kiai“ katanya kemudian
“aku adalah putera Pangeran Ranakusuma.“ Tersirat sesuatu diwajah
orang tua itu. Kiai Sarpasrana tahu benar siapakah Pangeran
Ranakusuma. Meskipun ia belum pernah berhubungan secara pribadi,
tetapi nama Pangeran Ranakusuma telah termasuk didalam urutan nama
para Pangeran yang tidak disukainya. Ternyata Juwiring cukup cerdas
menangkap siratan diwajah orang tua itu. Maka katanya “Kiai, tentu
Kiai sudah pernah mendengar nama ayahanda. Aku adalah puteranya yang
sulung yang disingkirkan dar i istana kapangeranan“ “O“ Kiai
Sarpasrana terkejut “kenapa ?““Persoalannya adalah persoalan
keluarga saja.“ “Dan kau mendendam?“ “Tidak. Aku tidak menyangkutkan
persoalan pr ibadiku dengan persoalan yang berkembang di Surakarta
sekarang. Pendirianku banyak dipengaruhi oleh sikap dan pendirian
guruku.“ “Kenapa kau dapat berada di padepokan Jati Aking ?“ “Maksud
ayahanda, aku harus berguru kepada seorang yang dianggapnya mengerti
masalah2 kaj iwan. Bukan kanuragan. Paman Dipanalalah yang
menunjukkan tempat itu bagiku. “ Kiai Sarpasrana menarik nafas
dalam2. Dipandanginya Juwiring sejenak. Lalu dipandanginya Buntal
tajam2. Dari sela2 bibirnya terdengar orang tua itu berdesis “Dan
kau ?“. Buntal bergeser sejengkal. Katanya ragu2 “Aku adalah anak
kabur kanginan Kiai. Aku terlempar ke Jati Aking tanpa sengaja.” “O“
Kiai Sarpasrana mengerutkan keningnya, dan dengan singkat Buntalpun
berceritera tentang dirinya. Kiai Sarpasrana meng-angguk2kan
kepalanya. Kesannya memang lain dengan anak muda yang pertama.
Buntal adalah anak yang se-akan2 terbuang karena ia memang
kehilangan orang tuanya, tetapi Juwiring terbuang karena persoalan
yang timbul didalamkeluarganya dan menyangkut orang tuanya. Namun
yang meragukan Kiai Sarpasrana adalah justru karena Juwiring adalah
putra Pangeran Ranakusuma. Juwiring agaknya dapat merasakan
ke-ragu2an itu Karena itu ia mencoba untuk meyakinkan sikapnya.
Katanya “Kiai, persoalanku dengan keluargaku sudah lama aku lupakan.
Aku sudah pasrah pada keadaanku, pada kemungkinan yang dapat aku
capai di Jati Aking. Tetapi jika kemudian timbul sikap yangberbeda
dengan ayahanda Pangeran Ranakusuma didalam persoalan yang sedang
kemelut, sama sekali tidak ada sangkut pautnya lagi dengan dendam
dan tuntutan pr ibadi atas keluargaku. “ Kiai Sarpasrana
meng-angguk2kan kepalanya. Ia melihat kesungguhan pada wajah
Juwiring, sehingga karena itu, iapun dapat mempercayainya. Meskipun
demikian ia masih juga harus bersikap hati2. Jika ia salah hitung,
maka ia akan menyesal. Persoalan yang dihadapinya bukannya sekedar
persoalan dirinya sendiri, bukan sekedar padepokan kecilnya atau
bahkan Kademangan Sukawati. Tetapi persoalannya adalah persoalan
kelangsungan hidup Surakarta Adalah jauh berbeda sikap dan pendirian
Pangeran Mangkubumi dengan Pangeran Ranakusuma. “Tetapi tentu
bukannya tanpa alasan jika Kiai Danatirta telah mengirimkannya kemar
i“ berkata Kiai Sarpasrana didalam hatinya. Karena Kiai Danatirta
tahu benar akibat yang dapat timbul jika ia salah pilih. Ketiga
anak2 muda yang kehilangan sasaran itu menjadi bingung sejenak. Dan
ketika mereka menyadari keadaannya, maka mereka melihat Putut itu
telah bertengger berjongkok diatas dinding halaman itu. Namun
sepercik ke-ragu2an masih saja membayang diliatinya. “Bagaimanakah
jika justru Kiai Danatirta itu sekarang sudah terpengaruh oleh
Pangeran Ranakusuma ?“ ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi
pertanyaan itu dibantahnya sendiri “Tentu tidak mungkin Aku mengenal
Kiai Danatirta dengan baik.“ Juwiringpun dapat melihat ke-ragu2an
yang membayang pada sorot mata Kiai Sarpasrana. Tetapi iapun dapat
mengerti. Bahkan kadang2 ia menyesali dirinya sendiri, bahwa ia
telah dilahirkan didalam lingkungan keluarga yang tidak memberi
kebanggaan sama sekali bagi tanah kelahirannya.Dalam pada itu. Kiai
Sarpasranapun kemudian berkata “Baiklah anak2. Tinggallah kalian
hari ini disini. Aku akan mempersoalkan pesan gurumu dengan orang2
yang berkepentingan disini. Tentu kami disini akan menyambut dengan
gembira sikap gurumu itu. Tetapi kami disinipun harus
memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Kami t idak
ingin meng-hambur2kan korban terlampau banyak dengan hasil yang
terlampau sedikit. Itulah sebabnya kami berbuat dengan hati2 Memang
kadang2 anak2 muda tidak dapat mengikuti sikap kami. Bahkan ada
diantara mereka yang sudah langsung bertindak dengan kekerasan. Aku
dan kami disini menghargai sikap itu. Tetapi kami disini ingin
berbuat sebaik2nya dengan korban yang se-kecil2nya. “ Juwiring
meng-angguk2kan kepalanya. Katanya “Baiklah Kiai. Kami akan tinggal
disini menunggu Kiai.“ Kiai Sarpasrana tidak mengatakan kemana ia
akan pergi. Dan ketiga anak2 muda itupun tidak akan berani bertanya
kemana ia akan pergi. Dengan demikian, maka Juwiring dan adik
seperguruannya itu berada di padepokan Kiai Sarpasrana bersama Putut
Srigunting dan beberapa orang mur id Kiai Saroasrana yang lain
Berbeda dengan Kiai Danatirta. maka Kiai Sarpasrana mempunyai
beberapa orang murid yang berlatih dalam olah kanuragan. Tetapi
mereka mempunyai kedudukan yang lain dari murid2nya yang sebenarnya,
seperti Putut Srigunting, meskipun umurnya hampir sebaya dengan Kiai
Sarpasrana sendiri. Yang berlatih dipadepokan Kiai Sarpasrana adalah
beberapa orang anak muda. Mereka sekedar mempelajari tata gerak
dasar secukupnya, sebagai bekal apabila mereka menghadapi bahaya.
Mereka sekedar mengetahui bagaimana mereka membela diri, dan
mempunyai sedikit kelebihan dari anak2 muda yang lain. Jika mereka
sudah cukup, makamerekapun segera kembali kerumah masing-masing dan
disusul dengan serombongan anak-anak muda yang lain. “Darimana saja
mereka itu datang ?“ bertanya Juwiring kepada Putut Srigunting yang
setiap kali mewakili Kiai Sarpasrana apabila ia berhalangan. “Mereka
adalah anak2 muda Sukawati dan sekitarnya.“ jawab Srigunting
Juwiring meng-angguk2kan kepalanya. Ia sadar bahwa Sukawati benar2
telah mempersiapkan dirinya. Sehingga apabila benar2 terjadi
sesuatu, maka Sukawati bukannya sekedar berbuat tanpa perhitungan,
tetapi Sukawati benar2 sudah siap. “Orang2 asing dan prajurit
Surakartapun mengalami latihan latihan sebelum mereka menjadi
prajurit“ berkata Putut Srigunting “bahkan selama mereka bertugas,
mereka masih selalu berusaha meningkatkan bekal mereka.“ Juwiring
dan kedua adik seperguruannya meng-angguk2. Dengan tidak langsung
Putut Sr igunting sudah memperbandingkan kekuatan anak2 muda
Sukawati dengan orang2 asing yang berada di Surakarta. “Menurut
pendengaranku” berkata Putut Srigunting “orang2 asing itu mengalami
penempaan yang berat sebelum mereka dikirim ke tanah ini. Itulah
sebabnya, maka kitapun harus berusaha mengimbanginya, agar kita
tidak sekedar mengumpankan dir i , pada senjata2 mereka yang meledak
itu. “ Murid2 Jati Aking itu masih saja meng-angguk2, “Dari
padepokan ini, anak2 muda itupun masih selalu berlatih Kami mengir
imkan cantrik2 terbaik dari padepokan ini untuk membantu mereka.
Bahkan ada diantara mereka yang dengan tekun mesu diri ditempai yang
terasing agar latihan2nya tidak terganggu. Dengan ilmu dasar yang
merekakuasai, kadang2 mereka berhasil mencapai t ingkat yang
mengagumkan. “Inilah Sukawati” berkata Buntal didalam hatinya “yang
terjadi adalah jeritan hati rakyat Surakarta yang sebenarnya karena
tingkah laku orang asing.“ Buntal dapat membayangkan, apa saja yang
mereka lakukan ketika ia masih tinggal menghambakan dir i dirumah
seorang Tumenggung yang sering mener ima kehadiran orang2 asing itu
dimalam har i dalam kemewahan yang melimpah2. Dan kini ia menyadari
kemaksiatan apa saja yang sudah terjadi apabila orang2 asing itu
menjadi mabuk. Dan yang paling memuakkan adalah kesediaan sebagian
bangsa sendiri untuk melayaninya. Tetapi suasana di Sukawati adalah
jauh berbeda, Disini ia serasa hidup dalam nafas yang penuh dengan
perjuangan untuk merebut masa depan yang baik. Bukan masa kini yang
me- limpah2 buat diri sendir i, tetapi sama sekali menutup
kemungkinan bagi anak cucu Disini justru rakyat Surakarta memikirkan
hari depan yang jauh. Memikirkan anak cucu yang akan merupakan
kelanjutan dari hidup mereka. Jika kini mereka gagal membina masa
depan itu, maka masa depan itu akan menjadi sangat suram.
Dipadepokan Kiai Sarpasrana ketiga mur id dar i Jati Aking itu
mendapat pengalaman baru. Kiai Sarpasrana dan mur id2nya sama sekali
tidak membatasi dinding padepokannya. Mereka tidak berlatih sambil
bersembunyi didalam bangsal tertutup, bahkan para cantrik dari
padepokan sendiripun hampir tidak mengetahuinya. Tetapi bangsal
latihan Kiai Sarpasrana selalu terbuka. Dan itulah kelainan yang
pokok dari kedua padepokan itu, dan pengaruh lingkungannya. Sukawati
se-akan2 telah mempunyai bentuk yang mantap karena daerah ini adalah
daerah Palenggahan Pangeran Mangkubumi, sehingga sikap dan pendir
ian PangeranMangkubumi merupakan sikap dan pendirian seluruh rakyat
Sukawati. “Apakah salahnya jika padepokan Jati Aking itupun dibuka
pula seperti padepokan ini?.” pertanyaan itu telah mempengaruhi hati
mereka. Namun merekapun menyadari, bahwa Jati Sari dalam keseluruhan
sangat berbeda dengan Sukawati. Meskipun demikian, masih dapat
diusahakan, agar sikap dan pendir ian padepokan Jati Aking dapat
menjalar keseluruh Jati Sari; Apalagi apabila anak2 mudanya berhasil
dipengaruhinya menghadapi keadaan yaag bagaikan hampir meledak ini.
Demikianlah se-hari2an ketiga anak2 muda dari Jati Aking itu sempat
melihat bagaimana Putut Srigunt ing melatih anak2 muda Sukawati.
Mereka dikumpulkan dihalaman belakang ber- sama2 tidak kurang dari
duapuluh orang. Mereka berlatih berpasangan ditunggui oleh empat
orang murid Kiai Sarpasrana dibawah pimpinan Putut Srigunting.
“Bagaimana latihan ini dimulai?“ bertanya Juwiring. “Mereka
ber-sama2 harus menirukan unsur gerak pokok dari ilmu yang
diturunkan oleh Kiai Sarpasrana. Jika unsur2 gerak itu telah mereka
kuasai dengan baik, meskipun hanya pokok2nya saja, maka mulailah
mereka mendapat petunjuk penggunaannya dan hubungan yang dapat
dijalin antara unsur gerak yang satu dengan yang lain. Dengan
demikian, maka mereka mendapatkan bentuk yang mengalir dari unsur2
itu untuk membela diri, bukan sekedar unsur2 gerak yang dengan urut
dapat ditirukan tanpa mengerti maknanya, karena unsur2 gerak ini
sama sekali bukan unsur2 gerak tari“ Juwiring meng-angguk2, sedang
Buntal bertanya “Berapa lama mereka ber latih dipadepokan ini?“
“Tidak tentu, tergantung dari ketekunan dan kemauan mereka
masing2.“Ketiga murid dari Jati Aking itu masih saja meng-angguk2
Dan Putut Srigunting itu berkata selanjutnya “Tetapi rata2 mereka
berada dipadepokan ini selama tiga bulan.” “Tiga bulan“ Buntal
mengulang. “Ya. Selama tiga bulan mereka mendapatkan tuntunan
pokok-pokok tata gerak dan cara mempergunakan senjata. Berkelahi
seorang lawan seorang dan bertempur dalam kelompok2 besar dan
kecil.“ “Mereka adalah prajurit2“ gumam Juwiring. “Ya. Prajurit2
memang mendapat latihan selama tiga bulan sebelum mereka ditetapkan.
Tetapi pada umumnya mereka sudah memiliki kemampuan dasar
sebelumnya. Sedangkan anak2 muda ini baru disini mendapatkan
pengetahuan olah kanuragan. Selebihnya mereka harus berusaha sendir
i.“ “jadi bagaimana dengan mereka kemudian ?“ bertanya Buntal pula
“apakah mereka puas dengan ilmu mereka yang tiga bulan ini?“ “Tidak.
Seperti sudah aku katakan. Mereka memperdalam ilmu mereka diluar
padepokan. Kadang2 kami mengir imkan seorang dua orang murid yang
sebenarnya dari padepokan ini untuk berlatih bersama mereka.
Ternyata bahwa tekad mereka t idak mereda. Justru semakin panas
udara di Surakarta, mereka menjadi semakin keras berlatih.“ Buntal
meng-angguk2. Terbayang didalam angan2nya, bahwa Jati Saripun harus
berbuat seperti yang dilakukan oleh Sukawati meskipun tidak dapat
menyamainya. Tetapi bahwa rakyat Surakarta harus mempersiapkan diri,
semakin lama semakin diyakini oleh Buntal. Ketika matahari kemudian
menjadi semakin rendah dan langit menjadi redup, maka ketiga anak2
muda dari Jati Aking itupun duduk dipendapa bersama Putut
Srigunting. Mereka berbicara mengenai banyak persoalan yang
terjadidipadepokan itu. Namun setiap kali Juwir ing atau Buntal
bertanya tentang persiapan yang telah dilakukan oleh Pangeran
Mangkubumi, Putut Srigunting selalu mengelakkan diri- Ia selalu
memutar pembicaraan kearah yang tidak menyinggung nama Pangeran itu,
meskipun juga mengenai Suka-wati.. Sebelum sinar matahari lenyap
dari wajah langit yang suram, maka Kiai Sarpasrana telah kembali
kepadepokannya. Ternyata ia tidak pergi ketempat yang jauh. Agaknya
ia hanya mengunjungi oiang2 yang dianggapnya perlu di padukuhan
Sukawati. Juwiring Hampir tidak sabar menunggu. Ketika Kiai
Sarpasrana telah duduk diantara mereka, dan setelah ia meneguk
semangkuk air, maka Juwiringpun segera bertanya “Kiai, apakah Kiai
bertemu dengan Pangeran Mangkubumi?“ “Pangeran Mangkubumi ?“ Kiai
Sarpasrana mengerutkan keningnya “aku t idak menemui Pangeran
Mangkubumi. Seandainya aku pergi menghadap pula, belum tentu
Pangeran Mangkubumi ada di Sukawati.“ “O, maksudku, jika bukan
Pangeran Mangkubumi, tentu orang2 penting lainnya di Sukawati.“ Kiai
Sarpasrana rheng-angguk. “Aku sudah bertemu dengan beberapa orang
dar i mereka.” “Lalu, keputusan apakah yang dapat kami sampaikan
kepada Kiai Danatirta.“ “Keputusan ? Kenapa kau bertanya tentang
keputusan ?“ Juwiring menjadi heran. Buntal dan Arumpun memandang
wajah Kiai Sarpasrana dengan sorot mata yang mengandung pertanyaan.
“Kiai“ berkata Juwiring “bukankah sudah kami sampaikan keinginan
Jati Aking untuk ikut serta didalam setiap gerakdan» kegiatan
Sukawati, karena Kiai Danatirta menyadari apakah yang sebenarnya
berkembang didaerah Surakarta sekarang.“ “Sudah aku katakan, kami
tentu akan senang sekali. Dan ternyata bahwa orang2 yang mendengar
keinginan itupun menyatakan kegembiraan hati“ “Jika demikian, apakah
yang harus kami lakukan di Jati Aking Kiai, dan apakah yang diper
intahkan oleh Pangeran Mangkubumi kepada kami atau oleh orang yang
dikuasakannya.“ “O, tentu Pangeran Mangkubumi atau orang2 yang
dikuasakannya tidak akan memberikan perintah apapun kepada kalian.
Kalian memang harus mempersiapkan dir i. Tetapi kami disini belum
dapat berbuat apa2 atas kalian sekarang ini.“ Ketiga anak2 muda dari
Jati Aking itu masih saja ter- beran2. Dan bahkan Kiai Sarpasrana
itupun berkata “Sampaikan kepada Kiai Danatirta, agar ia sering
mengir imkan utusannya kemari.“ “Baiklah Kiai. Kami akan
menyampaikannya kepada guru. Dan tentu kami akan sering datang ke
Sukawati. Tetapi perintah apakah yang segera dapat kami lakukan ?“
Kiai Sarpasranalah yang menjadi heran Lalu katanya “Tentu tidak ada
perintah apa2. Seperti yang aku katakan, satu2nya pesan, sering
datanglah kemari.“ “Hanya itu ?“ bertanya Buntal dengan herannya.
“Itulah per intah yang kau maksud.“ Ketiga anak2 muda itu tidak
mengerti. Kenapa mereka hanya sekedar harus dalang setiap kali ke
Sukawati. Meskipun mereka mengerti bahwa hal itu penting bagi Kiai
Danatirta untuk mengetahui perkembangan keadaan. Tetapi kenapatidak
ada pesan2 lain yang penting bagi Jati Aking didalam keadaan yang
gawat ini. “Sudahlah“ berkata Kiai Sarpasrana “jangan menjadi
bingung. Sampaikan saja pesanku besok j ika kau kembali kepada Kiai
Danatirta. Sering2 sajalah menyuruh kalian datang kemari.“ Ketiga
anak2 muda itu meng-angguk2. Ternyata memang tidak ada perintah
lain. Kiai Sarpasrana tidak memberitahukan kepada mereka, apa saja
yang sudah dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi di Surakarta. Di mana
persiapan untuk melakukan perlawanan bersenjata jika diperlukan dan
apa saja yang harus dilakukan jika Surakarta benar2 telah dibakar
oleh api pertentangan yang tidak teratasi lagi. “Ternyata yang
dipesankan oleh Kiai Sarpasrana hanyalah agar kami ser ing datang ke
Sukawati. Hanya itu.“ Tetapi ketiga anak2 muda itu tidak dapat
memaksa agar Kiai Sarpasrana berkata lebih jauh, atau memaksa untuk
membawa mereka menemui orang2 terpenting di Sukawati. Mereka harus
puas dengan sekedar pesan itu. Namun hasil yang telah mereka
peroleh, adalah jalan yang datar untuk melakukan hubungan
selanjutnya. Demikianlah ketiga anak2 muda Jati Aking itu bermalam
semalam lagi dipadepokan Kiai Sarpasrana Dipagi hari berikutnya
mereka mohon dir i untuk segera kembali ke Jati Sari. Tetapi seperti
dihari sebelumnya. Kiai Sarpasrana telah memaksa mereka untuk makan
pagi lebih dahulu. “Itu adalah kebiasaan kami disini“ katanya.
Ketiga anak2 muda itu tidak dapat menolak. Apalagi mereka sadar,
bahwa perjalanan kembali akan memakan waktu sehari penuh, sehingga
ada juga baiknya mereka makan pagi lebih dahulu.Baru setelah makan,
mereka meninggalkan padepokan Kiai Sarpasrana. Mereka berjalan
dengan ter-gesa2, agar mereka segera dapat menyampaikan hasil
hubungan mereka dengan orang tua itu. Meckipun tidak mendapat pesan2
seperti yang mereka harapkan, namun mereka telah berhasil
menemuinya. Dalam pada itu, di Surakarta, para Pangeran sedang sibuk
dengan hati mereka masing2. Beberapa orang diantara mereka telah
menemukan keputusan Namun ada diantara mereka yang terombang-ambing
tidak menentu, seperti daun ilalang yang dihembus angin pusaran.
Bahkan ada yang mencoba berkayuh didua perahu. Sebelah kakinya
disebuah perahu dan kaki yang lain berpijak pada perahu yang lain
pula. Selama kedua perahu itu masih dapat meluncur searah, maka
tidak akan banyak dijumpai kesulitan, tetapi jika perah/a itu mulai
berbeda tujuan, maka alangkah sakitnya. Dalam suasana yang panas
itu. Kumpeni se-akan2 dengan sengaja memancing persoalan. Para
perwira jika berada di Surakarta, menunjukkan kelakuan yang
menyakitkan hati. Mereka mengadakan bujana makan yang ber-lebih2an.
Membagi barang berharga dan memikat hati para bangsawan. Sedang
terhadap rakyat kecil sikap mereka menjadi semakin angkuh dan
sombong. se-akan2 rakyat Surakarta adalah penghuni r imba belantara
yang tidak diperhitungkannya. Namun sikap itulah yang mematangkan
suasana Rakyat menjadi semakin benci kepada mereka. Tetapi diantara
beberapa orang Pangeran justru semakin lekat pada Kumpeni karena
terdorong oleh nafsu kepentingan dir i mereka sendiri se-mata2.
-
Jilid 9 DI ANTARA mereka adalah Pangeran
Ranakusuma. Bukan saja karena ia menerima langsung berbagai macam
hadiah, tetapi ia juga ingin mendapat pengaruh lebih banyak lagi di
dalam istana Susuhunan. Selain kepentingan langsung itu,
isterinyapun telah mendorongnya pula agar ia tidak menjauhkan diri
dari lingkungan orang-orang asing yang baik hati, murah hati dan
menyenangkan itu. Sejalan dengan perkembangan itu, hati Raden
Rudirapun menjadi semakin berkembang pula. Keinginannya untuk
mengetahui, apa saja yang dilakukan ibunya di dalam lingkungan
orang-orang asing itu tanpa ayahnya, selalu mendesaknya, sehingga
kadang-kadang ia hampir tidak dapat mengendalikan dir inya lagi.
“Jangan bermain api Raden“ Mandra mencoba mencegahnya. “Aku tidak
tahan lagi Mandra. Rasa-rasanya aku selalu digelit ik oleh
perasaanku sendir i. Terus-terang aku menjadi curiga”“Apa yang Raden
curigai?“ Raden Rudira tidak menjawab. Ia tahu bahwa sebenarnya
Mandra sudah mengerti perasaannya. “Jangan tergesa-gesa” berkata
Mandra kemudian “meskipun pada akhirnya rencana Raden itu dilakukan,
tetapi Raden harus mengingat, bahwa perbuatan itu penuh dengan
bahaya. Setiap kali diadakan pertemuan bagi kumpeni di rumah
bangsawan yang manapun, penjagaan di sekitar halaman itu diperkuat.
Apalagi mereka mempunyai senjata- senjata yang dapat melontarkan
sebutir besi dan yang langsung dapat membunuh korbannya” “Aku tidak
takut akan senjata api itu” “Memang kita tidak takut. Tetapi usaha
kita gagal dan kita justru terbunuh oleh senjata api itu, maka
bukankah dengan demikian tidak ada gunanya, apapun yang pernah kita
lakukan?“ Raden Rudira mengangguk-angguk. “Jika Raden memang
berkeinginan untuk melakukannya, sebaiknya Raden memberitahukan
kepadaku. Aku akan menyelidiki dahulu kemungkinan yang sebaiknya
Raden lakukan. Malam nanti Raden Ayu mendapat undangan pula dari
seorang perwira kumpeni. Bukankah begitu? “Ya, dan ayahanda malam
ini tidak dapat pergi mengantarkan ibunda karena ayahanda mendapat
undangan tersendiri ke istana Susuhunan” “Tetapi sebaiknya Raden
tidak bertindak malam ini. Undangan semacam itu masih akan
berdatangan. Tentu tidak sampai tiga har i lagi” “Belum tentu
Mandra. Mungkin di hari mendatang, ayahanda dapat pergi bersama
ibunda. Karena itu, apa salahnya jika malam ini aku mencoba melihat
apa yang terjadi. Jika aku gagal, barulah aku akan menentukan
hari-hariberikutnya sehingga aku akhirnya yakin apa yang dilakukan
ibunda itu. Dengan demikian hatiku akan menjadi tenteram” Mandra
merenung sejenak. Dipandanginya wajah Rudira yang tegang. Namun
orang yang bertubuh raksasa seperti Sura itu kemudian tersenyum
“Baiklah Raden. Jika Raden tetap pada pendirian Raden apaboleh buat.
Biarlah aku pergi lebih dahulu ketempat bujana itu akan diadakan.
Apakah Raden mengetahuinya?” “Ya. Aku mengetahuinya. Di rumah
pamanda Surawijaya,” Mandra menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku
tahu. Istananya berada di sebelah simpang tiga dengan pohon Kayu
Legi yang terjajar tiga di halaman samping?“ “Ya” “Baiklah Raden.
Jika memang Raden kehendaki, aku akan pergi ke istana Surawijayan.
Aku mempunyai seorang kawan yang baik mengabdikan dir i pada di
Surawijayan. Barangkali aku dapat menghubunginya dan mendapatkan
kesempatan untuk memasuki halaman istana itu malam nanti untuk
mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi” “Baiklah. Pergilah.
Tetapi hati-hati, jangan sampai rencana ini diketahui oleh siapapun.
Jika demikian maka ibunda akan mengurungkan niatnya, atau kumpeni
akan memasang penjagaan yang kuat. Tentu orang-orang kita juga yang
akan berjaga-jaga di luar istana Surawijayan, sedang kumpeni akan
makan minum dengan sepuas-puasnya” Mandra mengangguk-angguk. Katanya
“Aku minta diri Raden. Selagi masih jauh waktunya, sehingga
orang-orang di istana itu, atau barangkali pengawas-pengawas yang
sudah dipersiapkan tidak mencurigai aku” “Pergilah” Rudirapun
kemudian member ikan bekal uang kepada Mandra seperti yang biasa
dilakukannya apabila iamember ikan tugas yang agak menyimpang dari
tugasnya sehari-hari. Apalagi tugas ini termasuk tugas yang cukup
berbahaya. Sepeninggal Mandra, Rudira selalu duduk merenung. Ia
tidak dapat melepaskan dir i dari kecurigaan terhadap ibunya.
Semakin lama semakin dalam. Sebagai satu-satunya anak laki- laki
yang manja, ia benar-benar tidak mau melepaskan kasih sayang ibunya
dan membaginya dengan orang lain. Bagi Rudira, perkawinan ayah dan
ibunya adalah ikatan yang paling luhur di dalam hidup kekeluargaan.
Setelah isteri ayahandanya semuanya tersisih dari istana itu,
meninggal atau kembali ke orang tuanya, maka ibunyalah satu-satunya
orang yang berhak sepenuhnya atas istana Ranakusuman di samping
ayahandanya. Setelah ayahandanya menyisihkan orang-orang yang dapat
mengurangi kasih sayangnya kepada isteri yang tinggal satu-satunya,
maka ibundanyapun tidak boleh menodai kasih dan cinta itu. Umur
Rudira yang menginjak dewasa itu, memandang cinta antara laki-laki
dan perempuan sebagai cinta yang paling suci dan sama sekali tidak
boleh dinodai. Dengan demikian maka keinginannya untuk mengetahui
apa saja yang telah dilakukan ibunya itupun menjadi semakin besar.
Dalam pada itu, sepeninggal Mandra, dari balik dinding yang menyekat
ruangan pembicaraan antara Mandra dan Rudira seseorang
perlahan-lahan sambil berjingkat, meninggalkan tempatnya setelah ia
tanpa sengaja mendengar pembicaraan-pembicaraan itu. Pembicaraan
yang sangat mendebarkan jantungnya. Sambil menarik nafas
dalam-dalam, ketika ia sudah berada di tempat yang terpisah oleh
gandok sebelah kanan, orang itu mengangguk-angguk. Orang itu adalah
Dipanala, yang masih saja berada di istana itu dengan berbagai macam
akibat yang dapat terjadi atasnya. Dengan sadar Dipanala melihat
kemungkinan-kemungkinan itu. Dari yang paling r ingan sampai yang
paling pahit baginya, mati. Tetapi ia masih belum berniat
meninggalkan istana Ranakusuman. Ternyata percakapan yang
didengarnya tanpa sengaja itu benar-benar telah mendebarkan
jantungnya. Bahkan tanpa disadarinya ia bergumam “Raden Rudira tidak
tahu bencana apa saja yang dapat menimpanya. Untuk mendekati
lingkungan itu adalah sangat berbahaya sekali meskipun Mandra akan
berusaha menemukan jalan” Tetapi tiba-tiba saja melonjak perasaan
sakit hati di dalam dadanya “Aku tidak peduli. Aku tidak
berkepentingan apa-apa. Biar saja apa yang akan terjadi pada
keduanya. Justru keduanya pernah mencoba membunuh aku. Dan tentu
niat itu sampai saat ini masih tersimpan di dalam hati, karena niat
itu bersumber dari ibundanya dan barangkali sebentar lagi dari
kedua-duanya, dari ibunda dan ayahandanya” Dipanalapun kemudian
mencoba melupakan, apa yang akan dilakukan oleh keduanya. Iapun
segera pergi ke belakang, ke kandang kuda. Dibersihkannya beberapa
ekor kuda yang ada di dalam kandang itu bersama juru pemelihara
kuda. Para pekatik dan gamel itu kadang-kadang merasa heran juga,
bahwa Ki Dipanala semakin sering bekerja di kandang kuda. Tetapi
mereka tidak tahu, bahwa Dipanala di istana Ranakusuman itu
seolah-olah sudah tidak mempunyai kerjaan lain yang pasti, kecuali
kadang-kadang ia mendapat perintah dan Pangeran Ranakusuma untuk
menyampaikan pesan kepada orang-orang yang dekat dengannya. Namun
Dipanala yang keras hati itu tetap tidak meninggalkan istana
Ranakusuman. Ia sadar, bahwa jika ia pergi, maka umurnyapun tidak
akan dapat bertahan, karena baik Pangeran Ranakusuma maupun Raden
Ayu Ranakusuma akan memer intahkan orang-orang upahan untuk
membunuhnya agar ia tidak membuka rahasia mereka
masing-masing.Dengan demikian maka kemungkinan baginya hampir t idak
ada bedanya. Meninggalkan istana atau tetap tinggal. Namun yang
sedang dipikirkannya adalah bagaimana ia dapat menyingkir bersama
keluarganya dan bergabung dalam suatu kelompok kekuatan yang dapat
melindunginya dan terutama yang mempunyai sikap yang pasti terhadap
orang-orang asing yang semakin lama menjadi semakin berkuasa di
Surakarta, dan dengan demikian mereka semakin leluasa menyebarkan
racun perpecahan untuk memperkuat kedudukan mereka. Bagi Dipanala,
tempat yang paling baik baginya adalah Padepokan Jati Aking. Namun
di sana ada Raden Juwiring, sehingga hubungan antara istana ini dan
padepokan Jati Aking tampaknya masih terlampau dekat. Tetapi
Dipanala tidak begitu terpancang kepada usahanya itu. Sebenarnyalah
bahwa ia memang harus berusaha menyelamatkan diri. Tetapi j ika maut
memang sudah waktunya menjemputnya, ia tidak akan ingkar lagi,
dengan suatu permohonan, mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa
melindungi keluarganya dari malapetaka. Namun sehari-har ian itu
Dipanala selalu saja digelisahkan oleh rencana Raden Rudira. Setiap
kali ia berusaha melupakan rencana itu, karena ia memang tidak
berkepentingan. Ia tidak ingin ikut campur sehingga ia akan tersudut
semakin jauh. Semakin banyak rahasia yang diketahuinya, sengaja atau
tidak sengaja, maka semakin sulitlah perasaannya dan bahkan semakin
sempit lah ruang yang dapat dihuninya untuk mempertahankan hidupnya.
”Aku tidak ingin menjadi korban dar i rahasia orang-orang lain. Biar
saja Raden Rudira mengetahui rahasia ibunya. Biar saja Raden Rudira
melihat kenyataan bahwa ibunya sama sekali bukan seorang perempuan
bangsawan yang terhormat seperti yang diduganya. Juga ayahandanya
bukan seorang laki- laki yang baik apalagi sebagai seorang Pangeran.
Bilamana dikehendaki ia dapat mengambil beberapa orangisteri, tetapi
tidak meloncati pagar ayu, menodai cinta kasih seorang perempuan
yang bersuami” berkata Dipanala di dalam hatinya. Tetapi ketika
kemudian ia melihat sebuah kereta memasuki halaman istana Pangeran
Ranakusuma menjelang senja, maka hatinya menjadi semakin
berdebar-debar. Ia tahu benar, bahwa Raden Rudirapun sudah
menyiapkan kudanya meskipun Mandra masih belum datang menemuinya.
Bagaimanapun juga ia berusaha, namun Ki Dipanala tidak dapat menutup
mata, bahwa ia melihat Pangeran Ranakusuma telah berangkat lebih
dahulu ke istana Kangjeng Susuhunan Pakubuwana, kemudian disusul
oleh Raden Ayu Ranakusuma mengenakan pakaian yang cemerlang, dengan
perhiasan yang berkilauan seperti bintang yang gemerlapan di langit.
Dipanala yang berada dilongkangan belakang menar ik nafas
dalam-dalam. Belum lagi debar jantungnya mereda, dilihatnya Mandra
dengan tergesa-gesa menemui Raden Rudira di depan gedogan kuda.
“Semuanya sudah beres. Kita dapat berangkat apabila gelap telah
menyeluruh” Raden Rudira mengerutkan keningnya. Namun ia bertanya
“Apakah kau baru datang?“ “Ya Raden” “Lama sekali?“ “Aku berusaha
menyelesaikan semuanya. Dengan demikian maka kita tidak akan berbuat
dua kali” Rudira yang kemudian melihat Dipanala berhenti sejenak.
Meskipun Dipanala tampaknya tidak menghiraukannya, namun Rudirapun
kemudian membawa Mandra pergi. “Persetan“ Dipanala merasa bahwa dir
inya dicur igai oleh Kudira ”Aku t idak peduli. Aku tidak
peduli”Ingin rasanya Dipanala itu menjerit. Seandainya ia seorang
anak-anak yang masih pantas berteriak keras-keras, maka iapun akan
berteriak keras-keras pula. Meskipun Dipanala tidak mendengar
pembicaraan antara Rudira dan Mandra, namun ia sudah dapat menangkap
maksudnya, karena iapun mendengar pembicaraan sebelumnya. “Aku tidak
mau tahu“ Ki Dipanala menggeram. Rudira yang kemudian berbicara
sambil berbisik-bisik dengan Mandrapun telah menetapkan rencana
mereka. Mereka benar-benar akan pergi ke istana Pangeran Surawijaya
untuk melihat sendiri, apa yang telah terjadi di dalam bujana makan
dan minum yang diselenggarakan oleh beberapa orang perwira Kumpeni.
Dipanala yang kemudian meninggalkan longkangan, karena ia tidak mau
mengetahui rahasia itu lebih banyak, duduk di serambi gandok seorang
dir i. Ia melihat beberapa orang penjaga regol yang sedang berganti
tugas. Dalam kesibukan para pengawal disenja hari itu, Dipanala
justru merasa hatinya terlalu sepi. Ia merasa bahwa tidak ada
sesuatu yang dapat dikerjakan. Apapun yang dilakukan rasa- rasanya
tidak akan bermanfaat sama sekali. Bahkan berbuat baikpun agaknya
tidak akan menguntungkannya. Seandainya ia mencoba mencegah Rudira,
karena yang akan dilakukannya itu benar-benar berbahaya, tentu anak
muda itu akan salah paham. Dan ia akan dianggap sebagai seseorang
yang lelah mengetahui rahasianya pula. “Lebih baik aku pulang”
berkata Dipanala kepada diri sendiri “Lebih baik bermain-main dengan
anak-anak. Jika orang-orang di istana ini memer lukan aku, mereka
akan memanggil. Apalagi Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu tidak ada
di rumah. Tentu tidak akan ada orang yang memer lukan aku”Tetapi
ketika ia sedang berdiri, ia terkejut mendengar derap dua ekor kuda
dari halaman belakang. Hampar di luar sadarnya ia melekatkan
tubuhnya pada dinding gandok dan bergeser di belakang tiang sehingga
terlindung dari cahaya obor yang sudah dinyalakan, karena bayangan
tiang itu. Dengan hati yang berdebar-debar ia melihat Raden Rudira
dan Mandra yang berada di atas punggung kuda keluar dari halaman
istana Ranakusuman. Sejenak Dipanala seakan-akan membeku Di
tempatnya. Keragu-raguan yang dalam telah menghentak-hentak di
dadanya. Namun sekali lagi ia menggeram “Aku t idak peduli apa yang
akan terjadi. Aku tidak berkepentingan sama sekali” Ketika suara
derap kaki-kaki kuda itu lenyap, maka Dipanalapun kemudian
meninggalkan tempatnya. Di halaman samping ia berpapasan dengan
seorang pelayan yang baru keluar dari dalam istana. Katanya “Istana
rasa-rasanya menjadi sangat sepi” “Tentu” sahut Ki Dipanala
“semuanya telah pergi. Pangeran Ranakusuma, Raden Ayu dan Raden
Rudira” jawab Ki Dipanala. “Berulang kali hal serupa itu terjadi.
Tetapi rasa-rasanya tidak seperti malam ini” “Kenapa?“ bertanya Ki
Dipanala kemudian. “Lampu di ruang tengah itu seakan-akan tidak mau
menyala dengan terang. Meskipun sumbunya telah aku panjangkan, namun
nyalanya itu bagaikan pelita yang kehabisan minyak saja” “Tentu
minyaknyalah yang kurang bersih” “Minyaknya adalah minyak yang
setiap kali aku pergunakan”“Tentu pada suatu ketika minyak itu
habis, dan minyak yang baru itu tidak sebaik minyak yang lama”
“Tidak. Aku sudah mempergunakan minyak ini selama tiga
malamberturut-turut” Ki Dipanala tidak menjawab lagi. Tetapi ketika
ia menengok ruang dalam lewat pintu butulan, rasa-rasanya ruangan
itu memang sepi dan bersuasana lain. “Marilah kita lihat” berkata Ki
Dipanala kepada pelayan itu. Keduanyapun kemudian memasuki ruang
dalam istana Ranakusuman. Mereka memang merasakan suasana yamg lain.
Lampu minyak yang biasanya terang benderang, rasa- rasanya memang
menjadi suram. Bukan saja lampu di ruang tengah. Bahkan ketika
keduanya memasuki bilik Raden Ayu Ranakusuma, terasa seakan-akan
tengkuk mereka telah dihembus perlahan- lahan sehingga seluruh bulu
kulit mereka berdiri. Dipanala bukan seorang penakut. Yang terjadi
baginya seakan-akan sekedar suatu kebetulan saja. Namun demikian ia
tidak dapat ingkar, bahwa hatinya telah diusik oleh kegelisahan,
seakan-akan yang terjadi itu adalah suatu isyarat. Tetapi karena
kebodohannya, maka ia tidak dapat mengurai apakah yang sebenarnya
akan terjadi. Sekali lagi pelayan itu mencoba menar ik sumbu lampu-
lampu minyak di ruang dalam, namun cahayanya bagaikan tetap redup.
Tiba-tiba saja Dipanala tersenyum sambil berkata “Ada yang kau
lupakan” “Apa Ki Dipanala?“ “Lihatlah, lampu di pendapa masih
menyala terlampau terang Agaknya masih belum kau susut sama sekali”
“Masih terlampau sore”“Maksudku, justru karena lampu di pendapa itu
terlampau terang, maka lampu di dalam ruangan ini tampaknya sangat
redup. Cobalah, susut sedikit lampu di pendapa itu” “Apakah begitu?“
“Cobalah. Nanti dibesarkan lagi” Pelayan itupun kemudian pergi ke
pendapa. Disusutnya lampu yang menyala terang sekali, sehingga
cahayanya menjadi redup. Dengan demikian, ketika ia masuk ke ruang
dalam, maka lampu- lampu di ruang dalam itu rasa-rasanya menjadi
bertambah terang. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata
“Kau benar Ki Dipanala” “Nah, sekarang, tariklah sumbu lampu di
pendapa itu, supaya istana ini t idak kelihatan redup” Pelayan itu
kembali lagi ke pendapa, dan dibesarkannya nyala lampu yang
tergantung di tengah-tengah pendapa yang besar dan dihiasi dengan
Barang-barang yang cukup baik dan mahal, yang sebagian diterimanya
sebagai hadiah dari perwira-perwira kumpeni. Tetapi belum lagi
pelayan itu masuk, seorang peronda mendekatinya sampai di tangga
pendapa sambil bertanya “He. kenapa kau bermain-main dengan lampu
minyak itu?“ Pelayan itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Peronda
itupun tidak bertanya lagi. Dengan dahi yang berkerut-merut ia
melangkah kembali ke gardu di regol depan. Namun dalam pada itu,
meskipun pelayan itu agaknya mencoba mengerti keterangan Ki
Dipanala, bahwa ruangan- ruangan di dalam istana itu tampaknya redup
karena justru lampu di pendapa terlampau terang, namun bagi Dipanala
sendiri ada sesuatu yang masih tetap mengganggu, justru karena ia
tahu, kemana Raden Rudira pergi.Karena itulah, maka hatinya masih
tetap tidak tenang. Apalagi ketika terasa sesuatu yang aneh
menyentuh perasaannya ketika ia berada di dalam bilik Raden Ayu
Ranakusuma dan Raden Rudira yang terasa sangat sepi, sesepi kuburan.
Yang tampak hanyalah alat-alat rumah tangga yang berdiri tegak dan
kaku. Geledeg kayu berukir, pembaringan yang bersih dialasi dengan
kain yang mengkilap, serta sebuah kaca yang besar, yang diterima
juga sebagai hadiah dari orang-orang asing itu, dengan berbagai
macam benda yang lain yang sangat mengagumkan. Namun semuanya itu
bagaikan per lambang dari hati Raden Ayu Ranakusuma yang mati
seperti benda-benda itu. Tidak berperasaan. Tetapi Ki Dipanala tidak
mengatakan sesuatu kepada pelayan jang masih berdiri di sisinya.
Bahkan perlahan-lahan pelayan itu berkata kepadanya “Bilik ini pada
suatu saat tentu akan penuh sesak dengan hadiah-hadiah yang setiap
saat diterimanya” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya “Marilah. Bukankah kau hanya mempersoalkan nyala lampu yang
redup itu?“ Pelayan itu menganggukkan kepalanya. “Dan bukankah kau
sudah mengetahui sebabnya?“ Sekali lagi pelayan itu mengangguk.
“Jika demikian, aku akan keluar dan pulang, menengok anak-anak di
rumah” “Silahkan Ki Dipanala” berkata pelayan itu. Ki Dipanalapun
kemudian meninggalkan pelayan itu di tangga pintu butulan. Dengan
langkah yang lamban, Dipanala berjalan menuju kebutulan dinding
halaman di belakang, yang langsung menuju ke halaman rumahnya yang
terletak di balik dinding halaman itu.Namun hatinya masih saja
dipengaruhi oleh kepergian Raden Rudira. Setiap kali ia mencoba
mengusir perasaannya itu, namun setiap kali pula ia menjadi
berdebar-debar. Ketika Dipanala sudah berada di luar halaman, dan
sudah menutup pintu itu kembali, hatinya menjadi semakin ragu- ragu.
Karena itulah maka iapun mengurungkan niatnya untuk memasuki
rumahnya yang sudah tertutup. Bahkan iapun pergi ke kandang kuda dan
dengan hati-hati membenahi pakaian kudanya dan menuntunnya keluar
perlahan-lahan, agar tidak mengejutkan isi rumahnya. Sejenak
kemudian Ki Dipanalapun sudah berpacu di jalan yang sudah menjadi
sepi karena malam yang semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin
gelap, meskipun di langit bintang-bintang bercahaya dengan cerah.
Kegelisahan di hati Ki Dipanala ternyata telah mendorongnya untuk
berpacu lebih cepat. Iapun tahu benar, bahwa malam itu Raden Ayu
Galihwarit sedang mengadakan bujana makan dan minum tanpa batas di
rumah Pangeran Surawijaya. Tetapi ia tidak mau terlibat terlampau
jauh. Sebenarnya ia hanya ingin mengetahui, apakah yang akan terjadi
di rumah Pangeran itu, jika Raden Rudira mengetahui apa yang
dilakukan oleh ibundanya. Karena itu, ia tidak langsung mendekati
istana itu. Diikatnya kudanya agak jauh dari istana Pangeran
Surawijaya. Kemudian untuk beberapa lamanya ia menunggu di dalam
kegelapan sebelum ia pergi mendekati halaman yang luas dan
berdinding tinggi. Tetapi pepohonan di luar dinding memberi
kesempatan kepadanya untuk melihat apa yang ada di dalam, karena
dahan-dahannya yang menjulang melampaui tinggi dinding halaman
itu.Sejenak Ki Dipanala menunggu. Ia menduga, bahwa Raden Rudirapun
pasti sedang menunggu. Tetapi ia tidak tahu, dimana anak muda itu
bersembunyi bersama Mandra. Karena itu maka Ki Dipanala harus
berhati-hati. Ia harus menghindarkan diri dari anak muda itu, agar
ia tidak menambah kesulitan bagi dir inya sendiri karena ia
mengetahui pula rahasianya disamping rahasia ayah dan ibundanya.
Betapa dada Ki Dipanala menghentak-hentak ketika ia mendengar gelak
tertawa di pendapa istana yang dihiasi dengan lampu yang terang
benderang. Gelak tertawa orang- orang asing yang diseling dengan
suara tertawa dalam nada tinggi. Suara isteri para bangsawan yang
keriangan pula di dalam bujana itu. Apalagi mereka masih mengharap
bermacam-macam hadiah dari orang-orang asing itu. Hadiah yang tidak
pernah mereka miliki sebelumnya, karena hadiah itu adalah
benda-benda yang mereka bawa dari negeri mereka. Ki Dipanala yang
menunggu di luar dinding menjadi pening. Suara tertawa itu dapat
membuatnya menjadi gila. Karena itu, maka akan lebih baik baginya
untuk melihat apa yang terjadi dari pada sekedar mendengar suaranya.
Sebab dengan demikian ia dapat membayangkan apa saja menurut angan-
angannya terjadi di balik dinding itu. Tetapi jika ia melihatnya,
maka ia akan segera dibatasi oleh penglihatannya, meskipun yang
dilihatnya itu mungkin juga sangat memuakkannya. Seperti anak-anak
ingin melihat adu ayam di arena yang penuh, maka Ki Dipanalapun
kemudian memanjat sebatang pohon di luar dinding. Dengan hati yang
berdebar-debar ia menjengukkan kepalanya dari balik dedaunan yang
rimbun. Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ternyata memang yang
dibayangkan jauh lebih menggetarkan dadanya dari yang terjadi.
Ternyata mereka hanya sekedar duduk berkeliling pendapa sambil
berbicara, meskipun betapa riuhnya. Justru orang-orang asing yang
belum menguasai bahasa Jawa, danmencoba mempergunakannya itulah yang
dapat menimbulkan gelak yang sangat riuh. Dipanala meraba keningnya.
Tetapi ia tetap duduk di atas dahan. Bahkan kemudian ia
mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata “Mudah-mudahan tetap
seperti itu saja, seperti yang sering dilakukan di rumah Pangeran
Ranakusuma. Sekedar makan dan minum” Dan ternyata bahwa Ki Dipanala
tidak melihat sesuatu yang dapat menggetarkan hatinya, dan sudah
barang tentu hati Raden Rudira. Ia melihat juga Raden Ayu Galihwarit
duduk di antara beberapa orang puteri bangsawan. Dan Raden Ayu
Galihwar it yang berpakaian cemerlang itupun tidak berbuat apa-apa
selain tertawa dan kadang-kadang sampai terguncang-guncang. Sejenak
kemudian orang-orang di pendapa itupun dijamu makan yang bagi
Dipanala, melampaui setiap batas keinginannya. Bermacam-macam jenis
lauk pauk telah terhidang. Bahkan di antaranya adalah jenis lauk
pauk yang belum pernah dilihatnya, yang mungkin disesuaikan dengan
cara makan orang-orang asing itu. Tetapi acara makan itupun tidak
menar ik perhatiannya. Bahkan Dipanalapun mulai jemu duduk di atas
dahan itu. Tetapi ia masih juga ingin tahu kesudahan dari pertemuan
yang demikian. “Apakah seperti yang sering terjadi di istana
Pangeran Ranakusuma, atau masih ada acara-cara lain yang dapat
membakar hati Raden Rudira?“ bertanya Ki Dipanala di dalam hatinya.
Namun sejenak kemudian, ternyata pertemuan itu berakhir. Beberapa
orang bangsawan dan orang asing itu minta diri dan meninggalkan
istana Surawijayan. Ki Dipanala menarik nafas lega. Jika Raden Ayu
Galihwar itpun kemudian pulang ke istana Ranakusuman, makatidak akan
timbul persoalan yang dapat mendebarkan jantungnya. Raden Rudira
yang tentu juga telah mengintip, pasti akan segera pulang tanpa
terjadi sesuatu. Tetapi tiba-tiba alis Ki Dipanala berkerut.
Dilihatnya pendapa itu semakin lama menjadi semakin sepi. Namun
Raden Ayu Galihwarit masih belum minta diri untuk meninggalkan
pendapa itu. Dada Ki Dipanala mulai berdebar-debar. Karena itu, maka
ia justru memperhatikan pendapa itu lebih tajam lagi. Hatinya yang
semula mulai tenang, kini telah bergejolak kembali. Dan rasa-rasanya
kegelisahannya tidak lagi dapat ditahankannya di dalam dadanya,
ketika bangsawan yang terakhir meninggalkan pendapa itu. “Apakah
yang akan terjadi?“ Ki Dipanala menjadi semakin berdebar-debar.
Namun sekali lagi ia harus menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa
Raden Ayu Galihwaritpun kemudian minta diri pula. Seperti biasanya,
maka sebuah kereta sudah siap untuk mengantarkannya. “Hem“ Ki
Dipanala berdesah “Aku terlampau berprasangka. Ternyata Raden Ayu
Galihwaritpun segera pula sebelum malam menjadi semakin jauh” Karena
itu maka Dipanalapun segera turun dar i dahan di luar dinding
halaman. Namun ada sesuatu yang tidak mapan di dalam hatinya. Ia
tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk
mengikuti kereta Raden Ayu Galihwar it itu. Bagaimanapun juga ia
mencoba mencegah keinginannya itu, namun Ki Dipanala tidak berhasil.
Dengan demikian maka iapun dengan tergesa-gesa pergi ke kudanya.
Hatinya sendiri telah memaksanya untuk kemudian dari jarak yang agak
jauh mengikuti sebuah kereta yang meninggalkan regol istana Pangeran
Surawijaya.“Agaknya hatiku memang ditumbuhi rambut jagung” berkata
Ki Dipanala di dalam hatinya “Akulah yang berpikir jelek” Tetapi
Dipanala masih tetap mengikuti kereta itu di dalam keremangan malam
di jalan raya kota Surakarta. Namun ia harus berhati-hati. Jika
Raden Ayu Galihwarit mengetahui bahwa ia mengikutinya, maka nafsunya
untuk membunuh pasti akan menjadi semakin besar. Sejenak Ki Dipanala
hanya melihat kesepian. Kota yang ramai di siang hari itu bagaikan
sudah tidur nyenyak. Sinar lampu minyak masih tampak berpencaran di
beberapa buah rumah di pinggir jalan. Tetapi rumah-rumah yang lain
tampaknya sudah menjadi gelap seperti tidak berpenghuni. Namun
terasa dada Ki Dipanala berdesir ketika matanya yang tajam menangkap
bayangan sesuatu di pinggir jalan di hadapannya, bahkan di hadapan
kereta Raden Ayu Galihwarit. Bayangan itu adalah bayangan sebuah
kereta pula, seperti kereta yang dipergunakan oleh Raden Ayu
Galihwarit. Ki Dipanala benar-benar menjadi berdebar-debar. Iapun
segera meloncat turun dan mengikat kudanya Di tempat yang agak jauh
dan terlindung. Namun ia tidak segera tahu, apa yang harus
dilakukan. Ki Dipanala hanya dapat mengawasi kereta Raden Ayu
Galihwar it yang juga berhenti. Dengan hati-hati Dipanala merayap
mendekat di luar sadarnya. Seakan-akan ia dengan bernafsu sekali
ingin mengetahui apa yang telah terjadi. Terasa dada Ki Dipanala
terguncang. Ia melihat seorang perwira berkulit putih turun dari
kereta yang semula berhenti, kemudian meloncat naik kekereta yang
lain, yang ditumpangi oleh Raden Ayu Galihwarit. “Gila, Gila“ terasa
dada Dipanala bergejolak. Wajahnya menjadi panas dan tangannya
bagaikan ingin meremas kepalaorang asing itu. Juga di luar sadarnya,
Ki Dipanala meraba hulu kerisnya. Tetapi tiba-tiba ia menarik nafas
dalam-dalam. Dalam sekali. Bahkan kemudian dengan geram ia berkata
di dalam hatinya “O, apakah aku akan melibatkan diri dalam kesulitan
yang lebih dalam? Ketika aku tanpa sengaja menjumpai peristiwa yang
hampir sama, maka maut sudah mulai meraba tengkukku. Apalagi j ika
aku sekarang mengulanginya. Maka aku rasa umurku tidak akan bertahan
sampai sepekan” Ki Dipanala menahan gejolak di dadanya dengan
telapak tangannya. “Aku tidak peduli. Aku tidak peduli. Ternyata
yang telah terjadi itu tidak membuat Raden Ayu Galihwarit menjadi
jera. Kemaksiatan itu masih juga diulanginya, tanpa menghiraukan
kemungkinan yang dapat terjadi “ Namun dada Ki Dipanala tiba-tiba
berguncang ketika ia teringat kepada Raden Rudira. Jika anak itu
mengetahui apa yang terjadi, tentu ia tidak akan dapat menahan
hatinya lagi. Apalagi jika Raden Rudira sempat mengikuti kemana
kereta ini akan pergi dan apa yang akan dilakukan oleh Raden Ayu
Galihwar it selanjutnya. “Aku tidak peduli. Aku tidak peduli“ Ki
Dipanala menggeram di dalam dadanya. Karena itu, maka iapun kemudian
melangkah surut, la tidak akan ikut mencampuri persoalan itu, agar
ia tidak semakin tersudut di dalam kesulitan. Ia masih mempunyai
keluarga yang harus mendapat per lindungannya. “Jika aku mati karena
aku mempertahankan harga diri tanah ini, apaboleh buat. Tetapi
alangkah nistanya mati tanpa arti dibunuh oleh Mandra dan
kawan-kawannya” Ki Dipanala mengeluh di dalamhati.Tetapi niatnya
diurungkannya ketika ia mendengar desir di tikungan. Ketika dari
celah-celah dedaunan ia melihat di dalam keremangan malam dua ekor
kuda yang perlahan- lahan maju di sebelah lorong kecil menuju ke
jalan raya, hatinya bagaikan melonjak. Kedua orang penunggang kuda
itu adalah Raden Rudira dan Mandra. Sejenak Ki Dipanala tidak dapat
berpikir apakah yang sebaiknya dilakukan. Namun dalam pada itu,
kereta yang semula ditumpangi oleh orang asing itu sudah mulai
bergerak meninggalkan tempatnya. Sebelum Ki Dipanala berbuat
sesuatu, maka ia mendengar Mandra berdesis “Sekarang Raden” Keduanya
melecut kudanya, sehingga kuda itupun segera meloncat berlari menuju
kekereta yang masih brhenti di pinggir jalan Sebuah desir yang tajam
bagaikan membelah jantung Ki Dipanala. Ia tidak dapat membayangkan
apa yang akan terjadi kemudian. Karena itu. di luar sadarnya iapun
bergeser menepi, sehingga meskipun dari kejauhan, ia dapat
menyaksikan apa yang terjadi dalam keremangan malam. “O” Ia berdesah
“kudaku tertambat agak jauh” Dipanala berdiri saja mematung. Dengan
demikian ia memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika ia berlari
ke kudanya, maka yang akan terjadi pasti sudah terjadi. Ki Dipanala
terkejut ketika sejenak kemudian ia mendengar seseorang berteriak
“Kubunuh kau bule“ Tetapi suara itu bukan suara Raden Rudira. Suara
itu adalah suara Mandra. Pada saat itu, kereta yang ditumpangi oleh
Raden Ayu Galihwar it dan perwira kumpeni itu sudah siap untuk
berangkat. Tetapi suara Mandra itu bagaikan member i aba- aba kepada
perwira kumpeni itu untuk bertindak. Dengantangkasnya ia menyambar
sesuatu sebelum tangannya mendorong pintu keretanya. Ketika pintu
itu terbuka, iapun segera meloncat turun. Sesaat kemudian terdengar
sebuah ledakan memekakkan telinga. Ledakan yang serasa meretakkan
dada Ki Dipanala. Ia tahu benar, suara apakah yang telah merobek
sepinya malam itu. Dan hampir berbareng dengan itu, seorang dari
kedua penunggang kuda yang ingin menyerang perwira kumpeni itupun
terlempar dari kudanya dan jatuh di jalan berbatu-batu. Sementara
itu, selagi orang yang terjatuh itu menggeliat, maka kuda yang
lainpun berlar i kencang sekali dan hilang membelok ke dalam sebuah
lorong sempit Ki Dipanala mengetahui, bahwa untuk meledakkan senjata
itu untuk kedua kalinya diperlukan waktu. Karena itu hampir saja ia
meloncat menyerang. Tetapi sekali lagi hatinya telah diterkam oleh
keragu- raguan. Ia mengetahui bahwa yang terlempar itu justru adalah
Raden Rudira yang berpacu di depan. Selagi Ki Dipanala ragu-ragu,
maka terdengar kereta yang ditumpangi oleh perwira kumpeni dan Raden
Ayu Galihwarit itu mulai berderak, dan roda-rodanyapun mulai
berputar pula. Dalam pada itu, di dalam kereta yang sudah mulai
bergerak itu, Raden Ayu Galihwarit menggigil ketakutan mendengar
bunyi ledakan senjata perwira kumpeni itu. Namun sambiltersenyum
perwira asing itu berkata dalam bahasa yang patah-patah “Tidak ada
apa-apa” “Siapakah yang tuan tembak itu?“ Perwira itu tertawa
“Seorang perampok. Mereka ingin merampok aku. Memang ada orang-orang
Surakarta yang tidak senang melihat kehadiran kami, betapapun baik
maksud dan tujuan kami” Raden Ayu Galihwarit menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia masih bertanya “Apakah mereka tidak akan
menyerang kita lagi nant i?“ “Tentu tidak berani. Yang masih hidup
itu tentu akan lari, karena ia tidak akan dapat melawan senjataku.
Mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak mau ditolong hidupnya
untuk mengetahui kemajuan dunia. Pandangan mereka terlampau sempit
dan sombong. Jika sekali-sekali mereka melihat negeriku dan
negeri-negeri tetangga, barulah mereka sadar, bahwa mereka sudah
ketinggalan untuk lebih dari satu abad lamanya. Raden Ayu Galihwarit
tidak begitu mengerti maksud perwira asing itu. Namun iapun menjadi
agak tenteram, karena perwira itu memang memiliki senjata sedahsyat
petir. Dengan demikian Raden Ayu Galihwar it mencoba untuk melupakan
apa yang baru saja terjadi. Ia harus berbuat sebaik-baiknya terhadap
perwira kumpeni itu dan ia akan segera kembali ke istana Ranakusuman
sebelum Pangeran Ranakusuma datang dari istana Susuhunan. Selagi
kereta itu berderik di sepanjang jalan, maka Ki Dipanala berdir i
membeku Di tempatnya. Namun ia tidak sampai hati untuk tidak berbuat
sesuatu, karena dari kejauhan ia yakin bahwa sebenarnya Raden Rudira
masih belum benar- benar terbunuh.Setelah melalui pergolakan
perasaan yang riuh, akhirnya Ki Dipanala melangkah setapak demi
setapak mendekati. Tetapi iapun segera meloncat ke samping dan
hilang di balik dedaunan ketika ia mendengar seekor kuda berderap
mendekat. Dan Ki Dipanala yakin, bahwa orang berkuda itu pasti
Mandra. “Ia akan dapat segera menolongnya. Agaknya masih ada harapan
bagi Raden Rudira” berkata Ki Dipanala di dalam hati. Sejenak
kemudian maka seekor kuda berhenti beberapa langkah di samping tubuh
Raden Rudira yang tergolek di tanah. Namun setiap kali anak muda itu
masih mencoba untuk bangkit, meskipun ternyata ia sudah tidak mampu
lagi. Ketika ia melihat Mandra berdiri tegak di sampingnya, maka
terdengar suaranya lemah “Mandra. Mandra. Tolong bawa aku pulang.
Aku ingin berbicara dengan ayahanda” Tetapi Mandra masih tetap
berdir i Di tempatnya. “Mandra. Mandra“ nafas Raden Rudira menjadi
semakin terengah-engah. Namun yang terdengar adalah suara tertawa
yang berkepanjangan. Ternyata suara tertawa itu telah mengejutkan
Raden Rudira, sehingga iapun tersentak sejenak. Kepalanya terangkat
dan untuk beberapa lamanya ia bersandar pada siku tangannya. Tetapi
tidak terlalu lama, karena kemudian kepalanya itu dengan lemahnya
perlahan- lahan terkulai lagi di tanah. Namun terdengar suaranya
lemah “Kenapa kau tertawa? Aku terluka. Meskipun peluru bangsat itu
hanya mengenai pundakku, tetapi aku terbanting dari kuda. Punggungku
terasa seakan-akan patah dan darah masih saja mengalir” Suara
tertawa Mandra menjadi semakin keras. Namun sejenak kemudian suara
itu mereda “Raden. Aku hanya ingin menimbulkan kesan kepada
orang-orang yang tinggal tidakbegitu jauh dari tempat ini. Mereka
tentu mendengar ledakan senjata orang asing itu. Mereka tentu
menyangka terjadi sesuatu. Tetapi jika mereka mendengar suara
tertawa, maka mereka tentu akan berpikir lain” “O“ suara Raden
Rudira menjadi semakin lemah “sekarang tolonglah aku, bawa aku
pulang. Aku akan berbicara dengan ayahanda. Ayahanda harus tahu apa
yang telah terjadi” Tetapi aneh sekali. Ki Dipanala yang mendengar
pembicaraan itu dari balik gerumbul di pinggir jalanpun menjadi
bingung ketika ia mendengar Mandra tertawa pula. “Mandra“ desak
Raden Rudira “Jangan tunggu aku mati di sini” Dan yang benar-benar
mengejutkan adalah jawaban Mandra “Apakah salahnya?“ “Mandra” sekali
lagi Raden Rudira tersentak kali lagi ia tergolek dengan lemahnya.
“Yang terjadi adalah di luar kekuasaanku Raden” “Tetapi, kau dapat
berusaha” “Terlambat” “Kenapa terlambat?“ Mandra tidak menjawab.
Tetapi suara tertawanya masih terdengar. “Mandra, Mandra. Apakah kau
sudah gila” desis Rudira. “Tidak, tidak Raden. Aku masih tetap
sadar. Dan akupun menyadari kegagalan ini” “Kenapa bisa gagal
Mandra? Kau mengatakan bahwa semuanya sudah kau atur sebaik-baiknya.
Kau sudah berbicara dengan sais kereta itu. Dan kau katakan bahwa
orang asing itu tidak akan membawa senjata di dalam keretanya,
apalagi kereta yang satu itu”Ketika kemudian Mandra tertawa, Raden
Rudira menjadi curiga. Juga Ki Dipanala menjadi cur iga. “Raden”
berkata Mandra “nasib Raden memang terlampau jelek. Seharusnya orang
itu tidak bersenjata dan seharusnya sais itu menahan keretanya”
“Tetapi kenapa tidak” Suara tertawa Mandra semakin menyakitkan hati.
Bahkan kemudian ia berkata “Sudahlah Raden. Ikhlaskan saja kematian
Raden. Raden memang bernasib jelek hari ini” “Mandra, kau
benar-benar gila” “Aku tidak gila” “Katakan, kenapa kau berbuat
seperti orang gila j ika kau masih tetap sadar?“ “Baiklah Raden. Di
saat terakhir sebelum Raden benar- benar mati aku akan
mengatakannya” Mandra berhenti sejenak oleh suara tertawanya “Aku
tidak dapat mencegah bahwa hal ini harus terjadi. Jika sais kereta
itu berbuat sesuatu yang dapat menyelamatkan jiwa penumpangnya, maka
hadiahnya terlampau banyak. Terlampau banyak untuk ditolak. Itulah
yang menarik perhatianku Raden. Dan aku akan mendapat separo dari
hadiah itu” “O“ Rudira benar-benar terkejut mendengarnya. Bahkan
jantung Dipanalapun bagaikan melonjak mendengarnya. Hampir saja ia
berteriak. Tetapi iapun masih berhasil menahan diri. Bahkan ia tidak
dapat menolak ketika sebuah ingatan menyambar hatinya. “Keduanya
telah berusaha membunuh aku. Aku tidak berkepentingan apapun atas
keduanya. Jika aku melihat yang terjadi biarlah itu sebagai suatu
pengalaman saja bagiku” Dalampada itu ia mendengar Raden Rudira
berkata dengan suara bergetar “Pengkhianat. Pengkhianat”Tetapi
Mandra tertawa saja. “Mandra, apakah aku tidak pernah memberimu
sesuatu? Apakah aku tidak pernah memberimu hadiah dan upah yang
cukup?“ “Memang cukup Raden. Menurut ukuran orang berkulit coklat
seperti kita. Tetapi ternyata orang-orang berkulit putih itu
memberikan upah terlalu banyak. Apalagi sais yang mencium rencana
pembunuhan itu. Ia dapat mengarang ceritera, alasan apakah yang
dipergunakan oleh pembunuh yang mengintai. Iri, dengki, pemberontak,
dan apa saja. Sebelum hal ini terjadi, sais itu sudah mendapat
kepercayaan. Apalagi setelah ia berhasil menyelamatkan tuannya dan
Raden Ayu Galihwarit” “Diam, diam” Raden Rudira masih ingin
berteriak. Tetapi suaranya sudah sangat lemah. “Anak yang malang. Di
saat terakhir kau telah mengalami bencana ganda. Kau telah
dikhianati oleh kepercayaanmu, dan kau harus melihat kenyataan bahwa
ibumu bukan orang yang sebersih kapas” “O“ Mandra masih tertawa.
Katanya “Aku selalu ingat kepada nasib Sura. Seorang penjilat besar.
Mungkin lebih besar dari aku. Jika pada suatu saat tidak diperlukan
lagi, maka ia akan dilempar jauh-jauh, bahkan mungkin dibunuh
seperti Dipanala. Tetapi agaknya nyawa Dipanala masih cukup liat”
Mandra berhenti sejenak, lalu “ingatan itu selalu menghantui aku.
Dan terbayanglah nasibku sendiri jika aku tetap menjadi budak Raden
yang setiap hari harus menjilat. Akhirnya aku jemu. Ketika sais
sahabatku itu menawarkan pekerjaan yang lebih baik, dan sekaligus
upah yang menggelarkan jantung, maka aku mengambil keputusan untuk
berkhianat sekarang, sekaligus menghilangkan jejak. Memang licik
sekali”Raden Rudira menggeram. Terdengar suaranya bergetar oleh
perasaan sakit dan terlebih-lebih sakit lagi adalah hatinya “Kau
tidak ubahnya seperti anj ing” Mandra justru tertawa. Katanya “Raden
benar. Aku memang tidak ubahnya seperti anjing. Jika ada orang lain
yang melemparkan tulang lebih besar, aku akan lari kepadanya. Bahkan
sekaligus aku akan menggigit tuanku yang terdahulu. Jangan menyesal
bahwa tuan sudah memelihara anjing. Dan anjing seperti aku dan Sura
pasti masih akan berkeliaran” “Gila, gila. Kubunuh kau” Mandra
tertawa semakin keras. Katanya kemudian “Sudahlah. Nikmatilah
kepedihan hati yang terakhir. Pengkhianatan dan pelanggaran pagar
ayu. Sejenak lagi aku harus kembali ke Ranakusuman. Berpura-pura
mencari kau Raden, dan kemudian menangis sehari-harian karena kau
tidak dapat diketemukan. Sesudah itu, agar aku tidak terlalu
bersedih, aku akan meninggalkan Ranakusumam Di rumah itu aku akan
selalu teringat kepada momonganku, karena aku adalah seorang abdi
yang setia. Begitu?“ “Gila, gila sekali. O“ Raden Rudira menjadi
semakin lemah. “Tetapi Raden, aku masih akan berbuat baik sekali
lagi. Aku akan mempercepat penderitaan Raden, kemudian membuang
Raden Di tempat yang terasing, begitu? Dan apakah Raden tahu tempat
yang terasing itu? Di jalan menuju ke Jati Aking. Aku akan mencobek
luka peluru itu. sehingga tepat seperti luka pedang” Mandra berhenti
sejenak, lalu “setuju?“ “O“ Raden Rudira sudah kehilangan tenaganya.
“Jika mayat Raden diketemukan, maka aku akan menangisinya sekali
lagi, dan dengan menyesal meratap kenapa Raden pergi sendiri, tanpa
aku. Tentu aku akan menyebar desas-desus bahwa telah terjadi
pertengkaran antara Raden dan Raden Juwiring ketika Raden Juwir ing
akanmemasuki kota. Kemudian kalian berkelahi dan saling mengejar di
luar pengetahuanku karena aku sedang pulang ke rumahku beberapa
lama. O, alangkah mudahnya membuat ceritera semacam itu. Mungkin
ceritera lain yang lebih menarik” Rudira sama sekali tidak menjawab
lagi. Tubuhnya sudah menjadi terlalu lemah oleh darah yang mengalir
dan hati yang meronta-ronta. Alangkah pedihnya. “Baiklah Raden. Aku
kira sudah cukup. Apakah Raden masih akan bertanya lagi?“ Rudira
sama sekali tidak menjawab. “Bagus. Sekarang aku akan mempercepat
kematian Raden. Sayang, peluru itu hanya mengenai pundak Raden,
sehingga Raden tidak segera mati. Jika Raden cepat mati, Raden tidak
akan mendengar pengakuanku yang menyakitkan hati dan mendengar
kenyataan tentang ibunda yang cantik dan tetap muda itu” Rudira yang
menjadi putus-asa itu sama sekali tidak menyahut lagi. Dalam saat
yang menggetarkan jantung itu masih sempat diingatnya lamat-lamat,
apa saja yang pernah terjadi dan apa saja yang pernah dilakukan.
Dalam keremangan malam yang sepi di jalur jalan kota itu ia masih
melihat bayangan Mandra yang berdiri tegak di sisi tubuhnya yang
lemah. Sejenak kemudian ia melihat Mandra itu menar ik pedangnya
sambil tertawa. Ki Dipanala masih bersembunyi Di tempatnya. Ia sudah
mengambil keputusan untuk tidak ikut campur di dalam persoalan
antara Mandra dan Raden Rudira. “Aku tidak mau terlibat lagi. Sudah
cukup parah bagiku” katanya di dalam hati. Dari tempatnya ia melihat
Mandra itu menyentuh Raden Rudira dengan kakinya sambil berkata
“Bersiaplah untuk mati.Ini adalah kebaikan hatiku yang terakhir
untuk segera mengakhir i penderitaan Raden. Penderitaan lahir dan
batin. Mungkin di saat menjelang mati orang-orang berdosa seperti
kita memang akan mengalami pender itaan lahir dan batin seperti
Raden ini. Tetapi jangan menyesal setelah semuanya terlambat”
Perlahan-lahan Mandra mengangkat pedangnya siap untuk menusuk dada
Raden Rudira yang terbaring dengan lemahnya. “Jangan mengumpat.
Dosamu akan bertambah” desis Mandra sambil tertawa. Namun ketika
pedang Mandra itu perlahan-lahan mulai bergerak, ternyata sesuatu
yang tidak dimengerti sama sekali oleh Ki Dipanala, telah
mendorongnya tanpa dapat dilawannya. Kata hati nuraninya ternyata
jauh lebih kuat dari nalarnya, sehingga tiba-tiba saja ia telah
meloncat dari gerumbul di pinggir jalan itu. Mandra yang sudah siap
untuk membunuh itu terkejut bukan buatan. Sejenak ia berdiri
mematung, namun kemudian dengan cepat ia menginjak dada Rudira
sambil melekatkan ujung pedangnya di dada itu pula. Katanya “Kau
Dipanala. Apa yang akan kau lakukan?”Dipanala termangu-mangu
sejenak. Pedang itu akan dapat segera menghunjamdi dada Raden
Rudira. Karena itu, ia tidak boleh berbuat dengan tergesa-gesa.
Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba semua ingatan tentang usaha
pembunuhan yang dilakukan oleh Raden Rudira itu tersisih oleh kata
nuraninya yang sebenarnya. Dengan demikian maka iapun kemudian
berusaha dengan sungguh- sungguh untuk menyelamatkan anak muda yang
malang itu. “Dipanala” geram Mandra kemudian “Kenapa kau di sini?“
Dipanala termenung sejenak. Lalu jawabnya “Kebetulan saja Mandra.
Setiap kali dengan kebetulan aku melihat rahasia yang besar tentang
keluarga Ranakusuman, sehingga hampir saja aku terbunuh agar aku
tidak menyebarkan rahasia itu” “Lalu sekarang kau mau apa?“ “Tidak
apa-apa. Aku hanya ingin melihat Raden Rudira mati” Mandra menjadi
ragu-ragu sejenak. Dipandanginya Dipanala dan Rudira berganti-ganti.
Dipanala yang berdiri tegak di dalam keremangan malam, sedang Rudira
yang menjadi semakin lemah, sudah tidak dapat melawannya sama
sekali, sementara kakinya diletakkannya di dada orang yang selama
ini diturutinya setiap patah katanya. “Mandra” berkata Dipanala
kemudian “Aku mengetahui segala rahasia yang tersimpan di
Ranakusuman. Aku juga mengerti bahwa kau dan Raden Rudira berusaha
membunuhku atas persetujuan Raden Ayu Galihwarit karena kebetulan
aku mengetahui apa yang pernah terjadi, seperti yang terjadi saat
ini” “Gila” geram Mandra. Tetapi iapun kemudian tertawa sambil
berkata kepada Raden Rudira “Nah Raden, ketahuilah. Kita memang
telah dipaksa dengan cara yang paling halus untuk membunuh Dipanala
karena Dipanala pernahmengetahui rahasia ibunda Raden Rudira. Satu
lagi bekal menjelang kematianmu” Raden Rudira memang sudah terlalu
lemah. Tetapi yang paling buruk padanya, adalah perasaan
putus-asanya, sehingga seakan-akan ia memang tidak mampu berbuat
apapun lagi. “Nah, sekarang aku melihat satu rahasia lagi” berkata
Dipanala kemudian “bahwa Mandra, penjilat besar yang berhasil
menyingkirkan Sura, telah berkhianat pula. Memang agak berbeda
dengan Sura. Sura dianggap berkhianat setelah ia sempat berpikir.
Tetapi Mandra berkhianat justru karena ia menjadi penj ilat yang
lebih besar lagi, yang sama sekali telah kehilangan akal dan
pikiran” “Tutup mulutmu” teriak Mandra “J ika kau membuka mulutmu
sekali lagi, pedangku akan segera terhunjam di dada anak malang ini”
“Apa peduliku” jawab Dipanala “Kalian telah berusaha membunuh aku.
Sekarang kalian akan saling berbunuhan sendiri Silahkan. Silahkan.
Dendamku akan terbalas tanpa aku minta. Raden Rudira mati di ujung
pedang Mandra, sedang Mandra kelak pasti akan tertangkap karena
pembunuhan ini” “Tidak seorangpun melihat” geram Mandra. “Aku.
Akulah yang melihat. Aku bersedia untuk menjad saksi di dalam
perkara ini” Wajah Mandra menjadi merah padam Dipandanginya Dipanala
yang masih berdir i Di tempatnya dengan wajah yang tegang. “Kau
tidak akan melakukannya Dipanala” “Kenapa tidak? Ini adalah suatu
kesempatan yang paling baik bagiku. Tanpa berbuat sesuatu aku sudah
dapat melepaskan pembalasan yang setimpal. Kedua orang yang akan
membunuh aku akan mati dengan caranya sendiri.Raden Rudira dengan
cara yang pantas, sedang kau akan mengalaminya dengan cara yang
lebih mengerikan. Mungkin kau akan digantung di alun-alun, tetapi
mungkin kau akan menjadi pertunjukan pendahuluan pada upacara
rampogan macan di alun-alun. Kau akan diadu dengan seekor harimau
lapar tanpa senjata sebelum har imau itu dirampok oleh para
prajurit” “Tidak. Tidak“ Mandra hampir berteriak. “Jangan berteriak.
Bukankah ada rumah yang terletak tidak jauh dari tempat ini?“ “Aku
tidak peduli” “Jangan menyesal bahwa kelak kau benar-benar akan
diadu dengan harimau lapar, karena kau membunuh seorang putera
Pangeran. Jika kau terlalu sakti dan memenangkan perkelahian melawan
harimau itu, maka kau pasti akan dihukum picis” Namun tiba-tiba
Mandra itu tertawa. Katanya “Tidak akan ada saksi hidup yang dapat
mengatakan tentang peristiwa ini, kecuali orang asing itu. Ia tentu
akan mengatakan bahwa justru aku sudah menyelamatkannya” “Memang kau
sudah menyiapkan ceritera panjang tentang usaha pembunuhan itu.
Tetapi seperti kau yang dapat mengarang cer itera semacam itu,
bahkan tentang jalan sepi ke Jati Aking agar kesan kematian Raden
Rudira seakan-akan oleh Raden Juwir ing, maka akupun akan dapat
mengarang ceritera yang barangkali lebih baik dari ceriteramu”
“Tidak“ Mandra tertawa semakin keras “karena kaupun akan mati di
sini. Kau berdualah yang akan diketemukan orang di jalan sepi ke
Jati Aking” “Kenapa aku?“ suara Dipanala menjadi gemetar. “Karena
kebodohanmulah kau akan mati saat ini. Kenapa kau tidak melihat
pembunuhan ini sambil bersembunyi sajajika kau memang ingin menjadi
saksi hidup dan melepaskan dendammu kepadaku sama sekali? Tetapi
sekarang sudah terlambat. Kau akan aku bunuh juga seperti Raden
Rudira” “Aku tidak berbuat apa-apa” sahut Dipanala dengan cemasnya
“Aku hanya melihat saja” Mandra tertawa semakin keras. Dan tiba-tiba
saja ia mengangkat kakinya dari dada Raden Rudira. Baginya Rudira
sudah tidak akan berdaya sama sekali. Kapanpun ia akan dapat
membunuhnya dengan mudah. Karena itu, maka perlahan- lahan ia
melangkah mendekati Dipanala yang bergeser surut. “Kau ternyata akan
mati lebih dahulu dari Raden Rudira. Aku ingin membunuhmu sebelum
kau sempat melihat sebagian dendammu terbalas. Kau tidak akan
melihat Raden Rudira mati” Mandra tertawa semakin keras “Jangan
menyesal bahwa kau terjebak oleh kebodohanmu sendiri” “Jangan,
jangan” desis Dipanala sambil terus melangkah surut menjauhi tubuh
Raden Rudira. “Apakah kau akan lari” “Tetapi jangan bunuh aku”
“Persetan. Senang sekali melihat kau ketakutan. Ternyata aku lebih
senang melihat kau ketakutan daripada melihat Raden Rudira yang
pasrah. Gila, anak itu tidak menjadi ketakutan seperti kau. Dan
untunglah kau datang dan member ikan kepuasan kepadaku” Dipanala
masih melangkah surut beberapa langkah. Dan Mandrapun mendekatinya
selangkah demi selangkah seperti seekor kucing yang sedang merunduk
seekor tikus. Tetapi tiba-tiba Dipanala berhenti. Ia tidak melangkah
surut lagi ketika punggungnya sudah melekat pada pagar batu di
pinggir jalan.“Ha, kemana lagi kau akan lar i? Apakah kau akan
meloncat masuk ke halaman kosong sebelah?“ “Tidak“ Dipanala
menggelengkan kepalanya. “Apakah kau sudah pasrah seperti anak itu?
Itu tidak menyenangkan. Lebih baik kau ketakutan dan berteriak minta
ampun. Aku berharap bahwa tidak ada orang yang akan mendengarnya
karena rumah yang terdekat di ujung lorong ini sudah menutup
pintunya dan penghuninya sudah tertidur nyenyak. Seandainya
lamat-lamat mendengar suaramu, mereka tidak akan berani keluar rumah
di saat-saat yang gawat seperti ini. Apalagi mereka baru saja
mendengar suara letusan senjata orang asing itu” “Tidak” berkata
Dipanala “Aku tidak akan berteriak dan tidak akan lari. Aku sedang
mengambil jarak dari Raden Rudira agar kau tidak berbuat licik
atasnya karena ia memang sudah tidak berdaya” Mandra terkejut
mendengar jawaban itu, sedang Dipanala masih berbicara terus “Aku
memang mendendamnya Mandra, tetapi aku sama sekali tidak berhasil
memaksa diriku sendiri untuk sekedar menonton saja sebuah
pengkhianatan yang paling licik dar i yang pernah terjadi.
Penjilat-penjilat semacam kau memang dapat saja berkhianat setiap
saat seperti yang kau katakan sendiri, jika ada orang lain yang
melemparkan tulang lebih baik dari tuannya, bahkan jika perlu
menggigit tuannya yang terdahulu. Itulah yang sangat menyakitkan
hatiku, karena dengan demikian kau sudah merendahkan martabatmu
sebagai manusia” Mandra yang heran melihat perubahan sikap yang
tiba-tiba itu masih belum sepenuhnya menguasai dir i, sehingga ia
masih belum menjawab. Dan Dipanala pulalah yang berkata “Nah,
sekarang kita akan berhadapan sebagai laki- laki. Aku tidak tahu
siapakah yang akan mati di antara kita. Tetapi Setidak-tidaknya kau
harus menyadari bahwa perbuatanmu itusama sekali tidak disukai oleh
siapapun. Bahkan barangkali oleh dir imu sendir i” “Persetan“ Mandra
itu menggeram “Jadi kau akan mencoba melawan” “Ya. Setelah kau tidak
mungkin lagi berbuat licik dengan mengacukan pedang di atas tubuh
anak muda itu, kemudian memaksa aku untuk membunuh dir i” “Kau
benar-benar gila Dipanala. Apakah kau belum mengenal Mandra?“
“Justru karena aku mengenalmu baik-baik. Tetapi agaknya kaulah yang
belum mengenal Dipanala. Aku berhasil menyelamatkan diriku dari
tangan empat orang yang diupah oleh Raden Rudira” “Jangan sombong.
Seseorang telah menolongmu. Tetapi sekarang jangan mengharap
pertolongan orang lain” “Aku tidak akan mengharap pertolongan
siapapun. Akupun tidak mau menumbuhkan persoalan karena ada seorang
saksi bahwa aku telah membunuhmu” “Gila“ wajah Mandra menjadi merah
padam. Pedang yang di tangannya tiba-tiba saja telah teracu lurus
mengarah ke dada Ki Dipanala. Tetapi Ki Dipanalapun sudah siap
menghadapi setiap kemungkinan. Tiba-tiba saja kerisnyapun telah
berada di dalam genggaman. Meskipun senjatanya tidak sepanjang
pedang Mandra, tetapi kerisnya mempunyai kelebihan pula. Setiap
goresan ujung keris itu tentu akan berakibat maut j ika tidak segera
mendapat pengobatan yang baik, karena keris itu dilumuri dengan
warangan. yang tajam. Sejenak kemudian, oleh kemarahan yang
memuncak, maka Mandrapun segera meloncat menyerang dengan pedangnya
yang mematuk lurus kedepan. Namun Ki Dipanala yang berdiri melekat
dinding batu itu sempat mengelak. Dengantangkasnya ia meloncat ke
samping dan segera bersiaga menerima serangan berikutnya. Mandra
yang gagal mengenai lawannya, berhasil mencegah ujung pedangnya
membentur batu. Bahkan sekaligus ia berputar sambil menggerakkan
pedangnya mendatar setinggi lambung menyambar perut Ki Dipanala.
Tetapi sekali lagi Ki Dipanala berhasil menghindarinya dengan
bergeser sambil menarik bagian tubuhnya yang hampir saja tersentuh
pedang lawannya. Bahkan masih sambil membongkokkan badannya, ia
mulai menyerang lawannya. Tepat pada saat pedang Mandra berdesing di
depan perutnya ia meloncat maju. Senjata yang pendek itu hampir saja
berhasil menggores lengan Mandra yang sedang terayun itu, tetapi
ternyata Mandrapun tangkas pula sehingga ia berhasil menghindarkan
dirinya. Demikianlah sekejap kemudian keduanya telah terlibat dalam
perkelahian yang sengit. Ternyata Mandra tidak berhasil untuk segera
membinasakan lawannya. Bahkan semakin lama orang yang sudah
melampaui masa pertengahan umurnya itu justru tampak menjadi semakin
tangkas. Dalam pada itu, Raden Rudira yang terbaring pasrah,
merasakan sesuatu yang asing di dalam dirinya. Ia merasa aneh bahwa
tiba-tiba Dipanala telah berkelahi melawan Mandra karena orang itu
tidak dapat melihat pembunuhan terjadi, meskipun Dipanala sadar
bahwa Rudira memang pernah akan membunuhnya, namun orang itu masih
juga berusaha bahkan mempertaruhkan jiwanya. Namun sejenak kemudian
timbul pula prasangka di dalam dirinya. Raden Rudira yang lemah itu
telah dibayangi oleh dosanya sendiri. “Agaknya Dipanala ingin
membunuh aku dengan tangannya sendiri. Tidak oleh Mandra” katanya di
dalam hati. Dan ternyata pikiran itu benar-benar telah
menghantuinya.Mandra yang sedang bertempur dengan sengitnya menjadi
semakin marah karena ternyata Dipanala benar-benar tangkas. Kini
Mandra harus menyadari, bahwa Dipanala memang mampu bertahan untuk
beberapa lamanya melawan empat orang perampok yang mencegatnya di
bulak Jati Sari. “Tetapi aku harus berhasil membinasakannya” geram
Mandra di dalam hatinya. Raden Rudira yang dicengkam oleh kecemasan
itupun berusaha untuk bangkit. Tetapi badannya benar-benar telah
menjadi lemah sehingga ia hanya dapat beringsut setapak demi
setapak. Harapannya tumbuh sedikit ketika ia melihat kuda Mandra di
pinggir jalan itu. Tetapi untuk mencapai kuda itu, ia memer lukan
waktu yang panjang. “Dipanala tentu ingin membunuh Mandra, kemudian
baru membunuhku. Mungkin ia mempergunakan cara yang lebih menger
ikan lagi karena dendamnya kepadaku, sehingga sepeninggal Mandra ia
akan leluasa melakukannya” berkata Raden Rudira di dalam hatinya
yang dicengkam oleh prasangka dan kecemasan. Tetapi ia t idak dapat
berbuat apa-apa lagi. Meskipun ia masih juga berusaha beringsut
mendekati kuda itu, namun hasilnya sangat diragukannya sendiri.
Apalagi ketika ia melihat justru Mandralah yang semakin lama menjadi
semakin terdesak. “Siapapun yang menang, aku akan mengalami nasib
yang jelek sekali” berkata Rudira pula di dalam hatinya. Sepercik
penyesalan merayapi jantungnya. Namun kini agaknya telah terlambat.
Dalam pada itu, seperti yang dilihat oleh Raden Rudira,
sebenarnyalah Mandra yang juga bertubuh raksasa seperti Sura itu
mulai terdesak. Meskipun Ki Dipanala bertubuh lebih kecil dan
umurnya lebih tua, tetapi ia ternyata masih cukuplincah. Dengan
penuh kesadaran, Ki Dipanala menghindari setiap benturan senjata.
Bukan saja karena senjata Mandra lebih besar dan panjang, namun Ki
Dipanalapun sadar, bahwa kekuatan Mandra tentu jauh lebih besar.
Sehingga dengan demikian Dipanala memusatkan perlawanannya pada
kepercayaan terhadap kecepatannya bergerak. Semakin lama Mandra yang
marah itu justru menjadi semakin terdesak. Ki Dipanala membuatnya
bingung karena ketangkasannya. Setiap kali Mandra yang garang itu
kehilangan lawannya. Namun dengan senjatanya yang lebih panjang,
maka ia masih tetap berhasil melindungi dirinya. Bahkan setiap kali
senjatanya yang panjang itu masih juga berbahaya bagi Ki Dipanala.
Ayunan yang keras dan kuat, kadang-kadang memaksa Ki Dippnala untuk
ber loncatan menjauh, sehingga Mandra masih juga berhasil
mendesaknya. Tetapi sejenak kemudian keris di tangan Ki Dipanala itu
bagaikan berubah menjadi berpuluh-puluh jumlahnya, berdesing di
sekitarnya, seperti sekelompok lebah yang berterbangan menyerang
bersama. Namun semakin lama semakin nyata, bahwa Ki Dipanala yang
tua itu memiliki beberapa kelebihan dar i Mandra. Ki Dipanala yang
menyadari bahwa perkelahian itu akan memakan waktu, maka ia tidak
menghabiskan segenap tenaganya sekaligus. Dengan demikian, maka
ketika Mandra menjadi semakin terengah-engah diganggu oleh
pernafasannya, Ki Dipanala masih tetap bertahan. Dan itulah sebabnya
maka Mandra semakin lama menjadi semakin terdesak. Dan bahkan hampir
kehabisan tenaga. Dalam keadaan yang demikian, Mandra masih sempat
melihat sekilas tubuh Rudira yang bergeser beberapa jengkal dari
tempatnya mendekati kudanya yang ada di tepi jalan. Kuda itu sama
sekali tidak menghiraukan, apakah yang sedang terjadi beberapa
langkah daripadanya.Tiba-tiba saja timbullah niatnya yang licik.
Karena ia tidak melihat kemungkinan lagi untuk mengalahkan Ki
Dipanala, maka Raden Rudira akan dapat dipakainya sebagai perisai
jika ia berhasil menguasainya. Ia menyesal bahwa ia terpancing oleh
sikap Ki Dipanala dan melepaskan Raden Rudira. Kini ternyata bahwa
Ki Dipanala itu tidak dapat dikalahkannya. Sambil bertempur,
perlahan-lahan Mandra bergeser mendekati Raden Rudira yang terbaring
lemah. Dengan menghindari setiap serangan Ki Dipanala, dan bahkan
sekali- sekali dengan gerak yang melingkar ia bergeser selangkah
demi selangkah, sehingga Ki Dipanala tidak menjadi curiga. Ki
Dipanala hanya menganggap bahwa Mandra semakin lama telah semakin
terdesak olehnya, sehingga karena itu, maka Ki Dipanalapun berkata
“Mandra. Masih ada kesempatan bagimu untuk menyerah. Jika kau
melepaskan senjatamu, dan member ikan kedua tanganku untuk diikat,
kau akan tetap hidup. Aku akan menyerahkan kau kepada yang berhak,
Pangeran Ranakusuma” Mandra tidak segera menjawab. Tetapi tawaran
itu telah membakar jantungnya. Ia merasa terhina untuk menyerahkan
tangannya dan diikat. Terlebih-lebih lagi, jika ia dihadapkan kepada
Pangeran Ranakusuma, maka ia tentu akan mendapat hukuman yang sangat
berat. Apalagi jika Raden Rudira itu tidak tertolong lagi jiwanya.
Meskipun demikian dengan licik ia bertanya “Apakah jaminanmu bahwa
sebaiknya aku menyerah?“ “Aku tidak akan membunuhmu “ “Persetan“
Mandra menyerang dengan dahsyatnya. Namun Ki Dipanala berhasil
menghindar dan bahkan membalas serangan itu dengan sengitnya pula.
Dan memang itulah yang ditunggu oleh Mandra. Dengan loncatan,
panjang ia menghindarinya seakan-akan ia benar-benar terdesak tanpa
dapat berbuat apa-apa. Tetapi dengan demikian ia menjadi semakin
dekat dengan Raden Rudira.“Sudah waktunya” katanya di dalam hati
“Aku dapat mencapainya dengan beberapa loncatan, dan mengacukan
pedang ini di dadanya. Sejenak Mandra masih memancing perhatian Ki
Dipanala, namun ketika terbuka kesempatan baginya, maka dengan serta
merta ia meloncat meninggalkan gelanggang perkelahian itu langsung
ke tempat Raden Rudira terbaring. Ki Dipanala terkejut melihat hal
itu. Ia memang tidak menyangka bahwa Mandra akan berbuat begitu
liciknya. Namun bagaimanapun juga itu adalah suatu kelengahan
baginya, karena ialah yang telah memulai memancing Mandra untuk
meninggalkan Raden Rudira. Ternyata kemudian Mandra mempergunakan
cara yang sebaliknya. Dalam waktu yang singkat, Ki Dipanala harus
menemukan cara untuk menyelamatkan Rudira. Jika sekali lagi Mandra
berhasil mencapai anak muda yang malang itu, maka tentu tidak akan
ada kesempatan lagi baginya untuk membebaskannya. Karena itu, di
dalam kesulitan itu, Ki Dipanala tidak dapat berpikir panjang.
Dengan serta- merta ia melemparkan kerisnya meluncur mengejar
Mandra. Sejenak kemudian Ki Dipanala memalingkan wajahnya. Ia
mendengar Mandra mengerang tertahan, ketika kerisnya hinggap di
punggung orang itu. Tetapi Ki Dipanala tidakmelihatnya ketika Mandra
itu jatuh terguling. Yang didengarnya hanyalah sebuah umpatan
pendek. Namun kemudian sepi. Sepi sekali. Ki Dipanala menarik nafas
dalam-dalam. Kini ia melangkah mendekati Mandra yang sudah menjadi
mayat. Dengan dada yang berdebar-debar Ki Dipanala mendekatinya dan
mencabut kerisnya dari punggung orang itu. “Aku telah membunuh lagi”
desis Ki Dipanala perlahan- lahan “tanpa aku kehendaki, aku telah
membunuh beberapa orang tidak di peperangan” Sejenak Ki Dipanala
berdir i mematung. Namun sejenak kemudian sambil menjinj ing
kerisnya yang berlumuran darah ia berjalan perlahan-lahan mendekati
Rudira yang masih saja berusaha beringsut mendekati kuda Mandra yang
terikat di pinggir jalan. Dalam keremangan malam Rudira melihat Ki
Dipanala melangkah setapak demi setapak mendekatinya dengan keris
telanjang di tangannya. Langkah itu terasa bagaikan hentakan yang
dahsyat sekali memukul dadanya. Setiap langkah rasa- rasanya sebuah
tulang iganya menjadi patah. Sejenak kemudian Ki Dipanala itu
berdiri tegak di sisi tubuh Raden Rudira yang terbaring.
Rasa-rasanya Ki Dipanala yang tidak sebesar Mandra itu bagaikan
seorang raksasa yang berdiri tegak dengan kokohnya. Kakinya yang
kuat itu siap menginjak dadanya sehingga tulang belulangnya akan
remuk menjadi debu. Sejenak suasana menjadi tegang. Namun sejenak
kemudian, hampir di luar dugaannya, Raden Rudira melihat Ki Dipanala
itu berjongkok di sampingnya setelah menyarungkan kerisnya. Bahkan
ketika ia mendengar Ki Dipanala itu berkata, suaranya tidak sekeras
guruh yang menyambar telinganya. Kalanya “Luka Raden cukup parah.
Sebaiknya Raden segera kembali ke Ranakusuman”Rudira tidak segera
percaya kepada pendengarannya. Bahkan kepalanya mulai agak pening
dan pandangannya berkunang-kunang. “Apakah aku sudah dipengaruhi
oleh khayalan-khayalan yang menyesatkan” katanya di dalamhati. Namun
ia mendengar sekali lagi Dipanala berkata “Marilah Raden, aku tolong
Raden naik ke punggung kuda Mandra Kuda Raden sendir i agaknya telah
ber lari agak jauh ketika Raden terjatuh” Raden Rudira masih
termangu-mangu. Namun Dipanala tidak menunggu darah Raden Rudira
semakin banyak mengalir. Bahkan kemudian Dipanala itu pulalah yang
menyarankan agar Raden Rudira melepas saja ikat kepalanya untuk
menahan darahnya dari luka oleh peluru perwira kumpeni itu. Dengant
tertatih-tatih Raden Rudira dipapah oleh Ki Dipanala dan ditolongnya
naik ke punggung kuda Mandra. “Hati-hatilah Raden. Tunggulah di sini
sebentar. Aku akan mengambil kudaku” Ki Dipanalapun kemudian
mengambil kudanya yang disembunyikannya. Kemudian sambil membawa
mayat Mandra, Ki Dipanalapun naik bersama dengan Raden Rudira.
Sedang mayat Mandra itu diletakkannya menyilang di punggung kudanya
sendiri. “Aku akan menjaga Raden” berkata Ki Dipanala. Raden Rudira
sendiri tidak mengerti, perasaan apakah yang berkecamuk di dalam
dadanya. Bahkan ia masih saja dibayangi oleh prasangka, bahwa
tiba-tiba saja Dipanala itu akan menusuk lambungnya dari belakang.
Tetapi hal itu ternyata tidak terjadi. Dengan tanpa mengalami
gangguan di perjalanan merekapun kemudian mendekati regol
Ranakusuman.Ketika regol itu terbuka, maka para penjaganya menjadi
sangat terkejut karenanya. Mereka melihat Raden Rudira yang lemah
dilayani oleh Ki Dipanala, sedang di punggung kuda yang lain mereka
melihat mayat Mandra tergantung menyilang. Sejenak para penjaga
regol itu menjadi termangu-mangu. Namun sejenak kemudian pemimpin
peronda itu dengan serta merta mengacukan tombaknya ke dada Ki
Dipanala sambil berkata “Ki Dipanala, apakah yang sudah kau lakukan?
Apakah kau membunuh Mandra dan melukai Raden Rudira” Sebelum Ki
Dipanala menjawab, maka beberapa orang pengawal yang lain telah
mengacukan senjata mereka pula mengelilingi Dipanala yang masih
duduk di punggung kudanya. Sejenak Ki Dipanala menjadi tegang.
Bahkan iapun menjadi cemas. Jika Raden Rudira yang sudah akan
membunuhnya itu ingkar, dengan sepatah kata saja, anak muda itu akan
dapat membunuhnya di regol itu dengan meminjam tangan dan senjata
para penjaganya. Karena itu, maka dadanyapun segera bergolak.
Dipandanginya para penjaga itu seorang demi seorang. Mereka tentu
pernah mendengar, bahwa Raden Rudira sangat membencinya. Sejenak
mereka yang ada di regol itu dicengkam ketegangan. Senjata para
penjaga regol itu benar-benar sudah siap menembus tubuh Ki Dipanala
jika mereka mendengar perintah Raden Rudira, karena para penjaga itu
akan dapat menyebut beberapa alasan kenapa mereka melakukannya.
“Keputusan terakhir dar i persoalan ini ada pada Raden Rudira”
berkata Ki Dipanala di dalam hatinya. Ia sudah tidak sempat berbuat
apa-apa lagi. Mengancam Raden Rudirapun ia sudah tidak dapat
melakukannya, karena begitu tangannyabergerak mencabut kerisnya,
maka tombak para penjaga itu pasti sudah menembus tubuhnya. Sejenak
Ki Dipanala menunggu dengan tegangnya. Dadanya bagaikan berhenti
berdetak ketika ia merasakan gerak Raden Rudira yang perlahan-lahan
mengangkat kepalanya yang lemah. “Kami menunggu perintah Raden”
berkata pemimpin penjaga itu. Nafas Raden Rudira menjadi semakin
terengah-engah. Tetapi ia masih mencoba berkata “Minggir, minggir
semua. Jangan menahan kami lebih lama lagi, supaya aku tidak
terlanjur mati sebelum aku bertemu dengan ayahanda” Para penjaga
regol itu terkejut. Mereka kurang yakin akan pendengarannya,
sehingga karena itulah mereka menjadi ragu-ragu. Namun sekali lagi
mereka mendengar suara Raden Rudira yang dalam “Minggir, minggir
sebelum aku mat i” Para penjaga regol itupun segera bergeser surut
dengan wajah yang tegang. Namun mereka tidak dapat berbuat lain.
Mereka harus membiarkan Ki Dipanala memasuki halaman rumah itu
sambil menjaga tubuh Raden Rudira yang lemah, sedang di belakangnya
seekor kuda yang terikat pada pelana kuda Dipanala itu mengikut inya
sambil membawa mayat Mandra. Beberapa langkah dari para penjaga itu
Ki Dipanala berdesis “Ter ima kasih Raden” Rudira menar ik nafasnya
yang terasa semakin sendat “Kenapa kau yang mengucapkan terima
kasih?“ Ki Dipanala tidak menyahut. Sejenak merekapun telah sampai
ke pintu samping. Dengan hati-hati Ki Dipanala turun dar i kudanya
lebih dahulu,baru kemudian ia mengangkat tubuh Raden Rudira yang
semakin lemah. “Buka pintu itu” berkata Ki Dipanala terhadap seorang
pelayan yang menjadi termangu-mangu. Pelayan itupun kemudian dengan
gugup membuka pintu samping kemudian mengikuti Ki Dipanala masuk ke
dalam dan membar ingkan Raden Rudira di pembaringannya. “Panggil
seorang tabib yang sering merawat Pangeran Ranakusuma” berkata Ki
Dipanala kepada beberapa orang pelayan dengan berkerumun di luar
pintu “Cepat” Para pelayan itu termangu-mangu, namun kemudian salah
seorang meloncat ke punggung kuda yang baru saja dipergunakan oleh
Ki Dipanala bersama Raden Rudira. Ketika di regol halaman para
penjaga menghentikannya, pelayan itu hanya berteriak sambil berpacu
“Aku harus segera memanggil seorang dukun yang paling pandai di
Surakarta” Dalam pada itu, di dalam biliknya Raden Rudira berbaring
dengan lemahnya. Ketika Dipanala meneteskan air di mulutnya, Rudira
menarik nafas dalam-dalam. “Terima kasih” desisnya. “Sebentar lagi
tabib itu akan datang” desis Ki Dipanala. Raden Rudira mengangguk
kecil. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia bertanya “Apakah
ayahanda belum datang?“ Ki Dipanala tidak dapat menjawab. Ketika ia
berpaling kepada pelayan yang ada di belakangnya, maka pelayan
itulah yang menjawab “Belum Raden. Ayahanda dan ibunda masih
belumpulang” “Persetan dengan ibunda” tiba-tiba saja Raden Rudira
menggeram. Wajahnya yang pucat itu menegang sejenak. Namun ia tidak
dapat bangkit dari pembaringannya.Pelayan yang mendengarnya menjadi
heran. Kenapa tiba- tiba saja Raden Rudira nampaknya marah kepada
ibundanya, Raden Ayu Galihwarit. “Paman Dipanala” desis Rudira
kemudian “Apakah paman dapat memerintahkan seseorang menyusul
ayahanda di istana. Aku ingin segera bertemu dan mengatakan sesuatu
sebelum aku mati.” “Tidak. Raden tidak akan mati. Raden akan sembuh
karena sebentar lagi tabib itu akan datang” “Panggillah ayahanda”
desisnya. Dipanala menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia
menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Baiklah Raden” Dipanalapun
kemudian memerintahkan salah seorang abdi untuk pergi menyusul
Pangeran Ranakusuma ke istana Kangjeng Susuhunan. “Hati-hati1ah.
Sampaikan persoalannya dengan sebaik- baiknya. Jangan mengejutkan
Pangeran Ranakusuma dan jangan membuatnya menjadi bingung” pesan Ki
Dipanala kepada abdi yang akan menyusul Pangeran Ranakusuma itu.
Dalam pada itu, di luar, kawan-kawan Mandra sedang merubung mayat
orang bertubuh raksasa itu. Mereka ragu- ragu untuk mengambil mayat
itu dar i atas punggung kuda. Namun salah seorang dari mereka
berkata “Marilah kita bawa masuk ke dalam bilik belakang” “Tetapi,
apakah dengan demikian kami tidak berbuat kesalahan?“ Mereka menjadi
ragu-ragu sejenak, lalu “Kita bertanya dahulu kepada Ki Dipanala
yang membawanya pulang” “Masuklah, dan bertanyalah kepadanya. Ia
berada di dalam bilik Raden Rudira”Mereka menjadi ragu-ragu sejenak.
Mereka sama sekali tidak dapat membayangkan apa yang sebenarnya
sudah terjadi. Kawan-kawan Mandra itupun menganggap bahwa Raden
Rudira dan Mandra adalah orang yang sangat membenci Ki Dipanala
meskipun mereka tidak tahu sebabnya. Dan kini mereka melihat justru
Ki Dipanala membawa Raden Rudira yang parah dan mayat Mandra. Pada
umumnya mereka mempunyai dugaan yang sama. Ki Dipanala telah
membunuh Mandra dan melukai Raden Rudira. Tetapi mereka masih juga
menyangsikannya. Apakah mungkin Ki Dipanala melawan kedua orang itu
sekaligus. “Ki Dipanala mampu berkelahi melawan beberapa orang
perampok sekaligus” desis salah seorang dari mereka. Kawan-kawan
Mandra yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Memang
mungkin sekali Ki Dipanala telah membunuhnya meskipun barangkali ia
berbuat curang. Kemudian melukai Raden Rudira sekaligus” “Jika
demikian buat apa Dipanala membawa mereka kemari? Kenapa keduanya
tidak ditinggalkan saja dimanapun juga?“ “Dimanapun juga akibatnya
tidak berbeda. Raden Rudira itu masih dapat menyebut namanya” “Tentu
ia akan dibunuhnya sama sekali” Kawan-kawannya tidak menyahut.
Keragu-raguan yang tajamtelah mencengkam hati mereka. Sementara itu,
seorang pelayan melangkah keluar dari pintu samping. Kemudian
pelayan itupun menemui kawan- kawan Mandra yang sedang
berkerumun.Sebelum pelayan itu mengatakan sesuatu, kawan-kawan
Mandra itupun telah mendahului bertanya “Apakah yang sebelumnya
telah terjadi?“ Pelayan itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak
seorangpun yang tahu. Raden Rudira masih sangat lemah. Ia tidak mau
berbicara tentang apapun juga, selain minta agar Pangeran Ranakusuma
dijemput” “Lalu, bagaimana dengan mayat Mandra ini?“ bertanya salah
seorang kawannya” “Menurut Ki Dipanala, kita dimintanya untuk
mengangkat mayat itu dan membawanya ke dalambilik di ruang belakang”
“Kenapa Dipanala, bukan Raden Rudira?“ “Raden Rudira hampir t idak
sadar” “Persetan dengan Dipanala. Apakah bukan Dipanala yang telah
berkhianat?“ “Kami t idak tahu. Kami menunggu perintahnya. Tetapi
Raden Rudira tidak berkata apapun juga. Bahkan seakan-akan ia hanya
mau berbicara dengan Ki Dipanala saja” “Aneh“ salah seorang
berdesis. Namun t iba-tiba katanya “Cepat, masuklah. Awasi Dipanala
itu. Mungkin dengan diam- diam ia berusaha membunuh Raden Rudira
yang luka itu untuk menghilangkan jejak kejahatan dan
pengkhianatannya” Abdi itu menjadi termangu-mangu. Namun kemudian
katanya “Baiklah. Aku akan menungguinya” Ketika pelayan itu masuk
kembali ke dalam, maka kawan- kawan Mandrapun mengangkat mayat itu
dan membawanya ke belakang. “Jika benar Dipanala telah membunuhnya,
maka ia pasti akan mendapat hukuman yang setimpal. Sebenarnya seisi
istana ini sudah membencinya. Tetapi aku tidak tahu, bahwahanya
karena kebaikan hati sajalah maka Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu
Galih War it tidak mengusirnya” “Aku ingin, Dipanala itu diserahkan
kepadaku” “Kepada kita” “Ya, kepada kita. Kita akan mencincangnya
sampai lumat.” “Tidak dicincang. Tetapi kita akan menghukumpicis”
“Ya hukum picis. Kita harus mendapatkan jeruk dan garam” “Disapu
dengan rotan. Jika punggungnya sudah babak belur, kita mandikan
orang itu dengan air jeruk dan garam. Itu lebih baik dari hukum
picis. Dengan hukuman picis ia akan segera mati karena darah yang
meleleh, tetapi dengan hukuman cambuk dengan rotan, kita akan dapat
memeliharanya untuk empat atau lima hari” “Semuanya terserah kepada
Pangeran Ranakusuma“ berkata salah seorang dari mereka.
Kawan-kawannyapun kemudian terdiam. Mereka duduk mengelilingi mayat
Mandra yang terbujur di atas pembaringan bambu yang besar. “Luka
Mandra adalah luka yang mematikan” desis salah seorang dari mereka
“Justru di punggung. Tentu suatu kecurangan. Jika Ki Dipanala itu
berhadapan muka, maka ia tidak akan dapat membunuhnya. Mandra adalah
orang yang luar biasa” Yang lain mengangguk-angguk. Namun tampaklah
wajah di dalam, bilik itu dipenuhi oleh pertanyaan yang tidak dapat
mereka jawab. “Kenapa Mandra mati dengan luka di punggungnya?“ Dalam
pada itu, keadaan Raden Rudira menjadi semakin gawat. Meskipun Ki
Dipanala sudah berusaha menahan darah yang keluar dari luka
dilengannya, namun Rudira sudah benar-benar lemah. Punggungnya
rasa-rasanya telah patah ketika ia terpelanting dari kudanya dan
jatuh di jalan yang keras. Kecepatan lari kudanya telah menambah
lukanya semakin parah. Dengan gelisah Ki Dipanala menunggu anak muda
yang terbujur diam itu. Sekali-sekali terdengar erang tertahan.
Namun yang mendengarnya seakan-akan ikut merasakan betapa sakit
luka-lukanya. Beberapa orang ikut menungguinya. Beberapa di antara
merekapun menaruh cur iga kepada Ki Dipanala. Apalagi abdi yang baru
saja berbicara dengan kawan-kawan Mandra. Ia berada di paling depan
sambil mengawasi Ki Dipanala dengan tanpa berkedip. Ki Dipanalapun
merasa betapa sorot mata orang-orang di sekelilingnya itu bagaikan
menusuk jantung Namun ia masih tetap di tempatnya. Ia hanya
mengharap agar Raden Rudira masih tetap sadar sehingga ia akan dapat
mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Karena itu, maka dengan
tekun Ki Dipanala melayaninya. Menitikkan air setetes demi setetes,
dan membasahi dahi anak muda yang mulai menjadi panas itu. Dengan
gelisah orang-orang di dalam bilik dan yang berkerumun di luar pintu
itu menunggu kedatangan seseorang yang akan dapat menyelamatkan
Raden Rudira yang nampaknya menjadi semakin parah. Jika Raden Rudira
itu tidak tertolong lagi, maka tidak akan ada keterangan yang dapat
dipercaya. Karena pertimbangan itu pulalah Ki Dipanalapun masih
tetap berdiam diri. Ia merasa bahwa kata-katanya tentu tidak akan
dipercaya, sehingga karena itu, iapun menggantungkan diri kepada
kejujuran Raden Rudira.“Mudah-mudahan Raden Rudira bersikap seperti
ketika ia berada di regol halaman” berkata Ki Dipanala di dalam
hatinya. Namun dalam pada itu, tabib yang ditunggu-tunggu itupun
masih juga belum datang, sehingga rasa-rasanya keadaan Raden Rudira
menjadi semakin gawat. Ketika di halaman terdengar derap seekor
kuda, maka semua orang yang berada di dalam bilik itu mengangkat
wajahnya. Bahkan salah seorang berdesis “Tentu tabib itu datang” Ki
Dipanalapun menjadi berdebar-debar. Tanpa sesadarnya ia bergeser ke
pintu. Namun pelayan yang mendapat pesan dari kawan-kawan Mandra
itupun segera bertanya “Kau mau kemana Ki Dipanala?“ Dipanala
memandang pelayan itu sejenak, lalu jawabnya “Aku tidak akan pergi”
“Kau harus tetap di sini. Kau harus mempertanggung jawabkan apa yang
telah terjadi di sini “ Ki Dipanala mengerutkan keningnya.
Dipandanginya pelayan itu dengan tajamnya. Namun ia dapat mengerti,
bahwa kecurigaan itu tidak hanya hinggap pada seorang itu saja.
Karena itu, untuk tidak menimbulkan persoalan- persoalan baru, Ki
Dipanala tidak menjawab. Bahkan kemudian ia bergeser kembali
mendekati Raden Rudira. Namun sekali lagi pelayan itu berkata
“Jangan sentuh Raden Rudira” Terasa sesuatu berdesir di dada Ki
Dipanala. Tetapi seperti tidak mendengar kata-kata itu, Ki Dipanala
melangkah mendekati Raden Rudira dan meraba dahinya. “Panas sekali”
desisnya. Terdengar Raden Rudira mengerang. Namun ia masih sempat
berdesis “Air, air”Tanpa menghiraukan kecur igaan orang lain, Ki
Dipanala meneteskan setitik air di bibir Raden Rudira Pelayan yang
berdiri didekat Raden Rudira terbaring itu sama sekali tidak dapat
berbuat apa-apa, karena iapun tahu bahwa Ki Dipanala mempunyai
pengaruh yang kuat pada Pangeran Ranakusuma betapapun orang itu
dibencinya. Sesaat kemudian, pelayan yang harus memanggil tabib
itupun bergegas masuk. Dengan kata-kata yang memburu di antara
nafasnya ia berkata “Tabib itu, tabib itu, sebentar lagi. Sekarang
ia sedang merawat seseorang di rumahnya. Seorang yang terjatuh dari
pohon kelapa” “Tetapi bukankah kau sudah mengatakan, bahwa yang
memer lukannya adalah putera Pangeran Ranakusuma?“ bertanya Ki
Dipanala. “Ya, tetapi orang yang terjatuh itu sudah hampir
meninggal, sehingga ia memerlukan perawatan segera” “Seperti juga
Raden Rudira” “Ia akan segera datang, jika ia sudah selesai. Ia
tidak dapat meninggalkan seseorang yang hampir mati tetapi masih
mungkin mendapatkan pertolongan” Ki Dipanala hanya menarik nafat
dalam-dalam. Ia tidak akan dapat memaksa tabib itu karena sedang
menghadapi orang yang sedang berjuang melawan maut. Yang dapat
dilakukannya hanyalah sekedar mengharap kehadirannya segera setelah
pekerjaan itu selesai. Ternyata orang-orang yang ada di Ranakusuman
itu tidak perlu menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian mereka
mendengar derap seekor kuda pula memasuki halaman istana itu.
“Lihat, siapakah orang itu“ perintah Ki Dipanala tanpa menghiraukan
perasaan para abdi Ranakusuman itu terhadapnya.Seseorang segera
berlari-lari keluar. Dan rasa-rasanya jantungnya yang hampir
berhenti itu telah berdegup kembali. Yang datang itu tabib yang
ditunggunya. Dengan tergesa-gesa tabib yang masih agak muda itupun
segera masuk ke bilik tempat Raden Rudira dibaringkan. Ketika tabib
itu membuka ikat kepala Raden Rudira yang di pergunakan untuk
menyumbat lukanya, maka tabib itupun terkejut Dengan nada yang datar
ia berkata “Luka oleh peluru” “Ya” sahut Ki Dipanala “luka itu oleh
peluru” Para pelayanpun terkejut pula karenanya. Mereka sama sekali
tidak menyangka, bahwa luka Raden Rudira itu adalah bekas tertusuk
peluru. Bukan oleh senjata tajam. “Tetapi” berkata Ki Dipanala
kemudian “yang tidak kalah parahnya adalah punggung Raden Rudira
karena ia terjatuh dari kudanya” Tabib itu mengangguk-angguk.
Kemudian diambilnya reramuan obat-obatan dari dalam kantong yang
dibawanya. “Air” katanya “reramuan itu harus dicairkan dengan air
sedikit, kemudian harus diusahakan agar reramuan ini dapat diminum
untuk menambah daya tahannya, sementara aku akan mengobati lukanya
dan barangkali per lu merawat punggungnya” Seorang abdipun kemudian
mengambil semangkok air yang kemudian dituangkan ke dalam mangkok
yang lain untuk mencairkan reramuan obat yang dibawa oleh tabib itu.
Untunglah bahwa Raden Rudira masih dapat menelan minuman itu,
meskipun dengan agak kesulitan. Kemudian dengan cekatan tabib itu
mengobati luka Raden Rudira yang tergores peluru. “Untunglah bahwa
peluru itu t idak mengeram di dalam tubuhnya” desis tabib itu.Ki
Dipanala tidak menyahut. Hanya kepalanya sajalah yang
terangguk-angguk. Dalam pada itu, selagi tabib itu dengan telit i
mengobati luka-luka Raden Rudira, baik karena peluru maupun karena
goresan tanah yang keras, terdengar roda-roda kereta berderap di
halaman. Beberapa orang pelayan segera bergeser pergi meninggalkan
bilik itu. Yang datang dengan kereta itu tentu salah satu dari kedua
orang tua Raden Rudira, sehingga dengan demikian, jika mereka masih
berkumpul di bilik itu, tentu mereka akan mendapat marah. Yang
tinggal di dalam bilik itu tinggallah Ki Dipanala, tabib yang sedang
mengobati Raden Rudira itu, dan seorang pelayan yang masih saja
tetap mencurigai Ki Dipanala meskipun karena luka di tubuh Raden
Rudira itu adalah luka peluru, maka kecurigaannya itupun menjadi
kabur. Ternyata yang datang dengan tergesa-gesa itu adalah Pangeran
Ranakusuma yang sudah mendapat berita tentang puteranya yang
terluka. Namun berita yang didengarnya dari seorang abdinya itu
masih belum jelas, sehingga justru ia menjadi agak gugup. Dengan
tergesa-gesa ia memasuki pintu depan yang masih terbuka langsung
masuk ke dalam bilik Raden Rudira. Ketika dilihatnya Ki Dipanala ada
di dalam bilik itu, maka Pangeran Ranakusumapun memandanginya dengan
tajamnya. Dengan suara yang berat iapun kemudian berkata “Apa yang
terjadi Dipanala. Berkatalah berterus terang” Ki Dipanala
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya “Jika Raden Rudira sudah
agak tenang dan badannya menjadi agak kuat, sebaiknya Raden Rudira
sajalah yang memberikan keterangan dengan singkat. Kemudian aku
tinggal menjelaskan persoalannya” “Kaukah yang melakukannya?““Ampun
Pangeran. Sudah hamba katakan, sebaiknya biarlah Raden Rudira saja
yang mengatakannya nanti. Tetapi hamba mohon tidak seorang abdipun
yang boleh mendengarnya” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya.
Namun kemudian ia memandang abdi yang masih ada di dalam bilik itu
sambil berkata “Tinggalkan bilik ini” Pelayan itu menjadi ragu-ragu.
Namun iapun melangkah keluar dari bilik itu. Ketika ia berhenti di
muka pintu, maka Pangeran Ranakusuma membentaknya “Cepat. Jangan
ragu-ragu. Jika Dipanala berbuat gila aku dapat membunuhnya” Pelayan
itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan bilik itu.
Sebenarnyalah bahwa Pangeran Ranakusuma adalah seorang prajurit yang
baik, sehingga Kangjeng Susuhunan memberinya anugerah nama
Ranakusuma. Bunga di peperangan. “Nah, apa yang terjadi, katakan”
Pangeran Ranakusuma Menjadi tidak sabar lagi. Ki Dipanala memandang
tabib itu sejenak, lalu “Apakah Raden Rudira boleh berbicara”
“Sekedarnya saja” jawab tabib itu. Ki Dipanalapun kemudian berlutut
di samping tubuh Raden Rudira yang terbaring diam. Perlahan-lahan ia
berbisik di telinganya “Raden, apakah Raden dapat berbicara beberapa
patah kata saja dengan ayahanda” Raden Rudira mendengar dengan jelas
kata-kata itu. Perlahan-lahan ia membuka matanya yang lemah, yang
pelupuknya bagaikan telah melekat. Meskipun agak kabur ia masih
dapat melihat, bahwa ayahandanya berdiri di sampingnya.“Ayahanda”
suara Raden Rudira perlahan sekali. “Ya Rudira, di sini ayahandamu”
“Ayah” suaranya sangat lemah “dengarkan ayah” “Ya, ya. Aku mendengar
Rudira” sahut ayahandanya sambil mendekatkan telinganya ”Kenapa kau
terluka?“ “Aku ditembak, ayahanda” “Ditembak? Siapakah yang
menembakmu?“ “Mandra telah berkhianat. Biarlah paman Dipanala
mengatakannya. Percayalah kepadanya ayah” Wajah Pangeran Ranakusuma
menjadi tegang. Ketika terpandang wajah tabib yang merawat Raden
Rudira itu, tabib itu mengangguk sambil berkata “Ya Pangeran.
Lukanya adalah luka peluru” “Siapakah yang sudah berbuat gila itu?“
Tetapi Raden Rudira sudah memejamkan matanya kembali. Tubuhnya
rasa-rasanya menjadi semakin lemah. “Bagaimana dengan anak itu?“
bertanya Pangeran Ranakusuma kepada tabib yang merawatnya. “Hamba
sedang berusaha Pangeran” “Tetapi, maksudku, apakah masih ada
harapan?“ Tabib itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya “Marilah
kita bersama-sama berdoa. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Penyayang
mengabulkan doa kita” Dada Pangeran Ranakusuma menjadi berdebaran.
Jawaban tabib yang masih muda itu benar-benar membuatnya gelisah dan
cemas. Ia kenal tabib itu dengan baik, karena setiap kali ia
memerlukan maka dipanggilnya tabib itu bagi seluruh keluarganya.
Kini tabib yang dikenalnya sebagai seorang yang pandai itu menjawab
dengan penuh keragu-raguan.“Hamba sudah member ikan obat yang paling
baik yang ada pada hamba Pangeran. Hambapun telah mengobati luka
peluru itu dan member ikan param pada punggung Raden Rudira yang
agaknya cidera ketika ia terjatuh dari kudanya” Raden Rudira mencoba
bergeser sedikit, tetapi yang kemudian terdengar adalah rint ihannya
yang tertahan. “Punggung itu sakit sekali” berkata tabib itu.
Pangeran Ranakusuma memandang Ki Dipanala sejenak, lalu katanya “Kau
dapat menceriterakannya?“ “Hamba Pangeran. Jika Pangeran tidak
berkeberatan, hamba dapat mengatakan apa yang telah terjadi atas
Raden Rudira“ Pangeran Ranakusuma terdiam sejenak. Dipandanginya
wajah Dipanala yang tampak bersungguh-sungguh dan sejenak kemudian
ditatapnya wajah Rudira yang pucat dengan mata yang terpejam. Dengan
suara yang dalam, maka Pangeran Ranakusumapun kemudian berkata
“Katakanlah Dipanala. Aku kira kali ini aku harus mempercayaimu
seperti yang dikatakan oleh Rudira” “Terima kasih Pangeran. Hamba
akan menceriterakan apa yang hamba ketahui tanpa mengurangi dan
tanpa menambahinya. Memang sama sekali bukan maksud hamba untuk
selalu berusaha mengetahui segala macam rahasia yang ada di istana
Ranakusuman ini. Tetapi agaknya memang nasib hamba yang tidak
menguntungkan j ika pada suatu ketika hamba mengetahui beberapa
macam rahasia tanpa hamba kehendaki sendir i” Pangeran Ranakusuma
menar ik nafas dalam-dalam. Ketika terpandang olehnya tabib yang
menunggu Raden Rudira, maka katanya kemudian kepada Dipanala
“Biarlah kitaberbicara di ruang yang lain, agar tidak mengganggu
Rudira yang sedang beristirahat” Ki Dipanala menarik nafas. Ia
menyadari bahwa di ruang itu masih ada orang lain. Karena itu maka
katanya “Baiklah Pangeran. Hamba menurut saja perintah Pangeran”
Merekapun kemudian keluar dari bilik itu dan pergi ke bilik Pangeran
Ranakusuma. Setelah mereka yakin bahwa tidak ada orang lain yang
mendengarnya, maka berkatalah Pangeran Ranakusuma “Katakanlah.
Apapun yang terjadi. Jangan hiraukan perasaanku. Aku akan mencoba
untuk melihat kenyataan dengan hati yang tenang. Karena kenyataanku
sendiri seperti yang kau ketahui, bukannya kenyataan yang dapat
dibanggakan” Ki Dipanala menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Aku
tahu, bahwa kau ragu-ragu. Tetapi kali ini seperti aku mencoba untuk
mempercayaimu, kaupun sebaiknya mencoba percaya kepadaku” “Ya
Pangeran. Hamba akan mencobanya” “Nah, katakanlah. Aku tidak akan
marah. Aku tidak akan mendendam dan segala macam perasaan
terhadapmu” “Ampun Pangeran. Yang pernah hamba alami, meskipun hamba
sudah mencoba menyimpan rahasia seseorang sebaik- baiknya, namun
nyawa hamba masih juga terancam” Pangeran Ranakusuma menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Apakah kau juga menganggap aku terlibat dalam,
usaha membunuhmu?” Ki Dipanala menggelengkan kepalanya ”Tidak
Pangeran, aku tahu bahwa Pangeran tidak terlibat dalam usaha
pembunuhan itu” “Nah, sekarang, katakan apa yang kau ketahui”Ki
Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya ”Sekali lagi
hamba ingin menjelaskan bahwa hamba sama sekali t idak bermaksud
untuk mengetahui rahasia orang lain sebanyak-banyaknya, apalagi
dengan tujuan yang kurang baik. untuk memeras misalnya” “Aku
percaya, seperti yang dikatakan oleh Rudira. Karena aku tahu sikap
Rudira sebelumnya terhadapmu” “Terima kasih Pangeran. Jika hamba
mendapat jaminan bahwa tidak akan timbul salah paham, maka biarlah
hamba mencer iterakannya” Demikianlah maka Ki Dipanala mencoba
meneeriterakan dengan singkat, apa saja yang diketahuinya. Sejak ia
tidak sengaja mendengar rencana Raden Rudira dan Mandra. Kemudian
dorongan perasaannya untuk mengikuti keduanya dan menunggui
pertemuan Raden Ayu Galihwarit dengan para perwira kumpeni dan
beberapa orang bangsawan yang lain. Kemudian diceriterakan pula apa
yang sebenarnya sudah dilakukan oleh Raden Ayu Galih Warit, sehingga
memaksa Raden Rudira bertindak. Apalagi Mandra yang berkhianat
ternyata sudah menyiapkan rencana yang sebaik-baiknya. Tanpa ada
yang dilampauinya Ki Dipanala menceriterakannya, sampai pada
akhirnya, ia membawa Raden Rudira dan mayat Mandra kembali ke
Ranakusuman. Ketika Ki Dipanala mengakhiri cer itanya, dilihatnya
Pangeran Ranakusuma dengan hati yang pedih menutupwajahnya dengan
kedua belah tangannya. Seakan-akan ia tidak berani melihat gambaran
yang jelas dari peristiwa yang diceritekan oleh Ki Dipanala tanpa
ada yang terlampaui. Ki Dipanala memandang Pangeran Ranakusuma itu
sejenak, kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata
“Kemudian segalanya terserah kepada tuan. Hamba akan melakukan
segala perintah” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam.
Katanya dengan nada yang dalam “Terima kasih Dipanala. Aku percaya
semua yang kau katakan. Tetapi dengan demikian aku justru menjadi
yakin, bahwa kau mengetahui rahasia isteriku bukan baru kali ini
saja. Itulah sebabnya ia berusaha membunuhmu dengan memperalat anak
Laki- lakinya itu.” Ki Dipanala menganggukkan kepalanya ”Ampun
Pangeran Sebenarnyalah demikian” Pangeran Ranakusuma
mengangguk-angguk pula. Katanya “Aku tidak ingin mendengar rahasia
yang kau ketahui sebelumnya, karena aku sudah dapat meraba apa yang
terjadi. Hal itu tentu hanya akan menambah luka di hati saja” Ki
Dipanala tidak menjawab. “Terima kasih” desis Pangeran Ranakusuma
kemudian “tinggalkan aku sendir i” Ki Dipanalapun kemudian mohon
diri, keluar dari dalam bilik Pangeran Ranakusuma itu. Sepeninggal
Ki Dipanala, maka Pangeran Ranakusuma itupun duduk diam mematung.
Seakan-akan terbayang dengan jelas, apa yang sedang terjadi saat itu
dengan isterinya. Meskipun sebelumnya memang sudah ada perasaan
curiga, namun ia berusaha untuk mengingkari perasaan" itu. Tetapi
tanpa disadarinya iapun telah memperalat Rudira untuk mengamati
ibunya, sehingga kini akibat yang dialaminya ternyata menjadi sangat
berat.“Anak itu akan kehilangan kepercayaan kepada orang lain. Jika
ia sudah tidak mempercayai ibunya sendiri, maka tidak akan ada
manusia lain yang akan dapat menyejukkan hatinya” Dengan penuh
penyesalan Pangeran Ranakusuma melihat ke dalam dirinya sendiri,
keluarganya dan orang-orang yang pernah bersangkut paut dengan
dirinya. Terbayang kembali isterinya yang sudah meninggal dunia.
Isterinya yang lain, yang dikembalikannya kepada orang tuanya.
Anaknya yang disingkirkan ke padepokan Jati Aking dan anaknya yang
manja, namun yang akhirnya terperosok ke dalam bencana yang tidak
disangka-sangka oleh pengkhianatan orang yang selama ini menj ilat
kakinya. “Alangkah rendahnya martabat manusia” katanya di dalam
hati. Tetapi iapun tidak ingkar, bahwa sebenarnya dirinya sendiri
tidak akan lebih baik dari Mandra, jika ia menyadari bahwa iapun
sedang berusaha menjilat kekuasaan di Surakarta yang mulai kabur.
“Akupun dapat seperti Mandra” suara hatinya itu serasa semakin keras
bergema di dalam dadanya “Akupun akan dapat berkhianat kepada
kumpeni dan kepada Susuhunan” Namun tiba-tiba tumbuh pertanyaan
“Apakah selama ini aku tidak berkhianat terhadap Surakarta?“ Sekali
lagi Pangeran Ranakusuma menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Semuanya menjadi semakin jelas terbayang. Pangeran Ranakusuma itu
terkejut ketika ia mendengar seseorang memanggilnya “Pangeran,
Pangeran” Pangeran Ranakusuma mengangkat wajahnya. Dilihatnya Ki
Dipanala berdiri terbungkuk-bungkuk di depan pintu. “Ada apa?“
“Ampun Pangeran, Raden Rudira menjadi semakin lemah”“He“ dengan
serta-merta Pangeran Ranakusuma meloncat berdiri. “Raden Rudira
memanggil tuan” Dengan tergesa-gesa Pangeran Ranakusuma pergi ke
bilik puteranya. Dilihatnya Raden Rudira menjadi gelisah. Kepalanya
bergerak-gerak tidak menentu. “Rudira, Rudira” bisik ayahnya di
telinganya “ini ayahandamu” “O” terdengar anak muda itu berdesah.
“Tenanglah. Kau akan segera sembuh” “Ayahanda” suaranya lemah sekali
“gelap ayahanda” Dada Pangeran Ranakusuma serasa dihentakkan oleh
kata- kata itu. Namun ia menjawab “Ya, Rudira. Memang hari masih
malam. Biar lah lampu dibesarkan” “Gelap. Gelap sekali ayah” Raden
Rudira menar ik nafas dalam-dalam “panas, panas sekali” Pangeran
Ranakusuma menjadi semakin bingung. Dipandanginya tabib yang berdiri
di sampingnya. Namun wajah tabib yang masih agak muda itu menjadi
tegang. Ki Dipanalapun menjadi sangat cemas. Ia masih berusaha untuk
membasahi dahi Raden Rudira dengan air jeruk pecel. Tetapi ia t idak
berhasil menenangkan kegelisahan anak muda itu. “Tidurlah Rudira”
berkata ayahnya “Cobalah untuk tidur “ Tetapi Raden Rudira
seakan-akan sudah t idak mendengarnya lagi. Bahkan ia menjadi
semakin gelisah dan berdesis “Panas. Panas sekali. Sakit ayah” “Ayah
ada di sini”Raden Rudira mengeluh pendek. Namun suaranya semakin
lemah. “Raden“ tabib yang mengobatinya tiba-tiba saja berjongkok di
sampingnya. Wajahnya menjadi semakin tegang dan dengan suara yang
bergetar ia berkata “Raden Rudira” Rudira menggeliat sekali.
Dicobanya untuk membuka matanya. Meskipun semakin kabur, ia masih
melihat bayangan ayahandanya. Karena itu ia masih mencoba berbicara
“Ayahanda, aku mohon maaf” “Rudira?” ayahnya menjadi bingung dan
sangat cemas. “Dimana Dipanala“ “Di sini Raden, aku ada di sini”
“Aku minta maaf kepadamu Dipanala. Aku pernah berbuat dosa
terhadapmu. Aku tidak mengerti waktu itu, bahwa seharusnya aku tidak
melakukannya” “Tidak, Raden tidak bersalah. Tenanglah. Jangan
membayangi diri Raden dengan persoalan-persoalan yang tidak penting.
Yang penting bagi Raden sekarang adalah penyembuhan dar i segala
macam kesakitan yang ada pada diri Raden. Untuk itu Raden harus
beristirahat. Lahir dan batin. Raden sekarang berada di dalam istana
Raden sendiri. Karena itu jangan gelisah” Rudira mencoba mengangguk.
Tetapi tubuhnya menjadi semakin lemah. Selama ia belum mendapat
pertolongan, darahnya terlampau banyak mengalir. Punggungnya yang
bagaikan patah, selalu menyakitinya dan seakan-akan tidak ada
sesuatu lagi yang menar ik baginya. Ibunya telah mengecewakannya.
Mengecewakan sekali, sehingga tidak akan ada kepercayaan lagi yang
dapat diberikannya. “Ayah” desis Raden Rudira.“Rudira“ Ayahnya
menjadi kehilangan akal. Lalu katanya kepada tabib itu “berbuatlah
sesuatu, berbuatlah sesuatu” Tabib itupun menjadi gelisah. Obat yang
paling baik telah diberikannya kepada Raden Rudira. Lukanya justru
sudah tidak mengalirkan darah lagi. Namun sebenarnya perawatan
baginya memang agak terlambat. Bukan karena kedatangannya yang
lambat, tetapi darahnya memang sudah terlampau banyak mengalir. Ki
Dipanalapun menyadari keadaan itu. Selama ia berkelahi melawan
Mandra dan membunuhnya, ia tidak sempat berbuat apa-apa terhadap
anak muda yang terluka itu, sehingga darahnya pasti terlampau banyak
berceceran. Itulah kesulitan yang dihadapi oleh tabib yang
sebenarnya cukup pandai itu. Apalagi hati Raden Rudira sendiri yang
telah patah, membuatnya kehilangan nafsu untuk bertahan. Keadaan
Raden Rudira membuat Pangeran Ranakusuma menjadi semakin bingung.
Wajah anak muda itu telah menjadi seputih kapas, dan nafasnya
seakan-akan tinggal satu-satu tersangkut di kerongkongan.
“Berbuatlah sesuatu” suara Pangeran Ranakusuma menjadi bergetar.
Tabib yang menunggui Raden Rudira itupun berjongkok disampingnya. Ia
sudah merasa berbuat sejauh-jauhnya yang dapat dilakukan. Keputusan
terakhir ada pada Yang Maha Kuasa. Namun demikian, ia masih juga
berusaha. Diteteskannya air jernih ke bibir Raden Rudira. “Ayah”
suara anak muda itu hampir tidak terdengar lagi “Apakah Ki Dipanala
sudah mengatakan seluruhnya” “Sudah Rudira, sudah”“Itulah yang
penting ayah. Aku sudah tidak berkepentingan lagi dengan hidupku.
Ternyata ibuku sangat mengecewakan aku” “Rudira” Rudira memandang
ayahnya sejenak. Tetapi pelupuknya bagaikan melekat. Namun demikian,
ia masih melihat sebuah bayangan hitamyang ia yakin itu adalah
ayahnya. Sebuah senyum terbayang di bibir anak muda itu. Perlahan
sekali ia berkata “Aku masih sempat mohon maaf kepada ayah, kepada
Ki Dipanala, kepada kakang Juwiring dan kepada siapapun juga. Karena
itu aku merasa bersyukur. Yang utama akupun sempat menyesali
dosa-dosaku terhadap Tuhan Yang Maha Pengampun” “Rudira“ Senyum
Rudira tampak semakin cerah. Sekilas warna merah membayang di wajah
yang pucat itu, namun kemudian semuanya itu lenyap seperti asap
dihembus angin yang kencang. Sebuah tarikan nafas yang panjang
menggerakkan dada Raden Rudira. Tetapi tarikan itu bagaikan terputus
di tengah. “Rudira, Rudira“ Tetapi Raden Rudira sudah tidak
mendengarnya lagi. ia telah mengakhiri hidupnya yang pendek.
Ternyata bahwa ia meninggal dalam usia yang masih terlalu muda.
Raden Rudira terbaring diam ketika ayahnya melekatkan mulutnya di
telinganya sambil berbisik “Rudira, Rudira” Ki Dipanala dan tabib
yang mencoba mengobatinya itu saling berpandangan sejenak. Mereka
melihat setitik air mengambang di mata Pangeran Ranakusuma. Seorang
Pangeran yang menjadi kebanggaan Surakarta di medan perang.Tetapi
menghadapi per istiwa semacam itu, maka hampir tidak ada bedanya
antara seorang Pangeran, seorang Senapati dan seorang rakyat kecil.
Dengan penuh penyesalan seorang ayah melihat anaknya meninggal dalam
keadaan seperti itu. Anak muda yang baru tumbuh. Betapapun bengal,
kasar dan keras kepala, namun kesalahan seluruhnya tidak dapat
ditimpakan kepada Raden Rudira. Dalam kedukaan yang paling dalam,
Pangeran Ranakusuma melihat anaknya itu telah menjadi korban tingkah
laku orang tuanya sendiri. Pangeran Ranakusumapun kemudian berdiri
termangu- mangu. Dipandanginya tubuh anaknya yang terbaring diam
membeku. Wajahnya menjadi putih dan tampak senyumnya masih
membayang. Tetapi di balik senyum itu seakan-akan tampak penyesalan
yang tiada taranya. Kecewa dan pedih. “Dipanala” berkata Pangeran
Ranakusuma dengan suara parau “pindahkan tubuh itu ke pembar ingan
ibunya” Ki Dipanala termangu-mangu mendengar perintah itu. Sehingga
Pangeran Ranakusuma mengulanginya “Pindahkanlah tubuh itu ke bilik
ibunya. Selimuti seperti jika ia sedang tidur. Jangan memberikan
kesan apapun juga atas kematian Rudira. Berbuatlah seolah-olah tidak
terjadi apa-apa sama sekali jika nanti ibunya datang” Ki Dipanala
menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil menjawab “Baik Pangeran”
“Aku akan duduk di pendapa. Setelah kau selesai, pergilah ke pendapa
juga” lalu katanya kepada tabib yang mencoba mengobati Raden Rudira
tetapi gagal “Aku mengucapkan terima kasih atas usahamu. Sekarang
tidak ada gunanya lagi kau berbuat sesuatu atas mayat anakku. Karena
itu, kau dapat meninggalkan rumah ini. Pada saatnya kami akan
menyelesaikan perhitungan atas jasa-jasamu”“Terima kasih tuanku.
Hamba sangat menyesal bahwa hamba t idak berhasil” “Bukan salahmu.
Kau sudah berusaha. Bantulah Dipanala, kemudian kau boleh pulang”
Pangeran Ranakusuma itupun kemudian pergi ke pendapa.
Ditinggalkannya Rudira yang sudah tidak bernafas lagi itu dengan
hati yang luka. Sepeninggal Pangeran Ranakusuma, maka Ki Dipanala
yang mengerti maksud Pangeran itu, segera membawa Raden Rudira ke
bilik ibunya dan dibaringkannya di pembaringan Raden Ayu Galih
Warit, dengan diselimut inya baik-baik seolah- olah Raden Rudira
sedang tidur nyenyak. Kemudian disusutkannya nyala lampu di dalam
ruang itu dan dibersihkannya ruang Raden Rudira sendiri. Setelah
semuanya selesai, maka tabib itupun minta diri kepada Ki Dipanala.
“Sampaikan kepada Pangeran Ranakusuma. Aku tidak usah mohon dir i
lagi kepadanya” “Baiklah. Tetapi jangan mengatakan kepada siapapun
apa yang sudah terjadi” Tabib itu menganggukkan kepalanya, dan
sejenak kemudian iapun meninggalkan istana Ranakusuman. Para pelayan
yang berusaha menanyakan kepadanya tentang Raden Rudira, sama sekali
tidak dijawabnya. Namun karena tabib itu nampaknya tersenyum-senyum,
maka para abdi mengira bahwa keadaan Raden Rudira menjadi berangsur
baik. Tetapi mereka masih tetap menjadi gelisah, karena Pangeran
Ranakusuma belum member ikan perintah apapun bagi mayat Mandra yang
masih dibar ingkan belakang.Dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma
duduk di ruang depan dengan wajah yang murung. Terbayang apa saja
yang sudah dilakukan selama ini. Usahanya untuk mendapatkan pengaruh
dan kedudukan telah merampas seluruh waktunya sehingga ia tidak
sempat menelit i tingkah lakunya sendir i. Sejenak kemudian maka
Pangeran Ranakusuma itupun berdiri. Dilihatnya Dipanala sudah duduk
di bibir tangga pendapa. Tetapi ia tidak menyapanya. Perlahan-lahan
ia masuk ke ruang dalam dan menengok ke bilik sebelah bilik Rudira.
Dilihatnya pembar ingan Raden Rara Warihpun masih kosong. “Tanpa
diajari oleh ibunya, agaknya Warih mempunyai kebiasaan yang sama
dengan ibunya” berkata Pangeran Ranakusuma “selama ini aku tidak
pernah memperhatikan kedua anak-anakku. Aku t idak tahu apa saja
yang dilakukan dan apa saja akibatnya. Apalagi ibunya yang tampaknya
sangat menyayangi anak-anaknya” Ketika Pangeran Ranakusuma kembali
ke pendapa, terbayang sekilas pergaulan anak gadisnya itu menurut
penglihatannya yang hanya sepintas. Setiap kali ia pergi bersama
anak-anak gadis putera bangsawan. Meskipun mereka adalah
saudara-saudaranya juga, bahkan ada di antara mereka yang masih
sepupunya, namun kadang-kadang akan dapat menumbuhkan persoalan pula
di antara mereka. Tiba-tiba Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk.
Katanya kepada diri sendiri “Tetapi kali ini ia pergi ke kakeknya.
Mungkin besok ia baru kembali” Sambil menarik nafas dalam-dalam
Pangeran Ranakusuma itu mulai melihat apa yang sudah dikerjakan oleh
anak- anaknya. Akhir-akhir ini puterinya sering pergi ke istana
kakeknya. Di sana ada beberapa orang gadis sepupunya. “Apakah anak
itu harus diberi tahu tentang kakaknya?“ pertanyaan itu mulai
mengganggunya.Namun akhirnya Pangeran Ranakusuma memutuskan, bahwa
ia akan menunggu kedatangan Raden Ayu Galih War it lebih dahulu,
kemudian baru berbicara tentang Warih. Untuk beberapa lamanya
Pangeran Ranakusuma merenung. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya
ia berkata “Mungkin itu pula sebabnya, kenapa ia justru sering
menyuruh Warih pergi ke kakeknya. Mungkin Warih dapat mengganggunya
apabila ia ada di rumah. Bukan karena anak itu ingin menyertainya,
tetapi mungkin kehadirannya dapat membuatnya bimbang untuk melakukan
perbuatan yang tercela itu” Ki Dipanala yang duduk di ujung pendapa,
sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya duduk sambil
menundukkan kepalanya. Ia menunggu j ika Pangeran Ranakusuma
bertanya sesuatu kepadanya. Tetapi karena Pangeran Ranakusuma sama
sekali tidak mengucapkan sepatah katapun, maka Ki Dipanalapun hanya
diam saja sambil merenungi peristiwa yang baru saja terjadi. Dengan
demikian, meskipun di pendapa itu duduk dua orang yang tidak begitu
berjauhan, namun suasananya benar- benar dicengkam kesenyapan.
Pangeran Ranakusuma setiap kali menundukkan wajahnya dan mengusap
ker ingat dingin yang meleleh dikeningnya, sedang Ki Dipanala setiap
kali menarik nafas dalam-dalam. Mereka berdua bersama-sama
mengangkat wajahnya ketika mereka mendengar suara kereta. “Tentu
Galih Warit” desis Pangeran Ranakusuma, karena bukan kebiasaan Rara
Warih datang berkereta di malam hari apabila ia pergi ke istana
kakeknya, ayahanda ibunya. Dugaannya itu ternyata benar. Sejenak
kemudian sebuah kereta berderap memasuki halaman istana Ranakusuman.
Di dalamnya duduk seorang perempuan cantik dalam pakaian yang
cemerlang. Sedang di samping sais seorang prajurit yangagaknya telah
mengantarnya lengkap dengan senjata di lambungnya. Ki Dipanala
dengan tergesa-gesa berdiri ketika kereta itu langsung menuju ke
tangga pendapa. Sambil melangkah turun sampai ke anak tangga yang
paling bawah, Dipanala memandang kereta itu dengan hampir tidak
berkedip. Tiba- tiba saja dadanya menjadi berdebar-debar seperti
sedang menghadapi bahaya yang tidak mungkin dapat diatasinya. Kereta
itu berhenti tepat di kuncung pendapa. Prajurit yang duduk di dekat
sais itupun segera meloncat turun dan membuka pintu kereta. Sambil
membungkuk dalam-dalam ia mempersilahkan Raden Ayu Galih Warit
keluar dari kereta itu. Pangeran Ranakusuma memandang isterinya yang
baru turun dari kereta itu dari tempat duduknya. Ia sama sekali
tidak beringsut dan apalagi berdir i. Ketika Raden Ayu Galih Warit
turun dari keretanya dan dilihatnya Pangeran Ranakusuma sudah duduk
di pendapa, dadanya berdesir. Namun ia segera berusaha tersenyum
sambil bertanya “Kakanda sudah kembali dar i istana?“ “Belum lama”
jawab Pangeran Ranakusuma. Jawaban itu ternyata mengejutkan Ki
Dipanala. Hampir tidak ada kesan sama sekali, bahwa sebenarnya hati
Pangeran Ranakusuma sedang dibelit oleh kedukaan yang tiada taranya.
“O, Pangeran tidak langsung pergi ke pertemuan itu” “Aku kira kau
sudah kembali” jawab Pangeran Ranakusuma. “Pertemuan itu baru saja
bubar. Yang hadir melampaui yang diundang. Dan itu menimbulkan
kesulitan” Raden Ayu Galih Warit tertawa, lalu “untunglah kesulitan
itu dapat segera di atasi”Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk.
Lalu, katanya “Apakah kereta itu masih akan kembali ke tempat
pertemuan itu?“ “Ya kakanda. Masih ada beberapa orang yang harus
dijemput” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk pula. Tetapi ia
tidak berkata apapun lagi. Raden Ayu Galih Waritlah yang kemudian
menyuruh sais keretanya untuk meninggalkan istananya. “Kembalilah,
mungkin masih ada yang akan mempergunakannya” katanya. Sejenak
kemudian maka kereta itupun segera berderap meninggalkan halaman.
Prajurit yang ada di samping sais itu mengangguk dalam-dalam ketika
kereta itu mulai bergerak. “Cukup meriah” berkata Raden Ayu Galih
Warit sambil tersenyum. Perlahan-lahan ia mendekati suaminya yang
masih duduk Di tempatnya. “Sayang, kakanda tidak pergi menyusul
hamba. Beberapa orang Pangeran hadir juga di dalamperjamuan itu”
Raden Ayu Galih Warit berhenti sejenak, lalu “Kenapa mereka tidak
menghadap Kangjeng Susuhunan” Pangeran Ranakusuma menggelengkan
kepalanya. Jawabnya “Aku tidak tahu” Raden Ayu Galih Warit
mengerutkan keningnya. Lalu sambil berdiri di belakang Pangeran
Ranakusuma ia bertanya “Apakah ada sesuatu yang sulit di dalam
pembicaraan Pangeran dengan pihak istana atau kumpeni?“ “Tidak,
tidak” jawab Pangeran Ranakusuma “semuanya berjalan lancar. Justru
karena itu aku pulang lebih awal dari pertemuan yang pernah
dilakukan di istana”“O“ Raden Ayu Galih Warit tertawa. Kedua
tangannya meraba pundak Pangeran Ranakusuma sambil berkata “Apakah
kakanda akan duduk saja di pendapa?“ “Aku akan duduk di sini
sebentar. Udara terlampau panas. Aku minta Ki Dipanala menemui aku”
Raden Ayu Galih Warit berpaling memandang Dipanala yang sudah duduk
kembali di lantai pendapa tepat di atas tangga. Sejenak terbersit
kecemasan di dalam hatinya. Sikap Pangeran Ranakusuma kali ini agak
meragukan. “Apakah cucurut itu sudah mulai menjilat dan mengatakan
apa yang pernah diketahuinya?“ bertanya Raden Ayu Galih Warit di
dalam hatinya. Tetapi dijawabnya sendiri “Jika demikian ia tentu
tidak akan duduk tenang menerima kedatanganku. Mungkin Pangeran
Ranakusuma langsung mengusir aku malam ini juga atau memanggil
ayahanda untuk menjemputku” Karena itu, maka Raden Ayu Galih Warit
itupun kemudian tersenyum pula sambil bertanya “Apakah Dipanala
tidak mempunyai pekerjaan lain?” “Tentu tidak di malamhari” jawab
Pangeran Ranakusuma. “O“ Raden Ayu Galih Warit tertawa “Tentu tidak.
Ia bukan peronda di istana ini” “Ya. Ia memang bukan peronda”
“Tetapi udara akan menjadi semakin dingin kamas. Apakah tidak
sebaiknya Pangeran masuk ke dalam?“ “Masuklah dahulu. Aku akan duduk
di sini sejenak” Raden Ayu Galih Warit menjadi ragu-ragu. Sekali
lagi ia memandang Ki Dipanala yang duduk sambil menundukkan
kepalanya.“Pangeran” berkata Raden Ayu Galih Warit “terasa tubuh
Pangeran menjadi sangat dingin. Tentu Pangeran sudah kedinginan”
“Udara terasa segar sekali di pendapa” “Kalau begitu, aku akan ikut
duduk di sini” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Lalu
“Masuklah. Atau berganti pakaianlah dahulu” Raden Ayu Galih Warit
tertawa. Katanya kemudian “Barangkali ada juga yang ditunggu. Tetapi
jika kakanda menunggu Warih, tentu ia tidak akan kembali malam ini.
Mungkin besok bahkan mungkin lusa. Ia merasa kerasan di rumah
kakeknya, karena di rumah eyangnya ia mendapatkan beberapa orang
kawan sebaya” “Ya. Tentu ia kerasan di rumah eyangnya. Tetapi aku
memang tidak sedang menunggu Warih. Jika kau ingin duduk pula
bersama kami, berganti pakaianlah lebih dahulu” “Baiklah kakanda.
Aku akan berganti pakaian dahulu, dan aku akan menyusul duduk di
sini. Tetapi sebaiknya Dipanala menyuruh seorang pelayan untuk
membuat minuman panas” “Baiklah. Biar ia nanti pergi”Raden Ayu Galih
Waritpun kemudian melangkah masuk. Di muka pintu langkahnya
terhenti. Serasa ada sesuatu yang menahannya. “Kamas“ Raden Ayu itu
memanggil “Apakah tidak ada seorang pelayanpun yang ada di dalam?”
“Di belakang” jawab Pangeran Ranakusuma. “Kenapa lampu di dalam
bilik itu suram sekali?“ “O, tentu. Kau baru datang dari perjamuan.
Tentu lampunya terang benderang sehingga lampu di dalam rumah kita
itu rasa-rasanya terlampau suram. Tetapi nanti akhirnya akan
terbiasa juga” Raden Ayu Galih Warit mengangguk-angguk. Tetapi ia
masih juga ragu-ragu melangkah. Rasa-rasanya tengkuknya meremang dan
jantungnya berdebaran. “Belum pernah aku merasakan perasaan seperti
ini” berkata Raden Ayu itu kepada dir i sendiri. Tetapi kemudian
dibantahnya sendiri “Mungkin aku menjadi gelisah karena kebetulan
Pangeran Ranakusuma sudah datang mendahului. Tentu ada. perasaan
yang kurang jernih padanya. Tetapi aku kira Dipanala t idak
mengatakan sesuatu. Jika benar, Pangeran Ranakusuma tentu tidak akan
setenang itu” “Ah, aku ternyata telah diganggu oleh perasaanku
sendiri” berkata pula Raden Ayu Galih Warit kepada diri sendiri.
Dengan demikian, maka kakinyapun terayun pula memasuki, ruangan
dalam. Kemudian dengan ragu-ragu ia menuju ke pintu biliknya yang
tertutup. Namun sekali lagi langkahnya tertegun. Ruangan dalam itu
terasa terlampau sepi. Sepi sekali seperti kuburan. Dipandanginya
pintu-pintu bilik yang tertutup. Biliknya sendiri, bilik kedua
anak-anaknya dan bilik Pangeran Ranakusuma.Dan pintu-pintu yang
tertutup itu kesannya bagaikan wajah- wajah yang murung dengan mata
yang terpejam. Terasa sekali lagi tengkuknya meramang, seakan-akan
dirambati oleh binatang-binatang kecil tetapi berjumlah banyak
sekali. “Ah, tentu karena aku datang dari pertemuan yang ramai
sehingga rumahku ini terasa sangat sepi“ Ia mencoba bertahan.
Dipaksanya juga kakinya melangkah ke pintu biliknya. Meskipun
hatinya ragu-ragu, namun perlahan-lahan didorongnya juga pintu bilik
yang tertutup itu. Ketika terlihat olehnya sesosok tubuh terbaring
di pembaringannya, Raden Ayu Galih Warit terkejut. Tetapi hanya
sejenak, karena di dalam cahaya lampu minyak yang kemerah-merahan,
ia segera mengenal wajah anak laki-lakinya Rudira. Raden Ayu Galih
Warit menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia merasa aneh, bahwa Rudira
tidur di pembar ingannya. Hal itu tidak pernah dilakukannya.
Tiba-tiba saja dada Raden Ayu Galih Warit berdebar-debar. Katanya di
dalam hati “Tentu ayahnya yang menyuruhnya tidur di pembaringanku
sebagai cara untuk menegur keterlambatanku. Atau barangkali Dipanala
memang sudah mengatakannya?“ Raden Ayu Galih Warit menjadi
ragu-ragu. Bahkan iapun kemudian menduga, bahwa sebenarnya Rudira
itu tentu belum tidur. Anak itu tidak pernah tidur lurus membujur di
pembaringannya. Kadang-kadang ia tidur sambil melingkarkan tubuhnya
atau bahkan menelungkup. Raden Ayu Galih War it menarik nafas
dalam-dalam. “Biar lah aku akan bertanya kepadanya. Jika sesuatu
akan terjadi, aku tentu masih mempunyai cara untuk mengelak. Aku
akan mendapat bantuan dari para perwira kumpeni danbeberapa orang
lainnya. Aku dapat mengupah beberapa orang untuk mengingkarinya dan
memberikan kesaksian palsu. Tentu Rudira sendir i akan membantuku“
namun kemudian dengan ragu-ragu ia berkata kepada diri sendiri “Atau
justru Rudira yang menjadi sangat marah kepadaku?“ “O, Dipanala
memang pengkhianat. Kenapa ia masih belum terbunuh. Ia memang harus
mati segera. Segera” Namun dengan demikian ibunda Raden Rudira itu
justru ingin segera mengetahui, kenapa puteranya itu tidur di dalam
biliknya. Perlahan-lahan ia mendekatinya agar Rudira itu tidak
terkejut. Kemudian dengan perlahan-lahan pula ia meraba tubuh itu
dan mengguncang pada ujung kakinya “Rudira, Rudira” Tetapi menurut
dugaan Raden Ayu itu, Rudira tidak segera terbangun. “Anak ini”
katanya “Jika sudah tertidur, betapa sukarnya untuk membangunkannya”
namun kemudian “Tetapi anak ini tentu belumtidur” “Rudira, Rudira“
Panggilnya pula. Dan tubuh itu sama sekali tidak bergerak. Sama
sekali. Bahkan dadanyapun tidak. Raden Ayu Galih Warit mulai curiga.
Tetapi sekali lagi ia justru tertawa sambil berkata “Ah, bukan
begitu caranya tidur Rudira. Orang yang tidur nyenyak tidak menjadi
sekaku potongan kayu. Ayo bangun dan katakan, kenapa kau tidur di
sini malam ini? Siapakah yang menyuruhmu? Ayahanda barangkali?“
Tetapi tetap tidak ada jawaban. Rudira tidak bangkit sambil tertawa.
Tidak pula marah dan merajuk. Tetapi ia tetap berbaring diam
membeku.“Rudira“ akhirnya kesabaran ibunyapun menjadi semakin susut.
Katanya “Ayo bangun. Apa sebenarnya maumu?“ Masih tetap tidak ada
jawaban. Raden Ayu Galih Warit tidak sabar lagi menunggu jawaban
anaknya. Karena itu maka didekatinya tubuh Raden Rudira itu dan
ditariknya selimut yang menyelubungi badannya. Ketika tubuh itu
terbuka, dada Raden Ayu Galih Warit bagaikan dihentakkan oleh
sesuatu di dalam dirinya. Dengan mata terbelalak ia melihat sesuatu
yang aneh. Namun kemudian darahnya bagaikan terhenti mengalir ketika
dilihatnya tubuh Raden Rudira itu benar-benar telah membeku dengan
tangan yang disilangkan di dadanya. Noda-noda darah yang masih belum
terhapus dan luka-luka yang tampak di antara bajunya yang bagaikan
disayat. “O“ Raden Ayu Galih Warit berdir i sejenak. Namun kemudian
sebuah pekik yang tinggi memecah keheningan malam itu. Dengan
sekuat-kuat tenaganya Raden Ayu Galih Warit menjerit sambil memeluk
tubuh anaknya. Beberapa orang pelayan yang mendengar jerit itupun
segera berlari-lari ke pendapa, karena mereka tahu, bahwa kereta
yang membawa Raden Ayu Galih Warit baru saja datang. Mungkin Raden
Ayu Galih Warit terkejut melihat keadaan puteranya yang terluka itu.
Dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma memang sudah menduga bahwa
isterinya akan menjer it sekuat-kuatnya. Karena itu, ia sama sekali
tidak terkejut karenanya. Bahkan ketika beberapa orang berlari-lar
ian ke pendapa, Pangeran itu berdiri dan mendekati mereka sambil
berkata “Tidak ada apa- apa. Ia hanya terkejut. Nanti ia akan tenang
kembali. Pergilah ke tempatmu masing-masing” Para pelayan itu
menjadi termangu-mangu. Satu-satu mereka berjalan meninggalkan
pendapa kembali ke tempat masing-masing.Di dalam bilik Raden Ayu
Galih War it menangis sejadi- jadinya. Dengan mengguncang-guncang
tubuh yang terbaring itu dipanggilnya nama anaknya. Tetapi Raden
Rudira tidak menyahut sama sekali. “Pangeran, Pangeran” Raden Ayu
Galih Warit itu berteriak “Bagaimana dengan Rudira ini Pangeran”
Pangeran Ranakusuma perlahan-lahan mendekati bilik itu sambil
berkata kepada Dipanala “Ikut aku” Demikian Pangeran Ranakusuma
sampai kedepan pintu bilik, isterinya segera berlari mendapatkannya.
Sambil memeluk suaminya Raden Ayu Galih Warit berkata di antara
tangisnya “Apa yang terjadi kakanda. Apa yang telah terjadi?“ Tetapi
sikap Pangeran Ranakusuma sama sekali tidak seperti kebiasaannya.
Setiap kali Raden Ayu Galih War it mengalami goncangan perasaan,
atau bahkan kadang-kadang sekedar memanjakan diri, Pangeran
Ranakusuma selalu berusaha untuk menenangkannya. Tetapi kali ini
Pangeran Ranakusuma bagaikan patung yang membeku. Raden Ayu Galih
Warit tidak segera dapat menanggapi keadaan. Bahkan iapun
mengguncang-guncang tubuh Pangeran Ranakusuma sekuat-kuatnya sambil
bertanya disela- sela isak tangisnya “Apa yang sudah terjadi atas
Rudira?“ Perlahan-lahan Pangeran Ranakusuma mendorong tubuh Raden
Ayu Galih War it sambil berkata “Diamlah” Raden Ayu Galih Warit
mulai merasakan sikap yang semakin asing dari Pangeran Ranakusuma.
Karena itu, ketika Pangeran Ranakusuma kemudian berjalan mendekati
tubuh Rudira, ia justru terdiam karenanya. “Kemarilah” berkata
Pangeran Ranakusuma kepada isterinya yang justru menjadi
termangu-mangu.“Kemarilah“ Pangeran Ranakusuma mengulang “Rudira
ternyata telah mengalami bencana tanpa kita duga-duga sebelumnya”
Raden Ayu Galih Warit dengan ragu-ragu melangkah mendekat. “Ia sudah
meninggal beberapa saat yang lalu” Raden Ayu Galib Warit
menganggukkan kepalanya. Katanya terputus-putus “Kakanda tidak
memberitahukan apapun pada saat aku datang” “Aku tidak ingin
mengejutkanmu dan apalagi merusak kesan yang cerah di dalam hatimu,
setelah kau mengunjungi pertemuan itu” Raden Ayu Galih Warit
mengangkat wajahnya. Sekilas dipandanginya Dipanala yang berdiri
sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bagaimanapun juga, hatinya
merasa pedih melihat seorang ibu yang harus menghadapi kenyataan
yang sangat pahit itu. “Siapakah yang telah mencelakai Rudira
kakanda?“ Pangeran Ranakusuma menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku
tidak tahu. Ia diketemukan terkapar di jalan” “O“ “Lihatlah lukanya.
Luka itu bukan luka senjata tajam, tetapi lukanya adalah luka
peluru” “Peluru?“ “Ya. Peluru kumpeni” “O, bagaimana mungkin hal itu
terjadi?“ “Tidak ada yang dapat mengatakan dengan pasti” “Apakah
Rudira hanya seorang diri? Biasanya ia pergi bersama Mandra”“Mandra
juga mati” “Mandra juga mati?“ “Ya, tetapi dalam kedudukan yang
lain. Bagaimanapun juga nakalnya Rudira, tetapi kali ini ia terbunuh
selagi ia ingin menyatakan sikapnya sebagai seorang anak laki-laki
yang baik” “Aku tidak mengerti” “Tentu kau tidak mengerti” jawab
Pangeran Ranakusuma. Raden Ayu Galih Warit menjadi semakin bingung.
Dipandanginya suaminya yang benar-benar terasa asing baginya,
seperti juga Pangeran Ranakusuma merasa sebagai orang asing di dalam
bilik itu. Isterinya yang cantik itu sama sekali tidak dapat
memberinya gairah lagi kepadanya sebagai seorang suami. Bukan saja
karena ia sedang berdiri di sisi mayat puteranya, namun apa yang
terjadi memang sudah memisahkannya dari perasaan seorang suami.
“Kematian Rudira memang memberikan suasana yang asing di dalam rumah
ini” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian. Namun ia masih tetap
berusaha menahan gejolak hatinya yang bagaikan meretakkan dada
“Memang tidak ada bukti apapun yang dapat disangkutkan dengan
kematian Rudira, selain luka peluru ini. Tetapi di Surakarta ini ada
beberapa buah senjata yang dapat melepaskan peluru seperti ini”
Raden Ayu Galih War it mengangguk kosong. “Tetapi senjata yang
manakah yang telah melepaskan peluru dan melukai Rudira, tentu sulit
sekali untuk diketahui” Isterinya menganggukkan kepalanya sekali
lagi. “Tetapi” berkata Pangeran Ranakusuma selanjutnya “masih ada
kemungkinan kita dapat menemukan pembunuh anak kita”“Siapa yang
telah membunuhnya kamas?“ “Seseorang melihatnya, bagaimana seorang
perwira kumpeni menembaknya” “O“ dada Raden Ayu Galih Warit menjadi
berdebar-debar. “Perwira kumpeni itu meloncat dar i sebuah kereta”
“Kereta?“ suara Raden Ayu Galih War it menjadi bergetar. “Ya.
Seseorang melihat, sebuah kereta yang baru saja keluar dari tempat
pertemuan yang meriah. Tetapi ternyata ada kereta lain yang sudah
menunggunya di tempat yang gelap. Seorang perwira kumpeni telah
berpindah tempat dari kereta yang berhenti lebih dahulu ke dalam
kereta yang kemudian” “O, siapakah yang mengatakannya?“ “Tunggu. Ada
hubungannya dengan kematian Rudira“ Wajah Raden Ayu Galih Warit
menjadi pucat. “Apakah yang sudah dilakukan oleh Rudira?“ Pangeran
Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan sesuatu telah
menyumbat di kerongkongannya. Namun akhirnya terucapkan juga dari
sela-sela bibirnya “Rudira ingin melihat apa yang sudah dilakukan
oleh perwira itu, karena ia mendengar suara seorang perempuan di
dalam kereta yang kemudian. Ia tidak rela melihat bahwa sesuatu
telah terjadi karena tingkah perwira kumpeni itu, karena ia tahu,
bahwa seorang perempuan yang ada di dalam kereta itupun tentu
seorang bangsawan” Wajah Raden Ayu Galih Warit yang pucat menjadi
semakin pucat. Dengan suara gemetar ia bertanya “Apakah yang
kemudian dilakukan oleh Rudira” “Ia menyusul kereta itu”“O“ tubuh
Raden Ayu Galih Waritlah yang kemudian menjadi gemetar “Tidak. Tidak
terjadi apa-apa. Tidak terjadi apa-apa. Itu hanyalah kebetulan saja,
bahwa kereta itu bertemu di tengah jalan” “Apa yang tidak terjadi
apa-apa?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. “Perwira itu tidak berbuat
apa-apa” “Tentu ia berbuat apa-apa” “Tidak, tidak” Pangeran
Ranakusuma memandang isterinya sejenak, lalu “Akulah yang
memberitahukan hal ini kepadamu. Bukan kau” “Tetapi tidak terjadi
apa-apa dengan kumpeni itu” “Darimana kau tahu? Dan apakah kau juga
melihatnya?“ Pertanyaan itu terdengar bagaikan bunyi guntur yang
meledak di langit. Sejenak Raden Ayu Galih Warit berdiri mematung.
Dengan tatapan mata yang tajam dipandanginya wajah Pangeran
Ranakusuma yang tegang. Lalu dengan suara gemetar ia berkata
seakan-akan tidak terpikirkan lebih dahulu karena kegelisahan,
kecemasan, kepedihan yang bercampur baur “Aku t idak tahu. Aku tidak
tahu apa-apa” “Tetapi Rudira mengetahuinya” berkata Pangeran
Ranakusuma “Ia tahu siapa yang berada di dalam kereta itu. Ia tahu
siapa yang mengatur pertemuan itu. Namun dengan demikian ia sudah
terjebak oleh pengkhianat Mandra” “O“ “Ketika Rudira dan Mandra
mengejar kereta itu, dan Rudira berada di depan, ia melihat seorang
perwira kumpeni meloncat dari kereta. Ia mendengar sebuah ledakan
yang memekakkan telinga dan terasa ia terdorong pada pundaknya. Ia
tidak dapat menguasai diri lagi. Dengan derasnya ia terlempar dan
jatuh di atas jalan berbatu itu”“O“ “Ia masih hidup ketika aku
datang karena disusul oleh seorang abdi. Ia masih dapat mengatakan,
siapakah yang ada di dalam kereta itu” Raden Ayu Galih Warit
rasa-rasanya tidak lagi berpijak di atas tanah. “Dari orang yang
telah ditembak oleh kumpeni yang sedang dibakar oleh nafsu
kecantikan seorang putera bangsawan itu adalah Rudira. Anakmu”
Rasa-rasanya langit bagaikan runtuh menimpa dadanya. Sejenak Raden
Ayu Galih Warit tidak dapat bergerak. Sekilas terbayang kembali
perwira kumpeni yang meloncat turun. Kemudian disusul oleh bunyi
tembakan dan suara tertawa yang berkepanjangan. Ketika dengan
ketakutan ia bertanya, maka perwira itu menjawab, bahwa ia telah
menembak seorang penjahat yang mencoba hendak
membunuhnya.
Jilid 10 “O“ MATA Raden Ayu Galih
Warit mulai berkunang-kunang. Kini ia sadar, bahwa yang ditembak itu
tentu Rudira, anaknya. Dan setelah anaknya itu terkapar di tengah
jalan berbatu- batu, maka ia masih sempat tertawa meringkik seperti
iblis betina di dalampelukan orang asing berkulit putih itu. “O”
Tidak ada sepatah katapun yang dapat diucapkannya. Tetapi yang
pernah dilakukan bagaikan terbayang kembali di dalam rongga matanya.
Kemaksiatan yang pernah dilakukan. Dan akhirnya anaknya sendiri mati
terbunuh selagi ia sedang menikmati nafsu yang gila. Tiba-tiba
nafasnya menjadi terhenti. Sekilas ia melihat Rudira yang terbujur
itu. Tetapi semakin lama semakin kabur. Raden Ayu Galih Warit masih
sempat menjerit. Ter lalu keras. Sambil berlar i ia memanggil nama
anaknya. Kemudian dijatuhkannya dir inya di atas mayat yang sudah
membeku itu. “Rudira, Rudira” suaranya melengking tinggi “Tidak.
Tidak” Suara Raden Ayu Galih Warit tiba-tiba terhenti. Tubuhnya
menjadi lemas dan ia tidak lagi dapat berpegangan ketikatubuh itu
psrlahan-lahan berguling dan jatuh di lantai. Pingsan. Pangeran
Ranakusuma sama sekali tidak berbuat apa-apa. Dipandanginya saja
isterinya yang tergolek di lantai di bawah pembaringannya. Dipanala
menjadi termangu-mangu. Ia tahu, bahwa beberapa orang pelayan
berkumpul di pintu belakang. Tetapi mereka t idak berani masuk ke
dalam. “Pangeran” desis Dipanala “Apakah tidak sebaiknya Raden Ayu
itu dibangunkan dari pingsannya” Pangeran Ranakusuma menandanginya
sejenak, lalu “Biarkan saja ia terbaring di situ” “Tetapi itu
berbahaya bagi Raden Ayu” “Kenapa?“ “Jika Raden Ayu terlampau lama
pingsan, maka kesehatannya akan menjadi jelek sekali” “Aku tidak
peduli” “Tetapi, tetapi, apakah hamba diperkenankan mencobanya
bersama para pelayan?“ “Apa kepentinganmu? Bukankah kau pernah akan
dibunuhnya? Rudira dan Mandralah yang mengatur segala sesuatunya.
Buat apa kau sekarang akan menolongnya” “Hamba mengerti Pangeran.
Tetapi hamba tidak sampai hati melihatnya, seperti pada saat hamba
melihat Mandra sudah siap membunuh Raden Rudira” Pangeran Ranakusuma
menar ik nafas dalam-dalam. Sambil melangkah meninggalkan ruangan
itu ia berdesis “Terserah kepadamu” Ki Dipanala menjadi ragu-ragu
sejenak. Dipandanginya saja Pangeran Ranakusuma yang melangkah
keluar biliknya.Meskipun tampaknya Pangeran itu tetap tenang, namun
tatapan matanya yang tunduk membayangkan, betapa sakitnya dera yang
menyentuh perasaannya. Ia telah kehilangan anak laki- lakinya, dan
sekaligus telah kehilangan semuanya. Isterinya yang dianggapnya
paling sesuai itu ternyata sama sekali t idak setia kepadanya,
sedang isterinya yang lain telah meninggal lebih dahulu dan yang
seorang telah dikembalikan kepada orang tuanya. Demikian juga kedua
anak laki- lakinya. Yang seorang meninggal, dan yang seorang
bagaikan telah dibuangnya. Anak perempuannya hampir seperti orang
lain saja baginya. Meskipun kadang-kadang anak itu dengan manjanya
merengek minta sesuatu, namun ia lebih dekat dengan ibunya bahkan
dengan kakeknya daripada dengan dir inya sendiri. Ki Dipanala masih
berdiri sambil termenung ketika ia melihat Pangeran Ranakusuma duduk
di pendapa. Seakan- akan tidak terjadi sesuatu di dalam istananya
yang besar. Seakan-akan tidak ada sesosok mayat yang terbujur di
dalam bilik, dan tubuh yang terbaring pingsan di lantai di sisi
mayat itu. Seakan-akan tidak pernah terjadi pengkhianatan dari abdi
yang dianggapnya setia oleh anaknya itu, dan yang kemudian juga
terbujur mati di ruang belakang. Ki Dipanala menarik nafas
dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia sadar bahwa Raden Ayu Galih
Warit memer lukan pertolongan. Jika ia sama sekali tidak mendapat
perawatan, maka akan ada t iga sosok mayat di dalam rumah ini.
Karena itu, maka Ki Dipanala mencoba melupakan Pangeran Ranakusuma
yang duduk mematung di pendapa. Dengan tergesa-gesa iapun kemudian
pergi ke belakang. Di depan pintu Ki Dipanala hampir tidak dapat
melangkah keluar karena para pelayan yang berdiri berjejal-jejal.
“Apa yang terjadi?“ seseorang bertanya.“Ambillah minyak kelapa dan
berambang. Raden Ayu Galih Warit sedang pingsan. ” Tidak ada yang
sempat bertanya lagi. Ki Dipanala segera kembali masuk ke dalam
bilik. Dipapahnya Raden Ayu Galih Warit yang pingsan itu ke bilik
Raden Rudira, dan dibaringkannya di pembaringan puteranya yang sudah
dibersihkan. Sejenak Ki Dipanala memandang wajah yang pucat itu.
Wajah yang memang sangat cantik. Meskipun Raden Ayu Galih Warit
sudah mempunyai seorang anak laki- laki dan seorang perempuan yang
menginjak dewasa, namun ia masih tetap seorang perempuan yang cantik
dengan tubuh yang mempesona. “Sayang” desis Ki Dipanala di dalam
hatinya “kecantikannya hanyalah sekedar kulit. Sama sekali tidak
meresap sampai ke dalam hati dan jantungnya” Sejenak kemudian, maka
seseorang yang membawa minyak kelapa memasuki bilik itu setelah ia
mencar inya di bilik Raden Ayu Galih War it, tetapi tidak
menemukannya di sana. “Bawa kemari” Pelayan itupun mendekat. Namun
ia berbisik “Apa yang terjadi dengan Raden Rudira itu? Apakah tabib
yang pandai itu tidak berhasil?“ Ki Dipanala memandanginya sejenak,
lalu katanya tanpa menjawab pertanyaan itu “Bantu aku” Orang itu
tidak menjawab. Dibantunya Ki Dipanala mengusap kaki dan telinga
Raden Ayu Galih Warit dengan minyak kelapa dan berambang merah.
Namun Raden Ayu Galih Warit masih tetap diam. Karena itu maka
berkata Ki Dipanala “Panggil seorang emban. Cepat”Pelayan itupun
dengan tergesa-gesa pergi ke belakang. Ia sudah melupakan, bahwa
iapun telah ikut membenci Dipanala selama ini. Sejenak kemudian
seorang emban yang sudah agak lanjut umurnya datang tergopoh-gopoh
ke dalam bilik itu, sementara pelayan yang memanggilnya mengikut
inya dari belakang. “Tunggulah di luar” berkata Ki Dipanala kepada
pelayan itu kemudian. Pelayan itu termangu-mangu sejenak. Namun
iapun kemudian pergi ke belakang. Dengan demikian berita kematian
Raden Rudira segera tersebar. Beberapa macam tanggapan telah
dilontarkan oleh para pelayan dan para pengawal. Sebagian dari
mereka telah menganggap, bahwa Ki Dipanala telah membunuh dua orang
sekaligus. “Tetapi kenapa Pangeran Ranakusuma seakan-akan tidak
mengacuhkannya sama sekali?“ bertanya seseorang. “Kebingungan yang
memuncak itu telah membuatnya seperti orang yang terganggu
ingatannya” “Tetapi kemarahannya tentu akan membakar jantungnya dan
Dipanala akan dicincangnya. Bukankah Pangeran Ranakusuma seorang
Senapati yang dibanggakan di Surakarta” Yang lain mengerutkan
keningnya. Seseorang berkata “Kita memang tidak tahu apa-apa.
Baiklah kita menunggu penjelasan yang dapat kita percaya” Dalam pada
itu, setelah pintu bilik ditutup rapat-rapat, maka Ki Dipanala
dibantu oleh emban itupun segera berusaha untuk menyadarkan Raden
Ayu Galih Warit. Ikat pinggang yang terlalu keras itupun telah
dikendorkan, dan hampir seluruh tubuhnya telah diusap dengan minyak
kelapa danberambang merah. Tetapi Raden Ayu Galih Warit tidak segera
sadarkan diri. Semakin lama Ki Dipanala menjadi semakin gelisah.
Karena itu maka apa saja yang dapat dilakukan, telah dilakukannya.
Digerak-gerakkannya tangan Raden Ayu Galih Warit. Kemudian kakinya,
kepalanya dan dengan cemas diguncang- guncangnya tubuh yang masih
tetap diam itu. Tetapi Raden Ayu Galih Warit t idak bergerak sama
sekali. Ki Dipanala dan emban yang membantunya itu semakin lama
menjadi semakin cemas. Karena itu, maka Ki Dipanalapun kemudian
berkata dengan gugup “Aku akan menghadap Pangeran Ranakusuma. Aku
akan memohon agar Pangeran sekali lagi memanggil tabib itu. Kali ini
bagi Raden Ayu Galih War it” Emban itu hanya dapat mengangguk-angguk
saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ki Dipanalapun kemudian
menghadap Pangeran Ranakusuma dengan ragu-ragu. Dengan ragu-ragu
pula iapun kemudian berkata “Ampun Pangeran. Hamba tidak berhasil
membangunkan Raden Ayu” Pangeran Ranakusuma masih saja memandang
kekejauhan. Kekegelapan yang bagaikan memisahkan dunianya dengan
dunia di balik tabir yang hitam itu. Ki Dipanala menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia tidak berani bertanya lagi. Ia tahu benar,
betapa sakit dan pedihnya hati Pangeran Ranakusuma yang selama ini
mendambakan kekuasaan yang berlebihan di Surakarta. Ia adalah salah
seorang Pangeran yang merasa dirinya memiliki kemampuan yang tidak
ada tandingnya diantara para Pangeran yang lain. Bahkan Pangeran
Mangkubumipun sebenarnya secara pribadi tidak menggetarkan selembar
bulunya.Namun karena di hati kecilnya Pangeran Ranakusuma sadar,
bahwa sebenarnya sikap Pangeran Mangkubumi yang kadang-kadang aneh
itu didorong oleh perasaan kecewa yang mendalam, maka kadang-kadang
Pangeran Ranakusuma merasa dir inya lebih kecil. Ia sama sekali
tidak berani mempergunakan kelebihannya untuk berdiri di atas sikap
yang teguh seperti Pangeran Mangkubumi. Bukan sekedar tidak berani,
tetapi juga karena didorong oleh nafsu duniawi yang
berlebih-lebihan. Namun akhirnya yang didapatinya adalah kekosongan.
Kekosongan dan kesepian. Semuanya seakan-akan pergi menjauh
daripadanya. Hilang tanpa dapat diketemukannya lagi. Dalam kepahitan
yang hampir tidak tertelan ia baru menyadari, bahwa ia telah member
ikan korban terlalu banyak bagi ketamakannya. Ternyata bahwa anak
laki-lakinya telah lepas dari kendali dan sukar untuk ditarik
kembali. Akhirnya, ia adalah korban sifat sifat yang memuakkan dari
orang tuanya. Orang tua yang hampir tidak menghiraukan tentang anak-
anaknya. Disangkanya bahwa menyuapi mulut anaknya sebanyak-banyaknya
dengan kemewahan, uang dan kekuasaan akan dapat membentuk anak itu
menjadi seorang yang baik. Ternyata bahwa yang terjadi adalah
sebaliknya. Korban yang sia-sia. Ki Dipanala masih duduk dengan
gelisah. Ia melihat seakan-akan wajah Pangeran Ranakusuma itu memuat
ceritera tentang dirinya sendiri sepenuhnya. Pangeran Ranakusuma
menarik nafas dalam-dalam. Terbayang kembali hubungannya yang gelap
dengan adik kandung Galih Warit. Dan itupun merupakan getar yang
berpengaruh di dalam jiwa anak laki-lakinya meskipun secara wadag ia
tidak melihatnya.Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam.
Ketika terlihat olehnya Ki Dipanala duduk tepekur, maka iapun
bertanya dengan sada yang datar “Kau mau apa?“ Ki Dipanala
termangu-mangu sejenak. Namun dipaksakannya juga mulutnya berkata
“Pangeran, agaknya Raden Ayu tidak segera dapat sadar” “Aku tidak
peduli” jawab Pangeran Ranakusuma acuh t idak acuh. “Maksud hamba,
apakah tidak sebaiknya tuan mengutus seorang untuk sekali lagi
memanggil tabib itu?“ “Tidak ada gunanya” “Mungkin ada Pangeran” “Ia
sudah gagal mengobati Rudira. Tentu ia akan gagal lagi jika ia
mengobati siapapun juga hari ini” “Tetapi Raden Ayu tidak perlu
diobati” “Jadi kenapa harus memanggil tabib itu?“ “Ia perlu
dibangunkan. Tidak diobati Pangeran” Sekali lagi Pangeran Ranakusuma
terdiam. Dan sekali lagi ia menatap kekejauhan, ke dalam gelapnya
malam. Satu satu dilihatnya bintang yang bergayutan di langit yang
hitam di atas atap rumah di hadapan istananya. Sejenak kemudian maka
katanya “Aku tidak peduli Dipanala. Apa saja yang akan kau kerjakan
dengan Galih Warit. Aku tidak memerlukannya lagi. Jika kau mau,
ambillah dan bawa ia pulang” “Ampun Pangeran, tentu hamba tidak akan
berani berbuat demikian, karena derajat hamba. Namun hamba memang
tidak sampai hati membiarkannya dalam keadaan yang
demikian”“Terserah kepadamu. Aku sudah berkata, terserah kepadamu”
Ki Dipanala tidak segera berani menangkap kata-kata itu secara
pasti. Karena itu, maka iapun masih saja tetapi duduk di tempatnya,
sehingga Pangeran Ranakusuma menjawab “He, kenapa kau masih tetap
duduk saja? Pergilah, dan berbuat sekehendak hatimu” Ki Dipanala
menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk data m-dalam iapun
bergeser surut. Ketika ia sampai di bilik Raden Rudira, maka Raden
Ayu itupun sudah menjadi terlalu pucat. Wajahnya bagaikan sudah
tidak berdarah sama sekali. “Emban” berkata Ki Dipanala kemudian
“Aku mohon agar Pangeran Ranakusuma memanggil seorang tabib yang
pandai. Tetapi semuanya terserah saja kepadaku. Pangeran menjadi
acuh tidak acuh” “Aneh. Raden Ayu Galih Warit dalam keadaan ini,
Pangeran Ranakusuma masih tetap berdiam dir i saja. Apakah ia sama
sekali tidak mengerti keadaan Raden Ayu, atau barangkali sedang
marah atau ada persoalan-persoalan lain?“ Ki Dipanala hanya
mengerutkan dahinya. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk mengatakan
keadaan Pangeran itu, tetapi ia masih berusaha untuk melindungi nama
baik Raden Ayu Galih" Warit di hadapan para pelayan di Ranakusuman.
“Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan?“ bertanya emban itu. Ki
Dipanala termangu-mangu sejenak. Tetapi ketika terpandang olehnya
wajah yang pucat itu ia berkata “Baiklah kita memanggil tabib itu”
“Tetapi apakah Pangeran Ranakusuma memperkenankan?” “Itu terserah
kepadaku”“Itulah kata-katanya. Tetapi apakah demikian juga yang
dipikirkannya dan sikapnya yang sebenarnya?“ Ki Dipanala menjadi
ragu-ragu pula. “Tetapi apakah kita akan membiarkan Raden Ayu Galih
Warit itu di dalam keadaannya?“ Emban itu tidak menjawab.
Perlahan-lahan ia mengusap kening Raden Ayu Galih Warit. Dan
tiba-tiba saja ia berdesis “Ki Dipanala, lihatlah. Raden Ayu mulai
bergerak” Dipanala segera meloncat mendekatinya. Seperti yang
dikatakan emban itu, maka ia melihat gerak yang lemah pada Raden Ayu
Galih Warit. Terdengar tarikan nafas yang lamban. Namun kemudian
diam lagi. “Emban, panggillah seseorang, Biarlah ia menjemput tabib
itu sekali lagi. Suruhlah ia mengatakan bahwa kali ini ia harus
menyadarkan Raden Ayu yang pingsan” Emban itupun kemudian
meninggalkan bilik itu dan menyuruh seorang pelayan memanggil tabib
itu sekali lagi. Sejenak kemudian seekor kuda berderap meninggalkan
halaman istana Pangeran Ranakusuma. Sedang Pangeran Ranakusuma
sendiri yang melihat kuda itu berlari keluar regol dari pendapa,
sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia masih saja duduk sambil
merenungi diri sendir i, keluarganya dan kemudian justru Surakarta.
“Kumpeni itu sudah membunuh anakku” katanya di dalam hati “Apapula
yang akan aku dapatkan dari mereka, ternyata harganya terlampau
mahal. Aku harus mengorbankan Rudira dan bahkan aku harus menjual
isteriku pula kepada mereka. Gila. Gila“ Pangeran Ranakusuma
menggeretakkan giginya. Namun kemudian tubuhnya bagaikan terkulai
lemah. Semuanya sudah terjadi. Bukan kesalahan orang lain, tetapi ia
adalah orang yang justru paling bersalah. Juga atas kematian
Rudira.Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Dalam pada
itu, Ki Dipanala benar-benar mulai berpengharapan. Emban yang sudah
ada kembali di dalam bilik itupun mulai berpengharapan pula.
Sekali-sekali mereka melihat Raden Ayu Galih Warit mulai bergerak
meskipun sedikit sekali. Pernafasannya mulai teratur dan
kadang-kadang sudah terdengar ia berdesah perlahan- lahan. Ki
Dipanala dan emban itupun dengan gelisah menunggu tabib yang telah
diundang. Seakan-akan mereka menunggu terlampau lama. Jika Raden Ayu
Galih Warit mulai bergerak, keduanya berlutut di samping pembar
ingannya sambil meraba-raba tubuh yang terbaring itu, seakan-akan
mendorongnya untuk segera bangun dan berbicara apa saja. Namun Raden
Ayu Galih War it belum sadarkan dirinya. Sejenak kemudian mereka
mendengar kuda berderap memasuki regol. Namun ketika mereka melihat
Pangeran Ranakusuma duduk di pendapa, maka penungganyapun segera
berloncatan turun sambil menghent ikan kuda mereka. Setelah mengikat
kudanya di halaman sebelah, maka tabib itupun telah dibawa masuk
oleh seorang pelayan langsung ke dalam bilik. “Bagaimana dengan
Raden Ayu?“ bertanya pelayan itu. Ki Dipanala menarik nafas
dalam-dalam, lalu “Sebagaimana kau lihat. Ia pingsan ketika ia
melihat mayat puteranya” Tabib itu menar ik keningnya. Sambil
berpaling ke pintu ia berkata “Pangeran ada di pendapa” “Ya.
Pangeran memang ada di pendapa” “Kenapa Pangeran tidak menunggui
Raden Ayu” Ki Dipanala tidak segera dapat menjawab. Namun kemudian
ia menggelengkan kepalanya sambil berkata “Mungkin Pangeran
benar-benar telah dibingungkan olehkematian puteranya, sehingga ia
tidak dapat lagi berpikir bening” Tabib itu mengangguk-angguk.
Perlahan-lahan ia mendekati Raden Ayu Galih War it yang pingsan.
Dirabanya tubuh yang masih diam itu sambil berkata “Apakah Raden Ayu
sudah cukup lama pingsan?“ “Ya. Sudah cukup lama” Tabib itu
mengangguk-angguk. Lalu katanya “Berilah aku air hangat” Emban
itupun kemudian pergi ke belakang untuk mengambil air hangat. Dalam
kesempatan itulah maka Ki Dipanala berkata “Raden Ayu telah
mengecewakan Pangeran Ranakusuma, justru pada saat puteranya
meninggal” “Kenapa?“ “Besok aku akan member itahukan kepadamu” Tabib
itu mengangguk-angguk pula. Tetapi ia tidak bertanya lebih banyak
lagi. Dan ketika emban yang membawa air hangat itu datang, maka
iapun segera mencoba membangunkan Raden Ayu Galih Warit yang pingsan
itu. Dalampada itu Ki Dipanalapun berkata kepada emban yang masih
ada di dalam bilik itu “Sudahlah, beristirahatlah. Biarlah aku
menunggui tabib ini, dan membantunya apabila diperlukan. Kau tentu
lelah dan barangkali kantuk” “Ah“ desah emban itu. “Tinggalkan saja
kami. Jika perlu aku akan memanggilmu” Emban itu termangu-mangu
sejenak. Namun iapun kemudian meninggalkan bilik itu meskipun dengan
ragu-ragu. Sepeninggal emban itu, maka tabib itupun mulai menyeka
kaki dan tangan Raden Ayu Galih Warit dengan air hangatyang sudah
dibubuhi dengan berbagai macam obat-obatan yang dapat menghangatkan
urat-urat darahnya. Dengan selembar kain yang dibasahi dengan air
hangat itu sedikit, diusapnya bagian-bagian tubuhnya sehingga hampir
merata. Sejenak kemudian Raden Ayu Galih Warit yang sudah mulai
bergerak itupun berdesah. Semakin lama semakin sering. Dan bahkan
kemudian terdengar ia merint ih. “Raden Ayu“ Ki Dipanala
memanggilnya. Tetapi agaknya suara Ki Dipanala itu masih belum
didengarnya. Tabib itupun kemudian menggerakkan tangan Raden Ayu itu
perlahan-lahan beberapa kali. Dan nafas Raden Ayu itupun menjadi
semakin teratur. Ki Dipanala bergeser maju ketika ia melihat Raden
Ayu Galih War it itu membuka matanya sejenak. Hanya sejenak. Dan
mata itupun terpejam kembali. ”Raden Ayu” sekali lagi Ki Dipanala
memanggil Namun Ki Dipanala terkejut ketika ia melihat mulut Raden
Ayu Galih Warit itu bergerak-gerak sejenak. Dan sebelum Ki Dipanala
dan tabib yang merawatnya mengerti apa yang dikatakan, tiba-tiba
saja Raden Ayu Galih Warit menjer it keras sekali. Keras dan
panjang. “Raden Ayu“ desis Ki Dipanala. Tetapi suaranya tidak
didengar. Raden Ayu itu masih menjer it kerasi. Kepalanya
digeleng-gelengkannya semakinlama semakin cepat, sedang kedua belah
matanya tetap terbuka. “Raden Ayu, Raden Ayu“ Ki Dipanala menjadi
cemas. Apalagi ketika dilihatnya dahi tabib yang masih muda itu
berkerur-merut” “Bagaimana Ki Sanak” bertanya Ki Dipanala. Tabib itu
tidak segera menjawab. Dirabanya dahi Raden Ayu Galih Warit. Tetapi
dahi itu sama sekali tidak menjadi hangat. “Raden Ayu“ tabib itupun
memanggilnya. Tetapi Raden Ayu Galih Warit sama sekali t idak
menghiraukannya. Tabib yang biasanya selalu tenang itu menjadi
tampak agak cemas. Keringat dingin mengembun dikeningnya.
Sekali-sekali diusapnya keringat itu dengan tangannya. Tetapi Raden
Ayu masih berteriak-teriak keras sekali. Disela-sela suaranya yang
melengking, kadang-kadang terdengar ia memanggil nama puteranya.
“Rudira, Rudira“ Ki Dipanala menjadi tegang. Tanpa disadarinya ia
menjenguk Pangeran Ranakusuma yana duduk di pendapa. Tetapi ternyata
Pangeran itu masih duduk di tempatnya. Ki Dipanala menjadi heran.
Begitu besar kekecewaan yang mencengkam hatinya. sehingga
seakan-akan teriakan Raden Ayu itu sama sekali tidak didengarnya.
Sebenarnyalah bahwa Pangeran Ranakusuma t idak mempedulikan suara
itu. Kematian anak laki-lakinya. ketidak setiaan isterinya, justru
yang menyebabkan kematian Raden Rudira itu, bagaikan titik-t itik
embun yang tersimpan sewindu, yang menyiram dan telah membekukan
hati dan jantungnya. Ada juga sentuhan suara isterinya yang menyayat
itu. Bahkania sudah bergerak untuk berdir i. Namun kemudian Pangeran
Ranakusuma itu duduk kembali di tempatnya. Hatinya telah benar-benar
membeku seperti tubuh anak laki-lakinya yang sudah meninggal itu.
Dari dalam bilik masih terdengar jerit yang melengking- lengking. Ki
Dipanala masih berdiri termangu-mangu. Tetapi Dipanala itu tidak
berani mengatakan sesuatu. Tentu Pangeran Ranakusuma sudah
mendengar. Jika ia ingin bangkit dan mendekati isterinya tentu sudah
dilakukannya. “Bukan main” desis Ki Dipanala kepada diri sendri
“kekecewaan yang tiada taranya lelah membuatnya sama sekali tidak
menghiraukan apa yang terjadi Demikian parah kepedihan seorang suami
yang sama sekali tidak menyangka bahwa ketidak setiaan itu sudah
terjadi, dan sekaligus menyebabkan kematian anak laki-lakinya”
Dengan hati yang terpecah. Ki Dipanala kembali ke dalam bilik. Ia
melihat beberapa orang pelayan berdiri di muka pintu butulan.
Merekapun menjadi heran, bahwa Pangeran Ranakusuma masih tetap duduk
diam di pendapa. “Rudira, Rudira” teriak Raden Ayu Galih Warit
“Maafkan aku. Aku tidak sengaja membunuhmu. Bukan salahku saja.
Bukan salahku“ Tabib itu menjadi tegang. Dipandanginya Ki Dipanala
sejenak, lalu “Apakah yang sudah terjadi Ki Dipanala?“ Ki Dipanala
tidak menjawabnya. Sementara itu Raden Ayu itu masih saja berteriak
“O, bukan maksudku. Kumpeni itu bermaksud baik. Aku menyerahkan
diriku karena aku mendapat imbalan yang tidak terkira. Aku bermaksud
member ikan kepadamu Rudira. Kepadamu dan kepada Warih. Tetapi tidak
untuk membunuhmu. Aku ingin mempengaruhi mereka untuk kepentingan
ayahandamu. Ayahandamu harus menjadi Senopati Agung di Surakarta.
Ayahandamu harus mendapat imbalan tanah yang jauh lebih banyak dari
TanahSukawati. Tanah Sukawati itu memang harus diminta kembali dari
Pangeran Mangkubumi, kemudian diserahkan kepada ayahandamu dan masih
harus ditambah dengan daerah sekitarnya. Juga Jati Sari seisinya
harus diserahkan, termasuk gadis itu Rudira, Arumdan juga kematian
Juwir ing” “O” tabib itu berdiri gemetar. Dan Ki Dipanalapun
bagaikan tidak dapat berpikir lagi mendengar isi hati Raden Ayu
Galih Warit yang tidak sempat dikekangnya, karena ia masih belum
sadar sepenuhnya. Untunglah bahwa bilik itu tertutup rapat, sehingga
para pelayan yang berdiri di pintu butulan di belakang tidak begitu
jelas mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Raden Ayu Galih War it
itu. Mereka hanya mendengar lamat-lamat, Raden Ayu Galih Warit
berteriak-teriak. Tetapi mereka sama sekali tidak mengerti
maksudnya. Dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma yang sama sekali
tidak berniat untuk menengok isterinya, mendengar juga serba sedikit
teriakan Raden Ayu itu, sehingga hatinya tergelar karenanya.
Bagaimanapun juga ia bertahan untuk tetap duduk Di tempatnya, namun
iapun kemudian bangkit dan bergegas masuk ke dalam bilik itu sambil
membentak “Suruh orang itu diam. Suruh orang itu diam” Ki Dipanala
dan tabib itu menjadi termangu-mangu. Sementara itu Raden Ayu Galih
Warit masih berteriak “Aku sama sekali tidak ingin berkhianat. Apa
yang aku lakukan adalah suatu perjuangan. Aku telah berkorban dengan
segala yang ada padaku untuk kepentingan keluargaku” “Diam, diam“
Pangeran Ranakusumapun berteriak pula. Tetapi Raden Ayu Galih Warit
yang tidak sadar atas apa yang terjadi itu masih saja berteriak.
Betapa gelapnya hati Pangeran Ranakusuma. Pengakuan yang langsung
dapat didengarnya itu bagaikan pisau yang mengiris jantungnya.
Itulah sebabnya maka ia tidak dapatmendengar suara itu lebih lama
lagi. Dengan garangnya ia meloncat dengan jari-jari berkembang
menerkam leher Radefn Ayu Galih War it. “Pangeran, Pangeran“ hampir
berbareng Ki Dipanala dan tabib yang masih muda itu meloncat pula.
Sambil memegangi lengan Pangeran itu Ki Dipanala berkata “Pangeran,
hamba mengharap Pangeran mengerti. Raden Ayu sedang dalam keadaan
tidak sadar” “Justru karena itulah maka ia mengatakan yang
sebenarnya, la berkata apa yang pernah ia lakukan, dan apa yang
pernah dilakukan itu sangat menyakitkan hati. Aku akan membunuhnya.
Aku harus membunuhnya” “Pangeran” berkata tabib itu “terserahlah
kepada Pangeran. Tetapi biar lah Raden Ayu sadar lebih dahulu dari
pingsannya. Itu adalah kuwajiban hamba sebagai seorang tabib.
Setelah Raden Ayu menyadari keadaannya maka semuanya adalah hak
Pangeran untuk berbuat apapun dengan segala tanggung jawab Pangeran
sendiri” Pangeran Ranakusuma memandang tabib itu sejenak. Lalu
“Tetapi memalukan sekali. Aku tidak mau mendengar ia mengigau
seperti itu” “Pangeran” berkata tabib ini biarlah hamba mencoba
untuk menenangkan Raden Ayu Galih Warit. Pangeran Ranakusuma
mengerutkan keningnya. Tetapi hatinya bagaikan menyala ketika ia
masih mendengar isterinya mengigau. Katanya “Mudah-mudahan aku
berhasil. Jika kumpeni dapat membantuku, maka kamas Ranakusuma akan
menjadi seorang Senapati Agung di Surakarta dan akan mendapat tanah
kalenggahan yang mencukupi untuk tujuh turunan. Untuk anak cucuku,
untuk anak cucu Rudira dan Warih” “Diam, diam. Aku tidak mau
mendapatkan kedudukan yang harus dibeli dengan noda pada kesetiaan
seorang isteri. Akumembiarkan kau bergaul dengan mereka, tetapi
tidak untuk mengotori keluarga ini” Raden Ayu Galih Warit sama
sekali tidak mendengar, sehingga karena itu ia masih saja berkata
“Dan usaha itu tampaknya akan segera berhasil dalamwaktu singkat”
“Tidak, tidak“ Pangeran Ranakusumapun berteriak. Tetapi Raden Ayu
Galih War it sama sekali tidak mendengarnya. Namun dalam pada itu,
justru telinga hati Pangeran Ranakusumalah yang telah mendengar
suaranya sendiri. Sebenarnyalah bahwa ia memang telah memberikan
waktu dan kesempatan terlalu banyak kepada isterinya. Dan sudah
barang tentu dengan pamrih seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu
Galih Warit itu. Pangeran Ranakusuma memang tidak dapat ingkar
kepada diri sendiri, bahwa sebenarnyalah ia telah bermain api. Ia
ingin membiarkan isterinya berdiri di atas pagar ayu, tetapi tidak
melampauinya. Namun batas yang tidak berjarak itu ternyata tidak
dapat dipertahankannya, sehingga akhirnya Raden Ayu Galih Warit itu
telah terjerumus ke dalam tindakan yang tidak dapat dibenarkan. “O“
Pangeran Ranakusuma melangkah surut. Tangannya yang sudah siap
mencekik leher isterinya, ditariknya kembali. Dengan kepala tunduk
ia melangkah menjauh. Dengan hati yang pedih dilihatnya isi hatinya
sendiri. Pamrih yang terlampau besar, seperti yang disebut-sebut
isterinya itu. Ia memang ingin menjadi seorang Senapati Besar dengan
tanah kelenggahan seluas tujuh kali tanah kalenggahan seorang
Pangeran biasa. Karena itulah maka ia tidak berbuat apa-apa lagi.
Sekali- sekali Raden Ayu Galih Warit masih juga mengigau, meskipun
tidak sekeras sebelumnya. Tabib itu berusaha untuk menitikkan obat
yang dapat menenangkannya meskipun hanya sedikit Tetapi obat itu
bukan untuk menghentikan sama sekali, karena tabib itu tidakberani
menanggung akibat, bahwa Raden Ayu Galih Warit akan terdiamuntuk
selama- lamanya. Meskipun suara Raden Ayu Galih Warit menurun,
tetapi ia tidak juga berhenti mengigau. Ia masih saja berbicara
tentang dirinya, tentang anak-anaknya dan tentang cita-citanya.
Pangeran Ranakusuma yang tidak mau lagi mendengar igauannya itupun
kemudian meninggalkan bilik itu dan kembali duduk di pendapa.
Bagaimana ia berusaha untuk mengusir angan-angannya, namun ternyata
bahwa setiap kali iapun dihadapkan kepada sikapnya yang tamak.
Sehingga karena itulah, maka yang terjadi sekarang bagaikan telah
meremukkan jantung dan hatinya. Ki Dipanala dan tabib yang masih
muda itu masih menunggui Raden Ayu Galih Warit. Setiap kali mereka
harus menahan nafasnya jika Raden Ayu itu kadang-kadang menyebutkan
rahasia dirinya yang paling dalam. Bahkan di dalam keadaannya yang
semakin lemah karena obat yang dititikkan di mulutnya, ia masih
dapat menyebut beberapa nama orang asing dengan kata-kata yang tidak
jelas. “Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi” desis tabib itu
perlahan-lahan. Terasa bulu kuduk Ki Dipanalapun meremang. Ia tidak
pernah menduga, bahwa ia akan mendengar pengakuan yang menger ikan.
Apalagi dari mulut seorang perempuan bangsawan. “Apakah kau tidak
dapat berusaha agar Raden Ayu itu terdiam?“ desak Ki Dipanala. “Aku
tidak berani melakukannya. Aku tidak berani menanggung akibatnya
jika ia akan terdiam untuk seterusnya. Dan hal itu akan mungkin
terjadi, jika aku menit ikkan agak terlalu banyak” “Kau dapat
memperhitungkannya. Kau sudah cukup ahli”“Tetapi tidak ada jaminan
yang pasti tentang kekuatan jasmaniah seseorang. Dan aku memang
tidak biasa member ikan lebih dari yang sudah aku berikan” Ki
Dipanala hanya menahan nafasnya saja. Namun kegelisahan yang sangat
telah mencengkam jiwanya. Namun tiba-tiba Ki Dipanala itu terkejut.
Dilihatnya Raden Ayu Galih Warit yang lemah itu tiba-tiba saja
berhenti. Kemudian matanya terbelalak sejenak, hanya sejenak, karena
iapun kemudian memejamkan matanya. “Bagaimana?“ bertanya Ki
Dipanala. Tabib itu meraba tubuh Raden Ayu Galih Warit. Dipijit-
pijitnya bagian belakang telinganya. Kemudian diusapnya dengan
sejenis obat yang cair seperti minyak kelapa. “Mudah-mudahan ia akan
segera sadar” berkata tabib itu. “Apakah itu gejalanya” “Memang ada
kelainan. Tetapi mudah-mudahan” Sejenak Raden Ayu Galih Warit
memejamkan matanya. Nafasnya dengan teratur lewat lubang hidungnya
yang mancung. Tabib itu menjadi berdebar-debar. Dicobanya untuk
mengusap kening Raden Ayu Galih Warit. Kemudian bagian belakang
telinganya dan pundaknya. Perlahan-lahan Raden Ayu Galih Warit
membuka matanya. Ki Dipanala dan tabib yang menungguinya menahan
nafas dengan tegangnya. Sepercik harapan telah tumbuh di dalam hati
mereka. Ki Dipanala bergeser mendekat ketika ia melihat Raden Ayu
Galih Warit itu kemudian bergerak. Diangkatnya kepalanya sedikit.
Namun karena badannya yang masih sangat lemah, maka kepala Raden Ayu
itupun terkulai kembali di pembaringan.Ki Dipanala memandang tabib
itu sejenak sambil mengangguk sedang tabib itupun mengangguk pula.
Namun keduanya mengerutkan keningnya ketika mereka melihat Raden Ayu
Galih War it itu tersenyum. “Kenapa ia justru tersenyum” bertanya Ki
Dipanala di dalam hatinya. Dan keduanya terkejut ketika Raden Ayu
itu justru tertawa perlahan-lahan. “Raden Ayu“ Panggil Ki Dipanala
dengan cemas. Raden Ayu Galih Warit berpaling memandanginya.
Ternyata bahwa ia sudah mendengar suara itu. Namun yang mencemaskan
justru ketika Raden Ayu itu tertawa sambil bertanya “He, siapa kau?“
“Raden Ayu, apakah Raden Ayu tidak mengenal hamba lagi” Raden Ayu
Galih Warit mengerutkan keningnya. Kemudian perlahan-lahan ia
bangkit. Ternyata tubuhnya masih terlampau lemah, meskipun iapun
kemudian berhasil duduk di pembaringan. “O” katanya kemudian “Kenapa
kau ada di sini?“ “Raden Ayu baru saja pingsan” jawab Ki Dipanala.
Raden Ayu itu mengerutkan keningnya. Lalu sambil tertawa ia berkata
“He, kau mengigau. Dimanakah kapitan Dungkur?“ “Siapa Raden Ayu?“
“Kapitan Dungkur. He, apakah ia sudah pergi?“ Ki Dipanala tertegun
sejenak. Dipandanginya tabib yang sedang termangu-mangu, sementara
Raden Ayu Galih Warit itupun kemudian berdir i tertatih-tatih.“Uh,
Dungkur memang rakus. Ia begitu saja pergi dengan diam-diam” Raden
Ayu itupun kemudian tertawa “Tetapi ia mempunyai Barang-barang yang
aneh. Dan ia mempunyai pengaruh yang besar dikalangan istana” Ki
Dipanala hanya dapat berpaling ketika kemudian Raden Ayu Galih Warit
itu berdiri sambil dengan tangannya membenahi pakaiannya yang memang
dikendorkan ketika ia pingsan. “Dungkur yang rakus itu tidak mau
menunggu aku berpakaian dengan rapi. Gila” Lalu tiba-tiba
dipandanginya tabib itu “He siapa kau?“ “Ampun Raden Ayu. Hamba
berusaha mengobati Raden Ayu” “Mengobati? Aku kenapa? O, bodoh
sekali kau “ Raden Ayu itu tertawa “Apa yang kau obati padaku? Jika
aku sakit kumpeni mempunyai obat yang tidak kau punyai. He, siapa
kau?” Ki Dipanala menjadi semakin cemas. Apalagi ketika ia kemudian
mendengar Raden Ayu itu tertawa terbahak-bahak. Tanpa menghiraukan
kedua orang yang ada di dalam biliknya Raden Ayu Galih Warit
memperbaiki letak pakaiannya sambil tersenyum-senyum. Ternyata
senyum Raden Ayu itu telah menggetarkan hati Ki Dipanala dan tabib
yang masih muda itu. Mereka menjadi cemas bahwa kejutan perasaan itu
telah membuatnya berubah. Dengan ragu-ragu Ki Dipanala masih mencoba
memanggil “Raden Ayu, apakah Raden Ayu tidak mengenal hamba lagi?“
“He?“ Raden Ayu berpaling Dengan tajamnya ia memandang Ki Dipanala.
Lalu katanya “Kau tentu bukan Kapitan Dungkur. Kenapa kau di sini
he? Apakah kau juga kumpeni? Tentu bukan. Kulitmu seperti kulit
sawo”Terasa kulit Dipanala yang dikatakan seperti kulit sawo itu
meremang ketika Raden Ayu Galih Warit merabanya. Sambil tertawa
Raden Ayu itu berkata “Tentu bukan. Dungkur kulitnya putih
kemerah-merahan seperti kulit babi. Tetapi tidak sekasar kulit
Panderpol” Raden Ayu itu tertawa, lalu “meskipun kulitmu tidak
putih, tetapi ternyata lebih halus dari kulit orang- orang asing
itu” “Raden Ayu” suara Ki Dipanala bagaikan orang mengeluh “hamba
adalah seorang abdi kapangeranan. Apakah Raden Ayu belum menyadari
apa yang terjadi” Raden Ayu itu tertawa. Kemudian iapun melangkah
kembali ke pembaringan. Tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di
dalam bilik itu ia berbaring sambil berdendang perlahan- lahan. “O
Tuhan” desis Ki Dipanala. Ia menjadi semakin cemas melihat keadaan
Raden Ayu Galih Warit itu. Ternyata tabib yang menunggui Raden Ayu
Galih Warit itupun menjadi berdebar-debar pula. Bahkan kemudian ia
berbisik kepada Ki Dipanala “Sesuatu telah terjadi pada diri Raden
Ayu Galih Warit itu. Goncangan perasaan yang tidak tertanggungkan
agaknya telah mengganggu keseimbangan jiwanya.” “Jadi bagaimanakah
keadaannya itu?“ Tabib itu menarik nafas dalam-dalam sambil
mengangkat pundaknya. “Apakah Raden Ayu telah terganggu syarafnya?“
Tabib itu ragu-ragu sejenak. Namun katanya kemudian “Agaknya memang
demikian Ki Dipanala. Apakah Ki Dipanala dapat menyampaikannya
kepada Pangeran Ranakusuma?“ Ki Dipanala tidak segera menjawab.
Sejenak ia termangu- mangu.“Lambat atau cepat, Pangeran Ranakusuma
memang harus mengetahuinya. Selain persoalan Raden Ayu Galih Warit,
bukankah masih harus dipikirkan apa yang sebaiknya dilakukan
terhadap Raden Rudira yang terbaring di bilik sebelah dan tubuh
Mandra yang disimpan di belakang?“ Ki Dipanala menarik nafas
dalam-dalam. Sekilah dilihatnya Raden Ayu Ranakusuma yang berbaring
sambil berdendang perlahan-lahan. Namun kemudian perempuan itu
meloncat berdiri sambil bertanya “He, dimana anakku? Dimana Rudira?
Apakah kau lihat? Ia tidak boleh mengikuti aku. Ia tidak boleh tahu
apa yang terjadi dan apa yang aku lakukan meskipun semuanya itu
untuknya dan untuk suamiku. Ia akan menjadi Senapati Agung di
Surakarta, dan kami akan menjadi pangeran yang paling berpengaruh
dan paling kaya raya. Tentu melampaui pepatih Surakarta sendir i” Ki
Dipanala tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Karena itu untuk
beberapa lamanya ia hanya berdiamdiri saja. “Dimana he“ Raden Ayu
Ranakusuma mendesak “kau lihat anakku yang laki- laki?“ “Raden Ayu”
berkata Dipanala kemudian “hamba berharap Raden Ayu beristirahat.
Cobalah Raden Ayu tidur sejenak. Mungkin dapat menenteramkan hati
Raden Ayu” “Tidur? Kau suruh aku tidur?“ tiba-tiba Raden Ayu tertawa
berkepanjangan. Tabib itu menjadi tegang sejenak. Katanya kemudian
“Aku akan memberikan obat yang dapat memaksanya tidur sejenak.
Ramuan kulit dalam buah pala dengan beberapa macam reramuan yang
lain. Tetapi sebelumnya, beritahukanlah kepada Pangeran Ranakusuma,
agar Pangeran dapat melihat akibat yang telah terjadi pada
isterinya” Ki Dipanala mengangguk sambil bergeser. Kemudian iapun
melangkah keluar pintu.Ketika pintu bilik itu berderit, Raden Ayu
Galih Waritpun melangkah ke pintu. Tetapi tabib muda itu mencoba
menahannya “Raden Ayu. Silahkan Raden Ayu tinggal saja di dalam
bilik ini. Sebentar lagi Dipanala akan kembali” “Apa?“ dipandanginya
tabib itu sejenak, lalu “Kenapa kau melarang aku pergi?“ “Tinggallah
di dalam bilik ini, saja Raden Ayu?“ “Apakah Rudira t idak akan
melihat aku di sini?“ “Ya, ya Raden Ayu. Raden Rudira tidak akan
melihat Raden Ayu tinggal di dalam” “Apakah Dungkur, atau Panderpol
atau Setepen akan datang” “O“ tabib itu mengusap dadanya. Ternyata
Raden Ayu Itu sudah menyebut sedikit-sedikitnya tiga buah nama.
“Terlalu, terlalu“ tabib itu mengeluh sendiri. “He, kenapa kau diam
saja?“ bentak Raden Ayu. “Di luar ada Raden Rudira” katanya begitu
saja terloncat dari bibirnya “karena itu silahkan Raden Ayu tinggal
di dalam” “O, apakah ia tidak akan datang kemar i?“ “Tidak.
Tidak”Raden Ayu itu tertawa. Katanya “Sekali-sekali ada juga baiknya
menipu kanak-kanak. Tetapi niatku baik. Niatku bersih untuk anak dan
suamiku” Tabib itu menyahut “Ya, memang niat Raden Ayu bersih,
karena itu, silahkan Raden Ayu duduk saja di dalam” Raden Ayu Galih
Waru melangkah kembali ke pembar ingan. Kemudian dibaringkannya dir
inya seenaknya tanpa menghiraukan orang lain di dalambilik itu.
Dalam pada itu, dengan sangat ragu-ragu Ki Dipanala bagaikan merayap
mendekati Pangeran Ranakusuma yang masih duduk mematung di pendapa.
Dengan dada yang berdebar-debar Ki Dipanala kemudian berkata
perlahan-lahan “Ampun Pangeran. Hamba akan mohon kesempatan untuk
mengatakan sesuatu tentang Raden Ayu” “Apa yang akan kau katakan?
Tentu kau akan mengatakan bahwa perempuan itu sudah mulai sadar”
Pangeran Ranakusuma terdiam. Ia masih belum berani mengatakan
dugaannya tentang Raden Ayu Galih Warit karena ia mendengar suara
tertawa berkepanjangan. Jika isterinya itu masih dalam keadaan tidak
sadar seperti pada saat m berteriak-teriak, maka ia harus menunggu
isterinya itu bangun. Tetapi kalau perempuan itu sudah terbangun?
“Hamba Pangeran” jawab Ki Dipanala “sebenarnya Raden Ayu sudah
sadar. Maksud hamba, Raden Ayu sudah bangun dari pingsan dan
bayang-bayang yang menyelubunginya. Tetapi, tetapi...” Ki Dipanala
tidak dapat meneruskan kata- katanya. Namun karena justru kecemasan
yang serupa itu sudah ada di dalam hati Pangeran Ranakusuma, maka
tiba-tiba saja ia menyahut “Gila maksudmu? Atau setengah gila atau
apa?“Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Hamba tidak
dapat menyebutnya Pangeran. Tetapi memang ada gangguan pada syaraf
kesadarannya. Raden Ayu tidak dapat mengenal hamba lagi” “O“
Pangeran Ranakusuma meletakkan dagunya pada kedua tangannya yang
bertelekan pada pahanya dengan sikunya. Bahkan kemudian kepala itu
menunduk dan bersembunyi di balik kedua telapak tangannya. “Hancur,
semuanya sudah hancur. Aku masih mengharap bahwa cemar yang melumur
i keluargaku masih dapat disembunyikan, meskipun tidak bagi hatiku
sendiri. Tetapi aku masih mengharap bahwa perempuan itu akan
menyimpan rahasianya meskipun aku sudah mengambil keputusan untuk
menyingkirkannya dari istana ini. Tetapi j ika ia menjadi gila, maka
ia akan berkicau apa saja tanpa menghiraukan noda yang tercoreng di
kening” “Perlahan-lahan tabib itu dapat Pangeran perintahkan untuk
mengobati sejauh-jauh dapat dilakukan” “Persetan“ Pangeran
Ranakusuma itupun kemudian berdir i. Dengan tergesa-gesa ia
melangkah ke bilik isterinya. Ketika dengan keras ia mendorong daun
pintu, Raden Ayu Ranakusuma terkejut. Dengan serta-merta ia meloncat
bangun. Dipandanginya Pangeran Ranakusuma sejenak, lalu tiba-tiba
saja ia ber lari sambil berteriak “Kakanda, kakanda” Tetapi ketika
Raden Ayu itu mencoba memeluk Pangeran Ranakusuma, maka perempuan
itupun telah didorongnya sehingga terjatuh di lantai. Raden Ayu
Galih Warit itu masih sempat memekik. Namun kemudian ia terdiam
sejenak. Dipandanginya suaminya dengan tajamnya. Perlahan-lahan ia
bangkit. Dan tiba-tiba saja Raden Ayu itu tertawa sambil berkata
“He, aku belum mengenal caramu. Ternyata kau kasar seperti
Setepen”“Diam” teriak Pangeran Ranakusuma. Hampir saja tangannya
menampar mulut Raden Ayu Galih Warit yang tertawa itu jika Ki
Dipanala tidak cepat-cepat berkata “Jangan Pangeran. Raden Ayu
sedang dalam keadaan tidak sadar” “O“ Pangeran Ranakusuma melangkah
menjauhi isterinya sambil berdesah “memalukan sekali. Memalukan
sekali. Aku sudah terjerumus ke dalam kehancuran mut lak” Dan sambil
menggeretakkan giginya Pangeran Ranakusuma menggeram “Ia harus diam.
Ia harus diam” Lalu tiba-tiba ia berbalik sambil berkata “Aku akan
membunuhnya. Aku akan membunuhnya” “Pangeran” berkata Ki Dipanala
“ternyata Raden Ayu Galih Warit telah kehilangan kesadarannya. Hamba
berharap bahwa tuanku akan tetap sadar menghadapi keadaan ini.
Betapapun pahitnya empedu, jika itu memang harus ditelan, maka
Pangeran tidak akan dapat memuntahkannya lagi” Pangeran Ranakusuma
menggigit bibirnya seakan-akan ia sedang menahan, sesuatu yang
bergejolak di dalam hatinya. ”Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma
sambil memandang isterinya, hanya sekilas “Apa yang harus aku
lakukan” Terasa jantungnya seakan-akan berhenti berdenyut ketika
tiba-tiba saja ia mendengar isterinya itu tertawa. Perlahan- lahan
Raden Ayu Galih Warit pergi ke pembaringan dan seperti yang telah
dilakukan, Raden Ayu itu berdendang perlahan- lahan sambil
mempermainkan ujung jari-jar inya. “Ia benar-benar sudah gila“ gumam
Pangeran Ranakusuma. “Itulah sebabnya kita harus mengasihani” “Jika
ia tidak berlumuran dengan noda, aku tidak akan ingkar. Aku
mengambilnya sebagai isteriku dalam keadaan seutuhnya. Ia aku terima
dengan segala yang ada padanya.Gelak tertawanya, tetapi juga
tangisnya. Dan seharusnya aku juga bertanggung jawab selama ia
terganggu jiwanya” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak “Tetapi
sekarang aku tidak dapat melakukannya. Tidak dapat, justru karena
Galih Warit tidak setia kepadaku, ia telah berkhianat apapun
alasannya” Tidak seorangpun yang menjawab. “Aku akan mengantarnya
pulang. Malam ini” “Pangeran, jadi bagaimana dengan tubuh Raden
Rudira dan bagaimana dengan Mandra yang ternyata telah berkhianat
itu” “Tidak ada gunanya Galih Warit ada di sini. Ia tidak akan tahu
apa yang akan kita lakukan atas Rudira dan Mandra. Karena itu,
siapkan kereta. Aku akan membawanya pulang kepada ayahanda dan
ibundanya” “Pangeran“ Ki Dipanala berusaha untuk mencegah “akan
timbul berbagai akibat dari tindakan Pangeran itu. Sebaiknya
Pangeran memikirkannya masak-masak” Pangeran Ranakusuma memandang Ki
Dipanala sejenak, lalu “Aku tidak dapat membiarkan hatiku terbakar
dan kemudian di luar sadarku, aku membunuhnya. Selagi kau dan tabib
itu ada di sini, biarlah aku membawanya kepada ayahnya. Mungkin itu
akan lebih baik baginya dan bagiku sendiri” Ki Dipanala menarik
nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Tetapi j ika demikian, tentu
akan merupakan kejutan yang dahsyat bagi ayahanda dan ibunda Raden
Ayu Galih Warit. Apalagi kini puteri Pangeran ada di sana pula”
“Apaboleh buat” desis Pangeran Ranakusuma “Tetapi j ika aku masih
saja selalu mendengar ia mengigau, aku selalu didorong oleh suatu
keinginan untuk membunuhnya”Ki Dipanala tidak segera menyahut.
Teringat, sekilas pada saat ia menyebutnya untuk pertama kali di
hadapan Kiai Danatirta tentang ketamakan Raden Ayu Galih Warit yang
sudah berhasil mengusir madunya dari rumah Pangeran Ranakusuma
sebagai seorang puteri dari seorang Pangeran yang kurang waras.
“Pangeran Sindurata memang kurang waras. Apakah memang ada semacam
penyakit keturunan pada Raden Ayu Galih Warit, sehingga goncangan
perasaan itu tidak tertanggungkan, dan penyakit yang semula masih
tersembunyi itu tiba-tiba melonjak keluar?“ bertanya Ki Dipanala
kepada diri sendiri. “Nah Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma
kemudian “siapkan kereta. Aku akan pergi mengantarkannya kepada
Pangeran Sindurata” “Pangeran Sindurata akan terkejut sekali
Pangeran” “Ialah yang mewariskan sifat yang tidak waras itu kepada
Galih Warit” Ki Dipanala menjadi termangu-mangu. Dan tabib itupun
kemudian berkata “Pangeran, sebaiknya Pangeran mengantarkannya tidak
di malam har i. Mungkin malam ini Pangeran dapat menjauhi Raden Ayu
untuk beberapa lamanya sementara Pangeran dapat memer intahkan
menyelenggarakan jenazah Raden Rudira. Pangeran Ranakusuma menar ik
nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Apa yang dapat aku lakukan agar
Galih Warit Tidak mengigau terus menerus. Apalagi jika ada orang
lain di dalambilik ini” Tabib itu menarik nafas dalam-dalam.
“Katakan, apakah kau dapat melakukannya?”“Hamba tidak berani mencoba
tuan. Jika hamba berbuat kesalahan, maka akibatnya, hamba akan dapat
menjadi seorang pembunuh” “Persetan. Aku tidak minta kau
membunuhnya. Tetapi jika itu terjadi, bukan salahmu” “Ampun
Pangeran, hamba tidak berani melakukannya” “Lakukan, lakukanlah.
Katakanlah kepada dirimu sendiri bahwa kau tidak berniat untuk
membunuhnya. Kau membuatnya tertidur untuk beberapa lamanya,
sementara itu, biarlah orang-orang membersihkan tubuh Rudira dan
menyelenggarakan sebaik-baiknya. Usahakan agar Galih War it tidak
segera terbangun di pagi hari agar aku dapat mengantarkannya selagi
ia masih tertidur nyenyak” “Ampun Pangeran, tugas ini terlampau
berat bagi hamba” “Kau adalah seorang tabib. Jika kau tidak dapat
mempergunakan caramu, aku akan mempergunakan caraku. Aku dapat
mematikan syaraf kesadarannya untuk beberapa saat dengan sebuah
pukulan pada punggungnya bagian atas atau memij it tengkuknya.
Tetapi itu adalah cara yang dilakukan oleh seorang prajurit. Bukan
oleh seorang tabib. Karena di sini ada seorang tabib, maka
lakukanlah. Kita sama- sama menghadapi kemungkinan yang serupa. Jika
aku yang melakukannya, kemungkinan itupun dapat terjadi, bahwa ia
tidak akan bangun untuk selama-lamanya?” Tabib itu menjadi
ragu-ragu. “Baiklah. Jika kau masih tetap pada pendirianmu, biarlah
aku yang melakukannya. Mudah-mudahan tulang belakangnya tidak patah
karenanya” “Pangeran“ Ki Dipanala bergeser setapak ketika Pangeran
Ranakusuma melangkah maju mendekati isterinya yang sedang
bermain-main dengan ujung bajunya tanpamenghiraukan persoalan yang
sedang diperbincangkan oleh orang-orang yang ada di dalambilik itu.
“Apakah kau yang ingin melakukannya?“ “Tidak Pangeran. Tetapi apakah
Raden Ayu Galih Warit tidak terlalu lemah untuk mengalami per lakuan
yang keras itu?“ “Karena itu, aku harapkan ada jalan lain. Jika
tabib itu mau melakukannya, biarlah ia mencobanya” “Tetapi, tetapi .
. ” tabib itu ragu-ragu. “Maksudmu, kau tidak mau bertanggung jawab
jika Galih Warit tidak mau bangun lagi untuk selamanya?“ “Bukan
tidak mau bertanggung jawab Pangeran. Tetapi hamba t idak berani
melakukannya” “Lakukanlah atas namaku. Aku akan bertanggung jawab
apapun yang akan terjadi. Jika kemudian terjadi peristiwa yang tidak
kau ingini itu, biarlah aku yang diseret ke depan pengadilan Istana
Surakarta. Dipanala menjadi saksi” “Bukan saja oleh pengadilan di
Surakarta, Pangeran” “Maksudmu jika ada dosa yang terjadi atas
perbuatan itu? Kau tentu yakin, bahwa kau tidak berbuat salah.
Akupun tidak. Yang terjadi adalah kecelakaan” “Mungkin kita dapat
berkata demikian justru kepada pengadilan di Surakarta Pangeran.
Tetapi tentu tidak kepada Yang Maha Kuasa” “Yang Maha Kuasa tentu
melihat, bahwa kita benar-benar tidak ingin membunuhnya” Tabib itu
masih tetap ragu-ragu. Namun tentu hal itu lebih baik daripada jika
Pangeran Ranakusuma sendiri yang melakukan dengan sebuah hentakkan
atau pukulan pada punggungnya.Karena itu, betapapun juga beratnya,
maka iapun terpaksa mencobanya. Tetapi memang dengan niat di dalam
hatinya, bahwa ia ingin membuat Raden Ayu Galih Warit itu tertidur
sejenak. Bukan membunuhnya. Dan ia masih mengharap bahwa Raden Ayu
Galih Warit itu akan terbangun. Demikianlah, maka tabib itupun
kemudian membuat reramuan yang sedikit lebih keras dari yang sudah
dipergunakannya. Namun ia tidak dapat menentukan, berapa lamanya
obatnya itu akan mempengaruhi kesadaran Raden Ayu Galih Warit. Ia
pernah mempergunakan obat serupa itu untuk seseorang yang karena
suatu kecelakaan harus memotong kakinya. Tetapi begitu parah
keadaannya, maka pada waktu itu tabib itu melakukannya dengan tanpa
pilihan. Jika tidak, orang itu tentu akan mati, tetapi jika
dilakukannya, maka masih ada harapan meskipun terlampau kecil.
Tetapi waktu itu ia berhasil, dan orang itu kemudian dapat sadar
kembali setelah beberapa lamanya ia tidak dapat mengingat sesuatu
lagi. Sejenis dedaunan yang seolah-olah dapat membius dicampur
dengan serbuk sejenis kulit kayu telah dipergunakan. Dengan
hati-hati obat yang sudah dicairkannya dengan air itupun kemudian
diberikannya kepada Raden Ayu Galih Warit. “He, apakah ini?“
bertanya Raden Ayu itu. “Minuman Raden Ayu?“ “Minuman keras?“
“Bukan, bukan minuman keras” Raden Ayu itu tertawa. Katanya “Aku
jera meneguk minuman keras. Aku jadi mabuk dan aku tidak ingat
apa-apa lagi. Tidak ingat apa yang dilakukan oleh Setepen yang kasar
itu”“Gila“ Pangeran Ranakusuma hampir berteriak “bunuh saja
perempuan itu” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia
tidak berkata apapun juga. “Raden Ayu” berkata tabib itu “ini adalah
obat yang paling baik bagi Raden Ayu, agar Raden Ayu tetap awet
muda” “He“ Raden Ayu Galih Warit itu tertawa. Tetapi suara
tertawanya lepas seperti tertawa perempuan yang sering menyusuri
jalanan. Bukan tertawa seorang perempuan bangsawan. “Kau tahu bahwa
aku ingin tetap awet muda? Dan aku ingin tetap awet muda sampai
suamiku berhasil menjadi seorang Senapati Agung di Surakarta”
“Bungkam mulutnya, bungkam mulutnya” Pangeran Ranakusuma benar-benar
tidak dapat menahan perasaannya. “Siapakah orang itu? Kenapa ia
berteriak-teriak?“ “Sudahlah Raden Ayu. Silahkan minum obat ini.
Bukan saja obat ini akan membuat Raden Ayu awet muda, tetapi juga
membuat Raden Ayu sehat dan tidak mudah menjadi sakit” “Uh, kau
tentu akan meracun aku. Kau tentu ingin membunuh aku karena kau iri
hati?“ Raden Ayu itu tertawa berkepanjangan sambil berkata “Jangan
berbuat begitu. Aku tidak mau kau racun” “Tentu bukan racun Raden
Ayu. Kenapa hamba harus meracun Raden Ayu? Bukankah hamba ini abdi
yang paling setia?” “He“ Raden Ayu Galih Warit memandang tabib itu
dengan tajamnya, namun Raden Ayu itu t idak dapat mengenalnya.
Katanya “Aku belum mengenalmu. Jangan berpura-pura. Pergi, pergi
dari ruangan ini. Nanti jika Dungkur datang, kau tentu akan
dibunuhnya”“Persetan“ Pangeran Ranakusuma menggeram. Namun Ki
Dipanala segera mendekatinya sambil berkata “Biar lah tabib itu
berusaha Pangeran” Dan tabib itupun kemudian menjawab “Raden Ayu,
inilah obat yang dikirimkan oleh Dungkur itu. Tentu Raden Ayu akan
senang sekali menerimanya. Obat ini memang khusus dibuat di
negerinya untuk Raden Ayu, karena bagi Dungkur perempuan sebangsanya
tidak ada yang secantik Raden Ayu” “Benar begitu?“ “Hamba Raden Ayu,
cobalah” Raden Ayu itu tertawa, sementara dada Pangeran Ranakusuma
serasa akan retak. Namun Raden Ayu Galih Warit itu menerima mangkuk
ber isi cairan itu. Kemudian dipandanginya beberapa lamanya. Lalu
iapun bertanya “Kau t idak bohong?“ “Silahkan minum“ Tetapi Raden
Ayu itupun masih juga ragu-ragu, sehingga Ki Dipanala maju beberapa
langkah dan berkata “Sebenarnyalah Raden Ayu” Raden Ayu Galih Warit
memandang Dipanala sejenak, lalu “Kau siapa?“ “Dipanala. Dipanala
Raden Ayu” “O“ Raden Ayu itu tertawa “Kau Dipanala. Kau sudah tahu
semua rahasiaku. Tetapi Dipanala siapa?“ Ki Dipanala menjadi
termangu-mangu. Namun katanya “Hambalah yang membawa obat itu bagi
Raden Ayu. Tentu Raden Ayu akan meminumnya. Bukankah jika Raden Ayu
awet muda, Pangeran Ranakusuma akan selalu mencintai Raden Ayu
apapun yang terjadi” “Gila” geram Pangeran Ranakusuma.Raden Ayu itu
tertawa. Kemudian dengan kedua tangannya ia memegangi mangkuk itu.
Perlahan-lahan mangkuk itu diangkatnya dan perlahan-lahan pula
dilekatkannya di mulutnya. “Tidak mau” tiba-tiba saja ia bergumam.
“Tentu, silahkan, silahkanlah Raden Ayu. Adalah menjadi idaman
setiap perempuan untuk mendapat obat seperti itu, dan kini Raden Ayu
sudah mendapatkannya. Silahkan, silahkan“ tabib itu bagaikan
berbisik di telinga Raden Ayu Galih Warit. Raden Ayu Galih Warit
yang sedang dalam keadaan terganggu kesadarannya itu sejenak
termangu-mangu. Tetapi kata-kata dukun itu seakan-akan langsung
menghunjam kehatinya. Karena itu tanpa pengamatan pikiran, tangan
Raden Ayu Galih Warit itu terangkat, dan obat itupun diminumnya.
Bukan sekedar obat yang membuatnya tidur sesaat. Tetapi obat itu
adalah obat yang menghentikan segala kegiatan nalar dan perasaannya
untuk beberapa lamanya, seperti yang dikehendaki oleh Pangeran
Ranakusuma, sampai besok menjelang pagi karena Raden Ayu Galih Warit
itu akan dibawa dalam keadaan tidak sadar ke rumah orang tuanya.
Karena itu maka yang diberikan di dalam reramuan itu bukan sekedar
kulit bagian dalam buah pala. Dengan tegang tabib itu menunggu apa
yang akan terjadi pada Raden Ayu Galih Warit setelah minum obatnya
itu. Demikian pula agaknya Ki Dipanala dan Pangeran Ranakusuma
sendir i. Sesaat Raden Ayu Galih Warit masih berdiri. Kemudian
tampak keningnya berkerut merut. Agaknya pengaruh obat itu mulai
terasa di kepalanya yang kosong. Ketika Raden Ayu Galih Warit mulai
terhuyung-huyung, maka tabib itupun membimbingnya ke
pembaringan.“Siapa kau he?“ suara Raden Ayu itu menjadi lambat
“Apakah kau Dungkur. He, jangan paksa aku ke pembaringan. Kepalaku
agak pening. Oh” suaranya terputus. Demikian Raden Ayu Galih Warit
terbaring, maka matanyapun mulai terpejam. Tetapi masih terdengar ia
bergumam “Aku tidak minta apa-apa. Sekali ini aku minta senjata yang
dapat meledak itu. Rudira harus mempunyainya. Dan ia harus membunuh
musuh-musuhnya. Ia harus membunuh Dipanala yang mengetahui segala
rahasiaku. Membunuh Juwir ing supaya warisan ayahnya tidak terbagi,
membunuh orang yang selalu membayanginya dengan rahasia yang gelap,
petani dari Sukawati itu” “O“ Pangeran Ranakusuma menutup kedua
belah telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meskipun suara itu
sudah sangat lemah, namun masih juga dapat didengar dengan jelas.
Dipanalapun mendengarnya pula. Tabib itu menar ik nafas dalam-dalam.
Itulah rahasia yang tersimpan di dalam diri Raden Ayu Galih Warit,
yang semakin lama suaranya menjadi semakin lambat, dan akhirnya
hilang sama sekali. “Mudah-mudahan ia tidak akan bangun lagi” desis
Pangeran Ranakusuma. “Jangan Pangeran. Hamba masih mengharap bahwa
hamba bukan pembunuh” Pangeran Ranakusuma memandang tabib itu
sejenak, lalu katanya “Bawalah perempuan itu menyingkir dari bilik
ini” Tabib itu termangu-mangu sejenak, karena ia tidak begitu pasti
pada perintah itu. Dan karena itulah maka Pangeran Ranakusuma
mengulangi perintahnya, kali ini kepada Dipanala “Bawa ia menyingkir
Dipanala” Ki Dipanala menelan ludahnya. Namun kemudian ia bertanya
“Hamba harus membawanya kemana Pangeran”“Bawa ke bilik Warih. Tutup
pintunya dan uruslah Rudira” “Hamba tuanku. Tetapi apakah setelah
Raden Ayu dibaringkan di pembaringan Raden Ajeng, hamba boleh
memanggil para abdi yang lain untuk menylenggarakan jenazah Raden
Rudira” “Lakukanlah mana yang baik menurut pikiranmu dan tabib itu”
Ki Dipanalapun kemudian bersama-sama tabib itu mengangkat tubuh
Raden Ayu Galih Warit yang telah kehilangan kesadarannya sama
sekali. Dengan hati-hati tubuh itupun kemudian diletakannya di
pembar ingan Rara Warih. Dalam pada itu, Ki Dipanala sempat berbisik
“Kenapa kau ragu-ragu member ikan obat ini? Bukankah kau sudah
mengatakan bahwa kau dapat memaksa Raden Ayu diam dengan semacam
obat yang dapat membuatnya tidur, tetapi justru setelah Pangeran
Ranakusuma memerintahkan kepadamu, kau berusaha menolak?“ “Aku ingin
membagi tanggung jawab” jawab tabib itu “Sebenarnyalah bahwa aku
memang ragu-ragu. Apalagi yang diminta oleh Pangeran Ranakusuma
bukan sekedar obat yang membuatnya tidur untuk beberapa saat. Tetapi
benar-benar sejenis obat yang dapat membiusnya untuk waktu yang
lama. Dan itu agak berbahaya bagi Raden Ayu” Ki Dipanala menarik
nafas dalam-dalam. Iapun kemudian menyadari betapa keragu-raguan dan
kegelisahan yang bergejolak di dalam hati tabib itu. Disatu pihak ia
memang ingin membantu menenangkan hati Pangeran Ranakusuma dengan
memaksa Raden Ayu Galih Warit untuk diam, namun dilain pihak ia
selalu dibayangi oleh kemungkinan- kemungkinan yang mengerikan yang
dapat terjadi atas Raden Ayu itu. Namun obat itu telah diminum oleh
Raden Ayu Galih Warit. Dan kini Raden Ayu itu sudah terbaring
diam.Setelah menyelimutinya dan kemudian menutup pintu bilik itu,
keduanya kembali menghadap Pangeran Ranakusuma yang masih berdir i
termangu-mangu di bilik anak laki- lakinya. Sedang anak laki-lakinya
itu kini sedang terbujur membeku di bilik isterinya. Ketika ia
melihat kedua orang itu, maka katanya “Sekarang uruslah Rudira. Yang
terjadi adalah akhir yang berlawanan dari yang aku harapkan selama
ini. Dan aku memang harus menanggungkannya” Kata-kata itu memuat
penyesalan yang luar biasa di dalam hati Pangeran Ranakusuma. Tetapi
sebagai seorang laki-laki Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa ia tidak
boleh tenggelam terlalu dalam digenangan perasaannya saja. Semuanya
harus diselesaikan. Jenazah anak laki-lakinya, mayat Mandra yang
ternyata telah berkhianat dan isterinya yang terganggu jiwanya. Ki
Dipanala dan tabib itu berdiri saja mematung. Dan Pangeran
Ranakusuma berkata seterusnya “Dipanala, mungkin kau menganggap
bahwa keluarga kami selama ini bersikap pura-pura terhadapmu. Kami
bersikap baik dan kadang- kadang harus mendengar kata-katamu bukan
karena kami sependapat dengan kau, tetapi karena kami merasa tidak
dapat menentang kehendakmu. Kami ternyata masing-masing mempunyai
rahasia yang kau ketahui. Yang kami masing- masing menjadi cemas,
jika kau pada suatu saat akan membuka rahasia itu. Sehingga pada
puncak kebingungannya Galih Warit telah berusaha membunuhmu dengan
mempergunakan tangan Rudira dan orang-orangnya. Tetapi usaha itu
ternyata gagal. Dan kau masih tetap hidup. Bahkan kau telah berbuat
sesuatu yang justru membuat aku merasa terlalu kecil” Pangeran
Ranakusuma terhenti sejenak, lalu “Dipanala, sekarang aku berkata
sebenarnya. Bukan karena kau mengetahui rahasia diriku karena aku
tidak perlu lagicemas bahwa Galih Warit akan mengetahuinya, atau
bahkan Pangeran Sindurata sendiri. Tetapi aku berkata dengan jujur,
bahwa aku menyerahkan semua persoalan tentang Rudira dan Mandra
kepadamu. Kau dapat berbuat apa saja yang baik bagi penyelenggaraan
jenazah itu. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau dapat mengambil
sendiri di dalam kotak di bilikku. Maksudku, beaya dari upacara
pemakaman Rudira dan Mandra” “Pangeran” “Ternyata tidak ada orang
lain yang dapat aku percaya kecuali kau. Barangkali aku sendiri
tidak akan mampu memikirkan apakah yang sebaiknya aku lakukan”
“Tetapi Pangeran, sebenarnyalah hamba sudah merasa bahwa pada saat
itu, seakan-akan hamba telah melakukan pemerasan terhadap Pangeran
sehingga kadang-kadang pendapat hamba dengan terpaksa sekali tuan
dengarkan. Namun demikian, terasa pula kebencian Raden Rudira
terhadap hamba sehingga para abdi di istana inipun sebagian terbesar
tidak akan percaya kepada hamba” “Aku yang akan memerintahkan kepada
mereka tunduk kepadamu sebagai orang yang mendapat limpahan wewenang
daripadaku sendiri” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. “Nah,
lakukanlah. Kasihan tubuh Rudira yang sudah terlampau lama
terbaring. Bagiku, kini tidak ada lagi yangingin aku lakukan lagi
kecuali mengubur Rudira sebaik- baiknya. Aku tidak akan bermimpi
lagi menjadi orang terpenting di Surakarta karena justru keinginanku
itulah yang telah merampas semuanya daripadaku. Aku tidak memer
lukan lagi Galih Warit, aku tidak memerlukan lagi pengaruh dari
kumpeni dan aku tidak memer lukan lagi kedudukan apapun” Ki Dipanala
menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menyahut. “Nah,
panggillah beberapa orang pelayan dan kumpulkan mereka di ruang
belakang. Aku akan berbicara kepada mereka” Pangeran Ranakusuma itu
berhenti sejenak, lalu katanya kepada tabib yang masih berdir i
mematung “Kau tinggal di sini. Kau bantu aku besok pagi-pagi benar
membawa Galih Warit kembali ke rumahnya. Jika terjadi sesuatu,
mungkin kau dapat berusaha untuk menolongnya. Tetapi jika tidak
berhasil, apaboleh buat. Aku tidak akan menyesal” Tabib itu menarik
nafas dalam-dalam. Hampir tidak terdengar ia menyahut “Baik
Pangeran. Hamba akan melakukannya” “Sementara ini kau dapat membantu
Dipanala” “Ya Pangeran” “Nah, sekarang, panggillah pelayan-pelayan
itu” Ki Dipanalapun kemudian pergi ke belakang istana Pangeran
Ranakusuma. Dengan nada yang dalam, ia member itahukan bahwa para
pelayan dalam dipanggil menghadap di ruang belakang. Para pelayan
memandang Ki Dipanala dengan wajah yang aneh. Sebagian dari mereka
sudah tidak dapat mempercayainya lagi karena Dipanala adalah orang
yang tidak disenangi. Lebih-lebih lagi mereka tahu benar bahwa Raden
Rudira membenci orang itu setengah mati.Ki Dipanala yang memang
merasa dirinya dibenci oleh orang-orang dalam, meskipun mereka tidak
tahu persoalannya, mencoba menjelaskan ”Aku kali ini hanya
menjalankan per intah” Pelayan-pelayan itu termangu-mangu sejenak.
Seorang yang mendengar ceritera emban dan pelayan yang memasuki
bilik Raden Ayu Galih Warit tetapi tidak tahu persoalannya dengan
pasti bertanya “Apakah sebenarnya yang terjadi?“ “Masuklah, Pangeran
Ranakusuma akan member ikan penjelasan kepada kalian” “Apakah benar
Raden Rudira telah meninggal?“ Ki Dipanala termangu-mangu sejenak.
Katanya kemudian “Biar lah Pangeran Ranakusuma saja yang mengabarkan
hal itu kepadamu” “Kami hanya ingin tahu, apakah Raden Rudira
meninggal?” Ki Dipanala t idak dapat mengelak. Katanya “Ya, Raden
Rudira meninggal” “Siapakah yang membunuhnya?“ desak yang lain.
“Sudah aku katakan, biarlah Pangeran Ranakusuma member itahukan
kepada kalian. Akupun tidak tahu pasti. Karena itu, agar tidak
terjadi salah paham, maka Pangeran memanggil kalian memang untuk
keper luan itu. Pangeran akan memberitahukan sebab kematian Raden
Rudira dan Mandra” “Kau membunuhnya” tiba-tiba seorang kawan Mandra
yang paling akrab bertanya. Ki Dipanala menggeleng “Aku tidak dapat
membunuh seseorang tanpa sebab” “Jadi kau membunuhnya“ tiga orang
berbareng bertanya.“Cepat, masuklah ke ruang belakang. Jika Pangeran
marah karena kalian tidak segera menghadap, dalam keadaan yang pedih
seperti sekarang, dapat saja ia mengambil tindakan yang tidak
menguntungkan kalian” “Jawab pertanyaan kami” teriak seseorang. Ki
Dipanala menjadi termangu-mangu. Orang-orang itu agaknya benar-benar
telah mencur igainya. Namun agaknya, seandainya ia berkata
sebenarnyapun mereka tidak akan percaya. Karena itu maka sekali lagi
ia menjawab “Jangan memaksa aku. Nanti Pangeran Ranakusuma akan
menjawab pertanyaanmu itu” “Jangan sombong Dipanala” teriak yang
lain “Kau memang pandai berbicara. Mungkin kau sekarang dapat juga
membujuk Pangeran, sehingga kau mendapat kepercayaan. Setiap kali
kau memang berhasil membujuknya, bahkan kadang-kadang kau berhasil
merubah keputusan yang sudah dijatuhkan oleh Pangeran Ranakusuma.
Tetapi kami sudah muak. Kau adalah seekor ular yang berkepala dua.
Kau menggigit Raden Rudira, tetapi kau sempat menjilat untuk
mendapatkan kepercayaan. Jika kau masih tetap seperti sekarang,
kamilah yang akan membunuhmu" Wajah Dipanala menjadi merah padam.
Hampir saja ia kehilangan kesabaran. Namun ia masih mencoba untuk
menahan diri dan berkata “Kalian kehilangan nalar yang bening.
Tetapi aku hanya mendapat perintah untuk memanggil kalian. Karena
itu aku tidak berani melanggar perintah itu dan berbuat sesuatu
melampaui tugas yang diberikan kepadaku” “Bohong, bohong” teriak
orang-orang itu sahut menyahut. Ki Dipanala tidak mau melayaninya
lagi. Jika demikian maka keadaannya tentu akan menjadi kacau. Karena
itu, maka ia tidak menghiraukannya lagi. Dit inggalkannya orang-
orang itu sambil berkata “Terserah kepada kalian, apakahkalian masih
mau mematuhi perintah Pangeran Ranakusuma atau tidak” Ketika Ki
Dipanala memasuki pintu masih terdengar beberapa orang berteriak
“Berhenti, berhenti. Jawab pertanyaan kami“ Tetapi Ki Dipanala tidak
menghiraukannya lagi. Sepeninggal Ki Dipanala para pelayan itu
menjadi termangu-mangu. Di antara mereka adalah beberapa orang
pengiring Raden Rudira jika Raden Rudira pergi berburu atau pergi
kemanapun yang agak berbahaya baginya. “Orang itu benar-benar gila.
Ia berhasil menjilat melampaui orang lain meskipun tampaknya ia
tidak disukai. Agaknya Raden Rudira merupakan penghalang baginya,
sehingga dengan licik Raden Rudira dan Mandra sekaligus dibinasakan.
Kita tidak tahu, alasan apakah yang dikatakannya kepada Pangeran,
sehingga ia justru mendapat kepercayaan” “Marilah kita menghadap.
Kita akan mendengar penjelasan itu, dan agar Pangeran tidak marah
kepada kita. Mungkin Ki Dipanala dapat membumbuinya, dan mengatakan
yang tidak sebenarnya, bahkan berlawanan. Gagak disebutnya bangau
dan bangau dikatakannya gagak” “Ya, lebih baik kita menghadap.
Mudah-mudahan Pangeran mendengarkan suara kita” “Kita bersama-sama
akan menyampaikan kebenaran tentang orang itu” “Ya. Orang itu memang
harus digantung karena ia telah membunuh dua orang sekaligus”
Demikianlah para pelayan dan pengawal Raden Rudira itupun kemudian
memasuki ruang belakang dan duduk berdesak-desakan di Iantai
menunggu kehadiran Pangeran Ranakusuma.Namun dalam pada itu, selagi
mereka sedang mereka-reka tuduhan yang paling baik untuk menggantung
Ki Dipanala. beberapa orang di antaranya bertanya kepada diri
sendiri “Apakah benar Dipanala telah melakukannya? Dan apakah
benar-benar Ki Dipanala pantas melakukannya? Sebelum peristiwa
akhir-akhir ini, Ki Dipanala adalah orang yang berpikir bening. Ia
bukan sejenis orang yang dapat berbuat licik” Meskipun demikian
orang-orang yang masih dapat membedakan sikap dan perbuatan
seseorang itu tidak mengatakannya kepada orang lain, karena
suasananya memang tidak menguntungkan. Sejenak kemudian Pangeran
Ranakusumapun memasuki ruangan belakang diir ingi oleh Ki Dipanala
dan tabib yang telah gagal mencoba menyelamatkan j iwa Raden Rudira,
serta telah mengetahui serba sedikit rahasia yang tidak dapat
dikekang meloncat dar i mulut Raden Ayu Galihwar it. Para abdi
itupun kemudian menundukkan kepala mereka dalam-dalam ketika
Pangeran Ranakusuma sudah duduk di hadapan mereka. Mereka hanya
dapat menunggu apa yang akan dikatakannya. Pangeran Ranakusuma
memandang mereka sejenak. Para abdi itu adalah para abdi yang setia.
Tetapi tentu ada di antara mereka sekedar mengabdi karena ingin
mendapat nafkah dan bahkan tentu ada orang yang mempunyai
pertimbangan seperti Mandra meskipun dalam bentuk yang lebih kecil,
yang tidak segan-segan meninggalkan pekerjaannya di istana ini jika
ada kesempatan yang lebih baik baginya. Baru sejenak kemudian
Pangeran Ranakusuma itu berkata langsung pada persoalannya “Rudira
telah meninggal”Beberapa orang di antara para abdi itu mengangkat
wajahnya. Namun wajah-wajah itupun segera tertunduk kembali.
“Seperti kalian mengetahui, Mandrapun sudah mati” Kepala para abdi
itupun terangguk-angguk. “Tentu kalian bertanya, kenapa mereka mati”
Kepala itupun terangguk-angguk lagi. “Mandra telah dibunuh oleh
Dipanala” Serentak orang-orang itu mengangkat wajah mereka. Bahkan
beberapa di antara mereka bergeser sejengkal. Kemudian dengan mata
yang bagaikan menyala mereka memandang wajah Dipanala yang
berkerut-merut. “Apakah kalian tidak bertanya kenapa Mandra telah
dibunuh oleh Ki Dipanala?“ Hampir serentak para pelayan itu menjawab
“Hamba Pangeran. Hamba ingin tahu, apakah sebabnya” Pangeran
Ranakusuma memandang Ki Dipanala sejenak. Lalu katanya “Mereka
bertempur di tengah jalan” Terdengar suara bergeramang. Lalu mereka
terdiam ketika Pangeran Ranakusuma melanjutkan “Ternyata bahwa
Mandra tidak dapat memenangkan pertempuran itu sehingga ia justru
terbunuh” Wajah-wajah itu menjadi tegang. Pangeran Ranakusuma belum
menjawab, kenapa Ki Dipanala bertempur dan membunuh Mandra. Tetapi
mereka sudah menetapkan, bahwa Ki Dipanala memang akan membunuh
Raden Rudira, sedangkan Mandra mencoba menyelamatkannya. Tetapi
orang-orang itu terkejut bukan buatan, dan bahkan mereka tidak
percaya Kepada pendengarannya ketika Pangeran Ranakusuma berkata
“Mandra dibunuh olehDipanala karena Mandra berkhianat dan membunuh
Rudira dengan meminjam tangan orang lain” Wajah-wajah yang tegang
itu menjadi bertambah tegang. Dengan mulut ternganga mereka saling
berpandangan sejenak. Lalu mereka mendengar Pangeran Ranakusuma
berkata selanjutnya “Ternyata Mandra telah menjual Rudira kepada
orang asing. Kalian tidak usah bertanya apakah sebabnya, namun
Mandra ingin mendapat hadiah yang banyak dan kedudukan yang baik di
dalam lingkungan orang asing itu” Sejenak mereka merenungi kata-kata
itu. Namun beberapa orang di antara mereka segera berkata di dalam
hatinya “Nah, bukankah Dipanala telah memutar balik keadaan. Gagak
dikatakan bangau dan bangau dikatakannya gagak. Yang hitam dikatakan
putih dan yang put ih dikatakannya hitam” Dalam pada itu Pangeran
Ranakusuma berkata terus “Dalam usaha itulah, Dipanala dapat
mengetahuinya meskipun agak terlambat, sehingga akhirnya Mandra
terbunuh olehnya. Tetapi Rudirapun tidak lagi dapat diselamatkan”
Beberapa orang abdi mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun di antara
mereka, terutama para pengiring Raden Rudira menganggap bahwa Ki
Dipanalalah yang sudah memfitnah Mandra. Karena itu maka mereka
menjadi gelisah karenanya. Agaknya Pangeran Ranakusuma melihat
kegelisahan itu, sehingga iapun bertanya “Apakah ada yang akan
mengatakan sesuatu?“ Untuk beberapa saat tidak ada seorangpun yang
berbicara. Namun kemudian salah seorang yang tidak dapat menahan
perasaannya bergeser sedikit sambil berkata “Ampun Pangeran. Apakah
yang dikatakan oleh Ki Dipanala itu dapat dipercaya sepenuhnya?“
“Apa yang dikatakan oleh Dipanala?““Bahwa Mandra telah berkhianat?”
“Siapakah yang mengatakan bahwa hal itu diceriterakan oleh
Dipanala?“ Orang itu menjadi tergagap. Namun iapun menjawab “Ampun
Gusti. Bukankah Gusti mengatakan, bahwa Dipanala melihat usaha
pengkhianatan itu” “Ya” “Dan, apakah hal itu dapat hamba artikan
bahwa Ki Dipanala yang kemudian membawa jenazah Raden Rudira dan
mayat Mandra, telah menceriterakan per istiwa itu” “Kau tahu bahwa
Rudira masih hidup waktu dibawa pulang. Dan aku telah memanggil
tabib untuk mengobatinya” “Hamba Pangeran” “Nah, kenapa kau
memastikan bahwa Ki Dipanalalah yang telah menceriterakan hal itu
kepadaku” “Ampun Gusti” “Yang mengatakan semuanya itu adalah Rudira.
Rudira sendiri” Orang-orang itu tercenung sejenak. Mereka
benar-benar diombang-ambingkan oleh kebimbangan dan keragu-raguan
untuk mempercayai pendengaran mereka sendir i. “Kenapa kalian
menjadi bingung. Dengar. Mandra telah berkhianat dengan
menjerumuskan Rudira, sehingga seorang asing telah menembaknya.
Tetapi ternyata Rudira tidak mati seketika. Ia masih mempunyai
kesempatan untuk berusaha menyelamatkan dir inya. Ternyata bahwa
Mandra tidak membiarkannya. Mandra berusaha untuk membunuh Rudira
dengan pedang, kemudian menghilangkan bekas luka peluru dengan
pedangnya pula. Setelah itu, ia akan melemparkan tubuh Rudira ke
tempat yang sepi, atau jika. mungkin di sepanjang bulak Jati Sari
sehingga dapat menimbulkan kesanbahwa Juwiring telah terlibat. Nah,
apakah kalian percaya? Rudira sendiri mengatakannya. Dipanalalah
yang menyelamatkan Rudira dari pedang Mandra dan membunuhnya.
Kemudian membawa tubuh Rudira yang terluka parah itu kembali”
Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak lalu “Siapa yang tidak percaya?
Siapa yang menganggap bahwa Mandra tidak bersalah?“ Wajah-wajah itu
menjadi tertunduk dalam-dalam. Terlebih- lebih orang yang sudah
memberanikan diri bertanya tentang kebenaran ceritera itu. “Nah,
siapa yang tidak percaya kepada ceriteraku, aku beri kesempatan
untuk meninggalkan rumah ini. Aku beri kesempatan untuk membawa
mayat Mandra yang dianggapnya sebagai seorang pahlawan. Siapa, ayo
siapa?“ Wajah-wajah yang tunduk itu menjadi semakin tunduk. Dan
Pangeran Ranakusumapun kemudian berkata “Jika tidak ada, maka kalian
sudah mengetahui persoalannya dengan pasti. Nah, sekarang kalian
akan menyelenggarakan jenazah Rudira. Semuanya aku serahkan kepada
Dipanala dan tabib ini. Aku menjadi terlampau bingung untuk berbuat
sesuatu” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak, lalu “Terserahlah
kepada kalian apakah yang akan kalian lakukan terhadap mayat Mandra”
Tidak seorangpun yang kemudian berani mengangkat wajahnya. Mereka
mengerti, di balik kata-kata yang keras itu sebenarnya tersembunyi
perasaan yang pedih. Sangat pedih. Pangeran Ranakusumapun terdiam
pula sesaat. Beberapa kali ia menelan ludahnya. Disekanya
keringatnya yang membasah di kening. “Aku akan berada di pendapa.
Jika kau memerlukan aku, aku ada di sana Dipanala” berkata Pangeran
Ranakusuma kemudian.Pangeran Ranakusuma tidak menunggu jawaban Ki
Dipanala. Iapun kemudian berdiri dan meninggalkan ruang belakang itu
kembali ke pendapa dan duduk di tempatnya semula merenungi malamyang
gelap. “Nah, marilah. Kita harus menyelenggarakan tubuh Raden
Rudira. Lukanya tidak begitu besar, tetapi agaknya justru karena ia
terbanting dari punggung kudanya yang lari kencang dan darah yang
mengalir dari lukanya itu, nyawanya tidak tertolong lagi” Para
pelayan itupun tiba-tiba menyadari keadaan yang sebenarnya.
Merekapun kemudian berebut dahulu menyediakan kelengkapan untuk
jenazah Raden Rudira. Mereka seakan-akan tidak mau mengingat lagi,
bahwa di samping Raden Rudira, masih ada juga. Mandra. Tetapi mereka
tidak dapat membiarkan mayat Mandra terbaring di tempatnya.
Merekapun harus menyediakan sepotong kain putih untuknya. Dalam pada
itu, malampun menjadi semakin dekat menjelang fajar. Pangeran
Ranakusuma masih saja duduk di pendapa, seakan-akan tidak ada lagi
niatnya untuk berdir i, dan masuk ke dalam istananya yang megah itu.
Seakan-akan dunianya sudah menjadi buram dan lampu-lampu tidak dapat
menyala lagi dengan terang. Setelah semuanya selesai, maka jenazah
Raden Rudirapun dibaringkannya di ruang tengah, diselimuti dengan
sehelai kain putih yang baru, dikelilingi oleh para pengiringnya dan
abdi-abdinya yang lain. Sedang di belakang, mayat Mandrapun sudah
diselimutinya pula. Hanya satu dua orang kawan dekatnya sajalah yang
menungguinya dengan penuh penyesalan, bahwa Mandra sudah berkhianat.
Dengan dada yang berdebar-debar Ki Dipanalapun kemudian pergi
menghadap Pangeran Ranakusuma untuk menyampaikan bahwa semuanya
sudah selesai. Bahkanperempuan-perempuanpun sudah mulai menyediakan
keperluan yang lain. Sebagian dari mereka telah menyediakan masakan
untuk menjamu tamu-tamu yang tentu akan berdatangan, dan menyediakan
selamatan, sedang yang lain sudah sibuk mengatur kelengkapan
penguburan jenazah yang sudah dibaringkan itu. Alat-alat upacara,
dan apabila matahari telah terbit, mereka harus membeli bunga
terutama melati dan mawar. “Jangan member itahukan kepada siapapun
sebelum semuanya selesai” desis Pangeran Ranakusuma. “Semuanya
sebenarnya sudah selesai Pangeran” jawab Ki Dipanala “Tetapi apakah
tidak sebaiknya ayahanda Raden Ayu Galihwar it diberi tahu sekaligus
adinda Raden Rudira yang ada di sana” “Aku sendiri akan
memberitahukan kepadanya dengan membawa Galihwarit” Ki Dipanala
hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. la tidak dapat mencegahnya
lagi. Agaknya dorongan untuk menyerahkan kembali Raden Ayu
Galihwarit sudah tidak tertahankan lagi. Seandainya perempuan itu
tidak berkhianat, mungkin sakitnya akan justru menimbulkan iba yang
dalam. Tetapi kini bagi Pangeran Ranakusuma, Raden Ayu Galihwar it
adalah duri yang menusuk jantungnya. Tanpa mempersoalkan Raden Ayu
Galihwar it, Ki Dipanala. bertanya pula “Jadi, siapakah yang
sebaiknya hamba beritahu tentang Raden Rudira?“ Pangeran Ranakusuma
tidak segera menjawab. Ditatapnya kedelapan malam yang justru
berangsur menjadi kemerah- merahan. Ki Dipanala sama sekali tidak
berani mendesaknya. Ia hanya dapat menunggu sambil menundukkan
kepalanya.“Panggil Juwiring” tiba-tiba saja terloncat dari mulut
Pangeran Ranakusuma sehingga Ki Dipanalapun terkejut karenanya.
“Maksud Pangeran, hamba harus pergi ke Jati Aking” “Kau dapat
menyuruh orang lain. Kau di sini mewakili aku” “Tetapi keadaan Raden
Juwiring yang selama ini seakan- akan selalu diintip oleh bahaya,
membuatnya selalu bercuriga kepada siapapun juga. Hamba kurang
yakin, apakah Raden Juwiring mempercayai orang lain kecuali aku”
“Jika begitu, orang yang akan pergi itu akan membawa sepucuk surat
yang akan aku tanda tangani” Ki Dipanala menarik nafas. Meskipun
orang itu membawa surat yang ditanda tangani oleh Pangeran
Ranakusuma, namun sebenarnyalah bahwa kepada ayahandanya sendiri
Raden Juwiring sudah menaruh curiga. Namun demikian tanda tangan itu
memang merupakan kemungkinan terbesar untuk memanggil Raden Juwir
ing. Demikianlah seorang utusan telah berpacu ke Jati Aking tanpa
menunggu fajar. Meskipun kemungkinan untuk menghadiri penguburan
jenazah adiknya, terlampau kecil bagi Juwiring. Ia tidak akan dapat
sampai di istana Ranakusuman dekat setelah tengah hari. Dalam pada
itu, setelah semuanya selesai, maka Pangeran Ranakusumapun segera
memerintahkan untuk mempersiapkan kereta. Dipagi-pagi benar ia ingin
pergi sendir i ke rumah mertuanya mengantarkan Galihwarit yang masih
belum sadar. “Kau di rumah” berkata Pangeran Ranakusuma kepada Ki
Dipanala “Aku akan pergi membawa Galihwarit bersama tabib itu. Ia
akan dapat menolongku j ika tiba-tiba saja Galihwar it sadar di
perjalanan”“Hamba Pangeran” “Suruhlah para pelayan menyiapkan tempat
bagi mereka yang akan datang melawat. Aku tidak dapat menolak j ika
orang-orang asing itu datang. Tetapi aku juga tidak akan
merahasiakan, siapakah yang telah membunuh anakku, meskipun aku
tidak dapat mengatakan seluruh peristiwanya” “Hamba Pangeran”
Rasa-rasanya fajar datang terlampau lambat. Pangeran Ranakusuma
hampir tidak sabar lagi menunggu. Ia ingin segera menyingkirkan
Galihwar it dan menyerahkannya kembali kepada ayahnya. Demikian
fajar menyingsing dan dedaunan yang hijau mulai tampak
kemerah-merahan, maka Raden Ayu Galihwarit yang masih belum sadar
itupun diangkat dan dimasukkannya ke dalam kereta. Sejenak kemudian
maka kereta itupun mulai bergerak membawa Raden Ayu itu kembali ke
istana orang tuanya. Ketika kereta itu sampai di regol halaman, maka
Pangeran Ranakusuma menjenguk sejenak sambil berkata kepada Dipanala
“Aku t idak lama. Persilahkan para tamu lebih dahulu. Katakan, bahwa
aku pergi menjemput Warih. Jangan sebut- sebut tentang Galihwarit ”
“Hamba Pangeran” jawab Ki Dipanala. “Jangan sebut tentang Mandra. Ia
akan dikubur setelah para tamu yang melawat Rudira pulang” “Hamba
tuanku” Demikianlah maka kereta itupun segera berderap meninggalkan
halaman Ranakusuman menuju ke Istana Pangeran Sindurata. Dipanala
yang ditinggalkan menjadi berdebar-debar. Pangeran Ranakusuma yang
kematian anaknya itu tentu tidakdapat berpikir bening, sedang
Pangeran Sindurata adalah seorang Pangeran yang lebih suka menuruti
keinginan sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain,
sehingga ada beberapa orang yang menganggapnya agak kurang waras.
Jika mereka terlibat dalam perselisihan maka akan dapat timbul
hal-hal yang kurang baik. “Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu pada
keduanya” berkata Ki Dipanala di dalam hatinya. Demikianlah ketika
kereta itu sudah lenyap di tikungan, maka Ki Dipanalapun kembali
masuk ke ruang dalam. Dari pintu ia melihat tubuh Raden Rudira yang
terbujur diam, ditunggui oleh beberapa orang. Masih belum tampak
kesibukan di istana itu, selain perempuan yang sedang memasak dan
beberapa orang lainnya menyiapkan benang rangkaian kembang melati
dan mawar. Yang lain pergi ke pasar membeli bunga yang akan
dirangkai itu, dan kebutuhan- kebutuhan lain. Tetapi bagi orang
luar, istana Ranakusuman masih tetap sepi. Belum ada seorang
tetanggapun yang mengetahui apa yang telah terjadi, dan tidak
seorang tetanggapun yang mendengar suara-suara yang keras di malam
hari, bahkan pekik nyaring Raden Ayu Galih Warit, karena halaman
istana Pangeran Ranakusuma yang cukup luas itu. Namun sudah barang
tentu bahwa Ki Dipanala tidak berani atas kehendaknya sendiri member
itahukan kematian Raden Rudira itu kepada para bangsawan sanak
keluarga Pangeran Ranakusuma. Untuk itu ia harus menunggu setelah
Pangeran Ranakusuma memberikan perintah kepadanya. Dalam pada itu,
Pangeran Ranakusuma yang sedang dibelit oleh berbagai macam
persoalan itu tidak sempat memikirkan hal itu sebelum ia menyerahkan
isterinya kepada mertuanya. Di sepanjang jalan Pangeran Ranakusuma
mencoba untuk mengendapkan segala macam pergolakan yang ada di dalam
dadanya. Bagaimanapun juga ia masih mencoba untukmempergunakan
nalarnya, justru setelah ia tahu bahwa jenazah Raden Rudira telah
diselenggarakan sebaik-baiknya. “Aku harus sempat mengubur jenazah
anakku” katanya di dalam hati. Dan niat itulah yang telah mengekang
perasaannya agar tidak timbul persoalan yang tajam dengan Pangeran
Sindurata. Kedatangan Pangeran Ranakusuma memang mengejutkan sekali.
Apalagi ketika ternyata ia membawa tubuh Raden Ayu Galih Warit yang
bagaikan tidak bernafas lagi. “Kenapa? Kenapa anakku?“ bertanya
Pangeran Sindurata “Pingsan” jawab Pangeran Ranakusuma pendek. “O“
Pangeran Sinduratapun menjadi bingung. Karena itulah maka diper
intahkannya pelayan-pelayannya untuk menyiapkan pembaringan bagi
Raden Ayu Galihwarit. Rara Warih yang memang sedang berada di rumah
kakeknya itupun terkejut bukan buatan. Hampir saja ia tidak dapat
menahan jeritnya, jika ayahnya tidak berbisik kepadanya “Jangan
gelisah. Ibumu hanya pingsan” Demikianlah maka Raden Ayu
Galihwaritpun segera dibaringkannya di pembaringan di dalam bilik
ibundanya.Seluruh keluarga menjadi bingung dan gelisah. Wajah Raden
Ayu Galihwarit yang cant ik itu tampak pucat seperti kapas. “Kenapa
dia he??“ bertanya Pangeran Sindurata pula. Pangeran Ranakusuma
mencoba untuk menahan hatinya dan berbicara dengan nalarnya. Katanya
“Ada beberapa persoalan yang akan aku sampaikan” “Tetapi bagaimana
dengan isterimu?“ “Tidak apa. Aku membawa seorang tabib” Pangeran
Sindurata memandang tabib yang masih muda yang masih berdir i di
halaman itu sejenak. Lalu “Apakah ia tabib yang baik?“ “Ya. Ia
adalah seorang tabib yang baik” “Jadi bagaimana dengan Galihwar it”
“Apakah aku boleh duduk?“ “Ya, duduklah” Keduanyapun kemudian duduk
di pendapa istana Pangeran Sindurata yang tidak kalah luasnya dari
pendapa istana Ranakusuman. “Duduklah di situ” berkata Pangeran
Sindurata kepada tabib yang masih berdir i. “Ya duduklah” ulang
Pangeran Ranakusuma. Tabib itupun kemudian duduk di sudut pendapa
dengan kepala tunduk. “Katakan sekarang“ desak Pangeran Sindurata
“Kenapa dengan anakku?“ “Suatu kejutan telah membuatnya pingsan”
jawab Pangeran Ranakusuma yang meskipun di dalam hubungan keluarga
termasuk lebih muda, tetapi ia mempunyai kedudukan yang lebih baik
di istana Kangjeng Susuhunan.“Apa yang terjadi?“ Pangeran Ranakusuma
menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia sedang berusaha untuk
menenangkan dirinya. “Apa yang terjadi?“ Pangeran Sindurata mendesak
”Rudira meninggal“ “He“ Pangeran Sindurata terbelalak karenanya.
Terasa seakan-akan darahnya berhenti mengalir. Pemberitahuan yang
tiba-tiba itu membuatnya terperanjat bukan buatan. Dengan singkat
Pangeran Ranakusuma menceriterakan sebab kematian Rudira, meskipun
ia tidak mengatakan sama sekali apa yang sudah dilakukan oleh Raden
Ayu Galihwarit. “Ibunya terkejut” berkata Pangeran Ranakusuma
“Agaknya ia tidak dapat menahan perasaannya sehingga menjadi pingsan
karenanya. Aku ingin menyingkirkannya agar ia tidak selalu dicengkam
oleh suasana kematian anaknya. Mungkin di sini ia akan menjadi agak
tenang” “Tetapi, apakah ia akan segera sadar kembali?“
“Mudah-mudahan. Menurut tabib itu, ia akan segera sadar kembali.
Suasana di rumah ini akan berbeda sekali” “Tetapi ia tentu ingin
melihat anaknya” “Sebaiknya ia tetap berada di sini” Pangeran
Sindurata berpikir sejenak, lalu “Bagaimana dengan Warih” “Aku ingin
membawanya” “Biar lah ia di sini menunggui ibunya” “Aku akan segera
membawanya kemari j ika semuanya sudah selesai” Pangeran Sindurata
berpikir sejenak, lalu “Baiklah. Tetapi biarlah tabib itu berada di
sini untuk menungguinya”Pangeran Ranakusuma menjadi termangu-mangu
karenanya. Namun kemudian ia berkata “Ia berada di rumahku. Ia harus
mengatur jenazah Rudira pada saat diberangkatkan. Tetapi jika
sesuatu terjadi atas Galihwarit, ia dapat dipanggil dengan segera”
Pangeran Sindurata mengangguk-angguk. Peristiwa yang tidak
terduga-duga itu telah mencengkamnya sehingga untuk beberapa lamanya
ia hanya dapat merenung memandang kekejauhan. Rudira adalah cucunya
yang menyenangkan baginya, meskipun anak itu agak bengal. Namun
tiba-tiba saja ia mati terbunuh oleh peluru kumpeni. Dan tiba-tiba
saja Pangeran Sindurata itu menggeram “Siapa yang sudah menembak
Rudira?“ Pangeran Ranakusuma termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
ia menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu” “Jika aku tahu” desis
Pangeran Sindurata “tanpa merubah sikapku kepada kumpeni. namun aku
dapat berurusan dengan orang yang menembak cucuku secara pribadi”
Pangeran Ranakusuma tidak menyahut. Jika ia mengetahui persoalan
Galihwar it yang sebenarnya, tentu ia akan berpikir lain. “Biar lah
ia mengetahui dengan sendirinya. Yang berhak membuat persoalan ini
menjadi persoalan pr ibadi tanpa merubah sikap dan hubungan dengan
kumpeni adalah aku” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya
”Mungkin aku memang seorang pengkhianat bagi Surakarta. Mungkin aku
telah menjual harga dir i bangsaku. Tetapi harga diri pribadiku akan
aku selesaikan dengan Dungkur, Panderpol, Setepen atau siapa lagi”
Demikianlah, maka sejenak kemudian. Pangeran Sindurata telah
memanggil cucu perempuannya. Dengan hati-hati ayahandanya, Pangeran
Ranakusuma, memberitahukan apa yang telah terjadi dengan kakaknya,
Raden Rudira.“Kamas Rudira terbunuh?“ mata gadis itu terbeliak.
“Warih” berkata Pangeran Ranakusuma “Tentu tidak seorangpun yang
menghendaki hal itu terjadi. Tetapi memang kadang-kadang yang
terjadi itu berada di luar kehendak kita. Dan kita sama sekali tidak
berkuasa untuk menolaknya” “Jadi, kamas Rudira sudah meninggal?“
Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin
pedih ketika anak gadisnya itu berlari dan menjatuhkan kepalanya
dipangkuannya. “Kenapa hal itu terjadi ayahanda. Kenapa?” Pangeran
Ranakusuma mengusap rambut anak gadisnya. Beberapa orang keluarga
yang lainpun kemudian mengerumuninya dan mencoba menghiburnya.
Tetapi Rara Warih masih saja berteriak. “Sudahlah Warih. Ibumu
pingsan karena kejutan perasaan. Jika ia sadar, dan ia mendengar kau
berteriak-teriak, ia akan menjadi pingsan lagi. Bukan saja ibundamu,
tetapi akupun dapat menjadi pingsan pula. Kata-kata ayahnya agaknya
dapat memberikan sedikit kesadaran kepadanya, bahwa iapun harus
berusaha mengekang perasaannya. Itulah sebabnya maka tangisnya
menjadi sedikit mereda. “Kenapa ayahanda, kenapa kamas Rudira
meninggal?“ “Suatu kecelakaan yang tidak dapat dihindari lagi Warih”
Tangis gadis itupun semakin lama menjadi semakin surut. Tetapi ia
masih saja terisak-isak sehingga rasa-rasanya ia tidak dapat menarik
nafas lagi. “Berkemaslah Warih” berkata ayahnya “Kau pergi bersama
ayahanda mendahului eyang dan keluarga yang lain”Rara Warihpun
menganggukkan kepalanya. Dilepaskannya ayahnya dan iapun kemudian
berdir i untuk berkemas. “Aku akan segera menyusul jika Galihwarit
telah sadar” berkata Pangeran Sindurata. Demikianlah maka setelah
Rara Warih selesai, iapun segera pergi mengikut ayahandanya kembali
pulang. Sementara Pangeran Sindurata dan keluarganya sibuk mencoba
menyadarkan Raden Ayu Galihwarit. “Tetapi” berkata Pangeran
Sindurata “pada saatnya ia akan sadar dengan sendirinya seperti yang
dikatakan tabib yang merawatnya sebelum ia dibawa kemar i. Ia akan
sadar, dan ia akan mendapatkan suasana yang lain dari suasana di
rumahnya” Meskipun demikian, masih saja seseorang tua mencoba
menggosok daun telinganya dengan berambang dan telapak kakinya
dengan minyak kelapa. Dalam pada itu kereta yang ditumpangi oleh
Pangeran Ranakusuma bersama anak gadisnya, serta tabib yang mengikut
inya itupun berderap dengan kencangnya di jalan- jalan kota
Surakarta. Beberapa orang yang lewat di pinggir jalan menjadi heran
melihat kereta yang berlari kencang itu. Namun mereka tidak
menyangka bahwa di dalamnya duduk Pangeran Ranakusuma dan puterinya
yang sedang dicengkam oleh kepedihan hati. Ketika kereta itu
memasuki halaman istana Ranakusuman, ternyata pendapanya masih sepi.
Yang tampak sibuk hanyalah para pelayan di ruang belakang dan di
dapur. Meskipun demikian sebenarnyalah beberapa orang sebelah
menyebelah istana itu telah mendengar bahwa Raden Rudira telah
meninggal. Satu dua orang pelayan yang keluar istana sempat mencer
iterakan apa yang sudah terjadi di dalam istana itu, meskipun hanya
sekedar yang dapat mereka lihat.Maka demikian kereta itu berhenti,
Rara Warih segera meloncat turun dan berlari ke ruang dalam. Ia
tertegun ketika dilihatnya sesosok tubuh yang terbujur diam
dikerudungi dengan sehelai kain. ”Ayahanda“ Warih menjerit. Ia tidak
berani memeluk tubuh yang sudah membeku itu, sehingga karena itu,
maka iapun berdiri saja beberapa langkah dengan tubuh gemetar.
Ayahandanya dengan tergopoh-gopoh mendekatinya. Dengan sareh
ayahandanya bertanya “Ada apa Warih?“ Rara Warih memandanginya
sejenak. Kemudian ditatapnya tubuh yang terbujur diam itu. Tiba-tiba
saja ia meloncat dan sekali lagi memeluk ayahanda sambil menangis
sejadi-jadinya. “Sudahlah Warih” berkata ayahandanya “Jangan membuat
hati ayahanda semakin bersedih” Tetapi Warih masih tetap menangis.
Beberapa emban dan pemomongnyapun segera mengerumuninya dan mencoba
menenangkannya. “Bawalah ia ke pembaringannya” berkata Pangeran
Ranakusuma kepada para pelayannya itu. Beberapa embanpun kemudian
memapah Rara Warih ke dalam biliknya. Dengan berbagai cara para
emban itu mencoba meredakan tangisnya. Namun Warih masih saja
menangis sehingga rasa-rasanya nafasnya menjadi sesak karenanya.
Dalam pada itu. ketika Pangeran Ranakusuma sudah tidak lagi bersama
puterinya, Ki Dipanalapun kemudian memper ingatkannya, bahwa
sebaiknya Pangeran Ranakusuma member itahukan kematian Raden Rudira
kepada keluarga terdekat. “Ya. Pergilah Dipanala. Atas namaku,
beritahukan kepada saudara-saudara terdekat, dan panggillah lebih
dahulu adindaCahyaningprang. Aku akan menyuruhnya menghadap ke
istana Kangjeng Susuhunan untuk menyampaikan peristiwa ini” Ki
Dipanalapun kemudian berangkat berkuda mengelilingi Surakarta,
memberitahukan bencana yang telah menimpa Pangeran Renakusuma,
meskipun setiap kali ia selalu menjawab pertanyaan “Hamba kurang
tahu sebab-sebabnya Pangeran” Dan para Pangeran yang terkejut itu
hanya mengangguk- anggukkan kepalanya saja. Seperti yang dipesankan
oleh Pangeran Ranakusuma, maka Pangeran Cahyaningprangpun telah
mendahului yang lain datang ke istana Ranakusuman. Tetapi iapun
segera memacu kudanya menghadap Kangjeng Susuhunan untuk
menyampaikan per istiwa yang terjadi atas Pangeran Ranakusuma. Dalam
waktu yang singkat, maka tersebarlah ber ita kematian Raden Rudira
kesegenap sudut kota Surakarta. Mula-mula para bangsawan, namun
kemudian para abdinyapun mendengarnya juga, seringga apabila mereka
keluar ke jalan raya. maka msrekapun mempercakapkannya dengan
kenalan-kenalan mereka dan keluarga mereka masing- masing. Berita
itu ternyata telah mengejutkan Pangeran Mangkubumi pula. Apalagi
ketika ia mendengar bahwa kematian Raden Rudira disebabkan luka
peluru kumpeni. ”Aneh” berkata Pangeran Mangkubumi di dalam hati
“keluarga Ranakusuman bukan keluarga yang memusuhi kumpeni. Tetapi
puteranya ternyata telah terbunuh oleh peluru kumpeni” Karena
itulah, maka demikian berita itu sampai kepadanya, Pangeran
Mangkubumipun segera pergi ke Ranakusuman.Meskipun pada hari-hari
yang lain, lewatpun Pangeran Mangkubumi rasa-rasa-rya sangat segan.
Pangeran Ranakusumapun terkejut melihat kehadiran Pangeran
Mangkubumi begitu cepat. Justru mendahului keluarganya yang
terdekat. Baru beberapa orang saja yang ada di pendapa Ranakusuman.
“Tentu luka peluru kumpeni itulah yang menar ik perhatiannya”
berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya. Dengan diantar oleh
Pangeran Ranakusuma Pangeran Mangkubumipun melihat jenazah Raden
Rudira yang terbujur diam. Tetapi jenazah itu sudah terbungkus rapi
dengan kain yang putih bersih. “Sayang sekali” tiba-tiba Pangeran
Mangkubumi bergumam. Pangeran Ranakusuma memandang wajah Pangeran
Mangkubumi sejenak. Wajah yang keras seperti hatinya yang membayang
pada sorot matanya. Agaknya Pangeran Mangkubumi merasakan pandangan
itu, sehingga katanya kemudian “Putera Kamas Pangeran masih terlalu
muda“ “Ya. Ia masih terlalu muda” “Benar-benar perlakuan yang tidak
adil. Apakah kamas tidak berkeberatan mengatakan kepadaku, apakah
sebabnya Rudira luka oleh peluru?“Pangeran Ranakusuma menar ik nafas
dalam-dalam. Ia tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu. Bahkan
kemudian sambil merenungi jenazah anaknya ia berkata di dalam hati
“Jika aku dapat berdiri tegak di atas kedua kaki sendiri seperti
adimas Pangeran Mangkubumi, maka tidak banyak persoalan lagi yang
harus aku pertimbangkan. Tetapi sayang, bahwa Ranakusuma berdiri di
atas atas yang berbeda dengan Pangeran Mangkubumi” Karena Pangeran
Ranakusuma t idak segera menjawab, maka Pangeran Mangkubumipun
mengulangi pertanyaannya “Apakah yang sebenarnya telah terjadi
dengan Rudira?“ “Aku masih belum tahu pasti dimas. Aku sedang
menyelidikinya” jawab Pangeran Ranakusuma kemudian “Tentu adimas
heran bahwa hal ini telah terjadi. Aku tidak dapat menyembunyikan
kenyataanku di hadapan adimas, bahwa aku mempunyai hubungan yang
baik dengan kumpeni. Namun yang terjadi adalah kematian Rudira oleh
peluru kumpeni” Pangeran Mangkubumi mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya kemudian “Ia pernah dalang ke Sukawati. Orang yang aku
percaya menunggui Pesanggrahan mengatakannya kepadaku” Terasa dada
Pangeran Ranakusuma berdesir. Lalu katanya “Aku pernah juga
mendengar ceriteranya tentang Petani di Sukawati. Sayang sekali,
bahwa Rudira belum sempat mengenal siapakah sebenarnya orang yang
menyebut dirinya Petani dari Sukawati itu” Pangeran Mangkubumi hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sedang Pangeran Ranakusuma
berkata selanjutnya “Jika ia mengetahuinya, mungkin ia berpendapat
lain tentang orang yang menyebut Petani dari Sukawati itu”“Siapakah
yang dimaksud oleh Rudira?“ bertanya Pangeran Mangkubumi. Pangeran
Ranakusuma memandang wajah Pangeran Mangkubumi sejenak. Tetapi ia
tidak melihat perasaan apapun yang membayang di wajah yang keras
itu. Tidak ada tanda- tanda bahwa ada hubungan apapun antara
Pangeran Mangkubumi dan orang yang menyebut dirinya Petani dari
Sukawati. Hubungan langsung atau tidak langsung. Karena itu, maka
Pangeran Ranakusumapun menjadi ragu-ragu untuk berbicara tentang
Petani itu selanjutnya. “Ia anak yang baik” tiba-tiba Pangeran
Mangkubumi berkata “orang-orangku di pesanggrahan mengatakan bahwa
ia cukup ramah dan bahkan ia telah berbicara panjang lebar dengan
para penunggu pesanggrahan. Hal yang jarang sekali dilakukan oleh
orang yang merasa dirinya berdarah bangsawan di Surakarta ini.
Biasanya para bangsawan merasa segan untuk memandang rakyat kecil
dengan sebelah matanya. Apalagi berbicara dengan mereka” Pangeran
Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Ia tidak tahu pasti, apakah
Pangeran Mangkubumi berkata sebenarnya atau tidak. Tetapi menilik
sikap dan sifat Rudira semasa hidupnya, tentu yang dikatakan itu
sekedar pujian karena Rudira kini sudah meninggal. Namun demikian
Pangeran Ranakusuma tidak segera menjawab. “Kamas Pangeran” berkata
Pangeran Mangkubumi kemudian “Apakah kamas tidak dapat membayangkan,
apakah yang sudah terjadi, atau Setidak-tidaknya dugaan, alasan
apakah yang telah mendorong seseorang yang mungkin sekali
orang-orang asing itu, untuk membunuh Rudira, anak yang masih
terlampau muda ini?“ Pangeran Ranakusuma menggelengkan kepalanya
“Aku tidak tahu. Tetapi aku ingin mengetahuinya dengan
pasti”Pangeran Mangkubumi hanya mengangguk-angguk saja. Ia tahu
pasti bahwa tentu masih harus ada ser ibu macam pertimbangan untuk
berbuat sesuatu atas kematian puteranya bagi Pangeran Ranakusuma.
Tetapi Pangeran Mangkubumi tidak bertanya lebih banyak lagi.
Demikianlah, ketika Pangeran Mangkubumi itu dipersilahkan duduk di
pendapa, justru ia malahan minta dir i. Ia tidak dapat duduk lebih
lama lagi di istana Ranakusuman. “Maaf kamas. Ada sesuatu yang harus
aku selesaikan hari ini. Terpaksa sekali aku tidak dapat menunggu
sampai jenazah itu diberangkatkan” “Sayang sekali” sahut Pangeran
Ranakusuma “Tetapi apaboleh buat” “Apakah Kangjeng Susuhunan sudah
tahu tentang peristiwa. ini” “Adimas Cahyaningprang yang aku minta
menghadap. Tetapi ia belum kembali” Pangeran Mangkubumi hanya
mengangguk-angguk saja. Dan iapun benar-benar meninggalkan istana
Ranakusuman sebelum orang lain. terutama para Pangeran berdatangan.
Bahkan Pangeran Sinduratapu belum. Ketika Pangeran Mangkubumi sudah
keluar dari regol halaman, barulah wajahnya menjadi berkerut-merut.
Kematian Rudira sangat menarik perhatiannya. Justru karena ia putera
Pangeran. Ranakusuma yang berhubungan rapat sekali dengan kumpeni,
tetapi puteranya telah terbunuh oleh sebutir peluru. “Apakah ada
orang lain yang membunuhnya dengan senjata api itu dengan maksud
untuk menghilangkan jejak” berkata Pangeran Mangkubumi di dalam
hatinya. Namun selain perhatiannya yang besar terhadap kematian
Rudira, sebenarnyalah ia ingin melihat, apakah puteraPangeran
Ranakusuma yang seorang ada di istananya juga. Tetapi Pangeran.
Mangkubumi t idak melihatnya sama sekali. Ia tidak melihat anak muda
yang berada di padepokan Jati Aking itu. Namun dalam pada itu,
kedatangan Pangeran Mangkubumi yang justru mendahului para bangsawan
yang lain itu, kemudian bahkan menambah keyakinan Pangeran
Ranakusuma. Petani di Sukawati itu benar-benar Pangeran Mangkubumi
dalambentuknya yang lain. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak sempat
memikirnya dalam keadaannya itu, karena sepeninggal Pangeran
Mangkubumi, maka keluarga Pangeran Ranakusuma yang terdekat mulai
berdatangan Beberapa di antara mereka langsung pergi ke ruang dalam
melihat jenazah Raden Rudira yang terbujur diam, sedang beberapa
orang yang lain pergi ke bilik Warih yang masih saja menangis.
Kepada setiap orang yang menanyakan Raden Ayu Galihwar it maka
Pangeran Ranakusuma, maupun Warih yang menjawab disela-sela isaknya,
mengatakan, bahwa ibu Raden Rudira itu terpaksa diungsikan karena
kejutan perasaan yang amat sangat. Dengan demikian, semakin tinggi
matahari, pendapa Ranakusumapun menjadi semakin penuh, sedang para
pelayan di belakangpun menjadi semakin sibuk. Beberapa orang
perempuan bangsawan berkumpul di ruang tengah merangkai bunga mawar
dan melati untuk menghiasi usungan yang akan membawa Raden Rudira ke
makam keluarga para bangsawan. Namun demikian, meskipun pendapa
Ranakusuman itu sudah, menjadi penuh, namun ternyata masih ada
seorang yang ditunggu oleh Pangeran Ranakusuma. Seorang yang selama
ini seakan-akan telah tersish dari hatinya. Seorang yang selama ini
seakan-akan telah disingkirkannya dari istananya meskipun ia adalah
puteranya sendiri. Dan kini, tiba-tiba saja ia menunggu dengan hati
yang gelisah kedatangan anak laki-lakinya yang seorang itu,
Juwiring, yang lahir bukan dari seorang perempuan bangsawan yang
setingkat dengan Raden Ayu Galihwarit. Tetapi yang ditunggunya itu
tidak juga segera datang. Sementara istana Ranakusuman menjadi
semakin sibuk, maka utusan yang berpacu ke Jati Sari sejak sebelum
fajar telah melintasi bulak panjang. Jarak yang akan dicapainya
sudah tidak begitu jauh lagi. Apalagi kuda yang dipergunakannya
adalah seekor kuda yang tegar dan kuat. Beberapa orang petani yang
ada di sawahnya terkejut melihat kuda yang berpacu dengan kecepatan
yang tinggi. Menilik pakaian yang dikenakan oleh penunggangnya,
orang itu tentu bukan petani biasa yang sedang bepergian jauh.
Tetapi orang itu tentu seorang piyayi dari kota, atau seorang abdi
dalem dikeraton Surakarta. “Tentu orang itu akan pergi ke Jati
Aking” desis seseorang. Yang lainpun menganggukkan kepalanya. Mereka
tahu bahwa di Jati Aking ada seorang putera bangsawan yang tinggal
bersama dengan Kiai Danatirta sekeluarga. Ternyata utusan itu tidak
memerlukan waktu yang lama lagi untuk mencapai Jati Aking. Sejenak
kemudian kudanya sudah berderap memasuki jalan yang menuju ke regol
padepokan Kiai Danatirta. Derap kaki kuda itu ternyata telah
mengejutkan penghuni padepokan kecil itu. Beberapa orang dengan dada
yang berdebar-debar menengok ke halaman. Ketika yang dilihatnya
hanyalah seorang penunggang kuda, dan sikapnyapun agaknya tidak
mencur igakan, maka seorang di antara merekapun mendekatinya dan
bertanya apakah yang dicarinya di padepokan itu.“Aku akan bertemu
dengan Raden Juwiring” berkata utusan itu. “Siapakah Ki Sanak?“ “Aku
adalah salah seorang abdi Ranakusuman” “O” Orang itu
mengangguk-angguk “Silahkan. Silahkan duduk di pendapa. Aku akan
menyampaikannya kepada Kiai Danatirta.” “Raden Juwiring sendir i
kini sedang berada di sawah” Utusan itupun kemudian duduk di pendapa
ditemui oleh Kiai Danatirta, sementara seorang cantrik dengan
tergesa- gesa pergi ke sawah memanggil Juwiring dan saudara-saudara
seperguruannya. “Kedatangan Ki Sanak telah mengejutkan kami” berkata
Kiai Danatirta kemudian. “Aku mendapat per intah dari Pangeran
Ranakusuma untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Raden Juwiring”
“O” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun hampir di luar sadarnya
ia bertanya “Kenapa bukan Ki Dipanala? Biasanya Ki Dipanalalah yang
diutusnya kemari. Bahkan pernah Ki Dipanala hampir saja terbunuh
oleh beberapa orang penyamun di bulak Jati Aking” Utusan itu terdiam
sejenak. Iapun mengetahui bahwa biasanya Ki Dipanalalah yang
mendapat tugas untuk menghubungi Raden Juwir ing. Tetapi agaknya
kini Ki Dipanala sedang sibuk di istana Ranakusuman sehingga ialah
yang mendapat tugas pergi ke Jati Aking. Karena utusan itu tidak
menjawab, maka Kiai Danatirtapun kemudian bertanya pula “Tetapi
bukankah Ki Dipanala tidak- mengalami sesuatu?“ Utusan itu
menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak Kiai. Ki Dipanala
selamat-selamat saja. Tetapi ia sedang terlalusibuk sehingga ia
tidak dapat datang ke padepokan ini. Karena itu, maka kali ini
akulah yang mendapat tugas itu” Kiai Danatirta tidak mendesak lagi.
Meskipun ada semacam kecemasan yang menyentuh hatinya, karena orang
tua itu mengetahui bahwa seisi istana Ranakusuman telah membenci Ki
Dipanala, dan bahkan beberapa orang telah berusaha untuk
membunuhnya. Karena itu, maka pembicaraan merekapun tidak lagi
berkisar kepada Ki Dipanala dan surat yang dibawa oleh utusan itu.
Mereka menunggu kedatangan Juwiring, karena surat itu ditujukan
kepadanya. Yang mereka bicarakan kemudian adalah keadaan padepokan
itu. Tanah yang subur, pepohonan yang hijau dan petani yang rajin
bekerja menggarap sawah mereka. Sejenak kemudian, ketika seorang
pelayan telah menghidangkan semangkuk minuman dan beberapa potong
makanan, barulah Juwiring datang diiringi oleh Buntal dan Arum yang
juga sedang berada di sawah menyampaikan makan kakak-kakak
seperguruannya. Dengan dada yang berdebar-debar Juwiring yang masih
dilekati lumpur itu langsung naik ke pendapa. Seakan-akan ia tidak
sabar lagi mendengar kabar apakah yang dibawa oleh orang itu,
sehingga ia tidak sempat pergi ke pakiwan mencuci kaki dan
tangannya. Demikian juga Buntal dan Arum. Meskipun mereka tidak
mendekat, tetapi merekapun duduk di bibir lantai pendapa itu. “Kau
tidak mencuci kakimu dahulu?“ bertanya Kiai Danatirta. “Aku ingin
segera tahu, kabar apakah yang dibawa oleh utusan ini” jawab
Juwiring. Utusan itupun menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya
kemudian “Raden, aku hanya seorang utusan. Aku persilahkan Raden
menerima surat ayahanda. Segala sesuatusudah tercantum di dalam
surat itu. Dan barangkali Raden bertanya di dalam hati, kenapa bukan
Ki Dipanala yang datang, dapatlah aku beritahukan bahwa Ki Dipanala
sedang sibuk di istana ayahanda Raden. Itulah sebabnya aku yang
datang kemar i membawa surat ayahanda Raden itu” Dada Juwiring
menjadi semakin berdebar-debar. Dengan jari-jari yang gemetar maka
disobeknya surat yang dibawa oleh utusan itu. Huruf demi huruf
dibacanya dengan saksama. Kiai Danatirta hanya memandanginya saja
dengan tegang. Ia tidak dapat ikut membaca surat itu, meskipun dari
tempatnya ia dapat melihat huruf yang tidak jelas, dengan
sandangannya. Suku, wulu, layar, pepet dan sebagainya. Namun di
dalam keseluruhannya Kiai Danatirta tidak dapat mengikut i bunyi
tulisan itu. Orang tua itu menjadi semakin berdebar-debar ketika ia
melihat dahi Juwiring yang berkerut merut. Kemudian wajah anak muda
itu menjadi tegang dan sorot matanya memancarkan kegelisahan yang
sangat. Tiba-tiba Raden Juwir ing memandang utusan itu dengan
tajamnya. Dengan suara gemetar ia bertanya “Jadi terjadi kecelakaan
atas adimas Rudira?“ Utusan itu menganggukkan kepalanya sambil
menjawab “Ya Raden” “Apakah yang terjadi?” Kiai Danatirta bertanya.
Buntal dan Arumpun tertarik pada pertanyaan Juwiring itu sehingga
mereka bergeser setapak maju. “Juwiring” berkata Kiai Danatirta
kemudian “Coba, katakan, apakah yang telah terjadi dengan adikmu
itu?“ Dengan suara yang bergetar, Juwiringpun mengatakan isi surat
yang dengan serba singkat menceriterakan peristiwa yang telah
menimpa Raden Rudira.“O“ wajah Kiai Danatirtapun menjadi tegang
“Jadi apakah benar pendengaranku, bahwa Raden Rudira terbunuh?“ “Ya
ayah. Begitulah bunyi surat ini. Karena itulah maka aku telah
dipanggil oleh ayahanda untuk segera kembali sekarang juga” “Apakah
benar begitu?“ bertanya Kiai Danatirta kepada utusan itu. “Ya Kiai.
Demikianlah yang telah terjadi. Itulah sebabnya Ki Dipanala menjadi
terlampau sibuk, karena tidak ada orang lain yang dapat membantu
kesibukan bukan saja penyelenggaraan jenazah Raden Rudira, tetapi
juga kesibukan batin Pangeran Ranakusuma” “Bagaimana dengan ibunda
Galihwar it?“ “Ibunda Raden Rudira telah menjadi pingsan untuk waktu
yang sangat lama. Menurut pertimbangan ayahanda Raden, ibunda Raden
Rudira telah diungsikan ke istana Pangeran Sindurata” Raden Juwiring
menarik nafas dalam-dalam. Namun yang tampak di wajahnya ternyata
bukan saja kejutan perasaannya, tetapi juga kebimbangan dan bahkan
kecur igaan. Terkilas di kepalanya apa yang pernah terjadi atas Ki
Dipanala di bulak Jati Sari. Namun j ika ia menyadari bahwa surat
itu ternyata telah ditanda tangani oleh ayahandanya sendiri, maka
iapun mulai mempercayainya. “Apakah bukan sekedar sebuah tanda
tangan palsu?“ pertanyaan itu masih juga membersit di hatinya.
Beberapa saat lamanya Juwiring merenungi surat itu. Ia
terombang-ambing di antara percaya dan tidak. Dicobanya untuk
meneliti tanda tangan yang tercantum di surat itu. Dan ia menganggap
bahwa surat itu benar-benar telah dibuat oleh ayahandanya.“Apakah
ayahanda sekedar diperalat oleh ibunda Galihwar it. Atau
sebenarnyalah yang terjadi demikian?“ Juwiring selalu diganggu oleh
berbagai pertanyaan “Tetapi aneh jika Rudira terbunuh oleh peluru
kumpeni. Namun bahwa itu suatu kecelakaan memang mungkin saja
terjadi” Juwiring masih saja bimbang, sehingga ia tidak segera dapat
mengambil keputusan. “Jika aku berkemas sekarang, dan kemudian
berangkat maka j ika benar-benar Rudira terbunuh, akupun sudah
terlambat untuk dapat menunggui keberangkatan jenazahnya, karena
perjalananku tentu akan memakan waktu. Aku akan sampai di kota
setelah gelap. Dan menjelang gerbang kota. di dalam kegelapan itu
banyak peristiwa yang dapat terjadi atasku. Seperti yang pernah
terjadi atas Ki Dipanala” Juwiring ternyata telah dilanda oleh
kebimbangan yang tajam. Kemudian katanya pula di dalam hati “Tetapi
jika aku tidak pergi, dan sebenarnyalah yang terjadi demikian, maka
ayahanda akan menunggu kedatanganku pula, sehingga baru besok akan
dikuburkannya” Dalam pada itu, selagi Juwiring dicengkam oleh
kebimbangan, maka Kiai Danatirtapun berkata kenadanya “Juwiring.
Sebaiknya kau membersihkan dir imu lebih dahulu sambil
mempertimbangkan apakah sebaiknya yang akan kau lakukan” Juwiring
menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Baiklah ayah. Aku akan pergi ke
pakiwan lebih dahulu” Lalu katanya kepada utusan itu “Tunggulah
sebentar di sini. Aku akan berkemas” Demikianlah ketika kemudian
Juwiring pergi ke belakang, tenyata Kiai Danatirta dan kedua mur
idnya yang lainpun segera menyusul, sehingga mereka sempat
mengadakan pembicaraan sebentar.“Juwiring” bertanya gurunya “Apakah
kau yakin bahwa surat itu adalah surat ayahandamu Pangeran
Ranakusuma?“ “Ya ayah” “Jika demikian, pergilah. Betapapun juga,
seorang ayah tentu tidak akan berbuat sejauh yang kau ragukan,
meskipun pengaruh Raden Ayu Galihwarit cukup besar. Apalagi
kecelakaan itu memang mungkin terjadi atas Raden Rudira. karena. . .
. ” kata-kata Kiai Danatirta terputus. Ia sadar, bahwa tidak
seharusnya Juwiring mengetahui kelemahan ibu tirinya. Menurut
perhitungannya, tentu Raden Rudira pada suatu saat mengetahui apa
yang dilakukan oleh ibunya. Dan kemungkinan yang parah itu terjadi
karena agaknya Raden Rudira menaruh dendam kepada kumpeni yang telah
melanggar pagar ayu itu. Juwiring menunggu Kiai Danatirta
menyelesaikan kata- katanya, tetapi ternyata gurunya itu berkata
“Jika tulisan itu benar-benar tulisan tangan ayahandamu, aku percaya
Juwiring. Karena itu pergilah. Tetapi jangan sendiri. Bawalah Buntal
bersamamu” “Aku akan ikut serta ayah” “Ah, kau bersama ayah di
padepokan ini. Jika kau juga pergi, siapakah yang akan membantu ayah
dan ayah tentu akan menjadi kesepian, karena Juwiring tidak akan
kembali besok atau lusa. Tentu ia memerlukan waktu sedikitnya
sepekan” Tetapi seperti biasanya, Arum tidak mau merubah
keinginannya. Dengan wajah yang berkcrut-merut ia berkata “Aku akan
ikut bersama kakang Juwir ing dan kakang Buntal” Kiai Danatirta
menarik nafas dalam-dalam. Anak perempuannya itu memang berhati
keras. Namun demikian ia masih berusaha mencegahnya “Arum. Apakah
yang akan kau lakukan di istana Ranakusuman. Kau tidak dikenal
orang. Kau tentu akan tersisih saja dan bahkan kau akan merasa
dirimuterlampau kecil karena kau anak padepokan. Kau tidak akan
mempunyai arti apa-apa di sana. Berbeda dengan puteri- puteri
bangsawan yang masih mempunyai saluran keluarga dekat atau jauh”
Tetapi Arum tetap pada pendiriannya. Sambil bermain-main dengan
ujung kain panjangnya ia berkata dalam nada yang rendah “Aku dapat
tinggal di rumah paman Dipanala. Katanya rumah itu dekat sekali
dengan istana Ranakusuman” Kiai Danatirta yang sudah mengenal sifat
Arum tidak berusaha melarangnya lagi. Semakin ia dilarang,
keinginannya rasa-rasanya menjadi semakin melonjak. Meskipun ia
dapat memaksa anak itu agar tidak pergi, tetapi anak itu akan
menjadi kecewa dan selama beberapa hari ia akan selalu dibayangi
oleh kekecewaannya itu. Wajahnya akan menjadi gelap dan
kadang-kadang berbuat sesuatu yang tidak sewajarnya. ”Ada juga
kebengalan ibunya yang tampak pada Arum” berkata Kiai Danatirta di
dalam hatinya. Dan karena itu, maka katanya kemudian “Arum. Jika kau
memang ingin pergi bersama mereka, jagalah dirimu baik-baik. Kau
akan berada di dalam suatu lingkungan yang belum kau kenal. Berbeda
sekali dengan pergaulan di padepokan ini” “Kakang Buntal juga akan
memasuki pergaulan yang asing” “Tetapi semasa kecilnya Buntal pernah
tinggal di rumah seorang bangsawan, sehingga ia sudah mengenal
unggah- ungguh dan tata pergaulan di istana Ranakusuman kau tidak
dapat memanggil Juwir ing dengan sebutan sehari-hari yang kau pakai
di padepokan ini. Kau harus memanggil seperti seharusnya” “Bagaimana
aku harus memanggil” “Seperti pada saat Juwiring datang kemar i”“O“
Arum mengangguk-anggukkan kepalanya “Aku mengerti. Aku harus
memanggilnya Raden Juwiring. Begitu” “Ah“ Juwiring berdesah. Tetapi
Kiai Danatirta menyahut “Demikian memang seharusnya. di dalam istana
Ranakusuman semuanya harus berlaku seperti seharusnya. Buntalpun
harus memanggil sebutan itu selengkapnya. Kalian mengerti?“ Ketiga
anak muda itu mengangguk, meskipun terbayang sepercik warna merah di
wajah Juwir ing. “Jika demikian bersiaplah. Kalian dapat segera
berangkat meskipun kalian akan sampai ke kota sesudah gelap.
Sebaiknya kalian makan dahulu bersama utusan itu. Bagaimanapun juga
kalian tidak akan dapat mencapai saat keberangkatan jenazah itu jika
memang hari ini jenazah itu akan dimakamkan” Demikianlah ketiga
anak-anak muda itupun segera berkemas, sementara seorang pelayan
telah menyediakan makan bagi utusan yang duduk di pendapa. “Ah,
seharusnya kami segera berangkat” berkata utusan itu. “Makanlah
dahulu” berkata Kiai Danatirta kepada utusan itu pula “Jika benar
hari ini jenazah itu dimakamkan, tentu kalian akan terlambat datang,
makan atau tidak makan” Dan utusan itupun kemudian tidak dapat
menolak lagi. Baru setelah mereka selesai, dan setelah Kiai
Danatirta member ikan beberapa pesan kepada murid-muridnya, maka
merekapun segera berangkat meninggalkan Jati Aking. Karena mereka
harus berkuda maka Arumpun terpaksa mengenakan pakaian seorang laki-
laki. “Sebaiknya kau tinggal di rumah pamanmu Ki Dipanala” sekali
lagi ayahnya berpesan ketika ia melepaskan anaknya di regol
halaman.Sementara itu, ketika Raden Juwiring bersama kedua saudara
seperguruannya dan utusan ayahandanya itu berpacu di sepanjang bulak
Jati Sari, maka di istana Ranakusumanpun menjadi semakin sibuk. Ki
Dipanala menasehatkan agar Pangeran Ranakusuma mengambil keputusan,
apakah ia akan menunggu Raden Juwiring atau tidak. “Tetapi” berkata
Ki Dipanala ”j ika Pangeran menunggu maka mereka yang sudah berada
di sini akan menjadi gelisah, karena tentu baru besok jenazah itu
dimakamkan” “Jadi bagaimanakah sebaiknya menurut pertimbanganmu?“
“Sebaiknya jenazah itu dimakamkan hari ini Pangeran” Pangeran
Ranakusuma mengangguk-angguk. Iapun kemudian menemui beberapa orang
tua, termasuk pangeran Sindurata yang sudah ada di pendapa itu pula.
“Buat apa kau mempertimbangkan anak itu” berkata Pangeran Sindurata
“lupakan saja anak itu. Kau masih mempunyai seorang anak perempuan
yang kelak tentu akan mendapatkan jodohnya. Dan kau akan mendapatkan
ganti Rudira yang malang itu” Terasa sesuatu bergejolak di dalam
hati Pangeran Ranakusuma. di dalam keadaan yang demikian, Juwiring
terasa sangat penting artinya bagi dir inya. Namun karena ia sadar,
bahwa para tamu sudah menjadi semakin banyak, ditahankannya saja
hatinya. Meskipun di dalam hati ia berkata“Jika Galihwarit sadar dan
mulai berceritera tentang dirinya, baru kau tahu, kenapa aku
membawanya kembali kepadamu” Dalam pada itu, kebanyakan dari
orang-orang yang dianggap lebih tua berpendapat bahwa jenazah
sebaiknya dimakamkan pada hari itu. Demikianlah selagi semua
persiapan dilakukan untuk melakukan upacara pemakaman, para tamu
telah dikejutkan oleh derap roda kereta yang memasuki halaman.
Ternyata kereta itu adalah kereta perwira kumpeni. Agaknya beberapa
orang kumpenipun telah memerlukan hadir di dalam upacara pemakaman
itu. Pangeran Ranakusumapun kemudian menyongsong perwira-perwira
kumpeni itu. Namun ia tidak dapat menahan gejolak di dalam hatinya.
Jika ia melihat orang yang disangkanya menembak Rudira, apakah ia
dapat menahan hati? Namun ternyata yang turun dari kereta itu adalah
seorang perwira yang jarang sekali berada di Surakarta. Perwira yang
justru mondar-mandir antara Semarang dan Surakarta. “Kenapa Dorep
ini yang datang?“ bertanya Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya.
Terasa dada Pangeran Ranakusuma menjadi sesak. Tetapi ia berusaha
untuk menyembunyikan gejolak perasaannya. Dipersilahkannya Dorep dan
seorang perwira yang lain naik ke pendapa dan duduk di antara para
bangsawan. “Kenapa orang yang jarang berada di Surakarta inilah yang
mewakili kawan-kawannya?“ pertanyaan itu selalu mengganggu perasaan
Pangeran Ranakusuma “Agaknya kumpeni menyadari bahwa sesuatu telah
terjadi. Perwira yang menembak Rudira itu tentu menyadari, bahwa
pelurunya ternyata telah mengenai justru anak laki-laki Galihwar it
sendiri. Karena itulah maka mereka mengir imkan orang yang jarang
sekali tampak di Surakarta”Namun kemudian Pangeran Ranakusuma
menganggap bahwa agaknya memang lebih baik demikian, agar ia tidak
dibakar oleh goncangan perasaan yang sukar terkendali. Seperti yang
kemudian diputuskan, maka jenazah Raden Rudirapun dimakamkan pada
hari itu juga tanpa menunggu Raden Juwiring. Diir ingi oleh para
bangsawan dan bahkan utusan resmi dari Kangjeng Susuhunan
Pakubuwana, jenazah Raden Rudira dengan kereta telah dibawa kemakam
untuk dibaringkan selama-lamanya. Ketika matahari kemudian turun di
sisi Barat dari wajah langit yang kemerah-merahan, makam itu telah
menjadi sepi. Yang tinggal hanyalah beberapa orang yang masih
menyelesaikan pemasangan nisan batu yang besar yang berwarna hitam
kelam. Orang-orang yang tinggal itupun segera menyelesaikan
pekerjaannya. Sekali-sekali mereka menengadahkan wajahnya memandang
langit yang kemerah-merahan. Kemudian mengusap keringat dibadannya
deiigan tangannya. Namun dengan demikian punggungnya justru menjadi
kotor oleh tanah yang melekat pada jari-jarinya yang basah itu.
Sejenak kemudian merekapun mengemasi alat-alat mereka. Sebentar lagi
mereka akan meninggalkan batu nisan yang diam membeku di antara
batu-batu nisan yang lain. Namun mereka mengerutkan keningnya ketika
mereka melihat seorang menghampir i makamyang masih baru itu. “Ki
Sanak” berkata orang itu “Apakah ini makam Raden Rudira yang baru
saja meninggal itu?“ “Ya” jawab salah seorang dari mereka yang baru
saja menyelesaikan pekerjaannya itu. Orang itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Lalu “Kenapa Raden Rudira ditembak oleh kumpeni?““Ah,
tentu kami tidak mengetahuinya” jawab orang yang sudah siap untuk
meninggalkan batu nisan itu “Tidak seorangpun yang mengetahuinya”
“Selama pemakaman apakah kau tidak mendengar salah seorang
membicarakannya?“ “Semua orang bertanya-tanya. Para bangsawan itupun
bertanya.tanya. Apalagi aku” Orang itu mengangguk-angguk pula.
Perlahan-lahan ia mendekati makam itu. Dirabanya batu nisan yang
masih baru itu. “Siapakah kau?“ bertanya salah seorang pekerja makam
itu. “Aku datang dari jauh” “Siapa? Dan apa hubunganmu dengan Raden
Rudira?“ “Tidak ada hubungan apa-apa. Tetapi Raden Rudira pernah
mengunjungi padukuhanku, bahkan singgah di rumahku” “Dimana
rumahmu?“ “Sukawati. Aku seorang petani dari Sukawati” “Sukawati?
Begitu jauh?“ “Ya. Begitu jauh. Tetapi Raden Rudira pernah datang ke
rumahku yang jauh itu. Sayang, bahwa aku hanya dapat mengunjungi
makamnya” Para pekerja di kuburan itu memandanginya sejenak. Petani
dari Sukawati itu berdiri tepekur di sisi makam yang masih baru itu.
“Orang asing itu memang sewenang-wenang” terdengar ia berdesis.
Sejenak kuburan itu menjadi sepi. Para pekerja saling berpandangan
sejenak. Kemudian merekapun memandangorang yang menyebut dirinya
petani dari Sukawati itu. Tetapi petani itu sama sekali tidak
menggeser pandangan matanya dari nisan yang masih baru itu. “Raden
Rudira adalah anak yang baik. Kenapa ia harus mati muda? Kumpeni
sama sekali tidak mempertimbangkan akibat yang dapat merusak hati
dan jantung orang tuanya. Terlebih- lebih ibundanya. Dan sekarang
Raden Ayu Galihwarit itu mender ita. Bahkan mungkin untuk selama
sisa hidupnya” Para pekerja itu masih mendengarkannya. “Ki Sanak”
berkata petani itu kemudian sambil berpaling “perbuatan ini bukan
saja menyakiti hati ayahanda dan ibundanya. Tetapi menyakiti hati
kita semuanya. Apakah itu terasa di hati Ki Sanak?“ Tidak seorangpun
yang segera menjawab. “Kita merasakan betapa pahitnya bekerja untuk
sesuap nasi. Kau menggali kubur, dan aku setiap hari berjemur
diterik matahari. Apakah yang kita dapatkan? Sedang orang-orang
asing di sini hidup mewah dan lebih dar i itu mengangkut segala
macam hasil tanah ini atas dasar perjanjian dengan para bangsawan”
Petani itu berhenti sejenak. Ditatapnya wajah para pekerja tanah
pekuburan itu seorang demi seorang. Namun tiba-tiba salah seorang
dari mereka berkata “Aku tidak tahu apa-apa Ki Sanak” Petani dari
Sukawati itu menganggukkan kepalanya “Aku juga tidak berani berkata
begitu j ika di antara kita ada orang- orang yang sudah dapat
mengenyam kenikmatan hidup sekarang ini, apapun caranya. Tetapi
kematian seorang anak muda bangsawan yang baik ini, tentu tidak akan
dapat kita biarkan begitu saja. Jika terhadap anak-anak muda
bangsawan kumpeni sudah berani berbuat demikian, apalagi terhadap
kita jika kita membiarkan kepala kita di injaknya”Tiba-tiba saja
para pekerja itu menganggukkan kepala. Bahkan salah seorang dari
mereka, pekerja yang paling muda berkata “Ya. Mereka menganggap
bangsa kita sebagai bangsa yang rendah. Kakekku adalah seorang
bebahu Kademangan yang dihormati oleh tetangga-tetangganya. Tetapi
pada suatu ketika, seorang asing meludahinya di muka umum karena
kakekku berbuat sesuatu yang dianggapnya salah” “Kita memang sudah
dihinakan” berkata petani itu. Tetapi pekerja yang lain berkata “Aku
tidak tahu apa-apa. Aku bekerja untuk mencari nafkah. Jika aku
berbuat sesuatu di luar urusanku, maka aku akan mengalami bencana
sehingga anak isteriku tidak akan dapat makan. Mereka akan menjadi
kelaparan dan barangkali mengalami nasib yang lebih jelek lagi” “Itu
adalah suatu contoh kesewenang-wenangan yang baik sekali” sahut
petani itu “meskipun kau tidak ikut apa-apa, tetapi pernyataanmu itu
justru suatu bukti dari sikap mereka terhadap kita” “Sudahlah Ki
Sanak” berkata pekerja kuburan itu “Aku minta dir i untuk ber
istirahat sejenak. Malam nanti aku haras pergi meronda untuk
mendapat tambahan upah buat hidup sehari-hari.” Petani dari Sukawati
itu tidak dapat menahan mereka. Seorang demi seorang mereka minta
dir i sehingga akhirnya kuburan itu menjadi semakin
sepi.
Jilid 11 PETANI dari Sukawati itupun
kemudian duduk di atas batu nisan sambil memandang berkeliling.
Kuburan itu benar-benar telah sepi. Namun untuk beberapa lamanya ia
tidak meninggalkan batu nisan itu. Sambil memandang daun semboja
yang bergetar disentuh angin Petani dari Sukawati itu berkata kepada
diri sendiri “Tetapi sudah ada semacam kesadaran pada rakyat kecil.
Mudah-mudahan mereka masih memiliki keberanian. Kegagalan yang
pernah terjadi mudah-mudahan tidak membunuh keberanian mereka sama
sekali” Petani itupun kemudian berdir i sambil mengusap keningnya.
Matahari sudah menjadi semakin rendah, dan sebentar kemudian hilang
di balik cakrawala. Dan malam yang kelampun mulai menyelubungi
Surakarta. Tetapi petani dari Sukawati itu masih berada dikuburan.
Ternyata ketika malam menjadi semakin kelam, sesosok bayangan yang
lain bergerak-gerak di balik dinding batu yang mengelilingi makam
itu. Sejenak kemudian terdengar bunyi burung kedasih yang ngelangut.
Namun ternyata dari dalamkuburan itu terdengar suara burung yang
sama seakan-akan menyahut suara burung yang pertama. Beberapa saat
kemudian, maka sesosok bayangan yang memanggul sesuatu di pundaknya
meloncat masuk dan mengendap di antara batu-batu nisan yang besar
dan cungkup-cungkup yang gelap. “Bawa kemari” terdengar suara berat.
“Hamba Pangeran” jawab orang yang memanggul sesuatu di pundaknya
itu. “Sekarang adalah giliran kita untuk menguburnya” berkata suara
yang pertama. “Hamba Pangeran” “Cepat, galilah tanah yang masih
basah di samping kuburan Rudira” suara itu berhenti sejenak, lalu
“Apakah kau seorang diri?“ “Hamba Pangeran. Hamba datang seorang
diri” “Baiklah. Mar ilah aku bantu” Di dalam keremangan malam, maka
dua sosok bayangan itupun sibuk menggali lubang di samping kuburan
Rudira yang masih basah, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan j ika
seseorang besok datang kekuburan itu. Ketika lubang itu sudah cukup
dalam, maka merekapun segera memasukkan benda yang memanjang dan
terbungkus tebal yang dipanggul di atas pundak orang yang meloncati
pagar itu. “Ada berapa?“ “Lima Pangeran. Dan menurut pembicaraan
yang sudah kami lakukan, mereka akan mengambilnya dua har i
lagi”“Bagus, dan berhati-hatilah. Senjata-senjata api semacam itu
sangat kami perlukan. Untuk melawan kumpeni, ada baiknya kita juga
memiliki senjata api meskipun t idak banyak” Demikianlah, maka
senjata api itupun kemudian ditimbuninya dengan baik, sehingga tidak
meninggalkan bekas. “Marilah kita pergi. Mudah-mudahan kita akan
mendapatkan senjata semacam itu yang lain” “Hamba Pangeran. Tetapi
mudah-mudahan juga tidak ada orang yang berprasangka bahwa kitalah
yang telah menembak Raden Rudira” “Tentu tidak. Tidak ada orang yang
tahu bahwa kita memiliki senjata api. Dan orang-orang sudah yakin
bahwa sebenarnya yang menembak Rudira adalah kumpeni” “Mudah-mudahan
pula kematian Raden Rudira dapat membangkitkan harga diri rakyat
Surakarta dan para bangsawan” “Tetapi sebagian dari para bangsawan
telah benar-benar kehilangan harga diri dan keberanian” Tidak
terdengar jawaban. Sejenak kemudian mereka berdua masih saja
merenungi senjata-senjata api yang tertimbun di lubang itu.
“Sudahlah, marilah segera kita hilangkan bekas-bekas kita, dan kita
segera dapat meninggalkan tempat ini” Keduanyapun kemudian
menyamarkan timbunan senjata api itu sebaik-baiknya sehingga mereka
yakin bahwa tidak ada seorangpun yang akan dapat mengetahuinya.
Dengan hati-hati keduanyapun meninggalkan kuburan itu. Ternyata
mereka memerlukan waktu yang cukup lama untuk menggali dan menimbuni
kuburan senjata itu, sehingga malamsudah menjadi semakin jauh.Dalam
pada itu, selagi mereka merayap keluar dari kuburan itu. di istana
Pangeran Sindurata telah terjadi sesuatu yang menggemparkan. Ketika
per lahan-lahan Raden Ayu Galihwar it mulai sadar, maka Pangeran
Sindurata menjadi gembira. Tetapi untuk sadar sama sekali. Raden Ayu
Galihwarit memer lukan waktu hampir setengah hari. Namun berbeda
dengan dugaan Pangeran Ranakusuma, bahwa ternyata Raden Ayu Galihwar
it benar-benar menjadi agak baik. Ia mulai mengenal dirinya sendir i
dan orang-orang yang berada di sekitarnya. “Galihwarit“ Panggil
ayahandanya yang sudah kembali dari Ranakusuman. “Ayahanda” desis
Galihwarit. “Ya Galihwarit. Aku adalah ayahandamu. Apakah kau sudah
menjadi semakin baik?“ Raden Ayu Galihwarit memandang ayahandanya
yang tampak masih agak kabur. Kemudian keluarganya yang lain.
Keluarga yang tinggal di rumah orang tuanya. Bukan di rumahnya
sendir i. “Beristirahatlah saja dahulu Galihwarit. Jangan pikirkan
apapun juga” Galihwar it tidak menjawab. Kepalanya terasa pening
sekali dan perutnya menjadi mual. Bayangan yang kabur itupun
kadang-kadang bagaikan menghilang lagi. Wajah-wajah yang tampak
tidak seperti sewajarnya. Kepala yang terlalu besar dan mata yang
hitam kelam. Namun kadang-kadang bayangan yang aneh itu dapat
dikenalnya seorang demi seorang, sebelum menjadi kabur dan
seolah-olah berubah bentuknya. Ketika Raden Ayu Galihwarit akan
muntah, maka ayahandanya yang cemas berkata “Pejamkan saja matamu.
Mungkin kau menjadi pening dan rasa-rasanya ruangan ini sedang
berputar”“Ya ayahanda” “Nah, cobalah tidur. Jangan hiraukan apa-apa
lagi” Raden Ayu Galihwarit mencoba memejamkan matanya yang kabur.
Namun sekali-sekali ingin juga ia melihat orang- orang yang ada
disekitarnya. Tetapi pandangannya masih saja terasa terganggu.
Kadang-kadang ia tidak dapat melihat apapun lagi, selain
keputih-putihan. Seakan-akan ia berada di dalam gumpalan awan yang
pekat. “Tidurlah” terdengar suara ayahandanya. Raden Ayu Galihwarit
tidak menyahut. Tetapi ia memejamkan matanya. Namun dalam pada itu,
ketika Raden Ayu Galihwarit mencoba mengingat apa yang telah terjadi
dengan dirinya, mulailah angan-angannya menelusuri masa-masa yang
telah terjadi. Raden Ayu itu dapat teringat meskipun samar-samar,
mulai saat ia pergi meninggalkah istananya untuk memenuhi undangan
beberapa orang perwira kumpeni. Diingatnya pula betapa meriahnya
pertamuan itu, karena seorang perwira asing yang lucu dan senang
bergurau. Dengan bahasa Jawa yang patah-patah ia mencoba berbicara
terlalu banyak, sehingga suasananya menjadi sangat ramai. Raden Ayu
itupun berhasil mengingat saat-saat ia meninggalkan istana yang
mulai menjadi sepi, dan diingatnya pula saat-saat ia berpindah
kereta di pinggir jalan. Tiba-tiba dada Raden Ayu Galihwarit
berdesir. Seakan-akan terbayang meskipun masih agak kabur seperti
wajah-wajah yang mengelilinginya, gambaran berikutnya dari peristiwa
yang dialaminya. Seakan-akan ia mendengar derap kaki kuda menyusul
keretanya dan kemudian disusul suara tembakan dan sesosok tubuh
terbanting jatuh.Disela-sela derai suara tertawa yang suram bagaikan
suara hantu yang menemukan sesosok mayat terkapar di tengah jalan,
ia seakan-akan mendengar seorang kumpeni mengumpat. Dan ketika Raden
Ayu Galihwar it bagaikan memaksa diri untuk mengingat apa yang
selanjutnya terjadi, terasa sesuatu bagaikan menghentakkan dadanya.
Tiba-tiba saja sebuah jerit yang panjang telah terloncat dari
mulutnya. Ternyata kenangannya telah mulai menyentuh bayangan
sesosok tubuh yang terkapar di pembaringan oleh luka peluru. Dan
tubuh itu adalah tubuh anaknya sendiri. Raden Rudira. “Galihwarit”
desis Pangeran Sindurata yang menjadi bingung “Kenapa? Kenapa?” Yang
terdengar kemudian adalah tangis yang meledak. Di dalam bayangan
yang gelap, Raden Ayu Galihwarit melihat dirinya sendiri dicengkam
oleh iblis yang paling laknat. Karena itu, disela-sela tangisnya
terdengar ia meratap “Bukan maksudku. Bukan maksudku untuk
menjerumuskan kau ke dalam bencana itu Rudira. Bukan aku. Bukan aku
yang membunuhmu” “Galihwarit, Galihwarit“ Pangeran Sindurata menjadi
bingung, sedang orang-orang lainpun seakah dicengkam oleh kecemasan
yang luar biasa. Tetapi kejutan yang telah mengguncang perasaan
Galihwar it itu mulai mengganggu syarafnya lagi. Karena itulah, maka
bayangan yang semula samar-samar dan semakin lama menjadi semakin
jelas itupun telah menjadi kabur kembali. Dan bahkan hilang sama
sekali. Yang kemudian mencengkamnya adalah kegelapan dan ketidak
sadaran. Itulah sebabnya, maka kata-kata yang terloncat dari
bibirnyapun sama sekali tidak terkendali lagi. Pengakuan-pengakuan
yang kemudian mulai mengalir telah benar-benar mengganggu perasaan
Pangeran Sindurata. Karena itulah maka tiba-tiba iapun berteriak
keras-keras kepada orang-orang yang ada di dalam bilik itu “Pergi,
semuapergi. Tinggalkan bilik ini. Biar lah aku sendiri yang
menungguinya” Sejenak orang-orang yang ada di dalam bilik itu
termangu- mangu. Namun karena itu, maka sekali lagi Pangeran
Sindurata berteriak “Pergi, cepat. Pergi” Orang-orang yang ada di
dalam bilik itu mulai bergeser. Seorang demi seorang mereka keluar
dari dalam bilik itu. Para emban dan juga keluarganya.
Saudara-saudaranya dan bahkan orang-orang tua. Tetapi Raden Ayu
Galihwarit tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Sambil
menangis ia meratapi peristiwa yang baru saja terjadi, dan yang
mengakibatkan kematian Raden Rudira. Meskipun tidak jelas dan tidak
berurutan, namun ternyata bahwa Pangeran Sindurata berhasil
menangkap igauan yang terlontar dari mulut Raden Ayu Galihwarit.
Rasa-rasanya setiap kata yang didengarnya telah menghantam dadanya.
Ia sadar, bahwa ternyata selama ini puterinya yang telah berhasil
menyingkirkan orang-orang yang tidak disenanginya dari istana
Ranakusuman itu telah terperosok ke dalam lumpur yang kotor.
“Memalukan sekali, memalukan sekali” geram Pangeran Sindurata.
Ketika kemudian dipandanginya wajah anaknya itu, terbayang betapa ia
telah melakukan perbuatan yang terkutuk untuk mencapai cita-citanya.
“Anak setan” tiba-tiba ia menggeram. Lalu “Siapakah yang mengajarimu
berbuat demikian?“ Tetapi Raden Ayu Galihwarit tidak mengerti
pertanyaan itu. Dengan kedua tangannya ia mengusap air matanya. Dan
tiba- tiba saja gangguan pada syarafnya menjadi semakin parah.
Karena itulah maka tangisnya tidak lagi terdengar. Bahkan diluar
dugaan Pangeran Sindurata Raden Ayu Galihwarit mulai tersenyum.
“Gila, gila. O, kau sudah menjadi Gila“ Pangeran Sindurata
berteriak. Terdengar Raden Ayu Galihwarit tertawa. Dan suara
tertawanya telah mengguncang hati Pangeran Sindurata. Pangeran yang
yang mudah sekali hanyut dalam arus perasaannya itu. Tingkah
lakunya, suara tertawanya dan kata-katanya itu benar-benar membuat
Pangeran Sindurata bagaikan dihempaskan ke dalam suatu lingkaran
yang menghisapnya ke dalam dunia yang kelamdan memalukan. Karena
itu, ketika Raden Ayu Galihwar it sekali lagi menyebut nama kumpeni
di dalam hubungan yang lain dengan dirinya, maka darahnya bagaikan
telah mendidih. Tiba-tiba saja ia meloncat menerkam pundak
puterinya. Sambil mengguncang-guncangnya ia berkata “Galihwarit.
Jadi kau benar-benar telah menjadi gila? Bukan saja gila dalam arti
yang sewajarnya, seperti yang terjadi atasmu sekarang, tetapi kau
telah sejak lama menjadi gila dengan tingkah lakumu yang terkutuk
itu” Raden Ayu Galihwarit menyeringai karena terasa pundaknya
menjadi sakit. Tetapi kemudian ia tersenyum sambil berkata “Jangan
sakiti aku. Kau tidak usah memaksaku. Jika kau dapat menyediakan
mutiara yang berwarna kelabu itu, kau tidak akan kecewa” “O, o“
Pangeran Sindurata menjadi lemas. Terhuyung- huyung ia melangkah
menjauhi puterinya dan terduduk di atas pembaringan. “He, mana
mutiara itu? Mana?“ “Tidak. Tidak“ Pangeran Sindurata justru menjadi
bingung.Raden Ayu Galihwarit tertawa. Perlahan-lahan ia
mendekatinya. Wajahnya yang pucat itu benar-benar membayangkan wajah
seorang iblis betina yang cantik tetapi berbisa. Pangeran Sindurata
menjadi semakin bingung. Setiap langkah puterinya. rasa-rasanya
dadanya menjadi semakin pepat. Namun Raden Ayu Galihwarit masih saja
melangkah maju. “Jangan, jangan“ Pangeran Sindurata itupun hampir
berteriak. Tetapi Raden Ayu Galihwarit justru tertawa
tertahan-tahan. Tiba-tiba sesuatu bergejolak di dalam hatinya.
Getaran yang tidak dapat dimengertinya, namun yang kadang-kadang
memang terasa hinggap di hatinya itu. Getaran itulah yang
kadang-kadang membuatnya kehilangan pengamatan diri. sehingga
beberapa orang menyebutnya agak kurang menguasai kesadarannya.
Demikianlah ketika Raden Ayu Galihwarit tinggal lagi selangkah
daripadanya, dan sambil tertawa memandanginya, Pangeran Sindurata
tidak dapat lagi menguasai getaran di dalam dadanya itu. Wajahnya
yang tegang menjadi semakin tegang, dan matanya menjadi liar. Tanpa
diduga-duga maka iapun sekali lagi meloncat menerkam Raden Ayu
Galihwarit. Kali ini t idak dipundaknya, tetapi tepat mencengkam
leher. “O“ Raden Ayu Galihwarit masih sempat berdesah. Namun
suaranya hilang karena tenggorokannya tiba-tiba saja tersumbat.
“Iblis betina” geram Pangeran Sindurata “Kau telah melumur i namaku
dengan noda yang tidak terhapuskan. Kau memang harus mati. Kau telah
dengan tidak langsungmembunuh anakmu sendir i dan melumuri namaku
dengan kehinaan. Kau memang harus mat i. Kau harus mati” Dan tangan
Pangeran Sindurata mencengkam semakin keras, sehingga Raden Ayu
Galihwarit yang sedang terganggu syarafnya itu sama sekali tidak
dapat mengeluh lagi. Namun dalam pada itu, selagi tangan Pangeran
Sindurata yang sedang bingung itu semakin erat mencengkam leher
puterinya, tiba-tiba saja pintu bilik itu terdorong dengan kerasnya.
Seseorang meloncat masuk dan dengan suara bergetar berkata sambil
menarik tangan Pangeran Sindurata “Kamas Pangeran, jangan. Jangan
dilakukan” Pangeran Sindurata yang masih mencengkam leher puterinya
berpaling. Dilihatnya adiknya dengan wajah yang cemas mencoba
menahannya. “Jangan kau cegah aku adimas. Jangan” “Ingatlah kamas.
Yang kamas lakukan itu sama sekali bukan suatu penyelesaian. Tetapi
kamas justru sedang membuka persoalan baru lagi” Pangeran Sindurata
berpikir sejenak. Namun dalam pada itu angannya menjadi semakin
mengendor. “Lepaskan kamas, lepaskan”Seperti didorong oleh tenaga
gaib maka tangan Pangeran Sinduratapun terlepas dari leher Raden Ayu
Galihwarit. Namun dalam pada itu, tubuh puterinya itupun sudah
menjadi demikian lemahnya. Untunglah bahwa Pangeran Sindumurti, adik
Pangeran Sindurata yang lahir dar i ibu yang sama, cepat menangkap
ketika Galihwarit terhuyung-huyung. Dipapahnya kemanakannya yang
sedang terganggu itu dan dibaringkannya di pembaringan. Tetapi mata
Raden Ayu Galihwarit masih saja terpejam meskipun nafasnya mulai
mengalir tersengal-sengal. “Kenapa kau cegah aku adimas?“ geram
Pangeran Sindurata. “Kamaspun ternyata telah diguncang oleh kejutan
perasaan. Seperti yang sering terjadi, kamas tidak dapat
mengendalikan perasaan yang sedang melonjak” “Memalukan sekali. Ia
mengigau tentang laki-laki. Dan laki- laki itu adalah orang-orang
asing” “Kamas” berkata Pangeran Sindumurti “Bukankah tentang orang
asing itu aku sudah beberapa kali menyebutnya di hadapan kamas.
Tetapi kamas sendiri berhubungan terlalu rapat dengan mereka.
Demikian juga agaknya Galihwarit ” “Tetapi aku tidak mengajarinya
berbuat demikian?“ “Tetapi kamas telah membiarkannya bermain-main
dengan air. Pada suatu saat Galihwarit telah menjadi basah
karenanya. Kesalahan ini jangan seluruhnya dibebankan kepada
Galihwar it. Tetapi sebagian pada kamas sendiri dan sebagian pada
suaminya, Pangeran Ranakusuma” Pangeran Sindurata menar ik nafas
dalam-dalam. Ketika ia sempat memandang ke lubang pintu yang
terbuka, dilihatnya beberapa orang masih menunggu meskipun pada
jarak yang agak jauh dengan wajah yang termangu-mangu.“Kau dengar
pembicaraan kami” tiba-tiba saja Pangeran Sindurata bertanya. “Aku
yang ada di luar pintu mendengarnya dan mengetahui dengan pasti apa
yang kamas lakukan. Tetapi para pelayan sudah aku suruh menjauh,
agar mereka tidak mendengar lebih banyak lagi persoalan Galihwar it”
Pangeran Sindurata termenung sejenak. Namun kemudian terasa dadanya
bagaikan dicengkam oleh perasaan yang bercampur baur di dalam
dadanya. Kecewa, cemas, malu dan juga ketakutan. Perlahan-lahan ia
melangkah ke sudut ruangan dan terduduk dengan lemahnya. “Kamas”
berkata Pangeran Sindumurt i “Baiklah kita berusaha. Mungkin ada
tabib yang pandai yang dapat menyembuhkannya. Sementara ini
sebaiknya kamas juga beristirahat menenangkan hati” “O“ keluh
Pangeran Sindurata “sementara ini Galihwarit masih akan tetap
mengigau. Ia masih dapat berteriak-teriak tentang sesuatu yang dapat
menambah noda di dalam hidupku yang tidak begitu cerah ini” “Biar
lah ia tetap tinggal di dalam biliknya. Aku akan membantu kamas
menjaganya agar ia tidak pergi keluar seorang diri dan tidak
membiarkan ia berbicara” “Kau akan tinggal di sini siang dan malam?“
“Tentu bukan aku seorang dir i. Kita bergantian. Dan sekali waktu
isteriku dapat juga membantu dan beberapa orang pelayan yang dapat
dipercaya” Pangeran Sindurata tidak dapat menolak pendapat adiknya.
Memang ia tidak mendapat jalan lain dar ipada itu. Apalagi
pikirannya yang sedang kacau itu sama sekali tidak dapat
dipergunakannya dengan sebaik-baiknya.Namun demikian, untuk
menyimpan Raden Ayu Galihwarit itu Pangeran Sindurata telah
menyediakan sebuah bilik yang khusus. Bilik yang jarang
dipergunakannya dan terletak di bagian belakang istananya meskipun
masih berada di lingkungan dalam. Bilik itu kemudian seakan-akan
menjadi sebuah bilik yang menyerupai sebuah tempat untuk
menyembunyikan Raden Ayu Galihwarit. Pangeran Sindumurt i yang
memiliki pandangan yang lebih jauh dar i kakaknya, masih sempat
melayani Raden Ayu Galihwarit seperti melayani seorang anak yang
cengeng dan nakal. “Ia memerlukan sikap yang khusus kamas” berkata
Pangeran Sindumurti ”Kita tidak dapat berbuat kasar. Kita harus
berusaha mengalihkan perhatiannya dari orang-orang yang selalu
disebut namanya. Biarlah perhatiannya tertuju pada Barang-barang
yang di sukainya. Makanan atau pakaian” “O” desis Pangeran Sindurata
“Aku harus menyimpan seorang yang gila di dalamrumah ini” “Tetapi
itu adalah darah daging kamas sendiri” Pangeran Sindurata hanya
dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bencana yang dahsyat
ternyata telah menimpa keluarganya. Anaknya menjadi gila, dan
cucunya mati tertembak oleh orang-orang asing yang selama ini
dianggapnya sebagai bangsa yang akan dapat membawa kebahagiaan di
dalam hidupnya, yang dengan ringan tangan memberikan banyak sekali
hadiah yang berharga baginya. Tetapi Pangeran Sindurata tidak
menerima per istiwa itu tanpa berbuat apa-apa. Ketika ia kemudian
sempat berbicara dengan adiknya, Pangeran Sindumurti, merekapun
mendapat kesimpulan bahwa peristiwa ini tentu mempunyai alasan yang
tidak dimengertinya. Dan alasan itulah yang harus mereka
ketemukan.“Untuk sementara aku tidak akan dapat menemui Pangeran
Ranakusuma” desis Pangeran Sindurata “Aku menjadi sangat malu. Ia
tentu sudah mengetahui dan mendengar igauan Galihwar it pula
sehingga dibawanya Galihwarit kembali ke rumah ini, meskipun ia
tidak mengatakannya” “Ya kamas. Tetapi biarlah kita melihat
perkembangan keadaan dengan hati yang dingin. Jika kita dibakar oleh
perasaan, maka kita akan mudah berbuat salah” Pangeran Sindurata
mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak berhasil segera
menyingkirkan pergolakan yang terjadi di dalam dadanya. Dan karena
itulah, maka iapun telah dicengkam oleh kepr ihatinan yang dalam.
Dalam pada itu selagi malam menjadi semakin dalam beberapa orang
berkuda telah memasuki kota Surakarta. Beberapa orang prajurit
peronda yang sedang nganglang terkejut mendengar derap itu. Apalagi
pada suasana yang sedang buram karena kematian Raden Rudira, maka
prajur it itupun kemudian berusaha menghentikan orang berkuda yang
berpacu di jalan raya itu, apalagi di malam hari. Ketika orang-orang
berkuda itu sudah berhenti, maka pemimpin peronda yang bersenjata
tombak itupun segera mendekatinya. Tombaknya masih merunduk di bawah
dadanya. Namun di dalam keadaan yang gawat itu, ia selalu
berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan. Orang-orang berkuda itu
masih tetap berada di punggung kuda ketika prajur it itu bertanya
“Siapakah kalian?“ Orang yang berkuda di paling depan itupun
menjawab “Kami adalah keluarga istana Ranakusuma” “He?“ “Aku sendir
i adalah abdi Ranakusuman” “Yang lain”“Raden Juwiring. Putera tertua
dari Pangeran Ranakusuma. Aku baru saja memberitahukan kepadanya
bahwa Raden Rudira telah meninggal” “O“ prajurit itupun kemudian
menganggukkan kepalanya dalam-dalam diikuti oleh para peronda yang
lain. Katanya “Maaf Raden. Raden sudah terlalu lama tidak tinggal di
dalam kota, sehingga kami tidak segera dapat mengenal” Raden
Juwiring tersenyum. Katanya “Aku memang tidak banyak dikenal” Para
peronda itu tidak menjawab. Mereka menganggap bahwa ucapan Raden
Juwiring itu merupakan suatu sindiran bagi mereka. Tetapi sebenarnya
Juwiring sama sekali tidak hendak berbuat demikian. Sesuatu di dalam
hatinyalah yang telah mendesak kata-kata itu meloncat dar i
mulutnya. “Jika demikian” berkata para peronda itu “Silahkan Raden
melanjutkan perjalanan” Demikianlah maka ir ing-ir ingan itupun
bergerak pula dan sejenak kemudian kuda-kuda itupun telah ber lari
di jalan raya yang sepi. Lampu minyak yang terpancang di sebelah-
menyebelah jalan memberikan sedikit pertolongan di dalam gelapnya
malam sehingga mereka tidak mendapatkan kesulitan menelusuri jalan
kota. “Kakang Juwiring sangat dihormati di sini” bisik Arum kepada
Buntal. Namun ternyata bahwa Juwiringpun mendengarnya juga sehingga
sebelum Buntal menyahut, Juwiring telah mendahuluinya “Hanya
kebetulan. Mereka sebenarnya tidak menghormati aku, tetapi mereka
menghormat i derajat ayahanda Pangeran. Jika aku bukan putera
ayahanda Pangeran Ranakusuma, maka kedudukanku akan lain. Berbeda
dengan seseorang yang dihormati karena pribadinya sendir i” Arum
menjulurkan lidahnya sambil berdesis “Ternyata Raden Juwiring
mendengarnya”“Ah kau” sahut Buntal “Kau t idak sedang berbisik.
Tetapi kau berteriak” “Tetapi bukankah sebenarnya begitu?“ Buntal t
idak menjawab lagi. Namun dalam pada itu, utusan dari Ranakusuman
yang berada di antara mereka berpaling juga memandang Juwiring
sejenak. Dan anak muda itu berkata lebih lanjut “Ada orang yang
dihormati memang karena ia pantas dihormati. Ia telah melakukan
sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang dan apalagi bagi
Surakarta. Tetapi aku belum pernah berbuat apa- apa” Tidak ada yang
menyahut. Namun agaknya Juwiring tidak sedang bergurau. Tetapi ia
bersungguh-sungguh. Sejenak kemudian mereka telah berada di
tengah-tengah kota Surakarta. Sebentar lagi mereka sudah berada di
jalan lurus yang menuju ke istana Ranakusuman. Derap kaki-kaki kuda
itu telah mengejutkan beberapa orang penjaga di regol Ranakusuman.
Ketika mereka menjenguk lewat sebuah lubang di pintu regol, mereka
melihat dua orang yang berdiri di muka pintu itu. “Siapa?“ “Aku,
bersama Raden Juwiring” “O, Raden Juwiring” desis seseorang yang
kemudian dengan tergopoh-gopoh membuka pintu regol. Ketika pintu itu
terbuka, maka Juwiringpun segera bertanya “Apakah paman Dipanala
ada?“ “Ada Raden. Ada. Silahkan masuk” “Aku tidak datang sendir i.
Aku datang bersama kemanakan Ki Dipanala. Panggillah”Seorang penjaga
dengan tergesa-gesa pergi ke ruang dalam yang masih terang
benderang. Didapatinya Ki Dipanala duduk bersila di ruang dalam.
Agaknya ia selalu siap menunggu setiap perintah. di sampingnya duduk
seorang pelayan yang lain. “Ki Dipanala“ penjaga regol itu berdesis
“Raden Juwir ing telah datang. Ia menunggumu di regol” “Kenapa tidak
segera saja masuk?“ “Ia tidak datang seorang diri. Ia datang bersama
kemanakan Ki Dipanala” “Kemanakanku?“ “Ya” Ki Dipanala berpikir
sejenak. Dan tiba-tiba saja ia teringat kepada dua orang saudara
seperguruan Juwiring. Karena itu, maka iapun segera berdiri dan
turun ke halaman menyongsong anak-anak yang datang dari Jati Aking.
Dugaannya memang tepat. Yang datang adalah Raden Juwiring. Sedang di
sebelah regol menunggu Buntal dan Arum. “Marilah Raden” berkata Ki
Dipanala “Ayahanda sudah menunggu” Lalu katanya kepada Buntal dan
Arum “Marilah ngger. Silahkan masuk” Juwiring segera mendekati Ki
Dipanala sambil berbisik “Biar lah mereka berada di rumah paman
lebih dahulu karena menurut ayah, maksudku guru di Jati Aking,
biarlah ia tidak mengalami kesulitan untuk menyesuaikan dir i dengan
pergaulan di rumah ini” “O, tentu tidak. Silahkan, tidak ada
keberatan apa-apa seandainya langsung dipersilahkan masuk. Masih ada
tempat yang barangkali sesuai untuk mereka di dalam istana
ini”“Tetapi tentu ada banyak orang di dalam. Tentu beberapa orang
bangsawan dan keluarga ayahanda terdekat yang berjaga-jaga” lalu
tiba-tiba suaranya merendah “Bukankah benar adimas Raden Rudira
meninggal?“ “Ya Raden. Hampir di luar dugaan sama sekali” Raden
Juwiring mengangguk-angguk, lalu diulanginya “ Biarlah mereka
tinggal di rumah paman untuk malam ini. Besok biarlah mereka aku
perkenalkan kepada ayahanda Pangeran“ “Jika demikian, baiklah Raden.
Biarlah aku bawa mereka ke rumah. Sementara itu silahkan Raden
masuk” Ketika Juwiring memasuki halaman rumahnya, maka Buntal dan
Arum telah dibawa oleh Ki Dipanala ke rumahnya melalui jalan sempit
di luar dinding halaman istana. Setelah menempatkan kedua anak-anak
muda itu dan menyerahkannya kepada keluarganya, maka Ki Dipanalapun
segera kembali ke istana Ranakusuman. Ternyata kedatangan Juwiring
di istana Ranakusuman itu telah menarik perhatian setiap orang yang
ada di dalam istana itu. Semuanya memandangnya dengan tanggapan
masing- masing. Beberapa orang bangsawan yang dekat dengan Raden Ayu
Galihwarit menganggap kedatangan Juwir ing itu sebagai suatu usaha
untuk mempergunakan kesempatan, justru karena Rudira baru saja
hilang dar i istana itu. “Sst” desis seorang perempuan bangsawan
“Cepat benar Juwiring mengetahui bahwa adiknya telah meninggal”
“Tentu Pangeran Ranakusuma telah mengirimkan utusan untuk member
itahukannya” “Anak itu tentu bersorak di dalam hati. Kematian Rudira
member ikan peluang baginya untuk menguasai seluruh kesempatan yang
pernah dimiliki oleh Rudira”“Masih ada adik perempuannya” “Apakah
daya seorang perempuan” “Ia akan bersuami” Kawannya berbicara tidak
menyahut. Mereka hanya sekedar memandang saja ketika Juwiring lewat
terbungkuk- bungkuk di hadapan mereka langsung masuk ke ruang dalam.
“Dimana ayahanda?“ bertanya Juwiring kepada Ki Dipanala yang telah
berada di istana itu pula. “Di dalam. Ayahanda Raden ternyata
terlampau letih. Lahir dan batin. Agaknya ayahanda Raden telah
tertidur meskipun sambil duduk di dalam bilik” Juwiring menjadi
ragu-ragu sejenak. Meskipun ia adalah putera yang sulung, tetapi
rasa-rasanya ada jarak yang selama ini membatasi antara dirinya
dengan ayahandanya. “Silahkan Raden” berkata Ki Dipanala. “Di mana
ibunda?“ “Masih di istana ayahandanya. Pangeran Sindurata” “Apakah
ibunda Galihwarit tidak menunggui keberangkatan jenazah adinda
Rudira?“ “Tidak Raden” Juwiring mengangguk-angguk. Agaknya tanpa
Raden Ayu Galihwar it, rasa-rasanya Juwiring tidak begitu segan
memasuki bilik ayahandanya yang sedang tertidur sambil duduk oleh
kelelahan yang mencengkam. Lahir dan batin. Perlahan-lahan Raden
Juwiring memasuki pintu bilik. Ia sama sekali tidak menghiraukan
lagi beberapa orang memandanginya dengan bayangan perasaan yang
berbeda- beda di wajah mereka.“Setelah tidak ada Rudira, anak itu
merasa dirinya dapat berbuat apa saja di sini” desis seorang
bangsawan tua. Tidak ada yang menyahut. Mereka melihat Raden Juwir
ing itu hilang di balik pintu. Ternyata langkah Raden Juwiring telah
mengejutkan ayahandanya yang sebenarnya tidak tidur nyenyak. Rasa-
rasanya hanya bagaikan terlena beberapa saat. Sejenak Pangeran
Ranakusuma memperhatikan seorang anak muda yang berdir i di
hadapannya dengan kedua tangan ngapurancang. Kepalanya tertunduk dan
pandangannya jatuh hampir di atas kakinya sendir i. “Juwiring” desis
Pangeran Ranakusuma. “Ya ayahanda. Aku telah datang karena ayahanda
berkenan memanggil” Pangeran Ranakusuma berdiri sambil menarik nafas
dalam-dalam. Didekatinya anak laki- lakinya itu. Kemudian sambil
menepuk bahunya ia berkata “Adikmu telah tidak ada lagi” “Ya
ayahanda, seperti yang tersebut di dalam surat ayahanda.” “Ya,
akulah yang membuat surat itu. Aku cemas bahwa kau sudah tidak
mempunyai kepercayaan lagi kepada ayahmu, sehingga kau tidak mau
datang meskipun aku telah memanggilmu”“Aku tentu akan menjalankan
segala perintah ayahanda” “Bagus Juwiring. Ternyata kau anak yang
baik. Selama ini aku mencoba mengenalmu. Tetapi baru malam ini aku
berhasil, justru setelah adikmu t idak ada” Namun keduanya terkejut
ketika tiba-tiba mereka mendengar suara dari sela-sela pintu yang
kemudian terbuka “Ayahanda terpengaruh oleh hilangnya kakangmas
Rudira. Ayahanda merasa kesepian, dan anak itu ayahanda anggap dapat
menggantikan kedudukan kamas Rudira. Tidak. Anak itu tidak kita
perlukan di istana ini” “Warih” desis Pangeran Ranakusuma “ini juga
kakakmu, Warih” Rara Warih memandang Juwiring sejenak. Namun
kemudian sambil memalingkan wajahnya ia berkata “Ia tidak pantas
berada di istana ini” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam.
Perlahan-lahan didekatinya anak gadisnya sambil bertanya “Warih.
Sudahlah. Marilah kita lupakan pertikaian di antara keluarga kita.
Sebaiknya kita mencoba menempatkan diri kita masing-masing di dalam
hidup kekeluargaan yang rukun” “Ayahanda” berkata Rara Warih
“Bukankah ayahanda sudah mengusirnya dan menempatkannya di padukuhan
yang jauh? kenapa sekarang ia berada kembali di istana ini, tepat
pada saat meninggalnya kamas Rudira?“ “Aku memanggilnya” “Kenapa
ayah memanggilnya? Tentu karena ayah sedang merasa kehilangan. Ayah
menganggap bahwa orang itu dapat menggantikan kamas Rudira yang
hilang” “Bukan begitu Warih. Ia memang keluarga kita sendiri”
“Tetapi ia tidak sederajad dengan aku dan kamas Rudira “Terasa
sesuatu berdesir di dada Juwiring. Untunglah bahwa. ia tidak datang
langsung bersama Buntal dan Arum. Jika keduanya ada di ruang itu
juga, maka ia akan mender ita malu karenanya di hadapan
saudara-saudara seperguruannya itu, yang selama ini kurang mengerti
persoalan yang ada di antara keluarganya. “Warih” berkata Pangeran
Ranakusuma “Kau harus belajar melihat kenyataan. Bagaimanapun juga
Juwir ing adalah anakku. Dan kau juga anakku” “Tetapi ibunya tidak
sederajad dengan ibuku” Dalam pada itu rasa-rasanya dada Juwiring
menjadi semakin panas sehingga sebelum Pangeran Ranakusuma menjawab,
Juwiring telah mendahului menyahut “Ayahanda. Baiklah. Jika
kedatanganku memang tidak dapat diterima oleh keluarga ini, maka
sebaiknya aku pergi. Aku sudah datang memenuhi surat ayahanda
meskipun aku terlambat, karena aku tidak dapat menyaksikan
keberangkatan jenazah adimas Rudira” “Dan itu memang tidak perlu
bagimu” sahut Rara Warih. Juwiring menar ik nafas dalam-dalam.
Rasa-rasanya ia ingin mengendapkan gejolak yang membakar dadanya.
“Tidak Juwiring” berkata ayahandanya “Kau tetap di sini. Sebagian
kata Warih memang benar. Aku kesepian. Kau adakah anakku laki-laki
seperti Rudira. Dan kaupun berhak berada di rumah ini, karena rumah
ini memang rumah kita. Rumah keluarga kita” “Tentu tidak” potong
Warih “Jika ibunda datang ke istana ini, maka ibunda tentu akan
mengambil sikap yang lebih tegas dari sikapku” “Ibumu tidak akan
datang lagi ke rumah ini Warih” jawab Pangeran Ranakusuma. “Kenapa?“
Rara Warih menjadi tegang.Pertanyaan Rara Warih itu ternyata telah
mengejutkan Pangeran Ranakusuma yang di luar sadarnya telah menyebut
sesuatu tentang isterinya di hadapan Rara Warih. Karena itu, untuk
beberapa saat ia termangu-mangu. Ia tidak segera menemukan jawaban
atas pertanyaan puterinya itu. “Ayahanda?” desak Rara Warih “Kenapa
ibunda tidak akan kembali lagi ke istana ini?“ “Bukan maksudku
berkata begitu Warih” jawab Pangeran Ranakusuma kemudian “Aku hanya
ingin mengatakan bahwa ibundamu mungkin memerlukan waktu yang lama
untuk menenangkan goncangan perasaannya itu” “Dan hati ibunda akan
terguncang lagi apabila ia melihat orang itu berada di dalam istana
ini” “Mungkin akan terjadi sebaliknya” jawab Pangeran Ranakusuma
“mungkin Juwir ing dapat menawarkan hatinya. Anak itu telah
diasuhnya pula selagi masih bayi, sebelum kakakmu lahir, meskipun
jaraknya tidak begitu jauh. Baru sejak Rudira lahir ibumu tidak
sempat lagi menyentuh Juwiring karena ia sibuk dengan anaknya sendir
i” “Tetapi ketika orang itu menjelang dewasa, maka ia sudah hanyak
sekali menyakiti hati ibunda sehingga ia harus pergi dari istana
ini. Pada saat itu ayahanda merestui keputusan itu juga” “Ya karena
di antara keduanya, maksudku Rudira dan Juwiring agaknya kurang
dapat hidup rukun meskipun mereka seayah. Karena itulah maka salah
seorang dari keduanya harus menyingkir. Tetapi sekarang Rudira sudah
tidak ada lagi” “Tetapi aku masih ada. Jika aku tidak dapat hidup
rukun dengan orang itu, siapakah yang akan ayahanda singkirkan?“
Pangeran Ranakusuma menjadi termangu-mangu. Ia merasa benar-benar
mendapat cobaan perasaan yang mahaberat. Karena itu untuk beberapa
saat ia tidak menyahut pertanyaan Warih itu. “Ayahanda” terdengar
Juwiring berkata “Apa salahnya jika aku kembali ke Jati Aking. Aku
dapat hidup tenang sebagai seorang petani tanpa memalingkan dir i
dari sikap seorang anak terhadap ayahandanya jika memang ayahanda
member ikan perintah apapun. Aku tetap seorang anak yang harus patuh
kepada orang tuanya. Jika aku t inggal di padepokan Jati Aking, itu
adalah karena aku sedang menuntut ilmu. Ilmu kesusasteraan, ilmu
pemerintahan dan ilmu kajiwan yang lain” “O“ kata-kata Juwiring itu
justru membuat bati Pangeran Ranakusuma menjadi pedih. Dengan suara
yang berat ia menjawab “Kau tetap di sini Juwiring“ Lalu katanya
kepada Rara Warih “Kau juga tetap di sini Warih. Cobalah saling
mengenal dan cobalah saling mendekatkan dir i. Kalian adalah
anak-anakku“ “Ayahanda” berkata Rara Warih “Jika orang itu tetap
berada di istana ini, akulah yang akan pergi ke istana eyang
Pangeran Sindurata” “Tidak” tiba-tiba Juwiring langsung menjawab
“Aku akan kembali ke Jati Aking seperti pesan Kiai Danatirta”
Pangeran Ranakusuma menahan dadanya dengan telapak tangannya,
seakan-akan ia ingin menahan dadanya yang akan retak. Dengan suara
yang dalam ia berkata “Baiklah jangan kita perbincangkan sekarang.
di luar masih banyak orang- orang yang berjaga-jaga sepeninggal
Rudira. disini kita sudah mulai bertengkar di antara keluarga
sendiri” “Tidak. Ayah harus memberikan ketegasan sekarang. Orang
itu, atau akulah yang harus pergi dar i rumah ini” “Aku akan
meninggalkan istana ini” jawab Juwiring.“Ya, ya” sahut Pangeran
Ranakusuma “terserah saja kepada keputusan kalian. Tetapi diamlah.
Sekarang bukan waktunya untuk berbicara tentang hal itu. Sebaiknya
kalian menemui saudara-saudara kalian yang ada di rumah ini malam
ini. Kawanilah mereka berjaga-jaga dan layanilah jika mereka memer
lukan sesuatu. Bukan justru kalian bertengkar sendir i. Jika ada
orang lain yang mendengar, maka kesan atas kita akan jelek sekali”
Rara Warih memandang Juwir ing dengan sorot mata yang memancarkan
kebencian yang mendalam. Sejenak ia masih berdiri di muka pintu.
Namun iapun kemudian melangkah keluar dan pergi ke bilik sebelah.
Ketika dijumpainya di dalam bilik itu bibinya, adik Raden Ayu
Galihwarit, sedang beristirahat oleh kelelahan, tiba-tiba saja Rara
Warih berlari dan memeluknya sambil menangis. “Warih“ bibinya itupun
segera bangkit. “Bibi” terdengar suaranya di antara isaknya. “Kenapa
kau menangis lagi? Sudahlah. Seharusnya kau mencoba menenangkan
hatimu. Jika ibumu mengetahui bahwa kau masih saja menangis, maka ia
tidak akan segera dapat menjadi tenang. Bukankah kau sayang kepada
ibunda?“ Rara Warih mengangguk. “Malam ini, di rumah eyang Pangeran
Sinduratapun tentu banyak orang yang menunggui ibundamu.
Mudah-mudahan ibundamu sudah sadar, dan mampu mengendapkan
perasaannya” Sekali lagi Rara Warih menganggukkan kepalanya. “Karena
itu, sudahlah” “Bibi” berkata Rara Warih kemudian “Aku sudah mencoba
untuk menerima keadaan ini dengan hati yang lapang. Tetapi tiba-tiba
saja orang itu datang ke dalam istana ini. Apakah aku harus
berdiamdiri dan membiarkannya berada di sini?““Siapa Warih?“
“Juwiring” Bibinya menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Biarlah
ayah-andamu menyelesaikannya” “Ayahandalah yang justru memanggilnya.
Selagi ayah merasa kehilangan, maka orang itu dianggapnya dapat
menjadi pengganti kakanda Rudira. Tetapi orang itu sama sekali t
idak sederajad dengan kakanda Rudira” “Seharusnya ia tidak kembali
ke istana ini” “Bukankah kehadirannya itu sangat menyakitkan hatiku.
Hatiku yang luka karena kehilangan kamas Rudira, dan kini ditambah
lagi dengan kehadiran orang yang hanya akan mengotori istana ini”
“Tetapi barangkali ia sekedar menampakkan diri pada saat jenazah
adiknya dimakamkan” “Tidak. Ayahanda menghendakinya agar ia tetap
tinggal disini” Bibinya mengerutkan keningnya. Lalu katanya
“Baiklah. Jika ibundamu telah sehat sama sekali dan kembali ke
istana ini, maka anak itu pasti akan segera pergi” “Tetapi menurut
ayahanda, ibunda tidak akan kembali lagi, atau Setidak-tidaknya
ibunda memerlukan waktu yang lama untuk dapat dengan tatag kembali
memasuki rumah ini” Bibinya mengusap kening Rara Warih sambil
berkata “Sudahlah. Sebaiknya kau tidak mempersoalkannya lagi. Jika
kau letih, berist irahatlah. Tidur lah sejenak, biar lah aku menemui
sanak keluarga yang duduk di ruang dalam” “Tidak bibi. Aku tidak
letih. Biarlah aku menemui mereka. Dan biar lah bibi
beristirahat”“Aku sudah cukup beristirahat. Marilah, kita
bersama-sama menemui mereka” Demikianlah keduanya keluar dari dalam
bilik itu dan pergi ke ruang dalam. Ketika mereka melalui pintu
bilik Pangeran Ranakusuma, mereka masih mendengar suaranya meskipun
perlahan-lahan sekali. Dalam pada itu di dalam bilik itu Pangeran
Ranakusuma berusaha meyakinkan Juwiring, bahwa hati adiknya itu
pasti akan segera lunak kembali. Iapun akan menjadi kesepian dan
memer lukan seseorang di dalam rumah itu selain ayahandanya yang
sering pergi untuk melakukan tugasnya sebagai seorang Pangeran dan
seorang perwira prajur it Surakarta. “Ayahanda” berkata Juwiring
“Seperti pesan Kiai Danatirta, biarlah aku kembali ke Jati Aking.
Mungkin akan lebih baik bagiku. Apalagi sebenarnyalah kedatanganku
tidak seorang diri” “Dengan siapa kau datang? Dengan Kiai
Danatirta?“ “Tidak ayahanda, tetapi dengan Arum, anak gadis Kiai
Danatirta, dan Buntal, anak angkatnya” “Dimana mereka sekarang?“
“Mereka berada di rumah Ki Dipanala. Aku sudah membayangkan bahwa
akan terjadi persoalan karena kehadiranku, meskipun tidak
setajamyang aku temui” “Sudahlah. Jangan hiraukan. Biarlah besok
kita berbicara lagi. Sekarang, kau dapat menemui keluarga kita di
ruang depan” Tetapi Juwir ing menjadi ragu-ragu. Katanya “Ayahanda,
apakah aku masih dapat diterima berada di lingkungan para bangsawan.
Ada semacam perasaan rendah diri menghinggapi diriku menghadapi
sikap dan tatapan mata mereka”Pangeran Ranakusuma mengerutkan
keningnya. Ditatapnya wajah anak laki-laki itu sejenak. Wajah yang
memang mengesankan wajah seorang anak bangsawan. Beberapa orang
mengatakan bahwa Juwiring mirip sekali dengan wajahnya sendiri pada
saat bayi itu dilahirkan. Kemudian di dalam perkembangannya wajah
Juwiring lebih mendekati wajah ibunya. Sejenak Pangeran Ranakusuma
tidak menyahut. Sepercik perasaan bersalah telah melonjak di dalam
dadanya. Anak itu seakan-akan sudah diasingkannya, sehingga terpisah
dari lingkungan para bangsawan. Juwiring selama ini hidup di
padepokan yang terpencil, yang menurut pendengarannya ia telah
berusaha menyesuaikan diri hidup di lingkungan para petani dan
justru telah terjun ke dalamsawah berlumpur. Dan kini ia mencoba
menariknya dari kehidupan itu dan kembali ke dalam lingkungan para
bangsawan. “Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma “mungkin
kelengkapan lahir iah dapat membuatmu diganggu oleh perasaan rendah
diri. Tetapi kau adalah benar-benar anakku” Raden Juwiring tidak
menyahut. “Memang sepantasnya kau berpakaian seperti seorang
bangsawan. Kau dapat memakai pakaianku. Tentu sudah tidak terlampau
besar. Bahkan mungkin agak sempit” “Ayahanda” desis Juwiring
“biarlah aku memakai pakaianku sendiri. Aku sudah biasa memakai
pakaian seperti ini” “Tetapi kau berada di dalam lingkunganmu
sendiri sekarang. Kau harus mengenakan pakaian sepantasnya. Bukan
karena pakaianmu maka kau diterima di dalam lingkunganmu, namun
kesan pertama yang tampak pada seseorang adalah caranya berpakaian.
Karena itu jangan menolak. Kau harus hadir di antara mereka dalam
pakaian yang pantas bagi seorang putera Pangeran. Jika kau
seganmemakai pakaianku, pakailah pakaian Rudira, yang barangkali
tubuhnya tidak terpaut banyak daripadamu” “Terima kasih ayahanda.
Kesannya akan lebih jelek lagi j ika aku memakai pakaian adimas
Rudira. Semua orang akan memancangku sebagai seorang anak muda yang
tidak tahu diri“ Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam.
“Ayahanda, mereka yang ada di pendapa sudah melihat aku dalam
pakaian ini. Agaknya tidak pantas jika aku kemudian berganti pakaian
dengan pakaian yang pantas bagi seorang putera Pangeran” “Baiklah
Juwiring. Tetapi sebaiknya kau memang membersihkan diri sejenak,
lalu berganti pakaian yang manapun yang kau kehendaki setelah
perjalananmu, lalu temuilah sanak keluarga terdekat yang ada di
ruang dalam dan di pendapa” Juwiring tidak dapat menolak.
Sebenarnyalah bahwa ia memang segan menemui sanak keluarganya yang
seakan- akan sudah terpisah dari dunianya. Bukan saja ada semacam
perasaan rendah diri, tetapi baginya dunia semacam istana ayahanda
ini sama sekali t idak menar ik. Hubungan yang kaku di antara mereka
karena batasan unggah-ungguh. Sikap yang tidak wajar dan lingkungan
dunia yang tidak dilandasi oleh kenyataan hidup yang sebenarnya bagi
keseluruhan rakyat Surakarta. Istana ini bagaikan dunia yang
terpisah, yang memilih batasan-batasan kehidupan tersendiri. Sambil
melangkahkan kakinya ke pakiwan, sekilas Juwir ing terkenang kepada
seseorang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati. Ia yakin bahwa
orang yang menyebut petani dari Sukawati itu benar-benar seorang
Pangeran seperti ayahandanya yang justru lebih muda. Dan menurut
gambaran angan-angan Juwiring, cara hidup dan sikap petani
dariSukawati itu tentu jauh berbeda dengan cara hidup dan sikap
ayahandanya berserta sanak keluarganya. Ketika Raden Juwir ing
berada di halaman belakang, tampaklah seluruh bagian belakang istana
ini menjadi terang benderang seperti sedang ada sebuah peralatan.
Tiba-tiba saja timbullah keinginannya untuk melihat-melihat ruang
dan bilik-bilik di belakang istananya. Juwiring tertarik ketika ia
melihat beberapa orang duduk melingkar di atas tikar yang putih.
Namun suasananya diliputi oleh kemuraman. “Mereka adalah pengawal
setia adimas Rudira” berkata Juwiring. Bahkan kemudian terbayang
betapa para pengawal itu pernah mencoba menyerangnya di bawah
pimpinan Sura dan kemudian masih saja terbayang tingkah laku Mandra,
sepeninggal Sura. Tetapi Juwir ing tidak melihat Mandra. Dan
akhirnya Juwiringpun mengetahui seluruhnya, apa yang telah terjadi
atas Raden Rudira, Raden Ayu Galihwarit dan Mandra, ketika Juwiring
bertemu dengan Ki Dipanala. “Mereka adalah kawan-kawan dekat Mandra”
berkata Ki Dipanala “meskipun ia berkhianat, tetapi tidak sebaiknya
kita membalas dendam pada mayatnya. Itulah sebabnya, ketika mereka
yang melawat Raden Rudira mengantarkannya ke makam, maka mayat
Mandrapun dibawa ke kuburan pula” Raden Juwiring menarik nafas
dalam-dalam. Ia menjadi semakin muak melihat kehidupan di balik
dinding-dinding istana yang gemerlapan, tetapi yang dikotori oleh
nafsu dan ketamakan yang berlebih- lebihan. “Tetapi di saat terakhir
adimas Rudira masih mencoba mempertahankan kehormatan nama keluarga
Ranakusuman” desis Juwir ing. “Ya Betapapun nakal dan bengalnya anak
muda itu, tetapi ternyata ia masih mempunyai harga diri. Ia tidak
peduli bahwaia akan berhadapan dengan kumpeni ketika ia mengetahui
ibunya pergi bersama mereka. Mandralah yang benar-benar pengkhianat
yang sangat licik” Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
semakin jelas dapat melihat kepalsuan yang bersarang di dalam hidup
yang terlampau berlebih- lebihan ini. “Karena itu paman” berkata
Raden Juwir ing “Aku berkeberatan jika ayahanda menghendaki aku
tinggal di rumah ini kembali. Aku sudah menyesuaikan diri dengan
kehidupan di padepokan. Dan rasa-rasanya hidup di padepokan jauh
lebih segar dari kehidupan di istana ini, di sini semuanya digulat
oleh kebanggaan lahiriah. di sini nilai seseorang ditentukan oleh
gemerlapnya permata yang dipakainya. Orang-orang di dalam istana
semacam ini rasa- rasanya semakin lama semakin jauh dari hakekat
dirinya, sebagai mahluk yang diciptakan oleh Maha Penciptanya.
Mereka sama sekali tidak pernah menyebut kebesaran Yang Mah Esa lagi
dalam hidupnya sehari-hari. Yang mereka dambakan hanyalah kebendaan
semata-mata. Bagi mereka, orang-orang asing itu lebih banyak member
ikan harapan daripada Kasih dari Tuhan Yang Maha Pengasih. Bagi
mereka, hidup hari ini agaknya jauh lebih penting dari kehidupan
akhirat” Ki Dipanala memandang Raden Juwir ing dengan tatapan mata
yang aneh. Yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang anak muda
yang tidak jauh berselisih umur dengan Raden Rudira yang baru saja
dimakamkan. Tetapi pengaruh kehidupan di padepokan Kiai Danatirta
itu membuatnya jauh lebih dewasa menanggapi kehidupan ini. Bukan
saja alam dunia ini, tetapi juga alamsetelah mati. Namun demikian,
Ki Dipanala itu kemudian menyahut “Raden. Jika memang ayahanda
menghendaki Raden ada di sini, aku ingin menyatakan pendapatku,
bahwa sebaiknya Raden bersedia. Ibarat orang yang bertempur, maka
Radenberada di medan yang paling depan. Memang istana ini memer
lukan perubahan. Seandainya Raden tidak dapat merubah tata kehidupan
beberapa orang bangsawan di Surakarta, Setidak-tidaknya keluarga ini
dapat Raden selamatkan” “Ah, apakah yang dapat aku banggakan dengan
pr ibadiku, sehingga paman berharap aku dapat menumbuhkan perubahan
di sini? Baru saja Diajeng Warih mohon kepada ayahanda untuk
mengusirku dar i istana ini” “Di sinilah letak ketabahan hati
seseorang. di medan yang paling depan memang memerlukan ketabahan
hati, keberanian dan kemampuan mengatasinya. Aku yakin bahwa Raden
dapat melakukannya” Tetapi Raden Juwiring menggelengkan kepalanya.
Katanya “Ada bermacam-macam alasan paman. Aku orang asing di sini.
Dan aku masih ingin menyempurnakan ilmu yang aku sadap dari ayah di
Jati Aking” “Raden tidak usah menghentikannya. Raden dapat
menyempurnakannya dengan cara yang sesuai dengan keadaan Raden.
Namun menurut pertimbanganku, kehadiran Raden di sini sangat diper
lukan” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu “Jika diperlukan, aku
dapat membantu Raden berhubungan dengan para bangsawan yang tidak
puas terhadap keadaan sekarang ini” Raden Juwiring terdiam sejenak.
Namun kemudian ia berkata “Aku tidak akan berarti apa-apa paman.
Bahkan aku akan dapat hanyut jika aku terjun ke dalam arus banjir
yang deras” “Di sinilah Raden dapat menguj i dir i sendir i. Apakah
Raden hanya selembar daun kering yang jatuh ke dalam arus, ataukah
sebongkah batu karang yang kuat berakar di dalam bumi. Jika Raden
hanya selembar daun, maka Raden memang akan hanyut sampai ke mulut
samodra. Tetapi jika Radenadalah batu karang yang tegak dengan kuat,
maka Raden akan menjadi pegangan mereka yang ingin menyelamatkan
diri dari arus itu” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. “Raden.
Memang Raden tidak usah sekokoh Pangeran Mangkubumi. Tetapi Raden
dapat merupakan gambaran daripadanya di dalam lingkungan Raden”
Sejenak Juwir ing merenung. Namun katanya kemudian “Aku akan mencoba
memikirkannya paman” “Silahkan Raden” berkata Ki Dipanala “sekarang
silahkan Raden pergi ke pakiwan. Tentu ayahanda menunggu”
Juwiringpun kemudian pergi ke pakiwan membersihkan dirinya. Namun
dalam pada itu, kata-kata Ki Dipanala masih saja berkumandang di
telinganya. Terasa sesuatu bergejolak di dalam hatinya. Meskipun ia
masih belum dapat mengambil kesimpulan yang pasti, namun apa yang
dikatakan oleh Ki Dipanala itu memang sangat menarik. “Aku akan
pergi ke pendapa” katanya kemudian “Aku t idak perlu merasa diriku
kecil. Aku tidak perlu memakai pakaian yang gemerlapan seperti
layaknya seorang putera Pangeran. Aku akan hadir sebagaimana aku
yang ada. Juwiring adalah Juwiring. Diterima atau tidak diterima,
itu sama sekali bukanpersoalanku. Tetapi aku harus tetap berada pada
kenyataanku” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menemukan
sikap yang mapan. Dan ia tidak akan menghiraukan tanggapan orang
lain atasnya. Demikianlah setelah membersihkan diri, Juwir ing
membenahi pakaiannya. Pakaian yang sudah dipakainya itu. Dengan
langkah yang pasti ia pergi ke pendapa seperti yang dimaksud oleh
ayahandanya untuk menemui sanak kadangnya yang berjaga-jaga setelah
kematian adiknya seayah. Kehadirannya memang sangat menarik
perhatian. Beberapa orang masih saja memandanginya dengan tatapan
mata yang kurang sedap. Namun Juwir ing sama sekali tidak
menghiraukannya. Ia duduk di antara mereka, saudara- saudara
sepupunya dengan dada tengadah. Meskipun ada juga sepercik
pengakuan, bahwa ibunya adalah seorang perempuan yang tidak
sederajad dengan ibu saudara-saudara sepupunya itu, namun Juwir ing
telah menemukan kepr ibadian sendiri Dengan sikap yang wajar ia
mencoba menempatkan dir inya di antara sanak kadangnya meskipun agak
kaku. Tetapi Juwiring tidak berusaha mengisi keasingannya dengan
tingkah laku yang berleburan. Meskipun ia tidak menjadi susut
sekecil cucurut tetapi ia juga tidak menggembung sebesar kerbau. Ia
adalah Juwiring. Saudara-saudaranya merasa agak canggung juga
berbicara dengan anak muda yang sudah beberapa lamanya tidak ada di
antara mereka. Bahkan ada di antara mereka yang memalingkan wajahnya
dan berbicara di antara mereka sendiri. Tetapi Juwiring tidak
menghiraukannya. Ia bersikap seperti sikapnya.Satu dua ada juga di
antara mereka yang berbicara sepatah dua patah kata. Ada juga yang
bertanya kepadanya tentang keadaannya selama ini. “Kau sudah lama
tidak tampak di antara saudara-saudara sepupumu?“ bertanya seorang
bangsawan yang baru saja melampaui masa mudanya. “Ya pamanda” jawab
Juwir ing “selama ini aku berada di padepokan yang terpencil” “O.
Apakah yang kau lakukan di sana?“ “Mempelajari beberapa jenis
pengetahuan yang mungkin bermanfaat bagi hidupku kelak” “Kenapa
harus dicari di padepokan yang terpencil? Apakah di Surakarta kurang
orang-orang pandai yang dapat menuntunmu mempelajari beberapa macam
ilmu? Dari ilmu kajiwan sampai ilmu kanuragan? Sepandai-pandai orang
padepokan yang terpencil itu, namun mereka tidak akan dapat
melampaui kepandaian orang-orang kota. Misalnya kamas Ranakusuma
sendiri, la mumpuni segala macam ilmu. Tata pemerintahan,
kesusasteraan, kajiwan dan juga kanuragan, sehingga kamas Pangeran
diangkat menjadi seorang Senapati. Jika kau berguru kepada
ayahandamu sendiri, tentu tidak akan kalah dari gurumu yang
sekarang, yang tentu tidak begitu memahami tata pemerintahan dan
unggah-ungguh” “Pamanda” jawab Juwiring “Agaknya memang demikian.
Tetapi ada semacam ilmu yang aku dapatkan di padepokan itu, yang
agaknya tidak akan dapat aku cari di dalam kota ini” “Apa?“
“Bertani. Aku sudah mendekati sempurna di dalam hal bercocok tanam.
Bukan saja sekedar mengetahui cara dan beberapa macam perhitungan
dan pertimbangan. Yang wajar dan yang dipengaruhi oleh kepercayaan,
tetapi aku juga sudah pandai melakukannya”“Ya. Aku dengar kau sudah
sudi melumuri tubuhmu dengan lumpur” “Ya” “Itukah sebabnya maka kau
memakai pakaian serupa ini di dalam pertemuan ini?“ “Kenapa dengan
pakaianku?“ Bangsawan lawan bicaranya itu tersenyum. Katanya
“Agaknya kau benar-benar ingin menunjukkan bahwa kau adalah seorang
petani yang pernah di sebut-sebut oleh almarhum Rudira sebagai
seorang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati?“ “O, tentu tidak
pamanda. Nama Petani dari Sukawati itu adalah nama yang besar.
Bagaimana mungkin aku dapat mengharap untuk menyamainya,
Setidak-tidaknya menyerupainya? Petani dari Sukawati mampu melakukan
beberapa macam perbuatan yang dapat kita anggap aneh. Ia memiliki
ilmu yang jarang ada duanya. Sepi angin. Sapta pemeling. Sapta
Pangganda dan sebagainya” “Kau berpendapat demikian?“ “Ya. Petani
dari Sukawati bukannya sembarang orang” Bangsawan itu menarik nafas
dalam-dalam. Ketika ia mengedarkan tatapan matanya, maka dilihatnya
beberapa orang memperhatikan juga pembicaraan itu. Namun justru
dengan demikian bangsawan itupun terdiam. Rasa-rasanya setiap mata
bertanya-tanya kepadanya, kenapa ia bersedia bercakap-cakap dengan
anak padepokan Jati Aking itu. Cahaya kemerah-merahan ternyata telah
mulai membayang di ujung Timur. Semalam suntuk para tanlu
berjaga-jaga di pendapa dan ruang dalam. Mereka ikut menyatakan
keprihatinan mereka atas meninggalnya Rudira karena
peluru.Demikianlah, maka seorang demi seorang para tamu itupun
justru mohon diri. Hanya beberapa orang yang paling dekat sajalah
yang kemudian tinggal di istana Ranakusuman. Ternyata bahwa keluarga
Ranakusuman sendir i, merasa agak asing dengan Juwiring. Beberapa
orang dengan segan menghormat inya seperti mereka harus menghormat
Rudira. Tetapi jika terpandang oleh mereka itu pakaian Juwiring yang
sederhana, maka hormat yang mereka berikan itupun segera menjadi
hambar. “Ternyata bahwa bentuk lahiriah seseorang sangat
berpengaruh” berkata Juwiring di dalam hati “Namun demikian, tindak
tanduk dan tingkah lakulah yang akan menentukan meskipun baru
kemudian” Ketika halaman istana Ranakusuman menjadi terang oleh
cahaya pagi, maka sebagian terbesar dari tamu-tamu itupun telah
meninggalkan istana Ranakusuman. Makin sedikit orang yang berada di
rumah itu, rasanya menjadi semakin canggung bagi Raden Juwir ing.
Seorang demi seorang mereka meninggalkan pendapa sambil memandang
wajah Juwir ing. Bahkan ada satu dua yang termangu-mangu bahwa orang
itu bukannya Juwiring. Namun akhirnya mereka bersepakat bahwa karena
Juwiring seakan-akan telah dilontarkan ke padepokan itu, maka dengan
sengaja ia menunjukkan keadaannya, justru di dalam saat yang agak
kalut. Bukan saja kekalutan di dalam istana Pangeran Ranakusuma,
tetapi kekalutan yang tampak semakin gelap di atas bumi Surakarta.
Apalagi beberapa orang di antara mereka pernah mendengar cer itera
Rudira tentang Petani dar i Sukawati. Dengan demikian maka beberapa
orang di antara mereka yang meninggalkan istana Ranakusuman itu
bersama-sama saling berbisik “Agaknya ia ingin disebut Petani dari
Sukawati”“Tidak. Ia berada di padepokan Jati Aking, sehingga ia akan
menyebut dir inya Petani dari Jati Aking” Bangsawan-bangsawan muda
itu tertawa berkepanjangan. Pangeran Ranakusuma yang melepaskan
tamu-tamunya di anak tangga pendapa istananya melihat, betapa
canggungnya hubungan antara Juwiring dengan sanak kadangnya. Berbeda
sekali dengan Rudira. Meskipun Rudira mempunyai kesenangan sendiri,
terutama berburu, namun di dalam pergaulan ia justru nampak agak
menonjol. Mungkin karena ia senang membuat tentang perburuan yang
sering dilakukannya. Pangeran Ranakusuma hanya dapat menar ik nafas.
Sekali lagi ia merasa bersalah, karena ia telah mengasingkan anak
muda yang baik itu dari lingkungannya. “Ia harus kembali ke rumah
ini” katanya di dalam hati “Aku harus dapat mendamaikannya dengan
War ih. Aku memer lukan kedua-duanya” Namun Pangeran Ranakusuma
sadar, bahwa untuk itu, bukannya kerja yang mudah dilakukannya. Ia
pasti akan memer lukan waktu yang cukup panjang dan barangkali
berbagai kesulitan akan ditemuinya. Bahkan memang mungkin sekali ia
gagal. Tetapi Pangeran Ranakusuma sudah bertekad untuk melakukannya.
Di har i yang kemudian menjadi semakin panas oleh matahari yang
merambat semakin tinggi, Ranakusuman menjadi semakin sepi. Beberapa
orang yang masih ada di istana itu menjadi lelah, dan sebagian telah
tertidur, sengaja atau tidak sengaja. Sedang yang lain masih sibuk
membersihkan pendapa, ruang dalam dan halaman. Sedang beberapa orang
perempuan masih ada di dapur untuk menyiapkan makan dan hidangan
apabila masih ada tamu- tamu yang bakal datang di har i itu.Pangeran
Ranakusuma yang lesu kemudian duduk di ruang dalam menghadapi
semangkuk minuman panas untuk menyegarkan tubuhnya. Ketika ia
meneguk minuman yang manis dan hangat itu, tubuhnya memang merasa
agak segar. Tetapi minuman itu tidak berhasil menyegarkan j iwanya
yang letih dan sakit. Tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma teringat
kepada anak laki- lakinya. Karena itu, maka disuruhnya seorang
pelayannya memanggilnya. “Dimana kau selama ini Juwir ing?“ bertanya
ayahandanya “sejak kau pergi dari pendapa, kau tidak kelihatan lagi“
“Aku ada di belakang ayahanda, bersama paman Dipanala” “Tempatmu
adalah di sini. di ruangan ini. di dalam istana ini dimana kau suka.
Tidak di belakang” Juwiring mengangguk dalam-dalam sambil menjawab
“Terima kasih“ “Karena itu” berkata Pangeran Ranakusuma selanjutnya
“sebaiknya kau berada di sini. Mudah-mudahan adikmu berubah sikap.
Sebenarnya ia seorang gadis yang baik meskipun manja. Tetapi karena
ia baru saja kehilangan kakak laki- lakinya, maka ia menjadi agak
gugup dan tidak sempat memikirkan sikap dan kata-katanya. Karena
itu, kau yang lebih tua, hendaklah mencoba dengan telaten dan sabar
untuk melembutkan hatinya” Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia menjawab juga “Baiklah ayahanda. Aku akan mencoba selagi
aku masih berada di rumah ini” “Kau akan tetap tinggal di sini”
“Ayahanda. Seandainya aku mengambil keputusan demikian, maka akupun
harus kembali ke padepokan Jati Aking untuk minta diri”“Aku tidak
berkeberatan. Tetapi kau harus memutuskan terlebih dahulu” “Aku akan
memikirkannya ayahanda. Tetapi apakah kehadiranku di rumah ini t
idak akan mengganggu ketenangan?“ “Apa yang kau maksudkan Juwiring?“
“Ayahanda, aku sudah biasa hidup di padepokan kecil. Sudah biasa
hidup sebagai seorang petani. Mungkin t ingkah lakukupun sudah
berubah, sehingga aku lebih mirip seorang petani daripada seorang
putera ayahanda. Mungkin aku sudah menjadi kasar dan tidak mengenal
lagi unggah-ungguh di antara para bangsawan“ “Kau belum lama tinggal
di Jati Aking. Mungkin tata kehidupan di Jati Aking mempengaruhi
sikap dan kebiasaanmu. Tetapi setelah kau berada di istana ini untuk
beberapa bulan, maka kebiasaan itupun akan hilang dengan sendirinya.
Sejak kecil kau hidup di antara para bangsawan. Kau akan segera
mengenali kebiasaanmu itu kembali” Juwiring tidak segera menjawab.
Kepalanya yang tertunduk menjadi semakin tertunduk. Tanpa
disadarinya, iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil
berpaling ke pintu-pintu bilik yang masih tertutup. “Warih dan
bibinya sedang tidur. Merekapun lelah” “Ya ayahanda” “Aku menunggu
keputusanmu” Juwiring tidak segera menjawab. Beberapa kali ia
menimbang apakah yang sebaiknya dilakukan. Namun ia masih tetap
ragu-ragu dan goyah. “Ayahanda“ akhirnya ia berkata “Baiklah aku
berbicara dengan anak dan anak angkat Kiai Danatirta
itu.Sebenarnyalah kami sudah dipersaudarakannya. Dan kami menganggap
Kiai Danatirta sebagai ayah kami” “Karena kau merasa sudah tidak
berayah lagi?“ “Tidak. Sama sekali tidak ayahanda. Jika aku diangkat
juga menjadi anaknya itu adalah karena ia tidak mau lagi membatasi
dirinya karena aku adalah muridnya. Aku diperlakukannya seperti
anaknya sendiri. Demikian juga Buntal” Pangeran Ranakusuma menarik
nafas dalam-dalam. Meskipun Juwir ing mengingkarinya, namun
rasa-rasanya ada juga kekosongan di hati anak yang jauh dari
ayahnya, apalagi ia sudah tidak beribu lagi, sehingga dengan
demikian ia mencari sandaran kepada orang yang dekat padanya, yang
mengasihinya dan memperlakukannya dengan lembut. “Aku adalah seorang
ayah yang jelek sekali“ katanya di dalam hati “Aku hampir saja
kehilangan hatinya. Mudah- mudahan aku belum terlambat. Dan
mudah-mudahan Juwiring tidak menganggap bahwa akupun sedang mencari
sandaran karena hatiku menjadi kosong sepeninggal Rudira” “Ayahanda”
berkata Juwiring kemudian “Aku akan mohon diri sejenak untuk pergi
ke rumah paman Dipanala. Aku ingin menemui kedua saudara angkatku
itu” “O“ Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya “Panggil saja
mereka kemari” “Mereka adalah anak-anak padepokan ayahanda. Anak
yang tinggal jauh dari kehidupan yang setertib istana ini” “Bawalah
mereka kemari. Aku ingin melihat anak-anak itu. Apabila mereka salah
sikap, itu bukan karena mereka tidak mau berbuat sebaik-baiknya.
Tetapi aku mengerti, bahwa mereka memang tidak dapat berbuat lebih
baik daripada itu”Juwiring berpikir sejenak, lalu “Baiklah j ika
ayahanda memang menghendakinya. Aku akan mengajak paman Dipanala
untuk memanggilnya” “Panggillah” Juwiringpun kemudian meninggalkan
ruang dalam itu dan mencari Ki Dipanala untuk dibawanya memanggil
kedua saudara seperguruannya. “Apakah yang harus aku katakan jika
aku menghadap seorang Pangeran?“ bertanya Arum. “Tidak apa-apa”
jawab Juwir ing “Jika kau ditanya, maka kau menjawab jika kau
mengetahui jawabnya. Tidak ada bedanya dengan berbicara dengan aku
dan Buntal” “Tentu berbeda. Aku harus duduk sambil menunduk dalam-
dalam. Setiap kali aku harus menyembah dan membungkukkan kepala,
begitu?“ “Ya. Sebenarnya hanya kepada Kangjeng Susuhunan saja kita
menyembah. Tetapi para pengeranpun ingin disembah. Bahkan ada
kalanya putera-putera Pangeran minta juga disembah” “Jadi bagaimana
dengan aku?“ “Sekehendakmulah” “Ah, tentu tidak” “Menyembahlah”
potong Ki Dipanala “Tidak ada salahnya. Tetapi Pangeran Ranakusuma
bukan seorang bangsawan yang tinggi hati” “Cita-citanyalah yang
agaknya terlampau tinggi” desis Juwiring ”Tetapi sayang . . ”
kata-katanya terputus. Ki Dipanala memandanginya dengan sorot mata
yang mengandung pertanyaan. Namun ia tidak mengucapkannya, karena ia
seakan-akan dapat mengerti, bahwa Juwiring tidaksependapat dengan
keinginan ayahnya untuk mendapatkan kedudukan yang terlalu tinggi di
dalam istana Susuhunan dan kehmpahan kekayaan di istananya sendiri.
Demikianlah maka kedua anak-anak Jati Aking itupun mengikut i
Juwiring memasuki ruang dalam istana Ranakusuman yang dipenuhi
dengan berbagai macam hiasan dan perlengkapan yang sangat asing bagi
keduanya, terutama Arum. Bagi Buntal, meskipun tidak sebaik istana
ini. ia pernah tinggal di rumah seorang bangsawan di Surakarta ini
pula, sebelum ia kemudian berkeliaran tanpa tujuan. Bahkan ternyata
Arum tidak dapat menahan keinginannya untuk memperhatikan setiap
benda yang ada di sekitarnya. Yang baginya kadang-kadang dianggapnya
aneh dan tidak diketahui gunanya sama sekali. “Aku tidak tahu, buat
apakah sebenarnya guci-guci itu?” Ia berdesis “Apakah kadang-kadang
perlu disediakan air di dalam ruangan ini?“ “Tidak” sahut Juwiring
“guci-guci itu tidak lebih dari sebuah hiasan” “Hiasan? Jadi tidak
ada gunanya selain hiasan itu? “Ya“ Arum mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ia kini melihat sendiri, betapa istana seorang Pangeran
menyimpan harta kekayaan yang tidak ada taranya. Ketika terpandang
olehnya lampu minyak yang tergantung di ruang tengah, ia berdesis
“He, permata sebesar itu dan bergantungan di situ?“ “Sst“ Buntal
menggamitnya “Bukan permata. Itu terbuat dari bahan yang jauh lebih
murah dari permata” Arum menarik nafas dalami“Kita menunggu sejenak”
berkata Juwiring “Agaknya ayahanda baru ada di dalam. Biarlah aku
mengatakannya bahwa kalian telah datang” “Kau duduk di permadani itu
bersama Buntal” “Jangan tinggalkan kami” desis Arum. “Tetapi . . ”
“Bersama aku” potong Buntal “Aku sudah pernah berada di dalam
lingkungan seperti ini” Arum hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
hatinya berdebar-debar juga. Jauh lebih berdebar-debar daripada
berada di tengah hutan yang lebat yang dihuni oleh binatang-
binatang buas sekalipun. Juwiringpun kemudian meninggalkannya
mencari ayahandanya yang agaknya sedang masuk ke dalambiliknya.
“Apakah mereka sudah datang?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. “Mereka
ada di ruang dalam ayahanda” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk.
Katanya “Baiklah. Aku akan segera datang” Ketika Juwiring kembali ke
ruang dalam, dilihatnya Arum masih saja mengagumi perhiasan dan
alat-alat rumah tangga yang ada di ruang dalam itu. “Ayahanda akan
segera datang” berkata Juwiring yang kemudian duduk bersama kedua
saudara seperguruannya itu di atas sebuah permadani yang berwarna
kemerah-merahan” “Tikar ini bagus sekali. Tetapi rasa-rasanya
kulitku agak gatal” bisik Arum. “Bukan tikar” sahut Buntal “ini
adalah permadani yang dibeli dari seberang lautan”“O, dari mana?“
“Dari jauh sekali” ”Di rumah paman Dipanala juga ada tikar, eh,
permadani seperti ini. Tetapi tidak sebagus ini dan tidak begitu
gatal seperti ini” “Permadani di rumah paman Dipanala itu justru
sudah terlalu tua sehingga bulu-bulunya sudah habis” Arum masih akan
bertanya lagi. Tetapi suaranya ditelannya kembali ketika ia
mendengar Juwiring berkata “Itulah ayahanda sudah datang” Arum cepat
menundukkan kepalanya. Sekilas Buntal masih melihat Pangeran
Ranakusuma berjalan mendekatinya. Ketika Pangeran itu duduk di
tengah-tengah ruangan itu, maka Buntalpun menunduk pula. Sesaat
Pangeran Ranakusuma memandang anaknya Raden Juwiring yang duduk
bersama kedua anak-anak Jati Aking itu. Hampir saja ia memanggilnya
dan menempatkan anaknya itu di sisinya. Tetapi ketika teringat
olehnya bahwa ketiga anak- anak muda itu sudah diangkat menjadi
saudara, maka niatnyapun diurungkannya. Arum yang tunduk dalam-dalam
merasakan suasananya menjadi tegang. Ia sama sekali tidak berani
mengangkat wajahnya. Sedang Pangeran Ranakusuma itu masih saja
berdiam dir i untuk beberapa saat lamanya.Baru kemudian Pangeran itu
berkata “Kaliankah anak-anak angkat Kiai Danatirta?“ Buntal
mengangkat tangannya untuk menyembah sambil menjawab “Ya Pangeran.
Hamba adalah anak-anak angkat Kiai Danatirta” “Aku, eh, hamba bukan.
Hamba adalah anaknya“ “O, aku sudah mendengar dari Juwiring, bahwa
kau adalah anak Kiai Danatirta. Dan kalian sudah diangkat menjadi
saudara bersama-sama dengan anakku, Juwiring” Buntal menyembah dan
menjawab ”Hamba Pangeran. di padepokan Jati Aking, kami adalah
saudara angkat” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Ketika Arum
dengan sudut matanya mencuri pandang, hampir saja Juwiring tidak
dapat menahan senyumnya. Dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma
memandang Buntal dengan tajamnya. Ternyata anak Jati Aking ini
memiliki unggah-ungguh yang cukup baik. Seakan-akan ia sudah
mempelajari tata kehidupan di rumah seorang bangsawan. Karena itu,
maka iapun mulai tertarik kepada pr ibadinya yang sederhana namun
tampaknya cukup baik. Sedang Arum, gadis Jati Aking itu agaknya
masih asing sama sekali. Sikapnya, caranya duduk dan berbicara
meskipun ia mencoba berbuat sebaik-baiknya. Meskipun kepalanya
tunduk dalam-dalam, namun setiap kali gadis itu mencoba untuk
melihat keadaan sekelilingnya dengan sudut matanya. Tetapi Pangeran
Ranakusuma mengerti. Gadis itu sama sekali tidak ingin berbuat
kurang baik. Ia adalah orang yang baru di dalam lingkungan yang
asing baginya. “Anak-anak muda” berkata Pangeran Ranakusuma
seterusnya “Sebenarnyalah kalian sudah mengetahui, bahwa Juwiring
adalah anakku. Dalam keadaan yang tidak diduga- duga, adiknya telah
meninggal. Karena itu, Juwiring adalahtinggal satu-satunya anak
laki-laki bagiku. Bukan maksudku untuk memisahkannya dari kalian
yang sudah dipersaudarakan, tetapi bagaimana pendapat kalian j ika
kalian saja tinggal di sini?“ “O“ Arum t iba-tiba mengangkat
wajahnya. Namun hanya sejenak, karena ketika ia sadar, maka iapun
segera menundukkan kepalanya kembali. “Dan itu bukan berarti bahwa
kalian harus terpisah dari ayah kalian. Kiai Danatirta. Setiap kali
kalian dapat pergi ke Jati Aking” Buntal memandang Juwiring dengan
sudut matanya. Namun anak muda itu segera menyadari, bahwa
sebenarnya Pangeran Ranakusuma ingin agar Juwiring kembali ke istana
ini. Namun agaknya Juwiringlah yang berkeberatan karena selama ini
ia sudah berada di dalam lingkungan yang baginya cukup menyenangkan.
“Kalian akan mendapat tuntunan di dalam berbagai macam hal, kalian
akan mempelajari unggah-ungguh, tata susila dan sopan santun sesuai
dengan lingkungan ini” “Ampun Pangeran” jawab Buntal sambil
menyembah “bagi hamba, hal itu merupakan suatu karunia yang luar
biasa. Tetapi jika demikian, bagaimana dengan ayah angkat hamba di
padepokan Jati Aking. Ayah akan menjadi kesepian dan barangkali juga
tidak ada yang dapat membantunya mengerjakan sawahnya. Memang ada
beberapa orang pembantu di padepokan Jati Aking, tetapi tentu mereka
tidak akan dapat bekerja seperti kami yang merasa diri kami anak-
anak Kiai Danatirta” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Dan
seperti yang diduga oleh Buntal, maka iapun berkata “Jika demikian,
aku dan Juwiring akan minta pertimbangan kalian, bagaimana jika
Juwir ing sajalah yang harus mondar-mandir kian kemari, karena ia
juga anakku, tetapi juga anak Kiai Danatirta”Buntal tidak dapat
menyahut. Tetapi iapun berpaling kepada Juwiring, seakan-akan
mempersilahkan anak itu menjawabnya. Karena iapun sadar, bahwa bagi
Pangeran Ranakusuma yang paling penting adalah Juwiring. “Aku sudah
bertanya kepadanya” berkata Pangeran Ranakusuma “Tetapi ia
memerlukan pendapat kalian” “Bagaimana pendapat Raden Juwiring
sendir i Pangeran?“ bertanya Buntal. Pangeran Ranakusuma menarik
nafas dalam-dalam. Meskipun Buntal anak padepokan, tetapi caranya,
sikapnya dan kata-katanya menunjukkan bahwa ia dapat berpikir dengan
baik. Karena itulah maka Buntal menjadi semakin menarik bagi
Pangeran Ranakusuma. Maka jawab Pangeran Ranakusuma kemudian
“Baiklah. Juwiring sudah menjawab ketika aku bertanya kepadanya.
Iapun merasa berkeberatan. Tetapi ada semacam kuwajibanku untuk
minta kepadanya agar ia tinggal di istana ini. Ada banyak alasan
yang dapat aku kemukakan. Tetapi baiklah. Kalian tentu tidak akan
dapat mengambil kesimpulan. Yang paling baik bagiku adalah menemui
Kiai Danatirta sendiri. Aku pernah menyerahkan anakku kepadanya
lewat Ki Dipanala. Maka akan datang saatnya aku minta kesempatan
untuk mengasuh anakku itu sendiri. Tentu saja dengan tidak
mengurangi penghargaanku atas kesediaan Kiai Danatirta mengasuh
Juwir ing selama ini” Buntal masih tetap menundukkan kepalanya.
Namun Arumlah yang tiba-tiba saja bertanya “Jadi maksud Pangeran,
kakang Juwir ing, eh, Raden Juwiring harus meninggalkan Padepokan?“
“Tidak sepenuhnya. Ia akan tetap berada di kedua tempat.
Kadang-kadang di sini dan kadang-kadang di padepokan” Arum
mengerutkan keningnya. Dipandanginya Juwir ing sejenak. Rasa-rasanya
berat hatinya untuk berpisah dengansaudara-saudara angkatnya. Setiap
kali mereka melakukan apa saja bertiga. Bekerja berlatih dan
bergurau meskipun kadang-kadang mereka sering juga bertengkar. Arum
yang kemudian menundukkan kepalanya itupun sangat menarik perhatian
Pangeran Ranakusuma. Sekilas teringat olehnya, betapa Rudira
seolah-olah tidak dapat melepaskan gadis itu dar i angan-angannya,
meskipun Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa yang ada pada diri Rudira
waktu itu barulah sekedar tertarik melihat kecantikan wajah gadis
itu. Dan ternyata gadis yang bernama Arum itu memang cantik, dan
seperti kebanyakan gadis padepokan ia tampak jujur dan
berterus-terang. “Jika Juwiring memerlukannya, aku tidak akan
berkeberatan“ berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya “Agaknya
gadis itupun cerdas dan lincah. Jika ia mendapat tuntunan yang baik.
tentu ia akan dapat segera menyesuaikan dir inya dengan lingkungan
baru” Tetapi Pangeran Ranakusuma t idak mengatakannya. Apalagi
kemudian timbul juga persoalan di dalam hatinya, bahwa gadis itu
adalah gadis padepokan. Sampai saatnya, maka akan timbul persoalan
seperti persoalan Juwiring sendiri, karena ibunya bukan seorang
keturunan bangsawan yang sederajad, sehingga seakan-akan Juwiring
telah mengalami tekanan batin yang berat. Apalagi keturunan seorang
gadis padepokan. Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam.
Biasanya para bangsawan mengambil gadis-gadis padesan dan padukuhan
hanya sekedar sebagai selir, sebagai perempuan yang hanya sekedar
memenuhi selera para bangsawan, yang apabila bangsawan itu menjadi
jemu, maka perempuan-perempuan padesan itu kadang-kadang dilemparkan
begitu saja tanpa pertanggungan jawab apapun, dan kadang-kadang ada
juga yang di dalam keadaanmengandung diberikan sebagai perempuan,
triman kepada hamba laki-lakinya untuk diper isterikan. “Tetapi
Juwiring agaknya lain” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya
pula “Ia mengalami hidup di padepokan, sehingga ia akan dapat
menghargai nilai seorang yang dilahirkan di padepokan kecil“ Dalam
pada itu, selagi mereka berdiam diri untuk beberapa saat lamanya,
tiba-tiba mereka mendengar pintu yang berderit. Ketika hampir
bersamaan mereka berpaling, dilihatnya seorang gadis keluar dari
pintu sebuah bilik di sebelah ruang yang menjorok ke dalam
menghubungkan ruang dalamdengan ruang depan istana yang besar itu.
Warih, yang keluar dari biliknyapun terkejut melihat beberapa orang
duduk di permadani di ruang dalam menghadap ayahandanya. Karena itu
maka iapun segera mendekatinya. Ternyata di antara mereka yang duduk
di permadani itu terdapat kakaknya, Juwiring. “Siapakah mereka itu
ayahanda?“ bertanya Rara Warih". “Mereka adalah anak-anak padepokan
Jati Aking Warih” “O, anak padesan itu sempat ayahanda terima di
ruang dalam?” Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan. Arum bergeser
sejengkal sambil mengangkat wajahnya, memandang gadis yang baru
bangun dari tidurnya itu. Tetapi Buntal menggamitnya dan member inya
isyarat untuk berdiam diri saja. “Warih” berkata Pangeran Ranakusuma
“Anak-anak Jati Aking ini adalah anak-anak Kiai Danatirta. Anak-anak
dari seorang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan meskipun
lebih senang t inggal di padukuhan”“Tetapi bagaimanapun juga. mereka
adalah anak-anak padesan” Rara Warih terdiam sejenak, lalu “O, jadi
mereka adalah anak-anak padepokan tempat tinggal kamas Juwiring?“
“Ya Warih” “Dan gadis ini? Tentu gadis inilah yang sering disebut
kamas Rudira bernama Arum” War ih mengangguk-anggukkan kepalanya,
lalu “Memang cantik sekali” Arum mengerutkan keningnya. Tetapi
sekali lagi Buntal menggamitnya. “Pantas sekali” berkata Warih
“sepantasnya memang kamas Juwiring duduk bersama anak-anak padesan.
Tidak bersama kami dan juga t idak bersama ayahanda” Seleret warna
merah melonjak di wajah Juwiring. Dengan susah payah ia berusaha
menahan hatinya yang hampir tidak dapat dikendalikan lagi. Dalam
pada itu, agaknya Pangeran Ranakusumapun t idak senang mendengar
kata-kata itu. Tetapi ia tidak ingin melukai hati anak gadisnya yang
baru saja kehilangan kakaknya. Maka katanya tertahan-tahan “Sudahlah
Warih. Pergilah ke belakang” “O, jadi sekarang akulah yang harus
pergi ke belakang ayahanda?” “Maksudku, pergilah ke pakiwan.
Membersihkan diri kemudian berpakaian. Hari ini tentu masih ada
beberapa orang tamu yang akan berkunjung kemari” “Dan ayah sudah
mempunyai seseorang yang akan menerima mereka” “Ya” jawab Pangeran
Ranakusuma “Tetapi itu bukan berarti bahwa mereka tidak akan
bertanya tentang kau” Jawaban ayahnya itu menyentuh hati Rara Warih.
Terasa bahwa ayahnya sudah mulai kehilangan kesabaran. di
dalamkeadaan tertentu Pangeran Ranakusuma dapat menjadi keras dan
bahkan kasar seperti menghadapi lawan di peperangan. Rara Warihpun
terdiam. Iapun kemudian meninggalkan ruangan itu pergi ke belakang.
“Kau memang harus bersabar Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma
”Anak itu terlampau dimanjakan oleh ibunya, seperti juga Rudira.
Tetapi aku mengharap bahwa ia akan sembuh, dan ia akan dapat
mengerti keadaan dirinya di dalam lingkungan keluarganya” Juwiring
menarik nafas dalam-dalam. Namun ternyata sikap Rara Warih itu
justru mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Kadang-kadang tumbuh juga
keinginan Juwir ing untuk pergi dan meninggalkan rumah itu dengan
segenap isinya yang sombong dan tinggi hati. Tetapi kadang-kadang
sikap yang kasar itu telah merupakan suatu tantangan yang harus
dijawabnya. Bukan ditinggalkannya. Namun bagi Arum dan Buntal,
suasana di istana itu benar- benar tidak menyenangkannya. Mereka
tidak akan dapat membiarkan dir i mereka dihinakan terus-menerus.
Tangan Arum seakan-akan sudah menjadi gatal. Rasa-rasanya ingin ia
menampar pipi gadis yang cantik, adik seayah dari Raden Juwiring.
Karena itu, maka ketika Rara Warih sudah tidak tampak lagi.
Buntalpun berkata “Ampun Pangeran, rasa-rasanya hamba sudah, cukup
menyulitkan Pangeran dan Raden Juwiring. Perkenankan, hamba berdua
kembali ke pondok paman Dipanala. “Sebaiknya kalian bermalam di
sini” berkata Pangeran Ranakusuma. “Ampun Pangeran, paman Dipanala
telah menerima hamba berdua dengan baik. Seperti juga kemurahan
Pangeran. Karena itu bagi hamba, tidak ada bedanya tinggal di rumah
paman Dipanala dan di dalam istana ini. Tetapi agaknya istanaini
masih terlampau sibuk, sehingga hamba akan dapat mengganggu”
Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Ia semakin tertarik kepada
anak muda ini. Meskipun ia anak padepokan, tetapi unggah-ungguhnya
sudah cukup lengkap dan baik. “Tetapi kalian jangan bergegas kembali
ke padepokan” berkata Pangeran Ranakusuma “Kalian harus menunggu
beberapa hari lagi. Mungkin kalian sempat melihat perubahan sikap
Warih, Dan kalian akan tenang berada di rumah ini” “Hamba Pangeran.
Hamba berdua memang berkeinginan untuk menunggu Raden Juwiring”
“Bagaimana j ika ia tetap di sini?“ “Setidak-tidaknya keputusannya
yang akan dapat hamba sampaikan kepada ayah di padepokan” “Baiklah.
Aku tidak berkeberatan kalian tinggal pada Dipanala. Setiap saat
jika kau ingin, datanglah. Dan jika aku memer lukan kau, aku akan
memanggil. Jika kalian memer lukan sesuatu selama kalian berada di
kota ini, katakanlah kepada Juwiring. Aku akan berusaha untuk
kalian, agar kalian tidak sia-sia berada di kota ini untuk beberapa
hari. Mudah-mudahan kalian dapat melihat isi kota ini dan kemudian
kerasan tinggal di sini pula” “Terima kasih Pangeran. Hamba sangat
berterima kasih atas kemurahan itu. Dan kini perkenankanlah hamba
berdua mohon dir i” “Baiklah. Katakan kepada Dipanala, bahwa aku
memer lukannya menghadap” Demikianlah maka Arumpun minta diri pula,
dan diantar oleh Juwir ing mereka pergi ke pondok Ki Dipanala,
sedang Ki Dipanala sendir i dipanggil untuk menghadap Pangeran
Ranakusuma.Agaknya Pangeran Ranakusuma memang menaruh perhatian atas
kehadiran anak-anak muda itu, ternyata kepada Ki Dipanalapun
dikatakannya agar keperluan anak-anak muda itu diambilkannya dari
Ranakusuman. Makan, minum dan kebutuhan mereka sehari-hari selama
mereka berada di Surakarta. Dalam pada itu, ternyata Arum menjadi
segan untuk memasuki halaman Ranakusuman. Baginya Rara Warih adalah
sesosok hantu betina yang menakutkan. Sebenarnya ia sama sekali
tidak takut kepada gadis itu, tetapi karena gadis itu puteri
Pangeran Ranakusuma, maka ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Dan
keseganannya itulah yang menyiksanya. Namun, dalam kesempatan lain,
Arum senang sekali berjalan-jalan berkeliling kota Surakarta.
Kadang-kadang mereka berdua saja dengan Buntal, namun kadang-kadang
mereka pergi bersama Ki Dipanala. Baik Arum maupun Buntal tidak mau
mengganggu Juwiring yang agaknya ikut menjadi sibuk di dalam istana
ayahandanya menerima tamu yang masih saja berdatangan. Bukan saja
dari Surakarta, tetapi juga dari tempat-tempat yang jauh. Tetapi
sebenarnya bagi Juwiring sendir i, kehadirannya di istana itu sangat
menjemukannya. Setiap hari ia terikat oleh adat dan tata cara yang
sudah lama dilupakannya. Apalagi meskipun tidak memaksa, ayahandanya
selalu minta kepadanya untuk mengenakan pakaian yang lebih pantas
bagi seorang putera Pangeran daripada pakaian petaninya itu.
Meskipun demikian, hubungannya dengan Rara Warih masih tetap selalu
tegang. Rara Warih benar-benar tidak mau mendengarkan semua nasehat
ayahandanya. Meskipun setiap kali ayahandanya memberitahukan
hubungannya dengan Juwiring, Rara Warih selalu menundukkan kepalanya
dan berdiam diri, tetapi sikapnya kepada Juwiring rasa-rasanya masih
belumberubah.Namun, ternyata bahwa sikap Rara Warih itulah yang
telah semakin lama semakin menebalkan niat Raden Juwiring untuk
tetap tinggal di istana ayahandanya, meskipun ia tidak bermaksud
meninggalkan padepokan Jati Aking sama sekali. Ia dapat hilir mudik
setiap saat di antara kedua tempat yang dapat dicapai dengan berkuda
itu. Sementara itu, Arum masih selalu ingin melihat keadaan di dalam
kota Surakarta. Setiap hari ia menyelusuri jalan yang belum
dilewatinya. Ternyata Buntal yang pernah tinggal di kota itu masih
juga mengenal beberapa bagian dari jalan-jalan yang ramai. “Memang
menyenangkan t inggal di tempat yang ramai ini” desis Arum
”Sebenarnya aku kerasan tinggal di kota. Tetapi tidak di rumah
kakang Juwiring. Adiknya terlalu keras kepala dan sombong” “Mungkin
di dalam sepekan dua pekan, kau kerasan tinggal di kota ini. Tetapi
jika kita sudah terlibat di dalam persoalan hidup dan kehidupan,
kita akan merasakan, betapa pahitnya hidup di kota, justru
dinegerinya sendir i” “Kenapa?“ Buntal tidak menjawab. Tetapi
dilihatnya sebuah kereta yang berderap kencang melampaui mereka
berdua. “Kau lihat, siapa yang ada di dalam?“ “Ya, Orang asing”“Nah,
orang-orang asing itu semakin lama menjadi semakin banyak berada di
Surakarta” “Ya. Satu dua aku sudah melihatnya. Mereka membawa pedang
panjang di lambung” “Mereka adalah prajurit-prajurit” “Apakah mereka
juga mampu berkelahi dengan pedangnya itu?“ “Ya, mereka adalah
orang-orang yang mengenal tata berkelahi dengan baik. Mereka dapat
mempergunakan pedangnya dengan sempurna menurut ilmu yang mereka
pelajari” “Darimana kau tahu?“ “Aku pernah melihat mereka memper
lihatkan kemampuannya di dalam suatu pertemuan para bangsawan.
Meskipun agaknya mereka sedang bergurau, namun aku melihat bagaimana
mereka mempergunakan pedang. Tetapi waktu itu aku masih terlalu
bodoh untuk menilai” Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
tiba-tiba ia bertanya “He, bukankah kau waktu itu masih terlalu
bodoh untuk menilai. Kenapa kau dapat mengambil kesimpulan bahwa
mereka cakap bermain pedang?“ “Aku masih ingat, bagaimana mereka
menggerakkan pedang itu. Tetapi sayang, bahwa mereka mempercayakan
kemampuannya pada kecepatan tangannya. Mereka hampir tidak
memanfaatkan kakinya selain bergeser selangkah demi selangkah, maju
dan mundur” jawab Buntal. Arum mengangguk-angguk. Tetapi ia masih
bertanya “Apakah menurut kesimpulanmu, ilmu pedang yang kita
pelajari mempunyai kelebihan?“ “Aku tidak berkata begitu, tetapi
kita memanfaatkan kecepatan gerak kaki selain tangan kita. Kita
berloncatansambil mengayunkan pedang. Tetapi orang-orang asing itu
sekedar bergeser untuk menghadapi lawannya yang berputar sekalipun”
“Mereka pandai menghemat tenaga” “Tetapi mereka akan bingung
menghadapi lawan yang lincah tangan dan kakinya. Apalagi apabila di
samping pedang, tiba-tiba saja kita menyerang dengan kaki” “Itu
dugaanmu. Bukankah kau masih terlalu bodoh waktu itu?“ Buntal
tersenyum sambil mengangguk “Ya. Aku masih terlalu bodoh waktu itu”
Demikianlah mereka berbicara tentang kota, orang-orang asing, dan
tentang hidup yang semakin sulit. Bahkan di jalan- jalan kota itupun
mereka sering berpapasan dengan orang- orang yang berpakaian lebih
jelek lagi dari pakaian-pakaian petani di padukuhan Jati Sari.
“Mereka adalah orang-orang yang sangat miskin” berkata Buntal
“Mereka bekerja sehari untuk hidup mereka sehari. Dan bahkan
kadang-kadang tidak mencukupi. Apalagi yang mempunyai keluarga yang
besar. Upah yang mereka terima tidak seberapa banyak, sedang mereka
harus bekerja sejak matahari terbit sampai matahari terbenam di
bawah ancaman dan bentakan-bentakan yang kasar, lebih kasar dari
petani- petani” Arum memandang Buntal dengan kerut-merut di kening.
Dengan nada yang tinggi ia bertanya “Tetapi rumah kakang Juwiring
itu dihiasi dengan Barang-barang yang nilainya tidak terhitung.
Apakah mereka t idak dapat member ikan satu dua macam Barang-barang
yang seolah-olah tidak berguna itu untuk menolong orang-orang
miskin. di rumah kakang Juwiring, Barang-barang itu sekedar untuk
hiasan. Tetapi bagi orang-orang yang berbaju koyak itu, nilainya
tentu besarsekali. Barang-barang itu dapat ditukar dengan pakaian
yang utuh meskipun tidak usah yang mahal” “Itulah kehidupan di kota,
Arum. Orang-orang kota seakan- akan tidak saling berhubungan yang
satu dengan yang lain. Seandainya ada orang yang kelaparanpun,
orang-orang kota tidak mempedulikan lagi. Yang seorang kaya raya dan
berlebih-lebihan, sedang yang lain miskin dan lapar” “Tentu tidak
begitu” “Kenapa tidak?“ “Aku melihat seorang pengemis” “Ya. di sini
banyak pengemis” “Jika tidak ada orang yang mau berbelas kasihan,
tentu tidak akan ada pengemis” Buntal menarik nafas. Jawabnya “Jalan
pikiranmu benar. Tetapi apakah artinya belas kasihan yang
sepotong-sepotong itu? Dengan memberi sedekah sekedarnya, sebenarnya
hampir tidak berarti apa-apa bagi penyelesaian masalahnya” “Aku
tidak mengerti” “Mereka masih tetap kaya raya dan orang-orang miskin
tetap miskin” “Jadi apa yang harus mereka lakukan untuk menolong
orang-orang miskin?“ “Pertama-tama tentu menolak kedatangan
orang-orang asing yang semakin lama semakin berkuasa dibumi
Surakana. Mereka ternyata telah menghisap kekayaan lanah ini.
Kemudian mencari sebab kemiskinan yang semakin menjalar ini.
Ketiadaan kerja dan penghisapan yang bukan saja dilakukan oleh
kumpeni, tetapi juga oleh penjilat-penjilat itu” Arum mengerutkan
keningnya.“Mereka benar-benar telah lupa untuk bersyukur atas nikmat
Tuhan yang sudah diberikan kepada mereka, mereka lupa untuk
memberikan sebagian kecil dari harta mereka kepada orang miskin.
Harta itu adalah titipan dari Tuhan, akan datang masanya,
harta-harta tersebut akan diambil kembali olehNya” Arum kini
mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Mereka lebih mementingkan diri
mereka sendir i. Ayah memang pernah mengatakannya, bahwa hidup kita
masa kini sudah banyak ditemukan perbuatan-perbuatan manusia yang
bertentangan dengan ajaran-ajaran agama, mereka sudan mengingkari
Tuhannya” “Kata-kata ayah itu benar. Dan kita dapat melihat lebih
jelas pada kehidupan orang-orang kota daripada di padukuhan” Arum
tidak menyahut. Tetapi ia tertarik kepada beberapa anak-anak muda
yang berkuda di jalan kota. Ternyata mereka adalah anak-anak muda
yang cukup menguasai kuda masing- masing. Menilik sikap dan pakaian
mereka, maka mereka tentu bangsawan-bangsawan muda. Ternyata pula
satu dua orang yang sudah mengenal mereka menganggukkan kepala
dalam-dalam. “He, mereka adalah bangsawan-bangsawan” desis Arum
“Apakah kita harus berjongkok?“ “Agaknya tidak. Mereka bukan para
Pangeran” “Dari mana kau mengetahui?“ “Orang-orang yang sudah
mengenal mereka t idak berjongkok” desis Buntal “sebenarnya terhadap
para Pangeranpun kita t idak per lu berjongkok, apalagi di kota”
Arum mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Namun Arum menjadi
berdebar-debar ketika salah seorang dari anak-anak muda yang naik
kuda itu memandangnyadengan tajam. Bahkan kemudian tersenyum sambil
berkata “He, tentu gadis itu yang pernah disebut-sebut oleh kamas
Rudira, putera pamanda Pangeran Ranakusuma” Yang lain memandang Arum
dengan kerut merut di kening. Salah seorang dari mereka bertanya
“Darimana kau tahu?“ “Aku pernah melihat mereka berdua di depan
regol istana pamanda Pangeran Ranakusuma bercakap-cakap dengan kamas
Juwiring. Sikapnya dan tingkah lakunya menunjukkan bahwa keduanya
sudah terlampau biasa bergaul dengan kamas Juwiring. Bukankah
seperti yang dikatakan orang, kamas Juwiring datang ke istana
ayahandanya dengan membawa dua orang anak Jati Aking. Yang seorang
di antaranya adalah Arum. Yang dahulu sering disebut-sebut oleh
kamas Rudira” Arum yang juga mendengar kata-kata itu menjadi
bingung. Sepercik warna merah membayang di wajahnya yang memang
kemerah-merahan oleh terik matahari yang setiap hari menyengatnya
apabila ia berada di tengah sawah. Sedang Buntal yang berada di
sampingnya menjadi termangu-mangu sejenak. Bahkan ia mencoba untuk
meyakinkan, apakah pendengarannya itu benar. Sementara itu,
anak-anak muda itupun tidak hanya sekedar menyebut namanya, tetapi
mereka telah mendekati kedua anak-anak Jati Aking itu. Salah seorang
dari anak-anak muda yang berada di punggung kuda itu berkata puli
setelah ia menjadi semakin dekat “Pantas kamas Rudira tergila-gila
kepada gadis ini semasa hidupnya. Ia memang cantik sekali. Sayang
jika ia masih saja hidup di padepokan terpencil itu” Kata-kata itu
benar-benar telah menggetarkan hati kedua anak-anak padepokan Jati
Aking. Namun Buntal masih tetap menyadari dirinya sehingga
digamitnya Arum yang hampir saja menyingsingkan kainnya dan meloncat
menyerang.“Tahanlah sedikit hatimu Arum” bisik Buntal “Kita seakan-
akan berada di daerah asing” Arum menar ik nafas dalam-dalam,
seolah-olah ingin mengendapkan batinya yang bergejolak. Desisnya
“Tetapi mereka menghina kita“ “Biar lah apa yang akan dikatakannya.
Mereka adalah anak- anak bangsawan. Jika kita terlibat dalam
pertengkaran dengan mereka maka kita akan mendapatkan kesulitan”
“Apakah bangsawan dapat berbuat sekehendak hatinya?“ “Tentu tidak”
“Kenapa kau paksa aku menahan hati?“ Tetapi Buntal tidak sempat
menjawab. Iring-ir ingan beberapa anak muda berkuda itu sudah berada
di hadapan mereka. Seorang dari mereka yang ada di paling depan
tersenyum sambil bertanya “He, bukankah kau bernama Arum “ Arum
memandang anak muda itu dengan tajamnya. Hampir saja ia lupa bahwa
ia berhadapan dengan beberapa orang anak bangsawan. Dan ketika ia
menyadarinya, maka iapun segera menundukkan kepalanya. “Anak itu
adalah adikku Raden” berkata Buntal kemudian. “O” desis salah
seorang anak-anak muda diatas punggung kuda itu “Tetapi bukankah
benar anak itu bernama Arum?“ “Raden benar. Anak itu bernama Arum”
“Dan bukankah anak itu yang sering disebut-sebut oleh kamas Rudira
semasa hidupnya?“ “Aku tidak tahu Raden Tetapi tentu bukan anak
padesan seperti kami” “Kalian datang dari Jati Aking?““Ya Raden.
Kami datang dari Jati Aking” “Kalian kenal dengan kamas Rudira dan
kamas Juwir ing?” “Kami mengenal kedua-duanya Raden” “Kalau begitu,
kita pasti” berkata salah seorang dari mereka kepada yang lain
“gadis itu memang cant ik” “Lalu bagaimana j ika gadis itu cantik?“
bertanya yang lain. Anak muda itu tersenyum. Katanya “Sayang kamas
Rudira sudah meninggal. Jika ia masih hidup, maka nasibku akan
menjadi semakin baik. Bukan saja menjadi gadis padepokan tempat
kamas Juwiring terasing, tetapi mungkin kau akan menjadi selir kamas
Rudira” Darah Arum serasa mendidih mendengar kelakar yang
menyakitkan hati itu. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Buntal,
sebaiknya ia menahan hati. “Tetapi meskipun kamas Rudira sudah
meninggal, mungkin kamas Juwir ing mau mengambilmu menjadi selir
ya?“ ejek yang lain. Terasa dada Buntalpun terguncang. Ia sadar,
bahwa seharusnya ia menahan hati seperti yang dikatakannya kepada
Arum. Tetapi ketika ia mendengar nama Juwiring yang dihubungkan
dengan Arum, terasa dadanya bergetar. “Hem“ untunglah bahwa ia masih
tetap sadar. Katanya di dalam hati “hatikulah yang telah dikotori
oleh nafsu” “He, cah Jati Aking“ salah seorang dari mereka hampir
berteriak “Bagaimana j ika kau ikut aku saja? Aku juga putera
seorang Pangeran. Kau akan menjadi selirku. Jangan takut aku
sia-siakan. Jika sampai saatnya kau dapat aku berikan sebagai
seorang triman kepada pembantu ayahandaku, seorang Lurah Istana yang
masih muda” Dada Arum hampir-hampir saja menjadi retak. Apalagi
ketika dengan sudut matanya ia melihat beberapa orangmemandang hal
itu dari kejauhan, seakan-akan mereka menonton sebuah pertunjukan
yang menyenangkan. Tiba-tiba saja salah seorang dar i anak-anak
bangsawan itu maju semakin dekat. Dari atas punggung kuda, tanpa
diduga- duga tangannya terjulur menyentuh dagu Arum. Sentuhan itu
benar-benar telah melenyapkan segala pertimbangan. Apalagi ketika
kemudian terdengar suara tertawa yang meledak. Tetapi suara tertawa
itu tiba-tiba saja terputus, ketika Arum tanpa dapat mengendalikan
dir inya lagi menangkap tangan itu dan menghentakkannya keras-
keras. Anak muda yang ada di atas punggung kuda itu sama sekali
tidak menduga, bahwa gadis itu akan berbuat demikian. Karena itu
maka ia sama sekali tidak bersiap untuk mempertahankan
keseimbangannya. Hentakan itu ternyata telah menyeretnya dan
membantingnya di tanah. Semua orang yang menyaksikan hal itu
terkejut bukan buatan, Gadis itu adalah seorang gadis petani, sedang
anak- anak muda yang berkuda itu adalah anak-anak bangsawan. Selain
daripada itu, merekapun heran melihat kekuatan gadis padesan yang
telah menyeret seorang anak muda yang gagah dari atas punggung kuda
dan terjerembab di tanah.Buntalpun terkejut bukan buatan. Sekilas ia
menjadi bingung, namun segera ia sadar, bahwa tentu akan terjadi
sesuatu atasnya dan atas Arum. Sebenarnyalah bahwa perbuatan Arum
itu telah menggetarkan dada para bangsawan muda itu. Serentak mereka
meloncat turun. Beberapa orang di antara mereka menolong anak muda
yang terjerembab dan bahkan berdarah pada hidungnya itu. “Kau gila”
bentak salah seorang dari anak-anak muda itu “Apakah kau sadari, apa
yang kau lakukan?“ Arum menjadi bingung. Tetapi ia sudah terlanjur
melakukannya. Dan ia tidak mau dihinakan seperti gadis liar di
sepanjang jalan. Karena itu, jika harus terjadi sesuatu atasnya,
apaboleh buat. Tubuhnya memang tidak dibiarkan disentuh oleh orang
yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. “Maaf
Raden“ Buntal agaknya masih berusaha untuk mengekang dir i
“Sebenarnyalah bahwa yang dilakukan oleh adikku itu di luar
sadarnya. Ia terkejut karena hal yang serupa belum pernah
dialaminya, sehingga karena itu ia telah berbuat sesuatu di luar
sadarnya. Sebagai seorang gadis, tentu ia tidak akan mungkin dapat
berbuat demikian j ika tidak terdorong oleh perasaan terkejut, atau
bahkan ketakutan yang amat sangat” “Kenapa ia menjadi takut? Apakah
yang sudah dilakukan oleh Dimas itu? Ia hanya menyentuhnya. Lebih
dar ipada itu tidak” “Raden benar. Dan sentuhan itulah yang sangat
ditakutinya. Kami selalu dibayangi oleh batasan-batasan hidup yang
ketat di padukuhan kami. Kami tidak boleh bersentuhan dengan lawan
jenis kita masing-masing j ika tidak ada hubungan apapun juga.
Itulah sebabnya sentuhan itu sangatmenakutkannya, karena hukumannya
bukan sekedar hukuman badani, tetapi kecemasan rohani yang akan
berkepanjangan” “Omong kosong” bentak anak muda itu “Kalian telah
dengan sengaja melawan para bangsawan. Aku tahu, kalian sudah
diracuni oleh perasaan yang tidak berpijak pada kebenaran dan
kenyataan. Kalian diracuni oleh pikiran seolah- olah para bangsawan
itu bertindak menurut kehendaknya sendiri. Dan racun itulah yang
membuat kalian berani menentang kami” Buntal menjadi semakin
berdebar-debar. Jawabnya “Tidak Raden yang terjadi benar-benar suatu
kebetulan tanpa disadari” “Dengar anak padesan” bentak anak muda itu
“Tidak ada yang dapat menentang kehendak kami. Kami dapat berbuat
baik jika kami kehendaki. Tetapi kami juga dapat berbuat kasar. Kami
dapat berbuat apa saja berdasarkan atas kedudukan kami. Jika kami
kehendaki, kami dapat mengambil adikmu itu tanpa alasan. Orang di
kota inipun t idak berani menentangnya. Bahkan mereka akan berbangga
jika salah seorang keluarganya kami kehendaki untuk menjadi
selir-selir kami. Apalagi orang padesan seperti kalian. Dan karena
kalian sudah melakukan kesalahan, maka terpakai atau tidak terpakai,
kami menghendaki Arum” Kata-kata itu benar-benar telah
mengguncangkan hati Buntal. Betapa pun ia menahan hati, namun
rasa-rasanya jantungnya sudah mulai tersentuh ujung duri. Apalagi
oleh dorongan perasaan yang kurang dikenalnya sendiri, telah
membuatnya terbakar ketika ia men dengar bahwa anak-anak muda itu
ingin membawa Arum. Sebelum sempat menjawab Buntal mendengar anak
muda itu berkata “Jangan membantah. Kau lihat, kita dikelilingi oleh
banyak orang yang mengutuk kelakuan gadis ini. Jika kalian mencoba
berbuat sesuatu, melarikan dir i misalnya, orang- orang itu akan
serentak mengejar kalian seperti mengejarpencuri. Apalagi jika
kalian bertemu dengan sekelompok prajurit, dan aku menyerahkan Arum
kepada mereka, akibatnya, kalian akan menyesal seumur hidup” Dada
kedua anak-anak Jati Aking itu sudah terbakar. Benarkah yang terjadi
harus demikian? “Jangan membantah lagi” bentak seorang anak muda
yang lain. “Ikut kami” berkata yang lain lagi. “Akulah yang akan
membawanya pulang” berkata anak muda yang hidungnya berdarah “Aku
memer lukan obat nyeri di hidungku ini. Meskipun agaknya gadis ini
agak liar, tetapi aku akan menundukkannya” Buntal sudah kehilangan
kesabarannya. Karena itu maka katanya “Raden, maafkan kami jika kami
terpaksa menolak keinginan yang tidak sesuai dengan nurani kami,
adat kami dan terutama kepercayaan kami. Perbuatan semacam itu
adalah dosa. Dan kami tidak akan membiarkan dir i kami melakukannya”
“Diam“ bentak anak muda yang hidungnya terluka “Kalian tidak wenang
membantah” “Jadi inikah kebenaran dan kenyataan yang Raden katakan?
Inikah pertanda bahwa akulah yang sudah dibius oleh racun kebencian
tanpa alasan seolah-olah para bangsawan bertindak aas kehendak
sendiri tanpa menghiraukan perasaan kami?“ “Tutup mulutmu“ Anak muda
yang lain berteriak “ini adalah hukuman atas kebiadaban gadis itu.
Ia harus diajar untuk sedikit mengenal adab dan sopan santun” Buntal
sudah tidak mampu lagi menahan hati. Wajahnya menjadi merah dan
tangannya gemetar. Tetapi karena ia masih tetap sadar, maka
pergolakan di dalam dadanya itumembuatnya bagaikan terbakar. Dengan
demikian justru mulutnya menjadi seakan-akan terbungkam. Dalam pada
itu, Arum sendiri sudah kehilangan pengendalian diri, sehingga
meskipun ia tidak berkata apapun juga, namun apabila seseorang
berani menyentuhnya, maka ia akan melawan apapun yang akan terjadi
atasnya kemudian. Namun agaknya anak-anak muda itupun telah
benar-benar marah. Seorang yang paling kekar di antara mereka maju
beberapa langkah sambil berkata kepada anak muda yang hidungnya
berdarah “Ambil anak ini, dan bawa kemana kau suka. Jika orang
tuanya menuntut, maka ia akan digantung di alun-alun sebagai
pertanda bahwa ia sudah melawan kekuasaan Surakarta” Anak muda yang
hidungnya berdarah menyambung “Jangan mencoba berbuat sesuatu yang
akan menyiksa dirimu” Tetapi ketika anak muda yang hidungnya
berdarah ia melangkah maju, maka Arumpun segera bersiaga. “He,
apakah yang akan kau lakukan?“ Arum menggeretakkan giginya. Meskipun
ia mengenakan kain panjang yang ketat karena ia tidak mengira bahwa
ia akan menghadapi persoalan itu, namun tangannya telah siap untuk
berbuat sesuatu jika diperlukan. “Apakah kau gila?” anak muda yang
hidungnya berdarah itu menggeram. Arum masih tetap berdiam diri.
Tetapi ia tetap bersiap untuk berkelahi. Dan setiap orang melihat
sikapnya itu. Sehingga dengan demikian orang-orang yang berkerumun
meskipun tidak berani mendekat, menjadi heran. “Apakah gadis ini
sudah gila?” Mereka bertanya kepada-diri sendiri.Anak muda yang
berdarah hidungnya itu menjadi termangu-mangu. Namun yang bertubuh
kekar itupun kemudian berkata “Jika ia. melawan, ikat ia pada
kudamu. Biarlah anak laki-laki yang sombong itu menjadi urusanku.
Dimas t idak usah menghiraukannya” Darah Buntalpun bagaikan sudah
mendidih sampai ke ubun-ubunnya. Karena itu ia berkata “Baiklah,
jika Raden memang ingin mengalaminya. Aku terpaksa mempertahankan
diri” “Bagus” teriak yang bertubuh kekar “Kau akan menyesal. Ayah
ibumu akan menyesal, dan seluruh padepokanmu akan menyesal” Buntal
tidak menjawab. Tetapi yang terdengar adalah suara, yang lain, yang
telah mengejutkan setiap orang yang ada di tempat itu. Ternyata
seorang anak muda telah datang mendekati lingkaran pertengkaran itu.
Meskipun ia berkuda, tetapi karena kuda. itu berjalan
perlahan-lahan, dan semua perhatian dipusatkan kepada, mereka yang
sedang bertengkar, maka kedatangan anak muda berkuda itu telah
mengejutkan. Apalagi tiba-tiba saja ia berkata “inikah t ingkah laku
anak-anak muda di Surakarta” Anak-anak muda yang sedang mengerumuni
Buntal dan Arum itu memandanginya sejenak. Lalu anak yang bertubuh
kekar itupun menjawab “Ia berani menentang kekuasaanku di sini”
“Apakah kau sudah mencoba mencari sebabnya, kenapa ia menentang
kekuasaanmu?” anak muda itu bertanya “dan apakah sebenarnya
kekuasaan itu memang ada pada kalian? Kalian harus mempunyai dasar
yang kuat untuk mengatakan bahwa kalian mempunyai kekuasaan” “Aku
seorang putera Pangeran” jawab anak muda yang bertubuh kekar “sedang
mereka adalah anak-anak padesan” “Lalu?““Mereka tidak berhak melawan
aku dan saudara- saudaraku” “Aku tidak membiarkan mereka jatuh ke
tanganmu” “Aku anak seorang Pangeran. Aku berhak mengambilnya” “Hak
itu sebenarnya tidak ada. Jika hak itu ada, maka akupun juga berhak”
“Tetapi, tetapi . . ” anak yang hidungnya berdarah itu menyahut.
Namun anak muda di atas punggung kuda itu memotong “Aku tahu. Kalian
akan menyebut ibuku. Tetapi aku tahu, bahwa ada di antara kalian
yang beribu sederajad dengan ibuku. Bahkan di bawahnya. Tetapi yang
penting, aku adalah putera seorang Pangeran dengan sah. Ayahandaku
adalah seorang Panglima. Nah, kalian mau apa. Jika kalian
menghendaki, aku juga berani berkelahi melawan kalian. Satu demi
satu, atau bersama-sama. Jika kalian ingin memamerkan kekuasaan ayah
kalian, akupun dapat mengatakan bahwa pangkat ayahandaku lebih
tinggi dar i pangkat ayah kalian di dalam kedudukannya sebagai
Panglima. Nah, apalagi” “Gila. Apakah kamas Juwiring menghendaki
gadis itu?“ “Aku tidak berkata begitu” jawab anak muda di atas
punggung kuda itu “Tetapi ketika aku mendapat laporan tentang
tingkah laku kalian, maka aku harus bertanggung jawab, Akulah yang
membawa mereka kemar i“ Juwiring berhenti sejenak, lalu “dan
seandainya kalian bukan putera Pangeran, maka kalian akan menyesal,
sebab laki-laki padepokan itu mampu membuat kepalamu bengkak. Apakah
kau tidak percaya?“ “Aku tidak percaya” “Kau ingin mencoba?“ Anak
yang kekar itu termangu-mangu sejenak, lalu katanya “Aku akan
membuktikan bahwa aku tidak sekedar berdiribersandar kekuasaan
ayahanda. Tetapi jika perlu aku dapat memilin lehernya. Atau
barangkali mematahkan tangannya” “Benar begitu?“ “Aku pasti” “Kita
lihat, apakah di dalam keadaan yang sama kau benar- benar dapat
berbuat seperti yang kau katakan” “Persetan. Aku ingin mencobanya”
Juwiring mengangguk-angguk. Dipandanginya wajah Buntal yang masih
termangu-mangu. Sebenarnyalah, bahwa Buntal dicengkam oleh
kebimbangan yang dalam. Ia tidak biasa melihat sikap yang angkuh
pada Juwir ing. Namun tiba-tiba anak muda itu benar- benar seorang
anak muda yang angkuh dan tinggi hati. Bahkan ia telah
menyebut-nyebut kekuasaan yang ada pada ayahandanya, salah seorang
Panglima di Surakarta. “Baiklah” berkata Juwiring kemudian “Tetapi
aku minta jaminan, bahwa kalian t idak akan licik” “Maksudmu?“
“Apabila kalian kalah, kalian harus mengaku kalah, dan tidak
memperpanjang persoalan ini. Tetapi jika kalian ingkar, maka akulah
yang akan mengambil alih persoalan ini dari anak muda Jati Aking
itu” “Aku bukan pengecut” teriak anak muda bangsawan itu. “Bagus”
berkata Juwiring “Kita akan bertemu sore nanti saat matahari
terbenam di pinggir Bengawan. Setuju?“ Sejenak anak-anak muda
bangsawan itu termangu-mangu. Namun anak muda yang kekar itu
kemudian menyahut “Bagus. Aku akan pergi ke tepi Bengawan di
tikungan di bawah bendungan. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak
hanya dapat sekedar berbicara dan menakut-nakuti. Tetapiaku memper
ingatkan sebelumnya, jangan menyesal apabila terjadi sesuatu atas
anak padesan itu” “Aku yang bertanggung jawab. Jika ia sakit, akulah
yang akan memanggil tabib. Jika kakinya patah, biarlah aku berusaha
memulihkannya” “Bagus. Datanglah. Kita akan melihat siapakah yang
hanya sekedar bisa berbicara tanpa berbuat sesuatu” Anak muda itu
tidak menunggu jawaban Juwiring. Iapun segera meloncat ke punggung
kudanya. Demikian juga kawan- kawannya yang lain, sedang anak muda
yang hidungnya berdarah itupun dengan susah payah telah berada di
punggung kudanya pula. “Sore nanti tulang-tulang igamu akan rontok
anak yang dungu” geram anak muda yang kekar itu ketika kudanya lewat
dekat sekali di hadapan Buntal ”Dan kali ini adalah kali yang
pertama dan terakhir kau melihat kota Surakarta” Buntal tidak
menjawab. Dibiarkannya saja kuda-kuda itu lewat hampir menginjak
kakinya. Tetapi agaknya iapun sudah dijalari oleh keangkuhan Juwir
ing, sehingga ia tidak mau bergeser sama sekali dar i tempatnya.
Berbeda dengan Buntal, Arumlah yang bergeser di belakang. Buntal. Ia
tidak mau anak-anak muda yang sedang pergi itu menyentuhnya lagi,
agar ia tidak usah membantingnya lagi. Sejenak kemudian maka
bangsawan-bangsawan muda itu meninggalkan. Buntal dan Arum.
Kuda-kuda merekapun kemudian berlar i-larian di jalan, kota,
sehingga orang-orang yang melihat pertengkaran itu dari kejauhan
segera berlari- larian memencar. Sepeninggal anak-anak muda itu,
maka Juwiringpun kemudian mendekati Buntal. Sambil tersenyum, ia
berkata “Maaf. Aku telah membuat perjanjian sebelum aku
berbicaradahulu dengan kau. Tetapi menghadapi anak-anak bengal itu
kadang-kadang kitapun harus bersikap bengal” Buntal menarik nafas
dalam-dalam, sementara Arum bertanya “Jadi, menurut perjanjian itu,
kakang Buntal harus berkelahi di pinggir Bengawan sore nanti?“ “Ya”
“Kau yakin bahwa kakang Buntal tidak akan cedera?“ “Aku mengenal
bangsawan-bangsawan muda yang hanya pandai berbicara itu. Mereka
tidak akan berbahaya bagi kalian” “Tetapi sebaiknya bukan kakang
Buntal. Karena persoalannya berkisar karena kehadiranku, maka biar
lah aku saja yang akan berkelahi melawan mereka” “Ah, jangan.
Bagaimanapun juga. mereka memiliki banyak akal untuk memaksakan
keinginannya. Sebaiknya kau tidak usah datang sore nanti” “Aku akan
datang” Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu “Kita tidak tahu apakah
mereka tidak ingkar kepada kejantanan yang mereka sebut-sebut itu.
Jika mereka menjadi licik, dan membawa beberapa orang pengawal
seperti Rudira yang setiap kali membawa Sura dan kemudian Mandra,
maka persoalannya akan berbeda” “Tetapi aku dapat menjaga diriku
sendiri” “Kemampuan seseorang terbatas Arum. Sedang jumlah mereka t
idak terbatas” Arum masih akan menyahut. Tetapi Juwiring berkata
“Sudahlah. Kembalilah ke pondok paman Dipanala. Nanti aku akan
datang ke pondok itu. Kita dapat berbicara lebih tenang. Sekarang
kita sedang menjadi tontonan orang”Barulah Arum menyadari
keadaannya. Ketika ia memandang berkeliling, ternyata masih banyak
orang yang mengawasinya dari kejauhan. Karena itu maka katanya
“Memang sebaiknya kita kembali saja” Dengan tergesa-gesa Arum dan
Buntalpun kemudian meninggalkan tempat itu. Demikian pula Juwir ing
yang berkuda itu. Di sepanjang jalan Arum masih saja mengumpat-umpat
dan beikata kepada Buntal “Aku yang akan berkelahi. Mereka harus
tahu, bahwa aku bukan perempuan liar yang dapat dengan seenaknya
dijadikan selir-selir seperti yang disebut- sebutnya itu” Buntal
tidak menyahut. Ia tahu benar sifat Arum. Jika ia membantah, Arum
dapat saja tiba-tiba berteriak di pinggir jalan. Karena itu, maka
Buntal berjalan saja sambil berdiam diri. Hanya sekali-sekali ia
berdesis sambil menganggukkan kepalanya. “He, kau tidak mau
mendengarkan?“ “Aku mendengar” “Kenapa kau diam saja? Kau tidak
setuju” “Bukan aku t idak setuju Arum, tetapi sebaiknya kita
berbicara di rumah paman Dipanala” “Apa salahnya kita berbicara
sambil berjalan?“ “Nanti kita menjadi tontonan lagi” Arum memandang
berkeliling. Tidak banyak orang yang dijumpainya di jalan itu. Namun
j ika ia bertengkar dengan Buntal maka orang-orang itu tentu akan
berkerumun dan menonton. Karena itu Arumpun kemudian terdiam
meskipun hatinya menjadi jengkel sekali.Demikianlah, ketika. mereka
sudah berada di rumah Ki Dipanala, maka merekapun mulai membicarakan
persoalan yang sedang mereka hadapi. Setiap kali Juwiring mencegah,
maka Arumpun menjadi semakin bernafsu untuk ikut pergi kepinggir
Bengawan. Juwiring sudah lama mengenal Arum. Bahkan ayahnyapun
kadang-kadang sulit untuk mencegah gadis itu. Karena itu, maka
Juwiringpun kemudian berkata “Terserah kepadamu Arum. Tetapi jika
kau memang ingin ikut bersama kami, kau harus sudah bersiap
menghadapi setiap kemungkinan” “Ya. Aku sudah siap” jawab Arum,
namun kemudian “Tetapi, kenapa kakang Juwir ing menyerahkan hal itu
kepadaku. Bagaimana sikap kakang sebenarnya?“ “Ya terserah kepadamu.
Sebenarnya aku berkeberatan” “Kenapa? Aku sudah menjelaskan bahwa
aku sudah siap menghadapi apapun” “Karena itu, terserah saja
kepadamu” “Jangan terserah. Jika kakang, eh, Raden mengij inkan aku
akan pergi” “Jika tidak” “Apakah alasannya. Aku bukan anak-anak yang
menggantungkan diriku kepada selendang ibunya” “Ah, sudahlah Arum.
Memang susah berbicara dengan kau. Jika aku berkata terserah, kau
tidak puas. Jika aku melarang kau memaksa. Tetapi jika aku berkata
“Baik, kita akan pergi Kau sangka aku sekedar memuaskan hatimu saja”
Wajah Arum menjadi tegang. Namun ketika ia memandang wajah Buntal
yang tidak dapat menahan senyumnya, Arumpun tanpa sengaja telah
tersenyum pula. Tetapi ketika ia sadar, maka iapun tiba-tiba
mencubit Buntal dengan tangan kir i danJuwiring dengan tangan
kanannya, sehingga keduanya terlonjak dari tempat duduknya. “Jadi
bagaimana, bagaimana” desisnya “terserah saja. Aku tidak mau
berbicara” “Sudahlah” berkata Juwir ing “Jika kau mau pergi,
pergilah. Tetapi nanti dulu, jangan membantah. Aku tidak sekedar
memuaskan hatimu. Kau sudah cukup dewasa menghadapi keadaan. Karena
itu, jika kau berkeras untuk ikut serta, maka kaupun sudah yakin
bahwa tidak akan terjadi apa-apa atasmu” Arumt idak menyahut. Tetapi
wajahnya jadi suram. Juwiring yang melihat wajah itupun menarik
nafas dalam- dalam. Dan seperti biasanya, iapun tidak lagi
mempersoalkannya dengan Arum. “Kau dapat memakai kuda yang ada di
kandang halaman rumah ayahanda Pangeran, Buntal. Datanglah sebelum
senja. Aku akan datang lebih dahulu agar aku dapat melihat, apakah
tidak akan ada kecurangan yang berbahaya” “Baiklah Raden” jawab
Buntal “sebenarnya aku tidak ingin berkelahi. Tetapi mereka telah
memaksa aku berbuat demikian” “Sekali-sekali bangsawan-bangsawan
muda itu memang harus mendapat peringatan, agar lain kali ia sedikit
menghargai orang lain” “Kau juga bangsawan seperti mereka“ gumam
Arum. Juwiring yang sedang tegang itu justru tersenyum. Jawabnya
“Bangsawan yang tercecer dari lingkungannya” “Salahmu. Jika kau
ingin bergabung dengan mereka, maka kau dapat berbuat apa saja,
karena kau memiliki ilmu kanuragan yang melebihi mereka.
“Ah““Seenaknya saja mereka menyebut tentang perempuan. Jangankan
menjadi selir, menjadi isteri bangsawan yang sahpun aku tidak mau.
Aku menyadari bahwa aku seorang padesan. Anakku akan tersia-sia
meskipun ayahnya seorang bangsawan” Juwiring mengerutkan keningnya,
sementara Buntal menggamit gadis itu. Tetapi Arum tidak menyadari
kekeliruannya, bahkan ia bertanya dengan nada kesal “Apa. Kau akan
berkata apa?“ Buntal menundukkan kepalanya. Sedang Arum masih akan
berbicara terus. Tetapi tiba-tiba ia terkejut. Dilihatnya wajah
Juwiring yang muram memandang kekejauhan. “O“ Arum terhenyak.
Barulah ia sadar, bahwa kata-katanya telah menusuk hati Juwiring
justru karena Juwiring mengalaminya. Meskipun ibunya bukan orang
padesan, dan bahkan juga keturunan bangsawan, namun tidak sederajad
dengan isteri-isteri Pangeran yang lain, maka ia mengalami suatu
tekanan perasaan yang berat, apalagi ia mempunyai seorang ibu tir i
seperti Raden Ayu Galih Warit. “Maaf Raden” desis Arum dengan nada
yang dalam “Bukan maksudku menyinggung perasaanmu” Juwiring
tersentak. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya “Tidak.
Tidak apa-apa. Aku baru berangan-angan tentang bengawan itu” Arum
tidak menjawab lagi. Ia merasa bersalah, bahwa kata-katanya sedikit
terdorong sehingga agaknya telah menyentuh dasar hati Juwiring yang
memang sudah terluka itu. “Sudahlah. Jangan berbicara apa-apa lagi.
Kita bertemu nanti di pinggir bengawan. Anak-anak itu adalah
anak-anak yang pantas mendapat peringatan”Buntal dan Arum hanya
sekedar menganggukkan kepalanya saja. Mereka tidak mau menambah
goresan pada luka di hati Juwiring. Demikianlah, maka Juwiringpun
kemudian minta dir i. Namun agaknya masih ada sesuatu yang
tersangkut di hati Buntal sehingga ketika mereka sudah berdiri di
halaman, anak muda itu justru bertanya “Raden, sebenarnya aku tidak
mengerti. Apakah bangsawan-bangsawan muda itu gambaran dari
Surakarta yang akan datang? Bukankah mereka kelak akan menggantikan
kedudukan ayahanda mereka di dalam pemerintahan?“ Juwiring
mengerutkan keningnya. “Aku pernah mengenal Raden Rudira. Tetapi
ternyata ia tidak berdir i, sendiri dalam sikapnya. Ada beberapa
orang yang bersikap seperti Raden Rudira itu. Dengan demikian, aku
menjadi cemas melihat gambaran negeri ini di masa mendatang, yang
dekat. Anak-anak muda yang berkeliaran dan justru mereka tidak
memiliki i!mu yang cukup” “Tidak Buntal. Bukan itu gambaran masa
mendatang. Kita masih mempunyai harapan bahwa di antara bangsawan-
bangsawan muda, apakah ia keturunan pertama atau kedua dari pemegang
kekuasaan di Surakarta kini, masih ada yang tetap menyadari
tugasnya. Kita mengenal beberapa nama yang dapat diharapkan. Baik
dari sikap, perbuatan dan ilmu yang mereka miliki. Kita berharap
bahwa mereka akan mendapat kesempatan untuk memerintah negeri ini
kelak. Tetapi . . ” Juwiring menarik nafas dalam-dalam, lalu “tetapi
seperti yang sudah kita ketahui, agaknya kumpeni mempunyai pengaruh
yang kuat” Buntal menar ik nafas dalam-dalam. “Dan kita pernah
mendengar ceritera tentang pemberontakan yang pernah terjadi. Tidak
hanya satu dua kali. Tetapi beberapa kali. Dan setiap kali, maka
kumpenitentu berhasil meneguk keuntungan daripadanya. Namun
demikian, kadang-kadang kita memang tidak dapat lagi menanggung
tekanan batin yang tiada taranya sehingga memaksa kita untuk
melepaskah dir i dari belenggu penindasan, meskipun kadang-kadang
kita harus menebusnya dengan maut” Buntal mendengarkan keterangan
itu dengan saksama. Namun kemudian ia bergumam “Sokur lah jika masih
ada orang yang menyadari keadaan ini. Kami yang tinggal jauh dari
kota justru merasakan sesuatu yang menekan hati ketika kami melihat
kehidupan di dalam kota ini. Sama sekali1 bukan berdasarkan hati
yang iri semata-mata. Tetapi sebuah kecemasan yang bergolak di
dalamdada ini” “Kau benar. Jika kita bicara dengan nurani yang
bersih, maka setiap orang akan mengakuinya. Gemerlapnya istana-
istana yang indah dan cantiknya wanita-wanita di dalam kota ini
bukan lambang gemerlapnya Surakarta dan cantiknya tanah ini yang
seakan-akan telah dinodai oleh bangsa asing dengan kedok perdagangan
dan persahabatan. Buntal hanya mengangguk-angguk saja. Namun
ternyata angan-angannya telah hinggap pada seorang yang menyebut
dirinya Petani dari Sukawati. Dan hampir-di luar sadarnya ia
berdesis di dalam hatinya “Pangeran Mangkubumi. Mudah- mudahan ia
berbuat sesuatu untuk kepentingan rakyat Surakarta” “Sudahlah”
berkata Juwiring kemudian “Aku akan kembali ke rumah ayahanda yang
asing bagiku itu. Jangan lupa, datanglah menjelang matahari
terbenam. Aku akan datang lebih dahulu” “Baiklah Raden” sahut Buntal
“mudah-mudahan aku t idak menimbulkan persoalan yang berkepanjangan.
Apalagi j ika kemudian menyangkut Pangeran Ranakusuma dan beberapa
orang bangsawan yang lain”Juwiring hanya tersenyum saja. Meskipun
senyum yang kecut. Demikianlah Buntal menjadi gelisah. Direnunginya
dir inya sendiri di dalam lingkungan yang asing baginya. Tiba-tiba
saja ia sudah terlibat di alam pertentangan kekerasan. Ia harus
berkelahi melawan bangsawan-bangsawan muda itu. Dan sudah barang
tentu baliwa sesuatu dapat terjadi di luar dugaan. Bangsawan di
Surakarta mempunyai hak yang seakan-akan melampaui hak orang
kebanyakan. Agaknya Arum tidak begitu menghiraukannya. Yang
dipikirkannya adalah, bahwa ia tidak mau dihinakan oleh siapapun. Ia
sama sekali t idak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang lain
yang dapat terjadi. Meskipun ia pernah mendengar dari beberapa orang
tentang hak para bangsawan, namun haknyalah untuk melindungi dirinya
sendir i dan apalagi nama baiknya. Karena itulah, maka ketika
matahari menjadi semakin condong ke Barat, Buntal menjadi semakin
gelisah. Tetapi ia masih mempercayakan persoalan ber ikutnya apabila
timbul, kepada Juwiring, karena Juwiring adalah seorang dari
lingkungan mereka. Dan agaknya ayahandanyapun telah menerima kembali
sebagai anaknya sepenuhnya. Buntal yang gelisah itu terkejut ketika
dilihatnya dua orang abdi dari Ranakusuman datang ke rumah Ki
Dipanala dengan membawa masing-masing seekor kuda. “Raden Juwiring
memer intahkan kami menyerahkan kuda- kuda ini” berkata abdi itu
kepada Buntal. “Terima kasih” sahut Buntal. Dan iapun sadar bahwa ia
memang harus pergi. “Apakah Raden Juwiring ada di istana?“ bertanya
Buntal lebih lanjut “Tidak. Raden Juwiring sudah pergi”“Sendir i?“
“Ya, sendiri” “Terima kasih” desis Buntal kemudian. Sepeninggal
kedua orang abdi Ranakusuman itu Buntal menjadi semakin gelisah.
Tetapi ia memang harus pergi ketepi Bengawan untuk berkelahi. Tetapi
yang menjadi persoalan baginya kemudian adalah Arum. Karena itu,
maka iapun pergi kepadanya dan bertanya “Apakah kau akan memakai.
kain panjang seperti itu?“ “Kenapa?“ “Kita pergi berkuda. Dan kuda
yang diberikan kepada kita adalah kuda Ranakusuman yang tegar dan
besar. Bukan kuda kita yang agak lebih kecil. Dengan demikian kita
akan menjadi lebih gagah. Tetapi yang penting kuda-kuda itu lebih
tinggi dan barangkali kita masih harus memperkenalkan dir i” “Jadi
bagaimana sebaiknya menurut pertimbanganmu?“ “Bagaimana jika kau
berpakaian laki-laki? Selain lebih aman bagimu sendir i, tentu kau
tidak akan terlalu menarik perhatian orang di sepanjang jalan” Arum
mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya “Kenapa jika
aku berkuda dalam pakaian perempuan. Kenapa harus menarik perhatian?
Apakah perempuan tidak pantas naik kuda seperti seorang laki-laki?“
“Arum” berkata Buntal “ di dalam keadaan ini sebaiknya kita tidak
berbicara tentang sikap kita terhadap persamaan atau perbedaan di
antara kita. Tetapi kita berbicara tentang kenyataan. Barangkali kau
akan dapat menjawab sendir i, apakah sebaiknya kau berpakaian
seperti seorang laki-laki atau tetap dalampakaianmu”Arum tidak
menyahut. Kali ini ia harus mengakui kebenaran pendapat Buntal.
Karena itu, maka kepalanya hanya terangguk-angguk kecil saja. Dalam
pada itu, selagi mereka berbincang, maka merekapun terhenti untuk
menganggukkan kepala mereka ketika mereka melihat Ki Dipanala
mendatanginya. Sambil tersenyum orang tua itu bertanya “Apakah
kalian akan pergi dengan kuda-kuda itu?“ “Ya paman” jawab Buntal.
“Kemana?“ Buntal menjadi ragu-ragu sejenak. Ia tidak segera
menemukan jawabnya. Apakah ia harus berkata terus terang, atau masih
harus merahasiakannya. Buntal tidak tahu apa yang sudah dikatakan
oleh Juwiring kepada Ki Dipanala itu. Tetapi Ki Dipanala itupun
kemudian tersenyum sambil berkata “Aku sudah mendengar dari Raden
Juwir ing. Kalian harus pergi ke pinggir bengawan” “Ya paman” jawab
Buntal sambil menundukkan kepalanya. “Memang mendebarkan hati.
Tetapi apaboleh buat. Raden Juwiring akan dapat menanggung j ika
terjadi akibat apapun” “Ya paman” sahut Buntal. Ki Dipanala
memandang Buntal dengan mata yang buram. Sebenarnya ia menjadi
kasihan melihat anak-anak muda itu terlibat dalam kekerasan tanpa
mereka kehendaki sendir i. Tetapi iapun sadar, bahwa baik Buntal
maupun Juwiring adalah anak-anak muda pula sehingga darah merekapun
masih cepat mendidih. Karena itu, di samping keseganannya, maka
menurut dugaan Ki Dipanala ada juga semacam kebanggaan pada Buntal.
Namun ia tahu bahwa murid-murid Danatirta itu mempunyai pengekangan
diri yang cukup baik dibandingdengan anak-anak muda sebayanya. Jika
terpaksa terjadi sesuatu yang bersifat keras, tentu ada alasan yang
cukup kuat telah memaksa mereka untuk melakukannya. “Paman” berkata
Buntal kemudian “Aku tidak tahu, apakah yang aku lakukan ini benar
atau salah. Tetapi kakang Juwiring telah mengambil sikap. Dan aku
harus melakukannya” “Buntal” sahut Ki Dipanala “Raden Juwiring
sekarang sudah mendapatkan kedudukannya kembali sebagai putera
Pangeran Ranakusuma. Mungkin karena Raden Rudira sudah meninggal,
sehingga Pangeran Ranakusuma memer lukan seorang anak laki- laki,
tetapi juga mungkin karena Pangeran Ranakusuma telah berhasil
menilai dir inya sendiri, dan menganggap apa yang terjadi pada Raden
Juwiring itu keliru karena dorongan nafsu ketamakan Raden Ayu Galih
Warit. Dengan demikian, maka j ika bangsawan-bangsawan muda itu
ingin mencari sandaran kepada ayahanda masing-masing, maka Raden
Juwiringpun dapat melakukannya” “Aku mengerti paman” desis Buntal
“Tetapi apakah paman tidak akan pergi ke Bengawan” Ki Dipanala
mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa Buntal menjadi agak cemas
juga. Bukan karena iai harus berkelahi, dan raencemaskan kemampuan
lawan- lawannya. Tetapi karena Buntal sendiri merasa sebagai seorang
anak padesan. Ia harus menyandarkan nasibnya kepada orang lain jika
perselisihan ini kemudian berkembang. “Aku tidak dapat pergi Buntal.
Mungkin Pangeran Ranakusuma memerlukan aku. Sekarang aku justru
mempunyai banyak pekerjaan. Seolah-olah semua persoalan ditumpahkan
kepadaku sejak meninggalnya Raden Rudira” Buntal
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling dilihatnya
Arumpun tampak menjadi gelisah. “Percayakah persoalan-persoalan yang
dapat timbul kepada Raden Juwiring. Jika ia menemui kesulitan, aku
akan mencobaiku memikirkannya” berkata Ki Dipanala kemudian, lalu
“pergilah. Aku akan kembali ke Ranakusuman” Sejenak kemudian, maka
Arum dan Buntalpun telah selesai berkemas. Arum memakai pakaian
seorang laki-laki, sehingga dalam sekilas tidak seorangpun yang
dapat mengenalnya sebagai seorang gadis. Demikianlah maka
keduanyapun kemudian segera pergi kepinggir bengawan seperti yang
sudah dijanj ikan. Meskipun Buntal telah siap menghadapi segala
kemungkinan, namun hatinya masih berdebar-debar juga. “Kita tidak
memer lukan senjata kakang?“ bertanya Arum. “Tidak. Kita tidak akan
bertempur mati-matian. Kita hanya akan sekedar memuaskan dir i
sendiri dengan perkelahian ini. Kalah atau menang. “Tetapi, bukankah
kakang Juwir ing mengatakan bahwa kemampuan kita hanya terbatas,
sedang jumlah mereka hampir tidak terbatas. Apakah itu tidak berarti
bahwa mereka dapat melakukan sesuatu yang tidak wajar, atau
katakanlah agak licik dan curang?“ “Memang mungkin. Tetapi senjata
hanya akan membahayakan diri kita sendir i. Tentu kita tidak akan
dapat mempergunakan Kita tidak akan dapat melukai seorangpun dari
mereka dengan sengaja mempergunakan senjata yang sudah kita
persiapkan. Dengan demikian kita akan berhadapan dengan kesulitan
yang lebih luas lagi di tempat yang asing ini” Arum
mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Buntal, sehingga karena itu,
maka iapun tidak bertanya lebih lanjut. Namun demikian di dalam
hatinya ia berkata “Kecuali senjata yang dapat kita rampas pada
waktu itu. Dengan demikian berarti bahwa kita benar-benar sekedar
membela dir i” Ketika Arum kemudian menengadahkan wajahnya,
dilihatnya matahari sudah bertengger di ujung Barat. Namunmasih
dapat melihat dengan jelas wajah-wajah orang yang berjalan di
sepanjang jalan memandangnya dengan heran. Jarang sekali ada
orang-orang berkuda di tengah-tengah kota selain para bangsawan muda
dan prajurit. Kadang-kadang memang ada para pedagang yang
tergesa-gesa menyelesaikan persoalannya. Tetapi tidak anak-anak muda
berpakaian petani seperti Buntal dan Arum.
-
Jilid 12 NAMUN kedua anak-anak muda
itu seakan-akan tidak menghiraukan mereka yang memandanginya sambil
bertanya di dalam hati. Mereka maju terus, meskipun tidak terlampau
kencang. Ternyata Buntal masih mengenal dengan baik jalan menuju ke
pinggir bengawan seperti yang telah dijanj ikan. Meskipun jalan itu
kemudian menjadi agak sulit, namun merekapun semakin kuna menjadi
semakin dekat dengan bengawan yang berarus deras dan berwarna
lumpur. Ketika kuda mereka menuruni tebing yang agak landai dan
sampai di atas pasir tepian, maka keduanyapun terkejut. Ternyata
mereka melihat tidak saja bangsawan-bangsawan muda yang dijumpainya
dan yang telah bertengkar dengan mereka tetapi jumlah itu telah
bertambah lagi. “Nah, ternyata yang dikatakan Raden Juwiring itu
benar” desis Arum. “Apa boleh buat” sahut Buntal. “Dan kita dapat
dilemparkan ke dalambengawan itu”“Apa boleh buat. Tetapi mereka
tidak akan melakukannya di hadapan Raden Juwiring, putera Pangeran
Ranakusuma, seorang Senapati yang disegani di Surakarta ini” “Dan
agaknya kita sudah mulai menyandarkan diri” “Apa boleh buat” Sejenak
kemudian kedua ekor kuda itu berjalan di atas pasir tepian.
Perlahan-lahan keduanya maju mendekati segerombol
bangsawan-bangsawan muda yang sudah menunggu. “Ha, ternyata keduanya
datang” berteriak salah seorang dari mereka. “Apakah yang seorang
itulah Arum. Nampaknya seperti seorang laki- laki” Seorang bangsawan
muda tiba-tiba saja meloncat naik ke punggung kudanya dan
menyongsong Buntal. Beberapa langkah di hadapannya ia berteriak
“Yang seorang adalah gadis itu. Ia berpakaian seorang laki-laki.
Pantas sekali. Justru ia tampak sebagai seorang anak muda yang
tampan sekali. Aku justru jatuh cinta kepadanya” Kata-kata itu
bagaikan bara yang menyentuh telinga Arum dan Buntal. Tetapi mereka
berdua sama sekali tidak menyahut. Mereka masih tetap maju perlahan-
lahan. Bangsawan yang seorang, yang meyongsongnya itu masih saja
mengitari keduanya sambil bsrteriak “Kita tidak dapat sekedar
bermain-main. Agaknya anak ini yakin benar akan dirinya” Arum dan
Buntal masih berdiam diri. Mereka mengerutkan kening ketika mereka
melihat Raden Juwir ing melangkah maju. Katanya kepada Buntal. “Nah,
kemarilah. Kita akan membuat perjanj ian. Perjanjian seorang
laki-laki”Bangsawan muda yang berkuda di sebelah Arum itu berkata
“Tidak ada yang menyebut aku seorang perempuan. Sedangkan gadis
inipun berpakaian seperti laki-laki” “Bukan pakaiannya” jawab
Juwiring “Aku tahu bahwa seorang laki-laki dapat saja berbuat
seperti perempuan. Tetapi juga sebaliknya, seorang perempuan dapat
berbuat seperti seorang laki- laki” “Apa yang dilakukan oleh Laki-
laki dan apa yang dilakukan oleh perempuan?“ “Laki-laki akan
menghargai kelaki-lakiannya di dalam setiap persoalan. Apa yang
dikatakan dilakukannya. Ia yakin akan sikapnya, tetapi tidak
mengingkari kenyataan. Ia berani mempertahankan keyakinannya, tetapi
berani mengakui kesalahannya apabila hal itu disadarinya” “Dan
perempuan?“ “Perempuan kadang-kadang menggantungkan diri kepada
laki- laki. Ia pasrah kepada keadaan meskipun kadang-kadang harus
mengeluh. Menekan perasaan di dalam dadanya sambil menekan gejolak
hati. Tetapi sudah aku katakan, kadang- kadang terdapat kelainan.
Dan kalian akan melihat kelainan itu di sini” Bangsawan-bangsawan
muda itu memandang Juwir ing dengan heran. Lalu salah seorang di
antara mereka bertanya “Apa yang akan kita lihat di sini?“ “Tidak
apa-apa. Tetapi marilah kita membuat perjanjian. Perjanjian yang
saling kita hormati” sahut Juwiring. “O“ bangsawan muda yang
bertubuh kekar itupun maju selangkah “Aku tahu, kau menyangka bahwa
kami akan berbuat curang. Itulah yang kau maksud, bahwa kita akan
melihat kelainan di sini” “Sokur lah j ika hal itu tidak
terjadi”“Kau sudah menghina kami. Dan kami tidak rela membiarkan
diri kami mendapat penghinaan semacam itu” “Karena itu kalian harus
membukt ikan, bahwa aku keliru” “Persetan, Suruh anak itu turun dari
kudanya. Kita akan melihat, siapakah yang curang dan licik” Juwiring
mengangguk-angguk sambil menyahut “Ya. Biarlah ia mendekat” Buntal
yang sudah ada di dekat segerombol anak-anak muda itupun meloncat
turun dari kudanya diikuti oleh Arum. Sekilas mereka masih melihat
warna-warna merah yang tersangkut di bibir mega yang bergumpalan
menghiasi langit yang jernih. “Cepat katakan” geram bangsawan muda
yang bertubuh kekar itu “Apakah yang kita jadikan syarat dari
perkelahian ini. Aku sudah tidak sabar lagi” “Kita saling
menghormati” sahut Juwiring “yang kalah harus segera menyatakan
kekalahannya dan yang menang tidak akan berbuat lebih banyak lagi.
Itu agaknya syarat yang paling lunak, tetapi memadai” “Persetan?”
desis anak muda yang bertubuh kekar itu, ”selebihnya?“ “Tidak ada.
Kita sudah saling mengetahui bahwa jika kita bertanding, kita tidak
boleh menggigit dan menggelitik” “Cukup” bentak anak muda yang masih
ada di punggung kuda, yang semula menyongsong Buntal dan Arum “Kau
menganggap kami seperti kanak-kanak yang baru pandai berjalan”
“Bukan maksudku. Tetapi biarlah kita menjadi jelas pada persoalan
yang sama-sama kita hadapi. Kita akan menjadi saksi” “Sekarang, kita
mulai sekarang” desis anak muda yang lain.“Kita membuat lingkaran.
Sebentar lagi matahari akan terbenam. Dan kita harus sudah mulai.
Kita akan menguji siapakah yang memiliki indera lebih tajamdi dalam
kegelapan” Demikianlah maka anak-anak muda itupun segera membuat
sebuah lingkaran. Mereka berdiri di atas pasir yang basah dengan
hati yang berdebar-debar. “Cepat, masuk ke dalam arena” berkata
salah seorang dari mereka. Bangsawan muda yang bertubuh kekar itupun
segera masuk ke dalam lingkaran. Juwiring yang berdir i di pinggir
lingkaran itupun kemudian memanggil Buntal “Masuklah. Lawanmu sudah
siap. Kita hanya ingin melihat, apakah jika kalian dibiarkan
berkelahi, yang sedang memiliki kekuasaan dan kewenangan selalu
menang “ “Kau jangan selalu menghina kami” bentak anak muda yang
bertubuh kekar itu. Lalu “Kenapa bukan kau saja yang memasuki arena?
Kita akan berjanji bahwa kita tidak akan menyeret orang tua kita
masing-masing, karena aku tahu bahwa pamanda Ranakusuma adalah
seorang Senapati yang terpandang” “Kau dan aku sederajad. Jika kau
menganggap dir imu mempunyai hak dan wewenang khusus, melampaui hak
dan wewenang anak padesan, maka akupun mempunyainya, sehingga
perkelahian di antara kita, siapapun yang menang tidak akan dapat
memberikan jawaban atas pertanyaan kita” Buntal menarik nafas
dalam-dalam. Seakan-akan ia melihat Juwiring yang lain daripada
Juwiring yang rendah hati di padepokan Jati Aking. Juwiring yang ada
di pinggir arena itu adalah Juwiring yang agak sombong dan tinggi
hati. Tetapi seperti yang sudah dikatakannya, di hadapan anak-anak
muda yang bengal itu, maka Juwiringpun harus bersikap serupa.
“Cepatlah, jangan ragu-ragu” berkata Juwiring kepada Buntal yang
masih berdir i di tempatnya.Buntalpun kemudian melangkah maju
mendekati lawannya di arena. Sejenak ia memandang wajah bangsawan
muda yang bertubuh kekar. Tubuh yang memiliki kemungkinan yang
sangat baik jika bangsawan muda itu mendapat tuntunan yang tepat di
dalamolah kanuragan. Karena itu, seperti yang selalu dinasehatkan
oleh Kiai Danatirta, Buntal tidak memandang rendah lawannya meskipun
menurut Juwiring, anak-anak muda itu hampir tidak pernah menuntut
ilmu apapun juga selain berbuat bengal. “Nah, kita akan segera
muliai” berkata Juwiring “Mar ilah kita bersama-sama menjadi saksi.
Saksi yang jujur atas perkelahian yang bakal terjadi” “Jangan banyak
bicara lagi” desis bangsawan yang bertubuh kekar. “Baik. Mulailah”
Bangsawan muda yang bertubuh kekar itu mulai bergerak. Dipandanginya
Buntal yang mulai samar-samar. Sejenak keduanya bergeser,
seakan-akan ingin menemukan kelemahan lawannya. Sepintas Buntal
dapat melihat, bahwa lawannya tentu bukannya belum pernah
mempelajari olah kanuragan. Sikapnya dan tatapan matanya mengatakan
kepadanya, bahwa anak muda yang bertubuh kekar itupun tentu sudah
mempelajari ilmu kanuragan. Dengan demikian Buntal menjadi semakin
berhati-hati. Apalagi bayangan langit yang semakin buram mengaburkan
wajah anak muda yang bertubuh kekar itu. Namun ada juga baiknya bagi
Buntal karena yang tampak kemudian adalah semacam bayangan saja yang
kehitam-hitaman, sehingga ia tidak melihat perbedaan yang jelas
antara anak muda itu dengan orang-orang lain. di dalam gelapnya
malam, maka tidak ada lagi bedanya, bayangan seorang bangsawan dan
orang kebanyakan.Dalam pada itu, maka sejenak kemudian, terjadilah
perkelahian itu. Sekejappun Buntal tidak berbicara sampai pada
saatnya ia menghindari serangan yang pertama. Ternyata bahwa
bangsawan muda yang bertubuh kekar itu agaknya memang pernah
mempelajari ilmu kanuragan. Karena itu, maka untuk beberapa saat ia
masih dapat dengan dada tengadah menyerang Buntal yang masih
dipengaruhi oleh perasaan segan. Namun dalam serangan-serangan itu,
Buntal segera mengetahui bahwa bangsawan muda itu masih belum
menguasai benar ilmu yang dipelajarinya. Agaknya selama ini ia hanya
membanggakan kekuatan tubuhnya yang kekar itu, sehingga tata
geraknya sama sekali tidak menguntungkannya. Meskipun demikian
Buntal masih harus berhati-hati. Anak muda itu benar-benar mempunyai
kekuatan yang luar biasa. Adalah kebetulan sekali bahwa Buntalpun
telah mempelajari ilmunya dengan cara yang berbeda dengan Juwiring,
yang lebih banyak menyandarkan juga pada gerak jasmaniahnya,
sehingga di dalam saat tertentu, jika terjadi benturan kekuatan,
Buntal mampu mengimbangi kekuatan lawannya. Bahkan kadang-kadang
Buntal dengan sengaja tidak menghindari serangan anak muda yang
bertubuh kekar itu, tetapi membenturnya dengan kekuatannya pula.
Meskipun malam menjadi gelap, tetapi keduanya mampu meneruskan
perkelahian itu dengan sengitnya. Mereka berganti-ganti menyerang
dan bertahan. Silih ungkih, seolah- olah keduanya memiliki ilmu yang
seimbang. Tetapi sebenarnya Buntal segera mampu menguasai lawannya
apabila ia menghendakinya. Ia memiliki bekal jauh lebih banyak dari
anak muda yang bertubuh kekar itu. Apalagi di dalam kelamnya malam
ketajaman penglihatannya sangat membantunya. Namun demikian ada
sesuatu yang menahannya untuk tidak segera memenangkan perkelahian
itu. Ternyata ia mempunyairasa hormat pula kepada para bangsawan.
Buntal masih mengharap bahwa j ika ia kemudian menang, maka
kemenangannya itu tidak terlampau menyakitkan hati lawannya, yang
kebetulan adalah seorang bangsawan. Tetapi agaknya berbeda dengan
Arum. Ia dapat melihat kelebihan Buntal seperti juga Juwir ing.
Rasa-rasanya ia ingin mendorong anak muda itu agar segera
menyelesaikan perkelahian, kemudian dengan demikian mereka akan
meyakini kelebihan anak-anak padesan dari para bangsawan. Sementara
itu, bangsawan-bangsawan muda yang menyaksikan perkelahian itupun
menjadi berdebar-debar. Bagi mereka perkelahian itu adalah
perkelahian yang dahsyat sekali, karena mereka melihat keduanya
saling mendesak dan kadang-kadang keduanya terdorong surut oleh
benturan yang keras. Namun sebenarnyalah bahwa anak muda itu menjadi
heran. Kenapa bangsawan muda yang kekar itu tidak segera menguasai
lawannya yang sekedar anak padesan. Mereka ingin segera melihat anak
Jati Aking itu menyerah, dan kemudian beramai-ramai mereka akan
dapat menghinakannya. Apalagi beserta anak muda itu, datang juga
Arum meskipun ia mempergunakan pakaian seorang laki- laki. Dalam
pada itu, selagi kedua anak-anak muda itu masih saja berkelahi,
ternyata ada juga seorang bangsawan muda yang tidak dapat menahan
hatinya melihat Arum justru dalam pakaian seorang laki-laki. di
dalam gelap, Arum sama sekali tidak menghiraukan lagi orang-orang
yang berdir i di seputar arena. Perhatiannya sepenuhnya terpusat
kepada perkelahian itu, sehingga karena itu, maka ia berdiri saja
tanpa prasangka terhadap bangsawan-bangsawan muda itu. Dan itulah
kesalahannya. Setiap kali ia justru mendesak seseorang yang berdiri
di sebelahnya, sehingga anak muda itu telah kehilangan kemampuannya
untuk mengendalikan dirinya.Hampir di luar sadarnya, bangsawan muda
itu menyentuh tubuh Arum. Dan adalah di luar dugaan Arum, bahwa
sentuhan-sentuhan di lengan dan punggungnya itu adalah suatu
kesengajaan. Ia menyangka bahwa mereka saling mendesak karena
perhatian mereka terhadap perkelahian itu. Tetapi tangan itu
ternyata semakin jauh merayapi tubuh Arum, sehingga perlahan-lahan
Arum mulai memperhatikan tangan itu meskipun ia masih tetap berdiam
dir i saja. Akhirnya sampai saatnya, Arumlah yang tidak dapat
menahan dirinya. Ketika tangan itu masih saja menjalari tubuhnya,
tiba-tiba saja tangan itu telah terpilin keras-keras. Bahkan
kemudian tangan itu seakan-akan terangkat di atas bahu Arum yang
merendah. Sebuah tarikan yang menghentak telah melemparkan anak muda
itu lewat di atas pundak Arum dan terbanting jatuh di atas pasir.
Hal itu benar-benar telah mengejutkan. Bangsawan muda yang
terbanting jatuh itu terkejut bukan kepalang. Ia menyadari dirinya
setelah ia berbaring di atas pasir yang basah. Beberapa orang justru
berdiri bingung dan demikian juga Juwiring. Bukan saja mereka yang
berdiri di seputar arena, bahkan mereka yang sedang berkelahi itupun
terkejut pula sehingga perkelahian itu terhenti karenanya. Bangsawan
muda yang terbanting itu tertatih-tatih berdiri sambil menyeringai.
Tangannya rasa-rasanya akan patah dan punggungnya bagaikan retak.
Meskipun demikian ia masih mencoba untuk mempertahankan harga
dirinya Dipaksanya tangannya yang sakit itu untuk bertolak pinggang
sambil menggeram. “Perempuan Gila“ Ia mengumpat “Jika kau seorang
laki- laki, maka aku patahkan tanganmu” “Cobalah” jawab Arum
“Kitalah sekarang yang berkelahi di arena”Juwiring menjadi cemas,
sehingga iapun mendekatinya. Tetapi agaknya kemarahan Arum sudah
sampai ke puncaknya sehingga tanpa menghiraukan apapun lagi ia
melangkah maju sambil berkata “Marilah kita bertindak adil.
Persoalan ini adalah persoalanku dengan anak muda yang lancang itu.
Sebenarnya kamilah yang harus menyelesaikannya Bukan orang lain.
Bukan kakang Buntal dan bukan anak muda yang lain. Tetapi kami yang
memang mempunyai persoalan. Kemudian aku telah terpaksa membuka
persoalan yang lain. Anak muda inipun agaknya anak muda yang
lancang. Setelah perkelahian yang pertama, aku akan melawan orang
kedua ini” Bangsawan-bangsawan muda yang berdir i melingkar itu
terkejut bukan kepalang. Ternyata gadis ini benar-benar memiliki
sesuatu yang dapat dipercaya. Karena itulah maka merekapun menjadi
termangu-mangu untuk beberapa saat. Dalam pada itu maka Juwir ingpun
kemudian mendekatinya. Dengan hati-hati ia berkata “Sabarlah Arum”
“Akulah yang dihinakannya. Dan akulah yang paling berhak
membersihkan namaku” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah
mengenal sifat Arum. Namun demikian ia tidak dapat membiarkan Arum
terseret oleh perasaannya. Karena itu maka katanya kemudian “Di
dalam persoalan ini, kita mempunyai cara tersendiri, Arum. Dan kita
sedang mencoba menempuh jalan yang paling baik bagi kita” “Tetapi
tidak paling baik bagiku. Mungkin kakang Buntal dapat memenangkan
perkelahian itu, karena seharusnya ia sudah sejak perkelahian itu
dimulai, dapat menjatuhkan lawannya. Tetapi agaknya ia merasa segan
melakukannya. Tetapi kemenangan kakang Buntal adalah penyelesaian
sementara bagiku. Karena apabila aku sedang berjalan sendiri
dima-oapun, mungkin akan mereka jumpai, maka akan timbulpersoalan
serupa jika aku sendir i tidak mencoba menyelesaikannya” Dada
Juwiring menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia harus
mencegahnya. Jika Arum tidak dapat mengendalikan diri, maka tingkah
lakunya akan dapat menyinggung perasaan anak-anak muda itu sehingga
persoalannya akan berkembang semakin luas. Namun dalam pada itu,
sebelum Juwiring sempat berkata sesuatu lagi, mereka terkejut oleh
suara bernada tinggi dari kegelapan, sehingga serentak mereka
berpaling. Yang tampak hanyalah sebuah bayangan kehitam-hitaman yang
berjalan mendekati arena itu. “Alangkah bodohnya bangsawan muda di
Surakarta ini” berkata bayangan itu. Sejenak mereka termangu-mangu.
Namun kemudian Juwiring berdesis “Pamanda Hargasemi” Dan hampir
berbareng anak-anak muda yang lainpun berdesis “Pamanda Pangeran
Hargasemi” Bayangan itupun menjadi semakin dekat. Dalam keremangan
malam tampaklah seorang Pangeran yang masih muda berdiri sambil
bertolak pinggang. Terdengar ia tertawa pendek. Lalu katanya pula
“Kalian tidak melihat kenyataan yang terjadi di hadapan kalian”
Bangsawan muda itupun segera mengerumuninya. Bagi bangsawan muda
yang berada di pinggir bengawan itu, Pangeran Hargasemi telah member
ikan sesuatu yang rasa- rasanya menyenangkan. Mereka tidak tahu apa
yang akan dilakukannya. Namun karena sehari-hari Pangeran Hargasemi
merupakan kawan bermain yang baik, maka merekapun menyambutnya
dengan gembira. Berbeda dengan mereka adalah Juwiring. Meskipun
Juwiring tidak terlampau banyak mengenal Pangeran yangmasih muda
itu, namun sedikit banyak ia pernah mendengar bahwa Pangeran
Hargasemi adalah kawan yang baik bagi anak muda yang bengal itu dan
terlebih-lebih lagi Pangeran muda itu adalah sahabat yang sangat
dekat dengan kumpeni. Tetapi yang terlebih mendebarkan jantung,
Pangeran Hargasemi memiliki ilmu olah kanuragan yang t inggi.
Sejenak Pangeran Hargasemi memandang Juwir ing. Lalu katanya
“Juwiring sekarang menjadi semakin tampan setelah ia berada di
padepokan Jati Aking. Melihat anak-anak padesan itu berkelahi maka
kitapun seharusnya dapat mengambil kesimpulan, bahwa Juwiring tentu
memiliki ilmu kanuragan padesan yang kasar itu” Juwiring tidak
menyahut, meskipun dengan susah payah ia menahan hatinya. Dalam pada
itu Buntal dan Arumpun menjadi terheran- heran. Mereka mendengar
bagaimana bangsawan-bangsawan muda itu menyebut orang yang baru saja
datang itu. Karena itu, mereka masih juga menyadari bahwa mereka
tidak dapat berbuat tanpa pertimbangan lebih jauh terhadap seorang
Pangeran meskipun masih cukup muda. “Kalian ternyata terlampau
dungu” berkata Pangeran Hargasemi itu “Sudah lama aku melihat
perkelahian di arena. Aku melihat juga bagaimana gadis itu
membanting lawannya dalam sekejap” Pangeran muda itu berhenti
sejenak, lalu “seharusnya kalian menyadari bahwa kalian bukanlah
lawan mereka. Anak muda yang berkelahi di arena itu sebenarnya sama
sekali t idak ber imbang. Anak Jati Aking itu masih menaruh hormat
kepada lawannya karena lawannya adalah seorang bangsawan seperti
yang dikatakan oleh gadis itu. Dan tidak ada seorangpun di antara
kalian yang dapat mengalahkah gadis itu. Nah, siapa yang tidak
percaya dapat mencobanya” Tidak seorangpun yang menyahut, sedang
Juwiring, Buntal dan Arum masih saja berdir i
termangu-mangu.Pangeran Hargasemi mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya “Bagus. Kalian harus menyadari bahwa gadis itu memang
memiliki kelebihan. Karena itu, kalian tidak usah mencoba
menyentuhnya jika tangan kalian tidak ingin dipatahkannya” tiba-tiba
saja Pangeran Hargasemi itu tertawa. Suara tertawanya terdengar aneh
dan tanpa disadarinya bulu- bulu kulit Arumpun terasa meremang. “Ah,
sudah barang tentu, gadis seperti Arum itu dapat mengadakan
sayembara tanding. Siapa yang dapat mengalahkan saudara-saudara
seperguruannya termasuk Juwiring, ia akan dapat memilikinya. Atau
barangkali sayembaranya akan berbunyi, siapa yang dapat mengalahkan
dirinya” “Gila“ Arum menggeram. Juwiring berpaling. Ia mencoba
memberi isyarat agar Arum mencoba menahan dir i. Tetapi di dalam
kegelapan isyarat itu tidak tertangkap oleh Arum. Pangeran Hargasemi
masih tertawa. Katanya “Gadis itu memang agak liar. Tetapi
menyenangkan. He, siapa yang jatuh cinta kepadanya?“ Bangsawan-
bangsawan muda itu saling berpandangan sejenak. Namun suasananya
tiba-tiba telah berubah dengan kehadiran Pangeran Hargasemi.
Bahkanketika Pangeran Hargasemi tertawa lebih keras lagi, beberapa
orang yang lain telah tertawa pula. “Ayo, siapa yang akan memasuki
sayembara tanding? Tidak ada? Jika tidak ada, akulah yang akan
memasuki sayembara tanding itu. Dan aku akan memilih lawan yang
paling tangguh. Juwiring. Tentu Juwiringlah yang paling sempurna di
antara mur id-mur id guru olah kanuragan padesan terpencil itu. Jika
aku kalah, aku menyerah meskipun aku akan dilemparkan ke dalam
bengawan. Tetapi jika aku menang, aku akan mendapatkan Arum. Nah,
jika aku mendapatkannya, kalian, anak-anak muda yang telah bersusah
payah berkerumun di sini. tidak usah cemas” Pangeran muda itu
tertawa, dan bangsawan muda yang lainpun tertawa riuh. Lalu “Jika
ayahnya marah, biarlah aku yang menyelesaikan. Jika ia mempunyai
sepasukan cantrik, aku akan meminjam tiga orang kumpeni. Tak ada
orang yang dapat melawan kumpeni sekarang. Betapa tinggi ilmunya,
jika tubuhnya tersentuh peluru, maka iapun akan mat i” “Cukup”
teriak Arum yang tubuhnya menjadi gemetar “Aku akan berkelahi sampai
mati” Tetapi Pangeran Hargasemi tertawa “Jangan mati. Aku dapat
mengalahkanmu tanpa membunuhmu” Kemarahan Arum tiba-tiba telah
membakar ubun-ubunnya. Tetapi dengan demikian mulutnya justru
seakan-akan tersumbat karenanya. Dalam pada itu, tanpa disadari,
berbareng Juwiring dan Buntal melangkah mendekati Arum. Memang tidak
ada cara lain dar i pada mempertahankan kehormatan itu dengan apa
saja yang dimilikinya. Termasuk nyawanya. Tetapi Pangeran Hargasemi
tidak menghiraukannya. Katanya “Kalian akan menjadi saksi. Dan untuk
itu kalian akan mendapat upah daripadaku nanti. Nanti atau besok
atau lusa”Suara tertawapun meledaklah di pinggir bengawan itu. Wajah
Arum rasa-rasanya seperti tersentuh bara. Oleh kemarahan yang
memuncak, maka tubuhnya menjadi gemetar. “Nah, baiklah kalian
bertiga berkelahi bersama-sama. Aku tidak berkeberatan” ia berhenti
sejenak, lalu “Jika terjadi sesuatu atas kalian, terutama atas
Juwiring, maka bukan maksudku menyeret kemarahan Kamas Ranakusuma.
Aku tahu bahwa Juwiring menyandarkan diri kepada kamas Pangeran,
karena kamas Pangeran adalah seorang Senapati yang berpengaruh.
Tetapi pengaruhnya tidak akan dapat menyentuh aku, karena seperti
kamas Pangeran, akupun mempunyai sahabat perwira-perwira kumpeni”
“Pamanda” berkata Juwiring yang sudah tidak dapat menahan hati lagi
“Aku mohon maaf, bahwa jika aku menentang kehendak pamanda, bukan
berarti aku menentang kehendak orang tua. Tua dalam pengertian
darah, karena agaknya umur pamanda tidak jauh di atas umurku. Tetapi
aku terpaksa mencegah pamanda bertindak sewenang-wenang.” Pangeran
Hargasemi tertawa. Katanya “Kau memang belum mengenal aku. Aku
memiliki kemampuan berkelahi melawan kau bertiga. Bahkan lipat dua
sekalipun. Karena itu jangan berusaha mencegah aku” “Pamanda. Apakah
demikian contoh yang pamanda berikan kepada kami, anak-anak muda
ini” Pangeran yang masih muda itu tertawa terbahak-bahak. Suaranya
menggelepar di sepanjang tepi bengawan. Katanya disela derai
tertawanya “Jangan berbicara tentang anak-anak muda, tentang contoh
yang baik dan yang buruk. Sekarang marilah kita berbicara dengan
jujur. Aku ingin gadis itu. Itu adalah pengakuan yang jujur. Dan
anak-anak muda memang harus jujur”“Itukah kejujuran yang pamanda
ajarkan kepada kami? Juga seandainya kami ingin mengambil Kangjeng
Kiai Plered sekalipun. Karena kami ingin jujur, maka kami harus
datang menghadap Kangjeng Susuhunan dan mohon untuk mengambil tombak
itu?“ “Jangan banyak bicara lagi. Kau tidak dapat melawan aku
dipandang dari segala segi. Derajadku lebih tinggi, karena aku
Pangeran. Umurku lebih tua meskipun sedikit, dan ilmuku lebih mantap
dari ilmumu. Nah, kau mau apa. Kau tidak dapat berbuat apa-apa. Aku
adalah seorang Pangeran” Darah Juwiring tiba-tiba telah mendidih.
Meskipun ia menyadari bahwa Pangeran Hargasemi adalah seorang anak
muda yang memiliki ilmu yang hampir sempurna, namun ia tidak
mempunyai jalan lain. Namun sekali lagi tepian itu diguncang oleh
suara tertawa berkepanjangan. Suara itu datang dari sebuah rakit di
pinggir bengawan. Rakit yang tiba-tiba saja berada di tempat itu
tanpa diketahui kapan datangnya. Kini semua mata tertuju kearah
rakit itu. Sebuah pelita minyak terletak di ujungnya. di sebelah
pelita itu duduk seseorang sambil memeluk lututnya. Para bangsawan
yang ada di tepian bengawan itu menjadi termangu-mangu sejenak.
Seolah-olah mereka telah melihat sesuatu yang tidak sewajarnya.
Suara tertawa itupun kemudian mereda. Orang yang berada di dalam
rakit itu masih duduk sambil memeluk lututnya di sebelah Pelita
minyak yang menyala. Pangeran Hargasemi yang merasa dir inya
mempunyai kemampuan yang tanpa tanding di antara para bangsawan
itupun kemudian melangkah maju. Di dekatinya rakit yang berhenti di
pinggir bengawan itu sambil bertanya “Siapakah kau he?”Orang di atas
rakit itu masih belum menjawab ”Siapa kau, dan apakah maksudmu
mengganggu kami yang sedang bermain-main “ “Maaf Pangeran” jawab
orang itu “Bukan maksud kami mengganggu Pangeran yang sedang bermain
bersama para bangsawan muda dar i Surakarta ini. Tetapi aku sangat
tertarik kepada permainan yang tuan lakukan” “Apakah yang telah
menarik perhatianmu?“ “Permainan itu sendiri. Agaknya Pangeran
sedang bermain kekuasaan. di sini ada dua orang anak-anak dari
padesan. Seorang laki-laki dan seorang perempuan. di antara sekian
banyak bangsawan muda, bahkan ada seorang Pangeran yang masih muda
pula, tetapi hanya seorang sajalah yang berpihak kepada kedua anak
padesan itu. Itulah yang menarik. Menurut pendapatku permainan itu
kurang adil. Bagaimana jika jumlah para bangsawan yang ada itu
dibagi. Kemudian beradu binten. Atau bantingan di atas pasir” “Siapa
kau he? Apa kepentinganmu dengan permainan kami ini?“ “Tidak
apa-apa. Tetapi sama sekali t idak adil” “Kau salah. Kami tidak
bersama-sama bermain melawan kedua anak-anak padesan itu. Justru aku
mempersilahkan mereka untuk melawan aku bertiga. Nah, kau dengar”“O,
begitu. Sayang sekali. Seharusnya Pangeran tidak usah menakut-nakuti
mereka dengan kedudukan Pangeran. Mungkin salah seorang dari mereka
akan dapat mengalahkan Pangeran. Tetapi sudah barang tentu mereka
akan segan melakukannya, karena mereka takut akan akibatnya. Apalagi
Pangeran Hargasemi adalah seorang Pangeran yang bersedia duduk di
bawah atas kaki orang-orang asing itu, sehingga dengan demikian
Pangeran akan segera mendapat bantuan mereka apabila diperlukan.
Bahkan menghadapi Pangeran Ranakusuma sekalipun, meskipun Pangeran
Ranakusuma juga seorang Pangeran yang bersedia bekerja bersama
dengan kumpeni. Maksudku, Pangeran Ranakusuma. Bukan Raden Juwiring”
Pangeran Hargasemi benar-benar menjadi bingung menghadapi persoalan
itu. Seakan-akan orang yang duduk di atas rakit itu telah mengenal
mereka seorang demi seorang. Karena itu, maka hatinya menjadi
semakin terbakar. Katanya “Jangan banyak bicara. Jika kau ingin ikut
serta dalam permainan ini, cepat, turun dari rakitmu” Orang itupun
tiba-tiba berdiri. Sekali loncat ia sudah berada di atas pasir.
Dikibaskannya kainnya yang semula diselubungkannya di atas
punggungnya. Namun orang itu masih saja mengenakan tudung-kepala
bambunya yang dianyamruncing. “Gila, kau akan melawan seorang
Pangeran? Meskipun kau mempunyai nyawa rangkap tujuh, tetapi kau
akan menyesal” geramPangeran Hargasemi. “Jangankan seorang Pangeran.
Seorang Rajapun wajib dilawan j ika ia berbuat salah dan apalagi
sewenang-wenang” “Persetan. Aku akan membunuhmu dan melemparkan
mayatmu ke dalambengawan” “Aku hidup di bengawan, dan mencari
penghidupan dibengawan itu pula. Aku adalah tukang satang
yangmendapat upah karena menyeberangkan orang lain yang ingin
melintasi bengawan. Jika aku kemudian mati dibengawan itu pula,
artinya aku sudah bersatu dengan bengawan itu” “Persetan” bentak
Pangeran Hargasemi “bersiaplah” “Baik Pangeran. Aku sudah siap”
Pangeran Hargasemi yang marah sama sekali tidak dapat mengendalikan
dir inya lagi. Sebagai seorang anak muda yang berilmu, maka iapun t
idak ragu-ragu lagi menghadapi lawannya, seorang tukang satang.
Karena itu, maka iapun segera meloncat menyerang tukang satang yang
telah berani mengganggunya itu. Namun Pangeran Hargasemi itu
terkejut bukan buatan. Serangan yang dilambar i dengan kemarahan
yang meluap itu sama sekali tidak berhasil menyentuh lawannya.
Bahkan hampir tanpa diketahuinya, lawannya telah beringsut di
sisinya sambil berkata “Ilmu Pangeran memang dahsyat sekali. Pantas
Pangeran berani menantang anak-anak itu untuk melawan bertiga”
“Tutup mulutmu” Pangeran Hargasemi berteriak. Tetapi orang itu
justru tertawa sambil berkata “Jangan marah. Aku berkata sebenarnya.
Kau memang memiliki kemampuan yang luar biasa dibanding dengan usia
Pangeran yang muda itu” Pangeran Hargasemi tidak menjawab. Tetapi ia
menyerang semakin dahsyat. Namun serangannya itu bagaikan sia-sia
saja. Malam yang gelap itu seakan-akan menjadi semakin gelap,
sehingga kadang-kadang ia telah kehilangan lawannya. Dan tiba-tiba
saja lawannya itu telah berada di belakangnya atau di sampingnya
sambil tertawa pendek.Sikap itu benar menyakitkan hatinya. Kemarahan
yang melonjak- lonjak di dadanya membuat Pangeran Hargasemi semakin
kehilangan pengendalian dir i. Namun demikian, ia sama sekali tidak
berdaya menghadapi lawannya. Seorang tukang satang. Para bangsawan
yang memperhatikan perkelahian itu menjadi termangu-mangu. Merekapun
menyadari, bahwa Pangeran Hargasemi tidak mampu mengimbangi lawnnya.
Sekali-sekali mereka terpaksa menahan nafas jika mereka melihat
Pangeran Hargasemi kehilangan lawannya. Namun dengan sangat
terperanjat meloncat memutar tubuhnya ketika ia sadar bahwa lawannya
sudah berada di belakangnya. Semakin lama semakin ternyata bahwa
Pangeran Hargasemi bukan lawan orang yang menyebut dirinya tukang
satang itu. Nafas Pangeran muda itu menjadi terengah-engah dan
bahkan rasa-rasanya telah terputus di kerongkongan. Sedang orang
yang menyebut dirinya tukang satang itu masih tetap segar dan
sekali-sekali masih terdengar suara tertawanya. “Nah” katanya
kemudian “Apakah Pangeran masih akan bermain lebih lama lagi?“
“Persetan” geram Pangeran Hargasemi disela-sela nafasnya yang hampir
terputus. “Aku rasa permainan kita sudah cukup lama. Karena itu,
sebaiknya kita mengakhir inya saja” berkata tukang satang itu
kemudian “Tetapi dengan syarat. Jangan ganggu anak-anak Jati Aking
itu. Kedua anak padesan yang kau anggap tidak berharga, bahkan dapat
dihinakan seperti yang sudah kau lakukan, dan yang seorang adalah
kemanakanmu sendir i. Raden Juwiring. Jika kau berjanji, aku tidak
akan berbuat apa- apa” “Gila, itu urusanku” “Berjanjilah dengan
janji jantan”“Itu urusanku” “Bukankah kau telah berjanj i akan
berlaku sebagai seorang laki- laki? Seorang laki-laki akan mengakui
kenyataan yang dihadapinya. Jika ia kalah, ia akan mengaku kalah”
“Bukan aku yang berjanji” “Baik” geram tukang satang “Jika demikian,
kau akan aku singkirkan dari tepian ini. Aku akan mengikatmu di atas
rakit dan menghanyutkannya. Aku tidak tahu, apakah kau akan terbawa
oleh arus bengawan itu sampai ke laut” “Gila” “Berjanjilah” “Aku
tidak peduli” Dan sebelum mulutnya terkatup rapat, maka tiba-tiba
saja rasa-rasanya tangannya akan patah terpilin. Sambil menyeringai
Pangeran Hargasemi mencoba untuk melepaskan diri. Namun rasa-rasanya
himpitan tangan itu justru menjadi semakin kuat, bagaikan akan
meremukkan tulang. “Pangeran, berjanjilah bahwa Pangeran tidak akan
mengganggu anak-anak Jati Aking itu” “Siapa kau? Siapa kau he?“
bertanya Pangeran Hargasemi. “Siapapun aku, tetapi berjanjilah”
“Katakan, siapa kau” suaranya terputus oleh himpitan rasa sakit.
“Sudah aku katakan, siapa aku tidak penting. Yang penting harus
berjanji” Pangeran Hargasemi tidak dapat menahan rasa sakit di
tangannya. Karena itu, maka betapapun beratnya ia akhirnya berkata
“Karena kegilaanmu saja maka aku terpaksa memenuhinya”“Terima kasih.
Apapun alasannya. Aku percaya bahwa kata- kata yang Pangeran ucapkan
ini adalah kata-kata seorang laki- laki. Ter lebih- lebih lagi
kata-kata seorang kesatria” Perlahan-lahan tangan yang terpilin
itupun dilepaskannya. Dan sambil menyeringai Pangeran Hargasemi
memij it tangannya yang kesakitan itu. Namun tiba-tiba ia berkata
“He tukang satang. Apakah kau sangka bahwa kau dapat melawan kami
semuanya?“ Tukang satang itu terkejut. Dengan heran ia bertanya
“Apakah maksud Pangeran?“ “Aku dapat memerintahkan kemanakanku untuk
mengepung dan menangkapmu” “Itu tidak mungkin. Itu tidak jantan”
“Aku tidak peduli. Tetapi kau harus ditangkap karena kau berani
melawan seorang Pangeran yang berkuasa di Surakarta ini” Tukang
satang itu termangu-mangu sejenak. Lalu “Jadi, maksud Pangeran,
Pangeran akan ingkar janji” “Jika per lu. Untuk menegakkan kedamaian
di Surakarta” Sejenak tukang satang itu berdiam dir i. Namun
kemudian “Suatu masa yang suram benar-benar telah melanda Surakarta.
Seorang bangsawan tertinggi di Surakarta sudah tidak memenuhi janj
inya. Ini adalah pertanda yang buruk bagi kerajaan yang sudah rapuh
ini. Sebentar lagi pasar akan kehilangan gemanya, dan telaga akan
kehilangan mata airnya. Surakarta akan menjadi suatu kerajaan yang
miskin. Bukan miskin harta benda karena justru akan datang
berlimpah, tetapi miskin harga diri, terutama harga dir i sebagai
suatu bangsa”Kata-kata itu terasa menyentuh hati para bangsawan itu.
Sejenak mereka termangu-mangu. Namun yang sejenak itu telah membuat
setiap dada rasa-rasanya menggelepar. Tetapi ternyata bahwa Pangeran
Hargasemi sama sekali tidak mau mendengar kata-kata di sudut hatinya
yang paling dalam. Bahkan ia berteriak “Aku akan menyeretmu
menghadap kumpeni yang akan menyuapimu dengan peluru. Meskipun kau
mempunyai aji tameng waja-sekalipun, kau tidak akan dapat
menghindarkan diri dari maut ” Tetapi tukang patang itu menggeleng.
Katanya “Tidak. Peluru bagiku tidak lebih berbahaya dari sebilah
keris yang baik. Ujung peluru t idak akan mampu melubangi tudung
kepalaku yang terbuat dari bambu ini. Tetapi keris yang baik, atau
tombak Kiai Baru misalnya, akan dapat menyobek kulitku” Pangeran
Hargasemi termangu-mangu sejenak. Dan tukang satang itu berkata lagi
“Pangeran. Aku menjadi heran. Pangeran adalah seorang yang berilmu.
Seharusnya Pangeran mengetahui, bahwa kita tidak perlu merasa dir i
kita kecil menghadapi peluru. Seharusnya Pangeran mengetahui bahwa
kita dapat melindungi diri kita terhadap keganasan peluru itu”
Sejenak Pangeran Hargasemi terdiam. Sekilas terbayang
kekuatan-kekuatan gaib yang pernah dimiliki oleh para bangsawan di
Surakarta. Para prajurit dan penghuni-penghuni padepokan yang
tersebar. Meskipun mereka tidak kebal sekalipun, namun mereka
mempunyai kemampuan untuk melawan peluru. Kecepatan tangan mereka
melontarkan pisau-pisau kecil dan ketepatan bidik mereka, sama
sekali tidak kalah dari ketangkasan peluru kumpeni. Tetapi ketika ia
menyadari, bahwa ia berdir i di antara para bangsawan muda, dan
ketika ia menyadari kekalahannya melawan tukang satang itu,
kemarahannya telah membakar jantungnya kembali. Dan sekali lagi ia
berteriak “Tangkap tukang satang itu”Para bangsawan muda itu menjadi
ragu-ragu. Mereka menyadari bahwa tukang satang itu memiliki ilmu
yang luar biasa, sehingga untuk menangkapnya bukanlah suatu
pekerjaan yang mudah. Namun terdengar sekali lagi perintah Pangeran
Hargasemi “Tangkap orang itu. Aku akan melumpuhkannya, sementara
kalian mengepung agar ia tidak dapat lari. Kalian dapat menyerang
dari segala arah, dan kemudian menangkap dan menyeretnya, agar tidak
menjadi kebiasaan tukang satang untuk menentang para bangsawan”
Sekilas tampak tukang satang itu berdiri seakan-akan membeku. Namun
kemudian ia berkata “Jangan memaksa aku melakukan per lawanan.
Kalian harus menyadari, bahwa kalian adalah anak-anak ingusan yang
merasa dirinya mampu melangkahi gunung Kelut. Jika aku terpaksa
berkelahi melawan kalian, maka anak-anak Jati Aking itu tentu akan
berpihak kepadaku. Kami berempat akan membuat kalian tidak dapat
bangkit lagi sampai matahari terbit besok dan membiarkan kalian
terbaring di tepian ini” “Kalian akan digantung karena perbuatan
itu” desis seorang bangsawan yang bertubuh kecil. “Kalian tidak akan
dapat menemukan aku” “Kami akan menangkap semua tukang satang di
Surakarta” Tukang satang itu tertawa. Katanya “Kalian tentu tidak
akan dapat menemukan aku. Mungkin rakitku. Tetapi sesudah ini untuk
beberapa lamanya aku tidak akan turun ke bengawan. Aku akan
menghindari penangkapan yang memang mungkin saja kalian lakukan”
“Gila. Kau mengorbankan kawan-kawanmu untuk keselamatanmu” “Bukan
maksudku. Tetapi jika demikian, kalianlah yang bertindak
sewenang-wenang”Pangeran Hargasemi termenung sejenak. Namun kemudian
katanya “Dan kau akan mati kelaparan karena kau tidak mendapatkan
nafkah untuk waktu yang panjang, karena setiap kali kami akan
mencarimu” “Ada beberapa alasan. Pangeran tidak mengenal aku dengan
baik. Ada berpuluh-puluh orang tukang satang yang berpakaian seperti
aku. Kemudian, aku tidak akan kelaparan meskipun aku tidak turun ke
bengawan untuk waktu yang lama, karena aku juga seorang petani yang
dapat hidup dari hasil sawahku. Apakah dengan demikian Pangeran juga
akan menangkap semua petani di Surakarta? Atau barangkali di daerah
yang lebih sempit, aku adalah petani dari Sukawati” Pengakuan itu
bagaikan guruh yang meledak di atas tepian. Anak-anak dari Jati
Aking itu terkejut bukan buatan. Mereka sudah pernah mengenal petani
dari Sukawati. Tetapi tiba-tiba saja di malam hari mereka sama
sekali t idak dapat mengenalnya. Karena itu maka merekapun segera
mencoba untuk mengamatinya di dalam gelapnya malam. Tetapi,
rasa-rasanya orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati ini
memang agak lain. Orang ini agaknya lebih pendek sedikit dari orang
yang dikenalnya bernama petani dari Sukawati itu. “Tudung kepalanya
yang tinggi itulah barangkali yang membuat ia agak lain. Biasanya ia
memakai caping yang rendah” berkata Juwir ing di dalamhatinya. Namun
dalam pada itu bukan saja ketiga anak-anak Jati Aking itu yang
terkejut mendengar pengakuan tukang satang yang menyebut dirinya
juga sebagai petani dari Sukawati. Beberapa orang di antara mereka
pernah mendengar nama itu. Pernah mendengar seseorang menyebut
dirinya petani dari Sukawati tanpa menyebut nama sebenarnya. Rudira
yang pertama-tama menjumpainya pernah berceritera kepada
saudara-saudaranya tentang orang yang menyebut dirinya petani dari
Sukawati itu.Karena itu, maka dada mereka menjadi semakin
berdebaran. Pangeran Hargasemi yang merasa dirinya paling tua di
antara para bangsawan kemanakannya itupun berdiri termangu-mangu
untuk beberapa lamanya. “Nah Pangeran” berkata petani dari Sukawati
“Pangeran dapat menangkap semua petani dari Sukawati. Tetapi kami
adalah rakyat yang tinggal di dalam daerah kalenggahan Pangeran
Mangkubumi. Karena itulah maka setiap tindakan terhadap kami, para
petani dari Sukawati, Pangeran harus mempersoalkannya lebih dahulu
dengan Pangeran Mangkubumi” Pangeran Hargasemi masih tetap berdiam
diri. Ia menjadi bingung menghadapi keadaan yang tidak terduga-duga
itu. Karena itu, maka untuk beberapa lamanya ia berdiri saja seperti
patung. Dalam pada itu, terdengar tukang satang yang juga menyebut
dirinya petani dari Sukawati itu berkata “Sudahlah Pangeran. Kita
hentikan persoalan ini sampai di sini. Biarlah anak-anak Jati Aking
itu pergi tanpa diganggu dan tanpa mengganggu Pangeran dan para
bangsawan-bangsawan muda yang lain. Akupun akan minta diri.
Mudah-mudahan Pangeran tidak membuka persoalan dengan kakanda
Pangeran, yang mempunyai kalenggahan di daerah Sukawati itu. Jika
Pangeran berurusan dengan Pangeran Mangkubumi, maka Pangeran agaknya
akan menyesal, karena Pangeran sudah mengetahui sikap dan pendirian
Pangeran Mangkubumi” Pangeran Hargasemi sama sekali tidak menjawab.
Dan orang itu berkata kepada Juwiring “Nah Raden Juwir ing. Bawalah
kedua anak itu kembali. Udara malam di pinggir bengawan ini agaknya
kurang baik bagi mereka dan bagi Raden Juwiring sendiri” Juwiring
menjadi ragu-ragu sejenak. Namun orang itu berkata “Silahkan. Akupun
akan pergi dari tempat ini. Mungkinmalam ini aku masih menemukan
satu dua orang kemalaman yang akan menyeberang” Juwiring yang
termangu-mangu itupun kemudian menjawab “Ter ima kasih” Orang itu
tertawa. Katanya “Selamat malam” Lalu kepada Pangeran Hargasemi ia
berkata “Ingat, jangan ganggu lagi anak-anak itu. Selamat malam”
Tukang satang itupun kemudian melangkah surut beberapa langkah.
Kemudian iapun meloncat dan ber lari di tepian yang basah kembali
kerakitnya. Namun beberapa langkah kemudian ia berhenti sebelum ia
meloncat ke atas rakitnya. Sejenak ia termangu-mangu. Lalu sambil
berpaling ke dalam kegelapan ia berkata “He, kenapa kau berada di
situ?“ Semua orang yang melihatnya berpaling pula kearah pandangan
mata tukang satang itu. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu.
“Baiklah” berkata tukang-satang itu “Aku akan pergi lebih dahulu”
Tukang satang yang juga menyebut dirinya petani dari Sukawati itupun
kemudian meloncat ke atas rakit. Demikian lincahnya, sehingga rakit
yang berada di atas air itu seakan- akan sama sekali tidak
terguncang oleh loncatannya. Bahkan lampu minyak yang berada di atas
rakit itupun masih tetap menyala berkeredipan di dalam gelap.
Sepercik cahayanya yang jatuh di atas air bengawan yang berwarna
lumpur itu memantul kekemerah-merahan. Dalam pada itu, ketika tukang
satang itu sudah berada di atas rakitnya, Pangeran Hargasemipun
mengumpat sambil bergeremang “Gila. Orang gila” Lalu tiba-tiba
katanya kepada Juwiring “Kau sangka aku akan melepaskan kalian
pergi. Meskipun tukang satang itu akan kembali, namun kami akan
menangkap kalian bertiga. Aku akan menyelesaikannya dengan kamas
Ranakusuma. Agaknya kau merasa bahwaSenapati perang seperti kamas
Ranakusuma itu akan dapat membebaskan kau dari kesalahanmu kali ini”
Raden Juwiring termangu-mangu. Tanpa sesadarnya ia memandang tukang
satang yang masih ada di atas getek di tepi bengawan. “Kau mengharap
bantuannya? Aku tidak peduli siapakah petani dari Sukawati itu.
Namanya sesaat dapat mempesona kami. Tetapi jika ia turun lagi ke
tepian, kami akan menangkapnya juga” “Gila” berkata Juwiring di
dalam hatinya “Pamanda Hargasemi memang licik sekali” “Nah, daripada
kau harus mengalami nasib yang jelek. Menyerahlah” Tetapi Juwiring,
Buntal dan Arum justru mempersiapkan dirinya menghadapi kemungkinan
yang dapat terjadi. Dalam pada itu, terdengar suara tukang satang
dari. atas rakitnya “Jadi kalian tidak mau mendengar kata-kataku?“
“Persetan“ Tukang satang itu masih berdiri tegak di dekat lampu
minyak yang berkeredipan disentuh angin. Namun sebelum ia berkata
sesuatu, sekali lagi para bangsawan itu terkejut. Mereka melihat
seseorang melangkah mendekat. di dalam gelap, mereka hanya melihat
sebuah bayangan yang kehitam- hitaman. “Kalian benar-benar licik dan
pengecut” berkata bayangan itu. “Siapa lagi kau?“ bertanya Pangeran
Hargasemi “ternyata kalian datang bukan seorang diri. Dan kalianpun
akan digantung di alun-alun. Semuanya. He, apakah masih ada yang
bersembunyi?“ “Tidak pamanda. Tidak ada yang bersembunyi”“O, siapa
kau?“ Bayangan itu mendekat. Beberapa langkah di hadapan Pangeran
Hargasemi ia berhenti dan berkata “Apakah pamanda tidak mengenal aku
lagi?“ Sejenak Pangeran Hargasemi memandang orang itu dengan
saksama. Tetapi malam menjadi bertambah gelap. Karena itu ia tidak
segera mengenalnya. “Seharusnya pamanda tidak lupa kepadaku.
Bukankah belum terlalu lama aku meninggalkan Surakarta. Barangkali
adimas Juwiring lebih lama berada di Jati Aking dar ipada aku”
“Siapa kau, siapa?“ “Said. Apakah pamanda mengenal nama itu” “He“
jantung Pangeran Hargasemi seakan-akan berhenti berdetak.
Lamat-lamat ia mendengar tukang satang itu tertawa. Tetapi kini
hatinya dicengkam oleh orang yang berdiri dihadapannya itu. “Apakah
pamanda mengenal aku” “Said, Said” suara itu terdengar bergetar. Dan
tiba-tiba saja ia menjadi pucat, seperti bangsawan-bangsawan yang
lain.“Maaf pamanda, bahwa aku tiba-tiba saja telah mengganggu.
Adalah kebetulan saja aku berada di tempat ini” Pangeran Hargasemi
tidak segera menjawab. Dipandanginya bayangan itu dengan saksama.
Dan sebenarnyalah bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Raden Mas
Said. “Pamanda” berkata Raden Mas Said “permainan pamanda
benar-benar mengerikan. Apalagi pamanda sudah mendapat peringatan
dari pamanda. eh, maksudku tukang satang itu” “Kau kenal tukang
satang itu?“ bertanya Pangeran Hargasemi. “Tidak pamanda. Tetapi
siapapun orang itu, namun ia bersikap jantan. Dan pamanda harus
menghargainya” “Tetapi, tetapi apa sangkut pautmu dengan permainanku
ini?“ “Permainan yang menyangkut nama baik kita semua. Sikap pamanda
tidak mencerminkan sikap seorang bangsawan yang baik. Karena itu,
seharusnya pamanda tidak melakukannya” Pangeran Hargasemi menggeram.
Katanya “Said, kau ternyata telah berkhianat terhadap Surakarta.
Jika kehadiranmu di sini diketahui oleh kumpeni, maka kau akan
ditembak mati tanpa ampun” “Jika mereka dapat melakukan, tentu sudah
mereka lakukan” “Kau licik sekali. Tetapi bukankah kau sudah
berjanji kepada kamas Pangeran Mangkubumi untuk tidak membuat
kerusuhan lagi?“ “Ya. Aku sudah menyatakan kepada pamanda Pangeran
Mangkubumi. Pamanda Pangeran Mangkubumi adalah orang yang sempurna
bagiku. Ia seorang yang menjunjung tinggi perikemanusiaan. Dari
sudut itulah terutama pandanganPangeran Mangkubumi, kenapa ia
menghentikan pemberontakanku. Pangeran Mangkubumi melihat korban
semakin berjatuhan di kedua belah pihak, sedang tujuanku
rasa-rasanya masih sangat jauh. Tetapi sudah barang tentu bukan
maksud pamanda Mangkubumi menentang cita-citaku. Dan itu aku pahami,
karena sebenarnya Pangeran Mangkubumi juga mempunyai pendirian yang
sama. Tetapi karena kematangannya berpikir, maka perhitungannya jauh
lebih cermat dari padaku. Dan itu aku akui” Raden Mas Said berhenti
sejenak, lalu “Tetapi jika aku berjanji kepada pamanda Pangeran
untuk menghentikan gerakanku untuk sementara, bukan berarti aku
harus membiarkan pamanda Pangeran Hargasemi untuk berbuat
sewenang-wenang, karena aku tahu, bahwa pamanda Pangeran
Mangkubumipun membenci tingkah laku yang demikian” “Bohong. Jika
kamas Pangeran Mangkubumi melihat kau ada di sini, maka kau akan
ditangkapnya. Kau tidak akan dapat menghindari tangannya yang
bagaikan memiliki kemampuan seribu pasang tangan” “Dan pamanda
memiliki aji pameling dan penggendam. Jika pamanda menghendaki,
pamanda dapat menangkap aku sekarang. Tetapi tidak. Dan aku yakin,
pamanda Pangeran Mangkubumi mengetahui, bahwa aku ada di sini. Nah,
sekarang sebaiknya pamanda Pangeran Hargasemi membiarkan adimas
Juwir ing dan kedua anak-anak muda Jati Aking itu meninggalkan arena
permainan pamanda yang memuakkan ini. Berbeda dengan pamanda
Pangeran Mangkubumi, aku adalah seorang yang kasar dan barangkali
pamanda Pangeran Hargasemi akan menyebutku liar. Tetapi tidak apa.
Pamanda Pangeran Mangkubumi akan berbuat dengan bijaksana. Tetapi
mungkin aku akan berbuat lain. Aku akan mematahkan lengan pamanda
Hargasemi dan barangkali melemparkan salah seorang dari kamas atau
dimas yang ada di sini ke dalambengawan”Ancaman itu benar-benar
telah mendebarkan jantung. Pangeran Hargasemi yang merasa dirinya
mumpuni itupun tiba-tiba telah menjadi gemetar. Raden Mas Said
memang dapat berbuat apa saja seperti yang dikatakan. Apalagi
apabila di dalam gelapnya malam, di balik pepohonan di pinggir
bengawan itu bersembunyi orang-orangnya. Meskipun menurut
penglihatan sehari-hari Raden Mas Said sudah tidak berbuat apa-apa
lagi, tetapi ternyata pada suatu saat ia masih mungkin melakukan
suatu tindakan yang berbahaya. “Pamanda Pangeran” berkata Raden Mas
Said “Aku tahu benar, siapakah pamanda ini. Pamanda adalah sahabat
kumpeni yang paling baik. Karena itu, sebenarnya bagi aku, adalah
cukup alasan untuk melemparkan pamanda ke dalam bengawan. Tetapi
sebaiknya aku mengingat pesan pamanda Mangkubumi, bahwa masih dicar
i jalan yang lebih baik untuk mengungkat harga diri kita sebagai
bangsa di mata orang asing itu. Dan aku sebaiknya tidak berbuat
sesuatu yang merugikan usaha pamanda Pangeran Mangkubumi. Tetapi
jika usaha itu gagal, Pangeran Mangkubumi yang berwatak air dan api
itu, akan dapat bertindak dengan dahsyat sekali. Air adalah
kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia,
demikian juga api. Tetapi jika air itu datang bagaikan banjir
bandang, dan api menyambar bagaikan lidah langit yang menyala, maka
manusia adalah mahluk yang sangat lemah menghadapinya” Kata-kata itu
benar-benar telah melumpuhkan hati bangsawan-bangsawan muda yang ada
di pinggir bengawan itu. Bahkan Pangeran Hargasemipun sama sekali
tidak berdaya menghadapi ancaman itu. Maka iapun kemudian
menundukkan kepalanya dengan lesu. “Sudahlah paman” berkata Raden
Mas Said ”aku tidak dapat terlalu lama bersada di sini. Tetapi
biarlah aku menyaksikan adimas Juwiring meninggalkan tempat ini
bersama kedua anak-anak muda dari Jati Aking itu” lalukatanya kepada
Juwiring “tinggalkan tempat ini adimas. Bawalah Buntal dan
Arumbersamamu” Juwiring mengerutkan keningnya. Ternyata Raden Mas
Said itu mengenal nama Buntal dan Arum. Tetapi Juwir ing tidak
sempat bertanya. Karena Said berkata “Cepat, sebelum ada sikap yang
dapat membakar dadaku, dan membuat aku kehilangan kekang atas diriku
sendiri menghadapi bangsawan- bangsawan cengeng itu” Juwiring menar
ik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Terima kasih kamas. Aku minta
dir i” “Kembalilah kepada pamanda Ranakusuma. Katakan kepada pamanda
Ranakusuma, apa yang kau lihat di sini. Bukan maksudku menentang
pamanda Ranakusuma, Senapati yang sulit dicari tandingnya di
peperangan. Tetapi sekedar mohon agar pamanda Ranakusuma menjadi
lebih mengerti menghadapi pengkhianat-pengkhianat seperti aku ini”
Juwiring menjadi berdebar-debar. “Pergilah adimas. Mudah-mudahan kau
menjadi sumber kesadaran pamanda Ranakusuma, bahwa sebenarnyalah ia
sebangsa dengan aku dan dengan pamanda Pangeran Mangkubumi. Meskipun
ia seorang Senapati yang pilih tanding, tetapi aku masih berharap
bahwa pada suatu saat pamanda Ranakusuma menyadari kediriannya”
Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku akan mencoba
kamas” ”Nah, pergilah” Juwiringpun kemudian berpaling kepada Buntal
dan Arum yang menghayati peristiwa itu dengan hati yang tersentak-
sentak. “Marilah kita pergi”Buntal dan Arum tidak menyahut. Namun
hampir di luar sadarnya mereka berpaling memandang ketepi bengawan.
Ternyata rakit yang semula berada di situ dengan sebuah lampu minyak
dan tukang satang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu
sudah t idak ada di tempatnya. “Rakit itu sudah t idak ada” desis
Arum. “Ya” jawab Buntal sambil meloncat ke punggung kudanya. Sejenak
kemudian ketiga ekor kuda itupun berderap meninggalkan tepian yang
basah itu dengan kesan yang aneh di hati ketiga anak-anak muda itu.
“Ternyata di perut kota Surakarta ini tersimpan berbagai macam isi”
desis Arum. “Kau baru melihat sebagian” sahut Juwir ing. “Apalagi
yang penting?“ “Andrawina, kembul dahar dan semacamnya di samping
kemelaratan dan ketakutan. Tetapi juga perjuangan dan usaha yang
tidak henti-hentinya seperti yang baru saja kita lihat” “Ya. Aku
telah salah duga terhadap Surakarta” berkata Arum “ternyata
Surakarta bukan sebuah, lumbung orang- orang yang pasrah, pengecut
dan tamak. Ternyata di sini ada anak-anak muda yang terjaga seperti
Raden Mas Said” “Dengan demikian kita masih mempunyai harapan. Juga
terhadap petani dari Sukawati itu” “Petani yang aneh” desis Buntal
“Apakah keadaan semacam itulah yang dapat disebut seseorang mampu
mencela putra mandala puteri?“ “Mungkin. Tetapi petani dar i
Sukawati itu memang menyimpan seribu kemungkinan”Buntal
mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih berdesis “Apa yang
kita lihat sekarang atas petani dari Sukawati itu ternyata berlainan
dengan yang pernah kita lihat sebelumnya, dan mungkin sekali akan
berbeda dengan yang akan kita lihat kemudian” “Tetapi orang-orang
yang memiliki ketajaman pandangan akan dapat mengenalnya. Tentu
kamas Said dapat mengenalnya pula” “Agaknya memang demikian. Tetapi
apakah Pangeran Hargasemi tidak dapat mengenalnya?“ “Mungkin ia sama
sekali tidak menduga, sehingga ia tidak menghubungkan petani dar i
Sukawati, yang datang sebagai tukang satang itu dengan pamanda
Pangeran Mangkubumi” Buntal mengangguk-angguk. Kekagumannya kepada
para pemimpin yang sebenarnya masih tetap bersikap, menjadi semakin
besar. Meskipun agaknya untuk beberapa langkah di permulaan itu
petani dari Sukawati dan Raden Mas Said tidak sejalan, tetapi
agaknya mereka mempunyai arah yang sama. Dan seperti dikatakan oleh
Raden Mas Said sendir i, Pangeran Mangkubumi mempunyai pertimbangan
yang lebih matang dari pertimbangan seorang anak muda. Demikianlah
merekapun kemudian saling berdiam diri dalam cengkaman angan-angan
masing-masing, sementara kuda-kuda mereka berlari- lari kecil di
jalan kota yang mulai sepi. Lampu- lampu minyak berkeredipan di
sudut-sudut jalan menerangi kota yang menjadi suram. Sementara itu,
di tepi bengawan, Pangeran Hargasemi dan para bangsawan yang lainpun
segera bersiap-siap meninggalkan tempat itu. Mereka dengan hati yang
berdebar- debar melihat Raden Mas Said meninggalkan mereka. “Tukang
satang itu sudah pergi” katanya sambil berpaling “Tetapi jangan
sangka bahwa kau dapat melepaskan diri dari pengawasannya. Petani
dari Sukawati itu adalah orang yangdapat melihat apa yang ingin
dilihatnya. Ia tidak terkekang oleh batas dan tempat” Dada Pangeran
Hargasemi dan kemanakan-kemanakannya menjadi semakin berdebaran.
Tetapi mereka sama sekali tidak menyahut. Baru ketika Raden Mas Said
hilang dari tatapan mata mereka, maka Pangeran Hargasemipun segera
pergi ke kudanya yang diikat agak jauh dari tempat itu. Para
bangsawan yang lainpun setelah mengambil kuda masing- masing segera
mengikutinya. “Aku tidak tahu, siapakah yang curang” geram Pangeran
Hargasemi untuk melontarkan kekecilan diri “Said atau kamas
Mangkubumi. Menurut keterangan kamas Mangkubumi, Said dan
pengikut-pengikutnya sudah tidak akan mengganggu Surakarta lagi”
Salah seorang bangsawan muda yang mengikut i Pangeran Hargasemi itu
berdesis “Apakah petani dari Sukawati itu dapat diserahkan saja
kepada pamanda Pangeran Mangkubumi?“ “Bodoh kau” bentak Pangeran
Hargasemi yang sedang kecewa itu “Kamas Pangeran tentu akan
melindunginya seandainya ia tahu, siapakah orang yang menyebut dir
inya tukang satang itu dan kemudian mengaku pula sebagai petani dari
Sukawati. Dan hal yang serupa ini memang harus dilaporkan kepada
kumpeni. Agaknya Sukawati memiliki orang-orang yang sudah terlatih
dengan baik untuk menghadapi keadaan yang semakin gawat. Dan agaknya
kamas Pangeran Mangkubumi tidak sekedar bermain-main”
Bangsawan-bangsawan muda yang lain tidak menyahut. Ketika Pangeran
Hargasemi kemudian meloncat ke punggung kuda, maka anak-anak muda
itupun segera berpacu meninggalkan tepi bengawan yang menjadi senyap
dan gelap.Ternyata apa yang telah terjadi itu telah menggoncangkan
hati beberapa orang bangsawan muda di Surakarta. Meskipun tanggapan
mereka berbeda-beda. Yang kemudian menjadi persoalan di dalam hati
mereka, justru bukannya Arum dan Buntal yang dengan sengaja telah
mereka lupakan. Yang kemudian selalu terbayang adalah sikap beberapa
orang bangsawan yang terpandang di Surakarta. Paman dan
kemanakan-kemanakan mereka sendiri. Alangkah jauh bedanya, bagaikan
siang dan malam, dan bagaikan langit dan bumi, jika mereka bertemu
dengan saudara sepupu mereka yang bernama Raden Mas Said dan juga
Juwiring yang sudah beberapa lama berada di Jati Aking, dibandingkan
dengan diri mereka sendir i, atau pamanda para bangsawan-bangsawan
muda itu yang lain. Mereka akan tergetar juga hatinya jika mereka
menyebut nama Pangeran Mangkubumi, dan beberapa orang bangsawan yang
dengan tegas menentang kekuasaan kumpeni yang semakin
bertambah-tambah. Beberapa di antara mereka menjadi terguncang.
Mereka mulai berpikir dan menilai dir i sendiri. Apakah yang selama
itu sudah dilakukan? Dan dengan susah payah mereka mencoba
membayangkan sikap Juwiring, meskipun ayahandanya, Pangeran
Ranakusuma adalah seorang yang termasuk dekat dengan kumpeni,
apalagi ibu tirinya, ibu Raden Rudira. Lebih tajam lagi adalah sikap
Raden Mas Said, yang sudah dengan tanpa tedeng aling-aling membuka
medan peperangan melawan kumpeni. Dan lebih dari itu semuanya adalah
sikap Pangeran Mangkubumi yang bagaikan air bengawan yang sangat
dalam. Tegas, dan seakan-akan mengandung kekuatan tersembunyi yang
sulit dijajagi, meskipun dilambari dengan kebijaksanaan yang matang.
Namun justru kekuatan yang matang seperti kematangan sikap dan
kebijaksanaannya itulah yang sangat berbahaya bagi kedudukan kumpeni
di Surakarta. Bukan saja para bangsawan yang bersikap lemah
menghadapi kehadiran orang asing itu karena berbagai macam alasan,
mungkin karena harta benda yang melimpah,mungkin karena didorong
oleh nafsu berkuasa dan pangkat, mungkin oleh keinginan yang lain
lagi yang beribu macam itulah, namun juga Raden Mas Said
kadang-kadang menjadi bingung menghadapi sikap Pangeran Mangkubumi.
Kadang- kadang Raden Mas Said yang muda itu tidak telaten menunggu,
seakan-akan menunggu turunnya hujan dimusim kering. Ketika pada
suatu saat, Raden Mas Said tidak dapat menahan hati lagi, maka ia
memer lukan dengan diam-diam menghadap pamanda Pangeran Mangkubumi
untuk mendapatkan penjelasan tentang sikapnya yang sulit dimengerti
itu. “Pamanda, apakah aku masih harus menunggu?“ bertanya Raden Mas
Said “selama ini aku mematuhi perintah pamanda agar untuk sementara
aku menyingkir. Tetapi sekarang pamanda masih belum berbuat apa-apa
sehingga kumpeni rasa-rasanya menjadi semakin berpengaruh atas
Surakarta” Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Katanya “Said.
Banyak hal yang masih harus dipertimbangkan. Jika aku mengambil
sikap yang keras sebelum aku matang berpikir, maka yang terjadi
adalah sekedar bentrokan tanpa arah. Kita berdua sudah berhasil
menghindarkan diri dari benturan dan adu domba, meskipun kau harus
banyak berkorban karena kau harus menarik diri dari tempat yang
sudah berhasil kau duduki. Namun sementara itu, aku mendapat
kesempatan untuk menyusun kekuatan. Dan dalam masa yang senggang
ini, aku yakin bahwa kaupun mendapat kesempatan serupa. Kau dapat
menyegarkan orang-orangmu. Jika perlu pada suatu saat semuanya akan
dapat melakukan tugas dengan sebaik-baiknya. Sementara ini kita
dapat bersikap seperti keadaan kita selama ini, seolah-olah kita
adalah domba aduan yang saling bertengkar. Sokurlah bahwa ada usaha
lain yang dapat dilakukan selain kekerasan” “Tidak mungkin pamanda.
Tidak akan ada jalan lain”“Said, coba renungkan. Mungkin aku
dipengaruhi oleh sikap yang cengeng sehingga aku tidak dapat
bertindak seperti kau” Pangeran Mangkubumi terdiam sejenak.
Kepalanya tiba-tiba menunduk dalam-dalam, dan suaranya menjadi datar
“Aku menjadi ngeri mendengar ancaman kumpeni dan ancamanmu
akhir-akhir ini” “Maksud pamanda?“ “Said. Ketika anak buahmu
berhasil membinasakan enam orang kumpeni di pinggir kota, bukankah
kumpeni mengeluarkan maklumat, untuk menangkap orang yang membunuh
kumpeni itu. Jika dalam waktu yang ditentukan pembunuh itu tidak
tertangkap, maka kumpeni akan mengambil sepuluh nyawa sebagai ganti
setiap kumpeni yang terbunuh. Dan sepuluh nyawa itu adalah sepuluh
nyawa bangsa kita siapapun mereka. Bersalah atau tidak bersalah” “O“
Raden Mas Said menganggukkan kepalanya ”Aku sudah menjawab pamanda”
“Bagaimana jawabmu?“ “Jika kumpeni melaksanakan ancaman itu, maka
setiap orang bangsa kita yang terbunuh, aku akan mengambil sepuluh
orang sebagai gantinya” “Kumpeni?“ “Ya, atau orang yang berpihak
kepada mereka dan apalagi yang terbukti membantu mereka” Pangeran
Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada yang berat ia
berkata “Said. Aku mengerti caramu berpikir. Mungkin pada suatu
saat, kita tidak dapat menghindarkan dir i dari t indakan serupa
itu. Tetapi sebelum kita kehilangan sepuluh ganda yang tiada akan
henti-hentinya, maka aku akan mencoba menempuh jalan lain” Raden Mas
Said mengerutkan keningnya. Lalu di antara kedua bibirnya ia
berdesis “Maksud pamanda?““Said. Baik sepuluh orang untuk menukar
jiwa seorang kumpeni, maupun kemudian sepuluh orang dari setiap
orang yang terbunuh oleh kumpeni itu, adalah darah. daging kita.
Mungkin mereka adalah pengkhianat-pengkhianat. Mungkin mereka
menodai perjuangan kita untuk menegakkan kebebasan kita. Tetapi
bagiku Said, rasa-rasanya masih terlampau pedih melihat mereka
menjadi sasaran kemarahan kita dan juga sasaran kemarahan kumpeni”
“Jadi maksud pamanda, agar kita bertindak lebih lunak lagi sehingga
semakin banyak orang yang akan berpihak kepada orang asing itu?“
“Tidak Said. Hanya caranya sajalah yang harus kita pertimbangkan
baik-baik. Jika kita dapat memberikan kesadaran kepada rakyat kita
tanpa kekerasan, sehingga mereka merasa bertanggung jawab terhadap
hari depan kita sendiri, maka kita akan berbesar hati” “Pamanda.
Setiap cita-cita harus dilambari kesediaan untuk berkorban. Memang
mungkin akan ada korban yang jatuh. Jika kita hanya sekedar inginkan
cita-cita tanpa berani mengatasi kesulitan, maka tidak ada yang akan
dapat kita capai, karena setiap cita-cita tentu akan menelan
bebanten. Dalam keadaan yang semakin gawat ini, tentu kita tidak
dapat sekedar menunggu. Dan aku minta ij in untuk memulai kembali
perjuangan yang panjang ini paman”“Said. Aku mengerti. Jiwamu yang
muda dan bergolak bagaikan api di kawah Gunung Merapi itu merupakan
penggerak yang utama bagi kita. Tetapi aku minta waktu sedikit lagi.
Mudah-mudahan aku berhasil, atau jika t idak, maka persiapan kitapun
akan menjadi semakin matang. Jika kemudian terpaksa harus jatuh
korban, apaboleh buat” Raden Mas Said menarik nafas dalam-dalam. Ia
sebenarnya tidak sabar lagi menunggu. Tetapi Pangeran Mangkubumi
adalah satu-satunya orang yang disegani di Surakarta Karena itu,
betapa hati menggelegak, namun ia masih tetap menahan diri. Ia masih
harus bersembunyi dan menurut nasehat pamannya, agar ia tidak
berbuat sesuatu. Setiap kali terngiang di telinganya “Said, Jika aku
berhasil memadamkan api yang kau nyalakan, maka aku akan mendapat
banyak kesempatan mempersiapkan Sukawati. Kecurigaan terhadapku akan
berkurang, dan aku dapat menuntut hak resmi atas tanah Sukawati itu.
Bukan karena ketamakanku, bahwa aku mengorbankan cita-citamu sekedar
untuk mendapat tanah kalenggahan yang luas. Tidak. Tetapi yang
penting bahwa aku dan kau akan mendapat kesempatan menempa diri,
itulah yang penting. Dengan persetujuan itu aku mendapat banyak
kesempatan untuk berbuat sesuatu di Sukawati, dan kau sekarang tidak
lagi mendapatkan banyak pengawasan. Karena kau menghentikan
kegiatanmu, maka kumpeni agaknya menganggap bahwa apimu telah hampir
padam” Raden Mas Said hanya menundukkan kepalanya saja. “Marilah
untuk sementara kita tetap dalam sikap kita. Kau pergunakan
kesempatan ini untuk mempersiapkan pasukanmu yang tersebar. Sedang
aku akan mempersiapkan orang- orangku. Jika kumpeni tidak mau
menyadari keadaan, kita akan bergerak dengan kekerasan. Dan apaboleh
buat. Namun sementara ini, aku adalah orang yang berhasil
menghentikan kegiatanmu. Dan aku minta kau menerimanya dengan
rela”Raden Mas Said tidak pernah dapat menolak sikap pamannya itu.
Pamannya memang seorang yang mempertimbangkan perjuangan dari segala
segi. Dan pamannya tidak sampai hati melihat korban berjatuhan dari
hari kehari dan semakin lama semakin berganda. Namun, setelah hal
itu berlaku beberapa saat, ternyata kumpeni tidak juga merubah
sikapnya. Setiap kali kumpeni justru menunjukkan sikap angkuhnya dan
seakan-akan bahwa bangsa yang berkulit putih itu mempunyai martabat
yang lebih tinggi dari bangsa yang berkulit sawo. Dalam pada itu
Pangeran Mangkubumipun sadar, bahwa Raden Mas Said tentu akan
semakin bersakit hati terhadap kumpeni, namun dalam pada itu,
Pangeran Mangkubumi yang melihat kemungkinan yang tipis untuk
merubah keadaan tanpa kekerasanpun telah mempersiapkan diri
sebaik-baiknya. Meskipun demikian, setiap kali Pangeran Mangkubumi
masih diragukan Oleh hubungan kakak beradik dengan Kangjeng
Susuhunan Pakubuwana. Sebagai dua orang bersaudara, Pangeran
Mangkubumi adalah adik yang dekat dari Kangjeng Susuhunan
Pakubuwana. Tetapi dari sikap dan pandangan hidup, mereka semakin
lama seakan-akan menjadi semakin jauh. Raden Mas Said melihat
persoalan yang rumit di dalam diri Pangeran Mangkubumi itu. Darah
mudanyalah yang setiap kali mendorongnya untuk menghadap pamanda
dengan diam- diam. Dan setiap kali ia selalu mempersoalkan keadaan
yang menurut pertimbangannya menjadi semakin suram. “Aku mengerti
Said” jawaban itu selalu didengar oleh Raden Mas Said yang muda.
“Kapan kita akan berbuat sesuatu pamanda. Bukan sekedar pengertian
atas segalanya yang terjadi”“Ya, ya. Kita akan berbuat sesuatu.
Tetapi jika kau memperhatikan keadaan, maka sedikit demi sedikit,
aku berhasil mempengaruhi Kangjeng Susuhunan. Beberapa perkem bangan
sikap terasa sangat menggembirakan” “Tetapi sikap itu tidak terasa
sampai kelapisan yang paling rendah dari rakyat kita paman” Pangeran
Mangkubumi mengangguk-angguk. Lalu katanya “Said. Aku ingin sekali
waktu kau datang ke Sukawati” Demikianlah dalam waktu yang sudah
ditentukan, Pangeran Mangkubumi menunggu kehadiran Raden Mas Said.
Pangeran Mangkubumi tersenyum melihat Raden Mas Said itu datang
sebagai seorang yang berambut putih dan membawa beberapa bilah
keris. “Kemarilah Kiai” berkata Pangeran Mangkubumi “Aku memang
memerlukan sebilah keris dapur Mendarang” Raden Mas Said itupun
tersenyum. Tetapi ia berbisik “Kumpeni menjelajahi padukuhan di
sebelah Timur bengawan” Pangeran Mangkubumi terkejut ”Sebelah Timur
bengawan?“ “Ya paman. Tetapi karena aku telah terlanjur berjanji
untuk datang, akupun datang pula dengan cara ini” Namun sikap
kumpeni itu membuat dada Pangeran Mangkubumi menjadi bergejolak.
Kumpeni sudah menjelajahi daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah
tersinggung. “Mereka mulai cur iga terhadap kediamanku selama ini”
desis Raden Mas Said. “Baiklah Said. Tinggallah di sini beberapa
saat” Dan yang beberapa saat itu dipergunakan oleh Raden Mas Said
sebaik-baiknya. Baru kemudian setelah mengenal serba sedikit atas
tanah Sukawati, ia mengangguk-angguk sambil berkata “Agaknya paman
memang memilikiperhitungan yang jauh lebih matang. Kini aku tahu,
bahwa sebenarnyalah pamanda tidak sedang tertidur di atas Tanah
Sukawati. Maaf pamanda, sebenarnyalah sebelumnya ada dugaanku, bahwa
paman mulai terlena di atas kehijauan sawah Sukawati yang subur ini“
Pangeran Mangkubumi tersenyum. Katanya “Nah, sejak saat ini, kita
memang sudah didesak untuk semakin matang menghadapi keadaan. Jika
kita harus mempergunakan kekerasan, kitapun akan mempergunakannya.
Namun kita harus menyadari, bahwa kita berbuat sesuatu untuk
kemanusiaan aan dilandasi oleh kemanusiaan, sehingga akibat perang
yang terlampau ganas dan menger ikan harus kita hindari sejauh-jauh
dapat kita lakukan” Raden Mas Said meninggalkan Sukawati dengan hati
yang berdebar-debar. Bahkan ia melihat, bukan saja Sukawati yang
telah berhasil dibentuk oleh Pangeran Mangkubumi, namun rakyat di
sekitarnyapun mulai dijalari oleh sikap yang serupa. Sehingga karena
itulah, maka Raden Mas Said justru menjadi semakin mapan menilai
pamandanya, Pangeran Mangkubumi. Dan bahwa sebenarnyalah pamannya
telah menyiapkan diri seperti yang dikatakannya. “Dengan persiapan
yang lebih baik, kita tidak terperosok ke dalam sikap yang bodoh,
seperti serangga terbang ke dalam api” berkata Raden Mas Said di
dalam hatinya. Demikianlah Surakarta benar-benar bagaikan gunung
berapi yang tampaknya tenang dan Agung. Terapi sebenarnyalah
didalamnya bergolak api yang tiada tara panasnya. Dalam pada itu di
dalam kemelutnya keadaan, Pangeran Ranakusuma sebagai seorang
Senapati yang berpengaruh di Surakarta, mendapat banyak
keterangan-angan dan laporan- laporan mengenai keadaan yang buram.
Namun sebenarnyalah Pangeran Ranakusuma sedang menghadapikeadaan
yang buram di dalam dirinya sendiri, di dalam keluarganya. Ternyata
bahwa Rara Warih benar-benar tidak segera dapat dilunakkan hatinya.
Bahkan ia sudah mengancam untuk meninggalkan rumah ayahnya dari
pergi ke rumah eyangnya, jika Juwiring tidak segera pergi
meninggalkan rumah itu. “Warih” berkata ayahandanya “Kau tidak boleh
berkeras hati seperti itu” “Aku akan tinggal bersama ibunda” jawab
Warih “barangkali hal itu akan lebih baik bagiku“ dan tiba-tiba saja
ia bertanya “Kenapa maka ibunda tidak segera kembali ke rumah ini
ayah. Kamas Rudira sudah dipanggil kembali oleh Tuhan. Dan tentu
saja kita tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Ibunda tentu sudah
mulai tenang dan menerima kenyataan ini dengan hati yang lapang”
“Sudahlah War ih. Biar lah ibumu berada di rumah eyangmu untuk
sementara. Jika ia sudah merasa tidak terganggu lagi ketenangannya,
maka ia akan kembali dengan sendirinya” “Ah, bukan begitu ayah.
Tentu ayahanda yang harus menjemput. Bukan ibunda yang datang dengan
sendir inya” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Lalu
“Sudahlah. Sebaiknya kau tidak mengganggu ketenangan ibumu. Kau
harus mencoba bersikap dewasa, Warih. Kau adalah satu-satunya anak
gadisku. Karena itu, kau sangat aku perlukan di sini. Tanpa kau,
maka rumah ini bagaikan halaman yang tidak memiliki sebatang pohon
bungapun. Gersang“ “Tetapi ayah harus menyingkirkan anak padesan
itu” “Ia kakakmu Warih. Tidak ada bedanya dengan Rudira. Jika kau
mendekatkan hatimu, maka kau akan merasakan bahwa ia benar-benar
kakakmu” “Tidak. Aku tidak dapat menerimanya. Ibunya tidak sederajat
dengan ibuku”Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Ia
tidak dapat mengatakan sesuatu yang menggelepar di dalam hatinya,
bahwa derajat seseorang tidak menentukan kelurusan hatinya. Bahwa
Raden Ayu Galih Warit yang lebih tinggi derajatnya dari ibu Juwir
ing tidak menjamin bahwa hatinya lebih putih. “Apakah anak itu harus
mengetahui keadaan ibunya?” Ia bertanya kepada diri sendiri “biarlah
ia mengetahui dengan sendiri. Aku tidak sampai hati mengatakannya.
Jika ia memaksa untuk pergi ke istana eyangnya, mungkin ada juga
baiknya” Ternyata pikiran itu telah mengganggu perasaan Pangeran
Ranakusuma. Bahkan ia telah dicengkam oleh keragu-raguan yang dalam.
Bagi Juwir ing, sikap adiknya itu selalu menggelitiknya. Justru
seakan-akan merupakan tantangan yang harus dijawabnya. Karena itu,
ketika ayahnya sekali lagi bertanya kepadanya, maka Juwir ingpun
menjawab “Ayahanda. Aku akan pergi ke Jati Aking bersama kedua
saudara angkatku. Aku akan membicarakannya dengan Kiai Danatirta,
apakah sebaiknya aku berada di Jati Aking atau di Surakarta”
“Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma “Jika. tidak ada sebab
sebelumnya, jawabmu tidak akan dapat aku terima. Aku adalah ayahmu.
Akulah yang menentukan, sehingga kau tidak perlu bertanya dan
membicarakan dengan siapapun juga. Tetapi aku tidak dapat ingkar,
bahwa selama ini aku bukannya seorang ayah yang baik bagimu,
sehingga akupun tidak berani melarangmu. Pergilah dan sampaikan
salamku kepada Kiai Danatirta. Aku akan minta kau dengan resmi
seperti aku pernah menyerahkan kau kepadanya lewat Ki Dipanala.
Karena itu biarlah Ki Dipanala menyertaimu” Demikianlah maka
Juwiringpun segera mempersiapkan dirinya, Agaknya Buntal dan Arumpun
sudah merindukan padepokannya setelah untuk beberapa hari mereka
berada dikota. Setelah mereka melihat betapa keruhnya udara di atas
kota yang tampaknya semakin gemer lapan itu. Diir ingi oleh Ki
Dipanala merekapun mohon diri kepada Pangeran Ranakusuma untuk
meninggalkan kota dan kembali ke padepokan mereka yang terasa
tenteramdan damai. “Sekali-sekali kalian harus, datang kemari”
berkata Pangeran Ranakusuma. “Terima kasih Pangeran jika hamba
diijinkan untuk sekali- sekali datang kemari. Agaknya hamba berdua
pada suatu saat tentu akan merindukan kota yang ramai ini dengan
segala macam isinya” “Baiklah. Kalian dapat membawa bekal yang sudah
disiapkan oleh Ki Dipanala dan sekedar oleh-oleh buat Kiai
Danatirta. Aku mengharap dalam waktu yang dekat Ki Dipanala kembali
dengan membawa Juwiring serta, meskipun ia seterusnya akan
mondar-mandir antara kota ini dan padepokan Jati Aking seperti yang
aku harapkan, kalianpun berbuat demikian pula” Dengan membawa
beberapa macam pemberian dari Pangeran Ranakusuma, maka anak-anak
Jati Aking itupun segera memacu kudanya, kembali ke padepokan yang
rasa- rasanya sudah terlalu lama mereka tinggalkan. Apalagi Arum,
yang hampir tidak pernah berpisah dengan ayahnya untuk waktu yang
agak panjang, sehingga ketika kudanya sudah berlari di luar regol
kota, rasa-rasanya ia segera ingin bertemu dengan ayahnya itu.
“Selama ini tentu ayah pergi ke sawah seorang diri” katanya. “Tentu
tidak Arum. Beberapa orang cantrik dapat membantunya” “Mereka
kadang-kadang masih belum dapat dipercaya melakukan pekerjaan
penting, sehingga tentu ayah sendiriyang melakukannya. Mereka
bekerja tanpa berpikir selain mempergunakan tenaganya saja” Buntal
mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Rasa-rasanya
perjalanan kembali ke padepokan Jati Aking itu terlampau lama lagi
Arum. Namun kesegaran udara padesan membuatnya segar setelah untuk
beberapa lama, rasa-rasanya nafasnya tercekik oleh kehidupan kota.
Semula Arum berpendapat, bahwa orang-orang kota, terutama para
bangsawan adalah orang-orang yang hidup dengan ikatan- ikatan yang
membatasi gerak dan tingkah laku mereka, sehingga mereka adalah
orang-orang yang sopan, lembut dan bahkan hampir tidak berbuat
sesuatu jika tidak perlu. Juwiring merupakan contoh gambaran tentang
para bangsawan. Menurut Arum, Juwiring adalah bangsawan yang
tersisih dan sudah lama hidup di padesan sehingga bangsawan yang
tinggal di kota tentu lebih lembut dan beradab dari padanya. Namun
ternyata ia keliru. Kota yang kaya itu adalah kota yang dipenuhi
dengan nafas yang kotor dan kasar. Beberapa bangsawan yang
dijumpainya di pinggir bengawan ternyata mempunyai sifat dan watak
yang jauh lebih kasar dari para petani. Para petani betapapun
kasarnya, namun pada umumnya memiliki kejujuran. Tetapi tidak bagi
mereka yang ada di pinggir bengawan itu. Namun betapapun lambatnya
menurut perasaan Arum, kuda-kuda itupun semakin lama menjadi semakin
dekat dengan Jati Aking. Sekali-sekali mereka memang perlu
beristirahat dan memberi kesempatan kepada kuda-kuda mereka yang
berpacu itu untuk meneguk air bening di par it yang mengalir di
pinggir jalan, dan makan rerumputan hijau yang segar. Dalam pada
itu, ternyata Rara Warih di Surakarta, tidak dapat dicegah lagi oleh
ayahandanya. Dengan keras ia memaksa untuk pergi ke rumah
kakeknya.“Sebaiknya kau berpikir lebih jernih lagi Warih” berkata
ayahnya “Kau jangan membuat ibundamu semakin bersedih” “Bukan aku.
Tetapi ayahanda” “Kenapa aku Warih” “Ayahanda menyuruh anak Jati
Aking itu untuk kembali lagi kemari. Bahkan ayahanda menyertakan Ki
Dipanala untuk menyampaikannya kepada gurunya agar ia diperkenankan
kembali. Sudah aku katakan ayahanda, bahwa aku tidak dapat
menerimanya di rumah ini seperti yang pernah dikatakan oleh ibunda.
Apalagi sepeninggal kamas Rudira. Anak itu tentu merasa menjadi raja
di rumah ini, dan aku adalah sekedar inang pengasuhnya” “Jangan
berprasangka Warih. Juwiring sudah biasa berprihatin sejak kecil. ia
tidak akan berbuat seperti itu” “Aku harus mendengar pendapat ibunda
dahulu ayahanda“ Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam Dan
karena ia tidak dapat mencegah lagi, maka diperintahkannya
menyiapkan kereta untuk mengantarkan Warih ke rumah kakeknya.
Kedatangan Warih seorang diri telah mengejutkan eyangnya, Pangeran
Sindurata, sehingga dengan tergesa-gesa ia menyongsong cucunya yang
dikasihinya itu. “Warih, kau sendiri?“ bertanya Pangeran Sindurata.
Warih merendah sedikit sambil menjawab “Ya eyang”“Dimana ayahmu?“
“Ayah ada di rumah, eyang” “Jadi ia sampai hati melepaskan kau
sendiri?“ “Sebenarnya ayahanda berkeberatan aku datang kemar i.
Tetapi aku telah memaksa. Dan ayahanda tidak mengantarkan aku selain
memerintahkan menyiapkan kereta dan saisnya” “O” Pangeran Sindurata
menar ik nafas dalam-dalam, lalu “Marilah masuklah” Warihpun
kemudian mengikuti Pangeran Sindurata masuk ke dalam. Sejenak ia
termangu-mangu, lalu iapun bertanya seolah-olah di luar sadarnya
“Dimanakah ibunda?“ Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam.
Lalu “Duduklah dahulu. Bibimu ada di sini” “Bibi?“ “Ya” sahut
eyangnya. Dan sebelum ia meninggalkan Warih seorang perempuan
bangsawan telah muncul dari balik pintu. Ia adalah adik kandung
Raden Ayu Galihwarit yang mempunyai hubungan gelap dengan Pangeran
Ranakusuma. “Kau Warih “ sapanya sambil tersenyum. Warihpun tertawa
sambil menyahut “Ya bibi. Sudah lama bibi datang?“ “Sudah tiga har i
aku berada di sini. Aku mengawani ibumu Warih” “O” Ia berdesis
“Apakah ibunda masih belum sembuh dari kejutan itu” Bibinya tidak
segera menyahut. Tetapi iapun kemudian duduk di sisi Warih sambil
berkata “Duduklah dahulu. Biarlah para pelayan menghidangkan
minuman. Kau tentu haus”“Ya, duduklah dahulu Warih” berkata Pangeran
Sindurata “Aku akan ke pendapa” Pangeran Sinduratapun kemudian pergi
ke pendapa dengan hati yang berdebar-debar. Jika Warih berkeras
untuk menjumpai ibundanya, maka gadis itu akan menjumpai kekecewaan.
Meskipun kadang-kadang Raden Ayu Galih War it sudah cukup sadar,
namun kejutan yang kecil saja dapat membuatnya kambuh kembali dan
mengigau tanpa terkendali. Jika ia melihat Warih, maka kemungkinan
itu akan dapat terjadi, karena Warih akan menuntun kenangannya atas
Raden Rudira, yang mati di hadapan hidungnya tanpa diketahuinya.
Bahkan di dalam saat-saat tertentu Galih Warit telah merasa
bersalah, seolah-olah ia sendir ilah yang telah membunuhnya. Dengan
kepala tunduk Pangeran Sindurata itu berjalan di sepanjang tangga
pendapa. Hatinya yang gelisah membuatnya bimbang, seakan-akan
hari-harinya telah menjadi gelap. Pangeran Sindurata terkejut ketika
t iba-tiba saja ia melihat seseorang berjongkok di bawah tangga.
Sambil menyembah orang itu berkata terbata-bata “Ampun Pangeran.
Apakah hamba harus menunggu cucunda atau hamba sudah diperkenankan
mendahului kembali ke Ranakusuman?“ Pangeran Sindurata mengerutkan
keningnya. Dipandanginya sais itu sejenak, lalu iapun bertanya
“Siapa kau?“ “Hamba adalah sais kereta Pangeran Ranakusuma yang
mengantarkan puteri kemar i?“ “O, kau yang mengantarkan Warih?“
“Hamba Pangeran” “Pergilah. Biarlah War ih di sini. Jika ia memaksa
kembali, biarlah keretaku dipergunakannya”“Hamba Pangeran. Jika
demikian maka hamba akan mohon diri” Pangeran Ranakusuma tidak
menjawab, la berjalan lagi hilir mudik. Tetapi ketika ia melihat
kereta itu bergerak, maka timbullah pikirannya yang lain, sehingga
tiba-tiba saja ia bertepuk tangan keras-keras sambil berteriak
“Berhenti, he, berhenti“ Seorang juru taman yang mendengarnya dan
mengerti maksudnya segera berlari-lari menghentikan kereta yang
sudah bergerak maju. Pangeran Sinduratapun kemudian melambaikan
tangannya memanggil sais yang dengan tergesa-gesa meloncat turun
dari keretanya dan menghadap Pangeran Ranakusuma Dengan kepala
tunduk iapun kemudian berjongkok dihuwah tangga pendapa. “Jangan
pergi dahulu. Mungkin Warih tidak akan terlalu lama tinggal di sini.
Taruhlah kereta itu di tempat yang terlindung oleh terik matahari,
dan barangkali kau dapat member i minum dan makan kuda-kudamu lebih
dahulu. Dan jika kau sendiri haus, pergilah ke belakang” Sais itu
termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian ”Hamba Pangeran”
Pangeran Sindurata tidak menghiraukannya lagi. lapun berjalan pula
hilir mudik di tangga pendapa. “Mudah-mudahan Warih dapat dibujuk
oleh bibinya“ berkata Pangeran Sindurata itu di dalamhatinya. Namun
agaknya Warih yang keras hati itu ingin bertemu dengan ibunya
betapapun bibinya membujuknya. “Aku akan membicarakan dengan ibunda.
Anak Jati Aking itu kini merasa dirinya terlalu berkuasa di istana
Ranakusuman” katanya dengan suara yang dalam. “Apa yang sudah
dikerjakan? Apakah ia pernah berbuat kasar terhadapmu, Warih?“Rara
Warih termangu-mangu sejenak, la mencoba mencari jawab. Tetapi ia
menjadi bingung sendir i, karena ia tidak menemukan sesuatu yang
dapat disebutnya sebagai jawaban. Juwiring memang belumpernah
berbuat apa-apa. Karena itu untuk beberapa saat Rara Warih justru
terdiam sambil menundukkan kepalanya. “Warih” berkata bibinya
“Sudahlah. Jika anak itu memang tidak berbuat apa-apa, biarlah untuk
sementara ia tinggal di sana jika memang ayahandamu menghendaki.
Tetapi jika ibundamu sudah baik sama sekali, biarlah ia berusaha
mengusirnya seperti yang pernah dilakukannya” “Tidak bibi. Orang itu
harus segera pergi” Bibinya menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya
“Sudahlah, tenanglah. Segala sesuatunya akan dapat diselesaikan
dengan sebaik-baiknya. Percayalah” Warih menjadi gelisah. Ia tahu
bahwa Juwir ing akan minta diri kepada gurunya di Jati Aking dan
kemudian akan t inggal di istana Ranakusuman. Dan itulah yang
membuatnya terlampau gelisah. Jika ibunya dapat diajaknya berbicara,
maka ibunya tentu akan menentangnya. Biasanya ayahandanya tidak
pernah menentang jika ibundanya sudah bersikap agak keras. Tetapi
ibunya kini sedang dalam keadaan yang lain. Sejenak Rara Warih duduk
bersama bibinya. Seorang pelayan menghidangkan semangkuk minuman
panas dan beberapa potong makanan. Rara Warih sudah terbiasa makan
jenis makanan yang lain dari makanan yang dijumpainya di Surakarta.
Makanan yang dihidangkan itupun sejenis makanan yang datang oleh
pengaruh kumpeni. Tetapi ketika Rara Warih sudah minum seteguk dan
makan sepotong makanan, iapun mendesak lagi kepada bibinya untuk
bertemu dengan ibunya.“Warih. cobalah mengerti. Apakah kau tidak
kasihan kepada ibumu? Pertanyaanmu dapat menimbulkan persoalan baru
di dalam dirinya. Jika kau memang tidak mau t inggal bersama anak
yang kau sebut berasal dari Jati Aking itu, tinggallah untuk
beberapa saat di rumahku” Rara Warih mengerutkan keningnya. Ia
merasa aneh atas tawaran itu. Biasanya ia berada di rumah eyangnya,
dan bahkan beberapa orang sepupunyapun berada di rumah ini. Tetapi
kini bibinya menawarkan agar ia tinggal diminatinya. “Pikirkan
baik-baik Warih” berkata bibinya. “Bibi” bertanya Warih kemudian
“Jika aku t idak ingin tinggal di rumahku sendiri, kenapa aku t idak
t inggal pada eyang di sini?“ Bibinya tersenyum. Katanya “Ibumu
memerlukan ketenangan Warih” Rara Warih menarik nafas dalam-dalam.
Namun keinginannya untuk bertemu dengan ibunya justru menjadi
semakin mendesak. Meskipun demikian, ia mencoba menahan diri. Namun
demikian di luar sadarnya ia berkata “Pintu bilik ibunda bibi.
Apakah ibunda tidak terganggu oleh angin. Apakah tidak sebaiknya
pintu itu ditutup?“ Bibinya menjadi termangu-mangu. Ia mendapat
kesulitan untuk menjawab, karena sebenarnya Raden Ayu Galih War it
tidak berada di dalam bilik yang terbuka itu. Meskipun demikian,
bibinya itupun berdiri dan melangkah menutup daun pintu yang terbuka
itu. “Ibundamu sedang tidur nyenyak” berkata bibinya. “Apakah aku
dapat menengoknya? Bukankah selagi tidur ibunda tidak melihat aku”
“Duduklah” bibinya mencegah, lalu “Warih. apakah kau pernah
menjumpai makanan jenis ini? Kami mendapatkan dariseorang perwira
kumpeni. Makanan ini disimpan dalam tempat tertutup yang rapat”
Tetapi Warih mengangguk. Katanya “Ayahanda mempunyai banyak jenis
makanan semacam ini” “O“ bibinya mengangguk-angguk. Namun ia menjadi
gelisah karena nampaknya Warihpun menjadi gelisah. Dalam pada itu,
maka Pangeran Sinduratapun kemudian ikut duduk bersama dengan
mereka. Dicobanya untuk membicarakan berbagai masalah yang tidak
menyangkut Raden Ayu Galihwarit. Namun setiap kali Rara Warihlah
yang selalu menyebut-nyebut nama ibundanya. Dengan demikian, maka
baik Pangeran Sindurata. maupun bibi Warih itu menjadi cemas. Apakah
jika Rara Warih berada di istana itu sehari penuh, mereka akan tetap
dapat memaksanya untuk duduk di tempatnya tanpa mendapatkan
ibundanya sama sekali? Dalam pada itu. kelika Rara Warih sedang
pergi ke pakiwan, bibinyapun berkata “Ayahanda, sebenarnya Warihpun
sudah dewasa” Ayahnya, Pangeran Sindurata tidak segera menjawab.
Direnunginya wajah anak perempuannya itu. Namun ia tidak tahu pasti,
apakah yang sebenarnya bergolak di dalam hati anaknya itu.
Sebenarnyalah, bahwa di dalam hati perempuan bangsawan itu justru
dijalar i oleh pikiran yang aneh. Sejak Raden Ayu Galihwar it tidak
lagi mungkin diterima di istana Ranakusuman sebelum ia sembuh
benar-benar, ia merasa seakan-akan mendapat kebebasan yang lebih
luas untuk berhubungan dengan Pangeran Ranakusuma. Karena itu,
kadang-kadang ia harus berjuang untuk menindas godaan itu. Meskipun
demikian, sepercik kabut yang kelam telah meliputi hatinya. Apakah
salahnya jika Warih mengetahui keadaan ibunya dan kemudian karena
itu ia menjadi sakit hati dan kehilangansegala gairah hidupnya?
Bukankah dengan demikian berarti bahwa Pangeran Ranakusuma menjadi
semakin bebas untuk berbuat apa saja? Sedangkan anak laki- lakinya
yang pernah berada di Jati Aking itu tentu tidak akan banyak
mencampuri persoalan ayahandanya, karena bahwa ia diij inkan kembali
ke istana itupun agaknya telah membuatnya berterima kasih sampai
keujung ubun-ubun. “Tetapi bagaimana j ika Warih justru
menggantungkan dirinya sepenuhnya kepada ayahandanya setelah ia
dikecewakan oleh ibunya?“ pertanyaan itu timbul juga di dalam hati
bibi Warih itu. Tetapi lalu dijawabnya “Pangeran Ranakusuma adalah
seorang Senapati, la tentu terlampau sering meninggalkan rumahnya
dan anak-anaknya dengan alasan apapun. Dan Warih tidak akan dapat
mencegahnya meskipun di saat?. Pangeran Ranakusuma ada di rumahnya,
gadis itu menjadi sangat manja” Karena itu, maka selagi Pangeran
Sindurata masih termenung, iapun berkata selanjutnya “Ayahanda,
lambat atau cepat, akhirnya Warihpun akan mengetahuinya pula”
Pangeran Sindurata mengangguk-angguk. Tetapi ia kemudian berkata
“Tetapi tidak sekarang. Hatinya masih terlalu getas. Justru karena
Juwiring ada di istananya pula, Biarlah aku menyuruhnya kembali
saja. Aku telah menahan keretanya agar menunggu” “Tetapi alasan
apakah yang harus kita katakan kepadanya ayahanda?“ “Katakan, bahwa
ibundanya masih belum dapat menemui siapapun. “Aku sudah terlanjur
mengatakan bahwa ibunya sedang tidur nyenyak. Dan sudah barang tentu
ia menunggu sampai ibunya terbangun” Pangeran Sindurata menjadi
bingung, sehingga ia t idak sempat berpikir apapun lagi. Apalagi
ketika kepalanya mulaipening, maka katanya “Kepalaku mulai sakit.
Tengkukku rasa- rasanya menjadi tegang. Penyakitku akan kambuh
kembali j ika aku harus memecahkan persoalan yang sangat rumit ini
bagiku. Karena itu, terserah saja kepadamu. Tetapi kau harus sadar,
bahwa jika Warih mengetahui keadaan ibunya, ia akan mengalami
kejutan yang tidak kalah dahsyatnya seperti saat Rudira meninggal.
Dan kau harus bersiap menghadapi persoalan itu. Jika terjadi apa-apa
dengan Warih di sini, maka persoalan kita dengan Pangeran Ranakusuma
akan menjadi semakin bertambah-tambah. Kebenciannya kepadaku akan
menjadi berganda. Tetapi akupun akan menjadi muak melihatnya” Anak
perempuannya itu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian
menjawab “Mudah-mudahan Warih cukup tabah. Persoalan itu akan datang
juga akhirnya. Bukankah ayahanda dapat menduga bahwa Pangeran
Ranakusuma tidak berkeberatan melepaskan Warih dengan kemungkinan
serupa itu? Ternyata Warih diperkenankan datang sendiri. Bahkan
kareta itu diberikannya untuk mengantarkan Warih. Apakah hal ini
bukan suatu isyarat, bahwa ayahandanya tidak berkeberatan jika Warih
mengetahui persoalan yang sebenarnya, justru karena ia sudah
dewasa?“ Pangeran Sindurata memijit tengkuknya yang mulai sakit.
Katanya “Terserah kepadamu. Aku akan berbaring. Aku akan minum
perahan daun selederi itu, agar kepalaku tidak terlanjur sakit”
Ketika kemudian Rara Warih kembali dari Pakiwan, maka Pangeran
Sindurata telah tidak ada di ruangan tengah. Pangeran tua itu telah
berada di dalam biliknya dan berbaring sambil memejamkan matanya.
Sejenak Rara Warih termangu-mangu. Tetapi ia tidak bertanya tentang
eyangnya yang tidak tampak duduk di antara mereka.“Warih” berkata
bibinya kemudian “sebenarnya sangat berat bagiku dan eyangmu, untuk
mempertemukan kau dengan ibundamu. Karena agaknya kejutan itu masih
mempengaruhinya selama ini” “Tetapi bibi, aku kira aku harus bertemu
dengan ibunda segera sebelum kamas Juwir ing itu kembali ke istana
Ranakusuman. Jika ibunda sempat membicarakan dengan ayahanda, maka
tentu ayahanda sempat mengirimkan utusan untuk mencegah kedatangan
anak Jati Aking itu” Sejenak bibi Warih itu dilanda oleh
kebimbangan. Sekali- sekali ia masih mencoba mempertahankan dirinya
dari godaan perasaan dan nafsunya. Namun ternyata bahwa ia tidak
dapat melawannya lagi sehingga akhirnya ia berkata “Terserahlah
kepadamu Warih. Tetapi aku dan eyangmu telah mencoba mencegahmu.
Jika terjadi sesuatu dengan ibumu, itu adalah kesalahanmu” “Ah“
desah Rara Warih “Kenapa bibi berkata demikian?“ “Aku tahu bahwa
ibundamu belumsembuh sama sekali” Rara Warih termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian ia berkata “Aku akan berhati-hati. Aku hanya ingin
memohon agar ibunda sudi mengurungkan niat ayahanda memanggil kamas
Juwir ing. Jika ibunda masih akan beristirahat di sini, aku hanya
ingin ibunda menulis surat kepada ayahanda, bahwa ibunda tidak
sependapat jika anak Jati Aking itu kembali lagi ke istana. Jika
ayahanda masih memikirkan kesehatan ibunda untuk seterusnya, maka
tentu ayahanda akan mengabulkannya. Sebab jika tidak maka ibunda
tidak akan segera mendapatkan ketenangannya kembali” Bibinya menarik
nafas dalam-dalam. Lalu “Terserah kepadamu Warih. Jika kau ingin
bertemu, marilah” Rara Warih menjadi berdebar-debar. Tetapi iapun
kemudian berdiri ketika bibinyapun berdiri pula.“Ibundamu ada di
bilik belakang Warih” “O“ Rara Warih terkejut “Apakah ibunda tidak
ada di dalam bilik itu?“ “Di sini agaknya terlalu ribut bagi
ibundamu yang memer lukan ketenangan” Rara Warih tidak menyahut
lagi. Ia mencoba mengerti keterangan bibinya itu. Dan iapun kemudian
melangkah mengikut i bibinya ke bilik belakang, meskipun masih ada
di dalam lingkungan istana dalam. Sejenak Warih berpaling memandangi
pintu yang tertutup. Ia mengira bahwa ibunya ada di dalam ketika
pintu itu terbuka. Ternyata ibundanya tidak ada di dalam bilik itu.
Dengan langkah yang bimbang Rara Warih mengikuti bibinya. di depan
pintu bilik yang tertutup mereka berhenti sejenak. Bibinya masih
sempat berkata “Jangan membuatnya terkejut dan bersedih Warih” Warih
mengangguk ”Ya bibi” Perlahan-lahan bibinya membukakan pintu bilik
itu. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun sejenak kemudian iapun
tersenyum sambil berkata “Apakah kau menjadi semakin baik?”
Terdengar sebuah tarikan nafas yang dalam. “Masuklah” “Aku datang
mengantarkan War ih” “Warih. Warih ada di sini?“ bertanya Raden Ayu
Galih Warit yang berbaring di pembaringannya. Warih yang menahan
kerinduannya tidak dapat bersabar lagi. Tiba-tiba saja ia berlar i
dan memeluk ibunya yang masih tetap berbaring. “Ibunda” desisnya
“ibunda sudah sembuh sama sekali?“Sambil membelai rambut anaknya
Raden Ayu Galih Warit berkata “Aku sudah menjadi semakin baik Warih”
Setitik air mata jatuh dari pelupuk Rara Warih. Katanya dengan suara
serak “Aku sudah sangat rindu. Dan aku menunggu ibunda setiap saat”
Ibunya tersenyum. Katanya “Jika ibunda sudah baik sama sekali,
ibunda akan segera kembali” “Tentu ibunda. Jika sekiranya ibunda
sudah sanggup, sebaiknya ibunda segera kembali. Nanti aku akan
melayani semua kebutuhan ibunda” Raden Ayu Galih Warit menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ketika hatinya akan tergelincir ke dalam
kepedihan, dengan sekuat tenaganya ia bertahan, dan mencoba
menyingkirkan segala perasaannya, justru karena anak gadisnya ada di
dalam bilik itu. Ternyata Raden Ayu Galih Warit berhasil. di dalam
hatinya Raden Ayu Galih Warit itu berkata “Aku tidak boleh
kehilangan kesadaran selagi Warih ada di sini. Aku harus tetap
menyadari setiap kata yang aku ucapkan. Dan aku harus bertahan dari
deraan perasaan yang hampir tidak tertanggungkan lagi” Dengan
pemusatan segenap akal budi, maka untuk beberapa saat Raden Ayu
Galih Warit ternyata mampu bertahan. Ketika kenangannya hampir saja
menyentuh Rudira, dengan cepat ia menekannya dan mencoba memusatkan
segenap perhatiannya kepada Rara Warih. “Warih” katanya sambil
mengusap rambut anaknya “kau datang pada saat yang baik” “Ya ibu.
Aku mengharap agar kedatanganku tidak mengganggu ketenangan ibunda”
“Tidak Warih. Kau justru membuat aku menjadi gembira”Warih
menekankan kepalanya ke dada ibunya. Rasa- rasanya seperti
kehangatan di masa kanak-kanaknya tidur bersama ibunya di malam yang
sepi. Bibinya yang masih berdir i di muka pintu menjadi tertegun
melihatnya. Agaknya kehadiran Warih membuat hati ibunya semakin
cerah. “Tetapi jika Warih mulai membicarakan persoalannya, maka yang
akan terjadi agaknya berbeda sekali” katanya di dalam hati. Tetapi
untuk beberapa saat Warih tidak mengatakan apa- apa. “Duduklah”
terdengar suara Raden Ayu Galih Warit kepada adiknya. Perlahan-lahan
ia melangkah maju dan duduk di atas sebuah tempat duduk dar i kayu
yang beralaskan beludru. “Ibunda” berkata Warih kemudian sambil
mengangkat wajahnya dan bahkan kemudian bangkit dan duduk di sisi
ibundanya “Aku berharap agar ibunda segera sembuh dan kembali ke
rumah. Rumah kita menjadi sepi dan rasa-rasanya kering” Raden Ayu
Galih Warit tersenyum. Hampir saja ia terlempar ke dalam kenangan
yang dapat menyuramkan kesadarannya. Namun ia kemudian berkata “Jika
aku sudah sembuh Warih, aku akan datang” Rara Warih
mengangguk-anggukkan kepalanya. Terlintas di dalam bayangan
angan-angannya, Juwiring mulai berkuasa di istana Ranakusuman dan
memerintah para abdi dan pelayan. Karena itu. ia tidak lagi dapat
mengendalikan dir i lagi. Rasa- rasanya semua yang tersimpan di
dalam hatinya, akan ditumpahkannya kepada ibundanya tanpa mengingat
keadaannya.Tetapi sebelum ia megucapkan sesuatu, maka sambil
tersenyum Raden Ayu Galih Warit berkata “Warih. Aku tahu, bahwa
banyak sekali persoalan yang akan kau katakan kepadaku. Tetapi aku
minta, kau menahankannya di dalam hatimu. Aku masih terlalu lemah,
Warih. Bukan saja badani, tetapi juga rohani. Setiap kejutan, setiap
persoalan yang berat, masih dapat membuat aku kehilangan kesadaran.
Ketahuilah, bahwa saat ini aku sedang berjuang untuk mempertahankan
kesadaranku. Agaknya aku berhasil. Tentu saja dengan kerelaanmu
menahan hati” “O“ Rara Warih berdesah. Tetapi ketika ia melihat
wajah ibunya yang meskipun dibayangi oleh sebuah senyuman di
bibirnya, namun wajah itu terlampau pucat, ia tidak dapat
menolaknya. Kacanya “Memang ada yang akan aku katakan ibunda. Tetapi
jika ibunda tidak dapat mendengarkannya sekarang, barangkali di saat
lain” “Terima kasih Warih” “Meskipun demikian ibunda” berkata Rara
Warih kemudian “Apakah aku diperkenankan menyebut sebuah saja dari
persoalan yang paling cepat harus diselesaikan?“ Raden Ayu Galih
Warit mengerutkan keningnya. Namun ia menggelengkan kepalanya sambil
berkata “Jangan Warih, jangan sekarang” Sebuah kekecewaan memercik
di wajah Warih. Ia ingin mengatakan persoalan Juwiring, agar
ibunyapun dapat mengambil sikap segera. Tetapi ia menjadi ragu-ragu
melihat keadaan ibunya. Yang menjadi kecewa ternyata bukan saja
Warih. Tetapi bibinyapun menjadi kecewa. Ia ingin melihat Warih
terkejut dan kemudian kehilangan segala gairah hidupnya apabila ia
mendengar ibunya mengigau tentang dirinya sendiri, sambil menyebut
beberapa nama laki- laki. Dan laki-laki itu adalah kumpeni.Tetapi
yang didengarnya adalah suara Rara Warih “Baiklah, ibu. Jika ibu
memang tidak berkenan, biarlah aku kembali besok atau lusa. Tetapi
secepat-cepatnya” Raden Ayu Galih Warit menar ik nafas dalam-dalam.
Sekali lagi ia harus memusatkan segenap pikiran dan perasaannya
untuk melawan gangguan pada pusat syarafnya. Dengan sepenuh kemauan
ia memalingkan perasaannya. Bahkan Raden Ayu Galih Warit itu
tersenyum “Kau memang sangat bijaksana Warih. Kau adalah anakku yang
paling baik. Sekarang, tolong ibunda akan minum” “O“ Rara Warihpun
kemudian berdiri. Sejenak ia memandang bibinya, seakan-akan ia ingin
bertanya dimanakah letak. mangkuk minuman ibundanya. Tetapi sebelum
ia mengatakan sesuatu, ia mengatakan sesuatu, ia sudah melihat
sebuah mangkuk di atas nampan. Beberapa macam buah-buahan dan
makanan. Dengan cekatan Rara Warih mengambil mangkuk itu dan
menyerahkannya kepada ibunya. Setelah minum seteguk, maka Raden Ayu
Galih Warit tersenyum pula sambil berkata “Terima kasih Warih. Aku
merasa segar hari ini. Aku akan mencoba untuk tidur sejenak. Apakah
kau akan bermalam di sini?“ Rara Warih ragu-ragu. Tetapi ibunya
meneruskan “Kembali sajalah ke ayahmu. Ayahmu sendiri. Barangkah kau
diperlukannya” “Akulah yang selalu sendiri ibunda. Ayah terlampau
sering menghadap ke istana” Ibunya mengerutkan keningnya. Namun
katanya ”Baiklah. Tetapi lebih baik bagimu ada di rumah. Supaya ada
yang disegani oleh para abdi dan pelayan” Rara Warih
mengangguk-anggukkan kepalanya.“Aku membawa kereta ayahanda” berkata
Rara Warih “dan kereta itu memang masih menunggu di halaman” Ibunya
tertawa ”Baiklah. Agaknya kau memang akan segera kembali” Rara
Warihpun kemudian minta diri. Betapapun ia merasa kecewa, tetapi ia
harus menahan dir i agar ibundanya tidak mendapat kejutan lagi. Rara
Warihpun kemudian meninggalkan bilik itu betapapun ia merasa kecewa,
seperti juga bibinya yang kecewa meskipun alasannya berlainan. “Jika
tidak sekarang, pada saatnya Warih akan mengetahui” katanya di dalam
hati “Jika ibundanya telah sembuh, maka akan timbul persoalan pada
keluarga itu. Apakah kamas Ranakusuma dapat menerimanya kembali”
Namun belum lagi mereka meninggalkan pintu bilik itu terlalu jauh,
langkah mereka tiba-tiba tertegun. Mereka mendengar suara isak di
dalambilik itu. Sepeninggal Rara Warih agaknya ibundanya tidak dapat
bertahan lebih lama lagi. Tiba saja tangisnya meledak. Seperti
biasanya ia mulai dilanda oleh penyesalan yang tiada taranya.
Sejenak Rara Warih dan bibinya tertegun. Namun ketika Rara Warih
akan berlari mendapatkan ibunya yang sedang menangis maka lengannya
ditarik oleh bibinya dengan gerak naluriah sambil berkata “Jangan
Warih” “Tetapi ibunda menangis” “Jangan” Rara Warih mengibaskan
tangan bibinya. Kemudian iapun berlari masuk ke dalam bilik itu.
Ketika pintu bergetar, maka tiba-tiba saja tangis Raden Ayu Galih
Warit terputus. Ditatapnya anak gadisnya yang berlari memasuki
ruangan itu. Namun ternyata syarafnya sudah mulaiterganggu. Ketika
ia melihat Rara Warih mendekatinya, tiba- tiba saja ia justru
tertawa sambil berkata “He, kenapa kau datang berlari-lari. Aku
tidak akan pergi sebelum kau member ikan senjata itu” Rara Warih
terkejut bukan buatan. Wajah ibunya sudah berubah sama sekali,
sehingga Rara Warih justru melangkah surut. Suara tertawa ibunya
menjadi semakin keras. Namun tiba-tiba suara tertawa itu terputus.
Sejenak ia memandang Rara Warih. Namun kemudian iapun menelungkup
sambil menyembunyikan wajahnya di bawah kedua telapak tangannya.
“Bukan aku yang membunuh. Bukan. Bukan” “Bibi“ Warihpun menjadi
gemetar. Dan tiba-tiba saja ia berlar i memeluk bibinya. “Tenanglah
Warih“ “Bibi. Apakah yang telah terjadi dengan ibunda?” “Tidak
apa-apa Warih. Tetapi itu adalah sisa-sisa dar i kejutan yang tidak
terhindarkan lagi” “Tetapi, tetapi ibunda menangis” Bibinya tidak
menyahut. Dan tanpa dapat dikekang lagi, maka mulailah Raden Ayu
Galih Warit mengigau sepatah- sepatah.“Warih” berkata bibinya
“biarlah aku memanggil emban yang sudah biasa melayani ibundamu”
“Aku takut bibi. Aku takut” Bibinya termenung sejenak, lalu
“Marilah. Ikutlah” Rara Warihpun kemudian mengikuti bibinya
memanggil emban yang sudah biasa melayani Raden Ayu Galih Warit jika
gangguan syarafnya kambuh kembali. Namun dalam pada itu, meskipun
hanya sekilas, Warihpun sempat mendengar igauan ibunya.
Sepatah-patah yang didengarnya membuat hatinya berdebar-debar.
Seakan-akan ia mendengar suara baru yang mengemandang dari dunia
yang asing baginya. Mula-mula Warih tidak tahu arti dari igauan yang
sepotong- sepotong itu. Namun sebagai seorang gadis yang meningkat
dewasa, terasa sentuhan-sentuhan pada dinding hatinya. Semakin lama
terasa semakin dalam dan pedih. “Bibi“ Wajah Rara Warih menjadi
pucat. Melihat wajah yang seputih kapas itu, bibinyapun terkejut
pula. Keringat dingin yang membasahi wajah itu, seolah-olah Warih
baru saja selesai mandi. Sepercik kekecewaan meloncat di hati
bibinya. Tetapi semuanya sudah terjadi. Dan Warih sudah mendengar
sebagian besar dari rahasia ibunya yang selama ini tersembunyi
baginya Warih yang sama sekali tidak siap mengalami kejutan semacam
itu, bahkan bermimpipun ia tidak berani membayangkannya, tiba-tiba
ia telah terbentur pada kenyataan itu. Karena itu, maka nadinya
bagaikan tidak berdaya lagi. Sesaat ia mencoba bertahan. Namun
kemudian matanya menjadi gelap dan gadis itupun menjadi pingsan.
Ketika Warih sadar, ia sudah berbaring di dalam bilik depan.
Dilihatnya bibinya duduk di sebelahnya sambilmengusap air mata. Ia
benar-benar menyesal melihat akibat yang terkesan di hati gadis itu.
Di sebelah pembaringan itu, Pangeran Sindurata duduk dengan
tegangnya. Kepalanya dibalut dengan ikat kepalanya untuk menahan
pening yang bagaikan menyengat tengkuk. “Eyang“ Warih mulai menangis
“Apakah yang sebenarnya sudah terjadi atas ibunda?” “Sudahlah Warih”
berkata Pangeran Sindurata “Jangan hiraukan” “Tetapi aku mendengar
ibunda mengigau” suaranya terputus. Dan tangisnyapun meledak.
Beberapa saat lamanya Rara Warih tenggelam di dalam isak tangisnya.
Tetapi perlahan- lahan tangis itupun mereda pula. “Warih” berkata
bibinya yang pelupuknya masih basah “Kau sudah cukup dewasa. Kau waj
ib menghadapi kenyataan ini dengan hati yang tabah. Lambat atau
cepat, kau pasti akan mengetahuinya juga. Karena itu, agar kau tidak
selalu dicengkam oleh rahasia yang menyelubungi ibundamu, maka
sebaiknya kau segera mengetahuinya” “Tetapi kenyataan itu terlampau
kejam bagiku bibi. Tetapi apakah aku benar-benar mendengar igauan
ibunda?“ “Kau harus tabah. Kematian kamasmu Rudira itulah yang
benar-benar telah mengguncangkan hati ibundamu, sehingga penyesalan
yang tiada taranya telah membuatnya kehilangan kesadarannya” “Tetapi
apakah benar seperti apa yang dikatakan ibunda di dalam ketidak
sadarannya tentang ibunda itu sendir i bibi?“ “Kita semuanya tidak
mengetahuinya Warih”“Selama ini aku menganggap bahwa tidak ada noda
sehitam itu di dalam keluarga kami” suara Warih terputus oleh
isaknya yang kembali mulai menyesak. Bibinya menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba iapun dihadapkan pada suatu pengakuan. “Bagaimana j ika
pada saatnya Warih mengetahui keadaan ayahnya? Warih menganggap
ayahnya kini sebagai satu- satunya tempat bergantung. Meskipun
mula-mula Warih kecewa, bahwa ayahnya mempunyai isteri lebih dari
seorang, namun apabila gadis itu mengetahui bahwa disamping isteri-
isterinya itu masih ada perempuan lain, dan perempuan lain itu
adalah bibinya sendiri, maka hatinya tentu akan menjadi semakin
parah” berkata bibinya itu di dalam hatinya. Sejalan dengan
penyesalan yang mulai mencengkam dadanya. Bukan saja karena ia telah
seakan-akan dengan sengaja melemparkan Rara Warih ke dalam keadaan
yang pahit, namun juga karena hubungannya dengan Pangeran
Ranakusuma. Apalagi kedua-duanya adalah orang yang telah berumah
tangga. Karena itulah maka bukan saja Rara Warih, tetapi di pelupuk
mata bibinya itupun, titik-titik air rasa-rasanya menjadi semakin
banyak mengambang. Pangeran Sindurata yang tua, yang kepalanya
sering diganggu oleh perasaan sakit dan pening itupun menjadi
semakin pening. Tetapi ia sempat juga mencoba melunakkan hati Rara
Warih, sehingga akhirnya ia berkata “Sudahlah Warih. Sekarang kau
tahu, kenapa aku dan bibimu berusaha untuk mencegahmu menemui
ibundamu. Tetapi agaknya semuanya telah terjadi. Kau harus bersikap
dewasa. Dan agar hatimu tidak menjadi semakin pedih, sebaiknya kau
kembali kepada ayahmu. Kau dapat berbicara dengan ayahmu dengan cara
orang dewasa. Kau bukan anak-anak lagi. Terlebih-lebih lagi karena
keadaan ibundamu itu. Sekarang kau harus percaya kepada dirimu
sendir i, bahwa kau mampu mengatasisetiap keadaan yang bertentangan
dengan keinginan dan bayangan di dalam angan-anganmu. Kau harus
berani menghadapi kenyataan betapapun pahitnya” Rara Warih mencoba
menganggukkan kepalanya. Tetapi ia sendiri tidak yakin bahwa ia akan
dapat melakukannya Namun demikian, ia berkata “Baiklah eyang.
Sebaiknya aku kembali pula. Aku akan mengatakannya kepada ayahanda,
apa yang aku jumpai di sini. Agaknya ayahandapun memang membiarkan
aku mendengar sendir i apa yang telah terjadi. Ternyata ayah telah
membiarkan aku mempergunakan kereta itu” Pangeran Sindurata
mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia berdesis “Agaknya kami dan juga
ayahandamu menganggap bahwa kau benar-benar telah dewasa” Rara Warih
yang masih menit ikkan air mata mengangguk lemah. Rasa-rasanya
hatinya bagaikan mengambang di awang-awang tanpa alas. Namun ia
berusaha untuk mendengarkan setiap nasehat dari kakek dan bibinya.
Demikianlah, sejenak kemudian tanpa menengok ibundanya lagi, karena
Warih tidak sampai hati, iapun kembali kerumahnya. di sepanjang
jalan tangannya sibuk mengusap matanya yang basah. Di belakang
keretanya berderap seekor kuda yang membawa seorang pengawal yang
mendapat perintah dari Pangeran Sindurata untuk mengantarkan Warih
sampai ke istana Ranakusuman. Ketika ia naik ke pendapa rumahnya,
terasa rumah itu terlampau sepi. Sepi sekali. Meskipun di regol ada
juga para pengawal dan para abdi yang sibuk di kebun dan halaman,
tetapi rasa-rasanya rumah itu adalah rumah yang tidak
berpenghuni.Perlahan-lahan Rara Warih melintasi pendapa. Ia tertegun
sejenak ketika ia melihat pintu bergerak. Dan hatinya tiba-tiba
terguncang ketika ia melihat ayahnya berdiri di depan pintu. Rara
Warih sesaat bagaikan mematung. Namun kemudian iapun berlari memeluk
ayahnya sambil berdesah memelas “Ayah. Ayah. Aku tidak beribu lagi”
Pangeran Ranakusuma adalah seorang Panglima yang pilih tanding di
peperangan. Tetapi menghadapi pengakuan anaknya itu rasa-rasanya
matanya menjadi panas dan lehernya bagaikan tersumbat. “Ayahanda”
desis Rara Warih disela-sela tangisnya “Kenapa ayahanda tidak
mengatakan kepadaku sebelumnya” Pangeran Ranakusuma membelai rambut
anak gadisnya. Setelah ia berhasil mengatur perasaannya, maka
katanya “Masuklah Warih” Rara Warih mencoba menahan isaknya.
Perlahan-lahan, dibimbing oleh ayahandanya ia masuk ke ruang dalam.
Namun tiba-tiba saja gadis itu berlari masuk ke dalam biliknya dan
menangis tersedu-sedu sambil menelungkup. Pangeran Ranakusuma berdir
i sejenak di pintu yang terbuka. Dibiarkannya saja anaknya memeras
air matanya. Dengan demikian, maka beban dihalinya akan menjadi
bertambah ringan, seolah-olah sebagian telah ditumpahkan bersama air
matanya. Pangeran Ranakusuma kemudian meninggalkan bilik itu dan
duduk di hadapan pintu yang masih terbuka. Rasa- rasanya ia tidak
sampai hati meninggalkan anak gadisnya, yang oleh kelelahan haii dan
tubuhnya, telah tertidur sambil menelungkup. Seperti perasaan Warih,
sebenarnyalah Pangeran Ranakusuma merasa betapa sepi istananya itu.
Sekilas ia terkenang kepada isterinya yang telah diserahkannya
kembalikepada orang tuanya juga kepada isterinya yang sudah
meninggal dan meninggalkan seorang anak laki- laki bernama Juwiring,
bahkan sekilas terbayang wajah adik kandung Raden Ayu Galih Warit.
Namun bayangan-bayangan itu ditekankannya dalami di dalam dadanya.
Sebagai seorang Senapati perang, maka ia harus dapat mempergunakan
akalnya sebaik-baiknya untuk memecahkan setiap persoalan. Bukan
sekedar perasaan. Dan persoalan pribadinya itupun dicobanya
direnunginya dengan pertimbangan nalar. “Kedua anak-anak itu harus
menemukan suatu cara untuk dapat berkumpul di dalam rumah ini
sebagai anak-anakku” katanya di dalam hati. Ketika kemudian Rara
Warih terbangun, maka agaknya ia sudah menjadi agak tenang. Ia tidak
lagi menangis meskipun tampak betapa luka di hatinya terasa sangat
pedih. Seolah- olah di dalam waktu yang pendek, ia sudah kehilangan
dua orang yang paling dikasihinya. Kakaknya, Raden Rudira dan kini
ibunya, yang meskipun masih hidup, tetapi pengakuan di luar sadarnya
itu bagaikan sebuah benteng yang tebal dan tinggi, yang membatasi
ikatan di antara dirinya dengan ibunya. Setelah membersihkan dir
inya dipakiwan. maka Rara Warih mencoba untuk menyesuaikan dirinya
dengan keadaan yang rasa-rasanya baru sama sekali di dalam rumahnya
itu. Tidak ada lagi yang akan memanjakannya dengan berlebih-lebihan.
Ayahnya, karena tugasnya sebagai seorang Senapati, terlampau ser ing
meninggalkan istananya. Pangeran Ranakusuma membiarkan anak gadisnya
berbuat apa saja. Tetapi hari itu, ia sama sekali t idak sampai hati
meninggalkannya seorang dir i di rumah. Sementara itu, Ki Dipanala
yang menyertai Juwir ing dan kedua adik seperguruannya, telah
menghadapi Kiai Danatirta di Jati Aking. Banyak persoalan yang
dikatakannya. Namun akhirnya sampai juga ia kepada persoalan pokok
darikehadirannya, menyampaikan pesan Pangeran Ranakusuma untuk minta
agar Kiai Danatirta mengijinkan Juwiring kembali ke istana
Ranakusuman, meskipun itu bukan berarti bahwa ia harus meninggalkan
Jati Aking. “Jarak antara Surakarta dan Jati. Aking tidak terlampau
jauh” berkata Ki Dipanala kemudian. Lalu “Kakang, jika aku
diperbolehkan member ikan pertimbangan, aku tidak berkeberatan jika
Raden Juwiring ada di istana Ranakusuman. Dalam saat ini, Pangeran
Ranakusuma seolah-olah sedang terlempar ke dalam dunia yang kosong.
Jika Raden Juwiring berhasil menembus dinding hatinya yang kosong
itu, tentu ia akan mendapat tempat. Bukan untuk kepentingan pr ibadi
seperti Raden Rudira, tetapi untuk kepentingan yang jauh lebih luas
dar i kepentingan pr ibadi itu” Kiai Danatirta segera mengerti
maksud Ki Dipanala. Sebenarnya iapun sependapat, bahwa Pangeran
Ranakusuma perlu dibangunkan dari tidurnya yang nyenyak. Bahkan
kadang-kadang dengan mimpi yang indah yang dapat membuatnya membenci
dirinya sendiri. Keluarganya dan bangsanya. Tetapi rasa-rasanya,
sangat berat baginya untuk melepaskan Juwiring. Sudah lama anak muda
itu tinggal di padepokannya. Bahkan rasa-rasanya Juwiring sudah
seperti anaknya sendiri. Meskipun setiap saat Juwiring akan dapat
datang ke padepokan ini, tetapi anak itu tidak akan tampak lagi
mondar mandir di halaman, bekerja di sawah dan pategalan, serta
berada di bangsal latihan. “Apakah tidak ada jalan lain yang dapat
ditempuh“ Orang tua itu bertanya kepada Ki Dipanala. “Aku tahu
kakang. Sangat berat rasanya melepaskan Raden Juwiring. Tetapi aku
berharap, agar kakang memberikan kesempatan yang luas kepadanya
untuk membentuk masa depannya dengan semua kesempatan dan
kemungkinan yangada padanya, selain harapan-harapan yang jauh lebih
berharga dari itu” “Aku mengerti. Dan aku seharusnya tidak boleh
berkeberatan. Tetapi aku tidak dapat melepaskan dir i dari berbicara
tentang kepentingan diriku pula. Tentang perasaan seorang tua, dan
tentang ketergantungan perasaanku tanpa keseimbangan nalar. Aku
mengerti, seperti kesadaran seorang yang menangisi dan berteriak
memanggil nama seseorang yang telah mati. di dalam keadaan yang
wajar, ia tentu mengerti, bahwa suaranya tidak akan dapat didengar,
dan yang mati tidak akan kembali. Tetapi di dalam saat tertentu,
kesadaran itu menjadi pudar jika kita mengalaminya” Ki Dipanala
hanya dapat menar ik nafas dalam-dalam. Kiai Danatirta adalah orang
yang mumpuni, sehingga ia menyadari pergolakan di dalam dir inya
sendiri. Menyadari keburaman kesadarannya. Menyadari kepincangan
pertimbangan nalarnya. Namun setelah merenung sejenak, Kiai
Danatirta itu berkata “Agaknya memang tidak ada yang dapat aku
lakukan dari pada mengiakannya” orang tua itu berhenti sejenak, lalu
“Bukan karena aku seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengatasi
kesulitan perasaan sendiri. Tetapi yang lebih dari pada itu, aku
mengerti bahwa aku tidak akan dapat melawan kehendak Pangeran
Ranakusuma. Selain ia seorang Pangeran, ia juga ayah dari Raden
Juwiring itu. Sebagai seorang ayah, ia mempunyai wewenang mut lak
untuk itu” Sekali lagi Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Memang
tidak akan ada keputusan lain yang dapat diambil oleh Kiai
Danatirta. Ia tentu tidak akan memanggil Raden Juwiring dan bertanya
kepadanya, apakah ia bersedia atau tidak, karena menurut
pertimbangannya, Raden Juwiring tidak mempunyai pilihan selain
melakukan perintah ayahandanya seperti pada saat ia harus meninggal
istana itu. Demikianlah maka ia sekarang harus kembali ke dalamnya,
meskipunRaden Juwiring pernah bersikap untuk tidak mengaitkan
dirinya lagi dengan istana dan keluarganya. Tetapi kini agaknya ada
pertimbangan lain. Namun sebenarnyalah. Juwiring dicengkam oleh
kebimbangan. Meskipun ia tidak berada di antara gurunya dan Ki
Dipanala, namun ia duduk sendir i di dalam biliknya sambil merenungi
dirinya sendiri, keluarganya dan Surakarta. “Kelebihan harta benda
tidak menjamin kebahagiaan sebuah keluarga” katanya di dalam hati
“meskipun j ika aku harus memilih, apakah aku lebih senang menjadi
seorang yang kaya atau seorang yang miskin, aku akan memilih untuk
menjadi seorang yang kaya. Namun aku tidak akan dapat ingkar, bahwa
kekayaan bukan satu-satunya sumber kebahagiaan” Dan Juwiring melihat
ke dalam dirinya sendir i, keluarganya yang kisruh meskipun
bergelimang kekayaan dibanding dengan keluarga yang tampak tenang
dan damai dipadepokan Jati Aking ini. Jika fajar mulai memerah di
Timur, dan angin pagi yang segar bertiup di antara dedaunan,
kemudian bayangan matahari yang menguning di wajah air jernih yang
mengalir di parit-parit, disusul dengan kerja dipanasnya pagi,
terasa betapa hidup ini teramat segar dan tenang. Suara seruling
yang dilontarkan oleh anak-anak yang menggembalakan kambing ditebing
kali, dentang palu pandai besi di perapian, dan rengek anak-anak
menjelang minum susu ibunya di antara lenguh lembu dan kerbau,
adalah suasana damai yang tidak akan ditemukan di dalam kota
Surakarta yang sibuk oleh derap kehidupan yang terasa terlampau
cepat dan tergesa- gesa. “Aku adalah salah seorang dari masa yang
akan segera tertinggal oleh derap jaman” desis Juwiring di dalam
hatinya“Tetapi aku senang menikmati hidup yang damai”Tetapi kemudian
“Namun aku tidak dapat mengelakkan jalan hidup yang terbentang di
hadapanku. Jalan yang menjadi semakin ramai dan riuh. Dan apakah aku
akan membiarkan dir iku semakin jauh ketinggalan, selagi ada
kesempatan untuk menemukan penghidupan baru yang barangkali akan
dapat menjadi pancadan untuk mengembangkan hidup di padesan ini
tanpa meninggalkan ciri-ciri kedamaian dan bentuk kekeluargaan yang
rapat?“ Pertanyaan itupun ikut bergulat di dalam hati Juwiring.
Namun iapun sadar, bahwa apapun keputusannya, jika ayahnya
memaksakan kehendaknya, ia tidak akan dapat mengelak. Dan itulah
sebabnya ia kemudian berkata kepada diri sendiri. “Aku harus
membentuk jalanku sendiri, bukan sekedar terseret oleh arus
betapapun derasnya, jika arus itu tidak sesuai dengan nuraniku”
Dengan sandaran itulah Juwiring kemudian memutuskan di dalam
hatinya, ia akan pergi ke Kota dan mencoba hidupi di dalam istana
yang megah sebagai putera seorang Pangeran yang menjabat Senapati
yang berpengaruh di Surakarta. Tanpa membicarakannya lebih dahulu,
Kiai Danatirta dan Juwiring memang mempunyai kesimpulan yang sama,
apapun alasannya. Juwiring akan meninggalkan padepokan Jati Aking.
Ketika akhirnya keputusan itu saling disepakati dengan, beberapa
pesan dari Kiai Danatirta, maka rasa-rasanya padepokan itu akan
menjadi sepi bagi penghuninya yang tinggal. Kiai Danatirta yang
kemudian memanggil anak-anak angkatnya itupun menjelaskan bahwa
tidak ada jalan yang lebih baik bagi Raden Juwiring daripada
meninggalkan padepokan ini. Tetapi bukan berarti bahwa tidak akan
ada hubungan lagi di antara mereka, karena Juwiring akan selalu
mondar mandir antara Surakarta dan Jati Aking.“Apakah tidak lebih
baik kau tetap ada di sini kakang“ berkata Buntal kemudian “Tetapi
kau sering menengok keluargamu yang ada di Kota” “Keluarganya memer
lukannya” berkata Kiai Danatirta “betapapun beratnya, aku harus
melepaskannya. Tetapi seperti yang aku pesankan kepadanya, bahwa
Raden Juwiring bukan saja sekedar mengisi kesepian hati ayahandanya,
tetapi ia wajib memberikan arah kepada keluarganya di dalam masa-
masa yang suram bagi Surakarta ini. Dan karena itulah maka waktunya
akan lebih banyak diper lukan di istananya. Namun demikian, ia masih
harus menyempurnakan ilmunya. Dan aku berharap sepekan sekali Raden
Juwir ing akan datang” “Ya ayah” jawab Juwir ing “Aku akan selalu
datang. Aku menyadari bahwa ilmuku masih jauh dari mencukupi.
Apalagi ketika aku berada di lingkungan para bangsawan. Terlebihi
lagi ketika aku bertemu dengan Kamas Said di pinggir bengawan. Maka
aku merasa diriku masih terlampau kecil” “Tentu“ Kiai Danatirta
mengangguk-anggukkan kepalanya “Memang masih diperlukan waktu yang
jauh untuk mendekati kemampuan Raden Mas Said, Meskipun kau tidak
berhasil menyamainya, tetapi Setidak-tidaknya kau dapat
mempergunakan kemampuan yang sedikit ada padamu untuk kepentingan
yang baik. Baik bagi sesama dan terlebih- lebih bagi Surakarta, dan
baik dalam pandangan Yang Maha Pencipta” Raden Juwiring menundukkan
kepalanya, la sadar, bahwa kepergiannya dari Jati Aking kembali ke
Surakarta, bukannya akhir dar i hidup keprihatinannya. Justru ia
baru mulai dengan pengabdian yang nyata meskipun baru akan dimulai
dari lingkungan kecil, istana Ranakusuman. Akhirnya, datanglah
saatnya Juwiring benar-benar meninggalkan Jati Aking bersama Ki
Dipanala. Terasa setiap hati menjadi berat. Buntal yang hampir
setiap saat selalubersamanya di dalam kerja, tidur dan bergurau,
merasakan betapa ngela-ngutnya perpisahan itu. Buntal menar ik nafas
dalam-dalam. Ia merasakan pergolakan yang aneh di dalam hatinya. Air
mata Arum itu bagaikan ujung-ujung duri yang menyentuh jantungnya.
Terasa juga pedihnya. “Arum menangis karena kakang Juwiring pergi
meninggalkan padepokan ini” katanya di dalamhati. Namun kemudian
dengan segenap kemampuan kesadarannya, ia mencoba menekan perasaan
itu. Katanya kepada diri sendiri “Itu adalah wajar sekali Ia sudah
berkumpul lama sebagai saudara di dalam satu rumah. Kepergian Juwir
ing tentu akan mempengaruhi perasaannya. Jangankan Arum seorang
gadis betapapun ia memiliki kemampuan ilmu kanuragan. Sedangkan aku,
seorang laki- lakipun, rasa-rasanya terlampau berat untuk berpisah
dengan orang yang sudah lama t inggal bersama dan mengalami
persoalan dari nasib yang serupa” Meskipun demikina, setiap kali ia
melihat tetesan air mata Arum, rasa-rasanya jantungnya masih
tersentuh pula. “Aku bukannya pergi untuk selama- lamanya” berkata
Juwiring ketika mereka sudah berada di regol padepokan “Aku akan
datang setiap kali. Kita masih akan selalu bertemu dan berlatih
bersama. Mungkin aku akan ketinggalan karena aku hanya sempat
berlatih sepekan sekali, sedangkan kalian akan melakukannya setiap
hari. Namun aku sadar, bahwa aku masih harus meningkatkan ilmuku.
Dan Jati Aking adalah sumber ilmu itu” Arum menganggukkan kepalanya.
Tetapi tidak sepatah katapun yang dapat keluar dar i mulutnya. “Kami
di sini akan selalu menunggu j ika saatnya kau datang” berkata
Buntal kemudian “mudah-mudahan kau berhasil berdiri sebagai batu
karang yang teguh di tengah arusbanjir bandang. Kau akan dapat
menjadi pegangan, bukan justru kau akan hanyut di dalamnya” “Kau
akan selalu berdoa untukku” sahut Juwir ing “Aku sadar betapa
lemahnya manusia. Karena itu, aku memer lukan sandaran, kekuatan
hati yang datang dari Maha Kuasa” “Kau akan selalu mendapatkannya
anakku” berkata Kiai Danatirta kemudian “Tetapi jangan lupa
menjalankan semua perintah-perintahNya, yang terutama perintah lima
waktu, dan berdoalah memohon kepadaNya. Siang dan malam” “Ya ayah.
Jika aku tidak menjalankannya, berarti aku sudah menjauhinya. Dan
itu pertanda kegagalanku” “Tuhan akan dekat, kalau kita mendekatkan
dir i kita kepadaNya” Juwiring menundukkan kepalanya. Pesan itu
terasa menyentuh hatinya dalam-dalam. “Aku titipkan anak ini
kepadamu” berkata Kiai Danatirta kepada Ki Dipanala. “Aku akan
berbuat sebaik-baiknya kakang. Dan aku akan menyerahkannya kepada
ayahandanya. Selanjutnya, bukan Raden Juwiringlah yang kau titipkan
kepadaku, tetapi kami, seisi istana Ranakusuman mengharapkannya, dan
menitipkan diri sendiri kepada anak muda ini” “Ah“ Raden Juwir ing
berdesah. Demikianlah maka datanglah saatnya perpisahan itu. Raden
Juwiring dan Ki Dipanalapun segera meloncat ke punggung kudanya dan
meninggalkan padepokan Jati Aking dengan hati yang berat, meskipun
ia masih akan selalu datang setiap pekan. Karena itu pulalah, maka
semua Barang-barangnya, pakaiannya dan apa saja, tidak dibawanya,
agar setiap saat ia memer lukan j ika ia datang ke padepokan itu,
tidak harus membawanya lagi dar i kota.Untuk beberapa lama, keduanya
sama sekali t idak berbicara. Ki Dipanala mengerti, bahwa Juwiring
masih berusaha mengendapkan perasaannya. Agaknya iapun merasakan
sesuatu yang hilang ditinggalkan di padepokan Jati Aking. Hubungan
yang rapat dengan Buntal dan Arum sebagai saudara sekandung saja.
Sikap yang lembut dari Kiai Danatirta, dan suasana yang nyaman dan
damai. Namun kemudian di sela-sela derap suara kudanya, Juwiring
berkata “Paman, rasa-rasanya aku akan pergi ke daerah yang asing
bagiku meskipun aku sebenarnya pulang ke rumah orang tuaku” “Tetapi
keasingan itu tidak akan terasa lama. Raden” jawab Ki Dipanala. “Aku
tidak tahu, bagaimana sikap diajeng Warih terhadapku. Tetapi aku
bertekad untuk tidak menghiraukannya” “Sebaiknya untuk sementara
Raden menjauhinya, la berhati keras seperti ayahanda dan tinggi hati
seperti ibundanya” Juwiring mengangguk-angguk. Warih baginya adalah
tantangan pertama di dalam rumahnya itu. Kemudian para pengawal yang
semula berada di bawah pengaruh Raden Rudira dan bahkan telah
memusuhinya dan juga memusuhi Ki Dipanala. Tetapi bagi Juwiring,
mereka tidak akan banyak member ikan kesulitan, karena apapun yang
akan mereka lakukan, mereka tidak akan berani menerima akibat untuk
dilepas dari pekerjaannya, atau bahkan menerima hukuman dari
ayahandanya. Tetapi jika keadaan memaksa, maka Juwiring sendir i
akan dapat menghadapinya jika mereka mempergunakan kekerasan akibat
kebencian yang sudah dipupuk bertahun-tahun oleh Rudira. “Yang
paling sulit bagiku justru adalah diajeng Warih sendiri. Tetapi
justru sikap Warih itulah maka rasa-rasanya aku harus menjawab
tantangannya”Di dalam perjalanan ber ikutnya, mereka masih berbicara
lagi tentang banyak hal. Kadang-kadang Juwiring tidak dapat
menyembunyikan keragu-raguannya. Namun Dipanala agaknya telah
memantapkan keputusannya untuk kembali ke istana ayahandanya. Di
padepokan Jati Aking, Ki Danatirta masih harus member ikan
penjelasan kepada Arum untuk mengendapkan hatinya yang melonjak
karena kepergian Juwir ing yang sudah dianggapnya sebagai saudara
kandungnya sendiri. Sedang Buntal didera oleh persoalannnya sendiri.
Perpisahan itu memang membuatnya muram. Tetapi tangis Arumpun telah
menimbulkan persoalan yang betapapun disingkirkannya, masih saja
selalu menggelitiknya. Demikianlah, maka dahari berikutnya, Juwiring
telah mulai dengan tata kehidupannya yang baru. Ia kini tidak berada
di rumah ayahandanya sekedar sebagai seorang tamu. Tetapi ia kini
adalah putera Pangeran Ranakusuma. Bagi para pelayan dan abdi di
istana itu, timbullah berbagai macam dugaan tentang putera Pangeran
Ranakusuma yang seorang ini. Beberapa orang menganggapnya sebagai
musuh yang berbahaya. Juwiring tentu akan mempergunakan kesempatan
untuk membalas dendam, karena mereka merasa pernah melakukan
tindakan kekerasan di masa lampau, baik selagi mereka masih dipimpin
oleh Sura maupun kemudian oleh Mandra. Sedang beberapa orang yang
lain, menganggap pribadi Juwir ing jauh berbeda dari Rudira,
sehingga mereka menganggap bahwa kedatangannya yang tidak sekedar
sebagal tamu itu, akan membawa angin baru di istana Ranakusuman.
Tetapi yang pertama-tama harus di atasi oleh Juwir ing adalah
perasaan rendah diri yang selama ini membayanginya. Terutama
terhadap keluarga ayahandanya dan keluarga ibu Rara Warih yang masih
ser ing berkunjung karena mereka mengerti kegelapan yang sedang
menyelubungi istana itu.Di har i-hari yang pertama, Rara Warih masih
tetap orang asing baginya. Namun sekilas, Juwiring melihat perbedaan
sikap dan tanggapan pada adik perempuannya itu. Rara Warih tidak
lagi memandangnya sebagai seorang budak yang hina, meskipun ia masih
dibayangi oleh perasaan segan dan malu. Tetapi pada hari-hari
berikutnya, ayahnya dengan telaten mencoba mempertemukan kedua
saudara seayah iitu. Dan adalah di luar dugaan Raden Juwiring, bahwa
sikap Warih selanjutnya adalah sikap yang ramah dan baik. “Demikian
cepatnya perubahan itu terjadi” bertanya Juwiring di dalam hatinya
“Agaknya ayahanda berhasil menjelaskan semua persoalan yang
menyangkut aku dan diajeng Rara Warih” Namun sebenarnyalah Raden
Juwiring tidak mengetaliui, bahwa Rara Warih yang merasa dirinya
seakan-akan berdiri di atas menara gading karena ayahandanya seorang
Pangeran dan ibundanya seorang bangsawan yang lebih tinggi dari ibu
Juwiring itu harus melihat kenyataan, betapa rendahnya martabat
ibundanya sebagai manusia. Dengan demikian, Rara Warih yang
meningkat dewasa itu mampu menemukan arti dari martabat seseorang.
Bukan karena ia seorang putera Pangeran, bahkan putera seorang Raja
sekalipun. Tetapi martabat seseorang ditentukan oleh tingkah laku
dan perbuatan yang dilandasi oleh hati yang bersih dan jujur. Itulah
sebabnya, maka ia tidak berani lagi mengagungkan diri karena tingkat
kebangsawanannya yang lebih tinggi dari Juwiring. Tingkah laku dan
perbuatan ibundanya membuat Rara Warih menjadi rendah diri pula.
Seakan-akan ia tidak lebih dari anak seorang yang tidak mempunyai
harga sama sekali. Bahkan setiap kali ia bertanya kepada diri
sendiri “Apakah kamas Juwiring juga mengetahui persoalan ibunda?“
Tetapi di hari-hari berikutnya, Juwiring yang mencoba menyesuaikan
dirinya dengan kehidupan di istana yang sudahagak lama
ditinggalkannya itu, tidak pernah menyinggung- nyinggung tentang
Raden Ayu Galihwarit dan tentang ibunya sendiri. Seakan-akan ia
mulai hidupnya sejak ia kembali ke istana itu, dan tidak tahu menahu
sama sekali tentang apa yang pernah terjadi di istana itu
sebelumnya. Dalam waktu yang dekat, para pelayan dan abdi di
Ranakusuman sudah melihat pembedaan yang jelas, antara Raden Rudira
dan Raden Juwiring. Juwiring bukan seorang anak muda yang senang
berteriak memanggil pelayan- pelayannya dan memakainya, memerintah
dan sekedar marah-marah, selain merajuk terhadap ibu dan
ayahandanya. Tetapi Raden Juwiring mampu melakukan berbagai macam
kerja. Bahkan yang para pelayannya mengalami kesulitan, terutama
terhadap kuda yang banyak terdapat di kandang. Dengan demikian, maka
para abdi di Ranakusuman segera mengenalnya sebagai seorang anak
muda yang baik. Mereka yang biasa melayani Raden Rudira yang manja,
merasakan, betapa Raden Juwiring sudah selalu mampu melayani dir
inya sendiri Rara Warihpun merasakan perbedaan yang jauh antara
kedua kakaknya itu. Bahkan kemudian rasa-rasanya ia malu kepada diri
sendir i. Seharusnya setiap orang yang sudah meningkat dewasa tidak
lagi terlalu banyak menggantungkan diri kepada orang lain. Sehingga
dengan demikian sikap dan tingkah laku Juwiring, merupakan contoh
yang sangat baik baginya. Perlahan-lahan Warihpun mencoba untuk
menirunya. Hidupnya yang seakan-akan telah terhempas jatuh ke dalam
jurang yang paling dalam itu memberinya kesempatan untuk mencari
jalan bagi masa depannya. Seakan-akan ia kini mendapat bimbingan
untuk bangkit dan memupuk kepercayaan kepada diri sendiri. Pangeran
Ranakusuma yang mengamari perkembangan hubungan kedua anaknya itu
menar ik nafas dalam-dalam. Bahkan setiap kali ia merasa bersukur,
bahwa jarak yang adadi antara mereka semakin lama menjadi semakin
pendek. Juwiring yang benar-benar sudah dapat berpikir secara dewasa
itu, berusaha untuk menghindarkan kemungkinan yang dapat membatasi
hubungannya dengan Rara Warih, apalagi mengungkit persoalan-yang
sudah lampau dan yang dapat menjadi duri di dalam hati
masing-masing. Sedang Rara Warih yang terbentur pada kejamnya
kehidupan, berusaha untuk menemukan sandaran pada diri sendiri dan
memupuk pengakuan, bahwa Juwiring sebenarnya adalah anak muda yang
baik. Namun dengan demikian, maka Pangeran Ranakusuma itupun
kemudian sampai pada suatu kesimpulan, bahwa kehadirannya di istana
Ranakusuman bukannya suatu hal yang mut lak. Bahwa ia mendapat
kesimpulan tentang anak- anaknya itu, telah melepaskannya dari
kebimbangan untuk bertindak lebih jauh sebagai seorang laki-laki
terhormat di Surakarta. Tidak ada seorangpun yang tahu, apa yang
dipikirkannya. Meskipun sama sekali tidak menyangkut kekuasaan yang
semakin bertambah-tambah dari orang asing itu atas Surakarta, namun
sebagai seorang Senapati, maka Pangeran Ranakusumapun mempunyai
sikap yang pasti bagi dirinya sendiri. Tetapi pada saatnya ia akan
melakukan rencananya itu, dipanggilnya Ki Dipanala menghadap dan
hanya kepadanya sajalah Pangeran Ranakusuma itu mengatakannya.
“Pangeran“ Ki Dipanala menjadi tegang “hamba mengharap Pangeran
memikirkannya berulang kali. Apakah rencana itu tidak dapat
dibatalkan, atau Setidak-tidaknya ditunda?” “Tidak Dipanala. Aku
sudah bertekad. Apalagi menurut penglihatanku, hubungan antara
Juwiring dan adiknya sudah menjadi semakin baik. Dengan demikian,
seandainya aku tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini, aku
sudah tenang meninggalkannya”“Tidak Pangeran. Masih ada persoalan
yang harus diperhitungkan. Mungkin akibat daripada peristiwa itu
akan berkepanjangan” Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam.
Namun ia menggeleng sambil berkata “Apaboleh buat Dipanala. Aku
sudah menjadi seorang pengkhianat bagi Surakarta, karena aku selalu
berhubungan dengan orang-orang asing dan bahkan member i kesempatan
kekuasaan mereka berkembang, sekedar untuk pemuasan diri sendiri.
Dengan demikian, maka aku sudah menjadi seorang yang mementingkan
dir iku sendir i. Tetapi apakah artinya, jika dengan demikian justru
dir iku sendiri inilah yang kemudian mendapat hinaan itu?“ Ki
Dipanala termenung sejenak. Yang terbayang adalah peristiwa yang
mengerikan akan terjadi. Tetapi ternyata ia tidak dapat mencegahnya.
Dan apa yang direncanakan oleh Pangeran Ranakusuma itu benar-benar
dilakukannya. Ketika bulan bulat di langit, dan udara cerah,
Pangeran Ranakusuma telah memerintahkan menyiapkan keretanya.
“Ayahanda akan menghadap ke istana?“ bertanya Rara Warih. Pangeran
Ranakusuma menjadi bimbang sejenak. Dipandanginya wajah anaknya yang
tidak lagi secerah saat ibundanya masih ada di istana ini. “Apakah
ayahanda dipanggil oleh Kangjeng Susuhunan?“ Mata Pangeran
Ranakusuma menjadi redup. Kemudian terdengar ia berdesah
perlahan-lahan. “Warih” berkata Pangeran Ranakusuma “Baik-baiklah di
rumah. Dimana kamasmu Juwiring?“ “Di belakang ayahanda” “Panggillah
ia menghadap”Rara Warih mengerutkan keningnya. Tetapi ia t idak
bertanya lagi. Dipanggilnya Juwiring, yang sedang berada di
belakang. Ketika Juwiring kemudian menghadap ayahandanya, ia
terkejut melihat sikap dan tatapan mata Pangeran Ranakusuma. Tetapi
ia tidak berani bertanya sesuatu sebelum Pangeran Ranakusuma sendiri
memberitahukan kepentingannya. Sejenak Juwir ing menunggu. Dan
kemudian didengarnya suara ayahnya dalam “Baik-baiklah di rumah
Juwir ing. Aku senang melihat kalian telah berubah dan saling
mendekatkan diri sebagai dua orang kakak beradik” kata-kata Pangeran
Ranakusuma terputus. Agaknya masih ada yang akan dikatakannya,
tetapi rasa-rasanya tidak dapat dilontarkannya. Juwiring merasakan
sesuatu yang lain pada ayahandanya. Karena itu, maka setelah
beberapa saat ia menunggu, ayahnya masih tetap berdiam dir i, maka
iapun kemudian bertanya “Kemanakah ayahanda akan pergi sekarang
ini?“ “Ada tugas yang harus aku lakukan Juwiring” “Perintah Kangjeng
Susuhunan?“ Sejenak Pangeran Ranakusuma termangu-mangu. Namun
sejenak kemudian bibirnya tersenyum sambil berkata “Tentu. Tentu
perintah Kangjeng Susuhunan. Nah, tinggallah di rumah baik-baik.
Mungkin aku tidak pulang malam nanti” Kedua kakak beradik itu
termangu-mangu. Namun mereka tidak dapat bertanya lebih jauh, karena
Pangeran Ranakusumapun kemudian meninggalkan keduanya dan turun ke
halaman. Keretanya sudah siap menunggu di bawah tangga sehingga
sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma itupun hilang di balik pintu
keretanya yang segera
berderap.
Jilid 13 KI DIPANALA yang berada di
regol mengangguk dalam- dalam. Namun hampir di luar sadarnya ia
berkata “Hati-hatilah Pangeran” Juwiring mendengar pesan itu
lamat-lamat. Kecurigaan di hatinya tiba-tiba menjadi semakin mekar.
Ayahandanya jarang sekali mengenakan pakaian kebesarannya sebagai
seorang Senapati perang, apalagi membawa senjata rangkap. Sebilah
pedang di lambung dan keris pusakanya di punggung. “Apakah sesuatu
akan terjadi?” Ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi ia tidak mau
menyatakan kegelisahannya kepada adiknya. Tetapi sejenak kemudian,
iapun pergi keluar ruang dalam. Kepada adiknya ia mengatakan, bahwa
masih ada sesuatu yang harus dikerjakan di kandang kuda. Namun Raden
Juwir ing t idak pergi ke kandang kuda. la langsung menemui Ki
Dipanala, dan memaksa agar Ki Dipanala mengatakan apa yang diketahui
tentang ayahandanya.Sejenak Ki Dipanala termangu-mangu. Namun
katanya kemudian “Aku percaya kepada Raden. Tetapi Radenpun harus
melindungi kepercayaanku kepada Raden” “Aku mengerti. Katakan”
Sejenak Ki Dipanala masih termangu-mangu. Namun kemudian
dikatakannya pula rencana yang akan dilakukan oleh ayahandanya,
Pangeran Ranakusuma. “Jadi ayahanda akan melakukannya sekarang?“ “Ya
Raden. Tetapi akupun menjadi gelisah. Rasa-rasanya aku ingin
menyaksikan apa yang akan terjadi” “Aku pergi bersamamu paman” “Ah
jangan Raden. Raden belum mengenal keadaan kota ini sebaik-baiknya
sejak orang-orang asing itu berkuasa” “Aku pergi bersama paman”
“Mereka sangat curang dan licik” “Justru karena itu” Ki Dipanala
menarik keningnya. Tetapi ia masih juga berusaha mencegah Raden
Juwiring. Namun agaknya Juwiring tetap pada pendiriannya. Sehingga
akhirnya Ki Dipanala berkata “Terserahlah kepada Raden. Tetapi kita
harus berhati- hati” Demikianlah maka keduanyapun segera
mempersiapkan diri. Ki Dipanala mengerti, apa yang akan terjadi dan
kemana mereka harus pergi. Dalam pada itu, di tepi bengawan,
beberapa orang telah berkumpul. Bahkan di bawah pepohonan yang
berpencaran dengan liarnya terdapat beberapa buah kereta. Ketika
orang- orang itu melihat lampu kereta di kejauhan dan kemudian
mendengar derap kaki kuda, merupakan segera menyibak. Seorang yang
berpakaian seorang Senapatipun kemudianmenyongsong sambil berdesis
“Tentu kamas Ranakusuma. Ia tidak pernah ingkar janji” Ketika kereta
itu mendekat, maka orang-orang yang sudah ada di tepi bengawan
itupun menjadi tegang. Beberapa orang kumpeni yang ada juga di
tempat itu menjadi tegang pula. Ternyata yang mereka duga adalah
benar. Yang datang adalah Pangeran Ranakusuma. Demikian Pangeran
Ranakusuma turun dari keretanya, maka iapun langsung mendekati
orang-orang yang menunggunya sambil berkata “Aku sudah siap. Bulan
sudah berada di ujung pepohonan di seberang bengawan. Sudah waktunya
kita mulai” Orang-orang yang ada di tepian itupun segera menyibak.
Beberapa orang yang mendapat tugaspun segera tampil ke depan. Empat
orang. Yang dua orang adalah orang asing dalam pakaian kebesarannya
sedang yang dua orang adalah bangsawan tertinggi di Surakarta.
“Kalian akan menjadi saksi” geram Pangeran Rana-kusuma “Aku adalah
laki-laki yang akan membela nama baikku. Aku minta perang tanding
dengan pedang” Seorang kumpeni maju sambil menjawab dengan bahasa
yang patah-patah ”Baik. Kalian akan melakukan perang tanding. Memang
kehormatan dapat diselesaikan dengan melakukan duel. Apakah
peraturan yang Pangeran pilih“ “Tidak ada peraturan buat perang
tanding, selain aku atau Dungkur yang harus mati” “Ah, tidak begitu
Pangeran. Ada peraturan yang lebih lunak dari itu” “Aku atau Dungkur
yang akan mati. Di arena perang tanding atau tidak. Aku tidak dapat
menghirup udara di Surakarta ini bersama dengan Dungkur”“Pangeran“
kumpeni itu masih berusaha melunakkan hati Pangeran Ranakusuma “Kita
sudah lama bekerja sama di Surakarta ini untuk kepentingan kita
bersama. Untuk kemajuan Surakarta, supaya Surakarta dapat mencapai
tingkat kerajaan di luar pulau ini, dan menyamai daerah-daerah di
daratan Barat. Karena itu, janganlah kita membuat jarak di antara
kita” “Aku tetap menghormati kalian sebagai bangsa asing yang
membawa peradaban baru di tanah ini. Aku tidak akan menarik kerja
sama yang sudah kita pupuk. Tetapi persoalanku dengan Dungkur bukan
persoalan kerja sama antara kerajaan Surakarta dan kerajaan Belanda.
Tetapi persoalan itu adalah persoalan dua orang laki-laki yang akan
membela nama baiknya masing-masing” “Aku dapat mengusulkan agar
orang itu dipindahkan dari Surakarta dan ditarik ke Betawi”
“Terserah. Tetapi persoalanku harus selesai. Meskipun ia sudah pergi
dari bumi Surakarta, tetapi jika ada kesempatan aku akan tetap
menantangnya perang tanding. Laki- laki itu sudah menyentuh
isteriku. Bagi seorang bangsawan, seorang isteri bernilai seperti
dir inya sendiri, meskipun isteriku juga mempunyai noda-noda
kelemahan” Perwira kumpeni itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia
memandang kepada Dungkur, maka dilihatnya wajah yang tegang dan
tangan yang mengepal. Ternyata bahwa kumpeni yang bernama Dungkur
itupun telah siap melakukan perang tanding sampai mati. “Aku adalah
kesatria” berkata kumpeni itu “Apalagi martabatku sebagai seorang
kulit putih lebih tinggi dari martabatmu” “Tutup mulutmu” potong
Pangeran Ranakusuma “Jangan mengungkat martabat kemanusiaan kita.
Kita dilahirkan sama. Dan sekarang, salah seorang dari kita akan
mati. Setelahmatipun tidak akan ada bedanya di antara kita. Jika
mayat kita dikuburkan di bumi, maka yang akan t inggal adalah
kerangka yang terdiri dari tulang-tulang melulu” “Persetan“ Dungkur
hampir berteriak “Marilah kita mulai. Bangsa kulit putih adalah
bangsa yang ditakdirkan menguasai orang-orang kulit berwarna seperti
kau. Dan sudah ditakdirkan pula bahwa kami dapat mengambil apa yang
kami kehendaki. Termasuk isterimu” Setiap orang terkejut ketika
tiba-tiba saja Dungkur mengaduh. Tidak seorangpun tahu, bagaimana
dapat terjadi. Tangan Pangeran Ranakusuma rasa-rasanya telah
menampar pipi Dungkur. Padahal jarak keduanya lebih dar i satu
langkah. Selagi orang yang mengitari mereka menjadi terheran- heran,
maka Pangeran Ranakusumapun maju setapak sambil menyingsingkan kain
panjangnya dan menyangkutkannya pada ikat-pinggangnya. Diputarnya
keris yang ada di punggung, sehingga berada di lambung. Dungkurpun
menjadi heran, bahkan tidak tahu apa yang telah terjadi. Tetapi
pipinya benar-benar terasa sakit. “Ah, ini adalah semacam permainan
yang tidak bermutu” katanya di dalam hati “Jika pedangku menyentuh
dadanya, maka dadanya itu tentu akan sobek dan darahnya akan
mengucur di tanah kelahirannya yang sebentar lagi akan lepas dari
tangannya ini” Demikianlah, karena Pangeran Ranakusuma dan Dungkur
telah tidak lagi dapat melunakkan hati mereka, maka perang tanding
itupun segera akan dimulai, dengan tekad, salah seorang dari mereka
akan mati. Kapitan Dungkur adalah seorang perwira yang memiliki
pengalaman yang tiada taranya. Ia telah menjelajahi beberapa benua
mengarungi lautan dan bahkan mengalami perang dibanyak daratan.
Dungkur t idak pernah gentar melihat kapal di tengah laut yang
menaikkan panj i-panji bergambartengkorak dan pedang bersilang
karena bajak laut yang betapapun ganasnya, tidak banyak dapat
berbuat terhadap kapal-kapal Belanda yang di pertahankan oleh
orang-orang terlatih di dalampeperangan di daratan maupun di lautan.
Kini yang dihadapinya tidak lebih dari seorang pribumi yang memakai
kain panjang dan baju hitam berlengan panjang pula. Berikat pinggang
sejengkal dan memakai tutup kepala. “Uh.” Dungkur t iba-tiba meludah
“menggelikan sekali. Kau, orang yang hidup di dalam dunia yang
lambat akan mencoba melawan aku? Barangkali kau belum pernah melihat
betapa ganasnya lautan dan apalagi bajak laut. Kau belum pernah
mengalami peperangan yang sebenarnya di benua lain. Kau sekarang
sudah berani menantang aku berperang tanding. Malanglah nasib anakmu
yang cantik itu. Sebenarnya jika kau berkeberatan memberikan
isterimu, aku akan mengambil anakmu saja” Pangeran Ranakusuma.
memandang perwira kumpeni yang akan menjadi saksi dalam perang
tanding itu sambil berkata “Inikah gambaran dari keseluruhan
bangsamu yang kau katakan mempunyai martabat yang tinggi?“ “Tidak,
tidak Pangeran. Seperti bangsamu juga, kadang kadang ada di antara
kami yang mempunyai sifat dan watak yang lain” jawab seorang perwira
kumpeni. “Dan Dungkur adalah contoh dari kelainan itu?“ “Diam”
bentak Dungkur “Kita akan mulai” Dungkur tidak menunggu jawaban
Pangeran Ranakusuma. Dengan serta merta ditariknya pedangnya yang
panjang, dengan sebuah pelindung bagi jar i-jarinya yang menggenggam
hulu. Kemudian sebuah rantai yang melingkar di tangannya, terikat
pada hulu pedang itu, sehingga jika pedang itu terlepas, maka pedang
itu akan tetap tersangkut di tangannya.Pangeran Ranakusumapun menar
ik pedangnya pula. Pedangnya jauh lebih sederhana. Tidak mengkilap
seperti pedang Dungkur, bahkan agak kehitam-hitaman. Tetapi pedang
Pangeran Ranakusuma adalah bukan sembarang pedang. Pedang itulah
yang selama ini disebutnya Kiai Pagerwesi. Dengan demikian keduanya
sudah berdir i saling berhadapan. Beberapa orang saksi berdiri
mengelilinginya. Beberapa erang perwira kumpeni dan beberapa orang
bangsawan tertinggi di Surakarta. Pangeran Ranakusuma membenahi kain
panjangnya yang sudah tersangkut diikat pinggangnya yang besar.
Setapak demi setapak ia maju mendekati lawannya. Dungkurpun telah
bersiap melayaninya. Ia berdiri agak condong. Badannya dimir
ingkannya, sedang pedangnya lurus terjulur ke depan. Satu tangannya
terangkat di belakang seakan-akan merupakan pengatur keseimbangan
dar i badannya yang miring itu. Tetapi Pangeran Ranakusuma bersikap
lain. Ia menghadap lawannya. Pedangnya bersilang di muka dadanya.
Setapak demi setapak ia masih saja melangkah mendekat Dungkur
menjadi heran melihat sikap itu. Tetapi kemudian ia tersenyumdan
berkata di dalam hatinya “Orang ini memang dungu. Ia sekedar dibakar
oleh kemarahannya saja. Agaknya demikianlah Senapati Surakarta
melakukan perang tanding. Tanpa memiliki pengetahuan sama sekali
atas senjata yang dipergunakannya”Dengan gerak yang bagaikan acuh
tidak acuh saja, Dungkur menggerakkan ujung pedangnya. Berputar
sedikit, dan kemudian terjulur lurus mengarah ke dada. Ia tidak
ingin segera melukai lawannya. Ia hanya ingin mengganggunya saja.
Tetapi Dungkur terkejut ketika dengan sebuah gerakan kecil, Pangeran
Ranakusuma meloncat ke samping, sambil mengangkat pedangnya. Pedang
itupun kemudian terayun deras sekati mengarah ke leher Dungkur.
Gerakan itu sama sekali tidak sulit. Dungkur segera menyilangkan
pedangnya menangkis serangan itu dan memukulnya ke samping. Namun
sama sekali tidak diduganya. Pukulan itu ternyata didorong oleh
kekuatan yang luar biasa, sehingga tangkisannya yang pertama itu
telah mengejutkannya. Yang terjadi adalah sebuah benturan yang
dahsyat. Kekuatan yang sama sekali tidak diduganya telah menghantam
pedangnya. Jauh lebih kuat dari ayunan pedang seorang bajak laut
bertubuh raksasa yang pernah mencoba mengganggu kapalnya di lautan.
Karena Dungkur sama sekali t idak mempersiapkan diri menghadapi
kekuatan yang tidak terduga-duga dari seseorang sekedar memakai kain
panjang, celana setinggi lutut dan berikat kepala itu, maka
pedangnya telah terlepas dari tangannya. Untunglah bahwa rantai yang
tersangkut dipergelangan tangannya tidak terlepas sehingga pedang
itu masih tetap tersangkut di tubuhnya. Pangeran Ranakusuma berdiri
membeku sejenak, dengan sengaja ia member ikan kesempatan kepada
lawannya untuk memperbaiki keadaannya. Benturan yang pertama-tama
itu benar telah mengejutkan beberapa orang yang menjadi saksi dari
perang tanding itu,terutama para perwira kumpeni. Mereka tidak
menyangka, bahwa hal itu dapat terjadi, karena mereka menganggap
bahwa Dungkur adalah seorang yang memiliki ilmu pedang yang dikagumi
oleh kawan-kawannya. “Dungkur tidak bersiap” berkata para perwira
itu di dalam hatinya “Ia menganggap lawannya terlampau lemah,
seperti orang-orang pribumi yang pernah ditemuinya selama
penjelajahannya di beberapa benua” Sejenak kemudian Dungkur telah
menggenggam pedangnya kembali. Sejenak ia mempersiapkan diri. Kini
ia benar-benar harus berhati-hati menghadapi orang pribumi yang oleh
lingkungannya disebutnya seorang Pangeran. Sejenak kemudian maka
perkelahian itupun telah meledak lagi. Dungkur berusaha menyerang
dengan tangkasnya. Tetapi setiap kali ujung pedangnya bagaikan
menghantam dinding. Ternyata Pangeran Ranakusuma adalah seorang yang
sangat tangkas mempergunakan pedangnya, meskipun dengan cara yang
tidak dimengerti. Bahkan setiap kali Dungkur menjadi bingung, karena
lawannya selalu berloncatan melingkar- lingkar seperti seekor
kijang. Dungkur telah mengalami pertempuran pedang beberapa kali.
Lawannya sering pula berloncatan jika terdesak. Tetapi Pangeran
Ranakusuma tidak berbuat demikian. Ia selalu bergerak melingkar dan
kemudian mengelilingnya sehingga ia harus berputar sambil
menjulurkan pedangnya. Namun tiba- tiba lawannya itu menyerang
sambil meloncat kearah yang tidak diduganya sama sekali. Keringat
Dungkur itu segera membasahi pakaiannya. Namun tangannya yang lincah
itu setiap kali masih berhasil menangkis serangan pedang Pangeran
Ranakusuma. Bahkan Dungkur masih dapat mengharap, bahwa bertempur
dengan cara yang ditempuh oleh Pangeran Ranakusuma itu tentu akan
segera menghabiskan tenaga.Karena itu. Dungkur untuk sementara hanya
bertahan saja sambil berputar. Kakinya yang merendah pada lututnya
bergeser dengan cermat mengikut i arah pedangnya. ia berharap, bahwa
dalam waktu yang singkat, Pangeran Ranakusuma yang bertempur dengan
cara yang aneh dan menurut pendapat Dungkur agak liar dan kasar itu.
akan segera kehabisan tenaga. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Semakin lama Dungkur menjadi semakin bingung menghadapi cara yang
aneh dari seorang bangsawan Surakarta ini, seorang Senapati perang
dari kerjaan yang disangkanya jauh terbelakang dibanding dengan
kerajaan di daratan Benua Barat. Untuk beberapa lama Dungkur masih
tetap mampu mempertahankan dir inya dengan kelincahan tangannya.
Tetapi ia masih saja bergeser pada kedua kakinya setapak demi
setapak. Kadang-kadang berputar dan sedikit meloncat. Sedang
Pangeran Ranakusuma bertempur bagaikan burung sikatan.
Menyambar-nyambar dengan garangnya. Sekali-sekali ujung pedangnya
mematuk, kemudian terayun menyambar lawannya. Dan sesaat kemudian
berputar seperti baling- baling. Para perwira kumpeni menjadi
bingung pula melihat cara itu. Cara yang hampir tidak pernah
dilihatnya. Jika di dalam peperangan di daerah ini ia melihat pedang
yang berputaran seperti itu, disangkanya bahwa prajurit-prajurit
Surakarta memang prajurit-prajur it yang dungu. Namun di dalam
perang tanding, barulah mereka menyadari bahwa tata gerak yang
demikian dapat membuat lawannya menjadi bingung. Yang kemudian lebih
dahulu susut tenaganya adalah justru Dungkur sendir i. Meskipun ia
sudah berusaha menghemat tenaganya, dan mengharap lawannya akan
kehabisan nafas, namun ternyata bahwa tangannya merasa menjadi
semakin lemah dan nafasnya sudah berangsur-angsur menjadi
sendat.Karena itulah, maka ia menjadi semakin terdesak oleh
serangan-serangan Pangeran Ranakusuma yang semakin dahsyat. Dungkur
menjadi bingung ketika tiba-tiba saja pedang Pangeran Ranakusuma
mematuk dari samping. Namun ia masih berhasil menghindar dan
berusaha menangkis serangan itu. Tetapi dengan cepat Pangeran
Ranakusuma menarik pedangnya dan menyerang mendatar. Dungkur tidak
mempunyai kesempatan untuk menghindar lagi. Sekali lagi ia
mempergunakan kelincahan tangannya untuk menangkis serangan itu.
Tetapi ayunan pedang Pangeran Ranakusuma ternyata terlampau keras,
sehingga benturan yang terjadi adalah benturan yang dahsyat. Seperti
yang pernah terjadi, tangan Dungkur tidak mampu lagi bertahan.
Karena itu, maka ketika perasaan sakit menyengat pergelangannya,
maka pedangnyapun telah terlepas dari tangannya. Tetapi pada saat
itu, pedang Pangeran Ranakusuma terjulur lurus. Dungkur melihat
ujung pedang itu. Tetapi ia tidak berdaya lagi. Ia hanya sempat
mengelakkan diri bergeser setapak. Namun ujung pedang itu masih juga
menyobek lengannya. Terdengar ia mengeluh tertahan. Ujung pedang itu
telah mendorongnya sehingga ia hampir saja kehilangan
keseimbangannya. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak melepaskannya.
Sekali lagi ia meloncat menyerang dan di dalam keadaan yang sulit
itu, Dungkur hampir tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika ia berusaha
menggeliat, maka keseimbangannyapun tidak lagi dapat dikuasai,
sehingga iapun jatuh terbanting. Namun agaknya justru memberinya
kesempatan untuk menghindarkan dir i dari tusukan pedang yang
langsung menghunjam di jantungnya, karena justru ketika ia terjatuh,
maka tusukan pedang Pangeran Ranakusuma tidak mengenaidadanya.
Tetapi kali ini pundaknyalah yang sobek oleh pedang lawannya yang
berwarna kehitam-hitaman itu. Meskipun tusukan itu tidak langsung
membunuhnya, namun ternyata Dungkur sudah tidak dapat berbuat apapun
lagi. Badannya serasa menjadi lumpuh oleh perasaan sakit yang tidak
terkira. Sekali ia berguling di pasir sambil mengerang kesakitan.
Agaknya Pangeran Ranakusuma masih belum puas. Ia sudah bertekad
untuk berperang tanding sampai salah seorang dari mereka mati di
arena. Karena itu, maka ia masih meloncat sekali lagi sambil
mengangkat pedangnya. Namun pada saat itu, seorang perwira kumpeni
yang lainpun meloncat pula sambil berkata gugup “Sudah cukup
Pangeran. Sudah cukup” “Aku sudah berkata, bahwa satu di antara kita
harus mati” “Tetapi itu tidak berperikemanusiaan” “Ia juga tidak
berperikemanusiaan, karena ia sudah menodai isteriku dan sekaligus
membunuh anakku” “Tetapi, ia sudah Pangeran kalahkan” “Aku harus
membunuhnya seperti ia membunuh anakku. Noda yang melekat pada
keluargaku harus ditebus dengari nyawa” “Tidak Pangeran. Itu tidak
baik” “Minggir, atau kau akan menggantikannya” bentak Pangeran
Ranakusuma. Tetapi tiba-tiba seorang perwira kumpeni yang lain
menggeram ”Itu perbuatan gila. Kau benar-benar bangsa yang
biadab”Kemarahan Pangeran Ranakusuma menjadi semakin menyala di
dadanya. Karena itu, maka iapun segera meloncat menghadapi perwira
kumpeni yang telah mengumpatinya itu. Tetapi langkah Pangeran
Ranakusuma tertegun. Ia melihat kumpeni itu membawa senjata api
pendek di tangannya dan teracung kepadanya. Karena itu maka iapun
kemudian menggeram “Licik. Mar ilah kita berperang tanding dengan
senjata tajam” “Kau gila. Kau memang harus dibunuh Pangeran. Kau
melukai seorang perwira kumpeni sehingga parah” “Persetan. Ia harus
dibunuh” “Kau yang harus dibunuh” bentak kumpeni itu. “Tidak“
perwira kumpeni yang tertua itulah yang kemudian mencoba
mencegahnya. Tetapi yang berdiri di tepian itu adalah
prajurit-prajurit. Prajurit dari kerajaan Belanda yang terbiasa
hidup di medan perang, di darat dan di lautan. Itulah sebabnya, maka
darah merekapun cepat mendidih melihat akibat dari perang tanding
itu. Namun demikian, Pangeran-Pangeran yang ada di tepian itupun
prajurit-prajurit pula. Mereka mempertaruhkan nyawanya bagi nama
baik dan kehormatannya secara pribadi. Karena itu, ketika perwira
yang memegang senjata api pendek itu melangkah setapak demi setapak
mendekati Pangeran Ranakusuma, maka hampir tidak dapat diketahui,
apa yang telah terjadi, namun tiba-tiba seorang Pangeran yang masih
jauh lebih muda dari Pangeran Ranakusuma telah menyekap Perwira
kumpeni itu dari belakang, dan ujung kerisnya telah melekat lambung.
“Jika kau berkeras kepala, aku akan mengingkari semua kerja sama
yang pernah kita lakukan. Aku akan membunuhmu dengan kerisku” geram
Pangeran itu.Perwira itu tertegun. Tetapi ia tidak sempat berbuat
sesuatu karena keris Pangeran itu benar-benar telah terasa di
lambungnya. Dalam pada itu, perwira kumpeni yang tertua itupun
berteriak “Aku member ikan perintah. Hentikan semuanya”
Perwira-perwira kumpeni yang lain, yang telah bersiappun menjadi
ragu-ragu. Dan perwira tertua itu berkata “Kita tidak boleh
mengorbankan hubungan baik selama ini karena persoalan pribadi.
Persoalan negara adalah jauh lebih penting dari persoalan pr ibadi”
Mereka yang berdiri di pinggir bengawan itu menjadi termangu-mangu.
Namun kemudian seorang perwira berkata “Tetapi lukanya parah sekali”
“Bawalah kepada tabib supaya lukanya segera diobati” perintah
perwira itu. Kumpeni itupun kemudian mengangkat Dungkur ke dalam
sebuah kereta. Namun terasa, ketegangan yang semakin memuncak. Dan
sebelum kereta itu berderap Pangeran Ranakusuma menggeram “Jika ia
sembuh, aku tantang ia berkelahi sampai mati. Aku tidak puas dengan
kelicikan kalian, orang-orang yang menyebut dirinya kesatria dari
Barat” “Cukup” bentak seorang perwira kumpeni yang lain. “Licik”
teriak seorang Pangeran “Kalian memang licik. Perang tanding sampai
mati, berarti yang kalah harus menandai dir i dengan kematian. Dan
perwira kumpeni adalah licik sekali. Kematian baginya lebih berharga
dari kehormatan” “Diam” bentak perwira kumpeni itu. “Cukup” teriak
perwira kumpeni yang paling tua di antara mereka ”Persoalan ini
harus kita anggap sudah selesai. Marilah kita kembali dan
melupakannya” Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak beranjak dari
tempatnya. Ketika ia melihat kereta yang membawa Dungkurmeninggalkan
tepian itu ia menggeram “Akan datang saatnya aku membunuhnya” “Kita
akan melupakan semuanya” berkata perwira kumpeni yang tertua “Kita
sekarang akan kembali dan tidak seorangpun di antara kita yang akan
menceriterakan peristiwa ini kepada siapapun juga” Pangeran
Ranakusuma tidak menjawab. Tetapi dendam masih tampak menyala di
dadanya. Noda pada isterinya adalah noda terhadap kehormatannya. Dan
kematian anaknya adalah hentakkan yang sangat berat pula baginya.
Ketika kereta yang membawa Dungkur dan kemudian perwira-perwira
kumpeni yang lain itu meninggalkan tepi Bengawan, maka Pangeran
Ranakusumapun kemudian menarik nafas dalam-dalam. “Tetapi hukuman
itu sudah cukup baginya kamas” berkata salah seorang Pangeran yang
mendekatinya, “Belum” sahut Pangeran Ranakusuma “hanya kematian yang
dapat menebus semua peristiwa yang pernah dilakukan” Pangeran yang
kemudian berdiri di sisinya itu tidak menjawab lagi. Ia sudah
mengenal tabiat Pangeran Ranakusuma. Jika ia sudah bersikap
demikian, maka tidak akan ada orang lain yang dapat melunakkannya
kecuali dari dirinya sendir i. Dalam pada itu, sebelum para Pangeran
itu meninggalkan tepian, maka dua orang yang melihat semua per
istiwa itu dari balik gerumbul-gerumbul liar, dengan hati-hati
meninggalkan tempatnya. Mereka tidak berani berjalan dengan cepat,
karena desir kakinya akan didengar oleh para Pangeran yang ada di
tepian. Kedua orang itu adalah Juwiring dan Dipanala. Mereka berdua
melihat apa yang terjadi di tepian itu, meskipun kadang-kadang tidak
begitu jelas. Namun mereka dapat menangkap kesan keseluruhan dari
per istiwa itu.Bukan saja kesan tentang peristiwa itu, tetapi bagi
Juwiring persoalannya menjadi semakin jelas. Ia mengerti apa yang
telah terjadi atas Raden Ayu Galihwarit. Dan anak muda itu dapat
membayangkan, betapa pahitnya perasaan ayahandanya menghadapi
peristiwa yang hitam itu. Ketika keduanya sudah berada agak jauh
dari tepian dan tidak lagi dapat dilihat oleh para Pangeran, maka
keduanyapun kemudian menyusup ke dalam gerumbul mengambil kuda
mereka yang memang ditambatkannya agak jauh. Tetapi ketika mereka
berdua sudah berada di punggung kuda, mereka terkejut bukan buatan
ketika mereka mendengar seseorang bertanya “Kau menyaksikan
peristiwa itu?“ Keduanya serentak berpaling. Dilihatnya seorang anak
muda yang bertolak pinggang di belakang mereka. “O“ Juwiringpun
segera meloncat turun, diikuti oleh Ki Dipanala. “Kalian tidak usah
turun” cegahnya. Tetapi Juwir ing dan Ki Dipanala sudah berdir i di
atas tanah. “Kamas juga menyaksikan?“ bertanya Juwiring. “Ya. Aku
melihat dari awal sampai akhir. Dan bukankah kau dapat melihat,
bahwa sebenarnya pamanda Ranakusuma adalah seorang Senapati yang
mumpuni? Bukan saja di dalam olah kanuragan secara pribadi di dalam
perang tanding, tetapi ia adalah seorang Senapati yang sempurna di
peperangan” “Ya kamas” “Orang asing itu kini melihat, bahwa
Surakarta bukannya sebuah Kerajaan yang diperintah oleh anak-anak
cengeng. Tetapi bahwa ayahandamu telah dapat melepaskan dendamnya.
Meskipun orang asing itu tidak terbunuh seketika,tetapi aku yakin,
ia akan mati, karena pedang ayahandamu adalah pedang yang
sesungguhnya. Bukan sekedar pedang mainan seperti milik kumpeni itu.
Karena itu, meskipun tidak disaksikan oleh pamanda Ranakusuma, namun
orang asing itu tentu tidak akan pernah dilihatnya lagi berada di
Surakarta. Namun agaknya pamanda Ranakusuma tidak puas jika ia tidak
melihat kumpeni itu mati di hadapannya” Juwiring mengangguk. Katanya
“Tetapi di dalam sikapnya mengenai negeri ini, aku masih
meragukannya. Apakah ayahanda dan para Pangeran itu akan berubah”
“Itu masih diper lukan waktu. Tetapi mudah-mudahan” Raden Juwiring t
idak menyahut lagi. Dan anak muda itupun kemudian berkata “Sudahlah.
Bukankah kau akan mendahului pamanda Ranakusuma pulang ke istana
Ranakusuman?“ Juwiring tersenyum dan menjawab ”Ya kamas” “Pergilah”
“Apakah kamas akan tinggal di sini?“ “Aku berada di segala tempat”
Raden Juwiringpun kemudian meninggalkan tempat itu. Kudanya berpacu
cepat sekali diikuti oleh Ki Dipanala. Mereka memang ingin
mendahului ayahandanya yang agaknya masih berbincang beberapa
lamanya di tepian dengan para Pangeran. Tetapi Pangeran
Ranakusumapun tidak terlalu lama berada di antara mereka. Agaknya
para Pangeran itu berusaha untukmenenangkannya. Namun Pangeran
Ranakusuma masih tetap pada pendiriannya. “Kamas” berkata seorang
Pangeran yang masih lebih muda daripadanya, yang ketika terjadi
perang tanding, telah menyekap seorang perwira yang akan
mempergunakan senjata api “Memang kami dapat mengerti, betapa dendam
telah membakar hati kamas. Tetapi kamas juga sudah mendapat
kesempatan” “Aku harus yakin, bahwa orang itu dapat aku bunuh. Jika
oleh tabib yang menurut beritanya sangat pandai dan dapat
menyembuhkan berbagai macam penyakit itu, dapat diobatinya, maka aku
akan mengulangi perang tanding ini” Para Pangeran itupun terdiam.
Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi tidak seorangpun yang
berbicara lagi. Pangeran Ranakusumapun kemudian segera naik ke dalam
keretanya dan sejenak kemudian kereta itupun telah berderap menyusur
jalan kota yang remang-remang. Beberapa buah pelita minyak
terpancang di pinggir jalan berkeredipan disentuh angin. Ketika
Pangeran Ranakusuma sampai di istananya, jauh malam, Juwiring sudah
berada di dalam biliknya. Ketika ia berdiri dan melangkah keluar,
ayahandanya lewat dan berkata “Beristirahatlah. Kenapa kau
belumtidur?“ Tetapi ayahandanya sama sekali tidak berhenti. Pangeran
Ranakusuma itu langsung masuk ke dalam biliknya. Ia tidak ingin
dilihat oleh Juwiring, bahwa pakaiannya kusut dan kotor, bahkan
sepercik noda darah telah mengotori bajunya. Dalam pada itu, kereta
yang membawa Dungkurpun telah langsung mendapatkan tabib yang memang
di tempatkan di Surakarta bagi para kumpeni yang ada di kota itu.
Tetapi ternyata bahwa lukanya yang parah tidak memungkinkannya lagi
untuk bertahan. Ketika ia memasuki pintu bilik tabib itudengan
dipapah oleh kawan-kawannya, maka perwira kumpeni itu menghembuskan
nafasnya yang terakhir. “Mati” desis kawannya. Dungkur itupun
kemudian dibaringkan di atas sebuah pembaringan. Lukanya yang parah
itulah yang telah mencabut nyawanya. “Kematian ini harus ditebus
oleh orang-orang pribumi yang liar itu” geram seorang perwira yang
masih muda. Tetapi perwira yang paling tua di antara mereka
menggelengkan kepalanya. Katanya “Kita adalah kesatria dari benua
Eropa yang lebih beradab. Kita akan menghargai kejantanan. di dalam
perang tanding ini, semuanya harus kita anggap sudah selesai. Bagi
kita, Surakarta adalah suatu negeri, yang sangat penting. Pada saat
terakhir, kita sudah berangsur-angsur dapat menguasai lebih banyak
lagi jalur- jalur perdagangan dan bahkan pemerintahan. Jangan kalian
merusak usaha yang kita buka dengan susah payah. Surakarta agak
berbeda dengan daerah-daerah yang lain. Surakarta memiliki kekuatan
dan lebih dari itu memiliki kesadaran kebangsaan yang tinggi. Karena
itulah kita harus berhati-hati” “Tetapi apakah kita harus membiarkan
penghinaan ini?“ “Itu adalah kesalahannya sendiri” berkata perwira
yang tua itu “Jika ia tidak terlibat di dalam persoalan yang
menyangkut kehormatan seorang kesatria di Surakarta, maka ia tidak
akan sampai pada akhir hidupnya yang pedih. Tetapi perkelahian yang
terjadi adalah adil. Kematiannya merupakan per ingatan bagi kita
semua, bahwa kita memang harus berhati-hati mengisi kesepian”
Perwira yang lebih muda itu terdiam. Tetapi tampaknya ia masih saja
dibakar oleh dendam, seperti dendam yang menyala di hati Pangeran
Ranakusuma sendiri.Namun dalam pada itu, kumpeni tidak dapat lagi
menyembunyikan kematian perwiranya itu. Meskipun demikian masih ada
saja dalih yang dapat mengurangi hangatnya persoalan. Kumpeni
berhasil menyebar berita, bahwa perwiranya, yang mati itu karena
diserang oleh penyakitnya yang sebenarnya sudah-lama
ditanggungkannya. Namun karena tugas-tugasnya, maka rasa sakit itu
sama sekali tidak dihiraukannya. “Dungkur meninggal karena sakit
perut yang parah” berkata orang-orang di pinggir jalan. “Ya,
tiba-tiba saja semalam ia diserang oleh perasaan sakit, sehingga
seakan-akan pernafasannya tersumbat. Akibatnya nyawanya tidak
tertolong lagi meskipun mereka mempunyai seorang tabib yang sangat
pandai dan dapat mengobati segala macam penyakit. Tetapi kepandaian
seseorang memang terbatas jika maut memang telah menjemput” Kematian
perwira kumpeni itu ternyata telah menggemparkan semua pihak.
Meskipun pada umumnya rakyat Surakarta percaya bahwa kematian
perwira kumpeni itu karena sakit perut, tetapi kalangan yang lebih
tinggi masih harus berpikir beberapa kali untuk mempercayainya.
Terlebih- lebih lagi para perwira tinggi kumpeni di Jakarta.
Pemimpin tertinggi kumpeni di Kota Intan itu segera mengirimkan
utusan untuk mengetahui kebenaran peristiwa yang menimpa seorang
perwiranya itu. Pimpinan Kumpeni di Surakarta dan Semarang tidak
dapat ingkar atas apa yang sebenarnya terjadi. Namun mereka
membatasi persoalan itu pada persoalan pr ibadi semata. Namun
ternyata pimpinan kumpeni telah mendapat peringatan keras dari
atasan mereka. Persoalan pribadi dengan seorang bangsawan tertinggi
di Surakarta sangat tidak menguntungkan, apalagi seorang Pangeran
yang selama ini bersikap baik terhadap kumpeni.Ternyata kemudian
menurut penyelidikan, bukan saja Dungkur yang terlibat di dalam
persoalan harga diri Pangeran Ranakusuma. Apalagi ketika mereka
mendengar bahwa Pangeran Ranakusuma sudah menyiapkan tantangan-
tantangan berikutnya bagi beberapa orang perwira kumpeni yang lain.
Dengan tergesa-gesa pimpinan tertinggi di Surakarta dan Semarang,
segera memerintahkan mereka yang terlibat itu untuk dipindahkan dari
Surakarta. Dengan demikian, maka terjadi beberapa perubahan jabatan
di antara mereka. Beberapa orang baru tampak mulai berkeliaran di
kota. Namun ternyata bahwa orang-orang baru yang belum mengenal
Surakarta dengan baik itu mempunyai sikap yang lain. Mereka ternyata
adalah prajurit! yang kasar dan mement ingkan pedang dan senjata
daripada sikap yang ramah dan baik, sehingga dengan demikian, sikap
kumpeni di Surakarta menjadi semakin gila. Ditambah lagi dengan
perwira-perwira muda yang merasa tersinggung kehormatannya karena
kematian seorang kawannya oleh seorang pribumi di dalam perang
tanding, seakan-akan kesatria dari negeri Atas Angin itu tidak dapat
mengimbangi kemampuan kesatria dari negeri yang liar ini. Akibatnya,
terasa sekali dalam kehidupan rakyat di Surakarta. Rasa-rasanya
kumpeni menjadi semakin buas dan kasar. Sikapnya kepada rakyat kecil
semakin semena-mena. Namun karena itulah maka darah kesatria di
Surakarta menjadi semakin mendidih karenanya. Dengan demikian maka
udara di atas Surakarta rasa- rasanya memang menjadi semakin panas.
Ketegangan yang tersaput oleh sikap yang pura-pura semakin lama
menjadi semakin nyata. Dan suasana itu telah dihayati oleh para
pemimpin di Surakarta, terutama Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas
Said yang menjadi semakin berprihatin.“Kapan aku dapat mulai“
kadang-kadang anak muda itu tidak dapat menahan hatinya lagi. Tetapi
bangsawan muda itu masih harus menyabarkan dirinya. Agaknya saatnya
memang belum datang, meskipun sudah dekat. Namun demikian, bangsawan
muda itu tidak terlampau ketat membatasi anak buahnya, jika terpaksa
sekali terlibat di dalam benturan yang memang kadang-kadang terjadi
dengan kumpeni. Memang terlampau sulit baginya untuk menghentikan
sama sekali perlawanan yang sudah lama dilakukannya. Namun dalam
pada itu, selagi rakyat Surakarta bergejolak oleh tindakan-tindakan
yang kasar dan keras dari kumpeni, maka dengan akal yang licik,
kumpeni berhasil menusukkan jarum perpecahan yang lebih parah di
dalam pimpinan pemerintahan. Beberapa orang bangsawan, para bupati,
dan bahkan kemudian pepatih Susuhunan sendiri, mulai dijangkiti
perasaan iri terhadap Pangeran Mangkubumi. Tanpa mereka sadari,
racun yang dibiuskan di telinga mereka, berhasil membangunkan usaha,
agar Susuhunan mencabut hak Pangeran Mangkubumi atas bumi
kelenggahannya di Sukawati. Dengan demikian, maka Sukawati akan
dapat dibagikan kepada beberapa orang bangsawan yang lain. Tetapi di
luar sadar mereka, yang paling berkepentingan adalah kumpeni
sendiri. Jika Sukawati terlepas dari tangan Pangeran Mangkubumi,
maka keadaannya pasti akan berubah. Menurut penyelidikan kumpeni,
keadaan di Sukawati sebenarnya telah benar-benar parah. Rakyat
Sukawati telah berhasil dibangunkan dari t idur mereka dan dari
mimpi yang buruk selama ini. Dengan demikian, maka dikalangan istana
Kangjeng Susuhunan mulai terdengar bisik-bisik di antara para
bangsawan, bahwa Sukawati memang harus ditarik. Adalah
berlebih-lebihan bagi seorang Pangeran untuk menerima tanah
kalenggahan seluas Sukawati.Sebelum Kangjeng Susuhunan mengambil
keputusan, ternyata usaha untuk memisahkan Pangeran Mangkubumi dari
rakyatnya itu sudah diketahuinya, sehingga dengan demikian, maka
Pangeran Mangkubumipun dengan tergesa-gesa telah menyiapkan dir inya
menghadapi setiap kemungkinan. Dalam kalutnya udara di atas
Surakarta itu, maka di padepokan Jati Aking, Buntal dan Arum selalu
melatih dir i, untuk mendapatkan tingkat kemampuan yang memadai di
dalam suasana yang semakin panas itu. Bahkan bukan saja Buntal dan
Arum, tetapi Raden Juwiring masih juga kadang-kadang datang menemui
gurunya. Tetapi ternyata semakin lama menjadi semakin jarang. Bahkan
kadang-kadang untuk waktu yang cukup panjang, Juwiring. sama sekali
tidak menampakkan diri di padepokannya. Buntal merasakan kelainan
itu. Dan apalagi apabila setiap kali Arum selalu bertanya kepadanya,
kenapa Juwiring sudah terlampau lama tidak mengunjungi padepokan.
Meskipun perasaan rindu kadang-kadang tersembul juga di hati Buntal,
namun kerinduan Arum terhadap Juwiring itu kadang-kadang terasa
menyentuh hatinya. Ia sendiri tidak berani mendengar apakah
sebabnya, maka kadang-kadang ia tidak senang mendengar Arum selalu
bertanya tentang Juwiring. “Kita sama-sama tidak mengerti” jawabnya
pada suatu kali ketika Arumbertanya kepadanya, kenapa Juwiring sudah
lama tidak berkunjung. “Barangkali Raden Juwir ing pernah mengatakan
sesuatu kepadamu, tetapi tidak kepadaku” sahut Arum. “Tidak. Raden
Juwiring tidak pernah mengatakan apapun kepadaku. Sebenarnyalah aku
juga mengharap ia datang. Tetapi selebihnya aku tidak mengerti” Arum
tidak bertanya lagi. Ia dapat mengerti jawaban Buntal. Namun ia
tidak dapat merasakan, bahwa di balik kata- kata anak muda itu
terselip perasaan yang asing bagi Arum. Demikianlah, Juwiring
semakin lama menjadi semakin jarang datang kepada gurunya, sehingga
pada suatu saat, rasa-rasanya Juwiring telah benar-benar melupakan,
bahwa ia adalah anak yang diasuh di dalam olah kanuragan di
padepokan Jati Aking. Dalam pada itu, Juwiring sendir i ternyata
telah tenggelam di dalam hidup keluarganya yang-mulai menjadi
tenang. Rara Warih mulai menyadari, apakah arti Juwiring bagi
keluarganya. Ia adalah seorang anak muda yang baik dan memiliki ilmu
yang cukup, melampaui kakaknya Raden Rudira. Bukan hanya di dalam
olah kanuragan, tetapi di dalam segala hal. Warih tidak pernah
mendengar Juwiring membentak- bentak, berteriak tidak ada artinya
dan memerintahkan para pelayan dan pengawalnya untuk melakukan
sesuatu yang aneh. Hampir di dalam setiap tindakan, Juwiring
melakukannya dengan penuh tanggung jawab, sehingga dengan demikian,
maka para pelayan, abdi dan pengawal, yang semula tidak mau mengerti
kenapa anak itu harus hadir di istana ayahandanya, mulai menyesal
atas sikapnya. Selain ketenangan yang berangsur-angsur pulih
kembali, maka Juwiringpun ternyata telah menemukan seorang guru yang
baru. Ayahandanya sendiri.Ternyata ayahandanya juga memiliki
kemampuan yang luar biasa. Ilmunya yang tinggi dan pengalamannya
yang luas, membuat Pangeran Ranakusuma benar-benar seorang Panglima.
Dari ayahandanya itulah Juwiring menyadap ilmu kanuragan di samping
ilmu yang telah dimilikinya. Ternyata ayahandanyapun tidak berbuat
dengan tergesa-gesa. Ia mempelajari serba sedikit ilmu yang dimiliki
Juwir ing. Kemudian memberikan ilmunya tanpa menumbuhkan
pertentangan di dalamdiri anak laki-lakinya itu. Dari har i kehari
nampak, bahwa Juwir ing benar-benar seorang yang memiliki daya
tangkap yang luar biasa atas ilmu kanuragan. Apalagi ia sudah
mempunyai dasar pengetahuan secara umum bagi olah kanuragan itu,
sehingga ia tidak banyak menemui kesulitan menerima ilmu dari
ayahandanya. Bahkan dari hari kehari, ilmunya menjadi kian meningkat
dengan pesatnya. Pangeran Ranakusuma sendiri merasa heran, bahwa
Juwiring akan mampu menangkap ilmu yang diberikan itu begitu cepat.
Dengan demikian, maka perlahan-lahan istana Ranakusuman itupun telah
melupakan seorang perempuan bangsawan yang pernah berkuasa. Bahkan
Warih sendiri perlahan-lahan melupakan ibunya yang berada di rumah
kakeknya. Bukan melupakannya sebagai seorang ibu, tetapi melupakan
kejutan yang mengguncangkan isi istana itu. Setiap kali Warih masih
selalu bertanya tentang keadaan ibunya. Tetapi ia tidak mau datang
menengoknya sebelum ia yakin bahwa ibunya tidak akan dipengaruhi
lagi oleh kenangan yang sangat pahit itu. Tetapi dalam pada itu,
Pangeran Ranakusuma sendiri sama sekali tidak pernah menyebutnya
lagi. Ia tidak ingin terlempar di dalam kenangan yang sangat pedih.
Ia mencoba mengisi waktunya untuk kepentingan kedua anaknya.
Juwiring dan Warih.Dengan sepenuh perhatian, Pangeran Ranakusuma
menempa Juwiring agar menjadi seorang Laki- laki yang mumpuni, di
dalam olah kanuragan, di dalam olah kaj iwan, dan ilmu pemerintahan.
Pangeran Ranakusuma memanggil seorang yang ahli untuk menuntun Juwir
ing agar ia menjadi seorang bangsawan yang baik di segala bidang.
Sedang bagi Warih, Pangeran Ranakusuma menyerahkannya kepada seorang
perempuan yang meskipun sudah agak lanjut usia, tetapi masih
mempunyai kelincahan di dalam banyak hal. Memasak, menghias dir i,
memelihara dan mengatur rumah seisinya. Seperti cita-citanya bagi
Juwiring, maka Pangeran Ranakusumapun mengharap agar Warih menjadi
seorang perempuan bangsawan yang sempurna. Bukan saja seorang
bangsawan yang cantik dan pandai menghias diri, tetapi ia harus
menjadi seorang perempuan bangsawan yang mampu menjadikan rumah
tangganya kelak, sebuah rumah tangga yang tenang damai dan
berwibawa. Dengan demikian, dengan kesibukan yang semakin meningkat,
Juwiring benar-benar tidak pernah lagi datang ke padepokan Jati
Aking. Ia tenggelam dalam latihan-latihan olah kanuragan, belajar
ilmu- ilmu yang lain yang harus dimilikinya dan sedikit waktu untuk
beristirahat dan menyesuaikan diri dengan kedudukannya.
Sekali-sekali Juwiring pernah mengikut i ayahnya di dalam himpunan
para bangsawan dan mulai berkenalan dengan orang asing yang berkuasa
di Surakarta. “Kau harus bersikap baik terhadap mereka Juwiring”
berkata ayahnya “Apapun yang kau simpan di dalam hati, tetapi di
hadapan mereka, kau harus menunjukkan sikap yang sopan dan beradab,
agar kita tidak disebutnya sebagai bangsa yang tidak mengenal sopan
santun dan tidak berperadaban” Dan Juwiring tidak berusaha menentang
pesan ayahandanya. Perlahan-lahan ia menyesuaikan dir inya
denganpergaulan yang semula terasa asing baginya. Namun lambat laun,
iapun menjadi terbiasa pula. Demikian pulalah di dalam hidupnya
sehari-hari. Meskipun ia tetap seorang anak muda yang rendah hati,
tetapi kini Juwiring adalah benar-benar seorang putera Pangeran.
Pakaiannya, sikapnya dan hubungan yang dilakukannya sehari-hari.
Saudara-saudara sepupunya yang semula tidak mau mengenalnya lagi,
satu dua sudah ada yang mulai bergaul meskipun t idak terlampau
rapat Sikap dan tingkah lakunya itu, menimbulkan kekecewaan yang
sangat pada Buntal dan Arum. Meskipun mereka tidak sempat
menyaksikan sikap dan tingkah laku itu, namun sekali. mereka pernah
juga mendengarnya. Sumber yang paling dapat dipercayainya adalah Ki
Dipanala sendir i. Ki Dipanala ternyata sama sekali tidak ingin
memutuskan hubungannya dengan Kiai Danatirta. Ia masih sering datang
mengunjunginya. Daripadanyalah maka Buntal dan Arum mendengar, bahwa
Raden Juwir ing kini sudah berhasil menyesuaikan dirinya dengan
kehidupan yang seharusnya bagi seorang putera Pangeran. “Seharusnya
ia tidak per lu belajar” berkata Arum sambil mengerutkan dahinya “Ia
memang putera Pangeran. Sebelum tinggal di sini, ia tentu sudah
terbiasa dengan. hidup seperti yang dilakukannya sekarang ini“ “Ya“
Ki Dipanala mengangguk-angguk “Tetapi sudah lama ia terpisah dari
pergaulan para bangsawan, sehingga ia harus berusaha menyesuaikan
dir inya kembali” “Apakah artinya ia berada di sini beberapa waktu
yang lalu? Jika akhirnya ia melupakan padepokan ini, dan terlebih-
lebih lagi segala cita-cita yang dengan berkobar-kobar pernah
dikatakannya di sini?“ Ki Dipanala menarik nafas dalami. Dengan
hati-hati ia berkata “Ia sama sekali tidak melupakan padepokan ini.
Tetapiia kini sedang disibukkan oleh berbagai macam pekerjaan yang
dibebankan kepadanya oleh ayahandanya” “Tentu, itu adalah suatu
usaha untuk memisahkannya dari padepokan ini” bantah Arum, lalu “dan
apakah gunanya ia mempelajari olah kanuragan, jika ia kemudian
menjadi murid dari orang lain meskipun itu ayahandanya sendiri?
Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dahulu? Ternyata Raden Juwiring
kini benar-benar telah menjadi pengganti Raden Rudira” Ki Dipanala t
idak segera menyahut. Sekilas ditatapnya wajah Kiai Danatirta yang
lembut. “Arum” berkata Kiai Danatirta “Apakah salahnya jika Raden
Juwiring menyesuaikan dir i dengan tata cara hidup keluarganya.
Biarlah ia berada di dalam lingkungannya. Itu memang sudah haknya”
“Tetapi apakah artinya padepokan ini baginya? Seperti silirnya angin
di pegunungan. Alangkah segarnya jika wajah yang gersang bagaikan
dibuat oleh desir yang lembut. Tetapi angin itu sudah berlalu. Dan
tidak akan pernah diingatnya kembali” Kiai Danatirta justru
tersenyum melihat wajah anaknya yang tegang. Katanya “Tetapi kita
tidak dapat merampas haknya. Dan apakah sebenarnya yang pernah
dihayatinya di padepokan ini? Apa yang kita lakukan di sini, adalah
semata- mata suatu kewajiban. Dan kita tidak akan pernah menuntut
pamr ih bagi dir i sendir i, penghargaan atau pujian dan imbalan
berupa apapun. Jika kita melepaskan seekor burung yang kita
selamatkan dari mulut seekor kucing, maka kita tidak akan pernah
mengharap burung itu datang kembali kepada kita dengan membawa
butiran-but iran padi seperti di dalam dongeng anak-anak menjelang t
idur” Arum tidak menjawab lagi. Tetapi kepalanya menunduk
dalam-dalam, Ki Dipanala yang menyaksikannya hanya dapatmengangkat
bahu. Ia mengerti, bahwa pergaulan yang cukup lama itu telah
menumbuhkan ikatan persaudaraan yang dalam. Keduanya memang sudah
dinyatakan sebagai saudara angkat apalagi mereka pada dasarnya
adalah saudara seperguruan bersama dengan Buntal. Namun dalam pada
itu. Buntal mempunyai tanggapan yang lain. Sebenarnya iapun
mempunyai perasaan seperti yang dikatakan oleh Arum. di antara
kekecewaan dan kerinduan kepada saudara angkatnya. Tetapi mendengar
keluhan Arum di hadapannya itu, rasa-rasanya ia mempunyai tanggapan
yang lain. Seakan-akan ia mendengar keluhan rindu seorang gadis atas
seorang laki-laki muda yang telah menar ik hatinya. Karena itu, maka
Buntal justru tidak mengatakan sesuatu. Ia bahkan harus berjuang
mengatasi kerisauan hatinya sendiri. Dengan susah payah ia mencoba
untuk tidak berprasangka buruk, dan bahkan katanya kepada diri
sendiri “Alangkah hitamnya hati ini” Demikianlah, maka di saat-saat
tertentu, masih terasa, bahwa kepergian Juwiring dari padepokan Jati
Aking, telah menumbuhkan perubahan di dalam tata kehidupan di
padepokan itu. Bahkan kemudian timbul di hati Buntal suatu
keinginan, agar sebaiknya Juwiring tidak akan pernah menginjakkan
kakinya lagi di padepokan itu. “Gila“ Ia mengumpati dirinya sendir i
“perasaan ini adalah suatu pengkhianatan. Aku agaknya telah
mementingkan dir iku sendiri. Aku sudah digulat oleh kedengkian
karena aku ingin memisahkan Arum dari Juwiring” Namun betapa ia
menjadi sakit karena benturan dengan dirinya sendiri. Antara tata
krama, unggah-ungguh dan tuntutan hatinya sebagai seorang laki- laki
muda. Tetapi betapapun sakitnya, ia harus menahan hati. Ia harus
tetap seperti yang ada selama ini. Bahwa Buntal adalahsaudara angkat
Arum, dan keduanya adalah saudara seperguruan. Dengan demikian maka
Buntalpun selalu berusaha menekan perasaannya. Dialihkannya semua
persoalan pada dirinya ke dalam mesu dir i. Berlatih dengan tekun
tanpa mengenal lelah. Siang dan malam, apabila kerja di sawah sudah
selesai, maka ia selalu berada di dalam sanggar untuk menyempurnakan
ilmu kanuragannya. Kadang-kadang ia berlatih sendir i, kadang-kadang
dengan gurunya dan Arum. Sebagai seorang tua, Kiai Danatirta
mengetahui, bahwa ada sesuatu yang agaknya tersembunyi di dalam hati
Buntal. Kemauannya melatih dir i agak berlebih-lebihan. Meskipun
dengan demikian kemajuannya di dalam olah kanuragan menjadi semakin
pesat, tetapi Kiai Danatirta melihat kemundurannya di lain segi dari
kehidupan Buntal. “Anak muda itu sekarang sering menyendir i”
berkata Kiai Danatirta di dalam hati. Tetapi orang tua itu tidak
segera dapat menebak, perasaan apakah yang sebenarnya tersembunyi di
dalamdiri muridnya itu. Dan Buntalpun memang tidak ingin menunjukkan
gejolak hati yang sebenarnya. Dengan sepenuh hati. Buntal
memperdalam ilmunya hampir setiap saat. Ketika udara sedang gelap
karena mendung yang menyaput langit di ujung malam. Buntal berdiri
terengah-engah di belakang sanggar. Keringatnya bagaikan diperas
dari dalam tubuhnya. Baru saja ia menyelesaikan sebuah latihan yang
berat. Sengaja tidak di dalam sanggar, agar ia dapat bergerak dengan
bebas, tidak dibatasi oleh dinding-dinding bangsal yang dirasanya
terlampau sempit. Apalagi halaman di belakang sanggar itupun
dibatasi oleh dinding batu hampir berkeliling, sehingga latihannya
sama sekali tidak mengganggu orang lain atau terganggu
karenanya.Buntal menengadahkan wajahnya ketika dilihatnya lidah api
meloncat di langit. Tetapi ia masih belum ingin ber istirahat. Ia
masih ingin melanjutkan latihannya. Sekali lagi Buntal bersikap.
Beberapa kali ia melakukan gerakan-gerakan yang sedang dipelajarinya
sifat dan kemungkinannya. Berkali-kali gerak itu diulanginya.
Sehingga akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Tetapi Buntal
terkejut, ketika kilat menyambar di langit, dilihatnya sesuatu
bergerak di balik gerumbul di sudut halaman. Sejenak ia membeku,
namun kemudian ia masih saja berpura-pura tidak melihat sesuatu.
Dilanjutkannya latihan-latihan yang dilakukannya itu, dari tata
gerak yang satu, dihubungkan dengan tata gerak yang lain dalam
rangkaian yang serasa. Namun demikian, ia masih tetap memperhatikan
bayangan yang sekilas dilihatnya. Jika kilat menyambar lagi di
langit, Buntal mengharap bahwa ia akan dapat melihatnya sekali lagi
untuk meyakinkan, bahwa ia tidak sekedar diganggu oleh bayangan yang
hanya sekedar mirip saja dengan bayangan seseorang. Beberapa saat
lamanya Buntal masih tetap melatih diri di dalam kegelapan. Meskipun
perhatiannya kini terbagi antara latihan dan gerumbul di sudut,
namun ia masih tetap bergerak terus agar seandainya di balik
gerumbul itu benar-benar ada orang yang mengintainya, orang itu
masih akan. tetap berada ditempatnya. Ternyata bahwa sejenak
kemudian kilat benar-benar memancar di langit. Sepercik sinarnya
menyambar seseorang yang bersembunyi di balik gerumbul. Meskipun
Buntal tidak dapat melihat dengan jelas, tetapi ia kini yakin, bahwa
yang berada di balik gerumbul itu memang seseorang. Bukan sekedar
dedaunan yang bergerak disentuh angin.Karena itu, Buntalpun mulai
mencar i jalan, bagaimana ia dapat mendekati gerumbul itu tanpa
menumbuhkan kecurigaan. Sejenak Buntal berpikir, sehingga tata
geraknya menjadi sedikit kendor. Namun sejenak kemudian Buntal
justru telah mengerahkan segenap kemampuan geraknya. Ia meloncat
tinggi-tinggi sambil memutar tangannya diudara. Kemudian menyapu
dengan kakinya rendah hampir melekat tanah. Sekali ia berguling,
berputar dan melakukan gerakan-gerakan yang aneh. Bahkan ia meloncat
dan berputar diudara. Dengan demikian Buntal bergerak hampir
diseluas halaman di belakang Sanggar itu, sehingga tanpa menimbulkan
kecurigaan, sampai juga ia di sebelah gerumbul itu. “Nah, aku kira
aku sudah cukup dekat” katanya di dalam hati. Karena itu, sejenak ia
mengumpulkan tenaganya, dan sesaat kemudian iapun segera meloncat
menerkam bayangan yang ada di balik gerumbul itu. Tetapi ternyata
Buntal keliru. Orang yang berada di balik gerumbul itu t idak
tinggal diam dan membiarkan dir inya diterkamnya. Meskipun orang di
balik gerumbul itu agak terkejut melihat Buntal yang tiba-tiba saja
meloncat kearahnya, namun sambil berjongkok ia sempat menghindar
diri dengan meloncat melangkah ke samping. Ketika Buntal yang gagal
itu bersiap, maka orang itupun telah bersiap pula menghadapi segala
kemungkinan.Tetapi Buntal tertegun sejenak. Bahkan kemudian ia
berdiri termangu-mangu. Orang itu tidak lain adalah Arum. “Kau
berada di sini Arum?“ suaranya tergagap. Arum menundukkan kepalanya.
Ia tidak lagi bersikap garang seperti jika ia hendak bertempur.
Tetapi tiba-tiba saja Arumtelah menjadi seorang gadis yang
tersipu-sipu. “Kenapa kau berada di sini?“ sekali Buntal mendesak
sambil mendekatinya. “Tidak apa-apa. Aku memang ingin menyusulmu
berlatih di sanggar. Tetapi ternyata kau tidak ada di dalam bangsal
itu” “Tetapi kau tidak memakai kelengkapan untuk berlatih” Tanpa
disadarinya Arum memandang pakaiannya dari ujung kaki sampai keujung
tangannya. Ia memang tidak mengenakan kelengkapan untuk berlatih.
Karena itu asal saja ia menjawab “Aku memang tidak ingin berlatih.
Aku hanya sekedar ingin melihat, karena badanku rasa-rasanya lelah
sekali hari ini” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jawaban
itu dapat dimengertinya. Bahkan ia mencoba mengerti, karena Arum
justru bersembunyi. Agaknya gadis itu ingin melihat perkembangan
ilmunya tanpa mengganggunya atau membuatnya ragu-ragu justru karena
ia sadar bahwa seseorang sedang memperhatikannya. Namun yang tidak
dimengerti oleh Buntal, justru sikap Arum yang agak berbeda dengan
sikapnya sehari-hari. Tampak Arum saat itu agak letih dan ragu-ragu.
“Arum” berkata Buntal kemudian “Apakah kau sedang sakit?“ Arum
menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab “Tidak Buntal.
Aku tidak sakit. Tetapi rasa-rasanya hatiku tidak secerah saat-saat
lampau”Dada Buntal menjadi berdebar-debar. Yang pertama-tama
diingatnya adalah Juwiring. Tentu gadis ini merindukan anak muda
yang sudah cukup lama tidak menampakkan dirinya. Dan hampir di luar
sadarnya Buntal berkata “Arum, sebaiknya kau tidak usah
memikirkannya lagi. Ia sudah pergi, dan meskipun aku juga mengharap,
tetapi ia tidak akan dapat kembali di antara kita seperti biasanya”
Tetapi Buntal menjadi terkejut ketika Arum menjadi tegang. Dan
bahkan bertanya “Apakah yang kau maksud?“ Buntal termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian dipaksanya menjawab “Aku kira seperti aku
kau mengharap kakang Juwiring datang dan berada lagi di antara kita”
Arum menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak memikirkannya
lagi. Meskipun ia saudara angkatku dan aku menganggapnya sebagai
kakak kandungku sendir i, tetapi ia sudah melupakan kita di
padepokan yang terpencil ini” “O“ Buntal mengangguk-angguk ”Jadi,
apakah yang kau pikirkan?“ Arum mengangkat wajahnya. Sekilas Buntal
melihat matanya yang bercahaya. Tetapi mata itupun kemudian menjadi
pudar kembali. “Aku tidak apa-apa kakang. Aku hanya terlalu lelah.
Kemar in aku memaksa dir i berlatih terlampau lama. Dan hari ini
akulah yang membuka pematang, karena ketika aku berada di sawah
kebetulan air berlimpah. Saat itu kau belum datang, sehingga akulah
yang melakukannya” Buntal mengangguk kecil. Tetapi sesuatu yang
tidak terkatakan dapat ditangkapnya pada wajah dan kata-kata Arum.
Tetapi Arum benar-benar tidak mengatakan sesuatu. Bahkan kemudian ia
duduk saja dengan kepala tunduk di atassebuah batu yang besar,
sedang Buntal dengan gelisah berdiri di sebelahnya. Kilat di langit
seakan telah membangunkan keduanya. Arum yang kemudian berdir i
itupun berkata “Aku akan masuk kakang. Apakah kau masih akan
melanjutkan?“ Buntal menggeleng “Tidak Arum. Akupun sudah lelah
sekali” Arum memandang Buntal dengan tatapan mata yang lain. Dan
tiba-tiba saja di dalam tangkapan pandangan Buntal, yang berdiri di
hadapannya itu adalah seorang gadis yang meningkat menjadi dewasa
dan matang. Buntal harus berjuang menahan gejolak perasaannya.
Karena itu, maka iapun kemudian berpaling sambil melontarkan
kegelisahannya dengan berkata agak keras “Arum, lihat. Langit
mendung sekali. Tidak ada sebuah bintangpun yang tergantung di
langit” Tetapi Arumhanya sekedar menjawabnya “Ya kakang” Buntal
menarik nafas. Perbedaan sikap Arum membuatnya semakin gelisah dan
bingung. Tetapi Arumpun kemudian melangkah meninggalkan Buntal yang
berdiri termangu-mangu. di muka pintu butulan sanggar ia berpaling
sambil berkata “Sebaiknya kaupun beristirahat kakang. Kau tentu
lelah pula, setelah sehari-harian kau bekerja di sawah dan di rumah”
Buntal mengangguk. Jawabnya ragu-ragu “Baiklah Arum” “Kau belum
makan malam” Buntal mengangguk. Sepeninggal Arum, Buntal menjadi
semakin gelisah. Ia tidak mengerti, kenapa Arum tiba-tiba saja
berubah.“Apakah hal ini sudah dilakukannya beberapa kali?” Ia
bertanya kepada diri sendiri. Namun kemudian ia memaksa dirinya
mengambil kesimpulan “Semuanya adalah kebetulan. Jika hatinya
menjadi letih, itu tentu karena ia berusaha melupakan kakang
Juwiring” Buntal menengadahkan wajahnya di dalam kebimbangan.
Dilihatnya langit semakin suram dan rasa-rasanya awan yang basah
tergantung rendah sekali. Perlahan-lahan Buntal melangkah. Sejenak
ia berhenti di dalam sanggar. Dilihatnya di bangsal tertutup itu
berbagai macam senjata tergantung pada dinding. Jarang sekali orang
yang masuk ke dalam bangsal itu selain dir inya sendiri, Kiai
Danatirta dan Arum. Ternyata bahwa sikap Arum telah menumbuhkan
teka-teki di dalam hatinya. Namun ia masih saja selalu dipengaruhi
bayangan Juwiring yang sudah tidak datang ke padepokan ini. Sambil
berjalan perlahan-lahan Buntal mengeringkan keringatnya. Kemudian
ditinggalkannya bangsal itu, dan perlahan-lahan iapun pergi ke
pakiwan. Udara malam terasa terlalu panas oleh mendung yang tebal.
Sejenak Buntal berada dipakiwan membersihkan dir inya sebelum
seperti biasanya ia pergi ke ruang belakang untuk makan malam. Dan
seperti biasanya pula, Buntal adalah orang yang terakhir makan
malam. Kiai Danatirta kadang-kadang sudah memper ingatkannya, agar
ia membiasakan dir i makan lebih awal, agar perutnya tidak
terganggu. Tetapi sekali dua kali setelah peringatan itu, maka
kambuhlah kebiasaannya makan di jauh malam, sehingga t idak ada
seorangpun lagi yang berada di dapur mengawaninya. Bahkan pernah
makan dan lauk pauk yang disediakan baginya telah habis dimakan
tikus. Tetapi kali ini Buntal terkejut. Ketika ia memasuki dapur
yang sepi dilihatnya Arum duduk di atas amben yang besar disudut
dapur itu sambil bermain-main dengan ujung kain panjangnya. “Arum“
sapa Buntal “Kau belum tidur?“ Arum memandang Buntal sejenak, lalu
“Aku juga belum makan “ “O. Biasanya kau melayani ayah dan kemudian
kau makan pula” “Ya. Tetapi sore ini aku berada di belakang sanggar
itu setelah aku menyediakan makan ayah” Buntal tidak menyahut.
Dikibaskannya tangannya yang masih basah dan kemudian iapun duduk
pula di amben besar itu. Sekilas dilihatnya di atas geledeg
persediaan makan baginya sudah tersedia seperti biasanya. Tetapi
sebelum ia berdiri dan mengambilnya, maka Arum telah bangkit dan
gadis itulah yang kemudian mengambil persediaan itu dan
meletakkannya di atas amben. Buntal menjadi termangu-mangu. Hal itu
tidak biasa dilakukan oleh Arum. Biasanya jika ia tidak berlatih
pula, ia berada di biliknya di saat-saat begini. Kadang-kadang
berbincang dengan ayahnya mengenai ilmu yang sedang dipelajarinya.
Bahkan kadang kadang ayahnya sempat member ikan arti dari setiap
gerak yang pernah dipelajari, sehingga Arum dan kadang-kadang Buntal
pula, mengerti bahwa gerakan yang dilakukan mempunyai arti dan sifat
tersendiri. Agaknya Arum mengetahui bahwa Buntal menjadi heran
melihat perubahan itu. Karena itu, Arumpun menjadi berdebat pula.
Meskipun demikian ia mencoba menjelaskan “Har i ini aku tidak begitu
bernafsu untuk makan kakang. Tetapi biarlah aku mencobanya” Buntal
menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun
juga.Keduanyapun kemudian makan bersama di dalam dapur yang sepi.
Yang terdengar hanyalah sentuhan-sentuhan mangkuk dan kadang-kadang
gerak bibir mereka. Malam itu, setelah makan, merekapun segera pergi
ke bilik mereka masing-masing. Seakan-akan tidak ada apa-apa yang
terjadi. Bahkan mereka tidak terlalu banyak berbicara dan apalagi
membicarakan masalah-masalah yang penting. Namun sebenarnya, yang
terjadi di dalam hati mereka adalah gejolak yang riuh. Meskipun
keduanya kemudian sudah berada di atas pembaringan, namun mereka
masih saja duduk dengan gelisah. Ternyata sebagai seorang gadis,
Arumpun tidak dapat menghindarkan dir inya dari naluri
kemanusiaannya. Meskipun ia memiliki kelebihan dari gadis lain di
dalam olah kanuragan, tetapi hatinya adalah hati seorang gadis.
Itulah sebabnya, ia telah dicengkam pula oleh perasaan yang serupa
dengan gejolak perasaan di dalam dada Buntal. Betapa kedua anak muda
itu berusaha menghindarkan diri masing-masing, tetapi mereka
ternyata bagaikan sudah masuk ke dalam jebakan. Namun demikian,
masing-masing masih berusaha merahasiakan gejolak perasaan itu,
sehingga yang seorang tidak dapat menerka apakah yang sebenarnya
tumbuh di hati yang lain. Namun dalam pada itu, sebagai seorang tua
yang memiliki ketajaman tanggapan terhadap anak-anaknya, apakah itu
anaknya sendiri, atau anak angkatnya, maka Kiai Danatirtapun melihat
sesuatu yang berbeda di dalam hubungan anak-anak muda itu. Setiap
hari ia mencoba memperhatikan, seakan- akan ada sesuatu yang
berkembang di hati masing-masing, semakin lama menjadi semakin
mekar. Kiai Danatirta yang pernah mengalami kepahitan karena
peristiwa yang terjadi atas anak gadisnya sehinggamenimbulkan
persoalan yang sama sekali t idak dihendaki, menanggapi peristiwa
ini dengan sangat berhati-hati. Meskipun ia sadar, bahwa kemungkinan
yang demikian memang dapat saja terjadi. Apalagi keduanya menyadari
bahwa mereka sebenarnya bukannya saudara sedarah. Mereka hanyalah
saudara angkat dan saudara seperguruan. Tetapi agaknya Buntal
sendiri, masih saja selalu diganggu oleh bayangan Juwiring yang
kadang-kadang membuatnya kehilangan pegangan. Buntal yang perasa
itu, tidak dapat menyingkirkan sebuah prasangka, bahwa jika Arum
rasa- rasanya menjadi semakin dekat di hatinya, itu adalah karena
Arumsendiri sedang merasa kesepian sepeninggal Juwir ing. Meskipun
demikian, seperti matahari yang harus terbit di ujung Timur,
demikian juga perasaan anak-anak muda itu tidak dapat dibendung
lagi. Sepercik isyarat telah sama-sama mereka hayati. Kata hati yang
tidak menyentuh indera wadag, namun dapat di tanggapi dengan firasat
yang mencengkam perasaan masing-masing. Kiai Danatirta masih
membiarkan hati kedua anak-anak muda itu mekar, selama mereka masih
berbuat di dalam batas-batas yang wajar. Dengan hati-hati ia
mengikuti perkembangan hubungan keduanya. Dan orang tua itupun
mengetahui, bahwa kedua anak-anak muda itu sama sekali belum
menyatakan sikap dan gejolak hati masing-masing dengan terbuka.
“Mudah-mudahan tidak terjadi masalah-masalah yang dapat mengungkit
kembali luka di hatiku” berkata orang tua itu kepada diri sendir i.
Tetapi perkembangan keadaan di padepokan Jati Aking itu tidak dapat
berdir i sendir i lepas dari pengaruh perkembangan keadaan, sejalan
dengan panasnya udara di Surakarta. Beberapa orang bangsawan dan
justru pejabat tertinggi di Surakarta yang merasa iri hati terhadap
PangeranMangkubumi, bukan saja atas daerah kelenggahannya yang luas,
juga karena Pangeran Mangkubumi terlalu dekat dengan rakyatnya,
sehingga Pangeran itu mempunyai pengaruh yang sangat luas, semakin
lama semakin jauh menyebarkan berita dan desas-desus tentang
Pangeran Mangkubumi, sehingga akhirnya Kangjeng Susuhunan terpaksa
memperhatikannya. Tetapi Pangeran Mangkubumi telah menilai keadaan
itu dengan tepat. Karena itu, maka iapun menjadi semakin bersiaga
menghadapi setiap kemungkinan. Meskipun pada dasarnya Pangeran
Mangkubumi adalah seorang yang tidak menghendaki darah tertumpah di
atas tanah tercinta ini, tetapi apabila tanah ini semakin lama akan
semakin jauh tenggelam di dalam perbudakan, maka memang tidak ada
jalan lain daripada melepaskan beberapa orang korban sebagai
bebanten dari perjuangan yang harus dilakukan untuk menyelamatkan
Surakarta. Dan arus yang panas itu ternyata telah menyentuh
padepokan Jati Aking pula. Padepokan Jati Aking ternyata telah
dikejutkan oleh kehadiran seorang penunggang kuda. Meskipun orang
itu bukan lagi seorang anak muda, tetapi wajahnya tampak cerah dan
tubuhnya ternyata cukup terpelihara. Namun agaknya Buntal yang
kebetulan ada di halaman segera dapat mengenalinya. Dengan bergegas
ia menyongsongnya sambil tersenyum “Putut Sr igunting “ Orang yang
sudah menginjak usia pertengahan itu tersenyum. Sambil meloncat dari
punggung kudanya ia menyambut anak muda yang menyongsongnya itu.
Sambil mengguncang lengan Buntal Putut itupun berkata “Kau
berkembang dengan pesatnya” “Ah“ Buntal tersenyum mendengar pujian
itu “Kau menjadi semakin muda” Putut itupun tertawa. Lalu “dimanakah
Kiai Danatirta?”“Marilah, ayah berada di dalam” Sejenak kemudian,
maka Putut itupun telah duduk di pendapa bersama Buntal dan Kiai
Danatirta sendiri. Sejenak kemudian Arumpun telah menghidangkan
minuman dan makanan. “Gadis yang lengkap” berkata Putut Srigunting
“Ia mampu bermain pedang, tetapi ia dapat dengan lembut
menghidangkan hidangan seperti gadis pingitan” Wajah Arum menjadi
merah. Tetapi ia tersenyum saja tanpa menjawab sepatah katapun.
Sejenak merekapun kemudian berbincang tentang keselamatan dan
keadaan di padepokan masing-masing. Namun akhirnya sampailah mereka
pada pokok pembicaraan. Agaknya Putut Srigunting datang ke padepokan
Jati Aking bukan sekedar ingin menengok Buntal dan saudara-saudara
seperguruannya, tetapi kedatangannya memang membawa suatu maksud
yang penting. Penting bagi Buntal dan penting bagi Kiai Sarpasrana.
“Kiai Danatirta” berkata Putut Sr igunting kemudian “kedatanganku
adalah karena aku mendapat perintah dari Kiai Sarpasrana. Agaknya
keadaan di Surakarta sudah tidak dapat disejukkan lagi. Kedatangan
orang-orang baru dan dendam yang menyala di hati perwira-perwira
kumpeni membuat mereka menjadi semakin kasar. Ditambah lagi
dengankedengkian dan ketamakan yang merajalela pada beberapa
bangsawan tertinggi di Surakarta. Mereka ingin mempergunakan
pengaruh mereka untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak mereka
sukai, terutama Pangeran Mangkubumi” Kiai Danatirta
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Karena itu Kiai, aku telah berjalan
mengelilingi Surakarta. Aku harus memberitahukan kepada orang-orang
yang mengerti akan arti kecintaan terhadap tanah air, agar mereka
mulai menyatukan dir i di dalamsatu ikatan yang teguh” Kiai
Danatirta mulai berdebar-debar. Lalu “Maksudmu?“ “Kiai Sarpasrana
telah mengumpulkan setiap orang yang mungkin dapat membantu
perjuangan untuk menegakkan hak kita atas tanah tercinta ini.
Saatnya sudah terlampau dekat, bahwa kita harus berbuat sesuatu”
“Maksudmu, Pangeran Mangkubumi sudah bersiaga?“ Putut Srigunting
ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya “Aku percaya kepada Kiai.
Karena itu, aku berani mengiakannya bahwa Pangeran Mangkubumi memang
sudah bersiap” “Apakah yang harus kita kerjakan di sini?“ “Masih
belum dapat disebutkan sekarang, karena Pangeran Mangkubumi belum
menjatuhkan perintah. Tetapi yang penting dari kedatanganku ini,
adalah bahwa kita harus berkumpul di padepokan Kiai Sarpasrana untuk
beberapa saat. Kemudian kami akan memencar ke daerah-daerah yang
memer lukan apabila saatnya memang sudah tiba” “Jadi?“ “Kiai
Sarpasrana minta agar mur id-mur id Kiai apabila bersedia datang
pula ke padepokan kami untuk bergabung dengan pasukan yang memang
sudah disiapkan”Kiai Danatirta terdiam sejenak. Sambil
mengangguk-angguk ia meraba-raba janggutnya yang sudah mulai
memutih. Namun dalam pada itu, dada Buntal dan Arum menjadi
berdebar-debar. Mereka belum tahu pasti makna dari permintaan Putut
Srigunting itu. Namun mereka sudah dapat meraba artinya, bahwa udara
di atas Surakarta sudah menjadi semakin panas, sehingga air yang ada
di kota ini bagaikan akan mendidih karenanya. “Putut Srigunting”
berkata Kiai Danatirta “sebenarnya berat bagiku untuk melepaskan mur
id-mur idku yang sama sekali belum memiliki bekal yang cukup. Namun
demikian, segala sesuatunya masih tergantung kepada anak-anak itu
sendir i. Terutama Buntal, karena Juwiring sekarang sudah jarang
sekali datang ke padepokan ini” “Kami, dari padepokan Kiai
Sarpasrana sudah mengetahui bahwa Raden Juwiring pada dasarnya sudah
tidak berada di padepokan ini lagi. Sepeninggal Raden Rudira, Raden
Juwiring diminta oleh ayahandanya untuk berada di istana
Ranakusuman. Bahkan aku mendengar kisah di antara dendang para
pedagang, bahwa Raden Juwiring memperdalam ilmu kanuragan dari
ayahandanya sendiri” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam.
Sejenak kemudian kepalanyapun terangguk lemah. “Kita t idak dapat
membicarakannya lagi“ Arumlah yang kemudian menyahut “menurut ayah,
biarlah ia mendapatkan haknya sebagai seorang putera Pangeran” “Ya“
Putut Sriguntingpun mengangguk-angguk pula “biarlah ia mendapatkan
haknya” ia berhenti sejenak, lalu “karena itu yang sekarang aku
minta untuk datang menyatukan diri dengan kami adalah Buntal. Hanya
Buntal” Buntal mengangkat wajahnya. Sejenak dipandanginya gurunya
dengan hati yang berdebar-debar, dan sejenak kemudian wajah Arumyang
menegang.“Hanya kakang Buntal sendir i?“ bertanya gadis itu. “Ya”
“Aku juga murid Kiai Danatirta” berkata Arum kemudian “Jika mur
id-mur id Kiai Danatirta harus ikut di dalam perjuangan ini, maka
akupun akan ikut serta, meskipun aku adalah seorang gadis” Putut
Srigunting menar ik nafas. Katanya sambil tersenyum “Kiai
Sarpasranapun telah menduga. Tetapi menurut pertimbangan yang luas,
sebaiknya kau tetap berada di padepokan ini” “Kenapa?“ “Kau akan
sendir ian di padepokan kami” “Maksudmu bahwa di padepokan itu tidak
ada seorang perempuanpun yang ikut serta di dalamperjuangan?“ “Ya,
secara langsung. Yang ada hanyalah mereka yang berkerja di dapur dan
mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain” “Aku dapat bekerja di dapur
dan mengerjakan pekerjaan lain seperti gadis-gadis yang lain”
“Tetapi kau diperlukan di padepokan ini” “Tidak. Aku akan memilih
berada di antara pasukan yang akan bertempur menghadapi kumpeni dan
para penj ilat” Putut Srigunting menarik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya “Sayang. Sebaiknya jangan sekarang. di Sukawati sedang
disiapkan sepasukan perempuan yang akan ikut berjuang di medan. Nah,
pada saatnya kau akan ikut bersama mereka” “Tetapi kapan. Kapan pada
saatnya itu akan datang?” Kiai Danatirta yang tahu akan sifat
anaknya itupun kemudian terpaksa menengahi “Arum. Kau juga
diperlukan. Tetapi dalam tahap berikutnya. Kini yang penting bagi
Kiai Sarpasrana adalah sebuah pasukan yang kuat, yang terdiridari
Laki- laki. Kau tahu, bahwa ada beberapa perbedaan kodrati antara
seorang laki-laki dan seorang perempuan. Bukan di dalam olah
kanuragan dan keprajuritan. Tetapi kelengkapan sifat dari kita
masing-masing. Karena itu, akan dibentuk khusus sebuah pasukan yang
terdiri dari perempuan- perempuan yang mempunyai sifat kodrati yang
bersamaan sehingga yang satu tidak terasa mengganggu yang lain” Arum
memandang ayahnya sejenak. Namun ternyata yang dikatakan oleh
ayahnya itu dapat dimengertinya, sehingga meskipun membayang
kekecewaan yang dalam di wajahnya, tetapi ia tidak membantah lagi.
“Nah, selain dari itu semua, kau sebaiknya mengawani ayah yang
menjadi semakin tua ini di rumah Arum” Arum tidak menjawab. Namun
rasa-rasanya seperti seseorang yang kehilangan miliknya yang paling
berharga. Kepergian Buntal dari rumah itu benar-benar telah
mengguncang perasaannya meskipun tidak terucapkan. “Ia tentu akan
merasa sangat kesepian” berkata ayahnya di dalam hatinya “baru saja
ia berhasil melepaskan Juwiring. Kini ia harus kehilangan Buntal
pula” Tetapi Kiai Danatirta tahu akan arti perjuangan itu. Karena
itu maka ia tidak dapat menahan Buntal. Meskipun demikian Kiai
Danatirta mempersilahkan Putut Srigunting untuk berbicara langsung
dengan Buntal. Untuk beberapa saat Buntal memang ragu-ragu. Ada
sesuatu yang memberati hatinya untuk meninggalkan padepokan ini.
Tetapi ia tidak akan dapat ingkar jika kuwajiban memang memanggil.
Apakah artinya perasaan benci dan muak terhadap ketidak-adilan yang
terjadi di Surakarta, apabila perasaan itu sekedar disimpannya saja
di dalam hati? Dan apakah artinya kekagumannya terhadap kesuburan
tanah air ini, jika ia sekedar hanya mau memetik hasilnya. Apalagi
ia sadar, bahwa kesuburan tanah ini semakinlama menjadi semakin
tidak berarti bagi mereka yang dilahirkan dan dibesarkan di bumi
ini. Dan apalagi kesuburan ini tidak akan berarti apa-apa bagi
keturunannya, bagi anak cucu, karena hasilnya akan dihisap
sebanyak-banyaknya oleh orang-orang asing itu. Dengan demikian, maka
akhirnya Buntal itupun berkata “Aku akan ikut bersamamu Putut
Srigunt ing. Aku akan berada di dalam lingkungan pasukan yang akan
berdiri di belakang Pangeran Mangkubumi, karena aku tahu, bahwa
Pangeran Mangkubumi akan mengangkat senjata, berjuang untuk
mempertahankan hak kami atas bumi ini” Putut Sri Gunting menarik
nafas dalam-dalam. Sambil mengangguki ia berkata “Aku memang sudah
menduga, bahwa kau tidak akan berkeberatan” Buntal tidak menyahut.
Tanpa disadarinya dipandanginya wajah Arum yang tunduk. Buntal
menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Arum mengusap matanya yang
basah. Berbagai perasaan yang bergulat di hatinya. Namun kemudian ia
berkata kepada diri sendiri “Tentu Arum merasa bahwa ia akan menjadi
semakin kesepian karena kedua saudara seperguruannya telah pergi”
“Kiai Danatirta” berkata Putut Sr igunting kemudian “ternyata Buntal
bersedia meninggalkan padepokan ini dan pergi ke padepokan kami.
Kiai Sarpasrana tentu akan senang sekali” “Tentu Buntal merasa bahwa
itu memang sudah menjadi kuwajibannya” jawab Kiai Danatirta. “Terima
kasih Kiai” berkata Srigunting kemudian “Tetapi aku tidak dapat
menyertainya jika ia akan segera berangkat. Aku masih harus
meneruskan perjalananku. Dan perjalananku akan berakhir di Surakarta
sendir i” ”Jadi maksudmu?““Aku akan segera meninggalkan padepokan
ini. Biarlah Buntal besok atau lusa pergi seorang dir i menemui Kiai
Sarpasrana, karena aku tidak akan segera kembali. Perjalananku masih
akan memer lukan waktu tiga sampai lima hari. Baru kemudian, jika
semua tugasku selesai, aku dapat pulang kembali. ” Kiai Danatirta
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti, bahwa di dalam keadaan
yang menentukan ini, Putut Srigunting tentu mempunyai tugas yang
cukup banyak. Sehingga karena itu, maka katanya “Baiklah Putut
Srigunt ing. Buntal tentu tidak akan berkeberatan untuk pergi
sendiri menemui Kiai Sarpasrana. Biarlah ia besok atau lusa
berangkat, sementara ia akan mempersiapkan bekalnya lebih dahulu,
karena ia tentu akan berada di padepokanmu untuk waktu yang lama”
Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Bukankah begitu Buntal?“
Buntal tergagap. Dan dengan serta-merta ia menyahut “Ya, ya Guru.
Aku akan berkemas lebih dahulu” “Terima kasih. Dengan demikian,
tugas kita masing-masing akan dapat kita tunaikan dengan baik” Putut
Srigunting itupun kemudian bergeser setapak sambil berkata “Aku kira
aku sudah cukup lama berada di padepokan ini” “E, nanti dulu. Aku
tidak akan menahanmu menjalankan tugas, apalagi menghambat. Tetapi
tunggulah sebentar, kami sedang menyiapkan makan bagimu. Dan apakah
kau tidak lebih baik menunggu matahari condong sehingga perjalananmu
tidak terlampau panas?“ “Memang tidak bijaksana menolak rejeki.
Terima kasih Tetapi sudah barangtentu setelah aku kenyang aku akan
segera pergi” Sebenarnyalah seperti yang dikatakan. Setelah selesai
makan dan berist irahat sejenak, maka Putut Sriguntingpun meneruskan
perjalanannya, menyampaikan pesan dari KiaiSarpasrana kepada
orang-orang yang dipercayainya dan bersedia membantu perjuangan yang
agaknya akan menjadi semakin keras. Sepeninggal Putut Srigunt ing,
maka Buntalpun segera mempersiapkan dir i. Mengumpulkan pakaian yang
ada padanya. Membersihkan senjatanya dan menyiapkan dir inya untuk
menghadapi persoalan yang agaknya akan menjadi sangat menarik
baginya. Kiai Danatirta yang mengerti, apakah yang akan dihadapi
oleh Buntal kemudian, memberikan berbagai macam pesan. Dan lebih dar
i itu, maka ketika matahari telah terbenam di ujung Barat, maka Kiai
Danatirtapun memanggil Buntal di sanggarnya bersama Arum. “Buntal”
berkata Kiai Danatirta “Apakah kau sadari, apakah yang akan kau
tempuh kelak jika kau sudah berada di padepokan Kiai Sarpasrana?“
Buntal mengangguk lemah. Jawabnya “Ya ayah. Aku mencoba untuk
membayangkan perjuangan yang akan dilakukan oleh Kiai Sarpasrana”
“Perjuangan yang keras dan akan memakan waktu yang lama Buntal.
Menurut kesan yang aku tangkap pada pembicaraan kita dengan Putut
Srigunt ing, agaknya kita memang akan segera mulai. Agaknya Pangeran
Mangkubumi sudah tidak dapat menahan dir i lagi” “Apakah yang akan
terjadi kemudian adalah perang yang dahsyat ayah?“ bertanya Arum.
Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Mungkin sekali
Arum. Yang akan terjadi adalah perang. Perang melawan kumpeni”
“Tetapi bagaimanakah kedudukan Kangjeng Susuhunan kemudian
ayah?““Kedudukan Kangjeng Susuhunan memang sulit. Tetapi agaknya
kumpeni mempunyai pengaruh yang semakin besar, di samping beberapa
bangsawan yang saling mengir i dan dengki. Itu adalah sumber
kemenangan kumpeni. Sebenarnya kesalahan terbesar terletak pada kita
sendir i, jika kita dapat dibenturkan melawan kita sendir i. Jika
tetangga kita berhasil mengadu dua orang saudara kandung berebut
warisan, maka yang paling bersalah adalah kedua saudara kandung itu
sendiri. Barulah kemudian kita mengutuk tetangganya yang berusaha
mengadu kedua orang saudara kandung itu. Jika kita selalu
menyalahkan orang lain tanpa mengetahui kesalahan sendiri, maka
kesalahan yang serupa itu akan selalu berulang. Dan korban yang
paling parah adalah kita sendir i siapapun yang akan menang dan
siapapun yang akan kalah. Dan pihak yang tidak terkalahkan siapapun
yang menang, adalah kumpeni” “Tetapi jika terjadi perang, dan
Kangjeng Susuhunan ternyata berdiri bersama dengan kumpeni, apakah
dengan demikian mereka yang berdiri berseberangan tidak dapat
disebut memberontak terhadap kekuasaan raja. Apalagi jika benar
Pangeran Mangkubumi akan mengangkat senjata, maka ia akan melawan
rajanya dan saudara tua yang harus dihormatinya. Bukankah dengan
demikian, orang-orang yang tidak senang terhadap sikap itu akan
mengatakan bahwa Pangeran Mangkubumi telah melepaskan kesetiaan yang
harus dimiliki oleh setiap bangsawan apapun yang terjadi? Mereka
harus setia kepada Kangjeng Susuhunan sebagai pemegang kekuasaan
tunggal dan mereka harus setia kepada Surakarta?“ “Kau benar Arum.
Dan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi adalah kesetiaan yang
tidak terbatas itu. Pangeran Mangkubumi tidak ingin melihat
Surakarta semakin lama semakin tenggelam. Kerajaan asing yang kini
semakin mencengkam kekuasaan Kerajaan Surakarta ini harus
disingkirkan. Sedangkan bagi Pangeran Mangkubumi,kekuasaan atas
Surakarta satu-satunya terletak pada Kangjeng Susuhunan, sehingga
jika ia berjuang, maka ia ingin memulihkan kekuasaan Kangjeng
Susuhunan. Lepas dari perkembangan selanjutnya, jika Kangjeng
Susuhunan benar- benar menjadi khilaf” Arum mengangguk-angguk. Ia
melihat meskipun samar- samar, bahwa Pangeran Mangkubumi memang
tidak dapat memilih jalan lain. Dalam pada itu, Buntalpun
mengangguk-angguk mendengar pembicaraan itu Ia agaknya telah
memahami apa yang harus dilakukannya. Ia akan berada di dalam sebuah
barisan yang akan berada di medan yang keras melawan pasukan kumpeni
dan bahkan mungkin pasukan Surakarta sendiri yang telah disesatkan
oleh beberapa orang pemimpinnya yang kehilangan pegangan
pengabdiannya kepada Surakarta. Sekilas terlintas kenangannya atas
Raden Juwiring yang telah sekian lamanya tidak pernah datang ke
padepokan itu. Jika ia kemudian menjadi mur id ayahandanya, Pangeran
Ranakusuma, yang menjadi salah seorang Senapati pasukan Surakarta
yang terpandang dan hubungannya dengan orang- orang kulit putih
terlampau dekat, maka apakah yang kira-kira akan dilakukan di dalam
pergolakan yang akan terjadi itu. Selagi Buntal merenungi saudara
seperguruannya itu, maka Kiai Danatirtapun berkata “Buntal, kau
masih mempunyai kesempatan satu dua hari di padepokan ini. Aku
bermaksud di dalam waktu yang sangatsingkat ini, mencoba untuk
menyempurnakan bekalmu. Tentu, tidak ada seorangpun di dunia ini
yang sempurna di dalam segala hal. Namun kita dapat berusaha
mendekatinya, meskipun kita sadar, bahwa kita tidak akan dapat
mencapainya” Buntal memandang gurunya sejenak, namun kemudian iapun
menundukkan kepalanya. “Nah, bersiaplah. Aku ingin memberikan puncak
ilmu padepokan Jati Aking. Mungkin masih jauh dar i tingkatan ilmu
para bangsawan, termasuk Pangeran Ranakusuma. Tetapi dari pada kau
masih belum memilikinya, maka. kau akan semakin jauh ketinggalan.
Apalagi bagimu memang sudah saatnya untuk mewarisi segenap ilmu yang
ada padaku sampai tuntas. Kemudian terserahlah kepadamu, apakah kau
akan mampu mengembangkannya. Dasar ilmu yang aku peroleh pada saat
aku berikan. Selanjutnya aku berusaha mengembangkannya sendiri,
sampai pada bentuk yang kau lihat sekarang ini” Buntal masih
menundukkan wajahnya. Tetapi ia menyahut “Terima kasih guru. Aku
akan mengucapkan beribu terima kasih. Mungkin aku akan terlempar ke
medan, dan harus berhadapan dengan prajurit Surakarta yang tangguh
atau dengan kumpeni yang memiliki jenis ilmunya tersendiri.
Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan padepokan Jati Aking, dan tidak
mengecewakan padepokan Kiai Sarpasrana yang mempercayai aku untuk
ikut di dalambarisannya” “Baiklah Buntal. Tetapi karena di sini aku
mempunyai dua orang murid, maka agar aku bertindak adil, maka kedua
mur idku itu akan menerima haknya masing-masing. Dan keduanya tidak
berbeda. Meskipun yang seorang adalah seorang laki- laki dan yang
lain seorang perempuan” Arum terkejut mendengar keterangan ayahnya
itu, sehingga ia bergeser setapak maju. Hampir di luar sadarnya ia
berkata “Jadi ayah memperkenankan aku untuk bersama- sama mener ima
puncak ilmu Padepokan Jati Aking”“Ya Arum. Tetapi selanjutnya kau
harus bersikap sebagai seorang gadis yang dewasa penuh. Bukan saja
di dalam sikap dan kodratmu sebagai gadis, tetapi sebagai seorang
yang telah dewasa memiliki puncak ilmu dari Jati Aking” Wajah Arum
bersinar sesaat. Katanya “Terima kasih ayah” “Marilah. Agar kita
masih mempunyai waktu yang cukup. Aku memerlukan dua malam untuk
memberikan puncak ilmuku kepada kalian” Demikianlah maka Buntal dan
Arumpun segera mempersiapkan dirinya. Membenahi pakaiannya dan
mengatur segenap kelengkapan tubuh dan jiwanya untuk menerima puncak
ilmu Jati Aking. Sejenak mereka memusatkan segenap pikiran dan
perasaan untuk memulainya dengan suatu latihan yang khusus, sehingga
memer lukan keadaan yang khusus pula. Ketika semuanya sudah
tersedia, kesiagaan jasmani dan rohani, maka Kiai Danatirtapun mulai
melakukan gerakan- gerakan yang mempersiapkan kedua mur idnya untuk
sampai pada puncak ilmunya. Di luar bilik malam menjadi semakin
kelam. Langit yang luas bagaikan hamparan wajah yang hitam kelam.
Awan basah yang tebal tergantung dari ujung sampai keujung
cakrawala. Yang terdengar di dalam bangsal latihan itu hanyalah
desah nafas. Justru loncatan-loncatan kaki yang ringan, seakan-akan
tidak menimbulkan suara sama sekali oleh kecepatan gerak yang hampir
sempurna. Semakin lama semakin cepat, semakin cepat. Dan mengalirlah
unsur-unsur gerak yang tertinggi dari ilmu padepokan Jati Aking.
Namun sejenak kemudian suara desah nafas dan kadang- kadang sentuhan
ujung kaki itu lenyap ditimpa deru hujan yang turun dengan lebatnya
seperti dituangkan dari langit.Dedaunan yang tertidur nyenyak
bagaikan diguncang oleh titik-titik air yang tertumpah menimpanya.
Tetapi yang berada di dalam sanggar, sama sekali t idak
menghiraukannya. Juga tidak menghiraukan titik-titik air hujan yang
menyusup lewat atap yang kurang rapat. Perhatian mereka sedang
terpusat pada tata gerak puncak dari ilmu padepokan Jati Aking.
Demikianlah mereka terbenam di dalam suatu pemusatan pikiran pada
puncak ilmu itu. Ketika lewat tengah malam hujan mereda, dan
kemudian tinggal titik-titik yang lembut saja yang menyentuh
genangan-angan air di halaman, maka mereka bertiga masih saja berada
di dalam sanggar itu. Namun akhirnya mereka berhenti pula setelah
keringat mereka bagaikan terperas dari segenap tubuh. Betapa
lelahnya ketiganya. Terutama Arum. Bagaimanapun juga, secara
kodrati, kemampuan jasmaniahnya tidak dapat disamakan dengan Buntal.
Karena itulah maka Kiai Danatirta tidak memaksakannya untuk
menuntaskan ilmu itu hanya dalam satu malam saja. Di hari
berikutnya, rasa-rasanya tubuh Arum menjadi sangat letih. Namun ia
tidak memaksa diri untuk tetap berada di dalam biliknya. Meskipun
tidak selincah seperti di hari-hari lain, namun Arum pergi juga ke
dapur menyiapkan makan yang akan dibawanya ke sawah, karena
Buntalpun seperti biasanya perg juga untuk mengair i sawah. Ketika
kemudian hari menjadi gelap, dan Buntal sudah membersihkan dir i,
makan malam dan beristirahat sejenak, mulailah mereka bertiga
mengurung dir i di dalam sanggar. Dan seperti malam sebelumnya,
mereka menempa dir i untuk menyadap puncak ilmu yang dimiliki oleh
Kiai Danatirta. Seperti yang diduga oleh Kiai Danatirta, ternyata
murid- mur idnya mampu menerima ilmu itu. Meskipun ternyata bagi
Arum terasa betapa letih dan lelahnya. Namun ia telahberusaha
sekuat-kuatnya sampai pada unsur gerak yang terakhir yang harus
dilakukannya dilambari dengan segenap ungkapan watak dan sifatnya.
Perlahan-lahan setiap gerakan telah meningkatkan lambaran ilmu itu,
sehingga akhirnya sampai pada puncaknya yang paling dahsyat. Sebuah
gerakan yang terakhir, telah melontarkan mereka ke dalam suatu
keadaan yang semula samar, tetapi semakin lama semakin jelas
dalambentuk arah isinya. Terasa pada kedua anak-anak muda itu,
sesuatu menggelepar di dalam dadanya. Dan nafas merekapun bagaikan
tersumbat. Namun mereka sudah sampai pada taraf terakhir, sehingga
mereka memaksa duri untuk melepaskan tata gerak yang terakhir,
sebuah lontaran kekuatan yang dahsyat. Berbareng dengan lontaran
kekuatan yang dahsyat itu, terasa tubuh mereka bagaikan kehilangan
keseimbangan. Rasa-rasanya mereka tidak lagi berpijak di bumi.
Sejenak mereka terhuyung. Sedang mereka masih belum berhasil
menghembuskan nafas dengan wajar. Buntal memejamkan matanya. Ia
masih dapat menghentakkan dirinya dengan sisa tenaganya. Dan
kemudian dengan susah payah menghirup nafas betapapun sendatnya.
Sambil bersandar pada dinding bangsal, Buntal perlahan-lahan mencoba
untuk menguasai keadaan tubuhnya dengan tenaga yang masih ada
padanya. Sekali, dua kali, Buntal menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian per lahan-lahan, nafasnya bagaikan mengalir lagi dengan
wajar, sehingga Buntal berhasil menguasai keseimbangannya
sepenuhnya, betapapun tubuhnya merasa sangat letih. Tetapi ketika ia
membuka matanya, dilihatnya Kiai Danatirta telah mengangkat Arum
pada kedua tangannya dan membar ingkannya di atas sehelai t ikar di
sudut bangsal.“Anak ini pingsan” berkata Kiai Danatirta. Meskipun
masih agak pening, Buntalpun kemudian mendekatinya. Ditatapnya wajah
Arum yang pucat. Matanya terpejamdan bibirnya terkatup rapat-rapat.
Perlahan-lahan Kiai Danatirta menggerakkan tangannya. Dengan
pengalaman dan pengetahuan yang ada padanya, maka iapun segera
berhasil membangunkan gadis yang pingsan itu. “Ayah” desisnya.
Perlahan-lahan matanyapun terbuka. Yang pertama-tama tampak meskipun
agak kabur, adalah wajah ayahnya yang menungguinya. “Bagaimana
keadaanmu kini Arum?“ bertanya ayahnya. “Baik ayah. Aku merasa
sangat letih, tetapi aku merasa segar. Aku agaknya menjadi t idak
sadarkan dir i sejenak. Namun kini, semuanya rasainya menjadi
semakin jernih” “Ya Arum. Mudah-mudahan kau akan selalu dalam
keseimbangan j iwa setelah kau menguasai ilmu itu. Kau tidak boleh
kehilangan pengamatan dir i, dan justru karena kau memiliki
kelebihan, kau akan menjadi Arumyang lain” Arum masih saja
tersenyum. Ketika ayahnya meraba keningnya ia berkata “Aku akan
mengingatnya ayah” Buntal yang berjongkok di sisi tikar yang
terbentang itupun menjadi berdebar-debar. Arum yang pucat dan
tersenyum itu rasa-rasanya menjadi semakin cerah Tatapan matanya
memang menjadi semakin bening. Buntal menar ik nafas dalam-dalam.
Demikianlah, malam itu kedua murid padepokan Jati Aking itu telah
sampai kepada ujung ilmunya. Namun demikian yang mereka kuasai
adalah baru sekedar pokok ilmu itu sendir i. Kemungkinan dan
perkembangan selanjutnya, adalah terserahkepada mereka yang
memilikinya, dan tentu sangat tergantung kepada pembawaan pribadi
seseorang. Dalam pada itu Buntal masih ingin beristirahat sehari
lagi di padepokan Jati Aking sebelum ia akan menerjunkan dir i ke
dalam suatu kancah yang akan merupakan suatu pengenalan baru
baginya. Salah satu segi kehidupan yang paling dibenci oleh manusia,
namun yang selalu terjadi di sepanjang abad. Perang adalah peristiwa
yang paling mengerikan. di dalam perang segala kemungkinan yang
keras, kasar dan bahkan kadang-kadang menyerupai t indakan yang buas
dan liar, dapat terjadi. Dan hal itu disadari oleh setiap orang.
Namun perang masih saja selalu terjadi. Demikianlah yang
tanda-tandanya akan terjadi di Surakarta. Pangeran Mangkubumi adalah
seseorang yang benci kepada peperangan. Ia sadar, bahwa perang
berarti kematian dan kepedihan. Perempuan akan kehilangan suaminya,
gadis akan kehilangan kekasihnya dan Surakarta akan kehilangan
rakyatnya yang paling baik. Tetapi apakah ia harus duduk termenung
merenungi nasib Surakarta yang buruk ini sambil mengutuk peperangan,
sedang di seluruh Surakarta rakyat menjadi semakin melarat dan
tertindas. Dan Buntal akan turun ke dalam peperangan itu. Ke dalam
suatu keadaan yang memungkinkan seseorang membunuh sesama dengan
ujung senjata. “Buntal” berkata Kiai Danatirta kepada mur idnya yang
sudah akan meninggalkannya “lakukanlah kuwajibanmu. Aku memang
sering mendengar tembang rawat-rawat di antara para pertapa di
ujung-ujung pegunungan, bahwa tidak ada yang lebih suci daripada
mendambakan ketenangan. Tetapi mereka melupakan salah satu ujud dari
pada kasih antara sesama. Dan itulah yang harus kau lakukan.
Melindungi manusia dari ketidak adilan. Bukan sekedar meneriakkannya
di simpang empat sambil mengacukan tangan tinggi-tinggi. Tetapi
dengan perbuatan yang nyata. Meskipun perbuatanyang nyata itu berupa
perang. Dan di sinilah kita berdiri. Kadang-kadang kita memang harus
melakukan sesuatu yang kita benci. Tetapi kita harus tetap berdiri
di atas lembaran hati yang bersih” Buntal menganggukkan kepalanya
sambil berdesis “Aku mengerti guru” Demikianlah, Buntalpun telah
siap meninggalkah padepokan Jati Aking. Jika besok matahari terbit
di Timur, ia akan berangkat menuju ke padepokan Kiai Sarpasrana yang
pernah didatanginya. Namun malam itu, sesuatu tidak dapat
dihindarkan dari sudut hatinya. Rasa-rasanya bayangan Arum tidak
dapat disingkirkan dari rongga matanya. Dalam keadaan yang khusus
itu, Buntal tidak dapat ingkar lagi kepada dir inya sendiri.
Ternyata Arum benar-benar telah mencur i hatinya. Betapapun ia
mencoba menyembunyikan perasaannya, namun gejolaknya terasa melanda
dinding jantung. Tetapi Buntal tidak dapat berbuat banyak selain
menekan perasaan itu dalam-dalam. Ia tidak berani menyatakannya
kepada siapapun juga. Kepada Arum, dan apalagi kepada Kiai
Danatirta. Setiap kali, ia teringat kepada seorang anak muda
bangsawan yang bernama Juwir ing. Rasa-rasanya Juwiring merupakan
batas yang memisahkannya dar i Arum. Namun, Buntal masih selalu
berusaha berpikir jernih, sehingga ia masih saja berhasil membatasi
persoalan itu di dalam dir inya sendir i. Tetapi untuk mengurangi
beban yang rasa-rasanya hampir tidak terpikulkan, maka hampir di
luar kemauannya sendiri. Buntal melangkah keluar biliknya dan
melalui pintu butulan ia menjenguk keluar rumah.Terasa udara yang
segar berhembus mengusap wajahnya. Ketika ia menengadahkan wajahnya,
dilihatnya bintang berkeredipan di langit. di sudut cakrawala masih
tampak segumpal awan yang kelabu. Namun kemudian bergeser ditiup
angin malam yang sejuk. Ketika Buntal kemudian melangkah keluar
pintu, ia menjadi termangu-mangu. Telinganya yang tajam menangkap
desir langkah lembut di belakangnya. Karena itu, maka iapun
berpaling. “Arum“ Buntal terkejut melihat Arum berdir i termangu-
mangu di belakang pintu. Arum tidak menjawab. Tetapi tampak sekilas
cahaya yang berkilat di matanya. Kemudian gadis itu menundukkan
kepalanya pula. Buntal melangkah kembali masuk ke dalam rumah.
Sejenak keduanya termangu-mangu. Namun kemudian Arum melangkah dan
duduk di amben yang besar di ruang belakang itu. Hampir di luar
sadarnya Buntal mengikutinya dan duduk di amben itu pula. Beberapa
saat keduanya saling berdiam dir i. Rasa-rasanya mereka telah
dibatasi oleh perasaan masing-masing yang sukar ditebak. Tetapi
tanpa kata-kata, ada sesuatu yang terucapkan. Pada tatapan mata dan
sikap mereka yang asing, masing-masing telah mengungkapkan perasaan
yang sebenarnya sudah agak lama terpendam di dalam dir i. Namun,
akhirnya terucapkan juga pertanyaan dari mulut Buntal “Kau masih
belum tidur Arum?“ Arum menggeleng lemah. Katanya “Aku tidak dapat
tidur kakang” “Kenapa?”Arum t idak segera menjawab. Ditatapnya wajah
Buntal sejenak lalu, terbata-bata ia bertanya “Kau jadi pergi
besok?” “Ya Arum” “Lama?“ “Aku tidak dapat mengatakan Arum. Tetapi
agaknya aku akan berada di dalam medan yang berat. Aku menyadarinya”
Arum menunduk semakin dalam. Tetapi terlontar dari bibirnya “Jika
tugasmu selesai kakang, aku harap kau segera kembali. Bukankah kau
akan kembali ke padepokan ini, dan bukan ke tempat lain?“ Terasa
dada Buntal menjadi berdebar-debar. Sejenak ia justru terbungkam.
Namun kemudian terdengar suaranya dalam nada berat dan datar “Aku
akan kembali ke padepokan ini Arum. Aku adalah anak yang kabur
kanginan. Aku tidak mempunyai orang tua lagi, sehingga karena
itulah, maka aku menganggap Kiai Danatirta adalah satu-satunya
tempat bagiku untuk berlindung” Arum mengangkat wajahnya. Ditatapnya
Buntal sejenak. Namun gadis itu kembali menundukkan kepalanya sambil
bergumam lirih “Tentu ayah akan senang sekali” Tidak ada pembicaraan
lagi di antara mereka. Tetapi kedua hati anak-anak muda itu rasanya
telah bersentuhan. Mereka tidak memer lukan kata-kata yang
berkepanjangan. Namun mereka masing-masing telah dapat menghayati,
apakah yang sebenarnya tersembunyi di balik kediaman itu. Ketika
Arum kemudian kembali ke dalam biliknya, maka Buntalpun masuk pula
ke dalam biliknya yang terasa sepi. Besok ia akan meninggalkan bilik
yang sudah lama dihuninya. Mula-mula bersama Juwiring, namun
kemudian sejak Juwiring meninggalkan Jati Aking, ia berada di dalam
bilik itu sendir i. Meskipun sejak Juwir ing masih ada, ia
kadang-kadang berada di dalam bilik itu sendir i jika Juwir ing
menunggui sawahnya dimalam hari, tetapi kesendir ian yang
dirasakannya kini, adalah perasaan yang mendera pusat hatinya.
Tetapi Buntal harus menjelajahinya tanpa dapat menyingkir lagi.
Namun dengan demikian, maka hampir semalam suntuk ia sama sekali
tidak dapat memejamkan matanya. Hanya sesaat sebelum fajar
menyingsing, matanya yang berat itupun terkatup untuk beberapa
lamanya. Buntal terkejut mendengar ayam jantan berkokok di ujung
pagi. Tergesa-gesa ia bangkit dan pergi ke pakiwan. Setelah
melakukan semua kewaj ibannya, yang jasmani dan yang rohani, maka
iapun membenahi dirinya. Menyiapkan sebungkus pakaian dan sebilah
pedang tergantung di lambung, dan sebilah keris di punggung.
“Hati-hatilah di perjalanan Buntal “ pesan Kiai Danatirta ketika ia
mengantar Buntal sampai ke regol halaman. “Aku akan selalu
berhati-hati guru“ sahut Buntal “Aku mohon doa dan restu sepanjang
perjuanganku yang tidak aku ketahui sampai kapan akan berakhir” Kiai
Danatirta tersenyum. Sambil menepuk bahu anak muda itu ia berkata
“Tetapi perjuangan itu tentu akan ada akhirnya. Bagaimanapun
bentuknya” Buntal memandang Kiai Danatirta yang tersenyum itu.
Perlahan-lahan ia berkata “Mudah-mudahan aku dapat melihat akhir dar
i perjuangan itu“ Dan tiba-tiba saja Arum yang berdiri di sisi
ayahnya menyahut “Kenapa tidak kakang?“ Buntal menarik nafas.
Katanya “Perjuangan yang akan dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi
adalah perjuangan yang keras. Itulah sebabnya maka ada kalanya
korban akan berjatuhan. Dan setiap orang di dalam pasukannya, akan
menghadapi kemungkinan yang sama”“Benar Buntal” potong gurunya
“Tetapi semua yang akan terjadi, sudah digariskan oleh Tuhan Yang
Maha Kuasa. Jika maut memang sudah datang menjemput kita
masing-masing, maka kita tidak akan dapat memilih tempat dan waktu.
Karena itu, perjuangan adalah arena pengabdian yang tidak lebih
berbahaya dari setiap kerja yang kita lakukan” “Ya guru” sahut
Buntal. “Namun adalah kuwajiban kita untuk berusaha. Dan usaha yang
pantas kau lakukan di dalam perjuangan bersenjata adalah
berhati-hati dan t idak membanggakan diri sendir i” Sekali lagi
Buntal mengangguk. “Nah pergilah, kami di sini mengharap
kedatanganmu kembali. Aku dan juga Arum” Wajah Arum menjadi merah
mendengar kata-kata ayahnya. Dan apalagi ketika ayahnya itu
meneruskan “Aku mendengar pembicaraanmu semalam” “Ah“ wajah Arum t
iba-tiba menjadi semakin tunduk. Sedang Buntal mencoba untuk
tersenyum betapapun kecutnya. Akhirnya anak muda itupun meloncat ke
punggung kudanya. Hatinya memang berat untuk meninggalkan Jati
Aking, dan terutama Arum dan ayahnya. Tetapi kuwajiban rasa-rasanya
memang sudah memanggilnya. Sekali-sekali Buntal masih berpaling.
Dilihatnya Arum menggerakkan tangannya dan tanpa sesadarnya
Buntalpun melambai pula. Tetapi sejenak kemudian, kudanya bagaikan
terbang meninggalkan padepokan Jati Aking. Bahkan kemudian
meninggalkan Jati Sari. Beberapa orang petani yang sudah lama
bergaul dengan anak muda itu masih sempat bertanya dari pematang
“He, Buntal. Kemana kau sepagi ini. Aku baru akan pulang setelah
semalamsuntuk menunggui air”Buntal memper lambat kudanya. Jawabnya
“Sekedar melemaskan kaki-kaki kudaku paman. Sudah lama kudaku tidak
berlar i kencang.” “Tetapi kau membawa bekal dan senjata?“ Buntal
tersenyum “Sekedar kelengkapan j ika aku tersesat sampai ke hutan”
Petani itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lagi
karena Buntal menjadi semakin jauh, dan kudanyapun sudah mulai
berpacu kembali. Sekali-sekali Buntal menengadahkan wajahnya
kelangit. Dilihatnya matahari pagi memanjat semakin tinggi. Burung-
burung liar berterbangan di atas tanah persawahan yang hijau segar.
Buntal menar ik nafas dalam-dalam. “Apabila terjadi perang” katanya
di dalam hati “maka tanaman yang hijau itu akan lumat diinjak
kaki-kaki kuda j ika tempat ini menjadi ajang peperangan itu” Tetapi
kadang-kadang seperti yang pernah didengarnya, seseorang harus
melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Jika
seseorang telah berada di dalam keadaan tanpa pilihan, maka hal itu
harus dilakukannya. Kuda Buntal berpacu semakin cepat. Sebelum
matahari sampai ke puncak langit, maka Buntal telah menelusur daerah
hutan perburuan. Tetapi kali ini ia tidak ingin singgah ke hutan
yang digawar dengan lawe. Bahkan ia tidak memilih jalan lain ketika
ia sampai ke daerah hutan yang masih liar. la tahu bahwa jalan itu
jarang sekali dilalui orang. Tetapi jalan itu adalah jalan yang
memintas. Namun ternyata bahwa jalan itu terlampau sepi. Agaknya
jarang sekali orang-orang yang lewat jalan yang memotong daerah
pinggiran hutan yang masih agak lebat.Tiba-tiba Buntal terkejut
ketika ia melihat beberapa orang berkuda lewat di jalan itu pula,
justru berlawanan arah. Sebuah iring-ir ingan yang agaknya sudah
lelah. “Siapakah mereka” bertanya Buntal kepada diri sendiri
“Agaknya sebuah iring-ir ingan yang menempuh jarak yang jauh, atau
menjumpai persoalan-persoalan lain yang membuat mereka jadi sangat
letih” Buntal menjadi berdebar-debar. Ia melihat dua orang berkuda
di paling depan. Kemudian berjarak beberapa langkah, tampak seekor
kuda yang berjalan lambat. Jauh di belakang, masih dapat dilihatnya
seekor kuda lagi muncul dari balik bayangan sebuah gerumbul liar di
pinggir hutan itu. Tetapi agaknya orang-orang berkuda itu tertarik
pula melihat seorang anak muda berkuda di hadapan mereka. Karena
itu, orang yang berada di paling depan itupun segera menarik kekang
kudanya sehingga kudanya berhenti menyilang jalan. Buntal memang
sudah memper lambat derap kudanya. Beberapa langkah dari kuda yang
menyilang jalan sempit itu. Buntal berhenti. “Siapa kau anak muda?“
bertanya orang yang menyilangkan kudanya. Buntal menjadi ragu-ragu.
Ia belum mengenal orang itu. Jika orang itu bukan kawan-kawan yang
berdiri di pihak yang sama, maka keadaannya akan menjadi semakin
sulit. Apalagi ketika ia masih melihat satu dua ekor kuda muncul
dari balik gerumbul-gerumbul. “Siapa?“ Yang paling aman bagi Buntal
adalah menghindari kemungkinan namanya dapat segera disangkutkan
dengan pihak-pihak yang sedang bertentangan. Karena itu maka
jawabnya “Aku anak Jati Sar i”“Namamu?“ “Buntal. Aku sedang pergi
untuk menengok pamanku” “Dimana rumah pamanmu?“ “Sukawati”
Orang-orang itu mengerutkan keningnya. Sejenak mereka merenung.
Namun sejenak kemudian orang yang menyilangkan udanya itupun
bergerak maju seakan-akan member i jalan bagi Buntal untuk lewat.
“Kenapa kau pergi seorang dir i?“ bertanya orang tu kemudian. “Aku
biasa berkunjung ke rumah paman. Jalan ini sudah sering aku lalui”
Orang itu masih mengerutkan keningnya. “Apakah kau tidak berbohong?“
”Tidak. Aku berkata sebenarnya” Sejenak orang-orang itu
termangu-mangu. Namun kemudian dilihatnya pedang Buntal yang
tergantung di sisinya. Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka
mendekat sambil berkata “Kau membawa sepasang senjata. Sebilah
pedang dan sebilah keris” Buntal menjadi berdebar-debar. Namun
diusahakannya agar ia tetap tenang jawabnya “Ya. di daerah ini
sering terdapat binatang buas. Karena itu aku bersenjata sepasang”
Namun dalam pada itu, selagi mereka berbicara, seorang anak muda
yang berkulit hitam bermata merah mendesak maju sambil berkata
“Rampas senjatanya. Itu sangat berbahaya. Mungkin ia orang yang
berbahaya bagi kita atau justru bagi Sukawati” Debar di dada Buntal
menjadi semakin cepat menggelepar. Tetapi ia masih tetap
tenang.“Berikan senjatamu” “Ah“ jawab Buntal “Jika aku bertemu
dengan binatang buas, aku tidak akan dapat berbuat apa-apa” “Aku
tidak peduli. Ber ikan senjatamu” “Jangan Ki Sanak” suara Buntal
menjadi semakin datar “senjata ini sangat aku per lukan” “Tidak bagi
orang-orang seperti kau. Orang-orang malas yang hanya mementingkan
diri sendir i. Hanya orang-orang yang hidup di medan sajalah yang
pantas bersenjata” Buntal menjadi ragu-ragu. Ada kalanya ia ingin
mengatakan tentang dirinya, bahwa ia adalah mur id Jati Aking dan
sedang memenuhi panggilan Pangeran Mangkubumi melalui Kiai
Sarpasrana di Sukawati. Namun ia masih saja dibayangi oleh
keragu-raguan karena ia tidak tahu pasti, dengan siapa ia berbicara.
Dalam pada itu anak muda yang berkulit hitam itu mendesaknya terus.
Bahkan kemudian anak muda itu mendekatinya sambil membentak “Cepat.
Kami tidak sedang bertamasya. Kami sedang menempuh perjalanan yang
jauh. Berikan senjata itu sekarang.” Dada. Buntal yang
berdebar-debar menjadi semakin berdebar-debar. Dan agaknya anak muda
itu masih saja mendesaknya terus. Sementara itu, orang-orang yang
lebih tua, yang justru mula-mula menahan Buntal dengan menyilangkan
kudanya berkata “Kita akan memeriksanya. Aku kira ia tidak bermaksud
apa-apa” “Belum tentu paman” jawab anak muda yang berkulit hitam
“Kita harus mengetahui dengan pasti, bahwa orang ini tidak berbahaya
bagi kita. Siapa tahu, ia merupakan petugas sandi dari Surakarta
atau kumpeni”Mendengar kata-kata itu Buntal mulai mendapat petunjuk
bahwa orang-orang itu tentu bukan orang-orang yang berpihak kepada
kumpeni. Karena itu maka katanya kemudian “Ki Sanak. Sebenarnya aku
adalah mur id dari perguruan Jati Aking. Aku akan pergi menemui Kiai
Sarpasrana, salah seorang pengikut Pangeran Mangkubumi” “Kau dapat
mengigau apa saja” berkata anak muda berkulit hitam itu sehingga
Buntal terkejut pula karenanya. “Anak muda dari Jati Aking” berkata
yang lebih tua dari anak muda yang berkulit hitam “Aku ingin
menggeledah Barang-barangmu. Jika kau membawa Barang-barang yang
mencur igakan, maka aku akan mengambil sikap lain” “Silahkan Ki
Sanak. Aku tidak berkeberatan” jawab Buntal yang bahkan kemudian
meloncat turun dar i kudanya. Orang yang sudah lebih tua itupun
turun pula dari kudanya dan mendekati kuda Buntal. Dilihatnya
Barang-barang yang dibawanya, yang tidak lebih dari pakaian-pakaian
kumal. “Ia tidak membawa apapun juga. di dalam bungkusan pakaian itu
tidak terdapat Barang-barang lain. Apalagi senjata api” “Tetapi itu
belum merupakan pertanda bahwa ia tidak akan berbuat apa-apa” “Ia
hanya bersenjata tajam seperti kita. Ia hanya seorang diri. Tidak
banyak yang dapat dilakukan. Biarlah ia lewat. Kita jangan menambah
lawan di sepanjang jalan” “Aku tetap menghendaki senjatanya” Buntal
menjadi semakin bingung menghadapi anak muda berkulit hitam ini.
Tetapi ia sudah bertekad bahwa ia tidak akan menyerahkan senjatanya.
Apapun yang terjadi.Dalam pada itu, orang yang sudah lebih tua yang
agaknya memimpin ir ing- iringan itu berkata “Kau memang keras hati.
Tetapi dengar, anak muda itu akan menjawab“ “la tidak perlu member
ikan pendapat apapun juga. Aku memer lukan senjatanya” “Sayang”
sahut Buntal “senjata ini adalah pemberian guruku dar i Jati Aking.
Tentu saja aku berkeberatan” “Gila, aku akan memaksamu” “Jangan Ki
Sanak. Jika kau berkeras untuk mengambil senjataku, aku akan
berkeras untuk mempertahankan” “Persetan“ Anak muda berkulit hitam
itupun meloncat pula dari kudanya beberapa langkah di hadapan
Buntal. Orang-orang yang melihat sikap kedua anak-anak muda itu
menjadi tegang. Orang yang sudah lebih tua di dalam pasukan yang
lewat itu, menjadi termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata
“Baiklah kita akan melihat, apakah kau akan berhasil mengambil
senjatanya. Dan di dalam perkelahian ini, kita tidak ingin melihat
jatuh seorang korbanpun. Jika kau berhasil mengalahkannya, maka kau
akan dapat merampas senjatanya, tetapi sebaliknya jika kau kalah,
maka kau harus mengurungkan niatmu untuk merampas senjata itu, dan
kau tidak dapat mengharapkan bantuan dari siapapun” “Baik, baik”
jawab anak muda berkulit hitam itu. Demikianlah, maka beberapa orang
yang sudah berada di dekat kedua anak-anak muda itupun berkerumun.
Satu-satu masih saja ada seekor kuda dengan penunggangnya yang
muncul dari balik gerumbul. Ketika mereka melihat orang- orang
berkerumun, maka mereka yang datang kemudianpun ikut berkerumun
pula. Demikianlah, maka anak muda yang hitam itu mempersiapkan dir
inya. Dipandanginya Buntal dengan tajamnya. Sekilas tampak keheranan
membayang diwajahnya. Ternyata anak muda yang berkulit hitam itu
menjadi heran melihat sikap Buntal yang meyakinkan. Sejenak kemudian
maka anak muda itu bergeser selangkah maju, dan Buntalpun berdir i
dengan mapan pada kedua kakinya yang renggang. “Kau benar-benar
keras kepala” berkata anak muda berkulit hitam “Tetapi persoalannya
bukan lagi persoalan kecurigaan. Tetapi sikapmu terlampau sombong”.
Buntal tidak menjawab. Tetapi matanya tidak terlepas uari ujung kaki
lawannya. Seperti yang diduga, maka iapun segera melihat kaki itu
mulai bergerak. Cepat sekali. Dan Buntalpun sempat melihat arah
serangan yang deras itu, sehingga ia masih mampu mengelak selangkah
ke samping. Dengan demikian maka serangan itu sama sekali t idak
mengenai sasarannya. Serangan anak muda berkulit hitam itu lewat
sejengkal dar i tubuh Buntal yang condong. Namun anak muda itu t
idak membiarkan lawannya sempat memperbaiki keadaannya. Iapun segera
berputar pada sebuah tumitnya dan sebuah serangan mendatar menyambar
lambung Buntal. Serangan itu terlampau cepat untuk dielakkan. Karena
itu tidak ada jalan lain bagi Buntal kecuali menangkis serangan itu.
Tetapi karena Buntal belum tahu pasti kemampuan lawannya, maka
Buntalpun tidak dengan serta merta membentur kekuatan itu. Dengan
lincahnya ia berkisar sambil memukul kaki yang menyambar mendatar
itu dengan sepenuh tenaga. Terdengar sebuah keluhan tertahan. Hampir
saja anak muda berkulit hitam itu terdorong jatuh. Untunglah bahwa
ia masih sempat meloncat dengan sebelah kakinya dan bertahan untuk
tetap berdiri.Namun dengan demikian, anak muda berkulit hitam itu
dapat menjajagi kekuatan dan kemampuan Buntal, sehingga untuk
selanjutnya ia tidak dapat menganggap Buntal sebagai sekedar
anak-anak yang sedang berbangga karena ia mulai dapat berjalan.
Demikianlah maka perkelahian itupun berlangsung semakin lama semakin
sengit. Ternyata anak muda yang berkulit hitam dengan sekuat
tenaganya berusaha memenangkan perkelahian itu. Namun Buntalpun
mengerti, bahwa persoalannya sebenarnya sudah berkisar. Anak muda
itu kini bukannya sekedar ingin merampas senjata karena
kecurigaannya. Tetapi kini anak muda berkulit hitam itu semata-mata
ingin mempertahankan harga dirinya. Tentu ia tidak mau dikalahkan
oleh Buntal di hadapan kawan- kawannya, karena ternyata Buntal
memiliki kemampuan di luar dugaannya. Namun sebaliknya Bunlalpun
tidak mau dikalahkan karena dengan demikian ia akan kehilangan
senjatanya. Karena itu, maka perkelahian itupun menjadi semakin
seru. Masing-masing tidak mau kehilangan kesempatan untuk tertahan
dan jika mungkin memenangkan perkelahian. Namun dengan demikian
Buntal tidak lagi sekedar dikuasai oleh perasaannya ingin
mengalahkan lawannya. Semakin lama ia justru menjadi semakin yakin,
bahwa kemampuan lawannya tidak dapat mengimbangi. kemampuannya.
Lambat laun lawannya tentu akan dapat dikuasainya, jika ia tidak
membuat kesalahan yang besar di dalam perkelahian itu. Bukan saja
Buntal yang menyadari akan hal itu. Tetapi orang yang lebih tua dan
anggauta-anggauta pasukan yang lain itupun mengetahui pula, sehingga
iapun dapat mengambil kesimpulan bahwa Buntal pasti akan memenangkan
perkelahian itu. Namun iapun menyadari, bahwa harga diri anak
buahnya yang berkulit hitam itu tentu akan tersinggungjika ia tidak
dapat memenangkan perkelahian itu, sehingga ia akan dapat berbuat
sesuatu di luar sadarnya. Karena itu, maka orang itupun berusaha
untuk mendapatkan suatu penyelesaian yang baik agar kedua belah
pihak tidak mendapat kesulitan dan tersinggung karenanya. Apalagi
ketika ia melihat, bahwa agaknya lawan anak buahnya itu meskipun
masih muda, namun memiliki pertimbangan yang lebih mengendap menilik
sikapnya dan tata geraknya di dalam perkelahian itu. Tetapi belum
lagi orang itu menemukan sesuatu, tiba-tiba seorang yang bertubuh
raksasa, yang baru saja datang mendekati arena itu, meloncat turun
dari kudanya. Dengan serta-merta ia menyibakkan orang-orang yang
mengerumuni perkelahian itu, yang semakin lama ternyata menjadi
semakin banyak. “Cukup, cukup“ raksasa itupun kemudian berteriak,
sehingga suaranya bagaikan menggeletarkan seisi hutan. Semua orang
yang berada di sekitar arena itu terkejut. Mereka yang sedang
bertempurpun terkejut pula, sehingga hampir di luar sadarnya,
keduanya meloncat surut. Raksasa itu kini berdiri di dalam
lingkungan orang-orang yang semakin banyak berkerumun. Dengan
tajamnya orang itu memandang kedua anak-anak muda yang sedang
berkelahi itu berganti-ganti. “Untunglah lawanmu seorang yang baik
hati” geram raksasa itu sambil memandang anak muda yang berkulit
hitam itu “Jangan merasa dirimu memiliki kemampuan yang setingkat
dengan anak muda itu, karena kau seolah-olah dapat bertahan untuk
beberapa saat lamanya. Tetapi sebenarnyalah bahwa kau telah
dikasihani, sehingga kau tidak segera dikalahkannya” Anak muda
berkulit hitam itu memandang raksasa itu dengan keragu-raguan yang
membayang di wajahnya.“Kau tidak percaya?“ bentak raksasa itu. Anak
muda berkulit hitam itu tidak menjawab. Sekilas disambarnya wajah
Buntal yang disaput oleh keragu-raguan. Sejenak-Buntal memang
berdiri saja dengan tegang. Namun ketika raksasa itu tersenyum
padanya, iapun melangkah setapak maju sambil berdesis “Kaukah itu?“
“Ya, anak muda. Kau tentu tidak lupa kepadaku” “Sura” “Ya aku Sura”
Tegapi wajah Buntal masih tetap membayangkan keragu- raguan,
sehingga sambil tersenyum Sura berkata “Aku sekarang sudah menemukan
diriku sendir i. Aku kini merasa diriku benar-benar seorang yang
bebas, yang dapat menentukan pilihan. Seperti sudah kau ketahui,
sejak aku meninggalkan Raden Rudira, aku kembali ke rumahku yang
kecil, miring dan bocor di saat hujan turun. Keadaan yang jauh
berlawanan dengan kehidupan yang pernah aku lihat di kota, membuat
aku terbangun dari mimpi. Aku merasa bahwa aku harus berbuat
sesuatu. Dan kini aku sudah memilih tempat” Buntal
mengangguk-angguk. Tetapi ia masih belum menjawab. “Nah, barangkali
kau masih tetap bertanya-tanya, dimana aku sekarang berdiri” “Jangan
kau katakan” desis anak muda berkulit hitam itu. “Kau tidak usah cur
iga kepadanya” Sura berhenti sejenak lalu “Kita adalah laskar Raden
Mas Said. Nah, apakah kau sedang melakukan suatu tugas dari
perguruanmu?“ “Aku akan pergi ke Sukawati. Aku akan menghadap Kiai
Sarpasrana”“O. Bagus. Sukawati sedang bersiap-siap meskipun menurut
pendapat kami, persiapan itu terlampau lamban. Tetapi itu lebih baik
dar ipada tidak berbuat sesuatu” “Tentu dengan pertimbangan yang
masak” “Ya, ya” Sura berpikir sejenak, lalu “Tetapi kau dapat
memilih di antara Sukawati atau kami” Buntal memandang Sura dengan
tajamnya. Namun kemudian ia bertanya “Apakah ada bedanya?“ “Pada
dasarnya tidak. Tetapi kami memiliki gairah yang lebih besar” “Bukan
Sura. Bukan perbedaan gairah perjuangan. Tetapi tentu ada
pertimbangan lain yang lebih dalam daripada masalah-masalah lahir
iah yang kita lihat. Sebenarnyalah perang adalah peristiwa yang
tidak dikehendaki oleh siapapun. Tetapi jika tidak ada jalan lain,
maka apaboleh buat” “Kami tidak menunggu sampai kami terantuk pada
keharusan itu, karena kami tahu, bahwa akhirnya jalan itulah yang
akan kami pilih” Buntal menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak
ingin berbantah mengenai persoalan itu. Karena itu, maka katanya
kemudian “Baiklah aku akan mempertimbangkannya. Tetapi karena aku
sekarang sedang bertugas, maka jika tidak ada keberatan apapun, aku
akan melanjutkan perjalanan” Anak muda yang berkulit hitam, yang
baru saja berkelahi melawan Buntal memandang Sura dengan sorot mata
bertanya-tanya. Dan agaknya Sura dapat mengerti, sehingga katanya
“Biarlah ia pergi. Ia bukan orang yang berbahaya bagi kita. Bahkan
kita berharap, pada suatu ketika kita akan bekerja bersama dengan
anak muda yang baik itu” Tidak seorangpun yang menjawab. Dan Sura
berkata terus “Nah, ingat-ingatlah. Kita harus berbuat
sebaik-baiknya sehingga kita tidak terjerumus ke dalam arus perasaan
melulu.Sampai saat ini kita selalu mencurigai orang-orang yang tidak
bersama kita menyelusuri jalan, hutan dan sungai. Tetapi
sebenarnyalah bahwa di luar pasukan kita, masih banyak orang yang
melakukan perjuangan untuk kepentingan tanah ini dengan caranya
masing-masing. Dan kalian harus menghargai mereka seperti kalian
menghargai dir i kalian sendiri” Tidak ada yang menyahut. Lalu
“Buntal. Silahkan meneruskan perjalanan. Kita akan berada di dalam
tugas kita masing-masing. Sampaikan salamku kepada Kiai Sarpasrana.
Meskipun aku belum mengenalnya langsung, tetapi aku pernah mendengar
namanya di antara nama-nama para pengikut Pangeran Mangkubumi”
“Baiklah. Ter ima kasih Sura” Sura tersenyum. Kemudian dengan suatu
isyarat pasukan itupun melanjutkan perjalanannya menyusuri jalan
sempit dan daerah yang berhutan. Sejenak Buntal termangu-mangu. Yang
dijumpainya itupun sebuah pasukan. Tetapi pasukan itu tidak
tergabung dengan pasukan Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian maka
seakan-akan Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi telah berjalan
sendiri-sendiri menurut cara masing-masing. Buntal menarik nafas
dalam-dalam. Katanya di dalam hati “Cara ini t idak boleh berjalan
terlalu lama “ Namun kemudian seakan-akan ia menyadari dir inya
sendiri “Tentu Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said lebih mengerti
akan hal ini” Buntal kemudian tersenyum sendiri. Perlahan-lahan ia
melangkah menuntun kudanya. Justru karena ia melihat sebuah mata air
di bawah sebatang pohon yang besar. Diberinya kesempatan bagi kuda
untuk meneguk air sejenak. Kemudian dengan tangkasnya ia meloncat
naik dan berpacu meninggalkan tempat itu.Dalam pada itu, Arum yang
tinggal di padepokannya, merasa semakin sepi. Kepergian Buntal
membawa kesan yang lebih dalam di hatinya daripada kepergian Juwir
ing. Mungkin sepeninggal Juwiring ia masih mempunyai seorang saudara
seperguruan di padepokannya. Tetapi sepeninggal Buntal, ia
benar-benar seorang diri. Dengan demikian, maka pekerjaannya menjadi
semakin banyak. Ia harus pergi ke sawah di pagi hari. Kadang-kadang
harus melakukan tugas kedua saudara seperguruannya meskipun ayahnya
sering memperingatkannya. “Biar lah aku dan para pembantu sajalah
yang melakukannya Arum” berkata ayahnya kepada gadis itu. “Biar lah
ayah. Apakah bedanya?“ “Kau adalah seorang gadis” Arum memandang
ayahnya dengan herannya. Bukankah ayahnya mengetahui bahkan ayahnya
telah membentuknya menjadi gadis yang lain dari kebanyakan gadis di
padukuhan Jati Sari? Dan ayahnya mengetahui dengan pasti, bahwa
tenaganya tidak jauh berbeda dengan tenaga Juwiring dan Buntal, dan
bahkan jauh melampaui anak-anak muda di padukuhannya. Agaknya
ayahnya menyadari akan hal itu. sehingga meskipun Arum tidak
mengucapkannya, namun ayahnya menjawab “Kau memang seorang gadis
yang lain Arum. Tetapi kau tidak dapat berbuat lain seperti itu di
lingkungan kehidupan kita, di tengah-tengah para petani. Apalagi di
padepokan ini terdapat beberapa orang laki-laki. Mereka akan
menyangka bahwa kau anak tiriku. Seorang gadis harus bekerja keras,
sedang di rumahnya terdapat beberapa orang laki- laki” “Ah, kenapa
ayah merisaukan pendapat tetangga?““Pertanyaanmu aneh Arum. Kita
tidak hidup sendiri. Kita hidup di dalam lingkungan kehidupan yang
sudah terbentuk. Karena itu kita harus menyesuaikan diri. Jika ada
perbedaan di antara kita dan para tetangga, maka kita harus
menguranginya sehingga yang nampak adalah perbedaan yang
sekecil-kecilnya” Arum tidak menyahut lagi. Ia mengerti keberatan
ayahnya, sehingga karena itu, maka kepalanya terangguk-angguk kecil.
Namun dengan demikian padepokan itu rasa-rasanya menjadi semakin
sepi. Tanpa Buntal dan tanpa Juwiring. Di dalam kesepian itu,
kadang-kadang Arum terperosok ke dalam sebuah angan-angan yang asing
baginya. Kadang- kadang memang terbayang kedua saudara
seperguruannya. Namun kemudian yang paling jelas terlukis di rongga
matanya adalah Buntal. Rasa-rasanya Buntal mempunyai kedudukan yang
khusus di dalam hatinya. Anak itu memang agak lebih kasar dari Juwir
ing. Baik sikapnya, maupun ujudnya. Namun rasa-rasanya Buntal adalah
orang yang paling sesuai bagi kehidupan di padepokan. Bukan
kehidupan di istana seperti istana Ranakusuman. Beberapa hari
sepeninggal Buntal, tidak terjadi sesuatu yang menarik di padepokan
Jati Aking, selain kesepian yang semakin menghunjam jantung.
Orang-orang Jati Aking dan Jati Sari bekerja seperti biasanya.
Mereka memelihara sawah dengan tekun dan bersungguh-sungguh, karena
sawah mereka adalah sumber kehidupan mereka sekeluarga. Makan,
pakaian dan segala kebutuhan hidup bersumber dari hasil. sawah yang
mereka garap itu. Tetapi ketika suasana di Surakarta menjadi semakin
lama semakin panas, maka udara yang panas itu mengalir semakin deras
ke daerah-daerah yang terpencil sekalipun. “Ayah” bertanya Arum pada
suatu saat kepada ayahnya “Apakah ayah percaya bahwa tersebar
berita, laskar yangmenentang Kumpeni itu bukan saja melakukan
peperangan dimana-mana tetapi juga perampokan dan penyamunan
disekitar daerah Surakarta ini?“ Ayahnya mengerutkan keningnya
”Darimana kau dengar berita itu Arum?“ “Hampir setiap orang
mengatakannya pagi ini ayah. di sawah orang-orang berceritera
tentang perampokan di daerah Maja. Seorang saudagar yang meskipun
tidak begitu kaya, tetapi memiliki beberapa ekor ternak dan
perhiasan, telah dirampok sampai habis. Bahkan ternaknyapun dibawa
pula oleh, perampok-perampok itu” “Darimana mereka tahu bahwa mereka
adalah laskar yang menentang kumpeni?“ “Mereka berkata tentang diri
mereka sendir i. Mereka menganggap bahwa yang diambilnya itu adalah
sekedar sumbangan bagi perjuangan menentang penjajahan” “Sekedar
sumbangan, tetapi diambilnya semua kekayaan yang ada?“ “Ya ayah”
Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia berkata
“Apakah orang-orang itu memperlihatkan ciri dari laskar yang mereka
sebut laskar yang menentang kumpeni itu?“ “Tidak ayah. Tetapi mereka
mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang dari pasukan Raden Mas
Said” “Ah“ dengan serta-merta Kiai Danatirta bergeser. Lalu “Arum.
Kita harus berhati-hati mener ima berita semacam itu. Karena
orang-orang itu dengan terus-terang menyebut dirinya dari laskar
Raden Mas Said. kita justru menjadi curiga karenanya” “Kenapa?“
bertanya Arum.“Arum” berkata ayahnya “ada beberapa cara untuk
memukul lawannya. Jika Kumpeni tidak siap untuk berperang, maka ia
dapat mempergunakan cara lain, di antaranya perampokan-perampokan
itu” “Maksud ayah?“ “Mereka mengupah beberapa orang untuk melakukan
kejahatan. Orang-orang itu dipersenjatainya dengan baik. Hasil
rampasannya akan merupakan upah tambahan dari yang diterimanya dari
kumpeni” “Dan mereka dengan sengaja menyebut dirinya orang- orang
yang disegani oleh kumpeni, agar kedudukan mereka menjadi sulit.
Begitu ayah?“ bertanya Arum “Licik sekali” “Nah, berhati-hatiiah.
Jika kau mendengar berita apapun di saat seperti ini, kau harus
mampu menyaringnya. Kau mengerti?“ “Aku mengerti ayah. Tetapi
bagaimana dengan pendapat yang sudah terlanjur tersebar di antara
rakyat?“ “Kita dapat menjelaskannya. Tetapi harus dengan sangat
berhati-hati. Jika telinga kumpeni mendengar, maka akan terjadi
hal-hal yang tidak menyenangkan bagi kita di sini” Arum mengerutkan
keningnya dan ayahnya meneruskan “Tentu kumpeni tidak akan berdiam
dir i mendengar bahwa usahanya dapat diraba orang. ”Aku mengerti
ayah” “Karena itu Arum, untuk menjelaskan kebenaran merupakan suatu
perjuangan tersendiri apabila kebenaran itu merupakan cacat bagi
kumpeni” “Baiklah ayah“ Arum bergumam seperti kepada diri sendiri
“Aku akan berhati-hati. Tetapi sudah barang tentu bahwa aku tidak
dapat berdiam dir i, membiarkan nama Raden Mas Said itu tercemar.
Aku mengenal Raden Mas Said secara pribadimeskipun hanya sekilas
ketika aku mengikut i Raden Juwiring ke Surakarta. Karena itu, aku
yakin bahwa ia memang tidak akan membiarkan anak buahnya melakukan
hal itu, sebab hal itu akan menodai perjuangannya. Bahkan seluruh
perjuangan kita“ “Tentu kau benar anakku. Tetapi berhati-hatilah”
Arum tidak menyahut. Tetapi ia yakin bahwa yang dikatakan oleh
ayahnya itu benar. Kumpeni tentu menggunakan akal yang licik untuk
menghancurkan nama lawannya. Tetapi pada suatu saat. Arum terpaksa
datang lagi kepada ayahnya sambil berkata “Ayah, semalam tiga orang
perampok telah dibunuh oleh kumpeni” Ayahnya semula tidak begitu
tertarik kepada ceritera itu. Namun Arum mendesaknya “Ayah. jadi
bagaimanakah yang sebenarnya menurut ayah. Jika mereka itu
benar-benar orang yang diupah oleh kumpeni, kenapa mereka harus
dibunuh sendiri oleh kumpeni” “Apakah kau heran?” “Tentu ayah”
Ayahnya memandang Arum dengan tajamnya. Namun kemudian ia tersenyum
sambil bertanya “Coba Arum, pecahkan persoalan yang kau herankan
itu. Seharusnya kau tidak saja memiliki kemampuan dalam olah
kanuragan, tetapi juga di dalam kecerdasan memecahkan persoalan”
Arum menjadi semakin heran. Sambil bersungut-sungut ia bergumam
“Ayah justru berteka-teki” ”Bukan berteka-teki. Tetapi sepantasnya
kau dapat menebak apakah sebabnya maka hal itu dilakukan oleh
kumpeni” Arum terdiam sejenak, la mencoba untuk menemukan alasan,
kenapa kumpeni telah melakukan hal itu. Tetapimeskipun untuk
beberapa saat ia merenung, namun ia masih belumdapat memecahkannya.
“Arum” berkata ayahnya “Jika kau memukul seekor kucing dengan
tongkat, kemudian kau melihat pemilik kucing itu datang, maka kau
tidak segan-segan untuk melemparkan bahkan mematahkan tongkat itu,
agar pemiliknya tidak menuduhmu, bahwa kau sudah memukul kucingnya
yang lari terbirit-birit” “O“ Arum menyahut hampir berteriak “Aku
tahu ayah. Kumpeni sengaja membunuh orang-orang upahannya sendiri
untuk melenyapkan jejak kelicikannya. Dengan demikian, maka rakyat
tidak akan menyangka bahwa kumpeni telah dengan sengaja mengacaukan
perjuangan Raden Mas Said dan juga Pangeran Mangkubumi apabila
sampai saatnya ia kehilangan kesabaran dan kehilangan harapan untuk
memecahkan persoalan Surakarta dengan damai tanpa menitikkan darah
lebih banyak lagi” Ayahnya tersenyum sambil mengangguk-angguk.
Katanya “Benar Arum. Demikianlah gambaran dar i kelicikan kumpeni.
Caranya memecahkan persoalan adalah cara yang tidak pernah terbayang
di dalam angan-angan kita sebelumnya. Tetapi setelah beberapa lama
kita mengenal mereka, maka kitapun akan segera dapat mengetahui,
apakah yang telah mereka lakukan. Hampir sama dengan cara-cara yang
ditempuh oleh penjahat-penjahat kecil yang tidak mengenal
kejantanan” “Tetapi kita perlu mengetahui cara-cara itu ayah,
sehingga kita tidak akan selalu terjebak di dalam kelicikannya” “Ya
Arum. Kita memang harus mempelajari ilmunya. Ilmu yang licik dan
pengecut. Sebelumnya kita tidak pernah mengenalnya. Apalagi kesatria
dan bangsawan yang turun temurun memiliki darah jantan. Tetapi jika
kita mempelajarinya bukan maksud kita untukmempergunakannya. Namun
dengan demikian kita tidak akan dapat masuk ke dalamperangkap”
“Apalagi mereka sama sekali tidak menjadi malu dan menyesal apabila
cara-caranya yang licik itu kemudian kita ketahui. Mereka sama
sekali tidak mempedulikannya. Seakan- akan mereka tidak pernah
melakukan apapun juga” “Nah, demikianlah Arum. Kau sudah tahu bahwa
yang terbunuh itu memang orang-orang kumpeni sendir i” “Betapa
kejamnya ayah. Mereka mengorbankan j iwa orang lain untuk mengelabui
perjuangan rakyat Surakarta” “Ya. Memang kejam sekali. Mereka tidak
menghargai jiwa manusia. Mereka menganggap bahwa jiwa kita,
orang-orang yang mempunyai kulit berwarna itu, seperti jiwa
budak-budak yang tidak berharga sama sekali” Tiba-tiba Arum
menggeram. Katanya “Kita tidak dapat membiarkan diri kita kehilangan
martabat kemanusiaan kita” “Dan itulah yang diperjuangkan oleh Raden
Mas Said dan Pangeran Mangkubumi dengan caranya masing-masing. Namun
yang agaknya sebentar lagi. Pangeran Mangkubumipun akan menempuh
cara yang sama” “Ya. Kakang Buntal telah dipanggilnya. Tentu bukan
hanya kakang Buntal sendir i, tetapi berpuluh-puluh, bahkan beratus-
ratus” Kiai Danatirta menganggukkan kepalanya. Lalu katanya “Arum,
kau dapat menjelaskan apa yang kau ketahui tentang kumpeni itu
kepada rakyat Jati Sari. Tetapi seperti yang aku katakan, kau harus
berhati-hati. Kumpeni mempunyai telinga dan mata dimana-mana. Justru
orang-orang yang memiliki kulit seperti kulit kita inilah yang telah
merusakkan setiap usaha kita dengan upah yang besar. Tetapi upah
itupun hanya sekedar janji, karena orang-orang itupun pada saatnya
akandibunuh sebagai perampok dan yang lain disebutnya sebagai
pengikut Raden Mas Said” Arum menyadari keadaan itu. Karena itulah,
maka ia dengan sangat berhati-hati berusaha untuk mengatakan
kebenaran yang diketahuinya. Mula-mula hanya di dalam lingkungan
kecil, yang diketahuinya mempunyai sikap yang sejalan menghadapi
kumpeni, meskipun mereka tidak dapat berbuat apapun juga karena
mereka tidak memiliki kekuatan. “Memang masuk akal” desis seorang
tua berjanggut putih “darimana kau ketahui akal licik itu Arum?“
“Aku hanya menduga-duga saja kakek. Mungkin aku salah” “Kau benar.
Aku yakin kau benar. Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk
meragukan perjuangan Raden Mas Said” Pendirian itupun perlahan-
lahan menjalar dari orang-orang yang satu kepada orang yang lain.
Sehingga akhirnya tidak ada lagi yang dapat mengatakan, bahwa yang
pertama-tama meragukan tindakan kumpeni itu adalah Arum. Tetapi
seperti yang diperhitungkan oleh Kiai Danatirta, maka ada jiwa
telinga kumpeni yang mendengarnya, bahwa di padukuhan kecil yang
bernama Jati Sari. ada orang-orang yang menganggap bahwa kumpeni
telah melakukan kecurangan itu. Itulah sebabnya maka di padukuhan
Jati Sari kadang- kadang tampak orang-orang yang tidak dikenal lewat
di jalan padukuhan mereka. Meskipun sejak lama jalur jalan itu
selalu dilalui oleh banyak orang, dan kadang-kadang orang-orang yang
tidak dikenal, tetapi bagi Kiai Danatirta. tampak ada perbedaan
tingkah laku dari orang-orang yang mempunyai maksud-maksud tertentu
di daerah Jati Sari. Itulah sebabnya maka Kiai Danatirta selalu
berpesan kepada Arum untuk berhati-hati.“Arum, sudah banyak orang
yang bersikap benar menanggapi perampokan dan pembunuhan yang
memakai kedok laskar Raden Mas Said. Karena itu, janganlah
menyebarkannya lagi, karena akhir-akhir ini aku menaruh curiga
kepada beberapa orang yang tidak aku kenal mondar- mandir di
padukuhan ini” “Apakah maksudnya?“ bertanya Arum. “Tentu mereka
mendapat laporan bahwa rakyat Jati Sari mencur igai desas-desus
tentang perampok-perampok itu” Arum mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya “Baiklah ayah. Aku akan diam. Pengertian itu sudah cukup
tersebar di antara rakyat Jati Sari. Namun demikian ayah, apakah
orang prang yang sampai saat ini masih bersedia diperalat itu tidak
mengerti bahwa kawan-kawannya terbunuh setelah tidak diperlukan
hgi?“ “Mungkin mereka mengerti, tetapi mereka mempunyai sesuatu yang
lebih berharga menurut dugaan mereka sendiri dari kawan-kawannya
yang terbunuh. Atau mereka menyangka bahwa kawan-kawannya yang
terbunuh itu telah berkhianat dan harus dimusnahkan” Arum
mengangguk-angguk. Itu adalah sikap yang sangat licik dari kumpeni.
Tetapi Arum juga mempunyai dugaan lain “Bukan saja kelicikan
kumpeni. Tetapi juga karena kebodohan kita sendir i. Apalagi karena
kita adalah orang-orang yang tamak, yang segera tergelincir karena
gemerlapnya sekeping uang” Dan orang yang demikian itu sebenarnya
memang ada. Ketika Arum dan beberapa orang kawan-kawannya, sedang
duduk di bawah sebatang pohon duwet di pategalan, dilihatnya dua
orang anak muda yang berpakaian seperti pedagang-pedagang yang
kecukupan lewat di jalan di sebelah pategalan itu. Ketika keduanya
melihat beberapa orang gadisyang sedang duduk, maka keduanyapun
saling berpandangan sejenak, lalu langkah merekapun terhenti.
Gadis-gadis yang sedang duduk berteduh itupun menjadi
berdebar-debar. Mereka belum mengenal kedua anak-anak muda itu.
“Apakah aku dapat bertanya Ki Sanak” desis salah seorang dari
keduanya sambil melangkah mendekat. Tidak ada seorangpun dar i
gadis-gadis itu yang menjawab. Mereka saling berdesakan dan bahkan
ada di antara mereka yang menjadi tersipu-sipu dan memalingkan
wajahnya. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya” Seorang
gadis yang bertubuh pendek memberanikan diri untuk menjawab
“Silahkan. Jika aku dapat menjawab, aku akan menjawabnya” Anak muda
itu tersenyum. Katanya “Bagus. Sebelumnya aku mengucapkan terima
kasih” Arum yang juga berdiam diri memperhatikan kedua anak muda itu
berganti-ganti. Tetapi ia merasa bahwa keduanya belumpernah
dilihatnya. “Siapakah namamu” bertanya anak muda itu kepada gadis
yang bertubuh pendek. Gadis itu terdiam sejenak sambil menutup
senyumnya dengan telapak tangannya. Wajahnya menjadi merah. Apalagi
ketika anak muda yang tampan dan berpakaian cukup baik itu
berjongkok di hadapan gadis-gadis yang sedang duduk itu, disusul
dengan anak muda yang seorang lagi. “Siapakah namamu?“ desak anak
muda itu. Gadis yang bertubuh pendek itu bergeser surut sehingga
merekapun menjadi semakin berdesak-desakan.“Ah, kenapa kau malu
“Anak muda itu tersenyum “Kau cantik sekali” “Ah“ gadis itu
tiba-tiba saja menyembunyikan wajahnya. Belum pernah ia mendengar
seorang anak muda memuj inya langsung di hadapannya. Bahkan
kadang-kadang ia merasa rendah diri karena tubuhnya yang pendek dan
wajahnya yang agak kasar. Karena itu ketika seseorang memujinya
sebagai seorang gadis yang cantik, maka serasa jantungnya akan
berhenti berdetak. “Baiklah” berkata anak muda itu “mungkin kalian
tidak mau mendengar seseorang memuji. Itu adalah kebiasaan gadis-
gadis padesan. Tetapi cobalah, katakan, apakah kalian sering melihat
sesuatu yang menarik perhatian di padukuhan kalian?“ Gadis-gadis itu
mengerutkan keningnya. Sebagian dari mereka menjadi bingung. Tetapi
gadis yang bertubuh pendek itu justru mengangkat wajahnya. Ia merasa
berhutang budi kepada anak muda yang sudah memujinya itu. “Maksud
tuan?“ gadis itu bertanya. Anak muda itu tersenyum. Dan sekali lagi
ia bertanya “Siapa namamu?“ Meskipun gadis itu menjadi tersipu-sipu
lagi. tetapi ia menjawab “Warsi. Namaku Warsi” “Hanya Warsi?“ Gadis
itu mengangguk. “Nama yang manis sekali
“
Jilid 14 SEKALI lagi Warsi
menyembunyikan wajahnya dan bergeser surut. Sedang kawan-kawannya
mulai berani tertawa tertahan-tahan sambil mendorong tubuh Warsi
yang pendek itu. “Dan siapa namamu anak manis?“ tiba-tiba yang lain
bertanya sambil memandang Arum yang duduk bersandar batang pohon
duwet. Sebenarnya Arum mempunyai sikap yang lain daripada
gadis-gadis kawannya bermain. Tetapi ia tidak mau menyatakan dirinya
dan kematangan jiwanya. Itulah sebabnya, maka iapun berpura-pura
menunduk sambil bermain-main dengan ujung kainnya. “Siapa?“ Arum t
idak menjawab. Tetapi kawan-kawannyalah yang menyebut namanya.
“Arum. Namanya Arum” “O, nama yang bagus sekali” desis anak muda
itu.Tetapi Arum sendiri tetap menundukkan kepalanya sambil mengumpat
di dalam hati “Memuakkan sekali” Meskipun demikian Arum masih tetap
menundukkan kepalanya, dan dibiarkannya kawan-kawannya menyebut
namanya berulang kali dan yang lain mengguncang-guncang. Anak-anak
muda itu tertawa melihat sikap gadis-gadis desa yang masih diliputi
oleh perasaan malu dan segan. Tetapi mereka dapat mengerti, karena
lingkungan hidup yang membentuk mereka adalah demikian. “Baiklah”
berkata anak-anak muda itu “Aku tidak akan memaksa kalian untuk
bersikap lain. Tetapi kalian tentu memiliki selera seperti
gadis-gadis yang lain. Gadis-gadis kota dan gadis-gadis di daerah
yang lebih ramai dari padukuhan sepi ini. Apakah kalian pernah
melihat permainan seperti ini?“ Gadis-gadis itu tertarik ketika
salah seorang dari anak-anak muda itu mengambil seuntai kalung
merjan yang bagus dari kantong yang dibawanya. Sambil
mengguncang-guncang kalung itu, ia berkata “Semua gadis senang
memiliki kalung seperti ini. Meskipun kalung ini tidak semahal
kalung emas, tetapi kalung ini tampaknya lebih cerah dan
menyenangkan” “Bagus sekali“ hampir berbareng beberapa orang gadis
memuj inya. “Tentu” sahut anak muda itu “Aku membeli kalung ini di
Semarang. Bagus sekali. Sebagus nama-nama Arum dan Warsi” “Ah“
gadis-gadis itu mulai saling mendorong lagi. Dan Arumpun t idak mau
bersikap lain meskipun ia mengumpat- umpat di dalamhatinya.
“Baiklah. Tetapi, ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian. Yang
pertama, siapa yang senang akan kalung merjanini. Dan yang kedua,
apakah kalian sering melihat sesuatu yang menarik perhatian di
daerah ini” “Maksud tuan?“ beberapa orang gadis bertanya bersama-
sama “Apakah kalian pernah melihat perampok yang berkeliaran di
sini? Atau mendengar beritanya bahwa di sini ada perampok-perampok.
Atau laskar yang lain” Gadis-gadis itu saling berpandangan. “Kami
memang sedang mencar i keterangan tentang perampok-perampok agar
perjalanan kami tidak terganggu” “Tetapi” tiba-tiba salah seorang
gadis bertanya “Bukankah perampok-perampok itu sudah ditangkap”
“Tentu belum semua“ kawannya yang menyahut ”Tetapi berita tentang
perampok itu memang bersimpang siur di sini” “Maksudmu?“ bertanya
salah seorang anak muda itu “Apakah di sini ada laskar yang bukan
perampok?“ “Tidak ada. Semuanya tidak ada. Tetapi kami mendengar
bertanya, bahwa sebenarnya perampok-perampok yang pernah disebut
sebagai laskar Raden Mas Said itu sebenarnya salah. Mereka adalah
orang-orang yang sengaja dibuat oleh kumpeni untuk mengelabui
rakyat, agar membenci pasukan Raden Mas Said” Anak-anak muda itu
mengerutkan keningnya. Mereka memang pernah mendengar, bahwa sikap
rakyat Jati Sari terhadap perampok-perampok itu memang agak lain.
Ternyata bahwa rakyat Jati Sari tidak mudah dikelabui seperti rakyat
di Padukuhan-padukuhan terpencil lainnya. Dalam pada itu, dada Arum
menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat mencegah
kawan-kawannya mengatakan apa yang mereka ketahui.“Jadi” berkata
salah seorang dari kedua anak-anak muda itu “Kalian tidak percaya
bahwa yang merampok itu laskar Raden Mas Said, dan menganggap bahwa
mereka justru orang-orang yang sengaja dibuat oleh kumpeni?“ “Ya”
sahut seorang gadis kurus. Anak-anak muda itu mengangguk-angguk.
Tetapi keduanya lalu tersenyum sambil mengayunkan kalung merjannya.
Katanya “Nah, siapakah yang senang memiliki kalung ini” Hampir
berbareng gadis-gadis itu berteriak “Aku, aku” Anak-anak muda itu
tertawa. Katanya “Baik, baik. Jangan berebut. Aku membawa banyak
sekali kalung merjan. Kalung ini memang tidak terlalu mahal. Tetapi
sangat menarik. Kawan-kawanmu yang kebetulan tidak ada di sini tentu
akan iri hati. Nah, hitunglah, ada berapa orang gadis di sini?“
Gadis-gadis itupun saling menghitung di antara mereka sendiri. Dan
berebutan, mereka berteriak “Tujuh, tujuh “Tetapi yang lain berkata
“delapan, delapan orang“ “Salah” seorang anak muda itu berkata
“Delapan. Benar, ada delapan orang. Nah, aku akan memberikan delapan
kalung merjan yang besar” Anak muda itupun kemudian bangkit dan
mengambil kalung merjan. Sambil melangkah semakin dekat ia
mengulurkan tangannya menyerahkan kalung itu. Gadis-gadis itupun
kemudian berebutan berdiri untuk menerima kalung itu. Tetapi anak
muda itu masih belum member ikan. Katanya “Sebentar. Masih ada satu
pertanyaan. Siapakah yang mula-mula mengatakan bahwa perampok-
perampok itu adalah kaki tangan kumpeni? Bukan anak buah Raden Mas
Said?“ Gadis-gadis itu terdiam. Sejenak mereka saling memandang.
Tetapi akhirnya mereka berdesis “Kami tidak tahu. Tetapi yang kami
dengar adalah dari orang-orang tuakami. Mereka kadang-kadang
berbicara tentang perampok- perampok itu jika mereka berada di sawah
atau pategalan” Anak muda itu mengangguk-angguk. Lalu “Tetapi sebut
salah seorang dari mereka yang berpendirian begitu. Aku ingin
bertanya kepadanya karena aku akan menempuh perjalanan jauh, agar
aku mengetahui persoalannya dengan pasti” Arum menjadi
berdebar-debar. Tetapi seperti gadis-gadis yang lain ia ikut
mengerumuni merjan itu agar tidak menimbulkan kesan yang lain. Namun
demikian, ia sedang berpikir, bagaimanakah sebaiknya menjawab
pertanyaan itu, Arum menjadi semakin cemas ketika ia melihat seorang
kawannya yang berparas bulat telur dengan mata yang bulat berkata
meskipun dengan kepala tunduk “Barangkali aku tahu” Arum tidak mau
membiarkan kawannya itu menyebut nama seseorang. Sebab dengan
demikian orang itu akan dapat menjadi rambatan untuk menemukan
sumber yang sebenarnya. Dan sumber itu adalah dirinya sendiri.
Karena itu dengan serta-merta ia menyahut “Ya, aku juga tahu. Orang
yang mula-mula mengatakannya adalah seorang yang bertubuh gemuk. Aku
tahu benar karena aku melihatnya” Kawan-kawannya kini berpaling
kepada Arum. Kedua anak muda itupun memperhatikan kata-katanya
dengan saksama. “Orang bertubuh gemuk dan naik seekor kuda berwarna
coklat. Ia datang bersama seorang yang bertubuh sedang dengan kuda
belang-belang. Merekalah yang mengatakan kepada orang-orang yang
saat itu sedang berada di sawah, bahwa perampok-perampok itu bukan
anak buah Raden Mas Said” “Jadi kau mendengar sendir i ceritera
orang itu?“ bertanya anak muda itu dengan wajah yang tegang.“Aku
mendengar sendiri” jawab Arum. Anak-anak muda itu mendekatinya. Lalu
“Katakan, katakan, apa yang kau dengar dari mereka” Dan Arumpun
mulai menyusun ceritera tentang dua orang berkuda yang pertama-tama
mengatakan bahwa perampok- perampok itu bukan anak buah Raden Mas
Said. Arumpun mengatakan bahwa perampok-perampok yang terbunuh
itupun hanyalah sekedar umpan untuk memancing kepercayaan rakyat
dengan mengorbankan jiwa orang-orang tamak itu. Lalu akhirnya
“Tetapi orang itu mengancam agar kami t idak menyebutkan mereka
berdua. Bahkan keduanya berkata bahwa semua kaki tangan kumpeni
akhirnya akan dibunuh oleh kumpeni sendiri untuk menghapuskan jejak”
Kedua anak muda itu menjadi semakin tegang. Tetapi mereka tidak
dapat berbuat banyak. Menilik sikap dan tatapan mata gadis-gadis
Jati Sari, mereka telah berkata dengan jujur. Dan sudah, barang
tentu bahwa mereka tidak akan dapat menyusun cer itera itu sendiri.
“Kenapa kau sekarang mengatakan tentang kedua orang itu?“ bertanya
salah seorang dari kedua anak muda itu “Bukankah mereka telah
mengancam bahwa kau tidak boleh menyebut mereka” “Mereka sekarang
sudah pergi jauh sekali. Dan mereka tentu tidak tahu bahwa sekarang
aku mengatakannya kepada tuan“ Anak-anak muda itu tersenyum. Pikiran
gadis desa memang terlampau sederhana. Namun jujur dan dapat
dipercaya. Itulah sebabnya maka kedua anak-anak muda itupun
mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata “Terima kasih.
Nah, sekarang aku akan membagi kalung merjan ini”Gadis-gadis itupun
semakin berdesakan maju. Tetapi anak muda yang memegang kalung
merjan itu masih belum member ikannya. Dan bahkan ia masih bertanya
“Tunggu sebentar. Aku masih ingin bertanya kepada Arum“ Arum menjadi
semakin berdebar-debar. “Arum. Kenapa ceritera orang gemuk itu
tersebar di Jati Sari? Apakah kau mengatakan kepada kawan-kawanmu,
bahwa apa yang dikatakan oleh orang gemuk itu benar?“ Arum menjadi
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya “Aku tidak
mengatakan” “Jadi siapa saja di antara kau dan orang-orang yang ada
di sawah waktu itu yang menyebarkan pendapat orang gemuk berkuda
coklat itu?“ Arum menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku tidak tahu”
Anak muda itu tersenyum. Katanya “Sudahlah, jangan hiraukan lagi.
Kau menjadi pucat Tetapi kau justru bertambah cantik” “Ah“ Arum
menjadi tersipu-sipu. “Nah, kau akan mendapat dua untai kalung
merjan” berkata anak muda itu “dan kau mendapat kehormatan memilih
lebih dahulu” Wajah Arum masih kemerah-merahan. Apalagi ketika
tangan anak muda itu menyentuh dagunya sambil berkata “Pilihlah”
Kawan-kawannya mendorong Arum semakin dekat. Dan Arum tidak melawan.
Dengan ragu-ragu ia memilih dua untai kalung yang berwarna
kebiru-biruan di antara warna kuning yang lembut. “Kau pandai
memilih warna. Kau tidak memilih warna yang tajam. Kau mempunyai
kelainan dengan gadis-gadis yang lain”berkata anak muda itu “caramu
memilih warna sangat menarik” Sekali lagi Arum menundukkan
kepalanya. Tetapi kali ini ia benar-benar menjadi berdebar-debar.
Ternyata kedua orang itu memiliki ketajaman perasaan yang tidak
disangkanya. Caranya memilih warna memang tidak sejalan dengan
sikapnya yang seperti gadis-gadis yang lain, bodoh, jujur, dan
sederhana. Tetapi ia tidak menduga, bahwa orang-orang yang tidak
dikenal itu memperhatiknya sampai pada caranya memilih warna. Dan
ternyata ketika anak muda itu member i kesempatan kepada Warsi untuk
memilih kalung merjan itu, ia memilih kalung yang berwarna merah,
kuning tajam diseling oleh warna ungu yang tua. Sedang
kawan-kawannya yang lain memilih warna-warna yang menyolok dan
silau. Setelah semuanya memiliki kalung itu, maka kedua anak muda
itupun kemudian berkata ”Nah, semuanya sudah memiliki kalung yang
bagus. Sekarang aku akan pergi. Aku akan meneruskan perjalanan
meskipun aku masih belum mendapat keterangan yang jelas mengenai
perampok- perampok itu, sehingga aku masih ragu-ragu. Baiklah.
Tetapi barangkali aku boleh singgah di rumahmu pada kesempatan lain
Warsi, dimana rumahmu?“ “Ah rumahku hanya sekedar gubug mir ing yamg
jelek. Malu ah?” gadis itu menyembunyikan wajahnya di punggung
kawannya. Anak muda itu tersenyum. Lalu “Kalau Arum. dimana
rumahmu?“ Sebelum Arum menjawab, kawan-kawannya telah mendahului
“Itu, di padepokan itu. Rumahnya besar, halamannya luas” “Ah“
Arumpun menunduk dalam-dalam.“O” anak muda itu mengangguk-anggukkan
kepalanya, lalu “Baiklah. Jika kau tidak berkeberatan, aku akan
singgah. Jika aku kelak lewat di daerah ini lagi, aku akan membawa
kalung merjan yang berwarna lunak seperti kesenanganmu Arum” Arum
tidak menjawab. Hampir saja ia memukul tangan anak mudai itu ketika
tangan anak muda itu sekali lagi menyentuhnya. Untunglah bahwa ia
menyadari keadaannya pada waktu itu sehingga ia hanya dapat
melangkah surut, dan bersembunyi di antara kawan-kawannya.
“Sudahlah, kami akan mohon diri. Terima kasih atas sikap kalian yang
ramah. Kalian adalah gadis-gadis yang cantik. Gadis-gadis desa
adalah gadis-gadis yang cantik, justru karena kalian bekerja setiap
har i” Ketika gadis-gadis itu menjadi tersipu-sipu, maka kedua anak
muda yang tampan itupun melangkah meninggalkan mereka. Sekali mereka
masih berpaling dan melambaikan tangannya. Gadis-gadis itupun
berebutan membalas lambaian tangan itu dengan melambaikan
kalung-kalung mereka yang berwarna cerah. Ternyata kalung itu sangat
menyenangkan hati gadis-gadis itu, selain Arum. Ia menjadi gelisah
dan cemas. Firasatnya mengatakan bahwa kedua anak-anak muda itu
tidak melepaskan perhatian mereka kepadanya. Bukan sebagai seorang
gadis yang menurut mereka adalah gadis yang cantik. Tetapi
kelengahannya memilih warna dan barangkah dengan demikian kedua anak
muda itu menghubungkan hal itu dengan sikapnya yang lain, telah
membuatnya gelisah. “Marilah kita pulang“ gadis-gadis itupun saling
mengajak. Mereka ingin segera menunjukkan kalung masing-masing
kepada orang tua mereka dan kepada kawan-kawannya yang kebetulan
tidak bersama mereka. “Marilah, marilah“ Mereka saling
menyahut.“Sebentar lagi aku akan menyusul kalian” berkata Arum “Aku
masih akan memetik terung” “Marilah aku bantu” “Terima kasih.
Silahkan berjalan dahulu” Gadis-gadis itupun kemudian meninggalkan
Arum yang pergi ke pategalannya untuk mengambil beberapa buah
terung. Namun sebenarnya Arum ingin memisahkan dir i dari
kawan-kawannya. Ia ingin mendapat kesempatan merenungi apa yang baru
saja terjadi. Sambil memetik terung, Arum mencoba menilai lagi
sikapnya, kata-katanya dan pilihannya. “Hem“ Arum menarik nafas
dalam-dalam “mudah-mudahan tidak menumbuhkan persoalan bagiku dan
apalagi bagi padepokan Jati Aking” Ketika Arum kemudian meninggalkan
pategalannya, langkahnya tertegun ketika ia melihat dua orang lain
lagi berjalan dengan tergesa-gesa. Ketika keduanya melihatnya maka
merekapun berhenti pula. Tetapi kali ini orang itu sangat menarik
perhatian Arum. Bahkan kemudian dengan tergesa-gesa ia mendekatinya
sambil berdesis “Paman“Orang itu adalah seorang yang bertubuh
raksasa. Sambil tersenyum ia berkata “Bukankah kau Arum, saudara
seperguruan Raden Juwiring” “Ya paman. Darimana paman, atau akan
kemana?“ jawab Arum yang sudah mengetahui serba sedikit tentang
perkembangan watak orang bertubuh raksasa itu. Orang itu memandang
kawannya sejenak, lalu katanya “Ada sedikit kepentingan. Tetapi aku
tidak akan mengganggumu, kecuali j ika kau mengerti” “Maksud paman?“
“Arum” berkata orang itu “Aku telah bertemu dengan Buntal” “He,
dimana paman Sura bertemu dengan Buntal?“ Sura tersenyum sejenak,
lalu diceriterakannya pertemuannya dengan Buntal. “O, pada saat
kakang Buntal berangkat ke Sukawati?” bertanya Arum, namun kemudian
“Tetapi apakah paman sekarang berada di dalam laskar Raden Mas Said”
“Ya. Aku tidak usah bersembunyi, karena aku tahu sikapmu dan sikap
ayahmu. Aku sedang dalam perjalanan mengikuti dua orang anak muda
yang aku kira pergi ke padukuhan ini. Menurut keterangan, mereka
harus mendapatkan keterangan tentang sikap orang-orang Jati Sari
yang aneh, yang menentang pendapat umum, bahwa kami, laskar Raden
Mas Said adalah perampok-perampok” “Tetapi apakah memang demikian?“
“Tentu tidak Arum. Memang mungkin ada satu dua orang yang menodai
perjuangannya dengan ketamakan. Tetapi sikap kalian sudah benar. Aku
sudah mendengar sikap orang-orang Jati Sari. Perampok-perampok itu
memang dibuat oleh kumpeni, meskipun ada di antara mereka yang
diupah untukdibunuh. Dan upah itu tidak akan pernah mereka terima”
Sura terdiam sejenak, lalu “Apakah kau melihat dua orang yang tidak
kalian kenal lewat di padukuhan ini?“ “Paman, kadang-kadang di
daerah ini memang lewat orang-orang yang mencur igakan. Tetapi baru
saja ada dua orang anak muda yang lewat membawa kalung-kalung merjan
ini. Mereka memang bertanya tentang sikap kami” “Nah itulah yang aku
ikuti. Tetapi aku kehilangan jejaknya di bulak sebelah. Dimana
mereka sekarang?“ Arum menjadi ragu-ragu. Sejenak dipandanginya
wajah Sura, kemudian wajah kawannya yang tampaknya selalu bercuriga.
“Paman” berkata Arum “Mereka mengaku sebagai pedagang. Mereka memang
ingin mendapat keterangan tentang perampok-perampok itu, yang
katanya agar mereka tidak menemui kesulitan di perjalanan” Sura
mengangguk-angguk sambil tersenyum “Ya, merekalah yang kami ikut i”
Wajah Arum menjadi tegang. Hampir di luar sadarnya ia berdesis
“Apakah maksud paman?“ Sura mengerutkan keningnya. Tetapi iapun
kemudian tertawa sambil berkata “Jangan takut Arum. Aku tidak akan
merampoknya” “O, tidak, tidak. Bukan maksudku paman“ Arum menjadi
tergagap. Tetapi Sura justru tertawa. “Tidak apa-apa. Memang di masa
seperti ini, setiap orang pantas dicurigai. Tetapi aku minta kau
percaya kepadaku. Jika kau bertemu dengan Buntal, bertanyalah
tentang aku” “Ya, ya paman. Aku percaya” Arum menarik nafas, lalu
“kedua orang itu lewat jalan ini” “Apa saja, yang dilakukan menurut
pengetahuanmu?“Arum menjadi ragu-ragu. Tetapi iapun kemudian mencer
iterakan apa yang dilihat dan didengar dari kedua anak-anak muda
yang tampan dan mengaku pedagang itu. Dikatakannya pula niat
keduanya untuk singgah, karena ia sudah menyebut orang gemuk berkuda
coklat sebagai sumber berita tentang perampok-perampok yang
sebenarnya adalah kaki tangan kumpeni Sura mengangguk-angguk pula.
Katanya “Kau sudah melakukan sesuatu yang berbahaya bagimu Arum.
Tetapi siapakah sebenarnya sumber berita itu jika kau mengetahuinya“
Arum masih tetap ragu-ragu. Dan akhirnya ia menggelengkan kepalanya
sambil menjawab “Aku tidak tahu paman” “Baiklah. Aku akan mencoba
mengikutinya. Mungkin aku terpaksa menghentikan mereka dan
membawanya kembali ke kota. Atau, menghadap Raden Mas Said atau
orang-orang kepercayaannya” Arum mengangguk kecil. Ia tahu apa yang
dimaksudkan oleh Sura. Tetapi ia tidak menjawab. “Sudahlah Arum.
Berhati-hatilah. Jaga dirimu baik-baik Kau adalah anak Kiai Jati
Aking, maksudku Kiai Danatirta dari Jati Aking. Kau tentu memiliki
kelainan dari gadis-gadis sebayamu, kau akui atau tidak kau akui.
Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu atasmu” Arum menundukkan kepala
sambil menyahut “Aku tidak lebih dari seorang gadis padesan paman”
“Ah, semua orang dari padepokan Jati Aking sangat berendah hati.
Raden Juwiring adalah sebuah gambaran yang paling baik bagi
anak-anak muda bangsawan. Buntal dan tentu juga kau”Wajah Arum masih
tetap menunduk. Tidak dibuat-buat seperti ketika dua orang anak-anak
muda yang membawa merjan itu memuji kecantikannya. “Pulang sajalah
Arum. Dan ceriterakan semuanya kepada ayahmu. Semua yang kau dengar
dan kau lihat. Ayahmu akan dapat mengambil kesimpulan” Arum
menganggukkan kepalanya. Sura dan kawannyapun kemudian minta diri
untuk melanjutkan perjalanannya. Mereka berdua masih mengharap untuk
dapat menemukan kedua anak muda yang telah membagikan merjan kepada
gadis-gadis Jati Sari Sepeninggal Sura, maka Arumpun bergegas pulang
sambil menj inj ing bakul yang ber isi beberapa buah terung. Di
sepanjang jalan, angan-angannya selalu dibayangi oleh kedua
anak-anak muda yang memang mencur igakan itu. Ketika ia sampai
padukuhan Jati Sari, ia melihat kawan- kawannya yang mendahuluinya,
ternyata berdiri di depan gardu dikerumuni oleh kawan-kawannya yang
lain. Mereka saling berebutan melihat kalung merjan yang berwarna
cerah dan yang jarang dijumpai di padukuhan itu. Arum yang mendekati
mereka yang berada di depan gardu itupun kemudian dikerumuni pula
oleh kawan-kawannya. Mereka pun ingin melihat kalung yang dimiliki
Arum. Bahkan dua untai. “Ia memilih lebih dahulu daripada kami”
berkata salah seorang temannya. “Ia mendapat dua untai. Kami
masing-masing satu” sahut yang lain. “O, agaknya anak muda itu jatuh
cinta kepadamu Arum“ gurau seorang kawannya yang tidak mendapat
kalung. Wajah Arum menjadi merah.“Ya. Anak muda yang kaya itu jatuh
cinta kepadamu. Beruntunglah kau Arum. Ia tentu akan datang kembali
dan membawa kalung lebih banyak lagi” “Ah“ Arum tidak menjawab. Jika
ia menjawab sepatah saja maka kawan-kawannya akan mengganggunya
semakin tajam. Karena itu maka Arumr ianya dapat menundukkan
kepalanya. Tetapi agaknya kawan-kawannya tidak begitu tertarik pada
kalung Arum yang berwarna lunak itu. Mereka lebih senang merjan yang
berwarna tajam, sehingga seorang kawannya berkata “He. Arum, kenapa
kau memilih warna yang suram ini?“ Sejenak Arum termangu-mangu.
Namun kemudian katanya “Aku menjadi gemetar sehingga aku tidak dapat
memilih. Aku mengambil saja di antara untaian kalung di tangannya”
Kawan-kawannya tertawa riuh Dan salah seorang berkata “Ya,
sekali-sekali anak muda itu menganutnya” Dan Warsi berteriak “Di
dagunya” Meledaklah suara tertawa di sudut desa itu, sehingga
beberapa orang laki- laki yang berada di sawah dipinggir desa itu
berpaling sejenak. Dilihatnya gadis-gadis padesan sedang bergurau
dengan riuhnya, sehingga mereka hanya dapat menarik nafas saja.
Seorang tua yang lewat di dekat merekapun berhenti sejenak dan
bertanya “Apa yang menar ik?” “O, kakek” sahut Warsi “kalung merjan
yang bagus” Kakek itu berhenti sejenak, lalu “Darimana kau dapatkan
kalung ini?“ “Dari dua orang pedagang yang lewat” “He, kau sudah
kenal?“ “Belum”“Bagaimana mungkin ia memberi kalung merjan?“ “Kami
tidak minta. Merekalah yang member ikan kepada kami” Kakek itu
menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya “Anak-anak gadis sekarang
tidak lagi mengenal dir i. Seharusnya kalian menolak menerima pember
ian dari laki-laki yang belum kalian kenal. Kalian belum tahu pasti
maksud dari laki- laki itu, siapapun mereka” “Keduanya orang baik,
kek?“ “Siapa tahu di dalam untaian kalung itu terdapat guna- guna.
Kalian tentu akan tergila-gila kepada laki- laki itu, dan kalian
akan diseret ke dalam cengkeramannya. Pada saatnya kalian akan
dilemparkan setelah kalian tidak berharga lagi baginya” Gadis-gadis
itu mengerutkan keningnya. Namun salah seorang menjawab “Tidak kek.
Guna-guna itu tidak akan berpengaruh jika kalung ini sudah aku
langkahi“ Kakek itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat gadis itu
meletakkan kalungnya di tanah dan kemudian kalung itu dilompatinya
tiga kali. Kawan-kawannyapun menirukannya kecuali Arum. “He, kau
tidak Arum. Apakah benar-benar kau telah kena guna-guna itu” Arum
menggeleng, jawabnya “Tidak. Aku sudah melakukannya lebih dahulu
dari kalian. Ketika kalian mendahului aku, aku sebenarnya ingin
melakukan hal itu, tetapi aku malu terhadap kalian. Karena itu, aku
berpura-pura mengambil buah terung.” “O, jadi kau sudah mendahului
kami?” Arum menganggukkan kepalanya.Kakek tua itu masih saja
menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan sekali lagi ia bergumam sambil
melangkah pergi “Gadis- gadis sekarang tidak lagi membatasi dirinya.
Siapa tahu kalian akan kehilangan kesadaran. Jika laki- laki itu
lewat sekali lagi kalian akan kepelet dan mengikutinya tanpa sadar”
Gadis-gadis itu membiarkan laki- laki tua itu pergi. Ketika laki-
laki tua itu telah hilang dikelokan, merekapun tertawa
berkepanjangan. Seorang gadis yang berwajah panjang tertawa paling
keras sambil berkata “Jika kalung-kalung itu mengandung guna- guna,
maka Arumlah yang pertama-tama akan mencari laki- laki itu, karena
ia mendapat dua untai kalung sekaligus” Dan yang lain menyahut “Ya.
Tentu Arum yang akan mencarinya lebih dahulu” “Ah“ Arum tersenyum.
Tetapi di dalam hati ia berkata “Aku memang ingin mencarinya. Tetapi
seperti paman Sura, aku ingin menangkap mereka dan menyerahkan
kepada Raden Mas Said. Tidak untuk kepentingan yang lain” “Arum“
Anak yang berwajah panjang yang belum mendapat kalung merjan itu
masih berkata “Marilah kita membagi nasib. Berikan kalung yang
seuntai kepadaku. Biarlah aku saja yang kelak mencarinya, bukan kau”
Suara tertawa gadis-gadis itu bagaikan meledak. Arumpun tertawa pula
sehingga air matanya mengambang di pelupuknya. “Cepat, sebelum kau
benar-benar dicengkam oleh guna- guna itu” “Katakan saja, kau ingin
mempunyai kalung merjan” berkata Arum kemudian. Dan gadis berwajah
panjang itu menyahut “Baiklah. Agaknya memang begitu. Aku ingin
memiliki kalung merjan” “Pantas, kau memang pandai membujuk” teriak
yang lain.“Sst, jangan iri. Siapa tahu, Arum berbaik hati” “Baiklah”
berkata Arum. Dan sebelum Arum melanjutkan gadis itu sudah meloncat
sambil berkata “Nah, jangan ir i” “Tunggu” berkata Arum “Aku belum
selesai. Aku ingin mengatakan, bahwa aku akan mencoba minta beberapa
lagi untuk kalian jika aku bertemu” Sekali lagi gadis-gadis itu
bersorak. Kali ini mereka mengejek kawannya yang berwajah panjang.
“Sayang, sayang manis“ seorang gadis gemuk mendekati sambil membelai
rambutnya. ”Aku akan menangis saja” berkata gadis berwajah panjang
itu “Silahkan“ seorang kawannya tiba-tiba menyahut “Kami memang
sudah lama tidak melihat kau menangis” “Tidak jadi” Arumpun tertawa.
Tetapi sebenarnyalah ia melihat kekecewaan di wajah kawannya. Bukan
sekedar bergurau. Karena itu, maka iapun mendekatinya sambil berkata
“Jangan merajuk. Aku akan member ikan kepadamu yang seuntai.
Benar-benar akan aku berikan” Gadis itu menjadi bingung sejenak.
Tetapi ketika Arum benar-benar menyerahkan seuntai kepadanya,
tiba-tiba saja ia meloncat sambil memeluk Arum. ”Terima kasih. Kau
memang gadis yang paling cantik di Jati Sari. Kau memang pantas
diguna-gunai oleh laki- laki lewat itu” “Hus, aku t idak jadi
memberimu” “O, tidak, tidak. Akulah yang cantik, dan akulah yang
pantas diguna-gunai oleh laki-laki” Gadis-gadis itu masih saja
bergurau. Bahkan di sepanjang jalan pulang ke rumah
masing-masingpun, mereka masih sajaberkelakar, sehingga orang-orang
yang tinggal di sebelah- menyebelah jalan menjengukkan kepala mereka
lewat pintu depan yang terbuka. “Ah, anak-anak itu” desisnya. Ketika
gadis-gadis itu sampai ke rumah masing-masing, maka merekapun segera
menceriterakan tentang laki-laki yang tidak mereka kenal, dan
memberikan kalung kepada mereka. Beberapa orang tua memang menjadi
cemas. Tetapi gadis- gadis itu berkata “Mereka tidak akan berbuat
apa-apa ayah. Mereka hanya sekedar lewat. Dan mereka telah kami
beritahu tentang perampok-perampok sehingga mereka akan dapat
menyesuaikan dir i mereka selama perjalanan” Orang-orang tua
merekapun hanya mengangguk- anggukkan kepalanya saja, karena mereka
tidak begitu mengerti tentang perampok-perampok yang sedang menjadi
bahan pembicaraan itu. Berbeda dengan mereka, meskipun Arumpun
mencer iterakan peristiwa itu kepada ayahnya, namun arah
pembicaraannya agak lain. Arum sama sekali tidak tertarik kepada
kalung itu sendiri, tetapi ia tertarik kepada sikap dan pembicaraan
kedua laki- laki muda itu. Seperti Sura, maka Kiai Danatirtapun
kemudian dapat menangkap apa yang menarik perhatian kedua anak-anak
muda itu. Karena itu maka katanya “Arum, memang ada kemungkinan
bahwa keduanya akan datang ke rumah ini“ “Paman Sura juga mengatakan
begitu” “Sura” ulang ayahnya “dimana kau bertemu pamanmu Sura?“
Arumpun menceriterakan serba sedikit pertemuannya dengan Sura, dan
dikatakannya pula, bahwa ia telah menunjukkan kalungnya dan
mengatakan tentang laki-laki muda itu.Kiai Danatirta mengerutkan
keningnya. Katanya “Peristiwa ini bukan peristiwa yang akan berdiri
sendiri. Jika Sura berhasil menemukan kedua orang itu, akan dapat
terjadi persoalan- persoalan yang menyangkut kita semuanya” Arum
dapat mengerti persoalan yang dikatakan oleh ayahnya itu, sehingga
karena itu, maka iapun tidak akan dapat melepaskan tanggung
jawabnya, jika sesuatu terjadi atas Jati Sari. Namun, di Jati Sari,
seakan-akan ia berdiri sendiri di dalam sikap dan perbuatan.
Orang-orang lain tidak banyak menghiraukan persoalan yang dapat
timbul di masa-masa yang dekat. Ada beberapa anak muda yang dapat
dipercaya di dalam sikap. Tetapi mereka tidak memiliki bekal untuk
berbuat banyak. Jika terjadi sesuatu, maka mereka justru harus
menyingkir, agar tidak menjadi korban yang sia-sia saja. “Seharusnya
ayah tidak selalu menyelimuti dir inya dengan sikap yang pura-pura
ini” berkata Arum “Seperti Kiai Sarpasrana, ayah dapat berbuat bagi
anak-anak muda itu” Tetapi Arum tidak berani mengatakannya kepada
ayahnya. Ia hanya sekedar mengatakan hal itu di dalam hati. Namun ia
berpengharapan bahwa dalam keadaan yang memaksa, ayahnya akan
mengambil sikap yang lain. Demikianlah, maka kedua orang yang
membawa kalung merjan itu tetap merupakan persoalan bagi Arum.
Sehari- harian ia tidak dapat tenang. Setiap kali dipandanginya
kalung merjannya. Bahkan ketika ia keluar dari padepokannya di sore
hari, kalung itu tetap dibawanya. “He, kemana Arum?“ bertanya
seorang kawannya. “O“ Arum berhenti, lalu “ke sawah sebentar
mengambil bakul. Aku tadi minta seorang pembantu memet ik lombok.
Dan aku akan mengambilnya sendiri ke sawah” “Ah, kau tidak dapat
pisah dengan kalungmu” Arumtersenyum. Tetapi ia tidak dapat
menjawab.Ketika langit menjadi suram, Arum baru kembali ke
padepokannya. Ia sejenak terhenti di simpang empat karena bertemu
dengan beberapa orang kawannya. Karena itulah maka ia sampai di
padepokan ketika matahari sudah bersembunyi di bawah kaki langit.
“Darimana kau Arum” bertanya ayahnya. “Mengambil lombok ini ayah”
“Yang kau susul sudah datang lebih dahulu” “Aku berhenti di simpang
empat sebentar ayah. Kawan- kawan ada di sana” Kiai Danatirta tidak
bertanya lagi. Dibiarkannya anaknya mandi dan berganti pakaian.
Namun Arum menjadi termangu-mangu di dalam biliknya. Ada sesuatu
yang selalu mengganggu perasaannya. Kalung itu. Tetapi ia yakin
bahwa hal itu bukan karena guna-guna. Tetapi justru karena kehadiran
Sura dan pesan ayahnya. Sejenak kemudian maka Arumpun makan malam
bersama ayahnya. Kini tidak ada orang lain di antara mereka, karena
Juwiring sama sekali tidak pernah menampakkan diri lagi, dan Buntal
telah berada jauh dari Jati Sari, di antara anak-anak muda yang
dipersiapkan oleh Kiai Sarpasrana di sekitar daerah Sukawati. Tetapi
mereka berdua terkejut ketika seorang pembantunya masuk ke ruang
dalam sambil membungkuk “Kiai, ada dua orang tamu” “Siapa?“ “Aku
belumpernah melihatnya Kiai” “Masih muda” potong Arum. “Ya. Masih
muda dan agaknya orang-orang kota”Arum menjadi berdebar-debar, dan
ayahnya berdesis “Apakah mereka datang?“ Arumt idak segera menjawab.
“Temuilah Arum. Kau buka saja anakku, tetapi kau adalah mur id
perguruan Jati Aking” Arum memandang ayahnya sejenak. Dengan
ragu-ragu iapun kemudian bertanya “Maksud ayah?“ “Arum. Kau tentu
tahu, apa yang akan dilakukan. Tetapi kaupun tahu apa yang
seharusnya kau lakukan. Tetapi ingat, kau harus berusaha agar kau
tidak mengguncangkan ketenangan padepokan ini di saat-saat sekarang”
Arum tidak segera menjawab. Dipandanginya ayahnya sejenak, kemudian
orang yang datang memberitahukan kehadiran tamu-tamu itu.
“Persilahkan mereka duduk di pendapa” berkata Arum kepada
pembantunya itu “Katakan bahwa kami sedang makan” “Baiklah” sahut
pembantunya sambil melangkah surut. Ketika hal itu diberitahukan
kepada tamu itu, mereka menjadi agak ragu-ragu. Salah seorang dari
mereka berkata “Dimanakah mereka makan?“ “Di ruang dalam” jawab
pembantu itu. “Katakan, bahwa aku hanya sebentar” “Sudah aku
katakan. Dan merekapun sudah hampir selesai makan” Kedua tamu itu
saling berpandangan sejenak. Lalu yang seorang menjawab “Baiklah aku
tunggu di halaman saja. Udara terlampau panas” Pembantu itu tidak
dapat memaksa mereka. Dari kegelapan ia hanya dapat melihat kedua
orang itupun kemudianmemencar. Yang seorang pergi ke regol halaman
dan yang lain hilir mudik di sisi pendapa. “Mencur igakan sekali”
desis pembantu Kiai Danatirta itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat
lain kecuali masuk lagi ke lrang dalam dan memberitahukannya kepada
Kiai Danatirta dan Arum. “Biar sajalah” berkata Arum “awasi mereka
dari kegelapan. Tetapi jangan kau ganggu mereka” Sepeninggal
pembantunya Arum bertanya “Apa yang mereka lakukan itu ayah?“
“Mereka agaknya cemas bahwa kau akan melarikan dir i. Mereka tentu
mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang rumit seperti yang mereka
ketahui tentang tugas mereka yang penuh dengan rahasia itu, maka
mereka menganggap bahwa orang lainpun selalu berprasangka terhadap
mereka” Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih bertanya
“Apakah aku akan menemui mereka sendir i?“ Ayahnya menggelengkan
kepalanya “Tidak Arum, akupun akan melihat tampang mereka itu”
Arumpun kemudian meninggalkan ruang dalam setelah ia membenahi
mangkuk dan sisa-sisa makan mereka. di muka pintu Arumterhenti
sejenak. Ayahnya memandanginya dari kejauhan. Tetapi agaknya ia
mengerti, apa yang diragukan oleh anaknya. Senjata. Karena itu maka
Kiai Danatirtapun menggelengkan kepalanya, sehingga Arum dapat
menangkap pula maksudnya, bahwa ia harus menemui tamunya tanpa
mencurigakannya. Perlahan-lahan Arum membuka pintu depan.
Ditebarkannya tatapan matanya menyapu pendapa rumahnya, kemudian
keremangan malam di halaman. Samar-samar ia melihatbayangan yang
hilir mudik di halaman, sedang yang lain berdiri di bagian
dalamregol yang tertutup. “Silahkan“ Arum mempersilahkan
tamu-tamunya. “O. Terima kasih” sahut yang seorang. Arum segera
mengenal. Suara itu memang suara orang- orang yang pernah memberinya
merjan. Karena itu, maka rasa-rasanya jantungnya berdetak semakin
cepat. Ketika keduanya mendekati pendapa, dan sinar lampu minyak
mulai meraba wajah-wajah mereka, Arumpun menjadi pasti bahwa
keduanya itulah yang datang seperti yang pernah mereka katakan. ”Aku
benar-benar singgah ke rumahmu anak manis” berkata salah seorang
dari mereka sambil naik ke pendapa. Arum tersenyum sambil
menundukkan kepalanya. Tetapi iapun kemudian berdesis “Silahkan
duduk” Keduanyapun duduk di atas tikar yang putih di tengah- tengah
pendapa di bawah lampu minyak yang menyala terang. Sambil tersenyum
salah seorang dari mereka berkata “Kemarilah. Kenapa kau masih
berada di situ?“ “Aku akan mengatakannya kepada ayah, bahwa
tuan-tuan datang kemar i” ”Tidak perlu. Aku datang mengunjungimu.
Bukan ayahmu” “Tetapi sepantasnyalah bahwa ayah menemui tuan-tuan”
“Pantas atau tidak pantas, itu tidak penting. Tetapi aku tidak ingin
mengganggu ayahmu yang barangkali baru beristirahat, atau bahkan
sudah tidur” “Belum, ayah baru saja makan” “Sudahlah. Jangan ganggu
ayahmu”Tetapi sebelum Arum menjawab, pintu pr inggitan itupun
terbuka lagi dan ayahnya telah berdiri sambil membenahi ikat
kepalanya. “Maaf tuan-tuan, agaknya aku terlambat menyambut tuan-
tuan” “Ah, kami sebenarnya tidak ingin mengganggu ketenangan Kiai.
Barangkali bapak baru beristirahat atau bahkan sudah berbaring di
pembaringan. Silahkan Kiai melanjutkannya. Aku hanya memer lukan
Arum saja. Aku pernah bertemu siang tadi di pategalan. Dan aku
tertarik melihat sikapnya yang agak lain dar i kawan-kawannya”
“Apakah yang lain?“ bertanya ayahnya “Ia tidak ada bedanya dengan
kawan- kawannya. Tetapi anakku memang agak lebih dungu dari mereka.
Sedikit malas, dan banyak bergurau tanpa arti. Itulah yang tidak aku
senangi” ayahnya berhenti sejenak. Lalu “Silahkan. Barangkali aku
dapat mengawani kalian sejenak” “Tidak perlu. Tinggalkan kami
bertiga” berkata salah seorang dari kedua tamu itu. “Ah“ Kiai
Danatirta tertawa “Tuan juga senang bergurau. Biarlah aku duduk
bersama tuan” “Aku tidak bergurau Kiai. Biarlah aku berbicara dengan
Arum” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Lalu “Apakah tuan tidak
bergurau?““Tidak. Kami t idak sedang bergurau. Kami ingin berbicara
dengan anakmu. Dan kami tidak ingin mengganggumu” “Tuan” suara Kiai
Danatirtapun merendah “Jika demikian, maka aku semakin ingin duduk
bersama tuan-tuan. Aku kira tidak pantas seorang gadis menerima tamu
laki- laki tanpa orang tuanya” Kedua anak muda itu mengerutkan
keningnya. Namun agaknya ayah Arum berkeras untuk ikut menemuinya,
sehingga karena itu maka kedua anak muda itu tidak dapat menolaknya
lagi. “Nah tuan, silahkan tuan berbicara dengan anakku. Aku tidak
akan mengganggu. Seperti yang aku katakan, bahwa aku ada di sini
sekedar agar anakku tidak menjadi buah pembicaraan orang Jati Sari.
Apalagi anakku adalah seorang gadis padepokan yang menurut
tetangga-tetangga kami di Jati Sari, padepokan ini merupakan daerah
kecil terpencil yang menjadi arena untuk mempelajari olah kaj iwan,
meskipun sekedar ilmu kaj iwan dari padepokan kecil yang tentu tidak
akan banyak berarti” Keduanya memandang orang itu dengan kerut-merut
di kening. Dan salah seorang dari merekapun berkata “Baiklah. Duduk
sajalah di situ. Tetapi jangan mengganggu pertanyaan- pertanyaanku
kepada Arum” Sejenak Kiai Danatirta terdiam. Namun kemudian ia
mengangguk “Baiklah tuan” “Sebenarnya tidak ada persoalan yang
penting yang aku bawa” berkata salah seorang dari mereka, lalu
“Tetapi sebelum aku bertanya yang lain, aku ingin menunjukkan sebuah
kalung merjan yang paling bagus yang pernah aku punyai. Bukan saja
warnanya yang cerah, tetapi untainyapun agak lain dengan yang pernah
aku ber ikan kepadamu Arum” “Ah“ Arumberdesah.“Ternyata bahwa kau
adalah gadis yang paling cantik dari padukuhan ini. Karena itu maka
aku lebih senang datang ke rumahmu daripada ke rumah orang lain. Ter
lebih- lebih lagi karena kau melihat dua orang berkuda. Yang seorang
bertubuh gemuk dan berkuda coklat” Dada Arum berdesir. Tentu
ceriteranya itulah yang sangat menarik perhatian. Ceritera yang
dikarangkannya dengan tiba- tiba saja untuk menghindari kecur igaan
kedua orang itu. Namun akibatnya justru sebaliknya. Kedua orang itu
benar- benar datang kepadanya. Agaknya mereka dengan sungguh-
sungguh menganggap ceriteranya itu sebenarnya telah terjadi. Karena
Arum tidak segera menjawab maka orang itupun berkata “Jangan takut
Arum. Aku tidak apa-apa. Aku hanya sekedar ingin mendengar ceritera
tentang orang-orang berkuda itu” “Bukankah aku sudah mengatakannya”
sahut Arum. “O, kau memang sudah mengatakannya. Tetapi barangkali
kau mengetahui lebih banyak lagi?“ “Tidak” “Baiklah. Jika demikian,
selain kau siapa sajakah yang mendengar ceritera tentang
perampok-perampok itu? Dan barangkali kau sudah mengenal mereka,
karena mereka tentu berasal dari padepokan ini pula” Arum
termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya “Aku sudah tidak
ingat lagi, siapa saja yang waktu itu ada di sekitar tempat itu”
Laki- laki muda itu tersenyum. Katanya “Kau dibayangi oleh ketakutan
dan prasangka. Aku benar-benar sekedar mencari keterangan agar
perjalananku selalu selamat. Jangan menduga yang bukan-bukan.
Sebaiknya kau mencer iterakannya kepadaku. Dengan demikian, jika kau
memang ketakutan, aku dapat bertanya kepada orang lain itu.Bukan
kepadamu. Jika aku datang kepadamu, semata-mata aku hanya ingin
memberimu kalung merjan. Gelang dan perhiasan-perhiasan yang lain.
Kau memang sangat cantik” Kiai Danatirta yang ada di sisi Arum hanya
menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sama sekali tidak ikut di dalam
pembicaraan itu. “Kenapa kau tidak mau menyebut salah seorang dari
mereka Arum?“ Arum menggeleng sambil berkata “Aku benar-benar tidak
ingat lagi. Apakah yang ada di tempat itu waktu itu beberapa orang
laki-laki atau beberapa orang perempuan” ”Tetapi kau ingat bahwa kau
tidak sendir i?“ “Ya. Aku tidak sendiri. Tetapi aku tidak ingat
lagi, dengan siapa aku berada di sawah waktu itu” “Itu mustahil
sekali Arum. Kau tentu ingat seorang dari mereka” “Aku benar-benar
tidak ingat” Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya
“Baiklah Arum, jika kau tidak ingat, aku tentu tidak akan dapat
memaksa. Tetapi seperti yang aku katakan, aku mempunyai seuntai
kalung merjan yang jauh lebih bagus. Marilah, kita ambil sebentar
kalung itu. Aku meninggalkannya di dalam kereta” “Kau membawa
kereta?“ “Ya. Aku membawa kereta” “Tadi siang kau tidak membawa
kereta. Darimana kau mendapatkan kereta itu?“ “Tadi siang aku juga
membawa kereta. Tetapi aku tinggalkan di ujung bulak, karena aku
sengaja ingin memasuki padukuhan kecil ini untuk mendapatkan
keterangan.Arum mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat- ingat
apakah Sura yang membayangi kedua orang itupun tidak membawa
kendaraan apapun. Juga tidak membawa kuda. Tetapi memang mungkin
sekali mereka membawa kereta atau kuda yang dit inggalkannya di luar
pedukuhan. “Marilah Arum. Kalung itu jauh lebih bagus dari kalung
yang aku bawa siang tadi. Hanya kepada gadis secantik kau saja yang
aku akan memberikan kalung itu” Arum menjadi termangu-mangu. Hanya
gadis padesan yang paling bodoh sajalah yang tidak menaruh
kecurigaan apa-apa terhadap kedua orang yang akan member inya kalung
yang tertinggal di kereta. Tetapi justru karena Arum bukan anak yang
paling dungu di padesaannya, ia digelitik oleh perasaan ingin tahu
apakah sebenarnya yang akan dilakukan oleh kedua orang itu. “Kenapa
kau termenung? Apakah kau takut?“ Arum menggelengkan kepala. Katanya
“Tidak. Aku tidak takut. Tetapi tentu tidak pantas aku mengikuti di
malam begini. Sedangkan tuan bukan sanak dan bukan kadangku” Kedua
Laki- laki itu tertawa. Salah seorang berkata “Gadis- gadis padesan
memang banyak bertingkah. Tetapi aku tahu, itu bukan karena kau
merajuk atau karena maksud-maksud buruk. Tetapi karena kau memang
benar-benar anak padesan yang masih dicengkam oleh perasaan-perasaan
yang sebenarnya tidak berarti lagi bagi jaman ini. di kota,
peradaban orang-orang asing itu telah sama sama kita miliki. Batas
antara laki-laki dan perempuan semakin dekat dan akhirnya tentu akan
hilang sama sekali” “Ah“ Arum berdesah “Tentu tidak. Kita bukan
orang-orang asing itu” “Tetapi apa salahnya kita menyadap
peradabannya. Bukankah dengan peradabannya mereka mampu menaklukkan
lautan dan mengelilingi dunia ini? Sedang kita yang berpegangteguh
pada peradaban kita yang picik ini, apakah yang dapat kita capai?
Dunia pada suatu saat tentu akan terasa menjadi sempit, dan kitapun
harus berada di tengah-tengah pergaulan yang sempit itu. Kenapa kita
harus takut kepada peradaban asing itu?“ “Tuan“ Kiai Danatirtalah
yang menyahut “kadang-kadang memang kita merasa bahwa kita menjadi
bagian dari pergaulan dan peradaban yang semakin dekat dari isi bumi
ini. Tetapi bagi orang-orang tua seperti aku ini, yang barangkali
masih tetap terkebelakang, memang merasa bahwa kita harus terjun ke
dalamnya. Tetapi jika kita berada di tengah-tengah dunia ini, maka
kita adalah kita. Kita bukan orang yang terjun dan tenggelam. Tetapi
kita terjun dan tetap berada di antara mereka sebagai kita-kita ini.
Sebagai sebuah pribadi yang akan mereka kenal dan memang mempunyai
kelainan seperti juga pribadi-pribadi yang lain, yang memiliki kedir
iannya masing-masing” Kedua anak-anak muda mengerutkan keningnya,
namun salah seorang daripadanya kemudian tertawa sambil berkata “Kau
tidak akan dapat hidup di dalam alam yang dibayangi oleh harga dir i
yang berlebih- lebihan itu terus menerus. Jika demikian, maka orang
lain telah memiliki tujuh buah kereta yang ditarik oleh delapan ekor
kuda karena ia tidak membatasi diri di dalam lingkungan dan
hubungannya dengan orang asing, maka kau akan tetap berjalan kaki
sampai kesegala penjuru pulau ini jika kau mempunyai keper luan.
Tetapi itu adalah persoalanmu sendir i. Aku tidak akan berkeberatan“
Orang itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi sebaiknya kau biarkan anak
gadismu menikmati hidup di masa remajanya. Jika kau akan tetap di
dalam dunia yang terke belakang, itu terserah. Umurmu tinggal
beberapa tahun lagi. Tetapi lepaskan anak gadismu menikmat i hidup
ini sepuas-puasnya. Jika ia mau, ia akan menjadi orang yang
terhormat di kota”“Ah, biarlah ia. tetap menjadi anak padesan” sahut
Kiai Danatirta. Baiklah. Itu bukan persoalanku. Sekarang, biarlah
aku menemui janjiku. Aku akan memberinya kalung merjan yang paling
bagus” Arum menjadi ragu-ragu. Tetapi keinginannya untuk mengetahui
apa yang akan dilakukan oleh anak-anak muda itu menjadi semakin
besar. Dan agaknya ayahnyapun mengetahuinya pula, sehingga hampir di
luar dugaan kedua anak-anak muda itu, Kiai Danatirtapun berkata
“Baiklah tuan. Jika tuan ingin member inya kalung, biar lah aku
mengantarkannya sampai ke kereta tuan” Kedua anak muda itu saling
berpandangan. Tetapi salah seorang dari mereka tertawa sambil
berkata “Baiklah. Baiklah. Marilah kita pergi” Arum menarik nafas
dalam-dalam. Ia menjadi semakin tenang, karena ayahnya ikut pula
bersamanya. Demikianlah maka Arumpun diantar oleh Kiai Danatirta
turun ke halaman dan keluar dari regol. Beberapa saat lamanya mereka
berjalan menyusuri jalan padukuhan di dalam gelapnya malam. Agaknya
padukuhan itu menjadi lengang. Beberapa orang menjadi segan keluar
dari rumahnya di malam hari setelah terjadi berita yang mendebarkan
tentang perampok-perampok yang berkeliaran. Tetapi malam memang
terlampau dingin sehingga malas juga berada di gardu-gardu. Ketika
mereka sampai di luar padukuhan, mereka sama sekali tidak melihat
seekor kudapun. Apalagi sebuah kereta sehingga Arum yang memang
sudah bercur iga itupun bertanya “Dimanakah kereta tuan?“ “Di sana,
di ujung bulak” “Di ujung bulak?“ ulang Arum. “Ya, di ujung bulak di
sebelah sudut padukuhan“Arum tidak menjawab. Ia berjalan saja
diiringi oleh ayahnya. Namun ketika mereka sampai keujung bulak,
maka mereka masih belum melihat sesuatu, sehingga sekali lagi Aram
bertanya “Tuan, dimanakah kereta tuah?“ Sejenak keduanya tidak
menjawab. Tetapi mereka masih saja melangkah memasuki bulak yang
gelap. “Tuan“ langkah Arumpun kemudian terhenti. Demikian juga
Danatirta. “Kenapa kau berhenti?“ bertanya salah seorang dari kedua
laki- laki muda itu. “Kereta tuan tidak ada” Laki- laki itu menar ik
nafas, lalu “Ya, keretaku memang tidak ada” “Jadi, apakah maksud
tuan sebenarnya?“ “Marilah, kita ambil kalung itu di Surakarta.
Kalung itu bukan hanya dari merjan, tetapi dari emas. Kita singgah
sebentar di rumah kawanku. Sebenarnyalah bahwa aku meninggalkan
keretaku di sana. di daerah Losar i” “Losari?“ “Ya” “Bukankah
padukuhan Losari itu jauh dari sini?“ “Masih lebih jauh ke
Surakarta” “Ah, tidak tuan. Biarlah aku dan ayah kembali saja ke
padepokan” “Jangan Arum. Aku memerlukan kau. Memang aku t idak memer
lukan ayahmu. Biar lah ayahmu kembali. Kau mempunyai keterangan yang
berharga tentang orang gemuk berkuda coklat. Dan kau adalah gadis
yang cukup cantik. Kauakan mendapat tempat yang baik di Surakarta.
Orang-orang asing akan member i apa saja yang kau minta. Dan jika
mereka t idak mau, maka akupun bersedia memeliharamu” “Gila“ Arum
berteriak. “Jangan berteriak di malam hari” “Tuan” berkata Kiai
Danatirta “sebenarnya bukan caranya tuan berbuat begitu sebagai
seorang laki-laki Surakarta. Tuan telah mengecewakan aku. Aku
menganggap bahwa orang orang Surakarta adalah orang-orang jantan dan
bersifat kesatria” “Hanya orang-orang yang bodoh sajalah yang
berbuat demikian” orang itu tertawa “Kami tidak lagi ingin dicengkam
oleh kebodohan kami, seolah-olah dengan kejantanan dan sifat-sifat
kesatria kita akan dapat mencukupi kebutuhan kita“ “Kebutuhan lahir
iah” “Itulah yang sangat menarik. Seperti kecantikan lahiriah
anakmu” “Tuan, tentu aku tidak akan membiarkan anakku tuan bawa”
“Persetan” “Ijinkanlah aku membawa anakku pulang” Kedua anak- anak
muda itu termenung sejenak. Lalu salah seorang berkata “Jangan cari
perkara Kiai. Pulanglah sendir i” Kiai Danatirta menjadi
termangu-mangu. Ia masih ragu- ragu untuk berbuat sesuatu, karena
dengan demikian akan dapat menimbulkan akibat yang berkepanjangan.
Menurut penilaiannya, kedua anak-anak muda itu tentu bukan orang
kebanyakan. Keduanya pasti orang-orang yang mendapat kepercayaan
dari kumpeni atau dari para bangsawan yang berpihak kepada kumpeni
untuk mengumpulkan keterangan tentang sikap orang-orang Jati Sar
i.“Jika salah seorang dari keduanya berhasil melarikan dir i. atau
barangkali ada kawan-kawannya yang ada di sekitar tempat ini dan
melihat peristiwa ini terjadi, maka akibatnya akan menjadi sangat
luas” berkata Kiai Danatirta di dalam hatinya “Tetapi jika aku
membiarkan Arum mereka bawa, maka banyak kemungkinan dapat terjadi.
Jika Arum terjerumus ke dalam lingkungan mereka, maka ia akan
mengalami nasib yang sangat malang. Dan bahkan tidak dapat
dibayangkan sebelumnya” Namun dalam pada itu kedua anak-anak muda
itupun telah memperhitungkan setiap kemungkinan. Mereka tidak
kehilangan kewaspadaan. Menurut pengalaman mereka, para penghuni
padepokan, bukan saja menguasai olah kaj iwan, tetapi olah kanuragan
pula. Karena itu, maka mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk
membawa Arum pergi. Sebelum terjadi sesuatu yang akan dapat
menyulitkan mereka, maka tiba-tiba saja, hampir di luar penglihatan
mata, tangan salah seorang dari kedua anak muda itu telah melingkar
dileher Arum. Sebuah pisau belati kecil tergenggam di tangan itu,
sedang ujungnya telah menyentuh leher Arum yang menjadi tegang.
“Jangan berbuat sesuatu Kiai” berkata salah seorang anak muda itu
“Kau tentu masih sayang kepada anakmu. Jika kau mencoba untuk
melakukan sesuatu yang mencur igakan, maka pisau ini akan menusuk
leher anakmu” ia berhenti sejenak, lalu “Arum, kenapa dilehermu
tidak tersangkut kalung merjan itu?“Arum mengumpat di dalam hati.
Tetapi ia tidak bergerak sama sekali, karena ujung pisau itu terasa
menekan lehernya. “Pergilah Kiai” berkata anak muda itu “pergilah.
Atau kau ingin melihat leher anakmu ini sobek?“ “Jangan” suara Kiai
Danatirta yang menjadi sangat cemas. “Pergilah. Dan jangan mencoba
membuat keributan dengan membangunkan tetangga-tetanggamu, apalagi
mengejar kami. Karena dengan demikian kau akan mempercepat kematian
anakmu” Kiai Danatirta tidak dapat berbuat lain. Jika ia berbuat
sesuatu, betapapun ia mampu bergerak dengan cepat, tetapi pisau itu
tentu lebih cepat menghunjamdileher anak gadisnya. Karena itu, Kiai
Danatirta tidak akan mempunyai pilihan, la harus tunduk kepada
perintah anak-anak muda itu. “Cepatlah Kiai. Jangan membuat kami
marah” geram anak muda itu. Perlahan-lahan Kiai Danatirta melangkah
mundur. Dipandanginya saja wajah Arum yang tegang. di dalam
kegelapan Kiai Danatirta tidak melihat bahwa wajah itu menjadi
semerah bara. “Aku tidak akan berbuat apa-apa terhadap anakmu j ika
kau menurut perintahku, dan seterusnya tidak mengganggu” berkata
anak muda yang mengancam leher Arum dengan pisau itu. Kiai Danatirta
tidak menjawab lagi. Iapun kemudian berjalan perlahan-lahan menjauhi
kedua anak-anak muda yang sudah berhasil menguasai Arum. “Nah,
sekarang kau seorang diri anak manis” berkata anak muda itu setelah
Kiai Danatirta tidak kelihatan lagi “Aku memang hanya memerlukan
kau. Bukan ayahmu. Dua orang kawanku telah menunggumu. Mereka adalah
orang-orangyang baik, yang akan memberimu apa saja, asal kau
menjawab pertanyaan mereka dengan baik. Misalnya, tentang orang
gemuk berkuda coklat itu. Dan tentang tetangga- tetanggamu yang
kebetulan mendengar juga orang gemuk berkuda coklat itu berceritera”
Arum tidak menjawab. Ia tidak memberikan kesan bahwa ia memiliki
kelainan dari gadis-gadis biasa. Karena itu, maka iapun menurut saja
perintah yang diber ikan oleh kedua orang yang mengambilnya itu.
Dengan demikian, maka orang-orang itupun menjadi tidak mencur
igainya lagi, bahwa ia akan melawan, atau Setidak- tidaknya akan
melarikan dir i. Anak muda yang mengacukan pisaunya itu telah
menyarangkannya kembali. Namun demikian keduanya masih tetap
berjalan sebelah menyebelah Arum. Di perjalanan itu Arumpun berusaha
untuk menemukan jalan, agar ia dapat melepaskan diri dari keduanya.
Arum sama sekali tidak tahu, sampai berapa jauh kemampuan kedua
orang itu di dalam olah kanuragan. Namun yang jelas bagi Arum, bahwa
anak-anak muda itu tentu membawa senjata. Setidak-tidaknya
pisau-pisau belati seperti yang diacukan ke lehernya. Dengan
hati-hati Arum mencoba menyentuhkan tangannya kelambung salah
seorang dari keduanya dengan berpura-pura kakinya terperosok sebuah
lubang di tengah jalan. Dan ternyata sentuhan itu member ikan kesan
kepadanya, bahwa sebenarnyalah senjata anak-anak muda itu bukan
hanya sebuah pisau belati kecil itu. di bawah kainnya terdapat
sarung sebilah pisau belati yang lebih besar, bahkan hampir sebuah
pedang kecil yang pendek. Sedang hulunyapun disembunyikannya di
bawah bajunya yang longgar. Dengan demikian Arumpun menjadi bimbang.
Apakah ia akan dapat berbuat sesuatu. Apalagi kedua orang itu
berkata,bahwa masih ada dua orang kawannya lagi yang sedang
menunggu. Di sepanjang langkahnya Arum mencoba memperhitungkan,
apakah yang sebaiknya dilakukan. Jika kemudian mereka sampai kepada
kedua orang yang menunggu itu, maka ia akan mengalami kesulitan yang
lebih besar untuk melepaskan dir i. “Tetapi bagaimanakah akibatnya
jika kedua orang ini memiliki kemampuan yang tinggi?“ Arum bertanya
kepada diri sendiri. Dan pertanyaan itupun disusul pula oleh
pertanyaan lain “Namun tentu tidak akan lebih baik jika aku berada
di antara orang-orang yang tidak aku kenal dan berjumlah lebih
banyak lagi. sehingga aku t idak dapat membayangkan apa yang akan
terjadi atas diriku nanti” Arum terkejut ketika tiba-tiba saja salah
seorang anak muda yang berjalan di sisinya itu menggamitnya sambil
berkata “Jangan risau. Ayahmu pulang dengan selamat. Dan kaupun akan
selamat jika kau tidak berbohong” Arum mencoba memandang wajah anak
muda itu. Namun kepalanya di palingkannya ketika anak muda itu
menyentuh pipinya “Kau t idak akan mengalami apapun juga, justru
karena kau cantik. Bahkan mungkin kau akan mendapat perlakuan khusus
dari mereka” Arum menjadi semakin muak kepada anak muda itu.
Sepercik penyesalan telah meraba hatinya. Jika ia tidak menyebut
orang gemuk berkuda coklat, maka ia tidak akan mengalami nasib
serupa itu. “Tidak“ Ia menggeram di dalam hati “Aku tidak mau sampai
kepada dua orang lain lagi yang tidak aku kenal. Apapun yang akan
terjadi, aku harus berusaha. Jika kedua orang ini ternyata memiliki
kemampuan yang tinggi, biarlah eku mat i di sini. Itu lebih baik
daripada aku akan jatuh keta-ngan orang-orang yang tentu akan
memeras keteranganku dengan segala macam cara. Dan bahkan mungkin
dengan cara yang paling buas yang dapat dilakukan atas seorang
perempuan” Dan ternyata Arumpun telah berketetapan hati. Karena itu,
ia tidak mau menunggu lebih lama lagi. Apalagi saat itu mereka masih
berjalan di jalan persawahan yang agak jauh dari padesan. “Aku harus
berbuat sesuatu sebelum aku sampai keujung bulak itu” katanya di
dalamhati. Arumpun kemudian mempersiapkan dir inya. Ia telah
mempelajari ilmu olah kanuragan sampai tuntas, meskipun masih perlu
dikembangkan lebih jauh. Namun dengan bekal yang ada, ia harus
mempertahankan dir inya dari kebuasan orang-orang yang tidak
dikenalnya itu. Untuk beberapa saat kemudian Arum masih saja
berjalan dengan kepala tunduk. Dibiarkannya saja anak muda itu
mengganggunya, bahkan kadang-kadang menyentuhnya. Namun adalah di
luar dugaan mereka, bahwa tiba-tiba saja Arum meloncat selangkah
surut, dan mempersiapkan dir inya untuk menghadapi setiap
kemungkinan. Kedua anak-anak muda itu terkejut bukan kepalang.
Dengan serta merta merekapun kemudian berhenti dan berpaling. Namun
Arum tidak member inya kesempatan sama sekali, justru karena ia
tidak mengerti tingkat ilmu dar i kedua orang itu. Tetapi Arum sudah
memutuskan bahwa ia akan berjuang dengan sekuat tenaga sampai
kemungkinan yang terakhir. Jika ia gagal, dan kedua anak muda itu
berhasil membawanya, maka ia tentu akan memilih mati. Ia pernah
mendengar bagaimana kumpeni atau orang-orangnya berbuat terhadap
orang-orang yang dicurigai dan t idak disenanginya. Apalagi ia
adalah seorang gadis.Sebelum kedua orang itu sempat berbuat sesuatu,
maka Arumpun sudah memulainya. Ia berusaha untuk lebih dahulu
melumpuhkan seorang dari antara mereka, karena dengan demikian ia
akan berhadapan dengan seorang saja lagi. Setidak-tidaknya ia akan
dapat mengurangi kemampuan yang seorang itu. Karena itulah, maka
sebelum keduanya sadar sepenuhnya akan persoalan yang dihadapinya,
sebuah serangan telah meluncur menghantam dada salah seorang dari
kedua anak muda itu. Serang kaki yang lurus mendatar, sehingga
karena itu maka anak muda yang tidak menduga akan mengalami serangan
yang demikian keras dan cepatnya itu, tidak sempat berbuat apa-apa.
Yang terdengar kemudian adalah hentakan yang keras di dada anak muda
itu disusul oleh keluhan yang tertahan. Kemudian anak muda itu
terhuyung-huyung dan jatuh terlentang. Peristiwa itu benar-benar
telah mengejutkan anak muda yang seorang lagi. Namun dengan gerak
naluriah iapun segera bersiap dan bahkan senjatanya telah tergenggam
di tangannya. Seperti dugaan Arum, sebuah pedang yang pendek sekali,
namun cukup berbahaya bagi lawannya. Menghadapi senjata pendek itu
Arum harus berhati-hati. Tetapi ia sempat melihat dengan sudut
matanya, anak muda yang seorang itu menggapaikan tangannya dan
perlahan- lahan mencoba bangkit. Tetapi demikian anak itu berhasil
duduk bersandar tangannya, sekali lagi Arum menyerangnya dengan
kakinya tepat mengenai pelipisnya. Sekali lagi terdengar anak muda
itu mengaduh, namun kemudian iapun jatuh pingsan. Tetapi berbareng
dengan itu, anak muda yang lain, yang telah siap dengan senjatanya,
menyadari sepenuhnya apayang sedang dihadapinya. Karena itu, maka
iapun segera menyerang dengan pedang pendeknya. Arum sempat
mengelak. Sebuah loncatan yang panjang telah melemparkannya agak
jauh dari lawannya, sehingga ia sempat mempersiapkan dirinya
menghadapi lawannya yang bersenjata itu. Namun dalam pada itu terasa
angin malam menyentuh kakinya sampai kepaha. Ternyata bahwa kain
panjangnya telah tersobek pada serangannya yang pertama hampir
sampai ke ikat pinggangnya. “Aku tidak sempat memakai pakaian
khususku” desisnya di dalam hati “Tetapi apa boleh buat. Lebih baik
kainku yang tersobek daripada kulitku” Demikianlah keduanya kemudian
terlibat di dalam perkelahian yang sengit. Anak muda itu harus
mengakui, bahwa gadis yang dihadapinya saat itu bukannya gadis
kebanyakan. Dan itu adalah di luar dugaannya. Arum yang tidak
ingin-mengalami perlakuan yang tidak adil atas dirinya, dan bahkan
kemudian berkembang bukan saja sekedar atas dirinya, tetapi atas
orang-orang di padukuhannya, telah bertempur sekuat-kuatnya.
Meskipun lawannya menggenggam sebuah pedang pendek, namun Arum tidak
mengalami terlampau banyak kesulitan. Bahkan ia masih berhasil
membuat lawannya itu menjadi bingung. Kadang-kadang Arum meloncat
surut, namun kemudian melingkar dan menyerang menyusup ayunan pedang
pendek lawannya. Tetapi lawannya benar-benar seorang yang licik di
dalam kesulitan ia mencoba mencari jalan lain untuk menundukkan
lawannya. Karena itu maka katanya kemudian “Kau memang luar biasa
Arum. Aku tidak menyangka bahwa di Jati Sari ada seorang gadis yang
lengkap seperti kau. Seorang gadis yang bukan saja cantik dan manis,
tetapi juga seorang gadis yang memiliki kemampuan bertempur yang
luar biasa”Arum t idak menghiraukannya. Ia masih tetap bertempur
dengan sengitnya sehingga lawannya itu terdesak beberapa langkah.
“Arum, kenapa kalungmu tidak kau pakai? Kau tentu akan bertambah
cantik dengan kalung merjanmu” Arum menjadi muak. Dan tiba-tiba saja
ia menjawab “Kalung yang tidak berharga itu sudah aku ber ikan
kepada orang lain” “Kenapa?“ “Aku tidak memerlukannya. Aku
menerimanya sekedar untuk menyenangkan hatimu. Tetapi ternyata kau
adalah orang yang paling memuakkan” “Ah” Orang itu berdesah. Tetapi
suaranya terputus karena serangan Arumyang semakin dahsyat. Ternyata
bahwa kalung merjan itu tidak member ikan kesan apapun bagi Arum.
Sejak gadis itu memilih kalung merjan, ia sudah mempunyai penilaian
yang lain terhadap Arum. Ternyata bahwa tidak seperti gadis
lain-lainnya, Arum tidak memer lukan kalung itu. “Kenapa kau tidak
senang akan kalung merjan itu?” anak muda itu masih mencoba
bertanya. Arum tidak menjawab. Ia berusaha untuk menghancurkan
lawannya. Apalagi mereka sudah tidak berada di padukuhannya lagi
sehingga jika bekas dari peristiwa itu diketemukan, maka
tetangga-tetangganya tidak akan mengalami akibat yang parah karena
hilangnya kedua orang itu. Karena kalung itu sama sekali tidak
mempengaruhi Arum, maka orang itu mencari akal yang lain. Tiba-tiba
saja ia tersenyum sambil berkata “Arum, aku hampir gila kau buat.
Mungkin kau sengaja mempengaruhi agar aku tidak dapat bertempur
seperti seharusnya. Jika aku berkelahi melawanperampok-perampok anak
buah Raden Mas Said, aku tentu sudah membunuhnya. Tetapi sekarang
yang aku lawan adalah seorang gadis yang cantik, yang tidak menutup
tubuhnya dengan lengkap” Dada Arum bergetar mendengar kata-kata itu.
Tanpa sesadarnya sebelah tangannya berusaha mengatupkan kainnya yang
sobek sampai ke ikat pinggangnya. “Aku tidak dapat berbuat banyak
atasmu Arum. Tanpa banyak kesulitan kau akan dapat memenangkan
pertempuran ini. Justru karena kau singkapkan kain panjangmu” “Gila“
Arum hampir berteriak. Tetapi kini setiap kali ia sibuk dengan
kainnya yang sobek. Anak muda itu tertawa. Katanya “Apakah kau
menghendaki aku menyerah? Tetapi apakah kau akan menjamin
keselamatanku“ “Persetan” bentak Arum “Aku akan membunuhmu“ “Tetapi
itu tidak jujur. Kau mempergunakan cara yang tidak kesatria” Arum
menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan kadang- kadang ia menjadi
bingung. Karena itu, sebelah tangannya menjadi seakan. terikat pada
kain panjangnya, dan tata gerak kakinya tidak lagi selincah
sebelumnya. Setiap kali anak muda itu menyebut seolah-olah ia telah
berbuat sengaja, sehingga dengan demikian ia telah berbuat licik.
Karena itulah, maka Arum tidak lagi dapat memusatkan perhatiannya
kepada lawannya. Bahkan kadang-kadang ia menjadi bingung, sehingga
pedang lawannya menjadi semakin berbahaya baginya. Setiap kali
dadanya berdesir jika ia mendengar lawannya tertawa dan menunjuk
kainnya yang sobek itu dengan ujung pedangnya. “Gila” teriak Arum
kemudian “Kaulah yang licik”“Kenapa aku? Aku tidak berbuat apa-apa.
Bahkan aku bersedia menyerah jika kau menghendaki. Bukan karena
kemampuanmu yang tinggi, tetapi justru karena kain panjangmu yang
sengaja kau sobek sampai ke ikat pinggang itu” “Gila, gila, gila”
bagaimanapun juga Arum adalah seorang gadis. Itulah sebabnya maka
kelemahannya sebagian besar ada pada dirinya sendiri. Pada
perasaannya. Dan lawannya telah mempergunakan sebaik-baiknya. Bahkan
hampir menangis Arum berteriak “Kau pengecut. Kau tidak berani
bertempur dengan jujur?” “Kaulah yang tidak jujur Arum” terdengar
anak muda itu tertawa “ketika aku melihat kau di pategalan, aku
sudah hampir menjadi gila. Apalagi sekarang, dengan caramu yang
berhasil itu, aku benar-benar tidak mampu melawanmu” “Tutup mulutmu,
tutup mulutmu. Kita sedang bertempur” Justru terdengar suara
tertawa. Bukan saja tertawa kemenangan karena Arum menjadi semakin
terdesak. Tetapi tertawa licik yang lambat laun akan dapat
menghancurkan pertahanan di dalam dada Arum. Sejenak Arum bagaikan
kehilangan akal. Ia hanya sekedar bertahan dan menghindar. Ia sama
sekali tidak lagi dapat menyerang dengan garang, apalagi
mempergunakan kakinya yang lincah. Bahwa Arum kemudian benar-benar
terdesak, sama sekali bukan karena ia tidak mampu mengimbangi ilmu
lawannya, tetapi semata-mata karena perasaannya sebagai seorang
gadis padepokan yang hidup dalam lingkungan kecil. Anak muda itu
merasa bahwa ia pasti akan berhasil menguasai Arum dengan caranya.
Bahkan kemudian tumbuh pula di dalam hatinya, keinginannya untuk
menangkap Arum hidup-hidup.“Tetapi ia akan dapat menjadi liar dan
berbahaya” berkata orang itu di dalam hatinya. Tetapi lalu “Aku
dapat mengikat tangannya dan membiarkannya berpakaian tidak lengkap
seperti itu” Sebenarnyalah bahwa semakin lama Arum menjadi semakin
terdesak. Bahkan sekali-sekali pedang lawannya bagaikan akan
menyentuh tubuhnya. Dalam keadaan yang semakin terdesak itu Arum
menjadi sangat gelisah. Namun ia masih tetap sadar, bahwa jika ia
dapat ditangkap oleh orang itu, ia akan mengalami nasib yang parah.
Karena itu, di dalam kesulitan yang semakin menghimpitnya, Arum
mencoba mempertimbangkan apa yang sebaiknya dilakukan. Akhirnya Arum
memutuskan bahwa baginya akan lebih baik bertempur dalam pakaiannya
yang compang camping daripada tertangkap oleh orang yang
memuakkannya itu. “Aku harus menghancurkannya sama sekali, agar ia t
idak meninggalkan bekas yang selalu memanaskan hati jika aku pada
suatu saat bertemu dengan orang ini” berkata Arum di dalam hatinya.
Dengan keputusannya itu, maka Arumpun kemudian menemukan
keseimbangannya kembali. Ia mencoba mengkesampingkan perasaannya dan
mempergunakan nalarnya. Jika ia masih selalu dibayangi oleh perasaan
malu dan segan karena pakaiannya, maka ia pasti akan mendapatkan
malu yang jauh lebih besar lagi. Sejenak kemudian anak muda itu
terkejut. Aram tiba-tiba melepaskan sebelah tangannya yang selalu
memegangi kainnya yang sobek sampai ke ikat pinggang. Dan tiba-tiba
saja Arumtelah menemukan bentuk perlawanannya kembali.Sejenak anak
muda itu dicengkam oleh kecemasan. Namun kemudian ia berusaha
mempengaruhi Aram dengan cara yang sama. Tetapi Aram tidak
menghiraukannya. Bahkan ia berkata hampir di luar sadarnya “Aku
tidak peduli. Malam cukup gelap untuk melindungi aku” Jawaban itu
mengejutkan lawannya. Apalagi ketika ia melihat Arum semakin cepat
bergerak. Bukan saja tangannya, tetapi juga kakinya. “He, kau tidak
mengenal malu. Ternyata kau bukan seorang gadis yang baik seperti
yang aku duga“ Anak muda itu hampir berteriak. Tetapi Arum menjawab
“Memang aku bukan seorang gadis yang baik seperti yang kau duga”
Anak muda itu menggeram. Ia kini merasa bahwa caranya untuk
mempengaruhi Arum sudah tidak dapat dipercaya lagi. Agaknya Arum
tidak lagi menghiraukan kainnya yang sobek hampir sampai ke ikat
pinggang. Karena itu, maka anak muda itu menjadi gelisah. Meskipun
ia bersenjata, tetapi ia tidak dapat menguasai Arum sama sekali.
Bahkan sekali-sekali Arum berhasil menyusup di antara ayunan
pedangnya, dan menyerangnya dengan dahsyatnya. Anak muda itu
mengaduh tertahan ketika kaki Arum berhasil menyentuh lambungnya.
Kemudian tangan gadis itu mengenai pelipisnya sehingga ia terdorong
beberapa langkah surut,“Aku akan dikalahkannya” desis anak muda itu
di dalam hati. Karena itu, ia harus melepaskan niatnya untuk
menangkap Arum untuk dir inya sendiri. Ternyata ia lebih menyukai
nyawanya sendiri daripada Arum. Dalam keadaan yang paling sulit,
maka terdengar anak muda itu bersuit nyaring. Suaranya bagaikan
bergema memantul pada dinding-dinding padukuhan. Dada Arum menjadi
berdebar-debar karena ia mendengar suara suitan yang serupa di
kejauhan. Agaknya kawan anak muda itulah yang menjawab isyarat Arum.
“Mereka pasti akan datang” berkata Arum di dalam hatinya. Dengan
demikian, kembali Arum menjadi gelisah. Bukan karena pakaiannya yang
sobek, tetapi karena di arena itu tentu akan hadir beberapa orang
laki-laki. Laki- laki yang kasar, buas dan liar. Sejenak Arum
mencoba memecahkan cara yang paling baik untuk melawan. Sudah barang
tentu ia tidak mau menyerah kepada orang-orang yang buas dan liar
itu. “Apakah aku harus melarikan diri?“ bertanya Arum kepada diri
sendiri. “Agaknya aku dapat menempuh cara itu. Sama sekali bukan
karena aku menjadi licik dan pengecut. Tetapi perkelahian yang gila
ini membuat aku ngeri. Bukan oleh kematian tetapi oleh persoalan
lain yang lebih gila dari mati” Namun sebelum Arum sempat mengambil
sikap, maka ia sudah melihat dua orang berdiri di pematang sambil
bertolak pinggang. “He, apa yang kau lakukan?“ bertanya salah
seorang dari mereka. “Memetik bunga. Tetapi agaknya bunga ini
berduri”“Dan kau tidak dapat mengatasinya” “Aku ingin bunga ini
tetap cantik” Kedua orang yang berdiri di pematang itu tertawa.
Tiba- tiba salah seorang dari mereka bertanya dengan nada yang
tegang “He, apakah kawanmu yang terbaring itu?“ “Ya” “Mati?“ “Aku
tidak tahu” “Huh, ternyata kalian tidak dapat berbuat apa-apa
melawan orang perempuan. He, agaknya di Jati Sari ada perempuan yang
aneh” “Inilah perempuan yang aku katakan itu. Ialah yang menerima
pemberianku dua untai kalung merjan” “Dan kini ia melawanmu” Anak
muda yang sedang bertempur melawan Arum itu tidak menjawab. Tetapi
ia tidak dapat membantah, bahwa serangan Arumbenar-benar
menakjubkan. Kedua orang yang berada di pematang itupun menjadi
heran pula. Ternyata bahwa gadis itu memiliki kemampuan yang tidak
dapat diabaikan. Sejenak kedua orang yang berdiri di pematang itu
masih menilai, betapa berbahayanya gadis Jati Sari itu. Sehingga
mereka sampai pada suatu kesimpulan, bahwa mereka tidak akan dapat
membiarkan seorang kawannya itu bertempur seorang diri. “Kita harus
ikut campur” desis salah seorang dar i mereka. Arum menjadi
berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat mencegah. Ia sadar bahwa
lawan-lawannya memang orang- orang yang sangat licik" dan tidak tahu
malu. sehingga karenaitu, tidak akan ada gunanya menggugat
kejantanan dan cara perang tanding seperti seorang kesatria. Yang
dipikirkan Arum adalah bagaimana ia akan mampu melawan ketiga orang
itu sekaligus. Karena mereka tentu akan segera turun ke arena.
Ketika Arum melihat salah seorang lawannya yang terbaring itu maka
tiba-tiba saja ia teringat, bahwa orang itupun tentu bersenjata
seperti kawannya. Karena itu, tiba-tiba saja ia menyerang lawannya
dan mendesaknya menjauh. Kemudian dengan tiba-tiba ia meloncat
kesisi orang yang terbaring itu. Sebelum seorangpun dapat
mencegahnya, ternyata Arum sudah mencabut sehelai pedang pendek.
Dengan pedang pendek itu Arum bertekad untuk melawan ketiga orang
lawannya meskipun ia sadar, bahwa ketiga lawannya itu bukannya lawan
yang r ingan. “Apaboleh buat. Aku harus bertempur. Tetapi menghadapi
orang-orang yang licik, aku tidak perlu mempertahankan kejantanan.
Jika perlu aku dapat melarikan dir i, bahkan berteriak sekalipun”
berkata Arumdi dalam hatinya. Demikianlah, maka dengan pedang pendek
itu Arum telah siap menghadapi segala kemungkinan. Menghadapi ketiga
orang laki- laki yang bukan orang kebanyakan. Tetapi ia sudah
bertekad apapun yang terjadi, ia tidak akan menyerah. Lebih baik
lari atau mati sama sekali. Ternyata Arum tidak usah menunggu
terlalu lama. Kedua orang itupun perlahan-lahan mendekati arena dan
salah seorang menggeram “Kita akan ikut dalam permainan yang
menyerangkan itu” Arum sadar sepenuhnya, bahwa ia harus memusatkan
segenap perhatian dan kemampuannya atas ketiga lawannya. Ia tidak
boleh terganggu oleh keadaan dir inya sendiri.Sekali-sekali anak
muda yang bertempur pertama kali melawan Arum masih mencoba
mengganggunya karena kainnya yang sobek. Dan agaknya kedua orang
kawannya yang kemudian berada di dalam arena itupun segera tertarik
dan ikut pula memperolok-olokkannya. Tetapi Arum benar- benar tidak
peduli lagi. Ia sudah siap bertempur dengan sepenuh tenaga.
Demikianlah sejenak kemudian Arum memang harus bertempur melawan
tiga orang sekaligus. Ternyata bahwa ia benar-benar harus memeras
segenap kemampuan yang ada padanya. Lawan-lawannya, yang meskipun
harus juga berusaha keras untuk menundukkan Arum, ternyata semakin
lama merasa, bahwa mereka akan berhasil. Meskipun sekali-sekali
mereka terkejut melihat kecepatan bergerak Arum dan bahkan
serangan-serangannya kadang-kadang di luar dugaan, tetapi mereka
bertiga dapat bekerja bersama sebaik-baiknya untuk memancing tenaga
Arumtertumpah seluruhnya. “Gadis yang luar biasa ini akan segera
menjadi lelah. Dan jika ia sudah tidak mampu lagi berbuat selincah
itu, maka ia akan dengan mudah ditundukkan“ berkata salah seorang
dari mereka. Arum menggeram, la sadar sepenuhnya, bahwa ia memang
telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, sehingga
dengan demikian, maka ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama.
Tetapi jika ia tidak mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya, ia
tidak akan berhasil mengimbangi kemampuan ketiga orang lawannya.
Namun ternyata perhitungan ketiga orang itu meleset. Setelah mereka
bertempur beberapa lamanya, tenaga Arum nampaknya sama sekali belum
susut. Anak Jati Aking yang sudah membiasakan diri berlatih untuk
waktu yang panjang itu masih tetap dapat mempertahankan keseimbangan
tubuh dan ilmunya.“Apakah anak ini kepanj ingan setan” desis salah
seorang lawannya yang menjadi sangat heran melihat kemampuan dan
ketahanan tubuh Arum. Tetapi mereka harus menghadapi kenyataan itu.
Dan mereka harus bertempur terus. Dalam pada itu, anak muda yang
semula pingsan itupun mulai mengejapkan matanya. Udara malam yang
segar, dan angin yang basah telah mengusap wajahnya. Kepalanya yang
terasa akan pecah itupun berangsur-angsur menjadi ringan dan
kesadarannya perlahan-lahan menjadi pulih kembali. Ketika ia
mengangkat kepalanya, dilihatnya gadis yang menyerangnya dengan
tiba-tiba itu masih bertempur melawan tiga orang. Dan ketiga orang
itu adalah kawan-kawannya. Anak muda itu menarik nafas. Tetapi
hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia meraba lambungnya.
Pedangnya ternyata sudah tidak ada. Tetapi di lambungnya yang lain
masih terselip sebuah pisau belati. Meskipun pisau itu terlampau
kecil, namun itu akan lebih baik daripada ia tidak bersenjata sama
sekali. Sejenak ia masih tetap berbaring diam. Ia mencoba memulihkan
kekuatannya dan segenap kesadarannya. Baru sejenak kemudian ia mulai
bangkit. Dengan pisau belati di tangan ia melangkah mendekati arena
perkelahian itu. Meskipun dadanya masih terasa sakit, tetapi ia
sudah merasa mampu untuk ikut di dalam perkelahian itu bersama
dengan tiga orang kawannya. Arumlah yang kemudian menjadi semakin
berdebar-debar. Kini ia harus bertempur melawan empat orang
sekaligus. Meskipun ilmunya cukup tinggi, tetapi keempat orang yang
sudah mendapat kepercayaan sebagai petugas-tugas sandi itu ternyata
memiliki ilmu yang cukup pula, sehingga untukmelawan keempatnya
bersama-sama merupakan pekerjaan yang sangat berat baginya.
Sebenarnya kelemahan hati Arum justru dibebani oleh perasaannya
sebagai seorang gadis. Ia masih belum mempunyai pengalaman sama
sekali di dalam tata kehidupan yang luas di luar padukuhannya.
Itulah sebabnya ia selalu cemas bahwa ia akan dapat tertangkap hidup
dan mengalami perlakuan yang parah. Kecemasannya itulah yang
kemudian mendorong Arum semakin dekat kepada keputusan untuk
menghindarkan dirinya dari arena dan mendekati padukuhan. Yang
kemudian paling penting baginya adalah menghindarkan dirinya dari
tangan keempat lawannya yang menakutkan itu. Justru karena ia
seorang gadis, dan lawannya adalah empat orang laki- laki yang
seakan-akan menjadi semakin lama semakin buas. Bulu-bulu tengkuk
Arum meremang ketika ia mendengar salah seorang dari keempat
lawannya itu berkata “Menyerah sajalah anak manis. Kami akan
memperlakukan kau sebaik- baiknya” “Kubunuh kau” bentak Arum yang
mulai disentuh lagi oleh kebingungannya menghadapi Laki- laki itu.
Terdengar suara tertawa. Dan keempatnya itupun mengepung Arum
semakin rapat. Namun demikian mereka sebenarnya masih dihinggapi
oleh perasaan kagum dan bahkan cemas, karena Arum masih saja
bertempur dengan gigihnya. Nafasnya masih tetap teratur, meskipun
kadang- kadang Arumsudah harus menarik nafas dalam-dalam. Namun
akhirnya ternyata bahwa tenaga Arumpun mulai susut. Keempat orang
lawannya itupun menjadi semakin yakin, bahwa mereka akan segera
dapat menguasai gadis itu sepenuhnya.Arum yang merasa bahwa ia tidak
dapat lagi mempertahankan tenaga dan kemampuannya karena nafasnya
mulai mengganggu, menjadi semakin cemas. Bahkan kemudian ia menjadi
agak bingung. Ia sama sekali belum memiliki pengalaman untuk
menyelesaikan kesulitan serupa itu. Bahwa ia harus menghindari dari
tangan keempat orang itulah yang selalu dipikirkannya, atau mati
sama sekali. Kegelisahan yang semakin mengganggu Arum justru
mempercepat kesulitannya sendir i. Beberapa kali ia sudah membuat
kesalahan sehingga senjata lawannya hampir saja mengenainya. Sedang
serangan-serangannya semakin jauhdari sasaran. Dengan demikian
Arumpun menjadi semakin terdesak. Keseimbangannya perlahan-lahan
semakin menjadi kisruh. Dan bahkan kemudian Arum benar-benar sudah
berada di dalam kesulitan. Lawan-lawannya melihat kesulitan pada
gadis yang bernama Arum itu. Karena itu, maka tanpa mereka bicarakan
sebelumnya, seolah-olah mereka mempunyai niat yang sama. Keempat
orang itupun kemudian mengepung Arum semakin rapat dan berusaha agar
gadis itu tidak dapat lagi menghindar dari tangan mereka. Arum
mengumpat-umpat di dalam hati. Namun ia kemudian bertekad untuk mati
saja, karena agaknya ia tidak akan berhasil meloloskan dir inya dari
kepungan itu. Dalam puncak kesulitan itu, tiba-tiba Arum dikejutkan
oleh suara tertawa. Bukan dari keempat orang yang mengepungnya.
Tetapi suara itu agak jauh dari arena perkelahian di tengah bulak
itu. “Kau tidak dapat ingkar lagi Arum” terdengar suara disela- sela
suara tertawa itu. Dada Arum menjadi semakin menggelepar. Agaknya
kawan-kawan orang itu berdatangan semakin banyak.Tetapi ternyata
bukan Arum saja yang terkejut mendengar suara itu. Keempat orang
yang mengepungnya itupun agaknya terkejut pula sehingga seakan-akan
merekapun berhenti menyerang dan berpaling kearah suara itu. Dan
mereka mendengar suara itu lagi dari dalam kegelapan “Nah, sekarang
aku melihat sendir i, bahwa padepokan Jati Aking benar-benar
merupakan sebuah padepokan yang pantas dikagumi. Aku tidak akan
heran bahwa Raden Juwiring dan Buntal dapat bertempur seperti seekor
banteng terluka. Tetapi yang sekarang aku lihat adalah kau. Arum”
Arum menjadi semakin bingung. Namun kemudian di dalam kegelapan ia
melihat bayangan dua orang berjalan di pematang. Yang seorang, yang
berjalan di depan adalah seorang yang bertubuh tinggi tegap berdada
bidang. Tiba-tiba Arum dapat mengenali suara itu setelah ia merenung
sejenak. Hampir di luar sadarnya ia berteriak “Paman Sura” Orang
bertubuh raksasa itu tertawa. Katanya “Ya. Aku Sura. Sudah lama aku
melihat kau berkelahi. Tetapi aku sengaja membiarkan saja kau sampai
pada puncak ilmumu. Ternyata empat ekor kelinci jantan yang
merindukan seekor harimau betina ini akan menjadi sangat kecewa”
“Siapa kau?“ tiba-tiba salah seorang dari keempat orang yang
berkelahi melawan Arum itu bertanya lantang. Sura tertawa lagi. Ia
kini menjadi semakin dekat dan dengan sebuah loncatan ia berdiri di
pinggir jalan di tengah bulak itu. Keempat orang yang baru saja
bertempur dengan Arum itu menjadi termangu-mangu. Mereka melihat
seorang yang bertubuh raksasa berdiri sambil tertawa. “Siapa kau?“
salah seorang dari keempat orang itu mengulangi pertanyaan itu.“Kau
tentu pernah mendengar ceritera Arum tentang seseorang yang berkuda
coklat. Nah, itu adalah aku” jawab Sura. “Kau? Tetapi Arum
menyebutnya seorang bertubuh gemuk” “Anak padukuhan adalah anak yang
berpikir sederhana. Baginya tidak ada bedanya, apakah ia bertubuh
gemuk atau bertubuh seperti aku ini” Keempat orang itu memandang
Sura dengan tegang. Tubuh Sura bukan tubuh yang dapat disebut gemuk.
Tetapi ia bertubuh besar seperti raksasa. “Nah, lebih baik kau
bertanya kepadaku langsung dari pada kau bertanya kepada gadis itu.
Mungkin kau t idak akan mengalami kenyataan yang sangat memalukan,
bahwa empat erang laki- laki muda tidak dapat mengalahkan seorang
gadis padesan yang bernama Arum, yang masih senang bermain pasaran
di padepokannya” “Diam” bentak salah seorang dar i keempat orang
itu. “He, kenapa kau membentak? Bertanyalah kepadaku apa yang kau
kehendaki. Jangan kepada Arum” Sura berhenti sejenak, lalu “Mungkin
kau ingin mendapat penjelasan siapakah yang pertama-tama membantah
berita bahwa perampok-perampok yang kadang-kadang membunuh, dan yang
di antara mereka telah berhasil dibunuh oleh prajur it Surakarta dan
kumpeni adalah anak buah Raden Mas Said. Bukankah begitu? Baiklah,
aku sajalah yang menjawab. Tentu akan lebih jelas dari Arum karena
akulah yang disebutnya orang gemuk berkuda coklat“ “Cepat, katakan
“Anak muda yang member i merjan Arum itulah yang kemudian
membentaknya. “Aku mengikut i kau sejak siang tadi, sejak kalian
membagikan kalung merjan kepada gadis-gadis Jati Sari”“Persetan, aku
ingin dengar jawabmu. Siapakah kau dan apakah yang sudah kau katakan
kepada orang-orang Jati Sari tentang perampok-perampok itu” “Nah,
pertanyaan itu lebih baik” “Cepat, jawablah pertanyaan itu” “Kau
selalu tergesa-gesa. Baiklah. Namaku Sura. Tentu kau sudah mendengar
Arum memanggil namaku. Yang aku katakan kepada orang Jati Sari
adalah, bahwa ceritera tentang perampok itu tidak benar. Anak buah
Raden Mas Said bukan perampok. Mungkin memang ada satu dua di antara
kami yang merampok. Tetapi itu adalah orang-orang gila yang harus
kami singkirkan dari antara kami. Tetapi yang lebih gila dari mereka
adalah pengkhianat-pengkhianat seperti kau. He, berapa upah yang kau
terima, sehingga kau bersedia menjual keterangan tentang Jati Sari
kepada kumpeni itu?“ “Tutup mulutmu“ Orang yang tertua di antara
keempat orang itu membentak “Kami adalah prajur it-prajurit yang
setia. Kami berjuang untuk menegakkan wibawa Surakarta” Sura
tertawa. Katanya “Baiklah. Jika demikian, aku harus member ikan
keterangan lebih banyak lagi tentang perampok- perampok itu.
Sebenarnyalah bahwa tidak ada hubungan apapun antara perampok dengan
pasukan Raden Mas Said yang berjuang untuk mengusir kekuasaan orang
asing itu. Nah, apakah sudah jelas? Itulah yang aku ceriterakan
kepada orang-orang Jati Aking di sawah. Akulah orangnya yang berkuda
coklat itu, kau dengar?“ Sejenak keempat orang itu termangu-mangu.
Arumpun menjadi bingung. Ia merasa sekedar berbohong ketika ia
menyebut orang gemuk berkuda coklat. Tetapi karena ia sudah
menceriterakan hal itu kepada Sura, maka Sura agaknya berusaha
mengambil alih ceritera itu daripadanya. “Apakah kau juga anak buah
Raden Mas Said?““Ya. Aku adalah anak buah Raden Mas Said. Karena itu
aku tahu pasti, bahwa kau sedang berusaha menyebarkan kabar bohong
agar rakyat Surakarta membenci Raden Mas Said. Tetapi agaknya kau
tidak akan berhasil, karena perjuangan kami yang tidak mengenal
menyerah ini kami landasi dengan suara hati rakyat yang sebenarnya”
“Persetan. Jika demikian, sepantasnya kaulah yang harus dibawa dan
dihadapkan kepada kumpeni” Sura masih saja tertawa. Katanya
“Baiklah. Tetapi sebaiknya biarlah kumpeni saja yang datang kepada
kami dan menangkap kami. Bukan kau” “Jangan sombong. Kami telah
mendapat kepercayaan untuk menangkap orang yang mengacaukan
kebijaksanaan pemerintahan Surakarta sekarang ini. Karena itu,
menyerahlah. Kalian akan kami tangkap” Sura tertawa semakin keras.
Katanya “Sebaiknya kau bercermin pada tengkukmu. Mana mungkin kau
akan membawa kami. Sedangkan seorang gadis padepokan saja telah
berhasil mengacaukan per lawanan kalian berempat” Sura berhenti
sejenak, lalu “Nah. kalian dapat menghitung. Aku datang berdua,
sedang Arum masih tetap berada di sini. Tentu kau akan dapat membuat
perbandingan. Meskipun aku tidak sekuat anak-anak Jati Aking, namun
aku akan dapat membantunya, mengganggu pemusatan pematian kalian,
sehingga seorang demi seorang kalian akan dibantai di sini oleh
Arum“ Sura berhenti sejenak, lalu “eh. maksudku, kalian akan dapat
dilumpuhkannya dan aku akan membawa kalian menghadap Raden Mas Said,
jika Arumtidak berkeberatan” “Persetan“ Orang-orang itu menggeram.
Namun mereka telah menyiapkan dir i mereka untuk melawan orang yang
menyebut dir inya bernama Sura dan mengaku sebagai anak buah Raden
Mas Said itu.Namun demikian, sebenarnyalah telah timbul kecemasan di
dalam hati keempat orang itu. Melawan Arum seorang diri mereka tidak
dapat segera mengalahkannya. Apalagi kini datang dua orang yang akan
membantunya. Betapapun lemahnya kedua orang itu, namun kehadiran
mereka tentu akan menambah kekuatan pada pihak Arum. Apalagi menilik
bentuk dan sikap orang yang menyebut dir inya bernama Sura itu, maka
rasa-rasanya bulu tengkuk orang-orang itu menjadi meremang
karenanya. Tetapi tidak ada jalan lain bagi mereka. Jika mereka
tertangkap oleh anak buah Raden Mas Said, maka nasib merekapun akan
menjadi sangat buruk. Karena itu, maka keempat orang itupun telah
mempersiapkan dir i mereka untuk menghadapi segala kemungkinan. “Ki
Sanak” bertanya Sura kemudian “Apakah t idak ada niat pada kalian
untuk menyerah saja? Kalian akan mengalami perlakuan dan nasib yang
lebih baik daripada jika kalian memberikan terlalu banyak
perlawanan. Yang dapat kalian berikan hanyalah sekedar memperpanjang
waktu, dan membuat hati Arum semakin terbakar. Jika gadis Jati Aking
itu kemudian menjadi benar-benar marah, maka kalian akan menyesal”
“Jangan banyak bicara” bentak salah seorang drai keempat lawan Arum.
“Baiklah, jika demikian, aku tidak akan berbicara lagi”Dada keempat
orang itu menjadi berdebar-debar. Sura melangkah perlahan-lahan maju
ke depan. Dengan suara yang datar ia berkata “Arum, aku minta ij in
untuk turut dalam permainan ini. Kau tidak berkeberatan?“ “Tentu
tidak paman” jawab Arum. “Baiklah, Marilah kita berpencar. Kita akan
mengurung keempatnya. Bukan kitalah yang harus mereka kurung” Hampir
di luar sadarnya, Arumpun menjauhi Sura. Demikian seorang kawan Sura
yang hampir tidak mengucapkan sepatah katapun itu. Sejenak kemudian,
maka mereka semuanya yang ada di bulak itu telah menggenggam senjata
masing-masing. Sesaat lamanya mereka masih bergeser beberapa
langkah. Namun tiba-tiba Sura meloncat maju menyerang sambil
mengayunkan goloknya yang besar. Lawannyapun telah siap
menyambutnya, sehingga dengan demikian maka merekapun segera
terlibat di dalam perkelahian yang sengit. Demikian pula kawan Sura
yang seorang itu. Iapun segera terjun di dalam perkelahian itu. Yang
masih termangu-mangu justru Arum sendir i. Sejenak ia. melihat
perkelahian itu. Sura dan seorang kawannya masing-masing harus
berkelahi melawan dua orang. Dan Arum tidak mengerti kenapa ia
sendir i tidak mendapatkan lawan dan seolah-olah lawan-lawannya
tidak menghiraukannya lagi. “Agaknya mereka telah benar-benar
kebingungan” berkata Arumdi dalamhatinya. Tetapi Arum sendiri tidak
segera berbuat apa-apa. Bahkan seakan-akan ia melihat pertunjukan
yang sangat menarik baginya. Sejenak ia menunggui perkelahian itu.
Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya. Kadang-kadang tangannya
menghentak-hentak. Dan bahkan sekali-sekali ia memekik diluar
sadarnya, seperti kebanyakan gadis-gadis yang sedang dicengkam
ketegangan. Namun kemudian Arum menjadi heran melihat perkelahian
itu. Ia sendiri tidak yakin kepada penglihatannya. Ternyata Sura dan
seorang kawannya yang masing-masing harus melawan dua orang itu
mengalami kesulitan. “Aneh” berkata Arum “Aku sendiri dapat melawan
mereka bersama-sama meskipun akupun kemudian mengalami kesulitan”
Sura bagi Arum adalah orang yang luar biasa. Yang memiliki kekuatan
yang besar dan kemampuan berkelahi yang tinggi. Tetapi ternyata
bahwa melawan dua orang petugas sandi itu, ia harus berjuang
sekuat-kuatnya, meskipun tampak juga di dalam perkelahian itu bahwa
tenaganya memang luar biasa. Jika perkelahian itu dibiarkan saja,
belum tentu bahwa Sura akan segera dapat menyelesaikannya dengan
baik. Namun dengan demikian. seolah-olah Arum dihadapkan pada sebuah
cermin tentang dir inya sendiri. Ternyata bahwa kemajuan yang pernah
dicapai di dalam olah kanuragan sudah sedemikian jauhnya. Jika Sura
memuj i kemampuannya, sama sekali bukannya suatu hal yang
dibuat-buat. Ternyata bahwa menurut penilaiannya di dalam
perkelahian itu, ilmunya sendiri telah berada di atas kemampuan
Sura. Demikianlah perkelahian itupun semakin lama menjadi semakin
sengit. Sura dan kawannya harus mengerahkan segenap kemampuan yang
ada padanya. Dengan mengerahkan segenap kekuatannya Sura
sekali-sekali berhasil mendesak lawannya. Jika ia mengayunkan
pedangnya yang besar dengan sekuat tenaganya, maka kedua lawannya
itu sama sekali tidak berani menangkisnya, sehingga mereka terpaksa
berloncatan mundur.Akhirnya Arumpun menjadi jemu melihat perkelahian
itu. Jika dibiarkannya, maka perkelahian itu akan berlangsung
semalam suntuk, dan bahkan belum dapat dipastikan bahwa Sura akan
dapat keluar dengan selamat. Demikian juga seorang kawannya itu.
Karena itu, maka iapun kemudian mendekat sambil berkata “Paman Sura.
Apakah paman masih ingin bertempur dengan cara ini semalamsuntuk?“
“Ah” terdengar Sura berdesah. Tetapi ia. masih sempat tertawa “Sudah
aku katakan. Tentu aku tidak akan dapat mengimbangi kemampuan
anak-anak Jati Aking” “Paman selalu memuj i” “Terus terang, aku
mengalami kesulitan sedikit dengan kelinci ini” “Tutup mulut“ salah
seorang lawannya membentak sambil menyerang dengan serunya, sehingga
Sura terkejut karenanya. Namun kemudian diputarnya pedangnya yang
besar itu sehingga lawannya itu tidak dapat mendekatinya lebih rapat
lagi. Arum memekik kecil, karena iapun terkejut melihat serangan
yang tiba-tiba itu. Tetapi kemudian ia tertawa kecil sambil berkata
“Paman, apakah aku boleh ikut serta” “Ah, jangan bergurau Arum. Aku
menjadi malu mendengar tawaranmu” Arum masih tertawa, sedang
lawannyapun mengumpat- umpat t idak habis-habisnya. Tiba-tiba saja
Arum merasa melihat suatu permainan yang mengasyikkan di dalam
kejemuannya. Karena itu, maka iapun melangkah semakin dekat sambil
berkata “Aku akan terjun. Malam sudah semakin larut, dan udara
menjadi semakin dingin”Hampir di luar dugaannya, maka salah seorang
lawan Sura itu menyahut “Sudah tentu, karena kau tidak mengenakan
pakaian dengan baik” Arum mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia
meraba kainnya dan menelakupkannya. Tetapi karena kain itu memang
sudah sobek, maka setiap kali angin malam yang dingin telah
menghembusnya. Namun sekali lagi Arum menemukan keseimbangan
perasaannya kembali. Maka katanya “Bukan waktunya kau sebut-sebut
lagi. Kita sudah membicarakannya sejak semula, dan agaknya sudah
terlampau sering kau sebut-sebut” Jawaban itu membuat lawan-lawan
Sura itu menjadi berdebar-debar. Sejenak kemudian Arum sudah berdir
i di antara mereka yang sedang bertempur. Sekali-sekali ia masih
disentuh oleh keragu-raguan, namun kemudian iapun mulai menggerakkan
senjatanya. Lawannya sudah mengetahui betapa kemampuan gadis yang
cantik itu. Karena itu, maka dua di antaranya melepaskan lawannya
dan bertempur melawan Arum yang segera mulai menyerang salah seorang
dari mereka. Namun dengan demikian akhir dari perkelahian itu sudah
mulai terbayang. Keempat lawan Arum yang kini harus melawan tiga
orang itu segera merasakan tekanan yang berat, sehingga debar di
jantung merekapun menjadi semakin berdentangan. “Gadis ini
benar-benar luar biasa” desis salah seorang dari mereka. Ternyata
bahwa perkelahian itupun segera menuju keakhirnya. Kemampuan Arum
benar-benar mengagumkan. Apalagi kini ia hanya melawan dua orang
saja di antara keempat lawannya.Dalam pada itu Surapun segera
berhasil menguasai seorang lawannya. Demikian pula kawannya.
Sehingga dengan demikian, maka tidak ada kesempatan lagi bagi
keempat orang itu untuk mengharap dapat memenangkan perkelahian itu.
Namun ternyata bahwa mereka benar-benar bukan orang- orang jantan di
dalam kesulitan itu, salah seorang lawan Arum ternyata berusaha
untuk melarikan dir i, setelah ia mengumpankan kawannya sendiri
dengan mendorongnya ke depan, sehingga hampir saja ia melanggar Arum
yang terkejut. Tetapi Arum sempat menghindar. Bahkan ia masih sempat
memukul orang yang terhuyung-huyung itu dengan sisi telapak tangan
kirinya, sehingga orang itu justru terjerembab jatuh menelungkup.
Bukan saja wajahnya yang mencium tanah, dan hidungnya yang membentur
batu dan menjadi berdarah, tetapi ternyata pukulan Arum telah
membuatnya pingsan. Kawannya, yang mendorongnya dengan sekuat
tenaganya, untuk menghalang-halangi Arum agar ia mendapat
kesempatan, segera berusaha melarikan dir i. Namun ternyata nasibnya
justru lebih buruk dari kawannya yang pingsan itu, karena Arum yang
marah tidak sempat berpikir panjang. Tiba-tiba saja ia melemparkan
pedang pendeknya dengan sekuat tenaganya.Yang terdengar kemudian
adalah pekik kesakitan yang melengking menyobek heningnya malam,
seakan-akan menggetarkan dedaunan yang tidur dengan tenang di
sebelah menyebelah jalan bulak itu. Arum sekilas melihat orang itu
terhenti. Kemudian sejenak ia berdir i terhuyung-huyung, dan jatuh
terjerumus ke dalam parit. di punggungnya masih menghunjam pedang
pendek yang dilemparkan Arumdengan sekuat tenaganya. Tetapi Arum
sendiri kemudian memekik sambil menutup wajahnya dengan kedua
tangannya. Ia sama sekali tidak sengaja membunuh lawannya dengan
cara yang mengerikan itu. Yang dilakukan itu sekedar gerak
naluriahnya, namun yang di dasari oleh ilmunya yang tuntas. Sura dan
kawannya ternyata telah menyelesaikan pekerjaan mereka pula. Dengan
sebuah ayunan yang keras, Sura berhasil melemparkan senjata
lawannya, sehingga dengan gemetar lawannya itu tidak dapat melakukan
perlawanan lagi ketika ujung pedang Sura menyentuh dadanya. “Kau
menyerah?“ bentak Sura. Lawannya tidak menjawab. “Jika tidak, aku
akan menekan pedang ini” “Aku menyerah” desisnya. Sura menarik nafas
dalam-dalam, lalu “Lemparkan senjatamu dan duduklah menepi” Orang
itu melemparkan senjatanya dan kemudian duduk bersila di atas
tanggul parit di pinggir jalan, sambil menundukkan kepalanya.
“Tautkan tanganmu di atas tengkuk“ perintah Sura. Orang itupun
kemudian mentautkan kedua tangannya di atas tengkuk.Sementara itu,
kawan Sura telah melukai lawannya sehingga orang itupun tidak dapat
melawannya lagi meskipun ia tidak mati. Perlahan-lahan Sura
mendekati Arum yang masih dicengkam oleh debar jantungnya. Dengan
suara yang dalam Sura berkata “Sudahlah Arum. Kau t idak berbuat
salah” Arum masih dicengkam oleh debar jantungnya yang keras. Namun
perlahan- lahan ia mengangkat wajahnya dan memandang kepada Sura.
Katanya “Aku tidak sengaja melakukannya paman” “Itulah gambaran dari
benturan kekerasan. Perkelahian dan di dalam bentuknya yang besar
adalah peperangan. Hampir dapat dikatakan tidak seorangpun dengan
sengaja menjerumuskan diri di dalam peperangan. Setiap orang
menginginkan kehidupan yang tenang dan damai. Tetapi pada suatu saat
kita akan sampai pada daerah kehidupan yang tidak kita inginkan ini”
Arum menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dalam pada itu kawan Sura
menjadi heran. Tidak banyak gadis yang memiliki kemampuan seperti
Arum. Gadis yang hampir sempurna di dalam olah kanuragan, tetapi
yang gemetar melihat lawannya terbunuh dengan darah yang terpancar
dari lukanya. “Paman” berkata Arum kemudian “Bagaimanakah dengan
orang-orang ini? Jika mereka dibiarkan di sini. dan para petugas
sandi dari Surakarta melihatnya, apakah tidak akan ada akibat yang
tidak menyenangkan bagi padukuhan di sekitar tempat ini?“ “Tentu
Arum. Karena itu, biarlah aku membawa semua orang yang ada di bulak
ini. Biarlah aku menguburkan yang mati dan membawa yang hidup
menghadap Raden Mas Said atau orang-orang kepercayaannya”Arumt idak
segera menjawab. “Dengan demikian, kau dan padukuhan di sekitar
tempat ini tidak usah bertanggung jawab atas hilangnya keempat orang
petugasnya, karena tidak seorangpun yang akan menyangka bahwa kaulah
yang melakukannya. Sementara itu, aku akan mengatakan bahwa kau
telah membantu aku, bahkan hampir menentukan, sehingga keempat orang
ini dapat tertangkap” Arum termangu-mangu sejenak, lalu “Terserahlah
kepada paman” “Baiklah. Aku akan membawanya. Sebentar lagi yang
seorang itu tentu akan sadar kembali. Aku sudah melihat ia mulai
bergerak. Yang terluka itupun tidak terlampau parah, sedang yang
seorang lagi masih sehat walafiat” Arum menganggukkan kepalanya.
“Nah Arum. Jika kau akan kembali ke padepokanmu, silahkan. Mungkin
ayahmu telah menunggumu dengan gelisah, meskipun ayahmu percaya
sepenuhnya akan kemampuanmu” Arum mengangguk sekali lagi sambil
menjawab “Baiklah paman. Terserahlah kepada paman untuk
menghilangkan jejak kematian petugas sandi itu” “Serahkanlah
kepadaku” Arum memandang Sura sejenak, lalu kepada kawannya
berganti-ganti. Kemudian setelah minta diri, iapun segera kembali ke
padepokannya dengan hati yang masih berdebar- debar. Jika teringat
olehnya, lawannya mengaduh dan kemudian terhuyung-huyung karena
pedang pendeknya menghunjam di punggung, maka iapun menjadi kian
berdebar-debar. “Tetapi aku tidak dapat berbuat lain” katanya kepada
diri sendiri Dan setiap kali terngiang kata-kata Sura di
telinganya“Itulah gambaran dari benturan kekerasan. Perkelahian dan
di dalam bentuknya yang besar adalah peperangan” Arum menarik nafas
dalam-dalam. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia mendengar desir
langkah di belakangnya sehingga tiba-tiba saja ia telah bersiap dan
memutar tubuhnya menghadap kearah suara itu. Di dalam kegelapan ia
melihat sesosok tubuh yang berjalan di belakangnya. Tetapi yang sama
sekali tidak berusaha menghindar atau bersembunyi ketika ia sudah
menghadapinya. Arum menjadi berdebar-debar. Mungkin ia harus
bertempur lagi menghadapi orang yang lebih berat dari keempat orang
yang telah berada di bawah kekuasaan Sura itu. Tetapi ketika orang
itu menjadi semakin dekat, maka Arumpun kemudian berdesis “Ayah”
Terdengar suara ayahnya tertawa kecil sambil menyahut “Ya Arum”
“Dari manakah ayah datang?“ “Kenapa kau bertanya begitu? Bukankah
aku pergi bersamamu dar i rumah?“ “Tetapi ayah sudah pulang lebih
dahulu” “Itulah orang tua Arum. Orang tua kadang-kadang selalu
dibebani oleh perasaan cemas terhadap anaknya meskipun anaknya sudah
cukup masak menghadapi masalahnya sendiri. Aku tentu tidak akan
dapat membiarkan kau dibawa oleh orang-orang itu meskipun aku tahu
bahwa kau akan dapat mengatasi kesulitanmu. Tetapi j ika pamanmu
Sura tidak hadir di arena. mungkin kau memerlukan cara lain untuk
mengatasi lawan-lawanmu yang sebenarnya cukup berat bagimu.
Kemampuan mereka di dalam kelompok yang ternyata terdiridari empat
orang pilihan itu memang berada di atas kemampuanmu” “Ayah melihat?“
“Ya Arum. Aku melihat sejak permulaan” “Dan ayah mengetahui
kehadiran pama Sura” “Ya. Tetapi pamanmu Sura tidak mengetahui bahwa
aku menungguinya” ayahnya berhenti sejenak, lalu “Tetapi Arum.
Jangan membiasakan diri merasa aku selalu menungguimu. Sebenarnya
aku ragu-ragu untuk mengatakan kepadamu kali ini bahwa aku ada di
dekatmu saat itu. Aku mempunyai pertimbangan lain, bahwa aku tetap
diam dalam hal ini agar kau tidak merasa bahwa setiap kali kelak,
aku tentu ada di dekatmu jika kau mendapat kesulitan. Dengan
demikian kau akan menjadi lemah dan kurang berusaha. Padahal sudah
barang tentu bahwa aku tidak akan selalu dapat berbuat seperti ini”
Arum mengerti maksud ayahnya. Sambil menganggukkan kepalanya ia
menjawab ”Aku mengerti ayah” “Nah baiklah. Marilah kita percepat
langkah kita” “Bagaimana dengan paman Sura?“ “Biar lah pamanmu
menyelesaikan kesanggupannya. Agaknya tawanannya yang sehat itulah
yang dipaksanya untuk mengusung temannya yang terbunuh. Ia akan
menguburnya dan melenyapkan semua bekas-bekas perkelahian itu” Arum
menarik nafas sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Demikianlah
maka keduanyapun kemudian berjalan semakin cepat. Tetapi ketika
sampai di padepokan, Arum tidak mau masuk melalui pintu depan
rumahnya. Ia langsung pergi ke pintu butulan dan masuk lewat
belakang. Baru setelah ia berganti pakaian maka iapun pergi ke ruang
tengah menemuiayahnya yang duduk menghadapi semangkuk minuman panas.
Agaknya beberapa orang pelayannya menjadi gelisah pula sepeninggal
Arum, sehingga mereka tetap menunggu sampai saatnya Arum dan ayahnya
pulang. Bahkan sempat menyediakan minuman panas bagi mereka. Dalam
pada itu Sura sibuk dengan tawanannya. Seperti yang dikatakan oleh
Kiai Danatirta, maka yang masih sehat itulah yang harus membawa
mayat kawannya, sedang Sura dan kawannya membantu kedua orang yang
lain. Bahkan ketika mereka sampai ke tanah pekuburan, maka orang itu
pulalah yang harus menggali lubang. “Tidak ada cangkul” katanya.
“Carilah di rumah yang paling dekat. Mungkin di kandang lembu dan
kerbau. Biarlah aku tunggui orang-orang ini” berkata Sura kepada
kawannya. Akhirnya kawan Sura itupun menemukan cangkul itu di sebuah
kandang. Setelah mengubur kawannya yang terbunuh itu, maka tawanan
itu masih harus memapah kawannya yang terluka. Sedang kawan Sura
menolong orang yang baru sadar dari pingsannya karena tengkuknya
dipukul oleh Arum dengan sisi telapak tangannya. “Kita akan pergi
jauh. Apakah kalian tidak membawa kuda atau kereta atau apapun yang
kau sembunyikan atau kau titipkan kepada seseorang?“ bertanya Sura
kepada orang- orang itu. Ternyata mereka menyediakan kuda yang
mereka tinggalkan di tengah-tengah pategalan, seperti juga kuda
Sura. Karena itu maka merekapun kemudian mengambil kuda yang mereka
simpan di tempat yang berbeda-beda. “Sudah tiga hari aku berkeliaran
di daerah ini menunggu kedatangan kalian” berkata Sura “Agaknya
petugas sandi yangberpihak kepada Raden Mas Said cukup tajam
penciumannya. Akhirnya aku benar-benar menemukan kau. Pembicaraanmu
dengan gadis-gadis itu meyakinkan aku bahwa kau akan kembali
mengambil Arum” berkata Sura kepada mereka sambil tersenyum “Jangan
menyesal bahwa ada di antara kalian yang menyadari arti perjuangan
Raden Mas Said” Para petugas sandi itu tidak menyahut. Tetapi
merekapun sudah menduga bahwa ada di antara kawannya yang berpihak
kepada lawan, sehingga ada orang yang mengetahui kehadirannya di
padukuhan Jati Sari. Tanpa dapat mengelak lagi, maka tawanan-tawanan
itupun segera dibawa oleh Sura dan kawannya ke dalam daerah
kekuasaan mereka, dan diserahkannya kepada para Senapati yang kelak
akan membawanya langsung menghadap Raden Mas Said. “Jangan takut”
berkata para pengawal Raden Mas Said itu “dalam keadaan yang
bagaimanapun juga Raden Mas Said tetap menyadari bahwa kita adalah
saudara sebangsa. Lihatlah kulitmu yang berwarna sawo seperti
kulitku. Karena, itulah maka kami tetap tidak berbuat lain daripada
berjuang untuk bangsa kita yang semakin lama semakin terdesak oleh
orang-orang yang berkulit putih itu” Para tawanan itu tidak
menjawab. Namun mereka sadar bahwa lebih baik berkata terus terang
apabila ia dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan dari para pengawal
Raden Mas Siad itu daripada mereka harus dipaksa untuk membuka mulut
mereka dengan kekerasan. Meskipun demikian, masih ada saja yang
ingin mereka sembunyikan. Tetapi mereka tidak akan dapat bertahan
lama, apalagi apabila mereka melihat Sura yang bertubuh raksasa itu
ada di antara mereka. “Aku pernah mengalami nasib seperti kalian”
berkata Sura “Aku harus membuka rahasia laskar Raden Mas Said
dihadapan kumpeni. Tetapi seperti kalian, aku tentu ingin
merahasiakannya. Dan aku tetap berbuat demikian” Sura berhenti
sejenak, lalu “Tetapi dengan demikian tulang- tulangku serasa remuk.
Dari mulutku mengalir darah yang sudah menjadi kehitam-hitaman. Dan
akhirnya aku tidak dapat bertahan lagi. Hampir saja aku membuka
mulut. Tetapi untunglah bahwa seseorang telah menolongku. Meskipun
aku belum mengenalnya, tetapi aku yakin bahwa mereka adalah
orang-orang yang berpihak kepada Raden Mas Said” sejenak Sura
berdiri tegang. Lalu “Agaknya kalianpun akan berbuat seperti aku.
Dan itu adalah layak sekali. Sebelum tulang belulang kalian remuk,
dan sebelum dari mulut kalian mengalir darah yang kehitam-hitaman,
kalian tentu belum akan mengatakan sampai tuntas apa yang kalian
ketahui. Dan akupun tidak berkeberatan jika kalian menghendaki
demikian” “Tidak. Tidak“ tawanan yang paling muda itu memohon dengan
suara gemetar “Jangan sakiti aku. Aku akan mengatakan apa saja yang
aku ketahui” Sura tersenyum di dalam hati. Tetapi ia berusaha untuk
menyembunyikannya sehingga wajahnya masih tetap tampak tegang
“Jangan berbohong. Sebelum aku mulai memaksamu menjawab
pertanyaan-pertanyaan kami dengan baik, kau sudah berbohong” “Tidak,
aku tidak berbohong” Sura berpaling sejenak kearah para pemimpin
pengawal yang akan mengajukan beberapa pertanyaan pendahuluan
seolah-olah mempersilahkan mereka untuk memulainya. Ternyata bahwa
selanjutnya pemeriksaan pendahuluan itu berjalan lancar tanpa
menyentuh orang-orang itu, apalagi melakukan kekerasan. Yang
dilakukan Sura kemudian adalah sekedar duduk menonton orang-orang
itu menjawab setiap pertanyaan dengan baik.Namun dalam pada itu,
para pemimpin petugas-tugas sandi dari Surakarta yang bekerja
bersama dengan kumpeni, merasa kehilangan empat orang anggautanya.
Mereka adalah anak- anak muda yang baik menurut penilaian mereka.
Tetapi ketika empat orang itu dikir im ke daerah Jati Sari untuk
mendapatkan keterangan, siapakah yang mula-mula menyangkal desas
desus bahwa perampok-perampok itu adalah anak buah Raden Mas Said,
mereka t idak pernah kembali lagi kepada para pemimpin mereka.
“Mereka hilang di Jati Sari” berkata salah seorang dari
pemimpin-pemimpin petugas sandi itu. “Mencur igakan sekali” berkata
seorang kumpeni dengan bahasa yang patah-patah “Tentu ada
pengkhianatan” “Mungkin mereka hilang di Jati Sari. Tetapi mungkin
di perjalanan” berkata salah seorang pemimpin petugas sandi dari
Surakarta itu “Tetapi tentu ada pihak lain yang ikut tampur. Mungkin
justru orang-orang Raden Mas Said sendiri yang agaknya berada di
sembarang tempat. Mustahil j ika orang-orang Jati Sari sendiri
berani melakukan sesuatu” Agaknya pendapat itu disetujui oleh para
pemimpin yang lain. Namun sebelum mereka mengambil kesimpulan, maka
salah seorang dari mereka berkata “Cobalah mengingat sesuatu yang
barangkali dapat dijadikan pancatan untuk mengusut persoalan ini.
Kalian tentu ingat, bahwa Raden Juwiring. putera Pangeran Ranakusuma
pernah berada di Jati Aking. ternyata ia adalah seorang prajurit
yang mumpuni” Sebelum orang itu melanjutkan, yang lain menyahut “Ia
berguru dalam olah kajiwan dan kesusasteraan. Yang melatih ilmu
kanuragan adalah ayahandanya sendiri” “Mungkin demikian. Tetapi
sudah barang tentu Raden Juwiring banyak sekali mengetahui tentang
Jati Sari. Mungkin Raden Juwiring dapat menemukan orang-orang yang
kita perlukan, atau barangkali ia dapat bertanya kepada
sahabat-sahabatnya, kawan-kawannya dan bahkan gurunya, jika mereka
mengetahui kemana hilangnya petugas-tugas sandi itu. Jika sekiranya
mereka melihat pertempuran atau semacam tindak kekerasan sebelum
keempat orang itu dinyatakan hilang” Kawan-kawannya mengerutkan
keningnya. Kumpeni yang ada di antara merekapun tersenyum sambil
berkata “Ya, kenapa kita tidak minta kepada Pangeran Ranakusuma,
agar Raden Juwiring dikir im ke Jati Aking” “Kita menaruh harapan
kepadanya” “Ya. Kita akan menghubungi Pangeran Ranakusuma” Ternyata
bahwa kumpeni itu benar-benar melaksanakan rencananya. Mereka
menarik satu jalur ke atasan mereka yang benar-benar telah datang
kepada Pangeran Ranakusuma, dan minta kepadanya agar puteranya diij
inkan untuk memikul itu. “Apakah tugas itu sangat penting sehingga
puteraku yang harus melakukannya? Apakah tidak ada petugas-tugas
sandi yang cukup cakap?“ “Kami berpikir demikian Pangeran. Dan kami
telah mengirimkan empat orang petugas sandi. Tetapi keempat orang
itu tidak pernah kembali. Hal itulah yang membuat kami semakin
khawatir akan daerah Jati Sari” “Jati Sari adalah daerah yang kecil,
yang tidak mempunyai kekuatan apapun juga. Berbeda dengan Sukawati
yang benar- benar harus kalian awasi seperti sekarang ini” “Tentu
Pangeran. Tetapi sebentar lagi keputusan Susuhunan akan jatuh.
Sukawati akan ditarik kembali dari kekuasaan Pangeran Mangkubumi”
“Tetapi itu sangat menyakitkan hati” “Kita tidak peduli. Tetapi
sebenarnya keadaan Sukawati sudah menjadi semakin parah. Apalagi
tidak sepantasnyaPangeran Mangkubumi mendapat kedudukan begitu
banyak dan luas di atas daerah yang sangat subur” Pangeran
Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. “Nah Pangeran, sebelum Jati
Sari menjadi daerah yang semakin berbahaya, ijinkanlah putera
Pangeran untuk menyelidikinya. Putera Pangeran adalah seorang
prajurit muda yang baik. Meskipun baru saja Raden Juwiring mendapat
kedudukannya sekarang, tetapi ia menunjukkan banyak kelebihan dari
putera Pangeran yang meninggal itu. Raden Rudira. Pangeran
Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya “Terserahlah
kepada kalian. Perintah baginya dapat disalurkan lewat Senapati yang
memimpin pasukannya” “Tentu atas persetujuan Pangeran” “Ya, atas
persetujuanku” Dalam pada itu. Raden Juwir ing menjadi
berdebar-debar ketika la mendengar, bahwa ia mendapat perintah untuk
pergi ke Jati Sari. Dengan tergesa-gesa ia menghadap ayahanda dan
mohon pertimbangan atas perintah yang diterimanya itu. “Pergilah.
Kau adalah seorang prajur it. Kau harus melakukan tugasmu
sebaik-baiknya” Raden Juwiring menjadi tegang. Tetapi seperti kata
ayahandanya, bahwa ia adalah seorang prajurit. Dan ia tidak akan
dapat ingkar lagi untuk menjalankan perintah dari atasannya.
Demikianlah maka Raden Juwiringpun kemudian mempersiapkan dir i
dengan sepasukan kecil untuk pergi ke Jati Sari. Bukan sebagai
pasukan sandi, tetapi sebagai sekelompok prajur it berkuda yang
disertai beberapa orang prajurit pilihan.Dengan hati yang berat maka
Raden Juwiringpun melakukan tugasnya sebagai seorang prajurit
Surakarta. Sebagai seorang perwira yang masih muda dan memiliki
kelebihan dari perwira-perwira muda yang lain, maka Raden Juwiring
disegani oleh prajurit-prajur it yang berada di bawah pimpinannya.
Ketika matahari mulai memancar di pagi har i, pasukan kecil itupun
meninggalkan gerbang kota Surakarta menuju ke Jati Sari. Di
sepanjang perjalanan prajurit itu selalu dibayangi oleh ketegangan.
Setiap saat mereka dapat bertemu dengan orang-orang yang berada di
bawah pengaruh Raden Mas Said. Bahkan Pangeran Mangkubumi. Meskipun
Pangeran Mangkubumi nampaknya masih tetap diam, tetapi kediaman
telaga yang sangat dalam adalah justru sangat menger ikan. Tetapi.
prajurit-prajurit Surakarta itu sudah dilengkapi dengan sejenis
senjata yang didapatnya dari kumpeni. Senjata yang memang lebih baik
dari sekedar senjata tombak. Senjata api itu dapat dipergunakan
untuk menyerang dari jarak yang jauh meskipun hanya untuk sekali dan
harus dipersiapkan lagi sebelum dipergunakan ber ikutnya. Namun
mereka mempunyai perhitungan bahwa laskar Raden Mas Said jarang
sekali bergerak di siang har i. Mereka hanya berbuat sesuatu di
malam hari. Sedangkan di saat terakhir, sejak Raden Mas Said mulai
bergerak lagi, kegiatannya masih belum nampak seperti saat-saat
sebelum gerakannya dihentikan untuk sementara. Tetapi tugas yang
dibebankan kepada Raden Juwiring kali ini adalah tugas yang sangat
mendebarkan jantung. Ia harus pergi ke Jati Sari untuk mencari
keterangan tentang hilangnya keempat orang petugas sandi dari
Surakarta yang dikir im ke Jati Sari sebelumnya. Sedangkan Jati Sari
bagi Raden Juwiring adalah tempat untuk menempa dir i sebelum ia
berguru pula kepada ayahandanya sendiri.“Aku harus dapat
menyesuaikan dir i dengan keadaan yang sulit ini” berkata Raden
Juwiring di dalam hatinya. Demikianlah maka pasukan itupun kemudian
berderap menyusur bulak persawahan. Beberapa orang petani yang
melihat pasukan itu lewat menjadi berdebar-debar. Mereka tahu bahwa
prajurit yang lewat itu adalah prajurit dari pasukan berkuda yang
terkenal. Bagi Surakarta mereka adalah prajurit-prajurit pilihan.
Hanya untuk tugas-tugas yang penting sajalah mereka pergi keluar
kota. Tetapi bagi tugas yang. di jalankannya sekarang, meskipun
tidak terlampau penting, namun mereka harus memperhitungkan, sengaja
atau tidak sengaja, mereka akan dapat berpapasan dengan pasukan
Raden Mas Said yang besar dan kuat. Itulah sebabnya, maka Raden
Juwiring kali ini membawa sepasukan prajurit dari pasukan berkuda di
Surakarta Tidak banyak persoalan yang terjadi di sepanjang jalan.
Merekapun tidak bertemu dengan pasukan Raden Mas Said. Yang mereka
temui adalah tatapan mata para petani yang kecemasan melihat
pasukannya. Setiap kali ada sepasukan prajurit yang lewat, maka para
petani itupun menjadi cemas. Siapakah yang akan hilangdari rumah
mereka. Dan justru biasanya adalah orang-orang yang berpengaruh.
“Mereka menuju ke Jati Sari” desis salah seorang yang melihat
pasukan itu lewat. “He, bukankah yang paling depan itu Raden
Juwiring. ” “Siapakah Raden Juwiring itu?“ “Ah, masakan kau tidak
mengetahuinya. Aku pernah beberapa, kali pergi ke Jati Sari. Setiap
orang Jati Sari mempercakapkannya sebagai seorang bangsawan yang
baik dan rendah hati. Ia tinggal pada Kiai Danatirta di padepokan
Jati Aking”“O“ lawannya berbicara itu mengangguk-angguk “Aku
mengerti. Aku pernah melihatnya” “Bukankah anak muda yang berkuda di
paling depan itu?“ “Ya. Aku mengenalnya sekarang” “Tetapi kenapa ia
berpakaian seorang prajur it dari Surakarta?“ “Apa salahnya?
Bukankah ia seorang bangsawan Surakarta” “O“ yang seorang berhenti
sejenak sambil memandangi pasukan yang lewat itu. Ia sendiri tidak
mengerti, kenapa terasa sesuatu yang aneh bahwa Raden Juwiring yang
sudah cukup lama berada di Jati Aking itu tiba-tiba saja berpakaian
seorang prajurit Surakarta. Kedatangan prajurit berkuda di padukuhan
Jati Sari memang menimbulkan pertanyaan yang bermacam-macam di hati
para petani yang menyaksikannya. Apalagi yang memimpin pasukan itu
adalah Raden Juwiring, seorang bangsawan muda yang mereka kenal
sebagai seorang bangsawan yang baik dan rendah hati. Tidak
seorangpun dari orang-orang Jati Sari yang mengetahui, apakah yang
pernah terjadi dikelamnya malam atas empat orang petugas sandi.
Mereka tidak mengetahui bahwa Arum, anak gadis Kiai Danatirta itu
telah membunuh seorang yang sedang berusaha mengamati padukuhan
mereka. Karena itu, maka kedatangan pasukan itu menimbulkan berbagai
macampertanyaan. Juwiring yang dengan berat hati membawa pasukannya
memasuki daerah Jati Sari itupun berusaha untuk tidak terpengaruh
oleh tatapan mata orang di sebelah menyebelah jalan. Namun demikian
kadang-kadang terasa bahwa tatapan mata orang-orang Jati Sari itu
terlampau tajam menusuk langsung ke jantungnya.“Tugas yang harus aku
pikul memang terlampau berat” katanya di dalam hati. Tetapi Raden
Juwiring tidak ingin mundur. Apapun yang dilakukannya, adalah
keyakinannya. Untuk memulai dengan penyelidikannya Raden Juwiring
telah memutuskan menempuh jalan yang paling baik dilakukan. Ia akan
pergi ke Jati Aking dan menemui Kiai Danatirta. Tetapi Raden
Juwiring tidak ingin membawa seluruh pasukannya ke padepokan itu.
Karena itulah maka sebelum ia menemui Kiai Danatirta, maka iapun
lebih dahulu pergi kepada seseorang yang dikenalnya mempunyai rumah
yang besar dan halaman yang luas. “Tinggallah kalian di sini
sejenak. Aku mempunyai seorang yang aku kenal baik-baik. Mungkin ia
dapat membuka jalan penyelidikan yang akan kita lakukan ini” Setelah
menyerahkan pimpinan pasukannya kepada seorang perwira yang
dipercayanya, dan berpesan agar dilakukan penjagaan yang baik dan
penuh kewaspadaan, maka Raden Juwir ingpun minta diri kepada
pasukannya. “Apakah Raden memerlukan beberapa orang pengawal?”
“Tidak. Aku akan pergi sendiri. Aku mengenal padukuhan ini dengan
baik, seperti aku mengenal kota Surakarta” Demikianlah maka Raden
Juwiringpun melarikan kudanya ke padepokan Jati Aking untuk
menghadap Kiai Danatirta yang sudah lama sekali tidak pernah
dikunjunginya. Dalam pada itu Kiai Danatirta telah mendengar
kehadiran pasukan yang dipimpin oleh Raden Juwiring justru ketika ia
berada di sawah. Karena itulah, maka Kiai Danatirta dengan sengaja
menghindarinya dan tidak segera pulang ke padepokannya. Bahkan Kiai
Danatirta itu langsung pergi ke sungai seakan-akan dengan sengaja
menyembunyikan dir i.Yang ada di padepokannya adalah Arum dan para
pembantunya. Kedatangan Raden Juwiring benar-benar sangat
mengejutkannya. Apalagi ketika Arum melihat bahwa Raden Juwiring
berpakaian seorang prajurit Surakarta. Arum yang semula ber lari-lar
ian untuk menyongsongnya, setelah ia berdiri di pendapa, justru
langkahnya tertegun. Untuk beberapa saat ia berdiri termangu-mangu
memandang Raden Juwiring dalam pakaiannya. Meskipun anak muda itu
nampak menjadi semakin gagah dan tampan, namun ada sesuatu yang
rasa-rasanya hilang dari kepribadian Raden Juwiring itu. Sejenak
kemudian barulah Arum dapat menguasai perasaannya. Perlahan-lahan ia
melangkah melintasi pendapa dan menuruni tangga yang rendah. “Arum“
sapa Raden Juwiring sambil tersenyum “Apakah kau tidak dapat
mengenali aku lagi?“ “Selamat datang Raden. Aku segera dapat
mengenal Raden meskipun Raden berpakaian seorang prajurit. Tetapi
ada sesuatu yang rasa-rasanya tidak aku kenal pada Raden” jawab
Arum. “Kenapa kau berubah Arum. Panggil aku seperti kebiasaanmu
memanggil aku selagi aku masih berada di padepokan ini” Arum
menggelengkan kepalanya, Katanya “Sebelum aku menemukan yang hilang
pada Raden, aku tidak akan dapat bersikap seperti itu” Raden
Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya Arum
dengan ragu-ragu. Rasa-rasanya Arum telah berubah menjadi orang yang
asing baginya, seperti Arum menganggapnya sudah berubah pula. Tetapi
Raden Juwiringpun segera berhasil menguasai perasaannya. Sambil
tersenyum ia berkata “Baiklah Arum.Mungkin karena kita sudah
terlampau lama tidak bertemu, sehingga pertemuan ini menjadi
canggung karenanya. Tetapi baiklah, kita akan segera dapat mengatasi
perasaan kita masing-masing” “Mungkin Raden. Tetapi kecanggungan itu
dapat juga disebabkan oleh pakaian Raden yang asing, yang rasainya
telah membuat batas di antara kita” Raden Juwiring tertawa. Tetapi
betapa pahitnya. “Marilah Raden. Silahkan duduk” Dengan agak
ragu-ragu Juwiringpun kemudian naik ke pendapa. Pendapa yang di masa
lalu menjadi bagian dari hidupnya, atau jika ia pulang dari sawah
setelah mencuci kaki dan tangannya di sore hari bersama Buntal dan
Kiai Danatirta. Setiap hari ia duduk-duduk di pendapa itu j ika
malam mulai gelap, jelang saat-saat latihannya. Kadang-kadang ia
menemui tamunya, kawan-kawannya dan kadang-kadang ia ikut di dalam
pembicaraan-pembicaraan penting di pendapa. Kini ia benar-benar
merasa orang asing yang dipersilahkan duduk di pendapa itu. “Raden”
berkata Arum kemudian “Sudah cukup lama Raden tidak pernah
mengunjungi padepokan ini. Kini tiba-tiba saja Raden datang dengan
pakaian yang lengkap. Apakah ada keperluan yang penting yang harus
Raden selesaikan di padepokan ini?“ Raden Juwiring termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian iapun tidak dapat ingkar lagi akan tugasnya.
Jika ia tidak menyebut-nyebut para prajurit yang dibawanya, Arumpun
pasti akan mendengarnya juga. Karena itu, maka katanya kemudian
“Arum. Aku datang untuk melakukan tugasku sebagai seorang prajur it.
Aku tidak datang sendiri ke padepokan ini. Aku membawa sepasukan
prajurit yang sekarang menunggu aku di ujung jalan ini”“O“ Arum
mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu “Apakah Raden akan mencari
kakang Buntal dan menangkapnya“ “Ah, kau berprasangka Arum.
Sebenarnya aku sama sekali tidak berubah. Aku masih menganggap kau
dan Buntal sebagai saudaraku” Arum memandang Juwiring dengan tatapan
mata yang aneh. Dan tiba-tiba saja terbersit jawabannya di sudut
bibirnya “Terima kasih” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun ia
berusaha untuk menyembunyikan perasaan yang bergejolak di dalam
hatinya. “Arum” berkata Buntal “kedatanganku adalah sekedar
menjalankan tugas yang dibebankan kepadaku sebagai seorang prajurit.
Aku kira aku sudah benar, bahwa aku datang ke padepokan ini sebelum
aku mulai dengan tindakan- tindakan yang lain di padukuhan Jati
Sari” Arum mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menyahut.
“Dimanakah Kiai Danatirta Arum?“ bertanya Raden Juwiring. “Ayah
berada di sawah. Apakah Raden memerlukannya? Apakah yang tuan cari
bukan kakang Buntal tetapi ayah” “Tidak. Tidak. Jangan berprasangka
lebih dahulu. Aku hanya ingin mendapat beberapa keterangan
daripadanya” “Ayah tidak ada Raden. Benar-benar tidak ada di
padepokan. Jika Raden tidak percaya, silahkan Raden mencarinya”
Juwiring termenung sejenak, lalu “Baiklah. Jika Kiai Danatirta tidak
ada, aku dapat menunggunya atau mencarinya di sawah. Tetapi
sementara ini, biarlah aku bertanya saja lebih dahulu kepadamu Arum.
Bagiku kau adalah orang yangterpilih di padukuhan ini. Tidak ada
gadis yang lain yang memiliki kelebihan seperti kau. Karena itu, aku
datang kepadamu” “Apakah yang ingin Raden tanyakan?“ ”Arum.
Barangkali kau dapat membantuku. Aku mendapat tugas untuk mencari
empat orang prajurit yang hilang di daerah ini di dalam tugas
sandinya. Mereka mendapat tugas untuk mencar i keterangan, kenapa
rakyat Jati Sari mempunyai sikap yang agak lain dari padepokan di
sekitarnya” “Bagaimanakah bentuk kelainan itu Raden? Apakah Jati
Sari tidak sanggup menghasilkan padi seperti yang dihasilkan oleh
padukuhan yang lain, atau di Jati Sari terlalu sering terjadi
kerusuhan dan pencurian yang menurut ceritera orang, mereka yang
melakukan kejahatan itu adalah anak buah Raden Mas Said?“ “Ah, jika
bukan kau yang bertanya demikian aku percaya bahwa orang itu
benar-benar tidak mengerti. Tetapi seharusnya kau tidak bertanya
demikian. Tentu aku tidak akan menanyakan tentang hasil padi. Tetapi
karena kau menyinggung tentang anak buah Raden Mas Said, maka ada
sedikit sentuhan dari tugasku” Juwiring berhenti sejenak, lalu
“orang-orang yang hilang itu memang sedang mencari keterangan
tentang perampok- perampok anak buah Raden Mas Said. Tetapi agaknya
rakyat Jati Sari tidak mempercayainya. Nah, barangkali kau dapat
mengatakan siapakah biang keladi dari penolakan itu?“ “Jika bukan
Raden yang bertanya demikian, aku percaya bahwa yang diucapkan itu
benar-benar suatu pertanyaan, bukan suatu tuduhan terhadap diri kami
di padepokan ini” “Ah“ Raden Juwir ing menarik nafas
dalam-dalam.“Raden. Apakah Raden menuduh kami? Dan apakah
hubungannya dengan yang Raden katakan orang-orang yang hilang”
“Pertanyaanku sebenarnya sudah jelas Arum. Tetapi aku benar-benar
tidak menuduhkan apapun juga. Orang yang mencari keterangan itu
telah hilang di daerah Jati Sari. Mereka bertugas kemar i, tetapi
mereka tidak pernah kembali” “Apakah itu sudah merupakan bukti bahwa
mereka hilang di Jati Sar i? Apakah tidak ada kemungkinan lain,
bahwa orang- orang itu secara kebetulan bertemu dengan Raden Mas
Said di perjalanan kemari?“ “Tentu Arum, tentu. Orang-orang itu
mungkin sekali bertemu dengan pasukan Raden Mas Said yang kemudian
menangkap atau bahkan membunuhnya” “Nah, sebaiknya Raden mencar i
keterangan tentang hal itu lebih dahulu” “Arum” berkata Raden
Juwiring “Sebenarnyalah bahwa kedatanganku ini benar-benar mengharap
bantuan darimu. Tetapi yang aku jumpai adalah keadaan yang berbeda
sekali dengan harapanku. Kau tidak lagi bersikap seperti seorang
adik. Tetapi kau nampaknya dibayangi oleh prasangka dan kecurigaan”
“Tepat” jawab Arum “pakaian Raden membuat aku berprasangka dan
curiga” “Cobalah kau tidak menghiraukan pakaianku Arum. Tetapi aku
benar-benar mengharap kau membantuku. Mungkin kau melihat beberapa
orang yang asing di daerah ini. Dan mungkin kau tahu kemana mereka
pergi” “Jalan yang membelah padukuhan Jati Sari adalah jalan yang
menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain, antara
kademangan yang satu dengan kademangan yang lain. Karena itu, setiap
hari berpuluh-puluhorang yang tidak aku kenal lewat di jalan itu.
Dari pagi sampai matahari hampir terbenam” Raden Juwiring
mengangguk-anggukkan kepalanya. ia sadar, bahwa Arum tidak akan
dapat dilunakkannya karena ia menganggapnya tidak dapat lagi
dipercaya. Karena itu, maka sambil menarik nafas dalam-dalam ia
berkata “Baiklah Arum. Jika kau tidak dapat mengatakan apapun juga
tentang orang- orang yang hilang itu, baiklah. Aku akan mencari
keterangan kepada orang lain” “Silahkan Raden. Barangkali ada orang
lain yang bersedia member ikan keterangan kepada Raden” “Ternyata
aku keliru datang kepadamu kali ini Arum” ”Benar. Raden keliru
datang ke padepokan kecil ini. Raden adalah seorang bangsawan
tinggi, karena Raden adalah putera seorang Pangeran” “Cukup Arum”
potong Raden Juwiring. Terasa dadanya bergetar betapapun ia masih
tetap berusaha untuk menahan perasaannya. ”Jika sudah cukup,
silahkan“ Dada Raden Juwiring benar-benar terguncang. Tetapi iapun
menyadari bahwa Arum adalah anak Kiai Danatirta. Meskipun ia seorang
gadis tetapi ia memiliki kelebihan dar i gadis-gadis lain. Selama ia
tidak datang lagi ke padepokan ini, maka Arum pasti sudah mendapat
tempaan yang terakhir sehingga ilmu Jati Aking pasti sudah tuntas
disadapnya. “Baiklah Arum. Aku minta diri. Sampaikan salamku kepada
Buntal j ika kau bertemu” “Kakang Buntal sudah bergabung dengan
Pangeran Mangkubumi di Sukawati” “Aku sudah mendengar” jawab Raden
Juwiring “kemudian baktiku kepada ayah Kiai
Danatirta”-
Jilid 15 ARUM memandang Raden
Juwiring sejenak Namun kecemasannya tumbuh lagi. Apalagi bahwa Raden
Juwiring sudah mengetahui bahwa Buntal berada di Sukawati. Karena
itu sekali lagi ia berkata “Raden. Jika Raden mengetahui bahwa
kakang Buntal berada di Sukawati, apakah kedatangan Raden kali ini
ada hubungannya dengan hal itu?“ “Kenapa kau sangat berprasangka
Arum? Bukankah sudah aku katakan, aku hanya akan mencari keterangan
tentang orang-orangku yang hilang. Tidak lebih” Arum tidak menjawab.
Meskipun ia tidak dapat mempercayainya begitu saja keterangan
Juwiring. Tetapi Arum t idak bertanya apapun lagi. Diantarnya
Juwiring sampai ke halaman. Kemudian dilepaskannya anak muda itu
dengan hati yang berdebar-debar. Sepeninggal Juwir ing, Arum duduk
merenung di ruang dalam. Ia tidak mengerti, kenapa hal itu dapat
terjadi. Ia mengenal Juwir ing jauh berbeda dengan Juwiring yang
baru saja datang.“Agaknya keempat orang itu juga anak-anak
bangsawan. Menilik ujudnya dan sikapnya, meskipun bangsawan yang
telah agak jauh dar i pokok keturunan Kangjeng Susuhunan” tertata
Arum di dalam hatinya, lalu “dan sekarang Raden Juwiring mencarinya.
Bagaimana mungkin ia dapat berada di antara prajurit Surakarta”
Dalam pada itu. Raden Juwiringpun meninggalkan halaman padepokan
Jati Aking. Ia tidak bergegas kembali kepada pasukannya.
Perlahan-lahan kudanya berjalan di atas jalan berbatu-batu. Jalan
yang pernah dilaluinya beberapa kali sehari, ketika ia masih berada
di Jati Aking. Tetapi jalan itu kini rasa-rasanya memang asing
baginya. Namun Juwiring masih tetap menganggukkan kepalanya sambil
tersenyum jika dijumpainya orang-orang Jati Sari yang sudah
dikenalnya. Ia sama sekali tidak merubah sikapnya seperti ketika ia
masih berada di padepokan. Beberapa orang petani yang menjumpainya,
menganggukkan kepalanya pula. Tetapi rasa-rasanya memang ada batas
yang menyekat hubungannya dengan orang-orang yang sudah pernah
dikenalnya dengan baik itu. Jika mula- mula para petani itu tertawa
dengan wajah yang cerah, namun ketika mereka menyadari bahwa
Juwiring memakai pakaian seorang prajurit Surakarta, maka sikap
merekapun jadi berbeda. Mereka kemudian membungkuk hormat seperti
mereka menghormati para bangsawan yang lain. Juwiring hanya dapat
menarik nafas dalam-dalam. la tidak dapat menyalahkan mereka. Rakyat
Jati Sari tentu menganggap bahwa ia kini adalah seorang bangsawan
sepenuhnya yang memimpin sepasukan prajur it ke Jati Sari dan
padepokan Jati Aking. Ketika ia sampai kepasukannya yang menunggu,
terasa betapa suasana yang lain telah membayangi Jati Sari. Meskipun
ia tidak melihat apa yang terjadi di balik-balik dinding rumah,
namun firasatnya menangkap, bahwabeberapa orang telah mengintip
dengan dada yang berdebar- debar. Orang yang memiliki halaman yang
luas itupun agaknya menjadi ketakutan dan serba salah. Sepeninggal
prajurit yang beristirahat di halamannya, ia harus bertanggung jawab
terhadap tetangga-tetangganya, bahwa ia tidak ada hubungan apapun
dengan mereka. Bahkan orang itu hanya sekedar memberikan tempatnya
karena ia tidak dapat menolak. Ketika Juwiring kemudian berada di
pasukannya, maka perwira yang diserahinya memimpin pasukannya untuk
beberapa saat itupun segera bertanya “Apakah Raden sudah mempunyai
jalan untuk mencari jawaban atas hilangnya empat orang prajur it
sandi itu?“ Raden Juwiring menggelengkan kepalanya. Namun kemudian
dengan ragu-ragu ia berkata “Ternyata orang-orang di padepokan Jati
Aking tidak mengetahui apapun juga tetang orang-orang itu” “Jadi,
apakah yang harus kita kerjakan” “Kita beristirahat sejenak.
Kemudian kita akan mencari keterangan kepada orang-orang lain” “Kita
akan menyebar prajurit-prajurit ini agar setiap orang dapat ditanya
tentang orang-orang yang hilang itu” Raden Juwiring mengerutkan
keningnya. Lalu jawabnya “Tidak. Kita akan pergi sendir i. Tanpa
mereka” “Jadi?“ “Biar lah mereka di sini. Jika mereka berpencar dan
memasuki rumah demi rumah, akibatnya akan sangat jauh bagi Jati
Sari. Orang-orang Jati Sari dan padepokan Jati Aking akan ketakutan.
Mereka tidak akan mempunyai ketenangan lagi, bukan saja hari ini.
Tetapi untuk waktu yang panjang” “Tetapi kita hanya ingin
mendapatkan keterangan”“Kita tentu mengetahui, bahwa
prajurit-prajurit Surakarta akan dapat menirukan sikap kumpeni.
Mereka sering melihat bagaimana kumpeni memaksa orang-orang yang
diper iksanya untuk menjawab. Dan aku cemas, bahwa sebagian dari
kita sudah kejangkitan penyakit serupa” Perwira itu memandang Raden
Juwiring dengan heran. Namun sebelum ia berbicara, Raden Juwiring
sudah mendahului “Lakukan perintahku. Akulah yang memimpin pasukan
berkuda ini” “Tetapi apakah gunanya mereka pergi bersama kita
Raden?“ “O, banyak sekali. Jika kita bertemu dengan pasukan Kamas
Said, atau jika kita bertemu dengan perampok- perampok yang gila
itu, kita harus bertempur” Perwira itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Nah, biarlah mereka beristirahat. Kita akan
berjalan-jalan berdua saja” Perwira itu menganggukkan kepalanya.
Lalu diperintahkannya seluruh pasukan beristirahat, meskipun mereka
masih harus tetap waspada. “Tugas kita beristirahat di sini” berkata
seorang prajurit muda “Agaknya tidak ada pekerjaan apapun yang dapat
kita lakukan selain duduk terkantuk-kantuk” Kawannya mengerutkan
keningnya. Katanya “Bukankah kebetulan sekali bahwa kita tidak usah
berbuat apa-apa? Bukan salah kita. Pimpinan kita kali ini adalah
seorang yang sangat rajin sehingga apapun dilakukannya sendir i”
“Bukan karena ia terlalu rajin, tetapi ia sama sekali t idak percaya
bahwa orang-orang semacam kau ini dapat melakukan tugasmu dengan
baik. Bukankah kau dengar bahwa empat orang petugas sandi itu telah
hilang? Dan kau bukannya orang yang lebih baik dari mereka”Yang lain
lagi tertawa pendek sambil berkata “Bukankah Raden Juwiring pernah
tinggal di padukuhan ini? Mungkin ia ingin mengunjungi gadis
simpanannya” Prajurit-prajurit itu tertawa sehingga beberapa orang
yang duduk ditempat lain berpaling kepadanya. Tetapi merekapun
segera terdiam ketika seorang perwira datang kepada mereka dan
bertanya “Kenapa kau tertawa?“ “Tidak apa-apa. Kami sedang bergurau“
Perwira itupun kemudian pergi meninggalkan prajurit- prajurit yang
sedang bergurau. Tetapi agaknya ia mengerti, bahwa prajurit-prajurit
itu sekedar melepaskan kejemuan mereka, karena mereka justru hanya
harus duduk terkantuk- kantuk. Dalam pada itu Raden Juwiring bersama
seorang perwira bawahannya tengah berjalan-jalan di sepanjang lorong
di pinggir padukuhan Jati Sari. Juwiring masih saja mengangguk-
anggukkan kepalanya apabila ia bertemu dengan orang-orang yang
pernah dikenalnya Tetapi ia selalu mendapat tanggapan yang serupa.
Senyumyang rasa-rasanya beku tanpa gairah. Tetapi Juwiringpun
menyadari, bahwa ia telah menempuh jalan yang tidak diduga sama
sekali oleh orang-orang Jati Aking. “Jika mereka melihat Rudira
dalam pakaian ini mereka tentu tidak akan terlampau heran” berkata
Juwiring di dalam hatinya. Namun tiba-tiba Juwiring terhenti ketika
dilihatnya dua orang gadis yang berjalan menepi hampir melekat
dinding. Mereka menjadi berdebar-debar karena justru Raden Juwiring
berhenti dan memandanginya dengan tajamnya. Beberapa kali ia bertemu
dengan gadis-gadis sebaya dengan Arum, dan beberapa kali ia
menganggukkan kepalanya. Tetapi kedua gadis itu kini sangat menarik
perhatiannya.“Berhentilah sejenak“ minta Raden Juwiring kepada kedua
gadis itu. Kedua gadis itu menjadi tersipu-sipu dan bahkan mereka
saling berdesakan. “He, apakah kalian lupa kepadaku?“ Termangu-mangu
kedua gadis itu memandang sekilas dengan sudut matanya. Namun
kemudian merekapun menundukkan kepala dalam-dalam. “Bukankah kalian
mengenal aku” sekali lagi Juwir ing mendesak. Keduanya masih belum
menjawab, sehingga Juwiring terpaksa melangkah semakin dekat dan
berkata datar “Lihatlah. Aku adalah Juwiring, yang pernah tinggal di
padepokan Jati Aking bersama Arumdan Buntal” Kedua gadis itu
tiba-tiba saja tertawa tertahan-tahan. “Tentu kau tidak lupa
kepadaku” desak Juwir ing. “Tidak, tidak” terbata-bata terdengar
salah seorang menjawab sambil mengerutkan lehernya. “Nah, jika
demikian, kenapa kalian bersikap lain. Mungkin kalian melihat
pakaianku. Memang kali ini aku memakai pakaian perwira dari pasukan
berkuda Surakarta. Tetapi apakah bedanya dengan aku yang tinggal di
padepokan itu?“ Keduanya tidak menjawab. Bahkan mereka menjadi
semakin berdesak-desakan. “Jangan malu. Aku tidak apa-apa. Aku hanya
tertarik kepada perhiasanmu itu, kepada kalungmu” Keduanya
mengangkat wajahnya bersama-sama. Namun berbareng pula keduanya
menutupi kalung merjan yang mereka “Darimana kalian mendapatkan
kalung yang bagus itu?“Keduanya belum menjawab. “Kalung itu tentu
tidak banyak yang memilikinya” “Arum juga mempunyainya. Bahkan dua.
Tetapi yang seuntai sudah diberakan seorang kawannya” jawab salah
seorang dari mereka. “O“ Juwir ing mengerutkan keningnya. Katanya
kemudian “Aku sudah menemui Arum. Tetapi Arum tidak memakai kalung
sebagus itu” “Tentu tidak sedang dipakainya” desis yang seorang
lagi. Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalung yang
dipakai oleh gadis-gadis itulah yang sebenarnya menarik
perhatiannya. Ia tahu benar bahwa gadis-gadis padukuhan kecil itu
tidak akan memerlukan membeli kalung merjan, karena penghasilan
mereka tidak banyak berlebih bagi hidup mereka sehar i-hari. Karena
itu, maka iapun segera teringat, bahwa kumpeni mempunyai banyak
sekali benda-benda yang menar ik semacam itu. Dari yang bernilai
sangat tinggi, sampai kepada kalung-kalung merjan. Namun gunanya
tidak jauh berbeda. Yang bernilai tinggi dipergunakannya untuk
memikat hati orang-orang besar, sedang bernilai rendah
dipergunakannya untuk memikat hati gadis-gadis padesan seperti
kalung-kalung merjan itu. “Apakah ada hubungannya dengan kehadiran
keempat petugas sandi yang hilang itu“ Ia bertanya kepada diri
sendir i. Namun dalam pada itu, maka ia semakin tertarik kepada
kalung-kalung merjan itu dan berusaha untuk mengetahui, dari manakah
mereka mendapatkannya. Tetapi gadis-gadis itu rasa-rasanya masih
saja tetap segan menjawab pertanyaan-pertanyaannya, karena ia
berpakaian seorang perwira. Namun Juwiring tidak ingin melepaskan
kesempatan itu.Karena itu, maka segala usaha dipergunakannya. Bahkan
terpaksa sekali justru Juwiring menakut-nakuti mereka. Katanya “Kau
harus menjawab pertanyaanku. Darimana kau mendapatkan kalung itu. ”
Kedua gadis yang saling berdesakkan dan tertawa tertahan-tahan itu
terkejut mendengar nada pertanyaan Juwiring yang agak lain. Dengan
wajah yang tegang mereka kini memandang Juwir ing dengan kaki
gemetar. Juwiring menyesal melihat ketakutan yang membayang di wajah
gadis-gadis itu. Namun ia ingin mendapat keterangan itu. Karena itu
ia masih juga mengulangi “Kau hanya wajib menjawab pertanyaanku ini.
Tidak apa-apa. Darimana kau dapatkan kalung merjan itu, supaya
prajurit-prajurit Surakarta yang berada di Jati Sari sekarang ini
tidak salah sangka.” “Kenapa dengan kalung-kalung merjan ini“ salah
seorang dari gadis-gadis itu bertanya ketakutan. “Tidak apa-apa. Aku
hanya ingin tahu dengan pasti dan benar, dari mana kau
mendapatkannya. Tentu bukan kau terima dar i tangan yang salah”
“Maksud Raden?” anak-anak itu semakin ketakutan. “Maksudku, bukan
dari orang-orang yang sering mengganggu keamanan di kota. Kumpeni
sering kehilangan Barang-barang yang berharga seperti kalung-kalung
merjan itu selagi Barang-barang yang berharga seperti kalung-kalung
merjan itu selagi Barang-barang itu dikirimkan dengan kereta- kereta
kiriman untuk sahabat-sahabat mereka di kota?” “O, tentu tidak
Raden. Aku menerima pember ian dari orang yang aku rasa bukan
orang-orang jahat” jawab salah seorang dari mereka. “Siapakah
mereka?“ Kedua gadis itu menjadi gemetar. Apalagi ketika tampak
olehnya tatapan mata perwira kawan Juwir ing yang berdirimematung
saja. “Kami tidak mengenal mereka Raden” jawab salah searang gadis
yang ketakutan itu. “Aneh” “Benar Raden” “Coba katakan, siapa
mereka” Meskipun dengan ragu-ragu, namun kedua gadis itupun
berceritera berganti-ganti tentang anak-anak muda yang member ikan
kalung itu kepada mereka. Merekapun mencer iterakan apa yang ingin
mereka ketahui dari orang- orang Jati Sari. Tetapi mereka tidak
sempat mencer iterakan kelanjutannya, bahwa Arum mengatakan tentang
orang gemuk berkuda coklat, karena Raden Juwaringpun segera
memotongnya “Ter ima kasih. Hanya itulah yang aku ingin mengetahui.
Jika demikian, kalian mendapat kalung itu dengan baik. “Raden”
potong perwira pengikut Juwiring yang sejak semula hanya
mendengarkannya “Tetapi agaknya mereka dapat menceriterakan lebih
banyak lagi tentang anak-anak muda yang mereka katakan
membagi-bagikan kalung itu. Kenapa Arum yang disebut-sebut oleh
kedua gadis itu mendapatkan dua untai? Apakah gadis itu dapat
memberikan keterangan lebih banyak dari yang lain” Raden Juwiring
mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian tertawa “Tentu. tidak.
Mungkin orang-orang itu hanya tertarik kepada Arum yang biasanya
pendiam” “Jika demikian aneh sekali. Kenapa mereka justru tertarik
kepada pendiam itu” sahut perwira itu. “Tetapi bukankah Arum ada di
antara kalian” bertanya Juwiring kepada kedua gadis itu “dan
bukankah yang didengar oleh Arumsama bunyinya dengan yang kalian
dengar?” Hampir di luar sadarnya kedua gadis itu mengangguk.“Nah“
Juwiring menarik nafas dalam-dalam “pulanglah. Kalian sudah
memberikan jawaban yang sangat memuaskan kepada kita” Kedua gadis
itu saling memandang sejenak, lalu “Jadi, apakah kami sudah boleh
pergi?“ “Tentu. Kalian boleh saja pergi. Sejak tadipun kalian boleh
pergi jika kalian berkeberatan berhenti sejenak. Aku menghentikan
kalian karena aku merasa mengenal kalian sebagai kawan-kawan bermain
di padukuhan ini pada saat aku masih tinggal di padepokan Jati
Aking” “Ah“ gadis itu berdesah. Tetapi merekapun segera meninggalkan
Juwir ing dengan tergesa-gesa. Juwiring memandang mereka dengan
tersenyum, ketika gadis-gadis itu sudah menjadi semakin jauh ia
berkata “Kau harus mengetahui sifat dari gadis-gadis padukuhan. Kau
tentu tidak akan dapat bertanya kepada mereka dengan cara-cara yang
dapat membuat mereka takut” Perwira itu menarik nafas dalam-dalam.
“Memang kadang-kadang kita harus menakut-nakuti sedikit. Tetapi
setelah itu, kita harus mengembalikan kepercayaannya kepada kita,
bahwa kita tidak akan berbuat apa-apa” “Tetapi kami memer lukan
keterangan yang lebih banyak” sahut perwira itu “dan menilik
pembicaraan itu, Arum mengetahui lebih dar i mereka berdua” “Tentu
tidak. Tetapi jika demikian, maka kau tidak boleh membuat kesan
bahwa kita memer lukan Arum. Gadis itu akan ketakutan, dan
barangkali akan melarikan dir i atau bahkan membunuh diri“Perwira
itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau mengerti maksudku?“ “Ya,
aku mengerti” ”Itulah sebabnya aku tidak mempergunakan prajurit-
prajurit yang dungu itu untuk kepentingan serupa ini. Mereka
hanyalah sekedar pengawal apabila kita bertemu dengan pasukan Raden
Mas Said yang kuat” Perwira itu masih mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Jika aku memerintahkan mereka berpencar dan mencari
keterangan tentang petugas-tugas sandi yang hilang, maka mereka
tidak akan mendapatkan keterangan yang benar. Orang-orang Jati Sari
akan menjawab apa saja yang diminta oleh prajurit-prajurit, prajurit
sandi itu sekedar untuk menghindarkan dir i dar i ketakutan” “Maksud
Raden?“ “Mereka tidak menjawab berdasarkan atas pengertian mereka
tentang persoalannya. Tetapi mereka mengiakan apa saja yang diminta.
Bukankah keterangan yang demikian justru akan menyesatkan” Perwira
itu mengerutkan keningnya. Memang ada juga benarnya bahwa mereka itu
sudah menuntut jawaban seperti yang dikehendakinya sebelum
mengucapkan pertanyaan. Karena itu maka perwira itupun sekali lagi
mengangguk- anggukkan kepalanya. “Nah, sekarang kau tahu, kenapa aku
tidak memerintahkan mereka memencar. Dan kenapa aku harus menangani
masalah ini sendiri. Kaupun harus dapat mengerti meskipun tidak
perlu kau katakan kepada mereka, bahwa tugas mereka tidak lebih dari
kekuatan tempur untuk melindungi kita berdua” “Baiklah” berkata
perwira itu.“Akupun mengerti bahwa mereka akan merasa jemu untuk
duduk saja sambil menguap. Tetapi apaboleh buat. Aku kira itu adalah
yang paling baik yang dapat kita lakukan. Bahkan juga apabila kita
harus bermalam” “Aku akan mencoba untuk mengatasi kejemuan itu”
berkata perwira itu. “Apa yang akan kau lakukan?“ “Membawa mereka
sekali dua kali mengitari daerah ini tanpa berhenti dan bertanya
kepada siapapun” “Maksudmu?“ “Seolah-olah kita mendapat keterangan
tentang gerakan Raden Mas Said” “Terserah kepadamu” Demikianlah maka
keduanyapun kemudian kembali ke pasukan mereka, yang seperti
dikatakan oleh Raden Juwir ing, mereka memang menunjukkan sikap yang
aneh-aneh untuk menyatakan kejemuan mereka” Tetapi merekapun segera
terkejut ketika perwira yang menyertai Raden Juwiring itu memanggil
beberapa perwira muda berkumpul di depan regol. Perwira itu
mengucapkan perintah beberapa kalimat. seakan-akan ia telah melihat
bekas-bekas kaki kuda yang menyilang jalan padesan itu. “Kita akan
mencoba melingkar padukuhan ini. Siapa tahu, ada petugas sandi Raden
Mas Said yang melihat kehadiran kita di sini” Ternyata perwira itu
berhasil membangunkan minat prajurit-prajuritnya. Merekapun dengan
cepat berkemas. Dan sejenak kemudian mereka telah berada di punggung
kuda. Hanya beberapa orang sajalah yang tinggal di halaman itu untuk
mengawasi keadaan di padukuhan itu.Kuda-kuda para prajur it itupun
kemudian berderap dijalur jalan pinggir padukuhan melingkar dan
kemudian sampai ke bulak panjang di sebelah. Tetapi ternyata mereka
tidak melihat sesuatu. “Apakah benar pasukan Raden Mas Said itu
lewat?“ bertanya salah seorang kepada kawannya. “Bukan pasukan Raden
Mas Said. Tetapi beberapa orang yang diduga anak buah Raden Mas Said
yang sengaja mengawasi kita” Yang mula-mula bertanya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak bertanya lagi. Dengan
berdebar- debar dilihatnya perwira yang mewakili Raden Juwiring
memimpin pasukan itu, berada di paling depan bersama beberapa orang
perwira yang lebih muda, seakan-akan mereka sedang meneliti jalan
yang membujur di hadapan mereka. “Mereka sedang mencari jejak” desis
seorang prajur it yang lain. Kawannya yang ada di sampingnya
mengangguk “Ya. Mereka sedang mencari jejak itu” Perwira yang ada di
paling depan itu kadang-kadang mempercepat lar i kudanya,
kadang-kadang lambat sekali. Dalam pada itu. selagi para prajur it
berkuda itu membelah tanah persawahan, maka Raden Juwir ing segera
pergi ke rumah Arum. Namun ternyata Kiai Danatirtapun masih belum
ada di padepokannya.“Kenapa Kiai Danatirta belum kembali?“ bertanya
Juwiring ”bukankah biasanya Kiai Danatirta tidak, terlampau lama di
sawah?“ “Aku tidak tahu” jawab Arum “Akupun menjadi cemas kenapa
ayah belum pulang” “Benar Kiai Danatirta belum pulang?“ “Kau tidak
percaya?“ Juwiring menarik nafas dalam- dalam. Lalu “Arum, Baiklah.
Aku tidak dapat menunggu terlalu lama. Tetapi sebenarnya aku memer
lukan keterangannya” “Ayah tidak akan memberikan keterangan apa-apa
kepada Raden dan kepada prajurit-prajurit Surakarta itu, karena
tidak ada apapun yang kami ketahui” “Arum” suara Raden Juwiring
merendah “Bagaimana dengan kalung-kalung merjan itu?“ Wajah Arum
menjadi tegang. Namun sejenak kemudian ia berusaha untuk menghapus
ketegangan itu. Katanya “Apakah yang Raden maksud dengan
kalung-kalung merjan?“ “Kau mendapat dua untai kalung merjan dari
dua orang yang tidak kau kenal. Tentu dua orang itu adalah dua di
antara empat orang yang sedang aku cari” “Kenapa Raden dapat
mengambil kesimpulan demikian?” “Mereka memang sering membagikan
kalung-kalung merjan kepada gadis-gadis padesan” “Gadis-gadis dungu
yang dapat disadap keterangannya”“Nah, kau tahu tepat seperti yang
sebenarnya” Wajah. Arum menjadi merah. “Arum, kau sebaiknya tidak
usah merahasiakan. Kau katakan apa yang kau ketahui saja. Selebihnya
aku akan mencari sendir i” “Raden” berkata Arum “sebenarnya aku
merasa bahwa tuduhan Raden pertama-tama tentu terhadap kami. Aku dan
ayah, karena terhadap Raden, aku dan ayah tidak dapat bersembunyi
bahwa sebenarnyalah kami memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Katakanlah seandainya kami membunuh keempat orang yang tuan cari.
Tetapi kami sama sekali tidak melihat mereka” “Kau masih tetap
ingkar. Kawan-kawanmu sudah mengatakan kepadaku, bahwa kau menerima
dua untai kalung” “Ya. aku tidak ingkar tentang kalung itu. Tetapi
Raden jangan memaksa aku mengetahui apa yang tidak aku ketahui
selain dua untai kalung yang aku terima dari orang yang tidak aku
kenal itu” “Dimanakah orang yang t idak kau kenal itu sekarang?”
“Aku tidak tahu” “Kenapa kau menerima dua untai. Tidak seperti
kawan- kawanmu yang lain, hanya satu?“ “Itu bukan persoalan kami,
Raden. Mungkin orang itu mempunyai niat yang lain. Aku tidak
mengatakan bahwa aku cantik dan dapat memikat hatinya. Tetapi bahwa
mereka member i aku dua, itu aku tidak mengerti” “Jadi kau tidak
dapat mengatakan apa-apa Arum” “Tidak” “Arum, sampai saat ini aku
tetap membatasi, bahwa hanya aku sendirilah yang akan mencari
keterangan. Jika orang-orang lain di dalam pasukanku mendapatkan
bukti-bukti atau keterangan-keterangan yang dapat melibatkan kau ke
dalamnya, maka akan sulitlah bagiku untuk berusaha melepaskan kau
dari persoalan itu. Karena itu, jika kau tidak berkeberatan,
katakanlah saja kepadaku sebelum orang lain ikut campur di dalam
persoalan ini. Sampai sekarang prajur it- prajurit itu masih tetap
diam karena aku masih dapat menguasai kejemuannya. Tetapi jika
mereka pada suatu saat melihat kau terlibat, aku tidak tahu, apa
yang akan mereka lakukan terhadapmu” “Raden” berkata Arum “Jika
memang demikian, apaboleh buat. Aku mempelajari olah kanuragan bukan
sekedar akan aku bawa mati sambil menyilangkan tangan di dada.
Tetapi jika terpaksa aku akan merentangkan tanganku dan mati dengan
sikap jantan, sebagai seorang anak padepokan Jati Aking” Wajah Raden
Juwiring menegang sejenak. Namun iapun kemudian menarik nafas
dalam-dalam. Adalah wajar jika Arum mengucapkan kata-kata itu,
karena ia adalah anak Kiai Danatirta, dari padepokan Jati Aking.
Karena itu, ternyata baginya bahwa ia tidak akan dapat menyadap
keterangan itu dari Arum. Arum bertekad untuk tidak mengatakan
apapun juga, meskipun ia akan dipaksa dengan kasar atau halus.
Dengan demikian maka Raden Juwiringpun kemudian berkata “Baiklah
Arum. Jika kau memang tidak dapat member ikan keterangan apapun
kepadaku” “Aku tidak tahu apa-apa tentang orang yang tidak aku kenal
itu Raden” Raden Juwiring menarik nafas. Katanya “Aku mohon diri” Di
regol halaman Raden Juwiring berpaling. Dilihatnya Arum berdiri di
halaman sambil termangu-mangu. Adalah di luar dugaannya bahwa Raden
Juwir ing itu berkata sambiltersenyum“Kau memang seorang gadis yang
tabah Arum. Kau adalah anak Jati Aking yang baik” Arum tidak tahu
maksud Raden Juwiring. Mungkin ia benar- benar memuj i. Tetapi
mungkin Raden Juwiring sekedar melepaskan kekecewaannya saja. Jika
demikian, maka Arum harus berhati-hati. Kekecewaan yang mencengkam
dapat memaksanya berbuat sesuatu di luar dugaan. Dari padepokan Jati
Aking, Raden Juwiring tidak segera kembali kepada pasukan induknya
yang diduganya masih berkeliling di sekitar padukuhan itu sekedar
untuk melepaskan kejemuan. Karena itu maka iapun segera pergi ke
rumah salah seorang gadis berkalung merjan yang dijumpainya di
pinggir padukuhan. Dengan ketakutan ayah gadis itupun ikut
menemuinya pula. Bahkan dengan membungkukkan kepalanya dalam- dalam
ayahnya itu berkata “Raden, jika kalung itu harus dilepas, biarlah
ia melepaskannya. Dan jika kalung itu memang harus dikembalikan biar
lah ia mengembalikan” “Kepada siapa kalung ijtu akan dikembalikan?“
bertanya Juwiring. Orang tua gadis itu menjadi bingung. Dan bahkan
iapun bertanya kepada anaknya “Kepada siapa kalung itu akan kau
kembalikan?“ “Aku tidak tahu” jawab gadis itu dengan gemetar.
Juwiring tersenyum. Katanya “Jangan takut. Aku tidak akan berbuat
apa-apa. Aku hanya ingin mendengar sekali lagi ceriteramu tentang
orang-orang yang member ikan kalung itu kepadamu. Aku ingin
bertanya, kenapa Arum mendapat dua untai, sedang yang lain hanya
satu?“ Gadis itu menjadi semakin cemas. Namun ia masih dapat
mengingat apa yang dikatakan Arum tentang orang gemuk berkuda
coklat.Dan hal itulah yang kemudian dikatakannya kepada Raden
Juwiring. Bahwa Arum telah memberi tahukan tentang orang berkuda
coklat itu sehingga ia mendapat hadiah kalung lebih banyak dari
kawan-kawannya. Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
ketajaman berpikirnya telah membawanya ke dalam suatu gambaran
tentang Arum dan orang-orang itu. Jika benar- benar Arum memberikan
penjelasan itu maka persoalannya tentu tidak hanya akan berhenti
sampai sekedar memberikan dua untai kalung itu. Tetapi Raden Juwir
ing tidak berhasil mendapat keterangan lebih banyak lagi dari gadis
itu, karena gadis itu memang tidak mengetahui peristiwa-perist iwa
yang menyusul kemudian. Dari rumah gadis itu, Raden Juwiring kembali
ke induk pasukannya yang ternyata telah kembali pula dari perjalanan
mereka mengelilingi daerah di sekitar padukuhan Jati Sari. “Apa yang
kalian ketemukan?“ bertanya Raden Juwiring. “Aku mengambil
kesimpulan, bahwa daerah ini memang merupakan daerah yang harus
mendapat pengawasan” berkata Perwira itu “Kami menemukan jejak
beberapa orang berkuda.” Semula Raden Juwiring mengira bahwa perwira
itu sekedar berpura-pura untuk memberikan kesibukan berpikir kepada
anak buahnya. Aar anak buahnya tidak tenggelam ke dalam sikap jemu
yang berlebih-lebihan. Namun ternyata bahwa setelah keduanya duduk
terpisah dari para prajurit yang beristirahat, perwira itu berkata
“Sebenarnya aku melihat Raden. Ternyata kedatangan kami telah
diketahui. Sepasukan kecil orang-orang berkuda lewat di bulak
sebelah” “Kau berkata sungguh-sungguh?““Ya Raden. Semula aku memang
sekedar ingin membangunkan anak-anak yang kantuk itu. Tetapi
ternyata kami benar-benar menemukannya, meskipun aku belum dapat
mengatakan dengan pasti, bahwa mereka adalah anak buah Raden Mas
Said. Mungkin juga mereka adalah beberapa orang saudagar yang pergi
bersama-sama untuk menghindarkan diri dari perampokan. Jika mereka
bergabung, maka mereka akan dapat melawan perampok-perampok di
sepanjang perjalanan mereka” Raden Juwiring mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya “Ya. Masih ada kemungkinan-kemungkinan lain.
Tetapi sebaiknya kita memang harus berhati-hati. Kemungkinan paling
besar dari jejak itu adalah pasukan Kamas Said. Ia tentu mengirimkan
orang-orangnya untuk mengawasi perjalanan kita. Jika dianggapnya
tepat, maka pada suatu saat ia-akan menyergap dan membinasakan kita“
Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih berkata
“Tetapi aku belum pernah mendengar berita tentang sergapan laskar
Raden Mas Said atas sepasukan prajurit Surakarta yang tidak
dibarengi oleh kumpeni” “Mungkin kita adalah orang-orang yang
pertama mengalami” jawab Raden Juwiring. Perwira itu hanya menarik
nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Raden Juwiring sesaat. Namun
kemudian perwira itupun melemparkan tatapan matanya kekejauhan.
Hampir di luar sadarnya, jika kemudian prajur it itu membayangkan
seorang bangsawan muda yang berpacu di atas punggung kuda yang tegar
dengan senjata telanjang di tangan. ”Memang luar biasa“ perwira itu
berkata di dalam hatinya “Raden Mas Said memiliki kemampuan di atas
kemampuan manusia kebanyakan” sejenak perwira itu memandang
RadenJewiring dengan sudut matanya “Tetapi bangsawan muda yang duduk
di sebelah inipun memiliki kemampuan orang kebanyakan seperti juga
ayahandanya” Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi heran
bahwa Raden Mas Said tidak segera dapat ditundukkan. di Surakarta
sebenarnya banyak sekali prajurit bangsawan dan bahkan pimpinan
pemerintahan yang memiliki kemampuan yang luar biasa yang barangkali
t idak kalah dar i Raden Mas Said. Tetapi kenapa Raden Mas Said
masih dapat dengan leluasa melakukan kegiatannya. Perwira itu
terkejut ketika tangan Raden Juwiring menggamitnya. Katanya
“Marilah, kita menemui beberapa orang yang pulang dar i sawah”
Setelah menyerahkan pimpinan kepada perwira yang lebih muda, maka
Raden Juwiringpun berjalan perlahan-lahan bersama perwira itu ke
sudut desa. Sejenak mereka menunggu. Sebentar lagi orang-orang Jati
Sari akan pulang dari sawahnya karena matahari telah hampir turun
menginjak punggung bukit di sebelah Barat. “Jika mereka tahu kita
berada di sini, mereka akan mengambil jalan lain” berkata Raden
Juwiring. Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Karena itu,
maka merekapun berdir i di tempat yang agak terlindung di balik
tikungan di sudut desa. Ketika orang yang pertama lewat, dan
dihentikan oleh Raden Juwiring, orang itupun terkejut sekali.
Dipandanginya Raden Juwiring dengan tatapan mata yang tajam, tetapi
penuh keheranan. “Paman tentu mengenal aku” berkata Raden Juwiring
sambil tersenyum.Orang itupun kemudian mengangguk ragu. Katanya “Ya,
ya. Aku sudah mengenal Raden. Bukankah Raden pernah berada di
padepokan Jati Aking” “Ya. Aku Juwiring. Bukankah kita sering pergi
ke sawah bersama-sama?“ “Ya, ya. Tetapi hampir saja aku tidak
mengenal Raden dalam pakaian yang lain dari pakaian kebiasaan yang
Raden pakai saat Raden ada di Jati Aking” Juwiring tersenyum.
“Apakah Raden akan kembali ke Jati Aking” bertanya orang itu asal
saja karena kebingungan. Raden Juwiring tersenyum. Jawabnya “Tidak
saat ini paman“ Petani itu mengangguk-angguk. Dan Juwiring berkata
selanjutnya “Aku hanya sekedar ingin menengok padukuhan yang sudah
lama tidak pernah aku kunjungi” “O“ petani itu merenung sejenak,
lalu “Jika demikian, silahkan singgah” “Terima kasih paman” “Kapan
Raden sempat, datanglah. Sekarang, aku minta diri“ Juwiring
tersenyum. Ada kesan yang aneh di wajah orang yang dengan
tergesa-gesa ingin meninggalkannya. Namun karena itu maka
Juwiringpun berkata “Tunggu paman. Jangan tergesa-gesa” “Tetapi,
tetapi aku sudah pergi sehari-harian Raden” “Aku memer lukan waktu
sebentar saja” Orang itu memandang Juwiring dengan herannya. Namun
kemudian ia menjadi sangat gelisah.“Paman” berkata Juwiring kemudian
“Aku hanya ingin bertanya, apakah di saat-saat terakhir ini paman
pernah mendengar atau mengetahui perist iwa yang agak lain di
padukuhan ini?“ “Maksud Raden?“ “Misalnya, perkelahian yang terjadi
di daerah ini meskipun bukan terjadi atas orang-orang padukuhan ini.
Atau peristiwa yang lain yang sebelumnya tidak pernah terjadi” Orang
itu menjadi semakin gelisah. Dengan suara yang terputus-putus ia
menjawab “Aku tidak tahu apa-apa Raden. di sini tidak pernah terjadi
sesuatu. Padukuhan Jati Sari selalu tenang-tenang saja. Hanya kali
ini sepasukan prajurit itu datang di Jati Sari bersama Raden”
Juwiring memandang orang itu sejenak, lalu “Perampok misalnya, atau
sebaliknya perampok yang tertangkap?“ “Tidak Raden. Tidak ada yang
pernah terjadi” Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
sambil tersenyum ia berkata “Baiklah paman. Silahkan jika paman
ingin segera mandi dan kemudian makan nasi hangat dengan sambal
teri” “Ah” Orang itu bingung sesaat. Namun iapun kemudian mengangguk
sambil minta dir i “Sudahlah Raden. Hari sudah hampir gelap”
Juwiring hanya tersenyum saja sambil menganggukkan kepalanya. “Sulit
untuk mendapat keterangan Raden” berkata perwira itu. “Mereka adalah
orang yang jujur dan terbuka. Jika terjadi sesuatu di daerah ini dan
mereka mengetahui, maka mereka tentu akan mengatakan sesuatu”Perwira
itu tidak menjawab lagi, karena Raden Juwiring telah menghentikan
orang berikutnya. Tetapi dari orang inipun mereka t idak mendapat
keterangan apapun juga. Menilik wajah dan sorot mata mereka,
orang-orang Jati Sari itu sama sekati tidak sengaja mengelabuinya
dengan jawaban-jawaban yang menyesatkan. Bahkan beberapa orang yang
kemudian juga dihent ikan dan mendapat pertanyaan yang serupa, maka
jawaban merekapun serupa pula. “Nah, kau dengar” berkata Juwiring
kepada perwira itu “Mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang
telah terjadi atas keempat orang petugas sandi itu. Jika terjadi
sesuatu di padukuhan ini, maka mereka tentu dapat mengatakan,
misalnya terjadi perkelahian antara empat orang melawan sepasukan
laskar Raden Mas Said. Atau jika mereka tidak dapat menyebut
demikian, maka mereka akan mengatakan, telah terjadi perkelahian
antara beberapa orang gerombolan perampok, atau perkelahian antara
orang-orang yang tidak dikenal. Tetapi ternyata mereka tidak
mengetahui apapun juga” ”Tetapi dua dari empat orang itu pernah
datang ke padukuhan ini Raden” sahut perwira itu. “Wajar sekali,
karena tugas mereka memang di padukuhan ini. Mereka harus datang dan
berusaha mendapat keterangan, kenapa orang-orang Jati Sari t idak
percaya bahwa perampok- perampok yang mengganas itu adalah anak buah
Raden Mas Said. Justru mereka menganggap bahwa hal itu sengaja
dibuat oleh kumpeni” “Bagaimana jika tugas itu saja yang kita ambil
alih. Kita bertanya kepada mereka, siapakah yang telah menyebarkan
pendapat itu”“Aku sudah tahu jawabnya. Tentu orang-orang berkuda
atau orang gemuk berkuda coklat itu, atau orang berjambang berkuda
putih“ “Siapakah mereka?“ “Maksudku, tentu ada orang-orang Raden Mas
Said yang berkeliaran di sini. Mungkin jejak kaki kuda yang kau
lihat itu benar jejak kaki kuda anak buah kamas Said. Mereka
berkeliaran di daerah ini dengan berbagai maksud” Perwira itu
menarik nafas dalam-dalam, lalu “Raden. Mungkin pertanyaanku agak
terlampau jauh. Tetapi beberapa orang perwira tinggi dari kalangan
bangsawan selalu menyebut Pangeran Mangkubumi. Apakah daerah ini
menjadi daerah pengaruh Raden Mas Said atau Pangeran Mangkubumi?“
Raden Juwiring mengerutkan keningnya, lalu “Aku tidak tahu pasti.
Tetapi apa yang kau dengar tentang Pangeran Mangkubumi “ “Tentu
Raden lebih tahu” “Aku ingin memperbandingkan saja” “Beberapa
bangsawan telah sepakat untuk menyudutkan Pangeran Mangkubumi”
“Dasarnya?“ “Ah. Raden tentu sudah tahu” “Katakan” “Daerah
palenggahan Pangeran Mangkubumi terlampau luas” “Tepat. Aku sudah
mendengar. di daerah yang terlalu luas itu sudah dibangun kekuatan
yang dapat mengganggu ketenangan pemer intahan di Surakarta” “Nah,
begitu Raden”Juwiring mengangguk-angguk, lalu “Apa kau sangka bahwa
jejak kaki-kaki kuda itu adalah orang-orang dari daerah Sukawati?“
Perwira itu t idak menyahut. “Atau barangkali kau ingin mengatakan
bahwa mungkin sekali keempat orang itu tidak jatuh ke tangan anak
buah kamas Said, tetapi anak buah pamanda Pangeran Mangkubumi?”
“Seperti yang Raden katakan, ada banyak kemungkinan dapat terjadi”
“Aku belum memikirkan kemungkinan itu. Pamanda Pangeran Mangkubumi
masih selalu menjalankan kuwajibannya. Ia selalu datang menghadap ke
istana pada saatnya. Dan ia tidak berbuat sesuatu yang dapat
dianggap dengan berterus terang menentang pemerintahan Surakarta dan
kumpeni” “Bukankah Raden sudah menyebutkan, di daerah Sukawati sudah
dibangun kekuatan yang dapat mengganggu ketenangan pemer intahan di
Surakarta” “Bukankah itu baru merupakan perhitungan kita saja?
Tetapi belum ada bukti perlawanan yang torang-orangan dari pamanda
Pangeran meskipun jelas pamanda Pangeran Mangkubumi tidak senang
melihat kumpeni semakin berpengaruh di Surakarta” Perwira itu
mengangguk-angguk. Tetapi di dalam sudut hatinya, sebenarnya
tersembunyi juga kecemasannya, bahwa yang berkeliaran di daerah ini
tentu bukan hanya pasukan dari Raden Mas Said, tetapi tentu juga
pasukan Pangeran Mangkubumi, yang diakui atau tidak diakui, kini
sebenarnya sudah merupakan kekuatan yang dapat menggoyahkan
kekuasaan di Surakarta.“Agaknya kabut yang gelap segera akan
menyelubungi Surakarta. Jika Pangeran Mangkubumi dan beberapa saat
yang lampau berhasil menghentikan kegiatan Raden Mas Said, agaknya
tidak mustahil bahwa pada suatu saat keduanya akan merupakan
kekuatan yang menakutkan bagi Surakarta” berkata perwira itu di
dalamhatinya. Perwira itu terkejut ketika Raden Juwiring
menggamitnya sambil berkata “Kita tidak akan mendapatkan keterangan
apa- apa. Karena itu, kita harus mengambil kesimpulan. Kita harus
menghubungkan hilangnya keempat orang itu dengan jejak kaki-kaki
kuda itu” “Mungkin sekali“ Raden Juwiring mengangguk, lalu “Mar ilah
kita kembali ke induk pasukan. Besok kita melanjutkan usaha kita
terakhir” Demikianlah maka Raden Juwiringpun segera kembali ke induk
pasukannya. Mereka bermalam di halaman yang agak luas itu. Sebagian
tidur di pendapa beralaskan t ikar pandan. Yang lain di gandok
sebelah menyebelah, dan yang lain lagi di halaman beralaskan ketepe
belarak yang mereka anyam sendiri. Sedang di beberapa bagian,
prajurit yang bertugas masih tetap bersiaga. Apalagi mereka
mengetahui bahwa daerah itu merupakan daerah yang menyimpan beberapa
rahasia yang belum terpecahkan, sehingga pasukan berkuda itu perlu
berhati-hati. Sementara itu di dapur rumah itupun menjadi sibuk.
Mereka harus menyediakan makan prajurit-prajurit berkuda yang ada di
halaman itu. Meskipun seorang perwira prajurit itu member ikan
sekedar uang kepada penghuni rumah itu sebagai ganti bahan-bahan
makanan yang mereka pergunakan, namun menyediakan makan untuk
sekelompok prajurit tanpa disiapkan lebih dahulu, adalah pekerjaan
yang cukup berat.Di pagi harinya, Raden Juwiring membawa beberapa
orang pengawal berkuda mengelilingi padukuhan itu. Tiba-tiba saja
anak muda itu tertarik untuk pergi ke padukuhan di seberang bulak.
Katanya kepada para pengawalnya “Mungkin terjadi sesuatu atas
keempat orang itu, tetapi tidak di padukuhan ini Justru ketika
mereka sudah meninggalkan daerah ini” “Maksud Raden?“ “Kita pergi ke
padukuhan sebelah” Demikianlah maka Raden Juwiring dengan beberapa
orang pengawalnyapun pergi ke padukuhan sebelah. Padukuhan yang
terpisah dari Jati Sari oleh sebuah bulak yang agak panjang. Adalah
mendebarkan hati, ketika Raden Juwiring justru mendapat keterangan
dari seorang petani di padukuhan tersebut, bahwa di pategalan
seseorang terdapat bekas kaki-kaki kuda yang agakyya ditambatkan di
malam hari. “Darimana kau tahu?“ bertanya Raden Juwiring. “Orang itu
berceritera kepada setiap orang, bahwa di pagi hari ketika ia pergi
kepategalan diketemukan jejak-jejak kaki kuda. Agaknya bukan hanya
seekor. Tiga atau empat” Juwiringpun segera tertarik kepada ceritera
itu, sehingga sejenak kemudian, iapun telah berhadapan dengan
pemilik pategalan itu.Tetapi yang dapat diceriterakan oleh pemilik
tegalan itu tidak lebih dari yang sudah didengarnya, la hanya
melihat jejak kaki-kaki kuda. Selebihnya tidak. Namun dengan
demikian Juwir ing mengambil kesimpulan bahwa keempat petugas sandi
itu sudah melakukan tugasnya di Jati Sari. Namun mereka tidak dapat
kembali ke induk pasukannya. Waktu yang diperlukan sudah cukup lama.
Jika tidak terjadi sesuatu atas mereka bersama-sama, maka salah
seorang dari mereka tentu sudah kembali dan melaporkan apa yang
telah terjadi. Perwira yang mengikutinyapun mengambil kesimpulan
serupa. Dengan ragu-ragu ia berkata “Agaknya keempatnya sudah
dibinasakan Raden. Atau mereka tertangkap hidup- hidup dan ditawan
oleh pasukan Raden Mas Said, atau . . ” “Pamanda Mangkubumi
maksudmu?“ Perwira itu mengangguk. Juwiring menarik nafas
dalam-dalam. Sebenarnya ia masih mempunyai dugaan lain, meskipun t
idak dikatakannya kepada siapapun juga. Di Jati Aking ada Kiai
Danatirta dan Arum. Jika keduanya bertindak atas keempat petugas
sandi itu, maka keempatnya tentu tidak akan dapat berbuat banyak.
Namun jika demikian, kemanakah kuda-kuda itu pergi Raden Juwiring
menarik nafas dalam-dalam. Tugasnya kau ini memang sangat berat.
Berat bagi pasukannya dan berat bagi perasaannya sendiri. Yang
kemudian dapat disimpulkan oleh Raden Juwiring dan pasukannya,
adalah bahwa keempat orang itu setelah melakukan tugasnya tidak
berhasil kembali ke induknya. “Itulah yang dapat kita laporkan”
berkata Raden Juwir ing kepada perwira yang tertua.Perwira itu
menganggukkan kepalanya “Ya, kita tidak akan dapat mengambil
kesimpulan lain. Sedang yang masih meragukan adalah, siapakah yang
telah menangkap atau membunuh keempat orang itu. Mungkin anak buah
Raden Mas Said, dan mungkin anak buah Pangeran Mangkubumi” “Pamanda
Pangeran belum berbuat sesuatu” “Raden” berkata perwira itu
“meskipun pamanda Raden belum berbuat sesuatu, biarlah kita
menyebutnya. Bahkan jika perlu justru kita sebut kemungkinan
terbesar adalah anak buah Pangeran Mangkubumi” “Gunanya?“ “Tindakan
atas Pangeran Mangkubumi itu akan segera dilakukan. Para bangsawan
tertinggi di Surakarta sama sekali tidak dapat menerima lagi
kehadiran Pangeran Mangkubumi di antara mereka. Sikapnya yang asing,
dan tanah kalenggah-an yang terlalu luas” “Jadi para Pangeran yang
iri hati itu akan mempercepat tindakan atas pamanda Mangkubumi?“
“Ya, seperti juga ayahanda Raden. Pangeran Ranakusuma akan dapat
mempergunakan bahan yang kita bawa ini untuk mempercepat usaha
mencabut Tanah Sukawati dari kekuasaan Pangeran Mangkubumi. Tanah
itu akan dipecah- pecah agar tidak ada lagi kesatuan di Sukawati”
“Apa keuntunganmu jika hal itu terjadi?“ Perwira itu mengerutkan
keningnya. Katanya “Tentu tidak secara langsung. Tetapi dengan
demikian bahaya yang dapat ditimbulkan oleh orang-orang Sukawati itu
menjadi kecil. Lebih dar i itu, aku dapat mengharap bahwa Senapati
pasukan berkuda, Pangeran Windunata akan mendapat sebagian dari
Sukawati itu. Sudah dapat dipastikan, aku akan menjadi penguasa
daerah itu seperti yang sudah pernah disanggupkan oleh Pangeran
Windunata kepadaku”Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya “Tetapi apa yang akan aku dapatkan?“ “Pangeran Ranakusuma
akan mendapatkannya juga” “Tetapi tentu bukan aku penguasanya”
“Tentu Raden. Raden adalah putera Pangeran Ranakusuma itu” Raden
Juwiring mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tertawa sambil
menepuk bahu perwira itu “Jika setiap Pangeran yang ikut
membicarakan pamanda Mangkubumi akan mendapat bagian atas tanah
Sukawati, maka setiap orang tentu hanya akan mendapat sejengkal. Dan
itu tidak akan berarti apa-apa” Perwira itu tidak segera menjawab.
Tetapi iapun kemudian tersenyumpula. Demikianlah maka Raden Juwiring
dan pengawalnyapun segera kembali ke Jati Sari. Mereka tidak
mendapat jawaban yang pasti tentang keempat orang yang hilang itu,
selain dugaan-dugaan belaka meskipun serba sedikit ia menemukan
jejaknya. “Kita mengatakan apa yang sebenarnya kita lihat“ berkata
Raden Juwiring “Jika kita memberikan keterangan yang tidak benar,
itu akan sangat berbahaya, karena para pemimpin prajurit akan dapat
mengambil langkah yang salah atas dasar keterangan yang tidak benar
itu” Perwira itupun hanya dapat menganggukkan kepalanya saja.
Apalagi ia dapat mengerti keterangan yang diberikan oleh Raden Juwir
ing itu. Setelah bermalam semalam lagi tanpa mendapat keterangan
apapun juga, maka Raden Juwiringpun membawa pasukannya kembali ke
kota. tanpa minta diri lebih dahulu ke padepokan Jati Aking. Raden
Juwiring menganggap bahwa ia tidak perlu lagi menemui Arum. Juga
Kiai Danatirta. Karenabaginya keduanya itu tentu tidak akan
memberikan keterangan apa-apa seandainya ia minta. “Laporan kita
tidak akan membuka jalan untuk menemukan keempat orang itu” berkata
perwira pengawal Raden Juwiring di perjalanan “daerah ini adalah
daerah terbuka yang luas. Setiap orang dapat lewat jalan yang
melalui Jati Sari. Karena itu ada juga masuk akal, bahwa orang-orang
Jati Sari sering sekali melihat orang-orang asing yang lewat di
jalan yang menembus padukuhan itu” “Ya” sahut Raden Juwiring
“Apalagi orang-orang yang memakai pakaian petani seperti mereka”
“Kita tidak tahu pasti, apakah para petugas sandi itu mengenakan
pakaian petani atau pakaian saudagar” “Apapun pakaian mereka, namun
kita tidak akan dapat menemukan mereka lagi. Bahkan keterangan
mengenai merekapun tentu amat sulit. Apalagi prajurit-prajurit yang
belumpernah tinggal di Jati Sari seperti aku” Perwira itu hanya
mengangguk-angguk saja. Sebenarnya memang sulit untuk mendapatkan
keterangan lebih banyak lagi tentang orang-orang yang dicarinya.
Dalam pada itu, sepeninggal prajurit-prajurit Surakarta,
rasa-rasanya orang-orang Jati Sari dapat bernafas lagi. Mereka
sendiri heran, kenapa bagi mereka prajur it Surakarta sama sekali
tidak dapat memberikan ketenangan, sehingga mereka kadang-kadang
bertanya kepada diri sendiri “Kepada siapakah sebenarnya kami harus
berlindung? Surakarta adalah pusat pemerintahan kami. Tetapi kami
tidak pernah merasa tenang dan tenteram apabila kami berada di dekat
prajurit-prajur it Surakarta itu” Dan sebagian dari mereka mencoba
menjawab “Karena Surakarta sudah terlampau dalam dicengkam oleh
kekuasaan kumpeni“Di Jati Aking Arum mengadu kepada ayahnya tentang
Raden Juwiring yang lain sekali dengan Raden Juwiring yang
dikenalnya di padepokan Jati Aking dahulu. “Apakah ia berbuat
sesuatu yang dapat kita anggap merugikan Jati Sari dan Jati Aking?“
bertanya ayahnya. “Kehadirannya sudah mencemaskan setiap orang Jati
Sari ayah” jawab Arum. “Tetapi bukankah ia tidak berbuat apa-apa di
sini?“ “Raden Juwiring mencari keterangan tentang empat orang yang
hilang itu” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. “Ia mencari
aku ayah. Aku merasakan kecur igaan disorot matanya. Mungkin ia
mengerti dengan pasti bahwa di daerah ini tidak ada orang lain yang
dapat melakukannya selain kita berdua” “Tetapi ternyata ia keliru.
Bukankah orang-orang itu telah dibawa oleh Sura?“ “Tetapi bukankah
sebagian sudah benar?“ Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya
“Tetapi sikapmu sudah benar Arum. Dan akupun menganggap bahwa memang
sebaiknya aku tidak menemuinya. Jika aku bertemu dengan Juwiring
dengan sikap yang tidak wajar, maka aku tentu akan menyesal karena
aku telah memberikan ilmu kepadanya” “Bahkan semua dasar-dasar ilmu
Jati Aking. Tentu ia akan dapat mengembangkannya, ditambah ilmu dar
i Pangeran Ranakusuma sendir i” “Kita tidak harus silau melihat
ilmunya Arum. Tetapi bahwa ia pernah menjadi keluarga kita
kadang-kadang dapat menimbulkan persoalan tersendiri”“Tetapi jika ia
sudah benar-benar berdiri di seberang, apakah yang dapat kita
lakukan atasnya ayah?“ “Kita masih harus meyakinkannya Arum. Kita
baru melihat Raden Juwiring berpakaian seorang prajurit Surakarta.
Hanya itu. Dan kitapun sebenarnya tidak boleh berprasangka kepada
keseluruhan prajur it Surakarta” “Ayah tidak menjumpainya sendiri.
Jika ayah bertemu dengan Raden Juwiring sendiri, maka ayah tentu
akan merasakan perubahan itu. Bukan sekedar bentuk badaniah, tetapi
agaknya juga sikap batinnya” Kiai Danatirta menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Aku akan mencari bukti yang lebih meyakinkan
tentang sikapnya itu Arum” Arum memandang ayahnya sejenak. Namun
seakan-akan ia tidak dapat merasakan kesungguhan kata-kata ayahnya
itu. Seakan-akan ayahnya itu berkata kepadanya di masa kanak- kanak
jika seseorang nakal kepadanya “Biarlah nanti aku putar telinganya
Arum. Jangan menangis” Meskipun Arum tidak menyatakan perasaannya,
namun agaknya Kiai Danatirta dapat menebaknya sehingga ia
melanjutkannya “Aku berkata sesungguhnya Arum. Tetapi kita tidak
akan dapat melontarkan tuduhan begitu saja sebelum kita melihat
buktinya” “Apakah pakaiannya, pasukan yang dibawanya dan tugas yang
dilakukannya itu belum dapat meyakinkan kita?“ Kiai Danatirta
menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Itu baru yang kasat mata Arum.
Tetapi apakah kita dapat melihat hatinya? Ia adalah putera Pangeran
Ranakusuma. Karena itu ia harus melakukan tugas-tugasnya seperti
kebanyakan putera Pangeran”Arum tidak menjawab lagi meskipun tampak
pada wajahnya bahwa ia tidak puas mendengarkan jawaban ayahnya itu.
Demikianlah sikap dan tugas yang dibawa oleh Juwir ing benar-benar
telah mengecewakan Arum. Ia tidak lagi menaruh hormat yang mendalam
seperti pada saat Juwir ing masih berpakaian seorang petani di
padepokan Jati Aking itu. Namun demikian, Arum tidak dapat berbuat
apa-apa atas Raden Juwiring selain menyesalinya. Raden Juwiring
adalah seorang yang telah dewasa dan berkedudukan baik, sehingga ia
wenang menentukan sikapnya sendiri. Di hari itu wajah Arum nampak
sangat murung. Kekecewaannya benar-benar telah mempengaruhi
keadaannya. Ia tidak banyak berbicara dengan pembantu- pembantunya
dan bahkan dengan Kiai Danatirta. Lewat tengah hari, Arum minta diri
kepada ayahnya untuk pergi ke sawah. Sebenarnya tidak ada yang akan
dikerjakannya, selain untuk melepaskan kekecewaan yang menyumbat
dadanya. “Aku akan menemui kawan-kawan ayah” berkata Arum. “Tidak
ada gadis-gadis yang pergi ke sawah lewat tengah hari di hari ini.
Tidak ada yang akan mereka kerjakan. Pagi tadi banyak kawan-kawanmu
pergi memetik lembayung” “Tentu masih ada ayah. Mereka kadang-kadang
pergi ke sawah untuk mengambil bakul tempat makanan ketika mereka
membawa makanan itu ke sawah. Atau barangkali masih ada satu dua
yang menunggu ayahnya atau kakaknya yang bekerja di sawah dan pulang
bersama menjelang sore” “Tetapi tidak sebanyak pagi hari. Kenapa kau
tidak pergi besok pagi saja memetik lembayung?“ “Aku ingin pergi
sekarang ayah”Kiai Danatirta tidak dapat mencegahnya lagi. Ia tahu
bahwa sebenarnya Arum hanya ingin sekedar menghirup udara yang
lapang di sawah, karena dadanya tentu serasa tersumbat mengalami per
lakuan kakak seperguruannya yang ternyata sangat mengecewakannya
itu. Karena itu Kiai Danatirta tidak mencegahnya lagi. Dibiarkannya
saja Arum pergi ke sawah membawa sebuah bakul kecil. “Aku akan
memetik terung ayah” berkata Arum ketika ia pergi. “Kau akan pergi
kepategalan juga” “Ya ayah” Ayahnya hanya mengangguk-anggukkan
kepalanya saja. Jika ia dapat melepaskan diri dar i kekecewaannya
dengan bergurau bersama kawan-kawannya maka hatinya tentu akan
menjadi sedikit lapang. Demikianlah maka Arum pergi ke sawah seorang
dir i. Ternyata tidak banyak lagi gadis-gadis yang masih tinggal di
sawah meskipun seperti yang dikatakannya masih ada juga gadis-gadis
yang menunggui ayahnya bekerja dan pulang bersama-sama menjelang
sore. Tetapi Arum tidak menemui mereka. Ia langsung pergi ke
sawahnya. Perlahan-lahan ia melangkah di pematang sambil
memperhatikan air yang mengalir di par it sepanjang pematang
sawahnya. Kemudian Arumpun pergi ke gubugnya dan memanjat ke atas.
Matahari yang sudah mulai condong ke Barat, panasnya masih menyengat
kulit. Karena itu, maka Arum berteduh saja di dalam gubugnya. Bahkan
iapun kemudian berbaring sambil merenungi peristiwa-per istiwa yang
baru saja terjadi di Jati Aking.Bahkan sejenak ia teringat saat-saat
ia bertemu dengan Buntal. Ia menjerit karena terkejut ketika Buntal
memanjat gubug. Tetapi ternyata jeritnya telah membuat Buntal
menjadi babak belur, dan bahkan hampir saja merenggut nyawa anak
muda itu. “Aku akan mencer iterakan semua yang aku ketahui tentang
kakang Juwiring” berkata Arum di dalamhatinya. Namun tiba-tiba ia
terkejut ketika ia mendengar suara orang yang bercakap-cakap
mendekati gubugnya. Semakin lama semakin dekat. Perlahan-lahan Arum
bergeser menepi. Seperti yang diduga, ada dua orang yang berjalan di
sepanjang pematang mendekati gubugnya itu. Namun tiba-tiba saja ia
bangkit sambil menyebut nama orang yang datang mendekati gubugnya
itu “Paman Sura“ Langkah Sura terhenti sejenak. Ketika ia
menengadahkan wajahnya, dilihatnya Arum dengan tergesa-gesa turun
dari gubugnya yang bertiang agak tinggi. “Siapa yang kau cari
paman?“ bertanya Arum. ”Aku melihatmu naik ke gubug. Karena itu aku
datang kemari” “Dimana paman selama ini?“ “Aku berada di bawah pohon
preh itu melepaskan lelah”“Darimanakah paman pergi?“ “Aku sengaja
pergi ke Jati Sari” “O“ Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas
dipandanginya kawan Sura yang termangu-mangu, sehingga Surapun
kemudian berkata “Ia adalah kawanku. Kawan yang cukup baik” Arum
menganggukkan kepalanya. Kawan Sura itu bukannya kawannya yang
pernah datang bersamanya beberapa saat lampau. “Apakah ada keperluan
penting paman? Atau paman mendengar berita tentang sesuatu yang
harus segera mendapat tanggapan?“ Sura tersenyum. Jawabnya “Benar
Arum. Aku mendapat perintah untuk melihat-melihat daerah ini.
Menurut pendengaran kami sepasukan prajurit Surakarta telah
dikerahkan untuk mencari keempat orang yang hilang itu” “Paman
benar” berkata Arum ”sepasukan prajurit berkuda telah datang ke Jati
Sari” “Apakah mereka berbuat sesuatu yang sangat merugikan rakyat
Jati Sari?” Arum termangu-mangu sejenak. Sekilas terbayang Juwiring
di masa ia masih berada di padepokan Jati Sari, kemudian Juwiring
yang berpakaian seorang prajurit. Namun kemudian terloncat dari
sela-sela bibirnya jawaban “Tidak paman. Mereka tidak berbuat
apa-apa. Mereka hanya bertanya tentang orang-orang yang mereka
sangka telah datang ke Jati Sari” “Kepada siapakah mereka itu
bertanya?“ “Kepada banyak orang”“Apa jawab mereka? Jika mereka
mengatakan tidak tahu menahu, maka tentu tidak akan ada
pertanyaan-pertanyaan berikutnya” “Mula-mula mereka berkata demikian
paman” “Kenapa mula-mula?“ Arum memandang Sura sejenak, lalu “Mereka
ternyata melihat beberapa gadis berkalung merjan yang didapat dari
orang-orang itu. Merjan itu merupakan pancatan bagi mereka untuk
bertanya tentang orang-orang itu. “O. Lalu apakah mereka bertanya
juga kepadamu?“ “Ya, karena aku mendapat dua untai merjan. Dan
pemimpin pasukan berkuda itu tahu benar bahwa di Jati Sari tidak ada
orang lain yang pantas dicurigai selain aku dan ayah” “Siapakah
pemimpin pasukan berkuda itu? Dan dari mana mereka mengetahuinya?“
“Tentu ia tahu pasti” “Siapa pemimpinnya? Aku hanya mendapat
perintah untuk mengamat-amati akibat dari kedatangan sepasukan
prajurit berkuda di Jati Sari. Tetapi aku tidak tahu secara pasti
dan keseluruhan dar i pasukan berkuda itu” “Pemimpinnya adalah
putera Pangeran Ranakusuma?” “He“ Sura terkejut “putera Pangeran
Ranakusuma? Bukankah Raden Rudira sudah meninggal?“ “Apakah
puteranya hanya seorang?“ “Ada yang lain, seorang puteri. Apakah
gadis itu ikut di dalam pasukan berkuda?“ “Bukan seorang gadis” “Aku
tidak mengerti”“Raden Juwiring” “He“ mata Sura terbelalak.
Seolah-olah ia tidak percaya kepada pendengarannya sendiri. Arum
sudah menduga, bahwa Sura akan terkejut mendengarnya, karena nama
itu tentu tidak akan diduganya sama sekali. “Arum” desis Sura dengan
ragu-ragu “Apakah maksudmu Raden Juwiring yang pernah tinggal di
padepokan Jati Aking?“ “Ya. Raden Juwiring itu adalah Raden Juwiring
yang pernah berguru kepada ayah“ Sura menarik nafas dalam-dalam.
Sejenak ia termangu- mangu. Namun kemudian iapun bergumam “Arum,
kadang- kadang kita memang dihadapkan kepada sesuatu persoalan yang
tidak kita duga-duga sebelumnya. Dan itu merupakan ciri kelemahan
hati seseorang. Semula kita menyangka bahwa Raden Juwiring adalah
seorang anak muda yang jauh berbeda dengan Raden Rudira. Tetapi
justru setelah ia berada di istana ayahandanya, maka iapun telah
berubah” “Raden Juwiring justru akan menjadi lebih berbahaya dari
Raden Rudira paman” berkata Arum “karena Raden Juwiring jauh lebih
banyak mengetahui persoalan padesan dan memiliki ilmu yang jauh
lebih tinggi pula dari Raden Rudira, yang justru telah dimanjakan
sejak kanak-kanak” Sura mengangguk-angguk. Tetapi ia masih sulit
membayangkan bahwa kini Raden Juwir ing telah memimpin sebuah
pasukan berkuda dari Surakarta. “Paman” berkata Arum “sejak masa
kanak-kanak Raden Juwiring telah dibebani oleh perasaan dendam. Ia
tersingkir dari lingkungannya dan kemudian menjelang masa remaja ia
telah dipisahkan dari keluarganya dan tinggal di padepokan ini”Sura
masih mengangguk. Katanya “Aku ikut bersalah di dalam hal ini Tetapi
perkembangan pr ibadi seseorang benar- benar merupakan teka-teki
yang rumit. Aku pernah tersesat ke jalan yang salah. Pada saat itu
aku sudah mengalami benturan melawan Raden Juwiring betapapun
sifatnya. Tetapi pada saat aku menemukan jalan lurus dan benar, maka
kini aku mendengar, bahwa Raden Juwiringlah yang telah memilih jalan
silang yang lain, sehingga masih akan ada kemungkinan aku bertemu di
persimpangan” Arum menganggukkan kepalanya. Katanya “Agaknya keadaan
di sekitarnya tentu akan sangat berpengaruh terhadap seseorang”
“Lalu bagaimana dengan Ki Dipanala?“ Arum menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Sudah lama Ki Dipanalapun tidak pernah datang ke Jati
Aking. Aku juga cemas bahwa iapun akan terlibat ke dalam sikap
seperti sikap Raden Juwiring. Pada saat Raden Rudira memiliki
kekuasaan tidak terbatas di dalam istana ayahandanya bersama paman
Sura, kemudian Mandra, paman Dipanala seakan-akan telah tersisih.
Tetapi kini yang ada di istana itu adalah Raden Juwiring, dan paman
Dipanala adalah pemomong Raden Juwiring yang paling disegani sejak
ia masih berada jauh dari keluarganya” Sura menarik keningnya, lalu
“Ya, kau benar Arum. Kini aku benar-benar berdiri di atas jalan yang
sulit. Akulah yang sering menerima tugas untuk mengawasi daerah di
sekitar padukuhan Jati Sari. Tetapi agaknya karena Raden Juwiring
pernah tinggal di Jati Aking, maka ialah yang akan selalu mendapat
tugas untuk menggarap daerah yang sudah dianggap berbahaya ini.
Tentu Raden Juwiring tahu pasti tentang padepokan Jati Aking dan
padukuhan Jati Sar i secara keseluruhan” “Kami akan membantumu
paman” sahut Arum.“Tetapi perasaanku akan menjadi pedih jika sekali
lagi aku harus berhadapan dengan Raden Juwiring setelah kita seakan-
akan bertukar tempat di dalam permainan anak-anak kecil kita
kadang-kadang memang harus bertukar tempat, berlintangalihan. Tetapi
yang kita hadapi sekarang ini bukan permainan anak-anak sehingga
sangat beratlah rasa hati ini untuk berlintangalihan seperti ini“
“Tetapi apaboleh buat paman. Kita tidak mempunyai pilihan lain. Kita
harus menghadapinya. Sudah barang tentu kami berdua tidak akan mampu
berbuat banyak jika kita dihadapkan pada pasukan berkuda dari
Surakarta dalam jumlah yang banyak itu” “Selama ini Arum, kami belum
pernah melakukan t indakan langsung terhadap prajurit-prajurit
Surakarta tanpa kumpeni. Mudah-mudahan Raden Juwiring tidak memaksa
kami berbuat demikian” Arum menarik nafas dalam-dalam. “Arum“
berkata Sura “Aku sudah mendapat bahan yang cukup. Kau bagi kami
adalah seorang yang sangat penting, meskipun kau seorang gadis” Sura
berhenti sejenak, lalu “Arum. Dahulu Raden Rudira menyebutmu sebagai
sekuntum bunga, tetapi yang tumbuh di atas batu-batu karang yang
keras dan kasar. Maka akupun ternyata sependapat meskipun dengan
maksud yang lain. Aku bukan seorang yang senang memuj i, tetapi bagi
kami yang mengetahui sikapmu, kau benar-benar sekuntum bunga
meskipun tumbuh di batu karang. Mungkin nada ucapanku agak berbeda
dengan Raden Rudira, karena tekanannyapun memang berbeda. Bagi kami
yang sedang berjuang, kau akan dapat membantu perjuangan kami
sejauh-jauhnya, meskipun sangat berat bagimu, apalagi jika benar,
daerah ini kemudian akan menjadi daerah pengawasan Raden
Juwiring”“Kau selalu ber lebih- lebihan paman. Jika kau membenci
seseorang, kau membencinya sampai keujung rambut. Jika kau memuj i
maka kaupun memuji sampai keubun-ubun” “Tetapi kali ini tidak Arum.
Mudah-mudahan kau tabah menghadapi masalah yang cukup rumit, justru
karena saudara seperguruanmu sendiri” Arum menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menjawab. “Arum” berkata Sura
kemudian karena Arum hanya. berdiam diri “Baiklah aku minta diri.
Aku akan seringkah berkeliaran di daerah ini. Mudah-mudahan kau
tidak jemu membantu aku dan seluruh kekuatan pasukan Raden Mas Said
yang sudah mulai bergerak kembali setelah untuk beberapa saat
lamanya terpaksa beristirahat dan menyingkir ke tempat yang
terpencil dan jauh” Arum tidak menyahut. Dipandanginya tatapan mata
Sura sejenak, namun kemudian kepala itu terangguk kecil. “Terima
kasih Arum. Kami minta dir i. Setiap kali kami akan datang
menemuimu. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang memaksa kau dan
Kiai Danatirta melakukan perlawanan tanpa kami ketahui sehingga
dapat membahayakan kalian” “Baiklah paman” berkata Arum kemudian
“mudah-mudahan kami tidak harus berbuat terlalu banyak. Kami akan
tetap hidup di padepokan Jati Aking dengan tenang dan tenteram” Sura
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi iapun berkata “Arum, memang
wajah lautan kadang-kadang tenang dan diam. Ketenangan dan kediaman
itu mengandung keindahan tersendiri yang dapat dinikmati. Tetapi
suatu saat air laut itu akan berguncang dan ombakpun akan menghantam
pantai dengan dahsyatnya. Dan gejolak ombak itupun mengandung nilai
tersendiri pula untuk dinikmat i Arum”Arum masih mengangguk-angguk
kecil. Katanya “Benar paman. Tetapi sejauh dapat dijangkau, maka aku
lebih senang menikmati ketenteraman hidup seperti yang diajarkan
oleh ayah kepadaku. Bahkan sebenarnyalah setiap orang mendambakan
ketenangan dan kedamaian di hati” “Aku mengerti Arum. Tetapi untuk
menuju ke ketenangan dan kedamaian hati itu, agaknya jalan masih
sangat panjang” Arum menganggukkan kepalanya. “Baiklah Arum, aku
minta diri. Sampaikan salamku kepada Kiai Danatirta. Kepada Kiai
Danatirtapun kami akan selalu mohon petunjuk dan pertolongan” “Aku
akan menyampaikannya paman” Demikianlah maka Sura itupun
meninggalkan Arum termangu-mangu. Semakin lama langkah Sura menjadi
semakin jauh diir ingi oleh seorang kawannya. Seperti biasanya Sura
tentu menyembunyikan kudanya di pategalan atau di hutan-hutan perdu.
Arum menyadari dirinya ketika seseorang menegurnya “Arum siapakah
yang kau tunggu?“ “O, tidak paman” “Kau lihat matahari sudah sangat
rendah?“ Arumpun tergesa-gesa mengambil bakulnya. Tetapi ia tidak
sempat mengambil terung di pategalan. Karena itu maka iapun segera
meninggalkan sawahnya dan pulang ke padepokannya. Jati Aking. Di
sepanjang jalan direnunginya persoalan yang berkisar di sekitar Jati
Aking, yang seakan- akan menjadi pusaran perhatian kedua belah pihak
yang sedang bertentangan. Tetapi Arum tidak sempat merenunginya
lama-lama. Setiap kali ia bertemu dengan seseorang yang pulang dari
sawahnya selalu menegurnya “Kau sendiri saja Arum?“Arum menyadari
bahwa ia terlalu lama berada di sawahnya. Ia sudah tidak melihat
lagi seorang gadispun di antara mereka yang pulang dari sawahnya.
Sehingga karena itu maka langkahnya menjadi semakin cepat. Apalagi
ia ingin segera menjumpai ayahnya dan menyampaikan pembicaraannya
dengan Sura kepadanya. Tetapi ketika ia sampai di sudut desa ia
terpaksa berhenti karena beberapa orang kawannya menghentikannya.
“Arum” berkata, salah seorang dari mereka “Kenapa kalung merjan itu
menjadi persoalan?“ Arum mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya
“Aku juga akan bertanya begitu. Kenapa kalung itu menimbulkan
persoalan yang berkepanjangan. Aku sebenarnya tidak tahu pasti,
persoalan apakah yang sebenarnya timbul. Dan apakah kedatangan
prajurit-prajurit itu juga ada hubungannya dengan kalung merjan itu“
“Kamilah yang seharusnya bertanya kepadamu. Bukankah yang memimpin
pasukan berkuda itu Raden Juwiring, kakak angkatmu?“ “Ia tidak
mengatakan apa-apa kepadaku. Ia memang singgah di padepokan
sebentar. Tetapi ia sama sekali tidak berkata berterus terang. Aku
memang merasa bahwa kedatangannya itu bersentuhan dengan kalung
merjan. Tetapi selanjutnya aku tidak tahu apa-apa lagi” “Jadi
bagaimana dengan orang gemuk berkuda coklat itu? Agaknya itupun akan
tetap menjadi tanda tanya. Dengan siapakah sebenarnya kau melihat
orang itu?“ Dada Arum menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian ia
menjawab “Aku tidak ingat lagi. Tetapi barangkali aku tidak berkawan
waktu itu. Maksudku, meskipun ada orang-orang lain tetapi mereka
tidak mendengarkan percakapan kami ketika ia bertanya tentang
keadaan padepokan ini dan berceritera tentang beberapa hal”“Jika
demikian, maka kau adalah satuinya sumber yang menularkan pendapat
orang gemuk itu” “Aku tidak mengatakannya kepada siapapun. Nah,
apakah kau pernah merasa, mendengar atau mengetahui bahwa aku
menyebut-nyebutnya? Tetapi persoalan yang tumbuh itu tiba- tiba saja
merata. Kita semua tiba-tiba saja tidak mempercayai lagi bahwa
perampok-perampok itu adalah anak buah Raden Mas Said seperti yang
dikatakan kumpeni. Nah, katakan, dari siapa kalian mendengar dan
kemudian bersikap demikian?“ Gadis-gadis itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Salah seorang berkata “Memang bukan dari kau” “Nah,
apakah kau dapat mengingat, dari siapa kau mendengar untuk pertama
kali?“ Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Tentu sulit untuk
diingat. Adalah kebetulan bahwa aku mendengar dar i orang yang tidak
aku kenal sehingga dengan demikian justru aku selalu dapat
mengingatnya. Tetapi mungkin orang gemuk berkuda coklat itu tidak
hanya mengatakannya kepadaku. Tetapi juga kepada orang lain dan
orang lain lagi” “Arum” tiba-tiba seorang gadis bertanya “Kenapa
orang berkuda coklat itu mengatakannya justru kepadamu?“ Arum
mengangkat bahunya sambil menjawab “Tentu aku tidak mengetahui
alasannya. Tetapi barangkali itu sekedar suatu kebetulan”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Dan seorang gadis yang lain
berkata “Jadi bagaimana dengan kalung-kalung merjan kita itu Arum?“
“Aku tetap menyimpannya” “Apakah hal itu tidak menyebabkan persoalan
yang berkepanjangan kelak?““Kalung itu sudah terlanjur ada padaku.
Seandainya kalung itu aku buang, maka pasti akan timbul persoalan
baru j ika orang yang memberikannya atau kawan-kawannya
menanyakannya” “Jika aku tahu bahwa kalung itu akan menimbulkan
persoalan, aku tidak akan menerimanya” “Tentu aku juga” sahut Arum
“Kita bersama-sama berada dalam keadaan yang tidak kita kehendaki”
Gadis-gadis itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun nampak
kecemasan di wajah mereka. Ternyata kalung merjan itu menimbulkan
kegelisahan yang amat sangat di hati mereka, apalagi setelah
sepasukan prajurit berkuda datang ke padukuhan Jati Sar i dan bahkan
ke padukuhan di sekitarnya. “Baiklah Arum” berkata salah seorang
gadis itu jika kau mengetahui perkembangan keadaan, tolonglah member
itahukan kepada kami” “Tetapi demikian juga sebaliknya” jawab Arum.
“Ya. Tetapi karena kau adalah adik angkat Raden Juwiring, barangkali
kau mendapat banyak bahan daripadanya” Arum menarik nafas
dalam-dalam. Juwiring kini seakan- akan telah berdir i berseberangan
dengan padepokan Jati Aking. Namun demikian Arum mengangguk juga
sambil berkata “Baiklah. Aku akan member itahukan jika aku
mengetahui perkembangannya kelak” Arumpun kemudian minta diri
sementara kawan-kawannya pergi kewarung di sudut desa untuk membeli
kebutuhan mereka yang diperlukannya menjelang malam hari. Sebuah
beban telah menambah muatan di hati Arum. Ia dapat mengerti bahwa
kawan-kawannya itupun menjadi gelisah karenanya. Tetapi ia tidak
dapat berbuat terlampau banyak. Meskipun demikian semuanya itu harus
dikatakannya kepada ayahnya nanti.Ternyata langit telah menjadi
semakin buram. Dan karena itulah maka Kiai Danatirta menjadi
gelisah. Ia sadar bahwa Arum memiliki kemampuan untuk menjaga dir i,
tetapi keadaan di Jati Aking agaknya berkembang kearah yang
mencemaskan. Dalam pada itu Arum berjalan dengan tergesa-gesa menuju
ke padepokan kecilnya. Sebenarnya masih banyak yang ingin
dipersoalkannya dengan kawan-kawannya yang lain, yang barangkali
mendengar atau mengalami perist iwa yang dapat dijadikan bahan
pengamatan bagi keadaan Jati Sari, tetapi Arum menjadi ragu-ragu.
Dengan demikian maka ia akan menjadi pusat persoalan bukan saja bagi
para prajur it di Surakarta yang justru dipimpin oleh Raden Juwir
ing, tetapi juga oleh kawan-kawannya di Jati Sari. Dalam pada itu,
selagi Arum melangkah semakin cepat, pendengarannya yang sudah
terlatih mendengar lamat-lamat derap kaki kuda yang berpacu semakin
lama menjadi semakin dekat. Karena itu, maka Arumpun menjadi
berdebar-debar. Ia yakin bahwa kuda itu berderap sepanjang jalan
yang dilaluinya menuju ke padepokan Jati Aking. Sejenak Arum
termangu-mangu. Langit yang menjadi semakin buram sehingga bayangan
pepohonan membuat jalan itu menjadi samar. Ternyata Arum tidak
banyak mendapat kesempatan. Derap kaki kuda itu menjadi semakin
dekat. Karena itu, maka tanpa berpikir lagi Arumpun segera meloncat
menepi dan hilang di dalam gerumbul di pinggir jalan. Sejenak
kemudian maka di dalam keremangan senja ia melihat seekor kuda
berpacu. Meskipun ternyata tidak terlampau cepat, namun ia belum
sempat melihat dengan jelas, siapakah yang berada di punggung kuda
itu. Baru ketika kuda itu lewat di hadapannya, ia dapat mengenalnya.
Tetapi ada sesuatu yang menahannya ketika ia hendak berteriak
memanggil nama penunggang kuda itu.Tetapi kemudian dengan
tergesa-gesa Arum meloncat kembali ke jalan dan berlari- lari kecil
menuju ke padepokannya yang sudah tidak begitu jauh lagi. Ketika ia
memasuki regol, ia masih melihat kuda itu di halaman beserta
penunggangnya yang sudah meloncat turun. Hampir saja ia berlari dan
memeluknya. Untunglah bahwa ia sadar akan kegadisannya sehingga
langkahnya tertahan beberapa depa dari penunggang kuda itu. Tetapi
mulutnya berdesis “Kakang Buntal” Buntal tersenyum. Katanya
“Darimana kau Arum?“ “Dari sawah kakang. Kau melampaui aku di jalan
menuju ke padepokan dekat di muka regol” “He, aku tidak melihatmu”
“Aku bersembunyi. Aku tidak tahu siapakah penunggang kuda itu”
“Kenapa bersembunyi?“ Arum menarik nafas dalam- dalam. Lalu
“Marilah, naiklah ke pendapa. Apakah ayah sudah mengetahui bahwa kau
datang. Buntal melangkah naik ke pendapa setelah mengikat kudanya
sambil berkata “Seseorang telah menyampaikannya kepada Kiai
Danatirta” Arum menganggukkan kepalanya. Namun rasa-rasanya dadanya
tidak lagi dapat menahan gejolak hatinya yang akan tertumpah. Banyak
sekali rasanya yang akan dikatakannya kepada Buntal tentang dirinya,
tentang Jati Sari dan terutama tentang Raden Juwiring.Tetapi Arum
masih menahan hatinya. Katanya kepada dirinya sendir i “ Biarlah
ayah yang mengatakannya” Karena itu maka yang ditanyakan kemudian
adalah sekedar keselamatan Buntal. “Lama sekali kau t idak datang
kakang” Buntal menar ik nafas. Katanya “Kita selalu sibuk Arum” “Apa
saja yang kau kerjakan di sana?“ “Kami tidak pernah mendapat
kesempatan untuk berdiam diri. Kami mendapat latihan yang berat.
Bukan saja kesempatan berlatih seorang demi seorang sesuai dengan
ilmu yang dimiliki, tetapi kami ditempa untuk dapat bekerja bersama
sebaik-baiknya” “O. menarik sekali. Siapakah yang memimpin kalian?”
“Ada beberapa kelompok yang mempunyai pemimpinnya sendiri. Adalah
kebetulan sekali bahwa kelompokku dipimpin oleh Ki Sarpasrana”
“Senang sekali” “Sekali-sekali Pangeran Mangkubumi memer lukan untuk
melihat sendiri latihan-latihan itu” “Pangeran Mangkubumi“ “Sst,
jangan keras-keras” “Tidak ada orang lain di sini” “Pangeran
Mangkubumi jarang sekali memperkenalkan dirinya sebagai seorang
Pangeran. Yang sering kami jumpai adalah orang yang menamakan
dirinya Petani dari Sukawati itu” “Sayang sekali” “Kenapa?““Aku
bukan seorang laki- laki seperti kau kakang. Ternyata bahwa Ki
Sarpasrana masih membedakan antara laki- laki dan perempuan. Kenapa
aku tidak mendapat kesempatan untuk ikut serta bersama kau?“ “Aku
kira belum saatnya Arum. Tentu tenaga seorang perempuan akan sangat
dibutuhkan. Siapakah yang memasak untuk kami semua jika bukan
perempuan yang menyediakan dirinya di dalam perjuangan ini” “O, jadi
ada juga perempuan di sana” “Tentu?“ “Tetapi kenapa aku t idak
diijinkan serta?“ “Pada saatnya Arum. Sekarang masih belum terlampau
banyak diperlukan tenaganya. Perempuan-perempuan Sukawati sendiri
masih jauh mencukupi” Arum mengerutkan keningnya. Kemudian sambil
bersungut ia bertanya “Apakah perempuan dan gadis di Sukawati
cantik- cantik?“ “Ah“ Buntal tertawa. Tetapi ia menyadari, betapapun
matangnya Arum di dalam olah kanuragan, tetapi ia tetap seorang
gadis. Namun dalam pada itu, pertanyaan itu telah menyentuh hatinya
pula, seakan-akan Buntal merasakan bahwa Arum tidak mau kehilangan
dir inya. Karena itulah, maka hati Buntalpun menjadi berdebar-debar
pula. “Tentu” desis Arum kemudian. Buntal masih mencoba tertawa dan
menjawab ”Pertanyaanmu aneh Arum. Tentu aku tidak sempat
memperhatikan apakah perempuan dan gadis di Sukawati cantik-cantik”
“Bohong” Buntal tidak menyahut. Tetapi ia masih tertawa saja.Dalam
pada itu, Kiai Danatirtapun muncul dari pintu pringgitan. Dengan
tergopoh-gopoh Buntal mendekatinya dan berjongkok sambil menangkap
tangan Kiai Danatirta. “Aku menyampaikan baktiku ayah” berkata
Buntal. Kiai Danatirta mengusap kepala muridnya sekaligus anak
angkatnya itu. Katanya “Duduklah. Kau adalah anak yang baik “
Buntalpun kemudian kembali duduk di atas tikar pandan. Sekilas ia
melihat Arum menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu bergetar di dada
gadis itu melihat sikap Buntal. Alangkah jauh berbeda dengan sikap
Juwiring yang datang dengan pakaian seorang prajurit. Juwiring
benar-benar bersikap sebagai seorang bangsawan meskipun ia sudah
lama berada di padepokan Jati Aking. Sejenak kemudian Kiai
Danatirtapun menanyakan keselamatan Buntal dan kemudian juga Kiai
Sarpasrana. “Kami semuanya selamat Kiai” “Apakah kau mendapat
kesempatan beristirahat barang sehari dua hari sehingga kau sempat
datang ke padepokan ini?“ Buntal menjadi ragu-ragu sejenak. Namun
kemudian katanya “Tidak ayah” “O, jadi?“. “Aku mengemban tugas dari
Pangeran Mangkubumi lewat Kiai Sarpasrana” “Tugas apakah yang harus
kau lakukan?“ Sekilas ditatapnya wajah Arum. Namun kemudian Buntal
itu berkata “Ayah. Apakah benar bahwa empat orang petugas sandi dari
Surakarta telah hilang di padepokan ini justru selagi mereka mencari
keterangan tentang sikap orang Jati Sari?““O” Kiai Danatirta
mengerutkan keningnya, sedang Arum justru bergeser setapak maju.
“Kau sudah mendengar pula akan hal itu?“ Buntal menarik nafas.
Katanya “Maaf ayah. Barangkali tidak sepantasnya aku tiba-tiba saja
membicarakan masalah yang tidak menar ik itu. Tetapi waktuku sangat
terbatas. Aku harus segera kembali menghadap Kiai Sarpasrana. Kiai
Danatirta mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Aku tahu Buntal.
Dalam keadaan seperti sekarang ini, maka waktu akan sangat berharga
bagimu. Aku kira tidak ada keberatannya apabila kau berbicara
langsung pada persoalannya. “Ayah” berkata Buntal “sebelum pagi aku
harus sudah datang lagi menghadap Kiai Sarpasrana dan menyampaikan
hasil kunjunganku. Kiai Sarpasrana yakin bahwa aku akan segera
mendapat bahan selengkapnya tanpa melakukan pengamatan yang panjang,
karena justru di sini ada ayah dan Arum” Kiai Danatirta masih
mengangguk-angguk. Sejenak ia memandang Arum. Lalu katanya “Tetapi
barangkali tidak banyak yang dapat aku katakan kepadamu. Apakah yang
hendak kau ketahui tentang Jati Aking?“ “Tentang keempat orang itu
ayah” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Lalu katanya kepada Arum
“Arum, barangkali kau dapat memberikan penjelasan tentang
orang-orang itu“ Arum menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia
bertanya kepada ayahnya “Yang manakah yang harus aku katakan ayah?“
“Katakan seluruhnya kepada kakakmu Buntal. Kedudukannya tidak usah
kita ragukan lagi. Juga kita tidak perlu meragukan Kiai
Sarpasrana”Arum termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berkata
“Sudah ada tiga pihak yang mencari keterangan tentang Jati Aking”
Buntal mengerutkan keningnya. “Siapa saja Arum?“ “Yang pertama
adalah pasukan berkuda dari Surakarta. Mereka mencari keempat orang
yang hilang itu. Kemudian aku bertemu dengan Sura yang ingin
mengetahui apa saja yang dilakukan oleh pasukan berkuda dari
Surakarta. Dan kini kau datang pula ke Jati Aking. Jika Sura
melakukannya untuk Raden Mas Said, maka agaknya kau mendapat
perintah dari pihak Pangeran Mangkubumi” Buntal menarik nafas.
Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata “Demikianlah agaknya Arum.
Tetapi bagaimana dengan paman Sura sekarang?“ Sebelum Arum menjawab,
maka Kiai Danatirtapun bertanya pula “Apakah kau bertemu lagi dengan
Sura?“ “Ya ayah. Aku bertemu lagi dengan Sura. Dan paman Surapun
terkejut bukan kepalang mengetahui siapakah yang memimpin pasukan
berkuda ke Jati Sar i” “Kenapa terkejut” bertanya Buntal. “Apakah
kau mengetahui siapakah yang memimpin pasukan berkuda yang datang
kemari mencari empat orang yang hilang itu?“ “Kedatangan pasukan
berkuda itu memang sudah kami ketahui. Tetapi kami belum mendapatkan
penjelasan lebih jauh tentang pasukan itu. Petugas sandi kami hanya
melaporkan bahwa sekelompok prajurit dari pasukan berkuda telah
memasuki daerah Jati Aking sehubungan dengan hilangnya empat orang
petugas dari Surakarta yang langsung di bawah jalur hubungan dengan
kumpeni”Arum menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kau tentu mengenal
dengan baik” “Siapa?“ Arum termangu-mangu sejenak. di luar sadarnya
ia berpaling kepada ayahnya. Baru ketika Kiai Danatirta mengangguk,
Arum berkata “Pemimpin dari pasukan berkuda itu adalah Raden
Juwiring” Seperti yang sudah diduga, maka Buntalpun terkejut bukan
buatan. Sejenak ia memandang Arum dengan tajamnya, kemudian wajannya
menjadi tegang. Sura sejenak kemudian ia bertanya “Maksudmu Raden
Juwiring putera Pangeran Ranakusuma yang pernah berada di padepokan
Jati Aking ini” Arum menganggukkan kepalanya. Buntal menarik nafas
dalam-dalam. Katanya seakan-akan kepada dir i sendir i “Alangkah
cepatnya perubahan itu terjadi di dalam diri seseorang. Hampir tidak
masuk akal bahwa Raden Juwiring tiba-tiba saja sudah menjadi
seseorang Senapati dari pasukan berkuda Surakarta. Ia tentu
merupakan seorang Senapati yang baik meskipun ia masih belum dapat
menyamai Raden Mas Said. Tetapi jarang seorang Senapati semuda Raden
Juwiring di dalampasukan Surakarta” “Memang hampir tidak masuk akal”
sahut Arum “Tetapi itulah kenyataannya. Aku tidak dapat ingkar dari
kenyataan itu” “Apakah Raden Juwiring mendapat keterangan yang
dicarinya di sini?“ “Tidak. Meskipun ia datang juga ke padepokan
ini. Tetapi aku tidak memberikan keterangan apapun juga kepadanya”
Buntal mengangguk! kecil. “Ayah sama sekali t idak
menjumpainya““Jadi, Raden Juwiring kembali tanpa membawa keterangan
apapun?“ Arum bergeser setapak. Jawabnya “Mungkin ada beberapa
keterangan. Tetapi barangkali tentang empat orang yang hilang itu
akan tetap gelap baginya” Buntal menjadi gelisah. Ternyata Raden
Juwiring, saudara angkat dan seperguruannya itu kini telah berada di
seberang. Namun dalam pada itu, di hati kecilnya yang dalam,
membersit pikirannya yang lain. Semakin jauh Raden Juwiring itu
berdiri dari padepokan ini, baginya akan menjadi semakin baik. Ia
tentu akan semakin jauh pula dari Arum. Jika terjadi perselisihan,
maka tidak akan ada lagi keseganan di dalam diri masing-masing.
Namun Buntalpun kemudian menjadi malu kepada diri sendiri. Ternyata
ia telah terdorong ke dalam sikap mementingkan dir inya sendiri.
Hampir saja ia terseret kepada suatu keadaan yang tidak sewajarnya
bagi seorang yang sedang berjuang untuk tujuan yang besar. Bukan
sekedar untuk kepentingannya sendiri. Karena itu, ketika ia
menyadari kesalahan di dalam angan angannya ia berusaha untuk
meluruskannya, seolah-olah ada seseorang yang dapat melihat
perasaannya “Jadi, jadi Raden Juwiring tidak berhasil mendapatkan
keterangan apapun juga? Sayang sekali” Arum menjadi heran, sehingga
karena itu maka iapun bertanya “Apa maksudmu kakang? Apakah yang kau
sayangkan?“ Sekati lagi Buntal tergagap. Jawabnya “Maksudku, sayang
sekali bahwa Raden Juwiring kini justru menjadi seorang perwira
prajurit Surakarta” “Tetapi kita tidak boleh berprasangka terlampau
jauh Buntal” berkata Kiai Danatirta “mungkin karena
kedudukannyasebagai seorang putera Pangeran, maka ia tidak dapat
mengelakkan dir i dari kedudukan keprajuritan di Surakarta” Buntal
mengangguk-angguk, tetapi Arum menyahut “Tetapi sikapnya sudah
berbeda sama sekali ayah. Jika ayah sempat menemuinya, maka Raden
Juwiring bersikap seperti seorang bangsawan yang utuh. Ia ingin
memaksakan orang lain memenuhi keinginannya. Tidak ubahnya seperti
Raden Rudira. Hanya keinginan yang harus dipenuhi itu sajalah yang
berbeda” Kiai Danatirta tidak menyahut lagi. Hanya kepalanya sajalah
yang terangguk-angguk kecil. “Tetapi Arum” berkata Buntal kemudian
untuk menghindarkan diri dar i kegagapan “Apakah kau tahu yang
sebenarnya, yang tidak kau katakan kepada Raden Juwiring, tentang
empat orang yang sedang dicari oleh para prajur it dari Surakarta
itu?“ Arum mengangguk kecil. Katanya “Aku mengetahui kakang. Dan
paman Surapun mengetahuinya” Buntal menar ik nafas dalam-dalam.
Katanya “Kami dari Sukawati sudah menduga, bahwa petugas-tugas sandi
itu tentu hilang ditelan oleh kekuatan Raden Mas Said” Arum
mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun menganggukkan kepalanya
“Ya. Demikianlah agaknya” “Dan apakah yang telah terjadi seutuhnya?“
Arumpun kemudian menceriterakan apa yang pernah dialaminya.
Diceriterakannya pula bagaimana keempat orang itu hilang, dan di
antaranya telah terbunuh Buntal menarik nafas dalam-dalam. Katanya
“Itupun sudah aku duga. Hanya ada dua tebakan. Jika tidak laskar
Raden Mas Said yang kebetulan ternyata dipimpin oleh Sura di daerah
ini, tentu kekuatan yang tersembunyi di Jati Aking”“Raden
Juwiringpun berpendapat demikian“ gumam Arum hampir kepada diri
sendiri “karena itulah maka ia hampir memaksa aku untuk mengatakan
tentang keempat orang itu justru karena aku mempunyai dua untai
kalung merjan, meskipun yang seuntai sudah aku ber ikan kepada orang
lain” Buntal mengangguk-angguk. Katanya “Memang tidak akan ada
dugaan lain. Barangkali Raden Juwiring masih mempunyai satu sasaran
lagi, yaitu laskar Sukawati” Arum tidak menyahut. Tetapi kepalanya
terangguk kecil. “Jika demikian, semuanya menjadi jelas bagiku. Aku
akan menghadap Kiai Sarpasrana dan menyampaikan hasil kunjunganku
kepadepokan ini” “Kau akan segera kembali?“ bertanya Kiai Danatirta.
“Ya ayah. Aku mendapat pesan agar aku segera kembali. Malam ini”
“Tetapi masih ada waktu sedikit. Tinggallah untuk sejenak barangkali
sudah disiapkan makan buatmu” Buntal tidak dapat menolak. Karena itu
maka katanya “Terima kasih Kiai. Aku akan menunggu. Mungkin ada
baiknya juga aku makan dahulu agar aku tidak kelaparan di
perjalanan” Kiai Danatirtapun kemudian memberi isyarat kepada Arum,
agar gadis itu pergi ke belakang menyiapkan hidangan bagi
Buntal.Sepeninggal Arum, Kiai Danatirta masih berbicara untuk
beberapa saat sehingga kemudian ia berkata “Jika kau akan mencuci
kakimu lebih dahulu, pergilah ke pakiwan sebelum makan” Buntalpun
kemudian turun ke halaman dan pergi ke belakang. Ada sesuatu yang
menyentuh hatinya ketika ia melangkahkan kaki di halaman samping
padepokan Jati Aking. Halaman yang dahulu selalu diambahnya hampir
siang dan malam. Tanaman yang masih tetap terpelihara. Meskipun
hanya di bawah sinar obor di regol butulan, namun Buntal dapat
melihat bahwa tanaman itu masih tetap terpelihara rapi. Ketika
Buntal sampai di halaman belakang, dilihatnya Arum membawa kelenting
untuk mengambil air ke perigi. Karena itu maka dengan tergesa-gesa
ia menyusulnya dan berkata “Arum, buat apa kau mengambil air di saat
begini. Dan apakah tidak ada orang lain yang dapat kau suruh?“
Arumterhenti sejenak. Lalu jawabnya sambil tersenyum “Bukan
kebiasaanku menyuruh orang lain kakang. Bukankah sejak kau masih ada
di sini, aku sering mengambil air untuk mengisi gentong di dapur?“
“Tetapi setelah gelap begini?“ “Menurut orang tua-tua, gentong di
dapur harus selalu penuh. Gentong itu ternyata tinggal separo isi,
karena para pembantu harus mencuci beras dan mengisi gendi” “Dan
kaulah yang harus mengisi gentong itu“ Arum tersenyum. Katanya
“Biarlah aku mengisinya. Semuanya sedang sibuk menyiapkan makan
buatmu” “O“ Buntalpun tertawa “Terima kasih. Jika demikian biarlah
aku membantumu, menimba air dari perigi, dan kaulah yang membawanya
ke dapur”Demikianlah maka Buntal menimba air, mengisi kelenting
kemudian Arumlah yang membawa kelenting itu ke dapur dan
menuangkannya ke dalamgentong. Tetapi ketika gentong itu sudah
penuh, Arum masih juga pergi ke perigi. Dibiarkannya saja Buntal
menuangkan air dari timba yang terbuat dari upih ke dalam kelent
ingnya. Namun kemudian dibiarkannya saja kelenting itu terletak di
pinggir sumur. “Sudah penuh” berkata Arum. “O, kau tidak
mengatakannya sebelumnya” “Biar sajalah berada di kelenting” “Jika
demikian aku akan mengisi jembangan di pakiwan. Aku akan mandi” Arum
tidak menyahut. Dibiarkannya Buntal menimba air dan mengisi
jembangan. Tetapi ia t idak beranjak pergi. Setelah jembangan di
pakiwan itu penuh, maka Buntalpun berkata sekali lagi “Aku akan
mandi sebelum menikmati hidanganmu, makan malam. Sudah lama akn t
idak m- i-kan malamdi padepokan Jati Aking” “Apakah kau sering makan
siang di sini sejak kau pergi?“ Buntal tertawa “Juga tidak” “Jadi,
bukan sekedar makan malam” “Ya” Buntal berdesis “Aku akan mandi”
Tetapi Arum t idak beranjak pergi. Bahkan kemudian ia pun duduk di
atas sebuah batu di bibir sumur. “He, jangan duduk di situ“ Buntal
memperingatkan. “Kau takut aku terperosok ke dalam?“ “Ya” “Aku cukup
hati-hati”Buntal menarik nafas, la tidak tahu pasti, apakah maksud
Arum. Dengan demikian maka untuk beberapa saat keduanya. saling
berdiam dir i. Buntal masih saja berdiri bersandar batang senggot
timba, sedang Arum masih tetap duduk di atas batu. Namun tiba-tiba
saja Arum berkata “Kakang Buntal. Kenapa aku tidak boleh ikut
bersamamu?“ Buntal mengerutkan keningnya, lalu “Tentu bukan aku saja
yang berkeberatan Arum. Ayah tentu juga keberatan, dan belum ada
tempat di Sukawati. Yang diper lukan adalah perempuan yang cekatan
di dapur. Belum diper lukan seorang gadis yang cakap bermain senjata
saat ini” “Aku akan bekerja di dapur. Tetapi aku ingin ikut
bersamamu ke Sukawati” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Katanya
kemudian “Tentu tidak dalam waktu yang pendek Arum. Meskipun kau mau
juga bekerja di dapur, tetapi rasa-rasanya kau memiliki sesuatu yang
lebih baik daripada sekedar bekerja di dapur. Karena itu, sebaiknya
kau tetap di sini” “Kenapa aku tidak boleh bekerja di dapur? Jika
pada saatnya diperlukan tenagaku, maka aku dapat meninggalkan dapur
dan berbuat lebih banyak lagi. Tetapi sebelum itu, aku bersedia
bekerja di dapur saja” Buntal menggelengkan kepalanya ”Arum. Kau
dapat membantu kami di Sukawati dengan tetap tinggal di sini. Jika
saat ini kau tidak ada di Jati Aking, maka aku tentu tidak akan
semudah ini mendapat keterangan tentang pasukan Surakarta, apalagi
yang ternyata dipimpin oleh Raden Juwiring. Dan terutama keterangan
tentang empat orang yang hilang itu“ Arum menar ik nafas
dalam-dalam. la dapat mengerti keterangan Buntal. Kehadirannya di
Jati Sari memang pentng bagi Buntal. Namun rasa-rasanya ada sesuatu
yangmendesaknya untuk dapat ikut serta bersama Buntal ke Sukawati.
Samar-samar tampak diangan-angan Arum bahwa menyenangkan sekali jika
ia sempat pergi bersama Buntal ke Sukawati. “Bukan karena perjuangan
yang wajib kau lakukan di Sukawati, Arum“ rasa-rasanya terdengar
suara di relung hatinya “Tetapi sekedar terdengar oleh keinginanmu
untuk pergi tersama dengan Buntal” Arum menundukkan kepalanya
dalam-dalam. Meskipun tidak ada orang lain mendengar suara di
hatinya itu, namun wajahnya tiba-tiba saja menjadi merah padam, la
merasa malu kepada dirinya sendiri, bahwa ia telah didesak oleh
kepentingan pr ibadinya. Karena itu. maka Arumpun kemudian t idak
memaksa lagi untuk dapat pergi ke Sukawati. Kepalanya yang tunduk
masih saja tunduk untuk beberapa saat lamanya. Arum terkejut ketika
ia mendengar suara Buntal “Arum. Malam rasa-rasanya menjadi semakin
gelap. Aku harus kembali ke Sukawati. Karena itu. apakah pekerjaanmu
sudah selesai dan aku dapat mencuci kaki dan tanganku” “O“ Arum
tersipu-sipu. Perlahan- lahan ia berdir i. Tetapi ia tidak segera
meninggalkan Buntal. “Apakah kau akan pergi ke dapur?“ “Buntal“ Arum
berdesis. Tetapi suaranyapun kemudian tersangkut di kerongkongan.
Buntalpun kemudian berdiri seolah-olah membeku. Ditatapnya Arumyang
juga terdiri memandanginya. Keduanya tidak mengucapkan kata-kata
apapun. Tetapi tatapan mata mereka yang beradu. rasa-rasanya telah
terlampau banyak melontarkan isi hati mereka. Namunbagaimanapun juga
tangkapan hati mereka masih tetap merupakan sentuhan yang sama,
karena tidak seorangpun di antara mereka berdua yang mengucapkan
perasaannya dengan kata-kata sehingga dapat dijadikan pegangan
karena telah menyentuh indera wadag. Arum memang menunggu. Tetapi
Buntal pama sekali t idak mengatakan apapun juga. Memang ada sesuatu
yang rasa-rasanya mendesak ingin meloncat lewat bibirnya, tetapi
rasa-rasanya bibirnya telah membeku sehingga tidak sepatah kaIapun
yang terucapkan. Namun demikian, hampir seluruh tubuh kedua anak
muda itu lelah basah oleh keringat yang mengembun di seluruh
permukaan kulit. Perlahan-lahan Buntal kemudian dapat menguasai
perasaannya sepenuhnya. Karena itu. maka perlahan- lahan ia berkata
“Silahkan Arum. Mungkin ayah menunggu kami di pendapa. Aku akan
mencuci tangan sejenak” Ada kekecewaan membersit di wajah Arum.
Ternyata Buntal tidak mengatakan apapun. Tetapi sepercik harapan
telah melontar di hatinya. Tatapan mata Buntal memancarkan arti
baginya. Demikianlah maka sejenak kemudian Arumpun mengambil
kelentingnya dan meninggalkan Buntal sendiri di dekat pakiwan. Untuk
beberapa saal Buntalpun masih saja merenung. Baru kemudian ia merasa
bahwa tangannya menjadi gemetar, la memang ingin memaksa untuk
mengatakan sesuatu kepada Arum. Mungkin ia t idak akan menemukan
kesempatan serupa itu lagi. Tetapi setiap kali kata-katanya sama
sekali tidak dapal meloncat. Bahkan sekilas terbayang olehnya Raden
Juwiring dalam pakaian seorang bangsawan dan seorang perwira
prajurit di Surakarta. Tentu jauh sekali bedanya dengan dirinya
sendiri, la adalah seseorang yang tidak dikenal darah keturunannya
meskipun ia dapat menceriterakannya. Dan kiniia tidak lebih dari
seorang laskar dari pasukan Pangeran Mangkubumi yang sedang disusun
di Sukawati. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia
melangkahkan kakinya masuk ke pakiwan. Ia tidak lagi bernafsu untuk
mandi, selain mencuci wajahnya, tangan dan kakinya. Kemudian
dikibaskannya tangan dan kakinya supaya segera kering. Seperti yang
sudah diduganya. Kiai Danatirta memang sudah terlalu lama menunggu
di pendapa. Bahkan sebagian hidanganpun telah berada di atas tikar
pandan yang putih. Asap mengepul dar i dalam ceting yang penuh
dengan nasi panas. “Marilah Buntal“ ajak Kiai Danatirta “Makan
sajalah dahulu. Baru kau kembali kepada Kiai Sarpasrana. Seandainya
kau terlambat barang sesaat, tentu Kiai Sarpasrana tidak akan marah
karena kau datang sambil membawa keterangan yang kau cari di sini”
Buntalpun kemudian makan dengan lahapnya, la memang agak lapar.
Apalagi ia masih harus menempuh perjalanan di malamhari. Karena itu,
maka iapun makan sekenyangnya. Demikianlah setelah beristirahat
sejenak. Buntalpun kemudian minta diri untuk kembali ke Sukawati.
Tugasnya harus ditunaikannya sebaik-baiknya. Apalagi ia adalah orang
baru di Sukawati meskipun ia termasuk seorang anak muda yang
memiliki bekal yang cukup untuk menjadi pengikut Pangeran
Mangkubumi. “Hati-hatilah Buntal“ pesan Kiai Danatirta “Kau dapat
bertemu dengan kumpeni, dengan prajurit Surakarta atau dengan laskar
Raden Mas Said. Meskipun pada dasarnya tidak ada pertentangan antara
Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi, namun kadang-kadang ada juga
perasaan bersaing di antara mereka yang justru berada di bawah.
Mereka merasa bahwa medan yang mereka hadapi akanbersilang. Itulah
sebabnya maka laskar Raden Mas Said dan laskar Sukawati
kadang-kadang sering berebut pengaruh. Itu perlu kau perhitungkan.
Kecuali j ika pada suatu saat pada keduanya benar-benar tidak
terdapat berbedaan apapun lagi, maka kau tidak usah mempertimbangkan
apapun juga tentang pasukan Raden Mas Said itu” Buntal
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku mengerti ayah” “Nah,
pergilah. Sampaikan salamku kepada Kiai Sarpasrana. Pada saat yang
tepat aku ingin mengunjunginya” Demikianlah Buntalpun mohon diri
pula kepada Arum dan kepada para pembantu di padepokan itu. Arum
melepaskannya dengan tatapan mata yang aneh. Terasa oleh Buntal
bahwa ada sesuatu yang terpancar dari mata itu. Tetapi tidak sepatah
katapun yang memberikan penjelasan tentang gejolak perasaan Buntal
kepada Arum. Demikianlah maka kuda Buntal itupun kemudian berpacu
menyusur jalan pedukuhan yang gelap. Baru ketika kuda itu keluar
dari Jati Sari dan berlari di bulak persawahan, rasa- rasanya malam
menjadi agak terang meskipun bulan tidak nampak sama sekali. Angin
malam yang sejuk terasa mengusap wajah Buntal yang berlari kencang.
Setiap kali ia teringat pesan Kiai Danatirta, bahwa ada kemungkinan
ia bertemu dengan pihak lain di sepanjang jalan. Tetapi agaknya
Buntal sama sekali tidak bertemu dengan siapapun juga di sepanjang
jalan. Hanya sekali-sekali ia melihat seseorang yang sibuk membuka
pematang sawahnya untuk mengalirkan air yang mengalir lambat di
parit yang dangkal. Jika air itu tidak disadap di waktu malam, maka
sawahnya tentu akan kering dan tanamannya akan mati. “Mereka
mencintai tanamannya seperti keluarganya sendiri” desis Buntal
kepada diri sendir i. Namun sebenarnyalah bahwatanaman di sawah
adalah nyawa dari hidup keluarganya. Apalagi bagi petani-petani yang
miskin. Namun tiba-tiba saja Buntal terkejut ketika tampak olehnya
warna merah di langit. Bukan merahnya fajar, karena malam masih
terlampau panjang. “Kebakaran” desis Buntal di dalamhatinya. Seperti
yang diduganya, maka di kejauhan terdengar suara kentongan bergema.
Tiga kali ganda berturut-turut. Semakin lama menjalar semakin luas.
Buntal memperlambat kudanya. Bahkan kemudian ia terhenti sama
sekali. Tetapi Buntal tidak berniat untuk berbelok. “Tentu
tetangga-tetangganya sudah banyak yang membantu. Jika kebakaran itu
menjalar semakin besar, akupun tidak akan banyak dapat membantu,
karena aku hanya seorang diri” berkata Buntal di dalam hatinya.
Namun kemudian suara, kentongan tiga ganda itu semakin lama menjadi
semakin sumbang. Ada irama lain yang didengar oleh Buntal pada suara
kentongan itu. Barulah kemudian ia menjadi jelas. Titir. Buntal
menjadi berdebar-debar. Tentu bukan sekedar rumah yang terbakar.
Titir adalah pertanda kejahatan bahkan mungkin pembunuhan. Sejenak
Buntal termangu-mangu. Ia harus sampai di Sukawati sebelum fajar.
Tetapi suara titir itu sangat menarik hatinya. “Aku ingin
melihatnya. Mungkin tidak memerlukan waktu terlampau panjang” Hampir
diluar sadarnya Buntalpun kemudian menar ik kekang kudanya berbelok
lewat jalan sempit menuju ke tempat kebakaran itu.Semakin dekat
Buntal dengan rumah yang terbakar itu. hatinya menjadi semakin
berdebar-debar. Suara titir itu bahkan hampir lenyap sama sekali
justru di sekitar tempat kebakaran. Malahan di Padukuhan-padukuhan
lain suara titir itu masih tetap bergema. “Ada sesuatu yang tidak
pada tempatnya“ desis Buntal. Anak muda itupun kemudian membawa
kudanya masuk kepategalan dan mengikatnya di balik pepohonan yang
rimbun. Ia sendiri kemudian merayap memasuki padukuhan yang sedang
dilanda oleh hiruk pikuk. Buntal berlindung di balik rimbunnya
segerumbul belukar ketika ia melihat beberapa orang berlari-larian.
Ternyata perempuan dan anak-anak, bahkan beberapa orang laki- laki.
“Apa yang telah terjadi” desis Buntal di dalam hatinya “Jika sekedar
kebakaran, mereka tentu akan membantu memadamkan api yang tidak
terlampau besar itu. Bukan justru berlari keluar padukuhan” Karena
itulah maka Buntal merayap semakin mendekat. Meskipun Buntal tidak
berani menyusuri jalan, namun melintasi kebun dan halaman, iapun
menjadi semakin dekat dari rumah yang terbakar itu. Barulah kemudian
ia mengetahui bahwa yang terjadi adalah sebuah perampokan yang
kasar. Beberapa orang perampok telah memasuki beberapa buah rumah
dan membakar sebuahdi antaranya. Bahkan ketika Buntal berada di
belakang sebuah rumah beberapa ratus langkah dari api, ia masih
mendengar seseorang membentak-bentak di dalam rumah itu “Kalian
harus menyumbang apa saja bagi perjuangan Raden Mas Said” Buntal
menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Inilah satu contoh dari akal
kumpeni“ Karena itu Buntal menjadi semakin bernafsu. ”Jika aku
sempat menangkap satu di antara mereka. Menangkap hidup- hidup”
Tetapi Buntal kemudian terpaksa surut dan berlindung di dalam
kegelapan. Ternyata di dalam rumah itu masih terdapat beberapa
orang. Bahkan ia melihat dua orang yang lain berkeliaran di halaman
dengan senjata telanjang. “Beberapa orang yang mendapat tugas
melakukan perampokan seperti ini?“ bertanya Buntal di dalam hatinya
“Namun tentu sekelompok yang cukup kuat, karena di daerah ini ada
kemungkinan mereka benar-benar bertemu dengan laskar Raden Mas Said
yang sebenarnya” Karena Buntal hanya seorang diri, maka ia tidak
dapat dengan tergesa-gesa bertindak. Ia memerlukan perhitungan yang
matang. Tetapi agaknya ia tidak akan mendapat kesempatan. Beberapa
saat kemudian ia melihat beberapa orang keluar dari rumah itu.
Lamat-lamat ia mendengar seseorang mengerang kesakitan. Tentu
pemilik rumah yang sudah disakiti oleh para perampok itu. “Gila”
geram Buntal. Namun ia masih tetap berusaha. Dengan diam-diam ia
mengikut i beberapa orang itu ke jalan padukuhan. Namun ternyata di
simpang empat telah berkumpul beberapa orangyang lain. Sedang
kuda-kuda mereka, mereka tambatkan pada batang-batang kayu di
sekitar simpang empat itu. “Apakah kita sudah selesai” berkata salah
seorang dari mereka. “Aku kira sudah cukup. Banyak orang yang
berlari-lari mencari selamat dan meninggalkan rumah mereka begitu
saja. Mereka tentu akan pergi ke padukuhan lain. Dan mereka tentu
akan berceritera tentang laskar Raden Mas Said yang sedang merampok
padukuhan ini” Terdengar suara tertawa pendek. Lalu “Marilah. Kita
sudah cukup member ikan kesan, bahwa perampokan ini dilakukan oleh
anak buah Raden Mas Said yang memberontak itu” Orang-orang itupun
kemudian bersiap untuk meninggalkan padukuhan itu. Merekapun segera
berloncatan ke atas punggung kuda dan kemudian berderap meninggalkan
simpang empat itu. Buntal termangu-mangu sejenak. Namun berdasarkan
perhitungan ia sama sekali tidak akan berbuat apa-apa. Karena itu
maka Buntal hanya dapat menahan gelora di dalam dadanya. Namun ia
masih saja tetap berdiri di tempatnya. Ia mengikuti derap kuda-kuda
itu dengan scrot mata yang memancarkan kemarahan dan bahkan dendam
di dalam hati. Sejenak kemudian maka derap kaki-kaki kuda itupun
semakin menghilang. Yang didengarnya kemudian hanyalah gemeretak
kayu dan bambu yang sedang dimakan api. Perlahan-lahan Buntal
melangkah mendekatinya. Namun yang diketemukan hanyalah bara dan abu
saja setelah nyala api menjadi susut. Tetapi Buntalpun segera
bergeser dan bersembunyi lagi ketika ia mendengar derap kaki-kaki
kuda mendekat. Ia menduga bahwa orang-orang yang telah merampok
itukembali lagi karena ada sesuatu yang tertinggal atau sesuatu yang
belumdiselesaikan. Dengan dada yang berdebar-debar Buntal
bersembunyi di balik sebuah gerumbul perdu. Sejenak ia menunggu
dengan gelisah. Menurut perhitungannya kuda yang datang itu tidak
sebanyak yang telah pergi meninggalkan api yang sedang menj ilat dan
menelan rumah itu. “Mungkin hanya dua atau tiga” desis Buntal. Maka
timbullah harapannya untuk dapat melakukan rencananya, menangkap
satu atau dua orang hidup-hidup. “Mungkin yang terjadi justru
sebaliknya. Akulah yang mereka tangkap. Tetapi apaboleh buat.
Kemungkinan- kemungkinan yang demikian memang dapat terjadi di dalam
keadaan seperti ini” Setelah beberapa saat menunggu, Buntal melihat
dua orang berkuda mendekati api itu. Mereka sama sekali tidak turun
dari kudanya. Namun tangan mereka telah siap berada di lambung,
meraba hulu senjata. Ketika wajah orang itu tersentuh merahnya
cahaya api, Buntal terkejut karenanya. Salah seorang yang berkuda
itu sudah dikenalnya dengan baik. Ki Dipanala. “Kenapa ia berada di
sini?“ timbullah kecur igaan di hati Buntal. Ia telah mendengar
ceritera tentang Raden Juwiring Sedang Ki Dipanala adalah orang yang
dekat dengan Raden Juwiring itu. Apakah dengan demikian berarti
bahwa Ki Dipanalapun kini terlibat dalam usaha kumpeni untuk
memburukkan nama Raden Mas Said dengan cara yang licik ini. Untuk
beberapa saat Buntal justru membeku. Namun kemudian ia mendengar Ki
Dipanala berkata “Semuanya sudah selesai. Agaknya yang direncanakan
itu telah dilakukan dengan baik”Kawannya tidak menjawab. Tetapi
kepalanya terangguk kecil. Pembicaraan yang pendek itu telah membuat
Buntal menjadi semakin curiga kepada Ki Dipanala. Karena itu
timbullah niatnya untuk langsung berbicara agar ia mendapat
kepastian, apakah benar Ki Dipanala itu terlibat atau tidak. Karena
itulah maka Buntalpun kemudian merayap semakin dekat. Dan tiba-tiba
saja ia meloncat keluar dari persembunyiannya dan berdiri tegak di
hadapan kedua orang itu. Ki Dipanala dan kawannya terkejut bukan
buatan, Mereka sama sekali tidak menduga bahwa tiba-tiba saja
seseorang telah berdiri di hadapannya. Apalagi ketika Ki Dipanala
melihat wajah itu, seorang anak muda yang bernama Buntal. “Buntal“
Ia berdesis. “Ya Ki Dipanala. Agaknya Ki Dipanala masih mengenal
aku” “Tentu, aku tentu mengenalmu” “Terima kasih Ki Dipanala” jawab
Buntal kemudian, lalu “Tetapi di dalam keadaan seperti ini,
perkenankanlah aku bertanya, apakah yang Kiai lakukan di sini? Baru
saja sekelompok orang membakar dan merampok di padukuhan ini.
Kemudian Ki Dipanala datang berdua seolah-olah melihat hasil dar i
perbuatan yang ganas itu” Ki Dipanala termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian jawabnya “Hanya suatu kebetulan bahwa aku lewat di tempat
ini. Aku mendengar suara kentong titir, sehingga aku singgah sejenak
untuk melihat, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Dan di sini aku
melihat sebuah rumah sedang terbakar” “Ki Dipanala. Agaknya Ki
Dipanala baru dalam perjalanan. Dari mana atau akan pergi kemana?“Ki
Dipanala menjadi agak bingung. Jawabnya “Sekedar nganglang untuk
melihat perkembangan keadaan Buntal” “Tetapi Ki Dipanala
rasa-rasanya menilai per istiwa ini sebagai suatu keadaan yang sudah
selesai, dan sebagai suatu rencana yang sudah dikerjakan dengan
baik?“ “Ah, kau jangan mengada-ada. Aku benar-benar kebetulan saja
lewat di daerah ini” “Paman” berkata Buntal kemudian “Aku minta maaf
bahwa aku terpaksa berbuat sesuatu yang barangkali tidak
menyenangkan bagi paman. Tetapi apa boleh buat” Buntal menarik nafas
dalam-dalam, kemudian “Apakah paman terlibat di dalam perbuatan
ini?“ “Buntal“ Ki Dipanala memotong “Kau jangan berprasangka yang
demikian terhadapku” “Beberapa saat yang lampau, Jati Sari telah
dibayangi oleh petugas sandi. Ketika petugas sandi itu hilang, maka
sepasukan prajurit datang untuk mencarinya. Dan pasukan berkuda yang
datang itu ternyata dipimpin oleh Raden Juwiring” “Apa hubungannya
dengan aku sekarang?“ “Paman adalah orang yang dekat sekali dengan
Raden Juwiring. Jika Raden Juwiring ternyata kemudian tergelincir ke
dalam sikapnya sekarang, maka Ki Dipanalapun agaknya tidak akan
sulit untuk sampai ke jalan serupa” Ki Dipanala menjadi semakin
gelisah. Katanya “Kau mengambil kesimpulan yang salah Buntal. Aku
sama sekali tidak ikut serta di dalam pergolakan ini. Aku berdiri di
luar sama sekali“ “Tentu kau dapat berkata begitu sekarang paman.
Namun kehadiran paman, dan penilaian paman atas yang terjadi ini
sangat mencur igakan. Ketika aku mendengar bahwa Raden Juwiring kini
menjadi seorang Senopati dari pasukan berkudaSurakarta yang bekerja
bersama dengan kumpeni, aku menjadi sangat kecewa. Dan sekarang aku
melihat sikap Ki Dipanala yang t idak dapat aku mengerti” “Sudahlah.
Baiklah aku pergi. Jika kau anggap bahwa kehadiranku di sini dapat
menumbuhkan kecur igaanmu” “Begitu saja pergi?“ sahut Buntal “Maaf
paman. Sebaiknya paman aku antarkan menghadap Kiai Sarpasrana dan
bahkan menghadap Pangeran Mangkubumi” “Pangeran Mangkubumi? Kenapa
aku harus menghadap Pangeran Mangkubumi? Jika sekiranya kau
menganggap tindakanku merugikan perjuangan Pangeran Mangkubumi, maka
kau tidak berhak membawa aku kepadanya” “Paman” berkata Buntal
“Paman tentu tahu, bahwa perbuatan orang-orang yang membakar dan
merampok ini sangat merugikan perjuangan Raden Mas Said. Jika paman
memang terlibat, maka pamanpun telah melakukan sesuatu yang
merugikan perjuangan menentang kekuasaan asing itu. Nah, setiap
orang merasa bertanggung jawab atas kemerdekaan negerinya dan
berjuang untuk menghapuskan pengaruh kumpeni yang semakin lama
semakin mencengkam Surakarta, sehingga tidak mustahil bahwa pada
suatu ketika Surakarta benar-benar akan kehilangan dirinya sendiri”
Ki Dipanala menjadi semakin gelisah. Katanya kemudian disela debar
jantungnya yang semakin cepat “Jangan berprasangka terlampau jauh
Buntal. Baiklah kita berpisah saja” “Tidak paman. Bersalah atau
tidak bersalah paman terpaksa aku bawa menghadap Pangeran
Mangkubumi” “Bukankah tuduhanmu tindakanku ini merugikan perjuangan
Raden Mas Said, bukan Pangeran Mangkubumi?““Meskipun ada bedanya,
tetapi di dalam hal ini terpaksa aku lakukan. Baik Pangeran
Mangkubumi maupun Raden Mas Said tentu akan berkepentingan dengan
sikapmu” “Buntal” suara Ki Dipanala menjadi dalam “Kau sudah
melakukan kesalahan pula. Pangeran Mangkubumi sampai saat ini belum
melakukan sesuatu tindakan yang dapat dianggap sebagai suatu
perlawanan terhadap Surakarta. Hanya karena sikap ir i dan dengki
beberapa orang bangsawan, Pangeran Mangkubumi menjadi semakin
tersudut. Tetapi apakah kau pernah mendapat perintah untuk melakukan
perlawanan atas Surakarta secara terbuka?“ Buntallah yang kemudian
terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia sadar bahwa Ki Dipanala adalah
seorang yang memiliki bukan saja pengertian yang jauh lebih luas
daripadanya tentang pemerintahan, tetapi juga memiliki pengalaman
yang cukup. Karena itu, maka untuk sejenak ia kebingungan untuk
menjawab pertanyaan itu. “Buntal” berkata Ki Dipanala kemudian
“seandainya aku kau anggap orang Surakarta yang sedang melakukan
perbuatan yang licik, maka kau sama sekali tidak berhak berbuat
sesuatu. Apalagi atas nama Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian kau
sudah mendahuluinya melakukan perlawanan terbuka, karena kau telah
melakukan tindakan terhadapku” Sejenak Buntal mematung, dan Ki
Dipanala berkata seterusnya “Karena itu, Buntal. Pergilah. Aku juga
akan pergi. Masih banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu” Tetapi
Buntal yang bimbang itu tiba-tiba berkata “Jangan Ki Dipanala.
Jangan pergi” “Maksudmu?“ “Bukan maksudku mendahului tindakan
Pangeran Mangkubumi. Tetapi perbuatanmu dan beberapa prajur it
Surakarta telah benar-benar merugikan perjuangan Raden Mas Said.
Dengan demikian kau harus mempertanggungjawabkan. Kau akan aku bawa,
apapun yang akan terjadi. Sebab aku kira persoalannya akan menjadi
semakin jelas jika kau berhadapan dengan orang yang memiliki
pengertian dan pengalaman yang jauh lebih luas daripadaku.
Seandainya keputusannya kelak, paman dilepaskan dan dipersilahkan
kembali ke Surakarta, itu bukan lagi menjadi persoalanku” “Jangan
keras kepala Buntal” berkata Ki Dipanala “Kau masih terlampau muda.
Tindakanmu merugikan perjuangan Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian
kau sudah menyusutkan Pangeran Mangkubumi ke dalam kesulitan yang
lebih parah lagi dari sekarang” “Kau menggertak” tiba-tiba saja
Buntal berkata tegas “Kau ingin aku melepaskanmu. Tidak. Aku t idak
akan melepaskan pamandan kawan paman itu” “Ah” “Marilah. Serahkan
senjata paman. Kita pergi ke Sukawati. Terserah apa yang akan mereka
lakukan atas paman. Mungkin paman akan dilepaskan, tetapi mungkin
pula paman akan diserahkan oleh para pemimpin di Sukawati kepada
Raden Mas Said. Tetapi masih ada kemungkinan-kemungkinan lain yang
aku tidak tahu” “Kau jangan berpikir terlampau pendek Buntal”
“Waktuku sudah habis. Aku harus segera menghadap Kiai Sarpasrana”
“Jika demikian kembalilah” “Aku akan kembali bersama paman” Ki
Dipanala termangu-mangu sejenak. Ia sadar bahwa mur id Jati Aking
ini tidak akan dapat diredakan begitu saja. Karena itu ia menjadi
gelisah. Namun dalam pada itu, selagi Ki Dipanala belum menemukan
cara yang sebaik-baiknya untuk menghindarkandiri dari persoalan yang
akan menjadi semakin rumit dengan mur id Jati Aking ini, kawannya
yang belum pernah bergaul dengan Buntal, tidak dapat menahan
perasaannya lagi. Selama itu ia menyerahkan persoalannya kepada Ki
Dipanala. Tetapi agaknya Ki Dipanala dipengaruhi oleh hubungan yang
pernah ada sebelumnya. Karena itu, maka kawan Ki Dipanala itupun
segera menyahut “Ki Dipanala. Kau sudah terlalu sabar menghadapi
anak muda yang bernama Buntal itu. Kau sudah mengatakan segalanya
yang dapat kita katakan. Tetapi ia tidak percaya. Karena itu,
marilah kita tinggalkan saja anak itu. Kita tidak memerlukannya dan
kita tidak berurusan dengannya. Tetapi jika ia akan
menghalang-halangi kita, maka kita berhak menolong dir i kita
sendiri” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Aku kenal
anak itu dengan baik. Ia adalah saudara seperguruan Raden Juwiring.
Tetapi agaknya ia sangat terpengaruh oleh keadaan sehingga ia tidak
dapat menahan hatinya lagi” “Sudahlah Ki Dipanala. Marilah kita
kembali ke Surakarta sekarang” “Kau menghina aku” t iba-tiba Buntal
menggeram “Aku memang belum mengenalmu sebelumnya. Aku belum pernah
mempunyai urusan apapun dengan kau. Tetapi aku tidak dapat memr
iarkan pengkhianatan ini” Orang itu mengerutkan keningnya. Sejenak
dipandanginya Ki Dipanala dengan tajahlnya. Namun Ki Dipanala
menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku sependapat dengan kau. Marilah
kita tinggalkan saja Buntal” “Ki Dipanala. Aku tahu, bahwa kati
adalah orang terdekat dengan Raden Juwiring. Kau adalah orang yang
memiliki kemampuan yang dikagumi. Tetapi apaboleh buat. Aku harus
memaksa kau datang menghadap Pangeran Mangkubumi atau orang yang
dikuasakannya memer iksa persoalanmu”Ki Dipanala dan kawannya yang
sudah turun dari atas punggung kudanya itupun segera mengikatkan
kudanya pada sebatang pohon perdu. Dengan ragu-ragu Ki Dipanalapun
berkata “Buntal. Apakah kau tidak dapat mengendalikan hatimu barang
sedikit agar tidak terjadi sesuatu di antara kita?“ “Persetan.
Serahkan senjatamu, dan menyerahlah” Tetapi Ki Dipanala
menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku tahu bahwa kau adalah anak
muda yang memiliki ilmu yang luar biasa. Kau adalah saudara
seperguruan Raden Juwiring. Jika Raden Juwiring kemudian mendapat
tambahan ilmu dari ayahandanya, maka kaupun tentu mendapat tambahan
ilmu dari Kiai Sarpasrana. Dan aku yakin, bahwa apa yang kau miliki
tidak akan kalah dari Raden Juwiring” Ki Dipanala berhenti sejenak,
lalu “Buntal, tentu aku tidak akan berani melawan Raden Juwiring,
bukan karena ia seorang putera Pangeran, tetapi ilmunya memang luar
biasa. Karena kau memiliki kemampuan seperti Raden Juwiring, maka
akupun sebenarnya tidak akan berani melawanmu. Tetapi jika kau tetap
memaksa aku untuk ikut bersamamu, maka apaboleh buat. Aku akan
mempertahankan kebebasanku” Buntal mengerutkan keningnya. Ditatapnya
Ki Dipanala dengan sorot mata yang memancarkan keragu-raguan. Ia
tahu benar bahwa Ki Dipanala adalah orang yang baik. Tetapi di dalam
keadaan seperti itu, Buntal tidak mempunyai pilihan lain kecuali
memaksanya untuk ikut bersamanya. “Jika aku biarkan Ki Dipanala
lepas, maka ia akan dapat banyak berceritera tentang diriku kepada
Raden Juwiring” berkata Buntal di dalamhatinya. Karena itu maka
Buntalpun berkata “Maaf Ki Dipanala, jika Ki Dipanala tidak mau
pergi bersamaku, aku akan memaksamu”Ki Dipanala tidak segera
menjawab. Tetapi kawannyalah yang menyahut “Tentu kami akan
bertahan. Kami sudah cukup menahan hati selama ini, karena kami
menyadari bahwa kami adalah orang-orang tua yang harus lebih berdada
longgar daripada anak muda-muda. Namun jika kemudian menyangkut
kebebasan dan keselamatan, maka terpaksa aku harus berbuat sesuatu
bersama Ki Dipanala. Mungkin kami berdua tidak memiliki kemampuan
mempertahankan kebebasan dan keselamatan kami setingkat dengan
kemampuanmu, namun apaboleh buat. Kami t idak akan menyerahkan diri
tanpa perlawanan” Buntal menjadi tegang. Ada pertentangan di dalam
dir inya justru karena ia mengenal Ki Dipanala dengan baik. Namun
kemudian iapun menggeretakkan giginya sambil berkata “Adalah salah
kalian j ika kalian berdir i di jalan yang salah” Ki Dipanala tidak
menyahut lagi. Ia sadar, bahwa pembicaraan berikutnya tidak akan ada
gunanya. Karena itu, maka iapun bersiaga untuk menghadapi segala
kemungkinan. Buntalpun kemudian bersiap pula. Perlahan-lahan ia
mendekati Ki Dipanala sambil berkata “Maaf paman. Mungkin aku akan
menyakiti paman” Ki Dipanala masih tetap berdiri diri. Tetapi berdua
dengan kawannya iapun segera melangkah saling menjauhi untuk memecah
perhatian Buntal. Tetapi Buntal tidak gentar, la merasa bahwa
ilmunya cukup kuat untuk menghadapi dua orang yang siap melawannya
itu. Demikianlah maka di antara mereka tidak lagi dapat diketemukan
cara yang baik untuk mempertemukan niat masing-masing. Dengan
demikian maka jalan yang terakhir yang mereka tempuh adalah
kekerasan. Ki Dipanala, orang yang sudah kenyang makan garamnya
kehidupan, sekali-sekali masih juga menar ik nafas dalam- dalam.
Tetapi seperti kata kawannya, jika persoalannyamenyangkut harga
diri, kebebasan dan keselamatan, maka terpaksa iapun melayani
gejolak darah Buntal yang masih muda. Sejenak kemudian Buntal telah
mulai menyerang. Seperti yang diduga oleh Ki Dipanala, maka geraknya
mantap penuh tenaga, la adalah murid perguruan Jati Aking dan sudah
barang tentu. Buntal masih mendapat beberapa unsur tata gerak dari
perguruan Kiai Sarpasrana yang dapat diluluhkan dengan ilmunya yang
diterima dari Jati Aking. Dengan demikian, di dalam perkelahian
berikutnya. Ki Dipanala melihat, bahwa Buntal adalah anak muda yang
memiliki bekal yang cukup Raden Juwir ing yang meluluhkan ilmu dari
perguruan Jati banyak untuk terjun di dalam gelanggang keprajuritan
seperti Aking dengan ilmu yang diwarisinya dari ayahandanya, seorang
Senapati yang tidak banyak tandingnya di Surakarta. Tetapi pada saat
itu Ki Dipanala tidak berdiri seorang dir i. Ia berkelahi bersama
seorang kawannya. Seorang yang lebih muda sedikit dari Ki Dipanala.
Namun yang ternyata bukan sekedar seorang pengikut yang berlindung
di balik punggung. Ketika perkelahian itu meningkat semakin seru,
terasa oleh Buntal, bahwa kedua lawannya adalah lawan yang berat.
Kedua orang itu tidak ser ingan keempat orang yang diceriterakan
oleh Arum, menyelidiki dan mencari keterangan tentang Jati Sari,
namun yang kemudian hilang dibawa oleh Sura selain yang terbunuh.
Kedua orang itu memiliki kemampuan bertempur berpasangan sehingga
terasa oleh Buntal, bahwa ia mendapat lawan yang cukup tangguh.
Setiap kali Buntal memusatkan serangannya kepada salah seorang dari
mereka, maka setiap kali yang lain dengan garangnya menyerang dari
arah yang lain. Bukan sekedar serangan yang dapat mengganggu
pemusatan perhatian danserangannya sendiri, tetapi serangan itu
benar-benar berbahaya baginya. Ketika Buntal dengan sepenuh
tenaganya menyerang Ki Dipanala, dan mencoba melumpuhkannya, maka
kawan Ki Dipanala itupun menyerangnya seperti air banjir menghantam
tanggul. Ternyata bahwa sebelum ia berhasil menyentuh Ki Dipanala,
terasa pundaknya menjadi nyeri. Kawan Ki Dipanala justru telah
berhasil memukul pundaknya itu dengan ujung jari-jarinya yang
merapat. Buntal terkejut bukan buatan. Pukulan itu benar-benar
pukulan yang berbahaya. Untunglah bahwa Buntal berhasil memutar
tubuhnya searah dengan arah pukulan itu, sehingga pukulan itu t idak
meremukkan tulang-tulangnya. Namun selain karena perasaan sakit yang
menyengat pundaknya, Buntalpun merasa heran, bahwa pukulan itu rasa-
rasanya pernah dikenalnya. Pukulan dengan ujung jari yang merapat,
dan pukulan justru dengan ujung ibu jari mengarah kepangkal leher.
“O, Raden Juwiring“ hampir saja Buntal berteriak, la ingat betul.
Pada saat-saat Raden Juwiring telah berada kembali di istananya,
tetapi sekali-sekali masih datang ke Jati Aking dan kadang-kadang
masih ber latih bersama, ia sering melihat pukulan serupa itu.
Pukulan dengan ujung jari yang merapat, dan pukulan dengan ujung ibu
jari. “Siapakah orang ini“ Buntal menjadi berdebar-debar. Dan dengan
demikian maka perhatiannya dipusatkannya kepada oiang yang belum
dikenalnya itu. Seorang yang berpakaian seperti Ki Dipanala, seperti
seorang abdi di rumah para bangsawan di Surakarta. Tetapi semakin
lama Buntal menjadi semakin curiga. Orang itu tentu bukan sembarang
abdi. Mungkin ia seorang prajurit sandi atau petugas-tugas yang
lain. Bahkan kemudian Buntal merasa seakan-akan ia pernah melihat
wajah seperti itu.Namun Buntal tidak sempat mengingat-ingat.
Serangan kedua tawannya rasa-rasanya menjadi semakin berat. Bahkan
kadang-kadang hampir di luar kemampuannya untuk mengelakkan dir i.
Akhirnya Buntal kehilangan semua pertimbangannya. Ketika sekali lagi
tangan kawan Ki Dipanala itu berhasil menyentuh lambungnya, sehingga
perutnya menjadi mual, dan bahkan rasa-rasanya isi perutnya akan
tertumpah keluar, maka ia sudah kehilangan pengekangan diri. la
merasa bahwa kedua lawannya ternyata memiliki kemampuan yang bukan
saja dapat mengimbanginya, tetapi justru terasa terlampau berat
untuk dilawan. Karena itu maka hampir tanpa sempat berpikir lagi,
Buntal telah menar ik senjatanya. Ia tidak lagi dapat
mempertimbangkan siapakah yang dihadapinya. Dan ia tidak sempat
memperhitungkan bahwa ia berniat menangkap Ki Dipanala dan kawannya
itu hidup-hidup dan membawanya menghadap Kiai Sarpasrana. Kedua
lawannya terkejut melihat Buntal kini telah menggenggam senjata.
Bahkan keduanya meloncat surut. Ki Dipanala menjadi sangat tegang.
Dengan suara bergetar ia berkata “Buntal. Jangan menjadi wuru. Kau
sebaiknya tetap sadar, bahwa kita hanya sekedar bergurau. Kenapa kau
tiba- tiba sudah menggenggam senjata?“ “Aku tidak bergurau. Jika
kalian berdua tidak bersedia memenuhi niatku, membawa kalian
menghadap Pangeran Mangkubumi atau yang dikuasakannya, maka lebih
baik aku membunuh kalian di sini. Bagaimanapun juga aku sudah
berbuat sesuatu bagi tanah ini. Aku sudah membantu mengurangi penj
ilat-penjilat yang selama ini mempersubur kekuasaan orang asing”
“Buntal“ Ki Dipanala menjadi cemas “Kau masih sangat muda. Kau belum
mempunyai pertimbangan yang baik. Jika kau mau mendengar
kata-kataku, pergilah kepada KiSarpasrana. Jika kata-katamu
didengar, dan Kiai Sarpasrana memer lukan aku, kau tidak usah
bertempur apalagi dengan senjata. Biarlah Kiai Sarpasrana menyuruh
seorang cantriknya atau kau sendir i datang ke rumahku dan
memanggilku. Aku akan datang. Tetapi tidak dalam keadaan seperti
sekarang ini” “Aku tidak peduli. Jangan mencoba menyelamatkan dir
imu dengan muslihat semacam itu” Ki Dipanala menar ik nafas
dalam-dalam. Yang dihadapinya adalah seorang anak muda yang darahnya
masih terlampau panas. Karena itu. maka ia menjadi agak bingung
untuk meng hindarkan dir i dari bentrok senjata dengan anak muda
dari Jati Aking. Tetapi Buntal tidak memberinya kesempatan. Dengan
sigapnya ia mulai mengayunkan senjata dan siap untuk meloncat
menyerang. Tidak ada pilihan lain dar i Ki Dipanala dan kawannya
kecuali mempertahankan diri. Karena itulah maka keduanyapun kemudian
telah mencabut pedang masing-masing. ”Buntal, masih ada waktu untuk
menyadari segala tindakanmu sekarang ini” berkata Ki Dipanala. “Aku
sadar sepenuhnya. Aku harus menangkapmu, hidup atau mati” Ki
Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti sepenuhnya, betapa
darah muda di dalam tubuh Buntal yang dibakar oleh gairah
perjuangannya itu sedang menggelegak. Namun dengan demikian ia
menjadi semakin cemas, bahwa akan datang saatnya ia harus
mempertaruhkan nyawanya melawan anak muda yang baik itu. Namun
sebelum Ki Dipanala menyahut, kawannya sudah mendahuluinya “Apaboleh
buat. Aku dan Ki Dipanalapun pernah belajar bermain senjata.
Carangkah kami berdua masih sempat berusaha menyelamatkan
diri”Buntal tidak menunggu kalimat itu selesai. Tiba-tiba saja ia
telah meloncat menyerang dengan garangnya. Ujung pedangnya mematuk
seperti ujung paruh seekor burung garuda yang menukik dari udara,
menyambar dada kawan Ki Dipanala. Tetapi kawan Ki Dipanala itu
benar-benar tangkas. Dengan sigapnya ia meloncat ke samping. Bukan
saja menghindari serangan Buntal, tetapi Ia masih sempal menyerang
anak muda itu. Dengan sekuat tenaganya ia memukul senjata Buntal.
Buntal sama sekali tidak menduganya bahwa lawannya mampu berbuat
secepat itu, sehingga karena itu, ia tidak siap menghadapinya.
Ternyata pedangnya telah bergetar dan telapak tangannya bagaikan
disengat oleh ujung senjata itu, sehingga senjata itu terlepas dari
tangannya. Hanya karena Buntal telah terlatih dengan baik, maka
dengan gerak naluriah ia masih sempat memungut pedangnya dan
meloncat menjauhi lawannya. Ternyata lawannya tidak mengejarnya. Ki
Dipanalapun tidak segera menyerangnya. Tetapi keduanya termangu-
mangu untuk beberapa saat memandang Buntal yang memperbaiki
kesalahan. Namun dalam pada itu, Buntal yang merasa tangannya masih
pedih mencoba menilai keadaan. Lawannya benar- benar bukan orang
kebanyakan. Semula ia mengira bahwa lawannya tidak akan lebih baik
dari Ki Dipanala. Namun ternyata kawan Ki Dipanala itu memiliki
kemampuan yang tinggi. Meskipun demikian semuanya sudah terlanjur
dimulai. Buntal adalah seorang anak muda yang keras hati sehingga
karena itu maka ia tidak berniat untuk menarik diri dari perkelahian
itu. Sejenak ia mencoba menilai keadaan. Dicobanya menggenggam
pedangnya erat-erat meskipun tangannyamasih nyeri Sambil
menggeretakkan giginya Buntalpun melangkah maju. Pedang yang sudah
berada di tangannya lagi itupun diacukannya. Tetapi ia tidak berani
lagi bertindak dengan tergesa-gesa agar pedangnya tidak lagi
terloncat dari tangannya. Kedua lawannya bergeser selangkah. Namun
dalam pada itu, Ki Dipanala masih sempat berkata “Buntal, apakah kau
masih akan melanjutkan perkelahian yang tidak akan ada artinya
apa-apa ini” “Persetan“ Buntal benar-benar telah dibelit oleh
perasaannya yang meluap-luap. Karena itu, ia tidak mempunyai pilihan
lain kecuali bertempur “Adalah sudah wajar, jika di dalam
perkelahian, akan jatuh korban” katanya lebih lanjut “dan kita akan
bertempur terus. Jika aku tidak berhasil membawa-Ki Dipanala dan
kawanmu itu, maka biarlah mayatku terkapar di sini” “Ah, jangan
berbicara tentang sesuatu yang menger ikan Buntal. Masih banyak
jalan yang dapat ditempuh” Tetapi Buntal tidak menghiraukan. Kali
ini ia meloncat menyerang Ki Dipanala. Namun Ki Dipanala sudah siap
menghadapi keadaan itu, sehingga ia masih sempat mengelak. Tetapi Ki
Dipanala tidak setangkas kawannya. Buntal masih sempat berputar dan
mengayunkan pedangnya mendatar. Tetapi Ki Dipanala berhasil
menangkis serangan itu meskipun ia harus berloncatan surut. Buntal
tidak ingin melepaskan lawannya. Ia ingin mengurangi kekuatan
lawannya. Meskipun semula tidak terlintas sama sekali niatnya untuk
membunuh, apalagi ki Dipanala, namun dalam keadaan yang kalut itu,
ia tidak dapat mengingat lagi untuk mengekang dirinya. Bahkan
meskipun ia sudah mengerahkan tenaganya, ia masih belum dapat
berbuat banyak terhadap kedua lawannya itu.Ternyata bahwa kemampuan
Buntal memang lebih tinggi dari Ki Dipanala. Namun Ki Dipanala yang
memiliki pengalaman jauh lebih banyak, masih sempat mencari
kesempatan untuk membebaskan diri dari serangan Buntal yang datang
bagaikan banj ir bandang. Tetapi dalam pada itu, kawan Ki Dipanala t
idak membiarkannya berada dalam kesulitan. Dengan tangkasnya ia
meloncat mendekatinya dan menolongnya. Dengan serangan mendatar
kawan Ki Dipanala itu telah memotong serangan Buntal, dan memaksanya
untuk menghadapinya. Sekali lagi Buntal kini berhadapan dengan kawan
Ki Dipanala. Dengan garangnya Buntal memutar senjatanya dan
menyerang dengan cepatnya. Tetapi sekali lagi terasa, bahwa lawannya
memang memiliki kelebihan. Dengan sekedar menarik sebelah kakinya
dan memiringkan tubuhnya, serangan Buntal sama sekali tidak berhasil
menyentuhnya. Namun Buntalpun berpikir cepat. Dengan sekuat
tenaganya ia menggerakkan pedangnya mendatar. Karena pedang itu
berada terlampau dekat dengan tubuhnya, maka kawan Ki Dipanala itu
sudah tidak sempat lagi mengelak. Tetapi ia masih sempat
menyilangkan senjatanya menangkis serangan Buntal yang tergesa-gesa
itu. Sekali lagi terjadi benturan antara kedua senjata. Karena
Buntal tidak sempat mengayunkan senjatanya dengan sepenuh tenaga,
dan lawannyapun hanya sekedar menangkisnya sair maka benturan itu
tidak banyak menimbulkan akibat dikedu, belah pihak. Namun demikian
sekali lagi Buntal merasa, senjatanya bagaikan menyentuh sebuah
dinding baja yang kokoh. Buntal sempat meloncat menjauhi lawannya.
Sekali lagi ia mencoba mengamati, siapakah sebenarnya kawan Ki
Dipanalaitu. Namun kini orang itulah yang menyerangnya dengan
cepatnya sambil menjulurkan
pedangnya.
Jilid 16 “Kita sudah terlalu lama
bergurau di sini” katanya “perkelahian ini harus segera selesai”
Buntal menghindari serangan itu. Namun dadanya menjadi
berdebar-debar. Dan ternyata orang itu tidak hanya berbicara saja
tentang perkelahian yang sudah terlalu lama. Dengan sigapnya ia
menyerang terus. Ketika Buntal mencoba menangkis serangan orang itu
dengan pedangnya, maka tiba-tiba saja orang itu telah memutar mata
pedangnya yang sedang bersentuhan dengan senjata Buntal. Akibat dari
sentuhan itu benar-benar tidak terduga. Pedang orang itu telah
berhasil memutar senjata Buntal dan melemparkannya dari tangannya.
Sejenak Buntal menjadi termangu-mangu. Dengan mata terbelalak ia
melihat ujung pedang yang mengarah ke dadanya. Tetapi darah muda
yang menggelegak di dalam dadanya telah memanasi seluruh tubuhnya.
Tidak ada niat sama sekali padanya untuk menyerah dalam keadaan
apapun. Karena itu,maka Buntal masih tetap mencari jalan, agar ia
tidak harus pasrah diri di ujung pedang lawannya. “Kau tidak
mempunyai kesempatan lagi Buntal” berkata orang yang mengacukan
pedang itu. Buntal memandangnya dengan wajah yang tegang. Sejenak ia
mencoba memperhitungkan keadaan. Sekali-sekali ia memandang Ki
Dipanala dengan sudut matanya. Namun agaknya Ki Dipanala membiarkan
saja kawannya menyelesaikan persoalannya. “Nah, apakah yang akan kau
lakukan sekarang?“ bertanya orang itu. Buntal tetap berdiam diri
sambil menggeretakkan giginya. Sekali-sekali ia terpaksa melangkah
surut jika ujung pedang lawannya menyentuh dadanya. “Katakan apa
yang akan kau lakukan sekarang. Menyerah, atau kau masih ingin
bertempur atau kau mempunyai keputusan lain” Buntal menggeram. Dan t
iba-tiba saja di luar dugaan lawannya ia menjatuhkan dirinya sambil
menendang pergelangan tangan lawannya. Gerak itu sama sekali tidak
diduga, sehingga karena itu, maka tendangan kaki Buntal yang kuat
itu berhasil menggeser ujung pedang lawannya meskipun ia tidak
berhasil melontarkan pedang itu dari genggaman. Kemudian dengan
sigapnya Buntal melenting, disusul dengan sebuah tendang mendatar
mengarah lambung lawannya. Tetapi sekali lagi Buntal gagal. Dan
keadaan yang tidak disangka-sangka itu, ternyata lawannya dapat
berbuat lebih cepat daripadanya. Tendangan mendatar itu masih sempat
dihindar inya. Dan bahkan yang juga tidak diduga oleh
Buntal,kawannya masih sempat menyerangnya pula. Tidak dengan
pedangnya, tetapi dengan kakinya. Buntal yang tidak menyangka itu,
tiba-tiba saja merasa dadanya bagaikan dihantam oleh kekuatan yang
tidak terkirakan sehingga rasa-rasanya nafasnya terputus seketika.
Matanya menjadi berkunang-kunang, dan kesadarannyapun perlahan-lahan
menjadi kabur. Sejenak kemudian Buntal tidak tahu lagi apa yang
terjadi atas dirinya. Pingsan. Tetapi agaknya Buntal tidak pingsan
terlalu lama. Terasa silirnya angin, dan dinginnya air yang
membasahi tubuhnya menyegarkan badannya. Perlahan-lahan kesadarannya
mulai pulih kembali. Ia masih mendengar derap kaki kuda yang
lamat-lamat menjauh. Dan ketika ia dengan tangan yang lemah meraba
dirinya, terasa seluruh pakaiannya telah basah kuyup tersiramair.
Perlahan-lahan Buntal mencoba bangkit. Ia masih melihat nyala api
yang semakin redup. Dan ia melihat senjatanya masih tergolek di
tempatnya. Tertatih-tatih Buntal mencoba berdiri. Berkali-kali ia
meraba pakaiannya yang basah kuyup, seakan-akan ia baru saja ditimpa
oleh hujan yang lebat. Ketika ia mengedarkan pandangan matanya ke
sekelilingnya, dilihatnya sebuah timba upih yang basah, sehingga
karena itu ia mengerti, agaknya Ki Dipanala telah mengambil air dan
menyiramnya sebelum ia ditinggalkannya. Buntal termangu-mangu
sejenak. Ia menjadi heran mengalami perlakuan Ki Dipanala dan
kawannya. “Aku akan menangkap mereka” berkata Buntal “Tetapi mereka
t idak berbuat apa-apa atasku” Sambil terhuyung-huyung ia melangkah
memungut pedangnya. Sekali lagi ia bergumam “Mungkin Ki
Dipanalatidak sampai hati melihat aku pingsan dan ditinggalkannya
begitu saja. Itulah agaknya yang mendorongnya ia menyiram aku dengan
air, dan menunggu sampai aku hampir sadar” ia berhenti sejenak, lalu
“Tetapi kawannya itu” Buntal benar-benar dicengkam oleh keheranan.
Kawan Ki Dipanala ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa. Jika
ia ingin membunuhnya, maka Buntal sendiri tentu sudah mati terkapar
di tempat itu. Tetapi ia tidak berbuat demikian. “Aku tidak peduli”
t iba-tiba Buntal yang muda itu menggeram ”Aku masih hidup dan
sehat. Aku harus menghadap Kiai Sarpasrana dan menyampaikan
laporanku kepadanya. Sudah barang tentu dengan peristiwa yang baru
saja terjadi ini” Perlahan-lahan Buntalpun kemudian melangkah
meninggalkan tempat itu. Badannya masih terasa lemah dan dadanya
masih pepat. Nafasnya kadang-kadang masih terasa terganggu oleh rasa
sakit yang menyengat. Tetapi Buntal dapat bertahan. Ia mendapat
latihan yang berat di Jati Aking dan selama ia berada di Sukawati
sehingga ketahanan tubuhnyapun cukup kuat untuk mengatasi perasaan
sakitnya. Akhirnya Buntal dapat mencapai kudanya yang
disembunyikannya. Iapun segera naik ke atas punggungnya dan kemudian
berpacu kembali ke Sukawati. Tetapi Buntal tidak berani lagi
melarikan kudanya terlampau cepat, karena perasaan sakit di dadanya.
Namun dengan demikian maka Buntal mengalami sedikit kelambatan, la
sampai di Sukawati setelah terang tanah. Kedatangannya dengan
langkah yang letih dan nafas yang terengah-engah telah mengejutkan
Kiai Sarpasrana. Karena itu, setelah Buntal duduk sejenak. Kiai
Sarpasrana ingin segera mengetahui apa yang sudah dialami Buntal di
perjalanannya.Dengan nafas yang berkejaran Buntal mulai
menceriterakan perjalanannya. Mula-mula ia menceriterakan hasil
kunjungannya ke Jati Aking. Keterangan yang didapatkannya dan yang
tidak diduganya adalah bahwa Raden Juwiring kini tengah memimpin
sepasukan prajurit berkuda dari Surakarta, mencari keempat orang
yang hilang itu. Ki Sarpasrana mendengarkan ceritera itu dengan
saksama. Namun Buntal juga merasa heran, bahwa Kiai Sarpasrana tidak
terkejut dan heran mendengar ceriteranya. Bahkan dengan tenangnya ia
berkata “Raden Juwiring tidak akan dapat ingkar. Ia adalah putera
seorang Pangeran, sehingga ia tentu akan dibebani tugas
keprajuritan. Apalagi ayahnya adalah seorang Senapati terpilih di
Surakarta.” “Tetapi Kiai, menilik sikapnya selagi ia masih berada di
Jati Aking, Raden Juwiring menunjukkan pendir iannya yang berlawanan
dari yang dilakukannya sekarang” “Kita memang harus berhati-hati
menghadapi suasananya yang tidak menentu ini. Perubahan masih selalu
akan terjadi” Buntal menundukkan kepalanya, la teringat kepada
tanggapan Kiai Danatirta atas Raden Juwiring. Agaknya orang- orang
tua itu terlampau banyak pertimbangan sehingga ragu- ragu menentukan
sikap. “Buntal” berkata Kiai Sarpasrana kemudian “Tetapi kenapa kau
tampak terlalu letih dan nafasmu bagaikan akan terputus. Apalagi kau
datang agak lambat dari waktu yang sudah ditentukan?“ bertanya Kiai
Sarpasrana kemudian. Buntal bergeser sedikit. Ketika semangkuk
minuman hangat diletakkan di hadapannya, maka tanpa menunggu lagi
iapun segera meneguknya. “Aku haus sekali Kiai” desisnya. Kiai
Sarpasrana tersenyum. Tetapi ia diam saja.Buntalpun kemudian
menceriterakan pertemuannya yang aneh dengan Ki Dipanala, sehingga
ia terlibat di dalam perkelahian. “O, kau bertempur melawan Ki
Dipanala?“ “Tidak ada pilihan lain Kiai. Aku mencur igainya. Ia
berada di tempat yang sedang mengalami kekisruhan. Aku yakin bahwa
orang yang diupah oleh kumpeni sedang berusaha mempengaruhi sikap
rakyat Surakarta terhadap pasukan Raden Mas Said” “Kau tidak
mengenal siapa kawannya itu?“ “Tidak Kiai, tetapi aku melihat ciri
yang pernah aku lihat sebelumnya” “Apa?“ Buntalpun menceriterakan
sikap tangan kawan Ki Dipanala itu. Ia pernah melihat hal itu pada
Raden Juwiring. Kiai Sarpasrana mengangguk-angguk. Ceritera Buntal
ternyata sangat menarik baginya. “Kau sama sekali t idak dapat
menduga, siapakah kawan Ki Dipanala itu?“ Pertanyaan Kiai Sarpasrana
yang diulang itu memang menarik perhatian Buntal. Tetapi ia tetap
menggelengkan kepalanya sambil menjawab “Tidak Kiai. Aku tidak dapat
menduganya” Kiai Sarpasrana menar ik nafas. Katanya “Di malam hari
memang sukar untuk mengenal seseorang yang belum dikenalnya
baik-baik. Tetapi mungkin kau memang belum pernah melihatnya. Sudah
barang tentu orang itu bukan Raden Juwiring, karena betapapun
gelapnya kau tentu akan dapat mengenalnya”“Bukan Raden Juwiring
Kiai” jawab Buntal “kecuali aku tentu dapat mengenalnya, maka ia
tentu tidak akan berpakaian seperti seorang hamba atau pelayan”
“Baiklah“ Kiai Sarpasrana menyahut “beristirahatlah. Laporanmu akan
aku teruskan. Ternyata bahwa keadaan sudah menjadi semakin gawat.
Raden Mas Said sudah tidak dapat menahan hati lagi. Sudah terlalu
lama ia mencoba mengendorkan perjuangannya. Tetapi agaknya kumpeni
justru berbuat sebaliknya. Dan kini bukan saja Raden Mas Said,
tetapi Pangeran Mangkubumipun mengalami tekanan yang semakin berat
justru oleh saudara-saudaranya sendiri yang dikendalikan oleh
kumpeni itu. Karena itu. maka kita wajib mempersiapkan diri
sebaik-baiknya Buntal” Buntal mengangguk. Katanya “Kita sudah lama
menunggu perintah. Jika sekiranya Raden Mas Said dapat diajak
berbicara dengan baik dan membagi pekerjaan yang berat ini. mungkin
keadaan akan segera berubah” “Tentu, kenapa tidak? Raden Mas Said
dan Raden Mas Sujono yang bergelar Pangeran Mangkubumi itu mempunyai
tujuan yang sama. Tetapi agaknya Pangeran Mangkubumi ingin menempuh
jalan yang lebih lunak meskipun agak jauh. Setiap korban yang jatuh
menjadi perhatian Pangeran Mangkubumi. Ia bersedih jika ia melihat
seseorang bersedih. Juga jika ia melihat orang yang menangis karena
kehilangan anak laki- lakinya, atau kehilangan suaminya. Tetapi jika
tidak ada ialan lain. maka Pangeran Mangkubumi dapat berubah
bagaikan seekor banteng yang terluka di medan perang. Jarang ada
seorang Senapati yang dapat mengimbanginya. Mungkin ayahanda Raden
Juwir ing yang bergelar Pangeran Ranakusuma. Senapati yang pilih
tanding itu dapat mengimbangi ilmu Pangeran Mangkubumi. tetapi ada
perbedaan di antara keduanya. Pangeran Mangkubumi yakin akan
perjuangannya, sedang Pangeran Ranakusuma tidak mengerti untuk apa
sebenarnya ia berperang. Apalagisepeninggal puteranya yang
dimanjakannya Raden Rudira, dan sejak isterinya selalu dibayangi
oleh gangguan jiwani” Buntal mendengarkan keterangan itu dengan
saksama. Bahkan kemudian ia seolah-olah tidak sabar lagi, kapan ia
diperkenankan berada di medan perang melawan kumpeni dan orang-orang
Surakarta sendiri yang berpihak kepada mereka. Tetapi Kiai
Sarpasrana kemudian berkata “Kau tidak boleh tergesa-gesa Buntal.
Kau harus menunggu perintah untuk itu. Karena itu, semua tindakanmu
harus kau pikirkan masak- masak “Kiai Sarpasrana berhenti sejenak,
lalu “Seperti yang baru saja kau lakukan Buntal, itu adalah hasil
gejolak perasaanmu semata-mata” Buntal mengerutkan keningnya. Sedang
Kiai Sarpasrana tersenyum sambil berkata “Untunglah, bahwa kedua
orang itu tidak sampai hati mencelakaimu“ “Kiai” berkata Buntal
sambil menundukkan kepalanya “Jika sekiranya aku harus mati, itu
sudah menjadi kesanggupan seorang laki- laki yang berbuat sesuatu
atas keyakinannya” Kiai Sarpasrana mengangguk-angguk. Katanya “Benar
Buntal. Kau memang seorang anak muda yang tabah. Tetapi ada
persoalan lain yang harus kau perhatikan. Jika sekiranya kau
berhasil membunuh salah seorang dari mereka, sedang yang lain sempat
melarikan diri, tentu orang itu akan mengadu di istana Surakarta,
bahwa seorang kawannya telah dibunuh oleh pengikut Pangeran
Mangkubumi. Jika demikian, apakah kau dapat membayangkan, bagaimana
perasaan Pangeran Mangkubumi apabila Pangeran ada di istana pula?“
Buntal mengerutkan keningnya. Dan kepalanya yang tunduk menjadi
semakin tunduk. Tetapi Kiai Sarpasrana masih saja tersenyum. Katanya
“Sudahlah. Kali ini kau dapat mempergunakannya sebagai pengalaman.
Karena kedua orang itu selamat, aku kira merekatidak akan mengadu
justru karena Ki Dipanala mengenalmu dengan baik. Sekarang
beristirahatlah. Ceriteramu dan hasil pengamatanmu di Jati Sari
merupakan laporan yang penting bagi Pangeran Mangkubumi. Aku akan
segera menyampaikannya” “Tetapi Kiai“ Buntal memotong “Apakah
Pangeran Mangkubumi kini berada di sini atau di istana?“ Kiai
Sarpasrana justru tertawa. Katanya “Pangeran Mangkubumi berada
dimana saja yang dikehendaki. Ah pertanyaanmu aneh Buntal. Pangeran
Mangkubumi dapat saja hadir di istana, setelah itu dengan
tergesa-gesa memacu kudanya kemari” Tetapi Buntal mempunyai
tanggapan lain. Ia memang pernah mendengar bahwa Pangeran Mangkubumi
memiliki ilmu yang luar biasa. “Apakah benar Pangeran Mangkubumi
memiliki ilmu Sepi Angin?“ Buntal bertanya kepada dir i sendir i.
Bahkan Buntal dapat menyebut bermacam-macam ilmu yang lain yang
menurut pendengarannya dimiliki oleh Raden Mas Sujono yang bergelar
Pangeran Mangkubumi itu. “Buntal” berkata Kiai Sarpasrana kemudian
“sekarang kau dapat beristirahat. Jika ada persoalan yang lain, kau
akan dipanggil dan barangkali kau akan mendapat tugas-tugas baru
yang lebih berat” “Aku akan selalu bersedia melakukannya Kiai”
“Tetapi tidak dikuasai oleh perasaanmu melulu” Buntal menundukkan
kepalanya “Nah, pergilah ke belakang. Barangkali kau sudah lapar”
Buntalpun kemudian pergi ke belakang. Ia memang lelah dan ingin
beristirahat. Tetapi ia sama sekali tidak merasa lapar.Di biliknya
Buntal berbaring sambil mengenang apa yang baru saja terjadi. Ia
mencoba mengingat-ingat bentuk dan wajah kawan Ki Dipanala. Namun ia
tidak dapat menemukan, siapakah orang itu sebenarnya. Dengan
demikian, maka orang itu merupakan teka-teki yang tidak terpecahkan
bagi Buntal. Bukan saja siapakah orang itu, tetapi juga sikapnya
membuatnya tidak habis berpikir, kenapa ia masih tetap hidup setelah
ia tidak berdaya lagi. “Mungkin Ki Dipanalalah yang mencegah agar
orang itu tidak membunuhku” berkata Buntal di dalam hati “Tetapi
bukankah dengan demikian aku tetap merupakan orang yang berbahaya
bagi Ki Dipanala dimanapun kami akan bertemu?“ Buntal menggelengkan
kepalanya, ia mencoba menyingkirkan angan-angan itu barang sejenak.
Tetapi ia tidak mampu melakukannya. Demikianlah maka Buntal selalu
saja dibayangi oleh peristiwa itu. Bukan hanya hari itu, tetapi di
hari-hari kemudian, di dalam kesibukannya sehari-hari ia kadang-
kadang masih merenung di luar sadarnya. Dalam pada itu, selagi di
Sukawati rakyat dengan penuh gairah mempersiapkan diri menghadapi
setiap kemungkinan, di istana Surakarta telah timbul
persoalan-persoalan baru yang menyangkut kedudukan Tanah Sukawati.
Beberapa orang bangsawan benar-benar tidak dapat menahan perasaan ir
i melihat kebesaran Pangeran Mangkubumi dan penguasaannya atas Tanah
Sukawati. Sebagian dari mereka mendapat hasutan dari kumpeni, agar
mereka memohon kepada Susuhunan untuk meninjau kembali Tanah
Palenggahaii Pangeran Mangkubumi di Sukawati itu. Ternyata sikap dan
pendirian Susuhunan menjadi goncang. Beberapa orang bangsawan setiap
saat memperbincangkan Tanah Sukawati. Bahkan di antara mereka ada
yang dengan sengaja menumbuhkan kegelisahan hati Susuhunan.“Banyak
bangsawan yang tidak dapat menerima sikap yang tidak adil itu
Kangjeng Susuhunan“ seseorang telah menyampaikan persoalan itu
kepada Susuhunan dengan nada yang buram “Jika Kangjeng Susuhunan
tidak segera mengambil sikap, maka di dalam waktu yang dekat, tentu
akan timbul persoalan di antara saudara-saudara kita sendiri”
Persoalan itu membuat Kangjeng Susuhunan menjadi bingung. Ia
menyadari bahwa Pangeran Mangkubumi memiliki hak atas Tanah Sukawati
sesuai dengan janji Susuhunan sendiri. Tetapi jika ia tidak
mendengarkan pendapat para bangsawan dan para pemimpin pemerintahan,
terutama pepatih di Surakarta, maka persoalannyapun akan menjadi
gawat. Karena itu, Susuhunan Paku Buwono benar-benar diliputi oleh
kebingungan dan kegelisahan. Terlebih-lebih lagi Kangjeng Susuhunan
mengetahui, bahwa kumpeni tidak tinggal diam melihat saja keadaan
itu. Bahkan Kangjeng Susuhunan menyadari, bahwa kumpenipun telah
ikut serta mempergunakan kesempatan itu untuk keuntungannya. Dalam
kesempatan itu pula kumpeni mengadakan tekanan- tekanan atas
Kangjeng Susuhunan. untuk memperluas hak- hak kumpeni. Pangeran
Mangkubumi yang sudah memiliki benih-benih perlawanan tidak dapat
menahan hatinya lagi. Dan itulah sebabnya maka perselisihan tidak
dapat dihindarkan. Pangeran Mangkubumi tidak lagi mengekang diri
ketika ia harus berbantah dengan pimpinan tertinggi kumpeni yang
datang dari Betawi di paseban. Dan itulah yang membuat Pangeran
Mangkubumi semakin terjepit. Sikap kumpeni tidak dapat dimaafkannya
lagi. Sikap para pemimpin Surakarta yang justru berpihak kepada
kumpenipun tidak dapat dimaafkannya lagi. Dan sikap Patih
Pringgalayapun benar-benar tidak dapat dimengertinya.Peristiwa itu
membuat Kangjeng Susuhunan benar-benar menjadi prihatin. Ia tidak
dapat menolak tuntutan kumpeni atas Tegal dan Pekalongan, serta
pengawasan sesala macam bea masuk dan keluar Kerajaan. Tetapi ia
tidak akan dapat menahan Pangeran Mangkubumi untuk tetap bersabar
menghadapi keadaan itu. Bahkan kemudian Kanjeng Susuhunan dengan
desakan yang tidak terelakkan lagi dari Dara bangsawan dan kumpeni
yang marah atas sikap Pangeran Mangkubumi telah memutuskan,
betapapun berat di hati. mengambil kembali Tanah Sukawati dari
tangan Pangeran Mangkubumi. “Sukawati menjadi neraka yang berbahaya”
desak kumpeni ”Karena itu Sukawati harus dilepaskan dar i tangan
Pangeran Mangkubumi yang telah berani melawan dengan terbuka
perintah Gubernur Jenderal” Sedang para Pangeran dan bangsawan yang
lain mendesak “Jika tidak segera diambil t indakan maka ir i hati
akan dapat membakar Surakarta. Apakah yang ditakutkan pada Panaeran
Mangkubumi. Surakarta adalah Kerajaan yang kuat. Apalagi kini kita
berada di bawah per lindungan kumpeni” Perintah penarikan kembali
Tanah Sukawati yang memang sudah diduga itu sama sekali tidak
mengejutkan Pangeran Mangkubumi. Tetapi hai itu benar-benar sangat
menyinggung perasaan. Bagi Pangeran Mangkubumi. Sukawati sebagai
sebidang tanah yang luas dan subur, sebenarnya tidak begitu banyak
menarik perhatiannya. Pangeran Mangkubumi adalah seorang Pangeran
yang tidak terlampau cenderung kepada kekayaan lahiriah justru
karena rakyat Surakarta semakin lama menjadi semakin melarat. Tetapi
yang menyakitkan hati adalah justru tanah itu ditarik setelah ia
berhasil membina Sukawati menjadi alas yang kuat baginya, sehingga
penarikan itu akan sangat menguntungkan kumpeni.Tentang para
Pangeran yang iri hati atas tanah kelenggahannya yang terlalu luas
dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Pangeran Mangkubumi tidak
akan menghiraukannya, seandainya Pangeran Mangkubumi tidak
mengetahui bahwa sebagian besar dari para Pangeranpun sebenarnya
telah dipengaruhi pula oleh kumpeni untuk memperkuat tuntutannya
atas penarikan Tanah Sukawati itu. Karena itu, ketika Kangjeng
Susuhunan dengan resmi menarik tanah ini, dan diumumkannya di dalam
sidang para pemimpin pemerintahan dan para bangsawan, rasa-rasanya
jantung Pangeran Mangkubumi telah disentuh oleh bara api. Tetapi
Pangeran Mangkubumi tetap berhasil menahan perasaannya justru karena
ia tahu, bahwa kakandanya, Kangjeng Susuhunan sama sekali tidak
bermaksud berbuat demikian. Ia tidak bermaksud membuat Pangeran
Mangkubumi malu dan sakit hati. Kelemahannyalah yang memaksanya
untuk melakukan semua desakan kumpeni dan para Pangeran yang iri
hati kepadanya, yang dengan tamak mengharap, bahwa Sukawati akan
terbagi kepada para Pangeran itu. “Kakanda Susuhunan“ Pangeran
Mangkubumi menanggapi penarikan atas tanah Sukawati itu “adalah
wewenang kakanda untuk berbuat apa saja atas Tanah Sukawati, karena
sebenarnya hamba hanya sekedar memelihara selagi tanah itu
dikuasakan kepada hamba. Sebenarnyalah bahwa tanah itu adalah milik
Surakarta. Karena itu, hamba tidak akan berkeberatan apapun juga
seandainya tanah itu benar-benar ditarik dengan jujur untuk
kepentingan Surakarta” Kangjeng Susuhunan Paku Buwono itu
termangu-mangu sejenak. Terasa hatinya ikut tersentuh melihat sikap
Pangeran Mangkubumi. Karena sebenarnya, sebagai seorang kakak maka
Pangeran Mangkubumi adalah adiknya yang dikasihinya.Bahkan Kangjeng
Susuhunan pernah meletakkan harapan kepada adiknya ini untuk
memperkuat kedudukan Surakarta. Tetapi ternyata Surakarta menjadi
semakin lemah karena kelemahannya sendiri. Kenapa ia tidak, berani
bersikap seperti Pangeran Mangkubumi? Dan kenapa Pangeran-Pangeran
yang lainpun bersikap lemah dan menj ilat?“ Selagi Kangjeng
Susuhunan itu termangu-mangu, maka Pepatih Surakarta menyela “Ampun
Kangjeng Susuhunan. Apakah hamba diperkenankan untuk berbicara?“
Kangjeng Susuhunan memandang Patihnya itu sejenak. Kemudian dengan
ragu-ragu menganggukkan kepalanya. “Berbicaralah jika kau menganggap
perlu” “Ampun Kangjeng Susuhunan. Sebenarnyalah penarikan Tanah
Sukawati sudah dipertimbangkan sebaik-baiknya oleh Kangjeng
Susuhunan. Berdasarkan keadilan dan kepentingan Kerajaan Surakarta
seluruhnya. Mengingat pendapat Kumpeni dan kegelisahan para
Pangeran, maka tidak ada jalan lain kecuali mengambil kembali Tanah
Sukawati yang diberikan sebagai hadiah jika seseorang berhasil
memadamkan pemberontakan Raden Mas Said. Sedang yang terjadi adalah
sekedar menghentikan kegiatan Raden Mas Said untuk sementara karena
Raden Mas Said dan Martapura kini sudah mulai melakukan kegiatannya
menentang pemer intahan Surakarta lagi. Bahkan mungkin hamba menjadi
curiga, bahwa saat-saat Raden Mas Said dan Pangeran Martapura tidak
lagi melakukan kegiatan itu hanya sekedar kesempatan baik bagi
Pangeran Mangkubumi“ “Paman Patih“ Pangeran Mangkubumi tidak dapat
menahan hati lagi sehingga ia kehilangan suba sita. Namun sebelum
berkepanjangan terdengar Kangjeng Susuhunan berkata “Adimas Pangeran
Mangkubumi. Kau berada di paseban. Selama ini aku masih duduk di
atas tahta. Berbicaralah kepadaku““Ampun kamas Susuhunan. Kata-kata
Ki Patih terasa panas di telinga hamba” “Yang menentukan adalah aku,
Susuhunan Paku Buwana kedua di Surakarta. Jika ada persoalan atas
keputusanku, hendaknya disampaikan kepadaku” Pangeran Mangkubumi
menggeram, la masih menghormati Kangjeng Susuhunan sebagai raja dan
saudara tuanya. Itulah sebabnya dengan susah payah ia menahan
perasaannya yang bergejolak. “Jika kau segan menyampaikannya
sekarang adimas Mangkubumi, senja nanti aku memberi waktu kepadamu
untuk datang menghadap sendir i di luar sidang di paseban” Pangeran
Mangkubumi menyembah. Kemudian katanya “Hamba mohon diri kakanda.
Jika hamba tetap berada di antara orang-orang ini. mungkin hamba
akan kehilangan adat, sopan santun. Karena itu, hamba mohon ijin
untuk menghadap kakanda Susuhunan senja nanti” “Aku tidak
berkeberatan. Aku menyediakan waktu bagimu“ Pangeran Mangkubumipun
kemudian meninggalkan sidang dengan wajah yang merah padam. Ia
sadar, bahwa ia tidak dapat lagi berbuat dengan lunak untuk
menghindari benturan kekerasan. Apalagi apabila diingatnya, bahwa
kumpenilah yang sebenarnya berdiri di belakang mereka yang menghasut
Susuhunan selama ini untuk memecah belah kekuatan Surakarta,
sehingga dengan demikian Surakarta akan menjadirinskh dan tidak
berdaya menghadaoi tekanan kumpeni yang semakin lama terasa semakin
mencekik leher rakyat Surakarta dan kekuasaan Surakarta itu sendir
i. Sepeninggal Pangeran Mangkubumi. maka beberapa orang bangsawan
mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapat mereka tentang
Pangeran Mangkubumi. Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa
Pangeran Mangkubumi tidak akan berani berbuat apa-apa. Jika ia ingin
menyatukan diri dengan Raden Mas Said, maka tentu Raden Mas Said
mencur igainya karena Pangeran Mangkubumi pernah berusaha memadamkan
pemberontakannya untuk mendapatkan Sukawati. “Sukawati kini menjadi
ajang penempaan kekuatan bagi pengikut Pangeran Mangkubumi” berkata
salah seorang bangsawan. “Ampun Kangjeng Susuhunan“ yang lain
menyahut “Tidak ada kekuatan yang berarti di Sukawati” Namun
demikian kumpeni tidak tinggal diam menanggapi sikap Pangeran
Mangkubumi. Kumpeni yang mempunyai pengalaman perang yang dapat
dibanggakan, dapat menangkap sikap dan pertimbangan yang tajam pada
Pangeran Mangkubumi. Kecuali petugas-tugas sandinya sudah dapat
mengetahui apa yang terjadi di Sukawati, juga karena kumpeni
mengerti watak dan tabiat Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya.
Karena itu, sebagai prajurit-prajurit yang pemah mengarungi samodra
dan melintasi benua dari ujung bumi, maka kumpeni tidak ingin
mengalami kegagalan di sebuah pulau yang jauh lebih kecil dari benua
hitam yang pernah dilintasinya. Tetapi pulau yang kecil ini adalah
pulau yang lebih besar dari negerinya sendiri. Dengan demikian, maka
kumpeni benar-benar mempersiapkan dir i menghadapi kemungkinan yang
terjadidengan sikap Pangeran Mangkubumi itu, meskipun dengan
perhitungan, bahwa Surakarta harus merasa dirinya tidak mampu
mengatasi dan minta bantuan kepada mereka. Dengan demikian maka
kumpeni dapat memungut keuntungan dari permintaan bantuan itu.
Bahkan dari pertentangan itu seluruhnya. Ternyata bukan hanya
kumpeni sajalah yang mempersiapkan diri dengan diam-diam. Para
Senapati di Surakartapun mendapat perintah agar bersiap-siap
menghadapi kemungkinan yang bakal terjadi. Tetapi sebagian dari
mereka menganggap bahwa jika Pangeran Mangkubumi melakukan
pemberontakan, maka yang terjadi tidak akan lebih dari menyalakan
obor belarak. Obor daun kelapa kering. Mula-mulanya nyalanya
melonjak sampai menggapai langit, namun beberapa saat kemudian, api
itu akan padam dengan sendirinya karena belarak terlampau cepat
dimakan api. Yang akan tersisa adalah sekedar abunya saja. “Meskipun
demikian, kita harus mengawasi mereka” berkata Ki Patih dalam
pertemuan dengan para Pangeran dan para Senapati. Dan di antara
mereka adalah Pangeran Ranakusuma. “Bagaimana pendapat Pangeran?“
bertanya Ki Patih kepada Pangeran Ranakusuma ”Pangeran adalah
seorang Senapati yang disegani di Surakarta. Juga Pangeran
Mangkubumi merasa segan kepada Pangeran. Pangeran adalah Senapati
yang pilih tanding. Bahkan seorang perwira kumpeni yang pernah
menjelajahi bumipun dapat Pangeran kalahkan“ Pangeran Ranakusuma
menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Pangeran Mangkubumi adalah
seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Menurut
pendengaranku ia memiliki beberapa ilmu yang tidak dapat digolongkan
dalam ilmu kewadagan. Bukan saja pr igel oleh senjata, tetapi juga
ilmu yang tidak dapat dicapai dengan nalar”“Misalnya?“ bertanya
seorang Pangeran yang masih sangat muda. “Misalnya aji Pameling. Aji
Welut Put ih dan semacamnya” “Ah“ potong Ki Patih “Pangeran
Ranakusuma adalah gedung perbendaharaan ilmu. Jangankan Pangeran
Ranakusuma, sedang puteranya, Raden Juwiring, kini sudah nampak,
bahwa ia akan menjadi seorang Senapati yang mumpuni. Pada suatu saat
maka Surakarta akan berani menghadapkan Raden Juwir ing dengan Raden
Mas Said” “Ia bukan tandingnya” jawab Pangeran Ranakusuma. “Sekarang
belum. Tetapi kemajuan Raden Juwir ing agaknya melampaui pesat
lajunya seekor kuda yang paling tegar” Pangeran Ranakusuma tidak
menyahut lagi. Tetapi nampak bahwa ia sedang berpikir. Agaknya
Pangeran Mangkubumi benar-benar orang yang harus diperhitungkannya.
“Pangeran” berkata Ki Patih “menurut pendengaranku, Pangeranpun
memiliki aji Lembu Sekilan yang lebih mantap dari aji Welut Putih.
Aji Panggendam dan aji Tameng Waja. Bahkan masih banyak lagi yang
belum aku sebutkan. Dengan demikian maka Pangeran Mangkubumi
bukannya lawan yang berat bagi Pangeran. Apalagi di antara para
Senapati yang lain masih ada yang dapat disebut namanya untuk
mendampingi Pangeran di peperangan jika hal itu sungguh-sungguh akan
terjadi” “Ya“ Pangeran Ranakusuma mengangguk “sebagai seorang
Senapati aku tidak boleh memilih lawan, meskipun lawan itu adalah
saudaraku sendiri dan memiliki ilmu yang betapapun sempurnanya.
Namun sudah barang tentu bahwa setiap perbuatan itu harus
diperhitungkan sebaik-baiknya. Demikian juga untuk menghadapi
Pangeran Mangkubumi. Aku kira kita harus membuat perhitungan yang
secermat-cermatnya”“Terserahlah kepada para Senapati. Dan tentu
Kangjeng Susuhunan akan percaya kepada para Senapati” “Senja nanti
Pangeran Mangkubumi akan menghadap” desis Ki Patih. Pangeran
Ranakusuma merenung sejenak, lalu terdengar suaranya yang datar
“Apakah kira-kira yang akan dibicarakan?” “Tentu Pangeran Mangkubumi
akan mengadu, seolah-olah kami hanya sekedar didorong oleh perasaan
iri. Tetapi sebenarnyalah bahwa kami mengetahui persiapan yang sudah
dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi di Sukawati” sahut seorang
Pangeran yang lain. Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya, lalu
jawabnya “Tentu Adimas akan berbuat demikian. Tetapi tentu tidak
dengan Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang
sudah dewasa cara berpikir dan bertindak” “Jadi, apakah yang akan
dilakukan menurut kakang-mas“ “Ia tidak akan sekedar mengadu. Tetapi
ia akan menyatakan pendapatnya dan sikapnya” Yang lain mendengarkan
percakapan itu dengan dahi yang berkerut merut. Mereka sependapat
bahwa Pangeran Mangkubumi tentu t idak hanya akan sekedar mengadu.
“Kenapa Kangjeng Susuhunan member inya waktu untuk menghadap
sendiri” desis Ki Patih kemudian. “Itu adil“ Pangeran Ranakusumalah
yang menjawab “selama ini yang didengar oleh kakanda Susuhunan
adalah ceritera tentang Pangeran Mangkubumi. Tentu harus datang
giliran bahwa Pangeran Mangkubumilah yang didengar
ceriteranya”“Tetapi sebenarnya tidak perlu” sahut Pangeran yang
masih muda itu “kakangmas tentu sudah mengerti, bahwa sikap Pangeran
Mangkubumi selama ini berbeda dengan sikap kita semua, seolah-olah
Pangeran Mangkubumi bukan saudara kita. Seolah-olah ia adalah orang
lain. Dengan demikian kita semua dan juga kakanda Susuhunan dapat
berbuat seperti itu” “Itulah bedanya antara kau dan seorang raja
yang bijaksana. Bagaimanapun juga ia harus berbuat seadil-adilnya
meskipun ia tahu bahwa adiknya bersikap lain” Yang lainpun kemudian
terdiam. Beberapa orang di antara mereka hanya sekedar
mengangguk-angguk saja. Namun kemudian Ki Patih berkata “Terserahlah
kepada para Senapati. di dalam hal ini para Senapati tentu lebih
mengetahui karena persoalannya akan menyangkut segi keprajuritan.
Namun di dalam hal ini kumpeni tentu tidak akan tinggal diam. Kita
akan mendapat bantuannya apabila kita memerlukan. Dan kita percaya
kepada mereka. Mereka adalah prajur it yang berpengalaman
menjelajahi bumi dari ujung sampai keujung. Tentu bagi mereka
Pangeran Mangkubumi tidak akan banyak artinya” “Apa artinya
pengalaman mereka itu bagi kita” tiba-tiba Pangeran Ranakusuma
menyahut “Mereka bukan dewa-dewa yang turun dari langit. Aku
berhasil membunuh seorang perwira dalam perang tanding. Dan itu
berarti bahwa Pangeran Mangkubumi akan dapat melakukannya pula. Juga
di peperangan. Demikian pula setiap prajur it Surakarta dan
orang-orang Sukawati akan dapat berbuat demikian pula atas prajurit-
prajurit kumpeni itu” Ki Patih menarik nafas dalam-dalam. la
mengerti bahwa Pangeran Ranakusuma mempunyai dendam pr ibadi pada
kumpeni. Bukan saja bahwa puteranya. menurut berita yang didengarnya
ternyata terbunuh oleh kumpeni, tetapi jugaisterinya yang cantik itu
ternyata telah berhubungan dengan orang-orang asing itu apapun
alasannya. Karena itu Ki Patih tidak mempersoalkannya lagi. la
sadar, bahwa jika hal itu berkepanjangan. Pangeran Ranakusuma akan
menjadi marah dan bahkan mungkin akan mempengaruhi sikapnya terhadap
Pangeran Mangkubumi. Karena itu, Ki Patih t idak mencampurinya lagi.
Ia menyerahkan sepenuhnya kepada para Pangeran dan para Senapati
perang. Apapun yang akan mereka lakukan untuk menghadapi Pangeran
Mangkubumi apabila karena kecewa dan sakit hati Pangeran Mangkubumi
mengambil sikap yang keras dan bahkan mungkin sebuah pemberontakan.
Sebenarnyalah bahwa para Senapati sadar, dalam keadaan itu mereka
akan mengalami pukulan yang berat jika Pangeran Mangkubumi
benar-benar akan mengangkat senjata. Mereka memperhitungkan pula
kemungkinan yang dapat ditimbulkan oleh Raden Mas Said dan
Martapura. Namun sebagian besar dari mereka percaya bahwa Surakarta
tetap besar dan kuat. Terlebih- lebih lagi dengan bantuan kumpeni
yang mempunyai senjata petir. Hanya dengan menarik sebuah pelatuk
senjatanya, maka sebuah peluru akan terbang dan menyambar dada
lawannya. “Aji Lembu Sekilanpun tidak akan dapat menahan laju peluru
yang meluncur secepat tatit di langit“ gumam seorang Pangeran yang
sudah dicengkam oleh pengaruh orang-orang asing itu. Yang kemudian
ditunggu-tunggu oleh para Pangeran itu adalah hasil pembicaraan
Pangeran Mangkubumi dan Kangjeng Susuhunan senja itu. Beberapa orang
bangsawan dan Senapati berpendapat, bahwa Pangeran Mangkubumi memang
akan menentukan sikapnya. Ketika kemudian matahari menjadi semakin
condong ke Barat, dan sinarnya menjadi semakin pudar, maka
parabangsawan dan Senapati menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan
ada di antara mereka yang memerintahkan para abdi dan pelayannya
untuk berhati-hati menjaga halaman istana masing-masing. “Siapa
tahu, dendam Pangeran Mangkubumi akan ditumpahkan kepadaku” berkata
mereka di dalamhati. Dengan demikian maka para abdi dan pelayan
menjadi terheran-heran. Tetapi mereka yang bertugas di regolpun
mempersiapkan senjata masing-masing seakan-akan Surakarta telah
benar-benar dibakar oleh api peperangan. Dalam pada itu, selagi
matahari tenggelam dan langit di atas Surakarta menjadi temaram,
sebuah kereta berderap meninggalkan istana Pangeran Mangkubumi
menuju ke istana Kangjeng Susuhunan di Surakarta. Seperti yang sudah
dikatakan, Pangeran Mangkubumi pergi menghadap kakandanya. Susuhunan
Paku Buwana kedua di Surakarta untuk menumpahkan segala macam
persoalan di dalam hatinya. Namun sementara kereta itu berderap,
maka yang tinggal di istana Mangkubumenpun telah sibuk berkemas.
Pangeran Mangkubumi telah mengatakan kepada keluarganya, bahwa
agaknya suasana akan memburuk. Dan mereka harus dengan ikhlas
meninggalkan istana Mangkubumen. Jika perlu mereka akan tinggal di
gubug-gubuk bambu, di antara rakyat banyak yang hidupnya semakin
sulit karena penindasan kumpeni yang semakin terasa di bumi
Surakarta. Dengan gelisah Kangjeng Susuhunan menerima kedatangan
Pangeran Mangkubumi di bangsal yang khusus. Tidak ada orang lain di
dalam bangsal itu kecuali Kangjeng Susuhunan sendir i dan kemudian
Pangeran Mangkubumi. “Adimas Pangeran” berkata Kangjeng Susuhunan
kemudian “Aku menyesal sekali bahwa aku harus menjatuhkan keputusan
untuk mengambil kembali Tanah Sukawati. Akutahu bahwa hal itu akan
menyakitkan hati adimas Pangeran. Namun aku tidak mempunyai pilihan
lain. Para bangsawan, bahkan para Bupati dan Pringgalayapun
berpendapat bahwa aku harus berbuat demikian” ”Ampun kakanda.
Bagaimana sikap kumpeni dalamhal ini?“ Kangjeng Susuhunan menarik
nafas dalam-dalam. Kemudian dengan nada yang datar dan
terputus-putus ia menjawab “Aku minta maaf kepadamu adinda. Aku
tidak akan ingkar akan kelemahanku. Seharusnya aku tidak berbuat
demikian. Tetapi aku tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya”
“Apakah kakanda tidak percaya bahwa kita memiliki kemampuan untuk
berdiri tegak melawan kumpeni?“ “Tetapi sikap saudara-saudaramu
sangat meragukan. Dan baiklah aku mengucapkannya sendiri daripada
kau yang mengatakan, bahwa aku tidak memiliki kepr ibadian yang kuat
untuk berbuat seperti itu” Pangeran Mangkubumi justru menjadi
bimbang karena Susuhunan dengan jujur lelah mengakui kelemahannya.
Sebenarnya ia ingin menjelaskan hal itu dan memohon agar Kangjeng
Susuhunan kembali kepada sikap seorang Raja yang dihormati dan
berwibawa. Namun agaknya Kangjeng Susuhunan akan terlampau sulit
melakukannya. Meskipun demikian Pangeran Mangkubumi bertanya pula
“Ampun kakanda. Hamba tidak berkeberatan atas Tanah Sukawati itu.
Tetapi apakah kakanda dapat menunjukkan kepada hamba bahwa hal itu
bukan karena kecemasan kumpeni melihat kesiagaan hamba di Sukawati?“
Kangjeng Susuhunan memandang Pangeran Mangkubumi dengan wajah yang
sayu. Kemudian dengan sayu pula ia menjawab “Adimas. Itulah sebabnya
aku sengaja menerimamu tanpa ada orang lain. Aku tahu bahwa kau
akanmenelanjangiku. Kau akan menunjukkan semua cacat cela yang ada
padaku” “Ampun kakanda. Bukan maksud hamba. Hamba hanya sekedar
didorong oleh perasaan muak terhadap kumpeni dan saudara-saudara
hamba yang telah menj ilat kepada mereka” “Kau tidak bersalah
adinda. Dan aku memang harus mengakui. Aku memang dapat menjawab,
bahwa keputusan itu berdasarkan pendapat para Pangeran dan pemimpin
pemerintahan. Aku dapat menjawab bahwa keputusanku aku dasarkan
kepada keadilan dan ketenteraman Surakarta, karena perasaan iri itu
memang dapat menumbuhkan banyak akibat” “Tetapi kakanda . . . . . ”
“Nanti dulu adimas” potong Kangjeng Susuhunan “Aku tahu apa yang
akan kau katakan. Kau tentu akan menyebutkan bahwa itu hanya
sebagian kecil dari persoalan yang sebenarnya, karena di belakang
para Pangeran dan para Pemimpin pemer intahan itupun berdiri
kumpeni. Bukankah begitu?” Pangeran Mangkubumi tidak menjawab.
Tetapi kepalanya kemudian tertunduk dalam-dalam justru karena
pengakuan yang jujur dari Susuhunan Paku Buwono itu. “Aku tidak akan
ingkar adimas. Dan akupun tidak akan ingkar bahwa sebenarnyalah aku
adalah orang yang kurang teguh pada pendirian dan sikap” Pangeran
Mangkubumi menar ik nafas dalam-dalam, lalu dengan nada yang dalam
ia berkata lambat “Ampun kakangmas. Sebenarnyalah bahwa itulah yang
telah membuat hati hamba kecewa. Hamba tidak akan mungkin untuk
selalu menahan hati seperti sekarang. Jika pada suatu saat hamba
melihat seorang perwira kumpeni berdir i di paseban dan apalagi
bersikap seakan-akan ialah yang paling berkuasa, maka hamba tidak
yakin bahwa hamba dapat menahan diridan tidak membunuhnya di tempat
itu juga” Pangeran Mangkubumi berhenti sejenak, lalu “karena itu.
menurut pertimbangan hamba, lebih baik hamba tidak melakukannya.
Jika terjadi demikian mungkin akibatnya akan sangat buruk bagi
Surakarta” Kangjeng Susuhunan memandang Pangeran Mangkubumi dengan
tatapan yang tanpa berkedip. “Karena itu kakangmas, sebaiknya hamba
menyingkir dari lingkungan hamba yang semakin lama menjadi semakin
tidak sesuai lagi” “Maksudmu?“ “kakanda. Jika sekiranya hamba tidak
menjauhkan diri dari suasana yang bagi hamba menjadi semakin
memuakkan ini, hamba t idak tahu, apakah yang akan terjadi” “Jika
kau menjauhinya?“ Pangeran Mangkubumi tidak segera dapat menjawab.
Iapun sadar, meskipun ia menjauhi istana ini, namun hatinya yang
bergejolak sudah t idak akan dapat dikekangnya lagi. “Adimas
Pangeran Mangkubumi” berkata Kangjeng Susuhunan “Aku tahu perasaan
yang tersimpan di dalam hatimu. Karena itu, akupun dapat menduga,
apakah yang sebenarnya akan kau lakukan. Kau tidak akan dapat lagi
sejalan dengan saudara-saudaramu. Dengan aku dan apalagi dengan
kumpeni. Apapun yang kita usahakan bersama, maka jalan kita memang
bersimpangan” “Ampun kakanda” kepala Pangeran Mangkubumi menjadi
semakin tunduk. Ia menyadari sepenuhnya bahwa yang duduk di
hadapannya itu adalah saudara tuanya. Tetapi iapun menyadari bahwa
sebenarnyalah jalan mereka memang bersimpangan.“Adinda Pangeran
Mangkubumi” berkata Kangjeng Susuhunan seterusnya “Baiklah aku kini
berbicara sebagai saudaramu, saudara tuamu. Dan kaupun aku minta
berkata dengan nuranimu. Aku berjanji bahwa aku akan menyingkirkan
sebutanku Susuhunan Paku Buwana ke II di Surakarta” Pangeran
Mangkubumi mengangkat wajahnya. Dengan tatapan mata yang tajam ia
bertanya “Apakah sebenarnya maksud kakanda” “Adinda, apakah
sebenarnya yang akan kau lakukan j ika kau sudah menjauhi istana
ini. Kau tentu tidak akan dapat kembali ke Sukawati, karena dengan
resmi Sukawati sudah aku ambil kembali “Ampun kakanda” Pangeran
Mangkubumi menjadi ragu- ragu. Namun kemudian dipaksakannya berkata
“Kakanda tentu dapat menebak gejolak di dalamdada hamba” “Ya. Aku
mengerti Kau akan mengangkat senjata” Meskipun sebenarnyalah
demikian, tetapi terasa juga dada Pangeran Mangkubumi bergetar.
“Bukankah begitu?“ “Kakanda” suara Pangeran Mangkubumi tersendat di
kerongkongan “hamba memang tidak akan dapat menghindarikan diri dari
t indakan itu. Hamba memang akan mengangkat senjata. Karena itu,
sekaligus hamba mohon dir i. Tetapi jika kakanda berkeberatan, dan
jika kakanda sekarang berdiri sebagai Raja di Surakarta yang
bergelar Susuhunan Paku Buwana ke II tidak membenarkan hamba akan
berjuang melawan kumpeni, maka hamba tidak akan melawan j ika
kakanda memerintahkan para prajurit untuk menangkap hamba. Hamba
masih menghormati kakanda sebagai saudara tua, pengganti ibu bapa,
dan sebagai Raja yang aku sembah di Surakarta”Kangjeng Susuhunan
Paku Buwana tidak segera dapat menjawab. Terasa tenggorokannya
menjadi pepat, dan pelupuk matanya menjadi panas. “Adinda” katanya
kemudian “Kau memang adikku yang aku kasihi. Aku kini benar-benar
berdiri di simpang jalan. Aku berbangga bahwa di antara
saudara-saudaraku masih ada yang berdiri tegak di atas kepribadian
sendiri. di atas kepentingan rakyat Surakarta dan dengan dada
tengadah melawan kumpeni. Tetapi aku juga merasa bersalah karena aku
menyalahi tugasku sebagai raja yang adil di Surakarta, bahwa setiap
perlawanan harus ditindas” Pangeran Mangkubumi menundukkan kepalanya
pula. “Karena itu adimas Pangeran. Jika adimas tidak ada lagi, maka
aku tentu tidak akan merasa selalu dikejar oleh pertentangan di
hatiku sendir i seperti ini” Pangeran Mangkubumi terkejut mendengar
kata-kata itu. Tetapi ia t idak tahu artinya dengan pasti. “Adinda
Pangeran” berkata Susuhunan selanjutnya “karena itu, sebaiknya di
istana Surakarta memang tidak ada lagi seorang Pangeran seperti
adinda” Pangeran Mangkubumi masih tetap termangu-mangu. Namun
kemudian hatinya menjadi berdebar-debar. Bahkan sebuah gejolak yang
dahsyat telah melanda dinding jantungnya. Dengan hampir tidak
berkedip ia melihat Susuhunan Paku Buwana ke II itu berdiri dari
tempat duduknya. Perlahan-lahan ia melangkah ke tempat pusaka di
sisi ruangan. Beberapa batang tombak berdiri tegak dengan megahnya
di sisi sebuah songsong yang kuning keemasan. Dengan tangan gemetar
Susuhunan menggegam tangkai sebuah dari tombak-tombak yang
terpancang itu. Perlahan- lahan ia mengangkat tombak itu dengan
wajah yang tegang.Sesaat kemudian ia berdir i menghadap tempat
Pangeran Mangkubumi duduk bersila. Sejenak ia berdiri mematung.
Namun kemudian selangkah demi selangkah Susuhunan Paku Buwana itu
mendekati Pangeran Mangkubumi. “Adinda Pangeran Mangkubumi” suara
Susuhunan menjadi sangat dalam “Kau tentu kenal tombak ini. Tombak
pusaka yang tidak ada duanya di Surakarta” Pangeran Mangkubumi
termangu-mangu. “Dengan tombak ini, leluhur kita Panembahan Senapati
telah berhasil menyelesaikan tugasnya, ketika terjadi pertentangan
antara Pajang dan Jipang” Pangeran Mangkubumi masih belum menjawab.
Tetapi di dalam hatinya terdengar ia berdesis “Kangjeng Kiai Pleret”
“Adinda Pangeran” berkata Susuhunan kemudian “tombak ini adalah
Kangjeng Kiai Pleret. Tidak ada orang yang dapat menahan kesaktian
tombak ini. Meskipun ia memiliki aji rangkap sembilan, namun tombak
ini akan dapat menembus kulitnya. Biar ia merangkap ilmu Lembu
Sekilan, Tameng Waja dan ilmu kekebalan yang lain, tetapi kekuatan
aji itu tidak akan ada artinya untuk melawan tombak yang tiada
duanya ini. Apakah kau mengerti?“ Wajah Pangeran Mangkubumi menjadi
merah. Sejenak ia memandang ujung tombak yang masih berada di dalam
wrangkanya dan ditutup oleh sebuah selongsong putih. Seuntai bunga
melati yang sudah kekuning-kuningan tersangkut di bawah
selongsongnya. Dada Pangeran itu benar-benar terguncang ketika ia
melihat Kangjeng Susuhunan mengangkat tangkai tombak itu di atas
dahinya, dan kemudian memejamkan matanya sejenak. Kemudian perlahan-
lahan tombak itu diturunkannya. Dengan tangannya yang semakin
gemetar Kangjeng Susuhunan meraba selongsong tombaknya.Pangeran
Mangkubumi duduk mematung di tempatnya. Dan dengan nafas yang
semakin cepat mengalir Pangeran itu mendengar kakandanya berkata
“Adinda Pangeran Mangkubumi. Apakah kau benar-benar bertekad untuk
memberontak?“ Untuk sesaat Pangeran Mangkubumi termangu-mangu. Namun
ia adalah seorang Pangeran yang berhati baja. Apapun yang
dihadapinya tidak akan dapat menggeser pendir iannya. Juga seaninya
ia harus mendapat hukuman mati sekalipun di ruang ini. Karena itu
maka iapun kemudian menyahut “Kakanda. Sebenarnyalah bahwa adinda
tidak akan memberontak. Yang akan hamba lakukan adalah menegakkan
harga diri kita sebagai bangsa dan melepaskan semua ikatan yang
semakin lama terasa semakin menjerat leher rakyat Surakarta. Hamba
akan berjuang melawan kumpeni” “Bukankah itu sama artinya dengan
melawan kekuasaan Surakarta. Jika aku sudah memberikan beberapa
wewenang kepada kumpeni, maka penolakan atas wewenang itu sama
artinya dengan tidak mengakui lagi kuasaku” Pangeran Mangkubumi
menjadi bimbang. Ia melihat perubahan sikap Kangjeng Susubunan.
Namun Pangeran Mangkubumi tidak melepaskan sikapnya. Jawabnya
“Kakanda. Hamba tidak dapat ingkar akan kekuasaan kakanda di
Surakarta. Juga atas wewenang yang kakanda berikan. Tetapi bukankah
kakanda mengakui babwa semuanya itu lahir karena kelemahan hati
kakanda, bukan karena pertimbangan dan perhitungan sehingga wewenang
itu benar-benar merupakan hak yang kakanda berikan atas kuasa
kakanda. Bukan justru karena kelemahan” Kangjeng Susuhunan memandang
Pangeran Mangkubumi dengan tajamnya. Kemudian perlahan-lahan
tangannya yang sudah menggenggam selongsong tombak itupun
ditariknya. Disangkutkannya selongsong tombak yang tidak ada
duanyaitu di pundaknya. Dan kemudian tangannya telah membuka wrangka
tombak itu sekaligus. Sekali lagi Kangjeng Susuhunan itu mengangkat
tombak di atas keningnya. Debar jantung Pangeran Mangkubumi serasa
semakin cepat menghentak-hentak di dadanya. Ia sadar, bahwa tombak
Kiai Pleret adalah tombak yang tiada duanya. Aji Lembu Sekilan,
Tameng Waja, Gedong Maruta, dan segala macam ilmu tidak akan darat
menyelamatkaninya dari ujung tombak Kiai Pleret itu. Apalagi
ternyata kemudian ia melihat, mata tombak itu bagaikan membara.
Pangeran Mangkubumi sudah mengenai tombak itu dengan baik. Jika
tombak itu dimandikan di ujung tahun, maka ia selalu hadir. Karena
itu. ia seakan-akan dapat mengenal segala tabiat dan sifat dari
tombak itu. di saat-saat tombak itu dimandikan, maka mata tombak itu
tidak pernah menyala seperti bara seperti pada saat itu. Dan seperti
yang pernah didengarnya, jika mata tombak itu sedang membara, maka
itu adalah pertanda bahwa sesuatu akan terjadi dengan tombak itu.
Kangjeng Susuhunanpun mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia
mengangkat tangkai tombak itu di depan keningnya. Namun ujung mata
tombak itu masih saja bercahaya kemerah-merahan. “Adimas Pangeran”
berkata Kangjeng Susuhunan “hanya orang yang berhak atas Kangjeng
Kiai Pleret sajalah yang berani memandang tombak ini di saat mata
tombak ini membara” Pangeran Mangkubumi menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba saja timbullah gejolak yang dahsyat di hatinya. Ia sadar
bahwa tombak itu adalah tombak yang tiada taranya. Tetapi apakah
jangkauannya itu hanya akan sampai sekian. Apakah sepeninggalnya
Kangjeng Susuhunan akan berjuang membela rakyat Surakarta? Dan
apakah Raden Mas Said dan Martapuraakan dapat melanjutkannya dan
menarik anak buahnya yang ditinggalkannya seperti sapu lidi
kehilangan ikatannya. Tiba-tiba saja Pangeran Mangkubumi menggeram
di dalam dadanya “Tidak. Aku bukan tikus clurut. Aku setia kepada
kakanda Kangjeng Susuhunan sebagai raja dan saudara tua. Tetapi
apakah aku harus setia sampai mati dengan mata yang buta?“ Terasa
sesuatu bergetar di dadanya. di luar sadarnya Pangeran Mangkubumi
meraba hulu kerisnya. Keris itu memang t idak memiliki kesaktian
seperti Kiai Pleret. Tetapi kerisnyapun bukan keris kebanyakan.
Keris pusaka yang ada di punggungnya, adalah keris yang jarang
sekali dipakainya. Hanya dalam saat yang gawat sajalah keris itu
keluar dari simpanan. Namun Pangeran Mangkubumi terkejut ketika
Susuhunan Paku Buwana bertanya “Adimas. Apakah kau akan
memperbandingkan kerismu dengan tombak Kangjeng Kiai Pleret?“ Kepala
Pangeran Mangkubumi tertunduk kembali. dan terdengar suaranya lambat
“Tidak kakangmas. Tidak, sama sekali tidak. Karena hamba tahu, bahwa
keris hamba memang tidak sebanding sama sekali dengan tombak
Kangjeng Kiai Pleret” “Jadi?“ Wibawa Kangjeng Kiai Pleret ternyata
memang besar sekali. Rasa-rasanya dada Pangeran Mangkubumi tergetar
karenanya. Namun imbangan kekuatan jiwanyalah yang mendorongnya
untuk menjawab “Kakanda, hamba merasa bersukur bahwa hambapun
memiliki sebuah pusaka yang akan dapat hamba pergunakan untuk sipat
kandel dalam perlawanan hamba terhadap kumpeni. Hamba sudah
bertekad. Dan hamba akan mempertaruhkan nyawa hamba kapanpun hamba
harus mulai dengan perjuangan hamba”Tampak kerut menit di kening
Kangjeng Susuhunan Paku buwana. Setapak demi setapak ia semakin
mendekati adiknya. Kemudian dengan suara yang bergetar ia bertanya
“Jadi kau sudah benar-benar mengambil keputusan adimas?” “Hamba
kakanda” “Kau akan meninggalkan istanamu?“ “Hamba kakanda. Hamba
memang akan mohon dir i Hamba harus sudah mulai” “Kapan?“ Dan
tiba-tiba saja hampir di luar sadarnya Pangeran Mangkubumi menjawab
“Sekarang” Kangjeng Susuhunan menundukkan kepalanya. Sesuatu
rasa-rasanya menusuk hatinya. Wajahnya yang tegang menjadi buram.
Dan dengan suara yang lemah ia berkata “Aku mengerti Pangeran
Mangkubumi yang perkasa. Aku tidak akan sakit hati. Aku menyadari
kebesaran jiwa dan tekadmu. Terasa di dalam nada suaramu, bahwa kau
mulai memisahkan sikap antara saudara tua dan kepentingan Surakarta”
“Kakanda“ “Tidak adimas. Aku tidak apa-apa. Kesetiaan seseorang
terhadap raja dan saudara tuanya memang terbatas sampai pada titik
keyakinannya mulai tersentuh. Dan aku dapat mengerti. Karena itu aku
sama sekali tidak berkeberatan jika kau akan meninggalkan Surakarta
dan akan mulai dengan sebuah perjuangan yang panjang” “Kakanda”
desis Pangeran Mangkubumi yang tidak menyangka. Namun sekali-sekali
ia masih memandang ujung tombak Kangjeng Kiai Pleret yang membara.
Aku mengerti adimas, bahwa kau setia kepadaku. Bahkan sampai mati
sekalipun. Tetapi t idak untuk melindungiwewenang kumpeni yang
pernah aku berikan kepadanya. Aku mengerti. Karena itu aku restui
kepergianmu” “Kakanda” suara Pangeran Mangkubumi terputus di
kerongkongan. “Adimas” suara Kangjeng Susuhunan menjadi semakin
dalam dan gemetar “Aku ingin memberimu bekal. Bekal sebagai tebusan
kelemahanku. Terima tombak Kangjeng Kiai Pleret Pusaka terpercaya
dari Surakarta ini. Pakailah selama dalam perjuanganmu melawan
kumpeni dan para Pangeran yang menj ilat kepadanya. Kaulah yang
telah mengembalikan pusaka ini pada saat Kartasura dilanda api per
lawanan yang tiba-tiba pada beberapa saat lampau” Sesuatu bergejolak
dengan dahsyatnya di hati Pangeran Mangkubumi. Ia tidak mengerti apa
yang harus dilakukan. Bagaimanapun juga ia masih ragu-ragu. Apakah
yang dikatakan oleh Kangjeng Susuhunan itu sebenarnya demikian, atau
hanya sekedar sebuah ungkapan yang mempunyai arti yang lain Tetapi
ternyata Kangjeng Susuhunan Paku Buwana itu benar-benar menyerahkan
tombak Kangjeng Kiai Pleret kepada Pangeran Mangkubumi “Terimalah
adikku”Untuk beberapa saat Pangeran Mangkubumi masih termangu-mangu.
Dipandanginya ujung tombak yang membara itu dan wajah kakandanya
berganti-ganti. Namun kemudian dilihatnya sebuah senyum yang pahit
di bibir Kangjeng Susuhunan itu. Dar i sela-sela bibir itu terdengar
kata-katanya “Adinda. Jangan ragu-ragu. Terimalah. Tombak Kangjeng
Kiai Pleret adalah lambang perjuanganku melawan kekuasaan asing.
Kedudukanku, wadagku dan kelemahanku telah mengikat aku di atas
tahta Surakarta. Alangkah senangnya menjadi seorang yang berkuasa.
Dan aku tidak mau kehilangan kekuasaan itu. Aku tidak mau pergi ke
hutan- hutan dan tinggal di bawah gubug yang basah dimusim hujan.
Tidak. Dan itu adalah pengkhianatan atas diriku sendir i” Pangeran
Mangkubumi melihat setitik air di pelupuk mata Kangjeng Susuhunan
yang masih melanjutkan “karena itu, adinda. Yang dapat aku lalukan
adalah sekedar melakukan perjuangan dengan cara yang kerdil ini.
Tetapi sebenarnyalah di hati nuraniku, aku menentang kekuasaan asing
yang semakin menjerat leherku dan kekuasaan di Surakarta. Bukan saja
aku, tetapi juga keturunanku yang akan datang” “Kakanda” suara
Pangeran Mangkubumi terputus di kerongkongan. “Adinda Pangeran. Jika
kau meraba tombak ini di peperangan, anggaplah aku besertamu.
Anggaplah bahwa yang ada di atas tahta Surakarta adalah wadagku yang
dibelenggu oleh nafsu ketamakan, nafsu keduniawian dan segala macam
nafsu yang lain. Tetapi hatiku ada padamu” Tubuh Pangeran Mangkubumi
terasa gemetar. Betapa kuat hatinya, namun terasa jantungnya
bagaikan tergores ujung duri. Pedih. Ia melihat kakandanya sebagai
lambang dari benturan pribadi yang parah di saat Surakarta dilanda
oleh bahaya yang sebenarnya. Tetapi pengakuan yang jujur itu membuat
Pangeran Mangkubumi tetap hormat kepadanya.“Adimas” desis Kangjeng
Susuhunan “Ter imalah Kangjeng Kiai Pleret ini“ Pangeran Mangkubumi
bergeser setapak. Diacukannya tangannya untuk menerima tombak pusaka
itu dengan dada yang berdebaran. “Kau adalah seorang Pangeran yang
pantas memiliki pusaka ini di seluruh Surakarta tidak ada orang yang
berhati seteguh hatimu” “Kakanda. Banyak yang tetap pada sikapnya
apapun yang terjadi atas mereka. Justru di kalangan rakyat yang
langsung mengalami kesulitan di dalam masa yang tidak ada kepastian
ini. Dan hamba akan menerima tombak Kangjeng Kiai Pleret itu atas
nama mereka yang berjuang untuk menentang penjajahan. Dan hambapun
akan berkata kepada mereka, bahwa tombak ini adalah lambang
kehadiran kakanda di setiap medan perlawanan terhadap kumpeni”
Pangeran Mangkubumi melihat mata Susuhunan itu menjadi basah. Tetapi
agaknya pantang bagi seorang laki-laki untuk menangis, sehingga
karena itu, maka suara Susuhunan itupun segera berubah menghentak
“Cepat. Terimalah tombak ini sebelumaku berubah pendir ian“ Pangeran
Mangkubumipun bergeser lagi. Diterimanya tombak pusaka itu dengan
tangan yang gemetar. Diangkatnya landean tombak itu ke depan
dahinya, kemudian dengan suara gemetar pula ia berkata “Terima kasih
kakanda. Hamba merasa bahwa memang hamba harus menjalankan tugas ini
sampai tuntas” Kangjeng Susuhunan memandang mata tombak itu sejenak.
Demikian juga Pangeran Mangkubumi yang dengan dada yang
berdebar-debar memandang mata tombak itu. Ternyata mata tombak itu
masih tetap membara.“Adimas” suara Kangjeng Susuhunan telah menurun
lagi “ternyata kau mampu dan kuat memiliki tombak Kangjeng Kiai
Pleret dengan rencana perjuanganmu. Ujung tombak itu masih tetap
membara, sehingga karena itu, perjuanganmu tentu akan berhasil”
“Kakanda, hamba selalu berdoa agar kita semua mendapat perlindungan
dar i Tuhan Yang Maha Esa. Dan kepada Tuhanlah aku berserah diri,
karena Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu, termasuk diriku”
“Kita akan selalu berdoa bersama-sama di dalam hati kita
masing-masing adinda. Pergilah. Aku tidak dapat memberimu bekal
lebih daripada itu” “Kakanda, anugerah kakanda adalah dorongan yang
tiada taranya bagi hamba. Dan hamba kini mengerti, apakah sebenarnya
yang terjadi di dalamdiri kakanda” “Memang sebuah medan perang yang
dahsyat sekali. Tetapi biar lah aku tetap dalam keadaan ini, keadaan
yang dibayangi oleh kepura-puraan dan nafsu duniawi. Pergilah.
Hatimu yang teguh ternyata memberi keteguhan kepada Surakarta”
Pangeran Mangkubumipun kemudian mohon dir i. Diselubunginya mata
tombak yang membara itu dengan wrangkanya, kemudian sebuah
selongsong putih seputih kapas, dan seuntai rangkaian bunga melati
yang sudah kekuning-kuningan. Ketika Pangeran Mangkubumi bergeser
surut sampai ke pintu, ia masih melihat Kangjeng Susuhunan mengusap
pelupuknya dengan jarinya. Namun sekali lagi ia mendengar Susuhunan
menghentakkan kakinya sambil berkata “Pergilah, dan jangan kembali
lagi“ Namun kemudian “Selamat jalan adinda. Mungkin kita tidak akan
dapat bertemu lagi“ Pangeran Mangkubumi justru tertegun. Dengan
suara parau ia bertanya “Kenapa kakanda?“Kangjeng Susuhunan
menggelengkan kepalanya. Lalu “Sudahlah. Pergilah. Kau benar-benar
berangkat berperang. Kau pantas memakai tanda Senapati perang dengan
seuntai bunga melati yang melingkar di lehermu“ Pangeran Mangkubumi
hanya menundukkan kepalanya saja. “Tetapi” tiba-tiba suara Kangjeng
Susuhunan meninggi “bersiaplah Pangeran Mangkubumi. Surakartapun
akan segera mengangkat seorang Senapati perang j ika pemberontakan
itu terjadi” Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
ia tidak menjawab. Ia melihat pertentangan di dalam diri Kangjeng
Susuhunan itu dan meledak-meledak pada sikap dan kata-katanya
kecuali ia sengaja berusaha menahan matanya yang menjadi basah.
Demikianlah maka Pangeran Mangkubumi setelah sekali lagi menunduk
hormat dan mohon dir i, maka iapun segera meninggalkan bangsal itu
dengan membawa tombak pusaka Kangjeng Kiai Pleret. Tetapi untunglah
bahwa ketika Pangeran Mangkubumi turun ke longkangan dan menuju ke
keretanya, malam sudah menjadi semakin gelap. Tidak banyak orang
yang melihat, apakah yang dibawa oleh Pangeran Mangkubumi. Memang
beberapa prajurit tahu pasti bahwa di tangan Pangeran Mangkubumi itu
adalah sepucuk tombak. Tetapi tidak seorangpun yang mengetahui bahwa
tombak itu justru tombak Kangjeng Kiai Pleret Sejenak kemudian
kereta Pangeran Mangkubumi itupun telah berderap di halaman dan
hampir tanpa memalingkan wajahnya dilaluinya para penjaga di regol
samping. Di sepanjang jalan wajah Pangeran Mangkubumi menjadi
tegang. Terasa sekali betapa kasih kakandanya kepadanya. Namun juga
terasa sekali betapa tersiksanya hati KangjengSusuhunan yang
menyadari kelemahannya tetapi tidak memiliki kesempatan untuk
berbuat sesuatu. “Agaknya kakanda Kangjeng Susuhunan mengetahui
dengan pasti” berkata Pangeran Mangkubumi di dalam hatinya ”jika ia
berbuat sesuatu dan tersingkir dari tahta karena campur tangan
kumpeni dengan bantuan beberapa orang Pangeran, maka Surakarta akan
menjadi semakin parah. Penggantinya tentu orang yang jauh lebih
buruk lagi daripadanya sendiri. Karena itu ia bertahan di atas
tahtanya, sedang pengejawantahan pemberontakan yang meledak di dalam
dir inya adalah diserahkannya tombak Kangjeng Kiai Pleret itu
kepadaku” Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
dipandanginya ujung tombak Kangjeng Kiai Pleret yang tertutup oleh
selongsong putihnya dengan dada yang berdebar-debar. Demikianlah
kereta itupun segera berpacu menuju ke Mangkubumen. Seperti yang
dipesankan sebelum ia berangkat maka seisi istana itupun sudah
mempersiapkan dir i. Pangeran Mangkubumi benar-benar akan
meninggalkan Surakarta. Ia tidak dapat menahan diri lagi mengalami
perlakuan yang gila dari orang-orang asing itu. Dan apalagi kini ia
memiliki sebuah tombak pusaka yang tiada duanya di Surakarta.
Kedatangan Pangeran Mangkubumi di istananya sambil membawa sebatang
tombak telah mengejutkan keluarga dan pengikutnya yang ada di
istana. Dengan singkat Pangeran Mangkubumi sempat menceriterakan.
serba sedikit tentang tombak itu. Dengan demikian, maka para
pengikutnya justru menjadi semakin mantap dan bertekad untuk
melakukan perjuangan dengan sepenuh hati. Pada malam itu juga, seisi
istana Mangkubumen mengemasi Barang-barang yang dapat mereka bawa
sebagai bekal perjuangan mereka. Jika Pangeran Mangkubumi kemudian
memer intahkan untuk membawa segala macamperhiasan dan benda-benda
berharga yang terbuat dari emas dan perak, semata-mata bukan karena
ia tidak mau kehilangan sebuahpun dari miliknya. Tetapi
Barang-barang itu akan dapat menjadi bekal untuk membeayai
perjuangannya. “Kita berangkat sebelum fajar” berkata Pangeran
Mangkubumi kepada keluarga dan pengikutnya. Tidak seorangpun yang
mengeluh. Mereka melakukan kerja masing-masing dengan hati yang
tulus. Mereka mengerti arti dari perjuangan yang bakal dilakukan
oleh Pangeran Mangkubumi, sehingga merekapun harus membantunya.
Lahir dan batin. Menjelang fajar, maka berangkatlah seisi istana
Mangkubumen dengan diam-diam meninggalkan Surakarta. Beberapa buah
kereta berderap diikuti oleh beberapa ekor kuda. Tidak banyak orang
yang mengetahui. Satu-satu dua orang yang kebetulan berada di luar
rumah, dan beberapa orang peronda yang berada di sepanjang jalan
dengan heran melihat ir ing- iringan itu Mula-mula mereka tidak
mengerti, apakah sebenarnya iring-iringan itu. Tetapi ketika di pagi
harinya diketemukan istana Mangkubumen kosong, barulah orang-orang
itu menghubungkan dengan iring-ir ingan yang dilihatnya semalam.
Namun di antara mereka yang menyaksikan iring- iringan itu adalah
seorang bangsawan muda yang duduk di atas kudanya dikawani oleh
seorang pengawal setianya. Orang itu adalah Raden Juwiring dan Ki
Dipanala. “Aku sudah mengira” berkata Raden Juwiring “bahwa pamanda
Mangkubumi akhirnya akan meninggalkan Surakarta” “Banyak yang
memperhitungkan demikian Raden. Agaknya malam ini banyak Pangeran
yang tidak dapat tidur menunggu akibat pembicaraan Pangeran
Mangkubumi dan Kangjeng Susuhunan di senja kemarin. Dan agaknya
kepergianPangeran Mangkubumi tidak dapat dicegah lagi. Pendirian
Pangeran Mangkubumi dan Kangjeng Susuhunan tidak akan dapat bertemu”
Raden Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita dapat
membayangkan, bahwa sebentar lagi, Surakarta akan dibakar oleh
peperangan yang gawat. Pamanda Pangeran Mangkubumi tentu akan
berhasil menyusun pasukan yang kuat di samping pasukan kamas Raden
Mas Said yang sudah mulai tersusun kembali bersama pamanda
Martapura” KI Dipanala menganggukkan kepalanya. Katanya dengan nada
yang dalam “Kenapa kita harus mengalami masa-masa seperti ini
Raden?“ “Kita tidak dapat memilih paman” sahut Raden Juwiring ”kita
seakan-akan telah dilemparkan saja di atas tungku. Dan kita harus
berbuat sesuatu agar kita tidak hangus karenanya” Ki Dipanala tidak
menyahut. Tetapi tatapan matanya menembus bayangan fajar yang
menjadi semakin terang. Dan dilihatnya dalam keremangan pagi, ir
ing-ir ingan Pangeran Mangkubumi menjadi semakin jauh meninggalkan
kota Surakarta. Meninggalkan hidup keduniawian. Sebagai seorang
Pangeran, maka Pangeran Mangkubumi tidak kekurangan sesuatu. Namun
ternyata ada juga yang tidak terpenuhi padanya. Keinginannya melihat
Surakarta bebas dari kekuasaan asing yang rasa-rasanya semakin
mencengkam. Dan bebas dari sifat-sifat tamak iri dan dengki. Karena
itulah maka Pangeran Mangkubumi meninggalkan istananya yang tidak
kekurangan kebutuhan-kebutuhan duniawi dan pemuasan keinginan
manusiawinya, untuk menemukan nilai-nilai yang lebih tinggi dari
arti kemanusiaannya. “Paman” berkata Raden Juwiring kemudian “Aku
dapat memastikan. Bahwa salah seorang Senapati terpenting dari
Surakarta adalah ayahanda Ranakusuma”Dengan tatapan mata yang buram
Ki Dipanala mengangguk sambil menjawab “Ya Raden. Setiap prajurit di
Surakarta menganggap bahwa Senapati yang akan mampu mengimbangi
keunggulan pamanda Pangeran Mangkubumi adalah ayahanda Raden
Juwiring” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. “Kita menghadap
ayahanda paman. Ayahanda akan mendapat waktu untuk mempersiapkan
diri apabila Kangjeng Susuhunan memanggilnya dan membicarakan
masalah ini dengan para Senapati dan pimpinan pemerintahan” “Tentu
pagi ini Kangjeng Susuhunan akan memanggil para Pangeran, para
Senapati dan pimpinan pemerintahan. Memang sebaiknya Pangeran
Ranakusuma mendengarnya lebih dahulu” Raden Juwiring mengangguk
lemah. Sejenak ia masih memandang ke kejauhan. Kemudian ia berkata
seakan-akan kepada diri sendiri “Selamat jalan pamanda Pangeran
Mangkubumi “ Ki Dipanala menundukkan kepalanya. Sesuatu terasa
bergetar di dadanya. Telah terbayang di dalam angan- angannya. di
Surakarta akan pecah perang saudara yang dahsyat sekali. Dalam nyala
api peperangan itulah kumpeni akan mendapatkan keuntungan yang besar
jika para pemimpin pemerintahan di Surakarta tidak menyadari
kedudukannya dan bahkan semakin tenggelam ke dalam pengaruh orang
asing itu. Demikianlah maka Raden Juwiring dan Ki Dipanalapun segera
kembali dan menyampaikan pengamatannya atas Pangeran Mangkubumi itu
kepada ayahandanya. “Aku memang sudah menduga sebelumnya” berkata
Pangeran Ranakusuma “karena itu aku menyuruhmu, berdua untuk
melihat-melihat keadaan”“Ya ayahanda. Saat ini istana Mangkubumen
tentu sudah kosong” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya.
Terkilas diangan-angannya orang-orang yang tamak dan didorong oleh
pamr ih. Karenanya maka katanya “Jika demikian istana itu perlu
diselamatkan. Jika ada orang yang mengetahui dengan pasti bahwa
istana itu kosong, maka mungkin sekali mereka akan memasukinya dan
membawa Barang-barang yang masih ada. Tentu Pangeran Mangkubumi
tidak akan dapat membawa semua Barang-barangnya. Bahkan mungkin
perhiasan- perhiasan yang tersangkut di dinding dan di dalam
bilik-bilik istana itu tidak sempat dibawanya. Dan tidak semua
pakaiannya dan pakaian putra puterinya dapat dibawa” Raden Juwiring
mengerutkan keningnya. Dan iapun kemudian bertanya “Jadi bagaimana
sebaiknya ayahanda?“ “Masukilah istana itu dan kuasailah semua yang
masih ada. Jagalah baik-baik agar tidak selembar kainpun yang
bergeser dari tempatnya” Raden Juwiring termangu-mangu sejenak, lalu
iapun berkata “Tetapi ayahanda, jika aku yang datang ke istana itu,
dan kebetulan sekali di halaman istana itu sudah ada orang lain,
terlebih-lebih lagi jika yang datang lebih dahulu itu adalah salah
seorang pamanda Pangeran, maka aku tidak akan dapat berbuat apa-apa”
Pangeran Ranakusuma berpikir sejenak. Lalu katanya “Baiklah
Juwiring. Kita akan pergi bersama-sama. Menurut perhitunganku sepagi
ini tentu belum ada orang yang mengetahui bahwa rumah itu sudah
kosong sama sekali” “Ayahanda, ada beberapa orang yang melihat
iring-ir ingan keluar dari halaman istana itu. Dan selain itu tentu
para Pangeran, Senapati dan pimpinan pemerintahan sudah menduga
seperti juga ayahanda, bahwa Pangeran Mangkubumi akan lolos dar i
Surakarta bersama keluarganya”Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk.
Lalu “Kau benar Juwiring. Memang sebaiknya kita pergi bersama-sama”
Sejenak kemudian Pangeran Ranakusumapun sudah selesai mepgemasi
diri. Sebagai seorang prajurit ia dapat bertindak dengan cepat dan
tiba-tiba. Dengan diiringi oleh beberapa orang pengawal Ranakusuman
maka Pangeran Ranakusuma bersama Juwiring dan Ki Dipanalapun segera
pergi ke istana Mangkubumen yang memang sudah kosong sama sekali.
Tidak ada seorangpun yang masih t inggal menunggui istana yang besar
dan penuh dengan barang-barang yang cukup berharga, tetani sama
sekali tidak diperlukan oleh Pangeran Mangkubumi di dalam
perjuangannya menentang kekuasaan asing di Surakarta. Namun ternyata
pada saat Pangeran Ranakusuma bersama pengiringnya sampai di depan
istana Pangeran Mangkubumi, maka istana itu sudah tidak kosong lagi.
Beberapa orang telah berkerumun dan berjalan hilir mudik di dekat
pintu gerbang halaman. Pangeran Ranakusuma menarik nafas
dalam-dalam. Katanya kepada Juwiring yang berkuda di sisinya “Inilah
gambaran Surakarta sekarang. Rakyat sudah kehilangan harga diri
karena tekanan penghidupan mereka. Lihatlah. Mereka yang berkerumun
itu tentu akan mencari kesempatan untuk masuk dan mengambil
beramai-ramai apa saja yang ada di istana itu. Mereka tinggal
meyakinkan saja, apakah istana itu benar-benar sudah kosong” “Begitu
cepat mereka mengetahui ayahanda” sahut Juwiring. “Bukankah para
peronda dan penjaga regol-regol padukuhan dan bahkan regol-regol
istana para Pangeran mengetahui bahwa ada iring- iringan
meninggalkan halaman istana itu”Raden Juwiring mengangguk-angguk.
Jawabnya “Ya ayahanda” “Dan sekarang mereka meyakinkan, jika istana
itu memang kosong, maka mereka tentu akan mengambil segala isinya”
Raden Juwiring t idak menyahut lagi. Tetapi kepalanya tertunduk
dalam-dalam. Inilah gambaran kekerdilan jiwa rakyat yang sudah
hampir menjadi putus asa, sehingga jauh berbeda sekali dengan apa
yang dilakukan oleh rakyat Surakarta yang lan, yang masih mempunyai
kepercayaan kepada diri sendiri untuk berdiri tegak sebagai suatu
bangsa, seperti yang nampak pada para pengikut Pangeran Mangkubumi.
“Marilah kita langsung masuk ke halaman melihat keadaannya” berkata
Pangeran Ranakusuma. Juwiring tidak menjawab. Diikutinya saja
ayahandanya mendekati regol halaman istana yang kosong itu. Beberapa
orang yang melihat kehadiran Pangeran Ranakusuma itupun segera
menyibak. Bahkan ada di antara mereka yang dengan diam-diam
menyingkir karena dengan demikian mereka t idak akan mendapatkan
kesempatan lagi untuk berbuat apa-apa. Namun Pangeran Ranakusumapun
terkejut ketika ia melihat dua ekor kuda tertambat di samping istana
itu. Menilik pakaian yang tersangkut pada kuda itu. Pangeran
Ranakusuma dan pengiringnya segera mengetahui bahwa kuda-kuda itu
tentu milik para bangsawan pula. “Kuda siapakah itu?“ bertanya
Pangeran Rana kusuma. Raden Juwiring menggelengkan kepalanya sambil
menjawab “Aku tidak tahu ayahanda” “Marilah kita masuk ke dalam”
desis Pangeran Ranakusuma.Keduanyapun kemudian meloncat dari
punggung kudanya dan menyerahkannya kepada para pengiringnya yang
sudah berloncatan turun pula. Dengan diir ingi oleh Ki Dipanala maka
keduanyapun segera naik ke tangga pintu butulan dan langsung masuk
ke ruang dalam. Istana yang besar itu memang sepi. Meskipun baru
semalam ditinggalkan oleh penghuninya, namun agaknya pada saat
matahari terbit itu rasa-rasanya rumah itu sudah bertahun-tahun
tidak lagi disentuh tangan manusia. Pangeran Ranakusuma
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia melangkah terus, menusuk
langsung ke dalam bilik Pangeran Mangkubumi sendiri. Namun langkah
mereka terhenti ketika mereka mendengar suara di dalam bilik itu
“Kita tunggu saja. Mereka tentu akan masuk pula ke dalam bilik ini”
“Bagaimana j ika bukan Kamas Prabanata” “Bukankah kamas sudah
berjanj i?“ “Lihatlah dari pintu samping” Suara-suara itu terdiam.
Namun agaknya seseorang dari orang-orang itu akan keluar dari
dalambilik. Pangeran Ranakusumapun segera menggamit Raden Juwiring
dan Ki Dipanala. Keduanyapun segera bergeser masuk ke dalam bilik di
sisi lorong di ruang dalam yang menghubungkan dengan ruang depan.
Ternyata dugaan mereka benar. Salah seorang dari keduanyapun
melangkah keluar dan menyelusur lorong itu menuju ke pintu butulan.
Ketiganya terkejut karena mereka melihat seorang bangsawan muda yang
berjalan lewat di depan pintu bilik yang terbuka sedikit sekali.
Dari celah-celah pintu itu merekasempat mengintip dan mengetahui
siapakah yang sudah berada di dalam bilik Pangeran Mangkubumi itu.
Setelah bangsawan itu lampau, Pangeran Ranakusuma dan kedua
pengikutnya itupun dengan tergesa-gesa melangkah dan langsung masuk
ke dalam bilik Pangeran Mangkubumi yang sudah ditinggalkannya itu.
Seorang bangsawan yang masih ada di dalamnya terkejut bukan buatan.
Sejenak ia termangu-mangu melihat kehadiran Pangeran Ranakusuma yang
tiba-tiba bersama Juwiring dan Ki Dipanala. “Oh” desisnya “Marilah,
silahkan, silahkan“ Pangeran Ranakusuma t idak menghiraukannya. Ia
langsung mendekati Pangeran itu dan membuka sebuah bungkusan yang
terletak di pembaringan. “Arya Lampita” berkata Pangeran Ranakusuma
“Siapakah yang telah mengumpulkan Barang-barang ini?“ Bangsawan itu
tergagap. Kemudian jawabnya terputus- putus “Aku, aku tidak tahu
pamanda. Aku tidak tahu” “Tentu Pangeran Mangkubumi sangat tergesa-
gesa, sehingga ada juga perhiasannya yang tertinggal. Timang ini
tentu sangat mahal. Jika Pangeran Mangkubumi sadar, barang ini tentu
dibawanya karena akan sangat berguna baginya” Bangsawan yang bernama
Arya Lampita itu masih berdiri tegak dengan wajahyang tegang.
Dipandanginya saja Pangeran Ranakusuma yang sedang melihat-melihat
isi bungkusan yang sudah dibukanya. “Bungkusan itu sudah ada di situ
sejak aku masuk ruangan ini“ Arya Lampita menjelaskan. Pangeran
Ranakusuma tidak menghiraukannya. Tetapi ia justru bertanya “Kenapa
kau ada di ruangan ini?“ Bangsawan itu menjadi semakin tegang. Namun
kemudian dijawabnya asal saja “Aku tidak sengaja datang kemari.
Tetapi beberapa orang mengatakan bahwa istana ini sudah kosong”
Pangeran Ranakusuma terdiam sejenak. Ia berpaling ketika ia
mendengar langkah seseorang masuk. Orang itu adalah Bangsawan yang
masih muda yang pergi keluar. “O“ Bangsawan yang masih muda itupun
terkejut. Sejenak ia termangu-mangu di pintu. “Kuncara” desis
Pangeran Ranakusuma. Bangsawan yang bernama Kuncara itu tidak
menjawab. “Apakah adimas Prabajati akan datang juga kemari?” “Arya
Lampita menjadi bingung. Dipandanginya wajah Kuncara yang semakin
menunduk. “Apakah kalian telah bersepakat untuk datang kemari?”
Kedua Bangsawan itu menjadi bingung. “Kalian berdua” berkata
Pangeran Ranakusuma “ini adalah gambaran dari pendapat sementara
orang bahwa Sukawati harus ditarik dari Pangeran Mangkubumi. Jika
istana ini dikosongkan, dan kalian pagi-pagi sudah berada di sini,
maka agaknya akan demikian pula dengan Sukawati kelak. Jika pada
batas waktunya Sukawati harus ditinggalkan oleh Pangeran Mangkubumi,
maka pada saat itu juga, setiap orang yang merasa ikut sependapat
mengusirnya akan segera menduduki padukuhan demi padukuhan.Kedua
Bangsawan itu menjadi gelisah. Namun terasa kuping mereka menjadi
panas. Tetapi mereka tahu pasti siapakah Pangeran Ranakusuma
sehingga merekapun tidak berani membantahnya. “Kalian berdua”
berkata Pangeran Ranakusuma “semua yang ada di istana ini masih
tetap milik Pangeran Mangkubumi. Setiap benda tidak boleh bergeser
dari tempatnya” “Tetapi, kami t idak mengambil apa-apa“ Kuncara
menjelaskan. “Meskipun demikian, kehadiran kalian sudah dapat
menimbulkan kecurigaan” “Tetapi pamanda juga datang kemari“ Lampita
mencoba membela dir i. “Ada perbedaannya” sahut Pangeran Ranakusuma
“Aku datang dengan beberapa orang pengawal yang dapat menjadi saksi
bahwa aku tidak merubah meskipun sekedar letak dari Barang-barang
yang ada. Perhiasan dinding yang miring sekalipun aku tidak akan
meluruskannya” “Kami juga t idak berbuat apa-apa” “Jika demikian,
bagus sekali. Sekarang, tinggalkan tempat ini” Keduanya berpandangan
sejenak. Dan hampir bersamaan keduanya memandang timang Pangeran
Mangkubumi yang tertinggal. Timang yang bagus sekali dan tentu mahal
harganya. Pangeran Ranakusuma tidak menghiraukannya meskipun ia
tahu, bahwa kedua Pangeran itu menginginkan timang yang tertinggal
itu. “Sudahlah. Silahkan” desis Pangeran Ranakusuma. Kedua bangsawan
itu tidak dapat membantah lagi. Keduanyapunkemudian melangkah sambil
menundukkan kepalanya keluar dari bilik itu. Pangeran Ranakusuma
memandang Ki Dipanala yang kemudian berdir i termangu-mangu di sudut
ruangan, sambil mengangkat bahunya. Katanya “Surakarta benar-benar
telah menjadi sarang anak-anak yang kehilangan pegangan” Ki Dipanala
tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba saja di luar kehendaknya teringat
olehnya Raden Rudira. Putera Pangeran Ranakusuma yang sudah tidak
ada lagi. Anak muda itu pada masa hidupnyapun benar-benar telah
kehilangan pegangan. Bahkan Pangeran Ranakusuma sendiri saat itu.
Kematian anaknya dan peristiwa yang menimpa isterinya, kemudian
disusul oleh perang tanding dengan seorang perwira kumpeni agaknya
telah menempatkan Pangeran Ranakusuma pada sikapnya yang sekarang,
meskipun masih juga tetap samar- samar. Ki Dipanala terkejut ketika
Pangeran Ranakusuma berkata selanjutnya kepada puteranya “Juwiring,
masukkan Barang- barang itu ke dalam geledeg kayu itu. Mungkin pada
suatu saat masih ada gunanya” Raden Juwiringpun segera membenahi
bungkusan itu dan memasukkannya ke dalam sebuah geledeg kayu yang
berukir bagus sekali. “Ki Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma “Aku
harus segera menyampaikan persoalan ini kepada Kangjeng Susuhunan.
Sementara itu, kau dan Juwiring tetap berada di sini menjaga semua
barang yang masih ada atas perintahku, Senapati yang terpercaya di
Surakarta. Aku akan menunggu perintah dari Kangjeng Susuhunan.
Apakah yang harus aku lakukan atas semua Barang-barang milik
Pangeran Mangkubumi” Demikianlah, meskipun bukan waktunya. Pangeran
Ranakusuma segera pergi ke istana. Agaknya ia datang masihterlampau
pagi. Namun berbeda dengan saat-saat yang lain, pagi itu Kangjeng
Susuhunan sudah duduk merenung di depan bangsalnya. Terlampau pagi
bagi Kangjeng Susuhunan. Ternyata sepeninggal Pangeran Mangkubumi,
Kangjeng Susuhunan Paku Buwana sama sekali tidak dapat memejamkan
matanya sekejappun. Karena itulah maka pagi- pagi benar ia sudah
duduk merenung. Beberapa orang prajurit pengawal menjadi bingung.
Mereka tidak pernah melihat Kangjeng Susuhunan dalam keadaan seperti
itu, Para pelayan dan hamba istanapun hampir tidak tahu apa yang
harus mereka lakukan menghadapi sikap yang belum pernah mereka lihat
sebelumnya. Tetapi Kangjeng Susuhunan itu seolah-olah t idak
menghiraukan apapun. Ia duduk saja merenungi cahaya matahari yang
mulai bertebaran di halaman bangsal dalam. Kedatangan Pangeran
Ranakusuma tidak mengejutkan Kangjeng Susuhunan. Seolah-olah ia
sudah tahu dan bahkan telah siap menerima kedatangannya. “Panggil ia
kemar i” per intah Kangjeng Susuhunan kepada abdinya. Pangeran
Ranakusuma menghadap Kangjeng Susuhunan tidak di tempat yang
seharusnya. Namun seakan-akan keadaan Surakarta yang tidak menentu
itupun menyebabkan perubahan sikap dan kebiasaan Kangjeng Susuhunan
Paku Buwana. “Ampun Kakangmas” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian
“hamba datang untuk memberitahukan, bahwa Pangeran Mangkubumi sudah
lolos dar i istana Mangkubumen” Kangjeng Susuhunan sama sekali tidak
merubah arah pandangan matanya. Dengan suara berat ia berkata “Ya.
Akusudah menduga. Dan tentu saudara-saudaranyapun telah menduganya
termasuk kau” “Hamba kakangmas. Karena itu hamba memasuki istana
Mangkubumen sebelum orang lain, untuk menyelamatkan semua isinya,
agar tidak ada Barang-barang yang bergeser dari tempatnya” Kangjeng
Susuhunan mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia mengatakan
sesuatu. Pangeran Ranakusuma sudah mendahuluinya “Selanjutnya hamba
menunggu perintah Kangjeng Susuhunan apakah yang harus hamba lakukan
atas istana itu atau keputusan lain yang kakangmas ambil” Kangjeng
Susuhunan memandang wajah Pangeran Ranakusuma sejenak, lalu
“Baiklah. Jagalan istana itu baik- baik. Semua isinya tidak boleh
bergeser, karena istana itu seisinya masih tetap milik adimas
Pangeran Mangkubumi” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam.
Ternyata pendapatnya sejalan dengan pendapat Kangjeng Susuhunan,
bahwa istana Mangkubumen sama sekali tidak boleh berubah. “Adimas
Pangeran Ranakusuma” berkata Kangjeng Susuhunan kemudian
“seterusnya, aku sudah mengetahui dengan pasti, bahwa adimas
Pangeran Mangkubumi telah meninggalkan Surakarta. Dan aku tahu pasti
bahwa adimas Pangeran Mangkubumi akan mengangkat senjata dan
berperang melawan kekuasaanku. Karena itu, aku akan segera
mengadakan sidang pagi ini juga untuk menentukan sikap kita
menghadapi sikap adimas Pangeran Mangkubumi itu” Pangeran Ranakusuma
memandang wajah Kangjeng Susuhunan sejenak, namun kemudian ia
tertunduk pula. Sekilas ia melihat sesuatu yang aneh tersirat di
wajah Kangjeng Susuhunan. Namun Pangeran Ranakusuma menganggap bahwa
sewajarnyalah jika terjadi pergolakan di hati Kangjeng
Susuhunan.Pangeran Mangkubumi adalah adiknya. Justru sebenarnya
adalah adiknya yang dikasihinya. Namun kini mereka berada di jalan
simpang. Bahkan tidak mustahil bahwa pada suatu saat keduanya harus
bertemu di peperangan, meskipun hanya pada saat-saat terakhir saja
seorang raja terpaksa turun ke medan, jika tidak ada lagi Senapati
yang pantas untuk memimpin pasukannya. “Adimas Ranakusuma” berkata
Kangjeng Susuhunan kemudian “sekarang kita tidak dapat tinggal diam.
Kita harus berbuat sesuatu untuk mempertahankan hak kita atas
Surakarta. Adimas. Tidak ada orang yang dapat mengimbangi kemampuan
adimas Mangkubumi selain kau sendiri. Namun demikian, aku masih akan
bertemu para Senapati dan Pringgalaya, untuk mendengarkan pendapat
mereka. Barangkali Kumpenipun dapat menyumbangkan pendapatnya
menghadapi persoalan ini” “Kakanda” sembah Pangeran Ranakusuma
“persoalan ini adalah persoalan kita sendiri. Sebaiknya kita tidak
usah membicarakannya dengan kumpeni“ “Kita tidak dapat melepaskan
pengaruh kumpeni atas Surakarta adimas” “Kakanda, kita tidak akan
dapat melupakan peristiwa- peristiwa yang pernah terjadi. Sejak
kekuasaan Mataram, kemudian bergeser ke Timur. Apabila pada setiap
pertikaian kumpeni mendapat kesempatan ikut campur, maka yang paling
beruntung pada pertikaian itu, siapapun yang akan menang dan
siapapun yang akan kalah, adalah kumpenilah” “Tetapi adinda” berkata
Kangjeng Susuhunan “Kita tidak dapat menutup mata bahwa kompeni
mempunyai pengaruh yang nyata di sini. Jika kita tidak memintanya
dengan terbuka, maka ia akan menyusun alasan-alasan yang bermacam-
macam untuk melibatkan dir i sesuai dengan selera mereka sendiri.
Mungkin dengan alasan untuk melindungi kepentingan mereka di sini,
hak mereka, dan perkebunan yang merekaperlukan, dan segala macam
persoalan. Tetapi jika kita datang kepadanya, kita dapat minta
sesuai dengan kepentingan kita saja” Pangeran Ranakusuma mengerutkan
keningnya. Tersirat sesuatu yang lain pada pembicaraan Kangjeng
Susuhunan. Ternyata selama ini penilaiannya atas Kangjeng Susuhunan
agak keliru. Kangjeng Susuhunan bukan semata-mata orang yang pasrah
pada pengaruh kumpeni. Tetapi iapun mempunyai pertimbangan
tersendiri untuk menghambat mekarnya pengaruh kumpeni. Meskipun
nampak kelemahan yang mencengkamnya, namun Kangjeng Susuhunan bukan
semata-mata seorang yang sekedar mendambakan kamukten semata-mata.
Apalagi ketika Kangjeng Susuhunan melanjutkan “Adimas. Aku berniat
menyerahkan pimpinan pasukan Surakarta kepada orang yang bertanggung
jawab bukan saja terhadap keselamatan Surakarta sendiri, tetapi juga
keselamatan perkembangan kepr ibadian kita. Pertikaian di antara
kita sendiri memang harus disesalkan. Tetapi ternyata kali inipun
sulit dihindari. Jika bukan adimas Pangeran Mangkubumi yang lolos
dar i istananya, maka tentu akan tambul kekisruhan- kekisruhan yang
lain yang justru didukung oleh kumpeni. Tentu hal itu akan lebih
berbahaya bagi Surakarta. Seandainya kita tidak dapat menahan
kekuasaan adimas Pangeran Mangkubumi dan terpaksa menyerah, maka
yang akan memegang kekuasaan berikutnya telah kita ketahui dengan
pasti, yaitu adimas Pangeran Mangkubumi. Tetapi jika yang mendesak
kedudukan kita adalah orang lain yang mendapat dukungan kumpeni,
maka Surakarta benar-benar akan padam kekuasaannya” Pangeran
Ranakusuma mengerutkan keningnya. Kini perasaannya sendiri telah
dijalari oleh tanggapan yang aneh.“Adimas Ranakusuma” berkata
Kangjeng Susuhunan “Aku tidak pernah mengatakan hal ini kepada orang
lain. Aku mengatakannya kepadamu, karena aku tahu, kau bukan orang
yang semata-mata menggantungkan dir i kepada orang-orang asing.
Dahulu kau memang bersikap demikian, seperti saudara-saudaraku yang
lain. Tetapi aku kira, sekarang kau bersikap lain. Aku tahu bahwa
kau telah membunuh seorang perwira kumpeni pada suatu perang
tanding. Kemudian sikapmu sesudah itu aku rasakan perlahan-lahan
berubah” Pangeran Ranakusuma hanya menundukkan kepalanya saja. “Nah,
sekarang kau dapat meninggalkan tempat ini. Tindakanmu yang pertama
kali sudah benar. Kau harus menjaga rumah adimas Pangeran
Mangkubumi. Orang- orangmu cukup banyak untuk melindungi rumah itu.
Lakukanlah atas perintahku” “Hamba akan melakukannya kakanda.
Mudah-mudahan tidak ada orang lain yang tidak percaya bahwa yang
hamba lakukan adalah per intah kakanda. “Aku sertakan kau seorang
Lurah prajurit dari pasukan pengawal. Ia merupakan pertanda
perintahku, sedangkan orang itu ada di bawah perintahmu di dalam
pelaksanaan tugas ini” Demikianlah maka Pangeran Ranakusumapun
segera meninggalkan istana dengan mengemban tugas. Ia menyadari
betapa berat beban yang akan dipikulnya jika ia harus berhadapan
dengan Pangeran Mangkubumi di medan.Dalampada itu Pangeran
Ranakusuma tidak segera kembali ke istananya. Ia masih harus singgah
ke istana Pangeran Mangkubumi bersama prajurit pengawal itu, dan
memer intahkan beberapa orangnya untuk tetap tinggal di halaman
istana itu untuk mencegah agar tidak terjadi sesuatu yang tidak
dikehendaki atas istana yang kosong itu. Namun ketika Pangeran
Ranakusuma mendekati regol istana itu, ia terkejut. Dilihatnya
sebuah kereta dan beberapa ekor kuda sudah berada di halaman istana.
Dan Pangeran itupun segera mengenal bahwa kuda-kuda itu bukan kuda
milik pengawalnya. Karena itu dengan tergesa-gesa Pangeran
Ranakusuma memasuki halaman. Sejenak ia tertegun. Namun kemudian ia
menyadari bahwa kumpeni telah ikut campur pula di dalam persoalan
ini. Karena itu, maka Pangeran Ranakusumapun segera meloncat dari
punggung kudanya diikuti oleh seorang perwira prajurit pengawal itu.
Dengan tergesa-gesa Pangeran Ranakusumapun segera naik ke pendapa.
Beberapa orang kumpeni ternyata telah ada di rumah itu. Ketika
mereka melihat kedatangan Pangeran Ranakusuma. merekapun segera
bergeser. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak menghiraukannya. Ia
langsung masuk ke ruang dalam. Di ruang dalam itu ternyata seorang
perwira kumpeni sedang marah-marah sehingga suaranya mengumandang
memenuhi ruangan. “Aku adalah perwira kumpeni yang mendapat kuasa di
Surakarta” teriak perwira kumpeni itu. Dan terdengar Juwiring
menjawab “Maaf. Aku tidak peduli. Aku adalah putera Pangeran
Ranakusuma. Aku mendapatperintah langsung dari ayahanda untuk
melindungi rumah pamanda Mangkubumi“ “Ayahmu tidak berhak memer
intahkan kau menjaga rumah ini” “Dan apakah hakmu? Apakah hak
kumpeni untuk melakukan penggeledahan di dalam rumah yang telah
kosong ini” “Aku harus menemukan Barang-barang milik kumpeni yang
tersembunyi di rumah ini” “Kau harus minta ij in kepada Kangjeng
Susuhunan lebih dahulu” “Aku sudah mendapat ij innya” Juwiring
termangu-mangu. Memang tidak mustahil bahwa kumpeni telah mendapat
ij in dar i Kangjeng Susuhunan yang menurut pendapat Juwiring sangat
dipengaruhi oleh kekuasaan kumpeni. Namun demikian ia masih menjawab
“Aku ingin mendapat bukti pernyataan ijin dari Kangjeng Susuhunan”
“Gila” teriak perwira itu “Aku tidak pernah mendapat bukti
pernyataan. Aku dapat berbuat apa saja” Pangeran Ranakusuma yang
mendengar perbantahan itu justru berhenti sejenak. Ia ingin
mendengar, apa saja yang dapat dikatakan dan bagaimana sikap
Juwiring menghadapi kumpeni. Karena itu ia justru memberi isyarat
kepada perwira prajurit pengawal itu untuk menunggu barang sejenak.
Dalam pada itu terdengar Juwiring menjawab “Apapun yang pernah kau
lakukan, tetapi aku memerlukan bukt i. Aku adalah kemanakan Kangjeng
Susuhunan itu” Tetapi perwira kumpeni itupun tidak mau mundur. Ia
sudah terlanjur melangkah. Sebagai seorang yang merasa dirinya
memiliki kelebihan dalam banyak hal. maka perwira itupunkemudian
berkata “Aku tidak peduli siapa kau. Susuhunan sendiri tidak akan
menolak keinginan kumpeni. apalagi kau. Kau hanya anak seorang
Pangeran dari Surakarta. Kau sama sekali t idak dapat mencegah aku”
Wajah Raden Juwiring menjadi merah. Darah mudanya terasa mendidih
sampai ke kepala. Sekilas teringat olehnya bahwa ayahandanyapun
pernah berperang tanding melawan kumpeni. Kini ia memiliki ilmu yang
cukup mantap seandainya ia harus berkelahi melawan kumpeni itu.
apapun akibatnya. Karena itu maka katanya “Aku tidak peduli siapa
kau dan apa hakmu. Tetapi aku sudah mendapat perintah untuk menjaga
rumah ini” “Aku akan memer iksa rumah ini. Tentu ada perlengkapan
Pangeran Mangkubumi yang disembunyikan di dalam rumah ini dan yang
sekarang masih tertinggal” “Tidak” jawab Juwir ing tegas. “Jadi,
apakah kau berdir i di pihak Pangeran Mangkubumi?” bertanya perwira
itu tiba-tiba. Sejenak Raden Juwiring termangu-mangu. Bahkan
Pangeran Ranakusuma yang masih belum menampakkan diri itupun menjadi
termangu-mangu. Namun ia masih juga menunggu, bagaimanakah jawab
Raden Juwir ing atas pertanyaan itu. Baru sejenak kemudian Raden
Juwiring berkata “Aku berdiri di pihak ayahandaku, Pangeran
Ranakusuma. Aku hanya menjalankan perintahnya. Dimanapun ia berdir
i. Dati aku akan melakukan tugas ini sebaik-baiknya, apapun
akibatnya” Wajah perwira kumpeni itupun menjadi tegang. Tetapi
sebelum ia mengucapkan sepatah katapun, Raden Juwiring mendahuluinya
“Aku tahu kau membawa pengawal. Tetapi akupun membawa pengawal yang
cukup untuk menjalankan tugasku”Kumpeni itu menjadi gemetar menahan
marah. Dengan gigi gemeretak ia berkata “Kalian akan mampus di sini.
Aku akan mempertanggung jawabkan kepada Susuhunan” Sebelum Juwir ing
menjawab, maka terdengar jawaban dari balik pintu yang didorong oleh
Pangeran Ranakusuma “Kau tidak usah bertanggung jawab terhadap
siapapun. Aku perintahkan kau meninggalkan rumah ini” “Gila” mata
perwira itu menjadi merah “Kau mau apa Pangeran Ranakusuma?“ “Kau
tentu mengenal kelengkapan prajurit pengawal khusus. Dengarlah
perwira yang membawa perintah Kangjeng Susuhunan ini berbicara “
Perwira kumpeni itu menggeram. Ia memang mengenal pakaian dan
kelengkapan prajurit pengawal khusus itu. Karena iapun
termangu-mangu sejenak. Dan sebelum ia sempat berbicara Lurah Prajur
it pengawal itu sudah berkata “Aku mengemban perintah Kangjeng
Susuhunan Paku Buwana yang memer intah di Surakarta, agar aku
melindungi gedung istana Pangeran Mangkubumi ini seisinya. Tidak
boleh ada selembar atas pembaringan atau sebuah tempat dudukpun yang
bergeser dari tempatnya” Wajah kumpeni yang merah itu menjadi
semakin merah. Namun ia tidak dapat membantah lagi ketika Pangeran
Ranakusuma berkata “Semua wewenang atas gedung ini sudah diserahkan
kepadaku dan perwira prajurit ini. Karena itu, aku persilahkan
kalian meninggalkan tempat ini, karena gedung ini sudah berada di
bawah perlindunganku berdua atas perintah Kangjeng Susuhunan”
“Tetapi, tetapi“ perwira kumpeni itu masih mencoba untuk bertahan
“Aku memer lukan Barang-barangku yang hilang, terutama senjata”“Jika
benar Pangeran Mangkubumi atau orang-orangnya telah mencur i
senjata, mereka tentu tidak terlampau bodoh untuk menyimpan senjata
itu di halaman rumah” Kumpeni itu memandang Pangeran Ranakusuma
dengan tegang. Tetapi iapun menyadari, bahwa seorang kawannya tidak
mampu melawan Pangeran itu di dalam perang tanding. Dalam keadaan
demikian, jika ia memaksa untuk berbuat sesuatu, maka perselisihan
akan segera timbul. Dan itu tidak akan menguntungkan bagi kumpeni
maupun Surakarta dalam keadaan yang semakin gawat, karena Pangeran
Mangkubumi telah meninggalkan Surakarta dengan diam-diam. “Pangeran”
berkata perwira kumpeni itu “Jika Pangeran tidak mengij inkan aku
mencari senjata di rumah ini, maka aku minta agar Pangeran membantu
kumpeni. Jika Pangeran menemukan senjata kumpeni jenis apapun, kami
harap Pangeran menyerahkannya kepada kami” “Aku mengerti apa yang
harus aku lakukan” desis Pangeran Ranakusuma. Kumpeni itu termenung
sejenak, namun kemudian katanya “Baiklah aku minta diri. Aku akan
menyampaikan laporan kepada atasanku yang akan membicarakannya
dengan Kangjeng Susuhunan” “Terserahlah kepadamu” sahut Pangeran
Ranakusuma. Kumpeni itu menggeretakkan giginya menahan gejolak
perasaannya. Namun kemudian ia dengan tergesa-gesa meninggalkan
tempat itu diikuti oleh anak buahnya. Agaknya kumpeni-kumpeni itupun
berusaha menahan perasaan mereka sedalam-dalamnya, karena merekapun
adalah praiurit-praiur it yang mempunyai harga diri yang merasa
dirinya prajurit- prajurit pilihan yang telah mengarungi lautan dan
melintasi benua. Tetapi menghadapi praiurit-praiur it Surakarta,
mereka memang harus berpikir beberapa kali. Seperti yang ternyata
dilakukan oleh pemimpin-pemimpin mereka, sebagian terbesardari
kemenangan yang pernah mereka capai dengan penguasaan daerah baru,
bukan karena kejantanan mereka dan keunggulan di medan perang.
Seandainya orang-orang asing itu dapat melakukannya demikian di
benua yang pernah dijelajahinya dengan kekuatan senjata, namun di
bumi Surakarta mereka lebih banyak mempergunakan akal yang licik.
Agaknya demikian jugalah yang harus mereka lakukan menghadapi
perselisihan antara Pangeran Mangkubumi dengan Kangjeng Susuhunan
Paku Buwana di Surakarta. Mereka harus berbuat licik dan licin
sehingga akhirnya mereka akan mendapatkan keuntungan yang sebesar-
besarnya. Demikianlah maka akhirnya perwira kumpeni itu telah
memilih cara yang sering mereka pergunakan di bumi Surakarta. Mereka
menyadari bahwa prajurit-prajurit Surakarta adalah prajurit-prajurit
pilihan di bawah pimpinan Senapati-Senapati yang ternyata memiliki
kemampuan, baik secara pribadi maupun di dalam kelompok pasukannya,
memiliki kelebihan dan cara yang kadang-kadang di luar dugaan
kumpeni. Namun masih ada satu dinding tembus yang dapat dengan mudah
diselusupi oleh kumpeni. Betapa kuat pertahanan lahiriah pasukan
Surakarta, namun secara batiniah mereka memiliki kelemahan yang
meyakinkan bagi kumpeni. Bujukan adu domba, benda-benda yang bagi
mereka aneh dan menyenangkan, adalah senjata yang paling baik untuk
melumpuhkan kekuatan Surakarta. Dan kelumpuhan itu ternyata sama
sekali bukan kesalahan dari orang-orang asing itu. Orang-orang asing
itu memang menghendaki Surakarta menjadi lumpuh. Yang bersalah dalam
hal ini adalah para pemimpin Surakarta sendiri. Memang mereka
menyediakan diri untuk menyerahkan harga diri mereka di bawah
pameran Barang-barang yang bagi mereka sangat menarik.
janji-janjidan yang lebih parah lagi, kenapa mereka menyediakan diri
untuk dijadikan semacam domba yang diadu yang satu dengan yang lain.
Ada beberapa orang dari para pemimpin di Surakarta yang menyadari
hal itu. Tetapi mereka tidak dapat banyak berbuat sesuatu karena
mereka berada di dalam lingkaran yang seakan-akan telah membelenggu
mereka. Dalam pada itu, sepeninggal kumpeni, maka Pangeran
Ranakusuman segera memanggil beberapa orang yang dipercayanya. di
bawah pimpinan Ki Dipanala dan Lurah prajurit pengawal, mereka harus
tetap berada di halaman istana Pangeran Mangkubumi sampai ada
perintah yang lain dari Kangjeng Susuhunan. “Kita bergantian paman”
berkata Juwiring kemudian “dan tentu petugas dari istana itupun akan
bergiliran setiap hari” “Tentu” jawab Lurah prajurit pengawal “pada
waktunya akan datang orang lain menggantikan aku, tetapi pada
dasarnya istana ini seisinya memang harus diselamatkan” Demikianlah
setelah memberikan beberapa pesan kepada orang-orangnya yang akan
ditinggal di istana Pangeran Mangkubumi itu, maka Pangeran
Ranakusuma dan Juwiringpun segera kembali ke istananya. Tetapi
Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa sebentar lagi ia tentu akan
dipanggil untuk menghadir i pertemuan para Senapati yang akan
mempersiapkan dir i menghadapi segala kemungkinan sehubungan dengan
kepergian Pangeran Mangkubumi diam-diamdari Surakarta. Di sepanjang
jalan Pangeran Ranakusuma tidak banyak berbicara. Namun ketika
mereka mendekati istananya sendiri, Pangeran itu memberi isyarat
agar Raden Juwiring berada di sisinya.“Juwiring” berkata Pangeran
Ranakusuma “Agaknya mendung yang membayangi Kerajaan Mataram ini
menjadi semakin tebal. Kita memang tidak boleh berdiam dir i saja
dengan kesibukan-kesibukan kita sendiri. Pada suatu saat Surakarta
tentu akan menyiapkan pasukannya untuk menghadapi pasukan Pangeran
Mangkubumi. Dan kita harus sudah siap dengan rencana yang
sebaik-baiknya” “Ya ayahanda” “Memang kita berdir i di tempat yang
sulit. Tetapi kita tidak dapat mengingkarinya. Kita memang harus
berdir i di sini. Dan itu sudah menjadi tekad kita” “Aku mengerti
ayahanda” “Baiklah. Semuanya harus dipersiapkan baik-baik. Aku tentu
harus segera menghadiri sidang para Senapati. Dan aku akan memikul
tanggung jawab menghadapi Pangeran Mangkubumi. Orang-orang Surakarta
percaya bahwa aku memiliki kemampuan seimbang dengan Pangeran
Mangkubumi. Tetapi mereka tidak memperhitungkan bahwa karena
sikapnya maka Pangeran Mangkubumi tentu akan mempunyai pengikut yang
jauh lebih banyak dari prajurit yang akan diserahkan kepadaku
sebagai Panglima yang akan memimpin seluruh perlawanan atas pasukan
yang terlatih baik di Sukawati” Raden Juwiring tidak menjawab. “Kau
dapat berbuat sesuatu di rumah Juwiring. Tentu bukan hanya prajurit
Surakarta saja yang akan pergi ke medan bersama kita. Tetapi untuk
kepentingan kita, maka para pengawal kita sendiripun harus kita
persiapkan dan yang terpilah di antara mereka akan pergi bersama
kita ke medan. Aku kira beberapa orang di antara pengawal terpilih
kita sendiri akan lebih baik dari para prajurit di Surakarta”“Ya
ayah. Aku akan mempersiapkannya. Tentu bersama paman Dipanala.
Tetapi paman Dipanala masih sibuk di istana Mangkubumen” “Aku akan
segera mohon prajur it-prajurit Surakarta dengan resmi menguasai
istana itu agar tidak menjadi barang yang dapat dijarah rayah
seperti istana raja yang kalah perang. Tetapi sudah barang tentu
oleh prajurit-prajur it yang benar- benar dapat dipercaya”
Demikianlah ketika mereka sudah berada di istana, maka Raden
Juwiringpun mulai menyusun rencana bagi para pengawal di istana
Ranakusuman, sedang Pangeran Ranakusuma sendiri harus segera
mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan dengan lolosnya
Pangeran Mangkubumi dengan seluruh keluarganya. Dengan ragu-ragu
Pangeran Ranakusuma berdiri termangu-mangu di hadapan geledeg kayu
berukir di dalam biliknya. Namun kemudian per lahan-lahan ia membuka
geledeg itu dengan tangan gemetar. Beberapa saat lamanya ia berdiri
tegak memandang sebuah peti kayu yang berukir pula dan disungging
dengan warna-warna yang cerah. Pangeran Ranakusuma menarik nafas
dalam-dalam. di dalam peti itu tersimpan pusakanya yang paling baik.
Pusaka yang hampir tidak pernah dikeluarkannya dari simpanan.
Pangeran Ranakusuma memandang peti itu dengan tiada berkedip.
Kemudian perlahan-lahan diambilnya peti berukir dan bersungging
dengan warna cerah itu. Diambilnya dari dalam peti itu sebilah keris
yang masih berada di dalam wrangkanya. Sebilah ker is yang
disebutnya Kiai Tunggul. Perlahan-lahan Pangeran Ranakusuma menarik
keris itu dari wrangkanya, dan mengangkatnya di atas kepalanya.
Dengan cermat Pangeran Ranakusuma mengamat-amatinya dari ujungnya
sampai keukirannya.Perlahan-lahan Pangeran itu berdesis “Kau akan
pergi bersamaku ke medan yang gawat. Surakarta sudah diselimuti oleh
kabut pertentangan yang tebal. Dan agaknya tidak ada seorangpun yang
tebal. Dan agaknya tidak ada seorangpun yang akan mampu
menguakkannya” Tiba-tiba saja tangan Pangeran Ranakusuma menjadi
gemetar. Keris itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa.
Keris itu tetap saja seperti pada saat ditariknya dari wrangkanya”
Dengan tangan yang masih saja gemetar Pangeran Ranakusuma mengangkat
keris itu sekali lagi di atas kepalanya, kemudian perlahan- lahan
disarungkannya kembali ke dalam wrangkanya. Ketika Pangeran
Ranakusuma memasukkan keris itu ke dalam peti dan meletakkan ke
dalam geledeg, tiba-tiba saja ia terkejut mendengar seseorang
menyapanya dengan suara yang lembut datar “Ayahanda” Pangeran
Ranakusuma berpaling. Dilihatnya anak gadisnya berdiri termangu-
mangu di belakangnya. “O” desis Pangeran Ranakusuma. Perlahan-lahan
ia mendekati anaknya. Sambil memegang kedua pundaknya ia berkata
“Kau sudah nampak cantik sekali. He, apakah kau akan bepergian,
Warih?“ “Ayahanda” berkata Rara Warih “Sudah beberapa hari aku
berada di sini. Aku ingin pergi menengok eyang”Pangeran Ranakusuma
menarik nafas dalam-dalam. Diguncangnya tubuh anak gadisnya itu
sambil berkata “Warih. Bukankah kau sendiri sudah mengatakannya.
Jika kau pergi menengok eyangmu, maka kau selalu dibayangi oleh
kekecewaan dan penyesalan. Kau tidak dapat melupakan apa yang telah
terjadi dengan ibundamu dan apa yang terjadi atas kakakmu Rudira.
Jika kau datang dari istana eyangmu, kau selalu menjadi pemurung.
Baru setelah dua tiga har i kau berada di sini, kau mulai nampak
hidup lagi. Karena itu, apakah kau tidak lebih baik menunda
kepergianmu. Apalagi pada saat seperti ini” “Maksud ayahanda?“
Pangeran Ranakusuma termenung sejenak. Lalu katanya Maksudku,
masa-masa yang kurang mantap seperti sekarang. Tetapi sebenarnya
tidak banyak berpengaruh. Baik atas kita sekeluarga maupun atas
Surakarta. Namun demikian, sebaiknya kau tidak usah memperdalam luka
di hatimu. Besok sajalah kau pergi kesana” Rara Warih terdiam
sejenak. Dipandanginya ayahnya dengan tajamnya seakan-akan ingin
mengetahui perasaannya yang tersimpan di dasar hatinya. Namun
tiba-tiba Rara Warih itu bertanya “Ayahanda, kenapa ayahanda
mengambil pusaka itu?“ Wajah Pangeran Ranakusuma berubah sejenak.
Rara Warih tahu pasti bahwa keris itu adalah ker isnya yang paling
baik, karena pada saat-saat tertentu, sejak ibundanya masih ada di
istana ini, ia selalu melihat keris itu ditaburi dengan bunga dan
diasapi dengan dupa, lebih dari pusaka-pusakanya yang lain. Namun
Pangeran Ranakusumapun kemudian tertawa. Katanya “Warih, sudah lama
aku t idak melihat pusakaku yang satu, yang justru selalu tersimpan
itu. Tiba-tiba saja aku ingin melihatnya. Karena seperti kau
ketahui, pusaka yang merasadirinya tersia-sia dan tidak dihiraukan
lagi, ia dapat musna dan mencari tempat tinggalnya yang baru” Rara
Warih memandang ayahnya semakin tajam. Katanya “Tetapi ayahanda
mengambil keris itu, menariknya dari wrangkanya dan rasa-rasanya
ayah memang sedang memer lukan ker is itu pada saat ini, saat yang
ayahanda katakan saat-saat seperti ini?“ “Kau terlalu peka Warih.
Perasaanmu terlampau mudah tersentuh. Tidak ada hubungannya apa-apa,
Warih” ”Ayahanda. Aku mendapat firasat bahwa sesuatu memang akan
terjadi di Surakarta” Pangeran Ranakusuma merenung sejenak.
Dipandanginya anak gadisnya yang nampaknya kini sudah benar-benar
menjadi dewasa. Bukan saja bentuk jasmaniahnya, tetapi juga
perkembangan nalar budinya. Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi
di dalam keluarga Ranakusuman, agaknya telah memacu jiwanya sehingga
Rara Warih itu segera menjadi masak. “Warih” berkata Pangeran
Ranakusuma “mungkin firasatmu benar. Tetapi seseorang dapat
menangkap firasat dan menilainya berlebih- lebihan. Memang mungkin
terjadi sesuatu di Surakarta. Tetapi tidak akan cukup menggelisahkan
penduduknya. Jika aku harus mempersiapkan dir i menghadapi segala
kemungkinan itu karena aku seorang Senapati. Seperti
Senapati-Senapati yang lain, aku harus menjaga keamanan Surakarta
sebaik-baiknya. Sampai pada kerusuhan-kerusuhan kecil sekalipun yang
mungkin timbul” Rara Warih tidak segera menyahut. Namun pada
wajahnya nampak membayang kecemasan. “Karena itu Warih“ Ayahnya
meneruskan “Kau tetap berada di rumah untuk hari-hari ini. di sini
kau akan mendapat perlindungan j ika kerusuhan-kerusuhan kecil itu
memangterjadi. di sini ada beberapa orang pengawal yang siap
menghadapi apapun juga karena aku seorang Senapati. Tetapi tentu
tidak di rumah eyangmu, di sana mungkin ada beberapa orang pelayan
laki- laki yang menjaga istana. Tetapi tentu bukan sepasukan
pengawal seperti pengawal-pengawal di rumah kita ini” “Tetapi jika
terjadi kerusuhan, istana eyang itu tidak akan menjadi sasaran
seperti istana kita ini ayahanda, justru karena eyang sudah tua”
“Warih” berkata Pangeran Ranakusuma “kerusuhan ini sama sekal! tidak
akan memilih sasaran. Dan sudah barang tentu kerusuhan-kerusuhan
kecil tidak akan berani memasuki halaman istana ini. Perusuh-perusuh
itu hanya sekedar membuat kekacauan-kekacauan kecil, kemudian mereka
merampok apa saja yang dapat mereka rampas di dalam kekacauan itu.
Hanya itu” Rara Warih menganggukkan kepalanya. Tetapi nampak
kesangsian memancar disorot matanya. “Nah, begitulah Warih. Jika kau
ingin pergi juga, biarlah besok atau lusa, beberapa orang pengawal
mengantarkanmu jika keadaan semakin baik” Warih nampak kecewa.
Tetapi ia mengangguk sekali lagi. “Baiklah ayahanda. Aku akan
menunda satu dua hari. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di kota
ini. Dan mudah- mudahan ayahanda tidak usah pergi kemanapun juga
untuk mengatasi kesulitan yang dapat timbul. Tetapi kepergian
pamanda Pangeran Mangkubumi dengan diam-diam itu tidak akan dapat
diabaikan begitu saja” “Warih“ Pangeran Ranakusuma mengerutkan
keningnya “Kau sudah mendengar bahwa pamandamu Pangeran Mangkubumi
meninggalkan kota?“ “Setiap orang membicarakannya”Pangeran
Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Lalu “Dan karena itu kau akan
pergi ke istana eyangmu?“ Warih menundukkan kepalanya. Lalu katanya
dengan nada yang dalam “Ayahanda. Setiap orang di Surakarta, selalu
meletakkan ayahanda dan pamanda Pangeran Mangkubumi pada dua ujung
yang berlawanan. Agaknya di Surakarta tidak ada orang lain kecuali
ayahanda dan pamanda Mangkubumi yang dipandang sebagai Senapati yang
mumpuni. Ayahanda telah banyak menunjukkan pengabdian kepada
Surakarta, dan Pangeran Mangkubumi ternyata telah berhasil
menjinakkan perlawanan Raden Mas Said dan Martapura” “Warih” desis
Pangeran Ranakusuma “Apakah hal semacam itu menarik perhatianmu?
Selama ini kau tidak pernah memperhatikan dan menyebut masalah itu”
“Ya ayahanda. Selama ini aku tenggelam dalam kesibukanku sendiri.
Tetapi sejak kamas Juwiring ada di istana ini, aku mulai
memperhatikan kesibukannya dan mendengarkan persoalan-persoalan yang
dibicarakannya” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Namun
kemudian katanya “Tidak ada persoalan apa-apa antara aku dan
pamandamu Pangeran Mangkubumi. Hubungan kami baik sekali. Dan
bukankah pada saat kamasmu meninggal, pamanmu datang sebagai orang
yang pertama?“ “Memang tidak ada persoalan apa-apa antara ayahanda
dan pamanda Pangeran Mangkubumi. Tetapi kedudukan ayahanda dan
pamanda Mangkubumi, kelebihan-kelebihan yang ada pada ayahanda dan
pamanda Mangkubumilah yang menempatkan ayahanda dan paman pada kedua
ujung yang berlawanan” Pangeran Ranakusuma tersenyum. Ditepuknya
bahu anak gadisnya sambil berkata “Sudahlah Warih. Jangan terlampau
banyak dipengaruhi oleh persoalan-persoalan serupa itu. Ituadalah
persoalan para Senapati. Mungkin kamasmu wajib ikut
memperbincangkan. Tetapi kau tidak perlu” Rara Warih mengangguk
kecil. “Warih” berkata ayahandanya “sekarang pergilah ke belakang.
Lihatlah para pelayan. Apakah mereka sudah melakukan tugas mereka
sebaik-baiknya. Mungkin ayah akan dipanggil ke istana untuk
mengadakan pembicaraan- pembicaraan. Sebaiknya kau sediakan makan
pagi. Jangan membiasakan melepaskan para pelayan tanpa pengawasanmu.
Dan lebih baik lagi j ika kau sendiri ikut menanganinya” “Aku selalu
melakukannya sendiri untuk ayah dan kamas Juwiring” “Kau memang
cantik sekali Warih. Nah, pergilah ke belakang. Besok atau lusa,
jika keadaan di Surakarta tidak lagi sama-samar seperti ini, kau
akan diantar menghadap eyangmu” Sekali lagi Rara Warih menganggukkan
kepalanya. Perlahan-lahan ia bergeser meninggalkan ruangan itu.
Namun sekali lagi ia berpaling, dan tanpa sesadarnya ia memandang
geledeg yang sudah tertutup, tempat ayahnya menyimpan kerisnya.
Pangeran Ranakusuma menarik nafas. Ia menyadari arti tatapan mata
anaknya yang kecemasan. Rara Warih seakan- akan mengetahui apa yang
akan terjadi di Surakarta, dan kenapa ia telah melihat keris yang
tersimpan itu. Ketika Rara Warih kemudian hilang di balik pintu,
Pangeran Ranakusuma melangkah per lahan-lahan ke pembar ingan.
Dengan lesu ia duduk di bibir pembar ingannya. Diedarkannya tatapan
matanya kesekeliling biliknya, seakan-akan baru pertama kali
dilihatnya, atau seolah-olah bilik itu akan ditinggalkannya untuk
selama-lamanya.Pangeran Ranakusuma tidak menyadari, berapa lamanya
ia duduk merenung. Ia terkejut ketika ia mendengar suara Rara Warih
“Ayah, makan pagi bagi ayah dan kamas Juwiring telah tersedia. Aku
sendirilah yang menyediakannya, ayah” “O“ Pangeran Ranakusuma
memaksa dir inya untuk tersenyum“Apakah kau sendir i yang masak?“
Rara Warih tersipu-sipu. Jawabnya “Hari ini kebetulan sekali bukan,
ayah. Tetapi kadang-kadang akupun sering memasak. Namun j ika aku
berada di dapur, para pelayan nampaknya selalu gugup. Kadang-kadang
mereka kehilangan ketajaman lidah mereka, sehingga masakan menjadi
tidak enak” “Ah, kenapa?“ “Aku tidak tahu ayah. Karena itulah maka
jika aku ingin masak, aku mengambil waktu yang lain. Jika saatnya
para juru masak beristirahat, aku baru mulai, tanpa mengganggu
mereka” Pangeran Ranakusuma tertawa. Kemudian ditepuknya bahu anak
gadisnya sambil berkata “Kau menjadi semakin pandai dan cekatan.
Demikianlah seharusnya seorang gadis. Bukan hanya sekedar duduk
merias dir i dan pergi keperalatan atau bujana yang mewah dan ber
lebih- lebihan saja” Rara Warih mengangguk. Tetapi kepalanya lalu
tertunduk. Pangeran Ranakusuma termangu-mangu. Namun iapun segera
menyesal. Ucapannya agaknya telah mengingatkan Rara Warih kepada
ibunya. Sifat-sifatnya dan tingkah lakunya selagi ibunya itu masih
berada di istananya. “Warih“ Pangeran Ranakusuma segera mencoba
menar ik perhatian puterinya “Marilah. Kita makan bersama-sama” “Aku
sudah makan ayah. Aku kira ayah tidak akan sesera kembali. Mungkin
sampai petang. Apalagi aku akan pergi ke tempat eyang. Karena itu
aku telah makan lebih dahulu”“Jika demikian, panggil kamasmu” Rara
Warihpun kemudian meninggalkan ayahnya yang segera pergi ke ruang
belakang. Dicarinya Raden Juwiring untuk pergi ke ruang belakang
pula dan makan bersama dengan ayahandanya. Ternyata bahwa
perhitungan Pangeran Ranakusuma t idak jauh menyimpang. Baru saja ia
selesai makan bersama Juwiring, telah datang kepadanya dua orang
utusan dariistana, untuk memanggilnya menghadap. “Baru saja aku
menghadap Kangjeng Susuhunan” jawab Pangeran Ranakusuma. “Tetapi
Kangjeng Susuhunan bukan saja memanggil Pangeran. Tetapi beberapa
orang Panglima, Senapati dan beberapa orang pemimpin yang lain”
“Termasuk Ki Patih?“ “Ya Pangeran” Pangeran Ranakusuma termenung
sejenak. Namun ia menyadari bahwa ia memang harus menghadap. Tentu
akan banyak persoalan yang akan dibicarakan. Terutama mengenai
lolosnya Pangeran Mangkubumi. Namun tiba-tiba saja Pangeran
Ranakusuma teringat sesuatu, lalu iapun bertanya “Apakah Kangjeng
Susuhunan juga memanggil kumpeni?“ “Beberapa orang perwira telah ada
di istana. Mereka sedang berbicara dengan Kangjeng Susuhunan”
Pangeran Ranakusuma merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam
hatinya. Namun ia tidak segera menjawab selain mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Baiklah” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Aku. akan
berbenah diri sebentar. Pergilah lebih dahulu, dan sampaikan bahwa
sebentar lagi aku akan menghadap” “Baik Pangeran. Hamba mohon
diri”Pangeran Ranakusuma melepaskan utusan itu dengan denyut jantung
yang semakin cepat. Ternyata semuanya akan mulai dengan cepat. Baik
Pangeran Mangkubumi, maupun Kangjeng Susuhunan dan kumpeni tidak
akan menunda lagi. Dan benturan itupun akan segera mulai. Setelah
membenahi dirinya, maka Pangeran Ranakusumapun segera berangkat,
setelah ia memberikan beberapa pesan kepada Juwiring. “Jangan kau
takut-takuti adikmu dengan suasana yang berkembang di Surakarta”
pesannya. “Baik ayahanda” “Buatlah cer itera yang lain tentang
Surakarta. Aku mengatakan kepadanya, bahwa gerombolan-gerombolan
perampok agak mengganggu keamanan. Tetapi ia ternyata mengetahui
bahwa Pangeran Mangkubumi telah meninggalkan Surakarta. Ia terlalu
banyak memperhatikan keadaan yang berkembang di saat terakhir. Dan
ternyata ia terlalu banyak mengendapkan ceritera yang didengarnya
dari kau” “O“ Juwir ing mengangguk-angguk “Baiklah ayahanda. Aku
akan lebih berhati-hati” Pangeran Ranakusumapun minta diri pula
kepada Rara Warih. Tetapi ia sama sekali tidak member ikan kesan
apa-apa. Seakan-akan seperti biasanya ia pergi menghadap Kangjeng
Susuhunan. Ketika Pangeran Ranakusuma sampai di istana, ternyata
yang telah mendahului hadir adalah beberapa orang Pangeran, Senapati
dan Ki Patih. Kehadirannya ternyata telah sangat menarik perhatian.
Agaknya sebagian besar dari para Pangeran dan Senapati menganap
bahwa Pangeran Ranakusuma adalah Senapati yang paling baik untuk
menghadapi Pangeran Mangkubumi.Sehingga karena itulah, maka sebagian
besar dari mereka segera ingin mendengar pendapat Pangeran
Ranakusuma. “Tidak ada yang perlu mendapat perhatian khusus” sahut
Pangeran Ranakusuma. “Tetapi adimas Pangeran Mangkubumi adalah
seorang yang pilih tanding” desis seorang Pangeran. “Memang benar.
Tetapi ia seorang diri. Jika ia kemudian mendapat pengikut, mereka
adalah petani-petani yang selama ini hanya pandai memegang cangkul“
“Jangan lupa kamas Pangeran Ranakusuma, bahwa Sukawati dan
sekitarnya merupakan daerah pembajaan yang menggetarkan. Bahkan
kumpempun mulai tergetar melihat kesiagaan daerah itu” Sahut
Pangeran yang lain. “Kumpeni memang pengecut” Para Senapati yang ada
di ruangan itu terperanjat. Tetapi merekapun segera menyadari bahwa
Pangeran Ranakusuma mempunyai dendam pribadi kepada kumpeni. Karena
itu, maka merekapun tidak bertanya lebih lanjut tentang kumpeni.
Yang mereka tanyakan kemudian adalah kelebihan Pangeran Mangkubumi
dari Raden Mas Said dan Martapura. “Tidak ada orang yang dapat
meredakan perlawanan anakmas Said pada waktu itu selain Pangeran
Mangkubumi” berkata seorang Senapati “itu adalah pertanda kelebihan
Pangeran Mangkubumi dari kita semua” “Benar” jawab Pangeran
Ranakusuma “Kalian tentu mengira bahwa untuk menghentikan perlawanan
Raden Mas Said saja kita tidak mampu selain Pangeran Mangkubumi.
Apalagi kini Pangeran Mangkubumi sendir ilah yang telah mengangkat
senjata. Bukan begitu?“ “Ya” sahut beberapa orang
berbareng.“Pangeran Mangkubumi mempunyai pengaruh pr ibadi yang
besar atas Said. Karena itu, dengan mudah ia menyuruh Said untuk
sementara menghentikan perlawanannya” “Tetapi bagaimana dengan
kekuatan mereka dibandingkan dengan kekuatan kita sekarang”
“Tergantung tangan yang akan memegang. Tetapi Pangeran Mangkubumi
adalah manusia biasa seperti kalian, seperti aku dan seperti
kumpeni. Karena itu, semuanya akan dapat terjadi. Kita mempunyai
kemungkinan yang paling jelek, sama dengan Pangeran Mangkubumi.
Tetapi kita mempunyai beberapa lelebihan Kita dapat menjilat
kumpeni” desis Pangeran Ranakusuma. Kata-kata itu benar-benar telah
menggetarkan setiap hati. Namun merekapun sekali lagi mengendapkan
perasaan karena mereka mengerti bahwa Pangeran Ranakusuma membenci
orang-orang asing itu sampai keujung ubun-ubunnya karena persoalan
pribadi. “Tetapi hal itu tentu sangat tidak menguntungkan” berkata
Ki Patih di dalam hatinya. Tetapi merekapun kemudian terdiam ketika
Kangjeng Susuhunan memasuki ruangan. Mereka membenahi diri dan duduk
sambil menundukkan kepala. Namun demikian hati Pangeran Ranakusuma
bagaikan tersentuh api. Ia melihat kehadiran Kangjeng Susuhunan
bersama seorang perwira tinggi kumpeni. “Gila” desis Pangeran
Ranakusuma “Orang asing itu sudah terlalu berkuasa di Surakarta
Kenapa ia dapat duduk saja di bawah Kangjeng Susuhunan? Dineger inya
ia adalah orang yang tidak berani mendekati pintu istana rajanya”
Tetapi karena itu sudah menjadi kehendak Kangjeng Susuhunan maka
Pangeran Ranakusuma tidak dapat mencegahnya lagi.Demikianlah maka
setelah dengan resmi Kangjeng Susuhunan membuka pertemuan itu dengan
berbagai macam tanya jawab atas keselamatan dan tugas masing-masing,
maka mulailah Kangjeng Susuhunan mempersoalkan laporan bahwa
Pangeran Mangkubumi dengan diam-diam sudah meninggalkan kota.
“Pangeran Mangkubumi menjadi sakit hati karena keputusanku mengambil
kembali tanah Sukawati. Dan ini adalah tanggung jawab kita bersama,
karena aku telah melaksanakan pendapat kalian” berkata Susuhunan
kemudian. Para Pangeran, Senapati dan para pemimpin yang ada di
ruang itu t idak segera menyahut. Mereka menyadari keadaan yang
gawat sekali bakal mereka hadapi. Pada saat Raden Mas Said dan
Martapura melakukan perlawanan, Surakarta hampir tidak mampu
mengatasinya. Yang dapat meredakan perlawanan itu hanyalah Pangeran
Mangkubumi. Kini Pangeran Mangkubumilah yang agaknya akan mengangkat
senjata, justru pada saat Raden Mas Said mulai dengan perjuangannya
kembali. “Pringgalaya” berkata Susuhunan kemudian “Apa katamu
tentang masalah ini?“ “Ampun Kangjeng Susuhunan. Persoalannya sudah
jelas bagi hamba, bahwa Pangeran Mangkubumi tidak mau memenuhi
perintah Kangjeng Susuhunan. Pangeran Mangkubumi menjadi sakit hati
dan meninggalkan istananya dengan diam-diam. Tujuannya tentu jelas
bagi hamba. Mengadakan pemberontakan” Kangjeng Susuhunan
mengangguk-angguk. “Kangjeng Susuhunan“ Pringgalaya melanjutkan
“kebencian dan dendam telah membakar hati Pangeran Mangkubumi. Ia
ternyata lebih berat mempertahankan secuwil tanah daripada
kesetiaannya dan kepatuhannya kepada Kangjeng Susuhunan.Bukan saja
sebagai seorang raja tetapi juga seorang saudara tua yang harus
dihormati” “Ya” jawab Kangjeng Susuhunan singkat. “Dan itu adalah
pengkhianatan yang harus dihukum. Seperti pengkhianatan yang telah
dilakukan oleh Raden Mas Said dan beberapa orang lain” Kangjeng
Susuhunan mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih menjawab singkat
“Ya” “Kemudian terserah kepada Kangjeng Susuhunan, apakah yang harus
hamba lakukan” Kangjeng Susuhunan termenung sejenak, lalu ia
bertanya kepada sidang “Apakah yang patut kita lakukan atas adinda
Pangeran Mangkubumi?“ Tidak seorangpun yang menjawab. Meskipun pada
umumnya mereka berpendapat bahwa Pangeran Mangkubumi telah melakukan
pemberontakan, namun mereka segan menyebut dan mengucapkan pendapat
mereka itu. Karena beberapa saat lamanya tidak ada seorangpun yang
menyatakan pendapatnya, maka Kangjeng Susuhunanpun kemudian berkata
“Jika demikian, apakah kita dapat menganggap bahwa kepergian adinda
Pangeran Mangkubumi itu sekedar seperti anak-anak yang sedang
merajuk, dan karena itu sebaiknya kita biarkan saja? Nanti, pada
suatu saat ia tentu akan kembali lagi ke rumahnya. Tentu ia sayang
pula akan harta benda yang ditinggalkannya” “Ampun Kangjeng
Susuhunan” desis Pringgalaya “Apakah memang demikian halnya? Hamba
kira jauh daripada sekedar merajuk” Kangjeng Susuhunan mengerutkan
keningnya. Dipandanginya saudara-saudaranya yang menghadap, para
Senapati dan para pemimpin yang lain. Ketika terpandang olehnya
Pangeran Ranakusuma Kangjeng Susuhunan menar iknafas. Tetapi
Pangeran Ranakusuma itupun hanya menundukkan kepalanya saja. Namun
dalam pada itu, seorang Pangeran yang lain berkata “Ampun kakanda
Susuhunan. Hamba menjadi cemas mengikut i perkembangan keadaan di
Surakarta. Kita sudah mempunyai banyak pengalaman. Bahwa keadaan
yang tidak diduga-duga itulah yang selalu menyulitkan kita. Karena
itulah kita tidak boleh lengah menghadapi keadaan kini” “Maksudmu?“
bertanya Kangjeng Susuhunan. “Kita harus bersiap menghadapi segala
kemungkinan” “Kita siapkan prajur it?“ “Hamba kakanda” Kangjeng
Susuhunan mengangguk-angguk. Namun ia kemudian bertanya “Bagaimana
pendapat yang lain? Apakah tindakan adimas Mangkubumi sudah dapat
disebut satu pemberontakan?“ Beberapa orang saling berpandangan.
Namun hanya seorang yang menyahut “Hamba Kangjeng Susuhunan. Menurut
hemat hamba, Pangeran Mangkubumi sudah memberontak” Kangjeng
Susuhunan menarik nafas dalam-dalam. Keragu- raguan yang nampak pada
para bangsawan, para Senapati dan para pemimpin pemerintahan,
menunjukkan betapa besar perbawa Fangeran Mangkubumi atas mereka.
Meskipun Pangeran Mangkubumi tidak hadir di dalam pertemuan itu
namun mereka masih juga merasa segan untuk menyebutnya sebagai
seorang pemberontak meskipun sebenarnya mereka bsrpendapat demikian.
“Baiklah” berkata Kangjeng Susuhunan kemudian “meskipun kalian tidak
mengatakan, namun aku mengerti bahwa kalian tidak dapat membiarkan
tindakan adimas Pangeran Mangkubumi. Karena itu. baiklah kita
mencobauntuk memecahkan persoalan ini. Aku berpendapat bahwa kita
wajib mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Penjagaan
harus diperkuat dan setiap orang yang keluar masuk kota harus
mendapat pengawasan” Para bangsawan, Senapati dan para pemimpin
menunggu kelanjutannya. Tetapi Kangjeng Susuhunanpun kemudian
terdiam untuk beberapa saat sehingga orang-orang yang ada di ruang
itu menjadi gelisah. Karena Kangjeng Susuhunan tidak berkata apapun
lagi, maka Ki Pringgalaya memberanikan diri untuk bertanya “Ampun
Kangjeng Susuhunan. Apakah cukup dengan memperketat penjagaan?“
Kangjeng Susuhunan mengerutkan keningnya. Lalu “Jadi bagaimana
sebaiknya?“ “Agaknya para Senapati dapat mengajukan pendapatnya”
“Aku sudah member i kesempatan. Tetapi tidak seorangpun yang
menyatakan pendapatnya” Suasana menjadi hening sejenak. Baru
kemudian seorang Senapati muda berkata “Ampun Kangjeng Susuhunan.
Mungkin para Senapati sependapat, bahwa untuk menghadapi keadaan
yang gawat ini, kita tidak dapat sekedar memperketat pengawasan atas
kota Surakarta” “Jadi bagaimana?“ “Prajurit Surakarta harus turun ke
medan” “Medan yang mana? Tidak ada peperangan” “Tetapi Pangeran
Mangkubumi tentu sudah mempersiapkan sebuah peperangan” Kangjeng
Susuhunan mengangguk-angguk. Katanya “Teruskan pendapatmu”
“Surakarta harus menyusun barisan. Kita harus melumpuhkan pusat
kekuatan Pangeran Mangkubumi sebelumsemuanya terjadi. Kelambatan
pada kita akan berarti kesulitan yang berkepanjangan” “Begitu” suara
Kangjeng Susuhunan datar, sehingga menimbulkan kebimbangan bagi
mereka yang mendengarnya. Karena itu, beberapa saat mereka yang ada
di dalam bilik itupun terdiam. Mereka mencoba menilai sikap Kangjeng
Susuhunan Paku Buwana itu. “He“ Kangjeng Susuhunanlah yang
memulainya “Kenapa kalian diam saja. Teruskan. Apakah pendapat
kalian” “Kami sudah mengajukan pendapat kami” jawab Pangeran yang
baru saja berbicara. “Baiklah. Jadi kalian berpendapat bahwa kita
harus mengerahkan prajurit untuk menyerang adimas Pangeran
Mangkubumi. Atau barangkali lebih tegas lagi, menduduki Sukawati
yang telah aku tarik kembali daripadanya” Para bangsawan dan
Senapati yang ada di ruang itu termangu-mangu. Ketegasan sikap
Kangjeng Susuhunan itu justru membuat mereka menjadi ragu-ragu.
Namun dalam pada itu, Ki Pringgalayalah yang menjawab “Hamba
Kangjeng Susuhunan. Memang tidak ada jalan yang lebih baik daripada
melumpuhkan kekuatan Pangeran Mangkubumi di sarangnya sendiri”
“Baiklah. Aku tidak berkeberatan. Aku akan segera mengangkat seorang
Senapati yang akan memimpin pasukan Surakarta di dalam tugas ini.
Orang yang tentu saja memiliki kemampuan yang setingkat dengan
adimas Pangeran Mangkubumi” Hampir di luar kesadaran mereka, maka
para Senapati, para bangsawan dan para pemimpin di Surakarta itu
serentak terpaling kepada Pangeran Ranakusuma yang duduk diam
seolah-olah membeku. Satu kalimatpun tidak ada yangterlontar dari
mulutnya sejak para bangsawan dan para Senapati membicarakan masalah
Tanah Sukawati. Agaknya Kangjeng Susuhunan mengerti maksud para
Bangsawan dan Senapati itu. Karena itu maka iapun berkata “Apakah
kalian sudah bersepakat untuk menunjuk adimas Pangeran Ranakusuma?“
“Kami belum membicarakannya” jawab salah seorang Pangeran “Tetapi
kami bersama-sama mengetahui bahwa kamas Pangeran Ranakusuma adalah
orang yang paling sesuai dengan tugas itu“ “Ya Kangjeng Susuhunan”
sahut Pringgalaya “tugas itu memang pantas bagi Pangeran Ranakusuma”
Kangjeng Susuhunan mengangguk-angguk. Agaknya ia memang sependapat
dengan pendapat para Pangeran dan Senapati di Surakarta itu. Tetapi
sebelum Kangjeng Susuhunan memutuskan, maka perwira tinggi kumpeni
yang hadir di dalam sidang itupun tiba- tiba memotong pembicaraan
“Kangjeng Susuhunan. Aku tidak setuju jika Pangeran Ranakusuma
memegang pimpinan prajurit Surakarta kali ini” Semua orang yang
hadir terkejut mendengar pendapat itu. Apalagi Pangeran Ranakusuma
sendir i. Wajahnya menjadi merah oleh berbagai perasaan yang
bercampur baur di dalam dadanya. Perwira itu agaknya mengerti bahwa
para bangsawan. Senapati dan pimpinan pemerintahan di Surakarta
kecewa. Karena itu maka katanya “Kumpeni ingin mengusulkan seorang
Senapati yang lain. Terserah kepada Kangjeng Susuhunan. Tetapi
jangan Pangeran Ranakusuma. Kumpeni menganggap Pangeran Ranakusuma
sebagai seorang Pangeran yang cakap dan pandai. Tetapi tidak untuk
perang kali ini”“Apa alasanmu” bertanya Kangjeng Susuhunan. “Masih
ada orang lain yang dapat diangkat” “Tetapi adimas Pangeran
Mangkubumi adalah seorang prajurit yang pilih tanding” “Kumpeni
sanggup membunuhnya. Bagaimanapun juga kemampuannya, jika peluru
menembus dadanya, maka ia akan mati” “Tidak. Pangeran Mangkubumi
tidak dapat ditembus oleh peluru kumpeni” “Bohong. Tidak ada orang
yang tidak dapat ditembus oleh peluru” “Apakah kau ingin melihat”
tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma bertanya. “Ya” jawab Kumpeni itu.
“Baik. Kita bertaruh. Jika ada orang yang tidak dapat ditembus oleh
peluru, maka kepalamupun harus dicoba dengan sebutir peluru yang
sama” geram Pangeran itu lebih lanjut Wajah kumpeni itulah yang
menjadi merah padam. “Nah“ Pangeran Ranakusuma bergeser “Cobalah.
Aku sama sekali tidak bermaksud menyombongkan dir i. Tetapi aku
hanya ingin menutup mulutmu” Kumpeni itu menjadi semakin marah.
Sementara itu Pangeran Ranakusuma berkata lebih lanjut “Tembaklah
aku.Dimanapun yang kau kehendaki. Jika pelurumu menembus kulitku,
aku akan mat i. Jika tidak, maka kaulah yang akan mati” Tiba-tiba
saja kumpeni itu menjadi ragu-ragu. Namun dalam pada itu Kangjeng
Susuhunan segera menengahi “Kita berbicara tentang Pangeran
Mangkubumi. Baiklah. Aku akan segera menunjuk Senapati yang lain
yang akan pergi ke medan bersama kumpeni. Tetapi aku tetap menunjuk
adimas Pangeran Ranakusuma sebagai salah seorang Senapati pengapit
dari gelar apapun yang akan dipasang. “Kita akan berunding Kangjeng
Susuhunan” berkata perwira kumpeni itu. Darah Pangeran Ranakusuma
serasa mendidih karenanya. Tetapi iapun kemudian berdiam dir i
karena Kangjeng Susuhunan masih duduk di ruang itu. Ia tidak mau
mengulangi sikap Pangeran Mangkubumi yang dengan berani melawan
seorang penjabat tertinggi Kumpeni yang kata- katanya merupakan
undang-undang. Jika demikian Surakarta hanya akan bertambah kalut,
dan kumpeni justru akan semakin banyak menarik keuntungan. “Jika
demikian” berkata Kangjeng Susuhunan kemudian “Kalian dapat
meninggalkan tempat ini Bersiaplah dengan pasukan masing-masing.
Sebentar lagi, Senapati yang memimpin pasukan akan aku umumkan” Para
bangsawan dan Senapati termangu-mangu sejenak. Mereka tidak
menyangka bahwa kumpeni dengan terbuka telah menolak Pangeran
Ranakusuma. Tentu mereka mempunyai pertimbangan tersendiri atas
Pangeran yang telah pernah melakukan perang tanding dan membunuh
seorang perwira kumpeni karena dendam pribadi. Karena kumpeni telah
melangkahi pagar ayu, sehingga ia harus mempertahankan kehormatannya
di arena perang tanding. Namun ternyata bahwa kemampuan Senapati
dari Surakarta itu tidak kalah dari perwira kumpeni yang mengaku
telahmenjelajahi lautan dan benua dari ujung sampai keujung bumi.
Namun para bangsawan itu tidak dapat duduk membeku di tempatnya.
Merekapun kemudian meninggalkan sidang itu dengan hati yang
berdebaran. Kekecewaan Pangeran Ranakusuma tentu akan mempunyai
akibat yang luas bagi Surakarta. Tetapi para bangsawan dan Senapati
itupun menyadari bahwa Kangjeng Susuhunan tidak akan dapat
mengabaikan kumpeni. Bantuan kumpeni dengan senjata apinya akan
lebih banyak artinya dari seorang Pangeran Ranakusuma. Hanya
beberapa orang saja di antara mereka yang sempat mempertimbangkan
dengan baik, bahwa jika kumpeni bersedia membantu Kangjeng Susuhunan
memerangi Pangeran Mangkubumi. maka bukan berarti bahwa kumpeni
telah berbaik hati. Kumpeni tentu mempunyai pamrih dan pertimbangan
sebaik-baiknya. Dalam pada itu. Pangeran Ranakusuma yang dengan
wajah merah padam meninggalkan sidang, langsung berpacu kembali ke
istananya. Roda keretanya berderap di atas jalan berbatu-batu.
Beberapa orang bangsawan yang melihat kereta Pangeran Ranakusuma itu
berpacu hanya dapat menarik nafas dalam- dalam. Mereka menangkap
getar perasaan Pangeran yang memiliki kemampuan yang luar biasa itu.
“Jika kumpeni tadi bersedia menembakkan senjatanya, maka Kumpeni
itulah yang akan mati” desis seorang Senapati muda.
“Setidak-tidaknya ia akan mengalami goncangan perasaan dan akan
menjadi malu sekali. Pangeran Ranakusuma tentu bukannya tidak
beralasan bahwa ia sudah menantang kumpeni itu”Yang lain menyambung
“Aku percaya, bahwa peluru kumpeni tidak akan dapat menembus
kulitnya. Seperti juga peluru kumpeni tidak akan dapat menembus
kulit Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said yang masih muda itu”
“Sebentar lagi, Raden Juwiring akan dapat berbuat seperti ayahnya
pula. Sekarang sudah nampak gejala-gejalanya bahwa Raden Juwiring
akan mampu mewarisi ilmu ayahandanya” Para Senapati itu terdiam.
Tetapi terasa desir yang tajam di dadanya. Melawan Pangeran
Mangkubumi dan Raden Mas Said sekaligus seakan-akan merupakan suatu
kuwajiban yang tidak akan mungkin dilakukan oleh Surakarta meskipun
dengan kumpeni sekalipun.
-
Jilid 17 SEDANGKAN menurut
pertimbangan mereka, tidak akan mustahil jika Pangeran Mangkubumi
dan Raden Mas Said akan segera menyatukan kekuatan mereka, karena
sebenarnya keduanya tidak mau melihat kumpeni semakin berkuasa di
Kerajaan Mataram, yang berpusar di Surakarta itu. Apalagi nampaknya
sikap Pangeran Ranakusuma yang merasa tidak mendapat kepercayaan
dari kumpeni itu meragukan sekali. Sudah barang tentu bahwa ia tidak
akan berjuang seperti apabila ia mendapat tanggung jawab sepenuhnya
dari Kangjeng Susuhunan untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi.
Sementara itu, Pangeran Ranakusuma telah berada kembali di
istananya. Dengan tergesa-gesa Juwiring menyongsongnya. Iapun ingin
segera mendengar berita tentang pembicaraan yang dilakukan oleh para
Senapati Agung di Surakarta. Setelah duduk sejenak, dan meneguk air
panas yang dihidangkan oleh Warih sendiri maka Pangeran
Ranakusumapun berkata “Bukan aku yang diangkat menjadi Panglima
untuk melawan adinda Pangeran Mangkubumi”Raden Juwiring mengerutkan
keningnya. Ia mempunyai tanggapan yang aneh atas berita itu. Ia
sendiri tidak mengetahui perasaan apakah sebenarnya yang bergolak di
dalam dadanya. Sepercik kekecewaan telah melonjak di hatinya. Namun
ada juga perasaan yang lain. Adalah kebetulan sekali bahwa
ayahandanya tidak harus menjadi Panglima melawan pamandanya sendir
i, “Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma “Aku bukan kecewa karena
aku tidak akan berhadapan langsung dengan Pangeran Mangkubumi dalam
jabatan tertinggi pasukan Surakarta yang menghadapinya. Tetapi bahwa
kumpenilah yang telah menolak pengangkatanku itulah yang telah
membuat hatiku menjadi panas” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia
dapat mengerti betapa panas hati ayahandanya. Apalagi ketika
kemudian Pangeran Ranakusuma menceriterakan seluruh pertemuan yang
berlangsung itu. “Tetapi akibatnya tidak akan terlampau banyak
berubah” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Aku masih tetap
Senapati pengapit siapapun yang akan menjadi Panglima. Dan aku akan
tetap ikut memimpin pasukan Mataram. Aku akan tetap ikut menentukan
jalannya peperangan” Raden Juwiring mengangguk lemah. “Semuanya akan
berlangsung seperti yang kita kehendaki Juwiring. Kau kini adalah
prajurit Surakarta. Kau harus selalu menyesuaikan dirimu dengan
kedudukanmu dan derajatmu. Kau adalah putera seorang Pangeran” “Ya
ayahanda” suara Juwir ing datar. “Bersiaplah. Semuanya akan
berlangsung dengan cepat sekali. Agaknya pasukan Surakarta tidak
akan menunggu. Tetapi demikian Kangjeng Susuhunan mengangkat seorang
Panglima, maka perang akan segera pecah”Raden Juwiring menundukkan
kepalanya. Perang itu sendiri bukan merupakan sesuatu yang
menggetarkan. Tetapi yang paling menggelisahkan adalah perang di
antara saudara sendiri. Saudara sendiri yang berbeda pendirian
menghadapi kedatangan orang-orang asing di Surakarta. Dan Juwiring
berdiri di atas atas yang sulit bagi dir inya sendiri. Dalam pada
itu, Kangjeng Sultan telah mengambil keputusan pula untuk menutup
regol dan setiap pintu istana Pangeran Mangkubumi. Seorang perwira
diperintahkannya untuk menghitung setiap benda yang ada di dalam
istana itu. Tidak satupun dari benda-benda itu yang boleh hilang,
bahkan berpindah tempatpun tidak. Baru setelah prajurit-prajurit
Surakarta dengan resmi menguasai istana itu, maka Ki Dipanalapun
bemudian bersama beberapa orang pengawal kembali ke Ranakusuman.
Demikianlah sehari penuh Surakarta dicengkam ketegangan. Para
Senapati menjadi gelisah, karena sampai saatnya matahari terbenam,
mereka masih belum tahu, siapakah yang akan diangkat untuk memimpin
prajur it Surakarta. Seorang Senapati yang tidak sabar lagi menunggu
telah datang ke istana. Tetapi istana itupun terasa sepi. Meskipun
demikian ia bertemu juga dengan beberapa orang Senapati yang datang
pula dengan gelisah. “Belum ada keputusan yang diberikan kepada
kami” berkata seorang Senapati muda. “Kita harus menunggu sampai
besok. Tetapi yang sehari ini adalah suatu permulaan dari kemenangan
Pangeran Mangkubumi” desis yang lain. “Tidak” jawab yang lain lagi
“Pangeran Mangkubumi tentu memer lukan waktu paling cepat sepekan
untuk menghimpun orang-orangnya. Orang-orang Sukawati bukannya
prajurit. Mereka tidak akan dapat dihimpun seperti memanggil prajur
ityang sudah mapan. Dengan tengara yang dibunyikan di alun- alun.
para prajurit dan bahkan dengan seluruh cadangannya akan siap
sebelum gema suara tengara itu lenyap. Tetapi sudah tentu tidak
dengan para petani. Isteri mereka, anak- anak perempuan dan kekasih
mereka akan menangis j ika mereka akan pergi berperang”
Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Namun seorang Pangeran yang
sudah agak lebih tua berkata “Kalian salah. Sukawati telah ditempa
menjadi barak raksasa yang dihuni oleh prajurit-prajur it pilihan.
Kalian akan terkejut menghadapi mereka di medan.” Beberapa orang
yang lain memandang Pangeran itu dengan herannya. Apalagi ketika
mereka melihat sebuah senyum yang terlukis di bibirnya. di dalam
hati para Senapati itu bertanya “Apa pula maksud Pangeran Hadiwijaya
ini?“ Tetapi mereka tidak sempat bertanya, karena Pangeran
Hadiwijayapun kemudian berlalu meninggalkan mereka yang
termangu-mangu. Sejenak kemudian Pangeran Hadiwijaya itupun berhenti
sambil berpaling dan berkata “Selamat berpisah saudara-saudaraku”
Para Senapati yang memandanginya menjadi semakin heran, tingkah laku
Pangeran Hadiwijaya itu, agak lain dari kebiasaannya. Setelah
Pangeran Hadiwijaya hilang di dalam gelapnya ujung malam, maka
seorang dari antara mereka yang keheranan itu berdesis “Kemanakah
kiranya Pangeran Hadiwijaya itu pergi?“ Yang lain menggelengkan
kepalanya sambil bergumam “Orang itu nampaknya agak lain” “Kenapa ia
mengatakan selamat berpisah? Apakah Pangeran Hadiwijaya akan
pergi?“Tidak seorangpun yang menjawab. Nampak di wajah mereka
teka-teki itu tetap tidak terjawab. Ternyata setelah mereka duduk
dan berbicara beberapa lamanya di bangsal itu tidak ada berita
apapun yang datang dari Kangjeng Susuhunan. Tidak ada seorang utusan
yang harus memanggil para Senapati untuk menghadap dan bersidang.
Tidak ada kesibukan apa-apa yang melukiskan ketegangan yang terjadi
di Surakarta. “Seisi kota ini menunggu” desis seorang Senapati.
“Kangjeng Susuhunan berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan”
“Ya, Kangjeng Susuhunan masih saja sering sakit-sakitan. Bahkan
rasa-rasanya akhir-akhir ini nampak sangat pucat dan kehilangan
gairah sama sekali” “Itu adalah salah Pangeran Mangkubumi” “Kenapa
Pangeran Mangkubumi?” “Pangeran Mangkubumi adalah adik terkasih.
Tetapi ia sama sekali tidak menunjukkan kesetiaannya kepada
kakandanya dan bahkan rajanya” Merekapun mengangguk-angguk. Tetapi
mereka tidak. telaten lagi menunggu. Karena itu, maka para Senapati
itupun kemudian pulang ke rumah masing-masing. Ada juga satu dua di
antara mereka yang memerlukan mengelilingi kota melihat- melihat
suasana. Tetapi kota Surakarta nampak sepi. Sepi sekali. Lampu-
lampu minyak satu dua yang tergantung di sudut-sudut jalan,
rasa-rasanya tidak dapat menembus malam yang menjadi semakin pekat,
seperti pekatnya mendung yang mengambang di atas langit Surakarta.
Senapati-senapati itu masih juga sempat berhenti di beberapa gardu
peronda. Mereka member ikan beberapa pesan kepada para prajurit
untuk tetap berhati-hati danwaspada. Setiap saat bahaya akan dapat
mengancam. Bukan saja nyawa mereka sendiri, tetapi juga kedamaian
Surakarta. Sementara itu kumpenipun telah meningkatkan kesiagaan
mereka. Prajurit-prajurit kumpeni yang ada di Surakarta telah
dipusatkan dalam satu barak dengan senjata siap di tangan.
Demikianlah, betapapun sepinya malam, namun terasa bahwa di balik
kesepian yang senyap dan kelam itu tersembunyi ketegangan yang
menusuk sampai kepusat pemerintahan. Dalam pada itu di dalam istana,
bukan seperti yang diduga oleh para Senapati bahwa Kangjeng
Susuhunan sekedar terlambat mengambil keputusan, atau karena
kesehatannya yang terganggu. Sebenarnyalah bahwa Kangjeng Susuhunan
sedang dicengkam oleh kegelisahan yang tiada taranya, sehingga
semalam suntuk matanya tidak dapat terpejam sama sekali. Seperti
para peronda yang hilir mudik di atas punggung kuda, maka demikian
juga angan-angan Kangjeng Susuhunan Paku Buwana. Semalam suntuk
angan-angannya menjelajahi seribu persoalan yang sedang dihadapi
oleh Surakarta dan oleh Kangjeng Susuhunan itu sendir i. Angin malam
yang mengusap atap istana terdengar seperti desah nafas yang lesu.
Dan terasa betapa hati Kangjeng Susuhunanpun menjadi semakin lesu.
Malam itu ternyata perlahan-lahan bergeser didesak oleh cahaya
fajar. Para peronda yang berkeliling mengedar i kota telah kembali
ke gardu masing-masing. Rasa-rasanya mereka tidak melihat sesuatu
yang pantas mendapat perhatian yang lebih besar dan
bersungguh-sungguh. Namun ketika bayangan rumah-rumah mulai menguak
dari kegelapan, Ki Dipanala dengan tergesa-gesa memacu kudanya
memasuki regol istana Ranakusuman.“Apakah ada sesuatu yang penting
paman?“ bertanya Juwiring yang juga hampir tidak dapat tidur semalam
suntuk, kecuali di saat fajar hampir menyingsing. Namun iapun segera
terbangun mendengar ayam jantan yang berkokok bersahutan. Ki
Dipanala yang sudah meloncat turun dar i kudanya menarik nafas. Dan
ketika nafasnya mulai berjalan teratur, maka iapun mulai berkata
“Istana Pangeran Hadiwijaya telah kosong” Raden Juwiring mengerutkan
keningnya. Lalu “Paman mengetahuinya?“ “Aku melihat sejak Pangeran
Hadiwijaya meninggalkan istananya. Belum lama, justru saat para
peronda mulai kembali ke gardu masing-masing” “Jika demikian pamanda
Pangeran Hadiwijaya masih berada di mulut gerbang kota” “Tentu tidak
lewat gerbang” “Tentu, karena di gerbang kota ada beberapa orang
penjaga. Maksudku, berada diperbatasan” Juwiring termenung sejenak,
lalu “Tetapi setiap lorong betapapun kecilnya yang menembus keluar
kota mendapat penjagaan sebaik-baiknya” “Pintu kota samping yang
menghadap ke Timur telah kosong” “Maksudmu?“ “Penjaga-penjaganya
adalah pengikut Pangeran Hadiwijaya. Mereka telah pergi bersama
Pangeran Hadiwijaya. Bahkan beserta keluarganya” “Kau mengetahui
seluruhnya?“ “Aku sudah sampai ke pintu samping di sebelah Timur
itu” “Paman sudah meyakinkan?““Sudah Raden. Dan sebenarnyalah bahwa
di dalam remang-remangnya pagi, aku masih melihat debu iring-
iringan itu” “Apakah tidak ada prajurit Surakarta yang mengejarnya”
“Aku berada di gardu itu beberapa lama. Tidak ada seorangpun yang
menyusul mereka. Barangkali belum ada yang mengetahuinya bahwa
Pangeran Hadiwijaya meninggalkan kota. Baru ketika iring-ir ingan
itu tidak nampak lagi oleh embun yang mulai menguap aku kembali”
Raden Juwiring menarik nafas. Dengan nada datar ia, berkata “Tentu
bukan hanya pamanda Pangeran Hadjiwijaya. Besok atau lusa, tentu ada
lagi yang menyusul. Memang keadaan Surakarta tidak lagi dapat
diharapkan” Ki Dipanala tidak menyahut. “Tetapi baiklah aku
menghadap ayahanda. Seorang Senapati telah meninggalkan kota.
Pamanda Pangeran Hadiwijaya termasuk Senapati yang memiliki beberapa
kelebihan meskipun ilmunya tidak setinggi Pangeran Mangkubumi.
Tetapi untuk mencari imbangannya, agaknya Kangjeng Susuhunan juga
akan mengalami banyak perhitungan. Apalagi kumpeni tidak menyetujui
ayahanda Pangeran Ranakusuma untuk memimpin pasukan Surakarta” Ki
Dipanala mengangguk-angguk. Katanya “Memang sebaiknya Raden segera
menyampaikannya kepada Pangeran Ranakusuma” Raden Juwiringpun
kemudian masuk ke dalam. Dilihatnya adiknya sedang membersihkan
beberapa perabot istana. Hiasan-hiasan yang bergantungan dan melekat
pada dinding. Raden Juwiring berhenti sejenak ketika ia melihat
Warih memegangi sebuah patrem yang tergantung di dinding ruang
tengah.“Kamas” desis Rara Warih ketika dilihatnya Juwiring berdiri
termangu-mangu “ada beberapa emban yang membawa patrem selama
tugasnya. Tentu mereka menguasai cara penggunaannya. Apakah kamas
mau memberitahukan kepadaku, bagaimanakah caranya mempergunakan
patrem?“ Juwiring tersenyum. Selangkah ia maju. Katanya “Buat apa
kau bermain-main dengan patrem, Warih. Patrem adalah sejenis senjata
yang berbahaya. Sebaiknya kau tidak usah memikirkannya. Apalagi
penggunaannya” “Kamas, para emban itu juga menguasai cara-cara
penggunaan. Bukankah patrem memang sejenis senjata buat seorang
perempuan?“ “Tetapi dalam penggunaan yang khusus, Warih. Patrem
adalah sejenis senjata pendek. Seperti kau lihat, bentuknya adalah
sebuah keris yang kecil” “Aku tahu kamas. Patrem adalah senjata
untuk membela diri bagi perempuan. Apalagi menghadapi lawan yang
berhasil memasuki istana. Bukan senjata di medan perang. Bahkan jika
perlu patrem dapat untuk membunuh dir i. Tetapi aku ingin tahu,
bagaimana aku harus memegang dan menggerakkannya” Raden Juwiring
mengerutkan keningnya. Dipandanginya Warih sejenak, lalu “Kenapa
membunuh diri?“ “Bukankah perempuan akan sekedar menjadi barang
rampasan j ika kita kalah perang?“ ”Apakah kita akan berperang?“
“Pamanda Pangeran Mangkubumi sudah tidak ada di istananya lagi”
“Tetapi pamanda Pangeran Mangkubumi adalah keluarga sendiri. Mungkin
di dalam paham pemerintahan kita akan bertempur, tetapi pamanda
Pangeran tentu tidak akan memper lakukan kau sewenang-wenang jika ia
ternyatamenang dan berhasil menduduki kota. Pamanda Mangkubumi
adalah orang yang baik. Hubungannya dengan ayahanda sebagai kakak
beradik cukup baik” “Tentu bukan pamanda Mangkubumi sendir i. Kamas
tahu bahwa pamanda Mangkubumi mempunyai pasukan orang- orang padesan
yang kasar. Mungkin di antara mereka terdapat perampok-perampok.
Nah. terhadap mereka itulah aku harus mempertahankan diri, dan jika
nerlu akan dapat membunuh diri jika mereka akan menyentuhku” “Kau
salah Warih” berkata Tuwir ing “Memang mereka adalah orang-orang
padesan. Petani-petani dan barangkali orang-orang kasar. Tetapi
kekasaran mereka tidak terletak pada nafsu mereka. Tidak pada
ketamakan kebendaan, tidak pada pangkat dan derajad duniawi. Dan
tidak pada perempuan. Mereka sekedar kasar menurut sikap lahir iah.
Tetapi mereka adalah orang-orang yang bersih dan jujur” “Ah“ desah
Warih “itu sekedar dugaan kamas” “Aku pernah hidup di antara mereka”
“Tetapi di dalam peperangan segalanya dapat terjadi” berkata Warih
“Juga atas dir iku” Juwiring menepuk bahu adiknya sambil tersenyum.
Katanya “Tenangkan hatimu Warih. Tidak akan terjadi apa-apa.
Gantungkan kembali patrem itu di dinding” Warih tidak menjawab.
“Pasukan pamanda Pangeran Mangkubumi tidak akan berhasil memasuki
kota ini. Prajurit Surakarta cukup kuat. Apalagi agaknya kumpeni
sudah siap untuk membantu” “O“ tiba-tiba saja Warih justru menjadi
tegang. di luar sadarnya gadis itu teringat akan ibunya dan kakaknya
yang mati karena kumpeni.“Gila“ Warih menggeram “Aku tidak mau
diperlakukan seperti ibunda. Tidak. Dan kau kamas, jangan sampai
terjadi lagi, apa yang pernah terjadi atas kamas Rudira” Juwiring
terkejut mendengar tanggapan Warih. la menyesal bahwa ia sudah
menyebut kumpeni. Karena itu di dekatinya adiknya yang kemudian
menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya “Sudahlah Warih.
Sebenarnyalah tidak akan terjadi apa-apa. Kau harus sadar bahwa kau
adalah putera seorang Senapati pilihan. Aku dan ayahanda tentu akan
melindungimu” Rara Warih termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya
“Ayahanda dan kamas tentu akan berada di peperangan” Juwiring justru
tertawa. Katanya “Tetapi sepasukan pengawal akan berada di istana
ini. Jika sekiranya kota ini diduduki, maka yang pertama-tama akan
dimasuki adalah istana Kangjeng Susuhunan. di sana terdapat banyak
sekali gadis-gadis cantik. Sementara itu para pengawal di rumah ini
akan menyelamatkanmu” Warih tidak menjawab lagi. la menjadi kurang
senang melihat sikap kakaknya, seakan-akan persoalan itu sekedar
persoalan yang tidak penting, bahwa sekedar bergurau. “Memang tidak
penting bagi laki- laki. Mereka akan mati jika mereka kalah. Tetapi
perempuan akan mengalami bencana yang lebih mengerikan” gumam Warih
di dalam hatinya. Namun gadis itu tidak mengatakannya. “Kembalikan
patrem itu Warih. Aku akan menghadap ayahanda“ Warih tidak menyahut.
Digantungkannya kembali patrem itu di dinding. Juwiringpun kemudian
meninggalkannya untuk menjumpai ayahandanya. Ia harus melaporkan
bahwa Pangeran Hadiwijayapun telah hilang dar i kota.Sejenak Warih
masih termangu-mangu. Ketika Juwir ing kemudian hilang di balik
pintu, patrem yang sudah tergantung di dinding itupun diambilnya
kembali dan diselipkannya di bawah sabuk kainnya. Sementara itu.
Raden Juwiringpun telah menghadap ayahandanya di ruang dalam. Dengan
singkat diceriterakannya, apa yang sudah dilihat oleh Ki Dipanala
tentang Pangeran Hadiwijaya. Tetapi Pangeran Ranakusuma ternyata
tidak terkejut. Katanya dengan nada datar ”Aku memang sudah menduga”
“Apakah selama ini sikap pamanda Hadiwijaya cukup meyakinkan?“
bertanya Raden Juwiring. “Memang tidak sekeras Pangeran Mangkubumi.
Tetapi bahwa ia kemudian meninggalkan kota dan berada di dalam
lingkungan Pangeran Mangkubumi, bukannya suatu hal yang mengejutkan”
Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kemudian
”Tetapi apakah Surakarta tidak akan mengalami kesulitan? Semakin
banyak Senapati yang melepaskan dir i, maka Surakarta tentu akan
menjadi semakin ringkih” Pangeran Ranakusuma tidak segera menyahut.
Dan Juwiringpun kemudian berkata “Kesempatan kumpeni untuk ikut
campur menjadi semakin besar. Dan tuntutan-tuntutan yang lebih
banyak akan dapat dimintanya” “Ya. Kangjeng Susuhunan yang nampaknya
menjadi semakin lemah jasmaniahnya itu agaknya akan menjadi semakin
lemah pula pendiriannya. Tetapi kita masih dapat mengharap bahwa
pada suatu saat Kangjeng Susuhunan akan menyadari keadaan ini
sebaik-baiknya. Mudah-mudahan tidak terlambat”Juwiring tidak
menyahut, la menunggu saja. apa yang sebaiknya harus dilakukan.
“Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma “ternyata sampai saat ini
kita masih belum mengetahui siapakah yang akan berdiri di paling
depan dari pasukan Surakarta menghadapi Pangeran Mangkubumi. Tetapi
tentu tidak akan lebih dar i hari ini. Setelah itu tentu para
Senapati akan mengadakan pertemuan dan menentukan sikap. Sementara
itu kau harus menyiapkan para pengawal di istana ini. Serahkan
mereka kemudian kepada Ki Dipanala. Sementara kau membenahi
pasukanmu sendiri. Pasukan berkuda akan menjadi sangat penting
artinya di dalam gerakan yang serba cepat. Akupun tentu akan
diserahi sepasukan prajurit, karena aku akan menjadi Senapati
pengapit siapapun yang akan menjadi Panglima perang” “Apakah pasukan
kumpeni akan ikut pula ayahanda?” “Aku kira demikian. Pasukan
kumpeni tentu akan ikut pula menyerang kedudukan Pangeran
Mangkubumi“ Juwiring mengangguk kecil. “Nah, mulailah sekarang Juwir
ing. Jika semuanya sudah pasti, kita akan berbicara lebih panjang.
Banyak soal-soal yang harus kita pecahkan” “Ya ayahanda” “Mulailah
dar i para pengawal di istana ini. Setelah kau serahkan kepada
Dipanala, maka kau harus menyiapkan pasukan berkudamu” “Bagaimana
jika pasukan berkuda tidak disertakan dalam peperangan ini karena
pasukan berkuda akan tetap menjaga kota?“ “Kita menunggu“Raden
Juwiring mengangguk kecil. Katanya “Baiklah ayahanda” “Sekarang,
hubungi Dipanala. Kepergian Pangeran Hadiwijaya akan mempercepat
setiap tindakan” Juwiringpun kemudian meninggalkan ayahandanya.
Ketika ia lewat di tempat Warih mengambil patrem, iapun terhenti
sejenak. Sambil menarik nafas panjang Juwir ing berdesis ”Patrem itu
tidak dikembalikannya di tempatnya“ Tetapi Juwiring tidak melihat
adiknya lagi. Karena itu, maka iapun melangkah terus mencar i
Dipanala di halaman belakang istananya. Pembicaraan yang
bersungguh-sungguh antara Raden Juwiring dan Ki Dipanala ternyata
sangat menarik perhatian para pengawal. Mereka menyadari bahwa
keadaan Surakarta memang benar-benar telah menjadi panas. Merekapun
telah mendengar bahwa Pangeran Hadiwijayapun dengan diam- diam telah
meninggalkan kota dengan segenap keluarga dan pengikut-pengikutnya.
Sekelompok prajurit yang bertugas di regol samping di sebelah Timur
ternyata telah mengikutinya pula. Bagi para pengawal di istana
Ranakusuman, Juwiring mempunyai pengaruh yang lain dari Raden
Rudira. Juwiring tidak disegani karena kekuasaannya, tetapi karena
tingkah laku dan sikapnya. Apalagi orang-orang itu mengetahui bahwa
Raden Juwiring ternyata telah mewarisi sebagian besar dari ilmu
ayahandanya Pangeran Ranakusuma. Dalam pada itu, seorang utusan
telah datang pula ke Ranakusuman. Seorang gandek yang mendapat tugas
untuk memanggil para Senapati, para bangsawan dan pimpinan
pemerintahan untuk menghadiri sidang-sidang yang diselenggarakan
bukan pada waktunya.Setelah minta diri kepada Juwiring dan Warih.
maka Pangeran Ranakusumapun segera berangkat ke istana untuk
menghadiri pembicaraan-pembicaraan yang sangat penting. Sementara
itu, Pangeran Mangkubumi yang telah meninggalkan Surakartapun telah
mengadakan pembicaraan penting dengan para pengikutnya. Pangeran
Mangkubumi menyadari sepenuhnya bahwa kepergiannya itu akan
berakibat luas. Bukan saja bagi Surakarta dan sekitarnya, tetapi
bagi seluruh negeri dan daerah yang berada di dalam lingkungan
kesatuan Surakarta. Namun sebenarnya para pengikut Pangeran
Mangkubumi memang sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Jika
mereka mendapat perintah sewaktu-waktu untuk bergerak, maka
merekapun akan segera dapat melakukannya. Semuanya sudah di siapkan
bagaikan sekelompok prajur it pilihan. Bahkan jalur-jalur jalan yang
akan menjadi jalur hubungan di antara mereka sudah ditentukan. Dalam
pada itu, kepergian Pangeran Mangkubumi dari kota dengan diam-diam
telah didengar pula oleh Raden Mas Said. Untuk menentukan sikap
seterusnya, Raden Mas Said telah mengirimkan beberapa orang petugas
sandinya untuk mengetahui apa yang telah terjadi dengan pasti. Jika
Pangeran Mangkubumi sendiri akan memimpin perlawanan terhadap
Surakarta dan kumpeni, maka Raden Mas Saidpun harus menyesuaikan
diri. Karena tidak mungkin mereka dapat bergerak sendiri-sendiri.
Demikianlah, semua pihak di Surakarta benar-benar mengalami
ketegangan. Para pemimpin dan Senapati di Surakarta, kumpeni dan
pengikut-pengikutnya, Raden Mas Said, Martapura, dan Pangeran
Mangkubumi sendir i. Tetapi yang hampir pasti bahwa perang yang
besar akan segera pecah. Perang di antara saudara sendiri. Saudara
sekandung, sebangsa dan se tanah kelahiran.Namun dengan suatu
keyakinan, bahwa perjuangan Pangeran Mangkubumi bukannya sekedar
perjuangan untuk kepentingan pribadi. Tetapi kekuasaan orang asing
itu memang harus dilenyapkan, atau Setidak-tidaknya dibatasi.
Ternyata bahwa Pangeran Mangkubumi dan para Pangeran yang lain itu
tidak berbuat sia-sia. Demikian beberapa pemimpin di padesan
mendengar sikap itu, merekapun segera mencari hubungan dengan
Pangeran Mangkubumi. Mereka yang semula masih ragu atas sikap
Pangeran Mangkubumi. kini menjadi yakin bahwa yang diperjuangkan
oleh Pangeran Mangkubumi sebenarnya adalah gejolak perasaan rakyat
Surakarta. Dalam pada itu, Raden Mas Said yang sudah mendapat
kepastian atas sikap Pangeran Mangkubumipun segera mempersiapkan
diri. Dengan sepenuh harapan Raden Mas Said menunggu perkembangan
keadaan. Sementara itu ia bersama dengan Martapura telah melakukan
pengamatan dengan diam-diamatas daerah pertahanannya. Di dalam
perjalanan itulah Raden Mas Said sempat bertemu dengan para pemimpin
pasukannya. Ternyata berita kepergian Pangeran Mangkubumi
benar-benar telah menumbuhkan suasana yang lain bagi setiap orang di
dalam pasukan Raden Mas Said. “Kita harus segera mendapatkan
hubungan dengan pamanda Pangeran Mangkubumi” berkata Raden Mas Said
kepada Martapura setelah mereka melihat kesiagaan pasukannya.
Martapura mengangguk-angguk. Katanya “Saatnya memang sudah tiba.
Kita harus bekerja bersama” “Kita menggantungkan harapan atas sikap
pamanda Pangeran. Selama ini pamanda Pangeran terlampau berhati-
hati, sehingga aku hampir tidak telaten mengamati sikapnya
itu”“Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang sudah cukup lama
melihat penderitaan rakyat Surakarta. Itulah sebabnya Pangeran
Mangkubumi mengharap penyelesaian yang tidak menambah titik darah
yang sudah banyak tertumpah. Namun ternyata bahwa usahanya harus
melalui perjuangan senjata pula akhirnya” Raden Mas Said merenungi
kata-kata Martapura itu. Namun sebagai seorang yang masih muda,
kadang-kadang ia masih juga mengharapkan sikap yang lebih cepat dan
keras. Dalam pada itu, selagi mereka berbincang di dalam gubug yang
mereka pergunakan sebagai tempat tinggal sementara, karena mereka
selalu berpindah-pindah, seorang pengawal datang kepada mereka
dengan ragu-ragu. “Ada apa?” bertanya Pangeran Martapura. “Pangeran,
ada seseorang yang ingin menghadap“ “Siapa?“ bertanya Raden Mas
Said. “Seorang tua dari padepokan di atas gumuk di sebelah Timur
sungai Dengkeng” “Ya, siapa?“ “Ia akan menghadap dan mengatakan
semuanya kepada Raden Mas” Raden Mas Said termangu-mangu sejenak.
Adalah jarang sekali orang-orang di luar lingkungannya yang
mengetahui dimana ia berada pada suatu saat. Namun demikian ia
berkata kepada pengawal itu “Suruhlah ia masuk jika ia tidak mencur
igakan menurut penilaianmu” “Orang itu sudah tua Raden Mas.
Nampaknya ia adalah orang yang hidup di dalam padepokan yang
terpencil dan menekuni olah kajiwan” Raden Mas Said
mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dipandangnya wajah
Martapura. Tetapi wajah itu tidakmelontarkan kecurigaan sama sekali.
Sehingga karena itu maka katanya “Baiklah. Aku akan mener imanya”
Pengawal itupun kemudian meninggalkan ruangan dalam gubug itu.
Sejenak Raden Mas Said dan Martapura menunggu dengan berbagai
pertanyaan di dalam dada mereka. Bahkan Martapura mencoba
menghubungkan orang itu dengan keputusan Pangeran Mangkubumi.
“Apakah orang itu utusan Pangeran Mangkubumi?” Ia bertanya kepada
diri sendir i. Sesaat kemudian, masuklah seorang yang sudah berambut
dan berjanggut putih. Dengan bersandar pada sebatang tongkat ia
melangkah memasuki ruangan itu dengan ragu- ragu. “Marilah, silahkan
Kiai“ Raden Mas Said mempersilahkan. “Terima kasih Raden Mas. Aku
mohon maaf, bahwa aku sudah memberanikan diri datang menghadap Raden
Mas” “O“ Martapura mengerutkan keningnya “Kau sudah mengenal kami
Kiai?“ “Tentu Pangeran. Setiap orang di Surakarta mengenal, siapakah
Raden Mas Said, seperti setiap orang mengenal Pangeran
Mangkubumi”“Tetapi Kiai tentu belum pernah mengenal kami berdua
secara pribadi“ “Memang belum Pangeran. Tetapi kami sudah sering
melihat Raden Mas Said berkuda di tengah-tengah bulak persawahan.
Kadang-kadang berjalan berdua diiringi oleh beberapa pengawal di
malam hari” Martapura menjadi semakin heran. Tetapi ia tidak
bertanya lagi. Dan Raden Mas Saidlah yang kemudian bertanya
“Darimana Kiai tahu bahwa kami saat ini ada di sini?“ Orang tua itu
tersenyum. Lalu “Memang sulit untuk menerangkan Raden Mas. Tetapi
kesibukan di daerah ini agak lain dari biasanya. Karena itu, aku
berkeras menduga bahwa Raden Mas ada di padesan ini” “Tetapi
siapakah yang menunjukkan gubug ini. Tentu bukan para pengawal.
Mereka harus mendapat persetujuan kami berdua sebelum mereka
menunjukkan kepada orang dibiar lingkungan kami, dimana kami berdua
berada” “Raden Mas adalah seorang pemimpin yang baik di medan.
Tetapi bagi orang-orang tua, kadang-kadang ada sesuatu yang tidak
dapat dijelaskan dengan nalar. Kita memang sulit untuk mengerti,
bahwa seekor laba-laba hijau yang juga disebut kemladean, mengerti,
bahwa hujan akan turun meskipun langit masih bersih, sehingga
laba-laba itu segera bersembunyi di bawah atap atau dedaunan
meskipun sebelumnya ia membuat jar ing di tempat terbuka” “Maksud
Kiai?“ Orang tua itu termenung sejenak. Dipandanginya Raden Mas Said
dan Martapura berganti-ganti. Kemudian katanya “Ada semacam firasat
yang menuntun aku kemari. Itulah Raden Mas, maka aku mengatakan
bahwa kadang-kadang orang-orang tua berbuat sesuatu di luar
perhitungan nalar. Gubug ini bagiku rasa-rasanya mempunyai pertanda,
bahwa hari ini Raden Mas ada disini”Raden Mas Said tidak segera
menjawab. Direnunginya wajah itu beberapa saat. Lalu katanya
“Mungkin aku dapat mengerti meskipun di luar pertimbangan nalar.
Tetapi siapakah Kiai ini sebenarnya” Orang itu mengerutkan
keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Raden Mas Said termangu-mangu
sejenak, lalu desaknya “Siapakah namamu Kiai, dan dari manakah
asalmu. Jika kau utusan seseorang, siapakah yang mengutusmu, tetapi
jika kau datang atas kemauanmu sendir i, maka apakah maksudmu
menjumpai aku” Orang tua itu nampak ragu-ragu. Namun kemudian
katanya “Raden Mas. Mungkin yang akan aku katakan kepada Raden Mas
bagaikan ceritera yang tiada artinya sama sekali. Meskipun demikian
aku tidak berkeberatan, apapun tanggapan Raden Mas” “Katakan” “Raden
Mas. Aku akan menyebut namaku dan kepentinganku pada saatnya. Aku
datang untuk mengundang Raden Mas pergi ke sebuah bukit kecil di
daerah Matesih” Raden Mas Said mengerutkan keningnya. Dipandanginya
Pangeran Martapura sesaat. Namun agaknya Martapurapun menjadi
ragu-ragu menanggapi kata-kata orang tua itu. “Apakah Raden Mas
bersedia?“ Raden Mas Said tidak segera menjawab. Kerut keningnya
membayangkan keragu-raguan hatinya. “Tidak ada yang penting Raden
Mas. Tidak ada yang menarik. Aku hanya ingin Raden Mas pergi ke
bukit kecil itu. Tidak lebih dan tidak kurang” “Aku tidak mengerti
Kiai” jawab Raden Mas Said “Apakah gunanya aku pergi ke bukit kecil
di Matesih itu?““Memang tidak ada Raden Mas. Memang tidak ada
kepentingan apa-apa” Jawaban itu justru sangat menarik dan
menggelitk keinginan Raden Mas Said untuk memenuhi permintaan orang
tua itu. Tentu saja dengan perhitungan yang matang. Menurut
perhitungan Raden Mas Said, permintaan itu tentu bukan sebuah
pancingan dari kumpeni. Kumpeni tentu tidak akan berada di Matesih
dalam keadaan seperti ini. Tetapi keinginan yang melonjak di hati
Raden Mas Said sulit untuk dikekangnya, sehingga akhirnya ia
bertanya “Kapan aku harus datang ke bukit kecil itu?“ “Pada saat
bulan tidak nampak di langit semalam suntuk Raden Mas” “Ya, kapan?
Hari apa?“ “Aku persilahkan Raden menghitung sendir i” Raden Mas
Said menjadi semakin ragu-ragu. Namun keinginannya untuk mengetahui
lebih banyak menjadi semakin mendesak. Karena itu maka katanya
“Kiai, bagaimana kalau hasil perhitunganku lain dengan perhitungan
Kiai, sehingga aku datang pada waktu yang tidak sama?“ “Jika kau
berada tiga hari t iga malam di bukit itu. Raden tentu akan bertemu
dengan aku” “Tiga hari t iga malam?“ “Ya” Sesuatu bergejolak di hati
Raden Mas Said. Namun demikian sesuatu seakan-akan mendesaknya untuk
menjawab “Baiklah. Aku akan datang dan aku akan berada di sana tiga
hari tiga malam. Aku akan menunggu pada hari-hari itu. Tetapi jika
kita tidak bertemu, aku tentu akan membuat pertimbangan khusus
tentang hal ini”“Baik. baik Raden. Aku akan memenuhi segala janji
yang pernah aku katakan” Raden Mas Said mengangguk-angguk. Dicobanya
menatap wajah orang itu setajam-tajamnya untuk mendapatkan kesan
lebih dalam tentang dirinya. Tetapi ia tidak menemukan sesuatu.
“Raden Mas” berkata orang itu “Jika demikian, aku akan segera minta
dir i. Aku akan kembali ke padepokanku” Dengan ragu-ragu. Raden Mas
Said berkata “Silahkan Kiai. Akupun akan memenuhi janjiku, dan aku
akan datang pada saatnya” Demikianlah orang itupun segera minta
diri. Sementara itu Raden Mas Said segera memanggil seorang
pengawalnya yang sangat dipercayanya. “Ikuti orang tua itu kemanapun
ia pergi. Kau harus mengetahui, darimana ia datang dan hubungan apa
saja yang dilakukan olehnya di sekitar tempat ini” Pengawal itupun
kemudian dengan tergesa-gesa menyusul orang tua yang baru saja
meninggalkan gubug itu dalam tugas sandinya. Ketika ia keluar dari
pedukuhain, ia masih melihat orang tua itu berjalan dengan
tongkatnya terbungkuk-bungkuk di bulak yang pendek. Perlahan-lahan
pengawal itu mengikuti dari kejauhan. Namun ketika orang itu hampir
memasuki padukuhan di hadapan mereka, pengawal itu mempercepat
langkahnya, agar ia tidak kehilangan orang yang sedang diawasinya,
sehingga dengan demikian, maka jarak merekapun menjadi semakin
pendek. Ketika orang itu masuk ke dalam regol padukuhan, pengawal
itupun sudah berada diambang. Karena itu beberapa saat kemudian,
iapuin sudah melampaui regol padukuhan.Tetapi tiba-tiba saja ia
menjadi berdebar-debar. Ia melihat jalan lurus terbentang di
hadapannya. di sebelah menyebelah jalan berdir i dinding batu yang
meskipun tidak tinggi, tetapi tidak terlampau mudah untuk diloncati,
apalagi oleh seorang tua yang berjalan tertatih-tatih dengan tongkat
di tangannya. Sejenak pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian ia
berlari dan meloncat ke atas dinding batu di sebelah menyebelah.
Tetapi ia tidak melihat seorangpun pada kedua sisi jalan itu.
Pengawal itupun kemudian berdiri termenung. Jalan itu sepi sekali.
Tidak ada seoraingpun yang lewat. Bahkan halaman rumah di sebelah
menyebelahpun nampaknya sepi-sepi saja. Tetapi orang tua itu
bagaikan hilang begitu saja. Beberapa saat pengawal itu menunggu.
Namun ia tidak menemukan orang tua itu sama sekali. Jejak arahnyapun
tidak. Dengan hati yang berdebar-debar dilaporkannya apa yang
dilihatnya itu kepada Raden Mas Said. Sejak ia keluar dari
padukuhannya, sehingga oraing itu bagaikan hilang seperti asap. Hal
itu justru menambah keinginan Raden Mas Said untuk pergi ke bukit
kecil di Matesih. Ia ingin tahu, apakah yang akan dikatakan oleh
orang tua itu. Namun demikian Raden Mas Said tidak meninggalkan
kewaspadaan. Ia segera memer intahkan petugas-tugas sandinya untuk
meneliti keadaan Matesih. Apakah orang tua itu sekedar menjebaknya
dengan mempersiapkan sepasukan kumpeni di sekitar bukit itu. “Tetapi
kapankah hari-hari yang ditentukan itu paman?“ bertanya Raden Mas
Said. “Tentu maksudnya bukannya sekedar hari-hari terakhir bulan
ini” jawab Martapura “Tetapi, menurut dugaanku,bahwa saat ini
Surakarta memang sedang dalam kegelapan. Seperti di dalamgelapnya
malamtanpa bulan sama sekali” Raden Mas Said mengangguk-angguk. Lalu
“Jadi, kapan aku harus datang?“ “Besok malam. Kita sudah berada di
hari-hari terakhir dari bulan ini” “Tetapi apakah ini bukan berarti
mengikat aku untuk selama t iga hari, dan selama itu sesuatu dapat
terjadi?“ “Sebaiknya semua dipersiapkan dengan matang” “Baiklah
paman. Aku serahkan semuanya kepada paman. Aku akan datang kebulkit
itu” “Tidak sendiri. Raden Mas dapat menempatkan beberapa orang di
sekitar bukit itu. Sejak hari ini” Demikianlah beberapa orang
kepercayaan Raden Mas Said telah berangkat mendahuluinya ke Matesih,
ke sekitar bukit kecil yang dikatakan oleh orang tua itu, sementara
Raden Mas Said mempersiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan
selama ia tidak ada di antara pasukannya. Dalam pada itu, selagi
Raden Mas Said sibuk dengari teka- teki itu. Pangeran Mangkubumi
telah menempatkan dir i tidak langsung di daerah Sukawati, tetapi di
daerah Pandan Karangnangka. di daerah ini Pangeran Mangkubumi
menempatkan pasukannya. Pasukannya yang masih belum banyak
berkembang, tetapi yang memang sudah dipersiapkannya lebih dahulu.
Namun ternyata yang terbanyak di antara pasukan yang berada di
sekitar daerah Pandan Karangnangka itu adalah para petani dari
daerah Sukawati. Dalam pada itu, Kiai Sarpasrana yang dengan setia
mengikut i jejak Pangeran Mangkubumi, telah berada pula di Pandan
Karangnangka bersama murid-muridnya. di antaramereka termasuk
Buntal. Anak muda yang dengan cepat mendapat kepercayaan dari Kiai
Sarpasrana, karena sejak Buntal datang kepadanya, ia sudah membawa
bekal yang cukup, yang diperolehnya dari padepokan Jati Aking. Dalam
ketegangan itu, Kiai Danatirta di Jati Akingpun t idak dapat lagi
menyembunyikan berkembangan keadaan Surakarta kepada anak
perempuannya. Bahkan berita tentang kepergian Pangeran Mangkubumi
dari Surakartapun telah didengarnya pula. “Ayah” berkata Arum kepada
ayahnya “saatnya agaknya sudah datang. Aku harap kakang Buntal tidak
ingkar” “Kenapa ingkar?“ bertanya ayahnya. “Bukankah kakang Buntal
akan menjemputku dan membawaku ke Sukawati?“ “Semuanya sedang mulai.
Tentu pasukan Pangeran Mangkubumi sedang menyiapkan diri. Jika
semuanya sudah mapan, Buntal baru akan mendapat kesempatan untuk
menjemputmu. Saat ini Pangeran Mangkubumi tentu sedang menyusun
kekuatan di daerah Pandan Karangnaingka” “Ayah” bertanya Arum
“Kenapa Pangeran Mangkubumi tidak langsung menyusun kekuatan di
Sukawati?“ “Pangeran Mangkubumi mempunyai perhitungan medan yang
cermat. Jika semuanya berada di Sukawati. maka apabila kumpeni dan
pasukan Surakarta yang kuat mengepung daerah itu, maka pasukan
Pangeran Mangkubumi akan mengalami kesulitan. Tetapi kini lawannya
harus memperhitungkan dua pusat kekuatan Pangeran Mangkubumi yang
tidak diketahui dengan pasti oleh lawan-lawannya. Yang manakah yang
sebenarnya menjadi pusat kekuatan, dan dimanakah sebenarnya Pangeran
Mangkubumi berada” Arum mengangguk. Lalu “Ayah. Aku sudah siap untuk
berada di dalam lingkungan mereka”“Tetapi kau harus menunggu Arum.
Kau tidak dapat berbuat sendiri” berkata ayahnya ”Bukan saja untuk
menggabungkan dirimu, tetapi juga di padepokan ini kau harus tetap
tersembunyi agar kau t idak mengalami kesulitan sebelum kau berada
di antara pasukan pengawal Pangeran Mangkubumi” Arum memandang
ayahnya sejenak. Kemudian sambil menundukkan kepalanya ia bergumam
“Sampai kapan aku harus menunggu? Sampai perang selesai, atau sampai
Raden Juwiring datang dengan sepasukan prajur it untuk menangkap
kita?“ Kiai Danatirta merenung sejenak, lalu “Aku kira Raden
Juwiring tidak akan melakukannya” “Siapa tahu ayah. Tentang kalung
merjan itupun Raden Juwiring sudah menunjukkan sikap yang keras.
Apalagi dalam keadaan yang gawat seperti sekarang” Arum berhenti
sejenak, lalu “sedangkan kita sadar sepenuhnya, bahwa Raden Juwiring
tentu mengetahui sikap kita menghadapi keadaan yang berkembang di
Surakarta ini” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun ia berkata
“Kau benar Arum. Tetapi setiap tindakan harus kita perhitungkan
sebaik-baiknya. Kita akan menunggu Buntal. Ia tahu apa yang harus
dilakukan. Dan ia tahu benar, bagaimana ia harus menghargai waktu
sebaik-baiknya apalagi di dalam keadaan seperti sekarang ini” Arum
tidak menjawab lagi. Meskipun sebenarnya masih ada persoalan di
dalam dir inya, tetapi ia akan mematuhi nasehat ayahnya. Menunggu
sampai Buntal datang. Hari-hari terakhir adalah hari-hari yang
panasnya memuncak di Surakarta. Para Senapati sudah siap menunggu
perintah. Tetapi mereka tidak mengerti, apakah sebabnya, Kangjeng
Susuhunan tidak segera menentukan sikap. Bahkan seakan-akan pintu
istana itu menjadi tertutup karenanya.Tetapi akhirnya para Senapati
itu mengetahui bahwa hampir setiap saat kereta para perwira kumpeni
hilir mudik memasuki gerbang, “Mereka sedang menentukan sikap”
berkata salah seorang Senapati. “Tetapi agaknya pendapat mereka
belum bertemu” sahut yang lain. Sebenarnyalah kumpenipun hampir
tidak sabar lagi menghadapi sikap Kangjeng Susuhunan. Nama-nama yang
mereka kemukakan tidak mendapatkan persesuaian. Bahkan kadang-kadang
Kangjeng Susuhunan Pakubuwana minta kepada kumpeni untuk merenungkan
pendapat mereka dan dengan alasan kesehatannya, ia minta waktu
barang sehari. “Terlambat” desis kumpeni “Jika Kangjeng Susuhunan
tidak berbuat cepat, maka kami akan menjadi sangat cemas, bahwa
kedudukan kami akan terancam di Surakarta” “Aku akan bertindak
secepat-cepatnya” “Kelambanan inilah yang membahayakan kita
semuanya” “Datanglah besok. Aku akan menentukan, apakah aku setuju
dengan pendapatmu” Kumpeni tidak dapat memaksa. Kesehatan Kangjeng
Susuhunan memang nampak memburuk. Wajahnya pucat dan kadang-kadang
menjadi gemetar. Namun dalam pada itu. apabila Kangjeng Susuhunan
itu telah berada di dalam biliknya, ia berdoa di dalam hatinya agar
Tuhan memberikan perlindungan kepada Surakarta, tetapi juga kepada
adiknya yang dikasihinya, Pangeran Mangkubumi. “Mudah-mudahan adikku
selalu selamat. Mudah-mudahan ia menemukan jalan lurus menuju
kebebasan yang dicita- citakannya”Tetapi Kangjeng Susuhunan tidak
akan terus dapat menghindarkan diri dari suatu sikap. Para Senapati,
para bangsawan dan kumpeni akhirnya tidak akan dapat dengan sabar
menunggu. Jika Kangjeng Susuhunan tidak segera mengambil sikap, maka
mereka tentu akan berbuat menurut keinginan mereka sendiri. Itulah
sebabnya, maka Kangjeng Susuhunan tidak akan dapat mengelakkan dir i
lagi. Namun dalam pada itu. Kangjeng Susuhunan mengharap di dalam
hatinya “Mudah-mudahan Pangeran Mangkubumi telah hilang dari daerah
jangkau kumpeni dan prajurit-prajur it Surakarta sebelum ia berhasil
melindungi dirinya dengan kekuatan yang cukup” Tertundanya hari-hari
untuk mengambil keputusan itu, telah membuat para pemimpin di
Surakarta semakin tegang. Sehingga pada suatu hari mereka dipanggil
menghadap untuk menentukan sikap selanjutnya. Tetapi sementara itu,
saat-saat yang ditunggu Raden Mas Said telah berlalu. Selagi
malam-malam yang menyelimuti Surakarta menjadi sangat kelam karena
di langit tidak ada bulan, maka Raden Mas Said seperti yang sudah
dijanjikan, benar-benar pergi ke bukit kecil di daerah Matesih. Para
petugas sandinya telah meyakinkan, bahwa di daerah itu sama sekali
tidak ada jebakan apapun yang dapat memancingnya ke dalam kesulitan.
Malam-malam yang kelam sudah dilaluinya. di malam yang pertama Raden
Mas Said tidak menjumpai apapun dan siapapun juga. Daerah di sekitar
bukit yang rimbun oleh belukar yang liar itu nampak sepi. Angin
malam yang basah mengusap dedaunan dan membuat suara gemerisik.
Tetapi tidak seorangpun yang nampak di antara semak-semak. Tetapi
Raden Mas Said tidak meninggalkan tempat itu. Ia berdiri saja di
atas bukit itu dan kadang-kadang berjalanbeberapa langkah hilir
mudik. Bahkan kemudian memang timbul niatnya untuk mesu diri,
mendapatkan petunjuk dari Yang Maha Kuasa, apakah yang sebaiknya
dilakukan menghadapi hari-hari terakhir di Surakarta. Apakah ia akan
tetap berdiri terpisah dari Pangeran Mangkubumi, apakah ada jalan
lain yang harus ditempuh, atau bahkan ia harus memusuhi Pangeran
Mangkubumi yang justru dapat menghambat perjuangannya. Meskipun di
malam pertama Raden Mas Said t idak mendapatkan apapun juga. namun
rasa-rasanya ia menemukan kemantapan di dalam hatinya. Itulah
sebabnya ia bertekad untuk berada di tempat itu, tiga hari tiga
malam terus-menerus. Meskipun di siang hari berikutnya matahari
membakar kepalanya, Raden Mas Said sama sekali tidak berteduh.
Dibiarkannya kulitnya menjadi hitam lekam disengat oleh sinar yang
bagaikan membara. Sedangkan di malam hari kemudian, dinginnya rasa-
rasanya sampai menusuk tulang. Namun Raden Mas Said masih berada di
atas bukit itu. Bahkan sejak ia berada di atas bukit kecil itu,
masih tetap berdiri dan selangkah dua langkah berjalan hilir mudik
di atas batu-batu padas. Pada malam kedua, Raden Mas Said sama
sekali t idak mengharap lagi siapapun juga. Ia tidak mengharap lagi
kedatangan orang tua yang pernah berjanji akan menemuinya di bukit
ini. Raden Mas Said lebih condong kepada mendekatkan dir inya kepada
Yang Maha Suci, agar mendapat petunjuk di dalam perjuangannya yang
berat. Dipuncak permohonannya Raden Mas Said tidak lagi melangkah
setapakpun. Ia berdiri dan tetap berdiri sambil menyilangkan tangan
di dadanya. Kepalanya terangkat memandang kelebaran bintang di
langit memandangkebesaran ciptaan Sang Khalik. Betapapun besar ilmu
manusia, hampir tidak berarti bagi kebesaran Yang Maha Pencipta.
Seperti setetes air di lautan. Namun dari padanya Raden Mas Said
menemukan dirinya sendiri. Bahwa yang sedang dilakukan adalah
sekedar usaha bagi kemanusiaan. Hubungan dengan sesama manusia dan
juga hubungan dengan Sang Pencipta. Menjelang dini hari Raden Mas
Said masih tetap berdiri. Ia masih tetap memandang bintang-bintang
di langit. Bahkan seluruh perhatiannya seakan-akan telah
diarahkannya kepada kebesaran Tuhan. Tuhan Yang Maha Besar. Meskipun
demikian inderanya yang terlatih masih dapat mendengar desir langkah
seseorang. Karena itu, maka perlahan- lahan Raden Mas Said
seakan-akan kembali menjejakkan kakinya di atas tanah. Dan itu
adalah naluri manusiawi yang masih belum mencapai kesempurnaan yang
sejati. Dan dengan sadar Raden Mas Said menilai dir inya dan
seksama. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang mampu mencapai
kesempurnaan yang sejati. Yang Sempurna adalah Yang Maha Sempurna
itu sendiri. Ketika Raden Mas Said kemudian menarik nafas dalam-
dalam, dilihatnya sesosok bayangan di dalam kelamnya malam. Dan
dalam selintas Raden Mas Said segera dapatmengenal, orang tua itulah
yang telah datang kepadanya dan berjanji untuk bertemu di atas bukit
ini. “Selamat malam Raden Mas Said yang pinunjul“ sapa orang tua
itu. Raden Mas Said yang sudah masak jiwanya tidak terpengaruh sama
sekali oleh kata-kata yang manapun juga. Karena itu ia menjawab
“Selamat malam Kiai. Sebutan itu bukan seharusnya kau berikan
kepadaku. Jangan membantah. Sebaiknya kita bersikap sebagai
orang-orang tua” “Itulah yang mempesona aku Raden Mas. Dan itulah
yang pinunjul” “Sudah cukup Kiai. Sekarang, apakah Kiai akan
mengatakan sesuatu kepadaku. Tentang dir i Kiai, atau tentang
Surakarta yang sedang kalut?“ Orang tua itu melangkah semakin dekat.
Sementara itu Raden Mas Said masih tetap berdiri di tempatnya.
“Raden Mas memang seorang yang mengagumkan” desis orang tua itu.
“Segala puji hanya untuk Tuhan semesta alam, dan apakah pujian itu
masih saja akan berkepanjangan Kiai. Aku minta Kiai mengatakan
sesuatu” “Raden Mas” berkata orang tua itu “sebenarnya memang tidak
ada yang akan aku katakan kepadamu selain tentang diriku sendiri”
“Sebutlah dirimu” “Namaku Adirasa. Ajar Adirasa” “Adirasa” ulang
Raden Mas Said. “Ya Raden Mas” “Kemudian““Aku berasal dari padepokan
kecil di atas sebuah gumuk di tepi sungai Dengkeng” “Ya, dan setelah
aku mengetahui namamu dan tempat tinggalmu?“ “Tidak ada apa-apa
lagi. Hanya itulah yang akan aku katakan kepada Raden Mas” “Jadi
hanya untuk mengenal namamu dan tempat tinggalmu aku harus berada di
sini tiga hari tiga malam?“ “Sekarang baru malam kedua. Terserah
kepada Raden Mas, apakah Raden Mas akan melanjutkan atau tidak di
malam ketiga besok” Raden Mas Said termangu-mangu sejenak. Tetapi ia
sama sekali tidak menjadi marah dan merasa diperolok-olokkan oleh
Ajar tua itu. Bahkan kemudian timbul tanggapan di dalam dirinya,
bahwa tentu ada sesuatu maksud yang terkandung dibalik sikap yang
nampaknya seperti sekedar berolok-olok itu. “Nah Raden Mas” berkata
Ajar Adirasa itu “Tidak ada yang perlu lagi aku katakan kepada Raden
Mas. Selamat tinggal. Terserah kepada Raden Mas, apakah Raden Mas
akan mengakhir i perbuatan sia-sia ini, atau menyelesaikannya genap
tiga hari” Raden Mas Said tidak menjawab. Dipandanginya saja orang
tua itu sehingga hilang di dalam kegelapan. Raden Mas Said menarik
nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya udara di ujung malam itu menjadi
semakin dingin. Justru langit yang sudah menjadi semburat merah,
seakan-akan menghisap semua panas yang ada di muka bumi, sehingga
bumi akan menjadi beku karenanya. Tetapi Raden Mas Said tetap
berdiri di tempatnya. Ia telah menyilangkan tangannya kembali.
Memandang kepada langit yang semburat merah di ujung Timur. Tetapi
Raden Mas Said tetap berdiri tegak.Namun demikian, pikiran Raden Mas
Said tidak lepas dari sikap yang aneh dar i orang tua yang menyebut
dirinya Ajar Adirasa itu. “Jika tidak ada maksud tersembunyi, ia
tidak akan berbuat segila itu” berkata Raden Mas Said di dalam
hatinya. Dengan demikian, maka tekadnya menjadi semakin bulat untuk
tetap berada di tempat itu sampai akhir malam ketiga. Matahari yang
kemudian terbit di langit dan merayap semakin tinggi, seakan-akan
telah membakar bukit kecil itu bersama Raden Mas Said di atasnya.
Tetapi Raden Mas Said seolah-olah sama sekali tidak merasa, betapa
sinar matahari menyengat kulitnya Demikianlah Raden Mas Said justru
mengikuti putaran perjalanan matahari, sambil berdir i sejak terbit
sehingga terbenamdi ujung Barat Ketika matahari kemudian tenggelam
di bawah Cakrawala, maka kembali udara malam yang dingin menusuk
sampai ke tulang sumsum. Tubuh Raden Mas Said yang baru saja
terbakar oleh panas matahari, rasa-rasanya menjadi nyeri dan pedih
karena gigitan udara yang dingin. Namun betapapun juga, rasa-rasanya
Raden Mas Said bagaikan menunggu sesuatu di atas bukit ku. Meskipun
tidak ada yang menjanjikannya, tetapi rasa-rasanya bahwa akan ada
sesuatu terjadi pada malam itu. Karena itu maka Raden Mas Said
semakin tekun merenungi malam yang gelap dan dirinya sendiri di
dalamnya. Seakan- akan ia berada di dalam satu dunia yang asing,
dunia yang sendiri. Di sekelilingnya hanyalah kegelapan yang hitam.
Yang tampak olehnya adalah gemerlapnya bintang di langit yang
bertebaran dari ujung cakrawala sampai ke ujung cakrawala. Semakin
dalam malam yang kelam, Raden Mas Said menjadi semakin
berdebar-debar. Tetapi tidak ada sesuatuyang terjadi. Tidak ada
tanda-tanda apapun yang dilihat atau didengarnya, selain pertanda
bunyi malamyang ngelangut. Tetapi Raden Mas Said ternyata adalah
orang yang tabah. Betapapun juga ia tidak berkisar dari tempatnya.
Setiap waktu ia berharap, tetapi setiap waktu dilaluinya tanpa ada
persoalan apapun juga. Meskipun demikian Raden Mas Said tidak
kehilangan kesabaran. Ia masih tetap berdiri dan bersilang tangan di
dada. Bahkan setelah malam hampir sampai pada akhirnya, Raden Mas
Said sampai pada suatu keadaan yang tiada berpengharapan lagi. Namun
demikian malam itu akan diakhir inya sampai tuntas. Tetapi bagi
Raden Mas Said, ternyata ada sesuatu yang didapatkannya dalam
ketiadaan apa-apa itu. Ia ternyata memiliki ketabahan yang telah
diuj inya sendiri. Ia mempunyai jiwa yang keras dan tidak lekas
berputus asa. Ketika fajar menyingsing, barulah Raden Mas Said menar
ik nafas dalam-dalam dan beranjak dari tempatnya. Namun justru pada
saat itu ia melihat sesuatu. Beberapa langkah saja dari tempatnya ia
melihat bayangan yang kehitaman. Bukan bayangan seseorang, tetapi
sesuatu yang teronggok di tanah. Debar jantung Raden Mas Said
menjadi semakin keras memukul dinding dadanya. Tetapi ia tidak
tergesa-gesa mendekatinya. Dengan tajamnya ia mengamati bayangan itu
dari tempatnya berdiri. Ia menjadi heran bahwa ia tidak mendengar
sama sekali gemerisik langkah seseorang, atau desir dedaunan.
Bayangan hitam itu telah begitu saja berada di tempatnya. Sejenak
kemudian maka Raden Mas Saidpun yakin, bahwa yang dihadapinya adalah
benda-benda mati, karena ia tidakmendengar desah nafas dan tidak
merasakan getar kehidupan sama sekali. Namun dengan demikian, ia
menjadi semakin heran, bahwa benda-benda itu dengan tiba-tiba saja
telah berada di sana. Menurut perhitungannya, ia tentu mendengar
desir langkah seseorang, jika ada yang dengan sengaja meletakkan
benda-benda itu di situ. Sekilas terkenang olehnya orang tua yang
menyebut dirinya Kiai Adirasa. Dengan dada yang berdebar-debar ia
bertanya kepada diri sendir i “Apakah Kiai Adirasa yang aneh itu
yang telah meletakkan Barang-barang itu di situ?“ Sejenak Raden Mas
Said membeku di tempatnya. Namun matahari yang semakin membayang di
langit, kemudian menguakkan kegelapan yang menyelimuti bukit itu.
Perlahan-lahan Raden Mas Said mendekatinya. Namun demikian ia masih
saja dicengkam oleh keragu-raguan. Bahkan seakan akan ia berkata
kepada diri sendiri “Itu tentu suatu jebakan. Mungkin Barang-barang
itu dapat meledak seperti senjata kumpeni” Dengan demikian maka
langkah Raden Mas Saidpun terhenti sejenak. Tetapi ia tidak
meninggalkan benda-benda itu. Dalam keragu-raguan itulah maka sekali
lagi Raden Mas di kejutkan oleh kehadiran seseorang tanpa
diketahuinya. Ia menyadari bahwa seseorang berdiri beberapa langkah
di belakangnya ketika orang itu tertawa perlahan-lahan. Dengan sigap
Raden Mas Said meloncat menghadap suara itu dan bersiap menghadapi
segala kemungkinan. Tetapi yang dihadapinya adalah seorang yang
berpakaian kusut di balik bayangan sebuah gerumbul, di atas
kepalanya terletak sebuah tutup kepala yang agak lebar berujung
runcing.Sekali lagi Raden Mas Said heran. Seharusnya ia dapat
mendengar langkah seseorang yang tidak begitu jauh di belakangnya.
Telinganya adalah telinga yang terlatih baik. Namun ternyata bahwa
ia sama sekali tidak mengetahui kehadirannya. “Siapa kau?“ bertanya
Raden Mas Said dengan ragu-ragu, karena ia sadar, bahwa orang itu
tentu memiliki banyak kelebihan dari orang kebanyakan. Orang itu
tertawa. Beberapa helai daun pohon perdu menutup wajahnya yang
kehitam-hitaman sehingga Raden Mas Said tidak dapat memperhatikannya
dengan jelas. “Apakah kau yang menyebut dirimu Adirasa?“ “Bukan
Raden Mas. Aku tahu bahwa Kiai Ajar Adirasalah yang telah memberikan
petunjuk agar Raden berada di tempat ini, di malam-malamterakhir
bulan ini” Raden Mas Said t idak segera menjawab. Ia mencoba
memandang wajah orang itu. Tetapi setiap saat, orang itu berusaha
membayangi wajahnya dengan dedaunan. “Apakah kau mengenal Ajar
Adirasa?“ bertanya Raden Mas Said kemudian. “Ya, aku mengenal Raden
Mas” ”Kau tentu seperti Kiai Ajar Adirasa yang berusaha menyelubungi
dir inya dengan rahasia. Tetapi aku masih akan mencoba barangkah kau
termasuk orang biasa. Siapa kau?“ Orang itu tertawa. Katanya
“Sebaiknya Raden Mas tidak usah bertanya. Jawabku tentu tidak akan
memberikan kepuasan bagi Raden Mas. Yang penting, silahkan Raden Mas
mengambil Barang-barang itu” “Apakah Barang-barang itu, dan apakah
kau yang telah meletakkannya di situ?“ “Bukan”“Jadi siapa?“
“Pertanyaan Raden Mas sia-sia. Ada seribu jawab yang dapat aku
berikan. Tetapi Seribu nama itu tidak penting bagi Raden Mas”
“Kenapa? “Silahkan Raden Mas melihat, Barang-barang itu barangkali
berguna bagi Raden Mas” Raden Mas Said termangu-mangu. Namun
kemudaan mendekati benda-benda itu dengan hati-hati. Selain ia
memperhatikan benda itu dengan saksama, Raden Mas Saidpun harus
berhati-hati. Mungkin orang itu bermaksud buruk, dan tiba-tiba saja
ia menyerangnya. Tetapi orang itu tidak beranjak dari tempatnya.
Perlahan- lahan Raden Mas Said melangkah semakin dekat. Dilihatnya
selembar kain menyelubungi sesuatu. Sejenak Raden Mas Said
termangu-mangu, namun kemudian selubung itu dibukanya
perlahan-lahan. “Sebuah panji-panj i” desis Raden Mas Said. Dan
ketika ia mengamati benda yang sudah berselubung lagi, ia berkata
pula “sebuah kerangka genderang” Raden Mas Said termenung sejenak
sambil mengamati kedua macam benda itu berganti-ganti. Lamat-lamat
ia masih mendengar seseorang berkata “Selembar panj i-panji bernama
Kiai Duda dan kerangka genderang bernama Kiai Slamet. Nah,
barangkali dalam keadaan kemelut seperti sekarang. keduanya
mempunyai arti bagi Raden Mas” Raden Mas Said masih termenung.
Dengan ragu-ragu dirabanya kerangka genderang itu. Benar-benar
sebuah kerangka genderang dar i kayu. “Apakah artinya ini?“ ia
berdesis. Tetapi tidak seorangpun yang menjawab.“Apakah maksudnya?“
Raden Mas Said mengulang. Tetapi yang terdengar hanya desir angin
yang lembut. Karena tidak ada juga jawaban dari orang yang berdiri
di belakang gerumbul itu, maka Raden Mas Saidpun kemudian berpaling.
Tetapi sekali lagi ia terkejut sehingga darahnya serasa berhenti
mengalir. Orang yang berdiri di belakang bayangan dedaunan itu sudah
tidak ada lagi di tempatnya. Hampir di luar sadarnya Raden Mas
Saidpun meloncat mencarinya. Beberapa buah gerumbul telah
dilihatnya. Namun ia tidak dapat menemukan seorangpun. “Bukan main“
Ia bergumam “Tentu bukan orang kebanyakan. Orang itu tentu memiliki
sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain” Dalam kebimbangan itu
Raden Mas Said melangkah perlahan-lahan kembali ke tempat
benda-benda yang diketemukan di atas bukit itu. Benda-benda itu
masih tetap ada di tempatnya. “Siapa?“ pertanyaan itu selalu kembali
mengganggunya. Namun tiba-tiba wajah Raden Mas Said yang mulai
memucat setelah selama tiga hari ia berada di atas bukit kecil itu
berkerut. Sesuatu agaknya telah melintas di dalam kepalanya. Sambil
memandang gerumbul yang tidak begitu lebat, tempat orang yang
memakai tutup kepala yang runcing itu berdiri, Raden Mas Said mulai
mencoba membayangkankembali wajahnya. Wajah orang itu, yang kotor
dan sedikit tertutup oleh dedaunan, “Apakah ia telah dengan sengaja
menemui aku di sini “ Raden Mas Said bergumam. Ketika ia berpaling
dan memandang dua buah benda yang teronggok itu, hatinya berdesir.
Seperti di luar sadarnya ia berkata “Apakah ini suatu isyarat, bahwa
semuanya harus segera dimulai?“ Raden Mas Said untuk beberapa saat
berdiri dalam kebimbangan. Namun kemudian ia mengambil kedua benda
yang disebut bernama Kiai Duda dan Kiai Slamet itu sambil
mereka-reka di dalam hatinya “Tentu bukannya tanpa maksud bahwa yang
aku ketemukan di sini adalah sebuah panji-panji dan beraneka
genderang” ia tertegun sejenak, lalu “orang itu, apakah mataku sudah
kabur karena aku berada di sini tiga hari tiga malam pati-geni tanpa
makan dan dipanggang di panas matahari di siang hari dan dibekukan
oleh embun di malamhari?“ Dada Raden Mas Said berdebaran ketika
mulutnya bergerak dan menyebut “Orang itu agaknya mirip sekali
dengan pamanda Pangeran Mangkubumi” Namun Raden Mas Said tidak dapat
meyakinkannya karena orang itu sudah tidak ada lagi. Karena itu maka
iapun kemudian membawa dua buah benda yang diketemukannya itu turun
dari bukit kecil tempat ia mesu diri selama tiga hari tiga malam.
Tiba-tiba saja Raden Mas Said merasakan bahwa langkahnya mulai
lamban. Sekali-sekali ia terpaksa berpegangan pada batang
pohon-pohon perdu. Namun ia masih bertahan karena kekuatan tubuhnya
yang luar biasa. Meskipun selama tiga hari ia berdir i di atas bukit
tanpa makanan yang berarti, namun ia masih tetap menguasai keadaan
dirinya sebaik-baiknya.Hanya kadang-kadang terasa kakinya bergetar.
Tetapi dengan imbangan niat yang besar, maka semuanya itu
seakan-akan tidak mengganggunya sama sekali. Ketika Raden Mas Said
telah turun dari bukit kecil itu dan berjalan beberapa langkah,
mulailah ia menyadari bahwa beberapa orang pengawalnya ada di
sekitar bukit itu untuk mengawasi apabila terjadi kecurangan kumpeni
dan sengaja menjebaknya. Atau orang-orang yang telah diupah oleh
mereka. Dengan demikian, maka yang pertama-tama dilakukan oleh Raden
Mas Said adalah mencar i mereka itu dan bersama-sama meninggalkan
daerah Matesih. Seorang demi seorang pengawalnya dapat dijumpainya
di tempat yang sudah ditentukan. Yang lainpun kemudian dipanggil
pula oleh kawan-kawannya dan berkumpul mengerumuni Raden Mas Said
yang duduk di atas sebuah batu. Dengan singkat Raden Mas
menceriterakan apa yang dilihat dan didengarnya. Tentang dua orang
yang aneh itu dan tentang dua buah benda yang aneh ini pula. Para
pengawalnya tidak dapat memberikan tanggapan apapun selain
mengangguk-angguk dengan herannya, karena tidak seorangpun dari para
pengawal itu yang melihat seseorang naik ke atas bukit kecil yang
diawasinya itu. “Kita harus segera kembali ke induk pasukan kita”
berkata Raden Mas Said. “Apakah keadaan Raden Mas sudah
memungkinkan?“ bertanya salah seorang pengawalnya. “Kenapa tidak?“
Raden Mas Salur menyahut, namun kemudian “Tetapi cobalah, carikan
aku setitik air untuk membasahi mulutku”“Mungkin Raden Mas
memerlukan makan?“ Raden Mas menggeleng. Demikianlah maka seseorang
dari antara para Pengawal itupun mencari air dari sebuah mata air
yang jernih. Dengan air itu Raden Mas Said membasahi mulut dan
kerongkongannya beberapa titik saja. Tetapi yang beberapa titik itu
ternyata telah membuat tubuh Raden Mas Said menjadi segar, dan
bahkan seakan-akan segala kekuatannya telah menjadi pulih kembali,
“Apakah Raden Mas tidak ingin makan meskipun hanya sesuap nasi?“
pengawalnya masih bertanya. “Sudah aku katakan, aku tidak akan makan
sekarang” jawab Raden Mas Said, lalu “Aku sudah selesai. Marilah
kita kembali menemui paman Martapura. Apakah kalian mendengar
sesuatu telah terjadi selama aku berada di atas bukit?” Para
pengawal djtu berpandangan sejenak, lalu salah seorang dari mereka
menjawab “Tidak Raden Mas. Kami belum mendengar perkembangan baru
yang terjadi di Surakarta” “Apakah Kangjeng Susuhunan dan kumpeni
sudah mulai bertindak terhadap Pangeran Mangkubumi?“ “Kami belum
mendengar“ Raden Mas Said mengangguk-angguk. Katanya “Mudah- mudahan
belum ada tindakan apa-apa. Baik atas Pangeran Mangkubumi maupun
atas kita” Para pengawalnya tidak menyahut. “Marilah kita tinggalkan
tempat ini. Aku ingin berbicara dengan paman Martapura tentang
benda-benda yang aku dapatkan di atas bukit kecil itu dan sekaligus
tentang orang- orang aneh yang aku temui di atas bukit itu
pula”Demikianlah maka merekapun segera meninggalkan bukit itu dan
menuju ke tempat yang mereka rahasiakan. Tempat yang dipergunakan
oleh Pangeran Martapura memegang pimpinan selama Raden Mas Said
tidak ada di antara anak buahnya. Para pengawal Raden Mas Said
benar-benar menjadi heran. Hanya oleh beberapa titik air,
rasa-rasanya Raden Mas Said sudah pulih kembali. Tidak ada
bekas-bekas sama sekali padanya, yang menunjukkan bahwa ia baru saja
melakukan mesu raga selama tiga hari pati-geni. Wajahnya sudah
nampak menjadi merah kembali, dan sorot matanya menunjukkan
kegairahannya atas masa-masa yang mendatang. Meskipun demikian,
ketika mereka lewat di rumah seorang pengikut Raden Mas Said yang
dengan sandi tetap berada di lingkungannya, maka Raden Mas Saidpun
memerlukannya singgah. Agar tidak. menimbulkan kecur igaan, maka
para pengawalpun telah berpencaran. Sebagian mendahului, sebagian
lagi berada di belakang dan berhenti di bawah pohon yang rindang,
seperti seorang pejalan yang sejenak berlindung dari teriknya
matahari. Di tempat itu Raden Mas Said mendapat sebuah kelapa muda.
Airnya semakin menyegarkan tubuhnya, dan kelapa muda yang kemudian
dimakannya telah memberikan kekuatan baru padanya. Karena itulah
maka perjalanan berikutnya menjadi semakin lancar dan cepat. Namun
malam itu Raden Mas Said masih belum langsung menjumpai Pangeran
Martapura. Ia masih harus berhenti dan ber istirahat pada seorang
pengikutnya yang lain yang dalam tugas sandinya pula tetap berada di
rumahnya bersama keluarganya. Pada malam itu Raden Mas Said telah
memerintahkan para pengawalnya untuk mencari keterangan, apakah yang
telah terjadi di Surakarta.Sementara itu, Kangjeng Susuhunan telah
mengambil keputusan yang sangat mengejutkan. Bukan saja para
Senapati, tetapi juga para pemimpin pemerintahan. Kangjeng Susuhunan
ternyata demikian terpengaruh oleh pendapat kumpeni, sehingga
memutuskan mengangkat seorang Senapati yang mengecewakan sekali.
Beberapa orang Senapati yang menghadap Kangjeng Susuhunan dan
mendengar keputusan itu menjadi bertanya- tanya di dalam hati,
apakah yang dapat dilakukan oleh seorang Senapati yang masih muda
dan yang hanya mempercayakan kemampuannya pada olah perang yang
disadapnya dari kumpeni. Meskipun lia sendiri selalu membawa senjata
api berlaras pendek yang diselipkan di lambungnya, namun senjata itu
t idak akan berguna sama sekali untuk menghadapi Pangeran
Mangkubumi. “Kenapa Pangeran Yudakusuma” bertanya seorang Senapati
kepada seorang kawannya. Kawannya menggelengkan kepalanya. Jawabnya
“Aku tidak tahu. Tetapi agaknya kumpenilah yang mendesak agar
Kangjeng Susuhunan mengangkat seorang Senapati yang dapat
dikendalikan oleh kumpeni” “Tetapi ia tidak akan berarti sama
sekali” “Mungkin apabila ia harus berhadapan dalam perang tanding.
Tetapi jika terjadi perang, bukannya perang tanding. Perang antara
pasukan dalam jumlah yang cukup besar. Dan Senapati yang terpilih
itu tentu akan mempergunakan cara yang baru bagi Surakarta. Cara
yang sudah selalu kita pakai, dengan gelar-gelar perang yang sesuai
dengan kekuatan prajurit kita akan digabungkannya dengan cara
orang-orang asing itu bertempur dalam garis datar. Sejauh-jauhnya
dalam gelar yang mir ip dengan Wulan Punanggal” Para Senapati itu
tidak menanggapi lebih jauh lagi. Tetapi hampir setiap orang di
antara mereka berpendapat, bahwapengangkatan itu benar-benar atas
desakan kumpeni, karena Pangeran Yudakusuma adalah seorang Pangeran
yang dekat sekali dengan kumpeni. Tetapi lepas dari kemampuannya,
setiap orang mengakui bahwa Pangeran yang masih cukup muda ini
memiliki keberanian dan ketegasan sikap. Bahkan sebenarnya ia
bukannya seorang yang amat lemah dibandingkan dengan
Senapati-Senapati sebayanya. Ia memiliki perhitungan yang jauh dan
berani mengambil sikap dalam keadaan yang sulit. Demikianlah maka
Surakarta telah menetapkan seseorang yang akan memimpin prajur itnya
yang akan menghadapi segala kemungkinan dengan kepergian Pangeran
Mangkubumi dari istananya dengan diam-diam. Meskipun hampir setiap
prajurit menganggap bahwa keputusan itu terlampau lambat datangnya,
dan yang ternyata mengecewakan, tetapi itu lebih baik daripada tidak
mengambil sikap apapun. Apalagi para petugas sandi sudah selalu
melaporkan, bahwa Pangeran Mangkubumi telah benar-benar menyusun
kekuatan prajurit. Setiap hari para petugas sandi melihat beberapa
orang berdatangan. Tetapi yang masih belum dapat diketahui dengan
pasti, aoakah Pangeran Mangkubumi ada di Sukawati atau berada di
daerah Pandan Karangnangka. Keduanya merupakan daerah yang harus
diperhitungkan. Ternyata Pangeran Yudakusuma yang masih cukup muda
itu mampu bergerak cepat. Dalam waktu yang singkat sesaat setelah ia
diangkat menjadi Senapati Agung menghadapi keadaan yang buram di
Surakarta itu, ia telah memanggil para Senapati untuk bertemu.
Keputusan tentang pengangkatannya Itu telah disambut dengan dingin
oleh Pangeran Ranakusuma. Tetapi sebagai seorang prajurit Pangeran
Ranakusuma tetap mematuhi kuwajibannya. Ia ditetapkan menjadi
Senapati pengapit disayap kiri, gelar apapun yang akan disusunnya di
dalam keadaan medan yang akan dihadapi kelak. Sedang
Senapatipengapit yang seorang lagi disayap kanan adalah seorang
Senapati yang cukup masak dan berpengalaman meneguk pahit getirnya
peperangan. Senapati itu adalah Tumenggung Sindura. Seorang
Tumenggung yang meskipun bukan seorang bangsawan pada tingkat
pertama, namun memuliki kemampuan yang selalu diperhitungkan oleh
Surakarta. Dan agaknya Pangeran Yudakusuma mempercayakan kekuatannya
pada kemampuan Tumenggung Sindura. Jika benar-benar Pangeran
Mangkubumi t idak dapat dilukai dengan peluru senjata api kumpeni,
maka adalah menjadi tugas Tumenggung Sindura untuk melawannya.
Tumenggung Sindura mempunyai pusaka yang dapat diandalkan. Sebilah
ker is yang sangat disegani oleh setiap orang yang pernah
melihatnya. Keris yang disebutnya Kiai Cangkring. Tetapi tidak
seorangpun yang dapat dengan pasti menghubungkan keris itu dengan
keris yang pernah menggetarkan Singasari karena kutukan mPu
Gandring. yang membuat keris itu, sehingga beberapa orang telah
terbunuh karenanya. “Tidak seorangpun yang tahu dengan pasti bentuk
dan ujud dari Kiai Cangkring yang dibuat oleh mPu Gandring itu”
berkata seorang Senapati “sehingga kita tidak akan dapat mengatakan
apakah keris Tumenggung Sindura itu berasal dari mPu Gandr ing”
Meskipun para Senapati selengkapnya telah disusun di dalam perang
yang besar di saat yang tepat, namun Pangeran Yudakusuma memutuskan
untuk memberikan tekanan- tekanan sebelumnya kepada setiap kedudukan
Pangeran Mangkubumi dengan bagian-bagian dari seluruh pasukan.
Dengan demikian Surakarta akan dapat menjajagi kekuatan Pangeran
Mangkubumi mes kipun tidak dengan pasti. “Kita akan mengirimkan
pasukan pasukan untuk mendekati daerah pertahanannya. Kita harus
tahu sebelumnya, di daerah dan padukuhan yang manakah kekuatan
Pangeran Mangkubumi terpusat. Baik bagi induk kekuatannya di
Sukawati maupun di Pandan Karangnangka. Kita akanmemancing
benturan-benturan kecil sebelumnya, sehingga pada suatu saat kita
yakin akan kemampuannya. Pada saatnya kita akan memukul kekuatan
terbesarnya. Tetapi dengan sekali pukul kita tidak boleh gagal. Jika
kita gagal, maka yang akan terjadi adalah peperangan yang
berkepanjangan. Sementara kita dapat mengabaikan kekuatan Said dan
Martapura. Karena itu, kita harus secepatnya menyelesaikan Kamas
Mangkubumi” Beberapa orang Senapati segera menyatakan
persetujuannya. Untuk langsung bertindak atas Pangeran Mangkubumi
akan sama artinya dengan meloncat ke dalam gelap tanpa mengetahui
betapa dalamnya jurang yang diloncatinya. Dengan demikian maka
Senapati Agung yang sudah ditentukan itupun segera memer intahkan
kepada para Senapati untuk mempersiapkan pasukan masing-masing.
Setiap saat palsukan itu dapat diperintahkan untuk maju mendekati
pertahanan Pangeran Mangkubumi dalam kelompok-kelompok kecil.
“Tetapi kita tidak akan mengorbankan kelompok-kelompok kecil itu
sehingga tumpas dibantai oleh para petani dan orang- orang kasar
yang sudah dapat dipengaruhi oleh Pangeran Mangkubumi” berkata
Pangeran Yudakusuma “karena itu, maka pasukan berkuda akan penting
artinya di setiap keadaan. Setiap kelompok pasukan akan disertai
oleh beberapa orang dari pasukan berkuda yang dapat menghubungkan
pasukan yang sedang bergerak itu dengan induk pasukan yang segera
akatn membuat perkemahan di luar kota menghadapi pusat-pusat
pertahanan Pangeran Mangkubumi” Seorang Senapati yang berkumis lebat
kemudian bertanya “Kenapa harus dibuat perkemahan di luar kota?“
“Jika Pangeran Mangkubumilah yang mengamlbil prakarsa menyerang
Surakarta, maka kita tidak akan mengorbankankota. Karena kelengahan
kita Kartasura sudah hancur di dalam geger Pacina yang mengejutkan
itu. Karena itu, maka sekarang, setiap gerbang kota dan jalur-jalur
jalan harus mendapat pengawasan yang kuat” jawab Pangeran
Yudakusuma. Para Senapatipun mematuhi perintahnya. Mereka
menempatkan dir i di bawah pimpinan tunggal yang telah ditetapkan
oleh Kangjeng Susuhunan. Pangeran Ranakusuma yang lebih tua disegala
bidangpun tidak banyak mempersoalkannya. Ia jalankan perintah
Pangeran Mudakusuma sebaik-baiknya. Dihimpunnya pasukan yang ada di
bawah perintahnya. Sebagian dari mereka adalah pasukan berkuda.
Sekelompok dari pasukan berkuda itu di bawah pimpinan seorang anak
muda yang paling dipercayanya Raden Juwiring. Surakarta bagaikan
bangkit dari tidurnya. Betapapun diusahakan untuk tetap memelihara
ketenangan, namun kesibukan para prajurit telah membuat hati
penduduknya menjadi gelisah. Apalagi setelah mereka mengetahui bahwa
Pangeran Mangkubumi telah lolos, disusul oleh Pangeran Hadiwijaya
dan kemudian ternyata telah lenyap pula Pangeran Wijil. Dengan
prihatin Kangjeng Susuhunan memperhatikan perkembangan keadaan.
Dengan prihatin pula ia setiap kali mendengarkan laporan tentang
persiapan yang sudah diambil oleh Pangeran Yudakusuma. “Aku tidak
menyangka, bahwa orang itu dapat berbuat selincah itu” berkata
Kangjeng Susuhunan kepada dir i sendir i. Tetapi Kangjeng
Susuhunanpun telah menduga, bahwa Pangeran Yudakusuma tentu banyak
mendapat nasehat dari perwira-perwira kumpeni. Dalam pada itu, semua
yang berkembang di Surakarta, di dalam istana Kangjeng Susuhunan dan
di luar istana telahdidengar oleh Pangeran Mangkubumi. Pangeran
Mangkubumipun telah menerima laporan pula, bahwa yang kemudian
memegang pimpinan tertinggi pasukan Surakarta yang dipersiapkan
untuk menindasnya apabila ia benar-benar mempergunakan kekerasan
senjata adalah Pangeran Yudakusuma. “Aneh” berkata seorang Senapati
yang berada di pihak Pangeran Mangkubumi “Tidak seorangpun
memperhitungkan bahwa yang akan memegang pimpinan kemudian adalah
Pangeran Yudakusuma” “Kenapa aneh?“ bertanya Pangeran Mangkubumi.
“Pangeran Yudakusuma bukan seorang Senapati yang dapat disejajarkan
dengan Pangeran Ranakusuma. Bahkan di medan perang, Tumenggung
Sindura yang menjadi Senapati pengapitnya bersama Pangeran
Ranakusuma, adalah Senapati yang lebih mantap meskipun ia bukan
seorang Pangeran” “Pangeran Ranakusuma sudah terlampau tua” berkata
Pangeran Mangkubumi. “Ah, tentu belum Pangeran” sahut Senapati itu
“Ia masih sanggup berhubungan dengan adik isterinya itu dengan
sembunyi-sembunyi. Dan ia adalah Senapati yang berpengalaman.
Mungkin Tumenggung Sindura karena derajatnya tidak dapat memer intah
para Pangeran. Tetapi bahwa yang terpilih Pangeran Yudakusuma adalah
mengherankan sekali. Masih ada nama-nama yang pantas”Pangeran
Mangkubumi tersenyum. Katanya “Tetapi menurut pengamatanmu, siapakah
di antara mereka yang paling cakap mempergunakan gelar dan tata
peperangan yang mirip dengan kumpeni?“ Senapati itu menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Memang Pangeran Yudakusuma sengaja mempelajari
cara tata gelar seperti orang asing itu” Dan ia lebih percaya kepada
senjata api berlaras pendek itu daripada kerisnya yang disebutnya
bernama Kiai Sampir. Keris yang sebenarnya sangat berwibawa itu”
“Benar Pangeran. Dan itulah lawan yang dihadapkan kepada Pangeran”
“Bagiku akan lebih baik. Aku lebih senang j ika Panglima pasukan
Surakarta itu langsung dipegang oleh orang asing. Dengan demikian,
maka aku tidak akan dipengaruhi lagi oleh keragu-raguan dan lebih
banyak dibayangi oleh hubungan keluarga, karena para Senapati itu
adalah saudara-saudaraku sendiri” Senapati itu mengangguk-angguk. Ia
mengerti betapa beratnya perasaan Pangeran Mangkubumi. Kangjeng
Susuhunan adalah kakaknya yang justru mengasihinya. Tetapi ternyata
bahwa jalan mereka telah bersimpang. Sementara itu. Raden Mas Said
telah kembali pada induk pasukannya. Kepada Martapura, Raden Mas
Said segera menunjukkan benda-benda yang didapatnya di atas bukit
kecil itu. “Siapakah yang memberikan benda-benda ini kepada Raden
Mas?” bertanya Martapura, Raden Mas Said menggelengkan kepalanya.
Kemudian diceriterakannya, bagaimana ia mendapatkan benda-benda
itu.Martapura merenungi panji-panj i dan kerangka genderang itu
sambil mencoba menebak teka-teki yang rumit itu. Namun agaknya ia
tidak segera berhasil. “Jadi pada saat anak mas mendapatkan benda
itu anak mas dengan pasti melihat seseorang di atas bukit itu pula?“
“Ya paman” “Anak mas” berkata Martapura “kadang-kadang kita
terganggu oleh bayangan-bayangan yang sebenarnya hanya ada di
dalamangan-angan kita. Apalagi dalam keadaan seperti yang terjadi
pada anakmas saat itu sesudah tiga har i tiga malam melakukan pati
geni” “Ah“ desah Raden Mas Said “Aku tetap sadar tentang diriku dan
keadaan di sekelilingku. Panji-panj i dan kerangka genderang inipun
bukan sekedar Barang-barang yang hanya ada di dalam angan-angan
kita” “Dan seperti yang kau ceriterakan, orang itu rasa-rasanya
pernah kau kenal?” “Ya. Orang itu pernah aku kenal. Apalagi aku tahu
bahwa pamanda Pangeran Mangkubumi sering mempergunakan pakaian
seorang petani. Kadang-kadang seorang perantau” Martapura
mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya “Raden Mas Said.
Agaknya tidak ada pilihan lain bagi Pangeran Mangkubumi. Siapapun
orang yang kau lihat, tetapi kau telah mendapatkan isyarat itu. Kau
harus menegakkan panji-panji yang selama ini sudah kau kibarkan, dan
kau harus mencanangkan genderang perang melawan orang-orang asing
yang sudah kau mulai. Saat itu sudah tiba. Dan kau sudah sepantasnya
bekerja bersama dalam satu langkah dengan Pangeran Mangkubumi. Kedua
benda yang kau temukan itu adalah isyarat gaib yang kita terima
dengan jelas” Raden Mas Said mengerutkan keningnya. Namun iapun
kemudian mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa tidakada perbedaan
pokok dar i perjuangannya dengan perjuangan Pangeran Mangkubumi.
Jika sebelumnya mereka tidak berjalan teriring, karena mereka
mempunyai pertimbangan- pertimbangan tersendir i. Tetapi bukan
perbedaan pada pangkal pendirian mereka. Ternyata kedua benda itu
telah semakin mendekatkan hati Raden Mas Said kepada pamandanya,
seolah-olah kedua benda itu merupakan aba-aba untuk menjunjung panj
i-panji perjuangannya semakin tinggi, dan mengemandangkan genderang
perang keseluruh wilayah Surakarta. Dari ujung sampai ke ujung.
Namun demikian baik Raden Mas Said maupun Pangeran Mangkubumi masih
belum mengadakan hubungan secara resmi. Agaknya mereka masing-masing
masih akan memperhitungkan kemungkinan. yang diambil oleh Surakarta
dan kumpeni. Namun mereka telah berusaha untuk saling mengisi
apabila benar-benar terjadi benturan bersenjata. Dan karena itulah
sebabnya maka Raden Mas Said dan Martapura kemudian bergeser dan
menempatkan kekuatan di sebelah Utara. Dan karena Martapura semula
adalah Bupati Grobogan yang tidak berseda tunduk kepada kekuasaan
kumpeni yang semakin besar di Surakarta, maka sumber kekuatan
Martapura adalah dukungan rakyat Grobogan, ditambah dengan rakyat di
daerah daerah yang pernah dilalui oleh pasukannya yang mengerti arti
perjuangannya bersama Raden Mas Said. Dua pemusatan pasukan yang
besar itu memang harus diperhitungkan oleh Panglima pasukan
Surakarta dan kumpeni. Tetapi arah pandangan Pangeran Yudakusuma
yang pertama-tama adalah Pangeran Mangkubumi. Yang terjadi kemudian
di sekitar Surakarta adalah kesibukan para prajurit. Pasukan
Surakarta telah mulai mempersiapkan dir i di luar kota dan di
sepanjang perbatasan. Padukuhan-padukuhan kecil di perbatasan
merupakan pemusatan pasukan yang terpencar tetapi di bawah
satuperintah. Setiap kali pasukan yang terpencar itu akan segera
mampu berkumpul di tempat yang sudah ditentukan. Namun demikian
setiap kelompok pasukan mempunyai tanggung jawab mereka sendiri
sesuai dengan susunan tangga pimpinan mereka. Seperti yang
direncanakan, maka Pangeran Yudakusumapun mulai mengir imkan
peronda-peronda dalam jumlah yang cukup besar mendekati daerah yang
dianggapnya berbahaya. Bahkan sebagian dari para peronda itupun
telah memasuki padukuhan Jati Sari pula. Kiai Danatirta yang tinggal
di padukuhan terpencil tidak dapat melepaskan dir i dari
perkembangan keadaan itu. Bahkan ia harus menyaksikan pasukan
Surakarta yang setiap saat memasuki padukuhannya. “Ayah” berkata
Arum ketika ia bertemu dengan beberapa orang prajurit di jalan
pulang dari sawah “prajurit-prajurit itu nampaknya sudah dalam
kesiagaan perang” Ayahnya tidak merasa perlu untuk menyembunyikan
keadaan, karena anaknya tentu sudah mendengarnya pula. Maka katanya
“Ya Arum. Keadaan memang sudah menjadi gawat. Bahkan sudah merayap
hampir sampai ke puncak” “Tetapi kakang Buntal sama sekali tidak
memberi kesempatan kepadaku untuk ikut serta di dalam perjuangan
ini. Jika sampai saatnya kakang Buntal masih tetap berdiam diri, aku
akan datang sendiri menghadap Senapati dari pasukan Pangeran
Mangkubumi yang paling dekat“ Ayahnya menarik nafas. Namun kemudian
katanya “Arum. Kau memang berhak ikut di jalani perjuangan
membebaskan Surakarta dari kekuasaan orang-orang asing yang semakin
lama terasa semakin dalam mencengkam. Tetapi kau tidak dapat berbuat
dengan tergesa-gesa. Tunggulah dengan sabar, bahwa pada saatnya kau
akan mendapat kesempatan. Jika kau tidak berada di antara pasukan
yang sudah siap untukbertempur itu. bukan berarti bahwa kau t idak
akan mendapat kesempatan. Mungkin kau dapat melakukannya dengan cara
lain” “Apakah yang dapat aku lakukan di sini ayah? Menunggu sampai
aku tidak dapat mencetak lagi karena pasukan berkuda yang dipimpin
oleh Raden Juwiring itu menangkapku” Ayahnya menggeleng. Katanya
“Percayalah, bahwa Raden Juwiring tidak akan menangkapmu.
Bagaimanapun juga ia adalah saudara seperguruanmu” “Ayah tidak
melihat, bagaimana ia mengancamku hanya karena kalung merjan itu”
Ayahnya memandang gadis yang sedang dibakar oleh hasrat
perjuangannya. Memang Arum memiliki kelainan dari gadis-gadis
kawannya bermain. Gadis-gadis itu pada umumnya hanya dapat berdesah
dengan cemas, karena mereka tidak mempunyai bekal untuk berbuat
lebih banyak daripada menyediakan makan dan minum apabila mereka
terhimpun di dalam pasukan yang sedang berjuang itu. Tetapi Arum
mampu bermain pedang. Namun demikian ayahnya masih juga
menyabarkannya sambil berkata “Tunggulah untuk beberapa lama Arum.
Buntal tentu akan segera datang” “Surakarta sudah mengangkat seorang
Senapati besar ayah. Keadaan sudah demikian gawat. Seperti yang ayah
lihat prajurit Surakartalah yang justru sudah berkeliaran di sini.
Bukan dar i pasukan Pangeran Mangkubumi atau dari pasukan Raden Mas
Said” “Aku mengerti Arum. Tetapi kau harus menunggu” Arum t idak
menjawab lagi. Ia masih ingin memenuhi permintaan ayahnya dalam satu
dua hari. Tetapi jika keadaan memaksa ia merasa lebih aman berada di
antara pasukan bersenjata Pangeran Mangkubumi bersama Buntal
daripadaberada di padukuhannya. Setiap saat Raden Juwiring dapat
bertindak, karena Raden Juwiring mengetahui bahwa ia memiliki
kemampuan untuk berbuat sesuatu. “Tetapi apakah sekedar didorong
oleh hasrat untuk berjuang semata-mata?“ tiba-tiba saja timbul
pertanyaan di dalam hatinya. Meskipun tidak ada orang lain yang
mengerti pertanyaan yang melonjak di dalam hati itu, namun wajah
Arum menjadi kemerah-merahan. Ia tidak dapat ingkar, bahwa
sebenarnya bukan saja karena ia ingin menyumbangkan tenaganya bagi
tanah tercinta, tetapi juga didorong oleh perasaan yang
kadang-kadang disembunyikannya sendir i. Namun demikian, semakin
lama menjadi semakin nyata bagi dirinya sendiri, bahwa ia merasa
lebih tenang berada di dekat Buntal Tetapi sebagai seorang gadis ia
terpaksa menahan diri. Ia masih harus menjaga agar ia t idak
kehilangan kepribadiannya sebagai seorang gadis meskipun ia memiliki
kelainan di dalam olah kanuragan. Karena itulah, maka Arum masih
tetap berada di padukuhannya. Seperti biasa ketika matahari terbit,
Arum sibuk membersihkan rumahnya, sementara beberapa orang pembantu
rumahnya sibuk membersihkan halaman dan yang lain bekerja di dapur.
Jika kemudian matahari semakin tinggi, Arum pergi bersama beberapa
orang kawan-kawannya berbelanja di ujung padukuhannya, untuk
menyiapkan makan yang akan mereka bawa ke sawah menjelang siang
hari. Tetapi ketika itu, gadis-gadis padukuhan Jati Sari menjadi
ketakutan. Mereka yang sudah berada di depan gardu tidak berani
meneruskan langkahnya menuju ke ujung padukuhan untuk berbelanja.
“Ada apa?“ bertanya Arum yang kemudian juga datang sambil membawa
bakul kecil.“Pasukan berkuda” desis seorang gadis “Aku melihatnya
sepasukan berkuda di bulak di luar padukuhan ini “ Dada Arum menjadi
berdebar-debar. “Apakah pasukan yang pernah datang kemari untuk
mengurus merjan itu?“ bertanya Arum “Bukankah kalian mengenal kakang
Juwiring? Apakah pasukan itu dipimpin oleh kakang Juwiring juga”
“Kami tidak dapat melihat dengan jelas” sahut gadis yang lain, yang
juga melihat pasukan berkuda itu di luar padukuhan. Arum
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Tentu mereka tidak
akan mengganggu kita. Mereka hanya meronda” Tetapi kawan-kawannya
masih tetap termangu-mangu. “Aku akan menengoknya” berkata Arum
“Jika agaknya mereka t idak berbahaya, aku akan pergi berbelanja
juga. Siapa ikut?“ “Tetapi apakah mereka tidak akan menangkap kita?”
“Kita lihat dari balik regol. Tentu kita akan dapat menduga, apakah
mereka akan berbuat jahat atau tidak. Tetapi seharusnya mereka
justru melindungi kita dari ketakutan di masa yang kalut ini”
Gadis-gadis itupun saling memandang yang satu dengan yang lain.
Kemudian salah seorang berkata “Baiklah. Marilah kita lihat. Mungkin
mereka hanya akan lewat. Persoalan merjan itu agaknya sudah tidak
akan mereka ulangi lagi” Demikianlah gadis-gadis itupun kemudian
pergi berir ingan ke mulut lorong. Ketika mereka sampai ke regol,
maka merekapun kemudian mencoba untuk melihat apa yang dilakukan
oleh sekelompok pasukan berkuda yang berhenti di bulak di dekat
padukuhan Jati Sari.Tetapi mereka tidak melihat apakah yang sedang
mereka lakukan selain berdiri berkelompok. Nampaknya mereka sedang
beristirahat. Mereka mengikat kuda-kuda mereka pada pohon-pohon
perdu di pinggir jalan. “Mereka tidak berbuat apa-apa” desis Arum.
“Ya. Mereka hanya berdiri saja dalam kelompok-kelompok kecil
bertebaran” Gadis-gadis itu berdesakan di sisi regol sambil
berlindung. Namun mereka ingin melihat apa yang dilakukan oleh
prajurit- prajurit itu. Namun sejenak kemudian barulah gadis-gadis
itu tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. Kelompok-kelompok
prajurit itu ternyata terbagi dalam tiga arah di simpang tiga. “He,
kau lihat beberapa orang itu?“ “Kumpeni“ “Ya“ sahut yang lain. Yang
baru dapat melihat kumpeni itu setelah para prajurit berpencar.
“Beberapa orang” desis yang lain pula. Arum menarik nafas
dalam-dalam. Ternyata di antara prajurit itu terdapat beberapa orang
kumpeni. Kedatangan mereka di Jati Sari tentu bukannya tanpa maksud.
Namun yang membuat Arum agak tenang, bahwa di antara mereka tidak
terdapat Raden Juwiring. Tetapi tiba-tiba ia berkata kepada diri
sendiri di dalam hatinya “Siapa tahubahwa kakang Juwiring justru
menugaskan orang lain untuk menangkap aku, karena ia sendiri tidak
mau melakukannya karena perasaan segan terhadap ayah“ Sementara itu
gadis-gadis yang sedang mengintip dari balik dinding regol itu
melihat, bahwa prajurit-prajurit itu mulai menghentikan orang-orang
yang berjalan di bulak itu. Orang- orang yang sudah terlanjur berada
di jalan itu. “Mereka merampas segala jenis senjata” desis seorang
gadis. “Ya. Keris, pedang dan bahkan parang pembelah kayu yang
dibawa oleh para petani ke sawah” Arum menjadi semakin
berdebar-debar. Iapun melihat, prajurit-prajurit itu merampas
senjata yang dibawa oleh orang-orang yang lewat dan akan pergi ke
sawah. Beberapa orang yang berkeras mempertahankan senjatanya,
terutama keris, agaknya harus mengalami perlakuan yang kasar. “Keris
itu tentu bernilai tinggi. Jika bukan karena tuahnya, tentu
pondoknya dari emas” berkata seorang gadis pula. “Mungkin. Tetapi
juga karena kumpeni dan prajurit-prajurit itu menjadi ketakutan
bahwa senjata-senjata itu dapat dipergunakan untuk melawan mereka.
Sekarang setiap orang dicurigai, bahwa mereka berada di pihak
Pangeran Mangkubumi atau Raden Mas Said” sahut Arum. Kawan-kawannya
berpaling kepadanya. Namun merekapun kemudian mengangguk.
Demikianlah untuk beberapa saat gadis-gadis itu melihat apa yang
terjadi. Satu dua orang yang lewat tidak akan dapat lolos lagi.
Meskipun mereka memberikan alasan apapun juga. “Aku memer lukan
senjata untuk melindungi dir i di perjalanan“ seseorang mencoba
mempertahankan senjatanya.Tetapi ia tidak mampu mengelak ketika para
prajurit itu memaksanya. Apalagi ketiga orang kumpeni itu agaknya
tidak dapat diajak berbicara lagi. Bahkan kadang-kadang merekalah
yang nampaknya memimpin para prajur it Surakarta. Hati Arum menjadi
panas. Tetapi ia t idak dapat berbuat apa-apa. Seperti
kawan-kawannya iapun masih tetap berlindung di mulut regol. “Apakah
kita akan pergi berbelanja?“ t iba-tiba seseorang berdesis. “Kita
pergi ke ujung lewat lorong- lorong di dalam padukuhan dan melintas
halaman” sahut yang lain. Gadis-gadis itupun berpikir sejenak. Dan
Arumpun kemudian menjawab “Marilah. Tetapi hati-hati” Sejenak mereka
masih melihat kumpeni-kumpeni itu hilir mudik di jalan di hadapan
padukuhan itu. Kemudian dengan hati-hati mereka beringsut dan
meninggalkan tempat itu. Dengan tergesa-gesa mereka berjalan lewat
lorong-lorong sempit dan kadang-kadang melintasi halaman-halaman
rumah. “He, kenapa kalian berjalan beriringan lewat lorong-lorong
sempit?“ bertanya seseorang. “Kami akan pergi berbelanja” “Kenapa
lewat lorong ini, dan tidak melalui jalan di pinggir padesan?“ “Ada
prajurit-prajurit berkuda dan kumpeni” “O“ yang bertanya itupun
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian setelah gadis! itu meneruskan
perjalanannya, orang itu membisikkannya ke telinga tetangganya.
Demikianlah berita itu segera tersebar. Juga orang-orang yang urung
pergi ke sawah setelah dari mulut padukuhanmereka melihat
prajurit-prajurit itu. Hanya mereka yang sudah terlanjur sajalah
yang tidak dapat kembali lagi untuk menghindari kecur igaan. Namun
yang terjadi itu telah sangat menggelisahkan. Bukan saja penghuni
padukuhan Jati Sari, tetapi orang-orang yang lewat membawa ber ita
itu sampai ke tempat yang jauh. Mereka yang kehilangan ker is dan
senjata-senjata merekapun dengan sangat bernafsu menceriterakan.
bagaimana prajur it- prajurit Surakarta dan kumpeni telah merampas
senjatanya. Ternyata yang terjadi tidak hanya di daerah Jati Aking.
Tetapi pada saat yang hampir bersamaan, di sekitar kita Surakarta
telah dilakukan hal yang serupa. Terutama di daerah yang diduga
sering dilalui oleh orang-orang yang berpihak kepada Pangeran
Mangkubumi dan Raden Mas Said. Sikap prajurit-prajurit Surakarta itu
ternyata benar-benar telah menggerakkan hati setiap orang yang masih
memiliki harga diri. Apalagi di antara para prajurit itu terdapat
beberapa orang asing, yang bahkan seakan-akan berkuasa atas
prajurit-prajurit Surakarta sendiri. Ketika Arum kembali dar i ujung
padukuhannya, maka ceriteranya tentang prajurit-prajurit itu
mengalir seperti banjir. Bahkan kemudian sambil berdiri dan
menghentakkan tangannya ia berkata “Ayah. Apakah kita masih harus
berdiam diri?” “Tidak Arum” sahut ayahnya “Kita tidak boleh berdiam
dir i. Tetapi kita harus mulai pada saat yang tepat” “Ayah. Daerah
ini tentu sudah mendapat perhatian lebih dari daerah-daerah yang
lain. Ternyata mereka melakukan hal itu tepat di hadapan padukuhan
ini. Tentu mereka dengan sengaja melakukannya untuk menekan perasaan
dan barangkali keberanian untuk berpihak kepada Pangeran
Mangkubumi”“Aku mengerti Arum. Tetapi apakah yang dapat kita
lakukan. Kita memang sedang menunggu Buntal” Arum termangu-mangu
sejenak, Jalu “Tetapi ayah, jika prajurit Surakarta itu tetap
mengadakan pengawasan terus menerus atas daerah ini, apakah kakang
Buntal akan dapat memasuki padepokan ini dengan aman?“ “Ah, kau aneh
Arum. Jalan memasuki padukuhan ini bukan hanya satu. Buntal tentu
akan dapat memilih jalan. Jalan dari arah lain dapat juga sampai ke
padepokan ini” Arum tidak menyahut. Tetapi ia masih diliputi oleh
kecemasan. Jika Buntal t idak menyadari siapa yang ada di sepanjang
jalan itu, maka ia akan dapat terjebak. Apalagi jika di antara para
prajurit itu ada yang mengenalnya, baik di padepokan ini pada masa
hidupnya Raden Rudira, atau selama Buntal berada di Ranakusuman
bersama dengan Juwir ing dan dirinya sendir i. Kegelisahan itu
memuncak ketika Arum mengetahui bahwa para prajurit itu masih tetap
berada di bulak sampai lewat tengah hari. Bukan saja Arum
mengurungkan niatnya untuk pergi ke sawah. tetapi juga digelisahkan
oleh kemungkinan yang buruk apabila Buntal datang. “Ayah” berkata
Arum kemudian “Kita setiap saat mengharap kedatangan kakang Buntal.
Sehingga mungkin sekali kakang Buntal datang pada saat yang
demikian” Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya iapun telah
tersentuh oleh kekhawatiran yang sama. Tetapi ia masih mencoba
menyembunyikannya. Maka katanya “Buntal mempunyai ketajaman
pandangan seorang prajur it. Dengan demikian ia akan dapat melihat
apa yang akan terjadi jika ia mendekati prajurit-prajurit yang ada
di tengah bulak itu. Jangan kau cemaskan. Tetapi j ika
prajurit-prajur it itu berada di bulak itu sampai petang hari, maka
barulah kita mulai mencemaskannya”Arum mengangguk-angguk meskipun ia
kurang yakin. Jika Buntal terlanjur memasuki jalur jalan di bulak
itu. dan kemudian karena ia tidak mau terjebak, dan mencoba
menghindar, maka sekelompok dari prajur it itu akan mengejarnya.
Tetapi Arum mencoba menenteramkan hatinya. Ia mencoba untuk
mempercayai ayahnya, karena ayahnya memiliki pengalaman dan
pengetahuan yang jauh lebih banyak daripadanya. “Jika ayah masih
belum mencemaskannya, akupun t idak perlu cemas“ Arum mencoba
menenangkan hatinya sendiri. Karena itu, Arum ingin melupakannya
dengan kesibukan di dapur. Seperti biasanya jika ia tidak pergi ke
sawah, maka iapun ikut memasak di dapur. Bahkan ialah yang
menyiapkan makan bagi ayahnya, sedang para pembantunya tinggal
menyiapkan makan buat para pekerja dan penghuni padepokan itu yang
lain. Namun selagi Aram sibuk memotong kangkung, tiba-tiba saja ia
terkejut. Ia mendengar derap kaki kuda memasuki halaman rumahnya,
sehingga karena itu. maka iapun segera meloncat berlari ke ruang
dalam. “Ayah” desisnya “Siapakah yang datang?“ Ayahnya
termangu-mangu sejenak. Kuda itu telah berhenti di halaman. “Aku
akan menengoknya” desis ayahnya ”Aku akan berganti pakaian” “Tunggu,
kita lihat siapakah yang datang. Jika tidak perlu, kau tidak usah
mengenakan pakaian laki- laki itu” Dengan hati yang berdebar-debar
Kiai Danatirtapun melangkah ke pintu. Namun belum lagi ia membuka
pintu depan, seorang pembantunya memasuki ruangan itu daripintu
butulan sambil berkata “Kiai, Buntal dan seorang kawannya telah
berada di halaman” “Buntal” ulang Kiai Danatirta. Dan Arumpun
terlonjak sambil berdesis “Kakang Buntal“ Keduanyapun kemudian
dengan tergesa-gesa keluar ke pendapa. Seperti yang dikatakan oleh
pembantunya, yang datang adalah Buntal dan seorang kawannya.
“Buntal” suara Kiai Danatirta bergetar “Mar ilah. Naiklah” Buntal
dan kawannya itupun kemudian naik ke pendapa. Dengan dada yang
berdebar-debar Arum ikut pula menemui kedua tamunya. Namun hatinya
menjadi agak tenang ketika ia melihat wajah Buntal yang tetap cerah.
Sama sekali tidak nampak kegelisahan dan kecemasan yang membayang
ditatapan matanya. “Apakah kau melampaui prajur it-prajurit yang
berada di bulak itu Buntal?“ bertanya Kiai Danatirta pertama-tama.
“Ah. tentu tidak ayah. Aku lewat arah lain. Mereka tidak melihat
kami” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Demikian juga Arum.
Dan karena itu maka Kiai Danatirta bertanya pula “Jadi, kau
mengambil jalan yang mana?“ “Aku memotong jalan kecil yang langsung
masuk ke padepokan ini ayah, sehingga kami telah dilindungi oleh
padukuhan Jati Sar i dari penglihatan prajurit-prajur it itu”
“Apakah kau sudah mengetahui bahwa di bulak itu ada
prajurit-prajurit Surakarta, bahkan beberapa orang kumpeni?” “Justru
aku mendapat perintah untuk mengawasi mereka dari padukuhan ini.
Kiai Sarpasrana mengetahui bahwa aku berasal dari Jati Aking. Maka
akulah orangnya yang paling tepat untuk mengawasi mereka”“Jadi Kiai
Sarpasrana sudah mengetahuinya?” “Kami mendapat laporan tentang
kegiatan prajurit-prajurit Surakarta itu. Dan kamipun segera
berpencar” “Berpencar? Maksudmu?” “Prajurit Surakarta yang berada di
bawah pengaruh kumpeni hari ini melakukan kegiatan serentak. Tidak
hanya di hadapan padukuhan Jati Sari. Tetapi di beberapa tempat,
mereka merampas senjata orang-orang yang lewat, siapapun mereka”
Kiai Danatirta mengangguk. Kini ia mendapat gambaran bahwa
sebenarnya peperangan memang sudah dimulai. di beberapa tempat
kumpeni sudah memancing persoalan. “Apakah mereka merasa terlampau
kuat untuk berbuat demikian Buntal?“ bertanya Kiai Danatirta.
“Mungkin ayah. Tetapi yang penting, mereka menjajagi kekuatan
Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said” “Darimana kau tahu?“ Buntal
tersenyum. Jawabnya kemudian “Aku mendapat perintah dan
pemberitahuan dari atasanku ayah” Kiai Danatirta mengangkat
keningnya, lalu “Apakah kau mendapat perintah untuk melakukan
sesuatu?” “Ya ayah. Kita memang sudah mulai. Kita harus menunjukkan
bahwa kita meniiliki kemampuan untuk melawan mereka” Kiat Danatirta
memandang wajah Buntal sejenak. Tetapi wajah itu nampaknya justru
membayangkan kecerahan seperti anak-anak yang akan bermain gobak
dimakm terang bulan. “Jadi apa yang akan kau lakukan Buntal?““Kita
akan menyerang mereka ayah. Tetapi kita harus dapat membuat kejutan
bagi prajurit Surakarta dan kumpeni itu” “Maksudmu?“ “Kita harus
menghancurkan mereka ayah” “O“ wajah Kiai Danatirta menjadi tegang
”Jadi kau mendapat perintah untuk membinasakan prajurit-prajur it
Surakarta itu?“ “Tidak ayah. Perintah itu tidak berbunyi demikian.
Agaknya Pangeran Mangkubumi tidak sampai hati untuk memulai dengan
pembantaian terhadap saudara-saudara sendiri” “Jadi apa yang harus
kau lakukan?“ “Kami harus dapat memecah kesatuan itu. Mencerai
beraikan mereka untuk memberikan kesan bahwa kami cukup kuat untuk
melawan orang asing dan pengaruhnya di Surakarta. Tetapi perintah
itu disertai pesan, jangan menimbulkan kematian sejauh dapat
dihindari” Dengan tiba-tiba saja Arum memotong “Per intah yang
sangat sulit. Kau tidak boleh membunuh, tetapi bagaimana jika mereka
membunuhmu?“ “Kami mengerahkan pasukan dalam jumlah yang besar. Kami
harus dapat menguasai mereka sebaik-baiknya. Memecah mereka dan
mencerai-beraikan. Sesudah itu, kita tinggalkan mereka dengan kesan
bahwa kekuatan kami tidak akan dapat terlawan” Kiai Danatirta
mengangguk-angguk. Tetapi sebelum ia bertanya Arum sudah mendahului
“Apakah kakang juga akan berbuat demikian terhadap pasukan yang ada
di depan regol itu?“ “Ya Arum” “Kakang hanya berdua”“Ada sepasukan
laskar yang sudah siap. Aku hanya akan mengawasi mereka. Aku dapat
melihat gerak-gerik mereka yang ada di bulak itu dari padukuhan ini.
Pada saatnya aku akan memberikan isyarat” “Kakang akan menyergap
mereka di bulak itu?“ bertanya Arum “Tentu kakang akan meninggalkan
kesulitan bagi padukuhan ini. Mereka tentu akan melepaskan dendam
mereka terhadap padukuhan di sekitarnya. Apalagi apabila jatuh
korban di antara mereka. Tetapi Buntal tertawa sambil menjawab
“Tidak Arum. Kita sudah memperhitungkan segala-galanya. Kita
menunggu mereka kembali ke Surakarta. Aku akan memberikan isyarat.
Dan kami akan menyergap mereka di pinggir hutan perburuan itu” “O“
tiba-tiba wajah Arum menjadi cerah, katanya “Aku ikut bersamamu
kakang” Tetapi wajah itu segera menjadi tegang ketika ia melihat
Buntal menggelengkan kepalanya “Tentu tidak mungkin Arum. Aku akan
berada di dalam sebuah pasukan. Pasukan yang sudah memiliki
bentuknya. Kehadiranmu akan dapat menimbulkan persoalan. Apalagi
sebagian terbesar dari mereka belum mengenalmu. di dalam pertempuran
yang riuh, maka akan dapat timbul salah paham” “Aku akan memakai
ciri seperti orang-orang di dalam pasukanmu“ “Itupun tidak akan
banyak menolong. Lawan yang dihadapi adalah Kumpeni prajurit
Surakarta yang terlatih baik. Sehingga pertempuran yang akan terjadi
adalah pertempuran yang seru” Arum menjadi kecewa sekali. Tetapi ia
tidak lagi memaksanya ketika ayahnyapun kemudian berkata
“Kehadiranmu hanya akan menambah beban kakakmu Buntal. Bukan karena
kau tidak mampu menjaga dirimu, tetapikehadiranmu akan menimbulkan
perhatian khusus bagi kawan-kawannya, agar mereka tidak keliru di
dalam perang brubuh yang mungkin terjadi” Arum t idak menyahut.
Namun di wajahnya yang kemudian tertunduk, nampaklah ia menjadi
sangat kecewa. Dalam pada itu, maka Kiai Danatirtapun kemudian
bertanya pula kepada Buntal “Jadi apa yang akan kau lakukan
sekarang? Apakah kau akan pergi ke bulak itu?“ “Ya ayah. Aku akan
melihat mereka. Jika kekuatan mereka jauh melampaui kekuatan kami,
maka akupun harus member ikan isyarat sebelumnya, agar segala
sesuatunya dapat disiapkan” “Baiklah. Kami akan membantu apa yang
dapat kami lakukan“ “Aku hanya akan menitipkan kuda-kuda kami ayah.
Dan kami akan pergi ke regol untuk melihat prajurit-prajurit di
bulak itu“ “Arum” berkata Kiai Danatirta “barangkali sekarang kau
dapat ikut kakakmu. Agaknya dengan demikian akan mengurangi
perhatian banyak orang terhadap Buntal yang sudah lama tidak
kelihatan di padepokan ini” Arum memberengutkan wajahnya Katanya
“Aku hanya boleh ikut sampai ke regol. Tetapi aku tidak boleh ikut
kebutan perburuan itu”“Lain kali akan datang saatnya Arum” Arumt
idak menjawab. Tetapi iapun kemudian berdiri. “He, kau akan kemana
Arum” bertanya ayahnya “Berganti pakaian ayah“ “Tidak usah. Kau
dengan pakaianmu itu. Pergilah, kawani kakakmu Buntal. Jika kau
berganti pakaian, justru kaulah yang akan menarik perhatian. Kau
tidak akan berbuat apa-apa selain mengintip prajurit-prajurit di
bulak itu” Arum menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian
duduk lagi di sebelah ayahnya Sejenak kemudian Buntalpun minta dir i
untuk pergi ke regol padukuhan melihat apa yang akan dilakukan oleh
prajur it- prajurit Surakarta dan beberapa orang kumpeni itu,
bersama seorang kawannya dan Arum. Di regol, ketika Arum belum ada
di sebelahnya, kawan Buntal berbisik di telinganya “Siapakah gadis
itu? Kenapa ia ingin ikut ke medan j ika terjadi perang?“ Buntal
tersenyum. Jawabnya “Adikku. Ia memang anak nakal sekali. Peperangan
dianggapnya seperti sebuah permainan saja. Dikiranya di peperangan
ada sesuatu yang menarik hati” “Ah, kau bohong. Tentu ada sesuatu
yang membuatnya percaya kepada diri sendir i, bahwa ia akan dapat
menjaga diri” Buntal masih saja tersenyum. Tetapi ia tidak sempat
menjawab karena Arum sudah ada di antara mereka sambil berkata
“Marilah. Tetapi apakah mereka masih ada di sana?“ Ketiganyapun
kemudan meninggalkan halaman padepokan Jati Aking menyusur jalan
padukuhan Jati Sari. Beberapa orang sempat berpaling memandang
kepada ketiga anak-anakmuda itu. Tetapi mereka tidak banyak menaruh
perhatian, karena mereka sudah mengenal dua di antara mereka. Namun
demikian, timbul pula di hati mereka pertanyaan “Kemana saja
anak-anak itu? Bukankah di bulak ada beberapa orang prajurit dan
bahkan kumpeni yang sedang merampas senjata orang-orang yang lewat?“
Tetapi mereka tidak menanyakannya kepada anak-anak muda itu. Sejenak
kemudian Arum bersama Buntal dan kawannya telah sampai ke regol
padukuhan. Dari balik dinding batu mereka memperhatikan setiap
kemungkinan. Ketika mereka yakin bahwa tempat itu tidak akan
mendapat banyak perhatian, maka merekapun kemudian mencari tempat
yang baik untuk melihat tingkah laku para prajurit itu dari balik
dinding batu dan rimbunnya dedaunan. “Tetapi seperti yang disebut
dalam laporan itu” desis Buntal. “Apa?“ bertanya Arum. Buntal
berpaling. Kemudian dipandanginya kawannya yang termangu-mangu. “Apa
yang kau katakan?“ desak Arum. “Prajurit-prajurit itu. Yang
dilakukan tepat seperti yang dilaporkan“ “Siapa yang melaporkan?“
bertanya Arumpula. “Seorang kawan” jawab Buntal. “Ya, tetapi siapa”
“Petugas sandi Pangeran Mangkubumi” “Siapakah petugas sandi
itu?““Ah“ Buntal berdesah “Kau belum mengenalnya, dan kau tentu
tidak akan mengerti” “Tetapi aku ingin tahu. Barangkali aku pernah
mengenalnya sebelum ia berada di pasukanmu” Buntal menarik nafas
dalam-dalam. Dan karena Buntal tidak segera menjawab, Arum mendesak
“Aku sudah tahu, bahwa pasukan sandi t idak boleh disebutkan namanya
dan kedudukannya kepada setiap orang. Tetapi kepadaku boleh.
Bukankah aku bukan kaki tangan kumpeni” Buntal mengangkat keningnya.
Lalu “Namanya Raksa“ “Bohong. Aku tahu kau berbohong karena kau
tahu, bahwa kebohonganmu tidak ada artinya bagiku. Siapapun yang kau
sebut tidak akan ada bedanya” Kawan Buntal tertawa. Baru saja ia
bergaul dengan Arum, tetapi sifat gadis itu sangat menarik. Dan
dengan sikap itu, ia semakin yakin, bahwa Arum bukan sekedar gadis
padesan yang hanya pandai masak dan membawa makanan ke sawah. Tetapi
ia t idak bertanya lebih banyak lagi. Buntal hanya dapat mengangkat
keningnya. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dari tempat mereka, ketiga
anak muda itu dapat melihat apa yang dilakukan oleh
prajurit-prajurit itu. Karena sudah tidak banyak orang yang lewat,
maka prajur it-prajurit itupun hampir tidak berbuat apa-apa selain
berkeliaran. Ternyata orang yang lewat ke arah yang berbeda-beda
telah memberitahukan ke segenap penjuru, bahwa jalan itu telah
ditunggui oleh prajur it-prajurit yang merampas senjata apa saja.
Bahkan keris dan pendok yang berharga. Ternyata mereka tidak sedang
mencari senjata untuk mengamankan kedudukan mereka saja, tetapi juga
emas dan berlian yang melekat pada ukiran dan pendok keris. “Mereka
tentu akan segera pergi” desis Arum tiba-tiba.“Ya. Mereka sudah
tidak berbuat apa-apa lagi. Tetapi mungkin mereka masih menganggap
perlu berada di tempat itu sampai sore” sahut Buntal. “Sebentar lagi
senja akan turun” berkata kawan Buntal. Tetapi ketika mereka
menengadahkan wajah ke langit, dilihatnya matahari masih cukup
tinggi. Namun Buntal berkata “Kita mengharap mereka akan berada di
tempat itu sampai menjelang gelap. Kita akan menunggu dan memecah
pasukan mereka. Semakin gelap semakin baik. Tetapi apabila mereka
kembali di sore haripun, apaboleh buat” Kawannya mengangguk-angguk.
Tetapi ia tidak menyahut. Untuk beberapa lamanya ketiga anak muda
itu masih mengawasi prajur it-prajurit di simpang tiga itu, karena
mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk mencegat mereka. Namun
ternyata bahwa prajurit-prajurit itu tidak segera pergi. Mereka
membawa bekal makan mereka untuk sehari. Menjelang sore,
prajurit-prajurit itu mulai membenahi pasukan mereka. Mereka mulai
berkumpul meskipun masih belum meninggalkan tempat itu. Beberapa
orang pemimpin mereka sedang membicarakan beberapa masalah yang
barangkali penting. Namun t idak lama kemudian, merekapun segera
menyusun diri dalam barisan. “Lihat” berkata Buntal “susunan barisan
itu sama sekali tidak seperti susunan gelar yang kita kenal bagi
pasukan di medan. Susunan itu adalah susunan prajur it orang-orang
asing itu” “Memang ada perbedaan” sahut kawannya. “Nah, sebentar
lagi mereka akan pergi. Mar ilah kita mendahului” “Bagaimana dengan
jumlah itu?““Tidak terlampau banyak. Kita akan segera dapat
menyelesaikan” Arum yang mendengar pembicaraan. itupun segera
bertanya “Apakah kalian akan pergi ke hutan perburuan di tepi jalan
ke Surakarta atau ke Sukawati” “Ah” sahut Buntal “Tentu jalan ke
Surakarta. Prajurit- prajurit itu adalah prajur it Surakarta yang
akan kembali ke Surakarta, tidak ke Sukawati” Arum tidak menyahut.
Tetapi nampak keningnya berkerut merut. “Marilah” berkata kawan
Buntal “Kita mendahului mereka. Kita harus mempersiapkan diri”
Buntal mengangguk, jawabnya “Mar ilah” “Tetapi kalian harus makan
dahulu. Tentu para pelayan sudah masak untuk kalian” Buntal dan
kawannya saling berpandangan sejenak. Tetapi Buntal memberi isyarat
sambil berkata “Baiklah. Kita akan makan dahulu” Demikianlah maka
ketiganyapun dengan tergesa-gesa kembali ke padepokan. Jati Aking.
Seperti saat mereka pergi, maka di saat mereka kembali, tidak
seorangpun yang memperhatikan mereka dengan sungguh-sungguh. Bahkan
satu dua orang bergumam “Anak-anak muda itu agaknya memang kurang
kerja. Apakah untungnya mengintip prajur it- prajurit yang sedang
marah itu. Jika mereka mengetahui, maka akibatnya tentu akan
disesalinya” Dalam pada itu ketiga anak muda itu langsung naik ke
pendapa. Ketika Kiai Danatirta mempersilahkan mereka duduk Buntal
berkata “Kita akan segera mendahului prajurit-prajur it itu ayah.
Kita harus mempersiapkan diri menjelang mereka lewat”Kiai Danatirta
mengangguk kecil. Tetapi Arum berkata “Kalian harus makan dahulu.
Kita sudah terlanjur menangkap empat ekor gurameh sebesar kau“
Buntal memandang Arumsejenak. Lalu sambil tersenyum ia berkata
“Terima kasih Arum. Tentu kau tahu, bahwa aku tidak boleh terlambat”
“Tetapi kau sudah berjanj i” “Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu“
Buntal justru bertanya “Apakah sebaiknya aku makan dahulu atau
tidak?“ Sebenarnyalah Arum mengetahui bahwa mereka tergesa- gesa dan
taruhannya adalah nyawa beberapa orang. Karena itu, ia tidak akan
dapat menahan. Tetapi pertanyaan Buntal itu sangat menjengkelkan,
sehingga iapun menjawab “Terserahlah kepada kakang. Mana yang baik,
mana yang tidak” Buntal tertawa. Dan kawannyapun tertawa pula. Sifat
Arum semakin menar ik perhatiannya. “Baiklah Arum” berkata Buntal
“Aku memang tergesa-gesa. Tetapi jika kau tidak berkeberatan, aku
ingin membawa empat ekor gurameh itu. Kawan-kawanku tentu akan
senang sekali mendapatkannya” Arum masih memberengut. Tetapi iapun
kemudian pergi ke dapur, dan dengan tergesa-gesa membungkus empat
ekor ikan gurameh itu. Sejenak kemudian maka kuda kedua anak muda
itu sudah berpacu. Mereka mengambil jalan seperti pada saat mereka
datang. Mereka harus mendahului prajur it-prajurit itu sampai ke
hutan perburuan. Dalam pada itu, para prajurit yang berada di bulak
panjang di hadapan padukuhan Jati Sari itupun telah bergerak pula.
Tetapi nampaknya mereka tidak terlalu tergesa-gesa, sehinggakemudian
barisan berkuda yang menyusuri jalan di tengah sawah itupun tidak
ber lari terlampau cepat. Karena itulah maka Buntal telah sampai
lebih dahulu di hutan perburuan. Dengan singkat ia melaporkan apa
yang dilihatnya selama ia berada di Jati Sari. “Jadi mereka sudah
bergerak?“ bertanya seorang yang telah berjanggut putih meskipun
masih nampak tegap dan tangkas. Ialah yang saat itu mendapat tijgas
untuk memimpin sekelompok pasukan Pangeran Mangkubumi yang bertugas
merusak barisan prajur it dari Surakarta meskipun per intah itu
masih diberi sedikit keterangan, jangan menimbulkan kematian pada
prajur it Surakarta jika tidak per lu sekali, kecuali orang-orang
asing itu. “Ya paman” jawab Buntal “sebentar lagi mereka akan sampai
di ujung hutan ini” Orang berjanggut putih itu menengadahkan
wajahnya. Tetapi langit masih cukup terang meskipun bayangan yang
memerah sudah mewarnai langit. “Apakah mereka akan datang sebelum
gelap?“ “Ya” sahut Buntal. “Kita akan menahan mereka di sini. Gelap
atau belum. Kita akan bertempur seperti yang dipesankan oleh Kiai
Sarpasrana. Karena Pangeran Mangkubumi tidak menghendaki korban yang
terlampau banyak” “Perintah yang sulit sekali” jawab Buntal. “Ya.
Kita akan mencobanya. Kita akan menyerang dan bertempur dengan cara
yang lain. Kita tidak akan menghadapi mereka dalam satu gelar.
Tetapi kita akan bertempur seperti burung sikatan. Menyerang,
kemudian menghindar sementara orang lain telah menyerang pula”Buntal
mengangguk lemah. Agaknya memang lebih mudah diucapkan dar ipada
dilakukan. Meskipun demikian mereka harus mencoba. Mereka akan
mempergunakan kecepatan bergerak untuk membuat lawan menjadi bingung
dan kehilangan keseimbangan. Harapan terakhir, bahwa lawan akan
terpancing dan terpecah-pecah dalam bagian-bagian yang kecil. Baru
kemudian pasukan itu harus menyusun langsung ke dalam pasukan yang
pecah itu dan mencerai beraikan mereka. Tetapi pemimpin yang
berjanggut putih itu memper ingatkan pasukannya “Ingat. Yang kalian
hadapi bukan anak-anak yang sedang mengejar bajing. Tetapi mereka
adalah prajurit-prajurit yang matang, yang telah mendalami ilmu
keprajuritan, baik secara pribadi maupun secara bersama-sama dan
gelar. Gelar yang kita pergunakan selama ini, dan gelar yang baru
mereka sadap dari orang- orang berkulit putih itu” Setiap orang di
dalam pasukan yang siap menunggu prajurit dari Surakarta itu
termangu-mangu. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dada mereka.
Agaknya kini mereka benar- benar telah berada dipersimpangan jalan
dengan saudara- saudaranya yang masih tetap berada di dalam pasukan
Surakarta. Apalagi di antara mereka terdapat beberapa orang kumpeni.
Dada Buntalpun menjadi berdebar-debar. Ia mendapat kesempatan untuk
menunjukkan, bahwa ia memiliki bekal yang cukup bagi perjuangan
seperti yang sedang dilakukannya itu. Sejenak kemudian pasukan yang
bersembunyi di hutan yang tidak terlampau lebat itu sudah siap. Dua
orang berada di balik pepohonan di ujung hutan. Mereka harus
memberikan isyarat apabila pasukan lawan mendekati hutan itu.
Sejenak kedua pengawas itu menunggu. Dengan waspada mereka menatap
jalan yang panjang di hadapan mereka.Namun ternyata yang terpandang
oleh kedua orang itu bukannya jalan yang menjelujur itu saja, yang
membelah tanah persawahan. Tetapi keduanyapun melihat batang- batang
padi yang sedang tumbuh dengan suburnya di sebelah menyebelah jalan
di luar hutan perburuan itu, di seberang padang rumput yang sempit.
Jika pertempuran berkobar dengan sengitnya, dan berlangsung seperti
yang direncanakan, maka padang rumput yang sempit itu tentu tidak
akan dapat menampung pertempuran itu seluruhnya. Jika demikian, maka
batang- batang padi yang subur itu akan segera menjadi berserakan
diinjak oleh kaki-kaki kuda. Bahkan titik-titik darah akan menodai
hijaunya daun padi yang terhampar sampai ke ujung cakrawala itu.
Pengawas itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika angin di sore hari
berhembus, daun padi itu mengombak seperti wajah lautan yang hijau
kemerah- merahan oleh bayangan cahaya senja yang segera akan turun.
“Apaboleh buat” desis mereka di dalam hati “batang-batang padi itu
terpaksa dikorbankan” Tetapi keduanya terkejut ketika mereka melihat
debu mengepul. Kemudian dilihatnya sepasukan prajurit berkuda muncul
di hadapan mereka. Sebuah tunggul kerajaan dari panji-panji berwarna
kuning dan dibatasi oleh tepi yang berwarna hitam melambai dit iup
angin. Panji-panj i dari kesatuan pasukan berkuda yang menggetarkan
itu. “Mereka telah datang” desis salah seorang pengawas itu. “Ya.
Berikan isyarat” Sejenak kemudian terdengar suitan burung srigunting
memecah sepinya hutan. Beberapa kait seperti yang disetujui bersama,
bahwa itu merupakan isyarat bahwa musuh telah datang.Isyarat itupun
segera didengar oleh pemimpin pasukan yang berjanggut putih itu.
Iapun segera mengatur pasukannya. Beberapa dari mereka harus
menyongsong pasukan lawan itu di padang rumput yang sempit di
sebelah menyebelah jalan. Sedang yang lain kemudian harus menusuk ke
tengah-tengah pasukan yang akan terpancing oleh serangan-serangan
yang datang dan pergi. Buntal yang masih muda itu menjadi
berdebar-debar. Meskipun ia memiliki ilmu yang cukup baik, namun ia
masih belum memiliki pengalaman yang luas. Namun ia bertekad bahwa
ia harus dapat membuktikan, bahwa ia adalah murid dari Jati Aking.
Sejenak pasukan itu menunggu di antara pepohonan hutan. Sebagian
dari mereka berada di seberang jalan, juga bersembunyi di balik
pepohonan. Tetapi hutan di sebelah tidak sekias di sisi jalan yang
lain. Karena itu, maka yang bersembunyi di seberangpun tidak begitu
banyak seperti di sebelah lain. Dari kejauhan pasukan berkuda dari
Surakarta itupun menjadi semakin dekat. Isyarat keduapun telah
terdengar pula. Karena itulah maka bagian terdepan dari pasukan yang
siap menunggu itupun mulai bergerak menepi. Tanpa disadarinya Buntal
mengusap leher kudanya. Seolah- olah ia mengharap bantuan
daripadanya. Dalam pertempuran berkuda yang riuh, maka ketabahan
hati kudanyapun akan mempengaruhi pula. “Kau sudah sering bergulat
di dalam latihan- latihan” berkata Buntal perlahan-lahan di telinga
kudanya Lalu “Sekarang kau akan menghadapi pertempuran yang
sebenarnya. Jangan nakal dan apalagi menjadi liar. Jika kau tidak
membantuku, aku akan mendapatkan kesulitan”Buntal mengangkat
wajahnya ketika sekari lagi ia mendengar isyarat. Isyarat terakhir
sebelum pasukan itu harus meloncat keluar dari persembunyian. Tetapi
ternyata bahwa para prajurit Surakarta itupun memiliki ketajaman
pengamatan. Tiba-tiba saja orang yang berada di paling depan
mengangkat tangannya. Sejenak kemudian maka pasukan berkuda itupun
berhenti. “Ada sesuatu yang tidak wajar” berkata orang yang berada
di paling depan” Seorang kumpeni yang ada di dalam pasukan itupun
kemudian berada di sisi orang itu sambil bertanya “Apa yang kau
lihat” Orang itu tidak menjawab. Namun ia menatap lurus ke ujung
hutan itu. Ternyata bahwa tidak semua kuda dapat bersembunyi dengan
baik. Karena itu. maka goncangan ranting dan dedaunan di tepi hutan
itu telah memancing ketajaman penglihatan prajur it-prajurit itu.
Karena itulah, maka tiba-tiba pemimpin prajur it berkuda itu
berteriak “Bersiaplah. Kita menghadapi sesuatu di hutan itu. Mungkin
bukan hambatan yang berat, tetapi mungkin mereka adalah pasukan
pemberontak yang kuat” Tiba-tiba saja prajurit-prajurit berkuda itu
telah menggenggam senjata di tangan. Merekapun mulai bergeser
menempatkan dir i untuk menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada
itu, sekelompok pasukan yang ada di hutan yang tidak begitu lebat
itupun menjadi termangu-mangu. Ternyata bahwa pasukan berkuda dari
Surakarta itu tidak maju terus sehingga mereka tidak akan dapat
menyergap mereka di padang rumput yang tidak begitu luas di pinggir
hutan.Sejenak pemimpin pasukan yang ada di dalam hutan itu
termangu-mangu. Apalagi pemimpin pasukan itu sadar, bahwa di antara
para prajurit Surakarta itu terdapat beberapa orang kumpeni yang
membawa senjata api. Sepucuk berlaras panjang dan sepucuk berlaras
pendek. Yang berlaras panjang itu biasanya diberi pisau pada
ujungnya yang dengan demikian senjata itu akan dapat dipergunakan
sebagai tombak apabila kumpeni itu tidak sempat mengisi peluru ke
dalamnya setelah setiap kali dipergunakan di dalam perang brubuh.
Tetapi selain senjata api, kumpeni itu juga membawa sebilah pedang
di lambung. “Jika kita menyerang mereka” berkata pemimpin pasukan
yang ada di dalam bulak itu. di dalam hatinya “maka setidak-
tidaknya beberapa orang akan menjadi sasaran peluru beberapa orang
kumpeni itu. Dan jika ada seorang saja di antara kami yang jatuh,
maka sulitlah untuk mengendalikan perasaan mereka dan membatasi agar
tidak jatuh korban terlampau banyak” Namun dalam pada itu,
orang-orangnya telah menjadi gelisah. Mereka tidak dapat menunggu
lama. karena sebagian dari mereka telah melihat prajurit Surakarta
di luar hutan itu. “Apa yang kita tunggu” desis seorang pemimpin
kelompok yang ada di sisi pemimpin yang berjanggut putih itu. Orang
berjanggut putih itu menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita tidak
mau mengorbankan meskipun hanya satu orang sebelumpertempuran yang
sebenarnya mulai” Pemimpin kelompok itupun menyadari bahwa senjata
kumpeni itu memang dapat memungut nyawa lawan sebelum mereka
mendekat. Dan untuk melawan peluru, agaknya perisai tidak begitu
banyak artinya. Buntal yang mendengar pembicaraan itu tiba-tiba
menyela “Aku akan memancing perhatian mereka“Pemimpin kelompok itu
memandanginya dengan tajamnya. Lalu iapun bertanya “Apa yang akan
kau lakukan?“ “Aku akan menyerang mereka dari arah yang tidak mereka
duga. Pada saat aku berpacu pada jarak yang agak jauh, maka mereka
tentu akan menembak. Aku tidak yakin bahwa mereka dapat mengenai
seseorang yang berkuda dengan kencangnya” “Mereka sudah terlatih
baik” “Tetapi mereka akan dipengaruhi oleh suasana medan“ Pemimpin
berjanggut put ih itu termenung sejenak, lalu “Baiklah. Tetapi tidak
hanya satu orang. Kita mengir imkan beberapa orang dari arah yang
berbeda-beda. Kalian harus berpacu secepat-cepatnya. Kemudian jika
kalian telah mendengar tembakan, cepatlah mendekat dan melibatkan
diri dalam pertempuran supaya mereka tidak sempat menembak lagi.
Karena mereka tentu juga membawa senjata serupa yang berlaras
pendek. Sementara kami akan menyerang mereka gelombang pertama
seperti yang kita rencanakan sebelum kita memecah pasukan itu
bercerai berai” Buntal mengangguk-angguk. Laki iapun bertanya
“Siapakah yang akan pergi bersamaku” ”Aku sahut pemimpin kelompok
yang ada di sisi orang berjanggut putih “Aku akan mengerahkan
pimpinan kelompokku” Pemimpin berjanggut putih itu mengangguk-angguk
pula. Kemudian disiapkannya lima orang yang akan memancing perhatian
kumpeni-kumpeni itu. Sedang untuk mengurangi kemungkinan yang parah,
beberapa orang akan datang dari arah yang berbeda-beda dan
melontarkan anak panah ke dalam pasukan berkuda itu. Meskipun orang
berjanggut putih itu menyadari bahwa anak panah itu tidak akan
banyak bermanfaat sebagai senjata di saat yang demikian, namun
pengaruhnya tentu ada pula.Setelah para penghubung memberitahukan
rencana itu kepada kelompok yang terpisah di seberang jalan, maka
Buntalpun kemudian bersiap di bibir hutan itu bersama empat orang
lainnya. Bahkan yang seorang akan muncul dari ujung hutan di
seberang jalan. Sejenak kemudian, ketika terdengar sebuah isyarat,
maka kuda Buntalpun segera meloncat. Sesaat kemudian kuda itu telah
berpacu di padang rumput di tepi hutan. Beberapa langkah di
belakangnya menyusul seekor kuda yang lain, disusul pula yang ketiga
dan keempat. Sedang dari seberang jalan seekor kuda yang lain telah
berpacu pula dengan kencangnya. Buntal tidak langsung menuju ke
kelompok prajurit Surakarta itu. Ia melingkar agak jauh dengan
kecepatan yang tinggi. Demikian juga kawan-kawannya yang lain.
Kehadiran Buntal benar-benar telah menarik perhatian. Beberapa orang
kumpeni yang ada di dalam pasukan lawan itupun segera mempersiapkan
senjata apinya yang berlaras panjang. “Tuan dapat menembak mereka”
berkata pemimpin prajurit Surakarta. Tetapi kumpeni itu tidak segera
melakukannya “Mereka akan semakin dekat” berkata pemimpin prajurit
berkuda itu. Ternyata kumpeni itu benar-benar memiliki pengamatan
yang cermat atas medan yang dihadapinya, sehingga iapun menjawab
“Itulah yang aku tunggu. Biarkan saja anak itu berlari-lari”
Pemimpin prajurit berkuda itupun mengeratkan keningnya, dan kumpeni
itu berkata selanjutnya “Apakah yang dapat dilakukannya dengan
berpacu melingkar-lingkar”Prajurit Surakarta itu tidak menjawab.
Tetapi kepalanya sajalah yang terangguk-angguk. Seperti yang
dikatakan oleh kumpeni itu, maka Buntalpun menjadi semakin dekat
meskipun ia tidak langsung menusuk ke dalam barisan lawan, namun
jarak itu memang menjadi semakin pendek. “Nah, bukankah anak itu
menjadi semakin dekat?” desis kumpeni. “Tetapi ia tidak sendir i.
Lima orang” Kumpeni itu tertawa. Katanya “Kami akan menembak mereka.
Di antara mereka akan mati. Apa yang dapat dilakukan oleh sisanya
itu? Merekapun akan segera mati” “Tetapi mereka bukan hanya berlima.
di hutan itu pasti masih ada beberapa orang kawannya. Jika mereka
tidak merasa kuat untuk melawan kita, mereka akan tetap bersembunyi”
Kumpeni itu masih saja tertawa. Jawabnya “Tentu aku tahu. Tetapi
biarlah yang lima ini kita selesaikan. Mereka tentu sekedar
memancing peluruku. Karena itu peluruku harus mengenai sasarannya”
Pemimpin prajur it Surakarta itu mengangguk-angguk lagi. Ia dapat
mengerti sikap kumpeni itu. Namun dalam pada itu, Buntal menjadi
semakin dekat. Ia menjadi heran, bahwa kumpeni tidak berbuat
sesuatu. Tetapi Buntal bukan anak yang dungu. Ia sadar, bahwa
kumpenipun mempunyai perhitungan tersendiri. Karena itu, maka iapun
menjadi semakin berhati-hati. Tetapi jika ia berpacu terus, maka ia
akan melampaui pasukan Surakarta itu tanpa mendekatinya. Karena itu,
maka Buntalpun harus mengambil sikap. Ia tidak dapat menunggu
perintah lagi. Ia sudah terlepas dari ikatan pasukannya sehingga
dalam keadaan demikian, ia harus mampumenemukan cara yang
sebaik-baiknya untuk mengatasi keadaan. Selagi Buntal mencoba
berpikir, kumpeni di dalam pasukan Surakarta masih saja tertawa.
Katanya “Biar ia berkuda terus. Ia akan menjadi semakin jauh lagi
meninggalkan kita. Kita anggap saja sebuah tontonan yang menarik”
Sebenarnyalah Buntal berpacu terus. Dalam jarak yang agak jauh ia
justru melampaui pasukan dari Surakarta itu. Tetapi Buntal bukan
seorang badut yang hanya pantas ditertawakan, karena tiba-tiba saja
Buntal menarik kekang kudanya sehingga kudanya berhenti dengan t
iba-tiba. Ketika kawan-kawannya kemudian menyusulnya tanpa mengerti
apa yang harus dilakukan, maka Buntalpun berkata kepada mereka
“Marilah kita langsung menyerang. Kita harus saling menyilang agar
mereka tidak dengan mudah membidik. Mudah-mudahan kawan kita yang
ada di seberang dapat menyesuaikan dir i” Buntal tidak usah
mengulang. Keempat kuda itupun kemudian melingkar dan dengan
tiba-tiba mereka berpacu langsung menuju kebarisan lawan. Tetapi
keempat kuda itu berlari saling menyilang seperti sebuah pertunjukan
keahlian menunggang kuda. Namun ternyata keempatnya benar-benar
telah menguasai kuda masing-masing dengan baiknya. Hal itu telah
mendebarkan hati setiap prajurit Surakarta. Tetapi juga laskar
Pangeran Mangkubumi yang ada di dalam hutan. Pemimpin pasukan yang
berjanggut putih itu tergetar hatinya. Ternyata Buntal, anak Jati
Aking itu memiliki kemampuan berpikir yang baik. Dalam keadaan yang
menentukan, ia sempat mengambil sikap yang menguntungkan. Kumpeni
yang ada di antara prajurit-prajurit Surakarta itu terkejut. Ia
tidak mengira bahwa seorang anak muda pribumi yang tidak berada di
dalam lingkungan keprajuritan, dapatmengambil sikap yang demikian.
Bagi kumpeni masih berlaku anggapan, bahwa rakyat pedesan di daerah
Mataram adalah rakyat yang sederhana dan hanya mampu melakukan
kekerasan tanpa mempergunakan otaknya. Namun kini mereka melihat
seorang anak muda yang mampu mengambil sikap yang mengagumkan
menghadapi senjata api yang belumbanyak dikenal sifat dan wataknya
“Siapakah anak itu sebenarnya?” kumpeni itu berdesis. Pemimpin
prajurit Surakarta itu menggelengkan kepalanya sambil menjawab “Aku
belumpernah mengenalnya“ “Baik” desis kumpeni itu “Kami akan
menembak mereka. Awasilah yang seorang, yang datang dari sisi lain.
Kami akan membunuh orang-orang berkuda itu. Meskipun mereka berlari
saling menyilang, tetapi mereka tidak akan dapat lepas dari
peluruku” Pemimpin prajurit Surakarta itu mengerutkan keningnya. Ia
memang harus memperhitungkan, bahwa tentu bukan hanya lima orang itu
sajalah yang akan segera menyerang. Sambil membidikkan senjatanya
kumpeni itupun berkata “Bersiaplah. Tentu kita akan menghadapi orang
lebih banyak lagi” Dalam pada itu pemimpin laskar Pangeran
Mangkubumi yang berjanggut putih itupun harus segera mengambil
sikap. Ia tidak dapat membiarkan perhatian kumpeni sepenuhnya
tertumpah kepada Buntal dan kawan-kawannya. Karena itu. sejenak
kemudian maka iapun segera memberikan isyarat. Hanya sekejap
kemudian beberapa orang yang sudah siap dengan anak panah di ujung
hutan itupun segera mulai bertindak. Kuda merekapun segera
berloncatan. Bukan saja derap kuda-kuda itulah yang kemudian
terdengar, tetapi mereka yang berpacu sambil menyerang itupun telah
berteriak dengan kerasnya.Teriakan-teriakan itu benar-benar telah
mengejutkan para prajurit Surakarta. Perhatian mereka benar-benar
telah terpecah. Bahkan kumpeni yang mencoba memusatkan perhatian
mereka kepada Buntal dan kawan-kawannyapun telah terganggu pula.
Namun merekapun cukup berpengalaman menghadapi kejutan-kejutan
seperti itu, sehingga sesaat kemudian mereka telah berhasil
menguasai diri mereka kembali. Tanpa menghiraukan orang-orang yang
berteriak-teriak sambil menyerang, kumpeni-kumpeni itu telah
membidikkan senjatanya. Tetapi yang dibidik bukannya seekor kerbau
yang berdiri tenang sambil makan rerumputan yang hijau segar. Yang
dibidik oleh kumpeni-kumpeni itu adalah empat orang yang berpacu
bersilangan. Tetapi dalam pada itu, pemimpin prajur it Surakarta
itupun tidak tinggal diam. Ia tidak dapat menunggu kumpeni itu
menembakkan pelurunya. Orang-orang yang menyerang sambil berteriak
itu telah mempengaruhi ketenangan para prajuritnya. Karena itu, maka
pemimpin prajurit Surakarta itupun segera memberikan isyarat.
Prajurit Surakarta itupun mulai bergeser. Sementara itu kumpeni yang
sedang membidik itupun merasa semakin terganggu karenanya. Sehingga
ketika sebuah letusan terdengar, peluru itu berdesing menyambar
tubuh Buntal. Tetapi karena Buntal selalu bergerak, maka yang
tersentuh hanyalah ujung bajunya saja. Meskipun demikian Buntal
menggeram. Bajunya yang tersayat sedikit itu membuat hatinya menjadi
panas. Namun ia masih tetap sadar, bahwa yang didengarnya baru
sebuah ledakan. Ledakan-ledakan berikutnya juga tidak mengenai
sasarannya. Bahkan menyentuhpun tidak. Tetapi ledakan yang lain
telah berhasil menyambar pundak kawan Buntal yang laki. Terdengar
orang itu menggeram.Namun agaknya luka itu tidak terlampau parah,
sehingga ia sama sekali tidak menghentikan kudanya.
-
Jilid 18 TIDAK ada kesempatan lagi
bagi kumpeni itu untuk mempergunakan senjatanya karena keadaan
medan. Keempat orang lawannya telah menjadi terlampau dekat. Sejenak
kemudian yang beradu adalah senjata di tangan keempat orang itu
dengan senjata para prajurit dari Surakarta, sementara yang seorang
dari sisi yang lainpun telah terlibat pula dalam pertempuran. Namun
para prajurit Surakarta itu tidak sempat membinasakan kelima orang
itu beramai-ramai karena prajurit-prajurit itu harus segera bersiaga
menghadapi lontaran anak panah dari laskar berkuda yang lain. yang
menyerang mereka langsung sambil berpacu dengan anak panah mereka.
Kekalutan segera terjadi. Pertempuran seperti yang diduga tidak
dapat dihindarkan. Dalam pada itu, maka serangan gelombang
pertamapun telah meluncur dari balik pepohonan. Beberapa orang
berkuda dengan lajunya memacu kuda mereka langsung menyerang para
prajurit Surakarta yang memang telah menyiapkan dir i. Tetapi laskar
Pangeran Mangkubumi itu bertempur dengan rencana tertentu. Betapapun
mereka dicengkam oleh luapankemarahan, namun mereka tidak dapat
meninggalkan rencana yang telah mereka susun dengan baik, apalagi
sesuai dengan perintah yang telah diber ikan oleh Pangeran
Mangkubumi. Karena itu, maka pasukan Pangeran Mangkubumi itu tidak
langsung menusuk prajurit Surakarta itu sampai ke jantung barisan.
Mereka seakan-akan hanya berputaran mengepung prajurit-prajurit
Surakarta itu. Dengan demikian maka pertempuran yang terjadipun
seakan-akan selalu bergeser dan bergerak. Tetapi putaran pasukan
Pangeran Mangkubumi itu dapat membingungkan lawannya. Mereka harus
berusaha menyesuaikan dir i. Dengan demikian mereka tidak segera
dapat menyusun gelar tertentu untuk menghadapi perang yang
berputaran. Apalagi pasukan Pangeran Mangkubumi bertempur sambil
berteriak-teriak tidak menentu. Kadang- kadang mereka bersorak,
tetapi kadang-kadang mengumpat- mengumpat dengan kasarnya. Beberapa
orang kumpeni yang ada di dalam pasukan Surakarta itu tidak terkejut
menghadapi peperangan yang agak liar itu. Penjelajahannya kebenua
yang lainpun member ikan gambaran yang serupa. Orang-orang yang
masih terbelakang, di dalam olah keprajuritan, biasanya memang
berteriak-teriak sambil berlar i-lari tidak menentu. “Agaknya hanya
orang-orang yang tinggal di kota dan yang sudah bergaul dengan kami
sajalah yang telah menjadi beradab dan mengenal cara-cara yang baik
di peperangan” berkata kumpeni itu di dalam hati. Meskipun mereka
tidak dapat ingkar bahwa mereka telah menyaksikan seorang anak muda
yang mampu mempergunakan otaknya, bukan saja tenaga jasmaniahnya.
Demikianlah maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru.
Namun agaknya putaran laskar Pangeran Mangkubumi semakin lama justru
menjadi semakin luas. Bahkan kemudian, prajurit-prajur it Surakarta
berhasilmendesak mereka semakin jauh dari pusat lingkaran yang telah
mereka buat itu. Beberapa orang kumpeni yang ada di dalam pasukan
Surakarta itupun bertempur dengan gigihnya. Ternyata mereka
benar-benar cakap bertempur dengan pedang di atas punggung kuda.
Karena itu, maka setiap sambaran pedang dari laskar yang berputaran
itu sama sekali tidak dapat mengenai mereka. Dengan tangkasnya
mereka menangkis setiap serangan. Bahkan dengan garang mereka
menyerang kembali. Pedangnya yang bergerak seakan dalam bidang-
bidang yang mendatar, tetapi tiba-tiba saja langsung mematuk dada,
adalah gerak yang sangat berbahaya. Tetapi beberapa orang kumpeni
itu tidak pernah mendapatkan lawan yang mapan. Setiap kali lawannya
meninggalkannya, kemudian datang lawan yang lain menyerang sambil
berteriak. Dalam pada itu, selagi laskar Pangeran Mangkubumi
terdesak sehingga kepungannya menjadi semakin longgar dan bahwa
hampir pecah, langitpun menjadi semakin suram. Matahari menjadi
semakin rendah dan kemudian hilang di balik cakrawala. Untuk
beberapa saat lamanya, cahaya merah masih bergayutan di bibir mega
yang berarak di langit. Namun warna itupun segera menjadi kelabu.
Ketika gelap mulai menyelubung, di padepokan Jati Aking, Kiai
Danatirta duduk di pendapa rumahnya menghadapi mangkuk ber isi
minuman panas dan beberapa potong makanan. Sambil memandang ke dalam
kegelapan ia mulai membayangkan, bahwa agaknya pertempuran sedang
berlangsung. Buntal dan kawan-kawannya tentu sedang dengan gigihnya
bertempur melawan prajurit-prajur it Surakarta. Meskipun pasukan
Pangeran Mangkubumi itu membawa pesan agar jangan sampai jatuh
terlampau banyak korban di kedua belah pihak, tetapi di dalam
pertempuran agaknya terlampau sulit untuk melaksanakannya.Selagi
Kiai Danatirta menikmati minuman hangat dan makanan yang dihidangkan
oleh Arum, meskipun dengan hati yang berdebar-debar, tiba-tiba saja
ia telah dikejutkan oleh derap seekor kuda yang ber lari kencang di
halaman. Dengan sigapnya Kiai Danatirta meloncat berdiri dan berlari
turun dari tangga pendapa. Tetapi kuda itu sudah berderap melintas.
Namun demikian terdengar suara Kiai Danatirta memanggil “Arum, Arum”
Tetapi kuda itu tidak berhenti. Arum, yang lada di punggung kuda itu
berpacu terus meninggalkan halaman rumahnya. Untuk beberapa saat
lamanya Kiai Danatirta masih berdiri termangu-mangu. Ditatapnya
kegelapan malam yang terbentang di hadapannya. Ia tersadar ketika
beberapa orang penghuni padepokan itu mendekatinya. Seorang yang
sudah agak lanjut usia bertanya “Siapakah yang berkuda begitu
cepatnya Kiai?“ Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam ”Apakah ada
seseorang yang telah mengambil kuda kita tanpa member itahukan lebih
dahulu?“ Kiai Danatirta menggeleng. Dan yang lain lagi berkata
“Tetapi, apakah aku mendengar Kiai memanggil nama Arum?“ Kiai
Danatirta berpaling. Tetapi kemudian kepalanyapun tertunduk. Katanya
dalam nada yang datar “Sudahlah. Biarlah kuda itu pergi” “Tetapi
siapakah yang membawanya?“ Kiai Danatirta tidak menjawab. “Apakah
Arum?“Kiai Danatirta masih tetap berdiam dir i. Tetapi ia berjalan,
ke pendapa dan tanpa menjawab pertanyaan itu. iapun segera naik.
Beberapa orang masih termangu-mangu sejenak. Namun merekapun
kemudian segera kembali ke tempat masing- masing. Meskipun demikian
masih saja ada yang berbicara di antara mereka “Dahulu aku sudah
memper ingatkan, bahwa tidak baik seorang gadis belajar menunggang
kuda. Beberapa tahun yang lalu. Tetapi agaknya Kiai Danatirta tidak
begitu berkeberatan” “Ya meskipun hanya diperkenankan berlatih di
malam hari atau di tempat yang sepi di padang ilalang di balik
bukit-bukit kecil itu” “Akibatnya, ada kerinduan gadis itu untuk
menunggang kuda. Agaknya sudah lama ia tidak diperkenankan lagi
berlatih, sehingga tiba-tiba saja ia memaksa untuk naik tanpa ijin
ayahnya” Keduanya mengangguk-angguk. Tetapi ketika mereka berpaling
ke pendapa, mereka tidak melihat lagi Kiai Danatirta duduk
menghadapi mangkuknya. “Kemana Kiai itu?“ “Apakah ia akan membiarkan
anak gadisnya berkuda di malam hari dalam keadaan seperti ini?
Selagi Surakarta dicengkam oleh udara yang panas dan baru siang tadi
di bulak itu beberapa orang prajurit Surakarta Merampas senjata
setiap orang yang lewat?“ Kedua terdiam sejenak. Ternyata yang
mereka duga adalah benar. Sejenak kemudian mereka melihat Kiai
Danatirta sudah di punggung kudanya sambil berkata kepada penghuni-
penghuni padepokan yang dijumpainya di halaman “Jagalah rumah ini
baik-baik. Mungkin malamhari aku baru kembali” “Kemana Kiai akan
pergi?““Mencari Arum yang nakal itu. Jika keadaan Surakarta tidak
sepanas ini, maka aku kira, aku tidak perlu mencarinya” “Tetapi
kemana Kiai akan mencar i?“ “Entahlah. Tetapi aku dapat mengikuti
jejak kaki kuda itu” “Di malam hari?” “Aku harus berhenti di setiap
tikungan dan mencari arah jejak kaki-kaki kuda itu” “Dan kuda itu
menjadi semakin jauh” “Pada saatnya ia akan berhenti” sahut Kiai
Danatirta. Demikianlah maka Kiai Danatirtapun segera memacu kudanya.
Sebenarnya ia tahu pasti arah kuda Arum. Gadis itu tentu pergi ke
tempat yang disebut oleh Buntal. Setelah hari mulai gelap, maka
diam-diam iapun pergi ke kandang kuda dan berpacu tanpa minta ijin
lebih dahulu, karena Arum tahu bahwa ia tentu tidak akan diijinkan
oleh ayahnya. “Jika pertempuran itu sudah berakhir saat Arum sampai
di sana, alangkah baiknya” berkata Kiai Danatirta kepada diri
sendiri sambil berpacu. Tetapi agaknya pertempuran itu tentu masih
berlangsung. Prajur it-prajurit Surakarta adalah prajur it pilihan.
Dan laskar Pangeran Mangkubumipun cukup terlatih dan dipersiapkan.
Karena itu, pertempuran itu tentu akan menjadi sangat seru. Apalagi
di malamhar i. “Jika gelap malam dapat menahan pertempuran itu serba
sedikit alangkah baiknya. di dalam gelap, tentu mereka menjadi
sangat hati-hati agar mereka tidak mengenai kawan- kawan sendir i”
Kiai Danatirtapun kemudian berpacu lebih cepat lagi. Ia tidak mau
terlambat terlampau lama. Jika Arum dengan serta merta ikut
bertempur, maka persoalannya akan menjadi sangat gawat baginya.Dalam
pada itu, sebenarnyalah Arum memang berpacu menuju ke hutan
perburuan. Ia tahu bahwa di hutan itu tentu sedang berlangsung
pertempuran yang sengit Ketika Buntal meninggalkan padepokannya, ia
sudah menjadi bimbang, apakah ia akan mengikutinya. Tetapi ia tidak
berani melakukannya, karena hal itu tentu akan menghambat perjalanan
Buntal yang akan memaksanya untuk kembali. Waktu yang pendek selama
Buntal harus bertegang hati memaksanya pulang ke padepokan itu, akan
sangat berharga bagi pasukan yang ditinggalkan. Dan akan sangat
berharga bagi setiap nyawa di dalam pasukan itu Keterlambatan Buntal
akan mempunyai akibat yang sangat luas bagi pasukan Pangeran
Mangkubumi itu. Karena itu ia menyabarkan dir i, menunggu hari
menjadi gelap. Baru kemudian dengan diam-diam ia pergi meninggalkan
halaman rumahnya. Sebenarnya Arumpun mengetahui akibat yang gawat
jika ia tidak dapat mengendalikan dirinya dan ikut bertempur begitu
saja. Karena itu, yang akan dilakukannya hanyalah sekedar melihat.
Mungkin dengan melihat pertempuran yang sebenarnya dari dua pasukan
dalam jumlah yang cukup banyak, ia akan mendapatkan pengalaman.
Dengan demikian maka kaki kuda Arum itupun berderap di atas jalan
berbatu padas. Rambutnya yang disanggulnya tinggi, diusap oleh angin
malam yang basah sehingga ujung tali-talinya menggapai-gapai di
wajahnya. Sekali-sekali Arum memandang tanah persawahan disebelaK
menyebelah jalan. Dilihatnya kunang-kunang yang berkeredipan dalam
kelompok-kelompok yang besar. Arum menarik nafas dalam-dalam.
Seakan-akan udara malam yang sejuk itu akan dihisapnya sampai
tuntas, sementara kaki kudanya masih tetap berderap terus.Namun
demikian, semakin dekat dengan hutan perburuan yang tidak terlampau
lebat itu, Arumpun menjadi semakin berdebar-debar. Jika ia berjumpa
dengan seseorang yang sama sekali t idak dikenalnya, apakah ia.
petugas sandi atau penghubung dar i mereka yang bertempur di sebelah
hutan itu, maka ia tidak akan dapat mengetahui, apakah orang itu
prajurit Surakarta, atau laskar Pangeran Mangkubumi.
“Prajurit-prajurit Surakarta mempunyai pakaian yang khusus. Aku akan
segera dapat mengenalnya” berkata Arum di dalam hatinya. Namun
kemudian “Tetapi petugas-tugas sandi biasanya tidak mempergunakan
pakaian khusus itu, agar penyamarannya tidak dengan mudah dapat
dikenal” Arum menjadi bimbang. Namun ia tidak berhenti. Ia masih
berpacu terus mendekati hutan perburuan itu. Dalam pada itu, malam
yang gelappun menjadi semakin gelap. di langit bintang nampak
bergayutan dari ujung cakrawala sampai ke ujung yang lain. Dan angin
yang dingin berhembus menembus dedaunan di hutan rindang. Ternyata
Arum menyadari bahwa derap kaki kudanya dapat menarik perhatian
orang-orang yang sedang bertempur Itu, atau pengawas-pengawas yang
bertugas di luar medan. Karena itu, ketika ia menjadi semakin dekat
dengan hutan perburuan itu, maka iapun segera menghentikan kudanya,
dan meloncat turun. Ditambatkannya kudanya pada sebatang pohon perdu
di balik gerumbul yang agak rimbun. Sejenak Arum termangu-mangu, di
lambungnya tergantung sehelai pedang tipis dan dua batang pisau
belati di lambung yang lain. Dan hampir di luar sadarnya Arum meraba
pisau belatinya sambil berkata di dalam hati “Jika aku bertemu
dengan kumpeni itu, aku dapat mempergunakan pisau ini. Pisauku dapat
menyambar dadanya seperti peluru di senjata apinya. ”Agaknya Arum
memang percaya kepada kemampuannya melontarkan pisau. Ia sengaja
mempelajarinya sebaik-baiknya sejak la mendengar bahwa kumpeni
mempunyai senjata yang dapat menyerang dari jarak yang cukup jauh.
Meskipun iapun sadar bahwa jarak lontarannya tentu tidak akan dapat
sejauh jarak lontaran peluru senjata kumpeni itu, tetapi dengan
demikian ia masih akan mendapat kesempatan untuk melawan jika
tiba-tiba saja ia menjumpainya. Sejenak kemudian, setelah mengatur
diri sebaik-baiknya maka Arumpuh segera mendekati hutan perburuan
itu dengan hati-hati. Ia berjalan di antara gerumbul-gerumbul perdu
mendekati hutan itu dari arah yang lain dari jalan yang diikutinya
dari pedukuhannya. Ternyata, sebelum ia dapat melihat sesuatu,
telinganyalah yang telah lebih dahulu mendengar hiruk pikuk
pertempuran itu, la mendengar beberapa orang berteriak-teriak tidak
menentu. Arum menjadi Heran. Dan iapun bertanya kepada diri sendiri
“Apakah demikian cara prajurit Surakarta bertempur? Atau barangkali
kumpeni-kumpeni itu?” Namun kemudian “Tetapi juga mungkin pasukan
Pangeran Mangkubumi itulah yang berteriak-teriak” Seakan-akan ada
sesuatu yang mendorongnya untuk merayap semakin dekat. Dan Arum itu
bergeser dari gerumbul yang satu ke gerumbul yang lain di sisi parit
yang membujur di tepi jalan sempit. Arum bersembunyi di balik
pohon-pohon jarak yang rimbun bahkan kadang-kadang berjongkok di
balik tanggul parit, la tidak ingin dilihat lebih dahulu oleh
siapapun juga sebelum ia melihat pertempuran yang sedang berlangsung
itu. Di dalam gelapnya malam, Arumpun lamat-lamat mulai melihat
bayang mereka yang bertempur. Tidak begitu jelas, namun Arum segera
mengerti bahwa mereka yang bertempur masih tetap berada di punggung
kudanya meskipun ada jugasatu dua orang yang ternyata telah terjatuh
dan bertempur di atas tanah. Keinginan Arum untuk menyaksikan
pertempuran itupun menjadi semakin besar. Karena itu, maka iapun
merayap semakin dekat. Akhirnya Arum benar-benar mendapat kesempatan
untuk melihat pertempuran itu, meskipun tidak terlampau dekat.
Pertempuran berkuda itu ternyata memer lukan tempat yang luas.
Beberapa orang yang bertempur di atas tanah harus menepi agar mereka
tidak terinjak oleh kaki kuda yang berlari- larian itu. “Adalah
mustahil dapat mengenal kawan sendir i sebaik- baiknya di dalam
pertempuran seperti ini” berkata Arum di dalam hatinya “Apalagi j
ika seseorang masih belum memahami benar-benar siapakah kawan-kawan
mereka di peperangan” Dan karena itulah maka ia dapat mengerti,
kenapa Buntal telah melarangnya untuk mengikutinya. di dalam perang
yang demikian, dengan mudah dapat terjadi salah paham di antara
kawan sendir i j ika mereka belum mengenal dengan baik. Karena itu,
Arum memer lukan waktu yang lama untuk dapat menilai pertempuran
itu. Ia kemudian dapat melihat, sebagian dari mereka yang bertempur
itu, masih saja selalu bergerak dalam lingkaran meskipun semakin
lama semakin lambat dan putaran itupun menjadi semakin longgar,
sehingga akhirnya tidak lagi merupakan sebuah kepungan yang
bergerak, karena di beberapa bagian kepungan yang semula berputar
itu tetah hampir pecah. “Tentu laskar Pangeran Mangkubumi yang ada
di luar“ desis Arum. Namun dengan demikian ia menjadi cemas melihat
kepungan yang hampir patah dan bahkan pasukan Pangeran Mangkubumi
itu terdesak semakin jauh. Bahkan mereka sudahmulai bertempur di
dalam batasan pematang-pematang tanah persawahan. Dan seperti yang
dicemaskan oleh para pengawas, maka batang-batang padipun kemudian
telah terinjak-injak oleh kaki-kaki kuda. Namun pertempuran di tanah
lumpur itu nampaknya menjadi lamban, tetapi justru menjadi lebih
berbahaya. Jika kaki kudanya terperosok, maka seseorang menjadi
terpecah perhatiannya. Sebagian pada kudanya dan sebagian pada
senjata lawannya. “Ada beberapa orang kumpeni di dalam pertempuran
itu“ berkata Arum di dalam hati. Dan adalah di luar sadarnya, bahwa
tiba-tiba saja timbul niatnya untuk melihat kumpeni- kumpeni itu.
atau bahkan ia berkata kepada, dir i sendiri “Jika ada di antara
mereka yang memisahkan dir i. aku ingin mencoba kemampuannya. Apakah
benar bahwa mereka memiliki kelebihan dari prajur it Surakarta, dan
karena pengembaraannya yang panjang dari tanah kelahiran mereka
sampai ke tanah ini, penjelajahan yang luas, maka mereka adalah
prajurit-prajurit yang tidak terkalahkan. “Tetapi mereka ada di
dalam pertempuran yang riuh” berkata Arumdi dalamhatinya pula.
Demikianlah maka pertempuran itu semakin lama semakin menjadi seru.
Lingkaran yang semula seakan-akan mengepung prajur it Surakarta itu
menjadi semakin kendor dan bahkan hampir pecah sama sekali. Arumpun
kemudian menjadi berdebar-debar ketika ia melihat lingkaran yang
sudah terputus-putus itu bagaikan awan ditiup angin. Pecah
berserakan didesak oleh prajur it- prajurit Surakarta yang bertempur
dengan gigihnya. Tetapi pada saat itu, dari dalam hutan perburuan
itu muncul beberapa kelompok kecil laskar berkuda. Kehadiran mereka
benar-benar telah mengejutkan prajurit-prajur it Surakarta. Apalagi
ketika mereka melihat pasukan yang meskipun tidak begitu banyak,
tetapi masih cukup segar itu langsung menusuk ke pusat pertempuran
itu.Sejenak pertempuran itu menjadi kisruh. Namun ketika para
prajurit Surakarta berhasil menguasai diri masing-masing, maka
laskar yang sudah berada dipusat pertempuran itupun mulai menyerang.
Karena itulah maka pertempuran itupun bagaikan mekar semakin luas.
Prajurit-prajurit Surakarta terdesak melebar, dan agaknya laskar
Pangeran Mangkubumi yang ada di luar, sengaja membiarkan
prajurit-prajur it Surakarta berserakan. Bahkan merekapun kemudian
membantu kawan-kawannya yang menyerang prajurit-prajurit Surakarta
itu dari pusat pertempuran setelah mereka berhasil menyusup ke
dalamnya. Ternyata bahwa bukannya laskar Pangeran Mangkubumilah yang
sebenarnya pecah. Tetapi adalah prajurit-prajurit Surakarta yang
agak kebingungan menghadapi keadaan yang tidak diduga. Apalagi
ternyata bahwa jumlah laskar Pangeran Mangkubumi itu banyaknya
melampaui prajurit-prajur it Surakarta yang sudah mulai kehilangan
keseimbangan. Arum bersorak di dalam hati. Ia melihat kemungkinan
yang berbalik. Dengan pasukan yang baru, maka hampir dapat
dipastikan bahwa pasukan Surakarta akan terpecah bercerai-berai.
Sebenarnya itulah yang diharapkan oleh pimpinan pasukan Pangeran
Mangkubumi yang sudah berjanggut putih. Ia hanya ingin memecah
pasukan itu dan membubarkannya. Pasukanyang pecah bercerai-berai
adalah pertanda bahwa pasukan itu benar-benar dikalahkan. Arum yang
kegirangan itu agaknya itelah menjadi lengah. Sambil
menghentak-hentakkan tangannya ia kadang-kadang lupa akan dir inya
dan melonjak berdiri. Pada saat itulah ia terkejut mendengar langkah
yang kasar di belakangnya. Dengan serta-merta ia meloncat dan
berbalik. Sesaat Arum tertegun. Dilihatnya seseorang yang bertubuh
tinggi besar berdiri di hadapannya. Dalam sekejap Arumpun segera
mengetahui menilik ujud dan pakaiannya, bahwa yang dihadapinya itu
adalah salah seorang dari beberapa orang kumpeni yang ada di dalam
pasukan Surakarta itu. Sejenak Arum termangu-mangu. Ia merasa
sesuatu bergejolak di hatinya. Seakan-akan tiba-tiba saja
keinginannya terpenuhi. Namun dalam pada itu, iapun menjadi
berdebar- debar. Perkelahian di dekat pertempuran yang seru itu akan
berbahaya baginya. Jika orang-orang di medan itu melihat, maka
perhatian mereka akan tertarik. Mungkin satu dua orang akan datang
untuk melihat apa yang terjadi. Tetapi kumpeni itu kini sudah ada di
hadapannya, dengan pedang yang teracu ia bertanya dengan bahasa yang
patah- patah. ”Siapa kau? Kau juga pemberontak?“ Arumtermangu-mangu
sejenak. “Siapa? Sebelumaku membunuhmu” Arum masih saja
termangu-mangu. Namun kemudian iapun menjawab “Aku bukan dari kedua
pasukan yang sedang bertempur” Kumpeni itu terkejut. Lalu “Kau
perempuan? Suaramu suara perempuan, tetapi pakaianmu laki- laki”“Ya.
Aku perempuan” “Kenapa kau ada di sini?“ Arum terdiam, la masih
ragu-ragu untuk mulai dengan sebuah perkelahian betapapun ia ingin.
Ia tidak mau memancing perhatian salah satu pihak yang sedang
bertempur itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja Arum meloncat berlari
menyusur parit yang rendah, sehingga tidak begitu nampak dari
kejauhan, apalagi di dalam gelapnya malam dan sekali- sekali
tertutup oleh pohon-pohon jarak yang tumbuh ditanggul parit. Kumpeni
itu tidak membiarkan perempuan itu lari. Karena itu maka iapun
segera mengejarnya tanpa menghiraukan apapun juga. Sementara itu
pedangnyapun teracu-acu sambi berkata lantang “Jangan lar i. Jangan
lari” Arum tidak menghiraukannya. Tetapi ia berlari terus, la tidak
takut kumpeni itu menyerangnya dengan senjata api. Jika kumpeni itu
masih mempunyai kesempatan mempergunakan senjata apinya yang
berlaras pendek, maka senjata itu tentu sudah teracu sejak kumpeni
itu mendekatinya. “Senjata itu sudah kehabisan peluru” berkata Arum
di dalam hatinya “Atau kumpeni itu tidak sempat mengisinya lagi di
dalam peperangan yang riuh itu, sehingga senjata itu tidak berguna
lagi baginya” Meskipun demikian sekali-sekali Arum berpaling juga.
Namun yang nampak di tangan kumpeni itu adalah pedangnya yang besar
dan panjang. “Berhenti, berhenti“ kumpeni itu masih saja berteriak.
Arum sama sekali tidak menghiraukannya. Ia berusaha mencapai
tikungan. Di tikungan itu tumbuh gerumbul-gerumbul liar
danpohon-pohon jarak yang rimbun. Jika ia harus berkelahi, maka m
akan berkelahi di balik gerumbul-gerumbul itu. Ternyata kumpeni yang
mengejar Arum itu menjadi heran. Meskipun yang dikejarnya itu
seorang perempuan, namun perempuan itu dapat berlari cepat sekali.
Dan terlebih- lebih lagi ketika dilihatnya sehelai pedang tergantung
di lambungnya. “Orang ini tentu satu di antara
pemberontak-pemberontak itu” berkata kumpeni di dalam hatinya
“Tetapi kenapa ia seorang perempuan dan memisahkan diri dari
pasukannya?“ Kumpeni itu kemudian mengira bahwa Arum adalah salah
seorang pengawas saja dari pasukan yang telah mencegat prajurit
Surakarta di pinggir hutan itu. Seperti yang diinginkan, ternyata
Arum sempat mencapai tikungan. Dengan serta-merta iapun kemudian
meloncat berbalik dengan cepatnya. Hampir di luar kemampuan tatapan
mata kumpeni itu, maka Arumpun telah menggenggam pedang di
tangannya. Kumpeni itu terkejut. Iapun kemudian berhenti termangu-
mangu sejenak. Dipandanginya saja Arum yang kemudian berdiri tegak
dengan pedang di tangannya. “Kau tentu juga pemberontak” geram
kumpeni itu ternyata perempuan-perempuan turut memberontak” Arum
memandang orang yang bertubuh t inggi besar itu dengan dada yang
berdebar-debar. Ia sudah sering melihat kumpeni. Tetapi baru kini ia
berdiri berhadap-hadapan pada jarak yang pendek. Ternyata bahwa
orang-orang asing itu jauh lebih tinggi dari dirinya. “Tangannya
tentu cukup panjang” berkata Arum di dalam hatinya “Tetapi ia hanya
mempergunakan tangannya, ia. tidak banyak memanfaatkan kakinya
seperti yang dikatakan Juwiring“Dan Arumpun pernah mendengar bahwa
Pangeran Ranakusumapun pernah berhasil membunuh seorang kumpeni di
dalam perang tanding. “Meskipun aku bukan Pangeran Ranakusuma yang
memiliki ilmu yang hampir sempurna, tetapi aku juga sudah
mempelajari ilmu pedang dengan saksama. Dan tentu kumpeni inipun
bukan seorang perwira seperti yang pernah berperang tanding dengan
Pangeran Ranakusuma, sehingga ilmunya pun tentu tidak setinggi
perwira yang sudah terbunuh itu” berkata Arum di dalam hatinya.
Karena Arum masih belum menjawab, maka kumpeni itu mendesaknya lagi
“Siapa kau sebenarnya he? Pemberontak atau perampok atau apa?“
“Namaku Arum” jawab Arum. “Kau pemberontak juga?“ “Sudah aku
katakan, bahwa aku tidak berdiri di pihak manapun juga” “Bohong.
Jika demikian kenapa kau berada di dekat peperangan itu?“ “Aku
sedang meronda padesan ketika aku mendengar hiruk pikuk. Ternyata
pertempuran itu sedang berlangsung dengan serunya. Dan aku senang
menonton prajurit-prajurit Surakarta di kejar-kejar oleh pasukan
Pangeran Mangkubumi” “Darimana kau tahu bahwa pasukan itu pasukan
Pangeran Mangkubumi, bukan pasukan Raden Mas Said?“ bertanya kumpeni
lagi. Arum terdiam sejenak. Ia tidak menyangka bahwa ia akan dapat
pertanyaan serupa itu. “Darimana kau tahu” desak kumpeni itu, lalu
“Jika kau bukan salah seorang dari mereka kau tentu tidak akan dapat
mengetahui dengan pasti”Arum tidak dapat mengelak lagi. Maka katanya
kemudi an “Aku bukan dari golongan mereka, tetapi aku tahu pasti”
“Persetan“ kumpeni itu menggeram. Perlahan-lahan ia lelangkah maju
mendekat dengan pedang siap di tangan. Tetapi Arumpun telah siap
pula menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. “Kau harus
menyerah. Kau perempuan. Mungkin kau akan mendapat perlakuan yang
lain dari laki- laki” berkata kumpeni itu. “Aku tidak akan menyerah.
Aku akan bertempur. Bukankah kau lari dar i pertempuran itu dan
secara kebetulan melihat aku?“ tebak Arum Wajah kumpeni itu menjadi
merah. Katanya “Apa pedulimu perang dengan orang-orang liar tidak
ada gunanya. Sekarang, aku akan menangkapmu, dan membawamu ke
Surakarta” “Tidak ada gunanya. Kau akan dicari dan akan dibantai
bersama orang kawan-kawanmu” Kumpeni itu terdiam sejenak. Katanya di
dalam hati “Apakah tidak lebih baik bagiku untuk lar i saja menjauhi
pertempuran itu dan mencapai Surakarta“ dan ia mengumpat di dalam
hati. “Nah, kau sajalah yang menyerah” desis Arum. Kumpeni itu
benar-benar merasa terhina. Ia adalah seorang prajurit Kerajaan yang
besar dan pernah menjelajahi benua dan samodra. Kini seorang
perempuan mengacukan pedangnya sambil mengancamnya agar ia menyerah.
Bagi kumpeni itu, menghindar dari peperangan untuk mencari hidup,
masih jauh lebih baik daripada diancam oleh seorang perempuan untuk
menyerah. Karena itu, maka iapun menggeram marah “Kau gila. Aku
dapat membunuhmu”“Akupun dapat membunuhmu” sahut Arum meskipun
dadanya terasa agak berdebar-debar. Orang asing itu tentu mempunyai
ilmu yang asing pula. Ternyata bahwa jawaban Arum itu benar-benar
telah membakar jantung kumpeni itu. Bagaimanapun juga ia mempunyai
harga diri yang cukup. Karena itulah maka iapun menggeram “Kau
memang tidak dapat dimaafkan. Aku mencoba untuk berbuat baik
terhadapmu. Tetapi kau keras kepala. Jangan menyesal bahwa kau
benar-benar akan mati” Arum tidak menjawab, tetapi ia sudah bersiaga
sepenuhnya. Bahkan iapun kemudian maju selangkah sambil mengacukan
pedangnya. Sekali-sekali digerakkannya pula untuk memancing gerakan
lawannya. Seperti yang dikatakan oleh Juwiring, bahwa kumpeni itupun
segera memiringkan tubuhnya, mengacukan pedangnya hampir sepanjang
lengannya. ”Begitulah caranya bertempur dengan pedang” berkata Arum.
Sejenak Arum melihat sikap itu. Namun kemudian ia tidak dapat
berdiam diri sambil mengamati lawannya, karena kumpeni itupun segera
menyerangnya Pedangnya yang besar dan panjang itupun segera terjulur
turus ke depan menusuk langsung kearah dada. Tetapi Arum sudah
bersiap. Iapun segera mengelak. Ia tidak menangkis serangan
lawannya, tetapi ia justru menyerang dengan ayunan mendatar. Kumpeni
itu cukup lincah pula. Ia meloncat surut dan pedangnya menyambar
pedang Arum. Dengan sengaja Arum membenturkan pedangnya, sehingga
terdengar kedua pedang itu beradu. Sepercik bunga api meloncat dari
benturan itu.Arum meloncat mundur. Kumpeni itu memiliki tenaga yang
cukup kuat. Tetapi tenaganya benar-benar tenaga jasmaniah saja.
Meskipun demikian Arum tidak dapat mengabaikan kekuatan itu.
Sehingga dengan demikian, ia harus berusaha setiap kali menghindari
benturan-benturan yang dapat terjadi. Karena itulah Arum mulai
dengan serangan-serangannya. ia tidak hanya mempergunakan tangannya
dan geseran kaki selangkah-selangkah. Tetapi Arum mulai berloncatan
berputar-putar. Seperti kumpeni-kumpeni yang lain, mereka pernah
mendapat petunjuk bagaimana orang-orang pribumi di Surakarta
bertempur. Dari para prajurit, kumpeni-kumpeni itu sudah
mempelajarinya serba sedikit tata gerak orang-orang Surakarta
mempermainkan pedangnya, sehingga karena itu, kumpeni itu tidak
terkejut melihat Arum berloncatan. Dengan sigapnya kumpeni itu
bergeser setapak demi setapak. Berputar pada sebelah tumitnya dan
kemudian sebuah loncatan yang panjang sambil menjulurkan pedangnya
lurus- lurus. Tetapi gadis lawannya itu bertempur selincah tupai.
Bahkan kemudian kakinya bagaikan tidak lagi menyentuh tanah. Kumpeni
itu mengumpat di dalam hatinya. Pedangnya seakan-akan tidak pernah
berarti sama sekali di dalam perkelahian itu. Arum hampir tidak
pernah membiarkan senjatanya membentur senjata lawannya secara
langsung. “Ia akan segera kehabisan tenaga” berkata kumpeni itu di
dalam hatinya. Dan iapun membiarkannya Arum ber loncatan
mengelilinginya. Tetapi semakin lama kumpeni itu menjadi semakin
bingung. Ia tidak dapat sekedar menangkis dan menghindar sambil
menunggu Arum kelelahan. Tetapi ia harus berbuat sesuatu untuk
menghentikan usaha Arum menyerangnya seolah-olah dari segala
jurusan.Dengan demikian, kumpeni itupun mulai mengerahkan segenap
kemampuannya. Tangannya memang dapat bergerak cepat sekali. Serangan
Arum yang mengarah kebagian tubuh lawannya, selalu menyentuh pedang
kumpeni itu yang menangkisnya dengan cekatan. “Pertahanan kumpeni
itu benar-benar rapat” desis Arum. Namun Arum masih berharap, bahwa
kumpeni itu pada suatu saat akan menjadi semakin lamban dan
memberikan kesempatan kepadanya untuk menyusupkan pedangnya. Tetapi
kumpeni itupun mengharap, bahwa cara berkelahi yang dipergunakan
oleh Arum akan segera membuat gadis itu kelelahan dan perempuan itu
akan segera kehabisan tenaga. Dalam pada itu, di ujung hutan itupun
pertempuran semakin lama menjadi semakin seru. Ternyata bahwa laskar
Pangeran Mangkubumi telah berhasil memecah pasukan Surakarta. Mereka
menjadi terpisah-pisah dibelah oleh laskar Pangeran Mangkubumi yang
dengan sengaja melakukan gerakan-gerakan menyilang. Beberapa orang
dari prajurit-prajur it Surakarta yang telah kehilangan kudanya,
tidak mampu berbuat apa-apa lagi selain menyingkir dari pertempuran
seperti yang dilakukan oleh kumpeni yang sedang bertempur dengan
Arum itu. Bahkan ada di antara mereka yang berlari secepat-cepatnya
menjauhi pertempuran itu untuk menyelamatkan nyawanya, karena
baginya pertempuran itu seolah-olah sudah t idak memberikan tempat
lagi baginya. Kumpeni-kumpeni yang ada di pertempuran itupun sudah
terpisah yang seorang meninggalkan medan dan melihat Arum yang
sedang merunduk. Kemudian terlibat dalam perkelahian melawannya.
Yang lain masih berada di atas punggung kudanya dengan pedang di
tangannya. Dengan gigih ia melawan orang-orang pribumi yang
dianggapnya masih terlampau liar. Sedang seorang di antara mereka
harus bertempur melawan seorang anak muda yang memilikikecepatan
bergerak di luar dugaan. Anak muda itu adalah Buntal. Anak muda yang
membenci kumpeni sampai ke ujung ubun-ubun. Ternyata kumpeni yang
memiliki pengalaman yang luas itu, menjadi bingung pula melawan
Buntal yang memiliki kecepatan bergerak yang luar biasa. Bagi
kumpeni, orang-orang Surakarta agaknya tidak sebodoh yang diduganya.
Orang-orang Surakarta telah mempunyai dasar-dasar yang kuat di dalam
olah kanuragan, meskipun berbeda dengan ilmu yang mereka pelajari
dinegeri mereka. Dan kumpeni itu tidak dapat mengatakan bahwa
ilmunya jauh lebih baik dari ilmu orang-orang pribumi. Semula mereka
menyangka bahwa para prajurit Surakarta memiliki kemampuan berperang
dan bermain senjata karena kumpeni telah memberikan beberapa
petunjuk kepada mereka. Tetapi di dalam pertempuran yang
sesungguhnya, orang-orang yang tidak pernah mempelajari ilmu yang
dibawanya itupun ternyata terlampau sulit dikalahkan. Dan kini salah
seorang dari kumpeni itu merasakan, betapa beratnya melawan seorang
anak muda yang bernama Buntal. Namun sementara itu, pertempuran di
padang ilalang yang tidak terlampau luas itu menjadi kisruh. Para
prajurit Surakarta tidak lagi dapat bertahan lebih lama. Mereka
mulai terpencar dan menyebar sampai ke tanah persawahan. Bahkan
sebagian dari mereka telah menjadi tercerai berai. Laskar Pangeran
Mangkubumi dengan sekuat tenaga menekan lawannya dan berusaha segera
memecah sampai lumat Kadang-kadang mereka menggeram jika setiap kali
pasukan Pangeran Mangkubumi itu harus selalu dikekang oleh
pesan-pesan pemimpinnya yang berjanggut putih, bahwa jangan ada
korban yang jatuh jika tidak terpaksa sekali, karena
prajurit-prajurit Surakarta itu sebenarnya adalah masih keluarga
sendir i pula.“Tetapi mereka membunuh pula kawan-kawan kami“ hampir
setiap orang di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi itu menggerutu di
dalam hati. Sehingga dengan demikian, maka ada pula di antara mereka
yang tidak dapat mengendalikan dir inya, dan ada juga
prajurit-prajurit Surakarta yang menjadi korban. Ketika seorang
laskar Pangeran Mangkubumi berhasil menghentikan seorang prajurit
yang melarikan diri dan terluka di bahunya, maka laskar itupun
berkata “Kau akan lari kemana?“ Prajurit Surakarta itu tidak
menjawab, la sadar bahwa lukanya cukup parah, sehingga jika ia harus
bertempur, maka ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Tetapi
karena ia berada di medan perang, maka ia tidak dapat berbuat apapun
juga. “Kemana?“ laskar itu membentak. Tetapi prajurit itu masih
tetap diam. Meskipun demikian, prajurit yang terluka itu masih tetap
menggenggam senjata di tangannya, “Apakah kau ingin mat i?” bertanya
laskar itu. Prajurit itu memandangnya dengan tegang. Namun kemudian
jawabnya “Kematian bagi seorang prajurit di medan adalah wajar.
Tetapi aku masih menggenggampadang“ Terasa sepercik api memanasi
telinga laskar itu. Tetapi setiap kali pula ia tertahan oleh pesan
pemimpinnya. Bahkan kemudian di hati laskar Pangeran Mangkubumi itu
tumbuh semacam keinginan untuk menunjukkan harga dir inya sebagai
seorang yang berada di dalam lingkungan yang disebut pemberontak.
Karena itu maka iapun kemudian berkata sambil tertawa “Jangan lekas
berputus asa. Memang bagi seorang prajur it kematian adalah wajar.
Tetapi sekarang aku inginmenunjukkan bahwa kau berada dalam keadaan
yang tidak wajar, karena kau tidak akan mati. Pergilah. Dan
sampaikan kepada kawan-kawanmu di Surakarta, bahwa laskar Pangeran
Mangkubumi bukan pembunuh yang tidak berperi- kemanusiaan Jika kau
berbicara tentang sifat kesatria, maka aku tidak akan membunuhmu
karena kau sudah terluka parah dan tidak mampu lagi melawan dengan
baik. Jika kau berbicara tentang warna kulit kita yang serupa, maka
kita adalah saudara di dalam keluarga besar. Musuhku yang terutama
adalah kumpeni-kumpeni itu, yang sebentar lagi akan mati di medan
ini. Tetapi jika kau ingin berbicara tentang keluhuran budi,
demikianlah agaknya Pangeran Mangkubumi yang berpesan mewanti-wanti,
bahwa kami tidak diperkenankan membunuh prajurit-prajurit Surakarta
jika bukan karena terpaksa harus mempertahankan hidup sendir i”
laskar Pangeran Mangkubumi itu berhenti sejenak, lalu “sekarang
pergilah. Sampaikan salamku kepada prajurit- prajurit Surakarta yang
lain. Mereka bukan musuh kami dalam arti yang sebenarnya” Prajurit
itu termangu-mangu sejenak. Terasa sebuah sentuhan yang pedih
tergores di dinding jantungnya Namun kemudian harga dir inyapun
melonjak pula. Katanya “Jangan menjadi pengecut. Apakah kau melihat
bahwa meskipun aku terluka, aku masih cukup kuat untuk membunuhmu”
Laskar Pangeran Mangkubumi itu terkejut mendengar jawaban itu.
Tetapi iapun kemudian menyadari bahwa prajurit itu tidak mau
dihinakan. Maka katanya “Jangan merajuk. Pergilah sebelum kau
menyesal” Laskar Pangeran Mangkubumi itu tidak menungguinya lebih
lama lagi. Iapun segera meninggalkan prajurit Surakarta yang terluka
itu untuk segera terjun kembali ke dalam pertempuran yang riuh,
tetapi yang sudah tidak lagi merupakan benturan yang dahsyat dari
dua kekuatan yang seimbang, karenasebagian besar prajurit Surakarta
telah benar-benar tercerai berai. Sejenak prajurit Surakarta itu
termangu-mangu. Ia t idak menyangka akan mengalami perlakuan yang
demikian. Menurut pendengarannya, Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas
Said telah menghimpun kekuatan dengan mengumpulkan para penjahat
besar dan kecil. Orang kasar dan bodoh. Anak- anak muda yang tidak
mempunyai hari depan sama sekali, sehingga dengan mudah dapat
dihasut untuk melakukan kekerasan dan bahkan kejahatan sekalipun.
Tetapi yang dijumpainya ternyata memberikan kesan yang berbeda
sekali. Dalam keragu-raguan prajurit itu sempat melihat arena yang
kacau. Tetapi iapun melihat yang sebenarnya telah terjadi, prajurit
Surakarta telah tercerai berai sama sekali. Karena itu, tidak ada
gunanya ia berbuat apapun juga selain meninggalkan medan dan kembali
ke Surakarta. Dan prajurit itupun kemudian melangkah pergi dengan
tergesa- gesa sambil menahan sakit pada lukanya. “Mudah-mudahan aku
dapat mencapai Surakarta dengan keadaan seperti ini” Dalam pada itu
pertempuran di ujung hutan itu sudah tidak terlalu riuh.
Prajurit-prajurit Surakarta sudah tidak bertahan lebih lama lagi.
Dan agaknya laskar Pangeran Mangkubumipun membiarkan mereka lar i
meninggalkan gelanggang. Beberapa orang saja di antara laskar
Pangeran Mangkubumi itu yang mengejar mereka sambil
berteriak-teriak. Meskipun demikian mereka tidak bermaksud
benar-benar memburu dan kemudian membunuh. Yang mereka lakukan
adalah sekedar member ikan tekanan atas kekalahan pasukan Surakarta
itu. Tetapi laskar Pangeran Mangkubumi itu sama sekali t idak member
i kesempatan kepada kumpeni yang ada di medan itu untuk lari.
Sepeninggal prajur it-prajurit Surakarta, makaperhatian mereka
benar-benar hanya tertuju kepada kumpeni yang masih ada di medan.
Pada saat laskar Pangeran Mangkubumi yang lain menyadari bahwa
kumpeni itu masih ada di antara mereka, karena mereka sama sekali
tidak memberinya kesempatan untuk meninggalkan medan, maka kumpeni
itu dengan cemas sedang berjuang untuk mempertahankan hidupnya.
Tetapi malang bagi yang seorang di antara mereka. Betapapun kumpeni
itu cakap mempergunakan pedangnya, tetapi menghadapi lawan yang
tidak menentu, iapun akhirnya menjadi bingung. Seakan-akan ia
mendapat serangan dari segala arah oleh laskah berkuda yang
berputaran. Dengan bahasa yang kasar kumpeni itu mengumpat-umpat
ketika ia melihat prajurit-prajurit Surakarta meninggalkan medan.
Sedang ia sendiri, bagaikan terperosok ke dalam sebuah lingkaran
yang tidak tertembus. Namun ternyata bahwa kumpeni itu benar-benar
seorang prajurit. Ia pernah mengarungi samodra yang hampir tidak
berbatas. Pengembaraannnya selama itu telah membentuknya menjadi
seorang prajurit berhati baja. Itulah sebabnya maka ia sama sekali
tidak menjadi gentar meskipun maut telah membayang. Ia melihat
seolah-olah di dalam gelapnya malam, sorot mata laskar Pangeran
Mangkubumi bagaikan api yang memancarkan kebencian dan dendam.
Tetapi kumpeni itu tidak mau mati dibantai seperti seekor lembu.
Seperti kepercayaan yang telah berakar di dalam liatinya, seorang
prajurit harus mati dengan pedang di tangan. Dan sebenarnyalah
demikian yang terjadi. Akhirnya kumpeni itu tidak dapat bertahan
melawan luapan kemarahan, kebencian dan dendam laskar Pangeran
Mangkubumi, sehingga sejenak kemudian maka terdengar kumpeni itu
mengaduh tertahan. Ia masih sempat meneriakkan kata-katayang tidak
dimengerti oleh laskar Pangeran Mangkubumi. Namun kemudian iapun
mulai kehilangan keseimbangan. Ketika sebilah ujung pedang menyambar
pundaknya, maka iapun tidak lagi dapat bertahan, berpegangan pada
kendali kudanya. Sesaat kumpeni itu masih berusaha mengangkat
pedangnya. Namun tangannya sudah terlampau lemah, sehingga yang
dapat dilakukannya adalah menggenggam pedang itu erat-erat. Ketika
kudanya melonjak oleh kejutan sentuhan senjata seorang laskar
Pangeran Mangkubumi, maka kumpeni itu sudah tidak mampu bertahan
lagi, dan iapun terlempar dari punggung kudanya jatuh ke atas bumi.
Bumi yang hendak dirampasnya dari tangan putra-putranya yang setia.
Akhirnya kumpeni itu harus menebus keserakahannya dengan nyawanya.
Di tempat yang lain, Buntal masih bertempur dengan gigihnya.
Beberapa orang kawannya yang melihat pertempuran itu, segera
melingkarinya. Mereka seakan-akan ingin melihat, apakah Buntal mampu
mengalahkan kumpeni itu. Dengan demikian, mereka membiarkan Buntal
bertempur seorang melawan seorang di atas punggung kuda
masing-masing. Sebenarnyalah bahwa Buntal memang tidak ingin
diganggu oleh kawan-kawannya. Ia benar-benar ingin mengukur
kemampuannya dengan kumpeni itu. Kemampuan bermainpedang, dan
kemampuan bermain-main dengan kuda. Meskipun kuda kumpeni itu agak
lebih tegar dari kudanya, namun ternyata bahwa kuda Buntalpun cukup
lincah pula. Dalam pada itu, di tempat lain, Arum masih bertempur
dengan gigihnya melawan seorang dari kumpeni-kumpeni itu. Dalam
keadaan berikutnya, ternyata Arum menjadi berbesar hati. Meskipun
kumpeni itu bertubuh tinggi tegap, namun kecepatan geraknya dapat
dilampauinya. Arum merasa bahwa dengan ilmunya ia akan dapat
menembus pertahanan lawannya yang nampaknya masih cukup rapat.
Setiap kali Arum berkata kepada diri sendiri “Benar juga. Kaki orang
asing itu seperti diberati timah” Dan Arum dapat berloncatan semakin
cepat seperti kijang di padang rerumputan. Tetapi ternyata bahwa
Arum tidak dapat seger menembus pertahanan lawannya seperti yang
diharapkan. Meskipun kumpeni itu nampaknya hanya bergeser setapak
dua tapak, namun ia seakan-akan dapat menghadap kesegala arah
darimanapun ia menyerang. “Gila“ desis Arum “Ia hanya berputar-putar
saja di tempatnya” Tetapi Arum tidak menjadi bingung. Bahkan
serangannya semakin lama menjadi semakin cepat dan seolah-olah telah
mengurung kumpeni itu di dalam lingkaran pedang. Meskipun demikian
kumpeni itu masih tetap pada sikapnya. Sekali-sekali kumpeni itu
bergeser selangkah maju, kemudian surut dan berputar pada sebelah
kakinya. Dalam pada itu, prajurit Surakarta telah tercerai berai ke
segala arah di antara mereka ada pula yang berlari menyusur parit
dan ketika tiba-tiba saja prajurit itu muncul di tikungan,
dilihatnya di balik gerumbul dua orang yang sedang bertempur dengan
sengitnya.Akhirnya prajurit itupun mengenal bahwa yang berkelahi itu
adalah seorang kumpeni melawan orang yang tidak dikenalnya. “Tentu
salah seorang pemberontak telah mengejar kumpeni itu“ berpikir
prajurit itu. Karena itu, selagi tidak ada orang lain, maka iapun
berkata di dalam hatinya “Aku harus menyelamatkan kumpeni itu
sebelum orang-orang yang liar itu mengejar kami” Dengan demikian
maka perlahan- lahan prajurit itupun mencoba untuk merunduk dengan
senjata di tangan. Baru beberapa langkah di sebelah perkelahian itu
ia meloncat sambil berkata “Tahankan tuan. Aku akan membantu tuan”
Kumpeni itu sempat berpaling. Dilihatnya seorang prajurit Surakarta
telah berdiri di belakangnya. “Bunuh saja perempuan ini” desis
kumpeni itu. “Perempuan kata tuan” “Ya. Perempuan” Prajurit
Surakarta itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian segera
maju mendekati Arum dengan pedang terjulur. Arum menjadi
berdebar-debar. la tidak segera dapat mengalahkan kumpeni yang
bertempur dengan ilmunya yang lain dengan kebiasaan orang-orang
Surakarta. Tetapi dengan ilmu itu kumpeni itupun tidak dapat berbuat
banyak melawan Arumyang lincah selain mempertahankan diri. Tetapi
tiba-tiba Arum kini dihadapkan kepada dua orang lawan sekaligus.
Namun bagaimanapun juga, Arumsudah sengaja datang ke medan
peperangan. Itulah sebabnya maka Arumpun telah membulatkan tekadnya
menghadap segala akibat.Karena itu, maka iapun segera mempersiapkan
diri untuk melawan kedua orang itu. Sejenak kemudian perkelahian
itupun telah berkembang. Arum memusatkan perhatiannya kepada
prajurit Surakarta yang bertempur dengan cara yang lain dari kumpeni
itu. Prajurit Surakarta itu bertempur dengan memanfaatkan segenap
tubuhnya seperti Arum sendiri. Ia tidak sekedar bergeser selangkah
maju kemudian surut. Tetapi prajur it itupun berloncatan dengan
cepat dan cekatan. Tetapi dengan kehadiran prajur it itu, ternyata
bahwa kumpeni yang semula hanya bertahan saja mulai bergerak lebih
banyak. Meskipun ia tidak dapat bertempur seperti Arum dan prajurit
Surakarta itu, namun dengan caranya sendir i ia telah menyerang Arum
pula. Terasa kemudian oleh Arum, bahwa melawan dua orang yang
memiliki ilmu yang berbeda itu agak sulit pula. Kumpeni yang
gerakannya sebagian besar adalah gerakan yang datar, seperti sekedar
maju dan mundur itu dibarengi dengan serangan-serangan yang lincah
dari prajurit Surakarta, merupakan perlawanan yang sangat berat.
Namun Arum tidak menjadi berputus-asa. Ia bertempur terus dengan
sekuat tenaganya. Tetapi bahwa kemudian yang melihat perkelahian itu
tidak hanya seorang prajurit saja, membuat Arum menjadi berdebat.
Sejenak kemudian telah datang pula seorang prajurit yang berlari-
lari. Tetapi prajur it itupun berhenti pula setelah ia melihat
seorang kawannya dan seorang kumpeni bertempur melawan seorang yang
tidak dikenal. Seperti kawannya dan kumpeni itu, prajurit yang
datang kemudian itupun menganggap bahwa orang itu tentu salah
seorang dari laskar Pangeran Mangkubumi. Karena itulah, maka iapun
segera melibatkan diri pula di dalam pertempuran itu.Arum yang
mendapat lawan lagi, akhirnya merasa bahwa ia tentu akan mendapat
kesulitan. Ia merasa bahwa terlampau berat, baginya untuk mengatasi
ketiga lawannya itu sekaligus. Meskipun demikian, ia sudah dengan
sengaja berada di medan. Dan akibat yang manapun juga akan diterima
dengan dada tengadah. Tetapi selagi pertempuran itu menjadi semakin
berat sebelah terdengarlah derap kaki kuda mendekat Ternyata
kemudian nampak seorang penunggang kuda di dalam keremangan malam.
Sejenak penunggang kuda itu termangu- mangu. Namun iapun kemudian
dapat menilai keadaan. Seorang yang tidak dikenal sedang bertempur
melawan seorang kumpeni dan dua orang prajur it. Karena itu, maka
penunggang kuda itupun segera meloncat turun. Dengan hati-hati ia
mendekati arena perkelahian itu dengan heran. Ia justru tidak
mengenal orang yang sedang bertempur melawan kumpeni dan dua orang
prajur it itu. Namun demikian, karena kebenciannya kepada kumpeni
telah mencengkam jantungnya, dan ia telah kehilangan buruannya di
gerumbul-gerumbul perdu, maka orang itupun segera mendekat sambil
berkata kepada Arum “Aku tidak mengenalmu, tetapi karena kau
bertempur melawan kumpeni, biarlah aku membantumu” “Lawanlah yang
bukan kumpeni” berkata Arum Orang itu terkejut. Desisnya “Kau
seorang perempuan?” Tetapi Arumtidak menjawab. Sejenak orang itu
termangu-mangu. Namun ia tidak dapat menunggu lebih lama lagi,
karena ketiga orang lawan perempuan itu agaknya bertempur semakin
sengit Karena itu, maka iapun segera menerjunkan dir i di dalam
perkelahian itu. Ia tidak tahu siapakah perempuan yangmampu bertahan
melawan tiga orang meskipun nampaknya ia sudah sangat terdesak.
Kehadiran orang itu telah memperingan tugas Arum. Tetapi agaknya
orang yang baru datang itu tidak lebih baik dari seorang prajurit
Surakarta, sehingga karena itu maka Arum masih harus melawan dua
orang sekaligus. Tetapi perkelahian yang demikian itu tidak ber
langsung lebih lama lagi. di arena di ujung hutan, pertempuran telah
hampir selesai seluruhnya. Bahkan laskar Pangeran Mangkubumi itupun
kemudian melihat lawan Buntal terlempar dari kudanya dan tidak akan
dapat bangun lagi untuk selama- lamanya. Dadanya telah dikoyak oleh
senjata Buntal sehingga darah telah memencar dengan derasnya. Sesaat
mereka menjadi termangu-mangu. Namun kemudian merekapun berpencaran
pula sambil menggertak prajurit-prajurit Surakarta yang
berlari-larian karena kehilangan kuda mereka. Namun seperti yang
dipesankan oleh pemimpinnya, mereka tidak berusaha membunuh lawan
sebanyak-banyaknya. Dalam pada itu beberapa orang laskar Pangeran
Mangkubumi yang juga berpencaran itu sudah mulai berkumpul kembali
di ujung hutan. Namun tiba-tiba seseorang datang berkuda dengan
tergesa-gesa dan memberikan laporan kepada pemimpinnya “Seorang
perempuan sedang bertempur melawan kumpeni yang lari dari
gelanggang. Beberapa orang kumpeni terbunuh di arena. Sedang yang
seorang, yang melarikan diri, kini sedang berkelahi dengan seorang
perempuan yang t idak kita kenal itu” Buntal yang mendengar laporan
itu terkejut bukan buatan. Ia segera menduga, bahwa perempuan itu
tentu Arum. Karena itu, maka tanpa menunggu per intah, iapun
bertanya “Dimana?“ “Di tikungan, di tepi parit itu”Buntal segera
memacu kudanya. Beberapa saat kemudian iapun telah melihat beberapa
orang kawannya sedang melingkari sebuah arena pertempuran. Buntalpun
kemudian berhenti di antara kawan-kawannya. Sambil menarik nafas
dalam-dalam ia melihat Arum bertempur melawan seorang kumpeni.
“Bagaimana mungkin hal ini terjadi?“ bertanya Buntal kepada
kawannya. “Semula perempuan itu bertempur melawan tiga orang” “He?“
Buntal terkejut. “Ketika kami datang, seorang kawan kami telah
mengambil seorang lawannya, sehingga ia tinggal berkelahi melawan
seorang kumpeni dan seorang prajur it. Tetapi prajurit-prajur it
Surakarta itu keduanya sudah kami tangkap, sedang kumpeni itu kita
usahakan agar tidak dapat meninggalkan gelanggang” “Maksudmu, kalian
membiarkan kumpeni itu bertempur seorang melawan seorang dengan
perempuan itu?“ “Ya” “Gila. Apakah kalian menyangka bahwa kalian
sedang menyabung ayam?“ “Bukan kami yang menyabung mereka. Ketika
seorang kawan kami datang, mereka sudah bertempur. Bahkan perempuan
itu berkelahi melawan tiga orang. Dua orang prajurit dan seorang
kumpeni” “Seharusnya kalian mengambil alih lawan-lawan itu.
Seluruhnya “ “Perempuan itu tidak mau melepaskan kumpeni itu” Buntal
menggeram. Bukan saja karena ia melihat Arum berada di daerah
pertempuran itu, tetapi juga karena kawan-kawannya yang melihat
perkelahian itu seperti melihat sabung ayam. Dalam pada itu, Arum
sendiri tidak sempat memperhatikan, siapa saja yang ada di sekitar
arena. Dendamnya kepada kumpeni telah menutup segenap
pertimbangannya. Rasa- rasanya ia ingin melumatkan kumpeni itu
dengan tangannya. “Belum tentu aku akan mendapat kesempatan serupa
ini setahun dua tahun lagi” berkata Arum di dalam hatinya. Tetapi
agaknya Buntal tidak dapat membiarkan hal serupa itu berlangsung
lebih lama lagi. Karena itu, tanpa menunggu perintah pemimpinnya, ia
meloncat turun dari kudanya dan menyerahkan kendalinya kepada
kawannya. “Pegang kudaku” “Kau mau apa?“ Buntal tidak menjawab.
Tetapi iapun kemudian berjalan mendekati arena. “Tidak seorangpun
boleh mendekat“ seorang kawannya yang lain menegurnya. Tetapi Buntal
t idak berhenti. Beberapa langkah dari arena Buntal berkata “Arum,
Kenapa kau lakukan hal ini?“ Arum terkejut mendengar suara Buntal.
Tetapi ia t idak dapat segera menanggapinya karena ia harus
menghadapi serangan kumpeni itu. “Arum” berkata Buntal kemudian
“tinggalkan lawanmu. Biarlah aku menyelesaikan” “Huh“ tiba-tiba Arum
berdesis “Aku sudah melukainya. Sebentar lagi ia akan mat i di
tanganku. Jangan ikut campur” “Arum, apakah kau t idak mau
mendengarkan aku?“ “Tinggalkan aku sendir i. Bawalah prajurit-prajur
it Surakarta itu. Tetapi jangan yang seorang ini”Buntal menarik
nafas dalam-dalam. Ia memang melihat bahwa kumpeni itu sudah menjadi
semakin lemah. Dipundaknya tergores luka yang meskipun tidak begitu
dalam, tetapi semakin banyak darah yang mengalir, maka kumpeni itu
menjadi semakin lemah. “Arum“ Buntal masih mencoba mencegah “daerah
ini adalah daerah pertempuran” Arum masih bertempur terus. Bahkan ia
menjadi semakin garang. Ia sama sekali tidak menghiraukan beberapa
pasang mata yang memperhatikannya dengan berbagai macam tanggapan.
“Arum” sekali lagi Buntal memanggil. “Buntal“ seorang kawannya yang
menyaksikan perkelahian itu berkata “Kenapa kau menjadi ribut
seperti cacing tersentuh api. Kita memang sedang menyaksikan
perkelahian yang aneh. Ternyata bahwa di Surakarta ada juga seorang
perempuan yang mampu bertempur melawan kumpeni. Lihat, kumpeni itu
hampir mati” Buntal tidak menghiraukannya. Ia mendesak maju semakin
dekat. “Hentikan Arum“ Buntal masih mencegah. Tetapi seorang
kawannya mendekatinya sambil menar ik bahunya “Biarkan saja. Aku
ingin melihat kumpeni itu jatuh tersungkur. Jangan cemaskan nasib
perempuan itu. Ia tentu akan menang” “Tetapi aku tidak dapat
membiarkannya menjadi tontonan seperti ini” “Siapakah perempuan itu?
Isterimu?“ pertanyaan itu membuat wajah Buntal menjadi merah. Tetapi
iapun kemudian menjawab “Ia adalah adikku” “Adikmu?“ bertanya
beberapa orang bersama-sama.“Ya. Dan aku berhak melarangnya”
Beberapa orang saling berpandangan. Kemudian salah seorang dari
mereka berdesis “Mengagumkan. Jika demikian maka anak itu hidup
dalam keluarga yang dibayangi oleh kemampuan olah kanuragan. Betapa
tinggi kemampuan orang tua mereka” “Belum tentu” sahut yang lain
“mungkin orang tua mereka hanya menyerahkan keduanya pada seorang
guru” Yang lain tidak menyahut lagi. Kini mereka memperhatikan apa
yang akan dilakukan oleh Buntal. “Arum” berkata Buntal “Apakah kau
benar-benar tidak mau berhenti?“ “Nyawanya sudah ada di ujung
pedangku. Jika sekali lagi aku mengibaskannya, maka nyawanya akan
terlempar“ “Serahkan kepadaku” “Tidak” Arum hampir berteriak “Aku
akan melakukannya sendiri” “Dan menjadi tontonan seperti sabungan
ayam?“ Kata-kata Buntal yang terakhir membuat Arum meloncat surut.
Ia sempat memperhatikan beberapa orang yang berdiri melingkarinya.
Dalam pada itu, kumpeni yang terluka itu sudah berputus asa. Ia
tidak melihat jalan keluar dari maut di sekitarnya berdiri beberapa
orang laskar pemberontak yang memang sedang mencar inya. Namun
justru karena itu, maka kumpeni itu telah kehilangan akal. Ia tidak
lagi dapat berpikir, selain jika ia harus mati, maka ia harus tetap
menggenggam senjata di tangan. Dan apabila mungkin, maka ia harus
membawa lawannya serta.Karena itu, selagi Arum sedang termangu-mangu
memperhatikan beberapa orang yang mengitarinya, maka kumpeni itupun
meloncat menyerang dengan sisa-sisa tenaga yang ada padanya. Tetapi
ternyata bahwa Arum masih tetap berwaspada. Ketika serangan yang
dilontarkan dengan sisa tenaga itu terjulur ke dadanya, maka Arumpun
sempat meloncat ke samping. Kemudian dengan sekuat tenaganya, Arum
telah memukul pedang kumpeni itu sehingga pedang itu terlepas dari
tangannya yang memang sudah menjadi semakin lemah. Kumpeni itu
terkejut. Tetapi ia sudab tidak sempat berbuat apa-apa. Ketika ia
berusaha untuk mengambil senjatanya, maka Arum telah meloncat maju
dan melekatkan pedangnya di dada lawannya. “Kau harus mati” teriak
Arum. Kumpeni itu menjadi gemetar. Ia ingin dapat menggenggam
senjatanya kembali meskipun ia harus mati. Tetapi ia tidak dapat
berbuat apa-apa. Ujung senjata lawannya telah menyentuh kulitnya.
Namun dalam pada itu, Buntal yang gelisah masih berdiri di tepi
arena. Dengan lantang ia masih mencoba menahan pedang Arum “Tunggu
Arum. Ada sesuatu yang akan aku katakan” “Aku akan membunuhnya”
berkata Arum.Buntal termangu-mangu. Tetapi ia merasa bahwa ia tidak
dapat berbuat apa-apa. Arum tentu tidak akan menghiraukannya lagi.
Apa lagi karena ujung pedangnya memang sudah melekat di dada kumpeni
yang sangat dibencinya itu. Namun beberapa saat lamanya Arum masih
berdiri mematung Terasa sesuatu bergejolak di dadanya. Kebenciannya,
memang telah mendorongnya untuk menghunjamkan pedangnya di tubuh
lawannya. Namun demikian ada sesuatu yang rasa-rasanya telah
memberatinya. “Membunuh di peperangan bukannya suatu dosa“ Ia
mencoba menguatkan hatinya agar tangannya dapat digerakkannya,
menusukkan pedangnya. Sekilas ia melihat lawannya yang tinggi besar
dan berkulit putih itu berdir i tegak dengan tegangnya. Namun
tiba-tiba terdengar suara yang seolah-olah menjawab kata-kata di
hatinya itu “Jangan kau bunuh orang itu” Semua orang yang mendengar
suara itu berpaling. Arumpun berpaling juga sekilas. Dilihatnya
seseorang yang berjanggut putih berdiri di pinggir arena di sebelah
Buntal. “Jangan kau bunuh orang itu“ Orang berjanggut putih itu
mengulangi. “Itu adalah urusanku” jawab Arum “Aku telah berperang
tanding dengan kumpeni ini. Penyelesaiannya terserah kepadaku” Orang
berjanggut putih itu termangu-mangu sejenak. Yang terdengar kemudian
adalah suara Buntal “Arum. Dengarlah perintahnya” “Tidak ada orang
yang memerintah aku” “Tetapi ia adalah pemimpin laskar Pangeran
Mangkubumi di daerah pertempuran ini”“Aku bukan anak buahnya”
“Karena ia diangkat oleh Pangeran Mangkubumi, maka perintahnya sama
nilainya dengan perintah Pangeran Mangkubumi sendiri di peperangan
ini” Mendengar kata-kata Buntal itu Arum menjadi termangu- mangu
sejenak. Kemudian hampir di luar sadarnya ia melangkah surut
sehingga ujung pedangnya tidak lagi melekat di tubuh orang yang
tinggi besar dan berkulit putih itu. “Dengarlah” berkata orang
berjanggut putih. “Namanya Arum” potong Buntal. “Dengarlah Arum“
pemimpin itu melanjutkan “Aku tidak akan mencampur i persoalanmu.
Kau memang sudah melakukan perang tanding di luar lingkungan
pasukanku. Jika kau berkeras untuk memenuhi keinginan perasaanmu
saja, aku tidak dapat mencegahmu” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi
sifat seorang kesatria di Surakarta harus kau ketahui. Apabila lawan
telah menguncupkan tangannya dan tidak mampu lagi berbuat apapun
juga, maka seorang yang bersifat kesatria tidak akan membunuhnya”
“Ambil pedangmu” t iba-tiba Arum berteriak kepada kumpeni yang sudah
kehabisan tenaga itu. “Tidak ada gunanya” sahut pemimpin laskar
Pangeran Mangkubumi itu “kumpeni itu sudah terlampau lemah. Ia tidak
akan dapat melawan lagi” “Jadi bagaimana? ia tetap melawan. Ia tidak
mau menyerah. Karena itu aku berhak membunuhnya” “Ya. Tetapi seperti
yang aku katakan, ia sudah t idak berdaya lagi” pemimpin itu
berhenti sejenak. Dipandanginya Arumyang berdiri termangu-mangu.
“Arum” Orang itu melanjutkan “aku ingin mengusulkan kepadamu agar
kau bersikap seperti seorang kesatria. Akukagum bahwa kau
benar-benar seorang perempuan yang luar biasa. Tetapi aku juga kagum
bahwa kau sebenarnya adalah seorang yang bersifat kesatria. Ternyata
kau tidak langsung menusuk jantung orang itu. Kau menjadi ragu-ragu
ketika ujung pedangmu sudah melekat di dadanya. Sifat itulah yang
harus kau kembangkan di dalam diri sebagai kesatria di Surakarta.
Dan kami akan berbangga karenanya“ “Jadi apa yang harus aku lakukan”
“Biarkan orang itu pergi meninggalkan gelanggang” “Apakah kumpeni
itu akan dibiarkan hidup?“ “Ya” Arum memandang pemimpin laskar
Pangeran Mangkubumi itu dengan heran. Bahkan sebenarnya bukan saja
Arum, tetapi setiap orang yang mendengar keputusan itu menjadi
heran. Jika kumpeni itu berada di arena pertempuran di ujung hutan
itu, meskipun ia berada dalam keadaan yang sama, apakah ia akan
dapat diselamatkan? Tetapi kemudian masih terdengar pemimpin itu
berkata “Nah, apa katamu Arum” “Tetapi ia adalah kumpeni” jawab Arum
“Ia datang dari suatu kerajaan yang jauh dan ingin menguasai
kerajaan Surakarta. Apakah kita akan membiarkannya hidup?“ “Dalam
keadaan seperti itu aku ingin membiarkannya hidup. Akupun yakin,
jika disini ada Pangeran Mangkubumi, maka Pangeran itupun akan
membiarkannya hidup” Arum termangu-mangu sejenak. Kemudian
dipandanginya Buntal seakan-akan ia ingin mendapat pertimbangan
daripadanya. Tetapi Buntalpun menjadi bingung menanggapi keputusan
itu. Jika ia mencegah Arum, maka ia hanya ingin menyingkirkan Arum
dari arena, yang seakan-akan sepertiayam sabungan yang dikerumuni
oleh penontonnya digelanggang sabungan. “Nah. jika kau sependapat,
sarungkan pedangmu, Kita akan membiarkan kumpeni itu pergi“ Arum
menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi karena orang itu telah
menyebut sikap Pangeran Mangkubumi jika ia berada di tempat itu.
maka Arumpun menjadi bimbang. Apalagi agaknya Buntal sama sekali
tidak dapat membantunya member ikan pendapatnya. Dengan hati yang
berat Arumpun kemudian melangkah surut. Perlahan-lahan iapun
menyarungkan pedangnya sambil berkata “Jika memang demikian yang
dikehendaki oleh Pangeran Mangkubumi, maka akupun akan mentaatinya”
Pemimpin yang berjanggut putih itu menarik nafas dalam- dalam.
Kekaguman di hatinya kian bertambah. Ternyata gadis itu memiliki
rasa pengabdian pula kepada Pangeran Mangkubumi meskipun gadis itu
tidak mempunyai hubungan apapun pada bentuk lahir iahnya. “Terima
kasih Arum” berkata orang berjanggut putih itu kemudian “ternyata
bahwa sikapmu yang terakhir itu menunjukkan bahwa meskipun kau
berbuat atas namamu sendiri, tetapi kau merasa dirimu satu dengan
perjuangan Pangeran Mangkubumi. Dan sekarang kau telah melepaskan
lawanmu yang tidak berdaya itu“ pemimpin itu terdiam sejenak, lalu
katanya kepada kumpeni itu “Pergilah” Kumpeni itu masih berdiri
mematung. Tubuhnya terasa menjadi semakin lemah. “Pergilah” sekali
lagi pemimpin laskar Pangeran Mangkubumi itu berkata “Kau kami
bebaskan. Kawan- kawanmu telah mat i terbunuh di peperangan” Kumpeni
itu memandang pemimpin berjanggut putih itu dengan heran.“Jangan
bingung. Pergilah” Kumpeni itu masih berdiri di tempatnya.
“Pergilah“ pemimpin berjanggut putih itu kemudian membentaknya
“selamatkan dir imu. Jika kau dapat mencapai perbatasan malam ini,
maka kau akan selamat dan hidup. Tetapi bahwa kami telah menunjukkan
sikap kesatria, kau sudah mengetahuinya” “Gila“ t iba-tiba kumpeni
itu mengumpat “Kalian akan menyesal karena kalian tidak membunuhku
sekarang. Besok atau lusa, akulah yang akan membunuhmu” Tetapi
pemimpin laskar Pangeran Mangkubumi itu tertawa. Katanya “Ternyata
kau juga seorang prajurit jantan, Aku memang sudah mendengar bahwa
meskipun kau datang dari kerajaan kerdil di benuamu, tetapi kalian
adalah prajurit- prajurit pilihan. Sayang bahwa di samping
kejantanan kalian secara pribadi, sikap kumpeni adalah sangat licik.
Mengadu domba, menghasut dan kadang-kadang menipu” “Itu adalah
akibat kebodohanmu sendir i“ kumpeni itu masih menjawab “dan bangsa
yang bodoh seperti kalian memang tidak lebih baik dari domba aduan”
“Aku juga kagum kepadamu” berkata orang berjanggut putih “Tidak
sia-sia kau datang dari benua yang jauh, dari arah matahari
terbenam. Tetapi sebaiknya kau pergi. Sampaikan salamku kepada
kawan-kawanmu j ika kau dapat bertahan sampai ke kota” Kumpeni itu
menggeram. Namun pemimpin pasukan Pangeran Mangkubumi itu tidak
menghiraukannya lagi. Katanya kepada anak buahnya “Kita tinggalkan
kumpeni ini. Buang senjatanya agar ia tidak mengganggu penduduk di
sepanjang perjalanannya kembali ke kota” Meskipun anak buahnya
menjadi ragu-ragu sejenak, namun akhirnya merekapun mulai bergerak
meninggalkan tempat itu.Tetapi Buntal mendekati pemimpinnya sambil
berdesis “Aku minta ij in untuk mengantarkan adikku kembali ke
padepokan. Sebelum fajar aku sudah berada di antara kawan-kawan
semuanya” Pemimpinnya mengerutkan keningnya. Katanya “Ia adalah
seorang perempuan yang mengagumkan. Apakah ia tidak berani pulang
sendir i?“ “Bukan tidak berani pulang sendiri” jawab Buntal, lalu
suaranya menjadi semakin perlahan “Tetapi ia akan berkeliaran dan
barangkali mencari kumpeni yang kita lepaskan itu“ Orang berjanggut
putih itu tersenyum. Katanya “Adikmu memang luar biasa. Baiklah.
Antarkan ia pulang dan serahkan kepada orang tuamu. Kemudian kau
segera menyusul kami. Kami akan melaporkan hasil tugas kami, bersama
dengan kelompok-kelompok di tempat-tempat lain” Buntal menar ik
nafas. Ternyata pemimpinnya dapat mengerti dan memberikan ij in
kepadanya untuk mengurus Arum lebih dahulu sebelum ia kembali kepada
kawan- kawannya. Namun pemimpinnya itu masih bertanya “Apakah tidak
sebaiknya kau membawa satu dua orang kawan? Dalam keadaan seperti
ini kau memer lukan kawan. Mungkin kau bertemu dengan peronda
kumpeni di perjalanan, atau prajurit- prajurit Surakarta. Mungkin
juga kau bertemu dengan laskar Raden Mas Said yang tidak saling
mengenal dan yang mungkin dapat terjadi salah paham” Buntal merenung
sejenak. Tetapi ia tidak dapat menolak. Memang hal yang serupa itu
dapat terjadi. “Baiklah” berkata Buntal kemudian “Aku akan membawa
seorang kawan”Pemimpin berjanggut putih itupun kemudian memanggil
dua orang kawan Buntal dan berkata “Bawalah keduanya bersamamu“
“Kemana?“ bertanya salah seorang dari mereka. “Ikutlah Buntal”
Keduanya tidak menjawab lagi. Ketika pemimpinnya kemudian
meninggalkan tempat itu, maka keduanyapun tinggal bersama Buntal.
Arum masih berdiri termangu-mangu. Ia sempat melihat kumpeni yang
sudah tidak bersenjata lagi itu tertatih-tatih meninggalkan arena
sambil mengumpat dengan bahasa yang tidak dimengerti. Namun menilik
nada dan tekanan kata- katanya, kumpeni itu merasa sangat terhina
dan marah tidak habis-habisnya. Namun demikian, iapun meninggalkan
arena itu dan hilang di dalam gelap. Arum mengerutkan keningnya
ketika ia melihat laskar Pangeran Mangkubumi itu kemudian
meninggalkan arena. Tetapi agaknya Buntal akan tetap tinggal
mengawaninya. Tetapi ternyata bersama Buntal masih ada dua orang
yang lain yang tidak segera pergi sehingga tiba-tiba saja Arum
mendekat mereka sambil bertanya “Kalian tidak pergi bersama kawan
kalian?“ “Arum” sahut Buntal “Aku akan mengantarkan kau kembali ke
padepokan” “Kenapa kau akan mengantar aku? Apa kau sangka aku tidak
berani pergi sendiri?“ “Bukan begitu, tetapi dalam keadaan serupa
ini, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di sepanjang jalan. Kau
tentu masih ingat orang-orang yang membawa kalung merjan itu.
Merekapun prajurit-prajurit sandi yang berkeliaran. Ada banyak
sekali prajurit-prajurit sandi seperti itu. Dan bahkan mungkin kita
akan bertemu dengan laskar Raden Mas. Jikakita saling mempercayai
tidak akan timbul sesuatu. Tetapi jika timbul salah paham, dan kita
saling berprasangka, maka akan dapat timbul persoalan. Kita
masing-masing tidak akan dapat membedakan, yang manakah laskar
Pangeran Mangkubumi, yang manakah laskar Raden Mas Said, dan yang
manakah prajurit-prajurit Surakarta dalam tugas sandi” Arum
mengerutkan keningnya. Namun katanya sambil memandang kedua kawan
Buntal “Kenapa mereka tinggal juga bersamamu?“ “Seperti yang aku
katakan. Kita tidak dapat berjalan seorang diri dalam keadaan ini”
“Kau takut?“ Buntal menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian
“Bukan takut Arum. Ada bedanya antara ketakutan dan berhati-hati”
Arum memandang kedua kawan Buntal berganti-ganti. Nampak kekecewaan
membersit di hatinya. Dalam tanggapan perasaan Buntal yang telah
terisi oleh sikap tertentu terhadap Arum, seakan-akan Arum menjadi
kecewa bahwa ada orang lain yang akan pergi bersama mereka berdua.
Tetapi Buntal yang menyadari keadaan, tidak membiarkan dirinya
hanyut dalam arus perasaannya saja. Karena itu. maka katanya
kemudian “Marilah Arum. Apakah kau hanya berjalan kaki saja?“ “Aku
membawa kuda. Aku sembunyikan kudaku di balik semak-semak itu”
“Marilah. Secepatnya aku harus kembali kepasukanku” “Kenapa tidak
sekarang saja?“ Buntal yang mengetahui sifat Arum hanya dapat
menarik nafas. Sedang kedua kawannya mempunyai tanggapan yang, aneh
terhadap adik Buntal itu. Tetapi bagi mereka sifat gadisitu memang
sangat menarik. Keduanya tidak pernah menjumpai gadis yang mempunyai
sifat dan sikap seperti Arum. Dan apalagi mampu bertempur melawan
tiga orang sekaligus meskipun ia terdesak dan bahkan membahayakan
jiwanya seandainya tidak ada orang lain yang melihatnya. Dalam pada
itu, maka Buntalpun berkata pula “Mar ilah Arum. Dimana kudamu.
Jangan mempersulit keadaanku” Buntal tidak menyahut. Sambil menuntun
kudanya yang telah diserahkan kepadanya ia berjalan mendekat sambil
berkata “Nah, kami akan mengambil kudamu lebih dahulu. Kemudian aku
akan mengantarkan kau sampai ke padepokan” Arum tidak menyahut.
Iapun kemudian melangkah meninggalkan tempatnya. di belakangnya
Buntal dan kedua kawannya berjalan menuntun kuda masing-masing.
Kedua kawan Buntal yang sempat melihat pakaian Arum di dalam
keremangan malam, melihat kelengkapan yang dibawa oleh gadis itu.
Selain pedang, ternyata diikat pinggangnya terselip pisau-pisau
belati. Dengan demikian, kedua kawan Buntal itu dapat menduga, bahwa
gadis itu benar-benar seorang gadis yang siap bertempur menghadapi
segala kemungkinan. Tetapi sayang, bahwa ia melakukannya sendiri,
tanpa ikatan dengan pasukan yang telah ada sehingga memang mungkin
sekali dapat timbul salah paham. Tetapi keduanya tidak berkata
apapun juga. Dalam waktu yang singkat keduanya dapat menangkap serba
sedikit sikap dan sifat gadis itu. Demikianlah maka merekapun
kemudian menyusup ke balik gerumbul untuk mengambil kuda Arum, yang
ditinggalkannya ketika ia merayap mendekati hutan. Tetapi Arum
terkejut bukan buatan ketika ia tidak melihat lagi kudanya di tempat
ia menambatkannya.“Di sini aku menambatkan kudaku“ Arumhampir
berteriak. “Apakah kuda itu lari dan terlepas?“ “Tentu tidak” jawab
Arum “Jika kuda itu melepaskan diri dengan paksa, maka tentu akan
nampak bekas-bekasnya. Ranting-ranting itu akan berpatahan, atau
daun-daunan akan rontok oleh sentuhan kendali yang aku tambatkan
dengan cukup kuat” “Jadi menurut dugaanmu, kudamu diambil orang“
“Ya“ dan tiba-tiba saja Arum menggeram “Tentu kumpeni itu. Ia
menyusup gerumbul-gerumbul liar dan menemukan kuda itu. Gila. Kenapa
aku tidak membunuhnya? “Ia tidak berjalan kearah ini. Ia menuju
kearah kota. Tentu kumpeni itu tidak akan sampai ke tempat ini”
“Siapa tahu ia mencari jalan melingkar karena ia masih tetap curiga.
Atau barangkali ia memang tersesat, dan tanpa sengaja menemukan
kudaku” Buntal mengerutkan keningnya, lalu katanya “Pakailah kudaku”
“Tidak mau” “Kenapa?“ “Aku tidak mau berkuda berdua” “Bukan begitu.
Maksudku, kau pakai kudaku. Aku akan berdua dengan salah seorang
kawanku” Arum mengerutkan keningnya. Sejenak ia merenung. Kemudian
iapun mengangguk kecil. Katanya “Baiklah” Kedua kawan Buntal tidak
dapat menahan senyumnya. Gadis ini agak manja juga. Tetapi ternyata
ia tidak sekedar bermanja-manja. Justru gadis itu memiliki kemampuan
yang melampaui kebanyakan gadis-gadis sebayanya. Bahkan tidak banyak
anak muda yang mampu berbuat seperti gadis itu.Namun dalam pada itu,
selagi Buntal akan menyerahkan kudanya kepada Arum, terdengar
gemerisik dedaunan di belakang mereka, sehingga dengan gerak nalur
iah, maka mereka yang ada di tempat itupun segera mempersiapkan
diri. Serentak mereka bersikap, menghadap kearah dedaunan yang mulai
menyibak, dan sebuah bayangan nampak tersembul dari balik
gerumbul-gerumbul yang rimbun itu. Semakin lama semakin jelas bagi
mereka yang berdiri dengan tegang menantikannya. Dan hampir di luar
sadar pula, tangan-tangan merekapun telah melekat dihulu senjata
masing- masing. Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara tertawa
perlahan-lahan. Dan disela-sela suara tertawa itu terdengar orang
yang baru saja tersembul dari gerumbul itu berkata "Apakah kau
mencari seekor kuda yang tertambat di sini” “Ayah“ Arum hampar
berteriak “Tentu ayah yang sedang mempermainkan aku” Ternyata orang
yang baru datang itu adalah Kiai Danatirta. Buntalpun kemudian
menarik nafas dalam-dalam sambil berkata “Ayah mengejutkan kami”
Kiai Danatirta masih tertawa. Katanya “Ya. Akulah yang
menyembunyikan kudamu”“Ayah selalu mengganggu aku” desis Arum.
“Tidak. Tetapi aku benar-benar menyembunyikan kuda itu. Prajurit
Surakarta yang berlari bercerai-berai itu ternyata ada yang sampai
ke tempat ini pula. Jika aku tidak menyembunyikan kudamu, maka
kudamu itu tentu sudah hilang pula” Arum termangu-mangu sejenak.
Lalu tiba-tiba saja ia bertanya “Tetapi kenapa ayah tiba-tiba saja
sudah ada di sini?“ “Kenapa kau berada di sini pula?” Justru ayahnya
ganti bertanya. Arum tidak menyahut, tetapi kepalanya sajalah yang
tertunduk dalam-dalam. Tanpa disadarinya tangannya telah
mempermainkan hulu kedua pisau belati yang tidak dipergunakannya.
“Arum telah melakukan sesuatu yang sangat berbahaya ayah” berkata
Buntal. “Tumbak cucukan” desis Arum “Kenapa kau melaporkannya kepada
ayah seperti kanak-kanak saja “ Buntal justru tertawa. Katanya “Jadi
maksudmu agat ayah tidak mengetahui bahwa kau telah melakukan itu?
Baiklah. Aku tidak akan mengatakan kepada ayah bahwa kau telah
mencegat kumpeni itu dan kemudian bertempur melawan dua bahkan tiga
orang sekaligus” “Tidak“ Arum hampir berteriak “kumpeni itulah yang
merunduk aku dan kemudian menyerang. Dan aku tidak berkelahi melawan
tiga orang. Kawan kakang Buntallah yang kemudian berkelahi itu”
“Jadi kau tidak?“ bertanya Buntal. “Tidak” “Apakah aku dapat
bertanya kedua kawanku ini”“Tentu mereka akan memihakmu” Sebelum
Buntal menjawab, ayahnyalah yang mendahuluinya “Aku melihat
semuanya. Aku melihat Arum melonjak- lonjak kegirangan melihat
prajurit Surakarta terdesak yang karena itu ia menjadi lengah
sehingga kumpeni itu melihatnya Kemudian akupun melihat kumpeni itu
bertempur tanpa senjata api berlaras pendek. Kemudian datang seorang
dan seorang lagi. Berturut-turut aku menungguinya” “O“ Buntal
mengangguk-angguk sedang Arum menundukkan kepalanya. Dalam pada itu
kedua kawan Buntal benar-benar menjadi heran. Ia yakin bahwa ayah
gadis itu tentu bukan orang kebanyakan, menilik sikap dan tingkah
lakunya. Namun ia membiarkan anak gadisnya bertempur melawan tiga
orang, justru demikian berbahaya bagi jiwanya “Tetap agaknya ia
yakin tentang anak gadisnya” berkata yang seorang di dalam hatinya,
sedang yang lain berkata kepada diri sendiri “Tentu ayahnya sudah
siap menyelamatkannya apabila keadaan menjadi semakin gawat”
Dalampada itu, Kiai Danatirtapun kemudian berkata “Arum, marilah
kita pulang. Biarlah Buntal dan kedua kawannya kembali ke induk
pasukannya. Mereka masih harus melaporkan hasil dari tugas mereka”
“Tetapi dimana kudaku itu ayah?“ “Jangan takut. Kudamu selamat.
Prajurit-prajurit Surakarta yang tercerai berai itu tidak menjumpai
kudamu” Arum mengangguk kecil. “Nah Buntal, sekarang kembali sajalah
kepada induk pasukanmu. Biar lah aku yang membawa Arum
kembali”“Baiklah ayah” jawab Buntal datar. Tetapi sepercik
kekecewaan telah menyentuh hatinya. Ada semacam keinginan untuk
pergi bersama Arum, meskipun dengan dua orang kawannya. Apalagi
apabila ada kesempatan baginya untuk pergi berdua saja. Bagaimanapun
juga sebagai seorang anak muda Buntal masih dibayangi oleh
perkembangan jiwa mudanya. Namun demikian Buntal sadar sepenuhnya,
bahwa ia berada dalam suasana yang khusus. Suasana yang diliputi
oleh perjuangan untuk menegakkan hak dan harga diri. Bukan secara
pribadi, tetapi hak dan harga diri bangsanya yang diancamoleh
kekuasaan orang-orang asing. Karena itu, maka ia harus menekan
perasaan sendir i. Perasaannya sebagai seorang yang meningkat dewasa
terhadap seorang gadis yang memiliki kekhususan baginya. Bukan
karena Arum seorang gadis yang mampu bermain pedang, tetapi
sentuhan-sentuhan halus yang terasa membelati hatinya. Dalam pada
itu, maka Buntal bersama kedua orang kawannyapun segera minta diri
untuk kembali ke induk pasukannya. Namun terasa hati Buntal tergetar
ketika ia melihat sorot mata Arum yang asing. Meskipun di dalam
keremangan malam, seakan-akan ia melihat sorot mata yang sekejap
menyala, namun kemudian wajah itu berpaling. Tetapi tiba-tiba saja
terbayang sebuah wajah yang lain. Wajah seorang putera bangsawan
yang tampan dan berwibawa Juwiring. Raden Juwiring, putera Pangeran
Ranakusuma. “Persetan“ Ia menggeram di dalam hati “ia telah
mengkhianati tanah kelahirannya. Ia telah mengkhianati gurunya dan
ia telah berkhianat pula kepada dirinya sendir i, kepada cita-cita
dan pendiriannya. Pada suatu saat aku akan menghadapinya di medan
perang. Meskipun ia memiliki ilmu rangkap, dari perguruan Jati Aking
dan dar i ayahandanyasendiri, akupun mempunyai ilmu rangkap pula.
Selain ilmu dari Jati Aking, akupun telah mempelajari ilmu khusus
dar i Kiai Sarpasrana yang tidak kalah dahsyatnya dari Pangeran Rana
kusuma“ Demikianlah maka Buntalpun kemudian berpisah dengan Arum
yang dibawa serta oleh ayahnya, dan kembali ke induk pasukannya
bersama dengan kedua orang kawannya. “Adikmu lucu sekali” tiba-tiba
salah seorang kawannya berdesis. “Kenapa?” bertanya Buntal. “la
seorang gadis yang perkasa, tetapi sekaligus manja. Ia dapat menjadi
seorang kawan yang bagus sekali di dalam kesulitan, tetapi juga
seorang kawan yang manis di dalam kehidupan yang sewajarnya. Namun
demikian, jika ia marah ia dapat menjadi berbahaya. Jika kelak
suaminya bukan seorang yang mampu mengatasinya Setidak-tidaknya dari
satu segi, jika bukan dalam olah kanuragan, mungkin dari segi
kejiwaan maka ia adalah seorang isteri yang sulit dikendalikan”
“Demikianlah” desis Buntal. Dan tiba-tiba saja kawannya yang lain
berkata sambil tertawa “Sebenarnya aku ingin melamarnya Buntal.
Tetapi aku menjadi cemas jika tiba-tiba ia menar ik pedangnya dalam
perselisihan yang dapat saja terjadi di dalam lingkungan rumah
tangga. Mungkin ia kecewa oleh kayu bakar yang basah di dapur, maka
ia menjadi marah kepadaku dan menantang untuk berperang tanding.
Atau barangkali aku terlambat bangun dan jambangan belum terisi
ketika ia ingin mandi, maka aku dapat didorongnya dengan ujung
pedang ke bibir sumur” Kawannya yang lain tertawa. Buntal sendiri
tersenyum betapa masamnya. Hal yang serupa itu memang sudah
terbayang diangan-angannya. Tetapi justru karena ia benar-benar
mempertimbangkan hal itu, maka ia tidak mau mengatakannya kepada
siapapun juga” “Tetapi kemanapun kita pergi di malam hari, rumah
kita tidak akan dimasuki pencuri“ desis kawannya yang lain. “Benar.
Tetapi ada keberatan lain. Jika kita pulang terlampau malam, maka
kita harus berhadapan dalam perang tanding” Mereka itupun tertawa.
Buntalpun tertawa pula. “Sudahlah” berkata Buntal kemudian “Jangan
mempercakapkan anak nakal yang manja itu. Aku mempunya permintaan
kepada kalian, agar kalian tidak menyebar luaskan ceritera tentang
gadis yang suka menuruti kehendaknya sendiri. Hal itu akan dapat
membahayakan padepokanku jika kelak terdengar oleh petugas-tugas
sandi” “Tetapi kumpeni itu tentu mendengar nama adikmu disebut“ “Ia
tidak akan dapat mengucapkan nama itu dengan baik, atau barangkali
ia sudah lupa sama sekali. Seandainya ia ingat, iapun tidak akan
dapat menunjukkannya” Demikianlah maka mereka bertiga itupun
kemudian berpacu menyusul kawan-kawan mereka ke induk pasukan.
Mereka sudah tahu benar, kemana mereka harus pergi setelah tugas itu
selesai. Dalam pada itu, Arumpun sudah berpacu pula bersama ayahnya
kembali ke padepokannya. di sepanjang jalan, mereka hampir tidak
berbicara sama sekali, sampai pada saatnya Arum bertanya “Kenapa
ayah berada di daerah pertempuran?” “Karena kau ada di sana pula
Arum. Aku melihat kau berangkat. Kau sama sekali tidak berpaling
ketika aku memanggilmu. Karena itu, maka akupun segera
menyusulmu”“Jika ayah melihat aku bertempur melawan tiga orang, dan
bahkan aku sudah menjadi sangat terdesak, kenapa ayah diamsaja?“
gadis itu seakan-akan menuntut. Kiai Danatirta justru tersenyum.
Katenya “Aku memang ingin melihat kau mengerahkan segenap
kemampuanmu sampai tuntas. Aku kecewa bahwa ada orang lain yang ikut
campur di dalam perkelahian itu” “Apakah ayah menunggu dadaku
sobek?“ Kiai Danatirta justru tertawa karenanya. Katanya “Jika kau
benar-benar sudah sampai pada puncak kesulitan, tentu kau berusaha
dengan segenap kemampuanmu untuk mencari jalan keluar. Jika kau
merasa tidak mampu lagi melawan ketiga orang itu bersama-sama, maka
aku menunggu kau mempergunakan senjatamu yang masih tetap berada di
sarungnya” “O“ tanpa disadarinya Arum meraba pisau belatinya yang
masih tetap terselip di pinggangnya. Dengan nada yang tinggi ia
berkata “Jika. aku ingat, maka dua orang prajurit Surakarta itu
tentu sudah tembus oleh pisau-pisau ini“ “Untunglah bahwa kau
terlupa karenanya, sehingga kau tidak perlu membunuh sesamamu”
“Tetapi bukankah di peperangan membunuh bukannya pantangan ayah?
Jika seseorang tidak mau membunuh di peperangan, maka mungkin dar
inya sendirilah yang akan terbunuh” “Benar. Tetapi peperangan bukan
tempat orang yang sekedar ingin melepaskan dendam hatinya dan
membunuh sebanyak-banyaknya. Justru di dalam peperangan kita diuj i,
apakah kita akan tenggelam dalam ketidak sadaran atas diri sendiri,
atau kita tetap berada di dalam kepribadian yang utuh. Jika
peperangan dapat dimenangkan tanpa menitikkan darah setetespun itu
tentu jauh lebih baik dari suatukebanggaan, bahwa di peperangan kita
sudah membunuh beratus-ratus orang” Arum mengerutkan keningnya.
Terngiang kembali kata-kata orang berjanggut putih, yang disebut
pemimpin oleh laskar Pangeran Mangkubumi termasuk Buntal. Jika lawan
telah mengucapkan tangannya, maka tidak sepantasnya kita
membunuhnya, meskipun kita masih harus tetap berwaspada. Arum yang
sedang merenungi kata-kata itu, untuk beberapa saat lamanya tidak
berbicara. Kiai Danatirtapun masih berdiam dir i sambil memandang
jauh ke depan. Ke dalam kegelapan malam yang menjadi semakin dalam.
Semakin lama merekapun menjadi semakin dekat dengan padepokan Jati
Aking. Yang baru saja terjadi, bagi Arum merupakan suatu pengalaman
baru yang mungkin tidak akan terulang kembali. Kesempatan untuk
bertempur seorang lawan seorang dengan kumpeni merupakan pengalaman
yang sangat berharga baginya. Sebagai seorang anak Surakarta, maka
Arum menjadi semakin percaya kepada diri sendir i, bahwa orang asing
itu bukan orang-orang yang mempunyai martabat yang lebih tinggi
daripadanya. Ternyata bahwa seorang laki- laki asing yang bertubuh
tinggi tegap dan kekar, tidak mampu mengalahkannya di dalamperang
tanding. “Apakah sebenarnya kelebihan mereka?“ bertanya Arum kepada
diri sendir i. Dan akhirnya Arum mempunyai kesimpulan bahwa
kelebihan mereka adalah kecakapan mereka mempergunakan dan
memanfaatkan sifat-sifat sebagian anak-anak Surakarta sendiri. Tamak
dan dungu. Benar-benar seperti seekor domba yang dengan mudahnya
diadu yang satu dengan yang lain. Tetapi Arum, seorang gadis dar i
padepokan kecil di daerah Jati Sari, tidak akan dapat berbuat apapun
juga, selain memandang akibat dari pertentangan yang ditimbulkan di
dalam dir i sendir i. Gemer lapnya istana para Pangeran memancing
kebencian yang. diharapkan oleh orang-orangasing itu. Dan merekapun
berusaha memperluas jarak antara para bangsawan yang kaya raya dan
rakyat Surakarta kebanyakan. Namun pada suatu saat telah meledak
perasaan kebencian rakyat Surakarta kepada kumpeni itu jauh di luar
dugaan. Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi ternyata mampu
menggoncangkan kedudukan orang-orang asing itu di Surakarta Yang
terjadi di ujung hutan itu adalah salah satu kenyataan dari
perjuangan Pangeran Mangkubumi. Pada malam itu juga para pemimpin
kelompok yang mendapat tugas yang bersamaan di tempat-tempat yang
berbeda telah memberikan laporan masing-masing. Ternyata bahwa tidak
semua kelompok yang dikirim oleh Pangeran Mangkubumi dapat berhasil
sebaik-baiknya. Ada di antara sekian banyak kelompok-kelompok itu
yang hampir gagal sama sekali. Justru karena pesan dari para
pemimpinnya, agar mereka t idak menjatuhkan korban sejauh dapat
dihindari. “Ternyata beberapa orang kita sendiri menjadi korban”
berkata seorang pemimpin kelompok yang terpaksa mundur sebelum
berhasil memecah pasukan Surakarta yang dicegatnya. Namun dalam pada
itu, ternyata yang telah terjadi merupakan goncangan yang telah
menggetarkan Surakarta. Beberapa kelompok prajurit Surakarta yang
mendapat tugas untuk merampas segala jenis senjata telah mendapat
serangan serentak. Meskipun tidak dapat diketahui dengan pasti,
tetapi prajurit-prajurit Surakarta itu dapat menebak, bahwa yang
bergerak adalah pasukan Pangeran Mangkubumi Para pemimpin Surakarta
dan kumpeni, sebenarnyalah dengan sengaja memancing ledakan itu.
Tetapi mereka tidak menduga sama sekali, bahwa Pangeran Mangkubumi
telah benar-benar bersiap menghadapi kemungkinan yang tiba-tiba.Jika
kumpeni menghendaki agar Pangeran Mangkubumi menjadi marah karena
para prajurit Surakarta dan kumpeni dengar sengaja melakukan
perampasan senjata atas rakyat Surakarta, ternyata mereka telah
dikejutkan oleh tindakan yang serta-merta dari Pangeran Mangkubumi.
Tetapi dalam tindakan yang serta-merta itu pasukan Pangeran
Mangkubumi bukan sekedar merupakan laskar dari segerombolan orang
liar yang dengan kasar dan buas menyerang para prajurit Surakarta
dan kumpeni yang menyertainya. Dan agaknya tindakan serta-merta
tetapi yang sudah dipersiapkan dengan masak itu benar-benar telah
mengejutkan paru pemimpin prajur it Surakarta dan kumpeni. Mereka
tidak lagi mengharap Pangeran Mangkubumi menjadi marah dan kemudian
mempersiapkan orang-orangnya untuk melakukan serangan-serangan
kecil. Tetapi yang terjadi adalah sebenarnya sebuah peperangan besar
yang merata di sekitar Surakarta. Dalam pada itu, selagi para
pemimpin Surakarta mengadakan pembicaraan di antara mereka sebelum
mereka dengan resmi melaporkan keadaan itu kepada Kangjeng
Susuhunan. maka para prajurit yang per lahan-lahan mulai terkumpul
lagi setelah mereka terpecah bercerai berai, mulai berbicara di
antara mereka. Semula mereka ragu-ragu untuk menyatakan pengalaman
masing-masing. Namun seorang prajurit yang terluka di pundaknya
berkata “Aku menjadi bingung menghadapi sikap laskar Pangeran
Mangkubumi” “Kenapa?“ bertanya kawannya. “Ketika salah seorang
berhasil melukai aku, maka dalam keadaan yang tidak berdaya aku
hanya dapat menunggu ujung pedangnya mengakhir i hidupku. Tetapi hal
itu tidak dilakukannya, la membiarkan aku hidup dan kembali seperti
yang kau lihat sekarang” prajurit itu berhenti sejenak, lalu-jika
pada saat-saat yang mendebarkan itu aku hanya dapat membayangkan
isteriku dan anak-anakku yang masihterlampau kecil untuk menjadi
seorang anak yang tidak berbapa, maka agaknya aku masih akan
mendapat kesempatan untuk benar-benar bertemu dengan mereka, bukan
sekedar di dalamangan-angan” Ternyata kemudian bukan hanya satu dua
orang sajalah yang berceritera tentang hal yang serupa. Dan bukan
saja mereka yang berada di dalamsatu medan. “Agaknya Pangeran
Mangkubumi memang membekali laskarnya dengan sikap itu” berkata
seorang prajurit yang sudah lebih tua dari kawan-kawannya “dan
sebenarnyalah sikapnya itu sikap seorang kesatria sejati. Kesatria
Mataram yang sebenarnya” Para prajurit yang lain mengangguk-angguk.
Mereka tidak dapat melepaskan diri dari kesan yang demikian. Dalam
pada itu, kumpeni yang telah dilepaskan oleh pasukan Pangeran
Mangkubumi, telah berhasil pula sampai ke Surakarta. Sebagai seorang
prajurit yang memiliki pengalaman yang luas, ia tidak menyerah
kepada keadaannya. Meskipun ia terluka, tetapi dengan segenap sisa
kemampuannya kumpeni itu seolah-olah merangkak memasuki kota. Namun
ia tidak berputus asa. Apalagi ia dibebani oleh perasaan dendam yang
tiada taranya terhadap peristiwa yang baru saja dialami.Ternyata ia
adalah salah satu dari dua orang kumpeni yang masih tetap hidup.
Yang lain, yang ikut serta di dalam pasukan Surakarta yang tersebar
untuk dengan sengaja memancing agar Pangeran Mangkubumi melepaskan
laskarnya, telah tewas dalam pertempuran yang terjadi di beberapa
tempat itu. “Aku mengenal setidak-tidaknya satu nama” desis kumpeni
yang kemudian berbaring di pembar ingan di bawah perawatan seorang
tabib. “Beristirahatlah. Kau tidak boleh terlampau banyak berbicara.
Jika kau sudah agak tenang, maka kau dapat melaporkan semua yang kau
alami. Dan nama itu mungkin akan sangat penting artinya” berkata
tabib yang merawatnya. Kumpeni itu seakan-akan tidak sabar lagi.
Tetapi ia t idak dapat bangkit dari pembaringannya karena tubuhnya
menjadi sangat lemah. Tetapi ia masih mencoba minta kepada tabib itu
“Apakah kau dapat menghubungi komandanku?” “Tentu. Tetapi tidak
sekarang. Nanti pada saatnya ia akan datang kemar i, atau utusannya”
Kumpeni itu menggeram. Terbayang seorang perempuan yang dengan wajah
mengejek melukai tubuhnya dengan pedang. Kemudian beberapa orang
laki- laki yang menangkap dua orang prajurit Surakarta
mengerumuninya seperti melihat sabungan ayam yang banyak terdapat di
pinggir kota Surakarta. “Kenapa mereka tidak membunuh aku “Ia
menggeram “itu suatu penghinaan. Akulah kelak yang akan datang
membunuh mereka. Dan mereka akan menyesali kesombongannya. Tatapi
penyesalan itu tidak akan ada artinya. ” Dengan demikian ia berharap
untuk segera dapat bertemu dengan siapapun juga. Ia harus mengatakan
bahwa ia mengenal nama salah seorang dari pemberontak-pemberontak
itu.“Arum” desisnya “namanya Arum” Namun kemudian “Tetapi j ika nama
itu nama yang banyak dipakai oleh perempuan-perempuan pribumi, maka
akan sulit untuk dapat menemukannya” Tetapi kumpeni itu kemudian
teringat, bahwa ia mengenal seorang Senopati dari pasukan berkuda
yang menurut pendengarannya pernah tinggal disuatu padepokan.
“Padepokan itu terletak di dekat kami bertugas“ Ia menggeram
“beberapa orang prajurit Surakarta menunjuk sebuah desa kecil dan
mengatakan bahwa Raden Juwiring pernah berada di padukuhan itu untuk
beberapa lamanya. Tentu ia akan dapat membantu menemukan perempuan
yang bernama Arum itu” Kumpeni yang terbaring itu tersenyum sendiri.
Seakan-akan ia sudah berada di punggung kuda bersama beberapa orang
kawannya dan sepasukan prajurit Surakarta mencari perempuan yang
bernama Arum itu. “Jika aku t idak membunuhnya, aku dapat berbuat
apa saja atasnya jika ia sudah tertangkap. Meskipun ia lincah
mempergunakan pedang, tetapi tanpa senjata ia tentu tidak berdaya”
Kumpeni itu tersenyum sendir i. Namun tiba-tiba iapun menyeringai
ketika lukanya terasa pedih. “Aku tidak akan mengatakan nama itu
kepada siapapun, kecuali kepada komandan dan kepada Raden Juwiring,
Senapati pasukan berkuda putera Pangeran Ranakusuma” Sehari-harian
kumpeni itu masih saja dipengaruhi oleh bayangan-bayangan yang
peristiwa yang dialaminya itu. Apalagi masih belum ada orang yang
dapat menengoknya, sebelum ia menjadi tenang menurut penilaian tabib
yang merawatnya.“Aku sudah tenang. Aku tidak apa-apa” katanya kepada
diri sendiri. Namun ia masih harus tetap berbaring. Dengan demikian,
tidak ada yang dapat dilakukan selain berangan-angan. Tentang
dirinya sendiri, tentang perempuan yang melukainya dan tentang
orang-orang yang mengerumuninya. Kumpeni itu tiba-tiba mengerutkan
keningnya. Terbayang pedang gadis yang sudah melekat di dadanya itu.
Tetapi nampak jelas padanya, keragu-raguan yang sangat telah menahan
tangannya. “Kenapa ia ragu-ragu? Kenapa?“ kumpeni itu menggeram “itu
suatu kesombongan yang tiada taranya” Namun tiba-tiba nampak padanya
suatu segi yang lain dari keragu-raguan perempuan yang bernama Arum
itu. Betapa kebencian telah mencengkam jantung perempuan itu,
sehingga ia tidak mau membiarkan orang lain melawannya. Tetapi pada
saat yang menentukan, pedangnya tidak segera menghunjam di dadanya.
Dan menilik sikap dan tatapan matanya, perempuan itu telah
terpengaruh oleh suatu perasaan yang memercik di hatinya. “Nampaknya
bukan karena kesombongannya” tiba-tiba saja di luar sadarnya kumpeni
itu berdesis. Dan bahkan meskipun tidak begitu jelas, tetapi ia
mengerti bahwa niat untuk membunuhnya tetap menyala di hati gadis
itu, karena kebencian yang tidak ada taranya. Tetapi ia tidak
melalaikannya. Perempuan itu tidak membunuhnya, meskipun seandainya
tidak ada orang lain yang melarangnya. “Kenapa ia tidak
melakukannya?“ sebuah pertanyaan telah membelit hatinya. Kumpeni itu
memejamkan matanya. Ia tidak dapat menolak ketika seakan-akan di
depan wajahnya dihadapkan sebuah cermin. Perempuan pribumi yang
dianggapnya masih terbelakang di dalam pengenalan ilmu lahir dan
batin ituternyata memiliki perasaan kasih di antara sesama. Demikian
tebalnya perasaan itu sehingga mampu mengatasi perasaan dendam dan
benci yang mencengkam hati perempuan pribumi itu. “Dan ia tidak
sampai hati menghunjamkan pedangnya di dadaku“ desahnya. Namun
kemudian kumpeni itu menggeretakkan giginya sambil menggeram“Tidak.
Aku tidak perlu belas kasihan itu” Tetapi yang terdengar di lubuk
hati adalah jawaban “Bukan sekedar belas kasihan. Tetapi itu adalah
perasaan kasihan” Kumpeni itu berdesis. Sekali-sekali ia menggeliat
dalam kegelisahan seakan-akan lukanya terasa menjadi pedih. Itulah
sebabnya seorang yang merawatnya selalu mengawasinya. Tetapi
kegelisahan kumpeni itu bukan karena lukanya itu. Ia merasa bahwa ia
dihadapkan pada suatu kenyataan yang tidak dapat dimengerti.
Perempuan pribumi yang nampaknya masih dipengaruhi oleh
keterbelakangan di dalam peradaban dunia yang luas, namun ternyata
memiliki peradaban batin yang tinggi. Namun akhirnya kumpeni itu
dapat menguasai perasaannya. Karena itu maka iapun menjadi tenang,
dan kemudian berhasil memejamkan matanya meskipun hanya sesaat oleh
kelelahan lahir dan batin. Ketika ia kemudian membuka matanya,
terasa badannya menjadi agak segar. Dilihatnya di dalam biliknya dua
orang kumpeni yang sedang bercakap-cakap perlahan-lahan. Ternyata
yang seorang adalah seorang perwira. Pemimpinnya. “Tidur sajalah”
berkata komandan itu. Kumpeni yang terluka itu berusaha untuk
bangkit Tetapi tubuhnya masih terlampau lemah, dan komandannya
itupun menahan pundaknya sambil berkata “Kau harus tetap
berbaring”Kumpeni itu menarik nafas dalam-dalam. “Kau sudah menjadi
agak tenang. Bukankah kau ingin bertemu dengan aku? Tabib yang
menolongmu berkata, bahwa ada sesuatu yang akan kau katakan.
Barangkali akan sangat berguna bagi Surakarta” Kumpeni yang terluka
itu mengerutkan keningnya. “Apakah kau mengenal salah seorang dari
pemberontak ku?“ bertanya komandannya. Kumpeni itu mengerutkan
keningnya. Terbayang wajah perempuan yang memegang pedang itu.
Terngiang nama perempuan itu disebut oleh kawan-kawannya. Namanya
Arum. Dan jika kumpeni membawa Raden Juwiring besertanya, maka
kemungkinan besar akan segera dapat diketemukan. Kemudian perempuan
itu akan dapat diperas untuk menyebut nama-nama lain dari
pemberontak-pemberontak itu, bahkan mungkin orang-orang sepadukuhan
yang tersangkut di dalamnya. Mungkin orang-orang itu tidak pulang ke
rumahnya, tetapi dengan menangkap keluarganya, isteri dan
anak-anaknya, maka setiap laki-laki yang tidak berhati batu akan
segera kembali. Apalagi jika dijanjikan pengampunan meskipun
kemudian mereka akan dipancung di hadapan umum untuk menakut-nakuti
orang-orang pribumi yang akan berpihak kepada pemberontak. Baik
Pangeran Mangkubumi maupun Raden Mas Said. Dalam pada itu
komandannya mendesaknya “Coba sebut saja nama itu, atau barangkali
jalan yang paling baik untuk menemukannya” Kumpeni itu tiba-tiba
menjadi tegang. Ketika bibirnya bergerak untuk menyebut nama
perempuan yang sombong itu, tiba-tiba saja ia menjadi ragu-ragu.
“Siapa?“ desak komandannya pulaSejenak kumpeni itu merenung. Namun
tiba-tiba dengan suara gemetar ia berkata “Maaf komandan, aku tidak
dapat menyebutnya” “Kenapa?“ “Aku tidak tahu, kenapa aku telah lupa
sama sekali. Aku memang mendengar sebuah nama disebut. Tetapi nama
itu terlampau sukar dan panjang” “Kau tentu dapat
mengingat-ingatnya” Kumpeni itu termenung sejenak. Dibenaknya
seolah-olah menari nama Arum. Arum. Tetapi sesuatu telah menahannya
untuk menyebut nama yang sama sekali tidak dilupakannya itu. “Apakah
kau tidak dapat mengingatnya sama sekali” Kumpeni itu menggeleng
“Terlalu gila. Barangkali aku sudah menjadi gila komandan. Tetapi
aku benar-benar tidak dapat mengingatnya, meskipun hanya satu suku
kata dari nama yang panjang itu” Komandannya itu mengerutkan
keningnya, katanya “Kau harus menemukan nama itu” Kumpeni itu
menggeleng “Ingatanku menjadi gelap“ “Gila, sebut sebuah nama”
Kumpeni itu memandang komandannya yang wajahnya menjadi
kemerah-merahan. Tetapi sekali lagi ia menggeleng lemah “Aku akan
berusaha komandan. Tetapi ingatanku sekarang benar-benar sedang
gelap” Komandannya menjadi sangat kecewa. Bahkan marah Tetapi
sebelum ia membentak lagi, tabib yang merawat kumpeni itu
mendekatinya dan berkata “Ia masih harus banyak beristirahat”“Tetapi
ia bodoh sekali. Ia harus dapat mengingat nama yang didengarnya itu”
“Memang nama pr ibumi sangat sulit untuk diingat” berkata tabib itu.
“Aku dapat mengingatnya jika aku mendengar. Itu termasuk salah satu
dari tugasnya. Jika ia tidak dapat mengingatnya, kita kehilangan
kesempatan untuk mencari jejak. Setidak-tidaknya sekelompok
pemberontak itu. Dan dengan demikian kita tahu pasti, apakah yang
dihadapi oleh para prajurit itu pemberontakan Pangeran Mangkubumi
atau Raden Mas Said” “Tetapi ia tidak dapat dipaksa untuk berpikir
terlampau banyak. Tubuhnya masih terlampau lemah. Sebaiknya biarlah
ia beristirahat lagi” “Ia sudah cukup lama ber istirahat” Tetapi
tabib itu menggeleng. Katanya “Goncangan perasaannya telah
membuatnya menjadi kehilangan ingatan itu. Mudah-mudahan ia akan
dapat menemukan kembali ingatan yang hilang itu” Komandannya terdiam
sejenak. Tetapi nampak kekecewaan yang sangat memancar disorot
matanya. Namun ia tidak dapat memaksa kumpeni itu untuk mengatakan
sesuatu yang tidak dapat dikatakannya. Apalagi tabib yang merawatnya
berkeberatan untuk memberinya kesempatan. “Baiklah” berkata komandan
itu “Aku akan pergi. Tetapi usahakan ia dapat mengingat semuanya.
Namanya, dan barangkali cir i-cir inya. Aku ingin menemukan orang
itu” “Baik” jawab tabib itu “demikian ia dapat mengingat atau
mengucapkan sebuah nama, aku akan mencatatnya” Demikianlah maka
komandan kumpeni itupun kemudian meninggalkan bilik itu dengan wajah
yang bersungut-sungut. Seorang pengawalnya masih berpaling memandang
kawannyayang terbaring itu sejenak. Namun iapun kemudian
meninggalkan bilik itu pula mengikuti komandannya. Kumpeni yang
terbaring itu termenung sejenak. Ia melihat tabib yang merawatnya
berdiri di sisinya. “Kau masih dipengaruhi oleh kegelisahan dan
kebingungan” berkata tabib itu “tenangkan hatimu. Jangan hiraukan
pertanyaan komandanmu. Pada suatu saat kau akan teringat nama itu.
Nama orang-orang pr ibumi hampir sama” “Tentu tidak. Ada dua orang
yang namanya jauh berbeda” jawab kumpeni itu “Mangkubumi dan Said.
Itu baru dua nama. Maka jika kita mendengar sepuluh nama, maka nama
itu akan sangat jauh berlainan” Tabib itu mengangguk. ”Memang nama
itu ternyata sangat berlainan. Apalagi orang-orang pr ibumi tidak
mempergunakan nama keluarga di belakang namanya. Jika mereka menjadi
dewasa, maka mereka akan memilih namanya sendiri. Bahkan pegawai
istana di Surakarta terlampau ser ing berganti nama jika jabatan
mereka berganti pula” Namun dalam pada itu, kumpeni yang terbaring
karena luka-lukanya itu sama sekali tidak lagi memikirkan untuk
mengingat nama Arum yang sebenarnya dapat dengan mudah disebutnya.
Ia sudah memutuskan untuk t idak mengatakan kepada siapapun bahwa
perempuan yang telah melukainya itu bernama Arum. Kepada Raden
Juwiringpun tidak. Demikianlah, setelah setiap kelompok prajurit
Surakarta yang tersebar berhasil berkumpul barulah mereka mengetahui
bahwa bagaimanapun juga, banyak di antara mereka yang tidak dapat
kembali. Sedangkan yang terlukapun berdesakkan untuk mendapat
perawatan. Bahkan beberapa di antara mereka yang harus berbaring di
pembaringan dengan luka parah di tubuhnya. Tetapi di antara mereka
hanya ada dua orang kumpeni yang berhasil kembali ke
Surakarta.Ketika para pemimpin di Surakarta kemudian berkumpul dan
membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi, maka mereka tidak
lagi dapat mengelakkan, bahwa perang sudah benar-benar dimulai.
“Kita tidak sekedar memancing mereka untuk mengetahui kekuatan
mereka” berkata Panglima prajur it Surakarta yang dihadapkan kepada
Pangeran Mangkubumi dan sekaligus Raden Mas Said ”Tetapi kita
benar-benar sudah berada di dalam perang terbuka” “Ya” berkata
seorang perwira kumpeni “Aku sudah kehilangan beberapa orang. Kita
tidak dapat lagi berbuat lebih baik dari langsung menggempur pusat
pertahanannya” “Apakah kau sudah mempertimbangkan seluruh kekuatan
Pangeran Mangkubumi?“ bertanya Pangeran Ranakusuma yang ada di
antara mereka pula. “Tidak lebih dari segerombolan orang-orang
daerah Sukawati dan sekitarnya” Tetapi Pangeran Ranakusuma
menggelengkan kepalanya. Katanya “Kau keliru. Kekuatan Pangeran
Mangkubumi tidak terhitung besarnya. Jika perang yang sebenarnya
mulai berkobar maka di segala tempat akan bangkit kesatuan- kesatuan
yang berpihak kepadanya. Meskipun mereka bukan prajurit-prajurit
terlatih, tetapi mereka adalah orang-orangyang mempunyai bekal ilmu
secara pribadi dan dalam jumlah yang tidak terbatas” “Apa maksud
Pangeran sebenarnya?“ bertanya perwira itu “Apakah Pangeran ingin
menakut-nakuti kami atau Pangeran memang tidak berhasrat untuk
menindas pemberontakan Pangeran Mangkubumi?“ Pangeran Ranakusuma
mengerutkan keningnya. Sekilas terbayang warna merah di wajahnya.
Katanya “Aku tidak tahu maksud pertanyaanmu” “Pertanyaanku jelas.
Pangeran justru melemahkan tekad kami” “Kau adalah seorang prajurit”
jawab Pangeran Ranakusuma “bahkan menurut pendengaranku, kau pernah
menjelajahi benua dan lautan. Tetapi kau masih bertanya, apakah
maksudku” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak lalu “sebagai seorang
prajurit kita tidak akan dapat menipu diri sendiri. Kita tidak dapat
memperkecil arti lawan kita sekedar untuk menyenangkan hati sendiri
atau sekedar untuk membangkitkan keberanian. Kita harus tahu pasti,
berapakah jumlah lawan yang kita hadapi untuk dapat menyiapkan
pasukan yang memadai” “Aku sudah tahu” potong perwira itu “Pangeran
tidak usah mengajari aku. Aku memang sudah pernah menjelajahi benua
dan lautan. Aku pernah mengalami peperangan dengan orang- orang yang
berkebudayaan tinggi dan mempergunakan senjata api. Bukan sekedar
batang-batang bambu yang diruncingkan” “Tetapi kau t idak mau
mendengar kenyataan, bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi tidak
terhitung jumlahnya, dan tidak dapat disebut tempatnya, karena
pasukan itu berlebaran di setiap padukuhan dan jumlahnya tidak dapat
disebut dengan bilangan. Bertanyalah kepada setiap prajurit
Surakarta yang jujur menghadapi Pangeran Mangkubumi danRaden Mas
Said. Akupun mencoba menyebut dengan jujur, meskipun aku tidak akan
menyerah. Menurut ukuran kesatria Surakarta, maka perjuangan ini
akan diselesaikan sampai tuntas” Kumpeni itulah yang kemudian
menjadi merah. Kulitnya yang keputih-putihan nampak bagaikan
tersentuh api. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu Panglima yang telah
diserahi kekuasaan oleh Kangjeng Susuhunan Paku Buwana itupun
berkata “Tidak ada gunanya kita bertengkar. Aku dapat mengerti
kebenaran dari pendapat kalian. Karena itu. marilah kita mencari
jalan untuk menyelesaikan peperangan ini dalam waktu yang singkat
dan korban yang sekecil-kecilnya dari kedua belah pihak.” Pangeran
Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah kumpeni
itu sejenak. Tetapi ia tidak mengucapkan sesuatu. Dalam pada itu
Panglima itupun kemudian mendengarkan beberapa laporan dari para
pemimpin kelompok, pendapat mereka, dan kemudian berkata “Kita
memang tidak sedang bermain-main. Menurut pengamatanku, yang kalian
hadapi baru pasukan Pangeran Mangkubumi. Karena itu sebelum Raden
Mas Said mengambil bagian di dalam peperangan yang lebih besar, maka
kita harus menyusun rencana terperinci untuk membatasi setiap
gerakan Pangeran Mangkubumi, dan apabila mungkin memadamkannya sama
sekali” Pangeran Ranakusuma tidak menyahut. Tetapi tampak di
bibirnya sikapnya yang sangat menjengkelkan bagi kumpeni meskipun
perwira kumpeni itupun masih harus menahan diri. Namun akhirnya di
dalam pertemuan itu, para Senapati berpendapat, bahwa Surakarta
tidak boleh terlambat. Justru Surakartalah yang harus mengambil
sikap karena jelas bahwa Pangeran Mangkubumi sudah memberontak.“Aku
akan menghadap Kangjeng Susuhunan dan melaporkan semua yang telah
terjadi” berkata Panglima. “Kita susun dahulu rencana
sebaik-baiknya” berkata perwira kumpeni yang menghadir i pertemuan
itu. “Tidak perlu” sahut Pangeran Ranakusuma “Kita menghadap
Kangjeng Susuhunan. Jika Kangjeng Susuhunan memer intahkan agar kita
langsung menyerang kedudukan Pangeran Mangkubumi, maka kita akan
melakukannya. Tetapi jika Kangjeng Susuhunan mengambil kebijaksanaan
lain, kita harus tunduk akan keputusannya” “Tidak mungkin ada
keputusan lain” potong kumpeni itu “satu-satunya jalan, Pangeran
Mangkubumi harus dihancurkan” “Kenapa tidak mungkin?“ bertanya
Pangeran Ranakusuma. “Kita tidak dapat menunggu agar bukan kitalah
yang akan menjadi hancur” “Yang berkuasa di Surakarta adalah
Kangjeng Susuhunan Paku Buwana. Bukan pihak lain” Sekali lagi wajah
kumpeni itu menjadi merah. Tetapi sebelum ia menjawab, maka Panglima
pasukan Surakarta itupun segera berkata “Kita akan menghadap
Kangjeng Susuhunan. Kita akan mengusulkan untuk menghancurkan
Pangeran Mangkubumi. Kemudian Raden Mas Said. Setelah Pangeran
Mangkubumi maka Raden Mas Said tentu tidak akan terlampau sulit ”
Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak
berkata apapun. Akhirnya Panglima itu memutuskan untuk membicarakan
persoalan yang gawat itu di dalam lingkungan yang lebih kecil.
Panglima menunjuk tujuh orang termasuk seorang perwira kumpeni untuk
mohon menghadap Kangjeng Susuhunanuntuk melaporkan peristiwa yang
sudah terjadi dan kemudian menentukan sikap seterusnya. “Semakin
banyak orang yang ikut di dalam pembicaraan ini. persoalannya akan
menjadi semakin kabur” berkata Panglima “Apalagi bahaya bahwa semua
rencana itu akan merembes sampai ke telinga Pangeran Mangkubumi akan
menjadi lebih besar” “Jadi apakah ada orang yang pantas kita
curigai?“ tiba-tiba Pangeran Ranakusuma bertanya. “Bukan maksudku”
jawab Panglima “Tetapi kita wajib berhati-hati” “Itu bijaksana
sekali” berkata kumpeni “Aku memang t idak dapat mempercayai setiap
orang di Surakarta ini” “Baiklah” berkata Panglima itu “Kita dapat
melaksanakannya segera” Pangeran Ranakusuma memandang Panglima dan
perwira kumpeni itu berganti-ganti. Namun ia masih nampak menyimpan
sesuatu di dalam hatinya. Dalam pada itu, setelah pertemuan itu
dibubarkan, maka ketujuh orang yang telah ditunjuk itupun segera
menghadap Kangjeng Sultan. Selain perwira kumpeni yang seorang itu,
terdapat pula Pangeran Ranakusuma sebagai Senapati pengapit, dan
seorang yang memiliki pengalaman dan ilmu yang cukup. Panglima
pasukan yang dipersiapkan untuk melawan Pangeran Mangkubumi itupun
kemudian member ikan laporan kepada Kangjeng Susuhunan tentang
tindakan pertama yang sudah diambil oleh prajurit Surakarta. Mereka
telah berhasil memancing pasukan Pangeran Mangkubumi dan dapat
menduga kekuatannya. “Ampun Kangjeng Susuhunan, ternyata bahwa
kekuatan Pangeran Mangkubumi jauh lebih besar dari yang kami
dugasebelumnya. Pangeran Mangkubumi dapat menyiapkan pasukan
sebanyak yang disiapkan oleh Surakarta, bahkan melampaui. Setiap
kelompok prajur it telah mendapat gangguan dan kadang-kadang cukup
gawat” “Aku sudah kehilangan beberapa orang prajur it” berkata
perwira kumpeni itu. Kangjeng Susuhunan mengerutkan keningnya. Namun
tanpa diduga sebelumnya, Kangjeng Susuhunan itu justru tertawa.
Katanya “Ternyata kalian memang terlampau bodoh dengan mengumpankan
pasukan-pasukan kecil yang tersebar itu” “Ampun Kangjeng Susuhunan.
di tempat-tempat yang diduga mempunyai kekuatan pengikut Pangeran
Mangkubumi pasukan Surakarta sudah diperkuat” “Tetapi tidak mampu
berbuat apa-apa atas pasukan adimas Pangeran Mangkubumi. Dan
ternyata bahwa bukan hanya pasukan yang berada di tempat-tempat yang
diduga dekat dengan pemusatan pasukan Pangeran Mangkubumi sajalah
yang mendapat serangan. Tetapi semua kelompok prajur it yang kau
sebarkan di sekitar kota” Panglima itu mengerutkan keningnya. Dan
sebelum ia sempat menjawab, Kangjeng Susuhunan telah melanjutkan
“Korban telah jatuh. Untunglah bahwa adimas Pangeran Mangkubumi
masih merasa dirinya sekeluarga dengan kalian, sehingga ia berpesan
untuk tidak menjatuhkan korban sebanyak-banyaknya atas kedua belah
pihak” Kangjeng Susuhunan berhenti sejenak, lalu “banyak prajurit
yang terluka, tetapi kembali dengan selamat. Tetapi di antara mereka
hanya ada dua orang kumpeni yang lolos dari maut, meskipun yang
seorang luka-luka” Orang-orang yang mendengar keterangan itu menjadi
heran. Ternyata Kangjeng Susuhunan telah mengetahui semuanya sebelum
laporan resmi itu disampaikan.Dengan demikian maka para pemimpin
Surakarta itu berpendapat bahwa Kangjeng Susuhunan menaruh perhatian
yang sangat besar terhadap perkembangan keadaan, sehingga ia telah
menunjuk petugas-tugas sandinya sendirii yang dapat member ikan
laporan dengan lengkap tanpa menunggu laporan para pemimpin prajur
it Surakarta. Namun dengan demikian, maka para pemimpin prajurit
itupun menyadari, bahwa dengan petugas-petugas khusus yang langsung
member ikan laporan kepada Kangjeng Susuhunan, maka mereka tidak
akan dapat berbohong. Mereka tidak akan dapat mengatakan kuntul
sebagai gagak, dan tidak dapat mengatakan gagak sebagai kuntul.
Mereka harus mengatakan apa yang sebenarnya ada dan sebenarnya
terjadi. Karena para pemimpin prajur it itu masih saja termangu-
mangu, maka Kangjeng Susuhunanpun kemudian berkata “Bagaimana?
Apakah ada yang salah?“ “Tidak Kangjeng Susuhunan” jawab Panglima
“semuanya benar seperti yang Kangjeng Susuhunan sebutkan” “Jika
demikian, apakah rencana kalian?“ “Hamba belum menentukan sikap.
Kedatangan hamba menghadap Kangjeng Susuhunan adalah dalam rangka
menyusun tindakan berikutnya. Kami akan mengadakan pertemuan, dan
kami akan menentukan sikap. Barangkali Kangjeng Susuhunan akan
memberikan pesan kepada kami, sehingga dapat menunjukkan arah
perjuangan kami membebaskan Surakarta dari pengaruh para
pemberontak” Kangjeng Susuhunan menahan nafas sejenak. Sekilas
dipandanginya wajah perwira kumpeni yang berdir i di hadapannya.
Benar-benar suatu sikap yang menyakitkan hati. Tetapi karena adat
mereka demikian, maka Kangjeng Susuhunan tidak dapat berbuat
apa-apa. Mereka akan berbuat demikian pula j ika mereka menghadap
rajanya sendir i.Namun dalam pada itu, terpercik di dalam hatinya,
bahwa sebenarnya usaha untuk menghent ikan pemberontakan Pangeran
Mangkubumi itu tidak terlampau sulit. Jika ia memiliki keberanian
untuk bertindak mengusir kumpeni dari Surakarta dan membatalkan
semua persetujuan yang pernah dibuat, baik oleh dirinya sendir i
maupun oleh Raja-raja sebelumnya. “Betapa penakutnya aku ini“
Kangjeng Susuhunan mengeluh di dalamhati. Sementara itu para
pemimpin prajurit di Surakarta masih duduk tepekur. Mereka menunggu
apa yang akan dikatakan oleh Kangjeng Susuhunan. Tetap! ternyata
kemudian Kangjeng Susuhunan berkata “Siapkan dahulu rencana sebaik-
baiknya. Kemudian sampaikan rencana itu kepadaku. Aku akan
mempelajarinya dan memutuskan” Para pemimpin prajur it Surakarta itu
serentak mengangguk-angguk kecil. Tetapi di dalam hati terbersit
pertanyaan “Berapa lama keputusan itu akan jatuh?“ Namun mereka
merasa, bahwa kelambatan itu datangnya harus bukan dari mereka.
Mereka harus segera menyiapkan rencana dan menyampaikan kepada
Kangjeng Susuhunan. “Menurut ingatanku, Kangjeng Susuhunan itupun
seorang prajurit yang baik. Kangjeng Susuhunan seharusnya tahu apa
yang harus dilakukan. Yang mana yang segera dan yang mana yang dapat
diambil keputusan kemudian” berkata Panglima di dalam hatinya.
Karena itu, demikian mereka meninggalkan ruangan, merekapun segera
menentukan waktu untuk bertemu dan membicarakan rencana untuk
menghadapi pemberontakan Pangeran Mangkubumi kemudian juga Raden Mas
Said. Ternyata bahwa para prajurit Surakarta itu memang mampu
bertindak cepat. Merekapun segera menjalankan tugasnya
sebaik-baiknya. Mereka hanya sekedar pulang keistana masing-masing
untuk sesaat, kemudian mereka telah siap untuk berangkat lagi
menghadiri pertemuan yang diadakan khusus untuk membicarakan
cara-cara yang sebaiknya untuk menumpas pemberontakan dengan bantuan
kumpeni. “Kau harus bersiap Juwiring” berkata ayahandanya sesaat
sebelum ia turun ke halaman “semuanya sudah mulai” “Ya ayahanda”
sahut Juwir ing. “Kita tidak dapat berbuat banyak. Tetapi semuanya
sudah mapan. Nanti sebentar lagi aku akan menghadiri pertemuan
penting untuk menumpas pemberontakan. Kaupun harus mempersiapkan
pasukanmu” “Apakah pasukanku juga akan diikut sertakan ayahanda?”
“Aku masih belum tahu pasti. Tetapi pasukan berkuda akan merupakan
pasukan yang sangat diperlukan. Setiap Senapati Surakarta tentu
memperhitungkan bahwa Pangeran Mangkubumi akan mempergunakan
cara-cara yang khusus. Ia akan membawa pasukannya dalam gerakan yang
cepat. Seperti kabut ia datang, tetapi seperti kabut ditiup angin,
mereka akan cepat menghilang” “Dengan demikian maka pasukan berkuda
akan merupakan pasukan yang penting di dalamperang ini” “Ya. Tetapi
jika rencana yang sepintas sudah aku dengar akan dibicarakan nanti
adalah perang yang tentu akan merupakan perang besar. Surakarta
bermaksud sekaligus menumpas pasukan Pangeran Mangkubumi sebelum
mereka menyebar. Atau Setidak-tidaknya induk pasukannya termasuk
Pangeran Mangkubumi sendir i. Petugas-tugas sandi telah dapat
menemukan tempat yang diduga, tetapi agaknya mendekati kebenaran,
tempat tinggal Pangeran Mangkubumi untuk sementara”
“Sukawati?““Justru tidak di Sukawati” Raden Juwiring mengerutkan
keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lagi ketika ayahanda berkata
“Nanti aku akan member itahukan, apa saja yang harus kita lakukan
setelah kami mengambil keputusan di dalam pembicaraan ini. Mungkin
pembicaraan nanti akan berlangsung lama” “Ya ayahanda” “Jagalah
adikmu baik-baik. Jangan kau beritahukan peristiwa-peristiwa yang
dapat menggelisahkannya” “Ia sudah mendengar ayahanda, karena hampir
semua orang sudah mendengar pula” Pangeran Ranakusuma
mengangguk-angguk. Namun ia masih-berpesan “Tetapi usahakan agar kau
dapat menenangkan hatinya” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak,
lalu “dimana War ih sekarang?“ “Ia berada di dapur ayahanda. Diajeng
Warih sekarang senang berada di dapur” “Sokur lah. la harus berubah.
Dan agaknya ia sudah berusaha menyesuaikan dir inya” Demikianlah
maka Raden Juwiring mengantar ayahandanya sampai ke mulut regol.
Ketika kereta yang membawa ayahandanya berlari semakin kencang, maka
sambil menundukkan kepalanya ia melintasi halaman rumahnya dan
langsung naik ke tangga pendapa. Langkahnya tertegun ketika ia
melihat adiknya berdiri di depan pintu sambil memandanginya dengan
tajamnya. “O, aku kira kau masih ada di dapur” desis Juwiring. Adik
perempuannya menarik nafas dalam-dalam. Namun sesuatu nampaknya
tersembunyi di balik tatapan matanya.“Kamas“ gadis itu berkata
perlahan-lahan “Jadi haruskah aku selalu diselubungi oleh teka-teki
tentang Surakarta, tentang tugas ayahanda dan tugas-tugasmu kamas?”
Raden Juwiring termangu-mangu sejenak. Kemudian iapun bertanya “Aku
tidak mengerti. Apakah yang kau maksudkan?” “Ayahanda selalu
berpesan agar kamas tidak member itahukan persoalan-persoalan yang
terjadi kepadaku. Ayahanda selalu berpesan agar kamas menenangkan
hatiku. Tetap bukankah dengan demikian ayahanda sekedar menyelubungi
keadaan dengan sehelai tabir yang lapuk, yang setiap saat bila angin
yang agak kencang berhembus, tabir itu akan sobek? Jika aku sama
sekali tidak mengetahui apa yang tersembunyi di balik tabir itu,
maka aku akan terkejut sekali melihatnya, dan aku akan kehilangan
pegangan untuk seterusnya. Karena itu kamas, sebaiknya kau selalu
mengatakan apa yang kau ketahui kepadaku, agar aku tidak selalu
dibayangi oleh teka-teki dan pertanyaan-pertanyaan yang meragukan”
Juwiring menegang sejenak. Namun kemudian ia tersenyum. Katanya
“Itulah kasih sayang seorang ayah. Ayahanda tidak mau melihat kau
menjadi gelisah dan apalagi cemas. Tetapi aku sudah mengatakan
kepada ayahanda, bahwa kau sudah mendengar semuanya” “Dan ayahanda
minta kepadamu agar kau berusaha membuat aku tenang dan tidak
gelisah” “Ya“ “Dan mendapat gambaran yang lain dari peristiwa yang
sudah terjadi itu?“ Juwiring tertawa. Katanya “Sudahlah. Jangan
terlampau banyak berprasangka. Sebenarnyalah yang terjadi tidak
segawat seperti yang dikatakan orang. Ayahanda sekarang sedang
mengadakan pembicaraan dengan Panglima dan paraSenapati, bagaimana
cara yang sebaik-baiknya untuk membuat Surakarta menjadi tenang”
“Ada jalan lain” desis adiknya. “Yang mana?“ bertanya Juwiring.
“Jika orang asing itu pergi dari Surakarta, maka pamanda Pangeran
Mangkubumi tidak akan membrontak. Dan ayahanda tidak usah menjadi
Senapati perang melawan kadang sendiri seperti pamanda Pangeran
Mangkubumi” gadis itu berhenti sejenak, lalu “Pamanda Pangeran
Mangkubumi adalah orang yang sangat baik. Bukankah ketika kamas
Rudira meninggal, pamanda Pangeran Mangkubumi termasuk orang yang
pertama-tama menjenguknya aku tahu, bahwa pamanda Pangeran tentu
tidak senang terhadap anak-anak muda seperti kamas Rudira saat itu”
Terasa dada Juwiring berdesir. Sebuah kenangan telah melintas di
dadanya. Kenangan tentang Rudira, dan tentang padepokan Jati Aking.
Bahkan terkenang olehnya saat-saat Dipanala datang kepadanya, dan ia
berkata “Aku tidak mempunyai sangkut paut lagi dengan istana
Ranakusuman” Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian iapun segera berkata “Sudahlah. Kau jangan menghiraukan
lagi pemberontakan Pamanda Pangeran Mangkubumi. Bukan maksudku untuk
menyembunyikan kenyataan yang terjadi di Surakarta. Tetapi sebaiknya
kau tidak usah memikirkannya. Biarlah itu menjadi tugas ayahanda dan
para Senapati. Kemudian j ika saatnya datang, biarlah akupun
berangkat ke medan tanpa membuat pertimbangan sendiri” “Jadi menurut
kamas, apakah kita sebaiknya menjadi semacam seekor kuda yang sudah
dipasang di depan sebuah kereta. Kadang-kadang seekor kuda bahkan
ditutup matanya sama sekali, sehingga kuda itu berlari saja seperti
dikehendaki oleh sais tanpa mengetahui arah”“Tentu tidak. Maksudku,
ayahanda tahu apa yang harus dilakukan. Apa yang harus diputuskan”
“Kumpeni memang harus pergi” desis gadis itu. Sekilas terbayang
diangan-angannya, senjata api itu meledak dan kakaknya, Raden Rudira
terlempar dar i punggung kudanya. Terbayang pula, apa saja yang
pernah terjadi atas ibundanya. Raden Juwiring menarik nafas
dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia memandang sesuatu yang nampak
sedikit mencuat diikat pinggang adiknya di bawah kembennya. “Patrem
itu tentu selalu dibawanya” berkata Juwiring di dalam hatinya.
Dengan demikian Raden Juwiring dapat membayangkan kegelisahan di
hati adiknya, seorang gadis. Jika kumpeni dan prajurit Surakarta
kalah, dan kota kemudian diduduki orang- orang yang disebut
pemberontak, maka ia akan menjadi barang rampasan dan oleh
orang-orang yang disebut pemberontak itu, ia tentu akan diperlakukan
sebagai perempuan rampasan yang tidak ada harganya. Tetapi adiknya
itupun menyadari, bahwa kumpeni justru sudah memper lakukan
perempuan-perempuan di Surakarta sebagai barang mainan. Gadis itu
memejamkan matanya ketika seolah-olah terbayang tingkah laku
ibundanya di rongga matanya. “Kau digelisahkan oleh angan-anganmu”
berkata Juwiring sambil menepuk pundak adiknya. Adiknya
memandanginya sesaat Namun gadis itupun kemudian berlari ke
dalambiliknya. Ketika Juwiring menyusulnya, dilihatnya adiknya sudah
menelungkup di pembaringannya sambil menangis. “Kau dihantui oleh
bayangan angan-anganmu sendir i” berkata Juwiring sambil duduk di
sebelah adiknya “Sudahlah.Jangan risau. Tidak akan terjadi perubahan
apapun di Surakarta“ “Aku takut kamas” terdengar suara gadis itu
disela-sela isak tangisnya “Aku tidak mau melihat kemungkinan yang
manapun yang bakal terjadi. Aku tidak mau kumpeni memper lakukan
perempuan-perempuan di Surakarta ini seperti memper lakukan ibunda.
Dan aku juga t idak mau menjadi perempuan rampasan yang diperlakukan
tidak lebih baik dari benda-benda rampasan yang lain j ika prajur it
Surakarta kalah” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Yang dikatakan
oleh adiknya adalah tepat seperti yang diduganya. “Kau tidak perlu
gelisah. Bukankah di sekitar kita masih lengkap prajurit-prajur it
pengawal? Aku adalah Senapati pasukan berkuda, sedang ayahanda
adalah Senapati yang disegani” “Justru karena itulah kalian akan
selalu berada di peperangan” “Ayahanda akan menyerahkan kau kepada
paman Dipanala dan beberapa orang pengawal pilihan. Jika terpaksa
kau dapat menempatkan dir imu di bawah perlindungan prajurit-prajur
it Surakarta di istana. Tidak akan ada apa-apa” Tetapi adiknya masih
terisak meskipun lambat laun akhirnya ia terdiam juga. Bahkan
kemudian Juwiring mendengar desah nafas adiknya yang teratur.
Ternyata gadis itu tertidur sambil menelungkup di pembaringannya.
Juwiringpun kemudian tidak mengusiknya. Ditinggalkannya adiknya
keluar dari bilik itu. Dengan hati-hati ia menutup pintu dan
kemudian melangkah ke dalam biliknya sendir i. Sejenak Juwiring
duduk termangu-mangu. Kini ia sendiripun mulai dipengaruhi oleh
kegelisahan. Sebenarnyalah semuanya dapat terjadi atas Surakarta.
Kekuatan PangeranMangkubumi memang t idak dapat diperhitungkan lebih
dahulu. Ternyata bahwa kelompok- kelompok prajur it Surakarta telah
mendapat serangan serentak dari pasukan Pangeran Mangkubumi. “Tentu
ada orang dalam yang memberikan kabar tentang rencana mencegatan
senjata itu” berkata Raden Juwiring di dalam hatinya “Jika tidak,
maka pamanda Pangeran Mangkubumi tentu t idak akan mengetahui
seluruh kelompok prajurit yang disebarkan oleh Surakarta di sekitar
kota untuk merampas segala jenis senjata” Sementara itu, Pangeran
Ranakusima telah berada bersama dengan beberapa orang yang telah
ditentukan untuk menyusun rencana tindakan yang segera harus diambil
oleh prajurit Surakarta, sebelum Pangeran Mangkubumi bergerak lebih
luas lagi. “Tidak ada jalan lain kecuali membinasakannya segera”
berkata kumpeni. “Jika hal itu sama-sama kita setujui, maka
persoalannya adalah, bagaimana kita akan dapat membinasakan Pangeran
Mangkubumi” bertanya seorang Senapati. “Kita harus dengan tindakan
yang cepat menyergap pusat kemudi pemberontakannya. Menangkap hidup
atau mati Pangeran Mangkubumi dengan beberapa orang Pangeran yang
lain” “Mereka tentu terpencar” “Jika demikian yang penting adalah
Pangeran Mangkubumi” “Tidak semudah yang kau katakan” desis
Panglima. “Surakarta menyediakan pasukan sejauh dapat dihimpun”
berkata kumpeni itu “Aku akan menyediakan prajuritku yang ada di
Surakarta seluruhnya. Kita kepung tempat tinggal mereka. Kemudian
kita binasakan. Semua bangunan kita bakar, dan semua orang kita
bunuh, sehingga tidak ada yangterlampau. Menurut pendengaranku
Pangeran Mangkubumi dapat merubah dirinya dalam segala bentuk
penyamaran. Karena itu, untuk menghindari penyamaran yang sempurna,
maka semua laki- laki yang tertangkap harus dibunuh. Siapapun
mereka” Para Senapati dari Surakarta terdiam sejenak. Bagaimanapun
juga. pemberontak-pemberontak itu adalah keluarga orang orang
Surakarta sendir i. Namun demikian agaknya para Senapati segan
mengemukakannya dihadapan perwira kumpeni itu, sehingga untuk
beberapa saat tidak seorangpun yang mengatakan sesuatu pendapat.
Tetapi akhirnya Pangeran Ranakusuma berkata “Jika semua laki- laki
dibunuh, maka akan jatuh banyak sekali korban yang tidak berarti di
antara rakyat Surakarta” Para Senapati yang mendengar kata-kata
Pangeran Ranakusuma itu mengangguk-angguk. Merekapun t idak akan
dapat membiarkan pembunuhan yang semena-mena itu terjadi di antara
rakyat Surakarta. Namun demikian merekapun menyadari bahwa korban
pasti akan jatuh di kedua belah pihak. Tetapi bukan pembunuhan dan
pembantaian seperti yang dikatakan oleh kumpeni itu. Dalam pada itu
perwira kumpeni itupun menjawab “Tetapi jika kita tidak berani
bertindak tegas, maka pemberontakan itu akan cepat menjalar” “Kita
harus dapat menyelesaikan persoalan ini dengan tegas, tetapi
bijaksana” berkata Panglima. “Itu adalah kebijaksanaan” jawab
kumpeni “Jika kita berani member ikan korban dengan tidak ragu-ragu,
maka t idak akan ada orang lain yang berani berpihak kepada Pangeran
Mangkubumi. Bukankah dengan demikian ada keseimbangan sehingga tidak
akan jatuh korban-korban baru yang akanberceceran disegala tempat.
Bukankah itu juga diperhitungkan atas pertimbangan yang sama dengan
pertimbangan kalian?“ Para Senapati mengerutkan keningnya. Tetapi
Pangeran Ranakusuma berkata “Aku dapat mengerti. Tetapi alangkah
baiknya jika korban dapat dibatasi sekecil-kecilnya. Kita tidak usah
mengadakan pembantaian dimanapun juga. Kita usahakan untuk mengepung
tempat persembunyian Pangeran Mangkubumi. Kita tidak membiarkan
seorangpun lolos. Jika kita berhasil memaksa mereka meletakkan
senjata, kita akan dapat dengan segera mengenal Pangeran Mangkubumi”
“Bagaimana j ika tidak?“ bertanya perwira kumpeni. “Kita bertempur.
Tetapi ada bedanya antara bertempur sampai orang terakhir dengan
membunuh semua orang laki- laki” Kumpeni menahan kata-kata yang
sudah hampir meloncat dari bibirnya ketika Panglima pasukan
Surakarta berkata “Aku sependapat. Kita bertempur sampai mereka
menyerah atau musna sama sekal. Bukan pembunuhan semata-mata. Kita
akan menemukan Pangeran Mangkubumi di antara mereka. Baru kemudian
kita memikirkan Raden Mas Said” Perwira kumpeni tidak membantah
lagi. Ia mengerti bahwa betapapun tipisnya ternyata masih juga ada
perasaan kebangsaan di antara para bangsawan dan Senapati itu.
Karena itu maka jalan yang paling baik adalah menerima ketentuan itu
dengan perintah khusus bagi kumpeni, membunuh setiap laki-laki yang
dijumpainya. Pembicaraan itu masih dilanjutkan. Setelah pokok
pikiran itu diterima, maka merekapun mulai membicarakan cara yang
dapat mereka tempuh untuk melaksanakannya.
-
Jilid 19 “BESOK kita akan mendapat
kepastian, dimana Pangeran Mangkubumi berada. Petugas-tugas sandi
telah menyebar, dan bahkan ada di antara mereka yang berhasil
menyusup di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi. Meskipun Pangeran
Mangkubumi jarang sekali memperlihatkan dirinya, tetapi dengan usaha
yang bersungguh-sungguh, orang itu tentu akan dapat mengetahui
dimana Pangeran Mangkubumi itu berada” “Tetapi Pangeran Mangkubumi
dapat berada di beberapa tempat sekaligus. Meskipun Pangeran
Mangkubumi yang sebenarnya tetap satu, namun orang itu akan dapat
tersipu oleh bentuk-bentuk Pangeran Mangkubumi yang lain, sehingga
yang dilaporkannya bukannya tempat Pangeran Mangkubumi yang
sebenarnya” berkata Pangeran Ranakusuma. Tetapi Panglima pasukan
Surakarta itu tersenyum. Katanya “Yang akan menyelesaikan masalah
ini bukannya anak-anak. Bukan orang yang baru menyelesaikan masa
berguru pada seorang pertapa. Tetapi ia adalah orang yang sudah
kenyang makan asin manisnya kehidupan, yang kasar maupun yanghalus.
Yang badaniah maupun yang bersifat lembut dan tidak kasat mata” “Aku
tidak peduli” potong kumpeni itu “yang penting ia berhasil
mengetahui kedudukan Pangeran Mangkubumi dengan cerdik dan
mempergunakan akal. Tidak dengan dongeng-dongeng yang disadap pada
ceritera-ceritera khayal di jaman batu” “Terserah atas penilaianmu”
jawab orang Senopati “tetapi untuk melawan ilmu Pangeran Mangkubumi
diper lukan ketajaman indera. Kelima indera kita yang nampak, tidak
akan dapat kita pergunakan, sehingga kita memer lukan indera yang
lain” “Kita menempuh cara kita masing-masing” berkata Panglima
“tetapi kita harus memadukannya dalam suatu kera- sama yang
seimbang. Dengan demikian barulah kita akan berhasil” “Terserahlah”
desis kumpeni itu “bagiku, akal yang jernih akan memenangkan segala
perjuangan. Tetapi jika kalian masih menganggap perlu adanya
kepercayaan atas ilmu hitam itu, terserahlah. Yang penting bagi kita
adalah mengetahui dimana Pangeran Mangkubumi itu bersembunyi. Bukan
orang- orang kembar yang disamarkan seolah-olah Pangeran Mangkubumi.
Petugas-tugas sandi itu harus mempunyai ketajaman pengenalan atas
Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya. Betapapun miripnya, tetapi
orang-orang yang menyamar sebagai Pangeran Mangkubumi di beberapa
tempat itu tentu mempunyai perbedaan-perbedaan. Mungkin suaranya,
mungkin caranya berjalan” Para pemimpin prajurit Surakartapun merasa
tidak perlu lagi menanggapi pendapat perwira kumpeni itu, sehingga
merekapun kemudian hanya mengangguk-angguk saja. “Baiklah” berkata
Panglima selanjutnya “kita serahkan kepada petugas-tugas sandi, cara
yang manakah yang akanmereka pilih. Tetapi kita harus menemukan
dengan pasti persembunyian Pangeran Mangkubumi” Tidak ada lagi yang
membantah sehingga pembicaraan selanjutnyapun dapat dilakukan. Para
Senapati yang dipimpin oleh Pangeran Yudakusuma itupun segera
merencanakan cara yang paling baik untuk menyergap dengan sasaran
sementara sesuai dengan laporan terakhir, laporan yang paling dapat
dipercaya tentang kedudukan Pangeran Mangkubumi Sementara itu,
mereka akan memer intahkan petugas-tugas sandi untuk mendapatkan
kepastian dengan menghubungi orang-orang mereka yang berhasil
menyusup di dalam pasukan yang mereka anggap pemberontak itu. “Kita
menunggu satu hari satu malam” berkata Pangeran Yudakusuma yang
menjadi Panglima pasukan Surakarta. “Tidak boleh tertunda lagi”
berkata kumpeni “satu hari satu malamadalah waktu yang terlampau
panjang” “Tidak mungkin kurang dar i itu j ika kita tidak mau gagal”
jawab Panglima itu kita harus tahu dengan pasti. Bukan sekedar
kira-kira” Akhirnya pembicaraan itupun mengambil beberapa sikap.
Sikap yang harus mereka rahasiakan, agar sikap itu tidak sampai
menjalar dari mulut ke mulut yang akhirnya dapat sampai ke telinga
Pangeran Mangkubumi. Namun dalam pada itu, setiap Senapati sudah
mendapat tugasnya masing-masing Pasukan yang sudah ditentukan ikut
serta di dalam tugas yang besar dan berat harus segera dipersiapkan
meskipun mereka tidak boleh mengetahui lebih dahulu tujuan dari
persiapan mereka. Yang dapat mereka lakukan hanyalah sekedar
meraba-raba. Mungkin setiap prajurit menyadari bahwa mereka
dipersiapkan untuk melawan Pangeran Mangkubumi, tetapi mereka tidak
tahu pasti, kapan dan dimana.“Semua harus siap dalam waktu sehari
semalam sejak matahari terbit besok” berkata Panglima “pada saatnya
kita akan mengumpulkan mereka. di malam berikutnya kita mulai
bergerak dan mengepung pemusatan pasukan Pangeran Mangkubumi setelah
kita mengetahui dengan pasti, dimanakah ia bersembunyi, dan berapa
kekuatannya di dalam pemusatan itu. Selain pasukannya yang berada di
tempat tersebut, kitapun harus mengetahui pasukan cadangan yang akan
dapat membantui setiap saat, sehingga kitapun harus mempersiapkan
pasukan untuk memotong pasukan cadangan mereka” Demikianlah setelah
persoalan pokok terpecahkan, mereka mulai membicarakan
pasukan-pasukan yang akan disertakan di dalam tugas itu. Kemudian
cara yang paling baik untuk menyerang. Para Senapati itu sependapat,
bahwa tempat pemusatan Pangeran Mangkubumi untuk sementara
diperkirakan berada di salah satu padukuhan di sebelah selatan
Matesih. Dan padukuhan yang paling mungkin itu adalah padukuhan
Pandan Karangnangka, “Kita harus mengepungnya rapat-rapat di malam
har i. Tidak boleh ada lubang seujung duripun yang dapat
dipergunakan Pangeran Mangkubumi untuk lolos. Pada saat matahari
terbit di pagi berikutnya, kita mulai maju dan menjerat semua orang
yang ada di dalam padukuhan itu, sementara pasukan cadangan harus
berjaga-jaga apabila ada bantuan yang datang dari manapun juga”
berkata Panglima. “Semakin cepat semakin baik, selagi pengaruh
Pangeran Mangkubumi belum meluas ke Padukuhan-padukuhan yang lain”
berkata seorang Senapati. Keputusan itulah yang kemudian diambil.
Dilengkapi dengan pasukan-pasukan yang akan disertakan beserta
Senapati masing-masing. Termasuk sekelompok pasukankumpeni yang
mempunyai kelengkapan perang yang lebih baik dar i prajur
it-prajurit Surakarta. “Kita tidak boleh membiarkan pemberontakan
itu menjalar semakin luas seperti Raden Mas Said sebelum ia terusir.
Setelah Pangeran Mangkubumi, harus segera diselesaikan pula pasukan
Raden Mas Said dengan cara yang sama. Menghancurkannya dengan cepat
dan tuntas” berkata Senapati yang lain. “Nah” berkata Panglima
kemudian “kita tinggal melaksanakan. Jika ternyata ada perubahan
mengenai tempat persembunyian Pangeran Mangkubumi, maka sebagian
besar persoalannya sudah kita pecahkan. Kita tinggal merubah
beberapa bagian dari arah serangan kita” Demikianlah pembicaraan
itupun diakhiri. Pangeran Ranakusuma dengan perwira kumpeni yang
ikut serta dalam pembicaraan itu, mendapat tugas khusus untuk
merencanakan arah setiap kelompok. Mereka harus menyusun dengan
teliti, dengan memperhatikan setiap lorong yang menusuk ke dalam
padukuhan itu. Parit, pematang, pepohonan besar tidak dapat mereka
abaikan, termasuk gardu-gardu dan pagar batu yangagak tinggi.
“Sebelum kita menyerang, kita akan memanggil setiap pemimpin
kelompok. Setelah saatnya kita berangkat, kita akan menunjukkan
kepada mereka, jalur jalan yang manakah yang harus mereka lalui
Setiap kelompok harus tahu pasti, agar merek tidak saling berebut
lawan, dan dengan demikian dapat menumbuhkan kelemahan dan
kelengahan pada bagian- bagian tertentu” berkata Panglima perang
itu. “kita akan mempergunakan gelar induk dari arah jalan yang
paling besar memasuki padukuhan itu “berkata Pangeran Ranakusuma” di
bagian lain sebagian besar adalah kelompok- kelompok yang sekedar
bertugas menutup kepungan agar tidak seorangpun yang dapat
lolos”“Kita akan menerima keseluruhan dari rencana itu” jawab
Panglima “besok pagi aku akan mempelajarinya” Dengan demikian maka
pembicaraan itupun dilanjutkan hanya oleh Pangeran Ranakusuma dan
perwira kumpeni yang dianggap mempunyai pengalaman yang cukup,
sedang Pangeran Ranakusuma selain seorang Senapati yang disegani,
juga mempunyai bahan pengenalan yang cukup pula atas daerah itu.
Keputusan yang diambil oleh Pangeran Ranakusuma dan perwira kumpeni
itupun kemudian merupakan lencana yang masak dengan segala persoalan
yang menyangkut sergapan besar-besaran itu. Tetapi amatlah sulit
untuk mendapat kesepakatan. Mereka mempunyai pertimbangan yang
berbeda. Namun itulah yang dikehendaki oleh Pangeran Yudakusuma.
Justru karena perbedaan pandangan dan sikap, maka mereka akan
melahirkan rencana yang sudah tersaring. Setelah semuanya selesai,
maka keputusan-keputusan itupun disusun sebaik-baiknya dan siap
untuk disampaikan kepada Kangjeng Susuhunan. “Aku akan menghadap
langsung” berkata Pangeran Yudakusuma “Aku harus meyakinkan Kangjeng
Susuhunan bahwa semuanya harus berjalan cepat sesuai dengan rencana.
Jika tidak, maka kita akan ketinggalan dan persoalan selanjutnya
akan berkepanjangan. Bukan hanya ketinggalan satu dua hari, tetapi
jika lebih itu sudah pecah dan berterbangan bercerai berai dari
sarangnya, maka mereka akan menjadi jauh lebih berbahaya daripada
saat mereka masih tertidur nyenyak di dalam sarangnya” Pangeran
Ranakusuma mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menjawab, perwira
kumpeni sudah mendahului “Cepat, dan usahakan agar Kangjeng
Susuhunan dapat mengerti”Pangeran Yudakusumapun kemudian langsung
pergi menghadap Kangjeng Susuhunan, sementara yang lain dapat
kembali ke rumah masing-masing. “Baiklah, berikan rencana yang sudah
kau susun sebaik- baiknya itu“ berkata Kangjeng Susuhunan setelah
menerima Pangeran yang mendapat tugas untuk memimpin prajur it
Surakarta mengepung pasukan Pangeran Mangkubumi. “Kangjeng
Susuhunan, hamba mohon keputusan sekarang” jawab Pangeran
Yudakusuma, “Aku akan mempelajarinya” Keadaan sudah memaksa. Jika
kita terlambat, maka Surakarta benar-benar akan menjadi lautan medan
pertempuran yang sangat mengerikan. di setiap padesan dan padukuhan
akan terjadi pembunuhan dan kekerasan” Kangjeng Susuhunan merenung
sejenak “Tuanku, hamba merasa bertanggung jawab atas rencana yang
sudah hamba susun bersama dengan saudara-saudara hamba, para
Senapati dan perwira kumpeni. Rencana itu adalah rencana yang paling
baik yang dapat kami susun untuk waktu yang tepat seperti tercantum
di dalam rencana kami itu” “Kau harus member i kesempatan aku
memikirkannya” berkata Kangjeng Susuhunan “Aku adalah Raja. Aku
bukan sekedar Senapati Agung di Surakarta, tetapi aku juga pelindung
dan pangayoman lahir dan batin” “Hamba mengerti Kangjeng Susuhunan,
justru karena kedudukan tuanku itulah maka hamba mohon, agar hamba
diperkenankan melaksanakan kuwaj iban hamba secepat- cepatnya.
Sebenarnyalah, bahwa hamba tidak akan sanggup lagi mengendalikan
keadaan jika hamba terlambat sesaat saja dari rencana yang sudah
hamba serahkan”“Jadi apa yang harus aku setujui, j ika aku belum
mengerti persoalannya” “Seperti yang sudah Hamba jelaskan dihadapan
tuanku. Pelaksanaan dalam garis-garis kecil terdapat di dalam
susunan lengkap yang hamba serahkan kepada tuanku itu” Kangjeng
Susuhunan menjadi termangu-mangu. Ia kini benar-benar berdiri
dipersimpangan jalan yang pelik. Jika ia mengambil keputusan segera,
maka kedudukan Pangeran Mangkubumi tentu akan mengalami kesulitan.
Menurut penjelasan Panglima prajurit Surakarta, semuanya sudah
diatur rapi. Seakan-akan tidak akan ada kesalahan sama sekali yang
dapat dilakukan oleh pasukan Surakarta bersama kumpeni dalam tugas
mereka menghancurkan pemberontakan Pangeran Mangkubumi. Namun
apabila Kangjeng Susuhunan tidak memberikan keputusan segera, maka
persoalannya akan menjadi berkepanjangan. Dan tentu akan t imbul
kekerasan yang bertebaran di seluruh sudut Mataram dan sekitarnya.
Seperti yang dikatakan oleh Panglima itu, jika lebah sudah tercerai
beraikan dari sarangnya, mereka akan menjadi semakin berbahaya,
karena lebah itu akan menjadi liar dan buas. Dalam kebimbangan itu,
terngiang kata-kata Panglima “Sebenarnyalah bahwa hamba tidak akan
dapat mengendalikan keadaan j ika hamba terlambat sesaat saja”
Kangjeng Susuhunan menarik nafas dalam-dalam. Dalam pada itu, karena
Kangjeng Susuhunan tidak segera menjawab, Pangeran Yudakusuma itu
berkata “Ampun tuanku. Malam ini semua Senapati sudah dihubungi.
Mereka harus menyiapkan pasukan mereka dalam waktu sehari semalam,
seperti yang hamba sebutkan di dalam keseluruhan rencana hamba.
Karena menurut pertimbangan hamba, menyiapkan prajurit Surakarta
untuk sebuah peperangan yang besar, diperlukan waktu dan di dalam
pelaksanaannya tidak mengejutkan dan membuat kegelisahan. Lebih dari
itu, tidaksegera menimbulkan kecurigaan pada petugas-tugas sandi
lawan” Kangjeng Susuhunan masih berdiam diri. Terbayang pasukan
Surakarta bersiap sepenuhnya di tempat masing- masing tanpa
mengetahui rencana dengan pasti. Baru setelah merekabergerak, mereka
akan diberitahukan, apa yang harus merela lakukan. “Ampun Kangjeng
Susuhunan” berkata Panglima itu “perintahkan hamba untuk
melaksanakan secepatnya. Hamba akan segera mohon dir i dan member
itahukan, bahwa Kangjeng Susuhunan sudah menjatuhkan per intah untuk
melaksanakan” Kangjeng Susuhunan Pakubuwana itu masih termangu-
mangu. Hatinya masih diragukan oleh kemungkinan yang dapat terjadi.
Apapun yang dipilihnya, namun keadaannya memang sudah menjadi rumit.
Maju atau mundur, ia menyadari bahwa ia akan membentur kesulitan
bagi dir inya sendiri dan bagi Surakarta. Terasa betapa sulitnya
keadaannya, sehingga rasa-rasanya kepalanya menjadi pening.
Kesehatannya yang semakin lama menjadi semakin mundur itu memang
tidak menguntungkan baginya dalam keadaan seperti itu. Tetapi ia
tidak dapat berbuat banyak selain berusaha mengobati dirinya
sendiri. Bahkan tabib yang manapun juga sudah dipanggilnya untuk
mencoba memulihkan kesehatannya. “Kangjeng Susuhunan” berkata
Panglima itu “hamba, hanya menunggu perintah pelaksanaannya.
Seterusnya, tuanku dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada
kami. Pada suatu saat hamba akan datang lagi melaporkan kehadapan
Kangjeng Susuhunan, bahwa Pangeran Mangkubumi telah dapat kami
tangkap, hidup atau mati” Kangjeng Susuhunan menar ik nafas
dalam-dalam. Memang tidak ada pilihan lain lagi baginya. Ia harus
memilih, Surakartaakan hancur bersama peradabannya karena peperangan
yang akan membakar seluruh daerah Mataram, atau Pangeran Mangkubumi
harus diikhlaskannya. Sejenak Kangjeng Susuhunan memandang Panglima
itu sambil mengusap dadanya. Namun kemudian katanya “Baiklah. Jika
kalian tidak dapat menunggu lagi barang sehari, lakukanlah rencana
kalian. Tetapi seperti pesan yang pernah aku berikan bahwa yang
penting di dalam peperangan ini bukannya suatu perlombaan membunuh
sebanyak-banyaknya. Seorang Senapati yang baik adalah mereka yang
dapat mencapai hasil yang sebesar-besarnya dengan titik darah yang
sekecil-kecilnya di kedua belah pihak. Seorang Senapati harus dapat
mengendalikan anak buahnya agar mereka t idak, berubah menjadi liar
seperti kehidupan r imba raya” Panglima pasukan Surakarta itu menar
ik nafas. Terngiang kata-kata perwira kumpeni yang ada di dalam
pembicaraan selagi ia menyusun rencana penyerbuan ke sarang Pangeran
Mangkubumi “Semua laki-laki harus dibunuh” Tetapi Panglima itu
kemudian menjawab “Ampun Kangjeng Susuhunan. Hamba akan
memperhatikan semua pesan tuanku” “Bukan sekedar diperhatikan.
Tetapi kau harus melaksanakan perintah itu” berkata Kangjeng
Susuhunan tegas. “Hamba tuanku“ Pangeran Yudakusuma menundukkan
kepalanya. “Nah, pergilah. Kau dapat meniru Pangeran Mangkubumi yang
berhasil mengendalikan anak buahnya. Kau dapat bertanya kepada
prajurit yang kau sebar di seputar kota dengan cara yang bodoh
sekali. Mereka yang terluka, dan tidak lagi dapat melawan, maka
mereka seakan-akan dibiarkan saja oleh lawan-lawan mereka”Pangeran
Yudakusuma menggeram di dalam hati. Ia tidak dapat mengerti, kenapa
Kangjeng Susuhunan nampaknya sangat terpengaruh oleh sikap Pangeran
Mangkubumi. “Pangeran Mangkubumi memang adiknya tersayang” berkata
Pangeran Yudakusuma di dalam hatinya. Tetapi justru karena itu,
perasaan iri hati telah melonjak di dalam hati. Hadiah Tanah
Sukawati yang berlebih-lebihan tidak dapat diterima oleh beberapa
orang Pangeran, termasuk Pepatih Surakarta. “Nah, pergilah. Mudah-
mudahan kalian berhasil tanpa melepaskan korban terlampau banyak”
“Hamba mohon restu tuanku” jawab Panglima itu. “Aku akan berdoa bagi
Surakarta” jawab Kangjeng Susuhunan. Namun dalam pada itu, Panglima
itupun tidak segera beringsut dar i tempatnya sehingga Kangjeng
Susuhunan bertanya “Apalagi yang kau tunggu?“ “Ampun Kangjeng
Susuhunan. Seingat Hamba, jika seseorang mendapat tugas langsung
atas perintah tuanku, maka tuanku memberikan pertanda bahwa
kuwajiban yang dipikul itu adalah kuwaj iban memangku kekuasaan
tertinggi di Surakarta” Kangjeng Susuhunan menarik nafas
dalam-dalam. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian katanya
“Baiklah Panglima. Aku akan memberikan pertanda bahwa yang kau
lakukan adalah perintah yang aku berikan. Bawalah salah satutunggul
kerajaan sebagai pertanda itu. Kau dapat membawa tunggul Kiai Semi
atau Kiai Baru, beserta panji-panjinya Kiai Kemitir. Pangeran
Yudakusuma mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Ampun tuanku.
Sebenarnyalah bahwa tugas hamba kali ini adalah tugas yang sangat
berat. Setiap prajurit menyadari, siapakah Pangeran Mangkubumi itu.
Seorang Pangeran yang pilih tanding dan dilambar i dengan segala
macam ilmu yang tidak dimiliki oleh orang. lain. Sampai pada ilmu
yang hampir tidak dikenal lagi sekarang ini. Ilmu Sepi Angin dan
ilmu Lelimunan. Itulah sebabnya maka jika tuanku berkenan, maka
hamba mohon untuk mendapat bekal bukan saja sebagai pertanda, tetapi
juga sebagai lambaran kekuatan hamba, pusaka yang tidak ada duanya,
Kangjeng Kiai Pleret” Terasa dada Kangjeng Susuhunan bergetar.
Sekilas tumbuh dugaan di dalam hati Kangjeng Susuhunan, bahwa
agaknya Pangeran Yudakusuma mengetahui bahwa tombak Kangjeng Kiai
Pleret telah diberikannya kepada Pangeran Mangkubumi. Namun kemudian
Kangjeng Susuhunan itu berhasil menguasai dirinya meskipun ia tidak
dapat melenyapkan ketegangan di wajahnya. Meskipun demikian, ia
berkata “Panglima. Seharusnya kau mengetahui, bahwa Kangjeng Kiai
Pleret tidak akan dapat keluar dari gedung perbendaharaan pusaka
tanpa aku sendiri berangkat ke medan” Wajah Panglima itu menjadi
tegang. Ditatapnya wajah Kangjeng Susuhunan sejenak. Namun kemudian
sambil menundukkan kepalanya ia berkata “Kangjeng Susuhunan, di
dalam persoalan yang paling gawat seperti sekarang ini apakah hamba
tidak dapat memohon kepada Kangjeng Susuhunan, seakan-akan
Kepergianku langsung mengantar Kangjeng Susuhunan sendir i ke medan
perang” “Jadi yang kau maksud, permintanmu atas tombak Kangjeng Kiai
Pleret itu merupakan perlambang, bahwa kau mohon aku sendir i
menjadi Senapati Agung di peperangan?““Tidak tuanku. Sama sekali
tidak. Bahkan seandainya tuanku ingin pergi ke medan, hamba harus
berusaha mencegahnya. Selagi masih ada para Pangeran dan para
Senapati, maka Kangjeng Susuhunan tidak per lu beranjak duri istana.
Apalagi Pangeran Mangkubumi adalah saudara muda Kangjeng Susuhunan
yang tidak pantas tuanku layani sendiri. “Jadi?“ “Yang ingin hamba
mohon adalah sekedar pusaka Mataram turun tumurun” “Sudah aku
katakan. Kangjeng Kiai Pleret tidak akan dapat keluar dari istana
tanpa aku sendir i. Tanpa Raja sendir i turun ke medan” “Tuanku,
bukankah pada saat yang gawat, Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang,
pernah memberikan pusaka Kangjeng Kiai Pleret kepada putera
angkatnya, Mas Ngabehi Loring Pasar, yang kemudian bergelar
Panembahan Senapati ing Ngalaga, pada saat Mas Ngabehi Loring Pasar
sedang mengemban tugas yang paling gawat melawan Adipati dari
Jipang” Kangjeng Susuhunan termenung sejenak. Namun kemudian ”Ada
perbedaannya. Mas Ngabehi loring Pasar, leluhur kita itu memang
sudah diharapkan oleh Kangjeng Sultan Hadiwijaya untuk
menggantikannya kelak, setelah ia mengetahui betapa lemahnya sifat
dan sikap puteranya sendiri, Pangeran Benawa yang kemudian menjadi
Adipati di Jipang” Wajah Pangeran Yudakusuma menjadi merah sekilas.
Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya yang tergetar.
Dan Kangjeng Susuhunan Pakubuwana itu melanjutkan “Bukankah keadaan
yang sekarang agak berbeda?“ Panglima itu menarik nafas dalam-dalam.
Lalu “Ampun Kangjeng Susuhunan. Jika demikian, baiklah, pada saat
hamba akan maju ke medan, hamba akan menghadap danmohon
diperkenankan membawa pertanda kuasa Kangjeng Susuhunan meskipun
bukan Kangjeng Kiai Pleret” “Aku sudah mengatakan, kau dapat membawa
panji-panj i Kiai Kemitir bersama tunggulnya yang dapat kau pilih di
antara beberapa tunggul yang ada” Panglima itu membungkuk
dalam-dalam. Tetapi di dalam hati berkata “Hanya sebuah tunggul
kerajaan, bukan sebuah tombak pusaka yang dapat mencabarkan segala
kesaktian Pangeran Mangkubumi” Namun Pangeran Yudakusuma masih
mempunyai kepastian bahwa ia akan dapat mengalahkan pasukan Pangeran
Mangkubumi. Menilik pembicaraan di antara para Senapati, maka nampak
bahwa pasukan Mataram benar-benar sudah siap untuk menghancurkannya.
Jika Pangeran Mangkubumi mempergunakan ilmunya di dalam peperangan
itu, masih dapat diharapkan, beberapa orang Senapati akan dapat
mengimbanginya, meskipun bersama-sama. “Jika Pangeran Mangkubumi
sendir i turun ke peperangan tanpa bersedia menyerah, maka Pangeran
Ranakusuma dan aku sendiri akan menghadapinya. Kami dapat menyatukan
ilmu yang ada pada kami berdua untuk melawan ilmu yang bertimbun di
dalam dir i Pangeran Mangkubumi. Jika perwira kumpeni itu trampil,
selagi Pangeran Mangkubumi memusatkan perlawanan ilmunya atas kami,
maka ia akan dapat menembak dengan senjata apinya, dan mudah-
mudahan dapat menembus kulit Pangeran Mangkubumi itu“ berkata
Panglima itu di dalamhatinya. Dengan demikian, maka Pangeran
Yudakusuma sama sekali tidak dapat lagi mengatasi per intah Kangjeng
Susuhunan. Ia tidak akan dapat membawa pusaka yang dikehendakinya.
Kiai Pleret.Tetapi bahwa Kangjeng Susuhunan telah dapat dipaksanya
untuk menyetujui rencananya dan bahkan segera dapat dilaksanakan,
membuat Pangeran Yudakusuma berbesar hati. Waktu itu akan sangat
berharga baginya. Dan jika ia dapat memanfaatkannya, maka ia tentu
akan dapat berhasil dengan baik tanpa memberikan korban
sebanyak-banyaknya. “Jika kumpeni ingin membantai pengikut Pangeran
Mangkubumi sebanyak-banyaknya itu adalah tanggung jawabnya sendiri.
Tentu prajurit-prajurit Surakarta tidak akan berbuat demikian,
karena pengikut Pangeran Mangkubumi adalah orang-orang Surakarta
pula seperti prajurit-prajurit itu sendiri. Jika ada dendam yang
meledak, adalah wajar sekali terjadi di peperangan. Di peperangan
seseorang akan bersikap lain dengan apabila orang itu berada di
tempat ibadah” Pangeran Yudakusuma masih saja bergumam untuk dir
inya sendiri. Perintah Kangjeng Susuhunan untuk segera melaksanakan
rencananya, segera disampaikannya kepada Pangeran Ranakusuma dan
perwira kumpeni itu. Agar berita itu tidak menjalar ke telinga orang
yang tidak dikehendaki, maka Panglima itu datang sendiri langsung
menjumpai kedua orang itu berturut-turut “Baiklah” berkata Pangeran
Ranakusuma “Akupun akan segera bersiap. Pasukan di bawah panj i-panj
i sayap kir i dan kanan akan segera disiapkan bersama Senapati
Pengapit seorang” Pangeran Yudakusuma mengangguk-angguk. Ia menjadi
berbesar hati melihat Pangeran Ranakusuma agaknya dengan sepenuh
hati melakukan rencana ita. Apalagi apabila Tumenggung Sindura dapat
menyesuaikan dirinya. Maka semuanya tentu akan segera berakhir.
Demikianlah perintah Kangjeng Susuhunan untuk melaksanakan rencana
itupun segera sampai ke telinga setiap Senapati, terutama yang ikut
serta menyusun rencana itu.Kemudian mereka bersepakat untuk
menyebarkan perintah, bahwa setiap pasukan akan diikut sertakan di
dalam tugas itu untuk bersiapa tanpa mengetahui apa yang akan mereka
lakukan. Perintah terakhir akan diberikan setelah mereka berangkat
menuju kesasaran. Meskipun setiap prajurit tentu akan dapat menduga
tugas apa yang harus mereka lakukan, tetapi mereka belum tahu dengan
pasti, kemana mereka harus pergi serta bentuk tugas apa yang akan
mereka lakukan. Di antara pasukan yang akan ikut di dalam tugas itu
adalah sekelompok pasukan berkuda di bawah seorang Senapati yang
masih muda, Raden Juwir ing. Demikian ia mendapat perintah, maka
iapun segera mengumpulkan anak buahnya. Sepasukan prajurit berkuda
terpilih dari antara pasukan berkuda yang lain. Apalagi setiap saat
Raden Juwiring sendiri memberikan latihan-latihan khusus kepada anak
buahnya. Meskipun banyak di antara mereka yang umurnya lebih tua,
namun di dalam olah kanuragan. Senapati muda itu pantas dikagumi.
Tetapi Juwiring tidak dengan sombong memamerkan kemampuannya
sendiri. Ia mengakui, bahwa setiap orang mempunyai kelebihannya
masing-masing. Karena itulah, maka ia memberikan kesempatan kepada
setiap prajur it yang memiliki kelebihan, untuk melimpahkan
kelebihannya kepada kawan-kawannya. Seorang prajurit berkuda yang
sudah setengah baya, memiliki kemampuan yang luar biasa di dalam
olah senjata lentur. Ia mampu mempergunakan berbagai jenis senjata
lentur. Cemeti, cambuk, bahkan seutas tampar sabut. Maka orang
itupun setiap kali diberi kesempatan untuk memberikan ilmunya serba
sedikit kepada kawan-kawannya. Meskipun kawan-kawannya tidak akan
dapat menyamainya di dalam mempergunakan senjata itu, namun, dengan
demikian kawan- kawannya akan mendapat tambahan pengalaman
danpengetahuan. Dalam keadaan terpaksa, mereka akan dapat
mempergunakannya untuk mempertahankan dir i. Sedang yang lain, yang
mampu melontarkan segala jenis senjatapun harus mengajarkan
kemampuannya kepada kawan-kawannya, sehingga setiap orang di dalam
pasukan Raden Juwiring mampu melontarkan pisau belati sambil berpacu
di atas punggung kudanya. Dengan demikian maka setiap prajurit dari
pasukan berkuda yang berada di bawahi pimpinan Raden Juwir ing,
merupakan sepasukan prajurit kebanggaan, terutama bagi Pangeran
Ranakusuma. Mereka masing-masing mampu mempergunakan jenis-jenis
senjata yang beraneka ragam. Bahkan senjata-senjata yang dapat di
ketemukian dimanapum juga. Tongkat, batu, tangkai kayu, cambuk
lembu, dan bahkan dalam keadaan terpaksa, kain panjang mereka
sendiri, atau ikat kepala. Seorang prajurit mengajarkan kepada
kawannya, bagaimana dalam keadaan terpakai mereka dapat mengikat
sebuah batu pada sudut ikat kepalanya, dan mempergunakannya sebagai
senjata yang dapat melawan pedang dan tombak. Dalam pada itu,
seperti yang direncanakan, maka setiap kelompokpun segera
mempersiapkan dir i sepenuhnya untuk berangkat ke medan, meskipun
mereka belum tahu medan yang mana. Mereka melengkapi setiap kelompok
dengan bekal secukupnya. Senjata dan beberapa orang penghubung dan
cadangan. “Agaknya kita akan dihadapkan dengan pasukan Pangeran
Mangkubumi” berkata seorang prajurit. “Ya. Surakarta tidak pernah
mempersiapkan diri seperti sekarang ini. Meskipun tidak nampak,
tetapi kelompok- kelompok yang terpencar telah bersiap dibarak
masing-masing. Pada saatnya kita akan berkumpul di alun-alun dan
berangkat ke medan” Dalam waktu yang direncanakan, pasukan Surakarta
benar- benar sudah siap tanpa melontarkan kesan yang menggoncangkan
suasana hidup sehari-hari. Tidak banyak orang yang mengetahui, apa
saja yang telah dilakukan oleh para prajurit yang nampaknya tidak
keluar dari barak mereka. Ketika waktu yang satu hari satu malam
telah habis, maka setiap prajurit benar-benar tidak boleh
meninggalkan tempatnya Malam nanti mereka harus pergi. Tetapi hanya
para Senapati sajalah yang tahu, bahwa malam nanti mereka akan
mengepung tempat kedudukan Pangeran Mangkubumi. Seperti yang
diperhitungkan semula, maka beberapa orang petugas sandi telah
meyakinkan bahwa Pangeran Mangkubumi berada di Karangnangka. “Orang
kita yang berhasil menyusup ke dalam tubuh pasukan Pangeran
Mangkubumi dan yang dapat aku hubungi melihat sendiri Pangeran
Mangkubumi“ “Pangeran Mangkubumi dapat berada di beberapa tempat”
sahut Pangeran Yudakusuma. “Tetapi keluarganya ada di Pandan
Karangnangka pula” petugas sandi itu menjelaskan “isteri dan
putera-puterinya ada pula di sana. Bahkan orang itu juga melihat
Pangeran Hadiwijaya berada di antara mereka” “Sudah aku duga. Tetapi
yakinkah dengan pasti. Jangan sampai kita salah langkah. Masih ada
waktu” “Petugas sandi yang berhasil masuk kelingkungan Sukawati
tidak melihat Pangeran Mangkubumi di sana. Dan tidak ada petugas
yang lain yang member ikan keterangan, bahkan kemungkinan melihat
Pangeran Mangkubumi” Di siang hari menjelang malam yang ditentukan,
kehidupan di Surakarta sama sekali tidak mengalami perubahan.
Pasar-pasar masih juga penuh dengan orang-orang yang menjual hasil
sawah dan hasil pekerjaan tangannya. Meskipun uang yang diterimanya
tidak memadai, tetapi yang tidak memadai itu bagi mereka adalah
lebih baik dar i tidak sama sekali. Demikian juga kehidupan
orang-orang bangsawan dan kumpeni. Kereta yang hilir mudik, dan
kehidupan yang melimpah di antara merekapumberjalan seperti biasa.
Namun para bagsawan yang ikut menangani kegiatan keprajuritan
sajalah yang tidak ada di istana masing-masing, karena mereka sudah
bersiap untuk melakukan tugas yang akan dibebankan kepada mereka.
Satu dua nampak prajurit yang bertugas meronda berkeliling kota.
Tetapi itupun tidak menimbulkan kesan apapun, karena setiap hari hal
yang serupa itu selalu nampak di jalan-jalan raya. Bahkan
kadang-kadang dua orang prajur it berkuda lewat tanpa menumbuhkan
kecur igaan. Di hari itu, di istana Pangeran Yudakusuma telah
berkumpul para Senapati yang malam nanti akan melakukan tugas
terpenting untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi. Meskipun kota
Surakarta sendiri tidak nampak kesibukan apapun, tetapi di dalam
istana itu nampak ketegangan mencengkamsetiap dada. Dengan pasti
para Senapati itu menentukan tempat bagi pasukan masing-masing.
Gelar perang yang akan menerkam Pandan Karangnangka. Sementara yang
lain bersiaga mengepung dar i arah yang ditentukan pula. Mereka
harus menahan usaha melar ikan dir i dari pasukan yang ada di dalam
padukuhan itu. Menghadapi pasukan yang berkelompok di padukuhan itu,
tidak ada gelar yang lebih baik dari gelar yang lengkung. Diinduk
pasukan Pangeran Yudakusuma akan memimpin seluruh prajurit. Dan di
induk pasukan itu pula akan terdapat Senapati penghubung. di depan
Pangeran Yudakusumaterdapat tiga orang Senapati yang akan memimpin
sergapan dari induk pasukan sementara Pangeran Yudakusuma masih
harus memimpin seluruh kepungan. Jika keadaan memaksa, barulah
Pangeran Yudakusuma sendir i akan berada di ujung. Apalagi apabila
Pangeran Mangkubum sendiri telah turun di peperangan. “Pangeran
Mangkubumi dapat menempuh dua pilihan. Dengan jantan turun melawan
induk pasukan dan memimpin seluruh anak buahnya, yang berarti akan
terjadi perang Senapati atau memilih jalan lain. Lolos dari
peperangan dengan mengorbankan anak buahnya. Jika demikian maka
Senapati yang memimpin kelompok-kelompok yang mengepung padukuhan
itulah yang harus menahannya. Dan akan lenyaplah semua cer itera
tentang segala macam ilmu yang bertimbun dalam dir inya. Tetapi
jalan lolos itupun tidak akan dapat ditemukannya” berkata Pangeran
Yudakusuma. Dalam pada itu Pangeran Ranakusuma yang akan memimpin
sayap kiri dan Tumenggung Sindura disayap kanan, merenungi rencana
itu sebaik-baiknya. Merekapun menyadari betapa beratnya melawan
Pangeran Mangkubumi. Apalagi mereka mengetahui bahwa Pangeran
Mangkubumi adalah Senapati perang yang tidak ada duanya di
Surakarta. “Gelar yang disusun secermat-cermatnya ini, mungkin tidak
akan berarti sama sekal” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hati
“Pangeran Mangkubumi akan dengan mudah memecahkan kepungan justru
ditentang arah gelar yang menyerang Pandan Karangnangka. Meskipun
sebagian kelompok-kelompok pasukan kumpeni akan dipencarkan, selain
yang berada diinduk pasukan, tetapi mereka tidak akan dapat banyak
berbuat“ Dalam pada itu, agaknya Tumenggung Sindura mempunyai
gagasan yang serupa. Namun ia tidak t inggal diam seperti Pangeran
Ranakusuma. Tetapi ia berkata “Pangeran Yudakusuma. Jika saat gelar
kita merayap mendekatipadukuhan itu, dan saat itu, gelar yang
disusun Pangeran Mangkubumi bergeser memecah kepungan diasah lain,
maka gelar kita tidak akan dapat bertemu. Pangeran Mangkubumi dapat
menyusun gelar Gedong Minep yang bergerak cepat meninggalkan
padukuhan itu. Atau karena Pangeran Mangkubumi adalah seorang
Senapati yang berani, maka ia dapat memilih gelar Cakra Byuha dan
berputar menyobek kepungan tanpa menunggu kedatangan induk pasukan
kita dalam gelar Wulan Punanggal atau Sapit Urang sekalipun. Bahkan
gelar yang dinasehatkan oleh perwira-perwira kumpeni itu”
“Tumenggung Sindura” jawab Pangeran Yudakusuma “Aku masih mengharap
Pangeran Mangkubumi bersikap jantan dan bertempur beradu dada. Jika
tidak, maka kepungan yang kita susun adalah kepungan yang kuat. Dan
bukankah kita sudah menyediakan pasukan berkuda yang lengkap? Jika
kepungan mulai retak, maka pasukan berkuda akan bergerak mengisi
keretakan itu. Dan bukankah hal ini sudah kita perhitungkan
sebaik-baiknya” Tumenggung Sindura mengangguk-angguk Tangannya
meraba-raba hulu kerisnya yang memiliki ciri tersendir i. Hulu keris
itu terbuat dari kayu cangkring yang utuh. Seakan-akan begitu saja
dipatahkan dari dahannya, dan kemudian diterapkan pada keris itu.
Dan keris itulah yang sangat disegani oleh Senapati-Senapati yang
lain, seolah-olah keris itu memiliki tuah yang luar biasa. Namun
demikian Tumenggung Sindura yang kaya dengan pengalaman itu masih
berkata “Pangeran. Dalam perang yang akan dilakukan oleh Pangeran
Mangkubumi, kita harus mempunyai penilaian yang lain. Menurut
pengamatanku, menilik pasukan yang tidak begitu besar yang dimiliki
oleh Pangeran Mangkubumi, ia tidak akan memperhitungkan kejantanan
dari perang beradu dada itu. Ia akan memilih jalanyang barangkali
agak lain dari penilaian yang selama ini kita kenal” Pangeran
Yudakusuma mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling kearah
Pangeran Ranakusuma, maka dilihatnya Pangeran Ranakusuma menunduk.
Seolah-olah ia tidak memperhatikan kata-kata Tumenggung Sindura.
“Jadi, bagaimana maksudmu?“ bertanya Pangeran Yudakusuma kemudian.
“Aku hanya memperingatkan. Semua berjalan seperti yang sudah
direncanakan. Tetapi aku masih berharap bahwa cara yang dapat
ditempuh oleh Pangeran Mangkubumi itu mendapat perhatian. Jika ia
berusaha lolos dari peperangan di dalam keadaan seperti ini, tentu
tidak akan dapat dinilai sebagai tindakan pengecut. Seterusnya,
apabila ia berhasil lolos ia akan mempergunakan cara itu. Menyergap
dan lenyap. Dan itu adalah salah satu caranya berperang Apakah kita
dapat menyebutnya pengecut?” jawab Tumenggung Sindura. Pangeran
Yudakusuma mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Tumenggung Sindura
itu. Karena itu, maka iapun menyahut “Baiklah. Setiap Senapati yang
mengepung padukuhan itu akan mendapat perintah agar mereka tidak
lengah. Jika agaknya mereka tidak kuat menahan desakan pasukan yang
sedang dikepungnya, maka penghubungnya harus segera member ikan
isyarat” Tumenggung Sindura tidak menyahut lagi. Agaknya memang
demikian yang harus terjadi. Dalam pada itu, ketika semua persoalan
telah dipecahkan bahkan sampai pada perbekalan dan makan seluruh
pasukan, karena kemungkinan bahwa perang itu tidak akan selesai
dalam waktu yang pendek, maka Pangeran Yudakusuma itupun kemudian
berkata “Semua Senapati yang ada di tempat ini tidak boleh
meninggalkan tempat. Nanti, jika malam mulai turun, kalian harus
langsung kembali kepada pasukan kalian”Para Senapati mengerutkan
keningnya. Tetapi mereka memang sudah menduga. Dan merekapun
mengerti, bahwa hal itu dilakukan oleh Pangeran Yudakusuma untuk
mengurangi kemungkinan rahasia yang telah mereka susun itu merembes
ke telinga Pangeran Mangkubumi. Tetapi ketentuan itu tidak berlaku
bagi perwira kumpeni dan orang-orang terpenting, termasuk Pangeran
Ranakusuma dan Tumenggung Sindura. Justru merekalah yang harus
melihat kesiagaan pasukan yang berpencar, meskipun tanpa Senapati
masing-masing. Pangeran Ranakusuma dengan beberapa orang Senapati
terpenting segera membagi tugas. Merekapun segera menarik garis
silang yang membagi Surakarta dan sekitarnya. Mereka harus segera
berpencar untuk melihat apakah kesiagaan prajurit Surakarta sudah
memadai. Sehari yang nampaknya tidak ada perubahan apa-apa itu
ternyata telah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para perwira tinggi
di Surakarta. Meskipun demikian para perwira di Surakarta itupun
selalu memperhitungkan keadaan. Untuk mencapai barak-barak para
prajurit, mereka pergi berkuda hanya dengan dua atau tiga orang
pengawal. Bahkan ada di antara mereka yang-berkereta seperti
kebiasaan mereka sehari-hari. Karena itulah, maka rencana para
prajurit Surakarta untuk mengepung Pandan Karangnangka itu tidak
tercium oleh para petugas sandi. Baik petugas sandi yang
ditinggalkan oleh Pangeran Mangkubumi, maupun petugas-tugas sandi
yang disebarkan oleh Raden Mas Said di Surakarta. Yang nampak oleh
mereka hanyalah beberapa persiapan khusus yang lebih banyak bersifat
menjaga dan bertahan apabila kota diserang oleh Pangeran Mangkubumi
maupun Raden Mas Said. Sama sekali tidak nampak persiapan untuk
segera menyerang, bahkan mengepung dan menghancurkan sama sekali
pasukan Pangeran Mangkubumi.Dengan demikian, seperti kehidupan di
Surakarta yang tidak mengalami perubahan, maka kehidupan di Pandan
Karangnangka dan sekitarnyapun sama sekali tidak mengalami
perubahan. Rakyat di daerah itu bekerja seperti biasa. Ketika
matahari terbit, mereka mempersiapkan diri untuk pergi ke sawah.
Setelah makan sepotong ketela pohon yang langsung dicabut dari
halaman belakang dan begitu saja direndam di dalam bara, maka
merekapun segera menunaikan kuwajiban masing-masing Sedang para
prajurit yang berpihak kepada Pangeran Mangkubumi yang mengikutinya
meninggalkan Surakarta beserta para pengawalpun sama sekali t idak
menduga, bahwa Surakarta akan bertindak sedemikian cepatnya. Bahkan
Pangeran Mangkubumi sendiri, tidak memperhitungkan kemungkinan
serangan yang bakal datang menjelang dini hari di malamyang bakal
datang. Itulah sebabnya, maka kesiagaan Pangeran Mangkubumipun tidak
mencapai puncak kemampuannya. Beberapa kelompok prajur it yang
bertebaran di padukuhan di sekitarnya sama sekali tidak dipersiapkan
untuk menghadapi serangan yang besar dan yang diperhitungkan oleh
para Senapati di Surakarta, sekaligus menghancurkan. Bahkan beberapa
orang di antara pengikut Pangeran Mangkubumi yang tersebar itu,
masih sempat pergi ke sawah masing- masing seperti kebiasaan mereka.
Yang nampak sibuk di antara mereka adalah pande-pande besi empu dan
mranggi. Mereka mempersiapkan senjata sebanyak-banyaknya untuk
menghadapi setiap kemungkinan. Jika kumpeni dan Prajur it-prajurit
Surakarta mengulangi usahanya melucuti, senjata rakyat Surakarta
dengan mencegat mereka di sepanjang jalan, maka mereka akan segera
dapat dipersenjatai kembali. Sementara itu, para pengikut Pangeran
Mangkubumi yang berada di Sukawatipun t idak mendapat perintah
khusus dariPangeran Mangkubumi untuk menghadapi keadaan. Meskipun
mereka selalu bersiaga, tetapi mereka tidak memperhitungkan bahwa
malam nanti akan ada prahara dan banj ir bandang yang menyerang
Pandan Karangnangka. Dalam pada itu, petugas-tugas sandi yang berada
di kotapun memang tidak member ikan laporan yang dapat menumbuhkan
pertimbangan bahwa sebuah serangan besar- besaran akan melanda
pasukan Pangeran Mangkubumi itu, karena para petugas sandi memang
tidak melihat persiapan yang cukup di Surakarta. Buntal yang pada
saat itu berada di Sukawati, sama sekali juga tidak menduga, bahwa
Pandan Karangnangka akan dikepung oleh pasukan Surakarta dan
kumpeni. Meskipun seperti kawan-kawannya ia selalu bersiaga, namun
ia tidak mempersiapkan diri untuk langsung berbuat sesuatu, atau
memasuki arena pertempuran yang besar. Sehari itu para pengikut
Pangeran Mangkubumi di Sukawati justru tidak berbuat apa-apa sama
sekali. Mereka berlatih seperti biasa. Pasukan yang menjadi inti
kekuatan Pasukan Mangkubumi memang t idak ada henti-hentinya
berlatih dan menambah kemampuan bertempur. Dalam kelompok dan
seorang demi seorang. Para pelatih mereka menempa setiap orang di
dalam pasukan int i itu sehingga mereka merupakan kekuatan yang luar
biasa. Untuk menjaga kekuatan pasukan Pangeran Mangkubumi, maka
kekuatannya tidak seluruhnya diletakkan di sekitar Pangeran
Mangkubumi sendir i. Dan itulah sebabnya maka selain pasukan yang
kuat di Pandan Karangnangka, pasukan yang berada di Sukawati adalah
pasukan yang tidak dapat diabaikan. Apalagi selain mereka yang
berada di dalam pasukan inti kekuatan itu, setiap laki- laki di
Sukawati adalah prajurit yang dengan tekun melatih diri. Demikian
kerja mereka di sawah senggang, maka merekapun segera memegang
senjata dan berlatih mempergunakan senjata itu.Dimanapun mereka
mempunyai waktu, maka waktu itu mereka pergunakan sebaik-baiknya.
Dua tiga orang yang berada di sawahpun segera melibatkan dir i dalam
latihan yang bersungguh-sungguh j ika kerja mereka selesai.
Anak-anak muda yang berada di tepian sungai. Yang berada di
bendungan dan justru yang berada di gardu-gardu. Sedang anak-anak
seolah-olah mendapatkan permainan baru. Mereka mempergunakan
tongkat-tongkat bambu untuk melatih dir i. Dan anak-anak itupun
mendapat bimbingan sebaik-baiknya sehingga yang mereka lakukan
adalah permulaan dari latihan mempergunakan senjata yang sebenarnya.
Lewat tengah hari, seperti biasanya Buntal mendapat tugas untuk
pergi ke Pandan Karangnangka bersama dua orang kawannya Mereka
merupakan penghubung tetap antara kedua tempat itu, agar setiap
persoalan dapat segera diketahui bersama-sama. Tetapi seperti
hari-hari sebelumnya, kedatangan Buntal di Pandan Karangnangka tidak
mendapatkan berita-berita yang menarik. Laporan yang didengarnya
dari petugas-tugas di Pandan Karangnangka hanyalah, penjagaan di
lorong-lorong masuk kota Surakarta diperkuat. Beberapa orang dari
pasukan berkuda nampak meronda disehiruh kota. Para Perwira dan
Senapati mengadakan peninjauan langsung kebarak-barak para prajurit.
Buntal yang kemudian bersama dengan dua orang kawannya beristirahat
di sebuah gardu sama sekali tidak tertarik akan laporan itu. Mereka
menunggu berita yang lebih panas dari sekedar penjagaan yang
diperkuat di lorong-lorong masuk. Bukan pula sekedar kesibukan para
Senapati di Surakarta mengunjungi barak-barak para prajurit.
“Pangeran Mangkubumi dengan para Pangeran sedang mempersiapkan dir i
membagi tugas” berkata seorang prajurit yang berada di gardu itu
pula.“Bagaimana jika tiba-tiba saja prajurit Surakarta menyergap
daerah ini” bertanya Buntal. “Kita sudah bersiaga. Surakarta tidak
akan berbuat secepat itu. Mereka akan memperhitungkan setiap
kemungkinan dari setiap gerakan mereka” “Tetapi menggerakkan
prajurit-prajurit yang sudah terlatih akan jauh lebih mudah dar i
menggerakkan rakyat yang bertebaran seperti Pangeran Mangkubumi“
“Tetapi kekuatan yang ada sudah memadai. Untuk bertempur dalam arena
gelarpun kekuatan yang ada di Pandan Karangnangka tentu sudah cukup.
Selebihnya, semuanya dapat dipersiapkan” Buntal tidak bertanya lagi.
Yang diajaknya berbicara adalah seorang prajurit yang memiliki
pengalaman dan pengetahuan medan jauh lebih banyak daripadanya,
meskipun mungkin secara pribadi Buntal memiliki kelebihan. Dengan
lesu Buntal dan kawan-kawannya berbaring di gardu itu sambil
menunggu perintah, apakah ia sudah dapat kembali ke Sukawati. Tidak
ada persoalan lagi sebenarnya yang harus dibicarakan. Tetapi adalah
keharusan baginya untuk menunggu perintah, bahwa tugasnya hari itu
sudah selesai. Ketika ia menjadi jemu berbaring di gardu, maka iapun
melangkahkan kakinya menyusuri jalan padukuhan. Di sebuahhalaman
yang luas, di depan sebuah pendapa yang besar, Buntal berhenti.
Dilihatnya beberapa orang sedang berlatih di bawah terik matahari
yang sudah mulai turun ke Barat mendekati cakrawala. Tiba-tiba saja
Buntal terkejut ketika seorang penghubung dengan tergesa-gesa
memanggilnya. Dengan nafas terengah- engah ia berkata “Aku cari kau
kemana-mana” “Aku menunggu di gardu. Tetapi tiba-tiba saja aku
menjadi jemu” “Buntal“ penghubung itu bersungguh-sungguh “ada tugas
khusus untukmu” Buntal termangu-mangu sejenak. Ia masih belum tahu
pasti, apakah kawannya itu berkata bersungguh-sungguh atau sekedar
bergurau saja. Namun menilik ketegangan di wajahnya, maka Buntal
dapat menduga bahwa ia berkata bersungguh-sungguh. “Kau dipanggil”
berkata penghubung itu. “Siapa?“ “Ki Wandawa“ “He“ Buntal
mengerutkan keningnya “Ki Wandawa?“ “Ya” Buntal mengangguk-angguk.
Jika yang mengundang itu Ki Wandawa maka persoalannya tentu cukup
penting. Biasanya penghubung-penghubung sajalah yang memberitahukan
kepadanya bahwa tugasnya sudah selesai hari itu, dan tidak ada
persoalan yang penting yang harus di tangani. Tetapi kali ini ia
dipanggil oleh Ki Wandawa. “Apakah kau tahu persoalannya?“ bertanya
Buntal. “Tidak” jawab penghubung itu.“Kenapa kau dapat mengatakan
bahwa persoalan yang akan dibebankan kepadaku penting?“ “Kakang
Wandawa tidak pernah membicarakan masalah atau memberikan
tugas-tugas yang tidak penting” Buntal mengangguk-angguk. Katanya
“Baiklah. Aku akan menghadap” “Waktunya sangat sempit“ demikianlah
pesannya. Buntal tidak menjawab lagi. Iapun kemudian dengan
tergesa-gesa pergi untuk menghadap Ki Wandawa Dengan dada yang
berdebar-debar Buntal memasuki sebuah ruangan khusus. di dalam bilik
itu hanya ada seorang saja yang duduk di sebuah ambin yang besar.
Ketika orang itu melihat Buntal di muka pintu, maka iapun kemudian
memanggilnya “Kemarilah Buntal” Buntal merasakan bahwa nada itu
adalah nada yang tergesa-gesa. Sehingga karena itu maka Buntalpun
segera bergeser mendekat. “Duduklah” Buntal mengangguk. Iapun
kemudian duduk sambil menundukkan kepalanya di hadapan orang yang
bernama Ki Wandawa itu. “Buntal” berkata Ki Wandawa “bukankah kau
berasal dari Jati Aking?“ Pertanyaan itu mendebarkan hati Buntal.
Dengan ragu-ragu ia menjawab “Ya Ki Wandawa” “Nah, jika demikian,
maka kaulah yang akan mendapatkan tugas itu. Pergilah ke Jati Aking”
“Tugas apakah yang harus aku bawa ke Jati Aking?““Kau akan
mengetahuinya nanti. Tetapi ingat, kau hanya boleh berhubungan
dengan orang yang ditentukan. Orang kita sendiri, karena
persoalannya adalah sangat rahasia” “Maksud Ki Wandawa?“ Ki Wandawa
termenung sejenak. Kemudian katanya “Buntal, ada persoalan yang
sangat penting dan rahasia, sehingga Surakarta tidak mengir imkan
utusan langsung kemari. Jika ada penghubung langsung datang ke
Pandan Karangnangka, maka penghubung itu akan cepat diketahui,
meskipun masih ada kemungkinan untuk lolos. Jika penghubung itu
mengalami nasib yang buruk dan tertangkap, maka ada kemungkinan
perintah yang sangat rahasia itu dapat diperas, dan sumber
keterangannya dapat diungkap. Tetapi tidak dengan penghubung yang
datang itu. Ia hanya mendapat perintah untuk menunjuk seseorang
pergi ke Taman di Kaki Bukit” “Apakah artinya?“ “Memang hanya
orang-orang tertentu yang mengetahui. Penghubung itupun tidak
mengetahui arti dari tempat yang di sebut Taman Di kaki bukit.
Dengan demikian tempat itu akan tetap terlindung” ia berhenti
sejenak, lalu “yang dimaksud Taman di kaki Bukit adalah padepokan
Jati Aking” “O“ “Sebenarnyalah bahwa Jati Aking termasuk padepokan
yang dapat kita percaya. Karena itu, Jati Aking menjadi salah satu
tempat yang ditentukan untuk mengadakan hubungan rahasia“ Buntal
mengangguk-angguk. Ia kini mengetahui bahwa berita itu tentu berita
yang sangat penting sehingga diperlukan hubungan berganda. Dengan
demikian Buntalpun menyadari pentingnya tugas yang harus
dilaksanakannya.“Buntal” berkata Ki Wandawa “pergilah ke Taman di
kaki Bukit. Kau akan bertemu dengan Bintang Selatan” Buntal
mengerutkan keningnya. “Akupun tidak tahu, siapakah Bintang Selatan
itu. Tetapi kau harus menyebut dirimu sebagai jawabannya Angin
Utara” sambung Ki Wandawa “Kau mengerti?“ Buntal mengerutkan
keningnya. Namun iapun kemudian menjawab “Ya. Aku mengerti” “Nah,
pergilah. Secepatnya. Waktu tinggal sedikit. Aku tidak tahu pasti,
waktu yang tinggal sedikit itu dihubungkan dengan peristiwa yang
mana” Ki Wandawa berkata selanjutnya “namun kau harus memanfaatkan
waktu sebaik- baiknya” “Baik Ki Wandawa.” “Hati-hatilah. Bukan
mustahil rahasia ini sudah diketahui oleh lawan. Dengan demikian kau
harus memasuki Jati Aking dengan sangat berhati-hati. Jangan sampai
kau terjebak oleh siapapun yang nampaknya kau kenal baik-baik. Kau
hanya boleh berhubungan dengan Bintang Selatan. Jika ada orang lain
yang ada di Jati Aking dan tidak menyebut dirinya Bintang Selatan
kau harus berhati-hati. Tidak hanya satu dua orang saja yang
mengenal Jati Aking dengan baik” “Baiklah Ki Wandawa. Aku mohon dir
i untuk pergi ke Jati Aking” “Sadarilah. Tidak boleh ada rahasia
yang merembes dari mulutmu tentang Pandan Karangnangka” Buntal
menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari pesan itu. Jika ia
tertangkap oleh petugas-tugas sandi atau prajurit Surakarta, maka ia
harus tetap diam sampai mat i sekalipun.“Pergilah. Sendir i, agar
tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Rahasia yang diketahui oleh
banyak orang tidak akan berarti lagi” Buntalpun segera minta diri.
Ia harus pergi secepatnya ke Jati Aking dengan tugas yang sangat
berat, tanpa ada orang lain yang boleh ikut memikulnya. Sejenak
kemudian maka seekor kuda telah berderap keluar dari padukuhan
Pandan Karangnangka. Buntal memacu kudanya secepat-cepat dapat, agar
ia dapat mempergunakan waktu yang terlampau pendek, meskipun ia
tidak tahu pasti batas dari waktu yang terlalu pendek itu. Di
sepanjang jalan ia selalu mengingat-ingat, nama-nama yang harus
didengar dan disebutnya Bintang Selatan dan kemudian ia harus
menyebut dirinya Angin Utara. Barulah rahasia itu dapat didengarnya
dan kemudian dibawanya kepada Ki Wandawa. “Tetapi bagaimanakah jika
orang yang disebut Bintang Selatan itu tertangkap?“ ia bertanya di
dalam hati. Namun dijawabnya “Itu memang mungkin sekali terjadi.
Bukan hanya Bintang Selatan itu sajalah yang mungkin tertangkap,
tetapi akupun mungkin tertangkap” Namun Buntal dapat mengerti, bahwa
jalan yang ditempuh itu adalah jalan yang paling aman bagi petugas
sandi yang ada di Surakarta. Orang yang pergi ke Jati Aking tentu
tidak akan mendapat pengawasan yang ketat seperti orang yang pergi
ke Pandan Karangnangka. “Jika orang yang pergi ke Pandan
Karangnangka itu ternyata dapat lolos, maka orang yang pergi ke Jati
Aking itupun tentu dapat lolos pula” katanya di dalam hati.
Buntalpun kemudian berpacu semakin cepat. Ia akan sampai ke Jati
Aking setelah gelap. Kemudian ia harus kembali lagi ke Pandan
Karangnangka.Meskipun angan-angan Buntal dipenuhi oleh persoalan-
persoalan yang rumit, namun ia sempat juga memikirkan Arum. Sudah
agak mendesak pula keinginannya untuk menemui gadis itu. Meskipun
hanya sekedar bertemu. Tiba-tiba terbersit sebuah bayangan yang
lain. Bayangan seorang bangsawan yang kemudian menjadi Senapati
pasukan berkuda di Surakarta. “Raden Juwiring juga mengetahui sikap
guru” berkata Buntal di dalam hatinya. Lalu “tetapi apakah Surakarta
sudah mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu? Dan apakah rahasia
itu adalah rahasia tentang keputusan tindakan kekerasan yang akan
diambil oleh Surakarta?“ Namun semuanya masih tetap merupakan
teka-teki. Dan Buntal tidak mau lagi membuat kepalanya sendiri
menjadi pening memikirkan teka-teki yang tentu tidak akan dapat
dipecahkannya sendir i. Yang dipikirkan kemudian adalah justru Raden
Juwiring. Jika Surakarta mengetahui rahasia Jati Aking yang
dipergunakan sebagai tempat untuk melakukan hubungan antara
petugas-petugas sandi dengan orang-orang Pangeran Mangkubumi, maka
tentu Raden Juwiring akan mendapat tugas untuk bertindak, karena ia.
adalah orang yang paling mengetahui tentang Jati Aking, seperti Juga
Ki Wandawa memilihnya untuk pergi ke Jati Aking. Buntal menarik
nafas dalam-dalam. Sebenarnya sebagai anak muda, ia terikat hubungan
yang mendalam dengan Raden Juwiring. Setelah beberapa lama ia
bersamal berada di padepokan Kiai Danatirta, rasa-rasanya Juwiring
benar-benar sudah seperti saudaranya sendiri. Bersama-sama mereka
melakukan tugas sehari-hari. bersama-sama mereka berlatih dan bahkan
bersama-sama mereka pergi menemui Ki Sarpasrana. “Tetapi keadaan itu
telah berubah” berkata Buntal “sejak Raden Rudira meninggal, maka
Raden Juwiring bukan lagikeluarga kami. Ia sudah kehilangan semuanya
Bahkan kepribadiannya” Apalagi apabila teringat oleh Buntal akan
Arum. Bagaimanapun juga ia merasa bahwa Raden Juwiring mempunyai
banyak kelebihan daripada dirinya. Jika pada suatu saat Arum
menjatuhkan pilihan kepada Raden Juwir ing, maka hidupnya tentu akan
menjadi semakin sepi. Tanpa orang tua dan sanak kadang. Dan lepaslah
sekuntum bunga dari tangannya. Kuda Buntal itu berpacu semakin
cepat. Rasa-rasanya ia ingin segera sampai ke Jati Aking. Ketika
matahari telah menyentuh cakrawala di ujung Barat, rasa-rasanya
Buntal ingin memacu kudanya lebih cepat. Bahkan apabila mungkin
terbang memintas. Namun ia tidak dapat menuntut lebih banyak lagi
dari kudanya yang sudah berlari secepat-cepat dapat dilakukan itu.
Apalagi jalan di hadapannya kadang-kadang bukanlah jalan yang baik,
sehingga ia justru perlu memperlambat, agar kudanya tidak terperosok
ke dalam kubangan yang terdapat di tengah- tengah jalan. Angin senja
terasa semilir menyentuh keningnya. Sekali- sekali Buntal
menengadahkan wajahnya ke langit. Dilihatnya cahaya matahari yang
kemerah-merahan tersangkut di bibir awan putih yang berarak di
langit. “Alangkah cerahnya senja ini“ berkata Buntal di dalam
hatinya. Tetapi senja yang cerah ini telah dibayangi oleh kemelutnya
mendung di atas Surakarta karena pertentangan yang terjadi di dalam
tubuhnya sendiri, sejak kumpeni semakin dalam mencengkamkan
kekuasaannya atas bumi tercinta ini” Ketika kemudan matahari
benar-benar telah tenggelam. Buntal telah menjadi semakin dekat
dengan Jati Aking. Sekilasia masih melihat warna-warna merah di
langit, namun sejenak kemudian langitpun menjadi suram. Buntal tidak
lagi berani memacu kudanya dengan kecepatan penuh. Jalan-jalan yang
kadang-kadang berlubang- lubang dan batu-batu yang bertebaran dapat
menjadi sentuhan kaki kudanya. Dengan demikian, maka rasa-rasanya
jarak ke Jati Aking itu menjadi semakin jauh karenanya. Dengan dada
yang berdebar-debar Buntal melintasi bulak- bulak panjang yang
menjadi hijau gelap, dihiasi oleh cahaya kunang kunang yang
seakan-akan seperti ditaburkan di atas daun-daun padi yang mulai
rimbun. Sedang di langitpun bintang-bintang bergayutan dari ujung
sampai ke ujung. Buntal menjadi semakin berdebar-debar ketika ia
sudah memasuki jalan yang langsung memasuki padukuhan Jati Sari.
Lewat padukuhan itu ia akan melintasi bulak yang sempit, dan
langsung memasuki padukuhannya, Jati Aking, yang terpisah oleh bulak
yang sempit dengan padukuhan induknya, Jati Sari. Tetapi Buntal
kemudian menjadi ragu-ragu. Ia tidak tahu pasti, apakah padukuhannya
tidak mendapat pengawasan dari para petugas dari Surakarta. Bahkan
kemudian Buntal mulai membayangkan, bahwa di balik pepohonan itu
telah menunggu prajurit-prajurit Surakarta yang akan menjebaknya.
Jika petugas sandi Surakarta yang berpencaran menangkap isyarat akan
kedatangannya di Jati Aking maka ia tentu tidakakan dapat kembali
lagi ke dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi. Karena itu,
maka Buntalpun segera menghentikan kudanya. Ia tidak ingin memasuki
padukuhan Jati Sari. Ia ingin mendekati padepokannya lewat arah yang
lain. Namun ia tetap harus berhati-hati jalan yang manapun yang akan
dipilihnya. Buntal menar ik kekang kudanya, sehingga kudanya segera
berputar dan berlari kearah yang berlawanan. Kemudian kuda itupun
berbelok melingkari padukuhan Jati Sari, lewat Jalan sempit menuju
ke padepokan Jati Aking. Tetapi Buntal t idak akan berkuda terus
sampai ke halaman padepokannya. Beberapa puluh langkah dari
padepokannya, ia berhenti dan mengikat kudanya pada sebatang pohon
perdu. “Aku harus yakin, bahwa tidak ada petugas-tugas sandi atau
prajurit-prajurit Surakarta yang sudah siap menunggu kedatanganku.
Betapapun tinggi kemampuan ayah Kiai Danatirta, jika
prajurit-prajurit Surakarta datang dalam jumlah yang banyak, apalagi
disertai Senapati-Senapati terpilihnya, tentu mereka akan berhasil
menguasai guru beserta Arum. Yang mereka lakukan kemudian tinggal
bersembunyi sambil menunggu kedatanganku” Karena itu maka Buntalpun
kemudian mendekati padukuhannya dengan sangat berhati-hati. Kudanya
ditinggalkannya terikat beberapa tonggak dar i padepokan itu.
Menurut pengamatan Buntal yang semakin dekat dengan padepokannya,
ternyata padepokan itu rasa-rasanya masih tetap tenang. Ia tidak
melihat tanda-tanda yang mencurigakan sama sekali. Ia tidak melihat
orang-orang lain di daerah padepokannya. “Agaknya padepokan Jati
Aking masih tetap aman” berkata Buntal di dalamhatinya.Meskipun
demikian ia harus tetap berhati-hati. Rasa- rasanya padepokan itu
justru terlampau sepi. Sejenak Buntal menunggu untuk meyakinkan,
apakah ia benar-benar tidak akan terjebak. Ternyata padepokan itu
tetap saja sepi. Para pembantu padepokan itu tentu sudah masuk ke
dalam bilik masing- masing, kecuali mereka yang pergi ke sawah untuk
menunggui arus air. Tetapi Buntal masih tetap berhati-hati. Dengan
penuh kewaspadaan Buntal merayap semakin dekat. Buntal menarik nafas
dalam-dalam ketika ia berdiri di belakang dinding batu yang
membatasi halaman padepokannya. Rasa-rasanya memang tidak ada orang
lain di dalam padepokannya itu. Apalagi sepasukan kecil prajur it
yang menunggu kedatangannya. Namun Buntal tidak segera mengambil
kudanya. Ia masih tetap dengan hati-hati melangkah masuk ke halaman
padepokannya, dan kemudian diam-diam pergi ke longkangan di samping.
Tetapi Buntal terkejut bukan kepalang. Dengan menahan nafas ia
kemudian melekat pada dinding yang menyekat long- kangan itu.
“Seekor kuda” desis Buntal. Sebenarnyalah Buntal melihat seekor kuda
yang belum di kenalnya. Seekor kuda yang besar dan tegar. Tetapi ia
pasti, bahwa kuda itu bukan kuda padepokan Jati Aking. Semakin jelas
ia mengamati kuda itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar.
Ternyata kuda itu adalah seekor kuda menurut jenis dan pakaiannya,
adalah seekor kuda dari pasukan berkuda Surakarta.Buntal mulai
ragu-ragu. Sekilas terbayang olehnya Juwiring, seorang perwira muda
pada pasukan berkuda di Surakarta. “Ia mengenal padepokan ini dengan
baik” berkata Buntal di dalam hatinya “j ika rahasia Taman di kaki
Bukit sudah didengar oleh orang-orang Surakarta, maka gagallah
semuanya” Tetapi Buntal tidak berhenti sampai di dinding longkangan
itu. Perlahan-lahan ia bergeser dengan penuh kewaspadaan. Ia
berhenti di sudut longkangan, di dalam bayangan kegelapan. Dengan
dada yang berdebaran ia melihat seberkas sinar yang terlempar keluar
pintu samping dan jatuh di atas tanah yang kemerah-merahan. “Apakah
sudah ada orang yang menunggu aku?“ bertanya Buntal dengan ragu-ragu
“apakah orang itu Bintang Selatan atau orang yang akan menjebak
aku?“ Buntal mencoba mengatur perasaannya. Namun kemudian ia menjadi
agak tenang. Katanya “Tentu seorang penghubung dari Surakarta. Aku
harus segera menemuinya. Mungkin ia berhasil merampas seekor kuda
dari pasukan berkuda dan mempergunakannya sekali” Buntalpun bergeser
mendekati pintu. Tetapi ketika selangkah lagi ia mendekati berkas
cahaya lampu yang meloncat keluar itu, ia tertegun, la mendengar
suara Arum tertawa pendek. Dan bahkan terdengar suara Arum “Kau
memang membuat aku bingung Raden” Dan rasa-rasanya dada Buntal akan
retak ketika kemudian ia mendengar suara lain, suara seorang
laki-laki. Dan suara itu dikenalnya baik-baik. Raden Juwiring. “Aku
tidak dapat, mengatakan kepadamu sebelumnya Arum” berkata Raden
Juwiring ”Tetapi untunglah belum terlambat, sehingga semuanya masih
dapat diluruskan.”“Semuanya tidak aku duga sebelumnya. Aku menjadi
bingung” Dan yang terdengar kemudian adalah keduanya tertawa cerah.
Buntal adalah seorang anak muda. Ia sadar bahwa ia sedang mengemban
tugas yang berat Tetapi ternyata bahwa tiba-tiba saja ia menjumpai
persoalan lain di padepokan Jati Aking. Persoalan tentang dir inya
sendiri. Tetapi Buntalpun kemudian menggeram “Tentu Raden
Juwiringpun mendapat tugas seperti aku. Ia harus bertindak terhadap
seseorang yang akan melakukan hubungan sandi di Jati Aking. Dan
agaknya Arum telah berhasil dipengaruhinya” Campur baurnya tugas
sandinya dan kepentingan pribadinya telah mendorong Buntal menjadi
garang. Ia mulai mengenangkan masa-masa lampaunya di padepokan Jati
Aking. Buntal seolah-olah melihat, bagaimana dengan tiba-tiba saja
ia terlempar ke padepokan itu. Pada saat itu Juwiring sudah lebih
dahulu ada di padepokan ini. Terbayang pula hubungan antara Arum dan
Juwiring yang sangat rapat. Jika Arum kemudian membenci Juwiring,
hanyalah karena Juwiring meninggalkan cita-citanya yang telah
terbentuk di padepokan ini. Tetapi sebagai manusia Juwir ing
mempunyai seribu macam kelebihan dari padanya. Juwiring adalah
seorang bangsawan yang kaya raya. Sepeninggal Raden Rudira, Juwiring
adalah satu-satunya anak laki-laki Pangeran Ranakusuma. Apalagi ia
kemudian adalah seorang perwira pasukan berkuda di Surakarta, “Kini
Raden Juwiring siap untuk mengambil Arum“ katanya di dalam hati “dan
bahkan mungkin kematianku pula, karena aku adalah pengikut Pangeran
Mangkubumi” Buntal tidak dapat berpikir lebih panjang lagi.
Tiba-tiba saja ia kehilangan pengamatan dirinya. Sikap Juwir ing
benar-benar tidak dapat dimaafkannya lagi. Bagi Buntal Juwir ing
telahmengkhianati cita-citanya sendiri, dan kini mengkhianatinya
dengan mengambil Arum. Dengan garangnya Buntalpun kemudian meloncat
ke pintu. Terasa dadanya bagaikan terbakar ketika ia melihat Arum
dan Juwiring duduk berdua saja di atas sebuah amben yang sempit.
Juwiring dan Arum terkejut melihat seseorang tiba-tiba saja sudah
berdiri diambang pintu. Bahkan bukan saja berdiri dengan wajah yang
merah padam, tetapi juga dengan sebuah pedang terhunus. “Buntal”
desis Juwiring dan Arumhampir bersamaan. Buntal sudah tidak
mendengar lagi. Dengan suara gemetar ia berkata “Raden Juwiring.
Akhirnya kita bertemu lagi setelah kau mengkhianati pribadimu
sendiri. Sekarang kita berhadapan sebagai dua pihak yang memang
sedang bermusuhan. Kau berdiri di pihak kumpeni seperti ayahandamu
yang sudah menjilat kepada orang asing itu, dan aku adalah pengikut
Pangeran Mangkubumi” “Buntal” desis Raden Juwir ing. Arum yang
menjadi bingung sesaat, kemudian berkata “Kakang Buntal, duduklah.
Kita akan berbicara dengan baik. Raden Juwiring memang menunggu
kedatanganmu” “Aku mengerti. Aku sudah mendengar sebagian
percakapanmu. Aku memang sudah merasa bahwa sejak kita masih
berkumpul di sini, segalanya aku tidak dapat menyamai Raden
Juwiring. Aku adalah seorang anak kabur kanginan. Tanpa ayah dan
ibu. Seandainya ada, mereka adalah hamba- hamba dan budak-budak yang
tidak berarti. Aku adalah seorang anak yang mengembara di
bulak-bulak panjang. di malam hari berselimut langit dan embun, di
siang har i dibakar terik matahari” Buntal berhenti sejenak “namun
tiba-tiba senjatanya teracu “tetapi aku mempunyai harga diri. Aku
tidak mengkhianati cita-cita perjuangan padepokan Jati
Aking”“Sabarlah Buntal” berkata Juwiring sareh. “Kau memang
mempunyai kelebihan yang tidak terhitung daripadaku. Kau memiliki
segala-galanya. Harta, pangkat dan wajahmu adalah wajah seorang
bangsawan” “Buntal” desis Arum. “Kau tidak usah ingkar Arum. Jika
memang itulah yang kau kehendaki, aku tidak berkeberatan. Selama ini
aku memang belumpernah mengatakan apapun kepadamu” “Kau salah
kakang” “Aku yakin bahwa aku benar” Buntal menggeram “tetapi masih
ada persoalan lain yang harus diselesaikan. Aku tidak akan menuntut
apapun kepadamu Arum. Kau memang berhak memilih. Tetapi sebelumnya
aku akan menyelesaikan persoalanku lebih dahulu. Aku adalah pengikut
Pangeran Mangkubumi“ Seleret warna merah menyala di wajah Raden
Juwiring. Tetapi ia masih berusaha untuk menyabarkan dir inya.
Katanya “Duduklah Buntal. Marilah kita berbicara dengan baik.
Berbicara secara dewasa. Bukan seperti kanak-kanak yang berebut
makanan” “Aku tidak mempunyai waktu” sahut Buntal. Kemudian “Raden.
Aku sudah mengetahui apa saja yang Raden lakukan selama ini. Kau
adalah Senapati pasukan berkuda. Kau pula yang telah datang ke
padepokan ini untuk mencari dua orang petugas sandi dari Surakarta
yang hilang. Dan banyak lagi yang sudah kau lakukan selama ini
sebagai seorang prajur it Surakarta dan seorang putera bangsawan.
Dan kini. setiap orang mengetahui bahwa ayahandamu merupakan salah
seorang dari pada Senapati yang terpilih untuk ikut memerangi
Pangeran Mangkubumi. Bahkan Pangeran Ranakusuma adalah orang yang
paling mungkin dihadapkan kepada Pangeran Mangkubumi. Dan sekarang,
apakah yangakan kau lakukan? Apakah kedatanganmu membawa tugas
keprajuritanmu atau sekedar ingin menjemput Arum?“ “Kakang” suara
Arum menjadi gemetar “Kau sebaiknya duduk dahulu kakang. Kau
mendengarkan penjelasan yang akan diber ikan oleh Raden Juwiring”
“Tidak perlu Arum Semuanya sudah jelas bagiku” “Tidak” “Ya” “Tidak.
Kau tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sini. Karena itu
duduklah dan dengarkan kata-kata Raden Juwiring” “Apakah aku harus
mendengarkan penjelasannya, kenapa ia datang mengambilmu?“ suara
Buntalpun menjadi semakin garang “Arum. Kenapa tidak kau katakan
sebelumnya. Dan kenapa kau membiarkan aku menyimpan harapan.
Sekarang sudah jelas bagiku. Seperti yang sudah aku duga, bahwa pada
suatu saat, Raden Juwiring akan datang untuk mengusir aku dari
padepokan ini” Buntal menggeram “tetapi tidak. Aku kini bukan
sekedar Buntal, anak kabur kanginan. Tetapi aku mengemban tugas
sebagai pengikut Pangeran Mangkubumi. Aku harus memusnahkan siapa
saja yang aku jumpai dan mencoba merintangi usahaku” “Buntal.
Marilah kita lenyapkan kesalah pahaman ini” berkata Raden Juwiring.
Tetapi Buntal seolah-olah tidak mendengar. Iapun segera bersiaga
sambil berkata “Bersiaplah Raden Juwiring” “Kau tergesa-gesa Buntal.
Persoalannya akan dapat bergeser dari persoalan yang seharusnya”
Tetapi Buntal masih saja tidak menghiraukannya. Bahkan tiba-tiba ia
meloncat maju sambil mengacukan pedangnya, dekat sekali ke dada
Raden Juwiring.Raden Juwiring surut selangkah. Namun dalam pada itu,
ia masih tetap tenang. “Raden Juwiring. Cepat ambil senjatamu. Aku
tidak akan membunuh orang yang berpangku tangan. Kita adalah murid-
mur id yang terpercaya dari Jati Aking. Karena itu, aku tidak akan
merendahkan perguruan kita dengan membunuhmu sebelum kau menggenggam
senjata. Aku tahu, bahwa setelah kau tinggalkan Jati Aking dan
kemudian berkhianat atas cita- cita kita bersama, kau adalah murid
dari ayahandamu, seorang Pangeran yang memiliki ilmu tiada taranya.
Tetapi aku pun mendapat imbangan ilmu dari Kiai Sarpasrana. Nah,
sekarang, siapakah di antara kita yang dapat menyebut dir inya mur
id terbaik dari Kiai Danatirta” “Buntal” potong Arum. Namun Raden
Juwiring berkata “Buntal. Bukankah baru sekarang kau katakan, bahwa
sebenarnya kau mempunyai harapan untuk hidup bersama Arum. Agaknya
selama ini kau bersembunyi dari kenyataan suara hatimu sendir i”
“Bukan hanya aku Raden. Ternyata kau juga berbuat serupa” potong
Buntal, lalu “tetapi aku akan melupakan persoalan itu, persoalan
perempuan. Yang ada adalah persoalan antara penjilat kumpeni dan
pengikut setia Pangeran Mangkubumi. Hanya itu. Kita tidak per lu
berbicara tentang perempuan yang manapun juga” Wajah Arum menjadi
merah padam. Dengan lantang ia berbicara “Kau menyinggung perasaanku
kakang Buntal. Jika kau menjadi gelap mata dan kehilangan akal,
karena sebenarnya kau berpikir tentang perempuan. Aku sadar, bahwa
kau memang mencintai aku meskipun kau tidak mengatakannya dengan
tegas. Dan akupun tidak dapat ingkar bahwa aku memang mencintaimu.
Tetapi kata-katamu, seolah-olah aku adalah perempuan yang hanya
dapat menumbuhkan pertengkaran adalah sangat menyakitkan
hati”“Buntal” berkata Raden Juwiring kemudian “Kau harus menyadari
kelambatanmu. Kau adalah seorang laki-laki. Tentu tidak mungkin Arum
harus datang kepadamu dan mengatakan isi hatinya. Ia seorang gadis
yang terikat oleh batasan-batasan hidup sebagai seorang gadis yang
beradab” “Baik. Baiklah aku menyadari bahwa aku terlambat Sekarang
kau sudah terlebih dahulu mendapatkannya. Tetapi aku tidak percaya
bahwa persoalannya hanya sekedar karena kelambatanku. Jika semula
aku melihat sepercik sinar di dalam hati Arum karena kau tidak ada
Raden. Aku hanyalah sekedar pengisi kekosongan semata-mata.
Sekarang, karena agaknya Arum sudah mendapatkan apa yang
ditunggunya, maka aku tidak akan berarti lagi bagi hidupnya. Dan
akupun tidak akan berjongkok untuk mohon belas kasihan. Aku datang
sebagai utusan Pangeran Mangkubumi. Dan kedatanganmu kemari ternyala
kurang menguntungkan, karena sejenak lagi akan datang seorang utusan
dari Surakarta. Dan orang itu akan melihatmu di sini dan sekaligus
akan dapat menjadi saksi pengkhianatanmu kepada semua orang di
sekitarmu” “Buntal” berkata Raden Juwiring “jika kau mengerti bahwa
akan datang seorang petugas sandi dari Surakarta, kenapa hal itu kau
katakan kepadaku? Bukankah dengan demikian kau sudah mengucapkan
rahasia yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh orang lain?“
“Karena sebentar lagi kau akan mati di sini Raden”“Buntal” suara
Arum melengking “Kau memang picik. Kau tidak mengerti akan dirimu
sendir i” Buntal tertegun ketika ia melihat air mata meleleh di pipi
Arum. Ia seorang gadis yang keras hati. Bahkan ia seorang gadis yang
kadang-kadang hanya menuruti kehendaknya sendiri. Tetapi ia kini
menangis. Buntal menahan getaran tangannya yang hampir saja
mengayunkan pedangnya. Sekilas ia melihat beberapa orang berdiri di
muka pintu. Tetapi tidak seorangpun yang berani berbuat sesuatu.
“Untunglah bahwa agaknya Kiai Danatirta tidak ada di padepokan”
desis Buntal “Tidak akan ada orang yang dapat menghalangi aku
membunuh Raden. Juwiring” Tetapi air mata di pelupuk Arum membuatnya
agak ragu- ragu. “Kakang Buntal” berkata Arum “Kau memang seorang
anak muda yang diburu oleh kebencian dan dendam. Keadaanmu sejak kau
terlempar ke dalam keadaan yang tidak menentu, telah mendasari
hatimu, sehingga meskipun kemudian kau mendapat tuntunan dar i ayah
dan kemudian kau menunjukkan sikap yang baik, tetapi pada suatu saat
kebencian dan dendam yang mengendap di dasar hatimu sejak kau
kanak-kanak itu tidak dapat kau sembunyikan lagi” “Cukup“ potong
Buntal “Kau tidak usah mengungkap masa itu Arum. Aku berterima kasih
kepadamu, bahwa selama ini aku sudah mendapat perlindungan dan
bahkan kebaikan yang tidak ada taranya. Aku akan tetap mengenangnya.
Tetapi sekarang, aku mempunyai persoalan dengan Raden Juwiring.
Tidak dengan kau” “Jangan ingkar Buntal. Meskipun sebenarnya aku
malu sekali mengatakan, tetapi di dasar hatimu, kau sekali lagi
merasa kehilangan cinta. Dahulu kau kehilangan cinta kasih orang
tuamu dan orang-orang di sekitarmu. Sekarang kaumerasa bahwa kau
telah kehilangan cintaku. Buntal, aku mencintaimu. Aku berkata
dengan jujur” “Tetapi apa yang kau lakukan sekarang dengan Raden
Juwiring?” Buntal membentak “persetan. Aku tidak peduli apapun juga.
Aku akan membunuhnya” Tiba-tiba wajah Arum menjadi merah. Dan
tiba-tiba saja gadis itu meloncat meraih pedang yang tergantung di
dinding. Buntal terkejut melihat sikap Arum. Ternyata gadis itu
kemudian menggenggam pedang dan mengacukan pula kepadanya. “Kakang
Buntal. Raden Juwiring kali ini adalah tamuku. Aku berhak
melindunginya meskipun ia mampu melindungi dir inya sendiri. Tetapi
agaknya Raden Juwiring tidak bersedia menanggapi sikapmu, ternyata
ia sama sekali tidak menarik senjatanya” “Arum” suara Buntal menjadi
gemetar. “Ya. Kita sama-sama murid dari perguruan Jati Aking. Jika
Raden Juwiring mendapat ilmu rangkap dari ayahandanya, dan kau dari
Kiai Sarpasrana, maka aku tidak mendapatkan ilmu dar i orang lain
kecuali Kiai Danatirta. Tetapi meskipun demikian, aku tidak akan
menyerah. Aku akan menunjukkan bahwa aku mampu mengimbangi kalian
dengan ilmu kalian masing-masing” “Arum” desis Buntal “sebaiknya kau
t idak ikut campur. Serahkan persoalan antara aku dan Raden Juwiring
kepada kami. Kami adalah laki- laki yang tahu bagaimana kami harus
berhadapan sebagai laki-laki” “Aku tidak peduli apakah aku Laki-
laki atau perempuan. Tetapi kau waj ib tunduk kepadaku karena akulah
yang memiliki rumah ini. Jika ayah tidak ada, akulah yang
bertanggung jawab”Wajah Buntal menjadi merah padam. Kemudian
dipandanginya Raden Juwiring sambil berkata “Raden Juwiring Apakah
kau membiarkan dirimu mendapat perlindungan dari seorang perempuan?
Ataukah kalian memang sudah bersepakat untuk mengkhianati perjuangan
Pangeran Mangkubumi” Buntal menjadi tidak sabar lagi ketika ia masih
mendengar Raden Juwiring berkata “Sebaiknya kita berbicara dengan
mulut kita. Tidak dengan senjata teracu. Arum, kau jangan membiarkan
perasaanmu berbicara. Aku berharap bahwa Buntalpun akan menyadari
kesalahannya” “Persetan. Aku tidak bersalah” “Di antara kita telah
terjadi salah paham, Buntal. Kau terburu nafsu. Ketika kau melihat
aku duduk berdua dengan Arum, maka kau sudah kehilangan pikiran
warasmu” “Diam, diam” “Raden. Agaknya kakang Buntal memang sudah
tidak dapat diajak berbicara lagi” “Kenapa tidak. Aku mengharap kau
dapat berbicara sebaik- baiknya” “Cukup. Cukup” potong Buntal. Raden
Juwiring menjadi termangu-mangu sejenak. Sekilas ia melihat
kegelisahan di luar pintu. Beberapa orang berusaha mencari Kiai
Danatirta untuk melaporkan apa yang terjadi. Tetapi mereka tidak
berani minta pertolongan kepada orang- orang padukuhan Jati Sari,
karena mereka tentu tidak akan mampu berbuat apa-apa. Tetapi mereka
tidak segera menemukan Kiai Danatirta. Karena itu salah seorang dari
merekapun segera berlari-lari ke sawah untuk mencar inya. Barangkali
Kiai Danatirta sedang berada di sawah menunggui air.Dalam pada itu,
keadaan di bilik yang tegang itu menjadi semakin tegang. Buntal
tidak dapat mengelak lagi dari amukan api cemburu. Mau tidak mau ia
harus mengakui, bahwa ia bukan saja mengacukan pedangnya karena da
pengikut Pangeran Mangkubumi, tetapi juga karena perasaannya yang
dihantaui oleh kesepian. Seperti yang dikatakan Arum, Buntal menjadi
sangat ketakutan bahwa ia akan kehilangan cinta sekali lagi, setelah
cinta kasih orang tuanya direnggut selagi sedang berkembang. Dan
kini, cintanya sebagai seorang anak muda terhadap seorang gadis akan
patah selagi bersemi. Dengan suara gemetar Buntal itupun kemudian
berkata “Baiklah aku mengaku Arum. Aku harus mempertahankan harga
diriku. Meskipun aku akan kehilangan sekali lagi setelah kasih
sayang orang tuaku, maka satu-satunya yang aku miliki adalah harga
diriku. Harga diri sebagai seorang laki-laki, dan harga diri sebagai
seorang pejuang” Buntal berhenti sejenak “dan kini jika kau memang
memilih orang lain Arum, apa- boleh buat. Dan jika kaupun telah
mengkhianati perjuangan Pangeran Mangkubumi, maka sekali lagi aku
katakan, apa- boleh buat” “Hatimu menjadi gelap kakang. Cobalah
dengarkan Raden Juwiring memberi penjelasan” Lalu katanya kepada
Raden Juwiring “kenapa kau diam saja Raden. Kau harus mengatakan
sebelum terlambat. Kakang Buntal benar-benar sudah menjadi mata
gelap. Dan baginya tidak ada jalan lain kecuali pedang kita harus
beradu” Raden Juwiring termangu-mangu sejenak. Namun Buntal sudah
mendahului “Aku t idak memer lukan penjelasan apapun” Selangkah ia
maju dan pedangnya benar-benar telah menyentuh tubuh Raden Juwiring
yang masih belum menarik senjata.“Kau takut he?“ bentak Buntal “Aku
masih member imu kesempatan. Jika waktu itu habis, bersenjata atau
tidak, aku akan membunuhmu” “Tidak” teriak Arum “Aku berhak
melindunginya” Arumpun kemudian maju selangkah. Pedangnya benar-
benar teracu ke arah tubuh Buntal. Katanya “Kakang Buntal. Kau harus
menyadari, bahwa jika aku mau aku dapat membunuh seorang kumpeni
yang aku jumpai di parit itu. Jika kau masih juga berkeras hati,
akupun akan kehilangan segala pertimbangan” Buntal memandang Arum
dengan ragu-ragu, sementara Arum berkata lantang “Raden Juwiring,
kenapa kau diam saja. Katakan apa yang hendak kau lakukan di sini,
sebelum semuanya terlanjur. Apakah kau memang menunggu kesempatan
yang demikian?“ Raden Juwiring memandang Buntal yang wajahnya
menjadi tegang. Selangkah ia surut. Kemudian katanya “Buntal Aku
minta untuk yang terakhir kalinya. Dengarlah aku. Kemudian jika kau
akan membunuhku, lakukanlah. Atau jika kau mau berperang tanding,
aku akan melayanimu. Apakah kau mau?“ Buntal termangu-mangu sejenak.
“Jika masih ada sisa rasa persaudaraanmu, dengarlah aku” Buntal
masih tegang. “Kau mau?“ “Jangan mencoba bergurau” bentak Buntal
“Apakah dengan demikian kau mengharap hatiku menjadi luluh dan
member imu maaf atas kesalahan gandamu” “Dengar dahulu kata-katanya”
potong Arum hampir berteriak.Juwiring memberi isyarat agar Arum
berdiam dir i saja. Tetapi kegelisahan di hati Arum memaksanya untuk
bergeser semakin dekat dengan pedang di tangan. “Buntal” berkata
Juwiring “Aku memang menunggu saat yang tegang ini. Sebenarnya aku
sudah ingin mengucapkan persoalanku dengan padepokan ini, tetapi
tiba-tiba saja aku ingin mendengar pengakuanmu. Dalam keadaan yang
wajar, kau dan Arum tidak akan dapat mengucapkan pengakuan cintamu
masing-masing. Tetapi sekarang, kau sudah mengatakannya dan Arumpun
sudah mengakuinya pula. Kalian tidak perlu saling berdiam diri dan
saling menunggu. Kalian memang saling mencintai, dan kalian adalah
anak-anak muda yang sepantasnya untuk mengikat perasaan masing-
masing” Wajah Buntal dan Arum menjadi merah. Bahkan Arum yang
menggenggam pedang itupun kemudian menundukkan kepalanya.
Pedangnyapun seakan-akan merunduk karenanya. Tetapi Buntal masih
tetap dalam sikapnya. Katanya “Kau akan membuat aku lengah” “Tidak
Buntal. Seharusnya kaupun bersikap jantan menghadapi Arum. Kau harus
berani datang kepadanya dan berkata bahwa kau cinta kepadanya.
Semuanya akan berlangsung seperti yang kau harapkan” “Cukup.
Sekarang apalagi yang akan kau katakan. Kau akan mengatakan bahwa
aku telah terlambat dan Arum sudah terlanjur berjanji kepadamu untuk
menjadi isterimu? Isteri seorang bangsawan yang mempunyai seribu
macam kelebihan dari aku?” “Kakang” pekik Arum. Juwiring menggeleng
”Tidak Buntal. Aku tidak akan berkata demikian. Sekarang aku
menunggu keputusanmu, apakah yang akan kau lakukan. Aku merasa bahwa
tugasku bagi adik- adikku sudah selesai”Buntal menjadi
termangu-mangu. Namun pedangnya masih teracu. “Kenapa kau ragu-ragu”
Buntal masih tetap tegak di tempatnya, Juwiring yang berdiri
beberapa langkah di hadapannya masih nampak tenang. Ia sama sekali
tidak berusaha untuk menarik senjatanya. Bahkan kemudian ia
tersenyum sambil berkata “Nah. Bukankah sudah jelas bagimu Buntal.
Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku justru telah mendengar pengakuan
dari kalian berdua. Kemudian, terserahlah kepada kalian berdua, apa
yang akan kalian perbuat di antara kalian“ Arum perlahan-lahan telah
bergeser surut. Bahkan kemudian ia memalingkan wajahnya yang menjadi
kemerah- merahan. Sedang Buntal berdir i termangu-mangu di
tempatnya. Namun sejenak kemudaan Buntal masih menggeram “Raden
Juwiring. Mungkin aku dapat mempercayaimu, bahwa kau memang tidak
akan membawa Arum. Tetapi kau telah mempergunakan keadaan ini untuk
mempersulit kedudukanku. Kau adalah seorang pengkhianat. Aku tidak
akan dapat membiarkan kau pergi. Tetapi j ika aku bertindak atasmu,
maka seolah-olah kau menuduh bahwa aku telah dibakar oleh gelap hati
karena cemburu. Bahkan Arum menyebutku sebagai dendam dan kebencian
yang tersembunyi di dalam hatiku, yang pada suatu saat telah
terungkat, pada saat-saat aku menjadi ketakutan akan kehilangan
cinta. Karena itu, sebaiknya aku tidak bertindak sendiri. Aku akan
membawamu menghadap Kiai Sarpasrana atau Ki Wandawa” Raden Juwiring
mengerutkan keningnya. “Raden” berkata Buntal “di dalam hal ini kau
tidak akan dapat membujuk aku. Ada atau tidak ada persoalan dengan
Arum, kau memang waj ib ditangkap”Arum mengangkat wajahnya.
Dipandanginya Raden Juwiring yang sesaat menjadi tegang. “Buntal”
berkata Raden Juwiring “Apakah kau percaya kepadaku bahwa aku tidak
akan mengganggu hubunganmu dengan Arum” “Yang aku persoalkan adalah
pengkhianatmu” Raden Juwiring memandang Arum yang juga
memandanginya. Katanya “Arum, sebagai seorang yang tertua dari
perguruan Jati Aking, aku berharap bahwa kalian tidak akan menjadi
salah paham lagi. Aku tidak akan menjadi sakit hati jika persoalan
yang ada di antara aku dan Buntal kemudian bukan karena kau, tetapi
karena alasan lain” Arum tidak menyahut Dan Buntal berkata “Nah,
jika demikian menyerahlah. Biarlah Ki Wandawa mengambil keputusan
atasmu” “Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?“ “Menangkapmu”
“Bagaimana dengan petugas sandi yang bakal datang itu nanti. Apakah
kau biarkan ia datang tanpa menemuimu?“ Buntal menjadi
termangu-mangu. Sebenarnyalah ia menjadi agak bingung. Namun
kemudian ia berkata “Raden Juwiring. Aku harus menangkapmu.
Menyimpanmu di dalam tempat yang meyakinkan aku bahwa kau tidak akan
melarikan dir i, sehingga saatnya kau akan aku bawa menghadap Ki
Wandawa” “Kalau aku t idak mau” bertanya Juwiring. “Aku akan
memaksamu”“Sudahlah Raden” berkata Arum “bukankah Raden mengatakan
bahwa waktunya terlampau sempit? Dan Raden masih saja membuang-buang
waktu” Juwiring mengerutkan keningnya, sedang Buntal menjadi tegang
“Apakah maksudmu?“ “Tidak apa-apa” sahut Juwiring “sebenarnyalah
waktuku memang terlampau sempit. Buntal, j ika persoalan Arum memang
sudah selesai dan kau yakini, maka marilah kita mempersoalkan
masalah yang barangkali penting bagimu. Sebaiknya kau mendengarkan
aku berbicara tanpa menggenggam senjata” Tetapi Buntal justru
mengangkat senjatanya teracu kearah Juwiring sambil berkata “Kau
mencar i kesempatan“ “Tidak Buntal” desis Raden Juwiring
perlahan-lahan “Marilah kita berbicara. Apakah kau pernah mendengar
ceritera tentang Bintang Selatan?“ “He“ pertanyaan Juwiring itu
rasa-rasanya telah menghentak dada Buntal. Sejenak ia berdir i
tegang dengan tatapan yang menusuk langsung ke dada Juwiring.
Juwiring masih tersenyum di tempatuya. Katanya “Sarungkan dahulu
senjatamu. Kau memang berhadapan dengan Bintang Selatan, Sebutlah
ciri sandimu, atau aku harus nangkap kau karena aku sudah terlanjur
menyebutkan sandi itu?“ Buntal masih berdiri dengan perlahan-lahan
mulutnya menyebut “Angin Utara, apakah aku harus menjawab demikian?“
Juwiring tertawa. Katanya “Bagaimanakah pesan Ki Wandawa?“ Buntal
masih tetap berdiri dalam kebingungan. Yang dilakukan kemudian
hampir di luar sadarnya. Dengan tangan gemetar ia menyarungkan
pedangnya betapapun iadicengkam oleh keragu-raguan. Tetapi ia sudah
mendengar Juwiring menyebutkan kata sandi itu. Bintang Selatan. Dan
sebutan itu adalah sebutan yang dimiliki oleh petugas khusus dari
Surakarta. “Buntal“ berkata Juwiring “sebenarnya aku juga tidak
mengerti bahwa kita akan bertemu. Tetapi justru karena kau sudah
mengatakan bahwa akan ada petugas sandi dari Surakarta yang datang,
maka aku menduga, bahwa kaulah yang mendapat tugas dari para
pimpinan petugas sandi pamanda Pangeran Mangkubumi, Karena itu aku
justru sempat menunggumu berbicara tentang Arum” Rasa-rasanya
segenap tubuh Buntal menjadi gemetar. Ia terduduk di amben kecil
dengan lemahnya. “Nah, kemudian kita akan berbicara tentang
perjuangan rakyat Surakarta” berkata Juwiring kemudian. Buntal
mengusap keringat yang mengembun di keningnya. Tanpa disadarinya ia
memandang Arum yang masih berdir i. Tetapi Arumsudah memutar
tubuhnya dan membelakanginya “Arum” berkata Raden Juwiring
“kemarilah, dan duduklah” Arum tidak beranjak dari tempatnya. Ia
berdiri dengan kepala tunduk. Tetapi iapun telah menyarungkan
pedangnya dan kemudian meletakkannya di atas aju-aju di sudut
ruangan. Sementara itu orang-orang yang berada di luar ruangan
menjadi heran. Mereka tidak tahu dengan pasti apa yang telah
dilakukan oleh anak-anak muda di dalam ruangan itu. Mereka hanya
mendengar sepatah-patah mereka bertengkar, dan kemudian pertengkaran
itu mereda, tanpa mengetahui arti kata-kata mereka. Orang-orang itu
ikut menarik nafas lega. Yang menar i Kiai Danatirta ternyata masih
juga belum kembali, karena Kiai Danatirta memang tidak diketemukan
di sawahnya.Buntal kemudian duduk dengan kepala tunduk. Perlahan-
lahan ia mulai menilai sikapnya. Ternyata Raden Juwiring memang
lebih dewasa dari dir inya. Anak muda itu tidak cepat kehilangan
pegangan. Bahkan ia masih sempat memanfaatkan keadaan yang tegang
itu. Ketika da mendengar Juwiring tertawa pendek melihat sikap
Buntal dan Arum, maka Buntal itupun berkata “Kau telah mempermainkan
aku Raden” “Tidak Buntal. Aku mengerti bahwa kau memer lukan suatu
saat yang khusus untuk membuka hatimu. Dan aku melihat, agaknya saat
itu dengan tiba-tiba saja telah datang“ Raden Juwiring berhenti
sejenak, lalu “sekarang baiklah kita berbicara tentang Surakarta.
Dengarlah. Aku sudah mendapat kepastian, bahwa menjelang dini hari
malam ini, pasukan Surakarta yang lengkap akan mengepung Pandan
Karangnangka.” “Menjelang dini hari? Dan Raden masih sempat bergurau
sekarang ini?“ “Aku hanya menyita waktu sedikit. Sekarang kau harus
segera kembali ke Pandan Karangnangka dengan berita itu. Pasukan itu
akan dipimpin oleh Senapati Agung dari Surakarta didampingi oleh
perwira kumpeni. Sepasukan kumpeni akan ikut di dalam penyergapan
itu” “Jadi maksud Raden, Pangeran Mangkubumi harus bersiap melawan
mereka”“Tergantung kepada perhitungan pamanda Pangeran Mangkubumi
Tetapi pasukan yang akan datang, adalah pasukan yang kuat sekali.
Senapati itu adalah pamanda Pangeran Yudakusuma, kemudian didampingi
oleh pengapit Tumenggung Sindura dan ayahanda Ranakusuma” Buntal
mengerutkan keningnya, Kemudian dari Raden Juwiring ia mendengar
penjelasan terperinci dari kekuatan yang akan mengepung Pandan
Karangnangka itu Sejenak Buntal termangu-mangu. Ada semacam keragu-
raguan yang mengendap di hatinya. Selama ini ia melihat Raden
Juwiring sebagai seorang Senapati muda dari pasukan berkuda. Namun
kini tiba-tiba saja Raden Juwiring itu ternyata tetap berada pada
pendiriannya sejak ia masih berada di padepokan Jati Aking. “Buntal”
berkata Raden Juwir ing “kenapa kau nampak ragu-ragu” “Tidak, aku
tidak ragu-ragu” Tetapi Buntal tidak dapat menyembunyikan
perasaannya yang terbersit ditatapan matanya. Karena itu maka Raden
Juwiring berkata “Sepantasnya kau ragu-ragu Buntal. Tetapi jika
tidak ada orang dalam, di dalam lingkungan keprajur itan Surakarta,
maka rahasia semacam ini tidak akan pernah sampai kepada Pamanda
Pangeran Mangkubumi. Karena itu, harus ada orang yang bersedia
berkorban, Setidak-tidaknya mengorbankan perasaannya atas tuduhan
yang keliru” “Maaf Raden” “Bukan maksudku. Justru demikianlah
seharusnya. Kau harus berdiri di atas sikap dan pendirianmu.
Sementara aku memang sudah menyerahkan diri ke dalam tugas ini. Jika
kau mengetahui bahwa aku t idak sebenarnya berpihak kepada
Surakarta, maka rahasiaku akan mungkin sekali terbuka”“Tetapi aku
tentu akan tetap memegang rahasia itu seandainya aku mengetahui”
“Bukan aku tidak percaya kepadamu Buntal. Tetapi itu adalah suatu
sikap berhati-hati” Raden Juwiring berhenti sejenak, lalu “sekarang,
tugas kita masing-masing harus segera kita selesaikan. Kau kembali
ke Pandan Karangnangka, dan aku harus menyusup kembali ke
dalampasukanku” Buntal masih saja termangu-mangu. Sekilas
dipandanginya wajah Arum. Wajah yang masih saja buram. “Arum”
berkata Buntal “kau mau memaafkan aku bukan?” Arum tidak segera
menjawab. Tetapi wajahnya justru menunduk dalam-dalam. “Agaknya kau
lebih dahulu mengetahui bahwa Raden Juwiring tetap berdiri di pihak
Pangeran Mangkubumi” “Tentu“ sahut Arum “sebab Raden Juwir ing
percaya kepadaku, karena aku…“ Arum t idak dapat melanjutkan kata-
katanya. Meskipun ia ingin menyatakan kejengkelannya, namun suaranya
bagaikan tersumbat. Raden Juwiring justru tertawa mendengarnya.
Katanya “Sudahlah. Itu adalah salah paham semata-mata. Menurut
pendengaranku, di dalam kehidupan keluarga salah paham akan sering
terjadi. Dan, kalian harus berhati lapang untuk melupakannya apabila
kalian sudah menemukan persesuaian. Demikian juga salah paham yang
telah terjadi. Kalian harus melupakan saat ini dan untuk seterusnya
tidak akan kalian singgung-singgung lagi” Arum menjadi semakin
tunduk. Bahkan Buntalpun menjadi tersipu-sipu karenanya. “Nah”
berkata Raden Juwir ing kemudian “semuanya sudah selesai. Tugas kita
sekarang adalah menyelamatkan pasukan pamanda Pangeran
Mangkubumi”Buntal menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian “tetapi,
apakah guru tidak ada di rumah?“ Raden Juwiring memandang Arum
sejenak, lalu “Aku juga belumbertemu dengan ayah” Arum menggelengkan
kepalanya sambil berkata “Aku t idak tahu, kemana ayah pergi” Tetapi
sebelum mereka berkata lebih jauh lagi, terdengar suara, justru dari
ruang dalam “Aku di sini anak-anak” Semuanya terkejut mendengar
suara itu. Apalagi kemudian mereka melihat Kiai Danatirta
benar-benar muncul dar i ruang dalam. “Ayah ada di rumah?“ bertanya
Arum. Kiai Danatirta tertawa. Katanya “Ya, aku ada di rumah. Aku
juga tahu, dua tiga orang pelayan berlari-lari mencari aku. Dan aku
juga tahu apa yang telah terjadi” Tiba-tiba saja Arum berlari
keayahnya. Sambil mencubit lengannya bertubi-tubi ia berkata “Ayah
memang nakal. Ayah membiarkan kami bertengkar tidak ada ujung
pangkalnya” Kiai Danatirta masih tertawa perlahan-lahan. Sambil
duduk di atas amben kecil itu pula ia berkata “Aku memang berharap
sekali-kali kalian bertengkar. Semula aku memang akan menjelaskan
persoalannya. Tetapi karena menurut pendapatku, angger Juwiring
telah memilih cara yang tepat, maka akupun justru bersembunyi saja
di ruang dalam” Ketika Arum mencubit lagi, ayahnya bergeser sambil
berkata “Sudahlah Arum. Nanti ayah menjadi merah biru“ “Tetapi ayah
mengganggu kami” “Aku mengerti bahwa akhirnya semua akan selesai
dengan baik, karena aku tahu pasti, bahwa Raden Juwiring sedang
mengemban tugas, dan Buntalpun demikian pula”“Jadi ayah tahu bahwa
Raden Juwiring sampai saat ini tetap berdiri di pihak Pangeran
Mangkubumi?“ Kiai Danatirta mengangguk. Katanya “Aku adalah satu-
satunya orang yang diberitahu oleh Raden Juwiring tentang dirinya.
Dan akupun harus menyesuaikan diriku pula. Aku tidak mengatakannya
kepada siapapun” “Ayah telah membuat kami kebingungan selama ini”
berkata Arum “dan apakah ayah sudah tahu pada saat Raden Juwiring
datang mencari merjan?“ Ayahnya mengangguk sambil tersenyum.
“Terlalu, terlalu sekali“ Arum mencubit lengan ayahnya lagi
berkali-kali. “Jangan Arum, jangan. Tanganmu bukan tangan gadis
kebanyakan” Buntal yang sebenarnya juga merasa heran, Ia hanya dapat
menarik nafas dalam-dalam. Sedang Raden Juwiring tersenyum sambil
berkata “Akulah yang harus minta maaf Arum. Aku memang berpesan
kepada Kiai Danatirta agar tidak ada orang lain yang mengetahuinya.
Bukan berarti aku tidak mempercayai kalian berdua. Tetapi
semata-mata karena aku menjaga ketenangan dir i dalam tugasku” Arumt
idak menyahut. Sedang Buntal termangu-mangu. “Arum” berkata ayahnya
“bagaimanapun juga aku percaya bahwa semuanya akan berakhir dengan
baik. Aku menganggap bahwa Raden Juwir ing telah bersikap dewasa,
karena ia memang tertua di antara kalian. Sedangkan kalian yang
lebih muda kadang-kadang masih terlampau mudah disentuh oleh api
kemarahan sehingga tanpa disengaja, rahasia yang ada di dalamdiri
kalian terloncat keluar” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia
menyadari hal itu. Baru saja ia telah membuat suatu kesalahan
sebagai petugassandi hanya karena hatinya dibakar oleh perasaan yang
tidak menentu. “Sekarang” berkata Kiai Danatirta kemudian “Kau tentu
menyadari betapa pentingnya tugasmu. Hari telah menjadi semakin
malam. Sedang saat ini pasukan Surakarta tentu sudah bersiap.
Menjelang dini hari mereka harus sudah mengepung Pandan
Karangnangka. Pada saat matahari terbit mereka akan menyerang
padukuhan itu dari satu jurusan dengan gelar yang lengkap, sedang di
tempat lain, mereka sudah siap mengepung sehingga tidak seorangpun
akan dapat lolos dan melar ikan diri. Bukankah begitu Raden?“ “Ya
Kiai” “Karena itu Buntal. Bukan berarti aku akan mengusirmu. Tetapi
lakukan tugas ini sebaik-baiknya” Buntal memandang Raden Juwir ing
sejenak. Dilihatnya Raden Juwiring mengangguk sambil berkata
“Demikianlah Buntal. Akupun harus segera berada dipasukanku kembali.
Aku akan ikut menyerang Pandan Karangnangka di bawah Senapati
Pengapit Pangeran Ranakusuma. “Tetapi bagaimana dengan ayahanda
Raden?“ “Aku adalah puteranya. Aku harus tunduk atas segala
perintahnya. Tetapi jika Pandan Karangnangka telah kosong, bukankah
aku tidak akan bertempur dengan siapapun juga?” “Tetapi bagaimana j
ika Pangeran Mangkubumi mengambil keputusan untuk melawan?“ Juwiring
tersenyum. Katanya “Aku akan menemukan jalan keluar. Tetapi
sebenarnyalah pasukan Surakarta terlampau kuat” , “Tetapi Pangeran
Mangkubumi adalah seorang prajurit sejati”“Menghindari perang yang
tidak seimbang bukan berarti lari atau ingkar akan kuwajiban. Tetapi
itu berdasarkan atas pertimbangan yang masak untuk tujuan terakhir
dari peperangan” Buntal mengangguk-angguk sambil berkata “Baiklah.
Aku harus segera menyampaikan persoalan ini kepada Ki Wandawa” ia
terdiam sejenak, lalu “Jika demikian Kiai, aku mohon dir i untuk
segera kembali ke Pandan Karangnangka” “Aku berdoa untuk kalian.
Bukankah Raden Juwiring juga harus segera kembali kepasukannya?“ “Ya
Kiai. Aku juga akan segera mohon diri” Kiai Danatirta
mengangguk-angguk. Katanya “Perjuangan kalian masih akan memer lukan
waktu dan tenaga. Hati- hatilah” Kedua anak muda itupun hampir
bersamaan telah berdiri dan bersiap untuk pergi. Namun dalam pada
itu, tiba-tiba Arumberdesis “Ayah” Kiai Danatirta berpaling
kepadanya. Sejenak ia termangu- mangu. Namun kemudian ia bertanya
“Ada apa Arum? Apakah ada yang akan kau katakan?“ Arum hanya
menundukkan kepalanya. “Apakah kau akan ikut?“ Sejenak Arum diam.
Tetapi kemudian kepalanya terangguk kecil. “Ada dua orang yang akan
pergi kearah yang berlainan. Yang manakah yang akan kau ikuti?“
Wajah Arum menjadi merah. Sekali lagi ia mencubit lengan ayahnya
bertubi-tubi sambil berdesah “Ayah selalu mengganggu aku”Kiai
Danatirta tertawa. Namun kemudian Juwiringpun tertawa “Kau tentu
memilih ikut aku Arum” Buntallah yang kemudian menjadi tersipu-sipu.
Tetapi ia tersenyum meskipun tidak menyahut sama sekail “Baiklah
Arum” berkata Kiai Danatirta kemudian “Aku tahu. bahwa kau
benar-benar berniat untuk pergi. Pergilah. Tetapi kau harus tetap
berhati-hati di dalam segala tingkah lakumu. Kau tidak dapat
bersikap kekanak-kanakan terus-menerus di mana-mana. Kau harus
menyesuaikan dirimu. Jika kau dituntut oleh keadaan karena
keperempuananmu di dalam menentukan kuwaj iban, maka kau jangan
ingkar” Arum mengangguk. “Dan sudah barang tentu kau harus tunduk
kepada pimpinanmu. Mungkin kau akan mendapat tempat yang lain dengan
kakakmu. Dan kau t idak boleh mengikuti perasaanmu saja” Sekali lagi
Arum mengangguk. “Cepatlah berkemas. Waktu hanya sedikit sekali.”
Arumpun segera berkemas, sementara seorang pelayan menyiapkan
kudanya. “Aku titipkan Arum kepadamu Buntal. Aku kira sebentar lagi
Jati Aking tidak akan aman lagi baginya. Jika orang-orang Surakarta
mengetahui peranan Taman di kaki Bukit ini, maka semuanya akan
menjadi sulit” Buntal memandang wajah gurunya dengan tajam. Kemudian
terloncat pertanyaan dari mulutnya “Guru, apakah pada suatu saat,
ada kemungkinan padepokan ini akan menjadi sasaran prajurit di
Surakarta?“ “Bukan mustahil Buntal. Tetapi baiklah hal itu kita
bicarakan kemudian. Sekarang pergilah menunaikan kuwajibanmu
sebaik-baiknya”Ketiga anak-anak muda itupun sekali lagi minta dir i.
Kemudian mereka meninggalkan Jati Aking untuk melakukan tugas
masing-masing. Juwiring kembali kepasukannya yang sudah siap
bergerak mengepung Pandan Karangnangka dan kemudian menghancurkan
padukuhan itu menjelang pagi. Buntal yang kemudian mengambil kudanya
dan Arumpun berpacu secepat-cepat dapat dilakukan. Hanya
kadang-kadang mereka harus memper lambat derap kudanya karena jalan
yang licin atau berlubang- lubang. di sepanjang jalan tidak banyak
yang mereka bercakapkan. Kecuali Arum dan Buntal masih di antarai
oleh keseganan masing-masing karena salah paham yang baru saja
mereka selesaikan, merekapun ingin segera sampai ke Pandan
Karangnangka untuk menyampaikan berita yang sangat penting itu.
“Tidak mustahil kita bertemu dengan pengawas yang sudah dipasang
oleh orang-orang Surakarta” berkata Buntal. Arum tidak menjawab,
sehingga Buntal menjadi termangu- mangu sejenak. Tetapi karena yang
akan dikatakannya adalah persoalan yang dianggapnya penting, maka
iapun berkata pula “sebaiknya kita tidak menempuh jalan induk. Juga
tidak melalui jalur yang menuju ke Surakarta selain jalan induk.
Kita akan melalui jalan yang bertentangan, karena jalan dari
Surakarta atau bahkan mungkin dari Pandan Karangnangka, sudah
mendapat pengawasan” Arum menarik nafas dalam-dalam. Ia masih segan
untuk terlalu banyak berbicara. Meskipun demikian ia mengangguk
sambil menjawab “Aku mengikutimu jalan manapun yang kau tempuh”
Buntal menarik nafas. Tetapi ia dapat mengerti perasaan Arum.
Demikian mereka berdua kemudian mengambil jalan melingkar seperti
saat Buntal memasuki padepokan Jati Sari.Dengan demikian mereka akan
mengurangi kemungkinan pengawasan dari para petugas sandi di
Surakarta. Ternyata usaha Buntal itu berarti tanpa mereka sadari.
Jalan yang menuju ke Pandan Karangnangka memang mendapat pengawasan
secermat-cermatnya sebelum pasukan Surakarta mengepung padukuhan
itu. Terutama jalan masuk dari jurusan Surakarta. Tetapi Buntal
mengambil jalan yang lain. Seperti ketika ia memasuki padukuhannya,
Jati Sari, maka ia menjadi sangat berhati-hati. Dengan demikian maka
beberapa orang petugas sandi yang berada di tepi jalur jalan dari
Surakarta tidak melihat kedatangannya. Beberapa kali para pengawas
itu melihat beberapa orang peronda yang berjalan mengitari Pandan
Karangnangka. Tetapi para peronda itu sama sekali tidak melihat
mereka. Dalam pada itu, Buntal dan Arum dengan diam-diam telah
sampai di regol padukuhan. Para penjaga yang menghentikannya,
kemudian mempersilahkan mereka berdua untuk segera menghadap Ki
Wandawa. “Marilah Buntal“ Ki Wandawa mempersilahkannya ketika ia
berada di depan pintu. “Aku datang bersama adikku Ki Wandawa” Ki
Wandawa mengerutkan keningnya. Lalu iapun bertanya “Siapakah adikmu
itu?“ “Arum” “Arum? Seorang gadis?“ “Ya” Ki Wandawa terdiam sejenak.
Kemudian ia berkata dengan nada yang tinggi “Masuklah. Bawa adikmu
masuk”Keduanyapun kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Seperti pada
saat Buntal menerima perintah, maka ruangan itu masih tetap kosong,
selain Ki Wandawa sendir i, seolah- olah Ki Wandawa tidak bergerak
dari tempatnya sejak ia member ikan perintah kepada Buntal untuk
pergi ke taman di kaki bukit. “Buntal” bertanya Ki Wandawa dengan
nada yang datar “kenapa kau bawa adikmu itu. Bukankah kau sedang
menjalankan tugas yang cukup berat” Buntal termangu-mangu mendengar
pertanyaan itu. Namun kemudian ia menjawab “ia ingin ikut berjuang
bersamaku Ki Wandawa” “Siapa yang mengatakan begitu?“ “Adikku”
“Apakah kau tahu apa yang dikatakannya itu sesuai dengan yang
dipikirkannya?“ “Aku tahu pasti” “Tidak. Kau sudah berbuat kesalahan
yang besar sekali. Tidak ada orang yang boleh mengetahui hubungan
yang sedang kau lakukan. Adikmu, ayahmu dan saudara-saudaramu tidak”
“Tetapi, aku berani menanggung segala akibatnya Ki Wandawa. Jika
adikku berbuat sesuatu yang dapat merugikan perjuangan ini, biarlah
aku yang digantung” “Tetapi jika kesalahan itu sudah terlanjur
membawa korban, tidak ada artinya kau digantung setinggi pohon
kelapa sekalipun. Karena itu, pergilah. Kau tidak akan mendengar
penjelasan apapun lagi. Tetapi kau akan segera berada di bawah
pengawasan beberapa orang petugas” “Ki Wandawa”“Kau sudah melakukan
kesalahan yang besar di dalam tugasmu. Jika kau tidak dalam tugas
rahasia bahkan sangat rahasia, kami akan mener ima kedatangan adikmu
dengan baik. Tetapi dalam keadaan ini semuanya harus diyakinkan
lebih dahulu, apakah kau tidak terdorong dalam suatu perangkap yang
dapat merugikan keseluruhan kita” “Tetapi aku belum melaporkan, apa
yang baru saja aku lakukan Ki Wandawa. Jika memang aku dianggap
bersalah, aku tidak akan ingkar. Tetapi aku akan memberikan laporan
lebih dahulu. Yang aku dengar memang penting sekali bagi Pandan
Karangnangka” “Dan yang penting sekali itu sudah bocor ke telinga
orang lain. Jika besok atau lusa, akibat dari kecerobohanmu ini akan
mulai nampak, maka kau t idak akan dapat diampuni lagi” “Kakang”
desis Arum. Buntal menggamit Arum. Kemudian iapun menjawab “Aku akan
bersedia menerima hukuman apapun. Tetapi sebaiknya aku akan
melaporkan tugasku” “Adikmu harus dibawa pergi lebih dahulu. Baru
kau berbicara” “Ia sudah mengetahuinya” “Itulah yang sudah aku duga.
Dengan demikian maka kau dan adikmu akan selalu berada di bawah
pengawasan untuk beberapa lama” “Bukan aku yang memberitahukan
kepadanya“ Ki Wandawa mengerutkan keningnya. Suaranya menjadi dalam
“Siapa?“ “Bintang Selatan” “He“ wajah Ki Wandawa menjadi merah.
Katanya kemudian “Kau berbohong. Orang yang mendapat kepercayaan
daripetugas sandi di Surakarta tidak akan begitu bodoh mengatakan
rahasia itu kepada setiap orang” “Tetapi demikianlah yang telah
terjadi. Ketika aku datang, justru hampir terjadi salah paham antara
aku dan Bintang Selatan yang sudah aku kenal sebelumnya” Ki Wandawa
termangu-mangu. “Ki Wandawa” berkata Buntal kemudian “pada waktu itu
di Taman di kaki Bukit itu memang telah bertemu Bintang Selatan,
Angin Utara dan Bunga di Batu Karang” Ki Wandawa menjadi bingung.
Katanya “Aku adalah orang tertinggi di pasukan Pangeran Mangkubumi
yang mengurusi masalah sandi. Tetapi aku belum pernah mendengar
Bunga dibatu Karang” “Memang bukan nama sandi. Tetapi jika
dikehendaki, aku akan bertanggung jawab. Karena itu, Ki Wandawa
sebaiknya segera mendengar laporanku. Kemudian terserah apa yang
akan Ki Wandawa lakukan terhadap kami berdua” Ki Wandawa memandang,
tatapan mata Buntal yang tajam. Ia adalah seorang yang memiliki
pengalaman yang masak, sehingga karena itu, maka Ki Wandawa itu
dapat menjajagi perasaan yang terberat di dalam dada Buntal. Apalagi
ketika ia melihat wajah gadis yang dikatakan oleh Buntal sebagai
adiknya itu. Ia melihat wajah itu nampak bersih. Karena itu, maka Ki
Wandawapun kemudian berkata “Buntal, katakanlah Tetapi lebih dahulu
sebutlah alasanmu mengapa kau menyebut Bunga di Batu Karang” “Tidak
Ki Wandawa. Sebenarnya aku hanya sekedar mengatakan tanpa maksud
tertentu. Yang menyebutnya sebagai Bunga di Batu Karang untuk yang
pertama kali menurut ingatanku adalah Raden Rudira, putera Pangeran
Ranakusuma ketika anak muda itu menginginkan adikku untukdijadikan
selirnya. Ia menganggap tempat tinggalku sebagai batu karang yang
keras dan gersang” Ki Wandawa menar ik nafas dalam-dalam. Ternyata
sebutan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan tugas-tugas
sandinya. Karena itu maka katanya “Baiklah. Sekarang, katakan apa
yang kau dapat dari Bintang Selatan” Buntal termangu-mangu sejenak.
Kemudian katanya “Bintang Selatan adalah saudara tuaku” “O“ Ki
Wandawa tidak menghiraukannya. “Itulah sebabnya, adikku dapat
mendengarnya juga” “Suatu kesalahan. Tetapi cepat katakan” Buntalpun
segera mencer iterakan apa yang didengarnya dari Raden Juwiring,
bahwa pasukan Surakarta sudah siap mengepung Pandan Karangnangka.
Wajah Ki Wandawa jadi tegang. Lalu “Jadi kepungan itu akan
berlangsung sekarang?“ “Ya. Sebentar lagi” Ki Wandawa merenung
sejenak. Kemudian katanya “Kau tetap berada di sini. Aku akan
menghadap langsung Pangeran Mangkubumi. Mungkin kau diperlukan
keteranganmu” Buntal termangu-mangu. Tetapi ia tidak sempat
bertanya, karena Ki Wandawa itu telah lenyap di balik pintu.Tetapi
demikian Ki Wandawa tidak nampak lagi, Buntal melihat dua orang
bersenjata berdiri di depan pintu bilik itu. Sambil menarik nafas
dalam-dalam ia berkata kepada Arum “kita harus tetap berada di sini
Arum” “Sampai kapan?“ “Sampai kita diij inkan pergi” Arum
mengerutkan keningnya. Dengan malasnya ia duduk di sebuah amben
bambu. Tetapi dengan demikian Arum dapat mengetahui, bahwa ada
semacam peraturan yang ketat berlaku di dalam lingkungan laskar
Pangeran Mangkubumi, sehingga ia memang tidak akan dapat berbuat
sekehendak hatinya sendir i. Dalam pada itu, atas permohonan Ki
Wandawa, Pangeran Mangkubumi telah memanggil orang-orang terpenting
untuk membicarakan keterangan yang mereka terima lewat Buntal.
Mula-mula mereka menilai apakah berita itu dapat dipercaya. “Aku
mempercayainya” berkata Ki Wandawa “keterangannya jelas dan
terperinci. Tingkat sumber beritapun menurut ketentuan yang sudah
kita setujui bersama dengan para petugas di dalam kota” “Tetapi
apakah Ki Wandawa mengetahui, siapakah yang telah berhasil menyadap
berita yang tentu sangat dirahasiakan itu? Jika Ki Wandawa dapat
menyebutnya, atau menyebut nama sandinya, maka tidak akan ada
persoalan lagi” bertanya seorang Senopati. “Sayang” berkata Ki
Wandawa “Aku hanya mengenal pembawa beritanya. Bintang Selatan.
Tetapi nama itu bagiku merupakan jaminan bahwa berita yang dibawanya
bukannya berita isapan jempol belaka” Para pemimpin yang ada di
dalam pertemuan itu kemudian hanya saling menunggu keputusan
Pangeran Mangkubumi.Sejenak kemudian, di dalam keheningan yang
tegang, Pangeran Mangkubumi berkata dengan suara yang berat “Aku
mempercayainya” Tidak ada lagi yang mempersoalkannya. Pangeran
Mangkubumi mempunyai tanggapan yang sangat tajam. Firasatnya dan
nalurinya untuk bertindak melampaui kebanyakan orang sehingga orang
menganggapnya mempunyai kekuatan lain dari kekuatan nalarnya.
Orang-orang Surakarta percaya bahwa Pangeran Mangkubumi mempunyai
aji Sapta Pangrungu, Sapta Pangrasa dan bermacam-macam aji yang
lain. Bahkan sepi-angin dan panglununan. “Kemudian, apakah yang
harus hamba lakukan?” bertanya Ki Wandawa. “Mencari petugas sandi
yang mengawasi jalur jalan di sekitar tempat ini Menurut kemungkinan
mereka menghubungi atasannya, kemudian kita harus meninggalkan
padukuhan ini. Kita belum siap melawan mereka dalam gelar yang utuh.
Kita harus menyiapkan diri di luar kepungan, dan menyerang mereka
dengan tiba-tiba. Tetapi kita akan segera meninggalkan arena
pertempuran. Kita akan pergi ke Utara, sementara pasukan dari
Sukawati harus sudah meninggalkan tempatnya pula, karena mereka
harus mengganggu prajur it Surakarta yang mengejar kami” “Mereka
harus menjebak pasukan dari Surakarta?” “Tidak. Mereka hanya akan
menyerang dan kemudian meninggalkannya seperti yang kita lakukan” Ki
Wandawa mengerti apa yang harus dilakukan. Ia harus mengirimkan
petugas sandi ke Sukawati secepatnya agar mereka dapat segera
mempersiapkan diri. Tetapi dalam pada itu Pangeran Mangkubumipun
kemudian berkata pula “Menjelang pertempuran yang akan
terjadiperempuan dan anak-anak harus sudah disingkirkan. Mungkin
prajurit Surakarta tidak akan mengganggu mereka, karena mereka
adalah Saudara-saudara mereka sendir i. Tetapi kita tidak dapat
mempercayai kumpeni sama sekali. Ia akan membunuh perempuan dan
anak-anak seperti ceritera yang pernah kita dengar terjadi dibenua
lain dalam penjelajahan orang-orang kulit putih. Bahkan dibenua lain
orang pribumi ditangkap dan diperdagangkan sebagai budak-budak
belian” Pangeran Mangkubumi berhenti sejenak. Kemudian “Ki Wandawa.
Lakukan segera semua persiapan sebelum mereka datang. Tetapi aku
perlu bertemu dengan anak muda yang langsung mendapat hubungan dar i
Bintang Selatan” Ki Wandawapun segera meninggalkan pertemuan itu.
Demikian pemimpin-pemimpin yang lain. Mereka harus mulai melakukan
tugas masing-masing, karena waktu sudah terlampau sempit. Dalam pada
itu, beberapa orang petugas sandi segera menyebar. Mereka yakin,
sebelum pasukan yang besar itu datang untuk mengepung Pandan
Karangnangka, maka petugas-tugas sandinya tentu sudah bertebaran
lebih dahulu. “Kita harus meninggalkan padukuhan ini kearah yang
tidak mendapat pengawasan” berkata Ki Wandawa kepada anak buahnya
yang harus mempersiapkan perjalanan bukan saja pasukan Pangeran
Mangkubumi, tetapi juga perempuan dan anak-anak, karena mereka
pernah mendengar ceritera-ceritera yang mengerikan tentang
orang-orang kulit putih yang sering berburu manusia. Ceritera yang
mula-mula terloncat dari mulut orang-orang kulit put ih itu sendir i
apabila mereka sedang menyombongkan diri atau sedang mabuk.
Sementara beberapa orang petugas sandi mencari jalan keluar dari
daerah Pandan Karangnangka, Buntal mendapat kehormatan untuk
langsung menghadap Pangeran Mangkubumi di dalam sebuah bilik yang
kecil. di dalam ruangan itu tidak ada orang lain kecuali
PangeranMangkubumi sendiri. Tetapi Buntal harus menghadap seorang
diri, sehingga Arumharus tetap tinggal di luar. “Buntal” suara
Pangeran Mangkubumi berat “Kau mengenal Bintang Selatan sebelumnya?“
“Hamba Pangeran. Bintang Selatan adalah saudara seperguruan hamba”
“Ya“ “Raden Juwiring pernah tinggal bersama hamba beberapa lama di
Padepokan Jati Sar i” Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Katanya
kemudian “Kita kadang-kadang tidak tahu, siapakah yang akan dikirim
oleh petugas-tugas sandi di dalam kota. Mereka harus melindungi
orang-orangnya dengan penuh rahasia. Tetapi bukankah Juwiring itu
putera Pangeran Ranakusuma?“ “Hamba Pangeran” Pangeran Mangkubumi
mengerutkan keningnya. Pangeran Ranakusuma adalah seorang Pangeran
yang dekat dengan kumpeni. Meskipun ada kekecewaan yang terselip di
hatinya, namun ia tetap seorang yang berbahaya. Pangeran Ranakusuma
adalah Senapati yang mumpuni. Mungkin ia menjadi agak jauh dengan
perwira-perwira kumpeni karena persoalan pribadi. Tetapi ia adalah
sapu kawat Surakarta, “Tetapi Juwir ing agaknya dapat dipercaya”
berkata Pangeran Mangkubumi kemudian, lalu “Kau tetap berada di
sini. Ada orang lain yang sudah diperintahkan ke Sukawati. Mungkin
tenagamu diperlukan oleh Ki Wandawa” “Hamba Pangeran” “Sekarang,
pergilah kepada Ki Wandawa untuk membantunya” Buntalpun kemudian
meninggalkan bilik yang sempit itu. diluar ia menemui Arum dan
bersama-sama menemui Ki Wandawa untuk mendapat perintah-perintah
selanjutnya. Dalam pada itu Ki Wandawa benar-benar telah tenggelam
dalam kesibukan. Ia sudah menyebarkan beberapa orang petugas sandi
untuk merintis jalan keluar dari Pandan Karangnangka. Bukan saja
agar arah kepergian mereka tidak diketahui oleh prajur it Surakarta,
tetapi juga agar prajurit Surakarta tidak mengetahui bahwa padukuhan
itu sudah kosong, sehingga mereka merasa dir inya gagal pada
tindakan yang pertama. Kesan itu akan selalu mempengaruhi tindakan-
tindakan mereka berikutnya. Sementara itu, beberapa orang petugaspun
segera dikirim ke Sukawati setelah para petugas sandi meyakinkan
arah yang tidak mendapat pengawasan dari petugas-tugas sandi dari
Surakarta. Mereka harus melaporkan semua persoalan yang sudah
dibicarakan di Pandan Karangnangka. “Tidak ada satu katapun yang
boleh terloncat dari mulutmu, jika kalian tidak bertemu dengan Ki
Sarpasrana atau Ki Wandan Putih” pesan Ki Wandawa “jika sesuatu
terjadi di perjalanan, kau tahu apa yang harus kau lakukan”
Demikianlah petugas sandi itupun segera meninggalkan Pandan
Karangnangka. Mereka berkuda berir ingan pada jarak beberapa
langkah, sehingga apabila terjadi sesuatu, ada kesempatan bagi salah
seorang untuk melepaskan dir i. Sedang rahasia yang mereka bawa,
harus mereka pertahankan sampai mati jika mereka bertemu atau bahkan
tertangkap oleh lawan. Di lain arah, beberapa orang petugas sandi
benar-benar dapat melihat petugas-tugas dari Surakarta. Tetapi
mereka sama sekali tidak mengganggu. Bahkan mereka berusaha untuk
menghindari dan sekedar mengawasi. Seorang petugas sandi yang
membawa cangkul dalam pakaian petani yang akan mengair i sawahnya,
pura-pura tidakmelihat sama sekali bayangan dua orang yang berusaha
bersembunyi di dalamgerumbul yang tipis di pinggi jalan. Kedua
petugas sandi itu termangu-mangu sejenak melihat petani itu berjalan
dengan tenangnya seolah-olah sama sekali tidak mengetahui apa yang
akan terjadi di padukuhan Pandan Karangnangka. “Sekarang ia mengairi
sawahnya di malam begini” berkata salah seorang petugas sandi dari
Surakarta itu “sebentar lagi sawahnya akan menjadi kubangan raksasa
jika terjadi peperangan” “Yang akan menjadi ajang peperangan bukan
sawah orang itu. Tetapi sawah di sekitar padukuhan” sahut yang lain.
Kawannya mengangguk-angguk. Petani itu sudah t idak dilihatnya lagi
di balik kegelapan. Yang terdengar kemudian adalah gemer icik air
yang mengalir di parit di sebelah gerumbul itu. Sesaat kemudian
laporan tentang jaring-jaring petugas sandi dari Surakarta telah
sampai kepada Ki Wandawa. Meskipun pasti masih ada yang dilampaui,
tetapi mereka sudah mempunyai gambaran, daerah manakah yang mendapat
pengawasan yang paling ketat. “Jalan ke Surakarta benar-benar telah
tertutup” berkata Ki Wandawa kepada Buntal “mereka menjaga agar
tidak ada seorang petugas sandi yang dapat menyampaikan rencana
sergapan ini kepada kita. Untunglah bahwa berita itu sudah sampai
kepada Pangeran Mangkubumi. Dan pengawasan yang ketat itu agak
memperkuat kepercayaan kita bahwa malam ini Pandan Karangnangka
benar-benar akan dihancurkan” Setelah Ki Wandawa mendapat bayangan
jaring-jaring pengawasan petugas-tugas sandi dari Surakarta, maka
iapun segera memerintahkan menyiapkan perempuan dan anak-
anak.“Kalian harus segera meninggalkan padukuhan ini” berkata Ki
Wandawa kepada mereka “bawalah Barang-barang yang penting saja”
Perempuan dan anak-anak menjadi terlalu sibuk. Beberapa orang anak
kecil menangis di dalam dukungan ibunya. Tetapi mereka harus pergi
untuk keselamatan mereka, karena yang akan datang di utara pasukan
Surakarta adalah kumpeni. “Sepasukan pengawal akan menyertai kalian”
berkata Ki Wandawa kemudian “Yang lain akan menyusul kemudian.
Kalian tidak akan pergi ke Sukawati. Tetapi kalian akan di tempatkan
di tempat yang sudah kami tentukan. Kalian akan mengetahuinya
setelah kalian berada di tempat itu besok” Perempuan dan anak-anak
itu tidak bertanya. Mereka mengerti bahwa tempat itu masih
dirahasiakan untuk kepentingan keselamatan mereka sendir i. Setelah
semuanya siap, maka sepasukan pengawal telah berjalan mendahului.
Kemudian disusul dengan sebuah iring- iringan yang panjang, yang
berjalan tanpa obor di dalam kegelapan, didampingi oleh beberapa
orang pengawal pula. Di bagian belakang dari ir ing-ir ingan itupun
diiringi pula oleh sekelompok pengawal yang siap untuk melindungi
perempuan dan anak-anak itu apabila terjadi sesuatu di perjalanan.
Sementara perempuan dan anak-anak meninggalkan padukuhan Pandan
Karangnangka, maka Pangeran Mangkubumi memimpin sendir i pasukannya
untuk menghadapi sergapan prajurit-prajurit Surakarta dan terutama
kumpeni. “Kita berada di luar padukuhan“ perintah Pangeran
Mangkubumi kepada pasukannya “kita akan menunggu sampai prajur it
Surakarta mengepung Pandan Karangnangka. Kita akan melihat bagaimana
mereka merayap masuk. Kemudian baru kita akan menyerang mereka. Kita
tidak akanterlibat dalam perang yang besar. Kemudian kita akan
mengundurkan diri. Sepanjang pengejaran itulah pasukan dari Sukawati
harus siap. Mereka harus menyerang dengan tiba- tiba, dan menghilang
pula dengan tiba-tiba. Kecuali dengan pertimbangan lain. Apabila
menurut pertimbangan kita dapat menghancurkan mereka, maka kita akan
bertempur terus” Demikianlah setelah pasukan Pangeran Mangkubumi
siap, merekapun segera meninggalkan padukuhan. Tetapi mereka dengan
sengaja tidak memadamkan lampu- lampu dan obor- obor di gardu-gardu.
Bahkan mereka dengan sengaja meninggalkan satu dua orang yang
ditugaskan untuk memukul kentongan, dengan nada dara muluk. Sekedar
member i pertanda waktu dalam keadaan aman dan tenang. Ternyata
perhitungan waktu Pangeran Mangkubumi hanya berselisih sekejap.
Tepat pada saat pasukannya meninggalkan Pandan Karangnangka,
sepasukan yang besar dan kuat telah mendekati padukuhan itu. Namun
pasukan Pangeran Mangkubumi dapat menghindarkan diri dari pengamatan
para petugas sandi dari Surakarta, sehingga ketika pasukan Surakarta
mendekati Pandan Karangnangka, mereka sama sekali tidak mengira,
bahwa padukuhan itu telah kosong. Apalagi karena mereka masih
melihat obor-obor yang tetap menyala di sudut-sudut desa dan di
gardu-gardu. Bahkan rumah-rumah yang nampak dari kejauhan masih juga
diterangi nyala lampu minyak di regol-regolnya. Dalam pada itu,
Pangeran Mangkubumi yang memimpin sendiri pasukannya, telah membawa
mereka kesebuah padukuhan kecil yang tidak begitu jauh dari Pandan
Karangnangka. Sebuah bulak pendek telah memisahkan kedua padukuhan
itu, sehingga setiap perkembangan keadaan, Pangeran Mangkubumi dan
pasukannya akan segera mendengar laporan dari para pengawas.Ketika
kentongan dengan nada dara-muluk terdengar dari jantung padukuhan
Pandan Karangnangka, maka Senapati perang yang memimpin pasukan
Surakarta itupun menarik nafas dalam-dalam. Pandan Karangnangka
agaknya masih diliputi oleh suasana tenang. “Mereka tidak menyadari
apa yang akan terjadi sebentar lagi atas padukuhan itu“ berkata
seorang perwira kumpeni kepada kawannya “Aku ingin melihat padukuhan
itu dibakar habis dengan segala isinya” Kawannya mengangguk-angguk.
Tetapi katanya kemudian “Banyak orang-orang pribumi yang cantik.
Barangkali satu dua orang perempuan masih kita perlukan” “Perempuan
desa yang kotor, di kota masih banyak perempuan yang bersih dan
cantik” Kawannya tidak menjawab. Mereka merayap maju semakin dekat.
Dengan isyarat yang sudah ditentukan, maka pasukan Surakarta itupun
berhenti beberapa pula tonggak dari Pandan Karangnangka. Kemudian
para Senapatinya berunding sejenak untuk menentukan langkah
terakhir. “Kita bergerak mulai sekarang” berkata Senapati perang.
Yang lain tidak menyatakan pendapatnya. Sebentar lagi fajar akan
menyingsing, sehingga Pandan Karangnangka benar-benar harus sudah
dikepung. Setelah mendengarkan penjelasan dari beberapa orang
petugas sandi yang mendahului pasukan itu, maka Pangeran
Yudakusumapun menentukan sikapnya. “Kita akan memasang gelar. Gelar
yang paling baik adalah gelar supit urang. Kita akan menempatkan
pasukan berkuda diekor gelar, dan Senapati pengapit akan berada
disapit kiri dan kanan. Kemudian pasukan cadangan akan berada di
perut dan sementara itu, beberapa kelompok akan berada di hadapan
gelar Supit Urang untuk menahan pasukan lawanyang akan mengundurkan
dir i” Pangeran Ranakusuma dan Tumenggung Sindura mengangguk-angguk.
Sedang seorang perwira kumpeni bertanya “Dimana kami kau tempatkan?“
“Kita ada di ujung gelar. Kita adalah kepala dar i gelar supit urang
itu” “Darimana kita melakukan gerakan pertama?“ bertanya kumpeni itu
pula. Ia sudah mengerti serba sedikit tentang gelar supit urang. Dan
iapun dapat melihat manfaatnya meskipun bagi kumpeni ada beberapa
bagian yang sebenarnya tidak perlu ”Apakah kita akan melakukan
gerakan pertama dari kepala atau justru dari sapit kedua belah
pihak?“ Pangeran Ranakusuma yang mendengar pertanyaan itu memandang
Pangeran Yudakusuma dengan tajamnya Pangeran yang cerdik itu tentu
mempunyai perhitungan yang menguntungkan bukan saja bagi seluruh
gelar. Tetapi juga bagi dir inya sendir i. Dan jawaban yang diduga
itupun terloncat dari mulut Pangeran Yudakusuma “Gerakan akan
dimulai dari kedua sapit gelar kita untuk mendorong lawan masuk ke
dalam jebakan yang lebih dalam” Ketika perwira kumpeni itu
mengangguk-angguk, maka Pangeran Ranakusuma tersenyum di dalam hati.
Bagaimanapun juga tatag dan beraninya Pangeran Yudakusuma, tetapi ia
masih menempatkan Senapati pengapit pada kedudukan yang paling berat
menghadapi Pangeran Mangkubumi secara pr ibadi. Tetapi Pangeran
Ranakusuma tidak memberikan tanggapan apapun juga. Apalagi seluruh
pasukan itu mengetahui bahwa orang yang paling seimbang untuk
berhadapan secara pribadi dengan Pangeran Mangkubumi adalah Pangeran
Ranakusuma. Jika ada beberapa kekurangan pada Pangeran Ranakusuma,
maka Senapati-Senapati yang mendampinginya akan dapatmengisi
kekurangan itu. Orang kedua adalah justru Tumenggung Sindura. Dengan
pengawal-pengawalnya yang kuat ia akan dapat dihadapkan kepada
Pangeran Mangkubumi apabila kebetulan Pangeran Mangkubumi ada di
sayap kanan. Sedang apabila Pangeran Mangkubumi langsung menghadapi
induk pasukan, barulah Pangeran Yudakusuma dengan perwira-perwira
kumpeni yang bersenjata petir akan melawannya. Karena tidak ada
tanggapan apapun, maka Pangeran Yudakusuma segera memutuskan untuk
melakukan gerakan terakhir mendekati Pandan Karangnangka. Mereka
harus menyerang sebelum fajar dengan gerakan yang tiba-tiba dan
sekaligus untuk menghancurkan semua kekuatan induk Pangeran
Mangkubumi. Jika kekuatan induk itu sudah hancur, maka kekuatan yang
lain tidak akan banyak berarti. Kekuatan Pangeran Mangkubumi di
Sukawati bukan merupakan kekuatan yang sulit untuk dikuasai.
“Pangeran Mangkubumi ingin mengelabui Surakarta dengan menempatkan
kekuatannya di sini” berkata Pangeran Yudakusuma “ia tentu mengharap
serangan yang pertama justru menuju ke Sukawati. Tetapi ia tidak
dapat menipu ketajaman pengamatan pasukan sandi Surakarta”
Demikianlah pasukan Surakarta itu bergerak dengan tertib. Setiap
isyarat dapat mereka terima dan dapat mereka mengerti sehingga
karena latihan- latihan dan pengalaman yang matang maka gerakan yang
harus mereka lakukan berjalan dengan cepat sesuai dengan yang
dikehendaki oleh Pangeran Yudakusuma, Dengan demikian maka sejenak
kemudian Pandan Karangnangka telah benar-benar terkepung. Tidak ada
lubang seujung jarumpun yang akan dapat ditembus. Tidak ada orang
yang akan dapat lolos dari jaring-jaring kepungan yang teratur dan
mapan.Namun sebenarnyalah bahwa Pandan Karangnangka telah kosong.
Orang yang terakhir, yang memukul kentongan dengan nada dara
mulukpun telah meninggalkan padukuhan itu. Dalam pada itu, pasukan
yang telah mengepung Pandan Karangnangka itupun menunggu sejenak.
Pangeran Yudakusuma telah memerintahkan kepada setiap Senapati
pengapit, Senapati yang lain dan pemimpin-pemimpin kelompok, untuk
memperhatikan isyarat yang sudah ditentukan. Jika ayam jantan mulai
berkokok di padukuhan Pandan Karangnangka maka semua orang di dalam
pasukan Surakarta itu harus mempersiapkan diri, karena sebentar
kemudian Senapati tertinggi di dalam pasukan itu akan menjatuhkan
perintah untuk menyerang. Sementara itu, pasukan Pangeran Mangkubumi
yang telah berada di padukuhan yang lain, mengikuti perkembangan
keadaan dengan seksama. Petugas-tugasnya selalu mengamati medan dan
mengirimkan laporan kepada Pangeran Mangkubumi. Ki Wandawa adalah
orang yang paling sibuk pada saat itu. Ia harus menerima laporan
yang dilihat oleh petugas- tugasnya, kemudian mengurai dan mengambil
kesimpulan- kesimpulan. Kesimpulan-kesimpulannya itupun
disampaikannya pula sebagai pertimbangan kepada Pangeran Mangkubumi.
Buntal yang ada di dekat Ki Wandawa mengikuti kesibukannya dengan
berdebar-debar. Ketika ada kesempatan maka Buntalpun memberanikan
diri untuk bertanya “Ki Wandawa, apakah mereka takan menyerang
Pandan Karangnangka setelah siang?“ “Kita belum mendapatkan
tanda-tanda” sahut Ki Wandawa. “Jika demikian, apakah kita tetap
pada rencana kita untuk menyerang mereka dan menghilang? di siang
hari gerakan itu agak sulit dilakukan”“Tidak. Sama sekali tidak.
Kita akan menghindari ke tempat yang sudah ditentukan. Sementara
pasukan dari Sukawati sekarang sudah siap menunggu di sebuah
tikungan untuk menjebak mereka. Tetapi merekapun harus segera
menarik diri dan menghilang” “Bagaimana j ika mereka mengejar
terus?“
Jilid 20 "KITA bukan sekedar lari. Kita
memberikan perlawanan sambil menarik diri. Kita berpendapat bahwa
mereka tidak akan berani mengejar terus setelah pasukan dari
Sukawati menyerang mereka. Bahkan seandainya mereka mengejar kita,
kitalah yang akan mengambil peranan didalam pertempuran itu. Dari
beberapa laporan kami sudah dapat menguatirakan beberapa besar
pasukan mereka." "Pasukan itu terlampau besar." "Jumlah kita cukup
banyak untuk melawan mereka, karena merekalah sebenarnya yang tidak
mengetahui jumlah pasukan kita yang sebenarnya. Meskipun sebagian
dari pasukan kita adalah orang-orang yang baru sedikit mendapatkan
ilmu keprajuritan, tetapi sebagian yang lain adalah orang-orang yang
sudah mendapat tempaan yang dapat dipercaya. Kecuali ku, merekapun
didasari oleh hasrat berjuang yang menyala- nyala, sehingga mereka
akan merupakan kekuatan yang tangguh."Buntal mengangguk-angguk.
Sebenarnyalah bahwa jumlah pasukan Pangeran Mangkubumi cukup besar.
Apalagi apabila pasukan dari Sukawati telah terjun pula kemedan
perang. Meskipun demikian Buntal menjadi berdebar-debar ketika
langit menjadi semakin merah. Apalagi ketika Ki Wahdawa- pun
kemudian berkata "Buntal, Kau dan adikmu tetap bersama aku. Mungkin
aku memer lukan tenagamu setiap saat " Buntal mengangguki ia sadar,
bahwa ia tidak termasuk dalam kelompok yang manapun juga di Pandan
Karangnangka karena ia sebenarnya berada di Sukawati. Karena itu, da
langsung berada dibawah perintah Ki Wandawa bersama Arum, setelah
Buntal serba sedikit menceriterakan tentang gadis itu serta
kemampuan yang ada padanya. Demikianlah maka saat-saat menjelang
ayam jantan berkokok di dini hari menjelang fajar, merupakan
saat-saat yang sangat tegang. Baik bagi prajurit-prajurit Surakarta
dan kumpeni yang mengepung Pandan Karangnangka, maupun bagi Pangeran
Mangkubumi yang menunggu kapan prajurit- prajurit Surakarta mulai
bergerak, "Kita akan menyerang mereka, sesudah mereka mulai dengan
sergapan mereka, sehingga perhatian mereka sebagian besar tertuju
kepada pusat pertahanan yang mereka duga masih ada di padukuhan
Pandan Karangnangka." berkata Ki Wandawa kepada Buntal "Pangeran
Mangkubumi sendiri akan memimpin sergapan ku. Aku harus
mengikutinya. Dan kau berdua bersama aku di medan." Buntal dan Arum
mengangguk, "Ingat. Kalian tidak boleh lupa sebutan sandi, Jika kau
berada diantara kelompok-kelompok yang belum kau kenal dan terpisah
daripadaku, kau harus dapat menjawab panggilan sandi itu. Apakah kau
ingat ?" "Ya Ki Wandawa. Aku harus menjawab setiap panggilan sandi
dengan kata bandang. ""Ya. Banjir dan kau jawab bandang. Jangan
keliru. Sebab sepatah kau tergelincir, dadamu akan tertembus ujung
tombak kawan sendiri. " Arum mengerutkan keningnya. Ia belum pernah
berada dimedan yang sesungguhnya. Karena itu, selalu mengingat-
ingat panggilan sandi agar ia tidak keliru mengucapkannya. Setiap
kali ia bergumam "Banj ir" bandang. Banj ir "tendang." Ketika langit
menjadi kemerah-merahan di Timur, maka sua-sanapun menjadi semakin
tegang. Pangeran Yudakusuma hampir tidak sabar lagi menunggu.
Seakan-akan waktu berjalan terlampau lamban. "Apakah' orang-orang
Pandan Karangnangka sudah kelaparan dan menyembelih semua ayam
jantan yang ada dipadukuhan itu" Pangeran Yudakusuma menggeram "j
ika demikian maka ayam-ayam jantan dipadukuhan lain akan berkokok
juga, dan suaranya betapapun lamat-lamatnya akan terdengar juga dari
padukuhan yang paling dekat. " Namun dalam pada itu, selagi semuanya
menjadi tegang, maka Raden Juwir ing yang berada diantara pasukan
berkudapun nampak sangat gelisah. Seperti Pangeran Yudakusuma ia
menganggap waktu merambat seperti siput yang lumpuh. Lambat, dan
hampir tidak bergerak sama sekali. Beberapa kali ia menarik nafas
dalam-dalam. Bahkan kadang-kadang ia berjalan mondar-mandir sambil
menuntun kudanya diekor gelar Sipit Urang yang sempurna. Pada saat
yang bersamaan, disapit kiri dari gelar supit- urang itu, Pangeran
Ranakusuma memanggil beberapa orang pemimpin kelompoknya. Pemimpin
kelompok yang setia kepadanya, dan selalu patuh kepada per
intah-perintahnya, apapun yang harus mereka lakukan. "Saatnya telah
tiba" berkata Pangeran Ranakusuma "sebentar lagi pasukan Surakarta
akan bergerak. Dan padasaat itu aku akan menuntut kesetiaan kalian
yang paling mendalam." Pemimpin-pemimpin kelompok itu tidak ada yang
menyahut. Mereka hanya menundukkan kepala saja. Tetapi terpancar
didalam wajah mereka kesediaan berkorban sampai titik darah terakhir
bagi segala perintah Pangeran Ranakusuma. "Aku mengerti, sebenarnya
aku tidak berhak berbuat demikian. Tetapi aku mohon kepada kalian."
Para pemimpin kelompok itu menjadi heran. Seharusnya Pangeran
Ranakusuma dapat menjatuhkan perintah. Bukan sekedar permohonan,
apapun yang harus mereka lakukan. Dalam pada itu, selagi mereka
sibuk mendengarkan penjelasan yang kemudian diberikan oleh Pangeran
Ranakusuma, tentang segala sesuatu yang harus mereka lakukan, maka
tiba-tiba telah terjadi keributan kecil didalam lingkungan sayap
kiri dari gelar supit urang itu. "Apa yang terjadi ?" bertanya
Pangeran Ranakusuma. "Pangeran" berkata seorang petugas sandi dari
pasukan Pangeran Ranakusuma "orang ini akan berkhianat. " "Kenapa ?"
bertanya Pangeran Ranakusuma sambil memandang seseorang yang
dihadapkan kepadanya dengan ujung pedang yang melekat pada
punggungnya. "Ia akan keluar dar i pasukan dan sudah terang tentu
akan menyampaikan rahasia kita kepada pihak lain" "Tidak" orang itu
hampir berteriak "aku tidak akan berkhianat. Aku hanya akan
melihat-lihat." "Bukan waktunya untuk melihat-lihat." Pangeran
Ranakusuma memandang orang itu dengan tajamnya. Perlahan-lahan
tangannya meraba hulu kerisnya.Setiap orang sudah menduga bahwa
keris itu akan segera mengakhir i hidup orang yang akan berkhianat
itu. Prajur it- prajurit itu sudah mengenal sikap Pangeran
Ranakusuma dipeperangan. Namun tiba-tiba para Senapati itu
mengerutkan keningnya. Pangeran Ranakusuma yang sudah, menarik
kerisnya perlahan-lahan tiba-tiba mengurungkannya dan
menyarungkannya kembali. "Aku tidak akan membunuhnya" katanya dalam
suara yang parau "ikat sajalah pada sebatang pohon. Ia harus tetap
berada ditempatnya sampai semuanya selesai." Para Senapati memandang
wajah Pangeran Ranakusuma yang tegang, namun akhirnya menjadi buram.
Bahkan kemudian ia berdiri dan memandang jauh kedalam kegelapan
malam. Malam yang tegang dan senyap. Nampak pada tatapan mata dan
sikapnya, kegelisahan yang mencengkam. Tetapi Pangeran Ranakusuma
tetap seorang Senapati yang besar, yang tidak kehilangan pengaruh
dan wibawa atas anak buahnya. "Sebentar lagi ayam berkokok" katanya
"dan kita semuanya harus sudah siap. Aku yakin bahwa yang akan
terjadi berbeda dengan yang kita rancangkan sejak dari Surakarta.
Aku berharap, kalian sudah membekali dir i dengan sikap dan
keputusan yang sudah kita ambil. Jika didalam tindakan selanjutnya
terjadi pengkhianatan, maka setiap Senapati didalam pasukanku berhak
mengambil keputusan. Bahkan membunuhnya sama sekali. " Para perwira
didalam pasukan Pangeran Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mereka menyadari tugas yang harus mereka lakukan. Tugas sebagai
prajurit Bukan prajurit yang melakukan segala per intah tanpa
mempergunakan pertimbangan nalar. Tetapi mereka adalah
prajurit-prajurit yang bercita-cita.Sejenak kemudian, saat yang
dinanti-nantikan itupun datang. Mula-Mula yang terdengar adalah
kokok ayam jantan dipadukuhan tetangga. Lamat-Lamat, tetapi hampir
setiap orang didalam gelar supit urang itu mendengar. Apalagi
kemudian setiap ayam jantan dipadukuhan Pandan Karangnangka berkokok
pula Sesaat kemudian terdengarlah aba-aba Hampir diseluruh kelompok
didalam gelar supit urang. Pangeran Yudakusuma berdiri dengan
sebatang tombak ditangannya. Tunggul kerajaan yang dibawa berada
didalam genggaman prajur it- prajurit pilihan dengan pengawalan yang
kuat. Sedangkan para Senapati yang lainpun menjadi berdebar-debar
karenanya. Perwira-perwira kumpeni telah mengatur pasukannya dalam
barisan yang khusus meskipun mereka tetap berada didalam induk
pasukan. Ditangan setiap orang didalam barisan yang khusus itu
tergenggam senjata yang dapat meledak dan melontarkan peluru yang
dapat menembus dada. Sedang diujung senjata itu dikaitkan sebuah
pisau yang runcing, sehingga senjata itu dapat dipergunakan, dalam
perang campuh sebagai sebatang tombak pendek pula. Kokok ayam itu
telah menggerakkan Tumenggung Sindura pula. Perlahan-lahan ia
melangkah keujung pasukannya. Sambil memandang kejantung padukuhan
Pandan Karangnangka ia memasang perisai ditangannya. Adalah menjadi
kebiasaannya dimedan perang mempergunakan sebuah perisai yang tidak
begitu besar dan sebilah pedang ditangan kanan. Dalam keadaan yang
paling gawat sajalah ia akan menarik ker is pusaka kebanggaannya.
Ternyata kokok ayam itu telati menggetarkan jantung Pangeran
Ranakusuma. Dimedan sperang yang manapun ia tidak pernah merasa
gelisah seperti saat ia mendengar kokok ayam jantan di padukuhan
Pandan Karangnangka itu. Namun ia masih dapat menguasai dirinya
sebagai seorang Senapati yang besar.Sekilas Pangeran Ranakusuma
memandang langit yang kemerah-merahan. Rasa-rasanya ia masih ingin
melihat matahari terbit. Rasa-rasanya untuk selanjutnya ia tidak
akan dapat melihatnya lagi. "Ah" desisnya "aku sudah pernah berada
dipeperangan berpuluh kali. Aku akhirnya dapat melepaskan diri dari
maut. Sekarang, kenapa aku menjadi gelisah." Tetapi kegelisahan
didadanya itu tidak dapat diusirnya. Sejenak Pangeran Ranakusuma
masih berdir i tegak. Angin di dini hari yang sejuk mengusap
wajahnya yang tegang. Sekilas Pangeran Ranakusuma teringat kepada
anak gadis yang ditinggalkannya. Namun kemudian ia menggertakkan
giginya sambil menggeram "Dimedan ini ada Juwiring. Ia harus menjadi
Senapati yang pilih tanding kelak. Mudahlan ia berhasil lolos dari
kepahitan yang paling tajam dipepetangan yang baru pertama kali
diikutinya. Peperangan yang sebenarnya.” Pangeran Ranakusuma tidak
dapat berangan-angan lebih lama lagi. Ketika didengarnya isyarat,
maka ia sadar sepenuhnya bahwa pasukannya harus mulai bergerak.
Seperti yang ditentukan, gerakan akan dimulai dari kedua sayap dan
menekan lawan semakin dalam masuk kepedukuhan Pandan Karangnangka.
Kemudian induk pasukan akan menggilas mereka sampai tuntas. Sedang
pasukan yang berada disisi lain akan menghancurkan siapa saja yang
melarikan dir i. Isyarat yang sudah terdengar, seolah-olah telah
membangunkan Pangeran Ranakusuma. Dengan tangan gemetar ia memanggil
seorang Senapati dengan isyarat pula. Kemudian dari Senapati itu
Pangeran Ranakusuma menerima senjata yang selalu dibawanya kemedan
perang. Sebuah trisula, bertangkai pendek. "Bersiaplah. Kita harus
mendahului semuanya" gumam Pangeran Ranakusuma.Senapati yang ada
didalam pasukannya, yang telah mendengar segala penjelasan Pangeran
Ranakusumapun mempersiapkan diri. Seperti Pangeran Ranakusuma,
merekapun seolah-olah merasa bahwa mereka tidak akan sempat melihat
matahari terbit. Tetapi langit sudah menjadi semakin merah. Sejenak
kemudian terdengarlah Pangeran Ranakusuma menggertakkan gigi dan
disusul dengan suaranya yang parau meneriakkan aba-aba. Maka
pasukannyapun segera bergerak. Disebelah menyebelahnya dua orang
Senapati pilihan berjalan dengan wajah yang tegang. Kemudian
pasukannya perlahan-lahan mulai menebar. Tetapi Pangeran Ranakusuma
agaknya telah memilih jalan yang ditentukan sendiri. Ia tidak
langsung menusuk kepusat pertahanan lawan di Pandan Karangnangka
seperti yang diperhitungkan. Tetapi Pangeran Ranakusuma mengambil
jalan lain melingkari padukuhan itu. Gerakan itu ternyata telah
dapat dilihat oleh petugas sandi Pangeran Mangkubumi. Dengan
tergesa-gesa seorang diantara mereka segera melaporkannya kepada Ki
Wandawa, bahwa pasukan Surakarta dan kumpeni sudah mulai merayap
mendekati Pandan Karangnangka dalamgelar yang sempurna. Laporan
itupun sejenak kemudian telah sampai pula kepada Pangeran
Mangkubumi. Ki Wandawa sendiri menghadap untuk member ikan
pertimbangan-pertimbangannya. "Kita harus cepat bergerak. Jika
mereka menyadari bahwa padukuhan itu kosong, mereka sempat membuat
pertimbangan lain." berkata Ki Wandawa. Pangeran Mangkubumi
mengangguk-angguk. Kemudian iapun menentukan sikap seperti yang
telah dibicarakan sebelumnya.Beberapa orang Pangeran yang ada pula
didalam pasukannya kemudian pergi kepasukan masing-masing. Mereka
sudah siap bergerak untuk memukul pasukan Surakarta dan Kumpeni.
Namun kemudian menghindar ketempat yang sudah ditentukan. Jika
pasukan Surakarta mengejar, maka pasukan dar i Sukawati sudah
bergerak pula untuk mencegat merekai Dan seorang penghubung dari
Sukawati telah datang melaporkan semua persiapan berjalan dengan
baik. Sesaat kemudian, maka Pangeran Mangkubumipun telah member ikan
isyarat Pasukannya telah beroda diujung padukuhan yang menghadap ke
Pandan Karangnangka. Jarak antara kedua padukuhan itu tidak begitu
jauh. Jika perintah telah jatuh, maka pasukan itu akan menyerbu
dengan cepat dan mengejutkan. "Semua obor harus dinyalakan demikian
kita mulai bergerak." perintah Pangeran Mangkubumi. - "Langit
menjadi semakin terang." "Tetapi obor yang bertebaran akan
mempengaruhi ketabahan hati mereka." Ki Wandawa mengangguk-angguk.
Dan sebagian dari obor- obor itu hanya sekedar untuk mempengaruhi
lawan, karena kekuatan yang sebenarnya justru tidak terletak pada
pasukan yang akan berpencar sambil membawa obor itu. Ketika Pangeran
Mangkubumi menganggap waktunya telah tiba maka iapun telah bersiap
untuk menjatuhkan .perintah. Tetapi ia tertegun sejenak, ketika
seorang petugas sandi datang bergegas-gegas dengan nafas
terengah-engah. "Apa yang kau lihat ?" bertanya Ki Wandawa. "Ki
Wandawa" desisnya disela-sela engah1 nafasnya. Bahkan kemudian
"Ampun Pangeran. Hamba tidak bermimpi.Hamba mengetahui dan
kawan-kawan yang lain disekitar Pandan Karangnangkapun melihat,
bahwa di Pandan Karangnangka telah terjadi pertempuran. " "He ?" Ki
Wandawa terkejut. Pangeran Mangkubumipun terkejut pula sehingga
untuk beberapa saat ia tertegun. "Kau mengigau" desis Ki Wandawa
"kau tahu, semua pasukan yang ada bahkan semua penghuni pedukuhan
itu telah pergi?" "Ya Ki Wandawa. Tetapi sebenarnyalah telah terjadi
pertempuran." Sejenak kemudian laporan itu t idak dapat dibantah
lagi. Dari padukuhan Karangnangka telah terdengar ledakan- ledakan
senjata api yang telah dilepaskan oleh kumpeni. "Pangeran" Ki
Wandawa menjadi tegang "yang terjadi adalah diluar pertimbangan dan
perhitungan kita." Pangeran Mangkubumi ternyata memang seorang
pemimpin yang besar dan yang menguasai hampir setiap persoalan yang
harus dipecahkannya. Karena itu maka katanya "Panggil para Senapati
terpenting dari pasukan kita." Semua orang didalam pasukan itu harus
bekerja cepat. Cepat sekali. Apalagi keadaan ternyata berkembang
diluar perhitungan. Ketika para Pangeran dan Senapati telah
menghadap, maka Pangeran Mangkubumi berkata "Tentu terjadi sesuatu.
Ketika mereka menyadari kegagalan mereka, maka mereka telah menjadi
saing mencur igai'. Tentu ada diantara mereka yang dituduh
berkhianat dan harus ditangkap." Buntal dan Arum yang diperkenankan
mengikut Ki Wandawa hampir diluar sadarnya berdesis "Raden Juwir
ing."Ki Wandawa berpaling. Kemudian iapun bertanya "Bagaimana dengan
Raden Juwir ing." "Bintang Selatan. Dan ia ada dipasukan itu."
"Mungkin bukan Juwiring" sahut Pangeran Mangkubumi "tetapi orang
yang lebih penting daripadanya." Ki Wandawa mengangguk-angguk.
"Jadi, apakah yang harus kami kerjakan sekarang Pangeran." "Cepat,
kembali kepasukan masing-masing. Lakukan sesuai dengan rencana.
Tetapi hati-hati1ah, karena tentu ada diantara mereka yang justru
harus mendapat perlindungan kita." "Tugas ini akan menjadi semakin
sulit." "Tetapi mungkin akan berakhir lain. Jangan meninggalkan
medan seperti yang direncanakan sebelum mendengar isyarat sandi dari
Ki Wandawa." Semua Senapatipun segera kembali kepasukan masing-
masing, sedang Ki Wandawa selalu ada didekat Pangeran Mangkubumi. Ia
harus menampung segala perintahnya dan menyampaikan kepada seluruh
pasukan dengan cara yang sudah disetujui bersama. Demikianlah, maka
perintahpun segera jatuh. Hampir bersamaan waktunya para prajurit
yang sudah1 ditentukan, menyalakan obor-obor mereka meskipun langit
sudah menjadi semakin cerah. Kemudian serentak mereka maju dengan
cepat, seperti banjir bandang yang baru saja memecahkan bendungan
menuju kepadukuhan Pandan Karangnangka. Sebenarnyalah dipadukuhan
Pandan Karangnangka telati terjadi pertempuran yang benar-benar
mengejutkan Pangeran Yudakusuma. Sejenak Pangeran Yudakusuma
termangu-mangu. Semula pasukan Surakarta menyangka, bahwa pasukan
PangeranMangkubumi telah menyongsong langsung induk pasukan sebelum
pasukan yang dipimpin oleh Senapati pengapit mendesak mereka masuk
kepadukuhan Pandan Karangnangka. "Pangeran” seorang penghubung
melaporkan dengan nafas terengah-engah "serangan datang justru dari
lambung." "Bagaimana dengan pasukan di sayap kir i." "Sangat kabur.
Tetapi pertempuran memang sudah terjadi dengan sengitnya." Sejenak
Pangeran Yudakusuma merenung. Lalu "Apakah kau mengenal satu dua
orang lawan, atau cir i-cir i yang dapat kau sebutkan?" "Mereka
adalah prajurit-prajurit Surakarta" "Gila" teriak Pangeran
Yudakusuma. "Aku sendir i akan melihatnya. Amati pasukan itu
sebaik-baiknya. Aku masih akan member ikan beberapa perintah lebih
dahulu." Penghubung itupun segera kembali ketempatnya. Sementara itu
Pangeran Yudakusuma mencari hubungan dengan sapit kanan dan memer
intahkan untuk bergerak sesuai dengan rencana. Tetapi baru saja
penghubung itu pergi, datanglah seorang. yang dikir im oleh
Tumenggung Sindura menghadap Pangeran Yudakusuma. "Pangeran.
Padukuhan Pandan Karangnangka telah kosong." "He ?" sekali lagi
Pangeran Yudakusuma terkejut. "Apakah kalian sedang bermimpi ?
Dilambung kir i telah terjadi pertempuran. Dan kau katakan Pandan
Karangnangka telah kosong ?”"Hamba Pangeran. Tidak ada seorangpun
yang dijumpai oleh pasukan disapit kir i. Bahkan rumah-rumah telah
kosong meskipun lampu masih menyala." Pangeran Yudakusuma menjadi
tegang. Lalu perintahnya "Masuklah lebih dalam lagi. Kuasai daerah
yang dapat kalian kuasai. Jika memang tidak ada lawan yang kalian
jumpai, kalian harus langsung masuk sampai kesayap kiri dan melihat
apa yang telah jterjadi. Aku belum berhasil menghubungi Senapati
Pengapit disayap kiri." Ketika Penghubung itu pergi, maka
pertempuranpun berkobar semakin dahsyat. Bahkan tiba-tiba saja
Pangeran Yudakusuma terkejut ketika terjadi pertempuran diekor
barisannya. "Gila, semua orang sudah gila." teriak Pangeran
Yudakusuma. Ketika seorang prajurit datang menghadap dengan darah
yang membasahi tubuhnya, ia membentak "Apa yang terjadi? Apa?"
"Sebagian pasukan berkuda telah berkhianat Pangeran." "Berkhianat.
Kelompok yang mana ?" "Dibawah pimpinan Raden Juwir ing." "O, gila.
Gila. Aku bunuh anak itu." "Kini telah terjadi pertempuran yang
sengit diantara pasukan berkuda diekor barisan. Sebagian dar i
pasukan berkuda yang berkhianat itu langsung menusuk kedalam pasukan
kumpeni." "Mereka akan dibungkam dengan senjata api." "Sebagian
besar dari kumpeni itu tidak sempat meledakkan senjatanya, karena
sergapan yang begitu tiba-tiba dan tanpa diduga-duga." Pangeran
Yudakusuma menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih sempat membuat
pertimbangan-pertimbangan. Karenaitu, maka ia-pun kemudian member
ikan perintah lewat penghubung-penghubumgnya "Bawa pasukan kesayap
kiri." Lalu "Perintahkan Senapati pengapit kanan untuk maju terus.
Dan pasukan yang bersiaga untuk menyergap pasukan lawan yang
melarikan dir i, supaya segera menyesuaikan dengan keadaan baru.
Perintah selanjutnya akan menyusul." Tetapi belum lagi para
penghubung itu bergerak, datang laporan, pasukan dari padukuhan
sebelah datang dalam jumlah yang besar. Pangeran Yudakusuma menjadi
semakin marah. Ia sadar, bahwa yang datang itu tentu pasukan
Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya. Tetapi disamping itu, iapun
sadar, bahwa didalam pasukannya telah terdapat prajurit-prajurit
Surakarta yang berpihak kepada Pangeran Mangkubumi. Dengan lantang
Pangeran Yudakusuma berteriak "Pasukan yang mengepung Pandan
Karangnangka, dan tidak termasuk dalam gelar, agar menahan pasukan
Pangeran Mangkubumi yang datang. Kami akan menyelesaikan
pemberontakan didalam pasukan ini sebentar sebelum kami akan datang
menghancurkan pasukan Pangeran Mangkubumi. Tumenggung Sindura, aku
perintahkan untuk membantu penyelesaian kedalam sebelum pasukannya
akan menghadapi pasukan Pangeran Mangkubumi.” Demikianlah
pertempuranpun segera berkobar dengan sengitnya hampir disegala
tempat. Untuk beberapa saat lamanya prajurit-prajurit Surakarta
dicengkam oleh keributan yang membingungkan. Namun semakin lama
keadaanpun menjadi semakin jelas. Mereka mulai dapat memisahkan dir
i. Yang mana yang berada dipihak Pangeran Yudakusuma dan
Senapati-senapati yang setia kepadanya, dan yang manakah yang dengan
tiba-tiba telah member ikan perlawanan terhadap mereka. Sementara
itu, pasukan yang ada diluar gelar, yang semula disiapkan untuk
menahan arus .pengunduran diri dari.pasukan Pangeran Mangkubumi,
dengan tergesa-gesa telah memutar haluan dan dengan berdebar-debar
menghadapi pasukan yang datang menyerbu kepadukuhan Pandan
Karangnangka. Seorang Senapati yang memimpin pasukan Surakarta itu-
pun segera meneriakkan aba-aba. Pasukan itupun mulai menebar
mengimbangi tebaran pasukan Pangeran Mangkubumi. "Mereka
mempergunakan gelar glatik neba." desis Senapati itu. Seorang
pengawal yang berdiri disampingnya menganggukkan kepalanya.
Obor-obor yang mendekat itu memang bertebaran tidak beraturan.
Seolah-olah pasukan Pangeran Mangkubumi memang mempergunakan gelar
glatik neba. Sementara itu langit telah menjadi semakin merah.
Bintang-bintang telah mulai lenyap dari kebiruan wajah malam yang
menjelang fajar. Namun demikian, Pangeran Yudakusuma masih belum
berhasil mencar i hubungan dengan Pangeran Ranakusuma yang berada
disapit kiri. "Kita harus segera mengetahui nasib Pangeran
Ranakusuma. Sayap kir i agaknya telah melawan perintahnya dan
memberontak justru kita sudah berada dihadapan pasukan Pangeran
Mangkubumi. Kita ternyata sudah diperbodohnya dan mengepung
padukuhan yang kosong sama sekali. Ternyata semua petugas sandi dari
Surakarta adalah petugas-petugas yang berkepala kosong" Pangeran
Yudakusuma yang marah itu selalu mengumpat-umpat. Namun yang
didengarnya segera adalah berita yang telah mengguncangkan
jantungnya. Berita yang didengarnya bagaikan ledakan petir yang
menyambar kepalanya."Pangeran" berkata seorang penghubung "hamba
tidak berhasil mencari hubungan dengan Senapati di sapit kir i.
Karena sebenarnyalah yang hamba dengar bahwa perlawanan sayap kiri
itu justru dipimpin sendiri oleh Pangeran Ranakusuma." "He" wajah
Pangeran Yudakusuma menjadi merah padam "apakah kau berkata
sebenarnya?" "Demikian menurut pendengaran hamba." "Gila. Tidak
seorang petugas sandi dari Surakarta yang dapat menemukan
keterangan-keterangan yang benar. Kau lihat. Pandan Karangnangka
ternyata telah kosong sama sekali. Tidak ada» seorang petugas
sandipun yang mengetahui. Dan sekarang kau mengigau bahwa Pangeran
Ranakusuma memimpin perlawanan itu." "Tetapi tidak nampak
pertentangan disayap kiri Pangeran. Mereka serentak menyerang
lambung. Itu tidak dapat terjadi tanpa ikatan yang berwibawa
diantara mereka. Padahal tidak ada orang lain yang memiliki
kelebihan dari Pangeran Ranakusuma, sehingga dengan demikian
menurut, penilaian hamba, sebenarnya telah terjadi demikian."
Pangeran Yudakusuma mengerutkan keningnya. Kemudian katanya "Memang
mungkin terjadi. Jika benar, maka sasaran utamanya tentu kumpeni."
ia berhenti sejenak "tetapi jika demikian, Pangeran Ranakusuma telah
melangkahi hak dan wewenangku sebagai Panglima didalam peperangan
ini. Dan itu memang suatu pengkhianatan." "Demikianlah Pangeran.
Hamba memang menganggapnya demikian." Pangeran Yudakusuma
menggeretakkan giginya. Di sekitarnya pertempuran menjadi semakin
seru. Setiap kali! masih terdengar ledakan senjata api yang
dilepaskan oleh kumpeni. Tetapi kesempatan untuk mempergunakannya
terlampau sempit. Mereka tidak mempunyai waktu untukmengisi peluru
dan membersihkan laras. Sehingga dengan demikian mereka
mempergunakan senjata mereka dalam pertempuran jarak pendek dengan
memasang sangkur diujung laras. Pasukan Raden Juwir ing yang ada
diekor barisanpun ternyata telah mengacaukan keseluruhan pasukan
berkuda. Mereka bertempur pada jarak yang terlampau sempit. Sedang
disayap kiri prajurit-prajurit Pangeran Ranakusuma telah menyerang
lambung dan langsung menusuk kepusat pasukan Surakarta. Seperti yang
diduga oleh Pangeran Yudakusuma, sebenarnyalah bahwa Pangeran
Ranakusuma telah muak melihat kekuasaan kumpeni di Surakarta. Ia
mula-mula telah terbius oleh gemerlapannya harta dan kekayaan
duniawi sehingga ia telah kehilangan arti dari sifat kesatria
Surakarta. Namun akhirnya ia tidak dapat menahan gejolak didalam
hatinya, sehingga pada saat yang menentukan itu, ia telah berhasil
memecah kungkungan yang mengikat. Sebenarnya bukan tiba-tiba saja
Pangeran Ranakusuma menentukan sikap. Sudah lama ia bertekad untuk
berbuat demikian bersama puteranya Raden Juwiring. Tetapi ia tidak
dapat 'berbuat dengan terbuka. Yang dapat dilakukannya adalah
bertindak dengan sangat hati-hati. Karena itu pulalah maka berita
tentang sergapan atas Pandan Karangnangka itu dapat sampai ketelinga
Pangeran Mangkubumi betapapun dirahasiakannya. Dan dalam pada itu,
Pangeran Yudakusumapun mengumpat "Tentu Pangeran Ranakusuma yang
telah mengirimkan utusan kepada Pangeran Mangkubumi, agar ia
meninggalkan Pandan Karangnangka. Benar-benar suatu pengkhianatan
yang tidak dapat diampuni lagi." Dengan kemarahan yang tidak
tertahankan lagi, maka Pangeran Yudakusumapun segera mengir imkan
berita itukepada Tumenggung Sindura. Dengan tegas ia menjatuhkan
perintah "Kita bersama-sama membinasakan Pangeran Ranakusuma sebelum
kita akan berhadapan dengan Pangeran Mangkubumi." Dan perintah yang
samapun telah diberikan kepada beberapa orang perwira kumpeni,
sehingga mereka telah mengirimkan beberapa orang yang akan mengawal
Pangeran Yudakusuma menghadapi induk kekuatan sayap kiri yang
berkhianat itu. Demikianlah Pangeran Yudakusuma sendir i maju
menghadapi pasukan yang datang dari sayap kiri. Prajurit-
prajuritnya telah bertempur dengan gigih, karena mereka tidak mau
membiarkan dir i mereka terbunuh oleh siapapun. Baik oleh pasukan
Pangeran Mangkubumi maupun oleh prajurit-prajurit Surakarta sendir
i. Dengan atau tidak dengan cita-cita, namun mereka tetap ingin
hidup lebih lama lagi. Tumenggung Sindura yang mendengar pesan dan
perintah Pangeran Yudakusuma menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia
memang sudah menduga, bahwa gerakan disayap kiri tentu dipimpin oleh
Pangeran Ranakusuma sendiri. Dengan demikian, maka Tumenggung
Sincfurapun kemudian memusatkan gerakan pasukannya menghadapi
prajurit-prajurit Surakarta sendiri. Ia sependapat dengan Pangeran
Yudakusuma, bahwa lebih baik menghancurkan pengkhianatan lebih
dahulu sebelum menghadapi pasukan Pangeran Mangkubumi yang
sebenarnya. Karena itu, maka diapun kemudian dengan tergesa-tergesa
maju kemedan diantara pasukan dalam gelar itu sendir i. Dengan
beberapa orang pengawalnya yang terpilih Tumenggung Sindura berusaha
untuk dapat bertemu dengan Pangeran Ranakusuma langsung. Jika
Pangeran Ranakusuma dapat dikuasai hidup atau mati, maka
pasukannyapun akan dengan mudah dikuasainya pula.Ternyata dari induk
pasukan Pangeran Yudakusumapun bersikap serupa. Dengan beberapa
orang kumpeni ia maju mendekati peperangan dilambung kiri. Sementara
mereka sibuk menahan sergapan prajurit- prajurit Surakarta disayap
kir i, maka diekor pasukan itu, Raden Juwiring bagaikan mengamuk
diantara pasukan berkuda sendiri. Beberapa orang yang berusaha
menangkapnya telah bergeser mundur karena senjata Raden Juwiring
yang berputaran ditangan kanannya. Sementara anak buahnyapun telah
bertempur dengan tidak menghiraukan keselamatan mereka sendir i.
Meskipun jumlah pasukan berkuda Raden Juwiring tidak terlampau
banyak, namun Senapati yang memimpin ekor dari gelar supit urang
tidak segera dapat menguasainya. Bahkan ada beberapa orang prajurit
yang menjadi ragu-ragu. Meskipun mereka bukan dari kelompok yang
dipimpin oleh perwira muda yang bernama Juwir ing itu, namun
beberapa orang muda didalam pasukan berkuda itu menjadi termangu-
mangu. Raden Juwiring bagi mereka adalah seorang perwira yang baik
dan terpuji. Dengan demikian, maka didalam pergaulan sehari-haripun
banyak orang yang senang dan dekat kepadanya. Tiba-Tiba saja kini
dimedan perang mereka harus berhadapan sebagai lawan. Sementara itu,
Tumenggung Sindura yang langsung masuk keinduk pasukan dari sayap
kanan telah berada digaris perang. Sedang dari induk pasukan
Pangeran Yudakusumapun telah berada diarena pula. Dengan demikian
maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Pertempuran antara
kesatuan-kesatuan prajurit Surakarta sendiri yang memiliki tuntunan
dan latihan-latihan yang serupa, sehingga karena itulah maka
pertempuran itupun menjadi sangat seru. Namun ternyata bahwa
prajurit Surakarta yang berada di sapit kiri itu, kemudian harus
menghadapi lawan yang terlampau banyak jumlahnya. Pasukan dari sapit
kanan yangseimbang dengan pasukan di sapit kir i, dan induk pasukan
yang dipimpin oleh Pangeran Yudakusuma sendir i. Tetapi
prajurit-prajurit Surakarta yang memberontak terhadap induk
pasukannya itu bagaikan orang-orang yang sedang wuru. Mereka
seolah-olah bertempur dengan tidak menghiraukan apapun juga. Mereka
memutar senjata mereka dengan gairah yang membakar jantung. Apalagi
apabila mereka harus berhadapan dengan kumpeni. Maka tidak ada
pilihan lain daripada membunuh atau dibunuh. Namun demikian tekanan
yang datang dari pasukan Tumenggung Sindura dan yang langsung
dipimpin oleh Pangeran Yudakusuma memang terasa sangat berat. Diekor
pasukan Juwiring kadang-kadang berhasil menarik perhatian dan bahkan
mengacaukan induk pasukan. Tetapi hanya disatu sisi.
Prajurit-prajurit berkuda dan sebagian kumpeni berhasil menahannya
untuk tidak langsung menerobos masuk keinduk pasukan yang sedang
bertempur melawan pasukan Ranakusuma. Sebenarnyalah bahwa Pangeran
Ranakusuma sendiri bertempur bagaikan singa yang terluka. Dengan
pedang ditangan kanan dan keris pusakanya ditangan kiri, ia mengamuk
diujung pasukannya. Yang menjadi sasaran kemarahannya, terutama
adalah kumpeni. Beberapa orang kumpeni yang mencoba menahannya,
tidak mampu menahan amukan pedangnya. Beberapa orang terluka
karenanya. Dan yang lahi harus bergeser surut. Apalagi pengawal
khusus Pangeran Ranakusuma itu bertempur seperti Pangeran Ranakusuma
sendiri. "Aku akan menghentikannya" desis seorang perwira kumpeni
yang ada disisi Pangeran Yudakusuma setelah ia berhasil menjumpai
Pangeran yang dianggapnya memberontak itu,"Apa yang akan kau lakukan
?" bertanya Pangeran Yudakusuma. "Peluruku akan menembus dadanya.
Dan ia akan mati. Tidak seorangpun yang dapat lepas dari bidikanku.
Aku adalah penembak tepat sejak aku masih sangat muda," Pangeran
Yudakusuma tidak menyahut. Kemudian ia melihat kumpeni itu
membidikkan senjatanya. Tetapi sebelum pelurunya meloncat dari ujung
laras, Pangeran Yudakusuma tiba-tiba saja berkata "Pangeran
Ranakusuma pernah mengatakan, peluru tidak akan dapat menembus
tubuhnya. " "Bohong" geram kumpeni itu. Namun tiba-tiba saja keragu-
raguan yang sangat telah melanda jantungnya. Dengan suara
terbata-bata ia berkata "Orang-orang terbelakang memang percaya akan
tahayul." Pangeran Yudakusuma terdiam. Namun ia melihat ujung laras
senjata itu agak bergetar. Sejenak kemudian terdengar senjata itu
meledak. Tidak terlampau mengejutkan karena bunyi senjata api masih
saja terdengar meledak dimana-mana. Tetapi yang mengejutkan adalah,
bahwa Pangeran Ranakusuma yang seolah-olah tidak mendengar bunyi
ledakan itu, sama sekali tidak merasa tersentuh oleh apapun. Ia
masih tetap bertempur seperti seekor singa jantan. Senjatanya masih
menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Menyayat kulit lawan, dan
merobek lambung mereka yang berani menghalanginya. Seorangkumpeni
yang tidak sempat mengisi senjatanya, melawan dengan sangkur diujung
laras. Tetapi ia sama sekali tidak berdaya. Dadanya bagaikan
terbelah dan darah mengalir seperti pancuran dipinggir sungai.
Kompeni yang melepaskan tembakan itu menjadi berdebar- debar.
Kemudian dengan suara gemetar ia berkata "Aku tidak pernah meleset.
Bidikanku tentu mengenai sasaran." "Tetapi tanganmu gemetar" berkata
Pangeran Yudakusuma. "Tidak." "Jika demikian, Pangeran Yudakusuma
memang tidak dapat dilukai oleh peluru," "Persetan" "Miinggirlah"
berkata Pangeran Yudakusuma kemudian "j ika ia tidak dapat terluka
oleh peluru, maka kerisku akan melukainya." Demikianlah maka
Pangeran Yudakusumapun segera maju menyongsong kedatangan Pangeran
Ranakusuma. Beberapa orang pengawalnya telah melindunginya dari
serangan prajurit-prajurit yang lain, sehingga ia benar-benar
mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Senapati yang
disegani itu. Dalam pada itu, seorang kumpeni yang lain telah
membidikkan senjatanya pula. Kumpeni yang telah gagal membunuhnya
dengan peluru itupun berbisik "Cepat, sebelum mereka terlibat dalam
perang tanding." Sekali lagi sepucuk senjata api meledak. Tetapi
Pangeran Ranakusuma tetap berdiri tegak seperti batu karang. "Gila"
desis kumpeni yang menembak itu "aku tidak pernah salah
bidik.""Tetapi tanganmu juga gemetar" berkata kawannya yang telah
lebih dahulu gagal. "Tidak. Tanganku tidak gemetar"l alu "apakah ia
hantu atau iblis." "Tidak. Tentu tanganmu gemetar dan dalam hiruk
pikuk pertempuran seperti ini. kesalahan bidik tentu akan terjadi."
Kawannya tidak menyahut. Tetapi sejenak kemudian tidak seorangpun
yang sempat membidikkan senjatanya, karena Pangeran Yudakusuma sudah
menghadapinya langsung. "Kenapa kau memberontak ?" bertanya Pangeran
Yudakusuma. "Tidak banyak alasan yang dapat aku kemukakan. Tetapi
sebenarnya aku sudah muak melihat permainan kita. Kau dan juga aku
sendiri." Wajah Pangeran Yudakusuma menjadi merah. Lalu "Aku tidak
peduli pendapatmu itu. Tetapi kau sudah ingkar akan kesetiaanmu
kepada Kangjeng Susuhunan." "Mungkin akan dapat dinilai demikian.
Tetapi yang aku lakukan adalah sekedar melepaskan himpitan perasaan
yang tidak tertahankan lagi." "Itu adalah masalah yang terlampau pr
ibadi. Tetapi kau sudah mempengaruhi seluruh rencana kita, justru
pada saat kita sudah berhadapan dengan Pangeran Mangkubumi." "Tidak
apa-apa. Kalau kau serahkan semua kumpeni yang ada didalam pasukan
kita, maka aku akan berdiri tegak dipaling depan menghadapi Pangeran
Mangkubumi." "Gila. Dendam pribadimu kau pertaruhkan atas seluruh
keselamatan Surakarta." "Sudah lama kita bersama-sama mempertaruhkan
Surakarta bagi kepentingan pr ibadi kita masing-masing.""Cukup"
"Memang sudah cukup." Keduanya tidak berbicara lagi. Tetapi senjata
merekalah yang mulai bergetar. Dan sejenak kemudian, keduanya sudah
terlibat dalampertempuran yang sengit. Tetapi keduanya seolah-olah
telah terpisah dari pertempuran yang terjadi disekitarnya. Para
pengawal dari kedua belah pihak telah terlibat perang diantara
mereka, sehingga yang terjadi kemudian adalah perang tanding yang
sangat dahsyat. Keduanya adalah Senapati pilihan di Surakarta.
Keduanya adalah kesatria terpilih. Namun kemudian ternyata bahwa
Pangeran Ranakusuma yang memiliki pengalaman lebih banyak dan
ternyata juga kemampuan yang lebih tinggi, berhasil mendesak
Pangeran Yudakusuma. Meskipun pasukan Pangeran Ranakusuma yang
jumlahnya lebih kecil tidak akan dapat bertahan terlalu lama. namun
Senapatinya tidak dapat dikalahkan oleh Panglima pasukan Surakarta
itu. Sejenak kemudian nampak bahwa Pangeran Yudakusuma sudah
terdesak. Betapa gigihnya Pangeran Yudakusuma mempertahankan diri,
namun seolah-olah ia bukan saja melawan seorang Pangeran Ranakusuma,
tetapi beberapa orang Pangeran Ranakusuma yang berdiri diatas empat
keblat diseputarnya. Bahkan senjata Pangeran Ranakusuma, pedang
ditangan kanan dan keris ditangan kir i itu bagaikan menjelma
menjadi puluhan pedang dan puluhan ker is yang berterbangan
diseki-tarnya. Pangeran Yudakusuma menjadi semakin bingung.
Jantungnya terasa berdetak semakin cepat. "Sebenarnyalah Pangeran
Ranakusuma seorang yang pilih tanding. Seorang Senapati yang
barangkali dapat mengimbangi kemampuan Pangeran Mangkubumi." desis
beberapa orang prajurit yang sempat melihat tandangnya.Tetapi kini
Pangeran Ranakusuma tidak melawan Pangeran Mangkubumi, tetapi ia
menghadapi Pangeran Yudakusuma. Tetapi Pangeran Yudakusumapun
seorang prajurit yang tanggon. Seorang prajurit yang menyadari tugas
dan kuwajibannya menurut keyakinannya. Karena itulah maka Pangeran
Yudakusuma bertempur dengan gigihnya. Apapun yang dapat terjadi
atasnya, namun ia sama sekali tidak berusaha untuk melarikan diri
dari medan. Ia masih mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, bahwa
ia akan mampu bertahan sampai prajurit-prajur itnya berhasil
mengusir atau bahkan membinasakan sama sekali prajur it- prajurit
yang berpihak kepada Pangeran Ranakusuma. Jika demikian, maka
Pangeran Ranakusuma akan bertempur seorang diri, sehingga betapapun
ia memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi, namun ia tidak akan
berhasil mempertahankan dir inya menghadapi sekelompok Senapati
pilihan yang akan bertempur bersamanya. Tetapi ternyata bahwa
kemajuan prajur it dari pasukan induk itu terlampau lama. Pasukan di
sapit kir i bertempur tanpa pertimbangan keselamatan diri. Karena
itulah maka kekuatan mereka bagaikan menjadi ber lipat ganda.
Kenyataan itu tidak dapat diingkar oleh Pangeran Yudakusuma. Ia
sudah terdesak terus sehingga keadaannya menjadi semakin berbahaya.
Bahkan kadang-kadang ujung pedang Pangeran Ranakusuma rasa-rasanya
sudah mulai menyentuh pakaiannya. Usaha pengawal-pengawalnya untuk
membantunya agaknya dapat dibendung oleh pengawal-pengawal Pangeran
Ranakusuma. Seolah-olah mereka dengan sengaja ingin melihat perang
tanding yang dahsyat itu. Perang tanding antara dua orang Senapati
dari Surakarta sendiri. Dalam kesulitan yang hampir t idak teratasi,
tiba-tiba arena pertempuran itu telah bergeser. Seakan-akan terjadi
desakanoleh sekelompok prajurit yang datang kemudian, langsung masuk
kegelanggang pertempuran yang seru itu. Ternyata yang datang adalah
Tumenggung Sindura dengan pengawalnya. Tidak seorangpun yang dapat
menahan Tumenggung Sindura yang marah. Pengawal-pengawal Pangeran
Rana-kusumapun bagaikan menyibak meskipun mereka sudah pasrah diri
dalamsentuhan maut. Sejenak Pangeran Ranakusuma memandang orang yang
baru datang itu. Ia melihat Tumenggung Sindura memasuki arena. Dada
Pangeran Ranakusuma berdesir ketika ia melihat Tumenggung Sindura
justru menyarungkan pedangnya. Dengan wajah yang tegang, Tumenggung
Sindura itupun kemudian menarik keris pusakanya yang jarang sekali
dipergunakannya apabila ia tidak merasa menghadapi kesulitan
dipeperangan. "Pangeran Ranakusuma" berkata Tumenggung Sindura "aku
menghormati Pangeran Ranakusuma sebagai Senapati yang tidak ada
duanya. Tetapi aku kecewa melihat sikap Pangeran, justru pada
keadaan yang gawat ini." "Aku hanya menuntut agar kumpeni yang ada
dipasukan ini diserahkan kepadaku." "Bukankah hal itu tidak mungkin
?" "Kenapa ?" "Kita bersama-sama menghadapi pasukan Pangeran
Mangkubumi" "Bagiku, kumpeni adalah musuh yang jauh lebih jahat dari
Pangeran Mangkubumi," "Tetapi bukankah kita sudah menyusun rencana
yang bersama-sama kita setujui ? Apakah arti tindakan Pangeran
Ranakusuma dimedan seperti ini""Sebuah, ledakan hati yang tidak
tertahankan lagi." Pangeran Yudakusuma yang berwajah kemerah-merahan
bukan saja oleh kemarahan, tetapi juga oleh cahaya matahari yang
mulai mereka berteriak "Kita hancurkan pasukannya." Tumenggung
Sindura mengangguk-angguk. Kemudian iapun mempersiapkan diri
menghadapi segala kemungkinan. Katanya "Aku akan melawannya
Pangeran. Aku ingin membuktikan apakah kini Pangeran Ranakusuma
masih mempunyai banyak aji yang dapat menyelamatkan dir inya dari
kerisku." "Kita bertempur bersama" sahut Pangeran Yudakusuma "bukan
saatnya untuk menunjukkan harga diri. Pasukan Pangeran Mangkubumi
sudah terlibat dalam pertempuran dengan pasukan kita diluar gelar.
Kita masih harus memperbaiki susunan gelar yang dikacaukan oleh
Pangeran Ranakusuma ini." "Baiklah" sahut Pangeran Ranakusuma "mar
ilah. Majulah bersama-sama." Pangeran Yudakusuma tidak menyahut
lagi. Iapun langsung menyerang meskipun ia sadar Pangeran Ranakusuma
masih akan dapat mengelak. Namun sejenak kemudian disusul serangan
Tumenggung Sindura yang tidak kalah dahsyatnya. Ditangan kiri ia
masih memegang perisai kecilnya, sedang ditangan kanan ia
menggenggam sebilah keris yang diterima tumurun dari nenek
moyangnya.Tetapi lawannya adalah Pangeran Ranakusuma. Seorang
Pangeran yang disegani. Bahkan beberapa orang terkemuka di Surakarta
menganggap bahwa Pangeran Ranakusuma memiliki kemampuan setingkat
dengan Pangeran Mangkubumi, Karena itulah, ketika Tumenggung Sindura
mengayunkan kerisnya mendatar, Pangeran Ranakusuma meloncat surut,
la tahu benar bahwa keris ditangan Tumenggung itu adalah keris yang
memiliki kemampuan yang t inggi. Bahkan Pangeran Ra- nakusumapun
harus memperhitungkan kemungkinan yang paling buruk jika keris itu
sempat menggores kulitnya. Namun Pangeran Ranakusumapun percaya,
bahwa keris Tumenggung Sindura itu tentu tidak lebih baik dari
kerisnya sendiri. Itulah sebabnya, maka hatinya menjadi tatag.
Dengan keris ditangan kiri dan pedang ditangan kanan, Pangeran
Ranakusuma melawan dua orang Senapati Surakarta lainnya, yang
memiliki nama yang menggetarkan pula. Dalam pada itu, Pangeran
Yudakusumapun telah menyesuaikan dir i. Pangeran itu mengakui, bahwa
Tumenggung Sindura memiliki pengalaman yang lebih banyak dari
dirinya sendiri. Karena itu untuk menghadapi Pangeran Ranakusuma,
Pangeran Yudakusuma lebih banyak mengikuti dan mengisi setiap
kesempatan diantara serangan-serangan yang dilancarkan oleh
Tumenggung Sindura. Betapapun tinggi ilmu yang dimiliki oleh
Pangeran Ranakusuma. namun melawan dua orang Senapati besar
sekaligus ternyata ia harus memeras tenaga dan kemampuannya.
Tumenggung Sindura dengan keris dan perisainya bergerak dengan cepat
mengitarinya. Namun setiap saat, senjata Pangeran Yudakusuma
mematuknya dengan cepat dari arah samping. Dalam keadaan yang
demikian, Pangeran Ranakusuma hanya dapat meloncat menghindar. Namun
dengan tiba-tibasaja ia telah meloncat kembali sambil mengayunkan
pedangnya. Tetapi setiap kali, kedua lawannya bagaikan berpencar.
Mereka mengambil arah yang berbeda. Dengan demikian, maka Pangeran
Ranakusuma harus bersikap sangat berhati- hati. Sementara
pertempuran disekitar perang Senapati itupun masih berlangsung
dengan sengitnya. Setiap kali terdengar sorak yang bagaikan meledak.
Namun kemudian yang terdengar adalah jerit kesakitan dan desah yang
tertahan disela-sela dentang senjata yang sedang beradu. Dalam
keadaan yang seolah-olah saling berbaur itu, terasa betapa beratnya
bagi Pangeran Ranakusuma yang harus bertempur melawan dua orang
Senapati. Ketika ia berusaha menyerang Pangeran Yudakusuma dengan
ujung pedangnya, maka Tumenggung Sindura dengan sigapnya telah
meloncat sambil menjulurkan ker isnya. Namun Pangeran Ranakusuma
yang memiliki kemampuan yang dikagumi oleh setiap Senapati itu,
seolah-olah dapat bergeser dari tempatnya tanpa menggerakkan
kakinya. Karena itulah, setiap kali ayunan pusaka Tumenggung Sindura
bagaikan sekedar menyentuh angin. Tetapi Tumer iggung Sindura adalah
Senapati yang pilihan pula. Ia sadar sepenuhnya dengan siapa ia
berhadapan. Dan iapun sadar sepenuhnya bahwa pertempuran itu akan
menentukan sampai batas akhir. Karena itulah, maka Tumenggung
Sindura berusaha untuk mengendalikan dir i. Ia tidak boleh
tergesa-gesa mengambil sikap menghadapi Pangeran Ranakusuma. Tetapi
ia didampingi oleh Senapati pilihan pula. Pangeran Yudakusuma.
Meskipun Pangeran ini masih lebih muda dalam usia dan pengalaman,
namun Pangeran inipun memiliki kelebihan-kelebihan
tersendiri.Sebenarnyalah bahwa Pangeran Ranakusuma merasa akan
sangat berat menghadapi kedua Senapati besar dari Surakarta ini.
Namun ia sudah menjatuhkan tekat, bahwa ia akan melawan pasukan
Surakarta yang seolah-olah telah dibius oleh kekuasaan Kumpeni itu.
Dalam pada itu, ketika terjadi goncangan-goncangan dimedan,
Tumenggung Sindura yang merasa gelisah oleh keadaan medan seluruhnya
itupun sempat memberi peringatan kepada Pangeran Ranakusuma setelah
keringatnya membasahi jari-jar inya. "Pangeran" katanya "kita masih
mempunyai waktu untuk membuat pertimbangan-pertimbangan dan
barangkali menyelesaikan persoalan diantara kita dengan cara lain.
Namun sekarang kita berada di medan menghadapi pemberontakan yang
akan dapat menggoncangkan kekuasaan Surakarta. Apakah Pangeran tidak
mempertimbangkannya lebih panjang." "Sudah aku jawab. Jangan kau
ulang-ulang lagi pertanyaanmu semacam itu" jawab Pangeran Ranakusuma
"sekali lagi aku katakan, lebih baik aku melawan Kumpeni daripada
melawan adimas Mangkubumi. Karena itu, dengarlah. Aku memang segan
bertempur dengan keluarga sendiri. Keluarga besar prajurit
Surakarta. Jika kau ingin melawan adimas Pangeran Mangkubumi,
lakukanlah. Aku tidak akan menghalangimu, asal kau member i
kesempatan kepadaku untuk menusuk langsung kedalam induk pasukanmu
dan berhadapan dengan Kumpeni. Aku ingin menghancurkan mereka sampai
orang terakhir. Baru kemudian, kau dan Senapati besar yang bernama
Pangeran Yudakusuma ini akan dapat menangkap aku. Aku tidak akan
melawan dan akupun tidak akan berkeberatan menerima hukuman dari
Kangjeng Susuhunan. Ingat, Kangjeng Susuhunan. Bukan Kumpeni."
Tumenggung Sindura menggeram. Katanya "Yang Pangeran kehendaki
adalah yang tidak akan terpenuhi.Baiklah, dengan demikian maka tidak
ada jalan lain bagiku selain bertempur." Pangeran Ranakusuma tidak
menjawab lagi. Ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan, meskipun
ia sadar, bahwa setiap kali ia harus berusaha melepaskan dir i dari
libatan kedua orang lawan yang sangat berat itu. Namun beberapa
orang Senapati pembantunya tidak melepaskannya pula. Meskipun
kemampuan mereka sangat terbatas, namun dalam keadaan tertentu,
merekapun berusaha mengganggu Tumenggung Sindura dan Pangeran
Yudakusuma. Dalam pada itu, pasukan Pangeran Mangkubumi telah
menghantam pasukan Surakarta yang menebar menghalanginya. Tetapi
ternyata pasukan Surakarta itu terkejut bukan buatan. Dalam
keremangan fajar yang mulai menyingsing, ketika pasukan itu sudah
mendekat. Senapati yang memimpin prajurit-prajur it Surakarta itu
baru menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan, ternyata pasukan
Pangeran Mangkubumi tidak mempergunakan gelar gelatik neba. Meskipun
obor yang menyala nampak berserakan, tetapi sebenarnyalah pasukan
Mangkubumi berada dalam gelar Cakra Byuha. Gelar yang bulat padat
dan bergerigi bergulung- gulung bagaikan alun yang datang melanda
pantai dengan dahsyatnya. "Gila. Kita rubah gelar kita" teriak
Senapati yang kemudian melihat kedatangan gelar lawan. Tetapi
kesempatan mereka hanya sedikit sekali. Pasukan yang menebar itu
dengan tergesa-tergesa ditarik untuk menghadapi lawan dalam gelar
yang dahsyat itu. Pada benturan yang pertama telah terasa, betapa
beratnya menghadapi pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Beberapa
langkah pasukan Surakarta harus mundur sambil mengatur diri. Baru
kemudian mereka berhasil menyusun pasukannya untuk melawan Cakra
Byuha yang sempurna dari pasukan Pangeran Mangkubumi.Namun ternyata
bahwa prajurit Surakarta itu tidak mempunyai kekuatan yang memadai.
Mereka dipersiapkan sekedar untuk menahan usaha melarikan diri dari
pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Namun kini mereka bukannya menahan
sebuah pasukan yang pecah tercerai berai mencari selamat, tetapi
kini mereka harus menghadapi pasukan yang utuh dalamgelar Cakra
Byuha. Karena itu, maka merekapun segera terdesak mundur. Meskipun
prajurit-prajurit Surakarta itu berhasil menyusun diri, tetapi
seluruh pasukannya tidak dapat bertahan pada garis benturan antara
prajurit-prajurit itu dengan pasukan Pangeran Mangkubumi. Sementara
itu, Pangeran Mangkubumi telah memer intahkan Ki Wandawa untuk
mendapat keterangan dari pertempuran yang telah terjadi didalam
pasukan Surakarta itu sendiri, agar Pangeran Mangkubumi dapat
mengambil sikap dalam keadaan yang harus diatasi dengan cepat.
Apakah mereka akan bertempur terus, atau seperti yang telah
direncanakan. Sekedar menunjukkan dir i bahwa pasukan itu memang ada
dan kemudian menghilang menyusur i jalan yang sudah ditentukan,
karena pasukan yang berada di Sukawati sudah siap menyergap
prajurit-prajurit Surakarta dan Kumpeni bila mereka mengejar terus.
Ki Wandawa yang ada didalam lingkaran gelar Cakra Byuha itupun
kemudian memer intahkan beberapa orang petugas sandi untuk melihat
keadaan diseluruh medan. Mereka sejauh mungkin dapat melihat, apa
yang sebenarnya sudah terjadi, "Ki Wandawa, apakah aku dapat ikut
bersama mereka?" bertanya Buntal. Ki Wandawa menggelengkan kepalanya
"Kau tetap berada disini. Mereka yang bertugas didalam perang yang
belum kita ketahui keadaannya ini akan mengenakan pakaian
keprajuritan Surakarta. Hanya mereka membawa ciri khususyang dapat
mudah dikenai, dan kata-kata sandi yang sudah kita sepakati
bersama." Buntal mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia kecewa, bahwa
ia harus berada didekat Ki Wandawa. Bahkan sekali- sekali terdengar
ia berdesah. "Kakang" bertanya Arum sambil berbisik "apakah yang
sebenarnya terjadi atas kita berdua ?" "Apa maksudmu ?" "Apakah
sebenarnya kita ini dicur igai dan tidak boleh lepas dari pengawasan
Ki Wandawa ?" "Ah. aku tidak berpikir demikian. Tetapi sebenarnya
aku juga kecewa bahwa aku tidak berada digerigi gelar ini." Arum t
idak menyahut. Dengan wajah yang tegang ia memperhatikan pertempuran
yang terjadi disekitarnya. Apalagi ketika cahaya pagi menjadi
semakin terang. Maka iapun segera melihat betapa dahsyatnya
pertempuran yang telah berlangsung. Dalam pada itu, beberapa orang
pasukan sandi telah memencar untuk mendapatkan gambaran dari seluruh
pertempuran yang telah ber langsung itu. Diekor pasukan Surakarta,
perlahan-lahan Senapati yang memimpin pasukan berkuda dapat
menguasai keadaan. Kekuatan Raden Juwiring yang tidak begitu besar,
segera dapat dibatasi. Betapapun dahsyatnya kemampuan Senapati muda
itu, namun ia tidak dapat melampaui batas kemampuan diri sendir i.
Karena itulah, maka pasukan berkuda yang lain dan sebagian dari
kumpeni berhasil mengepung mereka dan membatasi pertempuran. Tetapi
Raden Juwir ing sama sekali tidak gentar. Yang justru menjadi
sasaran utamanya adalah kumpeni. Itulah sebabnya, maka serangannya
bagaikan berpusat pada dinding kepungan yang dilakukan oleh kumpeni
saja.Gerakan itu memang sangat menarik perhatian. Beberapa orang
prajurit berkuda yang mengepung Raden Juwiring itu semakin lama
semakin menyadari sikapnya yang semula agak terasa aneh. Seolah-olah
Raden Juwiring salah hitung dan mencoba menembus kepungan pada
dinding yang terdiri dari kumpeni itu. Tetapi lambat laun,
prajurit-prajurit Surakarta mengerti bahwa serangan Raden Juwir ing
memang sebagian besar ditujukan kepada kumpeni. Dengan demikian maka
korban yang paling banyak jatuh adalah justru kumpeni. Prajurit
Surakarta mencoba melindungi mereka sejauh mungkin dengan jumlah
yang cukup banyak. Tetapi ternyata diekor gelar Supit Urang itu,
prajurit-prajur it berkuda yang masih muda mempunyai sikap dan
pertimbangan tersendiri. Tidak ada yang memer intah mereka untuk
melakukannya. Tetapi hampir bersamaan tumbuh didalamhati
prajurit-prajur it muda itu. Merekapun kemudian menjadi segan
bertempur melawan prajurit-prajurit berkuda dari kelompok Raden
Juwiring yang dianggap memberontak bersama dengan ayahandanya di
sapit kir i. Untuk menghapus jejak dari sikap mereka, maka prajurit-
prajurit muda itupun berpura-pura bertempur juga. Tetapi mereka
hanya memacu kudanya berlari-lar ian melingkar- lingkar dan
membiarkan kumpeni-kumpeni itu menemui kesulitan melawan pasukan
berkuda di bawah pimpinan Raden Juwiring. Demikian pula disapit kir
i. Sasaran utama dari pasukan Pangeran Ranakusuma adalah kumpeni.
Tetapi agaknya sikap Pangeran Yudakusuma dan Tumenggung Sindura
telah membuat prajur it-prajurit mereka bertempur bersungguh-
sungguh sehingga per lahan tetapi pasti pasukan Pangeran Ranakusuma
terdesak. Sedangkan Pangeran Ranakusuma sendiri yang harus bertempur
melawan Pangeran Yudakusumadan Tumenggung Sindura harus memeras
segenap kemampuannya untuk tetap dapat bertahan. Semua yang terjadi
itu, berhasil diamati oleh petugas- petugas sandi dari pasukan
Pangeran Mangkubumi. Meskipun tidak tepat sampai bagian yang
sekeril-kerilnya, tetapi demikianlah keadaan pada umumnya dapat
dilaporkannya kepada Ki Wandawa. Untuk beberapa saat Ki Wandawa
sempat berbincang dengan Pangeran Mangkubumi. sementara pasukannya
berhasil mendesak maju prajurit-prajurit Surakarta yang kurang kuat.
"Bagaimana dengan Juwir ing ?" bertanya Pangeran Mangkubumi "Raden
Juwiring mengalami kesulitan Pangeran. Pasukannya yang jumlahnya
tidak begitu banyak telah terkepung" Pangeran Mangkubumi termenung
sejenak. Seolah- olah ia sedang membuat penilaian atas peristiwa
yang terjadi tanpa dilihatnya. Namun ternyata ketajaman perasaan
Pangeran Mangkubumi selalu menghasilkan uraian yang hampir tepat
atas keterangan yang hanya sekedarnya. Sejenak kemudian ternyata
Pangeran Mangkubumi telah menjatuhkan perintah bagi seluruh
pasukannya "Perintahkan sekelompok pasukan untuk membantu Juwiring.
Kemudian perintahkankepada setiap pimpinan yang ada didalam gelar
Cakra Byuha ini. Gelar ini tidak akan ditarik dan mundur untuk
seterusnya menghilang seperti rencana semula. Kita akan bertempur
terus. Potong jalur hubungan yang dapat dijalin oleh prajur it-
prajurit Surakarta dengan pimpinan prajur it di kota Surakarta, dan
perintahkan pasukan Sukawati untuk bergerak langsung ke Pandan
Karangnangka karena kita tidak akan lewat jalan yang sudah
ditentukan. Kita akan bertempur disini sampai tuntas." Sejenak
kemudian beberapa orang penghubungpun sudah menebar. Sementara itu
Ki Wandawa telah menyiapkan sekelompok pasukan untuk menyelamatkan
Raden Juwir ing. "Buntal" berkata Ki Wandawa "kau sekarang mendapat
tugas yang barangkali cukup menarik bagimu." "Apa Ki Wandawa.?" "Kau
harus mengenakan cir i-cir i yang kita kenal. Kemudian pergilah
keekor pasukan Surakarta. Kau akan dituntun oleh seorang penghubung.
Kau akan disertai sekelompok pasukan untuk membantu Raden Juwiring
yang mengalami kesulitan." Terasa bulu-bulu tengkuk Buntal meremang.
Ia memang sudah menunggu perintah semacam itu, sehingga karena itu
maka jawabnya justru tergagap "Baik, baik Ki Wandawa. Aku akan
berangkat." "Aku ?" bertanya Arum. Buntal memandang Ki Wandawa
sejenak seolah-olah ia mmta pertimbangan, apa yang dapat dilakukan
oleh gadis itu. Ki Wandawa menarik nafas dalam. Katanya "Arum. Aku
mengerti bahwa kau memiliki kemampuan bertempur. Tetapi jika kau
benar anak tunggal Kiai Danatirta, maka aku ragu- ragu untuk
melepaskanmu.""Tidak Ki Wandawa. Ayah sudah mengizinkan aku pergi.
Padahal ayah sudah mengetahui bahwa aku akan pergi kedaerah
pertempuran seperti ini.” sahut Arum. Ki Wandawa termangu-mangu
sejenak, lalu "Kau dapat mengambil keputusan Buntal." Buntal
termenung sejenak, lalu "Tetapi j ika kau ingin pergi bersamaku
Arum, kau harus berhati-hati. Kau tidak boleh bersikap menurut
kesenanganmu sendiri." "Aku berjanj i" jawab Arum. Buntal memandang
Arum dengan tajamnya. Dengan ragu- ragu iapun kemudian berkata
"Baiklah Ki Wandawa. Biarlah Arumpergi bersamaku." "Bersiaplah. Aku
akan menarik sekelompok prajur it dari gelar ini." "Tetapi bagaimana
dengan Pangeran Ranakusuma.? Bukankah menurut laporan, pasukannya
juga terdesak ?" "Gelar Cakra Byuha ini akan segera menusuk sampai
keinduk pasukan Supit Urang. Mudah-Mudahan dengan demikian sebagian
prajur it yang sedang bertempur disapit kiri akan terhisap oleh
kehadiran gelar ini." "Tetapi apakah bijaksana kita melawan gelar
Supit Urang dengan gelar Cakra Byuha. Bentuk gelar ini tidak
menguntungkan." "Jika jumlah pasukan seimbang memang tidak
menguntungkan. Tetapi untuk sementara kita menganggap pasukan kita
lebih kecil. Apalagi kita tahu bahwa gelar Supit Urang itu sudah
rusak sama sekali karena pergolakan didalam tubuh sendir i." Buntal
tidak bertanya lagi. Iapun kemudian mengikuti Ki Wandawa. Setelah
memakai ciri-ciri yang dikenal oleh pasukan dalam keseluruhan maka
Buntalpun menyiapkan sepasukanpengawal untuk membantu Raden
Juwiring. Demikian juga Arum pun telah siap untuk mengikutinya dalam
pasukan yang dibentuk dengan tergesa-gesa itu. Sejenak kemudian maka
sekelompok pasukan kecil itu memisahkan diri dari gelarnya. Dituntun
oleh seorang petugas sandi, kelompok kecil itu melingkari arena
pertempuran dan langsung menuju keekor gelar Supit Urang yang sudah
menjadi semakin kacau. Demikianlah pertempuran itupun kemudian ber
langsung dengan jelas dan pasti. Matahari yang merayap terus
dilangit wajah matahari itu, rasa-rasanya bagaikan sehelai tirai
yang tipis seolah-olah ikut menyaksikan pertempuran yang menjadi
semakin dahsyat itu. Ketika selembar awan terbang dipermukaan yang
melindungi matahari dari pertunjukan yang menger ikan diatas bumi.
diantara anak-anak manusia yang sedang bertengkar melampaui
pertarungan binatang yang paling buas ditengah-tengah hutan yang
paling lebat. Dalam pada itu, kehadiran Buntal bersama pasukan
kecilnya diekor gelar Supit Urang itu telah mengejutkan
prajurit-prajurit Surakarta yang sedang bertempur. Juwiringpun
terkejut pula karenanya, ketika tiba-tiba saja pasukan itu langsung
menyerang prajurit-prajurit berkuda yang mengepungnya. Kepungan
itupun kemudian menjadi goyah. Beberapa bagian dari dinding kepungan
itu terpaksa melayani serangan sekelompok pasukan yang datang dan
langsung menyerang mereka. Arum yang ada didalam pasukan itu menjadi
berdebar- debar. la berusaha untuk menyesuaikan dir i dengan gerak
seluruh pasukan. Meskipun keinginannya untuk menyerbu kedalam
kelompok pasukan kumpeni, namun ia harus menahan diri. Buntal sudah
berpesan kepadanya, bahwa ia harus tetap berada
didalambarisan.Dengan kehadiran pasukan kecil itu, maka kepungan
pasukan berkuda dan kumpeni diekor gelar supit urang yang sudah
retak itu menjadi agak longgar. Juwiring dengan cepat mempergunakan
kesempatan itu. Ia sadar sepenuhnya bahwa Pangeran Mangkubumi tentu
sudah mengir imkan pasukan itu. "Luar biasa" berkata Juwiring
didalam hatinya "pa-manda Pangeran Mangkubumi selalu mengambil sikap
yang cepat. Petugas sandinyapun memiliki ketajaman penglihatan.
Mereka melihat kesulitan yang aku alami disini dan dengan cepat pula
mengirimkan pasukannya." Apalagi ketika Buntal dan pasukannya sudah
berhasil memecah kepungan dan menghubungkan pasukannya dengan
pasukan Raden Juwir ing. "Buntal" Raden Juwir ing berteriak. Buntal
yang sedang bertempur tidak dapat berpaling. Tetapi ia sempat
melambaikan senjatanya sebagai jawaban panggilan Raden Juwiring itu.
Untuk beberapa saat lamanya, Buntal dan pasukannya memang mengalami
kesulitan untuk membedakan pasukan berkuda yang berpihak kepada
Raden Juwiring dan sebaliknya Namun kemudian pasukan itu telah
menarik gar is batas. Pasukan berkuda itu tidak lagi dapat mengepung
pasukan Raden Juwiring yang menjadi semakin banyak karena kehadiran
sekelompok pasukan Pangeran Mangkubumi. Senapati yang memegang
pimpinan diekor gelar itu menjadi gelisah melihat kehadiran
sekelompok pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Apalagi ketika
kepungannya menjadi pecah dan tidak lagi dapat disusun melingkari
pasukan Raden Juwir ing.Dengan tergesa-gesa Senapati itupun
memanggil seorang peng hubung dan diperintahkannya untuk menarik
sekelompok prajurit dar i induk pasukan. "Cepat, bawa mereka kemari
untuk menghancurkan pasukan yang berkhianat itu, sekaligus sepasukan
pemberontak yang tiba-tiba saja telah ikut didalam pertempuran ini."
Prajurit penghubung itupun segera meninggalkan pertempuran diekor
gelar itu dan langsung mencari Senapati yang berada di induk
pasukan. Namun ternyata bahwa prajurit diinduk pasukanpun sedang
terlibat dalam pertempuran yang sengit. Mereka harus menghancurkan
pasukan Pangeran Ranakusuma. Bahkan kumpeni yang berada diinduk
pasukanpun sedang memeras tenaga untuk mempertahankan dir i, karena
tekanan terberat justru pada pasukan kumpeni itu. Namun
sebenarnyalah bahwa pasukan kumpeni itu memang memiliki kemampuan
berperang yang cukup. Pengalaman pengembaraan mereka, telah membuat
mereka menjadi prajurit-prajur it yang gigih. Meskipun mereka tidak
sempat mempergunakan senjata api, namun senjata mereka yang pada
ujung larasnya diberi sangkur, dapat mereka pergunakan sebagai ujung
tombak yang runcing. Bahkan ada diantara mereka yang melemparkan
senjata mereka dan menarik pedang dari sarungnya. Dan ternyata
kumpeni memang prajurit-prajurit yang terlatih baik. Tetapi mereka
tidak dapat meninggalkan induk pasukan. Mereka menghadapi prajur
it-prajurit Surakarta yang dipimpin oleh Pangeran Ranakusuma, yang
bertempur bagaikan orang- orang yang kehilangan akal. "Kami memer
lukan bantuan" desis penghubung dari ekor gelar."Pertahankan diri
sejenak. Pertempuran ini tentu tidak akan lama. Sebentar lagi
pasukan Pangeran Ranakusuma akan segera hancur. Sebagian dari kami
akan membantu prajur it- prajurit yang sedang bertempur melawan
pasukan Pangeran Mangkubumi. Sebagian akan kami kirim ke ekor
barisan." "Dimanakah Pangeran Yudakusuma ?" bertanya penghubung itu.
"Terlibat dalam pertempuran langsung melawan Pangeran Ranakusuma."
Penghubung itu termangu-mangu sejenak. Pertempuran diinduk
pasukanpun nampaknya sangat seru. Tetapi prajurit- prajurit
Surakarta dan kumpeni agaknya segera akan berhasil mendesak dan
menguasai keadaan. "Tetapi berapa lama kami harus menunggu ?"
bertanya penghubung itu. "Tidak lama." "Aku minta sekelompok kecil
lebih dahulu. Pertimbangkan sebelum ekor gelar ini menjadi kacau."
Senapati itu berpikir sejenak. Agaknya memang t idak begitu sulit
bagi prajurit-prajurit yang ada diinduk pasukan untuk melawan
pasukan Pangeran Mangkubumi, sehingga agaknya memang dapat
dipertimbangkan untuk mengir imkan bantuan ke-ekor gelar yang
semakin kacau. Namun sebelum putusan itu diber ikan, terasa pasukan
itu seluruhnya bagaikan diguncang. Sejenak Senapati itu
termangu-mangu. Namun kemudian seorang prajurit penghubung datang
dengan tergesa-gesa dan berkata dengan suara gemetar "Pertahanan
didepan gelar sudah pecah. Pasukan Pangeran Mangkubumi langsung
menusuk keinduk pasukan." Senapati itu tercenung sejenak.
Rasa-rasanya darahnya menjadi semakin lambat mengalir. Laporan yang
didengarnyaitu memberikan arti yang mendebarkan. Pasukan Pangeran
Mangkubumi telah berhasil langsung menusuk induk pasukan sementara
induk pasukan sedang berusaha menghancurkan sepasukan di sapit kiri
dari gelar supit urang yang telah memberontak itu. Untuk beberapa
saat Senapati itu justru terdiam, la adalah Senapati yang
bertanggung jawab atas induk pasukan. Bukan keseluruhan gelar.
Panglima dari gelar supit urang ini adalah Pangeran Yudakusuma.
Tetapi Pangeran Yudakusuma kini sedang terlibat dalam perang melawan
Pangeran Ranakusuma. Karena itu, maka yang dapat dilakukan adalah
sekedar menggerakkan induk pasukan. Ia mengharap bahwa Tumenggung
Sindura juga telah menerima laporan dan membagi pasukan di supit
kanan. Sebagian masih harus menumpas pemberontakan didalam gelar,
dan sebagian yang lain menahan arus pasukan Pangeran Mangkubumi.
Demikianlah Senapati itupun segera mengambil sikap. Setelah darahnya
mengalir wajar kembali, maka iapun berkata kepada penghubung dar i
ekor gelar "Kau mendengar sendiri laporan itu. Jagalah agar pasukan
berkuda dan kumpeni yang ada diekor gelar dapat menjaga
keseimbangan. Tugas induk pasukan menjadi semakin berat." Penghubung
yang mendengar langsung laporan dari bagian depan gelar yang retak
itu tidak dapat berbuat apa-apa. Iapun segera kembali keekor gelar
yang sudah rusak pula dan menyampaikan apa yang telah didengarnya.
"Gila. Ternyata kita telah terperosok kedalam kandang harimau lapar"
desis Senapati itu "tetapi kita cukup mem punyai kekuatan untuk
keluar dari kandang ini dan meninggalkan bangkai dar i seluruh
penghuninya." Dalam pada itu Senapati yang ada diinduk pasukanpun
segera memberikan perintah kepada setiap pemimpinkelompok untuk
membagi dir i. Sebagian tetap menghadapi prajurit-prajurit Surakarta
sendiri yang sudah memberontak, sedang yang lain harus menyongsong
pasukan Pangeran Mangkubumi. Namun ternyata bahwa pasukan yang
datang dari sapit kananpun telah mendapat laporan pula. Karena
Senapati pengapit sedang bertempur bersama Pangeran Yudakusuma
melawan Pangeran Ranakusuma, maka Senapati tertua yang merasa
bertanggung jawab, segera memberikan perintah serupa. "Kita sudah
berada diperang brubuh" berkata Senapati itu "hati-hatilah. Kalian
harus berusaha agar kalian akan dapat memulihkan gelar ini kembali
setelah pasukan yang memberontak itu kita singkirkan, bahkan kita
binasakan.” Demikianlah maka benturan antara pasukan Pangeran
Mangkubumi dengan pasukan Surakarta diinduk pasukan benar-benar
telah menggetarkan seluruh medan. Pasukan Pangeran Mangkubumi masih
tetap berada dalam gelar Cakra Byuha yang utuh sehingga lingkaran
bergigi itu seolah-olah telah membelah pertahanan prajurit Surakarta
yang semula berada diluar gelar, dan langsung menyobek induk pasukan
yang memang sedang goncang itu. Prajurit-prajurit Surakartapun
kemudian berusaha menyesuaikan dir i menghadapi musuh yang datang
itu. Merekapun adalah prajurit-prajur it yang terlatih. Demikian
pula kumpeni yang ada didalam pasukan Itu. Mereka segera mengambil
sikap menghadapi keadaan yang baru itu. Dalam pada itu. pertempuran
telah terjadi hampir diseluruh bagian dari pasukan Surakarta. Bahkan
kemudian pasukan Surakarta itulah yang seolah-olah telah dikepung.
Mereka harus menghadapi musuh dari tiga arah. Dari sayap kiri
gelarnya sendiri. Dari depan, dan dari belakang, yang dilakukan oleh
sebagian dari pasukan berkuda yang dipimpinoleh Juwiring dan
sekelompok pasukan yang dikirim oleh Ki Wandawa dan dipimpin oleh
Buntal. Pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Jumlah pasukan
Surakarta cukup banyak untuk melawan seluruh pasukan Pangeran
Mangkubumi ditambah dengan prajurit- prajurit yang memberontak itu
sendir i. Apalagi sebagian dari oasukan Pangeran Mangkubumi memang
bukan prajurit. Mereka belum memiliki pengalaman yang cukup meskipun
mereka telah berlatih sebaik-sebaiknya. Karena itulah meskipun
jumlah mereka memadai, namun kemampuan mereka masih belum setinggi
prajurit-prajurit Surakarta dan kumpeni yang telah menjelajahi benua
dan samodra. Namun demikian pertempuran itu berjalan dengan
sengitnya. Dalam pada itu matahari yang sudah melampaui puncak
langit telah mulai turun keujung Barat. Prajurit-prajurit Surakarta
justru telah mulai berhasil menyusun diri, sementara pasukan
Pangeran Mangkubumi masih tetap memberikan tekanan yang sangat berat
Tetap! sementara itu. beberapa orang didalam pasukan Pangeran
Mangkubumi telah menjadi letih. Meskipun tekad mereka masih menyala
didalam dada. namun ternyata bahwa kemampuan jasmaniah mereka tidak
sekuat prajurit-prajur it yang berpengalaman. Beberapa orang
diantara mereka tidak lagi mampu bertempur dengan lincah dan
tangkas. Satu dua orang mulai kelelahan. Tangan mereka bagaikan
tidak dapat digerakkan lagi. Sedangkan beberapa orang lagi diantara.
mereka, bukan saja kelelahan, tetapi mereka telah terbaring ditanah
dengan darah yang mengalir dar i luka. Mereka adalah beban-ten dari
perjuangan Pangeran Mangkubumi dan Rakyat Surakarta untuk mengusir
penjajahan. Semuanya itu t idak lepas dari pengawasan Pangeran
Mangkubumi, karena Pangeran Mangkubumi bukan sajaberteriak member
ikan aba-aba, tetapi Pangeran Mangkubumi sendiri telah menerjunkan
dir i kedalam kancah peperangan. Kelelahan dan korban yang jatuh
diantara anak buahnya, membuat Pangeran Mangkubumi menjadi semakin
marah. Karena itu maka iapun menjatuhkan perintah kepada setiap
orang yang memiliki kemampuan jasmaniah melampaui kawan-kawannya,
agar dengan segenap tenaganya, bertempur untuk menentukan, siapakah
yang akan berhasil memenangkan perang yang menjadi semakin dahsyat
itu. Menurut perhitungan Pangeran Mangkubumi, pasukan Pangeran
Ranakusuma akan tetap bertahan, dan pasukan Raden Juwiring yang
dibantu oleh sekelompok kecil dari pasukannya, akan mendesak masuk
kedalam induk pasukan. Perhitungan Pangeran Mangkubumi tidak meleset
jauh. Meskipun pasukannya tidak dapat mendesak lebih maju lagi
kedalam induk pasukan, namun seperti yang diduganya, bahwa pasukan
Juwiringlah yang justru berhasil mendesak lawannya. Kepungan yang
telah pecah itu memberikan jalan kepada Raden Juwiring dan prajurit-
prajuritnya yang terlatih baik untuk mendesak maju menyerang induk
pasukan dari arah yang lain. Buntal, yang mendapat kesempatan
menunjukkan pengabdiannya telah bertempur sebaik-baiknya. Demikian
pula Arum. Meskipun ia seorang gadis, tetapi latihan-latihan yang
berat dipade-pokannya telahmembentuknya menjadi seorang gadis yang
memiliki daya tahan jasmaniah yang mengagumkan. Beberapa orang
prajurit Surakarta yang berdiri dibelakang Raden Juwiring, bahkan
pasukan Pangeran Mangkubumi sendiri, kadang-kadang mencari
kesempatan untuk dapat sekedar melihat Arum bertempur, "Tidak
menyangka sama sekali, bahwa seorang gadis mampu bertempur
sedemikian garangnya. Bahkan sampai saat matahari condong ke Barat,
ia masih mampu mengayunkan pedangnya dengan dahsyatnya.” Namun
sebenarnyalah bahwa Arum sudah mulai diganggu oleh perasaan letih.
Keringatnya telah membasahi segenap pakaiannya. Terik matahari yang
bagaikan membakar kulit, membuat Arum merasa haus. Meskipun ia sudah
terlampau sering disengat oleh panas matahari disawah dan bahkan
dalam latihan-latihan khusus, tetapi bertempur untuk waktu yang lama
dan sekaligus dipanggang dalam terik matahari, membuatnya merasa
lelah, haus dan gelisah. Apalagi Arum memang belum pernah mengalami
peperangan sedahsyat itu. Disana-sini ia melihat tubuh yang
bergelimpangan berlumuran darah. Meskipun demikian Arum sadar, jika
ia lengah, maka dirinyalah yang akan terbaring diantara sosok-sosok
tubuh yang terbujur lintang ditanah itu. Dalam keadaan yang
demikian, maka Pangeran Mangkubumi mencoba untuk memecahkan
kesulitan yang dialaminya. Tetapi ia tidak dapat ingkar dari
kenyataan, bahwa pasukannya bukanlah terdiri dari prajurit-prajurit
pilihan yang sudah terlatih untuk bertahun-tahun lamanya. Tetapi
pasukannya mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh prajurit!
Surakarta. Pasukannya yang kurang terlatih itu memiliki gelora
perjuangan yang menyala didalam dadanya untuk mengusir orang-orang
asing yang telah menjamahkebebasan Surakarta. Bahkan perlahan-lahan
orang asing itu berhasil mengendalikan pemerintahan dan roda
perdagangan di-seluruh negeri. Hanya karena api yang menyala didalam
dada itu sajalah yang membuat pasukannya tetap bertahan. Tetap
bertempur dengan tenaga yang semakin lemah dipanggang oleh teriknya
matahari dan tekanan yang terasa semakin berat dari prajurit-
prajurit Surakarta. Desakan pasukan Raden Juwiring dan Buntal dari
ekor gelar terasa juga pengaruhnya. Beberapa bagian dari prajurit
diinduk pasukan terpaksa berpaling dan menahan serangan serangan
yang semakin lama semakin terasa karena pasukan diekor gelar itu
sendir i tidak lagi mampu bertahan. Apalagi diantara mereka,
meskipun tidak terlampau banyak, ada kesengajaan untuk tidak
bertempur bersungguh-sungguh. Namun pengaruh itu tidak cukup kuat
untuk membantu mendesak induk pasukan itu dari arah yang lain.
Ketika matahari menjadi semakin condong, maka pasukan Pangeran
Mangkubumi terasa menjadi semakin lemah. Beberapa orang prajurit
Surakarta yang berdiri dibelakang Raden Juwiring, bahkan pasukan
Pangeran Mangkubumi seponi, kadang-kadang mencari kesempatan untuk
dapat sekedar melihat Arum bertempur. Meskipun diantara mereka masih
ada yang bertempur tanpa nampak susut kekuatannya, tetapi ada pula
yang hanya sekedar mampu bertahan untuk beberapa lama saja oleh
kelelahan, panas dan haus. Pertempuran itu merupakan pengalaman bagi
Pangeran Mangkubumi. Ia mulai mempertimbangkan lagi untuk menyingkir
dari medan. Namun semuanya sudah terlanjur. Pasukannya sudah berada
didalam lingkungan pasukan lawan. Meskipun gelar Cakra Byuha yang
disusunnya belum pecah, namun kemampuannya sudah jauh berkurang.
Untunglahbahwa prajurit-prajurit Surakarta dibawah pimpinan Pangeran
Ranakusuma masih mampu bertahan. Meskipun Pangeran Ranakusuma
sendiri terlibat dalam perang Senapati. Betapa beratnya Pangeran
Ranakusuma melawan dua orang Senapati terpilih dari Surakarta. Namun
setiap kali pengawal- pengawalnya selalu berusaha menolongnya dari
kesulitan yang menentukan. Dalam pada itu, selagi Pangeran
Mangkubumi membuat pertimbangan-pertimbangan sambil bertempur dengan
dahsyatnya, mulai terasa, bahwa pasukannya telah benar- benar
terdesak. Karena itulah maka Pangeran Mangkubumi menjadi semakin
marah marah dan mengamuk bagaikan seekor banteng yang terluka. Ia
tidak menghiraukan lagi, apakah pedangnya menembus dada seorang
pemimpin prajurit, apalagi Senapati yang memimpin beberapa kelompok.
Prajuritpun j ika menghalanginya tentu dibinasakannya.
Lawan-Lawannya yang langsung bertemu dengan Pangeran Mangkubumi
dimedan menjadi nger i. Seolah-olah tubuh Pangeran Mangkubumi itu
berlapis baja. Seorang prajurit yang kehilangan akal telah
melontarkan tombak pendeknya langsung kepunggung Pangeran
Mangkubumi. Tetapi ujung tombak itu sama sekali tidak melukainya.
Untuk menenteramkan kegoncangan yang timbul didalam hati ia berkata
kepada dir i sendir i "Tombakku mengenai wrangka ker is dipunggung
Pangeran Mangkubumi." Demikian pula ketika seorang kumpeni berhasil
mengisi senjatanya dan membidik kearah Pangeran Mangkubumi. Ledakan
senjatanya sama sekali tidak menarik perhatian Pangeran Mangkubumi.
Apalagi melukai dan membunuhnya. Tetapi seperti kawan-kawannya yang
lain yang mengalami peristiwa seperti itu berkata kepada diri
sendiri "Sulit menembak seseorang dalam perang yang kisruh
ini."Namun bagaimanapun juga Pangeran Mangkubumi menghantui setiap
orang lawannya, pasukannya semakin lama menjadi semakin lemah.
Bahkan mulai bergeser setapak demi setapak. Pangeran Mangkubumi
menjadi sangat prihatin. Sekilas ia melihat matahari. Agaknya
matahari masih terlampau tinggi untuk menunggu gelap yang bakal
melingkupi seluruh Surakarta. Demikianlah maka Pangeran Mangkubumi
menjadi sangat gelisah. Ia sama sekali tidak memikirkan dir i sendir
i. Tetapi ia memikirkan anak buahnya. Jika mereka tidak dapat
bertahan lagi, maka korban akan jatuh semakin lama semakin banyak.
Tetapi dalam pada itu, selagi Pangeran Mangkubumi mencari akal dan
cara untuk membebaskan pasukannya dari kemungkinan yang lebih buruk,
seorang penghubung berlari-lari mencarinya. Tanpa menghiraukan
pertempuran yang terjadi, ia berusaha langsung menjumpai Pangeran
Mangkubumi. "Ada apa ?" bertanya Pangeran Mangkubumi dengan dada
yang semakin berdebar-debar. "Pangeran, Pangeran, mereka telah
datang." "Siapa ?" sekilas terbayang bantuan yang datang dari
Surakarta.Agaknya pasukan sandinya yang memotong jalur hubungan
dengan Surakarta bekerja kurang baik, sehingga ada utusan yang
berhasil lolos dan memanggil bantuan secukupnya. "Pangeran pasukan
itu telah datang." "Ya. Pasukan siapa?" "Dari Sukawati. Pasukan yang
sedianya harus mengganggu pasukan Surakarta apabila mengejar kita
yang menurut rencana akan segera menarik dir i. " "Pasukan dari
Sukawati ?" Pangeran Mangkubumi menar ik nafas dalam-dalam.
"terpujilah nama Tuhan yang masih melindungi kita semuanya.”
"Pangeran" berkata penghubung itu "mereka berhenti diluar medan.
Mereka menunggu perintah Pangeran." "Baiklah" berkata Pangeran
Mangkubumi "mereka harus langsung masuk kemedan. Pasukan Surakarta
kini bertempur menghadap ketiga arah. Menghadapi pasukan Pangeran
Ranakusuma, pasukan Raden Juwir ing dan pasukanku. Maka pasukan dari
Sukawati akan menjadi pasukan keempat yang akan menyerang dari arah
keempat pula.” Penghubung itu tidak menunggu perintah Pangeran
Mangkubumi diulangi. Iapun segera meninggalkan medan kembali
menghubungi pasukan yang baru datang itu. Sementara itu Pangeran
Mangkubumi yang seakan-akan. mendapatkan tenaga baru itupun
bertempur semakin gigih. Demikian pula para Senapati dan para
pemimpin yang lain, yang ada didalam pasukannya Beberapa orang
Pangeran justru telah mengamuk seperti burung garuda dirusak
sarangnya. Sejenak kemudian maka pasukan dari Sukawati itupun telah
mendekati arena dari arah keempat. Pasukan yang masih segar itu,
meskipun tidak terlampau besar, namunmemiliki kemampuan yang akan
menentukan dalam medan yang sudah mulai lelah. Kedatangan pasukan
Sukawati itu benar-benar telah mengejutkan pasukan Surakarta. Mereka
sama sekali tidak menduga bahwa Pangeran Mangkubumi masih mempunyai
pasukan cadangan yang kuat, yang segera menggoyahkan seluruh pasukan
Surakarta. Dalam pada ito pasukan sapit kanan dari gelar Supit Urang
yang sudah semakin rusak, masih tetap berada disapit kiri Meskipun
sebagian dari pasukan itu berada diinduk pasukan melawan pasukan
Pangeran Mangkubumi, namun Tumenggung Sindura sendiri tidak nampak
pada seluruh pasukannya, karena ia masih harus bertempur melawan
Pangeran Ranakusuma bersama Pangeran Yudakusuma. Karena itu Senapati
yang berada diinduk pasukanlah yang harus mengambil pimpinan. Ia
harus membagi pasukannya melawan pasukan Pangeran Mangkubumi yang
bara datang dari Sukawati. Namun, kedatangan pasukan yang segar itu
benar-benar telah merusak keseimbangan. Serangan yang menyentak itu
bagaikan gotncangan yang terasa disegenap pasukan dalam gelar yang
sudah rusak sama sekali itu. Dengan demikian, maka prajurit
Surakarta dan kumpeni harus memeras tenaga melawan kekuatan yang
kini menjadi lebih besar. Bahkan terasa jauh lebih besar. Senapati
yang ada di induk pasukanpun kemudian meneriakkan per intah, agar
pasukan Surakarta bertempur dengan segenap kemampuan yang ada.
"Kalian adalah kesatria dari Surakarta" teriak Senapati itu "kalian
harus menjunjung tinggi martabat kalian, Surakarta adalah negara
yang memancarkan wahyu perlindungan. Karena itu harus kalian
pertahankan dengan bertaruh nyawa."Teriakan itu memang dapat
menyentuh hati setiap prajurit Surakarta. Darah didalam setiap dada
rasa-rasanya bagaikan mendidih karenanya. Namun dalam pada itu,
tiba-tiba terdengar bagaikan jawaban seorang Senapati dari pasukan
lawan menjawab "Marilah kita bertempur melawan prajur it- prajurit
yang telah kehilangan pegangan. Hanya kesatria sejati sajalah yang
bertempur dengan sadar, bahwa yang dilakukan didasari atas cita-cita
yang luhur. Nah, prajurit-prajurit dari Surakarta. Katakan, apakah
yang sedang kalian lakukan sekarang ? Kalian bertempur melawan
keluarga sendiri sekedar untuk melindungi orang kulit putih itu ?"
Jawaban itu benar-benar telah menggoncangkan setiap dada.
Prajurit-prajurit Surakarta yang sudah mulai menggelora itupun,
terasa terpengaruh juga oleh jawaban lawannya. Dan bahkan beberapa
orang diantara mereka mulai berpikir "Apakah yang sebenarnya telah
aku lakukan ?" Tetapi sebenarnyalah mereka tidak sempat berpikir
lebih panjang lagi. Sejenak kemudian, pemimpin mereka telah
berteriak pula memberikan aba-aba, sehingga yang terjadi kemudian
adalah peperangan yang semakin dahsyat. Namun, kedatangan pasukan
dari Sukawati benar-benar telah mendebarkan jantung setiap Senapati
dari Surakarta. Tenaga mereka yang masih segar, segera mengatasi
kesulitan yang dialami oleh Pangeran Mangkubumi, Dalam keadaan yang
lebih baik itulah, maka Pangeran Mangkubumi mulai memikirkan
Senapati-senapati lawannya. Bahkan Panglima pasukan Surakarta yang
dikenalnya dengan baik, karena sebenarnyalah Senapati Agung itu
adalah saudaranya sendiri. Setelah Pangeran Mangkubumi yakin, maka
iapun segera memanggil seorang Pangeran yang mengikutinya didalam
pasukannya. Pangeran Hadiwijaya. Dengan mantap Pangeran Mangkubumi
berkata "Peganglah pimpinan. Aku akan mencari dan langsung menemui
Pangeran Yudakusuma, Panglimapasukan Surakarta yang kini
dipersiapkan menggempur Pandan Karangnangka. Kemudian aku juga akan
berusaha bertemu dengan Tumenggung Sindura, sebelum aku menggilas
kumpeni sampai habis didalampasukan lawan." "Adimas" berkata
Pangeran Hadiwijaya "serahkan Tumenggung Sindura kepadaku. Aku akan
menemukannya meskipun ia sudah tidak berada disayap kanan gelarnya
yang rusak." "Kau tetap disini. Pimpinan pasukan ada di tanganmu."
Pangeran Hadiwijaya tidak dapat mengelak lagi. Ia harus memegang
pimpinan gelar Cakra Byuha dan sekaligus member ikan perintah dan
imbangan pada pasukannya yang ada diarah lain. Bahkan pasukannya
yang dibawa oleh Buntal membantu Raden Juwiring diekor gelar lawan.
Demikianlah Pangeran Mangkubumi berusaha melepaskan diri dari gelar
keseluruhan. Ia berusaha untuk dapat bertemu dengan Senapati Agung
dari Surakarta, atau orang kedua yang memiliki kelebihan dari
Senapati-senapati yang lain, yaitu Tumenggung Sindura, karena orang
yang sebenarnya paling diperhitungkan oleh Pangeran Mangkubumi,
yaitu Pangeran Ranakusuma, ternyata menentukan sikap lain
dipeperangan itu. Namun Pangeran Mangkubumi tidak dapat mengabaikan
pertempuran secara keseluruhan. Ternyata pasukan yang datang dari
Sukawati itu terlampau cepat mempengaruhi medan. Tenaga mereka yang
masih segar mereka pergunakan sebaik-baiknya. Sekali! terdengar
mereka bersorak seperti membelah langit, diikuti dengan gerak maju
yang mengejutkan lawan. Kumpeni yang ada didalam pasukan Surakarta
mengumpat tidak habis-habisnya. Seorang perwira menggeram "Orang-
orang terbelakang masih juga mempergunakan mulutnya dimedan
perang."Desakan pasukan yang datang dari Sukawati itu benar- benar
mempengaruhi seluruh medan. Karena sebagian pasukan Surakarta
terhisap oleh serangan baru itu, maka dibagian-dibagian yang Iainpun
pasukan Surakarta menjadi semakin lemah. Ternyata pasukan Surakarta
dan Kumpeni itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Disayap
kiripun prajurit-prajur it Surakarta yang saling bertempur itu
menjadi parah sekali. Sehingga perubahan keseimbangan yang terjadi,
benar-benar telah menentukan keseluruhan peperangan itu. Sejenak
kemudian ternyata bahwa pasukan Surakarta tidak dapat bertahan lagi.
Senapati tertinggi didalam pasukan merekapun segera memerintahkan,
pasukan Surakarta tidak lagi bertahan lebih lama. Dan sesaat
kemudian perintah yang diberikan secara rahasia itupun telah beredar
diseluruh kelompok pasukan Surakarta. Merekapun perlahan-perlahan
menguncup dan bersiap untuk melakukan gerakan surut. Sementara
langit menjadi semakin lama semakin buram. Matahari yang menjadi
semakin rendah, cahayanya memerah seperti mata seorang gadis yang
menangisi kekasihnya yang gugur dimedan perang. Ternyata
prajurit-prajurit Surakarta mengambil kesempatan dengan baik. Mereka
bertahan untuk beberapa lama, sehingga matahari benar-benar telah
hilang dibalik cakrawala. Demikian senja menjadi semakin buram, maka
jatuhlah perintah yang sebenarnya dari pimpinan prajurit-prajur it
Surakarta, bahwa sisa pasukan Surakarta dan Kumpeni yang parah,
diperintahkan untuk mundur dan meninggalkan medan. Perintah itu
telah menggerakkan arena dalam keseluruhan. Pertempuran itu
seakan-akan telah mengalir dan bergeser dari tempatnya dengan cepat
Tetapi prajurit Surakarta adalah prajurit-prajurit terlatih. Karena
itu, mereka tidak mundur darimedan seperti segerombolan kanak-kanak
yang ketakutan, lari bercerai-berai. Pasukan Surakarta dan Kumpeni
masih tetap berada dalam kesatuan meskipun tidak lagi berbentuk
gelar perang. Mereka mundur sambil bertempur sesuai dengan kebulatan
pasukannya. Namun pasukan Surakarta dan Kumpeni itupun masih harus
melepaskan korban-korban ber ikutnya disepanjang garis surut. Tetapi
pasukan Pangeran Mangkubumipun tidak luput dari bebanten, Saat-saat
mereka mendesak pasukan Surakarta, masih juga ada pengawal-pengawal
yang harus dilepaskan pergi untuk selama-lamanya. Dalam pada itu,
pasukan Raden Juwir ing dan Buntal harus menyingkir menghindari
gerakan mundur pasukan Surakarta itu. Mereka tidak mempunyai
kekuatan yang cukup untuk menahan, agar prajurit-prajurit Surakarta
itu tetap berada ditempatnya sampai orang terakhir. Sehingga dengan
demikian, justru pasukan Raden Juwir inglah yang harus member ikan
jalan kepada mereka untuk menarik pasukannya. Semakin lama maka
malampun menjadi semakin gelap. Tidak ada seorangpun yang sempat
menyalakan obor dimedan yang mulai menjadi kisruh. Baik prajur it
Surakarta maupun para pengawal dari Pandan Karangnangka dan dari
Sukawati. harus berhati-hati menentukan lawan. Didalam gelap, tidak
mudah untuk segera mengenal, siapakah sebenarnya yang sedang
dihadapinya. Karena itulah, maka Pangeran Mangkubumipun menyadari,
bahwa pasukannya akan menemui kesulitan apabila perang masih terus
dilakukan. Sehari penuh pasukannya telah bertempur melawan
prajurit-prajurit Surakarta yang terlatih baik. Karena itulah, maka
Pangeran Mangkubumipun t idak membiarkan pasukannya kehilangan
banyak korban yang tidakmenentu didalam perang yang gelap. Dan
Pangeran Mangkubumi harus tetap tidak dikejar oleh gejolak
perasaannya saja karena kebenciannya kepada kumpeni. Ternyata
Pangeran Mangkubumi tetap menyadarinya. Meskipun keinginannya untuk
menumpas semua orang asing didalam pasukan Surakarta itu belum dapat
dilaksanakan tetapi Pangeran Mangkubumi mengetahui, bahwa sudah
banyak sekali korban yang jatuh diantara kumpeni. Kesadaran atas
keadaan itulah, yang telah mendorongnya untuk memer intahkan
pasukannya menghentikan pertempuran, dan menarik pasukannya yang
sedang mendesak prajur it-prajurit Surakarta yang sudah kehilangan
tenaga dan tekad. Malam yang gelaplah yang agaknya telah menolong
prajurit-prajurit Surakarta dan Kumpeni yang tersisa. Namun yang
tersisa itupun benar-benar bagaikan seorang prajur it yang telah
kehilangan tangannya. Tidak bertenaga sama sekali. Sedangkan yang
paling parah diantara pasukan Surakarta itu adalah kumpeni.
Demikianlah, maka pasukan Pangeran Mangkubumi itupun akhirnya telah
melepaskan pasukan Surakarta yang bergerak surut. Dengan kecewa
mereka kembali keinduk pasukan karena mereka masih melihat beberapa
orang kumpeni yang sempat melar ikan dir i didalam pasukan Surakarta
itu. Ketika pasukan itu telah berkumpul, barulah mereka sempat mulai
menyalakan obor. Ketika api yang kemerah- merahan menerangi medan,
mereka masih melihat prajurit- prajurit Surakarta; ada diantara
mereka. Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit Surakarta yang
dipimpin oleh Raden Juwiring dan Pangeran Ranakusuma. Dengan
ragu-ragu Raden Juwiringpun kemudian mendekati pamandanya. Sambil
membungkukkan kepalanya dalam-dalam ia berkata "Ampun pamanda.
Ternyata tidak sepadan apa yang sudah aku dapatkan dari tanah ini."
Pangeran Mangkubumi menepuk bahunya sambil berkata "Juwiring, kau
sudah berbuat sebaik-baiknya. Kau telah menunjukkan bakti dan
kesetiaanmu kepada Surakarta melampaui segala-segalanya. Aku sudah
mendengar pula, bahwa kaulah erang yang mendapat kepercayaan untuk
membawa berita penyergapan atas Pandan Karangnangka dan diterima
oleh saudara seperguruanmu Buntal atas perintah Ki Wandawa. Dan kau
telah ikut pula meringkihkan perlawanan Kumpeni dimedan ini. Kau
dapat bertindak tepat pada waktunya tanpa ada pengkhianatan dari
anak buahmu. Dan itu pertanda bahwa kau adalah seorang Senapati yang
ditaati dan berwibawa. Selebihnya, ternyata bahwa kau telah mendapat
bimbingan yang benar. Bukan saja oleh gurumu, tetapi ayahandamupun
telah ikut membentuk kau menjadi seorang pejuang yang baik."
Kata-Kata itu bagaikan mengingatkan Juwir ing kepada ayahandanya.
Karena itu maka katanya "Tetapi aku belum melihat ayahanda. Ketika
pasukan Surakarta mundur, seharusnya ayahanda ikut memberikan
tekanan disayap yang pecah itu" Pangeran Mangkubumi mengerutkan
keningnya. Kemudian memandang prajur it-prajurit Surakarta yang
semula berada di sapit kiri "Dimanakah Senapati pengapit yang telah
membantu kami menghalau kumpeni itu ?" Beberapa orang prajurit
termangu-mangu. Seorang lurah prajurit menjawab "Disaat terakhir
hamba masih melihat Pangeran Ranakusuma bertempur melawan Tumenggung
Sindura, dibantu oleh Pangeran Yudakusuma yang telah terluka."
"Pamanda Yudakusuma terluka?""Ya. Oleh Pangeran Ranakusuma. Tetapi
Pangeran Yudakusuma masih bertempur terus. Kemudian arena
berguncang, sehingga semuanya agak menjadi kacau, sampai saatnya
gelap menyelimut i medan dalam keseluruhan." Wajah Raden Juwiring
menjadi tegang. Sejenak ia mencoba memandang berkeliling. Tetapi
gelap yang pekat bagaikan dinding yang tidak tertembus oleh tatapan
matanya. "Kita lihat dibekas arena pertempuran. Kita cari ditempat
lurah prajurit itu melihat terakhir." "Apakah prajurit-prajurit
Surakarta sempat menangkapnya" desis seorang pengawal Pangeran
Mangkubumi. "Tidak" sahut Juwiring "tidak ada seorangpun yang dapat
menangkap ayahanda, kecuali j ika ayahanda telah gugur
dipeperangan." Pengawal Pangeran Mangkubumi itupun terdiam. Ia
mengerti bahwa tidak mudah menangkap Pangeran Ranakusuma. Dan jika
ada orang yang mampu menangkapnya, maka Pangeran Ranakusuma tentu
tidak akan mudah menyerahkan diri dalam keadaan hidup apabila ia
sudah menentukan sikap seperti yang dilakukannya. Karena itu, maka
yang dapat dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi, para Pangeran yang
lain didalam pasukannya, Juwiring dan prajur it-prajuritnya adalah
mencari Pangeran Ranakusuma. Beberapa orang yang membawa obor telah
mendahuluinya. Mereka menerangi hampir seluruh arena di sayap kiri
gelar supit urang yang telah dipasang oleh pasukan Surakarta. Untuk
beberapa saat mereka mendekati setiap tubuh yang terbaring.
Sekaligus mereka mencar i orang-orang yang terluka, tetapi masih
hidup untuk mendapat perawatan seperlunya. Baik pasukan Pangeran
Mangkubumi maupun prajurit-prajurit Surakarta. Merekalah yang
mendapatperhatian terlebih dahulu daripada tubuh yang telah membeku
dan tidak bernyawa lagi. Meskipun adalah menjadi kuwajiban pula
untuk menguburkan mayat yang gugur dipeperangan dari kedua belah
pihak. Dalam pada itu, seorang prajurit y£ng mendekati tubuh demi
tubuh yang terbaring itu, tiba-tiba berteriak "Pangeran hamba
menemukan Pangeran Ranakusuma" Juwiringlah yang pertama-tama berlari
mendekati orang itu, diikuti oleh orang-orang lain. Seperti yang
dikatakan oleh prajurit itu, sebenarnyalah mereka menemukan tubuh
Pangeran Ranakusuma terbaring ditanah. Namun agaknya Pangeran
Ranakusuma masih bernafas betapa sendatnya. "Ayah, ayahanda"
Juwiring berteriak sambil berlutut disisi tubuh ayahnya. Kemudian
mengangkat kepala ayahnya dan diletakkannya dipangkuannya.
"Ayahanda" desis Juwir ing. Pangeran Ranakusuma membuka matanya.
Dilihatnya dalam keremangan malam, dan kekaburan pandangannya,
beberapa orang mengerumuninya. Cahaya obor yang kemerah-merahan
mengusap wajah-wajah yang tegang yang ada disekitarnya. "Siapa kau"
suara Pangeran Ranakusuma lir ih. "Hamba ayahanda Juwiring.” Nampak
Pangeran Ranakusuma tersenyum. Namun ternyata bahwa keadaannya telah
terlampau lemah. "Ayahanda terluka ?" bertanya Juwiring karena ia
tidak melihat luka ayahandanya sama sekali. Apalagi Juwiring percaya
bahwa peluru kumpeni dan ujung senjata lawannya, tidak mudah dapat
menembus kulit Pangeran Ranakusuma.Pangeran Ranakusuma mengangguk.
Lalu suaranya tersendat-sendat "Siapakah orang-orang itu Juwiring."
Sebelum Juwir ing menjawab, Pangeran Mangkubumi telah berjongkok
pula disisinya. "Kamas, kami telah menghadap." "Siapa ?"
"Mangkubumi." Pangeran Ranakusuma yang lemah itu berusaha mengangkat
kepalanya, tetapi kepala itupun kemudian terkulai lagi di-pangkuan
Juwiring. Sedang dari bibirnya terdengar Pangeran Ranakusuma
berdesis "Adimas. Adimas Mangkubumi." Pangeran Mangkubumi mendekat
sambil menjawab "Ya kamas." "Akhirnya aku meyakini kebenaran
sikapmu. Agaknya kau adalah tumpuan harapan rakyat Surakarta."
Pangeran Mangkubumi bergeser semakin dekat. Katanya "Kamas. Baiklah
kami berusaha untuk menolong kamas. Mungkin diantara pasukan kami
ada seorang tabib yang baik." Tetapi Pangeran Ranakusuma
menggelengkan kepalanya. Katanya "Adimas. Aku kira, sudah tidak ada
lagi kesempatan bagiku untuk sembuh dar i luka ini." "Tetapi
ayahanda tidak terluka." desis Juwiring. Pangeran Ranakusuma
tersenyum. Katanya "Kau tidak melihat lukaku Juwiring. Luka yang
sangat parah. " "Tetapi tidak ada setitik darahpun ditubuh
ayahanda." "Lihatlah pergelangan tanganku" Juwiring termangu-mangu
sejenak. Ia ragu-ragu untuk melihat pergelangan jtangan ayahandanya.
Namun Pangeran Mangkubumi- lah yang kemudian mengangkat tangan itu
dan mengamat-amatinya dengan saksama.Perlahan-lahan kepalanya
terangguk-angguk. Ia melihat luka yang menganga tergores
dipergelangan tangan itu meskipun t idak menitikkan darah. Tetapi
disekitar luka itu nampak warna yang hitam kemerah-merahan seperti
luka bakar. Sementara ditangan Pangeran Ranakusuma nampak noda yang
kebiru-biruan dibeberapa tempat. "Pamanda" suara Juwir ing tersekat
dikerongkongan. "Luka ini agaknya memang berbahaya. Semacam racun
yang keras telah bekerja didalamtubuh kamas Ranakusuma." "Jadi ?"
Pangeran Mangkubumi berpaling, Dengan isyarat ia memanggil seorang
tabib yang memang dibawanya kemedan. Perlahan-lahan tabib itu
mengamat-amati luka ditangan Pangeran Ranakusuma. Sejenak nampak
wajahnya berkerut dalam. Pangeran Ranakusuma berdesis serak "Tidak
ada gunanya lagi kalian mencoba mengobati aku. Racun itu memang
terlampau keras. Racun itu berasal dari sebilah keris yang tidak ada
duanya." "Ayahanda" Juwiring menjadi semakin cemas, "Adimas
Mangkubumi" berkata Pangeran Ranakusuma kemudian "Didekat tubuhku
terbaring ini, terdapat tubuh Tumenggung Sindura yang sakti itu.
Hanya kerisnya sajalah yang dapat melukai kulitku. Namun iapun harus
menebus pula dengan jiwanya. Kami telah sampyuh dimedan setelah aku
berhasil melukai adimas Yudakusuma. Tetapi agaknya adimas Yudakusuma
sempat membebaskan dir inya dari ujung senjataku." "Ya kamas.
Pangeran Yudakusuma sempat menarik diri diantar pasukannya,"Pangeran
Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia
menggeretakkan giginya sambil menggeram "Bagaimana dengan kumpeni?
Aku sudah bertempur mejawan kedua Senapati tertinggi dari Surakarta.
Aku ingin agar pasukanku sempat menghancurkan kumpeni." "Kumpeni
mengalami kerugian yang besar sekali kamas. Mereka hampir musna
dipeperangan ini." "Mereka harus ditumpas." "Ya kamas. Mereka memang
harus ditumpas." Kepala Pangeran Ranakusumapun terkulai lagi dengan
lemahnya. Sementara itu tabib yang melihat lukanya menggelengkan
kepalanya dengan tanpa harapan. Pangeran Mangkubumipun menjadi
tegang melihat keadaan Pangeran Ranakusuma yang semakin lama menjadi
semakin lemah itu. ' "Adimas Pangeran Mangkubumi" berkata Pangeran
Ranakusuma "kenapa hal ini harus terjadi ? Ternyata aku telah
membunuh seorang Senapati besar dari Surakarta. Tumenggung Sindura
dan melukai Senapati yang cerdik, Pangeran Yudakusuma. Aku sendir i
harus mati dipeperangan sebelum aku melihat mayat terakhir dari
kumpeni yang ada di- bumi ini." "Kamas sudah berjuang sebaik-baiknya
bagi tanah ini" berkata Pangeran Mangkubumi. Tetapi Pangeran
Ranakusuma menggelengkan kepalanya. Katanya "Aku hanya mampu saling
berbunuhan dengan kadang sendiri. Adimas. Kau adalah pejuang yang
sebenarnya. Kau berjuang atas sikap dan keyakinanmu." "Kamas juga.
Kamaslah sebenarnya yang telah menentukan kemenangan dibenturan
pertama ini, meskipun agaknya korban cukup besar."Tetapi Pangeran
Ranakusuma menggelengkan kepalanya sambil tersenyum "Tidak adimas.
Aku sama sekali bukan seorang pejuang yang berkeyakinan seperti kau.
Kau benar- benar berjuang atas dasar cita-cita yang luhur bagi tanah
ini. Tetapi jika kita bersikap jujur, aku bertempur karena dendam
pribadi." "Tentu bukan hanya karena itu" potong Pangeran Mangkubumi.
"Baru kemudian tumbuh kesadaran perjuangan itu. Tetapi itupun kurang
berarti. Yang nampak didalam hatiku adalah dendam semata-mata.
Kematian anakku Rudira, dan isteriku yang telah dicemarkan namanya
oleh orang-orang asing dan masih banyak lagi yang dilakukan, telah
membuat aku semakin kuna menjadi semakin muak." Pangeran Ranakusuma
menarik nafas dalam-dalam "tetapi berbeda dengan kau adimas. Kau
sejak semula memang orang pejuang. Aku iri melihat sikapmu itu."
"Kamas harus meyakini. Kamas sudah berjuang pula." Tetapi sekali
lagi Pangeran Ranakusuma menggeleng "Aku adalah orang yang
mendambakan dendam dihati. Tanpa dendam aku t idak akan berbuat
apa-apa. Bahkan mungkin akulah yang harus berhadapan dengan adimas
Pangeran Mangkubumi dipeperangan." "Apapun alasannya kamas, tetapi
kamas telah berbuat sesuatu. Kamas telah berjasa bagi Surakarta,
karena ternyata bahwa dipeperangan yang baru saja terjadi, kumpeni
telah banyak sekali kehilangan. Kehilangan orang-orangnya dan
senjatanya." Pangeran Ranakusuma tersenyum betapapun pahitnya-
Kemudian ia mencoba menggeliat sambil menyeringai. Katanya "Aku
tidak akan dapat bertahan lagi." "Ayahanda" desis Juwir ing.Pangeran
Ranakusuma memandang Juwir ing sejenak, lalu "Juwiring, kau adalah
satu-satunya anak laki-laki. Sepeninggalku, kau akan menggantikan
kedudukanku. Tetapi sudah barang tentu kau t idak akan dapat kembali
ke Surakarta jika kau tidak ingin digantung. Lupakan saja apa yang
ada dirumah kita. Barang-barang mewah yang sebagian justru berasal
dari kumpeni." "Ya ayahanda." "Tetapi dirumah itu ada sesuatu yang
berharga bagi kita. Sangat berharga." "Apa ayahanda. ?" "Warih" "O.
Diajeng Warih" "Ya." "Apakah aku harus mengambilnya ?" Pangeran
Ranakusuma menggelengkan kepalanya. Katanya "Tidak. Ia sudah dibawa
keluar kota. Ia berada di padepokan Jati Aking. Untuk sementara ia
aku t itipkan pula kepada Kiai Danatirta karena aku percaya
kepadanya, karena ia telah menghasilkan anak-anak muda seperti kau
dan Buntal." "Siapakah yang membawanya ke sana?" "Dipanala," suara
Pangeran Ranakusuma menjadi semakin lemah "Juwiring, kau adalah
kakaknya, Kau bertanggung jawab atasnya." "Kamas" desis Pangeran
Mangkubumi yang melihat keadaan kakak seayah itu menjadi semakin
lemah. "Perjuanganmu suci adimas Pangeran Mangkubumi. Kau berhak
meneruskannya. Tetapi aku t idak. Perjuanganku bernoda dendam.
Karena itu namaku tidak pantas disebut bersama namamu. Dan aku lebih
senang j ika namakudilupakan orang, karena setiap disebut namaku,
akan tersirat pula meskipun tidak diucapkan, nama-nama Rudira yang
telah terbunuh oleh kumpeni dan Raden Ayu Sontrang." "Setiap orang
akan menarik batas diantara kamas dan orang lain meskipun keluarga
kamas sendir i." "Itu tidak perlu. Aku sudah merasa puas bahwa
disaat terakhir aku sudah dapat meringankan bebanmu adimas.". suara
Pangeran Ranakusuma terputus. Nampak wajahnya menjadi tegang
"Ayahanda" panggil Juwiring. Pangeran Ranakusuma mengerahkan
tenaganya yang masih tersisa "Juwir ing, salamku buat
saudara-saudara seperguruanmu Buntal dan gadis yang disebut-sebut
sebagai Bunga Dibatu Karang itu." "Mereka ada disini ayahanda."
Pangeran Ranakusuma tersenyum ketika sama-sama nampak Buntal dan
Arum mendekatinya. Perlahan-lahan ia mengangguk, dengan susah payah.
"Ambillah Warih menjadi adikmu. Bukankah kalian sudah
dipersaudarakan dan diangkat anak oleh Kiai Danatirta" desis
Pangeran Ranakusuma kepada Buntal: "Nah, Juwiring, ayahmu kemudian
adalah Kiai Danatirta, Aku tidak akan dapatmenungguimu lebih lama.
Lupakan yang pernah terjadi atasmu dan lupakan pula seorang Pangeran
yang bernama Ranakusuma" "Kamas." desis Pangeran Mangkubumi "Adimas,
perjuanganmu masih panjang Lanjutkan. Kau tentu akan berhasil. "
Pangeran Ranakusuma sudah kehilangan segenap tenaganya. Ia
benar-benar sudah lemah sekali, dan tabib yang sudah berada
disisinya merasa tidak mampu lagi berbuat apa- apa untuk menolongnya
"Aku minta dir i" desisnya "batillah dengan keris yang telah melukai
tanganku. Juwiring, keris itu agaknya masih menuntut korban demi
korban. Karena itu, carilah keris yang bertangkai kayu cangkring.
Labuhlah ker is itu diatas gunung Lawu. Biarlah ker is itu
beristirahat disana untuk selamanya. Mudah- mudahan tidak ada
seorangpun yang akan menemukannya" “Ya ayahanda" jawab Juwir ing.
Tetapi suaranya hampir tidak dapat meluncur dari kerongkongannya
yang terasa panas sekali. Sesaat kemudian, nampaknya Pangeran
Ranakusuma sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Nafasnya
menjadi semakin sendat. Dengan matanya yang buram dipandanginya
orang-orang yang ada disekitarnya. Ketika terlihat olehnya
samar-samar Pangeran Mangkubumi maka btbirnyapun bergerak "Selamat
berjuang adimas." Pangeran Mangkubumi tidak sempat menjawab. Mata
Pangeran Ranakusuma itupun kemudian terpejam, dan dengan sisa
tenaganya ia menggerakkan tangannya bersilang didada. Tidak
seorangpun yang dapat berbuat apa-apa. Pangeran Ranakusumapun
kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ketika nafas itu dilepaskannya,
maka nafas itu adalah nafasnya yangterakhir. Pangeran Ranakusuma
gugur dipangkuan anak laki- lakinya yang pernah disisihkannya dari
istananya. Sejenak rasa-rasanya Juwiring membeku. Tetapi t idak
setitik airpun yang mengembun dimatanya. Betapa kesedihan melanda
jantungnya. Namun Juwir ing adalah seorang prajur it yang berada
dimedan perang yang menunggai ayahandanya, juga seorang prajurit
linuwih yang telah gugur didalam perjuangannya, apapun alasannya.
Tetapi Pangeran Ranakusuma telah berjuang untuk menghancurkan
kumpeni yang mempunyai kedudukan semakin kuat di Surakarta. Pangeran
Mangkubumi kemudian berdiri dengan kepala tunduk. Tetapi gugurnya
Pangeran Ranakusuma telah menjadi cambuk bagi perjuangannya. Sejenak
kemudian. Pangeran Mangkubumi itupun berdesis "Juwiring. Biar lah
para prajurit menyelenggarakan tubuh ayahandamu yang telah
dilepaskannya dalam perjuangan ini. Karena sebenarnyalah ia akan
menjalani hidupnya yang kekal. Tubuh itulah yang justru tidak akan
dapat dipertahankan betapapun tinggi ilmu yang akan dicapai oleh
manusia untuk tetap dapat hidup sebagaimana hidup itu sendiri akan
kekal adanya, didalam satu jaman yang kekal disisi Tuhan Yang Maha
Esa." Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun beringsut
pula, dan menyerahkan wadag yang telah kosong itu kepada para
prajurit yang setia kepada Pangeran Ranakusuma. "Kita tidak akan
dapat terlalu lama berada ditempat ini" berkata Pangeran Mangkubumi
"meskipun menurut perhitungan, Kumpeni dan prajur it Surakarta tentu
tidak akan segera datang mengepung tempat ini, karena keadaan
pasukan mereka. Namun kemungkinan yang demikian, betapapun kecilnya
masih harus diperhitungkan. Pangeran Yudakusuma adalah seorang
Senapati yang trampil dan bertindak cepat. Perhitungannyapun cukup
mantap. Apalagidisampingnya terdapat beberapa orang perwira Kumpeni
yang harus diakui ketajaman perhitungannya atas medan, sebagaimana
pengalaman yang pernah mereka peroleh dalam pengembaraan mereka
melintasi benua dan samodra." "Kamba pamanda." jawab Juwiring sambil
menunduk dalam-dalam. "Karena itu, kita harus segera bersiap-bersiap
meninggalkan tempat ini. Kita akan menarik dir i dengan membawa
semua korban. Sementara itu, bukan berarti bahwa kita sama sekali t
idak berperikemanusiaan jika kita meninggalkan korban lawan dimedan
ini. Karena kitapun percaya, bahwa orang-orang Surakarta dan
prajurit Surakarta yang ada, masih juga mempunyai rasa
perikemanusiaan yang cukup untuk menyelenggarakan tubuh-tubuh yang
terbaring dimedan ini." berkata Pangeran Mangkubumi. "Hamba pamanda"
jawab Juwir ing "namun hamba masih harus melaksanakan pesan
ayahanda. Hamba masih harus mencari tubuh Tumenggung Sindura dan
mengambil keris yang telah membunuh ayahanda itu." Pangeran
Mangkubumi mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Carilah bersama
beberapa orang prajurit. Aku akan mempersiapkan pasukan ini bersama
pembantu-pembantuku dan menentukan langkah selanjutnya. Kau akan
diber i tahu, apa yang harus kita lakukan bersama." Juwiring
mengangguk sambil menjawab "Hamba Pamanda. Jika hamba telah selesai,
maka hamba akan menghubungi pamanda." Pangeran Mangkubumipun
kemudian meninggalkan Juwiring untuk mengatur penarikan pasukannya.
Meskipun pada benturan pertama itu, pasukannya mendapat kemenangan,
namun yang terjadi itu tidak akan dapat dilepaskan dengan dendam
yang membara dihati Pangeran Ranakusuma. Jika Pangeran Ranakusuma
tidak mengambillangkah seperti yang dilakukannya itu, maka yang
dilakukan Pangeran Mangkubumipun akan berbeda. Ia akan melakukan
rencana yang telah disusunnya. Menyerang, kemudian menarik diri,
sementara pasukan dari Sukawati akan menyerang pasukan Surakarta dan
Kumpeni yang akan mengejar pasukan itu. Tetapi yang terjadi tidaklah
demikian. Tanpa diketahui lebih dahulu oleh Pangeran Mangkubumi,
maka Pangeran Ranakusuma telah melakukan satu tindakan yang
menguntungkan pasukan Pangeran Mangkubumi. Tetapi yang terjadi
itupun merupakan satu pengalaman tersendiri bagi Pangeran
Mangkubumi. Dalam pertempuran itu, ternyata korban yang paling besar
adalah justru orang orang Surakarta sendiri. Meskipun Kumpeni
mengalami kerugian yang besar, tetapi masih belum sebesar prajurit
Surakarta. Sawahpun menjadi rusak. Tanaman padi yang sedang saatnya
berbunga itupun menjadi hancur terinjak kaki para prajurit, dan
parit serta pematangpun pecah dan terputus oleh kaki kuda yang
melingkar-melingkar dalam perang yang baru saja terjadi. Sementara
itu dua Senapati besar dar i Surakarta telah sampyuh dimedan.
Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Yang terjadi itu
bukanlah yang dikehendaki. Yang menjadi musuh utama baginya adalah
Kumpeni. Meskipun Kumpeni bertempur bersama prajurit Surakarta,
namun ia harus mencari jalan, bahwa sasaran utamanya adalah Kumpeni.
Pengalaman itu ternyata telah mempengaruhi cara yang dipergunakan
oleh Pangeran Mangkubumi untuk menghadapi Kumpeni di Surakarta.
Sementara itu, selagi Pangeran Mangkubumi mempersiapkan pasukan itu
untuk menarik dir i, sebelumSurakarta mengambil sikap tertentu, maka
Juwiring masih sibuk mencari tubuh Tumenggung Sindura. Akhirnya,
Juwiring dapat menemukannya. Tumenggung Sindura yang terbaring itu
masih menggenggam ker is yang telah tergores ditubuh ayahandanya.
"Inilah keris itu" desis Juwir ing. Buntal dan Arum yang masih
berada dimedan bersama Raden Juwiring itupun menyaksikan, betapa
keris ditangan Tumenggung Sindura itu bagaikan menyala. "Keris yang
menurut ayah, selalu dibayangi oleh dendam" berkata Raden Juwiring
"keris yang sakti ini harus aku labuh sesuai dengan pesan ayahanda
sebelum keris ir i menuntut korban berikutnya dan berikutnya lagi."
Buntal bergeser mendekat. Ia melihat sebilah ker is yang nampaknya
masih belum siap benar. Wilahannya yang kasar dan apalagi hulunya
yang dibuat seolah-olah sekedarnya saja. Namun demikian, oleh mata
wadag, meskipun bagi seseorang yang tidak mengerti sama sekali
tentang ker is dan wesi aj i, akan dapat melihat bahwa keris itu
memiliki sesuatu yang terpancar oleh tuahnya. "Pantas" desis
Juwiring. "Apa ?" bertanya Arum. "Bahwa keris ini berhasil menggores
tangan ayahanda dan bahkan telah menyebabkan ayahanda gugur
dipeperangan ini" jawab Juwiring. Arum mengangguk-angguk. Ia
melihat, betapa keris itu seakan-akan tidak mau terlepas dari tangan
Tumenggung Sindura. Namun akhirnya Juwiring berhasil mengambil keris
itu dari tangan. Tumenggung Sindura. Bahkan kemudian diambilnya pula
wrangka yang terselip dipunggungnya. Namun sepertikeris itu sendir
i, maka wrangkanyapun ternyata sangat sederhana. Bahkan tidak pantas
sebagaimana wrangka keris seorang Senapati besar seperti Tumenggung
Sindura. Namun didalam kesederhanaan ujud itu, ternyata keris itu
adalah keris yang jarang dicari bandingnya. "Mudah-mudahan keris ini
tidak mempengaruhi jiwaku" berkata Raden Juwiring. "Mempengaruhi
bagaimana ?" bertanya Arum. "Keris yang bertuah akan dapat
mempengaruhi mereka yang membawa atau menyimpannya" jawab Raden
Juwiring. Namun kemudian Buntal menyahut "Ya. Wesi aji memang
mempunyai pengaruh tertentu kepada pemiliknya atau orang yang
menyimpannya. Namun hal itu tergantung pula kepada setiap pribadi
yang bersangkutan. Jika pribadi yang bersangkutan cukup kuat dan
mapan, maka tidak akan ada pengaruh yang dapat menggoncangkan
kepribadian itu." "Nah, bukankah begitu" Arum menambahnya "bukankah
ayah pernah berkata bahwa kematangan pribadi akan sangat berarti
bagi perkembangan j iwa kita selanjutnya. Aku kira termasuk
kemungkinan pengaruh wesi aj i seperti yang dikatakan oleh Raden
Juwir ing itu." "Sebut namaku. Bukankah kita bersaudara" desis
Juwiring, Arum menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Juwir ing
berkata "Mudah-mudahan pr ibadiku cukup besar untuk mengatasi
pengaruh keris yang luar biasa milik Tumenggung Sindura dari yang
telah merenggut jiwa ayahanda." "Dengan keyakinan yang teguh" sahut
Buntal. Raden Juwiring mengangguk-angguk. Katanya "Pusaka ini tidak
akan terlalu lama berada ditanganku. Aku harus segera melabuhnya
tanpa diketahui oleh orang lain, sehingga keris ini tidak akan jatuh
ketangan orang yang tidak berhak, yang-akandapat menjadi saluran
dendam yang tersimpan didalam keris ini." Buntal mengangguk-angguk.
Ia mengerti, bahwa Raden Juwiring harus melakukannya dengan baik dan
sangat berhati- hati. Bahkan Raden Juwiringpun harus menjaga, agar
dirinya sendiri tidak terdorong kedalam satu keinginan untuk
nieniiliki pusaka yang jarang ada bandingnya itu. Dalam pada itu,
ternyata Pangeran Mangkubumi telah selesai dengan mengatur
pasukannya. Mereka yang mendapat tugas untuk mengumpulkan para
korbanpun telah selesai pulai Karena itulah, maka Pangeran
Mangkubumipun segera membawa pasukannya meninggalkan medan. Ada juga
terbersit keragu-raguan untuk meninggalkan korban lawan begitu saja.
Namun Rangeran Mangkubumi tidak mempunyai waktu lagi. Iapun masih
tetap memperhitungkan kemungkinan, pasukan Surakarta dan Kumpeni
akan datang dalam kekuatan yang berlipat. Tetapi Pangeran
Mangkubumipun percaya, bahwa hal itu tentu sudah diperhatikan pula
oleh para prajurit Surakarta dan mungkin orang-orang yang berada
dipadukuhan terdekat. Tetapi sudah tentu bukan. Pandan Karangnangka
yang telah kosong. Karena itulah, maka sejenak kemudian pasukan
Pangeran Mangkubumipun membawa pasukannya ketempat yang sudah
ditentukan, yang hanya diketahui oleh beberapa orang terpenting
saja. Namun dalam pada itu, pasukan Pangeran Mangkubumi justru telah
bertambah. Para prajurit Surakarta yang semula berada dibawah
pimpinan Pangeran Ranakusuma dan sebagian dari pasukan berkuda yang
berada dibawah pimpinan Raden Juwiringpun telah berada didalam
pasukan Pangeran Mangkubumi."Kita sudah melangkah" berkata Pangeran
Mangkubumi "kita tidak akan dapat surut lagi." Dengan demikian, maka
setiap orang yang telah menempatkan diri kedalam pasukan Pangeran
Mangkubumipun menyadari, bahwa peperangan demi peperangan akan
terjadi. Pertempuran-pertempuran yang seru masih akan menunggu
kapanpun. Dalam pada itu, yang menjadi angan-angan Buntal adalah
justru padepokan Jati Aking. Mungkin para Senapati di Surakarta dan
para perwira Kumpeni yang cerdas, akan sempat mengurai peristiwa
yang baru terjadi. Didalam pasukan Surakarta, Pangeran Ranakusuma
telah memberontak bersama anaknya Raden Juwiring. Sementara Raden
Juwiring mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Jati Aking.
Tidak mustahil, bahwa para perwira di Surakarta dan para perwira
Kumpeni pada akhirnya dapat mengambil satu kesimpulan bahwa jalur
yang telah membocorkan rencana Surakarta dan Kumpeni menyerang
Pandan Karangnangka adalah Pangeran Ranakusuma lewat puteranya Raden
Juwiring yang menyampaikan berita itu melalui Padepokan Jati Aking.
Karena itu, didalam perjalanan meninggalkan bekas arena itu Buntal
berbisik kepada Raden Juwiring "Apakah kita tidak berusaha untuk
mengamankan Jati Aking ?" "Maksudmu ?"bertanya Raden Juwiring.
Buntalpun kemudian menguraikan pendapatnya tentang
kemungkinan-kemungkinan itu. Lalu katanya "Bukankah Rara Warih
berada di Jati Aking pula ?" "Ya" sahut Juwiring. "Jika hal itu
diketahui, oleh para petugas sandi dari Surakarta, maka mungkin akan
dapat membahayakan keadaannya dan seluruh isi padepokan."Raden
Juwiring mengangguk-angguk. Iapun menyadari bahwa kemungkinan
seperti yang dikatakan oleh Buntal itu akan dapat terjadi. Karena
itu, maka iapun bertanya "Bagaimana menurut pertimbanganmu Buntal ?"
"Kita pergi ke Jati Aking. Kemudian kita akan menyusul pasukan
Pangeran Mangkubumi." jawab Buntal. Raden Juwiring
mengangguk-angguk. Lalu katanya "Baiklah. Aku akan mohon ijin
pamanda Pangeran. Jika pamanda Pangeran mengij inkan, aku
sependapat, bahwa Warihpun harus diselamatkan disamping ayah
Danatirta sendiri." "Demikianlah menurut pertimbanganku" sahut
Buntal. Raden Juwiringpun kemudian menghadap pamanda Pangeran
Mangkubumi untuk menyampaikan permohonannya, agar ia diperkenankan
untuk melihat keadaan adik perempuannya lebih dahulu. Pangeran
Mangkubumi berpikir sejenak. Kemudian katanya "Bertemulah dengan Ki
Wandawa. Katakan niatmu dan katakan pula kepadanya, bahwa kau sudah
menyampaikan permohonan itu kepadaku." "Hamba pamanda" sahut Raden
Juwiring. Iapun mengerti, bahwa dalam beberapa hal yang menyangkut
persoalan sandi dan pengamanan ada pada Ki Wandawa, sehingga karena
itu, maka Raden Juwiringpun segera menemui Ki Wandawa yang berjalan
tidak terlalu jauh dibelakang Pangeran Mangkubumi. "Raden akan pergi
bersama kedua anak Jati Aking itu ?" bertanya Ki Wandawa. "Ya
paman." jawab Juwiring. "Baiklah. Jika Raden akan pergi ke Jati
Aking, aku persilahkan segera. Kemungkinan seperti yang
Radencemaskan itu memang dapat terjadi. Karena itu, daripada Raden
akan datang bersama petugas sandi dar i Surakarta, lebih baik Raden
datang lebih dahulu. Menurut pendapatku, Padepokan itu memang harus
diselamatkan seperti yang Raden maksudkan." Raden Juwiring tidak
kembali lagi kepada pamandanya, karena Ki Wandawa sudah mengatakan,
bahwa ia sendir ilah yang akan menyampaikannya kepada Pangeran
Mangkubumi. Karena itulah, setelah Raden Juwir ing menyerahkan
pasukannya bekas sebagian dari Pasukan berkuda, kepada Ki Wandawa
agar ditunjuk pimpinan yang akan menggantikan untuk sementara, maka
Raden Juwiringpun mohon diri bersama Buntal dan Arum, untuk pergi ke
Jati Aking, karena menurut Pangeran Ranakusuma, sesaat sebelum
segalanya terjadi, Warih telah diserahkan kepada Ki Dipanala untuk
dibawa ke Padepokan Jati Aking. "Hati-hatilah" pesan Ki Wandawa
"keadaan sudah menjadi semakin gawat. Tentu akan terjadi semacam
perlombaan, siapakah yang bertindak cepat aritara pasukan Surakarta
bersama Kumpeni dan pasukan Pangeran Mangkubumi. Selain itu, akan
terjadi pula pacuan ketajaman penglihatan dan kecerdasan nalar
antara para petugas sandi dari kedua belah pihak, karena hal itu
akan ikut menentukan akhir dari setiap peristiwa." "Terima kasih"
jawab Raden Juwir ing "aku mohon restu. Mudah-Mudahan yang akan
terjadi selalu berada dibawah perundungan Tuhan Yang Maha Esa."
Demikianlah, ketiga orang itupun segera meninggalkan pasukan
Pangeran Mangkubumi. Mereka mengambil arah memintas langsung menuju
ke padepokan Jati Aking. Seperti pesan Ki Wandawa, mereka harus
segera sampai ke padepokan itu sebelum justru para prajurit
Surakartalah yang datang lebih dahulu.Ketiga anak-anak muda itu
berpacu dengan kecepatan tinggi. Disepanjang jalan, beberapa orang
petani melihat dengan hati yang berdebar-debar. Mereka telah
mengetahui, bahwa baru saja terjadi perang yang mengerikan. Beberapa
orang yang melihat peristiwa itu pada sisa-sisanya di pagi hari,
telah mencer iterakan hal itu kepada setiap orang yang dijumpainya.
Dengan demikian maka berita itu segera meloncat dari mulut kemulut,
merayap keseluruh daerah yang luas. Tetapi ketiga anak-anak muda itu
tidak menghiraukannya. Bahkan semakin lama kuda mereka seolah-olah
berlari semakin cepat menuju ke padepokan Jati Aking. Dalam pada
itu, seperti yang dikatakan oleh Pangeran Ranakusuma. Warih memang
sudah berada di padepokan Jati Aking. Ki Dipanala yang mendapat
tugas untuk mengantarkannya, telah menyerahkan gadis itu kepada Kiai
Danatirta demi keselamatannya. "Lalu, apa yang akan kau lakukan Ki
Dipanala ?” bertanya Kiai Danatirta. "Aku tidak tahu apa yang
sebaiknya aku lakukan. Aku tidak akan berani kembali keistana
Ranakusuman lagi, justru setelah peristiwa itu terjadi. Meskipun aku
belum tahu, bagaimanakah akhir dari peristiwa yang tentu akan sangat
mendebarkan itu. namun aku sudah dapat membayangkan bahwa istana
Ranakusuman akan ditutup oleh Kumpeni." "Bagaimana dengan keluargamu
?" bertanya Kiai Danatirta. “Aku sudah membawa mereka pergi sehari
sebelumnya" jawab Ki Dipanala "mereka berada didesa terpencil tempat
asalnya." Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun kemudian
katanya"Tetapi bagaimana menurut pertimbanganmu tentang padepokan
kecil ini." Ki Dipanala menar ik nafas dalam-dalam. Karena Rara
Warih berada didalam, maka Ki Dipanalapun kemudian berkata "Pangeran
Ranakusuma telah memilih jalan yang paling dekat. Bersama Raden
Juwiring ia telah menentukan sikap. Karena itu, maka memang tidak
mustahil, bahwa padepokan ini akan berada dalam putaran perhitungan
para perwira prajur it Surakarta dan Kumpeni. Mereka tentu akan
menghubungkan dengan masa lampau Raden Juwiring. Ia pernah berada
dipa depokan ini. Dengan demikian, maka penghianatan Pangeran
Ranakusuma menurut pendapat mereka, tentu disalurkan lewat anak
laki- lakinya dan hubungan itu akan dilakukan melalui padepokan
ini." Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya "Kita akan menunggu
hasil dari pertempuran yang tentu sudah berlangsung atau bahkan
masih berlangsung pagi ini. Mungkin Pasukan Pangeran Mangkubumi ikut
terlibat kedalam pertempuran itu, tetapi jika Pangeran Mangkubumi
telah meninggalkan padukuhan itu, dan tidak melihat apa yang
terjadi, maka kemungkinan yang paling pahit akan terjadi atas
Pangeran Ranakusuma dengan seluruh pasukannya." Kiai Danatirta
menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian "Tetapi aku kira
Pangeran Mangkubumi masih meninggalkan sebagian pasukannya
seandainya ia benar- benar meninggalkan dan mengosongkan padukuhan
itu. Namun menurut perhitunganku, Pangeran Mangkubumi akan
mempergunakan cara yang terbiasa dikatakan dan dalam latihan-latihan
dipergunakan, adalah cara menyerang dan kemudian menghilang. Dengan
pasukan kecil, Pangeran Mangkubumi akan berhasil menjatuhkan korban
yang cukup besar." "Jika masih ada Pasukan Pangeran Mangkubumi
ditempat itu, mungkin keadaan akan berbeda. Mungkin
PangeranRanakusuma dan pasukannya akan mendapat bantuan betapapun
kecilnya." Kedua orang tua itu mengangguk-angguk. Namun dalam pada
itu, Kiai Danatirta berkata "Jika demikian, maka bukankah sebaiknya
kita mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan ?" "Sudah
tentu" jawab Ki Dipanala "tetapi apa yang dapat kita lakukan selain
menyelamatkan dir i. Jika beberapa utusan sandi datang kemari dan
menangkap kita, maka apakah kita akan dapat mengelak?" "Jika yang
datang hanya satu atau dua orang saja, kenapa kita harus bercemas
hati ?" bertanya Ki Danatirta pula "Jika yang datang sepuluh orang
dan terpilih pula. Apakah para cantrik akan dapat berbuat sesuatu ?"
desis Ki Dipanala. Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Lalu katanya
"Jalan yang paling baik memang menghindar. Apakah kita akan
meninggalkan padepokan ini ?" Kiai Dipanala menarik nafas
dalam-dalam. Katanya "Tetapi Kiai memang harus mengambil
langkah-langkah tertentu." Kiai Danatirta menyadari gawatnya
keadaan. Memang tidak mustahil, bahwa para perwira di Surakarta akan
melihat padepokan ini sebagai salah satu tempat yang menjadi jalur
hubungan antara orang-orang dalam dengan mereka yang dianggap telah
memberontak, justru karena sikap Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwir
ing yang diketahui pernah tinggal dipadepokan ini." Karena itu, maka
Kiai Danatirtapun berkata "Baiklah. Aku akan memberitahukan kepada
para cantrik, untuk sementara biarlah mereka kembali kerumah
masing-masing. Padepokan ini memang harus dikosongkan." "Lalu, Kiai
Danatirta sendir i akan pergi kemana ?" bertanya Ki Dipanala.Kiaj
Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku tidak tahu. Tanpa
putri yang diserahkan oleh Pangeran Ranakusuma, aku akan dapat
mencar i tempat untuk diri sendiri. Aku dapat menemui Kiai
Sarpasrana dan berada didalam lingkungannya. Tetapi dengan Putri
Warih, aku harus mendapatkan tempat yang baik dan terlindung. Tidak
mustahil bahwa Kumpeni akan berbuat licik dengan menangkap putri itu
untuk dipergunakan sebagai jaminan, agar Raden Juwiring menyerahkan
diri." "Memang mungkin sekali" berkata Ki Dipanala. "Aku akan
memikirkannya kemudian" desis Ki Danatirta "sekarang, aku akan
memanggil para cantrik dan memberi kesempatan kepada mereka untuk
meninggalkan padepokan ini." "Silahkan Kiai" jawab Ki Dipanala
"sementara itu, mungkin ada pikiran yang baik bagi Kiai Danatirta."
Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bangkit dan
melangkah dengan langkah lesu keruang belakang. Seorang cantrik yang
kebetulan lewat dipanggilnya. Katanya "Panggillah kawan-kawanmu. Aku
ingin berbicara dengan kalian semuanya." Cantrik itu termangu-mangu.
Namun kemudian iapun melangkah surut. Kawan-kawannyapun menjadi
heran. Nampaknya ada persoalan yang sangat penting yang akan
disampaikan, kepada mereka. Biasanya Kiai Danatirta tidak pernah
bersikap demikian sungguhi dan rasa-rasanya bahkan agak menyimpang
dari kebiasaannya. Tetapi para cantrik itupun akhirnya berkumpul
pula. Bahkan rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menunggu, apa yang
akan dikatakan oleh Kiai Danatirta itu.Namun akhirnya, dengan hati
yang berdebar-debar para cantrik itu mendengar, betapa gawatnya
keadaan. Dengan hati-hati Kiai Danatirta berusaha untuk menjelaskan
"Persoalannya tidak menyangkut kalian masing-masing. Tetapi
sebaiknya kalian memaklumi. Keadaan tidak menentu sekarang ini akan
dapat menyulitkan kalian. Karena itulah, maka untuk sementara, aku
anjurkan, agar kalian pulang kerumah masing-masing. Sudah barang
tentu hanya untuk sementara. Pada saatnya, aku akan memanggil kalian
kembali kepadepokan” Para cantrik itu menjadi semakin gelisah.
Tetapi merekapun sudah mendengar kemelut' yang terjadi di Surakarta.
Namun mereka t idak mengetahui dengan jelas, hubungan yang langsung
antara kemelut itu dengan padepokan mereka, sehingga mereka harus
meninggalkannya. Tetapi merekapun menyadari, seandainya tidak ada
masalah yang sangat penting, maka Kiai Danatirta tentu tidak akan
memperlakukan mereka demikian. Karena para cantrik itu nampaknya
masih saja termangu- mangu, maka Kiai Danatirta itupun berkata
"Jangan menjadi bingung atau kehilangan pegangan. Keadaan memang
menghendaki demikian. Pada saatnya semuanya akan lampau. Dan kalian
akan berada dipadepokan ini kembali dengan damai." "Kapan Kiai ?"
bertanya seorang cantrik. Kiai Danatirta tersenyum. Jawabnya "Aku
tidak dapat menjawab. Tetapi kita akan berdoa bersama-sama, agar
saat itu segera akan datang." Kecewa dan gelisah membayang disetiap
wajah para cantrik. Namun Kiai Danatirta menekankan "Untuk
kepentingan kalian, segeralah bersiap. Kalian tidak mempunyai waktu
banyak. Hari ini kalian harus sudah meninggalkan padepokan kecil
ini."Dengan demikian, betapapun perasaan kecewa menghentak dada para
cantrik, namun merekapun segera kembali ke bilik masing-masing.
Mereka mempersiapkan barang-barang milik mereka yang pada umumnya
tidak banyak. Hanya beberapa lembar pakaian yang mereka pergunakan
dalam kehidupan mereka yang sederhana di padepokan itu. Sementara
para cantrik mengemasi barang-barangnya, Kiai Danatirta jtelah
berada kembali di pendapa. Dengan sungguh- sungguh ia masih saja
berbincang dengan Ki Dipanala tentang kemungkinan-kemungkinan yang
bakal datang. Dalam pada itu, tiba-tiba saja Rara Warih muncul
dengan ragu-ragu kependapa. Dengan tatapan mata yang penuh
pertanyaan dipandanginya Kiai Danatirta dan Ki Dipanala
berganti-ganti. "Marilah puteri, apakah ada sesuatu yang ingin
puteri katakan kepada kami ?" bertanya Kiai Danatirta. Rara Warih
termangu-mangu. Namun kemudian terloncat pertanyaannya "Kiai, apakah
para cantrik akan pergi meninggalkan padepokan ini ?"
-
Jilid 21 KIAI DANATIRTA memandang
Rara Warih sekilas. Namun kemudian iapun menarik nafas sambil
berpaling kepada Ki Dipanala. “Katakan Kiai” desis Ki Dipanala
“sudah saatnya puteri melihat kenyataan di sekitarnya” Kiai
Danatirta beringsut sejenak. Lalu katanya “Silahkan duduk puteri.
Mungkin ada beberapa keterangan yang perlu puteri ketahui” Rara
Warihpun melangkah mendekat dan kemudian duduk di sebelah Ki
Dipanala. Tatapan matanya yang memancarkan kegelisahan dan seribu
macam pertanyaan membuat Kiai Danatirta justru termangu-mangu.
Nampaknya tatapan matanya itu begitu bersih dan jujur. Sesaat Kiai
Danatirta justru terdiam. Ketika ia memandang Ki Dipanala, orang
itupun sedang menundukkan kepalanya. Terasa betapa beratnya untuk
mengatakan kebenaran tentang keadaan Surakarta dalam keseluruhan
kepada Rara Warih.Namun sebaiknya gadis itu mengetahui, apa yang
sedang berkecamuk dan bahkan telah mulai membakar Surakarta.
“Puteri” berkata Kiai Danatirta kemudian “para cantr ik memang akan
meninggalkan padepokan ini” “Kenapa Kiai?“ bertanya Warih. Namun
Kiai Danatirtapun telah menduga, bahwa Rara Warih telah dapat
menjajagi peristiwa yang mungkin bakal terjadi. Meskipun Rara Warih
termasuk seorang gadis yang manja sebelumnya, tetapi ia adalah
seorang gadis yang cerdas. Karena itu, maka Kiai Danatirtapun
menjawab “Puteri. Mungkin Puteri telah dapat menduga, apa yang dapat
terjadi atas padepokan ini dalam kemelut yang semakin panas dan
mulai menyala di Surakarta ini. Padepokan ini adalah padepokan yang
pernah menjadi tempat tinggal Raden Juwiring” Rara Warih menundukkan
kepalanya. Namun terdengar desis lembut “Aku kurang mengerti Kiai,
apakah yang sudah dilakukan oleh ayahanda dan kakanda Juwiring dalam
pergolakan sekarang ini” Kiai Daniatirta menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Puteri telah dibebaskan dari persoalan itu dengan membawa
puteri kemari. Tetapi menurut perhitungan kami di sini, maka kamipun
harus mengambil satu sikap” “Kenapa dengan padepokan ini Kiai?“
bertanya Warih. “Kakanda puteri, Raden Juwiring, pernah tinggal di
padepokan ini. Puteri, pagi ini perang telah mulai berkobar. Tetapi
kumpeni tentu mendapat kesan, bahwa telah terjadi pengkhianatan dari
antara pemimpin prajur it Surakarta sendiri. Dan kemudian akan
ternyata bahwa Raden Juwiring telah dengan sengaja menyusup di
antara prajurit berkuda di Surakarta, namun dalam keyakinan yang
tetap, yaitu untuk mengusir kumpeni dari Tanah ini” jawab Kiai
Danatirta,“Ya Kiai. Aku sudah menduga, bahwa kakanda Juwiring akan
bersikap demikian. Bahkan meskipun aku tidak pasti, tetapi menurut
pengamatanku, sikap itu sudah diketahui oleh ayahanda” sahut Rara
Warih. “Ya puteri. Tetapi apakah puteri mengetahui sikap ayahanda
puteri?“ bertanya Kiai Danatiijta. Rara Warih ragu-ragu sejenak.
Namun kemudian ia menjawab sambil menggeleng “Aku tidak yakin.
Tetapi kebencian ayah kepada kumpeni pada akhirnya akan membakar
jantungnya” “Tepat puteri” berkata Kiai Danatirta kemudian “dan
semuanya itulah yang kami pertimbangkan di sini, sehingga padepokan
ini harus dikosongkan. Apalagi j ika ada petugas sandi yang
mengetahui, bahwa puteri ada di sini” Rara Warih mengangguk kecil.
Sementara Kiai Danatirta melanjutkan “Kita masih belum mengetahui
dengan pasti hasil terakhir dari pertempuran yang terjadi. Kitapun
tidak tahu pasti, apakah Pangeran Mangkubumi akan meninggalkan
padukuhan itu sepenuhnya, atau akan melakukan perlawanan dengan
caranya” Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara rendah
ia berkata “Aku mengerti Kiai. Dan akupun mengerti, kenapa padepokan
ini harus dikosongkan. Itukah agaknya maka para cantrik harus
meninggalkan padepokan ini” “Benar puteri. Dan kami berduapun sedang
memikirkan apakah yang sebaiknya kami lakukan. Kami berdua dan sudah
barang tentu puteri" sendiri, juga harus meninggalkan padepokan ini”
berkata Kiai Danatirta. Rara Warih menunduk sambil bergumam lirih
“Aku hanya dapat membuat orang lain menjadi sibuk dan kesulitan”
“Tidak. Bukan begitu puteri” sahut Kiai Danatirta dengan serta merta
”Dalam keadaan seperti ini, maka kita semua akanmenjadi sibuk.
Seandainya puteri tidak berada di sinipun, kami tentu sudah membuat
pertimbangan-pertimbangan serupa sehingga akupun merasa wajib untuk
menyelamatkan para cantrik” “Terlebih-lebih setelah aku berada di
sini” desis War ih. “Itu sudah menjadi kewaj ibanku, puteri“
Dipanalalah yang menyahut “tugasku tidak terlalu berat jika
dibandingkan dengan tugas kakanda puteri, Raden Juwiring, yang harus
hadir di medan dengan dua wajah. Demikian pula ayahanda puteri.
Pangeran Ranakusuma dan prajurit-prajurit yang setia di dalam
pasukannya” Rara Warih menundukkan kepalanya semakin dalam.
Terbayang dua orang anak muda yang pernah tinggal bersama kakandanya
di padepokan ini, yang menurut pendengarannya telah menyatukan diri
dengan pasukan Pangeran Mangku-bumi, seperti juga yang dilakukan
oleh kakandanya, namun dengan cara yang berbeda. Sementara itu, para
cantrikpun telah selesai mempersiapkan diri. Mereka telah berkumpul
di pendapa untuk minta dir i kepada Kiai Danatirta. “Baik-baiklah di
perjalanan” berkata Kiai Danatirta “mungkin kalian akan bertemu
dengan pasukan yang manapun juga. Kalian tidak per lu gelisah. Jika
mereka bertanya kepada kalian, katakan bahwa kalian sedang menempuh
perjalanan pulang, setelah kalian beberapa lama berada di rumah
sanak kadang. Jika tidak terpaksa, jangan sebut padepokan Jati
Aking. Nama padepokan ini mungkin akan menyulitkan kalian. Para
cantrik mulai mengerti akan kedudukan padepokan itu. Karena itu,
maka merekapun menyadari, bahwa yang dilakukan oleh Kiai Danatirta
adalah semata-mata bagi keselamatan mereka semuanya.Kiai Danatirta
masih memberikan beberapa pesan kepada para cantrik itu. Baru
kemudian iapun-berkata “Nah, aku tidak dapat member ikan bekal
apapun juga dalam keadaan seperti sekarang ini. Mudah-mudahan kalian
selamat di perjalanan sampai ke tempat keluarga kalian
masing-masing. Sampaikan salamku kepada orang tua kalian, dan aku
mohon maaf, bahwa aku tidak dapat mengantarkan kalian masing-masing.
Sebenarnya aku ingin menyiapkan kalian untuk membantu perjuangan
Pangeran Mangkubumi, tetapi waktunya terlalu sempit, sehingga kalian
belum siap untuk langsung turun ke medan. Karena itu, kembalikan
kepada keluarga kalian. Mungkin ada yang dapat kalian lakukan di
padukuhan kalian masing-masing” Betapa beratnya, namun para cantrik
itupun kemudian mohon dir i meninggalkan padepokan itu. Rasa-rasanya
kaki mereka t idak mau melangkah lagi, ketika mereka sudah berada di
regol padepokan. Ada semacam kecintaan yang sulit untuk di
tanggalkan terhadap isi padepokan itu. Tanaman yang hijau segar,
Buah-buahan dan terbersit pula di dalam hati mereka, siapakah yang
akan memelihara ternak dan binatang peliharaan yang terdapat di
padepokan itu? “Apakah Kiai Danatirta akan menggembalakan kambing
dan menaburkan makanan bagi ayam dan itik?“ bertanya para cantrik
itu di dalam hatinya. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain.
Keadaan Surakarta dalam keseluruhan menuntut mereka menyelamatkan
dir i dari tangan kumpeni atau orang-orang yang telah berkiblat
kepada mereka. Sementara itu, sepeninggal para cantrik. Kiai
Danatirta dan Ki Dipanala telah merencanakan untuk berbuat sesuatu
bagi keselamatan binatang peliharaan di padepokan itu. Kiai
Danatirta berniat untuk membagi saja kambing, itik dan ayam kepada
orang-orang di padukuhan sebelah. Dengan demikian,maka binatang itu
akan tetap terpelihara, sementara orang- orang padukuhan itupun akan
berterima kasih kepadanya. “Ki Dipanala” berkata Kiai Danatirta
kemudian “semuanya harus kita lakukan dengan segera. Baru kemudian,
kita akan meninggalkan padepokan ini juga” “Apakah Kiai sudah
mempunyai satu gambaran yang pasti, kemanakah Kiai akan pergi?“
bertanya Ki Dipanala. “Aku belum menentukan. Tetapi tujuan kita yang
pertama, dan untuk sementara kita akan dapat tinggal, adalah
padepokan saudara sepupuku. Padepokan Karangsari. Kita akan tinggal
untuk sementara. Dan aku yakin, bahwa tidak ada orang yang akan
menelusuri kita sampai ke padepokan yang kecil dan terpencil itu”
jawab Kiai Danatirta “selama itu, aku akan mencari hubungan dengan
Raden Juwir ing yang berada di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi
atau dalam kedudukan yang khusus. Jika Raden Juwir ing masih belum
bergabung dengan pasukan Pangeran Mangkubumi, maka aku akan dapat
berhubungan dengan Buntal atau Kiai Sarpasrana” Ki Dipanala
mengangguk-angguk. Lalu katanya “Baiklah. Jika demikian, marilah.
Kita akan menyerahkan ternak itu. Apakah kita mengundang orang-orang
yang akan kita serahi, atau kita akan mengantarkan kepada mereka.
Sementara puteri sempat berkemas sehingga kitapun akan segera dapat
berangkat” Namun dalam pada itu, selagi Kiai Danatirta membicarakan
kemungkinan yang paling baik untuk membagi ternak dan hewan yang ada
di padepokan itu, mereka telah terkejut oleh derap kaki kuda
mendekati gerbang padepokan. Dengan tergesa-gesa Kiai Danatirta
berdesis “Masuklah puteri” Warihpun mengerti. Karena itu, maka iapun
dengan cepatnya menyelinap memasuki pintu pr inggitan dan hilang di
ruang dalam.Kiai Danatirta dan Ki Dipanala tetap duduk di pendapa.
Meskipun debar jantungnya mereka menjadi semakin cepat, seperti
derap kaki kuda yang semakin dekat. Namun mereka nampaknya masih
tetap tenang. Sejenak kemudian, beberapa ekor kuda dengan
penunggangnya telah memasuki halaman padepokan. Ternyata denyut
jantung kedua orang itu seakan-akan telah berhenti, ketika mereka
melihat orang-orang yang dengan wajah yang garang menarik kekang
kuda mereka di halaman. Para penunggang kuda itupun segera
berloncatan. Dengan tergesa-gesa mereka menambatkan kuda mereka pada
patok- patok yang memang disediakan. Tetapi karena jumlah kuda itu
lebih banyak dari patok-patok yang ada. maka sebagian dari kuda-kuda
itu telah ditambatkan pada batang-batang perdu yang ada di halaman
itu. Kiai Danatira dan Ki Dipanalapun saling berpandangan sesaat.
Namun merekapun kemudian bangkit berdiri menyongsong orang-orang
berkuda yang kemudian berdiri tegak di halaman. Kiai Danatirta dan
Ki Dipanala yang sudah berada di halaman itupun mengangguk hormat.
Dengan suara dalam Kiai Danatirta berkata “Marilah Ki Sanak. Aku
persilahkan Ki Sanak semuanya naik ke pendapa” Orang yang nampaknya
menjadi pemimpin sekelompok orang-orang berkuda itu maju beberapa
langkah mendekati Kiai Danatirta dan Ki Dipanala. Dengan suara parau
ia bertanya “Apakah aku berhadapan dengan Kiai Danatirta?“ “Ya. Ki
Sanak memang berhadapan dengan Kiai Danatirta” jawab Kiai Danatirta
dengan hati yang berdebar-debar “tetapi silahkan. Mungkin Ki Sanak
memang mempunyai kepentingan dengan aku?““Terima kasih Kiai” jawab
orang itu. Lalu katanya “Baiklah aku langsung pada persoalannya.
Waktuku hanya sedikit” “Apakah ada sesuatu yang penting sekali?“
bertanya Kiai Danatirta. “Ya. Memang pent ing sekali” jawab orang
itu “sebelumnya, baiklah aku memperkenalkan dir i. Kami sekelompok
ini, adalah kelompok prajurit berkuda dari Surakarta. Kami sengaja
tidak mempergunakan tanda-tanda keprajuritan agar, tidak terlalu
menarik perhatian” “O, jadi Ki Sanak dar i pasukan berkuda di
Surakarta?“ bertanya Kiai Danatirta. “Ya. Dan kami mengemban tugas
dari pimpinan kami untuk berbicara langsung dengan Kiai Danatirta”
berkata pemimpin prajurit berkuda itu. “Baiklah. Marilah silahkan
duduk” Kiai Danatirta mempersilahkan. Tetapi sekali lagi orang itu
menolak. Katanya “Terima kasih. Waktuku hanya sedikit. Aku datang
untuk bertanya tentang Raden Juwiring” “O, kenapa dengan Raden
Juwiring?“ bertanya Kiai Danatirta. “Kau tentu sudah tahu. Apa yang
dilakukan oleh Raden Juwiring dan ayahandanya, Pangeran Ranakusuma,
Raden Juwiring adalah mur id padepokan ini. Banyak yang dapat aku
tuduhkan kepadamu Kiai. Tetapi sebaiknya tidak sekarang. Marilah,
ikut aku ke Surakarta jika Raden Juwir ing sekarang tidak berada di
tempat ini” “Ki Sanak” berkata Kiai Danatirta “berita yang Ki Sanak
bawa benar mengejutkan aku. Aku memang tidak mengetahui apapun juga.
Raden Juwiring telah lama tidak berada di padepokan ini. Sejak
adindanya yang bernama Raden Rudira itu meninggal, Raden Juwiring
telah diambil kembali olehayahandanya. Sejak itu. ia tidak pernah
datang lagi ke padepokan ini” “Katakanlah kepada para perwira tinggi
di Surakarta. Mungkin Kiai juga akan berurusan dengan perwira
kumpeni yaug bertugas di Surakarta. Jangan kau katakan apapun juga
kepadaku” jawab pemimpin dar i sekelompok pasukan berkuda yang tidak
mengenakan cir i-cir i keprajuritan itu. Kiai Danatirta menarik
nafas dalam-dalam. Dengan suara berat ia berkata “Ki Sanak. Aku
mempunyai pekerjaan yang cukup banyak di padepokan ini. Agaknya
sulit bagiku untuk meninggalkan padepokan ini meskipun hanya satu
hari saja” “Kiai Danatirta” berkata pemimpin prajurit berkuda itu
“seharusnya Kiai sudah mengetahui bahwa Kiai tidak dapat menjawab
seperti itu. Sibuk atau tidak sibuk. Mau atau tidak mau. Kiai harus
ikut aku ke Surakarta. Katakan segala sesuatu tentang Raden
Juwiring, Dan barangkali kau dapat juga mengatakan, bahwa padepokan
ini menjadi tempat pertemuan antara Raden Juwiring yang membawa
berita dari ayahandanya bagi Pangeran Mangkubumi yang sudah jelas
memberontak terhadap Kangjeng Susuhunan” “Ki Sanak” potong Kiai
Danatirta “Apakah yang kau katakan itu? Aku tidak mengerti sama
sekali apa yang kau maksud” “Sudahlah” sahut pemimpin pasukan
berkuda itu “cepatlah berkemas. Aku masih mempunyai banyak tugas”
Kiai Danatirta termangu-mangu sejenak. di luar sadarnya ia telah
menghitung jumlah kuda yang terikat di halaman itu. “Sepuluh”
desisnya bagi diri sendiri ”Betapa beratnya menghadapi sepuluh orang
sekaligus. Tetapi agaknya akan lebih baik daripada harus menghadap
ke Surakarta” Namun Kiai Danatirta tidak melupakan Rara Warih. Ia
tidak boleh jatuh ke tangan prajurit berkuda, yang pernah menjadi
kesatuan kakandanya yang dianggap memberontak. Jika RaraWarih jatuh
ke tangan mereka, maka orang-orang itu akan dapat memaksa Raden
Juwiring untuk menyerah. Karena itu, maka Kiai Danatirtapun berniat
untuk memberi kesempatan kepada Rara Warih untuk menghindar. Jika
terjadi benturan kekuatan, siapapun yang akan binasa, maka
prajurit-prajurit itu tentu akan mencari siapapun yang ada di dalam.
padepokan ijtu. Karena itu, maka Kiai Danatirtapun berkata “Baiklah
Ki Sanak. Apapun yang akan aku lakukan, maka aku harus bersedia
melakukan perintah Ki Sanak” lalu katanya kepada Ki Dipanala “Aku
titipkan padepokan ini kepadamu” “Tidak” bentak pemimpin prajurit
itu “semuanya ikut bersama kami” Kiai Danatirta tertegun sejenak.
Lalu katanya “Ki Sanak. Orang ini adalah tamuku. Ia bukan penghuni
padepokan ini. Ia datang untuk menjengukku, karena ia seolah-olah
tidak ubahnya seperti saudara kandungku sendir i.” Pemimpin prajurit
berkuda itu ragu-ragu sejenak. Namun tiba-tiba dari antara prajurit
berkuda iitu, seorang yang bertubuh tinggi maju ke depan sambil
berdesis “Bukankah orang ini Ki Dipanala? Salah seorang abdi
Pangeran Ranakusuma” “He?“ pemimpin prajurit berkuda itu terkejut
“jadi ia salah seorang abdi Ranakusuman?“ “Ya. Aku pasti” desis
orang yang bertubuh tinggi itu. Ki Dipanala tidak dapat mengelak
lagi. Namun seperti Kiai Danatirta, ia sudah bertekad untuk lebih
baik bertempur di padepokan ini daripada harus menghadap perwira
kumpeni di Surakarta.Dalam pada itu, Kiai Danatirta yang ingin
menyelamatkan Rara Warih tiba-tiba saja berkata “Baiklah. Baiklah
kami berdua menghadap ke Surakarta. Tetapi biarlah aku berkemas
dahulu” Pemimpin pasukan berkuda itu tidak menyahut. Namun demikian
Kiai Danatirta masuk ke ruang dalam, pemimpin prajurit berkuda itu
menjatuhkan perintah “Kepung rumah ini. Jangan seorangpun boleh
meninggalkan padepokan” Kiai Danatirta yang sudah berada di ruang
dalam masih mendengar per intah itu. Karena itu, sesaat ia menjadi
ragu-ragu. Namun demikian ia menemui juga Rara Warih untuk
memberikan sedikit penjelasan tentang keadaan di padepokan itu.
“Jadi, apa yang harus aku lakukan Kiai?“ bertanya Rara Warih dengan
cemas. “Carilah kesempatan puteri. Aku akan melawan mereka bersama
Ki Dipanala” jawab Kiai Danatirta. “Kiai hanya berdua” desis Rara
Wilis. “Biar lah. Agaknya jalan itu harus ditempuh. Dengan demikian,
puteri akan mempunyai kesempatan untuk menyelinap. Terserahlah, cara
dan kesempatan yang akan puteri peroleh dari peristiwa yang bakal
terjadi. Nampaknya aku tidak akan dapat memberikan jalan yang lebih
baik dari memancing mereka dalam satu perkelahian” desis Kiai
Danatirta “Aku mohon maaf atas peristiwa yang menyulitkanputeri
sekarang ini. Berhati-hatilah. Mudah-mudahan Tuhan melindungi
puteri“ Rara Warih tidak dapat menjawab. Debar jantungnya terasa
semakin cepat. Namun, ketika ia teringat akan ayahandanya dan
kakaknya, yang kedua-duanya adalah prajurit dan bahkan Senapati
terpilih, maka timbullah ketabahan di dalam hatinya. Meskipun ia
seorang gadis, tetapi ia adalah keturunan prajurit linuwih? Karena
itu, maka katanya kemudian “Kiai, terserahlah apa yang akan Kiai
lakukan. Aku akan mencoba mengambil kesempatan” Kiai Danatirta
mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tersenyum. Seolah-olah
ia melihat gejolak di dalam hati gadis itu. Maka katanya “Darah
ayahanda Pangeran Ranakusuma tentu mengalir di dalam dir i puteri.
Meskipun puteri seorang gadis, tetapi puteri akan dapat berbuat
sesuatu sesuai dengan darah prajurit yang mengalir di dalam diri
puteri. Karena itu, aku yakin bahwa puteri akan dapat bertindak
dengan sikap seorang prajurit” Rara Warih tidak menjawab.
Dipandanginya Kiai Danatirta yang kemudian melangkah masuk ke dalam
biliknya sambil bergumam “Bersiap-siaplah puteri. Segalanya akan
segera mulai. Dan agaknya rumah ini sudah dikepung. Karena itu, aku
akan berusaha memancing mereka dalam satu arena perkelahian,
sehingga puteri akan mendapat kesempatan untuk meloloskan dir i dar
i padepokan ini” Rara Warih masih tetap berdiri. Ia melihat Kiai
Danatirta yang hilang di dalam biliknya, namun tanpa menutup
pintunya. Sesaat kemudian, ia sudah melihat orang tua itu keluar
lagi dari biliknya sambil menj injing dua bilah pedang yang sudah
tidak berada di dalam sarungnya. Sementara sebilah keris sudah
terselip di lambungnya. Meskipun masih dalamwrangkanya, tetapi hulu
keris itu diletakkannya di bagian depan badannya. Sekilas Kiai
Danatirta memandang Rara Warih. Namun kemudian tanpa berkata sepatah
kata pun ia melangkah menuju ke pintu depan. Rara Warih sadar akan
dir inya ketika ia mendengar pintu berderit. Iapun segera
meninggalkan ruang dalam menuju ke pintu butulan. Ia menunggu
kesempatan untuk meninggalkan padepokan itu jika perkelahian terjadi
antara para prajurit dengan Kiai Danatirta yang hanya berdua saja
dengan Ki Dipanala. Dalam pada itu, demikian Kiai Danatirta muncul
di muka pintu, iapun berteriak “Ki Dipanala, apakah kita akan
meninggalkan sifat kita sebagai seorang cantrik padepokan yang
setia?“ Ki Dipanala berpaling. Ia melihat Kiai Danatirta menggenggam
pedang dikedua tangannya. Karena itu, iapun segera tanggap, apa yang
harus dilakukannya. Dengan loncatan panjang Ki Dipanala naik ke
pendapa. Diterimanya sebilah pedang telanjang dari Kiai Danatirta.
Dengan dada tengadah iapun kemudian melangkah satu-satu melintasi
pendapa dan kemudian menuruni tangga ke halaman. “Aku adalah abdi di
istana Kapangeranan. Aku terikat kesetiaan kepada Pangeran tempat
aku mengabdi lebih dari segala-galanya. Juga lebih dari pengabdian
orang-orang Surakarta yang sudah terbius manisnya bujukan kumpeni”
geram Ki Dinapala sambil menyilangkan pedangnya di dada. “He,
apaklah kalian berdua sudah gila“ geram pemimpin pasukan berkuda
“kalian tahu siapa kami?“ “Ya“ jawab Kiai Danatirta “Aku mengetahui
bahwa Ki Sanak semuanya adalah prajur it dari pasukan
berkuda”“Apakah kalian akan melawan?“ bertanya pemimpin prajurit itu
dengan heran “abdi Ranakusuma ini masih dapat dimengerti jika ia
menggenggam pedang di tangannya. Tetapi Kiai Danatirta yang sudah
ubanan inipun akan mencoba-coba bermain dengan pedang” “Ki Sanak”
berkata Kiai Danatirta aku sejak kecil berada di padepokan sebagai
seorang prajurit yang tekun menyadap ilmu kajiwan dan kanuragan.
Meskipun tidak setinggi ilmu kanuragan seorang prajurit, tetapi aku
akan berusaha mencoba mempertahankan padepokan ini dengan segala
daya dan segala cara” Pemimpin pasukan berkuda itu masih
termangu-mangu. Nampaknya ia tidak percaya bahwa Kiai Danatirta
benar-benar akan melawannya. Apalagi da hanya berdua saja dengan Ki
Dipanala, sementara ia membawa sembilan orang dan sepuluh dengan
dirinya sendiri yang sudah siap menghadapi lawan yang betapapun
beratnya dalam tataran kemampuan seorang prajurit. “Kiai” berkata
pemimpin prajurit itu “j ika kau menjadi putus asa. janganlah
mencoba untuk membunuh diri. Lebih baik kau menyerah dan bersama
kami pergi menghadap para perwira di Surakarta yang barangkali
mempunyai beberapa pertanyaan saja kepadamu. Jika kau menjawab semua
pertanyaan itu dengan baik, maka tidak akan terjadi sesuatu atasmu
dan atas orang yang bernama Ki Dipanala. Bahkan mungkin aku akan
mengambil satu sikap untuk membebaskan semua cantrik yang ada di
padepokan ini, tanpa membawa mereka seorangpun” “Tidak ada seorang
cantr ikpun di padepokan ini. Yang ada hanya aku dan Ki Dipanala,
karena aku sudah memerintahkan para cantrik untuk meninggalkan
padepokan ini sejak kemarin saat fajar menyingsing” “Jadi, agaknya
kau sudah tahu apa yang kira-kira bakal terjadi di padepokan ini
Kiai?“ bertanya pemimpin prajur it itu.“Begitulah kira-kira. Dan
karena itu, maka aku t idak terkejut melihat kedatangan kalian”
jawab Kiai Danatirta. Pemimpin prajur it itu menggeram. Katanya
“Jika demikian, agaknya kau memang sudah bersiap untuk melawan
segala perintah yang turun dari para pemimpin di Surakarta. Baiklah
Kiai, dengan demikian kau sudah melibatkan dir i dalam pemberontakan
Pangeran Mangkubumi, langsung atau tidak langsung. Karena itulah,
maka aku harus menangkapmu dan membawamu menghadap ke Surakarta.
Hidup atau mati” Kiai Danatirta yang sudah berdiri di sebelah Ki
Dipanalapun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Beberapa
orang prajurit berkuda telah melangkah mendekatinya. “Tangkap orang
tua itu “ perintah pemimpin pasukan berkuda itu. Empat orang telah
mendekatinya dengan pedang terhunus. Sambil mengacukan pedangnya,
orang yang bertubuh tinggi, yang telah mengenalnya sebagai abdi
Ranakusuman itu berkata “Jangan menganggap bahwa yang kalian lakukan
itu akan berarti” Ki Dipanalalah yang menjawab “Berarti atau tidak
berarti, biarlah kami mengangkat senjata daripada menguncupkan
tangan di hadapan kumpeni” “Ternyata pengkhianatan tuanmu telah
berkembang di seluruh istana Ranakusuman” berkata orang itu pula.
Lalu “Baiklah. Kau sudah mendengar perintah itu. Kami harus
menangkapmu. Hidup atau mati” Ki Dipanala tidak menjawab lagi.
Tetapi iapun sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Sejenak
kemudian maka keempat orang itupun berpencar. Usaha mereka memaksa
Kiai Danatirta dan Ki Dipanala menyerah tanpa perlawanan tidak
berhasil. Karena itu, maka merekapun mulai menggerakkan senjata
mereka.Ki Dipanala dan Kiai Danatirtapun segera menempatkan diri.
Ketika salah seorang dar i keempat orang prajur it itu menyerang
langsung kearah Kiai Danatirta, maka orang tua itu ternyata masih
sempat mengelak. “Kau masih dapat juga bermain loncat-loncatan”
desis salah seorang dari keempat orang prajurit itu. Kiai Danatirta
tidak menjawab. Namun di luar dugaan setiap prajurit, bahwa
tiba-tiba saja Kiai Danatirtalah yang telah menjulurkan pedangnya
mematuk dada prajurit itu. Prajurit itu terkejut bukan buatan.
Ketika ia meloncat dengan tergesa-gesa, maka terasa dadanya telah
tersentuh oleh ujung pedang Kiai Danatirta. Meskipun lukanya hanya
seujung duri, tetapi darah mulai mengembun dari luka yang tidak
berarti itu. Meskipun demikian, tetapi prajurit yang tersentuh ujung
pedang Kiai Danatirta itu mengumpat dengan kata- kata kasar. Dengan
tangannya ia mengusap titik darah di dadanya. Namun dengan demikian,
ternyata prajurit itu menjadi semakin garang. Ia berusaha untuk
menebus kelengahannya dengan serangan-serangan yang datang beruntun
bagaikan badai. Tetapi ternyata kedua orang di dalam kepungan itu
masih dapat mengelak. Bahkan sekali-sekali mereka masih juga sempat
menyerang.Untuk beberapa saat, pertempuran itu berlangsung. Pemimpin
prajurit berkuda itupun masih sempat memer intahkan
prajurit-prajuritnya untuk memperketat kepungan. Ia tidak percaya
bahwa padepokan dtu benar- benar telah kosong, meskipun nampaknya
memang lengang sekali. Dalam pada itu, Kiai Danatirtapun mulai
berpikir keras. Ia tidak akan dapat memancing para prajur it untuk
hadir di pertempuran itu j ika ia tidak menunjukkan sesuatu yang
mengejutkan. Karena itu, maka iapun telah menghentakkan kekuatannya.
Ia ingin menjatuhkan lawannya untuk membuat para prajurit itu marah
dan dalam keseluruhan akan mengepungnya. Demikian cepat gerak pedang
Kiai Danatirta maka seorang dari lawannya tidak sempat lagi
mengelak. Ujung pedang Kiai Danatirta tidak saja menyentuh tubuhnya
seujung duri, tetapi pedang yang terayun itu benar-benar telah
tergores melintang di dada lawannya. Terdengar prajurit yang terluka
itu mengaduh. Sementara itu. Ki Dipanalapun mempergunakan kesempatan
ini sebaik- baiknya. Dengan serta meria, selagi sebagian dari
perhatian lawan-lawannya tertuju kepada kawannya yang terluka, maka
dengan tangkasnya Ki Dipanala telah meloncat menyerang. Pedangnya
mematuk dengan cepatnya mengarah ke jantung. Namun dalam pada itu,
lawannya masih sempat mengelak, meskipun ia tidak berhasil
membebaskan diri sepenuhnya dari ujung senjata Ki Dipanala. Namun
ujung senjata itu tidak menembus jantungnya, dan sekaligus merenggut
nyawanya. Meskipun demikian ujung pedang itu masih tetap melukainya,
mengoyak kulit di pundaknya. Yang terjadi itu benar-benar
mengejutkan pemimpin prajurit berkuda yang semula tidak begitu
menghiraukan pertempuran itu, karena ia yakin, bahwa keempat
prajuritnya akan berhasil menangkap kedua orang itu, hidup atau
mati.Tetapi ternyata bahwa dua di antara empat orang itu sudah
terluka, namun seorang di antara mereka, masih dapat meneruskan
pertempuran meskipun darahnya telah meleleh. Karena itu, maka
pemimpin prajurit berkuda itu segera mengambil sikap. Iapun segera
memer intahkan lima orang prajurit untuk bersama-sama dengan dua
orang kawannya yang masih berhadapan dengan kedua orang-orang tua
itu untuk menangkap mereka. Seperti perintah yang telah diberikan
sebelumnya, hidup atau mati. Tujuh orang telah siap untuk menangkap
Ki Dipanala dan Kiai Danatirta, sementara dua orang lainnya diper
intahkannya untuk mengamati keadaan di belakang padepokan itu.
“Gila” berkata Kiai Danatirta di dalam hatinya “Kenapa tidak semua
prajuritnya dipanggil untuk menangkap aku dan Dipanala” Namun
demikian, ternyata ketujuh orang itupun segera mengepung kedua orang
tua itu. Beruntun mereka menyerang susul menyusul, sehingga segera
terasa, bahwa tekanan dari lawan-lawannya itu benar-benar sulit
untuk diatasi. Sebenarnyalah bahwa Kiai Danatirta adalah seorang
yang memiliki ilmu yang tinggi. Murid-muridnya telah mengejutkan
anak anak muda sebayanya. Bahkan putera Pangeran Ranakusuma Senapati
besar di Surakarta, pernah belajar padanya dalamolah kanuragan.
Karena itulah, bahwa sebenarnya ilmu Kiai Danatirta tidak terpaut
banyak dari ilmu yang dimiliki oleh Pangeran Ranakusuma sendir i.
Bahkan mungkin dalam tingkat yang sama, namun dalam kedudukan yang
berbeda. Karena itulah, maka meskipun ia menghadapi tujuh orang
hanya berdua saja dengan Ki Dipanala, maka ternyata tidak terlalu
mudah untuk menundukkannya. Apalagi Dipanalapun memiliki pengalaman
yang luas di dalamolah senjata.Sementara pertempuran itu berlangsung
semakin sengit, maka pemimpin sekelompok prajurit berkuda itu telah
mengobati orang-orangnya yang terluka. Yang tidak terlalu parah,
karena goresan yang tidak dalam dipundaknya, segera bersiap kembali
untuk memasuki arena pertempuran. Namun yang dadanya tergores
menyilang, terpaksa beristirahat di bawah sebatang pohon yang
rindang, meskipun pada luka itu telah ditaburkan obat untuk mencegah
mengalirnya darah terlalu banyak. Demikianlah perkelahian itu
semakin lama menjadi semakin sengit. Namun pemimpin sekelompok
prajurit berkuda itu segera melihat, bahwa orang-orangnya akan
segera dapat menguasai keadaan. Nampaknya kedua orang tua itu telah
sampai ke puncak ilmunya, meskipun pemimpin pasukan berkuda itu
harus menggelengkan kepalanya, melihat betapa kemampuan kedua orang
tua itu jauh berada di atas kemampuan prajur it kebanyakan. “Tujuh
orang prajurit tidak segera dapat mengalahkan mereka” desis pemimnin
prajurit berkuda itu. Namun dalam pada itu, dua orang prajur it yang
lain masih tetap berada di halaman belakang. Ketika Rara Warih
mengintip dari celah-celah pintu butulan, ia masih melihat seseorang
yang melintas. Karena itu maka iapun telah menunda niatnya untuk
menghambur ke halaman samping dan menyusup ke kebun di belakang
padepokan itu dan berusaha melarikan dir i. Sementara itu
kegelisahan yang sangat telah mencengkam jantung Rara Warih yang
sekali-sekali mendengar teriakan- teriakan menghentak di halaman.
Prajurit Surakarta yang marah, karena mereka tidak segera dapat
menguasai kedua orang itu, kadang kadang menyerangnya sambil
berteriak mengumpat. Dalam pada itu. Kiai Danatirtapun merasa, bahwa
ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Nafasnya mulai
terasamengganggu. Berhadapan dengan tujuh orang yang kemudian turun
ke medan sepenuhnya meskipun seorang di antaranya sudah terluka,
ternyata telah dengan cepat menghisap tenaganya. Apalagi di antara
mereka terdapat pemimpin dari pasukan berkuda itu sendiri. “Aku
harus mengambil Sikap, agar Rara Warih mendapat kesempatan untuk
meninggalkan padepokan ini” berkata Kiai Danatirta di dalamhatinya.
Karena itu, dalam satu kesempatan, ia berbisik “Kita meninggalkan
halaman dan bertempur di luar padepokan” Ki Dipanala segera
menangkap maksudnya. Karena itulah maka ketika Kiai Danatirta
memberikan isyarat, maka kedua orang itupun segera menyerang dengan
menghentak. Demikian mengejutkan, sehingga beberapa orang bergeser
menjauh. Kesempatan itulah yang dipergunakan oleh keduanya untuk
meloncat dan berlar i meninggalkan arena. “Jangan lari” teriak
pemimpin pasukan berkuda itu “tidak ada gunanya” Tetapi Kiai
Danatirta dan Ki Dipanala tidak menghiraukannya. Keduanya berlari
meloncati dinding padepokan dan memasuki tanah persawahan yang
basah. Namun dalam pada itu, ketujuh orang itupun t idak
melepaskannya. Enam orang prajurit telah mengejarnya, sementara
pemimpin prajurit berkuda itu masih sempat berteriak kepada kedua
orangnya yang tertinggal “Cari di seluruh padepokan, tangkap setiap
orang yang ada” Perintah itu benar-benar menggelisahkan. Namun Kiai
Danatirta menganggap bahwa dua orang itu tidak akan dapat mengawasi
seluruh halaman dan kebun di padepokan itu.Dalam pada itu, setelah
meneriakkan aba-aba, maka pemimpin prajurit berkuda itupun telah
menyusul kawan- kawannya, mengejar Kiai Danatirta dan Ki Dipanala.
Sebenarnyalah bahwa Kiai Danatirta dan Ki Dipanala tidak dapat
melarikan diri terlalu jauh, karena lawan-lawannya telah
menyusulnya. Kedua orang tua itu benar-benar telah kehabisan nafas,
setelah keduanya mengerahkan tenaganya untuk melawan ketujuh orang
prajurit berkuda yang memiliki pengalaman yang cukup pula. Dalam
pada itu, pemimpin prajurit berkuda itu sekali lagi memper
ingatkannya “Kiai Danatirta dan Ki Dipanala. Perlawanan kalian tidak
akan ada gunanya selain memperberat kesalahan kalian. Menyerahlah
dan ikut kami ke Surakarta” Kiai Danatirta tidak menjawab. Tetapi
dengan sisa tenaganya, ia telah menyerang pemimpin pasukan berkuda
itu dengan cepatnya. Namun lawannya yang lain berhasil memotong
serangan itu, sehingga Kiai Danatirta tidak berhasil menyentuh
pemimpin pasukan berkuda itu dengan pedangnya. Dalam pada itu, dalam
keadaan yang paling sulit dari kedua orang tua yang harus bertempur
menghadapi tujuh orang prajurit berkuda itu, terdengar tiga ekor
kuda berderap dengan kecepatan seperti angin menuju ke padepokan
Jati Aking. Tanpa menghiraukan perhatian orang yang kebetulan berada
di sawah, maka ketiganya berusaha untuk secepatnya sampai ke
padepokan yang menurut dugaan mereka, akan dapat menjadi sasaran
dendam prajurit Surakarta yang merasa dikhianati oleh Pangeran
Ranakusuma dan Raden Juwiring. Namun dalam pada itu, ketiga orang
anak muda yang berpacu itu terkejut ketika mereka melihat di tengah
sawah, di sebelah padepokan yang telah menjadi semakin dekat,
telahterjadi pertempuran. Karena itulah, maka debar jantung mereka
menjadi semakin cepat Kuda yang telah berlar i sepenuh kecepatan
itu, rasa- rasanya masih saja terlalu lamban. Namun jarak itu tidak
terlalu panjang lagi. Bahkan akhirnya mereka sampai juga ke dekat
arena perkelahian itu. Kedatangan mereka bertiga memang menar ik
perhatian. Setiap orang yang terlibat ke dalam pertempuran itu telah
berpaling. Hampir berbareng, Kiai Danatirta dan pemimpin pasukan
berkuda itu bergumam dengan nada yang berbeda “Raden Juwiring”
Sebenarnyalah Juwiring, Buntal dan Arumlah yang kemudian berloncatan
turun dari kuda mereka. Merekapun segera melihat, bahwa Kiai
Danatirta dan Ki Dipanala sedang bertempur melawan tujuh orang
prajurit prajurit berkuda dari Surakarta. Karena itulah, maka Raden
Juwiring segera meloncat mendekat sambil berkata “He, bukankah
kalian dari pasukan berkuda di Surakarta? Aku mengenal satu dua
orang di antara kalian, karena akupun berasal dari pasukan berkuda.
Tetapi kenapa kalian tidak mengenakan pakaian kebesaran dan
kebanggaan dari pasukan berkuda di Surakarta, dan kenapa kalian
telah bertempur dengan licik melawan dua orang tua itu?“ “Kenapa?“
bertanya Juwiring. “Untuk menangkap Raden, tentu disediakan hadiah
yang sangat menarik. Karena itu, jika Raden bersedia membantu aku,
agar aku dapat menerima hadiah itu, menyerah sajalah” berkata
pemimpin pasukan berkuda itu. “Kau nampaknya memang sudah gila”
jawab Raden Juwiring “meskipun aku belum tahu pasti sebabnya, tetapi
aku mengharap agar kalian tidak mengganggu kedua orang tuaitu.
Seorang adalah sahabatku dar i istana ayahanda Ranakusuma, dan yang
seorang adalah ayah angkatku” “Kami tidak akan mengganggu mereka,
jika Raden bersedia menyerah” berkata pemimpin pasukan berkuda itu.
Dalam pada itu, pertempuran di antara Kiai Danatirta dan Ki Dipanala
melawan para prajurit itu seolah-olah telah berhenti dengan
sendirinya. Mereka telah terpukau oleh kehadiran Raden Juwiring
bersama dua orang anak muda lainnya yang belum mereka kenal. “Ki
Sanak” berkata Raden Juwiring “dalam keadaan seperti sekarang ini,
maka keyakinan akan sikap dan pendirian yang teguh sangat
diperlukan. Karena itu, agaknya kita memang tidak akan dapat
menemukan kesepakatan. Aku tahu bahwa pimpinan prajurit Surakarta
dan Kumpeni di Surakarta tentu sudah mengetahui apa yang terjadi.
Karena itu, baiklah aku tidak usah berbicara panjang lebar.
Nampaknya kita memang berdiri berseberangan. Aku berdiri di pihak
bangsaku dan kau berdiri di pihak bangsa asing itu” “Jangan memakai
istilah yang salah Raden” jawab pemimpin sekelompok pasukan berkuda
itu “yang benar adalah, bahwa Raden berdiri di pihak pemberontak dan
aku berdiri di pihak Kangjeng Susuhunan Pakubuwana di Surakarta”
Raden Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Setiap orang
akan dapat memutar balikkan kenyataan dengan istilah yang
menguntungkan diri sendir i, sekedar untuk memantapkan sikap dan
keyakinannya, seolah-olah berlandaskan kebenaran. Baiklah. Agaknya
kita memang harus bertempur” Raden Juwiring tidak berbicara lebih
banyak lagi. Iapun kemudian meloncat menghadapi pemimpin sekelompok
pasukan berkuda itu, sementara ia berkata kepada Buntal danArum
“Jangan biarkan ayah bertempur melawan orang yang terlalu banyak”
Buntal dan Arum mengerti maksud Raden Juwiring. Merekapun kemudian
berloncatan mendekati Ki Dipanala dan Kiai Danatirta yang masih
berada di dalam kepungan. Pemimpin sekelompok pasukan berkuda itu
mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa Raden Juwiring adalah putera
seorang Senapati Besar di Surakarta, dan bahkan Raden Juwiringpun
termasuk seorang perwira muda dalam pasukan berkuda. Namun pemimpin
pasukan berkuda itu yakin akan dir inya sendiri. Bahwa ia akan dapat
mengalahkan Raden Juwir ing. Demikianlah, maka sejenak kemudian,
pemimpin sekelompok pasukan berkuda itu mulai menggerakkan
senjatanya sambil berkata “Selesaikan kedua orang itua dan kedua
anak ingusan itu. Aku akan menangkap Raden Juwiring hidup-hidup. Ia
harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Mati di sini,
adalah terlalu menyenangkan baginya sebelum ia dihadapkan kepada
pengadilan para pemimpin keprajuritan di Surakarta” “Barangkali
Kumpeni maksudmu?” potong Raden Juwiring. Pemimpin sekelompok
pasukan berkuda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
jawabnya “Ya. Kumpeni” Raden Juwuingpun telah siap pula dengan
senjatanya. Sementara itu Arumlah yang tidak sabar lagi. Ialah yang
justru mulai menyerang para prajurit yang mengepung ayahnya dan Ki
Dipanala. Sejenak kemudian, maka pertempuran telah berkobar lagi.
Namun keseimbangannyapun menjadi jauh berbeda. Enam orang prajurit
berkuda yang bertempur melawan ampat orang padepokan Jati Aking itu
ternyata segera merasakan, betapa beratnya tekanan dari keempat
orang padepokan itu.Bertujuh mereka tidak segera dapat mengalahkan
kedua orang tua itu. Apalagi bersama kedua orang tua itu telah ikut
melibatkan dir i dua orang anak muda yang ternyata memiliki
kemampuan yang tinggi pula. Dalam pada itu, seorang dari ketujuh
orang prajurit berkuda itu tengah menghadapi Raden Juwiring.
Keduanya adalah prajurit pilihan yang memiliki bekal ilmu kanuragan.
Karena itu, maka pertempuran di antara keduanyapun segera menjadi
semakin seru. Pemimpin sekelompok pasukan berkuda itu mampu bergerak
dengan tangkas. Senjatanya berputaran dengan cepat, seperti putaran
angin pusaran. Namun Raden Juwir ing sama sekali tidak menjadi
bingung. Ia memiliki dasar ilmu dari padepokan Jati Aking. Namun
iapun memiliki ilmu yang diturunkan ayahandanya kepadanya. Bahkan ia
tidak memerlukan waktu terlalu lama. Beberapa saat ia menjajagi ilmu
lawannya dengan sekedar bertahan dan menghindar. Namun kemudian,
datanglah gilirannya, bahwa Raden Juwiringlah yang menyerang seperti
angin prahara. Dalam pada itu, di lingkaran pertempuran yang lainpun
keadaannya adalah serupa. Kiai Danatirta dan Ki Dipanala yang hampir
kehabisan nafas itupun sempat menghirup udara, setelah Buntal dan
Arum hadir di arena. Ternyata kedua anak muda itu mampu mengimbangi
lawan-lawannya. Bahkan ternyata bahwa Buntal dan Arum secara pribadi
memiliki kelebihan dari prajur it-prajurit berkuda itu. Karena itu,
maka seluruh arenapun segera dikuasai oleh para penghuni padepokan
Jati Aking itu. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka
pertempuran itu akan dapat diselesaikan. Namun dalam pada itu, Kiai
Danatirtapun segera teringat kepada Rara Warih. Gadis itu,masih
berada di padepokan. Bahkan mungkin gadis itu sudah diketahui oleh
kedua prajur it yang tinggal di padepokan. Karena itu, maka katanya
kepadaBuntal “Gantikan Raden Juwiring, dan biarlah Raden Juwiring
melihat adiknya yang berada di padepokan” “Warih ada di padepokan,
Kiai“ terdengar suara Juwiring dalam nada tinggi “Ya. Hati-hatilah.
di padepokan ada dua orang prajurit berkuda yang tinggal untuk
mengawasi keadaan” jawab Kiai Danatirta. Juwiring menggeram.
Ternyata ia tidak menyerahkan lawannya kepada Buntal. Berita tentang
adik perempuannya telah menyalakan gejolak kemarahan yang tidak
terbendung lagi. Karena itu, maka seolah-olah di luar sadarnya,
Raden Juwiring telah menyerang lawannya dengan sepenuh kemampuannya.
Ternyata pemimpin sekelompok prajurit berkuda itu tidak setangkas
Raden Juwiring. Ketika kemarahan Raden Juwiring sampai ke puncak,
dan serangannya datang membadai, maka pemimpin sekelompok prajurit
berkuda itu tidak sempat mengelak. Yang terdengar kemudian adalah
geram kemarahan Raden Juwiring disusul oleh keluhan yang tertahan.
Segores luka telah menganga di lambung pemimpin sekelompok prajur it
berkuda itu. Sejenak Raden Juwiring memandanginya. Namun sejenak
kemudian, Raden Juwiring itupun segera berlari kearah padepokan
dengan meninggalkan lawannya yang masih tetapberdiri. Namun darahnya
telah tertumpah dari lukanya. Bahkan sejenak kemudian orang itupun
terhuyung-huyung dan jatuh di tanah sambil mengerang. Namun Raden
Juwiring, sama sekali tidak berpaling lagi. Keterangan Kiai
Danatirta tentang Rara Warih itu bukan saja menggelisahkan Juwir
ing. Tetapi Buntal dan Arumpun menjadi gelisah pula. Karena itu,
maka pada saat-saat yang menentukan dalam lingkaran pertempuran
antara Raden Juwiring dan pemimpin pasukan berkuda itu, Buntalpun
telah mempergunakan kesempatan. Pada saat pemimpin sekelompok
pasukan berkuda itu tergores senjata Raden Juwiring, maka Buntalpun
telah menghentakkan? kekuatannya justru ketika prajurit-prajurit
dari pasukan berkuda itu mencemaskan nasib pemimpinnya. Dengan
serangan yang cepat, Buntal telah mengejutkan beberapa orang
lawannya. Namun ternyata Arumlah yang telah berhasil memotong
loncatan seorang lawan yang terdesak oleh serangan Buntal yang
membadai. Orang itu terkejut. Tetapi ia tidak sempat mengelak.
Segores luka telah mengoyak lengannya. Dalam pada itu, Buntal yang
mencemaskan keadaan Rara Warih dan Raden Juwiring justru karena di
padepokan itu ada dua orang prajurit berkuda yang belum diketahui
kemampuannya, maka iapun kemudian berdesis “Ayah, apakah aku diij
inkan untuk menyusul Raden Juwir ing?“ Kiai Danatirta yang melihat
kekuatan lawannya sudah jauh berkurang, sementara di antara mereka
masih ada Arum, maka jawabnya “Baiklah. Tetapi kaupun harus
berhati-hati” Buntal tidak menunggu lagi, Iapun segera meloncat
berlari menyusul Raden Juwir ing yang telah meloncati dinding
memasuki padepokan. Buntalpun tidak sempat melingkar memasuki
halaman padepokan itu lewat pintu gerbang. Iapun meloncat
sepertiyang dilakukan oleh Raden Juwiring. Namun, demikian ia berada
dihailaman, ia sama sekali sudah tidak melihat anak muda yang pernah
menjadi perwira di lingkungan pasukan berkuda itu. Sejenak Buntal
menjadi berdebar-debar. Namun iapun kemudian meloncat menghambur
naik ke pendapa dan memasuki pintu pringgitan. Namun ia tetap
berhati-hati, karena menurut Kiai Danatirta, ada dua orang prajurit
berkuda di padepokan itu. Dengan pedang teracu ia memasuki ruang
dalam. Dengan hati-hati ia melihat segala bilik di dalam rumah induk
di padepokan itu. Namun ia t idak menjumpai seorangpun. Bahkan Raden
Juwiringpun tidak. Demikian ia selesai memeriksa ruangan demi
ruangan, maka Buntalpun segera berlari turun ke halaman samping
lewat pintu butulan. Namun demikian ia turun, dilihatnya Raden
Juwiring yang ber lari keluar dar i Sanggar lewat pintu belakang.
“Kau ketemukan Rara Warih” bertanya Buntal. “Belum” jawab Juwir ing
“dua orang prajurit berkuda itupun tidak aku jumpai “ Keduanya
menjadi semakin berdebar-debar. Sekali lagi keduanya berlari kearah
yang berbeda. Bahkan kemudian keduanya telah berlari-lari mengitari
seluruh padepokan. Namun mereka tidak menemukan seorangpun juga.
Rara Warih tidak, dan dua orang prajur it itupun tidak. Ketika
sekali lagi keduanya bertemu di longkangan belakang, maka dengan
gelisah Raden Juwiring berkata “Bagaimana mungkin mereka lenyap saja
seperti asap” Wajah Buntalpun menegang. Sambil menggeretakkan
giginya ia berkata “Kita cari sekali lagi”Sekali lagi keduanya
berlari-lari mengelilingi padepokan itu. Mereka tidak lagi mengambil
arah yang berbeda, tetapi mereka berdua berlari- lari bersama-sama.
Tetapi seperti semula, mereka t idak menemukan seorangpun. “Kita
lihat di depan. Mungkin kita dapat menghitung jumlah kuda mereka.
Apakah sudah ada diantara mereka yang meninggalkan padepokan ini”
geramJuwir ing. “Kita tidak tahu pasti, berapa jumlah mereka” desis
Buntal “Dapat dihitung” sahut Juwir ing. Tetapi mereka tidak
menunggu sambil menghitung. Keduanyapun kemudian berlari-lari ke
halaman. Di halaman masih terikat beberapa ekor kuda. Tentu kuda
prajurit-prajurit berkuda yang masih bertempur di luar padepokan
itu. Namun ketika mereka mencoba muka menghitung, mereka melihat
seseorang yang bersandar pada sebatang pohon dengan luka yang
menyilang di dada. Hampir berbareng Raden Juwiring dan Buntal
meloncat mendekati orang yang tergolek diam itu. Namun ternyata
bahwa orang itu tidak pingsan. Bahkan dilukanya telah terdapat
hamburan obat yang dapat mengurangi arus darahnya yang
keluar.“Dimana kawan-kawanmu” bentak Juwir ing yang tanpa bertanya
tahu pasti bahwa orang itupun tentu dari pasukan berkuda. Orang itu
memandang Juwiring sejenak. Iapun mengenal, bahwa yang bertanya
kepadanya itu adalah Raden Juwir ing. Seorang perwira dari pasukan
berkuda yang telah memberontak. Namun bagaimanapun juga, ia dalam
keadaan yang parah, sehingga ia tidak akan dapat berbuat apa-apa.
“Cepat katakan, dimana kedua orang kawanmu yang berada di padepokan
ini” desak Raden Juwir ing. Orang itu tidak menjawab. Dipandanginya
Raden Juwiring dengan penuh kebencian. Juwiring yang gelisah
ternyata tidak terlalu lunak menghadapi orang yang terluka itu.
Dengan garangnya ia hampir berteriak “Katakan, dimana kedua orang
kawanmu dan adik perempuanku” Ketika orang itu masih tetap diam,
maka tiba-tiba saja Raden Juwiring menggeram “Buntal. Pergilah ke
dapur. Ambillah garam dan air asam. Aku ingin melihat, apakah orang
ini akan tetap diam saja jika kita taburkan garam dan kita siramkan
air asampada lukanya” “Jangan“ tiba-tiba saja orang itu berusaha
mencegah. “Tidak ada jalan lain” jawab Juwiring “Kau membuat hatiku
sakit dan gelisah, karena kau sama sekali tidak mau menjawab
pertanyaanku. Sekarang akupun dapat membuat kau sakit dengan cara
ini” “Jangan lakukan. Itu sama sekali t idak berperikemanusiaan”
desis orang itu. “Tetapi sebut, dimana kedua orang kawanmu dan
adikku, Warih” Raden Juwiring membentak pula. Orang itu
termangu-mangu sejenak. Namun menilik sikap Raden Juwiring, ia
bukannya sekedar menakut-nakutinyauntuk menaburkan garam dan air
asam pada tubuhnya, karena kegelisahannya. “Cepat“ tiba-tiba saja
Raden Juwiring yang marah itu telah merenggut leher bajunya yang
terbelah diarah luka yang menyilang di dada ”Jika kau tidak segera
berbicara, aku dapat berbuat apa saja yang barangkali tidak pernah
kau duga. Aku tidak peduli seandainya seseorang mengatakan bahwa aku
tidak berperikemanusiaan” Orang itu terkejut. Hentakkan tangan Raden
Juwiring membuat lukanya bertambah sakit. Apalagi ketika kemudian
Raden Juwiring mengguncang-guncangnya dengan kasar. “Cepat, katakan”
bentak Raden Juwiring. Orang itu tidak dapat bertahan lagi.
Guncangan tangan Raden Juwiring rasa-rasanya membuat dadanya
bagaikan pecah. Karena itu, maka katanya kemudian “Lepaskan Raden.
Aku akan mengatakannya” “Tidak“ geram Juwir ing “katakan lebih
dahulu” Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya
“Puteri Ranakusuman itu telah dibawa oleh kedua orang kawanku.
Mereka telah melarikan dir i langsung menuju ke Surakarta” “Gila.
Diajeng Warih telah mereka bawa?“ suara Raden Juwiring meninggi.
“Ya. Puteri itu telah dibawa. Kedua orang kawanku menemukannya di
dalam rumah itu” jawab prajurit yang terluka itu dengan gemetar.
Raden Juwiringpun menjadi gemetar pula. Sejenak ia memandang Buntal.
Namun kemudian iapun segera berlari kearah kuda-kuda yang terikat.
“Kemana?“ bertanya Buntal. “Aku harus menyusulnya” jawab Juwiring
sambil ber lari-lar i.“Tunggu. Kau akan menyusulnya kemana?“ teriak
Buntal. “Ke Surakarta. Aku harus mengambilnya atau aku akan mati
untuk membelanya” jawab Juwir ing. “Tunggu. Jangan kehilangan akal”
Buntal berteriak sambil berlari mendekati Juwiring yang sudah
melepas tali seekor kuda. “Kakang Juwiring. Tunggu. Jangan melakukan
hal itu” cegah Buntal. “Aku akan mengejar mereka” teriaknya. “Tidak
mungkin. Mereka telah jauh. Dan kita tidak akan dapat mengejarnya
langsung masuk ke dalam kota. Ingat, kota tentu dijaga ketat
sekarang ini” Buntal masih mencoba untuk member inya peringatan.
Juwiring seolah-olah tidak mendengarnya. Namun ketika ia meloncat
naik, Buntal justru memegang kendali kuda itu sambil berkata
keras-keras “Jangan. Jangan kehilangan akal. Kau tidak akan dapat
menyusulnya. Nampaknya mereka telah agak lama pergi. Sementara itu,
kehadiranmu di kota akan sangat berbahaya bagimu” “Lepaskan” teriak
Juwiring. “Jangan. Jangan kehilangan akal” ulang Buntal. “Lepaskan,
atau aku akan memaksamu melepaskan kendali itu” teriak Juwir ing
semakin keras. Namun dalam pada itu, ternyata Buntal berpikir
bening. Ia mencoba menjelaskan “Kakang Juwiring. Jika terjadi
sesuatu atasmu, maka harapan untuk membebaskan adikmu itu sudah
lenyap sama sekali. Ia akan mengalami nasib yang paling buruk. Lebih
buruk dari nasibmu sendiri. Mungkin kau akan dibunuh di alun-alun,
dan kepalamu akan ditanjir di regol Kapangeranan. Tetapi kau tidak
akan mengetahui apa yang terjadi. Dan di antara merekai yang
berjuang bagi tanah iniakan tetap menganggapmu sebagai seorang
pejuang yang gugur dalam keperwiraan. Tetapi bayangkan apa yang
terjadi atas adikmu itu. Atas Rara Warih yang jatuh di tangan para
perwira kumpeni yang jauh dari keluarga mereka sendiri. Yang jauh
dari lingkungan hidup mereka” Juwiring mengerutkan keningnya.
Ditatapnya wajah Buntal sejenak. Lalu katanya “Jadi, bagaimana
menurut pertimbanganmu, Buntal” “Kita mempunyai cara lain yang harus
kita pikirkan masak- masak” jawab Buntal. Raden Juwiring menarik
nafas dalam-dalam. Kemudian katanya dengan nada rendah “Apakah jika
aku mengejarnya sekarang, aku tidak akan berhasil memburunya sebelum
mereka memasuki kota” “Sulit” jawab Buntal “Kita tidak tahu arah
mereka sehingga kita harus mengamati jejak. Mungkin kita akan
mendapat arah yang benar, tetapi sementara itu, mereka sudah berada
di dalam satu lingkungan prajur it berkuda” Juwiring termangu-mangu
sejenak. Namun iapun kemudian berdesis “Kau benar Buntal. Aku kira,
aku tidak akan berhasil mengejar Diajeng Warih” “Karena itu, marilah
kita selesaikan orang-orang yang tertinggal” berkata Buntal
kemudian. Juwiring mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba wajahnya
telah menegang lagi. Dengan lantang ia berkata “Mereka memang harus
diselesaikan” Raden Juwiring meloncat turun dari kudanya. Kemudian
iapun telah berlari kembali ke arena pertempuran di sebelah
padepokan. Seperti saat ia memasuki padepokan, maka iapun telah
meloncati dinding. Buntalpun menyusulnya di belakang. Ia sadar bahwa
Juwiring masih diliput i oleh kegoncangan perasaan, sehinggakarena
itu ia akan dapat melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ketika Raden
Juwiring sampai ke arena pertempuran, maka keadaannya benar-benar
telah tidak seimbang. Lima orang yang tersisa, bertempur melawan
tiga orang yang memiliki kemampuan jauh di atas kemampuan mereka.
Dengan demikian, maka kelima orang itu sama sekali sudah tidak
berpengharapan untuk dapat menyelamatkan diri. Dalampada itu,
terdengar suara Kiai Danatirta “Sudahlah Ki Sanak. Menyerah sajalah.
Kita akan dapat berbicara dengan baik” Namun agaknya Juwiring
mendengar tawaran Kiai Danatirta itu. Karena itu maka iapun
berteriak “Tidak. Semua orang harus mati” “Juwiring” desis Kiai
Danatirta yang kecemasan “bagaimana dengan adikmu” “Kedua setan itu
dengan licik telah membawa Diajeng Warih. Aku tidak tahu, bagaimana
nasibnya. Karena itu, yang tinggal di antara prajurit berkuda itu
harus mati” geram Juwiring yang telah berdir i beberapa langkah dari
arena pertempuran. Sejenak kemudian, Buntalpun telah berdiri di
belakangnya dengan jantung yang berdebar-debar. Dalam pada itu Raden
Juwir ing sudah siap untuk meloncat menyerang dan membunuh
orang-orang yang tersisa. Namun di belakangnya Buntal berdesis
“Kakang Juwiring. Ingatlah bahwa kau adalah seorang yang berdarah
kesatria. Kau harus mempunyai wawasan yang luas terhadap mereka yang
sudah tidak berdaya. di dalam perang, membunuh atau dibunuh
merupakan pilihan yang sangat wajar. Tetapi di dalam peperangan kita
dapat menunjukkan, bahwa kita masih tetap menjunjung t inggi
nilai-nilai kemanusiaan”“Apa maksudmu?“ bertanya Juwiring. “Ayah
sudah menawarkan kepada orang-orang itu agar mereka menyerah. Dengan
demikian, maka tidak diper lukan cara penyelesaian yang lain” jawab
Buntal. Juwiring yang masih diliput i oleh kegelapan hati menyahut
lantang “Tidak. Aku akan membunuhnya karena merekapun licik seperti
liciknya Kumpeni. Aku tidak merasa berhadapan dengan
prajurit-prajurit yang pantas diperlakukan sebagai prajurit. Tetapi
aku merasa berhadapan dengan penjahat- penjahat yang tidak mungkin
lagi diampuni karena tidak akan pernah terjadi penyesalan di
dalamhati mereka”? “Disinilah letak kebesaran jiwa seseorang,
Juwiring“ Kiai Danatirtalah yang menjawab “sekali lagi aku ingin
menawarkan kepada prajurit-prajurit berkuda ini, agar mereka
menyerah saja” “Itu tidak adil“ Juwir ing hampir berteriak “mereka
membawa Diajeng Warih” “Kita dapat memperhitungkan kemudian” jawab
Kiai Danatirta “tetapi jika mereka akan menyerah, biarlah mereka
menyerah” Prajurit berkuda yang sudah tidak mempunyai harapan sama
sekali itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi kehadiran
Juwiring yang sangat marah itu rasa-rasanya membuat hati mereka
semakin cemas. Namun demikian, mereka masih berharap bahwa di antara
orang-orang padepokan itu masih ada yang berkepala dingin dan tidak
berbuat sewenang-wenang. Dalam pada itu, Buntal selalu berdiri di
sebelah Juwir ing. Ia masih saja merasa cemas, bahwa Juwiring akan
kehilangan pengamatan diri dan melakukan tindakan yang tidak
bijaksana terhadap lawan-lawannya yang justru akan bertentangan pula
dengan perintah Pangeran Mangkubumi sendiri.“Ya, perintah Pangeran
Mangkubumi“ ingatan itu telah mendorongnya untuk berbisik “Kakang
Juwir ing. Bukankah kita termasuk pasukan Pangeran Mangkubumi” “Ya,
kenapa?“ bertanya Juwiring. “Kita harus selalu ingat pesannya lewat
siapapun juga. Lewat Ki Wandawa, lewat Ki Sarpasrana, lewat para
Tumenggung yang berpihak kepadanya dan lewat setiap prajurit yang
berdiri di sisi Pangeran Mangkubumi itu” desis Buntal. “Ya, apa
pesannya“ Juwiring yang marah itu hampir berteriak. “Jangan
bertindak terlalu kasar terhadap sanak kita sendiri. Terhadap
orang-orang berkulit sawo seperti kita” lanjut Buntal. Kata-kata
Buntal itu ternyata telah menyentuh hatinya. Iapun pernah mendengar
pesan Pangeran Mangkubumi seperti itu. Dan karena itulah, maka
hatinya menjadi agak tenang, sehingga ia dapat memandang prajur
it-prajurit berkuda yang sudah tidak berdaya itu sebagaimana sikap
seorang kesatria dari Surakarta. Karena itu, maka katanya kemudian
“Baiklah ayah. Jika mereka memang bersedia menyerah, segala
sesuatunya terserah kepada ayah” Kiai Danatirta masih bertempur
meskipun sudah tidak lagi harus memeras tenaganya, karena selain
lawannya sudah jauh berkurang, merekapun nampaknya sudah tidak
berpengharapan lagi. Bahkan nampaknya Arumpun dapat mengerti maksud
ayahnya, bahwa orang-orang itu sebaiknya tidak meneruskan
perlawanannya, karena memang t idak akan ada gunanya lagi.Dengan
sikap Juwiring yang menjadi lebih lunak itu, maka Kiai Danatirta
sekali lagi berkata kepada prajurit-prajur it berkuda itu “Sekarang,
menyerahlah Ki Sanak. Kalian tidak akan mempunyai kesempatan lagi”
Kelima orang yang masih bertempur dengan setengah hati itupun tidak
lagi dapat menahan hati untuk menyerah. Karena itu. maka salah
seorang dari merekapun berkata “Kami menyerah” Kiai Danatirtapun
kemudian memberi isyarat kepada Ki Dipanala dan Arum. agar mereka
surut beberapa langkah untuk memberi kesempatan kepada kelima orang
itu meletakkan senjatanya. Demikianlah, maka kelima orang itupun
segera melontarkan senjata masing-masing. Meskipun masih nampak
kekhawatiran mereka terhadap sikap Juwiring, namun menyerah adalah
kemungkinan yang paling baik yang dapat mereka lakukan. Ki Danatirta
menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa nafasnya memang sudah
mulai bekejaran. Meskipun sejak kehadiran anak-anak angkatnya
pekerjaannya sudah menjadi semakin r ingan. Kelima orang prajur it
berkuda itupun kemudian berdiri berjajar. Sementara Juwiring dan
Buntal melangkah maju mendekati Kiai Danatirta yang memandangi
orang-orang itu seorang demi seorang. Namun tiba-tiba katanya
“Lihatlah kawan-kawanmu yang terluka itu. Bawalah mereka ke pendapa
padepokan. Mungkin aku sempat mengobatinya” Kelima orang prajurit
itu termangu-mangu, sementara Kiai Danatirta mengulangi “Cepat,
sebelumterlambat” Kelima orang itupun kemudian menghampir i pemimpin
mereka yang terluka parah, sementara di sebelahnya duduk kawannya
yang lengannya tersobek oleh senjata Arum padasaat ia menghindar i
serangan Buntal. Meskipun luka itu hanya pada lengannya, tetapi
lengan itu bagaikan terkoyak sampai ke tulang, sehingga orang itu
hampir menjadi pingsan karenanya. “Bawalah mereka ke pendapa”
berkata Kiai Danatirta. Kelima orang itupun kemudian memapah seorang
yang terluka dilengannya, dan mengusung pemimpinnya yang sudah tidak
sadarkan diri karena luka- lukanya. Dengan tergesa-gesa mereka telah
membawa kawan-kawan mereka yang terluka itu ke pendapa padepokan,
sementara kawannya yang seorang lagi, telah dipapah oleh Buntal dari
bawah sebatang pohon di halaman. Meskipun lukanya telah ditaburi
obat, namun nampaknya orang itu kian menjadi lemah. Dalam pada itu,
agaknya Kiai Danatirta tidak sampai hati membiarkan orang-orang itu
terluka tanpa perawatan. Meskipun orang-orang itu telah berusaha
untuk menangkapnya hidup atau mati, tetapi setelah mereka menyerah,
maka terasa getar belas kasihan di hati orang tua itu. Apalagi Kiai
Danatirtapun mendengar, bahwa Pangeran Mangkubumi sendiri telah
berpesan, bahwa lawan yang sesungguhnya bukannya prajurit-prajurit
Surakarta, tetapi Kumpeni. Hanya dalam keadaan terpaksa sajalah,
maka para pengikut Pangeran Mangkubumi harus bertempur dan
barangkali tidak dapat dihindari lagi, akan jatuhnya korban di
antara sanak dan kadang sendiri. Selain mereka yang terluka parah,
maka di antara mereka yang masih bertempur beberapa lama kemudian
itupun ada yang telah tergores senjata pula. Tetapi luka- lukanya
tidak berbahaya dan tidak mengurangi kemampuan mereka. Meskipun
demikian orang-orang itupun harus mendapat perawatan. Namun dalam
pada itu, Kiai Danatirtapun menyadari, bahwa dua orang yang
melarikan Rara Warih ke kota, bukan saja akan menyerahkan Rara
Warih, tetapi mereka tentu akanmencer iterakan apa yang lelah
terjadi di padepokan. Apalagi jika mereka telah mengetahui bahwa
Juwiring ada pula di padepokan Jati Aking. Karena itu, setelah Kiai
Danatirta selesai dengan mengobati orang-orang itu, maka iapun
mengajak anak-anak angkatnya dan Ki Dipanala masuk ke ruang dalam.
“Bagaimana dengan orang-orang itu?“ bertanya Juwiring. “Biar lah
mereka berada di pendapa” jawab Kiai Danatirta. “Apakah mereka tidak
akan lari?“ bertanya Buntal pula. “Untuk sementara tidak” jawab Kiai
Danatirta pula. “Tetapi kita tidak boleh terlalu percaya kepada
orang-orang itu“ desis Arumpula. “Percayalah” jawab Kiai Danatirta
“Mereka tidak akan lari” Ketiga anak-anak muda itu tidak memaksa
Kiai Danatirta untuk mengambil sikap tertentu kepada ketiga orang
itu. Meskipun ada juga semacam kekhawatiran, tetapi mereka mencoba
untuk mempercayai Kiai Danatirta. Dalam pada itu, setelah mereka
berada di ruang dalam, maka Kiai Danatirtapun berkata kepada Raden
Juwiring “Angger Juwiring. Hilangnya Rara Warih merupakan masalah
khusus bagi kita, terutama angger Juwir ing dan Ki Dipanala” “Ya
Kiai” desis. Ki Dipanala “bagaimana aku harus mempertanggung
jawabkan hilangnya puteri itu jika pada suatu saat aku bertemu
dengan Pangeran Ranakusuma” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Tetapi
sebelum ia menyahut, Juwiring telah mendahuluinya “Aku belum sempat
mencer iterakan, apa yang terjadi di pertempuran besar itu” “Ya. Kau
memang belum mengatakan sesuatu” desis Kiai Danatirta.Juwiring
menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Danatirta dan Ki
Dipanala berganti-ganti. Kemudian katanya “Yang terjadi, benar-benar
merupakan satu bebanten yang tiada taranya bagi perjuangan Surakarta
untuk mengusir orang-orang asing yang semakin dalam mencengkeram
tanah ini” Wajah Kiai Danatirta dan Ki Dipanala menegang. Dengan
nada rendah Kiai Danatirta bertanya “Apa yang telah terjadi?“
Juwiringpun menceriterakan apa yang telah terjadi di peperangan
dengan singkat. Beberapa orang Senapati terpilih di Surakarta telah
gugur dan terluka, di pihak manapun mereka berdiri. Ki Dipanala
menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya menunduk sementara suaranya
menjadi parau “Jadi Pangeran Ranakusuma telah gugur?“ “Ya” jawab
Juwiring “Aku melihat saat-saat ayahanda menghembuskan nafasnya yang
terakhir. Tetapi aku mencoba untuk berbangga. Justru ayahanda yang
sebelumnya menempuh jalan yang salah, pada saat terakhirnya, ia
telah berdiri di pihak yang benar” Ki Dipanala mengangguk-angguk
kecil. Namun kemudian desisnya “Aku telah mengabdi di kapangeranan
untuk waktu yang lama. Meskipun aku termasuk orang yang dibenci,
tetapi aku merasa bahwa Ranakusuman adalah rumahku sendiri. Aku
sudah menyaksikan yang manis, tetapi juga yang paling pahit di
Ranakusuman. Dan di saat-saat terakhir segalanya harus terjadi.
Pangeran Ranakusuma gugur di peperangan, sementara Raden Ayu
mengalami kejutan jiwa. Dan kini, kita semuanya menghadapi satu
masalah yang tidak kalah beratnya. Rara Warih jatuh ke tangan
orang-orang yang memusuhi Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwir
ing”“Yang terjadi, sudah terjadi” desis Kiai Danatirta “mar ilah
kita berbuat sesuatu dengan landasan kenyataan ini untuk mendapatkan
hasil yang sebaik-baiknya” Juwiring menar ik nafas dalam-dalam,
sementara Ki Dipanala berkata “Memang sulit untuk mendera perasaan
sendiri. Tetapi aku ingin mencoba untuk mempergunakan nalar
sebaik-baiknya” “Marilah kita mencobanya” berkata Kiai Danatirta
“sekarang kita harus mulai menilai keadaan dengan kenyataan yang
kita hadapi. Padepokan ini tidak akan dapat memberikan ketenangan
lagi” “Ya” desis Ki Dipanala “Kita memang harus pergi. Tetapi
bagaimana dengan Rara Warih” “Aku belum dapat mengatakan sesuatu”
jawab Kiai Danatirta “tetapi kita akan berusaha. Sementara itu kita
harus membuat satu keadaan dimana kita masih dapat berusaha” “Aku
mengerti maksud ayah” sahut Juwiring “Kita lebih dahulu memikirkan
kemungkinan untuk menyelamatkan diri” “Ya” sahut Kiai Danatirta
“Kita harus segera meninggalkan padepokan ini. Sebentar lagi
padepokan ini tentu akan dikepung oleh kekuatan yang lebih besar.
Kedua prajurit yang membawa Rara Warih itu akan mengatakan
segala-galanya. Bahkan mungkin yang tidak pernah terjadipun akan
dikatakannya” “Baiklah ayah” jawab Juwiring “tetapi bagaimana dengan
orang-orang itu“ “Biar lah mereka kita tinggalkan di sini” jawab
Kiai Danatirta. “He“ Raden Juwiring terkejut “Apakah maksud ayah,
mereka akan kita lepaskan begitu saja?““Ya. Kita tidak mempunyai
cara lain. Kita tidak akan dapat menawan mereka dan membawa kemana
kita pergi” jawab Kiai Danatirta “dan sebaliknya kita t idak akan
dapat membunuh mereka semuanya” Wajah Juwiring menjadi tegang.
Tetapi ia tidak segera dapat mengatakan, apa yang sebaiknya harus
dilakukannya. Memang benar seperti yang dikatakan oleh Kiai
Danatirta, bahwa mereka tidak akan dapat membawa orang-orang itu
kemana mereka pergi. Sebaliknya, merekapun t idak akan dapat
membunuh mereka yang telah menyerah itu. Dalam pada itu, Buntal dan
Arumpun termangu-mangu. Merekapun merasa bahwa tidak adil untuk
melepaskan orang- orang itu begitu saja. Tetapi juga tidak akan
dapat melakukan yang lain seperti dikatakan oleh Kiai Danatirta.
Dalam pada itu. Kiai Danatirtapun berkata “Dalam keadaan yang wajar,
kita akan dapat melakukan sesuatu yang lebih baik dan masuk akal.
Jika kita menangkap satu dua orang penjahat, maka kita akan dapat
menyerahkannya kepada yang berkewajiban. Tetapi dalam keadaan
seperti ini, tidak. Dan kitapun tidak berniat untuk menghakimi dan
menghukum mereka sendiri” Ketiga anak-anak muda itu
mengangguk-angguk. Bahkan Ki Dipanalapun ikut mengangguk-angguk
pula. Sebenarnyalah ia mempunyai perasaan seperti ketiga anak-anak
muda itu. Apalagi iapun merasa, bahwa hampir saja nyawanya direnggut
oleh orang-orang itu, seandainya Juwiring, Buntal dan Arum tidak
segera datang. Bahkan dua di antara mereka telah mengambil Rara
Warih. Puteri Pangeran Ranakusuma yang dengan susah payah telah
dibawa menyingkir dari istana Ranakusuman. Namun demikian, Ki
Dipanala tidak akan dapat membantah keputusan Kiai Danatirta.
Apalagi keputusan itu memang dapat dimengerti. Seandainya ia
menolak, maka ia harus dapat menunjukkan cara yang lebih baik.Namun
dalam pada itu, mereka akhirnya mengambil keputusan seperti yang
dimaksud oleh Kiai Danatirta. Mereka akan segera meninggalkan
padepokan itu, sementara para prajurit dari pasukan berkuda yang
telah mereka kalahkan itu akan mereka tinggalkan di padepokan.
Tetapi agar orang-orang itu tidak melakukan hal-hal yang tidak
diinginkan, misalnya mengikuti jejak mereka yang akan dapat menjadi
petunjuk bagi orang-orang berikutnya yang akan mencari mereka, maka
Kiai Danatirta tidak berkeberatan, jika kuda-kuda dari
prajurit-prajurit berkuda itu dilepaskan dan justru di singkirkan
dari padepokan itu. Demikianlah, ketika keputusan itu sudah bulat,
maka Kiai Danatirtapun kemudian bangkit dan keluar ke pendapa
diikuti oleh Ki Dipanala dan ketiga anak-anak muda yang telah
bergabung dengan pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Ketika mereka
keluar dari pintu yang menyekat ruang dalam dan pringgitan, maka
mereka melihat orang-orang yang telah menyerah itu masih tetap
berada di tempatnya. Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam.
Seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, tidak seorangpun yang
melarikan dir i meskipun kesempatan terbuka. Bahkan tanda- tanda
untuk itupun sama sekali tidak nampak. Seolah-olah mereka adalah
cantrik-cantrik padepokan yang patuh menunggu Kiai Danatirta keluar
dari Sanggar untuk member ikan petunjuk-petunjuk tentang ilmu
kanuragan dan ilmu kaj iwan. Dalam pada itu, Kiai Danatirta dan Ki
Dipanala serta ketiga anak-anak muda itupun duduk di antara
orang-orang yang telah menyerah itu dengan sikap wajar, seolah-olah
tidak ada batas di antara mereka. Namun justru karena itu, maka para
prajurit dari pasukan berkuda itu telah menundukkan
kepalanya.“Bagaimana keadaan kawan-kawan kalian yang terluka?“
bertanya Kiai Danatirta. Seorang yang tertua di antara mereka
menjawab meskipun dengan ragu-ragu “Nampaknya mereka menjadi lebih
tenang Kiai” “Yang paling parah adalah yang terluka melintang di
dada” berkata Kiai Danatirta “Yang nampaknya adalah pemimpin kalian”
“Ya. Ia adalah pemimpin kami” jawab prajur it itu. Kiai Danatirta
mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian beringsut mendekati orang
yang terbaring di pendapa itu. Juwiring menahan nafasnya Ialah yang
telah menggoreskan pedangnya di dada orang itu. Namun dalam keadaan
yang khusus, maka hal itu dapat saja terjadi. Jika ia tidak berbuat
demikian, maka mungkin ia sendirilah yang akan mengalami luka parah
seperti itu. Namun nampaknya obat yang diberikan oleh Kiai Danatirta
mempunyai pengaruh pula atas orang itu. Darahnya telah mampat, dan
bahkan kemudian orang itu telah membuka matanya. “Tenanglah” berkata
Kiai Danatirta “Jangan bergerak, agar lukamu tidak berdarah lagi“
Orang itu mengedipkan matanya. Semakin lama semakin jelas, bahwa
orang yang duduk di sebelahnya adalah Kiai Danatirta. Namun
nampaknya Kiai Danatirta itu tidak berbuat apa-apa atasnya.
“Tidurlah jika mungkin” berkata Kiai Danatirta “beristirahat adalah
satu satu obat yang baik bagimu Ki Sanak”Orang itu tidak menjawab.
Tetapi matanya sajalah yang berkeredipan. Namun dalam pada itu,
nampak betapa pertanyaan yang kisruh telah beraduk di dalamdadanya.
Sementara itu, Kiai Danatirtapun kemudian berkata kepada para
prajurit itu “Ki Sanak. Tidak sebaiknya aku tetap berada di
padepokan ini. Sudah aku katakan, bahwa para cantrik telah
meninggalkan padepokan ini. Yang tinggal hanyalah aku berdua dengan
Ki Dipanala. Sebenarnya ada orang ketiga, Rara Warih yang telah
dibawa oleh kedua orang kawanmu yang telah melarikan dir i lebih
dahulu. Sebenarnya nyawa Rara Warih lebih berharga dari nyawa kalian
semuanya. Tetapi kami tidak dapat membunuh kalian. Hendaknya kalian
menjadi saksi. Bahwa sikap ini adalah sikap prajurit Pangeran
Mangkubumi” Orang tertua di antara prajurit itu bertanya “Jadi Kiai
akan pergi kemana?“ Kiai Danatirta tersenyum. Jawabnya “Kami memang
tidak dapat Biarlah mempercayai kalian sepenuhnya. Karena itu, kami
t idak akan dapat menjawab, kemana kami akan pergi” Orang itu
mengangguk-angguk. Katanya “Maaf Kiai. Kami mengerti, bahwa kami
memang pantas untuk dicurigai. Karena itu terserahlah kepada Kiai”
“Baiklah. Kami mohon diri. Kami titipkan padepokan ini kepada
Kalian. Aku yakin, bahwa sebentar lagi akan datang kawan-kawan
kalian, setelah kedua orang yang membawa Rara Warih itu sampai ke
kota” berkata Kiai Danatirta. Prajurit-prajurit itu terheran-heran.
Salah seorang dari mereka bertanya “Kenapa Kiai menitipkan padepokan
ini kepada kami? Kami terikat dengan tugas kami, sehingga kami harus
kembali ke Surakarta” Kiai Danatirta tertawa. Katanya “Jika kalian
harus pergi, pergilah. Tetapi barangkali ada satu pekerjaan yang
dapat kalian lakukan. Sebutlah, bahwa aku minta tolong kepadakalian,
untuk membagi ternak dan semua binatang peliharaan di padepokan ini
kepada orang-orang di sekitar padepokan ini. Kami tidak dapat atau
katakan tidak sempat melakukannya. Kami cemas, bahwa tidak lama lagi
kawan-kawan kalian akan datang dan bermaksud menangkap kami seperti
yang kalian lakukan. Hidup atau mati. Sehingga dengan demikian kami
akan terpaksa bertempur lagi. Kami terpaksa untuk mempertahankan dir
i. yang barangkali agar tidak dibunuh maka kami akan membunuh
saudara-saudara kami yang berkulit sawo” Para prajurit itu tidak
menjawab. Tetapi sebagian dari mereka telah tersentuh hatinya
meskipun mereka tidak mengatakan sesuatu. “Nah” berkata Kiai
Danatirta “waktunya telah tiba. Sebelum kawan-kawanmu datang, kami
akan menanggalkan padepokan ini” Para prajurit itu hanya dapat
mengangguk-angguk saja sementara Kiai Danatirta berkata selanjutnya
“Tetapi maaf Ki Sanak. Kami terpaksa untuk menghalau kuda-kuda
kalian, karena pertimbangan-pertimbangan tertentu yang barangkali
tidak masuk akal” Para prajurit itu terkejut. Tetapi sebagian dari
mereka menyadari bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa,
sehingga karena itu, maka merekapun hanya berdiam diri saja. Namun
ternyata salah seorang dari mereka berkata “Kuda- kuda itu milik
kami Kiai. Kiai tidak wenang untuk melakukannya” “Kami hanya menjaga
keselamatan diri kami” jawab Kiai Danatirta. “Itu berarti bahwa Kiai
hanya mementingkan dir i sendir i. Jika Kiai mau pergi, pergilah.
Tetapi jangan mengganggu milik kami. Apalagi hal itu semata-mata
karena Kiai hanyamengenal kepentingan dir i sendir i saja” berkata
prajurit itu pula. “Tutup mulutmu“ Arumlah yang membentak “Kau kira
apa yang kau katakan itu berarti bagi kami” Prajurit itu benar-benar
merasa terhina. Apalagi ternyata bahwa anak muda itu seorang gadis.
Namun sebelum ia berkata sesuatu Arum mendahului “Ingat. Kami dapat
membunuh kalian jika kalian mengatakan bahwa kami hanya mengenal
kepentingan diri sendiri” Para prajurit itu termangu-mangu. Namun
prajurit itu masih membantah “Lalu apakah keuntungan kalian dengan
menghalau kuda-kuda kami” “Tidak seorangpun di antara kalian akan
dapat mengikuti kami atau Setidak-t idaknya mengetahui arah
kepergian kami setelah kami keluar dari padepokan ini” jawab Kiai
Danatirta “Tetapi bagaimana dengan kami. Kami bukan penghuni
padepokan ini. Kami harus kembali ke Surakarta” desis prajurit itu
pula. “Berjailan kaki” bentak Arum yang marah “atau bunuh diri saja
di sini setelah kalian gagal membunuh kami. Ingat, kalian akan
membunuh kami. Dan kami hanya menghalau kuda-kuda kalian. Atau kau
memang minta dibunuh saja?” Prajurit itu benar-benar tersinggung.
Tetapi ia menyadari keadaannya, sehingga karena itu, maka wajahnya
sajalah yang menjadi merah padam. Namun dalam pada itu, terdengar
desis perlahan “Dengar perintahku” Prajurit itu berpaling. Yang
lainpun berpaling pula. Ternyata pemimpinnya yang terluka itu telah
membuka matanya dan berbicara betapapun lir ihnya. Seorang di antara
para prajurit dari pasukan berkuda itu mendekat. Dan pemimpinnya
yang terluka itu berkata “Dengar perintahku“ ulangnya “Apapun yang
akan dilakukan oleh KiaiDanatirta, kalian tidak wenang lagi
membantah, karena kita semuanya adalah tawanannya” Prajurit-prajurit
itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian prajur it yang
tersinggung oleh sikap Arum itupun dengan hati yang sangat berat,
harus menerima perintah itu. Apalagi iapun menyadari, bahwa ia tidak
akan dapat berbuat apa-apa betapapun hatinya bergejolak. Dalam pada
itu, sebenarnyalah Arum benar-benar menjadi marah kepada prajurit
yang seorang itu. Tetapi iapun harus menahan hati. Seandainya ia
tidak terikat oleh perintah ayahnya, maka ia tentu sudah bertindak
atas prajurit yang saru Sebenarnyalah, bahwa Kiai Danatirtapun
kemudian berkata “Sudanlah, kami akan berangkat. Sekali lagi aku
minta tolong agar segala binatang peliharaan di padepokan ini dapat
diserahkan, atau biarlah orang-orang di sekitar padepokan ini datang
sendiri untuk mengambilnya, meskipun dengan demikian diper lukan
pengawasan agar mereka tidak saling berebutan” “Baiklah Kiai” jawab
prajurit yang tertua “kami akan mencoba melakukannya” Betapapun
terasa suasana yang ganjil di hati anak-anak muda Jati Aking itu,
namun merekapun tidak berbuat sesuatu, karena mereka memang tidak
dapat menunjukkan penyelesaian yang lebih baik, seperti juga Ki
Dipanala.Karena itu, maka merekapun segera berkemas. Sejenak
kemudian mereka telah berada di halaman dengan kuda masing-masing.
Sementara itu, Buntal dan Juwir ing telah melepaskan semua kuda dari
ikatannya. Sejenak kemudian, Juwiring dan Buntalpun telah
menghentakkan cambuk mereka. Kuda-kuda itupun terkejut dan
berlarikan keluar halaman. Apalagi karena Buntal dan Juwiring
berusaha untuk menyentuh kuda-kuda itu dengan ujung cambuknya
sehingga kuda-kuda itu berlari lebih cepat lagi menjauhi padepokan
Jati Aking. Demikian kuda-kuda itu hilang dari halaman, maka Kiai
Danatirta dan Ki Dipanala serta ketiga anak-anak muda itupun
meloncat naik ke punggung kuda masing-masing. Ketika kuda mereka
mulai bergerak, maka Kiai Danatirta masih berkata “Selamat tinggal.
Jagalah kawan-kawanmu yang terluka dengan baik Sebentar lagi akan
datang orang-orang Surakarta yang akan membawa tabib yang pala baik
yang akan dapat mengobati luka- luka itu dengan lebih sempurna.
Salamku bagi saudara-saudara kita dari Surakarta. Mudah-mudahan
mereka cepat menyadari keadaan Tanah ini yang sebenarnya sehingga
mereka tidak akan tersesat semakin jauh. Jika mungkin kalianpun
dapat merenungi dir i kalian, apakah juga termasuk kalian sendir i”
Para prajurit itu tidak menjawab. Mereka memandangi saja orang-orang
yang meninggalkan padepokan itu. Namun dalam pada itu, salah seorang
dari para prajurit itu bergumam “Mereka adalah orang-orang gila yang
sombong. Mereka mengira bahwa dengan membiarkan kita tetap hidup,
mereka dapat disebut sebagai pahlawan kemanusiaan. Tetapi pada suatu
saat, jika kita bertemu lagi dengan mereka, maka mereka akan
menyesal” Kawan-kawannya memandanginya dengan sorot mata yang aneh.
Orang tertua di antara mereka berkata “Kau selalu mengumpat-umpat
saja. Kita sudah tidak berhak untukmenentukan apapun juga. Jika
mereka menghalau kuda-kuda itu, itu adalah hak mereka. Kau tidak
dapat menyatakan keberatan sama sekali” “Kalian tidak membantu aku”
desis prajur it itu. “Kau yang keliru. Untunglah ada orang-orang tua
yang dapat menguasai anak-anak muda itu. Jika tidak, kita semua
sudah menjadi mayat dan terkapar di tengah sawah itu” jawab
kawannya. “Itu lebih baik bagiku” jawab prajurit itu. “Kau keras
kepala” jawab orang tertua “tetapi kenapa tidak kau lakukan. Ketika
kami menyerah, kau ikut pula menyerah. Kenapa kau tidak ingin
disebut sebagai pahlawan pula, yang gugur di medan pertempuran
melawan para pemberontak” Orang itu menggeretakkan giginya. Katanya
“Kalian terlalu lemah sehingga kalian dapat dipermainkan oleh
orang-orang padepokan itu. Meskipun kita sudah menyerah, tetapi jika
kita bersikap agak keras, mereka tentu akan mendengarkan” “Bagaimana
jika yang terjadi sebaliknya. Anak muda yang ternyata seorang gadis
itu nampaknya pendiriannya keras sekali, sementara Raden Juwiring
yang kehilangan adiknya itu akan dapat kehilangan pengamatan diri
pula” jawab orang tertua “dan adalah satu kenyataan, bahwa kita
tetap hidup. Pemimpin kita mendapat pengobatan bersama kawan-kawan
kita yang terluka” “Kau sudah terpengaruh” geramprajur it yang
marah. “Mungkin demikian. Tetapi mereka ternyata bersikap baik
terhadap prajurit Surakarta yang terdiri dari orang-orang berkulit
sawo matang seperti kita, karena sebagaimana pesan Pangeran
Mangkubumi, para pengikutnya tidak dibenarkan untuk bertindak
sewenang-wenang terhadap bangsa sendiri, dimanapun kita
berdiri”Kawannya yang marah itu tidak menjawab. Tetapi masih
terdengar ia menggeramang. Namun demikian lawannya tidak
menghiraukannya lagi. Dalam pada itu, kuda-kuda mereka telah dihalau
pergi oleh Juwiring dan Buntal. Karena itu, maka mereka tidak dapat
dengan segera kembali ke Surakarta. Tetapi seperti yang dikatakan
oleh Kiai Danatirta, merekapun berharap bahwa sepasukan prajurit
dari pasukan berkuda yang kuat akan datang ke padepokan itu,
sehingga karena itu. maka mereka sebaiknya memang menunggu.
“Sementara kita menunggu, kita dapat melakukan pesan Kiai Danatirta”
berkata prajurit tertua di antara mereka. “Aku tidak sudi melakukan”
desis prajurit yang marah itu. Prajurit tertua itu menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Apa salahnya kita berbuat baik bagi
orang-orang di sekitar padepokan ini. Jika kita membagi ternak yang
ada di padepokan ini, maka mereka tentu mengira, bahwa kitalah yang
berbaik hati kepada mereka” “Tetapi apakah kita tidak
memperhitungkan satu kemungkinan, bahwa orang tua itu dengan sengaja
membuat kita untuk tinggal di sini lebih lama lagi, sementara itu ia
memanggil orang-orangnya lebih, banyak lagi untuk beramai- ramai
membantai kita di sini” jawab prajurit yang marah. “Kau sudah
kehilangan nalar” jawab kawannya yang Jain “jika ia ingin membunuh,
hal itu sudah dapat dilakukannya. Ia tidak perlu menawarkan agar
kita menyerah. Mereka dengan mudah akan dapat membunuh kita seorang
demi seorang. Tetapi hal itu tidak dilakukannya. Ia minta kita
menyerah. Dan kita sudah diperlakukan dengan baik” “Omong kosong”
jawab kawannya yang marah “tetapi aku tidak mau berbuat
apa-apa”“Biar lah ia tidak berbuat apa-apa” jawab kawannya yang lain
“Kita dapat membagi semua binatang peliharaan di padepokan ini atas
nama kita sendiri. Orang-orang padukuhan akan berterima kasih kepada
kita” “Yang penting” berkata orang tertua “binatang peliharaan itu
tidak mati kelaparan. Sementara orang-orang padukuhan akan
mendapatkan tambahan binatang peliharaan. Marilah, siapa yang ingin
ikut bersama aku memanggil beberapa orang padukuhan terdekat dan
menyerahkan binatang-binatang yang ada kepada mereka” “Tetapi kita
belum tahu, binatang apa saja yang ada di padepokan ini” desis
seorang prajur it “Kita akan dapat melihatnya” jawab orang tertua
itu. Demikianlah orang tertua itu telah menghubungi pemimpinnya yang
terluka. Namun agaknya obat Kiai Danatirta telah banyak menolongnya.
Meskipun ia masih sangat lemah, tetapi ia sudah dapat memberikan
pertimbangan. Katanya lirih “Lakukanlah. Sambil menunggu kawan-kawan
kita yang tentu akan datang. Lambat atau cepat” Kedatangan para
prajurit yang tidak mengenakan cir i-ciri keprajuritan di padukuhan
terdekat dan mengaku orang kebanyakan itu telah memanggil beberapa
penghuni padukuhan itu, “Kiai Danatirta telah pergi” berkata para
prajurit itu “kamilah yang diserahi padepokan itu. Tetapi kami tidak
akan dapat berbuat banyak. Karena itu, kami mengambil kebijaksanaan
untuk membagi saja ternak yang ada di padepokan ini bagi kalian
dengan maksud dapat dipelihara sebaik-baiknya” Orang-orang padukuhan
itupun berterima kasih kepada prajurit-prajurit itu. Namun masih ada
juga yang bertanya“Apakah Kiai Danatirta tidak akan marah akan hal
ini?“ ”Tidak. Segalanya kami lakukan atas ijinnya. Bahkan pesannya
sebelum ia pergi” jawab prajurit tertua itu. Demikianlah, terjadi
seperti yang dikehendaki oleh Kiai Danatirta. Namun prajurit yang
marah itu masih saja berkata “Itukah yang kalian lakukan atas nama
kalian sendir i? Orang- orang itu masih bertanya juga tentang Kiai
Danatirta. Bahkan mereka langsung atau tidak langsung menuduh kalian
telah melampaui hak orang tua itu” Tetapi kawan-kawannya tidak
menghiraukannya. Mereka melakukannya seperti yang dimaksud oleh
orang tua itu. Dalam pada itu, maka dua orang prajur it berkuda yang
membawa Rara Warih telah memasuki kota. Mereka sama sekali tidak
menghiraukan, beberapa orang memperhatikan mereka dengan curiga.
Apalagi karena mereka tidak mengenakan pakaian keprajur itan. Namun
orang yang sekuda dengan Rara Warih telah mengancam gadis itu untuk
berbuat lebih jauh j ika gadis itu melakukan sesuatu yang dapat
menarik perhatian orang banyak. “Jika seseorang bertanya, aku akan
mengatakan bahwa aku membawa seorang gadis yang sakit” berkata
penunggang kuda itu. Rara Warih memang tidak dapat berbuat apa-apa.
Ia sadar bahwa prajurit itu dapat membunuhnya atau dapat berbuat apa
saja sehingga akan mencelakainya lebih dari mati. Namun demikian,
iapun sadar bahwa di Surakarta ia akan menghadapi persoalan yang
gawat. Meskipun ia tidak tahu pasti, namun ia mengerti, bahwa ayah
dan kakaknya mempunyai satu sikap yang khusus terhadap kumpeni.
Agaknya karena itulah maka para prajurit itu telah memburunya sampai
ke padepokan Jati Aking” Namun Rara Warih yang sadar bahwa ia adalah
puteri seorang Senapati, telah berusaha menempa dirinya sendir
i,sehingga ia harus tabah menghadapi segalanya. Ia tidak boleh
kehilangan akal dan merengek-rengek. Tetapi pada suatu saat ia harus
menunjukkan sikap sebagaimana sikap seorang puteri Senapati besar
dari Surakarta. “Aku bukan lagi gadis ingusan yang kehilangan golek
mainan” berkata Rara Warih di dalam hatinya “tetapi aku adalah
seorang yang telah dewasa dan harus menghadapi semua persoalan
dengan dewasa pula. Termasuk menghadapi kematian” Rara Warih sama
sekali tidak berbuat apapun juga. Karena itu, maka prajur
it-prajurit itupun tidak berbuat lebih kasar lagi kepadanya.
Meskipun demikian ketika kedua orang prajurit itu berkuda di
jalan-jalan kota, beberapa orang telah memandang mereka dengan penuh
pertanyaan. “Gadis apakah yang telah dibawa oleh kedua orang itu
“desis salah seorang di antara mereka. Namun ketika seseorang
meludah di pinggir jalan ketika mereka melihat seorang gadis berkuda
bersama seorang laki- laki, maka prajur it yang berkuda bersama Rara
Warih itu berteriak “Adikku sedang sakit parah. Ia harus dibawa
keseorang dukun yang pandai” “O“ orang yang meludah itupun berteriak
“maaf, aku tidak tahu” Demikianlah kedua orang prajurit itu telah
membawa Rara Warih ke baraknya, ke barak pasukan berkuda. Kedatangan
mereka benar-benar telah mengejutkan beberapa orang. Gadis itu
sangat cantik, sehingga beberapa orang telah mengerumuninya dengan
serta merta. Namun kedua prajurit yang membawanya itu telah
memberikan keterangan singkat, sehingga dengan demikian kawan-
kawannya segera beringsut meninggalkannya “Gadis ini puteri Pangeran
Ranakusuma. Kami berhasil menangkapnya di padepokan Jati Aking”Hanya
beberapa orang sajalah yang kemudian berdiri di sebelah menyebelah
kedua orang prajur it yang datang dari Jati Aking itu. Salah seorang
perwira muda bertanya “Kau memang luar biasa. Kau telah berhasil
melakukan satu tugas yang besar. Sebaiknya gadis itu kau hadapkan
kepada Panglima pasukan berkuda” “Ya” jawab kedua prajurit itu ”aku
memang akan menyerahkannya. Mungkin para pemimpin pasukan berkuda
akan dapat mengambil satu sikap tertentu” Perwira muda itu memandang
Rara Warih sejenak Namun perwira itu menjadi heran dan kemudian
kagum Pada wajah gadis itu sama sekali tidak terlintas perasaan
cemas dan takut. Gadis itu berdiri tegak dengan sorot mata yang
tajam memandangi setiap orang yang berada di sekitarnya. “Marilah
puteri” berkata prajurit berkuda itu “Kita akan menghadap para
pemimpin pasukan berkuda” Rara Warih tidak menjawab. Tetapi ia
melangkah dengan langkah tetap mengikut i prajurit berkuda yang
membawanya dari Jati Aking, sementara seorang yang lain berjalan di
belakangnya. Beberapa orang pimpinan tertinggi pasukan berkuda yang
kemudian diberitahu bahwa dua orang prajurit akan menghadap dengan
membawa puteri Pangeran Ranakusuma, telah memerintahkan memanggil
mereka dan membawa puteri itu bersama mereka. Seperti saat-saat
kemudian Rara Warih memasuki ruang para pemimpin pasukan berkuda
dengan wajah tengadah. Bahkan ternyata di antara mereka telah
dikenalnya sebagai kawan dekat kakandanya, Raden Juwiring. “Marilah
diajeng“ seorang perwira muda mempersilahkan. Rara Warih memandang
perwira muda itu yang ternyata juga seorang kawan Raden
Juwiring.Rara Warih termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian
duduk diisebuah tempat duduk kayu yang dialasi dengan kain beludru
berwarna ungu. Seperti kain beludru yang banyak terdapat di istana
Pangeran Ranakusuma. “Diajeng” berkata perwira muda itu “adimas
Juwir ing sempat membuat kami semuanya menjadi kacau di medan
perang” Rara Warih sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia t idak
menundukkan kepalanya. “Adalah satu hal yang barangkali baik bagi
diajeng sendir i, bahwa dua orang prajurit telah membawa diajeng
kemari” berkata perwira muda itu “dengan demikian diajeng dapat
diselamatkan dari segala macam noda perjuangan yang ada di Surakarta
dalam menegakkan wibawa Kangjeng Susuhunan” Rara Warih masih tetap
diam. Sementara itu, perwira yang lain telah membawa dua orang
prajur it yang berhasil menangkap Rara Warih itu ke sebuah bilik
yang lain. “Bagaimana caramu menangkap gadis itu?“ bertanya seorang
perwira pimpinan pasukan berkuda. Kedua prajurit itupun mencer
iterakan apa yang telah terjadi. Tetapi ternyata bahwa kedua
prajurit itu belum tahu bahwa Raden Juwiring telah datang ke
padepokan Jati Aking. “Kami tidak menunggu pertempuran di padepokan
itu selesai. Kami melihat orang-orang tua yang bertempur melawan
kawan-kawan kami sudah tidak berdaya. Karena itu, agar segalanya
dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya, maka kami berdua telah
mendahului kawan-kawan kami” “Tetapi kawan-kawan kalian itu belum
datang” desis perwira itu. “Ya. Tetapi tidak lama lagi mereka akan
datang. Kiai Danatirta dan Ki Dipanala tidak akan dapat bertahan
lama. Mereka sudah bertempur sambil ber lari-lar i ketika
akumeninggalkan padepokan” jawab salah seorang dari kedua prajurit
itu. “Yang kalian lakukan ternyata memberikan kemungkinan yang baik
untuk menangkap Raden Juwiring. Panglima dari pasukan berkuda tentu
akan berterima kasih kepadamu. Bahkan mungkin Panglima Besar yang
diangkat khusus untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi, Pangeran
Yudakusuma akan member ikan perhatian khusus kepadamu. Meskipun
Pangeran Yudakusuma terluka cukup gawat karena senjata Pangeran
Ranakusuma yang memiliki kekuatan khusus itu, namun ternyata seorang
tabib berhasil mengobatinya dan menyelamatkan j iwanya. Mungkin
Pangeran Yudakusuma dalam waktu dekat akan bertindak lebih jauh lagi
bersama Kumpeni yang mendendam Pangeran Mangkubumi karena
kekalahannya. Dan kau tahu, bahwa sebab terbesar dari kekalahan itu
adalah justru pengkhianatan Pangeran Ranakusuma dan puteranya, Raden
Juwiring” Prajurit itu mengangguk-angguk. Namun terasa kebanggaan
mekar di hatinya. “Tinggalkan Rara Warih. Kami akan memanggilmu
dalam keadaan yang khusus. Kami para perwira pimpinan pasukan
berkuda mengucapkan selamat atas hasil yang kau peroleh. Dengan Rara
Warih sebagai umpan, maka tidak akan terlalu sulit untuk menangkap
Raden Juwiring. Ia saat ini termasuk buruan yang penting bagi
Surakarta dan Kumpeni“ Kedua prajurit yang berbangga itu
mengangguk-angguk. Terbayang di angan-angan mereka, hadiah yang
besar yang akan mereka terima dari pimpinan pasukan berkuda, atau
dari Pangeran Yudakusuma sendir i dengan kenaikan pangkat dan
jabatan, atau gemerincingnya uang dari Kumpeni. “Sekali-sekali aku
ingin juga duduk di atas tempat duduk beludru di rumah, dan
memberikan kain sutera yang halus kepada isteriku” berkata prajurit
itu di dalam hatinya.Dalam pada itu, di ruang lain, seorang perwira
yang sudah berambut putih telah memanggil Rara Warih menghadap
seorang diri. Demikian Rara Warih memasuki ruangan itu, maka perwira
berambut putih itupun dengan tergesa-gesa berdiri dan menyorongkan
tempat duduk kepada Rara Warih. “Marilah, marilah ngger“ perwira itu
mempersilahkan. “Paman Tumenggung” desis Rara Warih yang sudah
mengenal perwira berambut putih itu. Tumenggung yang berambut putih
yang terkenal dengan sebutan Tumenggung Watang itu tersenyum sambil
menjawab “Ya ngger. Tentu angger mengenal aku dengan baik. Aku
adalah salah seorang prajur it yang pernah berada di bawah pimpinan
ayahanda puteri, Pangeran Rnakusuma. Aku kagum akan kemampuan
ayahanda puteri itu. Sehingga sebenarnyalah di peperangan Pangeran
Ranakusuma adalah guruku” Rara Warih tidak menjawab. Tetapi seperti
saat ia memasuki barak itu, ia sama sekali t idak menundukkan
kepalanya. “Tetapi puteri, pada saat terakhir, telah terjadi
perubahan sikap Pangeran Ranakusuma dan juga Raden Juwiring.
Nampaknya pengaruh persoalan pr ibadi pada Pangeran Ranakusuma itu
demikian besarnya sehingga Pangeran Ranakusuma mengambil satu
keputusan yang sangat mencemaskan bagi seluruh Surakarta”
berkataTumenggung yang lebih dikenal dengan nama Tumenggung Watang.
Rara Warih masih tetap berdiam diri. Namun dalam pada itu, sejenak
Tumenggung Watang itupun terdiam. Dipandanginya gadis yang duduk di
hadapannya dengan wajah tengadah. Sama sekali tidak menunjukkan
kecemasan meskipun ia sudah berada di dalam satu lingkungan yang
berbahaya baginya. Namun dalam pada itu, ternyata Tumenggung Watang
mengemban satu tugas yang sangat berat baginya. Menurut pertimbangan
para perwira pasukan berkuda, Rara Warih nampaknya belum tahu apa
yang telah terjadi di peperangan. Berita gugurnya Pangeran
Ranakusuma yang sudah sampai pada pimpinan pasukan berkuda dan
seluruh prajurit Surakarta, agaknya masih belum diketahui oleh
puterinya. Dan tugas untuk memberitahukan hal itu telah diserahkan
kepada seorang perwira yang usianya sudah melampaui pertengahan
abad. “Apakah benar Rara Warih masih belum mengetahui, bahwa
ayahandanya telah gugur?“ bertanya Tumenggung Watang itu di dalam
hatinya. Namun bagaimanapun juga puteri itu harus diberi tahu.
Kemudian ia akan tetap berada di dalam kekuasaan para prajurit
meskipun dalam keadaan yang barangkali harus dipertimbangkan sesuai
dengan keadaannya. Karena gadis itu akan dapat dipergunakan untuk
memanggil Raden Juwiring yang merupakan buruan bagi Surakarta. Baru
sejenak kemudian. Tumenggung Watang itu berkata “Angger, bahwa
angger telah bersedia kembali ke Surakarta agaknya telah membuat
kami menjadi lebih tenang. Sebenarnyalah kami kewatir, bahwa angger
akan mengalami keadaan yang sangat pahit, karena angger telah
meninggalkan Surakarta. Mungkin angger telah dibujuk oleh pemomong
angger yang bernama Ki Dipanala itu. Namunsebenarnyalah hal itu
tidak akan menguntungkan bagi angger. Apalagi bagi masa depan
angger. Bukankah masih ada ibunda yang akan dapat mengasuh puteri
dengan kasih seorang ibu” Rara Warih memandang wajah Tumenggung itu
sejenak. Namun sama sekali tidak nampak kesan khusus di wajahnya.
Sehingga dengan demikian maka Tumenggung Watang itupun menganggap
bahwa Rara Warih memang masih belum mengetahui bahwa ayahandanya
telah gugur. “Karena itu puteri” berkata Tumenggung Watang “untuk
sementara puteri akan mendapat pengawalan khusus bagi keselamatan
puteri, karena mungkin sekali para abdi di Ranakusuman akan
mendendam puteri yang mereka anggap telah berkhianat terhadap
ayahanda. Tetapi jangan cemas. Baru kemudian setelah keadaan menjadi
semakin baik, puteri akan kami serahkan kembali kepada ibunda,
karena saat ini, ibunda angger itu adalah satu-satunya orang tua
yang masih ada” Rara Warih mengerutkan keningnya. Tetapi ternyata ia
tidak bertanya tentang keterangan Tumenggung Watang bahwa ibundanya
adalah satu-satunya orang tuanya, yang menurut tangkapan Rara Warih
karena ayahandanya tidak lagi berada di kota. Tetapi yang dikatakan
kemudian oleh Rara Warih telah membuat Tumenggung Watang menggeleng-
gelengkan kepalanya, “Paman Tumenggung” berkata Rara Warih “Kenapa
paman tidak berkata berterus terang. Aku akan menjadi tawanan karena
ayahanda dianggap berkhianat bersama kakanda Juwiring. Mungkin aku
akan dapat dipergunakan untuk memancing dan kemudian menangkap
ayahanda dan kakanda Juwiring. Dengan mengancam akan membunuh aku
atau memper lakukan aku dengan kasar, maka paman dan barangkali juga
Senapati yang lain mengharap ayahanda atau kakanda Juwir ing
bersedia untuk datang menghadap”Tumenggung Watang memandang Rara
Warih dengan tatapan mata yang redup. Namun kekaguman telah merayap
di dadanya. Rara Warih telah mencerminkan ketajaman perasaan seperti
juga ayahandanya. “Jangan beprasangka terlalu buruk, ngger” jawab Ki
Tumenggung. “Tidak paman. Yang aku katakan bukan sekedar prasangka.
Aku tahu pasti paman dan para Senapati akan berbuat demikian, karena
aku bukan lagi anak-anak yang sama sekali tidak tahu menahu apa yang
pernah dilakukan oleh para prajurit. Tetapi paman” berkata Rara
Warih lebih lanjut “paman tidak akan berhasil berbuat demikian.
Ayahanda dan kakanda Juwiringpun berjiwa prajur it. Jangankan aku
anaknya yang tidak berarti apa-apa, sedangkan dirinya sendiripun
jika perlu akan dikorbankan. Karena itu. jangan berharap bahwa aku
akan dapat dipergunakan untuk memancing mereka agar mereka menyerah.
Ayahanda dan kakanda Juwiring akan mempunyai pertimbangan seorang
prajurit. Bukan pertimbangan seorang ayah dan seorang kakak yang
cengeng” Tumenggung Watang menarik nafas dalam-dalam. Katanya
seolah-olah bergumam kepada diri sendir i “Aku sudah menduga, bahwa
sikap angger mencerminkan sikap ayahanda puteri” Rara Warih
mengerutkan keningnya. Namun ketika ia memandang wajah Ki Tumenggung
Watang, justru Rara Warihlah yang menjadi heran. Tatapan mata
Tumenggung yang berambut putih itu nampaknya menjadi buram. Bahkan
ia masih saja bergumam “Angger Warih, bagaimanapun juga aku tetap
menganggap bahwa Pangeran Ranakusuma adalah guruku di peperangan.
Pangeran Ranakusumalah yang mengusulkan untuk mengangkat aku menjadi
Tumenggung sebelum aku dipindahkan untuk menjadi orang terpenting
dalam pasukan berkuda di Surakarta sekarang ini”Rara Warih tidak
menjawab. Sementara Tumenggung Watang berkata seterusnya “Karena itu
ngger, duka yang terjadi di Ranakusuman adalah dukaku, lepas dari
apa yang pernah dilakukan oleh Pangeran Ranakusuma pada saat
terakhir” Rara Warih mengerutkan keningnya. Tetapi terasa hatinya
berdesir lembut “Apa yang sebenarnya ingin paman katakan?“ “Maaf
ngger, bahwa aku telah mengetahui sejauh-jauhnya, apa yang telah
terjadi di dalam lingkungan keluarga angger, justru karena sikap
ayahanda angger itu sendiri” desis Ki Tumenggung. Rara Warih
termangu-mangu sejenak. Sementara Tumenggung Watang berkata
selanjutnya “Maaf ngger. Bukan maksudku mencampuri persoalan
keluarga Ranakusuman. Bukan pula karena aku didorong oleh sifat
ingin tahu. Tetapi keterangan yang aku cari dalam waktu singkat ini
justru untuk dapat mengambil satu kesimpulan yang benar, tentang apa
yang telah terjadi. Aku telah menghubungi beberapa orang termasuk
beberapa perwira kumpeni yang mengetahui latar bala kang sikap
ayahda angger terhadap kumpeni itu. “Cukup” potong Warih “paman
ingin mengungkap rahasia keluargaku untuk melemahkan hatiku. Paman
tidak akan dapat memeras aku. Jika paman menghendaki sesuatu dari
padaku dengan mempergunakan rahasia itu untuk memeras, maka paman
tidak akan berhasil Silahkan mengumumkan apa yang telah paman
ketahui. Aku, ayahanda Ranakusuma dan kakanda Juwiring tidak akan
berkeberatan. Bahkan ibunda juga tidak akan berkeberatan sama
sekali, karena jika benar paman mengetahui keadaan keluargaku
sebaik-baiknya, ibunda telah kehilangan kesadarannya” “Tidak puteri.
Bukan begitu” sahut Tumenggung Watang “sudah aku katakan ngger. Duka
di istana Ranakusuman adalah dukaku sekeluarga. Apakah angger tidak
ingat lagi anak gadisku yang sebaya dengan angger, yang
bahkanmenurut penglihatanku, angger telah mengenal anak itu itu
dengan baik. Bahkan angger bersikap terlalu baik ia terhadapnya”
“Apa hubungannya dengan anak gadis paman” bertanya Warih. “Tidak ada
ngger” jawab Tumenggung Watang “tetapi sebagai seorang ayah yang
mempunyai seorang anak gadis yang sebaya dengan angger, maka aku
tidak akan pernah dapat melepaskan ingatanku terhadap anak gadisku
pada saat-saat seperti ini. Bahkan aku membayangkan, seandainya yang
terjadi atas angger ini terjadi atas anak gadisku, maka anak itu
tentu sudah pingsan, dan barangkali ia akan mati membeku” Rara Warih
memandang Ki Tumenggung dengan tenang. Namun ia masih menunggu
Tumenggung Watang meneruskan kata-katanya “Puteri, betapa beratnya
untuk mengatakan kepada puteri, bahwa duka itu datang bagaikan
datangnya gelombang laut. Susul menyusul tidak henti-hentinya. Aku
tahu, betapa berat duka yang akan angger tanggungkan, namun aku
memang harus mengatakannya. Tetapi aku yakin, bahwa angger adalah
seorang puteri Senapati Besar yang darahnya mengalir di tubuh angger
meskipun angger seorang puteri” Denyut jantung Rara Warih bertambah
cepat berdetak. Sementara Ki Tumenggung berkata “Puteri, aku berkata
dengan sebenarnya sebagaimana aku berhadapan dengan, anakku sendir
i. Sebenarnyalah bahwa ayahanda puteri, tidak akan dapat puteri
jumpai lagi unluk selama-lamanya” “Paman“ wajah Warih menegang
sejenak. ”Terimalah kabar ini sebagaimana puteri tabah menghadapi
keadaan puteri sendiri” desis Tumenggung Watang” Ayahanda puteri,
Pangeran Ranakusuma sudah gugur di peperangan”Wajah Rara Warih
menjadi semakin tegang. Tiba-tiba saja ia menutup wajahnya dengan
kedua belah tangannya. Betapapun puteri itu tabah menghadapi
kenyataan hidupnya, namun ketika ia mendengar, bahwa ayahandanya
telah gugur di pertempuran, hatinya bagaikan runtuh di dalam
dadanya. Rara Warih tidak berhasil menahan air matanya yang mengalir
semakin deras dari sepasang matanya. Tumenggung Watang menarik nafas
dalam-dalam. Ketika ia melihat Rara Warih menangis, maka matanyapun
menjadi panas. Ia adalah seorang Senapati pilihan seperti beberapa
orang Senapati lainnya di Surakarta. Tetapi seperti yang
dikatakannya, setiap kali, ia teringat akan anak gadisnya yang
sebaya dengan Rara Warih. Jika anak gadisnya itulah yang harus
mengalami keadaan seperti yang dialami Rara Warih. mungkin j iwanya
akan sudah terganggu. “Puteri” berkata Ki Tumenggung kemudian
“Puteri adalah seorang gadis yang sangat tabah, karena ketabahan
hati ayahanda puteri mengalir pula di dalam dir i puteri. Ayahanda
adalah seorang Senapati yang justru akan mendapat kehormatan apabila
ia gugur di pertempuran. Selebihnya, segalanya memang harus
diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Yang
Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang. Jika ayahanda memang sudah
saatnya dipanggil, maka dimanapun juga ia berada, maka akan datang
pula saat untuk menghadap itu” Rara Warih mencoba mengusap air
matanya. Namun tiba- tiba ia mengangkat wajahnya. Dengan sorot mata
yang menyala ia berkata lantang “Paman bohong. Ayah tidak gugur di
pertempuran itu. Paman ingin berbuat sesuatu atasku. Mungkin paman
ingin mendengar keterangan apapun juga yang paman sangka aku sudah
mengetahuinya. Semula paman ingin memeras aku dengan rahasia
keluargaku. Tetapi karena paman tidak berhasil, sekarang paman
mencoba untukmempengaruhi perasaanku dengan mengabarkan ceritera
bohong itu” Tumenggung Watang menarik nafas dalam-dalam. Sikap Rara
Warih itu membuatnya semakin pr ihatin. Meskipun ia mengerti, bahwa
Rara Warih tidak akan mempercayai siapapun juga yang dianggapnya
berdiri berseberangan dengan ayahanda dan kakandanya, namun jika
dalam hal ini Rara Warih tidak mempercayainya, maka pada suatu saat,
kenyataan itu akan dapat membenturnya lebih parah lagi. Karena itu,
maka Tumenggung itupun kemudian berkata sareh “Angger. Apakah
keuntunganku dengan berbohong kepada angger tentang hal yang satu
ini” “Paman ingin memaksa aku untuk mengikuti segala perintah paman.
Dengan berita bohong itu paman berharap bahwa aku akan menjadi putus
asa dan tidak lagi mempunyai hasrat apapun juga. Dengan demikian apa
yang paman inginkan, mungkin keterangan, mungkin sikap tertentu,
akan selalu aku lakukan” sahut Rara Warih. “Tidak ngger” berkata
Tumenggung itu lebih lanjut “meskipun angger dapat saja menganggap
bahwa aku tidak berpihak kepada Pangeran Ranakusuma, tetapi masih
ada perasaanku untuk tidak berbohong dalam hal yang satu ini.
Prajurit Surakarta sudah meyakinkan, bahwa ayahanda puteri telah
gugur, sampyuh dengan Tumenggung Sindura dan Pangeran Yudakusuma
yang bertempur bersama-sama. Namun jiwa Pangeran Yudakusuma ternyata
masih dapat tertolong. Rara Warih termangu-mangu sejenak. Sementara
itu Tumenggung Watang berkata pula “Angger terlalu berprasangka.
Mungkin angger dapat menganggap aku sebagai musuh karena dalam satu
dan dua hal aku tidak sejalan dengan Pangeran Ranakusuma dan Raden
Juwir ing. Tetapi dalam pada itu, dalam hal ini dihadapan angger
Warih aku adalah orang tua yang barangkali masih dapat
dipercaya”Rara Warih memandang Tumenggung itu dengan mata. yang
basah. Namun melihat sikap dan pandangan mata orang tua itu,
akhirnya Rara Warih mempercayainya, bahwa ayahandanya memang sudah
gugur di peperangan. Air mata gadis itu mengalir semakin deras di
pipinya. Dalam pada itu terdengar di antara isaknya pertanyaan
“Apakah paman mengetahui nasib kakanda Juwir ing” Tumenggung Watang
menggeleng lemah. Katanya “Aku tidak mengetahui nasibnya ngger.
Tetapi tidak seorangpun yang melaporkan bahwa Raden Juwir ing
mengalami cidera. Mungkin Raden Juwiring berhasil bergabung dengan
pasukan Pangeran Mangkubumi yang pada saat itu telah hadir pula di
medan pertempuran. Lepas dari setuju atau tidak setuju, namun aku
kagum akan kerapian rencana Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwir ing”
“Dan paman tidak setuju?“ tiba-tiba saja Rara Warih bertanya.
Pertanyaan yang tidak diduga sama sekali oleh Tumenggung Watang
justru pada saat Rara Warih dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa
ayahandanya telah gugur. Tumenggung Watang menarik nafas
dalam-dalam. Lalu katanya “Kadang-kadang kita memang mempunyai
pilihan yang berbeda ngger. Tetapi perbedaan itu wajar sekali.
Mungkin karena atas tempat kita masing-masing berdiri sudah berbeda.
Tetapi mungkin pula karena gambaran kita masing- masing tentang masa
depanlah yang berbeda” Ki Tumenggung berhenti sejenak lalu “Tetapi
sudahlah. Rasa- rasanya dadaku tidak lagi pepat. Aku sudah berhasil
menyampaikan ber ita itu kepadamu ngger, betapapun beratnya. Bagiku
kau tetap aku anggap sebagai anakku sendiri. Bahkan aku merasa iri
melihat sikap dan ketabahan hati angger yang jauh berbeda dengan
anak gadisku sendiri yang sebaya dengan angger” “Lalu, apakah yang
akan paman lakukan atasku? Menahan aku atau menyerahkan aku kepada
kumpeni yang akanmemer intahkan memasang wara-wara di sepanjang
jalan, bahwa Warih, anak gadis Pangeran Ranakusuma sudah tertangkap.
Karena itu maka Kumpeni memer intahkan Raden Juwiring untuk datang
dan menyerah. Kalau tidak Warih akan di pancung di alun-alun dan
kepalanya akan ditanjir di regol Ranakusuman, begitu?“ geram Rara
Warih sambil mengusap matanya yang basah. “Jangan begitu ngger”
jawab Tumenggung Watang “kami memang harus melindungi puteri segala
dendam mereka yang merasa dikhianati oleh Pangeran Ranakusuma dan
Raden Juwiring” “Paman memakai istilah yang salah. Bukan dilindungi,
tetapi ditahan untuk kepentingan tertentu” potong Warih. Tumenggung
Watang mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah ngger. Aku akan memakai
istilah itu. Angger untuk sementara memang harus ditahan. Tetapi
percayalah, bahwa aku merasa angger sebagai anakku sendiri“ Rara
Warih memandang wajah Tumenggung Watang sejenak. Namun kemudian
katanya “Paman akan menganggap aku sebagai puteri paman. Tetapi
sudah tentu pamanpun akan bersikap sebagai seorang prajurit”
“Bagaimana dengan sikap seorang prajur it?“ bertanya Tumenggung
Watang. “Paman akan memper lakukan semua orang sesuai dengan
ketentuan yang berlaku menurut angger-angger keprajuritan. Meskipun
akan mengenai anak sendiri sekalipun” jawab Warih “dan pamanpun akan
mengetrapkannya kepadaku yang paman perlakukan sebagai anak sendir
i” Tumenggung Watang mengangguk-angguk. Katanya “Puteri sudah
dilambari dengan prasangka buruk terhadap semua orang yang tidak
berpihak kepada Pangeran Mangkubumi, atau yang tidak sejalan dengan
Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwiring. Tetapi hal itu memangdapat
aku mengerti Meskipun demikian sikapku tidak akan berubah” Rara
Warih tidak menjawab. Namun setiap kali ia memandang wajah
Tumenggung Watang, maka terbersit di dalam hatinya, sebenarnyalah
Tumenggung itu berkata dengan tulus kepadanya. “Puteri” berkata
Tumenggung itu kemudian ”sekarang, apa boleh buat. Jika puteri lebih
senang mempergunakan istilah ditahan. Maka puteri akan aku tahan di
dalam tahanan khusus yang akan dijaga sebaik-baiknya. Puteri akan
diperlakukan sebagaimana seharusnya dan tidak akan mengalami
tindakan- tindakan yang tidak sepantasnya” Rara Warih tidak
menjawab. Sejenak kemudian. Tumenggung Watang itupun bertepuk
tangan. Dua orang perwira muda memasuki bilik itu dan berdir i tegak
menunggu perintah. “Rara Warih harus mendapat perlakuan yang baik”
berkata Tumenggung Watang “meskipun ia harus ditahan dan barangkali
Pangeran Yudakusuma sendiri akan bertemu dengan puteri itu, namun
segalanya harus dapat dipertanggung jawabkan. Aku akan melihatnya
setiap saat” “Baik Ki Tumenggung” jawab salah seorang dari perwira
muda itu. Demikianlah maka Rara Warih dibawa keluar dari bilik itu.
di ruang yang lebih luas Rara Warih hanya melintas saja tanpa
berhenti. Beberapa orang perwira yang berada di ruang itu
memandanginya dengan sorot mata yang menyala. Kecuali kecantikan
wajah Rara Warih, perwira-perwira itupun mengetahui, bahwa gadis itu
adalah adik Raden Juwir ing, salah seorang perwira yang disegani
dari pasukan berkuda, namun yang ternyata telah berkhianat terhadap
pasukannya. Demikian Rara Warih keluar pintu dan turun tangga, maka
sebuah kereta telah menunggunya.“Silahkan puteri“ perwira itu
mempersilahkan “kami harus mengantar puteri” “Kemana?“ bertanya Rara
Warih. “Pada saatnya puteri akan mengetahuinya” jawab perwira itu.
Rara Warih tidak bertanya lagi. Iapun kemudian masuk ke dalam kereta
itu diikut i oleh kedua orang perwira muda yang duduk di sebelah
menyebelah. Sementara itu, seorang sais sudah siap untuk membawa
kereta itu ke tujuan” Sejenak kemudian kereta itupun mulai berderap.
Rara Warih sama sekali tidak bertanya lagi. Ketika kereta itu keluar
dari halaman barak pasukan berkuda, Rara Warih mulai mengenal
jalan-jalan kota yang sering dilaluinya. Rara Warih sama sekali
tidak dilarang untuk melihat ke luar. Melihat jalan yang dilaluinya.
Karena itulah maka Rara Warih tahu pasti arah perjalanan kereta itu.
Semakin lama ia berkereta ia menjadi semakin berdebar- debar. ia
kenal dengan pasti arah yang dilaluinya. Meskipun demikian, ia sama
sekali tidak bertanya. Ia tetap berteka-teki di dalam hatinya sendir
i. Namun akhirnya Rara Warih tidak dapat menahan diri lagi. Ketika
kereta ia berbelok memasuki sebuah regol istana yang berhalaman
luas, maka iapun berdesis “Ranakusuman” “Ya puteri. Ini adalah
istana Ranakusuman” jawab salah seorang dari kedua orang perwira
itu. “Untuk apa aku dibawa kemari?“ bertanya gadis itu. “Untuk
sementara puteri dimohon untuk t inggal di sini” jawab salah seorang
dari perwira muda itu. Wajah Rara Warih menjadi tegang. Ketika
kereta itu kemudian berhenti di halaman, maka jantung gadis itu
menjadi berdentangan.“Nampaknya istana ini sudah dipergunakan untuk
satu keperluan” berkata Rara Warih di dalam hatinya. Namun ia tidak
perlu bertanya tentang hal itu. Perwira muda yang duduk di
sampingnya itupun berkata “Puteri. Istana Ranakusuman sekarang
dipergunakan untuk kepentingan pasukan berkuda. Pimpinan tertinggi
pasukan berkuda itu berada di sini” “Siapakah pemimpin tertinggi
itu?“ bertanya Rara Warih. “Pimpinan itu sekarang dijabat oleh
Tumenggung Watang. Bahkan ia sudah berniat untuk tinggal di istana
ini. Tidak untuk memilikinya, dan sudah barang tentu tidak di Dalem
Ageng. Tumenggung Watang mengatakan kepada kami agar kami
membersihkan gandok sebelah kiri, yang akan dipergunakannya bersama
keluarganya yang kecil, agar dengan demikian ia akan dapat
menjalankan tugasnya setiap saat. Justru dalam keadaan yang gawat
ini” Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Hampir di luar sadarnya
ia bertanya “Apakah Tumenggung Watang sudah berada di istana ini?“
“Belum puteri. Sebagaimana puteri tahu, ia masih berada di barak
bersama kami. Istana ini baru kami bukan pagi ini. Dan semuanya itu
baru rencana. Juga rencana Tumenggung Watang tinggal di sini. Itupun
jika ada ijin dar i Kangjeng Susuhunan dan Panglima yang sekarang
sedang memimpin perlawanan terhadap Pangeran Mangkubumi.” Rara Warih
mengangguk-angguk. Segalanya telah berubah. Tentu baru semalam atau
menjelang pagi hari ayahandanya gugur, karena ia tahu ayahandanya
dan kakandanya, berada dalam pasukan yang akan menggempur Pangeran
Mangkubumi. Sementara itu ayahandanya dan kakandanya Juwiring memang
bertekad untuk berbalik melawan kumpeni jika mereka sudah berada di
medan.Dalam pada itu, di tangga istana Ranakusuman, dua orang
prajurit turun menyongsong. Agaknya mereka sudah diberi tahu, apa
yang harus mereka lakukan. Demikian Rara Warih turun dari kereta,
maka dua orang prajurit itu mengangguk hormat. Perwira muda yang
membawa Rara Warih dengan kereta itupun kemudian menyerahkan gadis
itu kepada kedua prajurit yang sudah menunggunya. “Puteri” berkata
salah seorang perwira muda itu “untuk sementara puteri dipersilahkan
tinggal di istana puteri sendiri” Rara Warih tidak menyahut. Ia
sadar, bahwa ia telah ditahan di bekas rumahnya sendiri. Dan ia
tidak tahu apa yang akan terjadi atas dir inya kemudian. Kedua
prajurit itu telah mempersilahkan Rara Warih masuk ke ruang di
sebelah gandok kanan, di dalam seketheng. Dan sadarlah Rara Warih
bahwa tempat itu akan menjadi bangsal tahanan baginya untuk
sementara. Ia kenal benar dengan ruangan itu. Dan iapun tahu, bahwa
ruangan itu hanya mempunyai satu pintu, sehingga bagi pengawasnya,
akan selalu dapat memperhatikan siapa saja yang, keluar masuk bilik
itu. Ketika Rara Warih memasuki bilik itu. dilihatnya bilik itu
tetap bersih seperti saat ditinggalkannya kemarin. Namun Rara
Warihpun kagum melihat kecepatan gerak pasukan Surakarta.
Seolah-olah segalanya telah terjadi dan direncanakan berhari-har i
sebelumnya. Sementara itu Rara Warihpun mengetahui, bahwa yang
terjadi itu tentu dilakukan dengan tiba-tiba. Beberapa saat Rara
Warih mengamati Barang-barang yang ada di dalam bilik itu. Tidak ada
yang hilang. bahkan tidak ada yang bergeser dari tempatnya.Rara
Warih terkejut ketika ia mendengar, pintu berderit. Seorang emban
memasuki ruangan itu dan langsung duduk di sebelah pintu. Sambil
menunduk hormat emban itu berkata “Puteri. Ampun bahwa aku berada di
Ranakusuman baru mulai hari ini dengan perintah untuk melayani
puteri. Ampun puteri, jika berkenan di hati puteri, segala perintah
akan aku junjung” “Siapa kau?” bertanya Rara Warih" “Aku adalah
seorang emban dari katumenggungan, Aku adalah seorang abdi
Tumenggung Watang yang mendapat perintah untuk melayani puteri”
jawab emban itu. Tetapi Rara Warih menarik nafas dalam-dalam sambil
berkata “Baiklah, Mungkin aku memerlukanmu. Tetapi bukan kebiasaan
seorang emban di istana ini untuk membawa patrem seperti yang kau
lakukan. Aku tidak tahu, apakah kebiasaan itu ada di istana paman
Tumenggung Watang, atau kau adalah seorang prajurit perempuan yang
harus mengawasi aku di sini? Atau setiap perempuan di Surakarta
sekarang memang telah bersedia patrem agar j ika pasukan paman
Mangkubumi memasuki Surakarta kita semuanya akan membunuh diri”
Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Baru kemudian ia dapat menjawab
“Ampun puteri. Dalam keadaan yang gawat ini segalanya memang dapat
terjadi, Dan karena itu agaknya, kami para emban diperintahkan untuk
membawa patrem yang aku sendir i tidak tahu gunanya” Rara Warih
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah emban. Aku percaya kepadamu.
Mungkin aku memer lukan banyak pertolonganmu, karena aku adalah
seorang tahanan di rumah ini. Bukan lagi sebagai seorang gadis yang
tinggal di rumahnya sendir i” “Sebaiknya puteri t idak merasa
demikian. Agar puteri tidak mengalami tekanan batin, anggaplah
puteri berada di istana sendiri seperti hari-hari kemarin. Apa yang
puteri perlukanakulah yang akan melayaninya” jawab emban itu
“sebentar lagi akan aku bawa pakaian puteri yang berada di ruang
dalam. Pakaian yang tidak sempat puteri bawa ketika puteri
meninggalkan istana ini” “Nah, apakah dengan cara itu aku akan dapat
merasa di rumah sendir i?“ bertanya Rara Warih. “Bukankah ada aku,
yang akan dapat puteri perintahkan apa saja?“ emban itu menjadi
heran. “Jika benar aku harus merasa di rumah sendiri, biar lah aku
mengambil sendir i apa yang aku perlukan seperti yang selalu aku
lakukan sebelumnya” berkata Rara Warih. “Itu tidak per lu puteri.
Karena sekarang ada aku. Puteri dapat memer intah apa saja yang
puteri kehendaki”? sahut emban itu. Rara Warih tertawa betapapun
pahitnya. Katanya “Karena itu, jangan kelabui aku seperti
kanak-kanak emban. Katakan sajalah bahwa aku harus menurut segala
ketentuan yang dibuat oleh orang-orang yang berkuasa di sini, dan
kau adalah seorang prajurit perempuan yang harus mengawasi aku.
Tetapi aku berterima kasih bahwa kau sudah bersedia berlaku seperti
seorang emban yang akan melayani aku. Sebelumnya aku minta maaf,
bahwa aku akan berbuat terlalu kasar pada suatu saat, sebagaimana
aku berbuat terhadap emban yang sebenarnya” Emban itu menarik nafas
panjang. Dipandanginya Rara Warih sejenak. Kemudian katanya “Puteri
mempunyai tanggapan yang sangat tajam. Tetapi puteri sangat
menyenangkan. Puteri mengatakan apa yang tersirat di hati puteri.
Dengan demikian maka keterbukaan hati puteri akan mempermudah
pelayananku terhadap puteri” “Aku terbiasa dengan sikap ini” desis
Rara Warih.“Justru karena itu, sebaiknya aku tidak usah ingkar
tentang diriku sendir i. Tetapi aku mohon puteri dapat menganggap
aku sebagai sebenarnya emban disini. Jangan segan dan jangan merasa
aku orang lain” berkata emban itu. “Baiklah. Tetapi apakah kau
mengetahui, dimanakah para abdi di Ranakusuman ini?“ bertanya Rara
Warih. “Keluarga Ki Dipanala telah pergi. Dan ini sudah puteri
ketahui. Yang lainpun telah meninggalkan istana ini pula. Masih ada
dua orang abdi yang tinggal. Seorang juru taman dan seorang juru
madaran, yang agaknya tidak mempunyai keluarga lain lagi di padesan”
jawab emban itu. Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Sambil
mengangguk-angguk iapun bergumam “Kasihan mereka yang harus tercerai
berai” Lalu iapun bertanya “bagaimana caraku untuk memanggilmu?“
“Aku berada di bilik sebelah, puteri, Puteri dapat langsung
memanggil aku. Aku tentu mendengarnya. Gebyok ini tidak terlalu
rapat sehingga t idak akan dapat menyekat suara serapat-rapatnya”
“O“ Rara Warih mengangguk-angguk. Namun dengan demikian ia menjadi
semakin yakin, bahwa orang yang menyebut dir inya emban itu adalah
seorang prajur it yang dengan sengaja di tempatkan di sebelah
biliknya untuk mengawasinya. “Puteri” berkata orang yang menyebut
dirinya emban itu “aku tidak seorang dir i. Tetapi aku berdua dengan
seorang emban yang masih muda, meskipun masih lebih tua dari puteri.
Emban itu pandai bermain gatheng dan dakon. Mungkin ia akan dapat
menjadi kawan puteri” “O“ Rara Warih mengangguk-angguk “dimana ia
sekarang?““Ia baru berada di belakang puteri. Sebentar lagi ia akan
menghadap. Perlakukan ia seperti puteri memperlakukan aku, seorang
emban” berkata perempuan itu. “Emban yang muda itu juga membawa
patrem?“ bertanya Warih. Perempuan itu mengerutkan keningnya. Namun
kemudian ia tersenyum sambil berkata “Tidak. Tidak puteri. Ia tidak
membawa patrem” “Bagus. Sebab patrem sebenarnya adalah alat untuk
membunuh diri. Jika emban muda itu membawanya, maka aku ingin
meminjamnya barang sebentar” berkata Rara Warih. Tetapi emban itu
menjawab “Puteri. Aku yakin, bukan watak puteri untuk melakukan
perbuatan terkutuk itu. Puteri adalah seorang yang sangat tabah dan
berani” “Kau memuji aku“ Rara Warih tersenyum masam. “Tidak puteri.
Bukan maksudku. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya” jawab emban
itu, lalu “Sudahlah puteri, aku akan kembali ke dalam bilik. Biarlah
kawanku yang muda itu datang menghadap sambil membawa dakon dan
kecik” “Bawa kelungsu. Aku lebih senang mempergunakan kelungsu”
jawab War ih. Perempuan itupun kemudian ber ingsut dan keluar dari
bilik Rara Warih. Setelah menutup pintu dari luar, maka iapun
melangkah ke pintu bilik di sampingnya. Namun tiba-tiba saja
langkahnya berhenti. Dipandanginya pintu bilik yang tertutup.
Seorang prajurit muda yang mengawasinya dari kejauhan mendekatinya
sambil bertanya “Bagaimana pendapat bibi?” “Ia anak yang sangat
baik” jawab perempuan yang menyebut dir inya seorang emban itu ”aku
senang terhadapnya. Namun ia akan dapat juga berbahaya. Tetapi
justru karena itu aku tertarik untuk merawatnya. Ternyataseperti
yang dipesankan oleh beberapa orang bahwa puteri itu memiliki
sifat-sifat ayahandanya. Cerdas, tanggapannya tajam dan agaknya juga
keras hati, meskipun nampak juga sifat- sifatnya yang manja” “Gadis
itu cantik sekali” desis prajurit muda itu. “Ya. Karena itu
bekerjalah dengan baik, agar kau cepat menjadi seorang Tumenggung.
Kau akan dapat melamarnya” desis perempuan itu sambil tersenyum.
“Sampai ubanan aku t idak akan dapat menjadi Tumenggung” jawab
prajur it muda itu. Perempuan yang menyebut dirinya emban itu
tersenyum. Katanya “Siapa tahu nasib seseorang” namun kemudiaii
“tetapi kau jangan mengganggu momonganku itu. Aku senang kepadanya.
Dan aku akan menjaganya baik-baik” “Agar ia tidak melar ikan dir i”
potong prajurit muda itu. “Tidak. Ia tidak akan melarikan diri.
Tetapi aku akan menjaganya seperti aku benar-benar seorang emban.
Karena aku memang senang kepadanya” Prajurit muda itu tidak menjawab
lagi. Namun sejenak kemudian, maka iapun segera meninggalkan
perempuan yang juga melanjutkan langkahnya kembali ke biliknya.
Dalam pada itu, ternyata di barak para prajurit berkuda beberapa
orang perwira menjadi cemas, bahwa kawan-kawan prajurit berkuda yang
berhasil membawa Rara Warih itu belum kembali. Menurut laporan kedua
orang prajur it yang membawa Rara Warih, maka nampaknya
kawan-kawannya akan dapat segera menyelesaikan tugasnya. Mereka akan
segera. dapat menangkap Kiai Danatirta dan Ki Dipanala, hidup atau
mati. Dalam kegelisahan itu. maka seorang perwira telah memanggil
kedua orang yang membawa Rara Warih itu menghadap.“Kita akan
mendapat hadiah” desis salah seorang dari mereka, “Ya. Dan kenaikan
pangkat” jawab yang lain. “Dan hadiah uang atau Barang-barang
berharga dari Kumpeni” berkata yang pertama. Keduanya tertawa.
Mereka memang benar-benar menantikan untuk mendapat hadiah berupa
apapun juga. Derajat, pangkat atau uang atau apapun karena mereka
merasa telah berjasa dapat menangkap Rara Warih yang akan sangat
besar artinya bagi usaha penangkapan Raden Juwiring jika ia masih
hidup. Tetapi ketika keduanya memasuki sebuah ruangan, yang ada di
dalam ruangan itu hanyalah seorang perwira muda yang berwajah muram.
“Bagaimana dengan kawan-kawanmu“ perwira itu langsung bertanya
kepada kedua orang prajurit Itu. Kedua orang prajurit itu sudah
mulai kecewa. Nampaknya mereka tidak akan demikian cepatnya menerima
hadiah. Yang ditanyakan oleh perwira muda itu justru kawan-kawannya.
“Menurut penilaianku, pekerjaan mereka tidak terlalu berat” jawab
salah seorang prajurit itu “mereka bertujuh melawan dua orang
tua-tua yang tidak berarti” “Kenapa hanya tujuh?“ bertanya perwira
itu. “Aku berdua, sedang seorang di antara kami terluka” jawab salah
seorang dari kedua prajur it itu. “Kenapa seorang kawanmu terluka?
Jika pekerjaan itu tidak terlalu berat, maka tentu tidak akan ada
kawanmu yang terluka” berkata perwira muda itu. Kawanku itu terlalu
lengah. Ia menganggap kedua orang tua itu tidak akan berdaya sama
sekali untuk melawannya. Akhirnya tubuhnyalah yang terkoyak oleh
senjata. Namunkemudian pemimpin kami memerintahkan semuanya
bertempur melawan kedua orang itu, kecuali kami berdua yang
diperintahkan untuk meneliti keadaan padepokan. Pertempuran tidak
ber langsung terlalu lama ketika kedua orang itu melarikan diri
keluar padepokan yang kemudian dikejar oleh ketujuh orang di antara
kami. Sebenarnyalah menurut perhitungan kami keduanya akan segera
dapat diselesaikan” Perwira muda itu termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya “Jadi apakah menurut perhitunganmu, mereka
seharusnya sudah kembali saat ini?“ “Ya. Menurut perhitunganku,
mereka harus sudah kembali sekarang ini” jawab salah seorang dar i
kedua orang itu. Perwira itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya
“Bagaimana menurut pertimbanganmu? Apakah mungkin ada orang lain
yang ikut campur dalampersoalan ini?“ “Laskar Pangeran Mangkubumi?“
bertanya salah seorang prajurit itu. “Mungkin laskar Pangeran
Mangkubumi. tetapi mungkin juga laskar Raden Mas Said” jawab perwira
muda itu. “Memang mungkin mereka bertemu di perjalanan atau mungkin
laskar itu tersesat di padepokan” berkata prajurit itu “tetapi
nampaknya tidak mungkin. Mereka masih sibuk untuk menarik diri dari
daerah pertempuran” “Kaupun menganggap mereka tidak berdaya” jawab
perwira muda itu “baiklah, kita menyiapkan sekelompok prajurit
berkuda untuk melihat mereka. Kita akan membawa pasukan yang kuat
dengan beberapa orang penghubung yang akan dapat melakukan tugas
dengan cepat jika terjadi sesuatu di perjalanan”Kedua orang prajurit
itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang bertanya “Jadi,
siapa sajakah yang akan pergi?“ “Aku akan membawa duapuluh lima
orang, termasuk kau berdua” jawab perwira muda itu. Kedua prajurit
itu menjadi berdebar-debar. Ternyata mereka tidak segera menerima
hadiah, tetapi justru tugas yang cukup berat. Perjalanan ke Jati
Aking bukan perjalanan yang sangat panjang. Namun
kemungkinan-kemungkinan yang paling buruk akan dapat terjadi di
sepanjang jalan. Nampaknya perwira muda itu melihat keseganan pada
sikap orang itu. Karena itu maka katanya “Kalian adalah penunjuk
jalan yang paling baik” Hampir di luar sadar salah seorang menjawab
“Hampir setiap prajurit berkuda pernah melihat Padepokan Jati Aking”
“Kalian berdualah yang baru saja datang dari padepokan itu. Karena
itu. kalian aku perintahkan untuk ikut serta. Aku sendiri yang akan
memimpin pasukan itu”
-
Jilid 22 Kedua prajurit itu tidak
akan dapat ingkar lagi. Mereka harus berada di dalam satu kelompok
prajurit yang akan pergi ke Jati Aking untuk melihat keadaan
kawan-kawan-mereka, beberapa orang prajurit yang seharusnya sudah
kembali ke Surakarta Ketika kemudian mereka bersiap-siap membenahi
dir i, kuda-kuda mereka dan senjata masing-masing, maka salah
seorang dari kedua orang itu berdesis “Surakarta telah terbakar oleh
api peperangan. Setiap jengkal tanah di luar kota telah berubah
menjadi bara. Dan kita akan masuk ke dalamnya” Kawannya menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Kita adalah prajurit. Apapun yang akan
terjadi, kita memang harus melakukannya j ika itu memang. tugas dan
kewajiban. Namun menjelajahi daerah yang juga menjadi daerah jelajah
Pangeran Mangkubumi atau Raden Mas Said, rasa-rasanya memang
mengerikan. Bulak-bulak panjang rasa-rasanya telah berubah menjadi
jalur jalan menuju ke kuburan”Yang lain mengangguk-angguk.
Sebenarnyalah bagi para prajurit Surakarta, pecahnya perang melawan
Pangeran Mangkubumi yang tidak dapat menahan kesabarannya lagi itu
merupakan hantu yang selalu membayangi mereka siang dan malam. Jika
semula masih ada keseganan Raden Mas Said terhadap pamandanya,
sehingga untuk beberapa saat kegiatannya agak mereda, maka pada saat
terakhir sikap Pangeran Mangkubumi justru seperti menyiramkan minyak
ke dalam api yang sudah redup itu, sehingga api itu akan menyala
semakin besar membakar langit Surakarta Namun Senapati muda yang
akan memimpin sepasukan prajurit pergi ke Jati Aking itu seolah-olah
t idak mengerti, apa yang telah terjadi. Karena itu maka ia sama
sekali tidak menjadi gentar. Dengan membawa duapuluh lima orang
prajurit berkuda terpilih, maka Senapati muda itupun meninggalkan
baraknya atas ij in pimpinan pasukan berkuda. “Pasukan berkuda
adalah pasukan terbaik di Surakarta” berkata Senapati muda itu
“meskipun jumlah pasukan berkuda terhitung sedikit di Surakarta,
tetapi yang sedikit ini harus menunjukkan bahwa kita adalah
orang-orang terpilih. Sikap Raden Juwiring telah menaburkan noda
atas pasukan berkuda, sehingga kepercayaan para Panglima atas
pasukan ini menjadi susut. Adalah kewajiban kita untuk mengangkat
kembali nama baik dar i pasukan ini” Para prajurit dari pasukan
berkuda itu merasa bangga akan kelebihan mereka. Namun meskipun
demikian, setiap mereka menyadari keadaan, maka hati merekapun
menjadi berdebar- debar, betapapun mereka adalah prajur it terbaik.
Meskipun demikian mereka harus dapat melakukan tugas mereka melampui
prajurit dar i kesatuan yang lain. Dengan dada tengadah prajur
it-prajurit dari pasukan berkuda itu berderap melalui jalan-jalan
kota. Kemudian merekapun menuju ke pintu gerbang yang dijaga ketat
pada saat-saat yang panas itu. Beberapa orang yang melihatpasukan
itu lewat, merasa bangga sehingga merekapun yakin, bahwa kota
Surakarta tidak akan disentuh oleh peperangan. “Tidak seorang
pemberontakpun yang akan dapat memasuki kota berkata orang-orang itu
di dalam hatinya.” Sementara itu, prajurit dari pasukan berkuda
itupun telah melewati gerbang kota. Dengan pandangan acuh tidak acuh
mereka sekilas melihat para prajurit yang bertugas di pintu gerbang.
Bahkan salah seorang pemimpin kelompok di bagian paling belakang
dari iring- iringan itu berdesis “Apa kerja kalian sebenarnya di
situ? Tidur?“ Prajurit yang bertugas di pintu gerbang itu tidak
segera menangkap maksudnya. Karena itu tidak seorangpun yang
menjawab. Baru kemudian, ketika mereka menyadari arti dari kata-kata
itupun, maka beberapa orang telah mengumpat. Seorang prajurit yang
berkumis lebat menggeram “Anak setan yang sombong. Dikiranya hanya
prajurit dari pasukan berkuda saja yang mempunyai arti bagi
Surakarta?“ Kawannya yang bertubuh kecil yang berdiri di sampingnya
meraba hulu pedangnya sambil berkata “Aku sanggup melawan dalam
perang tanding setiap orang dari prajurit berkuda itu” “Suatu ketika
mereka akan mengakui, bahwa mereka bukan prajurit yang paling baik
di Surakarta. Bahkan sebagian dari pasukan itu justru sudah
berkhianat” gumam yang lain. “Ya. di bawahi pimpinan Senapati muda
yang bernama Juwiring itu” sahut yang bertubuh pendek. Kawan-kawanya
tidak menyahut lagi. Namun nampak di wajah mereka, perasaan tidak
senang melihat kesombongan prajurit dari pasukan berkuda itu,
seolah-olah mereka adalah prajurit-prajurit yang memiliki kelebihan
dari prajurit-prajur il yang lainDalam pada itu, iringan prajur it
dari pasukan berkuda yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil
itupun berpacu ke padepokan Jati Aking. Mereka semakin mencemaskan
keadaan kawan-kawanya yang ternyata masih belum kembali. Ketika
iring-ir ingan prajurit dari pasukan berkuda itu mendekati padepokan
Jati Aking, maka mereka memper lambat lari kuda mereka. Bahkan
kemudian Senapati muda yang memimpin pasukan berkuda itupun memer
intahkan dua orang untuk mendahului ir ing-ir ingan itu. “Awasi
keadaan di seputar padepokan itu“ perintah Senapati muda itu “aku
akan membawa seluruh pasukan ini memasuki padepokan. Beri isyarat
jika kau melihat sesuatu yang mencur igakan” Kedua prajurit itupun
mendahului pasukannya dan mencoba memperhatikan keadaan di hadapan
mereka. Nampaknya mereka tidak melihat sesuatu yang mencurigakan,
sehingga merekapun sama sekali tidak memberikan isyarat. Demikian
Senapati muda dengan pasukannya memasuki pintu gerbang halaman
padepokan, maka. kedua orang prajurit itupun tinggal di sebelah
menyebelah regol untuk mengamati keadaan yang mungkin tidak
menguntungkan. Dalam pada itu, ketika iring- iringan itu memasuki
halaman, Para prajurit itupun segera melihat beberapa orang yang
duduk di tangga pendapa. Iring-iringan itu ternyata telah
menumbuhkan kegembiraan setelah sekian lama mereka menunggu.
Rasa-rasanya mereka sudah berada di padepokan itu bertahun-tahun
tanpa ada seorangpun yang menengoknya. Sejenak kemudian, Senapati
muda itupun telah mendengar laporan tentang peristiwa yang terjadi
di padepokan itu. “Orang dungu“ geram Senapati itu “kalian adalah
prajurit dari pasukan berkuda. Apakah kalian yang berjumlah lebih.
banyak itu tidak mampu mengalahkan mereka?“”Apapun yang dapat kami
katakan, namun kenyataannya memang demikian” jawab orang tertua dari
para prajurit yang sudah kehilangan kuda itu. “Aku hampir tidak
percaya” sahut Senapati muda yang marah itu. “Kami memang terlalu
lemah” berkata prajur it yang berbeda sikap dari kawan-kawannya “Aku
mencoba menunjukkan harga dir i dari para prajur it dari pasukan
berkuda. Tetapi kawan-kawanku t idak berbuat demikian” “Mereka
pantas dihukum” suara Senapati muda itu menjadi gemetar menahan
gejolak hati. “Terserahlah” jawab prajurit tertua “justru pemimpin
kami telah terluka parah” “Prajurit dari pasukan berkuda tidak
mengenal menyerah” bentak Senapati muda itu. “Kami tidak dapat
berbuat lain” jawab orang tertua “dan pendapat itu menjadi semakin
mantap melihat sikap dan tingkah laku isi padepokan ini Sebagaimana
kau lihat, kami tidak terkapar sebagai mayat di sini” “Mereka telah
terbius oleh sikap manis” sahut prajurit yang berpendirian lain itu
seolah-olah para pengikut Pangeran Mangkubumi adalah
malaikat-malaikat berhati seputih kapas” “Jangan menjadi gila” desis
orang tertua itu. “Bukan karena ada pasukan berkuda yang datang
menolong kita, tetapi aku sudah mengatakan sejak tadi” sahut
prajurit itu. “Seharusnya kalian bersikap jantan“ Senapati muda itu
masih marah" “tetapi untunglah, Setidak-tidaknya masih ada seseorang
yang berhati baja. Tetapi karena tidak ada orang lain yang mendukung
sikap itu, maka ia tidak akan dapat bertahan”“Pasukan berkuda sudah
dihinakan“ geram prajur it itu “dan sebagian di antara kita ikut
pula mencemarkannya” Dalam pada itu, Senapati yang marah itpun
bertanya “Kemana isi padepokan ini pergi?“ “Kami tidak
mengetahuinya” sahut orang tertua. “Kami seharusnya mengetahui”
sahut prajur it yang berpendirian lain “tetapi kami sama sekali
tidak berusaha untuk mengetahui. Meskipun demikian, kuda mereka
tentu akan meninggalkan jejak” “Jangan bodoh” potong Senapati muda
itu “Kita tidak akan mengambil keputusan yang akan dapat menjerat
leher kita sendiri. Tetapi seandainya kita mengikuti jejaknya,
apakah kita masih akan mungkin dapat menyusulnya?“ Orang tertua itu
menggeleng “Tidak mungkin. Yang mungkin adalah, bahwa iring-ir ingan
kita yang menelusuri jejak itu akan masuk ke dalam perangkap
Pangeran Mangkubumi” “Kau takut?“ bertanya Senapati itu. “Senapati
seharusnya sudah mengenal aku di peperangan. Namun baiklah aku
menjawab bahwa aku memang takut” jawab orang tertua itu. Wajah
Senapati itu menjadi merah. Namun kemudian ia harus menahan diri. la
memang mengenal prajur it tertua itu dengan baik. Ia adalah prajurit
yang tidak pernah merasa gentar di medan yang bagaimanapun juga Jika
ia mengaku takut, tentu ada alasan yang kuat yang mendorongnya untuk
berkata demikian, “Senapati” berkata prajurit tertua itu “Kita harus
menilai medan sebaik-baiknya” “Ia merasa berhutang budi” sahut
prajurit yang bersikap lain“Kami tidak dibunuh oleh penghuni
padepokan ini. Perbuatan itu adalah perbuatan yang paling sombong.
Tetapi ternyata juga mengandung racun yang sangat tajam bagi
prajurit Surakarta, karena kami yang berjiwa lemah akan merasa
berhutang budi, sehingga kami yang berjiwa lemah itu akan
berceritera kepada siapapun juga, termasuk kepada para prajurit dari
pasukan berkuda, bahwa para pengikut Pangeran Mangkubumi adalah
orang-orang yang baik hati dan berperikemanusiaan tinggi” Orang
tertua yang berhasil dikalahkan oleh penghuni padepokan itupun
menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Aku adalah seseorang
yang masih berjantung. Aku tidak ingkar, bahwa aku memang mempunyai
kesan yang demikian. Tetapi aku tidak pernah merasa bersalah karena
kesan itu. Bahkan kadang-kadang aku bertanya kepada diri sendiri,
apakah yang akan aku lakukan, jika aku mendapat kesempatan menawan
beberapa orang pengikut Pangeran Mangkubumi Apakah aku dapat juga
berjiwa besar seperti pengikut Pangeran Mangkubumi menghadapi
lawan-lawannya” “Kita berada pada kedudukan yang berbeda” jawab
Senapati itu “Pangeran Mangkubumi adalah seorang pemberontak. Semua
pengikutnya juga pengkhianat. Sedangkan kita adalah prajurit
Kerajaan. Perlakuan terhadap pengkhianat dan terhadap prajurit
Kerajaan memang harus berbeda. Pengkhianat memang harus dibunuh,
sementara kita dilindungi oleh anger-angger, bahwa seorang prajurit
yang telah menyerah tidak akan dibunuh” Prajurit Surakarta yang
tertua yang tidak berhasil menangkap Juwiring itu tertawa. Katanya
“Itulah sikap seorang prajurit. Masalahnya bukan angger-angger.
Tetapi bagaimana warna jantung kita. Apakah kita masih mengenal
warna? Apakah kita masih mengenal dir i kita sendiri sebagai bangsa?
Sama sekali bukan karena seorang prajurit yang menyerah tidak dapat
dibunuh Seandainya para pengikutPangeran Mangkubumi membunuh kami
yang menyerah, tentu tidak akan ada akibat apapun yang akan
menjadikan mereka lebih buruk lagi keadaannya. Membunuh atau tidak
membunuh, mereka adalah orang-orang yang berkhianat. Membunuh atau
tidak, mereka dapat dibunuh tanpa harus dibuktikan kesalahan mereka.
Karena itu, yang terjadi bukannya karena angger-angger, tetapi
semata-mata karena kebesaran jiwa. Pangeran Mangkubumi mengajari
pengikutnya untuk mengerti, bahwa lawan yang sebenarnya bagi mereka
bukannya orang-orang yang kulitnya sewarna. Tetapi musuh utamanya
adalah kumpeni” Wajah Senapati itupun menjadi tegang. Tetapi iapun
kemudian menghentakkan kakinya “Omong kosong. Jangan gurui aku.
Sebenarnyalah kau telah diracuni oleh sikap manis dan karena itu,
maka kau telah merasa berhutang budi kepada mereka“ “Senapati”
berkata orang tertua itu “aku tidak akan menolak. Tetapi karena di
sini masih ada pemimpin kami, meskipun terluka parah, namun ia masih
akan dapat member ikan keterangan” “Persetan” geram Senapati itu
“iapun tentu merasa berhutang budi seperti kau. Ditaburkannya pasir
lembut dilukanya, dan ia sudah merasa diobati, dimaafkan dan bahkan
ditolong jiwanya. Orang- orang berjiwa kerdil. Bersiaplah Kita akan
kembali ke Surakarta”“Kami tidak mempunyai kuda lagi” sahut prajurit
yang berbeda sikap itu. “Kemana kuda kalian?“ bertanya Senapati itu
“dirampas oleh orang-orang yang baik hati itu? Ternyata harga jiwa
kalian tidak lebih dari harga kuda kalian. Mereka menghidupi kalian
dan menganggap kalian tidak berarti, bagi mereka” “Tidak Senapati”
jawab orang tertua itu “kuda-kuda itu telah dihalau untuk
menghidarkan kemungkinan yang kurang menguntungkan bagi mereka,
Mungkin satu dua orang di antara kita akan mengikuti mereka atau
Setidak-tidaknya melihat arah kepergian mereka. Atau
perbuatan-perbuatan lain yang tidak mereka kehendaki” “Gila” geram
Senapati itu “orang-orang Pangeran Mangkubumi memang orang-orang
gila. Mereka dapat merampas kuda itu dan mempergunakannya. Tetapi
nalar mereka t idak akan sampai sekian panjangnya” “Karena itu, kami
tidak akan dapat kembali berkuda ke Surakarta desis prajurit itu.
“Kalian dapat berjalan kaki” bentak Senapati itu tiba-tiba “Kalian
memang tidak mengenakan pakaian keprajuritan. Tetapi jika demikian
akan memerlukan waktu yang terlalu panjang” Senapati itu berhenti
sebentar lalu “ambil kuda yang ada di padukuhan Jati Sar i.
Berapapun yang ada” Wajah orang tertua itu menjadi tegang. Katanya
“Kita akan merampas milik rakyak kita sendiri?“ “Kita memer
lukannya” jawab Senapati itu. “Mereka juga memerlukannya” jawab
orang tertua itu. “Aku tidak peduli. Tetapi kepentingan kita jauh
lebih besar dari kepentingan mereka. Kita menghormati kepentingan
seseorang. Tetapi jika kepentingan yang lebih besar menghendaki,
maka kepentingan yang lebih kecil itu dapatdikorbankan. Dan
malanglah nasib mereka yang kebetulan menjadi korban korban itu”
jawab Senapati itu. “Jika demikian, biarlah kami berjalan kaki”
jawab prajurit tertua itu “Kami akan membawa kawan-kawan kami yang
terluka. Dan kami akan memasuki kota pada saat saat yang manapun
juga, bahkan seandainya menjelang dini hari” “Tidak” bentak Senapati
itu “ini perintahku. Ambil kuda yang ada di padukuhan Surakarta
memer lukan untuk kepentingan yang jauh lebih berarti dari
kepentingan mereka sendiri. Kepentingan perseorangan. Tidak perlu
kuda yang setegar kuda pasukan berkuda. Kuda yang kerdil sekalipun
akan dapat dipergunakan, karena larinya tentu akan lebih cepat dari
jika kalian berlari- lari kembali ke Surakarta” Bagaimanapun juga,
mereka adalah prajurit, Perintah itu tidak dapat dibantah lagi.
Karena itu, maka prajurit tertua itu berkata “Baiklah, jika demikian
biarlah mereka yang berpakaian prajurit sajalah yang melakukan. Jika
kami yang melakukan, maka orang-orang padukuhan itu tentu akan
melawan, karena mereka tidak tahu pasti, siapakah kami” “Baik” geram
Senapati itu. Lalu perintahnya kepada para prajurit dari pasukan
berkuda “pergilah ke padukuhan, dan ambil kuda yang ada.
Sedikit-sedikitnya sepuluh ekor” Tidak seorangpun yang mempersoalkan
perintah itu. Beberapa orang prajurit segera meninggalkan halaman
itu dan pergi ke padukuhan Jati Sari. Semua orang merasa keberatan
untuk melepaskan milik mereka, meskipun dengan dalih untuk
kepentingan yang lebih besar. Pada umumnya, kuda adalah milik yang
berharga, dan yang pada umumnya mempunyai arti yang penting bagi
pemiliknya. Namun t iba-tiba mereka harus melepaskan kuda itu kepada
orang lain begitu saja. Tetapi mereka tidak dapat menentang
kekuasaan Surakarta itu. Dengan hati yang pahit, mereka terpaksa
melepaskankuda mereka. Sehingga akhirnya para prajurit itu mendapat
genap sepuluh ekor kuda dari segala sudut padukuhan itu. Memang ada
di antaranya kuda yang tegar. Tetapi memang ada kuda yang hampir
dapat disebut kerdil. Para prajurit itu membawa kuda-kuda rampasan
itu ke padepokan Jati Aking dan menyerahkannya kepada para prajurit
yang telah datang lebih dahulu ke padepokan itu. “Kami hanya tinggal
delapan orang. di antara kami yang tinggal itu telah terluka,
sehingga tidak akan mungkin berkuda sendiri” desis orang tertua.
“Terserah kepada kalian. Aturlah orang-orangmu. Jika ada kuda
tersisa, kuda itu dapat dipergunakan untuk membawa Barang-barang
penting di padepokan ini?“ “Maksud Senapati, kita akan merampok isi
padepokan ini” bertanya prajurit tertua itu. “Tutup mulutmu” bentak
Senapati itu “aku akan membawa semua senjata yang ada di padepokan
ini dengan kuda yang tersisa itu” Orang tertua itu menarik nafas
dalam-dalam. Jika benar Senapati itu akan membawa senjata saja,
tanpa barang- barang lain, ia tidak akan dapat mencegahnya.
Sebenarnya, bahwa akhirnya prajurit-prajurit itu menemukan sanggar.
Kiai Danatirta. Beberapa macam senjata memang tersimpan di dalam
sanggar itu, sehingga Senapati itupun telah memer intahkan mengambil
semua senjata dan membawanya ke Surakarta dengan kuda-kuda yang
tidak mendapat penunggangnya. Demikianlah, segalanya telah dikemasi
Karena itu, maka iringan prajurit dari pasukan berkuda itupun segera
kembali ke Surakarta dengan membawa kawan-kawan mereka yang semula
tertahan di padepokan Jati Aking karena mereka tidak mempunyai kuda
lagi.Meskipun pada umumnya para prajurit yang tidak memakai gelar ke
prajuritannya itu merasa senang untuk segera kembali di Surakarta,
namun mereka telah mendapat kesan tersendiri atas para pengikut
Pangeran Mangkubumi. Rasa dendam dan permusuhan yang sebelumnya
menyala di dalam dada mereka, rasa-rasanya menjadi pudar, seperti
api lampu yang kehabisan minyak. Meskipun ada juga di antara mereka
yang justru merasa terhina oleh sikap para pengikut Pangeran
Mangkubumi itu. Dalam pada itu, maka dengan membawa mereka yang
terluka, iring-ir ingan itupun menuju ke kota. Beberapa orang yang
menyaksikan ir ing-ir ingan itu telah menduga-duga. Bahkan ada yang
mengira bahwa orang-orang yang tidak dalam pakaian prajur it itu
adalah para pengikut Pangeran Mangkubumi yang berhasil ditangkap
oleh para prajurit dan pasukan berkuda. Ketika mereka melewati
bulak-bulak panjang, maka merekapun tidak menjadi lengah sama
sekali. Pada saat-saat yang tidak mereka perhitungkan, dapat
terjadi, pasukan Pangeran Mangkubumi atau pasukan Raden Mas Said
yang bercampur baur di medan yang sama itu akan dapat menyergap
mereka. Namun ternyata bahwa mereka sama sekali t idak mengalami
gangguan sampai saatnya mereka kembali memasuki pintu gerbang. Namun
agaknya para prajurit yang bertugas di pintu gerbang telah berganti,
sehingga para prajurit yang merasa sakit hati atas sikap sombong
prajur it dari pasukan berkuda itu telah t idak ada di tempat.
Meskipun demikian, para prajurit yang bertugas itupun merasa kurang
senang melihat sikap kawan-kawannya dari pasukan berkuda yang merasa
dir inya tebih penting dari pasukan yang lain. Sementara itu, maka
Surakarta telah mengambil kebijaksanaan-kebijaksanaan baru. Laporan
mengenai RaraWarih yang telah sampai kepada Panglima yang mengatur
perlawanan terhadap pembrontakan Pangeran Mangkubumi itu, menganggap
bahwa Rara Warih adalah seorang tawanan yang penting. Seperti yang
diduga oleh orang-orang yang bersangkutan dengan Rara Warih, maka
para pemimpin di Surakarta memang mempertimbangkan untuk
mempergunakan Rara Warih untuk memancing Raden Juwir ing. Meskipun
Raden Juwiring bukan orang yang dianggap terlalu penting di dalam
pasukan Pangeran Mangkubumi, namun ia akan dapat di pakai sebagai
pancadan untuk mencari orang-orang lain yang telah berkhianat di
antara pasukan berkuda dan pasukan yang dipimpin oleh ayahnya,
Pangeran Ranakusuma. “Mungkin masih ada orang-orang lain yang
sengaja ditinggalkan di dalam tubuh pasukan berkuda atau di antara
pasukan yang lain” berkata para pemimpin prajurit Surakarta atas
pertimbangan kumpeni “karena itu anak muda itu penting bagi kita”
Dengan demikian maka para pemimpin Surakarta itu sudah mulai mencari
cara untuk memancing Raden Juwir ing agar menyerah dengan taruhan
adik perempuannya. “Tetapi hubungan antara kakak beradik itu kurang
baik” berkata salah seorang yang mengenal Raden Juwiring. Namun yang
kurang mengetahui perkembangan hubungan itu di hari- hari terakhir,
sehingga ia tidak mengerti bahwa kedua kakak beradik itu telah
menemukan diri mereka masing -masing di dalam hubungan keluarga.
“Bagaimana menurut pertimbanganmu?“ bertanya seorang perwira dari
pasukan berkuda. “Menurut pengenalanku, keduanya seolah-olah saling
bermusuhan” jawab orang yang telah mengenal Raden Juwiring itu “Rara
Warih yang kehilangan kakandanya Raden Rudira tidak dapat mener ima
kehadiran Raden Juwir ing,karena menurut pendapatnya, Raden Juwiring
yang berlainan ibu itu akan merampas ayahandanya dari padanya”
“Tetapi menurut laporan dari para prajurit dari pasukan berkuda yang
mengambil Rara Warih di Jati Aking, Juwiring marah sekali ketika ia
mengetahui bahwa adiknya yang berada di padepokan itu pula telah
dibawa oleh para prajurit yang lain” jawab perwira itu. “Mungkin ia
marah karena ia merasa terhina. Tetapi aku tidak tahu, bagaimana
sikap Rara Warih terhadap kakandanya dan sikap Raden Juwiring
apabila sudah diperhitungkan bahwa keadaan adiknya itu tidak
menguntungkannya” berkata orang yang mengenal Raden Juwir ing itu.
“Maksudmu, Juwiring tidak peduli apa yang akan terjadi dengan adik
perempuannya itu?“ bertanya perwira itu “Ya“ “Tetapi kita akan dapat
mencoba. Aku akan mengusulkan, agar Rara Warih dipakai sebagai
tanggungan untuk menangkap Juwiring. Jika perlu dengan
ancaman-ancaman dan janji-janj i” berkata perwira ijtu. “Memang
dapat dicoba. Tetapi aku meragukan hasilnya” berkata orang itu.
Tetapi para perwira itu masih mempertimbangkan untuk melakukan
rencana itu. Bahkan merekapun telah mempertimbangkan kemungkinan
sikap keluarga Rara Warih dari pihak ibunya akan mencampurinya
“Pangeran Sindurata mungkin akan berusaha membebaskan gadis itu
pula” berkata seorang perwira ketika mereka mempertimbangkan
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas gadis yang
tertangkap itu. “Kita mengenal Pangeran Sindurata” berkata seorang
perwira yang rambutnya sudah memutih “Biarlah PangeranYudakusuma
yang menjelaskan persoalannya kepadanya. Mungkin ia akan mengerti”
“Kita akan mengatakan kepadanya, bahwa keselamatan puteri itu akan
kita jamin, sehingga tidak akan terjadi sesuatu atasnya selama
puteri itu berada di dalam tahanan” berkata perwira yang lain. “Aku
setuju. Puteri itu memang per lu ditahan untuk member ikan tekanan
agar Juwir ing memperhatikannya” berkata perwira yang lain pula.
Ternyata para pemimpin tertinggi di Surakartapun sependapat dengan
rencana itu. Karena itu, maka segala sesuatunya sudah diatur dengan
cepat. Berita penangkapan dan penahanan itu akan segera disebar
luaskan, kemudian panggilan bagi Raden Juwiringpun akan segera
diumumkan. Namun Pangeran Sindurata harus dihubungi lebih dahulu.
Dalam pada itu, Kiai Danatirta, Ki Dipanala dan anak-anak angkat
dari padepokan Jati Aking ternyata menjadi lebih leluasa tanpa Rara
Warih. Mereka segera kembali ke dalam pasukan Pangeran Mangkubumi
yang bertahan di Gebang. Namun dalam pada itu, Juwir ing t idak
dapat melupakan adik perempuannya. Ia membayangkan sesuatu yang
sangat menger ikan akan dapat terjadi atas adiknya. Apalagi jika ia
jatuh ke tangan kumpeni. Ia masih berharap perlakuan yang baik jika
Rara Warih berada di tangan para perwira di Surakarta. Mungkin satu
dua orang di antara mereka masih merasa perlu untuk melindungi gadis
putera puteri Pangeran Ranakusuma itu, meskipun Pangeran Ranakusuma
sendiri oleh beberapa orang di Surakarta dianggap sebagai
pengkhianat. “Yang paling parah, ayah” berkata Raden Juwiring kepada
Kiai Danatirta “jika Warih tetap berada di tangan para prajurit
berkuda dan tidak diserahkan kepada para perwira, atau justru
diserahkan kepada kumpeni”“Kita memang harus mencari jalan untuk
membebaskannya” berkata Ki Dipanala. “Tetapi jangan kehilangan
pertimbangan” sahut Kiai Danatirta “Kita harus membuat perhitungan
sebaik-baiknya. Jika kita salah langkah, maka kita akan dapat
terjebak” “Tetapi sudah tentu kita tidak akan tinggal diam” sahut
Juwiring. “Ya. Aku mengerti” jawab Kiai Danatirta “tetapi jika kita
terjebak, maka kita akan mengalami kesulitan ganda. Kita sendiri
akan tertangkap, sementara kita tidak akan dapat berbuat apa-apa
atas puteri” “Jadi, bagaimana menurut pertimbangan ayah?“ bertanya
Juwiring “Kita harus tahu pasti, bagaimana keadaan Surakarta
sekarang, kemudian kitapun harus mendapat keterangan pasti, dimana
Rara Warih ditahan. Baru kemudian kita menentukan langkah” jawab
Kiai Danatirta. “Jika demikian, biarlah aku masuk ke kota” desis
Juwiring. “Aku tidak keberatan. Tetapi sebaiknya biarlah orang lain
lebih dahulu berusaha mencari keterangan” berkata Kiai Danatirta.
“Aku akan dapat melakukannya” potong Buntal “Aku sudah mengenal kota
itu serba sedikit. Aku akan dapat berbuat sesuatu” “Biar lah aku
saja” berkata Ki Dipanala “Aku masih mempunyai beberapa orang kawan
yang dapat dipercaya. Aku akan dapat datang kepadanya dan minta
perlindungan barang satu dua hari, sementara aku dapat mendengar dan
melihat serba sedikit tentang kota Surakarta” Kiai Danatirta
mengangguk-angguk kecil, sementara Juwiring berkata lebih lanjut
“Kita harus melakukannya segeraayah. Aku masih mempunyai tugas yang
lain dari ayahanda yang masih belum aku lakukan” “Apa?” bertanya
Kiai Danatirta, “Menyingkirkan pusaka Tumenggung Sindura yang telah
merenggut j iwa ayahanda” jawab Juwiring. Kiai Danatirta
mengangguk-angguk pula.Katanya “Baiklah. Kita harus bekerja cepat.
Tetapi tidak dengan tergesa-gesa dan kehilangan segala perhitungan.
Karena itu, kita harus berhubungan dengan Ki Wandawa, karena
masalahnya akan menyangkut babagan sandi” Juwiring menarik nafas
dalam-dalam. Ia tidak dapat ingkar, bahwa persoalannya memang harus
dibicarakan lebih dahulu, agar tidak terjadi salah langkah.
Juwiringpun menyadari, bahwa ia tidak dapat mengambil langkah
sendiri. Jika ia tertangkap, maka persoalannya tidak akan dapat
dibatasi pada dir inya sendiri. Ia adalah salah seorang pengikut
Pangeran Mangkubumi yang akan dapat menjadi sumber keterangan
tentang pasukan Pangeran Mangkubumi itu” Karena itu, sambil
mengangguk-angguk Juwir ing berdesir “Ya. Aku akan menghadap Ki
Wandawa untuk minta petunjuk, apa yang sebaiknya harus aku lakukan”
Juwiring memang tidak ingin menunda-nunda lagi. Iapun segera
menghadap Ki Wandawa untuk mohon petunjuknya, apakah yang sebaiknya
dilakukan atas adiknya yang tertangkap itu. “Aku sedang menunggu
laporan terakhir tentang keadaan kota Surakarta” berkata Ki Wandawa
”Meskipun aku mengerti, betapa gelisahnya kau, tetapi aku mohon kau
tetap bersabar barang satu hari” Juwiring menarik nafas panjang.
Betapapun jantungnya bergejolak, namun ia terpaksa mengangguk sambil
menjawab“Baiklah. Aku akan menunggu. Selebihnya, jika diperkenankan,
aku akan melihat keadaan itu sendiri” “Aku belum dapat menjawab. Dan
akupun masih harus mempertimbangkan apakah menguntungkan jika kau
sendiri memasuki kota Surakarta” jawab Ki Wandawa. Ia menjadi sangat
kecewa. Tetapi ia tidak akan dapat melanggarnya. “Tunggulah” berkata
Kiai Danatirta ketika Juwir ing member itahukan kepadanya sikap Ki
Wandawa. Yang sehari itu rasa-rasanya bagaikan sebulan penuh. Ketika
malam turun, Juwiring tidak dapat memejamkan matanya. Ia selalu
berangan-angan tentang adik perempuannya. Karena itu, jantungnya
menjadi berdebar-debar ketika di keesokan harinya ia dipanggil oleh
Ki Wandawa. “Jangan menentukan sikap sendiri” pesan Kiai Danatirta
“Kau adalah seorang prajurit di dalam lingkungan pasukan Pangeran
Mangkubumi. Karena itu, kau harus mentaati perintah apapun yang kau
terima” Dengan hati yang berdebar- debar, Juwiring segera menghadap
Ki Wandawa untuk mendapat keterangan tentang adik perempuannya yang
berada di tangan prajurit Surakarta. “Raden Juwiring” berkata Ki
Wandawa “Yang pertama, kau dapat sedikit menjadi tenang, karena
adikmu. Rara Warih telah berada di tangan pimpinan prajurit dari
pasukan berkuda di Surakarta. Dengan demikian, ia akan mendapat
pelakuanyang dapat diawasi oleh para perwira yang barangkali ada
yang sudah dikenalnya dengan baik” Raden Juwiring menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi iapun masih bertanya “Tetapi apakah mungkin
diajeng Warih akan diserahkan kepada kumpeni?“ “Aku tidak dapat
meramalkan. Tetapi menurut perhitunganku, adikmu tidak akan
diserahkan kepada kumpeni” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun
ia masih tetap dibayangi oleh kecemasan bahwa orang-orang Surakarta
benar-benar telah menjadi kehilangan harga dir inya dan tidak lagi
sempat memikirkan kepentingan orang lain. Namun Juwiring masih dapat
menahan dir inya sesuai dengan petunjuk Ki Wandawa. Ia masih harus
menunggu. Ia mencoba untuk percaya, bahwa justru adiknya telah
berada di tangan pimpinan prajurit dari pasukan berkuda, maka
nasibnya tidak akan terlalu buruk. “Tetapi apakah yang paling
menakutkan itu benar-benar belumterjadi?“ pertanyaan itu masih saja
selalu mengganggu. Kepada Kiai Danatirta Juwir ingpun memberitahukan
apa yang di ketahuinya. Ternyata bahwa Kiai Danatirtapun
menasehatkan. agar ia tetap bersabar sampai ada isyarat dari Ki
Wandawa. Namun dalam pada itu, setelah satu dua hari menunggu,
Juwiring t idak mendapat kejelasan persoalan adik perempuannya.
Karena itu hatinya menjadi semakin gelisah dan berdebar-debar.
Bahkan rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu. “Kenapa aku harus
menunggu ij in dar i Ki Wandawa?“ geramnya. “Kau terikat oleh
kedudukanmu dalam pasukan ini, seperti juga dalamjenjang keprajur
itan” jawab Kiai Danatirta.Memang tidak ada jalan untuk menembus
langsung ke dalam jantung kota, jika Ki Wandawa tidak mengijinkan.
Kecuali jika ia bersedia untuk disingkirkan dar i lingkungan para
pengikut Pangeran Mangkubumi. Namun tentu tidak menyenangkan sekali
untuk diper lakukan demikian. Ia sudah dianggap tidak patuh terhadap
Pangeran Mangkubumi, maka nasibnya tentu akan sangat pahit di dalam
pergolakan suasana yang kemelut Itu. Juwiring dan para pengikut
Pangeran Mangkubumi itupun kemudian mendapat keterangan, bahwa
kumpeni dan para prajurit Surakarta sudah menyiapkan diri untuk
bertindak lebih jauh. Mereka sudah mengetahui bahwa Pangeran
Mangkubumi berada di Gebang, sementara Raden Mas Said berkedudukan
di Penambangan. Namun agaknya kumpeni tidak ingin bertindak tergesa-
gesa. Mereka berusaha untuk melihat keadaan secermat- cermatnya.
Kegagalan yang pahit hendaknya tidak terulang lagi. Tetapi dalam
pada itu, selain berita tentang persiapan kumpeni dan prajurit
Surakarta yang akan menyerang Gebang, maka seorang petugas sandi
telah membawa berita khusus bagi Raden Juwir ing. Karena itu, maka
Raden Juwiring bersama saudara-saudara angkatnya telah dipanggil
menghadap Ki Wandawa. “Raden Juwiring” berkata Ki Wandawa “berita
yang akan aku sampaikan mungkin mengejutkan, tetapi mungkin pula
tidak bagimu” Raden Juwiring menjadi berdebar-debar. Dengan gelisah
ia menunggu Ki Wandawa berkata selanjutnya “Seperti yang aku
katakan, Rara Warih benar berada di tangan para pemimpin pasukan
berkuda Surakarta, sehingga ia mendapat perlakuan yang baik. Para
petugas sandi, selain mengamati keadaan dan sikap kumpeni serta
sikap Surakarta, merekapun sempatmencari keterangan tentang Rara
Warih yang berada di tangan para pemimpin pasukan berkuda” Ki
Wandawa itu terdiam sejenak. Kemudian katanya lebih lanjut “bahkan
Raden, ternyata bahwa Rara Warih telah ditahan di Istana
Ranakusuman.” “Di rumah kami sendiri?“. bertanya Raden Juwiring
dengan serta merta. “Ya” jawab Ki Wandawa “istana Ranakusuman
sekarang menjadi pusat kepemimpinan prajurit dan pasukan berkuda
yang sekarang ini dijabat oleh Tumenggung Watang.” Juwiring menarik
nafas dalam-dalam. Sementara Ki Wandawa berkata selanjutnya “Bahkan
Tumenggung Watang telah tinggal di istana itu pula“ “Tumenggung
Watang berada di istana Ranakusuman?” Juwiring menjadi semakin
tegang. “Ya. Tetapi ia tidak mempergunakan Dalem Ageng. Ia tinggal
di gandok saja bersama keluarganya, Bukankah keluarga Tumenggung
Watang termasuk keluarga kecil?” jawab Ki Wandawa. Juwiring
mengangguk-angguk. Hal itu adalah wajar sekali. Istana Pangeran
Ranakusuma yang dianggap memberontak itu telah dikuasai oleh pasukan
berkuda. Sementara adik perempuannya telah ditahan pula di istana
itu pula. Dalam pada itu, Ki Wandawapun berkata pula “Selebihnya
Raden, yang kita cemaskan memang telah terjadi. Ternyata kumpeni
bersama pimpinan prajurit di Surakarta, khususnya dari pasukan
berkuda telah menyebar wara-wara khusus ditujukan kepada Raden Juwir
ing. “Wara-wara apa itu Ki Wandawa?“ bertanya Juwiring dengan
jantung yang berdebar-debar. “Memang menggelisahkan. Tetapi seperti
yang sudah berulang kali aku katakan, jangan kehilangan akal” jawab
KiWandawa “namun masalahnya sudah kita duga sebelumnya sehingga kita
tidak akan terlalu terkejut, karenanya” Juwiring menjadi semakin
berdebar-debar. Tetapi keterangan Ki Wandawa itu memang sudah
mengarah, sehingga karena itu, maka iapun sudah menduga, apa yang
akan dikatakan selanjutnya. “Raden” berkata Ki Wandawa kemudian
“ternyata kumpeni dan pimpinan prajur it dari pasukan berkuda telah
membuat wara-wara yang khusus ditujukan kepada Raden, agar Raden
bersedia menyerah. Adik perempuan Raden itulah yang akan menjadi
taruhan” Raden Juwiring menggeretakkan giginya. Katanya “Mereka
memang licik. Kita memang sudah mengira, bahwa akan demikian
jadinya. Tetapi sebenarnya aku masih berharap bahwa orang-orang
asing itu masih mempunyai harga diri sedikit, sehingga ia t idak
akan mengambil jalan yang licik itu. “Ternyata cara itulah yang
mereka pergunakan Raden” jawab Ki Wandawa “wara-wara itu sudah
disebarkan keseluruh kota. Dalam waktu lima hari lima malam, Raden
harus menyerahkan diri Jika tidak, maka Rara Warih akan diasingkan
keluar Surakarta” Wajah Raden Juwiring menjadi tegang. Dengan nada
berat ia berkata “Jika lewat waktunya, apakah diajeng Warih akan
benar-benar diasingkan?“ “Aku kurang pasti Raden” jawab Ki Wandawa
“mudah- mudahan hal itu hanya sekedar cara untuk memaksa angger
menyerah” “Tetapi bagaimana jika diajeng Warih benar-benar akan
diasingkan keluar Surakarta, ke tempat yang tidak diketahui?“
bertanya Juwiring.Ki Wandawa menarik nafas dalam-dalam. Sementara
itu Raden Juwiring berkata “Ki Wandawa, nampaknya tidak ada usaha
lain yang pantas selain berusaha membebaskannya” “Tetapi Raden harus
mengetahui, bahwa Rara Warih berada di istana Ranakusuma. Istana
Ranakusuman yang kini dipergunakan sebagai tempat pimpinan pasukan
berkuda di Surakarta yang sedang dalam keadaan gawat, sementara
Panglima Pasukan berkuda itu sendiri tinggal di istana itu, meskipun
hanya di gandok. sahut Ki Wandawa “Segalanya itu harus
diperhitungkan. Jika kita salah langkah, maka yang terjadi bukannya
puteri itu dibebaskan, tetapi yang ditahan akan bertambah lagi.
Apalagi j ika kumpeni atau pimpinan pasukan berkuda berhasil
menangkap Raden Juwiring, maka tentu puteri tidak akan dilepaskan,
karena Raden tidak datang untuk menyerahkan diri, tetapi Raden
justru telah tertangkap” Raden Juwiring mengangguk-angguk.
Persoalannya memang rumit. Dan ia tidak boleh bertindak dengan
tergesa- gesa. “Raden Juwiring” berkata Ki Wandawa “sudah barang
tentu, kami akan membantu Raden. Kita akan bersama memikirkan, cara
yang paling baik untuk membebaskan Rara Warih. Jika kami menemukan
cara itu, kami akan member itahukannya kepada Raden, tetapi jika
Raden melihat satu kemungkinan, maka cepatlah memberitahukan kepada
kami. Apa yang kau perlukan, kami akan membantunya, sepanjang
menurut perhitungan kami hal itu mungkin dilakukan” “Terima kasih Ki
Wandawa” berkata Raden Juwiring “Kami akan berusaha untuk melakukan
apa saja yang mungkin untuk membebaskan diajeng Warih. Aku mempunyai
tanggung jawab terhadapnya. Sepeninggal ayah anda, maka aku, Saudara
tuanya, adalah orang yang seharusnya melindunginya”“Aku mengerti
Raden. Sekali lagi aku katakan, bahwa kami di sini akan bersedia
membantu, sementara ini para petugas sandi akan tetap mencari ber
ita tentang puteri” jawab Ki Wandawa Raden Juwiring dan
saudara-saudara angkatnyapun kemudian mohon dir i. Mereka kembali ke
pondok mereka yang dihuni bersama Kiai Danatirta dan Ki Dipanala,
yang hanya berbatasan pagar dan sekat halaman sempit dengan pondok
yang dipergunakan oleh Ki Sarpasrana dengan beberapa mur idnya, yang
juga langsung berada di dalam lingkungan pasukan Pangeran
Mangkubumi. Dengan cemas, Raden Juwiring menyampaikan berita tentang
wara-wara itu kepada gurunya. Batas waktu yang terlalu sempit. Lima
har i lima malam. Kiai Danatirta dan Ki Dipanalapun menjadi cemas
pula karenanya. Dengan suara datar Ki Dipanala berkata “Aku telah
gagal melakukan perintah terakhir dari Pangeran Ranakusuma untuk
menyelamatkan puteri” “Akupun bertanggung jawab” sahut Juwiring.
“Bukan waktunya untuk mencari siapakah yang bersalah” berkata Kiai
Danatirta “tetapi yang penting, bagaimana kita dapat menolongnya”
Dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Dipanala berkata dengan ragu-ragu
“Raden, bagaimana dengan ibunda puteri, Raden Ayu Galih Warit.
Apakah masih ada kemungkinan untuk mohon pertolongannya bagi
keselamatan puterinya, atau kepada Pangeran Sindurata. Menurut
pengamatan beberapa pihak, Pangeran Sindurata masih mempunyai
hubungan dekat dengan kumpeni. Mungkin untuk sementara kita akan
dapat menitipkan puteri kepada mereka, atau mungkin justru mereka
akan dapat mohon puteri untuk tinggal bersama mereka. Nah,
nampaknya, di istana Pangeran Sindurata itu segala usaha akan dapat
dilakukan lebih mudah”Sekilas terpancar harapan di wajah Raden
Juwiring. Namun kemudian ia menjadi ragu-ragu. Katanya “Apakah
ibunda Galih Warit masih dapat diajak berbicara? Bukankah ibunda
sedang mender ita sakit?“ “Pada saat-saat tertentu, kesadarannya
seakan-akan tidak terganggu Raden. Namun sakitnya itu datang kapan
saja dengan tiba-tiba, sehingga memang sulit untuk diperhitungkan.
Meskipun demikian, dalam keadaan yang wajar, aku kira Raden Ayu
masih dapat berbincang dengan Pangeran Sindurata” jawab ia Dipanala.
Kiai Danatirta mengangguk kecil. Katanya “Mungkin masih dapat dicoba
ngger. Tetapi anggaplah bahwa yang penting kau hubungi adalah
Pangeran Sindurata. Jika mungkin, memang perlu berbicara dengan
Raden Ayu. Tetapi setidak- tidaknya pengaruh Pangeran Sindurata akan
dapat membantu. Pangeran Sindurata akan dapat menjelaskan bahwa
cucunya tidak tersangkut kesalahan ayahandanya, sehingga tidak adil
jika Rara Warih harus diasingkan ke tempat yang tidak diketahui.
Yang pantas dihukum adalah Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwiring
menurut penilaian orang- orang Surakarta, bukan Rara Warih” Juwiring
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku akan menghadap Pangeran
Sindurata Aku akan menyampaikan persoalannya. Meskipun mungkin
Pangeran Sindurata telah mendengar bahwa Rara Warih ditahan oleh
pimpinan pasukan berkuda, namun mungkin ia belum menguasai
persoalannya sehingga Pangeran tua itu tidak berbuat apa-apa”
“Tetapi berhati-hatilah” desis Kiai Danatirta “dan bukankah
segalanya harus dibicarakan dengan Ki Wandawa? Temuilah Ki Wandawa
dan sampaikan rencanamu untuk menghadap Pangeran Sindurata” Raden
Juwiring tidak menyia-nyiakan waktu. Iapun segera menghadap Ki
Wandawa untuk membicarakan rencananya.“Sekedar melindungi diajeng
War ih” berkata Juwiring “Apalagi jika Pangeran tua itu bersedia
mengambil diajeng Warih dan menempatkannya di istana Sinduratan.
Segala usaha nampaknya akan menjadi lebih mudah” “Apakah kau akan
mencobanya?“ bertanya Kiai Danatirta Juwiring termangu-mangu
sejenak, Dengan nada rendah ia berkata “tetapi keluarga ibunda
Galihwar it sangat membenciku. Aku telah disingkirkan, dan segalanya
tentu akan menimbulkan kemarahan” “Tetapi keadaan telah berubah”
berkata Ki Dipanala “seperti puteri juga telah berubah sikap
terhadap Raden” “Diajeng War ih melihat dan mendengar apa yang
telah? terjadi. Kenyataan ibunda Galihwarit telah membuatnya lebih
cepat menyadari keadaan dirinya sendiri” jawab Raden Juwiring
“karena itu, agak berbeda dengan ibunda Galihwar it sendir i atau
eyang Pangeran Sindurata. Apalagi jika Eyang Pangeran mendengar apa
yang telah aku lakukan” “Aku dapat melakukannya“ tiba-tiba saja
Buntal menyahut “Aku orang yang tidak dikenal di istana itu. Aku
dapat menghadap Pangeran Sindurata untuk berbicara tentang puteri
Warih” “Tidak“ t iba-tiba Juwir ing memotong “Apapun yang akan
terjadi atas diriku, aku tidak peduli. Yang penting ibunda Galihwar
it dan eyang Sindurata mengerti apa yang telah terjadi atas diajeng
Warih dan bersedia membebaskannya. Jika dengan demikian aku harus
ditangkap, maka aku tidak akan berkeberatan”“Tetapi mungkin Ki
Wandawa akan berkeberatan” desis Kiai Danatirta. “Aku tidak akan
memberikan gambaran apapun juga kepada Ki Wandawa yang akan
mengarahkan perhitungannya kepada kemungkinan itu” jawab Juwiring
“sementara itu, akupun sudah bertekad untuk bersikap sebagai seorang
prajurit Pangeran Mangkubumi. Jika aku tertangkap, aku tidak akan
dapat dipaksa untuk berbicara tentang keadaan pasukan ini” “Kau akan
mengalami penderitaan yang paling pahit yang pernah terjadi atas
seseorang jika kau jatuh ke tangan kumpeni. Kumpeni akan
mempergunakan segala cara untuk memerasmu, agar kau berbicara
tentang pasukan Pangeran Mangkubumi” desis Buntal. “Aku tahu apa
yang harus aku lakukan” jawab Juwir ing “meskipun demikian, aku
memer lukan bantuanmu” “Jika aku mampu melakukannya, aku akan
melakukannya” jawab Buntal. “Kita pergi bersama-sama ke istana
Pangeran Sindurata“ berkata Juwiring. “Bagus” jawab Buntal dengan
serta merta “Aku akan pergi bersamamu” “Aku juga” tiba-tiba saja
Arum memotong. Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya
“Sebaiknya kau tinggal bersama ayah di sini Arum. Yang akan kami
lakukan di Surakarta adalah satu loncatan ke dalam gelap. Kami sama
sekali belum mengetahui apakah yang akan kami jumpai di dalam
kegelapan itu” “Apa salahnya kita bersama-sama melakukannya” jawab
Arum “Aku seorang perempuan. Mungkin aku akan dapat melakukan lebih
banyak dar i kalian dalam penyamaran”Namun Kiai Danatirtapun
menengahinya “Kau akan dapat berbuat sesuatu pada saat yang lebih
pasti Arum. Tidak dalam keadaan seperti ini. Semuanya masih tidak
pasti. Pada keadaan yang demikian, maka sebaiknya kau tidak pergi
bersama kedua kakakmu” “Apa bedanya aku dengan kakang Buntal dan
kakang Juwiring?“ bertanya Arum. “Ada bedanya” jawab ayahnya “jika
kalian tertangkap, maka pender itaan yang akan kau alami, tidak akan
sama dengan apa yang akan dialami oleh kedua kakakmu, Rara Warih
mungkin masih mendapat perlindungan dar i beberapa orang yang
mengenalnya atau yang dalam hubungan keluarga masih mempunyai
sangkut paut. Tetapi kau tidak sama sekali. Kau adalah pengikut
Pangeran Mangkubumi” “Aku tidak takut” jawab Arum “Aku dapat
membunuh diri jika aku harus menghadapi keadaan yang paling pahit
itu“ “Kita masih belum terjebak ke dalam keadaan untuk terputus asa.
Hal itu dapat dihindari dengan t idak usah membunuh dir i” berkata
ayahnya. Lalu “Cara itu adalah, kau tidak usah ikut bersama mereka”
Arum menarik nafas dalami. Ia mulai menyadari, bahwa ia masih belum
waktunya untuk ikut serta bersama kedua kakaknya. Karena itu, maka
katanya “Baiklah. Jika demikian, aku akan mengurungkan niatku.
Tetapi pada suatu saat jika kalian memer lukan aku, maka aku akan
bersedia melakukan apa saja” “Tentu Arum” desis Juwiring ”perjuangan
ini masih sangat panjang. Bahkan untuk membebaskan diajeng Warihpun
masih diperlukan pengorbanan tersendir i” “Jika sudah bulat niatmu”
berkata Kiai Danatirta kemudian pergilah menghadap Ki Wandawa.
Katakan apa yang kaurencanakan. Mungkin ia mempunyai pesan dan
nasehat yang akan berarti bagimu” Demikianlah Juwiring dan Buntalpun
pergi menghadap Ki Wandawa lagi untuk menyampaikan rencananya.
Ternyata Ki Wandawa yang mengetahui betapa gelisahnya hati Juwiring
dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai lewat Pangeran
Sindurata, maka nampaknya iapun tidak berkeberatan. Namun demikian,
ia masih juga berpesan “Raden Juwiring. Pangeran Sindurata adalah
seorang Pangeran yang dekat hubungannya dengan Kumpeni. Aku kira ia
mempunyai sikap yang sama dengan beberapa orang bangsawan Surakarta
yang lain, yang memusuhi Pangeran Mangkubumi. Karena itu, maka kau
harus membatasi persoalan. Persoalan yang dapat kau kemukakan kepada
Pangeran Sindurata adalah sekedar memberi tahukan keadaan Rara
Warih. Serahkan saja pembebasannya kepada Pangeran Sindurata.
Meskipun Pangeran itu mempunyai sikap yang sulit dimengerti, tetapi
aku kira ia sangat memperhatikan cucunya itu. Apalagi Pangeran
Sindurata tentu sudah mengetahui bahwa Pangeran Ranakusuma sudah
tidak ada lagi, sehingga ia akan merasa bertanggung jawab akan nasib
cucunya” Ki Wandawa berhenti sesaat, lalu “kecuali itu, kaupun harus
memperhitungkan bahwa Pangeran itu sudah tahu pula bahwa cucunya
ditangkap. Jika kau memberitahukan kepadanya, adalah sebagai suatu
usaha untuk memperingatkannya, bahwa Rara Warih adalah cucunya yang
sedang mengalami suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Tetapi
kaupun harus memperhitungkan, bahwa Pangeran Sindurata itupun dapat
dianggap mengetahui bahwa Rara Warih itu ditahan karena kumpeni
ingin menangkapmu” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Yang akan
dilakukan memang cukup berbabaha. a. Namun Ki Wandawa pun berkata
“Tetapi aku masih terharap bahwa Pangeran Sindurata bukan seorang
yang licik, yang menganggapkedatarganmu sebagai satu anugerah.
Dengan demikian ia tidak akan menangkapmu dan menyerahkanmu kepada
kumpeni sebagai satu jaminan bagi pembebasan Rara Warih” Juwiring
mengangguk-angguk. Meskipun Ki Wandawa berharap Pangeran itu tidak
akan berbuat licik, namun iapun memper ingatkannya, bahwa
kemungkinan yang demikian memang ada. Karena itu, maka iapun harus
sangat berhati-hati. Segala kemungkinan dapat terjadi. Sementara
pesan Ki Wandawa yang terakhir adalah “Namun aku percaya bahwa
kailan berdua adalah pengikut Pangeran Mangkubumi yang baik. Karena
itu, jika nasib kalian kurang baik, sehingga kalian tertangkap, maka
aku berharap bahwa kalian t idak akan banyak berceritera tentang
Gebang, Sukawati, Penambangan dan tempat-tempat lain yang pernah kau
dengar namanya dan baranglali pernah kau kunjungi” “Aku mengerti Ki
Wandawa. Aku mohon restu. Mudah- mudahan aku dapat menemukan jalan
untuk membebaskan diajeng Rara Warih” berkata Juwiring yang kemudian
mohon diri untuk melakukan rencananya bersama Buntal. Atas restu Ki
Wandawa, Kiai Danatirta dan Ki Dipanala maka kedua anak muda itupun
mempersiapkan dir i lahir dan batin untuk melakukan satu tugas yang
penting dan gawat. Apalagi keduanya memang bukan petugas sandi yang
terbiasa melakukan tugas-tugas yang bersifat rahasia. Namun
demikian, ternyata dua orang petugas sandi telah mendapat perintah
Ki Wandawa untuk mengamati keadaan mereka. “Dimana kami dapat
bertemu dengan kalian“ bertanya Juwiring ketika kedua orang petugas
itu memperkenalkan diri. Salah seorang dari kedua petugas sandi itu
menggeleng. Katanya “Bukan Raden yang mencari kami, tetapi kami yang
akan selalu membayangi Raden”“Tetapi jika kami memerlukan kalian
setiap saat?” desis Raden Juwiring. “Kami minta maaf, bahwa tidak
setiap orang dapat mengetahui tempat persinggahan kami. Bukan kami
tidak percaya kepada Raden, tetapi siapa tahu nasib seseorang.
Karena itu, lebih baik Raden tidak mengetahui dimana tempat
persinggahan kami. Tetapi percayalah, bahwa kami tidak akan terlalu.
jauh dari Raden. Memang mungkin kami tidak akan dapat mengawasi
Raden jika Raden berhasil memasuki istana Sinduratan. Tetapi
Setidak-tidaknya kami mengetahui seandainya Raden tidak dapat keluar
lagi dari istana itu, atau satu kesempatan lain yang dapat kami
lakukan, meskipun sangat terbatas” Juwiring menarik nafas
dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa sifat rahasia dari petugas sandi
memang dijaga sebaik-baiknya meskipun di antara lingkungan sendiri.
Sehingga dengan demikian maka Raden Juwir ing tidak dapat mendesak
lagi. Demikianlah, segala yang direncanakan oleh Juwir ing telah
diperhitungkan masak-masak atas persetujuan kedua orang petugas
sandi yang mendapat tugas untuk mengamatinya. Juwiring dan Buntalpun
menyadari bahwa yang dapat dilakukan oleh petugas sandi itu memang
sangat terbatas. Sehingga dengan demikian, maka keduanya akan lebih
banyak tergantung kepada kemampuan mereka sendir i Ketika keduanya
berangkat menuju ke kota, terasa debar jantung seisi pondok kecil
itu. Bahkan Kiai Sarpasranapun telah hadir pula untuk ikut serta
melepas mereka. Tidak banyak orang yang mengetahui, apa yang akan
dilakukan oleh kedua orang anak muda itu. Seperti tugas sandi
lainnya, maka hanya orang-orang terbatas sajalah yang mengetahui apa
yang akan dilakukan oleh kedua orang itu. Arum, seorang gadis yang
memiliki kemampuan olah kanuragan itu, melepas kedua kakak angkatnya
denganjantung yang berdegupan. Ketika ia memandang keduanya berjalan
semakin jauh, maka terasa sesuatu mendesak di pelupuk matanya. Yang
pergi itu bukan saja kakak angkatnya. Bukan pula sekedar kawan
seperjuangan di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi, tetapi
keduanya mempunyai arti yang dalam di perjalanan hidupnya. Juwiring
benar-benar bagaikan kakak kandungnya yang banyak memberikan
tuntunan kepadanya, sementara Buntal telah menyusup ke dalam dasar
perasaannya sebagai seorang gadis terhadap seorang anak muda. Karena
itulah, maka kecemasannyapun rasanya menjadi berlipat. Ia
benar-benar tidak ingin kehilangan keduanya. Namun iapun mengerti,
bahwa ia t idak akan dapat mencegah keduanya. Arum menyadari
keadaannya ketika ayahnya menggamitnya sambil berkata “Berdoalah
untuk keduanya. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan
mendengarkan permohonan hambanya” Arum mengangguk kecil. Namun
terasa kerongkongannya bagaikan tersumbat. Dengan tergesa-gesa ia
pergi ke pakiwan. Pertama-tama ia membersihkan jari-jarinya,
kemudian Arum membersihkan mulut, muka, tangan, kepala serta
kakinya, kemudian masuk ke dalam biliknya. Seperti kata ayahnya,
maka iapun mengangkat tangannya, berdoa kepada Tuhan Sang Pencipta.
Dalam pada itu, Juwiring dan Buntal yang telah bertekad untuk
mencari jalan agar Warih dilepaskan, sambil berjalan di sepanjang
bulak sibuk membicarakan cara yang sebaik- baiknya untuk menghadap
Pangeran Sindurata. Keduanya yang bertugas sandi itu telah
mengenakan pakaian yang sama sekali tidak memberikan kesan tentang
keduanya. Apalagi bahwa seorang di antara mereka adalah putera
seorang Pangeran. Keduanya memakai pakaian petani yang lusuh.Tudung
kepala yang runcing dan kain yang tinggi di bawah lutut. Namun dalam
pada itu, seperti yang telah ditentukan, pimpinan pasukan berkuda
memang sudah menghubungi Pangeran Sindurata untuk memberitahukan
bahwa Rara Warih ada di dalam tahanan pasukan berkuda. “Apakah
kalian sudah gila” bentak Pangeran Sindurata di hadapan tiga orang
pewira dari pasukan berkuda “Warih adalah cucuku. Kau sangka ia
terpercik dosa ayah dan kakaknya anak bengal itu?“ “Bukan begitu
Pangeran” jawab salah seorang dari para perwira pasukan berkuda itu
“Kami tahu, bahwa puteri tidak bersalah. Tetapi maksud kami sekedar
mempergunakannya untuk memancing agar kakandanya, Raden Juwiring
menyerah” “Itulah kebodohan kalian“ Pangeran Sindurata masih
membentak “Kau kira kau akan berhasil? Kau sudah mengorbankan
kebebasan seseorang, sementara tujuan kalian sama sekali tidak akan
dapat kalian capai. Kau kira Juwiring mengerti arti hubungannya
dengan Warih. Anak itu sama sekali tidak tahu diri. Ia merasa dir
inya jauh melampaui kedudukannya yang sebenarnya. Karena ia
dipanggil oleh ayahandanya masuk ke dalam istana Ranakusuman, maka
ia menjadi besar kepala, dan menganggap orang lain tidak berarti
apa-apa-Aku kasihan kepada cucuku. di rumah ia dianggap orang lain,
tiba-tiba saja di luar kesalahannya ia sudah ditahan. Bukankah itu
tindak yang sewenang-wenang” “Keadaan puteri sangat baik. Ia berada
di istananya sendiri. Tiga orang emban khusus telah melayaninya
setiap hari. Apapun yang dikehendaki tentu terpenuhi, kecuali
meninggikan istana itu” jawab salah seorang dari para perwira
itu.“Jangan kau tipu aku. Aku mengerti, apa yang kau maksud dengan
emban khusus itu” Pangeran Sindurata hampir berteriak. “Ya, ya
Pangeran. Kami mohon Pangeran dapat mengerti. Bukankah dengan
demikian berarti bahwa Rara Warih telah berkorban untuk kepentingan
Surakarta. Pada saatnya, jika pemberontakan ini sudah dipadamkan,
setiap orang akan mengetahui berapa besarnya pengorbanan Rara Warih”
jawab perwira itu. “Omong kosong” geram Pangeran Sindurata “Kenapa
kalian tidak berusaha menangkap pengkhianat itu dengan cara lain.
Tidak dengan cara yang sewenang-wenang itu terhadap cucu gadisku.
Jika ibunya yang jiwanya tertekan itu mendengar, api jadinya? Sampai
saat ini ia tidak tahu apa yang terjadi atas suaminya yang
pengkhianat itu. Ia juga tidak mendengar bahwa Warih kalian
korbankan untuk menangkap pengkhianat kecil itu” Pangeran Sindurata
berhenti sejenak, lalu “He. apakah kau kira nilai cucuku seimbang
dengan nilai anak gila itu he? Kau mempergunakan umpan yang terlalu
tinggi nilainya dibanding dengan ikan yang ingin kau tangkap. Itu
tidak adil” “Pangeran” berkata salah seorang perwira itu “Kami sudah
member ikan batas waktu. Lima hari lima malam. Setelah itu, apapun
yang akan terjadi, kami tidak akan mempergunakan lagi puteri cucu
Pangeran itu. Kami akan mempergunakan cara lain. Kami menyadari
bahwa Raden Ayu Galihwarit kadang- kadang masih saja diguncang oleh
kegelisahannya sepeninggal Raden Rudira. Jika Raden Ayu mendengar
akan hal ini, maka guncangan perasaan itu akan bertambah-tambah
parah. Atas segala macam pertimbangan inilah, maka kami telah datang
menghadap Pangeran untuk sekedar member itahukan keadaan yang
sebenarnya dari puteri cucunda itu”Pangeran Sindurata menggeram.
Namun ia tidak dapat menolak per lakuan para perwira dar i pasukan
berkuda yang telah mempergunakan cucunya untuk menangkap Juwir ing.
meskipun Pangeran itu tidak yakin bahwa usaha itu akan berhasil.
“Kami menjamin Pangeran” berkata para perwira itu “Kami tidak ingin
benar-benar berbuat lebih jauh terhadap puteri. Jika kami membuat
wara-wara yang seolah-olah kami benar- benar ingin mengorbankan
puteri, itu semata-mata hanyalah satu tekanan untuk memaksa Raden
Juwir ing menyerah” Pangeran Sindurata termangu-mangu sejenak.
Sebenarnya ia tidak rela menyerahkan cucunya untuk satu kepentingan
yang tidak akan berarti apa-apa, selain membuat perasaan cucunya
semakin pahit. “Terserahlah kepada kalian“ akhirnya ia berkata
“tetapi jika terjadi sesuatu, maka kalian harus bertanggung jawab.
Anak itu tidak boleh bersedih. Lebih baik kalian berterus terang,
bahwa tahanan yang dikenakan kepadanya itu sekedar permainan
pura-pura. Dengan demikian ia menyadari apa yang dilakukannya,
sehingga ia tidak merasa tersiksa karenanya Kecuali itu, kalian
tidak berhak menolak jika aku ingin menjumpainya kapan saja aku mau”
Para perwira dari pasukan berkuda itu saling berpandangan sejenak.
Mereka mengerti, agaknya Pangeran Sindurata tidak mengenal cucunya
sebaik-baiknya. Nampaknya yangdikatakan oleh Pangeran Sindurata itu
tidak sesuai dengan sikap Rara Warih sendir i. Tetapi para perwira
itu tidak membantah. Bahkan seorang di antara mereka “Baiklah
Pangeran. Kami akan melakukannya seperti yang Pangeran kehendaki.
Pangeran Sindurata itu tidak menjawab lagi. Ketika para perwira
prajurit dari pasukan berkuda itu minta dir i maka dengan pendek ia
menjawab “Ya. Tetapi cucuku adalah tanggung jawabmu” Para perwira
itupun kemudian meninggalkan istana Pangeran Sindurata. Demikian
mereka meloncat ke punggung kuda di luar gerbang halaman istana
Pangeran Sindurata, mereka tersenyum-senyum kecil. Seorang di antara
mereka berdesis “Pangeran itu mempunyai penyakit marah. Kadang-
kadang saja ia menjadi pening dan marah tanpa sebab. Wajahnya
menjadi merah seperti bara. Nampaknya memang ada gejala sakit syaraf
turun temurun, sehingga kejutan sedikit atas Raden Ayu Galihwarit
saat puteranya meninggal, telah membuatnya kadang-kadang-kadang
kehilangan kesadaran meskipun tidak setiap saat” “Puteri yang
cantik” sahut yang lain “Raden Ayu Sontrang yang nampaknya masih
terlalu muda dibandingkan dengan usianya itu mengalami sesuatu yang
patut disesalkan. Tetapi ternyata kecantikan puterinya itu adalah
kecantikan keturunan pula. Karena itu, kehadirannya di lingkungan
pasukan berkuda hanya membuat kepalanya pening saja setiap hari.”
Para perwira itu tertawa. Yang seorang masih berkata “Kasihan
Pangeran tua itu. Tetapi apaboleh buat” Para perwira itupun kemudian
menyusuri jalan-jalan kota. Kaki-kaki kudanya berderap tidak terlalu
cepat. Sambil menengadahkan kepalanya mereka memandang gadis-gadis
yang lewat dan berpapasan.Namun dalam pada itu, sepeninggal para
perwira dari pasukan berkuda itu, kepala Pangeran Sindurata menjadi
pening. Sambil menghentak-hentakkan kakinya, ia berjalan hilir
mudik. Ketika perasaan pening di kepala dan rasa sakit ditengkuknya
itu semakin terasa menggigit, maka seperti biasanya iapun melepas
ikat kepalanya dan mengikat keningnya keras-keras dengan ikat
kepalanya itu untuk mengurangi rasa sakit. “Yang gila adalah
Juwiring” geram Pangeran Sindurata “jika ia tidak berkhianat, maka
Warih tidak akan dijadikan taruhan seperti itu. Jika pada suatu saat
ibunya mengetahuinya, maka hatinya akan menjadi semakin pedih, dan
syarafnya akan menjadi semakin terganggu. Ia akan menjadi kehilangan
kesadaran bukan saja di waktu-waktu tertentu. Tetapi setiap saat”
Pangeran Sindurata merasa beruntung, bahwa kehadiran para perwira
prajurit Surakarta dari pasukan berkuda itu dapat diterimanya
langsung, sehingga tidak ada orang lain yang mengetahuinya. “Tetapi
berita tentang hal itu tentu akan tersebar luas“ gumam Pangeran
Sindurata “para perwira itu dengan sengaja akan menyebarkan
wara-wara agar Juwiring dapat mendengarnya” Tiba-tiba saja Pangeran
tua itu menggeram “Jika saja aku dapat menangkapnya. Aku akan
menyerahkannya kepada pasukan berkuda agar cucuku itu dapat
dilepaskan segera” Dalam keadaan yang demikian itulah, Juwiring dan
Buntal melangkah mendekati istana Pangeran Sindurata. Justru pada
saat Pangeran Sindurata sedang dicengkam oleh kegelisahan karena
cucunya yang ditahan oleh pimpinan pasukan berkuda. Di perjalanan
Juwiring dan Buntal sedang mereka-reka satu usaha agar mereka dapat
memasuki istana Pangeran Sindurata. Dari para petugas sandi keduanya
telah mendapatgambaran kota Surakarta dalam keseluruhan, sehingga
mereka akan dapat menyesuaikan diri. Jalan yang manakah yang harus
dihindari karena kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas
mereka, dan jalan-jalan manakah yang dapat mereka lalui dengan aman.
“Eyang Sindurata adalah seorang penggemar burung” desis Juwiring.
“Apakah maksud kakang, kita akan membawa burung?“ bertanya Buntal,
“Kita dapat berpura-pura menjadi penjual burung. Kita memasuki
istana untuk menawarkan seekor atau dua ekor burung berkicau yang
baik” jawab Juwiring. “Aku mengerti. Tetapi dari mana kita
mendapatkan seekor burung dengan sangkarnya. Kita bawa burung itu ke
istana Pangeran Sindurata. Setidak-tidaknya kita akan dapat men
dekati istana itu tanpa dicur igai” jawab Juwiring. “Apakah Pangeran
Sindurata mengenalmu dengan baik?” desis Buntal. Juwiring
termangu-mangu sejenak. Kemudian iapun menggelengkan kepalanya “Aku
kira tidak. Eyang Sindurata jarang sekali melihat aku. Bagi Pangeran
Sindurata, termasuk seluruh keluarganya, aku adalah orang yang tidak
berarti apa- apa. Aku bukan orang yang sederajat, meskipun
sebenarnya demikian. Ayahku adalah ayah anak-anak ibunda Raden Ayu
Galihwar it. Yang menentukan derajad adalah ayahanda Meskipun
derajad ibunda lebih rendah, tetapi itu bukan berarti bahwa
derajadku lebih rendah dar i anak-anak ibunda Raden Ayu Galihwarit”
“Tetapi mereka menganggap seperti itu” desis Buntal. “Ya. Tetapi
sekarang hal itu merupakan satu keuntungan. Mudah-mudahan bahwa
Pangeran Sindurata tidak mengenalku dengan baik akan membuka jalan
bagiku untuk berbicaradengan Pangeran Sindurata dan terutama ibunda
Raden Ayu Galihwar it meskipun mereka akan memaki aku melampaui
seorang pengemis yang paling buruk, sahut Juwir ing. Dalam pada itu,
keduanyapun sepakat untuk membeli dua ekor burung jenis burung
berkicau yang baik dan kemudian membawanya ke istana Pangeran
Sindurata, karena Pangeran itu memang penggemar burung. Dengan
seekor burung kutilang dan seekor burung kepodang, keduanya dengan
jantung yang berdebar-debar mendekati regol istana Sinduratan.
Halaman istana itu nampak sepi. Pangeran Sindurata memang bukan
seorang Pangeran yang mempunyai kegiatan yang khusus. Ia lebih
banyak mengurusi dir inya sendiri dan keluarganya. Meskipun Pangeran
itu hadir pada upacara-cara tertentu, namun kehadirannya hanyalah
karena kewajiban. Meskipun demikian, kedatangan kumpeni di Surakarta
telah membuatnya mendapat satu kesibukan baru. Nampaknya Pangeran
Sindurata senang bergaul dengan orang-orang asing itu seperti juga
puterinya, Raden Ayu Galihwarit. “Tidak ada pengawal sama sekali?”
desis Buntal. “Ada. Aku sudah mendapat keterangan. Tetapi pengawal
itu berada di dalam, sebagaimana abdi yang lain. Namun bukan berarti
bahwa pengawalan di istana ini dapat diabaikan” jawab Juwiring.
Karena halaman istana itu sepi, maka kedua anak-anak muda iu justru
menjadi ragu-ragu. Namun sebenarnyalah kehadirannya di regol istana
itu sama sekali tidak menarik perhatian. Hampir setiap orang di
sekitar istana itu memang mengetahui, bahwa Pangeran Sindurata
adalah seorang penggemar burung. Karena itu, maka menurut tanggapan
orang-orang yang melihat kehadiran kedua anak muda itu adalah
sekedar ingin menawarkan burung.Baru sejenak kemudian, Juwiring
melihat seorang abdi yang lewat melintasi halaman. Dengan ragu-ragu
iapun memasuki halaman itu pula diikut i oleh Buntal. Sambil
berjalan-jalan terbungkuk-bungkuk keduanya mendekati abdi yang
terhenti ketika ia melihat kedua anak muda yang membawa burung di
dalamsangkarnya itu. “Kalian mau apa?“ bertanya abdi itu meskipun ia
sudah menduga, apakah maksud mereka. Juwiringlah yang menjawab
“Sebenarnyalah aku ingin menawarkan burung-burung ini kepada
Pangeran. Ayahku member itahukan kepadaku, bahwa Pangeran memer
lukan seekor burung kepodang putih. Aku membawanya. Sementara itu,
akupun mempunyai seekor kutilang yang sudah jadi” “Hem” gumam abdi
itu “Pangeran sedang sibuk dengan masalah-masalah yang penting”
“Masalah apa?“ bertanya Juwiring. “Aku tidak tahu pasti. Mungkin ada
sangkut pautnya dengan keadaan Surakarta sekarang ini. Tetapi
mungkin juga karena keadaan cucunda puteri” “Cucunda Pangeran
kenapa?“ bertanya Buntal. “Puteri itu ditangkap oleh pimpinan
pasukan berkuda Telah disebarkan wara-wara tentang puteri itu”
berkata abdi itu selanjutnya. “Tetapi mungkin burung-burung ini akan
dapat menjadi penghibur. Cobalah Ki Sanak, bawa aku menghadap
Pangeran Sindurata. Burungku adalah burung yang sangat baik.
Kepodang kuning sudah banyak jumlahnya di istana ini, karena ayahku
sering membawakannya. Tetapi kepodang putih nampaknya belum” desak
Juwiring. “Aku akan mencoba menyampaikannya” jawab abdi itu.“Jika
Pangeran sudi membeli burung-burung ini, aku akan tahu apa yang
harus aku lakukan terhadap Ki Sanak” desis Juwiring. “Ah” sahut
orang itu “berapa harga kedua ekor burung itu. Jika kau
menyebut-nyebut aku, maka kalian justru tidak akan menerima uang
sama sekali” “Jangan begitu Ki Sanak” jawab Buntal “semuanya
tergantung kepada Pangeran Sindurata. Jika Pangeran sudi membeli
mahal, maka besok pagi-pagi kau akan dapat membeli selembar ikat
kepala” Orang itu tertawa. Katanya “Manakah yang lebih mahal.
Burung-burung itu atau ikat kepala?“ Juwiring dan Buntalpun tertawa
pula. Namun keduanyapun kemudian disuruh menunggu di bawah sebatang
pohon kemuning di halaman depan. Abdi itu akan menghadap Pangeran
Sindurata yang nampaknya sedang disibukkan oleh kegelisahan. Agak
berbeda dengan dugaan abdi itu. Ternyata ketika ia menyampaikan
kehadiran kedua orang anak muda untuk menjual burung, justru ia
segera tertarik. Katanya “Bawalah mereka kemari. Aku memang ingin
membeli seekor burung yang sangat baik. Aku jemu memikirkan keadaan
yang semakin panas. Kemelut yang tidak ada akhir-akhirnya.
Perselisihan antara keluarga sendiri memang sangat tidak
menyenangkan” ia berhenti sejenak, lalu “bawa anak-anak itu kemari”
Abdi itupun kemudian memanggil Juwiring dan Buntal menghadap
Pangeran Sindurata di serambi, di dalam seketheng. Abdi itu ternyata
tidak berbohong. Kedua anak muda itu memang membawa dua ekor burung
yang bagus. Seekor kepodang dan yang seekor kutilang.“Aku memerlukan
kepodang putih ini” desis Pangeran Sindurata “tetapi tidak
kutilangnya. Aku sudah mempunyai beberapa ekor burung kutilang.”
Juwiring dan Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Pangeran
Sindurata benar-benar ingin membeli seekor burung. Dengan demikian,
maka ia akan dapat menghadap dan berbicara dengan Pangeran
Sindurata. Sejenak kemudian Pangeran Sindurata telah duduk di
serambi dihadap oleh kedua anak muda yang menawarkan burung itu.
Sejenak Pangeran itu asyik memperhatikan burung yang berada di dalam
sangkar bambu yang kurang baik. “Aku akan menggantinya dengan
sangkar yang pantas untuk burung kepodang putih ini” gumam Pangeran
Sindurata. “Ampun Pangeran, tentu akan sesuai dengan keindahan
bentuk dan bunyinya yang merdu” desis Juwir ing. “Kau jangan memuj
i” potong Pangeran Sindurata “Tidak ada orang yang tidak memuji
barang yang dijualnya. Aku menjadi kecewa mendengar puj ianmu”
“Ampun Pangeran” sahut Juwiring. Sementara Buntal menarik nafas
panjang. Ia mulai menilai sifat Pangeran tua itu. Namun dalam pada
itu, telah terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka. Sementara
Pangeran Sindurata memperhatikan burung kepodang putih itu,
tiba-tiba saja seorang abdi yang juga bertugas sebagai pengawal di
istana Sinduratan itu datang menghadap diiringi oleh seorang yang
lain beberapa langkah di belakangnya. Dengan ragu-ragu orang itu
beringsut mendekat sambil memperhatikan Juwiring dan Buntal yang
tidak menghiraukan orang itu. “Ada apa?“ tiba-tiba saja Pangeran
Sindurata bertanya kepada pengawal itu.Pengawal itu termangu-mangu.
Namun kemudian dipaksanya dirinya untuk berkata “Ampun Pangeran.
Sebenarnyalah kami mencurigai kedua anak-anak muda ini” “He“
Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya, sementara jantung kedua
anak-anak muda itu berdegup semakin keras. “Kenapa kalian mencur
igainya?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Kami pernah mengenal seorang
di antara keduanya” berkata pengawal itu. “He, siapa? Yang mana?“
bertanya Pangeran tua itu pula. “Menurut penilikan kami, anak muda
yang duduk di sebelah kanan itu adalah Raden Juwir ing” berkata
pengawal itu pula. “Juwiring“ Pangeran tua itu terkejut sehingga ia
terloncat berdiri dan bergeser surut “He, yang mana?“ Pangeran itu
beringsut maju, sementara kawannyapun beringsut pula mendekat “Maaf
Raden” berkata pengawal itu “aku mengenal Raden dengan baik, karena
aku adalah seorang hamba yang sering mendapat perintah ke istana
Ranakusuman pada waktu itu, sehingga agaknya aku tidak akan salah
lagi” Wajah Juwiring menjadi tegang. Tetapi jika ia sudah
dikenalnya, iapun tidak berkeberatan. Yang penting bahwa ia sudah
berhasil menghadap Pangeran Sindurata untuk menyampaikan persoalan
Rara Warih yang sedang ditahan oleh pasukan berkuda dan kumpeni.
Karena itu, maka dengan nada datar iapun berkata “Baiklah. Aku t
idak akan ingkar. Aku adalah Juwir ing” “Juwiring. Jadi kau
pengkhianat itu?“ teriak Pangeran Sindurata. “Ya eyang. Hamba adalah
Juwiring” sahut Juwiring ragu.“Setan alas. Jadi kau ingin membunuh
aku he? Kau telah menyusup ke istana ini” geram Pangeran tua itu.
“Ampun eyang. Bukan maksud hamba untuk mengejutkan eyang” desis
Juwir ing. Namun dengan serta merta Pangeran Sindurata memotong
“Jangan panggil aku eyang. Aku tidak mempunyai cucu seorang
pemberotak. Seorang pengkhianat” “Baiklah Pangeran” sahut Juwiring
“kedatangan hamba sama sekali tidak bermaksud buruk. Hamba tahu,
bahwa hamba tidak akan mungkin dapat berbuat sesuatu di sini, selain
mohon perlindungan Pangeran atas saudara perempuan hamba, Rara
Warih” Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Juwiring masih
tetap duduk bersila sambil menundukkan kepalanya. Tidak ada tanda-
tanda bahwa ia akan berbuat jahat. Meskipun demikian, Pangeran
Sindurata masih tetap berhati-hati. Demikian pula kedua pengawal
itupun telah bersiaga sepenuhnya, jika terjadi sesuatu dengan kedua
anak muda itu. “Pangeran” berkata Juwiring kemudian “j ika hamba
menghadap Pangeran, adalah semata-mata karena hamba ingin mohon
perlindungan seperti yang telah hamba katakan. Adik perempuan hamba,
Rara Warih” “Cukup” potong Pangeran Sindurata “Kau kira bahwa
sikapmu itu dapat menyenangkan hatiku. He, anak Pidak pedarakan.
Jangan kau sebut cucuku itu sebagai adikmu, dankau jangan
sekali-sekali merasa berjasa bahwa kau telah member itahukan hal itu
kepadaku, karena aku sudah mengetahui segala-galanya. Aku tahu bahwa
cucuku telah ditangkap. Tetapi kau terlalu bodoh untuk datang kemar
i. Kau kira bahwa Warih benar-benar telah ditahan?“ Juwiring
beringsut setapak. Terasa jantungnya berdebar semakin cepat. Menurut
dugaannya, Rara Warih benar-benar ditahan oleh pasukan berkuda,
setelah gadis itu ditangkap di padepokan. “Pangeran” berkata
Juwiring kemudian “Hamba tidak akan menolak apapun yang akan
Pangeran tuduhkan terhadap hamba kemudian, tetapi hamba mohon
diperkenankan untuk berbicara serba sedikit tentang Rara Warih?”
“Aku sudah tahu semuanya. Ia sudah ditangkap. Dan seharusnya akulah
yang bertanya kepadamu, apakah kau tahu, kenapa ia pura-pura ditahan
oleh pasukan berkuda?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Apakah menurut
Pangeran, yang terjadi itu sekedar pura- pura?“ Juwir ing ganti
bertanya. “Ya. Aku sudah meyakinkan. Rara Warih tidak boleh
meninggalkan rumahnya. Bukan karena ia dianggap bersalah, tetapi
justru yang dilakukan itu adalah suatu perjuangan, satu pengorbanan
yang dapat diberikan bagi Surakarta” Wajah Juwiring menjadi tegang.
Sementara Pangeran Sindurata itu berkata seterusnya “Para pemimpin
dari pasukan berkuda tahu, bahwa kau tentu akan berusaha mengambil
hasilnya. Kau tentu ingin menjual jasa agar kau dapat diakui sebagi
kakaknya. Kau tentu tahu, sepeninggal ayahandanya, istana dan
seisinya adalah milik cucuku. Maksudku milik anakku, ibunda Rara
Warih. Dan kau merayap untuk merendahkan diri, menjual tenaga untuk
sekedar mendapat belas kasihannya atas warisan yang
ditinggalkan”Jantung Juwiring bagaikan meledak mendengar penghinaan
itu. Tetapi ia masih tetap berusaha menahan hati. Bahkan Buntalpun
menjadi gemetar, meskipun ia tidak berbuat sesuatu selain menahan
agar jantungnya tidak meledak. “Pangeran” berkata Juwiring
“perkenankanlah hamba berbicara sedikit saja mengenai cucunda
Pangeran untuk menjadi bahan pertimbangan. Setelah hamba berbicara,
terserah kepada Pangeran, apakah yang ingin Pangeran lakukan atas
hamba” Wajah Pangeran Sindurata menjadi semakin tegang. Namun
ternyata ia masih memberi kesempatan kepada Juwiring untuk berbicara
“Katakan Cepat, sebelum aku mengambil tindakan” Lalu katanya kepada
para pengawal “Tetaplah di situ” Juwiring menar ik nafas
dalam-dalam. Kemudian iapun berkata “Pangeran. Apa yang hamba
ketahui tentang Rara Warih adalah, bahwa Rara Warih telah dianggap
bersalah seperti kesalahan yang pernah dilakukan oleh ayahanda
Pangeran Ranakusuma” “Omong kosong” bentak Pangeran Sindurata.
Juwiring tidak menghiraukannya. Iapun kemudian berceritera tentang
Rara Warih seperti yang telah terjadi sebenarnya Rara Warih tidak
ditahan, seolah-olah sekedar tidak boleh keluar dari rumahnya, yang
justru dianggap sebagai satu pengorbanan. Tetapi Rara Warih
benar-benar telah ditangkap dan dibawa dengan paksa oleh prajurit
dari pasukan berkuda dari Padepokan Jati Aking” “Gila” bentak
Pangeran Sindurata “Kau mengingau he? Kau ingin memfitnah dan
membuat segalanya rusak setelah kau rusak hidup dan hati ibunda Rara
Warih, karena kedengkianmu terhadap kebahagiaannya di samping orang
yang kau sebut ayahandamu”“Hamba mohon Pangeran sudi mendengarkan
keterangan hamba. Kedatangan hamba kemari sekedar untuk member
itahukan, bahwa Rara Warih benar-benar memer lukan pertolongan”
berkata Juwir ing. Namun dalam pada itu, hatinya menjadi
berdebar-debar. Sikap dan tanggapan Pangeran Sindurata benar-benar
tidak menguntungkan. Dengan demikian mungkin sekali Pangeran itu
benar-benar seperti yang dicemaskan oleh Ki Wandawa yang menganggap
kehadirannya sebagai satu anugerah. "Apakah Pangeran ini akan
bertindak licik dan menangkap aku dan Buntal?” pertanyaan itu telah
menyentuh hatinya. Dalam pada itu sepercik ingatan telah menyentuh
hati Juwiring. Jika Pangeran itu tidak mau mendengarkannya,
bagaimana dengan Raden Ayu Galihwarit. Betapa bencinya Raden Ayu itu
kepadanya. Tetapi ia datang untuk kepentingan puterinya. Hubungan
baik keluarga ini dengan kumpeni akan memungkinkan untuk melepaskan
Rara Warih tanpa mengorbankan dirinya. Namun ternyata bahwa Juwiring
tidak mempunyai kesempatan. Sementara itu, Pangeran Sindurata telah
berkata “Juwiring. Kedatanganmu kemari adalah satu sikap sombong
yang tidak dapat dimaafkan. Seharusnya kau tahu, bahwa cucuku harus
berkorban untuk ditahan karena ia sadar, bahwa kau harus ditangkap.
Karena itu, menyerahlah. Kau akan aku tangkap. Dengan demikian, maka
pengorbanan cucuku tidak berkepanjangan” Juwiring termangu-mangu
sejenak. Jika benar Pangeran itu akan menangkapnya, ia harus
mengambil satu sikap. Lebih baik ia menyerahkan diri langsung kepada
prajurit pasukan berkuda daripada ia harus menyerah kepada Pangeran
Sindurata. Jika ia menyerah kepada prajurit dari pasukan berkuda
maka t idak akan ada alasan untuk menunda pembebasan Rara Warih.
Tetapi jika ia tertangkap, maka pasukan berkuda akan mempunyai
alasan untukmenumbuhkan persoalan baru sebagai alasan untuk tidak
membebaskan Rara Warih, karena sebenarnyalah sikap Rara Warih sama
sekali berbeda dengan sikap seperti yang diduga oleh Pangeran
Sindurata. Namun dalam pada itu, Juwiringpun selalu ingat pula pesan
Kiai Danatirta, bahwa lebih baik ia tidak di tangan lawan karena
dengan demikian ia kehilangan segala kesempatan. Kesempatan untuk
melanjutkan perjuangan dan kesempatan untuk membebaskan Rara Warih.
Sebenarnyalah bahwa Pangeran Sindurata tidak mau berpikir lebih
jauh. Ia lebih senang menangkap Juwiring dan membebaskan cucunya
dari tangan prajurit dar i pasukan berkuda. Karena itu, maka katanya
“Juwiring, kau jangan mencoba untuk berbuat sesuatu yang akan dapat
mencelakaimu. Menyerahlah. Biarlah pengawalku mengikat tangan dan
kakimu, kemudian aku akan membawamu untuk membebaskan cucuku itu”
Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Namun ia masih berusaha untuk
berbicara “Pangeran, apakah aku dapat member ikan penjelasan kepada
Raden Ayu Galihwarit serba sedikit tentang keadaan puterinya? Aku
kira persoalannya tidak terlalu sederhana. Menangkap kau aku
kemudian melepaskan Rara Warih yang Pangeran anggap telah member
ikan pengorbanan bagi Surakarta sekedar untuk menangkap aku,
Seharusnya Pangeran mengetahui, bagaimana sikap Rara Warih sendiri”
“Aku tidak peduli” geram Pangeran Sindurata “Cepat, menyerahlah. Aku
tidak akan memberimu kesempatan bertemu dengan puteriku yang sudah
kau fitnah itu” “Jangan berkata begitu Pangeran” jawab Juwiring “Aku
kira Pangeranpun mengetahui persoalan yang seharusnya dari Raden Ayu
Galihwarit. Apa yang menyebabkan Raden Ayusering terganggu. Sama
sekali tidak ada hubungannya dengan hamba karena hamba tidak berada
di istana ayahanda pada waktu itu” “Cukup” bentak Pangeran
Sindurata. Namun Juwir ing berkata lebih lanjut “Hamba mohon
Pangeran sudi mengenali cucu Pangeran pada saat ini. Dari sikapnya
mungkin Pangeran akan dapat mengambil kesimpulan lain. Jangan
menggurui aku” potong Pangeran Sindurata, lalu “sekarang menyerahlah
kepada kedua pengawalku itu” Juwiring tidak melihat kesempatan lain.
Namun dalam pada itu keinginannya untuk bertemu dengan Raden Ayu
Galihwar it menjadi semakin mendesak, Karena itu, maka iapun
berbisik kepada Buntal “Tahanlah mereka. Aku akan mencar i Raden Ayu
Galihwarit” Buntal mengerti maksud Juwiring, karena itu maka ia pun
segera bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada itu,
maka Pangeran Sindurata itupun menjatuhkan per intah kepada
pengawal-pengawalnya. ”Tangkap anak itu. Aku sendiri akan
menyerahkannya kepada pemimpin dari pasukan berkuda yang telah
menahan cucuku” Ketika kedua orang pengawal itu beringsut, maka
Juwiring dan Buntal itupun segera bangkit. Dengan nada tinggi
Juwiring berkata “Hamba mohon maaf Pangeran, bahwa hamba t idak akan
menyerahkan diri begitu saja” “Persetan” geram Pangeran Sindurata
“Kau kira kau akan mampu melar ikan dir i?“ “Hamba akan berusaha
Pangeran, karena sebenarnyalah hamba tidak ingin ditangkap.
Kedatangan hamba kemari adalah karena hamba ingin berbicara dengan
Pangeran tentang Rara Warih dan sikapnya. Ia bukannya sekedar tidak
bersalah dan memberikan pengorbanan bagi Surakarta”“Omong kosong.
Cepat, tangkap kedua anak itu. Aku akan membawanya untuk pembebasan
Warih, dan sekaligus aku akan mendapat seeekor burung kepodang
putih” geramnya. Buntal mengumpat di dalam hati. Orang tua itu.
masih juga ingat burung kepodang putih. Namun dalam pada itu, kedua
orang pengawal itu benar benar telah siap menyerangnya. Karena itu,
maka dengan rencana Juwiring untuk mencar i Raden Ayu Galihwarit,
maka iapun bersiap-siap untuk meninggalkan perkelahian yang akan
segera terjadi, dan menyerahkan kedua orang pengawal itu kepada
Buntal. Ia berharap bahwa Buntal akan dapat mengatasi keadaan untuk
sementara “Mudah-mudahan aku akan segera mendapat jalan untuk
menolong Buntal, jika Pangeran Sindurata sendiri akan turun ke
arena” berkata Juwir ing di dalamhatinya. Karena itu, maka ketika
kedua orang pengawal itu sudah mulai bergerak, Buntallah yang justru
mendahului menyerang Meskipun ia belum menjajagi kemampuan kedua
pengawal itu, namun ia berharap bahwa kemampuan keduanya tidak
melampaui kebanyakan prajurit Para pengawal itu terkejut melihat
kecepatan gerak Buntal Dengan tangkas ia menyerang kedua pengawal
itu berurutan. Meskipun kedua serangannya yang beruntun itu tidak
mengenai sasaran namun hal itu sudah berhasil menar ik perhatian
kedua orang pengawal itu. Pada saat itulah Juwiring telah mengambil
kesempatan untuk meloncat berlari meninggalkan kedua pengawal itu.
Meskipun ia tidak tahu pasti, dimanakah letak bilik Raden Ayu
Sontrang, namun ia pernah mendengar secara tidak langsung dari Rara
Warih, bahwa ibundanya berada di bilik belakang. Kedua pengawal itu
tidak sempat mengejar. Bahkan Pangeran Sinduratapun tidak
mengejarnya pula, karena demikian ia melangkah, Buntal telah
menyerangnya pula“Anak Setan” geram Pangeran Sindurata. Serangan
Buntal sama sekali tidak menyentuhnya. Bahkan masih terlalu jauh.
Namun hal itu telah mengurungkan niat Pangeran Sindurata untuk
mengejar Juwiring. “Kita tangkap anak setan ini“ perintah Pangeran
itu. Kedua pengawal itu bertempur semakin seru, sementara Pangeran
Sinduratapun telah berada di halaman. Sambil menyaksikan kedua
pengawalnya berusaha mengalahkan Buntal, Pangeran itu berkata
lantang “Lumpuhkan anak iblis itu. Nampaknya ia mengira bahwa aku
yang tua ini tidak mampu melibatkan diri ke dalam arena. Biarlah ia
berdua dengan pengihianat itu sekalipun, aku tidak gentar” Buntal
bertempur dengan sepenuh kemampuannya untuk langsung mengikat para
pengawal itu agar mereka tidak mengejar Juwiring. Namun agaknya
pengawal di istana itu bukan hanya kedua orang itu saja. Sejenak
kemudian, dua orang lainnya telah datang berlari- lari. “Tangkap
pemberontak itu. Ia lari ke belakang“ perintah Pangeran Sindurata.
Kedua pengawal itupun segera memburu ke belakang. Mereka yakin akan
dapat menemukannya. Kedua anak itu, atau salah seorang daripadanya
tidak akan dapat lari meninggalkan halaman, karena pintu-pintu
butulan tertutup. Dinding halaman cukup tinggi dan seorang pengawal
telah menjaga regol di depan. “Anak-anak dungu itu memang ingin
mati” geram Pangeran Sindurata “menyerahlah. Jika tidak, maka aku
akan membunyikan isyarat. Prajurit Surakarta yang mendengarnya tentu
akan segera datang untuk membantu kami”Tetapi Buntal tidak
menghiraukannya. Ia bertempur dengan tangkasnya. Sekali-sekali
menyerang pengawal yang satu, kemudian segera menyerang pengawal
yang lain. Sehingga dengan demikian, keduanya tetap terikat dalam
perkelahian melawan Buntal. Dalam pada itu, Juwiringpun segera lari
ke belakang. Ia dapat memperkirakan letak bilik Raden Ayu Galihwarit
itu. Dengan sedikit salah langkah, akhirnya iapun mengetahui, bahwa
bilik yang sedang terbuka pintunya, menghadap ke kebun di sebelah
adalah bilik Raden Ayu Galihwarit, yang kebetulan sekali, sedang
berada di serambi untuk melihat- melihat pertamanan. Sebenarnyalah
bahwa Raden Ayu Galihwarit juga mendengar suara ayahandanya
berteriak-teriak. Tetap ia tidak jelas, apa yang dikatakannya.
Bahkan Raden Ayu mengira, bahwa ayahandanya marah-marah seperti
biasanya kepada hamba- hamba di istana itu. Hampir setiap hari
Pangeran Sindurata marah-marah dan berteriak-teriak, sehingga karena
itu, maka sama sekali tidak menimbulkan dugaan apapun juga pada
puteri yang sedang mengalami kepahitan hidup itu. Namun puteri itu
terkejut ketika tiba-tiba saja seorang anak muda berlar i kearahnya.
Apalagi ketika puteri itu melihat sebilah pisau belati kecil yang
tiba-tiba saja sudah berada di depan dadanya. “Marilah Raden Ayu”
berkata Juwiring “Jangan menolak. Masuklah ke dalambilik”Raden Ayu
Galihwarit t iba-tiba menjadi sangat ketakutan. Karena itu, maka
iapun tidak dapat menolak. Perlahan dengan ujung belatinya Juwiring
mendorong Raden Ayu itu masuk. Demikian ia berada di pintu kedua
pengawal yang mengejarnyapun sampai di muka bilik itu pula, Namun
merekapun tertegun ketika mereka melihat Juwiring telah mengacukan
pisaunya ke dada Raden Ayu Galihwar it. “Jangan berbuat sesuatu.
Puteri ini menjadi taruhannya. Kembalilah kepada Pangeran Sindurata
Dan hentikan perkelahian melawan adikku itu, agar puteri ini
selamat” Kedua orang pengawal itu termangu-mangu. Namun Juwiring
membentaknya “Cepat. Sebelum aku bertindak labih jauh” Salah seorang
pengawal itu beringsut surut. Betapapun ia ragu-ragu, namun iapun
kemudian berlari kembari ke tempat Pangeran Sindurata yang tua
menunggui perkelaian di halaman samping, di dalamseketeng. Dengan
tergesa-gesa dan nada tinggi, pengawal itu member i tahukan apa yang
dilihatnya. Ternyata Raden Ayu Galihwar it telah dipergunakan
sebagai taruhan. “Gila” geram Pangeran tua itu “itu perbuatan gila”
“Terserah kepada Pangeran” gumam Buntal yang masih bertempur melawan
dua orang pengawal. Akhirnya Pangeran Sindurata memerintahkan kedua
pengawalnya berhenti. Dengan tergesa-gesa iapun kemudian pergi ke
belakang, ke bilik Raden Ayu Galihwar it. Di muka bilik itu, seorang
pengawal masih berjaga-jaga. Namun ternyata bilik Raden Ayu
Galihwarit itu sudah tertutup rapat-rapat. “Gila, apa yang
diperbuatnya?“ geramPangeran Sindurata.“Raden Juwiring mengancam
bahwa ia akan membunuh Raden Ayu, jika seseorang berani membuka
pintu itu” jawab pengawal itu. Pangeran Sindurata menjadi bingung.
Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sambil menghentak-hentakkan
kakinya ia berjalan hilir mudik di depan bilik Raden Ayu. Namun
tiba-tiba saja ia berteriak “Juwiring. Apa sebenarnya yang kau
kehendaki” “Sebentar Pangeran” jawab Juwiring “Hamba akan berbincang
dengan Raden Ayu” Pangeran Sindurata mengumpat Katanya “Keluarlah.
Kita berbicara di luar” “Tidak Pangeran. Aku di sini. Dan aku mohon
Pangeran tidak berbuat sesuatu yang dapat mencelakai Raden Ayu
Galihwar it. Apalagi Pangeran member itahukan kehadiranku di sini
kepada prajurit Surakarta dengan cara apapun juga” Pangeran
Sindurata mengumpat-umpat pula. Tetapi ia tidak dapat berbuat
sesuatu. Ketika terpandang olehnya Buntal yang berdiri
termangu-mangu. maka iapun menggeram. Seolah-olah ia ingin menerkam
anak itu dan meremasnya menjadi debu. Tetapi ia tidak berani berbuat
demikian, karena keselamatan anaknya yang berada di dalam bilik yang
tertutup. Sementara itu, di dalam bilik yang tertutup Raden Ayu
Galihwar it gemetar ketakutan. Namun ia masih tetap menguasai
kesadarannya. Keadaannya memang tidak memaksanya untuk mengenang
peristiwa masa lampaunya karena justru ia sedang berhadapan dengan
ancaman bagi dirinya sendiri. Dengan demikian Raden Ayu itu tidak
segera dibayangi oleh gangguan syarafnya. Dalam pada itu, ketika
Juwiring melihat Raden Ayu Galihwar it yang ketakutan itu, telah
timbul ibanya. Karena itu. maka kemudian katanya “Silahkan duduk
Raden Ayu”Raden Ayu Galihwarit itupun kemudian duduk di bibir
pembaringannya. Namun tubuhnya masih saja gemetar ketakutan.
Sementara itu Pangeran Sindurata juga mendengar suara di dalam bilik
itu. Namun karena Juwiring tidak berbicara terlalu keras, maka yang
berada di luar tidak begitu mengetahui, apa yang sedang mereka
bicarakan itu. Demikian Raden Ayu Galihwar it duduk di pembar ingan,
maka per lahan-lahan Juwir ingpun beringsut mendekat. Kemudian iapun
duduk bersila di lantai di hadapan Raden Ayu Galihwar it yang
menjadi heran melihat sikap itu. “Ampun Raden Ayu” desis Juwiring
“mungkin sikapku mengejutkan Raden Ayu, atau bahkan membuat Raden
Ayu ketakutan” “Siapa kau?“ bertanya Raden Ayu Galihwarit Pangeran
Sindurata melekatkan telinganya di pintu bilik itu. Dan iapun
ternyata menjadi agak tenang, karena ia mendengar kata-kata
Juwiring, sehingga iapun dapat membayangkan sikap anak muda itu.
Meskipun demikian, Pangeran Sindurata masih harus berhati-hati dan
tidak mengambil sikap yang dapat membuat Juwir ing menjadi liar
kembali. Juwiring ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya “Ampun
Raden Ayu. Mungkin kedatanganku menemui Raden Ayu didorong oleh rasa
tanggung jawabku sebagai saudara tua. Mungkin Raden Ayu sama sekali
t idak senang melihat kehadiranku di sini. Bahkan memuakkan. Tetapi
aku mohon Raden Ayu sempat mendengarkan ceriteraku sampai akhir
sehingga Raden Ayu dapat mengambil sikap yang pasti” Raden Ayu
menjadi berdebar-debar. Lalu katanya “Aku akan mencoba. Tetapi siapa
kau dan kepentingan yang kau katakan itu sangat mendebarkan jantung”
“Raden Ayu” berkata Juwiring kemudian “sebelumnya aku mohon maaf,
bahwa aku telah mengambil satu sikap yangkasar. Mungkin namaku akan
sangat mengejutkan Raden Ayu. Tetapi jika Raden Ayu sempat
memperhatikan aku, maka Raden Ayu akan mengenal aku” Raden Ayu itu
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan saksama ia
memperhatikan anak muda yang duduk bersila dengan sikap yang mapan
di hadapannya. Namun tiba-tiba saja Raden Ayu itu terpekik kecil
“Juwiring. Kau Juwir ing he?“ “Ya Raden Ayu. Tetapi perkenankanlah
aku mengatakan alasanku, kenapa aku menghadap Raden Ayu dengan cara
yang kasar ini” berkata Juwiring. Raden Ayu itu beringsut menjauh.
Kebencian mulai memancar di wajahnya. Namun ia masih selalu
dibayangi oleh ketakutan. Anak itu tiba-tiba saja akan dapat menjadi
kasar dan liar. “Apa maksudmu memasuki bilikku sambil mengancam?“
bertanya Raden Ayu. “Perkenankanlah aku memberitahukan apa yang
telah terjadi di luar dinding bilik Raden Ayu” berkata Juwir ing.
“Cukup, cukup“ terdengar suara Pangeran Sindurata di luar. Tetapi
Juwiring t idak menghiraukannya. Ia ingin mempergunakan kesempatan
sebaik-baiknya, sebelum Raden Ayu itu dijalari oleh gangguan
syarafnya. Karena itu, maka katanya “Ampun Raden Ayu. Kedatanganku,
sekedar member itahukan kepada Raden Ayu, bahwa Rara Warih telah
ditangkap oleh prajurit Surakarta dari pasukan berkuda” “Warih
ditangkap?“ suaranya menjadi gemetar seperti juga tubuhnya yang
gemetar. “Ya Raden Ayu. Sekarang Rara Warih ditahan oleh pasukan
berkuda dan kumpeni. Sebaiknya Raden Ayu mendengarkan semua
keteranganku. Dengan demikian Raden Ayu akan dapatmengambil
kesimpulan. Aku mohon Raden Ayu untuk sesaat dapat mengesampingkan
dir i Raden Ayu sendiri. Jangan memikirkan sesuatu. Tetapi aku mohon
Raden Ayu mendengarkan kata-kataku” berkata Juwir ing kemudian.
Raden Ayu Galihwarit meraba keningnya. Kepalanya mulai menjadi
pusing. Tetapi di luar sadarnya ia telah melakukan apa yang
dikatakan oleh Juwiring. Dan ia berhasil menyingkirkan kenangan masa
lampaunya, sehingga ia tidak segera diterkam oleh penyakitnya yang
dapat kambuh setiap saat. Juwiringpun kemudian mencer iterakan apa
yang telah terjadi di Surakarta. Pangeran Mangkubumi yang mengangkat
senjata karena kebenciannya kepada kumpeni. Kemudian apa yang telah
dilakukan oleh Pangeran Ranakusuma di saat terakhir. Pangeran
Ranakusuma menjadi muak terhadap kekuasaan kumpeni di Surakarta.
Dengan hati-hati Juwiring mencoba mengungkapkan sikap Pangeran
Ranakusuma tanpa menyinggung perasaan Raden Ayu Galihwarit.
Sementara itu, iapun mulai membayangkan sikap Rara Warih yang
menyadari apa yang telah terjadi di Surakarta, sehingga akhirnya,
Juwiring berkata “Ampun Raden Ayu. Pada saat terakhir aku ingin
mohon perlindungan Raden Ayu. Bukan atas diriku, tetapi atas Rara
Warih, karena tidak ada lagi orang yang dapat melindunginya. Rara
Warih sekarang sudah tidak berayah lagi. Dalam pertempuran melawan
kumpeni dan prajurit Surakarta, Pangeran Ranakusuma telah gugur di
peperangan, sampyuh dengan Tumenggung Sindura dan melukai Pangeran
Yudakusuma. Aku dapat beibangga bahwa ternyata ayahanda Pangeran
Ranakusuma pada saat terakhir telah menempatkan diri sebagai seorang
kesatria Surakarta yang sebenarnya” “Juwiring” suara Raden Ayu kian
gemetar sehingga Juwiring terkejut karenanya “ayahandamu telah
gugur?“Juwiring mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah Raden Ayu
Galihwarit yang pucat. Kemudian Juwiring melihat bibir itu bergerak
lemah “Jadi ayahandamu telah gugur?“ Juwiring tanpa sesadarnya
beringsut mendekat. Katanya “Ya Raden Ayu. Tetapi ayahanda gugur
sebagai seorang pahlawan Surakarta yang sudah bertekad untuk
menyingkirkan kumpeni” Raden Ayu Galihwarit masih mendengar
kata-kata Juwiring itu. Nampak bibirnya mencoba tersenyum. Namun
tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit itu rebah. Untunglah Juwiring
cepat menangkapnya dan dengan bingung diletakkan tubuh itu di
pembaringannya. Ternyata bahwa Raden Ayu Galihwarit telah pingsan.
Juwiring benar-benar menjadi bingung. Ia tidak tahu apa yang harus
dilakukannya, sehingga karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah
bergegas membuka pintu sambil berkata dengan kata-kata yang bergetar
“Raden Ayu Galihwarit telah pingsan” “He“ Pangeran Sinduratapun
terkejut. Kemudian iapun mengumpat “Kau, kaulah yang menyebabkannya
pingsan. Panggil emban” Juwiring tertegun. Ia tidak tahu emban yang
manakah yang harus dipanggilnya. Namun ternyata bahwa salah seorang
pengawal itupun telah berlari memanggil emban yang terbiasa melayani
Raden Ayu. “Cepat. Kenapa kau bersembunyi saja he?“ bentak Pangeran
Sindurata. “Hamba takut mendekat Pangeran” jawab emban itu. “Cepat.
Raden Ayu sedang pingsan” Beberapa orang yang berada di tempat
itupun menjadi sibuk. Pangeran Sindurata telah berdiri di
sampingpembaringan Raden Ayu Galihwarit, sementara embannya berusaha
memijit-mijit keningnya. “Ambil air” desis Pangeran Sindurata. Emban
itupun kemudian berlari ke belakang. Seorang emban tua telah
memberitahukan kepadanya agar ia membawa jeruk pecel dan enjet
putih. “Berambang dan minyak kelapa” desis yang lain. Dengan
demikian, maka yang kemudian memasuki bilik itu bukannya hanya emban
yang membawa minuman saja, tetapi juga seorang kawannya yang membawa
berambang, minyak kelapa, jeruk pecel dan enjet. Dengan berambang
dan minyak kelapa emban itu menggosok kaki Raden Ayu yang menjadi
sangat dingin, sementara yang Lain berusaha menggosok bagian
tangannya dengan jeruk enjet sambil memijit-mijitnya. Pangeran
Sindurata telah menitikkan minum di bibir Raden Ayu yang pingsan
itu. Setitik demi setitik. Sementara Juwiring yang kebingungan
bagaikan membeku di bawah pembar ingan. Sementara orang-orang yang
berada di dalam bilik itu menjadi sibuk, maka pengawal yang berada
di depan pintu berdesis kepada Buntal “Jangan berbuat sesuatu yang
akan dapat mencelakaimu“ Buntal memandang pengawal itu sejenak.
Namun ia tidak menghiraukannya lagi. Perhatiannya tertuju kepada
kesibukan di dalam bilik Raden Ayu Galihwarit itu. Sementara itu,
usaha untuk menolong Raden Ayu itu masih dilakukan. Emban yang
berada di dalam bilik itu masih memijit-mijitnya dan mengusap minyak
tanah dengan berambang pada kakinya. Ternyata titik-titik air di
bibir Raden Ayu itu membuatnya menjadi segar, sementara berambang
dan minyak kelapaserta jeruk pecel dan enjet itupun membuat tubuhnya
menjadi hangat, sehingga perlahan-lahan Raden Ayu itupun menjadi
sadar. Yang bergerak pertama-tama adalah kelopak matanya. Ketika
mata itu terbuka, maka terdengar ia merintih. Namun dalam pada itu,
Pangeran Sindurata telah dihinggapi oleh kecemasan baru. Jika Raden
Ayu itu kemudian sadar, maka kemungkinan lain akan terjadi. Mungkin
ia justru telah kehilangan kesadarannya sama sekali dalambentuk yang
lain. Gangguan syarafnya akan bertambah parah dan bahkan mungkin ia
tidak akan pernah menemukan kesadarannya kembali barang sesaatpun.
Kecemasan itu telah membuat perasaan Pangeran Sindurata bagaikan
tersayat. Puterinya yang mengalami nasib sangat buruk itu akan
semakin menjadi parah. Selebihnya ia akan menjadi beban yang
bertambah berat. Karena itu, ketika kemudian Raden Ayu itu mulai
bergerak, Pangeran Sindurata telah bergeser surut. Dipandanginya
puterinya yang telah membuka matanya dan mulai memperhatikan keadaan
di sekelilingnya. “Apa yang telah terjadi?“ t iba-tiba saja puteri
itu berdesis. Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Kepalanya
terasa semakin bertambah pening. Bahkan tengkuknya rasa- rasanya
bagaikan ditekan dengan batu. “Apa yang telah terjadi?“ sekali lagi
Raden Ayu itu bertanya. Emban yang terbiasa melayaninyapun beringsut
maju sambil berbisik “Tidak ada apa-apa Raden Ayu. Tidak ada apa-
apa. Jika Raden Ayu ingin tidur, sebaiknya Raden Ayu beristirahat
dan tidur barang sejenak” Raden Ayu itu mengerutkan keningnya. Emban
itupun terbiasa, jika gangguan syaraf itu datang, dan pada suatu
saatkemudian Raden Ayu itu t idur oleh kelelahan, biasanya jika ia
terbangun, gangguan itu sudah jauh berkurang. Namun Raden Ayu itupun
kemudian justru berusaha untuk bangkit. Emban yang duduk bersimpuh
di sisi pembaringan itupun berdesis “Sebaiknya Raden Ayu tidur
sajalah barang sejenak” Tetapi Raden Ayu itu telah duduk di bibir
pembar ingan. Sejenak ia memperhatikan seisi biliknya. Ia mencoba
mengingat apa yang telah terjadi. Perlahan-lahan iapun mulai dapat
mengumpulkan ingatannya. Ketika ia melihat Juwiring berdiri
termangu-mangu, maka lengkaplah ingatannya tentang dirinya dan
tentang apa yang telah terjadi sebelumnya. Sekali lagi hatinya
merasa berdesir ketika ia teringat dengan gamblang apa yang
dikatakan oleh Juwiring. Pangeran Ranakusuma, suaminya, telah gugur
di peperangan melawan kumpeni dan prajurit Surakarta. Bahkan telah
sampyuh dengan Tumenggung Widura dan melukai Pangeran Yudakusuma.
Tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit itu menangis. Terdengar isaknya
disela-sela kata-katanya “Kakanda Ranakusuma gugur pada saat ia
menyimpan dendam. Aku adalah sumber dari segalanya” Pangeran
Sindurata menjadi berdebar-debar. Kepalanya terasa bertambah pening.
Katanya kepada emban yang terbiasa melayani Raden Ayu Galihwarit “Ia
sudah mulai menangis. Ia akan mengingat segalanya dan gangguan itu
akan segera datang” Pangeran Sindurata berhenti sejenak, lalu
katanya kepada Juwiring “Keluar dari bilik ini. Kaulah yang
menyebabkannya. Karena itu, kau harus ditangkap dengan kesalahan
ganda” Juwiring seolah-olah menjadi sadar. Tetapi ia terlambat. Ia
berdiri tidak terlalu dekat dengan Raden Ayu Galihwarit, sehingga ia
tidak akan dapat segera meloncat danmengancamnya. Pangeran Sindurata
yang meskipun sudah tua, tetapi ia akah mencegahnya dan barangkali
ia masih dapat berbuat sesuana sambil berteriak memanggil para
pengawal. “Cepat” teriak Pangeran Sindurata Ia menjadi tergesa-gesa.
Juwiring harus keluar sebelum Raden Ayu Galihwarit itu mengigau
seperti biasanya, sambil menyebut nama-nama orang-orang asing yang
pernah berhubungan dengannya. Namun dalam pada itu. Pangeran
Sindurata itu terkejut. Ternyata Raden Ayu Galihwarit yang menangis
itu tidak mengigau seperti biasanya. Bahkan dengan suara utuh ia
berkata “Ayahanda, biarlah Juwir ing berada di sini” Pangeran
Sindurata mengerutkan keningnya. Dipandanginya Raden Ayu Galihwarit
yang sudah tidak menangis lagi. Sambil mengusap matanya yang basah
ia berkata “Akan berbicara panjang dengan anakku” “Anakmu yang
mana?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Juwiring. Ia adalah anakku
seperti juga Warih” suara Raden Ayu itu menjadi lembut. Pangeran
Sindurata terkejut. Ketika ia menatap mata Raden Ayu Galihwarit,
terasa sesuatu yang lain dar i yang biasa dilihatnya. Mata itu
menjadi suram, tetapi tidak menjadi liar seperti pada saat-saat
sebehunnya dalam keadaan yang serupa. “Galihwarit” desis Pangeran
Sindurata “Apakah kau menyadari apa yang kau katakan?“ “Aku sadar
sepenuhnya ayahanda” jawab Galihwarit “mungkin ayahanda heran, bahwa
pada saat-saat seperti ini aku tidak jatuh ke dalam wajah gelapku.
Aku sendir i juga heran, bahwa aku tidak lagi terperosok ke dalam
satu pusaran waktu yang membuatku menjadi gila”Pangeran Sindurata
setapak melangkah maju dengan ragu- ragu. Sementara itu Raden Ayu
Galihwarit berkata “Kemar ilah ngger. Kemarilah. Anggaplah aku
sebagai ibumu. Aku tahu, sebelumnya memang ada jarak di antara kita.
Tetapi pada saat terakhir, aku menyadari, bahwa akulah yang telah
membuat jarak itu di antara kita, di antara kau dan adikmu Warih dan
di antara kita sekeluarga” “Apa maksudmu Galihwarit?“ bertanya
Pangeran Sindurata. “Aku sudah mendengar segala keterangan Juwir
ing, Aku sudah mendengar permohonannya, agar kita, maksudnya aku dan
ayahanda, berusaha menodong Warih, tanpa menyerahkan Juwiring,
karena menyerahkan Juwir ing dengan cara apapun juga, tidak akan
menjamin bahwa Warih akan benar-benar dilepaskan” berkata Raden Ayu
Sontrang dengan nada mantap dan kalimat yang utuh. Pangeran
Sindurata termangu-mangu sejenak. Ternyata anaknya berada dalam
keadaan yang berbeda. “Ayahanda” berkata Raden Ayu Galihwarit “Aku
telah diguncang oleh keterkejutanku seperti saat aku melihat Rudira
terbujur di pembaringan. Agaknya justru karena itu, aku mendapatkan
kembali kesadaranku sepenuhnya. Rasa-rasanya aku sekarang mampu
berpikir bening. Aku mengerti, selama ini aku diganggu oleh kelainan
syaraf yang tidak dapat aku atasi, sehingga pada saat-saat tertentu
aku lupa segala- galanya. Namun sekarang aku sadar sepenuhnya apa
yang aku hadapi Mudah-mudahan Tuhan memaafkan aku dan member ikan
kesembuhan kepadaku” “Galihwarit” desis Pangeran Sindurata sambil
melangkah maju “nampaknya kau memang lain. Goncangan perasaanmu
agaknya telah membuat kau terlempar kepada keadaanmu yang
sebenarnya, kepada duniamu sendiri”“Tuhan Maha Besar ayahanda” desis
Raden Ayu Galihwarit sambil mengusap titik air di pelupuknya “karena
itu, biarlah anakku dekat kepadaku” Pangeran Sindurata menarik nafas
dalam-dalam. Sementara itu Raden Ayu Galihwarit berkata “Kemar ilah
Juwiring” “Ampun Raden Ayu” sahut Juwiring sambil berjongkok di
dekat pembaringan Raden Ayu Galihwarit yang duduk termangu-mangu.
“Jangan panggil aku Raden Ayu. Aku adalah ibumu ngger. Panggil aku
seperti Warih memanggil aku” desis Raden Ayu Galihwar it. Wajah
Juwiringpun menunduk dalam-dalam. Sementara itu Raden Ayu berkata
“Aku mohon ayahanda mengerti perasaanku. Ijinkan aku berbicara
dengan Juwiring tentang Warih” “Lalu, apakah yang harus aku
kerjakan?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Tidak apa-apa ayahanda.
Tetapi jika ayahanda ingin ikut berbicara bersama kami, aku
persilahkan ayah tetap berada di bilik ini” Pangeran Sindurata
menarik nafas dalam-dalam sementara Juwiring berkata “Hamba tidak
seorang dir i Raden Ayu“ “Panggil aku sebagaimana kau memanggil
ibumu” desis Raden Ayu Galihwarit. Juwiring beringsut setapak.
Ketika ia memandang Pangeran Sindurata, nampak keheranan masih
membayang di wajah Pangeran tua itu. Sementara Raden Ayu Galihwarit
berkata selanjutnya “Apakah kau membawa kawan?““Ya ibunda“ meskipun
agak canggung, tetapi Juwir ing menyebutnya juga seperti dikehendaki
oleh Raden Ayu Galihwar it. “Bawa kawanmu itu masuk. Eyangmu tentu
akan mengijinkannya” berkata Raden Ayu itu lebih lanjut. Pangeran
Sindurata mengerutkan keningnya. Tetapi ia t idak membantah.
Meskipun ada juga sentuhan yang pahit di hatinya karena anak yang
dianggapnya sudah terbuang itu harus menyebutnya seperti cucunya
sendiri. Ketika Juwir ing masih nampak ragu-ragu, maka Raden Ayu
Galihwar it itu mendesaknya “ Ajaklah kemari. Jika di luar ada satu
dua orang pengawal, biarlah eyangmu memberitahukan kepada mereka”
Juwiringpun kemudian beringsut surut dan melangkah keluar.
Dilihatnya para pengawal masih tetap bersiaga mengawasi Buntal yang
berdiri tegak. Namun sejenak kemudian Pangeran Sinduratapun telah
berdiri di pintu sambil berkata “Biarkan mereka” Para pengawal itu
termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa
ketika Juwiring kemudian membawa Buntal masuk ke dalambilik itu.
Ketika semuanya sudaK duduk, Raden Ayu Galihwaritpun berkata kepada
Juwiring “Aku sudah mendengar keteranganmu tentang Warih, ngger.
Tetapi jelaskan, bagaimana rencanamu seutuhnya” Juwiringpun sekali
lagi menjelaskan, apa yang telah terjadi atas Rara Warih. Lalu
katanya “Jika aku menghadap ibunda, sebenarnyalah maksud kami,
orang-orang padepokan Jati Aking, mohon agar ibunda dapat menempuh
cara lain untuk membebaskannya. Memang cara yang paling pendek
adalah menangkap aku dan menyerahkan aku kepada para prajurit dari
pasukan berkuda. Tetapi apakah hal itu sudah dapat dijadikan jaminan
bahwa Warih akan dapat dilepaskan.Memang tidak ada satu kepastian
pendapat tentang sikap para prajurit dari pasukan berkuda. Namun j
ika ibunda mengetahui sikap Rara Warih sendiri, maka ibunda akan
dapat membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi atas diajeng Rara
Warih itu” “Aku memang ingin mengetahui sikap Warih itu sendir i”
desis Raden Ayu. “Apa yang akan kau lakukan?“ bertanya Pangeran
Sindurata. “Menemui Warih” jawab Raden Ayu, “Tetapi, tetapi ….“
kata-kata itu terputus. Sementara Raden Ayu menarik nafas sambil
berdesis “Aku merasa lain ayahanda. Mungkin ayahanda menjadi cemas,
bahwa aku akan kehilangan kesadaran di hadapan banyak orang. Tetapi
rasa-rasanya pikiranku menjadi bening. Dan rasa-rasanya aku sudah
dapat melepaskan segala penyesalan dan kekecewaan, justru pada saat
aku yakin, bahwa segala kesalahan harus ditimpakan kepadaku,
sehingga kakanda Ranakusuma mengambil satu sikap yang sama sekali
tidak aku duga” Pangeran Sindurata tidak menyahut. Tetapi kepalanya
benar-benar bagaikan dihimpit Gunung Lawu. “Ayahanda” berkata Raden
Ayu kemudian “nampaknya segalanya memang harus terjadi. Dan
segalanya harus aku terima dengan ikhlas. Keikhlasan itulah agaknya
sumber pengampunan atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan.
Tuhan memang Maha Besar” “Biar lah aku saja yang menemui War ih”
tiba-tiba saja Pangeran Sindurata itu menggeram. “Aku akan
menemuinya sendiri ayahanda. Adalah kewajibanku untuk berusaha
membebaskan anakku tanpa mengorbankan anakku yang lain. Aku akan
mencari jalanpembebasan Warih tanpa menjerumuskan Juwiring ke dalam
tangan prajurit Surakarta dan apalagi kepada kumpeni” jawab Raden
Ayu Galihwarit “karena itu, biar lah Juwir ing kembali ke induk
pasukannya dalam lingkungan Pangeran Mangkubumi. Akulah yang akan
berbuat apa saja untuk pembebasan Warih” Pangeran Sindurata tidak
mau berpikir lagi. Kepalanya benar-benar sudah tidak dapat
dipergunakan lagi, sehingga iapun berkata “Terserah kepada kalian.
Aku akan tidur” “Silahkan ayahanda beristirahat” berkata Raden Ayu
Galihwar it. Pangeran Sindurata itupun kemudian melangkah keluar
dari bilik Raden Ayu Galihwarit. Namun di depan pintu ia berhenti
sejenak. Katanya “Aku akan membeli kepodang putih itu. Tetapi aku
tidak memer lukan seekor kutilang, karena aku sudah mempunyai
beberapa ekor” “Ya, ya Pangeran” sahut Juwiring dengan serta merta.
Sepeninggal Pangeran Sindurata, Raden Ayu Galihwarit sempat bertanya
kepada Buntal “Apakah kau juga dari pasukan Pangeran Mangkubumi?“
“Ya Raden Ayu. Kami berdua berasal dari satu kelompok di dalam
pasukan Pangeran Mangkubumi” jawab Buntal. “Ia adalah adik
seperguruanku ibunda dan oleh guru, kami berdua telah diangkat
menjadi anak angkatnya dan dengan demikian kami berdua selain
saudara seperguruan juga saudara angkat” Juwiring menjelaskan.
“Bagus. Karena Juwiring adalah anakku, maka kaupun anakku pula”
desis Raden Ayu. Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya
memang ada sesuatu kejutan yang telah merubah segala-galanya di
dalam hati Raden Ayu Galihwarit. Kejutan itu bukan saja telah
menumbuhkan perubahan jiwani, sehingga ia justru telahtidak lagi
dihinggapi oleh gangguan kesadaran, namun sifat dan wataknyapun
telah bergeser pula. Dalam pada itu, maka emban di Sinduratan itupun
telah diperintahkan oleh Raden Ayu Galihwarit untuk menjamu kedua
anak muda itu. Raden Ayu itu nampaknya benar-benar telah sembuh dan
menganggap kedua anak muda itu benar- benar dengan perubahan
pandangan dar i sifat dan watak yang berubah pula. Baru kemudian,
Raden Ayu itu berkata “Juwiring, jika kau ingin kembali, kembalilah.
Berhati-hatilah, karena banyak kemungkinan dapat terjadi. Serahkan
adikmu kepadaku. Pada saat tertentu kau dapat datang untuk menengok,
apakah aku sudah berhasil atau belum” “Dua har i lagi, kami akan
datang lagi ibunda” jawab Juwiring. ”Baiklah. Tetapi jangan terlalu
sering. Kau adalah buruan yang penting bagi kumpeni. Karena itu, kau
harus dapat menjaga dir i” pesan Raden Ayu itu pula “Aku akan
berusaha meyakinkan ayahanda, bahwa para hamba di istana Sinduratan
ini tidak akan berkhianat kepadamu. Meskipun aku belum melihat
keadaan sejak aku dikurung di rumah ini, tetapi aku sudah dapat
membayangkan lewat keteranganmu dan pengenalanku sebelumnya atas
kumpeni dan sikap beberapa orang Surakarta sendiri” “Terima kasih
atas segala keputusan yang sudah ibunda ambil. Ternyata aku mendapat
jauh lebih banyak dari yang aku harapkan” berkata Juwir ing kemudian
“karena itu, perkenankan aku mohon dir i” “Hati-hatilah” pesan
ibundanya “tetapi percayalah bahwa penghuni istana ini masih dapat
aku yakini kesetiaannya” Demikianlah Juwir ing dan Buntal kemudian
mohon dir i. Tetapi mereka tidak sempat mohon dir i kepada Pangeran
Sindurata yang sudah berbaring di dalam biliknya karenakepalanya
yang pening. Tetapi Juwiring masih sempat menyerahkan burung
kepodang putih kepada seorang hamba. Namun dalam pada itu, para
pengawal yang sudah siap menangkap kedua anak muda itu memandangi
saja dari kejauhan. Mereka sama sekali tidak menyapa mereka, karena
para pengawal itu masih belum tahu pasti apa yang telah terjadi.
Tetapi bahwa Pangeran Sindurata telah memer intahkan agar kedua anak
itu dibiarkan saja, telah menimbulkan teka-teki pula di hati mereka.
Tetapi seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galihwarit, maka iapun
segera mohon kepada ayahandanya untuk member ikan penjelasan tentang
Juwiring meskipun tidak seluruhnya. “Kepalaku sedang pening” desis
Pangeran Sindurata. “Sebentar saja ayahanda“ minta Raden Ayu
Galihwarit “dalam waktu dekat, segalanya dapat terjadi. Jika para
abdi di istana ini tidak segera diberitahu apa yang sebenarnya telah
terjadi, mereka akan mengambil sikap sendir i“ “Apa peduliku” geram
Pangeran Sindurata. Raden Ayu Galihwar itpun kemudian duduk
dipembaringan ayahandanya sambil berkata “Aku mohon ayahanda. Jika
terjadi sesuatu atas anak itu, yang tanpa aku sadari telah berhasil
mengisi kekosongan hatiku setelah aku kehilangan Rudira, maka aku
akan merasa sekali lagi kehilangan. Aku tidak tahu, apakah aku masih
akan mampu bertahan oleh kepahitan yang demikian” Pangeran Sindurata
mengumpat di dalam hatinya. Namun ia memaksa diri untuk bangkit dan
melangkah keluar. Dipanggilnya semua hambanya tanpa ada seorangpun
yang ketinggalan. “Beritahukah kepada mereka” berkata. Pangeran
Sindurata kepada Raden Ayu Galihwarit.Raden Ayu itupun kemudian
menjelaskan persoalannya, meskipun tidak seperti keadaan seutuhnya.
“Aku minta kalian ikut menjaga, agar tidak seorangpun mengetahui
bahwa Juwiring pernah datang ke istana ini“ berkata Raden Ayu
Galihwarit. “Ia telah berhasil mendapatkan obat yang sangat mujarab
bagiku, apapun yang telah dilakukan dan dengan cara yang
bagaimanapun. Aku memang memer lukannya. Jika kalian berbelas
kasihan kepadaku, maka kalian akan membantu aku” “Tetapi anak itu
menjadi buruan kumpeni“ salah seorang pengawal berdesis. “Kau benar.
Tetapi manakah yang lebih berarti bagiku, bagi kalian yang sudah
lama hidup bersama di dalam rumah ini. Kumpeni atau kesembuhanku
seperti yang kau lihat sekarang. Aku sekarang sadar,
sesadar-sadarnya siapakah aku ini“ berkata Raden Ayu “persoalannya
dengan kumpeni bukan persoalan kita. Dan aku masih percaya kepada
kalian, bahwa kalian t idak ingin melihat aku menjadi semakin parah.
Aku mengerti, pada saat-saat tertentu aku lupa segala-galanya
Meskipun aku tidak tahu apa yang aku lakukan pada saat-saat yang
demikian, tetapi tentu tingkah laku yang sangat memalukan“ Para
hamba dan pelayan yang mendengarkan keterangan itu
mengangguk-angguk. Terlebih-lebih emban yang tahu benar, apa yang
terjadi di saat-saat Raden Ayu itu mengalami gangguan syaraf. Namun
dalam pada itu, Pangeran Sinduratapun telah memperkuat permintaan
Raden Ayu itu dengan caranya “Jangan mencoba melanggar. Akupun
sebenarnya tidak senang melihat anak itu. Tetapi akupun tidak senang
melihat Galihwar it selalu diganggu oleh keadaan yang tidak wajar
itu. Karena itu dengarlah permintaannya. Karena jika ada yang
melanggar permintaan itu, lambat atau cepat, tentu akan akuketahui
pula. Terhadap orang yang demikian, aku akan dapat mengambil sikap
yang kasar” Para hamba, pengawal dan pelayan di istana itu
mengangguk-angguk kecil. Mereka sudah mengenal Pangeran Sindurata
dengan baik. Namun merekapun tidak mengabaikan ancaman itu, bahwa
mungkin sekali Pangeran itu memang akan berbuat demikian. Dalam pada
itu. Raden Ayu itupun masih menambah keterangannya “Aku minta, tidak
seorangpun di luar lingkungan kita boleh mengetahui, meskipun itu
adikku sendiri” Sekali lagi mereka yang mendapat pesan itu
mengangguk- angguk. “Nah, kalian boleh kembali kepekerjaan kalian
masing- masing” berkata Raden Ayu itu pula “doakan agar aku benar-
benar dapat sembuh. Tuhan nampaknya sudah memaafkan semua
kesalahanku, dan hukuman yang aku jalani sudah cukup. Mudah-mudahan
tidak seorangpun di antara kalian yang ingin membuat hukuman-hukuman
baru bagiku” Para hamba, pengawal dan pelayan itupun kemudian
kembali ke tugas mereka masing-masing. Betapapun juga para pengawal
merasa heran, namun mereka merasa perlu untuk memenuhi permintaan
itu. Kecuali mereka memang merasa abdi dari Sinduratan, merekapun
merasa iba jika Raden Ayu yang sudah nampak berangsur sembuh itu
akan mengalami gangguan j iwa kembali. Sementara itu, Juwiring dan
Buntal dengan hati-hati menelusuri jalan kota. Seperti saat ia
memasuki kota Surakarta, maka ketika keduanya menuju kegerbang untuk
keluar, merekapun memilih jalan sebagaimana di tunjukkan oleh para
petugas sandi. Sambil menj injing seekor burung di dalam sangkar,
Buntal berjalan di sebelah Raden Juwiring yang selalu
menunduk.Meskipun ia mengenakan pakaian yang lusuh dan memakai
tudung kepala, namun ternyata ada juga orang yang dapat mengenalnya.
Karena itu, maka Raden Juwiring itu selalu berusaha untuk
menyembunyikan wajahnya. Namun demikian, keduanya terkejut ketika
seorang yang duduk tepekur di bawah sebatang pohon yang rindang di
tikungan menyapanya meskipun perlahan-lahan “Apakah kalian sedang
menjajakan burung itu?“ Kedua anak muda itu terkejut. Namun mereka
menjadi tegang ketika orang itu berdesis “Kemarilah Raden Juwir ing”
Raden Juwiring menarik nafas dalami. Buntalpun kemudian tersenyum
ketika keduanya melihat bahwa orang itu adalah seorang dari petugas
sandi yang selalu mengamatinya. Juwiring dan Buntalpun kemudian
mendekat. Mereka duduk di bawah sebatang pohon, sementara burung
kutilang di dalam sangkar itu diletakkan di antara mereka bertiga,
seolah- olah mereka sedang membicarakan burung di dalam sangkar itu.
“Aku menjadi cemas” berkata orang itu “apakah kau mengalami
kesulitan?“ “Hampir” jawab Juwiring “tetapi segalanya sudah dapat di
atasi, justru di luar dugaan” Dengan singkat Juwiring menceriterakan
apa yang telah dialami di istana Sinduratan. Iapun mengatakan, bahwa
Raden Ayu Galihwarit telah bersedia berusaha membebaskan Warih tanpa
menjebak Juwir ing. “Tetapi-usaha itu adalah satu usaha yang sulit
Meskipun demikian, mudah-mudahan Raden Ayu berhasil” jawab orang
itu.“Ibunda Galihwar it nampaknya telah terlempar ke dalam dunia
yang lain. Nampaknya peristiwa yang telah terjadi di peperangan itu
telah mengejutkannya, sehingga terjadi sesuatu di dalam dirinya”
jawab Juwiring “justru karena itu, aku percaya kepada usaha ibunda
Galihwar it” “Sokur lah” berkata orang itu “kemudian silahkan
melanjutkan perjalanan. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu di
sepanjang jalan. Kami akan selalu mengamati perjalanan kalian.
“Dimana kawanmu yang seorang” bertanya Raden Juwiring. Orang itu
tersenyum sambil memandang kesatu arah. Ternyata beberapa puluh
langkah, di tikungan, seorang laki- laki duduk di hadapan seorang
penjual jamu di pinggir jalan. Juwiring dan Buntal tersenyum. Sambil
bangkit berdiri Buntal berkata “Mudah-mudahan ia selalu sehat“ Orang
itupun tersenyum pula. Jawabnya “Kau pandai juga berkicau seperti
burung kutilang itu” Kedua anak muda itu tidak menjawab meskipun
keduanya tertawa. Merekapun kemudian melanjutkan perjalanan keluar
kota Surakarta kembali ke pondok mereka di Gebang. Namun mereka
memang harus berhati-hati karena tidak mustahil bahwa petugas sandi
dari Surakarta dan kumpenipun berkeliaran juga di sepanjang jalan.
Dalam pada itu, di istana Sinduratan, Raden Ayu Galihwarit telah
menyusun rencana untuk berusaha membebaskan anak gadisnya. Meskipun
ia masih belum yakin bahwa hal itu akan dapat dilakukan. Namun ia
berharap, bahwa ia masih akan mendapat kesempatan. Di hari ber
ikutnya, ketika Juwiring dan Buntal yang sudah berada di pondoknya
masih saja dibayangi oleh kegelisahan, maka Raden Ayu Galihwarit
sejak pagi-pagi telah bersiap. Raden Ayu yang nampak agak kurus dan
pucat itu telahberhias sebaik-baiknya seperti yang selalu
dilakukannya pada saat ia masih berada di istana Ranakusuman. “Apa
yang akan kau lakukan?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Aku akan pergi
menengok Warih, ayahanda” jawab Raden Ayu Galihwarit. “Jangan kau.
Biarlah aku saja yang pergi” berkata Pangeran Sindurata. “Tidak
ayahanda, akulah yang akan menjumpai Warih” desis Raden Ayu
Galihwarit “mungkin aku akan mendapat kesempatan lebih banyak dari
ayahanda. Justru karena aku seorang perempuan yang kebetulan adalah
ibunya” “Tetapi kau masih nampak kurus dan pucat” sahut ayahandanya.
Jawab Raden Ayu Galihwarit sangat mengejutkan ayahandanya “Tetapi
aku justru kelihatan lebih muda dan cantik ayah” “Galihwarit?” desis
ayahandanya. Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Katanya “Jangan
hiraukan aku ayahanda. Aku ingin membebaskan Warih tanpa
mengorbankan anakku laki- laki. Itu saja. Mungkin aku harus
mempergunakan cara yang palng aku kuasai“ “Tetapi . . “ wajah
Pangeran Sindurata menjadi tegang. “Jangan cemas ayahanda. Aku sudah
mengalami satu masa yang sangat pahit dalam hidupku. Mudah-mudahan
aku sudah benar-benar sembuh. Aku sudah mencoba untuk mengenang
segalanya. Sejak aku menjadi isteri Kamas Pangeran Ranakusuma sampai
saat anakku Rudira terbunuh. Ternyata aku tidak lagi terlempar pada
satu keadaan yang tidak aku kuasai secara jiwani. Agaknya aku sudah
mampu meletakkan persoalan hidupku pada tempat yang seharusnya di
dalamhatiku” jawab Raden Ayu Galihwarit “karena itu, meskipun
tubuhku masih belum pulih, namun jiwaku sudah tenang dan aku akan
dapat merencanakan segalanya dengan pikiran yang bening. Jika aku
berada di jalan yang suram, itu memang sudah aku sengaja, bukan
karena kegilaanku” “O” desis Pangeran Sindurata “Kau akan membuat
dosa- dosa baru?“ “Tidak ayahanda. Justru aku akan menebus
dosa-dosaku“ jawab Raden Ayu Galihwarit “Aku mohon ayahanda dapat
mengerti” Pangeran Sindurata itu memegangi keningnya. Kepalanya
mulai menjadi pening. “Sudahlah ayahanda” berkata Raden Ayu Galihwar
it “Sebaiknya ayahanda tidak usah memikirkan aku lagi. Aku sudah
tua. Agaknya aku sudah seharusnya dapat memilih, manakah yang baik
aku lakukan, dan yang manakah yang tidak” “Kau tidak tahu manakah
yang baik dan manakah yang buruk” geram ayahandanya. Wajah Raden Ayu
Galihwar it berkerut. Terasa jantungnya bergejolak. Namun ia tidak
dapat membantah, bahwa beberapa saat yang lampau ia sudah kehilangan
keblat sehingga ia t idak tahu lagi mana yang baik dan mana yang
tidak. Tanpa menyangkal, Raden Ayu itu kemudian berkata “Ayahanda.
Sekarang aku akan mencoba melakukan sesuatu yang baik. Maksudku baik
buat anakku, meskipun belum tentu baik menurut ukuran orang lain
terhadap aku” “O“ Pangeran Sindurata memegangi kepalanya yang terasa
semakin sakit Tetapi Raden Ayu itu masih saja tersenyum “Ayahanda,
apapun yang akan aku lakukan, aku harap bahwa aku akan dapat
membebaskan Rara Warih”Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam.
Seolah- olah ia ingin menelan segala kepahitan yang dituangkan ke
dalam mulutnya. Namun demikian, Pangeran Sindurata tidak dapat
mencegahnya. Raden Ayu Galihwar it bukan seorang gadis remaja lagi.
Ia adalah seorang perempuan yang telah masak, yang meskipun baru
saja sembuh dari penyakitnya yang aneh, namun agaknya ia telah
benar-benar melakukan segalanya dengan penuh kesadaran. Raden Ayu
Galihwarit itupun kemudian berkemas. Dari embannya ia mengetahui
apakah yang telah dilakukan jika ia sedang dicengkam oleh gangguan
jiwani. Emban itu semula tidak berani mengatakannya, tetapi karena
Raden Ayu itu memaksanya dan berjanji untuk tidak marah, maka
akhirnya emban itupun mengatakannya. ”Terima kasih emban” berkata
Raden Ayu itu “aku sudah dapat mengetahui apakah yang aku lakukan.
Memang memalukan. Tetapi aku tidak dapat malu terhadapmu, karena
sebenarnyalah kau memang mengetahui dengan pasti, apakah yang telah
aku lakukan dalam keadaan yang demikian. Bahkan pada saat-saat aku
tidak ingat lagi tentang apapun juga” Dengan bekal pengertiannya
terhadap dirinya sendiri, maka Raden Ayu Galihwarit telah bersiap
untuk pergi ke istana Ranakusuman. Dengan kereta Pangeran Sindurata.
maka sejenak kemudian Raden Ayu yang nampak agak kekurus- kurusan
dan pucat itu meninggalkan pintu gerbang, di dalam sebuah kereta
yang ditarik dengan dua ekor kuda. Kereta itu memang t idak sebagus
kereta Pangeran Ranakusuma, tetapi kereta itu cukup memadai.
Sebagaimana kereta seorang Pangeran. Setelah untuk waktu yang cukup
lama Raden Ayu tidak keluar dari halaman istananya, maka
rasa-rasanya ia melihat sesuatu yang asing. Namun lambat laun iapun
segeramengenalinya kembali, jalan-jalan dan rumah-rumah yang berada
di pinggir jalan. Tetapi rasa-rasanya kota Surakarta menjadi
bertambah sepi. Tetapi Raden Ayu Galihwaritpun mengerti, bahwa
keadaan menjadi semakin gawat. Meskipun pertempuran yang telah
terjadi berada di luar kota Surakarta, namun orang-orang di dalam
kota itupun tentu sudah mendengarnya pula. sehingga mereka menjadi
cemas. Namun dalam pada itu, ternyata kereta yang berisi hanya
seorang puteri itupun telah menarik perhatian. Ketika dua orang
perwira, dari pasukan berkuda diikuti oleh beberapa prajurit yang
sedang nganglang melihatnya, maka keduanyapun terkejut. Mula-mula
mereka tercengang melihat seorang puteri yang sangat cantik duduk
sendiri di dalam sebuah kereta. Namun kemudian seolah-olah mereka
telah pernah menge. nal wajah yang sangat cantik itu. “He, bukankah
yang berada di dalam kereta itu Raden Ayu Ranakusuma?“ bertanya yang
seorang. “Ya. Seolah-olah aku memang melihat Raden Ayu Sontrang.
Tetapi apakah bukan Rara Warih?” desis yang lain. “Tidak. Bukankah
Rara Warih ada di dalam tahanan?“ sahut kawannya. “Tetapi Raden Ayu
Ranakusuma sedang sakit” jawab yang lain. “Apakah seseorang yang
sedang sakit itu tidak akan pernah sembuh? Meskipun sakit Raden Ayu
menurut pendengaran kami adalah sakit yang aneh, namun pada suatu
saat, mungkin ia menjadi sembuh pula” Tiba-tiba saja para prajurit
yang sedang nganglang itu ingin melihat, siapakah yang berada di
dalam kereta itu, sehingga perwira yang masih muda itu memutuskan
untuk memutar arah dan mengikuti kereta itu dar i
kejauhan.Sebenarnyalah kereta itu memang menuju ke istana
Ranakusuman yang sudah dipergunakan oleh pasukan berkuda. Bahkan
Tumenggung Watang yang untuk sementara memegang pimpinan pasukan
berkuda telah berada dan tinggal di istana itu pula, meskipun hanya
di gandok saja. “Tentu Raden Ayu Sontrang” desis perwira muda itu
“ia nampak lebih muda, lebih kuning dan lebih cantik” “Ya” jawab
kawannya “mungkin justru karena ia sedang sakit, ia menjadi kurus
dan kuning karena tidak pernah keluar dari biliknya” “Tetapi menjadi
bertambah cantik” sahut perwira muda
itu.
Jilid 23 IRING-IRINGAN pasukan
berkuda itupun kemudian sekali lagi memutar haluan. Mereka
meneruskan tugas mereka, nganglang mengelilingi kota Surakarta.
Sementara itu, kereta Pangeran Sindurata yang dipergunakan oleh
Raden Ayu Galihwarit telah sampai ke regol halaman istana
Ranakusuman. Ketika para penjaga regol itu melihat seorang perempuan
cantik seorang diri berada di dalam kereta itu, mereka menjadi
berdebar-debar. Namun akhirnya salah seorang dari mereka segera
dapat mengenalinya. Karena itu, maka iapun berdesis “Raden Ayu
Ranakusuma” Kawan-kawannya termangu-mangu sejenak. Namun dalam pada
itu Raden Ayu Galihwarit memerintahkan kepada saisnya “Terus.
Langsung memasuki halaman” Saisnya ragu-ragu. Tetapi ketika kereta
itu bergeser maju, maka para penjagapun telah menyibak dan tidak
seorangpun berusaha untuk bertanya sesuatu kepada sais maupun
penumpang kereta itu.Kedatangan Raden Ayu Ranakusuma ke bekas
istananya itu memang telah mengejutkan para prajurit dar i pasukan
berkuda. Bahkan Tumenggung Watang yang menerima laporan tentang
kehadiran Raden Ayu Ranakusuma itupun dengan tergesa-gesa telah
menyongsongnya. Namun Tumenggung yang berpikiran jernih itu segera
dapat menangkap kepentingan kehadiran puteri itu, karena anak
gadisnya, Rara Warih telah berada di dalam tangan para prajurit dari
pasukan berkuda. Tetapi bagaimanapun juga, Tumenggung Watang masih
bersikap hormat kepada Raden Ayu Ranakusuma. Meskipun Pangeran
Ranakusuma sendiri telah dianggap berkhianat, tetapi kebesaran
namanya pada masa lampau masih saja membekas di setiap hati para
prajur it, termasuk Tumenggung Watang. Demikian kereta itu berhenti
di kuncung pendapa, maka Tumenggung Watang diiringi oleh dua orang
perwira telah menyongsongnya dan dengan hormat mempersilahkan puteri
itu naik ke pendapa. Raden Ayu Galihwarit yang telah turun dari
keretanya itu memandang berkeliling, seolah-olah ia ingin mengenali
kembali istana yang sudah agak lama ditinggalkannya. Bukan saja
sejak Pangeran Ranakusuma dianggap berkhianat, tetapi jauh sebelum
itu ia telah diantar pulang ke rumah orang tuanya oleh Pangeran
Ranakusuma sendir i. “Marilah, silahkan Raden Ayu“ Tumenggung Watang
mempersilahkan. Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Jawabnya “Terima
kasih. Apakah aku masih diperkenankan naik ke pendapa?“ “Tentu.
Silahkan“ Tumenggung Watang mempersilahkannya sekali lagi.Raden Ayu
Ranakusuma itu masih saja tersenyum. Dengan langkah-langkah kecil ia
naik ke pendapa dan sekali lagi ia memandang berkeliling. “Aku tidak
melihat perubahan sama sekali” gumamnya. “Ya Raden Ayu” sahut
Tumenggung Watang “Kami yang sekarang berada di sini berusaha untuk
menjaga agar segalanya tetap seperti semula” Raden Ayu Ranakusuma
mengangguk-angguk. Ia tidak segera duduk di pendapa. Tetapi ia
berjalan berkeliling. Diamatinya perhiasan dinding satu demi satu.
Jambangan bunga yang tidak lagi berisi bunga di atas bancik berukir
di sudut. “Sayang” berkata Raden Ayu Ranakusuma “Aku mendapatkan
jambangan bunga ini dar i tuan Dungkur. Kenapa Ki Tumenggung tidak
menyuruh salah seorang pelayan untuk mengisinya dengan bunga?
Jambangan itu adalah jambangan yang sangat mahal. Buatan Cina dan
berumur tua. Ki Tumenggung dapat menyuruh seseorang memetik bunga
ceplok piring. He, bukankah di sudut halaman samping terdapat
beberapa batang bunga ceplok piring?“ “Ya Raden Ayu” jawab
Tumenggung Watang “Tetapi aku tidak sempat melakukannya” “O. Para
prajurit Surakarta tentu sedang sibuk” desis Raden Ayu “Tetapi
apakah aku diperkenankan melihat-lihat keadaan di dalam istana yang
pernah aku huni ini?“ Tumenggung Watang menar ik nafas dalam-dalam.
Jawabnya “Silahkan Raden Ayu. Tetapi aku mohon maaf bahwa aku tidak
dapat mengantarkannya Biarlah perwira muda ini mengantar Raden Ayu
melihat-lihat isi bekas istana Raden Ayu ini” “Ah, aku tidak mau
mengganggu kalian. Kenapa harus mengganggu tugas seorang perwira
hanya sekedar untukmengantar aku? Aku mengenal rumah ini dengan
segala isinya. Aku tidak akan tersesat sehingga tidak dapat keluar
lagi” berkata Raden Ayu Galihwarit “Soalnya bukan demikian” jawab
Tumenggung Watang, yang dengan serta merta dipotong oleh Raden Ayu
Ranakusuma. “Baiklah. Aku mengerti. Kalian tentu mencur igai aku,
karena aku adalah isteri seorang Pangeran yang dianggap berkhianat.
Bukan saja suamiku yang terbunuh di peperangan itu. Tetapi juga anak
perempuanku. Bukankah Warih ada di sini?“ Ki Tumenggung Watang
mengangguk-angguk kecil. Jawabnya “Ya. Rara Warih memang ada di
sini” “Aku sudah mendengar semuanya” berkata Raden Ayu Sontrang
“anak gadisku itu ditangkap untuk memancing anak dungu yang menyebut
dirinya putera Pangeran Ranakusuma itu” Tumenggung Watang
mengerutkan keningnya. Sementara itu Raden Ayu Sontrang berkata
“Tetapi silahkan Ki Tumenggung. Aku t idak akan mengganggumu. Aku
akan melihat-lihat isi rumahku. Jika para prajurit mencurigaiku,
silahkan siapa di antara para prajurit yang akan mengawasi aku”
“Tetapi Raden Ayu” berkata Tumenggung Watang kemudian “Aku menduga
bahwa kedatangan Raden Ayu bukannya sekedar ingin melihat-lihat
istana ini dan isinya, tetapi tentu berhubungan dengan keadaan Rara
Warih” “Tepat” jawab Raden Ayu Ranakusuma “nanti aku akan menghadap
Ki Tumenggung setelah aku puas memanjakan kenangan masa lampau yang
sangat menyenangkan itu” Tumenggung Watang mulai diganggu oleh
perasaan jemu menanggapi sikap Raden Ayu Galihwar it. Ia bukan lagi
isteriseorang Pangeran yang besar bagi Surakarta, justru sebaliknya.
Nama Pangeran Ranakusuma di lingkungan para bangsawan di Surakarta
telah menjadi buram. Di luar dugaan Tumenggung Watang, Raden Ayu
itupun berkata “Maaf Ki Tumenggung. Barangkali aku terlalu memuakkan
bagi Ki Tumenggung. Tetapi aku minta ijin barang sejenak untuk
melihat-lihat. Mudah-mudahan dapat menjadi obat bagi penyakitku yang
sudah beberapa lama masih saja selalu datang mengganggu. Mungkin Ki
Tumenggung pernah juga mendengar, bahwa aku mengalami satu masa yang
sangat mengganggu dalam hidupku. Mudah- mudahan aku akan benar-benar
dapat sembuh” Tumenggung Watang tidak telaten lagi melayani Raden
Ayu Ranakusuma itu. Karena itu, maka diperintahkannya seorang
perwira untuk mengikutinya tetapi sekaligus mengawasinya. Perwira
muda itu mengikut saja kemana Raden Ayu Galihwar it pergi.
Dimasukinya setiap ruang di dalam bekas istananya itu. Ternyata
seperti yang dikatakan oleh Tumenggung Watang, segalanya masih
berada di tempatnya dan terpelihara baik. “Dimana Warih di simpan?“
bertanya Raden Ayu itu tiba- tiba. “Di gandok Raden Ayu” jawab
perwira muda itu. “Gandok mana“ desak Raden Ayu itu. “Gandok kanan”
jawab perwira itu pula. “Apakah aku dapat menengoknya?“ bertanya
Raden Ayu itu pula. “Aku kira Raden Ayu akan dapat menemuinya,
tetapi segalanya terserah kepada Tumenggung Watang” jawab perwira
muda itu. Perwira muda itu menjadi berdebar-debar ketika ia melihat
Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Katanya “Baik. Aku akanmenemui Ki
Tumenggung” Ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi aku belum selesai. Aku
ingin melihat semua ruang. Dari ruang yang paling ujung, sampai ke
ruang tidurku” Perwira itu menjadi semakin berdebar-debar ketika
tiba-tiba saja Raden Ayu itu justru membimbing lengannya seperti
membimbing anaknya. Sambil tersenyum ia berkata “Marilah anak manis.
Jika anakku masih hidup, umurnya tentu tidak berada di istana ini”
Terasa tangan perwira muda itu menjadi gemetar. Namun Raden Ayu itu
tertawa “Jangan takut. Aku tidak apa-apa. Aku tidak sedang kambuh.
Aku sehat dan menyadari apa yang aku lakukan” Perwira muda itu tidak
dapat mengelak, Ketika mereka memasuki sebuah ruangan, maka Raden
Ayu itupun berkata “Ini adalah bilik tidurku. di sini aku tidur di
saat aku masih akan terpaut banyak dengan umurmu” Perwira muda itu
berdiri tegak di pintu bilik. Ia tidak mau melangkah lagi. Karena
itu, maka Raden Ayu itupun kemudian memasuki bilik yang cukup luas
itu seorang dir i. Kemudian duduk di atas pembaringannya yang masih
saja seperti dahulu, “Alangkah senangnya masa-masa yang lewat.
Tetapi sekarang suamiku sudah terbunuh di peperangan sebagai seorang
pengkhianat. Bukankah begitu anak muda?“ bertanya Raden Ayu itu
sambil tertawa kecil. Perwira muda itu tergagap. Namun kemudian
iapun mengangguk sambil menjawab “Ya. Ya Raden Ayu, demikianlah
agaknya” Raden Ayu Galhwarit tersenyum. Namun bagaimanapun juga,
terasa jantungnya bagaikan tergores sembilu. Kenangannya mulai
merayap menelusur i masa lampaunya. Di pembaringan itu pula Rudira
dibaringkan seperti seorang yang sedang tidur nyenyak. Betapa ia
terkejut ketika ia menyadariapa yang telah terjadi, sehingga kejutan
itu telah mengganggu kesadarannya. Terasa kepala Raden Ayu
Galihwarit mulai menjadi patung. Rasa-rasanya ia akan terlempar
kembali ke dalam satu dunia yang buram, sebagaimana saat-saat
penyakitnya akan kambuh. Untuk beberapa saat perwira yang
menungguinya di pintu menjadi berdebar-debar. Ia melihat Raden Ayu
Galihwarit itu memegangi keningnya. Namun dalam pada itu, tiba-tiba
saja Raden Ayu Itu menghentakkan tangannya sambil bergumam didatam
hati “Tidak. Aku tidak boleh gila disini. Aku sedang berusaha untuk
berbuat sesuatu untuk Rara Warih. Jika aku tenggelam dalam kenangan
atas Rudira dan masa lampau, maka aku akan kehilangan lagi. Warih“
Perwira yang masih tegak di pintu itu heran melihat sikap Raden Ayu
Galihwarit. Ia pernah mendengar bahwa puteri itu mempunyai semacam
penyakit yang mengganggu syarafnya. Karena itu, iapun menjadi
berdebar-debar. Lebih baik ia berada di medan perang daripada harus
menghadapi seorang puteri yang terganggu syarafnya. Perwira itu
menjadi sangat gelisah. Ketika Raden Ayu Galihwar it itu berdiri
sambil tersenyum, maka iapun melangkah surut. “Jangan takut anak
muda. Mungkin kau pernah mendengar serba sedikit tentang penyakitku.
Tetapi sekarang aku sadar sepenuhnya” berkata Raden Ayu Galihwarit
“sekarang, antarkan aku kepada Ki Tumenggung Watang. Aku akan
berbicara tentang Warih” Perwira muda itu menar ik nafas
dalam-dalam. Iapun kemudian mempersilahkan Raden Ayu berjalan di
depan.Di luar sadarnya, perwira muda itu sempat mengamati Raden Ayu
Galihwarit yang berjalan di depannya. Langkahnya kecil-kecil
meskipun agak cepat, seirama dengan gerak lambungnya. “Gila. Ia
sudah setua ibuku“ perwira itu menggeram di dalam hatinya. Namun ia
tidak dapat ingkar, bahwa Raden Ayu Galihwarit adalah seorang puteri
yang cantik dan nampak jauh lebih muda dari usianya, justru setelah
ia menjadi agak kurus dan bertambah kuning. “Memang agak aneh”
berkata perwira itu di dalam hatinya “dalam keadaan sakit, ia masih
tetap sempat memelihara kecantikannya” Tetapi perwira itupun
mengetahui, bahwa Raden Ayu itu tidak dalam keadaan sakit seperti
orang sakit kebanyakan. Hanya kadang-kadang saja gangguan syaraf itu
datang. Selebihnya, ia sebagaimana orang sehat-sehat saja, sehingga
ia masih sempat juga ngadi sarira sebagaimana selalu dilakukannya.
Sejenak kemudian, maka Raden Ayu itupun telah dipersilahkan memasuki
sebuah bilik yang cukup besar. Tumenggung Watang telah menunggunya
dengan tidak sabar. Ia tahu pasti, bahwa Raden Ayu Galihwarit itu
tentu akan menemuinya dan minta ijin kepadanya untuk menemui
puterinya yang ditahan di bekas istana Pangeran Ranakusuma itu.
“Silahkan Raden Ayu“ Tumenggung Watang mempersilahkan. Raden Ayu
itupun kemudian duduk di hadapan Tumenggung Watang. Sebelum
dipersilahkan, Raden Ayu itupun berkata “Ki Tumenggung tentu sudah
mengetahui maksud kedatanganku kemar i” “Ya Raden Ayu” jawab
Tumenggung Watang “Raden Ayu akan berbicara tentang Rara Warih”“Ya.
Aku ingin bertemu dengan puteriku” berkata Raden Ayu Ranakusuma
kemudian “Apakah aku diijinkan?“ “Pada dasarnya kami tidak
berkeberatan Raden Ayu” jawab Tumenggung Watang “Tetapi bukankah
Raden Ayu sudah tahu, kenapa Rara Warih itu ditangkap?“ “Ternyata
telah terjadi satu kesalahan sikap dari pasukan berkuda atau dari
para Senapati di Surakarta” berkata Raden Ayu Galihwar it “Apa
artinya Rara Warih bagi anak pidak pedarakan yang menyebut dir inya
putera Pangeran Ranakusuma itu” “Maksud Raden Ayu?“ bertanya
Tumenggung Watang. “Apakah Ki Tumenggung menganggap bahwa Warih akan
dapat dipergunakan untuk memancing Juwiring?“ justru Raden Ayu
itupun bertanya. Tumenggung Watang mengangguk. Jawabnya “Ya Raden
Ayu. Karena itu, maka kami terpaksa untuk sementara menahan Rara
Warih di sini atas persetujuan para Senapati” “Dan kumpeni“ Raden
Ayu bertanya. Tumenggung Watang menarik nafas panjang. Kemudian
jawabnya “Ya. Atas persetujuan kumpeni. Tetapi persetujuan itu pada
dasarnya karena keterangan-keterangan yang kami berikan”Tetapi Raden
Ayu Galihwarit itu tertawa. Katanya “Kalian salah hitung. Warih dan
Juwiring bukan dua orang saudara yang mempunyai ikatan jiwani.
Juwiring t idak akan menghiraukan meskipun seandainya Warih akan
digantung sekalipun” Tumenggung Watang mengerutkan keningnya. Namun
kemudian jawabnya “Semuanya telah berubah sejak Raden Ayu sakit. Aku
yakin, bahwa keduanya telah menemukan diri mereka dalamhubungan dua
orang saudara” Tetapi Raden Ayu menggelengkan kepalanya. Jawabnya
“Aku lebih tahu tentang j iwa anakku. Aku tahu bahwa pada suatu saat
ia tidak dapat menolak tekanan ayahandanya untuk menerima Juwir ing
sebagai kakaknya. Tetapi aku tahu pasti, apa yang bergejolak di
dalam jiwa anakku. Tetapi sebaliknya, aku juga tahu, apa yang
bergejolak di dalam jiwa Juwir ing. Tanpa Rara Warih, Juwiring
adalah satu-satunya putera Pangeran Ranakusuma” “Untuk apa
kebanggaan Raden Juwir ing, bahwa ia adalah satu-satunya putera
Pangeran Ranakusuma? Jika keadaan tidak berubah, mungkin ia akan
mendapatkan hak atas warisan dari segala harta kekayaan Pangeran
Ranakusuma. Tetapi sekarang tidak lagi. Tidak ada lagi yang berhak
mewarisi kekayaan Pangeran Ranakusuma yang melimpah ini, karena
Pangeran Ranakusuma sudah menentang Kangjeng Susuhunan” Tetapi Raden
Ayu itu tersenyum. Katanya “Pandangan Ki Tumenggung ternyata sangat
sempit. Apakah Ki Tumenggung tidak memperhitungkan bahwa suwasana
akan berubah? Bahkan mungkin sekali Pangeran Mangkubumi akan menang,
sehingga dengan demikian Juwiring akan dapat memperhitungkan warisan
yang ditinggalkan oleh Pangeran Ranakusuma yang bagi perjuangan
Pangeran Mangkubumi sama sekali bukan seorang pengkhianat, bahkan ia
adalah seorang pahlawan” Raden Ayu itu berhenti sejenak, lalu
“Nah,atas dasar perhitungan itulah maka Juwiring justru ingin
diangkat sebagai satu-satunya putera Pangeran Ranakusuma” “Tetapi
apakah Raden Ayu mempunyai perhitungan, meskipun hanya sepercik
kecil, bahwa Pangeran Mangkubumi akan menang?“ bertanya Tumenggung
Watang. “Semua kemungkinan dapat terjadi” jawab Raden Ayu. Lalu
“Tetapi sudah barang tentu bahwa aku tidak akan berdoa demikian. Aku
ingin keadaan tidak berubah. Karena dengan demikian, maka aku akan
mendapat kesempatan untuk menuntut hak semua warisan yang
ditinggalkan oleh Pangeran Ranakusuma. Aku tidak dapat disertakan
dalam kesalahannya, karena aku tidak terlibat di dalamnya. Bahkan
pada waktu itu, seolah-olah aku memang sedang disingkirkan. Karena
itu, maka akulah yang berhak untuk mendapatkan segala kekayaan
Pangeran Ranakusuma. Sebelum segalanya terjadi, maka aku memang akan
mulai dengan segala macam usaha untuk mendapatkan hakku kembali.
Sudah tentu bahwa kemudian segala warisan Itu akan jatuh ke tangan
Rara Warih” Tetapi Tumenggung Watang menggelengkan kepalanya. Dengan
nada dalam ia berkata “Aku mohon Raden Ayu dapat bertemu dengan Rara
Warih sendir i. Raden Ayu akan dajgat berbicara dengan puteri itu.
Raden Ayu akan tahu sikapnya. Mudah-mudahan Raden Ayu tidak kecewa
karenanya” “Aku memang akan bertemu dengan Warih. Aku ingin
berbicara berterus terang” desis Raden Ayu Galihwarit. “Silahkan.
Biarlah seorang emban mengantarkan Raden Ayu berkata Tumenggung
Watang. “Aku ingin berbicara dengan War ih tanpa orang lain. Aku
ingin ia berbicara terbuka” jawab Raden Ayu Galihwarit. Tumenggung
Watang menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Silahkan. Biarlah
seorang prajurit mengantar Raden Ayu sampai ke bilik Rara
Warih”Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
seperti dikatakan oleh Tumenggung Watang, maka iapun segera
diantarkan oleh seorang prajur it menuju ke bilik Rara Warih di
gandok. Kehadiran Raden Ayu Galihwarit membuat puterinya terkejut
bukan buatan. Ia sama sekali t idak menyangka, bahwa ibunya akan
datang menemuinya. Rara Warih masih tegak mematung di dalam biliknya
ketika ibunya memberi isyarat kepada prajurit yang mengantarkannya
untuk meninggalkan bilik itu. Demikian prajur it itu pergi, maka
Raden Ayu itupun segera menutup dan menyelarak pintu dar i dalam.
Untuk beberapa saat keduanya berdiri mematung sambil berpandangan.
Namun Raden Ayu itu menyadari, bahwa Rara Warih masih dibayangi oleh
kebimbangan perasaan. Karena itu, ketika Raden Ayu maju setapak,
justru Rara Warih mundur selangkah. “Warih” desis ibundanya. Rara
Warih menjadi semakin cemas. Dengan bibir gemetar ia berdesis
“Ibunda. Bukankah ibunda sedang sakit?“ Betapa pedihnya pertanyaan
itu. Pertanyaan yang dilontarkan oleh anak gadisnya yang sangat
dicintainya, tetapi yang dengan sadar Raden Ayu Galihwarit mengerti
bahwa anaknya itu tentu merasa muak memandanginya. “Aku memang
sedang sakit, Warih” jawab ibunya hati-hati “Tetapi ketika aku
mendengar bahwa kau berada disini, aku memer lukan datang
menengokmu” Wajah Rara Warih menjadi semakin membayangkan
kecemasannya. Namun dalam pada itu ibundanya barkata “Tetapi
bukankah kau mengetahui, bahwa aku tidak berbahaya bagimu? Dan
meskipun aku sakit, tetapi adakalanya aku sadar sepenuhnya tentang
apa yang aku lakukan seperti sekarang ini?“ “Tetapi kenapa ibu tidak
t inggal saja di istana eyang Sindurata. Jika ibunda kambuh di
sembarang tempat, maka alangkah sakitnya hati keluarga eyang
Sindurata” desis Warih. “Aku menyadari sepenuhnya Warih. Itulah
sebabnya aku berjuang sekuat-kuatnya untuk tidak kambuh di sembarang
tempat. Ketika aku memasuki bilik-bilik di bekas istana kita,
rasa-rasanya hatiku mulai bergetar. Tetapi aku sudah mempunyai
kekuatan batin untuk melawan kegilaanku itu. Justru pada saat aku
mendengar ayahandamu gugur di peperangan, maka kejutan itu merupakan
imbangan dari kejutan pada saat aku mendengar kakakmu terbunuh,
justru di hadapan mataku, tetapi tanpa aku sadari” Rara Warih
bergeser surut. Ketika ibunya melangkah maju lagi, ia berkata
“Ibunda tetap di situ” “Warih” desis ibundanya “Aku sadar
sepenuhnya. Dan aku sudah mendapatkan kekuatanku kembali untuk tetap
sadar” “Seandainya ibunda sudah sembuh, namun ibunda tentu tidak
akan mengerti persoalan yang sedang aku hadapi sekarang” berkata
Rara Warih. “Aku mengerti sepenuhnya Warih” jawab ibundanya “Kau
telah ditangkap oleh prajur it dari pasukan berkuda. Atas
persetujuan para Senapati di Surakarta serta kumpeni, kau telah
ditahan sebagai taruhan, agar kakandamu Raden Juwiring dengan mudah
dapat ditangkap” Rara Warih memandang ibundanya dengan tatapan mata
yang aneh. Menurut pendengarannya, aneh pula bahwa ibundanya telah
menyebut Raden Juwir ing dengan sebutan yang lengkap sebagai
kakaknya.Biasanya ibundanya sangat merendahkan Raden Juwiring dan
menganggapnya bahwa Juwiring tidak sederajad dengan dirinya meskipun
keduanya seayah. Sementara Rara Warih masih dicengkam oleh
kebimbangan akan sikap, ibundanya, Raden Ayu Galihwarit itupun
berkata seterusnya “Warih. Aku telah mendengar banyak tentang
persoalan yang kau hadapi” “Jika demikian” sahut Rara Warih “Apakah
yang karang ibunda kehendaki” “Aku ingin mendengar pengakuanmu.
Bagaimanakah sikapmu terhadap tindakan ayahandamu dan kakandamu
Raden Juwiring” jawab ibundanya. “Jika ibunda mengetahuinya?“
bertanya Rara Warih pula. Raden Ayu Galihwarit menarik nafas
dalam-dalam. Ia dapat mengerti, anak gadisnya itu tidak lagi menaruh
hormat kepadanya Rara Warih tentu sudah pernah mendengar, mungkin
dari mulutnya sendiri, atau dari mulut orang lain, bahwa dalam
keadaan tidak sadar, ia dapat menyebut apa saja yang bagi seorang
gadis seumur Rara Warih itu tentu akan sangat memuakkan. Tetapi
Raden Ayu Galihwarit tidak akan ingkar. Ia justru telah
mempersiapkan dir inya lahir batin untuk mengalami perlakuan apa
saja dari siapa saja. Namun bahwa ia telah meletakkan dasar dan
tujuan dengan penuh kesadarannya atas sikapnya itu. Karena itu, maka
katanya kemudian “Rara Warih. Betapapun rendah martabat seseorang,
namun ia akan tetap mencintai anaknya. Aku tahu, bahwa kau memandang
aku tidak lagi sebagai seorang perempuan yang pantas dihormati. Aku
tidak berkeberatan Warih. Aku mengerti perasaanmu. Tetapi
bagaimanapun juga, aku merasa bahwa aku tidak akan dapat membiarkan
kau disekap dalamkeadaan seperti ini”“Dan ibunda akan mengorbankan
kamas Juwiring agar aku dapat dilepaskan dar i tempat ini?“ bertanya
Rara Warih pula. Raden Ayu Galihwarit itu menahan gejolak
perasaannya. Betapa matanya terasa panas, tetapi ia tidak mau
menangis. Ia tidak mau hanyut ke dalam arus perasaannya yang tidak
menentu. Jika demikian, ia akan kehilangan pengamatan diri, dan ia
akan jatuh ke dalam suasana yang mengerikan bagi anak gadisnya itu.
Karena itu, bagaimanapun juga ia yakinkan dirinya sendir i, bahwa ia
akan tabah menghadapinya. Rara Warih mengerutkan keningnya ketika ia
melihat ibundanya justru tersenyum. Katanya “Rara Warih. Cobalah
katakan. Dimanakah kau sekarang berdiri. Biarlah aku tahu deagan
pasti, sehingga aku akan dapat mengambil langkah- langkah yang
sebaiknya aku lakukan. Sebenarnya aku sudah menduga sikapmu
sekarang. Tetapi aku ingin mendengar kau sendiri mengucapkannya”
“Aku berdiri bersama kakangmas Juwir ing” jawab Rara Warih tegas.
Sekali lagi Rara Warih terkejut ketika ia melihat ibunya mengangguk.
Ibunya sama sekali tidak menunjukkan perubahan perasaan di wajahnya
ketika ia mendengar pengakuan Rara Warih. Bahkan Raden Ayu
Galihwarit itupun kemudian berkata “Aku yakin bahwa kau akan
mengatakannya Warih” “Aku tidak mengerti sikap ibunda“ justru Rara
Warihlah yang kemudian menjadi bingung. “Aku sudah mendengar serba
sedikit, bahwa kau telah melibatkan dir i, langsung atau tidak
langsung. Kau ditangkap di padepokan Jati Aking dan bahkan para
prajurit pasukan berkudapun yakin bahwa kau akan dapat
dipergunakannya memancing kakandamu Raden Juwiring” berkata Raden
Ayu kemudian.“Lalu, apakah yang akan ibunda lakukan? Berusaha
memancing kakangmas Juwiring?“ bertanya Rara Warih. “Aku tidak
merasa aneh bahwa kau akan berprasangka demikian. Tetapi Warih,
ternyata pengalaman batinku telah membuat aku berubah. Aku sudah
bertemu dengan kakandamu Raden Juwiring. Aku sudah mendengar segala-
galanya” jawab Raden Ayu Ranakusuma. “Jadi, bagaimana sikap ibunda?“
bertanya Rara Warih pula. “Warih” desis ibundanya perlahan-lahan
“Aku tidak akan ingkar di hadapanmu. Kau tentu sudah tahu apa yang
pernah aku lakukan, sehingga kau tentu menganggap aku seorang
perempuan yang kotor. Tetapi bagaimanapun juga, aku masih
berperasaan. Pada akhirnya aku melihat suatu perkembangan j iwani di
dalam dadaku. Aku merasa bersalah. Sampai saatnya Pangeran
Ranakusuma gugur, aku belum pernah mohon maaf kepadanya. Karena itu,
berilah aku kesempatan untuk menebus segala, dosa dan noda yang
pernah melumur i kecantikanku” “Ibunda” suara Rara Warih menjadi
parau. “Aku berkata sebenarnya Warih. Aku akan mempergunakan sisa
hidupku untuk berbakti kepada Pangeran Ranakusuma” desis Raden Ayu
Galihwar it “Aku akan meneruskan perjuangannya, sudah tentu aku akan
mempergunakan caraku” Wajah Rara Warih menjadi tegang.“Apakah masih
ada secercah kepercayaanmu kepada ibundamu ini ngger?“ suara Raden
Ayu Galihwar it menurun. Terasa sesuatu tergetar di jantung Rara
Warih. Betapapun kotornya, perempuan itu adalah ibundanya yang
mencintainya dan yang sebenarnya juga dicintainya. Karena itu, di
luar sadarnya, tiba-tiba saja matanya mulai mengaca. “Warih“
terdengar ibundanya berkata pula “aku mohon kau percaya. Aku sudah
mengakui segala kesalahanku. Aku mohon maaf kepadamu, justru kau
seorang gadis yang sangat mudah melihat segala kesalahan dan
dosa-dosaku. Selebihnya, dengan ikhlas aku sudah menerima Raden
Juwiring sebagai anakku sendir i. Apalagi setelah aku mengerti,
betapa kuat hatinya dan ternyata ia seorang yang luhur budi”
ibundanya berhenti sejenak, lalu “Kau mau memaafkan aku, Warih?“
Rara Warih termenung sejenak. Namun kemudian iapun berlari memeluk
ibundanya. Pelupuknya tidak lagi mampu membendung air matanya yang
mengalir bagaikan banjir. Seperti masa kanak-kanaknya, Rara Warih
menangis di dalam pelukan ibundanya. Air matanya membasahi pangkuan
ibundanya yang kemudian duduk di pembaringan Rara Warih. Betapa
jantungnya bagaikan teriris sembilu, namun Raden Ayu Ranakusuma itu
berusaha bertahan dari hempasan perasaannya. Ia masih dibayangi oleh
satu kecemasan, bahwa jika ia terseret arus perasaannya yang tidak
terkendali, maka ia akan dapat kehilangan pengamatan atas
kesadarannya dan jatuh ke dalam keadaan yang akan dapat membuat
Warih terguncang pula hatinya. “Tidak“ ia mengatupkan giginya untuk
menahan hati “Aku tidak mau kehilangan lagi. Aku t idak mau menjadi
sampah yang tidak berarti di hadapan anakku sendiri”Dengan tangan
gemetar Raden Ayu itu mengusap kepala anaknya sambil berkata
“Sudahlah Warih. Kita sudah sampai pada satu keadaan seperti ini.
Penyesalan tidak lagi banyak membantu kita. Karena itu kita sekarang
harus memikirkan, bagaimana kita dapat mengatasi kesulitan ini” Rara
Warih mengusap wajahnya yang basah. Ia masih mendengar ibunya
berkata “Kita jangan kehilangan akal. Mungkin kau masih harus tabah
untuk satu dua hari lagi” “Apakah yang akan ibu lakukan?“ bertanya
Rara Warih. “Aku akan berusaha agar kau dapat keluar dari tempat ini
tanpa mengorbankan kakandamu” jawab ibundanya. ”Apakah ibunda
mempunyai cara tertentu? Apakah para pemimpin prajurit dari pasukan
berkuda ini dapat diajak berunding?“ bertanya puterinya. “Aku akah
mempergunakan segala cara” jawab ibundanya “jika ayahandamu telah
memberikan korban yang paling besar, ialah nyawanya, maka akupun
akan mengorbankan apa yang ada padaku. Maksudku bukan sekedar agar
kau bebas dari batas-batas dinding ruangan ini, tetapi agar kau
tidak menjadi hambatan bagi perjuangan kakandamu Raden Juwiring.
Bahkan mungkin dalam keadaan putus-asa, Juwiring akan benar-benar
datang menyerahkan dirinya bagi kebebasanmu” Wajah Rara Warih
inenjadi tegang. Terbayang cara yang akan ditempuh oleh ibundanya.
Terasa bulu-bulunya mulai meremang. Namun ibundanya tersenyum sambil
berkata “Warih. Jangan hiraukan aku. Aku adalah sampah yang paling
kotor. Tetapi biarlah sampah itu mempunyai arti juga sebagaimana
sampah itu pula. Sampah akan berguna juga sebagai pupuk tanaman
justru ia adalah sampah”Sekali lagi perasaan gadis itu tersentak.
Sekali lagi ia menjatuhkan kepalanya dipangkuan ibunya sambil
menangis. Dengan tangan gemetar ibundanya mengusap lagi rambutnya
sambil berkata “Sudahlah Warih. Jangan kau tangisi ibundamu.
Mudah-mudahan usaha kita berhasil. Kematian ayah-andamu janganlah
sia-sia. Meskipun Pangeran Mangkubumi tidak mengerti apa yang kita
lakukan, biarlah kita membantunya meskipun hanya setitik air yang
menetes di lautan. Diamlah dan bersikaplah sebagaimana sikap
ayahandamu menghadapi amukan api peperangan” Kata-kata ibundanya itu
ternyata telah menyentuh hati Rara Warih. Pada saat-saat batinya
menjadi lemah, ia mencoba bersandar pada kebesaran nama ayahandanya.
Dan kini ibundanya juga menyebut nama ayahandanya, Pangeran
Ranakusuma. Seorang Senapati pilih tanding di medan perang. Karena
itu, maka Rara Warihpun telah mencoba menahan air matanya. Bahkan
iapun kemudian mencoba duduk di samping ibundanya. “Warih” berkata
Raden Ayu Ranakusuma “pertemuan kita sudah cukup lama. Aku akan
kembali kepada eyangmu. Aku akan mencoba mempergunakan pengaruhnya
untuk membebaskanmu. Atau usaha-usaha yang lain yang mungkin dapat
aku lakukan” Rara Warih mengangguk sambi berdesis “Silahkan ibunda”
“Tetapi ketahuilah, bahkan kepada orang lain, aku bersikap
seolah-olah aku tidak mengakui Juwir ing sebagai putera Pangeran.
Ranakusuma yang sederajad denganmu. Mungkin sikapku itu menyakiti
hatinya j ika ia menyaksikannya lewat mata siapapun juga. Tetapi
mudah-mudahan dengan demikian aku akan berhasil” berkata ibundanya.
Sekali lagi Raden Ayu itu minta diri. Kemudian dibukanya selarak
pintu bilik itu. Ketika ia keluar dari bilik itu, dilihatnya
prajurit yang mengantarkannya berdiri di seketheng.Langkah Raden Ayu
yang mendekati prajur it itu telah menyadarkannya dari sebuah
lamunan. Ketika prajurit itu berpaling, dilihatnya Raden Ayu
Ranakusuma tersenyum kepadanya sambil berkata “Aku sudah selesai.
Antarkan aku kepada Tumenggung Watang” Prajurit itupun kemudian
mempersilahkan Raden Ayu Galihwar it kembali memasuki bilik
Tumenggung Watang yang nampaknya masih menunggu. “Silahkan Raden
Ayu“ Tumenggung itu mempersilahkan. Sambil duduk Raden Ayu itu
berkata “Aku sudah bertemu dengan anak gadisku” “Nah, bukankah Raden
Ayu sudah mengetahui sikap dan pendiriannya?“ bertanya Tumenggung
Watang. Raden Ayu Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam Katanya “Ia
hanya salah menangkap suasana” “Maksud Raden Ayu?“ bertanya
Tumenggung Watang. “Aku sudah member i penjelasan kepadanya” berkata
Raden Ayu Ranakusuma “bahwa segalanya sama sekali tidak berarti
baginya” “Bagaimana pendapat Rara Warih?“ bertanya Tumenggung itu
pula. “Seperti aku katakan, aku adalah ibundanya. Aku mengerti watak
dan tabiatnya. Karena itu, maka aku merasa yakin dapat menjelaskan
kepadanya” Raden Ayu itu berhenti sejenak, lalu “Ki Tumenggung. Rara
Warih telah mendapat keterangan yang salah dari ayahandanya, justru
karena ayahandanya tiba-tiba saja melihat aku sebagai seorang yang
tidak pantas lagi tinggal di istana ini pada saat aku sakit. Dengan
keterangan-keterangan khusus, dan mungkin dengan sedikit tekanan
puteriku telah menerima kehadiran Juwiring sebagai kakaknya. Tetapi
semuanya itu bukannya memancar dari hatinya. Juga perjuangan
Pangeran Mangkubumi samasekali tidak dimengertinya. Ia mendengar dan
mendapat keterangan yang berlebih-lebihan dari ayahandanya yang
kebetulan mengambil langkah yang salah” Tumenggung Watang
mengerutkan keningnya. Sementara Raden Ayu itu berkata selanjutnya
“Ki Tumenggung. Mungkin Ki Tumenggung telah mengenal cara hidupku
sebelum aku disingkirkan dari istana ini. Dan aku sudah terbiasa
dengan hidup seperti itu. Aku tidak akan dapat menempuh cara hidup
yang lain” “Tetapi, bagaimana sikap puteri terhadap Rara Warih?“
bertanya Tumenggung Watang. “Aku sudah memberikan penjelasan
kepadanya. Ternyata bahwa hatinya memang lebih dekat dengan
ibundanya. Ia percaya kepadaku, dan ia tidak menghiraukan lagi
apakah ada seseorang yang bernama Juwiring, karena derajad kami
memang berbeda” Tumenggung Watang mengerutkan keningnya. Jika
menyinggung soal derajad, maka ia sendiripun akam merasa tersentuh
pula, karena tentu Raden Ayu itu menganggapnya bahwa ia tidak
sederajad dengan keluarga Ranakusuman. “Lalu, bagaimanakah menurut
Raden Ayu?“ bertanya Tumenggung Watang itu pula. “Aku dan Rara Warih
sendiri tidak berkeberatan untuk tinggal di tempatnya. Mungkin
pengorbanannya itu benar- benar akan dapat memancing Juwiring.
Tetapi kemungkinan itu kecil sekali” jawab Raden Ayu “Juwiring tentu
tidak menghiraukan sama sekali arti Rara Warih baginya” “Jadi
penahanan itu menurut puteri tidak akan ada gunanya?” bertanya
Tumenggung Watang. “Tidak” jawab Raden Ayu Galihwarit “Tetapi dapat
dicoba. Sudah aku katakan, Rara Warih tidak berkeberatan tinggal di
tempat itu selama lima har i lagi. Mudah-mudahan Juwiringbenar-benar
seorang laki-laki jantan dan bersedia datang untuk pembebasan Rara
Warih” Tumenggung Watang termaogu-mangu sejenak. Namun ia tergagap
ketika Raden Ayu itu bertanya “Tetapi Ki Tumenggung. Setelah saat
pengorbanan itu berakhir, apa yang akan Ki Tumenggung lakukan
terhadap anak gadisku? Jika benar dalam waktu lima hari Juwiring
tidak memenuhi wara-wara itu, apakah kesalahannya akan ditimpakan
kepada Rara Warih? Jika demikian alangkah bangganya Juwiring dengan
sikapnya. Ia sudah berhasil menepuk dua ekor lalat dengan sekali
ayun. Yang pertama ia tetap bebas, sedang yang kedua, Warih,
saingannya dalam memperebutkan warisan apapun ujudnya dari Pangeran
Ranakusuma, telah di sisihkan oleh tangan-tangan yang tidak mengerti
keadaan dan persoalannya” Namun ternyata Ki Tumenggung itu
menggeleng. Jawabnya “Tentu tidak Raden Ayu. Tentu kami tidak akan
dapat membebankan kesalahan Raden Juwiring dan ayahandanya kepada
Rara Warih” “Ki Tumenggung berbicara sebagai pribadi atau sebagai
seorang Senapati dari pasukan berkuda yang dapat mempertanggung
jawabkan kepada para Senapati yang lain dan kumpeni?“ bertanya Raden
Ayu Galihwarit. Sejenak Tumenggung itu termangu-mangu. Namun
kemudian katanya “Aku akan membicarakannya dengan segala pihak.
Mudah-mudahan mereka dapat mengerti” Raden Ayu Galihwarit tersenyum.
Katanya “Terima kasih Ki Tumenggung. Aku akan membantu Ki Tumenggung
untuk membicarakannya dengan segala pihak” Tumenggung Watang
mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Apa maksud
Raden Ayu?“ Raden Ayu tertawa. Katanya “Bukankah Ki Tumenggung sudah
menyatakan bahwa Rara Warih tidak akan ternodai olehkesalahan
ayahandanya dan oleh Juwiring yang mengaku putera Pangeran
Ranakusuma itu” “Raden Juwiring memang putera Pangeran Ranakusuma”
potong Tumenggung Watang. “Tetapi ia tidak sederajad dengan Rara
Warih” jawab Raden Ayu dengan wajah yang merah. Tumenggung Watang
tidak menyahut. Ia tidak ingin berbantah tentang susunan keluarga
Pangeran Ranakusuma. Karena itu maka katanya kemudian “Tetapi apakah
yang Raden Ayu maksudkan dengan membantu aku untuk membicarakannya
dengan segala pihak” “Aku akan berbicara dengan siapa saja yang
mungkin aku temui, dan yang mempunyai hubungan dan kepentingan
langsung dengan penahanan Rara Warih selain Ki Tumenggung. Jika
mereka sependapat dengan Ki Tumenggung, bukankah persoalannya sudah
selesai?” jawab Raden Ayu Galihwarit. Wajah Ki Tumenggung menegang.
Tetapi ia tahu maksud Raden Ayu Galihwarit. Karena itu, katanya
kemudian “Tetapi penahanan itu harus genap sampai har i ke lima”
“Itu bukannya sikap yang dewasa” jawab Raden Ayu “Tidak ada salahnya
Warih dibebaskan meskipun ia baru satu atau dua hari berada di dalam
tahanan. Tetapi dengan cara yang baik. Tidak seorangpun yang
mengetahui bahwa gadis itu sudah dibebaskan. Sudah tentu para
petugas akan mengetahui. Tetapi maksudku, orang luar tidak akan
mengetahuinya, sehingga tidak akan mempengaruhi sikap Juwiring,
meskipun aku tetap ragu, bahwa ia akan menghiraukan gadis yang
disebut adiknya itu” Tumenggung Watang hanya menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia memang memperhitungkan, bahwa Raden Ayu
Galihwar it itu akan mungkin sekali mendapat persetujuan dari para
Senapati dan Kumpeni.Karena itu, maka katanya “Terserahlah kepada
Raden Ayu. Tetapi itu bukan berarti bahwa aku tidak berperhitungan”
“Tentu. Ki Tumenggung akan dapat menilai segala keputusan yang akan
diambil bersama tanpa merugikan usaha untuk menangkap. Juwiring,
sebagaimana akupun sebenarnya menghendakinya. Bahkan bukan saja
ditangkap, tetapi dengan satu keyakinan, bahwa ia tidak akan
mengganggu Warih dikemudian hari, karena aku akan bekerja dengan
segala cara untuk menuntut hakku atas segala harta benda yang
ditinggalkan oleh Pangeran Ranakusuma” jawab Raden Ayu Galihwar it.
Tumenggung Watang hanya dapat mengangguk-angguk. Ia tidak dapat
langsung menentang usaha Raden Ayu itu untuk mengambil haknya,
justru ia sudah terlanjur tinggal di istana itu, meskipun hanya di
sebagian kecil saja dari seluruh istana yang luas itu. Jika ia
berbuat demikian, maka Raden Ayu itu akan menyangka, bahwa ia
sendirilah yang sebenarnya ingin memiliki segala harta yang ada di
dalam istana yang kosong itu. Dalam pada itu, maka Raden Ayu
Galihwaritpun segera minta dir i kepada Tumenggung Watang untuk
kembali ke istana ayahandanya, Pangeran Sindurata. Namun, demikian
ia turun tangga menuju ke keretanya, ia masih sempat berpesan kepada
Ki Tumenggung “Ki Tumenggung, aku ingin mendengar Juwiring itu
tertangkap di medan, bukan karena ia menyerahkan diri bagi
pembebasan Rara Warih. Aku tidak mau berhutang budipada anak
pidak-pedarakan itu, agar aku tidak merasa berkewajiban untuk
menebusnya dengan cara apapun juga. Aku kira pasukan berkuda dar i
Surakarta yang besar itu akan dapat menangkapnya, hidup atau mati”
Tumenggung Watang tersenyum. Jawabnya “Mudah- mudahan Raden Ayu.
Mudah-mudahan kami segera dapat melakukannya tanpa menunggu anak itu
datang menyerahkan diri” Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Kemudian
iapun naik ke dalam kereta Pangeran Sindurata yang tidak sebaik
kereta Pangeran Ranakusuma. Tetapi kereta itu cukup memadai bagi
seorang puteri secantik Raden Ayu Galihwarit. Sejenak kemudian maka
kereta itupun telah berderap meninggalkan halaman istana Pangeran
Ranakusuma yang telah dikosongkan, dan yang kemudian dipergunakan
oleh pasukan berkuda Surakarta yang perkasa itu. Demikian kereta itu
keluar dari regol halaman, maka senyum Raden Ayu itupun segera
lenyap dari bibirnya. Ia mulai merenung, bagaimana sebaiknya yang
dilakukannya agar ia dapat membebaskan Rara Warih tanpa menunggu
batas waktu yang diberikan oleh para Senapati di Surakarta. Tetapi
Raden Ayu Galihwarit telah berpengalaman bergaul dengan kumpeni. Ia
akan dapat memanfaatkan kebiasaannya itu. Apalagi karena Pangeran
Ranakusuma sudah t idak ada. Ketika ia sampai di istana ayahandanya,
maka Raden Ayu itupun segera menyampaikan persoalannya kepada
ayahandanya. Ia mohon agar ayahandanya dapat membantunya,
membebaskan Warih dari tangan pasukan berkuda yang menahannya. “Aku
tidak turut campur” jawab Pangeran Sindurata “Aku sudah tua. Aku
tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan menghadapi persoalan
ini”“Dan ayahanda sampai hati membiarkan cucunda dalam keadaan
seperti sekarang?“ bertanya Rara Warih. “Sudah tentu aku tidak akan
sampai hati. Tetapi apa yang dapat aku lakukan? Jika aku berusaha
membebaskannya, apakah aku tidak akan dapat dituduh membantunya?”
jawab Pangeran Sindurata. Namun kemudian katanya “Tetapi kau tidak
usah cemas Galihwarit. Semuanya sudah aku bicarakan dengan beberapa
orang perwira dari pasukan berkuda yang datang kemar i. Yang mereka
lakukan hanya sekedar sebuah permainan. Warih tidak akan mengalami
apapun juga. Justru yang dilakukan itu akan dianggap sebagai satu
pengorbanan dan satu perjuangan bagi Surakarta” Raden Ayu Galihwarit
yang merasa mempunyai kemampuan tersendiri untuk menolong puterinya
itupun menjawab “Baiklah ayahanda. Kita akan menunggu saja, apa yang
akan terjadi atas anak gadisku itu” Tetapi sebenarnyalah Raden Ayu
Galihwarit tidak menunggu. Ternyata bahwa ia bertindak cepat.
Sebagaimana pernah dilakukannya, maka iapun mulai mengunjungi loji
tempat tinggal kumpeni yang berada di Surakarta, Kedatangannya
memang mengejutkan. Tetapi Raden Ayu dapat saja mencari alasan,
seolah-olah bahwa iapun ikut mengutuk tingkah laku Pangeran
Ranakusuma. “Aku sudah diusirnya, jauh sebelum ia berkhianat” desis
Raden Ayu Galihwarit sambil mengusap matanya. “Jangan sedih Raden
Ayu“ seorang perwira kumpeni menghiburnya “bukankah dengan demikian,
Raden Ayu akan mendapat kebebasan lebih besar untuk berbuat apa
saja” Raden Ayu hanya tersenyumsaja. “Sekarang tidak akan ada lagi
orang yang akan menantang duel salah seorang dari kami yang
berhubungan dengan Raden Ayu” berkata kumpeni itu sambil
tertawa.Raden Ayu Galihwarit itupun tersenyumpula. “Raden Ayu nampak
bertambah kurus” berkata perwira itu “Kami tahu, Raden Ayu sedang
sakit” “Sekarang aku sudah sembuh” jawab Raden Ayu. “Dan bertambah
cantik“ perwira itu mulai bergurau. Raden Ayu Galihwarit sama sekali
tidak canggung lagi bergaul dengan orang asing itu. Bahkan ia nampak
semakin berani dan semakin panas sepeninggal suaminya. Namun dalam
pada itu, di pagi harinya, pada saat matahari baru menjenguk dar i
balik cakrawala, sebuah kereta berderap menuju ke istana Ranakusuman
yang dipergunakan oleh pasukan berkuda. Seorang puteri yang cantik
duduk seorang diri di dalam kereta itu. “Raden Ayu Galihwarit” desis
para penjaga regol di istana Ranakusuman itu ”sepagi ini ia sudah
datang kemari” Tidak seorangpun yang tahu maksudnya. Namun mereka
sama sekali tidak mencegah kereta itu memasuki halaman. Ki
Tumenggung Watangpun terkejut pula melihat kehadiran Raden Ayu itu.
Karena itu, maka dengan tergopoh-gopoh ia menyambutnya. “Nampaknya
ada sesuatu yang penting Raden Ayu?” bertanya Tumenggung Watang
ketika Raden Ayu itu sudah duduk di dalam ruang yang khusus
dipergunakan oleh Tumenggung Watang. Raden Ayu tersenyum cerah
sekali. Tanpa menjawab separah katapun ia menunjukkan sehelai surat
kepada Tumenggung Watang. Wajah Tumenggung Watang itupun menjadi
tegang. Diterima surat itu dengan jantung yang berdebaran. “Apakah
artinya ini Raden Ayu” bertanya Tumenggung Watang.“Silahkan Ki
Tumenggung membacanya” jawab Raden Ayu “surat itu ditulis oleh
seorang juru tulis yang berada di lingkungan kumpeni. Pada surat itu
sudah dibubuhkan tanda sah atas surat itu” Sejenak Tumenggung itu
termangu-mangu. Namun kemudian iapun membaca isi surat itu. Terasa
wajah Tumenggung Watang menjadi panas. Dengan nada dalam ia bertanya
“Bagaimana mungkin hal ini terjadi Raden Ayu” “Seperti sudah aku
katakan, aku akan membantu Ki Tumenggung” jawab Raden Ayu Galihwarit
“Tetapi tindakan Raden Ayu ini telah melanggar hakku. Dan surat
inipun sebenarnya dapat aku tolak dan tidak berlaku” jawab
Tumenggung Watang. Raden Ayu itu mengerutkan keningnya. Namun
kemudian ia tersenyum sambil berkata “Tentu akan terasa aneh jka Ki
Tumenggung menolak surat itu. Yang mula-mula mengatakan bahwa Rara
Warih tidak dapat dibebani kesalahan ayahandanya dan kesalahan
Juwiring adalah Ki Tumenggung Kemudian Ki Tumenggung mengatakan,
akan membicarakan hal ini dengan pihak-pihak lain. Untuk itu aku
bersedia membantunya. Dan aku sudah berbicara dengan kumpeni,
sehingga kumpeni telah menulis surat itu” “Tetapi ia tdak berhak
memerintahkan kepadaku Untuk melepaskannya” geramTumenggung Watang.
“Bukankah kumpeni tidak memer intahkan kepada Tumenggung Watang?
Tetapi bukankah surat itu mengatakan, bahwa kumpeni tidak
berkeberatan jika Rara Warih dilepaskan Tetapi dengan syarat. Nah,
bagaimana pendapat Ki Tumenggung? Apakah justru Ki Tumenggung yang
menjadi tumpuan harapanku yang pertama sebelum aku bertemu dengan
kumpeni, justru akan berubah sikap?“ desak Raden Ayu itu.Tumenggung
Watang akhirnya menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat
mengabaikan pendapat kumpeni, meskipun secara urutan kekuasaan ia
dapat menolak surat itu dan menunjuk kepada Senapati dalam tataran
yang lebih tinggi, Panglima perang yang telah diangkat oleh Kangjeng
Susuhunan dalam keadaan yang gawat itu. Namun akhirnya Ki Tumenggung
itu berkata “Raden Ayu. Baiklah. Aku setuju. Tetapi syarat yang
tersebut dalam surat ini harus dipenuhi. Rara Warih dibebaskan
dengan rahasia. Karena itu, biarlah nanti malam gadis itu diantar ke
istana Sinduratan” “Kenapa nanti malam? Bukankah aku dapat
membawanya sekarang?“ bertanya Raden Ayu. “Jangan sekarang Raden
Ayu. Mungkin seseorang akan melhatnya di jalan” jawab Ki Tumenggung
Watang “sementara itu, justru kami akan mengeluarkan wara-wara yang
lebih keras sifatnya, agar Raden Juwiring menyerah. Seolah-oeh kami
akan membebaskan segala kesalahan kepada Rara Warih jika Raden
Juwiring tidak tertangkap” Raden Ayu mengangguk-angguk. Sambil
tersenyum ia berkata “Silahkan Ki Tumenggung. Aku justru sependapat
sekali. Tidak seorangpun memang boleh mengetahui bahwa Rara Warih
telah dibebaskan, agar masih ada satu kemungkinan seperti yang Ki
Tumenggung harapkan. Meskipun harapan itu sangat kecil” Dengan
demikian maka di antara Raden Ayu dan Ki Tumenggung Watang itu telah
tercapai satu persetujuan, meskipun Tumenggung Watang itu telah
tersinggung oleh sikap kumpeni yang seolah-olah dengan sesuka
hatinya dapat memer intah segala bagian dalam jalur keprajuritan di
Surakarta. Namun iapun seakan-akan telah kalah janji, bahwa ia sama
sekali tidak akan menimpakan kesalahan Juwiring danPangeran
Ranakusuma kepada gadis itu, sehingga jika ia berkeberatan untuk
melepaskan gadis itu, maka seolah-olah ialah yang memersulit justru
ia adalah orang yang pertama- tama mengatakan, bahwa Rara Warih
tidak bersalah sama sekali. Setelah Ki Tumenggung berjanji untuk
mengirimkan Rara Warih setelah gelap sehingga tidak akan ada orang
lain yang mengetahui, dengan kereta yang terdapat di istana
Ranakusuman, maka Raden Ayu itupun telah mohon kesempatan untuk
bertemu dengan anak gadisnya. Tetapi Raden Ayu itu tidak memerlukan
waktu yang lama. Ia hanya mengatakan beberapa patah kata tentang
rencana yang akan dilakukan oleh Ki Tumenggung Watang atas gadis
itu. Rara Warih memandang wajah ibunya dengan tatapan mata yang
buram. Meskipun bibirnya mengucap terima kasih, tetapi hatinya
bagaikan menjadi hancur. Ia sadar apa yang telah dilakukan oleh
ibundanya. Ibundanya telah mengorbankan apa saja bagi kebebasannya.
Tetapi Rara Warih berusaha untuk menahan hatinya. Ia tidak mau
menyinggung perasaan ibunya yang telah berbuat apa saja baginya. Ia
sadar, bahwa yang dilakukan oleh ibundanya itu justru karena
ibundanya sangat mencintainya. Namun demikian, Raden Ayu Galihwar it
meninggalkan bilik itu, Rara Warih telah menjatuhkan dirinya di
pembaringannya. Ia tidak dapat menahan gejolak perasaannya. Alangkah
pahitnya nasib yang menimpa dirinya. “Apakah sudah seimbang
pengorbanan yang diberikan oleh ibunda bagi kebebasanku“ tangis Rara
Warih. Namun Rara Warihpun sadar, bahwa yang dilakukan oleh
ibundanya bukan saja bagi kebebasannya. Sebelumnya Ibundanya pernah
melakukannya, justru karena ibundanyaadalah seorang puteri yang
tamak, yang ingin memiliki jauh lebih banyak dari yang dapat
diberikan oleh ayahandanya. Rara Warih hampir tidak dapat menahan
diri lagi. Hampir saja ia menangis menjerit sekuat-kuatnya untuk
melepaskan pepat di dadanya. Tetapi dalam pada itu, seorang emban
telah memasuki biliknya. Dengan suara lembut ia berkata “Puteri,
kenapa puteri justru menangis?“ Rara Warih berusaha untuk menahan
diri. Tetapi justru karena itu maka iapun menjadi terisak-isak.
Dadanya bagaikan menjadi pepat oleh tangis yang tertahan di
lehernya. “Sudahlah puteri“ emban itu beringsut mendekat “Aku tidak
pernah membawa patrem lagi seperti yang puteri perintahkan” Rara
Warih mengangguk kecil. Tetapi isaknya masih saja menyesakkan
dadanya. “Aku akan menemani puteri untuk mengisi waktu puteri, agar
puteri tidak selalu berduka” berkata emban itu. ”katakan puteri, apa
yang puteri kehendaki” Rara Warih menggeleng lemah. Tetapi tangisnya
mulai mereda. Meskipun Rara Warih tahu, bahwa emban itu sebenarnya
adalah petugas yang harus mengawasinya, tetapi sikapnya terlalu baik
dan keibuan. Karena itulah, maka emban itu memang dapat mengisi
hatinya yang seakan-akan dalam kekosongan. Dalam pada itu,
sebenarnyalah yang dijanjikan oleh Tumenggung Watang. Ketika
Surakarta mulai disaput oleh gelapnya malam, maka Tumenggung
Watangpun telah menyiapkan sebuah kereta. Meskipun pada dasarnya ia
percaya kepada para perwiranya, namun ia sendirilah yang akan
mengantar Rara Warih ke istana Sinduratan. Bagaimanapun juga, ia
masih mempertimbangkan kemungkinan yang buruk yang dapat terjadi
atas puteri itu.Karena menurut penilaian para, prajurit, gadis itu
adalah seorang tahanan, anak seorang pengkhianat yang dapat
diperlakukan sekehendak hati mereka. Kedatangan Rara Warih disambut
oleh ibunya dengan tiik air mata di pelupuknya. Tetapi seperti yang
selalu dilakukan, ia berusaha untuk tidak tenggelam ke dalam
dunianya yang suram. “Terima kasih Ki Tumenggung” berkata Raden Ayu
itu kepada Ki Tumenggung. Tetapi ketika ia mempersilahkan Tumenggung
itu duduk, maka Tumenggung Watang menjawab “Terma kasih Raden Ayu.
Aku masih mempunyai tugas di rumah” Raden Ayu itu tersenyum. Katanya
“Baiklah. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih” Tumenggung
itupun kemudian minta diri pula kepada Pangeran Sindurata. sebelum
sejenak kemudian keretanya berderap meninggalkan istana itu.
Sepeninggal Ki Tumenggung, maka Raden Ayupun segera mengajak Rara
Warih masuk. Kepada Pangeran Sindurata. Raden Ayu itupun memberi
tahukan bahwa Rara Warih diij inkan tinggal di istana itu, namun
bersifat rahasia. Tidak seorangpun boleh mengetahuinya. “Para hamba
istana inipun harus diberitahukan, agar mereka tidak membuka rahasia
ini“ minta Raden Ayu kepada ayahanda “jika hal ini didengar oleh
para Senapati diSurakarta dan kumpeni, maka Rara Warih tentu akan
diambil lagi dan ditahan di tempat yang lebih sulit untuk ditemui”
“Serahkan hal itu kepadaku” jawab Pangeran Sindurata. Dalam pada
itu. justru di har i berikutnya, telah dikeluarkan wara-wara, bahwa
waktu yang disediakan bagi Juwir ing dan anak buahnya tinggal dua
hari lagi. Bukan saja Juwir ing teapi juga anak buahnya, bekas
pasukan berkuda, harus menyerahkan dir i. Jika tidak, maka semua
kesalahan akan ditimpakan kepada Rara Warih yang juga tertangkap di
padepokan Jati Aking, di antara pasukan Raden Juwiring. Wara-wara
itu segera dapat didengar oleh para petugas sandi dari pasukan
Pangeran Mangkubumi, sehingga hal itupun segera terdengar pula oleh
Ki Wandawa. Karena itu, maka Ki Wandawapun segera memanggil Juwiring
dan saudara angkatnya, Buntal untuk mendapat penjelasan bagaimana
sikap yang akan diambilnya. Keterangan itu membuat Juwiring menjadi
cemas. Dengan wajah yang tegang ia berkata “Aku pernah berjanji
kepada ibunda Galihwarit untuk segera kembali. Tetapi aku sudah
terlambat satu hari. Tetapi sebaiknya aku harus menghadap untuk
mendapat penjelasannya” “Pergilah, tetapi kau harus berhati-hati.
Mungkin wara-wara ini memang satu jebakan, agar kau berada di
sekitar istana Ranakusuman atau di daerah tertentu yang mungkin akan
kau datangi. di antaranya adalah istana Sinduratan?” pesan Ki
Wandawa. Juwiringpun kemudian mempersiapkan dirinya. Ia memang harus
berhati-hati sekali. Benturan-benturan kecil antara pasukan Pangeran
Mangkubumi dengan kumpeni dan prajurit Surakarta yang terjadi di
beberapa tempat, membuat para prajurit Surakarta itu semakin ketat
mengawasi keadaan. “Aku akan ikut bersamamu kakang“ Arum mulai
merengek.“Perjalanan ini sangat berbahaya” jawab Juwiring. “Tetapi
aku akan dapat mengetahui, apakah kau boleh masuk ke istana
Sinduratan atau tidak” desis Arum. “Bagaimana mungkin” sahut Buntal.
“Aku akan mendahului kalian memasuki istana itu. Aku dapat saja
membawa dagangan apapun juga. Kau tidak akan dapat mengulangi
caramu. Jika di sekitar istana itu ada beberapa orang pasukan sandi
dari Surakarta dan orang-orang upahan kumpeni, mereka akan segera
mengenalmu. Tetapi tidak terhadapku” berkata Arum. Buntal
mengerutkan keningnya. Tetapi Juwiringpun kemudian
mengangguk-angguk. Desisnya “Ada juga baiknya. He, kau mau menjual
apa yang pantas kau bawa masuk ke istana Sinduratan?“ “Apa saja.
Mungkin sayuran. Mungkin juga tikar pandan atau reramuan jamu.
Mangir atau lulur” jawab Arum “ayah Danatirta tentu akan dapat
membuatnya” Akhirnya mereka sepakat untuk segera berangkat ke
Surakarta dengan cara yang telah mereka setujui. Mereka memasuki
kota ketika matahari mulai naik di hari berikutnya. Waktunya memang.
sudah dekat dengan batas yang diberikan oleh para pemimpin di
Surakarta. Juwiringpun kemudian menjadi semakin cemas ketika ia
mengetahui bahwa tuntutan para pemimpin pasukan berkuda itu telah
berkembang. Bukan saja Juwir ing, tetapi juga para pengikutnya,
terutama bekas prajurit pasukan berkuda yang berpihak kepada
Pangeran Mangkubumi. Dengan membawa reramuan obat-obatan, Arum
berjalan di depan. di belakangnya Buntal dan Juwiring berjalan
seolah- olah tidak menghiraukan gadis itu sama sekali. Dengan segala
cara Juwiring berusaha untuk menyamarkan wajahnya. Dengan
goresan-goresan kecil, pada bibir dan pelupukmatanya, ia sudah
nampak berubah. Juga karena pakaiannya yang lusuh dan kakinya yang
agak timpang. Bahkan kadang-kadang Buntal harus tertawa sendiri
melihat sikap Raden Juwiring itu. “Sst, kau tentu menganggap aku
pengecut” desis Juwiring. “Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi orang
yang demikian itu tentu akan sangat menderita. Tidak akan ada
seorang gadispun yang akan tertarik. Wajah yang kotor, buruk dan
cacat” sahut Buntal. Juwiringpum tersenyum. Ia harus mempertahankan
sikapnya sebagai seorang yang agak timpang, meskipun hanya sedikit.
“Jika aku harus berjalan dengan cara ini sehari penuh, maka aku akan
benar-benar menjadi timpang” desisnya. Untuk menjaga segala
kemungkinan, maka Buntal dan Juwiring telah berhenti beberapa puluh
langkah dari regol Sinduratan, sementara Arum sambil membawa
reramuan obat-obatan yang dibuat dari dedaunan dan jenis akar empon-
empon memasuki regol Sinduratan. Tidak seorangpun yang berminat
untuk membeli reramuan obat-obatan itu. Namun Arum sudah melihat,
tidak ada kesiagaan khusus di dalam halaman istana Pangeran
Sindurata. Meskipun demikian, Arum masih juga berusaha untuk dapat
bertemu dengan Raden Ayu Ranakusuma. Dengan nekad ia berkata kepada
pelayan yang menolak untuk membeli itu “Raden Ayu Ranakusuma pernah
berpesan kepadaku untuk membawa reramuan obat-obatan untuk sakit
pening dan yang penting adalah pesanan Raden Ayu bagi kesehatannya
agar nampak awet muda. Mangir dan lulur yang terbuat dari sejenis
akar yang khusus”“Apakah Raden Ayu pernah memesannya?“ bertanya
pelayannya. “Ya. Aku pernah mendapat pesan itu” jawab Arum. Tetapi
ia tidak menduga bahwa pelayan itu bertanya “Dimana kau bertemu
dengan Raden Ayu?“ Sejenak Arum kebingungan. Namun keumdian ia
menjawab asal saja “di muka regol ini. Pagi-pagi benar. Matahari
masih belum terbit. Nampaknya Raden Ayu sedang berjalan-jalan di
halaman istana ini. Regol baru dibuka sedikit ketika tiba-tiba saja
Raden Ayu itu mendorong pintu regol. Akupun berhenti dan berjongkok
di hadapannya” Pelayan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya “Aku akan menyampaikannya kepada Raden Ayu” Ketika Raden Ayu
mendengar keterangan pelayannya itu, dengan serta merta ia menjawab
“Ia tentu berbohong. Aku tidak pernah memesan reramuan obat-obatan
semacam itu. Katakan, aku tidak memerlukannya” Tetapi ketika pelayan
itu pergi, baru Raden Ayu itu sadar, bahwa pada saat semacam itu,
maka dengan tergesa-gesa iapun segera menyusul pelayannya. Arum
merasa kecewa sekali mendengar jawaban pelayan itu. Tetapi
harapannya telah tumbuh kembali ketika ia melihat seorang puteri
yang muncul di belakang pelayan itu. “Itukah perempuan yang
mengatakan bahwa aku telah memesan reramuan obat-obatan?“ bertanya
Raden Ayu Galihwar it. Arum menjadi berdebar-debar. Jika Raden Ayu
itu justru marah kepadanya, maka ia akan mengalami kesulitan. “Ya
Raden Ayu, Anak inilah yang mengatakannya” jawab pelayannya.Arum
menarik nafas dalam-dalam ketika Raden Ayu itu justru berkata “Aku
baru ingat. Aku memang pernah memesannya“ Pelayan itu termangu-mangu
sejenak. Tetapi ketika ia melihat Raden Ayu itu tersenyum, maka
iapun segera beringsut pergi. Demikian pelayan itu pergi, Raden
Ayupun mendekati Arum sambil bertanya “Mungkin aku benar-benar lupa,
apakah kau memang pernah datang kemar i?“ Arum tidak melepaskan
kesempatan itu. Katanya kemudian “Ampun puteri. Hamba adalah anak
dari Jati Aking” Raden Ayu Ranakusuma mengerutkan keningnya. Ia
pernah mendengar nama Jati Aking. Karena Raden Ayu itu masih
ragu-ragu, maka Arumpun menjelaskan sebelum ada orang lain yang
mendekat “Hamba adalah utusan Raden Juwir ing” “O“ Raden Ayu itu
mengangguk-angguk “dimana anak itu sekarang he?“ “Raden Juwiring
merasa bahwa pengawasan kota menjadi semakin rapat. Apalagi
wara-wara terakhir yang mungkin dapat menjebaknya ke dalam
perangkap. Karena itu, hamba harus meyakinkan, apakah Raden Juwiring
dapat menghadap” desis Arum. “Tentu. Tidak ada apa-apa di sini. Biar
lah ia menghadap, aku memang sudah menunggunya. Ia datang lewat saat
yang dijanjikannya” jawab Raden Ayu itu kemudian. “Hamba akan
memanggilnya” berkata Arum kemudian. Arumpun kemudian bergeser ke
regol. Ia melihat Juwiring dan Buntal beberapa puluh langkah dari
regol itu. Kemudian dengan isyarat gadis itu memberitahukan bahwa
mereka dapat memasuki halaman istana.Juwiring dan Buntalpun melihat
isyarat itu. Karena itu, maka merekapun segera mendekat. Di luar
regol keduanyapun tidak melihat sesuatu yang mencur igakan. Ketiga
anak Jati Aking itu telah dibawa ke serambi belakang Sambil berjalan
Raden Ayu itu berkata “Seandainya prajurit Surakarta dan kumpeni
ingin menjebakmu, aku kira tidak akan berada di sekitar tempat ini
Juwir ing, karena di dalam pengertian mereka, aku sangat membencimu
seperti yang terjadi sebelum aku diusir dari istana Ranakusuman oleh
Pangeran Ranakusuma. Dan untuk mengelabui mereka, akupun seolah-olah
masih tetap bersikap seperti itu” “Terima kasih ibunda” jawab Raden
Juwiring “bahwa dengan demikian ibunda telah berusaha untuk
memberikan tempat kepadaku” “Marilah. Aku kira kalian aman di
sini”desis Raden Ayu itu pula. Sementara itu, demikian mereka sampai
di serambi belakang, Juwiring telah dikejutkan oleh hadirnya seorang
gadis. Dengan serta merta ia berdesis “Diajeng Warih?“ Gadis itu
terkejut. Dipandanginya tiga orang dalam pakaian lusuh yang
mengikuti ibundanya itu. Namun akhirnya Rara Warihpun mengenalnya
juga, bahwa salah seorang dari mereka adalah Raden Juwir ing.
“Kakangmas Juwiring” desis gadis itu tertahan. Namun gadis itupun
kemudian berlari memeluknya. Ia tidak dapat menahan tangisnya yang
bagaikan meledak. Tiba-tiba saja hatinya telah bergejolak ketika
dilihatnya kakandanya.Rasa-rasanya ia ingin meneriakkan segala luka
di hatinya. Tentang dirinya sendiri, tentang pengorbanan ibundanya
yang membuat hatinya sangat pedih. Dan tentang keadaan keluarganya
dalam keseluruhan di masa yang gawat itu. “Jangan menangis begitu
Warih“ bisik Raden Juwir ing “Kita dapat berbicara tentang
persoalan-persoalan yang kita hadapi dengan hati yang jernih, justru
karena kita harus mengamati segalanya dengan saksama” Raden Ayu
Galihwaritpun menepuk bahu anak gadisnya sambil berkata “Sudahlah
Warih. Seperti aku katakan, kau harus menghadapi segalanya dengan
tabah” Warih masih menangis. Tetapi di dalam hatinya ia berkata “Aku
akan tabah menghadapi persoalan yang sedang aku hadapi. Tetapi
rasa-rasanya aku tidak dapat menahan pedih hati ini j ika aku
menyadari, apa yang telah ibunda lakukan” Namun dalam pada itu.
perlahan-lahan akhirnya Warihpun dapat menguasai dir inya. Ketika
tangisnya mereda, maka merekapun kemudian duduk di serambi belakang.
Yang pertama-tama ditanyakan oleh Juwir ing, justru kenapa Rara
Warih telah berada di istana Sinduratan. Dengan singkat Raden Ayu
Galihwarit menceriterakan tentang Rara Warih dan sikap Tumenggung
Watang. Rara Warih memang telah dibebaskan dengan rahasia. Dan Raden
Ayu itupun tidak menyembunyikan sikapnya terhadap Juwiring. “Tetapi
bagaimana dengan wara-wara itu?“ bertanya Juwiring “Apakah jika aku
t idak datang menyerahkan dir i, diajeng Warih akan diambil lagi?“
“Tidak” jawab Raden Ayu “Tumenggung Watang telah mengatakan
kepadaku, bahwa Rara Warih pada dasarnya tidak akan terkena noda
dari kesalahan yang dianggap telah dilakukan oeh Pangeran Ranakusuma
dan kau lakukanbersama para prajurit dari pasukan berkuda di bawah
pimpinanmu” Juwiring mengangguk-angguk. Ternyata Raden Ayu Galihwar
it telah berbuat sesuatu yang justru dapat memper ingan
perjuangannya. Ia tidak akan dibebani lagi oleh perasaan bersalah
terhadap adiknya yang disangkanya masih tetap ditahan dan akan
mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan seandainya ia tidak
menyerahkan diri. Dalam pada itu, Raden Ayu itupun berkata
“Juwiring. Untuk sementara kau tidak usah memikirkan adikmu.
Serahkan ia kepadaku. Aku akan berusaha melindunginya dengan caraku.
Lakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Perjuanganmu masih panjang
di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi” “Terima kasih
ibunda” jawab Juwir ing “namun pada suatu saat, tentu keadaan
diajeng Warihpun akan terancam. Tetapi aku kira untuk sementara aku
percayakan keadaannya kepada ibunda. Pada suatu saat, jika perlu,
diajeng Warih harus menyingkir keluar kota. Lambat atau cepat, para
prajurit Surakarta dan kumpeni akan mencium juga permainan ini” “Aku
mengerti Juwir ing” jawab Raden Ayu “j ika saatnya tiba,
terserahlah. Mana yang lebih baik menurut pertimbanganmu” “Baiklah
ibunda” berkata Raden Juwiring kemudian “ternyata keadaan diajeng
Warih lebih baik dar i yang aku duga. Dengan demikian maka aku akan
sempat melakukan pesan ayahanda di saat terakhir di medan
pertempuran itu” “Apa pesan ayahandamu?“ bertanya Raden Ayu.
“Ayahanda gugur sampyuh dengan Tumenggung Sindura yang berpasangan
dengan Pangeran Yudakusumo. Pada tangan ayahanda terdapat segores
luka bekas sentuhan senjata Tumenggung Sindura yang luar biasa.
Nampaknya peluru dan senjata-senjata yang lain tidak diperhatikan
olehayahanda. Namun goresan senjata Tumenggung Sindura telah
mengantarkan ayahanda ke dalam lingkungan maut” jawab Juwiring. Lalu
“Namun ayahanda masih sempat berpesan, agar senjata Tumenggung
Sindura yang sempat merenggut jiwa ayahanda itu di singkirkan saja
jauh-jauh agar tidak dimiliki oleh siapapun, terutama mereka yang
mempunyai maksud kurang baik” Raden Ayu Galihwarit
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah Juwiring. Lakukan pesan
ayahandamu. Mudah- mudahan, apa yang akan dapat aku lakukanpun tidak
terbatas pada perlindungan terhadap Rara Warih. Jika kau mendengar
sesuatu yang penting, kau dapat datang kepadaku. Mudah- mudahan aku
dapat membantumu” Raden Juwiring itupun kemudian minta dir i bersama
kedua saudara angkatnya. Namun rasa-rasanya kakinya menjadi berat
ketika ia melihat Rara Warih menit ikkan air matanya pula. Betapa
berat hati Rara Warih menghadapi kenyataan- kenyataan tendang
dirinya dan tentang ibundanya. Namun ia tidak dapat mengatakannya
kepada siapapun juga. “Jangan kau tangisi kakandamu” berkata
ibundanya “lepaskan ia sebagaimana kau melepaskan saudaramu itu maju
ke medan perang” Rara Warih mengangguk. Tetapi hatinya menjerit “Aku
tidak menangisi kakangmas Juwir ing. Tetapi aku menangisi kenyataan
yang dengan kejam telah menerpa lahir dan batinku” Sejenak kemudian
maka Raden Juwir ing dan kedua saudara angkatnya itupun meninggalkan
serambi belakang. Arum tertegun sejenak, ketika Rara Warih
memeluknya sambil berbisik “Kenanglah aku. Aku ingin berada di
antara kalian”Arum hanya mengangguk kecil. Tetapi iapun seorang
gadis. sehingga ketika terasa titik air mata Rara Warih di
pundaknya, matanyapun terasa menjadi panas. Dalam pada itu, maka
seperti ketika memasuki istana itu, Arumlah yang berjalan lebih
dahulu. Baru kemudian Buntal dan Juwiring mengikut i setelah Arum
meninggalkan regol istana itu beberapa puluh langkah. Ketiga
anak-anak muda itupun telah tiba dengan selamat d! pondokan mereka
di antara pasukan Pangeran Mangkubumi. Seelah mereka menyampaikan
laporan kepada Kiai Danatirta, maka merekapun langsung menghadap Ki
Wandawa. “Apakah kau yakin bahwa Raden Ayu Ranakusuma itu tidak
sekedar menenangkan hatimu?“ bertanya Ki Wandawa. “Menilik bahwa
Rara Warih benar-benar sudah berada di istana Sinduratan, maka
ibunda Galihwarit tentu, berkata sebenarnya” jawab Raden Juwiring
“atau jika ibunda Galihwar it teribat dalam satu usaha menangkap
aku, maka itu tentu sudah dilakukannya” Ki Wandawa
mengangguk-angguk. Katanya “Sokur lah. Jika demikian maka Raden Ayu
itu justru akan dapat menjadi salah satu tempat untuk mendapatkan
bahan dan keterangan tentang keadaan di dalam kota Surakarta” “Aku
percaya kepada ibunda Galihwarit” berkata Raden Juwiring “agaknya
penyesalan yang sangat telah merubah segala-galanya” “Hal itu memang
mungkin sekali terjadi. Raden Ayu Galihwar it telah kehilangan anak
laki- lakinya. Kemudian suaminya, apapun sebabnya” sahut Ki Wandawa.
Dalam pada itu, maka Juwiringpun telah memberitahukan kepada Ki
Wandawa bahwa ia ingin melaksanakan perintah ayahandanya yang
terakhir, menyingkirkan ker is yang dianggap oleh ayahandanya akan
dapat menumbuhkankesulitan justru karena ker is itu adalah keris
yang berbahaya. Menurut ayahandanya keris itu tentu masih akan
menuntut korban demi korban, justru orang-orang yang tidak dapat
dilukai oleh jenis senjata yang lain, karena keris itu memiliki
kekuatan yang luar biasa. “Ayahanda Pangeran Ranakusuma telah gugur
oleh goresan keris itu” berkata Juwiring. “Ya” jawab Ki Wandawa “Aku
sudah mendengarnya. Memang mengejutkan bahwa hanya oleh segores luka
kecil Pangeran Ranakusuma gugur di peperangan. Menurut kabar yang
tersebar dari mulut ke mulut, pelurupun tidak dapat melukainya dan
apalagi merenggut hidupnya” namun kemudian Ki Wandawa berkata
“Tetapi kenapa Pangeran Ranakusuma tidak lebih baik berpesan, agar
keris itu dapat kau pergunakan. Bukankah dengan demikian kau akan
dapat melawan orang-orang yang menurut kepercayaan orang lain tidak
dapat dilukai dengan apapun juga?“ Raden Juwiring menggeleng.
Jawabnya “Aku masih belum yakin akan keteguhan pr ibadiku. Mungkin
keris itu memiliki kekuatan yang luar biasa sehingga dapat
mempengaruhi pribadiku sehingga menimbulkan akibat yang kurang baik
bagiku sendiri” Ki Wandawa mengerutkan keningnya. Dicobanya untuk
mengingat apa yang dikenalnya pada seseorang yang bernama Ki
Tumenggung Sindura. Namun Ki Wandawa tidak banyak mengetahui tentang
orang itu, meskipun ia pernah mendengar kebesaran namanya. Tetapi
agaknya Ki Wandawa tidak ingin mengecewakan Radon Juwiring. Taoun
kemudan menyerahkan hal itu kepada anak muda itu untuk menentukan
sikap. Namun ia berpesan “Tetapi kau harus berusaha menyesuaikan dir
imu Raden. Jika kau benar-benar akan berangkat ke Gunung Lawu. maka
kau aku harap memberitahukan lebih dahulu kepadaku kepastian waktu.
Aku berpendapat bahwa lebih baik Raden melakukansetelah waktu yang
dijadikan batasan saat penyerahanmu itu lewat. Mungkin ada satu
perkembangan baru yang menuntut perhatianmu atas adikmu yang berada
di bawah perlindungan ibundanya itu” Raden Juwiring
mengangguk-angguk. Agaknya ia memang harus menunggu sampai har i
terakhir Dalam pada itu, suasana benar-benar menjadi semakin panas.
Kumpeni telah bergerak di beberapa tempat bukan saja untuk
menghadapi langsung Pangeran Mangkubumi. Tetapi perlawanan telah
menjadi semakin meluas di seluruh daerah Surakarta. Namun sejalan
dengan itu, maka Kumpenipun telah mengambl tindakan yang sangat
menyakiti hati rakyat Surakarta. Dengan kasar kumpeni memaksa rakyat
untuk menyatakan tanda takluk. Bahkan sampai ke daerah yang paling
miskin sekalipun, tanda takluk itu harus diber ikan. Di rumah-rumah
yang besar dan kecukupan kumpeni mengambil sendiri apa yang
disebutnya sebagai upeti dan tanda takluk itu. Pendok emas, permata
dan perhiasan- perhiasan. Namun mereka yang tidak memilikinya,
kumpeni mempunyai cara tersendiri. Orang-orang miskin itu harus
menyusun kelompok-kelompok kecil pada setiap padukuhan. Setiap
kelompok yang terdiri dari paling banyak duapuluh lima orang itu
harus menyerahkan satu tanda takluk. Sebuah pendok emas. “Kami
orang-orang miskin tuan“ keluh orang-orang itu “Kami tidak mempunyai
sesuatu yang dapat kami berikansebagai tanda takluk itu. Tidak ada
yang dapat kami jual dan tidak ada yang dapat kami tukarkan” Tetapi
kumpeni itu sama sekali tidak menghiraukainnya. Mereka memberikan
waktu sepuluh hari bagi orang-orang yang paling miskin. Jika
kelompok-kelompok kecil mereka tidak dapat menyerahkan satu pendok
emas, maka mereka akan dihukum menurut hukum kumpeni. Hukum
peperangan. “Tetapi bagaimana kami dapat memenuhinya“ tangis
orang-orang miskin itu. “Itu urusanmu” jawab seorang prajurit
kumpeni yang garang, berkumis panjang dengan pedang di tangan “atau
minta saja kepada orang yang sudah berkhianat itu” “Siapa? Kepada
siapa?“ bertanya orang-orang miskin itu. “Pangeran Mangkubumi.
Mintalah kepadanya atau kepada siapa saja. Aku tidak peduli. Sepuluh
hari lagi, aku akan datang mengambil pendok itu” Kumpeni sama sekali
tidak mau tahu kesulitan rakyat kecil itu. Jika mula-mula mereka
mengambil j ika mereka menemukannya di rumah-rumah yang besar dan
berkecukupan, maka kemudian mereka sudah memaksa orang-orang miskin
untuk berusaha menyediakan. Sementara itu, orang-orang miskin itupun
menjadi kebingungan. Mereka t idak mempunyai alasan apapun juga yang
dapat diberikan kepada kumpeni. “Memang semua ini kesalahan Pangeran
Mangkubumi” berkata salah seorang dari orang-orang miskin itu.
“Kenapa Pangeran Mangkubumi?“ bertanya kawannya “justru Pangeran
Mangkubumi ingin membebaskan kita dari pemerasan seperti ini”“Jika
Pangeran Mangkubumi t idak memberontak, maka kita tidak harus
memberikan tanda takluk itu”? jawab orang pertama. “Kau bodoh. Jika
kumpeni itu lebih lama berada di Surakarta, ia tidak hanya minta
tanda takluk berupa pondok emas. Tetapi segalanya yang ada pada kita
akan dimintanya. Sawah, ladang, pekarangan dan akhirnya kita semua
akan menjadi budak-budak yang tidak berarti” jawab yang lain. “Itu
pikiran yang sangat picik” jawab orang pertama “Mereka datang untuk
memberikan kebahagiaan hidup kepada kita” “Mereka adalah perampok
yang maha besar. He, bukankah kita kadang-kadang mengumpati pencuri
yang mengambil seekor ayam di kandang kita. Nah, apa yang diambil
kompeni dari kita? Perampok hanya memaksa membawa apa yang dapat
mereka bawa. Tetapi maha perampok ini telah memaksa kita menyediakan
barang-barang yang akan mereka rampok” jawab yang lain. Namun
perselisihan itu justru telah berkembang. Sebagian dari rakyat
Surakarta menganggap sumber kesalahan adalah Pangeran Mangkubumi
yang telah memberontak. Namun. sebagian yang lain semakin merasa,
bahwa mereka memang memer lukan perlindungan dari kekuasaan golongan
yang mereka anggap sebagai perampok yang tidak terlawan kehendaknya.
Peristiwa-peristiwa semacam itu t idak luput dari perhatian Pangeran
Mangkubumi. Sikap yang sangat licik dari kumpeni itu membuat
Pangeran Mangkubumi sangat berprihatin. Ia semula tidak menduga,
bahwa kelicikan orang asing itu benar- benar tanpa perasaan
perikemanusiaan sama sekali. Orang- orang asing yang menganggap
dirinya sebagai manusia yang memiliki kelebihan dalam peradaban.
Yang mengatakan bahwa kedatangannya di negeri ini justru
untukmengembangkan ilmu yang mereka punyai bagi kesejahteraan umat
manusia. Sebagaimana halnya yang dilakukan oleh kumpeni dan prajurit
Surakarta atas Raden Juwiring. Mereka tanpa malu- malu telah
menangkap seorang gadis yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang
persoalan ayahanda dan kakandanya. Namun ia sudah disekap sebagai
taruhan. Tetapi masalah yang dialami oleh Raden Juwiring itu telah
sampai pula kepada Pangeran Mangkubumi. Dengan nada datar ia berkata
kepada Ki Wandawa yang memberikan laporan kepada Pangeran itu
“Sokurlah. Mudah-mudahan Rara Warih benar-benar tidak mengalami
kesulitan untuk seterusnya” Dengan berdebar-debar Juwiring menunggu
Har i terakhir dari batas waktu yang diberikan kepadanya,
sebagaimana orang-orang miskin itupun dengan berdebar-debar dan
gelisah berusaha mengumpulkan uang di antara kelompok-kelompok
mereka. Sebenarnyalah ketidak adilan telah menjalar dan membakar
sendi-sendi kehidupan di Surakarta. Sementara orang-orang miskin itu
diperas oleh kumpeni untuk menyerahkan upeti sebagai tanda takluk
agar mereka tidak dianggap ikut serta memberontak, maka di Surakarta
sendiri kumpeni telah membagikan barang-barang yang mewah kepada
para pemimpin pemerintahan dan para Senapati. Seolah-olah kumpeni
itu datang ke Surakarta dengan hadiah yang melimpah dari kerajaan
mereka di seberang lautan. Mereka menjelajahi benua dan samodra
dengan niat khusus datang ke Surakarta untuk memberikan tanda
persahabatan yang tidak ternilai harganya. Ketika seorang Demang
mengumpati para pemimpin Surakarta yang bodoh dan mudah dikelabuhi
itu, kawannya, juga seorang Demang yang berada di dalam lingkungan
pasukan Pangeran Mangkubumi berkata “Tidak kakang.Orang-orang
Surakarta tidak sebodoh itu. Mereka bukan orang-orang berjiwa tumpul
dan sama sekali t idak tahu, bahwa kumpeni telah menipu mereka.
Tetapi sebagaimana seseorang yang terkena suap, maka para pemimpin
yang berpihak kepada kumpeni itu menjadi pura-pura bodoh dan tidak
tahu. Sebenarnya mereka mengerti, tingkah laku kumpeni di negeri
ini. Tetapi justru karena ketamakan mereka itulah, maka mereka lebih
senang disebut bodoh dam tidak mengerti bahwa kumpeni telah mengadu
domba di antara mereka dengan rakyat Surakarta sendiri” Kawannya
mengangguk-angguk. Katanya “Nampaknya memang begitu. Kau benar. Adi
nampaknya memandang keadaan dari sudut yang lebih baik dari
tanggapanku. Ternyata akulah yang bodoh. Bukan para pemimpin dan
para Senapati di Surakarta” Dalam pada itu, maka har i kelima
sebagaimana merupakan batasan bagi Juwiring telah lampau. Dengan
hati yang gelisah Juwiring menunggu apakah ada sesuatu yang terjadi
atas Rara Warih. Bagaimanapun juga jantungnya menjadi berdebar-debar
ketika ia mendengar wara-wara bahwa pimpinan pasukan berkuda di
Surakarta dan kumpeni telah melaksanakan dengan tegas sebagaimana di
umumkan sebelumnya terhadap Rara Warih. Namun demikian, masih
terbuka kesempatan bagi Raden Juwiring dan para pengikutnya, para
prajurit pasukan berkuda yang menyeberang, untuk datang menyerahkan
diri. Sehingga masih ada kemungkinan untuk memperingan hukuman yang
telah dijatuhkan atas Rara Warih. “Jika ibundamu telah berjanj i
untuk melindungi adikmu itu, maka ia akan melakukannya” berkata Ki
Wandawa “karena pada umumnya seseorang yang keras hati seperti
ibundamu itu, juga seorang yang bertanggung jawab”“Tetapi apakah aku
diperkenankan untuk membuktikannya sehingga aku benar-benar yakin
akan keselamatannya?“ beritanya Juwiring. Ki Wandawa tidak
berkeberatan. Dengan cara seperti yang pernah dilakukan bersama
Buntal dan Arum, Raden Juwiring dapat meyakinkan dir inya bahwa
wara-wara itu hanya sekedar usaha untuk mengelabuinya, karena Rara
Warih masih tetap berada di istana Sinduratan. Namun dalam
kesempatan Rara Warih dapat berbicara sendiri kepada Raden Juwir
ing, maka dengan nada memelas ia berkata “Bawa aku serta kakangmas.
Aku tidak tahan mengalami tekanan perasaan di sini. Aku tidak dapat
menerima dengan ikhlas cara yang ditempuh oleh ibunda bagi
kebebasanku” Juwiring mengerutkan keningnya, la mengerti apa yang
dimaksudkan oleh Rara Warih, Juwiringpun mengetahui apakah yang
pernah dilakukan oleh ibundanya Galihwar it sebelum ia diantar
pulang ke istana Sinduratan. Namun untuk membawa Rara Warih pada
saat semacam itu, dimana justru dirinya sedang menjadi pusat
perhatian para prajurit Surakarta dari pasukan berkuda, tentu akan
sangat berbahaya. Karena itu, maka Raden Juwiring itupun berkata
“Aku mengerti kesulitan perasaanmu diajeng. Tetapi tunggulah keadaan
sedikit mereda. Kau dan aku saat ini sedang menjadi bahan
pembicaraan di kalangan para prajurit dari pasukan berkuda dan
kumpeni. Cobalah menahan perasaan dengan sabar. Apa yang dilakukan
ibunda sekarang, tentu berbeda tujuannya dengan apa yang dilakukan
oleh ibunda pada saat itu” “Tetapi apakah sudah sewajarnya kakang,
bahwa cara apapun dapat ditempuh untuk mencapai satu tujuan?“
bertanya Rara Warih.“Tentu tidak diajeng. Tetapi apa yang dilakukan
oleh ibunda mempunyai penilaian tersendiri” jawab Raden Juwiring
“Kita akan dapat menilai apa yang pernah dilakukan oldh ibunda
sebelumnya” “Ya, aku mengerti kakang. Bukankah kau bermaksud bahwa
ibunda telah mengalami kemajuan berpikir. Yang dilakukan itu
sekarang mempunyai latar belakang dan tujuan lebih baik dari yang
pernah dilakukan sebelumnya” sahut Rara. Warih. Raden Juwiring
menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga, bagi Rara Warih,
seorang gadis yang menginjak masa dewasa, tindakan ibundanya itu
benar-benar sangat menusuk perasaannya. Tetapi ia itidak dapat
mencegahnya. Siapapun tidak, apalagi karena hal itu dilakukan dengan
dasar landasan sikap satu pengorbanan seorang ibu buat anak
gadisnya. Karena itu, maka Rara Warihpun tidak dapat memaksa untuk
mengikut inya saat itu. Tetapi ia berharap bahwa ia tidak harus
terlalu lama menunggu. Demikianlah, maka Raden Juwiringpun segera
minta dir i. Namun dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit berkata
kepadanya “Juwiring. Aku sudah terlanjur tenggelam ke dalam lumpur.
Lebih baik aku dapat memungut mutiaranya sekaligus daripada aku
hanya sekedar harus berlumuran tanpa arti, atau hanya untuk tujuan
yang tunggal. Karena itu, aku harap kau sering datang kemar i. Jika
kau berhalangan, kau dapat mencari seorang penghubung yang dapat kau
percaya” “Maksud ibunda?“ bertanya Raden Juwiring. “Mungkin aku
dapat mendengar serba sedikit pembicaraan orang-orang asing tentang
rencana mereka dalam hubungannya dengan Pangeran Mangkubumi atau
para Pangeran yang telah manunggal dengannya” jawab ibundanya.Raden
Juwiring menarik nafas panjang. Ia mengerti sepenuhnya, apa yang
dimaksud oleh Raden Ayu Galihwarit yang mengatakannya tanpa tedheng
aling-aling di hadapan anak gadisnya. Namun dalam pada itu, Arumlah
yang menyahut “Apakah aku dapat melakukan tugas itu? Mungkin, aku
dapat melepaskan diri dari perhatian para prajurit dam kumpeni,
karena aku belumbanyak dikenal” Raden Ayu Galihwarit memandang gadis
itu sejenak. Kemudian sambil mengusap rambut Arum ia berkata “Tugas
ini adalah tugas yang berat anak manis” “Aku akan mencobanya” jawab
Arum “sebagaimana orang- orang lain yang dengan suka rela memanggil
tugas yang berat dalam perjuangan ini” Raden Ayu Galihwarit
tersenyum. Katanya kemudian “Segala sesuatu terserah pertimbangan
Juwir ing. Mungkin kau dapat melakukan. Mungkin orang lain. Tetapi
aku minta ada semacam pertanda bagi orang yang dipercaya menghubungi
aku. Kita dapat berjanji, apakah yang harus diucapkannya, agar aku
percaya bahwa orang itu adalah utusanmu Raden Juwiring” Juwiring
merenung sejenak. Lalu katanya “Baiklah ibunda. Aku akan memberikan,
pesan agar orang yang datang kepada ibunda, kecuali di antara kami
bertiga, untuk mengucapkan nama keris yang akan aku labuh ke Gunung
Lawu seperti pesan ayahanda, Cangkring” “Baiklah. Hanya orang yang
menyebut nama keris itu yang aku percaya bahwa ia adalah utusanmu.
Selanjutnya aku akan berpesan kepada orang itu, kata sandi
berikutnya, untuk utusan mendatang. Jangan Jupa” Demikianlah, Raden
Juwir ing dan saudara angkatnya meninggalkan istana Sinduratan.
Seperti biasanya, maka Rara Warih keluar regol halaman mendahului
saudara-saudaranya.Namun dalam pada itu, Raden Juwiring sudah
mendapat kepastian, bahwa prajurit dari pasukan berkuda tidak
sungguh-sungguh bertindak atas Rara Warih. Karena itu, maka menurut
pertimbangan Raden Juwiring, maka ia mempunyai kesempatan untuk
melakukan tugas yang dibebankan-oleh ayahandanya, menyingkirkan ker
is milik Ki Sindura, Tetapi ternyata bahwa rencana itupun masih
harus tertunda. Seperti pesan ibundanya, maka tiga hari setelah
Juwiring menghadap, maka ia ingin memenuhi permintaan ibundanya
sebelum ia pergi ke Gunung Lawu. Menurut laporan yang sampai pada
pasukan Pangeran Mangkubumi, prajur it Surakarta dan kumpeni nampak
melakukan kegiatan yang meningkat. Karena itu, mungkin ada sesuatu
yang dapat didengarnya dari Raden Ayu Galihwarit. “Kenapa kakang
lebih percaya kepada orang lain, dari pada kepadaku?“ bertanya Arum.
“Soalnya bukan tidak percaya” jawab Juwir ing “Tetapi tugas ini
adalah tugas yang sangat berat. Biarlah orang lain yang
melakukannya. Kau dapat melakukan tugas-tugas yang lain saja”
“Kakang“ minta Arum “Aku mohon kali ini kakang percaya kepadaku” Aku
bukan Iagi-kanak-kanak yang harus dimanjakan di padepokan. Tetapi
sudah waktunya aku mengemban tugas-tugas semacam ini. Apalagi tugas
ini bukanlah tugas pancer. Bukan akulah yang seharusnya mendapat
keterangan bagi pasukan Pangeran Mangkubumi. Tetapi yang kita
lakukan adalah sekedar mencar i keterangan pelengkap. Yang
barangkali berguna bagi bahan banding keterangan yang seharusnya
didapat oleh petugas sandi yang sebenarnya” Raden Juwiring menarik
nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya wajah Buntal yang
tegang.Namun akhirnya Raden Juwiring itupun berkata kepada Buntal
“Aku serahkan keputusan terakhir kepadamu” Buntal menarik nafas
dalam-dalam. Bagaimanapun juga. ia merasa berat untuk melepaskan
Arum. Karena itu. hampir di luar sadarnya ia berkata “Biar lah aku
mengantarkannya” Wajah Juwiring menegang. Tetapi Buntal telah
mendahuluinya berdesis “Jangan takut terjadi sesuatu atas kami
berdua. Mungkin kakang Juwiring menganggap bahwa bahaya yang
mengancam lebih gawat adalah justru datang dari kami berdua sendiri
Bukan dar i kumpeni” “Ah” desis Arum “Kita bukan orang-orang gila.
Kita sedang berada dalam perjuangan” “Maaf” potong Juwiring “bukan
maksudku” “Baiklah. Bagaimana pendapatmu, jika aku juga pergi?“
bertanya Buntal kemudian “Tetapi jangan mengatakan bahwa kau akan
pergi juga. Dalam keadaan seperti ini, agaknya akan sangat
berbahaya” “Baiklah. Tetapi kita harus minta ij in kepada Ki
Wandawa. Mungkin ada pesan sandi yang harus kau ketahui” berkata
Juwiring. Sebenarnyalah bahwa dalam keadaan yang gawat, Ki Wandawa
telah mengirimkan beberapa petugas sandi langsung dari pusat
pertahanan Pangeran Mangkubumi di Gebang. Karena itu, maka untuk
tidak terjadi salah paham, maka Buntal dan Arum yang akan memasuki
Kota Surakartapuin telah mendapat pesan pula dari Ki Wandawa dengan
kata sandi yang ber laku untuk t iga hari. “Ingat” berkata Juwiring
kepada Buntal dan Arum “jika kau bertemu dengan petugas sandi
Pangeran Mangkubumi, kau harus dapat menyahut jika mereka menyapa
dengan kata sandi. Jika seseorang menyapa kata “sapu“ maka kau harus
menjawab “angin“ Kau mengerti?““Ya. Kami akan berusaha untuk
mengingat-ingat pesan itu” jawab Buntal. “Baiklah. Besok kalian akan
berangkat pagi-pagi benar” berkata Juwiring Demikianlah ketika malam
turun. Arum justru menjadi gelisah. Telah beberapa kali ia masuk ke
kota Surakarta bersama kedua saudara angkatnya. Namun tugas yang
akan dilakukan esek pagi. justru atas permintaannya sendiri,
membuatnya berdebar-debar. Dalam pada itu, malam itu Rara Warihpun
tidak dapat nyenyak pula. Hampir setiap malam ia gelisah karena
ibundanya pergi. Ketika senja turun, sebuah kereta telah menjemput
ibundanya. Kereta yang sudah sering datang ke istana Sinduratan.
Bahkan kadang-kadang dengan seorang perwira kumpeni. Ketika istana
itu menjadi sepi. hatinya semakin ngelangut. Bahkan ia tidak dapat
menahan lagi air matanya yang membasahi bantalnya, betapapun ia
mencoba bertahan. Namun demikian, Rara Warih itupun sibuk
membersihkan wajahnya ketika ia mendengar derap kaki-kaki kuda yang
memasuki halaman. Sapi malam telah terkoyak seperti hati Rara Warih
sendiri. Rara Warih menutup telinganya ketika ia mendengar
langkah-langkah gontai di serambi. Kemudian terdengar suara
ibundanya tertawa. Nyaring tetapi ngeri. “Silahkan Raden Ayu masuk“
terdengar suara berat yang tersendat-sendat. Dan Rara Warihpun
mengerti, itu suara seorang perwira kumpeni yang mengantarkan
ibundanya. “Raden Ayu tentu pening“ terdengar suara itu pula. “Aku
tidak apa-apa“ Raden Ayu tertawa pula “malam masih panjang. He, mana
alas kakiku. O, lampu- lampu menjadi buram”“Raden Ayu sedang mabuk.
Silahkan masuk” perwira kumpeni itu mempersilahkan. “Tinggalkan aku
di sini. Aku tidak apa-apa. Aku kenal dimana aku harus masuk “
sekali lagi suara Raden Ayu meninggi. Nampaknya perwira kumpeni itu
termangu-mangu. Namun kemudian terdengar derap sepatunya melangkah
menjauh. Sejenak kemudian terdengar kereta itu pergi. Demikian suara
kereta itu hilang terdengar pintu samping diketuk perlahan. “Warih,
Warih. Kau sudah tidur?“ suara ibundanya merendah. Di telinga Rara
Warih suara itu berbeda sekali dengan suara ibundanya ketika perwira
kumpeni itu masih ada. Sekali lagi Rara Warih mengusap matanya.
Perlahan-lahan ia melangkah ke pintu. Sebentar kemudian pintu itupun
berderit. Ketika pintu terbuka, maka Raden Ayu itupun mencium kening
puterinya. Namun terasa nafas Rara Warih menjadi sesak. di mulut
ibundanya ia mencium bau minuman keras. “Ibunda memang sedang mabuk“
katanya di dalamhati. Tetapi ia terkejut ketika terdengar suara
Raden Ayu Galihwar it tenang “Aku tidak apa-apa Warih. Aku memang
sengaja berkumur dengan minuman keras. Tetapi aku tidak menelannya.
Dan akupun memang berusaha agar aku dianggap oleh mereka sedang
mabuk” Rara Warih tercenung sejenak. Ia tersadar ketika ibundanya
yang sudah melangkah masuk itu berkata “Tutuplah pintunya” Rara
Warih tersentak. Namun iapun kemudian menutup pintu samping dan
mengikuti ibundanya masuk ke dalam bilik.Ketika ibundanya berganti
pakaian, Rara Warih duduk di bibir pembar ingannya sambi menundukkan
kepalanya. Tetapi ia tidak ingin menunjukkan kepada ibundanya,
betapa hatinya bagaikan tersayat melihat tingkah ibundanya itu.
Meskipun demikian, Rara Warih bertanya-tanya pula di dalam hatinya,
kenapa ibundanya berpura-pura mabuk. Dalam pada itu, sambil membuka
pakaiannya, Raden Ayu itu berkata perlahan-lahan “Warih. Sebenarnya
aku memer lukan kakandamu. Aku harap ia datang dalam satu hari ini.
Jika tidak, maka yang akan terjadi itu akan menggoncangkan
perjuangan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said” Wajah Rara Warih
berkerut. Sekilas ia melihat ibundanya yang nampak masih muda dan
cantik. Namun kata-kata ibundanya itu memang menarik perhatiannya.
“Apakah yang ibunda ketahui tentang rencana kumpeni?“ bertanya Rara
Warih tiba-tiba. “Justru itulah aku telah berpura-pura mabuk” jawab
ibundanya “dengan demikian mereka tidak menganggap bahwa aku dengan
sadar mendengar pembicaraan sebagian dari antara para perwira
kumpeni dan beberapa orang Senapati prajurit Surakarta” “Ibu
mendengar berita penting?“ bertanya Warih pula. “Ya. Kumpeni sudah
menyiapkan pasukan segelar sepapan bersama prajurit Surakarta untuk
mengepung Panambangan” jawab ibundanya. “Panambangan? Bukankah
Panambangan merupakan iandasan perjuangan Raden Mas Said?” desis
Rara Warih. “Ya. Karena itulah, maka berita ini harus segera
didengar oleh Raden Mas Said” desis ibundanya. ”Kapan mereka akan
melakukannya?“ bertanya Rara Warih.”Secepatnya. Pada akhir pekan ini
mereka mulai beri gerak sehingga pasukan Raden Mas Said akan
terjepit. Mereka telah memperhitungkan segala sesuatu sehingga Raden
Mas Said tidak akan sempat lolos” jawab ibundanya, lalu “dengan
demikian, maka Pangeran Mangkubumi dalam keseluruhan akan menjadi
lemah, karena kekuatan Raden Mas Said cukup besar di antara seluruh
pasukan Pangeran Mangkubumi dan para pemimpin lainnya yang sedang
berjuang menegakkan kewibawaan Surakarta” Rara Warih menjadi tegang.
Kemudian katanya “Jika dalam dua hari ini kakanda Juwir ing tidak
datang, biarlah aku akan mencarinya” “Tidak mungkin Warih. Kita
belum tahu dimana Pangeran Mangkubumi membangun landasan perjuangan.
Kita hanya mendengar bahwa Pangeran Mangkubumi berada di Gebang, di
samping pasukanmya yang berada di Sukawati. Tetapi untuk menemukan
satu orangpun di antara mereka di padukuhan Gebang, tentu akan
sangat sulit ” cegah ibundanya. “Tetapi itu lebih baik dar ipada
kita tidak berusaha sama sekali ibunda” bantah Rara Warih yang
sebenarnyalah bahwa iapun ingin meninggalkan istananya, meninggalkan
daerah pertentangan di dalamhatinya sendiri. “Kita harus mencari
jalan lain” desis ibundanya “tetapi kita memang wajib mengerti
jalan” Ibundanya yang telah selesai dengan berganti pakaian itupun
masih pergi ke pakiwan. Kemudian setelah ia berada kembali di dalam
biliknya maka iapun membaringkan dir inya sambil berdesis “Aku lelah
sekali Warih. Aku ingin tidur” Rara Warih tidak menjawab. Ketika
ibundanya berbaring, maka iapun telah mencoba berbaring pula di
pembaringannya. Namun ternyata bahwa Raden Ayu Galihwaritlah yang
telah tertidur lebih dahulu dengan nyenyaknya.“O” desis Rara Warih
“ibunda dapat tidur nyenyak tanpa digelisahkan oleh tingkah lakunya”
Namun akhirnya, menjelang pagi, Rara Warihpun menjadi lelap pula.
Meskipun demikian, di dalam tidur, rasa-rasanya ia masih saja
dibayangi oleh kegelisahan dan mimpi yang buruk tentang dirinya
sendir i dan tentang ibundanya. Tetapi justru karena gadis itu baru
dapat lelap menjelang pagi, maka iapun telah terlambat bangun pula.
Rara Warih terkejut ketika ia membuka matanya, ia sudah melihat
cahaya cerah masuk ke dalam biliknya lewat pintu yang terbuka.
Perlahan-lahan ia bangkit di pembaringan yang lain ibundanya telah
tidak nampak. Karena itulah, maka iapun segera bangkit dan melangkah
keluar. Namun tiba-tiba langkahnya tertegun ketika ia melihat dua
orang anak muda, saudara angkat kakandanya, telah duduk pada sehelai
tikar di serambi. “O, sepagi ini kalian telah datang?“ bertanya Rara
Warih. “Ya puteri. Kami sengaja datang pagi-pagi, selagi masih belum
terlalu panas, dan kami tidak akan kemalaman di jalan pada
perjalanan kembali” jawab Arum. “Ibunda menunggu kehadiran kalian
sejak tadi malam. Untunglah bahwa pagi ini kalian benar-benar
datang” berkata Rara Warih. “Ya puteri. Rasa-rasanya memang ada yang
berpesan di dalam hati ini, agar secepatnya kami menghadap” jawab
Arum. Kemudian katanya “Kami sudah menghadap Raden Ayu yang baru
pergi ke belakang sebentar” “Apakah ibunda sudah memberikan
pesan-pesannya?“ bertanya Warih. “Belum. Raden Ayu belum mengatakan
apa-apa” jawab Arum.Warihpun kemudian mempersilahkan keduanya
menunggu. Namun sebelum ibundanya datang sekali lagi ia berpesan
“Katakan kepada kakangmas Juwir ing. Kapan aku diij inkan bersamanya
dan bersama kalian“ Arum hanya dapat mengangguk kecil sambil
berdesis “Akan aku sampaikan, demikian aku kembali” Warih tidak
dapat berkata lebih banyak lagi, karena ibundanya telah datang.
Warihlah yang kemudian meninggalkan kedua anak muda itu dan pergi ke
pakiwan untuk mencuci mukanya. Dalam pada itu, maka Raden Ayupun
telah member ikan beberapa penjelasan mengenai rencana kumpeni dan
pasukan Surakarta untuk menyerang Penambangan. “Ternyata kumpeni
ingin melemahkan kedudukan Pangeran Mangkubumi dari
bagian-bagiannya” berkata Raden Ayu Ranakusuma “j ika ia berhasil,
maka ia akan dengan mudah menghancurkan kekuatan-kekuatan para
pengikut Pangeran Mangkubumi yang tersebar. Baru yang terakhir
mereka akan memukul induk kekuatan Pangeran Mangkubumi” Berita itu
merupakan ber ita yang sangat penting bagi Pangeran Mangkubumi.
Karena itu, maka ber ita itu harus segera mereka sampaikan kepada Ki
Wandawa. Raden Ayu Ranakusuma memberikan secara terperinci rencana
kumpeni untuk mengepung Penambangan menurut pendengarannya. “Cepat
sampaikan berita ini” berkata Raden Ayu Ranakusuma “bukan berarti
aku mengusirmu. Tetapi kau dapat mengerti maksudku” “Ya Raden Ayu.
Kami mengerti. Semakin cepat berita ini sampai kepada Ki Wandawa.
agaknya memang semakin baik” jawab Arum.Meskipun demikian, Arum dan
Buntal sempat juga sekedar minum dan makan makanan yang disuguhkan
kepada mereka. Baru kemudian mereka mohon dir i. Ternyata berita itu
benar-benar menggelisahkan Ki Wandawa. Ketika ia mener ima Raden
Juwiring yang menghadap bersama Buntal dan Arum untuk memberikan
laporan tentang rencana kumpeni itu, maka Ki Wandawa segera
mengadakan uraian tentang laporan-laporan yang lain. Akhirnya Ki
Wandawa mengambil kesimpulan, berdasarkan beberapa laporan, bahwa
keterangan Arum dan Buntal itu dapat dipercaya. Apa yang didengar
oleh Raden Ayu Ranakusuma itu tentu merupakan bagian dari satu
keputusan yang besar. Karena itu, maka Ki Wandawapun secara
terperinci telah melaporkan segalanya itu kepada Pangeran
Mangkubumi. Dilengkapi dengan sikap dan pertimbangan Ki Wandawa
sendiri. Pangeran Mangkubumipum merenungi laporan itu beberapa saat.
Kemudian katanya “Siapkan beberapa orang pilihan. Mereka harus pergi
ke Penambangan dan menyampaikan suratku kepada Raden Mas Said”
Ternyata bahwa pilihan Ki Wandawa jatuh kepada Raden Juwiring yang
pernah memimpin bagian dari pasukan berkuda. Bersama Buntal ia
mendapat perintah untuk menghadap Raden Mas Said di Penambangan
untuk menyampaikan surat kepada Raden Mas Said. Untuk perjalanan
yang panjang dan berbahaya ini, Juwiring telah mohon kepada Kiai
Danatirta, agar menahan Arum yang tentu akan ingin mengikutinya Agar
gadis itu tidak menjadi sangat kecewa, maka ia mendapat tugas untuk
menghadap Raden Ayu Ranakusuma selang satu hari kemudian.“Hindari
daerah Jatimalang” pesan Ki Wandawa “sepasukan prajurit Surakarta
dan kumpeni berada di Jatimalang dalam kesiagaan tinggi” “Baik Ki
Wandawa” jawab Juwir ing “Kami akan memilih jalan yang pada hemat
kami, tidak terlalu gawat, tetapi juga tidak melingkar terlalu
panjang” “Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan” berkata Ki
Wandawa. Sebenarnyalah Arum hampir saja memaksa untuk pergi bersama
mereka. Tetapi ketika Juwiring justru menyuruhnya menghadap Raden
Ayu Ranakusuma, maka iapun akhirnya bersedia untuk t inggal.
“Perkembangan keadaan ini cepat sekali terjadi” berkata Juwiring
”Karena itu, semakin sering kita berhubungan dengan ibunda
Galihwarit, kita akan semakin banyak dan cepat mendapat keterangan.
Meskipun dengan demikian, seolah- olah kita ikut menyakit i hati
diajeng Warih. Namun pada suatu saat, aku akan mengambil sikap
khusus, sesuai dengan keinginan diajeng Rara Warih untuk berada di
antara kita” Juwiring berhenti sejenak, lalu “jika besok aku belum
kembali, dan kau mendapat keterangan yang penting dari ibunda, maka
kaupun harus segera menghadap Ki Wandawa” Demikianlah, maka Juwir
ing dan Buntal tidak membuang waktu lagi. Merekapun kemudian berpacu
dengan kuda yang tegar dan besar langsung menuju ke Penambangan.
Jarak yang cukup jauh, apalagi mereka masih harus menghindari
prajurit Surakarta dan kumpeni yang diketahui berpusat di
Jatimalang. Segalanya rasa-rasanya menjadi tergesa-gesa. Namun Raden
Juwiring yang pernah menjadi salah seorang Senapati muda dalam
lingkungan pasukan berkuda itupun tidak mengecewakan. Sementara
Buntal yang pernah menempa diridi padepokan Jati Aking itupun dapat
mengimbangi ketram- pilan berkuda Raden Juwiring. Kedua anak muda
itu berpacu seperti angin. Mereka bukan saja harus secepatnya
menghadap Raden Mas Said. Tetapi merekapun harus dapat mengatasi
hambatan-hambatan yang mungkin timbul di perjalanan. Ternyata bahwa
keduanya tidak menjumpai rintangan yang berarti. Meskipun demikian,
mereka sempat melihat, betapa rakyat Surakarta menjadi semakin
menderita karena tingkah laku kumpeni. Dengan licik mereka berusaha
melemparkan segala kesalahan kepada Pangeran Mangkubumi dan mereka
yang menempatkan dir i di dalam garis perjuangannya. Raden Juwiring
dan Buntal selamat menghadap Raden Mas Said. Mereka segera
menyampaikan surat dari Pangeran Mangkubumi, yang memberikan
beberapa keterangan dan petunjuk. Ternyata Raden Mas Said sependapat
sepenuhnya dengan Pangeran Mangkubumi. Karena itu, dengan cepat ia
memanggil beberapa orang pemimpin dalam pasukannya. Beberapa saat
mereka berunding. Kemudian Juwiring dan Buntalpun dipanggilnya
menghadap di antara para pemimpin pasukan Raden Mas Said. “Aku akan
memberikan jawaban” berkata Raden Mas Said “jika karena sesuatu hal
surat itu harus aku musnahkan di perjalanan, maka sampaikan pesanku,
bahwa pasukanku sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Sesuai
dengan petunjuk yang aku terima, serta pertimbangan dari para
pemimpin di dalam pasukanku, aku akan pergi ke Keduwang. Segalanya
akan aku jalankan sebagaimana seharusnya” Dengan demikian, maka
Raden Juwiringpun harus segera kembali pula menghadap Pangeran
Mangkubumi untuk menyampaikan surat balasan Raden Mas Said. Namun
jika mereka menganggap perlu, surat itu dapat merekamusnahkan,
sementara mereka telah mengetahui isi surat dari Raden Mas Said itu.
Pagi-pagi benar di hari berikutnya. Raden Juwiring dan Buntal itupun
berpacu kembali ke Gebang, landasan utama pasukan Pangeran
Mangkubumi. Angin pagi yang silir telah mengusap wajah-wajah mereka.
Sementara langit yang merah mulai diwarnai oleh sinar matahari pagi
yang sebentar lagi akan naik ke punggung Gunung. “Hari ini Arum
menghadap Raden Ayu Ranakusuma” gumam Buntal tiba-tiba. “Ya” sahut
Juwiring “Tetapi ia sudah terbiasa melakukannya. Nampaknya
orang-orang Surakarta masih tetap menghormat seorang perempuan,
sehingga mereka tidak mencur igainya” “Arum memang pantas untuk
menjadi seorang penjual jamu. Agaknya ia akan membawa reramuan jamu
dan seperti biasanya mangir dan lulur” desis Buntal. Namun,
bagaimanapun juga Raden Juwiring menangkap kegelisahan hati anak
muda itu. Surakarta sedang dalam suasana yang hangat, karena
persiapan-persiapan yang dilakukan oleh para prajur it Surakarta dan
kumpeni. Karena itu, maka Juwiringpun berkata “Buntal. Aku kira
perhatian para prajurit Surakarta dan kumpeni lebih banyak tertuju
kepada orang laki- laki. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa Arum
tidak harus berhati-hati. Aku kira pengenalan Arum atas keadaan
Surakarta akan banyak menolongnya” Buntal mengangguk-angguk. Iapun
berusaha untuk menenangkan hatinya. Yang dilakukan oleh Arum adalah
hal yang sudah dua tiga kali dilakukannya tanpa ada kesulitan.
Seandainya di Surakarta diadakan pemeriksaan pada setiap orang yang
lewat di pintu gerbang, pada Arum tidak akandiketemukan apapun juga.
selain reramuan obat-obatan, mangir dan lulur yang sebenarnya.
Sebenarnyalah pada saat itu Arum sudah mendekati kota Surakarta,
Ketika matahari kemudian terbit. Arum berjalan semakin cepat agar ia
tidak ker iangan. Kedatangannya di istana Sinduratan disambut oleh
Rara Warih yang wajahnya seolah-olah bertambah hari bertambah muram.
Namun kedatangan Arum nampaknya telah member ikan satu hembusan
udara yang segar. “Marilah“ Rara Warih mempersilahkan “Apakah kau
hanya seorang diri?“ “Ya puteri. Aku hanya seorang diri” jawab Arum.
“Kau memang luar biasa. Dalam keadaan yang gawat ini, kau berani
melalui lapisan- lapisan peronda di Surakarta” desis Arum. “Aku
hanyalah seorang perempuan, puteri. Tidak ada seorangpun yang
menghiraukan. Seorang perempuan padesan yang sama sekali t idak
berarti bagi mereka“ jawab Arum. “Tetapi kau cantik Arum” desis Rara
Warih “kecantikan kadang-kadang dapat menjadi racun bagi diri kita
sendir i” “Apakah maksud puteri?“ bertanya Arum. “Kecantikan akan
dapat menjerat kita ke dalam kesulitan. Kadang-kadang kita akan
mengalami peristiwa yang paling pahit di dalam kehidupan ini justru
karena kita cantik. Tetapi mungkin dengan penuh kesadaran, kita
dengan sengaja menjerumuskan dir i ke dalam satu kehidupan yang
gelap, justru karena kita cantik. Seseorang dapat mempergunakan
kecantikannya untuk maksud tertentu. Baik atau buruk, dengan cara
yang baik, tetapi juga dengan cara yang buruk” Arum mengangguk
kecil. Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh Rara Warih. Tidak
selamanya kecantikan itumenguntungkan. Namun kadang-kadang dengan
kecantikan seorang perempuan dapat menggulung bumi. Warihpun
kemudian mengajak Arum menghadap ibundanya. Dipersilahkannya gadis
itu menunggu di serambi, sementara ia memberitahukan kedatangan
gadis Itu kepada ibundanya yang sedang berhias. “O, gadis itu datang
lagi?“ bertanya Raden Ayu kepada Rara Warih. “Ya ibunda, ia hanya
datang seorang dir i” jawab Rara Warih. “Seorang diri?“ wajah Raden
Ayu itupun menegang. Tergopoh-gopoh ia keluar dari biliknya. Tetapi
ketika Arum kemudian menceriterakan bahwa Raden Juwiring dan Buntal
mendapat tugas ke Penambangan, maka Raden Ayu itupun menarik nafas
dalam-dalam. “Sokur lah” berkata Raden Ayu “Aku menjadi cemas, bahwa
sesuatu telah terjadi dengan anak-anak itu” “Tidak Raden Ayu. Tidak
terjadi sesuatu dengan mereka. Justru karena mereka sedang bertugas,
maka aku diperintahkannya untuk menghadap Raden Ayu” berkata Arum
kemudian. “Baiklah. Tetapi agaknya masih belum ada sesuatu
perkembangan yang menarik perhatian” jawab Raden Ayu. “Akupun tahu,
bahwa sebenarnya tugas ini sekedar menahan agar aku t idak memaksa
ikut ke Penambangan” jawab Arum dengan nada dalam. Raden Ayu itu
tersenyum. Katanya “Kau memang lebih baik datang kepadaku daripada
ke Penambangan. Kau tentu membawa mangir dan lulur. Ternyata mangir
dan lulur yang kau bawa itu benar-benar bermutu tinggi. Aku senang
memakainya. Dan akupun sudah mencoba menawarkankepada beberapa orang
puteri. Mereka mulai tertarik dan ingin membeli. Bukankah dengan
demikian ada alasanmu untuk datang setiap saat ke rumah ini” ”Ya, ya
Raden Ayu. Aku akan mengatakan kepada ayah, agar ayah membuatnya
lebih banyak lagi” sahut Arum. Raden Ayu itupun tertawa. Namun
kemudian katanya “Arum. Meskipun demikian ada satu hal yang dapat
kau sampaikan kepada para pemimpin dalam pasukan Pangeran
Mangkubumi, bahwa pasukan yang akan dikir im ke Penambangan itu
adalah pasukan yang langsung berangkat dari kota ini. Mereka tidak
menggerakkan pasukan di Jatimalang. Bahkan pasukan di Jatimalang itu
telah disiapkan untuk mencegat jika ada bantuan datang dari arah
utara, tentu maksudnya pasukan dar i Sukawati atau dari Gebang, bagi
pasukan Raden Mas Said yang berada di Penambangan, apabila
Penambangan telah terkepung” Arum mengangguk-angguk. Katanya
“Baiklah Raden Ayu. Aku kira hal ini penting juga aku sampaikan.
Msskipun barangkali para pemimpin pasukan khususnya pasukan sandi
Pangeran Mangkubumi sudah mengetahui, bahwa pasukan Surakarta dan
kumpeni berada di Jatimalang, namun mereka perlu mendapat keterangan
bahwa pasukan itu telah disiapkan untuk memotong setiap iring-ir
ingan pasukan yang menuju ke Penambangan” Setelah beristirahat
sebentar, maka Arumpun kemudian mohon dir i untuk segera kembali ke
Gebang. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Rara Warih memohon
kepada ibundanya “Ibunda, apakah aku diperkenankan ikut bersama
dengan Arum ke Gebang? Aku ingin tinggal bersama kakangmas Juwir ing
dan pamanda Pangeran Mangkubumi” Raden Ayu itu mengerutkan
keningnya. Namun katanya kemudian “Aku tidak berkeberatan Warih.
Tetapi jangan sekarang, maka kau akan menjadi beban bagi
Arum,sementara Arum yang hanya seorang gadis itu masih harus menjaga
dirinya sendiri” Sementara itu Arumpun menyambungnya “Jangan
sekarang puteri. Aku akan menjadi ketakutan. Aku tidak akan berani
mempertanggung jawabkan puteri di sepanjang perjalanan” Kekecewaan
yang dalam membayang di wajah Rara Warih. Tetapi iapun menyadari,
bahwa dengan demikian ia hanya akan menjadi beban saja bagi gadis
itu. Karena itu, betapapun hatinya bergejolak, maka ia harus tetap
berada di sisi ibundanya. Betapapun hatinya menjadi semakin pahit.
Sejenak kemudian, maka Arumpun meninggalkan istana Sinduratan. Ia
merasa bahwa satu dua orang bangsawan muda, pernah mengenalnya
ketika ia berkunjung ke istana Ranakusuman. Tetapi pengenalan yang
sekilas itu tentu tidak akan banyak menimbulkan kesulitan kepadanya,
justru karena pakaiannya yang lusuh dan sikapnya sebagai seorang
gadis kebanyakan yang lewat di jalan-jalan raya seperti kebanyakan
perempuan padesan. Namun dalam pada itu, Arumpun sempat melihat
kesiagaan prajurit Surakarta. Sepasukan prajurit dari pasukan
berkuda lewat berderap di sepanjang jalan kota. Ketika ia berpapasan
dengan dua orang laki-laki, ia mendengar bahwa pasukan itu baru
pulang dari alun-alun ke barak mereka, setelah mereka mengadakan
latihan sodoran. Dari orang lain, Arumpun mendengar bahwa
latihan-latihan menjadi semakin meningkat. Bahkan hampir tidak
pernah ada hari yang luang. “Tentu persiapan bagi pasukan yang akan
menuju ke Penambangan” desis Arum.Sebenarnyalah bahwa kumpeni telah
menyiapkan pasukannya sebaik-baiknya. Mereka menyadari, bahwa
kecuali pasukan induk yang dipimpin langsung oleh Pangeran
Mangkubumi di Gebang atau di Sukawati, ternyata bahwa pasukan Raden
Mas Saidlah yang paling kuat. Karena itu, maka untuk menghancurkan
Penambangan, kumpeni dan pasukan Surakarta telah mengerahkan
pasukannya yang terbaik. Pasukan yang langsung dikirim dar i kota
Surakarta. Seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galihwarit kepada
Arum, bahwa pasukan di Jatimalang justru disiapkan untuk mencegat j
ika ada bantuan yang menuju ke Penambangan. Namun dalam-pada itu, di
hari-har i yang semakin dekat, kumpeni dan para Senapati di
Surakarta telah meniupkan kabar angin, bahwa pasukan yang disiapkan
itu justru akan menuju ke Gebang, langsung memukul induk pasukan
Pangeran Mangkubumi. Tetapi kumpeni dan para Senapati tidak
mengetahui, bahwa rencana mereka sudah didengar oleh Pangeran
Mangkubumi, justru karena kelengahan satu dua orang perwiranya di
meja bujana andrawina dan di bawah segarnya senyumRaden Ayu Galihwar
it yang menjadi semakin cantik. Kumpeni dan para pemimpin prajurit
Surakarta benar-benar telah siap. Sepasukan berkuda akan ikut
bersama pasukan segelar sepapan untuk mengepung Penambangan. Bahkan
mereka yakin, bahwa pasukan Raden Mas Said akan dapat ditumpasnya
sampai punah. Sementara itu, Arumpun telah keluar dari pintu gerbang
kota. Para prajurit yang berjaga-jaga di pintu gerbang sama sekali
tidak menghiraukannya. Yang lewat itu bagi mereka adalah seorang
gadis padesan seperti kebanyakan gadis padesan yang pergi ke kota
untuk menjual hasil kebun dan pategalannya. Pada saat Arum dalam
perjalanan kembali. Juwir ing dan Buntal masih juga memacu kudanya.
Jarak yang ditempuholeh Juwiring dan Buntal berlipat ganda dari
jarak yang ditempuh Arum. Tetapi karena mereka berkuda, maka
merekapun akan dapat lebih cepat sampai. Apalagi mereka berangkat
pada dini har i, sementara Arum baru mendekati kota. Tetapi agaknya
tidak seperti saat mereka berangkat menuju ke Penambangan. Ketika
mereka kembali dari Penambangan, melalui padukuhan kecil di hadapan
padukuhan Jatimalang, mereka telah dilihat oleh beberapa orang
peronda dari pasukan Surakarta yang berada di Jatimalang. Nampaknya
mereka menjadi cur iga melihat dua orang berpacu dengan kencangnya.
Karena itulah, maka ampat di antara merekapun segera mengejarnya.
Namun ternyata bahwa kuda Raden Juwiring dan Buntal berlari lebih
cepat, sehingga keempat kuda itu telah berjuang sekeras-kerasnya
untuk dapat menyusul. Justru semakin lama semakin jelas, bahwa dua
di antara keempat ekor kuda itu telah tertinggal. Dua yang lain
masih mampu untuk berlari mencoba mengimbangi langkah kaki kuda
Juwir ing. dan Buntal. “Mereka mengejar kita” desis Raden Juwiring.
“Hanya dua orang” sahut Buntal. “Empat orang” jawab Raden Juwir ing.
“Yang dua tertinggal. Tetapi yang dua itu agaknya masih berusaha
untuk menyusul kita” “Apakah kita akan melayani mereka?“ bertanya
Raden Juwiring. “Terserahlah kepada Raden” jawab Buntal “Tetapi kita
mempunyai kewaj iban untuk menyampaikan balasan Raden Mas Said”
Raden Juwiring mengangguk. Karena itu, iapun tidak ingin menunggu
orang-orang yang mengejarnya.Namun tiba-tiba saja Buntal berdesis
“Mereka memotong jalan” “Gila” geram Raden Juwiring “Kita tidak
sempat mengelak lagi. Tidak ada jalan simpang Atau kita akan terjun
ke sawah untuk menghindar?” Buntal tidak sempat menjawab. Dua ekor
kuda yang berhasil memotong lewat jalan setapak itu, semakin lama
menjadi semakin mendekati jalur jalan yang ditempuh oleh Juwiring
dan Buntal, justru di hadapan mereka. “Mereka lebih mengenal daerah
ini” berkata Juwiring. Sementara itu, ketika mereka berpaling,
meskipun masih cukup jauh, dua orang penunggang kuda lainnya, masih
juga mengejar mereka. “Tidak ada kemungkinan lain” desis Buntal,
“Baiklah Buntal. Kita akan bertempur. Aku terbiasa bertempur di
punggung kuda, karena aku adalah seorang Senapati muda prajurit
Surakarta dari pasukan bekuda. Cobalab menyesuaikan diri. Kuasai
kudamu baik-baik. Medan ini memang tidak menguntungkan bagi
pertempuran di atas punggung kuda. Tetapi aku akan langsung
menjatuhkan salah seorang dari keduanya demikian merekan masuk
kejalur jalan ini. “Tetapi kita belumpasti, siapakah mereka” desis
Buntal. “Aku mengenal semua cir i dari para prajurit di Surakarta.
Mereka adalah prajur it Surakarta, tetapi bukan dari pasukan berkuda
meskipun mereka berkuda. Agaknya mereka memang sedang meronda” jawab
Juwiring. “Jadi, kita akan langsung melawan mereka?“ bertanya
Buntal. “Kita harus mengambil keuntungan pada benturan pertama.
Ingat, mereka berempat. Sebentar lagi, dua orangpenunggang kuda yang
menyusul di belakang itu akan sampai pula di sini” jawab Juwiring.
Buntal mengangguk. Ia percaya kepada Raden Juwiring, karena iapun
menganggap bahwa pengalaman Raden Juwiring di lingkungan
keprajuritan lebih banyak dan luas. Sebenarnyalah Raden Juwiring
telah meninggalkan Buntal beberapa langkah. Ia tidak mau terlambat.
Demikian kedua ekor kuda lawan itu masuk ke jalur jalan yang
dilaluinya, maka iapun harus berhasil Sesaat kemudian mereka masih
berpacu. Dua ekor kuda yang memotong jalan itupun menjadi semakin
dekat, kedua orang penunggangnya itupun sudah siap pula menghadapi
segala kemungkinan. Juwiring memperhatikan sikap dari kedua orang
penunggang kuda itu. Mereka akan memasuki jalur jalan dari arah
kanan. Ada sedikit keuntungan padanya, karena keduanya agaknya akan
memegang senjata mereka dengan tangan kanan. Ketika mereka menjadi
semakin dekat, maka kedua orang penunggang kuda yang memotong jalan
itupun telah menar ik senjata mereka. Seorang yang berkumis lebat
berada di depan, dan seorang yang berkulit kehitam-hitaman berada di
belakang. Juwiringpun telah siap menghadapi penunggang yang di
depan. Ia berharap Buntal dapat menyesuaikan diri menghadap yang
seorang lagi. Saat-saat yang menegangkan itupun menjadi semakin
dekat. Ketika beberapa langkah lagi, mereka akan sampai kesimpang
tiga, maka Raden Juwiring telah mencabut pedangnya. Sekaligus
pedangnya itupun telah terayun dengan perhitungan yang tepat.
Ternyata ia dapat menyesuaikan waktu seperti yang dikehendakinya.
Kuda yang memotong jalan itu masuk selangkah lebih dahulu. Namun
dengancepatnya kuda Raden Juwiring telah menyambarnya. Sekali ayun
senjata Raden Juwiring telah tergores dipundak lawannya yang
belumsempat menempatkan dir i. Buntal ternyata menjadi
berdebar-debar. Ia berusaha berbuat seperti Raden Juwiring. Tetapi,
di saat terakhir ia telah merubah niatnya. Ia mempunyai perhitungan
tersendiri. Ketika lawannya melihat kawannya yang mendahuluinya
tidak sempat menangkis pada serangan pertama, maka orang itu
berusaha memper lambat kudanya untuk mendapatkan kesempatan mengatur
benturan di simpang tiga. Tetapi Buntalpun memperlambat kudanya
Justru dengan demikian maka kedua ekor kuda itupun bertemu di
simpang tiga. Penunggang kuda yang berkulit kehitam-hitaman itu
ternyata telah menjadi bimbang melihat Buntal yang sama sekali tidak
menarik senjatanya. Namun pada saat ia masih termangu-mangu, Buntal
telah meloncatinya dan mendorongnya bersama-sama jatuh di tanah,
sebelum orang itu sempat mengayunkan senjatanya, Keduanyapun jatuh
berguling-guling beberapa langkah. Kemudian hampir bersamaan
merekapun berloncatan berdiri tegak. Baru pada saat yang demikian
Buntal menggenggam senjatanya. Pada saat yang bersamaan Raden
Juwiring telah memutar kudanya Ternyata ia memang lebih cepat dari
lawannya. Sekali lagi ia menyambar dengan senjata terayun. Namun
lawannya sudah siap menangkis serangan itu meskipun ia telah terluka
di pundak kir i. Meskipun demikian serangan Raden Juwiring
membuatnya cemas. Ketika ia menangkis senjata Raden Juwiring yang
terayun, sehingga terjadi benturan senjata, maka terasa tangan
prajurit yang telah terluka itu menjadi sakitSebenarnyalah bahwa
Raden Juwiring pantas untuk menjadi Senapati pada pasukan berkuda.
Selagi lawannya memperbaiki kedudukannya serta genggaman pedangnya,
kuda Raden Juwiring melingkar hampir melekat sehingga kuda lawannya
yang terkejut melonjak dan surut beberapa langkah. Sekali lagi
terdengar prajurit itu mengeluh. Pedang Raden Juwiring telah sekait
lagi menggores lengan, justru tangan kanan. Prajurit itu menjadi
semakin gelisah. Luka di pundak kiri dan lengan kanannya itu terasa
menjadi pedih Ketika darah mengucur semakin banyak, maka iapun
bertambah resah. Tetapi ia masih berharap, kedua orang kawannya yang
lain, yang menjadi semakin dekat, akan dapat membantunya. Sementara
itu, orang yang kehitam-hitaman yang berhadapan dengan Buntal masih
sempat bertanya “Siapa kalian, he?“ “Sudah jelas” jawab Buntal
“seharusnya kanan mengerti siapa kami. Kami adalah orang-orang
padepokan Raga Tunggal” “Aku belum pernah mendengar padepokan Raga
Tunggal” desis orang itu. Buntal tertawa. Katanya “Karena kau akan
mati, maka kau boleh mengerti, siapakah kami. Dalam kemelut seperti
ini slangkah suburnya daerah perburuan kami. Tidak ada orang yang
sempat memperhatikan tingkah laku kami. Kami adalah segerombolan
perampok yang paling ditakuti di daerah Utara. Kami mencoba
keuntungan kami di daerah Selatan, Ternyata daerah Selatan justru
lebih subur. Kami tidak takut bertemu dengan Pangeran Mangkubumi
atau para pengikutnya” “Setan” geram prajur it yang berkulit
kehitam-hitaman itu “ternyata kalian telah merendahkan martabat para
prajurit Surakarta. Sekarang kalian harus menyerah dan karena
kaliantelah melakukan kejahatan dalam keadaan seperti sekarang, maka
kalian akan digantung di alun-alun” “Kenapa kau ributkan kami? Bagi
kami, lebih baik kami rampok sendiri daripada pendok emas dan intan
berlian dirampok oleh kumpeni. Di tangan kami, barang-barang itu
hanya berpindah tempat. Tetapi tidak akan diangkut ke tanah di
seberang benua dan samodra” jawab Buntal. Prajurit berkulit
kehitam-hitaman itu menggeram. Sejenak kemudian iapun telah siap
menyerang Buntal. Namun Buntal telah bersiap pula menghadapinya.
Karena itu, ketika prajurit itu menikamnya langsung pada arah
jantung, Buntal sempat bergeser. Justru dengan tangkasnya pula ia
mengayunkan pedangnya mendatar. Prajurit itupun sempat menangkis
serangan Buntal. Dengan cepat ia meloncat ke samping. Pada satu
putaran di atas sebelah kakinya ia mengambil jarak. Kemudian dengan
tangkasnya pula ia meloncat menyerang. Keduanyapun kemudian
bertempur dengan sengitnya. Namun beberapa saat kemudian, ternyata
bahwa pedang Buntal dapat bergerak lebih cepat. Pada saat-saat yang
menentukan, derap dua ekor kuda menjadi semakin dekat. Sementara
itu, lawan Juwiring yang telah terluka, hampir tidak mampu lagi
melawan. Ia seakan-akan menyerahkan nasibnya kepada kudanya yang
kemudian membawanya lari menyongsong kedua orang kawannya. Juwiring
tidak mengejar mereka, karena ia tidak mau terjebak. Namun ia
menjadi cemas karena kuda Buntal yang tidak nampak lagi. Tetapi ia
tidak sempat memikirkannya lebih lama. karena kedua orang lawannya
yang baru menjadi semakin dekat. Tetapi Juwiring tidak menjadi
cemas. Ia tahu pasti bahwa Buntal akan dapat mengalahkan lawannya
sebelum kedua orang baru itu sempat menguasainya.Sebenarnyalah,
ketika kedua orang lawannya yang baru itu mendekat, diiringi oleh
prajur it yang terluka itu, maka Buntal telah menghentakkan
senjatanya mengarah lambung. Tetapi lawannya tidak membiarkan
lambungnya disayat oleh pedang Buntal. Karena itu, dengan serta
merta, ia telah mengayunkan pedangnya memukul pedang Buntal. Tetapi
Buntal menar ik serangannya dengan cepat. Dengan tiba-tiba saja ia
telah meloncat dengan pedang terjulur menikam jantung, di saat dada
lawannya sedang terbuka. Lawannya tidak sempat berbuat apa-apa. Ia
hanya dapat memandangi dengan wajah tegang ujung pedang yang dengan
demikian cepatnya mematuknya. Tetapi pada saat ujung pedang itu
hampir menyentuh kulit, telah terbersit perasaan iba di hati Buntal
melihat sorot mata lawannya. Karena itu pada saat yang tepat, ia
sempat menggerakkan pergelangan tangannya sedikit sehingga ujung
pedangnya telah bergeser. Meskipun pedang itu masih menikam bagian
tepi dadanya, tetapi pedang itu tidak langsung membelah jantungnya.
Namun terdengar orang itu berdesah. Buntal yang kemudian menarik
pedangnya melihat darah mengucur dari luka yang menganga. Tetapi
orang itu tidak langsung jatuh dan mati karena lukanya itu. Dalam
pada itu, kedua orang berkuda yang baru datang itupun telah mulai
bertempur melawan Juwiring. Meskipun ia harus melawan dua orang,
tetapi keadaan medan menguntungkannya, sehingga kedua orang itu
tidak sempat menyerang bersama dari arah yang berbeda. Tetapi ketika
lawan Buntal itu sudah tidak berdaya, meskipun ia masih sempat
merangkak menepi maka Buntalpun melangkah mendekati medan. Sementara
seorang penunggang kuda yang telah dilukai oleh Juwir ing menjadi
semakin lemah duduk di punggung kudanya.Dalam pada itu, dua orang
prajurit yang bertempur melawan Juwir ing itupun segera menyesuaikan
dir i. Karena mereka t idak mendapat banyak kesempatan untuk
bertempur berpasangan, maka akhirnya yang seorang telah berusaha
untuk menyerang Buntal. Di luar dugaan, orang itupun telah memutar
kudanya dan langsung menyambar Buntal yang masih berdir i
termangu-mangu. Buntal terkejut ketika ia melihat pedang orang
berkuda itu terayun ke lehernya. Karena itu, maka dengan serta merta
iapun segera meloncat dan jatuh berguling. Hampir saja ia terperosok
masuk ke dalam parit yang ternyata airnya tidak terlalu bersih.
Ketika Buntal meloncat bangkit, maka ia melihat kuda itu telah
menyambarnya lagi. Karena itu, maka iapun segera meloncati parit di
pinggir jalan itu, sehingga senjata lawannya tidak dapat
menggapainya.
Jilid 24 NAMPAKNYA lawannya menjadi
marah. Karena itu, maka japun segera menghentikan kudanya dan
meloncat turun. Buntal yang memang lebih mantap bertempur diatas
tanah, segera meloncati parit itu lagi dan dengan tegak ia berdiri
menghadapi lawannya yang mendekatinya. Pertempuran yang serupa telah
terjadi pula Raden Juwiring dengan kemampuannya bertempur diatas
kuda, telah mendesak lawannya. Namun nampaknya kurang cermat
mengendalikan kudanya, sehingga tiba-tiba saja kudanya telah
tergelincir dan jatuh terguling kedalam parit, Malang bagi prajur it
itu. Diluar kuasanya mengendalikan diri, ternyata senjatanya telah
melukainya sendiri. Lambungnya telah dikoyak tajamsenjatanya sendiri
Karena itu, ketika kudanya berusaha untuk bangun, justru prajurit
itu dengan susah payah berusaha untuk bangkit. Tetapi Juwiring
terkejut ketika melihat darah mengalir dari tubuh lawannya. Barulah
Juwiring sadar, bahwa lawannya telah terluka karena senjatanya
sendiri.Yang masih memberikan perlawanan adalah lawan Buntal.
Seorang yang bertubuh tinggi tegap berjambang panjang, tetapi ia
tidak akan berdaya jika Juwiringpun ikut pula melawannya. Karena
itu, maka Juwiring yang masih duduk di punggung kudanya berkata
”Sudahlah. Menyerah sajalah. Tidak ada gunanya kau melawan. Kamipun
sebenarnya tidak ingin melawan prajurit Surakarta. Jika kami
terpaksa melakukannya, maka kami hanya sekedar menghindar. Mungkin
kalian akan menangkap kami, karena kami adalah orang-orang dari
padepokan didaerah Utara.“ “Padepokan Rasa Tunggal”desis Buntal
menyambung. Lawan Buntal yang terluka di pinggir jalan, yang
mendengar jawaban itu menjadi heran. Yang diucapkan itu berbeda
dengan pendengarannya terdahulu. Karena itu. tiba-tiba saja ia ingin
meyakinkan. Betapa sakit mencengkam dadanya, namun ia masih bertanya
”Padepokan Rasa Tunggal atau Raga Tunggal ? “ Buntal tergagap. Namun
kemudian dijawabnya ”Raga Tunggal. Bukankah aku mengatakannya sejak
semula Raga Tunggal? Nah, jika kalian ingin memburu kami pergilah ke
padepokan Raga Tunggal,” Prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu
termangu-mangu. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa tiga
orang kawannya sudah tidak berdaya. Meskipun demikian, ia masih
bertanya ”Jika aku menyerah, apa yang akan kau lakukan ?“Sebagaimana
pesan yang selalu didengar dari para pemimpin pasukan Pangeran
Mangkubumi, maka Juwir ingpun menjawab ”Aku tidak akan
berbuat-apa-apa. Tetapi jangan berusaha menangkap kami.“ Prajurit
itu menjadi heran. Tetapi nampaknya kedua anak muda itu
bersungguh-sungguh, karena Buntalpun berkata ”Jika kami ingin
membunuh, kami sudah membunuh. Karena itu, jika kau memang masih
ingin hidup, menyerah sajalah. Tetapi dengan syarat.“ “Apa ?”
bertanya prajurit itu. “Aku ambil kudamu, karena kudaku telah
hilang.” jawab Buntal, Prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu
memang merasa, bahwa anak-anak muda itu sengaja menyinggung
perasaannya dengan sikapnya. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain.
karena sebenarnyalah bahwa ia masih belum ingin mati. Karena itu,
maka para prajurit itupun menyatakan tidak akan menangkap mereka dan
memberikan kuda yang diminta oleh Buntal. Sejenak kemudian, maka
kedua anak muda itupun telah rneninggaikaln medan. Namun Buntal
mendapat seekor kuda tidak setegar kudanya sendir i. Tetapi
tiba-tiba saja bagaikan bersorak ia berkata ”He, lihat.” Ketika
mereka berpacu sampai batas pategalan mereka melihat seekor kuda
yang sedang dengan tenang makan rerumputan dipinggir jalan. “Itu
kudaku.” desis Buntal. “Kuda itu nampaknya masih menunggumu” sahut
Juwiring.Karena ku maka Buntalpum telah berganti kuda. Sementara itu
kuda yang dipinjamnya itupun dihadapkanmya kearati pemiliknya.
Kemudian dengan satu lecutan kuda itu berderap berlari tanpa
penunggang. Sementara itu, prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu
telah mengumpulkan kawan-kawannya yang terluka. Yang tinggal di
tempat itu. hanyalah dua ekor kuda. Karena itu. maka agar mereka
tidak terlalu lama, diusahakannya agar setiap ekor kuda dapat
membawa dua orang bersama-sama. Tetapi merekapun terkejut ketika
mereka mendengar derap seekor kuda berlari kearah mereka. Ternyata
kuda itu adalah kuda yang dipinjam oleh anak-anak muda yang mengaku
dari padepokan Raga Tunggal. “Siapakah sebenarnya mereka?” bertanya
orang bertubuh tegap itu seolah-olah kepada diri sendiri. Hampir
diluar sadarnya, orang yang berkulit kehitam- hitaman, yang terluka
dliidada menyahut ”Mungkin mereka adalah para pengikut Pangeran
Mangkubumi “ “Tandanya ?” bertanya kawannya yang terluka oleh
senjata sendiri “Mereka tidak membunuh kita.” jawab arang yang
berkulit kehitam-hitaman ”aku merasa, bahwa anak muda itu sengaja
membiarkan aku hidup, justru karena ia menggeser tikaman
senjatanya.“ Para prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian orang yang bertubuh tegap itu berkata ”Cepat, sebelum luka
kalian itu menuntut lebih banyak lagi dari kalian. “ Demikianlah
maka dengan kuda yang ada, para prajurit itu kembali ke Jatimalang.
Dengan pakaian yang di kotori oleh darah mereka sendir i, maka
prajurit itu bagaikan merangkak kembali kepada
kawan-kawannya.Kedatangan mereka telah mengejutkan. Seorang Senapati
muda langsung bertanya ”Apakah kau bertemu dengan para pengikut
Pangeran Mangkubunti?” Orang yang berkulit kehitam-hitaman itulah
yang dengan serta merta menjawab ”Tidak Senapati. Kami bertemu
dengan sekawanan perampok yang justru mempergunakan kesempatan pada
saat-saat seperti ini.” “Perampok? Dan kalian tidak dapat menangkap
mereka ?” bertanya Senapati itu. ”Menurut laporan yang aku dengar,
mereka hanya berdua saja.” “Ya. Ketika kami melihat dari padukuhan
sebelah, mereka memang hanya berdua. Kami mengejarnya berempat
Tetapi ternyata ada tiga orang kawannya telah menunggu di ujung
bulak sebelah. Selagi kami berempat bertempur melawan lima orang
perampok, telah datang lagi dari arah yang berbeda, seorang yang
ternyata adalah pemimpinnya.“ “Enam orang perampok. Dan kalian
adalah prajurit. Surakarta.” geramSenapati itu. “Ya. Kami berhasil
bertahan. Mereka telah melarikan diri dengan membawa beberapa orang
terluka. Tetapi kami sudah terlalu lemah, sehingga kami tidak akan
mungkin mengejarnya lagi “ jawab orang berkulit kehitam-hitaman itu.
Senapati itu agaknya kurang mempercayai keterangan itu.
Dipandanginya wajah-wajah pucat dari ketiga orang lainnya. Namun
orang bertubuh tegap itupun mengangguk sambil menjawab ”Kami tidak
mendapat kesempatan terlalu banyak. Para perampok itu ternyata
memiliki kemampuan yang cukup untuk melawan kami selain jumlah
mereka yang lebih banyak. Karena itu. kami tidak dapat menangkap
seorangpun diantara mereka, meskipun kami dapat melukai beberapa
orang. Mungkin membunuhnya, karena mereka sempat dibawa oleh
kawan-kawannya.““Bodoh sekali” geram Senapati itu ”musnakan rnereka.
Perampok-perampok memang berusaha untuk memanfaatkan keadaan.“
Keempat orang itu tidak menjawab. Namun Senapati itupun kemudian
berkata ”Obati lukamu. “ Para prajurit yang terluka itupun kemudian
telah pergi ke belakang barak mereka untuk menemui tabib pasukan
yang segera mengobatinya. Dalam pada itu Raden Juwir ing dan Buntal
telah berpacu semakin cepat. Perkelahian itu telah merampas waktu
mereka cukup panjang. Sehingga karena itu, maka mereka harus berpacu
lebih cepat lagi, agar mereka tidak terlalu lama mencapai daerah
pertahanan Pangeran Mangkubunii untuk memberakan surat jawaban Raden
Mas Said yang sudah mereka mengerti isinya. Namun dalam pada itu,
perjalanan Arum ketika ia kembali itupun tidak selancar ketika ia
berangkat. Ketika ia sampai di bulak panjang yang sepi, tiba-tiba
saja ia berpapasan dengan dua orang berwajah kasar. Seorang masih
muda sedangkan yang lain mendekati pertengahan abad. Semula Arum
tidak menghiraukan mereka. Jarak yang ditempuh sudah menjadi tidak
terlalu panjang lagi. Sebentar lagi ia akan memasuki daerah
pengawasan pasukan Pangeran Mangkubumi. Namun ternyata kedua orang
itu telah menghentikannya. Anak muda itu berdir i ditengah jalan
sambil bertolak pinggang, sementara orang yang separo baya itu
berdiri termangu- mangu di pinggir jalan. Aram menjadi
berdebar-debar. Menilik bahwa kedua orang itu bersenjata, maka
agaknya keduanya adalah bagian dari satu pasukan. Tetapi pasukan
yang mana.Arum mengenal kalimat-kalimat sandi apabila diperlukan.
Karena itu apabila keduanya adalah orang-orang dari pasukan Pangeran
Mangkubumi maka keduanya tidak akan berbahaya baginya. Tetapi,
ternyata bahwa jantung Arumpun berdebar semakin cepat. Nampaknya
keduanya memiliki sifat yang agak berbeda dari para pengikut
Pangeran Mangkubumi. Karena itu, moka Arumpun menjadi semakin
berhati-hati ketika ia mendekati kedua orang yang nampaknya sengaja
menunggunya. “Jika keduanya orang-orang yang dipasang kumpeni, aku
akan menjadi sangat bingung. Jika aku melawan, maka ia akan dapat
melihat bahwa aku memiliki kemampuan serba sedikit. Jika pada suatu
saat aku bertemu lagi dengan mereka di kota apabila aku menghadapi
Raden Gaiihwaiit, maka mereka akan dapat berbahaya bagiku.” berkata
Arum didalam hatinya, Kedua orang itu t idak menegornya sampai Arum
berada beberapa langkah saja dihadapan anak muda yang berdiri
ditengah jalan itu. Tetapi ketika Arum melangkah menepi, barulah
anak muda itu beringsut. Sambil tersenyum ia bertanya ”He, anak
manis. Dari mana, he ?” Arum mengerutkan keningnya. Namun kemudian
sambil melangkah surut ia menjawab ”Dari kota, Ki Sanak.“ “Ada apa
ke kota ? Apakah kau mempunyai sanak kadang di kota ? Bukankah di
kota suasananya sedang kisruh setelah kumpeni ada di Surakarta.”
desis anak muda itu. “Tidak Ki Sanak. Di kota tidak ada apa-apa. Aku
berjualan jamu dan mangir serta lulur untuk perempuan-perempuan
kota.” jawab Arum. “O, begitu” jawab anak muda itu ”agaknya karena
itu maka kau cantik. He, apakah daganganmu itu laku ? “ ”Sebagian”
jawab Arum,Dalampada itu, orang yang separo baya itupun berdesis
“Ambil saja uangnya. Jangan terlalu lama.“ Arum mengerutkan
keningnya. Atas sikap, itu, ia sudah dapat menduga, bahwa keduanya
tentu bukan para pengikut Pangeran Mangkubumi. Atau seandainya
keduanya pengikut Pangeran Mangkubumi juga. maka keduanya sudah
menyalahi paugeran bagi pasukan Pangeran Mangkubumi. Anak muda yang
berdir i ditengah jalan itupun berdesis “Tidak hanya uangnya paman,
tetapi gadis, eh. perempuan ini terlalu cantik, apakah ia gadis atau
bersuami atau janda muda. “ Wajah Arum menjadi tegang. “Kau sudah
kambuh” desis orang yang separo baya. Tetapi anak muda itu tertawa.
Katanya ”Paman jangan berpura-pura. Jika aku bawa gadis ini,
pamanlah yang akan lebih senang dari aku sendir i, karena paman
memerlukannya lebih banyak.“ Laki- laki separo baya itu mengerutkan
keningnya. Jawabnya ”Ambil uangnya. Kita segera pergi.“ “Paman
agaknya menjadi cemas, bahwa daerah ini menjadi daerah pengamatan
pasukan Pangeran Mangkubumi. Jangan takut paman. Bulak ini terlalu
panjang, sepi dan jarang dilalui orang. Jika perempuan ini
berteriak, tidak akan ada seorangpun yang mendengar. Di sawah
disekitar tempat ini. aku tidak melihat seorangpun yang sedang
bekerja. Sementara jika pasukan Pangeran Mangkubumi nganglang lewat
bulak ini, jauh-jauh kita sudah melihatnya.” jawab anak muda itu.
“Anak setan” geram orang tua itu ”j ika kau ingin berbuat sesuatu,
lakukanlah. Aku hanya memer lukan uangnya. Bukankah ia baru saja
menjual jamu, mangir dan lulur? He,perempuan yang malang, berikan
uangmu. Aku hanya memer lukan uangmu. “ Arum menjadi semakin tegang,
la tidak mendapat uang. Ia hanya membawa bekal seperlunya
diperjalanan. Apalagi jika ia memperhatikan anak muda yang berdir i
ditengah jalan itu. Hatinya menjadi berdebar-debar. Tetapi dengan
demikian Arumpun mengetahui, bahwa orang itu bukan kaki tangan
kumpeni. Juga bukan orang- orang dari pasukan yang manapun juga.
Kesimpulan Arum. orang-orang itu adalah perampok atau penyamun yang
mengambil kesempatan justru pada saat yang sedang gawat. “Berikan
uangmu, analk manis” desis anak muda itu “dan berikan apa saja yang
aku kehendaki. “ Wajah Arum menjadi merah. Tetapi ia sudah dapat
mengambil sikap tegas. Orang-orang iitu harus dilawannya. Meskipun
Arum belum mengetahui tataran kemampuannya, namun Arum tidak akan
menyerahkan apapun yang diminta, oleh orang-orang itu. Sejenak Arum
mengamati senjata orang-orang itu. Keduanya membawa parang yang
tidak terlalu panjang, tetapi nampaknya besar dan berat. Sementara
Arum sendiri tidak membawa senjata panjang, la hanya menyembunyikan
beberapa senjata pendek dibawah setagennya. Pisau-pisau belati kecil
yang akan dapat membantunya jika terpaksa. “Jangan mencoba menentang
kehendak kami” berkata anak muda itu” bulak ini terlampau panjang.
Meskipun kau berteriak, suaramu akan hilang ditelan luasnya bulak
ini, sementara seperti yang kau lihat, tidak ada seorangpun yang
bekerja disawahnya disaat seperti ini. “ Arum mengumpat didalam
hati. Hambatan itu justru datang dari orang-orang gila seperti itu.
Bukan dari prajurit Surakarta, dan bukan puja dari Kumpeni.“Tetapi
aku dapat bertindak tegas menghadapi mereka“ berkata Arumdidalam
hatinya. Sementara itu, orang yang sudah separo baya itu berkata
kepada kawannya dengan lantang ”Jika kau menjadi gila melihat gadis
itu, terserah. Tetapi aku akan mengambil uangnya dan pergi. Lakukan
apa yang kau lakukan seterusnya tanpa menghiraukan alku lagi.“ Anak
muda itu tertawa. Katanya ”Sejak kapan kau menjadi demikian lembut
hati.“ “Daerah ini adalah daerah pengawasan pasukan Pangeran
Mangkubumi. Setiap saat orang-orangnya dapat saja muncui dibulak
ini. Dan kata tidak akan mendapat kesempatan untuk lolos.“ “Baiklah”
berkata anak muda itu ”jika kau pergi, pergilah. Aku akan mengambil
apa saja yang dapat aku ambil dari perempuan ini. Termasuk uangnya.
Katakan, di-mana kau akan menunggu aku. “ Kawannya menggeram. Namun
katanya ”Aku akan membawa uangnya lebih dahulu.” Ia berhenti
sejenak, lalu katanya kepada Arum ”He, anak malang. Berikan uang itu
kepadaku. Kau tentu mendapat uang dari perempuan- perempuan yang
sudah bersolek dengan mangir, lulur dan memelihara kemudaan mereka
dengan reramuan jamu. “ “Aku tidak membawa uang” jawab Arum ”aku
hanya menyerahkan barang-barang itu. Semuanya adalah urusan ibuku.
Uangnyapun akan diterima oleh ibuku kelak.“ “Jangan begitu” desis
orang yang separo baya itu ”aku sudah berusaha untuk menghindarkan
diri dari tindakan- tindakan yang lebih gawat bagimu. Karena itu,
serahkan saja uangmu. Kemudian aku akan pergi.“ “Aku tidak mempunyai
uang. Aku t idak bohong” jawab Arum.Orang itu. menarik nafas
dalam-dalam. Sementara anak muda itu tertawa ”Percayalah. Perempuan
imi tidak mudah menyerahkan uangnya. Karena itu, jangan terlalu
berbaik hati.“ “Nampaknya perempuan ini memang keras kepala” sahut
yang lain ”apakah kau ingin kami berdua menyeretmu keluar dari
daerah ini? Disebelah padesan itu terdapat sebuah sungai. Menelusuri
sungai itu, kami akan dapat sampai kesarang kami. Apakah kau ingin
mengikuti kami ?“ Wajah Arum terasa bagaikan tersentuh bara. Karena
itu, maka iapun menjawab ”Baiklah. Aku akan datang kesarangmu kelak
bersama Ki Jagabaya dari padukuhan ini. Kau akan diseret dan di
pertontonkan kepada seluruh penghuni Kademangan ini “ “He” wajah
kedua orang itu menegang. Sementara itu, anak muda itupun menyahut
”Jangan lancang berbicara dengan aku. Aku dapat berbuat apa saja.
Halus, kasar dan barangkali akan dapat membuat kau menyesal seumur
hidup mu, “ Arumpun menjadi semakin marah pula. Karena itu, maka
iapun menjawab ”Jangan mengancam dan menakut-nakuti aku. Ingat,
daerah ini adalah daerah pengawasan pasukan Pangeran Mangkubumi
seperti yang kau katakan sendiri. Setiap saat, pasukan peronda akan
lewat. Sementara menunggu mereka, aku akan melawan kalian berdua.“
Kata-kata itu benar-benar membingungkan kedua orang itu. sehingga
untuk sejenak, keduanya justru berdiam diri sambil berpandangan. “Ki
Sanak” berkata Arum kemudian ”aku masih memberi kesempatan kalian
untuk menyingkir dari jalan ini sebelum pasukan peronda Pangeran
Mangkubumi lewat dan menyeret kalian ke daerah pertahanannya untuk
diadili.“Wajah anak muda itupun masih nampak tegang. Namun kemudian
ia tertawa sambil berkata ”Luar biasa. Kau adalah perempuan yang
luar biasa. Kau tidak menjadi gemetar melihat kami dan rencana kami,
bagaimana kami akan memper lakukan kau. Justru kau masih sempat
berusaha untuk membebaskan dirimu dengan menggertak kami.“ “Aku
tidak menggertak. Aku akan melakukannya” desis Arum sambil
melepaskan keba yang didukungnya dengan selendang di lambungnya.
”Bagaimanapun juga, aku wajib melawan kalian, Cacingpun akan
menggeliat jika terinjak kaki. Apalagi aku.“ Sikap Arum benar-benar
mengherankan kedua orang itu. Namun anak muda ku berkata ”Sikapmu
semakin menar ik anak manis. Perempuan yahg demikian adalah
perempuan yang sangat menarik perhatianku.“ Namun anak muda itu
terkejut bukan buatan. Sebelum ia sempat tertawa lagi, tiba-tiba
terasa wajahnya bagaikan dibakar dengan api. Ternyata Arum yang
sudah melepaskan keba pandannya itu, telah meloncat pendek,
mendekati anak muda itu dan langsung menampar pipinya. Demikian
kerasnya, sehingga terasa pipi anak muda itu bagaikan terbakar.
Sementara itu ketika ia meludah, ternyata giginya telah berdarah.
Yang dilakukan Arum itu memang sangat mengejutkan. Namun sekaligus
Arum dapat menjajagi serba sedikit, kekuatan dan daya tahan
lawannya. Ternyata anak muda tiu tidak sempat mengelak, meskipun
Arumpun sadar, bahwa halitu disebabkan karena anak muda itu lengah
dan tidak menduga sama sekali, bahwa hal itu akan terjadi Namun
dalam pada itu, apa yang dilakukan Arum itu benar- benar
menggetarkan hati. Keduanyapun menyadari, bahwa ternyata perempuan
yang mengaku penjual reramuan jamu, mangir dan luhur itu bukannya
perempuan kebanyakan. Karena itu, maka keduanyapun bergeser surut.
Dengan suara lantang anak muda itu berkata ”Perempuan ini agaknya
perempuan gila. Baiklah, kau akan menyesal karena kau sudah menghina
kami. Kami dapat membuat kau malu dan menyesal sepanjang hidupmu.
Tetapi kamipun dapat membunuhmu dan membiarkan mayatmu terkapar di
jalan bulak ini.“ “Kau kira aku menjadi gemetar mendengar ancaman mu
itu ?” jawab Arum ”marilah. Aku terpaksa melakukannya untuk
mempertahankan dir i dan sedikit memberi peringatan kepada perampok
dan penyamun yang memanfaatkan keadaan yang gawat ini.”. Kedua orang
berwajah kasar itu termangu-mangu. Namun anak muda itupun berkata
“Baik. Kau memang sangat menarik anak manis. Kau menjadi semakin
menar ik bagiku.“ Anak muda itupun tiba-tiba saja telah bersiap.
Sementara kawannyapun telah bergeser. Dengan suara berat ia berkata
”Kau sudah menyakiti hati kami.” Arum tidak melihat kemungkinan lain
daripada berkelahi melawan kedua orang itu. Tetapi karena ia t idak
memakai pakaian khususnya, maka rasa-rasanya memang agak canggung
juga baginya. Namun demikian ia terpaksa menyingsingkan bukan saja
lengan bajunya, tetapi juga kain panjangnya, “Anak gila” geram anak
muda yang mencegatnya.Arum t idak menghiraukannya, la tidak ingin
mengalami bencana yang gawat menghadapi kedua orang itu. Karena itu,
maka ia t idak menghiraukan apa saja yang dikatakan oleh kedua orang
lawannya. Ternyata kedua orang laki- laki berwajah kasar itu masih
juga menganggap bahwa Arum adalah seorang perempuan yang meskipun
memiliki kelebihan, tetapi tidak akan mengejutkan mereka. Sehingga
karena itu, maka keduanya tidak segera mencabut senjatanya.
“Perempuan yang banyak tingkah” geram anak muda itu ”aku masih dapat
bersabar saat ini. Tetapi jika kau keras kepala, maka kau akan
mengalami perlakuan yang sangat buruk. Kami akan menyeretmu ke
sarang kami. Dan kau akan dapat membayangkan, apa yang dapat terjadi
dengan beberapa orang kawan-kawanku jika mereka melihatmu.“ Arum
tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.
“Nampaknya anak ini memang keras kepala” desis orang yang sudah
separo baya ”baiklah. Aku akan merampas uangnya. Dan aku kira karena
kekerasan hatinya, ia wajib mendapat hukuman di sarang kita nanti.“
Arum masih tetap berdiam dir i. Tetapi ia sudah benar-benar siap.
Dalam pada itu, anak muda yang menganggap Arum hanyalah seorang
perempuan yang keras kepala, telah melangkah mendekat. Dijulurkannya
tangannya untuk menjajagi kesigapan lawannya, Namun agaknya Arum
mengerti, sehingga ia sama sekali tidak berbuat sesuatu karena ia
tahu, tangan itu t idak akan sampai menyentuhnya. Sikap Arum itu
justru mendebarkan. Ternyata perempuan itu memiliki pengamatan yang
tajam atas gerak lawannya. Karena itu, maka orang yang sudah separo
baya itu bergerak lebih jauh lagi. Ia mulai menyerang, meskipun
belumbersungguh-sungguh. Tetapi tangannya benar-benar telah mengarah
kening. Arum bergeser selangkah surut. Tetapi ia masih belum berbuat
yang lain. Ketenangan sikap Arum membuat kedua orang itu semakin
bersungguh-sungguh menghadapinya. Ketika orang yang lebih tua itu
menarik tangannya, maka anak muda kupun tidak sabar lagi. Ia mulai
dengan serangan yang sebenarnya. Sambil meloncat maju tangannya
terjulur kearah pundak Arum. Arum menyadari, bahwa lawannya mulai
menjadi marah dan bersungguh-sungguh. Karena itu, maka iapun menjadi
semakin berhati-hati. Ia dengan cermat mengelakkan serangan
lawannya. Namun seperti yang diperhitungkannya, demikian ia
bergeser, lawannya itupun telah meloncat menyerang dengan kakinya
mengarah lambung. Tetapi Arumpun telah siap menghadapinya. Iapun
telah bertekad untuk melawan dengan bersungguh-sungguh. Bahkan
Arumpun sadar, bahwa pada saatnya kedua orang itu tentu akan
mempergunakan senjatanya apabila mereka terdesak. Namun demikian
Arum harus tetap berhati-hati, karena ia belumtahu t ingkat
kemampuan lawannya yang sebenarnya. Dengan tangkas Arumpun melnmcat
menghindar. Tetapi ternyata bahwa kawannya yang lebih tua itu, tidak
membiarkan gadis itu melepaskan diri. Karena itu, dengan serta merta
iapun telah menyerang juga. Barulah keduanya menyadari, bahwa
perempuan itu benar- benar tangkas. Ia mampu bergerak lebih cepat
dari kedua orang itu. Kedua orang yang merasa dirinya sudah kenyang
makan garam petualangan dalam benturan-benturan ilmu dan
kekuatan.Karena itu, maka orang yang lebih tua itupun bergumam
“Ternyata perempuan ini merasa mempunyai bekal ilmu untuk melawan
kita berdua. Itulah agaknya ia dengan sengaja menentang setiap
keinginan kita. Mungkin dengan sengaja pula ia ingin menunjukkan
kemampuannya. “ “Tidak” jawab Arum ”kau memaksa aku untuk
mempergunakan ilmu kanuragan. Tetapi bahwa sikapmu telah menunjukkan
siapakah kalian, maka telah timbul pula keinginanku untuk menangkap
kalian.“ “Huh. perempuan sombong” geram anak muda itu “kau kira kau
dapat melakukannya. Kaulah yang akan menyesal.“ Arum tidak menjawab.
Tetapi ketika ia bergeser, tiba-tiba saja anak muda itu telah
menyerangnya sekali lagi. la ingin bergerak cepat, sebelum Arum siap
sepenuhnya. Dengan ayunan yang keras ia memukul kening Arum dengan
sisi telapak tangannya. Namun Arum mengelak. Bahkan dengan tangkas
iapun mulai menyerang. Tetapi karena ia tidak memakai pakaian
khususnya, maka Arum tidak menyerang dengan kakinya. Sambil meloncat
dan membungkukkan badannya Arum telah menyerang lambung. Meskipun
serangan Arum kurang mapan, tetapi kecepatannya bergerak telah
memungkinkan tangannya mengenai lawannya. Arum sengaja menyerang
dengan ujung- ujung jarinya yang terbuka dan merapat. Perasaan sakit
telah menyengat lambung anak muda itu. Sambil menyeringai dan
mengumpat ia meloncat surut. Arum yang sudah siap untuk memburunya,
ternyata harus mengurungkan niatnya karena orang yang lebih tua itu
telah berusaha untuk melindungi kawannya. Dengan cepat orang itu
menyerang Arumdengan kakinya langsung mengarah perut.Arum bergeser
selangkah. Ketika kaki lawannya gagal menggapai perutnya, maka
dengan tangannya Arum memukul kaki itu menyamping. Ternyata kekuatan
Arum sama sekali tidak diduga oleh lawannya yang lebih tua itu.
Pukulan pada kakinya telah mendorongnya dalam satu putaran. Hampir
saja ia terjatuh, karena keseimbangannya yang goyah oleh putaran
itu. Namun dengan susah payah ia berhasil menguasai keseimbangan
kembali, sementara kawannya yang sudah berhasil menguasai dirinya
itupun telah berusaha untuk menolongnya pula dengan serangan yang
cepat. Namun betapapun juga, ternyata Arum mampu bergerak lebih
cepat. Meskipun ia harus bertempur melawan dua orang, tetapi ia
masih mampu membuat kedua lawannya iitu menjadi bingung. Sementara
lawannya hanya bertumpu pada kekuatan dan kekasarannya, Arum telah
bertempur dengan dasar-dasar kemampuan, ilmu dan kecepatan gerak.
Meskipun demikian perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru.
Kedua orang yang mencegat Arum itu nampak menjadi semakin kasar.
Mereka tidak lagi berusaha untuk bertindak lebih baik menghadapi
seorang perempuan, Justru karena perempuan itu ternyata memiliki
kemampuan untuk melawan mereka, maka mereka merasa tersinggung
karenanya. Mereka bukan saja sekedar ingin merampas uang atau apa
saja dari perempuan itu, tetapi harga diri mereka benar-benar telah
direndahkan. Karena itu, maka keduanyapun berusaha untuk bertempur
dengan segenap kemampuan mereka. Keduanya telah bertempur
berpasangan dengan sebaik-baiknya. Namun ternyata bahwa keduanya
tidak segera dapat menguasai perempuan itu hanya seorang diri. Dalam
pada itu, kedua orang itu tidak dapat bersabar lagi. Kemarahan dan
harga dir i mereka tidak lagi dapat dikendalikan. Meskipun keduanya
semula ragu-ragu, apakahdua orang laki-laki yang berkelahi melawan
seorang perempuan harus menarik senjata mereka. Tetapi mereka tidak
dapat mengingkari kenyatan. Keduanya tidak segera dapat mengalahkan
perempuan itu. Karena itu, maka mereka tidak ingin membuang waktu
lebih banyak lagi. Dengan senjata. mereka temu akan segera
menguasainya. Bahkan jika perlu, kematian perempuan itu tidak akan
membebani perasaan mereka, karena keduanya sudah terbiasa membunuh
siapa saja yang tidak menuruti kemauan mereka tanpa menganut satu
paugeranpun. Dalam pada itu, Arum telah melihat gelagat itu. Karena
itu ia harus berpikir untuk mengatasinya. Jika keduanya bersenjata,
maka ia tentu akan mengalami kesulitan. Bagaimanapun juga, dua orang
itu sudah terbiasa bermain dengan senjata. Dengan demikian, maka
Arum harus bertindak lebih cepat. Ia sadar, bahwa ia akan menghadapi
kesulitan dengan senjata-senjata itu. Namun Arum tidak kehabisan
akal. Sesaat sebelum keduanya menarik senjatanya, Arum telah
menyerang mereka dengan garangnya. Bagaikan angin pusaran ia
berputar, meloncat dan menyerang dari arah yang tidak terduga. Dalam
keadaan yang demikian Arum telah melupakan pakaiannya. Meskipun ia
tidak berpakaian khusus. Tetapi pertimbangan- pertimbangan lain
telah mendorongnya untuk bertempur lebih garang. Kedua lawannya
terkejut melibat perubahan sikap gadis itu. Bahkan anak muda yang
mencegatnya itu, tidak sempat mengelak ketika Arum menghantam
lambungnya dengan kakinya. Demikian ia menar ik kakinya, sambil
berputar ia telah menyerang lawannya yang lain dengan tangan yang
terjulur lurus kearah dada.Arum memang memancing kekisruhan. Disaat
keduanya berusaha untuk memperbaiki kedudukan mereka, sehingga kerja
sama mereka dapat disusun kembali, maka Arum tiba- tiba saja telah
melibat anak muda itu dalam perkelahian jarak pendek. Jangkauan
tangan Arum telah menangkap pergelangan tangan anak muda itu dan
memilinnya. Yang terjadi itu demikian cepatnya, sehingga anak muda
itu tidak sempat berbuat sesuatu. Apalagi ketika tiba-tiba Arum
telah menghantam punggungnya dengan lutut, dan dengan serta merta
mendorong anak muda itu sehingga jatuh tertelungkup. Adalah diluar
perhitungan mereka bahara semuanya itu dapat terjadi begitu cepat.
Anak muda itu baru menyadari, apakah yang telah terjadi, ketika
tiba-tiba saja terasa wajahnya mencium debu. Ternyata tangan
perempuan itu tidak selembut yang diduganya ketika ia melihat Arum
berjalan mendekatinya dari arah kota. Anak muda itu mengira, bahwa
perempuan itu adalah sebagaimana kebanyak perempuan cantik, berkulit
lembut dan berhati lemah. Tetapi ternyata perempuan yang seorang
ini, agak berbeda dengan perempuan kebanyakan. Dalam pada itu,
kawannya yang melihat sikap Arum, tidak menunggu lebih lama lagi.
Tiba-tiba saja ditanganinya telah tergenggam senjatanya tanpa
memikirkan harga dirinya lagi, meskipun yang dilawannya hanya
seorang perempuan.Namun orang itupun terkejut bukan kepalang. Selagi
ia sudah siap untuk menyerang, juga dalam usahanya menyelamatkan
kawannya yang sedang berusaha untuk bangkit, dilihatnya perempuan
itupun telah memegang senjata pula ditanganinya. Baru kedua orang
itu sadar, bahwa dalam pergulatan berjarak pendek antara anak muda
itu dengan Arum, maka Arum telah berhasil menar ik senjata anak muda
itu diluar sadar pemiliknya. Dengan demikian, wajah kedua orang
laki-laki kasar itu menjadi semakin tegang. Ketika anak muda itu
berhasil berdiri dan menguasai keseimbangannya, iapun menjadi
bingung karena senjatanya sudah terlepas dari sarungnya. “Licik”
geram anak muda itu ”kau cur i senjataku. “ “Sudah adil” jawab Arum
”kalian membawa sebilah senjata, akupun membawanya. Aku tidak
menghitung jumlah orangnya. “ “Persetan” geram anak muda yang marah
itu ”kembalikan senjataku. “ “Jangan merengek seperti kanak-kanak
kehilangan mainan. Tang sedang kita pertaruhkan sekarang adalah
nyawa kita masing-masing.” jawab Arum. Kedua laki- laki itu
menggeram. Tetapi mereka tidak dapat memaksa Arum menyerahkan
senjatanya. Namun dalam pada itu, laki- laki muda yang sudah tidak
berpedang itupun telah mengurai ikat pinggangnya. Sambil mengikatkan
kain panjangnya pada pinggangnya, ia berkata ”Ikat pinggangku tidak
kalah nilainya dengan parang itu. Jika kau tersentuh ikat
pinggangku, maka kulitmupun tentu akan terkelupas.“ “Terserahlah”
jawab Arum ”tetapi agaknya aku lebih senang mempergunakan
senjatamu.“Orang yang lebih tua itu tidak sabar lagi. Iapun segera
menggerakkan parangnya yang terjulur mendatar. Sekali- sekali ia
bergeser, sementara ujung pedangnya masih tetap mengarah kedada
Arum, Arum masih sempat mengelak dengan sebuah loncatan pendek.
Namun dalam pada itu, lawannya yang muda telah meloncat sambil
mengayunkan ikat pinggang kulitnya yang tebal. Hampir saja ujung
ikat pinggang itu menyambar Wajahnya. Untunglah bahwa Arum masih
sempat mengelak. Dengan memiringkan kepalanya ia dapat membebaskan
dir i dari sambaran ujung ikat pinggang yang memang akan dapat
mengo-yahkan kulit diwajahnya. “Kurang sedikit ” geram anak muda itu
”jika kulit pipimu tersentuh, maka tulanglah kecantikanmu. “ Arum
tidak menanggapinya. Ia sudah bersiap dengan parangnya, meskipun
parang itu agak terlalu berat dibandingkan dengan pedangnya sendiri.
Dalam pada itu, maka kedua orang lawannya itupun telah berpencar.
Nampaknya mereka menjadi semakin cermat menghadapi perempuan yang
garang itu. Keduanya telah memilih arah dan keduanya berusaha untuk
saling mengisi dalam serangan-serangan berikutnya. Tetapi Arum tidak
sekedar membiarkan dir inya terperangkap kedalam serangan-serangan
lawan yang dapat bekerja bersama dengan baik. Tetapi ternyata bahwa
iapun dapat menentukan jalannya perkelahian itu. Karena itulah, maka
justru Aramlah yang telah menyerang lebih dahulu. Ia memutar
parangnya. Namun kemudian parangnya itu telah mematuk anak muda yang
bersenjata ikat pinggangnya.Anak muda itu terpaksa meloncat
mengelak, karena senjata, tidak dapat dipergunakannya untuk
menangkisnya. Namun sambil mengelak, anak muda itu telah siap
mengayunkan senjatanya jika Arum memburunya. Bahkan dalam pada itu,
kawannya yang lebih tua itupun telah memburu Arum untuk mencegah
Arum bertindak lebih jauh atas anak muda yang terdorong surut itu.
Tetapi adalah tidak terduga-duga, bahwa Arum justru menyongsong
lawannya yang tua. Dengan tangkas Arum memukul senjata lawannya
kesamping, kemudian dengan satu putaran maka senjata Arum justru
telah mengarah kedada lawannya. Lawannya, menjadi bingung, sementara
senjatanya terpukul kesamping, dalam sekejap senjata lawannya telah
memburunya. Yang dapat dilakukan adalah berusaha untuk mengelak.
Tetapi ketika Ia memiringkan tubuhnya, maka ujung parang Arum telah
menyentuh pundaknya. “Gila. Kau benar-benar betina liar dan buas”
geram lawannya yang tua. “Jangan mengumpat-umpat begitu kasar” sahut
Arum. Lalu ”Kita akan bertempur dengan senjata. Bukan sekedar
mengumpat dan mencaci maki.“ “Persetan” geram lawannya yang tua,
yang kemudian telah mengacukan senjatanya pula. Sementara perhatian
Arum tertuju kepada lawannya yang tua, maka yang muda itupun telah
dengan diam-diam meloncat menyerang leher Arumdengan ikat
pinggangnya. Demikian kerasnyar sehingga terdengar desir angin yang
bersuit nyaring. Namun sekali lagi serangan ku gagal. Ternyata Arum
masih sempat mengelak. Sambil berputar dan merendah. Arum
mengayunkan senjatanya mendatar, justru pada saat tangan anak muda
itu terayun. Yang terdengar adalah pekik kesakitan. Senjata Arum
telah menyentuh sisi dada anak muda itu, sehingga dagingnya telah
terkoyak karenanya. Luka itu tidak terlalu dalam, seperti luka
lawannya yang tua. Namun bahwa keduanya telah terluka, maka
keduanyapun menjadi semakin gelisah. Betapapun juga luka itu terasa
nyeri, sementara darahpun mengalir menghangati kulitnya. Melihat
kedua lawannya menjadi gelisah, Arum menjadi semakin garang. Ia
mendesak kedua lawannya, sehingga keduanya hanya dapat
meloncat-loncat menghindar i serangan Arumyang menjadi semakin
cepat. Dalam pada itu, selagi kedua orang perampok itu kebingungan,
terdengar derap kaki kuda dikejauhan. Ketika mereka yang bertempur
itu berkesempatan berpaling sejenak, merekia melihat dikejauhan dua
orang penunggang kuda memacu kudanya seperti angin. Kedua perampok
itu menjadi semakin gelisah. Mereka tidak tahu, siapakah yang
berpacu itu. Namun tentu bukan kawan- kawan mereka. Karena itu, maka
mereka harus segera mengambil sikap. Untuk melawan seorang
perempuanpun ternyata mereka tidak mampu. Apalagi j ika ternyata
kedua orang itu adalah pengikut Pangeran Mangkubumi atau prajurit
Surakarta yang tidak akan membenarkan t ingkah laku mereka
pula.Dengan demikian, maka orang yang lebih tua itupun segera member
ikan isyarat untuk melarikan diri selagi luka mereka masih belum
membuat mereka menjadi lumpuh. Karena itu, maka dengan serta merta
keduanyapun segera bergeser surut dan meloncat berlar i meninggalkan
Arum. Ada juga niat Arum untuk mengejar mereka. Tetapi ia tidak
dapat bebas berlari, karena kain panjangnya. Sehingga dengan
demikian, iapun mengurungkan niatnya. Bahkan kemudian timbul pula
kecemasannya atas dua orang berkuda itu. “Aku harus berbohong”
berkata Arum didalam hatinya samlbil membetulkan kain panjangnya dan
melepaskan parangnya ”aku harus mengatakan bahwa yang seorang telah
mengganggu aku, sedangkan yang lain telah menolong aku. Ketika yang
mengganggu aku lar i, maka penolongku itu berusaha mengejarnya.
Mudah-mudahan mereka tidak melihat jelas apa yang telah terjadi. “
Arumpun kemudian mengambil kebanya yang diletakkan disaat ia harus
menghadapi kedua orang itu dan membawanya dengan selendang
dilambungnya. Namun Arum justru bergeramang ketika kedua orang itu
menjadi semakin dekat. Ternyata keduanya adalah Buntal dan Juwiring.
Sambil menarik kekang kudanya Juwiring bertanya ”Kau baru pulang
dari kota Arum? Dan apakah yang telah terjadi ? “ “Kalian juga baru
pulang ?” Arum bertanya pula. “Ya. Kami baru pulang.” jawab
Juwiring. “Kalian singgah di mana saja?” bertanya Arum pula. “Kami
tidak singgah di manapun” jawab Buntal. Kemudian ”Tetapi apa yang
terjadi ?“ “Tidak apa-apa” jawab Arum.Juwiring menar ik nafas
dalam-dalam. Hampir berbareng dengan Buntal, ia meloncat turun dari
kudanya. “Aku melihat dua orang yang berlari meninggalkan tempat
ini” desis Juwir ing. “Tidak apa-apa. Mereka tidak apa-apa” jawab
Arum. Buntal memungut parang yang basah oleh darah. Dengan nada
dalam ia berkata ”Katakan Arum. Tentu sesuatu telah terjadi ? Kenapa
kau tidak mau menyebutnya.“ “Kalian juga tidak mau mengatakan,
dimana kalian singgah” gumamArum. “Kami tidak singgah dimana-mana”
Juwiringlah yang menyahut. Arum termenung sejenak. Ketika ia melihat
Buntal menimang parang yang dipergunakannya, maka iapun menjawab
”Dua orang penyamun. Mereka sangka, aku membawa uang, karena aku
menjawab bahwa aku baru saja dari kota menjual jamu, mangrr dan
lulur bagi perempuan- perempuan kota.” “Parang siapa ?” bertanya
Buntal ”nampaknya parang ini telah melukai seseorang ? “ “Aku yang
mempergunakannya, aku pinjam salah seorang dari kedua penyamun itu”
jawab Arum. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Arum
telah melukai kedua atau salah seorang dari lawannya. Tetapi tidak
terlalu parah, sehingga keduanya masih sempat melarikan dir i.
Juwiringpun nampaknya mengerti juga. Karena itu, maka katanya
”Marilah kita kembali segera. Mungkin kita sudah ditunggu oleh Ki
Wandawa. Barangkali kau ingin mempergunakan salah seekor kuda itu
Arum. Biarlah aku dan Buntal memakai yang lain berdua.““Tentu tidak
mungkin. Aku berkain panjang Aku t idak terbiasa menunggang kuda
dengan tubuh miring. Aku dapat jatuh terpelanting” jawab Arum.
Kemudian ”Pergi sajalah dahulu. Aku akan berjalan kaki.“ Juwiring
menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Baiklah. Kita akan berjalan
kaki.“ “Jika kalian tergesa-gesa, kenapa kalian tidak berkuda saja
?” bertanya Arum. “Tidak. Kami tidak tergesa-gesa” jawab Juwiring.
Arum tidak menjawab lagi, Iapun kemudian melangkah melanjutkan
perjalanan diikut i oleh Juwir ing dan Buntal. Namun dalam pada itu
Buntal masih bertanya ”Kau tinggalkan saja parang itu disitu ? “
“Apakah aku harus membawanya ?” Arumganti bertanya. Buntal tidak
menyahut lagi. Tetapi ia masih sempat melemparkan parang itu menepi.
Dengan demikian, maka mereka bertigapun telah berjalan kembali ke
daerah pertahanan pasukan Pangeran Mangkubumi untuk melaporkan tugas
masing-masing. Sementara itu, disepanjang jalan Buntalpun masih
sempat pula berceritera kepada Arum, bahwa pedangnyapun telah
dibasahi oleh darah prajurit Surakarta yang mencur igai dan
mengejarnya. “Kau bunuh orang itu ?” bertanya Arum. “Tidak. Aku
tidak membunuhnya” jawab Buntal, lalu ”kakang Juwiringpun t idak
membunuh lawannya pula.” Demikianlah, meskipun agak lambat akhirnya
mereka sampai kebarak mereka dianstara pasukan Pangeran Mangkubumi.
Setelah memberitahukan hasil perjalanannya kepada Kiai Danatirta,
maka merekapun minta dir i untuk langsung menghadap Ki
Wandawa.“Sokur lah” berkata Ki Wandawa ”kalian ternyata telah
selamat sampai ketempat ini. Agaknya perjalanan di-daerah Surakarta
saat ini menjadi semakin banyak hambatannya. Sementara Arumpun
mengalami gangguan di perjalanan. “ “Tetapi itu adalah suatu
kebetulan saja Ki Wandawa” berkata Arum kemudian ”jalan itu biasanya
sepi dan tidak ditambah oleh para penyamun, apalagi disaang hari.
Nampaknya perjalananku kali ini mengalami nasib yang buruk, sehingga
aku telah berjumpa dengan dua orang penyamun.“ “Mungkin memang suatu
kebetulan Arum. Tetapi mungkin kejahatan memang semakin meningkat
dalam keadaan yang tidak menentu ini.” berkata Ki Wandawa ”dan itu
harus kau tangkap sebagai suatu isyarat, bahwa kalian harus
berhati-hati menghadapi segala pihak.“ Arum menundukkan kepalanya.
Sementara Juwiring dan Buntal mengangguk-angguk kecil. “Baiklah”
berkata Ki Wandawa ”semua laporan kalian akan aku sampaikan kepada
Pangeran Mangkubumi. Baik mengenai surat Raden Mas Said sebagai
surat balasan Pangeran Mangkubumi, maupun keterangan Raden Ayu
Galihwarit kepada Arum tentang kekuatan yang akan dipergunakan oleh
kumpeni dan prajurit Surakarta untuk menggempur kekuatan Raden Mas
Said.“ “Kami menunggu perintah selanjutnya” berkata Raden Juwiring
”mungkin kami mendapat perintah untuk mengamati perang yang akan
berkobar antara kumpeni dengan pasukan Raden Mas Said, atau bagian
dari pasukan Raden Mas Said yang akan menarik dir i.“ “Sebaiknya
kalian menunggu” jawab Ki Wandawa ”j ika ada perintah, maka kalian
akan dipanggil menghadap.“ Dengan bahan yang didapat dari Juwiring,
Buntal dan Arum, maka Ki Wandawapun segera menghadap. Setelah
menyampaikan surat dari Raden Mas Said, maka Ki Wandawapun
melaporkan keterangan Raden Ayu Galihwar it yang disampaikan oleh
Arum, tentang kekuatan yang sudah dipersiapkan untuk mengepung
kekuatan Raden Mas Said. “Jadi pasukan kumpeni dan prajurit
Surakarta yang akan digerakkan adalah kekuatan langsung dari kota
”desis Pangeran Mangkubumi, “Ya, Pangeran.” jawab Ki Wandawa. “Aku
sudah mengira. Justru karena pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta
yang berada di Jatimalang seolah-olah tidak mengalami perubahan.
Tidak ada persiapan dan tidak ada penambahan pasukan.” gumam
Pangeran Mangkubumi kemudian. Lalu ”J ika demikian Ki Wandawa, kita
harus menjajagi kekuatan kumpeni dan prajurit Surakarta di
Jatimalang dengan cermat, agar kita dapat memperhitungkan langkah
dengan tepat.“ “Apakah Pangeran akan memukul Jatimalang pada saat
kumpeni dan prajurit Surakarta mengepung pasukan Raden Mas Said ?”
bertanya Ki Wandawa. “Aku kira, kita tidak akan bergerak langsung.”
jawab Pangeran Mangkubumi ”agaknya aku condong untuk mengambil
langkah yang lebih bermanfaat daripada langsung memukul Jatimalang.“
“Maksud Pangeran?” bertanya Ki Wandawa. “Menurut suratnya, maka aku
sudah dapat melepaskan pasukan Said untuk menghindar tanpa
mencampurinya” berkata Pangeran Mangkubumi ”aku yakin bahwa ia dapat
bertindak dewasa. Karena itu, maka aku ingin memusatkan perhatianku
untuk satu gerakan tertentu.“ Ki Wandawa mengangguk kecil. Ia tidak
bertanya lebih jauh. Nampaknya Pangeran Mangkubumi masih akan
memikirkannya, dan mungkin juga akan membicarakannya dengan beberapa
orang pemimpin yang lain.Dalam pada itu, sebenarnyalah pasukan
kumpeni dan prajurit Surakarta sudah siap melakukan rencana mereka.
Sejalan dengan persiapan yang semakin matang, maka merekapun semakin
menyebarluaskan kabar bahwa pasukan kumpeni dan prajur it Mataram
siap untuk langsung memukul pasukan induk Pangeran Mangkubumi.
Beberapa orang petugas sandi telah member ikan peringatan kepada Ki
Wandawa akan berita yang tersebar luas di Surakarta itu. Namun Ki
Wandawa sedang menunggu rencana Pangeran Mangkubumi untuk
mengimbangi gerak kumpeni dan prajur it Surakarta itu. Meskipun
demikian Ki Wandawa tidak lengah. Segala kemungkinan memang dapat
saja terjadi. Mungkin pula pada saat terakhir, kumpeni merubah
stopnya. Pasukannya justru benar-benar pergi ke pusat pertahanan
pasukan induk Pangeran Mangkubumi, Karena itu, atas persetujuan
Pangeran Mangkubumi, maka para petugas sandipun telah disebarkan
untuk mengamat gerak pasukan kumpeni dan pasukan Surakarta.
Sementara itu, pasukan di induk kekuatan Pangeran Mangkubumi-pun
telah dipersiapkan sebaik-baiknya untuk bergerak setiap saat. “Aku
lebih percaya kepada keterangan Raden Ayu Galihwar it dari kabar
angin yang tersiar di Surakarta. Meskipun demikian pasukan kita
harus dipersiapkan. Jika tidak untuk menghindari lawan, maka pasukan
itu akan aku pergunakan justru menusuk sarang lawan.” berkata
Pangeran Mangkubumi. Ki Wandawa berusaha melaksanakan pesan itu
sebaik- baiknya. Namun ternyata bahwa Pangeran Mangkubumi sendiri
agaknya ingin meyakinkan apa yang akan terjadi, sehingga karena itu,
maka untuk beberapa saat Ki Wandawa tidak dapat menemukan Pangeran
Mangkubumi didalam pondoknya.Sudah menjadi kebiasaan Pangeran
Mangkubumi untuk berada di sembarang tempat disembarang waktu.
Karena itulah, maka Pangeran Mangkubumi sendiri telah menyaksikan,
kemana pasukan kumpeni dan Surakarta itu pergi. Agaknya bukan saja
para petugas sandi, tetapi menjelang tengah malam, ketika pasukan
kumpeni dan prajurit Surakarta keluar dari pintu gerbang, dari jarak
yang tidak terlalu jauh, Pangeran Mangkubumi sempat menyaksikannya.
Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata kepada diri sendiri
”Sokur lah Said sudah mengetahuinya. Jika ia sempat dikepung oleh
pasukan yang demikian kuatnya, maka ia akan berada dalam keadaan
yang sangat gawat.“ Namun Pangeran Mangkubumipun yakin, bahwa
pasukan Raden Mas Said akan sempat menghindar i pertempuran terbuka
melawan pasukan yang sangat kuat itu. Bahkan Pangeran Mangkubumipun
yakin, bahwa pasukan Raden Mas Said yang akan meninggalkan
Panamlbangan akan dapat memasuki Keduwang dengan selamat dan
mendudukinya. Setelah Pangeran Mangkubumi yakin, bahwa pasukan itu
menuju kearah Panambangan, maka iapun segera bergeser menjauhi ir
ing-ir ingan itu. Pangeran Mangkubumi menganggap penting untuk
segera berada diantara pasukannya dan bertindak cepat mengimbangi
pasukan kumpeni dan prajur it Surakarta yang menyerang Penambangan.
Namun dalam pada itu, bukan saja Pangeran Mangkubumi yang
menyaksikan ir ing- iringan itu menuju ke Penambangan. Seorang anak
muda menyaksikan pula pasukan yang kuat itu meninggalkan kota.
“Kumpeni benar-benar ingin membinasakan pasukanku” desis anak muda
yang melihat iring-ir ingan yang kuat itu,namun ditempat lain
sehingga ia tidak bertemu dengan Pangeran Mangkubumi. Sejenak
kemudian anak muda itupun bergegas menuju ketempat yang tersembunyi
untuk mengambil kudanya yang ditunggui oleh seorang pengawalnya.
“Kita harus cepat mendahului iring-ir ingan itu” berkata Raden Mas
Said. “Mereka sudah berangkat?” bertanya pengawalnya. “Ya. Tetapi
pasukan kita sudah siap untuk menghindar. Kita tidak akan terjebak.
Kita akan meninggalkan sekelompok keci yang akan memancing pasukan
yang kuat itu untuk benar- benar memasuki Penambangan yang kosong.”
berkata Raden Mas Said. Sejenak kemudian kedua ekor kuda itu
berderap dalam gelapnya malam. Namun agaknya keduanya telah
menguasai medan yang akan dilaluinya dengan baik. Mereka mengambil
jalan memintas, melalui jalan sempit. Namun yang jaraknya menjadi
jauh lebih pendek dari jalan yang ditempuh oleh kumpeni. Apalagi
sebagian besar pasukan itu berjalan kaki, meskipun diantara mereka
ikut pula sebagian dari prajurit dari pasukan berkuda Surakarta yang
terkenal. Dalam pada itu, Raden Mas Saidpun sadar, bahwa kumpeni
tentu ingin mengepung Penambangan dan menjelang fajar menyala,
mereka akan mendekati daerah pertahanan, sehingga saat matahari
terbit, mereka benar-benar akan menyerang. “Mereka akan sempat
beristirahat sejenak menjelang pagi” berkata Raden Mas Said ”tetapi
mereka akan menemukan tempat yang telah kosong.“ “Perjalanan mereka
yang cukup panjang itu akan sia-sia. Sementara besok mereka akan
mendapat laporan, bahwaKeduwang telah memisahkan diri dari kekuasaan
Surakarta yang dipengaruhi oleh kumpeni.” gumam pengawalnya.
Sementara itu, kedua ekor kuda itupun berpacu semakin cepat. Di
dinginnya malam, angin bertiup bagaikan menghunjamsampai ketulang.
Beberapa bulak lagi dari Penambangan, Raden Mas Said dan pengawalnya
terpaksa menghent ikan kuda mereka ketika mereka melihat beberapa
orang yang menunggu mereka di tengah-tengah jalan. Nampaknya mereka
sebagai petani-petani dengan cangkul dipundak. Namun Raden Mas Said
yakin bahwa mereka bukan petani-petani yang sedang menunggu air.
“Berhentilah sebentar Ki Sanak” sapa salah seorang petani itu. Raden
Mas Said yang berhenti beberapa langkah dihadapan orang itu menyahut
”Siapakah kalian? Bulan, api atau angin? “ “O” orang yang berpakaian
petani itu mengangguk sambil menyahut ”silahkan.“ Raden Mas Said
tersenyum. Katanya ”Bagus. Kalian harus menguasai daerah ini
sebaik-baiknya. Tidak boleh ada seorang petugas sandi lawan yang
mengetahui apa yang sedang terjadi di daerah Penambangan.“ “Baik.
Kami akan melaksanakan sebaik-baiknya ”jawab petani itu.Namun dalam
pada itu, salah seorang dari mereka berdesis ”Bukankah salah seorang
dar i keduanya adalah Raden Mas Said sendir i?“ Raden Mas Said
mendengar suara itu. Dengan serta meria ia menyahut ”Lupakan. Raden
Mas Said tidak akan berkeliaran pada saat yang gawat ini. Ia berada
diantara pasukannya di Penambangan.“ Orang-orang yang berpakaian
petani itupun kemudian menyibak. Demikian kuda-kuda itu berderap,
mereka segera duduk kembali dipinggir parit, seolah-olah mereka
benar- benar petani-petani yang sedang menunggui air yang tidak
begitu banyak mengalir. “Aku kira salah seorang diantara mereka
adalah Raden Mas Said sendir i” desis salah seorang dari mereka.
“Kau memang bodoh. Tentu seperti yang dikatakannya, Raden Mas Said
ada diantara pasukannya dalam keadaan yang gawat ini” sahut
kawannya. Orang-orang itu mengangguk-angguk. Tetapi orang yang sudah
mengenal Raden Mas Said itu tetap merasa dirinya telah bertemu
dengan Raden Mas Said sendiri, meskipun tidak dikatakannya. Dalam
pada itu, ternyata perjalanan Raden Mas Said tidak hanya terhenti
satu dua kali. Beberapa kali ia harus berhenti untuk mengucapkan
kata-kata sandi. Namun dengan demikian, Raden Mas Said justru merasa
tenang, karena para pengikutnya telah melakukan perintahnya dengan
sebaik- baiknya. Justru pada saat yang paling gawat. Ketika Raden
Mas Said kemudian sampai ke Penambangan, maka iapun segera memanggil
para pemimpin dari para pengikutnya. Dengan singkat ia memberikan
beberapa petunjuk. Kemudian katanya ”Waktu kita tidak terlalu
banyak.”“Kita sudah siap” jawab seorang pemimpin pasukannya.
“Baiklah. Kita akan segera meninggalkan daerah ini. Jika kita
terlambat, maka kita benar-benar tidak akan dapat keluar dari
kepungan.” berkata Raden Mas Said, yang kemudian melanjutkan ”Apakah
pasukan yang akan memancing perhatian itu sudah dipersiapkan pula ?“
“Segalanya sudah siap” jawab seorang Senapati muda. Raden Mas Said
mengangguk-angguk. Kemudian katanya ”Kita akan meninggalkan tempat
ini langsung menuju ke Keduwang. Sementara pasukan yang akan
memancing perhatian kumpeni dan pasukan Surakarta itupun akan segera
menyusul kami. Hati-hatilah dengan pasukan berkuda. Di sebelah gumuk
Watu Pitu, akan menunggu sepasukan yang akan dapat membebaskan
pasukan yang akan memancing perhatian itu jika pasukan berkuda
mengejarnya. Aku perlu mengingatkan, pasukan berkuda adalah pasukan
khusus yang memiliki kelebihan dari pasukan yang lain yang apalagi
diantara mereka terdapat pasukan berkuda dari pasukan kumpeni.
Dengan senjata api, mereka benar-benar merupakan lawan yang sangat
berbahaya. Karena itu, pasukan yang akan memancing perhatian kumpeni
itupun harus dengan cekatan meninggalkan Penambangan apabila tugas
mereka sudah selesai, dengan berkuda pula. Jangan memilih jalan lain
kecuali lewat gumuk Watu Pitu.“ Demikianlah, maka Raden Mas Said dan
seluruh kekuatannyapun telah meninggalkan Penambangan menuju ke
Keduwang. Meskipun demikian, Raden Mas Said telah meninggalkan
sebagian kecil dari pasukannya yang terpilih untuk member ikan kesan
bahwa Penambangan tidak kosong. Dalam pada itu, selagi kekuatan
kumpeni dan prajurit Surakarta yang besar menuju ke Penambangan,
maka Pangeran Mangkubumipun telah kembali ke Gebang. Malam itu juga
Pangeran Mangkubumi telah memanggil para pemimpin
pasukannya.“Kumpeni benar-benar menuju ke Penambangan” berkata
Pangeran Mangkubumi ”aku telah mendapat laporan terperinci. “ Para
pengikutnya mengangguk-angguk. Namun sebagian dari mereka
memperhitungkan, bahwa Pangeran Mangkubumi sendiri tentu melihatnya
apa yang telah dilakukan oleh kumpeni. Tetapi tidak seorangpun
diantara mereka yang bertanya. “Karena itu” berkata Pangeran
Mangkubumi kemudian ”kita harus mampu mengimbangi gerakan kumpeni,
sehingga dengan demikian, kita tidak hanya sekedar menjadi sasaran
serangan mereka dan sekedar menghindarkan dir i.“ “Maksud Pangeran
?” bertanya seorang Senapatinya. “Besok, kita memasuki kota
Surakarta.” jawab Pangeran Mangkubumi. Jantung para pengikutnya
menjadi berdebar-debar. Demikian tiba-tiba pasukannya harus
menyerang kota Surakarta. “Jangan cemas akan kekuatan kita” berkata
Pangeran Mangkubumi pula ”kita akan berhasil menguasai seluruh kota.
Dan kita akan meninggalkan kota, sebelum kumpeni dan para prajurit
Surakarta kembali dari Penambangan.“ Para pengikutnya
mengangguk-angguk. Langkah itu agaknya akan saingat mempengaruhi
sikap dan pandangan Rakyat Surakarta terhadap kekuatan Pangeran
Mangkubumi. Mereka yang menganggap bahwa Pangeran Mangkubumi dapat
diabaikan, akan melihat satu kenyataan bahwa Pangeran Mangkubumi
bukan kanak-kanak yang sekedar sedang merajuk, Tetapi perjuangannya
berdiri diatas satu alas yang kuat. Baik dari segi keyakinan akan
kebenarannya, maupun dar i segi kekuatan dan kemampuan menghimpun,
menggerakkan dan wibawanya terhadap pasukannya.Dengan rencana
Pangeran Mangkubumi memasuki kota, akan terbuka pulalah mata
kumpeni, dengan siapa ia berhadapan. Apalagi jika serangannya atas
Penambangan gagal, sementara pasukan Pangeran Mangkubumi berhasil
menguasai kota. Demikianlah, maka malam itu juga, Pangeran
Mangkubumi menyiapkan pasukannya yang memang sejak sebelumnya telah
diatur sebaik-baiknya untuk menghadapi segala kemungkinan. Bahkan
kemungkinan menyingkir dari Gebang jika kumpeni benar-benar menuju
ke daerah pertahanannya itu. Dengan demikian, maka persiapan itu
tidak memerlukan waktu yang panjang. Pasukan di Gebang dan juga atas
perintah Pangeran Mangkubumi lewat seorang penghubung, palsukan di
Sukawatipun telah bersiap pula. “Nampaknya kumpeni akan memasuki
Penambangan saat matahari terbit. Kitapun akan memasuki kota saat
matahari terbit atau lewat sesaat.” berkata Pangeran Mangkubumi.
Maka sejenak kemudian, pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat telah
berangkat menuju ke kota Surakarta yang ditinggalkan oleh kumpeni
dan sebagian besar dar i prajur it Surakarta termasuk pasukan
berkuda. Satu gerakan yang sama sekali tidak diduga oleh kumpeni dan
para pemimpin di Surakarta. Mereka mengira bahwa pasukan Pangeran
Mangkubumi sedang bersiap menunggu kedatangan kumpeni yang akan
menyerangnya atau menghindar ke Utara. Tetapi ternyata di saat
pasukan Surakarta bergerak ke Penambangan justru Pangeran Mangkubumi
telah bergerak ke kota. Meskipun Pangeran Mangkubumi tidak akan
dapat mencapai kota tepat saat matahari terbit, namun ia tidak akan
terlalu siang memasuki gerbang. Namun jika kota telah bangun, dan
pasar mulai mengumandang, maka kehadirannya memang akan dapat
membuat kebingungan. Tetapi sepecti biasanya, Pangeran Mangkubumi
telah menjatuhkan perintahagar para pengikutnya sama sekali tidak
mengganggu rakyat Surakarta. Setiap pelanggaran akan mendapat
hukuman yang berat. Sementara itu, pasukan kumpeni dan pasukan
Surakarta telah mendekati Penambangan. Ketika cahaya fajar mulai
membayang, mereka sudah berada di ambang pintu sasaran. Namun dalam
pada itu, pasukan itu telah dikejutkan oleh obor-obor yang tiba-tiba
saja menyala. Satu, dua, tiga dan berpuluh-puluh. Sejenak kemudian,
maka terdengar sorak membahana bagaikan menggugurkan langit Pasukan
yang kuat itu terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa pasukan lawan
telah menyongsongnya. Karena itu, mereka t idak terlalu siap
menghadapinya. Apalagi ketika obor-obor itu telah menyala, maka
mereka melihat, sepasukan laskar berkuda telah menyerang mereka
dengan lontaran-Jontaran lembing. Belum lagi mereka sempat mengatur
diri, ternyata bahwa para penyerang itu tidak saja melontarkan
lembing, tetapi mereka yang membawa oborpun telah dilemparkan kearah
pasukan Surakarta. Sejenak ketegangan telah mencengkam. Namun
pasukan Surakarta itu sempat bertebaran untuk menghindari obor yang
menyala yang langsung dilemparkan kearah mereka dari laskar berkuda
yang tiba-tiba saja telah menyerang mereka di-samping
lontaran-lontaran lembing.Beberapa orang kumpeni telah mengaduh.
Lembing itu cukup tajam untuk menghunjam kedalam tubuh mereka.
Sementara apipun menyala disebelah menyebelah. Apalagi selain api
obor, beberapa orang sengaja melemparkan bumbung-bumbung minyak yang
kemudian tumpah dan disambar api-api obor, sehingga untuk beberapa
saat lamanya pasukan yang kuat itu terpecah. Dalam keadaan yang
demikian, maka laskar berkuda itupun segera meninggalkan medan.
Dengan satu isyarat, maka kuda-kuda itupun segera berlari
meninggalkan pasukan Surakarta. Pada saat itulah terdengar senapan
meledak. Tetapi laskar Raden Mas Said telah menjadi semakin jauh.
Mereka datang sekejap, kemudian menghilang didalam keremangan dini
hari. Kuda mereka menerobos tanah pategalan. Menuju ke jalan kecil
di pinggir padukuhan sebelah untuk kemudian menghilang kedalam pintu
gerbang padukuhan itu. Namun pada saat itu terdengar perintah
melengking. Pasukan berkuda harus mengejar mereka sampai dapat.
“Jumlah mereka tidak terlalu banyak. Sementara yang lain langsung
mengepung Penambangan. Kedatangan kita sudah diketahui oleh Raden
Mas Said.” perintah Panglima pasukan itu. Seorang kumpeni berpangkat
mayor. Pasukan itupun kemudian bergegas menuju ke Penambangan yang
sudah dekat. Mereka akan langsung memasang gelar, mengepung daerah
itu dengan ketat, Sementara itu, sebagian dari pasukan berkuda
tengah mengejar pasukan Raden Mas Said yang melarikan dir i.
Ternyata pasukan berkuda dari Surakarta yang sebagian dari mereka
adalah kumpeni, adalah prajurit-prajurit berkuda yang tangkas.
Kuda-kuda merekapun adalah kuda-kuda yang tegar dan kuat, sehingga
meskipun mereka telah tertinggal beberapa saat, namun mereka yakin
akan dapat mengejar,dan menghancurkan pasukan berkuda yang menyerang
mereka, yang jumlahnya memang tidak terlalu banyak. Tetapi laskar
berkuda itu tidak melar ikan diri menuju ke Penambangan. Memang
sepercik pertanyaan telah timbul pada hati letnan Panlangen yang
mengenal arah Penambangan di atas peta. “Mereka pergi kemana ?”
bertanya Panlangen kepada seorang Senapati muda dari pasukan berkuda
Surakarta. ”Aku tidak tahu. Tetapi mereka tidak pergi ke
Penambangan” jawab Senapati muda yang benar-benar sudah mengenal
daerah itu. Letnan Panlangen pemimpin pasukan berkuda itu tiba-tiba
saja, tertawa sambil memacu kudanya. Disela-sela suara derap kudanya
ia berkata lantang ”Orang-orang pribumi yang bodoh. Mereka berusaha
memancing agar pasukan Surakarta tidak pergi ke Penambangan. Dan itu
adalah pikiran yang bodoh sekali. Jika kita mengejar mereka, mereka
sangka, bahwa tidak ada lagi pasukan yang pergi ke Penambangan.
Pasukan yang justru pasukan yang terkuat.” Senapati muda ku tidak
menjawab. Sementara itu, pasukan berkuda yang mengejar laskar Raden
Mas Said, telah melihat dalam bayangan fajar, kuda-kuda yang
berderap dihadapan mereka. Dibulak panjang Panlangen melihat, bahwa
laskar Raden Mas Said itu tidak mampu maju secepat pasukan berkuda
dari Surakarta. “Sebentar lagi kita akan menghancurkan mereka” geram
Panlangen ”orang-orang pribumi yang bodoh itu telah melukai beberapa
orang kumpeni, dan barangkali telah membunuh satu dua orang diantara
mereka dengan lembing-lembing bambu itu. Kita tidak akan memaafkan
mereka. Setiap pengkhianat harus dibunuh dimanapun kita menemukan
mereka.“Senapati muda itu masih tetap berdiam diri. Tetapi rasa-
rasanya jantungnya menjadi semakin tegang, ketika jarak antara
pasukan berkuda dengan laskar Raden Mas Said itu menjadi semakin
dekat. Panlangen yang tidak sabar lagi itupun meneriakkan aba- aba
untuk mempercepat laju pasukan itu. Selagi mereka berada di bulak
panjang dan padang ilalang, maka medan akan lebih menguntungkan
daripada j ika mereka berada di padukuhan-padukuhan yang banyak
ditumbuhi pepohonan. Jarak antara kedua pasukan itu memang menjadi
semakin dekat. Dalam pada itu, seorang anak muda bertubuh tinggi
kekar dan berjambang lebat, yang memimpin pasukan Raden Mas Said
itupun memberikan isyarat agar pasukannya bergerak leblilh cepat
pula. Jantung merekapun menjadi berdebar-debar pula ketika mereka
melihat sebuah gumuk yang besar di sebelah jalan yang menikung
dibelakang gumuk itu. Gumuk itulah yang disebut gumuk Watu Pitu.
“Kita harus mencapai gumuk itu” anak muda berjambang itu memberikan
aba-aba dengan lantang. Setiap orang didalam pasukannyapun
menyadari, jika pasukan berkuda itu mencapai mereka sebelum mereka
melalui gumuk itu, maka mereka akan mengalami kesulitan. Tetapi
kuda-kuda dari laskar Raden Mas Said itu memang tidak sebaik kuda
dari pasukan berkuda Surakarta. Dengan demikian, jarak antara kedua
pasukan itu memang menjadi semakin pendek. “Hancurkan mereka”
perintah Panlangen itu menggelegar bagaikan bunyi guruh. Kuda para
prajurit dan kumpeni dar i pasukan berkuda itu menjadi semakin laju.
Tiba-tiba saja seorang prajur it berkuda berkata ”Di belakang gumuk
itu jalan menikung ke-kanan. Kita dapat memotong lewat padang
melingkari gumuk itu.““Jalan berbahaya” sahut Senapati muda itu.
“Tidak. Ilalang itu tidak begitu lebat dan tinggi. Aku mengenal
daerah ini dengan baik.“ Senapati itu berpikir sejenak. Namun
kemudian katanya ”Bawa kelompokmu. Tidak lebih. Tugasmu hanya
menghambat.“ Prajurit itupun segera memisahkan dir i dengan
kelompoknya yang hanya berjumlah sepuluh orang. Tetapi yang sepuluh
orang itu akan dapat mengejutkan pasukan berkuda yang sedang mereka
kejar. Kemudian menghambatnya. Dalam pada itu, pasukan yang mengejar
itupun akan segera mencapai laskar itu dan menghantam mereka dar i
belakang, sehingga laskar Raden Mas Said itu akan musna sama
sekali.” Seperti yang dikatakan oleh prajurit itu, padang ilalang
diseputar gumuk itu tidak berbahaya bagi kuda-kuda yang berderap.
Ilalangnya tidak terlalu lebat dan tinggi, sedang tanah
dibawahnyapun datar dan tidak berbatu padas. Karena itu, maka
prajurit itu berharap untuk dapat memotong iring- iringan laskar
Raden Mas Said di balik gumuk yang disebut gumuk Watu Pitu itu.
Namun yang terjadi, sama sekali tidak seperti yang direncanakan oleh
prajurit itu. Dan juga tidak seperti yang diperhitungkan oleh letnan
Panlangen. Ternyata laskar berkuda Raden Mas Said ku, tidak berlari
terus meninggalkan lawan-lawannya yang sudah menjadi semakin dekat.
Demikian mereka melintasi gumuk itu, maka anak muda berjambang yang
memimpin pasukan itu, member ikan isyarat dengan suitan nyaring,
yang disambut dengan isyarat yang sama. Karena itu, maka anak muda
berjambang itupun meyakini, bahwa pasukan yang dipersiapkan di gumuk
itu tidak terlambat dan tepat berada ditempat yang sudah
ditetapkan.Karena itu, maka demikian mereka sampai ditikungan. maka
terdengarlah anak muda, itu meneriakkan aba-aba agar pasukan berkuda
ku berhenti dan siap menghadapi lawan yang akan segera menyerang.
Keadaan itu, ternyata telah mengejutkan pasukan yang mengejarnya.
Panlangen dan Senapati prajurit Surakarta dari pasukan berkuda itu
mendengar isyarat yang bersahutan. Karena itu, naluri keprajuritan
merekapun telah menggerakkan Panlangen untuk mengangkat tangan
sambil memberikan perintah agar pasukannya memperlambat laju mereka.
Namun segalanya telah terlambat. Dalam keremangan fajar yang menjadi
semakin terang, Panlangen melihat pasukan berkuda lawannya berbalik
ditikungan. Sementara itu, tiba-tiba saja mereka telah mendapat
serangan anak panah yang bagaikan hujan dari balik bebatuan di gumuk
Watu Pitu. Panlangen dengan cepat mengatur pasukannya.
Diteriakkannya aba-aba dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh
laskar Raden Mas Said. Namun dalam pada itu, serangan mereka yang
tiba-tiba itu telah berhasil mengacaukan pasukan Panlangen dan
pasukan berkuda dari Surakarta. Selagi pasukan itu menjadi kacau,
maka laskar berkuda Raden Mas Said mempersiapkan dir i menghadapi
segala kemungkinan. Tetapi mereka tidak menyerang pasukan yang
sedang kacau itu, untuk memberi kesempatan kepada kawan- kawannya
yang berada dii balik batu-batu padas untuk menyerang dengan
lontaran anak panah. Namun ketika pasukan berkuda dari Surakarta itu
sedang berusaha untuk menyusun kekuatannya, muncullah sepuluh orang
berkuda yang melingkari gumuk Watu Pitu. Orang-orang itu terkejut,
ketika mereka melihat justru pasukan berkuda yatag ingin dicegatnya
itu berhenti ditikungan. Apalagi ketika mereka menyadari, bahwa
telah terjadi sesuatu diluar perhitungan mereka. Ternyata
diantarabebatuan di gumuk itu terdapat pasukan lawan yang sudah siap
menunggu kedatangan mereka. Dalam keremangan pagi yang samar, mereka
ternyata tidak segera dapat melihat orang-orang yang seolah-olah
telah tersamar di bebatuan. Baru kemudian, lontaran-lontaran senjata
itu telah menyatakan, bahwa di gumuk Watu Pitu itu terdapat
sepasukan yang memang sengaja menunggu kehadiran prajur it berkuda
dari Surakarta. Pasukan berkuda Raden Mas Saidpun terkejut melihat
sepuluh orang berkuda yang muncul dari balik gumuk. Namun demikian
mereka melihat pakaian dan ciri-cirinya, meskipun pagi masih remang,
merekapun segera mengenal, bahwa mereka adalah prajurit dan pasukan
berkuda. Untuk sesaat pemimpin pasukan Raden Mas Said itu ragu-
ragu, justru karena mereka adalah prajurit Surakarta. Namun
akhirnya, ketika ia melihat kumpeni yang berhasil menyusun diri siap
dengan senjata api mereka, maka pemimpin pasukan berkuda itupun
segera meneriakkan perintah, agar pasukannya segera menyerang. Bukan
saja mereka yang berkuda. Namun demikian perintah itu terdengar,
maka bermuncullanlah laskar Raden Mas Said dari balik bebatuan.
Mereka masih saja menyerang dengan anak panah, sehingga kumpeni dan
prajurit dari pasukan berkuda Surakarta, terpaksa berusaha untuk
menghindar atau menangkis. Namun dalam pada itu, pasukan berkuda
Raden Mas Said itupun telah menghadap kembali kearah mereka dan
menyerang seperti angin prahara. Pasukan berkuda kumpeni dan
prajurit Surakarta itu memang prajurit pilihan. Tetapi menghadapi
keadaan yang tiba-tiba, mereka menjadi berdebar-debar pula. Serangan
ternyata datang dari dua arah, dengan kekuatan yang hampirseimbang,
sementara orang-orang yang muncul dari gumuk itu masih saja
menyerang dengan anak panah mereka. Satu dua orang kumpeni. telah
terluka. Karena itu, maka senjata merekapun segera mulai meledak.
Namun dalam pada, itu, pasukan berkuda Raden Mas Said telah
menyerang mereka, sehingga mereka terpaksa bertempur dengan senjata
jarak pendek. Sebenarnya seorang demi seorang, pasukan kumpeni dan
prajurit dari pasukan berkuda Surakarta, mempunyai kemampuan yang
jauh lebih baik. Tetapi ternyata mereka telah terjebak dalam satu
keadaan yang tidak menguntungkan. Pada benturan kedua pasukan itu,
kumpeni telah kehilangan beberapa orang prajurit yang terluka,
sementara prajurit Surakartapun mengalami keadaan yang serupa.
Ternyata bahwa jumlah pasukan Raden Mas Said yang terdiri dari dua
kelompok itu, jumahnya jauh lebih banyak. Sehingga dengan demikian,
maka kumpeni dan pasukan berkuda Surakarta itu segera mengalami
kesulitan. Sepuluh orang yang berusaha memotong jalan itupun segera
memasuki arena pula. Namun merekapun segera tenggelam dalam
keributan pertempuran. Letnan PaJnlangen yang hanya sempat
menembakkan senjatanya satu kali, telah mencabut pedangnya. Dengan
garangnya ia bertempur diatas punggung kuda. Ternyata ia benar-benar
seorang Senapati yang memiliki kemampuan tinggi dari pasukan
kumpeni. Itulah sebabnya ia dipercaya untuk memimpin pasukan berkuda
gabungan antara kumpeni dan prajurit Surakarta dari pasukan berkuda.
Tetapi ia menghadapi musuh yang terlalu banyak. Dalam hiruk pikuk
pertempuran ia berhadapan tidak saja lawan yang berada diatas
punggung kuda. Tetapi beberapa orang laskarRaden Mas Said telah
menyerangnya dengan tombak sambi berlari-lari, karena mereka tidak
berkuda. Kecuali letnan Panlangen dan kumpeni, prajurit dari pasukan
berkuda Surakartapun memiliki kelebihan. Itulah sebabnya Raden Mas
Said sendiri telah memperingatkan, agar mereka berhati-hati
menghadapi pasukan berkuda itu. Tetapi betapapun kuatnya pasukan
berkuda itu, namun akhirnya mereka tidak dapat mengingkari
kenyataan. Tombak para pengikut Raden Mas Said itu telah menyentuh
kumpeni itu seorang demi seorang. Seperti yang direncanakan, yang
menjadi sasaran utama adalah justru kumpeni. Setiap Raden Mas Said
bertemu dengan Pangeran Mangkubumi, maka Pangeran itu selalu
menekankan, bahwa lawan yang sebenarnya bagi mereka adalah kumpeni.
Bukan prajurit Surakarta sendiri. Bahwa dalam pertempuran yang
sengit itu, terpaksa ada juga prajurit Surakarta yang terbunuh, itu
adalah diluar kemampuan usaha mereka yang menghindar, karena
sebenarnyalah bahwa prajurit Surakarta itu, telah berusaha pula
untuk benar-benar membunuh. Dalam pertempuran yang sengit itu, maka
korbanpun mulai jatuh. Seorang demi seorang ujung-ujung tombak telah
menyusup diantara tulang-tulang iga kumpeni. Satu-satu mereka
berjatuhan dari punggung kuda. Ternyata prajurit dan pasukan berkuda
dan kumpeni tidak berhasil menguasai lawannya yang dengan sengaja
telah menjebak mereka. Sementara itu, merekapun tidak sempat lagi
minta bantuan dari Surakarta. Apalagi jika diingat bahwa prajurit
yang berangkat ke Penambangan adalah sekelompok prajurit yang pating
baik dari Surakarta, termasuk prajurit dari pasukan berkuda. Tidak
ada jalan kembali bagi letnan Panlangen. Setelah pedangnya merah
oleh darah, maka datang giliran ia harusmengakui keunggulan pasukan
Raden Mas Said yang jumlahnya jauh lebih banyak dari pasukannya.
Dengan marah ia menyaksikan seorang demi seorang kumpeni yang jatuh,
terluka dan kemudian terbunuh di peperangan itu. Namun dalam pada
itu, pasukan Raden Mas Said sebagaimana umumnya para pengikut
Pangeran Mangkubumi telah mendengar dan selalu mendengar, bahwa
lawan mereka adalah kumpeni. Meskipun demikian dalam pertempuran
yang seru, maka tidak akan dapat dihindari, bahwa satu dua prajur it
Surakarta dari pasukan berkuda itupun telah tersentuh senjata.
Bahkan satu dua diantara mereka telah terjatuh dan terkapar ditanah.
Letnan Panlangen yang marah itupun bertempur dengan garangnya.
Pedangnya menyambar-nyambar. Demikian pula pasukan berkuda kumpeni
yang lain, telah bertempur dengan kemarahan dan kebencian. Apalagi
ketika mereka melihat kawan-kawan mereka yang terbunuh dan yang
terluka oleh senjata orang-orang yang mereka anggap liar, yang
bertempur dengan lembing-lembing bambu dan parang- parang pemotong
kayu. Tetapi lembing-lembmg bambu dan parang pemotong kayu itu mampu
juga menghunjam kedalamtubuh mereka. Pertempuran itupun menjadi
semakin sengit. Tetapi tidak ada lagi harapan Panlangen untuk dapat
mengalahkan lawannya. Karena itu, maka t idak ada kemungkinan lain
yang paling baik daripada menghindarkan diri. Karena itu, maka
sejenak kemudian terdengar aba-aba yang diteriakkan oleh letnan itu.
Aba-aba yang diberikan kepada pasukannya untuk meninggalkan arena.
Sebenarnyalah kecemasan telah mencekam setiap orang yang masih
tersisa dalam pasukan berkuda itu. Mereka sama sekali sudah tidak
berpengharapan. Sementara merekapun tidak ingin untuk membunuh dir i
dengan meminjam tanganpasukan Raden Mas Said. Karena itu, demikian
mereka mendengar aba-aba dari letnan Panlangen, maka merekapun
segera berusaha melepaskan diri dari keterikatan pertempuran. Sekali
lagi pasukan berkuda itu menunjukkan ketangkasan mereka. Dengan
tangkasnya mereka menghindar dan dengan cepat pula mereka berhasil
melepaskan diri dari pertempuran yang seru itu. Pada saat pasukan
berkuda dari Surakarta yang terdiri dari prajurit Surakarta sendiri
dan kumpeni itu meninggalkan arena, maka anak muda yang berjambang,
berkumis dan berjanggut lebat itupun telah memberikan aba-aba untuk
tidak mengejar mereka. “Kenapa mereka kita lepaskan saja ?” bertanya
salah seorang dari laskar Raden Mas Said itu. “Tidak ada gunanya.
Kuda mereka jauh lebih baik dari kuda kita. Kita tidak akan dapat
mengejarnya. Jika kita mencoba, maka jarak diantara pasukan kita
dengan mereka akan semakin lama menjadi semakin panjang.” jawab
pemimpin pasukan Raden Mas Said itu. Dalam pada itu, ternyata bekas
medan itu telah basah oleh darah. Mayat masih terbujur lintang
mengerikan. Sebagian besar dari mereka adalah kumpeni yang merasa
dir i mereka orang yang lebih tinggi derajat dan martabatnya dari
orang berkulit sawo. Namun tidak dapat dihindar i bahwa korbanpun
telah jatuh diantara prajurit Surakarta dari pasukan berkuda, dan
bahkan mereka dari pasukan Raden Mas Said sendir i. “Kita masih
mempunyai tugas yang harus kita lakukan dengan cepat” berkata
pemimpin dar i pasukan berkuda Raden Mas Said itu. “Tugas apa lagi?”
bertanya salah seorang dari laskarnya.Pemimpin pasukan itupun
merenung sejenak. Namun kemudian katanya dengan nada datar
”Bagaimana dengan mayat-mayat ini?” Kawan-kawannyapun mengerutkan
keningnya. Mereka tidak akan sampai hati meninggalkan mayat itu
terkapar begitu saja. “Kita akan menguburkan mereka” desis pemimpin
pasukan itu. “Apakah kita tidak memikirkan kemungkinan, bahwa
pasukan Surakarta itu akan datang lagi dengan jumlah yang jauh lebih
besar ? Seluruh pasukan berkuda akan datang dan mengepung kita.”
sahut salah seorang anak buahnya. Pemimpin pasukan itu
termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata ”Kita akan singgah di
padukuhan terdekat. Kita akan minta kepada mereka untuk mengubur
mayat-mayat. itu. Tetapi kita tidak akan dapat meninggalkan mayat
kawan- kawan kita sendiri. Kita akan membawanya menuju ke tempat
yang sudah ditentukan dan menguburkannya disaina. Baru kemudian kita
akan menyusul ke Keduwang.“ Tidak ada jalan lain yang lebih baik.
Karena itu, maka laskar Raden Mas Said itupun segera mencari
kawan-kawan mereka yang terbunuh diantara mayat yang berserakan,
sementara yang terluka parah telah mendapat perawatan sementara,
bahkan lawan sekalipun. Ternyata bahwa ada beberapa ekor kuda dari
pasukan berkuda Surakarta yang masih berkeliaran di sekitar medan
itu tanpa penunggangnya. Dengan demikian, maka laskar Raden Mas Said
itu kecuali sempat mengambil senjata kumpeni yang terbunuh,
merekapun mendapat juga beberapa ekor kuda yang besar dan tegar.
Demikianlah, dengan kuda-kuda yang besar itu, para pengikut Raden
Mas, Said itu telah membawa kawan- kawannya yang terluka dan yang
gugur dipertempuiran.Meskipun demikian, mereka tidak sampai hati
membiarkan mayat itu tanpa diperlakukan sebagaimana seharusnya.
Karena itu, maka merekapun telah singgah di padukuhan terdekat.
Kepada penghuni padukuhan itu pemimpin laskar Raden Mas Said itupun
minta agar mereka bersedia sekedar melakukan tindak terpuji untuk
mengubur mayat yang berserak-kan di sebelah gumuk Watu Pitu, dan
merawat yang terluka. “Ada beberapa pertimbangan” berkata pemimpin
pasukan itu ”kecuali dari segi sikap yang terpuji atas dasar
perikemanusiaan, juga atas pertimbangan kesehatan penghuni padukuhan
ini sendiri. Jika mayat-mayat itu membusuk, maka akibatnya akan
kurang baik bagi penghuni padukuhan ini. “Tetapi apakah hal itu
tidak akan membuat kita mendapat bencana. Jika para prajurit
Surakarta dan kumpeni menuduh kita terlibat dalam hal ini, maka
masih kita akan menjadi sangat buruk.” “Mereka tahu siapa yang telah
membunuh kawan- kawannya” jawab pemimpin pasukan Raden Mas Said itu
”karena itu, selagi mereka masih tetap manusia dan apalagi prajurit
Surakarta sendiri, tentu akan mengucapkan terima kasih kepada
kalian. Tetapi ada kemungkinan kawan-kawan mereka t idak akan
kembali lagi ketempat ini. Mereka akan pergi ke Penambangan,
menggabungkan dir i dengan induk pasukan mereka, setelah mereka
mengalami kerugian yang sangat besar didaerah ini. Karena kalian
harus merawat mereka yang terluka untuk sementara.“ Meskipun
ragu-ragu, namun akhirnya penghuni padukuhan itupun menyatakan
kesediaan mereka untuk melakukannya. Setelah mendengar kesanggupan
itu, barulah rjemimpin pasukan itu merasa tenang. Setelah
mengucapkan terima kasih, maka merekapun segera meninggalkan tempat
itu, menuju ke tempat yang sudah ditentukan sebelum mereka memasuki
Keduwang.Dalam pada itu, pasukan Raden Mas Said itupun telah dibagi
menjadi dua. Yang berkuda akan mendahului melalui jalan yang lebih
besar, sementara yang berjalan kaki akan menempuh jalan memintas,
melewati jalan-jalan sempit dan bahkan pematang-pematang. Namun
jaraknya menjadi jauh lebih dekat. Sementara itu, pasukan induk
Surakarta benar-benar telah mengepung Penambangan. Mereka yakin
bahwa mereka akan berhasil menghancurkan, pasukan Raden Mas Said.
Seperti letnan Panlangen, merekapun menganggap bahwa serangan kecil
itu hanyalah sekedar memancing perhatian untuk mengalihkan sasaran.
“Menurut perhitungan kami” berkata seorang Senapati dari Surakarta
”mereka tidak sempat menghindar dari daerah ini Demikian pasukan
berkuda mengejar penyerang-penyerang yang tidak seberapa jumlahnya
itu, beberapa orang petugas sandi telah mendahului perjalanan
pasukan ini. Tidak secrangpun yang sempat keluar dar i daerah
Penambangan.“ ”Tetapi bahwa mereka mengerti kedatangan kita itupun
merupakan satu persoalan” jawab kumpeni berpangkat, mayor yang
menjadi Panglima pasukan Surakarta yang terdiri dari prajurit-prajur
it terbaik dar i Surakarta dan kumpeni itu. “Kita akan menunggu
sejenak” berkata Senapati itu ”pasukan berkuda itu akan segera
datang. Kita tidak usah cemas, bahwa meskipun orang-orang yang
berada didalam kepungan ini mengetahui kehadiran kita, mereka tidak
akan dapat mengelakkan dir i lagi.” Namun ternyata bahwa pasukan
berkuda itu tidak segera datang, “Orang-orang pribumi itu sempat
juga mengadakan perlawanan” desis Mayor kumpeni itu.Namun akhirnya,
mereka melihat juga iring- iringan pasukan berkuda yang letih
mendekati kepungan induk pasukan Surakarta di Penambangan.
Kedatangan mereka benar-benar mengejutkan. Keadaan mereka yang
parah, memberikan kesan yang sangat buruk bagi Panglima pasukan
Surakarta itu. Dengan garangnya Mayor iitu menerima Panlangen yang
menghadap dengan kepala tunduk. Pada punggung Panlangen sendiri
terdapat noda darah, karena punggungnya memang tersentuh senjata.
Dengan nada dalam. Panlangen membelikan laporan, apa yang telah
terjadi dengan pasukannya, sehingga tanpa dapat dicegah lagi,
pasukannya telah menjadi parah seperti yang dapat disaksikan itu.
“Gila, anak monyet, sambar geledek” Mayor ilu mengumpat-umpat.
Sementara letnan Panlangen hanya dapat menundukkan kepalanya oleh
berbagai perasaan yang bercampur baur dihatinya. Kemarahan mayor itu
tidak terkatakan. Dengan wajah merah membara ia kemudian membentak
”Apakah kau tidak mampu mengalahkan monyet-monyet itu he ?“ “Jumlah
mereka terlalu banyak, mayor” jawab Panlangen:. “Kalian memang
pengecut. Berapa banyaknya, tetapi mereka harus dapat dibinasakan”
geram mayor yang hampir menjadi gila itu. Karena itu tiba-tiba ia
berkata lantang ”Kita hancurkan Penambangan. Semua orang harus
dibunuh kecuali Raden Mas Said. Ia harus mempertanggung jawabkan
segala perbuatannya. Dan ia akan dibunuh di alun-alun Surakarta
dengan tali gantungan dihadapan rakyat.“ Panlangen tidak menjawab.
Tetapi ia mengenal mayor itu dengan baik. Karena itu, maka iapun
dapat membayangkan, apa yang akan terjadi di Penambangan. Mayor itu
akan benar-benar melakukan seperti yang dikatakannya. Semua orang
harus mati. Sementara mayor itu memerintahkan untuk mengurung
Penambangan semakin sempit, maka pasukan Pangeran Mangkubumi yang
kuat dari arah Gebang dan Sukawati telah mendekati kota. Pasukan itu
menjadi tergesa-gesa ketika matahari sudah mulai memanjat langit.
Dengan cermat Pangeran Mangkubumi telah membagi pasukannya. Beberapa
orang Pangeran dan bangsawan yang ada didalam pasukannya .telah di
bagi dalam beberapa kelompok. Mereka akan memimpin kelompok-kelompok
yang akan berpencar didalam ko,ta. “Kita harus memberikan kesan,
bahwa seluruh kota sudah kita kuasai meskipun hanya untuk sementara”
berkata Petngeran Mangkubumi, Demikianlah, maka ketika panasnya
matahari pagi mulai terasa gatal, kota sudah mulai menjadi gelisah.
Satu dua oiang telah melihat kedatangan pasukan yang kuat itu,
sehingga merekapun dengan cemas telah berusaha untuk member itahukan
hal itu kepada para prajurit yang berjaga- jaga di pintu gerbang.
Namun sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, pasukan itu benar-benar
telah datang. Tidak hanya dari satu arah, tetapi dari beberapa arah.
Pasukan yang memasuki kota tidak saja melalui gerbang-gerbang utama,
tetapi juga melalui jalan jalan kecil disisi utara kota Surakarta.
Sejenak kemudian kota Surakarta menjadi gempar. Sebenarnya itulah
yang tidak diinginkan oleh Pangeran Mangkubumi. Tetapi apaboleh
buat. Tidak ada lagi waktu yang lebih baik dari saat itu, selagi
kumpeni dengan pasukannya yang terkuat sedang berada di luar kota
bersama sebagian besar prajurit Surakarta.Kedatangan pasukan
Pangeran Mangkubumi itupun segera tersiar keseluruh kota. Beberapa
orang kumpeni yang masih ada dikota segera bersiap. Pasukan berkuda
yang tinggal-pun segera keluar dari baraknya. Bersama sepasukan
kumpeni mereka menyongsong pasukan Pangeran Mangkubumi yang memasuki
kota lewat gerbang utama yang menghadap ke Utara. Pertempuranpun
segera berkobar. Jalan-jalan kota telah menjadi ajang peperangan.
Terdengar beberapa kali ledakan senjata api. Tetapi jarak demikian
dekat, sehingga perang yang kemudian terjadi adalah perang dengan
senjata pendek. Tetapi yang memasuki kota lewat pintu gerbang utama
adalah sebagian saja dari pasukan dalam keseluruhannya. Sementara
itu, maka kelompok-kelompok yang lain dari pasukan Pangeran
Mangkubumi telah menebar. Dalam pada itu, prajurit Surakarta segera
mengalami kesulitan. Tekanan pasukan Pangeran Mangkubumi terasa
sangat berat. Apalagi pasukan mereka yang terkuat sedang
meninggalkan kota menuju ke Penambangan. Namun seperti yang
dicemaskan Pangeran Mangkubumi, prajurit-prajuritnya tidak leluasa
bertempur melawan kumpeni dan pasukan Surakarta, justru karena
kebingungan rakyat Surakarta sendiri. Beberapa keluarga yang
ketakutan justru berlari-larian di sepanjang jalan. Mereka menjadi
kebingungan dan sebagian tidak lagi tahu, kemana mereka akan
mengungsi. Tetapi menurut pendengaran mereka, pasukan Pangeran
Mangkubumi adalah pasukan pemberontak yang garang, yang akan
mencelakai rakyat Surakarta. Sebagian besar rakyat yang tinggal di
kota Surakarta percaya akan kabar itu. Orang-orang yang membenci
Pangeran Mangkubumi dengan sengaja mengatakan bahwa Pangeran itu
telah memberontak karena ia tidak mau tunduk kepada perintah Sri
Paduka Kangjeng Susuhunan. Pangeran itu tidak mau menyerahkan tanah
Kalenggahannya yangterlalu banyak. Akhirnya bahkan Pangeran
Mangkubumi telah menyatakan ingin mengusir Kangjeng Susuhunan dari
tahtanya, dan kemudian menggantikannya, Ternyata kumpeni telah
memanfaatkan rakyat yang kebingungan itu. Justru mereka dapat
dipergunakan sebagai perisai disaat-saat kumpeni tidak mampu lagi
bertahan. Di belakang rakyat yang kebingungan kumpeni menarik diri
masuk ke loj i. Dalam pada itu, pertempuran masih berlangsung dengan
sengitnya. Kumpeni yang belum sempat melarikan dir i, menjadi
sasaran kemarahan pasukan Pangeran Mangkubumi, sehingga korbanpun
telah berjatuhan. Tetapi kengerian yang memuncak, memaksa rakyat
Surakarta sendiri menjadi hambatan dari gerakan Pangeran Mangkubumi.
Dan itu sudah diperhitungkan oleh Pangeran Mangkubumi jika mereka
kesiangan masuk kedalam kota. Namun mereka sudah terlanjur. Karena
itu, maka pasukan Pangeran Mangkubumipun berusaha menyesuaikan dir
i. Mereka sama sekali tidak mengganggu rakyat yang sedang mengungsi.
Sebagian dari mereka telah masuk kedalam keraton lewat gerbang
belakang. Bagi mereka tidak ada tempat lain yang lebih aman daripada
berada didalam lingkungan dinding keraton yang dijaga oleh para
prajurit dan bahkan diantara mereka terdapat beberapa orang kumpeni
bersenjata api. Semua pintu gerbangpun kemudian ditutup.
Sekali-sekali pintu itu masih harus dibuka j ika ada. beberapa orang
pengungsi yang memaksa untuk masuk. “Gila, usir mereka” bentak
Selor, seorang sersan kumpeni yang berkumis lebat. “Mereka ketakutan
diluar” sahut searang Senapati muda “biarlah mereka mendapat
ketenangan disini.““Itu tidak boleh. Halaman istana ini harus bersih
dar i orang- orang dungu dan pengecut itu” bentak Selor ”usir mereka
dan biar mereka berada diluar.“ “Diluar dinding ini terjadi
pertempuran. Orang-orang yang tak bersenjata ini akan dapat mati
terinjak-injak kaki kuda” Senapati muda itupun kemudian membentak.
“Aku perintahkan, bawa mereka keluar. Mereka mengganggu disini.
Siapa tahu diantara mereka terdapat petugas-petugas sandi dari
pemberontak itu” sersan Selor semakin marah. Tetapi Senapati muda
itupun menjadi semakin marah pula. Katanya ”Mereka tidak mengganggu
disini. Mereka hanya sekedar mengungsi karena ketakutan.“ “Jika kau
tidak mau mengusir mereka, kumpeni akan mengusir mereka” teriak
sersan berkumis lebat itu. Senapati muda itupun telah kehilangan
kesabarannya pula. Dengan lantang ia menjawab ”Kau bukan
pimpinan-ku. Kau tidak dapat memerintah aku. Istana inipun bukan
istana rajamu. Ini adalah istana Kangjeng Susuhunan Paku Buwana.
raja di Surakarta. Istana ini seharusnya memang memberikan
perlindungan kepada rakyat yang ketakutan.“ “Aku tidak pedui. Aku
akan mengusir mereka” teriak Selor lebih keras sambil menarik
pedangnya ”siapa yang tidak mau pergi, aku bunuh ia disini.“ Tetapi
Senapati itu tidak kalah marahnya. Iapun telah menyambar tombak
seorang penjaga yang berdiri termangu- mangu sambil berteriak pula
”Lakukan. Coba lakukan jika kau jantan. Ayo, jika kau berani berbuat
sesuatu terhadap rakyat Surakarta dihadapan mataku. Perutmu akan aku
koyak dengan tombak ini. Biar namamu saja yang kembali ke seberang
lautan tempat asalmu,“ “Gila. Kau juga pemberontak ya” geram
Selor.“Aku berada di bumiku sendir i. Aku melindungi rakyatku yang
ketakutan. Dan kau akan menambah kalut pikiran mereka dengan tingkah
lakumu yang biadab” jawab Senapati itu sambil1 menggeretakkan
giginya. Untunglah, bahwa karena keributan itu, telah datang
pemimpin-pemimpin mereka yang sempat berpikir lebih bening. Seorang
letnan kumpeni telah menenangkan hati sersan Selor dan
memerintahkannya untuk tidak meneruskan niatnya, sementara seorang
Senapati Surakarta yang lebih tuapun telah berusaha membawa Senapati
muda itu bergeser dari tempatnya. “Setan itu akan mengusir para
pengungsi yang ketakutan” geramSenapati muda itu. “Tidak, la tidak
akan melakukannya lagi” desis Senapati yang lebih tua ”sebaiknya
kita tidak berselisih diantara kita, sedangkan pasukan Pangeran
Mangkubumi telah berada diluar dinding istana ini. Kangjeng
Susuhunan tentu akan menjadi semakin gelisah.“ “Tetapi aku t idak
dapat membiarkan kebiadaban itu berlaku, justru oleh orang-orang
yang katanya akan membawa peradaban baru di Surakarta, bagi
kepentingan rakyat Surakarta.” “Sudahlah” berkata Senapati yang
lebih tua ”kita bersiap menghadapi kemungkinan, jika pasukan
Pangeran Mangkubumi memasuki halaman istana dari arah manapun juga.“
Senapati muda itu tidak menjawab. Namun masih terasa dentang
jantungnya yang memukul-mukul dinding dadanya. Sementara itu, kota
Surakarta benar-benar telah dikuasai oleh pasukan Pangeran
Mangkubumi. Hanya beberapa bagian dari barak-barak prajur it sajalah
yang dibiarkannya, untuk mencegah korban yang tidak terhitung
jumlahnya. Jika sekelompok pasukannya memasuki barak prajur it yang
tidaklagi dapat dipertahankan sebaik-baiknya karena sebagian besar
dari mereka sedang dalam perjalanan ke Penambangan, maka tidak akan
dapat dicegah lagi bahwa perasaan akan mulai berbicara, tidak lagi
dengan ujung-ujung lidah, tetapi dengan ujung senjata. Pangeran
Mangkubumi sudah memperhitungkannya sebelumnya, sehingga karena itu,
maka para Senapatinyapun telah berbuat serupa pula. Dalam pada itu,
barak-barak prajurit Surakartapun telah menutup segala regol dan
pintu-pintu teteg di halaman dan seketheng. Juga pintu regol istana
Ranakusuman yang dipergunakan oleh pasukan berkuda. Namun dalam pada
itu, para prajurit yang menarik dir i kedalam barak-barak mereka,
selain yang berada di istana, telah bersiap menghadapi kemungkinan
terakhir. Sebagai seorang prajurit, maka agaknya merekapun akan
melawan sampai kemungkinan yang terakhir Namun dalam pada itu,
Tumenggung Reksanata, salah seorang Senapati pada pasukan Pangeran
Mangkubumi telah menghadap dan mohon ijin untuk menyerang
barak-barak prajurit yang tersisa. “Mereka tidak akan dapat melawan
kekuatan kita” berkata Reksanata. Namun Pangeran Mangkubumi
menggeleng sambil berkata ”Biar lah mereka melihat dan menjadi
saksi, apa yang telah kami lakukan. Seandainya kalian memasuki
barak-barak prajurit dan membunuh mereka semuanya, apakah kesan dari
rakyat Surakarta sendiri dan apa pula kesan yang akan timbul pada
diri Kangjeng Susuhunan terhadap kita yang telah menyatakan janji
untuk berusaha mengusir kumpeni, belum lagi- j ika kita menghitung
korban diipihak kita.“Reksanata mengangguk-angguk Namun ia masih
mohon ”Jika demikian, biarlah loji itu kita bakar dan semua sisa
kumpeni kita binasakan.“ “Apakah kau t idak melihat Reksanata”
berkata Pangeran Mangkubumi ”mereka t idak saja bersiap dengan
senapan- senapan. Tetapi mereka telah mempersiapkan beberapa buah
mer iam. Sebenarnya, kita akan dapat memasuki loj i itu dari segala
arah dan menumpas mereka. Tetapi jika meriam- mer iam itu meledak,
maka korban akan berjatuhan. Bukan saja dari antara kita sendir i,
tetapi kau dapat membayangkan mer iam-meriam itu meledak didalam
kota, dan rumah-rumah penduduk yang tidak bersalah itupun akan dapat
menjadi sasaran. Demikian pula pengungsi-pengungsi yang masih saja
hilir mudik kebingungan.“ “Lalu apa yang akan kita capai dengan
serangan ini Pangeran?” bertanya Senapati itu. “Kita menunjukkan
kepada kumpeni, bahwa kita mampu berbuat sesuatu yang besar,
terpimpin dan terkendali. Juga satu ketegasan sikap yang kita
sampaikan kepada Kangjeng Susuhunan. Khususnya sikap kita menghadapi
kumpeni.” Raksanata menarik nafas dalam-dalam. Demikian besar cinta
Pangeran Mangkubumi terhadap rakyat Surakarta, meskipun sebagian
dari rakyat yang tinggal di kota itu membencinya. Pertempuran masih
terjadi dibeberapa bagian dari kota. Namun justru para prajurit
Surakarta itupun berusaha menarik diri memasuki dinding halaman
istana untuk bertahan bersama prajurit-prajurit yang lain yang telah
lebih dahulu memasuki halaman istana bersama kumpeni yang bertugas
berjaga-jaga dan melindungi istana. Tatapi pasukan Pangeran
Mangkubumi yang mendapat pesan mawanti-wanti untuk tidak bertindak
sewenang-wenang tidak berusaha untuk menghancurkan mereka.
Apalagiberusaha mengejar mereka memasuki regol halaman samping dan
belakang istana. Sementara itu, dalam hiruk pikuk yang terjadi di
kota, Juwiring, Buntal dan Arum yang ikut pula didalam pasukan
Pangeran Mangkubumi sempat singgah meskipun hanya sekejap di istana
Sinduratan. Ketika mereka yakin, bahwa jalan-jalan telah menjadi
sepi dan tidak ada orang yang melihatnya, maka merekapun minta ijin
kepada Ki Wandawa untuk singgah barang sekejap. “Waktu kita sangat
terbatas” jawab Ki Wandawa. ”Hanya sekejap untuk mengucapkan terima
kasih” sahut Arum. Ki Wandawa mengerutkan keningnya. Namun kemudian
iapun tersenyum sambil menyahut ”Sampaikan ucapan terima kasih kami
semuanya kepada Raden Ayu Galihwarit. Ternyata karena keterangannya,
kita dapat berbuat sebaik-baiknya.“ Sebenarnyalah Juwiring, Buntal
dan Arum hanya singgah sekejap. Mereka menyampaikan ucapan terima
kasih sebagaimana dipesan oleh Ki Wandawa, “Sering-seringlah datang”
berkata Raden Ayu Galihwarit ”aku yakin, setelah peristiwa ini,
tentu akan disusul oleh peristiwa yang lebih besar. Kumpeni tentu
semakin mendendam dan mereka akan berusaha untuk menebus
kekalahannya.“ “Terima kasih ibunda” desis Juwir ing. Sejenak
kemudian merekapun minta diri. Namun dalam pada itu, Juwiriing
melihat mata adik perempuannya menjadi berkaca-kaca, “Apakah aku
dapat ikut bersamamu kakangmas?” bertanya Rara Warfh.“Kita dalam
keadaan yang sangat gawat sekarang ini diajeng.” jawab Juwir ing
”mungkin beberapa saat lagi, dihari- hari mendatang aku akan
mempertimbangkannya.“ Rara Warih tidak menjawab. Tetapi ketika
Juwiring, Buntal dan Arum yang mohon dir i itu meninggalkan serambi
samping, Bara Warih sempat berbisik ditelinga kakandanya ”Aku tidak
tahan lagi kakangmas. Ibunda membuat hatiku hancur. Disamping
pengertianku akan usaha ibunda membantu perjuangan Pangeran
Mangkubumi, namun alangkah pahitnya melihat, kenyataan, cara-cara
yang telah dipergunakan oleh ibunda yang telah merendahkan martabat
kita sekarang.“ Juwiring hanya menar ik nafas dalam-dalam. Ia tidak
dapat menjawab karena Raden Ayu Galihwarit berada beberapa langkah
saja dibelakangnya. Namun ibu yang sudah mengenyam pahit getirnya
kehidupan melampaui kebanyakan perempuan itu nampaknya mengerti
perasaan anak gadisnya. Karena itu, ia justru menjauh. Rara Warih
memang memer lukan tempat untuk memuntahkan segala yang menyesak
didadanya, agar anak itu tidak menjadi semakin lama semakin mender
ita. Rara Warih yang melihat ibundanya justru mendahului keregol,
yang kemudian seolah-olah dengan hati-hati mengintip keluar, sempat
mengulangi ”Aku tidak akan tahan mengalami hal seperti ini.“ “Tetapi
tidak sekarang diajeng.” jawab Juwiring. “Aku tidak tahan. Tetapi
aku tidak dapat mencegahnya. Kecuali aku adalah anak yang berhadapan
dengan ibundanya, akupun mengerti bahwa yang dilakukan oleh ibunda
itu bermanfaat bagi perjuangan.” desis Rara Warih. “Ikhlaskan cara
yang dipilih oleh ibunda, diajeng.“ bisik Juwiring.“O” Rara Warih
terkejut. Namun tiba-tiba ia memeluk Juwiring sambil menangis
”Kakangmas, sampai hati kau mengatakan demikian. Aku tahu, bahwa
ibunda Galihwar it bukan ibundamu, sehingga kau tidak merasakan
perasaan seperti yang aku rasakan.“ “Bukan. Bukan” sahut Juwir ing
dengan serta merta. Sekilas ia memandang Raden Ayu Galihwarit yang
masih berdiri diregol. Namun ibundanya itupun kemudian melangkah
mendekatinya. Dengan nada lugu seakan-akan tidak mengetahui sama
sekali perasaan anak gadisnya ia berkata ”Jangan kau tahan kakandamu
Warih. Biarlah ia melakukan tugasnya demi perjuangan dalam
keseluruhan.“ Rara Warih berusaha untuk menahan tangisnya. Sementara
iapun melepaskan tangannya sambil berdesis ”Kapan kau datang kembali
?“ ”Aku belum tahu. Tetapi kau jangan salah mengerti” Juwiring masih
ingin memperbaiki kata-katanya yang ternyata telah menyinggung
perasaan adiknya. Rara Warih tidak menjawab lagi lapun kemudian
melepaskan Juwir ing yang menjadi berdebar-debar. Seolah- olah ia
tidak sampai lati meninggalkan adiknya dalam keadaan salah paham.
Tetapi ia tidak dapal tinggal terlalu lama di istana Sinduratan.
Karena itu, maka sekali lagi ia mohon diri dan keluar dengan
hati-hati dari istana itu, agar tidak menimbulkan salah paham.
Sepeninggal Juwiring. Buntal dan Arum, Pangeran Sindurata keluar
pula kehalaman sambil berkata lantang ”Kemana anak-anak bengal itu.
Ia dapat membuat rumah ini dicurigai.“ “Mereka adalah anak-anakku
ayahanda. Tentu aku akan menerimanya kapanpun mereka datang.” jawab
Raden Ayu Galihwar it.Sementara itu. Raden Juwiringpun telah melapor
kembali kepada Ki Wandawa dan kembali kedalam pasukannya. Arum, yang
oleh kawan-kawan Juwiring dan Buntal disebut gadis aneh. tetap
berada diantara mereka pula. Sementara itu Pangeran Mangkubumi masih
tetap berada didalam kota. Bahkan seolah-olah mutlak menguasai
seluruh kota. Prajurit Surakarta telah menarik dir i dan tidak
member ikan perlawanan lagi, sementara pasukan kumpenipun telah
menyusun pertahanannya di baraknya selain mereka yang berada di
istana. Tetapi Pangeran Mangkubumi seolah-olah tidak mengusik
mereka. Pangeran Mangkubumipun sama sekali tidak menyentuh bagian
dalam istana. Ketika sebagian dari pasukannya melintas di alun-alun,
ternyata yang berada di paling depan dengan payung keemasan,
bukanlah Pangeran Mangkubumi sendiri. Hal itu telah sempat
menimbulkan persoalan didalam istana. Dan adalah diluar dugaan
Pangeran Mangkubumi bahwa ternyata di belakang para pengawal istana
yang kuat. Kangjeng Susuhunan sendiri mencoba melihat suasana di
luar istana, meskipun hanya terbatas pada keadaan di alun-alun dan
sekitarnya. Ketika sebagian pasukan Pangeran Mangkubumi yang
dipimpin oleh seorang Senapati yang bukan Pangeran Mangkubumi
sendiri meskipun dengan payung keemasan itu sudah lewat, maka
alun-alun itu menjadi sepi. Seolah-olah Surakarta adalah kota mati.
Tetapi Pangeran Mangkubumi memang tidak ingin mengganggu istana. Ia
cukup sadar, bahwa Kangjeng Susuhunan Paku Buwana itupun seorang
prajurit. Jika istananya tersinggung, apapun alasannya, maka ia akan
bangkit dan mungkin Kangjeng Susuhunan sendiri yang akan memimpin
per lawanan untuk menyelamatkan istananya.Apalagi dalam keadaan yang
bagaimanapun juga, Pangeran Mangkubumi selalu ingat, bahwa ia sama
sekali t idak akan melawan Kangjeng Susuhunan. Yang dilawannya
adalah pengaruh kumpeni yang semakin lama menjadi semakin kuat di
Surakarta. Perjanjian demi perjanjian yang bagaikan mata rantai yang
mengikat Surakarta, semakin lama semakin erat. “Kangjeng Susuhunan
telah memberikan restu kepadaku ketika aku menyatakan niat untuk
melawan kumpeni” berkata Pangeran Mangkubumi kepada dirinya sendir
i. Namun dalam pada itu, ternyata seorang petugas sandi melaporkan,
bahwa mereka telah melihat seorang petugas keprajuritan Surakarta
dalam penyamaran, telah berkuda ke- arah Timur. Tidak mustahil bahwa
keduanya telah pergi ke Penambangan atau ke Jatimalang. “Tentu ke
Jatimalang” desis Pangeran Mangkubumi “Lalu, apakah yang sebaiknya
kita lakukan sekarang” bertanya salah seorang Senapatinya yang
dipanggilnya berkumpul. ”Apakah kita merasa sudah cukup dengan
gerakan ini untuk memberikan kesan seperti yang kita kehendaki ?“
Pangeran Mangkubumi adalah seorang pemikir yang cerdas. Ia dapat
memperhitungkan keadaan dengan baik dan cermat. Seolah-olah Pangeran
Mangkubumi itu dapat melihat yang tidak dapat dilihat oleh orang
lain. Dalam keadaan yang tiba-tiba itu Pangeran Mangkubumi berkata
”Kita akan menyongsong pasukan yang akan datang dari Jatimalang.“
Para Senapati pasukan Pangeran Mangkubumi itu menjadi
berdebar-debar. Namun sikap Pangeran Mangkubumi itu adalah langkah
yang paling tepat yang dapat dilakukan oleh pasukannya. Karena itu,
maka Pangeran Mangkubumipun segera memer intahkan untuk mengumpulkan
pasukannya. Agaknyakesan yang timbul tentang pasukan itu sudah cukup
bagi kota Surakarta dan penghuni-penghuninya. Dalam pada itu.
seorang Senapati telah bertanya ”Apakah Pangeran percaya bahwa
pasukan yang berada di Jatimalang itu akan datang membantu pasukan
Surakarta yang ada di kota ini ?“ “Aku mempunyai perhitungan yang
demikian” berkata Pangeran Mangkubumi ”pasukan di Jatimalang itu
mengetahui bahwa pasukan terkuat telah pergi ke Penambangan. Karena
itu, maka mereka tentu mencemaskan nasib para prajurit dan kumpeni
yang ada di kota ini. Karena prajurit dan kumpeni yang tersisa tidak
terlalu banyak.“ Para Senapati itupun mengangguk-angguk. Perhitungan
Pangeran Mangkubumi jarang sekali meleset. Karena itu, maka para
Senapati itupun telah menyiapkan pasukannya sebaik-baiknya. Pasukan
Surakarta dan kumpeni di Jatimalang termasuk pasukan yang kuat.
Sejenak kemudian setelah pasukan itu bersiap, maka merekapun segera
meninggalkan kota menuju ke arah Timur. Sebenarnyalah bahwa dua
orang berkuda yang berhasil lolos dari tangan pasukan Pangeran
Mangkubumi telah sampai ke Jatimalang. Mereka segera melaporkan apa
yang telah terjadi di kota Surakarta. “Gila” geram letnan Belangker
yang berada di Jatimalang ”kita Harus membantu pasukan kumpeni yang
ada di kota.“ Senapati Surakarta yang berada di Jatimalang itupun
sependapat. Kekuatan prajurit Surakarta yang tinggal agaknya kurang
mencukupi untuk melindungi istana dan seluruh kota. Karena itu maka
prajurit Surakarta dan kumpeni yang berada di Jatimalang telah
mempersiapkan diri dengan tergesa-gesa untuk pergi ke kota, membantu
pasukan yang menurut perhitungan mereka t idak akan cukup kuat
melawan pasukan Pangeran Mangkubumi.Demikianlah dengan tergesa-gesa
letnan Belangker telah membawa pasukan Surakarta dan kumpeni menuju
ke arah Barat. Mereka harus segera mencapai kota sebelum kota itu
hancur sama. sekali. “Pasukan yang ada akan dapat bertahan untuk
sementara” berkata Belangker ”sementara kita datang dan
menghancurkan pasukan Pangeran Mangkubumi. Belum tentu hal semacam
ini dapat kita lakukan jika bukan Pangeran Mangkubumi sendiri
memasuki perangkap. Mungkin kita akan gagal jika pasukan kita yang
kuat datang mengepung Sukawati atau Gebang.“ Senapati prajurit
Surakarta hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi iapun merasa cemas,
bahwa pasukan itu akan terlambat. Karena itu, maka Senapati itu
lebih senang mempercepat perjalanan mereka daripada sekedar bermimpi
menghancurkan pasukan Pangeran Mangkubumi. Setelah menempuh
perjalanan beberapa lama, maka merekapun mendekati Bengawan yang
membujur seolah-olah membatasi sisi kota Surakarta bagian Timur.
Seluruh pasukan itu menjadi berdebar-debar. Mereka membayangkan,
bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi telah menguasai sebagian besar
dari kota, Namuni j ika mereka datang, mereka akan segera
membebaskan seluruh kota dari tangan Pangeran Mangkubumi. Prajurit
dan kumpeni yang hampir menjadi putus-asa tentu akan segera bangkit,
Pasukan Surakarta yang terlatih dan kumpeni yang telah menjelajahi
benua dan Samodra itu benar-benar mampu bergerak cepat Mereka
senlah-olah telah tahu pasti, apa yang harus mereka lakukan saat
mereka berada dipinggir bengawan. Beberapa orang tukang satang tidak
dapat menolak, ketika para prajurit dan kumpeni memer intahkan agar
mereka membawa para prajurit dan kumpeni menyeberang. Berapasaja
gethek yang ada, seluruhnya telah dipergunakan oleh para prajurit
dan kumpeni. Meskipun demikian, gethek yang ada tidak cukup banyak
untuk membawa mereka sekaligus. Sebagian mereka yang terdiri dari
prajurit-prajurit Surakarta harus menunggu gethek itu sudah sampai
kesisi sebelah Barat. Demikianlah, sebagian pasukan gabungan itu
telah di bawa dalam beberapa gethek yang ada. Dengan memeras
keringat tukang satang telah bekerja keras agar pasukan itu dapat
menyeberang secepat mungkin. Letnan Belangker telah membentak-bentak
t idak sabar, seolah-olah tukang satang itu dengan sengaja telah
memperlambat gethek mereka. “Cepat sedikit” letnan itu berteriak.
Tetapi tukang satang itu telah mengerahkan segenap tenaganya. Mereka
tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Apalagi arus bengawan itu
agak lebih besar dari biasanya. Namun adalah diluar dugaan mereka,
ketika tiba-tiba saja. demikian mereka sampai tepi bengawan di
seberang Barat, telah muncul pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat.
Dengan sengaja mereka mengejutkan pasukan yang mulai menginjakkan
kakinya di tepian bengawan itu. Tidak banyak kesempatan yang dapat
mereka lakukan. Kumpeni yang ada diantara mereka, tidak sempat
mempersiapkan senjata api mereka, ketika tiba-tiba saja pasukan
Pangeran Mangkubumi yang telah menunggu itu muncul dar i balik
gerumbul-gerumbuil perdu, dari balik tanaman disawah dan dari balik
batu-batu padas. “Gila” teriak letnan Belangker ”apa artinya ini.”
Lalu terdengar ia meneriakkan aba-aba ”Bunuh semua lawan.“ Para
prajurit Surakarta dan kumpeni itupun segera menyongsong pasukan
Pangeran Mangkubumi. Namun demikian tiba-tiba, sehingga sebagian
dari mereka menjadibingung dan tidak tahu apa yang harus segera
mereka lakukan. Mereka sadar, ketika tiba-tiba saja mereka telah
terdorong masuk ke bengawan. Dengan susah payah mereka harus
berusaha untuk tidak hanyut Meskipun sebagian besar diantara para
prajurit Surakarta itu berhasil menyelamatkan diri, namun beberapa
puluh langkah dari tempat mereka terjatuh karena dorongan lawan,
sementara senjata-senjata mereka sebagian telas terlepas di
bengawan. Sementara itu, ternyata pasukan Pangeran Mangkubumi memper
lakukan kumpeni dengan sikap yang berbeda. Para pengikut Pangeran
Mangkubumi tidak sekedar mendorong mereka kedalam air, tetapi
mendorong mereka dengan ujung pedang dan tombak. Dengan demikian,
maka kumpeni itupun demikian cepatnya telah menjadi susut. Pada
kejutan pertama, para pengikut Pangeran Mangkubumi berhasil memungut
korban yang cukup banyak pada pihak kumpeni. Tetapi mereka memang
orang-orang yang tabah dan berani. Meskipun kawan-kawan mereka telah
terbunuh dan terluka, namun yang lain masih bertempur dengan
garangnya, sementara para prajurit Surakarta yang berhasil naik dari
air bengawan telah siap membantu mereka. Tetapi mereka masih harus
menemukan senjata, karena senjata mereka telah terjatuh. Namun
mereka yang masih tetap memegang senjata maka merekapun langsung
menerjunkan diri kedalam peperangan.. Sementara itu, ternyata
tukang-tukang satang yang seharusnya kembali ke seberang sebelah
Timur itupun tidak segera kembali. Sebagian dari merekapun menjadi
kebingungan dan ketakutan, sehingga ada diantara mereka yang justru
terjun kedalam air dan meninggalkan gethek mereka tertambat
di-tepian sebelah Barat, sementara mereka sendiri berenang menjauhi
hiruk pikuk pertempuran itu.Para prajurit yang masih berada di
seberang Timur bengawan, berteriak-teriak memanggil para tukang
satang. Tetapi mereka hanya, dapat mengumpat-umpat, karena tukang
satang yang ketakutan itu tidak lagi mendengarkan suara mereka.
Dengan demikian para prajurit di seberang Timur itu menjadi
kebingungan. Tetapi mereka tidak berani turun kedalam air dan
menyeberang ke sebelah Barat dengan berenang dalamair yang cukup
deras arusnya itu. Karena jumlah mereka yang terbagi, maka prajurit
Surakarta dan kumpeni yang sudah berada di sebelah Barat bengawan
itu sama sekali t idak dapat melawan pasukan Pangeran Mangkubumi
yang kuat. Karena itu, maka yang tersisa itupun telah terdesak.
Semakin lama semakin jauh ke Selatan disepanjang bengawan. Akhirnya
tidak ada pilihan lain dari mereka, keuali melarikan diri. Karena
itulah, maka ketika mereka sudah kehilangan kesempatan, maka letnan
Belangker itupun meneriakkan isyarat kepada anak buahnya untuk
membebaskan dir i dar i lawan mereka. Demikianlah, kumpeni dan para
prajur it itupun segera melakukan gerakan mundur. Dengan dilindungi
oleh tembakan tembakan senjata api yang tidak banyak lagi yang
tersisa dan sama sekait tidak terarah, mereka telah berusaha
melarikan diri dari medan pertempuran. Seperti yang banyak
dilakukan, maka pasukan Pangeran Mangkubumi itupun tidak mengejar
mereka. Tidak terlalu jauh dari bengawan, pasukan itu akan masuk
kedalam kota. Mungkin pertempuran itu akan dapat menggugah
pertempuran lain didalam kota yang akan dapat mencelakai rakyat
Surakarta sendiri. Dengan demikian, maka Pangeran Mangkubumi t idak
mengejar pasukan lawan yang menarik diri kedalam kota.Untuk beberapa
saat Pangeran Mangkubumi masih tetap berada dipinggir bengawan.
Sementara itu di sebelah Timur sebagian dari prajurit Surakarta
masih tinggal. Namun ketika pasukan Surakarta yang tinggal itu
melihat kawan-kawan mereka menar ik diri, maka merekapun justru
tidak berusaha lagi untuk menyeberang. Apalagi para tukang satang
tidak lagi berada di gethek masing-masing, atau mereka justru telah
melarikan diri bersama gethek mereka mengikut i arus bengawan ke
Utara. Namun akhirnya Pangeran Mangkubumi merasa, bahwa yang mereka
lakukan sudah cukup banyak pada hari itu. Sementara langitpun
menjadi merah, karena matahari yang sudah semakin turun di sebelah
Barat. “Kita sudah menguasai kota sekitar setengah hari” berkata
Pangeran Mangkubumi kepada para Senapatinya ”aku kira kesan yang
kita timbulkan sudah cukup. Mereka akan mengerti, bahwa pasukan kita
bukan pasukan liar yang ganas dan dengan penuh nafsu untuk membunuh
dan merusak. Tentu saja, kita tidak dapat menghindarkan dir i sama
sekali dari korban-korban yang jatuh. Karena itu, kita akan
mengikhlaskan mereka yang telah gugur dalam perjuangan ini. “
Ternyata para Senapati dan setiap orang didalam pasukan Pangeran
Mangkubumi itu dapat menanggapi maksudnya. “Sekarang kita dapat
kembali ke Gebang, sambil membawa korban yang sempat kita
selamatkan.” berkata Pangeran Mangkubumi kemudian ”aku kira, pasukan
yang mengepung Penambangan akan segera kembali j ika mereka
menyadari bahwa Penambangan telah kosong. Sebenarnyalah bahwa.
Panglima pasukan gabungan yang mengepung Penambangan itupun akhirnya
menemukan Penambangan yang telah kosong. Betapa dada Panglima
pasukan itu hampir meledak. Mereka telah menyiapkan pasukan yang
sangat kuat. Namun perjalanan mereka itusama sekali tidak berarti.
Bahkan sebagian dar i pasukan berkuda mereka telah menjadi korban
karena kebodohan mereka. “Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi
adalah orang yang sama-sama licik. Mereka tidak berani bertempur
berhadapan” Mayor yang menjadi Panglima pasukan gabungan yang kuat
itu mengumpat-umpat. Ia menjadi sangat marah, bukan saja karena ia
gagal menangkap Raden Mas Said, tetapi juga karena justru pasukannya
telah menjadi korban. Sebagian dari pasukannya yang terbaik,
pasukan, berkuda, telah terjebak dan menjadi parah. Tetapi ia tidak
dapat berbuat apa-apa. Penambangan benar-benar telah kosong. Karena
itu. maka kumpeni telah melepaskan kemarahan mereka terhadap ujud,
bentuk dan bangunan-bangunan yang ada di Penambangan. Rumah-rumah,
banjar, gapura-gapura dan apa saja yang sebenarnya tidak bersalah
sama sekali, telah disentuh oleh lidah api. sehingga kebakaran yang
besar- pun telah melanda Penambangan. Tidak ada orang yang berusaha
untuk memadamkan api. Tidak ada setitik airpun yang dilontarkan
kedalam api yang menyala bagaikan menjilat langit. Asap mengepul
tinggi menggapai awan. Demikianlah, maka Penambangan telah menjadi
lautan api Sebagaimana Pangeran Mangkubumi yang kembali ke Gebang
dengan mengambil jalan penyeberangan yang lain, maka prajur it
Surakarta dan kumpeni di Penamibanganpun kembali menjelang. matahari
terbenam. Mereka yang lelah lahir dan batin itu akan dapat berjalan
lebih tenang di malam hari. Namun berbeda dengan prajurit Surakarta
dan kumpeni yang mengalami kegagalan mutlak, maka pasukan
PangeranMangkubumi telah berhasil melakukan satu kewajiban sesuai
dengan yang mereka rencanakan. Bahkan kepada para prajurit Surakarta
yang tertahan di sebelah Timur bengawan, pasukan Pangeran Mangkubumi
itu masih sempat melambai- lambaikan tangan mereka, seperti seorang
saudara muda yang mengucapkan selamat tinggal kepada saudara tuanya,
menjelang sebuah perjalanan yang panjang. Lamat-lamat para prajur it
Surakarta itupun melihat pula. Dalam cahaya merahnya senja, para
prajurit itu menjadi heran melihat sikap pasukan Pangeran
Mangkubumi. Bahkan ada satu dua orang diantara mereka, yang diluar
sadar, telah melambaikan tangannya pula, “He” desis kawannya sambil
menggamitnya ”apa yang kau lakukan ? Apakah mereka kawan-kawanmu ?“
Prajurit yang melambaikan tangan itu terkejut. Namun kemudian ia
menjawab ”Bukan. Bukan apa-apa. Tetapi aku tahu bahwa anak bibiku
ada yang berada dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi.“ Namun
prajurit disebelahnya lagi justru berkata ”Adik kandungku berada
dalam pasukan Pangeran Mangkubumi.“ “Dan kau tidak mencegahnya”
bertanya kawannya. “Adalah satu kebetulan bahwa aku telah bertemu
ketika kami tanpa berjanji bersama-sama pulang pada saat yang sama”
sahut prajurit itu, “Apa yang kau katakan kepadanya?” bertanya
kawannya. “Aku bertanya apakah ia yakin akan kebenaran langkahnya.
Ketika ia menjawab dengan satu keyakinan yang teguh, maka aku
berkata kepadanya. Teruskan saja. “ “Apakah kau ingin pada suatu
ketika bertemu dengan adikmu di satu medan ?” bertanya kawannya
pula.“Seandainya kami bertemu, tidak akan terjadi apa-apa. Aku tidak
akan dapat membunuhnya karena ia adalah adik kandungku. Dan ia tidak
akan membunuhku, karena ia sudah mendapat pesan dengan
sungguh-sungguh dari setiap Senapati di dalam lingkungan pasukan
Pangeran Mangkubumi, bahwa musuhnya bukan prajurit Surakarta.“
“Omong kosong” jawab seorang prajurit berkumis lebat ”ternyata
banyak juga prajurit Surakarta yang mati.“ “Hal itu tidak akan
mungkin dihindari. Apa yang harus dilakukan oleh seseorang jika
orang lain berusaha membunuhnya? Kitalah yang dengan dendam dan
benci tanpa tahu alasan dan sebabnya memusuhi mereka.” jawab
prajurit itu. “Nampaknya kau sudah mulai terpengaruh oleh adik
kandungmu itu.” berkata prajur it berkumis lebat. Kawannya yang lain
tiba-tiba menengahinya ”Sudahlah. Kita harus memikirkan, bagaimana
kita akan menyebetang. Tukang-tukang satang itu menjadi ketakutan
dan lari tidak tentu arah. Tentu saja kita tidak akan dapat berenang
melintasi bengawan ini.“ Kawan-kawannya yang hampk saja berbantah
itupun terdiam. Pasukan Pangeran Mangkubumi sudah menjauh. Dan gelap
yang turunpun menjadi semakin pekat. Namun akhirnya pasukan itu
harus menyusur tepian kearah yang berbeda dengan pasukan Pangeran
Mangkubumi untuk menemukan tempat penyeberangan yang lain. Ketika
pasukan yang pertama, yang dipimpin oleh letnan Belangker mendekati
gerbang kota. maka sudah terasa olehnya, bahwa kedatangannya tentu
sudah terlambat. Belangker sudah menduga, bahwa yang mencegatnya
dipinggir bengawan itu adalah pasukan Pangeran Mangkubumi yang baru
saja menduduki kota.Karena itu, demikian pasukan yang sudah tidak
utuh lagi itu memasuki kota. maka yang nampak dimana-mana adalah
kesepian dan kegelapan yang mencengkam. “Gila” geram letnan
Belangker ”kita terlambat. Kota sudah ditinggalkan. Sedangkan
pasukan kita sendir i menjadi parah.“ Senapati Surakarta yang
menyertainya tidak menjawab. Pasukan itu memang sudah parah. Selain
yang luka. banyak diantara mereka yang terbunuh. Bahkan mungkin
masih terdapat kawan-kawan mereka yang terluka tertinggal di pinggir
bengawan, selain yang terbunuh. “Kita menuju ke istana Susuhunan”
desis Belangker ”apa yang terjadi diistana itu.“ Senapati itu hanya
mengangguk saja. Namun harapannya sudah sangat tipis bahwa mereka
akan dapat bertemu dengan kawan-kawannya didalam istana. Bahkan
timbul sebuah pertanyaan ”Apakah Kangjeng Susuhunan masih berada di
istana? “ Surakarta benar-benar sepi seperti kuburan. Jika prajurit
Surakarta masih menguasai keadaan, mereka tentu akan nampak di
jalan-jalan, terutama di jalan-jalan utama. Namun seperti yang di
katakan oleh Belangker, pasukan yang sudah terluka parah itu menuju
ke istana melalui gerbang samping. Sejenak Belangker termangu-mangu
berdir i di pintu gerbang yang tertutup rapat. Namun akhirnya iapun
mengetuk gerbang itu dengan keras setelah memperingatkan pasukan
yang tersisa untuk bersiaga. Sebenarnyalah pasukan yang berada
didalam istana itupun telah bersiap menghadapi kemungkinan yang
terakhir dari serangan pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Ketika
penjaga regol yang siap dengan senjata telanjang mendengar kehadiran
satu pasukan diluar pintu, mereka telah bersiap-siap. Seorang
diantara mereka telah melaporkan dan seorang Senapati telah berada
digerbang itu pula. Ternyata yang terdengar diluar regol adalah
suara letnan Belangker. Namun Senapati itu tidak segera membuka
pintu gerbang. Seorang prajurit ditugaskannya untuk melihat pasukan
itu lewat tangga yang disandarkan pada dinding halaman samping.
“Siapa tahu. seorang kumpeni yang tertawan telah dipaksa untuk
mengetuk pintu.” berkata Senapati itu. Prajurit yang menengok mereka
lewat dinding halaman itu kemudian melihat, bahwa sebenarnyalah yang
berada di dalam gelapnya malam di luar dinding adalah prajur it
Surakarta dan kumpeni. Setelah memberi isyarat kepada Senapati yang
berada di depan regol, maka Senapati itupun memer intahkan untuk
membuka pintu regol. Letnan Belangkerlah yang kemudian bersiap-siap
menghadapi segala kemungkinan. Bahkan ia menduga, bahwa yang berada
di balik pintu regol itu bukan lagi prajur it Surakarta dan kumpeni,
tetapi pasukan Pangeran Mangkubumi. Demikian regol itu terbuka, maka
mereka akan langsung menyerangnya. Namun ternyata tidak seperti yang
dicemaskannya. Ketika pintu terbuka, maka eorang Senapati berdir i
tegak menyambut kedatangan pasukan itu. Letnan Belangkerpun kemudian
menyatakan, bahwa pasukan itu adalah pasukan yang berada di
Jatimalang. Setelah mendapat laporan bahwa kota diserang, merekapun
dengan tergesa-gesa telah berusaha untuk mencapai kota. “Silahkan
membawa pasukanmu masuk” Senapati itu mempersilahkan.Dalam pada itu,
Belangkerpun telah diterima oleh perwira- perwira kumpeni. Seorang
kapten bertanya dengan nada keras ”Kau hanya membawa sebagian kecil
dari pasukanmu?” Letnan Belangker menjadi berdebar-debar. Tetapi
iapun harus melaporkan apa yang telah dialaminya. Kapten itu
mengumpat-umpat. Tetapi ia tidak dapat menyalahkan letnan Belangker.
Yang terjadi benar-benar diluar kemampuan pengamatan dan
perhitungannya. “Jadi. bagaimana dengan pasukan yang kau tinggalkan
di seberang bengawan” bertanya kapten itu. “Mudah-mudahan mereka
dapat mencar i jalan sendir i” jawab Belangker. Kami tidak dapat
memberikan petunjuk apa- apa, karena demikian kami mendarat dari
rakit-rakit yang menyeberangkan kami, pasukan itu tiba-tiba saja
telah menyerang. Sebagian dari kami terjerumus kedalam bengawan.
Sebagian yang lain tidak dapat mengelakkan senjata, mereka.“ Kapten
itu mengumpat-umpat semakin keras. Namun akhirnya ia bertanya
”Bagaimana keadaan kota setelah kau lewat pintu gerbang dan memasuki
kota ini “ “Sepi, seperti kuburan” desis Belangker itu. “Jadi
pasukan orang-orang liar itu. benar-benar telah pergi?” bertanya
kapten itu. “Ya. Kami tidak menjumpai mereka didalam kota, kecuali
diipinggir bengawan itu,” jawab Belangker. Kapten itupun kemudian
memerintahkan para prajurit dan kumpeni yang terluka untuk mendapat
perawatan. Namun Belangkerpun melaporkan bahwa mungkin masih ada
orang- orang terluka yang tertinggal.“Kita akan pergi ke bengawan”
berkata kapten itu ”kita akan singgah di loji, dan membawa kumpeni
yang tersisa bersama kami.” “Tidak ada lagi lawan seorangpun” desis
Belangker. “Siapa tahu” jawab kapten itu ”mereka sangat licik dan
pengecut.“ Belangker t idak menjawab, lapun menganggap pasukan lawan
itu licik dan pengecut. Demikianlah, maka sebagian pasukan yang
berada di halaman istana itu keluar dari regol samping. Diantara
mereka terdapat Belangker dan beberapa orangnya yang tidak cidera,
sementara yang lain mendapat kesempatan untuk berisrahat, dan
apabila perlu mereka dapat menggant ikan pasukan yang meninggalkan
istana itu. Dalam pada itu, pasukan kecil itupun telah menjelajah
jalan-jalan kota. Mereka singgah di loji dan memberitahukan kepada
pimpinan pasukan kumpeni yang tersisa di loji itu, bahwa kapten itu
memerlukan kumpeni yang ada untuk bersama-sama pergi ke bengawan.
“Berbahaya kapten” jawab seorang kumpeni ”bagaimana jika pasukan
liar itu masih berada ditepi bengawan” “Kita singgah di barak
pasukan berkuda Surakarta. Prajurit yang tersisa akan bersama kita,
dan demikian pula prajurit- prajurit yang lain.“ Dalam waktu singkat
dan tergesa-gesa, disusun sepasukan prajurit yang cukup banyak, yang
akan pergi ke bengawan. Mereka seolah-olah sudah siap seandainya
pasukan Pangeran Mangkubumi masih berada di tempat itu. Namun
menurut perhitungan kapten itu, Pangeran Mangkubumi yang telah
meninggalkan kota dan tidak memburu pasukan Belangker, tentu telah
pergi.Dengan diam-diam pasukan itu meninggalkan kota. Pintu gerbang
kota sama sekali tidak dijaga oleh seorang prajur it- pun. Sepinya
kota Surakarta apalagi di malam har i, memang seperti yang dikatakan
oleh letnan Belangker. Seperti kuburan. Namun pasukan itu terkejut,
ketika tiba-tiba saja muncul dari dalam kegelapan, sepasukan laskar
dihadapan mereka. Dengan serta meria, kapten itupun meneriakkan
aba-aba agar pasukannya segera bersiap menghadapi kemungkinan.
Tetapi ternyata aba-aba itu telah memperkenalkan pasukan itu kepada
pasukan yang baru datang. Pasukan yang datang itu adalah prajur it
yang telah ditinggalkan oleh Belangker di seberang bengawan.
Sehingga dengan demikian, maka dapat dihindar i salah paham.
Ternyata prajurit yang baru datang itu harus menempuh perjalanan
beberapa lama sebelum mereka menemukan tempat penyeberangan yang
lain. Baru kemudian mereka berhasil menyeberang dan dengan
tergesa-gesa menuju ke kota. “Kita akan mengambil kawan-kawan kita
yang terbunuh dan terluka di pinggir bengawan” berkata Belangker
kepada pasukannya yang baru datang itu. Yang kemudian memer intahkan
mereka untuk ikut serta menuju ke bengawan. Ternyata bahwa prajurit
Surakarta dan kumpeni itu tidak menjumpai hambatan apapun juga.
Mereka sempat mengambil kawan-kawan mereka yang terbunuh dan
terluka. Dengan obor-obor mereka mencari diantara semak-semak dan
pohon-pohon perdu di pinggir bengawan itu. Namun yang kemudian
mereka katakan kepada kawan- kawan mereka setelah mereka kembali ke
Surakarta, bahwa pasukan mereka telah berhasil menghalau pasukan
Pangeran Mangkubumi.Malam itu juga, prajurit Surakarta dan kumpeni
yang telah yakin bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi telah menar ik
dirii telah turun ke jalan-jalan. Pasukan berkuda telah meronda
sampai kesudut-sudut bahkan sampai keluar regol kota. Malam itu juga
seorang kapten kumpeni menghadap Kangjeng Susuhunan yang masih tetap
berada diantara para pimpinan prajurit di Surakarta untuk melaporkan
bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi telah mundur. “Kami telah
menghalau mereka“ berkata kapten itu. Untuk beberapa saat Kangjeng
Susuhunan tetap terdiam, Sementara kapten itu berkata pula “Kami
berhasil memukul mundur pasukan Pangeran Mangkubumi dari kota dan
mendesaknya sampai kepinggir bengawan. Akhirnya pasukan Pangeran
Mangkubumi itu mundur kearah Utara menyusuri tepian. Mereka
meninggalkan mayat dan kawan-kawan mereka yang terluka. “ Kangjeng
Susuhunan itupun mengerutkan keningnya. Kemudian ia berkata ”Aku
ingin bertemu dengan orang-orang yang terluka itu, Dimana mereka
sekarang ?“ Pernyataan itu membuat kapten yang memberikan laporan
itu tergagap. Namun akhirnya ia menjawab ”Mereka masih berada di
tepi bengawan.“ “Aku akan pergi ke tepi bengawan.” sabut Kangjeng
Susuhunan dengan nada datar.
-
Jilid 25 “Jangan, jangan Kangjeng
Susuhunan. Tuan harus tetap tinggal di istana. Sangat berbahaya bagi
Tuan jika Tuan keluar dari istana apalagi pergi ke bengawan. Mungkin
masih ada satu dua kelompok kecil orang-orang yang ingin membunuh
diri” desis kapten itu. Lalu “mohon Tuan mengetahui, pasukan
Pangeran Mangkubumi adalah pasukan liar yang licik” Tetapi jawab
Kangjeng Susuhunan bena-benar mengejutkan “Aku muak mendengar
bualanmu. Jangan berbohong kepadaku. Aku mengerti apa yang terjadi
di luar dinding halaman istana ini” Kapten itu termangu-mangu. Namun
iapun sadar, bahwa Kangjeng Susuhunan tentu sudah mendengar laporan
serba sedikit tentang apa yang telah terjadi. Tetapi kapten kumpeni
itupun yakin, bahwa yang dikatakan oleh Kangjeng Susuhunan itu
adalah sekedar untuk menutupi kecemasannya saja. Namun sementara
itu, jalan-jalan kota Surakarta rasa- rasanya menjadi hidup lagi
meskipun di malam hari. Tetapi yang hilir mudik di jalan-jalan
adalah para prajurit dan kumpeni dengan lagak mereka masing-masing.
Seolah-olahmemang merekalah yang telah berhasil mengusir pasukan
Pangeran Mangkubumi yang sekitar setengah hari telah menguasai kota.
Ternyata kota itu menjadi semakin ramai menjelang pagi hari.
Ternyata pasukan yang meninggalkan Penambangan dengan penuh kesal
telah memasuki kota pula. Penduduk kota Surakarta sendiri masih
belum berani keluar dari rumah atau tempat mereka mengungsi. Yang
berada di halaman istana masih tetap berada di halaman, sementara
yang menutup pintu rumahnya erat-erat, masih belum juga berani
membuka. Namun pagi hari itu Surakarta menjadi ramai. Pasukan yang
datang dari Penambangan itupun sangat mengejutkan. Mereka membawa
kawan-kawan mereka yang terluka. Namun ternyata bahwa ada pula
kawan-kawan mereka yang hanya kembali namanya saja, karena mereka
tidak sempat membawanya. Dalam pada itu, Kumpeni benar-benar merasa
terpukul. Mereka yang menganggap dir inya memiliki banyak kelebihan
dari orang-orang pribumi dengari pengalaman mereka menjelajahi benua
dan samodra, ternyata telah gagal mutlak meskipun mereka telah
menyusun rencana dengan cermat dengan mengerahkan hampir seluruh
kekuatan kumpeni yang berada di Surakarta. Namun beberapa orang
perwira, kumpeni memang orang- orang yang cerdas. Demikian mereka
bertemu setelah kegagalan-kegagalan itu, maka mereka langsung
mengurai sebab-sebab dari kegagalan mereka. Satu kesimpulan yang
mereka dapatkan adalah, bahwa rencana mereka agaknya telah bocor
“Tentu ada pengkhianat di antara kita” berkata kumpeni- kumpeni
itu.Beberapa orang perwira prajurit Surakarta yang mendengarkan
kesimpulan itupun sependapat. Kegagalan yang pahit itu agaknya bukan
satu kebetulan. Dengan demikian, maka kecur igaan-kecur igaan mulai
timbul di antara para perwira di Surakarta. Bebocoran itu tidak
mungkin dilakukan oleh para perwira kumpeni. Karena itu, maka
pengkhianat itu tentu terdapat di lingkungan orang- orang Surakarta
sendiri. Perwira-perwira prajurit Surakarta memang sulit untuk
membantah. Agaknya memang tidak mungkin j ika seorang kumpeni dengan
sengaja telah membocorkan rahasia yang mereka pegang teguh. Menurut
pengetahuan para perwira di Surakarta, tidak seorang perwira
kumpenipun yang mempunyai kepentingan lain di Surakarta, kecuali
tugas-tugas yang mereka emban sebagai prajur it dan pimpinan
kumpeni. Namun para perwira itu, baik perwira kumpeni maupun perwira
prajurit Surakarta telah berjanji untuk bersama-sama menemukan,
siapakah pengkhianat yang telah menghancurkan segala rencana yang
telah disusun sebaik- baiknya. “Pengkhianatan ini tidak kalah
berbahayanya dari pengkhianatan Pangeran Ranakusuma dan anak
laki-lakinya yang semula berada di lingkungan pasukan berkuda”
berkata seorang perwira kumpeni. Bagaimanapun juga para perwira
prajurit Surakarta itupun ikuit tersentuh pula perasaan mereka.
Tetapi mereka tidak dapat membantah, diam merekapun tidak dapat
mengatakan yang lain dari kenyataan itu. Kenyataan dari sudut
pandangan kumpeni dan para prajur it dari Surakarta. Dalam pada itu,
ketika matahari menjadi semakin tinggi dan tidak terdengar lagi
pertempuran-pertempuran di dalam kota, maka satu demi satu penduduk
yang ketakutan itupun mencoba membuka pintu rumahnya. Yang mengungsi
dihalaman istanapun telah diberi tahu oleh para prajurit bahwa
keadaan sudah menjadi aman. “Kami telah menghalau
pemberontak-pemberontak itu” berkata seorang sersan kumpeni “Kami
membunuh orang- orang yang keras kepala” Para pengungsi itu menjadi
berdebar-debar. Tetapi prajurit Surakarta sendiripun memberitahukan
kepada mereka, bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi memang sudah
ditarik dari kota. Satu demi satu, orang- orang yang mengungsi
itupun keluar dari gerbang samping. Ketika ternyata jalan-jalan
tidak lagi menjadi ajang pertempuran, maka merekapun keluar seperti
laron keluar dari liangnya. Berduyun-duyun dan setengah berlari-lari
orang- orang yang mengungsi itu pulang ke rumah masing- masing. Di
sepanjang jalan mereka merasa aman karena mereka banyak berpapasan
dengan prajurit yang meronda. Bahkan merekapun bertemu pula dengan
kumpeni-kumpeni berkuda yang melibat lihat keadaan kota Surakarta
setelah setengah hari dikuasai oleh pasukan Pangeran Mangkubumi.
Namun demikian, beberapa rumah masih tertutup rapat. Regol beberapa
orang bangsawanpun masih belum terbuka. Ketika seorang perwira
kumpeni dengan beberapa orang pengawalnya lewat di muka pintu
gerbang istana Sinduratan, maka mereka melihat pintu regol masih
tertutup rapat. Tetapiketika seorang di antara mereka di luar sadar
menyentuh pintu gerbang itu, ternyata pintu itu tidak diselarak,
sehingga pintu itupun terbuka sejengkal. Perwira kumpeni itupun t
iba-tiba saja telah tertarik untuk memasuki halaman istana itu.
Beberapa ekor kuda itupun kemudian berderap memasuki halaman.
Beberapa orang pelayan istana itu terkejut. Seorang di antara
merekapun telah memberitahukan kehadiran beberapa orang kumpeni itu
kepada Pangeran Sindurata dan kepada Raden Ayu Galihwarit. Jantung
puteri itupun berdebar. Bagaimanapun juga ia mempunyai hubungan
dengan per istiwa yang baru saja terjadi. Namun demikian,
sebagaimana ia pandai memulas wajahnya, maka seolah-olah tidak ada
kegelisahan apapun juga, ia keluar dari seketheng. Ketika Raden Ayu
sampai di halaman, ayahandanya telah berada di halaman. Perwira
kumpeni. dan para pengawalnya yang sudah meloncat turun itupun
menjadi kecewa ketika yang menemui mereka adalah Pangeran Sindurata.
Namun akhirnya mereka tersenyum juga ketika mereka melihat Raden Ayu
keluar sambil tertawa. “Marilah, aku persilahkan kalian naik ke
pendapa “ Raden Ayu itu mempersilahkan. “Aku juga sudah
mempersilahkan” sahut Pangeran Sindurata. Perwira itu ternyata
menguasai bahasa yang diucapkan oleh Raden Ayu Galihwarit. Tetapi
beberapa orang kawannya tidak mengerti, sehingga mereka hanya
mengangguk-angguk dan tersanyum-senyum saja. “Terima kasih” jawab
perwira itu “aku sedang bertugas. Tetapi kenapa pintu itu tidak di
kancing. Apakah kalian tidak cemas dengan pemberontak-pemberontak
itu?““Tentu” jawab Raden Ayu mendahului ayahandanya “kami baru saja
membuka selaraknya ketika keadaan menjadi berangsur baik. Sebelumnya
kami telah menyelaraknya. Kami takut, jika ada dendam di antara
bekas pengawal Pangeran Ranakusuma. Karena mereka tidak dapat
melepaskan dendam mereka kepada para prajurit atau kumpeni, mereka
akan dapat mencari sasaran yang tidak akan dapat melawan” Perwira
itu tertawa. Katanya “Jangan takut. Pemberontak- pemberontak itu
tidak akan dapat berbuat-apa-apa. Mereka datang untuk menyerahkan
nyawa beberapa orang di antara mereka tanpa hasil yang pantas untuk
mereka” “Tetapi kami bukan prajurit” jawab Raden Ayu. “Dalam keadaan
yang gawat rumah ini tentu akan mendapat pengawasan yang
sebaik-baiknya” jawab perwira itu. “Terima kasih. Marilah, silahkan
duduk“ sekali lagi Raden Ayu itu mempersilahkan. Tetapi kumpeni itu
menggeleng. Jawabnya “Aku akan meneruskan tugas ini. Kami mohon diri
Pangeran” Pangeran Sindurata yang mendengarkan pembicaraan itupun
menyahut dengan serta merta “Silahkan. Terima kasih atas perhatian
kalian” Sejenak kemudian kumpeni-kumpeni itupun meninggalkan istana
Sindurata. Demikian mereka hilang di balik regol, maka Pangeran
Sinduratapun berkata “Hati-hatilah Galihwarit. Tentu mereka bukannya
tidak mempunyai maksud tertentu datang kemari. Mungkin mereka
mengira atas beberapa keterangan, bahwa tempat ini menjadi tempat
persembunyian orang-orang Pangeran Mangkubumi. atau dugaan-dugaan
lain yang menyangkut persoalan seperti itu. Karena itu, kedatangan
anak-anak padepokan itu membuat aku menjadi cemas”Tetapi Raden Ayu
itupun hanya tertawa saja. Bahkan kemudian ia berkata “Jangan cemas
ayahanda. Hanya itulah yang dapat aku persembahkan kepada Surakarta.
Mungkin sebuah permata. Tetapi aku harus memungutnya dari dalam
lumpur” Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun
segera meninggalkan Raden Ayu dan naik. ke pendapa. Sejenak kemudian
Pangeran itupun telah hilang di balik pintu pringgitan. Raden Ayu
Galihwarit termangu-mangu sejenak di halaman. Ia sadar betapa
kotornya cara yang ditempuhnya. Iapun sadar, bahwa Warih yang telah
dewasa itu tersiksa dengan sikapnya. Tetapi ia tidak mempunyai cara
lain untuk mengabdi kepada Surakarta sebagai tebusan atas segala
kesalahan yang pernah dilakukannya terhadap suami dan rakyat, bahkan
yang telah merampas korban anak laki-lakinya pula. Raden Ayu itu
menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia melangkah ke seketheng.
Namun ia terkejut ketika Raden Ayu itu melihat anak gadisnya muncul
dengan tergesa-gesa “Apa yang terjadi ibunda. Aku baru dari pakiwan
ketika aku mendengar dari seorang pelayan, bahwa beberapa orang
kumpeni telah datang?“ Betapa pahitnya, namun Raden Ayu itupun
tersenyum, Jawabnya “Tidak apa-apa manis” Tetapi Rara Warih masih
saja gelisah dan bertanya pula “Apakah ada hubungannya dengan
peristiwa yang baru saja terjadi?“ “Tidak. Tidak ada apa-apa. Kita
menjadi gelisah karena kita mengetahui apa yang kita lakukan. Tetapi
orang lain yang tidak mengetahuinya, tidak akan menjadi gelisah
seperti kita” jawab ibundanya.“Jadi, kenapa mereka singgah?“
bertanya gadis itu pula. “Tidak apa-apa. Mereka sedang meronda. Aku
kira mereka memasuki setiap halaman istana untuk menanyakan
keselamatan setiap penghuninya. Dengan demikian, maka mereka
berusaha untuk mendekati hati rakyat Surakarta, seolah-olah mereka
adalah pelindung-pelindung yang baik” jawab Raden Ayu Galihwar it.
Rara Warih tidak bertanya lagi. Bersama ibundanya iapun kembali ke
ruang dalam lewat pintu samping di belakang seketheng. Dalam pada
itu. perlahan-lahan Surakarta mulai hidup kembali. Orang-orang yang
merasa bahwa keadaan menjadi semakin aman. telah membuka pintu
rumahnya. Mereka menjadi sibuk dengan keperluan mereka masing-
masing setelah di har i sebelumnya mereka tidak sempat berbuat
apa-apa. Bahkan makanpun rasa- rasanya mereka tidak sempat
melakukannya oleh kegelisahan, kecemasan dan ketakutan. Sementara
orang-orang Surakarta mulai melakukan kewajibannya sehari-hari, maka
para prajuritpun masih saja hilir mudik di setiap pintu gerbang,
nampak pasukan yang kuat berjaga- jaga. Di istana, ternyata Kangjeng
Susuhunan masih saja di bayangi oleh kegelisahan. Bahkan kemudian
KangjengSusuhunan itu memerintahkan para Panglima untuk bersiap-
siap. Katanya “Aku akan melihat, apa yang telah terjadi di
Surakarta” Seorang Kapten kumpeni dengan ragu-ragu mencoba
mencegahnya. Katanya “Kangjeng Susuhunan, sebaiknya tuan tidak
meninggalkan istana. Mungkin masih terjadi sesuatu. Selebihnya
biarlah kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh pemberontak itu
dibenahi. Dengan demikian Kangjeng Susuhunan tidak akan melihat
betapa liarnya pasukan pemberontak itu. Hal itu hanya akan menambah
gelisah Kangjeng Susuhunan saja” “Kapten” jawab Kangjeng Susuhunan
“Aku adalah prajurit seperti kau. Seandainya aku bertemu dengan
pasukan lawanpun aku t idak akan lari. Aku dapat memimpin sendiri
pasukan Surakarta untuk menghadapi mereka di medan” “Tetapi Kangjeng
Susuhunan sekarang adalah seorang Raja. Dalam keadaan tertentu, maka
keselamatan Kangjeng Susuhunan merupakan masalah bagi seluruh prajur
it Surakarta, karena Kangjeng Susuhunan adalah pemegang kekuasaan di
Surakarta. Jika terjadi sesuatu atas Kangjeng Susuhunan, maka
akibatnya bukan saja di bidang keprajur itan yang kebilangan
pengikatnya” “Dengan demikian maka seorang Raja akan menjadi golek
pajangan yang tidak berarti apa-apa bagi rakyatnya” jawab Kangjeng
Susuhunan. Lalu “Aku memerintahkan untuk mempersiapkan pasukan. Aku
akan melihat-lihat keadaan seluruh kota. Aku tidak akan
mempergunakan kereta, tetapi aku akan berkuda” Tidak ada orang yang
dapat mencegahnya lagi. Kangjeng Susuhunan memang ingin melihat apa
yang telah dilakukan oleh pasukan Pangeran Mangkubumi di dalam kota
Surakarta. Sejenak kemudian, maka pasukan pengawal Kangjeng
Susuhunan itupun sudah siap. Kuda yang akandipergunakannya itupun
telah siap pula. Seekor kuda yang tegar dan berwarna gelap. Ketika
terdengar aba-aba di belakang regol halaman samping istana Kangjeng
Susuhunan, maka regol itupun perlahan lahan terbuka. Dengan gelar
kebesaran sepenuhnya Kangjeng Susuhunan meninggalkan halaman istana
mengelilingi kota Surakarta untuk melihat apa yang telah terjadi
sebenarnya. Sebagaimana seorang prajurit, maka Kangjeng Susuhunanpun
membawa kelengkapan seorang prajurit. Seorang Senapati pengawal yang
berkuda dekat di belakangnya membawa sebatang tombak pendek yang
dibelit dengan cinde pada tangkainya, sementara seorang yang lain
membawa songsong kebesaran yang berwarna emas. Rakyat Surakarta yang
baru saja berani turun ke jalan telah terkejut melihat iring-
iringan itu. Mereka melihat songsong keemasan yang mereka kenal
sebagai songsong Kangjeng Susuhunan sendir i. Meskipun semula mereka
ragu-ragu, namun akhirnya mereka melihat, sebenarnyalah bahwa
Kangjeng Susuhunan telah menelusur i jalan-jalan kota untuk
melihat-lihat keadaan. Dalam pada itu, Kangjeng Susuhunan sendiri
menjadi berdebar-debar ketika ia sudah berada di jalan-jalan raya.
Rasa-rasanya ia akan melihat, betapa kota Surakarta mengalami
kerusakan yang sangat berat karena kehadiran pasukan Pangeran
Mangkubumi. Rumah-rumah banyak yang dibakar dan hancur menjadi abu.
Apalagi rumah-rumah mereka yang dianggap berhubungan dengan
orang-orang asing yang berada di Surakarta. Bahkan mungkin
istana-istana Pangeran yang berpihak kepada Kangjeng Susuhunan.
Namun sedikit demi sedikit ketegangan itupun mulai mengendor.
Setelah menempuh sebagian kecil jalan-jalan di kota Surakarta maka
sambil menarik nafas dalam-dalam Kangjeng Susuhunan itu bergumam di
dalam hati “AdimasMangkubumi memenuhi janjinya. Ia tidak memusuhi
rakyat Surakarta” Sebenarnyalah tidak banyak kerusakan yang berarti
di kota Surakarta. Jika ada kerusakan-kerusakan kecil, maka hal itu
dapat di mengerti. Dalam pertempuran yang terjadi di seluruh kota
maka sudah tentu terjadi hentakan-hentakan perasaan yang sulit
dikendalikan. Namun dalam keseluruhan, Kangjeng Susuhunan
benar-benar mengagumi kesetiaan Pangeran Mangkubumi kepada janj
inya. Ketika iring- iringan itu melintas tidak terlalu jauh dari loj
i yang dihuni kumpeni, maka Kangjeng Susuhunan telah melihat
beberapa bangunan yang hancur. Tetapi sama sekali bukan karena
perbuatan pasukan Pangeran Mangkubumi. Menilik bekas-bekasnya,
justru meriam kumpenilah yang telah menghancurkannya. Agaknya
kumpeni berusaha mengusir pasukan Pangeran Mangkubumi yang mendekati
loji itu dengan tanpa menghiraukan apakah peluru meriamnya akan
dapat menimbulkan kerusakan justru pada rumah-rumah penduduk. Ketika
Kangjeng Susuhunan berpaling kearah seorang perwira kumpeni yang ada
di dalam ir ing-ir ingan itu, maka dengan sengaja kumpeni itu
berpura-pura menunduk memperhatikan sesuatu pada dirinya.
Demikianlah, maka Kangjeng Susuhunan melihat sendiri apa yang telah
terjadi, seolah-olah ia melihat saat-saat pasukan Pangeran
Mangkubumi berada di dalam kota selama kira-kira setengah hari.
Namun dalam pada itu, bahwa Kangjeng Susuhunan telah turun ke
jalan-jalan raya, di kota, maka rasa-rasanya rakyat Surakartapun
menjadi semakin tenang. Mereka merasa, bahwa Kangjeng Susuhunan itu
benar-benar telah memperhatikan keadaan mereka.Ternyata bahwa
Kangjeng Susuhunan tidak sekedar melalui jalan-jalan raya saja.
Dalam beberapa hal, Kangjeng Susuhunan justru melintas di
jalan-jalan sempit Bahkan turun di halaman seseorang untuk berbicara
dengan penghuninya yang menyambut kehadiran Kangjeng Susuhunan
sambil berjongkok di halaman. Dari percakapan-percakapan itupun
Kangjeng Susuhunan mengetahui bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi
memang tidak mengganggu rakyat Surakarta dari tingkatan yang paling
tinggi sampai tingkatan yang paling rendah, kecuali benturan-
benturan senjata dengan para prajurit. Demikianlah setelah
melihat-lihat keadaan seluruh kota, maka Kangjeng Susuhunanpun
kembali ke istana dengan kesan tersendiri Namun demikian, Kangjeng
Susuhunan tidak banyak berbicara dengan para pengawalnya dan dengan
para perwira kumpeni. Namun dalam pada itu, para perwira kumpeni dan
para Senapati di Surakarta, masih tetap pada sikap mereka. Menurut
pengamatan mereka, tentu ada pengkhianat yang tersembunyi di
lingkungan mereka sehingga rencana-rencana yang telah mereka susun
sebaik-baiknya itu dapat diketahui oleh lawan. Dalam pada itu,
selagi rakyat Surakarta berusaha memulihkan keadaan kehidupan mereka
sehari-hari, di istana telah diterima laporan bahwa Raden Mas Said
yang meninggalkan Penambangan telah menyusun pemerintahan di daerah
Keduwang. Keduwang telah menjadi daerah pemerintahan yang dipimpin
oleh seorang Bupati yang memer intah bagi Raden Mas Said sendir i
telah bersiap-siap untuk kembali ke Penambangan. “Penambangan telah
hancur” geram perwira kumpeni yang memimpin sergapan ke Penambangan
yang gagal itu.“Ia akan dapat membangun daerah itu dalam waktu
singkat meskipun dengan bangunan-bangunan darurat Tetapi Penambangan
mempunyai daerah yang subur yang dapat menjadi lumbung bagi pasukan
Raden Mas Said” jawab salah seorang Senapati prajurit Surakarta.
Kumpeni itu hanya dapat mengumpat. Untuk menyerang Penambangan lagi
tentu memerlukan waktu dan perhitungan yang cermat, karena kegagalan
yang mereka alami itu, telah mengecilkan arti kumpeni bagi
Surakarta. Karena itu, maka kumpeni dan para Senapati akan berusaha
mencari lebih dahulu, siapakah pengkhianat yang berada di antara
mereka. Sehingga dengan demikian, maka untuk sementara kumpeni tidak
mempunyai rencana untuk menyerang. Kumpeni dan pasukan Surakarta
memusatkan kekuatannya pada tempat-tempat tertentu yang merupakan
pusat-pusat pertahanan untuk membendung seandainya ada serangan
sekali lagi ke jantung kota. Sepasukan prajurit dan kumpeni yang
diper lengkapi dengan senjata-senjata api dan meriam kembali berada
di Jatimalang, sementara pasukan yang lain berada di padukuhan
sedikit di luar kota menghadap ke arah Sukawati. Meskipun demikian
bukan berarti bahwa tempat-tempat lain diabaikan. Dalam pada itui,
Raden Ayu Galihwaritpun mendengar dari mulut para perwira kumpeni
yang berbau minuman keras, bahwa di antara prajurit Surakarta tentu
ada satu atau lebih pengkhianat yang telah menggagalkan semua
rencana kumpeni yang telah tersusun rapi, “Siapa lagi yang akan
berkhianat?“ bertanya Raden Ayu Galihwar it kepada seorang perwira
kumpeni yang masih muda. Perwira itu menggeleng. Jawabnya “Itulah
yang harus kami cari”“Pengkhianat itu harus dapat ditangkap sebelum
meledak seperti Pangeran Ranakusuma yang langsung memberontak di
dalam gelar yang dipimpinnya. Dengan demikian ia telah menikam
langsung dari dalam tubuh sendiri. Bahkan anak laki- lakinyapun
telah ikut pula melakukannya” “Aku muak mendengar namanya” geram
Raden Ayu Galihwar it “ketika aku masih berada di istana Ranakusuman
anak itu aku usir pergi. Aku tidak mau tinggal bersama anak anak
padesan yang tidak tahu diri. Tetapi demikian aku meninggalkan
istana itu sepeninggal anak laki-lakiku sendir i, maka anak padesan
itu telah dipanggil masuk. Agaknya keduanya menemukan jalan yang
sama. Berkhianat” Perwira itu mengangguk-angguk. Katanya “Tetapi
bukankah Pangeran Ranakusuma sudah mati?“ “Tetapi anak yang
memuakkan itu justru masih hidup” sahut Raden Ayu Galiihwar it
“bahkan anak itu telah sempat menjerumuskan anak gadisku ke dalam
tangan pasukan berkuda yang menganggap bahwa dengan menahan Warih,
Juwiring akan menyerah. O, alangkah mudahnya mengambil satu
kesimpulan. Juwiring dan Warih bagaikan air dengan minyak. Bahkan
seandainya Warih digantung sekalipun, Juwiring tidak akan
meratapinya. Bahkan ia akan mengucap sukur bahwa pada satu
kesempatan ia akan dapat memiliki semua peninggalan Pangeran
Ranakusuma” “Ya. Raden Ayu benar. Memang bodoh itu Panglima pasukan
berkuda” sahut perwira kumpeni itu “Tetapi bukankah Raden Ayu sudah
dapat mengambil gadis itu dan membawanya pulang?” “Sudah. Dengan
surat kumpeni aku telah membawanya pulang” jawab Raden Ayu. “Itu
sudah cukup untuk sementara” jawab perwira itu “kumpenilah yang
selanjutnya akan menangkap pengkhianat kecil itu dan menggantungnya
di alun-alun. Kepalanyakemudian akan dipenggal dan ditanjir dengan
ujung tombak di gerbang samping istana Kangjeng Susuhunan, agar
setiap orang yang lewat mengerti, apa yang pantas oleh para
pengkhianat” Raden Ayu hanya mengangguk-angguk saja. Namun dengan
demikian ia mengerti bahwa kumpeni benar-benar sedang berusaha untuk
menemukan seorang pengkhianat di antara para prajurit Surakarta.
Karena itu, maka Raden Ayu itupun menjadi semakin berhati-hati.
Iapun sadar, bahwa jika mereka tidak menemukan pengkhianat itu di
antara para prajurit, maka kumpeni akan berpaling kepada orang-orang
yang berhubungan dengan mereka. Ketika di hari-hari ber ikutnya,
setelah keadaan kota menjadi tenang kembali, Arum dan Buntal yang
memasuki istana Sinduratan telah mendapat peringatan dari Raden Ayu
Galihwar it, bahwa keadaan menjadi semakin gawat bagi mereka.
“Adalah tepat, bahwa kalian tidak datang bersama Juwiring” berkata
Raden Ayu “nampaknya kumpeni menjadi semakin berhati-hati. Meskipun,
dalam penyamaran, namun Juwiring akan dapat lebih mudah dikenali
oleh kawan- kawannya dari pasukan berkuda yang selalu meronda di
seluruh kota”“Ya Raden Ayu. Agaknya Ki Wandawa sudah
memperhitungkannya pula, sehingga untuk menghubungi Raden Ayu
selanjutnya, kami berdualah yang mendapatkan tugas itu” jawab
Buntal. Raden Ayupun kemudian memberitahukan bahwa agaknya untuk
sementara kumpeni tidak akan melakukan gerakan- gerakan keluar.
Mereka masih akan membuat perhitungan ke dalam, sehingga mereka
ingin menemukan lebih dahulu, siapakah pengkhianat yang berada di
antara mereka. “Meskipun demikian, bukan berarti bahwa kalian tidak
akan lagi sering datang ke tempat ini” berkata Raden Ayu Galihwarit
“kecuali mungkin sekali kumpeni merubah pendir iannya sehingga
dengan tiba-tiba merencanakan satu gerakan keluar, agaknya kehadiran
Arum ke rumah ini dapat memberikan suasana yang lain bagi Warih”
Arum menundukkan kepalanya. Iapun merasa, jika ia hadir di istana
itu, Rara Warih nampak menjadi gembira, seperti anak-anak yang
mendapat kawan untuk bermain. Tetapi jika saatnya untuk meninggalkan
istana itu tiba, maka wajah gadis itupun kembali menjadi muram.
“Kami akan selalu datang Raden Ayu” berkata Buntal kemudian, namun
kalanya pula “Tetapi untuk beberapa hari kami akan melaksanakan per
intah Pangeran Ranakusuma” “Perintah yang mana?“ bertanya Raden Ayu.
“Di saat terakhir, Pangeran Ranakusuma memerintahkan Kepada Raden
Juwiring untuk menyingkirkan sebilah keris yang telah melukai
Pangeran Ranakusuma. Agaknya keris itu pulalah yang telah
menyebabkan Pangeran itu gugur” jawab Buntal. “Keris Tumenggung
Sindura seperti yang pernah kalian ceritarakan itu?” bertanya Raden
Ayu Galihwarit. “Ya Raden Ayu” jawab Buntal.“Baiklah. Tetapi kalian
benar-benar harus berhati-hati. Keris itu menurut pendengaranku,
memang keris linuwih. Sebagaimana nampak pengaruhnya kepada
Tumenggung Sindura semasa hidupnya, Ia adalah seorang prajurit yang
keras, tegas tetapi juga terlalu cepat mengambil keputusan untuk
membunuh. Menurut keterangan beberapa orang yang tentu juga
diketahui oleh Pangeran Ranakusuma, namun agaknya tidak sempat
mengatakannya kepada Juwir ing, bahwa keris itu menuntut kematian
demi kematian. Kematian yang dirahasiakan di dalam lingkungan
keluarga Tumenggung Sindurata telah beberapa kali terjadi Tumenggung
Wiguna menurut cer itera juga terbunuh oleh keris itu, meskipun ia
saudara kandung Tumenggung Sindura sendiri dalam perselisihan yang
sebenarnya tidak terlalu penting. Tetapi rakyat Surakarta menganggap
bahwa Tumenggung Wiguna telah ditenung oleh lawan-lawannya yang
tersembunyi di dalam lingkungan pasukannya. Beberapa orang ingin
menduduki jabatannya, sehingga akhirnya ia meninggal oleh tenung
yang keras. Buntal mengangguk-angguk. Sementara itu Raden Ayu
berkata selanjutnya “Kelebihan dari ker is itu adalah, bahwa keris
itu dapat mempengaruhi pribadi seseorang pada saat- saat tertentu.
Seolah-olah keris itupun merupakan satu pribadi yang dapat berbuat
sesuatu atas pribadi orang lain pada saat- saat dikehendakinya.
Karena itu, kalian harus berhati teguh selama kalian menyimpan keris
itu. Aku setuju bahwa keris itu harus segera di labuh ke gunung
Lawu. Sebenarnyalah bahwa Tumenggung Sindurapun telah menanggung
akibat dari pengaruh keris itu pada pribadinya. Sebelum ia
mendapatkan keris itu, pribadinya jauh berbeda dari saat-saat ia
mulai menyimpan keris itu. Hampir semua orang yang sebayanya
mengetahui akan hal itu” Buntal masih mengangguk-angguk. Kemudian
jawabnya “Terima kasih Raden Ayu. Aku akan menyampaikannya kepada
Raden Juwiring. Dan sebenarnyalah bahwa menurutrencana kami, besok
kami akan membawanya ke Gunung Lawu, mumpung kumpeni agaknya sedang
sibuk dengan persoalan ke dalam tubuh sendiri” “Berhati-hatilah”
pesan Raden Ayu “namun, demikian kalian kembali dari Gunung Lawu,
aku minta kalian segera datang kemari. Mungkin ada sesuatu yang
penting perlu kalian ketahui” “Baik Raden Ayu” jawab Buntal “Kami
akan segera menghadap setelah kami turun” Demikianlah, Raden Ayu
masih memberikan beberapa pesan kepada kedua anak-anak muda itu.
Namun kemudian, keduanyapun mendapat kesempatan untuk beristirahat
dan berbicara tentang beberapa hal dengan Rara Warih. Lewat tengah
hari kedua anak muda itupun minta dir i. Setiap kali mereka harus
menjelaskan kepada Rara Warih, bahwa keadaan masih belum mapan jika
Rara Warih akan ikut bersama mereka. “Pada saatnya kami akan
menjemput puteri” berkata Arum ketika ia melihat wajah itu menjadi
muram. Keterangan Raden Ayu itu ternyata telah menguatkan rencana
Juwiring untuk meninggalkan pasukannya dalam beberapa hari. Ia ingin
memenuhi pesan terakhir dari Pangeran Ranakusuma, untuk
menyingkirkan ker is yang sangat berbahaya itu. Bukan saja karena
racunnya yang seolah-olah tidak terlawan, tetapi juga karena satu
kepercayaan bahwa keris itu dapat mempengaruhi pr ibadi seseorang.
Buntal dan Arumpun. kemudian segera menghadap Kiai Danatirta setelah
mereka kembali dari kota. Bersama Raden Juwiring mereka memberikan
laporan tentang pembicaraan- mereka dengan Raden Ayu Galihwarit
kepada Kiai Danatirta.“Sokur lah bahwa Raden Juwiring tidak pergi
bersamamu ke kota” desis Kiai Danatirta. “Ya” sahut Arum “hampir di
setiap saat kami bertemu dengan prajurit dari pasukan berkuda. Jika
kakang Juwiring ada bersama kami, maka satu dan di antara mereka
tentu akan dapat mengenalinya, sehingga hal itu akan sangat
berbahaya bagi dirinya” “Untuk beberapa saat sebaiknya kakang
Juwiring memang tidak usah pergi ke kota” desis Buntal. “Aku memang
tidak akan ke kota sampai aku menyelesaikan kewaj iban terakhir yang
dibebankan ayahanda kepadaku” jawab Juwir ing. “Jadi kalian
benar-benar akan pergi ke Gunung Lawu untuk menyingkirkan keris
itu?“ bertanya Kiai Danatirta. “Ya ayah” jawab Jiuwiring “keris itu
mempunyai pengaruh yang kurang baik bagi seseorang” “Mungkin” jawab
Kiai Danatirta “jika demikian, maka kalian harus mempersiapkan dir i
sebelum berangkat. Kalianpun harus memberitahukan, dan selebihnya
minta ijin kepada Ki Wandawa” “Aku pernah mengatakan kepada Ki
Wandawa tentang rencana itu” jawab Juwiring “Tetapi aku belum
mengatakan kepastiannya. Nampaknya sekarang rencana itu sudah pasti.
Menurut ibunda Galihwar it, untuk beberapa lamanya kumpeni tidak
akan mengadakan gerakan besar-besaran. Karena itu, maka untuk
sementara aku tidak per lu menghadap ibunda. Demikian pula Buntal
dan Arum. Namun itu bukan berarti bahwa kita semuanya dapat
meninggalkan kewaspadaan” “Menurut rencanamu, kapan kau dan adikmu
akan berangkat?“ bertanya Juwiring. “Aku juga akan pergi” potong
Arum.“Sebaiknya kau tinggal menemani aku Arum” sahut Kiai Danatirta.
“Ayah di sini sudah mempunyai banyak kawan” jawab Arum “pokoknya
kali ini aku harus ikut. Boleh atau tidak boleh” Juwiring menarik
nafas dalam-dalam. Namun kemudian menurut pertimbangannya perjalanan
itu tidak terlalu berbahaya, karena mereka akan pergi ke tempat yang
sepi dan melewati jalan yang jarang disinggung oleh peronda dari
Surakarta. Dengan demikian maka j ika Arum akan ikutpun bagi Juwir
ing t idak terlalu banyak keberatannya Karena itu, maka katanya
“Ayah, jika Arum memaksa untuk ikut, kami berduapun tidak
berkeberatan. Tetapi dengan janji, bahwa Arum akan bersedia berjalan
untuk jarak yang panjang sekali dan tidak akan mengeluh sama sekali
betapapun letihnya” “Apakah kita tidak akan berkuda?“ bertanya Arum.
“Kita akan berkuda sampai di kaki Gunung Lawu. Kemudian kita akan
memanjat naik dan meletakkan keris itu di tempat yang tinggi, yang
tidak akan pernah disentuh oleh seseorang kapanpun juga” jawab
Juwiring. “Kenapa kita harus memanjat? Asal kita sudah sampai ke
lereng Gunung Lawu, maka pesan itu sudah terpenuhi. Kakang dapat
mencari tempat yang tersembunyi, tetapi tidak usah memanjat naik”
desis Arum. “Kau sudah mulai segan” desis Buntal. “Tidak. Aku tidak
akan segan meskipun harus naik sampai ke puncak” sahut Arum dengan
serta merta. Dengan demikian maka Kiai Danatirtapun tidak dapat
menolak. Ia harus melepaskan Arum ikut serta pergi ke Gunung Lawu
untuk menyingkirkan keris yang mempunyai kekuatan nggegir isi
itu.Ternyata Juwiring tidak menunda-nunda lagi keberangkatannya.
Jika pada saatnya, keadaan bertambah gawat, maka ia berharap bahwa
ia sudah berada di dalam pasukannya. Malam itu juga Juwiring dan
Buntal telah menghadap Ki Wandawa untuk mohon ijin. Bahwa di har i
berikutnya mereka akan mohon dir i untuk beberapa hari, mendaki
Gunung Lawu untuk menyingkirkan ker is sesuai dengan pesan ayahanda
Ranakusuma. “Meskipun tugas ini nampaknya tidak terlalu berat Raden”
berkata Ki Wandawa “seolah-olah hanya sekedar membuang barang yang
tidak dapat dipergunakan lagi, namun kalian harus tetap
berhati-hati. Perjalanan ke, Gunung Lawu, meskipun t idak terlalu
jauh, tetapi juga tidak terlalu dekat. Lereng Gunung Lawu masih
merupakan hutan yang lebat, yang jarang sekali disentuh kaki
manusia” “Terima kasih Ki Wandawa” sahut Juwiring “Aku akan mengikut
i segala petunjuk Ki Wandawa dan sudah barang tentu juga ayah
Danatirta?” Dengan singkat Ki Wandawa member ikan petunjuk jalan
yang paling baik di laluinya, sehingga kemungkinan untuk bertemu
dengan prajurit Surakarta atau petugas-petugas sandi sangat kecil.
Namun adalah di luar dugaan Juwiring ketika seseorang telah dengan
diam-diam mendengarkan pembicaraan itu. Seorang yang bertubuh tinggi
kekarberjambang lebat. Dari balik dinding ia mendengar bahwa Raden
Juwiring akan memenuhi permintaan ayahanda Pangeran Ranakusuma,
bahwa keris yang dipergunakan oleh Ki Tumenggung Sindura itu harus
dilabuh di Gunung Lawu. “Bodoh” berkata orang itu kepada seorang
kawannya “keris itu adalah keris yang bertuah. Keris yang dapat
memberikan kewibawaan kecuali ker is itu sendir i adalah keris yang
sakti” “Lalu, apa maksudmu?” bertanya kawannya. “Aku akan
mengambilnya dari tangan anak itu“ geramnya. “Tetapi jika anak itu
menolak memberikan keris itu kepadamu?“ bertanya kawannya. Orang
bertabuh tinggi kekar itu tertawa. Katanya “Anak itu tidak banyak
berarti bagiku. Aku dapat menyingkirkannya” “Tetapi, ia adalah
seorang yang baik dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi”
desis kawannya pula. Tetapi orang bertubuh kekar itu tertawa semakin
keras. Katanya “Apakah kau juga ingin menjadi seorang pengawal
Pangeran Mangkubumi yang baik? Persetan dengan perjuangan ini. Jika
aku berada di antara pasukan Pangeran Mangkubumi, adalah karena aku
memerlukan kedok yang paling baik bagi usahaku, selama ini. Ternyata
di sini aku benar-benar celah terlindung, Tidak ada seorangpun yang
menyangka bahwa seorang dari antara pasukan Pangeran Maingkubumi
adalah perampok yang namanya pernah menggetarkan pesisir Utara. ”
“Banyak di antara kita di sini perampok-perampok” jawab kawannya
“Tetapi justru setelah kita berada di dalam pasukan ini maka kita
telah meninggalkan pekerjaan itu untuk kepentingan nama baik pasukan
Pangeran Mangkubumi” “Bodoh sekali” desis orang bertubuh kekar itu
”dan aku bukan termasuk orang-orang yang bodoh seperti itu”Kawannya
termangu-mangu. Namun orang bertubuh kekar itu berkata “Nah, jika
kau t idak terbius oleh pikiran-pikiran bodoh itu, ikut aku ke kaki
Gunung Lawu. Kita akan merampas keris itu. Jika kelak pengaruh keris
itu telah nampak padaku, dan aku menjadi seorang Tumenggung seperti
Tumenggung Widura, maka kau akan mendapat kesempatan menikmati
kedudukan itu” Kawannya mengerutkan keningnya. “Seandainya keris itu
tidak akan membuat aku menjadi seorang Tumenggung, namun ker is itu
adalah keris yang tidak ada duanya. Pangeran Ranakusuma yang kebal
oleh segala macam senjata itu ternyata terbunuh oleh keris Ki
Tumenggung Widura yang akan dilabuh ke Gunung Lawu itu” orang
bertubuh kekar itu melanjutkan. Kawannya jangan menjadi gila dan
merasa dirimu berjasa karena kau sudah berada di antara pasukan
Pangeran Mangkubumi. Aku tahu, bahwa kau semula adalah perampok juga
seperti aku” kawannya itu masih berbicara terus “He, apakah kau
tahu, jika kelak perjuangan Pangeran Mangkubumi sudah selesai, maka
kau akan ditangkap kembali dan dimasukkan ke dalam penjara seperti
yang pernah kau alami. Tetapi jika kita sudah menjadi kaya raya
dengan menyimpan harta benda dan memiliki pusaka yang tidak ada
duanya, maka kita akan segera memisahkan dir i dan menikmati
kekayaan kita itu. Atau mungkin kita mempunyai rencana- rencana lain
yang lebih baik lagi” Kawannya mengerutkan keningnya. Kata-kata itu
telah menggelitik hatinya. Jika untuk beberapa lamanya ia tenggelam
dalam kehidupan yang gelap, maka rasa-rasanya cara yang ditempuh
oleh kawannya yang bertubuh kekar itu masuk di akalnya. Karena itu,
maka akhirnya ia bertanya “Tetapi apakah kawan-kawan kita tidak
mencur igai j ika kita juga pergi demikian anak itu meninggalkan
baraknya.“Kita akan mendahuluinya, Besok mereka akan berangkat,
malam ini kita minta dir i. Kita dapat menyebut alasan apapun juga.
Mungkin saudara atau orang tua kita sakit keras atau alasan-alasan
lain yang masuk akal” berkata orang bertubuh tinggi kekar itu.
Kawannya kemudian berdesis “Aku akan memikirkannya” “Kau gila.
Sekarang kita akan minta dir i. Sampai kapan kau akan berpikir? Kita
masih akan membenahi dir i, dan barangkali ada
pertimbangan-pertimbangan yang perlu kita dengarkan dari pimpinan
kelompok kita” geram orang bertubuh tinggi kekar itu. Kawannya masih
termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja ia bertanya “Darimaha kau. tahu
segalanya itu?“ “Secara kebetulan aku mendengar pembicaraan itu dari
balik dinding ketika anak itu melaporkan kepada Ki Wandawa” jawab
orang bertubuh tinggi itu. “Balik dinding yang mana? Apakah kau
dapat masuk ke ruang dalam tempat tinggal Ki Wandawa?“ bertanya
kawannya. “Nampaknya rahasia ini bukan rahasia yang dianggap sangat
penting. Mereka berbicara di serambi,. Tidak di ruang dalam. Adalah
kebetulan aku lewat dan berhenti sejenak untuk mengerti apa yang
mereka bicarakan. Nah, jika kau ingin ikut menikmati kemukten dari
keris itu, ikut lah aku. Aku akan pergi bersama adikku. Ia tentu
akan dengan senang hati melakukannya” jawab orang bertubuh tinggi
kekar itu. Ternyata kawannya iu telah berhasil dipengaruhi oleh
orang bertubuh tinggi kekar itu. Setelah berpikir sejenak, maka
iapuru mengangguk sambil berkata “Aku ikut bersamamu. Tetapi kaulah
yang minta ij in kepada pemimpin kelompok kita” “Aku akan
mengatakannya” jawab orang bertubuh tinggi kekar itu.Seperti yang
direncanakan, maka orang itupun telah menghadap pemimpin
kelompoknya. Dengan memelas ia minta dir i dengan mengatakan bahwa
ayahnya sedang sakit keras” “Darimana kau mengetahui bahwa ayahmu
sakit keras?” bertanya pemimpin kdompoknya. “Adikku telah datang
kemari” jawab orang itu. “Dimana adikmu sekarang?“ bertanya pemimpin
kelompoknya. “Ia sangat tergesa-gesa. Ia sudah melanjutkan
perjalanan ke kota untuk memberi tahukan hal ini kepada paman” jawab
orang itu. Akhirnya permintaan ijin itupun dikabulkannya dengan
pertimbangan kemanusiaan dan bahwa keadaan tidak lagi dalam puncak
kegawatan. Dalam pada itu, maka adik orang bertubuh tinggi kekar
itupun telah minta ijin pula kepada pemimpin kelompoknya dengan
alasan yang sama dan bahwa ia akan pergi bersama dengan kakaknya
yang berada di kelompok lain. Seperti orang bertubuh tinggi itu,
iapun mengatakan bahwa adiknya yang bungsulah yang telah datang
kepadanya dan kepada kakaknya. Malam itu juga dengan berkuda
keduanya telah meninggalkan kelompok masing-masing. Seorang kawannya
telah ikut pula bersama mereka. “Kau sudah minta ij in untukku?“
bertanya kawannya. “Sudah” jawab orang bertubuh tinggi itu berbohong
Demikianlah ketiga orang itu telah mendahului pergi ke Gunung Lawu.
Sebagaimana di nasehatkan oleh Ki Wandawa kepada Juwiring, maka
orang itupun telah melalui jajan yang akan dilalui oleh Raden Juwir
ing dan Buntal.“Kita harus lebih dahulu sampai” berkata orang
bertubuh tinggi kekar itu “Kita tidak hanya sekedar memungut pusaka
itu setelah di sembunyikan. Tetapi kita akan mencoba, apakah pusaka
itu benar-benar pusaka yang sakti” “Maksudmu?“ bertanya adiknya.
“Jika kita sudah mendapatkan pusaka itu, maka aku akan mencoba,
seberapa tinggi kemampuan anak muda yang bernama Juwir ing itu
sebenarnya. Apakah ia mampu bertahan melampau ketahanan tubuh
ayahandanya sehingga ia akan dapat hidup j ika ia kembali dar i
Gunung Lawu” berkata orang bertubuh tinggi kekar itu. Namun kawannya
berkata “Itu satu perbuatan bodoh. Biar sajalah mereka kembali. Kita
tidak peduli Tetapi jika anak itu tidak kembali, maka tentu akan t
imbul kecur igaan dari orang- orang disekitarnya. Mungkin justru Ki
Wandawa sendiri” “Persetan” geram orang bertubuh tinggi kekar itu “t
idak seorangpun yang akan menghubungkan kepergian Juwiring dengan
kepergian kita” Kawannya tidak menjawab. Iapun kemudian berpikir,
bahwa hanya karena kecemasannya sajalah maka ia telah berangan-angan
seolah-olah semua orang mengetahui bahwa mereka bertiga telah
mendahului perjalanan Raden Juwiring. Ternyata bahwa ketiga orang
itu telah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Mereka telah mendahului
Raden Juwiring menuju ke Gunung Lawu. Jika mereka telah sampai ke
kaki gunung, maka mereka akan menunggu. Kemudian dengan diam-diam
mereka akan mengikutinya. “Lebih baik menunggu anak itu melepaskan
pusaka itu daripada merampasnya” desis orang bertubuh tinggi kekar
itu “karena dengan demikian, dalam keadaan yang paling gawat, ia
akan dapat mempergunakannya”“Jika anak itu mempergunakan juga keris
itu, apakah kakang akan melangkahi surut?“ bertanya adiknya. “Tentu
tidak” jawab orang bertubuh tinggi kekar itu “aku sudah terkenal di
pesisir Utara. Aku adalah orang yang paling ditakuti di antara, para
perampok. Jika anak itu mengetahui bahwa kita telah mengikutinya,
maka aku akan menyelesaikannya meskipun ia membawa pusaka itu.
Betapa saktinya pusaka itu, tetapi jika kulitku tidak tergores sama
sekali maka racun keris itu t idak akan membunuhku” Adiknya
mengangguk-angguk. Katanya “Itu lebih baik. Tetapi kita akan mencoba
mencari jalan yang paling baik. Meskipun demikian, jika yang paling
baik itu tidak dapat kita gapai, maka kita akan mengambil jalan yang
manapun juga” Orang bertubuh tinggi kekar itu mengangguk-angguk.
Rencananya sudah masak, meskipun, ia akan menghadapi keadaan yang
mungkin tidak sesuai dengan harapan mereka. Namun mereka bertekad
untuk mengambil sikap yang menentukan apapun yang akan terjadi.
Ketika langit mulai dibayangi warna fajar, ketiga orang itu telah
melalui jarak yang cukup. Tetapi mereka tidak segera beristirahat.
Mereka masih berkuda terus meskipun tidak terlalu tergesa-gesa. Pada
saat yang sama Juwiring telah membenahi dir inya bersama Buntal dan
Arum yang tidak mau ketinggalan. Mereka akan menempuh perjalanan ke
Gunung Lawu dengan menelusuri jalan seperti di nasehatkan oleh Ki
Wandawa. Peronda-peronda dari Surakarta kadang-kadang memang
mengejar orang-orang yang berkuda. Mungkin karena kecurigaan, tetapi
kadang-kadang mereka memerlukan kuda- kuda yang baik bagi pasukan
mereka. Demikianlah, maka menjelang matahari menjenguk cakrawala,
tiga orang anak muda telah meninggalkan Gebang menuju ke Gunung
Lawu. Beberapa orang yang melihatmereka, menyapanya. Tetapi jika
mereka, bertanya, kemana ketiga anak-anak muda itu akan pergi, maka
Juwir ing hanya tersenyumsaja. Dalam pada itu, maka Juwiring telah
menyembunyikan keris yang akan di labuhnya di Gunung Lawu di bawah
bajunya. Sementara itu, pada lambung kudanya ketiganya telah
menyangkutkan senjata mereka. Jika mereka bertemu dengan hambatan
yang gawat, maka mereka akan dapat mempergunakannya. Demikian mereka
keluar dari Gebang, maka matahari sudah mulai memancarkan cahayanya.
Dua orang pengawal yang bertugas di ujung padukuhan menyapanya.
Namun seperti setiap kali seseorang bertanya kemana, maka Raden
Juwiring hanya dapat tersenyumsaja. “Mereka tentu mendapat tugas
sandi dari Ki Wandawa” desis yang seorang. Yang lain hanya
mengangguk-angguk saja. Beberapa kali Raden Juwir ing mendapat
pertanyaan yang demikian oleh para petugas yang tersebar. Bahkan
setelah mereka melampaui bulak panjang dan memasuki padukuhan
berikutnya, petugas-petugas sandi masih saja mengamatinya. Satu dua
di antara mereka telah mengenalnya dan bertanya pula kepada mereka.
Tetapi Raden Juwiring tidak mengatakannya, kemana mereka akan pergi.
Namun dalam pada itu, ketika Raden Juwiring bertemu dengan seorang
anak muda yang telah mengenalnya dalam pakaian seorang petani
kebanyakan, sambil menj injing hasil sawah untuk di jual ke pasar,
maka anak muda itu berkata “Semalamaku melihat tiga orang berkuda
melalui jalan ini” “Siapa?“ bertanya Raden Juwiring. “Aku hanya
mengenal seorang di antara mereka” jawab anak muda itu.“Siapa?“
bertanya Raden Juwiring pula. “Ki Singaprana” jawab anak muda itu
“bersamanya ikut pula dua orang yang lain, yang aku belum
mengenalnya” “Kemana?“ bertanya Raden Juwiring. “Aku tidak tahu. Aku
tidak menyapanya, karena aku segan berbicara dengan orang itu” jawab
anak muda itu. “Kenapa?“ bertanya Buntal. “Ia selalu menyombongkan
dir i. Kemudian menggurui siapa saja, Semalam ia lewat jalan ini.
Tetapi ia tidak melihat aku, karena aku kebetulan berbaring di atas
jerami di pematang” jawab anak muda itu. Raden Juwiring
mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Terima kasih. Sekarang kau akan
kemana?“ “Ke pasar. Aku akan menjual kacang tanah” jawab anak muda
itu. “Kacang tanah hanya segenggam dan masih terlalu muda itu?“
justru Arumlah yang bertanya. Tetapi Juwir inglah yang menjawab
“Yang penting bukan kacang tanah itu. Tetapi bahwa ia akan berada di
pasar, di antara orang-orang yang berada di pasar adalah orang-orang
dari banyak padukuhan. Mereka akan berbicara tentang banyak hal yang
mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan sikap”
Anak muda itu tersenyum. Katanya “Tetapi jika kacang ini laku juga,
aku dapat membeli dawet cendol j ika aku haus.” Juwiring, Buntal dan
Arum tersenyum. Namun merekapun kemudian minta diri untuk meneruskan
perjalanan. Di beberapa daerah yang agak jauh dari kota, pangaruh
pertempuran besar yang baru saja terjadi di kota kurang terasa.
Meskipun ada juga satu dua orang yangmembicarakannya, namun
pasar-pasar masih banyak dikunjungi orang. Demikianlah perjalanan
ketiga orang anak muda itu t idak menemui hambatan apapun juga.
Agaknya jalan yang mereka tempuh, sesuai dengan petunjuk Ki Wandawa,
memang tidak pernah di jamah oleh para prajurit Surakarta, apalagi
kumpeni. Tidak ada kesan yang mereka lihat di sepanjang jalan.
Bahkan nampak bahwa pengaruh Pangeran Mangkubumi terasa di
padukuhan-pedukuhan itu. Perjalanan ketiga anak-anak muda itu tidak
terlalu tergesa- gesa. Sekali-sekali mereka ber istirahat untuk
memberi kesempatan kuda mereka beristirahat pula. Dalam pada itu,
maka seperti yang telah mereka rencanakan, bahwa mereka hanya akan
berkuda sampai ke kaki Gunung Lawu, Kemudian mereka akan mendaki
Gunung untuk melabuh keris milik Tumenggung Sindura yang gawat itu.
Karena itu, ketika mereka sampai kelereng Gunung Lawu, maka
merekapun telah singgah di sebuah kedai untuk makan dan sekaligus
mencari tempat untuk menitipkan kuda mereka. “Maaf Ki Sanak” berkata
pemilik warung itu ketika Juwir ing mengatakan kepadanya untuk menit
ipkan kudanya “Tidak ada tempat dan tenaga yang dapat menjaga kuda”
“Apakah di daerah ini banyak terjadi pencurian?” bertanya Juwiring.
“Tidak. Maksud kami bukan karena kami takut kehilangan kuda itu.
Tetapi sudah barang tentu bahwa kuda itu memer lukan makan dan
minum. Mungkin pemeliharaan sekedarnya” jawab pemilik warung itu.
Kemudian “Baru siang tadi ada juga tiga orang yang akan menitipkan
kudanya. Tetapi kami juga tidak sanggup mener imanya” “Tiga orang?“
bertanya Juwiring.“Ya. Mereka akan mendaki Gunung Lawu” jawab
pemilik warung itu. “Untuk apa?“ bertanya Juwiring pula. “Aku kurang
tahu” jawab pemilik warung itu. Lalu “Karena itu, maka merekapun
pergi dan mencari titipan di tempat yang lain” Juwiring memandang
Buntal sejenak. Kemudian katanya “Ki Sanak. Apakah tidak ada orang
di sekitar tempat ini yang dapat menolong memelihara kuda hanya
untuk har i ini. Jika seseorang bersedia untuk menyabit rumput dan
memberi sekedar dedak bagi kudaku, maka aku akan membayar berapa
yang kau kehendaki” Pemilik warung itu berpikir sejenak. Namun
kemudian ia bertanya “Hanya hari ini?“ “Maksudku hanya satu dua hari
saja” Juwir ing menjelaskan. Ternyata pemilik warung itu mulai
mempartimbangkannya. Akhirnya sebagaimana sifatnya sebagai seorang
pedagang maka iapun telah menawarkan harga tertentu untak
pemeliharaan setiap ekor kuda di setiap hari. Juwiring t idak
memikirkan nilai penawaran itu. Ia langsung mengiakannya. Pikirannya
sepenuhnya tertuju pada pelepasan pusaka itu. Semakin cepat ia dapat
melakukannya, akan semakin baik. Demikianlah, maka setelah ketiga
anak-anak muda itu selesai makan dan minum serta pembicaraan tentang
kuda yang telah mendapatkan kesesuaian, maka merekapun segera minta
dir i. “Kalian akan naik ke Gunung Lawu” bertanya pemilik warung
itu. “Ya” jawab Juwir ing. “Untuk apa?“ bertanya pemilik warung itu
pula.“Samadi” jawab Juwir ing singkat. Pemilik warung itu tidak
bertanya lebih lanjut. Memang sering terjadi, satu dua orang naik ke
Gunung Lawu untuk nenepi. Dalam pada itu, maka Juwiring serta
adik-adik seperguruannya itupun segera menelusur i jalan sempit di
kaki Gunung Lawu. Setelah mereka mengambil senjata masing- masing.
Nampaknya lereng masih landai. Tetapi beberapa saat kemudian mereka
akan sampai pada lereng yang menjadi semakin terjal. Arum yang lebih
banyak diam, apalagi jika ada orang lan. agar ia tidak segera
dikenal sebagai seorang gadis, memandang hutan di kaki Gunung Lawu
itu dengan dada yang berdebaran. Apalagi langit menjadi buram,
karena matahari telah menjadi sangat rendah di ujung Barat. “Kita
naik lewat hutan ini“ gadis itu bertanya di luar sadarnya. Juwiring
memandanginya sekilas. Timbul juga perasaan ibanya, bahwa gadis itu
harus memanjat tebing yang semakin lama menjadi semakin curam
sementara hutan yang lebat itu rasa-rasanya menjadi semakin pepat.
Tetapi Arum seolah-olah menangkap gejolak perasaan itu. Karena itu
justru katanya “Menyenangkan sekali. Satu pengalaman baru yang belum
pernah aku lakukan. Naik ke lambung Gunung Lawu” Juwiring dan Buntal
menarik nafas panjang. Namun tiba- tiba saja Arum itu bertanya “He,
apakah keris itu harus kita labuh di puncaknya atau dapat kita
lakukan pada lambungnya saja asal sudah jelas t idak akan dapat
diketemukan orang?“ “Kita akan memanjat sampai ke puncak, Arum”
jawab Juwiring.“Sampai ke puncak?“ Arum mengulang. Tetapi terasa
pada nada kata-katanya, bahwa ia merasa segan untuk berjalan sampai
ke puncak. Namun demikian, ia sudah terlanjur berjanji untuk tidak
mengeluh dan mengganggu perjalanan itu. Juwiring tersenyum. Ketika
ia memandang Buntal, maka Buntallah yang menjawab “Semakin tinggi
kita memanjat, maka kita tentu akan semakin banyak mendapat
pengalaman” Arum mengerutkan dahinya. Ia sadar, bahwa kedua orang
kakaknya itu mulai mengganggunya. Tetapi justru karena itu maka ia
menjawab “Ya. Nampaknya akan menyenangkan sekali” Buntal dan
Juwiring masih saja tersenyum. Tetapi keduanya tidak menyahut lagi.
Namun dalam pada itu, ketika langit menjadi semakin gelap, Juwiring
harus membuat perhitungan, apakah ia akan terus memanjat naik atau
berusaha untuk mendapat tempat peristirahatan. Iapun menyadari
betapa sulitnya melanjutkan perjalanan di malamhari. Ketika ketiga
anak-anak muda itu sampai pada sebuah lereng yang sedikit terbuka,
maka Juwir ingpun bertanya kepada Buntal “Apakah kita akan
melanjutkan perjalanan, atau kita akan berhenti di sini sampai
menjelang pagi?“Buntal mengamati keadaan di sekitarnya. Tempat yang
terbuka itu ternyata terdiri dari bebatuan yang keras, sehingga
pepohonan tidak dapat tumbuh di atasnya, sementara di sekitar tempat
itu, hutan masih tetap lebat dan pepat. “Aku kira, kita dapat
berhenti sejenak di sini untuk menilai keadaan” berkata Buntal. Arum
menarik nafas dalam-dalam. Ia memang berharap untuk beristirahat.
Tetapi jika ia yang mengucapkannya, maka kedua orang kakak
seperguruannya itu tentu akan semakin mengganggunya. Ternyata
Juwiringpun sependapat. Mereka berhenti di antara bebatuan raksasa
yang tersebar. Nampaknya tempat itu seolah-olah sebuah longkangan
sempit di antara lebatnya hutan di lereng Gunung Lawu. Demikianlah
maka ketiga anak muda itupun segera mencari tempat masing-masing.
Arum telah mendapatkan sebuah batu yang besar dan justru datar di
bagian atasnya, sehingga iapun langsung membaringkan dirinya sambil
menatap langit yang hitam penuh dengan bintang-bintang yang
bergayutan. Ia tidak menghiraukan bahwa batu itu basah oleh embun
yang sudah mulai turun. Dalam pada itu, Juwiring dan Buntalpun telah
duduk pula di batu sebelah menyebelah. Rasa-rasanya merekapun telah
diganggu pula oleh perasaan letih, sehingga demikian mereka duduk,
maka merekapun telah menjelujurkan kaki mereka. Sambil memij it-mij
it kakinya Buntal berdesis “Letih juga berkuda sehari-harian.
kemudian memanjat kaki bukit ini” Tiba-tiba saja Arum memotong
“Bukan aku yang mengatakannya” Buntal dan Juwiring tertawa kecil.
Dalam pada itu, Juwiringpun kemudian berkata “Bukankah kita membawa
bekal?““Ya. Ada di kampil ini” jawab Buntal. “Aku tidak ingin makan
sekarang. Bukankah kita sudah makan di warung itu. Besok pagi, aku
baru merasa lapar. Pondoh jagung itu masih akan tahan dua hari lagi”
berkata Arum. “Aku juga tidak lapar” sahut Juwiring “Tetapi mulut
ini rasa- rasanya ingin mengunyah sesuatu” “Kau tidak membeli kacang
yang dibawa anak muda yang kita jumpai menjelang kita berangkat itu”
desis Arum. “Aku tidak memikirkannya pada waktu itu” desis Juwiring.
“Tetapi j ika kau akan makan pondoh jagung ini, marilah” Buntal
menawarkannya. Tetapi Juwiringpun justru membaringkan dir inya di
atas sebongkah batu pula sambil berkata “Kita bergantian. Aku akan
tidur dahulu, j ika tengah malam lewat, bangunkan aku” Buntal
mengangguk sambil menjawab “Tidurlah kalian. Nanti pada saatnya aku
akan membangunkan kalian” Arum dan Juwir ingpun kemudian memejamkan
mata mereka. Nampaknya Arum benar-benar letih, sehingga iapun segera
tertidur. Baru kemudian Juwiringpun telah tertidur pala. Buntal
masih duduk di atas batu. Ia berusaha untuk menahan diri agar iapun
tidak tertidur pula. Meskipun mereka berada di tengah hutan, namun
sesuatu dapat saja terjadi. Apalagi menilik lebatnya hutan itu,
tentu banyak menyimpan binatang buas di dalamnya. Namun selain
binatang buas. Buntal juga berpikir tentang tiga orang berkuda yang
juga akan naik ke Gunung Lawu. Ketika mereka bertiga berangkat,
seorang anak mudapun member itahukan, bahwa malam sebelumnya, Ki
Singaprana telah menuju ke arah seperti yang ditempuhnya juga
bertigaseperti orang-orang yang akan menitipkan kudanya di warung
itu. Pikiran itu ternyata telah mengganggunya. Buntal t idak dapat
mengabaikan keadaan itu. Apalagi ia mengetahui serba sedikit tentang
Ki Singaprana yang dalam beberapa hal berada di dekat Ki Wandawa.
Namun Ki Wandawa memang pernah mengatakan, bahwa orang itu adalah
salah seorang pengawalnya, tetapi tidak untuk diajak berbicara
Tiba-tiba saja Buntal menjadi gelisah. Tetapi justru kegelisahannya
itu telah membuatnya tidak mengantuk. Ia berusaha untuk
menghubungkan keterangan pemilik warung tempat ia menit ipkan
kudanya, dengan keterangan anak muda ketika ia berangkat
meninggalkan Gebang. “Apakah mungkin orang itu mengetahui bahwa kami
bertiga akan melabuh pusaka yang keramat itu?“ bertanya Buntal di
dalamhatinya. Buntal mengangkat wajahnya ketika ia mendengar seekor
harimau mengaum. Suaranya bagaikan menggetarkan seluruh hutan di
lereng Gunung Lawu itu. Ternyata bahwa aum harimau itu telah
membangunkan Juwiring. Iapun menggeliat dan kemudian bangkit duduk
di atas batu itu. Namun Arum yamg agaknya terganggu juga tidurnya,
hanya berkisar saja sambil berdesis “Bangunkan aku jika har imau itu
datang kemar i” Buntal tidak menyahut. Harimau yang lain telah
mengaum pula seolah-olah menjawab sapa harimau yang pertama. Namun
Arum tetap saja berbaring sambil mendekapkan tangannya di dadanya
Tetapi Juwiring agaknya tidak berminat lagi untuk tidur. Bahkan
katanya “Jika kau akan ber istirahat, beristirahatlah”Buntal
mengangguk. Namun ia tidak segera berbaring. Bahkan katanya “Kau
ingat kata pemilik warung itu tentang tiga orang berkuda yang datang
sebelum kita?“ Juwiring mengangguk sambil menjawab “Ya. Aku juga
sedang memikirkannya. Agaknya kau juga menghubungkan tiga orang yang
dikatakan oleh pemilik warung itu dengan tiga orang yang dikatakan
oleh petugas sandi pada saat kita berangkat. Ki Singaprana dengan
dua orang kawannya” Buntal mengangguk pula sambil menjawab “Ya.
Nampaknya ada sesuatu yang perlu diperhatian tentang mereka”
Ternyata kedua anak muda itu mempunyai sikap yang sama terhadap
ceritera tentang tiga orang berkuda yang telah berada di kaki Gunung
Lawu itu. Apalagi karena merekapun ternyata akan naik kelambung
seperti yang mereka katakan kepada pemilik warung itu. Kedua anak
muda itupun tidak berbicara lagi. Buntallah yang kemudian berbaring
di atas sebuah batu yanbg basah oleh embun malam. Namun Buntal sama
sekali tidak menghiraukannya Ternyata Buntal yang juga merasa letih
itupun sempat juga tertidur. Tetapi iapun tidak dapat tidur terlalu
lama. Buntal juga terbangun ketika terdengar aumbinatang buas.
Akhirnya baik Juwiring maupun Buntal tidak lagi berbaring dan
berusaha untuk tidur. Namun mereka membiarkan saja Arum berbaring
meskipun kadang-kadang nampak juga ia gelisah. Sekali-sekali Arum
menggeliat dan berbalik. Namun kemudian ia menyilangkan tangannya
kembali di dadanya. Sebenarnyalah pada saat itu, orang yang disebut
bernama Ki Singaprana memang telah berada di kaki Gunung Lawu.
Mereka adalah orang yang disebut pula oleh pemilik warung yang
menolak menerima kuda mereka untuk dititipkan. Ternyata bahwa
ketiganya berhasil menitipkan kudanya justrukepada seorang penghuni
padukuhan meskipun mereka juga berjanji untuk member ikan imbalan.
Setelah hampir jemu menunggu, maka merekapun akhirnya melihat juga
tiga orang anak-anak muda yang mendaki lereng Gunung. Justru di saat
matahari terbenamdi ujung Barat. Dengan sangat berhati-hati, ketiga
orang itu mengikuti anak-anak muda itu memanjat lereng Gunung.
Mereka tidak dapat terlalu dekat, tetapi juga tidak dapat terlalu
jauh, agar mereka t idak kehilangan jejak. Tetapi mereka mengumpat
ketika ternyata ketiga anak- anak muda itu beristirahat di tempat
yang agak terbuka. Sudah barang tentu bahwa mereka tidak dapat ikut
memasuki tempat terbuka itu. Ketiga orang itu harus menunggu di
antara pepatnya pepohonan dan liarnya gerumbul-gerumbul perdu semak
dan duri. “Anak-anak malas, kenapa mereka tidak melabuh keris itu
justru di malam har i” geram orang bertubuh kekar yang bernama Ki
Singaprana itu. “Kita akan lebih mudah mengikutinya di siang hari”
desis adiknya. “Kenapa?“ bertanya Ki Singaprana. “Jika kita tidak
langsung dapat melihatnya, maka kita akan dapat mencari jejak dan
bekasnya. Mungkin ranting-ranting patah, mungkin dedaunan yang
menyibak atau tanda-tanda yang lain” jawab adiknya. Ternyata Ki
Singapranapun sependapat, meskipun mereka harus berada di tempat
yang lembab dan pengab Ketika fajar nampak di Timur, ketiga
anak-anak muda itupun telah berkemas. Arum agak jengkel karena di
tempat itu tidak ada air. Namun Buntalpun kemudian berkata “Aku kira
di tempat ini banyak terdapat sumber air. Marilah pertama-tama kita
akan mencari air”Ketiga anak-anak muda itupun kemudian meninggalkan
tempat mereka bermalam. Seperti yang dikatakan oleh Buntal, maka
mereka pertama-tama akan mencari air. Sekali lagi Ki Singaprana
mengumpat. Mereka masih harus menunggu anak-anak muda itu
membersihkan diri. Terutama anak muda yang nampaknya berwajah ke
kanak-kanakan itu. Demikianlah, maka ketika matahari mulai memanjat
langit ketiga anak-anak muda itu melanjutkan perjalanan. Namun baik
Juwiring maupun Buntal telah dibekali dengan dugaan, bahwa ketiga
orang yang disebut-sebut oleh pemilik warung itu adalah tiga orang
yang dikatakan oleh petugas sandi pada saat mereka berangkat. Dan
kepergian mereka ke lambung Gunung Lawu itu tentu ada hubungannya
dengan kehadiran Juwiring sendiri dengan kedua adik seperguruannya.
Karena itu, maka keduanya tidak kehilangan kewaspadaan. Bahkan
akhirnya merekapun merasa perlu untuk member itahukan hal itu kepada
Arum, agar gadis itu tidak terkejut apabila terjadi sesuatu.
Ternyata Arum sama sekali tidak heran mendengar keterangan Juwiring
tentang ketiga orang itu. Bahkan Arumpun kemudian berkata “Aku sudah
menduga. Akupun tahu bahwa kakang juga mempunyai dugaan yang
demikian” “Kenapa hal itu t idak kau katakan?“ bertanya Juwiring.
“Aku yakin, kakang berdua sudah mengetahuinya” jawab Arum. Juwiring
dan Buntal hanya dapat menarik nafas dalam- dalam. Tetapi merekapun
berbangga bahwa ternyata Arumpun mempunyai penggraita yang cukup
tajam. Dalam beberapa hal, jika Arum terpaksa harus melakukan tugas
tanpa orang lain, maka ia tidak akan mudah terjebak oleh satu
keadaan yang sebenarnya dapat dihindari.Ketiga anak muda itupun
kemudian memanjat semakin tinggi. Jalan setapak yang mereka lalui
menjadi semakin sulit. Bahkan kemudian mereka tidak lagi melihat
jalur yang dapat mereka telusur i. Sehingga karena itu. maka
merekapun kemudian harus membuat jalan bagi mereka sendiri.
Betapapun sulitnya, Arum yang sudah berjanji untuk tidak mengeluh,
sama sekali tidak mengatakan apapun juga. Iapun merasa, bahwa ia
pernah mendapat tempaan lahir dan batin seperti juga kedua saudara
seperguruannya. Karena itu, jika kedua saudara seperguruannya itu
mampu melakukan, maka iapun akan mampu melakukannya pula. Meskipun
demikian terbersit pula pertanyaan di hati Arum kenapa mereka masih
memanjat terus hanya sekedar untuk membuang sebilah keris saja.
Tetapi pertanyaan itu tidak pernah diucapkannya. Dalam pada itu,
lerengpun semakin lama menjadi semakin curam. Ternyata mereka
menjadi semakin lambat maju. Setapak demi setapak. Sementara itu,
meskipun Arum tidak pernah mengatakannya, tetapi Juwiring dan
Buntallah yang mengatur saat-saat mereka ber istirahat. Panasnya
matahari tidak terasa langsung membakar tubuh mereka, karena
pepohonan yang pepat. Tanah terasa lembab dan basah. Namun
kadang-kadang mereka harus memanjat tanah berbatu padas. Ada
beberapa longkangan yang tidak berpohon, sehingga dalam keadaan yang
demikian, sinar matahari benar-benar menggigit sampai ke tulang.
“Apakah malam ini kita akan bermalam lagi?“ bertanya Arum. Juwiring
memandang adik seperguruannya itu. Namun ia mengerti, apa yang
sebenarnya ingin ditanyakannya. Arum sebenarnya ingin tahu apakah
perjalanan itu masih panjang.Dalam pada itu, Juwiringlah yang
menyahut “Kita akan bermalam satu malam lagi. Menurut beberapa
keterangan, sebentar lagi kita akan lepas dari daerah hutan yang
lebat. Kita masih akan melintasi ara-ara perdu. Kemudian kita akan
muncul di tempat terbuka. di tempat itulah kita akan melabuh keris
itu. Kita akan menemukan sebuah jurang yang dalam dan menempatkan
keris itu ke dalamnya, agar keris itu tertidur di sana
selama-lamanya. Arum mengangguk. Ia mengerti, bahwa batas itu masih
jauh dari puncak Gunung Lawu. Tetapi agaknya Juwiring menganggap
bahwa mereka tidak perlu naik sampai ke puncak. Kecuali jalan
terlalu sulit, mereka tidak membawa perlengkapan yang cukup untuk
melawan udara dingin. Tetapi sebenarnyalah mereka tidak akan
memanjat terlalu tinggi. Karena itu mereka sama sekali t idak
tergesa-gesa. Apalagi jalan memang sangat sulit. Beberapa kali
mereka harus berhenti, beristirahat dan makan bekal yang mereka
bawa. Sementara itu, ternyata di lereng Gunung yang papat oleh
pepohonan itu, mereka tidak terlalu sulit untuk mencari air. Namun
dalam pada itu, Juwiring, Buntal dan Arum itu ternyata tidak dapat
mengabaikan tiga orang berkuda yang mungkin mengikutinya. Karena
itu, sambil berist irahat di antara pepohonan mereka mulai
membicarakan, apa yang harus mereka lakukan. “Kita harus memancing
mereka” berkata Buntal. “Aku setuju. Aku akan berpura-pura
meletakkan keris itu di antara bebatuan di luar hutan ini. Kemudian
kita meninggalkannya” jawab Juwiring. “Ya. Dengan suatu upacara
kecil“ sambung Arum. “Upacara bagaimana?“ bertanya Buntal.“Untuk
meyakinkan bahwa kakang Juwir ing telah meletakkan ker is itu. Kita
akan berjongkok dan pura-pura berdoa. Kemudian baru kita tinggalkan
tempat itu” jawab Arum. Juwiring dan Buntal tertawa. Sementara Arum
berusaha membela pendapatnya “Bukankah kita telah datang dari tempat
yang jauh untuk melabuh keris itu? Jika kita hanya ingin membuangnya
saja, kenapa tidak kita lemparkan saja keris itu di Bengawan?“ “Ya,
ya. Aku setuju” jawab Juwiring “Aku tidak mentertawakan pendapatmu.
Tetapi aku merasa geli seandainya kita sudah terlanjur berjongkok,
pura-pura berdoa, tetapi ternyata tidak seorangpun yang melihat
apalagi kemudian terpancing karenanya” “Ah, bukankah kita berusaha”
jawab Arum. “Aku setuju“ Buntal menyahut. Lalu “segalanya akan
nampak bersungguh-sungguh. Dengan demikian, maka seandainya ketiga
orang itu benar-benar mengikuti kita, mereka akan segera mencari
keris itu” “Jika demikian, apakah yang akan kita lakukan?“ bertanya
Juwiring dengan sungguh-sungguh. Buntal menarik nafas dalam-dalam.
Mereka memang ingin menjebak. Tetapi lalu apa yang paling baik
mereka lakukan, ternyata merupakan persoalan tersendiri bagi mereka.
Akhirnya mereka sepakat. untuk menangkap mereka bertiga.
Melaporkannya kepada Ki Wandawa bahwa mereka telah berbuat curang.
“Tetapi kakang Juwir ing” berkata Buntal “Ki Singaprana bukan orang
kebanyakan. Ia adalah seorang yang memiliki nama yang ditakuti oleh
lingkungannya sebelum ia berada di antara pasukan Pangeran
Mangkubumi”“Aku tahu” jawab Juwir ing “Tetapi kita wajib
menangkapnya. Jika kita tidak berbuat sesuatu, kita tidak akan dapat
mengemukakan hal itu kepada Ki Wandawa. Setidak-tidaknya kita
menunjukkan kepadanya bahwa kita akan dapat memberikan satu
kesaksian dari satu perbuatannya yang keliru. Yang tidak seharusnya
dilakukan. Kecuali karena ia ingin memiliki ker is yang bukan
haknya, ia juga telah mencuri satu rahasia yang tidak seharusnya
didengarnya” Anak-anak muda-itupun telah mengambil satu keputusan,
meskipun merekapun menyadari, bahwa ada dua kemungkinan yang dapat
terjadi. Menangkap ketiga orang itu atau mereka bertiga tidak akan
pernah kembali. Demikianlah setelah mereka istirahat secukupnya,
maka merekapun melanjutkan perjalanan. Jarak yang akan mereka capai
tidak terlalu jauh lagi. Sejenak kemudian hutanpun terasa menjadi
semakin tipis. Batu-batu padas terasa di bawah telapak kaki mereka.
Ketika kemudian mereka sampai ke hutan yang lebih jarang dan
sebagian besar adalah pepohonan perdu maka merekapun segera mencar i
tempat yang paling baik untuk berpura-pura meletakkan keris yang
harus dilabuh. “Kau lihat batu padas yang menjorok itu?“ bertanya
Juwiring. “Ya” jawab Buntal. “Sebuah goa kecil itu merupakan tempat
yang baik untuk permainan ini” desis Juwiring. “Ya. Kita akan
melakukannya di tempat itu. di sisi goa itu terdapat sebatang pohon
serut yang umurnya melampaui panjangnya jalan di seluruh negeri ini”
desis Arum.Ketiga anak-anak muda itupun kemudian pergi ke tempat
yang mereka tunjuk. Sebuah dinding padas yang di bagian bawahnya
terdapat semacamgoa yang kecil dan dangkal. Sejenak kemudian ketiga
anak-anak muda itupun telah berdiri tegak di hadapan dinding padas
yang menjorok itu. “Kita berjongkok di sini” desis Arum. “Ya. Aku
akan berpura-pura meletakkan sesuatu” sahut Juwiring. Ketiga
anak-anak muda itupun kemudian berjongkok di hadapan goa kecil itu.
Juwiring telah berpura-wira meletakkan sesuatu pada goa itu
sementara Buntal dan Arum menunggu dengan penuh khidmat. “Kita
sekarang berpura-pura berdoa” desis Arum. Ketika orang anak muda
itupun kemudian berlutut sambil menunduk kepala mereka dalam-dalam.
Namun dalam pada itu, Arum sendir i tersenyum membayangkan tingkah
laku mereka. Namun dalam pada itu, sebenarnyalah tiga orang
mengawasi mereka dari kejauhan. Ki Singaprana yang memimpin ketiga
orang kawannya itupun mengangguk- angguk sambil berkata “Kita akan
berhasil. Aku akan mengambil keris itu. Kemudian menghentikan ketiga
anak- anak muda itu dan membunuhnya” Adiknya tersenyum. Katanya
“Ternyata yang kita lakukan tidak sesulit yang kita bayangkan”
“Jangan meremehkan anak-anak itu” sahut kawannya “Mereka adalah
anak-anak muda yang mendapat kepercayaan dari Ki Wandawa”
“Kepercayaan apa?“ sahut Ki Singaprana “Apakah karena Juwiring itu
bekas seorang prajur it dari pasukan berkuda, maka ia memiliki ilmu
yang luar biasa? Aku percaya bahwaPangeran Ranakusuma adalah seorang
Senapati yang pilih tanding. Tetapi apa artinya Juwiring itu bagiku.
Seandainya aku mendapat kesempatan seperti Tumenggung Sindura dengan
keris yang keramat itu. mungkin akupun akan dapat melawan Pangeran
Ranakusuma. Apalagi Juwir ing” Kawannya tidak menjawab lagi. Iapun
percaya bahwa Ki Singaprana adalah seorang yang memiliki kemampuan
di atas kemampuan orang kebanyakan. Dalam pada itu, untuk beberapa
lamanya orang itu menunggu. Akhirnya mereka menarik nafas
dalam-dalam ketika mereka melihat ketiga anak-anak muda itu kemudian
berdiri. Setelah mundur beberapa langkah ketiga anak-anak muda itu
masih mengangguk sekali. Baru kemudian mereka meninggalkan tempat
itu. “Jangan tergesa-gesa” berkata Ki Singaprana ”Biarlah anak- anak
itu menjauh dan hilang di balik pepohonan. Kita akan mengambilnya
dan kemudian menyusulnya untuk membuktikan, arti dari keris yang
dengan bodoh mereka tinggalkan untuk mereka labuh di bawah pohon
serut di hadapan dinding padas itu” Ketiga orang itu masih menunggu.
Anak-anak muda itupun kemudian telah menghilang di balik pepohonan.
Menurut pengamatan ketiga orang yang menungguinya itu, anak-anak
muda itu tentu sudah mulai dengan perjalanan mereka menuruni lambung
Gunung Lawu. Baru setelah menunggu beberapa lama, adik Ki Singaprana
itu berkata “Jangan membiarkan mereka terlalu jauh. Kita akan
terpisah dari mereka, sehingga sulit untuk menyusulnya” Ki
Singapranapun kemudian bangkit berdiri. Sejenak kemudian katanya
“Marilah. Kita mengambil pusaka itu. Aku akan memilikinya dan
memeliharanya sebaik-baiknya, agar tuah keris itu benar-benar akan
bermanfaat bagiku. Aku akan menjadi seorang Tumenggung dan aku akan
memiliki wibawasebesar Tumenggung Sindura. Tanpa Pangeran
Ranakusuma, maka Tumenggung Sindura tidak akan di kalahkan oleh
siapapun juga” Ki Singaprana bersama adik dan kawannya itupun
kemudian keluar dari tempat persembunyian mereka. Dengan hati-hati
mereka mendekati dinding padas yang menjorok itu. Ketiga orang
itupun langsung menuju ke sebuah goa kecil yang terdapat pada
dinding padas itu. “Pohon serut itu agaknya yang menjadi ancar-ancar
mereka. Mungkin Pangeran Ranakusuma yang berpesan, agar keris itu
dilabuh di bawah pohon serut. Nampaknya Pangeran Ranakusuma
benar-benar takut terhadap keris itu, sehingga ia berharap dengan
demikian anak keturunannya tidak akan tersentuh oleh keris itu”
berkata Ki Singaprana. Tetapi adiknya menyahut “Tetapi justru
anaknya langsunglah yang akan mengalaminya” Ki Singaprana tertawa.
Katanya “Itu adalah perbuatan nasib. Dan nasib Juwir ing memang
sangat buruk” Ketiga orang itupun berhenti di depan dinding padas.
Sejenak mereka mengawasi keadaan. Kemudian mereka mulai melihat, apa
yang terdapat di dalam goa kecil, di bawah pohon serut itu. “Gila”
desis Ki Singaprana “keris itu dikuburnya” Ketiga orang itupun
kemudian berjongkok di depan goa kecil itu. Mereka mendapatkan
seonggok tanah sebagaimana sebuah kuburan kecil yang di tandai oleh
sebuah batu hitam. Dengan hati-hati Ki Singapranapun membongkar
onggokan tanah itu. Sementara adiknya berpesan “Hati-hatilah. Jika
ujung ker is itu sempat tergores di jari-jarimu“ “Kau benar” jawab
Ki Singaprana. Iapun kemudian mencabut pedangnya. Dengan pedang itu
ia mengaduk seonggok tanah di dalam goa kecil dan dangkal itu.Untuk
beberapa lamanya Ki Singaprana melakukannya. Namun keningnya semakin
lama semakin berkerut. Bahkan kemudian ia tidak sabar lagi.
Diletakkannya pedangnya dan ia mulai lagi melakukannya dengan
tangannya. “Tidak ada apa-apa” desisnya. “He?“ adiknyapun menjadi
tegang pula “mungkin bukan di sini. Ker is itu tentu tidak akan
dikuburkannya” “Tetapi tidak terdapat tanda-tanda lain” sahut
kawannya, Ketiga orang itu menjadi tegang. Sejenak mereka
termangu-mangu. Bahkan kemudian Ki Singaprana telah menghentakkan
kakinya sambi menggeram “Apakah anak- anak itu telah mempermainkan
kita?“ Tetapi adiknya berkata “Mereka tidak mengetahui bahwa kita
telah mengikutinya” “Belum tentu. Mungkin mereka mengetahuinya, atau
firasat mereka mengatakan, bahwa ada orang yang mengikuti mereka”
jawab Ki Singaprana. Dalam pada itu, adik Ki Singaprana dan
kawannyapun telah mencari di sekitar tempat itu. di bawah pohon
serut, di sekitar batu padas yang menjorok, di dinding-dinding goa
kecil itu. Bahkan dibahk-baliik batu di sekitar tempat itu. “Gila”
geram Ki Singaprana “Mereka telah mempermainkan kita” “Jadi, apakah
yang akan kita lakukan?“ bertanya adiknya. “Kita akan menyusulnya.
Kita akan membunuh mereka bertiga dan merampas pusaka itu” geramKi
Singaprana. “Sekarang” geram adiknya “Jangan biarkan mereka pergi.”
Namun dalam pada itu, sebelum mereka melangkah, tiba- tiba saja
mereka dikejutkan oleh kehadiran seseorang. Denganlantang orang ita
berkata “Kalian tidak usah mencari aku. Aku masih tetap di sini” Ki
Singaprana berpaling kearah suara itu. Kemudian terdengar suaranya
dalam“Raden Juwiring” “Ya paman. Aku memang menunggu paman di sini.
Ternyata paman benar-benar datang” sahut Juwiring. Sesaat Ki
Singaprana terdiam. Tetapi wajahnya menjadi semakin tegang. Dalam
pada itu, maka adiknyalah yang kemudian berkata “Nah, adalah
kebetulan sekali bahwa kau datang Raden. Sekarang kami ingin
bertanya, dimanakah keris yang akan Raden labuh itu” “Di bawah pohon
serut itu” jawab Juwiring. “Jangan bergurau seperti anak kecil”
jawab adik Ki Singaprana “Aku sudah terlalu lama tidak bercanda
dengan cara yang cengeng itu. Aku lebih senang bercanda dengan
pedang. Nah, katakan, dimana pusaka itu” “Apakah kau tidak
mendengar” sahut Raden Juwiring “ker is itu aku letakkan di bawah
pohon serut itu seperti pesan ayahanda. Tetapi akupun terkejut
ketika terasa seolah-olah ada tangan-tangan yang memang menerima
keris itu. Aku tidak dapat melawan ketika tangan itu kemudian
menggenggamnya dan merenggutnya dari tanganku. Semuanya itu hanya
terjadi dalam sesaat, karena sekejap kemudian ker is itu telah
hilang, manj ing ke dalam tubuh batang serut itu. Aku tidak
tahu,apakah jika pohon itu ditebang, kayupun di belah, akan dapat
diketemukan keris itu juga” “Raden jangan ngayawara” geram Ki
Singaprana “agaknya Raden memang menganggap kami sebagai kanak-kanak
yang pantas diajak bergurau dalam keadaan seperti ini. Raden. Aku
mohon, cepat tunjukkan dimana keris itu. Bukankah keris itu sudah
tidak terpakai lagi bagi Raden?“ “Tetapi keris itu memang harus
dilabuh paman. Dan tidak seorangpun boleh memilikinya. Karena itu,
maka perjalanan kami, kami lakukan secara rahasia. Adalah aneh j ika
paman dapat mengetahui, bahwa kami pada hari ini berada di Gunung
Lawu untuk menyingkirkan keris itu sebagaimana dipesankan oleh
ayahanda Pangeran Ranakusuma” “Sudahlah. Sebaiknya Raden jangan
bertanya suatu yang bukan kewaj iban Raden. Yang penting, tunjukkan
keris itu” Ki Singaprana menjadi tidak sabar lagi. “Sudah aku labuh”
jawab Raden Juwir ing. “Belum. Raden bohong” sahut Ki Singaprana
“Tetapi akupun mengerti bahwa Raden akan berkeberatan untuk
mengatakan, dimana keris itu. Baiklah. Aku akan memaksa Raden untuk
berbicara. Raden tentu mengenal, siapakah aku. Namaku ditakuti orang
sejak bertahun-tahun yang lalu. Namun ternyata perjuangan Pangeran
Mangkubumi telah berhasil menjinakkan namaku yang semula dianggap
liar. Tetapi justru karena aku telah banyak berjasa pada pasukan
Pangeran Mangkubumi, aku mohon Raden tidak berkeberatan untuk
menyerahkan keris itu” Tetapi Raden Juwir ing menggeleng. Jawabnya
“Maaf paman. Seandainya keris itu belum aku labuh, akupun tidak akan
menyerahkannya, karena demikianlah pesan ayahanda Pangeran
Ranakusuma pada saat-saat terakhir dari hidupnya”“Tetapi ayahanda
Raden sudah meninggal. Akan tidak ada manfaatnya lagi untuk memaksa
diri melaksanakan pesan pesannya” geramadik Ki Singaprana. “Maaf.
Aku tidak dapat menunjukkan dimana keris itu aku labuh” jawab Juwir
ing. “Jangan memaksa kami untuk melakukan kekerasan Raden” berkata
Ki Singaprana. “Akupun mengharap demikian. Kekerasan tidak akan
menyelesaikan masalahnya. Seandainya paman membunuhku, tentu tidak
akan ada manusia yang akan dapat menunjukkan keris itu kepada paman”
jawab Juwiring. “Tetapi jika kau tidak mau mengatakannya, aku
terpaksa membunuhmu. Biarlah ker is itu tidak aku ketahui dimana
tempatnya. Tetapi dengan kematianmu, maka rahasia itu tidak akan
pernah didengar oleh siapapun juga” geram Ki Singaprana. “Aku memang
tidak akan pernah mengatakannya” desis Juwiring. “Tetapi rahasia
yang demikian pada suatu saat akan dapat terucapkan. Sengaja atau
tidak sengaja” jawab Ki Singaprana “Nah, sekarang tinggal memilih.
Mengatakan dimana keris itu atau kami akan membunuhmu” Juwiring
memandang ketiga orang itu dengan tegang. Iapun pernah mendengar
bahwa Ki Singaprana adalah seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi.
Namun demikian ia sudah bertekad untuk tidak mengatakannya kepada
siapapun tentang pusaka itu. Karena itu, maka iapun kemudian berkata
“Aku tidak akan mengatakannya” Ki Singapranapun menganggap bahwa t
idak ada gunanya lagi untuk berbicara panjang lebar. Juwiringpun
ternyata tidak mengenal takut. Sebagai seorang prajurit dan
pasukanberkuda, maka ia tentu telah mendapat tempaan untuk tidak
gentar menghadapi apapun juga. Karena itu, maka Ki Singaprana itupun
kemudian berkata “Baiklah. Kami akan membunuhmu. Kami tahu bahwa
kalian bertiga di sini” “Ya” jawab Juwiring yang kemudian segera
mempersiapkan diri sambil memanggil kedua adik seperguruannya.
Buntal dan Arumpun segera bersiap pula. Mereka berdiri beberapa
langkah dari Juwiring. Masing-masing telah bersiap menghadapi segala
kemungkinan. Ki Singaprana dan kedua orang yang bersamanya itupun
melangkah mendekat. Kemarahan nampak memancar di wajah orang yang
namanya pernah menggetarkan pesisir Utara itu. Namun yang kemudian
telah bergabung pada pasukan Pangeran Mangkubumi, meskipun ternyata
hal itu sekedar dipergunakannya sebagai selubung saja. “Sebenarnya
aku merasa sayang untuk membunuh anak anak muda ini” berkata Ki
Singaprana “Kalian masih diper lukan oleh pasukan Pangeran
Mangkubumi. Tetapi karena kalian keras kepala, maka apaboleh buat.
Kami akan membunuh kalian bertiga, meskipun sebenarnya kalian
sendiri dapat menghindari hal ini” Juwiring tidak menjawab. Iapun
tergeser maju. Dengan tajamnya ia menatap Ki Singaprana. Nampaknya
Ki Singaprana adalah orang yang paling gawat di antara tiga orang
yang mengikutinya. Karena Juwiring merasa dir inya yang tertua di
antara ketiga anak muda itu, maka iapun telah menempatkan dir i
menghadapi Ki Singaprana. Sementara Buntal telah bersiap di hadapan
adik Ki Singaprana, sementara kawan mereka telah dihadapi oleh Arum.
Namun tiba-tiba kawan Ki Singaprana itu berkata “Apakah gadis ini
boleh dibiarkan hidup?“Adik Ki Singapranalah jang menyahut “Aku
sependapat Biarlah ia dibiarkan hidup. Aku akan mengantarkannya
kembali kepada ayahnya” “Memuakkan” geram Arumyang marah. Namun
Juwiring menyahut “Jangan marah Arum. Kau harus menghadapi lawanmu
dengan hati yang terang agar kau tidak dikacaukan oleh kecurangan
yang dilakukan orang-orang itu justru karena kau seorang gadis yang
tidak akan dapat dikalahkan dengan ujung senjata” Arum tidak
menyahut. Ia pernah mengalami per istiwa yang demikian. Dam iapun
mengerti, bahwa gejolak perasaan yang tidak terkendali hanya akan
mempersulit kedudukannya saja. Karena itu, ketika sekali lagi
lawannya itu mencoba menyentuh perasaannya, ia justru berkata “He,
nampaknya kau akan dapat menjadi suami yang baik. Sayang sebentar
lagi kau akan mati” “Persetan” geram laki-laki itu. Dalampada itu,
Ki Singaprana sudah tidak sabar lagi. Iapun telah mencabut
pedangnya. Kemudian menjulurkan pedang itu lurus ke dada Juwir ing
sambil menggeram “Kau akan segera mati” Raden Juwiring tidak
menyahut. Iapun telah menggenggam pedangnya pula. Ia harus bertahan,
betapapun tinggi ilmu orang yang bernama Ki Singaprana itu. Adik Ki
Singaprana dan kawannya yang berhadapan dengan Arum itupun telah
siap dengan senjata masing-masing pula. Sebilah pedang, dan kawannya
itu mempergunakan canggih bertangkai pendek. Arum memperhatikan
senjata lawannya. Ia sadar, bahwa canggah yang bermata rangkap itu
adalah senjata yang berbahaya. Jika lawannya itu membawa senjata
jenis itu, maka tentu iapun akan mampu mempergunakan sebaik-baiknya.
Menurut pengalamannya mempergunakan senjata, serta latihan-latihan
yang dilakukan, maka senjata bermata rangkap mempunyai kemampuan
merampas senjata lawannya. Jika pedangnya terperangkap di antara
kedua mata canggah itu, dan kemudian canggah itu diputarnya, maka
senjatanya tentu akan terlepas dari genggaman. Karena itu Arum
memang harus berhati-hati. Ia tidak boleh lengah sehingga senjatanya
akan dapat terlepas dari tangannya. Sejenak kemudian, Ki Singaprana
yang tidak sabar itulah yang telah mulai menggerakkan senjatanya.
Juwiring dengan sengaja bergeser ke tempat yang lebih, lapang dan
datar meskipun di bawah kakinya terhampar batu-batu padas yang
keras. Buntalpun menanggapi sikap Juwiring. Iapun bergeser pula
untuk dapat melawan adik Ki Singaprana itu dengan loncatan- loncatan
panjang. Sementara Arum masih tetap berada di tempatnya.
Pedangnyalah yang terjulur. Ketika ujungnya mulai bergerak, maka
lawannyapun bersiap menghadapinya Menilik sikapnya, meskipun Arum
seorang gadis, tetapi ia memiliki kemampuan ilmu pedang yang baik.
Ternyata lawannyalah yang memancing perlawanan Arum, Ia mengangkat
canggahnya dan terayun dari sisi kanan Arum. Tetapi ternyata Arum
tidak menjadi tegang terkejut dan apalagi meloncat-loncat. Dengan
tenang ia bergeser setapak. Namun justru ialah yang kemudian
meloncat menyerang langsung kearah dada. Sikap Arum itu benar-benar
telah mengejutkan. Dengan demikian maka orang itupun menjadi semakin
yakin, bahwa Arum memang seorang gadis yang memiliki ilmu pedang
yang baik. Lawannya itupun terpaksa meloncat ke samping. Dengan
canggahnya yang bertangkai pendek itu ia mencoba menjepitpedang Arum
dan memutarnya. Tetapi Arumpun dapat bergerak cepat, apalagi ia
sudah mengetahui kemampuan senjata bermata dua itu. Karena itulah,
maka iapun telah menarik pedangnya sehingga canggah lawannya itu
tidak menyentuhnya. Namun sekali lagi ia mengejutkan lawannya,
karena pedangnya terayun mendatar menyerang lambung. Sekali lagi
lawannya mengelak. Tetapi Arum tidak memburunya, karena ia
menyadari, bahwa lawannyalah yang kemudian bersiap untuk menjebak
senjatanya Sejenak Arum berdir i dengan pedang yang masih tetap
terjulur. Ketika lawannya bergeser, iapun berputar mengikuti arah
lawannya. Sementara itu, Buntal telah bertempur dengan cepat dan
keras mengimbangi kekerasan lawannya. Keduanya berloncatan dengan
langkah panjang. Namun kemudian senjata mereka berbenturan dengan
dahsyatnya. Mereka saing menyerang dan menangkis. Dalam pada itu.
Buntal yang sudah menduga bahwa lawannya akan bertempur dengan
keras, sama sekali tidak terkejut ketika lawannya itu meloncat
sambil berteriak. Sambaran pedangnya yang garang dan kuat, disusul
dengan hentakkan-hentakkan yang kasar. Ternyata anak muda dar i
padepokan Jati Aking itu sudah cukup memiliki pengalaman bertempur
melawan berjenis-jenis ilmu. Karena itu maka iapun segera mampu
menyesuaikan diri dengan sikap dan cara lawannya itu bertempur. Ki
Singaprana ternyata tidak kalah garangnya. Namun nampaknya Ki
Singaprana masih menjaga diri sebagai salah seorang pengawal dalam
pasukan Pangeran Mangkubumi. Meskipun tandangnya juga keras, tetapi
ia berusaha meninggalkan kebiasaannya sebagaimana yang selalu
dilakukannya di pesisir Utara.Dengan tangkasnya ia memutar
pedangnya. Sekali terjulur, kemudian menebas datar. Pada kesempatan
lain terayun dengan derasnya menyambar kening. Tetapi Juwiringpun
cukup tangkas. Ia mampu mengimbangi kecepatan gerak lawannya. Bahkan
sekali-sekali jika senjata mereka bersentuhan, terasa bahwa Juwiring
memang mempunyai kekuatan yang cukup. Tetapi ternyata Ki Singaprana
itu t idak telaten bertempur dengan cara itu. Di dalam pasukan
Pangeran Mangkubumi ia bertempur dalam satu kelompok bersama para
pengawal yang lain, sehingga ia sendiri berada di antara satu
kekuatan yang harus saling menyesuaikan diri. Dalam keadaan yang
demikian, sifat dan wataknya sebagai seorang yang namanya di takuti
di pesisir Utara, tidak terlalu menonjol. Namun ketika ia harus
bertempur seorang melawan seorang dengan Raden Juwiring, murid
padepokan Jati Aking dan juga bekas seorang prajurit dari pasukan
berkuda maka ia tidak akan dapat bertahan pada sikapnya itu.
“Persetan“ katanya di dalam hati ”aku tidak peduli apa yang akan
dikatakan oleh anak itu. Sebentar lagi aku akan membunuhnya Kemudian
ia tidak akan dapat berbicara apapun tentang aku” Dengan demikian
maka Ki Singaprana itupun t idak lagi berusaha mengekang dir i.
Semakin lama tata geraknyapun menjadi semakin kasar. Akhirnya
sebagaimana nampak pada adiknya Ki Singaprana telah berada pada
wajahnya yang sebenarnya selagi ia berada di pesisir Utara.
Kegarangan dan kekasarannya benar-benar mendebarkan jantung
Juwiring, yang seperti Buntal memiliki pengalaman yang luas dalam
dunia petualangan olah kanuragan. Namun menghadapi orang yang
bernama Ki Singaprana ini, Juwiring menjadi
berdebar-debar.Sebenarnyalah tingkat kemampuan ilmu Ki Singaprana
dan adiknya memang berselisih selapis. Ki Singaprana memiliki
kekuatan dan pengalaman melampaui adiknya pada atas ilmu yang sama.
Karena itu, maka Ki Singaprana adalah seseorang yang lebih berbahaya
dari adiknya dan kawannya yang juga bekas seorang perampok yang
disegani. Dengan demikian, maka ketiga orang yang meskipun juga
pernah berada dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi, namun
dalam keadaan yang demikian, telah nampak warna mereka yang
sebenarnya. Sehingga di lambung Gunung. Lawu itupun kemudian telah
terdengar teriakan- teriakan nyaring dan bahkan kadang-kadang
umpatan kasar dan tidak sewajarnya diucapkan. Apalagi di antara
mereka terdapat seorang gadis. Dengan demikian, maka Juwir ingpun
telah melihat satu kenyataan bahwa tidak semua orang yang berada di
dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi adalah orang- orang
yang benar-benar ingin menegakkan keadilan di atas Surakarta. Bahkan
orang yang bukan saja tidak bercita-cita, tetapi dengan sengaja
telah berusaha menyelubungi dirinya. “Orang-orang yang demikian
itulah agaknya yang telah menodai perjuangan” berkata Juwiring di
dalam hatinya “setitik nila yang diteteskannya, akan dapat merusak
susu sebelanga” Karena itu, maka Juwiringpun telah bertekad untuk
menghancurkan orang itu sama sekali. Namun ternyata bahwa orang itu
seperti yang pernah didengarnya, adalah orang yang memiliki
kelebihan. Dengan kasar, buas dan liar ia telah melawan Raden
Juwiring. Orang itu telah meloncat-loncat sambil berteriak-teriak.
Menghentak hentak tidak menentu. Namun bukan berarti bahwa ia tidak
mengenal ilmu pedang dan tata gerak ilmu kanuragan. Nampaknya ia
telah mendapat tuntunan yang demikian di dalam padepokan tempat
orang itu berguru. di sampinglandasan unsur-unsur gerak yang mapan,
ketrampilan dan kecepatan gerak, orang itu telah menunjukkan
perlawanan yang nggegerisi. Juwiring t idak dapat ingkar akan
kenyataan itu. Betapapun ia mengerahkan segenap kemampuannya, namun
ia telah terdesak semakin berat. Kekasaran lawannya benar-benar
membuatnya kadang-kadang bingung dan terkejut. Sementara itu. Buntal
telah melawan adik Ki Singaprana dengan mapan. Meskipun orang itu
juga berteriak-teriak, meloncat-loncat dengan kasar dan liar, namun
dasar landasan kemampuannya setingkat di bawah Ki Singaprana,
sehingga karena itu, ketenangan Buntal masih dapat mengimbanginya.
Apapun yang dilakukan oleh lawannya, Buntal berhasil menyesuaikan
dir i, meskipun dengan demikian kadang-kadang iapun harus bertempur
dengan kasar. Namun dalam pada itu, pada benturan-benturan yang
terjadi kemudian, Buntal berhasil mempengaruhi lawannya, karena
terriyata ia memiliki tenaga yang lebih besar dari lawannya. Ketika
lawannya menyerangnya sambil berteriak, Buntal berkata “Apa gunanya
kau berteriak-teriak? Kau kira kau dapat menakuti aku dengan mulutmu
yang lebar itu? Kau tidak dapat ingkar, bahwa pada setiap benturan
tanganmu bergetar” “Persetan” geram adik Ki Singaprana itu “aku akan
membunuhmu” Buntal tidak menyabut. Tetapi ia tidak pernah menyia-
nyiakan setiap kesempatan. Namun dalam pada itu. jantungnya berdesir
ketika ia melihat Juwir ing yang justru terdesak Beberapa kali
Juwiring harus meloncat surut menjauhi lawannya untuk menghindari
kekasaran dan keliarannya. Namun lawannyapun mampubertindak cepat,
sehingga dengan garangnya iapun telah berusaha memburunya kemana
Juwir ing menghindar. Buntalpun menyadari, bahwa Ki Singaprana tentu
lebih tinggi ilmunya daripada adiknya. Karena dtu, maka Juwiring
tentu benar-benar berada dalam kesulitan. Tetapi jika ia ingin
membantunya, maka ia harus mengalahkan lawannya lebih dahulu. Ia
harus melumpuhkan atau bahkan membunuhnya sama sekali. Dada Buntal
tergetar sekali lagi ketika ia melihat Arum. Lawannya yang kasar
benar-benar mempengaruhi perlawanan gadis itu. Sebagaimana pernah
terjadi, maka sikap dan kata- kata kotor orang itu bagi Arum tidak
kalah berbahayanya dari mata canggah di dalamgenggamannya “Kau ingin
bertempur atau sekedar berteriak-teriak mengumpat” geramArum. Tetapi
lawannya tertawa. Ia menjadi semakin kasar dan semakin liar.
Kata-katanyapun menjadi semakin kotor. Arumpun ternyata telah
terdesak pula. Sekali-sekali ia meloncat surut. Namun suara tertawa
dan teriakan-teriakan yang memuakkan masih selalu terdengar. Namun
bukan hanya sikapnya yang liar dan kata-katanya sajalah yang menjadi
semakin kotor. Tetapi canggah itu benar-benar berbahaya bagi Arum.
Sekali-sekali canggah itu menyambar lengan, namun pada keadaan
tertentu canggah itu langsung mematuk leher. Jika Arum terlambat
menghindar, maka lehernya akan terjepit kedua mata canggah itu yang
tajam di bagian dalam, sehingga leher itu akan tertebas dari kedua
belah sisi. Meskipun ternyata Arum cukup cepat bergerak, tetapi
lawannya selalu memburunya dengan sikapnya yang licik. Tetapi Arum
sadar, bahwa ia tidak akan dapat menghentikan kata-kata kotor,
umpatan-umpatan danteriakan-teriakan itu dengan kata-kata. Karena
itu, maka iapun bertempur semakin cepat dan garang. Namun dernikian,
menurut pengamatan Buntal, Arum masih dapat didesak oleh lawannya.
“Aku harus dengan cepat menyelesaikan orang ini” berkata Buntal di
dalam hatinya “lawan Arum itu terlalu kasar. Tetapi sudah tentu
bahwa iapun memiliki ilmu yang matang. Bahkan nampaknya lebih baik
atau lebah liar dari lawanku ini” Tetapi lawan Buntal itupun tidak
membiarkan Buntal dengan mudah mengalahkannya. Ketika Buntal
mengerahkan segenap kemampuannya, maka iapun telah melawan dengan
segala kekuatan yang ada padanya. Bahkan agaknya orang itupun
mempunyai perhitungan yang cermat. Ia melihat, bahwa Ki Singaprana
berhasil mendesak Juwir ing, sementara kawannya meskipun dengan
licik, tetapi dapat menekan Arum yang menjadi sangat gelisah. Karena
itu, maka ia mempunyai perhitungan, seandainya ia sekedar menghindar
saja, berlari- lari dan meloncat-loncat, akhirnya Buntal harus
menghadapi tiga orang sekaligus setelah Juwiring terbunuh dan Arum
dapat diselesaikan pula. Juwiringpun menjadi sangat gelisah. Ia
melihat, bagaimana Arum mulai terdesak. Tatapi ia tidak dapat
mengelakkan kenyataan, bahwa ia sendir ipun telah terdesak pula.
Benturan-bentuian yang terjadi telah menggetarkan tangan Juwiring.
Orang yang bernama Ki Singaprana itu benar-benar seorang yang
memiliki kemampuan dan pengalaman yang sangat luas, selain sikap dan
tandangnya yang sangat kasar. Bahkan kesulitan demi kesulitan telah
menekan Juwir ing sehingga sekali-sekali ia hampir kehilangan
keseimbangan. Batu-batu padas di bawah kakinya rasa-rasanya menjadi
semakin tajamdan menghunjam pada telapak kakinya. Senjata orang itu
terasa semakin dekat terayun di sisi tubuhnya. Ketika Juwiring
terpaksa meloncat surut, makaujung senjata lawannya itu telah
memburunya. Dengan cepat Juwiring berusaha menangkisnya. Senjata itu
memang bergeser, tetapi tiba-tiba justru terayun mengarah ke
dadanya. Demikian cepatnya, sehingga Juwiring terkejut karenanya.
Sekali lagi ia berusaha menangkis serangan itu. Namun ia tidak
berhasil sepenuhnya. Ujung senjata lawannya itu masih tergores di
pundaknya. Juwiring menggeram. Luka itu tidak terlalu dalam. Tetapi
darah telah mulai menitik dari luka itu. “Menyerahlah” geram Ki
Singaprana “sebentar lagi kau akan mati” Yang terdengar adalah
gemeretak gigi. Juwir ing sama sekali tidak ingin menyerahkan
lehernya kepada orang itu. Luka dilengannya telah membuatnya
bagaikan banteng ketaton. Dalam pada itu, Buntal memang berhasil
mendesak lawannya,. Tetapi iapun tidak segera melihat, bahwa ia akan
dapat menyelesaikan pertempuran itu dalam waktu dekat Apalagi
lawannya yang mengetahui pula keadaan pertempuran itu mempergunakan
kesempatan sebaik-baiknya. Ia tidak melawan Buntal dalam
benturan-benturan senjata dan dengan saling melibat pada jarak yang
dekat. Tetapi orang itu telah berloncatan dengan langkah-langkah
panjang. Demikianlah, pertempuran di lambung Gunung Lawu itu
berlangsung dengan sengitnya. Darah di lengan Juwiring mengalir
semakin banyak. Anak muda itu berdesah ketika sekali lagi ujung
pedang Ki Singaprana mengenai pundaknya. Yang terdengar adalah suara
tertawa Ki Singaprana. Dengan lantang iapun kemudian berkata “Kau
akan mati di sini. Bukan ker is itulah yang akan dilabuh. Tetapi
mayat kalian bertiga” Betapa kemarahan menghentak-hentak dadanya.
Tetapi kenyataan itu telah terjadiJantung Juwiringpun hampir meledak
ketika ia melihat, Arum benar-benar dalam kesulitan. Ganggah lawan
gadis itu berputar bagaikan baling-baling. Ketika Arum mempergunakan
satu kesempatan yang terbuka dengan menebas lawannya, tiba-tiba saja
tawannya berhasil menangkis dan bahkan pedang Arum telah
terperangkap di antara kedua mata canggah. Dan yang dicemaskan
itupun telah terjadi. Dengan cepat lawan Arum lalu memutar
canggahnya. Sebelum Arum sempat menarik senjatanya itu, maka satu
hentakkan yang kuat telah merenggut senjata Arum, sehingga senjata
itu telah terlempar beberapa langkah dari padanya. Yang terdengar
kemudian adalah suara tertawa meledak bagaikan mengguncangkan Gunung
Lawu. Kawan Ki Singaprana itu merasa bahwa ia telah berhasil
menyelesaikan satu pertempuran yang berat. Dengan demikian, maka
gadis itu akan segera menjadi j inak dan tunduk kepada segala
perintahnya. Yang terjadi itu membuat Buntal bagaikan kehilangan
akal. Seperti badai ia memburu lawannya. Tidak ada lagi
pertimbangan-pertimbangan yang dapat menghambatnya. Dengan demikian,
maka tenaga Buntal bagaikan menjadi berlipat. Seperti prahara ia
mengamuk. Lawannya yang berloncatan itu seakan-akan tidak mendapat
tempat lagi. Pedang Buntal selalu mengejarnya seperti seekor lalat
yang berdesing di telinganya. Sehingga akhirnya lawannya itu merasa
punggungnya membentur dinding padas. Dengan demikian maka lawan
Buntal itu t idak akan dapat lagi berloncatan surut. Sementara itu,
tidak kalah garangnya sikap Juwiring. Ia sadar, bahwa ia telah
terluka. Iapun sadar, bahwa Ki Singaprana mempunyai kelebihan dari
padanya. Namun ia tidak dapat membiarkan Arum mengalami perlakuan
yangsangat mengerikan dari orang yang seolah-olah menjadi mabuk itu.
Karena itu, terjadilah yang sama sekali tidak direncanakan. Juwiring
yang seolah-olah telah kehabisan akal itu t idak lagi dapat membuat
pertimbangan-pertimbangan lain. Dalam keadaan yang paling sulit,
sementara ia tersudut dalam dua keadaan yang bertentangan, di saat
ia harus melindungi Arum sebagaimana harus dilakukan oleh saudara
tertua, namun juga kenyataan bahwa ia tidak akan mampu melawan Ki
Singaprana dalam keadaan wajar, maka tiba-tiba saja ia telah
menyingkapkan bajunya. Dengan tiba-tiba-saja tangannya telah menarik
keris yang disembunyikan di balik bajunya. Justru keris yang harus
di labuhnya itu. Tiba-tiba saja, bahkan seolah-olah bagaikan terjadi
di luar kewajaran, langit yang cerah itu bagaikan menyala sekejap.
Seolah-olah kilat yang dahsyat telah menyambar di langit tanpa
mendung tanpa hujan setitikpun. Namun kemudian Ki Singaprana
melihat, bahwa sebilah keris yang bercahaya kemerah-merah telah
berada di dalam genggaman tangan Juwiring. “Raden Juwiring” desis Ki
Singaprana. “Aku tidak mempunyai pilihan lain. Kau harus mati oleh
keris yang kau buru ini” geram Juwir ing. Ki Singaprana mundur
selangkah. Nampak pada tatapan matanya bahwa hatinya telah tergetar.
Namun kemudian iapun berkata “Raden. Keris itu memang keris yang
luar biasa. Setiap sentuhan akan berakibat maut. Tetapi aku tidak
yakin bahwa Raden dapat menyentuh kulitku dengan ker is itu” Wajah
Raden Juwiring menjadi merah padam. Matanya bagaikan menyala dan
giginya gemeretak. Seolah-olah Raden Juwiring yang menggenggam
pedang di tangan kanan dan keris di tangan kiri itu bukan Raden
Juwiring yang dikenal oleh Ki Singaprana. Raden Juwiring yang
menggenggam ker is ituseolah-olah adalah orang lain yang garang,
kasar dan sebuas Ki Singaprana sendiri. Ki Singaprana tidak
mempunyai pilihan lain. Sejenak kemudian Juwiring yang digelisahkan
oleh keadaan Arum itupun segera menyerang. Langkahnya seolah-olah
menjadi semakin kasar dan keras. Pedangnya terayun-ayun menger ikan.
Seakan akan Juwir ing sudah tidak mempunyai perhitungan sama sekali.
Namun dalam pada itu, selagi Juwiring tenggelam ke dalam gejolak
perasaan yang tidak terkendali, ternyata Buntal telah menekan
lawannya semakin berat. Justru karena lawannya seolah-olah telah
bersandar pada dinding padas, maka kesempatannya menjadi semakin
sempat. Dengan garang oleh kemarahan yang tidak tertahan lagi karena
sikap lawan Arum maka Buntal telah mempergunakan kesempatan itu
sebaik- baiknya. Ketika ia menjulurkan pedangnya, lawannya itu masih
sempat menangkis. Ia memukul pedang Buntal ke samping. Namun Buntal
menarik senjatanya. Dengan ayunan yang keras ia menebas lambung.
Sekali lagi lawannya berusaha bergeser sambil memukul senjata
Buntal, namun Buntal tidak mau lebih lama lagi membiarkan Arum dalam
kesulitan. Karena itu, maka ia telah menemukan saat yang paling
tepat Demikian senjata lawannya terayun, maka ia melihat kesempatan
terbuka pada dada lawannya. Dengan kecepatan yang menghentak
dilandasi segenap tenaga dan kemampuannya, maka Buntal telah
menggeser pedangnya dan langsung menusuk dada adik Ki Singaprana.
Tidak ada kesempatan untuk menangkis. Tetapi orang itu masih
berusaha mengelak, dengan bergeser setapak. Tetapi Buntal telah
memperhitungkannya. Karena itu, maka pedangnyapun bergeser pula,
sehingga ujung pedang itupun telah menghunjam langsung ke
dalamjantung lawannya. Orang itu tidak sempat mengelak. Ketika
Buntal menar ik pedangnya, maka orang itupun telah terhuyung-huyung
dankemudian jatuh menelungkup di tanah. Ia tidak sempat lagi
mengeluh, karena tusukan pedang Buntal itu langsung membunuhnya.
Sementara itu. Buntal tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera
meloncat, menuju ke arena pertempuran antara Arumdan lawannya. Namun
Buntal tertegun sejenak. Ia masih melihat Arum telah mengerahkan
kemampuannya yang terakhir untuk mempertahankan dir inya meskipun ia
telah kehilangan pedangnya. Pada saat-saat lawannya menikmati
kemenangannya, ia telah menjadi lengah. Ia sadar ketika ia melihat
di tangan Arumtergenggam pisau-pisau belati kecil. Tetapi terlambat.
Demikian ia berusaha menyiapkan diri ternyata sebilah pisau belati
kecil telah meluncur mematuk langsung ke dadanya. Meskipun ia
berusaha mengelak, tetapi pisau itu menancap pula di pundaknya.
Orang itu menggeram. Kemarahannya tidak terkatakan. Ternyata Arum
benar-benar tidak dapat dij inakkan. Bahkan orang itupun kemudian
melihat tangan kiri Arum telah terayun pula. Sebilah pisau belati
meluncur ke lehernya. Dengan gontai orang itu bergeser ke samping
sambi menangkis pisau belati itu. Sebenarnyalah ia berhasil. Namun
dalam pada itu, diluar dugaannya pula pisau yang luput itu diikuti
oleh sambaran pisau belati ber ikutnya, langsung menancap pada
lambung. “Gila, perempuan gila” geramnya. Tetapi ia tidak mempunyai
kesempatan. Perasaan sakit, pedih dan nyeri pada pundak dan
lambungnya membuatnya kehilangan pengamatan diri. Itulah sebabnya
ketika tiga pisau meluncur lagi dari tangan Arum satu di antaranya
benar-benar telah menancap di dadanya, meskipun yang dua dapat
ditangkisnya dengan canggahnya.Betapapun kemarahan
menghentak-hentak. Namun orang itu tidak dapat mengingkari kenyataan
itu. Ia menyesal atas kelengahannya. Tetapi segalanya telah terjadi.
Ia tidak dapat mengulangi dari permulaan sejak saat ia berhasil
merampas pedang gadis itu. Namun terkilas juga di dalam kepalanya,
seandainya ia tidak kehilangan kewaspadaan, maka ia tidak akan
mengalami nasib yang demikian buruknya. Sejenak orang itu berdir i
tegak. Dipandanginya Arum dengan nyala kemarahan yang tiada taranya.
Tubuhnya mulai bergetar oleh kemarahan dan rasa sakit yang
menghunjam sampai ke sungsum. Namun agaknya Arum masih belum
meyakini keadaan lawannya. Dua buah pisau lagi telah meluncur.
Keduanya mengenai dada orang yang sudah tidak mampu mengelak lagi
itu. Sejenak kemudian, maka orang itupun telah terjatuh, la masih
mengumpat dengan kata-kata kotor. Tetapi sejenak kemudian iapun
telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Arum menarik nafas
dalam-dalam. Dirabanya ikat pinggangnya yang besar. Sebagaimana
kebiasaannya, ia telah menyimpan pisau-pisau kecil pada ikat
pinggangnya di bawah bajunya. “Hampir semuanya sudah aku lontarkan“
desir Arum. Suaranya masih bergetar oleh gejolak perasaan di dalam
dadanya. “Aku akan mengumpulkannya nanti dan membersihkannya” desis
Buntal. “Pisau itu sudah bernoda darah” jawab Arum. “Kau dapat
memakai pisau-pisauku meskipun t idak sebanyak pisau yang kau bawa”
jawab Buntal.Namun dalam pada itu, Arum melontarkan pandangan
matanya ke arah Juwiring yang masih bertempur. Buntalpun telah
berpaling pula kepadanya. Terasa jantung mereka berdentang semakin
cepat melihat darah di tubuh Juwir ing. Tetapi yang terjadi kemudian
sudah berubah. Agaknya Juwiring telah mendesak lawannya yang menjadi
sangat berhati-hati. Meskipun sekali-sekali ujung pedang Ki
Singaprana masih saja menahan serangan-serangan Juwiring dengan
sentuhan-sentuhan kecil, tetapi Juwiring seolah-olah tidak lagi
menghiraukannya. Ia menyerang seolah-olah tidak memperhitungkan
keadaan dir inya. Ki Singaprana adalah seorang perampok yang
memiliki nama yang ditakuti di pesisir Utara. Ia adalah orang yang
kasar, buas dan liar. Tidak ada yang dapat mencegahnya untuk berbuat
apa saja j ika hal itu sudah dikehendaki. Namun menghadapi Juwir ing
yang menggenggam keris yang luar biasa itu di tangan kir inya,
rasa-rasanya jantungnya berdegup semakin cepat. Ia melihat
seolah-olah keris itu membara dengan warna kemerah-merah, sementara
tingkah laku Juwiring telah berubah sama sekali. Ia tidak bertempur
sebagai seorang kesatria, apalagi putera Pangeran Ranakusuma. Tetapi
ia bertempur dengan kasar pula seperti Ki Singaprana sendiri.
Akhirnya Ki Singaprana itu tidak lagi mampu melawan kegarangan
Juwiring dengan senjata rangkap. Pedang di tangan kanan anak muda
itu mampu memancing pedang Ki Singaprana yang menangkisnya. Namun
tiba-tiba dengan kecepatan yang tidak diduga, Juwiring meloncat
dengan garangnya. Keris di tangan kir inya terjulur lurus kearah
dada. Tetapi Ki Singaprana tidak mau dikenai keris itu. Karena itu,
iapun segera meloncat menghindar. Namun Juwiring memburunya. Ketika
ia melihat pedang Ki Singaprana terjulur untuk menghentikan
serangannya, ia menangkis dengan pedangnya pula. Sementara itu. ia
masih meloncat puladengan tangan kiri terjulur. Ujung pedang Ki
Singaprana itu masih mengoyak kulit lengannya. Namun Juwir ing tidak
menghiraukannya. Tanpa diduga ia meloncat semakin dekat. Terjadilah
bencana yang tidak dapat dielakkan lagi bagi Ki Singaprana. Dalam
kekalutan sikap karena serangan-serangan Juwiring yang seperti orang
kerasukan itu, maka ujung keris yang akan dilabuh itu telah tergores
pada ujung jari Ki Singaprana. Hanya pada ujung jari saja. Namun
dalam pada itu, wajah Ki Singapranapun segera menjadi pucat. Dengan
loncatan panjang ia menjauhi Raden Juwir ing sambil berkata “Cukup
Raden. Kau telah menyelesaikan pertempuran ini” Raden Juwiring
tertegun sejenak. Namun kemudian ia melihat Ki Singaprana mengacukan
jarinya yang tergores keris itu. Katanya di luar sadar “ternyata
gerak tanganku telah menyentuh ker is itu” ”Dengan sengaja aku
lakukan” potong Juwiring. Wajah Ki Singaprana menegang sejenak.
Namun kemudian katanya “Aku percaya” Kata-katanya terputus. Keris
itu benar- benar keris yang luar biasa. Tubuh Ki Singaprana itupun
gemetar. Wajahnya menjadi merah biru. Dengan sisa tenaganya Ki
Singaprana itupun segera duduk bersandar sebatang pohon sambil
menyilangkan tangannya. Rasa-rasanya kematian itu menjemputnya
terlampau cepat, sehingga ia hanya sempat berkata “Waktuku telah
tiba” Ki Singaprana masih sempat memejamkan matanya. Namun kemudian
ia tidak dapat bergerak lagi. Nafasnya terhenti di ujung hidungnya,
sedang darahnya telah mengental di dalam tubuhnya. Juwiring berdir i
di hadapannya dengan garangnya. Pedangnya masih tetap digenggamnya
di tangan kanan, sementara tangan kirinya masih pula menggenggam ker
is yang harus dilabuhnya.Demikian Juwir ing mengakhiri pertempuran
itu, maka Buntal dan Arumpun menar ik nafas dalam-dalam. Setelah
saling memandang sejenak, merekapun kemudian melangkah mendekati
Juwir ing yang masih berdiri tegak. Namun langkah kedua anak muda
itu tertegun. Mereka tidak menyangka sama sekali bahwa Juwiring
itupun mengumpat dengan garangnya sambil mendorong mayat yang
terduduk itu dengan kakinya. Bahkan kemudian katanya “Mayatmu akan
menjadi racun bagi binatang buas yang akan mengoyak dagingmu. di
tempat ini akan bertimbun bangkai- bangkai binatang buas dan burung
gagak yang berkeliaran di langit” Sekali lagi Buntal dan Arum saling
berpandangan. Namun kemudian mereka melangkah lagi mendekat. Dengan
hati hati Buntal melangkah di sebelah sambil berkata “Ia sudah mati
kakang” “Ya. Ia sudah mati” geramJuwiring. “Kamipun telah berhasil
membunuh lawan- lawan kami” berkata Buntal selanjutnya. “Bagus.
Semuanya memang harus dibunuh dan dicincang di sini” sahut Juwir ing
dengan kasar. Buntal mengerutkan keningnya. Sikap Juwiring memang
agak berbeda. Kelelahan, kejengkelan dan kemarahan yang tidak
terkendali memang dapat membuat seseorang menjadi kasar. “Tetapi
kita tidak akan dapat meninggalkan mereka begitu saja” berkata
Buntal. “Lalu, apa yang harus kita lakukan?“ bertanya Juwiring
dengan nada tinggi. “Kita akan menguburkannya” jawab
Buntal.“Mengubur perampok-perampok yang telah mengkhianati
perjuangan Pangeran Mangkubumi ini?“ bertanya Juwiring pula. “Mereka
memang pengkhianat. Tetapi mereka telah mat i. Kita tidak pantas
mendendam kepada orang mat i. Karena itu, biarlah kita menguburkan
mayat mereka. Kita dapat mencari disela-sela batu-batu pada tanah
yang lebih lunak” berkata Buntal. “Tidak. Aku tidak akan menguburkan
mereka. Terutama iblis ini. Ia mati karena racun yang luar biasa
telah bekerja pada tubuhnya. Biarlah kematiannya menjadi bencana
bagi binatang-binatang buas dan burung pemakan bangkai” bentak
Juwiring. Buntal merasa aneh. Namun Juwiring kemudian membentaknya
sekali lagi “Jangan hiraukan mayat-mayat itu” “Tetapi bukankah kita
berkewajiban kakang” suara Arum penuh keragu-raguan” “Tidak“
Juwiring hampir berteriak “sudah aku katakan, tidak pantas
orang-orang yang telah berkhianat itu mendapat kehormatan. Aku tidak
mau. Bahkan seharusnya kita memenggal kepala mereka dan membawanya
kembali kepada Ki Wandawa. Menunjukkan kepadanya dan minta agar
kepala itu di tanjir di pintu gerbang padukuhan Gebang, sebagaimana
dilakukan oleh kumpeni” Jawaban Juwiring itu benar-benar telah
membingungkan Buntal dan Arum. Karena itu sejenak keduanya termangu-
mangu. Arumlah yang kemudian mendekati Juwir ing sambil berkata
“Betapapun jantung kita bergejolak, tetapi kita jangan kehilangan
nalar yang bening. Kakang, apakah salahnya jika kita berbuat sesuatu
yang kita anggap baik. Mayat-mayat itu sudah tidak akan berarti
apa-apa bagi kita. Mereka sudah mati. Aku berhasil membunuh lawanku
dengan pisau-pisaukecilku. Kakang Buntal menusuknya dengan pedang,
dan kau yang mendapat lawan paling berat telah membunuh lawanmu
dengan keris yang akan kita labuh. Bukankah semuanya sudah selesai.
Kenapa kita masih harus mendendam terhadap mayat- mayat yang sudah
tidak akan dapat berbuat apa-apa itu?“ Wajah Juwiring menjadi
semakin tegang. Namun kemudian ia berkata “Lakukan jika kalian akan
melakukannya. Aku lelah sekali. Aku t idak peduli terhadap
mayat-mayat itu” Buntal dan Arum menjadi semakin heran melihat
keadaan Juwiring. Tetapi mereka menganggap bahwa Juwiring benar-
benar telah mengalami pergolakan perasaan yang dahsyat, sehingga ia
masih belum dapat berpikir bening. Karena itu, maka Arumpun berkata
kepada Buntal “Semuanya dapat kita selesaikan nanti, setelah kakang
Juwiring beristirahat dan hatinya menjadi tenang. Aku ingin mencari
air untuk membersihkan diri dan mencuci senjataku” Buntal mengangguk
kecil. Katanya “Aku akan memungut pisau-pisau kecilmu. Yang mengenai
lawan, maupun yang tidak. Kita akan mencucinya. Jika kau ingin
membawa yang bersih, yang tidak ternoda darah meskipun telah dicuci,
kau dapat membawa pisau-pisauku, dan aku akan membawa pisau-pisaumu”
Arum mengangguk. Tetapi ia memberikan isyarat kepada Buntal agar ia
mengajak Juwir ing bersama mereka, atau setidak-tidaknya minta ijin
kepadanya. Buntal yang dengan ragu-ragu mendekati Juwiring yang
duduk di atas sebuah batu itupun kemudian berkata “Kakang. Kami akan
mencari air untuk membersihkan diri. Apakah kau juga akan
membersihkan dir i?“ “Tidak. Aku di sini. Aku perlu beristirahat”
jawab Juwiring. Buntal dan Arum tidak dapat memaksanya. Mereka
berduapun kemudian memasuki lebatnya pepohonan untukmencari sebuah
belik yang terdapat di bawa pohon-pohon raksasa di hutan itu. Namun
sebelum mereka turun, Buntal telah memungut beberapa pisau yang
dapat diketemukannya dan mencabut pisau yang tertancap di tubuh
lawan Arum. sementara Arum telah memungut pedangnya yang terlepas
dari tangannya. Ternyata mereka tidak terlalu sulit untuk mencar i
sebuah belik. di bawah sebatang pohon preh yang besar mereka
menemukan sebuah belik. Meskipun airnya jernih, tetapi belok kecil
itu dikotori oleh daun-daun ker ing yang runtuh dari dahannya. Namun
dalam pada itu, sambil mencuci senjata-senjata dan membersihkan
dirinya, keduanya sempat berbincang tentang Juwiring dengan
sifat-sifatnya yang aneh. “Hatinya benar-benar terguncang” berkata
Buntal “hampir saja kakang Juwiring kehilangan kesempatan” “Ia
terluka” desis Arum. “Kakang Juwiring mempunyai obat pemampat darah.
Nampaknya luka-lukanya tidak begitu berbahaya” jawab Buntal. Arum
menar ik nafas dalam-dalam. Sementara Buntal berkata “Aku justru
menduga, bahwa kaulah yang akan di hentak oleh kejutan perasaan
sehingga mungkin untuk beberapa saat lamanya, kau akan dicengkam
oleh kegelisahan. Tetapi justru bukan kau, tetapi kakang Juwir ing”
“Aku sudah melambati perasaanku dengan pasrah” jawab Arum “ternyata
bahwa Yang Maha Pelindung telah melindungi kita. Sementara kakang
Juwiring benar-benar menghadapi keadaan yang paling gawat. Mungkin
kakang Juwiring melihat juga, seperti yang kau lihat, pedangku telah
terlepas dari tanganku”“Ya Sementara itu kakang Juwiring sendiri
telah terdesak” sahut Buntal. “Keadaan itulah yang agaknya membuat
kakang Juwir ing seolah-olah berubah akal” gumam Arum “Tetapi mudah-
mudahan ia menjadi tenang kembali. Nalarnya menjadi jernih dan ia
dapat menilai semuanya yang telah terjadi dengan hati yang bening”
Buntal mengangguk-angguk. Sementara tangannya masih sibuk dengan
pisau-pisau kecil yang bernoda darah. Setelah beberapa saat mereka
berada di belik itu, dan setelah mereka menganggap bahwa Juwiring
menjadi tenang, merekapun telah menyimpan senjata masing-masing.
Dengan hati yang berdebar-debar mereka kembali ke tempat Juwiring
beristirahat. Namun hati mereka tergetar ketika mereka melihat
Juwiring duduk di atas sebongkah batu padas. Nampaknya ia sudah
mengobati luka- lukanya. Tetapi ia masih sibuk menimang keris yang
akan di labuhnya di lambung Gunung Lawu itu. Ketika Juwiring melihat
kedua adik seperguruannya, tiba- tiba saja matanya menjadi menyala.
Dengan kasar ia bertanya “He, apakah yang telah kalian lakukan? Aku
harus menunggu di sini sampai tua? Kalian datang ke tempat ini untuk
satu tugas yang penting, bukan untuk bercinta seperti itu” Wajah
kedua adik seperguruannya menjadi merah. Tetapi Buntal menarik nafas
dalam-dalam, seolah-olah ia ingin menelan kembali perasaannya yang
tiba-tiba saja telah melonjak. “Aku mencuci pedang kakang” jawab
Buntal “selebihnya aku memang menunggu kakang menjadi tenang”“Cukup”
bentak Juwiring “Aku tidak mau mendengar alasan-alasan yang kalian
buat-buat. Waktu kita tidak terlalu banyak. Kita akan segera kembali
ke Gebang” Kedua adik seperguruannya itupun terkejut pula. Bahkan
dengan serta merta Arum bertanya “Tetapi bukankah kita masih akan
melabuh keris itu kakang?“ “Bodoh“ geram Juwir ing “ternyata kita
sudah berbuat bodoh” Buntal menjadi semakin tidak mengerti. Dengan
heran ia bertanya “Kau membuat aku bingung kakang. Apakah sebenarnya
yang kau kehendaki setelah kau berhasil membunuh Ki Singaprana? Jika
kau memerlukan waktu yang cukup untuk menenangkan hatimu, maka kami
tidak akan berkeberatan” “Cukup. Tutup mulutmu Buntal” bentak Juwir
ing “dengar. Aku tidak memerlukan waktu untuk beristirahat. Aku
ingin segera kembali ke Gebang. Aku ingin segera melaporkan segala
peristiwa ini kepada Ki Wandawa bahwa tiga orang di antara pasukan
Pangeran Mangkubumi telah berkhianat” “Tetapi bagaimana dengan
pusaka itu?“ bertanya Arum. “Aku akan membawa pusaka ini kembali”
jawab Juwiring “adalah bodoh untuk membuang pusaka yang keramat
seperti ini. Pusaka ini memiliki kemungkinan yang tidak terbatas.
Sebagaimana kau lihat, aku dapat membunuh Ki Singaprana yang
memiliki kelebihan dari aku” “Tetapi kakang” sahut Buntal “bukankah
ayahanda kakang Juwiring, Senapati Agung Surakarta yang bergelar
Pangeran Ranakusuma telah memberikan perintah kepadamu, untuk
melabuh keris itu di Gunung Lawu ini” Buntal dan Arum terkejut
melihat sikap Juwiring. Mereka menjadi semakin tidak mengerti.
Bahkan kulit mereka serasa meremang ketika mereka mendengar Juwiring
tertawaberkepanjangan. Katanya “Jangan cengeng seperti itu. Pangeran
Ranakusuma adalah ayahku. Ialah yang member ikan perintah itu.
Tetapi ayahanda sudah gugur. Karena itu, maka perintahnya sudah
tidak mengikat lagi“ “Kakang” potong Arum “Apakah kau menyadari apa
yang kau katakan?“ “Tentu. Aku menyadari sepenuhnya apa yang aku
katakan” jawab Juwiring “Aku tidak sedang gila sekarang ini. Aku
sadar sepenuhnya apa yang terjadi. Aku tahu, kalian adalah adik
seperguruanku. Aku tahu bahwa kita bertiga datang ke tempat ini
untuk memenuhi per intah ayahanda agar pusaka yang telah
dipergunakan oleh Tumenggung Sindura itu di labuh. Aku sadar
sepenuhnya” “Jika demikian, kenapa kakang Juwiring akan membatalkan
niat kakang untuk melabuh pusaka itu?“ bertanya Arum. “Baru sekarang
aku menyadari, betapa tinggi nilai keris itu. Akupun baru saja
menyadari, bahwa saat ayahanda akan gugur, maka nalarnya sudah tidak
bekerja lagi dengan baik, sehingga perasaannya sajalah yang
bergejolak. Karena itulah maka ayahanda telah menjatuhkan perintah
agar keris itu dilabuh saja. Tetapi jika saat itu, perasaan ayahanda
dapat diimbangi dengan nalar, ayahanda tentu tidak akan memer
intahkan demikian. Keris ini akan sangat berarti bagiku, apalagi
dalam perjuangan sekarang ini. Aku akan dapat memasuki barak kumpeni
di loj i, dan aku akan dapat membunuh kumpeni sebanyak-banyaknya.
Apakah hal itu tidak kau sadari” Jantung kedua anak muda, adik
seperguruan Juwiring itu berdebar-debar. Ketika mereka menatap wajah
Juwir ing, terasa kulit mereka meremang. Wajahya Juwiring
seolah-olah telah berubah sama sekali. Ia bukan lagi Juwiring putera
Pangeran Ranakusuma. Bukan pula anak angkat dan sekaligus mur id
Kiai Danatirta. Tetapi yang berada di hadapan kedua anak-anak muda
itu adalah seorang anak muda yangberwajah liar dan membayangkan
watak yang gelap dalam bayangan nafsu untuk membunuh. Dalam
kebingungan maka Buntalpun kemudian berkata “Kakang Juwir ing. Aku
mohon kakang dapat menenangkan hati. Cobalah mengingat segala pesan
dan perintah ayahanda kakang Juwiring. Keris itu harus dilabuh di
atas Gunung Lawu. Kita sekarang sudah berada di lambung Gunung Lawu”
“Tidak. Sekali lagi aku katakan tidak. Aku akan kembali sambil
membawa keris ini. Aku memer lukannya. Aku adalah putera-seorang
Pangeran yang sudah barang tentu pada suatu saat aku akan memangku
jabatan penting di Surakarta, apabila Pangeran Mangkubumi sudah
berhasil mengusir kumpeni. Kangjeng Susuhunanpun akan terusir pula
karena ia berpihak kepada kumpeni. Jika Pangeran Mangkubumi menang,
aku akan menjadi seorang Tumenggung. Namaku akan dikenal oleh
seluruh rakyat Surakarta. Bahkan mungkin namaku akan lebih besar
dari Tumenggung Sindura sendiri” “Kakang” potong Arum “kakang sudah
melupakan tugas kakang. Kakang telah kehilangan kepr ibadian kakang”
“Omong kosong” geram Juwir ing. “Kakang” berkata Buntal “lepaskan
keris itu barang sekejap. Keris yang kotor oleh darah itu agaknya
telah mempengaruhi kepribadianmu” “Gila“ Juwir ing justru menjadi
marah “Kau kira aku sudah kehilangan kepr ibadian? Kau kira aku
adalah seorang yang berjiwa lemah yang dengan mudah dapat
dipengaruhi oleh keadaan di luar diriku sendir i? Kau kira karena
aku memegang keris ini, maka kepr ibadianku telah berubah dan aku
telah lupa segala-galanya yang baik menurut pertimbangan
kepribadianku yang sebenarnya? Tidak anak-anak. Sama sekali t idak.
Tetapi perkembangan nalar itu dapat terjadi. Bukan kehilangan
kepribadian. Jika sekarang aku menganggap bahwa keris ini adalah
keris yang sangat berarti bagikedudukanku kelak, bukan berarti bahwa
aku sudah kehilangan kepr ibadianku. Tetapi ini adalah perkembangan
sikap j iwani. Perkembangan yang demikian itulah yang akan dapat
membawa seseorang kepada cita-citanya. Sebagaimana Pangeran
Mangkubumi pernah berusaha untuk mengekang pemberontakan Raden Mas
Said, namun karena perkembangan sikap jiwaninya, maka Pangeran
Mangkubumi sendiri telah mengangkat senjata” “Bukan satu
perbandingan“ bantah Buntal “Tetapi yang kakang lakukan sekarang
adalah benar-benar satu perubahan kepribadian. Kakang yang lembut
dan berhati bersih, seperti seharusnya seorang kesatria yang penuh
dengan pengabdian, tiba-tiba kakang telah berubah menjadi seorang
yang tamak dan penuh dengan nafsu angkara. Kakang sebelumnya tidak
pernah berbicara tentang kedudukan dan pangkat, tiba-tiba kakang
sudah mengigau tentang kedudukan. Bahkan lebih baik dari kedudukan
Tumenggung Sindura. Cobalah, jika masih ada sisa kesadaranmu.
Lepaskan keris itu barang sejenak” Wajah Juwiring menjadi kian
membara. Dengan nada kasar ia berkata “Apakah kau menjadi iri
Buntal? J ika ker is ini aku lepaskan, maka kau tentu akan
menerkamnya dan memilikinya” “Tidak kakang. Sama sekali tidak. Aku
tidak memerlukan keris itu, karena menurut Pangeran Ranakusuma,
keris itu harus di labuh. Karena itu ker is itu harus ditinggalkan
di Gunung Lawu ini” Raden Juwiring menjadi semakin marah. Katanya
“Aku adalah saudara tertua di antara kalian. Seharusnya kalian
menurut segala petunjukku. Namun nampaknya kalian justru akan
mengajari aku. Karena itu, aku tidak peduli lagi akan Kalian. Aku
akan kembali ke Gebang. Meneruskan perjuangan. Memenangkan perang
melawan Surakarta, dan aku akanmenjadi seorang Senapati pilihan
seperti ayahanda Pangeran Ranakusuma” Raden Juwiring tidak
menghiraukan kedua adik seperguruannya lagi. Iapun segera membenahi
dir i. Sambil menj inj ing keris yang seharusnya di labuh itu, maka
ia meninggalkan tempatnya. “Kakang“ panggil Buntal “Jangan
kehilangan akal” “Tutup mulutmu” bentaknya. Namun Arum ber lari-
lari memotong jalan Juwir ing sambil berkata “Jangan kakang. Jangan”
Langkah Juwir ing tertegun. Sekali lagi ia berteriak “Minggir. Arum,
kau jangan menjadi gila seperti itu. Aku adalah saudara
seperguruanmu dalam urutan yang lebah tua. Karena itu, jangan
menggurui aku” “Jangan pergi kakang. Jangan kau lakukan pelanggaran
itu “Arum hampir menangis. Tetapi Juwiring bergeser arah. Dengan
tergesa-gesa ia melangkah meninggalkan lambung Gunung itu. Namun
Buntallah yang mencegatnya. Dengan suara yang hampir parau iapun
berusaha mencegah Juwir ing yang dianggapnya sudah kehilangan
kepribadian. Akhirnya Juwiring telah benar-benar kehilangan
kesabaran. Dengan suara bergetar ia berkata “Buntal dan Arum. Kalian
adalah adik-adik seperguruanku. Kalian telah aku anggap sebagai
adikku sendir i, sehingga selama ini. kita selalu berbagi duka dan
berbagi suka. Tetapi kali ini kalian menjadi berubah. Kalian telah
dipengaruhi oleh perasaan ir i dan dengki. Apakah salahnya jika aku
kelak menemukan kamukten? Apakah kalian menganggap bahwa aku tidak
akan ingat lagi kepada kalian”“Tidak. Tidak sama sekali“ Arum
benar-benar menangis “Aku tidak menginginkan apapun juga kakang.
Tetapi aku mohn kakang menyadari apa yang kakang lakukan kali ini”
“Arum, apakah kau ingin bahwa Buntallah yang harus mewarisi keris
ini agar ialah yang kelak dapat menjadi seorang Tumenggung? Dengan
demikian, jika kau menjadi isterinya, maka kau adalah isteri seorang
Tumenggung?“ “Tidak, tidak” Arum tidak dapat menahan diri lagi.
Tangisnya meledak-ledak, betapapun ia berusaha menahannya sambil
menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tetapi Juwir ing sama
sekali tidak menghiraukannya lagi. Bahkan katanya “Aku sudah tidak
sabar lagi. Kalian memang iblis yang tidak tahu diri. Jangan
berpura-pura lagi bersikap seperti saudara yang baik hati. Aku tahu
apa yang terkandung di dalam hatimu” Juwiring tidak menghiraukan
lagi kedua saudara seperguruannya itu. Namun Buntal benar-benar
tidak ingin melepaskannya. Setiap kali ia selalu memotong langkah
Juwiring yang nampak tergesa-gesa. Akhirnya Juwiring itupun
berteriak “Buntal. Kau adalah saudara yang bagiku bagaikan saudara
kandung sendir i. Tetapi kau sebenarnya bukan apa-apa. Kau adalah
anak yang hilang yang di ketemukan dan dipelihara di padepokan Jati
Aking. Karena itu, jika kau berkeras untuk merebut ini, maka
akhirnya aku akan sampai kepada satu keputusan, bahwa kaupun harus
disingkirkan” “Kakang“ wajah Buntal menjadi tegang, sementara
Arumpun yang sedang menangis bagaikan dihentakkan oleh kata-kata
itu, sehingga justru tangisnya terhenti dengan tiba- tiba. “Kakang”
suara Arum tiba-tiba melengking “Jadi kau sudah benar-benar
kehilangan dir i?”“Persetan dengan kau. Aku tidak peduli” “Arum”
sahut Buntal “adalah menjadi kewajiban kita untuk mencegahnya,
justru karena kita adalah saudara seperguruannya” “Cukup” teriak
Juwiring “Kalian akan menjadi hambatan bagiku. Sekarang atau kelak.
Kalianpun tentu akan membocorkan rahasia ini sehingga keris ini akan
menjadi rebutan. Karena itu. kalian berdua memang harus
disingkirkan. Sebenarnyalah kalian sama sekali tidak ada hubungan
keluarga apapun dengan aku” Tiba-tiba saja Juwiring telah mengangkat
keris itu. Sambil menggerakkan keris yang bercahaya kemerah-merahan
itu ia berkata “Kalian harus mat i” Buntal melangkah surut. Ia
memandang ker is itu dengan jantung yang berdebaran. Kemudian
dipandanginya wajah Juwiring yang telah berubah sama sekali. Betapa
bengisnya wajah itu, “Bersedialah untuk mati” geram Juwir ing.
Tetapi Buntal tidak mau mati. Karena itu ketika Juwir ing
mendekatinya dengan keris terjulur di tangannya. iapun telah
mencabut pedangnya sambal berkata “Maaf kakang. Aku terpaksa
melindungi dir iku sendiri” Juwiring tidak menyahut. Iapun dengan
serta merta meloncat menyerang. Namun Buntal masih sempat mengelak.
Iapun menyadari, bahwa segores luka, akan berarti maut baginya.
Namun nampaknya Arumpun telah kehilangan akal. Tiba- tiba iapun
telah mencabut pedangnya pula. Dengan loncatan panjang ia mendekat
sambil berkata “Aku berdir i di pihak kakang Buntal” “Bagus” teriak
Juwiring “Kalian berdua akan mati”Buntal menjadi sangat gelisah.
Dengan pedang di tangan ia berdiri beberapa langkah dari Arum.
Keduanya telas bersiap untuk mempertahankan hidup masing-masing,
sementara Juwiring memandang mereka dengan mata yang kemerah-
merahan seperti cahaya yang memancar dari keris di tangannya. Keris
yang sakti tiada taranya, namun yang selalu menuntut kematian demi
kematian,
Jilid 26 YANG berhadapan dengan
senjata di tangan masing- masing itu adalah anak-anak muda. Darah
mereka masih panas dan jiwa mereka masih mudah terbakar. Namun
demikian Buntal masih tetap menyadari, bahwa sebenarnyalah yang
terjadi atas Raden Juwiring itu karena pengaruh keris yang di
tangannya. Karena itu, ia masih juga membuat
pertimbangan-pertimbangan tertentu. Meskipun demikian iapun sadar
sepenuhnya, bahwa Juwiring yang sudah berada di bawah pengaruh keris
itu benar-benar akan dapat membunuhnya. “Kenapa kakang Juwir ing
telah kehilangan kepr ibadiannya?“ pertanyaan itu selalu
mengganggunya. Namun menurut penilaian Buntal, sebenarnya Juwiring
adalah seseorang yang memiliki kepribadian yang kuat. Tetapi karena
ia telah terdorong untuk mempergunakan keris itu pada saat ia
melawan Ki Singaprana dan membasahi ker is itu dengan darah meskipun
hanya setitik, maka seakan-akanpengaruh keris itu telah dengan
kuatnya menyusup ke dalam dirinya. “Keris itu harus terlepas dari
tangannya” berkata Buntal di dalam hatinya. Namun untuk berbuat
demikian, bukannya satu pekerjaan yang mudah, apalagi Buntal selalu
dibayangi oleh satu kemungkinan, bahwa ia sendir ilah yang justru
akan dijemput oleh maut. Dalam pada itu, Juwiring yang telah
dibayangi oleh pengaruh keris itu sama sekali tidak dapat lagi
berpikir bening. Dengan segenap kemampuan yang ada padanya, ia
benar- benar ingin membunuh kedua orang saudara seperguruannya.
Karena itu, maka dengan segenap ilmunya ia telah bertempur melawan
Buntal dan Arum. Juwiring adalah murid Jati Aking yang dilengkapi
dengan ilmu ayahandanya Pangeran Ranakusuma. Karena itu, maka ia
adalah anak muda yang nggegirisi. Apalagi ditangannya telah
tergenggam keris yang dahsyat, yang sakti dan bahkan mampu
mempengaruhi orang yang sedang menggenggamnya. Tetapi saat itu
Juwiring harus melawan dua orang anak muda yang memiliki bekal yang
cukup pula. Buntal adalah juga mur id Jati Aking. Sementara itu
iapun telah menyadap ilmu dar i Kiai Sarpasrana yang dapat
melengkapi ilmunya. Sedangkan Arum adalah mur id dan sekaligus anak
Kiai Danatirta, meskipun sebenarnya ia adalah cucunya. Sepeninggal
kedua saudara seperguruannya, maka Arumlah yang mendapat tempaan
ilmu sampai tuntas. Meskipun ia seorang gadis, namun pada atas
kodrat alaminya, Arum mampu menunjukkan kepada setiap orang, bahwa
ia adalah pewaris yang paling lengkap dar i perguruan Jati Aking.
Karena itu, maka meskipun di tangan Juwiring tergenggam keris yang
dahsyat, namun melawan dua orang anak muda yang pilih tanding, maka
iapun harus berjuang dengan sekuat tenaganya.Sebenarnyalah Arum
tidak dapat menahan kemarahannya. Seperti Juwiring, Arumpun
seolah-olah telah kehilangan pengekangan dir i. Pedangnya berputaran
dengan cepatnya bagaikan baling-baling, sehingga yang nampak
kemudian seolah-olah hanyalah gumpalan awan put ih yang menyelubungi
dir inya. Dari ketiga orang anak-anak muda yang bertempur
mempertaruhkan nyawa mereka itu, Buntallah yang masih mampu
berpikir. Meskipun kadang-kadang Jantungnya bagaikan meledak melihat
sikap Juwiring, tetapi setiap kali ia memandang ker is di tangan
Juwiring itu, ia masih tetap sadar, bahwa yang dihadapinya bukannya
pribadi Juwiring sepenuhnya. Karena itu, maka Buntal masih selalu
nampak ragu-ragu. Namun demikian ia mampu melindungi dir inya dengan
permainan pedang yang rapat. Meskipun demikian, Buntal menjadi lebih
sering menghindar dan berloncatan surut. Tetapi Juwiring tidak
pernah sempat memburunya, karena Arumlah yang kemudian melibatnya
dengan garangnya. Gadis itu ternyata mampu bergerak secepat burung
walet di wajah batu-batu karang di tepi samodra. Untuk beberapa
lamanya ketiga anak muda itu masih terlibat dalam pertempuran yang
sengit. Arum yang melihat keragu-raguan Buntalpun berteriak “Kakang,
kenapa kau menjadi ragu-ragu. Kita tidak bersalah. Kita
mempertahankan hidup kita yang terancamoleh kegilaan yang berbahaya”
“Persetan“ Juwiringlah yang menyahut “sebentar lagi kalian akan
mati” Namun Buntal masih juga menyahut “Kita sedang dicengkam oleh
pengaruh yang paling gila dari ker is itu. Jika kakang Juwiring
sempat menyadari barang sekejap, dan melepaskan ker is itu, maka
keadaan ini akan segera berubah”“Pengecut” geram Juwiring “Yang
sekejap itu tentu sudah kau pergunakan untuk membunuhku” “Jika kau
kehendaki, kami akan mundur beberapa puluh langkah pada saat kau
melepaskan senjata itu” sahut Buntal sambil meloncat menghindari
serangan Juwir ing. “Omong kosong. Kalian mempunyai kemampuan
melemparkan pisau-pisau kecil itu. Tetapi kalian tidak dapat menipu
aku lagi dengan jarak yang tentu akan dapat kalian jangkau dengan
pisau-pisau itu justru pada saat aku lengah. Namun pada saat semacam
ini, pisau-pisaumu tidak akan berdaya” teriak Juwiring marah. Buntal
benar-benar hampir kehabisan akal. Tetapi ia masih tetap sadar,
dengan siapa ia berhadapan. Namun justru karena itulah, maka
Buntallah yang lebih dahulu nampak dalam kesulitan. Arum yang tidak
mau menghiraukan lagi siapakah yang menjadi lawannya, justru menjadi
lebih mapan, sehingga dengan demikian, maka serangan-serangan
Juwiring justru lebih banyak tertuju kepada Buntal. “Kakang Buntal“
Arum hampir menjer it ketika ia melihat Buntal yang terdesak harus
meloncat jauh-jauh surut “Apakah kau memang ingin mati? Jika kakang
Juwiring benar-benar ingin membunuhmu, kenapa kau tidak bersikap
serupa” Buntal menarik nafas dalam-dalam setelah ia berhasil
membebaskan diri dari serangan Juwiring. Dengan ragu ia menjawab
“Arum. Kita jangan kehilangan akal. Aku masih mempunyai harapan
untuk dapat menyelesaikan persoalan Ini tanpa jatuh korban” “Keris
itu luar biasa” teriak Arum “setiap sentuhan akan merenggut nyawa.
Jangankan kita atau Singaprana atau kakang Juwir ing sendiri.
Pangeran Ranakusumapun tidak mampu bertahan dengan ilmu kebalnya.
Meskipun pelurutidak menembus kulitnya, namun goresan kecil keris
itu telah merenggut nyawanya” Buntal tidak sempat menjawab. Juwiring
yang memandanginya dengan sorot mata yang membara telah meloncat
memburunya. Dengan pedangnya Buntal melindungi dirinya, sementara
Arumpun telah meloncat menyerang, sehingga Juwir ing terpaksa
membagi perhatiannya. Namun nampaknya Arum benar-benar mampu
bergerak cepat. Demikian Juwir ing bergeser dari serangannya atas
Buntal, maka ternyata pedang Arum telah menyentuh pundangnya.
Terdengar Juwiring berdesis, sementara Buntal hampir berteriak
“Arum. Kau melukainya” “Aku akan membunuhnya” jawab Arum. Buntal
menarik nafas dalam-dalam. Juwir ing yang marah menjadi semakin
marah. Tiba-tiba saja ia menghadap kepada Arum dengan keris terjulur
ke depan. Selangkah demi selangkah ia maju mendekati gadis itu.
Tetapi Arum sudah siap. Pedangnyapun mulai bergetar. Bahkan kemudian
pedangnya telah berputar lagi melindungi dirinya serapat dinding.
Betapapun marahnya Juwiring, ia harus melihat perisai putaran pedang
Arum. Memang sulit baginya untuk dapat menembus meskipun ia
menggenggam keris sakti. Sementara itu Buntal telah mendekatinya
pula. Ia menjadi semakin gelisah dan bingung. Juwir ing telah
terluka di pundaknya, sehingga bagaimanapun juga. pertempuran ini
sudah meninggalkan bekasnya. Namun dalam pada itu, ternyata bukan
saja luka pedang Arum sajalah yang telah mengalirkan darah.
Luka-lukanya yang terdahulu, yang sudah diobatinya, mulai mengembun
lagi. Dengan mengerahkan kemampuan dan kekuatannya,maka luka- luka
yang mulai mampat itu seakan-akan telah terkoyak lagi. Namun
ternyata Arum tidak menghiraukan lagi. Ketika Juwiring maju lagi
selangkah, Arum justru meloncat menyerang dengan cepatnya. Ujung
pedangnya menyambar mendatar hampir menyentuh dada, sehingga
Juwiring harus melangkah surut. Pada saat yang demikian, pedang
Buntalpun telah siap mematuk Juwir ing yang dengan tergesa-gesa
menghindar. Namun ada sesuatu yang menahannya, sehingga diluar
kehendaknya, pedang itu telah tergeser arahnya, sehingga sama sekali
tidak menyentuh Juwiring. Tetapi justru pada saat itu Juwir ing
merendah pada lututnya, dengan cepat ia memutar tubuhnya sambil
mengayunkan kerisnya. Buntal terkejut. Tetapi ia masih sempat
meloncat surut Tetapi Juwiring ternyata benar benar telah
terpengaruh dan kehilangan kepribadiannya, sehingga iapun telah siap
meloncat memburu Buntal yang sedang berusaha menghindar. Dalam
keadaan yang demikian, maka seolah-olah tidak, ada lagi kesempatan
bagi Buntal. Jika Juwiring meloncat, maka ia tentu belum sempat
berbuat sesuatu, Yang dapat dilakukannya kemudian adalah mengambil
keuntungan dari senjatanya yang lebih panjang dari sebilah keris.
Karena itu, maka ketika Juwir ing benar-benar meloncat menyerangnya,
Buntal justru telah menjulurkan pedangnya. Hentakkan kemarahan Juwir
ing telah membuatnya kurang berperhitungan. Ketika tangannya
terjulur lurus mengarah ke dada, Juwiring justru terkejut.
Seolah-olah tiba-tiba saja ujung pedang Buntal sudah ada di depan
matanya. Dengan tangkasnya Juwiring menggeliat. Tetapi kesempatannya
terlalu sempit. Ternyata bahwa ia tidak dapatmembebaskan diri
sepenuhnya. Ujung pedang Buntal masih mengenai lengannya, sehingga
kulitnya telah terkoyak. Terdengar Juwiring berdesis menahan pedih.
Luka itu telah membuatnya semakin garang. Namun sebelum ia sempat
berbuat sesuatu, pedang Arum telah terjulur pula lurus mengarah ke
punggung, “Arum” teriak Buntal yang melihat ujung pedang itu akan
dapat berakibat gawat. Suara Buntal ternyata masih juga berpengaruh.
Seperti yang telah dilakukan Buntal, maka Arumpun telah disentuh
oleh pengaruh hubungannya yang lama dengan Juwiring sebagai saudara
seperguruan. Karena itulah maka ia telah menggeser arah pedangnya,
sehingga pedang itu tidak lagi tertancap di punggung dan langsung
menghunjam sampai ke jantung. Tetapi pedang itu telah mengoyak
lambung Juwir ing. Juwiring terlonjak oleh kesakitan yang menyengat.
Dengan serta merta ia meloncat berbalik. Dilihatnya Arum berdir i
termangu-mangu dengan pedang datangannya yang gemetar. Buntal
melihat satu saat yang memungkinnya untuk berbuat sesuatu. Justru
pada saat perhatian Juwiring tertuju sepenuhnya kepada Arum, maka
tiba-tiba Buntal telah meloncat dan dengan sekuat tenaganya memukul
keris yang berada di tangan Juwiring dengan pedangnya. Juwiring sama
sekali tidak menduga bahwa hal itu akan dilakukan oleh Buntal.
Karena itu, betapa ia menjadi terkejut.Tangannya tergetar sehingga
genggamannya telah mengendor. Sebelum Juwiring sempat berbuat
sesuatu, sekali lagi pedang Buntal terayun deras. Buntal tidak lagi
memukul keris di tangan Juwiring tetapi Buntal langsung memukul
pergelangan tangan Juwiring dengan punggung pedangnya. Juwiring
mengaduh kesakitan. Ia benar-benar tidak mampu lagi menahan perasaan
sakit. Karena itulah, maka kerisnya telah terlepas dari tangannya.
Sambil mengumpat Juwiring dengan tergesa-gesa berusaha memungut
kembali ker isnya. Tetapi Buntal bergerak cepat. Sebelum tangan
Juwiring menyentuh keris itu. maka Buntal telah menerkamnya sambil
melepaskan pedangnya. Keduanya terdorong beberapa langkah. Kemudian
keduanya jatuh berguling. Untuk beberapa saat keduanya bergumul di
atas tanah berbatu padas. Arum berdiri membatu. Dipandanginya kedua
orang saudara seperguruannya yang sedang bergulay. Namun ketika
keduanya mendekati lereng yang terjal, tiba-tiba saja Arum telah
memekik keras sekali. Suara Arum itu bagaikan menghantam lambung
Gunung, menggelepar dan bergema melingkar-lingkar. Ternyata suara
itu telah mengejutkan Buntal dan Juwir ing yang sedang bergulat.
Suara itu seakan-akan bagaikan kekuatan gaib yang telah menyentuh
jantung mereka, sehingga keduanyapun bagaikan berjanji telah
berhenti bergulat. Buntallah yang pertama-tama meloncat berdir i.
Ketika terasa kakinya menginjak batu pada yang miring, maka iapun
sadar, bahwa ia telah berdir i di bibir jurang yang dalam. Karena
itu, maka iapun segera bergeser menjauhi lereng yang terjal
itu.Ketika Juwiring kemudian berusaha bangkit Buntal masih sempat
memper ingatkannya “Hati-hatilah. Kau berada di mulut jurang yang
dalam. Jika kau tergelincir, maka tubuhmu akan lumat menjadi debu”
Ternyata tubuh Juwiring telah menjadi semakin lemah. Darahnya
mengalir semakin banyak. Namun ia masih sempat bergeser bagaikan
merangkak. Perlahan- lahan ia berdiri tertatih-tatih. Tetapi Buntal
tidak berani mendekatinya. Jika Juwiring masih belum menyadari apa
yang telah terjadi atas dirinya, maka anak muda itu akan dapat
menariknya dan kemudian mendorongnya ke dalam jurang. Arumpun
kemudian melangkah mendekatinya, di tangannya masih tergenggam
senjatanya yang siap dipergunakannya, Selangkah ia berada di sisi
Buntal yang termangu-mangu. Juwiring yang berdiri tegak itu
memandang kedua adik seperguruannya sejenak Namun kemudian nampak
bahwa sorot matanya menjadi semakin redup. Wajahnya tidak lagi
nampak bengis dan liar. Bahkan kemudian ia berpaling memandang
keadaan di sekitarnya. Dengan suara parau ia berdesir “Apa yang
telah terjadi” “Kau sadari apa yang telah terjadi kakang?“ suara
Buntal rendah. Juwiring melangkah beberapa langkah maju. Namun
kemudian ia telah tertunduk di atas batu padas. Sambil menutup,
wajahnya dengan kedua belah tangannya ia bertanya “Apa yang telah
aku lakukan Buntal?“ Buntal melangkah mendekat. Namun Arum
menggamitnya dengan curiga. Karena itu, maka langkah Buntalpun
tertegun. “Buntal” desis Juwiring “Aku telah menjadi gila. Aku
sedang mencoba mengingat-ingat, apa yang telah terjadi. Apa
yangtelah aku lakukan. Dan apa yang telah mencengkam jiwaku itu”
Buntal menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian melangkah mendekat.
Arum tidak, lagi menahannya, meskipun ia t idak melepaskan
senjatanya. Juwiringpun kemudian menarik nafas dalam-dalam Sekali
lagi ia mengangkat wajahnya dan memandang berkeliling. Ketika
terpandang olehnya keris yang tergolek di tanah, maka dadanya
menjadi berdesir. “Ya“ Juwir ing mengangguk-angguk “Aku ingat
semuanya. Aku telah diterkam oleh pengaruh keris itu, sehingga aku
tidak kuasa melawannya” “Tetapi bukankah kau sudah melepaskan ker is
itu“ bertanya Buntal Juwiring menarik nafas dalam sekali. Terdengar
suaranya parau “Kau sudah membebaskan aku dar i kegilaan ini,
Buntal. Untunglah bahwa aku tidak berhasil menggoreskan ujung keris
itu pada tubuh kalian, meskipun aku telah benar-benar ingin berbuat
demikian” “Sudahlah” desis Buntal “Aku tahu. kau tidak sengaja
melakukannya” Mata Juwiring tiba-tiba terasa panas. Ketika ia
menatap Arum, terasa tenggorokannyapun bagaikan tersumbat. Namun
Juwiring telah berkata “Arum. Aku minta maaf. Aku merasa betapa
ringkihnya hati ini” Arum memandang, wajah Juwir ing yang pucat dan
lesu. Apalagi ketika terpandang olehnya mata Juwiring yang merah.
Bukan karena keliarannya lagi. Tetapi rasa-rasanya Juwiring telah
bertahan untuk tidak menitikkan air mata. Tetapi Arum adalah seorang
gadis. Betapapun garangnya, namun pada suatu saat sifat-sifatnya
sebagai seorang gadis tidak dapat dikekangnya lagi. Tiba-tiba saja
Arum telahterduduk. Diletakkannya senjatanya di sampingnya.
Sementara kedua tangannya telah sibuk mengusap air matanya.
Buntallah yang kemudian mendekatinya sambil berkata “Jangan menangis
Arum. Semuanya sudah selesai” Arum mengusap matanya. Namun air itu
masih saja mengembun. Dalam pada itu, terdengar Juwiring berkata
“Buntal. Tolong, bantulah aku mengobati lukaku” Buntalpun kemudian
mendekat. Bahkan Arumpun mendekat pula. Merekapun membantu mengobati
luka-luka di tubuh Juwiring. Ketika tersentuh luka oleh ujung
senjatanya, tiba-tiba Arum terpekik kecil. Katanya “Akupun sudah
menjadi gila kakang. Aku juga menjadi gila” “Kau tidak bersalah
adikku” desis Juwiring “Kau hanya sekedar membela diri. Sudahlah.
Seperti yang dikatakan Buntal, semuanya sudah selesai” Arum berusaha
menahan tangisnya. Dengan lengan bajunya ia mengusap, matanya.
Tetapi semakin ia sibuk mengusap matanya, maka air itupun
rasa-rasanya mengalir semakin deras. Dalam pada itu, terasa oleh
Buntal, betapa lemahnya keadaan Juwiring. Darah sudah terlalu banyak
mengalir dari tubuhnya. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berdesis
lemah “Buntal, apa yang akan terjadi?“ Buntal terkejut. Ketika ia
memandang wajah Juwiring, wajah itu menjadi sangat pucat. “Kakang
Juwiring” desis Buntal. “Pandanganku menjadi kekunang-kunang” desis
Juwir ing. Ketika kemudian Buntal memegangi kedua lengannya, terasa
anak muda itu menjadi gemetar.“Berbaringlah” desis Buntal sambil
membantu Juwir ing berbaring di atas tanah berbatu padas. Nafas
Juwiringpun seolah-olah telah menjadi sendat. Sementara itu Buntal
berusaha untuk memijit dadanya untuk membantu arus pernafasannya.
Namun ternyata tubuh Juwiring sudah terlalu lemah. Sekali Juwir ing
berdesis. Namun kemudian matanyapun terpejam. Pingsan. “Kakang,
kakang“ panggil Buntal dengan gelisah. “Kenapa, kenapa kakang
Juwiring?“ bertanya Arum dengan nada patah-patah. Sebelum Buntal
menjawab, Arum yang melihat keadaan Juwiring, tiba-tiba saja telah
menjer it. Diguncang-guncangnya tubuh itu sambil menangis “Kakang,
kakang” “Jangan kau perlakukan begitu, Arum“ Buntal mencoba
mencegahnya. “Aku telah membunuhnya “ tangis gadis itu. “Kakang
Juwiring tidak mati. Ia pingsan” sahut Buntal. Arum memandang Buntal
dengan tatapan yang mengandung harapan. Maka iapun bertanya dengan
nada dalam “Jadi kakang Juwir ing hanya pingsan?“ “Ya. Ia pingsan.
Tubuhnya dan hatinya terlalu letih oleh keadaan yang tidak
dikehendakinya sendiri. Kau lihat, luka- lukanya sudah mulai pampat
kembali. Jika tubuhnya kau guncang-guncang seperti itu, maka
luka-lukanya mungkin akan dapat berdarah lagi”Arum melepaskan tubuh
yang terbaring diam itu. Sementara itu Buntalpun berkata “Tunggulah
di sini. Aku akan mencari air. Air itu akan membuatnya sedikit sgar”
“Apakah air di dalam impes itu sudah habis?“ bertanya Arum.
Buntalpun kemudian pergi ke mata air yang tidak terlalu jauh, yang
diketemukainnya sebelum ia terpaksa bertempur melawan Juwiring.
Dengan daun lumbu ia membawa air yang bening dan dingin.
Perlahan-lahan air itupun kemudian diusapkan ke wajah Juwiring,
kerambutnya dan lehernya. Ternyata air itu membuat tubuh Juwir ing
menjadi sedikit segar. Perlahan-lahan anak muda itu menggerakkan
pelupuk matanya. Ketika matanya terbuka, yang dilihatnya pertama-
tama adalah dua orang adik seperguruannya yang berjongkok di
sampingnya sambil mengusap wajahnya dengan air yang sejuk. “Kakang”
desis Arum ketika ia melihat anak muda itu membuka matanya. Juwiring
berdesah. Terasa tubuhnya letih sekali. Tulang- tulangnya bagaikan
dilepas dari kulit dagingnya. Namun usapan yang dingin membuatnya
semakin segar. “Beristirahatlah kakang” desis Buntal. Juwiring
mengangguk kecil. Namun ketika ia menggerakkan badannya, tulang
punggungnya serasa akan patah. “Tanah ini memang keras sekali”
desis, Buntal “Tetapi lebih baik kau tetap berbaring” Arumlah yang
kemudian bangkit untuk mengambil dedaunan pada ranting-ranting
perdu. Katanya “Mungkin kurang sesuai, tetapi cobalah untuk
mengurangi perasaan sakit karena keras batu-batu padas”Buntal dan
Arum telah membantu Juwir ing untuk menggeser tubuhnya ke atas
setumpuk dedaunan. Terasa tubuh Juwiring tidak terlalu sakit lagi
oleh kerasnya batu-batu padas. Dalam pada itu, meskipun anak-anak
muda itu tidak membicarakannya, namun mereka sudah saling mengerti,
bahwa mereka harus bermalam lagi. Betapa dinginnya malam, namun
mereka tidak akan dapat meninggalkan tempat itu karena keadaan
Juwiring. Dalam pada itu, selagi Juwiring berusaha untuk memperbaiki
keadaannya, Buntal telah berusaha menemukan tempat yang agak lunak.
Ia tidak dapat membiarkan tubuh- tubuh dari mereka yang telah
terbunuh untuk ditinggalkannya begitu saja. “Sulit untuk membuat
lubang di sini” desis Arum. Akhirnya mereka bersepakat untuk
mengubur mereka pada lekuk dinding-dinding padas dan kemudian
menimbuninya. Namun sementara itu, keris yang masih tetap tergolek
itupun merupakan persoalan tersendiri. Jika keris itu
ditinggalkannya di situ saja, maka ada kemungkinan bahwa seseorang
akan dapat menemukannya. Tetapi untuk membuangnya lebih jauh, maka
anak-anak muda itu tidak lagi berniat untuk memegangnya meskipun
hanya sekejap. “Apa yang harus kita lakukan?“ bertanya Buntal kepada
Arum yang bersama-sama sedang menunggui Juwiring yang masih
terbaring di atas seonggok dedaunan. “Biar lah keris itu berada di
tempat itu sampai esok. Kita akan memikirkan malam ini, apa yang
sebaiknya kita lakukan” desis Arum, “Tetapi yang semalam itu akan
dapat menumbuhkan perubahan yang tidak kita kehendaki” sahut
Buntal.“Aku tidak tahu, apa yang sebaiknya kita lakukan” jawab
Arumpula. Namun tiba-tiba saja Buntal berkata “Aku akan
mengungkitnya dan melemparkannya ke dalam jurang. Tanpa menyentuh
langsung dengan tanganku” Arum mengerutkan keningnya. Ketika
keduanya memandang Juwiring yang masih terbaring, ternyata anak muda
itu berkata perlahan-lahan “Kau dapat mencobanya Buntal. Tetapi
ingat, jangan kau sentuh dengan tanganmu. Jangan pula kau ungkit
dengan pedangmu. Carilah sepotong kayu yang kemudian akan kau
lemparkan pula ke dalam jurang itu. karena mungkin sekali sentuhan
sepotong kayu dengan keris itu akan dapat mengakibatkan sentuhan
racun dari ker is itu pula. Buntal mengangguk-angguk. Katanya “Aku
akan mencoba kakang. Tetapi aku minta kepada Arum untuk mengamati
agar aku tidak membuat kesalahan lagi seperti yang pernah kau
lakukan” “Baiklah” desis Juwiring “Kau dapat membantunya Arum”
Buntalpun kemudian mencari sepotong kayu. Dengan kayu itu ia
mengungkit keris itu. Sedikit demi sedikit. Sementara Arumselalu
mengikutinya. Ternyata bahwa usaha Buntal itu berhasil. Ia berhasil
mengungkit keris itu sampai ke bibir jurang yang dalam. Kemudian
dengan satu ungkitan lagi, maka ker is itupun telah terlempar ke
dalam jurang yang dalam dan terjal, yang tidak mungkin di sentuh
oleh kaki manusia. Sementara itu, Buntalpun telah melemparkan pula
sepotong kayu yang dipergunakannya untuk mengungkit ker is itu.
“Tetapi yang kita lakukan hanya sekedar satu usaha” berkata Buntal
“Tetapi siapa tahu. bahwa ada jalan lain yang justru akan langsung
sampai ke bagian bawah dar i jurang itu”Arum mengangguk-angguk.
Katanya “Memang mungkin kakang. Tetapi menilik keadaannya, maka
jurang itu tentu tidak akan pernah di sentuh kaki manusia” Juwiring
menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar keterangan kedua adik
seperguruannya mengenai keris itu. Meskipun hampir saja merenggut
nyawanya, namun mereka bertiga telah berhasil melakukan per intah
ayahandanya yang terakhir untuk menyimpan ker is itu ke tempat yang
tidak pernah disentuh oleh tangan manusia. Demikianlah, di malam
yang dingin ketiga anak muda itu telah bermalam lagi di lereng
Gunung Lawu. Mereka berusaha mengusir dinginnya malam di lereng
gunung dengan membuat perapian. Buntal telah mencari kekayuan dan
ranting-ranting yang kering. Kemudian mereka membakarnya di dekat
tempat Juwiring berbaring. “Tidurlah” berkata Buntal kepada Arum.
Arum menarik nafas. Tetapi ia tidak sampai hati untuk tidur
sementara Buntal akan berjaga-jaga semalam suntuk. “Kita bergantian”
berkata Arum “Jangan anggap aku sebagai seorang gadis kecil yang
hanya pandai merengek” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Namun
jawabnya “Baiklah. Sekarang giliranku berjaga-jaga. Tidurlah. Pada
saatnya aku akan membangunkanmu” Tetapi Arumpun mengerti, bahwa
Buntal tidak akan membangunkannya. Karena itu, maka Arumpun t idak
mau tidur sama sekali, meskipun ia duduk sambil memeluk lututnya dan
meletakkan kepalanya di atas lututnya itu. Ketika matahari memancar
di keesokan harinya, ternyata keadaan Juwiring sudah berangsur baik.
Ia sudah mau makan sepotong makanan dari bekal yang dibawanya. Bekal
yang di buat persediaan untuk waktu yang cukup lama. “Bagaimana
dengan keadaanmu?“ bertanya Buntal“Apakah kau sudah merasa baik dan
dapat melakukan perjalanan?“ “Jangan kau paksa” desis Arum. Namun
Juwiringlah yang menjawab “Aku rasa keadaanku cukup baik. Tubuhku
sudah merasa segar. Tetapi sudah barang tentu aku memerlukan bantuan
kalian untuk menuruni lereng gunung ini” “Jika per lu, kita dapat
menunda sehari lagi” berkata Buntal. “Akan menjadi kurang baik
bagiku” jawab Juwir ing “Semakin cepat aku kembali di antara
lingkungan kita, maka akan menjadi semakin baik bagiku. Kita akan
dapat membuat laporan tentang Singaprana, tetapi lebih dari itu, aku
akan mendapat pengobatan yang lebih baik. Dengan demikian, maka
keadaankupun akan cepat pulih kembali” Kedua adik seperguruannyapun
menyetujuinya pula. Karena itu, maka merekapun segera berbenah dir i
Bergantian Arum dan Buntal pergi ke mata air yang tidak terlalu
jauh. Sementara Buntalpun telah membawa air yang sejuk dengan daun
lumbu. Dengan air itu Juwiring mengusap wajah dan rambutnya,
sehingga tubuhnya terasa menjadi semakin segar. Setelah berbenah
diri, maka anak-anak muda itupun kemudian bersiap untuk menuruni
lereng. Senjata-senjata mereka sudah tergantung di lambung,
sementara Buntal masih membawa kampil berisi bekal mereka yang tidak
terlalu banyak. Perlahan-lahan merekapun mulai menuruni tebing
Gunung Lawu. Mereka harus sangat berhati-hati, karena di antara
mereka terdapat Juwiring yang lemah. Meskipun demikian ternyata
Juwiring memang seorang anak muda yang mempunyai daya tahan tubuh
yang luar biasa. Meskipun badannya sangat letih, namun iapun
menuruni gunung itu tanpa mengeluh.Tetapi dengan keadaannya itu,
ketiga anak muda itupun beberapa kali harus berhenti untuk
beristirahat. Setiap kali Buntal melihat, apakah luka Juwiring
berdarah lagi. Namun agaknya setelah mendapat pengobatan, luka
Juwiring itu benar-benar sudah pampat. Anak-anak muda itu ternyata
memer lukan waktu yang berlipat untuk menuruni lereng gunung itu
dibanding dengan saat mereka naik. Namun ketiga anak-anak muda itu
menar ik nafas dalam-dalam ketika mereka benar-benar sudah sampai
pada satu tataran yang sudah sering dilalui orang. Mereka mulai
berjalan di atas jalan yang lebih baik dar i batu-batu padas yang
mir ing. Apalagi mereka mulai memasuki padukuhan yang berpenghuni.
Namun keadaan mereka memang dapat menarik perhatian satu dua orang
yang mereka jumpai. Ketika seorang yang membawa cangkul berpapasan
dengan ketiga anak muda itu, maka dengan wajah cemas orang itu
bertanya “Anak muda, kenapa kawanmu itu?“ Buntal bingung sesaat.
Namun akhirnya ia menemukan jawaban “Ternyata tanah licin di lereng
gunung. Kawanku tergelincir dan jatuh ke dalam jurang. Untunglah
bukan jurang yang terlalu dalam” “O“ orang tua itu mengangguk-angguk
”sokur lah bahwa jurang itu tidak terlalu dalam. Tetapi keadaannya
nampaknya cukup payah” “Mudah-mudahan segera bertambah baik” desis
Buntal. Orang itu mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bergumam
“Kalian harus berhati-hati. Daerah ini memang daerah yang wingit”
Ketiga anak muda itupun melanjutkan perjalanannya menuju kesebuah
kedai tempat mereka menitipkan kuda mereka. Setiap kali ada orang
yang bertanya, maka Buntalpunmenjawab serupa. Bahwa Juwiring telah
tergelincir dan jatuh ke dalam jurang yang untungnya tidak begitu
dalam. “Itulah anak-anak sekarang” desis seorang perempuan tua yang
juga mendapat jawaban yang sama “Mereka sudah tidak menghormat i
lagi keadaan di lereng Gunung ini. Untunglah bahwa anak yang
tergelincir itu tidak mati, atau ketiga-tiganya tidak kalap sama
sekali di lambung Gunung itu” Setelah menempuh perjalanan yang
lambat, akhirnya mereka sampai juga kokedai tempat mereka menitipkan
kuda- kuda mereka. Kedatangan ketiga anak muda itu benar-benar telah
mengejutkan pemilik warung itu. Apalagi ketika ia mendapat jawaban
yang sama dar i Buntal seperti ia menjawab setiap pertanyaan tentang
keadaan Juwiring. “Sokur lah bahwa keadaannya berangsur baik”
berkata pemilik warung itu. Bahkan beberapa orang yang sedang berada
di warung itupun ikut mengangguk-angguk. Seperti beberapa orang
lain, maka pemilik warung itupun menganggap anak muda yang
tergelincir itu masih beruntung. “Tiga bulan yang lalu, seseorang
telah meninggal” berkata pemilik warung itu. “O” Buntal mengerutkan
keningnya. “Ia juga tergelincir. Tetapi agak ke Utara dari jurusan
yang kalian ambil. Empat orang mendaki bukit untuk nenepi seperti
yang akan kalian lakukan. Tiga orang turun ke padukuhan untuk minta
tolong agar mereka membantu mengambil kawannya yang tergelincir.
Juga di jurang yang tidak begitu dalam. Tetapi nyawanya tidak
tertolong lagi” Namun tiba-tiba orang itu bertanya “Tetapi bagaimana
kalian dapat naik?“ Buntal menjadi agak bingung. Namun ia justru
bertanya “Naik kemana?“ “Bukankah kawanmu itu tergelincir ke dalam
jurang?“ bertanya pemilik warung itu,“Ya. Ia tergelincir.
Terguling-guling di atas batu-batu padas dan membentur seonggok batu
padas pula” jawab Buntal “O“ pemilik warung itu mengangguk-angguk
“Jadi t idak terperosok masuk ke dalam jurang yang terjal?” “Tidak”
jawab Buntal. Ternyata pemilik warung itu cukup baik. Meskipun
ketika ketiga anak muda itu berangkat, pemilik warung itu hanya mau
menerima kuda yang ditit ipkan dengan imbalan uang, namun melihat
keadaan Juwiring ia menjadi iba. Pemilik warung itu telah memberikan
tempat bagi Juwiring untuk beristirahat. Dipersilahkannya Juwir ing
berbaring di sebuah amben yang besar di serambi samping. Dalam pada
itu, Buntalpun telah memesan minuman hangat dan beberapa potong
makanan. Selain bagi Juwiring juga Buntal dan Arumpun memerlukannya.
Meskipun mereka membawa bekal, tetapi nasi hangat dan minuman panas
membuat tubuh Juwir ing semakin segar. Dengan keadaan yang lebih
baik, maka ketiga anak-anak muda Itupun merencanakan untuk segera
kembali ke tempat kedudukan mereka di Gebang. Mereka t idak akan
dapat berbuat untuk kepentingan mereka sendir i tanpa menghiraukan
keadaan yang setiap saat dapat berubah-rubah dengan cepatnya.
Meskipun keadaan Juwiring belum pulih benar, namun ia sudah menjadi
semakin kuat dan memungkinkan menempuh perjalanan, Dengan demikian,
maka setelah mereka beristirahat beberapa lama, maka merekapun
segera bersiap-siap untuk meninggalkan warung di kaki Gunung Lawu
itu. Agar mereka tidak selalu menarik perhatian orang di sepanjang
jalan, maka Juwiringpun telah mengganti pakaiannya yang bernoda
darah dan telah dikoyak oleh senjata Singaprana, Arum dan Buntal.
Tetapi pakaian yangkoyak itu telah disimpan oleh Juwiring untuk
mengenang apa yang pernah terjadi atas dirinya karena pengaruh keris
yang luar biasa itu. Demikianlah, setelah membayar makanan, minuman
dan upah selama pemilik warung itu memelihara kuda anak-anak muda
yang memanjat kaki Gunung Lawu itu, maka merekapun segera mohon dir
i, “Tetapi bukankah kau masih terlalu letih?“ bertanya pemilik
warung itu kepada Juwir ing. “Aku sudah baik” jawab Juwir ing
“terima kasih atas segala kebaikan bagi kami bertiga” Pemilik warung
itu tidak menahan mereka. Bagaimanapun juga ada perasaan cemas
melihat keadaan Juwiring. Tetapi karena anak-anak muda itu sudah
berniat untuk pergi, maka dilepaskannya anak-anak muda itu dengan
ragu-ragu. Sejenak kemudian ketiga anak muda itu telah meninggalkan
kaki Gunung Lawu. Mereka t idak berpacu terlalu cepat, mengingat
keadaan Juwiring, Tetapi Juwir ing sendiri nampaknya sudah tidak
menghiraukan lagi keadaan dirinya. Ialah yang justru selalu berada
di paling depan. “Jangan kau paksa dir imu “ Buntal
memperingatkannya. “Aku tidak apa-apa. Bukankah aku tinggal duduk
saja di punggung kuda?“ sahut Juwir ing sambil tersenyum. ”Kau akan
terguncang-guncang” sahut Buntal. Juwiring masih saja tersenyum.
Tetapi ia mengangguk- angguk. Di perjalanan kembali anak-anak muda
itu lebih memperhitungkan keadaan. Jika mereka bertemu dengan lawan,
maka keadaannya akan menjadi semakin gawat. Meskipun Juwir ing yang
sudah menjadi semakin baik itu akan dapat berbuat sesuatu untuk
melindungi dir inya, tetapi ia tidakberada di puncak kemampuannya,
sehingga j ika hal itu terjadi, maka mereka akan berada dalam
bahaya. Dengan sangat berhati-hati mereka menempuh perjalanan ke
Gebang. Mereka menelusuri jalan yang paling aman, sesuai dengan
petunjuk-petunjuk Ki Wandawa. Sehingga dengan demikian, mereka sama
sekali tidak mengalami hambatan apapun juga di perjalanan. Namun
dalam pada itu, ketika mereka singgah sebuah kedai, maka mereka
berhasil memancing pembicaraan dengan pemilik kedai itu, bahwa sejak
beberapa hari yang lalu, keadaan menjadi agak tenang. Memang ada
peronda dari Surakarta yang bergerak, tetapi dalam jumlah kecil dan
tidak terlalu jauh dar i pusat-pusat pertahanan mereka. Sementara
itu pasukan Pangeran Mangkubumipun tidak bergerak pula. Tetapi
ketiga anak muda itu gagal untuk mencari keterangan, bagaimana sikap
orang-orang di sekitar warung itu karena setiap orang menjadi sangat
berhati-hati. Mereka tidak dengan terbuka dapat mengutarakan isi
hatinya, karena mereka selalu meragukan, dengan siapa mereka
berhadapan. Namun demikian, ketiga orang anak muda itu menjadi tebih
tenang. Selama mereka berada di Gunung Lawu, ternyata tidak terjadi
sesuatu atas Gebang, dan mungkin juga tidak terjadi sesuatu atas
Raden Ayu Galihwarit. Demikianlah, maka merekapun kemudian
meneruskan perjalanan mereka. Dengan selamat mereka sampai ke tempat
kedudukan mereka di Gebang. Ternyata ketiga anak-anak muda itu tidak
ingin menunda laporannya. Karena itulah, setelah mereka berbincang
dengan Kiai Danatirta serba sedikit, maka merekapun segera menghadap
Ki Wandawa. Dengan tegang Ki Wandawa mendengarkan laporan ketiga
anak-anak muda itu. Sekali-kali ia memandang Juwiring sekilas.
Kemudian kedua adik seperguruannya, seolah-olahingin mengetahui
apakah yang dikatakan oleh Juwir ing itu benar. Di luar sadarnya,
kadang-kadang Buntalpun mengangguk- angguk kecil, sehingga Ki
Wandawa dapat mengambil kesimpulan, bahwa yang dikatakan oleh
Juwiring itu dibenarkan oleh Buntal. “Jadi Singaprana mengikuti
perjalananmu?“ Ki Wandawa menegaskan. “Aku terpaksa membunuhnya”
sahut Juwiring kemudian. Sementara itu iapun melaporkan pula apa
yang telah terjadi atas dirinya. “Untunglah bahwa kalian bertiga”
berkata Ki Wandawa “dengan demikian maka ada kekuatan yang dapat
mencegah pengaruh keris itu atas dirimu Raden” “Kami bersokur, bahwa
agaknya Yang Maha Kuasa masih selalu melindungi kami bertiga” sahut
Juwir ing “Baiklah” berkata Ki Wandawa “bagaimanapun juga kematian
Singaprana harus direlakan. Aku memang masih belum mempercayainya
sepenuhnya. Namun bahwa ia berhasil mendengarkan pembicaraan kita,
itu merupakan satu peringatan bagi kita, bahwa kita masih harus
meningkatkan kewaspadaan dan perlindungan terhadap rahasia kita.
Terutama yang menyangkut rahasia tingkah laku pasukan ini”Ketiga
anak muda itupun kemudian minta dir i. Juwiring ingin mengobati
luka- lukanya dengan cara yang lebih baik. agar luka-lukanya itu
menjadi semakin cepat sembuh. Ketika kemudian Kiai Danatirta membuka
baju Juwiring dan melihat luka- luka di tubuhnya orang tua itu
menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Jarang sekali orang yang
memiliki daya tahan seperti kau Raden. Luka-luka itu cukup banyak
dan parah. Meskipun sudah kau pampatkan dengan obat yang kau bawa,
namun luka-luka ini masih tetap merupakan luka- luka yang gawat”
“Adik-adikku sangat membantu. Perjalanan kami kembali dari Gunung
Lawu merupakan perjalanan yang sangat lambat. Hampir seperti siput
yang merambat di pinggir par it” desis Juwiring. Dalam pada itu,
Kiai Danatirtapun telah merawat luka- luka Juwiring yang di
antaranya adalah karena ujung pedang Arum dan Buntal. Namun
peristiwa itu ternyata tidak meninggalkan luka di hati. Anak-anak
muda itupun telah menyadari, bahwa yang terjadi itu seolah-olah
bukan karena kehendak mereka sendiri. Meskipun peristiwa itu sendiri
sudah hampir saja merenggut j iwa salah seorang dari mereka.
Sementara itu, keadaan Surakarta memang agak tenang. Kumpeni sedang
sibuk mencari orang yang dianggapnya berkhianat. di antara para
Senapati dan perwira prajur it Surakarta, ternyata tidak dapat
mereka ketemukan, dugaan- dugaan tentang seorang pengkhianat.
“Mungkin yang terjadi itu adalah satu kebetulan saja” berkata
seorang perwira Surakarta “atas dasar kemampuan Raden Mas Said
memperhitungkan keadaan, serta pengamatan para petugas sandinya,
maka da mengambil kesimpulan bahwa serangan yang dipersiapkan
kumpeni dan prajurit Surakarta, sama sekali tidak akan diarahkan
kepada pasukan induk Pangeran Mangkubumi”Seorang perwira yang sudah
lebih tua mengangguk- angguk. Katanya “Hal itu memang mungkin
sekali. Raden Mas Said adalah seorang yang memiliki penggraita yang
sangat tajam. Hampir seperti Pangeran Mangkubumi sendiri” “Mungkin
sekali ia mempunyai seorang guru, penasehat atau apapun yang dapat
melihat isyarat atas sesuatu yang belumterjadi” desis seorang
perwira prajur it Surakarta. “Omong kosong“ bantah seorang perwira
Kumpeni “itu hanya omong kosong. Tentu ada seorang pengkhianat, atau
kecerdasannyalah yang telah mengambil kesimpulan, bahwa kita akan
datang menyerang, sehingga mereka sempat memasang jerat” “Tetapi
mereka mempunyai perhitungan waktu yang tepat” desis perwira kumpeni
yang lain. “Mungkin mereka sudah dua har i melakukan jebakan itu”
jawab perwira kumpeni yang pertama “dengan sabar mereka menunggu.
Seandainya kita tidak, datang pada waktu itu, mereka akan tetap
menunggu sampai seminggu Dengan demikian kita akan mendapat kesan,
bahwa mereka dapat memperhitungkan segalanya dengan tepat” Para
perwira kumpeni dan para Senapati dari Surakarta itu
mengangguk-angguk. Memang masuk akal. Sementara merekapun menyadari,
bahwa petugas sandi, baik dari pasukan Raden Mas Said maupun dari
pasukan induk Pangeran Mangkubumi tentu berkeliaran di Surakarta.
“Seandainya tidak ada seorang pengkhianat” berkata salah seorang
Senapati “para petugas sandi yang satu dengan yang lain dapat
menghubungkan persoalan yang dapat mereka amati. Kemudian
orang-orang seperti Raden Mas Said dan apalagi Pangeran Mangkubumi
sendiri akan dapat mengambil kesimpulan. Dan kesimpulan itu biasanya
mendekati kebenaran”“Ya” sahut seorang perwira Kumpeni “Kita memang
menghadapi seseorang yang tidak pernah kita perhitungkan ada di
Surakarta. Ternyata mereka memang memiliki kecerdasan yang tinggi”
“Apa yang kau maksudkan?“ bertanya seorang Senapati muda. Perwira
kumpeni itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu- ragu ia menjawab
“Ada juga orang pribumi yang mempunyai kecerdasan yang baik
sebagaimana Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said” “Tidak hanya
dua. Tetapi lebih dari jumlah kumpeni yang ada di Surakarta” jawab
Senapati muda itu. “Tentu tidak” berkata kumpeni itu pula “jika
demikian peradaban kalian tentu lebih tinggi dari sekarang. Apalagi
kami t idak akan perlu berada di sini untuk melindungi kalian”
“Memang sebaiknya kalian pergi” desis Senapati muda itu. “Sudahlah”
potong Senapati yang lebih tua “Kita sedang berbicara tentang
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di lingkungan kita.
Dengan demikian kita akan dapat menjadi salah paham dan bahkan
menambah ketiuak tunangan kita” Senapati muda iitu menunduk. Ia
tidak membantah lagi. Jika ia masih juga menolak anggapan
orang-orang berkulit putih itu, bahwa orang-orang Surakarta memiliki
tingkat kecerdasan yang rendah, maka orang-orang yang marah itu akan
dapat mengarahkan kecurigaannya kepadanya. Namun dalam pada itu,
ketika kumpeni itu tidak lagi dapat menemukan orang-orang yang
dicurigainya di antara mereka. maka mereka mulai melihat kepada
orang-orang yang selalu berhubungan dengan mereka terdapat Raden Ayu
Galihwarit. Sementara itu, Arum, Buntal dam Juwir ing yang telah
berada di Gebang, merasa perlu untuk segera berhubungandengan Raden
Ayu Galihwarit. Meskipun nampaknya untuk beberapa hari tidak ada
gerakan dar i segala pihak, namun mungkin sekali akan dapat terjadi
sesuatu yang tiba-tiba. Tetapi seperti yang pernah dipesankan oleh
beberapa pihak, apalagi karena keadaan kesehatannya yang masih belum
memungkinkan, maka hanya Buntal dan Arum sajalah yang akan pergi
menemui Raden Ayu Galihwarit. Bagaimanapun juga keadaan masih sangat
gawat jika Juwiring sendiri pergi memasuki kota. Seperti biasa yang
mereka lakukan, maka di dini hari mereka sudah siap untuk berangkat
dengan membawa beberapa jenis barang dagangan, terutama alat-alat
untuk mer ias diri. Sebenarnyalah bahwa Kiai Danatirta mampu meramu
lulur dan mangir yang baik, sehingga benar-benar dapat dipergunakan
oleh Raden Ayu Galihwarit. Bahkan seperti yang sudah dilakukannya,
maka Raden Ayu Galihwar it telah menularkannya kepada beberapa orang
puteri dan yang ternyata merekapun sependapat bahwa lulur dan mangir
itu cukup baik. Kedatangan Buntal dan Arum itelah disambut dengan
gembira oleh Raden Ayu Galihwarit, terlebih-lebih lagi Rara Warih,
yang rasa-rasanya sudah tidak betah lagi tinggal di istana Eyangnya.
Selagi ibundanya masih membenahi diri di dalam biliknya Rara Warih
menerima Arum dan Buntal itu di serambi. Seperti kanak-kanak Rara
Warih selalu saja bertanya apa yang pernah terjadi di padukuhan di
luar kota Surakarta. Bahkan Arumpun sempat menceriterakan keadaan
Raden Juwiring yang masih belum pulih benar karena keadaannya yang
terjadi di luar kemauahnya. “Aneh sekali” berkata Rara Warih “Jadi
benda itu dapat mempengaruhi kepribadian seseorang?“ “Ya” jawab
Arum“langsung atau tidak langsung”“Bagaimana yang langsung dan
bagaimana yang tidak langsung?“ bertanya Rara Warih. “Seperti yang
terjadi atas Raden Juwiring itu, benda di tangannya dengan langsung
mempengaruhinya, meskipun hal itu terjadi karena Raden Juwiring
telah mempergunakannya lebih dahulu untuk melawan orang yang bernama
Singaprana” jawab Arum. Kemudian “Sedangkan yang tidak langsung,
dapat kita lihat lebih banyak lagi. Karena sesuatu benda apakah itu
pusaka atau bukan, tetapi benda-benda berharga, akan dapat membuat
kita kehilangan pegangan. Kau lihat, beberapa orang yang tergelincir
ke dalam pengaruh kumpeni itu, bukankan juga karena pengaruh
benda-benda mati seperti itu? Jarang di antara mereka yang berpegang
pada satu keyakinan, bahwa kumpeni akan dapat mendatangkan
kesejahteraan lahir batin bagi Surakarta. Namun sebagian dari mereka
telah didorong oleh satu keinginan pr ibadi. Maksudku, telah
dipengaruhi dengan tidak langsung oleh benda-benda berharga” Rara
Warih mengangguk-angguk. Namun mereka telah terkejut ketika
mendengar suara di ambang pintu “Kau benar ngger. Pengaruh gelar
keduniawian memang sangat besar, sehingga seseorang akan dapat
kehilangan kepr ibadiannya” Arum terkejut. Wajahnya menjadi redup
ketika ia melihat Raden Ayu Galihwarit melangkah keluar pintu. Namun
gadis itu menjadi agak tenang ketika ia melihat. Raden Ayu itu masih
tetap tersenyum. “Nampaknya memang demikian Arum” berkata Raden Ayu
Galihwar it yang kemudian duduk bersama mereka. “Aku mendengar apa
yang kau ceriterakan tentang Juwiring. Sungguh menegangkan.
Untunglah bahwa Tuhan masih melindungi kalian bertiga” “Ya Raden
Ayu” desis Arum sambil menunduk dalam-dalam “Tuhan Yang Maha
Penyayang masih melindungi kami bertiga”“Tetapi hal itu akan dapat
kalian jadikan pengalaman. Dan tanpa kau sadari, kau dapat mengambil
arti dari peristiwa itu dengan memperbandingkan antara pengaruh yang
langsung dan yang tidak langsung” berkata Raden Ayu Galihwar it
selanjutnya. Arumt idak menjawab. Ia menjadi berdebar-debar lagi.
Namun Raden Ayu Galihwarit itu kemudian berkata “Dengan pengalaman
itu Arum, kau dan saudara-saudaramu akan tetap berpegang pada
keyakinanmu. Sebagaimana akhirnya Juwiring berhasil bebas dari
pengaruh ker is itu. Karena sebenarnyalah keris itu mempunyai
perbawa yang luar biasa, dan hal ini telah pernah aku ceriterakan,
juga tentang perubahan watak yang terjadi pada Tumenggung Sindura. ”
Arum masih menundukkan kepalanya, sementara Buntal
mengangguk-angguk. “Ah, sudahlah. Kalian dapat berbincang lebih
panjang. Aku akan melihat-lihat mangirmu Arum” berkata Raden Ayu itu
kemudian. Sambil membawa mangir yang diserahkan Arum, Raden Ayu
Galihwaritpun masuk kembali ke dalambiliknya sementara Arum, Buntal
dan Rara Warih masih saja berbincang sambil menunggu keterangan yang
mungkin akan diber ikan oleh Raden Ayu Galihwarit tentang keadaan
terakhir. Namun dalam pada itu, akhirnya Warih sampai juga kepada
persoalan dirinya sendiri. Kata-katanya menjadi semakin lambat dan
terputus-putus. Seolah-olah dengan sengaja ia telah berusaha agar
suaranya tidak didengar oleh ibundanya. “Aku menjadi semakin tidak
kerasan tinggal di rumah ini” desis Warih. “Puteri harus menahan dir
i” jawab Arum yang hampir berbisik pula terpengaruh oleh suara Rara
Warih “pada suatu saat, segalanya akan berakhir”“Pada suatu saat
segalanya memang akan berakhir” jawab Warih “Tetapi untuk menunggu
waktu yang kau sebut pada suatu saat itu telah membuat aku hampir
menjadi gila” “Puteri memang harus tabah. Kita semuanya harus tabah
menghadapi perjuangan ini” sahut Arum. “Aku dapat mengerti. Tetapi
sulit bagiku untuk menerima cara yang dipergunakan oleh ibunda.
Bahkan pada saat-saat terakhir, orang-orang asing itu telah sering
datang keru-mah ini. Pada malam buta mereka datang mengantarkan
ibunda. Lewat senja mereka datang menjemput” Rara Warih berhenti
sejenak, lalu “bahkan mereka telah mengotori rumah ini dengan sikap
mereka yang gila” Arum tidak tahu, apa yang harus dikatakannya.
Karena itu, maka ia justru menjadi termangu-mangu. Namun dalam pada
itu, tiba-tiba saja Buntal bertanya hampir di luar sadarnya
“Bagaimanakah sikap Pangeran Sindurata?“ “Uh, eyang tidak lagi
mempedulikan apa yang terjadi. Eyang menyadari bahwa jika ia
memikirkan sesuatu, sakitnya akan dapat kambuh. Kepalanya menjadi
pening, tengkuknya serasa kejang dan jika ia dalam keadaan yang
demikian, maka eyang selalu marah-marah. Apa saja telah menumbuhkan
kemarahannya sehingga kadang-kadang Eyang dapat kehilangan kesadaran
dan melakukan sesuatu yang berbahaya” jawab Warih sambil mengusap
matanya.Buntal tidak bertanya lebih banyak lagi. Ia mengerti,
sebagaimana juga Arum mengerti sepenuhnya perasaan gadis itu. Tetapi
mereka belum dapat berbuat sesuatu. Buntal tidak bertanya lebih
banyak lagi. Sementara Arum pun hanya mengangguk-angguk saja. Namun
sejenak kemudian, agaknya Warihpun merasa bahwa tidak sepantasnya ia
selalu mengeluh saja di hadapan tamu- tamunya, sehingga karena itu,
maka iapun kemudian mencoba untuk berbicara tentang berbagai hal
yang berkembang di Surakarta sejak kota itu diduduki untuk setengah
hari oleh pasukan Pangeran Mangkubumi. Namun dalam pada itu, selagi
mereka sibuk berbincang, mereka telah dikejutkan oleh derap suara
kereta memasuki halaman istana Pangeran Sindurata. Wajah Rara Warih
menegang. Sambil mengangkat kepalanya ia berdesis “Tentu mereka
pula” Buntal dan Arumpun menjadi berdebar-debar. Bagaimanapun juga
mereka merasa, bahwa keduanya adalah orang-orang yang dikir im oleh
para pengikut Pangeran Mangkubumi. Belum lagj mereka sempat berbuat
sesuatu, Raden Ayu Galihwar it dengan tergesa-gesa telah keluar dari
biliknya. Agaknya Raden Ayu itu juga mendengar derap kereta yang
memasuki halaman. “Bukan maksudku untuk merendahkan kalian” berkata
Raden Ayu Galihwarit “namun aku minta bagi keselamatan kalian untuk
pergi ke belakang” Buntal dan Arum termangu-mangu. Namun War ihpun
telah berpikir cepat, dibimbingnya Arum menyusuri serambi menuju ke
bagian belakang istana Pangeran Sindurata. “Duduklah di sini”
berkata Warih “Mereka tidak akan pernah pergi ke belakang”Arum
mengangguk. Buntalpun kemudian duduk pula di bagian belakang istana
itu untuk menunggu sampai orang- orang yang datang dengan kereta,
yang menurut dugaan mereka adalah orang-orang asing itu pergi.
Sebenarnyalah yang datang adalah dua orang perwira kumpeni. Ternyata
seorang di antara mereka masih belum pernah datang ke istana itu.
Sebelum mereka ditemui oleh Raden Ayu Galihwarit, keduanya sempat
berdiri di tangga pendapa untuk beberapa saat. Namun tiba-tiba yang
seorang dari mereka berkata “Raden Ayu Galihwarit tinggal di sisi
sebelah kiri” Kumpeni yang belum pernah datang ke istana itupun
mengangguk-angguk. Namun demikian ia melangkah ke seketheng dan
menjenguk ke longkangan dalam. “Di sini Raden Ayu tinggal?“ bertanya
kumpeni itu. “Ya. Tetapi ia menemui tamu-tamunya di pendapa” jawab
yang lain. Kumpeni yang seorang itu masih saja mengangguk-angguk.
Nampaknya ia senang melihat kebun bunga yang ditumbuhi dengan
berbagai jenis bunga yang jarang dilihatnya di barak- barak kumpeni
dan bahkan di loj i sekalipun. Namun sejenak kemudian, maka Raden
Ayu Galihwarit yang sudah selesai berpakaian muncul dar i pintu
pringgitan. Sambil tertawa cerah mereka mempersilahkan tamunya untuk
naik ke pendapa. Seperti biasanya, maka pembicaraanpun berjalan
dengan lancar. Orang yang baru saja diperkenalkan kepada Radeh Ayu
itupun segera dapat menyesuaikan diri, sehingga mereka pun telah
berkelakar dengan gembiranya. Meskipun yang seorang di antara mereka
adalah orang baru di Surakarta, namun ia telah mampu berbicara
sepatah-sepatah sebagaimana perwira-perwira yang lain. Jika ia
mendapat kesulitan untukmengutarakan pikirannya, maka kawannyalah
yang kemudian membantunya. “Raden Ayu harus datang ke dalam pesta
itu” berkata perwira yang sudah lama mengenal Raden Ayu. Raden Ayu
Galihwarit tersenyum. Sambil mengerling kepada perwira yang baru
dikenalnya itu ia bertanya “Tetapi bukankah dalam pesta itu sudah
akan hadir puteri-puteri cantik dan muda” Kedua perwira itu tertawa.
Salah seorang dari mereka menjawab “Tidak ada seorangpun yang dapat
menyamai Raden Ayu“ Raden Ayu itupun tertawa pula meledak. Dalam
pada itu. seperti biasanya, setiap kali Rara Warih mendengar suara
tertawa yang berat dan dibarengi oleh suara tertawa ibundanya,
hatinya bagaikan disayat. Ia hanya dapat mengusap air matanya di
dalambiliknya. Ketika teringat oleh Rara Warih bahwa di belakang ada
Buntal dan Arum, maka iapun merasa lebh baik berada di belakang
bersama mereka. Namun ia tertegun ketika ia mendengar derap sepatu
kedua kumpeni itu. “Mereka sudah akan pergi” berkata Rara Warih di
dalam hatinya. Tetapi Rara Warih tidak menghiraukannya. Setelah
mengusap matanya dan membenahi pakaiannya, maka iapun keluar dari
pintu samping untuk pergi ke belakang. Namun demikian ia membuka
pintu, langkahnya tertegun. Ternyata dua orang perwira kumpeni itu
berada di seketheng. Warih masih mendengar salah seorang kumpeni itu
berkata “Sejuk sekali. Raden Ayu sendir i memelihara taman ini?“
“Ya” jawab ibunda Rara Warih.Namun dalam pada itu, Raden Ayu
Galihwarit tertegun ketika ia melihat kumpeni yang seorang, yang
belum pernah dikenalnya sebelumnya itu memandang Rara Warih dengan
kerut di keningnya. Kemudian dengan suara patah-patah ia bertanya
“Siapakah itu?” Raden Ayu Galihwarit menjadi bimbang. Sementara itu
Warih telah melangkah ke belakang. “Anak gadisku” jawab Raden Ayu
kemudian. “O, cantik sekali. Seperti ibunya“ berkata kumpeni itu
”Bawa anak itu malam nanti ke pesta” Lalu katanya kepada kawannya
“Kau mengambil ibunya, aku akan mengambil anaknya. Kita tidak usah
berebut” “Ah” sahut Raden Ayu “anak itu pemalu. Ia tidak akan mau
pergi ke pesta” “Jangan begitu” sahut perwira itu “aku sudah
mendengar serba sedikit tentang Raden Ayu. Tentu Raden Ayu berbangga
jika anak gadis Raden Ayu itupun akan dapat menjadi bunga ros di
antara perempuan-perempuan yang hadir di samping Raden Ayu sendiri
sebagai bunga dalia” “Ah“ desah Raden Ayu ”Maaf, aku tidak dapat
membawanya. Ia masih terlalu muda. Ia tidak mengerti apa yang harus
dilakukannya di dalam pesta” “Jangan begitu Raden Ayu” berkata
perwira yang baru itu “sebagaimana Raden Ayu pernah memulainya, maka
anak perempuan Raden Ayu itu akan dapat memulainya pula. Ia sudah
sering melihat apa yang Raden Ayu lakukan” “Tetapi ia baru sakit”
jawab Raden Ayu yang mulai menjadi kebingungan. “Sakit apa?“
bertanya perwira itu. “Dadanya serasa sesak” jawab Raden Ayu
“bukankah tadi kau lihat, wajahnya muram sekali”“Aku melihatnya
cantik sekali” desis kumpeni itu “he, dimana anak itu sekarang. Aku
ingin berkenalan saja” “Tunggulah sampai anak itu sembuh” jawab
Raden Ayu. Tetapi perwira kumpeni itu tidak mau menunggu. Ternyata
ia masih lebih kasar dari kawan-kawannya yang sudah agak lama berada
di Surakarta. “Tunggulah“ kawannya berusaha mencegahnya. Tetapi
perwira itu justru meloncat-loncat di halaman sambil tertawa “Aku
tidak pernah menunda keinginanku” “Jangan gila“ kawannya hampir
berteriak. Tetapi ia tidak berhenti. Sementara itu Raden Ayu
Galihwarit menjadi gelisah dan pucat. Bukan saja tentang anak
gadisnya. Tetapi ia tahu bahwa di ruang belakang Buntal dan Arum
sedang bersembunyi. Karena itu, maka Raden Ayu itupun berlari-lari
menyusul perwira kumpeni itu, diikuti oleh perwira yang seorang
lagi. Dalam pada itu, perwira baru di Surakarta itu telah memasuki
ruang belakang. Ia tertegun ketika ia melihat tiga orang berada di
ruang itu, duduk di atas amben kayu yang panjang. Terdengar perwira
itu kemudian tertawa. Dengan kalimat yang patah-patah ia berkata
kepada Warih “Nah, akhirnya aku ketemu juga. He, bukankah kau anak
Raden Ayu itu?“ Warih yang terkejut melihat kehadiran kumpeni itu
menjadi gemetar. Mulutnya justru bagaikan terbungkam. “Jangan takut”
berkata perwira itu “aku tidak apa-apa. Aku senang karena kau
cantik. Marilah, ikut aku. Malam nanti kita pergi ke sebuah pesta
yang menarik”Ketika perwira itu mendekap Warih bergeser setapak
tetapi perwira itu justru tertawa. Sementara itu, maka Raden Ayu
Galihwaritpun telah memasuki ruang itu pula dengan nafas yang
terengah-engah. Dengan gagap ia berkata “Jangan, jangan kau lakukan
itu terhadapnya. Apapun yang dapat kau lakukan terhadap aku,
lakukanlah. Tetapi tidak terhadap anakku” Perwira yang kasar itu
tertawa. Katanya “Kau sangat cantik Raden Ayu. Tetapi kau sudah
terlalu tua. Anakmu ini juga cantik dan muda. Aku lebih senang
memilihnya. Jika ia memang anak Raden Ayu, apa salahnya aku memper
lakukannya seperti kawan-kawanku memperlakukan Raden Ayu” “Tutup
mulutmu“ bentak Raden Ayu Galihwarit “Kau tidak dapat berbuat
seperti itu terhadap anakku” Namun perwira yang lain, yang sudah
lama dikenalnya itu telah mengejutkan Raden Ayu itu pula ketika ia
kemudian berkata “Sudahlah Raden Ayu. Buat apa Raden Ayu menolak
permintaannya. Biarlah ia langsung berbicara dengan anak perempuan
itu” “Anakku t idak dapat diperlakukan demikian” bentak Raden Ayu.
Tetapi perwira itu berkata “Ia tidak akan memperlakukan anak itu
seperti itu, jika ia belum pernah mendengar serba sedikit tentang
tingkah laku ibunya.”Kemarahan yang memuncak telah membakar jantung
Raden Ayu Galihwarit, di luar sadarnya, dengan serta merta tangannya
telah melayang menghantampipi perwira itu. Perwira itu terkejut.
Namun kemudian ia tertawa. Katanya “Jangan berubah menjadi begitu
garang Raden Ayu. Kita sudah lama saling mengenal. Apa artinya harga
diri Raden Ayu dan anak perempuan Raden Ayu itu, jika kami sudah
mengetahui sifat-sifat Raden Ayu” Kemarahan Raden Ayu Galihwarit
telah memuncak. Sementara itu perwira yang lain t iba-tiba saja
dengan tanpa menghiraukan Buntal dan Arum telah mendekati Rara Warih
dan berusaha menangkap tangannya. Rara Warih berlari menjauhinya.
Adalah di luar kehendaknya sendiri, bahwa ia telah berdiri di
belakang Buntal dan Arum yang sudah bangkit pula dar i tempat
duduknya. Sementara itu Buntal menjadi berdebar-debar. Ia menjadi
sangat bingung. Ia sadar, bahwa ia berhadapan dengan kumpeni justru
di dalam kota Surakarta. Namun sudah barang tentu ia tidak akan
dapat membiarkan kegilaan orang-orang asing itu terjadi di hadapan
matanya. Dalam pada itu perwira kumpeni itupun agaknya tidak
menghentikan niatnya. Dengan wajah garang ia membentak Buntal dan
Arum “Minggir” Buntal masih tetap ragu-ragu. Namun ternyata sikap
Raden Ayu telah membulatkan niatnya. Ketika perwira itu
mendorongnya, terdengar Raden Ayu memekik kecil “Jangan” Oleh
kata-kata Raden Ayu itu, seolah-olah Buntal telah digerakkan untuk
menolak dorongan perwira kumpeni itu. Bahkan Buntal telah mendorong
kumpeni itu sambil berkata “Jangan ganggu, sebagaimana dikatakan
oleh Raden Ayu”Perwira itu terkejut bukan kepalang. Ia tidak menduga
sama sekali bahwa orang yang tidak diperhitungkan itu tiba- tiba
telah mendorongnya. Bahkan terlalu keras. Ternyata Raden Ayu
Galihwaritpun terkejut pula melihat sikap Buntal. Namun bagaimanapun
juga, ia memang tidak akan mengorbankan anak perempuannya. Apapun
yang dikatakan orang tentang dirinya, diterimanya dengan telinga dan
mata tertutup. Tetapi tidak dengan anak gadisnya yang untuk beberapa
lama telah tersiksa oleh sikap ibundanya itu. Karena itu, maka Raden
Ayu Galihwarit itupun kemudian justru mengharap Buntal akan dapat
melindungi Rara Warih. Perwira kumpeni yang marah itu memandang
Buntal dengan mata berapi-api. Kemudian dengan garang ia menggeram
“He, apakah kau sudah gila?“ Tetapi Buntal tidak bergeser. Bahkan ia
menjawab “Kau harus mendengarkan keterangan Raden Ayu. Bukankah
Raden Ayu sudah membatasi keadaan diri. Kau dapat berbuat apa saja
terhadap Raden Ayu. Tetapi tidak terhadap puteri” “Jangan membantah”
geramperwira itu. “Kau yang harus melakukan permintaan kami. Kaulah
yang seharusnya tidak membantah” geram Buntal. “Tutup mulutmu”
bentak perwira kumpeni itu “minggir atau aku akan membunuhmu. Aku
mempunyai wewenang untuk melakukannya tanpa ada tindakan hukum j ika
aku membunuhmu dalam keadaan seperti sekarang ini” “Aku akan membela
dir i“ Buntalpun mulai kehilangan kesabaran. itu. Wajah perwira itu
menjadi merah padam. Tiba-tiba saja tangannya melayang menyerang
wajah Buntal. Namun Buntal sudah memperhitungkannya. Karena itu,
maka iapun masih sempat menghindar.Justru karena serangannya tidak
mengenai sasaran, perwira kumpeni itu menjadi sangat marah. Dengan
serta merta ia telah mencabut pedangnya yang panjang. Buntal surut
selangkah. Sementara itu Arumpun telah membimbing Rara Warih
menjauh, sedangkan Raden Ayu Galihwar itpun segera berlar i
mendekati pulennya. “Kau harus mat i” geram perwira itu sambil
mengacukan pedangnya kearah dada Buntal. Buntal menjadi
berdebar-debar. Ia mengerti bahwa para perwira kumpeni pada umumnya
kemampuan bermain pedang. Karena itu maka iapun harus berhati-hati.
Apalagi ia tidak membawa senjata panjang yang akan dapat mengimbangi
pedang lawannya. Namun dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit yang
melihat keadaan yang tidak seimbang itupun telah berteriak “Tidak
adil. Jika kau benar-benar perwira yang pernah menjelajahi samodra
dan benua, yang pernah mengalahkan bangsa- bangsa di daratan dan
perompak di lautan, beri kesempatan anak pribumi itu juga
bersenjata” “Ambil senjata” teriak perwira yang marah itu “apapun
yang akan dipergunakannya, aku akan membunuhnya” Buntal menjadi
berdebar-debar. Namun perwira itu t idak member i kesempatan
kepadanya. Tiba-tiba saja ia sudah menyerang. Pedangnya terjulur
lurus mematuk dada. Buntal masih sempat mengelak. Dengan tangkas ia
meloncat ke samping. Namun tiba-tiba pedang itu ditariknya surut.
Sebuah ayunan mendatar menyerang leher Buntal, sehingga Buntal harus
ber loncatan pula surut. Ternyata Raden Ayu Galihwarit tidak
membiarkan pertempuran yang tidak seimbang. Tiba-tiba saja ia
berlari lewat pintu dalam masuk ke ruang tengah. di raihnyasebatang
tombak yang berdiri pada sebuah ploncon bersama sebatang songsong
kebesaran milik Pangeran Sindurata. Sesaat kemudian Raden Ayu itu
telah kembali ke ruang belakang. Sambil mengacukan tombak di
tangannya Raden Ayu itu berkata “Bersikaplah jantan” Perwira itu
tidak menjawab. Ia masih mengayunkan senjatanya menyerang Buntal.
Namun Buntaipun menyadari. Tanpa senjata ia akan sangat sulit
melawan ilmu pedang kumpeni yang mapan itu. Karena itu, maka
Buntaipun segera meloncat kearah Raden Ayu Galihwarit. Dengan serta
merta maka iapun menerima tombak yang berada di tangan Raden Ayu
itu. “Aku juga bersenjata sekarang” geram Buntal “dengan demikian
aku tidak hanya menjadi sasaran pedangmu saja” “Kau akan mati anak
setan” sahut perwira kumpeni itu. Sementara itu, Arum telah
membimbing Rara Warih semakin menjauh. Ruang belakang yang luas itu
ternyata tidak cukup luas untuk bertempur dengan senjata panjang.
Karena itu maka Buntal telah berloncatan surut untuk mencari jalan
keluar dari ruangan itu. Ia tidak dapat lewat pintu yang dilalui
oleh kumpeni itu, karena perwira yang seorang lagi masih berdiri di
dekat pintu itu sambil memperhatikan perkelahian itu dengan saksama.
Melalui pintu butulan yang lain, Buntal berhasil meloncat keluar.
Dengan demikian ia sudah berada di longkangan belakang, sehingga ia
mendapat tempat yang luas untuk bertempur dengan tombak. Raden Ayu
yang cemas melihat keadaan Buntal, karena iapun telah mendengar
bahwa para perwira kumpeni adalah orang-orang yang mumpuni bermain
pedang, telah melangkah di luar sadarnya kearah pintu butulan itu
pula. Namun tiba- tiba perwira yang seorang lagi berkata “Raden Ayu
tidak perlumendekat. Nanti Raden Ayu takut melihat anak pribumi itu
mati ditembus ujung pedang” perwira itu melangkah mendekat sambil
berkata selanjutnya “Siapakah anak itu Raden Ayu?“ “Pelayanku” jawab
Raden Ayu itu tanpa berpikir lagi. Tetapi Arum yang mendengar
jawaban itu sama sekali tidak merasa tersinggung, karena iapun
mengerti bahwa Raden Ayu sedang berusaha mengelakkan keadaan yang
sesungguhnya. “Aku tidak percaya” sahut perwira itu “ia memiliki
kemampuan berkelahi. Aku tahu pasti. Sebelum ia menggenggam tombak,
ia sudah mampu menghindari serangan-serangan pedang kawanku yang
terkenal berilmu pedang yang tinggi” “Ia adalah pengawal istana ini”
jawab Raden Ayu itu pula. “Pengawal atau pelayan atau apa lagi?“
suara perwira kumpeni itu menjadi semakin kasar. Dalam pada itu,
hiruk pikuk itu telah menimbulkan keributan di istana Pangeran
Sindurata. Beberapa orang pelayan menjadi kebingungan. Sementara
itu, Pangeran Sindurata yang mendengar keributan itu telah
berlari-lari ke ruang belakang. Namun langkahnya tertegun ketika
tiba-tiba saja ia melihat seorang perwira kumpeni yang berdiri
menghadap anak, cucunya dan anak padesan yang sering datang menjual
mangir ke rumahnya itu. Bahkan demikian Pangeran Sindurata memasuki
ruang itu, kumpeni itu telah mengacukan sebuah senjata api berlaras
pendek. “Kami harus menahan kalian semuanya” berkata perwira kumpeni
itu. “Apa yang terjadi?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Keluarga
Pangeran telah melawan kami” jawab perwira kumpeni itu.“Tidak benar”
jawab Raden Ayu Galihwarit “ seharusnya kau dapat mengatakan apa
sebenarnya terjadi di sini. Kau sudah menghinakan keluarga kami”
“Apa yang sudah dilakukannya?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Perwira
kumpeni yang bertempur di luar itu ingin memaksa Warih untuk pergi
bersamanya. Aku berkeberatan karena Warih sendiri tidak bersedia
melakuannya” jawab Raden Ayu Galihwarit. “Itu hanya pura-pura” jawab
kumpeni itu. “Tidak“ Raden Ayu Galihwar it hampir berteriak “Kau
sendiri berusaha mencegahnya. Tetapi kawanmu itu benar benar menjadi
gila dan tidak mau mendengar sama sekali” “Sudah aku katakan Raden
Ayu, jika kawanku itu tidak mengenal Raden Ayu, maka ia tidak akan
berbuat demikian terhadap anak perempuan Raden Ayu yang tentu
sifat-sifatnya tidak akan jauh berbeda dengan ibunya” “Tidak” teriak
Raden Ayu Galihwarit. Sementara itu, dada Rara Warih bagaikan
dihentak oleh sebuah pipisan batu hitam. Betapa pedih hati gadis
itu. Orang lain menganggap bahwa ia tidak akan ada ubahnya dengan
sifat dan tabiat ibundanya. Anggapan itu bagaikan hukuman baginya
tanpa melakukan kesalahan. Raden Ayu Galihwaritpun mengerti, betapa
sakit hati puterinya. Karena itu sambil memeluk anak gadisnya Raden
Ayu itu berkata “Jangan kau lumuri anak gadisku dengan tuduhan yang
tidak beralasan karena dosa-dosaku” Perwira kumpeni itu tertawa
katanya “Raden Ayu sudah terlalu lama bergelimang kemewahan hidup
yang Raden Ayu dapatkan dengan cara yang tidak terhormat itu. Tetapi
dengan demikian Raden Ayu dan beberapa orang kawan Raden Ayusudah
dapat member ikan kesenangan kepada kami, yang selama ini jauh dari
keluarga kami” “Tutup mulutmu” bentak Raden Ayu “Aku tidak lagi
melakukan semuanya itu karena aku sudah menjadi budak harta benda”
“Raden Ayu” potong Arum dengan serta merta. Raden Ayu Galihwar it
ternyata terkejut juga. Kemarahan di dadanya hampir saja
menjerumuskannya ke dalam keadaan yang sulit. Untunglah bahwa ia
belum terlanjur menyebut sesuatu tentang tugasnya dalam hubungannya
dengan Pangeran Mangkubumi. Namun perwira itu cukup tajam
tanggapannya atas jawaban Raden Ayu itu. Karena itu maka iapun
bertanya sambil mengerutkan keningnya “Jika Raden Ayu tidak berbuat
untuk menumpuk harta benda dan kekayaan, apalagi yang Raden Ayu cari
dengan mengorbankan harga diri itu” Tetapi Raden Ayupun cukup
cerdik, meskipun ia harus berkorban perasaan lebih parah lagi, namun
ia menjawab “Aku sekarang seorang janda. Aku terbiasa hidup bukan
saja dalam kemewahan, tetapi akupun terbiasa berada di lingkungan
kalian. Apalagi sekarang. Aku tidak lagi didampingi oleh seorang
laki- laki di rumah” Perwira kumpeni itu mengerutkan keningnya.
Namun iapun kemudian tertawa. Katanya “Jadi ada juga dorongan lain
dari diri Raden Ayu sendiri” Wajah Raden Ayu Galihwar it itu menjadi
tegang. Betapapun juga terasa hatinya menjadi pedih. Sementara itu,
Warih seolah-olah tidak lagi berjejak di atas tanah. Segalanya
terasa sangat pahit. Meskipun ia sadar, bahwa ibunya melakukan hal
itu bagi satu perjuangan yang berharga bagi Surakarta, namun ia
tidak dapat ingkar dari kata hatinya.Arumpun menjadi sangat tegang.
Ia juga seorang gadis. Namun timbul juga pertanyaan di hatinya,
betapa mungkin seseorang memberikan pengorbanan yang demikian
besarnya. Tetapi bagaimanapun juga Arum tidak dapat menutup
penglihatannya, bahwa yang dilakukan oleh Raden Ayu itu bukannya
dari permulaan. Ia tampil dalam perjuangan setelah ia berada di
dalamsuasana seperti itu. Pangeran Sindurata yang berdiri
termangu-mangu itupun kemudian berkata “Aku tidak tahu apa-apa. He,
aku tidak tahu apa-apa” Tetapi kumpeni itu masih saja mengacukan
senjata apinya “Jangan membuat tindakan yang dapat mencelakai kalian
sendiri. Aku menunggu kawanku yang akan membunuh anak pribumi itu.
Baru kemudian aku akan menentukan sikap terhadap kalian” Ketika
Pangeran Sindurata bergeser, perwira itu menggeser ujung laras
senjatanya sambil berkata “Pangeran, jika Pangeran tidak betah
berdiri, aku persilahkan kalian semuanya untuk duduk. Cepat”
Pangeran Sinduratapun menuju ke amben kayu diikuti oleh Raden Ayu
Galihwarit, dan Arum yang membimbing Rara Warih. Mereka duduk
berjajar bagaikan membeku, sementara perwira kumpeni itu berdir i
beberapa langkah diha-dapan mereka. “Aku sudah terbiasa berdiri,
berjalan mondar-mandir atau bahkan berlari-lar i” berkata perwira
kumpeni itu sambil tersenyum. Dalam pada itu, selagi keempat orang
di ruang belakang itu dicengkam oleh ketegangan, maka di longkangan
belakang. Buntal telah bertempur melawan perwira kumpeni yang belum
lama bertugas di Surakarta itu. Ternyata perwira kumpeni itu
benar-benar menguasai ilmu pedang yang agak lain dengan ilmu pedang
yang dikenal oleh Buntal. Namun demikian,pengalaman Buntal cukup
banyak untuk mengetahui apa yang dapat dilakukan oleh lawannya.
Sambil memiringkan tubuhnya, sedikit merendah pada lututnya, perwira
itu menjulurkan pedangnya. Namun melawan sebatang tombak maka
perwira itu harus menyesuaikan dir i. Gerakannya menjadi lebih
cepat, dan kadang-kadang ia bergeser bukan saja maju dan surut
selangkah, tetapi perwira itu harus berloncatan pula untuk
menghindari dan menangkis ujung tombak Buntal. Demikianlah dua
cabang ilmu yang datang dari dunia yang berbeda telah bertemu. Namun
keduanya telah melengkapi ilmu masing-masing dengan pengalaman yang
cukup panjang. Keduanya sudah saling mengenal dan menjajagi jenis
ilmu lawannya. Karena itu, maka pertempuran yang terjadi kemudian
adalah benturan dari dua kekuatan yang dahsyat. Keduanya telah
pernah menempa dir i untuk menguasai ilmunya meskipun dengan cara
yang berbeda. Pedang perwira kumpeni itu menyapu dengan kekuatan
yang mengejutkan. Namun Buntal mampu bergerak tangkas, la meloncat
mundur sambil memutar tombaknya. Ketika perwira kumpeni itu
memburunya dengan pedang terjulur, Buntal telah berdir i tegak.
Tombaknya telah siap menunggu. Selangkah perwira kumpeni itu maju,
maka ujung tombak Buntallah yang akan menyayat perutnya. Tetapi
perwira kumpeni itu tidak terkejut melihat sikap Buntal. Ternyata ia
tetap meloncat maju. Dengan pedangnya ia memukul tombak Buntal ke
samping. Kemudian pedang itu berputar mengungkit tombak lawannya.
Ketika tombak Buntal terangkat, maka perwira kumpeni itu bergeser
menusuk dengan ujung pedangnya langsung mengarah jantung. Namun
Buntal tidak membiarkannya jantungnya dikoyak oleh pedang kumpeni.
Ketika ujung tombaknya terangkat,maka ia justru mempergunakan
tangkai tombaknya. Ia berhasil menangkis serangan perwira kumpeni
itu. Bahkan sekaligus tangkai tombaknyalah yang terjulur. Hampir
saja ujung tangkai tombaknya yang tersalut besi baja yang bulat itu
memukul lutut kumpeni itu. Tetapi perwira kumpeni itu sadar. Jika
lututnya tersentuh besi baja yang bulat pada tangkai tombak itu,
maka ia akan lumpuh. Tulang pada lututnya akan pecah dan dengan
demikian, maka ia akan terkapar tanpa mampu memberikan perlawanan.
Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Keduanya mampu
bertempur dengan kelebihannya masing- masing. Mereka saling
mendesak. Bergeser dan berputar. Melejid sambil mengayunkan
senjatanya. Sementara itu, Arumpun menjadi tegang. Ia masih
mendengar derap kaki kedua orang yang sedang bertempur itu. Dengan
telinganya yang terlatih Arum dapat membayangkan, apakah yang
kira-kira terjadi. Perkelahian itu tentu merupakan perkelahian yang
sangat seru. Tetapi bukan saja Arum yang dapat membayangkan
peristiwa di longkangan itu. Kumpeni yang seorang, yang mengacukan
senjata berlaras pendek itupun dapat membayangkan. Seperti Arum ia
mengerti, bahwa pertempuran yang terjadi itupun sangat dahsyatnya.
Dengan demikian perwira kumpeni yang seorang itu menjadi heran. Anak
pribumi yang bersenjata tombak itu mampu melawan kawannya, seorang
perwira yang baru saja datang di Surakarta. Seorang perwira yang
memiliki kemampuan yang luar biasa. “Bagaimana mungkin hal ini
terjadi” berkata perwira kumpeni itu di dalam hatinya. Namun dengan
demikian ia mulai membayangkan, apa yang dapat dilakukan oleh para
Senapati dari pasukan Pangeran Mangkubumi, jika orang-orang pribumi
yang menjadi pelayan atau pengawal di istana para Pangeran itu mampu
melawan kawannya, seorang perwira yang pilih tanding. “Gila”
tiba-tiba kumpeni itu mengumpat. di luar sadarnya, tiba-tiba saja ia
sampai pada satu kesimpulan yang mengejutkan. Mengejutkan bagi
dirinya sendiri dan mengejutkan bagi orang-orang yang berdir i di
hadapannya. “Raden Ayu” geram perwira kumpeni itu “orang itu tentu
pengikut Pangeran Mangkubumi” Wajah Raden Ayu Galihwar it menjadi
pucat. Dengan suara gemetar ia bertanya “Bagaimana kau dapat
mengambil kesimpulan seperti itu?” “Ternyata bahwa orang yang kami
cari telah aku ketemukan di sini. Selama ini kami tidak pernah dapat
menduga, siapakah yang telah berkhianat terhadap Surakarta. Serangan
kami yang gagal atas Raden Mas Said dan bahkan harus ditebus dengan
korban yang tidak kecil, bukan saja mereka yang menyerang pasukan
Raden Mas Said itu, tetapi juga karena pada saat yang sama pasukan
Pangeran Mangkubumi memasuki kota ini, adalah karena sikap Raden
Ayu. Raden Ayu yang berada di antara para perwira kumpeni tentu
dapat dengan mudah menyadap berita tentang rencana serangan yang
akan dilakukan oleh kumpeni. Ternyata di rumah ini ada orang-orang
Pangeran Mangkubumi, atau orang-orang Raden Mas Said yang dapat
menjadi penghubung antara Raden Ayu dengan mereka” “Omong kosong.
Kau tidak dapat membuktikannya“ bantah Raden Ayu Galihwarit. “Aku
akan membuktikannya” jawab kumpeni itu “aku t idak percaya bahwa ada
orang yang mampu bertahan sekian lama menghadapi kawanku itu, jika
orang itu bukan, orang pilihan. Karena itu. maka yang sedang
bertempur melawan kawankuitu tentu orang yang pilih tanding. Orang
itu tentu petugas sandi” Keringat dingin telah membasahi pakaian
Raden Ayu Galihwar it. Namun mulutnya justru telah terbungkam. ia
tidak dapat membantah tuduhan perwira kumpeni itu, bahwa anak muda
yang bertempur di longkangan itu adalah petugas sandi dari pasukan
Pangeran Mangkubumi. Sejenak kemudian perwira kumpeni itu tertawa.
ia merasa menang bahwa ia telah berhasil menemukan salah seorang
pengkhianat yang telah menggagalkan segala usaha kumpeni selama ini.
“Raden Ayu” berkata kumpeni itu “ternyata bukan kebetulan, apa yang
selama ini kau lakukan. Bahkan mungkin sejak Pangeran Ranakusuma
mengatur pengkhianatannya. Raden Ayu sudah membantunya. Raden Ayu
dengan sengaja telah diselipkan di antara para perwira untuk
mendapatkan keterangan-keterangan yang akan menguntungkan pasukan
Pangeran Mangkubumi” Perwira itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi
Raden Ayu sekarang tidak dapat ingkar lagi. Aku sudah pasti. Raden
Ayulah orang yang sedang kami cari di antara para Senapati dan
Panglima prajurit Surakarta” Raden Ayu Galihwarit benar-benar
terbungkam. Sementara itu, perwira itu berkata “Jangan bergerak. Aku
akan menembak siapa saja yang melakukan perbuatan yang tidak
sewajarnya” Suasana menjadi semakin tegang. Sementara itu Arum malai
menduga-duga, apakah yang akan dilakukan oleh perwira kumpeni itu.
Sejenak perwira itu termangu-mangu. Namun iapun kemudian bergeser ke
pintu yang menuju ke longkangan belakang. Dengan nada berat ia
berkata “Aku akan mengakhiri pertempuran itu”“Apa yang akan kau
lakukan?“ Raden Ayulah yang bertanya. “Aku akan menembak anak itu”
geram perwira kumpeni. Suasana yang tegang itu menjadi semakin
mencengkam. Tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit itu berdir i sambil
berkata “Jika kau mau menembak, tembak aku. Anak itu tidak bersalah”
Perwira itu tertawa. Katanya “Raden Ayu menjadi cemas. Hal itu
menguatkan keyakinanku, orang itu adalah petugas sandi dari Pangeran
Mangkubumi” “Cukup” potong Raden Ayu “tembak aku” “Duduklah Raden
Ayu” kumpeni itu masih tertawa “Aku akan membuat pertimbangan
tersendir i bagi Raden Ayu dan bagi anak perempuan Raden Ayu yang
ternyata memang cantik seperti Raden Ayu. Tetapi anak Raden Ayu itu
masih muda. Semua bunga yang sedang mekar” “Tutup mulutmu“ Raden Ayu
itu membentak. Tetapi ketika ia melangkah maju, ujung laras senjata
api itu tertuju ke dadanya. “Aku benar-benar dapat merobek dadamu
Raden Ayu. Kemudian membawa anak gadismu pergi” bentak kumpeni itu
pula. Raden Ayu Galihwarit tertegun. Ketika ia memandang lubang
laras senjata perira kumpeni itu, rasa-rasanya ia menjadi nger i.
Namun dalam pada itu, Arumlah yang berbuat sesuatu. Jika ia berdiam
dir i, maka kumpeni itu akan pergi ke pintu. Dari pintu ia akan
menembak Buntal yang sedang bertempur. Jika Buntal mati, apapun yang
dapat dilakukannya, tentu tidak akan dapat diselesaikannya, karena
Arum tidak yakin akan dapat melawan dua orang perwira itu. Arum
cukup menyadari, bahwa kedua perwira itu memiliki ilmu yang tinggi
sesuaidengan cara yang mereka anut. Namun yang ternyata sulit untuk
di atasi. Karena itu, ia harus mengambil satu sikap. Ia tidak dapat
menunggu, sehingga ia akan terperosok ke dalam kesulitan yang
semakin gawat. “Jika aku gagal, apaboleh buat. Bahwa kumpeni dtu
sudah sampai pada suatu dugaan tentang kakang Buntal sebagai petugas
sandi Pangeran Mangkubumi, maka tidak ada lagi kesempatan yang boleh
dilewatkan” berkata Arum didaiam hatinya. Demikianlah, ketika
kumpeni itu sudah mendekati pintu, namun sementara perhatiannya
masih saja tertuju kepada Raden Ayu Galihwarit yang termangu-mangu,
maka Arumpun telah mengambil kesempatan itu. Sesaat ia menunggu.
Ketika perwira itu kemudian berdir i diambang pintu dan
memperhatikan pertempuran yang sedang berlangsung, maka Arumpun
sampai pada batas perhitungannya. Karena itu, ketika sambil
tersenyum kumpeni itu mulai mengarahkan senjatanya keluar, tiba-tiba
Arum telah meloncat berdiri. Kumpeni itu terkejut. Tetapi ia
terlambat. Ketika ia berpaling kearah Arum, dua buah pisau telah
meluncur dengan cepatnya langsung menghunjam ke dadanya. Suatu hal
yang tidak di sangkanya sama sekali. “Anak setan“ ia mengumpat.
Dengan gerak naluriah senjatanya telah berpaling. Namun ternyata
Arum menjadilebih mapan. Sebuah pisau lagi telah meluncur menghantam
pangkal lengannya. Perwira kumpeni itu menyeringai menahan sakit.
Ketika ia mencoba membidikkan senjatanya dengan tangannya yang
gemetar, sebuah lagi pisau meluncur mengoyak dada perwira kumpeni
itu. Senjatanya memang meledak. Tetapi sama sekali tidak mengenai
siapapun. Pada saat itulah Arum meloncat dengan cepatnya. Ia tidak
mempedulikan kain panjangnya yang koyak hampir sejengkal. Namun pada
saat yang tepat, ia telah menyerang perwira kumpeni itu dengan ibu
jar inya, tepat mengenai lehernya. Nafas kumpeni itu bagaikan
tersumbat. Serangan Arum telah mendorongnya selangkah. Kemudian
iapun terhuyung- huyung jatuh, justru keluar pintu. Ledakan
senjatanya telah mengejutkan dua orang yang sedang bertempur di
longkangan belakang. Baik Buntal maupun perwira kumpeni yang belum
lama berada di Surakarta itu berpaling kearah pintu. Yang kemudian
mereka lihat adalah, perwira kumpeni yang terhuyung-huyung jatuh
terbanting di tanah. Hal itu sanga! mengejutkan kawannya. Sejenak ia
justru bagaikan membeku. Namun yang sejenak itu. ternyata telah
menentukan segala-galanya. Buntal cepat mempergunakan saat itu
sebaik-baiknya. Dengan cepat ia meloncat menyerang dengan ujung
tombaknya. Perwira kumpeni itupun terlambat menangkis serangan
Buntal. Ujung tombak itu ternyata telah menghunjam ke dalam
perutnya. Buntal tidak perlu mengulanginya. Perwira kumpeni itu
terdorong surut selangkah. Ketika Buntal menarik tombaknyamaka
kumpeni itupun bagaikan sebatang kayu yang jatuh di tanah. Hampir di
luar sadarnya Rade Ayu Galihwaritpun berlari ke pintu. Namun ketika
ia melihat tubuh-tubuh yang terbaring di tanah dengan berlumuran
darah, cepat-cepat ia berbalik dan berlari memeluk anak gadisnya.
“O“ Raden Ayu itu berdesah “mengerikan sekali” Rara Warihpun
mengetahui, ibunya tentu melihat kumpeni yang diserang oleh Arum dan
terjatuh keluar pintu. Sementara itu, Pangeran Sinduratalah yang
kemudian menuju ke pintu itu. la masih melihat Buntal berdiri sambil
menggenggam tombaknya yang basah oleh merahnya darah. Pangeran
Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudiania ia berkata
“Yang terjadi ini merupakan malapetaka bagi kita” Buntal dan Arum t
idak dapat menjawab. Merekapun kemudian mulai terdampar pada satu
persoalan yang harus mereka pertanggung jawabkan. “Kematian kumpeni
di halaman rumah ini akan mengundang kesulitan bagi kita” Pangeran
Sindurata itu mengeluh. Buntalpun kemudian memasuki ruangan itu. Ia
masih menggenggam tombak yang tegak di sisinya. Sejenak orang-orang
yang berada di ruangan itu terdiam. Mereka saling berpandangan.
Sebenarnyalah mereka akan menghadapi satu persoalan yang rumit.
“Tetapi mereka memang harus mati” tiba-tiba saja Arum memecahkan
ketegangan itu. “Kenapa?“ bertanya Pangeran Sindurata.“Ada beberapa
alasan Pangeran” jawab Arum “Yang terpenting, mereka sudah tahu,
bahwa Raden Ayu Galihwarit mempunyai hubungan dengan pasukan
Pangeran Mangkubumi. Hal itu akan dapat menyeret Raden Ayu ke dalam
keadaan yang paling parah. Bahkan mungkin hukuman mati” “Tetapi
membunuh kumpeni itupun akan mempunyai akibat yang sama. Hukuman
mati” jawab Pangeran Sindurata. “Tetapi ada bedanya” tiba-tiba saja
Raden Ayu Galihwarit menyahut “Aku akan dapat mencar i alasan yang
tepat untuk membela diri, kenapa kedua orang kumpeni itu terbunuh di
halaman ini” “Apa alasanmu, dan apakah kau dapat menjelaskan,
siapakah yang telah membunuhnya” bertanya Pangeran Sindurata. Raden
Ayu Galihwarit itu berpikir sejenak. Namun kemudian katanya “Aku
mempunyai alasan ayahanda. Kedua orang perwira itu akan ber laku
kasar terhadap Warih.’ “Apakah hal itu cukup alasan untuk membunuh?“
bertanya Pangeran Sindurata. “Tentu“ jawab Raden Ayu Galihwarit
“Mereka akan menghinakan anak gadisku, karena mereka menganggap
bahwa anakku pantas untuk ikut menanggung dosa-dosa yang selama ini
aku lakukan. Tetapi anakku itu menolak” “Tetapi apakah mereka akan
percaya bahwa yang telah membunuh kedua orang kumpeni itu adalah
Warih?“ bertanya Pangeran Sindurata “atau kau akan mengatakan bahwa
yang telah membunuh itu seperti apa yang memang terjadi?” “Tentu
tidak ayahanda. Buntal dan Arum harus segera meninggalkan tempat
ini. Mereka harus segera kembali ke pasukan Pangeran Mangkubumi
sekarang juga” jawab RadenAyu Galihwarit “Apapun yang terjadi di
sini, akulah yang akan mempertanggung jawabkan” “Lalu apa yang akan
kau katakan, jika mereka bertanya, siapakah yang telah membunuh
kedua orang perwira kumpeni itu dengan luka-luka yang akan dapat
mereka kenali, jenis senjata apakah yang telah melukai mereka” Raden
Ayu Galihwarit itu memandang ayahandanya sejenak. Namun kemudian
dengan ragu-ragu ia berkata “Yang melakukan adalah ayahanda” “Aku,
he? Bagaimana mungkin kau dapat manyebut aku?” Pangeran Sindurata
hampir berteriak. “Jangan terlalu keras ayahanda” desis Raden Ayu
Galihwarit “Kita harus berbicara sebaik-baiknya untuk memecahkan
persoalan ini” “Tetapi apakah akalmu sudah terbalik. Kau akan
mengorbankan aku dan melindungi anak padesan itu?“ bentak Pangeran
Sindurata. “Tidak ayahanda, sama sekali tidak” jawab Raden Ayu
Galihwar it “ada beberapa pertimbangan yang dapat dinalar” “Aku
tidak mengerti“ Pangeran Sindurata mulai meraba keningnya “Kau dapat
membuat aku menjadi gila” “Ayahanda” berkata Raden Ayu Galihwarit
“cobalah ayahanda mendengarkan pertimbanganku. Biarlah Buntal dan
Arum meninggalkan rumah ini. Jika kemudian kumpeni datang kemari,
maka ayahanda dapat mengatakan kepada mereka, bahwa ayahanda telah
berusaha melindungi cucu ayahanda yang akan mengalami perlakuan yang
tidak pantas dari kedua orang kumpeni itu” “Mereka tidak akan
mempedulikannya. Mereka akan tetap menangkap aku dan mereka akan
menggantung aku di alun- alun” bantah Pangeran Sindurata.“Aku yakin
hal itu tidak akan dapat dilakukan” jawab Raden Ayu Galihwarit
“sebelum segala sesuatunya terjadi di halaman rumah ini, aku akan
menghadap Pangeran Yudakusuma” “Kenapa dengan Pangeran Yudakusuma?“
bertanya Pangeran Sindurata. “Ia masih Panglima pasukan Surakarta
pada saat ini. Aku akan mengadukan persoalan ini. Aku akan
mengatakan kepada Pangeran Yudakusuma bahwa dua orang kumpeni telah
datang ke rumah ini. Bukan untuk menjemput aku, tetap mereka ingin
mendapatkan Warih. Ayahanda melihat bagaimana kedua orang kumpeni
itu memaksa Warih untuk menurut i kemauannya, sehingga ayah terpaksa
melakukan perlawanan untuk melindungi Warih. Nah, dengan tidak
terencana maka ayah telah membunuh kedua orang kumpeni itu” berkata
Raden Ayu Galihwar it. Tetapi Pangeran Sindurata menggelengkan
kepalanya. Katanya dengan nada tinggi “Aku tidak peduli. Aku tidak
mau menjadi korban dalam persoalan yang tidak aku mengerti ini.
Akupun tidak peduli bahwa kedua anak padepokan ini akan ditangkap,
dihukum mati atau apa saja yang akan terjadi atasnya” “Tetapi
ayahanda tahu, kumpeni itu mula-mula benar-benar akan mengambil
Warih. Buntal berusaha melindunginya, dan kemudian Arumpun terpaksa
terlibat karena keadaan berkembang semakin buruk” “Jika demikian,
kenapa harus aku? Katakan apa yang terjadi. Dan aku tidak ikut
campur” Pangeran Sindurata mulai membentak-bentak sambil memij
it-mij it kepalanya “Aku akan tidur” “Tunggu ayahanda“ panggil Raden
Ayu Galihwar it “Apalagi yang harus ditunggu. Aku tidak mempunyai
persoalan lagi” jawab Pangeran Sindurata.“Bukan masalah persoalan
lagi. Tetapi aku mohon waktu untuk minta dir i. Mungkin justru
karena sikap ayahanda itu, kita tidak akan bertemu lagi” suara Raden
Ayu merendah. “Apa maksudmu?“ bertanya Pangeran Sindurata. Raden Ayu
Galihwarit menundukkan kepalanya. Dengan suara rendah ia berkata
“Ayah. Yang terjadi ini sama sekali tidak kita maksudkan. Tetapi
kumpeni itu benar-benar ingin menghinakan keluarga kami. Aku sendir
i tidak berkeberatan mengalami perlakuan yang bagaimanapun juga,
karena aku memang sudah berkubang di dalam lumpur, apapun alasan dan
tujuannya. Tetapi aku tidak rela jika anakku ikut terpercik oleh
noda itu. Karena itu, maka aku t idak berkeberatan, Buntal dan Arum
melindungi anakku, sehingga akibatnya seperti yang terjadi” Raden
Ayu Galihwarit berhenti sejenak, sementara ayahandanya bertanya
“Tetapi kenapa kau akan minta dir i?“ “Jika ayahanda tidak mau aku
sebut namanya, maka akulah yang akan mempertanggung jawabkan. Warih
memang anakku. Biarlah ia pergi bersama Buntal dan Arum. Sementara
aku akan mengakui segalanya yang terjadi ini, meskipun aku kira
mereka tidak akan percaya bahwa akulah yang telah melakukannya. Jika
ayahanda tidak mau mengakui telah membunuh kumpeni itu, maka aku
harus mengatakan kepada mereka, ada orang lain yang melakukannya.
Karena aku tidak dapat menghadapkan orang lain itu, maka segalanya
akan dipikul oleh pundakku” Raden Ayu itu berhenti sejenak, lalu
“Tetapi aku t idak berkeberatan. Aku akan memikul segala tanggung
jawab” “Jika kau akan dapat membebaskan aku dari segala tuntutan
hukum kumpeni, kenapa kau tidak dapat melakukan atas dirimu sendiri”
bertanya Pangeran Sindurata “atau, kenapa kau tidak memberikan
keterangan apa adanya” “Berbeda ayahanda. Jika ayahanda mengaku
membunuh mereka, maka hal itu sangat mungkin. Sementara ayahanda,
mempertahankan kehormatan keluarga ayahanda. Tetapi jikaaku menyebut
nama lain, dan aku tidak dapat membuktikannya, maka persoalannya
akan berkembang, sehingga mungkin sekali akan sampai kepada
dugaan-dugaan yang berhubungan dengan pasukan Pangeran Mangkubumi,
seperti yang dengan tiba-tiba telah tercetus di benak kumpeni yang
terbunuh itu” “Gila, gila” geramPangeran Sindurata “Sudahlah
ayahanda. Aku hanya ingin mohon diri. Cucu ayahanda juga akan mohon
dir i, karena ia akan pergi ke tempat yang belum pasti dapat
memberikan perlindungan kepadanya. Aku akan menghadap Mayor Bilman.
Aku akan menyerahkan diri kepadanya. Apapun yang akan dilakukannya”
“Anak setan“ umpat Pangeran Sindurata “Kenapa kau t idak pergi ke
Pangeran Yudakusuma?“ “Jika ayahanda mau menyelamatkan kami.
Pangeran Yudakusuma harus mengambil keputusan lebih dahulu sebelum
kumpeni mengambil tindakan” jawab Raden Ayu Galihwar it. “O, anak
Setan“ Pangeran Sindurata itu telah memukul- mukul keningnya
“kepalaku pusing. Aku hampir menjadi gila” Pangeran itu berhenti
sejenak. Namun kemudian ia membentak “Apa kau akan membiarkan dir
imu digantung?“ “Aku tidak mempunyai pilihan lain” jawab Raden Ayu
itu “dan selesailah segala persoalan yang menyangkut diri Raden Ayu
Sontrang yang cantik dan membuat beberapa orang perwira kumpeni
menjadi gila. Rakyat Surakarta pada saatnya akan berbondong-bondong
pergi ke alun-alun. melihat tubuhku tergantung di tiang gantungan.
Satu-satu mereka akan lewat di bawah tubuhku sambil meludah ke
tanah” “Kau tidak mau diperlakukan demikian. Karena itu kau minta
akulah yang digantung itu“ geramPangeran Sindurata.“Tidak ayahanda.
Biar aku saja yang digantung. Aku lebih senang digantung. Aku lebih
senang digantung oleh Mayor Bilman daripada orang lain” jawab Raden
Ayu Galihwarit. Pangeran Sindurata menggeram. Namun kemudian ia
terduduk lesu sambil berkata “Pergilah ke Pangeran Yudakusuma.
Katakan, akulah yang telah membunuh kedua orang asing itu”
“Ayahanda” desis Raden Ayu Galihwarit. Pangeran Sindurata menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Ya. Aku akan mengatakan kepada siapapun
juga, bahwa akulah yang telah membunuh mereka” Raden Ayu
Galihwaritpun kemudian ber lari dan berlutut, di kaki ayahandanya.
Tiba-tiba saja ia menangis. Dengan suara terputus-putus ia berkata
“Tidak. Ayahanda sudah terlalu tua untuk melibatkan diri dalam
keadaan seperti ini. ” “Sudahlah” suara Pangeran Sindurata justru
menjadi sareh “pergilah ke Pangeran Yudakusuma. Katakan seperti yang
ingin kau katakan. Cepat, sebelum sais kereta itu mengerti, apa yang
terjadi” “Tetapi . . “ kata-kata Raden Ayu patah ketika ayahandanya
memotong “Sudahlah. Jangan berpikir lagi. Semakin banyak kita
pikirkan persoalannya akan menjadi semakin kalut” “Jadi?“ “Aku
mengerti. Biarlah Buntal dan Arum meninggalkan tempat ini. Dengan
demikian maka mereka tidak akan menjadi bersih dari segala macam
tuduhan dalam hubungan dengan pasukan Pangeran Mangkubumi” berkata
Pangeran Sindurata. “Terima kasih ayahanda” suara Raden Ayu menjadi
parau. “Aku akan memberitahukan kepada setiap orang di dalam rumah
ini. seperti yang kau maksudkan, agar setiappertanyaan dapat dijawab
dengan baik” berkata Pangeran Sindurata. Raden Ayu Galihwaritpun
kemudian mengatur segala- galanya. Ia akan pergi ke Pangeran
Yudakusuma. Sementara itu Buntal dan Arum harus meninggalkan istana
itu” Dalam pada itu. Warih tidak dapat berbuat lain kecuali
menangis. Tetapi ibundanya berkata kepadanya “Jangan menangis lagi
Warih. Kita sedang bekerja keras untuk kepentingan kita bersama”
Warih mengangguk. Diusapnya air matanya sampai kering. Tetapi di
luar kehendaknya matanya telah menjadi basah lagi. Buntal dan
Arumpun segera mempersiapkan diri. Mereka akan meninggalkan istana
itu setelah Raden Ayu Galihwar it pergi ke istana Pangeran
Yudakusuma. “Bukan maksud kami mengingkari tanggung jawab, puteri”
berkata Buntal kepada Rara Warih “Tetapi yang kami lakukan ini kami
dasarkan bagi kepentingan segala pihak” Warih mengangguk. Dengan
suara sendat ia menjawab “Aku mengerti. Aku berterima kasih kepada
kalian. Tanpa kalian, aku tidak tahu, apa yang terjadi atas diriku”
Demikianlah, setelah segala rencana dapat saling dimengerti, Raden
Ayu itupun telah membenahi pakaiannya. Kemudian iapun keluar lewat
pintu pringgitan, turun tangga pendapa mendapatkan sais yang
menunggu dengan tegang. Sais itu mendengar suara tembakan. Tetapi
perkelahian di longkangan belakang itu terlalu jauh untuk
didengarnya. Karena itulah maka ia tidak mengerti apa yang
sebenarnya telah terjadi. Meskipun ia merasa sesuatu yang
menggelisahkannya. Namun istana yang besar dan sepi itu merupakan
teka-teki baginya. Apalagi ketika Raden Ayu Galihwar it turun
seorang diri dari pendapa dan mendapatkannya.Tetapi Raden Ayu itu
tertawa. Kepada sais ia berkata “Tuanmu masih belum ingin pergi.
Mereka nampaknya sedang asyik berbincang dengan anak gadisku” Sais
itu mengerutkan keningnya. Namun di dalam hati ia berkata “O, puteri
ini sudah mengajari anaknya untuk dapat berbuat seperti dirinya
sendir i” Namun Raden Ayu itupun kemudian berkata “Sekarang antarkan
aku ke istana Pangeran Yudakusuma. Aku harus menyampaikan surat dari
tuanmu” Sais itu menjadi heran. Namun Raden Ayu itu berkata sambil
tersenyum “Tuanmu memang terlalu. Ia sedang sibuk bagi
kepentingannya sendir i. Akulah yang harus menyampaikan suratnya
kepada Pangeran Yudakusuma” Sais itu tidak membantah. Tetapi di
dalam hati ia berkata “Aku lebih baik kelaparan dari membiarkan anak
gadisku berbuat seperti itu. Anehnya, apakah Pangeran Sindurata sama
sekali tidak berkeberatan istananya menjadi ajang permainan gila
ini” Namun ketika Raden Ayu Galihwarit itu sudah berada dalam
kereta, maka kereta itupun berderap meninggalkan halaman istana itu.
Sementara itu, demikian kereta itu hilang di balik regol. Buntal dan
Arumpun segera minta dir i, “Hati-hatilah“ Pangeran Sindurata justru
berpesan kepada mereka sehingga kedua anak muda itu menjadi segan.
Namun Buntal telah menjawabnya “Hamba Pangeran. Hamba berdua akan
berhati-hati. Agaknya suasana akan segera menjadi panas” Sejenak
kemudian kedua anak muda itupun telah meninggalkan halaman istana
Pangeran Ranakusuma. Dengan cepat tetapi tidak segera menarik
perhatian orang lain,keduanya langsung menuju ke jalur jalan yang
seharusnya mereka lalui. “Kita harus segera meninggalkan kota”
berkata Buntal “dalam pengusutan yang kasar, mungkin satu dua orang
di istana itu akan mengaku dan mengatakan apa yang sebenarnya
terjadi. Jika hal itu benar-benar terjadi demikian, mungkin
sekelompok prajurit akan mengejar kita dengan marah” “Aku masih
membayangkan, apa yang terjadi di istana itu. Mungkin kumpeni
mengambil sikap kasar terhadap Raden Ayu Galihwar it dan Rara Warih”
jawab Arum “hampir saja aku mohon kepada Raden Ayu, agar Rara Warih
diperkenankan pergi keluar kota bersama kami. Namun kepergiannya
tentu akan menimbulkan kecurigaan pula kepada kumpeni” Buntal
mengangguk-angguk. Katanya “Yang terjadi dengan tiba-tiba itu memang
dapat menyulitkan Raden Ayu. Tetapi jika Raden Ayu berhasil dengan
rencananya, dan Pangeran Sindurata teguh dalam sikap, aku kira
memang akan dapat di atasinya” Arum mengangguk-angguk. Namun mereka
berdua itupun sadar, bahwa mereka harus memperhatikan diri mereka
pula. Karena itulah, maka keduanyapun berjalan semakin lama semakin
cepat. Semakin jauh dari kota, maka keduanyapun merasa, bahwa tidak
lagi banyak orang yang memperhatikannya. Namun dalam pada itu,
Buntaipun bertanya “He, kenapa kau dengan kain panjangmu?“ “Sobek
sampai sejengkal” desis Arum “untung hanya, selembar, sehingga
tertutup oleh lapisan di dalamnya” Buntal menar ik nafas
dalam-dalam. Yang terjadi di istana itu memang mendebarkan. Bahkan
penyelesaiannyapun tentu akan menegangkan pula.Dalam pada itu, Raden
Ayu Galihwarit yang mempergunakan kereta kumpeni yang terbunuh di
rumahnya, telah memasuki istana Pangeran Yudakusuma. Ternyata
kedatangannya telah mengejutkan Pangeran yang kebetulan ada di
istananya itu. “Kedatangan Raden Ayu sangat mengejutkan aku” berkata
Pangeran Yudakusuma. Raden Ayu Galihwarit menar ik nafas
dalam-dalam. ia sadar, bahwa Pangeran Yudakusuma adalah seorang
Pangeran yang berhati teguh. Raden Ayupun tahu, bahwa Pangeran
Yudakusuma adalah satu di antara dua orang yang bertempur melawan
Pangeran Ranakusuma di saat terakhir, dan bahkan Pangeran itu telah
dilukai pula oleh Pangeran Ranakusuma. “Aku mempunyai satu
kepentingan yang tidak dapat ditunda lagi Pangeran” desis Raden Ayu.
Pangeran Yudakusuma memandang Raden Ayu Galihwarit dengan pandangan
yang aneh. Sebenarnyalah Pangeran itu tidak senang terhadap sikap
Raden Ayu Galihwarit sebagai seorang perempuan yang berdarah luhur
di Surakarta. Hal itupun disadarinya pula oleh Raden Ayu Galihwarit.
Namun ia sudah mengatur diri di sepanjang perjalanan dari istana
Pangeran Sindurata sampai ke istana Pangeran Yudakusuma, Raden Ayu
Galihwarit sudah merancang, apa yang akan dikatakan. Ia akan
menjawab dengan pengertian yang sudah dianyamnya sebaik-baiknya.
Dalam pada itu, Pangeran Yudakusumapun bertanya pula “Apakah
keperluan Raden Ayu itu? Dan kenapa Raden Ayu harus menyampaikan
keperluan Raden Ayu itu kepadaku” “Pangeran” suara Raden Ayu menurun
“Aku mohon keadilan” “Keadilan? Kenapa kepadaku? Aku adalah seorang
Panglima perang. Bukan seorang yang harus menengahipersoalan dan
memutuskan perkara” berkata Pangeran Yudakusuma. “Justru karena
Pangeran adalah Panglima perang“ jawab Raden Ayu “karena
persoalannya menyangkut hubungan dengan kumpeni” Wajah Pangeran
Yudakusuma berkerut. Dengan nada datar ia berkata “Tidak semua
persoalan dengan kumpeni aku dapat ikut campur. Aku hanya dapat ikut
berbicara tentang, persoalan keprajuritan. Tidak tentang prajurit
kumpeni itu sendiri” Terasa betapa tajamnya kata-kata Pangeran
Yudakusuma itu di telinganya. Namun Raden Ayu sudah siap
menerimanya. Bahkan yang lebih tajam dari sindiriran itu sekalipun.
Dengan sareh Raden Ayu menjawab “Pangeran. Aku tidak tahu. apakah
persoalan yang aku hadapi ini persoalan keprajuritan atau persoalan
prajurit kumpeni itu sendiri. Tetapi masalahnya akan dapat
menyangkut hubungan antara kumpeni dan Surakarta” “Persoalan yang
menyangkut Raden Ayu?“ bertanya Pangeran Yudakusuma dengan wajah
berkerut. Raden Ayu Galihwarit menar ik nafas dalam-dalam. Ia memang
harus menahan hati. Jawabnya kemudian “Pangeran. Dengan tidak
direncanakan lebih dahulu, dua orang kumpeni terbunuh di rumahku”
“He“ Pangeran Yudakusuma terkejut sehingga ia bergeser maju “Apakah
aku tidak salah dengar? Dua orang kumpeni terbunuh di istana
Pangeran Sindurata?“ “Ya Pangeran” jawab Raden Ayu sambil
menundukkan kepalanya. “Siapakah yang telah membunuhnya? bertanya
Pangeran Yudakusuma.“Ayahanda, Pangeran Sindurata” jawab Raden Ayu
Galihwar it. “Pangeran Sindurata?“ Pangeran Yudakusuma menjadi
tegang. “Ya Pangeran?” jawab Raden Ayu Galihwarit pula. “Dalam
persoalan apa? Apakah Pangeran Sindurata marah melihat tingkah
mereka dalam hubungan mereka dengan Raden Ayu? Atau apa?“ desak
Pangeran Yudakusuma. Raden Ayu itu termangu-mangu sejenak. Namun
akhirnya iapun menceriterakan apa yang telah terjadi di istana
Pangeran Sindurata menurut rencananya. Raden Ayu dapat mengatakan
dengan jelas seakan-akan memang terjadi seperti yang dikatakannya
itu. Pangeran Yudakusuma mendengarkan pengaduan Raden Ayu Galihwarit
itu dengan sungguh-sungguh. Persoalan ternyata tidak seperti yang
diduganya. “Pangeran” berkata Raden Ayu Galihwarit “Aku menyadari,
bahwa aku sendiri sama sekali sudah tidak berharga. Demikian pula di
hadapan ayahanda Pangeran Sindurata. Ayahanda tidak peduli lagi
apapun yang terjadi atasku. Juga seandainya aku mati di pinggir
jalan, ayahanda tidak akan menyesalinya” Raden Ayu itu terdiam
sejenak, lalu “Tetapi yang terjadi itu adalah usaha pelanggaran
kehormatan seorang gadis, cucu ayahanda Pangeran Sindurata. Itulah
sebabnya, maka ayahanda menjadi marah. Dan tidak dengan per ingatan
apapun, ayahanda telah menyerang kedua orang kumpeni itu” Wajah
Pangeran Yudakusuma menjadi tegang. Namun hampir di luar sadarnya ia
berkata “Persoalannya memang akan dapat menyangkut banyak pihak.
Tetapi Raden Ayupun tidak akan dapat menyangkut banyak pihak. Tetapi
Raden Ayupun tidak akan dapat melemparkan tanggung jawab atas
peristiwa ini, meskipun dari sudut yang berbeda. Jika gadis itu
bukan anak perempuan Raden Ayu, aku kira kumpeni itupunakan bersikap
lain, karena kumpeni itu sudah terbiasa bergaul dengan Raden Ayu”
Jantung Raden Ayu Galihwarit bagai ditusuk dengan sembilu. Betapa
pedihnya. Tetapi dengan tabah ia menjawab “Aku mengerti Pangeran.
Salah satu sebab tentu karena kelakuanku sendir i. Tetapi ternyata
bahwa anak perempuanku mempunyai pendirian yang lain. Ia membenci
aku karena cara hidup yang aku tempuh selama ini. Dan kumpeni itu
tidak mau tahu” “Apa yang dilakukan?“ bertanya Pangeran Yudakusuma,
“Seorang di antara kedua orang kumpeni yang datang ke rumah itu.
telah berusaha melanggar kehormatan anak gadisku. Ketika anak
gadisku berteriak, maka ayahanda Sindurata mendengarnya” jawab Raden
Ayu Galihwar it. “Apa yang Raden Ayu lakukan?“ bertanya Pangeran
Yudakusuma. “Aku mencoba melindungi anak perempuanku. Tetapi kumpeni
yang seorang telah memegangi aku. Dan aku tidak berdaya untuk
melepaskan diri” jawab Raden Ayu “semula akupun mencoba membatasi
persoalan itu. Tetapi kumpeni yang seorang bagaikan menjadi gila.
Dan terjadilah pembunuhan itu” Pangeran Yudakusuma termangu-mangu
sejenak. Sementara itu Raden Ayu Galihwarit mulai menangis “Kami
mohon perlindungan Pangeran. Aku menyadari keadaan diriku, tetapi
bukan seharusnya kumpeni menghinakan setiap orang perempuan di
Surakarta” “Ya“ terdengar Pangeran Yudakusuma menggeram “Tidak
seharusnya kumpeni menganggap setiap perempuan di Surakarta ini
seperti Raden Ayu” Raden Ayu Galihwarit mengangkat wajahnya. Namun
wajah itupun telah menunduk lagi. Setitik air matanya meleleh
dipipinya. Ia benar-benar menangis meskipun semula Raden Ayu itu
hanya berpura-pura. Pangeran Yudakusuma yang melihat Raden Ayu
menangis itupun kemudian bertanya “Kereta siapa yang Raden Ayu pakai
itu? Kereta Pangeran Sindurata?“ “Tidak Pangeran” jawab Raden Ayu
“Aku mempergunakan kereta kedua orang kumpeni yang terbunuh itu.
Sais kereta itu belum mengetahui persoalannya, karena peristiwa itu
terjadi di longkangan belakang. Sebenarnyalah kumpeni itu telah
memburu anak gadisku sampai ke ruang belakang, karena anak gadisku
berusaha untuk melarikan dir i” Pangeran Yudakusuma berpikir
sejenak. Bagaimanapun juga ia juga merasa tersinggung atas sikap
kumpeni itu. Karena itu, maka Pangeran Yudakusuma berniat untuk
bertemu dengan Pangeran Sindurata. Pangeran tua itu adalah seorang
Pangeran yang mempunyai Hubungan yang dekat pula dengan kumpeni.
Jika ia membunuh kumpeni. maka tentu ada alasan yang khusus, yang
mungkin benar seperti apa yang dikatakan oleh Raden Ayu Galihwarit.
Karena itu, maka Pangeran Yudakusunia itupun menganggap persoalan
itu bukan persoalan yan dapat dengan mudah diputuskan, bahwa karena
seseorang telah membunuh kumpeni, maka ia akan dihukum gantung.
Apalagi persoalannya menyangkut seorang Pangeran di Surakarta.
“Baiklah Raden Ayu” berkata Pangeran Yudakusuma “Aku akan melihat
keadaan di istana Pangeran Sindurata” “Silahkan Pangeran, aku hanya
dapat mengucapkan terima kasih” desis Raden Ayu Galihwarit “mungkin
Pangeran sudah mengetahui sifat-sifat ayahanda. Ia cepat menjadi
marah. Demikian pula menghadapi kedua orang kumpeni itu” Pangeran
Yudakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ia memang mengenal sifat-sifat
Pangeran Sindurata. Justru karena sifat-sifatnya itu ia seolah-olah
tidak pernah mendapattugas-tugas penting meskipun ia di masa mudanya
adalah seorang prajurit yang mumpuni. Namun pada usianya yang
semakin tua, ia tidak dapat menjadi Senapati yang baik, karena ia
terlalu cepat dipengaruhi oleh luapan kemarahannya, sehingga ia
bukannya seorang yang dapat menguasai dir i. “Silahkan Raden Ayu
mendahului” berkata Pangeran Yudakusuma “Aku akan segera datang”
“Tetapi aku takut Pangeran” jawab Raden Ayu itu. “Apa yang Raden Ayu
takutkan?“ bertanya Pangeran Yudakusuma. “Kumpeni. Mereka akan
mempergunakan wewenang mereka. Bukan lagi ber landaskan pada
keadilan” jawab Raden Ayu. “Aku akan datang“ Pangeran Yudakusuma
menegaskan. Raden Ayu Galihwarit termangu-mangu sejenak. Namun iapun
kemudian berkata “Baiklah Pangeran. Jika Pangeran menghendaki aku
mendahului aku akan mendahului” “Silahkan” jawab Pangeran
Yudakusuma. Raden Ayu itupun kemudian mohon dir i. Dengan kereta
yang dipergunakannya di saat ia pergi ke istana itu. iapun kemudian
kembali ke istana ayahandanya. Ternyata Pangeran Yudakusuma pun
bertindak cepat, la tahu. bahwa kumpeni yang datang ke istana
Pangeran Sindurata untuk menemui Raden Ayu Galihwar it itu tentu
para perwira. Dan kematian dua orang perwira kumpeni di Surakarta
tentu akan dapat menimbulkan persoalan yang perlu di tanggapi dengan
sungguh-sungguh. Karena itu, demikian Raden Ayu itu sampai di
rumahnya dan member itahukan segala sesuatunya yang
dibicarakannyadengan Pangeran Yudakusuma kepada ayahandanya, maka
terdengar derap beberapa ekor kuda memasuki halaman. “Ayahanda”
berkata Raden Ayu Galihwarit “agaknya Pangeran Yudakusuma sudah
datang, apakah aku dapat mempersilahkannya” “Persilahkan mereka
masuk ke ruang belakang” Lalu katanya kepada Rara Warih “Warih, kau
di sini. Duduk di sampingku“ Rara Warihpun kemudian duduk di samping
Pangeran Sindurata. Wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar, la memang
benar-benar menjadi ketakutan. “Warih” desis ibunya “Kau harus
berbuat sebaik-baiknya. Sebagaimana para pelayan di istana inipun
harus berbuat demikian untuk keselamatan kita semuanya” Warih
mengangguk kecil. Namun jantungnya terasa berdegup semakin keras
oleh kecemasan, ketakutan dan berbagai perasaan yang bercampur baur.
Dalam pada itu, seorang pelayan telah member itahukan, bahwa ada
beberapa orang prajurit di halaman depan. Karena itulah, maka Raden
Ayu Galihwaritpun segera berlari-lari ke halaman depan lewat
longkangan samping. Demikian Raden Ayu itu muncul dari seketheng,
maka dilihatnya Pangeran Yudakusuma, diir ingi oleh beberapa orang
perwira dan prajur it pengawal dari pasukan berkuda. “Silahkan
Pangeran“ Raden Ayu itu mempersilahkan. “Aku sendiri telah
memerlukan datang untuk melihat keadaan” sahut Pangeran Yudakusuma.
Lalu “Semula aku ingin memer intahkan beberapa orang Senapati untuk
melihat apa yang terjadi. Tetapi ternyata aku menganggap kemudian
bahwa persoalannya benar-benar gawat. Pangeran Yudakusuma berhenti
sejenak, lalu “Dimana Pangeran Sindurata”“Ayahanda berada di
belakang. Ayahanda masih menggenggam tombaknya yang masih berbau
darah. Aku agak takut mendekatinya, karena kemarahan ayah sebagian
juga tertuju kepadaku” jawab Raden Ayu. “Aku dapat mengerti, kenapa
kemarahan Pangeran Sindurata sebagian juga tertuju kepadamu” sahut
Pangeran Yudakusuma “antarkan aku kepada Pangeran Sindurata” Raden
Ayu Galihwar itpun kemudian mempersilahkan Pangeran Yudakusuma dan
beberapa orang Senapati dan pengawalnya untuk pergi ke ruang
belakang, sementara dua orang masih tetap berada di halaman depan.
Demikian mereka berdir i di depan pintu ruang belakang, mereka
melihat Pangeran Sindurata yang duduk di sebelah Rara Warih.
Ditangan Pangeran tua itu masih tergenggam sebatang tombak
pusakanya. “Pamanda Pangeran Sindurata” desis Pangeran Yudakusuma.
Pangeran Sindurata bangkit dar i duduknya. Diamatinya Pangeran
Yudakusuma sejenak. Kemudian katanya “Marilah anakmas Yudakusuma.
Apakah anakmas datang bersama kumpeni?“ “Tidak pamanda” jawab
Pangeran Yudakusuma yang melihat ketegangan di wajah Pangeran
Sindurata. Apalagi ketika ia melihat tombak Pangeran tua itu menjadi
condong “Kami datang tanpa seorang kumpenipun” berkata Pangeran
Yudakusuma “Raden Ayu Galihwarit telah melaporkan kepadaku, apa yang
telah terjadi di istana ini. Karena itu, aku datang untuk melihat
sendiri” “Aku membunuh dua orang kumpeni” jawab Pangeran Sindurata
“Mereka menjadi gila melihat cucuku. Aku tidak peduli. Aku harus
melindunginya. Aku tidak pernah mencampur i urusan kumpeni jika ia
berhubungan denganGalihwar it. Biarlah yang sudah lepas dari tangan
tidak akan kembali dalam pegangan. Tetapi t idak dengan cucuku. Ia
seorang gadis yang baik. Ia bukan seperti ibunya. Aku sudah
kehilangan anak perempuanku tenggelam dalam kebinalannya. kehilangan
cucu laki- lakiku yang mati, dan sekarang aku tidak mau kehilangan
cucu perempuanku yang tinggal satu-satunya harapan dari keturunan
keluarga yang rusak, Ranakusuma” Pangeran Yudakusuma
mengangguk-angguk. Meskipun Pangeran Sindurata sudah tua. tetapi
matanya masih tetap memancarkan darah kejantanannya. Apalagi
Pangeran Yudakusuma tahu benar, bahwa Pangeran Sindurata mempunyai
semacam penyakit yang sudah lama diderita. Cepat marah dan kurang
menguasai dir i. “Pamanda” berkata Pangeran Yudakusuma kemudian
“Apakah aku diperkenankan melihat, dimana kedua orang kumpeni yang
terbunuh itu?“ “Mereka ada di longkangan belakang” jawab Pangeran
Sindurata. Pangeran Yudakusumapun kemudian melangkah diikuti oleh
pengawal-pengawalnya menuju ke pintu yang menghadap ke longkangan
belakang. Demikian mereka sampai ke pintu, maka mereka sudah melihat
dua orang perwira kumpeni terkapar di tanah. Yang seorang bersenjata
pedang yang lain bersenjata api berlaras pendek. Pangeran
Yudakusumapun kemudian mendekati kedua sosok mayat itu. Yang seorang
perutnya koyak oleh ujung tombak, sedangkan yang lain terbunuh oleh
pisau-pisau kecil yang tertancap di tubuhnya. Tanpa bertanya,
Pangeran Yudakusuma telah membuat uraian sendiri terhadap peristiwa
itu. Pangeran Sindurata telah bertempur dengan kumpeni yang
bersenjata pedang itu dan membunuhnya. Sementara kumpeni yang lain,
demikiankeluar dari pintu dengan senjata api di tangan, beberapa
pisau kecil telah menyambarnya. “Senjata api ini sudah meledak”
berkata seorang Senapati yang melihat senjata api itu. “Tetapi tidak
mengenai sasaran” sahut Pangeran Yudakusuma. Dalam pada itu,
Pangeran Sindurakapun turun pula kelengkungan itu. Tombaknya masih
selalu dibawanya. Dengan nada datar ia berkata “Aku merobek perutnya
dengan tombakku ini“ Pangeran Yudakusuma mengangguk. Jawabnya “Aku
mengenalinya dari lukanya” “Ya. Dan sekarang, apakah yang akan
anakmas Pangeran lakukan?“ bertanya Pangeran Sindurata. Pangeran
Yudakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Dengan kerut di keningnya ia
bertanya “Jadi yang terjadi seperti apa yang sudah pamanda
ceriterakan?“ “Apakah kau tidak percaya?“ justru Pangeran Sindurata
itupun bertanya pula. “Bukan maksudku tidak percaya. Aku hanya ingin
menegaskan” sahut Pangeran Yudakusuma. “Ya. Demikianlah yang
terjadi. Aku tidak rela cucuku dinodai. Orang asing itu akan
menghinakan setiap perempuan di Surakarta” geram Pangeran Sindurata
“dan aku akan mempertanggung-jawabkan apa yang terjadi kepada
siapapun. Aku sudah tua. Jika aku harus digantung di alun- alun,
maka aku akan menjadi lambang kekerdilan sikap Surakarta, yang
membiarkan dirinya sendiri di nodai oleh orang asing. Meskipun
sebelumnya aku berhubungan baik dengan kumpeni, dan yang karena itu
pula aku tidak mengambil sikap tegas terhadap anak perempuanku,
namunaku masih tetap mempunyai harga diri sebagai seorang bangsawan
di Surakarta” Pangeran Yudakusuma mengangguk-angguk. Sementara itu,
beberapa orang Senapati menjadi kagum melihat bekas tangan Pangeran
Sindurata. Meskipun Pangeran itu sudah tua, tetapi bekas arena
pertempuran, tubuh kumpeni yang terkoyak oleh ujung tombak maupun
pisau-pisau yang membunuh kumpeni yang lain, menunjukkan betapa
tinggi ilmu Pangeran itu. Apalagi di masa mudanya. Tetapi setiap
orangpun tahu, bahwa Pangeran Sindurata memang bekas seorang prajur
it. Dalam pada itu, maka Pangeran Yudakusumapun kemudian berkata
kepada seorang Senapatinya “Beritahukan kematian kedua orang kumpeni
ini kepada atasannya di Loji. Berikan alasannya kenapa hal ini
terjadi. Dan katakan bahwa aku sudah berada di sini” Senapati yang
mendapat tugas itupun segera meninggalkan halaman istana Pangeran
Sindurata bersama seorang pengawalnya. Ketika ia sampai di loj i, ia
diterima oleh seorang perwira kumpeni yang sudah mulai ditumbuhi
uban di kepalanya. Tetapi perwira itu masih nampak kokoh dan kuat.
“Mayor Bilman” berkata Senapati itu “aku ditugaskan oleh Pangeran
Yudakusuma untuk menyampaikan satu berita yang penting bagi Mayor”
Mayor Bilman mengerutkan keningnya. Kemudian iapun bertanya “Berita
apa?“ Senapati itupun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi
di halaman rumah Pangeran Sindurata. Mayor itu terkejut. Wajahnya
menjadi merah. Dengan suara gagap ia bertanya “Jadi kedua orang
perwiraku itu terbunuh?““Ya Mayor. Tetapi sebagaimana aku katakan,
ada alasan yang kuat kenapa Pangeran tua yang pemarah itu membunuh
kedua perwira kumpeni itu” jawab Senapati itu. Bilman
mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “Coba ulangi, yang kau
maksud dengan perempuan itu, Raden Galihwar it atau anak gadisnya?“
“Anak gadisnya, Mayor. Pangeran Sindurata tidak akan mempedulikan
seandainya kumpeni itu akan berbuat apa saja terhadap Raden Ayu
Galihwarit. Raden Ayu itu sudah dianggap hilang oleh ayahandanya.
Tetapi kumpeni itu akan menodai anak gadis Raden Ayu itu. Cucu
Pangeran Sindurata yang sangat dicintainya, yang bagi Pangeran itu
merupakan ganti dari anak perempuannya yang sudah dianggapnya hilang
itu” Mayor Bilman menggeram. Kemudian dipanggilnya dua orang perwira
bawahannya dan diberitahu apa yang telan terjadi. “Gila“ salah
seorang perwira itu mengumpat “orang itu harus dihukum” “Tunggu”
potong Mayor Bilman “Kita harus melihat perkaranya. Aku juga tidak
senang melihat pembunuhan itu, tetapi aku juga tidak senang melihat
watak prajurit kumpeni yang buas dan liar seperti itu. Aku tidak
pernah berkeberatan, dan bahkan aku sendir i melakukan hubungan
dengan perempuan pribumi, tetapi pada batas-batas tertentu. Sikap
yang liar dan buas, akan dapat merusak hubungan kita dengan para
Senapati di Surakarta” “Tetapi apakah Mayor percaya begitu saja
terhadap laporan ini?“ bertanya salah seorang dari kedua perwira
bawahannya itu. “Aku akan melihat apa yang terjadi. Pangeran
Yudakusuma juga sudah berada di sana” berkata Bilman.Kedua perwira
itupun telah diperintahkan menyiapkan sekelompok kumpeni untuk
mengikutinya ke istana Pangeran Sindurata untuk melihat apa yang
terjadi. Dengan melihat sendiri peristiwa itu, maka kumpeni akan
mendapat gambaran yang jelas, apakah yang sebenarnya sudah terjadi.
Demikianlah, maka sejenak kemudian Mayor Bilman bersama Senapati
utusan Pangeran Yudakusuma itupun segera berangkat menuju istana
Pangeran Sindurata bersama beberapa orang yang lain. Para perwira
kumpeni itu ternyata. mempunyai tanggapan yang berbeda atas laporan
Senapati Surakarta itu. Ada di antara mereka yang percaya. Ada yang
tidak percaya. Ada yang dengan serta merta mendendam kepada Pangeran
Sindurata karena Pangeran itu telah membunuh kawannya. Tetapi ada
juga yang menyesal, bahwa orang kulit putih yang menganggap dir inya
mempunyai tataran peradaban yang lebih tinggi itu telah menodai
namanya sendir i. Ketika mereka sampai di istana Pangeran Sindurata,
maka merekapun segera dibawa ke longkangan belakang. Di longkangan
belakang mereka bertemu dengan Pangeran Yudakusuma dan beberapa
orang Senapati. Sementara itu Pangeran Sindurata masih menggenggam
tombak di tangannya. “Selamat bertemu Pangeran“ Mayor Bilman
mengangguk hormat. Pangeran Sindurata juga mengangguk Tetapi ia
tidak menjawab. Namun dalam pada itu, Mayor Bilman itu berkata
“Tetapi sebaiknya Pangeran meletakkan tombak itu. Kita akan
berbicara dengan baik. Aku kira setiap persoalan akan dapat
dipecahkan” “Aku menggenggam tombakku sendir i” jawab Pangeran
Sindurata.Mayor Bilman menarik mafas dalam-dalam. Ketika seorang
kumpeni berbisik di telinganya Mayor Bilman menggeleng. Bahkan Mayor
Bilman itu berkata “Aku ingin mendengar pendapat Pangeran
Yudakusuma” Pangeran Yudakusumapun kemudian mengatakan apa yang
didengarnya tentang peristiwa itu dan bahkan ia sudah mengatakan,
kemungkinan yang terjadi sehingga kedua orang kumpeni itu terbunuh”
“Aku tidak percaya” potong seorang perwira kumpeni “Pangeran itu
terlalu tua untuk membunuhnya. Ia adalah orang yang baru di
Surakarta. Menurut pendengaran kami, perwira itu memiliki ilmu
pedang yang sulit dicari bandingnya” Belum lagi Pangeran Yudakusuma
menyahut. Pangeran Sindurata bergeser maju sambil membentak “Siapa
yang tidak percaya. Aku masih sanggup merobek perutnya jika ia
berbuat seperti kumpeni itu” “Sudahlah” potong Mayor Bilman. Ia
ternyata cukup bijaksana. Dari mata para Senapati prajurit
Surakarta, ia dapat membaca, bahwa sikap kumpeni yang terbunuh itu
memang sangat mereka sesalkan. Bahkan nampak kemarahan yang
membayang di wajah para Senapati itu. Dalam pada itu keteganganpun
telah mencengkam longkangan belakang istana Pangeran Sindurata itu.
Beberapa orang perwira kumpeni merasa tersinggung karena dua orang
kawannya telah terbunuh. Sementara beberapa orang Senapati di
Surakartapun merasa tersinggung, bahwa kumpeni itu ingin mencemarkan
kehormatan seorang gadis bangsawan Surakarta. Namun dalam pada itu,
hampir setiap orang menganggap bahwa kesalahan yang paling mendasar
adalah kesalahan Raden Ayu Galihwarit sendiri. Meskipun demikian
para Senapati di Surakarta menganggap bahwa yang dilakukan oleh
Pangeran Sindurata itu dapat dimengerti. Apalagi mereka mengenal
sifat Pangeran Sindurata yang garang, cepat marah dan kurang
pertimbangan. Dalam pada itu. Mayor Bilmanpun kemudian berkata
kepada Pangeran Sindurata “Pangeran, apakah aku diperkenankan
bertemu dengan Raden Ayu Galihwarit. Bukankah Raden Ayu itu yang
melaporkannya kepada Pangeran Yudakusuma?“ Pangeran Sindurata
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya ”Bertanyalah
kepadanya. Ia menunggui anak gadisnya atau barangkali membawa anak
gadisnya ke dalam biliknya” “Biar lah aku menemuinya di ruang
belakang. Tidak di sini” berkata Mayor Bilman. Mayor Bilmanpun
kemudian masuk ke ruang belakang. Sejenak ia termangu-mangu. Tidak
seorangpun yang nampak berada di ruang belakang. Agaknya Raden Ayu
Galihwar it telah masuk ke ruang dalam. Namun dalam pada itu,
ternyata Mayor Bilman melihat seorang pelayan istana itu yang
termangu-mangu. Karena itu, maka iapun mendekatinya dan minta agar
disampaikan kepada Raden Ayu Galihwarit, bahwa ia ingin bertemu.
Ketika Raden Ayu keluar ke ruang belakang, dan dilihatnya Mayor
Bilman berdir i di pintu menunggunya, maka iapun berdesis “Mayor?“
“O” desis Mayor Bilman “Aku ingin bertemu dengan Raden Ayu” “Untuk
apa?“ bertanya Raden Ayu. “Bukankah Raden Ayu melihat per istiwa ini
sejak awal. Maksudku sejak kedua orang perwiraku itu datang, Raden
Ayulah yang menerimanya?““Ya Mayor. Akulah yang menerima mereka”
Raden Ayu itu berhenti sejenak. Dari pintu belakang ia melihat
beberapa orang Senapati dan perwira kumpeni yang termangu mangu.
“Bawa Raden Ayu Itu kemar i” berkata seorang perwira kumpeni “Kita
dapat mendengar keterangannya dengan jelas” “Aku takut melihat sosok
mayat di longkangan itu” jawab Raden Ayu lantang “Baiklah” berkata
Mayor Bilman “Aku mendengar dari Pangeran Yudakusuma dan Pangeran
Sindurata apa yang terjadi. Kedua orang kumpeni itu ingin merusak
kehormatan anak gadis Raden Ayu” Raden Ayu itu bergeser sedikit
Namun tiba-tiba ia menjawab perlahan “Benar Mayor. Perwiramu, orang
baru itu, menjadi gila ketika ia melihat anak gadisku. Kawannya
telah membantunya sehingga anak gadisku menjer it-jerit. Suaranya
telah memanggil ayahanda Pangeran Sindurata” “Hanya itu?“ bertanya
Mayor Bilman. Raden Ayu itu telah bergeser semakin dekat. Tiba-tiba
saja ia tersenyum. Katanya “Mayor tahu. Perwiramu yang seorang,
bukan yang baru itu. telah gila terhadapku. Ia selalu mengancam j
ika aku berhubungan dengan Mayor. Bahkan ia pernah mengatakan
kepadaku, bahwa Mayor Bilman akan dipindah dari Surakarta. Apa benar
begitu?“ “Tidak. Itu bohong” Jawab Mayor Bilman. “Nah, agaknya iri
hatinya itulah yang telah mendorongnya membantu kawannya melakukan
pelanggaran kehormatan terhadap anakku. Untunglah bahwa Hal itu
tidak pernah dapat dilakukan” Raden Ayu itu berhenti sebentar, lalu
“tetapi sebenarnyalah aku takut kepada perwiramu itu. Ia pernah
mengancam, jika aku masih tetap berhubungan dengan Mayor, ia akan
membunuhku atau membunuh Mayor jika Mayor tidak jadi dipindah”“Gila.
Aku memang sudah tahu, bahwa ia berusaha berhubungan rapat dengan
Raden Ayu dan berusaha menggeser aku dari sisi Raden Ayu. Tetapi aku
tidak menyangka bahwa ia teramat licik seperti itu” geram Mayor
Bilman. Lalu “Jika demikian, maka biarlah ia mati” “Terserah kepada
sikap Mayor” berkata Raden Ayu “Tetapi jika Mayor bertanya kepadaku,
kecuali karena sikap keduanya yang telah berusaha menodai anak
gadisku yang berarti menyakit i hati setiap perempuan di Surakarta,
sebenarnyalah aku takut kepadanya” Mayor itu mengangguk-angguk.
Kemudian iapun berkata “Cukup Raden Ayu. Aku harus segera mengambil
keputusan yang paling baik bagi Surakarta” Mayor itupun kemudian
meninggalkan Raden Ayu di ruang belakang. Dengan wajah yang berkerut
ia turun ke longkangan belakang. Pangeran Yudakusuma menunggunya
dengan tegang, sementara orang-orang lainpun masih berdiri di
tempatnya masing-masing. “Tidak ada selisih serambutpun dengan apa
yang dikatakan oleh Pangeran Yudakusuma. Aku sudah mendengar dari
Raden Ayu itu sendiri, yang menceriterakan peristiwa itu sejak awal”
berkata Mayor Bilman. “Apa kesimpulanmu?” desis Pangeran Yudakusuma.
“Aku tidak dapat menyalahkan Pangeran Sindurata“ jawab Mayor itu
“peristiwa yang terjadi memang sangat menyinggung perasaan seisi
istana ini” “Dan Mayor percaya begitu saja?“ bertanya seorang
perwira. “Aku sudah menjajagi dari segala sudut” jawab Mayor Bilman
“dan seharusnya kalian tahu sifat kawanmu yang terbunuh itu. Baru
beberapa waktu ia berada di Surakarta, Dan apakah yang sudah
dilakukan di sini? Ia sudah pernahmendapat peringatan dalam
persoalan yang hampir serupa” Mayor Bilman itu berhenti sejenak,
lalu “Tetap ada persoalan yang lebih penting yang harus kita sadari.
Aku akan berbicara setelah kita kembali” Para perwira kumpeni itu
sebagian masih saja tidak puas. Tetapi sebagian yang lain sependapat
dengan Mayor Bilman. Perbuatan itu akan dapat merusak nama baik
seluruh prajur it yang berada di dalam lingkungan kumpeni di
Surakarta. Dalam pada itu, ketika mereka telah memperhatikan letak
dan keadaan kedua sosok mayat itu, maka Mayor, Bilmanpun kemudian
memerintahkan para pengawalnya untuk membawanya ke loji untuk
diselenggarakan sebagaimana seharusnya. Di loj i, Mayor Bilman telah
mengumpulkan orang-orangnya, para perwira, terutama mereka yang
langsung memimpin pasukan. Mayor itu memberikan penjelasan
seperlunya. Persoalan yang menyangkut lugas mereka yang lebih besar.
Bukan sekedar persoalan pr ibadi. “Tetapi kita juga mempunyai harga
dir i” desis seorang perwira kumpeni. “Jadi apa yang harus kita
lakukan?“ Mayor. Bilman ganti bertanya “menangkap Pangeran Sindurata
dan mengadilinya? Tetapi dengan demikian kita akan berhadapan dengan
sikap para Senapati di Surakarta termasuk Pangeran Yudakusuma.
Panglima pasukan yang sudah ditunjuk oleh Kangjeng Susuhunan untuk
menghadapi Pangeran Mangkubumi?” “Tetapi apakah itu berarti bahwa
kita akan membiarkan diri kita dihinakan di sini?“ bertanya perwira
yang
lain.
Jilid 27 "SIAPAKAH sebenarnya yang
telah bersalah dalam hal ini ? Siapa yang telah memancing persoalan
?" bertanya Mayor Bilman kemudian "aku akan mengambil tindakan yang
pantas terhadap siapa saja yang menghinakan kita. Tetapi aku tidak
dapat berbuat apa-apa untuk membela orang yang justru mencemarkan
nama kita di kalangan para bangsawan di Surakarta." Mayor Bilman
berhenti sejenak, lalu "Aku adalah komandan pasukan khusus yang
ditempatkan dii Surakarta. Tetapi akupun akan berbicara dengan
perwira-perwira yang lain yang menangani masalah yang berhubungan
dengan pemerintahan. Bagaimana pendapat mereka. Apakah sebaiknya
yang aku lakukan," Dalam pada itu, ketika Mayor Bilman bersiap untuk
menemui perwira-perwira yang lain, maka Pangeran Yudakusuma pun
telah siap meninggalkan istana Pangeran Sindurata. Ketika Pangeran
itu akan meloncat kepunggung kudanya, ia masih sempat berpesan
kepada Pangeran Sindurata "Paman, persoalan ini untuk sementara
dapat kita anggap selesai. Tetapi aku mohon pamanda juga menjaga
diri." "Aku bersiap menghadapi apapun juga" jawab Pangeran Sindurata
"aku tidak mau noda yang sudah melekat di rumah ini akan
bertambah-tambah parah. Aku tidak mau kehilangan Rara Warih." "Aku
mengerti pamanda" jawab Pangeran Yudakusuma "mudah-mudahan persoalan
ini tidak akan berkembang. Atau terjadi bahwa satu dua orang kawan
kumpeni yang mati itu akan mengambil sikap sendiri-sendiri." "Aku
akan melayani, apa saja yang akan mereka lakukan," jawab Pangeran
Sindurata, Pangeran Yudakusumapun mengangguk-angguk. Kemudian iapun
minta dir i bersama para Senapati dan pengawalnya.Namun
sebenarnyalah Pangeran Yudakusuma masih dipengaruhi oleh peristiwa
yang baru saja terjadi itu. Bahkan Pangeran Yudakusuma masih
bimbang, apakah benar kumpeni menganggap bahwa persoalannya memang
sudah selesai. Namun demikian ia berkata didalam hatinya "Betapapun
juga besar jasa orang-orang asing itu, tetapi sudah tentu kami,
orang-orang Surakarta tidak akan dapat membiarkan mereka menodai
gadis-gadis kami." Karena itulah, maka Pangeran Yudakusumapun telah
mengambil satu sikap yang pasti menghadapi masalah yang mungkin
masih akan berkembang itu. Dalam pada itu, sepeninggal Pangeran
Yudakusuma, maka Pangeran Sindurata itupun menyandarkan tombaknya
pada dinding serambi. Dengan lemahnya 'ia terduduk disebuah amben
bambu. Ketegangan yang memuncak telah membuat kepalanya bagaikan
dihimpit oleh Gunung Lawu. Dalam pada itu, Raden Ayu Galihwaritpun
bergegas mendapatkannya. Sambil berjongkok dihadapannya Raden Ayu
itu berkata tersendat-sendat "Aku mengucapkan terima kasih ayahanda.
Semuanya berlangsung sebagaimana kita harapkan. Mudah-mudahan Mayor
itu menganggap bahwa persoalan ini sebanannyalah telah selesai."
"Pakaianku telah basah Galihwar it. Karena itu, aku akan menyeberang
terus apapun yang akan terjadi. Tenangkan hati anakmu. Ia tentu
mengalami ketegangan yang sangat oleh peristiwa ini." sahut Pangeran
Sindurata. Raden Ayu Galihwarit mencium tangan ayahandanya. Kemudian
iapun bangkit masuk kedalam untuk menjumpai anak gadisnya yang
kemudian berada didalam biliknya. Seperti yang dikatakan oleh
Pangeran Sindurata, maka Rara Warih benar-benar dicengkam oleh
ketegangan yang sangat. Bahkan kemudiam ternyata pada hari itu, Rara
Warih sama sekali tidak mau makan. Kecuali ia sama sekali tidak
menjadi lapar, namunkematian yang terjadi di longkangan belakang
istananya itu membuatnya serasa sangat mual. "Sudahlah" berkata
Raden Ayu Galihwarit "beristirahatlah. Aku yakin bahwa Mayor itu
tidak akan berbuat apa-apa untuk selanjutnya. Bahkan ia tentu akan
membuat peraturan yang lebih ketat bagi anak buahnya sehingga dengan
demikian, maka gadis-gadis Surakarta akan menjadi lebih aman." Warih
memandang ibundanya sejenak. Terkilas didalam angan-angannya, bahwa
jika gadis-gadis Surakarta menjadi semakin aman, bagaimana dengan
mereka yang dengan sengaja membiarkan diri mereka sendir i dihinakan
kehormatannya. Diluar sadarnya, terasa titik-titik air dipelupuk
mata gadis itupun meleleh kepipinya. "Sudahlah" desis Raden Ayu
Galihwarit "jangan memikirkan .peristiwa itu lagi. Jika kau dapat
tidur, tidur lah. Kau akan mendapatkan ketenangan." Tetapi bagaimana
mungkin Rara Warih akan dapat tidur. Ia memang akan menjadi tenang
jika ia dapat tidur barang sejenak. Tetapi kegelisahannya itulah
yang membuatnya tidak akan dapat tidur sama sekali1. Meskipun
demikian Rara Warih itupun mencoba berbaring di pembaringannya Namun
dengan demikian justru angan angannyalah yang menerawang kedunia
angan-angannya. Rara Warih kadang-kadang memang tidur disiang hari.
Tetapi justru kekalutan hatinya membuatnya sama sekali tidak dapat
memejamkan matanya. Bahkan iapun kemudian teringat kepada Buntal dan
Arum yang dengan tergesa-gesa meninggalkan istana itu.
"Mudah-mudahan mereka selamat" berkata Rara Warih didalam
hatinya.Dalam pada itu, sebenarnyalah Buntal dan Arum telah
mendekati padukuhannya di Gebang. Memang tidak ada rintangan apapun
di perjalanan. Ketika mereka bertemu dengan orang-orang yang
mencurigakan, ternyata orang- orang itu tidak berbuat apa-apa. "Aku
kira mereka akan menyamun seperti yang pernah aku alami" berkata
Arum. "Mungkin mereka bukan penyamun, tetapi mereka adalah
orang-orang yang dipasang oleh prajurit Surakarta sebagai petugas
sandi." jawab Buntal "karena itu mereka hanya mengawasi saja
orang-orang yang lewat tanpa berbuat apa- apa." Arum
mengangguk-angguk. Jika benar yang dikatakan oleh Buntal, ia
berharap bahwa orang itu tidak mencur igainya. Demikianlah, maka
ketika mereka sampai ditempat, maka meretoapun segera menceriterakan
apa yang terjadi kepada Kiai Danatirta. Sejak awal sampai akhir.
Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian
"Tuhan masih melindungi kalian. Bersukur- lah. Tetapi untuk
selanjutnya kalian harus menjadi sangat ber hati- hati untuk
berhubungan dengan Raden Ayu Galihwarit.” "Dimana kakang Juwir ing ?
"bertanya Arum. "Ia sedang berada diantara para prajurit yang telah
menyatakan diri berpihak kepada Pangeran Mangkubumi. Pangeran
Mangkubumi dengan resmi akan membentuk pasukan berkuda seperti yang
pernah kau dengar sebelumnya." “Hanya sekedar meresmikan. Pasukan
itu sebelumnya memang sudah ada" berkata Buntal. Lalu "baiklah aku
akan menemuinya dan bersama-sama menghadap Ki Wandawa." "Aku akan
bersamamu" berkata Arum.Kedua anak muda itupun kemudian mencari
Juwiring. Ternyata pembicaraan mengenai diresmikannya satu pasukan
berkuda telah selesai. Dalam waktu dekat pasukan itu akan disusun
dan diresmikan, sebagai satu perkembangan dari kelompok-kelompok
laskar berkuda yang memang sudah ada. Karena itu, maka Buntal dan
Arumpun kemudian dapat menemuinya dan menceriterakan apa yang telah
terjadi di istana Pangeran Sindurata, "Gila" geramnya "jadi kumpeni
itu telah berusaha menodai kehormatan diajeng Warih?" "Ya" jawab
Buntal. Juwiring menggeretakkan giginya. Kemudian katanya "Untunglah
bahwa kalian sedang berada di tempat itu dan berhasil
menggagalkannya." "Meskipun demikian, kami tidak mengetahui apakah
yang terjadi kemudian. Apakah kumpeni akan mengambil langkah-
langkah tertentu karena dua orang kawannya telah terbunuh."sahut
Buntal. Raden Juwiring menjadi gelisah. Mungkin kumpeni akan
mengambil satu sikap yang keras. "Mudah-mudahan rencana Raden Ayu
dapat berhasil" berkata Buntal kemudian "Pangeran Sindurata telah
menyatakan kesediaannya untuk mengambil alih persoalan ini. Pangeran
itulah yang akan bertanggung jawab seolah-olah Pangeran Sinduratalah
yang telah melakukannya."Juwiring menarik nafas dalam-dalam.
Gumamnya "Sebenarnya Pangeran Sindurata telah terlalu tua untuk
melibatkan dir i dalam persoalan ini. Tetapi bahwa ia bersedia
melindungi kalian adalah satu hal yang mendebarkan. Satu
perkembangan sikap yang sebelumnya tidak pernah dapat dibayangkan.
Namun aku tidak dapat membayangkan, bagaimanakah keadaannya jika
penyakitnya itu sedang kambuh." Buntal dan Arum mengangguk-angguk.
Sementara itu Ju- wiringpun berkata "Kita akan menghadap Ki
Wandawa." Ki Wandawa menggeleng-gelengkan kepalanya ketika aa
mendengar laporan tentang peristiwa itu. Iapun menjadi gelisah,
bahwa persoalan itu akan dapat berkembang sehingga Raden Ayu
Galihwarit akan mengalami kesulitan. "Aku akan memer intahkan
petugas sandi untuk mengamati. Mungkin akan dapat di ambil
kesimpulan dari keadaan istana itu yang dapat dilihat dari luar.
Adalah berbahaya jika salah seorang dari kalian akan langsung
memasuki istana itu. Mungkin kumpeni akan memasang pengawas khusus
yang akan dapat menjebak kalian yang memasuki regol dtu. Agakmya
kumpeni akan dapat mengambil cara yang paling lembut, tetapi juga
yang paling kasar untuk mengetahui apa yang telah terjadi."
Juwiring, Buntal dan Arum memang hanya dapat menunggu. Seperti yang
dikatakan oleh Ki Wandawa, maka akan sangat berbahaya jika salah
seorang dari mereka memasuki istana Pangeran Sindurata. Tetapi dalam
pada itu, orang-orang yang kemudian dikir im oleh Ki Wandawa tidak
melihat sesuatu yang lain pada istana itu. Mereka masih juga melihat
Raden Ayu Galihwarit keluar dari pintu regol istananya. Merekapun
melihat Rara Warih yang sedang menyiram bunga di halaman depan. Dan
merekapun dapat melihat Pangeran Sindurata yang sibuk dengan
burung-burungnya.Ketika hal itu dilaporkan kepada Raden Juwiring,
maka anak muda itupun bergumam "Sokurlah. Ternyata bahwa mereka t
idak mengalami bencana karena peristiwa itu." Meskipun demikian Ki
Wandawa masih belum mengijinkan salah seorang dari ketiga anak muda
itu untuk mengunjungi Raden Ayu Galihwarit. "Kumpeni dan para
Senapati prajur it di Surakarta mempunyai penciuman yang sangat
tajam." berkata Ki Wandawa. "Namun bukankah sampai saat ini keadaan
keluarga itu masih utuh. Tetapi kita tidak tahu apakah yang ada
di-dalam istana itu. Mungkin ada sekelompok petugas sandi yang
dipasang kumpeni, atau bahkan prajurit dengan senjata yang siap
untuk menangkap orang-orang yang mereka curigai." Juwiring dan
adik-adik seperguruannya itu mengangguk- angguk. Merekapun menyadari
bahaya yang tersembunyi di- dalam istana itu, karena sulit untuk
melihat keadaan langsung dibalik dinding. Namun dalam pada itu,
hubungan Raden Ayu Galihwarit dengan para perwirapun masih saja
berlangsung. Mayor Bilman merasa bahwa saingannya yang paling kasar
dan bahkan mengancam akan membunuhnya justru telah terbunuh.
Meskipun perwira yang terbunuh itu pangkatnya masih dua lapis di
bawahnya, namun seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galihwarit,
bahwa perwira itu akan dapat membunuhnya. Sejalan dengan itu,
keprihatinan Rara Warihpun masih tetap membuat hatinya setiap kali
terasa pedih. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Apalagi ia
menyadari, bahwa yang dilakukan oleh ibundanya itu telah memberikan
banyak sekali keuntungan bagi perjuangan Pangeran Mangkubumi. Dengan
sikap dan tingkah lakunya. Raden Ayu Galihwarit telah dapat menyadap
berbagai keterangan penting dari mulut kumpeni yang berbau minuman
keras.Tetapi sebagai seorang gadis, maka hidupnya benar-benar telah
tersiksa. Namun dalam pada itu, yang tidak diketahui oleh Rara
Warih, ibundanyapun telah dicengkam oleh satu perasaan ngeri jika ia
mengingat jalan hidup yang ditempuhnya. Peristiwa yang terjadi
dirumahnya merupakan satu peringatan yang paling 'berat baginya.
Karena tingkah lakunya, maka orang menganggap, ia bertanggung jawab
atas sikap kumpeni yang terbunuh itu terhadap anak gadisnya. Masih
terngiang bahwa hampir setiap orang berkata kepadanya bahwa Rara
Warih dianggap dapat diperlakukan apa saja seperti dirinya sendiri.
Jika ibunya telah bersedia melakukan apa saja, bahkan menyerahkan
harga dir inya, maka anaknyapun akan berbuat demikian pula. Anggapan
itulah yang terasa sangat menyakitkan. Terkilas di hati Raden Ayu
untuk menghentikan tingkah lakunya, justru karena iapun merasa
menjadi semakin tua. Namun dalam keadaan yang semakin gawat ia
merasa per lu untuk tetap mendengar rencana-rencana yang dibuat oleh
kumpeni. Ketika kematian dua orang kumpeni itu perlahan-lahan telah
di lupakan, baik oleh para Senapati prajurit Surakarta, maupun
kumpeni yang suasananya dengan sengaja telah dibuat oleh Mayor
Bilman, maka mulailah kumpeni dan para prajurit Surakarta membuat
rancangan-rancangan baru untuk mengamankan Surakarta dari para
pemberontak. Namun disamping rencana yang akan disusun itu, mereka
masih saja selalu sibuk mencar i siapakah sebenarnya yang pantas
dicurigai diantara mereka yang ikut duduk dalam meja perundingan dan
perencanaan. Namun nampaknya segalanya masih serba gelap. Tidak ada
seorangpun yang pantas untuk dicurigai berkhianat diantara mereka.
Namun demikian, Surakarta memang t idak akan tinggal diam. Semakin
lama pengaruh Pangeran Mangkubumi terasamenjadi semakin tersebar.
Rencananya secara terpadu dengan gerakan Raden Mas Said membuat
kumpeni semakin gelisah. "Kita harus mengambil tindakan yang cepat
dan tuntas” berkata seorang psrwira kumpeni "sebaiknya kita menusuk
langsung kejantung kekuatan Pangeran Mangkubumi. Pangeran itu telah
menghina kita dengan menduduki kota ini selama setengah har i."
Persoalan yang dilontarkannya itu ternyata mendapat tanggapan yang
baik. Kumpeni berniat untuk langsung mengepung Gebang, tempat
kedudukan induk pasukan Pangeran Mangkubumi. "Kita akan menghubungi
Pangeran Yudakusuma" berkata perwira kumpeni itu. "Tetapi rahasia
ini harus kita simpan sebaik-baiknya." Dalam pertemuan terbatas,
maka mereka telah merencanakan untuk melakukan satu gerakan yang
tiba-tiba. Gebang akan dikepung pada saat matahari terbit. Kemudian
tempat itu akan dihancur lumatkan. "Kegagalan kita menghancurkan
pasukan Raden Mas Said akan menjadi pengalaman" berkata perwira itu.
Kemudian "Perencanaan yang lebih terperinci akan kita serahkan
kepada Mayor Bilman. Ia akan membawa pasukan khususnya ke Gebang dan
dengan tandas melumatkan pasukan pemberontak itu.""Jika demikian,
aku memerlukan kekuasaan yang lebih besar. Aku akan membicarakan
dengan Pangeran Yudakusuma" berkata Mayor Bilman. "Segalanya harus
direncanakan sebaik-baiknya" jawab perwira kumpeni yang mencemaskan
tersebarnya pengaruh Pangeran Mangkubumi. Para perwira itupun
kemudian mengadakan pertemuan dengan para Senapati di Surakarta yang
dipimpin langsung oleh Pangeran Yudakusuma. Berbagai kemungkinan
telah dibahas. Terutama hambatan yang mungkin terjadi. "Tidak ada
yang mengetahuinya selain kita yang berada disini" berkata Mayor
Bilman "segalanya akan terjadi dengan tiba-tiba. Kita tidak perlu
mengadakan persiapan-persiapan seperti pada saat kita akan mengepung
kedudukan Raden Mas Said. Dengan demikian maka petugas sandi mereka
akan mengetahui, apa yang akan kita lakukan. Berdasarkan atas
perhitungan dan pertimbangan yang cermat, mereka ternyata mampu
menduga, kemana kita akan pergi." "Mungkin" jawab Pangeran
Yudakusuma "tetapi mungkin pula, semakin banyak orang yang
mengetahui rencana kita, maka diantara mereka adalah penghianat.
Karena itu, maka dalam pertemuan yang terbatas ini kita dapat
memperkecil kemungkinan itu. Aku yakin, tidak ada pengkhianat
diantara kita sekarang ini." "Bagus" sahut Mayor Bilman "kita akan
menjatuhkan perintah untuk dilaksanakan pada hari itu juga. Tidak
ada kesempatan untuk menyampaikan berita itu seandainya diantara
para prajurit terdapat penghianat. Tetapi Pangeran Yudakusuma memang
ingin berhati-hati. Dalami gerakan yang besar, Surakarta telah
pernah gagal sampai dua kali. Yang pertama mereka gagal
menghancurkan pasukan Pangeran Mangkubumi yang sebagian besar karena
pengkhianatan dari dalam pasukannya sendiri. Pangeran Ra-nakusuma
telah menyerang pasukan Surakarta dari sayap pasukan itu sendiri.
Kemudian kegagalan pasukan Surakarta menghancurkan pasukan Raden Mas
Said. Bahkan .pasukannya menderita kerugian yang sangat besar, yang
bersamaan dengan itu, justru pasukan Pangeran Mangkubumi telah
menduduki kota. Karena itu, maka seperti yang dikatakan oleh Bilman,
maka persoalannya kemudian hanya diketahui oleh orang-orang yang,
sangat terbatas. Pada saatnya perintah akan diberikan tanpa menyebut
arah gerakan pasukan dalam keseluruhan. Baru kemudian pasukan itu
akan mengerti dengan sendirinya setelah pasukan itu bergerak. Pada
pertemuan berikutnya, Pangeran Yudakusuma dan Mayor Bilman telah
menentukan waktunya, pula. Dua hari lagi mereka akan berangkat.
Mereka akan meninggalkan Surakarta lewat senja, langsung mengepung
Gebang. Mayor Bilman akan disertai dengan seorang kapten yang pilih
tanding Yang dikenal diantara kumpeni sebagai seekor harimau salju
yang nggegirisi. Kapten Kenop. Bahkan tersiar berita diantara
kawan-kawannya, bahwa ketika kapalnya di samodra di cegat oleh kapal
bajak laut yang ditakuti, maka justru Kapten Kenoplah yang meloncat
memasuki kapal bajak laut itu dan menghancurkan isinya. Demikianlah,
para perwira kumpeni dan prajur it Surakarta yang sangat terbatas
telah mengolah laporan-laporan dari para petugas sandi untuk
mengetahui keadaan. Mereka mempelajari medan dan suasana tanpa minta
keterangan khusus dari pihak manapun juga, agar rencana mereka tidak
merembes sampai ketelinga Pangeran Mangkubumi. Namun dalam pada itu.
Mayor Bilman yang menganggap bahwa tugas mereka yang akan dilakukan
itu merupakan tugas yang amat berat, maka ia masih juga menyisihkan
kesempatan untuk memuaskan keinginannya. Pada malam sebelum
pasukannya berangkat, Mayor itu telah tenggelamdalam satu pesta yang
mewah. Sementara itu, Mayor Bilman merasa tidak ada lagi perwira
kumpeni yang dengan kasar telah mencoba menyainginya. Mayor itu
tidak berkeberatan jika ada satu dua orang perwira yang juga bergaul
rapat dengan Raden Ayu Galihwarit. Namun t idak dengan sikap yang
licik, dan bahkan berusaha untuk membunuhnya pula. Dalam pada itu,
ketika malam telah larut, maka Mayor Bilman sendiri telah
mengantarkan Raden Ayu Galihwar it kembali ke istana Pangeran
Sindurata. Tetapi dalam hal yang demikian, penggraita Raden Ayu
Galihwar it yang tajam, telah mencium satu hal yang mendebarkan
hati. Meskipun pesta yang demikian itu sering diadakan oleh kumpeni,
namun dalam pesta yang mewah dan berlebih-lebihan, kadang-kadang
dikandung satu isyarat akan ada tugas yang berat. Karena itu, ketika
kereta itu memasuki halaman istana Pangeran Sindurata, Raden Ayu itu
berkata "Besok aku akan datang ke loji Mayor." "Untuk apa?" bertanya
Mayor Bilman. "Kesempatan kita hanya sedikit sekali malam ini. Pesta
itu sendiri terlalu lama, sehingga yang dapat kita lakukan sama
Sekali tidak menarik." berkata Raden Ayu Galihwarit. Mayor Bilman
berpikir sejenak. Kemudian katanya "Besok pagi aku terlalu
sibuk.""Besok malam maksudku" berkata Raden Ayu Galihwarit "tuan
menjemput aku kemari. Aku akan datang ke loji. Perwira yang kasar
itu tidak akan mengganggu lagi" Tetapi Mayor Bilman menjadi gelisah.
Katanya "Jangan. Kau tidak perlu datang ke loj i." "Kenapa ?
Bukankah bukan untuk yang pertama kalinya aku datang ke loji ?
Apakah di dalam loji itu sudah terdapat perempuan-perempuan lain ?
Atau tuan telah memanggil isteri tuan dari negeri tuan ?" bertanya
Raden Ayu. “Tidak. Tidak." jawab Mayor itu "t idak ada perempuan.
Tidak ada isteri disini. Kau boleh datang ke loji seperti biasanya
kau datang. Siang atau malam. Tetapi jangan besok." Raden Ayu
Galihwarit menjadi semakin tertarik kepada keterangan Mayor itu.
Karena itu, meskipun kereta sudah berhenti, namun Raden Ayu itu
masih belumturun dari kereta. "Mayor" berkata Raden Ayu Galihwarit
"aku telah banyak berhubungan dengan perwira-perwira kumpeni. Tetapi
aku menganggap mereka sebagai orang yang berjalan lewat sekilas di
serambi hatiku. Aku menerima mereka karena mereka memiliki sesuatu
yang aku tidak mempunyainya. Mereka dapat menghias rumahku dengan
barang-barang mewah yang tidak terdapat dinegeri ini," Raden Ayu itu
terdiam sejenak, lalu "tetapi bagiku Mayor adalah lain. Mayor
memiliki sifat kebapaan sebagaimana dimiliki oleh Pangeran
Ranakusuma. Kejantanan dan sifat kesatria sebagaimana dikagumi oleh
orang-orang Surakarta. Karena itu, Mayor bagiku bukan sekedar
pejalan kaki yang singgah sejenak dihatiku. Pertemuan yang mewah
seperti malam ini hanya mengundang kerinduanku saja kepada Mayor
jika malam nanti aku berbaring sendir i dipembaringan."' Terasa hati
Mayor yang garang itu tersentuh: “Sambil menepuk pundak Raden Ayu
Galihwarit Mayor itu berkata"Kau memang lembut Raden Ayu. Aku tahu,
kau telah kehilangan suamimu. Karena itu kau mer indukannya. Jika
beberapa hal dari sifat suamimu terdapat padaku, adalah wajar sekali
kau menganggap aku akan dapat menjadi gantinya, sementara aku yang
jauh dari keluarga diseberang yang dibatasi oleh samodra dan benua,
menemukan kelembutan hati disini. Tetapi aku terpaksa tidak dapat
menerimamu besok." "Mayor akan pergi ? Untuk satu tugas yang berat
?" bertanya Raden Ayu Galihwarit Mayor itu tidak menjawab. Namun
tiba-tiba saja Raden Ayu itu memeluknya sambil menangis tertahan
"Mayor jangan pergi. Mayor tidak usah menghiraukan peperangan ini.
Mayor dapat memerintahkan anak buah Mayor untuk menyerang Raden Mas
Said dan menghancurkannya." Hati Mayor Bilman itu menjadi semakin
berdebar-debar. Air mata itu membuat hatinya yang sekeras baja
menjadi luluh. Raden Ayu Galihwarit memang dapat mengisi kesepiannya
selama ia bertugas di Surakarta, sehingga karena itu, ia memang
mempunyai tanggapan yang lain terhadap Raden Ayu itu dari
perempuan-perempuan lain yang pernah dikenalnya, "Kau perintahkan
kapten-kaptenmu untuk melakukan tugas itu Mayor" tangis Raden Ayu.
Mayor Bilman menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku memang dapat
memerintahkan satu dua orang kapten dalam pasukan khusus itu untuk
menyerang Raden Mas Said. Tetapi aku tidak dapat berbuat demikian
jika kami harus berhadapan dengan Pangeran Mangkubumi sendir i."
Jantung Raden Ayu itu bagaikan berhenti berdenyut Namun ia masih
harus bermain sebaik-baiknya. Karena itu, maka iapun segera berusaha
menahan perasaannya dan berkata "Apalagi untuk melawan Pangeran
Mangkubumi. Bukankahkau mempunyai kekuasaan disini ? Mayor, aku
tidak mau kehilangan lagi. Meskipun aku belum pernah memiliki Mayor
sepenuhnya, tetapi aku menjadi ketakutan, bahwa aku akan kehilangan
yang belum aku miliki itu." Mayor Bilman mengusap kening Raden Ayu
yang basah sambil berkata "Sudahlah Raden Ayu. Aku adalah seorang
prajurit. Tugasku adalah menjaga dan melindungi orang-orang yang
lemah. Saat ini, Surakarta benar-benar dalam keadaan gawat Aku
mempunyai kewajiban sebagai seorang kesatria seperti yang kau
katakan menurut tanggapan orang Surakarta. Aku harus melindungi
rakyat Surakarta dari ancaman pemberontakan yang nafsu ketamakan
bagi diri pribadi seperu yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi."
"Tetapi kau harus kembali dengan selamat" desis Raden Ayu. "Aku
pergi untuk membinasakan pemberontak itu. Bukan untuk bunuh diri"
jawab Mayor itu. Sejenak keduanya terdiam. Terasa dada Mayor Bilman,
dada Raden Ayu itu berdebaran. Meskipun Mayor itu tidak tahu sebab
yang sebenarnya. Tetapi ia menganggap bahwa Raden Ayu itu
beriar-benar telah digelisahkan oleh kepergiannya. "Sekarang, aku
persilahkan Raden Ayu untuk beristirahat" berkata Mayor Bilman "j
ika aku mengharap Raden Ayu besok malam tidak usah datang, sama
sekali bukan karena aku tidak mau menerima Raden Ayu." Raden Ayu
Galihwarit mengusap air matanya. Mayor Bilmanlah yang turun lebih
dahulu. Kemudian melingkari kereta itu, ia membantu Raden Ayu turun
dar i keretanya. "Selamat malam Raden Ayu" desis Mayor itu "semoga
Raden Ayu bermimpi indah.""Selamat malam Mayor." suara Raden Ayu
serak "aku tidak mau kehilangan lagi." Mayor itu tersenyum. Namun
kemudian iapun naik ke keretanya dan sejenak kemudian kereta itu
berderap pergi. Mayor Bilman masih melambaikan tangannya ketika ia
keluar , dari regol halaman istana Pangeran Sindurata. Namun,
demikian kereta itu lenyap, maka Raden Ayu Galihwar it itu bergegas
pergi kebiliknya. Ia masih melihat penjaga regol menutup pintu.
Namun ia tidak menghiraukannya lagi. Sebelum Raden Ayu Galihwarit
mengetuk pintu biliknya, ternyata Rara Warih telah membukanya.
Agaknya gadis itu masih belumtidur Raden Ayu mengerutkan keningnya
ketika ia melihat mata Rara Warih yang basah dan kemerah-merahan.
Gadis itu tentu telah menangis untuk waktu yang lama. Raden Ayu
Galihwarit mencium kening anak gadisnya setelah ia menutup pintu
kembali. Namun terasa pada Rara Warih pipi ibunya itu menjadi sangat
kasar. Raden Ayu Galihwarit mengerti, kenapa anak gadisnya menangis.
Tetapi ia memang harus menahan hati. Ia sudah bertekad mengorbankan
dir inya, kehormatannya dan apapun juga untuk menebus dosa-dosa yang
pernah dilakukan. Meskipun kadang-kadang ia bertanya kepada dir i
sendir i, apakah ia memang harus menebus dosa-dosanya dengan
dosa-dosa yang baru. Namun dalam pada itu, sebuah kegelisahan telah
bergejolak didalam dadanya, mengatasi perasaannya yang lain. Karena
itu, setelah ia duduk dan menenangkan hatinya, maka Raden Ayu itupun
kemudian berkata "Warih. Kita menghadapi satu kesulitan." Warih
mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya."Aku kira
saudara-saudara angkat Juwiring itu masih belum akan datang kemar i
untuk satu dua pekan ini. Namun ada sesuatu yang penting yang harus
disampaikan kepada pasukan Pangeran Mangkubumi." berkata ibundanya
lebih lanjut. Rara Warih memandang ibundanya sekilas. Namun rasa-
rasanya ia tidak tahan memandang wajah ibunya yang cantik. Ia
membayangkan diluar sadar, apa saja yang telah terjadi dengan
ibundanya itu selagi ia berada diantara para perwira kumpeni. Namun
ibundanya seakan-akan tidak menghiraukannya. Bahkan katanya kemudian
"Warih. Meskipun demikian, aku akan menunggu sampai esok pagi. Jika
Arum dan Buntal tidak datang, maka kita harus mengambil sikap. Kita
tidak boleh terlambat." Warih mulai tertarik kepada kata-kata
ibundanya itu, sehingga karena itu, maka iapun telah mengangkat
wajahnya pula. Bahkan ia mulai bertanya "Apakah kumpeni akan
menyerang Pangeran Mangkubumi ?" "Ya" jawab ibundanya "Mayor Bilman
telah mengatakan, bahwa ia sendiri akan memimpin pasukannya. Jika
tidak langsung menghadapi pamandamu Pangeran Mangkubumi, maka ia
akan dapat memerintahkan perwira-perwira bawahannya. Namun kali ini
pasukan itu akan berhadapan langsung dengan Pangeran Mangkubumi."
"Apakah itu berarti bahwa kumpeni akan menyerang Gebang?" bertanya
Rata Warih Wajah Raden Ayu yang cantik itu menjadi tegang. Sambil
mengangguk kecil ia menjawab "Aku memang berkesimpulan demikian
Warih" Rara Warih menjadi termangu-mangu. Peristiwa yang telah
terjadi di istana itu, dengan terbunuhnya dua orang kumpeni, memang
telah membatasi kunjungan Buntal dan Arum.Karena itu, maka hampir
dihiar sadarnya ia bergumam "Tetapi bagaimana jika besok Buntal dan
Arum itu tidak datang ibunda?" Raden Ayu Galihwarit menarik nafas
dalam. Wajahnya menjadi tegang. Dengan sungguh-sungguh ia berkata
"Tidak ada seorangpun yang dapat dipercaya untuk menyampaikan!
berita ini kepada pasukan Pangeran Mangkubumi." ia berhenti sejenak,
kemudian "tetapi aku masih akan menunggu. Jika nasib pasukan itu
baik, maka besok Buntal dan Arum, atau salah seorang dari keduanya
akan datang ke rumah ini.” Rara Warih menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi kegelisahan yang sangat telah menghentak-hentak didalam
dadanya. Apakah jadinya jika pasukan Pangeran Mangkubumi tidak
mendapat keterangan tentang pasukan yang akan menyergapnya. "Ibunda"
bertanya Rara Wariti kemudian "apakah ibunda dapat menyebut secara
terperinci, waktu dan kekuatan pasukan yang akan pergi ke Gebang ?"
Raden Ayu Galihwarit menggeleng. Jawabnya "Aku rianya tahu bahwa
besok malam Mayor Bilman tidak ada di loj i, karena ia harus
memimpin pasukan khususnya untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi."
Rara Waria menjadi tegang. Dengan ragu-ragu ia berdesis
"Mudah-mudahan petugas sandi yang lain akan dapat mencium rencana
itu," "Tetapi agaknya rencana itu dirahasiakan sekali" berkata Raden
Ayu Galihwarit" tidak ada persiapan apapun yang nampak. Tidak
seorang perwirapun yang pernah menyebut meskipun secara samar-samar.
Bahkan dalam pesta diantara mereka tidak ada yang
memperbincangkannya. Biasanya, meskipun hanya satu dua kalimat, para
perwira itu akan menyebut-nyebut rencana besar yang akan mereka
lakukan. Agaknya kegagalan mereka di Penambangan membuatmereka
menjadi semakin berhati-hati, dan bahkan mungkin telah mencurigai
setiap orang yang pernah berhubungan dengan kumpeni. Nampaknya ada
pihak yang kurang puas dengan sikap Mayor Bilman atas kematian dua
orang perwira di halaman rumah ini," Rara Warih menundukkan
kepalanya, kepahitan yang menghimpit jantungnya terasa semakin
pedih. Sikap ibundanya, namun ternyata banyak memberikan manfaat
kepada pasukan Pangeran Mangkubumi yang sedang berjuang bagi
kebebasan rakyat Surakarta, merupakan masalah yang tidak akan
terpecahkan bagi perasaannya. "Sudanlah Warih" berkata ibundanya
"sekarang beristirahatlah. Tidak ada yang dapat kita lakukan malam
ini. Kita memang harus menunggu pagi, kesimpulan apapun yang akan
kita ambil." Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Ibundanyalah yang
kemudian bangkit Mengenakan pakaian t idurnya. Dan kemudian
berbaring di pembaringannya. Namun dalam pada itu, bagaimanapun
juga, kedua orang ibu dan gadisnya itu sulit sekali memejamkan
matanya oleh kegelisahan. Mereka selalu di bayangi oleh per istiwa
yang menger ikan karena sergapan yang tiba-tiba akan dilakukan.
Meskipun mereka bukan prajurit, tetapi mereka dapat menduga, bahwa
Bilman akan berangkat lewat senja. Mengepung Gebang di malam hari
dan demikian fajar menyingsing, mereka menyergap dengan
ledakan-ledakan senapan, didahului oleh dentuman meriam-meriam kecil
yang akan mereka bawa, ditarik dengan kuda-kuda yang tegar. Namun
Raden Ayu Galihwarit itupun kemudian berkata didalam hatinya "Tetapi
pasukan Pangeran Mangkubumi tidak terdiri dari anak-anak. Mereka
tentu mempunyai cara untuk menghindarinya. Kekuatan mereka cukup
besar untuk melawan. Selebihnya, tentu ada petugas sandi lain yang
akan dapat menyadap rencana ini."Tetapi betapapun juga Raden Ayu itu
berusaha memejamkan matanya, namun ia tidak berhasil tidur barang
sekejappun. Raden Ayu itu tidak yakin bahwa rahasia yang disimpan
terlalu rapat itu dapat didengar oleh seseorang yang akan dapat
menyampaikannya kepada pasukan Pangeran Mangkubumi. Bahkan nampaknya
beberapa orang perwira pentingpun tidak tahu apa-apa tentang rencana
itu. Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa beberapa orang perwira
dalam tugas sandi kumpeni di Surakarta, agak sulit menerima sikap
Mayor Bilman atas kematian kedua orang perwira kumpeni. Bahkan
dengan ketajaman penciuman tugas sandi, seorang perwira telah
mengetahui hubungan yang erat sekali antara Mayor Bilman dengan
Raden Ayu Galihwarit. Penyelidikan selanjutnya telah membawa mereka
pada satu kesimpulan, bahwa ada persaingan antara Mayor itu dengan
perwira yang telah terbunuh diistana Pangeran Sindurata. Meskipun
petugas sandi itu tidak menyangsikan kesetiaan Mayor Bilman kepada
tugasnya, namun agaknya dalam pengusutan kedua orang perwira yang
mati terbunuh itu terdapat sesuatu yang kurang wajar. Namun
demikian, petugas sandi itu tidak dapat berbuat sesuatu yang akan
mengganggu rencana yang sudah tersusun. Bagi petugas sandi yang
mengenal Mayor itu dengan baik menganggap bahwa Mayor Bilman yang
juga atasannya itu adalah seorang prajurit yang luar biasa.
Kemampuannya di medan dan kemampuannya berpikir memperhitungkan
muslihat .peperangan, telah diakui, sehingga ia mendapat tugas
memimpin sepasukan yang dikenal sebagai pasukan khusus yang
disegani. Yang kemudian dilakukan oleh petugas sandi itu kemudian
adalah menugaskan orang-orangnya, terutama yang pribumi untuk
mengawasi istana Pangeran Sindurata. Mungkin terdapat sesuatu yang
mencurigakan. Bahkan mungkin adakesengajaan untuk membunuh kumpeni
yang memasuki istana itu. "Mayor Bilman juga sering datang ke istana
itu" berkata salah seorang petugas "bahkan malam hari. Tetapi ia
selalu keluar dengan selamat." "Awasi saja. Aku hanya menduga ada
sesuatu yang patut diamati. Memang mungkin sekali, kesimpulan Mayor
Bilman benar. Yang terjadipun benar seperti apa yang kita ketahui.
Tetapi nalur iku menuntut untuk mengawasinya" perintah perwira dalam
tugas sandi itu. Karena itulah, maka istana itu memang selalu
diawasi oleh para petugas sandi yang justru orang-orang Surakarta
sendiri. Sementara itu, pada malam yang menegangkan itu, baik Raden
Ayu Galihwarit, maupun Rara Warih memang tidak dapat tidur.
Betapapun mereka berusaha untuk menyisihkan kegelisahan di hati.
Mereka berbaring di pembaringan dengan angan-angan yang bergejolak.
Hampir tidak sabar mereka me nunggu sampai hari esok. Ketika
matahari mulai mewarnai langit di sebelah Timur, maka Rara Warihpun
segera pergi ke pakiwan. Air yang diingin membuat tubuhnya menjadi
agak segar. Namun terasa betapa tubuhnya sangat letih oleh perasaan
yang gelisah. Ketika Rara Warih telah selesai dengan membenahi dir
i, maka ibundanya dengan nada cemas berkata "Mudah- mudahan salah
seorang dar i kedua saudara angkat Juwiring itu datang," Rara Warih
tidak menyahut. Tetapi agaknya mereka masih harus memperhitungkan
keadaan. Hampir diluar sadarnya, dalam kegelisahan Rara Warih itupun
kemudian berjalan-jalan dihalaman. Rasa-rasanya ia memang menuggu
kedatangan seseorang sebagaimana diharapkan oleh ibundanya. Bahkan
Rara Warih hanyaberjalan-jalan saja dihalaman lingkungan halaman
istananya, namun iapun telah berada dipintu gerbang yang terbuka.
Dilihatnya orang-orang yang lewat. Satu dua dengan membawa
barang-barang yang akan mereka perjual belikan di pasar. Ada yang
membawa barang anyaman, tetapi ada juga yang membawa hasil sawah dan
ladangya, tetapi ada juga ada yang membawa hasil sawah dan ladang
mereka. Sayur sayuran dan buah-buahan. Namun dalam pada itu diluar
kehendaknya, dan secara kebetulan Rara Warih melihat dua orang yang
duduk agak jauh dari pintu gerbang itu. Keduanya agaknya memang
sedang mengawasi pintu gerbangnya. Rara Warih memang berpura-pura
tidak menghiraukannya. Tetapi setiap kali ia melihat orang itu
memandanginya. Bahkan kemudian salah seorang dari keduanya berbicara
sambil memandang Rara Warih yang berusaha untuk member ikan kesan,
bahwa ia tidak mengetahui kehadiran kedua orang itu. Tanggapan Rara
Warih atas dua orang itu sangat menggelisahkan. Keduanya tentu bukan
kawan-kawan Buntal dan Arum. Menilik sikap mereka, kedua orang itu
sedang mengawasi regol istananya. Meskipun demikian Rara Warih
memang menunggu sejenak. Jika keduanya adalah orang-orang baru yang
akan menghubunginya, karena sesuatu hal telah menghalangi Arum dan
Buntal, maka keduanya tentu akan datang kepadanya, atau salah
seorang dari mereka. Tetapi keduanya sama .sekali tidak berusaha
membuat hubungan dengan Rara Warih. Bahkan nampak keduanya
mengawasinya dengan sungguh-sungguh. Rara Warihpun kemudian masuk
kedalam. Kepada ibundanya ia mengatakan apa yang dilihatnya.Raden
Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada Rara Warih
"Agaknya keadaan memang menjadi semakin gawat. Aku kira ada pihak
yang memang sudah mencur igai aku dalam keadaan seperti ini, apalagi
karena kematian kedua orang kumpeni itu." "Jadi seandainya Buntal
dan Arum itu datang juga, apakah hal itu tidak akan berbahaya
baginya" bertanya Warih. Raden Ayu Galihwarit merenung sejenak. Lalu
katanya "Kita dalam kesulitan. Berita bahwa kumpeni akan menyerang
Gebang harus segera disampaikan. Sementara .pengawasan atas rumah
ini menjadi semakin ketat." "Apakah mungkin ada sumber lain yang
akan dapat menyampaikan berita tentang rencana serangan itu ibunda
?" bertanya Rara Warih. "Mudah-mudahan petugas sandi Pangeran
Mangkubumi dapat menangkap rencana itu lewat sumber lain" jawab
Raden Ayu Galihwarit "tetapi rasa-rasanya rencana ini memang
tertutup rapat-rapat. Sebenarnya aku agak cemas bahwa tidak ada
sumber lain yang dapat menyampaikan rencana ini." desis ibundanya.
"Tetapi bukankah pasukan pamanda Pangeran Mangkubumi cukup kuat
seandainya dengan tiba-tiba saja kumpeni menyerangnya ? Atau di
sekitar daerah Gebang itu tentu sudah diawasi dengan ketat sehingga
para pengawas itu akan melihat kedatangan satu pasukan yang besar
mendekati Gebang. "berkata Rara Warih. "Meskipun demikian
kesempatannya menjadi kecil sekali untuk dapat menyusun perlawanan
atau jika mereka hendak meninggalkan daerah itu. Pasukan berkuda
akan dengan cepat mengepungnya. Sementara senjata-senjata yang akan
mampu menghancurkan Gebang sudah siap pula bersama pasukan berkuda
itu Mereka tentu membawa mer iam-meriam kecil yang dapat melontarkan
peluru yang akan menghancurkanpertahanan Pangeran Mangkubumi,
sebelum pasukannya menyerang memasuki daerah pertahanan itu," jawab
ibundanya. Rara Warihpun terdiam. Sebagaimana ibundanya, keduanya
tidak pernah berada di medan, sehingga keduanya sebenarnya kurang
dapat membayangkan apa yang dapat terjad:. Tetapi sebagai isteri
seorang Senapati Agung. Raden Ayu Galihwarit pernah juga mendengar,
bagaimana Pangeran Ranakusuma berada di peperangan. Pangeran
Ranakusuma pada masanya, kadang-kadang menyatakan kebanggaannya juga
kepada kterinya apa yang pernah di capai dengan satu siasat yang
matang di peperangan. Karena itu, maka rasa-rasanya Raden Ayu itu
pernah juga membayangkan apa yang dapat terjadi di satu medan. Dalam
kegelisahan itu, maka katanya "Aku mengharapkan dua hal yang sangat
bertentangan." Rara Warih memandang ibundanya sejenak. Kemudian
iapun bertanya dengan ragu-ragu "Apakah yang ibunda maksudkan. ?"
"Disatu pihak aku mengharap agar Buntal dan Arum tidak usah
mendekati rumah ini lebih dahulu. Tetapi dilain pihak, aku mengharap
kedatangannya agar berita tentang serangan ke Gebang itu dapat
disampaikannya kepada pasukan Pangeran Mangkubumi." jawab Rara
Warih. Rara Warih menar ik nafas dalam-dalam. Memang sesuatu yang
rumit untuk dipecahkan. Dalam pada itu. kedua orang itupun kemudian
telah berada diregol pula, karena Raden Ayu ingin melihat kedua
orang yang disebut oleh Rara Warih. Ternyata kedua orang itu masih
juga berada ditempatnya. Sementara Raden Ayu Galihwar it dan Rara
Warih seakan-akan sedang menunggu seseorang yang membawa barang
dagangan yang dikehendakinya.Untuk melenyapkan prasangka orang-orang
yang sedang mengamatinya, kadang-kadang Raden Ayu juga menghentikan
seseorang yang membawa barang dagangannya. Tetapi ia sekedar
bertanya, apakah yang dibawanya. Tetapi keduanya tidak lama berada
diregol. Kegelisahan yang sangat telah menyengat hati mereka.
Keadaan memang benar-benar bertambah gawat. Seperti yang dikatakan
oleh Raden Ayu Galihwarit. Jika mereka datang, mungkin mereka akan
terjebak. Jika mereka tidak datang, maka ber ita penyergapan itu
tidak dapat disampaikannya kepada pasukan Pangeran Mangkubumi.
Setiap kali Raden Ayu mencoba menghibur dir i, bahwa mungkin sekali
sumber lain akan dapat menyadap rencana itu. Tetapi usahanya itu
tidak dapat menenangkan hatinya. Dalam kegelisahan itu, tiba-tiba
saja Rara Warih berkata "Ibunda. Bagaimanakah pendapat ibunda, jika
aku sajalah yang pergi ke Gebang." "Warih" desis ibundanya "kau
belum pernah pergi keluar istana ini. Seolah-olah kau baru mengenal
lingkungan di dalam dinding halaman ini. Atau katakanlah, kau baru
mengenal daerah kota raja. Jika kau akan pergi, maka kau akan
mengalami kesulitan diperjalanan." Tetapi .pada saat-saat Buntal dan
Arum datang kemari, mereka selalu berceritera tentang jalan yang
mereka lalui. Meskipun aku belum pernah melihatnya, tetapi
rasa-rasanya aku telah mengenalnya. Sehingga aku merasa bahwa jika
aku menelusur i jalan itu, aku akan sampai juga di Gebang." jawab
Rara Warih."Perjalanan yang sangat berbahaya bagimu Warih" berkata
ibundanya "selebihnya kau tidak tahu ucapan sandi pada saat
terakchir. Jika terjadi salah paham, maka kau akan dapat mengalami
bencana justru oleh .para pengawal Pangeran Mangkubumi sendiri.”
"Aku akan berusaha menjelaskan dengan jujur ibunda. Aku berharap
mereka akan dapat mengerti" jawab Rara Warih. "Tetapi setelah kau
katakan segalanya menurut pengertian kita, ternyata orang itu bukan
pengawal Pangeran Mangkubumi, tetapi petugas sandi dari Surakarta.
Nah, apakah yang akan terjadi ?" bertanya Raden Ayu. “Setiap usaha
memang ada dua kemungkinan ibunda. Berhasil atau tidak. Jika aku
gagal, dan aku harus berhadapan dengan pasukan sandi Surakarta, apa
boleh buat." berkata Rara Warih. "Tetapi kau jangan pergi Warih"
minta ibundanya. Rara Warih memandang ibundanya sejenak. Namun
kemudian katanya "Ibunda. Dalam keadaan seperti sekarang ini, semua
tenaga sangat di .perlukan. Ibunda telah member ikan banyak
sumbangan kepada pasukan Pangeran Mangkubumi dengan cara yang ibunda
pahami. Biarlah aku juga memberikan setitik manfaat bagi perjuangan
ini. Karena itu, biarkan aku pergi mencari, dimanakah letak
padukuhan Gebang itu. Sebenarnyalah, aku telah mempunyai satu
bayangan yang jelas tentang tempat itu. Tentang jalan-jalan yang
harus aku lewati. Bahkan tentang tikungan dan jalan simpang,
rasa-rasanya aku sudah dapat mengingatnya dengan pasti.” Raden Ayu
Galihwarit kemudian telah dicengkam oleh keragu-raguan yang sangat
Ia sadar, bahwa perjuangan Pangeran Mangkubumi memang memer lukan
pengorbanan yang besar. Ia sendiri merasa sudah mengorbankan apa
yang dimilikinya. Namun jika ia harus mengorbankan Rara Warih,Tetapi
ia tidak mempunyai pilihan lain. Jika Buntal dan Arum datang, maka
keduanyalah yang akan menjadi korban. Bahkan mungkin pengakuan yang
keluar dari keduanya akan melibatkan dir inya sendiri dengan tuduhan
yang akan dapat membawanya ketiang gantungan. Meskipun Raden Ayu
Galihwarit tidak akan lebih menghargai dirinya sendiri daripada anak
gadisnya, namun segalanya memang harus diperhitungkan
sebaik-baiknya. Pasukan Pangeran Mangkubumi memang tidak boleh
dihancurkan oleh kumpeni. Keragu-raguan itulah yang kemudian membuat
segalanya menjadi lambat. Sementara itu matahari merayap terus naik
keatas punggung pegunungan di sebelah Timur. Semakin lama menjadi
semakin tinggi. "Ibunda" berkata Rara Warih setelah makan pag i"aku
menunggu keputusan ibunda. Seandainya Buntal atau Arum datang,
biasanya mereka sudah datang lebih pagi dari saat ini Agaknya mereka
meninggalkan Gebang lewat tengah malam, sehingga mereka akan
memasuki kota menjelang matahari terbit, sebagaimana orang-orang
padesan membawa hasil tanahnya ke pasar." Betapapun juga Raden Ayu
Galihwarit masih tetap bimbang. Tetapi ketika ia membayangkan
kehancuran yang akan dialami oleh pasukan induk Pangeran Mangkubumi
j ika Gebang disergap dengan tiba-tiba. maka dengan sendat ia
berkata "Jika kau memang sudah siap untuk memberikan pengorbanan itu
Warih, aku tidak dapat menghalangimu lagi.” “Aku sudah siap ibunda,
apapun yang akan terjadi" berkala Rara Warih. Raden Ayu Galihwarit
menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya "Kau tidak usah
minta dir i kepada eyangmu. Kau tentu tidak akan
diijinkannya.""Tetapi bagaimanakah jawab ibunda jika eyang mencari
aku ?" bertanya Rara Warih. "Mungkin aku harus berbohong. Aku akan
menganggapmu lari, karena kau takut mengalami peristiwa seperti yang
telah terjadi. Mungkin ada kumpeni lain yang akan menjadi gila
sepsrti yang pernah terjadi. Sebenarnyalah tingkah laku mereka
terpengaruh sekali oleh sikap ibumu ini Warih." jawab ibundanya.
"Tidak, bukan karena ibunda" sahut War ih. Raden Ayu Galihwarit
menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya "Jika kau merasa
sanggup melakukannya, lakukan." Rara Warihpun kemudian segera
bersiap-siap. Seperti yang dikatakannya, maka ia benar-benar mampu
membayangkan jalan manakah yang harus dilaluinya. Seolah-olah ia
memang sudah pernah mengenali jalan menuju ke Gebang. Seperti yang
dinasehatkan oleh ibundanya, maka Rara Warih dengan sengaja tidak
minta diri kepada Pangeran Sindurata. Dengan diam-diam iapun sudah
siap meninggalkan halaman istananya. Tidak dengan pakaian seorang
puteri, tetapi dengan pakaian orang kebanyakan, sehingga
perjalanannya tidak akan banyak menarik perhatian. Namun dalam pada
itu, ibundanya rasa-rasanya tidak sampai hati melepaskan anak
puterinya berjalan seorang dir i. Karena itu, maka katanya "Rara
Warih. Aku kira, seorang pengawal akan lebih baik mengantarkanmu."
Rara Warih mengerutkan keningnya. Katanya "Apakah hal itu perlu aku
lakukan ibunda ? Bukankah dengan demikian akan ada orang lain yang
mengerti, apa yang kita lakukan selama ini" "Aku akan memilih
seorang pengawal yang aku anggap paling setia selama ini." jawab
ibundanya. Lalu "Sementaraitu, apabila kau sudah sampai ketujuan,
maka kaupun harus melaporkan tentang pengawal itu. Mungkin
kakangmas-mu Juwiring akan mengambil satu kebijaksanaan, bahwa
pengawal itu akan diperintahkannya untuk tinggal bersamanya di
Gebang, sehingga selama perjuangan ini masih berlangsung pengawal
itu tidak akan kembali lagi ke istana ini. Atau setelah kakangmasmu
Juwir ing yakin, bahwa pengawal itupun telah menginsyafi dengan
sesungguhnya perjuangan ini, sehingga iapua telah benar-benar dapat
dipercaya." Rara Warih termangu-mangu sejenak. Tetapi dengan seorang
kawan agaknya memang lebih baik daripada berjalan seorang diri.
Demikianlah maka Raden Ayu Galihwarit telah memer intahkan seorang
pengawal yang dianggapnya paling setia Seorang laki- laki yang
pendiam. Yang menurut penilaian Raden Ayu memiliki sekedar ilmu
untuk membela diri j ika diperlukan diperjalanan menghadapi
orang-orang yang bermaksud jahat. Selebihnya, dalam pembicaraan yang
sepotong-sepotong, menurut penilikan Raden Ayu, laki-laki pendiam
itu juga mempunyai perasaan kagum terhadap Pangeran Mangkubumi
meskipun ia tidak berani berterus terang. "Jika ia ingin berkhianat,
tentu hal itu sudah dilakukannya, karena orang itu juga mengetahui
kehadiran Juwir ing ke rumah ini" berkata Raden Ayu Galihwarit
"bahkan juga kehadiran Buntal dan Arum. Iapun tahu, siapakah yang
sebenarnya telah membunuh kedua orang kumpeni itu." Ketika matahari
menjadi semakin t inggi, maka Rara Warihpun meninggalkan istananya
melalui regol butulan bersama seorang pengawalnya. Tetapi tidak
seorangpun yang menyangka, bahwa perempuan yang keluar dari regol
butulan itu adalah puteri Pangeran Ranakusuma. Mereka yang
melihatnya, termasuk kedua orang pengamat yang dipasang oleh kumpeni
itupun menganggap bahwa yang keluar daripintu butulan samping itu
adalah para pelayan. Karena perempuan yang keluar dari regol butulan
itu membawa keranjang anyaman, maka dikiranya pelayan itu akan pergi
ke pasar untuk berbelanja. Apalagi bagi mereka, yang penting adalah
justru orang-orang yang datang memasuki istana itu. Mungkin
diiantara mereka ada orang-orang yang pantas dicurigainya.
Demikianlah maka Rara Warihpun telah mulai dengan perjalanannya
menuju ke Gebang diantar oleh seorang pengawal. Pengawal yang
dianggap paling setia dan pendiam. Tidak banyak persoalan yang
dibuatnya. Selalu patuh dan melakukan tugasnya dengan rajin dan
penuh tanggung jawab. Namun orang itu akan dapat memasuki satu
lingkungan yang akan memaksanya untuk tidak keluar lagi dalam waktu
yang mungkin lama, tetapi mungkin juga tidak terlalu lama, apabila
ia dapat membuktikan bahwa ia benar-benar setia terhadap lingkungan
Pangeran Sindurata, dan juga kepada perjuangan Pangeran Mangkubumi
Demikianlah perjalanan itu dimulai ketika panas matahari sudah mulai
terasa menggigit punggung. Namun dalam pada itu, bersama-sama
orang-orang yang pulang dari pasar untuk menjual hasil kebunnya,
maka Rara Warih dan pengawalnya telah keluar dari pintu gerbang.
Untunglah bahwa tidak seorangpun pengawal dipintu gerbang itu
mencurigai mereka. Baik Rara Warih maupun pengawalnya. Demikian
mereka lepas dari gerbang kota, maka mereka- pun berusaha
mempercepat perjalanan. Tetapi Rara Warih yang tidak terbiasa
berjalan jauh, terlalu cepat menjadi letih. Namun demikian tekadnya
yang membaja dihati, ia telah mampu mengatasi perasaan lelahnya,
sehingga iapun berjalan terus untuk beberapa lama tanpa berhenti.
Ternyata daya angan Rara Warih cukup tajam. Meskipun ia seorang
puteri yang terkurung dalam lingkungan sempit,tetapi ia adalah
seorang puteri dari seorang panglima yang memiliki kelebihan dari
para Senapati dalam tatarannya. Karena itulah, maka ternyata Rara
Warih benar-benar dapat mengenali jalan yang hanya dilihatnya dalam
angan-angannya sebagaimana di katakan oleh Buntal dan Arum. Ternyata
pengawalnya telah mengikutinya dengan setia. Meskipun sekali-sekali
Rara Warih memerlukan pertimbangan pertimbangannya, tetapi karena
orang itu justru belum pernah melihat, mengenal maupun diber i tahu
oleh seseorang, maka ia tidak banyak dapat membantu. Namun demikian
ternyata Rara Warih tidak tersesat. Tetapi betapapun keras
kemauannya, maka atas nasehat pengawalnya, maka sekali-sekali Rara
Warihpun beristirahat di bawah pohon yang teduh. Sementara
pengawalnyapun yang nampak juga mulai lelah, telah beristirahat pula
sambil memijit-mijit mata 'kakinya. Perjalanan Rara Warih ternyata
jauh lebih lambat dari perjalanan yang sering dilakukan oleh Arum
dan Buntal. Arum dan Buntal adalah orang-orang yang terbiasa
berjalan di jalan- jalan padesan. Bahkan menelusur i pematang dan
tanggul- tanggul parit. Karena itulah, maka ketika matahari sudah
turun ke Barat, mereka masih belum mendekati Gebang. "Tetapi aku
masih mempunyai waktu" berkata Rara Warih didalam hatinya "pasukan
kumpeni baru akan bergerak menjelang malam. Baru malam nanti mereka
akan mengepung Gebang, dan baru esok pagi, saatnya fajar menyingsing
mereka akan menyerang." Betapapun perasaan letih menyengat kakinya,
tetapi Rara Warihpun kemudian memaksa dir inya untuk melanjutkan
.perjalanannya menuju ke Gebang. Tetapi yng terayata kemudaan nampak
terlalu letih adalah justru pegawainya Meskipun ia adalah seorang
laki- laki yangmemii'ki kemampuan dalam olah kanuragan, namun
ternyata ia tidak dapat berjalan terus sebagaimana dikehendaki eleh
Rara Warih. Setiap kali ia justru mohon untuk beristirahat barang
sejenak. Kemudian tertatih-tatih ia berdiri dan melangkah mergikuti
Rara Warih. "Sebentar lagi malamakan turun" berkata Rara Warih.
"Tetapi bukankah Gebang sudah dekat ?" bertanya pengawal itu. Rara
Warih memandang kekejauhan. Ia melihat sebatang pohon nyamplung yang
besar dalam sebuah gerumbul. Arum pernah menyebut pohon itu yang
menurut kepercayaan orang-orang disekitarnya sering menyesatkan
orang berjalan. Namun agak jauh ia masih melihat sebuah gumuk kecil.
Dan Rara Warih pun teringat Arum pernah mengatakan "Jangan hiraukan
pohon ryamplung itu. Puteri harus memperhatikan gumuk disebekah.
Lewat gumuk itu puteri tidak akan tersesat lagi. Jalan lurus menuju
ke Gebang. Jika kemudian puteri harus menyeberang sebuah sungai
kecil, maka beberapa puluh tonggak lagi puteri akan segera sampai."
"Jika demikian Gebang tidak terlalu jauh lagi" berkata Rara Warih.
"Jika demikian, kita tidak usah tergesa-gesa puteri" jawab
pengawalnya. "Tetapi jika berita ini sampai kepada pasukan Parageran
Mangkubumi, mereka masih memer lukan waktu." sahut Rara Warih.
“Berita apa?" bertanya pengawalnya itu. Rara Warih ragu-ragu. Namun
kemudian jawabnya "Ibunda memanggil kakangmas Juwiring. Penting
sekali, sesuai dengan niat eyang Pangeran untuk meninggalkan
Surakarta.” Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
iapun bangkit dan berjalan di belakang Rara Warih.Sebenarnyalah
akhirnya mereka sampai kesebuah sungai kecil setelah mereka melewati
pohon nyamplung, gurauk kecil dan berjalan beberapa saat. "Aku akan
merendam kaki barang sejenak puteri" berkata pengawal itu ketika ia
merasa betapa segarnya air sungai kecil itu di kakinya. "Tetapi
gelap sudah turun Mar ilah kita bertahan beberapa langkah lagi.
Kemudian kau akan dapat merendam kakimu untuk waktu yang tidak
terbatas. "sahut Rara Warih. Namun jawab pengawal itu benar-benar
mengejutkan. Katanya "Puteri. Aku akan mandi. Aku mohon puteri juga
mandi dahulu di. sungai kecil ini." "Jangan gila" sahut Rara Warih.
Tiba-tiba saja pendiam itu telah tertawa. Terdengar aneh sekali.
Orang itu jarang sekali tertawa. "Gelap memang sudah turun puteri.
Itulah yang aku tunggu." katanya. "Apa maksudmu ?" bertanya Rara
Warih. "Tempat ini jauh dari padukuhan manapun juga puteri." desis
orang itu pula. "Jangan gila. Katakan apa maksudmu ?" bentak Rara
Warih yang bulu-bulunya mulai meremang. "Aku adalah hamba yang
paling setia dari istana Pangeran Sindurata" berkata pengawal itu "
karena itu, apakah salahnya jika sekali-sekali aku mendapat upah
mirunggan. Sebenarnyalah kecantikan Raden Ayu Galihwarit membuat aku
hampir gila. Tetapi kecantikan puteri benar-benar membuat aku sudah
gila” Rara Warih bergeser beberapa langkah surut. Tetapi pengawal
itu tertawa semakin keras "Puteri akan lari kemana? Betapapun juga
puteri tidak akan dapat menentangkeinginanku. Aku tahu rahasia
puteri dan seisi istana Sinduratan. Jika aku membuka mulut sedikit
saja dihadapain kumpeni, maka seisi istana itu akan digantung di
alun-alun." "Kau sudah gila" bentak Rara Warih. "Ya. Aku memang
sudah gila. Tetapi jangan melawan kegilaanku. Tidak ada gunanya."
berkata pengawal itu. "Kau akan dibunuh oleh kakangmas Juwiring."
geram Rara Warih. "Disini tidak ada Raden Juwir ing. Yang ada hanya
aku dan puteri. Jangan membuat aku marah. Hidup mati istana
Sinduratan ada ditanganku. Sebagaimana Raden Ayu Galihwar it telah
mengorbankan segala-galanya, maka puteripun harus bersedia berkorban
pula bagi kemenangan pasukan Pangeran Mangkubumi, diantaranya
pengorbanan seperti yang selalu ibunda puteri berikan." "Tidak.
Jangan sentuh aku" teriak Rara Warih. "Jangan berteriak" bentak
pengawal itu "aku dapat berbuat halus, tetapi aku dapat juga berbuat
kasar melampaui kekasaran orang yang benar-benar gila. Kau tklak
mempunyai pilihan lain puteri." Rara Warih masih ingin berteriak.
Tetapi orang itu telah menerkamnya. Dengan telapak tangannya ia
berusaha untuk menutup mulut Rara Warih. Tetapi Rara Warih sempat
menggigit tangan orang itu, sehingga mulutnya itupun sempat pula
terbuka. Yang terdengar adalah teriakan melengking didalam gelapnya
ujung malam. Namun tempat itu terlalu jauh dari padukuhan yang
manapun juga. Suara teriakan Rara Warih itupun segera lenyap. Tangan
pengawalnya yang kuat telah berhasil sekali lagi membungkamnya.
Kemudian Rara Warih itu tidak lagi berdaya oleh tangan-tangan yang
kuat dan kasar.Tetapi sejenak kemudian, terdengar keluhan tertahan.
Wajah laki- laki pendiam itu menjadi tegang. Matanya terbelalak
lebar. Perlahan-lahan tangannya menjadi lemah. Akhirnya ia
terjerumus menelungkup diatas pasir tepian. Rara Warih tidak sempat
melihat. Matanya terpejam. Namun ia masih sempat memekik keras
sekali. Namun akhirnya iapun jatuh ditanah. Pingsan. Tetapi
ditangannya masih tergenggam patrem kecil yang selalu dibawanya pada
saat-saat terakhir, setelah dua orang kumpeni terbunuh di halaman
rumahnya. Ketika Rara Warih sadar, ia berada disebuah bilik yang
sempit. Sebuah lampu minyak menyala berkeredipan. Pandangannya yang
semula samar-samar menjadi semakin jelas. Hampir saja ia terpekik
ketika ia melihat dua orang laki-laki yang bertubuh dan berpakaian
kasar berada di sisi pembar ingannya. Namun ia berhasil menahan diri
dan mengatupkan mulutnya rapat-rapat. "O, anak itu sudah sadar"
berkata yang seorang. Kawannya mengangguk-angguk. Kemudian katanya
"Aku akan memanggil Ki Lurah.” Rara Warih menjadi semakin cemas. Ia
memerlukan waktu sejenak untuk mengingat apa yang telah terjadi atas
dirinya. Namun kemudian ketakutannya menjadi semakin bertambah-
tambah. Ia berhasil membebaskan dir i dari pengawalnya yang gila.
Tetapi ia tidak tahu, dimana ia kemudian berada.Nampaknya ia
diketemukan oleh salah seorang diantara orang-orang kasar itu dan
dibawa kedalam sarangnya. Sejenak kemudian, seorang berjanggut putih
memasuki ruangan yang sempat itu. Sambil mengangguk-angguk ia
berkata "Kau sudah sadar ngger." Rara Warih tidak segera menjawab.
Tetapi dipandanginya orang itu sekilas. Nampaknya orang tua ini
tidak sekasar orang-orang lain yang ada diantara mereka. "Duduklah
jika kau sudah kuat" minta orang tua itu Rara Warihpun kemudian
berusaha untuk bangkit. Ketika salah seorang diantara orang-orang
kasar itu berusaha membantunya, maka gadis itu telah mengibaskan
tangannya. Sejenak kemudian Rara Warih telah duduk di bibir
pembaringannya. Dengan ragu-ragu iapun kemudian berdesis "Kiai, aku
ini berada dimana?" "Kau berada di Gebang ngger" jawab orang tua
itu. Jawaban itu memang sangat mengejutkan. Sekali lagi ia
menjelaskan "Di Gebang?" "Ya. Ampat orang peronda kami mendengar kau
menjerit. Ketika mereka datang, mereka menemukan kau pingsan dengan
patrem ditanganmu. Sementara seorang laki-laki terbujur disebelahmu.
Mati, karena perutnya kau cabik dengan patremini." "O" Rara Warih
menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Sementara orang tua
bertanya "Siapakah kau sebenarnya. dan kau akan pergi kemana ?"
"Tetapi apakah benar aku berada di Gebang Kiai? "bertanya Rara
Warih. "Ya. kau memang beraba di Gebang" jawab laki- laki itu. Rara
Warih menarik nafas dalam-dalam Meskipun ia maasih dibayangi oleh
keragu-raguan namun peristiwa yang baru sajaterjadi telah membuat
hatinya menjadi kabur. Karena itu maka ia tidak berpikir lebih lama
lagi. Katanya "Aku mencari seorang saudaraku yang berada di Gebang."
Orang-orang yang berada didalam bilik itu terkejut. Orang tua itupun
bertanya dengan bimbang: "Kau akan menrcari saudatamu ? Siapakah
nama saudaramu ?" Rara Warihpun merasa ragu. Tetapi sekali lagi
terdorong oleh keadaannya dan kebingungannya setelah terjadi
peristiwa yang tidak diduganya itu, ia berkata "Nama saudaraku
adalah Juwiring." Wajah orang-orang itu menegang sejenak. Orang tua
berjanggut putih itupun berkata "Apakah kau berkata sebenarnya ?"
"Ya. Aku adiknya" jawab War ih. "Sebutlah beberapa kenyataan tentang
anak muda yang kau sebutkan itu. Jika kau dapat mengatakan dengan
tepat, maka aku akan menolongmu. Tetapi jika tidak, maka kau akan
dihadapkan kepada pengadilan kita malam ini juga disini" berkata
orang berjanggut putih itu. Mengerikan sekali. Terasa kulit
diseluruh tubuh Rara Warih meremang. Pengadilan itu tentu akan
sangat mengerikannya dengan tingkah laku pengawalnya yang gila itu.
Karena itu, maka katanya "Kakangmas Juwir ing, putera Pangeran
Ranakusuma yang telah gugur." "Dan kau ?" desak orang berjanggut put
ih. "Aku adiknya Aku juga putera puteri Pangeran Ranakusuma." jawab
Rara Warih. Orang berjanggut putih itu menar ik nafas dalam-dalam.
Kemudian diraihnya sebilah patrem yang terletak diatas geledek bambu
didalam bilik yang sempit itu. Sambil memperhatikan patrem itu ia
berkata "Patrem ini adalahpatrem yang luar biasa. Tetapi apakah
benar kau puteri Pangeran Ranakusuma.?" "Pertemukan aku dengan
kakangmas Juwir ing. Biar lah ia mengadili aku Jika aku berbohong"
jawab Rara Warih. Namun akhirnya ia menjadi ragu-ragu ketika ia
melihat orang-orang itu saling berpandangan. Jika mereka bukan
orang-orang dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi, maka ia
akan mengalami nasib yang lebih buruk lagi. Orang tua itu tidak
menjawab sama sekali. Tapi kemudian melangkah keluar dan membiarkan
dua orang laki-laki kasar menungguinya. Sekali-sekali Rara Warih
melihat, betapa mata kedua orang laki- laki kasar itu menjadi liar
memandanginya. Ketika lampu minyak menjadi redup. yang seorang
diantara laki- laki kasar itu berkata "Lampu akan mati.” Jawab
kawannya memang mendebarkan jantung Rara Warih "Minyak sudah habis.
Bilik ini akan menjadi gelap sebentar lagi." Namun dalam pada itu.
dalam kegelisahan yang sangat, ia mendengar langkah- langkah kaki.
Tiba-tiba saja muncul dihadapannya, dimuka pintu bilik sempit itu,
tiga orang anak muda. Dua orang laki- laki dan seorang gadis.
"Kakangmas" Rara Warih berteriak sambil meloncat dari ambennya.
Sambil memeluk kakaknya maka gadis itu telah menangis
sejadi-jadinya. Buntal, dan Arum yang hadir juga, menarik nafas
dalam- dalam. Mereka membiarkan Rara Warih melepaskan perasaan yang
menghimpit hatinya. Baru kemudian kakangmasnya itu berkata
"Duduklah. Kita akan berbicara." Namun salah seorang laki-laki kasar
itu berkata "Silah-kan duduk diluar Raden. Bilik ini akan menjadi
gelap. Minyaklampu itu sudah kehabisan minyak, dan kita sudah tidak
mempunyai persediaan lagi untuk malam ini." Raden Juwiringpun
kemudian mengajak adiknya duduk diamben besar di ruang dalam yang
juga tidak begitu luas. Kepada orang berjanggut putih itu, Juwiring
mengatakan "Anak ini benar adikku Kiai." "Sokur lah Raden" berkata
orang berjanggut putih itu. Juwiring mengangguk-angguk. Kemudian
kayanya "Warih, jika tidak ada sesuatu yang sangat penting, kau
tentu tidak akan datang kemari. Akupun sudah mendengar cer itera
orang- orang yang menemukanmu. Siapa yang mati dipinggir sungai
kecil itu ?" "Pengawal eyang Sindurata" jawab Rara Warih "pengawal
yang paling setia dan pendiam. Ia selalu bersungguh-sungguh dan
dalam keadannya sehari-hari ia sangat sopan dan bertanggung jawab.
Tetapi ketika ibunda mempercayainya mengantar aku, ia telah
kehilangan nalarnya dan ingin bertindak diluar paugeran." "Dan kau
sendir i telah membunuhnya ?" bertanya Juwiring. "Aku tidak tahu
lagi apa yang aku lakukan. Tetapi aku membawa patrem dibawah bajuku.
Diluar sadarku, aku telah membunuhnya" desis Rara Warih sambil
menunduk. Air matanya mulai mengalir lagi dengan derasnya.
"Sudahlah" berkata Raden Juwiring "kau tidak bersalah. Kau membela
dir imu dalam keadaan yang tersudut. Tetapi apakah ada yang penting
sekali sehingga kau sendiri harus datang kemar i?" "Ya kakangmas,
karena sudah beberapa lama tidak seorangpun yang datang menghubungi
kami." jawab Rara Warih. "Bukankah istana eyang Sindurata kini
diawasi?" desis Juwiring "kami memang menjadi agak bingung
karenakeadaan. Petugas sandi mengatakan, bahwa istana Sinduratan
lelah diawasi oleh prajur it Surakarta dalam tugas sandi pula." "Ya.
Kami mengerti. Karena itu, kami tidak dapat mengharap kedatangan
salah seorang dari saudara- saudaramu. Buntal atau Arum atau
kedua-duanya." jawab Rara Warih "karena persoalannya penting sekali,
maka aku telah memberanikan dir i untuk mencarimu dengan diantar
oleh seorang pengawal. Tetapi pengawal itu menjadi gila” "Sudahlah.
Lupakan pengawal itu. Katakan, apa yang penting yang harus kita
ketahui disini" desis Raden Juwiring. Rara Warih menjadi ragu-ragu,
sementara Juwiring mendesaknya "Semua orang disini dapat dipercaya.
Katakanlah." "Apakah tidak ada petugas sandi lain yang telah
menyampaikannya kepada pimpinan pasukan disini ? "bertanya Rara
Warih. "Aku belum mendengar masalahnya" sahut Juwir ing t idak
sabar. Rara Warihpun kemudian mengatakan apa yang diketahui oleh
ibundanya. Malam ini Mayor Bilman tidak ada di loji karena ia harus
membawa pasukannya. Ia tidak dapat menugaskan orang lain, karena
pasukan itu akan berhadapan langsung dengan induk pasukan Pangeran
Mangkubumi. "Jadi kesimpulan ibunda, Mayor Bilman dan prajurit
Surakarta akan langsung menyerang Gebang?" bertanya Raden Juwiring.
Rara Warih mengangguk. "Apakah ibunda dapat menyebut kekuatan
pasukan kumpeni?" bertanya Juwiring. Rara Warih menggeleng. Katanya
"Ibunda tidak dapat menangkap isyarat lain, kecuali bahwa Mayor
Bilman akanmemimpin sendir i pasukan khususnya itu. Nampaknya
gerakan yang dilakukan kali ini adalah gerakan yang besar dan sangat
rahasia" "Ya" jawab Juwiring "t idak seorang petugas sandi-pun yang
menyinggung persoalan ini. Karena itu, aku harus segera menemui Ki
Wandawa. Jika benar Mayor itu berangkat malam ini, maka besok
pagi-pagi mereka tentu akan menyerang dengan tiba-tiba, setelah
mengepung daerah ini. Karena itu, kita harus bersiap apapun yang
akan kita lakukan. Tetapi adalah tekad Pangeran Mangkubumi untuk
selalu menghindari pertempuran besar-besaran. Meskipun demikian, aku
tidak tahu. keputusan apakah yang akan diambil kali ini." Raden
Juwiringpun kemudian mengajak kedua saudara angkatnya menghadap Ki
Wandawa. Untuk menjelaskan persoalannya, maka diajaknya pula Rara
Warih bersamanya. Sambil minta diri, Raden Juwir ing berkata kepada
orang berjanggut putih itu "Terima kasih Kiai Kau sudah
menyelamatkan adikku Aku mohon satu dua orang menyelenggarakan mayat
pengawal yang semula adalah orang yang setia dan bertanggung jawab
itu, namun yang justru telah kehilangan nalarnya." Demikianlah maka
Raden Juwiringpun telah menghadap Ki Wandawa dengan membawa Rara
Warih serta disamping kedua adik angkatnya. Dengan singkat ia
mengatakan yang telah didengar oleh Rara Warih dari ibundanya. Malam
ini pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta sedang dalam perjalanan
menuju ke Gebang. Ki Wandawa mengangguk-angguk. Laporan yang
diberikan atas dasar pemberitahuan dari Raden Ayu Galihwarit pada
umumnya dapat dipercaya. Karena itu. maka katanya "Aku akan
menghadap Pangeran. Mudah-mudahan Pangeran ada di
tempat."Demikianlah, maka Ki Wandawapun segera menghadap Pangeran
Mangkubumi untuk memberitahukan rencana kumpeni yang dapat disadap
oleh Raden Ayu Galihwarit. "Siapakah yang datang kemari untuk
membawa berita itu ?" bertanya Pangeran Mangkubumi. "Seorang puteri.
Adik Raden Juwir ing" sahut Ki Wandawa. "Siapa?" "Mamanya Rara
Warih" jawab Ki Wandawa yang kemudian dengan singkat pula
menceriterakan, kenapa gadis itu yang telah datang dan apa yang
telah terjadi dengannya diperjalanan. "Nampaknya berita itu sangat
bersungguh-sungguh. Jika tidak, maka Raden Ayu Ranakusuma tidak akan
melepaskan satu-satunya anak perempuannya itu. Untunglah bahwa ia
tidak menemui bencana diperjalanan. Karena itu, sebaiknya kita
memperhatikannya. Kita akan menghindari pertempuran besar itu.
Tetapi kita akan mengganggunya. Panggillah para Senapati. Aku akan
berbicara dengan mereka." Demikiankah semuanya dilakukan dengan
cepat dan tergesa-gesa. Waktunya sudah menjadi semakin sempit. Jika
kumpeni dan pasukan Surakarta itu datang, maka kesempatan untuk
membuat perhitungan yang lain tidak akan dapat di'akukannya lagi
kecuali membenturkan diri. Sementara itu Pangeran Mangkubumipun
mengerti, bahwa kumpeni tentu akan membawa segala jenis senjatanya.
Apalagi pasukan khususnya akan ikut mengambil bagian. Tentu akan
disertai pasukan berkuda dari prajur it Surakarta yang juga terkenal
itu. Setelah mereka menemukan kesepakatan, apa yang akan dilakukan
cleh pasukan Pangeran Mangkubumi itu, maka Pengeran Mangkubumipun
telah memer intahkan kepada semua Senapati untuk melakukan tugas
mereka sebaik- baiknya. Sementara itu Pangeran Mangkubumi
telahmember ikan perintah kepada pasukannya di Sukawati untuk
melakukan gerakan terpadu dengan pasukannya di Gebang. Demikianlah
dengan cepat segalanya telah dapat diatur sebaik-baiknya. Dalam
waktu singkat, maka Gebangpun telah dikosongkan. Sementara itu
beberapa orang penghubung berkuda telah menuju ke Sukawati.
Sedangkan beberapa orang petugas sandi harus mengamati jalan dar i
arah Surakarta. Dalam pada itu, para peronda telah melakukan
tugasnya pula. Para Senapati di Gebang telah memerintahkan melakukan
pengamanan atas rencana yang telah disusun. Sebelum pasukan
Surakarta datang, maka tentu akan ada petugas sandi yang akan
mengamati daerah yang akan menjadi sasaran. Menjelang pengosongan
Gebang, tiga orang telah ditangkap oleh para peronda karena mereka
mencur igakan. Mereka tidak dapat menjawab pertanyaan para peronda
dengan baik, dan apalagi ketika didalam kantong ikat pinggang mereka
terdapat tanda keprajuritan Surakarta. "Kalian ingin mengetahui, apa
yang kami lakukan disini ?" bertanya peronda itu. Petugas sandi itu
sama sekali tidak menjawab. Ketika mereka dibawa kepada orang yang
berwenang mengurusi mereka didalam pasukan Pangeran Mangkubumi,
orang-orang itu terkejut melihat bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi
telah melakukan satu gerakan menghadapi kedatangan pasukan kumpeni
dan prajurit Surakarta. "Kalian sudah mengetahui ?" bertanya petugas
sandi itu. Orang yang menahannya disebuah padukuhan kecil diluar
padukuhan Gebang tersenyum. Katanya "Kami akan menyambut kedatangan
kalian sebaik-baiknya.""Setan" geram petugas sandi dari Surakarta
itu "jadi ada juga pengkhianat yang menyampaikan kepada kalian
tentang gerakan pasukan itu ?" "O" sahut orang yang menahannya "jadi
kau menganggap orang yang menyampaikan berita itu sebagai
pengkhianat ?" "Ya. Mereka telah menentang Kangjeng Susuhunan."
jawab orang itu. "Tidak Ki Sanak" jawab orang yang menahannya "kami
sama sekali tidak merasa memusuhi Kangjeng Susuhunan." Petugas sandi
dari Surakarta itu memandang orang yang menahannya dengan tatapan
mata tajam. Dengan nada dalam ia bertanya "Jika kalian tidak
menentang Kangjeng Susuhunan, lalu apa yang kalian lakukan disini ?"
"Kami menentang kehadiran kumpeni di Surakarta" jawab orang yang
menahannya. "Tetapi itu sama artinya menentang Kangjeng Susuhunan
karena Kangjeng Susuhunan menyatakan menerima kedatangan mereka di
Surakarta." jawab petugas sandi itu. Tetapi pengikut Pangeran
Mangkubumi itu tersenyum. Jawabnya "Apakah kau yakin bahwa Kangjeng
Susuhunan menerima kedatangan mereka dengan ikhlas? Apakah kau tidak
pernah berpikir, bahwa Kangjeng Susuhunan memer lukan dukungan yang
nyata untuk mengambil satu langkah mengusir kumpeni itu dari
Surakarta?" Para petugas sandi itu termenung. Pertanyaan itu memang
menyentuh hatinya. Karena itu, maka ia tidak menjawab sama sekali.
Dalam pada itu, Gebang menjadi sibuk. Pasukan Pangeran Mangkubumi
segera mempersiapkan dir i sesuai dengan rencana yang telah mereka
susun. Gebang memang dikosongkan. Tetapi tidak sama sekali kosong.
Masih ada yangtersisa, yang harus memancing satu gerakan kumpeni dan
pasukan Surakarta. Untuk beberapa saat pasukan Pangeran Mangkubumi
menunggu dengan berdebar-debar. Apakah yang disampaikan oleh adik
perempuan Juwir ing dan bersumber dari Raden Ayu Ranakusuma itu
benar-benar akan terjadi. Sebenarnyalah pada saat itu, pasukan
kumpeni yang dipimpin langsung oleh Panglima pasukan khusus tengah
bergerak maju bersama sepasukan prajurit Surakarta, termasuk pasukan
berkuda. Mereka keluar dari kota setelah matahari terbenam. Menurut
perhitungan mereka perjalanan mereka tentu tidak akan diketahui oleh
Pangeran Mangkubumi. Bahkan beberapa orang Senapati dari tataran
menengahpun baru mengetahui apa yang akan mereka lakukan, setelah
pasukan itu mulai bergerak. Mayor Bilman di bantu oleh seorang
kapten yang memiliki pengalaman hampir seluas Mayor Bilman itu
sendir i, telah membawa pasukan yang sangat kuat. Seperti yang
diperhitungkan oleh para Senapati Pangeran Mangkubumi. maka mereka
telah membawa beberapa buah mer iam kecil beroda yang ditarik oleh
kuda. Dengan mer iam-meriam itu mereka akan memecah pertahanan
Pangeran Mangkubumi, sehingga pasukannya akan menerobos dengan mudah
untuk menghancurkannya sama sekali. Dalam pasukan segelar sepapan,
prajurit Surakarta dan kumpeni itu dipimpin langsung oleh Pangeran
Yudakusuma. Namun demikian, ia memberi keleluasaan yang besar bagi
kumpeni untuk menentukan langkah khusus asal tidak bertentangan
dengan kesepakatan mereKa. Demikianlah, di gelapnya malam pasukan
itu merayap maju. Ternyata untuk mengamati jalan, beberapa orang
petugas sandi sudah dikirimkan lebih dahulu di muka pasukan yang
besar dan kuat itu.Namun dalam pada itu, kumpeni telah
memperhitungkan pula kemungkinan adanya pengawas dari pasukan
Pangeran Mangkubumi. "Jika pengawas itu melihat pasukan ini, maka
kita tentu sudah dekat. Mereka tidak akan sempat berbuat banyak,
sementara pasukan berkuda kita akan dapat mendahului dan mengepung
Gebang, sementara pasukan kitapun akan segera sampai." berkata
seorang perwira kumpeni kepada Mayor Bilman. Semakin dekat dengan
Gebang, maka pasukan itupun menjadi semakin berdebar-debar. Para
Senapati dari prajur it Surakartapun menjadi gelisah. Mereka akan
bertemu dengan saudara-saudara mereka sendiri dalam sikap dan
pendirian yang berbeda. Namun dalam pada itu, kumpeni merasa, bahwa
sergapan mereka sekali ini tidak akan gagal. Mereka harus dapat
menguasai dan menghancurkan induk pasukan itu. "Jika Pangeran
Mangkubumi ada di Gebang, maka ia harus dapat ditangkap, hidup atau
mati" berkata Mayor Bilman. Tetapi Mayor itupun menyadari, bahwa
Pangeran Mangkubumi kadang kadang tidak ada di dalam lingkungannya.
Mungkin ia berada di Sukawati. Mungkin di Gunung Garigal. Mungkin
justru di tengah-tengah kota Surakarta tanpa diketahui oleh siapapun
juga. Ketika mereka semakin dekat dengan Gebang, maka seperti yang
mereka duga, tiba-tiba saja dua panah sendaren telah meluncur di
langit. Suaranya bagaikan jerit panjang yang melengking menuju ke
padukuhan Gebang. “Seorang pengawas melihat pasukan ini” berkata
kapten Kenop kepada Mayor Bilman "apakah sebaiknya pasukan berkuda
mulai bergerak untuk mengepung Gebang? Dengan demikian, maka kita
sudah memberikan kesan, bahwa mereka tidak sempat lagi meninggalkan
sarang mereka, sehinggamereka harus bertahan. Pada kesempatan
berikutnya, menjelang fajar, kita akan menghancurkan pertahanan
mereka dengan meriam-mer iam." Mayor Bilman merenung sejenak.
Kemudian katanya kepada seorang perwiranya "Laporkan kepada Pangeran
Yudakusuma. Pasukan berkuda akan bergerak. Justru bersama-sama
dengan pasukan berkuda dari Surakarta sendiri." Perwira itupun
segera menghadap Pangeran Yudakusuma. Ternyata Pangeran Yudakusuma
itu tidak berkeberatan. Sejenak kemudian, maka pasukan berkuda
itupun mulai bergerak. Derap kaki kuda telah menyayat sepinya malam.
Debu yang putih berhamburan bagaikan kabut yang turun di malamhari.
Pasukan berkuda itupun kemudian memisahkan diri menjelang sampai ke
padukuhan. Mereka akan mendekati Gebang dari dua arah. Yang separo
akan melingkari padukuhan itu untuk memberikan kesan, bahwa Gebang
telah terkepung, sementara yang lain akan datang dar i jurusan yang
berbeda untuk member ikan kesan yang sama. Tetapi pasukan berkuda
yang melingkar i Gebang terkejut, Mereka melihat belum begitu jauh,
pasukan Pangeran Mangkubumi meninggalkan Gebang. Sebagian dar i
mereka justru membawa obor untuk menerangi jalan yang mereka lalui.
"Gila" geram kapten Kenop "mereka mampu bergerak demikian cepatnya.
Begitu isyarat itu naik keudara. mereka telah siap untuk
meninggalkan Gebang. He, apakah mereka sudah mendengar sebelumnya
bahwa pasukan ini akan datang ?" Kapten Kenop termangu-mangu
sejenak. Kemudian diperintahkannya dua orang penghubung untuk
melaporkannya kepada Mayor Bilman dan PangeranYudakusuma yang masih
dalam perjalanan meskipun merekapun sudah dekat. Laporan itu cukup
mengejutkan. Mayor Bilman sendiri kemudian menemui Pangeran
Yudakusuma. Keduanya sepakat untuk mendahului pasukannya Berkuda
serta di kawal oleh beberapa orang prajurit, keduanya mendahului
pasukannya menyusul pasukan berkuda yang telah berada di seberang
Gebang. Kedatangan keduanya belum terlambat. Lamat-lamat mereka
masih melihat orang- orang terakhir dar i iring- iringan pasukan
Pangeran Mangkubumi yang meninggalkan Gebang sambil membawa obor.
“Ini adalah satu kegilaan yang tidak dapat dimaafkan” bentak Mayor
Bilman" ikut aku melihat keadaan Gebang” Tetapi ketika Mayor itu
mulai bergerak, kapten Kenop berkata "Biarlah dua orang pengamat
mendahului perjalanan Mayor memasuki padukuhan itu. Siapa tahu, kita
berada dalam jebakan,” Mayor yang marah itu menarik nafas
dalam-dalam. Sambil mengangguk ia berkata "Bagus kapten. Segera
perintahkan dua orang pengamat." Dua orang yang mendapat perintah
untuk melihat keadaan padukuhan itupun segera merayap mendekat
dengan hati- hati. Ketika mereka sampai di regol padukuhan, ternyata
regol itu sepi. Tidak ada seorangpun yang berjaga-jaga
digardu.Ketika mereka memasuki padukuhan itu beberapa langkah, maka
yakinlah mereka, bahwa padukuhan itu telah kosong, sehingga
merekapun kemudian berlar i-lari menyusuri jalan padukuhan untuk
meyakinkan pengamatan mereka. Ketika mereka mengetuk dan kemudian
membuka dengan paksa pintu-pintu rumah, maka rumah-rumah itupun
telah kosong. Sambil mengumpat keduanya dengan tergesa-gesa kembali
kepada kapten Kenop untuk melaporkan, apa yang mereka lihat di
padukuhan itu. "Mustahil" geram Kapten Kenop "j ika mereka tahu pada
saat isyarat itu dilontarkan, mereka tentu belum selesai bersiaga.
Menurut kesimpulanku, mereka sudah memperhitungkan bahwa Gebang akan
dikepung hari ini." "Tetapi tidak mungkin rahasia ini bocor" geram
Mayor Bilman. "Ya. Tidak mungkin" sahut Pangeran Yudakusuma
"segalanya dilakukan dengan penuh kewaspadaan dan berhati-hati."
"Tetapi kita tidak dapat mengingkari kenyataan ini" berkata kapten
Kenop kemudian. "Kita tidak ada waktu untuk berbantah sekarang"
berkata Mayor Bilman "pasukan Pangeran Mangkubumi masih belum jauh.
Kita akan mengikuti mereka. Ternyata mereka cukup bodoh, sehingga
mereka justru membawa obor yang akan dapat menuntun kita dengan
mudah mengikuti mereka. "Apakah kita akan menyergap mereka?"
bertanya seorang perwira. "Kita akan mengikut i mereka. Jika fajar
menyingsing, dimanapun mereka berada, kita akan menyergap dan mengi
hancurkan. Mungkin kita tidak akan dapat mengepungnya. Tetapi mereka
tidak akan dapat melarikan diri dari pasukan berkuda" sahut Mayor
Bilman.Demikianlah, maka Pangeran Yudakusumapun telah mengambil satu
sikap. Dipanggilnya para Senapatinya untuk mendengar perintahnya.
Mereka akan mengikuti pasukan Pangeran Mangkubumi yang agaknya juga
hanya berjalan kaki. Pasukan berkuda akan berada didepan, tetapi
mereka akan maju bersama pasukan lain yang tidak berkuda. Mereka
akan mengikuti pada jarak tertentu, sehingga Pangeran Mangkubu. mi
tidak menyadari, bahwa mereka telah diikuti. Perintah itu jelas bagi
setiap Senapati. Karena itu, maka merekapun segera menyiapkan
pasukan maeing-masing. Dipaling depan adalah pasukan berkuda yang
dipimpin oleh kapten Kenop. Baru kemudian pasukan yang lain, yang
mengiringinya dengan berjalan kaki. Tidak sulit bagi pasukan itu
untuk mengikuti pasukan Pangeran Mangkubumi dari jarak yang cukup.
Merekan melihat obor bergerak ditengah-tengah bulak. Berpuluh-puluh.
Meskipun nampaknya tidak setiap orang membawa obor, tetapi dari yang
paling ujung, sampai ke pangkalnya, nampak iring- iringan itu cukup
panjang. "Seluruh isi Gebang ikut dalam ir ing-ir ingan itu" berkata
Kapten Kenop "nampaknya mereka menuju ke Sukawati." "Ya mereka
menuju ke Sukawati" sahut perwira yang lain "tetapi mereka tidak
akan sampai di Sukawati Sebentar lagi langit akan mulai dibayangi
fajar. Pasukan Pangeran Mangkubumi itu merayap seperti siput."
Kapten Kenop tidak menjawab. Namun ia memang harus menahan hati
untuk menunggu fajar. Sebenarnyalah menurut perhitungan, perang itu
akan lebih baik dilakukan setelah matahari terbit, agar tidak
terjadi salah paham. Apalagi kumpeni agak sulit untuk membedakan
orang-rang pribumi, kecuali dari ujud pakaiannya saja. Untuk
beberapa pasukan Kumpeni dan prajur it Surakarta itu mengikuti
puluhan obor yang menyingkir dar i Gebang.Sementara itu kapten Kenop
sudah memperhitungkan, bahwa diantara mereka tentu terdapat
perempuan dan anak-anak. "Tetapi, apaboleh buat" berkata kapten yang
garang itu "jika terjadi sesuatu atas perempuan dan anak-anak ilu
adalah tanggung jawab Pangeran Mangkubumi. karena ia tidak dengan
tegas memisahkan mereka dengan pasukannya." Kapten Kenop sudah
memerintahkan sepasukan kecil dari pasukan berkuda itu untuk
menyerang dari lambung, meskipun mereka harus menyeberangi sawah
yang basah. Kemudian pasukan yang lain akan menyerang dari belakang.
Jika sebagian dar i mereka akan ber lari cerai berai, maka sudah ada
petugas-petugas yang akan mengejar mereka dan menghancur lumatkan.
Sejenak kemudian ternyata bahwa iring-iringan orang membawa obor itu
melintasi sebuah sungai yang curam. Karena itu, maka kapten Kenop
telah memerintahkan agar mereka yang membawa meriam berhati-hati.
"Meriam-mer iam itu jangan sampai terperosok ketempat yang sulit
untuk di angkat" katanya kepada penghubung yang segera
menyampaikannya kepada pasukan kecil yang bertanggung jawab atas
meriam-meriam yang mereka bawa. Demikianlah, maka kapten Kenop
melihat obor-obor itu turun ke sungai, namun beberapa saat kemudian
nampak obor obor itu mendaki di seberang. Kapten Kenop sudah
membayangkan, bahwa sungai itu akan dapat sedikit menghambat
pasukannya. Agaknya pasukan Pangeran Mangkubumi harus maju lebih
lambat lagi ketika mereka menyeberang sungai itu, apalagi agaknya
diseberang tebingpun curampula. Tetapi kapten Kenoppun tahu, karena
ada jalur jalan yang memang melintasi sungai itu, tentu jalan
menyeberang itupun akan dapat ditempuhnya, meskipun agak
sulit.Ketika pasukan berkuda yang berada di ujung pasukan itu sampai
ditebing, maka kapten Kenoppun memerintahkan pasukannya berhenti
sejenak. Dipandanginya obor-obor dihadapannya merayap menjauhi
tebing diseberang sungai. Tetapi jarak mereka justru menjadi semakin
dekat. Tetapi dalam pada itu, fajar masih belum menyingsing,
meskipun bintang-bintang sudah jauh bergeser ke Barat. Namun agaknya
dini hari sudah terlalu dekat sehingga kapten Kenop merasa perlu
untuk memperingatkan pasukannya. Baru sesaat kemudian, maka kuda
yang pertamapun menuruni tebing yang curam, tetapi yang ternyata
memang ada jalur jalan yang tidak terlalu sulit untuk dilalui. Namun
seperti yang diperingatkan oleh kapten Kenop, mereka yang membawa
mer iam memang harus berhati-hati sekali, agar roda-roda meriam itu
tidak tergelincir sehingga mer iam-meriam kecil itu akan jatuh
terlentang. Agaknya beberapa orang harus ikut menahan pada saat
kuda-kuda yang menarik mer iam itu menuruni tebing. Demikianlah
pasukan berkuda yang dipimpin kapten Kenop itulah yang pertama-tama
menyeberang. Kemudian induk pasukannya yang berjalan beriringan
dibelakang diba-wah pimpinan Pangeran Yudakusuma dan Mayor Bilman.
"Kita sudah berjalan cukup jauh dari Gebang" berkata Mayor Bilman.
“Ya” jawab Pangeran Yudakusuma "tetapi Sukawati-pun masih cukup
jauh. Sebentar lagi langit akan dibayangi oleh fajar, dan kitapun
akan cepat bergerak menghancurkan pasukan itu." "Kita akan
melumatkannya" geram Mayor Bilman. "Tetapi ingat, jika diantara
mereka terdapat keluarga yang tidak bersalah. Perempuan dan
anak-anak, maka merekabukannya sasaran kita.” Pangeran Yudakusuma
memper ingatkan. Mayor Bilman tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah
didalam hatinya terbersit pikiran seperti juga kapten Kenop, bahwa
tanggung jawab akan terletak kepada Pangeran Mangkubumi yang justru
mempergunakan perempuan dan anak-anak sebagai perisainya. Namun
ternyata terjadilah hal yang sama sekali t idak diduga-duga. Kapten
Kenop yang memimpin pasukan berkuda masih tetap menganggap bahwa
jarak mereka dengan pasukan Pangeran Mangkubumi yang diikut inya
masih tetap cukup jauh, meskipun ia akan dapat menyergapnya dengan
tiba-tiba. Ketika pasukan berkuda itu naik keatas tebing diseberang,
mereka masih tetap melihat obor-obor itu dihadapan mereka. Demikian
langit mulai terang, maka pasukan berkuda itu akan segera berpacu
menghantam pasukan itu dari arah sebagaimana di kehendakinya. Tetapi
yang terjadi benar-benar diluar perhitungan kapten Kenop dan para
Senapati dalam pasukan kumpeni dan prajur it Surakarta itu. Demikian
pasukan itu naik ke atas tebing, tiba- tiba telah datang serangan
yang mengejut dari arah depan. Ternyata pasukan Pangeran Mangkubumi
yang sebenarnya bukannya iring- iringan yang membawa obor itu.
Tetapi pasukan itu telah menunggu mereka diatas tebing. Serangan
yang tiba-tiba itupun sangat mengejutkan. Beberapa orang kumpeni
dari pasukan berkuda itu tidak sempat melawan. Demikian orang-orang
yang bersembunyi dibalik tanggul, gerumbul-gerumbul dan bebatuan itu
meloncat menyergap sambil berteriak nyaring, maka beberapa orang
kumpeni telah terlempar dari punggung kuda mereka. Betapa kemarahan
telah menghentak didada kapten Kenop. Sebagai seorang perwira yang
memiliki pengalaman yang luas dan yang pernah menjelajahi samodra
dan benua, maka iapuncepat mengambil sikap. Dengan pedang teracu,
maka iapun telah meneriakkan aba-aba bagi pasukannya. Beberapa orang
dari pasukan berkuda itu berusaha naik keatas tebing untuk
mendapatkan pancatan perlawanan seperti yang dikehendaki oleh kapten
Kenop. Ia sendir i sudah berada diatas. Dengan pedang ditangan iapun
segera mengamuk seperti singa kelaparan Sementara itu beberapa orang
anak buahnyapun berhasil naik keatas tebing dan bertempur
bersamanya. Tetapi lawan terlalu banyak. Pasukan Pangeran Mangkubumi
masih bermunculan dari balik batang-batang perdu dan pandan. Bahkan
ada diantara mereka yang melontarkan lem-bing- lembing bambu
berbedor besi yang runcing. Mayor Bilman yang melihat keadaan itupun
segera mengambil sikap. Diperintahkannya pasukannya untuk cepat
mengatasi kekalutan yang terjadi. Di atas tebing ternyata telah
menunggu pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat "Kita sudah dikelabui
oleh obor-obor itu" teriak Mayor Bilman "kita harus cepat mengatasi
kekalutan dan menar ik garis berlawanan yang jelas." Sementara itu,
prajurit Surakartapun telah mengambil jarak. Mereka menebar
sepanjang sungai. Mereka harus mendaki tebing pada tebaran yang agak
luas, agar mereka tidak dihancurkan justru dimedan yang terlalu
sempit. . Dengan demikian, maka pasukan Surakarta itu memencar
sebelah menyebelah di bawah tebing. Baru kemudian mereka memanjat
naik. Mereka memperhitungkan, bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi
berkumpul di hadapan kumpeni yang naik di jalur jalan menyeberang.
Jika mereka berhasil, maka mereka justru akan dapat mejyerang
pasukan Pangeran Mangkubumi yang menunggu diseberangi itu dari arah
lambung.Tetapi perhitungan mereka itupun ternyata meleset. Ketika
prajurit Surakarta itu menebar, maka tiba-tiba saja telah datang
pula serangan dari dua arah. Dari balik gerumbul di pinggir kali di
bawah tebing, dan dari balik bebatuan, telah muncul pula para
pengikut Pangeran Mangkubumi dengan senjata telanjang. Bahkan ada
diantara mereka yang lebih senang membawa sepotong bambu wuhing yang
diruncingkan, menjadi tombak yang justru menger ikan. Ujung bambu
yang rucing itu telah di basahi dengan minyak, kemudian di panggang
di panasnya api sehingga menjadi kehitam-hitaman. Sebelum
dipergunakan maka ujung bambu yang diruncingkan itu digosok dahulu
dengan pasir dan dihunjamkan kepada tanah tujuh kali. Dengan
demikian seandainya mereka bertemu dengan lawan yang kebal atau
mempunyai aji lembu sekilan, maka kekebalan akan dapat ditembus.
Kehadiran pasukan dari sebelah menyebelah itu telah menambah
kebingungan pasukan Surakarta. Mereka tidak sempat memanjat tebing,
karena segera mereka terlibat dalam pertempuran diatas bebatuan.
Mereka berloncatan dan saling menyerang dalam keadaan yang kisruh.
Kedua belah pihak tidak sempat memasang gelar, sehingga yang terjadi
kemudian ada lah perang brubuh. Pangeran Yudakusuma ternyata masih
tetap mampu berpikir dengan tenang. Iapun kemudian memerintahkan
menarik sebagian dari pasukannya yang masih belum turun tebing.
Pasukan itulah yang akan membentuk gelar, dan yang kemudian akan
maju dengan teratur. Tetapi sekali lagi rencana itu tidak dapat
dilakukannya. Selagi kekuatan terjadi, maka dari belakang, pasukan
yang kuat telah menerkam pasukan Pangeran Yudakusuma. Ternyata
pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta itu telah dikepung rapat.
Dihadapan mereka adalah pasukan yang datang dari Sukawati. Kemudian
dari sebelah menyebelah danyang kemudian menghantam mereka dari
belakang adalah pasukan yang semula berada di Gebang. Berita yang
dibawa olah Rara Warih telah sempat dipergunakan sebaik-baiknya,
sehingga dengan persiapan yang mapan, maka pasukan Pangeran
Mangkubumi telah berhasil menjebak kumpeni dan para prajur it dari
Surakarta. Pertempuranpun kemudian berlangsung dengan sengitnya.
Sementara itu, ketika terdengar ledakan-ledakan senjata api mulai
membelah hiruk pikuk pertempuran, maka obor-obor yang semula diikut
i oleh kumpeni itupun segera padam. "Gila" kapten Kenop mengumpat"
mereka telah menjebak kita dengan licik," Sementara itu, orang-orang
yang semula membawa obor itupun telah berkumpul. Mereka adalah
orang-orang yang sengaja telah memencar dengan obor pada jarak yang
jauh. agar dengan demikian, dari kejauhan dan didalam kegelapan,
nampak seolah-olah satu iring-ir ingan yang panjang dari sekumpulan
orang yang cukup banyak. Namun sebenarnya jumlah mereka tidak
terlalu banyak. Bahkan hanya beberapa puluh orang saja. Diantara
mereka justru wanita yang bersedia berbuat sebagaimana kewajiban
mereka di peperangan. Pada suatu saat mereka harus menyediakan makan
dan minum bagi para prajurit dimanapun mereka berhenti. Juga
diantara mereka terdapat orang-orang yang akan dapat membantu
melakukan pengobatan atas mereka yang terluka. Ketika mereka
menyadari bahwa pertempuran telah berkobar di sungai sebagaimana
memang telah direncanakan, maka sekelompok orang itu telah
bersiap-siap dan justru bergerak mendekat, meskipun t idak terjun
kearena karena mereka mempunyai tugas tersendiri. Pada mereka
terdapat bukan saja makanan yang siap dibagikan, tetapi juga bahan-
bahan yang perlu mereka amankan dar i Gebang.Didalam kelompok itu
terdapat Rara Warih yang datang ke Gebang untuk menyampaikan pesan
ibunya. Selain Warih, Arumpun telah mengawaninya pula. Namun
diantara kelompok itu terdapat pula beberapa orang yang siap
bertempur apabila diperlukan. "Agaknya pertempuran itu telah menjadi
dahsyat sekali" desis Rara Warih. "Ya puteri. Tetapi kita yakin,
bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat akan menang. Puteri
ternyata telah menyeiamatkan kami dari kehancuran mut lak. Melihat
kekuatan kumpeni dan pasukan dari Surakarta, kita tidak akan dapat
melawannya apabila kita harus berhadapan dalam garis perang. Tetapi
dalam sergapan yang tiba-tiba demikian, kesempatan bagi kumpeni
tidak terlalu banyak. Merekapun tidak akan dapat mempergunakan
meriam-meriam mereka, karena perang yang terjadi adalah perang
brubuh." jawab Arum. Rara Warih mengangguk-angguk. Iapun telah
mendengar bahwa bukan saja pasukan yang berada di Gebang yang telah
dikerahkan. Tetapi juga pasukan yang berada di Sukawati dan
padukuhan-padukuhan di sekitarnya. Sebenarnyalah bahwa pertempuran
yang terjadi adalah dahsyat sekali. Pasukan Pangeran Mangkubumi
ternyata merupakan pasukan yang kuat tangguh. Bahkan sebagian dari
mereka telah berada dimedan sebagaimana sebagian dari kumpeni dan
pasukan berkuda. Dipimpin oleh Raden Juwiring maka pasukan yang
terlatih telah bersiap melawan kumpeni dan prajurit Surakarta dari
pasukan berkuda. Dalamkekalut an perang itu, Juwiring yang berada
disebuah padukuhan terdekat dari jebakan itu telah mucul bersama
pasukannya. Sementara itu, sebagian dari kumpeni yang marah,
berusaha melepaskan dir i. Mereka mendendam terhadap orang-orang
yang semula membawa obor dan memancing mereka mengikuti sehingga
mereka sampai ketempat jebakan.Karena itu, maka sebagian dari
kumpeni dan prajurit Surakarta dari pasukan berkuda, telah menerobos
pasukan Pangeran Mangkubumi. Dengan kemarahannya yang
menghentak-hentak jantung mereka berusaha memburu orang-orang yang
membawa obor. yang kemudian mereka sadari tentu tidak sebanyak yang
mereka duga. Namun dalam pada itu, orang-orang yang ada didalam
kelompok kecil itupun telah bersiap pula. Mereka melihat sekelompok
kecil itupun telah bersiap pula. Mereka melihat sekelompok
orang-orang berkuda berpacu kearah mereka. "Minggir lah" Arumlah
yang kemudian mengatur perempuan-perempuan yang ada diantara mereka
"kalian tentu tidak akan mampu melawan pasukan berkuda itu. Biarlah
para pengawal menyelesaikan." Perempuan-peremuan itupun kemudian
segera menepi. Bahkan merekapun telah menyeberangi parit dipinggir
jalan dan berdiri di belakang tanggul. Sementara itu, beberapa orang
pengawal yang ada diantara mereka telah bersiap dengan senjata
masing-masing. Tetapi dalam pada itu, ternyata Juwiring melibat
kelicikan pasukan berkuda itu. Karena itu, bersama beberapa orang
kawannya iapun telah memburunya. Sejenak kemudian, maka telah
terjadi pula pertempuran antara dua kelompok pasukan berkuda.
Juwiring, Buntal dan kawannya telah bertempur dengan pasukan berkuda
yang dikejarnya dan kawan-kawannya. Pertempuran, berkuda itupun
telah terjadi dengan sengitnya. Ternyata yang memburu kumpeni dan
pasukan berkuda Surakarta itu diantaranya adalah bekas anak buah
Juwiring ketika ia masih menjadi salah seorang Senapati muda dalam
lingkungan pasukan berkuda di Surakarta.Karena itu, maka pertempuran
itupun telah terjadi dengan sengitnya. Masing-masing memiliki
kelebihan sesuai dengan perkembangan setiap pribadi didalam pasukan
itu. Dalam pertempuran yang semakin sengit, maka beberapa ekor kuda
telah tejun ke sawah yang basah, tetapi ada juga diantara mereka
yang bertempur di sawah yang kering. Namun tanaman jagungpun telah
menjadi rusak dan berserakan. Ketika seorang kumpeni terlempar dari
kudanya yang terperosok kedalam parit, maka dengan serta merta,
iapun segera bangkit berdiri. Tetapi ternyata ia tidak berlari
mengejar lawannya yang berkuda. Dendam dan kemarahannya tidak
terkendali lagi, sehingga ketika ia melihat beberapa orang
perempuan, maka tiba-tiba saja ia berteriak "Tentu kalianlah yang
telah mengelabui kami dengan obor- obor itu.” Perempuan-perempuan
itu menjadi sangat nger i. Ketika kumpeni itu kemudian mendekati
mereka dengan pedang teracu, maka merekapun menjadi saling
berdesakan. Sementara itu, pertempuran menjadi semakin dahsyat. Di
sungai yang bertebing curam itu, telah terjadi pertempuran yang
dahsyat antara pasukan Pangeran Mangkubumi yang besar menghadapi
kumpeni dan prajurit Surakarta segelar sepapan. Namun agaknya
sergapan pertama dar i pasukan Pangeran Mangkubumi ikut pula
menentukan. Kecuali yang bertempur di antara tebing yang curam itu.
terjadi juga pertempuran berkuda yang sengit. Kuda-kuda berlarian
dan meringkik keras-keras. Para penunggangnya telah bertempur dengan
ilmu masing-masing yang berbeda watak dan tabiat. Namun kedua belah
pihak adalah pasukan terpilih yang mempunyai kelebihan dari para
prajurit yang lain. Ketika langit menjadi terang, maka pertempuran
itupun menjadi semakin jelas. Sungai yang bertebing curam
itubagaikan mengalirkan darah. Airnya menjadi merah dan pasir
te-piannyapun telah ditaburi dengan tubuh yang terbujur lintang. Di
tepian Mayor Bilman bertempur dengan garangnya Pedangnya
terayun-ayun mengerikan. Beberapa orang pengawalnya yang terpilih
bertempur disekitarnya menghadapi pasukan Pangeran Mangkubumi yang
sedang marah. Sementara itu. Pangeran Yudakusuma pun bertempur
dengan dahsyatnya pula. Seperti badai ia mengamuk, sehingga dengan
demikian maka senjatanya telah menjadi merah karena darah. Diantas
tebing, kapten Kenop memimpin pasukan berkuda melawan pasukan
Pangeran Mangkubumi yang datang dari Sukawati. Betapapun garangnya
kapten yang di segani oleh bajak laut yang paling buas sekalipun
itu, ternyata mengalami kesulitan. Pasukan Pangeran Mangkubumi
menyerangnya dari segala arah. Mereka tidak menghiraukan kaki-kaki
kuda yang akan dapat menginjak mereka sampai lumat. Ketika langit
menjadi semakin terang, maka Arum berdiri tegak di paling depan dari
perempuan-perempuan yang merasa ngeri melihat seorang kumpeni yang
seakan-akan terlepas dari medan dan mendekati mereka. Senjatanya
teracu-acu, sementara mulutnya mengumpat-umpat. Matanya yang merah
dan liar membuat wajah yang kemerah-merahan itu menjadi semakin
menger ikan. "Aku akan membunuh kalian" geram kumpeni itu "kalian
telah menjebak kami, sehingga banyak kawan-kawan kami yang mati."
Tetapi Arum tidak menjadi gemetar. Sambil berdiri tegak dihadapan
perempuan-perempuan itu, ia berkata "Jangan licik. Seharusnya kau
tidak melawan perempuan-perempuan. Kenapa kau tidak mencar i lawan
diantara prajurit berkuda itu,""Aku nanti akan membunuh mereka.
Tetapi sekarang aku akan membunuh kalian, karena kalian sama
jahatnya dengan laki- laki pengkhianat yang manapun juga" jawab
kumpeni itu. "Kami tidak akan menyerahkan leher kami" bentak Arum,
Ditangan Arumpun telah tergenggamsehelai pedang pula. "Kau akan
melawan aku ?" kumpeni itu menjadi heran. "Bukan sekedar melawan.
Tetapi aku akan membunuhmu” Kumpeni itu menjadi ragu-ragu sejenak.
Ketika ia berpaling, dilihatnya pertempuran menjadi semakin dahsyat
di-mana- mana. Bahkan kemudian itidak ada lagi batas antara kedua
belah pihak yang bertempur dalam perang brubuh, dan bercampur-baur.
Tetapi kumpeni itupun kemudian berkata "Tidak ada gunanya kau
melawan. Kematianmu akan menjadi semakin sendat. Jika kalian
menyerah, kalian akan cepat mati dengan tanpa merasakan sakit sama
sekali, karena pedangku adalah pedang yang sangat tajam.” Arum tidak
menjawab. Tetapi iapun telah mengacukan pedangnya. Ketika seorang
penunggang kuda berlar i didekatnya sambil memburu lawannya yang
menghindar, Arum memandanginya sejenak, sementara penunggang kuda
itupun berpaling pula kepadanya. Namun agaknya penunggang kuda itu
sempat berteriak "Selesaikan saja orang itu Arum." Arum menar ik
nafas dalam-dalam. Dilihatnya Buntal itupun kemudian telah terlibat
pula dalam pertempuran berkuda yang sengit. Dalam pada itu, kumpeni
itupun mengumpat sejadi-jadinya. Dengan senjata teracu ia mendekati
Arum sambil berkata "Jika memang itu yang kau kehendaki, baiklah.
Kita akan bertempur."Arum masih tetap diam. Tetapi ia mulai bergeser
maju untuk mengambil jarak dar i perempuan-perempuan yang semakin
berdesakan. "Mundur lah" berkata Arum kepada kawan-kawannya "biarlah
aku menyelesaikan orang ini." Kemarahan kumpeni itu sudah tidak
tertahankan lagi. Tiba- tiba saja ia telah meloncat sambil
menjulurkan pedangnya lurus kearah dada Arum. Namun Arum sempat
menangkis serangan itu. Bahkan iapun kemudian meloncat selangkah
kesamping. Kemudian sambil meloncat maju ia menyerang lawannya
dengan ayunan yang cepat. Seperti yang pernah terjadi, ilmu pedang
kedua orang itu berbeda pada dasarnya. Namun ketika dua jenis ilmu
itu berbenturan, maka pertempuran itupun menjadi seru sekali,
Sebagai biasanya Arum bertempur sambil berloncatan. Sementara
lawannya lebih banyak menggerakkan kakinya yang setengah langkah
berada didepan dengan lutut merendah. Namun pada saat-saat yang
tiba-tiba, lawannya itupun mampu pula berloncatan bukan saja maju
dan mundur, tetapi juga kesamping. Arum sama sekali tidak terkejut
melihat jenis ilmu kumpeni itu. Ia sudah pernah bertempur melawan
ilmu seperti itu. dan ia mampu mengatasinya. Namun Arum selalu ingat
pesan ayahnya, kakak seperguruannya dan orang-orang yang lebih
berpengalaman, bahwa orang asing itu lebih banyak mempergunakan
otaknya daripada tenaganya. Karena itu. maka Arum pun harus
mengimbanginya. Ia harus benar-benar memperhitungkan setiap
kemungkinan. Ia tidak dapat dengan serta merta berusaha mengalahkan
lawannya dengan kekuatannya saja. dan mungkin kecepatannya bergerak
saja. Rara warih yang berada diantara perempuan-perempuan yang
menjadi ngeri itu pernah mendengar, bahwa Arumpunmampu bertempur. Ia
sudah melihat, bagaimana dengan pisau pisau kecilnya Arum membunuh
seorang kumpeni dirumah-nya, sementara seorang yang lain telah
dibunuh oleh Buntal. Namun kini ia melihat, bagaimana Arum itu
bertempur dengan pedang ditangan melawan seorang kumpeni dalam
kesempatan yang sama. Karena itulah, maka jantungnya menjadi semakin
berdebar- debar. Setiap kali Arum terdesak, darahnya serasa telah
berhenti mengalir. Namun jantungnya serasa mengembang jika ia
melihat Arum itulah yang berhasil mendesak lawannya. Ternyata
bertempuran yang terjadi seakan-akan terpisah dari pertempuran dalam
keseluruhan itu telah mendebarkan hati perempuan-perempuan yang
kemudian bergeser menjauh. Jika kemudian dapat dikalahkan, maka
nasib mereka akan menjadi sangat buruk. Sementara itu pertempuran
diantara pasukan berkuda itupun masih terjadi dengan sengitnya,
sehingga rasa-rasanya tidak akan ada seorangpun yang akan sempat
menolongnya. Di pinggir sungai, diantara tebing yang curam meriam-
mer iam kecil berserakkan tanpa arti sama sekali. Senjata itu sama
sekali tidak dapat dipergunakan oleh kumpeni. Bahkan senjata-senjata
apipun kemudian tidak lagi terdengar meledak. Mereka telah memasang
sangkur dan bertempur pada jarak yang pendek. Tetapi senjata dengan
sangkur itu tidak dapat dipergunakannya dengan trampil. Karena itu,
maka mereka lebih setang melepaskan senjata mereka, dan kemudian
mencabut pedang yang ada dilambung mereka. Dengan demikian maka
pertempuranpun menjadi semakin dahsyat. Kemampuan secara pribadi
sangat diperlukan dalam perang brubuh yang membingungkan. Namun
karena matahari telah memanjat naik, maka mereka telah dapat
membedakan kawan dan lawan dengan jelas.Dalam pada itu, ternyata
bahwa induk pasukan Pangeran Mangkubumi yang hampir lengkap karena
kehadiran pasukannya di Sukawati'itupun mampu mengimbangi kemampuan
lawannya. Dengan hentakkan-hentakkan, mereka berusaha mengejutkan
kumpeni dan pasukan Surakarta. Bahkan pasukan berkuda yang mampu
mengimbangi pasukan berkuda Surakarta didalam ketrampilannya itu,
benar-benar tidak diduga. Meskipun jumlah pasukan berkuda Pangeran
Mangkubumi tidak sebanyak kumpeni berkuda dan prajur it Surakarta
dari pasukan berkuda, namun kehadiran Juwiring dan kawan-kawannya
itu telah membuat pasukan Surakarta menjadi agak bingung. Dalam pada
itu, Juwiring, Buntal dan beberapa orang kawannya, ternyata berhasil
menguasai lawan mereka yang marah kepada orang-orang yang membawa
obor untuk menjebak mereka, yang jumlahnya juga tidak begitu banyak.
Beberapa orang kumpeni telah terlempar dari kudanya dan tidak
sanggup lagi untuk bangkit. Karena itu, maka yang tersisa merasa
tidak perlu lagi untuk bertahan terpisah dari pasukannya. Meskipun
mereka menjadi kecewa bahwa mereka t idak dapat melepaskan dendam
mereka, bahkan justru beberapa orang kawan mereka telah menjadi
korban lagi. Dengan demikian maka akhirnya Juwir ing telah mendesak
sebagian kumpeni dan prajurit Surakarta dari pasukan berkuda itu ke
induk pasukannya, sehingga medan pertempuranpun kemudian seolah-olah
telah menyatu meskipun dalam tebaran yang luas. Namun kumpeni yang
masih bertempur melawan Arum tidak segera dapat meninggalkan
lawannya. Karena itu, maka ia mengumpat semakin kasar. Seolah-olah
ia telah ditinggalkan sendiri oleh kawan-kawannya. Karena itu, maka
iapun berusaha untuk segera dapat mengakhir i pertempuran itu.
Tetapi Arumpun tidak mudahuntuk dipaksa menyerah. Ketika kumpeni itu
meningkatkan serang-serangannya, maka Arumpun mengerahkan segenap
kemampuannya. Namun sejenak kemudian, ketika orang-orang berkuda
yang semula mendendam dan ingin menghancurkan orang- orang yang
menjebak mereka dengan obor itu telah berhasil didesak kembali ke
induk pasukannya, maka beberapa orang pengawal yang semula bersama
dengan perempuan- perempuan itupun telah mendekati mereka pula.
Ketika mereka melihat Arum bertempur melawan kumpeni, maka merekapun
segera bergerak mengepungnya. Namun tiba-tiba saja seorang yang
tertua diantara mereka memberikan isyarat, agar mereka tidak
mengganggu. Tetapi kedatangan mereka ternyata telah membingungkan
kumpeni itu. Selagi kepungan itu belum rapat, maka kumpeni yang
kehilangan akal itu tiba-tiba meloncat berlari untuk menyelamatkan
dir i, karena ia mengira, bahwa orang-orang dari pasukan Pangeran
Mangkubumi itu akan bersama-sama mencincangnya. Namun tindakannya
itulah yang justru telah menjerumuskannya kedalam keadaan yang
sangat buruk. Orang-orang yang mendekat dengan senjata yang masih
telanjang itu, telah dengan serta merta berusaha mencegahnya. Bukan
saja dengan teriakan-teriakan. Tetapi senjata-senjata mereka telah
terjulur, sehingga akhirnya kumpeni itu terkapar ditanah. Beberapa
orang perempuan memekik kecil. Rara Warih-pun kemudian memalingkan
wajahnya. Ia sudah beberapa kali melihat orang yang terbunuh. Bahkan
ia sendiri pernah membunuh seseorang diluar sadarnya. Namun setiap
kali, kematian membuat jantungnya serasa berhenti mengalir. Dalam
pada itu. pertempuran nampaknya masih akan ber langsung lama. Dengan
demikian, maka pimpinan kelompok itupun telah mengambil satu
kebijaksanaan. Ditugaskannyabeberapa orang pengawal untuk mengantar
perempuan- perempuan itu melanjutkan perjalanan ke padukuhan
terdekat yang berada dibawah pengaruh Pangeran Mangkubumi. "Aku akan
melaporkannya kepada Ki Wandawa" berkata pemimpin kelompok itu" di
tempat itu, kalian sebaiknya berusaha dapat menyediakan makan dan
minum lebih banyak lagi. Sementara itu kalian berada ditempat yang
lebih tenang." Sejenak pemimpin kelompok itu telah mengatur untuk
menyingkirkan perempuan-perempuan itu dari medan. Dalam keadaan yang
cepat berkembang, maka kehadiran mereka di medan akan sangat
berbahaya. Mungkin pasukan Pangeran Mangkubumi harus menghindar.
Mungkin pula akan ada sikap yang lain yang akan diambil oleh
pimpinan tertinggi pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Meskipun agak
kecewa, Arum terpaksa memenuhi perintah untuk bersama-sama dengan
perempuan itu menyingkir dari medan. Ia termasuk seseorang yang ikut
mengawal untuk melindungi perempuan-perempuan itu meskipun ia
sendiri juga seorang perempuan. Demikian perempuan-perempuan itu
meninggalkan medan maka pimpinan kelompok itupun telah mencar i
hubungan dengan Ki Wandawa di medan perang yang seru. Ternyata bahwa
medan perang itupun telah berkembang. Pasukan Pangeran Mangkubumi
tidak berhasil membatasi pertempuran itu hanya di antara tebing yang
curam dan kemudian menutup arah sebelah menyebelah dengan pasukan
yang kuat. Namun ternyata bahwa beberapa kelompok kumpeni dan
prajurit Surakarta berhasil menembus pasukan Pangeran Mangkubumi,
sehingga memperluas medan. Namun demikian, usaha kumpeni dan
prajurit Surakarta itu tidak banyak memberikan kesempatan kepada
mereka. Pukulan pertama pasukan Pangeran Mangkubumi terasasangat
berat bagi mereka, sehingga kekuatan merekapun telah susut dengan
cepat, Diantara pemimpin pasukan berkuda, kapten Kenop benar- benar
seorang perwira yang luar biasa. Dengan memegang kendali di tangan
kiri dan pedang ditangan kanan, maka ia mengamuk bukan kepalang
Kudanya berlari-larian seakan- akan mengetahui setiap keinginan
penunggangnya. Pedang kapten Kenop yang telah menjadi merah oleh
darah itupun masih terayun-ayun mengerikan. Namun dalam pada itu,
ketika pedangnya terayun kearah seorang anak muda yang memasuki
arena dan langsung berusaha menghadapinya, ternyata pedang itu telah
membentur kekuatan yang mengejutkan. Anak muda dipunggung kuda itu
mampu mengimbangi kekuatan kapten Kenop, seorang perwira yang
memiliki pengalaman yang sangat luas. "Persetan" kapten itu
menggeram "anak ini harus dilumatkan." Namun anak muda itu cukup
cekatan. Kudanya dapat mengimbangi kemampuan kuda kapten Kenop.
Ketika kuda kapten Kenop berputar, maka kuda anak muda itu
menyambarnya diarah kiri, sehingga kapten Kenop harus secara khusus
menangkis serangan anak muda itu. Ternyata anak muda yang berada
dipunggung kuda itupun bertempur dengan perhitungan nalarnya. Ia
tidak sekedar dihentak oleh perasaan marah dan kebencian. Tetapi
dengan hati-hati dan dengan perhitungan yang cermat ia menghadapi
perwira yang telah menjelajahi samodra dan benua itu. "Kau masih
terlalu muda untuk mati" geram kapten Kenop "siapa namamu he ?"
"Juwiring" jawab anak muda itu.Kapten Kenop menggeram. Ia pernah
mendengar namanya. Ia pernah mendengar nama seorang Pangeran yang
berkhianat, justru seorang Senapati Agung. Dan iapun mendengar bahwa
Juwir ing yang ikut serta dalam pengkhianatan itu adalah anaknya.
"Kalau kau yang bernama Juwiring" berkata kapten Kenop "maka kau
memang harus dibunuh.” Juwiring tidak menjawab. Tetapi serangan
kapten Kenop benar-benar menjadi semakin sengit. Tetapi Juwiring
yang pernah mendapat latihan- latihan yang berat dalam pasukan
berkuda di Surakarta, dan latihan-latihan kanuragan di padepokan
Jati Aking. telah berusaha mengimbangi kemarahan kapten yang.
mengamuk seperti seekor singa itu. Dengan demikian, diantara
pertempuran berkuda itu. kapten Kenop telah bertempur melawan Juwir
ing. Kapten Kenop yang lebih tua dan lebih luas pengalamannya, harus
berhadapan dengan seorang anak muda yang jiwanya bergelora oleh
tuntutan kebebasan bagi nusa dan bangsanya. Gelora perjuangan yang
bergejolak didalam dada Juwir ing yang semula kurang diperhitungkan
oleh kapten Kenop itu ternyata telah membuatnya berdebar-debar. Jika
semula kapten Kenop hanya memperhitungkan kematangan anak muda itu
bermain kuda dan pedang, sehingga ia merasa akan dapat dengan cepat
menguasainya, maka ia telah salah hitung. Disamping kemampuan,
ketrampilan dan kecepatan eerak. maka Juwiring telah digelorakan
pula oleh jiwa pengabdiannya yang bagaikan membakar jantung. Gelora
itulah yang kemudian harus diperhitungkan pula oleh kapten Kenop.
Sebab dengan gelora jiwa yang bagaikan mendidih didalam dada itu,
Juwiring seolah-olah sama sekali tidak dipengaruhi oleh perasaan
letih dan lelah.Karena itu, meskipun keduanya telah bertempur untuk
waktu yang lama, Juwir ing masih saja memiliki ketangkasannya
seperti saat mereka baru bertemu. Kapten Kenop mengumpat didalam
hatinya, la adalah orang yang sudah matang dalam ilmu pedang menurut
jenisnya. Pengalamannya pun merupakan pengalaman yang sangat luas
bukan saja dibumi Surakarta, tetapi di negeri-negeri lain yang
berserakan di dunia ini. Namun menghadapi anak muda ini. kapten itu
merasa betapa sulitnya untuk menundukkannya. Bahkan mungkin ia akan
mengalami kesulitan jika ia tidak segera dapat menemukan cara untuk
membunuhnya. Tetapi bukan hanya Kapten Kenop sajalah yang mengalami
kesulitan melawan anak-anak muda Surakarta yang sudah bertekad untuk
mengusir orang-orang asing yang perlahan- lahan namun dengan pasti
akan menguasai Surakarta. Beberapa orang kumpeni yang berpengalaman
lainnyapun kadang-kadang telah menjadi bingung. Bahkan ada diantara
mereka yang kehilangan kesempatan sama sekali untuk meneruskan
pertempuran karena jiwanya telah direnggut pleh ujung tombak
pengikut Pangeran Mangkubumi. Dalam pada itu Mayor Bilmanpun
bertempur dengan garangnya diantara para pengawalnya. Satu demi satu
Mayor yang matang dalam ilmu perang itu berhasil menyapu lawan-
lawannya. Seorang Senapati dari pasukan Pangeran Mangkubumi telah
terlempar dengan dada terkoyak. Sementara yang lain telah terluka
dan terpaksa menjauhinya. Sementara itu, di bagian lain dari arena
pertempuran itu. Pangeran Yudakusuma, yang dikenal sebagai Senapati
Agung dari Surakarta yang telah ditunjuk sebagai Panglima itupun
bertempur dengan garangnya. Agak sulit bagi para pengikut Pangeran
Mangkubumi untuk mengimbangi kemampuan serta ilmunya. Seolah-olah
Pangeran Yudakusuma itu dipeperangan telah menggenggam sepuluh
pedang dengan sepuluh tangannya.Dengan demikian, maka pertempuran
itu semakin siang menjadi semakin r iuh. Ketika ker ingat telah
membasahi seluruh tubuh, maka para prajurit Surakarta, kumpeni dan
pasukan Pangeran Mangkubumipun rasa-rasanya menjadi semakin panas.
Kawan kawan mereka yang terluka dan bahkan yang terbunuh, membuat
darah mereka bagaikan mendidih. Mereka mengenang saat-saat mereka
masih bersendau gurau dan berkelakar menjelang fajar sambil menunggu
saat-saat yang menegangkan itu. Namun yang kemudian sudah terkapar
tidak bernyawa tagi. Pertempuran yang dahsyat itu menjadi semakin
dahsyat. Di atas tebing yang curam. Di tepian dan justru di sungai
itu sendiri membujur sebelah menyebelah. Kemudian di atas tebing
diseberang. Kuda-kuda berlarian, sambar menyambar dan bahkan
kadang-kadang saling mendesak dan saling berbenturan. Dalam pada
itu, Juwiring masih bertempur melawan kapten Kenop yang garang.
Keduanya memiliki kemampuan yang tinggi. Baik dalam mengendalikan
kudanya, maupun dalam permainan senjata. Ketika langit menjadi
semakin panas oleh matahari yang menjadi semakin tinggi mendekati
puncak langit, pertempuran itupun rasa-rasanya menjadi semakin
mengerikan bagaikan amukan isi neraka. Darah, erang kesakitan,
dentang senjata dan mayat yang terbujur lintang telah mewarnai arena
pertempuran itu. Namun sebenarnyalah, baik kumpeni yang terlatih dan
berpengalaman luas, prajurit Surakarta dan pasukan Pangeran
Mangkubumi yang digelorakan oleh j iwa pengabdian, mempunyai daya
tahan yang luar biasa. Mereka tidak merasa betapa matahari bahkan
telah melalui puncak langit.Dalam pada itu, ternyata bahwa kapten
Kenop memang memiliki pengalaman yang lebih luas dan matang dari
Raden Juwiring. Betapapun Raden Juwiring di lambari dengan gejolak
perjuangannya, namun sulit baginya untuk dapat mengimbangi
ketrampilan kapten yang garang itu. Bahkan agaknya kapten Kenop
telah mempergunakan segala cara untuk dapat memenangkan pertempuran
itu. Karena itulah, maka kadang-kadang terasa betapa kapten itu
lebih banyak mempergunakan akalnya. Dalam saat-saat yang hampir
menentukan, kapten Kenop memacu kudanya meninggalkan lawannya. Namun
tiba-tiba kuda itu berputar menyusup diantara pertempuran yang
gemuruh. Usaha kapten Kenop untuk membakar hati anak muda ku
akhirnya berhasil. Kemarahan Raden Juwiring perlahan-lahan telah
membuat akalnya menjadi buram. Sekali-sekali terdengar giginya
gemeretak sambil berdesis "Pengecut. Jangan lari." Namun tiba-tiba
saja Raden Juwiring terkejut, ketika kuda lawannya berputar dan
pedangnya menyambar hampir mengenai kening. Kemarahan Raden Juwiring
itulah yang menjadi salah satu sebab kegagalannya melawan kapten
yang disegani itu. Dalam hentakkan perasaan, maka Juwiring kurang
memperhatikan para pengawal khusus kapten Kenop yang kadang-kadang
ikut menjebaknya. Bahkan kemarahan Raden Juwiring telah hampir
memadamkan akalnya sama sekali, sehingga pada putaran berikutnya.
Raden Juwiring telah memburu kapten Kenop sambil
menghentak-hentakkan senjatanya. Tetapi pasukan berkuda yang
melingkar i Gebang terkejut. Mereka melihat belum begitu jauh,
pasukan Pangeran Mangkubumi meninggalkan Gebang. Sebagian dar i
mereka justru membawa obor untuk menerangi jalan yang mereka
lalui.Ia sama sekati tidak sempat membuat perhitungan lagi, apakah
yang kemudian akan dilakukan oleh kapten yang cerdik itu.
Sebenarnyalah kagten Kenop telah merencanakan segalanya. Dengan
tiba-tiba ia memutar kudangnya, sehingga kudanya itu meringkik
sambil melonjak berdir i. Namun tepat pada saatnya, kapten Kenop
telah berhasil menghadap serangan Raden Juwiring yang terkejut
melihat sikap lawannya. Meskipun demikian, Raden Juwiring masih
sempat menarik kendali kudanya, sehingga kudanya itu bergeser arah.
Namun kapten Kenop masih mampu menjangkau Juwiring dengan pedangnya.
Geseran yang tiba-tiba tanpa direncanakannya lebih dahulu, membuat
Juwiring harus bertahan pada keseimbangannya. Karena itu, ia menjadi
kurang dapat menanggapi serangan pedang lawannya. Meskipun ia
berusaha menangkis serangan itu, tetapi ternyata bahwa pedang
lawannya masih dapat merryusup pertahanannya, sehingga segores luka
telah menyobek pundaknya. Terdengar Juwiring mengeluh tertahan.
Darahpun mulai mengalir membasahi pakaiannya. Sementara itu perasaan
sakit telah menyengat di tempat lukanya itu menganga. Bahkan tangan
kanannya itupun rasa-rasanya menjadi bagaikan lumpuh oleh lukanya
itu. Tetapi Raden Juwir ing t idak mudah menyerah kepada keadaannya.
Ia masih berusaha untuk melawan. Namun ternyata tangannya memang
sudah terlalu lemah. Sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya,
kapten Kenop tidak mau melepaskan korbannya. Dengan tangkasnya ia
memburu sambil mengayunkan pedangnya sekali lagi dari arah yang
berlainan. Permainan senjata Juwiring memang menjadi kabur. Ia tidak
banyak dapat berbuat. Karena itu, meskipun ia berusaha menghindari
sambil bergeser diatas kudanya, namun sekalilagi pedang kapten Kenop
mampu melukainya, justru dilambung sebelah kir i. Juwiring
menggeretakkan giginya. Kemudaannyalah yang sebagian besar
membuatnya kurang berhati-hati. Lukanya itu ternyata benar-benar
telah menghisap sebagian dari kemampuannya dan ketrampilannya
bermain kuda dan bermain pedang. Yang terdengar kemudian adalah
kapten Kenop tertawa pendek. Ia sudah siap menghentakkan pedangnya
untuk yang terakhir dan mengakhiri pertempuran berkuda yang sangat
melelahkan itu. Namun tiba-tiba saja ia terkejut ketika seekor kuda
menyambarnya. Hampir saja pedang penunggang kuda itu mencabik
dadanya. Namun kapten yang berpengalaman itu masih sempat menarik
tubuhnya, sehingga hanya angin sambarannya sajalah yang telah
menyentuh bajunya. "Gila" geram kapten Itu. Ketika ia berpaling
dilihatnya seekor kuda sedang berputar. Seorang anak muda telah siap
untuk menyerangnya. "Kau juga ingin mati" geram kapten Kenop. Anak
muda itu tidak menghiraukannya. Ia sudah siap untuk menyerang dengan
pedang teracu. Namun sebelum anak muda itu memacu kudanya, tiba-tiba
saja seorang penunggang kuda berbaju kutungan sepanjang siku
berwarna wulung menggamitnya sambil berkata "Ia bukan lawanmu. Raden
Juwiring yang lebih berpengalaman itu mengalami kesulitan melawan
perwira yang berpengalaman sangat luas itu." "Aku akan membunuhnya
atau biarlah ia membunuh aku" jawab Buntal.Tetapi orang itu
tersenyum. Jawabnya "Biarlah yang tua ini sajalah yang
menghadapinya." Buntal itldak sempat menjawab lagi. Orang berbaju
kurungan yang bersenjata tombak itupun telah menggerakkan kendali
kudanya. Sejenak kemudian kudanya telah berlari menyerang kapten
Kenop yang memandanginya dengan heran "Orang gila mana pula yang
datang ini" geram kapten Kenop didalamhatinya. Tetapi ia t idak
sempat membuat pertimbangan- pertimbangan. Orang berbaju kutungan
itu telah menyerangnya. Ujung tombaknya hampir saja mematuk dadanya.
Namun kapten Kenop berhasil menangkisnya. Meskipun demikian, kapten
itu terkejut bukan buatan. Tenaga orang itu bukan saja dapat
mengimbangi tenaga anak muda yang telah dilukainya itu, tetapi
sentuhan itu benar-benar telah membuat tangannya menjadi bergetar.
"Iblis tua" geramnya "mampuslah kau" Kapten Kenop menjadi sangat
marah. Dengan serta merta, iapun telah memutar kudanya menyusul
orang berbaju kurungan itu. Namun orang itu telah memutar kudanya
dan menghadapinya* Demikianlah maka kapten Kenop itu telah mendapat
lawannya yang baru. Seorang yang sudah setengah umur, berbaju
kutungan berwarna wulung dan bersenjata tombak. Pakaian orang itu
sama sekali tidak meyakinkan. Tetapi ketika tombaknya mulai
berputaran dan menyambar-nyambar maka kapten Kenop harus menghadapi
kenyataan, bahwa orang separo baya itu adalah seorang yang memiliki
ilmu yang sangat tinggi. Dengan segenap kemampuannya kapten Kenop
telah berusaha untuk membunuh lawannya itu pula. Ia yang
kecewakarena Juwiring terlepas dari tangannya, ingin mendapat
sasaran baru untuk melepaskan kekecewaannya. Tetapi ternyata bahwa
orang itu justru memiliki banyak kelebihan dar i Juwir ing. Dalam
kekalutan pertempuran itu. kapten Kenop benar-benar mengalami
kesulitan. Kuda orang itu bagaikan terus-menerus memburunya.
Bagaimanapun juga ia mengendalikan kudanya sendiri, namun kuda
lawannya itu seakan-akan dengan tiba-tiba saja telah menyergapnya
lebih dahulu. Kapten Kenop mengumpat-umpat. Tetapi ia ternyata tidak
mendapat banyak kesempatan. Matahari yang mulai beredar dibelahan
langit sebelah Barat, rasa-rasanya semakin membakar arena
pertempuran itu. Pada saat-saat yang gawat, tiba-tiba saja terdengar
kapten Kenop itu mengaduh. Ujung tombak lawannya telah berhasil
menggores didadanya. Memang tidak terlalu dalam, tetapi luka itu
benar-benar mendebarkan. Kapten Kenop yang berpengalaman itu tahu,
bahwa orang-orang pribumi kadang-kadang memberi racun Warangan pada
ujung senjatanya. Sejenak ia masih mencoba bertahan. Tetapi kemudian
badannya serasa menjadi gemetar. Dan iapun tahu. bahwa ia telah
benar-benar terkena racun. Karena itulah, maka ketika orang berbaju
kutung itu siap untuk menyerangnya, maka kapten Kenop telah memutar
kudanya, menyusup kedalam lingkungan para pengawalnya. Orang berbaju
kutungan itu memandangi lawannya yang berusaha melepaskan diri
daripadanya. Namun orang itu tidak memburunya, karena iapun harus
memperhitungkan keadaan. Sejenak kemudian, maka karena tidak ada
lawan lagi yang dianggapnya berbahaya, maka iapun telah memutar
kudanya dan hilang dibalik gemuruhnya peperangan.Dalam pada itu
Buntalpun telah mendekati Juwir ing yang terluka, bahkan agak parah.
Dengan hati-hati maka iapun membawanya menepi. Sementara dua orang
kawan yang lainpun telah mendekatinya pula. "Peperangan belum
berakhir" berkata Juwir ing "jangan hiraukan aku.— "Tetapi lukamu
parah" desis Buntal. "Aku akan mengurus diriku sendiri. Aku membawa
obat yang untuk sementara, akan dapat memampatkan luka-luka Ini."
berkata Juwir ing. Buntal termangu-mangu sejenak. Namun sekali lagi
Juwiring mendesak "Tinggalkan aku." Buntal mengangguk. Katanya "Aku
akan kembali ke-medan. Tetapi biarlah seorang kawan membantumu
mengobati lukamu. Baru kemudian biarlah ia kembali pula ke medan."
Ternyata Juwiring tidak berkeberatan. Buntal dan seorang kawannya
segera meloncat kembali kepunggung kudanya dan kembali memasuki
arena pertempuran, sedang seorang kawannya yang lain membantu
Juwiring mengobati luka- lukanya dan menyadarkannya pada sebatang
pohon yang rindang. "Nampaknya luka- lukamu yang lama baru saja
sembuh" berkata kawannya. Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia
memang baru saja sembuh dari luka-lukanya yang lama. Bahkan
tenaganya belum lama terasa pulih kembali setelah ia hampir saja
menjadi korban ker is milik Tumenggung Sindura yang harus ditabuhnya
di Gunung Lawu. Sementara itu Buntal dan kawannya telah terjun
kembali kemedan, karena dalam pertempuran yang seimbang, setiap
orang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan.Sementara ku
kapten Kenop telah berada dilingkungan para prajuritnya pula. Dengan
tergesa-gesa ia minta di bawa kepada tabib pasukan yang ada diantara
prajurit-prajur itnya. "Racun" berkata kapten Kenop kepada tabib
yang kemudian merawatnya. Tabib itupun memiliki pengetahuan yang
cukup mengenai segala macam luka. Karena itu, maka iapun segera
berusaha mengobati luka kapten Kenop yang disebabkan oleh racun
warangan yang sangat kuat, setelah kapten itu dibawa ketempat yang
tidak terlalu kisruh oleh pertempuran. Untunglah bahwa tabib itu
sempat bertindak cepat, karena kapten Kenop sendiri mempunyai
pengalaman dan pengetahuan serba sedikit tentang jenis-jenis senjata
orang pribumi. Jika ia terlambat barang sepenginang, maka nyawanya
tentu tidak akan dapat diselamatkan lagi. Namun demikian, tenaga
kapten itu bagaikan dihisap oleh racun dilukanya, yang justru telah
digores dengan pisau sehingga berdarah, sementara ia harus minum
obat lewat mulutnya dan kemudian obat yang ditaburkan pada luka
barunya oleh goresan pisau itu. Karena itulah, maka kapten Kenop itu
hanya dapat menggeram menahan kemarahannya karena ia sendiri harus
berbaring dibawah pengawalan yang kuat. Laporan tentang keadaan
kapten Kenop telah didengar oleh Mayor Bilman. Kemarahannyapun telah
membakar jantungnya. Ia tidak dapat menahan diri untuk bertempur di
tepian. Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk naik keatas
tebing, bertempur diantara pasukan berkuda menggantikan kepemimpinan
kapten Kenop yang luka parah itu. "Pertempuran di tepian t idak
seberat perang berkuda itu” berkata Mayor Bilman didalam hatinya.
Karena itu ia dapat mempercayakannya kepada perwiranya yang lain,
sementaradi tepian itu ada juga beberapa orang Senapati Surakarta.
Namun Pangeran Yudakusuma sendir i ternyata kemudian berada diatas
tebing berseberangan dengan Mayor Bilman. Dengan garangnya Mayor
Bilman pun kemudian menyapu para pengikut Pangeran Mangkubumi yang
berusaha menyerangnya. Buntal yang melihat kehadiran Mayor itu tidak
dapat menahan diri lagi. Karena itu, maka iapun segera menyerang
dengan garangnya. Mayor itu terkejut. Baru kemudian ia sadar, bahwa
orang- orang berkuda diantara pasukan Pangeran Mangkubumi itupun
merupakan orang-orang yang benar-benar memiliki kemampuan berkuda
dan ilmu pedang. Tetapi seperti juga kapten Kenop, Mayor itu justru
memiliki kelebihan. Itulah sebabnya, maka Buntalpun segera mengalami
kesulitan. Kecuali ketrampilannya, ternyata tenaga Mayor itu
bagaikan tenaga seekor gajah. Hampir saja pada benturan yang
terjadi, pedang Buntal terlempar dari tangannya. Namun sebelum
Buntal mampu memperbaiki keadaannya, maka tubuhnyalah yang hampir
terlempar dari punggung kudanya. Ternyata Mayor Bilman yang cekatan
itu berhasil menggoreskan senjatanya pada punggung Buntal. Namun
Bilman tidak sempat membunuhnya. Seorang anak muda yang lain telah
menyerangnya. Anak muda yang pernah bersama-sama dengan Juwir ing
berada didalam lingkungan pasukan berkuda. Bilman harus
memperhitungkan keadaan itu. Karena itu maka serangannya yang akan
dapat mematikan. Buntal terpaksa tertunda. Namun dalam pada itu,
sekali lagi terjadi, seperti yang telah terjadi pada Buntal. Seorang
berbaju kutung berwarna wulung telah menggamit anak muda itu sambil
berkata "Orang ini lebih berbahaya dari kapten yang terluka itu.
Karena itu, minggirlah. Biarlah aku saja yang melawannya.” Mayor
Bilman yang melibat orang berbaju kurungan itu menjadi sangat marai.
Ia mengerti maksud orang itu. Orang itulah yang kemudian akan
melawannya dengan tombak. Karena itu. Mayor Bilman tidak menunggu
lebih lama lagi. Ialah yang kemudian menyerang orang berbaju
kuningan itu. Sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang
dahsyat. Mayor Bdlman benar-benar seorang pemimpin yang tangguh dan
berani. Karena itu maka untuk beberapa saat ia dapat membuat orang
berbaju kutungan itu menjadi gelisah. Namun di saat terakhir,
ternyata bahwa Mayor itupun tidak mampu melawan kecepatan ujung
tombak orang itu. Ketika Mayor itu sedang sibuk memutar kudanya,
maka orang berbaju kutungan itu sempat menyerangnya dari samping.
Mayor Bilman berusaha untuk mengelak. Tetapi kuda orang berbaju
kutungan itu telah menyambar kuda Mayor Bilman, sehingga kuda itu
tergeser. Maka orang berbaju kutungan itu cepat bertindak. Kudanya
telah diputarnya mendesak kuda Mayor Bilman. Pada jarak yang pendek
itu orang berbaju kutungan itu telah berhasil menggoreskan ujung
tombaknya pada lengan Mayor Bilman. Betapa kemarahan Mayor itu
menghentak-hentak didadanya. Seperti kapten Kenop, maka iapun
mengerti, bahwa ujung tombak itu tentu beracun. Namun karena
kemarahan yang meluap, maka ia justru berusaha memburunya dan
menyerang dengan pedangnya. Sambaran pedang Mayor itu memang dahsyat
sekali. Yang menyapu wajah orang berbaju kutungan itu adalah
sambaran anginnya. Tetapi senjata Mayor itu sendir i sama sekali
tidak menyentuhnya.Namun orang berbaju kutungan itu memiliki
perhitungan yang cermat. Ia masih memancing Mayor itu untuk
menyerang. Dengan memiringkan tubuhnya, seolah-olah keseimbangannya
sedang terganggu ia mengharap bahwa Mayor Bilman memburunya.
Sebenarnyalah Mayor itu memburunya. Namun belum lagi Mayor itu
berhasil mencapai orang berbaju kutungan itu, maka racun di tubuhnya
telah mulai bekerja dengan ganasnya Tubuh Mayor itu menggigil. Baru
ia sadar, bahwa ia tidak akan mampu melawan kekuatan racun warangan
pada senjata-senjata tajamorang pr ibumi. Karena itu. maka Mayor
itupun berusaha mencari perlindungan kedalam pertempuran, dibelakang
kumpeni yang semakin lama menjadi semakin susut. Dijaga oleh
pengawalnya, maka Mayor itupun telah dibawa kepada tabib yang sedang
mengobati kapten Kenop. "Mayor" sapa kapten Kenop. Tetapi wajah
Mayor itu sudah menjadi kemerah-merahan. "Mayor kena senjata beracun
? " bertanya kapten
Kenop,
Jilid 28 MAYOR BILMAN menggeram.
Tetapi tubuhnya menjadi semaian lemah. Sementara itu itabib dar i
pasukan Mayor Bilman telah bekerja keras. Seperti yang dilakukan
atas Kapten Kenop maka luka Mayor Bilman itupun telah digoresnya
dengan pisau. Tetapi tabib itu menjadi sangat gelisah, justru Mayor
Bilman tidak lagi mengaduh ketika lengannya itu tergores pisau.
"Bagaimana ?" bertanya kapten Kenop dengan gelisah pula. Tabib itu
tidak melihat lagi kesempatan untuk berbuat sesuatu. Keadaan Mayor
Bilman jauh lebih gawat dari keadaan Kapten Kenop justru karena
Mayor Bilman diguncang oleh kemarahannya dan tidak segera berusaha
untuk menemui tabib itu. Tetapi karena keadaan kapten Kenop sendir i
yang parah, maka ia t idak dapat berbuat apa-apa. Kepada seorang
pengawal ia berkata "Panggil letnan Rapis atau letnan
Morman.”Pengawal itupun segera meninggalkan tempat itu memasuki
arena untuk menemui salah seorang dari kedua orang yang disebut
namanya oleh 'kapten Kenop Itu. Namun dalam pada itu, keadaan Mayor
Bilman sudah menjadi semakin parah. Kesadarannya telah menjadi,
semakin kabur. Namun dalam pada itu, tabib yang merawatnya masih
mendengar Mayor itu berkata "Tentu ada pengkhianait di- antara
kita,” "Apakah Mayor mempunyai dugaan atau justru dengan yakin?"
bertanya tabib itu. Tetapi Mayor yang semakin lemah itu menggeleng.
Sebenarnyalah jantung Mayor yang dalam keadaan yang sulit itu sedang
bergejolak. Ia sadar, bahwa tentu ada sesuatu yang tidak wajar,
justru karena kedatangan pasukannya dan pasukan Surakarta itu telah
diketahui oleh Pangeran Mangkubumi. Sepercik tuduhan memang telah
terlontar kepada seorang perempuan yang telah mengisi kekosongan
hatinya selama ia berada di Surakarta. Teringat oleh Mayor itu,
bahwa ia memang pernah mengatakan, bahwa ia akan berhadapan langsung
dengan pasukan Pangeran Mangkubumi sehingga ia sendiri harus
berangkat kemedan. Tetapi mulutnya terasa sangat berat untuk
menyebut nama Raden Ayu Galihwarit. Perempuan itu benar-benar telah
berhasil merebut hatinya di saat-saat ia jauh dar i keluarganya.
"Jika aku menyebut namanya, maka ia tentu akan digantung di
alun-alun atau dihadapkan kepada seregu prajurit yang akan
menembaknya sampai mati." berkata Mayor itu di dalam hatinya "tetapi
jika aku keliru, dan aku tidak sempat memperbaiki kesalahan ini.
maka aku sudah membunuh seseorang yang tidak berdosa, justru
seseorang yang telah member ikan isi pada hidupku yang kosong
diseberang lautan ini."Justru dalam keragu-raguan itulah racun
tombak orang berbaju kutung itu semakin meresap kedalam jantungnya,
membekukan darahnya. Segala usaha dan obat yang diberikan oleh
tabibnya yang pandai itu ternyata tidak banyak menolongnya, karena
kelambatannya sendiri. "Jika saja Mayor cepat menghubungi aku" desis
tabib itu. Nampak keringat membasah di keningnya. Namun
sebenarnyalah hahwa usahanya sia-sia. Sejenak kemudian, telah timbul
noda-noda hitam dan kemerah-merahan ditubuh Mayor Bilman. Karena
itu, maka segala usaha sudah sia-sia. Sejenak kemudian Mayor yang
berani itu seakan-akan telah membeku. Penjelajahannya diantara benua
dan samodrapun telah diselesaikannya di Surakarta. "Bagaimana
keadaannya ?" bertanya kapten Kenop. Tabib itu menggeleng. "Gila"
geram kapten itu. Namun ketika ia akan bangkit, tabib lalu
melarangnya. Katanya "kapten harus mengambil keadaan Mayor Bilman
sebagai pengalaman. Kelambatannya yang hanya beberapa saat saja
telah membuat kehilangan kesempatan. Ia telah meninggal" "Jika
demikian, pasukan kumpeni ini menjadi tanggung jawabku" geram kapten
Kenop. "Tetapi keadaan kapten sendiri tidak menguntungkan" jawab
tabib itu. Lalu "Kapten dapat memberikan perintah lewat letnan Rapis
atau letnan Morman." Kapten Kenop menggeretakkan giginya. Tetapi ia
harus mengikut i petunjuk tabib itu. Disampingnya Mayor Bilman
terbujur diamuntuk selama-lamanya. Sejenak kemudian pengawal yang
diperintahkan untuk memanggil letnan Rapis atau letnan Morman itupun
telahdatang. Bersama orang itu adalah seorang letnan yang berkumis
lebat, panjang. Setelah member ikan hormat, maka letnan itupun
berjongkok disamping kapten Kenop. "Kau Iihat keadaan Mayor ?"
bertanya kapten Kenop. "Ya kapten" jawab letnan itu. "Dan kau lihat
keadaanku ?" bertanya kapten Kenop pula. "Ya kapten" jawab letnan
itu pula. "Aku perintahkan kau memimpin pasukan kumpeni. Hubungi
Pangeran Yudakusuma dan laporkan apa yang terjadi." perintah kapten
Kenop. Lalu "beritahukan hal ini kepada letnan Rapis.” "Letnan Rapis
berada disebelah sungai bersama Pangeran Yudakusuma" jawab letnan
itu. "Cari hubungan dengan letnan Rapis dan Pangeran Yudakusuma.
Cepat. Keadaan medan semakin gawat" berkata kapten yang terluka itu.
"Bukan saja gawat kapten" jawab letnan itu "tetapi parah. Tetapi
keadaan lawanpun tidak berbeda." "Hancurkan mereka. Usahakan
menangkap orang berbaju warna ungu gelap, dengan lengan baju sampai
kesiku." perintah kapten itu pula. Letnan itupun bangkit. Setelah
memberi hormat maka iapun meninggalkan kapten yang terluka itu
dengan darah yang bagaikan mendidih. Dua orang perwira tertinggi
dalam pasukannya telah lumpuh. Bahkan Mayor Bilman telah terbunuh
dipertempuran itu. Satu korban yang sangat mahal harganya Dengan
wajah yang geram maka iapun memer intahkan seorang sersan kumpcni
untuk menghubungi letnan Rapisyang bertempur berdampingan dengan
Pangeran Yudakusuma. Sementara itu, maka iapun telah mempergunakan
seekor kuda untuk memasuki arena pertempuran di seberang sungai.
Dengan kemarahan yang menyala ia berjanji kepada diri sendiri untuk
membunuh orang berbaju ungu gelap dengan lengan baju sampai kesiku.
Sementara itu, di arena pertempuran berkuda, Juwiring dan Buntalpun
telah tersisih pula karena luka-luka mereka. Namun dalam pada itu,
perlawanan pasukan berkuda dari lingkungan Pangeran Mangkubumi masih
juga membakar arena. Mereka yang tidak mempergunakan kudapun telah
melibatkan diri melawan kumpeni dan pasukan berkuda dari Surakarta.
Dengan tombak dan lembing-lembing tajam mereka berusaha untuk
menyerang lawan mereka yang berada di punggung kuda. Tetapi dalam
pada itu, letnan Morman itu sama sekali tidak bertemu dengan orang
berbaju kutung. Meskipun demikian, ia tidak dengan mudah dapat
menghalau lawan-lawannya, meskipun letnan itupun memiliki kemampuan
yang tinggi Namun sementara itu; sersan yang diperintahkannya
mencari hubungan dengan letnan Rapis telah menyusulnya. Dengan wajah
tegang sersan itu berkata "Letnan Rapis tertuka parah." "He ?
Terluka ?" bertanya letnan Morman."Ya letnan. Terluka oleh orang
berbaju ungu gelap dengan lengan baju sepanjang sikunya." jawab
sersan itu. "Gila, Dimana orang itu sekarang?" bertanya Morman.
"Orang itu menghilang dimedan" jawab sersan itu. "Aku cari orang itu
disini. Bukankah di arena ini Mayor Bilman terbunuh dan kapten Kenop
terluka. Tetapi tiba-tiba saja ia sudah berada diseberang. Aku
berharap bahwa orang itu berani menghadapi aku dimedan ini" letnan
Mor-njan yang marah itu berteriak. Tetapi suaranya tenggelam dalam
hiruk pikuk pertempuran. Sementara itu sersan itupun berkata "Aku
sudah membuat hubungan dengan Pangeran Yudakusuma." "Apa
perintahnya?" bertanya letnan itu. "Keadaan menjadi gawat. Pangeran
minta pertimbangan letnan. Agaknya tidak ada gunanya pertempuran
dilanjutkan." jawab sersan itu, Letnan itu mengerutkan keningnya.
Ketika ia melayangkan pandangannya kemedan, maka nampak kedua belah
pihak menjadi sangat letih. Sementara matahari telah condong ke
Barat Seperti juga pasukan kedua belah pihak yang sedang bertempur,
matahari itupun dengan letih pula bergantung di- langit. Semakin
lama semakin rendah. Namun sebenarnyalah pasukan Pangeran Mangkubumi
yang kuat yang menurunkan Senapati-senapati terpentingnya,
diantaranya beberapa orang bangsawan Surakarta, telah berusaha untuk
menghadapkan kekuatannya sebagian besar kepada kumpeni, meskipun
merekapun harus bertahan terhadap pasukan Surakarta. Sementara itu
ketika seorang Pangeran yang bertempur dimedan dengan sebatang
tombak pendek mendekati Pangeran Yudakusuma, maka terdengar
PangeranYudakusuma menggeram "Marilah adimas. Kita akan menentukan,
siapakah Senapati terbaik diantara kita.” Tetapi jawaban Pangeran di
pihak Pangeran Mangkubumi itu mengejutkan sekal. Katanya "Tentu
kakangmas Yudakusuma. Tidak ada yang dapat mengimbangi keperwiraan
kakangmas Pangeran. Namun sayang, bahwa keperwiraan itu ternyata
berada di pihak yang salah." "Aku bukan kanak-kanak yang tidak tahu
mana yang baik dan mana yang buruk” jawab Pangeran Yudakusuma
"dipeperangan kita akan memperbandingkan tajamnya ujung senjata
kita." "Aku sama sekali tidak akan berani melawan kakangmas." jawab
Pangeran yang berdiri di pihak Pangeran Mangkubumi itu "karena itu,
aku akan mencari lawan yang sebenarnya lawan. Kumpeni. Biarlah para
pengawal menahan kemarahan kakangmas," Pangeran Yudakusuma menggeram
Tetapi Pangeran itu meninggalkannya, seolah-olah tidak
menghiraukannya sama sekali. Tetapi ketika ia berusaha memburunya,
maka ia harus melawan orang-orang yang bagaikan mengepungnya. Para
pengikut Pangeran Mangkubumi itu tahu benar, bahwa Pangeran
Yudakusuma, Senapati Agung dari Surakarta itu harus di hadapi
dalamsebuah kelompok. Tetapi yang terjadi itu telah terulang
kembali, Seorang Pangeran yang lainpun memperlakukannya seperti
Pangeran yang terdahulu. Bahkan Pangeran yang kemudian itu berkata
"Jika kakangmas ingin melihat rakyat Surakarta menjadi bagaikan
tebangan ilalang, maka kakangmas akan dapat melakukannya. Mungkin
kakangmas Pangeran Mangkubumi akan dapat menahan kemarahan kakangmas
Yudakusuma. Tetapi kakangmas Pangeran Mangkubumi lebih tertarik
membunuh para perwira kumpeni. Dan itu sudah dilakukannya."Jantung
Pangeran Yudakusuma menjadi berdebaran. Keadaan pertempuran itu sama
sekali tidak menguntungkan pasukannya dan pasukan kumpeni. apalagi
sepeninggal Mayor Bilman seperti yang telah dilaporkannya kepadanya.
Sikap para Pangeran dan Senapati dalam pasukan Pangeran Mangkubumi
itupun telah menyakitkan hatinya. Tetapi sementara itu, iapun sempat
melihat apa yang sebenarnya dihadapinya. Jika ia membunuh sebanyak-
banyaknya, maka yang dibunuhnya itu adalah rakyat Surakarta sendiri.
Sementara Pangeran Mangkubumi telah memilih lawan. Bukan orang
Surakarta. Yang terjadi itu ternyata telah membuat isi dadanya
bergejolak Karena itu, ia hampir tidak sabar menunggu pendapat
letnan Morman yang untuk sementara harus memegang tanggung jawab,
karena Mayor Bilman terbunuh dan kapten Kenop telah terluka. Dalam
pada itu, pertempuranpun masih berlangsung dengan sengitnya. Panas
matahari di langit seolah-olah telah menambah kemarahan disetiap
hati, sehingga karena itu, maka pedang dan tombakpun telah
berdentang semakin keras. Tetapi hati Pangeran Yudakusuma telah
terguncang oleh sikap para Senapati pasukan lawan. Nampaknya memang
sudah diatur, bahwa ia harus berhadapan dengan sekelompok pengikut
Pangeran Mangkubumi. Tentu sekelompok orang yang memiliki kemampuan
untuk melawannya, namun mereka bukan orang-orang yang menentukan.
Sementara itu para Senapati telah berusaha untuk berhadapan langsung
dengan para perwira kumpeni. Pangeran Yudakusuma itupun telah
mendengar laporan tentang perwira-perwira yang terluka. Dalam pada
itu, dalam kegelisahannya, seorang penghubung telah datang
kepadanya, untuk melaporkan,bahwa letnan Morman sedang berhubungan
dengan kapten Kenop yang terlukai. "Aku memerlukan pendapatnya
secepatnya" berkata Pangeran Yudakusuma. Sementara itu letnan Morman
memang telah menghadap kapten Kenop untuk melaporkan keadaan medan
dalam keseluruhan. Iapun telah melaporkan bahwa Rapis telah terluka
oleh orang yang disebut berbaju warna ungu gelap dan lengan bajunya
hanya sepanjang siku. "Aku mencarinya di medan yang kapten sebutkan"
berkata Morman" tetapi tiba-tiba ia sudah melukai letnan Rapis di
seberang sungai itu," "Orang itu-memang Iblis" geram kapten Kenop.
"Bagaimana pertimbangan kapten?" bertanya Morman. Kapten Kenop
menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya "Aku sependapat dengan
letnan. Pasukan kita memang harus ditarik sebelum keadaan menjadi
semakin parah.” Sejenak kemudian letnan Morman sendiri telah menemui
Pangeran Yudakusuma. Keduanyapun. kemudian sepakat untuk menarik
pasukan Surakarta yang telah menjadi jauh susut. Meskipun lawanpun
menjadi parah pula. Sebentar kemudian telah terdengar suara
terompet. Dua orang kumpeni telah meniupkan aba-aba bagi pasukannya.
Mereka tidak lagi akan bertahan terlalu lama dalam pertempuran yang
menggila itu. Perintah itu cukup tegas. Sejenak kemudian setiap
orang didalam pasukan Surakarta itupun telah membenahi dir i.
Beberapa orang masih berusaha untuk membawa kawan- kawan mereka yang
terluka dengan perlindungan kawan- kawannya yang lain.Sementara itu,
ternyata dari pihak pasukan Pangeran Mangkubumipun telah terdengar
isyarat pula. Tiga buah panah sendaren naik ke udara. Pertanda bahwa
pasukan Pangeran Mangkubumipun berusaha untuk menghentikan
pertempuran sebelum waktunya. Sebenarnyalah, pasukan Pangeran
Mangkubumi sama sekali t idak berusaha mengejar pasukan lawan yang
bergeser surut. Karena kemampuan yang mapan, maka kumpeni dan
pasukan Surakarta itu tidak terpecah dan berlari tercerai berai.
Mereka mundur dengan teratur meskipun agak tergesa-gesa, sehingga
ada saja diantara mereka yang terluka tertinggal, dan senjata yang
tidak terbawa. Bahkan beberapa meriam kecil telah mereka tinggalkan
di pinggir sungai yang berlereng agak terjal itu. Pangeran
Mangkubumi memang memerintahkan agar pasukannya tetap tinggal.
Menilik kekuatan yang tidak terpaut terlalu banyak maka pasukan
Pangeran Mangkubumi itu tidak akan berhasil menghancurkan kumpeni
dan pasukan Surakarta yang mengundurkan diri. Namun dalam benturan
itu ternyata bahwa korban yang terbesar justru adalah kumpeni.
Karena itu, maka pasukan Mangkubumi telah melepaskan lawannya
menarik diri kembali ke Surakarta dalam keadaan yang parah. Diantara
mereka terdapat tubuh Mayor Bilman yang terbunuh. Kapten Kenop dan
letnan Rapis yang terluka berat. Beberapa orang bintara dan prajurit
yang sempat mereka ambil dari antara tubuh yang terkapar diarena.
Namun korban di pihak Pangeran Mangkubumipun tidak sedikit. Beberapa
Senapati telah terluka. Sementara itu diantara pasukan berkuda,
Juwiring dan Buntalpun telah terluka pula. Meskipun demikian, para
pemimpin didalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi itupun
mengucap sukur bahwa mereka berhasil menahan kekuatan kumpeni dan
pasukan Surakarta. Tanpa perlindungan dari yang MahaAgung, dengan
lantaran Raden Ayu Galihwarit yang sempat menyampaikan berita
rencana serangan kumpeni itu lewat Rara Warih, maka pasukan
Mangkubumi tentu akan mengalami keadaan yang sangat pahit. Mereka
tidak akan sempat menyusun rencana jebakan. Bahkan merekalah yang
akan terjebak didalam kepungan tanpa sempat memberi tahu pasukan
yang berada di Surakawati. Jika terjadi demikian, maka kekuatan
pokok pasukan Pangeran Mangkubumi benar-benar akan patah, karena
pasukan Surakarta itu benar-benar dihimpun untuk maksud
menghancurkan sampai tuntas pasukan Pangeran Mangkubumi. Dengan
persiapan yang tergesa-gesa, namun pasukan Pangeran Mangkubumi
berhasil di selamatkan, meskipun korban memang harus jatuh. Tetapi
korban itu tidak mematahkan kekuatan pokok Pangeran Mangkubumi.
Dalam pada itu, pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta yang menarik
diri telah meninggalkan medan dengan lesu. Ketika mereka melalui
bulak panjang, tiba-tiba saja mereka terkejut ketika mereka melihat
di jalur jalan sempit yang sejajar dengan jalan itu, seorang
penunggang kuda dengan baju berwarna ungu gelap dan dengan lengan
baju sampai ke siku. “Anak iblis" geram letnan Morman yang
melihatnya "orang itulah yang telah melukai kapten Kenop dan
membunuh Mayor Bilman." "Apakah kami harus menangkapnya letnan ?"
bertanya seorang sersan pengawal. Letnan Morman ragu-ragu. Sementara
itu seorang Senapati Surakarta berdesis "Tidak ada gunanya. Kau
tidak akan dapat mengejarnya.""Kita akan menembaknya" geram letnan
Morman, yang kemudian memerintahkan beberapa orang prajuritnya siap
dengan senapan mereka. "Tidak ada gunanya" sekali lagi Senapati
Surakarta itu seolah-olah bergumam bagi dir i sendiri. Letnan Morman
mengerutkan keningnya. Tetapi ia tetap pada pendiriannya. Katanya
"Orang itu berada dalam jarak jangkau tembakan senapan." Senapati
yang bergumam itu menarik nafas dalam- dalam. Tetapi ia tidak
mengatakan sesuatu. Sejenak kemudian, beberapa orang kumpeni telah
siap dengan senapan mereka. Letnan Morman memerintahkan mereka
berjajar dipinggir jalan. Orang berbaju kutung itu berkuda
perlahan-lahan, sebagaimana pasukan Surakarta yang lesu itu,
berjarak kotak- kotak sawah yang mengantarai dua jalur jalan yang
sejajar. Tiba-tiba saja letnan Morman itupun memekikkan aba-aba.
Sesaat kemudian, beberapa pucuk senapan telah meledak bersama-sama.
Letnan Morman melihat kuda orang berbaju kutung itu bergeser dan
melonjak. Tetapi sesaat kemudian orang berbaju kutung itu sudah
menguasai kudanya kembali. Pangeran Yudakusuma yang berada dipaling
depan mendengar di belakang, ledakan tembakan itu. Ia hanya sekedar
berpaling. Tetapi ia tidak menghiraukannya lebihlanjut. Seperti
Senapati-senapati Surakarta, ia tahu bahwa tembakan itu tidak akan
ada gunanya sama sekal. Bahkan Pangeran Yudakusumapun menjadi
berdebar-debar melihat orang berbaju kutung itu. Iapun mendengar
bahwa ada orang berbaju kutung dimedan. Beberapa orang perwira
kumpeni telah terbunuh. Tetapi orang berbaju kutung itu tidak pernah
dapat dikalahkan. Dan sekarang ia melibat orang berbaju kutung itu.
"Meskipun semua senapan akan meledak, tetapi orang itu tidak akan
dapat dikenainya" berkata Pangeran Yudakusuma kemudian "kecuali
jaraknya tidak cukup dekat, kumpeni yang lelah itu tidak akan mampu
mengangkat laras senapannya dan membidik dengan tepat" Namun
sebenarnyalah didalam hati Pangeran Yudakusuma berkata "Orang itu
adalah Pangeran Mangkubumi sendir i. Ternyata Pangeran Mangkubumi
telah benar-benar marah dengan gerakan pasukan ini. Kecuali ia
sendiri langsung menyusup di medan dengan pakaian yang aneh itu,
ditangannya telah tergenggam tombak Kangjeng Kiai Pleret itu
sendiri." Pangeran Yudakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Sementara
itu letnan Morman mengumpat dengan kasarnya. Tidak sebutir pelurupun
yang nampaknya menyentuh orang berbaju kutung itu. "Kami akan
mengejarnya" minta seorang sersan dari pasukan berkuda "kami
seberangi sawah yang sempit ini. Kami akan menembaknya dengan pestol
dari jarak yang lebih pendek." Seorang Senapati Surakarta yang
mendengarnya tersenyum. Katanya "Jangan bermimpi melawan orang itu.
Yang dapat membunuhnya bukan senjata-senjata semacam itu.” "Apa?"
bertanya Morman."Seperti Pangeran Ranakusuma, diperlukan sepucuk
pusaka yang mampu mengatasi kekebalan kulitnya." jawab Senapati.
"Omong kosong" geram Morman "kalau aku mendekatinya dengan senjata
api ditangan, ia tentu melarikan diri. Orang pribumi memang
mempunyai kepercayaan yang aneh-aneh." Tetapi Senapati itu menyahut
"Kau lihat. Peluru-pelurumu tidak mengenainya." "Jarak ini memang
terlalu jauh untuk dapat membidik dengan tepat" jawab Morman.
"Tetapi jika kau yang berdiri di jalan itu, maka peluru- peluru itu
akan menembus kulitmu "berkata Senapati itu. "Aku tidak percaya"
jawab Morman marah. "Terserah kepadamu. Jika kau ingin mengejarnya,
ajak sepuluh orang prajurit kumpeni untuk melakukannya. Aku memang
percaya bahwa orang berbaju kutung itu akan melarikan dir i. Tetapi
tembakan-tembakanmu tidak akan mengenainya sama sekali." berkata
Senapati itu pula. Morman menggeram. Tetapi ia tidak memerintahkan
kumpeni untuk mengejarnya. Bukan karena ia takut bahwa orang berbaju
kutung itu tidak akan tembus peluru. Tetapi selama kumpeni itu
menyeberangi sawah beberapa kotak dan bergumul dengan lumpur, orang
itu tentu sudah sempat melarikan kudanya jauh-jauh. Karena itu maka
Morman tidak menghiraukannya lagi. Demikian orang-orang lain dalam
pasukan itu. Akhirnya orang berbaju kutung itu tidak mengikut inya
untuk selanjutnya. Ketika orang itu sampai kesebuah tikungan, maka
iapun berbelok menjauhi iring- iringan pasukan kumpeni. Selanjutnya
orang itu menghilang didalam sebuah padukuhan kecil
dinadapannya.Para Senapati prajurit Surakarta menarik nafas dalam-
dalam. Seolah-olah mereka telah terlepas dari pengawasan seseorang
yang sangat mendebarkan jantungnya. Pangeran Mangkubumi sendiri.
Sebenarnyalah, bahwa Pangeran Mangkubumi telah memer intahkan kepada
pasukannya untuk t idak mundur lagi ke Sukawati atau ke Gebang.
Sebagian saja pasukannya agar pergi ke Sukawati. Namun yang lain
diper intahkannya pergi ke Gunung Garigal. Sebuah bukit kecil yang
menurut pengamatan Pangeran Mangkubumi memiliki kemungkinan
pertahanan yang lebih baik dari Gebang. Ternyata bahwa kumpeni dan
pasukan Surakarta akan dapat menyerangnya dengan tiba- tiba.
Sementara di bukit Garigal, mereka akan dapat mengawasi keadaan
lebih baik dari tempat yang agak tinggi dan untuk mencapai bukit itu
diperlukan perjalanan yang agak sulit Pada saat-saat Pangeran
Mangkubumi mengawasi langsung pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta
yang menarik dir i, maka pasukannyapun telah bersiap-siap. Karena
Pangeran Mangkubumi tidak memberikan tanda apa-apa, maka pasukannya
berpendapat, bahwa pasukan lawan bukan hanya sekedar membuat gelar
menarik diri untuk datang kembali dengan pukulan yang lebih berat
karena mereka sempat mengatur diri. Tetapi pasukan lawan itu
benar-benar telah kembali ke Surakarta. Karena itu, maka pasukan
Pangeran Mangkubumi itupun sempat membenahi dir i. Mengurusi mereka
yang gugur dipe- perangan. Bukan saja dari pasukannya sendiri,
tetapi juga para prajurit dari Surakarta dan kumpeni. Mereka sempat
mengenali beberapa orang prajurit Surakarta yang terpaksa saling
membunuh dengan orang-orang Surakarta sendiri. Sementara itu,
beberapa orang telah mendahului meninggalkan medan sambil membawa
mereka yang terluka ke Sukawati. Beberapa orang perempuan dan
anak-anakpunikut pula ke Sukawati sebelum mereka dapat menyesuaikan
diri dengan perkembangan baru. Ketika Arum mengetahui bahwa kedua
kakak angkatnya telah terluka, maka iapun menjadi gelisah. Dengan
tergesa- gesa ia mendapatkan Juwiring dan Buntal, bersama Rara
Warih. Tetapi keduanya telah mendapat pengobatan untuk sementara,
sehingga darah mereka sudah tidak lagi mengalir dari luka. "Kau baru
saja sembuh kakangmas" berkata Warih kepada Juwiring "sekarang kau
terluka lagi." Juwiring tersenyum. Jawabnya "Aku tidak apa-apa
Warih. Sebentar lagi lukaku ini akan sembuh." "Bagaimana dengan
kakang Buntal" bertanya Arumpula. Ternyata keadaan Buntal masih
lebih baik. Jawabnya "Lukaku lebih ringan dari luka kakang Juwir
ing. Orang berbaju kutungan berwarna wulung itu telah menolong
kami." "Pamanda Pangeran Mangkubumi" desis Juwiring. "Aku sudah
menduga, tetapi aku tidak sempat memperhatikannya lebih lama karena
keadaan medan" jawab Buntal. Dalam pada itu, maka Buntal dan
Juwiringpun termasuk diantara mereka yang harus berada di Sukawati
untukbeberapa saat. Arum dan Rara Warib akan mengikutinya bersama
beberapa orang yang lain. Ketika malam turun, beberapa puluh orang
dari pasukan Pangeran Mangkubumi masih sibuk untuk membenahi medan.
Sebagian dari mereka telah meninggalkan medan untuk mengatur tempat
yang baru bagi mereka. Ternyata dari pertempuran itu pasukan
Mangkubumi telah mendapat beberapa pucuk senjata. Bahkan
meriam-meriam kecil yang akan dapat mereka tempatkan di lereng bukit
Garigal, meskipun mereka hanya mendapat beberapa butir peluru. Namun
para pengikut Pangeran Mangkubumi itu akan dapat berusaha
mendapatkan peluru lebih banyak lagi, dengan cara sebagaimana pernah
mereka lakukan, karena diantara para pelayan dan pengikut kumpeni
ditempatkan beberapa orang pengikut setia Pangeran Mangkubumi.
Hampir semalam suntuk kumpeni dan prajurit Surakarta menempuh
perjalanan kembali ke Surakarta. Karena keadaan pasukan itu, maka
setiap kali pasukan itu berhenti. Orang- orang yang luka parah
memerlukan perawatan khusus, sementara yang letihpun menjatuhkan
dirinya ditepi jalan apabila oasukan itu beristirahat. Bahkan
diantara mereka ada yang berbaring saja direrumputan. Dalam pada
itu. para pemimpin pasukan Surakarta dan kumpeni itu yakin, bahwa
seorang pengkhianat telah member itahukan kepada petugas-petugas
sandi Pangeran Mangkubumi bahwa pasukan kumpeni yang kuat akan
menyerang Gebang. "Tidak terduga sama sekali" berkata seorang
Senapati "meskipun rencana ini disusun dalam lingkungan yang sangat
terbatas, tetapi telinga petugas sandi Pangeran Mangkubumi sempat
juga mendengarnya. "Tentu seorang pengkhianat" geram seorang perwira
kumpeni.Senapati itu tidak membantah, lapun sependapat, tentu ada
seorang pengkhianat. Tetapi siapa ? Teka-teki itu memang harus
dijawab. Ketika kumpeni dan prajurit Surakarta gagal mengepung dan
menghancurkan pasukan Raden Mas Said, merekapun sependapat. Ada
seorang pengkhianat. Tetapi pengkhianat diantara mereka masih belum
dapat diketemukan. Ketika kemudian Surakarta merencanakan menyerang
Gebang dengan rencana yang sangat dirahasiakan, bahkan sampai saat
pasukan itu berangkat tidak banyak yang mengetahuinya selain para
pemimpin tertinggi, namun rencana itu dapat juga diketahui oleh
Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian, maka setiap pemimpin Surakarta
dan kumpeni telah sependapat, bahwa persoalan pengkhianatan itulah
yang harus diselesaikan lebih dahulu. Baru kemudian mereka akan
dapat merencanakan tindakan-tindakan lebih lanjut. Karena itu,
ketika pasukan Surakarta yang marah memasuki kota menjelang dini
hari, maka para pemimpin Surakarta menyambutnya dengan penuh
keprihatinan. "Hampir tidak mungkin" berkata seorang Tumenggung.
"Siapa tahu, Pangeran Mangkubumi mempunyai aji lelimunan. Ia dapat
melenyapkan diri dan hadir dalam setiap pembicaraan" sahut yang
lain. "Aku percaya kalau Pangeran Mangkubumi memiliki sekumpulan
ilmu dan aj i-aji. Tetapi aku kira tidak aji lelimunan." sahut
Tumenggung yang pertama. "Menurut pendapatku, tentu ada
pengkhianatan diantara para pemimpin tertinggi. Aku sendiri tidak
tahu, bahwa sepasukan yang besar telah menuju ke Gebang. Baru
kemudian aku mengetahuinya setelah pasukan itu berangkat. Tentu
beberapa orangpun seperti halnya dengan aku. Jika ada pengkhianatan,
apakah mungkin penghubungnya sempat menyampaikan rencana itudan
memberikan kemungkinan pasukan Pangeran Mangkubumi menyiapkan
jebakan yang demikian sempurna, meskipun masih juga ada
kelemahan-kelemahannya, jika pengkhianatnya bukan justru para
pemimpin?" Kawannya mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga
adalah satu kenyataan bahwa rencana kumpeni itu dapat dicium oleh
hidung petugas sandi Pangeran Mangkubumi. Pada hari berikutnya,
rasa-rasanya para pemimpin Surakarta menjadi berkabung. Mereka yang
terluka parah, ternyata ada yang tidak sempat ditolong lagi. Namun
mereka masih beruntung bahwa mereka sempat melihat Surakarta lagi
kipun dalam gelapnya pagi hari. Karena itu, maka telah terjadi
kesibukan yang menar ik perhatian rakyat Surakarta. Bahkan akhirnya
para prajurit tidak lagi dapat menyembunyikan kegagalan mereka,
sehingga berita itupun tersebar secepat tumbuhnya matahari di
langit. Orang-orang yang pergi kepasarpun segera mendengar, bahwa
pasukan Surakarta telah mengalami kegagalan. Bahkan mengalami
kerugian yang parah. Mayor Bihnan telah terbunuh dipeperangan. Dalam
pada itu, di istana Sinduratan, Raden Ayu Galuhwarit masih selalu
dicengkam oleh kegelisahan. Kepergian Rara Warih ke Gebang
membuatnya selalu gelisah. Apakah gadisnya itu sampai ketujuan.
Karena itu, sejak Rara Warih meninggalkan Sinduratan diantar oleh
seorang pengawal, Raden Ayu Galihwarit menjadi selalu gelisah.
Rasa-rasanya ia tidak dapat duduk tenang dan tidak dapat tidur
nyenyak ketika malamt iba. Bahkan bukan saja karena Rara Warih yang
belum pernah mengemban tugas-tugas seperti yang dilakukannya itu,
tetapi Raden Ayu Galihwarit juga memikirkan keadaan pasukan Pangeran
Mangkubumi. Jika Warih terlambat atau tersesat dan tidak berhasil
mencapai Gebang, maka keadaan pasukanPangeran Mangkubumi tentu akan
parah. Meskipun seandainya Rara Warih tersesat, namun kemudian ia
berhasil pulang kembali keistana Sinduratan dengan selamat, namun
kelambatan pemberitahuan pada pasukan Pangeran Mangkubumi itu tidak
akan dapat diperbaikinya lagi. Jika malam itu pasukan Pangeran
Mangkubumi dihancurkan, maka pasukan itu akan lumpuh. Jika Pangeran
Mangkubumi sendiri berhasil lolos, maka untuk menyusun kekuatan
kembali diperlukan waktu dan barangkali juga menyusun kembali
kepercayaan orang-orang Surakarta atas kemampuannya. Menjelang pagi,
jantung Raden Ayu Galihwarit bagaikan berdentang semakin cepat.
Raden Ayu sadar, bahwa saat-saat menjelang fajar itulah Bilman dan
pasukannya akan mengepung dan menghancurkan pasukan Pangeran
Mangkubumi yang berada di Gebang. Karena kegelisahannya itulah, maka
Raden Ayu Galihwarit yang hampir tidak t idur semalam suntuk itupun
berjalan mondar-mandir di serambi biliknya. Semakin terang langit di
sebelah Timur, rasa-rasanya jantungnya menjadi semakin cepat
berdenyut. Jika terjadi perang besar, maka perang itu tentu sudah
pecah. Seperti kemar in, sehari itupun Raden Ayu Galihwarit
dicengkam oleh kegelisahan yang semakin dalam. Tidak ada seorangpun
yang dapat membantunya memikul beban di hatinya. Ia tidak sampai
hati membuat ayahandanya menjadi gelisah pula seperti dir inya.
Dalam keadaan yang pelik, kadang-kadang ayahandanya justru tidak
dapat berpikir lagi jika penyakitnya menjadi kambuh. Hari itu adalah
hari yang menyiksa bagi Raden Ayu Galihwar it. Rasa-rasanya panas
matahari telah membakar seisi istana. Dimana-mana terasa panas,
sementara jantungnya menjadi semakin berdebaran. "Apakah Warih
memang tidak sempat pulang" katanya didalam hati "atau justru karena
peristiwa ini, ia benar-benarmeninggalkan aku sendiri sebagaimana
dimintanya setiap kali."Namun kadang-kadang hatinya meronta "Akulah
yang bodoh, yang member inya satu beban yang terlalu berat baginya.
Jika Warih gagal, dan mengalami kesulitan bagi dirinya sendir i
serta kehancuran bagi pasukan Pangeran Mangkubumi. maka tanggung
jawabnya adalah pada pundakku. Kenapa aku t idak berangkat sendiri."
Tetapi sekilas terbayang orang-orang yang mendapat tugas mengawasi
istana Sinduratan itu. Jika Raden Ayu sendiri yang keluar meskipun
dar i pintu butulan, tentu akan lebih cepat dikenal oleh para
pengawas yang ditempatkan disekitar istana itu. "Mereka sudah mulai
cur iga kepadaku" berkata Raden Ayu itu kepada diri sendir i. Namun
dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit masih teiap berusaha
menyembunyikan kegelisahannya kepada ayahandanya. Apalagi
ayahandanya masih tetap murung didalam biliknya karena kepalanya
yang terasa sangat pening di hari-hari terakhir. Sejak peristiwa
kematian dua orang perwira kumpeni di istananya, Pangeran Sindurata
memang sering merenung. Tetapi Raden Ayu Galihwarit yang sibuk
dengan persoalannya sendiri tidak sempat untuk mengamati keadaan
ayahandanya, bahkan ia justru berusaha menyembunyikan persoalannya
sendiri agar tidak menambah beban hati ayahandanya Malam kedua
terasa siksaan itu menjadi semakin berat. Semalam suntuk Raden Ayu
Galihwarit tidak tidur sama sekali. Bahkan rasa-rasanya udara
didalam biliknya terlalu panas seperti didalam tungku. Karena itu,
seperti malam sebelumnya. Raden Ayu itu berjalan mondar-mandir di
serambi. Bahkan kadang-kadang ia duduk dengan gelisah. Ketika
pengawal istana itu mengelilingi halaman dan kebun, maka setelah
membungkuk hormat, pengawal itu bertanya "Kenapa Raden Ayu berada
diluar bilik di malambegini ?""Udara panas sekali" jawab Raden Ayu
singkat. Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
iapun mohon dir i untuk melanjutkan tugasnya. Meskipun pengawal Itu
membungkuk hormat namun didalam hati ia berkata “Perempuan itu
kesepian. Agaknya tidak ada perwira yang sempat menjemputnya
kesebuah bujana dua malamberturut-turut ini.” Bahkan pengawal itu
sebagaimana juga para pelayan di istana itu menganggap bahwa puteri
itu telah menyingkirkan anak gadisnya. Mungkin untuk mengamankan
anak gadisnya dari kebuasan orang-orang asing. Tetapi mungkin juga
karena Rara Warih yang meningkat dewasa dan tumbuh menjadi seorang
gadis yang sangat cantik itu akan dapat menyaingi kecantikannya
dimata orang-orang pendatang dari seberang yang disebut kumpeni itu.
Karena itulah, maka sebenarnyalah para pelayan itu sama sekali t
idak menaruh hormat kepada Raden Ayu itu didalam hati, meskipun
yangf terungkap dalam sikap dan tingkah laku mereka setiap hari agak
berbeda. Demikianlah, kegelisahan itu mencengkam Raden Ayu tanpa
dapat dihindarinya. Karena itulah, ketika ia mendengar seorang
pelayannya didapur yang baru saja kembali dari pasar di pagi
harinya, berbicara tentang pasukan Surakarta, dengan serta merta
maka pelayan itu telah dipanggilnya. "Apa yang kau dengar di pasar
pagi ini?" bertanya Raden Ayu Galihwarit "Ampun Raden Ayu" jawab
pelayannya itu "orang-orang dipasar berbicara tentang kumpeni dan
pasukan Surakarta yang kembali dari medan." "Medan mana?" bertanya
Raden Ayu. "Hamba tidak tabu Raden Ayu" jawab pelayan itu "tetapi
mereka menyebut-nyebut pasukan Pangeran Mangkubumi.""Coba katakan,
apa yang telah kau dengar sebagaimana kau dengar. Jangan ditambah
dan jangan dikurangi. Aku ingin mendengar apa yang telah terjadi.”
Pelayan itu beringsut setapak. Kemudian katanya "Raden Ayu,
orang-orang dipasar itu mengatakan, bahwa pagi ini pasukan Surakarta
yang terdiri dari kumpeni dan prajur it- prajurit Surakarta yang
dipimpin oleh Pangeran Yudakusuma dan Mayor Bilman telah memasuki
kota dalam keadaan yang parah." "Parah bagaimana ?" bertanya Raden
Ayu itu tidak sabar. "Menurut ceritera yang hamba dengar, pasukan
itu mengalami kegagalan, karena perlawanan pasukan Pangeran
Mangkubumi. Seorang dapat mengatakan seolah-olah melihatnya sendiri,
bahwa pasukan itu telah terjebak.” Raden Ayu Galihwarit menarik
nafas dalam-dalam. Ternyata pasukan Pangeran Mangkubumi itu berhasil
mengatasi kedatangan kumpeni dan para prajur it Surakarta. Meskipun
Raden Ayu Galihwar it tidak mengabaikan kemungkinan, bahwa berita
tentang sergapan yang tiba-tiba itu didengar oleh Pangeran
Mangkubumi dari petugas-petugas sandinya yang lain, namun bahwa
pasukan Pangeran Mangkubumi tidak justru terjebak itu, membuatnya
sedikit berlega hati. "Raden Ayu" pelayannya itu melanjutkan "memang
kasihan sekali. Ketika hamba berangkat kepasar, hamba memang melihat
kesibukan para prajurit. Kemudian hamba mendengar, bahwa banyak
kumpeni dan prajurit yang gugur, dan terluka parah." Raden Ayu
Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian terkejut
ketika ia mendengar pelayannya itu berkata "Diantara mereka yang
gugur terdapat Mayor Bilman, dan yang terluka parah diantaranya
adalah kapten Kenop dan letnan Rapis.""Mayor Bilman gugur ?" Raden
Ayu mengulang. Pelayannya mengerutkan keningnya. Pelayan itu tahu
bahwa Mayor Bilman adalah salah seorang dari kawan Raden Ayu yang
dekat. Tetapi ia sudah terlanjur menyebutkannya. Karena itu, maka
jawabnya "Itu hanya yang hamba dengar Raden Ayu. Tetapi hamba tidak
tahu. apa yang sebenarnya telah terjadi." Raden Ayu
mengangguk-angguk. Kemudian katanya "Terima kasih. Pergilah
kedapur." Pelayan itupun kemudian meninggalkan Raden Ayu itu seorang
diri. Kegelisahannya tiba-tiba saja telah justru meningkat. Ia
kemudian berpikir tentang Rara Warih. Apakah yang kemudian terjadi
atasnya. Namun akhirnya Raden Ayu Galihwarit itu tidak dapat ingkar.
Kematian Mayor Bilman memang berkesan sekali. Laki- laki asing itu
mempunyai kedudukan yang khusus didalam hatinya. Meskipun ia tetap
menganggap orang asing, serta hubungannya di saat-saat terakhir
adalah justru karena usahanya memperbaiki kesalahannya dan menebus
segala dosanya dengan caranya, yang justru melahirkan dosa-dosa
baru, namun Bilman adalah lain dari para perwira kumpeni yang lain.
Karena itu, berita kematiannya telah membekas pula dihatinya. Sejak
itu, maka ia tidak akan dapat bertemu lagi dengan Mayor yang
kadang-kadang lembut, tetapi kadang- kadang kasar sesuai dengan
sifatnya sebagai seorang prajurit yang telah menjelajahi benua dan
samodra, namun yang tidak dapat berbuat banyak menghadapi Pangeran
Mangkubumi dari Surakarta, Baru kemudian, setelah Raden Ayu
Galihwarit sempat menilai perasaannya, maka ia mulai menyisihkan
kematian Mayor Bilman dari hatinya. Pada saat-saat ia sudah bertekad
untuk menunjukkan pengabdiannya kepada keluarganya yangtelah
dinodainya, kepada Surakarta dan kepada bangsanya, maka sentuhan
perasaan terhadap Mayor Bilman itu harus disingkirkan. Jika ia
benar-benar merasa hadirnya sesuatu ikatan, maka ia justru telah
menodai lagi kesetiaannya kepada Pangeran Ranakusuma. Bukan saja
dengan tingkah laku lahiriah karena ia menginginkan sesuatu yang
tidak pernah dipunyainya sebelumnya, tetapi justru makna dari
kesetiaannya itu sendiri, "Jika aku berhubungan dengan Bilman,
dengan siapa-pun juga diantara para perwira kumpeni, justru karena
aku ingin menghancurkan mereka'" perasaan Raden Ayu itupun
menghentak didalam dadanya untuk mengatasi getar hatinya karena
kematian Mayor Bilman. Dengan demikian, maka Raden Ayu itupun
menjadi semakin tenang. Kematian Mayor Bilman adalah pertanda bahwa
Pangeran Mangkubumi benar-benar berhasil mengatasi kehadiran pasukan
kumpeni dan para prajurit Surakarta yang tiba-tiba.. Yang kemudian
masih dipikirkannya adalah Rara Warih. Tetapi iapun dapat berharap,
bahwa Rara Warih telah benar- benar sampai ke daerah Gebang.
"Rasa-rasanya tidak ada orang lain yang mengetahui rahasia yang
dipegang sangat rapat oleh kumpeni dan para perwira tinggi di
Surakarta. Karena itu, tentu Rara Warih telah sampai dengan selamat
ke padukuhan Gebang." Raden Ayu Galihwar it mencoba menenangkan
hatinya sendiri. Sementara itu, rakyat Surakarta di har i berikutnya
benar- benar menyaksikan keparahan kumpeni dan prajur it Surakarta.
Mayor Bilman dimakamkan dengan upacara kebesaran menurut tataran
keprajuritan. Namun ternyata disamping Mayor Bilman terdapat
beberapa korban yang lain. Mereka yang semula terluka parah, namun
ternyata nyawa mereka t idak sempat diselamatkan. Diantara mereka
terdapat letnan Rapis,Sementara itu, dengan upacara keprajuritan
pula, beberapa orang prajurit Surakarta yang terbunuh
dipeperanganpun dimakamkan pula. Nampaknya memang tidak terlalu
banyak seperti juga korban dipihak kumpeni. Tetapi ternyata bahwa
sebagian dari mereka yang terbunuh di peperangan itu tidak sempat
terbawa pada saat pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta
mengundurkan dir i. Rasa-rasanya Surakarta memang berkabung. Rakyat
Surakarta yang ingin melibat ir ing-ir ingan itu telah berdiri
berjajar di pinggir jalan. Berbagai tanggap telah hinggap di hati
rakyat Surakarta. Sebagian dari mereka menyesali sikap Pangeran
Mangkuhuml Tetapi yang lain menganggap bahwa korban itu adalah wajar
sekali, justru karena perjuangan Pangeran Mangkubumi untuk merebut
kembali martabat Surakarta dihadapan orang-orang asing itu. Dalam
pada itu, diantara rakyat Surakarta yang menyaksikan pemakaman para
prajur it termasuk kumpeni dengan upacaranya masing-masing, terdapat
seorang petani yang berwajah murung. Tidak seorangpun yang
menghiraukan kehadirannya diantara mereka, karena orang itu sama
sekali tidak menarik perhatian. Dengan pakaian dan sikap kewajaran
seorang petani ia berdiri termangu-mangu. Namun karena iring-
iringan korban yang akan dimakamkan masih juga belum lewat, orang
itupun meninggalkan tempatnya, bergeser dibelakang jajaran rakyat
yang berdiri di pinggir jalan. Ketika seseorang berpaling, maka
orang itu berkata didalam hatinya "Orang itu tentu tidak sempat
menunggu lebih lama lagi, karena ia harus kembali kerumahnya yang
jauh.” Yang lain mengira bahwa orang itu tentu baru saja pergi ke
pasar menjual hasil sawahnya. Namun ternyata orang itu membawa
sebuah kurungan berisi seekor burung menco yang masih
muda.Sebenarnyalah orang itupun beringsut semakin lama semakin jauh.
Kemudian ia telah .berbelok kesebuah lorong kecil dan hilang dari
antara orang-orang yang menunggu iring- iringan korban yang akan
dimakamkan. Sebagaimana semula, tidak ada orang yang menghiraukan
petani yang membawa sebuah kurungan berisi seekor burung menco muda
itu. Dalam pada itu, petani yang membawa kurungan itu telah pergi ke
istana Sinduratan. Sementara itu, orang-orang yang bertugas
mengawasi istana itu nampaknya juga tertarik untuk menyaksikan
pemakaman korban perang melawan pasukan Pangeran Mangkubumi itu.
Sehingga karena itu, tidak seorang-pun yang memperhatikan petani itu
kemudian memasuki istana. Bahkan seandainya orang yang mengawasi
istana itu melihatnya, maka mereka tidak akan menghiraukan seseorang
yang akan menawarkan seekor burung menco kepada Pangeran Sindurata.
Sebenarnyalah pada saat itu Pangeran Sindurata tidak berada
diistananya. Sebagaimana para Pangeran yang lain maka ia telah
datang dalam upacara pemakaman korban- korban yang jatuh' di
peperangan itu. Dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit yang masih saja
digelisahkan oleh tugas yang diberikannya kepada Rara Warih,
tiba-tiba saja terkejut ketika ia melihat seorang petani yang
membawa sebuah kurungan dan seekor burung didalamnya berdiri di
pintu seketheng. Dengan serta-merta maka Raden Ayu Galihwarit itupun
kemudian berkata "Ayahanda tidak ada dirumah. Aku tidak mengerti
apakah ayahanda masih memer lukan seekor burung.” Orang itu tidak
segera menjawab. Tetapi ia tidak beringsut dari tempatnya. Sehingga
karena itu, maka Raden Ayu-pun menjadi berdebar-debar.Sekali lagi ia
berkata "Ayahanda tidak ada dirumah, Aku tidak mendapat pesan apapun
tentang seekor burung." Tetapi orang yang membawa seekor burung
menco dalam kurungan itu masih tetap berdiri di tempatnya, sehingga
karena itu Raden Ayu Galihwaritpun menjadi berdebar-debar. Hampir
saja ia berteriak memanggil seorang pengawal yang kebetulan ada di
belakang. "Apakah Raden Ayu tidak mengenal aku lagi ?" bertanya
orang yang membawa kurungan dan memakai pakaian petani itu. Raden
Ayu Galihwarit mengerutkan keningnya. Wajah-nya menjadi tegang.
Namun kemudian dengan tergesa-gesa ia berlari menyongsongnya.
"Pangeran Mangkubumi" desis Raden Ayu Galihwarit. "Ya" jawab petani
itu "aku datang khusus untuk menemuii Raden Ayu." "Marilah Pangeran.
Silahkan duduk" Raden Ayu mempersalahkan. "Terima kasih. Jika aku
duduk diserambi, maka para pelayan di istana ini akan menjadi heran,
bahwa Raden Ayu telah menerima tamu seorang petani." "Aku selalu
menerima Juwiring, Buntal dan Arum di serambi ini" jawab Raden Ayu
"mereka datang sebagai penjual reramuan perawatan tubuh. Mangir dan
lulur." "Terima kasih. Waktuku juga tidak terlalu banyak. Aku
membawa seekor burung menco. Aku kira pamanda Pangeran Sindurata
akan senang sekali, karena burung menco ini benar- benar seekor
burung akan sangat bagus." berkata Pangeran Mangkubumi. "Terima
kasih Pangeran. Aku akan menyampaikannya kepada ayahanda" jawab
Raden Ayu Galihwarit."Tetapi ada sesuatu yang penting ingin aku
sampaikan kepada Raden Ayu. Kami, sepasukan, ingin mengucapkan
terima kasih atas pesan Raden Ayu yang dibawa Warih kepada kami."
berkata Pangeran Mangkubumi selanjutnya. "Ah" desis Raden Ayu
Galihwarit "aku hanya melakukan kewajibanku sebagai rakyat yang
mulai menyadari keadaan diri." "Sebenarnyalah apa yang telah Raden
Ayu lakukan itu sangat menguntungkan pasukan kami. Jika Warih tidak
datang tepat pada waktunya, maka akhir dar i pertempuran itu akan
sangat berlainan dengan yang ternyata kemudian terjadi. Mungkin kami
akan kehilangan sebagian besar kekuatan kami" berkata Pangeran
Mangkubumi kemudian. "Hanya itulah yang dapait kami lakukan
Pangeran" sahut Raden Ayu Galihwarit sambil menundukkan kepalanya.
Namun kemudian tiba-tiba saja ia bertanya "Jadi, Warih telah berada
di Gebang ?" "Ia telah sampai ke Gebang pada waktunya dengan
selamat." jawab Pangeran Mangkubumi. Meskipun Pangeran Mangkubumi
mendengar juga laporan tentang perlakuan pengawal Rara Warih yang
kemudian justru terbunuh, tetapi Pangeran Manglkubumi sama sekali
tidak mengatakannya. Karena hal itu akan dapat mengguncangkan
perasaan Raden Ayu Galihwair it "Sokur lah" desis Raden Ayu "dua
hari dua malam aku menjadi gelisah. Bukan saja karena Warih, tetapi
jika ia gagal mencapai Gebang, maka mungkin akan t imbul akibat yang
kurang baik bagi pasukan Pangeran.” "Karena itu aku sengaja datang
untuk mengucapkan terima kasih" sahut Pangeran Mangkubumi" namun
lebih dar i itu, aku ingin memberikan satu per ingatan
kepadamu."Wajah Raden Ayu Galihwarit menegang. Dengan ragu-ragu ia
bertanya "Peringatan apa Pangeran ? Apakah aku telah membuat
kesalahan ?" "Tidak Sama sekali tidak." jawab Pangeran Mangkubumi
dengan serta merta "tetapi satu peringatan bagi keselamatan Raden
Ayu untuk seterusnya." Raden Ayu Galihwarit termangu-mangu.
Sementara itu Pangeran Mangkubumi berkata selanjutnya "Raden Ayu.
Kegagalan kumpeni yang terakhir ini benar-benar membuat mereka
marah. Karena itu, mala mereka akan dengan sungguh-sungguh mencari,
siapakah sebenarnya yang telah berkhianat menurut anggapan mereka."
"Ya Pangeran" berkata Raden Ayu "agaknya mereka memang mulai
mencurigai aku. Di depan rumah ini ada dua atau tiga orang pengawas
yang mengawasi pintu-pintu regol." "Mereka tidak ada ditempat
sekarang" jawab Pangeran Mangkubumi" mungkin mereka ingin juga
melihat iring- iringan korban yang akan dimakamkan." "O" Raden Ayu
mengangguk-angguk. "Namun Raden Ayu, justru karena itu, sebenarnya
Raden Ayu masih mempunyai kesempatan. Menurut laporan yang aku
terima, kecurigaan itu memang sudah terlalu mengarah. Menurut
beberapa orang perwira, orang yang terakhir berhubungan dengan Mayor
Bilman selain para perwira dan Senapati terpenting di Surakarta
adalah Raden Ayu Galihwar it." berkata Pangeran Mangkubumi
selanjutnya "karena itu tidak mustahil, bahwa pada satu saat yang
dekat, mereka akan benar-benar melakukan satu tindakan yang
mengejutkan bagi Raden Ayu.” “Tetapi apakah aku masih akan dapat
mengelak?" bertanya Raden Ayu."Karena itu, aku ingin menunjukkan
satu jalan" jawab Pangeran Mangkubumi. "Jalan yang mana Pangeran ?"
bertanya Raden Ayu itu pula. "Raden Ayu meninggalkan kota Surakarta"
jawab Pangeran Mangkubumi. "Meninggalkan kota ?" ulang Raden Ayu
dengan kening yang berkerut. "Ya. Satu-satunya jalan. Raden Ayu
tidak akan dapat bersembunyi didalam kota. Kemanapun juga, agaknya
Raden Ayu akan dapat diketahui oleh kumpeni." jawab Pangeran
Mangkubumi "karena itu, jika Raden Ayu sependapat, sekarang adalah
saatnya. Orang-orang Surakarta menjadi lengah karena mereka ingin
melihat korban-korban itu dimakamkan dengan upacara keprajuritan."
"Sekarang ?" wajah Raden Ayu menjadi semakin tegang. "Tidak ada
kesempatan lain. Sebentar lagi kumpeni akan datang keistana ini dan
mencari keterangan dengan teliti, apakah Raden Ayu tidak terlibat
dalam tindak yang mereka anggap pengkhianatan itu." berkata Pangeran
Mangkubumi. "Lalu, menurut Pangeran, aku harus kemana ?" bertanya
Raden Ayu. "Menyusul anak gadismu. Rara Warih tentu akan senang
sekali menerima kedatanganmu di Sukawati atau ditempat lain yang
kemudian akan ditempatinya. Mungkin Gunung Garigal atau
padukuhan-padukuhan disekitarnya." Wajah Raden Ayu Galihwarit
menegang sejenak. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam.
Katanya "Apakah hal itu perlu sekali aku lakukan Pangeran ?" "Aku
kira perlu sekali Raden Ayu" berkata Pangeran Mangkubumi "Raden Ayu
telah banyak sekali member ikan jasadalam perjuangan kami. Aku kira
segalanya yang pernah Raden Ayu lakukan telah lebih dari cukup.
Karena itu, sudah sampai waktunya Raden Ayu memikirkan keselamatan
Raden Ayu selama ini." Namun tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit
menggeleng. Katanya "Pangeran. Aku sudah berjanji kepada diriku
sendiri bahwa aku akan menebus segala dosa dan kesalahanku terhadap
Pangeran Ranakusuma. Mungkin yang aku lakukan selama ini memang
bukan satu perjuangan yang murni, karena sebenarnyalah tujuanku
bukannya murni. Jika seandainya aku tidak merasa bersalah terhadap
keluargaku, mungkin aku t idak akan melakukan seperti apa yang aku
lakukan sekaraing ini, karena sebenarnyalah bahwa aku termasuk salah
seorang yang dekat dengan kumpeni pada mulanya." "Jangan berkata
begitu Raden Ayu" jawab Pangeran Mangkubumi "apa yang Raden Ayu
lakukan adalah satu perjuangan yang besar bagi negeri yang sedang
mengalami keruntuhan ini. Raden Ayu harus menyadari, jika kumpeni
berhasil mendapatkan bukt i atau saksi bahwa Raden Ayu pernah
memberikan keterangan kepadaku, lewat siapapun juga. maka Raden Ayu
akan mengalami nasib yang sangat buruk. Karena itu, aku minta Raden
Ayu untuk meninggalkan kota bersama aku sekarang. Tulislah surat
kepada pamanda Sindu rata dan tinggalkan surat itu sebagai
permohonan diri bahwa Raden Ayu akan pergi ketempat yang tidak Raden
Ayu ketahui." Sejenak wajah Raden Ayu Galihwarit menjadi semakin
tegang. Namun akhirnya sekali lagi ia menggeleng sambil tersenyum
"Pangeran. Aku titipkan Warih kepada Pangeran. Aku akan tetap berada
ditempat ini apapun yang akan terjadi. Mudah-mudahan aku masih dapat
berbuat sesuatu bagi Pangeran sebagai salah satu cara untuk
mengurangi beban perasaanku”"Itu berbahaya sekali" Pangeran
Mangkubumi mendesak "aku sudah mendapat keterangan. Nama Raden Ayu
sudah disebut-sebut. Percayalah.” "Pangeran. Aku tidak pernah tidak
mempercayai Pangeran. Aku mengucapkan beribu terima kasih. Tetapi
aku mohon perkenan Pangeran untuk tetap tinggal disini. Mudah-
mudahan aku masih mempunyai arti" jawab Raden Ayu. "Sekali lagi aku
katakan dengan jujur. Perjuanganmu telah melampaui setiap orang
didalam pasukanku."jawab Pangeran Mangkubumi "karena itu. kau sudah
berhak untuk mendapat kehormatan tertinggi, meskipun kau tidak lagi
melakukan perjuangan seperti yang pernah kau lakukan sebelumnya"
Tatapan mata Raden Ayu Galihwarit menjadi buram Namun ia masih
mencoba tersenyum. Meskipun demikian Pangeran Mangkubumi melihat
titik air di pelupuk mata Raden Ayu Galihwar it yang pernah dikenal
dengan sebutan Raden Ayu Sontnang itu. "Aku, mohon ampun Pangeran.
Aku tidak sampai hati meninggalkan ayahanda yang tua dan
sakit-sakitan itu. Jika aku tidak ada dirumah ini, maka tentu
ayahandalah yang akan menjadi sasaran kemarahan kumpeni. Namun
demikian, aku masih mengharap, bahwa kumpeni tidak akan berbuat apa-
apa terhadap keluarga kami." berkata Raden Ayu itu tersendat. "Aku
yakin, mereka akan datang kerumah ini" jawab Pangeran Mangkubumi.
"Segalanya akan aku hadapi dengan penuh tanggung jawab" desis Raden
Ayu ita sambil menunduk dalam-dalam. Dengan sehelai sapu tangan
Raden Ayu itu mengusap matanya yang basah. Katanya kemudian "Aku
tahu maksud baik Pangeran yang ingin menyelamatkan aku dari
kemungkinan yang paling buruk. Tetapi aku mohon ampun,bahwa aku akan
tinggal. Aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas perhatian
Pangeran terhadap keselamatanku." Pangeran Mangkubumipun menarik
nafas dalam-dalam. Dari kejauhan terdengar senapan meledak. Karena
itu, katanya "Upacara pemakaman korban dari pihak kumpeni itu sudah
dimulai. Aku sudah mendengar tembakan kehormatannya. Karena itu.
sebentar lagi upacara itu akan selesai. Raden Ayu. masih ada
kesempatan. Raden Ayu dapat berganti pakaian dengan pakaian pelayan.
Kita akan pergi." Tetapi Raden Ayu Galihwarit tetap menggeleng,
meskipun air matanya menjadi semakin deras. Katanya "Selamat jalan
Pangeran. Aku mohon tit ip anakku Warih, anakku Juwir ing dan yang
sudah aku anggap sebagai anak-anakku pula Buntal dan Arum." Pangeran
Mangkubumi tidak dapat memaksanya lagi. Karena itu maka katanya
"Jika Raden Ayu berkeras. apaboleh buat. Aku datang untuk
mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga. Namun akupun berdoa,
mudah-mudahan Tuhan akan selalu melindungi Raden Ayu." "Kita akan
saling berdoa, Pangeran" jawab Raden Ayu Galihwar it "Jika demikian,
perkenankan aku mohon dir i. Aku akan meninggalkan burung ini.
Burung ini tentu akan tumbuh menjadi burung dewasa yang sangat
bagus. Mudah-mudahan pamanda Pangeran Sindurata akan berkenan di
hati."Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Tetapi air di matanya mengalir
semakin deras. Bahkan tiba-tiba saja Raden Ayu itu telah berjongkok
memeluk kaki Pangeran Mangkubumi. ”Sst, jangan lakukan" cegah
Pangeran Mangkubumi "j ika seorang pelayan atau pengawal istana ini
melihat bahwa kau berjongkok dihadapan seorang petani, maka jelaslah
sudah, bahwa Mangkubumi pernah datang ketempat ini." Raden Ayu
Galihwaritpun kemudian bangkit sambil toengusap matanya. Betapapun
juga ia masih berusaha tersenyum. Katanya "Selamat berjuang
Pangeran." Pangeran Mangkubumi termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian iapun berkata "Selamat tinggal Raden Ayu. Kita memang harus
saling berdoa." Demikianlah maka Pangeran Mangkubumi itupun
meletakkan burung menco dengan sangkarnya. Kemudian iapun mengangguk
kecil sambil berkata "Aku minta dir i." Raden Ayu Galihwarit masih
akan menjawab. Tetapi terasa tenggorokannya tersumbat. Yang
terdengar kata-katanya patah "Aku titipkan anak-anakku.” Pangeran
Mangkubumi tidak sempat menjawab karena Raden Ayu itupun menutup
wajahnya dengan kedua tangannya. Tiba-tiba saja tangisnya tidak
tertahankan lagi. Sambil menarik nafas dalam-dalam Pangeran
Mangkubu- mipun meninggalnya. Ketika ia keluar dari regol,
diamatinya keadaan disekitarnya. Ternyata tidak ada seorangpun.
Agaknya orang-orang di Surakarta khususnya yang tinggal didalam kota
sedang menyaksikan upacara pemakaman dengan tatanan keprajuritan
itu. Pangeran Mangkubumi kemudian dengan cepat meninggalkan regol
itu. Ia menyesal bahwa Raden Ayu Galihwar it tidak mau meninggalkan
istana Sindurata, karena keterangan yang diterimanya dan menurut
perhitungannya,maka Raden Ayu Galihwarit tentu akan menjadi sasaran
pengamatan para petugas sandi kompeni dan prajur it Surakarta. Namun
ia tidak akan dapat memaksanya. Dalam pada itu, Raden Ayu
Galihwaritpun kemudian membawa sangkar dan isinya itu ke serambi.
Ketika ia berhasil mengatasi isak tangisnya, maka iapun
menggantungkan kurungan itu diserambi. Diamatinya burung menco yang
masih muda itu didalam sangkarnya. Raden Ayu Galihwarit menarik
nafas dalam-dalam. Didalam kurungan itu terdapat tempat makanan yang
terisi. Pisang yang tersangkut pada dinding kurungan. Air yang
jernih. Namun agaknya burung itupun nampak murung dibatasi oleh
ruji-ruji kurungannya. '"Sementara itu rakyat Surakarta sekarang
telah siap memasuki sebuah sangkar emas yang bernama Surakarta itu”
berkata Raden Ayu Galihwarit kemudian. Hampir diluar sadarnya Raden
Ayu itu masuk kedalam biliknya. Pada saat-saat permulaan ia bergaul
dengan kumpeni, maka barang-barang yang dianggapnya aneh telah
memikat hatinya. Kemudian kekayaan yang melimpah seolah- olah telah
merupakan tujuan hidupnya untuk menemukan kebahagiaan. Tetapi
ternyata ia keliru. Kekayaan, harta benda, barang- barang yang
menarik itu, bukannya membuat hidupnya berbahagia. Bahkan ia telah
kehilangan segala-galanya. Dan sekarang, ia seolah-olah hidup sendir
i. Meskipun ia masih mempunyai seorang anak gadis, tetapi
sebenarnyalah ia tidak pantas lagi menyebut dir inya sebagai ibu
anak gadisnya yang menghargai kesucian keluarga. Sementara ia telah
menodainya dengan tingkah laku yang tidak dapat dimaafkan lagi.
Meskipun ia telah melakukan apa saja bagi perjuangan rakyai
Surakarta. Tetapi nodanya dalam keluarga justru menjadi semakin
bertambah-tambah.Tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwar it itu
membayangkan sebuah jalan lurus untuk meninggalkan kemurungan itu.
Untuk melupakan segala dosa-dosa yang pernah dilakukan. Dosa- dosa
dalam penebusan dosanya yang lama. Bertimbun dan bertimbun "Maut
adalah jalan yang menarik" berkata Raden Ayu Galihwar it itu didalam
hatinya. Namun demikian, air matanya kembali membasahi pipinya. Pipi
seorang perempuan cantik. Tetapi ketika tangannya mengusap pipinya
itu, terasa pipinya tidak sepadat dahulu. Terasa bahwa pipinya itu
menjadi semakin kendor oleh umurnya yang merambat terus. "Anak
laki-lakiku Rudira. kakangmas Ranakusuma dan kemudian Bilmanpun
telah melewati jalan itu" berkata Raden Ayu Galihwarit itu didalam
hatinya. Raden Ayu Galihwarit itupun kemudian menjatuhkan dir inya
dipembaringannya. Ia tidak memikirkan lagi rakyat Surakarta yang
berjejal melihat ir ing-ir ingan yang lewat. Raden Ayu itupun tidak
mengetahui, kapan ayahanda kembali. Tetapi ketika ia bangkit dan
keluar keserambi, ia melihat ayahandanya sedang mengamati burung
menconya "Burung dari mana ?" bertanya ayahandanya. "O" desis Raden
Ayu Galihwarit "kapan ayahanda pulang ? Aku sama sekali tidak
mendengar derap kereta ayahanda." "Belum lama. Nampaknya kau sedang
merenung" jawab Pangeran Sindurata "he, dari mana kau dapat burung
ini ?" Raden Ayu Galihwarit sama sekali tidak ingkar. Karena itu
jawabnya "Pangeran Mangkubumi.” "Pangeran Mangkubumi ?" Pangeran
Sindurata mengulang "kau tidak mimpi bahwa Pangeran Mangkubumi
datang sambil membawa seekor burung menco muda yang bagus sekali
?""Aku berkata sebenarnya ayahanda" jawab Raden Ayu Galihwar it
"Pangeran Mangkubumi dalam pakaian seorang petani." "Bukan main"
desis Pangeran Sindurata "apa yang dikatakannya kepadamu ?"
"Pangeran Mangkubumi mengucapkan terima kasih atas bantuanku selama
ini" jawab Raden Ayu Galihwarit "yang terakhir Pangeran Mangkubumi
memperingatkan agar aku meninggalkan kota.” Pangeran Sindurata
mengerutkan keningnya Namun kemudian katanya "Pendapat Pangeran
Mangkubumi benar." Raden Ayu Galihwarit terkejut. Sementara itu
ayahanda berkata selanjutnya "aku sudah merasakan kecurigaan yang
semakin meningkat. Dan akupun t idak dapat berpura-pura untuk tidak
mengetahui untuk seterusnya. Kedatangan Juwiring dan saudara
angkatnya itu tentu sudah menjadi perhatian. Kematian kedua orang
perwira itu tentu mendapat pertimbanean dari segala sudut. Karena
itu, maka aku sependapat bahwa kau sebaiknya meninggalkan kota.
Biarlah aku yang tua ini akan mempertanggung jawabkan segala
sesuatunya jika kumpeni menuntut pertanggungan jawab itu."
"Ayahanda" potong Raden Ayu Galihwar it. "Aku berkata sebenarnya
Sontrang." berkata ayahandanya. Raden Ayu Galihwarit menjadi tegang.
Dipandanginya dengan tajamnya seolah-olah ingin mengetahui isi
jantungnya yang sebenarnya. Dalam pada itu ayahandanya berkata pula
"Galihwarit. Sampai saat ini kita belum melihat pengkhianatan
diantara kita di rumah ini. Tetapi sebenarnyalah aku tidak yakin,
bahwa kelicikan kumpeni tidak akan dapat membuka mulut salah seorang
dari pelayan kita. Mereka mempunyai seribu cara. Dari cara yang
paling kasar, sampai dengan cara yang palinglembut. Mereka dapat
mengancam, menakut-nakuti, tetapi juga dapat mereka pergunakan
uang.” Raden Ayu menarik nafas dalam-dalam. Air matanya yang sudah
mulai kering itupun nampak membasahi pipinya lagi. Namun dalam pada
itu ia berkata "Ayahanda. Semuanya sudah aku lakukan dengan sadar.
Jika saat itu datang, biarlah aku menghadapinya. Aku tidak akan
meninggalkan ayahanda sendiri dirumah ini untuk mempertanggung
jawabkan sesuatu yang tidak ayahanda ketahui, atau yang sebenarnya
tidak ayahanda lakukan sejak semula." "Aku sudah tua" berkata
Pangeran Sindurata "aku sudah kenyang makan pahit getirnya
kehidupan. Juga sudah kenyang asin manisnya. Karena itu, maka tidak
ada lagi yang dapat menahanku untuk menghadapi pertanggungan jawab
yang bagaimanapun beratnya.” "Tidak. Tidak." sahut Galihwarit
"dengan demikian aku akan menambah dosaku lagi." Pangeran Sindurata
memandang anaknya dengan wajah sayu. Namun kemudian ia berkata "Jika
hatimu sudah bulat aku tidak akan dapat memaksamu." "Aku akan pasrah
diri terhadap keadaan, apapun yang akan aku alami." berkata Raden
Ayu Galihwarit "sementara itu aku hanya dapat berdoa. Dan kcupun
telah menyerahkan semua anak-anakku kepada Pangeran Mangkubumi.”
"Warih dan Juwiring ?" bertanya Pangeran Sindurata, "Ya, Juga Buntal
dan Arum. Karena mereka adalah saudara Juwiring maka keduanya juga
anak-anakku." jawab Raden Ayu Galihwar it, Pangeran Sindurata menar
ik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun berkata "Aku sudah mengerti
tentang Warih. Baiklah. Kita hanya dapat berdoa.”Ketika ayahandanya
melangkah meninggalkan serambi, Raden Ayu itu berkata ”Burung itu
ayahanda. Pangeran Mangkubumi memang membawanya untuk ayahanda.” "O"
Pangeran Sindurata tertegun. Kemudian diambilnya kurungan itu sambil
berkata "Terima kasih. Burung ini bagus sekali." Sambil membawa
kurungan berisi seekor burung menco yang masih-muda Pangeran
Sindurata meninggalkan serambi bilik anak perempuannya. Kepaknya
terasa mulai pening. Tetapi ia sendir i tidak tahu, kenapa ia tidak
ingin marah sama sekali seperti biasanya. Justru ia merasa iba dan
kasihan melihat anak perempuannya yang telah menjalani masa hidupnya
yang kelam. Bahkan perjuangan yang ditempuhnyapun dilaluinya lewat
genangan lumpur yang paling kotor. Hari itu, seisi istana itu telah
dicengkam oleh kegelisahan. Raden Ayu Galihwarit dan Pangeran
Sindurata tidak dapat mengesampingkan satu kemungkinan bahwa kumpeni
akan datang ke istana itu dan menangkap semua isinya. Sementara para
pelayaopun menjadi gelisah melihat sikap Raden Ayu Galihwar it dan
Pangeran Sindurata. Mereka tidak tahu apa yang sedang
mencengkamperasaan kedua orang tuanya itu. Namun ternyata bahwa pada
hari itu, tidak seorang kumpeni yang datang. Juga tidak ada seorang
perwirapun yang mendatangi Raden Ayu Galihwarit sebagaimana
biasanya. Tetapi ketika malam turun, ternyata Raden Ayu Galihwarit
telah benar-benar dapat menenangkan hatinya dalam pasrah. Ia
benar-benar menjadi mapan menghadapi segala kemungkinan. Justru
karena telah diketahuinya dengan pasti, bahwa anak gadisnya selamat
sampai ke Gebang, serta bahwa dengan demikian pasukan Pangeran
Mangkubumi tidak mengalami kehancuran mutlak. Maka persoalan
selanjutnya adalah yang menyangkut dir inya sendir i."Seandainya
besok kumpeni itu benar-benar datang, maka biarlah segalanya itu
terjadi" berkata Raden Ayu Galihwar it. Namun dalam pasrah itulah,
akhirnya Raden Ayu Galihwarit yang kelelahan itupun tertidur juga.
Ketika matahari terbit di Timur, Raden Ayu Galihwarit itu telah
bangun. Disuruhnya pelayannya menyediakan beberapa ikat merang. "Aku
akan mandi keramas" berkata Radon Ayu Galihwarit. Tidak seperti
biasanya, Raden Ayu ku, membakar merang itu sendiri. Kemudian
mengumpulkam abunya dan merendamnya didalam air. Menjelang matahari
sepenggalah, maka Raden Ayu itupun telah berada di pakiwan untuk
mengeramasi rambutnya yang panjang ikal. Sambil mencuci rambutnya
dan membersihkan tubuhnya, Raden Ayu itu seolah-olah telah
menempatkan diri kedalam jalur jalan menuju kepada Yang Maha Agung.
Sambil mencuci rambutnya ia sempat mengingat segala macam dosa yang
pernah dilakukannya. Kemudian dengan sedalam-dalamnya ia mengakui
dosa itu didalam hatinya dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi.
Demikianlah, setelah selesai mandi dan keramas, maka Raden Ayu
itupun duduk diserambi sambil mengurai rambutnya yang ikal panjang.
Dipandanginya dedaunan yang bergerak-gerak disentuh angin yang
lembut. Tetapi sebenarnyalah Raden Ayu Galihwarit tidak melihat
gerak dedaunan itu. Yang dilihatnya adalah perjalanan hidupnya
dimasa yang lampau. Ketika rambutnya sudah kering, maka mulailah
Raden Ayu itu membenahi dir inya. Adalah menar ik perhatian para
pelayannya, bahwa Raden Ayu Galihwar it itu telah mer ias dirinya
sebaik-baiknya, seolah-olah ia hendak pergi ke sebuah bujana yang
besar. Dipergunakannya reramuan yang paling baik yang aida padanya.
Namun kemudian Raden Ayu itujustru mempergunakan pakaiannya yang
paling sederhana. Dikumpulkannya semua perhiasannya didalam sebuah
kotak dan diletakkannya didepao cermin. Raden Ayu itu berpaling
ketika ia mendengar ayahandanya datang kepadanya sambil bertanya
"Apakah kau akan pergi ?" Raden Ayu tersenyum sambil menggeleng.
Katanya "Tidak ayahanda. Aku tidak akan pergi kemanapun juga. Aku
akan tetap berada dirumah menemani ayahanda,” Pangeran Sindurata
menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Raden Ayu itupun berkata
"Aku telah menyimpan perhiasanku di kotak ini ayahanda. Jika pada
suatu saat aku dapat bertemu dengan Warih dan Arum, aku akan
menyerahkannya semuanya kepada keduanya. Tetapi jika aku tidak
sempat bertemu lagi dengan keduanya, biarlah ayahanda saja kelak
yang memberikan kepadanya." "Jangan berkata begitu Galihwarit"
berkata ayahandanya "kedua anak itu pada suatu saat tentu akan
datang lagi kepadamu." Galihwar it tersenyum. Tetapi ia tidak
menjawab lagi. Ketika Pangeran Sindurata itu kemudian meninggalkan
anak perempuannya, terasa hatinya terguncang. Tiba-tiba saja ia
merasa bahwa ia sudah meloncati jarak yang membatasinya dengan anak
perempuannya yang seorang itu. Anak yang semula telah dianggapnya
hilang karena tingkah lakunya yang menodai keluarganya. Namun kini
anak itu telah hadir lagi diliatinya. Justru melampaui anaknya yang
lain. Pangeran Sindurata itupun kemudian pergi keserambi di- sebelah
yang lain. Diturunkannya burung-burungnya dari gantungannya.
Sebagaimana biasanya ia sendirilah yang member i makan dan minum
burung-burung yang dipeliharanya.Namun dalam pada itu, selagi
Pangeran Sindurata itu sibuk dengan burung-burungnya, tiba-tiba
telah terdengar derap sebuah kereta dan beberapa ekor kuda memasuki
halaman. Karena itu, maka dengan serta merta, maka Pangeran
Sindurata itu telah bergegas kehalaman depan. Pangeran itu terkejut
ketika ia melihat sepasukan kecil kumpeni dan beberapa orang perwira
prajur it Surakarta lengkap bersenjata telah berada di halaman itu
Ketika mereka melihat Pangeran Sindurata, maka perwira kumpeni di
pasukan kecil itu telah meloncat turun dari kudanya, diikut i oleh
para prajurit yang lain. Sambil membungkuk hormat, perwira itupun
kemudian mendekatinya sambil berkata "Kami mohon maaf Pangeran,
mungkin kami telah mengejutkan Pangeran" "Apakah keperluan kalian"
bertanya Pangeran Sindurata kepada perwira kumpeni itu. Perwira
kumpeni itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Kami
membawa perintah untuk memanggil Raden Ayu Galihwarit menghadap"
Wajah Pangeran Sindurata menjadi tegang. Dengan lantang ia bertanya
"Siapa yang memer intahmu ?” "Kapten Kenop"jawab perwira itu. Wajah
Pangeran Sindurata menjadi merah padam. Dengan geram ia berkata
"Katakan kepada kapten Kenop. Ia tidak berhak memanggil anakku. Ia
adalah putera puteri seorang Pangeran dari Surakarta, sedangkan
kapten Kenop adalah orang asing disini." Jawaban itu sama sekali t
idak terduga. Justru karena itu, maka perwira kumpeni itu tertegun
untuk beberapa saat. Namun kemudian wajahnya menjadi tegang. Dengan
gagap oleh gejolak perasaannya ia berkata "Pangeran. Aku membawa
perintah. Aku akan melaksanakan perintah itu.”"Aku tidak mengakui
kekuasaan kapten Kenop disini" bentak Pangeran Sindurata,
"Sepeninggal Mayor Bilman ia adalah pejabat pimpinan pasukan khusus
di Surakarta." perwira itupun membentak pula. "Aku tidak peduli apa
jabatannya dalam urutan kekuasaan kumpeni. Tetapi itu adalah
kepangkatan kumpeni. Bukan termasuk pimpinan pemerintahan di
Surakarta." jawab Pangeran Sindurata "karena itu, cepat pergi dari
rumahku. Atau aku akan melaporkannya kepada Kangjeng Susuhunan.”
"Kangjeng Susuhunan mengesahkan kekuasaan kumpeni di Surakarta"
jawab perwira itu. "Atas masalah-masalah tertentu dan diantara
kumpeni sendiri. Tetapi kau tidak berhak memanggil, menangkap dan
apalagi menghukum rakyat Surakarta. Karena itu pergilah dari halaman
rumahku" Pangeran Sindurata berteriak semakin keras. Perwira kumpeni
itupun menjadi marah. Katanya "Pangeran pernah membunuh dua orang
perwira kumpeni disini. Saat itu Pangeran masih sempat mengelabui
kami. Tetapi sekarang tidak lagi. Kami akan menangkap Raden Ayu
Galihwarit sekaligus Pangeran sendir i." "Aku menolak. Jika kau
berkeras, aku tantang kau sebagaimana seorang laki-laki. Jika kau
pengecut, manilah bersama-sama. Aku lebih baik mati di halaman
rumahku ini dari pada tunduk kepada perintah orang yang tidak
berhak." Pangeran Sindurata itupun kemudian bertolak pinggang dengan
sorot mata yang menyala. Perwira kumpeni itupun benar-benar marah.
Namun sebelum ia bertindak lebih lanjut, seorang Senapati prajurit
Surakarta yang menyertainya berkata ”Pangeran benar. Ia memang dapat
menolak perintah yang dikeluarkan oleh kapten Kenop.""Omong kosong."
bentak perwira itu. "Perintah itu harus datang dari Kangjeng
Susuhunan atau orang yang mendapat limpahan kuasanya dalam keadaan
perang ini" jawab Senapati itu "karena itu, maka kita harus
memenuhinya. Membawa perintah dari Kangjeng Susuhunan atau orang
yang mendapat limpahan kuasanya itu." "Aku tidak peduli. Aku
mempunyai kekuasaan dan kekuatan untuk memaksanya sekarang” teriak
perwira kumpeni itu. "Paksalah j ika kau berani memaksa" jawab
Pangeran Sindurata yang meskipun sudah tua, tetapi suaranya masih
cukup lantang "aku akan menolak. Jika kau akan membunuh aku,
bunuhlah. Kau akan digantung oleh kuasa Kangjeng Susuhunan karena
kau sudah membunuh seorang Pangeran." Tetapi perwira kumpeni itu
nampaknya tidak menghiraukannya. Ia memang akan memaksa Pangeran
Sindurata untuk menyerahkan anak perempuannya yang bernama Gahhwarit
itu. Tetapi ketika ia sudah siap untuk memaksakan niatnya
berdasarkan atas perintah dari kapten Kenop, maka Senapati prajurit
Surakarta itu berkata "Aku masih menghormati para Pangeran di
Surakarta. Karena itu, urungkan niatmu." "Kau dengar perintah kapten
Kenop. Kau tidak menolak dan tidak membantah ketika perintah itu
jatuh. Bahkan kau disertakan dengan kami agar kau mendampingi kami
menjalankan tugas ini. Sekarang kau bersikap lain" bentak perwira
kumpeni itu. "Satu kekhilafan. Aku sudah terbiasa menjalankan
perintah kumpeni meskipun kadang-kadang menurut susunan tataran
keprajuritan itu keliru. Tetapi harga diriku memang tidak cukup
tinggi seperti harga diri seorang Pangeran. Sekarang, kalian
berhadapan dengan seorang Pangeran di Surakarta. Karena itu, kalian
harus menghargai. Kalian harus menempuh jalur yang seharusnya.
Kalian harus menghubungi SenapatiSurakarta yang berhak melakukannya
karena limpahan kekuasaan dari Kangjeng Susuhunan. Misalnya Pangeran
Yudakusuma, Senapati Agung pasukan Surakarta sekarang ini." jawab
Senapati itu. "Persetan. Aku tidak ingin mengulangi kerja yang sudah
hampir selesai aku lakukan. Aku mempunyai kekuatan hukum untuk
melakukan tugas ini. Aku membawa surat perintah." bentak perwira itu
pula. "Yang menanda tangani surat perintah itulah yang tidak diakui
oleh Pangeran Sindurata, bahwa ia berhak memberikan perintah
menangkap Raden Ayu Galihwarit, putera puteri Pangeran Sindurata
atas tuduhan keterlibatannya dalam peperangan ini." Senapati itupun
mulai berbicara dengan keras. "Kau mencoba melindungi kesalahannya
?" bertanya perwira itu, "Tidak. Tetapi aku juga tidak ikhlas bahwa
orang-orang yang tidak berhak melakukan tindakan yang dapat
mengurangi wibawa pimpinan pemer intahan di Surakarta." jawab
Senapati itu. Wajahperwira itu menjadi merah. Sekilas dipandanginya
para prajuritnya. Namun dalam pada itu, para prajurit Surakarta yang
menyertai kumpeni itupun telah bersiaga pula. Karena itu, maka
perwira kumpeni itupun harus berikir jernih. Ia tidak akan dapat
berbuat tanpa menghiraukan sikap Senapati itu. Karena itu, maka
katanya "Jadi menurut pendapatmu, kita semuanya sekarang kembali
untuk mendapatkan surat perintah yang baru dari Pangeran Yudakusuma
?" "Ya" jawab Senapati itu. "Dan membiarkan orang yang akan kita
tangkap melar ikan diri ?" bertanya perwira itu pula."Jika kau
mempunyai nalar, kau dapat melakukan satu tindakan pencegahan" jawab
Senapati ku pula. Perwira itu menar ik nafas panjang. Seolah-olah ia
ingin menelan kembali kemarahan yang sudah memuncak sampai
keubun-ubun. Namun kemudian maka iapun berkata "Aku akan melaporkan
kepada kapten Kenop. Tetapi sebagian dari orang- orangku akan tetap
berada disini agar orang yang kami kehendaki tidak melarikan diri.
"Terserahlah kepadamu" jawab Senapati itu. "Lalu kau, apa yang akan
kau kerjakan?" bertanya perwira itu. "Aku akan menunggu sampai per
intah dari yang berhak itu ada" jawab Senapati itu. Perwira kumpeni
itupun kemudian memberikan beberapa perintah kepada
prajurit-prajuritnya. Sementara itu ia sendiri akan menemui kapten
Kenop. Bagaimanapun juga kumpeni itu memang harus menghargai seorang
Pangeran dar i Surakarta, karena ia sadas sepenuhnya jika persoalan
ini didengar cleh para Pangeran yang lain, maka mungkin sekali akan
menimbulkan persoalan tersendiri, seolah-olah kekuasaan kumpeni
sudah melampaui kekuasaan Kangjeng Susuhunan sendiri. "Biarkan
kereta yang akan membawa Raden Ayu itu disiini" perintah perwira
itu. Sejenak kemudian, diiringi oleh beberapa orang pengawalnya,
perwira itu meninggalkan halaman istana Pangeran Sindurata,
sementara sebagian yang lain memencar ke sudut-sudut halaman untuk
mengawasi keadaan. Sedangkan para Senapati dan prajurit Surakarta
yang menyertai kumpeni itu telah menyingkir dan berdir i diluar
regol.Dalam pada itu, Pangeran Sindurata telah meninggalkan halaman
dan menemui anak perempuannya. Sementara itu Raden Ayu Galihwarit
telah selesai berkemas dan membenahi diir inya. "Mereka datang
Galihwarit" desis Pangeran Sindurata. Sama sekali tidak nampak
kecemasan di wajah Raden Ayu Galihwar it. Bahkan sambil tersenyum ia
menjawab "Aku sudah mendengar ayahanda. Dan aku sudah siap." Jantung
Pangeran Sindurata berdesir. Anak perempuannya itu ternyata telah
benar-benar siap lahir dan batin. Ia sudah mandi dan keramas, serta
merias dir i sebaik-baiknya, meskipun pakaian yang kemudian
dikenakannya adalah justru pakaian yang sederhana. Namun seolah-olah
ia telah berusaha menyucikan diri pada ujud kelahirannya. Sementara
itu, sikapnya yang tenang dan wajahnya yang jernih telah menunjukkan
bahwa secara jiwani, Raden Ayu Galihwaritpun telah siap menghadapi
persoalan itu. "Apakah aku harus berangkat sekarang?" bertanya Raden
Ayu itu. Pangeran Sindurata menggeleng. Katanya "Aku menolak surat
perintah yang ditanda tangani oleh kapten Kenop Aku, seorang
bangsawan Surakarta hanya mengakui kekuasaan Kangjeng Susuhunan atau
orang yang mendapat limpahan kuasanya. Tidak kepada kumpeni.” Raden
Ayu Galihwarit itu tersenyum pula. Katanya "Terima kasih ayah. Aku
sependapat, bahwa yang berhak menangkap aku adalah mereka yang diper
intahkan oleh pimpinan prajur it Surakarta dalam masa perang ini.”
"Sebentar lagi mereka tentu akan datang." berkata Pangeran Sindurata
"Pangeran Yudakusuma tentu tidak akan berkeberatan untuk
menandatangani surat perintah semacam itu. Tetapi aku sudah
mempertahankan harga diri seorang bangsawan Surakarta meskipun tidak
ada sekuku-irengdibanding dengan apa yang dilakukan oleh Pangeran
Mangkubumi dan para pengikutnya. Tetapi aku sudah berbuat sesuatu
bagi kebanggaanku, seorang putra Surakarta." Raden Ayu Galihwarit
tertawa. Kemudian katanya "Sebentar lagi aku akan mohon dir i ayah."
Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia
berkata "Mungkin mereka akan membawa aku pula.” "Tidak ada alasan
untuk membawa ayahanda." berkata Raden Ayu GahhwafiL "Aku dapat
dituduh membantumu. Atau mereka akan menelusuri kematian kedua orang
kumpeni itu" jawab Pangeran Sindurata. "Tidak" jawab Raden Ayu
sambil menggeleng "mereka hanya akan membawa aku sendir i." Pangeran
Sindurata mengangguk kecil. Iapun kemudian terduduk diserambi,
sementara Raden Ayu Galihwarit telah mengemasi pakaian yang akan
dibawanya. Hanya selembar kain dan selembar baju. "Kau membawa ganti
pakaian ?" bertanya ayahandanya. "Ya ayahanda" jawab Raden Ayu "aku
kira selembar sudah cukup. Aku tidak memer lukan terlalu banyak
pakaian diidalam tahanan." Pangeran Sindurata tidak bertanya lebih
banyak, la duduk termenung sambil memandang kekejauhan. Namun yang
terasa adalah kepalanya menjadi sangat pening. Dalam pada itu,
istana Sinduratan itu telah mendapat pengawasan yang ketat. Ternyata
kumpeni tidak hanya berada di halaman depan. Tetapi mereka juga
mengelilingi bagian luar dinding istana dan mengawasi regol-regol
butulan.Tetapi yang mereka lakukan itu tidak ada gunanya sama
sekali, kaTena Pangeran Sindurata maupun Raden Ayu Galihwar it sama
sekali tidak berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dalam pada itu,
beberapa saat kemudian ternyata sepasukan kecil kumpeni dan prajurit
Surakarta telah memasuki halaman itu lagi. Bukan hanya kumpeni yang
terpaksa urung menangkap Raden Ayu Galhwarit, tetapi diantara mereka
terdapat seorang Tumenggung dari Surakarta. Pangeran Sindurata yang
mendengar derap kaki kuda memasuki halamannya itupun telah keluar
lewat seketheng. Dengan tidak ragu-ragu sama sekali ia melangkah
mendekati Tumenggung yang sudah turun dari kudanya. Tumenggung itu
mengangguk hormat sambil berkata "Ampun Pangeran, aku mengemban
tugas dari Pangeran Yudakusuma." "Aku mengerti." jawab Pangeran
Sindurata. "Pangeran Yudakusuma tidak memberikan surat perintah
kepada kumpeni, tetapi akulah yang telah diperintahkan untuk
menjemput putera pulen Pangeran, Raden Ayu Galihwarit." berkata
Tumenggung itu sambil menunjukkan sebuah tunggul yang dibawa oleh
seorang prajurit. "Begitulah seharusnya tatanan di Surakarta"
berkata Pangeran Sindurata "dengan demikian aku percaya bahwa kau
adalah utusan Senapati Agung di Surakarta. Aku kenal tunggul dan
kelebet kecil berwarna kelabu dengan gar is merah itu. Karena ku,
aku akan menjalankan segala perintah dengan sebaik-baiknya. Jika
semula aku menolak kumpeni itu, karena aku tidak percaya bahwa
mereka akan bertindak sebagaimana seharusnya. Mungkin anak
perempuanku akan jatuh ketangan orang-orang yang tidak berhak.
Tetapi hanya karena mereka menginginkannya saja.""Ada surat perintah
dari kapten Kenop" perwira itu memotong. "Justru kepada Kenop itulah
yang aku tidak percaya." jawab Pangeran Sindurata. Perwira kumpeni
itu masih akan menjawab. Tetapi Tumenggung yang datang dengan
tunggul dan kelebet kecil itupun berkata "Jika demikian Pangeran,
aku mohon maaf, bahwa aku akan membawa Raden Ayu sekarang." "la
sudah siap." jawab Pangeran Sindurata. "Jika demikian, aku akan
segera meninggalkan istana ini" berkata Tumenggung itu. Pangeran
Sinduratapun kemudian memanggil Raden Ayu Galihwar it. Ketika Raden
Ayu itu sampai di seketheng maka ttrasa jantungnya bergetar.
Dilihatnya beberapa orang prajurit dan kumpeni yang bersenjata
Kemudian sebuah kereta yang sudah siap untuk membawanya. Namun
sejenak kemudian kegelisahannya itupun lenyap bagaikan dihembus oleh
angin. Ketika ia selangkah maju. maka Raden Ayu itu sudah tersenyum
sambil berkata "Marilah. Apakah aku juga harus naik kuda ?"
Tumenggung itulah yang kemudian menjawabnya "Aku sudah menyediakan
sebuah kereta untuk Raden Ayu. Silahkan” "Terima kasih" jawab Raden
Ayu sambil melangkah menuju ke kereta yang sudah menunggu itu. "Kita
akan kemana?" bertanya Raden Ayu kepada Tumenggung itu. Raden Ayu
tertawa kecil. Kemudian dipandanginya ayahnya yang berdiri
termangu-mangu. Dengan wajah yang sama sekali tidak membayangkan
kecemasan, Raden Ayu ituberkata kepada ayahandainya "Aku harus
meninggalkan ayahanda." "Pergilah ngger" desis Pangeran Sindurata.
Suaranya menjadi parau. Seolah-olah ia telah kehilangan Raden Ayu
Galihwar it itu untuk kedua kalinya. Baru beberapa hari sebelumnya
ia menemukan kembali anaknya yang hilang itu. Namun ternyata bahwa
anak itu terpaksa dilepaskannya lagi. Sejenak kemudian Raden Ayu
Galihwarit itupun telah berada didalam kereta yang akan membawanya.
Ia masih melambaikan tangannya kepada ayahandanya. Sementara
Tumenggung yang akan membawa Raden Ayu itu berkata "Pangeran. Aku
mohon dir i. Raden Ayu aku bawa atas perintah Pangeran Yudakusuma.
Perintah yang lain tertuju kepada Pangeran sendiri." "Apa" bertanya
Pangeran Sindurata. "Dalam kedudukannya sebagai Senapati Agung,
Pangeran Yudakusuma minta agar Pangeran tidak meninggalkan istana
ini. Setiap saat Pangeran diperlukan untuk memberikan keterangan
atau kesaksian tentang Raden Ayu Galihwarit.” "Perintah itu akan aku
jalani" jawab Pangeran Sindurata. "Terima kasih Pangeran. Sekarang,
kami akan minta diri" berkata Tumenggung itu. Sejenak kemudian, maka
iring- iringan itupun telah keluar dari regol halaman istana
Sinduratan. Tumenggung yang mengemban perintah Pangeran Yudakusunia
itupun kemudian member i perintah kepada sais kereta yang membawa
RadenAyu "Bawa ke bekas istana Pangeran Ranakusuma." "He, apa yang
kau katakan ?" perwira kumpani itu memotong. "Untuk sementara Raden
Ayu akan ditempatkan di istananya sendiri" berkata Tumenggung
itu."Tidak mungkin. Kapten Kenop memer intahkan membawanya ke loj i.
Perempuan itu harus di tahan di loji." berkata perwira itu. Tetapi
Tumenggung itu menggeleng. Katanya "Aku melakukan perintah Pangeran
Yudakusuma. Kuasa Pangeran Yudakusuma melampaui kuasa kapten Kenop
disini. Kecuali karena perintah itu, maka sangat berbahaya bagi
Raden Ayu untuk ditahan di loj i." "Ia seorang pengkhianat" geram
perwira itu. "Ia dituduh berkhianat" sahut Tumenggung itu. Lalu
"meskipun demikian seandainya ia berkhianat, maka tidak selayaknya
ia berada di loji. Raden Ayu akan menjadi seekor kelinci yang masuk
kesarang serigala yang kelaparan." Wajah perwira itu menjadi merah.
Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun demikian, iapun
menggeram "Aku akan melaporkannya kepada kapten Kenop.” "Terserah
kepadamu. Tetapi kapten Kenop tentu menyadari, bahwa ia tidak akan
dapat membawa Raden Ayu ke loj i." jawab Tumenggung itu. Raden Ayu
Galihwarit mendengarkan perdebatan itu Sebenarnyalah kulitnya telah
meremang ketika ia mendengar, bahwa kumpeni akan membawanya ke loji.
Ia sadar, bahwa sebagai seorang tahanan, maka harga dirinya akan
jauh berbeda dari harga dirinya pada saat-saat lain ia memasuki loji
itu. Sedangkan pada saat ia dengan suka rela memasuki loji itu harga
dirinya sudah dikorbankan. Apalagi sebagai seorang tawanan. Maka
kumpeni akan dapat memperkkukannya sekehendaki hati mereka. Ketika
ia mendengar bahwa Tumenggung yang mengemban tugas dari Pangeran
Yudakusuma itu berkeras untuk menempatkannya di bekas istananya,
maka iapun menjadi agak lega, Betapapun ia pasrah diri, tetapi
perlakuan orang-orang yang menawannya memang dapatmempengaruhi
ketahanan jiwanya. Dan ia berterima kasih kepada Pangeran Yudakusuma
bahwa atas perintahnya, ia akan di tempatkan di luar loji
sebagaimana dikehendaki oleh kapten Kenop. Demikianlah, maka
akhirnya, iring-ir ingan itu memasuki bekas istana Pangeran
Ranakusuma yang dipergunakan oleh pasukan berkuda. Kedatangan ir
ing- iringan itu telah disambut oteh beberapa orang perwira prajurit
Surakarta dari pasukan berkuda. Mereka telah mendapat pemberitahuan
sebelumnya, bahwa Raden Ayu Galihwarit akan ditempatkan di istana
itu, sebagaimana pernah dilakukan atas Rara Warih. puteri dari Raden
Ayu Galihwarit itu sendiri. Ternyata bahwa mang yang disediakan juga
ruang yang pernah dipergunakan oleh Rara Warih, karena ruang itu
adalah ruang yang rapat dan mudah diawasi. Ketika Raden Ayu
Galihwarit turun dari keretanya di halaman bekas istananya, sebelum
dibawa ke ruang yang telah disediakan, maka ia telah diterima oleh
Tumenggung Watang, yang untuk sementara diserahi pimpinan pasukan
berkuda. "Selamat datang Raden Ayu" sapa Ki Tumenggung Watang.
"Selamat Ki Tumenggung" jawab Raden Ayu sambil tersenyum. Sama
sekali tidak nampak kegelisahan di wajahnya "kali ini aku tidak
berkepentingan dengan anakku, tetapi aku sendirilah yang akan
menjalaninya sebagaimana pernah di jalani oleh anakku, Rara Warih."
"Aku akan sekedar menjalankan tugas Raden Ayu" berkata Tumenggung
Watang. "Ya. Aku mengerti. Kalian hanyalah menjalankan tugas
kalian." jawab Raden Ayu.Sesaat kemudian, maka Raden Ayu itupun
telah dibawa dan dipersilahkan masuk kedalam ruangan yang telah
disiapkan. Ketika Raden Ayu sudah berada didalam, maka Tumenggung
yang membawanya dari istana Sinduratan itupun telah menyerahkan
tanggung jawabnya atas Raden Ayu Galihwar it kepada Ki Tumenggung
Watang, katanya "Kakang Tumenggung. Segala sesuatunya kini terserah
kepada kakang. Mungkin nanti, mungkin besok, Raden Ayu tentu akan
diperiksa. Bukan saja oleh para Senapati kita sendiri, tetapi Kenop
yang belum sembuh sama sekali itupun tentu akan ikut memer iksanya."
"Aku akan menyiapkan segala-galanya" jawab Ki Tumenggung Watang.
"Terima kasih" jawab Tumenggung yang menyerahkannya. Kemudian
perlahan-lahan Ki Tumenggung itupun mencer iterakan keinginan
kumpeni untuk menahan Raden Ayu didalam loj i. "Tentu akan terjadi
kekasaran" berkata Tumenggung Watang "mereka adalah orang-orang yang
menjadi buas karena terlalu lama jauh dari lingkungan keluarga.”
"Karena itu, bijaksana sekali bahwa perintah Pangeran Yudakusuma
adalah, membawanya ke tempat ini." berkata Tumenggung itu pula
"karena itu, segala sesuatunya terserah kepadamu.” Dengan demikian,
maka Raden Ayu Galihwaritpun telah ditinggalkan oleh orang-orang
yang mengambilnya didalam satu bilik yang tertutup rapat dan diawasi
dengan sebaik- baiknya. Beberapa orang kumpeni mengumpat karena
mereka gagal membawa Raden Ayu menghadap kapten Kenop dan menahannya
di loj i. Memang ada niat yang tidak sewajarnya, bahwa mereka akan
menahan Raden Ayu itu di loji. Seorang perwira rendahan berkata
kepada kawannya "Gila. Aku kirabahwa akhirnya aku akan dapat juga
bahagian. Ternyata perempuan itu tidak dibawa ke loji. Tetapi
disimpan di bekas rumahnya sendiri. Dibawah pengawasan Tumenggung
Watang yang ketat, tidak seorangpun akan dapat mengganggunya kapan
saja.” Dalam pada itu, maka perwira kumpeni yang semula akan
mengambil Raden Ayu GaBhwar it itupun telah menghadap kapten Kenop
dan melaporkan bahwa Raden Ayu Galihwarit telah berada di dalam
pengawasan pasukan berkuda dari Surakarta. Kapten Kenop mengumpat
dengan kasar. Sambil bangkit dari pembar ingan ia berkata "Persetan
dengan keputusan Pangeran Yudakusuma. Kita akan menyiapkan tuduhan
itu dengan lengkap. Kau hubungi saksi yang telah bersedia untuk
member ikan keterangan itu. Penuhi uang yang kau janjikan. Kita akan
membuat hubungan dengan Pangeran Yudakusuma agar didalam pemer
iksaan-pemeriksaan selanjutnya, aku diperkenankan hadir dengan
membawa saksi itu.” "Tetapi kapten masih sakit" berkata perwira
bawahannya itu. “Aku akan segera sembuh. Jika bukan aku, Morman yang
akan pergi kepada Pangeran Yudakusuma," jawab kapten Kenop. Perwira
bawahannya itu mengangguk-angguk, ia akan menjalankan segala
perintah sebaik-baiknya. Dalam pada itu tabib yang mengobati kapten
Kenop pun memasuki biliknya dan mempersilahkan kapten Kenop itu
untuk berbaring saja di pembaringannya. Dalam pada itu, di Sukawati,
Pangeran Mangkubumi telah menemui Juwiring, Rara Warih, Buntal dan
Arum. Pangeran Mangkubumi telah member itahukan langsung kepada
mereka, bahwa ia telah berusaha untuk membawa Raden AyuGalihwar it
keluar dari kota karena keadaannya menjadi gawat. Tetapi Raden Ayu
Galihwarit tidak bersedia. "Aku sudah memberikan beberapa
peringatan" berkata Pangeran Mangkubumi "tetapi ibundamu adalah
seorang yang sangat tabah menghadapi keadaan. Karena itu, maka
ibundamu berkeras untuk tetap tinggal dirumah." "Tetapi dengan
demikian, apakah mungkin ibunda akan ditangkap, pamanda ?" bertanya
Rara Warih. Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya "Baiklah aku berkata berterus terang Warih. Kau sudah dewasa
menghadapi keadaan. Yang lainpun telah dewasa pula. Karena itu, maka
aku dapat berterus terang, bahwa aku sudah mendengar rencana kumpeni
untuk menangkap ibundamu. Karena itu, maka aku telah datang
kerjadanya, memberitahukan kepadanya. Tetapi seperti yang aku
katakan, ibundamu tidak dapat meninggalkan istana ayahandanya dan
juga ayahandanya itu sendiri, yang sudah semakin tua dan
sakit-sakitan." "O" Rara Warih menjadi sangat gelisah. "Ibunda salah
hitung. Ibunda tidak sampai hati meninggalkan eyang Sindurata.
Tetapi jika ibunda ditangkap, apakah itu juga bukan berarti
meninggalkan eyang Sindurata." “Tetapi ada dorongan lain War ih"
berkata Pangeran Mangkubumi “ibundamu seorang pejuang yang
bertanggung jawab." "Tetapi bukankah hak seseorang untuk menghindar
i bahaya yang mengancamnya" berkata Rara Warih yang kecemasan.
Pangeran Mangkubumi menganggug-angguk. Nampaknya masih ada yang
ingin di katakainnya. Tetapi niatnya itupun diurungkannya. "Marilah
kita berdoa" katanya kemudian "mudah-mudahan Tuhan selalu melindungi
kita."Pangeran Mangkubumi kemudian minta diri untuk melakukan
tugas-tugasnya yang lain. Namun akhirnya laporan yang dicemaskan
itupun datang. Seorang petugas sandi yang datang dari kota
melaporkan bahwa Raden Ayu Galihwarit sudah ditangkap. Pangeran
Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam, la merasa berkewajiban untuk
menyampaikannya kepada anak anak muda yang disebut oleh Raden Ayu
itu sebagai anak- anaknya. Tetapi agaknya hati Rara Wariih masih
terlalu lemah untuk melihat kenyataan itu. “Tetapi aku kira lebih
baik ia mengetahui sejak awal daripada ia akan dikejutkan oleh
keputusan kumpeni yang tiba-tiba" berkata Pangeran Mangkubumi
didalam hatinya. Karena sebenarnyalah Pangeran Mangkubumi sudah
memperhitungkan hukuman apa yang akan diterima oleh Raden Ayu
Galihwarit itu. Karena itu. maka pada kesempatan yang dianggap baik.
sekali lagi Pangeran Mangkubumi menemui anak-anak muda itu. Warih
dan Arum masih merawat Juwiring dan Buntal yang terluka. Tetapi
nampaknya Buntal yang lukanya tidak terlalu parah, sudah mulai pulih
kembali meskipun lukanya itu sendiri masih belum sembuh, sementara
Juwirnggpun telah berangsur-angsur menjadi lebih baik. Dengan sangat
berhati-hati, Pangeran Mangkubumipun akhirnya sampai juga pada
berita. bahwa Raden Ayu Galihwar it memang sudah dutangkap Ternyata
berita itu cukup mengguncangkan hati Rara Warih.. Didalampelukan
Arum ia menangis terisak-isak. "Sudah diajeng" Raden Juwiring
berusaha menghiburnya "kita serahkan segala kepada Tuhan. Aku kira
ibunda bukan tidak mempunyai perhitungan." Rara Warih memandang
kakaknya dengan mata basah. Gadis itu tahu bahwa Raden Ayu
Galihwarit bukan ibundakakaknya itu yang sebenarnya. Karena itu,
tanggapan dihatinya tentu berbeda dengan tanggapan dihatinya
sendiri. Raden Juwiring seolah-olah dapat membaca gejolak hati
adiknya. Karena itu, katanya "Diajeng. Bagiku ibunda Galihwar it
tidak ubahnya dengan ibundaku sendir i. Pada saat- saat terakhir
ibunda itupun telah menganggap aku sebagai puteranya sendiri.
Apalagi dalam perjuangan yang saling mengisi ini. Namun bagaimanapun
juga, kita memang harus sampai kepada sikap pasrah. Tidak ada kuasa
apapun juga yang akan dapat merebah keputusan-Nya." Tetapi akhirnya
semuanya yang menyaksikan Warih menangis dapat juga mengerti, bahwa
hal itu adalah wajar sekali. Namun demikian Pangeran Mangkubumipun
berpesan "Menangis memang dapat mengurangi beban di hati Warih.
Tetapi kaupun harus berusaha menghubungkan kenyataan yang kau hadapi
dengan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang tidak dapat diubah oleh
kuasa apapun seperti yang dikatakan oleh kakakmu Juwir ing. Kau
dapat menyesali apa yang terjadi. Tetapi tentu dilambari dengan
nalar. Dan sekali- sekali jangan menyesali apa yang dikehendaki oleh
Tuhan itu sendiri." Rara Warih mengangguk kecil meskipun ia masih
juga terisak. Sementara itu, Pangeran Mangkubumipun berkata
"Baimanapun juga, kau harus ikut merasa bangga, bahwa beberapa kali
ibundamu telah memberikan keterangan yang sangat berharga.” Sekali
lagi Rara Warih mengangguk. Iapun kemudian mencoba menempatkan dir
inya dalam gejolak perjuangan itu. Ibundanya telah ditangkap karena
perjuangannya. Sekilas Rara Warih membayangkan, apa yang terjadi
dalam pertempuran yang dahsyat di pinggir kali itu. Korban
berjatuhan tanpa dihitung lagi. Seandainya ibundanya tidak berhasil
menyadap berita sergapan itu, apakah yang akan terjadi dengan
pasukan Pangeran Mangkubumi. Namundengan demikian, ibunya telah
mengorbankan segala-galanya. Kehormatannya, dan kini ia telah
ditangkap. Jantung Rara Warih serasa berhenti berdetak jika ia
membayangkan hukuman apa yang dapat dijatuhkan atas ibundanya
Sebagaimana pernah didengarnya, hukuman bagi orang yang dianggap
berkhianat. Dalam tekanan perasaan itu, ia membayangkan kembali
korban-korban di pertempuran. Orang-orang itu juga mengorbankan
nyawanya bagi pengabdiannya untuk menegakkan kebebasan bagi tanah
air tercinta. "Sudahlah Warih" berkata Pangeran Mangkubumi kemudian
“Kita akan sama-sama berdoa." Sepeninggal Pangeran Mangkubumi, Warih
berusaha menahan air matanya. Sementara itu ia masih berada didalam
pelukan Arum. Meskipun keduanya sebaya, tetapi Arum nampak lebih
tabah karena tempaan kehidupannya di padepokan. Namun akhirnya Rara
Warihpun dapat menenangkan hatinya. Meskipun jantungnya masih terasa
berdegupan, tetapi ia berhasil mengatasi tangisnya. Meskipun
demikian, wajah-wajah yang lainpun masih nampak murung, karena
mereka tahu, kemungkinan yang dapat terjadi atas Raden Ayu
Galihwarit. Pada hari berikutnya, Pangeran Mangkubumi telah memer
intahkan petugas-petugas sandinya untuk melihat satu kemungkinan
atas Raden Ayu Galihwarit. Jika kemungkinan itu nampak, betapapun
kecilnya, maka Pangeran Mangkubumi akan berusaha untuk
membebaskannya dari tangan prajurit Surakarta yang menahannya Tetapi
laporan yang diterimanya sangat mengecewakannya."Kami sama sekali
tidak melihat kemungkinan itu, Pangeran" berkata seorang petugas
sandi yang menyelidiki tempat Raden Ayu Galihwarit ditahan."
Pangeran Mangkubumi hanya dapat menarik nafas dalam- dalam. Pangeran
Mangkubumi yang kebetulan berada di Sukawati itu telah memanggil
Raden Juwiring. Bersama-sama petugas sandi itu mereka mengurai
kemungkinan yang dapat mereka lakukan. Karena Juwir ing pernah t
inggal di istana Pangeran Ranakusuma. maka ia dapat mengenal semua
sudut istana itu. Namun menurut laporan yang diterima dari para
petugas sandi, maka segala kemungkinan telah tertutup karena
penjagaan yang ketat dan berlapis. Bahkan kumpeni yang kecewa. Sudah
memberikan bantuannya, yang sebenarnya berpangkal pada kecurigaan
kumpeni, bahwa ada usaha untuk melindungi Raden Ayu Galihwarit dan
apalagi berusaha untuk member i kesempatan kepadanya untuk melar
ikan dir i. Tetapi sebenarnyalah bahwa prajurit Surakarta
benar-benar telah menjaga agar Raden Ayu Galihwarit dapat diperiksa.
Pimpinan tertinggi pasukan Surakarta merasa, bahwa korban telah
terlalu banyak yang jatuh. Namun mereka sama sekali tidak berhasil
berbuat sesuatu yang berarti untuk mengatasi perlawanan Pangeran
Mangkubumi. Karena itulah, maka para pengikut Pangeran Mangkubumi
sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menolong Raden Ayu
Galihwarit. Bahkan Pangeran Mangkubumipun masih juga menyangsikan,
seandainya kesempatan itu ada, apakah Raden Ayu Galihwarit bersedia
melarikan dir i. Dengan demikian, maka usaha untuk menolong Raden
Ayu itupun terpaksa tidak dapat dilakukan, agar tidak akan jatuh
korban yang hanya sia-sia. Dalam pada itu, maka di hari-har i
berikutnya, Raden Ayu memang mengalami pemer iksaan yang
terus-menerus. Namunsebenarnyalah pemeriksaan itu berjalan tanpa
kesulitan. Raden Ayu mengatakan apa saja yang pernah dilakukannya.
Namun demikian ia masih berusaha melindungi nama ayahandanya, "Tidak
ada gunanya aku menyembunyikan setit ik rahasiapun dihadapan kalian"
berkata Raden Ayu itu kepada para petugas dari Surakarta dan kumpeni
"aku tahu, bahwa kalian telah mendengar segala-galanya. Mustahil
kalian dapat member ikan tuduhan begitu terperinci j ika tidak ada
seorang pelayan atau pengawal istana Sinduratan yang bersedia member
ikan keterangan.” "Apa kewajiban ayahanda Raden Ayu dalam
hubungannya dengan keterangan-keterangan yang Raden Ayu berikan
kepada pasukan Pangeran Mangkubumi ?" bertanya seorang perwira
kumpeni. "Ayah tidak bersangkut paut dengan tugas-tugas semacam itu"
jawab Raden Ayu Galihwarit "yang ayah ketahui semula anak-anakku itu
disangkanya penjual burung dan penjual lulur. Ketika kemudian
ayahanda mengetahui siapa mereka, maka ayahanda menjadi sangat marah
dan untuk seterusnya tidak mau tahu tentang apa saja yang aku
lakukan. Aku dianggapnya anak yang hilang karena tingkah lakuku."
"Bohong" perwira kumpeni itu membentak. Raden Ayu mengerutkan
keningnya. Dengan lantang ia berkata "Kau jangan membentak-bentak di
hadapanku. Kau kira aku seorang tawanan karena aku mencopet di pasar
?" Perwira itu masih akan membentak. Namun Tumenggung Watang yang
ikut serta dalam pemer iksaan itu telah bertanya dengan lembut
"Raden Ayu. Jadi menurut Raden Ayu. ayahanda Raden Ayu sama sekali
tidak ikut campur dalam hal ini ?" "Ya" jawab Raden Ayu
Galihwarit."Apakah Raden Ayu bersedia jika kami hadapkan seorang
saksi ?" berkata Tumenggung Watang. "Silahkan. Silahkan" jawab Raden
Ayu sambil tersenyum. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan
kegelisahannya meskipun ia akan dihadapkan kepada siapa saja.
Sejenak kemudian, seseorang telah dibawa masuk keda- tam bilik
pemeriksaan. Ketika dilihatnya Raden Ayu Galihwarit. maka
kepalanyapun telah ditundukkan dalam-dalam. Namun dalam pada itu,
Raden Ayupun tersenyum sambil menyapanya "Bagaimana khabar
keselamatanmu Ki Samangun ?" Wajah orang itu menjadi semakin tunduk.
Pertanyaan Raden Ayu itu benar-benar telah menusuk jantungnya.
Justru karena itu, maka sepatahpun ia tidak dapat menjawab. Dalam
pada itu, maka perwira kumpeni yang ikut memer iksa Raden Ayu itulah
yang kemudian berkata "Nah. sekarang katakan terus terang, apa yang
kau ketahui tentang Raden Ayu ini.” Wajah orang itu menjadi merah
padam. Di hadapan Raden Ayu Galihwarit rasa-rasanya mulutnya menjadi
tersumbat. "Cepat, bicara" bentak perwira kumpeni itu. Terasa
punggungnya didorong oleh tangan yang kasar kuat. Tentu tangan
perwira kumpeni ku. Karena itu. maka tiba-tiba tumbuhlah
ketakutannya, sehingga dengan suara bergetar ia kemudian bertanya
"Apa yang harus aku katakan, tuan?" "Apa yang kau ketahui tentang
keterlibatan Pangeran Sindurata" bentak kumpeni itu. Orang itu
bergeser setapak. Kemudian katanya "Pangeran Sindurata mengenal
Raden Juwiring.""Tentu. Bodoh" perwira itu menjadi marah "tetapi
hubungannya dengan pengkhianatan ini." "Aku tidak tahu tuan" jawab
orang itu "tetapi yang aku katakan sejak semula, bahwa Pangeran
Sindurata mengetahui bahwa Raden Juwiring datang ke istana
Sinduratan." Perwira kumpeni itu menjadi sangat marah. Namun dalam
pada itu sambil tersenyum Raden Ayu berkata "Nah, bukankah seperti
yang aku katakan. Ayahanda akhirnya tahu, bahwa yang datang dengan
membawa burung itu adalah anakku. Juwiring. Hal itulah yang membuat
ayahanda semakin marah kepadaku.” "Begitu ?" teriak perwira kumpeni
itu. Diluar dugaan kumpeni itu, maka orang itupun mengangguk sambil
berkata "Ya tuan. Begitulah." Hampir saja punggung orang itu
dihantam sepatu oleh perwira yang marah sekali itu. Namun seorang
Senapati yang ada didalam bilik itu mencegahnya "Ia seorang saksi.”
"Tetapi ia berbohong" geramperwira kumpeni ku. "Biar lah ia
mengatakan apa yang ingin dikatakannya" berkata Senapati itu. Dalam
pada itu Raden Ayu Galihwaritpun berkata "Apa lagi yang sebenarnya
kalian inginkan. Aku tidak ingkar, bahwa akulah yang memberitahukan
beberapa persoalan penting kepada pasukan Pangeran Mangkubumi lewat
anak-anakku yang sekarang berada di dalam lingkungan pasukan
Pangeran Mangkubumi itu. Nah, apalagi ? Bukankah kalian t inggal
menjatuhkan hukuman yang paing sesuai atasku?" "Pengkhianat"
geramperwira kumpeni itu. Tetapi Raden Ayu justru tertawa. Katanya
"Tergantung siapa yang menyebutnya. Bukankah begitu Ki Tumenggung
Watang ?"Tumenggung Watang mengangguk kecil sambil menjawab "Ya
Raden Ayu. Memang tergantung sekali, siapakah yang mengatakannya."
Wajah perwira kumpeni itu bagaikan membara. Tetapi Tumenggung Watang
memang berbeda dengan Ki Samangun yang duduk di lantai dengan kepala
tunduk. Tumenggung Watang dapat mengatakan apa saja yang ingin
dikatakannya tanpa perasaan takut. Meskipun demikian, setelah
pemeriksaan atas Raden Ayu Galihwar it itu selesai, maka baik
kumpeni maupun pimpinan keprajuritan di Surakarta telah
menyatakannya bersalah. Namun mereka tidak dapat menyebut dengan
pasti, bahwa Pangeran Sindurata telah terlibat dalam kesalahan Raden
Ayu Galihwar it. Akhirnya yang berhak mengambil keputusan dalam
waktu perang di Surakarta itu telah mengambil keputusan atas Raden
Ayu Galihwarit yangi dituduh telah berkhianat atas Surakarta, yang
beberapa kali telah memberikan keterangan penting dalam hubungannya,
dengan peperangan yang sedang berlangsung antara Surakarta dengan
Pangeran Mangkubumi yang mengadakan perlawanan terhadap kekuasaan
yang sah di Surakarta. Dan keputusan itu adalah keputusan hukuman
yang terberat. Hukuman mati. Tetapi Keputusan itu sama sekali t idak
mengejutkan Raden Ayu Galihwarit. Ia sudah menduga sejak semula,
bahwa hukuman yang paling sesuai baginya menurut sudut pandangan
orang-orang Surakarta dan kumpeni adalah hukuman mati. Dan ia sama
sekali tidak akan ingkar menghadapi hukuman itu. Karena itu. maka
ketika para pemimpin prajurit Surakarta dan kumpeni bertanya
kepadanya, apakah ia menerima keputusan itu, maka Raden Ayu
Galihwarit menjawab sambiltersenyum "Tidak ada hukuman lain yang
lebih pantas bagiku selain hukuman mati menurut pandangan kalian.
Karena itu, aku menerima hukuman itu." Namun yang masih mendebarkan
hati Raden Ayu itu adalah cara yang akan dipergunakan untuk
menjatuhkan hukuman mati itu. Semula keputusan itu berbunyi dihukum
gantung sampai mati. Tetapi akhirnya dirubah menjadi dihukum tembak
sampai mati dihadapan regu tembak Sebenarnyalah beberapa orang
perwira kumpeni yang ikut berbicara saat-saat keputusan itu diambil
adalah kawan-kawan Raden Ayu Galihwarit. Bagaimanapun juga, mereka
tidak dapat mengingkari getar perasaan mereka. Tentu mereka tidak
akan sampai hati melihat perempuan cantik itu tergantung di tiang
gantungan. Karena itu, maka mereka telah berpendapat, bahwa ada cara
yang lebih baik untuk menghukumnya menurut cara yang sering
dilakukan oleh kumpeni. Dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit telah
benar-benar bersiap menghadapi kematiannya. Lahir dan batin. Ia
sendiri sudah mulai dicengkam oleh kejemuan terhadap hidupnya yang
selalu dilumuri oleh kotornya lumpur kehidupan itu sendiri. Namun
disaat terakhir ia sudah sempat menyatakan penyesalan dan
pertaubatan didalam hati. Bahkan didalam ketiadaan sadar,
kadang-kadang ia sendiri melihat kematian adalah salah satu jalan
yang telah dipilihnya untuk mengakhiri kehidupannya yang suram.
Namun untunglah, bahwa pada: saat terakhir, dengan cara hidupnya itu
Raden Ayu Galihwarit masih melibat kesempatan, bahwa hidupnya yang
kotor itu masih juga ada gunanya, sebelum akhirnya maut itu memang
datang menjemputnya. Keputusan itu telah menggemparkan Surakarta.
Ketika keputusan itu diumumkan, maka terasa bahwa perasaanrakyat
Surakarta telah bergejolak. Ada berbagai tanggapan yang
mencengkamperasaan rakyat Surakarta. Ketika Raden Ayu Galihwar it
itu ditangkap, sudah banyak rakyat Surakarta yang
memperbincangkannya. Meskipun saat itu mereka sudah mulai
bertanya-tanya dan menilai tentang dirinya. Namun sebenarnyalah
rakyat Surakarta memang tidak begitu menghiraukannya, karena Raden
Ayu Galihwar it yang cantik itu bagaikan sekuntum bunga yang indah
yang kembang diatas setambun sampah didalam lumpur. Bahkan seperti
pendapat beberapa orang pelayan didalam istana Simduratan yang
tersebar dilingkungan para tetangga dan orang-orang yang mereka
kenal di pasar, bahwa Raden Ayu Galihwarit telah menyingkirkan anak
gadisnya, karena anak gadisnya itu ternyata tumbuh menjadi seorang
gadis yang sangat cantik, yang akan dapat menyainginya. Kematian dua
orang perwira kumpeni di istana Sinduratan telah menarik perhatian
rakyat Surakarta. Kemudian disusul penangkapan Raden Ayu itu
sendiri. Tetapi tidak banyak orang yang tahu dan memperhatikan
dengan sungguh-sungguh, apakah sebenarnya yang telah terjadi dengan
seorang puteri bangsawan yang telah sempat mencemarkan nama baik
puteri Surakarta itu dihadapan kumpeni. Namun ketika dengan resmi
diumumkan, bahwa Raden Ayu Galihwar it telah dijatuhi hukuman mati
karena ia telah berkhianat dan memberikan beberapa keterangan
penting kepada pasukan Pangeran Mangkubumi sehingga beberapa kali
gerakan kumpeni dan pasukan Surakarta gagal, maka mulailah rakyat
Surakarta dengan sungguh-sungguh menilainya. Ternyata bahwa Raden
Ayu Galihwarit bukannya sampah yang paling kotor seperti yang mereka
duga. Apalagi mereka yang mendukung perjuangan Pangeran Mangkubumi
meskipun didalam hati, tiba-tiba telah merasabersalah, bahwa selama
itu mereka menganggap bahwa Raden Ayu Galihwarit adalah perempuan
yang hanya tahu tentang dirinya dan bahkan telah melanggar segala
paugeran bagi puteri utama di Surakarta. Tetapi berita tentang
hukuman mat i dan sebabnya itu, benar-benar telah menyentuh hati
mereka. Dalam pada itu, Pangeran Mangkubumi dan pasukannya- pun
telah mendengar, bahwa Raden Ayu Galihwarit telah di jatuhi hukuman
mati. Sebenarnyalah mereka memang sudah menduga. Bagi kumpeni
kesalahan Raden Ayu Galihwar it adalah besar sekali. Bahkan Pangeran
Mangkubumi berpendapat, seandainya ada hukuman yang lebih berat dari
hukuman mat i, maka hukuman itulah yang akan dijatuhkannya.
Juwiring, Buntal dan Arum telah dipanggil menghadap. Betapa berat
perasaan mereka mendengar keputusan itu. Dan betapa beratnya mereka
akan menyampaikan berita itu kepada Rara Warih. "Juwiring" berkata
Pangeran Mangkubumi "bagaimanapun juga, aku adalah orang tuanya.
Warih adalah kemanakanku. Sepeninggal ayah dan ibunya, ia adalah
anakku. Karena itu, panggillah ia kemar i. Aku sendiri yang akan
menyampaikan kepadanya.” Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam.
Namun ia pun kemudian beringsut dan bangkit untuk memanggil Rara
Warih. Dengan sangat hati-hati, Pangeran Mangkubumi sendiri telah
menyampaikan berita keputusan kumpeni dan pimpinan keprajuritan
Surakarta tentang Raden Ayu Galihwarit. "Tidak ada didunia ini yang
kekal, Rara Warih" berkata Pangeran Mangkubumi "segalanya yang ada
akan tiada. Dan segala yang hidup pada akhirnya akan mati"Wajah Rara
Warih menjadi tegang. Ia sudah mulai dapat meraba arah pembicaraan
Pangeran Mangkubumi. Karena itu, tiba-tiba saja ia bertanya
"Bagaimana dengan ibunda ?” Pangeran Mangkubumi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya kemudian “Bahwa kita harus kembali kepada Maha
Pencipta itu tidak akan dapat kita ingkar i. Bahkan waktunya pun
tidak akan dapat kita tawar lagi j ika waktu itu memang sudah tiba.
Warih, bagaimanapun juga kita yang ditinggalkan akan merasa
kehilangan, namun sebenarnyalah bahwa yang meninggalkan kita itu
akan kembali kesisi Yang Maha Pencipta.” "Bagaimana dengan ibunda,
pamanda Pangeran ?” Rara Warih tidak sabar lagi. "Yang terjadi
hanyalah bagaimana kematian itu datang menjemput kita. Tetapi
kematian itu sendir i tidak dapat kita hindari" jawab Pangeran
Mangkubumi. Lalu "Rara Warih. pada saatnya ibundamu tentu akan
kembali ke sisi Tuhan. Dan kumpeni berniat mengantarkan saat-saat
ibundamu itu kembali ke asal kita. Dari mana kita datang, kemana
lagi kita akan pergi.” "Pamanda" wajah Rara Warih menjadi semakin
tegang "maksud pamanda Pangeran, ibunda dihukum mati ?" Pangeran
Mangkubumi terpukau di tempatnya. Namun hampir diluar sadarnya, ia
telah mengangguk kecil. Terdengar Rara Warih itu menjerit. Namun
untunglah bahwa Juwiring dengan cepat telah menangkapnya, sehingga
ketika Rara Warih itu pingsan, ia berada di tangan Raden Juwiiring.
Beberapa orang menjadi sibuk. Mereka mengerti, betapa hancurnya hati
gadis itu. Ia merasa seolah-olah hidupnya sendiri sama sekali tidak
pernah mengalami kegembiraan. Ayahandanya sudah gugur dipeperamgan
sepeninggalkakaknya, Rudira. Kemudian ibundanya harus mengalami
hukuman mat i. Ketika Rara Warih itu sadar, ia melihat wajah
Pangeran Mangkubumi yang mengamatinya. Ketika terdengar isak
tangisnya, maka Pangeran Mangkubumi itu berkata "Rara Warih.
Terimalah keputusan itu dengan menyebut nama Maha Pencipta. Serahkan
ibundamu kembali kepadanya." "Aku tidak lagi berbapa dan beribu"
tangisnya. "Aku adalah pengganti orang tuamu, Warih" jawab Pangeran
Mangkubumi. Rara Warih memandang Pangeran Mangkubumi dengan sorot
mata yang layu. Namun kemudian gadis itu menarik nafas dalam-dalam.
Agaknya ia telah mencoba untuk mengerti persoalan yang dmadapinya.
Namun demikian, bagaimanapun juga, kepergian ibundanya adalah satu
himpitan baru di hatinya. Dalam pada itu, ternyata Surakarta tidak
berniat untuk menunda-nunda hukuman mati yang sunah mereka jatuhkan
atas Raden Ayu GaUhwarit. Karena itu, pada saat yang pendek maka
Surakarta sudah bersiap-siap untuk melakukannya. Sebenarnya Raden
Ayu Galihwarit bukannya orang yang pertama mengalami hukuman mati.
Tetapi biasanya kumpeni tidak pernah mempergunakan tatanan yang
seperti ditrapkan kepada Raden Ayu Galihwarit yang kebetulan adalah
seorang bangsawan. Biasanya kumpani langsung menghukum mati setiap
orang yang dicurigainya tanpa pemeriksaan yang teliti. Tanpa
pengakuan, tanpa bukt i dan tanpa saksi. Jika kumpeni mencur igai
seseorang berdasarkan laporan yang tidak jelas, hal itu sudah cukup
kuat untuk menembak, orang itu disembarang tempat dan disembarang
waktu. Tetapi tidak demikian dengan Raden Ayu Galihwar it. Puteri
itu masih mendapat kehormatan untuk dihukum mati disebuah lapangan
di depan loji. Surakarta sengaja menghukum puteriitu didepan umum,
dengan pengertian, bahwa tingkah lakunya jangan ditiru oleh orang
lain. Dan Surakarta ingin membuktikan bahwa hukum berlaku bagi siapa
saja, termasuk seorang anak perempuan Pangeran di Surakarta sendiri.
Pada hari yang ditentukan, maka terjadi kesibukan di lapangan
didepan loj i. Penjagaan dilakukan dengan sangat ketat. Bukan saja
ditemptat kejadian, tetapi diseluruh kota. Hampir disetiap .pintu
gerbang telah dipasang meriam-meriam kecil yang dapat menahan
serangan jika hal itu akan terjadi. Sementara para peronda hilir
mudik diseluruh kota tanpa ada hentinya sejak matahari terbit. Dalam
pada itu, ternyata banyak juga orang, yang ingin menyaksikan,
bagaimana Raden Ayu Galihwar it itu mengakhiri hidupnya. Karena itu,
maka jalan-jalan diseluruh kota-pun menjadi ramai.
Berkelompok-kelompok orang menuju ke lapangan di depan loji. Dengan
perasaan yang berbeda-beda rakyat Surakarta berusaha untuk melihat,
apa yang sebentar lagi akan terjadi. Dalam pada itu, betapapun
tabahnya hati Raden Ayu Galihwar it, namun ketika datang saatnya
hukuman mati itu akan dilaksanakan, maka wajahnyapun nampak menjadi
pucat. Jantungnya bagaikan berdetak semakin cepat Pada saat seorang
penjaga membuka pintu biliknya, kemudian mempersilahkan Tumenggung
Watang memasuki bflik itu, terasa jantungnya bagaikan berhenti
mengalir. Tetapi Raden Ayu Galihwarit tidak mau menunjukkan
kegelisahannya yang sangat. Karena itu, iapun berusaha untuk tetap
tersenyum sambil bertanya "Apakah aku harus berangkat sekarang?"
"Belum Raden Ayu" jawab Tumenggung Watang "aku masih mendapat
kesempatan untuk bertanya kepada Raden Ayu, apakah masih ada yang
Raden Ayu inginkan sebelum Raden Ayu menjalani hukuman itu.
?"Jantung Raden Ayu itu bergetar. Namun katanya kemudian "Aku ingin
bertemu dengan ayahanda sekali lagi.” "Baiklah Raden Ayu. Biarlah
ayahanda dijemput untuk datang ketempat ini sebelum Raden Ayu pergi"
jawab Tumenggung Watang. Namun dalam pada itu, ternyata Tumenggung
Watang sendirilah yang telah pergi menjemput Pangeran Sindurata.
Ketika ia memasuki halaman istana Sinduratan maka iapun segera
meloncat turun dari kudanya diikuti oleh para pengawalnya.
Tumenggung Watang tertegun ketika ia melihat Pangeran tua itu duduk
di pendapa istananya seorang diri. Tidak seorangpun yang menghadap
dan menemaninya. Anak- anaknya yang lain juga tidak. Dengan kerut
merut yang semakin dalam karena usianya serta beban perasaannya,
Pangeran itu merenungi pepohonan yang tegak di halaman istananya.
Ketika Pangeran Sindurata melihat Tumenggung Watang, maka tanpa
bergerak dari tempat duduknya, ia mempersilahkan Tumenggung itu
naik. "Apa keiperluanmu ? Apakah kau juga mendapat perintah untuk
menangkap aku?" bertanya Pangeran Sindurata. "Tidak Pangeran" jawab
Tumenggung Watang yang kemudian menyampaikan permohonan Raden Ayu
Galihwar it untuk dapat bertemu dengan ayahandanya sekali lagi.
"Terima kasih" jawab Pangeran Sindurata "aku akan segera datang."
"Kami akan menunggu Pangeran berkemas." jawab Tumenggung Watang.
Dengan tergesa-gesa Pangeran Sinduratapun segera membenahi dir i.
Dengan keretanya iapun kemudian pergi ke bekas istana Pangeran
Ranakusuma untuk menjumpai anakperempuannya yang sebentar lagi akan
menjalani hukuman mati. Ketika di jalan-jalan raya Pangeran itu
melihat orang berduyun-duyun, maka iapun bergumam seolah-olah kepada
diri sendir i "Mereka akan melihat satu pertunjukan yang paling baik
di pekan ini." Kedatangannya disambut oleh Raden Ayu Galihwarit
dengan isak yang tertahan. Sambil berjongkok Raden Ayu itu menyembah
kepada ayahandanya. Satu hal yang tidak pernah dilakukannya
sebelumnya sejak ia berada dalam satu lingkungan yang dekat dengan
kumpeni. "Hamba mohon maaf atas segala kesalahan hamba ayahanda.
Hamba telah mengotori nama ayahanda dengan tingkah laku hamba. Hamba
telah membunuh anak hamba laki- laki dan hamba pula yang telah
mendorong kakangmas Ranakusuma untuk mengambil sikap yang
menyebabkan ia gugur." tangis puteri itu. "Tetapi Pangeran
Ranakusuma gugur sebagai pahlawan" jawab Pangeran Sindurata "dan
kaupun akan menjalani hukumanmu sebagai! seorang pejuang." "Hamba
mohon restu, agar hati hamba menjadi tabah" desis Raden Ayu.
"Ketabahan adalah ciri kepahlawananmu Galihwar it. Kau telah mapan
dan pasrah, sehingga tidak ada yang dapat menggoyahkan hatimu lagi.
Kau akan berdiri tegak seperti batu karang di pinggir Samodra.
Perjuanganmu adalah bunga yang akan mekar di persada tanah air inti.
Jika pada saatnya kembang itu gugur, maka baunya yang harum akan
tetap dikenang." Raden Ayu Galihwarit mengusap matanya yang basah.
Sekali lagi ia menyembah ayahandanya dan mencium kakinya. Kemudian
iapun berdiri tegak sambil berkata "Aku sudah siap
ayahanda.”"Pergilah. Aku akan mengiringimu dengan doa, semoga kau
diterima dsisi Tuhan Yang Maha Esa," jawab ayahandanya. Raden Ayu
Galihwarit mengangguk sambil tersenyum. Katanya lirih "Selamat t
inggal ayahanda," Pangeran Sindurata tidak menyahut. Iapun kemudian
keluar dari bilik itu langsung menuju ke keretanya. Betapa kerasnya
hati orang tua itu. namun dikedua matanya telah mengembun setitik
air mata. Sepeninggal Pangeran Sindurata, maka Tumenggung Watangpun
masuk kedalam bilik Raden Ayu itu pula. Dengan nada dalam ia
bertanya "Apakah masfih ada keinginan Raden Ayu yang tertinggal?"
Raden Ayu Galihwarit itu tertawa. Katanya "Sudah cukup Ki
Tumenggung. Jika Ki Tumenggung bertanya lagi, maka aku akan
menjawab, bahwa yang aku inginkan adalah kepala kapten Kenop.” "Ah"
desah Tumenggung Watang. "Sekarang aku sudah siap." berkata Raden
Ayu. Tumenggung Watang menar ik nafas dalam-dalam. Dipandanginya
Raden Ayu itu sekilas. Hampir saja ia bertanya, dimanakah puterinya
yang bernama Rara Warih sekarang. Tetapi niatnya itu diurungkan. Hal
itu akan dapat mengungkit luka dihati Raden Ayu itu justru pada
saat-saat terakhir. Bahkan mungkin Raden Ayu itu akan salah
mengerti, bahwa disangkanya ia akan memburunya dan menangkapnya.
Tetapi ingatan Tumenggung Watang itu semata-mata karena Warih adalah
kawan baik anak perempuannya yang sebaya. "Apa yang ditunggu lagi Ki
Tumenggung ?" justru Raden Ayu itulah yang mendesak. "Sebentar lagi
akan datang kereta khusus yang menjemput Raden Ayu" jawab Tumenggung
Watang.Raden Ayu itu mengangguk-angguk. Namun belum lagi Raden Ayu
bertanya tentang yang lain, maka telah terdengar derap kereta dan
kaki kuda memasuki halaman itu. "Mereka datang." berkata Tumenggung
Watang. Sejenak kemudian, maka di halaman itu telah siap sebuah
kereta yang menjemput Raden Ayu itu. Diiringi oleh beberapa orang
kumpeni yang siap dengan senjata di tangan. Sementara itu pasukan
berkuda Surakartapun telah menyiapkan sekelompok prajuritnya untuk
mengawal Raden Ayu itu pula. "Marilah Raden Ayu" Tumenggung Watang
memper- silahkan. Denyut jantung Raden Ayu Galihwarit terasa semakin
cepat. Tetapi ia sudah benar-benar pasrah. Pasrah bagi dir inya
sendiri dan pasrah atas anak-anaknya yang ditinggalkannya. Dalam
pada itu, diir ingi oleh Tumenggung Watang dan serenang perwira
kumpeni, Raden Ayu Galihwar it itu naik kedalam kereta. Namun dalam
pada itu, ia berkata "Aku masih mempunyai satu permintaan Ki
Tumenggung." Tumenggung Watang mengerutkan keningnya. Ia cemas,
bahwa Raden Ayu itu akan minta kepala seorang kumpeni. Tetapi dalam
pada itu, Raden Ayu itupun berkata "Aku minta bahwa yang berada
disebelah menyebelah kereta ini adalah prajurit Surakarta. Bukan
kumpeni Karena aku adalah rakyat Surakarta.” Tumenggung Watang
menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Baiklah Raden Ayu. Permintaan
itu akan aku penuhi.” Demikianlah, maka iring- iringan itupun
meninggalkan halaman bekas istana Pangeran Ranakusuma. Diluar regol
Raden Ayu masih berpaling sekali, seolah-olah ingin melihat regol
bekas istananya itu sekali lagi. Kemudian, Raden Ayu itupun duduk
.tenang didalam keretanya.Jantungnya menjadi berdebaran ketika ia
meilhat sedemikian banyak orang yang menunggunya. Terasa hatinya
tersentuh. Sekian banyak orang yang ingin melihat dan menjadi saksi
kematiannya. Tetapi Raden Ayupun sadar, bahwa perasaan orang-orang
itu tentu berbeda-beda menghadapi peristiwa yang bakal terjadi atas
dir inya Dalam pada itu, di Sukawati, Juwiring, Buntal dan Arum
tengah berusaha menenangkan Rara Warih. Mereka tahu, bahwa hukuman
mati itu dilaksanakan pada pagi hari itu. Karena itu, Rara Warih
telah dicengkam lagi oleh kegelisahan. Bahkan dalam pada itu,
Juwiring telah mengundang Kiai Danatirta dari Guntung Garigal. Ia
berharap bahwa Kiai Danaitirta akan dapat membantunya menenangkan
air perempuannya itu. Karena pada waktu itu Pangeran Mangkubumi
tidak berada di Sukawati. Juwiring tahu, bahwa Pangeran Mangkubumi
tentu berada didalam kota pada saat hukuman itu dilaksanakan Dengan
sabar Kiai Danatirta memberikan beberapa petunjuk kepada Ratra Warih
tentang saat-saat manusia datang dan saat-saat mereka harus pergi
"Yang penting ngger" berkata Kiai Danaitirta "apakah yang kemudian
dapat kita lakukan untuk melanjutkan perjuangan ibundamu." Rara
Warih tersentuh oleh kata-kata Kiai Danatirta, itu. Sekali lagi ia
mengulang didalam hatinya "Yang penting, apakah yang kemudian dapat
kita lakukan untuk melanjutkan perjuangan ibunda." Rara Warih
menarik nafas dalam-dalam. Betapapun juga. akhirnya ia harus sampai
kepada kenyataan yang dihadapinya. Sementara ku pesan Kiai Danatirta
ku telah tergores didinding jantungnya. "Aku sudah berada didalami
lingkungan pasukan pamanda Mangkubumi" berkata Rara Warih didalam
hatinya "aku akan-berbuat apa saja bagi perjuangan ini" Tetapi ia
masih melanjutkan "Namun aku t idak akan berani menempuh cara
seperti yang ibunda lakukan.” Dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit
telah berada di antara orang-orang yang ingin menjadi saksi atas
hukuman mati yang akan dijatuhkan. Namun sekali lagi, Raden Ayu itu
telah menggetarkan hati Rakyat Surakarta. Dari jendela kereta yang
membawanya rakyat Surakarta melihat wajah Raden Ayu itu sama sekali
tidak menunduk. Tetapi sambil menengadahkan wajahnya Raden Ayu ku
justru melambaikan tangannya. Ketika kereta itu kemudian berhenti di
lapangan didepan loji maka yang nampak turun dari kereta itu adalah
seorang perempuan cantik yang masih saja tersenyum. Dengan tengadah
Raden Ayu Galihwarit memandang kesekelilingnya. Sehingga justru
karena itulah, maka wajah-wajah rakyat Surakarta itulah yang
menunduk dalam-dalam. Sebuah gejolak yang dahsyat telah menerpa
jantung mereka. Yang membenci maupun yang mencintainya, telah
berdesah didalam hati "Seorang perempuan yang Agung.” Raden Ayu
Galihwarit menolak untuk ditutup matanya. Ketika ia berdir i
dihadapan sekelompok penembak, maka ia berdiri dengan tegak. Yang
justru menjadi gemetar adalah letnan Morman. Ia mendapat perintah
untuk memberikan aba-aba kepada, tujuh orang kumpeni dengan senapan
di tangan. "Luar biasa" 'berkata Morman itu didalam hatinya "ia
sadar sekali, apa yang dilakukannya bagi tanah air. bagi bangsa dan
bagi dir inya sendir i." Bagaimanapun juga letnan itu terpaksa
mengangguk hormat ketika Raden Ayu Galihwar it memandangnya sambil
tersenyum.Di sebelah kiri dar i lapangan itu, beberapa orang
bangsawan dan pemimpin dar i Surakarta berdiri tegak. Pangeran
Yudakusuma hadir dalam pelaksanaan hukuman mati itu. Dalam pada itu,
tidak seorangpun diantara mereka yang berani menatap wajah Raden Ayu
Galihwarit Sambil menundukkan kepala, mereka berkata didalam hati
"Bahwa perempuan yang pernah tercemar namanya ini, pada suatu saat
telah menempatkan diri sebagai seorang pejuang yang sulit dicari
bandingnya." Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang berani
melihat dan meruku diri mereka sendir i. Beberapa orang pimpinan
dalam jajaran tertinggi di Surakarta, yang sejak semula telah
berusaha menjatuhkan kedudukan Pangeran Mangkubumi karena ir i dan
dengki, berusaha untuk membaurkan pengakuan didalam hatinya itu
dengan pernyataan-pernyataan yang semu, sehingga dengan susah payah
barulah mereka berhasil menipu diri mereka sendiri. Sejenak
kemudian, maka pelaksanaan hukuman mati itupun telah di persiapkan.
Ketika Morman menempatkan Raden Ayu yang tidak mau ditutup matanya
itu, maka ia telah berbisik dengan bahasa yang kaku "Aku mohon maaf
Raden Ayu. Aku adalah prajurit yang menjalankan tugasku." Raden Ayu
attu tersenyum. Seperti kepada anak-anak yang merengek minta
gula-gula Raden Ayu itu menepuk pundaknya "Lakukan tugasmu dengan
baik letnan." Sejenak kemudian, maka tujuh orang penembak tepat itu
telah bersiap. Namun dalam pada itu, rakyat yang menyaksikan
peristiwa itu telah bergejolak. Beberapa orang tidak dapat menahan
tangisnya, sementara 'beberapa, orang yang lain dengan tergesa-gesa
telah meninggalkan tempat itu, sebelum hukuman dilaksanakan, Dalam
pada itu, ketika dengan suara gemetar Morman meneriakkan aba-aba dan
senapan yang tujuh pucuk itu meledak, maka meledak pula pertempuran
yang dahsyat diJatimalang. Ternyata Pangeran Mangkubumi tidak
menyaksikan hukuman mait i itu dilaksanakan. Pagi-pagi sekal ia
memang berada di kota, diantara orang-orang yang berduyun-duyun
kelapangan didepan loji itu. Namun kemudian ia telah meninggalkan
kota justru ketika ia melihat, bahwa seluruh kekuatan kumpeni dan
prajur it Surakarta telah dikerahkan untuk menjaga keamanan kota
pada saat pelaksanaan hukuman mati itu. Kematian Raden Ayu
Galihwarit didepan tujuh orang penembak itu, bukannya dibiarkan saja
berlalu oleh Pangeran Mangkubumi. Namun pada saat yang bersamaan,
ternyata pasukan Pangeran Mangkubumi yang berada di Gunung Garigal
telah turun dan menyerang salah satu pertahanan kumpeni yang kuat.
Tetapi ternyata bahwa Pangeran Mangkubumi sendiri telah memimpin
serangan itu dengan sebagian besar kekuatannya. Pasukan di
Jatimalang itu tidak sempat minta bantuan ke kota. Dengan kemarahan
yang meluap, Pangeran Mangkubumi telah menyapu mereka sehingga
pertahanan di Jatimalang itu hancur menjadi debu. Hanya beberapa
orang kumpeni yang berhasil lolos dan melarikan dir i ke kota, yang
masih diliputi suasana yang mengandung rahasia. Karena tidak
seorangpun yang dapat menghitung dengan pasti, berapa orang yang
menarik nafas lega karena pengkhianat telah terbunuh sementara
berapa orang yang telah mengutuk hukuman itu sebagai satu tindakan
yang paling biadab. Kapten Kenop telah mendapat laporan di tempat
tidurnya, bahwa pelaksanaan hukuman mati itu telah dijalankan. Namun
pada hari itu juga ia telah mendengar pula, bahwa pasukan kumpeni di
Jatimalang telah digilas habis oleh pasukan Pangeran Mangkubumi yang
marah, yang menuntut keseimbangan perist iwa atas hukuman mati yang
dijatuhkan kepada! Raden Ayu GalmwaritKemarahan yang tidak ada
taranya telah membakar dada kapten Kenop. Tetapi ia masih!harus
berbaring dipembaringan. Sehingga karena itu ia hanya dapat
mengumpat-umpat dengan kata-kata kasar. Sementara itu, beberapa
perwira lainnya, telah menyiapkan pasukan yang akan dikirim untuk
membangun kembali pertahanan di Jatimaiang. Malam itu, Surakarta
'bagaikan kota mati. Sepi. Bahkan seperti sebuah kuburan yang sangat
hias. Rakyat masih dicengkam oleh peristiwa yang menggetarkan
jantung mereka di lapangan didepan loj i. Sementara kumpeni masih
dihantui oleh peristiwa hancurnya pertahanan di Jatimalang, yang
terjadi dalampertempuran yang termasuk cepat dan tiba-tiba. Hari itu
juga tubuh Raden Ayu Galihwarit telah dimakamkan. Tetapi hari itu
juga, mayat kumpeni yang berserakkan di Jatimalang, karena
kawan-kawannya tidak sempat membawanya telah diambil oleh pasukan
yang kemudian datang, setelah laporan itu sampai kepada para perwira
kumpeni di Surakarta. Malam itu, Pangeran Mangkubumi berada di
Sukawati setelah membersihkan diri. Bersama Kiai Danatirta,
Juwiring. Buntal, Warih dan Aram, Pangeran itu duduk disebuah amben
yang besar. Dengan wajah yang tenang Pangeran Mangkubumi
mengangguk-angguk ketika ia mendengar Warih berkata "Aku mengerti
pamanda. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta bagaimana aku
harus melanjutkan perjuangan ibunda. Tetapi aku berbeda dengan
ibunda dan berbeda dengan Arum yang memiliki ilmu kanuragan."
Pangeran Mangkubumi tersenyum. Katanya "Perjuangan untuk menegakkan
cita-cita kemerdekaan ada seribu macam cara. Ibundamu telah
mengambil salah satu cara yang barangkali teriaki sulit untuk
dilakukan oleh orang lain. Arum juga mengambil caranya sendiri untuk
ikut serta dalamperjuangan ini. Aku yakin, bahwa besok atau lusa,
kau akan segera menyesuaikan dirimu dengan salah satu cara yang
paling baik bagimu. Perjuangan ku masih panjang War ih.” Rara Warih
menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah kakaknya yang
menegang. Namun Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam ketika Rara
Warih mengangguk. "Aku akan menyesuaikan dir i dengan keadanku
sekarang" berkata Rara Warih ”aku akan berusaha pamanda" "Bagus"
berkata Pangeran Mangkubumi ”kita. akan mulai dengan perjuangan yang
barangkah akan lebih luas dan lebih cepat. Kira akan selalu bergerak
Pengalaman kita sampai sekarang mengatakan, bahwa Untuk menetap
disatu tempat kadang-kadang kurang menguntungkan. Seandainya kita
tidak dapat mencium rencana kumpeni menyerang dengan kekuatan yang
besar, maka kita akan dapat dihancurkan." Juwiring dan Buntalpun
mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Danatirta berkata "Pangeran,
agaknya dukungan terhadap perjuangan Pangeranpun menjadi semakin
luas. Kemanapun Pangeran pergi, agaknya Pangeran akan mendapat
sambutan yang baik. Bukan saja bagi kedatangan Pangeran, tetapi juga
bagi perjuangan Pangeran." "Terima kasih Kiai Besok kami akan
bertemu dengan kawan-kawan kami yang tersebar. Kami akan menentukan
langkah yang lebih tepat menghadapi keadaan yang berkembang dengan
cepat," berkata Pangeran Mangkubumi "nah, sejak sekarang,
bersiap-silaplah. Mudah-mudahan Juwiring dan Buntal akan segera
sembuh” “Aku sudah sembuh Pangeran" jawab Buntal. "Besok akupun
sembuh" desis Juwiring sambil tersenyum. Demikianlah Pangeran
Mangkubumi telah meninggalkan anak-anak muda itu. Malam itu juga
Pangeran Mangkubumi kembali ke Gunung Gar igal, mempersiapkan
sebuahpertemuan yang akan dilakukan dikeesokan harinya disita tempat
yang dirahasiakan. Namun dalam pada itu, di Sukawati seorang petugas
sandi telah menemui anak-anak muda itu. Tanpa dapat dicegah lagi ia
berceritera. tentang hukuman mati yang sudah dilaksanakan. Bagaimana
sebagian dari rakyat Surakarta menangisi kematian Raden Ayu Galihwar
it. "Ditempat Raden Ayu ditembak sekarang menggunung bunga tabur.
Entah siapa yang memulainya, namun kumpeni tidak dapat mencegah,
rakyat Surakarta yang bagaikan arus bengawan mengalir untuk
menaburkan 'bunga ditempat itu," berkata petugas sandi itu. Setitik
air nampak di pelupuk mata Rara Warih. Tetapi ia tidak menangis
lagi. Demikianlah, agaknya gugurnya Raden Ayu Galihwarit menjadi
pertanda perubahan cara yang ditempuh oleh Pangeran Mangkubumi.
Didalam pertemuan dihari ber ikutnya ditempat yang dirahasiakan,
para pemimpin pasukan Pangeran Mangkubumi, termasuk Raden Mas Said
mengakui, bahwa sekuntum bunga telah gugur. Bukan bunga yang tumbuh
di taman sari yang asri, tetapi bunga yang tumbuh digersangnya batu
karang, sebagaimana gersangnya kehidupan Raden Ayu Galihwarit itu
sendir i. Namun bunga- bunga yang lain masih dan akan berkembang.
Bunga yang tumbuh di batu-batu karang, yang tumbuh di tanah-tanah
tandus, dihutan-hutan perdu, dan di alas gung liwang- liwung. Karena
taman sari yang asri justru sedang dijamah oleh orang-orang asing
yang dengan tamaknya telah menghisap saripatinya kehidupan di
Surakarta, sehingga kehidupan rakyat Surakarta itu akan menjadi
semakin tandus, gersang dan kering. Namun perjuangan Pangeran
Mangkubumi t idak terhenti. Justru semakin lama menjadi semakin
dahsyat Kumpeni menjadi semakin pening menghadapi perlawanan
yangsemakin teratur meskipun menebar didaerah yang sangat luas.
Juwiring dan Warih kemudian menjadi satu bagian dari perjuangan
Pangeran Mangkubumi. Sementara Buntal dan Arum merupakan pasangan
yang tidak terpisahkan. Bukan saja ikatan pribadinya, tetapi juga
dalam lingkungan perjuangan Pangeran Mangkubumi, bersama dengan ayah
angkat mereka. Kiai Danatirta. Arum memang mempunyai cara yang
berbeda dari Rara Warih. Namun dalam beberapa hal keduanya berada
dalam satu medan yang saling mengisi. Dengan perempuan-perempuan
yang siap menghadapi tantangan perjuangan, Warih telah menyiapkan
segala keperluan para pejuang di medan. Sementara Arum dan beberapa
orang pengawal siap melindungi mereka dalam bentuk apapun juga.
Perjuangan itu ternyata telah menempa anak-anak muda itu menjadi
semakin dewasa. Sehingga dewasa pulalah hubungan antara Arumdan
Buntal. Namun dalam pada itu, genderang dan sangkakala masih bergema
disetiap lereng bukit dan lembah-lembah. Perjuangan Pangeran
Mangkubumi telah menggetarkan jantung kumpeni. Semakin lama menjadi
semakin dahsyat, sehingga akhirnya kumpeni tidak lagi dapat berbuat
banyak. Betapapun juga, perang terbuka telah diakhir i pada
perjanjian Giyanti. Kumpeni t idak dapat mengingkari kekuatan
Pangeran yang pernah dianggap tidak berarti di Surakarta itu. Namun
sebenarnyalah perjuangan belum berakhir. Pada saat- saat berikutnya
perang terbuka itu pecah pula di mana-mana diseluruh persada
pertiwi, sehingga akhirnya, penjajahan benar-benar telah terusir
dari bumi tercinta ini. (Tamat)
|