[back to topmdi.net]

Bunga Diatas Batu Karang

Welcome to topmdi - ebook collection 

Jilid 01
MATAHARI sudah menjadi semakin tinggi. Sinarnya menusuk celah-celah dedaunan di pepohonan, membuat lukisan yang cerah di atas tanah yang lembab. Sekali lagi Buntal berpaling. Dipandanginya sebuah rumah tua yang kecil, dan apalagi mir ing. Rumah yang untuk beberapa bulan didiaminya bersama paman dan bibinya. Anak itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Sejak ia menjadi yatim piatu, ia tinggal bersama paman dan bibinya. Tetapi paman dan bibinya ternyata mengalami banyak kesulitan. Untuk memberi makan dan pakaian saudara-saudara sepupunya, anak paman dan bibinya itu sendiri, mereka telah mengalami kekurangan. Apalagi ia berada di rumah itu pula. Karena itu sekali lagi ia membulatkan niatnya. Meninggalkan rumah itu. Pagi itu, selagi paman dan bibinya pergi ke ladangnya yang hanya secuwil kecil, dan saudara-saudara sepupunya bermain- main di kebun belakang, Buntal memutuskan untuk berangkat tanpa membawa bekal apapun.Kadang-kadang ia menjadi ragu-ragu juga, akan kemana saja ia membawa langkahnya. Tetapi iapun kemudian menengadah ke langit, dan tanpa disadarinya ia berdoa semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang menurut ayahnya yang telah meninggal, agar menuntun langkahnya. Buntalpun kemudian berjalan cepat-cepat agar ia segera menjadi semakin jauh. Meskipun paman dan bibinya miskin, tetapi kepergiannya pasti tidak akan mereka kehendaki. Karena itu, maka iapun telah meninggalkan keluarga miskin itu tanpa pamit. “Keadaan menjadi semakin buruk” desis Buntal di dalam hati. Ia tidak mengerti, perubahan apakah yang telah terjadi dalam tata pemerintahan. Namun terasa baginya, dan bahkan bagi anak-anak yang lebih kecil dari dirinya, bahwa sesuatu telah terjadi. Langkahnya semakin lama membawanya semakin jauh dari rumah paman dan bibinya. Ketika matahari berada dipuncak langit ia mulai membayangkan, bahwa paman dan bibinya pada saat-saat yang demikian itu kembali sejenak dari sawah untuk beristirahat. Apabila kebetulan ada, mereka sekedar makan seadanya bersama-sama dengan anak-anak mereka. “Paman dan bibi ttentu mencar i aku” desisnya. Tetapi Buntal berjalan terus. Ia mencoba untuk meneguhkan hatinya, agar ia tidak menjadi ragu-ragu atau bahkan melangkah kembali ke rumah itu, rumah paman dan bibinya yang miskin. Namun ketika matahari menjadi condong ke Barat, terasalah sesuatu di perutnya. Lapar. Buntal mulai menjadi gelisah. Sebelumnya ia t idak memikirkan, bagaimana ia mendapatkan makan di sepanjang perjalanannya. Dan kini baru ia sadar, bahwa ia menjadi sangat lapar.Memang kadang-kadang sehari penuh ia tidak makan nasi di rumah paman dan bibinya yang miskin. Tetapi ada saja yang dapat diambilnya dari kebun, untuk sekedar mengisi perutnya. Kadang-kadang pohung, kadang-kadang nyidra atau garut atau apapun juga. Tetapi di perjalanan ini, ia tidak dapat menemukan apapun juga. Keragu-raguan di hati Buntal mulai melonjak. Kadang- kadang timbul pula niatnya untuk kembali saja ke rumah paman dan bibinya. Tetapi ia t idak sampai hati melihat keadaan rumah dan keluarga itu sehari-har i. Kadang-kadang Buntal harus menahan gejolak perasaannya, apabila ia mendengar adik sepupunya yang masih berumur setahun menangis karena lapar. Anaknya yang lebih tua duduk tepekur sambil menyeka air matanya. Yang lain tidur terlentang dengan lemahnya di amben bambu. Sedang yang sulung, yang tiga tahun lebih muda daripadanya, duduk tepekur sambil menganyam keranjang. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Umurnya sendiri belum mencapai limabelas tahun, sehingga adik sepupunya yang sulung itu belum mencapai duabelas tahun. Dan anak yang belum mencapai umur duabelas tahun itu harus sudah bekerja keras membantu ayah dan ibunya untuk mencari nafkahnya sehari-hari. Tetapi kini perutnya sendiri merasa lapar. Sedang perjalanannya sama sekali tidak berketentuan. Ia tidak akan dapat menghitung sampai kapan ia harus berjalan. Dan kemanalah. tujuan yang akan didatanginya. Ia tidak lagi mempunyui saudara yang agak jauh sekalipun. Namun Buntal tidak berhenti. Ia melangkah terus dengan lemahnya. Semakin lama semakin lemah, sehingga akhirnya ia jatuh terduduk diatas sebuah batu di pinggir jalan. Ketika tanpa disadarinya Buntal menengadahkan kepalanya ke langit, dilihatnya cahaya yang kemerah-merahan telahmulai membayang, sehingga sebentar lagi senja akan segera turun. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mendengar gemericik air parit, maka terasa lehernya menjadi semakin kering. Karena Itu, maka perlahan-lahan ia beringsut mendekati parit itu. Apalagi ketika dilihatnya air yang bening mengalir diatas rerumputan yang hijau di dasar parit bercampur pasir yang keputih-putihan, maka iapun segera berjongkok diatas tanggul. Dengan kedua belah telapak tangannya ia mengambil seteguk air untuk menghilangkan hausnya yang tidak tertahankan, meskipun ia sadar, bahwa air itu tidak bersih sama sekali dari kotoran, karena diparit itu pula para petani mencuci kaki, tangan dan alat-alatnya apabila mereka pulang dari sawah. Tetapi lehernya terasa haus sekali. Buntal menarik nafas dalam-dalam ketika terasa tenggorokannya telah menjadi basah. Perlahan-lahan ia berdiri dan memandang daerah di sekitarnya. Tetapi daerah itu adalah daerah yang asing baginya. Dan dengan demikian ia sadair, bahwa ia telah benar-benar terpisah dari paman dan bibinya. Ia tidak akan dapat menemukan jalan kembali, apabila ia tidak bertanya-tanya dengan susah payah. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Kecemasan semakin merayapi batinnya. Sebentar lagi malam akan tiba, dan sebentar lagi seluruh permukaan bumi ini akan menjadi gelap. “Apakah aku akan tetap berada di bulak dan t idur diatas rerumputan?“ Tiba-tiba tengkuknya meremang. Dikejauhan dilihatnya seonggok pepohonan yang rimbun. Kalau itu sebuah ujung dari hutan yang membujur, meskipun hutan yang rindang, kadang-kadang masih ada juga seekor harimau yang tersesat keluar hutan dan mencar i makan ke padukuhan. Mungkinseekor lembu, mungkin kambing dan apabila ia berada di bulak itu mungkin dirinya. Dalam kecemasan itu, Buntal melihat sebuah gubug yang bertiang agak tinggi. Sebuah gubug yang di siang hari dipakai untuk menunggu dan menghalau burung. “Mungkin tempat itu merupakan satu-satunya tempat yang paling baik buat bermalam. Tangga gubug itu cukup kecil, sehingga aku kira tidak, akan ada harimau yang dapat memanjat keatas. Meskipun agak ragu, Buntalpun berjalan juga menyusur pematang ke gubug itu. Besek pagi-pagi benar aku harus bangun dan meninggalkan gubug itu. Kalau aku kesiangan, dan ada seseorang yang menemukan akju masih tidur, maka aku akan mendapat seribu macampertanyaan. Ternyata gubug itu cukup panjang untuk menjelujurkan kakinya. Sambil menggeliat ia berbaring. Kepalanya diletakkan diatas kedua telapak tangannya. Senjapun semakin lama menjadi semakin gelap. Seperti perut Buntal yang menjadi semakin lapar. Sekali-kali Buntal menarik nafas dalam-dalam. Udara yang segar terhisap masuk ke dadanya. Namun dada itu masih juga tetap gelisah dan cemas. Dengan demikian Buntal tidak segera dapat tertidur. Berbagai macam perasaan bergulat di dalam dir inya. Cemas, gelisah, takut dan juga lapar dan penat. Bahkan ia menjadi cemas pula apabila tiba-tiba saja pemilik gubug itu datang di malamhari untuk menengok sawahnya “Mudah-mudahan t idak malam ini” desisnya “mudah- mudahan ia t idak menengok sawahnya malamhari”Namun kegelisahan itu membuatnya tidak segera dapat memejamkan matanya, apalagi karena perutnya terasa menjadi semakin lapar. Namun oleh kepenatan yang sangat, kantuk yang tidak terlawan dan udara yang segar, akhirnya membuat Buntal terlena diatas gubug itu. Anak itu tidak menyadari, berapa lamanya ia tertidur diatas gubug itu. Namun ia terkejut ketika terasa olehnya sinar matahari mulai menggigit kakinya. Dengan tergesa-gesa Buntal bangkit. “O, matahari telah tinggi“ Sejenak kemudian Buntal telah duduk di gubug itu sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya. Beberapa orang dilihatnya telah bekerja di sawahnya. Beberapa yang lain sedang menyelusur i par it yang mengalirkan air yang bening. “Aku harus segera pergi” desisnya “kalau yang mempunyai gubug ini datang, aku akan mengejutkannya dan mungkin aku disangkanya telah berbuat sesuatu yang merugikannya” Tetapi selagi Buntal membenahi dirinya, ia merasa gubug itu terguncang, sehingga karena itu maka dadanya segera menjadi berdebaran. Ia sadar, bahwa seseorang pasti sedang naik keatas gubug itu. Belum lagi ia sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba sebuah kepala telah menjenguk dari balik alas gubug itu. Seorang gadis kecil yang sama sekali tidak menyangka, bahwa ada seseorang diatas gubugnya, sedang memanjat naik untuk menyimpan bakulnya diatas gubug itu. Tetapi tiba-tiba saja ia melihat seorang anak muda yang belumdikenalnya di dalamgubugnya itu. Karena itu, betapa ia terperanjat. Sejenak ia membeku, namun kemudian iapun segera meluncur turun. Tetapi karenaia terlampau tergesa-gesa, maka iapun terperosek diantara mata tangga dan jatuh diatas tanah yang basah. Tanpa sesadarnya gadis kecil itu menjerit. Kemudian tubuhnya terbanting ke dalam lumpur yang kotor. Jerit gadis kecil itu ternyata telah mengejutkan beberapa orang yang berada di sekitar tempat itu. Bahkan Buntalpun terkejut pula. Dengan serta-merta ia menjengukkan kepalanya dan dilihatnya gadis itu sedang bergulat untuk bangkit dari lumpur yang licin. Buntal tidak berpikir apapun lagi. lapun segera turun dengan tergesa-gesa dan berusaha menolong gadis yang berlumuran tanah yang kotor itu. Sesaat kemudian beberapa orangpun datang berlari-lar i ke gubug itu. Yang mereka lihat, Buntal sedang menarik gadis itu dan mencoba membantunya berdiri. Sedang tubuh gadis itu sendiri tiba-tiba menjadi lemas seperti tidak bertenaga. Karena terkejut yang amat sangat, maka gadis kecil itu menjadi pingsan karenanya. “He, apakah yang kau lakukan atas anak itu?“ bentak seorang yang bertubuh pendek, tetapi sekuat kerbau jantan, yang ternyata dari urat-uratnya yang menonjol di permukaan kulitnya. “Aku tidak berbuat apa-apa” jawab Buntal ketakutan ”Lepaskan“ teriak seorang anak muda. “Tetapi, tetapi….““Lepaskan” teriak yang lain. Tetapi Buntal tidak segera melepaskannya. “He, kenapa kau tidak mau melepaskan?” “Ia lemas. Lemas sekali” suara Buntal tergagap “kalau aku lepaskan ia akan terjatuh” Sejenak orang-orang yang mengerumuninya saling berpandangan. Kemudian dua orang anak muda meloncat maju dan merenggut tubuh gadis itu dari tangan Buntal. Ternyata bahwa gadis itu benar-benar telah lemas dan jatuh pingsan. “Bawa dia menepi. Bersihkan tubuhnya dari lumpur” Gadis itupun kemudian dipapah oleh dua orang anak-anak muda yang kemudian meletakkannya di pematang. Dengan selendangnya, wajah gadis yang berlumuran lumpur itupun kemudian dibersihkannya. “Ayahnya belumdatang?“ bertanya seseorang. “Belum, la datang seorang diri” Kini semua mata tertuju kepada Buntal. Orang yang bertubuh pendek dan berotot menonjol melangkah maju sambil menggeram “Apa yang kau lakukan he?“ Buntal menjadi semakin ketakutan. Ia menyesal bahwa ia telah terbangun kesiangan, sehingga ia harus mengalami perlakuan yang mendebarkan itu. “Kau apakan anak itu he?“ “Aku, aku tidak apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa” “ Bohong” sahut seorang anak muda yang bertubuh tinggi “mungkin kau ingin berbuat jahat. Apapun yang akan kau lakukan. Mungkin kau melihat gadis itu memakai perhiasan.Atau kau memang akan berbuat jahat kepada gadis itu sendiri” “Tidak, aku tidak berbuat apa. Aku semalam memang tidur di gubug itu. Mungkin ia terkejut melihat aku” “Jangan mengada-ada. Dan kenapa kau berada di gubug itu? Siapa kau dan dimana rumahmu?“ Buntal menjadi semakin kebingungan. Ingin ia menyebut nama paman dan bibinya. Tetapi jika demikian, dan persoalan yang tidak diharapkannya ini menjadi persoalan yang berkepanjangan, maka paman dan bibinya akan tersangkut pula. Padahal mereka sudah selalu dalam kesulitan untuk hidup mereka sehari-hari. Kalau mereka harus berbuat sesuatu untuk dirinya, maka hidup merekapun akan semakin terbengkelai. “Siapa kau he?“ seorang yang bertubuh t inggi membentak. “Namaku Buntal” jawabnya. Suaranya sudah menjadi gemetar. “Buntal, Buntal. Dimana rumahmu he?“ Buntal ragu-ragu sejenak. “Dimana?“ t iga orang berbareng membentak. Suara Buntal menjadi semakin gemetar. Jawabnya “Aku anak yatim piatu” “He?“ “Aku yatimpiatu” “Bohong. Bohong. Dimana rumahmu. Meskipun seandainya kau yatimpiatu, namun kau pasti mempunyai tempat tinggal” Buntal menjadi semakin bingung. Tetapi ia sudah bertekad untuk tidak menyeret paman dan bibinya yang sudah terlampau sulit itu untuk mendapatkan kesulitan-kesulitan baru. Karena itu, maka ia ingin menunjukkan rumah yangsudah lama dit inggalkan, setelah ayahnya meninggal. Dan rumah itu sama sekali bukan rumahnya karena ia t inggal di pengengeran sekeluarga. “Dimana, dimana he? Apakah kau menjadi bisu” bentak orang-orang yang marah itu. “Aku, aku tidak mempunyai rumah karena ayahku hanya seorang pelayan. Seorang abdi” “Dimana? “Surakarta” “Surakarta? Yang kau maksud kau tinggal di dalam kota Surakarta?“ “Ya” “O, jadi kau anak orang kota? Tetapi kau sama sekali t idak tahu adat?“ “Bukan, aku bukan orang kota. Ayah sekedar seorang abdi dari seorang bangsawan. Ayah adalah seorang juru pangangsu yang dahulu datang dari padesan juga” “Dimana ayahmu sekarang?“ “Meninggal. Ayah sudah meninggal” “Dan kau?“ “Aku diusir dari rumah bangsawan itu” “Pantas. Pantas. Kau pasti berbuat tidak senonoh di rumah bangsawan itu. Kau pasti berbuat iahat seperti yang baru saja kau lakukan” “Tidak. Aku tidak berbuat apa-apa. Tetapi bangsawan- bangsawan memang terlampau kejamsekarang” “Omong kosong. Kau pasti yang jahat” “Tidak. Aku tidak jahat. Sejak rumah itu sering dikunjungi kumpemi, Raden Tumenggung Gagak Barong telah berubah”“Kumpeni?“ “Ya” “Omong kosong. Kau memang seorang yang pandai berbohong. Sekarang kau masih mencoba berbohong, meskipun kami dapat melihat sendiri apa yang sudah kau lakukan” “Aku tidak! berbuat apa-apa” Tiba-tiba seorang anak muda yang bermata setajam burung hantu maju kedepan. Dengan serta merta anak muda itu menerkam baju Buntal yang sudah kusut. Sambil menarik ia menggeram “Berkatalah berterus terang. Siapa kau sebenarnya, dan kenapa kau berada disini?“ “Aku sudah mengatakan semuanya” “Bohong. Bohong“ anak muda itu mulai mengguncang- guncang baju Buntal. Buntal menjadi semakin gemetar. Apalagi ketika dilihatnya beberapa orang maju mendekat dengan pandangan mata yang seakan-akan langsung menusuk jantung. “Ayo, berkatalah sebenarnya“ orang lain berteriak. Dan Buntal menjadi semakin terkejut ketika tiba-tiba seseorang telah meloncat maju dan langsung menggenggam rambutnya. “Kalau kau berbohong sekali lagi, aku pukul mulutmu” Buntal benar-benar telah kehilangan akal. Tubuhnya menggigil seperti semalam suntuk terendam air. Wajahnya menjadi pucat seperti kapas. “Jawab. Apa yang sudah kau lakukan?“ Mulut Buntal bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak terdengar.“Jawab pertanyaanku” Buntal masih belum dapat mengucapkan kata-kata, sehingga orang-orang itu menjadi semakin marah. Kepala Buntal terputar ketika sebuah telapak tangan menampar pipinya. “Ayo bilang. Bilang bahwa kau telah mengganggu gadis, kecil itu diatas gubug. Untunglah bahwa ia justru terlempar dan sempat menjerit” “Tidak. Tidak“ hanya itulah yang dapat diucapksn oleh Buntal karena tangan yang lain telah memukul dagunya. Alangkah sakitnya. Dan alangkah sakit hatinya. Ia sama sekali tidak dapat melawan. Ketika rambut dan bajunya dilepaskan dan sebuah tangan lagi memukul pipinya. Buntal benar-benar telah terlempar dan terbanting jatuh diatas pematang, namun iapun kemudian terguling ke dalam lumpur. Tertatih-tatih ia mencoba berdiri. Namun ia tidak sempat tegak karena sebuah tendangan mengenai lambungnya, dan mendorongnya sekali lagi jatuh ke dalam lumpur. “Bawa saja kepada Ki Jagabaya” berkata salah seorang dari mereka. “Pukuli saja disini. Di dalam keadaan seperti ini, orang- orang gila pantas dibunuh saja” “O, jangan, jangan” teriak Buntal. “Kau sudah berani berbuat gila, kau harus mempertanggung jawabkannya. Kenapa kau takut?“ “Aku tidak berbuat apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa“ hanya kata-kata itulah yang dapat diucapkan oleh Buntal. Ia tidak dapat menemukan kalimat-kalimat yang lain di dalam keadaannya itu. Tetapi orang-orang itu tidak menghiraukannya lagi. Beberapa orang segera menariknya ke pematang. KemudianBuntal diseret seperti seonggok batang pisang kejalan di tengah-tengah sawah itu. Sejenak kemudian wajahnya telah dihujani dengan pukulan-pukulan dan bahkan beberapa orang telah meludahinya. Kepala Buntal segera menjadi pening. Kepalanya serasa menjadi retak dan pandangannya berkunang-kunang. Tetapi ia masih mendengar setiap orang memaki-makinya. “Gadis itu masih pingsan” terdengar seseorang berkata ”bunuh saja anak jahanam itu. Ia membuat pedukuhan ini ternoda” “Ya bunuh, bunuh saja” Buntal tidak berdaya sama sekali untuk melakukan pembelaan. Sekilas terlintas di kepalanya, kenangan atas perjalanannya yang panjang sehingga ia sampai ke tempat ini. Dan terlintas pula di kepalanya, perjalanan yang seakan-akan telah terbentang di hadapannya. Jalan yang jauh lebih panjang dari jalan yang baru saja dilaluinya itu. “Aku akaa menyeberangi langit” katanya di dalam hati. Dan sesaat kemudian Buntal itu menjadi pingsan, la tidak merasakan lagi pukulan-pukulan yang bertubi-tubi mengenainya. Dengan lemahnya ia terkapar di tanah tanpa dapat berbuat sesuatu. Dalam pada itu, selagi Buntal masih mengalami hukuman yang sama sekali t idak diduganya, seorang tua berlari-lari diikuti oleh seorang anak muda yang sebaya dengan Buntal menuju ke pematang. Orang tua itu adalah ayah dari gadis yang pingsan itu. Seseorang telah memberitahukan kepadanya apa yang telah terjadi di sawah. Ketika ia sampai disisi anak gadisnya, segera ia berlutut. Diraba-rabanya tubuh anaknya, kemudian dipijit-pijitnya tengkuknya. Tetapi wajahnya tampak menjadi agak cerahketika ia mendengar anaknya itu merengek seperti dimasa kanak-kanaknya. “Arum” desis orang tua itu “kenapa kau?“ Arum, gadis itu, membuka matanya. Dilihatnya ayahnya berjongkok di sampingnya. “Apakah yang terjadi?“ Arum masih biugung sejenak. Namun kemudian ditolong oleh ayahnya ia mengangkat kepalanya. Sejenak ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Perlahan-lahan, namun semakin lama menjadi semakin jelas. Dan tiba-tiba saja ia berkata kepada ayahnya “Aku terjatuh ayah. Aku terkejut sekali” Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba pula anaknya itu memandang ke jalan yang membujur diantara tanah persawahan. “Apa yang terjadi disana ayah?“ ia bertanya sambil menunjuk orang-orang yang berkerumun sambil menyepak- nyepak. “Anak itu. Anak yang barangkali sudah berbuat jahat kepadamu” “Kenapa dengan anak itu?“ “Orang-orang telah menganggapnya bersalah. Mereka memukuli anak itu” “Tidak ayah. Anak itu tidak berbuat apa-apa. Aku hanya terkejut dan aku terjatuh ketika aku meluncur turun, la berada diatas gubug, sedang aku baru saja naik keatas. Dan aku masih berdir i di tangga” “Aku sudah minta anak mas Juwiring untuk mencegahnya” Arum kemudian duduk bersandar kedua tangannya. Kepalanya masih terasa pening. Namun ia menjadi cemas,apabila terjadi sesuatu atas anak yang dilihatnya duduk diatas gubugnya. Dalam pada itu, Juwiring telah berdiri ditengah-tengah lingkaran orang-orang yang mengerumuni Buntal yang terbaring di tanah. Sejenak ia masih melihat beberapa pasang kaki menyepak- nyepak tubuh yang sudah tidak berdaya itu. Namun katika anak muda yang bernama Juwir ing itu berdir i diantara mereka sambil memandang berkeliling, maka tiba-tiba saja orang- orang yang berkerumun itu bergeser surut. “Kenapa dengan anak ini paman?“ bertanya Juwiring, Meskipun umurnya belum sampai tujuh belas tahun, tetapi terasa wibawa yang besar memancar dari nada kata-katanya. Tidak seorangpun yang segera menyahut. Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi mulut mereka masih tetap terkatup rapat-rapat. Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia membungkukkan badannya dan meraba tubuh Buntal, ia berdesis “Pingsan. Anak ini telah, pingsan” Tiba-tiba mata Juwiring menjadi tajam memandang setiap wajah yang ada di sekelilingnya. Satu-satu wajah itu tertunduk lemah. “Apakah salah anak ini?“ sekali lagi ia bertanya. Tetapi tidak ada yang segera menjawab, sehingga akhirnya Juwiring maju selangkah mendekati orang yang bertubuh pendek kekar dan berotot seperti jalur-jalur pohon merambat di seluruh tubuhnya. “Paman” bertanya Juwring “apakah salah anak itu?“ Orang itu tergagap sejenak. Namun karena tatapan mata Juwiring bagaikan menusuk jantungnya, akhirnya ia menjawab “Anak ini telah mengganggu Arumdiatas gubugnya”“O“ Juwiring mengerutkan dahinya. Sekali ia berpaling, namun Buntal masih terbaring diam. “Apakah yang sudah dilakukannya? Apakah ia merampas barang-barang milik Arum, ataukah ia berbuat lain?“ Orang bertubuh kekar itu menjadi semakin bingung. Namun kemudian ia menjawab “Kami hanya mendengar Arum menjer it. Dan kami datang berlar i-larian. Kami melihat kemudian anak itu sedang memeluk Arum yang lemah dan kotor” “Diatas gubug?“ Orang itu menggeleng “Tidak. Di dalam lumpur” “Kalian yakin bahwa anak ini berbuat jahat?“ Tidak seorangpun yang menjawabnya. “Kalian yakin bahwa anak ini akan berbuat jahat terhadapi Arum?” “Ya?” “Begitu?” Masih belumada seorangpun yang menjawab. “Bagaimana kalau Arum terpekik karena ia terjatuh, dan kemudian anak ini justru menolongnya dari lumpur?“ Orang-orang itu masih terdiam. “Atau, apabila kalian yakin bahwa anak ini bersalah, akupun tidak berkeberatan anak ini dihukum. Apalagi kalau ia langsung akan berbuat jahat kepada Arum itu sendiri” anak muda itu terdiam sejenak sambil memandang berkeliling, lalu selangkah ia bergeser mendekati orang yang tinggi “Kau juga yakin ia bersalah?” Orang tinggi itu menundukkan kepalanya, sementara Juwiring bergeser lagi. Seorang demi seorang didekatinya dandengan nada datar bertanya kepadanya, apakah anak itu memang bersalah. Tetapi setiap kepala tertunduk karenanya. “Baiklah. Kalian tidak ada yang menjawab dengan tegas, letapi karena kalian telah bertindak, maka kalianpun pasti sudah meyakini kesalahannya. Karena itu, akupun akan ikut serta memutuskan bahwa anak ini bersalah, karena ia telah berbuat jahat kepada Arum“ Juwiring berhenti sejenak. Namun tiba-tiba ia melangkah mendekati seseorang yang berdiri di paling belakang. Tanpa berkata apapun juga, orang itu diputarnya. Kemudian diambilnya sebuah sabit yang terselip dipunggungnya. Semua mata memandang Juwiring dengan tegangnya. Apalagi ketika setapak demi setapak ia maju mendekati Buntal yang masih pingsan. “Agaknya kalian telah berkeputusan untuk membunuhnya. Sekarang, biarlah aku yang melakukannya. Kalau kalian yakin anak ini bersalah, akupun yakin pula, sehingga pantaslah apabila ia dihukum mati” Sekali lagi Juwiring memandang berkeliling. Karena tidak seorangpun yang menyahut, maka iapun melangkah maju. Dengan kaki renggang ia berdiri disisi Buntal yang terbaring di tanah. Setelah memandang wajah anak yang pingsan itu sejenak, maka katanya “Aku akan membunuhnya. Aku akan membelah perutnya karena ia sudah berbuat jahat” Tetapi ketika Juwir ing berjongkok di samping tubuh Buntal yang pingsan, tiba-tiba seorang yang berkumis keputih- putihan berkata terbata-bata “Tetapi, tetapi kami belum yakin bahwa ia memang bersalah” Juwiring mengangkat wajahnya. Dipandanginya orang yang berkumis putih itu. Bahkan kemudian anak muda itupun berdiri dan melangkah mendekatinya “Kau paman Dipa.Sepengetahuanku, membunuh t ikuspun kau tidak mau. Tetapi agaknya kau ikut serta menyakiti anak ini?“ Orang berkumis putih dan bernama Dipa itu terdiam. Sekali ia menelan ludahnya. Namun tidak sepatah kata lagi yang meluncur dari mulutnya. “Jadi bagaimana?“ Juwir ing bertanya. Karena tidak ada yaug menjawab, Juwiring menepuk pundak seseorang “Apakah sebaiknya aku membunuhnya?“ Orang itu menjadi tegang. Namun kemudian ia berkala gemetar “Tidak. Tidak. Akupun tidak meyakini kesalahannya” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang seorang yang berwajah pucat, tanpa ditanya apapun orang itu berkata “Ya. Kami belum pasti, bahwa ia pantas dihukum, apalagi dibunuh” Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika sekali lagi ia memandang setiap wajah, maka setiap wajah itupun menjadi semakin tunduk ke tanah. “Nah, ternyata kalian telah melakukan sesuatu dengan tergesa gesa. Setelah anak ini pingsan, dan bahkan hampir mati, barulah kalian menyadari, bahwa kalian tidak berbuat atas dasar keyakinan. Seorang diantara kalian berteriak bahwa anak ini bersalah, maka kalian tidak sempat lagi berpikir. Seperti kehilangan dir i, kalian berebutan menjatuhkan hukuman atas anak ini. Dipa, Naya, Angga yang aku kenal sebagai orang-orang yang ramah dan baik hati, di dalaM keadaan tanpa sadar, telah melakukan perbuatan ini” Kepala-kepala itupun menjadi semakin tunduk lagi. Kalau saja mungkin, mereka akan berlar i dan menyembunyikan wajah-wajah yang serasa menjadi panas. Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan- lahan ia mendekati Buntal. Dan Buntal agaknya masih juga pingsan.“Panggil Kiai Danatirta itu” berkata Juwir ing kemudian. Dipa yang paling gemetar, segera berdiri dan berjalan tertatih-tatih di pematang, pergi ke tempat Kiai Danatirta menunggui anaknya Arum. “Kiai, Raden Juwiring memanggil Kiai” “O, baiklah. Duduklah disini Arum” “Aku ikut ayah” “Kau masih terlampau lemah” “Tidak. Aku sudah baik” Kiai Danatirta memandang anaknya sejenak. Namun kemudian katanya “Marilah” Kiai Danatirtapun kemudian membimbing anaknya di sepanjang pematang pergi mendapatkan Juwiring yang masih berdiri ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang kebingungan itu. “Kiai” berkata Juwiring kemudian “anak ini pingsan” “O“ Arumlah yang menyahut “Kenapa? Kenapa ia pingsan, Raden?“ “Bertanyalah kepada orang-orang ini” Arum memandang orang-orang yang berdiri membeku itu. Kemudian perlahan- lahan ia melangkah maju bersama ayahnya, Kiai Danatirta, mendekati Buntal yang pingsan. “Ayah“ Arum hampir memekik “wajahnya merah biru” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis “Apakah anak ini pantas mendapat hukuman yang begini berat?“ “Ia tidak bersalah” berkata Arum kemudian.Dan ternyata kata-kata Arum itu bagaikan menyengat setiap hati yang membeku di sekitar Buntal yang pingsan itu. “Ambillah air” desis Kiai Danatirta. Seseorangpun kemudian mengambil air dengan sehelai daun yang disobeknya pada sebatang pohon pisang yang tumbuh di pinggir parit. Setitik demi setitik, Kiai Danatirta meneteskan air di mulut Buntal. Sambil memijit-mijit bagian tubuhnya yang lain, Kiai Danatirta berusaha membangunkan Buntal yang pingsan itu. Sejenak kemudian terdengar anak itu merintih. Semakin lama semakin keras. Bahkan kemudian terdengar ia mengaduh. “Ia telah sadar” desis Kiai Danatirta. Juwiringpun kemudian berjongkok pula di sampingnya. Ditatapnya wajah yang biru pengab itu dengan dada yang berdebar-debar. Juwiring menyadari, betapa sakitnya wajah itu, dan bahkan seluruh tubuhnya. “Terlalu“ Juwir ing berdesis “mudah-mudahan anak ini berjiwa besar” Ketika sebuah pedati lewat di jalan persawahan itu, maka Juwiringpun segera menghentikannya. Dengan sangat ia minta agar pemiliknya bersedia menolong membawa Buntal ke rumah. Ke rumah Kiai Danatirta. Ternyata pemilik pedati itu tidak berkeberatan. Dengan senang hati ia memenuhi permintaan Juwir ing dan Kiai Danatirta itu. Perlahan-lahan tubuh Buntal itu diangkat dan dibaringkan di dalam pedati. Setiap kali terdengar ia mengaduh. Namun matanya masih terpejam, dan kesadarannya masih belum pulih sama sekali.Ketika Buntal perlahan-lahan membuka matanya, tampaklah atap rumah yang samar-samar. Semakin lama menjadi semakin jelas. Kemudian dilihatnya wajah-wajah yang cemas di sisinya. Wajah yang belum pernah dilihatnya. Namun ketika ia mencoba menggerakkan tubuhnya, terasa seakan-akan seluruh tulang belulangnya berpatahan. Alangkah sakitnya, sehingga tanpa sesadarnya iapun mengaduh tertahan-tahan. “Jangan bergerak dahulu. Tubuhmu masih terlampau lemah. Bahkan mungkin terlampau sakit. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih harus selalu menyeringai apabila rasa sakit mulai menusuk kulitnya. “Apakah kau haus?“ Buntal memandang orang yang bertanya kepadanya. Seorang yang sudah memanjat ke pertengahan abad. Sedang seorang lagi ada lah seorang anak muda yang sebaya dengan dirinya. Seandainya ada selisih umur, maka selisih itu tidak lebih dari saru atau dua tahun. “Dimanakah aku ini?” desis Buntal hampir tidak terdengar. “Kau berada di rumahku, di rumah Kiai Danatirta. Dan anak muda ini adalah Raden Juwir ing” Buntal menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia mencoba mengurangi perasaan sakit yang menusuk-nusuk. “Tenangkan hatimu” berkata Juwiring “Kau akan dirawat dengan baik disini” Buntal memandang Juwiring dengan heran. Tetapi ia tidak segera bertanya apapun juga. Namun sejenak kemudian Buntal terkejut ketika ia melihat seorang gadis yang memasuki bilik itu sambil membawa sebuah belanga kecil. Gadis itulah yang dilihatnya memanjat tangga gubug dan kemudian jatuh ke dalam lumpur.Karena itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Dipandanginya gadis itu seperti memandang hantu. Bahkan kemudian terloncat kata-katanya “Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa terhadapnya” “Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya lembut “Ya. kau memang tidak berbuat apa-apa” Buntal heran mendengar jawaban itu. Karena itu iapun justru terdiam sejenak. “Arum” berkata Kiai Danatirta “letakkan belanga itu disini” Gadis itupun kemudian meletakkan belanga kecil itu di lantai di dekat pembaringan Buntal. Sejenak ia memandang anak yang terbaring kesakitan itu dengan pandangan iba. Bahkan tanpa sesadarnya ia bertanya “Kau sakit?“ Buntal menjadi bingung, bagaimana ia akan menjawab pertanyaan itu, sehingga karena itu, ia terdiam membeku. Arum yang berdiri termangu-mangu itupun kemudian menundukkan wajahnya. Sebelum ia mendengar jawaban Buntal, ia telah pergi meninggalkan bilik itu. “Ia adalah anakku” berkata Kiai Danatirta. “O“ Buntal menjadi bertambah cemas “Tetapi aku tidak berniat berbuat apa-apa” “Ya, ya. Aku percaya kepadamu. Kau tidak berbuat apa- apa. Anakku, Arum, juga berkata bahwa kau tidak berbuat apa-apa” “O“ Buntal mengerutkan keningnya. “Siapa namamu?“ bertanya Juwiring kemudian.Buntal memandang anak muda itu sejenak, lalu jawabnya “Buntal. Namaku Buntal” “Buntal” ulang Juwir ing “dimana rumahmu?“ Buntal menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak mempunyai rumah. Aku t idak mempunyai ayah dan ibu lagi” “Yatimpiatu?“ “Ya” “Tetapi kenapa kau berada di gubug itu. sehingga Arum terkejut karenanya?“ “Aku berjalan menuruti langkah kakiku. Ketika aku kemalaman, aku bermalamdi gubug itu” Kiai Danatirta yang ikut mendengar keterangan itu mengangguk-angguk. Sebagai seorang yang mempunyai pandangan yang luas tentang hidup dan kehidupan, ia melihat kejujuran di wajah Buntal. Karena itu maka ia sama sekali tidak berprasangka apapun kepada anak yang kesakitan itu. “Aku akan mencoba mengobati badanmu yang merah biru” berkata Kiai Danatirta. Buntal memandangnya dengan penuh keheranan. Ia melihat wajah kedua orang yang menungguinya itu bagaikan titik-titik embun di hatinya yang gersang. “Bergeserlah sedikit menepi” berkata orang tua itu kemudian. Buntal mencoba bergeser sedikit. Tetapi terasa seluruh tubuhnya menjadi sakit, seolah-olah tulang-tulangnya telah menusuk-nusuk kulit dan dagingnya. Namun ditahankannya perasaan itu sekuat-kuatnya. Meskipun ia menyeringai, tetapi ia kini tidak mengeluh lagi. “Tolong anak mas” berkata Danatirta kepada Juwir ing “peganglah belanga ini”Juwiringpun kemudian memegang belanga yang berisi cairan yang berwarna coklat kehitam-hitaman, sementara Kiai Danatirta mulai mengendorkan seluruh pakaian Buntal. Dengan lembut Kiai Danatirta mulai mengusap seluruh bagian badan Buntal dengan cairan itu. Cairan yang terasa hangat di tubuh yang biru pengab. “Dengan demikian tubuhmu tidak akan membengkak Buntal” desis Kiai Danatirta. Buntal tidak menyahut. Namun tiba-tiba terasa getaran- getaran yang aneh mengusik hatinya. Sentuhan tangan yang lembut itu telah menumbuhkan sebuah kenangan di hati Buntal. Kenangan kepada ayah dan ibunya yang telah mendahuluinya. Ia masih teringat semasa kanak-kanak, apabila ia terjatuh dan terkilir, ibunya selalu mengusapnya dengan pipisan beras kencur. Di sore hari setelah mandi, menjelang tidur. Meskipun ayah dan ibunya orang yang miskin, tetapi mereka berusaha sejauh-jauh dapat mereka lakukan, untuk membuat Buntal menjadi seorang anak yang baik. Yang memeliharanya dengan penuh kasih sayang. Dari ucapan tangan Kiai Danatirta itu ternyata telah mengungkat kenangan itu. Terbayang kembali di rongga matanya, ibunya duduk di bibir pembaringannya, sedang ayahnya berjalan mondar mandir dengan tangan bersilang di dadanya, apabila ia menjadi sakit. Bahkan kadang-kadang ia melihat titik air mata di sudut mata ibunya yang redup. Tiba-tiba perasaan haru yang sangat melonjak djdasar hatinya. Bagaimanapun juga ia bertahan, namun setitik air mata telah mengembun di pelupuknya, bahkan kemudian mengalir di pipinya yang pengap. Juwiring melihat air mata yang meleleh itu. Sehingga tanpa sesadarnya ia bertanya “Apakah tubuhnya justru menjadi sakit sekali?“Pertanyaan itu mengejutkan Buntal. Dengan sisa tenaganya ia mengangkat tangannya dan mengusap matanya. “Tidak” jawabnya “tubuhku merasa semakin baik” “Tetapi kenapa kau justru menangis? Selagi kau dipukuli dan pingsan di pinggir jalan, aku tidak melihat matamu menjadi basah. Tetapi kini justru kau mulai menit ikkan air mata” Buntal mencoba menggelengkan kepalanya. Jawabnya perlahan-lahan “Tidak. Aku tidak menangis” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak bertanya lagi meskipun ia merasakan sesuatu yang menyentuh perasaan anak itu, meskipun anak itu tidak mau mengatakannya. Apalagi ketika Kemudian Kiai Danatirta berkata “Sudahlah Buntal. Tenangkan hatimu. Cobalah untuk tidur agar tubuhmu menjadi segar” Namun t iba-tiba “Apakah kau sudah makan?“ Pertanyaan itu benar-benar telah mengetuk hati Buntal, sehingga betapa ia bertahan, tetapi tilik air matanya menjadi semakin deras mengalir di pipinya. Kiai Danatirta ternyata mampu membaca perasaan anak itu, sehingga ia berkata kepada Juwiring “Tungguilah anak ini anak mas. Aku akan pergi ke belakang sebentar” Juwiring menganggukkan kepalanya. Namun ia mengerti juga apa yang akan dilakukan oleh Kiai Danatirta. Agaknya anak ini memang belum makan. Sejenak kemudian seorang gadis masuk, ke dalam bilik itu. Tampaknya ia sudah menjadi sehat benar, seolah-olah tidak ada lagi bekasnya, bahwa ia baru saja terjatuh dan pingsan karenanya. “Minuman hangat” desisnya sambil meletakkan sebuah mangkuk ber isi air jahe yang panas dengan segumpal gula kelapa diatas sebuah nampan kayu. Sejenak ia berdirimemandang wajah Buntal yang biru pengab. Sepercik penyesalan membayang di wajah Arum. “Kalau aku tidak berteriak” katanya di dalam hati “orang-orang itu tidak akan berbuat apa-apa atasnya” namun lalu “Tetapi aku sama sekali t idak sengaja. Aku terkejut sekali” Tetapi Arum tidak mengucapkan kata-kata lagi. Iapun melangkah keluar dari bilik itu. Seorang pembantu telah menyediakan makan nasi hangat buat Buntal setelah Kiai Danatirta memberitahukan bahwa anak itu perlu makan. Dan Arumlah yang membawa makanan itu masuk ke biliknya. “Makanlah” berkata Juwiring selelah makanan itu tersedia. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia bertahan sekuat- kuatnya agar perasaannya tidak meledak. Diusapnya air matanya yang membasah. “Makanlah” ulang Juwiring “Aku kira kau belum makan” Buntal mengangguk- angguk perlahan. “O” desis Juwir ing “Kau belum dapat bangkit sendiri? Marilah, aku tolong kau bangun” Juwiringpiin kemudian menolong Buntal untuk bangkit dan duduk di pembaringan. Tubuhnya yang sudah dilumur i dengan param oleh Kiai Danatirta kini merasa agak menjadi segar. “Makanlah” sekali lagi Juwir ing mempersilahkan.Buntal merasa agak malu juga. Tetapi tiba-tiba terasa perutnya yang lapar meronta, justru ketika hidungnya mulai disentuh, oleh asap nasi hangat dan sepotong ikan air kering. Buntal menelan ludahnya. la bukan saja belum makan pagi ini, tetapi kemar in sehari penuh ia juga belum makan. Juwiring bergeser maju. Sambil tersenyum ia bertanya “Kau dapat makan sendir i?“ “Ya, ya. Aku dapat makan sendiri” jawab Buntal terbata- bata. “Tanganmu tidak sakit?” Buntal menggeraktkan tangannya. Sebenarnya lengannya juga merasa sakit. Tetapi ia menggeleng “Tidak. Lenganku tidak sakit” “Kalau begitu makanlah sendiri” Buntal merasa agak malu-malu juga. Seandainya perutnya tidak terasa sangat lapar, ia akan berkeberatan makan sendiri di pembaringan, seperti seseorang yang kecukupan dan dilayani oleh pembantu-pembantunya. Tetapi karena perutnya yang mendesak, akhirnya disenduknya juga nasi dari celing bambu dengan entong tempurung. Dengan sayur dedaunan yang hijau dan sepotong ikan kering, maka ia mulai menyuapi mulutnya yang sakit. Alangkah nikmatnya. Jarang sekali ia sempat makan nasi hangat dengan sepotong ikan air, meskipun ia dapat mencarinya sendiri di sungai. Apalagi apabila perutnya sedang sangat lapar seperti saat itu, setelah meneguk air jahe dengan gula kelapa. “Tetapi harganya terlampau mahal” katanya di dalam hati “wajahku harus menjadi biru pengab dan seluruh tubuhku terasa sakit. Untunglah bahwa aku belum mati diinjak- injak”Demikianlah setelah makan dan minum, tubuh Buntal terasa menjadi semakin segar. Kini ia tinggal berjuang melawan rasa sakit. Tidak lagi melawan rasa lapar pula. Bahkan sejenak kemudian tanpa disadari, Buntal berbaring sambil memejamkan matanya. Lambat laun semuanya tidak dapat diingatnya lagi. Tetapi kini ia tidak pingsan. Ketika Buntal telah tertidur nyenyak maka Juwiringpun meninggalkannya sendiri di dalam bilik itu. Sekali Arum menengoknya juga dari ambang pintu, namun kemudian iapun melangkah pergi sambil menutup pintu itu. Demikianlah, maka semua yang telah terjadi itu, menjadi sebab, bahwa Buntal untuk seterusnya diminta tinggal di rumah Kiai Danatirta. Sebuah padepokan kecil disebuah padukuhan yang subur. Padepokan yang dinamainya Padepokan Jati Aking didekat padukuhan Jatisari. “Bukankah kau tidak mempunyai orang tua lagi?“ bertanya Kiai Danatirta setelah Buntal dapat berjalan-jalan lagi meskipun kekuatannya belumpulih kembali. “Ya Kiai. Aku sudah yatimpiatu” “Jika demikian, kau tidak akan menolak seandainya aku minta kau tinggal untuk seterusnya di padepokan ini” Terasa sesuatu melonjak di hati Buntal. Ia tidak menyangka bahwa ia akan terdampar pada suatu tempat yang terlampau baik buat dir inya, meskipun ia sadar, bahwa untuk seterusnya ia tidak akan diperlakukan seperti pada saat-saat ia masih belum dapat bangkit dan berjalan sendir i. Namun apapun yang akan dilakukan, tinggal di padepokan yang bersih dan sejuk ini pasti akan sangat menyenangkan. “Aku sudah biasa bekerja keras. Seandainya aku disini harus bekerja keras, maka aku tidak akan berkeberatan. Tetapi padepokan ini rasa-rasanya memiliki kesejukan yang tenang“ Buntal bergumamdi dalamhatinya.“Bagaimana menurut pendapatmu?“ Buntal menundukkan kepalanya. Namun terdengar ia menjawab lirih “Aku senang sekali Kiai, apabila aku diperkenankan tinggal disini. Aku memang tidak mempunyai lagi tempat untuk menompangkan diri” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu “Jadi, kemanakah sebenarnya tujuanmu ketika kau bermalam di gubug itu sehingga kau mengalami nasib kurang baik?“ “Aku memang tidak mempunyai tujuan Kiai. Aku berjalan saja menurut langkah kakiku” Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula. Kemudian dimintanya Buntal berceritera tentang dir inya. Dengan singkat Buntal mengisahkan r iwayatnya. Tetapi ia masih tetap melampaui nama-nama paman dan bibinya. Ia tidak ingin menyangkutkan kedua orang itu bersama anak- anaknya pada persoalan apapun juga agar mereka tidak semakin terlibat dalam kesulitan. “Jadi ayah dan ibumu menjadi abdi Katumenggungan?“ “Ya Kiai, Tumenggung Gagak Barong” “Tumenggung Gagak Barong. Aku pernah mengenal nama itu. Tetapi apakah ia sekarang berhubungan dengan orang- orang asing yang mulai banyak berkeliaran di Surakarta?“ Buntal mengangguk lemah. Kiai Danatirta memandang Buntal dengan tatapan mata iba. Seandainya anak itu tidak mendapatkan tempat yang baik, maka hari depannya pasti akan menjadi sangat suram. Banyak sekali didengarnya ceritera tentang anak-anak yang tersesat masuk ke dalam lingkungan orang-orang jahat. Anak yang sebenarnya mempunyai bekal yang baik jasmaniah dan rohaniah, namun karena ia berada di lingkungan yang hitam, akhirnya hati merekapun menjadi hitam pula.Dan kini, selain para penjahat yang berhati kelam, maka Surakarta menghadapi persoalan baru. Persoalan orang-orang yang berhati hitam tetapi berkulit putih. Orang-orang yang bukan saja membentuk kelompok-kelompok kecil yang merampok orang-orang kaya, tetapi orang berhati hitam dan berkulit put ih itu telah membentuk suatu kelompok raksasa yang merampok bukan saja orang-orang kaya, tetapi juga orang-orang miskin. “Buntal” berkata Kiai Danatirta kemudian “Kalau kau memang t idak berkeberatan, baiklah. Tetapi kau harus menyesuaikan dirimu dengan keadaan disini. Setiap orang di padepokan ini harus bekerja sesuai dengan tugas masing- masing. Semua harus bekerja keras. Hanya dengan bekerja keras kita dapat mencukupi kebutuhan kita“ “Ya Kiai. Aku akan berusaha bekerja apa saja yang harus aku kerjakan” “Bagus. Kalau kau memang sudah berbekal tekad di hatimu, maka kau pasti akan dapat melakukannya. Kau akan menjadi kawan Raden Juwir ing” Buntal mengangguk-angguk kecil. Sejak ia melihat untuk pertama kalinya, ia agak tertarik pada bentuk dan ujud jasmaniah Raden Juwiring yang agak berbeda dengan ujud anak-anak padesan. Tetapi ia tidak berani menanyakannya hal itu kepada Kiai Danatirta. Tetapi agaknya orang tua itu mengerti pertanyaan yang tersimpan di hati Buntal, sehingga iapun kemudian berkata “Buntal, Raden Juwir ing tidak berasal dar i padepokan ini atau padukuhan di sekitar padepokan ini. Ia berasal dari kota, dan bahkan ia adalah anak seorang bangsawan. “Bangsawan?“ bertanya Buntal. Tiba-tiba saja wajahnya menegang, sehingga Kiai Danatirta melihat perubahan itu dengan jelas. Karena itu Kiai Danatirta melihat pula sesuatu yang tersirat di dalam hati Buntal.“Apakah kesanmu tentang seorang bangsawan, Buntal?“ Buntal menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut. “Coba katakan, apa kesanmu tentang seorang bangsawan. Katakan seperti yang sebenarnya tersimpan di dalam hatimu. Raden Juwiring tidak duduk bersama kita sekarang, dan aku tidak akan mengatakan apapun kepadanya, apakah kesanmu baik atau buruk” Buntal masih menundukkan kepalanya. “Katakan Kau pasti sudah mengenal Tumenggung Gagak Barong. Kau pasti mengenal keluarganya dan kalau ada, anak- anaknya. Apakah kau mempunyai kesan khusus atau kau menganggapnya bahwa seorang bangsawan tidak ada bedanya dengan orang kebanyakan?“ Buntal masih juga ragu-ragu. Tetapi Kiai Danatirta berkata lebih lanjut “Wajahmu menunjukkan kesan yang lain, Buntal” Buntal tidak dapat ingkar lagi. Karena itu maka jawabnya “Ya Kiai. Aku memang terpengaruh sekali oleh keadaanku selagi aku masih tinggal di Tumenggungan. Pada umumnya seorang bangsawan adalah orang yang keras hati dan menganggap kami, orang-orang kebanyakan, sama sekali tidak berarti di dalam tata kehidupan. Mereka dapat berbuat apa saja atas kami. Dan mereka selalu menganggap kami bersalah” Kiai Danatirta mengangguk. Buntal berusaha untuk mengatakannya dengan hati-hati sekali. “Jadi, apakah kau diperlakukan seperti itu di Katumenggungan, Buntal?“ Buntal menganggukkan kepalanya. “Juga ayahmu?“Sekali lagi Buntal mengangguk. Namun diantara nafasnya yang memburu ia berkata terbata-bata “Terlebih-lebih di saat terakhir” “Dan kau diusirnya? “Ya Kiai” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditepuknya bahu Buntal yang menundukkan kepalanya dalam- dalam “Memang Buntal. Ada bangsawan yang bersikap demikian. Yang merasa dir inya lebih tinggi derajadnya dari kebanyakan orang. Mereka merasa diri mereka keturunan raja-raja yang berkuasa” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Tetapi seperti manusia kebanyakan, dimanapun juga dan di dalam lingkungan apapun juga, ada beberapa perkecualian. Diantaranya adalah Juwiring. Raden Juwiring” Buntal mengangkat wajahnya sejenak, namun wajah itupun kemudian tertunduk kembali. “Raden Juwiring adalah seorang anak muda yang baik. Buntal, meskipun ia lahir dari tetesan darah seorang bangsawan. Dan demikianlah agaknya, bahwa kita dilahirkan dalam lingkungan yang berbeda, tetapi tiada berbeda. Sifat- sifat yang kemudian melekat pada diri kita masing-masing itulah yang membuat kita menemukan bentuk pribadi kita. Dan sifat-sifat itu dipengaruhi oleh, banyak hal diluar diri kita sendiri, dikehendaki atau tidak dikehendaki” Buntal mengerutkan keningnya. Dengan susah payah ia mencoba menangkap maksud Kiai Danatirta. Namun perlahan- lahan ia melihat juga, meskipun samar-samar, maksud dari kata-kata itu. “Karena itu Buntal” berkata Kiai Danatirta selanjutnya “Cobalah untuk mengenal Juwiring sebaik-baiknya tanpa prasangka”Buntal menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Maaf Kiai. Mungkin aku terdorong perasaan dan mempunyai penilaian yang salah terhadap seseorang. Tetapi aku baru saja mengetahui bahwa Raden Juwiring adalah seorang bangsawan” “Dan kau sudah mempunyai bekal anggapan tentang seorang bangsawan, meskipun ia bukan Juwiring. Anggapan itulah yang harus kau nilai. Mungkin kau tidak hanya melihat Tumenggung Gagak Barong saja. Mungkin kau mendengar dari kawan-kawanmu, mungkin dari orang lain tentang sifat seorang bangsawan. Dan semuanya itu membuat bayangan- bayangan yang kelam di dalam hatimu. Namun cobalah, untuk memandang dengan cara lain atas Raden Juwiring yang kebetulan juga seorang bangsawan” Sekali lagi Buntal mengangguk-angguk. Jawabnya lirih “Ya Kiai. Aku akan mencoba untuk memandangnya sebagai Raden Juwiring itu sendiri, tanpa pengaruh prasangka yang sudah membekas di dalam hati” Kian Danatirta tersenyum. Ternyata Buntal bukan anak yang terlampau dungu meskipun ia hanya anak seorang abdi. Tetapi seperti yang dikatakannya sendiri, semua unsur manusiawi dapat ditemuinya disetiap kelahiran, di dalam lingkungan yang berbeda tetapi tidak berbeda itu. “Kau sudah berpijak pada alas yang benar Buntal. Raden Juwiring hanya kebetulan saja lahir disela-sela lingkungan bangsawan. Kau harus menilainya sebagai unsur badaniah. Tetapi tidak sebagai unsur rohaniah” Buntal menjadi agak bingung. Namun Kiai Danatirta berkata “Kenang sajalah kata-kataku. Kalau kau masih belum jelas sekarang, pada suatu saat kau akan dapat menilainya. Dalam pada itu, sikapmu sendiripun sudah menjadi semakin matang”“Ya Kiai” sahut Buntal. Kepalanya masih tertunduk dan seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, sebagian dari persoalan itu baru dapat diingatnya saja di dalam kepalanya. Tetapi ia masih belum dapat memecahkannya. “Nah, sejak sekarang kau dapat berbuat sesuatu sebagai seorang kawan yang paling dekat dengan Raden Juwiring, karena di padepokan ini t idak ada orang lain kecuali kalian berdua, anakku Arum, dan beberapa orang pembantu yang agaknya dunianya sudah tidak sesuai lagi dengan Raden Juwiring, karena mereka pada umumnya sudah berumur jauh lebih tua” Buntal menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Terima kasih atas kesempatan ini Kiai” “Cobalah menyesuaikan dir i, hidup djpadepokan kecil yang sepi ini” Tetapi suasana di padepokan kecil itu ternyata sangat menarik bagi Buntal. Ia merasa jemu hidup di dalam kebisingan rumah Tumenggung Gagak Barong. Derap kuda dan kereta yang hilir mudik. Bentakan-bentakan yang keras dan menyakitkan hati. Kesibukan yang tidak pernah selesai, di dapur, di halaman dan dimana saja. Sejak matahari terbit sampai matahari terbenamsetiap orang harus berbuat sesuatu dalam hiruk pikuk yang menjemukan. Menggosok tiang-tiang pendapa yang berukir dan bersungging halus, membersihkan lantai yang sudah bersih. Menjatahkan diri dan duduk bersila dimanapun juga mereka bergapasan dengan Raden Tumenggung. Dan segala macam pekerjaan yang gelisah. Berbeda dengan keadaan di padepokan ini. Bukan berarti bahwa setiap orang di padepokan ini hanya sekedar bermalas- malasan. Tetapi kerja yang dilakukan justru membawa ketenteraman di hati. Bekerja di antara dedaunan yang hijau segar. Di dalam silirnya angin dan desir ranting-ranting yang bergerak lembut. Di kejauhan terdengar suara tembang yangngelangut dibarengi dengan suara seruling gembala di rerumputan. Demikianlah maka Buntal merasa kerasan tinggal di padepokan itu. Dari hari ke hari ia mulai mengenal Juwiring lebih dalam. Selain itu juga Arum. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, sebenarnyalah bahwa Juwiring mempunyai sifat dan ciri-cir i yang berbeda dari kebanyakan bangsawan yang pernah dikenalnya. Raden Juwiring ternyata tidak memandang orang lain jauh lebih rendah dari dirinya. Ia menganggap setiap orang saudaranya. Sedangkan Arum adalah seorang gadis yang berhati lembut. Kadang-kadang masih terucapkan olehnya, penyesalan yang dalam, justru karena ia berteriak di saat-saat mereka bertemu untuk pertama kali. “Kau tidak sengaja mencelakakan aku” berkata Buntal. “Aku hanya terkejut sekali waktu itu. Aku tidak menyangka bahwa ada orang lain diatas gubug sepagi itu” Buntal tersenyum. Bahkan kemudian ia berkata “Jika tidak demikian, maka aku tidak akan mendapat kesempatan tinggal di padepokan ini” Arumpun tersenyum pula. Katanya “Alangkah senangnya kalau kau datang ke rumah ini tanpa biru pengap seperti itu” “Alangkah senangnya. Tetapi itulah yang terjadi” Keduanya tertawa. Tawa yang segar di padepokan yang tenteram. Namun demikian ada sebuah teka-teki bagi Buntal yang masih belum terjawab. Tetapi ia tidak dapat menanyakannya kepada siapapun karena keseganannya. “Kenapa Raden Juwiring itu berada di padepokan ini?” Tetapi Buntal selalu menggelengkan kepalanya sambilbergumam kepada diri sendiri “Ah, itu bukan persoalanku. Ia sudah berada disini. Dan ia bersikap baik kepadaku” Dengan demikian maka anak muda yang berada di padepokan itu berhasil menyesuaikan dir i mereka masing- masing. Bukan saja Buntal dan Juwir ing yang sedikit lebih tua daripadanya, tetapi juga Arum. Tetapi ternyata bahwa mereka tidak saja harus bekerja keras di sawah dan ladang setiap hari. Ada sesuatu yang Baru bagi Buntal. Di padepokan itu Raden Juwiring tidak saja hidup sederhana seperti kehidupan orang kebanyakan, tetapi ia juga mempelajari sesuatu dari Kiai Danatirta. Mula-mula Buntal hanya diperkenankan menyaksikan. Di tempat yang tertutup Raden Juwiring mempelajar i ilmu olah kanuragan. Ilmu ketangkasan badaniah dan tata bela diri. “Menarik sekali” berkata Buntal di dalam hatinya. Tetapi ia tidak berani mengatakannya kepada siapapun. Namun setiap kesempatan yang didapatnya untuk menyaksikan latihan- latihan olah kanuragan. Buntal merasa beruntung sekali. Agaknya Kiai Danatirta melihat minat yang begitu besar tersirat di wajah Buntal yang sengaja diperkenankannya melihat latihan-latihan itu. Bahkan, pada suatu saat, tanpa disadari oleh Buntal, Kiai Danatirta melihat anak itu menirukan gerak-gerak yang dilihatnya pada latihan-latihan Di tempat tertutup itu. “Buntal” berkata Kiai Danatirta kepada Buntal yang dipanggilnya menghadap “Apakah kau tidak jemu melihat latihan-latihan bagi Raden Juwiring itu?“ Buntal mengangkat wajahnya. Tampak sesuatu tersirat di wajah itu. Namun kemudian wajah itu tertunduk. Perlahan-lahan terdengar Buntal menjawab “Tidak Kiai. Aku senang sekali melihatnya”“Raden Juwiring telah agak lambat mulai dengan penyadapan ilmu olah kanuragan. Tetapi aku masih berpengharapan, bahwa ia akan segera maju dan menguasai ilmu yang aku berikan kepadanya” Buntal hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya saja. “Buntal“ suara Kiai Danatirta menjadi dalam “Apakah kau juga berminat untuk ikut mempelajari ilmu semacam itu?“ Sekali lagi Buntal mengangkat wajahnya. Dari sorot matanya, Kiai Danatirta melihat gejolak di dada anak muda itu. “Apakah kau juga ingin?“ ulang Kiai Danatirta. “Sebenarnyalah Kiai. Tetapi aku tidak berani mengatakannya” Kiai Danatirta tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia berkata “Aku memang sudah menduga. Dan aku tidak berkeberatan apabila kau tidak saja mengawani Raden Juwiring setiap hari, tetapi juga mengawaninya menyadap ilmu kanuragan itu” “Terima kasih Kiai. Apabila aku diperkenankan, aku berterima kasih sekali” Kiai Danatirta menepuk bahu Buntal. Kalanya “Tetapi olah kanuragan bukan sekedar suatu permainan, Buntal. Bukan seperti permainan jirak, sembunyi-sembunyian di bulan terang. Juga tidak serupa dengan binten dan bantingan di pasir tepian sungai. Meskipun binten dan bantingan juga memer lukan ketangkasan, tetapi itu sekedar permainan. Tidak ada cara lain yang pernah dipergunakan dalam binten selain cara-cara yang sampai sekarang berlaku. Juga bantingan. Siapa yang berada di bawah dalam hitungan tertentu la akan kalah. Tidak boleh menggigit, tidak boleh menggelitik dan menarik rambut”Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tetapi ilmu olah kanuragan memer lukan waktu untuk mengerti dan apalagi mendalaminya” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Apakah kau dapat mengira-ngirakan, berapa waktu yang kau per lukan untuk mempelajari ilmu itu?“ Buntal tidak menyahut. “Kau memerlukan waktu bertahun-tahun Buntal. Ya, bertahun-tahun. Tetapi kau dapat melakukannya bertahap. Setapak demi setapak. Dan setiap langkah, merupakan kebulatan-kebulatan tertentu” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Apakah kau sanggup?“ Buntal memandang Kiai Danatirta sejenak, lalu “Ya Kiai. Aku sanggup” “Apakah kau sudah berpikir baik-baik” “Sudah Kiai” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Ia tahu bahwa sebenarnya Buntal memang ingin sekali melakukannya. Tetapi seperti yang dikatakan, ia tidak berani mengemukakannya kepada siapapun. “Kalau begitu baiklah. Aku memberi kesempatan kepadamu untuk berlatih olah kanuragan. Tetapi kau harus bersungguh- sungguh. Di dalam tiga bulan, aku akan melihat kemajuanmu. Kalau kau t idak berhasil mencapai taraf yang sewajarnya, maka sayang sekali, kau tidak akan dapat meneruskannya” Buntal memandang Kiai Danatirta sejenak. Kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil. Namun demikian terbayang di wajahnya, tekad yang mantap untuk ikut serta berlatih dir i, menyadap ilmu olah kanuragan itu.“Kau masih belum jauh ketinggalan dari Raden Juwiring” berkata Kiai Danatirta selanjutnya “Aku akan mencoba menyesuaikan ilmu yang bersama-sama akan kalian pelajari” “Ya Kiai” jawab Buntal. Terasa sesuatu melonjak di dadanya. Ia sama sekali t idak bermimpi bahwa ia akan mendapat kesempatan yang baik itu. “Tetapi Buntal. Ada beberapa pantangan dan kewajiban yang harus kau lakukan dengan tertib, apabila kau mulai mempelajari ilmu olah kanuragan” berkata Kiai Danatirta selanjutnya “Apakah kau akan bersedia melakukannya” Buntal menganggukkan kepalanya. “Buntal. Kalau sekali kau mencecap ilmu dari padepokan ini maka untuk seterusnya kau tidak akan pernah dapat melepaskan dir i dari kewaj iban-kewaj iban dan pantangan- pantangan itu. Seumur hidupmu. Kau mengerti arti dari tanggung jawab itu?“ Buntal menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya. Katanya “Aku mengerti Kiai” “Baiklah. Aku akan mencobanya. Tetapi seandainya kau gagal setelah tiga bulan, namun pantangan dan kuwaj iban itu masih akan tetap berlaku bagimu sepanjang hidupmu, kecuali apabila kemudian kau berniat melepaskan dir i dari keluarga kami untuk seterusnya pula, serta menanggung segala akibatnya” Buntal masih mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dengarlah baik-baik” berkata Kiai Danatirta kemudian “pantangan lahiriah yang dapat aku beritahukan sebagai salah satu contoh adalah, kau harus merahasiakan bahwa di padepokan ini telah dilakukan penurunan ilmu olah kanuragan, sehingga dengan demikian kau tidak boleh menunjukkan kemampuanmu dimanapun juga apabila kau tidak terpaksasekali. Dan kau harus menghindarkan kesan, bahwa ilmu yang kau miliki itu kau dapat dari padepokan ini” Buntal menganggukkan kepala. “Kemudian, sebenarnyalah bahwa semua kemungkinan itu sumbernya adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Kau harus berjanji, bahwa ilmu yang kau dapat itu, sejauh-jauh mungkin kau pergunakan untuk kemanusiaan dan mencari ridho dari Tuhan Yang Maha Kuasa“ Buntal termangu-mangu sejenak. “Maksudku, bahwa dengan ilmu itu kelak, kau harus berusaha berjalan dalam kebenaran” “O“ Buntal mengangguk- angguk “Ayahku dahulu juga berkata begitu. Aku harus pasrah diri kepada Tuhan” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Katanya “Jadi ayahmu juga berkata begitu?“ “Ya Kiai” Kiai Danatirtapun mengangguk. Ternyata meskipun ayah Buntal sekedar seorang pelayan, tetapi ia memperhatikan sekali kepada anaknya, bukan saja hidup jasmaniahnya, tetapi juga hidiup rohaniahnya. Tentu saja sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya. Demikianlah, maka kesempatan yang diberikan kepada Buntal itu sangat menggembirakan Raden Juwiring. Mempelajari olah kanuragan seorang diri, terasa kurangmenggairahkan. Tetapi berdua, agaknya suasananya akan menjadi lebih hidup. Keduanya dapat saling mengisi kekurangan-kekurangan yang ada pada diri masing-masing Sedangkan Kiai Danatirta sendiri akan mendapat bahan pertimbangan dari perkembangan kedua mur id-mur idnya itu. Namun demikian, tidak seorangpun yang mengetahui bahwa di padepokan kecil itu dua orang anak-anak muda sedang menerima ilmu olah kanuragan. Karena tidak seorangpun yang tinggal di padukuhan itu yang mengetahui, bahwa Kiai Danatirta adalah seorang yang mumpuni. Mereka hanya mengenalnya sebagai seorang tua yang baik, yang mempunyai pengetahuan yang luas dan menjadi tempat untuk mendapatkan nasehat dan petunjuk-petunjuk apabila di dalam perjalanan hidup seseorang dijumpai kesulitan. Namun tidak seorangpun yang menyangka, bahwa dibalik wadagnya yang tampaknya lemah, Kiai Danatirta memiliki ilmu yang tinggi dalam olah kanuragan. Seperti yang dijanjikan kepada diri sendiri, ilmu itu hanya akan diberikan kepada mereka yang sesuai di hatinya. Dan yang sesuai baginya adalah anak-anak muda yang lembah manah. Anak-anak muda yang rendah hati dan jujur. Terlebih- lebih adalah anak-anak muda yang mengenal dirinya sendiri sesuai dengan tempatnya di dalam alam semesta, serta hubungan yang akrab antara alam yang besar dan alam kecil di dalam putaran waktu dan kejadian, dalam ikatan sebab dan akibat, yang berporos pada suatu sumber gerak yang Maha Mengetahui. Dan pilihan Kiai Danatirta pertama-tama jatuh pada seorang keturunan bangsawan yang sedang berprihatin. Raden Juwiring. Namun kemudian ia melihat sesuatu yang tidak kalah bobotnya yang terdapat di dalam diri anak muda yang sederhana, yang diketemukannya dengan cara yang aneh. Buntal.Meskipun demikian Kiai Danatirta cukup berhati-hati la t idak segera menuangkan pokok-pokok ilmu yang sebenarnya dari ilmunya. Yang sebenarnya diberikan dalam bulan-bulan pertama sampai ketiga adalah sekedar olah kanuragan yang pada umumnya dikuasai oleh anak-anak muda dan apalagi prajurit-prajurit, yang tidak mempunyai ke khususan sama sekali. Namun demikian, mur id-mur idnya itu seakan-akan sudah harus bekerja berat dan berlatih mati-matian. Sehingga dengan demikian Kiai Danatirta dapat menilai, apakah ia akan dapat melanjutkan atau harus diambil keputusan lain. Kiai Danatirta tidak mau mengulangi kesalahannya lagi. Bagaimanapun juga, sebagai manusia ia pernah khilaf. Orang yang mula-mula dapat menumbuhkan kepercayaannya, ternyata telah menimbulkan banyak kesulitan padanya, sehingga ia harus meninggalkan padepokannya yang lama dan tinggal di padepokannya yang baru ini. Orang yang pertama kali berhasil memasuki perguruannya ternyata bukanlah orang yang diharapkannya. Kiai Danatirta selalu menghela nafas dalam-dalam apabila ia terkenang masa-masa lampau yang pahit itu. Tetapi seluruh kesalahan itu tidak dapat aku timpakan padanya desisnya setiap kali “Anakku juga ikut bersalah” Dan terbayang kembali hubungan yang sangat akrab antara muridnya itu dengan anak puterinya. Dan saat itu, Kiai Danatirta yang masih mempergunakan nama lain, sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan ia mengharap bahwa mur idnya itu kelak akan menjadi pewaris ilmunya, sekaligus menantunya. Tetapi ternyata harapan itu sama sekali tidak dapat terwujud. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Malapetaka. Ternyata puterinya sama sekali tidak bermaksud hidup bersama muridnya. Hubungan yang akrab itu adalah sekedar hubungan antara orang serumah. Sejauh-jauhnya hubunganantara kakak beradik. Ternyata puterinya telah menjatuhkan pilihan atas cintanya kepada orang lain. Kepada anak muda yang lain. Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Peristiwa itu selalu mengingatkannya, bahwa ia adalah seorang manusia biasa. Seorang manusia yang lemah, jasmaniah dan rohaniah. “Tuhan telah menegur aku dengan cara yang sangat keras “ keluh Danatirta “Aku waktu itu memang terlampau bangga atas kelebihanku dari orang-orang kebanyakan. Tetapi Tuhan telah menunjukkan kelemahanku. Kelemahan yang tidak dipunyai oleh orang lain yang aku anggap jauh lebih lemah daripadaku” Orang tua itu menar ik nafas dalam-dalam, dan ia melanjutkannya di dalam hati “ternyata yang lemah itu memiliki kekuatan, dan yang kuat itu memiliki kelemahan. Mungkin aku dapat menunjukkan kelebihanku dalam olah kanuragan, tetapi tidak dalam menuntun anak. Orang yang paling lemah di dalam olah kanuragan dapat menuntun anaknya sampai ke puncak kemampuan untuk sesuatu bidang unsur hidup manusiawi. Tetapi aku tidak” Orang tua itu mengelus dadanya dengan telapak tangannya, seakan-akan ingin menekan gejolak yang meronta-ronta di dalamdadanya itu. Terbayang kembali betapa anak perempuannya itu menolak segala nasehatnya, dan atas kehendaknya sendiri, ia telah dilarikan oleh laki- laki yang dicintainya. Namun itu bukan peristiwa yang terakhir. Muridnya yang menjadi panas tanpa setahunya telah mencari kedua anak- anak muda itu. Betapa pahitnya ketika ia kemudian mengetahui bahwa kedua laki- laki muda itu mati sampyuh di dalam satu perkelahian yang jantan. Keduanya mempergunakan keris dengan warangan yang kuat, dan kedua-duanya ternyata telah tergores oleh keris itu, sehingga jiwa mereka t idak tertolong lagi.Dengan demikian, maka tidak ada yang dapat dilakukan sebagai seorang ayah untuk mengambil anaknya kembali, anaknya yang justru telah mengandung. Hidup yang pahit itu harus ditanggungkannya. Ketika cucunya lahir, maka ibu yang selalu dibebani oleh perasaan bersalah itu tidak dapat tertahan hidup lebih lama lagi. Anak perempuan Kiai Danatirta yang melahirkan anak perempuan itupun kemudian meninggal. Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Cucunya itulah yang kini bernama Arum. Tetapi tidak seorangpun yang mengetahui bahwa Arum adalah cucunya. Di tempatnya yang baru itu. Sejak ia membuka padepokan kecil yang dinamainya seperti hatinya yang kering, padepokan Jati Aking, di sebelah padukuhan Jatisari, ia sudah menganggap Arum sebagai pengganti anaknya yang telah hilang dari hatinya itu. Dengan sepenuh hati Kiai Danatirta mendidik cucunya itu, agar ia dapat menebus kelengahannya selagi ia momong anaknya perempuan, sehingga terjadi peristiwa yang sangar membekas di hatinya. Namun tiba-tiba Kiai Danatirta itu bagaikan terlonjak di tempat duduknya. Dengan suara gemetar ia berkata kepada diri sendiri “Sekarang aku telah menyediakan minyak itu didekat api. O, alangkah bodohnya aku ini. Di padepokan ini sekarang ada dua orang anak muda. Aku sendirilah yang menempatkan mereka disini. Di padepokan ini, bersama-sama dengar Arum” Kesadaran itu ternyata telah mencemaskan hati Kiai Danatirta. Sekali-sekali terbayang wajah Raden Juwiring yang selalu dihiasi dengan senyum yang menawan. Kemudian wajah Buntal yang sederhana tetapi bersungguh-sungguh penuh pengertian atas alas keprihatinan.Kiai Danatirta menar ik nafas dalam-dalam. Keduanya telah terlanjur berada di padepokannya. Dan keduanya baginya adalah anak muda yang baik. “Suatu masa pendadaran bagiku“ berkata Kiai Danatirta, lalu “sampai umurku setua ini, aku masih harus menjalani ujian yang berat. Mudah-mudahan kali ini aku dapat mengatasinya. Dan mudah-mudahan kedua anak-anak muda ini mempunyai perhatian yang berbeda dari muridku yang dahulu. Atau tergantung kepadaku, bagaimana caraku mengarahkan hubungan mereka bertiga” Namun kesadaran itu telah membuat Kiai Danatirta menjadi berhati-hati. Dan ia merasa bersyukur atas kenangan yang selalu membayang, sehingga seakan-akan ia selalu dihadapkan pada sebuah cermin untuk selalu melihat cacat di wajahnya. Dan setiap kali Kiai Danatirta selalu berkata, bukan saja kepada diri sendiri, tetapi juga kepada murid-mur idnya “Di dalam kekuatan terdapat kelemahan, dan di dalam kelemahan terdapat kekuatan. Tetapi pada pekan-pekan pertama ia mulai member ikan latihan kepada muridnya itu, telah timbul suatu persoalan baru bagi Kiai Danatirta. Anaknya, Arum minta kepadanya dengan sepenuh hati, bahkan sambil merengek, agar ia diperkenankan ikut mempelajari olah kanuragan. “Kau seorang gadis” berkata ayahnya “Tidak menjadi kebiasaan seorang gadis mempelajari olah kanuragan” ”Tetapi aku ingin sekali ayah. Biarlah orang lain tidak. Kalau ayah mau menurunkan ilmu itu kepada orang lain, kenapa tidak kepadaku? Kepada anaknya, meskipun aku seorang perempuan?“ “Arum. Mempelajari ilmu kanuragan bukanlah sekedar menjadi seorang yang tangguh. Tetapi sesuai dengan wadag seorang Laki-laki, ia pantas pergi dari satu tempat ke tempatyang lain untuk mengamalkan ilmunya. Tetapi tidak bagi seorang gadis. Tidak pantas sama sekali, dan bahayanya jauh lebih dahsyat dari seorang laki-laki” “Apakah seorang laki-laki tidak dapat menjumpai bahaya? Apakah seorang Laki- laki tidak akan pernah menjumpai lawan yang melampauinya, tetapi selalu demikian bagi perempuan? Dan perempuan selalu tidak akaln dapat melepaskan diri dari bahaya?“ “Bukan begitu Arum. Bahaya yang paling besar bagi seorang laki- laki adalah maut. Tetapi tidak bagi perempuan. Kau mengerti? Masih ada bencana yang lebih dahsyat dari maut, justru karena ia terlepas dari maut itu” Arum menundukkan kepalanya, la mengerti maksud ayahnya. Perempuan memang mempunyai kelemahannya sendiri. Mungkin dalam sebuah perjalanan ia bertemu dengan orang yang tidak dapat dikalahkannya. Tetapi orang itu tidak membunuhnya. Dan karena justru ia tidak dibunuh itulah ia akan jatuh ke dalam neraka yang lebih jahat dari mati. Tetapi tiba-tiba saja Arum mengangkat wajahnya sambil menyahut dengan serta meria “Aku akan membunuh dir i di dalam keadaan yang demikian” “Arum” suara Kiai Danatirta merendah “bunuh diri bukannya penyelesaian yang baik. Justru seorang yang bunuh diri akan menjumpai persoalan tanpa selesai, karena persoalannya beralih menjadi persoalan dan pertanggungan jawab kepada Tuhan Yang Maha Penyayang. Jelasnya bunuh diri apapun alasannya adalah perbuatan dosa” “Baiklah, aku tidak akan membunuh diri. Tetapi aku akan memilih melawan sampai mati seperti Laki- laki. apabila kebetulan saja aku mengalami perist iwa yang pahit itu” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Hati anak perempuannya itu memang keras, sekeras hati ibunya.Dengan demikian maka kecemasan mulai merayapi dada orang tua itu. Kalau pada suatu saat anaknya ini tergelincir, maka ia akan mengeraskan hatinya di dalam kesesatannnya itu seperti ibunya. Karena Kiai Danatirta tidak segera menjawab, maka Arum mendesaknya “Kenapa ayah diam saja?“ “Baiklah aku memikirkannya Arum” “Kenapa harus dipikirkan?“ “Tunggulah sehari dua hari. Aku akan menimbang baik dan buruknya” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Tetapi kenapa kau tiba-tiba saja ingin ikut serta mempelajari olah kanuragan? Kenapa t idak sebelum ini?“ “Aku tidak tahu ayah. tetapi memang tiba-tiba saja aku ingin mempelajar inya” “Baiklah. Baiklah. Aku akan mempertimbangkannya” “Apa yang harus dipertimbangkan? Aku menyatakan keinginanku mempelajarinya. Bukan untuk dipertimbangkan. Akulah yang bermaksud berbuat dan aku akan berbuat” Dada Kiai Danatirta berdesir mendengar jawaban itu. Jawaban itu mirip benar dengan jawaban ibunya ketika ia mencoba mencegahnya berhubungan dengan seorang Laki-laki diluar padepokannya. Ibu Arum itu menjawab “Ayah tidak perlu mempersoalkannya. Akulah yang akan kawin. Bukan ayah. Karena itulah, akulah yang memutuskannya” Pada saat itu. hampir saja ia menampar mulut anaknya. Untunglah bahwa ia masih dapat mengendalikan dirinya, meskipun saat itu ia mengancam “Kalau laki- laki itu masih datang lagi kepadamu, aku bunuh dia” Tetapi yang terjadi justru anaknya dibawa lari, Dan mur idnyalah yang membunuh laki- laki itu sampyuh dengan kematian sendir i. Dua j iwa telah menjadi korban.Sejenak Kiai Danatirta merenung. Namun karena ayahnya tiba-tiba saja memandang kekejauhan, dan bahkan terbayang perasaan yang pedih di matanya tanpa diketahui sebab yang sebenarnya, Arum menjadi berdebar-debar. Ia menyangka, bahwa kata-katanya lelah menyakiti hati ayahnya. Sama sekali tidak terbayang di kepalanya, bahwa ayahnya yang sebenarnya adalah kakeknya itu sedang membayangkan suatu masa lampau yang panjang. “Ayah” tiba-tiba Arum berjongkok di hadapan ayahnya yang duduk di bibir amben “Kenapa ayah merenung?“ “O” Kiai Danatirta terkejut. Kemudian iapun tersenyum sambil berkata “Tidak apa-apa Arum” “Apakah kata-kataku melukai hati ayah?“ Kiai Danatirta menarik nafas dalam. Jawabnya “Tidak Arum. Tetapi ayah ingin anaknya menuruti kata-katanya. Tentu saja, ayah tidak selalu benar. Tetapi kadang-kadang seorang tua, betapapun bodohnya, mempunyai firasat tentang anak- anaknya” “Maafkan aku ayah” suara Arum merendah “Aku tidak akan memaksa ayah. Aku akan menurut segala nasehat ayah. Aku hanya sekedar menyatakan keinginan hatiku. Tetapi terserahlah kepada ayah” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Inilah bedanya Arum dengan ibunya. Ternyata Arum mempunyai kelembutan di samping kekerasan hatinya. Karena Kiai Danatirta tidak segera menjawab, maka Arumpun berkata pula “Apakah ayah marah kepadaku?““O, tidak. Tidak Arum. Aku t idak marah” “Tetapi ayah diam saja “ “Aku sedang berpikir” “Ayah tidak usah memaksa diri untuk mengambil keputusan sekarang. Aku akan menunggu” Kiai Danatirta memandang Arum sejenak. Kemudian sekali lagi ia tersenyum “Ya. Kau memang harus menunggu” Meskipun Arum kemudian meninggalkan Kiai Danatirta, namun Kiai Danatirta masih tetap dibebani oleh persoalan itu. Dicobanya untuk menilai untung ruginya. Permintaan Arum baginya merupakan suatu persoalan yang memang baru. Ibunya dulu sama sekali tidak tertarik pada olah kanuragan. Bahkan sebagian hidupnya telah dihabiskannya bekerja di sawah dan di dapur. Dan sebagian yang lain untuk dengan diam-diam menemui laki- laki yang kemudian melarikannya. “Apakah ada baiknya aku memberi kesempatan kepada Arum untuk mempelajari olah kanuragan?“ pertanyaan itu mulai merayap di hatinya “Ia akan mempunyai suatu perhatian khusus di dalamhidupnya” Namun demikian, Kiai Danatirta masih selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Ia memang pernah mendengar atau membaca di dalam kitab-kitab, bahwa pernah ada raja-raja perempuan di Tanah Jawa ini. Pahlawan-pahlawan perempuan di ceritera pewayangan dan prajurit-prajurit perempuan. Tetapi lingkungannya sendiri belum pernah melahirkan seorang perempuan yang mumpuni di dalamolah kanuragan. “Aku akan melihat kemungkinan-kemungkinannya” berkata Kiai Danatirta kemudian kepada dir i sendiri. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang masak, maka Kiai Danatirta mampu menilai setiap unsur gerak dari ilmunya dari beberapa segi. Dan itulah sebabnya, maka sejak ia mulai mempertimbangkan kemungkinan memberikan ilmukanuragan kepada Arum Kiai Danatirta mulai melakukan penilaian lebih saksama lagi atas ilmunya. Di malam hari, ketika seisi padepokan itu sudah tidur, maka masuklah ia ke dalam bilik tertutupnya. Diamatinya kembali setiap tata gerak dari yang paling sederhana sampai kepada yang paling sulit. Tiba-tiba Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menemukan beberapa unsur gerak yang dapat disesuaikan dengan kemampuan kodrati seorang perempuan. Tetapi Kiai Danatirta masih belum puas dengan penemuannya yang hanya sekedar unsur-unsur gerak yang terselip di dalam keseluruhan tata gerak, sehingga tidak merupakan suatu kebulatan yang utuh. Namun justru karena itu, maka Kiai Danatirta ternyata telah memulai dengan suatu kerja yang baru. Menyusun ilmu kanuragan khusus untuk seorang perempuan, namun yang tidak kalah dah-syahnya dari ilmu yang diperuntukkannya bagi seorang laki-laki berdasarkan perbedaan wadagnya. Setiap kali Kiai Danatirta berletnu dengan Arum, tampaklah pertanyaan tersirat di wajah anak itu. Tetapi Kiai Danatirta masih belum memberikan jawaban. Dan betapapun gelisahnya dada gadis itu, namun Arum juga tidak bertanya kepada ayahnya. Dalam pada itu. Raden Juwiring dan Buntal masih teras melakukan latihan-latihan di bawah tuntunan Kiai Danatirta. Meskipun masih merupakan gerak-gerak dasar dan bersifat umum, tetapi kedua anak-anak muda itu merasa bahwa mereka harus bekerja keras dan dengan penuh kesungguhan. Ternyata kedua anak-anak muda itu member ikan kepuasan kepada Kiai Danatirta. Keduanya adalah anak-anak yang baik. Dan keduanya mempunyai tubuh yang memungkinkan bagi mereka untuk melakukan latihan- latihan yang berat seperti yang dikehendaki oleh Kiai Danatirta.Namun di malam hari, apabila padepokan itu sudah sepi, Kiai Danatirta masih berada dibilik tertutup itu sendiri. Dengan tekun ia mematangkan bentuk baru dari ilmunya, meskipun isinya tidak berbeda. Pada suatu malam yang sepi, Arum terkejut ketika ia mendengar pintu biliknya bergerit. Dengan serta merta ia bangkit dan duduk di pembaringannya. Namun gadis itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat ayahnya berdiri dimuka pintu. “Apakah kau sudah tidur Arum?“ Arum menggelengkan kepalanya “Belum ayah. Udara panas sekali sehingga aku tidak dapat tidur” Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Kalau kau masih belum ingin tidur, kemarilah Marilah kita duduk diluar sejenak, untuk menyegarkan badan” Arum mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lagi. iapun segera bangkit berdiri dan membenahi pakaiannya. Kemudian diikutinya ayahnya melangkah keluar melalui pintu pringgitan melintasi pendapa. Arum menarik nafas. Ayahnya itupun kemudian duduk di tangga pendapa. “Disini tidak begitu panas” berkata ayahnya. “Ya ayah” “Duduklah disini“ Arumpun kemudian duduk di samping ayahnya. “Arum” suara ayahnya menjadi dalam “Apakah kau masih tetap pada keinginanmu?“ “Apa ayah?“ bertanya Arum. “Olah kanuragan?““O. Ya ayah. Aku hampir tidak sabar menunggu jawaban ayah. Aku kira ayah sudah melupakannya, atau sengaja membiarkan saja persoalan itu” “Kenapa kalau begitu?“ “Aku tidak mau ayah. Aku harus mendapatkan ilmu seperti orang lain di padepokan ini, meskipun aku perempuan” “Bagaimana kalau ayah berpendirian lain?“ “Tidak. Ayah tidak akan berpendirian lain. Aku memer lukannya. Kalau aku tidak minta kepada ayah, lalu kepada siapa?” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Inilah sifat Arum yang sebenarnya. Sekeras sifat ibunya. Namun Kiai Danatirtapun kemudian berkata “Jadi kau telah mencabut pendir ianmu itu?“ “Pendirian yang mana? Aku tidak pernah mencabut sikap yang telah aku tentukan” “Arum” berkata ayahnya “Bukankah kau mengatakan waktu itu kepada ayah, bahwa kau menyerahkan semuanya kepadaku. Apakah aku akan mengij inkan atau tidak? Bukankah kau tidak akan memaksa ayah dan menurut segala nasehat ayah” “O“ kepala gadis itupun tertunduk. Perlahan-lahan ia berdesis “Maafkan ayah. Aku memang tidak akan memaksa ayah dan aku akan menurut segala kehendak ayah” Kiai Danatirta menar ik nafas dalam-dalam. Di samping sifat-sifatnya, Arum telah berhasil menguasai dir inya sendiri meskipun kadang-kadang terlepas. Tetapi untuk seterusnya, ia harus berhati-hati, agar Arum tetap dapat memelihara keseimbangan itu. Bahkan agar ia semakin dekat dengan penguasaan diri tanpa memanjakan perasaannya. Dan inilah kelebihan Arum dar i ibunya. Melihat Arum menundukkan kepalanya dalam-dalam denganpenuh kecewa Kiai Danatirta menjadi iba. Karena itu maka katanya “Bagus Arum. Kau adalah anak yang baik. Kau akan tetap menurut nasehat ayah dan tidak akan memaksa. Bukankah begitu?” “Ya ayah” suara Arum dalam sekali. Bahkan hampir t idak terdengar, karena Arum sedang berusaha untuk menahan air matanya yang telah memanasi pelupuknya. Tetapi tiba-tiba ia terperanjat ketika ayahnya berkata “Arum. Tetapi bukankah aku belum mengatakan keputusanku tentang permintaanmu?“ Arum mengangkat wajahnya. Sepercik harapan membayang di wajahnya. Tanpa sesadarnya ia bertanya “Jadi maksud ayah?“ Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berkata “Arum. Sebenarnya memang kurang laj im seorang gadis mempelajari olah kanuragan. Namun karena kau adalah anakku, maka aku telah mencoba untuk menyingkirkan kejanggalan itu dari hatiku” Sebelum Kiai Danatirta melanjutkan kata-katanya, Arum telah melonjak dan berlutut di hadapan ayahnya sambil berkata “Terima kasih ayah. Terima kasih” Sebuah senyum yang cerah membayang di bibirnya, meskipun di matanya secercah air telah membasahi pelupuknya. Namun sebenarnya Kiai Danatirta mempunyai kepentingan yang. lain pula. la ingin mempergunakan keinginan Arum untuk mempelajari ilmu kanuragan itu sebagai cara untuk menghindarkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak dikehendaki, justru karena di padepokan itu sudah terlanjur terdapat dua orang anak-anak muda.Demikianlah, maka Arum merasa bahwa dadanya menjadi terlampau lapang. Keinginannya akan terwujud. Bukan saja laki- laki yang boleh menyadap ilmu kanuragan, tetapi ayahnya kini sudah memperkenankannya untuk ikut serta. “Tetapi” berkata ayahnya “Kau harus tetap seorang gadis Arum. Kau harus tetap berlaku sebagai seorang gadis. Dan kau harus tetap menunjukkan sifat-sifatmu di antara kawan- kawanmu. Kau tidak boleh menunjukkan perubahan apapun yang terjadi pada dirimu, seandainya kelak kau berhasil menguasai ilmu kanuragan ini” “Aku berjanj i ayah” “Dan kau tidak pernah ingkar janji?“ Arumtersenyum. Tetapi ia tidak menyahut. Dalam pada itu, maka Arum tidak sabar lagi menunggu hari-hari berikutnya. Ia ingin segera mulai. Ia ingin segera mempelajari ilmu yang selama ini hanya dapat dilihatnya. Tetapi ayahnya masih belum memulainya, meskipun beberapa hari telah lewat. “Apakah ayah hanya sekedar menyenangkan hatiku saja” berkata Arum di dalam hatinya “Tetapi untuk seterusnya ilmu itu tidak pernah diberikannya?“ Namun pada suatu senja, Arum telah dipanggil ayahnya dibangsal latihan. Ketika ia masuk, ternyata di dalam bilik yang agak luas itu telah menunggu Raden Juwiring dan Buntal. “Apakah kalian akan berlatih” bertanya Arum. Hampir berbareng keduanya menggeleng. Juwiringlah yang kemudian menjawab “Kami telah dipanggil oleh Kiai Danatirta di luar saat-saat berlatih” Arum mengerutkan keningnya. Agaknya ayahnyalah yang masih belumada di ruang itu.Tetapi Arum tidak menunggu terlalu lama. Sebentar kemudian maka Kiai Danatirtapun telah datang pula ke dalam ruangan itu. “Anak-anakku” berkata orang tua itu sejenak kemudian “aku memang memanggil kalian bersama-sama. Ada sesuatu yang harus aku beritahukan kepada kalian” Ketiga anak-anak muda itu menjadi berdebar-debar. “Pertama-tama, aku memberitahukan kepada Raden Juwiring dan Buntal, bahwa Arum ternyata menyatakan keinginannya untuk mempelajari olah kanuragan. Suatu hal yang janggal bagi seorang gadis. Tetapi itu adalah keinginannya. Dan akupun tidak berkeberatan” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Tetapi sudah barang tentu, bahwa meskipun ilmu kalian bersumber pada sifat dan watak yang sama, namun pasti ada perbedaannya di dalam ungkapan, karena bagi seorang laki-laki tentu ada bedanya dari seorang perempuan” Ketiga anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Terbayang sebuah senyum di bibir Arum. Sedang Juwiring dan Buntal mengangguk-angguk tanpa sesadarnya. Tetapi terlebih-lebih lagi, aku akaln memberitahukan kepada kalian, hubungan yang harus kalian mengerti setelah kalian berguru bersama-sama” Kiai Danatirta berhenti sejenak. Dipandanginya wajah ketiga anak-anak muda itu satu demi satu. Lalu “ Setelah kalian menjadi murid dari satu perguruan, maka kalian akan menjadi tiga orang bersaudara. Tidak ada bedanya dengan saudara sekandung. Akulah yang menjadi ayah kalian dan ilmu yang akan kalian serap itu adalah pengikat dari persaudaraan kalian” Ketiga anak-anak muda itupun menundukkan wajahnya. “Nah, biarlah aku menentukan siapakah yang paling tua di antara kalian, di antara saudara sekandung di dalam penyadapan ilmu ini” berkata Kiai Danatirta kemudian “Bukanberdasarkan waktu kehadirannya di padepokan ini. Jika seandainya demikian, maka Arumlah yang akan menjadi paling tua. Tetapi berdasarkan umur, Raden Juwiring akan menjadi saudara tertua. Buntal akan menjadi anak kedua dan yang bungsu adalah Arum. Sudah tentu sejak sekarang, kalian tidak akan memanggil dengan istilah lain dari istilah persaudaraan ini, dan kalian akan memanggil aku ayah. Memang agak berbeda dengan sebutan perguruan, tetapi aku memang tidak ingin menunjukkan kepada tetangga-tetangga kita. bahwa kita telah mendirikan suatu perguruan kanuragan” Ketiga anak muda itu mengangguk-angguk. Sejenak mereka terpukau oleh kata-kata Kiai Danatirta. “Apakah kalian tidak berkeberatan?“ bertanya Kiai Danatirta kemudian “terutama Raden Juwiring, yang berasal dari keluarga yang agak berbeda dengan kami disini. Dengan Buntal dan dengan Arum” “Ah“ Juwir ing berdesah “Apakah bedanya?“ “Jadi kau tidak berkeberatan?“ bertanya Kiai Danatirta. Juwiring menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak berkeberatan sama sekali. Aku merasa menemukan saudara sekandung yang dapat aku hayati daripada saudaraku yang sebenarnya. Disini aku menemukan kedamaian hati yang sebenarnya. Di istana ayahnda aku merasa tersiksa. Meskipun aku tinggal rumah yang mewah dan besar, tetapi setiap saat selalu dibayangi oleh kedengkian dan ir i” Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula. “Baiklah kau memang tidak berkeberatan. Untuk seterusnya aku hanya akan memanggil nama kalian masing-masing, karena kalian adalah anak-anakku. Tetapi aku sama sekali tidak berhasrat untuk merubah nama itu” Ketiga anak-anak muda itu tidak menyahut.“Nah, dengan demikian maka kita mempunyai keluarga baru yang besar sekarang. Tetapi jangan menunjukkan perubahan apapun kepada orang lain. Kepada tetangga- tetangga dan kawan-kawan kalian di padukuhan ini. Kalian harus tetap seperti kemarin. Juga Juwiring masih tetap seperti Raden Juwiring, karena setiap orang mengetahui bahwa kau adalah seorang bangsawan yang dititipkan kepadaku, untuk mendapatkan tuntunan olah kajiwan. Bukan olah kanuragan” Juwiring mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menyahut Sesaat terbayang kehidupan yang telah ditinggalkannya. Terbayang sebuah istana yang megah dari seorang bangsawan yang kaya. Tetapi justru karena ayahnya seorang yang kaya, dan tidak hanya mempunyai seorang isteri, maka rumah yang megah itu telah menjadi sarang kedengkiain dan iri. Setiap orang selalu curiga kepada orang lain. Kebencian tidak lagi dapat dihindarkan lagi. Sehingga akhirnya ia terlempar ke padukuhan kecil itu karena bermacam-macam alasan yang sebagian terbesar tidak benar sama sekali, la sadar, bahwa ia sekedar disingkirkan dari lingkungannya yang sedang bergulat berebut kesempatan untuk mendapatkan warisan terbesar. “Hem“ Juwir ing menarik nafas dalam-dalam. Terbayang pula wajah adik seayah tetapi tidak seibu yang umurnya hampir bersamaan dengan umurnya ”Rudira” Juwiring terkejut ketika ia mendengar Kiai Danatirta berkata “Sudahlah. Aku tidak mempunyai persoalan lagi kini. Kalian dapat meninggalkan ruangan ini. Besok kita akan mulai dengan ilmu kanuragan dari padepokan ini yang sebenarnya. Selama ini, kalian sekedar mendapat dasar-dasar olah kanuragan pada umumnya. Meskipun waktu yang aku tetapkan sebagai waktu percobaan dan pendadaran belum habis, tetapi aku percaya kepada kalian, bahwa kalian akan selalu melakukan semua petunjukku sebaik-baiknya”Demikianlah maka ketiga anak-anak muda itu meninggalkan bilik tempat mereka berlatih. Terasa sesuatu yang lain di dalam diri mereka Kini mereka harus menganggap yang satu dengan yang lain sebagai saudara. Saudara sekandung. Dihari-har i berikutnya, seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, ketiganya mulai mendapatkan latihan-latihan khusus. Mereka mulai mempelajari unsur-unsur gerak yang agak lain dari unsur-unsur gerak yang selama ini mereka pelajari. Sedangkan Arum telah mendapat waktu tersendiri di dalam latihan-latihan yang memang hanya diperuntukkan baginya. Tetapi di dalam tata gerak dasar, mereka kadang-kadang juga berlatih bersama. Ternyata mereka tidak mengecewakan hati Kiai Danatirta. Mereka bertiga berlatih bersungguh-sungguh. Kadang-kadang diluar dugaan, bahvta mereka mampu melakukan latihan- latihan yang berat untuk waktu yang melampaui waktu yang sudah ditentukan oleh gurunya. “Mereka benar-benar telah melakukan dengan sepenuh hati “berkata Kiai Danatirta di dalamhatinya. Namun dalam pada itu, darah keturunan Juwiring masih tetap menjadi teka-teki bagi Buntal. Ia sama sekali tidak berani bertanya, darimanakah sebenarnya ia datang. Dan putera siapakah ia sebenarnya. “Apakah ia putera seorang pengeran yang lahir dari seorang selir?“ pertanyaan itulah yang selalu melonjak di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, meskipun Juwir ing telah menjadi anak angkat yang sekaligus murid Kiai Danatirta, namun pengaruhnya bagi orang-orang di sekitarnya masih tidak berubah. Bagaimanapun juga ujud lahir iahnya adalah seorang bangsawan yang memang lain dari orang-orang kebanyakan.Bagi tetangga-tetangga Kiai Danatirta, kehadiran seorang bangsawan di padepokan itu mempunyai pengaruh tersendiri. Sikap mereka yang sangat hormat dan segan kepada Juwiring sama sekali tidak berubah, meskipun mereka lahu bahwa sesuatu telah terjadi, sehingga Juwiring harus berada di padepokan Kiai Danatirta untuk menuntut ilmu kaj iwan. Mempelajari kesusasteraan dan tata kesopanan. Tetapi diluar dugaan mereka, bahwa di samping itu semua, Juwiring juga mempelajari ilmu kanuragan. Demikianlah dar i waktu ke waktu, ketiga anak-anak muda di padepokan Kiai Danatirta itu berkembang dengan pesatnya, sesuai dengan idaman orang tua itu. Bukan saja dalam olah kanuragan. Tetapi tabiat dan sifat merekapun menunjukkan ketulusan hati mereka. Di siang hari mereka bekerja seperti kebanyakan anak-anak padukuhan itu. Mereka pergi ke sawah. Membawa alat-alat pertanian dan pupuk. Sedang Arum pergi kesungai mencuci pakaian dan berbelanja kepasar. Kemudian ikut menanjak nasi dan masak di dapur seperti kebanyakan gadis-gadis padesan. Demikianlah kehidupan yang tenang itu berjalan terus, sehingga pada suatu saat, seekor kuda yang tegar berlari memasuki halaman padepokan itu. Seorang laki-laki selengah umur yang kemudian menarik kekang kuda itu, segera meloncat turun. Kiai Danatirta yang berada di pr inggitan, bergegas menjengukkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia berlari-lari kecil menyongsong orang berkuda itu sambil menyapanya “O, kau Dipanala” Orang yang kini telah berdir i di halaman itu menganggukkan kepalanya, jawabnya “Ya kakang” “Kemarilah. Sudah lama kau tidak datang” Dipanalapun kemudian naik ke pendapa dan dipersilahkan masuk ke pringgitan.Keduanyapun kemudian duduk berhadapan diatas sehelai tikar pandan. Sejenak mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing setelah agak lama mereka tidak bertemu. “Sudah lama sebenarnya aku ingin datang kepedukuhan ini. Tetapi aku masih terlampau sibuk” “Apa kerjamu sebenarnya? Bukankah kau hanya harus menghadap setiap keliwon dan duduk di regol dalam?“ “Ya, tetapi aku mempunyai pekerjaan juga di Dalem Kapangeranan” “Apa kerjamu?“ bertanya Kiai Danatirta. Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Memang tidak ada. Tetapi rasa-rasanya aku menjadi sangat sibuk. Semakin lama rumah itu menjadi semakin gersang” “Kenapa? Bukankah di dalamnya tersimpan harta benda yang tidak ternilai jumlahnya” “Justru itulah sebabnya. Sekarang Raden Ayu Manik sudah tidak ada lagi di Dalem Kapangeranan” “Raden Ayu Manik? Bagaimana mungkin?“ “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Istana Pangeran Ranakusuma. Tidak seorangpun akan menyangka bahwa pada suatu saat Raden Ayu Manik keluar dari istana itu dan kembali ke ayahandanya”“Bagaimana sikap Pangeran Raksanagara ketika puterinya. dikembalikan kepadanya?“ “Betapa panas hati Pangeran tua itu. Tetapi ia tidak dapat, berbuat banyak. Ia tidak lagi dapat menantang perang tanding, karena tata kehidupan kebangsawanan sudah bergeser. Kini di Istana Pangeran Ranakusuma sering terjadi semacam bujana makan dan minum untuk menghormat tamu- tamunya” “Siapakah tamu-tamu itu?“ Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Itulah yang sangat mencemaskan. Tamunya adalah orang-orang asing” “Kumpeni maksudmu?“ Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Kiai Danatirta berdesah sambil mengusap dadanya. Terbayang kini di rongga matanya, tata cara yang asing itu mulai merayap masuk ke dalam tata kehidupan para bangsawan dan pembesar di pusat pemerintahan. Meskipun Kiai Danatirta menyadari bahwa tidak semua adat dan tata cara orang asing itu jelek, karena menurut anggapan lahiriah merekapun orang-orang beradab, telapi kadang-kadang ada yang terasa seperti duri di dalamdaging sendiri. “Jadi siapakah yang sekarang berkuasa di istana Pangeran Ranakusuma?“ “Raden Ayu Sontrang “ “Raden Ayu Sontrang?“ “Ya, nama panggilan dari Raden Ayu Galihwar it, puteri Pangeran yang agak kurang waras itu” “Pangeran Sindurata?“ “Ya”Kiai Danatirta hanya dapat mengelus dadanya. Meskipun sepengetahuan orang banyak ia bukan seorang bangsawan yang mempunyai lingkungan hidup setaraf dengan mereka menurut bentuk lahir iah, tetapi yang terjadi itu membuat hatinya terlampau pedih. Sehingga tanpa sesadarnya ia berkata “Jadi bagaimana dengan Raden Juwir ing?“ Ki Dipanala mengedarkan tatapan matanya keseputarannya. Seakan-akan ia sedang mencari seseorang di ruangan itu. “Raden Juwiring tidak ada di rumah. Ia pergi ke sawah dengan Buntal” “Siapakah Buntal itu?“ “Seorang anak pedesaan, sekedar untuk mengawani Raden Juwiring disini. Tetapi nanti aku ceriterakan tentang anak itu” “Jadi anak itu tidak ada?“ “Tidak” “Kakang Danatirta” berkata Dipanala kemudian “nasib anak muda itu memang kurang baik. Selama ini, sepeninggal ibunya, nasibnya seakan-akan tergantung dari belas kasihan Raden Ayu Manik, karena meskipun ia anak tirinya, Raden Ayu Manik sendiri tidak mempunyai anak. Tetapi sekarang Raden Ayu Manik tidak ada lagi di istana itu. Hidupnya akan menjadi semakin terasing dari ke luarganya, sehingga pada suatu saat ia akan dilupakan. Apalagi derajat ibunya tidak setingkat dengan Raden Ayu Manik dan Raden Ayu Sontrang” Dantirta menundukkan kepalanya. Desisnya “Ya, Rara Putih memang tidak setingkat dengan Raden Ayu keduanya. Tetapi aku meletakkan harapan kepada Raden Ayu Manik, bahwa ia akan berhasil membawa Raden Juwir ing kembali ke istana itu meskipun untuk waktu yang lama. Tetapi harapan itu akan menjadi semakin suram”“Ya kakang. Yang sekarang hampir tidak dapat dikendalikan adalah Raden Rudira dan adiknya Raden Ajeng Warih. Mereka merasa lebih berkuasa dari ayahanda Pangeran Ranakusuma” “Aku sudah menyangka. Karena kedua anak-anak itulah agaknya Raden Ayu Sontrang sampai hati menyingkirkan saudara sepupunya sendiri dari istana” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Tetapi sebenarnya Raden Ayu Galihwar it yang disebut Sontrang itu tidak usah berusaha mengusir puteri itu, karena ia tidak berputera. Raden Ayu Manik tidak akan memer lukan pembagian kekayaan suaminya, karena ia tidak mempunyai anak keturunan” “Bukan anak keturunannya sendiri. Raden Ayu Manik selalu berbicara tentang Raden Juwiring yang kini ada di padepokan ini. Itulah sebabnya Jika demikian, maka hak Raden Juwiring akan menjadi sama dengan hak Raden Rudira. Itulah yang membuat Raden Ayu Sontrang berusaha menyingkirkan Raden Ayu Manik” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya “Apakah kau mengetahui cara yang dipergunakan untuk mengusir Raden Ayu Manik?“ “Seperti yang dilakukan buat mengusir Raden Juwiring. Adalah kebetulan sekali bahwa Pangeran Raksanagara, ayah Raden Ayu Manik, sangat membenci kepada kumpeni. Dan kebencian itu dapat dimanfaatkan dengan baik sekali oleh Raden Ayu Sontrang. Ia minta bantuan kumpeni untuk mendesak Pangeran Ranakusuma, agar Raden Ayu Manik, puteri seorang yang memberi kumpeni itu dikembalikan kepada ayahnya. Kalau tidak, kumpeni tidak akan mau berhubungan dengan Pangeran Ranakusuma di dalam segala hal” “Gila. Benar-benar perbuatan yang sangat licik. Alangkah bodohnya orang-orang asing itu. Mereka telah diperalat untuk kepentingan pr ibadi dan nafsu ketamakan”“Tidak kakang. Bukan suatu kebodohan. Orang-orang asing itu juga orang-orang tamak. Mereka adalah orang-orang yang selalu kehausan apapun juga” “Tetapi apakah yang mereka dapatkan dari Pangeran Ranakusuma?“ “Kumpeni ingin mendapatkan dukungan yang kuat dari kalangan istana Surakarta untuk dapat memberikan tekanan- tekanan lebih berat lagi bagi Kangjeng Sunan. Kalau para Pangeran sudah berhasil dipengaruhinya, dengan segala macam cara. sebagian dengan janji-janj i dan sebagian lagi dengan harta benda, maka kedudukan Kangjeng Sunan akan menjadi semakin lemah. Dengan demikian maka semua persetujuan yang dipaksakan oleh kumpeni tidak akan dapat ditolaknya lagi” Dipanala berhenti sejenak, lalu “Tetapi secara pribadi kumpeni itu juga mendapat imbalan dari persoalan pribadi Raden Ayu Sontrang dan Raden Ayu Manik” “Apa yang mereka dapatkan?“ Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Kiai Danatirta sejenak. Namun kemudian ia hanya menelan ludahnya saja -sambil menundukkan kepalanya. “Apakah yang mereka dapatkan secara pribadi?“ desak Kiai Danatirta” “Maaf kakang. Sebenarnya aku tidak sampai hati untuk mengatakannya. Tetapi apaboleh buat. Kau memang perlu mendapat gambaran seluruhnya” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu “berat sekali untuk mengatakannya, justru menyangkut nama baik seorang puteri bangsawan” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Ketajaman perasaannya segera menangkap persoalan yang belum dapat dikatakan oleh Ki Dipanala. Karena itu justru Kiai Danatirtalah yang kemudian berkata “Dipanala. Aku mengerti. Bukankah kau bermaksud mengatakan bahwa kumpeni-kumpeni itu mendapat imbalan secara pribadi juga? Aku tahu bahwaRaden Ayu Galihwarit, meskipun sudah berputera sebesar Raden Rudira, namun nampaknya masih muda dan cantik. Menilik sifat-sifatnya yang licik, maka memang mungkin sekali terjadi, bahwa ia telah mengorbankan kehormatannya sebagai seorang puteri bangsawan untuk mendapat jalan, mengusir Raden Ayu Manik” Ki Dipanala menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menyahut “Dugaan itu tepat kakang. Ia bahkan mendapatkan segala-galanya. Bukan sekedar bantuan mengusir Raden Ayu Manik, tetapi ia memang memerlukannya. Bukankah kau tahu, bahwa Pangeran Ranakusuma tidak lagi dapat berbuat apa- apa untuknya?“ “Hem“ Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam “benar- benar suatu perbuatan yang memalukan. Memalukan bukan saja bagi para bangsawan, tetapi juga bagi kita seluruhnya. Bagi orang berkulit sawo matang ini” Ki Dipanala mengangguk-angguk. Tetapi kata-katanya terputus ketika Arum melangkah masuk ke pr inggitan sambil menj inj ing mangkuk minuman. “Arum” desis Ki Dipanala “Kau sudah prigel menghidangkan suguhan buat tamu-tamu ayahmu” “Ah paman“ Arum berdesah “Tetapi marilah paman. Sekedar air untuk menghilangkan haus” “Terima kasih Arum. Berapa pekan paman tidak datang kemari. Kau tampaknya cepat tumbuh dan sekarang kau benar-benar seorang gadis dewasa. He, berapa umurmu?“ Arumt idak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya. “Ia pantaran dengan anakku yang bungsu. Bukankah begitu kakang?“ Kiai Danatirta menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya. Hanya berselisih dua pekan”Ki Dipanala mengangguk-angguk pula. Katanya kemudian “Sering datanglah ke rumah paman. Kau akan banyak melihat“ “Terima kasih paman. Lain kali kalau ayah mengijinkannya “Ki Dipanala tersenyum. Dipandanginya Arum yang bergeser surut kemudian meninggalkan pringgitan. “Anakmu cepat menjadi besar kakang” Kiai Danatirta mengangguk” “Tampaknya jauh lebih dewasa dari anakku yang masih senang bermain pasaran di halaman” Kiai Danatirta tertawa. “Ia akan menjadi gadis yang tinggi besar seperti ibunya” berkata Ki Dipanala kemudian. Kiai Danatirta tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba saja wajahnya menjadi suram. Terasa sesuatu berdesir di dada Ki Dipanala. Ia menyesal bahwa ia telah menyebut ibu Arum yang sudah tidak ada lagi itu. Karena itu, maka dengan serta merta ia berusaha mengalihkan pembicaraan “Kapan Raden Juwiring kembali dari sawah?“ “Biasanya setelah tengah hari” jawab Kiai Danatirta “Apakah kau akan menemuinya?“ Dipanala merenung sejenak, lalu “Tetapi aku kali ini t idak membawa apapun buat Raden Juwiring. Aku sama sekali tidak berhasil mendapat sekedar belanja buat anak muda yang malang itu. Apalagi sepotong pakaian” “Ah, jangan kau pikir lagi tentang belanja dan pakaian. Ia sudah berhasil menyesuaikan diri dengan kehidupan di padepokan ini. Jangan kau rusakkan lagi dengan kebiasaan yang cengeng di istana Kapangeranan itu” Dipanala mengangguk-angguk.“Kalau kau ingin bertemu dengan Raden Juwiring, jangan kau katakan apa yang terjadi di rumah itu. Ia akan menjadi semakin prihatin. Kalau perasaan mudanya tidak dapat dikendalikannya, maka pada suatu saat akan meledak dengan dahsyatnya. Padahal ia tidak mempunyai kekuatan apapun di belakangnya, sehingga ledakan itu pasti hanya akan menghancurkan dirinya sendiri” “Ya kakang. Tetapi sebaiknya ia mengetahui, bahwa kadang-kadang Raden Rudira menyebut namanya. Bahkan anak itu ingin melihat dimana Raden Juwiring tinggal” “Buat apa ia melihat tempat ini?“ “Itulah yang mencemaskan. Aku kira ia masih belum puas bahwa Raden Juwiring hanya sekedar tersisih. Ia pasti mempunyai tujuan yang lain yang barangkali tidak akan dapat kita bayangkan, hati apakah yang sudah bermukim di dadanya” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Terbayanglah tatapan mata yang tajam seorang bangsawan muda yang bernama Rudira itu. Bangsawan muda yang berhati hitam seperti hati ibunya, Raden Ayu Galihwarit yang juga disebut Raden Ayu Sontrang. Seorang perempuan bangsawan yang bertubuh tinggi besar, berkulit kuning langsat. Wajahnya yang bulat seperti bulan purnama dihiasi dengan sepasang mata yang berkilat-kilat. Tetapi di dalam dadanya yang mendebarkan jantung itu, tersembunyi hati yang hitam lekam. Dan kehitaman hatinya itu telah menurun kepada kedua anak- anaknya. Raden Rudira dan adiknya. “Kalau hal itu kau anggap perlu Dipanala, katakanlah. Tetapi hati-hati, jangan menimbulkan kecemasan yang berlebih-lebihan di hatinya. Dipanala mengangguk sambil menjawab “Aku mengerti kakang“ “Tunggulah sambil minum. Ia akan segera datang”Keduanyapun kemudian meneguk air panas yang disuguhkan oleh Arum. Seteguk demi seteguk. Namun angan- angan mereka masih saja terlambat pada persoalan keluarga Pangeran Ranakusuma. Keluarga seorang bangsawan yang kaya raya. Tetapi tidak memiliki kemantapan berkeluarga karena seisi rumah yang selalu curiga-mencurigai dan saling membenci. Sejenak kemudian, ternyata Juwiring dan Buntal telah pulang dari sawah. Mereka langsung menuju ke ruang belakang. Mereka sudah menduga, bahwa ayah angkat mereka, pasti sedang menerima seorang tamu karena seekor kuda tertambat di halaman. Tetapi mereka tidak mengetahui, siapakah tamu ayahnya itu. Baru ketika Juwiring meletakkan cangkulnya, Arum mendekatinya sambil berbisik “Paman Dipanala, kakang Juwiring” “He, Dipanala? Eh, maksudku paman Dipanala?“ “Ya” Juwiring mengangguk-angguk. Dipandanginya Buntal yang termangu-mangu itu sekilas. Namun kemudian dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh. “Sudah agak lama ia tidak datang. Kabar apakah yang dibawanya?“ “Aku tidak tahu. Paman Dipanala sedang berbincang dengan ayah. Agaknya memang ada sesuatu yang penting” Tetapi anak-anak muda itu terkejut ketika terdengar suara dipintu “Tidak. Tidak ada yang penting. Dipanala hanya sekedar menengok keselamatan Juwiring” Ternyata Kiai Danatirta telah berdiri di belakang mereka. Sambil tersenyum ia berkata “Marilah Juwiring. Kalau kau sudah membersihkan diri, temuilah paman Dipanala sejenak. Ia ingin bertemu setelah sekian lama ia tidak datang”Arum menundukkan kepalanya. Tanpa diketahuinya ayahnya mendengar kata-katanya. Sedang Juwiring memandang Kiai Danatirta dengan pertanyaan-pertanyaan yang membayang disorot matanya. Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu tidak terucapkan. Bahkan iapun kemudian berkata “Baiklah ayah. Aku akan membersihkan dir i lebih dahulu” Demikianlah Juwir ing segera pergi ke pakiwan. Setelah berganti pakaian, ia segera pergi ke pringgitan untuk menemui Dipanala yang datang dari kota setelah agak lama ia tidak berkunjung. Sepeninggal Juwiring, tinggallah Buntal bersama Arum yang berdiri termangu-mangu. Sejenak mereka saling berpandangan, namun sejenak kemudian, setelah Juwiring berada di pringgitan, dan setelah Buntal berhasil mengatasi keragu-raguannya, iapun mendekati Arum. Perlahan- lahan ia berbisik “Siapakah yang datang?“ “Paman Dipanala” “Siapakah paman Dipanala?“ Ia masih mempunyai hubungan keluarga dengan ayah” “Dengan Kiai Danatirta, eh, ayah atau dengan Juwiring” “Dengan ayah. Tetapi ia tinggal di Dalem Kapangeranan. Pangeran Ranakusuma” Buntal mengerutkan keningnya. Ia berusaha untuk mengusir keragu-raguannya sama sekali. Ia benar-benar ingin mengetahui, siapakah sebenarnya Raden Juwiring itu. Dan kali ini agaknya ada kesempatan baginya. Kesempatan yang tidak menimbulkan kecurigaan apapun juga. “Siapakah Pangeran Ranakusuma?” bertanya Buntal. “Ayah Raden Juwiring”“O, jadi ayahnya seorang Pangeran?“ Buntal mengangguk- anggukkan kepalanya Ternyata Juwiring benar-benar seorang bangsawan yang masih terhitung dekat dengan istana. Ia adalah keturunan kedua dari Kangjeng Sunan. “Jadi“ Buntal melanjutkan “Apakah hubungan Juwir ing dengan paman Dipanala?“ “Hubungan keluarga yang sudah agak jauh, atau katakanlah tidak ada hubungan apa-apa, selain paman Dipanala t inggal di Dalem Kapangeranan itu” “Benar-benar tidak ada hubungan keluarga?“ Arum tidak segera menjawab. Sejenak dipandanginya pintu ruang belakang itu. Tetapi ia hanya menarik nafas panjang. Buntal tidak mendesaknya. Meskipun ia sudah dianggap sebagai saudara kandung oleh Arum, tetapi ia tidak dapat mendesaknya untuk menceriterakan sesuatu yang agaknya tidak ingin dicer iterakannya. Namun dengan demikian Buntal kini mendapat sedikit gambaran tentang Juwiring. Meskipun ia sadar, bahwa keterangan yang didengarnya dari Arum itu baru sebagian kecil dari keseluruhan Juwir ing seutuhnya, namun ia sudah mendapat alas untuk mengetahui keadaan lebih lanjut. Dalam pada itu, Juwiring telah berada di pringgitan bersama dengan Kiai Danatirta dan Dipanala. Dengar ragu- ragu Dipanala menceriterakan apa yang telah terjadi di istana Kepangeranaa. Meskipun tidak seluruhnya dikatakannya agar anak muda itu tidak menjadi semakin berkecil hati, namun Juwiring yang berotak cerah itu dapat membuat gambaran sendiri, apa yang telah terjadi, berdasarkan pengenalannya selagi ia masih tinggal di rumah itu. “Tidak aneh bagi ibunda Galihwarit apabila ia sampai hati menyingkirkan ibunda Manik dar i rumah itu” berkata Juwiring sambil menahan perasaannya yang hendak bergolak “Akusudah menduga sejak dahulu, bahwa pada suatu saat hal itu akan terjadi” “Ya. Dan sekarang Raden Ayu Sontranglah yang paling berkuasa di rumah itu bersama kedua puteranya” Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Biarlah paman. Aku t idak mempunyai sangkut paut lagi dengan rumah itu. Aku merasa diriku lebih baik di padepokan mi. Aku tidak akan Bermimpi lagi memiliki apapun dari istana itu, meskipun hanya selembar kain atau sepotong perhiasan. Biarlah aku hidup seperti sekarang ini. Ayahku sekarang adalah Kiai Danatirta dan aku sudah mempunyai dua orang saudara. Bukan Rudira dan Warih, tetapi Buntal dan Arum. Dan itu sudah cukup bagiku” Dipanala menundukkan kepalanya. Suaranya hampir t idak dapat meluncur dari sela-sela bibirnya “Itu suatu sikap terpuji Raden. Aku adalah pemomong Raden sejak kecil. Resmi atau tidak resmi. Sebenarnya ada juga sakit hatiku melihat nasib yang Raden alami. Tetapi agaknya hati Raden telah mengedap. Dan itu adalah kurnia Tuhan yang tidak ada nilainya Tentu akan jauh lebih berharga dari harta benda itu sendiri. Dengan pasrah dir i Raden akan menemukan ketenteraman. Tetapi tidak demikian agaknya dengan harta benda itu, yang justru menimbulkan kegelisahan, dengki dan kebencian” “Karena itu paman, namaku jangan dihubungkan lagi dengan istana Ranakusuman. Aku sekarang adalah anak padepokan Jati Aking di padukuhan Jati Sar i. Aku mempunyai banyak kawan disini. Aku dapat hidup seperti cara hidup mereka. Dan aku senang menjalaninya. Itulah yang penting. Keikhlasan hati” Tanpa sesadarnya Dipanala memandang wajah Kiai Danatirta. Agaknya Kiai Danatirtalah yang mengajari Juwiring untuk berbicara tentang keikhlasan hati dan penyesuaian dir i, sumber dari kedamaian hati yang diketemukannya disini.Namun karena itulah, maka Dipanala tidak sampai hati untuk mengusik ketenteraman itu dengan mengatakan rencana Rudira untuk masih membuat persoalan yang dapat menumbuhkan ketegangan ketegangan baru dengan kakaknya. “Kalau Raden Rudira mengetahui, bahwa Juwiring tidak lagi mempunyai nafsu untuk mendapatkan bagiannya dari warisan itu, aku rasa, ia tidak akan berbuat apa-apa lagi, karena warisan itulah pusar dari peristiwa yang berurutan terjadi di istana Ranakusuman” berkata Dipanala di dalam hati, sehingga dengan demikian niatnya untuk mengatakan sesuatu tentang Raden Rudira telah dibatalkan. “Dipanala“ yang berbicara kemudian adalah Kiai Danatirta “Agaknya pendirian Juwir ing sudah jelas. Kau tidak usah bersusah payah mengusahakan apapun dari istana Ranakusuman. Kami disini mengucapkan terima kasih atas usahamu itu. Tetapi untuk seterusnya, seandainya kau sajalah yang datang tanpa membawa apapun, sudah cukup membuat hati kami gembira” Dipanala mengangguk-angguk. Katanya “Kadang-kadang hati ini yang tidak dapat aku tahankan” Tetapi Kiai Danatirta tersenyum “Anakmas Juwiring yang mengalaminya langsung telah berhasil mengendapkanperasaannya. Tentu kau juga dapat mengendapkan perasaan itu” “Ya kakang. Aku akan mencoba. Tetapi ada beberapa soal yang selalu mengungkat perasaan ini. Kami, yang sudah tinggal bertahun-tahun di Dalem Kapangeranan, masih selalu merunduk-runduk apabila kami naik ke pendapa, apalagi apabila Pangeran Ranakusuma atau salah satu dar i isteri- isterinya ada di pendapa. Kami selalu berjalan sambil berjongkok, kemudian duduk bersila sambil menundukkan kepala dalam-dalam setelah menyembah. Tetapi kini, orang- orang asing itu dengan tanpa ragu-ragu lagi naik ke pendapa masih juga memakai alas kakinya yang kotor. Duduk tanpa menghiraukan adat dan kebiasaan kami. Bahkan kadang- kadang mereka berkelakar tanpa batas. Tertawa berkepanjangan sehingga terdengar sampai ke seluruh kota” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Ketika tanpa sesadarnya ia memandang wajah Juwir ing, terasa sesuatu bergolak di dada anak muda itu. Wajah anak muda itu menjadi merah padam. Dengan susah payah Juwiring berusaha untuk menahan perasaannya. Ditundukkan wajahnya dalam-dalam untuk menyembunyikan kesan yang melonjak. Namun kesan itu tertangkap pula bukan saja oleh Kiai Danatirta, tetapi juga oleh Ki Dipanala. Bahkan akhirnya Juwiring tidak dapat bertahan lagi, dan meluncurlah pertanyaannya yang tertahan-tahan “Sampai kapan hal itu akan terus terjadi?“ Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. “Rumah kami sudah menjadi kandang sampah yang paling kotor. Orang-orang asing itu telah menodai rumah itu dengan segala macam kejahatan dan kemaksiatan. Agaknya ayahanda Pangeran adalah seorang laki-laki yang lemah hati. Yang silau oleh kilatan benda-benda duniawi. Termasuk harta benda dan perempuan”“Sudahlah anakmas Juwiring” berkata Danatirta ”Jangan hiraukan lagi apa yang terjadi. Bukankah kau sudah memutuskan di dalam hatimu untuk tidak mengaitkan diri lagi dengan rumah itu?“ “Ya ayah. Aku sudah memutuskan. Tetapi apakah aku dapat melepaskan dir i dari gangguan perasaanku, bukan oleh harta warisan, tetapi oleh kesamaan warna kulit dan rambut ini? Bahwa ada di antara kita yang telah menjual harga dirinya kepada orang-orang asing itu untuk sekedar mendapatkan harta dan benda? Apalagi orang-orang yang telah berbuat demikian itu adalah orang-orang yang bersangkut paut dengan aku. Orang-orang yang berhubungan darah dengan aku. Aku dapat memutuskan segala ikatan lahir iah. Tetapi siapa yang dapat memutuskan hubunganku dengan ayahanda, hubungan antara ayah dan anak?“ Ki Dipanala hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sebenarnya hatinya sendiri juga terbakar setiap kali ia melihat orang-orang asing yang berkeliaran di pendapa Kapangeranan tanpa menghiraukan tata kesopanan dan adat. Siang maupun malam” Tetapi Kiai Danatirtalah yang selalu berusaha menekan perasaan yang bergolak itu. Katanya “Sudahlah. Persoalan itu bukan persoalan kecil Bukan sekedar persoalan kita. Persoalanku, persoalanmu dan persoalan istana Ranakusuman. Tetapi persoalan itu adalah persoalan Surakarta. Kita harus menemukan saluran yang tepat, apabila kita ingin ikut berbicara tentang orang-orang asing itu” Juwiring menundukkan kepalanya semakin dalam. Dadanya serasa terbakar. Tetapi ia masih berusaha untuk mendinginkan darahnya. Ia sadar, bahwa Kiai Danatirta berkata sebenarnya. Persoalan itu bukan persoalan satu dua orang. Tetapi persoalan itu adalah persoalan Surakarta. Sehingga karena itu, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa seorang diri. Atau katakanlah dengan kelompok yang kecil.Mungkin ia akan dapat berbuat sesuatu di rumahnya. Tetapi itu bukan penyelesaian bagi orang-orang asing. Itu hanya sekedar penyelesaian masalahnya sendirinya. Masalah pribadinya. Namun demikian, orang-orang asing itu masih tetap menjadi persoalan di dalam hatinya. Sekilas ia teringat kepada ceritera Buntal, bahwa di rumah Tumenggung Gagak Barongpun orang-orang asing itu berbuat sesuka hatinya. Tentu juga seperti yang dilakukan di rumah Ranakusuman. “Semakin banyak orang yang kehilangan pribadinya” berkata Juwiring di dalamhati. Namun dalam pada itu Juwiring mengangkat wajahnya ketika Kiai Danatirta berkata “Sudahlah Juwir ing. Kalau kau ingin beristirahat, beristirahatlah. Pamanmu akan bermalam disini malam nanti” Kiai Danatirta berhenti sejenak sambil memandang wajah Dipanala, lalu “Bukankah begitu?“ Dipanala mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum “Baiklah kalalu kakang menghendaki. Aku memang sedang mendapat waktu ist irahat. Bahkan semakin sering aku minta waktu untuk beristirahat, orang-orang di istana Ranakusuman akan menjadi semakin senang. Mereka dapat berbuat apa saja tanpa ada yang mengganggunya” “Jadi sebagian besar dari orang-orang di rumah itu sudah dimabukkan oleh kepuasan lahir iah?“ bertanya Juwiring. Dipanala mengangguk. Namun cepat-cepat ia berkata “Tetapi sudahlah. Aku akan bermalam disini. Nanti maliam kita akan dapat berbicara panjang” Juwiringpun mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Silahkan paman duduk. Aku akan beristirahat di belakang“ “Silahkan, silahkan“ Dipanalapun mengangguk-angguk pula. Juwiringpun segera meninggalkan pringgitan. SementaraKiai Danatirta dan Ki Dipanala masih berbicara tentang berbagai macampersoalan. “Dipanala“ yang berbicara kemudian adalah Kiai Danatirta “Agaknya pendirian Juwir ing sudah jelas. Kau tidak usah bersusah payah mengusahakan apapun dari istana Ranakusuman. Kami disini mengucapkan terima kasih atas usahamu itu. Tetapi untuk seterusnya, seandainya kau sajalah yang datang tanpa membawa apapun, sudah cukup membuat hati kami gembira” “Aku tidak sampai hati merusak kedamaian hatinya kakang” berkata Ki Dipanala “peristiwa yang terjadi di istana Ranakusuman sudah membuatnya gelisah. Tetapi aku kira ia akan segera dapat meletakkan masalah itu pada tempat dan keadaan yang wajar. Tetapi yang menyangkut langsung dirinya sendir i benar-benar tidak dapat tertuang sama sekali” “Maksudmu?“ “Niat Raden Rudira. Aku tidak tahu pasti, apakah sebabnya Raden Rudira masih saja ingin menemui kakaknya yang sudah terasing itu” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu “Aku tidak mau membuatnya selalu dalam kecemasan” “Biar lah aku yang akan mengatakannya kelak” berkata Kiai Danatirta “Tetapi aku harus mempertimbangkan waktu“ Demikianlah keduanya masih terus berbicara dari satu soal ke soal yang lain. Sedang sementara itu, Juwiring telah berada di ruang belakang. Betapa ia mencoba menyembunyikan perasaannya, namun Buntal dan Arum dapat menangkap, bahwa sesuatu sedang bergolak di hatinya” Tetapi baik Buntal maupun Arum tidak segera bertanya kepadanya. Dibiarkannya Juwiring mendekati mereka dan duduk diatas amben bambu yang panjang.Arum dan Buntal hanya saling berpandangan sejenak. Namun merekapun kemudian menundukkan kepala mereka pula. Juwiring menarik nafas. Dan tiba-tiba saja ialah yang pertama-tama berbicara “Memang ada hal yang penting, Arum“ Arum mengangkat wajahnya. Demikian juga Buntal. “Jadi persoalan itu memang ada?“ bertanya Arum. “Ya. Persoalan itu membuat hatiku menjadi pepat. Aku ingin mengurangi beban itu sedikit. Apakah aku dapat mengatakannya kepada kalian meskipun persoalannya tidak menyangkut kalian sama sekali?“ “Tentu menyangkut. Persoalan yang menyangkut salah sedang dari kita, akan menyangkut kita semua” Juwiring mengangguk-angguk. Tetapi suaranya yang datar meluncur dan sela-sela bibirnya “Ya, begitulah, Tetapi persoalan ini adalah persoalan keluargaku yang sebenarnya sudah ingin aku lupakan” “O” desis Buntal “Tetapi kalau kau t idak berkeberatan, ceriterakanlah“ Dengan singkat Juwir ing berceritera tentang keadaan rumah yang ditinggalkannya. Tetapi ceriteranya ditekankannya kepada kehadiran orang-orang asing yang seakan-akan lebih berkuasa dari orang-orang yang sudah bertahun-tahun menghuni rumah itu. “Jadi orang-orang asing itu juga yang membuat ayahanda Pangeran Ranakusuma semakin gelap hati” berkata Juwiring “Agaknya mereka telah menyusup ke setiap sudut kota Surakarta. Kalau orang-orang di istana. Susuhunan lengah, maka akhirnya istana itupun akan segera dikuasainya”Buntal mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata “Demikian juga di istana Tumenggung Gagak Barong. Aku juga melihat hal yang serupa” “Tentu tidak hanya di istana Tumenggung Gagak Barong dani istana ayahanda Ranakusuma. Tentu di rumah-rumah Kapangeranan yang lain. Di rumah Bupati Nayaka, di rumah setiap bangsawan di Surakarta” Buntal tidak menyahut. Pengetahuannya tentang para bangsawan memang sangat terbatas. Tetapi karena ia pernah tinggal di rumah seorang bangsawan, maka ia dapat membayangkan apa yang. sudah terjadi di rumah-rumah yang besar dan megah itu. Makan minum, gelak tertawa yang tidak tertahankan, mabuk dan akhirnya mereka terkapar tidur setelah muntah- muntah. Tetapi itu adalah peristiwa-peristiwa sesaat. Yang lebih mengerikan, apakah yang telah terjadi di balik peristiwa- peristiwa sesaat itu. Tetapi seperti kata-kata Kiai Danatirta, Juwiringpun berkata “Namun demikian, itu bukan persoalan kita seorang demi seorang. Itu adalah persoalan Surakarta. Karena itu, kita harus mendapatkan saluran untuk menyatakan hati kita” “Saluran?“ bertanya Buntal. “Ya. Tentu saluran. Bukan kita berbuat sendiri-sendir i. Itu tidtak akan berguna dan hanya akan membuang waktu dan tenaga, bahkan mungkin j iwa kita” Buntal mengangguk-angguk. Memang tidak mungkin untuk berbuat sendiri-sendiri. Tetapi kalau mereka harus mencari saluran, dimanakah mereka akan mendapat? Tetapi Buntal tidak bertanya. Ia kadang-kadang lebih senang berteka-teki kepada dir i sendiri dar ipada melepaskan pertanyaan. Rasa-rasanya sangat berat untuk bertanyasesuatu. Ia masih merasa dirinya terlalu bodoh, sehingga mungkin pertanyaannya justru salah. Demikianlah, di malam harinya, Dipanala benar-benar bermalam di padepokan itu. Mereka, seisi rumah itu, sempat duduk dan berbicara panjang lebar dengan Ki Dipanala. Bukan saja Juwiring, tetapi juga Arum dan Buntal yang mendapat kesempatan memperkenalkan dirinya. Tetapi mereka tidak membicarakan masalah-masalah yang dapat menegangkan perasaan. Mereka berbicara tentang keadaan mereka sehari- hari, tentang sawah dan ladang, air dan ternak. Di pagi har inya Ki Dipanala minta dir i kepada keluarga Jati Aking. Ia masih tetap tidak dapat mengatakan sesuatu tentang Rudira yang agaknya masih belum puas melihat kakaknya tersingkir sampai ke padukuhan Jati Sari. Sepeninggal Ki Dipanala, maka. Kiai Danatirtalah yang member ikan banyak petunjuk kepada Juwiring dan Buntal. Seperti yang disanggupkan, ia akan memberi tahukan, meskipun samar-samar, bahwa ia harus tetap berhati-hati terhadap adik seayahnya, Raden Rudira. “Juwiring” berkata Kiai Danatirta “sebenarnya pamanmu Dipanala tidak ingin mengatakan apa yang terjadi di Dalem Ranakusuman. Tetapi kadang-kadang perasaannya yang ingin mendapatkan saluran itu tidak tertahankan lagi. Tanpa disadarinya masalah-masalah yang semula akan tetap disimpannya di dalam hati. agar hatimu tidak menjadi semakin sakit itu, sedikit demi sedikit telah terloncat keluar. Apalagi tanggapanmu yang tajam telah memancing semua persoalan. Tetapi ingat, jangan cepat berbuat sesuatu. Masalah yang kau hadapi adalah satu segi dari rangkaian masalah yang besar” Juwiring yang memang sudah menyadari keadaan sepenuhnya itupun menganggukkan kepalanya. Sementara Kiai Danatirta berkata seterusnya “Namun ada juga sangkut pautnya dengan masalahmu sendiri. Kau harus tetap berhati- hati. Raden Rudira adalah adikmu. Tetapi di dalam persoalanini, ia berdiri berseberangan dengan kita semua. Ia bergaul rapat dengan orang-orang asing, dan ia dalah putera dari Raden Ayu Galihwarit” “Aku mengerti ayah” jawab Juwir ing. “Sokur lah. Tetapi tanggapanmu jangan berlebih-lebihan. Mungkin hatinya tidak sejahat yang kita sangka” Juwiring hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia masih belum dapat membayangkan, betapa warna ini dada adiknya itu yang sebenarnya. Namun semuanya itu telah mendorong Juwiring untuk berbuat lebih banyak. Bersama-sama dengan Buntal dan Arum mereka telah menempa diri sejauh-jauh dapat mereka lakukan. Ketiga anak-anak muda itu berkeputusan, bahwa apapun yang akan mereka lakukan, namun mereka harus mengumpulkan bekal sebaik-baiknya. Dan bekal yang paling baik menurut pertimbangan mereka adalah olah kanuragan. Demikianlah kemelutnya hati anak-anak muda itu membuat mereka semakin cepat maju. Rasa-rasanya dari hari demi hari, hati mereka menjadi semakin panas seperti panasnya udara Surakarta, sejak orang kulit putih semakin berpengaruh. Beberapa orang bangsawan benar-benar telah terbius oleh kesenangan lahiriah yang dibawa oleh orang-orang asing itu, sehingga lambat laun, semakin tipislah kesetiaannya kepada tanah tempat mereka dilahirkan. Hubungan yang akrab membuat mereka melupakan batas yang ada di antara para bangsawan itu dengan orang-orang asing. “Apa salahnya kita saling berhubungan” berkata seorang bangsawan kepada seorang pelayannya “manusia di dunia mempunyai ikatan hakekat yang sama. Merekapun mengatakan bahwa bagi mereka tidak ada lagi batas-batas di antara manusia sedunia. Mereka datang dengan hikmah persaudaraan”Pelayan-pelayannya hanya mengangguk-angguk, saja, karena mereka sama sekali tidak mengetahui, apakah sebenarnya yang telah terjadi. Tetapi karena mereka ikut pula menikmati kesenangat duniawi yang melimpah ruah, maka merekapun mengiakannya dengan sepenuh hati. Tetapi para bangsawan yang tinggal di batas-batas dinding yang tinggi, di halaman yang luas dan bersih, yang semakin lama menjadi semakin cerah karena mereka mendapatkan hadiah-hadiah yang merupakan barang-barang baru bagi rumah-rumah dan istana-istana mereka, sama sekali tidak melihat apa yang telah terjadi di padesan dan di padukuhan kecil. Rakyat yang merasakan langsung penghisapan yang mulai terjadi diatas tanah kelahiran ini. Ternyata mereka yang mengatakan, bahwa kedatangan mereka adalah atas dorongan persaudaraan manusia yang tanpa batas itu. sebenarnya mempunyai kepentingan yang besar bagi mereka. Bagi satu pihak dari yang dikatakannya tanpa batas itu. Dan merekalah yang mendapatkan keuntungan terbesar dari suasana yang mereka kembangkan suasana tanpa ada batas, suasana tanpa jarak. Karena apa yang mereka katakan itu bukan kata nurani mereka yang sebenarnya, sehingga sikap orang-orang asing di Surakarta itu sama sekali hukan suatu sikap yang jujur. Untunglah, bahwa tidak semua bangsawan terbius oleh keadaan itu. Ada juga bangsawan yang menyadari keadaan yang sebenarnya. Yang merasakan betapa janggalnya keadaan Surakarta pada saat itu. Ternyata bahwa perpindahan istana dari Kartasura ke Surakarta sama sekali t idak membawa hikmah apapun juga. Bahkan sinar yang memancar dari keagungan Susuhunan Paku Buwana, semakin lama menjadi semakin suram. Salah seorang yang memandang keadaan itu dengan tajam adalah seorang Pangeran yang berhati bening. Pangeran Mangkubumi.Kepadanyalah beberapa bangsawan yang tidak dapat menerima keadaan yang berkembang itu meletakkan harapan. Kepadanyalah mereka berharap, agar pada suatu saat, lahir suatu sikap yang dapat menyelamatkan Surakarta. Tetapi Pangeran Mangkubumi bukan seorang yang berhati panas. Ia masih mampu menilai keadaan dengan tenang. Setiap tindakan diperhitungkannya sebaik-baiknya, agar ia tidak terjerumus ke dalam suatu tindakan dan pengorbanan yang sia-sia. Karena itulah, maka tidak jarang Pangeran Mangkubumi itu berusaha melihat dengan mata kepala sendiri, kehidupan yang sebenarnya dari rakyat Surakarta, yang lambat laun mengalami masa surut yang parah. Berlawanan dengan Pangeran Mangkubumi, maka beberapa orang bangsawan berusaha menikmati hidup mereka sebaik-baiknya tanpa menghiraukan nasib siapapun. Seandainya mereka pergi keluar kota, mereka, sama sekali tidak ingin melihat dan tidak mau melihat kehidupan rakyat yang sebenarnya. Adalah menjadi kebiasaan mereka pergi berburu. Mereka sengaja membiarkan beberapa bagian dari hutan yang dibuka menjadi tanah garapan. Hutan-hutan itu mereka pergunakan sebagai daerah perburuan yang mengasikkan. Demikianlah, ketika orang-orang Jati Sari sibuk dengan kerja mereka di sawah dan ladang, mereka dikejutkan oleh derap beberapa ekor kuda yang berlari-lari di jalan persawahan menyusuri bulak yang panjang. Namun orang- orang Jati Sari itupun kemudian tidak menghiraukannya lagi, karena mereka telah mengenal, bahwa ir ing-ir ingan orang berkuda itu adalah iring- iringan beberapa orang yang pergi berburu. Dan salah seorang atau dua orang dar i mereka adalah bangsawan.Hanya beberapa orang sajalah yang masih sempat melihat seorang anak muda yang gagah berkuda di paling depan, dan di belakangnya beberapa orang pengawalnya mengir ingnya. Arum yang kebetulan berjalan di lorong itu pula membawa makanan untuk Juwiring dan Buntal yang sedang bekerja di sawah, dengan tergesa-gesa menepi. Namun dengan demikian, sejenak ia tegak berdiri memandang anak muda yang berkuda di paling depan. Dadanya berdesir ketika ia melihat wajah anak muda itu. Begitu mirip dengan wajah Juwiring. Namun Arumpun segera memalingkan wajahnya. Tidak seorangpun yang berani memandang wajah seorang bangsawan apalagi ia sedang memandang pula. Tetapi Arum terperanjat ketika ia sadar, bahwa kuda yang paling depan itu tiba-tiba saja berhenti. Dengan demikian, kuda-kuda yang berada di belakangnyapun berhenti pula dengan tiba-tiba, sehingga beberapa di antaranya meringkik dan berdiri diatas dua Kaki belakangnya, karena kendali yang terasa menjerat leher. Sejenak Arum mengangkat wajahnya. Tetapi ketika matanya bertatapan dengan sorot mata anak muda yang berada diatas punggung kuda itu, kepalanyapun segera tertunduk. “He, siapa kau anak manis?“ terdengar suara anak muda yang berada di punggung kuda itu. Arum bingung sejenak. Ia tidak pernah berhubungan dengan orang-orang yang masih asing baginya. Sehari-hari ia hanya berada di rumahnya, di padepokan Jati Aking atau di sawah. Sekali-sekali ia pergi ke pasar. Tetapi jarang sekali seorang Laki- laki langsung menegurnya. “Kenapa kau malu? Angkatlah wajahmu. Pandang aku. Dan jawablah pertanyaanku. Siapa namamu?“Kata-kata yang mengalir itu seolah-olah merupakan pesona yang tidak dapat dielakkan, sehingga hampir tanpa disadari ia menjawab “Namaku Arum” “Arum” ulang anak muda yang berkuda itu “nama yang bagus sekali. Dimana rumahmu he?“ Arum tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya sajalah yang kini justru tertunduk dalam. “Dimana rumahmu?“ Arum masih tetap diamsaja. Namun terasa bulunya berdiri ketika anak muda itu tiba- tiba saja meloncat turun dari kudanya. Arum sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Bahkan ia beringsut mundur beberapa jengkal, sehingga hampir saja ia terjatuh ke dalamparit. Karena iring- iringan itu berhenti di tengah bulak, maka kini seluruh perhatian orang-orang yang ada di sawah itupun tertuju kepada anak muda yang kemudian sudah berdiri dimuka Arum. “Kau belum menjawab pertanyaanku” berkata anak muda itu. Tetapi Arum tetap diam. Hatinya menjadi semakin kecut ketika ia menyadari, bahwa orang-orang yang lainpun telah turun pula dari kuda mereka. “Jangan takut dan jangan malu. Aku tidak apa-apa. Aku hanya terpesona oleh kecantikanmu. Memang gadis-gadis padesan justru mempunyai paras yang cantik, yang jarang diketemukan pada wajah-wajah gadis bangsawan. Ciri-ciri yang lain, menumbuhkan perhatian yang lain pula pada gadis- gadis padesan seperti kau. He, dimana rumahmu?” Arum menjadi gemetar ketika anak muda itu berdiri semakin dekat. Di dalam keadaan itu, sama sekali tidak terlintas di dalam angan-angannya untuk melawan. Untukmempergunakan ilmu kanuragan yang telah dipelajarinya, karena pada pendapatnya, tidak seorangpun yang dapat melawan seorang bangsawan. Bahkan ia pernah, mendengar ceritera, tentang gadis-gadis desa. yang terpaksa menjadi selir di istana-istana Pangeran dan bahkan bangsawan-bangsawan di dalam urutan drajat yang lebih rendah. Seorang cucu Susuhunan misalnya. Karena itu maka hatinyapun menjadi semakin kecut. Tetapi ketika tangan anak muda itu meraba pipinya, dengan, gerak naluriah, Arum meloncat mundur. Meskipun ia berdiri membelakangi parit, tetapi tanpa disadarinya, kemampuan olah kanuragannya lelah mendorongnya melompati par it itu tanpa berpaling. “He“ anak muda itu tiba-tiba terpekik. Wajahnya menjadi cerah seperti anak-anak mendapat mainan. Dengan nada tinggi ia berkata “Lucu sekali. Kau dapat meloncati parit ini tanpa memutar tumbuhmu. Bukan main. Hampir tidak masuk akal bagi seorang gadis desa seperti kau. Coba ulangi sekali lagi. Aku senang sekali melihat. Ternyata selain cantik, kau adalah seorang gadis yang sangat lincah. Seandainya kau seekor burung, kau tidak selembut burung perkutut. Tetapi kau selincah burung branjangan. Dan aku memang lebih senang burung branjangan dari burung perkutut yang seperti mengantuk sepanjang hari” Tetapi dada Arum menjadi semakin berdebar-debar. Ia menjadi semakin bingung, apakah yang akan dilakukannya. “Jangan takut. Aku tidak akan marah” Wajah Arum menjadi semakin pucat. Hampir saja ia terduduk lemas. 

Jilid 02
DAN anak muda itu berkata terus “Aku tidak akan marah anak manis, meskipun kau telah melanggar adat. Meskipun kau tidak berjongkok ketika aku lewat. Setiap orang yang berada di jalan yang sama yang dilalui seorang bangsawan harus berjongkok. Tetapi kau tidak. Tetapi aku tidak marah” Arum telah benar-benar kehilangan akal. Hampir saja ia meloncat berlari di sepanjang pematang, tetapi niatnya diurungkan. Bahkan mulutnya tampak bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun yang keluar Dalam pada itu, selagi semua orang memandang Arum yang pucat, tiba-tiba anak muda bangsawan itu bersama pengiringnya terkejut ketika mereka mendengar suara di belakang mereka “Hanya apabila seorang Raja yang lewat, maka setiap orang harus berjongkok. Tetapi tidak bagi kau. Tidak ada keharusan berjongkok bagi rakyat yang paling rendah derajadnya sekalipun” Serentak orang-orang yang datang berkuda itu berpaling. Darah mereka tersirap ketika mereka melihat seorang anak muda yang kotor karena lumpur berdiri menj injing sebuah cangkul. Namun dari sorot matanya, memancar wibawa yangtidak kalah tajamnya dari anak muda yang berkuda di paling depan. Bahkan dengan suara gemetar terdengar anak muda yang bertanya kepada Arumitu berdesis “Kamas Juwiring” “Ya adimas Rudira” Sejenak kedua anak muda itu saling berpandangan. Dari sorot mata keduanya memancar pengaruh yang dalam. Namun sejenak kemudian anak muda yang bernama Rudira itu memalingkan wajahnya. Untuk melepaskan ketegangan di hatinya ia bertanya kepada seorang pengiringnya “He, bukankah ia kamas Juwir ing”? “Ya tuan. Ya, ia adalah Raden Juwiring” “Kebetulan sekali kamas” berkata Rudira “Aku memang ingin menemui kamas Juwiring. Sudah lama aku tidak bertemu dan aku merasa rindu karenanya. Aku hanya mendengar bahwa kamas berada di padepokan Jati Aking. Apakah kita sudah berada dekat dengan padepokan Jati Akjng?“ “Bertanyalah kepada pengikutmu. Mereka tahu dimana Jati? Aking dan dimana Jati Sari” Rudira mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum “Kamas masih sekeras dahulu. Tetapi sekarang kamas menjadi bertambah hitam. Apalagi pakaian dan tubuh kamas kotor karena lumpur” “Lumpur lah yang member ikan makan kepada kita. Kepadaku dan kepadamu. Kepada orang-orang kota. Dan lumpur ini pulalah yang telah menarik perhatian kumpeni itu, karena lumpur ini adalah lumpur yang sangat subur” “O“ sekali lagi Rudira mengerutkan keningnya “benar. Tetapi tanpa menyentuh lumpur itu sendir i, aku dapat mengambil hasil dari kesuburannya, Seperti kamas lihat, akupun makan sehari tiga kali. Dan barangkali apa yang aku petik dari hasil lumpur yang subur itu jauh lebih banyak dariyang kamas peroleh meskipun kamas langsung bergulat dengan lumpur yang subur itu” “Ya“ Juwir ing mengangguk “Kaupun benar. Inilah yang aku sebut harga diri. Aku maka hasil keringatku sendiri meskipun sedikit. Tetapi kau tidak” “Itupun wajar sekali” sahut Rudira “Tidak semua orang harus turun ke sawah. Tidak semua orang di dalam suatu negeri harus menjadi petani. Pasti harus ada pekerjaan lain. Pemimpin pemerintahan, prajurit, Adipati dan para Abdi Dalem. Tidak sewajarnya para bangsawan harus mencangkul sendiri” Rudira diam sejenak, lalu “Seperti kau, kamas. Kau tidak usah turun ke sawah. Meskipun kamas berada di padepokan untuk mempelajari ilmu kajiwan dan kasampurnan, tetapi kamas tidak perlu makan dar i ker ingat sendiri. Kamas seorang bangsawan. Kamas dapat memer intahkan apa saja yang kamas perlukan. Dengan mengotori diri sendiri kamas akan merendahkan derajad kebangsawanan kamas, dan mencemarkan nama keluarga Ranakusuma” “Adimas Rudira, manakah yang lebih cemar. Berdiri diatas lumpur yang kotor tetapi bersih atau berdir i diatas permadani yang bersih tetapi kotor” Rudira mengerutkan keningnya. “Apakah kau tidak menyadari? Apakah arti kedatangan kumpeni setiap kali ke rumah kita. Ke istana Ranakusuman? Kenapa?“ “O. Kamas memang benar-benar harus mempelajari ilmu kasampurnan. Kamas masih membatasi diri dalam hubungan manusia. Apa salahnya kita bersahabat dengan setiap orang di muka bumi” “Kita memang harus bersahabat dengan manusia di seluruh sudut bumi. Tetapi tanpa mengorbankan dir i sendir i. Kalau kau bersedia bersahabat dengan setiap orang di muka bumi,kenapa justru kau terlampau jauh dari manusia yang hidup di sekitarmu. Manusia yang setiap hari bergulat dengan lumpur?“ Rudira terdiam sejenak. Namun wajahnya menjadi semburat merah. Tetapi ternyata anak muda itu pandai bersamu-dana. Sejenak kemudian iapun tersenyum sambil berkata “Sudahlah. Kita tidak usah membicarakan masalah-masalah yang kurang sesuai bagi kita. Marilah kita berbicara tentang keadan yang kita hadapi ini” Rudira berhenti sejenak, lalu “Kamas, aku sangat tertarik kepada gadis Jati Sar i ini” Tanpa disadari terasa darah Juwiring menggelepar. Tiba- tiba saja ia berpaling. Ketika terpandang wajah Buntal yang berdiri di sampingnya, Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Wajah itupun menjadi tegang. “Siapakah gadis ini kamas? Kamas yang sudah lama tinggal di Jati Sari, pasti mengenalnya. Agaknya akupun pada suatu saat harus mempelajari ilmu kaj iwan di Jati Aking seperti kamas Juwiring” Juwiring menarik nafas ,dalam-dalam. Katanya “Gadis itu adalah gadis padepokan Jati Aking” “He“ Rudira terkejut. “Ia adalah gadis padepokan kami. Ia adalah anak Kiai Danatirta” “O“ Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya “pantas. Pantas, bahwa gadis itu gadis padepokan. Bukan gadis padesan biasa” Tiba-tiba saja dada Buntal menjadi pepat. Ia tidak mengerti, kenapa hatinya menjadi sangat gelisah ketika ia mendengar seorang anak muda yang memuj i kecantikan Arum.“Ia adalah adikku” berkata Buntal di dalam hatinya. Tetapi ada perasaan lain dari perasaan itu. Dari perasaan seorang kakak kandung terhadap adiknya Dalam pada itu Juwir ing berkata “Sudahlah adimas Rudira. Jangan menjadi tontonan disini. Kalau kau akan pergi berburu, pergilah. Aku melihat kau membawa busur dan anak panah. Demikian juga pengir ing-pengiringmu. Di hutan perburuan itu memang banyak sekali kijang” “O“ Rudira mengangguk-angguk “Ya. Kami memang akan berburu. Tetapi buruanku ternyata sudah ada disini” Darah Buntal tersirap mendengar kata-kata iitu. Bukan saja Buntal tetapi juga Juwiring. Apalagi ketika ia melihat Rudira tertawa sambil berpaling kepada Arum yang berdir i ketakutan. “Kamas” berkata Rudira “Marilah, antarkan aku ke padepokan Jati Aking. Sudah lama aku ingin mengenal padepokan itu. Aku juga mulai memikirkan tentang masa depanku. Dan agaknya aku ingin juga belajar ilmu kaj iwan dan ilmu kasampurnan. Mungkin juga ilmu- ilmu yang lain yang berhubungan dengan pemerintahan. Aku dengar Kiai Danatirta juga seorang yang mumpuni di dalam ilmu kasusastran” Tetapi Juwiring menggelengkan kepalanya. Katanya “Pekerjaanku belum selesai” “O. kalau begitu biar lah gadis itu mengantarkan aku ke padepokan ayahnya" “Kau lihat bahwa ia baru datang? Ia membawa makan dan minumanku. Setiap hari ia pergi ke sawah apabila aku ada di sawah. Jangan kau ganggu anak itu. Biarlah ia melanjutkan pekerjaannya” Rudira memandang Juwir ing dengan tatapan mata yang mulai menyala. Tiba-tiba saja ia berkata “Kamas Juwiring. Kau tidak berhak menghalang-halangi aku. Aku dapat berbuatsesuka hatiku. Apalagi rakyat kecil seperti Arum dan ayahnya Sedang kaupun tidak berhak mencegah aku” “Aku tidak menghalang-halangi. Aku hanya minta, kau jangan mengganggu kerjaku dari kerja anak itu. Kalau kau akan pergi ke padepokan Jati Aking pergilah. Setiap orang tahu dimana tempatnya. Dan kau dapat bertanya kepada mereka. Bahkan kau dapat memaksa mereka dengan gelar kebangsawananmu untuk mengantarkan kau. Tetapi tidak aku dan tidak gadis itu” Wajah Rudira menjadi merah semerah matanya. Selangkah ia maju sambil berkata “Kamas jangan menghina aku di hadapan rakyat Surakarta. Aku dapat bertindak tegas. Aku adalah seorang bangsawan penuh. Ayahku seorang bangsawan dan ibuku seorang bangsawan pula. Kau? Benar kau putera ayahanda Ranakusuma, tetapi ibumu adalah seorang gadis yang lahir di antara rakyat kecil” “Tetapi aku mempunyai harga diri. Ibuku tidak pernah mimpi untuk menjadi seorang puteri bangsawan, seperti aku juga. Apalagi bermimpi untuk menjual harga diri kepada orang asing berapapun ia akan membelinya” “Kamas“ potong Rudira “Jangan menghina keluarga kita sendiri. Seandainya kau terasing dari keluarga kita karena pokalmu sendir i, namun jangan menjadi pengkhianat bagi keluarga Ranakusuma” “Bukan aku yang berkhianat. Justru aku ingin mempertahankan martabat ayahanda Ranakusuma sebagai seorang bangsawan dari Surakarta. Kalianlah yang telah berkhianat, karena kalian telah menjual nama dan keagungan kebangsawanan kepada orang asing itu” “Cukup” bentak Rudira “sebenarnya aku tidak ingin bertengkar. Tetapi kau telah memancing persoalan. Jangan kau kira bahwa aku tidak dapat bertindak terhadapmu, kamas.Meskipun kau lahir dahulu, sehingga kau menjadi saudara tuaku, tetapi derajatku lebih tinggi dari derajatmu” “Derajat tidak ditentukan oleh darah keturunan. Tetapi ditentukan oleh perbuatan. Perbuatan kita sendiri” Mata Rudira benar-benar telah menyala. Selangkah ia maju mendekati Juwir ing. Namun Juwiring sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan cangkulnyapun kemudian diletakkannya di tanah. “Kau mulai menentang keluarga Ranakusuma” geram Rudira. “Mudah-mudahan ada orang yang dapat menilai apia yang telah terjadi” Rudira menggeram. Tetapi sejenak ia masih berdir i diam di tempatnya. Dalam pada itu, orang-orang yang ada di sawah, yang bergeser mendekati kedua anak-anak muda yang bertengkar itu, menjadi berdebar-debar. Tetapi tidak ada seorangpun yang berani berbuat apapun juga. Keduanya adalah putera Pangeran Ranakusuma. Sehingga tidak ada yang berani untuk berbuat sesuatu atas keduanya. Orang-orang yang menyaksikan itu hanya berharap, mudah-mudahan para pengiring Raden Rudira dapat mencegah peristiwa yang tidak mereka harapkan. Tetapi ternyata para pengiringnya itupun hanya berdiri saja dengan mulut ternganga. “Kamas” berkata Rudira “Cepat, mintalah maaf. Aku masih member i kesempatan, karena kau adalah saudara tua bagiku, meskipun derajatku lebih t inggi” “Aku tidak merasa bersalah” berkata Juwiring “Justru aku berdiri di pihak yang benar. Buat apa aku minta maaf. Kalau kau jantan, kaulah yang minta maaf kepadaku, kepada Arum dan kepada ayahnya”“Persetan, aku adalah seorang bangsawan. Kalau aku memang menghendaki, aku dapat mengambilnya kapan saja” Juwiring menggelengkan kepalanya. Katanya “Selama aku masih ada di Jati Aking tidak ada seorangpun yang dapat berbuat demikian atasnya. Apalagi kau bukan seorang Pangeran” Darah Rudira benar-benar telah mendidih. Karena itu, ia tidak dapat menahan diri lagi. Ternyata bahwa perasaan yang membekali hati masing- masing pada pertemuan itu telah membuat jantung mereka semakin panas. Rudira yang ingin menjauhkan Juwiring dari keluarganya, dan Juwiring yang. merasa dir inya telah di fitnah. Dengan demikian maka persoalan yang tumbuh itu hanyalah sekedar bagaikan api yang menyentuh minyak. Hati anak-anak muda yang belum terkendali itupun segera berkobar membakar segenap urat darah. Sejenak kemudian kediua anak muda itu telah berdiri berhadapan. Keduanya adalah putera Pangeran Ranakusuma. Tetapi ternyata bahwa nama Ranakusuma tidak mampu menjadi pengikat yang baik bagi keluarganya, sehingga kebencian, iri dan dengki telah mencengkam seisi Dalem Kepangeranan “Kau benar-benar keras kepala kamas” geram Rudira. “Kita sama-sama keras kepala” “Meskipun kau saudara tua, tetapi kau tidak pantas dihormati. Apalagi derajatmu yang tidak setingkat dengan derajatku” “Memang. Terapi darahku masih sepanas darahmu” “Persetan. Aku akan membuktikan bahwa aku lebih baik darimu dalamsegala hal” “Dan hatimu lebih hitamdar i hatiku”Penghinaan di hadapan banyak orang itu benar-benar tidak dapat dimaafkan lagi. Tiba-tiba saja tangan Rudira terayun ke mulut Juwir ing. Demikian cepatnya dan tidak terduga-duga, sehingga Juwiring terkejut karenanya. Tetapi gerak naluriahnya telah memutar leher dan menariknya mundur, sehingga tangan itu hanya menyentuh sedikit saja di pipinya. Beberapa orang yang menyaksikan gerakan itu berdesah tertahan. Hanya suara Arum sajalah yang terdengar melengking. Namun iapun kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ternyata Juwiring tidak membiarkan dir inya diperlakukan demikian. Dengan marah pula ia mempersiapkan dir inya. Dan agaknya Rudira memang benar-benar ingin berkelahi, sehingga tiba-tiba saja ia telah menyerangnya. Tetapi Juwiring telah siap pula. Karena itulah, maka sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang seru. Rudira yang tinggi hati itu tidak lagi berusaha mengekang dirinya Ia ingin benar-benar mengalahkan saudara seayahnya dan membuatnya jera. Namun agaknya Juwir ing t idak membiarkan Rudira ber laku sesuka hatinya. Latihan-latihan yang diperolehnya, tiba-tiba saja telah membuatnya menjadi garang. Sejenak kemudian tanpa sesadarnya, ialah yang justru menyerang adiknya itu dengan serangan-serangan beruntun, sehingga Rudira menjadi bingung karenanya. Untuk menghindarkan dirinya, Rudira meloncat surut, tetapi Juwiring mengejarnya terus. Berkali-kali tangannya berhasil mengenai tubuh Rudira. Bahkan kemudian terdengar Rudira mengaduh ketika kaki Juwiring berhasil menghantam lambung. Para pengiring dan pengawal Rudira yang sebenarnya ingin pergi berburu itupun menjadi berdebar-debar. Meskipun ketika mereka berangkat, ada juga pesan Rudira, bahwa merekaakan berusaha singgah di padepokan Jati Aking untuk menemui Juwiring, namun mereka tidak menyangka, bahwa pertengkaran akan begitu cepat berkobar. Namun pada umumnya para pengiring itupun mengetahui, bahwa sejak lama pada keduanya telah tersimpan perasaan yang buram. Sikap bermusuhan memang sudah mereka lihat sejak keduanya masih tinggal di istana Ranakusuman, sampai pada suatu saat Juwiring disingkirkan dan dengan banyak alasan dikirim ke Jati Aking atas saran Ki Dipanala. Bagi Dipanala, Juwiring lebih baik berada di Jati Aking daripada di tempat lain yang masih belum diketahuinya. Kalau ia jatuh kerangan orang yang tidak bertanggung jawab, maka nasibnya akan menjadi semakin buruk. Dan kini, perasaan yang agaknya telah lama tersimpan di dalam hati kedua anak muda itu telah meledak. Karena itulah maka para pengir ingnya menjadi termangu- mangu sejenak. Baru setelah Rudira mulai terdesak, beberapa orang di antara mereka sadar, bahwa mereka dapat berusaha mencegah perkelahian yang semakin lama menjadi semakin sengit. Namun demikian mereka masih ragu-ragu juga. Mereka mengenal Rudira baik-baik. Anak muda yang keras hati dan keras kepala itu, tidak akan mudah mendengarkan kata-kata mereka. Dan bahkan mungkin Rudira akan menjadi semakin marah. Sehingga dengan demikian, para pengawalnya itu hanya berdiri sa)a termangu-mangu. Tetapi akhirnya salah seorang dari mereka tidak dapat menahan perasaannya lagi. Ia tidak sampai hati melihat kedua putera Pangeran Ranakusuma itu berkelahi. Karena itu, maka iapun bergeser setapak maju. Tetapi langkahnya segera terhenti ketika tangan yang kuat menggamitnya. Tangan kawannya sendiri. Seorang pengawal yang bertubuh tinggi kekar dan berkumis lebat.“Biar saja. Juwiring memang perlu dihajar” Kawannya yang ingin melerai perkelahian itu mengerutkan keningnya. Dan orang berkumis itu berkata seterusnya “Kalau Raden Rudira tidak dapat menghajarnya, aku pasti akan mendapat kesempatan” “Kenapa kita tidak mencegahnya, justru malahan akan ikut campur?“ Orang itu tersenyum. Katanya “Tuan kita adalah Raden Rudira. Bukan Juwiring yang sudah dibuang kepadesan itu” Kawannya tidak menyahut. Ia sadar, bahwa orang berkumis itu mempunyai beberapa kelebihan dari padanya dan kawan-kawannya yang laia. Karena itu, iapun tidak berani lagi membantah. Namun dengan demikian hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Kalau orang itu benar-benar mendapat perintah dari Rudira, maka nasib Juwir ing akan menjadi kurang baik. Dengan ragu-ragu orang-orang itu mencoba memandang wajah-wajah kawan-kawannya yang lain. Seperti orang yang baru sadar akan dir inya, ia terperanjat. Ternyata orang-orang yang ada di dalam iring- iringan untuk pergi berburu itu kebanyakan adalah orang-orang yang dikenalnya sebagai abdi yang paling setia kepada Raden Ayu Galihwarit. Satu dua di antara bahkan termasuk bukan saja abdi setia, tetapi penjilat- penjilat. Orang-orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri sebenarnya juga seorang penjilat. Tetapi ia menyadari, bahwa yang dilakukan itu sekedar untuk mempertahankan sumber penghidupannya beserta isteri dan anaknya. Kalau ia dipecat dari Ranakusuman, maka akan sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan baru di Surakarta. Apalagi ia tidak mempunyai lagi sawah dan ladang di padesan. Tetapi kawan-kawannya yang lain menjadi penjilat bukan saja karena penghidupannya, tetapi mereka memang inginmendapatkan puj ian, borang-orang yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya dan uang yang lebih banyak lagi. “Tidak banyak yang berani berbuat dan bersikap seperti Dipanala” katanya di dalam hati “Tetapi aku yakin, sebentar lagi iapun pasti akan tersisih dan bahkan mungkin, nasibnya lebih jelek lagi daripada itu” Dan kini, ia menyaksikan perkelahian itu menjadi berat sebelah. Rudira ternyata benar-benar telah terdesak. Bagaimanapun juga Rudira berusaha, namun Juwiring tidak dapat dikalahkannya. Rudira sama sekali tidak menyangka, bahwa Juwiring mampu juga berkelahi. Bahkan ternyata, Juwiring tidak dapat dikalahkannya. Tetapi ternyata bahwa Rudira bukan seorang bangsawan yang berhati satria. Setelah ia yakin bahwa ia tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu, tiba-tiba saja ia berteriak “Sura. Hajar orang ini. Aku tidak mau mengotori tanganku dengan menyentuh tubuhnya yang berlumpur ini” “Juwiring berdesir mendengar nama itu. Ia tahu, bahwa Sura adalah seorang abdi Ranakusuman yang paling ditakuti oleh kawan-kawannya, tetapi juga dibenci. Ia memiliki beberapa kelebihan karena tubuhnya yang kokoh kuat, meskipun otaknya sedungu kerbau. Sebenarnya Juwiring tidak gentar apabila ia harus berkelahi melawan Sura itu, setelah ia mempunyai dasar-dasar pengetahuan ilmu olah kanuragan. Karena ia yakin, bahwa bukan kekuatan tubuh semata-mata yang dapat diandalkan dalam perkelahian. Tetapi juga pikiran dan pengamatan yang tepat Tetapi untuk berhadapan dengan dua orang, ia memang merasa ragu-ragu. Apakah ia akan mampu berkelahi melawan dua orang sekaligus.Ketika orang berkumis yang ternyata bernama Sura itu beringsut maju, maka dada orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi semakin berdebar-debar. Orang itu bertubuh tinggi, tegap dan kekar. Kumisnya menyilang di bawah hidungnya, membuat wajahnya yang kasar menjadi semakin mengerikan. “Kemarilah“ berkata Rudira masih sambil berkelahi “Anak ini t idak seberapa Tetapi tubuhnya terlampau kotor untuk di sentuh. Karena itu, bantinglah dan benamkan sama sekali ke dalam lumpur. Biar lah ia menjadi semakin kotor, karena lumpur baginya adalah sumber penghidupannya“ Arum yang melihat kehadiran orang itupun menjadi cemas juga. Menilik tubuhnya yang besar, maka ia pasti mempunyai kekuatan yang besar pula. Dengan demikian apakah Juwiring seorang diri mampu melawannya, apalagi apabila Rudira sendiri masih ikut serta berkelahi. Dengan menahan nafas ia melihat Sura melangkah setapak demi setapak mendekati arena. Juwiring dan Rudira masih juga berkelahi dengan serunya. Sekali-sekali mereka berdua berpaling kearah orang berkumis yang mendekat perlahan- lahan, seperti seekor harimau yang sedang mengintai mangsanya. Rudira perlahan-lahan berusaha menggeser perkelahian itu. Demikian Sura memasuki arena, maka ia akan dapat segera meloncat menepi. Langkah Sura setapak demi setapak itu, terasa berdentangan di dada Arum. Wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Dengan gelisah dipandanginya otot-otot yang merambat di segenap wajah kulit orang yang bernama Sura itu. Dalam pada itu, Juwir ingpun menjadi berdebar-debar. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menjatuhkan Rudira sebelum Sura memasuki arena. Tetapi ia tidak segera berhasil,justru karena ia mulai gelisah melihat bentuk tubuh raksasa itu. Namun adalah di luar dugaannya, dan di luar dugaan semua orang yang menyaksikan perkelahian itu sambil menahan nafas. Tiba- tiba saja tanpa berkata sepatah katapun, seorang anak muda melontarkan dirinya langsung menyerang Sura dari samping. Tubuhnya yang ringan dan sikapnya yang mapan, menunjukkan bahwa ia pernah mengenal ilmu olah kanuragan. Kaki kanannya terjulur lurus menyamping. Tubuhnya bagaikan seorang yang sedang berbaring miring. Seperti halilintar, kakinya menyambar tengkuk Sura yang sedang berjalan perlahan-lahan maju. Benar-benar serangan yang tidak disangka-snagkanya dari arah yang tidak disangka- sangka pula. Demikian kerasnya serangan itu dan langsung mengenai tengkuk, sehingga raksasa yang bernama Sura itu sama sekali tidak sempat berbuat apapun juga. Tumit yang menghantam tengkuknya serasa membuatnya kehilangan keseimbangan. Terhuyung-huyung ia terdorong beberapa langkah ke samping. Dengan susah payah ia mencoba menahan keseimbangan tubuhnya. Tetapi, kaki yang mengenai tengkuknya itu, begitu berjejak diatas tanah, langsung melontar kembali. Kali ini dengan sebuah putaran mendatar. Tumit itu pulalah yang kemudian menghantam perutnya, sehingga tanpa ampun lagi, Sura yang bertubuh raksasaitupun terduduk perlahan-lahan setelah berjuang dengan sekuat tenaganya untuk menjaga keseimbangannya. Ternyata serangan yang datang masih belum tuntas. Kini sisi telapak tangan anak muda itulah yang menghantam pelipisnya sehingga wajah itu tertengadah sejenak. Disusul oleh sebuah pukulan di bawah telinga kanan. Sura yang bertubuh raksasa itu benar-benar tidak berdaya. Serangan yang datang beruntun itu benar-benar mengejutkannya dan mengejutkan semua orang yang menyaksikannya. Tidak seorangpun yang menyangka bahwa hal itu akan terjadi, sehingga Sura sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk berbuat apapun juga, karena yang terjadi itu berlangsung begitu cepatnya. Sejenak kemudian Sura telah duduk bersimpuh. Kepalanya terkulai dengan lemahnya, sedang kedua belah tangannya memegang perutnya yang serasa berputar-putar. Matanya menjadi berkunang-kunang, sedang telinganya berdesing keras sekali, seperti seribu sendaren bersama-sama mengaum di dalam telinganya itu. Anak muda itu agaknya masih belum puas. Tetapi ketika ia mengangkat tangannya sekali lagi terdengar suara Juwiring “Buntal” Anak muda itu tertegun. Iapun kemudian berpaling sambil berkata “Aku tidak akan dapat melawannya apabila ia sempat melakukan. Ia harus kehilangan kemampuannya itu, dan tidak berdaya untuk selanjutnya” Juwiring berdir i termenung sejenak. Rudirapun menjadi bingung sesaat, sehingga perkelahian itu menjadi terhenti dengan sendirinya. “Jangan Buntal” cegah Juwiring. Buntal memandanginya dengan heran. Kenapa justru Juwiringlah yang mencegahnya. Karena itu, sejenak ia berdirikebingungan. Sekali-sekali dipandanginya wajah Rudira, kemudian Juwir ing dan bahkan beredar pada setiap wajah yang ada di sekitarnya. Sejenak arena itu dicengkam oleh kediaman yang tegang. Semua mata kini tertuju kearah Buntal. Anak muda yang berdiri di samping seorang raksasa yang duduk bersimpuh menahan sakit di seluruh bagian tubuhnya. Namun kediaman itu, segera dipecahkan oleh suara Rudira yang tiba-tiba menyadari keadaannya “Hancurkan kedua anak gila ini. Tidak ada ampun lagi bagi mereka” Juwiring terkejut mendengar perintah itu. Selama ini, selama ia berkelahi melawan Rudira, ia masih belum kehilangan pegangan. Ia masih tetap sadar, bahwa lawannya itu adalah adiknya. Tetapi agaknya Rudira benar-benar telah menjadi mata gelap. Sura bukannya orang yang dapat menahan dir i dan menimbang perasaan. Kalau Sura sempat berbuat sesuatu, maka ia pasti akan menjadi parah. Ternyata Buntal mempunyai perhitungannya sendiri dan melumpuhkan raksasa itu sebelum berbuat sesuatu. Tetapi kini Rudira telah memerintahkan orang-orangnya yang lain Tidak kurang dari tujuh orang. Bahkan lebih. Dalam pada itu, orang-orangnya menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka tersentak ketika Rudira berteriak “Cepat, sebelum mereka melar ikan dir i. Aku akan bertanggung jawab. Kalau ada orang lain yang ikut campur, mereka akan mengalami nasib serupa” Seperti terbangun dari mimpi merekapun kemudian bergerak hampir bersamaan. Kuda-kuda mereka, begitu saja mereka lepaskan. Empat orang dari mereka dengan tergesa- gesa mengepung kedua anak-anak muda itu, namun yang lain masih juga agak ragu-ragu. “Siapa yang berkhianat, aku tidak tahu akibat yang akan menimpa dirinya di istana nanti”Ancaman itu telah mendorong orang-orang yang mengiringi Rudira itu semakin maju. Apapun yang ada di dalam hati, namun mereka harus berbuat seperti yang dikehendaki oleh anak muda bangsawan itu. Tetapi agaknya Juwiring sama sekali tidak ingin menyerah. Demikian juga Buntal yang sedikit lebih muda daripadanya. Ke duanya justru menyiapkan diri, menghadapi segala kemungkinan. Pada saat itu, Sura mulai bergerak. Dengan segenap ketahanan yang ada padanya, ia mencoba mengatasi rasa sakit di tubuhnya. Ketika ia mendengar aba-aba Rudira, timbullah niatnya untuk ikut berkelahi dan membalas serangan-serangan yang tidak sempat dielakkannya. “Cepat. Aku mau kalian bertindak sekarang. Sekarang!” Ketika orang-orang yang mengepung kedua anak muda itu mulai bergerak. Surapun berusaha untuk berdiri. Tetapi Buntal yang berdiri di sisinya sama sekali tidak memberinya kesempatan, la sadar sepenuhnya. bahwa orang yang bernama Sura itu orang yang paling berbahaya di antara para pengiring Rudira. Karena itulah, maka sebelum Sura berhasil berdiri, dengan sekuat tenaganya, tanpa peringatan apapun juga. Buntal sekali lapi menghantam tengkuk orang itu. Kali ini dengan sisi telapak tangannya. Sura adalah seorang yang seakan-akan bertubuh liar. Tetapi ternyata pukulan Buntal itu membuatnya keriangan kekuatan. Sambil menyeringai ia mengpeliat, Tetapi sekali lagi pukulan yang sama telah diulang oleh Buntal. Kali ini Sura benar-benar tidak dapat bertahan 1agi. Kepalanya segera tertunduk dan tubuhnya terkulai dengan lemahnya. Pada saat itulah, para pengawal Rudira mulai menyerang. Ada yang menyerang dengan mantap dan sepenuh hati, tetapi ada juga yang masih ragu-ragu, sebab merekapun tahu, bahwa Juwirng adalah putera Pangeran Ranakusnma sepertiRudira. Tetapi karena Rudira kini berkuasa di istana Ranakusuman, maka tidak seorangpun yang berani melawan kehendaknya. Juwiring dan Buntal terpaksa berkelahi melawan mereka. Tetapi di antara mereka tidak lagi terdapat Sura yang telah hampir menjadi pingsan sambil duduk bersimpuh. Kepalanya yang terkulai mencium tanah dialasinya dengan kedua tangannya yang lemas. Arum berdiri membeku di pinggir parit. Ia berdiri di antara dua kemungkinan yang sama-sama berat. Kalau ia sama sekali tidak berbuat apa-apa, adalah terlalu sulit bagi Juwir ing dan Buntal untuk bertahan melawan tujuh orang bahkan lebih. Arum yang merasa memiliki kemampuan setingkat dengan Juwiring dan Buntal, yang hanya karena kodrat kegadisannya sajalah yang memberikan selisih sedikit dalam olah kanuragan, merasa mampu juga ikut di dalam arena perkelahian. Tetapi jika demikian, maka ia akan menjadi orang aneh di padukuhan Jati Sari. Ia akan menjadi pusat perhatian untuk waktu yang lama, yang bahkan tidak akan ada habisnya. Kawan-kawannya pasti akan bersikap lain kepadanya, bahkan mungkin gadis- gadis Jati Sari akan menjauhinya, sehingga ia akan terkurung di padepokan Jati Aking saja. Dalam keragu-raguan itu, ia mendengar suara Juwir ing lantang “Jangan berbuat sesuatu Arum. Tinggallah disitu. Atau pergilah jauh- jauh” Arum mengerti maksud Juwiring. Ia harus menahan hati. Ia harus tetap merupakan seorang gadis biasa di mata kawan- kawannya dan orang-orang Jati Sari. Karena itulah maka ia justru melangkah surut Namun dengan demikian ia menjadi cemas akan nasib kedua saudara seperguruannya itu. Dalam pada itu, Juwiring dan Buntal berkelahi mati-matian untuk mempertahankan diri. Untunglah bahwa t idak semua pengawal Rudira berkelahi bersungguh-sungguh, sehinggameskipun jumlah mereka cukup banyak, namun Juwiring dan Buntal masih tetap dapat bertahan. Tetapi agaknya Rudira melihat hal itu, sehingga karenanya ia berteriak keras-keras” sekali lagi aku peringatkan. Siapa yang berberkhianat akan mengalami nasib jelek di istana. Tidak ada orang yang dapat mencegah tindakan yang akan aku ambil atas kalian” Dada para pengiringnya itupun menjadi berdebaran. Mereka tidak boleh berkelahi berpura-pura. Dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan sikapnya itu. Jika demikian, maka mereka akan dapat diusir dari pekerjaan mereka. Karena itu, tidak ada pilihan lain daripada berkelahi benar- benar. Di dalam hati mereka berkata “Bukan tanggung- jawabku. Aku hanya menjalankan perintah” Dengan demikian maka perkelahian itu menjadi semakin lama semakin sengit. Bagaimanapun juga Juwiring dan Buntal menjadi semakin terdesak. Badan mereka mulai merasa lelah dan sakit, karena setiap kali mereka tidak berhasil mengelakkan serangan-serangan lawan yang datang dari segala penjuru, sedang ilmu yang mereka kuasai baru sekedar ilmu dasar, dari ilmu yang sesungguhnya. Arum menjadi bertambah gelisah. Ia tidak akan dapat minta bantuan kepada ayahnya yang bagi orang-orang Jati Sari, Kiai Danatirta dari padepokan Jati Aking, adalah seorang tua yang hanya mesu kajiwan dan kasampurnan batin. Sama sekali bukan seseorang yang mendalami ilmu kanuragan. Sehingga dengan demikian Arum menjadi semakin bingung. Dalam pada itu, keadaan Juwiring dan Buntal menjadi semakin sulit seperti hati Arum. Mereka terdesak semakin jauh, sehingga hampir tidak dapat bertahan lagi. Bahkan sekali-sekali Buntal terdorong beberapa langkah. Hanya karena kekerasan hatinya sajalah maka ia masih tetapbertahan dan berkelahi terus, meskipun keningnya telah menjadi kebiru-biruan dan pipinya mulai membengkak. Pada saat-saat yang berat itu, justru Sura mulai bergerak dan tertatih-tatih berdiri. Sejenak ia masih memegangi perutnya dan kemudian meraba-raba tengkuknya. Namun sejenak kemudian ia sudah berhasil berdiri tegak. Ketika ia melihat bahwa perkelahian masih berlangsung, maka iapun menggeram. Kini ia tidak melangkah setapak demi setapak perlahan-lahan. Tetapi dengan tergesa-gesa ia mendekati arena sambil berteriak “Lepaskan yang kecil itu. Itu adalah bagianku. Kalan semuanya tinggal mempunyai seorang lawan. Terserah perintah dari Raden Rudira terhadap kalian atas Raden Juwiring Tetapi anak gila itu serahkan kepadaku” Buntal menjadi berdebar-debar. Ia melihat api yang menyala di mata orang yang bernama Sura itu. Namun seperti yang telah terjadi. Benar-benar di luar dugaan, bahwa dalam keadaannya. Buntal berhasil menyusup, sesaat perhatian lawannya tertarik oleh suara Sura. Sekali lagi ia melontarkan dir inya dan kaki terjulur lurus menghantam raksasa itu. Kali ini mengarah ke dadanya. Namun Sura sempat melihat serangan yang dianggapnya terlampau gila itu. Tetapi ia tidak sempat mengelak. Dengan demikian maka dengan tergesa-gesa disilangkannya tangannya di depan dadanya itu untuk menangkis serangan Buntal. Daya lontar Buntal ternyata cukup besar. Ternyata benturan itu membuat Sura terdorong surut beberapa langkah, sedang Buntal sendiri terlempar jatuh di tanah Tetapi cepat ia bangkit berdiri meskipun ia harus menyeringai karena pergelangan kakinya seiasa akan patah. Sura berhasil mempertahankan keseimbangan meskipun hampir saja ia terjatuh. Serangan itu begitu tiba-tiba.Didorong pula oleh daya lontar yang kuat, sedang tubuh Sura sendiri masih belum pulih sama sekali. Tetapi kini Sura mengetahui, bahwa kekuatan anak itu tidak terlampau mencemaskan. Kalau ia sempat melawan, maka baginya Buntal bukanlah lawan yang harus diperhitungkan, meskipun kelincahannya mengagumkannya pula. Kini Sura memusatkan perhatiannya kepada Buntal, sementara yang lain mulai melingkari Juwir ing. “Hancurkan mereka. Itu perintahku. Aku akan bertanggung jawab. Buatlah mereka untuk selanjutnya tidak akan dapat melawan kita lagi. Mungkin tangan mereka atau kaki merekalah yang membuat mereka terlampau sombong” “Bagus” geram Sura “Aku akan melakukan sebaik-baiknya. Tangan anak ini memang terlampau cekatan” Dada Buntal benar-benar berguncang ketika ia melihat Sura mendekatinya. Tetapi ia sudah terlanjur basah. Karena itu, apapun yang akan terjadi akan dihadapinya. Dalam pada itu, Juwiringpun menjadi berdebar-debar. Sura memang bukan lawan Buntal yang masih terlalu muda itu. Bahkan ia sendir i yang lebih tua, masih harus mempergunakan bukan saja tenaganya, tetapi terlebih-lebih adalah otaknya untuk melawan orang yang bernama Sura itu. Dan agaknya pertimbangan pikiran Buntalpun masih belum cukup dewasa menanggapi lawannya itu, sehingga apabila ia hanya sekedar mempergunakan tenaga dan dasar-dasar ilmunya, maka ia tidak akan dapat melawannya. Apalagi apabila sekali anggauta badannya teraba oleh Sura, maka tulang-tulangnya pasti akan retak karenanya. Tetapi Juwiring tidak dapat berbuat apa-apa, karena beberapa orang telah berdiri melingkarinya. Kalau ia bergerak, maka itu akan berarti, ia harus berkelahi melawan orang- orang itu.Sejenak Juwiring berdiri termangu-mangu. Ia melihat Buntal telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan, meskipun kemungkinan yang paling besar akan terjadi adalah kemungkinan yang kurang menyenangkan baginya. “Jangan menyesal” geram Sura “Kau sudah menyakiti aku. Sekarang aku akan menyakit i kau” Buntal tidak menyahut. Tetapi ia tidak mau didahului. Menurut pertimbangannya, memang lebih baik mendahului daripada didahului. Karena itu, maka selagi Sura melangkah mendekatinya, sekali lagi Buntal melontarkan serangan sekuat-kuat tenaganya. Untuk melawan raksasa itu, Buntal lebih percaya kepada kekuatan kakinya, meskipun ia sadar, bahwa ia menghadapi kekuatan yang lebih besar dari kekuatannya. Juwiring mengerutkan keningnya. Buntal memang masih terlampau muda. Kalau ia mencoba melawan kekuatan dengan kekuatan, maka sebentar lagi, ia pasti akan diremukkan oleh raksasa Ranakusuman yang mengerikan itu. Dugaan Juwiring tidak jauh meleset. Sekali lagi kaki Buntal menghantam tangan Sura. Kali ini Sura mengir ingkan tubuhnya, dan membenturkan lengannya. Namun kekuatan lengannya telah mampu melemparkan Buntal dan membantingnya jatuh di tanah, meskipun Sura sendiri juga terdorong beberapa langkah surut. Buntal menyeringai menahan sakit di punggungnya yang membentur batu padas. Tetapi iapun segera berusaha berdiri untuk menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi, meskipun pergelangan kakinya semakin terasa sakit. Arum yang masih berdir i Di tempatnya menjadi semakin, bingung. Sudah tentu ia tidak akan dapat berdiam dir i, apabila bahaya yang sebenarnya telah mengancam kedua saudaranya itu. Apapun yang akan dikatakan orang, dan apapun yang akan terjadi pada dirinya seterusnya ia tidakmempedulikannya lagi. Sehingga karena itu, iapun justru melangkah mendekat, setelah ia meletakkan selendangnya. “Tetapi aku memakai kain panjang” berkata Arum kepada diri sendir i di dalam hatinya “sedang disini banyak orang. Kalau aku berada di halaman rumah sendir i di malam hari aku dapat menyingsingkan saja kain panjang ini. Tetapi bagaimana disini?“ Arum menjadi termangu-mangu. Tetapi ketika terpandang olehnya Buntal yang tampak terlampau kecil berdiri berhadapan dengan Sura, maka iapun menggeretakkan giginya “Apa peduliku dengan orang-orang itu. Aku dapat menyangkutkan kain seperti Buntal dan Juwir ing” Dalam pada itu, dada Arum berdesir ketika ia melihat Sura mulai menyerang lawannya. Sebuah pukulan yang keras mengarah ke pelipis Buntal. Tetapi Buntal cukup cekatan sehingga ia masih sempat mengelak. Bahkan kemudian dengan. lincahnya ia mencoba menyerang lambung Sura dengan kakinya. Dengan gerak naluriah Sura mengibaskan tangannya, memukul kaki itu. Terdengar Buntal mengeluh tertahan. Terasa betisnya bagaikan dipukul dengan sepotong besi, sehingga ia terputar setengah lingkaran sebelum ia meloncat menjauhi Sura yang mengejarnya. Juwiring sendiri masih berdir i termangu-mangu. Agaknya orang-orang yang mengurungnyapun menjadi termangu- mangu juga. Mereka masih menunggu apa yang harus mereka lakukan, sementara semua perhatian terikat oleh perkelahian antara Buntal dan Sura. Hampir saja Arum menjerit, ketika ia melihat sekali lagi kekuatan mereka berbenturan, karena Sura t idak pernah berusaha mengelakkan serangan Buntal. Sekali lagi Buntal terlempar. Kali ini cukup keras, sehingga ia tidak dapat mempertahankan keseimbangannya lagi. Dengan derasnya iajatuh terbanting dan berguling kokoh kuat yang seperti sepasang tiang terpancang jauh ke dalam bumi. Ketika ia meloncat berdiri sambil menyeringai, ia sempat melihat orang itu. Seorang yang bertubuh tinggi kekar, bermata tajam dan berwajah sedalam lautan. Menilik raut mukanya yang meskipun kotor oleh debu dan keringat, orang itu bukan orang kebanyakan. Tetapi menilik pakaiannya, ia adalah seorang petani miskin yang baru berada dalam perjalanan yang jauh. Bajunya dibuka dan dililitkan di lambungnya. Kain panjangnya disingsingkannya pula, sehingga celananya yang sampai di bawah lututnya tampak kumal dan kotor sekotor wajahnya itu. Kehadiran orang itu ternyata telah menarik perhatian. Sejenak ia berdiam dir i memandang Buntal yang tertatih-tatih berdiri. Kemudian memandang orang-orang yang berada di sekitar arena perkelahian itu. “Kenapa tuan-tuan berkelahi disini?“ bertanya orang itu dengan suara yang berat. “Siapa kau?“ Rudiralah yang bertanya. “Aku seorang petani yang berada dalam perjalanan yang jauh tuan. Dan siapakah tuan? Menilik pakaian tuan, tuau adalah seorang bangsawan” “Ya. Aku adalah putera Pangeran Ranakusuma” “O“ petani yang bertubuh tinggi itu mengangguk dalam- dalam “Maafkan aku tuan. Aku tidak tahu, bahwa tuan adalah seorang putera Pangeran” “Sekarang kau sudah tahu. Minggirlah. Kami sedang menyelesaikan persoalan kami” “Maaf tuan, apakah aku boleh bertanya?“ Rudira memandang orang itu dengan tajamnya. Tetapi jaraknya-tidak begitu dekat“Kenapa perkelahian ini tidak dilerai? Dan agaknya anak muda yang seorang itupun sudah terkepung pula?“ Itu urusanku. Pergilah. Jangan mencampur i persoalan orang lain. Aku adalah putera Pangeran Ranakusuma. Aku mempunyai wewenang untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keinginanku atas orang-orang kecil yang tidak tahu adat ini” “Jadi, tuanlah yang sedang melakukan tindakan kekerasan atas orang-orang kecil ini?“ “Ya” “Apakah salah mereka?“ “Kau tidak mempunyai sangkut paut apapun juga dengan mereka. Pergilah, supaya kau tidak tersangkut di dalam persoalan ini” bentak Rudira. “Aku sudah berjalan jauh tuan. Tetapi aku t idak pernah menjumpai persoalan serupa ini. Seharusnya tuan dan pengawal-pengawal tuan melindungi orang-orang kecil ini dari segala macam kesulitan” “Diam, diam“ tiba-tiba Rudira membentak “Kau tahu akibat dari kata-katamu itu he? Bahwa kau berani membantah kata- kataku, itu adalah alasan yang baik bagiku untuk bertindak. Kau mengerti?“ “Mengerti tuan. Tetapi perjalananku yang jauh mengajar kepadaku, agar aku tidak cukup sekedar mengerti sikap orang lain, tetapi aku harus menilainya pula, apakah sikap itu benar atau tidak” Tiba-tiba mata Rudira bagaikan menyala. Ia tidak menyangka bahwa orang yang tiba-tiba saja datang melihat perkelahian itu, bersikap sangat menyakitkan hati. “He, apakah kau bukan kawula Surakarta?“ “Aku kawula Surakarta”“Kenapa kau berani bersikap semacam itu kepadaku. Kepada putera Pangeran Ranakusuma” “Aku pernah berjalan berkeliling kota Surakarta. Dan aku memang pernah mendengar siapakah Pangeran Ranakusuma itu. Kalau tuan puteranya, maka tuan pasti pernah melihat, ayahanda tuan adalah sahabat yang baik dari orang-orang yang berkulit aneh itu. Kulitnya tidak seperti kulit kita dan matanya tidak seperti mata kita. Tetapi itu bukan alasan untuk menarik batas antara kita yang berkulit kotor dan bermata gelap ini dengan mereka, tetapi tindak dan sikap merekalah yang membuat jarak antara kita dengan orang-orang asing itu. Memang tidak ada bedanya di dalam hakekat, bahwa kita adalah mahluk Tuhan seperti mereka. Tetapi juga tidak akan dibenarkan apabila yang satu mulai melakukan penghisapan kepada yang lain. Bangsa yang satu atas bangsa yang lain. Nah, tolong, sampaikan kepada ayahanda tuan, bahwa akulah yang berkata demikian” “Siapa kau?“ “Seorang petani dari Sukawati” “Huh“ Raden Rudira menjadi semakin marah “Apa artinya seorang petani bagi ayahanda. Pergi dari tempat ini, atau kau harus mengalami nasib seperti anak itu?“ “Anak ini adalah benih yang baik buat masa mendatang. Aku sebenarnya sudah melihat perkelahian yang terjadi disini dari kejauhan. Tetapi ketika aku melihat benih masa mendatang ini akan dipatahkan, aku merasa sayang, sehingga akupun mendekat” Jawaban itu bagaikan iebuah tamparan yang langsung diwajab Rudira, sehingga wajah itupun menjadi merah padam. Dengan suara bergetar ia berkata “Jadi jadi, apa maksudmu he? Apa yang akan kau lakukan?““Aku melihat dua orang anak petani ini dapat berbuat banyak di saat-saat mendatang, Karena itu, jangan tuan mengganggunya” “Persetan. Kau tidak dapat mencegah aku. Atau kau sendiri yang akan menjadi pengewan-ewan disini?” “Tuan, aku sudah mendekati arena. Karena aku merasa sayang kepada dua orang anak muda yang berkelahi melawan beberapa orang inilah maka aku datang. Anak ini memang bukan lawan raksasa yang dungu itu” “Gila“ Sura hampir berteriak “Apakah kau akan turut campur?“ “Maaf. Aku terpaksa turut campur” “Sura” teriak Rudira yang tidak sabar lagi “selesaikan orang itu” “Baik tuan” jawab Sura sambil membusungkan dadanya. Lalu katanya “Petani dari Sukawati, jangan menyesal bahwa kau hari ini telah salah langkah” “Aku akan menerima segala nasib yang akan menimpaku hari ini” jawab petani itu. Namun dalam pada itu Buntal tiba-tiba berkata “Pergilah. Pergilah supaya kau tidak terlibat dalampersoalan ini” “Aku memang melibatkan diriku, anak muda” jawab petani itu.Tetapi petani itu tidak sempat lagi mengucapkan kata-kata yang sudah di kerongkongan, karena tiba-tiba saja Sura telah menyerangnya. Tangannya terayun dengan derasnya ke wajah petani yang kotor itu. Tangan Sura yang mempunyai kekuatan melampaui kekuatan kawan-kawannya abdi Ranakusuman. Yang melihat ayunan tangan Sura itu menahan nafas. Demikian juga Juwiring, Buntal dan bahkan Rudira sendiri. Kalau tangan itu mengenai pelipis petani itu, maka ia pasti akan pingsan seketika. Tetapi yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Setiap orang yang menyaksikan hanya dapat berdiri dengan mulut ternganga. Mereka hampir tidak percaya atas apa yang telah terjadi. Dengan tenangnya, petani dri Sukawati itu menggerakkan tangannya. Tenang tetapi secepat gerak tangan Sura. Hampir tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, tiba-tiba saja orang itu telah berhasil menggenggam pergelangan tangan raksasa yang marah itu. Demikian cepatnya, sehingga Sura tidak sempat menar iknya. Bahkan sekejap kemudian terdengar Sura itu mengaduh pendek. Tangannya ternyata jelah terpilin di punggungnya. Kemudian suatu hentakkan yang keras mendorongnya, sehingga Sura itupun jatuh menelungkup dengan derasnya, sehingga wajahnya telah menyentuh tanah. Tidak seorangpun yang dapat mengatakan, apa yang telah dilakukan oleh petani yang mengaku berasal dari Sukawati itu. Tetapi yang mereka lihat kemudian Sura berusaha dengan susah payah bangkit berdiri. Ketika ia meraba dahinya, terasalah sepercik darah dari kulitnya yang tersobek karena benturan sepotong batu padas. Peristiwa yang sesaat itu, ternyata telah membuat gambaran yang jelas kepada semua orang yang menyaksikan, apa saja yang dapat dilakukan oleh petani yang sedang dalamperjalanan jauh itu. Karena itu, maka dada merekapun menjadi berdebaran. Rudira yang menyaksikan hal itupun seolah-olah telah membeku. Hampir tidak masuk akal, bahwa raksasa itu dapat dijatuhkannya dengan mudah dalam perkelahian beradu muka. Berbeda dengan serangan Buntal yang tidak terduga- duga. Tetapi kali ini justru Suralah yang telah menyerang orang itu. Hal itu membuat jantung Rudira menjadi susut. Tetapi darahnya yang menggelegak membuatnya berteriak “He petani dungu. Kau sudah melawan keluarga Ranakusuma. Kau akan menyesal. Kami akan beramai-ramai mencincangmu tanpa tuntutan apapun juga” “Silahkanlah tuan. Disini aku tidak berdiri sendiri. Setidak- tidaknya aku mempunyai dua orang kawan untuk melawan tuan bersama kawan-kawan tuan. Dan sebelumnya aku akan memper ingatkan kepada tuan, bahwa tuan bersama pengiring tuan seluruhnya, tidak akan dapat melawan kami bertiga” Rudira menggeram. Tetapi ia tidak begitu saja mempercayainya. Karena itu, ia berteriak “Hancurkan orang itu lebih, dahulu” Kini para pengiringnya memandang petani itu dengan penuh keragu-raguan. Tetapi apabila Raden Rudira memer intahkan, merekapun harus melakukannya. Berkelahi dengan petani yang dengan sekilas telah menunjukkan kelebihan yang hampir t idak masuk akal. “Cepat” teriak Rudira “Orang itu harus kalian selesaikan dahulu, sebelum cucurut-cucurut kecil itu” Para pengiring Rudirapun mulai bergerak, betapapun dada mereka diguncang oleh keragu-raguan. Apapun yang akan mereka alami, namun mereka tidak akan dapat menolak perintah Raden Rudira. Tetapi langkah mereka terhenti, ketika mereka melihat Juwiring dan Buntalpun mulai bergerak pula.Dengan nada yang dalam Juwir ing dan Buntalpun mulai bergerak pula. Dengan nada yang dalam Juwiring berkata “Terima kasih atas pertolonganmu, petani dari Sukawati. Dan kini sudah barang tentu bahwa aku tidak akan membiarkan orang-orang itu mengerubutmu beramai-ramai. Aku dan adikku akan turut campur dalam setiap pertengkaran dengan kau apapun alasannya. Apalagi karena kau telah menolong aku dan adikku” “Terima kasih. Kita akan berkelahi bersama-sama melawan mereka” jawab petani dari Sukawati itu. Ternyata hal itu telah mengguncangkan jantung Rudira. Sejenak ia memandang Juwiring, kemudian Buntal dan yang terakir petani dari Sukawati itu. Namun tiba-tiba saja ia menyadari keadaannya. Para pengiringnya tidak akan dapat melawan mereka bertiga. Orang yang bertubuh tinggi kekar itu memiliki kemampuan yang tidak terduga-duga. Kalau ia memaksakan perkelahian, maka ia pasti akan menderita malu jauh lebih banyak lagi. Sehingga karena itu, maka Rudira yang masih sempat menilai keadaan itu tiba-tiba saja berkata lantang “Gila, semuanya sudah gila. Dan kita tidak akan terseret ke dalam kegilaan ini. Marilah kita tinggalkan orang-orang gila yang tidak berharga ini. Kita akan pergi berburu. Lebih baik menghunjamkan anak panah kita ke tubuh seekor kancil dar ipada harus dikotori dengan darah orang-orang yang tidak tahu adat ini. Tetapi ingat, bahwa keluarga Ranakusuma tidak akan tinggal diam. Kami akan mengambil tindakan yang pantas bagi kalian. Pada saatnya kami akan pergi juga ke Sukawati untuk menemukan seorang petani yang sombong macam kau” Petani itu menengadahkan wajahnya. Jawabnya “Aku akan menunggu tuan. Dan aku akan mengucapkan banyak terima kasih atas kunjungan tuan di Sukawati”“Persetan. Kau akan menyesal” lalu ia berteriak kepada para pengiringnya “tinggalkan cucurut-cucurut ini. Tangan kita jangan dikotori oleh lumpur yang melekat di tubuh mereka” Keputusan itu terasa seperti embun yang menitik di hati para pengiringnya yang kering. Perintah itu tidak perlu diulang lagi. Ketika Rudira kemudian pergi ke kudanya dan langsung meloncat naik ke punggungnya, maka para pengiringnyapun segera berbuat serupa. Sejenak kemudian maka kaki-kaki kuda itu berderap diatas tanah yang berbatu padas, melontarkan debu putih yang mengepul di udara. Beberapa pasang mata mengikutinya dengan debar jantung yang terasa semakin cepat. Juwiring memandang debu yang semakin lama menjadi semakin tipis, dan yang kemudian lenyap disapu angin, seperti kuda-kuda yang berderap itu hilang di kejauhan. Sambil menarik nafas ia berpaling kepada petani yang mengaku dari Sukawati itu. Kemudian dengan mantap ia berkata ”sekali lagi aku mengucapkan terima kasih Ki Sanak” Petani itu menarik nafas dalam-dalam pula, seakan-akan ia ingin berebut menghirup udara dengan Juwir ing. Katanya “Kita sekedar saling tolong menolong” lalu sambil memandang kepada Buntal ia berkata “Bukankah kau t idak apa-apa” Buntal menggeleng. Jawabnya “Tidak. Aku tidak apa-apa” “Sokur lah. Ternyata bahwa mereka, maksudku Putera Pangeran Ranakusuma beserta pengiringnya bukan orang- orang yang kuat lahir dan batinnya. Sebenarnya pertengkaran semacam ini tidak perlu terjadi” Juwiring akan menyahut. Tetapi suaranya terputus ketika ia melihat seorang tua yang berlari-lari langsung mendapatkan Arumsambil berkata “Kenapa kau Arum, kenapa?“Arum mengerutkan keningnya. Dilihatnya ayahnya dengan nafas tersengal-sengal mendatanginya dengan wajah yang tegang. “Aku tidak apa-apa ayah” “Sokur lah. Sokurlah. Aku dengar Raden Rudira lewat di jalan ini dan kebetulan sekali berpapasan dengan kau” “Ya ayah. Untunglah ada kakang Juwiring dan Buntal” Arum berhenti sejenak, dipandanginya petani dari Sukawati itu sambil berkata “selebihnya orang itulah yang telah menolong kami” Kiai Danatirta memandang petani dari Sukawati itu dengan seksama. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Terima kasih Ki Sanak atas semua pertolonganmu. Tetapi apakah dengan demikian kau sendir i tidak terancam oleh bencana karena tingkah laku Raden Rudira itu. Aku datang dengan tergesa-gesa ke tempat ini setelah seseorang member itahukan kepadaku, apa yang terjadi. Aku masih melihat perkelahian yang ber langsung, dari kejauhan” Petani itu mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya “Mereka tidak akan menemukan aku Kiai” “Siapakah Ki Sanak sebenarnya?“ “Aku seorang petani dari Sukawati” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Ia melangkah semakin dekat dengan orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu. Tetapi sebelum ia dekat benar, petani itu berkata “Sudahlah Kiai. Aku akan meneruskan perjalananku kembali ke Sukawati. Aku baru saja menempuh perjalanan jauh mengunjungi sanakku“ “Tunggu” cegah Kiai Danatirta “Aku masih ingin bertanya” Petani itu tertegun. Tetapi katanya “Sudahlah. Tidak ada yang dapat aku terangkan lagi”“Kenapa Ki Sanak membantu anak-anakku? Apakah Ki Sanak sudah mengenal mereka?“ “Belum Kiai. Tetapi mereka adalah harapan di masa datang. Karena itu aku merasa sayang apabila benih yang baru tumbuh itu akan dipatahkan” Orang itu berhenti sejenak, lalu “Sudahlah Kiai. Aku akan pergi” “Tunggu, tunggu“ Kiai Danatirta menjadi semakin dekat. Dipandanginya wajah orang itu dengan saksama, seakan-akan ada yang dicarinya pada wajah orang itu. Tiba-tiba saja, semua orang yang melihatnya terperanjat bukan buatan. Dengan serta-merta Kiai Danatirta berjongkok di hadapannya sambil menyembah “Ampun Pangeran. Anak-anak itu tidak tahu, siapakah sebenarnya yang telah menolongnya” Tetapi dengan cepatnya orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itupun menangkap lengannya dan menariknya berdiri “Jangan berjongkok. Kalau kau mengenal aku, jangan kau beritahukan hal itu kepada siapapun” Tetapi Juwiring dan Buntal telah melihat sikap yang aneh pada gurunya. Demikian juga agaknya Arum, sehingga hampir berbareng mereka melangkah maju dengan penuh keragu- raguan. Kiai Danatirta tidak lagi berjongkok di hadapan petani dari Sukawati itu. Tetapi sikapnya menjadi berlainan sekali. Bahkansambil menyembah ia berkata “Ampun. Pangeran. Kami tidak menyangka bahwa tuan akan datang ke tempat ini” Ternyata panggilan itu telah mengguncangkan dada anak- anak muda yang sudah semakin dekat, dan dapat menangkap kata-kata itu. Sejenak mereka berdiri tegak sambil saling berpandangan. “Anak-anakku” berkata Kiai Danatirta “Kemar ilah. Kau pasti belum mengenalnya. Juwiring yang sudah lama tinggal di Ranakusumanpun pasti belum mengenalnya dengan baik, karena Pangeran ini jarang berada di antara kaum bangsawan. Bahkan Raden Rudirapun t idak. Juwiring memandang petani dar i Sukawati itu dengan dada yang berdebar-debar. Baru kini ia melihat sinar yang tajam memancar dari sepasang mata orang itu. Sementara Buntal yang sudah sejak semula melihat kelainan di wajah pelani itu menjadi semakin gelisah. Ia adalah orang yang pertama-tama berdiri paling dekat dengan orang itu, ketika ia terbanting jatuh dan berguling beberapa kali Pampir saja menyentuh sepasang kakinya yang kuat. Dan sejak ia melihat wajah itu dari jarak yang sangat dekat, ia sudah melihat kelainan itu. Arum yang seakan-akan tanpa menyadarinya bertanya perlahan-lahan “Siapakah orang itu ayah?“ “Petani dari Sukawati” jawab orang itu. Tetapi Kiai Danatirta berkata “Perkenankanlah anak-anak ini mengenal siapakah tuan” Orang itu menarik nafas dalam-dalam. “Bukankah tuan t idak berkeberatan?“ “Baiklah Kiai. Tetapi hanya anak-anakmu, meskipun aku tahu, bahwa mereka bukan anakmu sendiri”“Terima kasih tuan“ Kiai Danatirtapun kemudian berpaling kepada anak-anaknya, katanya “Inilah yang bergelar Pangeran Mangkubumi” “Pangeran Mangkubumi?” desis Juwir ing. Hampir saja ia berlutut di hadapan orang itu, seandainya orang yang ternyata adalah Pangeran Mangkubumi itu tidak berkata “Jangan membuat kesan yang aneh di tengah sawah ini. Aku adalah petani dari Sukawati. Lihat, masih banyak orang berada di sekitar tempat ini meskipun agak jauh. Tetapi jika mereka melihat sikap kalian, maka mereka pasti akan bertanya-tanya” “Tetapi, tetapi…” suara Juwiring menjadi bergetar “tuan adalah Pangeran Mangkubumi” “Ya. Apakah salahnya kalau aku Mangkubumi” Pangeran Mangkubumi berhenti sejenak, lalu “Kaupun pasti bukan anak Kiai Danatirta. Meskipun belum terlalu rapat, aku sudah berkenalan dengan orang yang menjadi ayahmu ini, sehingga ia berhasil mengenali aku dalam pakaianku ini. Bahkan aku sudah mengotori wajahmu dengan debu. Tetapi siapa kau sebenarnya?“ “Namanya Juwiring“ Kiai Danatirtalah yang menjawab “Ia adalah juga putera Pangeran Ranakusuma” “O“ Pangeran Mangkubumi mengangguk-anggukkan kepalanya ”jadi kau adalah putera Kamas Ranakusuma? Jadi apamukah yang berkuda itu?“ “Ia Putera Pangeran Ranakusuma yang muda tuan. Tetapi keduanya berlainan ibu. Raden Juwiring putera yang lahir dari seorang ibu dari rakyat jelata, atau katakanlah seorang bangsawan yang telah agak jauh dari lingkungan istana, sedang Raden Rudira, adiknya itu adalah putera yang lahir dari ibunda Raden Ayu Sontrang” “Jadi yang berkuda itu anak Sontrang yang terkenal itu?“ “Ya tuan”“Pantas sekali. Aku memang sudah mendengar serba sedikit apa yang terjadi di Ranakusuman. Tetapi aku tidak pernah datang berkunjung kehadapan kamas Ranakusuma. Aku muak melihat bekas alas kaki orang asing yang tidak dilepas yang mengotori pendapa rumahnya yang pernah terasa keagungannya. Jadi anak inilah yang lahir dari seorang perempuan yang bernama Rara Putih?“ “Ya tuan” “Dan Rudira itu anak Sontrang yang telah berhasil menyisihkan Diajeng Manik, puteri paman Reksanagara?“ “Ya tuan” Pangeran Mangkubumi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku tahu betapa tamaknya perempuan itu. Ia mewarisi sikap ayahnya, pamanda Sindurata. Sikap yang sangat bertentangan dengan pamanda Reksanagara. Agaknya kumpeni telah ikut campur pula di dalam persoalan ini, sehingga mempercepat tersisihnya putera pamanda Reksanagara dari Ranukusuman” Buntal mendengarkan keterangan itu dengan heran. Ternyata bagaimanapun juga ia tidak dapat mengerti, bahwa orang-orang yang masih terikat di dalam hubungan keluarga, bahkan masih terlalu dekat, dapat juga saling memfitnah, saling mendesak dan yang satu mengorbankan yang lain” “Mereka adalah saudara sepupu“ katanya di dalam hati “bahkan Raden Rudira dan Raden Juwir ing adalah saudara seayah” Terbayang sekilas paman dan bibinya yang miskin. Mereka sama sekali tidak mempunyai kelebihan apapun juga dari pendapatan mereka sehari-har i. Bahkan untuk makan merekapun masih belum memenuhi. Tetapi mereka mau juga memeliharanya. Mau juga memberinya tempat di antara keluarganya yang miskin itu.“Aku tidak tahu” katanya pula di dalam hatinya “Apakah justru orang-orang besar itulah yang kadang-kadang tidak lagi saling mengasihi di antara sesama. Mereka hidup berpegangan kepada kepentingan dir i sendir i. Mereka sama sekali tidak lagi merasa terikat hubungan seorang dengan yang lain. Bahkan kalau perlu yang seorang berdiri beralaskan sesamanya tanpa menghiraukan sakit dan pedihnya” Terkilas diangan-angan Buntal nasehat Kiai Danatirta “Kita hidup bumi yang sama. Tuhan yang Satu walaupun Ia mempunyai sembilan puluh sembilan nama dan kitapun diciptakan dar i tanah yang sama. Itulah sebabnya maka kita harus saling sayang menyayangi. Saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran” Dalam pada itu, Buntal seakan-akan tersadar dari mimpinya ketika ia mendengar Pangeran Mangkubumi itu bertanya “Lalu siapakah anak muda ini” “Aku menemukannya di bulak ini tuan. Menurut pengakuannya ayahnya seorang abdi dari Katumenggungan Gagak Barong” “O. Tumenggung itu lagi” desis Pangeran Mangkubumi “Bagaimana ia sampai disini” “Ia menjadi yatim piatu, sehingga ia harus pergi meninggalkan Katumenggungan itu” “Itu lebih bagus baginya” Pangeran itu mengangguk- angguk, lalu “gadis itu?“ “Itu adalah anakku tuan. “Anakmu?“ Kiai Danatirta menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi karena Arum ada di dekatnya, maka iapun mengangguk sambil menjawab “Ya tuan. Ia adalah anakku”“Agaknya anakmu itulah yang telah menar ik perhatian Rudira. Bukankah begitu?” “Ya tuan” “Lalu, Juwir ing mencoba melindunginya. Apakah Juwiring ada di padepokanmu?“ “Ya tuan. Ia terusir dari istana Ranakusuman. Bahkan sebelum Raden Ayu Manik” “Bagus. Tinggallah pada Kiai Danatirta. Aku akan sering berkunjung ke padepokan itu. Aku sering melakukan perjalanan semacam ini untuk melihat kenyataan. Bukan sekedar mendengar berita dari tembang rawat-rawat. Aku sendiri ingin melihat kebenaran. Apalagi setelah kumpeni mulai berpengaruh di Surakarta. Sebenarnya itu sangat menyakitkan hati. Tetapi tidak mudah untuk menolak pengaruh itu. Justru semakin lama agaknya malahan menjadi semakin kuat. Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia juga menyadari kebenaran kata-kata Pangeran Mangkubumi. Kata- kata itu bukan sekedar meloncat karena dorongan perasaan yang sedang meluap. Tetapi agaknya Pangeran Mangkubumi sudah memikirkannya masak-masak. Dalam pada itu, maka Pangeran Mangkubumipun berkata kepada Kiai Danatirta “Sudahlah. Aku akan meneruskan perjalanan. Aku sedang menjelajahi daerah Surakarta dari ujung Selatan” “Apakah tuan tidak singgah barang sebentar di padepokan kami agar tuan dapat beristirahat” “Terima kasih. Aku adalah pejalan yang tidak mengena! lelah. Aku memang membiasakan dir i Berjalan tanpa berhenti dari matahari terbit sampai matahari terbenam” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya Ia percaya kepada keterangan itu. Pangeran Mangkubumimemang sering berjalan dar i matahari terbit sampai matahari terbenam, atau sebaliknya dari matahari terbenam sampai matahari terbit. Bahkan kadang-kadang Pangeran Mangkubumi sengaja tidak berbicara sama sekali selama perjalanannya. Demikianlah maka petani dari Sukawati itupun minta diri kepada Kiai Danatirta dan ketiga anak-anak angkatnya. Namun baginya, padepokan Jati Aking telah menarik perhatiannya. Sepeninggal Pangeran Maugkubumi, Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak tahu sama sekali, bahwa orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu adalah Ramanda Pangeran Mangkubumi” “Aneh sekali” desis Buntal “Bukankah tidak terlalu banyak jumlah Pangeran di Surakarta?“ “Tetapi Pangeran Mangkubumi jarang sekali ada di kota. Apalagi jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah berhubungan dengan ayahanda Pangeran Ranakusuma, sehingga aku hampir t idak mengenalnya lagi. Memang sekali dua kali aku pernah melihatnya sepintas. Tetapi dengan mengotori wajahnya dan dengan pakaian yang kumal, aku tidak mengenalnya sama sekali, dan apalagi aku tidak menyangka bahwa Pangeran Mangkubumi akan menyamar diri serupa itu. Tentu adimas Rudira tidak mengenalnya pula. Untunglah, bahwa adi mas Rudira segera meninggalkan tempat ini, sebelum Ramanda Mangkubumi bertindak lebih jauh. “Ternyata bahwa Pangeran Maugkumi benar-benar bertindak atas suatu sikap. Bukan kebetulan saja ia berbuat sesuatu disini” berkata Kiai Danatirta. “Aku dengar sikap Ramanda Pangeran Mangkubumi terhadap Kumpeni agak keras” berkata Juwir ing.“Ya. Itulah sebabnya Pangeran Mangkubumi tidak pernah berhubungan dengan Pangeran Ranakusuma, karena Pangeran Mangkubumi tahu, bahwa Pangeran Ranakusuma agak dekat dengan orang-orang asing itu“ Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan tatapan mata yang tajam dipandanginya petani dari Sukawati yang semakin lama menjadi semakin hilang ditelan kejauhan. Ketika Pangeran Mangkubumi itu sudah tidak tampak lagi, Kiai Danatirta beserta anak-anaknya seolah-olah telah tersadar dari angan-angannya. Tiba-tiba saja orang tua itu berkata “Kita masih berada di tengah-tengah bulak. Mar ilah, lanjutkan kerja kalian” “O“ Juwir ing dan Buntalpun segera memungut alat-alat mereka sambil memandang Arum yang masih berdir i di pematang. “Kau juga” berkata Juwiring. Arum mengangguk. Diambilnya selendangnya, dan digendongnya pula bakul yang berisi makanan buat Juwiring dan Buntal yang kemudian kembali turun ke sawah. “Aku akan kembali ke padepokan” berkata Kiai Danatirta “hari ini aku tidak ikut bekerja bersama kalian. Tetapi hati- hati. Jangan kau katakan kepada siapapun, bahwa petani dari Sukawati itu adalah Pangeran Mangkubumi” Demikianlah, ketika Juwir ing dan Buntal sudah berada di sawahnya kembali, maka beberapa orang dengan ragu-ragu telah mendekatinya. Bagaimanapun juga mereka ingin juga mendengar, apakah yang sebenarnya terjadi, dan siapa sajakah yang telah terlibat di dalam persoalan itu. “Raden” berkata seseorang “Kami menjadi berdebar-debar menyaksikan apa yang telah terjadi. Untunglah bahwa semuanya telah selamat” “Ya paman” sahut Juwir ing “Tidak ada apa-apa lagi”“Tetapi siapakah anak muda yang berkuda diikuti oleh para pengiring itu? Apakah ia juga seorang Pangeran?“ “Ia putera seorang Pangeran” “O” Orang-orang yang mendengar jawaban itu mengangguk-angguk. Itulah agaknya mengapa Raden Juwiring berani menentang kehendaknya, karena orang-orang itupun tahu, bahwa Raden Juwiring adalah seorang bangsawan pula meskipun bukan seorang Pangeran. “Tetapi, tetapi…” bertanya seseorang “Apakah anak muda itu tidak akan mendendam dan di kesempatan lain berbuat sesuatu di luar dugaan?“ Juwiring menarik nafas. Jawabnya “Memang mungkin. Tetapi apaboleh buat” “Apakah Raden belum mengenalnya sebelum ini?“ bertanya yang lain. Juwiring menjadi termangu-mangu. Tetapi ia tidak mengatakan bahwa anak muda itulah yang bernama Raden Rudira, adiknya seayah. “Aku sudah mengenalnya” jawab Juwir ing, lalu “Apakah kau tidak mendengar percakapan kami dan mendengar ia menyebut namanya?“ Orang-orang itu menggelengkan kepalanya. Salah seorang menjawab “Kami t idak berani mendekat. Dan kami menjadi semakin berdebar-debar melihat seorang dari Iikungan kami ikut campur. Apakah orang itu tidak tahu, bahwa yang lagi bertengkar adalah para bangsawan” Juwiring mengerutkan keningnya. Ketika tanpa sesadarnya ia berpaling kepada Buntal, dilihatnya anak muda itu menundukkan kepalanya. Namun Juwiringpun kemudian menjawab “Tidak seorangpun yang mengenal petani itu. Ia sadar, bahwa tidakmudah untuk menemukannya, sehingga karena itu ia berani menolong kami” “Tetapi bukankah para bangsawan mempunyai banyak abdi yang dapat mencari dan menemukannya?“ “Berapapun banyaknya, tetapi pasti sangat sulit untuk mencari seorang petani di seluruh daerah Surakarta ini” Orang yang kemudian telah berkerumun di sekitar anak- anak muda anak angkat Kiai Danatirta itu mengangguk- angguk. Alasan itu memang masuk akal. Adalah sulit sekali untuk menemukan seseorang di seluruh wilayah Surakarta yang luas ini. “Tetapi” berkata salah seorang dari mereka “Apakah Raden sendiri dengan demikian tidak merasa terancam?“ Juwiring menggelengkan kepalanya ”Tidak” jawabnya “asal aku tidak memusuhi seseorang, maka aku pasti t idak akan mengalami apapun juga. Apa yang aku kerjakan adalah, membela dir i dan melindungi saudaraku“ Orang itupun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Sekilas mereka memandang Buntal yang sudah mulai sibuk dengan cangkulnya. Satu dua orang yang menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan menjadi heran. Ternyata Buntal adalah seorang anak muda yang bersikap keras. Ia langsung menyerang lawannya tanpa menunggu apapun juga Raksasa itu dapat dijatuhkannya. Jika tidak ada orang lain yang harus dilayani, maka raksasa itu pasti tidak akan sempat bangun. “Tetapi ia tidak berbuat apapun juga ketika karena salah paham anak itu dipukuli di bulak ini” berkata beberapa orang di dalam hatinya “ternyata ia mampu berkelahi. Jika saat itu ia melawan dan apalagi mendapatkan sepucuk senjata jenis apapun, maka ia akan sangat berbahaya dan barangkali, kami akan lari tunggang langgang Tetapi saat itu ia tidak melawansama sekali sehingga kami dapat memukulinya sepuas-puas kami” Tetapi orang-orang itu sama sekali tidak mengerti, bahwa Buntal menemukan kemampuannya justru sesudah ia berada di padepokan Jati Aking. Dalam pada itu, Rudira yang marah memacu kudanya secepat-cepatnya. Di sepanjang jalan ia mengumpat tidak habis-habisnya. Bahkan kemudian ia berteriak memanggil “Sura, Sura. Kemar i” Sura mencoba mempercepat derap kudanya, agar ia dapat menyusul Raden Rudira. Tetapi kuda Raden Rudira terlampau cepat, sehingga Sura tidak juga berhasil mendekatinya. “Sura cepat kemari “ Rudira berteriak “Apakah kau sudah tuli” “Ya, ya Raden. Aku sedang berusaha” Jawaban itulah yang membuat Rudira sadar, bahwa derap kudanya ternyata terlampau cepat, sehingga Sura tidak segera berhasil menyusulnya. Karena itu, sambil berpaling ia memper lambat lari kudanya. “Kau sekarang sudah gila” bentak Rudira. Sura yang kemudian berada sedikit di belakangnya hanya menundukkan kepalanya saja. “Kemari, cepat” Sura tidak dapat membantah, sehingga karena itu ia berpacu di sisi Rudira yang marah. “Kenapa kau tidak dapat berbuat apa-apa terhadap petani gila itu, he? Kenapa kau tidak dapat berbuat garang seperti biasanya?“ Sura tidak segera menjawab. “Kenapa?“ Rudira berteriak.Sura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia merasa tidak perlu ingkar lagi. Jawabnya kemudian “Raden, orang itu mempunyai kekuatan yang luar biasa. Tangannya seperti besi, sehingga tidak akan ada kekuatan yang dapat mengimbanginya” “O, jadi kau sekarang sudah bukan raksasa Ranakusuman lagi ya? Kau sekarang tidak ada bedanya dengan tikus-tikus piti yang berkeliaran di kandang kuda, itu? Bagaimana mungkin kau telah kehilangan kekuatan yang selama ini kau banggakan?“ Raden Rudira berhenti sejenak, lalu “mula-mula kau hampir saja dibunuh oleh anak itu. Untunglah Juwiring telah mencegahnya. Kemudian kau sama sekali Tidak berdaya menghadapi petani dari Sukawati itu. Kalau saja ia mau membunuhmu, ia pasti dapat melakukannya” Sura tidak dapat segera menjawab. Nafasnya terasa semakin cepat mengalir lewat lubang hidungnya. “Tetapi kita tidak akan diam. Kita akan mencarinya di Sukawati. Kalau ia memberikan keterangan palsu, kita akan mencarinya di seluruh Surakarta, sampai kita dapat menemukannya dan memberinya sedikit peringatan, bahwa apa yang dilakukan itu tidak berkenan di har iku, putera Pangeran Ranakusuma. Aku dapat mengajak kawanku. Orang kulit putih itu” Sura mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja diberanikan dirinya untuk berkata “Jangan Raden. Jangan membawa orang asing itu” “Kenapa? Kau sama sekali sudah tidak berguna lagi bagiku“ “Tetapi orang asing itu akan berbuat terlampau kasar. Aku adalah orang yang paling kasar. Tetapi masih juga terasa sesuatu yang kurang mapan di dalam hati apabila orang asing itu memperlakukan keluarga kita dengan semena-mena” “Apa katamu? Sejak kapan kau menjadi guruku he?“ bentak Rudira hampir berteriak “Apakah kau takut kehilangankedudukanmu j ika aku mendapat orang baru untuk memaksakan kehendakku?“ Sura menundukkan kepalanya. “Kita akan melihat, apa yang akan kita lakukan kelak. Tetapi aku ingin menemukan orang yang menyebut dir inya petani dari Sukawati itu. Aku harus dapat membalas sakit hatiku. Ia akan mendapat hukuman yang jauh lebih berat dari kamas Juwiring sendiri” Sura tidak berani menyahut lagi. Ditundukkannya saja kepalanya dalam-dalam, meskipun dadanya masih tetap bergolak. Bagaimanapun juga ia lebih senang bertindak sendiri dengan kekasaran yang tidak tanggung-tanggung daripada melihat orang asing itulah yang berbuat kasar kepada orang- orang Surakarta. Demikianlah iring-ir ingan itu berpacu semakin cepat. Untuk beberapa lamanya mereka tidak berbicara apapun juga. Wajah Raden Rudira tampak gelap seperti mendung yang menggambang di langit. Kegagalannya menyentuh seorang gadis manis dari padepokan Jati Aking membuat hatinya kelam. Bukan karena gadis itu sendir i, karena ia masih akan dapat mencari gadis yang lebih cantik dari Arum, tetapi justru karena Juwiringlah yang merintanginya. Apalagi tiba-tiba saja muncul seorang petani yang bodoh sekali, yang berusaha membantu Juwiring dan anak gila yang hampir saja membuat Sura pingsan. Pikiran-pikiran itulah yang membelit perasaannya selama ia berada di punggung kudanya. Perburuan yang dilakukan kali ini benar-benar tidak menggembirakannya. Meskipun demikian Rudira sampai juga di hutan perburuan. Setelah beristirahat sejenak, maka iapun mulai memasuki hutan yang tidak begitu lebat, untuk mencari binatang- binatang buruan yang memang banyak berkeliaran di antara semak-semak.Tetapi karena hatinya yang sedang pepat, maka adalah kebetulan sekali, ia tidak menemukan seekor kelincipun. Binatang-binatang hutan itu seolah-olah telah mengetahui kehadiran beberapa orang pemburu, sehingga merekapun bersembunyi jauh ke dalam daerah yang lebih rapat. “Gila“ Rudira mengumpat-umpat” Kemana binatang- binatang ini bersembunyi” Pengiringnya tidak ada yang berani menyahut. Tetapi mereka berpendapat di dalam hati “Tentu tidak akan mendapat seekor binatangpun, jika cara berburu ini dilakukan seperti sekelompok orang-orang menebas hutan, sehingga binatang di seluruh hutan ini pasti akan berlari- larian” Akhirnya Rudira menjadi lelah. Keringatnya membasahi seluruh pakaiannya. Namun belum seekor biuatangpun yang didapatkannya. “Kita berhenti” teriak Rudira kemudian “nanti malam kita ulangi. Kita akan mendapatkan harimau yang paling besar di hutan ini, atau rusa jantan yang bertanduk sepanjang badan kita” Maka perburuan itupun dihent ikannya. Mereka kemudian mencari tempat untuk beristirahat dan menunggu matahari terbenam di Barat. Memang di malam hari kadang-kadang mereka dapat mengintai harimau yang keluar dari sarangnya mencari mangsa. Dari atas pepohonan mereka dapat membidik dan melepaskan anak panah tepat mengenai pangkal kaki depannya. Biasanya harimau itu tidak akan dapat lari terlampau jauh. Dengan demikian maka beramai-ramai mereka akan dapat membunuhnya, kalau mungkin tanpa membuat luka- luka di tubuh har imau itu. Semakin sedikit luka-luka pada kulit harimau itu, maka belulang yang didapatnya akan menjadi semakin berharga. Namun tidak seperti biasanya Raden Rudira selalu gelisah. Ia sama sekali tidak menerima keadaan yang baru sajadialami. Petani dari Sukawati itu memang pantas untuk dihukum seberat-beratnya. Tiba-tiba saja Rudira tidak berhasil menahan perasaannya lagi. Dengan serta-merta ia berteriak “Kita kembali ke Ranakusuman. Kita membawa beberapa orang lagi. Kita pergi ke Sukawati. Baru setelah itu aku dapat dengan tenang berburu” Sura menjadi termangu-mangu. Tetapi seperti kawan- kawannya yang lain ia sama sekali tidak berani mencegahnya. Karena itu, ketika Raden Rudira menyiapkan kudanya, yang lainpun berbuat serupa pula. Ternyata mereka meninggalkan daerah perburuan itu. Kuda-kuda itu berpacu secepat-cepatnya kembali ke Surakarta melalui jalan lain. Mereka tidak mau lagi berjumpa dengan petani dari Sukawati sebelum membawa kawan lebih banyak lagi. Atau bertemu dengan Juwir ing dan kawan-kawannya di tengah-tengah bulak. Kedatangan mereka di istana Ranakusuman menjelang sore hari telah mengejutkan beberapa orang pelayan. Biasanya Rudira berada di daerah perburuan dua sampai tiga hari. Tetapi baru pagi tadi ia berangkat, kini ia telah datang kembali dengan wajah yang buram. Setelah meloncat dari punggung kudanya, ia langsung berlari-lari masuk ke ruang belakang mencari ibunya yang sedang duduk dihadap oleh para pelayan. “Ibu“ Rudira hampir berteriak. Raden Ayu Galihwarit terkejut. Dengan serta-merta ia berdiri menyongsong puteranya yang manja itu. “Kau sudah kembali?“ “Ada orang-orang gila yang menghalangi perjalananku”“Siapa? Ada juga orang yang berani berbuat demikian? Apakah karena mereka tidak tahu bahwa kau adalah putera Pangeran Ranakusuma atau mereka dengan sengaja ingin menentang ayahandamu?“ “Yang kedua. Orang itu tahu benar siapa aku” “Benar begitu? Siapakah orang itu?” “Kakang Juwiring” “Juwiring. Juwiring anak dungu itu?“ “Ya bunda” “Dimana kau bertemu dengan Juwiring?“ “Di tengah-tengah bulak, la sekarang tidak ubahnya seperti seorang petani biasa. Bekerja di sawah penuh dengan noda- noda lumpur di pakaiannya yang kotor. Tetapi ia masih berani menghalang-halangi aku” “Apa yang dilakukannya? Apakah ia menghent ikan perjalananmu atau dengan sengaja mengganggumu tanpa sebab?“ Rudira terdiam sejenak. Diedarkannya pandangan matanya kesekelilingnya, seakan-akan ada yang sedang dicarinya. “Dimana ayahanda?“ Ia bertanya. ”Kenapa?“ “Apakah ayahanda pergi ke istana menghadap Kangjeng Susuhunan” Ibunya menggelengkan kepalanya. Ayahandamu ada di rumah” “Aku akan menghadap. Aku memer lukan beberapa orang“ “Untuk apa? Apakah kau berselisih dengan Juwir ing? Jika demikian bukankah kau sudah membawa Sura dan beberapa orang lagi?“Rudira tidak segera menyahut. “Apakah Sura tidak dapat mematahkan lehernya, kalau anak-itu memang berani menentangmu Kau bukan anak-anak sederajatnya Derajatmu lebih tinggi, meskipun kau adalah saudara seayah” “Ya. Aku tahu. Yang penting bagiku bukan kakang Juwiring. Tetapi seorang petani dari Sukawati” “Seorang petani?“ “Ya. Ialah yang membantu kakang Juwiring sehingga aku. gagal memaksakan kehendakku atasnya” “Seorang petani kau bilang?“ “Ya ia seorang petani dari Sukawati. Ia berani melawan aku meskipun aku sudah mengatakan bahwa aku adalah putera Pangeran Ranakusuma. Ia mungkin menganggap, bahwa aku tidak akan dapat menemukannya. Tetapi aku benar-benar akan mencarinya ke Sukawati. Raden Ayu Galihwarit yang juga disebut Raden Ayu Sontrang termenung sejenak. Tetapi kemudian katanya “Menghadaplah. Ayahandamu ada di ruang dalam” “Ayahanda” desis Rudira. Pangeran Ranakusuma berpaling Dilihatnya Rudira berdiri sambil menundukkan kepalanya. “Apa?“ pertanyaan ayahnya terlampau singkat. “Aku memer lukan sesuatu ayahanda” “Apa? “Perkenankan aku membawa lima orang pengawal ayahanda selain Sura dan pengiringku sendir i” Rudira berhenti sejenak, lalu “bahkan apabila ayahanda berkenan, aku akan mengajak kawan ayahanda““Kumpeni maksudmu?“ “Ya. Mereka mempunyai jenis senjata yang menakjubkan” “Ada apa sebenarnya” “Seorang petani lelah berani menghina aku, ayahanda. Aku akan mencarinya ke rumahnya. Ia mengaku petani dari Sukawati. Selebihnya aku juga akan membuat perhitungan dengan kakang juwir ing” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Ia masih duduk Di tempatnya. Tatapan matanya sudah kembali menerobos pintu-pintu yang membatasi ruangan-ruangan di dalam rumah itu langsung menikam cahaya matahari di halaman. “Kenapa kau selalu membuat ker ibutan Rudira” pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya, sehingga karena itu, sejenak ia terbungkam. Bahkan dadanya menjadi berdebar-debar dan kakinya bergetar. “Juwiring sudah jauh dari istana ini. Kau masih juga menyusulnya sekedar membuat persoalan. Apakah sebenarnya yang kau kehendaki? Dan apalagi dengan seorang petani dari Sukawati. Buat apa kau minta kumpeni melibatkan diri dalam persoalan itu. Mungkin karena merasa tidak dapat menang atas petani itu atau atas Juwiring, maka kau ingin mematahkan lawanmu dengan senjata api itu. Bukankah dengan demikian kau berarti telah membunuhnya dengan meminjamtangan orang asing?“ Rudira masih berdiam dir i. “Katakan apa yang sudah terjadi” Rudira tidak dapat ingkar. Maka diceriterakan apa yang sudah terjadi. Ketika ia tiba-tiba saja tertarik pada seorang gadis desa yang berada di tengah-tengah bulak. Ternyata gadis itu adalah anak Kiai Danatirta.“Kau yang salah” desis Pangeran Ranakusuma “seharusnya seorang putera Pangeran tidak berlaku demikian” Sekali lagi Rudira terkejut. Ia banyak mendengar ceritera tentang bangsawan yang manapun yang ia sukai. Kemudian apabila perempuan itu mengandung, maka perempuan itu diberikan saja sebagai triman kepada pelayan-pelayannya atau kepada bebahu padesan. Mereka akan merasa mendapat kehormatan besar menerima tr iman seorang perempuan yang sudah mengandung. Karena anak yang akan lahir memiliki aliran darah seorang bangsawan. Tetapi ayahnya berkata selanjutnya “Juwiring adalah kakakmu. Bagaimanapun juga ia adalah anakku pula” Rudira tidak menyahut. “Lalu bagaimana dengan petani itu” “Ia telah membantu kakang Juwiring meskipun aku sudah mengatakan bahwa aku adalah Putera Pangeran Ranakusuma?” Pangeran Ranakusuma tidak segera menyahut. Ia merenung sejenak, lalu “ Biarkan saja mereka. Suatu pelajaran buatmu, agar kau tidak berbuat sewenang-wenang. Sekali lagi aku beritahukan kepadamu, bahwa kaulah yang bersalah. Bukan Juwiring. Sedang petani itu adalah seorang yang ingin berdiri diatas kebenaran. Mungkin ia mengetahui, bahwa kau dan Juwiring adalah kakak beradik. Karena itu ia berani ikut campur”Rudira menjadi semakin tunduk. Ia t idak lagi berharap bahwa ayahandanya akan membantunya menebus malu yang tercoreng di kening. “Kamas Ranakusuma“ tiba-tiba terdengar suara melengking sehingga Pangeran Ranakusuma berpaling. Dilihatnya isterinya yang muda, Raden Ayu Sontrang berdiri di samping anaknya “Kenapa kamas sekarang berpendirian lain? Sebaiknya kamas membesarkan hati Rudira, bukan sebaliknya. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mempercayainya. Bersama Rudira beberapa orang pengiring akan dapat memberikan keterangan” “O“ Pangeran Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kita memang tidak perlu menghukum Juwir ing. Tetapi Setidak-tidaknya Juwiring perlu mendapat peringatan agar ia tidak selalu mengganggu Rudira” Pangeran Ranakusuma mengangguk “Ya. ya. Ia memang perlu mendapat peringatan” “Dan sudah barang tentu, kita tidak akan dapat tinggal diam apabila seorang petani telah berani melawan Rudira. Petani dari. Sukawati itu” “Ya. ya. Memang petani itu adalah seorang yang deksura sekali” “Nah, jika demikian apa yang dapat kita lakukan?“ “Jadi. apakah yang diminta oleh Rudira?“ “Lima orang pengawal dan apabila mungkin kumpeni. Bukankah begitu?“ “Kita tidak akan dapat minta kumpeni untuk kepentingan! serupa ini” “Bukan secara resmi. Kita mempunyai banyak kawan yang pasti akan bersedia menolong kita secara pribadi”“Aku kira itu sama sekali tidak perlu. Kalau Rudira ingin- membuat petani itu jera, apakah sekian banyak orang tidak akan mampu melakukannya? Ia akan membawa Sura dengan pengiringnya yang lain bersama lima orang pengawal. Apalagi?“ “Petani itu memiliki kemampuan yang luar biasa. Dengan sekali hentak Sura sudah menjadi lumpuh” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Katanya kemudian “Apakah ada seorang petani yang dapat melawan sepuluh orang lebih sekaligus. Apalagi di antara sepuluh orang itu terdapat Sura dan lima orang pengawal” “Apa salahnya membawa seorang kawan. Aku akan minta kepada mereka secara pribadi. Nanti malam pasti ada satu dua orang yang datang kemari” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam Ia tidak dapat membantah setiap keinginan isterinya. Isterinya itu baginya, merupakan seorang yang berhak mengambil keputusan apapun. Juga hubungan dengan orang-orang asing itu, meskipun Pangeran Ranakusuma menaruh juga sedikit kecurigaan terhadap hubungan mereka dengan Raden Ayu Sontrang. Tetapi Pangeran Ranakusuma bagaikan orang yang kena pesona. Karena ketakutannya ditinggalkan oleh isterinya yang cantik itulah, maka seakan-akan ia harus menuruti semua permintaannya. Meskipun demikian kali ini karena persoalannya akan menyentuh tanah Sukawati ia masih mencoba memper ingatkan “Ingatlah, kedatangan orang asing itu masih belum dapat diterima sepenuhnya oleh rakyat Surakarta. Apalagi persoalannya akan menyangkut daerah Sukawati. Kita tahu bahwa daerah Sukawati adalah daerah yang berada di bawah perlindungan adimas Pangeran Mangkubumi. Dan kita tahu, bahwa adimas Pangeran Mangkubumi bukanlah orangyang dapat diajak berbicara dengan baik mengenai orang- orang asing itu” “Apa peduli kita dengan Pangeran Mangkubumi? Kalau Pangeran Mangkubumi berani menentang kedatangan orang- orang asing itu, berarti ia akan menentang kekuasaan Kangjeng Susuhunan. Dan itu tidak akan mungkin terjadi” “Memang demikian. Tetapi alangkah baiknya kalau kita tidak ikut serta mempertajam pertentangan itu. Biarlah Rudira membawa pengawal berapapun yang dibutuhkan. Tetapi ingat, jangan merusakkan daerah Sukawati. Ia hanya dapat mengambil orang yang diperlukan. Bahkan orang itu sama sekali tidak berasal dari Sukawati, tetapi sengaja menyebut dirinya orang Sukawati” “Aku sudah memperhitungkannya ayahanda. Tetapi seandainya bukan orang Sukawati, aku akan mencarinya. Aku akan menjelajahi bulak-bulak panjang, karena aku menduga ia memang seorang petualang” “Kau akan membuang-buang waktu” “Tentu tidak setiap hari. Kadang-kadang aku akan memer lukan melewati jalan-jalan padesan. Hatiku benar-benar telah disakiti” Raden Ayu Sontrang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata “Begitulah ayahandamu Rudira. Terlalu banyak pertimbangan dan kecemasan. Sebagai seorang bangsawan sebenarnya ayahandamupun mempunyai banyak keleluasaan. Tetapi ayahandamu selalu ragu-ragu” Pangeran Ranakusuma tidak menyahut. Ia hanya menarik nafas saja dalam-dalam. “Baiklah” berkata ibu Rudira “kali ini kau tidak usah membawa kumpeni. Pergilah sendir i ke Sukawati. Meskipun Sukawati berada dalam perlindungan Pangeran Mangkubumi, tetapi kau berhak mengambil seseorang yang telah berbuatsalah kepadamu. Kau dapat menemui Demang Sukawati dan membawanya serta. Ia tidak akan berani membantah perintahmu apalagi atas nama ayahandamu Pangeran Ranakusuma” “Baik ibu. Aku akan pergi besok. Aku harus mengambil petani itu. Aku masih ingat bentuk dan ciri-cirinya. Kalau butan aku, Sura dan para pengiring tentu masih ingat pula. Aku akan mengambilnya, dan mengadilinya di luar daerah Sukawati” “Hati-hatilah” berkata Pangeran Ranakusuma “Aku segan terlibat dalam suatu persoalan dengan adimas Pangeran Mangkubumi. Meskipun ia lebih muda dari aku, tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak dapat aku sebutkan” “Ah, kamas selalu berkecil hati. Apakah lebihnya Pangeran Mangkubumi?“ Pangeran Ranakusuma tidak menjawab, tetapi tatapan matanya kembali menembus langsung kehalaman depan. “Pangeran Mangkubumi tidak disukai oleh kalangan istana dan Kumpeni” berkata Raden Ayu Sontrang sambil mengangkat wajahnya “Kalau kita bukan orang-orang yang baik hati, kita dapat mempercepat dan mematangkan persoalan, sehingga Pangeran Mangkubumi tidak mendapat tempat lagi di istana” “Apakah keuntungan kita dengan berbuat demikian?” bertanya Pangeran Ranakusuma “Bagaimanapun juga ia adalah saudaraku” “Tetapi ia keras hati kalau tidak dapat disebut keras kepala. Kenapa ia menjauhi kami, yang disebutnya orang-orang yang telah berhubungan dengan orang asing?“ “Sudahlah. Itu bukan persoalan kita. Kalau pihak istana akan bertindak atasnya, biarlah mereka bertindak” Pangeran Ranakusuma menar ik nafas, lalu katanya kepada puteranya“Rudira. Batasi persoalanmu dengan petani yang kau maksud itu saja“ “Ya ayah” “Tidak akan ada manfaatnya kau bertindak lebih jauh dari itu. Perselisihan-perselisihan yang timbul sudah cukup memusingkan kepalaku. Jangan membuat persoalan baru” “Kamas Pangeranlah yang sebenarnya terlalu baik hati. Tetapi di jaman ini orang yang terlampau baik, pasti justru akan terinjak. Kita harus memanfaatkan yang ada di hadapan kita. Termasuk orang asing itu” Pangeran Ranakusuma memandang wajah isterinya yang tengadah itu sejenak. Isterinya itu memang seorang yang cantik. Pantas dengan sebutannya. Kulitnya yang halus dan wajahnya bagaikan telaga yang memantulkan cahaya matahari pagi. Tetapi Pangeran Ranakusumapun menyadari, bahwa hubungan isterinya itu dengan kumpeni sangat mencur igakan. Namun demikian, Pangeran Ranakusuma sendiri tidak tahu, pengaruh apakah yang sudah mencengkamnya, sehingga seolah-olah isterinya itu adalah orang yang paling berkuasa di dalam rumah ini. Bahkan ia telah mengantarkan isteri pertamanya kembali kepada ayahnya, dan menyingkirkan anaknya yang tua ke padepokan Jati Aking. Pangeran Ranakusuma berpaling ketika Rudira berkata “Besok pagi-pagi benar aku akan berangkat ayah” Pangeran Ranakusuma mengangguk. Jawabnya “Baiklah. Tetapi jika Ramandamu Pangeran Mangkubumi ada di Sukawati, kau harus mohon ij in kepadanya” “Ya ayahanda. Tetapi aku tidak terlalu dekat dengan Ramanda Mangkubumi. Aku jarang sekali melihat dimanapun, karena Ramanda Pangeran Mangkubumi jarang sekali berkumpul dengan para Pangeran. Ia seakan-akan seorang Pangeran yang terasing dari lingkungan keluarga besar”“Tidak” jawab Pangeran Ranakusuma “Adimas Pangeran Mangkubumi bukan orang terasing. Ia dekat sekali dengan para Bangsawan yang sependirian. Terutama menghadapi kedatangan orang-orang asing itu di Surakarta. “Ah. Itu hanyalah sekedar bayangan di dalam kegelapan. Sebentar lagi ia harus menyesuaikan diri dengan keadaan” Sahut Raden Ayu Sontrang. Pangeran Ranakusuma tidak menjawab lagi. Ia kembali duduk memandang kekejauhan. “Pergilah” berkata Raden Ayu Sontrang kemudian kepada puteranya “siapkan keperluanmu itu. Tetapi hati-hati1ah. Petani itu pasti bukan petani yang tidak mengerti menanggapi keadaan yang dihadapinya” “Baik ibu” sahut Raden Rudira sambil bergeser meninggalkan ruang itu. Sepeninggal Raden Rudira, Raden Ayu Sontrang maju perlahan-lahan mendekati suaminya dan berdiri di belakangnya. Kemudan sambil memij it pundaknya ia berkata “Kamas terlampau hati-hati. Sudahlah, jangan dirisaukan lagi adimas Pangeran Mangkubumi” Pangeran Ranakusuma tidak menyahut. Namun setiap kali, sentuhan tangan isterinya itu seolah-olah telah meluluhkan segala akalnya, sehingga apapun yang dikatakannya tidak dapat dibantahnya lagi. Di har i berikutnya. Raden Rudira sudah siap dengan para pengiringnya. Ia benar-benar akan mencari petani yang sudah membuatnya terlampau sakit hati. Jika petani yang demikian itu tidak dihukum, maka akibatnya akan dapat membahayakan kedudukan para Bangsawan. Petani itu akan membuat orang- orang kecil yang lain berani pula melawan. “Kalau Ramanda Pangeran Mangkubumi ada, aku akan mohon ijin. Tetapi jika tidak diij inkan, atas nama ayahandaPangeran Ranakusuma aku akan bertindak. Ayahanda Ranakusuma adalah saudara tua Ramanda Mangkubumi, sehingga wewenangnya pasti lebih besar dari yang muda” berkata Raden Rudira di dalam hatinya. Meskipun ia tidak terlalu sering bertemu, tetapi ia pernah beberapa kali bertemu dan bahkan pernah berbicara satu kali di halaman Masjid Agung. “Ramanda Pangeran Mangkubumi mudah dikenal” berkata Rudira di dalam hatinya pula “wajahnya yang agung dan tatapan matanya yang tajam. Ia seorang pendiam dan penuh dengan wibawa” Namun ternyata hatinya tiba-tiba saja berkeriput. Kalau benar Pangeran Mangkubumi ada di Sukawati, apakah ia akan berani berbuat sesuatu?. “Tetapi Ramanda Pangeran Mangkubumipun pasti akan membantu Petani itu harus dihukum. Ramanda Pangeran Mangkubumipun pasti tidak akan senang mendengar ceritera tentang seorang petani yang berani melawan seorang Bangsawan” Rudira mencoba menenteramkan hatinya sendiri. Demikianlah, setelah semuanya siap, dan setelah minta diri kepada ayah dan ibunya, Raden Rudirapun meninggalkan rumahnya diiringi oleh beberapa orang. Agar perjalanannya tidak menimbulkan pertanyaan, maka merekapun telah membawa pula kelengkapan berburu. Seakan-akan mereka adalah iring- iringan beberapa orang yang pergi ke hutan perburuan. Tetapi perjalanan yang mereka tempuh kali ini adalah perjalanan yang agak jauh. Lewat tengah hari mereka baru akan sampai di tempat yang mereka tuju. Tetapi kadang- kadang mereka pasti harus berhenti dan beristirahat. Kalau bukan kuda-kuda mereka yang haus, maka mereka sendir ilah yang haus di bawah terik matahari sehingga baru di sore hari mereka akan sampai ke daerah Sukawati.“Ramanda Pangeran Mangkubumi pasti tidak ada disana. Meskipun jarang berada di lingkungan para bangsawan, tetapi Pangeran Mangkubumi pasti berada di kotar Mungkin hanya sebulan sekali atau bahkan t iga bulan sekali, ia pergi ke Sukawati yang sepi itu” Rudira berusaha menenangkan kegelisahannya sendiri. Namun demikiap kadang-kadang hatinya masih juga menjadi berdebar-debar. Tetapi perjalanan itu sendiri adalah perjalanan yang menyenangkan. Kadang-kadang mereka masih harus menyusup di antara hutan rindang dan lewat di Padukuhan- padukuhan kecil. Para petani yang melihat iring- iringan itu menjadi ketakutan, dan merekapun segera berjongkok di pinggir jalan, karena mereka tidak dapat segera membedakan, apakah yang lewat itu seorang bangsawan dari tingkat pertama, atau tingkat berikutnya. Namun kuda yang tegar, pakaian yang gemerlapan dan pengiring yang banyak, membuat para pelani dan orang-orang kecil lainnya berdebar- debar. Demikianlah maka perjalanan Rudira tidak menjumpai rintangan apapun di perjalanan. Sekali-sekali mereka berhenti, member i kesempatan kepada kudanya untuk minum seteguk dan beristirahat sejenak Dalam pada itu Rudira sempat juga memandang daerah yang terbentang di hadapannya. Daerah yang hijau segar. Sawah yang uas, dibatasi oleh padukuhan dan pategalan. Sungai yang berliku liku menyusup di antara pebukitan padas yang rendah. Tetapi semakin dekat ir ing-ir ingan itu dengan Sukawati, maka hati Rudirapun rasa-rasanya menjadi semakin gelisah. Bukan saja Rudira, tetapi para pengiringnyapun menjadi gelisah pula, meskipun di antara mereka terdapat lima orang pengawal dan beberapa orang pengiring Rudira di bawah pimpinan Sura.“Apakah orang-orang Sukawati akan membiarkan kami mengambil salah seorang warga pedukuhan mereka?“ pertanyaan itu yang selalu menyelinap di dalam hati “Jika mereka berkeberatan, dan Raden Rudira berkeras hati, maka akibatnya akan dapat menimbulkan pertengkaran. Bahkan mungkin pertumpahan darah. Jika demikian, persoalan ini tidak akan berhenti sampai sekian. Pasti masih ada persoalan- persoalan berikutnya. Sura menarik nafas dalam-dalam. Ia adalah orang yang paling kasar di antara para pengiring Rudira. Tetapi setiap kali terbayang olehnya, orang-orang berkulit putih itu ikut campur di dalam persoalan orang orang Surakarta, hatinya menggelonjak. Tetapi apabila persoalan petani dari Sukawati itu akan berkepanjangan, maka mau tidak mau, Raden Rudira lewat ibunya pasti akan menyeret beberapa orang kulit pulih ikut serta di dalam persoalan ini, karena Pangeran Ranakusuma tidak akan dapat menggali kekuatan dari rakyat di Tanah Kelenggahannya. Demikianlah maka menjelang sore hari, iring- iringan itu benar-benar telah mendekati Sukawati. Dari kejauhan mereka. sudah melihat padukunan yang hijau subur. Beberapa padukuhan yang terpencar itu terikat di dalam satu wilayah Kademangan di bawah perlindungan Pangeran Margkubumi, karena daerah itu merupakan Tanah Kalenggahannya. Tanpa sesadarnya, semakin dekat dengan daerah Sukawati, Rudira berpacu semakin lambat. Bahkan akhirnya iapun berhenti berapa ratus tonggak dari induk padukunan di Sukawati. “Dimanakah rumah Demang di Sukawati?” Ia bertanya. Tidak seorangpun yang segera menjawab. “Dimana“ Raden Rudira hampir berteriak “Sura, apakah kau sudah tuli”“O, maksud Raden, rumah Demang Sukawati?“ “Ya, rumah Ki Demang. Apakah kau pernah melihat” “Pernah Raden. Aku memang pernah pergi ke Sukawati. Aku pernah singgah di rumah Demang Sukawati” “Kau sudah mengenalnya?“ “Sudah. Aku sudah mengenalnya” “Baik. Bawa aku kepadanya. Aku akan bertanya kepadanya tentang petani gila itu" Ia harus dapat menemukannya dan membawa kepadaku” Sura akan berbicara beberapa patah kata. Tetapi kata- katanya tersangkut di kerongkongan. sehingga karena itu, ia hanya sekedar menelan ludahnya saja” “Marilah, tunjukkan aku rumah Ki Demang itu” Sura mengangguk-angguk kecil. Jawabnya terbata-bata “Baik, baik Raden” “He, kenapa kau menggigil seperti orang kedinginan? Kau takut he?” “Tidak. Tidak” jawab Sura. Namun demikian Sura sendir i melihat, wajah Raden Rudira menjadi pucat. Baik Rudira maupun Sura dan para pengiring yang lain, tidak tahu, apakah sebabnya sehingga mereka merasa cemas dan tegang. Bagi mereka, seorang rakyat kecil tidak akan banyak berarti. Apa saja yang dikehendaki atas mereka, biasanya tidak pernah urung. Demikianlah, Raden Rudira dan pengiringnya mencoba menenteramkan hati mereka yang bergolak ketika mereka sudah berada di mulut lorong tanah Sukawati Para pengawal yang merupakan orang-orang khusus di Dalem Kapangeranan itupun merasa debar jantungnya menjadi semakin cepat.Rasa-rasanya mereka tidak sekedar akan bertindak terhadap seorang petani betapapun tinggi kemampuan tempurnya. Tidak ada seorang petanipun yang dengan tergesa-gesa berjongkok apalagi sambil menyembah. Mereka tetap pada pekerjaan mereka. Satu dua di antara mereka berpaling, namun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Sura yang ada didekatnya “Gila“ Raden Rudira menggeram. Sura yang didekatnya memang ikut merasakan suasana yang lain di padukuhan Sukawati. ”Agaknya kita terpengaruh oleh Ramanda Pangeran Mangkubumi memiliki daerah Sukawati itu” berkata Raden Rudira dengan suara menghentak, seolah-olah ingin melepaskan tekanan yang terasa memberati dadanya “Tetapi Ramanda Pangeran Mangkubumi pasti tidak akan mencegah kita, karena kita tidak akan mengganggu Tanah Sukawati. Kita hanya akan mengambil seseorang yang telah berani menentang para bangsawan di Surakarta. Sudah tentu Ramanda Pangeran akan justru membantu menemukan orang itu apabila ia berada di Sukawati. Kalau tidak, kita akan dapat berbuat lebih leluasa” Tidak ada seorangpun yang menyahut. Tetapi setiap orang merasa, betapa getaran suara Raden Rudira mengandung kecemasan yang sangat, seperti kecemasan yang ada di dalam hati mereka masing-masing. “Begini besar perbawa Pangeran Mangkubumi” desis Sura di dalam hatinya “Pangeran Ranakusuma dengan tanpa ragu-ragu telah mengembalikan puteri Pangeran Raksanagara. Pangeran yang sebenarnya pernah mempunyai pengaruh yang besar sebelum kedatangan orang asing yang semakin banyak di bumi Surakarta. Tetapi kini, kami menjadi menggigil ketakutan sebelum kami memasuki wilayah Sukawati untuk mengambil hanya seorang rakyat yang telah memberontak. Apakah sebenarnya yang membuat Pangeran Mangkubumi rasa-rasanya lebih berwibawa dari Pangeran Raksanagara dan Pangeran yang lain?“ Tetapi Sura tidak mengucapkan kegelisahan itu, betapapun hai itu benar-benar telah memberati perasaannya. Semakin dekat, semakin menekan di dalam dada. Ketika mereka mendekati pintu gerbang padukuhan induk di Sukawati, mereka menjadi semakin berdebar-debar. Mereka masih melihat beberapa orang petani di sawah masing- masing. Tetapi para petani itu agaknya acuh tidak acuh saja atas kedatangan mereka. Sama sekali tidak seperti para petani di sepanjang jalan yang mereka lalui. Tidak ada seorang petanipun yang dengan tergesa-gesa berjongkok, apalagi sambil menyembah. Mereka tetap pada pekerjaan mereka. Satu dua di antara mereka berpaling, namun kemudian tidak menghiraukannya lagi. “Gila“ Raden Rudira menggeram. Sura yang ada di dekatnya memang ikut merasakan suasana yang lain di padukuhan Sukawati. “Kita langsung ke rumah Demang di Tanah Sukawati ini“ geramRaden Rudira. “Apakah Raden tidak datang ke pasanggrahan Ramanda Pangeran Mangkubumi?“ bertanya Sura dengan suara yang patah-patah. “Tidak“ Raden Rudira hampir berteriak t idak sesadarnya. Tetapi kemudian ia berkata “Ramanda tidak ada di Sukawati.Pasti. Dan aku akan membawa Demang Sukawati menghadap ke pesanggrahan untuk memastikannya” Sura tidak bertanya lagi. Diikutinya saja kuda Raden Rudira yang menjadi semakin lambat. Di belakang Raden Rudira dan Sura, para pengawalpun menjadi berdebar-debar. Tugas mereka kali ini rasanya begitu berat, sehingga dada mereka menjadi tegang. Setiap orang di dalam ir ing-ir ingan itu terkejut ketika mereka melihat, di dalam regol di mulut lorong yang memasuki Tanah Sukawati itu, beberapa orang berdiri di sebelah menyebelah jalan. Mereka berdiri saja seakan-akan tidak menghiraukan derap kuda yang sudah berada di gerbang padukuhan mereka. Dengan tangan bersilang di dada mereka memandang Raden Rudira yang berada di paling depan. Namun mereka sama sekali tidak bertanya apapun. Raden Rudiralah yang kemudian menar ik kekang kudanya, sehingga kuda Itu berhenti. Sejenak ia memandang beberapa orang yang berdiri diam seperti patung itu. Wajah-wajah mereka bagaikan wajah-wajah yang kosong tanpa perasaan apapun melihat kehadiran Raden Rudira dan pengir ingnya. Sejenak Raden Rudira menjadi bimbang, Orang-orang itu benar-benar membuatnya kebingungan. Menilik pakaian mereka, mereka adalah petani-petani. Tetapi mereka sama sekali tidak bersikap sebagai seorang petani yang melihat hadirnya seorang bangsawan di padukuhan mereka yang terletak agak jauh dari kota. Padukuhan-padukuhan yang jauh ini pada umumnya, menjadi gempar apabila seorang bangsawan memasuki wilayahnya. Bahkan ada di antara mereka yang berlari-lari bersembunyi, ada yang dengan tiba- tiba saja menjatuhkan dir i berlutut di pinggir jalan. Jika bebahu padukuhan itu melihatnya, maka ia akan menyongsong sambil terbungkuk-bungkuk dan kemudian berjalan sambil berjongkok mendekatinya.Tetapi petani-petani di Sukawati itu berdir i saja sambil menyilangkan tangannya di dada, seakan-akan mereka telah berjanji yang satu dengan yang lain untuk berbuat demikian. Sedang wajah-wajah yang beku itu sama sekali tidak membayangkan kesan apapun yang ada di dalamhati mereka. “He, bukankah kalian orang-orang Sukawati?” Raden Rudira berteriak untuk mengatasi gejolak di dalam dadanya. Petani yang berdiri di paling ujung berpaling memandanginya. Kemudian iapun menjawab “Benar Raden. Kami adalah orang-orang Sukawati” “Kenapa kalian berkumpul disini he?“ “Kami akan pergi ke sawah. Tetapi ketika kami melihat iring- iringan kuda menuju ke padukuhan ini, kamipun menunggu sampai Raden lewat. Silahkanlah kalau Raden akan lewat. Kami akan pergi ke sawah” “Persetan. Apakah kalian tidak tahu siapa aku?“ “Kami hanya tahu bahwa tuan adalah seorang bangsawan. Tetapi kami tidak tahu, siapakah tuan” “Aku adalah Raden Rudira. putera Pangeran Ranakusuma” Tanggapan dari para petani itupun benar-benar mengejutkan. Mereka sama sekali tidak tertarik pada nama itu. Meskipun mereka mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi sikap yang beku itu sama sekali tidak berubah. “He, apakah kalian dengar, bahwa aku putera Pangeran Ranakusuma?” “Ya, kami dengar tuan” “Jadi, begitukah kalian bersikap terhadap seorang bangsawan?“Para petani itu menjadi heran mendengar pertanyaan Raden Rudira. Petani yang berdiri di paling ujung itupun bertanya “Jadi apakah sikap kami keliru?“ “Kalian tidak sopan. Kalian berhadapan dengan putera seorang Pangeran. Siapakah yang mengajar kalian bersikap deksura itu he?“ “O, jadi kami bersikap deksura?“ petani di paling ujung itu terdiam sejenak, lalu “Tetapi maaf Raden. Kami memang diajar bersikap demikian” “Ya, aku sudah menduga. Siapa yang mengajarmu?“ “Pangeran Mangkubumi” “He?“ mata Raden Rudira terbelalak mendengar jawaban itu. Demikian juga para pengir ingnya. Namun dengan demikian dada mereka serasa telah berguncang. Sejenak Raden Rudira termangu-mangu. Namun kemudian dengan suara yang gemetar ia bertanya “Jadi Ramanda Pangeran Mangkubumi mengajarmu bersikap demikian?“ “Ya tuan. Kamipun sebenarnya tahu, bahwa kami harus berjongkok apabila seorang bangsawan lewat di jalan yang kebetulan kami lalui juga. Tetapi hanya bagi para Pangeran. Bukan kepada setiap bangsawan. Biasanya kami hanya mengenal seorang bangsawan pada sikap dan pakaiannya serta para pengiringnya. Dan kami semuanya menganggap mereka seorang Pangeran, sehingga kami langsung berjongkok di pinggir jalan. Tetapi bagi kami, orang-orang di daerah Sukawati mendapat kekhususan dari Pangeran Mangkubumi. Jangankah bangsawan di tingkat berikutnya, sedangkan terhadap Pangeran Mangkubumi sendir i, yang menguasai Tanah Sukawati dan seorang bangsawan tertinggi, kami t idak diharuskan berjongkok” “O, itu salah, salah sekali. Itu akan merusak sendi-sendi tata kesopanan rakyat Surakarta”“Kami berpegangan kepada perintah Pangeran Mangkubumi” “Persetan. Tunjukkan kepada kami. dimana rumah Demangmu” Sejenak para petani itu termangu-mangu. Sedang Sura yang berada di sebelah Raden Rudira berbisik. “Aku sudah tahu tempat itu Raden” “Aku akan bertanya kepada mereka” sahut Raden Rudira. Sura menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia memandangi para petani itu seorang demi seorang. Mereka sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, sedang tangan mereka masih tetap bersilang di dadanya. “Coba katakan, kemana aku harus pergi?“ “Tuan sudah mengambil jalan yang benar. Tuan dapat berjalan terus lewat lorong ini. Sekali tuan berbelok ke kiri di tengah-tengah padukuhan ini, di tikungan di bawah pohon preh yang besar” Raden Rudira mengerutkan keningnya. Sambil berpaling kepada Sura ia bertanya “Benar begitu?“ Sura menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya tuan. Benar begitu” Raden Rudira termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata kepada para pengiringnya “Kita pergi ke rumah Demang di Sukawati” Tanpa minta diri kepada para petani yang masih saja berdiri tegak dengan tangan bersilang itu, Raden Rudira melanjutkan perjalanannya, menyusuri jalan di tengah-tengah padukuhan, sambil memperhatikan rumah-rumah yang ada di sebelah menyebelah jalan. Meskipun letak rumah-rumah itu masih cukup jarang, tetapi terasa bahwa Tanah Sukawati akan segera menjadi ramai. Lewat diatas pagar batu di setiaphalaman, Raden Rudira dan pengir ingnya melihat rumah- rumah yang bersih dan teratur. Halaman yang rapi dan kebun yang penuh dengan tanaman palawija, garut dan ganyong. Beberapa batang ubi dan gadung merambat pada pohon metir, merayap sampai ke puncaknya. Tiba-tiba saja Raden Rudira berkata “Pangeran Mangkubumi telah merusak adat di Surakarta. Sikap itu pasti akan mempengaruhi sikap para petani kecil di sekitar Tanah Sukawati. Lambat atau cepat” Tidak ada seorangpun yang menjawab. Sura masih saja termangu-mangu sambil menundukkan kepalanya. Sejenak kemudian merekapun telah sampai di tikungan. Tetapi sekali lagi dada mereka berdesir, ketika mereka melihat beberapa orang laki-laki yang sedang berdir i pula di sebelah menyebelah jalan t ikungan itu. Seperti orang-orang yang berdiri di mulut lorong, maka orang orang itupun berdiri dengan wajah membeku sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Melihat sikap yang bagaikan patung-patung batu itu, terasa bulu-bulu tengkuk Raden Rudira meremang. Tetapi ia harus mengatasi goncangan perasaannya, sehingga karena itu, iapun juga berhenti di hadapan orang-orang itu. Sekali lagi ia bertanya dengan lantang “He, apakah kalian diajari untuk menjadi patung? Atau memang demikianlah adat Sukawati untuk menghormat seorang bangsawan?“ Orang-orang itu memandang Raden Rudira hanya dengan sudut matanya. Kemudian orang yang paling pendek di antara mereka menjawab “Kami diajari untuk bersikap sopan terhadap siapapun. Juga terhadap para bangsawan” “He” jawaban itu benar-benar mengejutkannya “Coba ulangi““Tuan” jawab petani yang pendek itu “Kami diajari untuk bersikap sopan kepada siapapun. Juga kepada para bangsawan” “Kenapa juga kepada para bangsawan? Kenapa justru tidak kepada para bangsawan baru kepada yang lain?“ Petani pendek itu mengerutkan keningnya. Tetapi wajahnya kemudian seakan-akan telah membeku kembali. Katanya “Kami t idak melihat perbedaan itu. Tetapi kami memang mengenal tingkat tata penghormatan. Namun pada dasarnya, kami menghormati siapa saja” “Siapa yang mengajarimu?“ ”Pangeran Mangkubumi” “Cukup, cukup“ Raden Rudira berteriak. Nama itu rasa- rasanya seperti sebutan hantu yang paling menakutkan baginya. Karena itu tanpa berkata sepatah katapun lagi ia meneruskan perjalanannya menuju ke rumah Ki Demang di Tanah Sukawati. Namun di jalan yang semakin pendek itu, Raden Rudira dan pengiringnya masih juga menjumpai satu dua orang yang berdiri acuh tidak acuh saja melihat kehadirannya. Bahkan mereka yang kebetulan berada di halaman pun hanya sekedar berpaling tanpa menghentikan kerjanya. Anak-anak yang sedang berlari-larian berhenti sejenak, lalu berlari lagi masuk ke dalam rumah masing-masing. Perasaan Raden Rudira semakin lama menjadi semakin terguncang-guncang. Rasa-rasanya ia telah memasuki suatu daerah asing yang belum pernah dijajaginya. Bahkan rasa- rasanya seperti di daerah mimpi yang mengawang di antara bumi dan langit. “Sura” berkata Raden Rudira kemudian “Apakah memang begini sikap orang Sukawati? Bukankah kau pernah datang kemari dahulu?”“Tidak tuan. Sikap orang-orang Sukawati tidak seganjil ini. Aku tidak mengerti, perubahan apa yang telah terjadi disini” Raden Rudira menjadi semakin berdebar-debar. Setiap kali ia melihat seseorang yang berdiri tegak di pinggir jalan dengan tangan bersilang di dada, jantungnya berdetak semakin cepat, sehingga hampir saja ia tidak tahan. “Aku ingin memukul kepalanya” geramnya. Tetapi dengan mengerahkan keberaniannya Sura mencegahnya, katanya “Maaf tuan. Jangan melakukan hal itu. Lebih baik kita menemukan orang yang kita cari tanpa membuat persoalan dengan orang lain” Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia dapat mengerti nasehat Sura itu, sehingga iapun tidak berbuat apapun juga. Namun dengan demikian hatinya serasa semakin lama menjadi semakin berker iput kecil sekali. “Raden” berkata Sura kemudian “gerbang yang tampak itu adalah gerbang Kademangan” Raden Rudira mengerutkan keningnya. Gerbang itu. termasuk sebuah pintu gerbang yang bagus bagi sebuah Kademangan. Namun dengan demikian gerbang itupun telah membuat detak jantungnya semakin berdentangan. Tetapi Raden Rudira tidak mau melangkah surut. Ia telah benar-benar merasa terhina karena tindakan petani yang menyebut dirinya berasal dari Sukawati itu. Karena itu maka ia harus berhasil menemukannya dan menghukumnya, sebagai seorang rakyat kecil yang berani menentang para bangsawan. Karena itu, betapa hatinya berdebaran, Rudira tetap maju mendekati pintu gerbang itu. Ketika kudanya sudah berada di depan pintu, dilihatnya dua orang mendatanginya. Dua orang dalam pakaian yang agak lain dar i pakaian para petani.“Itulah bebahu Kademangan Sukawati” desis Raden Rudira “Ia harus tahu bahwa rakyatnya telah bertindak tidak sopan. Dan itu tidak dapat dibiarkannya. Tentu bukan Ramanda Pangeran Mangkubumi yang mengajarinya. Tentu orang-orang yang ingin mengeruhkan tata kehidupan Surakarta yang selama ini tenang dan tenteram” Di depan pintu, di dalam halaman, kedua orang itu berhenti sambil menganggukkan kepala mereka. Ternyata mereka memang lebih hormat dari sikap para petani di sepanjang jalan yang mereka lalui. Dengan sopan salah seorang dari mereka berdua bertanya “Apakah kami dapat berbuat sesuatu untuk tuan?“ “Aku akan bertemu dengan Demang di Sukawati” sahut Raden Rudira langsung “Apakah ia ada di rumah?“ “O“ orang itu mengangguk-angguk “ada tuan. Marilah tuan kami persilahkan masuk” Tanpa turun dari kudanya Raden Rudira memasuki halaman Kademangan. Ternyata halaman itu adalah halaman yang luas dan bersih. Beberapa batang pohon tanjung berada di pinggir, sedang sepasang pohon sawo kecik berada tepat di depan pendapa. “Mana Ki Demang?“ bertanya Raden Rudira. “Marilah, kami persilahkan tuan naik ke pendapa” “Di mana Ki Demang he?“ “Nanti kami akan memanggilnya” “Panggil ia kemari” “Tuan, kami telah mempersilahkan tuan duduk. Kami akan segera memanggilnya” orang itu berhenti sejenak, lalu “Silahkan tuan turun dari kuda”“Tidak, aku akah menunggu Ki Demang disini. Aku memer lukannya. Ia harus mengantar aku ke pesanggrahan Ramanda Pangeran Mangkubumi apabila Ramanda ada disana” “Tuan, kami persilahkan tuan turun” “Aku tidak mau turun. Kau tidak tahu siapa aku he? Aku adalah Putera Pangeran Ranakusuma“ “Tetapi ada semacam ketentuan, siapapun dipersilahkan turun apabila berada di kuncung pendapa ini. “Aku seorang Putera Pangeran” “Bahkan seorang Pangeranpun bersedia untuk turun dari kudanya apabila ia berada di bawah kuncung ini” “Aku tidak peduli. Tetapi aku tidak mau turun. Hanya seorang Pangeran yang tidak tahu akan harga dirinya sajalah yang bersedia turun dari kudanya, meskipun di kuncung pendapa sekalipun, justru hanya pendapa seorang Demang” ”Tetapi justru kami sangat hormat kepadanya” “Siapa?“ “Pangeran Mangkubumi” “Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi. Apapun yang kalian bicarakan kalian menyebut Pangeran Mangkubumi“ Rudira hampir berteriak. “Kedua bebahu itu menjadi terheran-heran melihat sikap Raden Rudira. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata “Raden, kami tetap mempersilahkan tuan turun. Kecuali kalau tuan tidak berada di bawah kuncung pendapa, meskipun di halaman” “Aku tidak mau. Aku adalah putera Pangeran Ranakusuma Aku bukan Pangeran Mangkubumi. Ayahanda PangeranRanakusuma pasti tidak akan turun pula meskipun kudanya naik ke pendapa sekalipun” Kedua bebahu Kademangan itu saling berpandangan sejenak. "Kemudian salah seorang berkata “Jika demikian, kami t idak akan memanggil Ki Demang” “Apa, kalian tidak akan memanggil Ki Demang?“ “Ya. Jika tuan tidak bersedia turun” “Gila. Kau berani menentang aku he? Aku datang untuk mencari seseorang yang berani menentang seorang bangsawan. Kini kau akan menentang aku pula. Apakah kau tahu akibatnya?“ “Kami sekali-kali tidak akan menentang tuan. Tetapi kami hanya mematuhi ketentuan yang berlaku di Kademangan ini. Sebenarnyalah bahwa kami takut sekali kepada Raden, apalagi setelah kami tahu bahwa Raden adalah putera Pangeran Ranakusuma. Tetapi apaboleh buat. Ketentuan yang berlaku harus tetap berlaku” “Tidak. Aku tidak mau. Dan kalian harus tetap memanggil Ki Demang di Sukawati. Jika kalian tidak bersedia, maka aku akan menghukum kalian” “Raden” berkata salah seorang dari keduanya “Tanah Sukawati mempunyai kekhususan. Yang langsung membimbing pemer intahan Kademangan Sukawati adalah Pangeran Mangkubumi sendir i, karena tanah ini adalah tanah kalenggahan” “Aku tidak peduli. Aku yakin bahwa Ramanda Pangeran Mangkubumi akan membenarkan sikapku dan berpihak kepadaku. Panggil Demang itu, cepat” “Sebelum tuan turun dari kuda, kami tidak akan memanggil. Kami tidak berkeberatan atas mereka yang masih tetap berada di punggung kuda di halaman, tetapi tidak di bawah kuncung pendapa““Persetan. Apakah aku harus mencarinya sendir i dan memaksanya menghadap aku kemari?“ “Jika tuan berkenan di hati, kami akan mempersilahkannya dengan senang hati” “Tuan” jawab salah seorang dari mereka sambil berpaling “kami t idak bertanggung jawab lagi apa yang dapat terjadi dengan tuan, karena tuan tidak mematuhi peraturan yang berlaku di Kademangan Sukawati” “Kalian sudah gila. Aku adalah putera seorang Pangeran. Dengar perintahku. Seperti kau lihat, aku sudah membawa beberapa orang pengiring” “Tuan akan berburu. Tuan membawa kelengkapan sekelompok pemburu yang akan berburu rusa di hutan rindang” “Kami sudah melampaui beberapa daerah perburuan. Tetapi kami memang akan pergi ke Sukawati. Karena itu jangan mengganggu kami sehingga dapat menimbulkan kemarahan kami” Hampir berbareng keduanya mengangguk dalam-dalam. Salah seorang di antaranya berkata “Baiklah. Kami tidak akan berbuat apa-apa” Dan tiba-tiba saja keduanya melangkah surut. Kemudian di luar kuncung, di depan tangga terakhir yang mengelilingi pendapa Kademangan keduanya berdiri sambil menyilangkan tangannya di dada. Sikap merekapun telah berubah, mirip dengan orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan. Ternyata sikap itu telah membuat seluruh tubuh Raden Rudira meremang. Bahkan pengir ingnyapun menjadi gelisah, sehingga untuk sesaat mereka bagaikan telah terpukau oleh sikap itu, sehingga mereka sama sekali tidak bergerak.Untuk mengatasi hatinya yang kecut, maka Raden Paidira itupun telah memaksa dirinya untuk berkata lantang “He, apakah kalian telah menjadi patung?“ “Tuan” jawab salah seorang dari mereka sambil berpaling “Kami tidak bertanggung jawab lagi apa yang dapat terjadi dengan tuan karena tuan tidak mematuhi peraturan yang berlaku di Kademangan Sukawati” ia berhenti sejenak, lalu “Dan Ki Demangpun tidak akan bersedia mengantar tuan pergi ke pasanggrahan Pangeran Mangkubumi. Memang tuan dapat memaksanya dengar kekerasan. Tetapi kami kira tuan tidak akan berhasil. Bukan karena Ki Demang mempunyai sepasukan pengawal yang dapat melindunginya. Tetapi karena kekerasan halinya, ia akan memilih akibat yang bagaimanapun beratnya dari pada ia melihat peraturan yang dibuatnya tidak ditaati“ “Gila, permainan apakah sebenarnya yang telah kalian lakukan? Apakah kalian sedang diamuk oleh suatu kepercayaan tahyul yang membuat kalian, orang-orang Sukawati menjadi seperti orang-orang gila” “Tuan keliru” jawab salah seorang dari kedua pengawal “sikap kami adalah sikap yang mewujudkan kediaman kami menghadapi keadaan dewasa ini, dimana kita merasa berdiri di atas bara justru di kampung halaman sendiri”Jawaban itu benar-benar tidak diduga, sehingga Raden Rudira terdiam untuk beberapa saat. Namun wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Tetapi ternyata Raden Rudira tidak mau surut. Meskipun hatinya bergejolak dahsyat sekali, namun ia mencoba mengatasinya dengan berteriak sekali lagi “Panggil Ki Demang di Sukawati” Betapapun ia berteriak, tetapi kedua bebahu Kademangan Sukawati itu sama sekali t idak beranjak dari tempatnya. Kemarahan Raden Rudira hampir tidak terkekang lagi, Namun ketika dadanya bagaikan akan meledak, Sura, pengiringnya yang selama ini paling dibanggakan itu telah meloncat turun dari kudanya. Perlahan-lahan ia mendekatinya. Dengan suara bergetar ia berkata “Raden, kami persilahkan Raden turun dari kuda. Bukan suatu sikap merendahkan dir i, tetapi barangkali demikianlah yang dikehendaki oleh Ramanda Pangeran Mangkubumi” “Persetan“ Raden Rudira berteriak “Kau juga sudah menjadi pengecut?“ “Bukan Raden. Bukan soalnya, berani menentang ketentuan itu atau tidak. Tetapi kita ingin mendapat bantuan dari Ki Demang di Sukawati. Bukankah tujuan kita untuk mendapatkan petani yang telah menghina Raden di tengah bulak itu?“ Karena itu, sebaiknya kita tidak membuat persoalan-persoalan baru disini” Darah Raden Rudira bagaikan mendidih karenanya. Namun perlahan-lahan ia mulai menyadari kata-kata Sura. Kalau ia bertindak kasar, maka ia hanya akan menambah kesulitan diri sendiri tanpa mendapatkan Hasil apapun dari kepergiannya ke Sukawati. Dan lebih dar ipada itu, sebenarnyalah di dalam sudut hatinya tersirat kecemasan yang sangat melihat sikap orang-orang Sukawati itu.Namun sudah barang tentu Raden Rudira tidak membiarkan dir inya terlempar surut tanpa pembelaan. Dengan lantang ia berkata kepada kedua bebahu itu “Baiklah. Aku akan turun. Bukan karena aku takut menghadapi sikap kalian yang gila itu. Tetapi aku secepatnya ingin menangkap petani yang telah berani menghinakan aku di tengah bulak” Raden Rudirapun segera meloncat dari punggung kudanya sambil berteriak “Aku sudah turun. Panggil Ki Demang di Sukawati” Tetapi Raden Rudira terkejut, ketika sebelum kedua orang itu beranjak, telah terdengar suara dari balik pintu pringgitan di pendapa “Aku sudah disini tuan” Darah Raden Rudira tersirap. Di tengah-tengah pintu yang kemudian terbuka ia melihat seorang laki- laki yang bertubuh sedang, berkumis tipis, yang kemudian berjalan melintas pendapa mendekatinya. “Kau disitu sejak tadi?“ “Ya. Aku sudah berada di balik pintu sejak tuan datang. Tetapi aku menunggu tuan turun dari kuda. Maaf. Itu sudah menjadi ketentuan kami. Sekali kami melanggar ketentuan itu, maka untuk selanjutnya ketentuan itu tidak akan berarti, karena pelanggaran yang serupa akan terjadi lagi. Sekali lagi dan sekali lagi, sehingga ketentuan itu tidak berarti apa-apa lagi. Baik bagi kami maupun bagi setiap orang yang datang ke padukuhan ini” “Persetan” jawab Raden Rudira “Aku tidak perlu sesorahmu. Aku memer lukan kau” “O“ Ki Demang yang kemudian turun dari pendapa rumahnya mengangguk hormat “Kami akan membantu tuan. Apakah yang harus kami lakukan?“ Raden Rudira memandang Demang Sukawati itu dengan herannya. Ia tidak mengerti, apakah yang sebenarnya tersiratdi dalam hatinya. Setelah ia memaksanya turun dari kudanya, maka iapun kemudian bersikap sopan dan ramah. Tetapi Raden Rudira tidak mempedulikannya lagi. Dengan kasar ia berkata “Aku sedang mencari seseorang” “O. Siapa?“ “Aku tidak tahu namanya. Ia menyebut dirinya petani dari Sukawati” Tampak Ki Demang mengerutkan keningnya sejenak. Tetapi iapun kemudian berusaha untuk melenyapkan kesan itu. Bahkan kemudian ia bertanya “Kenapa Raden mencarinya? Apakah petani dari Sukawati itu telah menjual sesuatu kepada Raden dan Raden akan membayarnya sekarang, atau persoalan apapun yang pernah terjadi dengan petani itu?“ “Ia menghina aku di tengah-tengah bulak Jati Sari” “O“ Ki Demang dar i Sukawati terkejut “di Jati Sari?” “Ya” “Begitu jauh dari Sukawati” “Ya. Orang itu mengaku petani dari Sukawati. Ia tentu seorang petualang. Nah, tunjukkan kepadaku, siapakah yang sering bertualang disini” Ki Demang tidak segera menjawab. Dengan sudut matanya ia memandang kedua pembantunya yang kini berdiri termangu-mangu pula. “He, apakah kau tidak dapat mengenal orang-orangmu?“ “Maaf tuan. Aku tidak dapat mengingat semua orang di Kademangan Sukawati. Mungkin aku mengenal mereka, tetapi tentu tidak akan dapat mengerti kebiasaan mereka sehari-hari dengan pasti”“Tetapi bertualang bukan kebiasaan yang wajar bagi seorang petani. Karena itu, seharusnya kau dapat segera mengetahui orang yang aku maksudkan” Tetapi Ki Demang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya “Maaf. Aku tidak dapat segera mengatakan, siapakah yang Raden maksud itu” “Kalau begitu, antarkan aku menjelajahi Kademangan ini. Aku akan mencar inya sendiri” “Tuan akan menjelajahi Kademangan Sukawati?“ “Ya” Ki Demang menjadi termangu-mangu. Sekali lagi ia memandang kedua kawan-kawannya. Kini keduanyapun menunjukkan kegelisahannya. “Tuan” berkata Ki Demang “tanah Sukawati adalah tanah kalenggahan” “Aku mengerti“ Rudira memotong “maksudmu, kau akan menyebut nama Ramanda Pangeran Mangkubumi?“ “Ya tuan” “Antarkan aku ke pasanggrahan Ramanda Pangeran Mangkubumi. Aku akan menghadap dan mohon ijinnya. Tentu Ramanda akan member ikan ij in itu. bahkan akan membantuku mencari orang-orang yang deksura dan berani menentang para bangsawan” Ki Demang di Sukawati mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berkata “Tetapi Pangeran Mangkubumi tidak sedang berada di Sukawati. Apakah Raden tidak menjumpainya di istana Kapangeranan di kota?“ Sesuatu terasa bergetar di dalam dada Rudira. Seolah-olah ia terlepas dari tekanan kecemasan yang menghimpit dadanya, sehingga tanpa sesadarnya ia menarik nafas dalam- dalam.“Jadi Ramanda Pangeran tidak ada di Sukawati?“ Ki Demang menggelengkan kepalanya “Tidak tuan. Tidak” Tetapi tiba-tiba saja Rudira membentak “Bohong. Kalian pasti mencoba berbohong, karena kalian, orang-orang Sukawati adalah orang-orang yang deksura. Kalian takut juga bahwa aku akan mengatakan kepada Ramanda Pangeran Mangkubumi tentang kalian. Tentang petani-petani yang berdiri membeku di regol padukuhan dan mereka yang seperti patung mati di tikungan. He, kenapa orang-orangmu kau ajari deksura terhadap para bangsawan? Dan sekarang kau takut membawa aku menghadap Ramanda Pangeran” Ki Demang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya “Aku minta maaf tuan. Orang-orangku adalah orang-orang padesan yang jauh dari kota. Kami sama sekali tidak berniat untuk berlaku kurang baik dan apalagi t idak sopan. Tetapi kami, orang-orang padesan memang kurang mengerti tata- krama. Kadang-kadang kami kehilangan akal, apa yang harus kami lakukan untuk menunjukkan hormat kami. Demikian juga para petani di Sukawati, dan barangkali juga petani yang tuan sebut, berjumpa dengan tuan di bulak Jati Sari” “Tidak. Ia tidak sekedar kurang tata-krama. Tetapi ia benar-menentang aku” Rudira berhenti sejenak, lalu “antarkan aku ke pasanggrahan Ramanda Pangeran” Ki Demang menarik nafas. Lalu “Baiklah. Marilah Raden aku antarkan ke pesanggrahan itu. Tetapi aku sudah mengatakan bahwa Pangeran Mangkubumi tidak ada di pesanggrahan itu” Rudira seolah-olah tidak menghiraukannya Meskipun hal itu baginya adalah suatu kebetulan. Namun di hadapan Ki Demang ia bersikap seakan-akan ia kecewa bahwa Pangeran Mangkubumi t idak ada dipasanggrahannya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, maka Raden Rudirapun segera meloncat ke punggung kudanya. Dengan tatapan mata aneh Ki Demang memandanginya. Tetapi Raden Rudira tidakmenghiraukannya. Ia duduk diatas punggung kudanya, meskipun kudanya masih berada di kuncung pendapa Kademangan. “Berjalanlah di depan“ berkata Rudira kemudian “Aku akan mengikut imu” Ki Demang termangu-mangu sejenak. Kemudian ia bertanya “Apakah kami harus berjalan kaki saja?“ “Ya. Kalian berjalan kaki saja. Kalian tidak perlu berkuda seperti kami” “Tetapi pesanggrahan itu terletak di padukuhan lain, meskipun t idak begitu jauh. Nanti perjalanan ini akan memakan waktu apabila kami hanya sekedar berjalan kaki” “Aku tidak peduli Adalah pantas sekali, kalau kau berjalan kaki, dan kami naik diatas punggung kuda. Dengan demikian perbedaan derajad kita akan tampak dengan jelas” Wajah Ki Demang berkerut sejenak. Tetapi iapun kemudian tersenyum dan berkata “Baiklah tuan. Kami akan mengantarkan Raden ke pesanggrahan itu dengan berjalan kaki. Tetapi sudah kami katakan, bahwa perjalanan ini akan memakan waktu. Sebentar lagi malam akan segera turun. Apalagi Pangeran Mangkubumi t idak ada di pesanggrahan” “Aku tidak peduli” “Tetapi bagaimana kalau tuan kemalaman?“ “Aku akan bermalam di pasanggrahan?“ “Di pesanggrahan? Selagi Pangeran Mangkubumi tidak ada?” Rudira mengerutkan keningnya. Ia berpaling kepada Sura yaug masih berdiri di samping kudanya. Tetapi Sura menggeleng kecil tanpa sesadarnya.“Sekarang, jangan banyak bicara” bentak Rudira kemudian “berjalanlah. Kita harus segera sampai ke pesanggrahan itu” “Baiklah tuan” jawab Ki Demang. Dengan isyarat, maka kedua kawannya itupun diajaknya, sehingga mereka berjalan bertiga di depan kuda Raden Rudira. Sedang Sura masih menuntun kudanya sejenak. Baru ketika mereka sudah keluar dari halaman, maka iapun segera meloncat naik. Demikian pula para pengiring yang lain, yang telah turun pula dar i kudanya. Perlahan-lahan ir ing- iringan itu berjalan meninggalkan regol Kademangan. Namun betapa hati Raden Rudira dan para pengiringnya menjadi berdebar-debar. Tanpa mereka ketahui darimana datangnya, mereka melihat beberapa orang anak- anak muda yang berdiri di sebelah menyebelah jalan di luar regol dengan sikap yang mendebarkan itu. Mereka berdiri tegak sambil menyilangkan tangan di dadanya. Sekali-sekali Raden Rudira memandang wajah-wajah itu. Wajah-wajah yang seakan-akan membeku. Mereka sama sekali tidak memandang orang-orang yang lewat. Mereka seakan-akan berdiri asal saja berdiri di pinggir jalan. Namun Ki Demanglah yang kemudian menegur salah seorang dari mereka “Kalian sudah pulang dari sawah?“ Seorang anak muda yang tinggi kekurus-kurusanlah yang menjawab mewakili kawan-kawannya “Sudah Ki Demang” “Baiklah. Dan sekarang ketahuilah, yang berkuda di paling depan ini adalah Raden Rudira, putera Pangeran Ranakusuma di Surakarta” “O“ hanya itulah yang terloncat dari mulut anak muda itu. Tidak ada bayangan kekaguman, heran atau takut sedikkpun juga. Ia masih tetap berdiri seperti sediakala dengan menyilangkan tangannya di dadanya. “Persetan“ Rudira bergumam di dalam dadanya.Ketika mereka sudah melampaui anak-anak muda yang berdiri di sebelah menyebelah jalan itu, Raden Rudira yang marah segera bertanya kepada Ki Demang “Ki Demang, kenapa anak-anak mudamu tidak kau ajari sopan santun” ”Maksud Raden?“ bertanya Ki Demang. “Mereka harus tahu, bagaimana caranya menghormati seorang bangsawan. Seorang putera Pangeran” “Apakah sikap mereka salah?“ ”Tentu. Mereka sama sekali tidak sopan. Mereka harus berjongkok atau membungkukkan kepala mereka dalam- dalam” “O“ Ki Demang mengangguk-angguk “begitukah yang benar?” “Ya” “Kalau begitu selama ini kami telah membuat kesalahan Kami tidak pernah berbuat begitu. Itulah agaknya tuan tidak senang terhadap rakyat kami. Tetapi sekali lagi agar tuan ketahui, rakyat kami adalah rakyat yang jauh dari kehidupan para bangsawan sehingga barangkali kami tidak mengenal keharusan yang berlaku di kota, untuk menghormat para bangsawan. Sebenarnyalah bahwa di padukuhan yang terpencil ini kami hanya mengenal seorang bangsawan, Daripadanyalah kami mengenal tata-krama. Tetapi agaknya tata-krama yang kami anggap sudah cukup baik itu masih kurang dalam pandangan tuan” “Tentu. Dan siapakah yang telah mengajar kalian cengan cara yang salah itu?“ 


Jilid 03
TETAPI selagi Ki Demang akan menjawab, Rudira memotongnya dengan lantang “Aku sudah tahu. Aku sudah tahu” Ki Demang menar ik nafas dalam-dalam. Nama yang sudah ada di ujung lidahnya seakan-akan ditelannya kembali. Demikianlah maka mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan padukuhan yang semakin lama menjadi semakin sempit. Mereka berbelok beberapa kali pada t ikungan-t ikungan yang suram, karena matahari telah tenggelam. Padukuhan Sukawati itu semakin lama menjadi semakin gelap, sedang jalan di bawah kaki kuda merekapun menjadi semakin jelek. “He, apakah kau menunjukkan jalan yang benar?“ bertanya Rudira yang menjadi jemu berjalan di jalan sempit yang gelap. ”Ya tuan, jalan inilah yang menuju ke pesanggrahan Pangeran Mangkubumi” Raden Rudira mengerutkan keningnya. Sesaat, ia berpaling kepada Sura yang dianggapnya sudah mengetahui jalan-jalandi daerah Sukawati. Tetapi Sura menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Namun di dalam. harl, Sura merasakan sesuatu yang lain dari anggukan kepalanya. Ia memang mengetahui jalan-jalan di daerah Sukawati meskipun tidak kenal benar. Dan ia kenal jalan lain yang lebih baik dar i jalan yang ditempuhnya sekarang ke pesanggrahan Pangeran Mangkubumi. “Ki Demang agaknya telah tersinggung” berkata Sura didalam hatinya “Kalau Raden Rudira tidak melarangnya naik kuda, maka kita tidak akan melewati jalan ini, dan barangkali kita jauh lebih cepat sampai” Tetapi Sura tetap berdiam diri, meskipun kemudian ia yakin, bahwa memang demikianlah agaknya. Jalan yang mereka lalui adalah jalan yang sempit dan sangat gelap karena tidak ada seorangpun yang memasang lampu di regol- regolnya yang kecil. “Kita seperti berjalan di dalam goa” desis Raden Rudira. “Inilah kehidupan di daerah padesan tuan” sahut Ki Demang “Tetapi kami sudah biasa hidup di dalam keadaan seperti ini, sehingga kami tidak merasa canggung lagi. Mungkin agak berbeda atau bahkan jauh berbeda, seperti bumi dan langit dengan kehidupan di kota-kota yang ramai. Apalagi di Negari Ageng seperti Surakarta” Raden Rudira tidak menyahut, meskipun hatinya terasa menggelepar. Namun akhirnya iring- iringan itupun mendekati pesanggrahan. Dari kejauhan telah nampak cahaya obor yang terang di regol. Dan bahkan lampu-lampu minyak yang melontarkan cahayanya di pendapa. “Itukah pesanggrahan Ramanda Pangeran Mangkubumi?” bertanya Raden Rudira.“Ya, itulah pesanggrahan Pangeran Mangkubumi” sahut Ki Demang di Sukawati. Dada Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Menurut Ki Demang, Pangeran Mangkubumi saat itu tidak berada di pesanggrahannya. Karena itulah pesanggrahan itu tampaknya sangat lengang. Ketika mereka sampai di regol pesanggrahan itu, dua orang pengawal telah membuka pintu. Sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam salah seorang dari mereka bertanya “Siapakah yang kau antar kemar i Ki Demang?“ “Putera Pangeran Ranakusuma “ jawab Ki Demang di Sukawati. “O” desis salah seorang dari keduanya itu pula “Aku sudah menyangka. Tentu seorang bangsawan dari kota meskipun tidak membawa songsong. Agaknya Raden akan pergi berburu” “Aku akan menghadap Ramanda Pangeran Mangkubumi” berkata Rudira. Namun terasa bahwa suaranya bergetar karena hatinya yang bergetar pula. “O. Maaf tuan. Pangeran Mangkubumi tidak ada di pesanggrahan” Raden Rudira mengerutkan keningnya, dan Ki Demang di Sukawati itu menyahut “Aku sudah memberitahukan bahwa Pangeran Mangkubumi tidak ada di pesanggrahan” Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Namun demikian Raden Rudira berkata “He, apakah kami tidak kau persilaihkan masuk?“ “Kalau tuan menghendaki, silahkan. Tetapi supaya tuan tidak kecewa, kami telah memberitahukan bahwa Pangeran Mangkubumi t idak ada di pesanggrahan”“Aku akan masuk pesanggrahan Ramanda Pangeran. Meskipun Ramanda tidak ada, tetapi aku sudah berusaha menghadap” “Tetapi apakah yang akan tuan dapatkan di pesanggrahan ini jika Pangeran tidak ada?“ Raden Rudira mengerutkan keningnya. Ternyata kedua pengawal yang tampaknya sangat hormat itu membuatnya jengkel juga. Seharusnya mereka mempersilahkannya masuk dan duduk di pendapa pesanggrahan. Bahkan mempersilahkannya bermalam di pesanggrahan itu juga. Tetapi agaknya kedua pengawal itu memang tidak mempunyai kesopanan sama sekali. Ia hanya sekedar diajari untuk membungkuk dan menghormat. Seterusnya, ia tidak mengenal sopan santun sama sekali. “Aku akan masuk” berkata Raden Rudira kemudian. “O, silahkan. Mungkin tuan belum pernah melihat pesanggrahan Ramanda Pangeran Mangkubumi” “Aku tidak sekedar ingin melihat. Tetapi aku adalah kemanakannya” “O Baiklah. Silahkanlah” Kedua pengawal itupun kemudian membuka regol pesanggrahan itu semakin lebar. Keduanya berdiri dengan hormatnya di sebelah menyebelah pintu. Tetapi ketika Raden Rudira mulai melintasi regol halaman, maka kedua pengawal itupun maju bersama-sama sambil berkata “Maaf tuan. Kami harap tuan turun dari kuda” “He“ Raden Rudira terkejut “Aku harus turun dar i kuda?“ “Ya tuan” “Kalian menghina aku. Kalau rakyat kecil memasuki halaman pesanggrahan ini memang harus turun darikendaraannya. Tetapi aku tidak. Aku adalah Raden Rudira Putera Pangeran Ranakusuma” “Maaf tuan. Hanya seorang yang diperkenankan naik kuda di halaman ini. Pangeran Mangkubumi. Selain Pangeran Mangkubumi, siapapun harus turun. Bahkan pengiring- pengiring Pangeran Mangkubumipun harus turun dari kudanya meskipun mereka datang bersama dan mengiringi Pangeran Mangkubumi sendiri” “Bohong. Kau sangka aku tidak mengetahui peraturan yang berlaku? Seorang putera Pangeran pasti diperkenankan memasuki halaman Kapangeranan diatas punggung kuda, meskipun ia harus turun sebelum sampai di depan pendapa, dan kemudian mengikatkan kudanya di depan gandok” “O“ “Peraturan itu berlaku dimanapun. Dan sekarangpun aku tidak perlu turun dar i kuda” “Maaf tuan. Aku adalah seorang pedesan. Meskipun aku bekerja pada Pangeran Mangkubumi, tetapi aku berasal dari Sukawati ini. sehingga aku t idak mengetahui peraturan yang seharusnya berlaku. Tetapi di pesanggrahan ini, tuan harus turun dari kuda apabila tuan memasuki regol ini” “Tidak. Aku tidak akan turun” “Tuan“ berkata pengawal itu “Aku hanyalah seorang abdi. Aku tidak, dapat menolak per intah tuanku. Karena itu, jika tuan kasihan kepada kami, agar kami tidak berbuat salah dan yang mungkin mempunyai akibat yang luas bagi kami berdua dan keluarga kami, kami persilahkan tuan turun” Sebelum Rudira menjawab, Ki Demang di Sukawati telah mendahului “Tuan, kami berharap bahwa tuan berusaha menyesuaikan dir i dengan keadaan ini. Tanah Sukawati adalah tanah kalenggahan. Karena itu semua peraturan yang berlaku disini bersumber kepada Pangeran Mangkubumi. Memangmungkin dengan demikian ada beberapa perbedaan dengan peraturan yang berlaku di tempat lain, bahkan di Negari Ageng sekalipun. Tetapi demikianlah yang dikehendaki oleh Pangeran Mangkubumi” Raden Rudira menggeram. Dengan mata yang menyala ia berkata lantang “Apakah hal ini bukan sekedar pokal kalian? Sejak aku memasuki padukuhan ini aku sudah melihat sikap orang-orang Sukawati yang mencurigakan, seperti sikap petani yang aku jumpai di bulak Jati Sari. Dengan demikian aku menjadi semakin yakin, bahwa orang itu memang berkata sebenarnya. Agaknya memang menjadi ciri orang-orang Sukawati yang suka menentang perintah orang-orang yang seharusnya dihormati” Ki Demang menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Apakah keuntungan kami dengan berbuat demikian? Kami sekedar menjalankan tugas kami seperti yang dikatakan oleh para pengawal pesanggrahan ini” Raden Rudira menggeretakkan giginya. Tanpa disadarinya ia berpaling kepada Sura. Tetapi Sura telah mendahului meloncat dari punggung kudanya diikut i oleh para pengiringnya yang lain serta kelima pengawal Ranakusuma. Raden Rudira tidak dapat berbuat lain daripada memenuhi. Tetapi betapa hatinya menjadi sakit. Dua kali ia dipaksa turun dari kudanya. “Kalau aku tahu, bahwa kali ini aku harus turun untuk kedua kalinya, aku tidak akan turun tadi di halaman Kademangan“ Ia menggerutu di dalam hatinya. Setelah meloncat turun, maka iapun segera menyerahkan kudanya kepada pengiringnya. Sambil menjinj ing wiron kain panjangnya ia berjalan menuju ke pendapa pesanggrahan Pangeran Mangkubumi. Sejenak ia berdiri termangu-mangu di muka pendapa. Ada hasratnya untuk menunjukkan kebesaran dirinya denganmelangkahi tangga naik ke pendapa. Tetapi hatinya tiba-tiba menjadi ragu-ragu. Pendapa yang sepi lengang itu terasa terlampau agung baginya. Pendapa yang sama sekali tidak berisi peralatan apapun juga itu, rasa-rasanya mengandung pengaruh yang tidak terkatakan. “Apakah tuan akan naik?“ bertanya para pengawal. Rudira menjadi ragu-ragu. Tetapi untuk mengatasi keragu- raguan itu ia bertanya “Kaulah yang seharusnya mempersilahkan aku naik. Aku adalah tamu disini” “Jika demikian, maka baiklah aku beritahukan bahwa tuan rumah tidak berada di rumahnya. Apakah tuan akan menunggu atau tuan akan kembali?“ Pertanyaan itu benar-benar telah menggetarkan dada Raden Rudira. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa orang- orang Sukawati itu adalah orang-orang yang sama sekali tidak mengenal sopan santun dan tata hubungan dengan para bangsawan. Karena itu, rasa-rasanya darahnya telah mendidih di dalam jantungnya. Tetapi ia harus tetap menahan diri, agar ia tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan persoalan dengan para pengawal pesanggrahan itu dan para bebahu Kademangan. Justru karena itulah maka dadanya menjadi sesak karenanya. Dengan demikian maka sejenak suasana menjadi tegang. Raden Rudira berdiri dengan tubuh gemetar. Sedang Sura dan para pengiring yang lain menjadi termangu-mangu, menunggu perintah Raden Rudira selanjutnya Namun agaknya Raden Rudira masih berusaha untuk mempertahankan harga dirinya. Karena itu maka iapun kemudian berkata kepada para pengawal “Aku adalah keluarga Ramanda Pangeran Mangkugumi. Hubunganku dengan Ramanda Pangeran adalah jauh lebih dekat dari hubungan kalian yang hanya sekedar sebagai seorang abdidengan tuannya. Karena itu, kalianpun harus menghormati aku sebagai keluarga dekat dar i tuanmu” “Tentu tuan. Kami akan tetap menghormati tuan dalam batas-batas yang diijinkan” “Aku akan bermalam di pesanggrahan ini bersama pengiringku” Para pengawal itu terkejut mendengar kata-kata itu. Sejenak mereka saling berpandangan. Salah seorang dari merekapun kemudian berkata “Tuan, saat ini Pangeran Mangkubumi tidak ada di pesanggrahan ini. Karena itu, kami tidak dapat menentukan, apakah kami dibenarkan mener ima tuan bermalamdi pesanggrahan ini“ “Pesanggrahan ini adalah pesanggrahan Ramanda Pangeran. Pesanggrahan pamanku sendir i. Kenapa kalian membuat pertimbangan yang terlalu berbelit-belit” “Bukan maksud kami. Tetapi kami tidak berani menentukan“ pengawal itu menyahut “Tetapi jika tuan memang menghendaki, tuan kami persilahkan bermalam di gandok sebelah kanan” “Di gandok? Jadi aku, Raden Rudira, Putera Pangeran Ranakusuma harus bermalam di gandok?“ “Bukan maksud kami merendahkan tuan. Apalagi tuan adalah putera Pangeran Ranakusuma. Tetapi kami tidak berani menerima tuan bermalam di Dalem Agung dari pesanggrahan ini, karena kami tidak mendapat wewenang untuk itu” “Bodoh sekali. Kalian tidak lebih dari seekor kuda penar ik pedati. Kalau kendali ditarik ke kiri, baru kau berbelok ke kir i. Kalau kendali ditarik kekanan baru kau berbelok kekanan” “Maaf tuan. Demikianlah keadaan seorang abdi yang sebenarnya. Kami memang tidak lebih dari seekor kuda pedati. Karena itu kami t idak berani mener ima tuan di DalemAgung” pengawal itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi di gandokpun tersedia perlengkapan yang cukup Tuan akan dapat berbaring dengan tenang dan beristirahat secukupnya” Dada Raden Rudira rasa-rasanya akan meledak. Timbul juga menyesalannya bahwa ia telah sampai ke padukuhan Sukawati. Ternyata orang-orang Sukawati. adalah orang-orang yang memang keras kepala. Seperti juga petani yang pernah ditemuinya di bulak Jati Sar i. Karena itu, maka untuk sejenak Raden Rudira menggeram. Hampir saja ia memaksa para pengawal itu. Persoalan yang dapat timbul kemudian dapat diserahkan kepada ayahnya, seandainya Ramanda Pangeran Mangkubumi menjadi marah. Kalau perlu ayahandanya dapat minta bantuan kepada Kumpeni. Kalau Pangeran Ranakusuma berkeberatan, maka ibunya pasti akan bersedia mengusahakannya, sehingga Pangeran Mangkubumi tidak akan dapat bertindak apapun juga atasnya. Tetapi ketika ia melihat dua orang pengawal, Ki Demang Sukawati, dan dua orang bebahu Kademangan yang menyertainya, hatinya serasa bergetar. Satu dari para petani di Sukawati sudah dikenal kemampuannya. Apalagi kini ia berhadapan dengan lima orang, bukan saja petani biasa. Tetapi seorang dari mereka adalah Demang Sukawati, yang lain bebahunya dan dua orang pengawal pesanggrahan. Tanpa disadarinya ia memandang para pengiringnya. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Apakah para pengiringnya termasuk lima orang pengawal yang paling baik dari Ranakusuman itu mampu menghadapi orang-orang Sukawati. Tetapi ketika terbayang olehnya orang-orang yang berdiri di sebelah menyebelah jalan sambil menyilangkan tangannya di dada, ia merasa ngeri sendir i. Orang-orang itu memang tidak ubahnya seperti kuda pedati. Mereka tidak akan mampu berpikir. Jika atasannya memerintahkannya untuk berkelahi, maka merekapun akan berkelahi, siapapun yang akan menjadilawannya. Jika ternyata mereka mempunyai kemampuan seperti petani yang ditemuinya di bulak Jati Sari itu. maka seluruh rombongannya akan mengalami bencana. Dan ternyata betapapun Raden Rudira membusungkan dadanya, ia memang bukan seorang yang berjiwa besar. Karena itu, ia tidak memilih meninggalkan pesanggrahan itu meskipun harus bermalam di tengah hutan. Ternyata betapa dadanya menggelegak, ia berkata “Hanya karena aku tidak mau berselisih dengan keluarga Ramanda Pangeran Mangkubumi sajalah aku bersedia menginap di gandok. Jika aku memaksa, maka akan dapat menimbulkan salah paiham di antara kami dan Ramanda Pangeran Mangkubumi, meskipun seandainya Ramanda Pangeran Mangkubumi mengetahui persoalan yang sebenarnya, tentu kalianlah yang akan mengalami bencana. Baik bagi kalian sendiri, maupun bagi keluarga kalian” Tidak soorangpun yang menjawab. Seolah-olah mereka membiarkan saja apa yang akan dikatakan oleh Raden Rudira. Namun ia dengan terpaksa telah bersedia menginap di gandok bersama para pengiringnya. “Nah tuan” berkata Ki Demang kemudian “Tuan telah mendapat- tempat yang baik untuk menginap. Karena itu, kami minta diri untuk kembali ke Kademangan” “Tetapi aku memer lukan kau. Besok sejak pagi-pagi kau harus mengantarkan aku, mengelilingi padukuhanmu untuk mencari petani yang telah menghinakan kami” “Baik tuan. Di pagi-pagi hari aku sudah ada di halaman pesanggrahan ini” Rudira tidak menyahut lagi. Dipandanginya saja Demang Sukawati yang kemudian minta diri kepada kedua pengawal pesanggrahan itu. Demikianlah, maka Raden Rudira malam itu bersama para pengiringnya Di tempatkan di gandok sebelah kanan. Betapasakit hati putera Pangeran Ranakusuma, tetapi ia tidak dapat memaksa untuk tinggal di DalemAgeng pesanggrahan itu. Ketika di malam har i Raden Rudira membentak-bentak Sura, yang baginya terasa sama sekari tidak dapat membantunya, maka seorang pelayan telah mendatanginya. Dengan hormatnya ia bertanya kepada Raden Rudira “Apakah yang telah terjadi tuan? Agaknya tuan marah sekali kepada pengiring tuan itu” “Jangan turut campur. Itu adalah persoalanku” “Kami, para abdi di pesanggrahan ini terkejut dan bahkan ada yang menjadi ketakutan” “Apa pedulimu” “Sebaiknya tuan tidak membentak-bentak” “Kau, kau memerintah aku ya? Aku adalah putera seorang Pangeran” “Apalagi putera seorang Pangeran, sedang seorang Pangeranpun tidak berlaku seperti tuan. Pangeran Mangkubumi t idak pernah membentak-bentak seperti tuan“ “Aku tidak peduli” “Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang tenang. Sikapnya matang sebagai sikap seorang Pangeran. Tetapi ia adalah seorang yang ramah tidak dibuat-buat. Kalau ada di antara kami yang berbuat salah, maka Pangeran Mangkubumi member ikan nasehat kepada kami, agar kami tidak mengulangi kesalahan itu” “Aku tidak peduli. Aku tidak peduli” Tetapi abdi pesanggrahan itu sama sekali t idak menghiraukannya. Ia berkata terus ”Namun dengan demikian sikapnya memiliki perbawa. Pandangannya tajam dan setiap katanya bernilai buat kami” ia berhenti sejenak, lalu “Tuan. sebenarnya Pangeran Mangkubumipun selalu berada digandok. Tetapi gandok sebelah kir i. Jarang sekali Pangeran Mangkubumi berada di Dalem Agung, yang dengan demikian seakan-akan terpisah dari lingkungannya. Kami adalah sahabat-sahabat yang sangat dekat dengan Pangeran Mangkubumi meskipun kami adalah abdinya. Seakan-akan tidak ada batas di antara kami. orang-orang kecil yang sama sekak tidak mempunyai setitikpun darah keturunan dari kraton, dengan Pangeran Mangkubumi, keturunan pertama dari seorang raja, karena bagi Pangeran Mangkubumi, di antara kami memang tidak ada batasnya” “Bohong, bohong. Kau berbohong” “Aku berkata sebenarnya tuan Itulah Pangeran Mangkubumi. Meskipun tuan adalah kemanakannya, tetapi ternyata bahwa kami lebih dekat dengan Pangeran itu daripada tuan. Bukan saja dekat dalam pengertian lahir iah, tetapi hati kamipun terlalu dekat pula” “Bohong, bohong“ ternyata Raden Rudira telah berteriak pula Abdi pesanggrahan itu terkejut mendengar bentakan- bentakan yang semakin keras itu. Tetapi iapun kemudian berusaha menguasai dirinya dan berkata lebih lanjut “Apakah tuan akan mengenal Ramanda tuan itu lebih dekat?“ “Apa maksudmu?“ “Agar tuan tidak menyangka aku berbohong, maka mar ilah tuan melihat-melihat apa yang ada di dalam bilik Pangeran Mangkubumi di gandok sebelah kir i. Bukan di Dalem Ageng. Karena di Dalem Ageng tuan akan menjumpai kelengkapan pesanggrahan seorang Pangeran. Sebuah batu hitam beralaskan kulit harimau tempat duduk Pangeran Mangkubumi. Sebuah songsong bertangkai panjang. Beberapa buah tombak pusaka, meskipun bukan pusaka Pangeran Mangkubumi yang paling bertuah, dan beberapa kelengkapan yang lain. Tetapi berbeda sekali dengan isi gandok, yangjustru merupakan tempat tinggal Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya apabila ia berada di Pesanggrahan ini” Sejenak Raden Rudira menjadi ragu-ragu. Ditatapnya wajah Sura yang kosong. Kemudian beberapa orang pengiringnya. “Apakah tuan ragu-ragu?“ tiba-tiba pelayan itu bertanya. “Ya” jawab Raden Rudira “Apakah ada manfaatnya?” “Tentu ada Raden. Agar tuan dapat mengenal Ramanda tuan dengan baik. Sebagai seorang kemanakan, tuan akan dapat lebih mendekat lagi kepadanya” Raden Rudira masih tetap ragu-ragu. Meskipun sebenarnya ia memang kemenakannya, tetapi rasa-rasanya jarak antara Ranakusuman dan Mangkubumen memang terlampau jauh. Tetapi ternyata abdi pesanggrahan itu mendesaknya “Tuan. marilah. Tuan akan melihat Ramanda Pangeran Mangkubumi seutuhnya” Dada Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Tetapi ada juga keinginannya untuk melihat, apakah yang dimaksud oleh pelayan itu. Sehingga karena itu, maka iapun kemudian menjawab “Baik. Aku akan melihat gandok sebelah kir i” Lalu katanya kepada Sura “Sura, ikuti aku” Keduanya itupun kemudian diantar oleh abdi pesanggrahan itu pergi ke gandok sebelah kir i Dengan ragu-ragu Raden Rudira mengikuti langkah pelayan itu. Ada juga timbul kecurigaannya menilik sikap dan sifat-sifat orang Sukawati yang seolah-olah disaput oleh rahasia yang baur. Ketika mereka memasuki ruang depan dar i gandok itu, dilihatnya perlengkapan yang sederhana. Lebih sederhana dari perlengkapan yang ada di gandok kanan. Di ruang itu terdapat sebuah amben bambu yang besar. "Sebuah bancik lampu dan geledeg bambu. Buat apa amben sebesar ini?“ bertanya Raden Rudira.“Ini adalah kehendak Pangeran Mangkubumi sendir i. Jika Pangeran Mangkubumi mengunjungi rumah-rumah orang miskin, maka, selalu ditemukannya sebuah amben sebesar ini, atau katakanlah satu-satunya kelengkapan rumah rakyat kecil adalah amben semacam ini. Ada juga yang memiliki geledeg bambu dan bancik dlupak minyak kelapa seperti ini” “Huh“ tiba-tiba Raden Rudira berdesah “Apakah sebenarnya gunanya Ramanda Pangeran membuat suasana pesanggrahan serupa ini?“ “Pangeran Mangkubumi ternyata merasa tenteram berada di dalam suasana ini. Jauh lebih tenteram daripada berada di Dalem Ageng dalam suasana yang penuh ketegangan. Disini Pangeran Mangkubumi dapat duduk selonjor bersandar tiang atau dinding sambil minum air panas dan makan jagung rebus. Tetapi tidak di Dalem Ageng. Jika Pangeran Mangkubumi duduk dialas batu yang beralaskan kulit harimau itu dan dihadap oleh para bebahu Kademangan, suasananya memang menjadi kaku dan tegang. Karena itu Pangeran Mangkubumi lebih senang menerima Demang di Sukawati di ruangan ini sambil duduk seenaknya” Raden Rudira tiba-tiba merasa dadanyalah yang menjadi tegang Tingkah laku Pangeran Mangkubumi itu sama sekali tidak disukainya. Dengan demikian Pangeran itu telah merendahkan derajadnya sendiri. Derajad yang sebenarnya harus dipertahankan, Seandainya Raden Rudira itu juga seorang Pangeran, maka ia pasti akan berbuat sesuatu untuk menghentikan solah Pangeran Mangkubumi itu. “Akibatnya dapat dilihat langsung“ Ia berkata di dalam hatinya “ternyata orang-orang Sukawati tidak menaruh hormat lagi kepada para bangsawan. Mereka menganggap aku ini sederajad saja dengan mereka” Dalam pada itu, maka pelayan pesanggrahan itupun berkata “Marilah tuan, silahkan tuan masuk ke ruang dalam. Ke bilik Pangeran Mangkubumi”Raden Rudira menjadi ragu-ragu, sehingga pelayan itu berkata “Ramanda tuan tidak akan marah. Tempat ini seperti banjar Kademangan saja. Semua orang boleh masuk. Tetapi tidak di Dalem Ageng. Hanya orang-orang tertentu dan dalam keadaan tertentu saja orang boleh memasuki PalemAgeng” Raden Rudira mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian mengikut i pelayan itu memasuki sebuah bilik di ruang dalamgandok sebelah kiri itu. Tiba-tiba dada Raden Rudira merasa berdentangan ketika ia melihat beberapa potong pakaian tergantung di dinding. Dengan serta merta ia bertanya “Pakaian siapakah itu?“ “Pangeran Mangkubumi” jawab pelayan itu. ”Bodoh kau, yang aku maksud adalah pakaian yang tergantung itu. Bukankah pakaian itu pakaian seorang petani. Tutup kepala yang besar dan ikat pinggang kulit kasar itu?“ “Ya. Itu adalah pakaian Pangeran Mangkubumi j ika Pangeran ada disini” “Bohong. Bohong” sekali lagi Rudira berteriak “pakaian itu adalah pakaian seorang petani” Pelayan itu menjadi heran. Jawabnya “Ya, pakaian itu memang pakaian seorang petani” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi kenapa tuan harus berteriak-teriak. Para abdipesanggrahan ini tidak biasa mendengar seseorang membentak-bentak seperti tuan. Kenapa seseorang harus membentak-bentak? Dan kenapa orang lain harus dibentak- bentak?“ ”Diam, diam kau. Kau jangan membuat aku marah” “Baiklah. Tetapi aku tidak biasa melayani seseorang seperti tuan. Jika tuan jemu menyaksikan ruangan Ramanda Pangeran, tuan aku persilahkan kembali ke bilik tuan di gandok sebelah kanan” Rudira berdiri tegak seperti patung. Jawaban itu menyakitkan hatinya. Tetapi yang lebih mendebarkan jantungnya adalah pakaian yang tergantung di dinding itu. “Apakah benar pakaian itu. pakaian Ramanda Pangeran?“ pertanyaan itu telah mengetuk dinding jantungnya. Serasa semakin lama semakin keras. Namun tiba-tiba sekali lagi ia berkata keras-keras “Bohong sekali. Tentu tidak benar bahwa pakaian itu adalah pakaian Ramanda Pangeran” Tetapi pelayan itu menyahut “Terserahlah kepada tuan, apakah tuan mempercayainya atau tidak. Tetapi pakaian itu sebenarnyalah pakaian Pangeran Mangkubumi” “Tetapi kenapa pakaian itu sekarang tidak dipakainya?“ “Tentu Pangeran Mangkubumi tidak hanya mempunyai pakaian sepengadeg itu” Terasa sesuatu telah menggetarkan dada Raden Rudira. Seakan-akan ia pernah melihat pakaian seperti pakaian yang tergantung di dinding itu. Karena itu. untuk melepaskan ketegangan yang tiba-tiba telah mencengkam dadanya, Raden Rudira berkata lantang “Cukup. Aku sudah cukup melihat-melihat gandok ini. Aku tidak percaya bahwa Ramanda Pangeran Mangkubumi selaluberada di gandok ini. Pakaian ini pasti pakaian kalian, abdi- abdi pesanggrahan yang deksura dan tidak mengenal sopan santun. Kalau Ramanda Pangeran mengetahui, bahwa kalian telah berani berada di gandok ini seperti berada di rumah kakek dan nenekmu sendir i, maka Ramanda Pangeran pasti akan menjadi marah sekali. Kalian akan dipecat dan bahkan kalian akan mendapat hukuman” “Tuan” sahut abdi itu “Kalau Pangeran Mangkubumi t idak berkenan di hatinya. apakah mungkin, kami para abdi berani memasukkan amben sebesar itu ke dalam gandok ini meskipun Pangeran tidak ada di pesanggrahan?“ “Diam, diam. Jangan membual lagi, Aku tidak mau mendengarnya. Aku akan kembali ke gandok kanan. Ternyata pesanggrahan ini diliputi oleh suasana yang tidak menyenangkan apabila Ramanda sedang t idak berada disini. Kalian merasa, seolah-olah pesanggrahan ini adalah milikmu sendiri” Abdi itu menar ik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Baiklah jika tuan tidak percaya Marilah, aku persilahkain tuan kembali ke gandok sebelah kanan. Tetapi aku telah berkata sebenarnya, Terserahlah atas penilaian tuan“ Kemarahan Raden Rudira rasa-rasanya tidak lagi dapat ditahan. Hampir saja ia berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirinya sendiri. Untunglah, selagi ia berjuang menahan perasaannya, Sura telah menggamitnya. Dan sentuhan tangan Sura itu seakan-akan membuat Raden Rudira semakin menyadari keadaannya. Demikianlah, maka Raden Rudira itupun diantar kembali ke gandok sebelah kanan. Namun sepatah katapun Raden Rudira tidak berbicara lagi dengan pelayan pesanggrahan itu" Tetapi dalam pada itu, di kepalanya sedang berkecamuk persoalan yang hampir tidak masuk akalnya. Pakaian yangtergantung itu, menurut keterangan pelayan pesanggrahan adalah pakaian Ramanda Pangeran Mangkubumi. “Bohong. Orang itu mencoba membohongi aku” Dan terasalah olehnya, bahwa pesanggrahan itu agaknya telah diliputi oleh suatu rahasia. Seperti di dalam kabut di waktu pagi, maka yang dapat dilihatnya itu adalah sekedar bentuk yang samar-samar. Ketika ia sudah duduk kembali di dalam bilik di gandok sebelah kanan, maka iapun mulai mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Para pengiringnya yang berada di luar bilik itupun mendengar langkah kakinya yang gelisah. Kadang- kadang Raden Rudira membanting dirinya, duduk di pembaringan. Namun kadang-kadang dengan tergesa-gesa ia meloncat berdir i dan berjalan hilir-mudik. Akhirnya, dada Raden Rudira serasa tidak tahan lagi merendam perasaannya. Dengan serta-merta dipanggilnya Sura yang berada di luar biliknya Dengan tergesa-gesa Sura melangkah terbungkuk-bungkuk mendekati Raden Rudira yang berdiri di sudut biliknya. “Sura” berkata Raden Rudira “Apakah kau percaya kepada abdi pesanggrahan ini?“ Sura termangu-mangu sejenak. Terasa berat sekali untuk mengatakan yang sebenarnya tersirat di dalamhatinya. “Apakah kau percaya he?“ “Maaf Raden” berkata Sura “sebenarnyalah bahwa aku percaya kepada abdi pesanggrahan itu” “Kau percaya he? Kau mempercayainya?“ Sura menundukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab dengan suara bergetar “Ya tuan. Aku mempercayainya”“Jadi kau percaya juga bahwa pakaian itu pakaian Ramanda Pangeran?” “Ya Raden “ “Gila. Kau juga sudah gila” Raden Rudira berhenti sejenak, lalu “Aku merasa pernah melihat pakaian serupa itu. Tetapi tentu ada lebih dari seribu rakyat kecil yang mengenakan pakaian serupa itu. Kain lurik kasar, tutup kepala lebar dan baju lur ik bergaris tebal” “Tuan benar. Tuan memang pernah melihatnya?” “Ya, dan sudah aku katakan, ada seribu orang yang mengenakan pakaian serupa itu. Tentu para abdi di pesanggrahan inipun sering mengenakan pakaian serupa itu” “Apakah tuan ingat, dimana tuan melihat pakaian serupa itu yang terakhir kali?“ Meskipun Rudira t idak senang mendengar pertanyaan itu, tetapi ia mencoba mengingat-ingat. Namun ia menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak mempunyai kesempatan mengingat-ingat pakaian petani kecil” “Tetapi petani yang seorang ini agak lain Raden” sahut Sura kemudian. “Maksudmu?“ “Apakah tuan ingat pada petani yang tuan cari?“ “Ya” “Pakaiannya?“ Rudira mengingat-ingat sejenak. Lalu tiba-tiba ia berkata lantang “Ya. Itulah yang kita cari. Orang yang mengenakan pakaian itu. Tentu ia orang Sukawati. Kita akan segeramenemukannya. Bahkan mungkin ia orang pesanggrahan ini pula” “Raden” berkata Sura kemudian “Jika tuan menghubungkan pakaian itu dengan petani dari Sukawati yang tuan cari, dan ceritera tentang pakaian itu oleh abdi pesanggrahan ini, tuan pasti akan dapat mengambil kesimpulan” “He?“ tiba-tiba wajah Rudira menjadi pucat. “Dan apakah tuan dapat membayangkan kembali bentuk petani dari Sukawati itu” “Tidak. Tidak“ tiba-tiba Rudira berteriak. Namun kemudian tubuhnya menjadi gemetar. Terbayang kembali petani yang dijumpainya di bulak Jati Sari. Petani yang bertubuh tegap kekar, dan mengenakan pakaian serupa yang tergantung di dinding itu. Atau bahkan pakaian itulah yang memang dipakainya. “Orang itu bertubuh tinggi, besar, bermata tajam. Ia memiliki kemampuan yang hampir t idak terkatakan. Ia menguasai olah kanuragan yang sempurna. Aku merasakan langsung sentuhan tangannya yang membuat aku hampir kehilangan semua kekuatan” desis Sura. “Cukup, cukup” “Raden. Bayangkan wajah yang kotor oleh debu itu. Apakah Raden tidak mengenalnya? Aku tidak dapat segera mengenal waktu itu, tetapi setelah aku merenung justru sekarang aku mengetahui dan yakin . . . . . . . . . . . . . . ” Kata-kata Sura terputus, karena tiba-tiba saja Rudira telah menampar mulutnya, sambil berteriak “Diam, diam kau” Sura hanya terdorong selangkah surut. Meskipun tangan Rudira itu terasa sakit di pipinya, namun ia meneruskan “Orang yang tuan cari sekarang itulah Pangeran Mangkubumi”“Diam. diam, diam“ Rudira berteriak-teriak, sehingga para pengiringnya mengerutkan keningnya. Tetapi mereka mendengar percakapan di dalam bilik itu. Dan merekapun menjadi berdebar pula karenanya. Surapun kemudian terdiam. tetapi rasa-rasanya dadanya sudah menjadi lapang. Yang tidak pernah berani dilakukan, telah dilakukannya. Selagi Rudira membentak-bentak, bahkan telah menampar pipinya, ia masih juga berbicara terus dan berhasil mengucapkan nama itu, Pangeran Mangkubumi. Ternyata nama itu telah mempengaruhi setiap dada dari para pengiring Raden Rudira. Jika yang dikatakan Sura itu benar, apakah mungkin mereka akan meneruskan usaha mereka untuk menemukan petani yang deksura di bulak Jati Sari itu?. Suasana yang tegang sejenak telah mencengkam semua orang di dalam iring- iringan Putera Pangeran Ranakusuma yang sedang dicengkam oleh kebimbangan. Kadang-kadang ia berusaha juga membayangkan wajah Petani yang dijumpainya di Jati Sari. Namun t iba-tiba ia menggeleng sambil menggeretakkan giginya, seolah-olah ia ingin menghalau pengakuan kenyataan yang di hadapinya. “Tidak mungkin, tidak mungkin” tiba-tiba ia menggeram. Sura tidak menyahut. Ia mengerti bahwa yang dimaksud oleh Raden Rudira adalah petani yang dijumpainya di Jati Sari itu. Namun Sura sama sekali tidak berbuat sesuatu. Tidak berkata apapun juga dan t idak bergerak dari tempatnya. Dan tiba-tiba saja Raden Rudira membentaknya “Kau berbohong Sura. Kau sudah menjadi pengecut, Karena kau melihat sikap orang-orang Sukawati, kau telah membuat bayangan khayal itu, agar aku mengurungkan niatku mencarinya dengan menjelajahi seluruh wilayah Sukawati. Sura tidak menjawab. Kepalanya tertunduk dalam-dalam,“Aku tidak percaya. Besok kita meneruskan usaha ini. Aku harus menemukannya dan membawanya ke istana Ranakusuman” geram Raden Rudira. Meskipun demikian terasa betapa ia sedang berusaha mengatasi gejolak di dalam hatinya sendiri. Dalam pada itu Sura masih tetap diam. Ia masih saja menundukkan kepalanya. Ia sudah mengatakan apa yang tersirat di hatinya. Dan ia sudah puas karenanya, Apapun yang akan terjadi atas Raden Rudira dan pengiringnya termasuk dirinya sendiri tergantung sekali kepada sikap dan tanggapan Raden Rudira. Sura terkejut ketika tiba-tiba saja Raden Rudira berteriak “Pergi, pergi kau pengecut” Sura membungkukkan badannya dalam-dalam. Kemudian iapun melangkah surut sambil terbungkuk-bungkuk pula meninggalkan bilik Raden Rudira itu. Di luar Sura segera dikerumuni oleh kawan-kawannya dan pengawal khusus dari Ranakusuman itu. Sambil berbisik-bisik mereka minta agar Sura menjelaskan, kenapa ia menyebut- nyebut nama Pangeran Mangkubumi. “Itulah Pangeran Mangkubumi” berkata Sura kemudian “Tidak seorangpun yang dapat menatap tajam pandangan matanya. Kekuatan yang ada di dalam dir inya bagaikan kekuatan seratus banteng ketaton, dan ilmu kanuragan yang dikuasainya, meliputi segala macam kemungkinan yang ada. Namun ternyata hatinya bersih sebersih mata air di lereng pegunungan” “He, apakah kau sedang bermimpi?“ bertanya salah seorang kawannya yang tahu benar tentang keadaan Sura selama ini. “Aku sadar, bahwa aku adalah penjilat yang paling rendah di dalam Ranakusuman. Tetapi menghadapi PangeranMangkubumi aku mempunyai kesan tersendiri di antara para Pangeran yang. ada di Surakarta” Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka mendesak “Jadi menurut dugaanmu, petani yang kita jumpai di bulak Jati Sari itulah Pangeran Mangkubumi itu sendiri” “Ya. Dan ini bukan sekedar bayangan ketakutan karena aku berada di tengah-tengah rakyat Sukawati yang aneh, yang diliputi oleh rahasia ini. Tetapi ketika aku melihat pakaian yang tergantung di gandok sebelah kir i, dan abdi pasanggrahan ini menyebut bahwa pakaian itu adalah pakaian Pangeran Mangkubumi. maka aku mulai merenungi wajah itu lagi. Wajah yang waktu itu kotor oleh keringat dan debu. Tetapi kalau kita berhasil membayangkan kembali sorot matanya, ialah Pangeran Mangkubumi itu” “Ah” berkata salah seorang pengawal “mungkin kau keliru. Apakah Pangeran Mangkubumi merendahkan dir inya berpakaian sebagai seorang petani dan berjalan menyusuri bulak Jati Sari” “Memang hampir mustahil. Tetapi aku meyakininya” "Aku kenal betul wajah Pangeran Mangkubumi” berkata salah seorang pengawal “Jika kita berhasil menjumpainya, aku akan dapat mengenal” “Tetapi dalam pakaian seorang petani yang kotor dan kumal, serta wajah yang basah oleh keringat dan noda-noda debu, wajah itu memang berubah, sehingga aku tidak segera dapat mengenalnya. Tetapi sekarang aku yakin. Yakin sekali” suara Sura menjadi semakin mantap. Tidak seorangpun yang kemudian menyahut. Tetapi mereka mencoba membayangkan kembali wajah petani itu, kecuali para-pengawal yang saat itu tidak ikut bersama mereka.“Seperti kita melihat bintang Bima Sakti” tiba-tiba salah seorang berdesis. “Maksudmu?“ bertanya Sura. Semakin tajam kita berangan-angan maka bentuk itu menjadi semakin jelas, seolah ada gambar Bima yang cemerlang di langit yang terjadi dari taburan bintang-bintang yang gemerlapan. Tetapi itui adalah gambaran kita sendir i. Kitalah yang membuat gambar Bima itu. Tidak di langit, tetapi di dalam angan-angan kita” “O, jadi maksudmu demikian juga dengan petani dari Jati Sari itu?“ sahut Sura “Kita sendirilah yang membuat gambaran seolah-olah orang itu Pangeran Mangkubumi? Gambaran kitalah yang menyesuaikan bentuk orang itu dengan Pangeran Mangkubumi?“ “Itulah yang benar” tiba-tiba mereka terkejut. Ternyata Rudira mendengarkan percakapan mereka, dan tiba-tiba saja ia menyahut ketika ia sudah berdir i di ambang pintu biliknya. Selangkah demi selangkah Raden Rudira berjalan mendekati para pengiringnya. Satu-satu dipandanginya wajah- wajah yang kemudiar tertunduk. Lebih-lebih lagi Sura. Ia merasa bahwa kepercayaan Rudira kepadanya semakin menurun. Namun ada sesuatu yang melonjak di dalam hatinya. Kekaguman yang luar biasa kepada sikap Pangeran Mangkubumi. Di dalam angan-angannya terbayang kebesaran Pangeran itu Seakan-akan seisi Kademangan Sukawati ini berada di dalam genggamannya. Setiap orang mengarahkan kiblat pandangan hidupnya kepada Pangeran Mangkubumi. Setiap kali nama itu selalu diucapkan oleh siapapun juga di dalam Kademangan ini. Tetapi jiwa Sura yang kerdil tidak cukup kuat untuk mengungkapkan perasaannya itu. Bagaimanapun juga telah hidup untuk bertahun-tahun lamanya sebagai seorang penjilat di dalam istana Pangeran Ranakusuma. sehingga untukmelepaskan dir i dar i jalan hidup yang sudah terlalu lama dihayatinya itu terlampau sulit baginya. Dengan demikian, ketika Raden Rudira berdiri di hadapannya, kepalanya menjadi semakin tunduk. Ia sendiri tidak dapat mengatakannya, kekuatan apakah yang telah mendorongnya untuk mcnyatakan keyakinannya, bahwa orang itu adalah Pangeran Mangkubumi. Tetapi kini ia sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mempertahankan keyakinannya itti. “Sura” berkata Raden Rudira kemudian “Aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba kau sudah berubah. Sudah bertahun-tahun kau berada di Ranakusuman. Selama ini kau adalah abdi yang paling setia dan kau memang memiliki kelebihan dari kawan- kawanmu. Tetapi tiba-tiba kini kau berkerut menjadi seorang pengecut” Sura tidak menjawab, tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk “Hanya karena kau sudah lama berada di Ranakusuman, maka aku tetap membiarkan kau pada kedudukanmu yang sekarang. Tetapi jika kau benar-benar sudah tidak bermanfaat lagi bagi kami, kau akan segera tersisih, karena orang lain cukup banyak yang memiliki syarat- syarat seperti yang kau miliki sekarang” Sura masih tetap membeku. Dalam keadaan ymg demikian rasa-rasanya ia sama sekali tidak mempunyai kesempatan apapun juga melain menundukkan kepalanya. Sura dalam keadaan yang demikian, sama sekali tidak mencerminkan kekasaran yang keganasannya seperti apabila ia sedang berkelahi. Berkelahi untuk kepentingan tuannya yang selama ini telah melimpahkan pemberian kepadanya dan kepada keluarganya. Tetapi adalah aneh sekali, bahwa di saat ia harus menunduk semakin dalam, ada perasaan lain yang menyelinap di dalam hatinya. Setiap kali perasaannya itu selaludipengaruhi oleh nama yang bagaikan bergema tidak ada henti-hentinya di seluruh Kademangan Sukawati. “Alangkah bedanya” katanya di dalam hati “Aku dan orang- orang Sukawati. Aku seorang abdi dan orang-orang Sukawati itu juga seorang abdi seperti abdi pesanggrahan itu, tetapi rasa-rasanya mereka tidak harus selalu menundukkan kepalanya” Bahkan terbayang di rongga mata Sura itu. bahwa abdi Mangkubumen kadang-kadang sempat juga berkelakar dengan Pangeran Mangkubumi, memberikan pendapat dan pertimbangan, bahkan sampai pada persoalan-persoalan yang penting dan pr ibadi. “Ah tentu tidak“ Sura berkata kepada dirinya sendiri “itu pasti hanya gambaranku saja. Seperti aku menciptakan bentuk Bima Sakti di langit karena angan-anganku” Sura terkejut ketika Rudira berkata “Sura. Kau harus mencoba memperbaiki kesalahan-kesalahan yang lelah kau perbuat untuk. mengembalikan kepercayaanku dan ayahanda Pangeran Ranakusuma kepadamu. Kalau kau tidak berhasil, maka nasibmu akan menjadi sangat jelek” Tanpa disadarinya Sura mengangguk perlahan sambil menjawab Ya tuan. Aku akan mencoba memperbaikinya” Namun suasana itu tiba-tiba telah dipecahkan oleh suara tertawa perlahan. Hampir berbareng setiap orang berpaling kearah suara itu. Ternyata salah seorang pengawal yang ikut serta di dalam iring- iringan itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya. “Kenapa kau tertawa?“ bertanya Raden Rudira. “Pengecut itu” jawabnya sambil menunjuk Sura. Wajah Sura menjadi merah padam. Tetapi ia tidak sempat menjawab ketika Rudira berkata “Teruskan. Kau tentu mempunyai alasan untuk menyebutnya sebagai pengecut”“Ia menjadi ketakutan melihat sepotong pakaian tergantung di dinding seperti ceriteranya sendiri” “Kau benar” berkata Raden Rudira. Ketika ia berpaling memandang wajah Sura, dilihatnya orang itu menggertakkan giginya “Jangan marah. Ia berkata sebenarnya. Aku memang sudah berpikir untuk member ikan kesempatan kepada orang lain. Tetapi sudah aku katakan, bahwa karena kau sudah terlalu lama berada di Ranakusuman, maka kau masih mendapat kesempatan jika kau berhasil memulihkan kepercayaanku kepadamu. Terutama selagi kita berada di dalam keadaan yang gawat sekarang ini” Sura tidak menyahut. Sekali-sekali ia masih memandang pengawal itu dengan sudut matanya. Tetapi pengawal itu seolah-olah acuh t idak acuh saja. Tanpa disadarinya Sura mulai menilai pengawal itu. Sudah lama ia mengenalnya. Tetapi ia tidak menduga sama sekali, bahwa pada suatu saat ia akan berbuat demikian. Tubuhnya yang tinggi kekar dan dijalari oleh otot-otot yang kuat, membayangkan keadaan orang itu. Tidak jauh badannya dengan dirinya sendiri. Orang itupun dapat juga disebut raksasa di Ranakusuman. Dan agaknya orang itu sengaja memancing persoalan di dalam saat yang menguntungkan itubaginya. Arahnya dapat jelas dilihat oleh Sura, bahwa orang itu ingin menggantikan kedudukannya. Tetapi di dalam hal yang demikian, Sura adalah orang yang kasar, dan bahkan hampir liar. Karena itulah maka jantungnya segera dibakar oleh dendamyang menyala di dadanya. “Kalau ada kesempatan, aku akan menyelesaikan masalah ini” katanya di dalam hati. Tetapi Surapun sadar, bahwa orang itu pasti tahu juga akibat yang bakal dihadapinya. Dan agaknya urang itupun sama sekali tidak takut. “Memang salah seorang dari kami harus pergi” berkata Sura di dalamhatinya. Tetapi sementara itu, pengawal yang bertubuh raksasa seperti Sura itupun berkata di dalam hatinya “Kau sudah terlalu lama berkecimpung dalam genangan pemberian yang berlimpah- limpah dari Pangeran Ranakusuma dan Raden Rudira hanya karena kau membasahi tanganmu dengan darah. Akupun dapat berbuat seperti kau, dan salah seorang di antara kita memang harus pergi dar i Ranakusuman. Di Ranakusuman cukup ada seorang raksasa saja, dan yang seorang harus pergi” Tetapi keduanya menyimpan masalah itu di dalam hati mereka. Kini mereka harus mendengarkan Rudira berkata “Besok kita teruskan usaha ini. Kita tidak menghiraukan kicau abdi pesangerahan ini tentang pakaian yang tergantung di dinding gandok kiri itu” “Kita sudah siap” berkata pengawal yang bertubuh raksasa itu, sementara Sura hanya menganggukkan kepalanya saja. “Sekarang kalian boleh beristirahat” Ketika Rudira masuk ke dalam bilik yang disediakan olehnya, Sura dan pengawal yang bertubuh raksasa itu saling memandang untuk, beberapa saat. Namun mereka sama sekali t idak berbicara apa-apa, karena beberapa orang yangmengerti akan keadaan itu Segeja berusaha mengalihkan perhatian mereka berdua. Sura yang hatinya sedang dibelit oleh berbagai persoalan itu sama sekali tidak menghiraukan lagi kawan-kawannya. Ia langsung membaringkan dir inya diatas tikar disudirt ruangan. Sedang beberapa orang yang lain masih juga duduk sambil berbicara. “Suasana menjadi panas” berkata salah seorang pengiring Rudira “pengawal itu terlampau bernafsu. Sebenarnya ia dapat mencari kesempatan lain” “Akibatnya tentu tidak menyenangkan bagi keduainya” sahut yang lain. Tetapi suara mereka seakan-akan hanya dapat mereka dengar sendir i. Mereka menganggap bahwa para pengawal pasti berada di pihak raksasa itu. Tetapi ternyata bahwa kawani pengawal yang bertubuh raksasa itupun kecewa terhadap sikap itu. Namun demikian mereka tidak berniat untuk mencampur inya. Meskipun pada umumnya mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melampaui orang kebanyakan, namun mereka segan untuk bertengkar dengan kawan sendir i di pihak manapun mereka akan berdir i. Demikianlah maka malam itu mereka membaringkan diri masing masing dengan ketegangan yang menyesak di dalam dada. Bukan saja karena kawan-kawan mereka bertengkar, tetapi juga karena petani yang mengandung rahasia itu. Dengan demikian, maka hampir t idak seorangpun yang dapat tidur nyenyak. Sura yang tampaknya berbaring diam di sudut ruangan ternyata hatinya bergolak semakin dahsyat. Semakin tenang keadaan ruangan itu, terasa hatinya menjadi semakin sakit mengingat sikap pengawal yang bertubuh raksasa itu. “Mandra memang sudah gila” katanya di dalam hati “Aku tidak menyangka bahwa ia begitu bernafsu dan tanpa malu-malu berusaha merebut kedudukan” tiba-tiba saja Sura menggeram “Aku tidak peduli. Tetapi aku pasti akan membual perhitungan, Salah seorang dari kami memang harus pergi” Namun ternyata bahwa Rudirapun tidak dapat memejamkan matanya. Pakaian yang tergantung di gandok sebelah kiri membuat hatinya menjadi bingung. Kadang- kadang ia mempercayainya, bahwa pakaian Pangeran Mangkubumi. Dan petani yang dijumpainya di bulak Jati Sari itu benar-benar Pangeran Mangkubumi pula. “Tidak mungkin. Tidak mungkin“ setiap kali ia berusaha mengusir perasaan itu ”hanya seorang Pangeran yang gila sajalah yang berbuat demikian. Dan sudah barang tentu tidak dengan Ramanda Pangeran Mangkubumi” Namun demikian, perasaan yang bergolak tidak juga dapat ditenangkannya, sehingga Raden Rudira menyadari keadaannya ketika ia mendengar kokok ayam jantan yang penghabisan. “Fajar” ia berdesis. Namun ternyata fajar itu telah mengurangi ketegangan di dalam dada Rudira. Ia lebih baik berpacu diatas punggung kuda daripada berada di dalam bilik yang sempit tanpa dapat memejamkan matanya. Sehingga karena itu, maka iapun segera pergi keluar biliknya. Dilihatnya beberapa orang pengiringnya masih tertidur meskipun dengan gelisah, namun Sura yang berada di sudut ternyata telah duduk bersandar dinding. “Kau sudah bangun?“ bertanya Raden Rudira. “Ya tuan” “Kau pasti tidak dapat tidur sama sekali” “Raden benar“ jawabnya. “Kemarilah”Surapun mendekat. Dilangkahinya saja kawan-kawannya yang masih tertidur diatas tikar yang dibentangkan di lantai gandok itu. “Cari pelayan pasanggrahan itu. Suruhlah mereka menyediakan air panas. Aku akan mandi” Sura termangu-mangu sejenak. Pesanggrahan ini adalah pesanggrahan Pangeran Mangkubumi Pelayan-pelayan itu adalah pelayan Pangeran Mangkubumi. Apakah mereka tidak menjadi sakit hati apabila Raden Rudira memberikan perintah semena-mena. “He, kenapa kau diam saja? Cepat. Suruh pelayan-pelayan itu menyediakan air panas” “Baik, baik tuan. Aku akan mencarinya” Surapun kemudian keluar dari gandok sebelalah kanan. Langit menjadi semakin terang oleh cahaya merah yang semakin cerah. Tetapi hati Sura justru menjadi semakin gelap. Ia tidak mengerti, kenarfa kini ia dihinggapi oleh sikap ragu-ragu. Sebagai seorang hamba yang setia, didukung oleh sifat- sifatnya yang kasar, biasanya Sura menjalankan tugas yang diberikan kepadanya tanpa berpikir. Sura menarik nafas dalam-dalam. Namun demikian rasa- rasanya ia mulai menemukan dirinya kembali setelah untuk waktu yang lama ia terbenam dalam sikap yang rendah. Menjilat. “Ternyata selama ini aku telah kehilangan otakku” berkata Sura kepada diri sendir i ”Aku tidak pernah sempat berpikir. Ternyata aku memang tidak lebih dari seekor kuda penarik pedati seperti yang dikatakan oleh abdi pesanggrahan ini kemarin. Meskipun ia mengatakan tentang dirinya sendiri, namun akulah yang lebih dungu dari padanya”Namun demikian, tidak mudah untuk merubah sikap dengan tiba-tiba. Demikian juga Sura yang perlahan-lahan dirayapi oleh ketidak puasan terhadap dirinya sendiri itu. tidak dapat berbuat lain dari pada mematuhi perintah yang diterimanya. Tetapi ia kini tidak dapat berbuat tanpa berpikir, justru karena ia sudah mulai berpikir. Dengan ragu-ragu Sura pergi kebagian belakang dari pesanggrahan itu. Dilihatnya di dapur api sudah menyala. Ketika ia menjengukkan kepalanya, dilihatnya dua orang perempuan sedang sibuk memanasi air dan menanak nasi, sambil menuang air untuk mengisi jambangan pencuci alat- alat dapur. Sejenak Sura berdiri termangu-mangu. Apakah ia akan berbuat seperti yang selalu dilakukannya selama ini? Berbuat tanpa berpikir? Ia dapat saja menyampaikan per intah Raden Rudira itu. Tetapi itu tidak benar menurut perasaannya kini. Ia sudah mendapat kesempatan untuk bermalam. Tetapi apakah ia masih harus memer intah para pelayan, menyediakan air panas untuk mandi. Ternyata ada sesuatu yang menahan Sura. sehingga ia tidak sampai hati menyampaikan perintah yang semena-mena itu. Tetapi ia juga tidak dapat menolak perintah Raden Rudira untuk menyediakan air panas. Karena itu, maka ia berusaha untuk menemukan jalan. Kedua perempuan yang ada di dapur itu terkejut melihat Sura yang kemudian muncul dipintu. Tetapi Sura segera mengangguk sambil tertawa kecil “Eh maaf. Mungkin aku telah mengejutkan kalian” Kedua perempuan itu saling berpandangan sejenak. Tetapi tampak kecemasan di wajahnya. “Aku adalah salah seorang pengawal Raden Rudira yang bermalam di gandok”“O“ kedua perempuan itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari merekapun bertanya “Apakah yang kau perlukan sekarang?“ “Aku mendapat perintah agar menyediakan air panas untuk mandi. Apakah aku dapat menumpang merebus air?“ “O” sahut salah seorang dari mereka “Aku sedang merebus air” “Tetapi bukankah air itu untuk minum?“ “Tetapi air itu cukup banyak. Kalau masih kurang, aku dapat menambahnya. Aku akan mengambil secukupnya untuk membuat air minum. Yang lain dapat kau ambil untuk mandi tamu pesanggrahan ini” Sura menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia masih berpura- pura berkata “Tetapi itu akan merepotkan kalian” “Tidak. Tidak mengapa, Kami akan menyediakannya” Ternyata hal itu merupakan suatu pengalaman baru bagi Sura. la mendapatkan apa yang dikehendaki tanpa membentak dan mengancam. “Beberapa hari yang lalu, aku tentu bersikap lain dari sekarang” berkata Sura di dalam hatinya “barangkali t iga hari yang lalu, jika aku mendapat perintah itu, aku akan masuk ke dapur ini sambil bertolak pinggang dan berteriak “Sediakan air untuk tuanku” Sura menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian ia memang akan mendapat air. Tetapi ternyata bahwa dengan cara yang lain ia mendapatkan air panas itu juga. Bahkan sama sekali tanpa menyakiti hati orang lain. Mereka membantunya dengan senang hati dan dengan wajah yang terang, tanpa perasaan takut dan tegang. “Bodoh sekali” berkata Sura di dalam hatinya “Kenapa baru sekarang aku tahu”Sura terkejut ketika salah seorang perempuan itu berkata “Silahkan kau menunggu saja. Tidak pantas kau berada di dapur, Selain kau seorang laki-laki, kau adalah tamu-tamu kami” “Terima kasih. Terima kasih” sahut Sura terbata-bata “Aku akan menunggu di luar” Surapun melangkah per lahan-lahan keluar dapur. Tanpa disadarinya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata bahwa apa yang pernah dilakukan selama ini, membentak- bentak, mengancam, bahkan dengan kekerasan badaniah, adalah suatu kebodohan dan merusak hubungan baik antar manusia. Demikianlah dengan kewajaran hubungan dan tanpa menimbulkan persoalan apapun. Sura berhasil memenuhi perintah Raden Rudira, dengan menyediakan air panas di jambangan pakiwan. Bagi Sura, pengalaman yang kecil itu semakin membuka hatinya, bahwa sebenarnyalah selama ini ia tidak mempergunakan otaknya Ia telah dibutakan oleh sikap menj ilat dan limpahan borang-orang dari keluarga Ranakusuman. Tanpa disadarinya, bulu-bulu kuduk raksasa itu berdiri. Terbayang keluarga Ranakusuman yang seorang demi seorang telah dilemparkan keluar. Ia memegang peranan yang cukup penting, dalam hal yang kini terasa olehnya, terlampau kasar. bahkan sekilas terbayang pula olehnya, Raden Juwiring yang terpaksa meninggalkan istana Panakusuman dengan seribu macam alasan, dan berada di padepokan Jati Aking di Jati Sari. “Hampir saja aku mencelakainya“ gumamnya “untunglah seorang petani yang penuh dengan rahasia itu menyelamatkannya”Terlintas pula tandang seorang anak muda yang mengagumkannya. Dengan tanpa ragu-ragu anak itu menyerangnya, sehingga untuk sesaat ia t idak berdaya. “Luar biasa“ Sura berdesis “mereka akan menjadi anak- anak muda yang perkasa kelak. Jauh lebih perkasa dari Raden Rudira” Sura yang sedang merenung itu terperanjat ketika Raden Rudira memanggilnya dari dalam biliknya di gandok. Dengan tergesa-gesa ia meloncat berdir i dan berlari- lari kecil menghampirinya. Ternyata bahwa ia tidak dapat dengan serta-merta berbuat lain dar i perbuatan seorang penj ilat. “Suruhlah semua pengir ing bersiap. Kemudian panggillah Demang di Sukawati. Aku akan segera berangkat mengelilingi padukuhan ini untuk mencari orang yang telah merusak sendi tata hubungan antara orang-orang kecil dan para bangsawan itu” Sura menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Baik, baik tuan” Tetapi masih ada yang agaknya tersangkut di kerongkongannya. Namun ketika Raden Rudira membentaknya, sambil terbungkuk-bungkuk Sura menyahutnya. “Ya, ya tuan. Aku akan melakukan” Sikap Sura itu ternyata tidak lepas dari sorotan mata Raden Rudira. Ia melihat suatu kelainan, meskipun samar-samar. Kadang-kadang Sura bersikap biasa sebagai seorang abdi yang setia. Tetapi kadang-kadang matanya memancarkan sinar yang aneh, yang tidak dikenalnya selama ini. “Kenapa raksasa itu benar-benar menjadi ketakutan di Sukawati dan sekitarnya ini?“ pertanyaan itulah yang selalu menyentuh hati Raden Rudira. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa di dalam hati Sura telah berkembang suatu sikap yang lain, meskipun masih terlampau dalam diliputi oleh ketebalan kabut yang selama ini membungkus isi dadanya.Sejenak kemudian maka para pengiring itupun sudah siap. Dua orang abdi pasanggrahan sempat juga menghidangkan minuman untuk Raden Rudira dan para pengir ingnya. “Panggil Demang yang malas itu” berkata Raden Rudira kemudian “matahari akan menjadi semakin tinggi, dan aku masih saja berada disini” Tetapi sebelum Sura pergi ke Kademangan, muncullah dua orang bebahu Kademangan di halaman pesanggrahan. Mereka langsung menemui Raden Rudira sambil berkata “Raden, kami berdua mendapat pesan dari Ki Demang, bahwa Raden bersama para pengring diminta untuk datang ke Kademangan. Ki Demang ingin menjamu makan, karena agaknya Raden bersama para pengir ing masih belum makan sejak kemarin malam“ Sejak Raden Rudira termenung. Secercah kegembiraan membayang di setiap wajah yang memang sudah merasa lapar. Namun tiba-tiba Raden Rudira membentak “Kenapa Ki Demang tidak datang kemar i sendir i?“ Kedua bebahu Kademangan Sukawati itu mengerutkan keningnya. Sejenak mereka saling berpandangan. Salah seorang dari merekapun kemudian menjawab “Maaf Raden. Ki Demang sedang sibuk sekali menyiapkan jamuan bagi Raden dan para pengiring. Ki Demang tidak dapat mempercayakannya kepada para pelayan, agar jamuan itu tidak mengecewakan Raden” Raden Rudira mengangguk-angguk. Sebelum ia menjawab dipandanginya setiap wajah para pengiringnya. Agaknya merekapun mengharap undangan itu dapat diterima, karena sebenarnyalah mereka menjadi lapar. Jika mereka berburu, maka semalam mereka pasti sudah makan dengan daging hasil buruan mereka. Tetapi ternyata semalam mereka terbaring dengan gelisah karena di antara kawan-kawan mereka sendiri telah terjadi perselisihan“Baiklah” berkata Rudira kemudian “Kami akan pergi ke Kademangan sebentar lagi. Suruhlah Ki Demang bersiap, bahwa kita akan segera pergi mencari petani yang telah berani melanggar tata kesopanan terhadap para bangsawan di bulak Jati Sari. Kau dengar” “Ya, ya Raden. Kami akah menyampaikannya kepada Ki Demang di Sukawati” “Pergilah mendahului. Kami akan mempersiapkan segala sesuatu yang perlu bagi kami. Kami akan langsung pergi mencari petani itu tanpa kembali ke pasanggrahan ini lagi” “Baik Raden. Kami akan mendahului” Raden Rudira memandang kedua bebahu yang meninggalkan pesanggrahan itu dengan kerut-merut dikeningnya. Sejenak kemudian, kedua orang itupun segera lenyap di balik regol, disusul oleh derap kaki-kaki kuda yang berlari kencang. “Mereka berkuda” berkata Raden Rudira kepada dir i sendir i. Demikianlah maka Raden Rudira bersama pengiringnya, segera mempersiapkan dir i masing-masing. Mereka akan segera meninggalkan pesanggrahan itu dengan membawa semua bekal mereka, karena mereka tidak akan kembali lagi ke pesanggrahan itu. “Sura“ Panggil Raden Rudira kemudian “Panggil para pelayan, Beritahukan, bahwa aku akan pergi” “Baik, baik Raden” sahut Sura. Tetapi ia masih ragu-ragu, Apakah ia harus memberitahukan kepada para pelayan, atau sebaiknya ia minta dir i. “Kenapa kau masih berdir i disitu?“ bentak Raden Rudira. “O“ Sura menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Iapun kemudian pergi ke belakang mencar i para pelayan.Tetapi pengalamannya telah membuatnya menjadi seorang yang mempunyai pertimbangan atas tingkah lakunya. Ketika ia bertemu para pelayan, ia sama sekali tidak sekedar member itahukan bahwa Raden Rudira akan meninggalkan pesanggrahan, tetapi katanya kepada pelayan itu “Ki Sanak, Raden Rudira akan minta diri. Kami akan pergi ke Kademangan, tetapi selanjutnya kami akan langsung meninggalkan Sukawati tanpa singgah ke pesanggrahan ini” “O“ pelayan itu terkejut “begitu tergesa-gesa? Kami akan menyiapkan makan buat kalian. Kami harap kalian bersabar sebentar” “Terima kasih. Ter ima kasih sekali. Kami terpaksa sekali tidak dapat menerima kebaikan hati Ki Sanak. Ki Demang agaknya menduga bahwa tidak ada persediaan di pasanggrahan ini. Karena itu Ki Demang sudah menyediakan makan buat kami. Baru saja dua orang pesuruhnya datang menjemput kami” “Jadi?“ “Kami minta maaf” “Lalu buat apa nasi sebanyak ini?“ “Kami sudah terlanjur menyanggupi Ki Demang di Sukawati. Aku kira nilainya sama saja buat kami. Kami telah menerima kebaikan hati rakyat Sukawati” Pelayan itu tampak kecewa sekali. Tetapi iapun kemudian berdesah “Apaboleh buat” “Lain kali kami akan datang. Dan lain kali kami akan menolak pemberian siapapun juga. Kini kami dihadapkan pada pilihan yang sama-sama berat” Pelayan itu mengangguk-angguk. “Sekarang, kami akan minta diri. Raden Rudira dan para pengiringnya yang lainpun akan minta diri pula”Pelayan itu menganguk-angguk. Dengan tergesa-gesa ia membenahi pakaiannya. Kemudian diajaknya seorang kawannya menyertainya ke gandok sebelah kanan. Raden Rudira hampir tidak sabar menunggu. Ketika ia melihat Sura membawa dua orang pelayan mendekatinya, dari kejauhan Raden Rudira sudah berkata “Kami tergesa-gesa” Kedua pelayan itupun berjalan semakin cepat. Sambil membungkukkan kepala mereka berhenti beberapa langkah di hadapan Rudira. Salah seorang dari mereka berkata “Kami mengucapkan selamat jalan Raden. Sebenarnya kami sedang menyiapkan makan buat Raden dan para pengiring” “Aku tidak sempat” jawab Raden Rudira “Aku akan pergi ke Kademangan. Selanjutnya aku akan mencar i orang yang telah menyakitkan hatiku itu” Pelayan itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata sekali lagi “Kami mengucapkan selamat jalan” Raden Rudira menjadi acuh tidak acuh. Bahkan ia merasa bahwa ternyata para pelayan itu kini telah berubah sikap. Mereka terpaksa menghormat inya sebagaimana seharusnya menghormat i seorang bangsawan. “Aku akan pergi” “Silahkan tuan. Kami sangat berterima kasih bahwa tuan sudi singgah ke pasanggrahan ini” “Aku singgah di rumah pamanku, tidak di rumah kakekmu “ jawab Raden Rudira. Kedua pelayan itu saling berpandangan. Tetapi mereka tidak mengucapkan sepatah katapun. Dan Raden Rudira tidak menghiraukannya lagi. Ia ingin menunjukkan bahwa ia memang seorang bangsawan yang seharusnya dihormati. Tingkah laku para pelayan itu kemarin sangat menyakitkan hatinya. Kini agaknya mereka menyadari,dan menempatkan diri mereka pada keadaan yang seharusnya bagi seorang pelayan. “Bawa kudaku kemari” tiba-tiba saja Raden Rudira berteriak. Dengan tergesa-gesa seorang pengiring berlari- lari sambil membawa kuda Raden Rudira. Tetapi Raden Rudira itu menjadi sangat terkejut ketika pelayan yang disangkanya menyesali tingkah lakunya kemarin itu berkata “Tuan, maaf. Tuan tidak dapat menaiki kuda tuan di halaman. pesanggrahan ini” “He“ wajah Raden Rudira tiba-tiba menjadi merah padam. Ternyata ia salah sangka. Ternyata pelayan-pelayan pesanggrahan ini masih saja seperti kemarin. Deksura dan tidak sopan sama sekali. Namun dengan demikian Raden Rudira justru terdiam. Hanya giginya sajalah yang terdengar gemeretak, serta wajahnya yang semakin merah. Sura berdiri tegak seperti patung. Kini tanggapannya atas sikap Raden Rudira menjadi lain. Seakan-akan ia melihat seorang bangsawan yang lain dari yang selalu diikutinya. Namun iapun kemudian menyadari, bahwa bukan Raden Rudiralah yang berubah, tetapi tanggapannya atas Raden Rudira itu. Kedua pelayan itupun menundukkan wajah-wajah mereka. Mereka tidak mau memandang warna-warna merah di wajah Raden Rudira. Namun demikian mereka sama sekali tidak menarik keterangannya itu. Sejenak kemudian, barulah Raden Rudira dapat berbicara “Jadi kalian masih tetap tidak menyadari kebodohan kalian?“ Kedua pelayan itu terheran-heran. Sejenak mereka saling berpandangan.“Tuan” berkata salah seorang dari mereka kemudian “Kami hanyalah abdi-abdi pesanggrahan ini. Kami hanya sekedar melakukan tugas kami. Demikianlah yang diperintahkan kepada kami. Tidak seorangpun yang boleh naik kuda di halaman, selain Pangeran Mangkubumi” “Tetapi aku adalah putera Pangeran Ranakusuma” “Tidak seorangpun yang diperbolehkan, siapapun orang itu” “Gila. Kau-bohong. Seandainya Ramanda, Pangeran ada, maka justru Ramanda Pangeran akan menyuruh aku naik diatas punggung kuda bersama semua pengir ingku” “Mungkin, jika itu dikehendaki oleh Pangeran Mangkubumi sendiri. Tetapi tentu kami tidak berani melanggar perintah yang pernah kami terima” “Aku tidak peduli. Aku tidak percaya bahwa Ramanda Pangeran benar-benar membuat peraturan itu. Itu hanya karena kalian ingin menunjukkan, bahwa kalian berkuasa disini apabila Ramanda Pangeran tidak ada. Sekali-sekali abdi yang paling rendahpun ingin menunjukkan kekuasaannya atas orang yang lebih luhur derajadnya. Tetapi aku tidak peduli, Aku tidak mau mendengar peraturanmu yang cengeng itu” “Maaf Raden” berkata pelayan itu “Kami sama sekali tidak berusaha mengada-ada Apakah keuntungan kami dengan membuat peraturan-peraturan yang berbelit-belit itu, yang hanya akan mempersulit diri kami sendiri. Tetapi kami mohon dengan hormat, tuan dapat mengerti” Darah Raden Rudira mendidih sampai keubun-ubun. Tanpa disadarinya ia mengedarkan tatapan matanya. Namun hatinya menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya, dua orang penjaga regol depan telah menutup pintu. Keduanya kemudian berdiri sambil memeluk tombak-tombak panjang mereka. Di sudut halaman ia melihat seorang, juru taman berdir i bersandar dinding Sapu lidinya telah disandarkannya pada dinding halaman. Sedang di tempat lain dilihatnya dua orang abdipesanggrahan itu juga berdiri sambil menyilangkan tangannya di dada. “Gila” Raden Rudira menggeram “Aku akan menyampaikan perlakuan gila-gilaan ini kepada Ramanda Pangeran Mangkubumi. Kalian akan diusir dari pesanggrahan ini” Tidak seorangpun yang menjawab. Wajah kedua pelayan yang ramah itu, tiba-tiba saja telah menjadi buram. Raden Rudirapun kemudian melemparkan ujung kendali kudanya kepada pengiringnya yang masih berdir i di sampingnya. Dengan tanpa berbicara separah kalapun ia berjalan dengan tergesa-gesa melintasi halaman yang luas menuju ke regol halaman. Hatinya menjadi semakin panas, ketika kedua penjaga regol itu tanpa diperintahnya telah membuka pintu. Demikian Raden Rudira melangkah di hadapan mereka, maka merekapun menundukkan kepala mereka dalam-dalam. Tetapi Raden Rudira sama sekali tidak berpaling. Ia berhenti sejenak menunggu kudanya. Kemudian dengan menengadahkan dadanya ia meloncat ke punggung kudanya dan berpacu cepat-cepat meninggalkan pesanggrahan yang telah membuat hatinya menjadi pedih. Para pengiringnyapun kemudian berloncatan naik ke punggung kuda masing-masing. Merekapun segera berpacumengikut i Raden Rudira yang tanpa! berpaling menjauhi regol itu. Namun dalam pada itu Sura masih sempat berkata kepada kedua penjaga regol itu “Terima kasih. Selama kami berada di pesanggrahan kami mendapat pelayanan yang menyenangkan sekali. Para penjaga regol itu tidak menyahut. Namun keduanya tersenyumsambil mengangguk. Sura terkejut ketika ia mendengar namanya dipanggil oleh Raden Rudira. Dengan dada yang berdebar-debar ia mempercepat langkah kudanya menyusul Raden Rudira yang berada di paling depan. “Kau tahu jalan ke Kademangan? Aku tidak sempat mengingat-ingat lagi jalan yang kita tempuh kemarin” Ketika Sura telah berada disisi Raden Rudira, maka iapun berkata “Raden, apakah kita akan mengikuti jalan yang kemarin, atau kita akan mengambil jalan lain yang lebih dekat?“ “Apakah ada jalan lain?“ “Ada Raden” “Apakah jalan itu lebih baik atau justru lebih jelek?“ “Aku sudah lama tidak melalui jalan itu. Aku tidak tahu apakah jalan itu sekarang menjadi lebih jelek atau masih seperti dahulu” Raden Rudira berpikir sejenak. Tetapi kemudian ia berkata “Kita lewati jalan yang pasti. Jalan yang kemarin. Mungkin jalan yang kau kenal itu sekarang sudah dibongkar atau sudah menjadi pategalan” Sura menarik nafas. Tetapi agaknya itu memang lebih baik. Jika jalan yang akan ditunjukkannya itu jalan yang lebih baik,maka Rudira pasti akan marah dan merasa bahwa ia telah dipersulit oleh Demang Sukawati. Demikianlah maka mereka menempuh jalan yang semalam dilalui. Meskipun terasa sulit, tetapi di siang hari mereka dapat memilih sisi yang baik untuk dilalui. Namun semakin dekat dengan regol Kademangan. dada Raden Rudira menjadi semakin berdebar-debar. Masih terngiang kata-kata Ki Demang ketika ia dipaksa turun dari kudanya, ketika ia sampai di kuncung pendapa Kademangan Sukawati. “Seorang Pangeranpun akan turun dari kudanya” berkata Demang Sukawati itu. Dan Pangeran yang dikatakannya itu adalah Pangeran Mangkubumi. “Mangkubumi, Mangkubumi“ Rudira menggeram di dalam hati ”setiap orang menyebut namanya, tingkah lakunya yang aneh dan melanggar sendi-sendi tata pergaulan di Surakarta, hubungan antara seorang bangsawan dan rakyat kecil, akan menggoncangkan tata kehidupan di Surakarta” Tetapi terasa juga kengerian merayap di hatinya. Ia merasa berada di daerah asing yang penuh dengan rahasia. Di perjalanan ke Kademangan inipun ia menjumpai beberapa orang yang berdiri di sebelah menyebelah jalan dengan tangan bersilang di dada. Meskipun mereka melihat Raden Rudira lewat di hadapan mereka, maka mereka hampir tidak member ikan penghormatan apapun juga, selain mengangguk betapapun dalamnya. “Daerah ini harus dimusnakan” t iba-tiba saja Raden Rudira menggeram di dalam hatinya “Surakarta harus mengetahui apa yang telah terjadi disini. Kumpeni juga pantas diberi tahu. Mungkin aku memer lukan bantuan mereka. Raden Rudira menyadari angan-angannya ketika ia sudah berada di regol Kademangan. Ia melihat Ki Demang danbeberapa orang bebahu Kademangan sudah siap menyambutnya. “Gila” desis Raden Rudira “kadang-kadang mereka bersikap sangat sopan. Tetapi kadang-kadang sikap mereka sangat deksura” Namun dengan demikian, terasa bahwa rahasia yang menyaput padukuhan ini menjadi semakin tebal. Meskipun Raden Rudira berusaha menengadahkan kepalanya, tetapi terasa juga dadanya bergetar semakin cepat. Ki Demang di Sukawati yang tampaknya ramah dan hormat itu, memancarkan tatapan mata yang aneh baginya. “Silahkan tuan, kami sudah menunggu” berkata Ki Demang Sukawati. Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya pendapa Kademangan yang sudah terisi oleh bentangan tikar yang putih serta beberapa jenis makanan. Rudira menarik nafas dalam-dalam. Beberapa langkah kudanya berjalan memasuki halaman itu. Tetapi sekali lagi ia merasa debar jantungnya menjadi semakin cepat, ketika ia melihat kuncung pendapa Kademangan itu. Ia harus turun apabila kudanya memasuki kuncung itu. Karena itu, Raden Rudira tidak mau pergi ke kuncung pendapa. Tetapi ia menarik kendali kudanya ke kiri, sehingga kuda itu melangkah ke samping dan berhenti di depan tangga disisi pendapa. Ki Demang berdiri termangu-mangu. Tetapi iapun kemudian menyusul Raden Rudira yang meloncat dari punggung kudanya langsung ke tangga pendapa yang terakhir. Selangkah ia naik, maka ia sudah berdir i di pendapa. Seorang pengiringnya segera memegang kendali kudanya dan menuntunnya menepi, mengikatnya pada tonggak- tonggak di sebelah gandok.Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kekerasan hati Putera Pangeran Ranakusuma itu. Namun ia melihat juga bahwa sebenarnya hatinya bukanlah hati yang kuat dan tabah. Apalagi ia sama sekali bukan seorang bangsawan yang berjiwa besar. Ia masih memer lukan bersikap angkuh yang berlebih- lebihan untuk mengangkat kewibawaannya yang tentu dirasakannya sendiri, masih belum setinggi yang diharapkannya. Tetapi Ki Demang tidak mempersoalkannya lebih lanjut. Dipersilahkannya Raden Rudira dan pengiringnya duduk melingkari makanan yang lelah disediakan. Tetapi rasa-rasanya makanan yang berlimpah-limpah itu tidak memberikan rangsang bagi Raden Rudira sendiri untuk makan dengan tenang. Berbeda dengan para pengiringnya yang menyuapi mulutnya dengan penuh gairah, maka Raden Rudira rasa-rasanya selalu digelisahkan oleh kesamaran Kademanga Sukawati itu. Bahkan tiba-tiba saja Raden Rudira terkejut ketika ada seekor kuda berlari kencang di halaman. Tanpa berhenti di samping pendapa kuda itu langsung masuk ke longkangan belakang. Begitu kuda dan penunggangnya itu hilang di balik sudut pendapa, maka seakan-akan suara derap kaki kuda itupun segera menghilang. Beberapa orang pengiring Raden Rudira berhenti juga menyuapi mulut masing-masing dan berpaling. Tetapi mereka tidak menghiraukannya lagi, setelah kuda itu hilang dari tatapan mata mereka, karena mereka kembali disibukkan oleh makanan di hadapan mereka. Tetapi Raden Rudira yang memang selalu dibayangi oleh kecurigaan itu menjadi semakin cur iga, meskipun ia tidak berbuat apapun juga Namun belum lagi hatinya menjadi tenang, sekali lagi seekor kuda dengan penunggangnya berlar i memasukihalaman itu, dan seperti yang terdahulu, kuda itupun seakan- akan lenyap di balik sudut pendapa. Raden Rudira tidak dapat menahan kecurigaannya lagi. Dengan ragu-ragu ia bertanya kepada Ki Demang “Siapakah mereka?“ “O“ Ki Demang tersenyum “Mereka adalah keluargaku, tuan“ “Keluargamu? Maksudmu, apakah mereka bebahu Kademangan atau sanak kadangmu?“ “Yang terdahulu adalah anakku laki-laki” berkata Ki Demang “Anakmu? Kenapa ia berkuda terus sampai ke longkangan?” “Itu sudah menjadi kebiasaannya tuan” “Yang kedua?“ “Adik iparku” “Juga kebiasaannya berkuda sampai ke longkangan?“ “Ya. Umur keduanya hampir sebaya. Kemanakan dan paman itu memang anak-anak bengal. Mungkin mereka tidak menyadari bahwa tuanlah yang berada di pendapa” “Tetapi ia tidak sopan sama sekali, jika ada tamu di pendapa, seharusnya ia tidak berbuat begitu. Apalagi tamu seorang bangsawan. Lihat, debu itu menghambur kemari. Terlebih- lebih lagi kau menyuguh makanan bagi kami” “Maaf tuan. Aku akan member i tahukan kepadanya kelak” “Tetapi hal itu sudah terjadi” Raden Rudira mengangguk-angguk. Tetapi kecur igaannya masih saja membayang di wajahnya. Apalagi ketika Ki Demang kemudian berkata “Mereka adalah pengiring-pengiring Pangeran Mangkubumi apabila Pangeran itu berada di pesanggrahan dan berkenan untuk pergi berburu” “Pengiring Ramanda Pangeran Mangkubumi? Bohong. Pengiring Ramanda Pangeran pasti pengawal-pengawal Kapangeranan yang tingkatnya hampir serupa dengan prajurit-prajurit Kerajaan” “ Memang” sahut Ki Demang “Tetapi di pesanggrahan Pangeran Mangkubumi senang sekali bergaul dengan anak-anak muda. Mereka banyak mendapat kesempatan. Dua di antara mereka adalah anak dan iparku itu. Mereka adalah pemburu-pemburu yang baik di hutan-hutan perburuan di daerah Sukawati. Pangeran Mangkubumi memang membiarkan beberapa bagian hutan menjadi lebat. Berburu di hutan rindang tidak lagi menyenangkan baginya dan bagi anak-anak Sukawati itu” Wajah Raden Rudira menjadi tegang. Namun kemudian ia bertanya “Jadi ada juga abdi Ramanda Pangeran yang khusus mengikut inya berburu?“ “Bukan abdi, tetapi kawan berburu” “He?“ Raden Rudira membelalakkan matanya “Kau katakan anak dan iparmu itu kawan berburu bagi Ramanda Pangeran Mangkubumi?“ “Ya tuan” “Apakah kau sudah mabuk pangkat hanya karena kau menjadi seorang Demang di Sukawati?“ Raden Rudira membelalakkan matanya “Aku tidak senang kau menyebut anak dan iparmu itu sebagai pengiring Ramanda Pangeran. Yang pantas mereka adalah hamba-hambanya. Sekarang justru kau menyebutnya sebagai kawan” Ki Demang menjadi terheran-heran. Sejenak ia memandang Raden Rudira. Kemudian para bebahu di Sukawati. Dengan ragu-ragu menjawab “Maaf tuan. Tetapi demikianlah Pangeran Mangkubumi menyebutnya. Mereka adalah kawan-kawanberburu. Tentu aku tidak akan berani menyebutnya demikian, jika Pangeran Mangkubumi sendiri tidak mengatakan demikian” “Bohong, bohong” Raden Rudira hampir berteriak. Tetapi iapun kemudian berusaha menahan hatinya. Namun dengan demikian dadanya menjadi semakin sesak. Para pengiring dan pengawal yang sedang sibuk menelan makanan, terpaksa berhenti juga sejenak. Dipandanginya wajah Raden Rudira yang merah. Tetapi ada pula di antaranya yang tidak menghiraukannya lagi selagi makanan dihadapannya masih tersisa. Namun demikian, mereka terpaksa menelan dengan susah payah ketika tiba-tiba saja Raden Rudira berkata “Kita pergi sekarang. Antarkan kami mencari petani yang telah berani melawan aku dan para bangsawan itu. Ki Demang terkejut. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Tetapi silahkan menyelesaikan dahulu tuan. Juga para pengiring sedang makan” “Cukup. Sudah cukup” Beberapa orang dengan tergesa-gesa menyuapkan makanan yang tersisa, sehingga kadang-kadang mereka terpaksa menarik leher yang serasa sesak, disusul oleh beberapa teguk air hangat untuk mendorong makanan itu turun ke dalamperut. Agaknya Raden Rudira tidak sabar lagi menunggu. lapun segera berdiri dan berjalan turun dari pendapa. “Ambil kudaku” teriaknya. Para pengiringnyapun kemudian dengan tergesa-gesa berdiri. Ada juga satu dua orang yang sempat memasukkan beberapa bungkus makanan ke dalam kantong-kantong baju mereka. Nagasari dan hawug-hawug. Ada juga yang tidak sempat lagi mengunyah makanan yang sudah ada di dalammulutnya, sehingga hampir saja makanan itu menyumbat lehernya, jika ia tidak segera menelan beberapa teguk minuman. “Tunggu sebentar tuan” berkata Ki Demang “Aku akan menyiapkan kudaku” “Kau berjalan kaki” bentak Raden Rudira. Namun kemudian ia menyadari bahwa dengan demikian akan menelan waktu terlampau lama, sehingga katanya kemudia “Cepat, ambil kudamu” Ki Demang menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun segera berlari-lari ke belakang menyiapkan kudanya bersama beberapa orang bebahu yang lain, yang akan memakai kuda- kuda dari Kademangan itu pula. Ki Demang hanya memer luka waktu sedikit, karena kudanya memang sudah siap. Kuda itu adalah kuda yang baru saja berlari memasuki halaman Kademangan itu. Demikianlah maka Raden Rudira diantar oleh Ki Demang di Sukawati meninggalkan Kademangan. Dengan nada yang datar Rudira berkata “Kita kelilingi padukuhan induk ini sebelum kita pergi ke setiap padukuhan yang lain” “Tetapi tuan” berkata Ki Demang “Jika Raden ingin bertemu dengan para petani di saat-saat begini, pada umumnya mereka berada di sawah atau di sungai?” Raden Rudira mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-angguk ia berkata ”Ya, pada umumnya mereka berada di sawah. Tetapi kenapa ada juga yang di sungai?“ “Mereka yang telah selesai dengan kerja di sawah, ada juga yang pergi menjala ikan di sepanjang sungai tuan. Sekedar untuk tambah membeli garam“ “Apakah banyak petani-petani yang pergi menjala okan di sungai itu?““Beberapa. Ada lima atau enam orang dari padukuhan ini. Tetapi ada padukuhan yang hampir semua laki- laki dewasa pergi mencari ikan di saat-saat tidak ada kerja di sawah. Di saat-saat mereka tinggal menunggu padi yang sudah mulai menguning“ “Persetan” geram Raden Rudira “bawa aku ke sawah” Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Diiringi oleh Ki Demang, maka Raden Rudira bersama pengawal- pengawalnya melintas keluar dari padukuhan dan menuju ke bulak yang luas di sebelah padukuhan itu. Tetapi sawah yang terbentang di hadapannya terlalu luas. Hampir sampai kebatas penglihatan. Di cakrawala barulah tampak sebuah padukuhan yang lain, padukuhan kecil. Di sebelah yang lain ada juga padukuhan kecil serupa, Tetapi jarak itu tidak terlalu dekat. “Untunglah Demang itu berkuda” berkata Rudira di dalam hatinya” Kalau tidak, maka sehari penuh aku tidak akan dapat mengelilingi bulak yang satu ini” Demikianlah maka kuda itupun segera berpacu. Dilihatnya beberapa, orang laki-laki yang sedang bekerja di sawah. Ketika mereka mendengar derap kaki kuda, merekapun mengangkat kepala mereka. Tetapi kepala itupun segera tertunduk kembali menekuni kerja yang belum selesai. “Gila” berkata Raden Rudira di dalam hati “Kenapa rakyat Sukawati ini acuh tidak acuh terhadap seorang yang asing?“ Tetapi ia tidak mengucapkannya. Yang dikatakannya adalah “Sura, jangan lengah. Lihat setiap orang. Kalau kau melihat orang yang kita cari, kau harus mengatakan kepadaku” Sura mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. “Sura, apakah kau sudah tuli atau bisu?““Ya, ya Raden?” Sura menjawab terbata-bata. Namun ketegangan melonjak ketika di antara para pengawal terdengar suara tertawa pendek. Ketika semua orang berpaling, dilihatnya Mandra menutup mulutnya dengan telapak tangannya. “Kenapa kau tertawa?“ bertanya Raden Rudira. “Apakah pengecut itu berani menunjuk orang yang Raden cari? Sayang, aku tidak melihatnya sebelumnya. Kalau aku pernah melihat, maka pasti aku akan segera menemukannya” Sura yang mendengar jawaban itu menjadi merah padam. Tetapi ia tidak sempat menjawab, karena Raden Rudira berkata “Ia masih harus membuktikan bahwa ia masih Sura yang dahulu” Sura sama sekali tidak menyahut. Telapi hatinya menjadi semakin sakit ketika ia mendengar Mandra itu tertawa tertahan-tahan. Meskipun demikian ia masih lelap berdiam diri sambil menahan hati. Demikianlah irin- iringan itu melintasi bulak yang panjang di tengah-tengah sawah yang sedang digarap. Beberapa orang laki- laki sibuk membajak tanah yang digenangi air. Yang lain mengatur pematang, sedang yang lain lagi mulai menyebarkan rabuk kandang. Tetapi di antara mereka tidak terlihat petani yang sedang mereka cari. “Dimana orang itu he?“ tiba-tiba Rudira yang mulai jengkel berteriak. Tetapi tidak ada seorangpun yang menjawab” Dimana Ki Demang? Dimana orang itu?” Ki Demang menjadi bingung sejenak. Namun kemudian ia menjawab “Kami tidak mengetahui orang yang Radenmaksud, sehingga kami tidak akan dapat membantu menunjukkan dimana ia berada” “Orangnya bertubuh tinggi, kekar. Bermata setajam mata burung hantu. Ayo, tunjukkan orang yang berciri serupa itu” Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak pernah melihat orang itu. Mungkin orang itu sengaja ingin menjelekkan nama Sukawati sehingga ia mengaku orang Sukawati” “Tentu tidak. Hampir semua orang Sukawati mempunyai sikap serupa dengan orang itu. Deksura dan tidak tahu adat” “Apakah begitu?“ “Ya” “Jika begitu, akan semakin sulit lagi untuk menemukannya Seorang di antara sekian banyak orang yang mempunyai ciri hampir sama” “Bodoh sekali” teriak Raden Rudira “Aku akan dapat mengenalinya jika aku menemukannya” “Dan ternyata tuan masih belum menemukannya sekarang” sahut Ki Demang “Tetapi Sukawati adalah daerah yang luas. Mungkin kita tidak dapat menemukan di bulak ini, tetapi kita akan dapat menjumpainya di bulak yang lain. Atau mungkin pula orang itu sedang berada di sungai, atau seperti yang tuan katakan, ia seorang petualang yang sedang bertualang. Sehingga dengan demikian, maka kita tidak akan dapat menjumpainya disini” “Kita harus menemukannya, harus” Ki Demang t idak menyahut lagi. Ditebarkannya saja tatapan matanya ke bulak di sekitarnya. Para petani masih juga sibuk dengan kerja mereka, seakan-akan tidak acuh sama sekali akan iring- iringan di jalan yang membelah tanah persawahan itu.Kuda-kuda itupun berderap semakin cepat. Ketika mereka sampai ke ujung bulak dan tidak menemukan orang yang dicarinya, merekapun berbelok lewat jalan sempit mengitari bulak itu. Tetapi sampai pada satu lingkaran penuh, mereka masih belum menemukannya. “Kita terus ke bulak di sebelah lain” berkata Rudira “Aku tidak akan kembali ke Ranakusuman tanpa membawa orang itu” ”Silahkanlah” berkata Ki Demang “Aku akan mengantarkan tuan sampai orang itu kita ketemukan” Kuda-kuda itupun berpacu terus. Setiap orang tidak luput dari pengawasan Raden Rudira dan pengiringnya. Namun sama sekali tidak ada orang yang mirip dengan orang yang mereka cari. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Raden Rudira, mereka tidak berhenti. Mereka berkeliling dari satu bulak ke bulak yang lain di seluruh Kademangan Sukawati. Sampai lewat tengah hari mereka sudah menempuh hampir semua daerah persawahan tidak saja di seputar padukuhan induk, tetapi juga di Padukuhan-padukuhan kecil lainnya. “Gila” geram Raden Rudira “Kau suruh orang itu bersembunyi?“ ”Tentu tidak Raden“Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Terasa juga tubuhnya menjadi lelah. Karena itu, maka iapun berhenti sejenak di sudut padukuhan induk. “Tuan” berkata Ki Demang “Kami ingin mempersilahkan tuan dan para pengiring untuk ber istirahat sejenak di Kademangan. Nanti aku akan mengantar Raden meneruskan pencaharian ini. Bukan saja ke bulak-bulak. tetapi aku akan mencarinya dari pintu ke pintu” “Tidak. Aku tidak akan beristirahat dimanapun. Aku akan mencari terus” Namun demikian terasa nafas Raden Rudira mengalir semakin cepat. Panas matahari yang mulai condong ke Barat, rasa-rasanya bagaikan membakar kulit, sehingga dengan demikian, maka hati Raden Rudirapun rasa-rasanya telah ikut terbakar pula. Tetapi yang dicar inya belum juga dapat diketemukan. Sementara itu para pengiringnyapun telah menjadi lelah dan haus, bahkan jemu. Mereka hampir tidak mengharap akan menemukan orang yang dicarinya. Seorang di antara sekian banyak orang-orang Sukawati. Bahkan mungkin orang itu sama sekali bukan orang Sukawati. Untuk menghilangkan jejak, dapat saja ia menyebut dirinya orang Sukawati. Namun demikian, seperti yang dikatakan oleh Rudira, ada juga ciri-cir i yang sama pada orang-orang Sukawati itu. Mereka bersikap acuh tidak acuh terhadap bangsawan. Dan hal itu agaknya terbawa oleh sikap Pangeran Mangkubumi yang rendah hati, sehingga bagi orang Sukawati, bangsawan bukannya manusia yang melampaui manusia yang lain. Demikianlah, setelah mereka beristirahat sejenak, terasa tubuh mereka dan kuda-kuda mereka menjadi segar. Karena itu maka Raden Rudira yang sudah siap melanjutkan perjalanan bersama pengiringnya berkata “Kita teruskan. Kita jelajahi seluruh Kademangan ini”“Tetapi tuan” berkata Ki Demang “Aku sudah, lelah sekali. Mungkin aku sudah terlalu tua untuk berkuda sepanjang hari” “Pemalas. Aku tahu. kau hanya malas atau barangkali dengan demikian kau menghindari tanggung jawabmu atas orang-orang diwilayahmu“ “Tidak tuan. Aku sama sekali tidak ingin menghindari tanggung jawab. Tetapi ternyata nafasku memang hampir putus. Panas matahari rasa-rasanya hampir memecahkan kepala” “Persetan” geram Raden Rudira “Aku akan berangkat” Ki Demang menar ik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Apakah aku diperkenankan menunggu disini? Jika tuan memer lukan aku, salah seorang dar i pengiring tuan aku persilahkan memanggil aku disini” “Tidak, kau harus ikut” Tetapi Demang itu menggeleng “Maaf tuan. Jika tuan sudi beristirahat sampai nanti senja, aku akan mengantar tuan. Berapa haripun asal aku mendapat kesempatan beristirahat. Aku sekarang tidak kuat lagi” “Aku tidak peduli. Kau harus pergi bersama kami. Kau kami perlukan di daerah ini” “Maaf tuan. Aku akan pingsan di bulak itu” Raden Rudira menjadi marab sekali. Namun tiba-tiba saja Sura yang tidak pernah berselisih pendapat dengan tuannya, karena selama ini ia hanya sekedar mengiakan, tiba-tiba berkata “Raden, Ki Demang memang sudah terlalu tua. Bagaimana kalau seperti yang dikatakannya, biarlah ia menunggu disini. Kita akan mencarinya di seluruh Kademangan atas ijin Ki Demang” Raden Rudira justru terbungkam sesaat. Ia tidak menduga sama sekali bahwa Sura berani menyatakan pendapat yangberbeda dengan pendapatnya sendiri. Namun karena itu ia justru hanya dapat membelalakkan matanya tanpa mengucapkan kata-kata. Yang menyahut kemudian adalah pengawal Rudira yang bertubuh besar itu “Sura, kau adalah seorang hamba. Kau hanya dapat melakukan perintahnya. Tidak menentang dan tidak mengguruinya” Tetapi sesuatu telah berkembang di hati Sura, sehingga ia menyahut “Aku adalah seorang hamba yang tidak ingin melihat tuanku berbuat kesalahan” “Kau berani menyalahkan Raden Rudira?“ teriak Mandra. “Aku tidak menyalahkannya sekarang, karena Raden Rudira belum berbuat kesalahan. Tetapi aku mencoba mencegah agar ia tidak berbuat kesalahan itu” Sura berhenti sejenak, lalu “selama ini aku adalah seorang hamba yang jelek. Yang tidak pernah mencoba mencegah suatu kesalahan. Aku selalu mengiakan dan membenarkan semua yang diputuskan oleh momonganku. Tetapi ternyata itu tidak benar. Jika aku ingin menjadi hamba yang baik, aku harus mengatakan yang benar menurut pendapatku, bukan selalu membenarkan sikap tuanku” “Kau mengigau. Aku tidak mengerti yang kau maksudkan. Tetapi, aku adalah hamba yang setia, yang tidak senang melihat kau mulai berkhianat” “Pikiran itulah yang menyesatkan kita dan justru tuan kita. Kesetiaan yang mati telah menjerumuskan kita bersama-sama, bersama Raden Rudira sendiri ke dalam suatu sikap yang salah“ “Diam, diam kau Sura “ t iba-tiba Raden Rudira berteriak. Sura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian diam meskipun tidak menundukkan kepalanya seperti biasanya.Perubahan sikap itu semakin terasa pada Raden Rudira. Sura yang sekarang, memang lain dati Sura yang dahulu tidak pernah bertanya apapun yamg diperintahkannya. “Ki Demang” berkata Rudira kemudian “Aku tidak peduli tentang keadaanmu. Kau harus mengikuti kami mencari orang itu sampai kita dapat menemukannya” Tetapi Ki Demang menggeleng sambil berkata “Maaf tuan. Aku mohon Raden dapat menundanya sampai senja nanti, setelah aku beristirahat sebentar. Aku sudah terlalu lelah” “Tidak” Raden Rudira membentak. Tetapi Ki Demangpun tetap menggeleng juga “Tidak. Aku tidak akan dapat meneruskan perjalanan. Aku dapat menjadi pingsan” “Aku tidak peduli. Matipun aku tidak peduli. Biarlah orang- orang Sukawati menguburmu” “Maaf tuan, aku tidak dapat” “Jangan banyak mulut” tiba-tiba Mandra membentak “ berangkat, atau kau akan menyesal” Ki Demang memandang pengawal Raden Rudira yang bertubuh raksasa itu. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata “Ki Sanak, aku sudah tua. Kalau aku masih semuda dan segagah Ki Sanak, aku tidak akan ingkar. Tetapi maaf, dalam keadaanku serupa ini, aku tidak dapat memaksa diri berjalan terus. Kudakupun sudah lelah karena kuda ini bukan kuda sebaik kuda Ki Sanak” “Aku tidak peduli. Raden Rudirapun tidak peduli. Ayo pergi” Ki Demang masih tetap menggelengkan kepalanya. Katanya “Ki Sanak jangan memaksa aku. Aku bukan bawahan Ki Sanak dan bukan bawahan Raden Rudira. Aku adalah abdi tanah kelenggahan Pangeran Mangkubumi. Hanya Pangeran Mangkubumi atau para hambanya yang dipercaya sajalahyang dapat memerintah aku. Kau tidak, siapapun tidak. Jika Ki Sanak mencoba memaksa kami, itu berarti Ki Sanak telah melanggar hak Pangeran Mangkubumi” Mandra menjadi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Raden Rudira yang agaknya sedang dilanda oleh kebimbangan. Namun tiba-tiba saja Raden Rudira berteriak “Aku akan mengatakannya kepada Ramanda Pangeran Mangkubumi. Akulah yang bertanggung jawab” Mandra mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian sambil mendekati Ki Demang ia berkata “Jangan membantah lagi” Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun dalam pada itu Surapun bergeser setapak sambil berkata “Mandra, jangan berbuat apapun yang dapat membuai Pangeran Mangkubumi murka. Kau akan tahu akibatnya” “Sura“ Raden Rudira berteriak “Ia berbuat atas namaku” Sura mengerutkan keningnya. Ia masih mencoba mencegah “Tetapi tuan, kekerasan sama sekali tidak bijaksana di dalam masalah ini” “Ia tidak akan mempergunakan kekerasan” berkata Raden Rudira “Tetapi Mandra akan menawarkan kudanya. Mungkin dengan demikian Ki Demang tidak akan berkeberatan untuk berjalan terus” “Bukan saja kudaku, tetapi terutama adalah badanku sendiri “ Ki Demang menyahut. Raden Rudira benar-benar menjadi marah. Seorang Demang di Sukawati telah berani menentang kehendaknya, seperti petani di Sukawati itu. Ternyata kekecewaan, kemarahan, bahkan hinaan telah dialaminya berturut-turut selamai ia berada di Sukawati.“Orang-orang Sukawati memang gila“ Ia menggeram di dalam hatinya. Namun tiba-tiba ia menggeretakkan giginya sambil berkata kepada dir i sendir i “Jika Demang itu kelak menuntut lewat Ramanda Pangeran Mangkubumi, biarlah ia berurusan dengan ayahanda. Tentu ayahanda Ranakusuma memiliki kekuasaan lebih besar dari Ramanda Pangeran Mangkubumi karena ayahanda Ranakusuma adalah saudara tua dan ayahanda pasti lebih dekat pada Kangjeng Susuhunan dari pada Ramanda Pangeran Mangkubumi. Apalagi ibunda mempunyai sahabat-sahabat orang asing yang mempunyai kelengkapan jauh lebih baik dari orang-orang Surakarta yang manapun juga” Oleh pikiran itu, serta luapan perasaan yang bertimbun- timbun maka Raden Rudirapun menjadi semakin berani. Dengan wajah yang tegang ia berkata “Kau tidak mempunyai pilihan lain Ki Demang” “Aku dapat menentukan sikapku sendiri Raden. Hanya Pangeran Mangkubumilah yang dapat memaksa aku. Orang lain yang manapun tidak. Aku sudah berbuat sebaik-baiknya menyambut kedatangan Raden Rudira di Sukawati. Bahkan aku sudah membiarkan Raden bermalam di pesanggrahan Pangeran Mangkubumi. Tetapi ternyata Raden adalah orang yang tidak mengenal terima kasih. Kini Raden masih memaksa aku untuk melakukan pekerjaan di luar kemampuan tenagaku” “Diam, diam” teriak Raden Rudira “apaklah kau tidak dapat menutup mulutmu” “Maaf Raden, aku hanya sekedar memberikan penjelasan” “Bungkam mulutmu” teriak Raden Rudira. Biasanya Sura tidak perlu mendapat perintah untuk kedua kalinya. Tetapi kini Sura masih berada di tempatnya. Ia masih duduk tanpa bergerak diatas punggung kudanya. Namun ada juga orang yang mulai bergerak maju. Mandra.Dengan wajah yang tegang Sura mengawasinya. Tanpa sesadarnya iapun bergerak. Tetapi perintah Raden Rudira masih belum dapat diatasinya ketika perintah itu terasa mencengkamdadanya “Kau tetap di tempatmu Sura. Ternyata kau tidak aku perlukan lagi“ Sura masih belum mampu menembus batas yang digoreskan oleh Raden Rudira itu. Karena itu, bagaimanapun juga ia tidak dapat melanggarnya. Dalam pada itu Mandra yamg mengambil alih tugas Sura, maju semakin dekat. Namun ternyata ia tidak mau berbuat sesuatu selagi ia masih berada di punggung kuda. Karena itu, maka iapun segera meloncat turun sambil berkata “Ki Demang, kau tidak mempunyai pilihan lain. Mengantarkan kami, atau kau menjadi seorang tawanan yang akhirnya harus menyertai kami juga mengelilingi Kademanganmu ini, karena kami berkeputusan untuk memaksamu ikut serta” Tetapi ternyata. Ki Demang dengan tenang menjawab “Tidak ada orang yang dapat memaksa aku Ki Sanak” “Aku akan memaksamu. Turunlah dari kudamu, supaya jika kudamu lari kau tidak terseret olehnya dan mengalami luka- luka parah karena kulitmu terkelupas. Aku hanya ingin membuat kau jera untuk berkeras kepala” Ki Demang tidak menyahut. Tetapi dari matanya yang semula redup itupun ternyata memancar sorot kemarahan yang memuncak. “Apakah kau akan memaksa aku dengan kekerasan?“ bertanya Ki Demang. “Apaboleh buat” sahut Mandra. Ki Demang tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah. Jika demikian kami terpaksa membela diri”“He“ Mandra terkejut mendengar jawaban itu. Ia tidak menyangka bahwa Ki Demang berani menjawab demikian. Menilik tubuhnya yang kecil dan seperti yang dikatakannya sendiri, nafasnya sudah mulai terengah-engah, masih juga ia berani mengatakan untuk membela dir i. Mandra menjadi semakin heran ketika ia melihat Ki Demang melambaikan tangannya kepada seorang bebahu yang mengikut inya. Seorang pendiam yang bertubuh sedang, berkulit hitamdan berkumis t ipis dialas bibirnya yang tebal. “Cegah orang itu“ perintah Ki Demang pendek. Perintah itupun ternyata telah menggetarkan setiap dada. Meskipun perintah itu hanya pendek, tetapi seakan-akan mempunyai kekuatan perbawa yang luar biasa. Bukan saja atas orang yang mendapat perintah, tetapi juga atas orang- orang yang mendengarnya. Orang yang bertubuh sedang dan berkulit hitam itupun kemudian meloncat turun pula dari kudanya. Setelah menyerahkan kendali kudanya kepada kawannya, iapun kemudian berjalan dengan tenangnya dan berdiri tegak di muka Ki Demang menghadap kearah Mandra. “Kau berani melawan orangku?“ bertanya Raden Rudira dengan marahnya. “Maaf tuan. Seperti tuan juga berani melawan orang-orang Pangeran Mangkubumi” “Persetan, aku adalah Putera Pangeran Ranakusuma yang lebih tua dan lebih berkuasa dari Ramanda Pangeran Mangkubumi” “Terserahlah kepada tuan. Tetapi aku tidak mau dipaksa oleh siapapun” “Mandra, jangan menunggu lagi. Sebentar lagi hari akan benar-benar menjadi senja”“Baik Raden” jawab Mandra yang kemudian siap menghadapi orang berkulit hitam itu. Ternyata orang berkulit hitam dan berkumis jarang itu sama sekali tidak berkata apapun. Ia berdiri saja dengan penuh kewaspadaan menghadapi segala kemungkinan. Mandra yang berusaha untuk mendapat kepercayaan dan kedudukan yang baik menggantikan Sura yang mulai goyah itu. segera melangkah mendekat. Semakin dekat ia pada orang berkulit hitam itu, maka orang itupun menjadi semakin siaga dan merendah diatas lututnya. Tiba-tiba saja Mandra itupun langsung menyerangnya. Ia menganggap orang-orang Sukawati bukan orang-orang kuat yang pantas diperhitungkan. Namun ternyata, bahwa serangannya yang pertama itu gagal, bahkan orang berkulit hitam itu ternyata dengan lincahnya telah berhasil memukul pundaknya dengan sisi telapak tangannya. “Uh, Gila“ Mandra menyeringai sambil meloncat mundur. Kini ia terbangun dar i lamunannya. Ternyata lawannya bukannya seorang pedesaan yang tidak mampu berbuat apa- apa. Karena itu, maka iapun kini harus mempergunakan segenap kekuatan dan kemampuannya. Ia harus berhasil menundukkan orang itu di dalam waktu yang paling pendek, supaya tampak oleh Raden Rudira, bahwa ia memang seorang yang pilih tanding. Dengan demikian, maka Mandrapun mengulangi serangannya. Kini menjadi semakin dahsyat. Namun lawannya yang bertubuh lebih kecil daripadanya itupun telah siap pula menghadapi serangannya. Dengan tangkasnya ia menghindar, dan dengan tangkasnya pula ia menyerang kembali. Tetapi Mandra berhasil menangkis serangan itu dengan sikunya, meskipun ia terdorong beberapa langkah surut.Dengan demikian, maka Mandra dapat menilai kekuatan lawannya. Ternyata ia tidak menyangka bahwa lawannya yang lebih kecil daripadanya, dan pendiam pula, seolah-olah tidak bertenaga sama sekali itu mempunyai kekuatan yang dapat mendorongnya surut meskipun ia tidak berada dalam sikap perlawanan sepenuhnya. Sejenak kemudian keduanyapun terlibat dalam, perkelahian yang sengit. Perkelahian yang sama sekali tidak diduga-duga, baik oleh Mandra, maupun oleh Sura dan kawan-kawannya. Bahkan Raden Rudira menjadi terheran-heran melihat kemampuan orang Sukawati itu. Mandra adalah salah seorang pengawal terpilih dari Ranakusuman. Ia memiliki tenaga raksasa sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar itu. Namun menghadapi seorang yang bertubuh, sedang dan pendiam itu, Mandra tidak banyak mendapat kesempatan. Di dalam benturan-benturan kekuatan yang terjadi, Mandra memang memiliki kelebihan tenaga. Tetapi orang yang hitam itu memiliki kelebihan yang lain. Ia mampu bergerak secepat tatit, sesigap sikatan menyambar bilalang. Itulah yang kadang-kadang membuat Mandra menjadi bingung. Selagi ia bergulat mengerahkan kekuatannya untuk melumpuhkan lawannya itu, tiba-tiba saja lawannya itu seakan-akan telah hilang. Sebelum ia sadar, maka ia sudah dihadapkan pada serangan yang bagaikan kilat menyambar di langit. Demikianlah maka akhirnya Mandra menjadi semakin bingung Setiap kali ia kehilangan lawannya. Dan setiap kali serangan lawannya, meskipun tidak dengan tenaga sekuat tenaganya, telah berhasil mengenainya. Betapapun besar daya tahan tubuhnya, namun lambat laun, serangan-serangan itu telah menyakitinya. Raden Rudira yang melihat perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Sura yang masih duduk diatas punggung kudanya rasa-rasanyi bagaikan membeku. Mandra tidak akandapat mengalahkan orang berkulit hitam itu. Dan seandainya ia sendiri yang turun ke arena, itupun pasti tidak akan berhasil mengalahkannya. Ki Demang Sukawati duduk dengan tenangnya, diatas punggung kuda. Ia menonton perkelahian itu seperti menonton adu ayam. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya. Kemudian mengangguk-angguk. “Pantas ia menjadi keras kepala“ Raden Rudira mengumpat di dalam hati “Agaknya ia mempunyai seorang pelindung yang baik. Tetapi aku tidak mau kepalang tanggung. Keadaan sudah terlanjur memburuk. Aku tidak perduli lagi apakah Ramanda Pangeran akan marah kepadaku. Aku akan mendapat perlindungan dar i ayahanda Pangeran Ranakusuma dan ibu akan mendapatkan bantuan kumpeni. Sukawati memang harus diper ingatkan, karena Sukawati telah merusak sendi-sendi adat pergaulan rakyat Surakarta” Karena itu, ketika Mandra semakin lama justru menjadi semakin terdesak, Raden Rudira sudah tidak dapat berpikir bening. Ia tidak ingat lagi dimana ia berada dan akibat-akibat yang dapat timbul karenanya. Sementara itu Mandra memang menjadi semakin sulit. Serangan lawannya yang berkulit hitam dan berkumis jarang itu menjadi semakin lama justru semakin cepat. Betapapun kuatnya daya tahan tubuhnya, namun lambat laun Mandra menjadi semakin lemah juga. Serangan-serangan yang cepat kadang-kadang membuatnya bingung dan tanpa dapat berbuat sesuatu, ia harus menerima serangan-serangan dari arah yang tidak diketahuinya. “Persetan“ Raden Rudira menggeram, lalu katanya di dalam hati “Aku tidak peduli. Demang ini harus ditangkap dan dibawa ke kota. Ia harus diadili karena ia berani menentang aku”Dengan demikian Raden Rudira telah mengambil keputusan, bahwa orang-orangnya harus turun tangan tanpa mempedulikan apapun. Demang itu harus ditangkap. Harus. Dengan wajah yang tegang Rudira berpaling kepada orang- orangnya yang menjadi tegang pula. Namun ia menjadi heran, bahwa orang-orangnya sama sekali tidak memperhatikan arena perkelahian yang semakin berat bagi Mandra. Mereka melihat ke kejauhan dengan sorot matanya yang aneh. Tanpa disadarinya Raden Rudirapun memandang kekejauhan pula, kearah tatapan mata para pengiringnya. Tiba-tiba saja jantungnya serasa berdentangan semakin keras. Dilihatnya beberapa orang laki-laki berdiri berjajar di pinggir desa di seberang parit. Dengan wajah yang seakan- akan beku mereka berdiri dengan tangan bersilang di dada memperhatikan orang yang berkulit hitam, yang sedang berkelahi melawan Mandra. Tetapi ternyata bukan hanya di seberang par it, tetapi juga di dalam pagar batu tampak tundung kepala berjajar-jajar. Di bawah tudung kepala itu tampak wajah-wajah yang membeku. “Gila“ Raden Rudira mengumpat di dalam hatinya “ini sudah suatu pemberontakan” Namun demikian wajahnya yang merah semakin lama menjadi semakin pucat. Kalau seorang di antara mereka berhasil mengalahkan Mandra, apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang berdiri di seberang parit dan di balik pagar batu itu.Ki Demang agaknya mengerti persoalan yang bergejolak di dalam hati Raden Rudira. Karena itu sambil tersenyum ia berkata “Mereka adalah petani-petani yang berpikir sederhana tuan. Mereka melihat aku, Demang di Sukawati yang mereka anggap sebagai pemomong mereka mendapat kesulitan, maka merekapun datang berkerumun. Mereka adalah petani-petani yang kita lihat bekerja di sawah dan ladang. Dan kita tidak dapat menemukan petani yang justru tuan cari” Rudira tidak menyahut. Tetapi dadanya berdesir ketika ia melihat Mandra terlempar beberapa langkah surut, ketika kaki orang berkulit hitam itu terjulur ke dadanya. Sejenak Mandra mencoba bertahan, namun ternyata bahwa keseimbangannya sudah tidak dapat dikuasainya lagi, sehingga akhirnya iapun terjatuh di tanah. Meskipun demikian, dengan susah payah ia mencoba bangun. Dikerahkan segala sisa tenaganya yang ada. Tetapi selagi kedua kakinya belum tegak benar, serangan lawannya itu telah meluncur sekali lagi. Kali ini mengenai pundaknya, sehingga Mandra terputar satu kali dan sekali lagi jatuh terbanting di tanah. Wajah Raden Rudira menjadi merah padam. Orang berkulit hitam itu berdiri hanya selangkah disisi Mandra yang agaknyabenar-benar sudah kehabisan tenaga meskipun ia tidak mengalami luka yang berbahaya. “Sudahlah” berkata Ki Demang di Sukawati “tinggalkan orang itu“ Orang berkulit hitam itu berpaling. Dipandanginya Ki Demang sejenak, lalu dianggukkan kepalanya sedikit. Perlahan-lahan ia berjalan meninggalkan lawannya yang masih terbaring di tanah, tanpa Pepatah katapun meloncat dari bibirnya. “Gila kau Mandra” teriak Raden Rudira “bangun atau kau akan tinggal disini“ Dengan susah payah Mandra berusaha untuk bangkit. Ketika ia memutar tubuhnya menghadap Ki Demang di Sukawati, maka orang berkulit hitam yang sudah berdiri di samping kudanya, melangkah setapak maju. Tetapi Ki Demang menggamitnya sehingga iapun berhenti. “Apakah kalian sudah memperhitungkan akibat perlawanan kalian“ Raden Rudira menggeram. Suaranya bergetar penuh kemarahan. “Sama sekali belum Raden, karena kami harus mengambil sikap dengan tiba-tiba. Tetapi akulah yang seharusnya bertanya, apakah Raden sudah memperhitungkan akibat yang timbul dari sikap Raden itu?“ “Aku akan mempertanggung jawabkannya“ “Tetapi orang yang tuan percaya itu tidak mampu melawan orangku. Apakah tuan akan mengambil sikap lebih keras lagi dan memerintahkan para pengir ing Raden menangkap aku?“ Raden Rudira tidak segera menjawab. Tetapi ia sadar bahwa Ki Demang dengan sengaja menyindirnya, karena ia merasa kuat Petani-petani yang ada di sawah dan melihat perkelahian itu ternyata telah berkerumun meskipun dari jarak agak jauh.Kemarahan Raden Rudira seakan-akan telah bergejolak sampai keubun-ubun. Tetapi ia sama sekali t idak berdaya untuk mengambil suatu sikap, karena orang-orang Sukawati ternyata adalah orang-orang yang keras kepala. “Tanggung jawab atas sikap yang gila ini terletak pada. Ramanda Pangeran Mangkubumi” berkata Rudira di dalam hatinya jika Ramanda Pangeran tidak bersikap keliru dan memanjakan orang-orangnya di daerah Sukawati ini, maka hal-hal semacam ini pasti tidak akan dapat terjadi” Tetapi Rudira tidak dapat berbuat apa-apa saat itu. Betapapun dadanya serasa akan retak, namun ia harus menahan dir i. la tidak tahu, kemampuan apa yang tersimpan di balik wajah-wajah yang beku dan tangan-angan yang bersilang di dada itu. Karena Raden Rudira tidak segera menjawab, maka Ki Demang Sukawati itu menarik nafas dalam-dalam, sambil berkata “Sudahlah Raden. Kadang-kadang kita memang dihanyutkan oleh perasaan yang meledak-meledak. Aku tahu, umur Raden yang masih sangat muda itulah yang membuat Raden kurang pertimbangan. Tetapi itu bukan suatu kesalahan yang perlu disesalkan sekali, meskipun harus selalu diingat sebagai pengalaman. Sekarang, lupakan saja apa yang telah terjadi. Aku rasa orang di rumah sudah menyediakan makan siang buat Raden dan para pengir ing. Bagaimanapun juga, aku tetap ingin mempersilahkan Raden dan para pengiring untuk makan siang di rumah kami, karena disini tuan adalah tamu kami“ Kata-kata itu rasa-rasanya justru membual hati Rudira semakin panas. Tanpa menjawabnya Raden Rudira berteriak kepada Mandra “Cepat naik ke kudamu. Kita akan pergi” “Raden” berkata Ki Demang dengan serta merta “Kami persilahkan Raden singgah sejenak”Rudira tidak menjawab. Bahkan ia memalingkan wajahnya. Katanya kepada pengiringnya “Kita akan meninggalkan neraka ini. Tetapi kita tidak akan membiarkan daerah ini tetap dikuasai oleh kebodohan serupa ini. Aku adalah pulera Pangeran Ranakusuma” Raden Rudira tidak menunggu lebih lama lagi. lapun segera menyentuh perut kudanya dengan tumitnya, sehingga kudanya mulai bergerak. Tetapi tiba-tiba saja Raden Rudira menarik kendali kudanya yang sudah mulai berlari, sehingga kuda itu terkejut dan melonjak berdiri. Beberapa orang pengir ingnyapun terkejut pula. Bahkan Mandra yang dengan lemahnya duduk diatas punggung kudanya mengangkat wajah dan mencoba mengerti, kenapa t iba-tiba saja Raden Rudira berhenti. Dengan mata yang terbelalak Raden. Rudira memandang ke sudut desa yang sedikit menjorok masuk ke tanah persawahan. Dilihatnya beberapa orang petani berdiri berjajar sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Namun yang berdiri di paling ujung, agaknya petani yang sedang dicar inya. Sura yang berkuda di antara merekapun terkejut pula melihat orang yang berdiri t idak terlalu jauh dar i jalan yang sedang dilaluinya. Namun tanpa disadarinya, mulutnya berdesis “Benar dugaanku. Orang itu adalah Pangeran Mangkubumi” Desis Sura itu mengguncangkan dada Raden Rudira. Laki- laki yang berdiri di ujung itu adalah laki- laki yang sedang dicarinya. Wajah. laki-laki itupun kotor oleh lumpur yang melekat disana-sini. Seperti petani-petani yang lain, disisinya terletak sebuah cangkul, pakaian yang kotor dan basah, serta wajah yang beku. Tetepi yang seorang ini memiliki sepasang mata yang tajam dan rasa-rasanya sedang membara. Raden Rudira menjadi termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba kengerian yang sangat telah merayapi hatinya.Siapapun orang itu, namun kemampuannya tentu berlipat-lipat dari orang yang berkulit hitam. Sura di bulak Jati Sari sama sekali tidak berdaya menghadapinya. Kini Mandra telah dilumpuhkan oleh orang berkulit hitam itu. “Apalagi kalau benar orang itu adalah Ramanda Pangeran Mangkubumi“ tanggapan itu tiba-tiba saja melonjak di dadanya. Dengan demikian tanpa disadarinya sekali lagi Raden Rudira memandang orang itu. Tiba-tiba saja jantungnya serasa berhenti berdenyut” Orang itu memang mir ip sekali dengan Ramanda Pangeran Mangkubumi” Tetapi iapun kemudian mencoba membantahnya sendiri “Ada seribu orang yang mir ip di dunia ini” Meskipun demikian, Raden Rudira segera memacu kudanya. Semakin lama semakin cepat diikuti oleh para pengiringnya. Debu yang putih berterbangan menyelubungi jalan yang kering. Yang berpacu di paling belakang adalah Sura. Tetapi bagaimanapun juga, rasa-rasanya masih ada ikatan yang tidak dapat dilepaskannya, bahwa ia harus mengikut i Raden Rudira kembali ke Surakarta. Ternyata bahwa perasaan Raden Rudira telah benar-benar menjadi kisruh. Darahnya bagaikan mendidih. Tetapi hentakan di dadanya Tanpa mengucapkan sepatah katapun Raden Rudira berpacu kembali ke kota. Ia tidak menghiraukan lagi panas yang semakin lama menjadi semakin lemah dan cahaya langit yang kemerah-merahan. “Kita akan sampai ke kota jauh malam“ desis seseorang di antara para pengawalnya, itu masih harus tetap disimpannya paling dalam.“Ya. Tetapi tidak terlalu malam. Lihat, matahari masih agak tinggi” Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia berdesis “Aku haus sekali” “Aku tidak hanya sekedar haus. Aku lapar sekali” Kawannya berpaling. Dilihatnya orang yang merasa lapar itu menjadi pucat meskipun cahaya kemerah-merahan masih memancar di langit dan jatuh di setiap wajah. Dalam pada itu, Mandra masih tampak terlalu lemah, meskipun ia mampu juga berpacu Namun tampaknya ia tidak sesegar ketika berangkat, dan bahkan rasa-rasanya lain sekali dengan Mandra yang selalu mentertawakan Sura. Sedang Sura sendiri berpacu di paling belakang. Angan- angannya masih saja dicengkam oleh kenangannya atas petani yang dijumpainya di bulak Jati Sari. Petani itu pasti petani yang berdiri di ujung itu. Dan keduanya adalah Pangeran Mangkubumi itu sendiri. Sebenarnya bukan saja Sura yang bertanya-tanya di dalam hati. Tetapi pertanyaan tentang petani itu tumbuh juga di hati para pengiring Raden Rudira yang pernah mengikutinya berjalan di tengah bulak Jati Sari. Dan mereka yang mengenal Pangeran Mangkubumi akan berkata di dalam hati “Orang itu memang mir ip sekali dengan Pangeran Mangkubumi. Apalagi jika ia mengenakan pakaian yang pantas dan baik. Seandainya ia bukan Pangeran Mangkubumi, maka seseorang pasti akan dapat keliru” Namun keragu-raguan yang berkembang di dalam setiap dada itu, membuat mereka menjadi semakin lama semakin dicengkam oleh kecemasan. Bahkan akhirnya mereka hampir meyakini, bahwa orang itu memang Pangeran Mingkubumi. Tetapi Raden Rudira seakan-akan telah menutup pintu hatinya, la tidak mau mengakui kenyataan penglihatannya.Baginya orang itu adalah seorang petani yang telah memberontak terhadap para bangsawan di Surakarta. Menurut Raden Rudira, mereka harus mendapat hukuman. “Ibunda akan memanggil beberapa orang asing. Dengan senjata api mereka tidak akan dapat dilawan oleh Pangeran Mangkubumi seandainya mereka mempertahankan Sukawati” Dengan dada yang berdentangan Raden Rudira memacu kudanya terus. Ia tidak berhenti sama sekali, seandainya kudanya tidak gelisah kehausan. “Pemalas“ Ia menggeram. Meskipun demikian Raden Rudira member i kesempatan juga kepada kudanya untuk meneguk air bening yang mengalir di parit di pinggir jalan. Demikian juga kuda-kuda yang lain. Kuda Mandra dan kuda Sura. Dalam pada itu Sura bergeser mendekati seorang kawannya sambil berbisik “Aku tidak tahu tanggapanmu atasku. Mungkin kau menjadi muak melihat sikapku. Aku tidak peduli. Tetapi aku ingin meyakinkan perasaanku. Coba katakan, apakah orang yang kita lihat tadi adalah petani di bulak Jati Sari?“ Kawannya ragu-ragu sejenak. “Aku mungkin kau tuduh berkhianat kepada Raden Rudira. Aku tidak ingkar, Tetapi katakan dengan jujur, apakah benar orang itu petani yang berada di bulak Jati Sari?“ Meskipun masih ragu-ragu, tetapi kawannya itu menjawab “Aku kira begitu” “Bagus. Apakah kau kenal Pangeran Mangkubumi” “Kenal, tetapi tidak dari dekat” “Apakah orang itu Pangeran Mangkubumi?” Kawannya tidak menyahut. Tetapi ia menundukkan kepalanya ”Kau t idak mau menjawab?“Kawannya masih tetap berdiam dir i. Sura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bertambah yakin karenanya. Sejenak kemudian maka Raden Rudirapun sudah berpacu kembali. Rasa-rasanya semakin lama semakin cepat. Kemarahan, keragu-raguan dan bahkan kecemasan telah bercampur baur di dalam hatinya. Bagaimanapun juga ia tidak dapat melupakan wajah petani yang seorang itu. la tidak dapat ingkar, bahwa wajah itu adalah wajah seorang Pangeran yang pernah berbicara dengannya satu kali di halaman. Masjid Agung. “Tidak“ Ia menggeletakkan giginya “Tentu hanya mirip” Seperti yang mereka perhitungkan, maka mereka memasuki regol halaman istana Pangeran Ranakusuma setelah jauh malam. Derap kaki-kaki kuda itu telah mengejutkan para penjaga dan para abdi yang tinggal di dalam dinding istana itu. Bahkan orang-orang yang tinggal di tepi-tepi jalanpun terkejut pula dan bertanya-tanya di dalam hati “Siapakah yang berpacu di malambegini?“ Tetapi ketika derap kaki-kaki kuda itu sudah menjauh, maka merekapun segera tidur kembali. Mereka tidak menghiraukannya lagi ketika suara itu telah lenyap dari pendengaran. Namun tidak demikian halnya dengan orang-orang yang tinggal di dalam halaman istana Pangeran Ranakusuma. Beberapa orang penjaga segera bersiaga. Namun ketika mereka melihat bahwa yang datang itu Raden Rudira bersama pengiringnya, maka merekapun menjadi semakin heran. Tetapi tidak seorangpun yang berani bertanya. Mereka hanya sekedar menganggukkan kepala, sedang beberapa orang yang lain berlari-lari menyusulnya sampai ke tangga pendapa.Demikian Raden Rudira meloncat dari punggung kudanya, maka orang yang berlari-lari itupun segera menangkap kendali kuda itu. Dengan tergesa-gesa Raden Rudira naik ke pendapa. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat pendapa yang masih dikotori oleh titik-t itik air yang berwarna kekuning-kuningan. Beberapa potong makanan masih terkapar di sudut. “He” bertanya Raden Rudira kepada seorang pelayan “Apakah baru saja ada tamu?“ “Ya tuan. Baru saja mereka meninggalkan halaman ini” “Siapa?“ “Beberapa orang kumpeni. Ibunda tuan baru saja menjamu beberapa orang sahabatnya, setelah ibunda menerima undangan mereka dan berkunjung ke rumah Tumenggung Santidarma yang dipinjam oleh kumpeni untuk menjamu ibunda tuan” “Bersama ayalianda?“ “Tidak. Ayahanda Raden Rudira sedang menghadap Kangjeng Susuhunan di istana. Utusan dari istana datang lewat tengah hari” “Dan sekarang?“ “Ayahanda dan ibunda ada di dalam. Keduanya sudah di istana ini sebelum para tamu datang” “Dada Raden Rudira berdentangan mendengar jawaban abdi itu. Ia sebenarnya tidak senang jika ibunya diundang untuk menghadir i perjamuan yang diselenggarakan oleh kumpeni di rumah Tumenggung Santidarma atau di rumah Tumenggung Nitiraga. Meskipun ia belum pernah menyaksikan pertemuan itu, dan meskipun ia tidak pernah mendengar apa yang terjadi di dalam pertemuan-pertemuan semacam itu, tetapi ia mempunyai firasat bahwa pertemuan itu tidak wajar diselenggarakan untuk beberapa orang bangsawan.“Tetapi dengan demikian ibunda mempunyai banyak kawan dari lingkungan mereka. Mudah-mudahan aku dapat mengambil manfaat dari hubungan ibunda dengan orang- orang bule itu” berkata Raden Rudira di dalam hatinya. Dan apabila ia sudah mulai terbentur pada kepentingan sendir i, maka iapun t idak akan peduli lagi, apa yang akan dilakukan oleh ibunya, meskipun kadang-kadang ia dihantui oleh kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi. “Ayah tidak melarangnya” berkata Raden Rudira itu pula di dalam hatinya. Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian dihentakkannya tangannya. Baru saja ia mengalami kegagalan mutlak. Dan kini ia menghayati suatu perasaan yang terasa pedih di hatinya, meskipun ia dapat mengambil keuntungan daripadanya. “Persetan“ Raden Rudira itupun segera menuju ke pintu pringgitan yang tengah. Tetapi pintu itu sudah digerendel dari dalam. “Tuan“ salah seorang pelayannya mempersilahkan “sebaiknya tuan mengambil jalan dari longkangan” Raden Rudira mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian melangkah turun dari pendapa, lewat longkangan menuju ke pintu butulan. Dengan kerasnya ia mengetuk pintu yang sudah tertutup itu pula, sehingga seorang pelayan yang ada di dalam terkejut karenanya. “Siapa?“ pelayan itu bertanya setelah ia berdiri di muka pintu. “Aku. Bukalah pintu” sahut Rudira. “Aku siapa?“ “Cepat, aku puntir kepalamu”Tetapi pelayan itu masih ragu-ragu, sehingga Raden Rudira membentak “Buka pintu. Jika kau mempermainkan aku, aku pukul kepalamu sampai pecah” Tetapi pelayan yang terkejut itu masih berdiri kebingungan. Ia berpaling ketika ia mendengar suara dari pintu dalam “Bukalah. Raden Budira“ “Ampun Raden Ayu“ Orang itu terbungkuk- bungkuk “Aku, aku t idak tahu” “Nah, sekarang bukalah” Dengan gugup orang itu segera membuka pintu. Demikian pintu terbuka, Raden Rudira yang marah langsung menggenggam rambut pelayannya ambil membentak. “Lain kali, buka telingamu Kau harus mengenal suaraku” “Ampun tuan, ampun” “Sudahlah, lepaskan. Ia terkejut mendengar ketokan pintu itu, karena itu ia menjadi bingung” Raden Rudira melepaskan rambut pelayan itu. Perlahan- lahan ia melangkah memasuki istananya dengan wajah yang suram. “Bagaimana dengan perjalananmu? Dan kenapa kau pulang dijauh malambegini?“ “Gagal” sahut Raden Rudira pendek?”“Kau tidak dapat menemukan?“ “Tidak” jawab Raden Rudira. Tetapi terbayang di rongga matanya, petani yang dicarinya itu berdir i berjajar di antara para petani yang lain. Tetapi demikian besar pengaruh tatapan matanya, sehingga ia justru tidak berani berhenti dan berbuat sesuatu atasnya, setelah sekian lama dicarinya. “Gila” tiba-tiba penyesalan yang sangat telah melanda dinding jantungnya. Lalu katanya di dalam hatinya pula “Kenapa aku justru pergi meninggalkan padukuhan itu setelah Mandra kalah? Gila, barangkali aku juga sudah gila melihat sikap orang-orang Sukawati yang seolah-olah semuanya sudah kerasukan iblis itu” Raden Rudira mengangkat wajahnya ketika ibunya berkata “Sudahlah. Jangan selalu kau renungi kegagalanmu. Itu tidak baik sama sekali. Besok atau lusa kau dapat mengulanginya. Mungkin orang itu sedang bersembunyi karena ia sudah menduga bahwa kau akan datang ke Sukawati” Raden Rudira menganggukkan kepalanya. ”Karena itu, justru apabila mereka sudah tidak membicarakannya lagi, kau pergi dengan tiba-tiba saja ke padukuhan Sukawati itu” Sekali lagi Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja Raden Rudira itu dengan tergesa-gesa pergi ke pintu butulan kembali. Ketika dilihatnya seseorang pelayan lewat maka dipanggilnya pelayan itu mendekat. ”Panggil Mandra dan beberapa orang pengiring yang lain” “Baik tuan” “Apakah yang akan kau lakukan Rudira?“ Bertanya ibunya yang menjadi heran.Tetapi Rudira tidak menyahut. Dari kejauhan di bawah sinar obor di halaman ia melihat beberapa orang mendatanginya. “He” berkata Raden Rudira setelah orang-orang itu berada di hadapannya “Siapakah yang dapat pergi ke istana Ramanda Pangeran Mangkubumi“ Tidak seorangpun yang menyahut. “Siapa yang mempunyai satu atau dua orang saudara yang. menjadi abdi di istana Ramanda Pangeran?“ “Apa yang akan kau perbuat Rudira?“ bertanya ibunya. Raden Rudira tidak menghiraukan pertanyaan ibunya. Sekali lagi ia bertanya kepada orang-orangnya “Siapa yang mempunyai saudara yang tinggal di Dalem Istana Ramanda Pangeran Mangkubumi he?“ Sejenak orang-orangnya itu termangu-mangu. Namun kemudian seseorang di antara mereka berkata “Aku Raden. Aku mempunyai seorang kakak yang bekerja disana. Menjadi abdi pekatik Pangeran Mangkubumi” “Bagus, pergilah menemui kakakmu itu” “Rudira“ ibunya memotong “Apakah kau sadari perintahmu itu?“ “Aku sadar sepenuhnya ibu. Bukankah bunda ingin mengaitkan bahwa hari telah larut malam?“ “Ya“ “Tidak ada. Orang itu harus menemui kakaknya saja. Apapun alasannya. Ia dapat menyebut bahwa ayahnya sakit atau ibunya atau siapa saja, sehingga ia mendapat ijin penjaga regol untuk memasuki halaman dan bertemu dengan kakaknya”“Jika ia sudah menemui kakaknya, apa yang harus dikerjakan?“ “Hanya sekedar bertanya, apakah Ramanda Pangeran ada di istananya. “Kenapa?“ bertanya ibunya. “Aku ingin meyakinkan, apakah Ramanda Pangeran ada di istana” “Kenapa tidak besok saja Rudira” “Aku memer lukannya sekarang ibu. Ada sesuatu yang memaksa aku untuk mengetahuinya sekarang” Ibunya mengerutkan keningnya. Tetapi agaknya keinginan Rudira itu tidak dapat ditundanya lagi. Meskipun demikian ibunya berkata “Rudira, lebih baik kau mohon nasehat ayahandamu” Rudira mengerutkan keningnya. Namun t iba-tiba ia menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak memer lukan nasehat apapun, karena aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui, apakah Ramanda Pangeran ada di istananya. Hanya itu” “Kenapa kau ingin mengetahuinya?“ “Ramanda Pangeran tidak ada di pesanggrahan” “Dan kenapa harus sekarang?“ Raden Rudira termangu-mangu sejenak. Lalu jawabnya "Tidak apa-apa. Tetapi aku ingin mengetahuinya sekarang” Ibunya tidak dapat mencegahnya lagi. Karena itu, iapun tidak mencoba menahannya. “Pergilah” berkata Rudira kepada orang yang mengaku mempunyai seorang kakak yang bekerja menjadi pekatik di DalemPangeran Mangkubumi itu.Orang itu menjadi termangu-mangu sejenak. Namun Rudira segera membentak “Pergi, cepat” “Ya, ya tuan. Aku akan pergi” Maka dengan tergesa-gesa orang itupun meninggalkan istana Ranakusuman. Bagaimanapun juga ia tidak dapat menolak lugas itu. Sambil melangkahkan kakinya, maka iapun mulai mereka-reka, alasan apakah yang akan dikemukakannya kepada para penjaga regol agar ia diperkenankan menemui kakaknya itu. “Kakek sakit keras“ desisnya “mungkin alasan itu dapat diterima, meskipun kakek sudah lama meninggal. Lebih baik aku menyebut orang yang sudah meninggal daripada aku harus menyebut ayah dan ibuku. Bagaimana kalau mereka benar-benar menjadi sakit” Sementara itu, di istana Ranakusuman, Rudira masih- berdiri di muka pintu sambil berkata “Mandra, siapkan pengiring-pengiringku. Besok kita akan pergi lagi” “Kemana Rudira?“ bertanya ibunya. “Aku harus menebus sakit hatiku. Lebih baik mengurus gadis kecil itu dar ipada petani Sukowati yang gila itu” “Maksudmu?” “Ada gadis cantik di Jati Aking. Ia dapat diambil sebagai abdi di istana ini. Ibunda tentu memerlukannya seorang dayang yang dapat membantu ibunda menyediakan tempat sirih dan botekan” “Siapakah anak itu?“ “Anak Danatirta, Jati Aking” “Danatirta?” Raden Ayu Sontrang mengerutkan keningnya “Maksudmu dari padepokan Jati Aking, tempat tinggal Juwiring sekarang?““Ya” “Apakah kau pergi ke Jati Aking” “Ya. bukankah aku pernah mengatakan bahwa aku bertemu dengan petani gila itu di bulak Jati Sari?“ Raden Ayu Sontrang mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya “Ya. Kau memang pernah mengatakannya. Tetapi bagaimana dengai gadis itu?“ “Aku akan mengambilnya dan menyerahkannya kepada ibunda” “Aku tidak memer lukannya” “Barlah ia berada di istana ini. Gadis itu cantik. Jika ia tetap berada di Jati Aking bersama-sama dengan kamas Juwiring, agaknya akan berbahaya baginya” “Jangan kau urusi orang itu” “Aku tidak akan mengurusi kamas Juwiring, tetapi aku akan menyelamatkan gadis itu. Aku akan minta Kepada ayahnya, agar anak gadisnya diserahkan kepada ibunda” “Kau akan menambah persoalan Rudira. Danatirta bukan anak-anak macam Sura” ibunya berhenti sejenak, lalu tiba-tiba “He, dimana Sura sekarang?“ ”Ia menjadi liar. Bahkan hampir berkhianat” “Tidak mungkin. Ia adalah abdi tertua disini” “Bertanyalah kepada orang-orang kita yang lain, ibu. Mereka akan memberikan keterangan dengan jujur. Tanpa ditambah dan tanpa dikurangi” Raden, Ayu Sontrang mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu atas keterangan puteranya itu. Meskipun demikian ia tidak bertanya lagi dan berkata “Sudahlah. Hari sudah jauh malam, beristirahatlah”Raden Rudira menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian dilemparkannya segala kelengkapan yang masih merekat di tubuhnya. “Aku akan mandi. Kemudian aku memer lukan makan, aku lapar” Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Disuruhnya pelayannya membangunkan pelayan yang lain. juru masak dan pembantu-pembantunya. Puteranya memerlukan makan meskipun sudah jauh malam. Sambil menggerutu pelayan-pelayan di dapur itupun mulai menyiapkan makan bagi Raden Rudira dengan tergesa-gesa. Apalagi Raden Rudira termasuk orang yang agak sulit dilayani, justru karena ibundanya sangat memanjakannya, terlebih- lebih lagi setelah Juwir ing t idak ada lagi di istana itu. “Raden Juwiring makan apa yang ada” berkata seorang juru masak kepada pembantunya “Tetapi Raden Rudira memer lukan lauk yang disenanginya. Kapanpun ia ingin makan. Untunglah yang disenanginya tidak begitu sulit dicari. Telur ayam, otak lembu dan udang, yang hampir setiap hari pasti tersedia di dapur DalemRanakusuman” Dalam pada itu. selagi Raden Rudira mandi, ibunda Raden Ayu Sontrang menunggunya di ruang dalam. Tetapi ia tidak membangunkan Pangneran Ranakusuna yang baru saja tidur, yang agaknya lelah juga selelah menghadap ke istana Susuhunan. Sejenak Raden Ayu Sontrang duduk seorang dir i di bawah lampu minyak yang menyala terang di ruang dalam. Sejenak ia sempat merenungi keadaan puteranya laki-laki. Ia berharap agar puteranya kelak menjadi satu-satunya pewaris segala kekayaan yang berlimpah di Ranakusuman ini. Bahkan Raden Ayu Sontrang masih belum puas dengan kekayaan yang ada. Ia masih juga mener ima banyak sekali pemberian dari beberapa orang perwira kumpeni yang menjadi kawan- kawannya terdekat.Kadang-kadang terasa bulu-bulunya meremang jika dikenang, imbalan yang harus diber ikan kepada perwira- perwira berkulit putih itu. Kulit yang kasar dan sikap yang kasar. Tetapi gemerlapnya permata memang telah menyilaukannya. “Kamas Ranakusuman tidak menghiraukannya” berkata Raden Ayu Sontrang ini. Karena Kamas Ranakusuma juga memer lukan dukungun dari ilm orang-orang kulit putih itu untuk mendapat tempat terbaik di istana. Dukungan t imbal balik” Tetapi Raden Ayu Sontrang kemudian mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tidak mau mendengarkan persoalan yang tumbuh di hatinya tentang dirinya sendiri. Apapun yang terjadi atas dirinya sudah dilakukannya dengan sadar, sehingga seharusnya tidak ada persoalan lagi baginya. Dalam pada itu, seorang abdi yang diperintahkan oleh Raden Rudira pergi ke Mangkubumen, semakin lama menjadi semakin dekat dengan regol yang sudah tertutup. Dengan hati yang berdebar-debar ia mendekat, sementara ia masih juga mengatur alasan yang akan dikemukakannya. “Memang lebih baik kakek” desisnya. Tetapi tiba-tiba “Jika kakek yang sakit, kenapa tampaknya aku terlampau gugup. Kakek pasti sudah tua. Jika ia sakit keras, itu sudah wajar” Pelayan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian “Tetapi kakang telah diangkat menjadi anak kakek itu” Tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Tanpa disadarinya ia sudah berdiri di luar regol Dalem Mangkubumen. Dengan tangan gemetar ia mengetuk lubang dipintu regol. Ketika lubang persegi empat itu terbuka, dilihatnya seraut wajah yang menjenguk dari lubang itu. “Siapa?” Ia mendengar orang di dalam regol itu bertanya. “Aku, Sampir”“Sampir siapa?“ “Aku akan menemui kakangku yang bekerja disini sebagai pekatik” “Malam-malambegini?“ 


Jilid 4
“KAKEK sakit keras. Aku segera ingin menemui kakangku dan jika perlu, mengajaknya mengunjungi kakek” “Kakangmu siapa?“ “Sada” “Sada pekatik itu?“ “Ya” “Datanglah besok pagi” “Kakek sakit keras. Kakang Sada adalah cucunya terkasih. Ia sudah diambil anak angkat oleh kakek. Hampir setiap saat ia mengigau memanggil nama kakang Sada” Penjaga itu merenung sejenak. Terdengar suara mereka berbisik-bisik. Agaknya mereka sedang membicarakan permintaan abdi Ranakusuman itu” Tiba-tiba pintu regol itu terbuka perlahan-lahan. Seorang pengawal berdiri di dalam regol sambil memandanginya. Katanya “Tunggulah sebentar. Aku akan memanggilnya”“Apakah aku boleh mengunjungi di dalambiliknya” “Tunggulah di sini. Di dalam” Pelayan Raden Rudira itu termangu-mangu. Jika ia harus berbicara di regol itu. di hadapan para pengawal, maka ia tidak akan dapat menyampaikan pertanyaan yang sebenarnya harus ditanyakannya. Karena itu. maka sekali lagi ia minta “Sudahlah, jangan membuat kalian terlalu repot. Biar lah aku datang ke biliknya” “Apakah kau pernah mengunjunginya” “Pernah, tetapi di siang hari. Dan aku belum tahu letak biliknya itu. Meskipun demikian, aku ingin datang kepadanya supaya aku dapat mengatakannya dengan hati-hati, agar ia tidak terkejut karenanya” Para petugas regol itu menjadi termangu-mangu sejenak. Ia melihat kegelisahan, bahkan kekisruhan pada jawaban pelayan Ranakusuman itu. Untunglah bahwa mereka mengira, orang itu benar-benar sedang ditimpa kemalangan, bukan karena kecemasan bahwa niat kedatangannya yang sebenarnya akan dapat diketahui oleh para penjaga itu. Sejenak kemudian maka penjaga itu berkata “Jadi manakah yang benar? Apakah kau pernah mengunjunginya atau belum?“ Pelayan itu berpikir sejenak, lalu “Keduanya benar. Aku pernah mengunjunginya kemari. Tetapi tidak tahu dimana ia tinggal, maksudku, aku bertemu ia di muka regol ini” “Sudahlah“ potong salah seorang dari para penjaga “Marilah, aku antarkan saja kau kepondoknya di belakang, di sebelah kandang” “Terima kasih, terima kasih” sahut pelayan itu terbata-bata. Maka dengan hati yang berdebar-debar iapun mengikuti penjaga yang membawanya ke belakang. Dekat di sebelahkandang kuda terdapat sebuah pondok kecil. Di situlah kakaknya tinggal bersama isterinya. Sada terkejut ketika pintu rumahnya diketok orang di malam hari. Dengan tergesa-gesa ia bangkit dan melangkah menuju ke pintu. “Siapa?“ Sada bertanya. “Aku kakang, Sampir” “He“ Sada semakin terkejut “Kau datang di malambegini?“ “Ya, ada perlu yang penting” Ketika terdengar selarak pintu dibuka, maka Sampirpun berkata kepada penjaga yang mengantarkannya “Terima kasih. Terima kasih. Orang itu benar-benar kakakku” Penjaga itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mau mencampur inya, sehingga dit inggalkannya Sampir di muka pintu yang kemudian terbuka. “O, kau diantar oleh penjaga regol itu?“ “Ya” “Masuklah. Apakah yang penting?“ Sampirpun segera melangkah masuk. Sikapnya yang gelisah membuat kakaknya bertanya-tanya. Baru ketika pintu sudah ditutupnya, Sampir berkata “Aku datang membawa persoalan yang penting kakang” “Kau membuat aku berdebar-debar. Apakah yang penting itu?” “Kepada para penjaga aku berkata bahwa kakek sakit keras” “Kakek? Kakek yang mana?“ “Kakek kita”“He“ Sada mengerutkan keningnya “Apakah kau kesurupan? Bukankah kakek sudah meninggal?“ “Itulah. Aku hanya sekedar memberikan alasan, agar aku dapat masuk dan menemui kau” “Apa sebenarnya yang penting itu?“ Sampir menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia berbisik Apakah tidak ada orang yang akan mendengar?“ “Aku tidak mengerti, apakah yang akan kau katakan?” “Aku mendapat perintah dari Raden Rudira” “Apa yang harus kau kerjakan?“ “Apakah tidak ada yang mendengar?“ “Ada, mungkin mBokayumu. Ia terbangun juga tadi mendengar pintu diketuk keras-keras. Dan barangkali kuda- kuda di kandang sebelah” “Baiklah“ Sampir menelan ludahnya “Raden Rudira ingin mengetahui, apakah Pangeran Mangkubumi ada di istana?“ “Di istana Kangjeng Sunan?“ “Tidak. Maksudku di istananya sendiri. Di rumah ini. Bukan di istana Kangjeng Susuhunan” “Kenapa?“ “Aku tidak tahu. Tetapi ia sedang digelisahkan oleh wajah yang kembar. Setidak-t idaknya mirip sekali” “Aku tidak mengerti” Sampir menar ik nafas dalam-dalam. “Cobalah, tenangkan sedikit hatimu, supaya kata-katamu tidak bersimpang siur” “Apakah ada minum?“ “Ada, ada meskipun dingin”Sadapun kemudian mengambil semangkuk air dan diberikannya kepada adiknya yang gelisah. Setelah menelan seteguk air, dan sekali lagi menarik nafas dalam-dalam, maka iapun mulai berceritera, apa yang diketahuinya tentang perasaan Raden Rudira yang gelisah. Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Jadi Raden Rudira putera Pangeran Ranakusuma mencari seorang petani yang telah melawannya. Adalah kebetulan sekali bahwa petani itu mirip benar dengan Pangeran Mangkubumi?“ “Ya. Tetapi bukan itu saja. Di pesanggrahan Pangeran Mangkubumi diketemukan pakaian petani yang menurut para pelayan di sana, pakaian itu adalah pakaian Pangeran Mangkubumi” Sada mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Sambil tersenyum ia kemudian menjawab “Memang Pangeran Mangkubumi sering mempergunakan pakaian seorang petani. Itu menjadi kegemarannya” Sampir mengerutkan keningnya. Terbata-bata ia bertanya “Jadi petani itu Pangeran Mangkubumi sendir i?“ “Belum tentu. Kapan Raden Rudira melihatnya?“ “Sore tadi” “Sore tadi?“ Sada merenung sejenak, lalu “Pangeran Mangkubumi ada di istana ini” “He, jadi Pangeran Mangkubumi ada di rumah, eh, maksudku di istananya?“ “Ya. Sejak beberapa hari Pangeran tidak meninggalkan istananya. Ia baru samadi di sanggarnya” “Kau melihat sendiri?“ “Kudanya ada di kandang. Kalau kau tidak percaya, tunggulah sampai fajar. Hampir setiap fajar, PangeranMangkubumi berjalan-jalan mengelilingi halaman Kapangeranan ini” “Tetapi tadi kau katakan bahwa Pangeran Mangkubumi sedang samadi di sanggarnya” “Ya. Namun setiap pagi Pangeran Mangkubumi turun dari sanggar dan berjalan-jalan mengelilingi halaman” Sampir mengangguk-angguk. Tetapi ia masih ingin meyakinkan “Tetapi kau benar-benar melihatnya” “Aku yakin. Sebelum aku pergi tidur, aku melihat Pangeran Mangkubumi berada di pendapa sejenak” Tetapi Sampir justru menjadi semakin bingung. Namun kemudian ia berkata “Aku akan mengatakannya kepada Raden Rudira. Terserah, kesimpulan apakah yang akan diambilnya” Sada yang melihat adiknya menjadi semakin bingung justru tersenyum sambil berkata “Kau jangan ikut menjadi bingung. Banyak rahasia yang tidak diketahui tentang Pangeran Mangkubumi. Tetapi ia adalah seorang Pangeran yang baik, yang ramah dan rendah hati. Tetapi pendir iannya keras sekeras besi baja. Ia tidak mudah terpengaruh oleh persoalan-persoalan baru yang tampaknya memikat hati” Sampir mengangguk-angguk. “Katakan apa yang kau dengar tentang Pangeran Mangkubumi. Ia ada di istananya malam ini. Jika yang dijumpainya di Sukawati itu juga Pangeran Mangkubumi, maka hal itupun mungkin pula terjadi” “Jadi bagaimana? Apakah Pangeran Mangkubumi bergegas kembali ke Dalem Kapangeranan?“ “Tidak perlu bergegas. Jika dikehendaki, ia dapat menempuh jarak dari Sukawati ke istana ini dalam sekejap.Mungkin ia berada di Sukawati, dan sekejap kemudian berada di sini” “Bagaimana mungkin hal itu terjadi?“ “Apakah kau belum pernah mendengar, bahwa Pangeran Mangkubumi memiliki aji Sepi Angin” “O“ Sada tertawa tertahan melihat wajah adiknya yang tegang. “Jangan bingung. Jangan hiraukan tentang Sepi Angin. Tetapi katakan saja kepada Raden Rudira, bahwa Pangeran Mangkubumi ada di rumahnya. Dengan demikian ia akan menjadi tenang” “Tidak. Bahkan sebaliknya. Ia pasti akan semakin bernafsu mencari petani itu kembali. Hanya karena ia ragu-ragu, bahwa petani yang mir ip Pangeran Mangkubumi itu benar-benar Pangeran Mangkubumi itu sendir ilah, maka ia tidak berbuat apa-apa dan memerintahkan aku malam-malam begini menemuimu” Sada masih tertawa. Katanya “Sudahlah. Jangan kau bicarakan lagi. Apakah kau akan tidur di sini atau kembali? Sebentar fajar akan menyingsing” Sampir menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata “Raden Rudira menunggu aku. Dan aku sudah terlanjur mengatakan kepada para penjaga, bahwa kakek sedang sakit. Kau harus menyesuaikan dir imu” Tetapi kakaknya masih saja tertawa, katanya “Jangan gelisah. Aku akan mengatakan kepada mereka, bahwa kakek memang sakit. Dan aku akan pergi menengoknya. Karena itu, kita berangkat setelah fajar” Sampir merenung sejenak. Tetapi sebelum ia menjawab, terdengar suara seorang perempuan bertanya dari dalam bilik tidurnya“Siapa yang sakit?“ “Ia mendengar percakapan kita. Tetapi agaknya hanya yang terakhir. Rupa-rupanya ia tidur terlampau nyenyak, sehingga ia tidak mendengar percakapan kita sebelumnya. Ia tertidur lagi, setelah aku membuka pintu dan tahu, bahwa yang datang adalah kau” Sampir mengangguk-anggukkan kepalanya, dan suara itu bertanya lagi “Siapakah yang sakit?“ “Kakek” sahut Sampir. “Kakek siapa?“ “Ssst, nanti aku beritahu” sahut suaminya. Perempuan itu diam. Tetapi ia tidak keluar dari biliknya. Setelah mereka terdiam sejenak, maka Sampirpun bertanya “Jadi kau akan pergi juga” “Tentu, bukankah kau sudah mengatakan kalau kakek sakit?“ “Baiklah, jika demikian, biarlah aku menunggu sampai fajar menyingsing” Kakaknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sejenak kemudian iapun berdir i dan membuka pintu pondoknya. Sambil menengadahkan kepalanya ia berkata “Sudah semburat“ “Apa?“ “Fajar. Aku akan mandi dan minta diri agar pekerjaanku dapat dikerjakan oleh orang lain. Di sini hanya ada dua pekatik, apalagi kami merangkap juru taman” Sampir tidak menjawab. Kakaknyapun kemudian melangkah Keluar membersihkan wajahnya dipakiwan. Ternyata ia tidak mandi sepenuhnya, selain kepalanya dan kaki tangannya.Setelah member ikan pesan secukupnya kepada isterinya, maka iapun minta diri. Ia akan mengunjungi kakeknya yang sakit seperti yang dikatakan adiknya dan berpesan pula kepada kawannya, mungkin ia lambat kembali. “Apakah kau akan pergi sampai tengah hari?“ “Menjelang tengah hari, aku kira aku sudah kembali” Demikianlah keduanya meninggalkan pondok Sada pada saat fajar menyingsing. Seperti yang sudah terlanjur dikatakan, keduanya kan pergi ke rumah kakeknya yang sedang sakit. Tetapi tiba-tiba langkah mereka terhenti di sudut pendapa. Sesosok bayangan berjalan perlahan-lahan di dalam keremangan fajar. Sambil mengayunkan tongkatnya, orang itu melangkah menyilang dar i sudut halaman yang satu ke sudut yang lain” “Itulah Pangeran Mangkubumi” desis Sada. “O“ tiba-tiba wajah Sampir menjadi pucat. Dengan serta merta ia menjatuhkan dir i berjongkok ketika orang yang disebut sebagai Pangeran Mangkubumi itu berpaling kearah mereka. Tetapi Sada tidak berjongkok. Sada hanya menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Sampir menjadi semakin berdebar-debar ketika orang itu memperhatikannya dan berkata “Kenapa ia berjongkok” Barulah Sada sadar, dan segera menarik adiknya berdir i. “Bukankah itu Pangeran Mangkubumi“ bisik Sampir. “Ya, Pangeran Mangkubumi tidak mengharuskan abdinya berjongkok setiap saat. Hanya dalam keadaan tertentu” Tetapi Sampir masih ragu-ragu. Ia menjadi gemetar ketika ia melihat Pangeran Mangkubumi itu mendekatinya.Tampaklah di dalam cahaya lampu pendapa, wajah Pangeran yang penuh wibawa itu. Berpandangan tajam tetapi lembut. “Orang ini, memang orang di Sukawati itu” tiba-tiba Sampir berkata di dalam hatinya “petani itu bukan saja mirip, tetapi tepat tidak ada bedanya sama sekali” “Siapakah kau?“ bertanya Pangeran Mangkubumi kepada Sampir yang masih belum mau berdir i. “Ampun tuan. Hamba adalah abdi Ranakusuman” Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Kemudian iapun bertanya “Kenapa kau di sini pagi-pagi benar?“ “Hamba, eh, hamba ingin menemui kakak hamba ini” “Ada apa?“ Tiba-tiba saja terasa mulutnya seakan-akan membeku. Dibawah tatapan mata Pangeran Mangkubumi, Sampir sama sekali tidak dapat berbohong. Ia tidak tahu. pengaruh apakah yang sudah mencengkamnya. Namun tidak sepatah katapun yang dapat diucapkan. “Adik hamba mengabarkan bahwa kakek sedang sakit tuan“ Sadalah yang menyahut sambil membungkuk dalam-dalam. “O“ Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk ”Dan kau akan pergi mengunjunginya?“ “Ya tuan” Sada menjawab. “Dan kau adiknya?“ “Hamba tuan“ Sampir menyembah. “Aku sudah mengira, bahwa ia bukan abdi Mangkubumen“ berkata Pangeran Mangkubumi “sikapnya bukan sikap orang- orangku di sini” Keduanya tidak menjawab.“Baiklah, kalau kau akan pergi menengok kakekmu itu. Apakah kau sudah member itahukan kawanmu? Bukankah kau pekatik?“ “Ya tuan. Hamba sudah member itahukan kepada kawan hamba. Hamba berharap, sebelum tengah hari hamba sudah datang“ Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Kemudian iapun berjalan lagi meninggalkan kedua orang itu termangu- mangu. “Kenapa kau tidak berjongkok” bertanya Sampir kemudian setelah Pangeran Mangkubumi menjauh “Kami harus berjongkok di hadapan Pangeran Ranakusuma” “Sudah aku katakan. Kami tidak harus berjongkok setiap saat” jawab kakaknya. Sampir tidak bertanya lagi. Tetapi ia masih memandang Pangeran Mangkubumi yang menjauh. Rasa-rasanya ada sesuatu yang lain padanya dari Pangeran Ranakusuma. Demikianlah keduanyapun kemudian meninggalkan istana Mangkubumen. Bagi Sada, kepergiannya itu sebenarnya hanyalah sekedar untuk menutup ceritera adiknya tentang kakeknya yang sakit. Kakek yang sangat mengasihinya. “Sekarang kemana aku harus pergi?“ t iba-tiba saja Sada berdesis. Sampir tidak segera menjawab. Iapun tidak tahu, kemanakah sebaiknya Sada pergi. “Aku akan pergi ke Ranakusuman” berkata Sada tiba-tiba. “O“ adiknya termangu-mangu. “Lebih baik pergi ke tempatmu daripada aku harus mengelilingi kota sampai tengah har i”“Baik, baik. Kau akan dapat memberikan keterangan tentang Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian mereka tidak akan dapat menuduh aku berbohong” Sada mengangguk. Namun tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk mengetahui, apa saja yang akan ditanyakan oleh Raden Rudira kepadanya tentang Pangeran Mangkubumi? Kenapa ia begitu gelisah sehingga mengir imkan adiknya di jauh malam untuk menemuinya dan sekedar bertanya, apakah Pangeran Mangkubumi ada di rumah. Karena itu, maka iapun membulatkan niatnya untuk ikut bersama adiknya pergi ke Ranakusuman. Dalam pada itu, di Ranakusuman, Raden Rudira ternyata hanya tertidur beberapa saat. Di pagi-pagi benar ia sudah terbangun dan langsung mencari Sampir. “Anak itu belum datang“ seorang pelayan memberitahukan kepadanya. “He, sampai fajar anak itu masih belum datang? Apakah ia mati di pinggir jalan atau dicekik hantu regol Mangkubumen?” Pelayannya tidak berani mengangkat wajahnya. “Cari anak itu sampai ketemu. Ia harus menghadap aku segera” Pelayan itu hanya dapat mengangguk dalam-dalam sambil berdesis dengan suara gemetar “Ya tuan. Aku akan mencarinya” “Cepat“ Orang itupun segera meninggalkan Raden Rudira yang marah- marah. Tetapi ia tidak tahu, kemana ia harus mencari Sampir. Ia tahu bahwa Sampir pergi ke Mangkubumen. Tetapi apakah ia harus menyusulnya?Selagi ia kebingungan, maka dilihatnya dua orang memasuki regol halaman. Orang itu adalah Sampir. “Cepat“ Orang itu berlar i-lari “Kau dicari oleh Raden Rudira” “O“ Sampir mengangguk-angguk. Sambil berpaling kepada kakaknya ia berkata “Marilah, Raden Rudira akan senang sekali dapat bertemu dengan kau” Sada mengangguk-angguk. Iapun kemudian mengikuti adiknya berberjalan cepat ke serambi belakang” “He, Raden Rudira tidak ada di situ” berkata pelayan yang mencarinya. Sampir tertegun. Terbata-bata ia bertanya “Dimana?“ “Di gedogan. Ia sedang menengok kudanya yang baru” keduanya segera pergi kekandang kuda. Meskipun hari masih agak gelap, tetapi ternyata Raden Rudira sudah berada di kandang kudanya yang baru, seekor kuda yang tegar berbulu coklat kehitam-hitaman. “He, cepat, kemarilah“ Panggil Raden Rudira ketika ia melihat Sampir mendekat. “Apakah Ramanda Pangeran ada di istana?“ langsung Raden Rudira bertanya Sampir menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Ya Raden, Pangeran Mangkubumi ada di istananya” “Nah, bukankah aku benar. Laki- laki itu sama sekali t idak ada hubungannya dengan Ramanda Pangeran Mangkubumi. Bodoh sekali, kenapa aku tidak berbuat sesuatu” Tiba-tiba saja Raden Rudira berteriak “Sura, eh, aku tidak memer lukannya lagi, Mandra. Panggil Mandra kemari” Pelayannyapun segera berlari-lari memanggil pengawal yang bertubuh raksasa yang bernama Mandra untuk menghadap Raden Rudira.Namun dalam pada itu, sesosok tubuh yang lain berada di balik dinding gedogan dengan dada yang berdebar-debar. Ia mendengar semua pembicaraan, la tahu bahwa Raden Rudira sudah tidak memerhatikannya lagi, karena orang itu adalah Sura. Tetapi Sura yang sudah menemukan dirinya, tidak memperdulikannya lagi. Ia sama sekali tidak menyesal, badwa ia akan dikeluarkan dari istana Ranakusuman, tempat ia bekerja bertahun-tahun. Namun sikap Raden Rudira, semakin lama semakin tidak disukainya. Sura yang berada di belakang dinding itu mendengar derap kaki Mandra berlar i-lari. Bahkan dar i celah-celah dinding yang tidak rapat, ia melihat orang yang bertubuh tinggi kekar itu dengan tenang datang menghadap Raden Rudira. Sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam ia bertanya “Apakah tuan memanggil aku?” “Ya. Aku memerlukan kau” “Aku selalu siap menjalankan perintah tuan” “Dengar” katanya “petani itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ramanda Pangeran Mangkubumi” Mandra menjadi bingung mendengarnya. Ia tidak segera mengerti apa yang dikatakan oleh Raden Rudira. “He, kenapa kau mendengarnya dengan mulut ternganga?” bentak Raden Rudira. Mandra masih merenung sejenak, baru kemudian ia mengangguk-angguk sambil berkata “O, tentu, tentu Raden. Memang tidak ada hubungan apapun juga antara petani itu dengan Pangeran Mangkubumi. “Jadi, aku harus menangkapnya. Aku harus menemukannya kembali, selagi ia belum lari dari Sukawati. Suralah yang agaknya telah berkhianat. Mungkin ia menjadi sangat ketakutan setelah ia dikalahkan oleh petani itu”“Sura memang tidak berarti apa-apa tuan. Jika tuan menghendaki, aku sanggup mengantarkan tuan meskipun tanpa orang lain. Aku sanggup menangkapnya sendiri dan membawanya kemari, menyeretnya di belakang kuda dengan tangan terikat” “Bagus. Kita akan mengambilnya. Hatiku masih belum puas, Jika aku belum berhasil menangkapnya” Raden Rudira menggeram “Kita akan mengambil petani itu sekaligus dengan perempuan dari Jati Aking” “Perempuan dari Jati Aking?“ Mandra bertanya. ”Ya. Petani itu pulalah yang telah menggagalkan rencanaku atas gadis Jati Aking itu” Mandra masih belum jelas, apakah hubungan antara petani itu dengan seorang gadis dar i Jati Aking, meskipun ia pernah mendengar bahwa petani itu dijumpai pertama-tama di bulak Jati Sari. Namun selagi Mandra bertanya-tanya di dalam hati dan mencoba menghubung-hubungkan ceritera yang pernah didengarnya itu dengan perempuan yang dimaksud Raden Rudira, tiba-tiba saja Sada yang selama itu hanya mendengarkan saja berkata “Tetapi tidak mustahil bahwa Pangeran Mangkubumilah petani yang tuan maksud itu” Raden Rudira membelalakkan matanya. Dipandanginya orang itu tajam-tajam. Kemudian ia bertanya “Siapakah laki- laki ini?“ “Ampun tuan“ Sampirlah yang menjawab “Orang ini adalah kakakku. Ia adalah abdi di Mangkubumen. Kepadanya aku bertanya tentang Pangeran Mangkubumi, dan adalah kebetulan sekali bahwa aku telah melihatnya sendiri” “Tetapi kenapa ia berkata begitu?“ Sada seakan-akan sama sekali tidak mengerti, akibat apa yang dapat timbul dari kata-katanya. Seenaknya ia berkata“Memang Mungkin sekali. Pangeran Mangkubumi dapat berada di sembarang tempat di setiap waktu” Raden Rudira menjadi tegang ”Maksudmu?“ “Pangeran Mangkubumi mempunyai aji Sepi Angin” Wajah Raden Rudira menjadi merah. Sejenak ia memandang wajah Sada. Namun sejenak kemudian dipandanginya wajah pelayan-pelayannya yang ada di sekitarnya. Dan ternyata bahwa wajah-wajah itupun menegang juga. Namun tiba-tiba ia berteriak “Bohong. Bohong kau” Tetapi masih seenaknya Sada menggeleng “Kenapa aku berbohong? Aku hanya memperingatkan tuan, agar tuan tidak salah langkah. Dari Sampir aku mendengar bahwa tuan menjadi ragu-ragu melihat seorang petani yang mir ip dengan Pangeran Mangkubumi. Memang tidak mustahil bahwa petani itu memang Pangeran Mangkubumi” Raden Rudira memandang Sada dengan tajamnya. Ia sama sekali tidak senang melihat sikapnya. Seakan-akan ia sedang berbicara dengan orang-orang sejajarnya. Apalagi persoalan yang dikatakannya telah menimbulkan keragu-raguan yang sangat di dalam hatinya. Karena itu, maka dengan wajah yang merah ia membentak ”Aku tidak memerlukan keteranganmu. Aku tidak memer lukan kau. pergi. Pergi dari sini. Sikapmu tidak menyenangkan dan kau mulai membual seperti pelayan-pelayan pesanggrahan itu. Aku harus melaporkannya kepada Ramanda Pangeran Mangkubumi bahwa pasti ada seseorang dari abdi-abdinya yang dengan sengaja mengacaukan susunan tata-krama” Sada terkejut mendengar bentakan-bentakan itu, sehingga tanpa sesadarnya ia berkata “Kenapa tuan membentak-bentak aku?“.“Kau tidak mengenal sopan santun. Dan kau sengaja membuat aku gelisah” lalu Raden Rudira berkata kepada Sampir “bawa orang ini meninggalkan halaman” Sampir menjadi termangu-mangu. Karena itu ia tidak segera berbuat sesuatu sehingra Raden Rudira membentaknya pula “Cepat, bawa orang ini pergi” “Ya, ya tuan“ Ia menyahut terbata-bata. Sadapun kemudian menyadari, bahwa ia tidak disukai oleh Raden Rudira. Karena itu, maka iapun menganggukkan kepalanya sambil berkata “Baiklah Raden. Aku minta diri. Aku minta maaf, bahwa aku berbuat sesuatu yang tidak berkenan di hati Raden. Mungkin hal ini terbawa oleh kebiasaan kami di istana Pangeran Mangkubumi” “Cukup, Cukup. Kau tidak usah sesorah sekarang tinggalkan halaman ini” “Baiklah Raden” sahut Sada sambil membungkuk sekali lagi. Demikianlah, Sampir telah membawa kakaknya keluar regol halaman Ranakusuman, sambil minta maaf kepadanya. “Kau tidak apa-apa. Baiklah aku berjalan berkeliling kota sampai menjelang tengah hari, seolah-olah aku sudah menengok kakek yang sedang sakit” Dalam pada itu Raden Rudira benar-benar telah dicengkam kembali oleh keragu-raguan yang dahsyat. Keterangan Sada membuatnya semakin bingung, sehingga dendam yang tersimpan di dalam dadanya seakan-akan menghentak-hentak tanpa mendapat saluran. Dalam kebingungan dan kebimbangan itulah, tiba-tiba. Raden Rudira mencari sasaran yang paling lunak untuk melepaskan kemarahannya. Katanya kepada Mandra “Sebentar lagi matahari akan terbit. Jika panasnya mulai menyentuh atap gandok kulon, kalian harus sudah siap. Akuakan pergi ke Jati Aking. Aku akan mengambil gadis itu atas perintah ibunda. Ibunda Ranakusuma memerlukan seorang pelayan untuk menyiapkan tempat sirihnya setiap saat” Perintah itu itu sebenarnya sangat mengejutkan. Apalagi Sura yang berada di balik dinding dengan gelisah. Jika Rudira masih saja berdir i di situ sampai matahari naik, maka kehadirannya pasti diketahui oleh salah seorang yang ada di sekitar kandang itu. Untunglah bahwa kemudian jatuh perintah Raden Rudira yang mengejutkan itu, sehingga sejenak kemudian Raden Rudirapun meninggalkan kandang itu sambil menggeram “Aku harus mengambilnya. Tidak seorangpun dapat menentang perintah seorang Pangeran. Dan ayahanda lewat ibunda menghendaki gadis itu” Para abdinya yang termangu-mangu iupun sejenak kemudian telah meninggalkan kandang itu pula Meskipun mereka harus menggerutu, tetapi mereka tidak dapat menolak. Betapapun lelahnya, mereka harus segera mempersiapkan diri untuk pergi ke Jati Sar i. “Mudah-mudahan petani itu tidak kita jumpai lagi di Jati Sari” desis salah seorang dari mereka. Jika benar orang itu Pangeran Mangkubumi yang mempunyai aji Sepi Angin, tidak mustahil tiba-tiba saja ia sudah berada di padepokan Jati Aking itu” sahut kawannya. “Tetapi Pangeran Mangkubumi tidak mengetahui rencana yang tiba-tiba saja meledak karena kemarahan yang tidak tersalurkan. Tindakan ini semata-mata adalah semacam pelepasan yang hampir-hampir tidak dapat dimengerti” “Sst, siapa tahu, selain aji Sepi Angin, Pangeran Mangkubumi juga mempunyai aji Sapta Pangrungu. Ia mendengar setiap pembicaraan yang dikehendakinya”“Apakah ia sekarang sedang mendengarkan pembicaraan kita dan pembicaraan Raden Rudira beberapa saat tadi?” “Mungkin, karena Sampir baru saja meninggalkan istana Pangeran Mangkubumi itu. Pangeran Mangkubumi ingin mengetahui yang akan dilaporkannya kepada Raden Rudira” “Terasa tengkuk orang itu meremang. Baginya Pangeran Mangkubumi dan petani di bulak Jati Sari itu adalah orang- orang yang menyimpan rahasia yang tidak terpecahkan. Tetapi mereka harus pergi, meskipun mereka tahu, bahwa Raden Rudira hanya sekedar ingin melepaskan kemarahan yang bergejolak di hatinya. Ia tentu ingin membuat Raden Juwiring menjadi semakin sakit hati karena gadis yang diambilnya itu. “Apakah gadis itu bakal isteri Raden Juwiring?“ bertanya seseorang kepada kawannya. “Siapa yang bilang? Gadis itu adalah anak Danatirta. Jika di antara mereka timbul juga perasaan saling mencintai, itu wajar sekali. Setiap hari mereka bertemu dan bergaul. Apalagi Raden Juwiring adalah seorang anak muda yang tampan dan rendah hati” Merekapun kemudian terdiam Namun tangan merekalah yang sibuk dengan alat-alat yang harus mereka bawa. Alat- alat berburu yang tidak akan dipergunakannya karena sebenarnya mereka tidak akan berburu binatang di hutan- hutan perburuan. Dengan tergesa-gesa merekapun makan pagi. Jika matahari naik, tentu Raden Rudira akan segera membawa mereka pergi. Demikianlah, dugaan mereka itu ternyata benar-benar terjadi. Ketika langit menjadi semakin cerah, dan sinar matahari mulai jatuh diatas atap gandok kulon, maka Raden Rudira segera mempersiapkan orang-orangnya. Ia sama sekalitidak menghiraukan lagi kepada Sura. Apakah ia ada di halaman istana atau tidak. Tetapi Raden Rudira tidak membawanya serta, karena ternyata Sura tidak lagi Sura yang setia. Demikianlah maka Raden Rudira beserta para pengiringnya segera berpacu ke Jati Aking. Beberapa orang yang melihat menjadi terheran-heran. Baru saja mereka melihat Raden Rudira berangkat berburu dua hari yang lalu. Sekarang mereka melihat Raden Rudira telah berangkat lagi. Raden Ayu Sontrang hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalannya saja. Ia tidak dapat lagi mencegah anaknya yang bernafsu untuk melepaskan kemarahannya kepada orang- orang yang dianggapnya menjadi sebab. Jika Juwiring dan orang-orang Jati Aking itu tidak mengganggunya saat itu, maka petani itupun t idak akan berbuat apa-apa. “Kemanakah Rudira itu pergi?“ bertanya Pangeran Ranakusuma kepada isterinya. Raden Ayu Sontrang tidak segera menjawab. Tetapi sambil tersenyum ia berkata “Makan telah kami sediakan. Silahkan kamas makan pagi” “Rudira itu pergi kemana?“ Pangeran Ranakusuma mengulang. “Isterinya masih saja tersenyum. Katanya “Janganlah kamas terlampau menghiraukan anak itu. Ia sudah meningkatdewasa. Ia akan dapat menemukan jalannya sendir i yang dianggapnya baik” “Aku hanya bertanya, ia akan pergi kemana” Raden Ayu Sontrang justru tertawa. “Baru semalam ia datang. Belum lagi aku sempat berbicara, ia telah pergi lagi. Aku tidak tahu tabiat anak-anak muda sekarang. Terlampau sulit untuk diketahui kemauannya” “Kamas menganggapnya masih terlampau kanak-kanak” “Tidak. Justru aku menganggap ia sudah meningkat dewasa, maka ia harus menemukan kepribadiannya. Selama ini Rudira hampir tidak pernah berbuat apa-apa yang dapat berarti bagi hidupnya kemudian. Ia sama sekali tidak mau mempelajari tata pemerintahan, tidak mempelajari ilmu kehidupan dan ilmu tata susunan alam dan bintang-bintang. Ia malas membaca kitab-kitab dan kidung yang berisi ilmu kasampurnan, dan ia t idak pula maju dalam ilmu kanuragan” “O“ Raden Ayu Sontrang mengerutkan keningnya, namun kemudian ia duduk di sebelah suaminya sambil berkata “pada saatnya hatinya akan terbuka. Kamaslah yang wajib menuntunya. Sampai sekarang kamas terlampau sibuk dengan pemerintahan di Surakarta berhubung dengan kehadiran orang-orang asing itu” “Dan kau sibuk pada jamu-jamuan yang diselenggarakan oleh mereka itu dan jamuan yang kita adakan untuk mereka. Terasa dada Raden Ayu Sontrang berdesir. Baru semalam, sebelum anaknya pulang ia menghadiri jamuan tamu-tamu asing itu dan kemudian menjamu mereka pula. Jamuan yang tidak sekedar makan dan minum. Namun sejenak kemudian Raden Ayu Sontrang itu sudah tersenyum kembali sambil berkata “Tetapi masih belum terlambat. Kita akan segera menebus kelambatan itu. Bukankah kitadapat memanggil guru yang cakap untuk menuntun Rudira di dalam bermacam-macam ilmu?“ Pangeran Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil menatap kekejauhan ia berkata “Tetapi kalau kita tidak segera melakukannya, pada suatu saat, kita baru akan sadar, jika kita sudah terlambat” Isterinya tidak menyahut, tetapi diangguk-anggukkannya kepalanya pula. Bahkan kemudian katanya “Kamas, silahkan makan. Semuanya sudah tersedia. Bukankah kamas akan segera menghadap ke istana?“ Demikianlah, ketika Pangeran Ranakusuma berangkat ke istana, maka Raden Rudira berpacu secepat-cepatnya di tengah-tengah bulak menuju ke Jati Aking. Ia mengurungkan niatnya untuk kembali ke Sukawati karena keragu-raguan yang mencengkam dadanya. Sekali-sekali terbayang wajah petani itu, namun kadang-kadang ia diganggu oleh wajah Pangeran Mangkubumi yang memang hampir tidak dapat dibedakannya. “Persetan dengan petani itu” geramnya “Aku harus melepaskan sakit hatiku kepada kakang Juwir ing. Mandra pasti akan lebih berhasil dar i Sura yang berkhianat itu” Dengan demikian, maka mereka berpacu semakin cepat. Ketika matahari merayap semakin tinggi, maka merekapun telah membelah daerah persawahan di Jati Sar i. “Kita hampir sampai” desis Rudira. Yang berpacu di sebelahnya kini adalah Mandra Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bertanya “Apakah mereka t idak sedang berada di sawah?“ “Aku tidak peduli. Aku harus pergi ke Jati Aking menemui Kiai Danatirta. Ia harus menghadap dan membawa Juwir ing, anak dungu yang hampir saja mencelakai Sura dengan licik itu. dan anak gadisnya. Aku memer lukan gadis itu. Tidakseorangpun akan dapat mencegahnya. Kalau perlu, kau dapat bertindak dengan kekerasan” “Jangan cemas” sahut Mandra “Aku tidak akan mengecewakan tuan seperti Sura. Aku akan berhasil membawa gadis itu. Meskipun Raden Juwiring kini memiliki aji Lebur Seketi dan Tameng Waja seperti yang pernah dimiliki oleh Kangjeng Sultan Pajang, namun ia tidak akan berhasil mencegah aku” “Ia tidak akan dapat berbuat banyak. Yang gila adalah petani dari Sukawati itu. Hampir tanpa berbuat sesuatu ia sudah berhasil mengalahkan Sura” Raden Rudira berhenti sejenak, lalu “Apakah ia mempunyai kekuatan gaib pada tatapan matanya yang tajam itu, yang sering disebut sebagai aji Candramawa” “Aku tidak peduli tuan. Aku akan memaksa mereka menurut segala per intah tuan. Dan jika tuan kehendaki, aku dapat mengikat mereka dan menuntun mereka di belakang kaki kuda ini” Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Ia memang mengharap, mudah-mudahan Mandra adalah orang yang lebih baik dari Sura. Demikianlah, maka menjelang tengah hari, mereka telah berada di bulak Jati Sari. Sebentar lagi mereka akan memasuki padepokan Jati Aking, padepokan yang agak terpisah, di luar padukuhan Jati Sar i meskipun tidak begitu jauh. “Apakah kita akan langsung pergi ke padepokan Jati Aking?“ bertanya Mandra. “Ya. Jika kakang Juwir ing dan orang-orang yang kita cari sedang berada di sawah, maka Danatirta harus memanggil mereka” sahut Raden Rudira. Mandra mengangguk-angguk. Namun ia menjadi berdebar- debar. Kali ini ia ingin menunjukkan kemampuannya bertindakmelampaui Sura, agar ia benar-benar mendapat tempat untuk menggantikan orang yang dianggapnya sudah terlalu lama menduduki tempat yang paling baik di Ranakusuman. “Aku harus mengatasi“ Mandra bergumam kepada diri sendiri “Jika aku gagal kali ini, maka aku tidak akan berhasil mengusir Sura meskipun Sura sudah berkhianat. Raden Rudira pasti akan mencar i orang lain yang Setidak-tidaknya tidak lebih jelek dari Sura” Sejenak kemudian, maka iring-ir ingan itupun sudah menjadi semakin dekat dengan padepokan Jati Aking. Beberapa orang yang melihat ir ing- iringan itu menjadi cemas. Mereka masih belum melupakan perist iwa beberapa hari yang lalu di bulak Jati Sari. Beberapa orang yang tidak sempat menyingkir dari jalan yang dilalui Raden Rudira memberikan hormat yang sedalam- dalamnya. Bahkan ada yang menjadi ketakutan dan berjongkok meskipun mereka mengerti, bahwa mereka tidak harus berbuat demikian. Raden Rudira tidak mengacuhkan mereka. Tetapi penghormatan yang diterimanya sedikit menawarkan kemarahannya, setelah ia mengalami per lakuan yang menyakitkan hati si Sukawati. Orang-orang Sukawati seakan- akan tidak mengacuhkannya ketika ia lewat. Mereka berdiri saja dengan tangan bersilang di dada. Tetapi ternyata orang- orang Jati Sari lebih bersikap sopan. Mereka membungkuk dalam-dalamatau bahkan berjongkok di tepi jalan. Seorang pengiring yang pernah pergi ke Jati Aking diperintahkan oleh Raden Rudira berkuda di paling depan. Kemudian di belakangnya adalah Raden Rudira dan Mandra. Ketika pengiring yang berkuda di paling depan itu berhenti di depan regol padepokan, maka Raden Rudirapun mendahuluinya sambil berkata “Kita berkuda terus. Tidak ada orang yang berhak melarang”Demikianlah maka sejenak kemudian kuda-kuda itu berderap di halaman padepokan yang bersih gilar-gilar dibayangi oleh sepasang pohon sawo kecik yang sejuk. Ternyata derap kaki-kaki kuda itu telah terdengar oleh para penghuninya, sehingga dengan tergesa-gesa Kiai Danatirta menjengukkan kepalanya lewat pintu depan. Raden Rudira yang sudah berada di depan pendapa melihat kepala yang terjulur disela-sela pintu itu sehingga dengan serta merta ia berkata “Ha, aku datang Kiai” Kiai Danatirtapun kemudian muncul dar i balik pintu. Dengan berlari-lari kecil ia melintasi pendapa. Dengan hormatnya ia menyambut kedatangan Raden Rudira di tangga pendapa, sementara Raden Rudira masih berada di punggung kudanya. “Silahkan Raden“ dengan ramahnya ia mempersilahkam tamunya “Agaknya aku mendapat anugerah tiada taranya, Raden sudi berkunjung ke padepokan ini” Raden Rudira termangu-mangu sejenak. Diedarkannya tatapan matanya kesekeliling padepokan. Halaman yang bersih dan terawat. Rerumputan yang hijau dan pohon-pohon bunga yang tumbuh di sekeliling halaman itu. Beberapa sangkar burung bergantungan dipepohonan yang rindang. Burung dari bermacam-macam jenis. Jenis burung bersiul dan jenis burung mendekur. Di tengah-tengah halaman itu sepasang pohon sawo kecik yang belum tua benar tumbuh dengan r imbunnya, membuat halaman itu semakin sejuk dan segar. Sedang beberapa pohon buah-buahan yang lain bertebaran di sana-sini memenuhi halaman dan kebun padepokan itu. Karena Rudira tidak menjawab, maka sekali lagi Kiai Danatirta mempersilahkan “Tuan, mar ilah, silahkan tuan naik ke pendapa”Seperti kena pesona maka Raden Rudirapun turun dari kudanya diikuti oleh para pengir ingnya. Selangkah demi selangkah ia naik tangga pendapa. Demikian juga para pengiringya. Ternyata di tengah-tengah pendapa itu sudah terbentang beberapa helai tikar yang putih seperti seputih janggut yang tumbuh di dagu Kiai Danatirta meskipun tidak begitu lebat dan panjang. “Silahkan tuan” Raden Rudira memandang tikar yang terhambar itu sejenak Kemudian iapun bertanya “Apakah kau tahu bahwa aku akan datang kemar i?” Kiai Danatirta tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi ia berka ia “Kunjungan tuan sangat menngejutkan. tetapi juga membesarkan hati, bahwa padepokanan yang kecil ini mendapat juga perhatian tuan” “Jangan mengada-ada” sahut Raden Rudira “Kamas Juwiring berada di sini. Bukan untuk sekedar berkunjung” “Justru karena ia sudah ada di sini, maka tidak ada lagi yang menarik padanya. Tetapi kedatangan tuan adalah suatu kehormatan bagiku” Raden Rudira mengangguk-angguk. Ketika ia akan duduk diatas tikar yang sudah terhampar itu, sekali lagi ia bertanya “Apakah kau tahu, bahwa aku dan pengir ingku akan datang?“ Seperti tidak mendengar pertanyaan itu Kiai Danatirta mempersilahkan ”Marilah tuan, silahkan duduk di sini. Biarlah para pengiring duduk di sebelah” Raden Rudira maju beberapa langkah dan duduk di hadapan Kiai Danatirta yang segera duduk pula, di sebelah Mandra.Sementara itu para pengiring Raden Rudirapun telah duduk pula di sebelah t iang tengah, melingkar saling berhadapan. Sejenak mereka saling berpandangan, seakan-akan saling bertanya, apakah yang akan segera terjadi? Dalam pada itu Kiai Danatirtapun bertanya sekedar keselamatan Raden Rudira dan pengiringnya. Dan Rudirapun menjawab acuh tak acuh karena ia tahu, bahwa hal itu hanyalah sekedar kelengkapan adat sopan santun, yang bahkan dirasakan sangat mengganggunya, karena ia tidak segera dapat mengatakan maksudnya. Baru kemudian, Rudira sempat berkata “Aku datang untuk suatu keperluan yang penting Kiai“ Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-angguk ia bertanya “Silahkan Raden duduk dahulu. Silahkan Raden menikmati hidangan yang akan kami suguhkan. Bukankah Raden tidak tergesa-gesa. Raden dapat tinggal di padepokan ini sehari atau bahkan beberapa hari yang Raden ingini. Sekali-sekali Raden dapat melihat kehidupan padesan, sekali-sekali Raden dapat melihat kenyataan hidup petani-petani miskin di daerah Surakarta. Terasa sesuatu berdesir di dada Rudira. Namun dengan demikian ia bahkan menjadi semakin ingin cepat menyampaikan maksudnya. Katanya “Aku tidak mempunyai banyak kesempatan” “O, tetapi tunggulah sebentar tuan. Kami harus menjamu tuan meskipun hanya sekedar apa yang ada di padepokan” “Aku tidak sempat menunggu. Aku harus segera kembali sebelum ayahanda mencar i aku” “Bukankah ayahanda tuan mengetahui bahwa Raden pergi kemari?“ “Ayahandalah yang memerintahkan aku pergi kemari”Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Katanya kemudian “Apalagi ayahanda Raden sendirilah yang memerintahkan Raden kemari” “Tetapi ayahanda berpesan agar aku segera kembali” Kiai Danatirta tersenyum. Katanya “Silahkan tuan duduk sejenak” “Jangan pergi. Aku akan segera kembali” Tetapi Kiai Danatirta seakan-akan tidak mendengar kata- kata Raden Rudira itu. Iapun segera beringsut dan meninggalkan tamu-tamunya masuk ke dalam. Sejenak kemudian ia sudah kembali. Sambil tersenyum ia duduk Di tempatnya. Katanya “Kami akan menghidangkan air. Hanya air untuk penawar haus” Raden Rudira tidak sempat menjawab ketika pintu pringgitan kemudian segera terbuka. Seorang gadis keluar sambil menj injing sebuah nampan berisi beberapa mangkuk air panas. Sejenak Raden Rudira terpesona. Gadis itulah yang dilihatnya di tengah-tengah bulak beberapa saat yang lalu, sehingga tanpa disadarinya ia telah terlibat dalam suatu pertengkaran dengan petani dari Sukawati itu. Dan kini gadis itu datang untuk menghidangkan air panas baginya. Dada Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Ia sudah tertarik melihat gadis itu di bawah terik matahari. Dalam pakaian seorang anak petani yang membawa makanan ke sawah. Kini gadis itu t idak dibakar oleh panasnya sinar matahari, dan dalam pakaian yang lebih baik pula, sehingga bagi Raden Rudira, gadis itu tampak menjadi semakin cant ik. Dengan cekatan gadis itu kemudian berjongkok dan bergeser mendekat. Ketika ia sudah berada di sudut t ikar, iapun segera duduk sambil meletakkan nampannya di hadapannya.“Maaf tuan” berkata Kiai Danatirta, sehingga Raden Rudira terkejut karenanya “Ia adalah seorang gadis padesan, sehingga barangkali solah tingkahnya kurang berkenan di hati tuan” “O, tidak. Tidak“ Rudira menggelengkan kepalanya. Namun wajahnya menjadi merah ketika ia melihat Kiai Danatirta tersenyum sambil mengambil mangkuk-mangkuk itu dari nampan dan menghidangkannya kepada Raden Rudira dan Mandra. Tetapi selagi Raden Rudira termangu-mangu melihat wajah Arum yang cerah, tiba-tiba sekali lagi pintu berderit. Ketika Raden Rudira berpaling, maka kini dadanya berguncang. Ia melihat seorang anak muda yang pernah dikenalnya di bulak Jati Sari. Anak itulah yang dengan garangnya menyerang Sura, sehingga hampir saja Sura tidak berdaya, karena ia sama sekali tidak mengira, bahwa anak itu akan menyerangnya bagaikan arus banjir bandang. Kali ini anak muda yang bernama Buntal itupun membawa sebuah nampan seperti yang dibawa oleh Arum. Tetapi Buntal kemudian membawa hidangannya kepada para pengiring Raden Rudira. Bukan saja Raden Rudira, tetapi para pengir ing yang melihat tandang anak muda itu di bulak Jati Sari menjadi berdebar-debar. Menilik sikapnya kini, sama sekali tidak terbayang kesan kegarangannya. Sambil berjalan terbungkuk- bungkuk di wajahnya terlukis sebuah senyum yang ramah. “Itu adalah seorang cantrik di padepokan ini yang aku ambi! menjadi anak angkatku” berkata Kiai Danatirta, meskipun sebenarnya ia tahu, bahwa baik Raden Rudira maupun sebagian dari pengiringnya pernah melihatnya. Tidak seorangpun yang menyahut. Hanya beberapa orang pengawal yang belum pernah melihatnya mengangguk- anggukkan kepalanya. Tetapi wajah Raden Rudira sendiri tiba-tiba telah menjadi muram. Ternyata di samping gadis yang cantik itu terdapat seorang anak muda yang tampan, bahkan di rumah ini masih ada Raden Juwiring. Karena itu, maka setelah keduanya selesai menghidangkan mangkuk minuman, Rudira tidak sabar lagi untuk menunggu. Ia ingin segera mengatakan, bahwa ibunya memer lukan seorang gadis pembantu. Karena Juwiring berada di sini, maka alangkah baiknya kalau gadis dari padepokan ini berada di DalemRanakusuman. Tetapi belum lagi ia sempat mengatakannya, sekali lagi gadis ini datang menghidangkan makanan bagi Raden Rudira, disusul oleh Buntal pula, yang membawa makanan bagi para pengiringnya. Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat kedua anak-anak muda itu masuk ke pringgitan dan kemudian menutup pintu dari dalam, terasa hatinya melonjak, sehingga kesan itu tampak di wajahnya. Kiai Danatirta adalah seorang tua yang memiliki ketajaman indera, sehingga ia melihat kesan yang tersirat di wajah Raden Rudira. Karena itu, maka segera ia berusaha memindahkan perhatian Raden Rudira “Silahkan Raden, silahkanlah minum” “O“ Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mereka adalah anak-anak padesan. Barangkali ada kekurangan tata kesopanan, harap Raden memaafkan” Raden Rudira hanya mengangguk-angguk tanpa menjawab sepatah katapun. Dalam pada itu, para pengiringnya tidak menunggu dipersilahkan untuk kedua kalinya. Merekapun segera mengangkat mangkuk masing-masing. meneguk minuman yang hangat sambil mengunyah sebongkah gula kelapa. Namun ternyata Raden Rudira tidak dapat menahan gejolak di dalam hatinya. Sejalan dengan tabiatnya yang kasar dantergesa-gesa, maka tiba-tiba saja ia berkata “Kiai Danatirta, kedatanganku bukannya sekedar untuk singgah di padepokanmu yang sejuk. Tetapi kedatanganku mengemban perintah ayahanda Pangeran Ranakusuma” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Jawabnya “Sekarang tuan telah meneguk air dari padukuhan Jati Aking yang dihidangkan oleh anakku dan anak angkatku. Silahkan tuan menyampaikan kepentingan tuan” “Kiai” berkata Raden Rudira “ibunda Raden Ayu Ranakusuma memerlukan seorang pembantu” “O” Kiai Danatirta mengangguk-angguk “maksud Raden, apakah ibunda Raden Rudira ingin memerintahkan kepada kami di padepokan ini untuk mencari seseorang? Barangkah Raden dapat menyebutkan, tugas apakah yang akan diserahkan kepada pembantu itu sehingga aku dapat mencari orang yang tepat” “Ibunda memerlukan seorang gadis yang cakap dan pantas untuk melayaninya setiap saat. Karena ibunda sering menerima tamu-tamu bukan saja para bangsawan, tetapi juga orang-orang asing, maka pelayannyapun harus seorang yang pantas untuk diketengahkan di dalam setiap perjamuan, karena pelayan itu adalah pelayan khusus buat ibunda di setiap saat, di setiap kepentingan” “O” Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula. Kemudian katanya “Jadi ibunda Raden Ayu Ranakusuma memer lukan seorang gadis” “Ya. Gadis yang pantas” “Baiklah Raden. Aku akan berusaha. Mudah-mudahan aku akan segera dapat menemukan gadis yang tuan maksud. Apakah kemudian aku harus membawanya ke Dalem Pangeran Ranakusuma dan menyerahkannya kepada ibunda Raden Rudira?““Tidak itu tidak perlu. Ibunda memer intahkan aku membawanya sekarang juga. Ibunda memerlukan pelayan itu secepatnya, untuk segera diajari melayani ibunda terutama apabila ibunda menerima tamu di dalam jamuan yang memang sering diadakan” “Tetapi bagaimana mungkin sekarang, Raden. Aku harus mencarikannya. Mencari seorang gadis yang pantas dan tentu saja memiliki kecerdasan yang cukup. Aku kira aku memer lukan waktu barang satu dua pekan” “Itu terlalu lama” potong Raden Rudira “Aku memerlukan sekarang” Kiai Danatirta menggeleng “Apakah tuan akan menunggu sampai aku mendapatkan anak itu? Aku harus pergi ke padukuhan Jati Sar i. Aku yakin bahwa orang-orang Jati Sari akan merasa mendapat kanugrahan apabila anak gadisnya dipanggil masuk ke Dalem Pangeranan. Setiap orang pasti akan menyerahkan dengan hati yang ikhlas. Tetapi yang sulit adalah memilih satu dari antara gadis-gadis itu. Tentu saja aku tidak akan dapat menyerahkan sembarang gadis, karena jika ternyata gadis itu tidak memenuhi syarat yang dikehendaki, tuan akan marah kepadaku” “Kau tidak perlu bersusah payah mencarinya Kiai“ Raden Rudira tidak sabar lagi “Aku sudah menemukan gadis itu” “O, jadi tuan sendiri sudah menemukannya? Jika demikian soalnya tidak akan begitu sulit. Tuan dapat datang kepada Demang Jati Sari, dan Ki Demang pasti akan dengan senang hati menyampaikan maksud tuan kepada orang tua gadis itu” “Persetan dengan Demang di Jati Sari. Aku sudah langsung datang kepada orang tuanya” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. “Aku datang kemari, karena aku akan mengambil Arum” berkata Raden Rudira dengan tegas.Mandra menahan nafasnya sejenak. Ia menyangka bahwa Kiai Danatirta akan terkejut. Jika orang tua itu keberatan, maka akan menjadi tugasnya untuk memaksanya menyerahkan anak gadisnya. Ia tidak mau gagal lagi seperti di Sukawati. Jika sekali ini ia gagal, kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya tidak akan datang lagi. Raden Rudira akan melepaskannya pula, dan barangkali Sura akan dipanggilnya kembali. Kegagalannya di Sukawati adalah permulaan yang buruk baginya. Tetapi ternyata Mandra menjadi heran. Ia sama sekali tidak melihat kesan apapun di wajah Kiai Danatirta, seakan-akan apa yang dikatakan oleh Raden Rudira itu sudah diketahuinya. Raden Rudirapun memandang wajah orang tua itu sesaat. Untuk meyakinkan tanggapannya yang aneh iapun sekali lagi berkata kepada orang tua itu “Aku datang untuk mengambil anakmu. Bukankah anakmu bernama Arum?“ Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Tuan. Adalah tidak dapat aku mengerti, bahwa untuk tugas yang penting itu ternyata tuan telah memilih Arum. Arum adalah seorang gadis yang dungu, manja dan tidak dapat berbuat apa-apa, selain menyampaikan makanan ke sawah. Kenapa tuan memilihnya? Apakah ibunda tuan yang memer intahkan tuan untuk mengambil gadis itu?” “Aku tidak tahu. Ibundalah yang menghendakinya. Dan atas persetujuan ayahanda maka aku datang kemari. Ingat Kiai Danatirta. Kau tidak akan dapat menolak. Ayahanda adalah seorang Pangeran” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih bertanya “Tuan. adalah aneh sekali jika ibunda Raden Rudiralah yang menghendakinya. Bukankah ibunda tuan belum pernah melihat anakku itu? Tuanlah yang pernah melihatnya di bulak Jati Sari beberapa waktu yang lampau. Dan tuanlah yang pertama-tama telah tertarik kepada anakku. Entah karena anakku memang mempunyai cir i dan tampangseorang pelayan, sehingga tiba-tiba saja tuan ingin mengambilnya menjadi pelayan di Ranakusuman. atau hal yang lain” Wajah Raden Rudira menjadi merah padam. Ia merasakan sindiran yang tajam dari Kiai Danatirta. Meskipun demikian Raden Rudira masih mencoba untuk menahan hati. Katanya “Memang akulah yang menyampaikannya kepada ibunda tentang anakmu. Ibunda setuju dan ayahandapun menyetujuinya. Nah, tidak ada persoalan lagi. Serahkan anakmu kepadaku. Aku akan membawanya menghadap ibunda” Kiai Danatirta memandang wajah Raden Rudira yang tegang Kemudian ditatapnya Mandra sejenak. Sambil mengepalkan tangannya Mandra bergeser setapak maju. “Tuan” berkata Kiai Danatirta “Apakah yang sebenarnya terjadi atas tuan sehingga tiba-tiba saja kami, penghuni padepokan yang jauh ini telah menjadi ajang dan sasaran kemarahan, kekecewaan dan kebencian tuan?“ Dada Raden Rudira berdesir. Seolah-olah Kiai Danatirta itu mengerti apa yang sebenarnya terjadi atas dirinya. Karena itu Raden Rudira justru menjadi semakin tegang dan hampir berteriak ia berkata “Jangan mengada-ada. Ayahanda Pangeran Ranakusuma menghendaki aku mengambil Arum untuk pelayan ibunda. Kau yang tinggal di padepokan Jati Aking tidak dapat menolak, karena ayahanda mempunyai wewenang khusus dar i Kangjeng Susuhunan atas Rakyat Surakarta” “Tuan” berkata Kiai Danatirta “Aku tidak akan menolak wewenang khusus itu. Tetapi bagaimanakah jika seorang yang lain, yang juga mempunyai wewenang yang serupa menghendaki lain?” “Ada beberapa tingkat kekuasaan para bangsawan. Pada umumnya yang lebih tualah yang lebih berhak”“Tetapi bagaimanakah j ika karena sesuatu hal terjadi t idak demikian?” “Cukup. Aku tidak peduli. Sekarang aku memerlukan Arum. Jika ada kekuasaan yang lebih tinggi yang dapat menolak perintah ini, lekas katakan” Tetapi Kiai Danatirta menggeleng “Aku tidak dapat mengatakan tuan, siapakah yang berkeberatan atas perintah Pangeran Ranakusuma lewat tuan dan aku juga tidak dapat mengatakan kekuasaan manakah yang akan dapat mencegahnya. Tetapi lebih dari pada itu, aku adalah ayahnya. Aku mohon kepada tuan, agar tuan tidak mengambilnya sekarang. Aku akan mencoba mendidiknya agar ia menjadi seorang gadis yang dapat menempatkan dir inya di antara kaumbangsawan” “Itu tidak perlu. Ibunda akan mengajarinya” “Tetapi Arum masih terlalu bodoh tuan. Aku harus member ikan dasar lebih dahulu sebelum ia berada di Dalem Ranakusuman. Apalagi, Arum adalah anak yang manja, yang belumpernah terpisah dari keluarganya” “Ia sudah cukup dewasa untuk hidup dalam lingkungan yang lebih baik. Tidak di padepokan yang sepi. Ia akan berkembang menjadi seorang gadis yang memiliki pengetahuan melampaui kawan-kawannya di padepokan dan bahkan diselunih Kademangan Jati Sari” “Aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas perhatian tuan dan ayahanda tuan, Pangeran Ranakusuma. Tetapi perkenankanlah aku mohon, agar anak itu jangan dibawa sekarang” “Tidak“ Raden Rudira hampir kehilangan kesabaran “Kau jangan membantah. Kau tidak mempunyai hak menolak perintah yang diberikan oleh ayahanda. Suruhlah anakmu bersiap. Bawalah pakaian secukupnya saja karena ibunda pastiakan memberikan jauh lebih banyak dari yang dimilikinya sekarang” Kiai Danatirta merenung sejenak. Namun kemudian ia menggeleng “Maaf tuan. Aku tidak sampai hati melepaskan anakku” “Kau tidak dapat menolak” suara Rudira menjadi semakin keras. Kiai Danatirta menar ik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja ia memanggil Arum tanpa beranjak dar i tempatnya. Agaknya Arum sudah berada di balik pintu. Demikian namanya disebut, demikian pintu itu terbuka. “Kemarilah“ Sejenak Arum menjadi ragu-ragu. Tetapi iapun kemudian mendekati ayahnya dan duduk bersimpuh di belakangnya. Kehadiran Arum ternyata membuat Raden Rudira menjadi gelisah. Sejenak ia memandang wajah gadis itu, namun kemudian dilemparkannya tatapan matanya ke halaman, ke celah-celah dedaunan yang bergetar ditiup angin. “Arum” berkata Kiai Danatirta “ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu, dan aku ingin mendengar pendapatmu”“Kiai“ potong Raden Rudira “sebaiknya Kiai member itahukan persoalannya. Kiai tidak per lu mendengar pendapatnya” “Bukankah anak ini yang akan menjalaninya” “Tetapi Kiai dapat memerintahkan kepadanya tanpa mendengar pendapatnya” “Raden, aku adalah orang tua. Aku adalah ayahnya. Tentu aku tidak dapat berbuat sekasar itu kepada anak gadisku sendiri” “Kau berhak menentukan sikap, dan anakmu harus tunduk kepadamu. Kepada orang tuanya” Kiai Danatirta mengangguk- anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpaling memandangi wajah anaknya, dan bersamaan dengan itu Raden Rudirapun memandang wajah gadis itu pula. Tetapi ia menjadi heran. Ia tidak melihat kesan yang tegang di wajah Arum. Bahkan dengan tenangnya ia bertanya “Apakah sebenarnya yang akan ayah katakan?“ Kiai Danatirta berpaling pula kepada Raden Rudira sambil berkata “Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya kepada anakku“ Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam untuk menahan kegelisahan di dadanya, sementara Kiai Danatirta mengatakan kepentingan Raden Rudira datang ke padepokan ini. Sekali lagi Raden Rudira menjadi heran. Arum mengikuti keterangan ayahnya, kata demi kata. Tetapi ia sama sekali tidak menunjukkan perubahan wajah dan tanggapan yang bersungguh-sungguh. Baru saja ayahnya selesai, ia sudah menjawab “Aku t idak mau”Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kepada Raden Rudira “Raden sudah mendengar sendir i. Anakku tidak mau” “Aku tidak peduli“ Raden Rudira hampir berteriak “Aku dapat memaksa. Jika aku menyampaikan penolakan ini kepada ayahanda, maka ayahanda akan menjadi sangat marah dan dengan wewenang yang didapat dari Kangjeng Susuhunan, maka kau sekeluarga dapat dihukum seberat-beratnya” “Tentu ayahanda tuan tidak akan berbuat sekejam itu” “Kenapa tidak? Tetapi akulah yang tidak ingin semua itu terjadi. Aku akan membawa Arum sekarang” “Jangan Raden. Ia tidak sanggup” “Terserah kepadanya. Kalau tidak, maka kaulah yang akan aku bawa. Kau akan diikat di belakang kuda dan dituntun sebagai pengewan-ewan, sebagai seorang pemberontak yang menentang kekuasaan Surakarta. Tidak ada seorangpun yang akan menyalahkan aku dan tidak ada seorangpun yang berani menolongmu, karena aku bertindak atas nama ayahanda. Dan semua orang tahu bahwa ayahanda adalah orang yang dekat sekali dengan Kangjeng Susuhunan, di antara beberapa bangsawan yang lain” “Ayah” tiba-tiba Arumnampak menjadi cemas. “Pertimbangkan hal itu. Kau dapat memilih, kau pergi ke Surakarta, tinggal bersama ibunda, atau ayahmu yang akan dituntun ke alun-alun” “Kedua-duanya tidak tuan” jawab Kiai Danatirta “Tentu aku juga keberatan mengalaminya. Aku kira ayahanda tuan, Pangeran Ranakusuma tidak akan berbuat demikian. Dan kekuasaan resmi di Surakartapun tentu tidak. Apalagi seorang saudara tuan ada di sini. Kakanda tuan. Raden Juwiring” “Persetan dengan kakanda Juwiring. Aku tidak memer lukannya. Aku mempersoalkan Arumdi sini”“Tetapi aku bukan orang asing bagi Pangeran Ranakusuma justru karena kakanda tuan ada di sini” “Aku tidak peduli” Kiai Danatirta tidak sempat menjawab ketika tiba-tiba pintu pringgitan itu terbuka lagi. Kali ini seorang anak muda yang tegap berdiri di muka pintu. Raden Juwiring. “Sebenarnya aku tidak ingin mencampur i persoalanmu adinda Rudira. Aku tidak mau peristiwa di bulak Jati Sari itu terulang. Kita pasti akan ditertawakan orang, karena justru kita bersaudara. Alangkah jeleknya apabila dua orang yang bersaudara selalu saja bertengkar” Raden Rudira memandang kakaknya dengan sorot mata yang membara. Tiba-tiba saja ia berdiri sambil berkata “Kakanda Juwiring memang tidak usah turut campur” “Aku berusaha untuk menutup telingaku. Tetapi kau terlampau kasar. Sikapmu kepada Kiai Danatirta bukannya sikap seorang anak muda kepada seorang yang sudah lanjut usia” “Aku putera seorang bangsawan” “Itulah kesalahanmu yang terutama. Kau terlampau sadar, bahwa kau seorang bangsawan. Dan itu adalah sumber kesalahanmu” “Persetan” jawab Rudira “kakanda Juwiring. Kali ini aku tidak akan bermain-main. Aku akan berbuat sungguh-sungguh untuk membuatmu jera. Aku akan bertindak tegas seperti terhadap petani di Sukawati itu” Juwiring tidak sempat menjawab, karena Rudira segera berpaling kepada Mandra “Mandra. Kau dapat memaksanya pergi. Aku tidak senang melihat kehadirannya di sini” Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu katanya masih dengan sikap yang tenang “Kau membawa orang lain adindaRudira. Kenapa kau tidak membawa Sura? Apakah ia sekarang sudah menjadi jera karena anak yang tadi menghidangkan makanan itu” “Aku tidak memer lukan Sura lagi. Tetapi bukan karena anak gila itu“ lalu katanya kepada Mandra “Cepat Mandra. Doronglah ia masuk. Akulah yang bertanggung jawab” Semua yang berada di pendapa sudah berdiri. Para pengiring Raden Rudira, Kiai Danatirta dan Arum. Suasana menjadi semakin tegang ketika Mandra melangkah setapak demi setapak maju. “Cepat Mandra” berkata Raden Rudira “Aku tidak mau menunggu terlalu lama” Mandra mengerutkan keningnya. Kemudian iapun melangkah selangkah maju sambil menatap wajah Raden Juwiring dengan sorot mata yang membara. Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Bahkan semua orang berpaling ketika mereka mendengar suara dari samping pendapa di pojok longkangan “Kau memang garang Mandra” Mandra tersentak ketika ia melihat orang yang berdiri di pojok di bawah tangga pendapa itu. Apalagi Raden Rudira sehingga darahnya serasa berhenti mengalir. Dengan suara gemetar ia berkata “Kau Sura” “Ya, ya tuan. Aku adalah Sura” Raden Rudira memandangnya dengan mata yang tidak berkedip. Sejenak ia berpaling kepada Mandra, namun kemudian kembali ia memandang Sura tajam-tajam. Ter lebih- lebih lagi ketika ia melihat di sebelah Sura itu berdiri anak muda yang bernama Buntal dan seorang lagi yang membuat jantung Raden Rudira semakin berdentangan. Orang itu adalah Dipanala. “Kalian telah berkhianat” geram Raden Rudira.“Apa yang sudah aku lakukan tuan? Tuan t idak memer lukan aku lagi, dan akupun pergi dari Dalem Ranakusuman. Apakah aku berkhianat” “Persetan. Aku tidak mau melihat mukamu lagi. Pergi dari sini” “Orang itu tamuku tuan” sahut Kiai Danatirta “Ia datang bersama Dipanala” “Aku muak melihatnya” berkata Raden Rudira “Kalau ia tamumu, suruh ia pergi” “Maaf tuan. Padepokan ini dapat menerima siapapun juga. Orang-orang yang tidak disukai, yang terasing dan yang dibenci oleh siapapun, dapat diterima di padepokan ini” “Tetapi tidak orang itu” Raden Rudira merenung sejenak, lalu “Tentu itulah sebabnya, kalian mengetahui bahwa aku akan datang kemari. Karena pengkhianat itu pulalah kalian telah mempersiapkan dir i dengan segala macam jawaban, keberatan dan apapun juga. Orang itu memang harus digantung” “Tuan” berkata Sura kemudian “sebenarnya aku tidak pernah merasa sakit hati terhadap tuan. Tuan adalah bendara yang aku ikuti, bahkan sejak tuan masih terlalu kecil. Kalau tuan sudah jemu terhadap aku, maka sudah sewajarnya jika tuan mengusirku. Tetapi yang paling memuakkan bagiku adalah orang yang bernama Mandra itu. Ia telah menjilat tuan lebih daripadaku. Aku memang seorang penjilat. Aku pulalah yang ikut melaksanakan mengusir kakanda tuan, Raden Juwiring dari istana. Yang kemudian dibawa oleh Ki Dipanala ke padepokan ini. Tetapi ternyata ada penjilat yang lebih besar daripadaku” “Diam, diam“ Mandra tidak dapat menahan perasaannya. Tetapi Sura tertawa. Katanya “Jangan sakit hati Mandra. Kita sama-sama seorang yang berhati kerdil. Seorang yangtidak tahu malu. Mengorbankan orang lain untuk mendapat keuntungan bagi dir i sendiri” “Tutup mulutmu Sura. Kau telah dicekik oleh perasaan iri yang melonjak- lonjak di dalam kepalamu. Itu salahmu sendir i. Kau tidak mampu lagi melakukan tugasmu. Jangan mencari kesalahan orang lain” “Tidak. Jangan salah paham. Aku tidak mencari kesalahan orang lain. Aku menyalahkan dir iku sendiri, setelah aku merenungi beberapa hari. Sebelum ini aku tidak pernah mempergunakan nalar untuk menilai suatu tindakan. Namun sekarang aku bersikap lain. Dan agaknya yang sudah aku sadari itu ternyata baru kau mulai sekarang” “Persetan. Aku akan membungkam mulutmu” “Terus terang Mandra. Aku memang ingin melihat, apakah kau dapat melakukannya” Tubuh Mandra menjadi gemetar karenanya. Sejenak ia berdiri tegang. Namun sejenak kemudian ia berkata “Aku ingin membuktikan, bahwa aku dapat melakukannya” Sura bergeser setapak. Katanya “Aku sudah siap. Aku akan meminjam halaman padepokan ini sejenak, siapakah yang akan berhasil membungkam mulut kita masing-masing. Kau atau aku” “Kau akan menyesal“ Lalu Mandra berpaling kepada Raden Rudira “Raden, perkenankanlah aku menyelesaikan orang ini lebih dahulu. Ternyata orang-orang di padepokan ini merasa tidak gentar terhadap kehadiran kita karena di sini ada orang ini” Raden Rudira merenung sejenak, lalu “Terserah kepadamu” “Nah, kau sudah mendapat ijin Mandra. Marilah kita mencobanya. Aku memang mendahului kedatanganmu, dan minta kesempatan ini kepada Kiai Danatirta sebelum iaberbuat sesuatu atasku karena kesalahanku beberapa waktu yang lalu” Mandra tidak sabar lagi menunggu. Iapun segera meloncat turun ke halaman. Raden Rudira. Kiai Danatirta dan orang-orang lainpun mengikut inya dan membuat sebuah lingkaran mengelilingi kedua orang raksasa yang sudah berhadap-hadapan itu. “Kita mengambil saksi” berkata Sura “Aku harap kedua bersaudara, Raden Rudira dan Raden Juwiring menjadi saksi dari perkelahian ini. Apakah kita akan mempergunakan senjata atau tidak” “Tidak, tidak“ Kiai Danatirtalah yang menyahut “Jika kalian mempergunakan senjata, kalian harus pergi dari halaman ini” “Aku setuju. Bagaimana dengan kau?“ Mandra menggeretakkan giginya. Katanya “Sebenarnya aku ingin memenggal lehermu. Tetapi, baiklah. Kita tidak bersenjata” Mandrapun kemudian melepaskan senjatanya dan melemparkannya menepi. “Nah, kita dapat segera mulai. Apakah tandanya bahwa salah seorang dari kita sudah kalah?“ bertanya Sura. “Mati” teriak Mandra. “Tidak. Tidak” sekali lagi Kiai Danatirta menengahi “Aku tidak mau melihat pembunuhan terjadi di sini” Sura memandang Mandra dengan tatapan mata yang aneh. Ia tidak menyatakan pendapatnya tentang hal itu, sehingga Mandralah yang menyahut “Sampai kita meyakini kemenangan kita” Sura sama sekali tidak menyahut. Tetapi ia sudah benar- benar mempersiapkan dirinya. Kesempatan inilah yangditunggunya. Hatinya yang panas karena sikap Mandra memer lukan penyaluran agar tidak selalu menghentak-hentak di dalam dadanya. Sura tidak peduli lagi, apakah dengan demikian ia akan ditangkap oleh Raden Rudira dan pengiringnya, kemudian dibawa dan diadili di Dalem Ranakusuman. Ia tidak peduli lagi seandainya ia akan dikubur hidup-hidup di halaman belakang atau di samping kandang. Tetapi sakit hatinya sudah dilepaskannya. Bahkan seandainya ia akan dapat dikalahkan sekalipun oleh Mandra dan dicekiknya sampai mat i, ia tidak akan mempedulikannya lagi. Demikian juga agaknya dengan Mandra. Iapun menunggu kesempatan ini. Kesempatan untuk menunjukkan kelebihannya dari Sura. Kegagalannya di Sukawati hampir- hampir menghilangkan kepercayaan Raden Rudira yang sedang tumbuh. Jika ia kini dapat mengalahkan Sura, maka yakinlah, bahwa ia akan dapat menggantikan kedudukan Sura sebagai lurah para abdi di Ranakusuman. Namun sekali-sekali dadanya berdesir jika dilihatnya Dipanala ada di halaman itu pula. Dipanala adalah orang yang tidak begitu disukai di Dalem Ranakusuman. Tetapi tidak ada yang dapat mengusirnya. Bahkan Pangeran Ranakusumapun tidak pernah berbuat apapun atasnya. “Persetan dengan Dipanala. Di sini ada Raden Rudira. Jika ada persoalan dengan Dipanala, biarlah Raden Rudira yang menyelesaikannya” berkata Mandra di dalamhatinya. Demikianlah kedua orang yang dibakar oleh dendam dan nafsu itu telah berdiri berhadapan. Beberapa orang yang mengelilinginya menjadi berdebar-debar. Kiai Danatirtapun menjadi berdebar-debar pula. Apalagi jika ia melihat sorot mata pada kedua orang raksasa yang berdiri di tengah-tengah lingkaran itu. Sorot mata yang memancarkan kebencian, dendam, dan yang lain nafsu ketamakan dan pamrih yang berlebih-lebihan.Di sekeliling arena itu berdiri dengan tegangnya Raden Rudira bersama pengiringnya, Raden Juwiring, Buntal, Arum dan Ki Dipanala, sedang di kejauhan beberapa orang penghuni padepokan itupun berdiri dengan termangu-mangu. Tetapi mereka tidak berani mendekat karena mereka tahu, bahwa orang yang berdiri berhadapan di tengah-tengah itu adalah orang-orang yang sedang marah dan siap untuk berkelahi. Sejenak halaman padepokan Jati Aking itu dibakar oleh ketegangan yang memuncak. Perlahan-lahan kedua raksasa yang marah itu saling mendekat. Di dalam kesiagaan sepenuhnya terdengar Mandra menggeram “Jangan menyesal kalau kau tidak akan bangun lagi Sura. Riwayat petualanganmu akan habis sampai di sini” “Jika kau berhasil, maka riwayat petualanganmu baru dimulai hari ini. Ternyata kau seorang penjilat yang lebih baik dari aku” Kemarahan Mandra tidak lagi tertahankan. Karena itu, maka iapun segera meloncat menyerang lawannya dengan garangnya. Tetapi Surapun sudah siap menghadapi setiap kemungkinan, sehingga karena itu, maka iapun dengan tangkasnya menghindari serangan yang pertama itu dengan sebuah loncatan pendek. Demikianlah maka perkelahian itupun segera mulai dengan dilandasi oleh kebencian yang sangat. Karena itulah maka perkelahian itupun segera meningkat menjadi semakin seru. Masing-masing tidak lagi mengekang diri, dan bahkan dengan sepenuh tenaga berusaha untuk segera mengalahkan lawannya. Ketika tangan-tangan mereka telah mulai dibasahi oleh keringat, maka tidak ada lagi yang tersirat di dalam hati, selain mengalahkan lawannya dan bahkan membunuhnya sama sekali meskipun mereka tidak bersenjata.Tetapi ternyata keduanya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan berkelahi yang luar biasa. Ketahanan tubuh mereka benar-benar mengagumkan. Sebagai raksasa di Ranakusuman keduanya memiliki tenaga yang luar biasa. Namun apabila serangan-serangan mereka kadang-kadang mengenai lawannya, lawannya itupun masih juga mampu mempertahankan keseimbangannya. Semakin lama perkelahian itu justru menjadi semakin dahsyat Mandra memang seorang pengawal yang dapat dipercaya. Kakinya bagaikan tidak berjejak diatas tanah. Meskipun tubuhnya bagaikan tubuh raksasa, namun ia mampu ber loncatan dengan cepatnya. Sekali melenting sambil menyambar lawannya, namun kemudian kakinya menyerang mendatar bagaikan lembing yang meluncur dengan derasnya. Tetapi lawannya adalah seorang yang telah bertahun-tahun hidup dalam suasana kekerasan. Sura adalah lambang dari kekuasaan Raden Rudira yang dialasi dengan kekuatannya untuk bertahun-tahun lamanya. Namun tiba-tiba lambang itu kini menjadi goyah. Tetapi kemampuan Sura ternyata tidak goyah. Ia masih mampu bertempur sebaik beberapa tahun yang lampau. Bahkan oleh kemarahan dan Wajah Raden Rudira yang merah seakan-akan menjadi semakin menyala karenanya. Bahkan kemudian terdengar ia menggeretakkan giginya sambil berkata “Aku dapat memaksakan kehendakku“Kebencian yang menyala di hatinya, maka seakan-akan tenaganya kini menjadi berlipat. Tangannya yang kadang- kadang bagaikan membeku di depan tubuhnya, tiba-tiba saja bergerak menyambar lawannya. Dengan jari-jarinya yang mengembang, Sura merupakan orang yang sangat berbahaya. Tandangnya yang kasar dan garang menggetarkan dada setiap orang yang menyaksikan di seputar arena itu. Raden Juwiring memandang perkelahian itu dengan tajamnya. Di halaman padepokan Jati Aking ini telah terjadi perkelahian antara hamba-hamba dari Dalem Ranakusuman ditunggui oleh adiknya Raden Rudira. “Inilah ciri kekuasaan Rudira” berkata Juwiring di dalam hatinya “Ia telah menimbulkan dengki dan ir i hati di antara pelayan-pelayan di dalam lingkungannya. Sengaja atau tidak sengaja ia telah menyabung kedua raksasa ini” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya wajari Rudira yang tegang. Kemudian ia berkata pula di dalam hatinya “Jika adinda Rudira mendapat kesempatan untuk memimpin pemer intahan, maka nasib rakyatnyalah yang akan menjadi sangat jelek. Ia pasti menimbulkan pertentangan di dalam lingkungannya. Dan pertentangan itu agaknya membuatnya semakin kuat, karena di dalam setiap pertentangan yang timbul, rakyatnya tidak akan sempat menilai kebijaksanaannya, dan setiap pihak akan berusaha untuk mendapat kesempatan mendekatinya” Juwiring menggigit bibirnya, lalu “dan kini di dalam lingkungan kecil itu Mandra telah berkelahi dengan penuh dendam dan kebencian melawan Sura” Dalam pada itu perkelahian itu sendiri menjadi semakin dahsyat pula. Keduanya hampir tidak lagi mempertimbangkan tata geraknya dengan nalar, karena hentakan perasaan yang tidak terkekang. Benturan-benturan kekuatan yang terjadi, membuat keduanya sekali! terlontar surut beberapa langkah. Kemudianhampir berbareng mereka meloncat maju. Dan bahkan hampir berbareng tangan-tangan mereka berhasil mengenai tubuh lawannya. Ketika Sura terputar oleh pukulan tangan Mandra yang mengenai pelipisnya, matanya seakan-akan menjadi berkunang-kunang. Tetapi ia cepat berusaha menguasai keadaannya, sehingga ketika Mandra menyerangnya sekali lagi dengan kakinya mengarah kelambung, Sura masih sempat menghindar. Bahkan dengan garangnya ia menangkap kaki Mandra dan memutarnya dengan sepenuh tenaga. Tetapi Mandra tidak membiarkan kakinya patah. Ia justru menjatuhkan dir inya sambil berputar, kemudian menghentakkan kakinya itu sambil menyerang dengan kakinya yang lain. Tetapi Sura sempat melepaskan kaki yang ditangkapnya. Ketika serangan kaki Mandra yang lain hampir mengenai dadanya, Sura dapat mengelak. Demikian ia surut selangkah, maka Mandrapun melenting berdiri. Tetapi Sura agaknya lebih cepat, karena tiba-tiba saja kakinya telah meluncur ke dada lawannya. Mandra tidak sempat mengelak, karena serangan itu bagaikan tidak dibatasi oleh waktu. Yang dapat dilakukan hanyalah sekedar menahan serangan itu dengan tangannya. Sambil melipat tangan ia memir ingkan tubuhnya. Namun kakiSura terlampau kuat, sehingga dorongan pada lengan tangannya membuatnya terlempar beberapa langkah surut. Sura tidak membiarkannya. Dengan cepatnya ia memburu lawannya. Sekali lagi ia memutar kakinya mendatar. Tumitnya tepat mengarah kebagian bawah perut Mandra. Mandra terkejut melihat serangan yang begitu cepat datang beruntun. Tetapi kali ini ia masih mempunyai kesempatan. Ia menarik sebelah kakinya sambil membungkukkan badannya, sehingga tumit Sura terbang sejengkal saja dari tubuhnya. Pada saat itulah Mandra mempergunakan kesempatan sebaik- baiknya. Ia meloncat mendekat. Tangannya mematuk dagu Sura dengan cepatnya sehingga terdengar gigi Sura gemeretak beradu. Bahkan kepala Sura terangkat sejenak. Pada saat itulah Sura mengeluh pendek. Tangan Mandra yang lain ternyata tepat mengenai perut Sura. sehingga Sura terbungkuk sejenak. Saat itu dipergunakan oleh Mandra sebaik-baiknya. Dengan kedua tangannya ia berusaha memukul tengkuk Sura, sehingga dengan demikian ia berharap dapat segera mengakhir i perkelahian. Tetapi Sura yang masih sempat berpikir tidak membiarkan tengkuknya dikenai. Karena itu, selagi Mandra mengayunkan tangannya Sura bergeser sedikit karena ia tidak mungkin berbuat lebih dari itu. Namun yang sedikit itu ternyata telah menyelamatkan tengkuknya. Tangan Mandra yang menghantam keras sekali itu ternyata mengenai pundak lawannya. Sura menyeringai menahan sakit. Tetapi akibat pukulan itu tidak membuatnya pingsan seperti seandainya tangan itu mengenai tengkuknya. Mandra tidak mau melepaskan kesempatan itu. Ketika ia sadar bahwa tangannya tidak berhasil mengenai tengkuk lawannya, maka sekali lagi ia berusaha mengulangi, selagiSura masih belum sempat beranjak dari tempatnya, bahkan agaknya ia masih sedang menahan sakit. Tetapi ketika Mandra sekali lagi mengangkat tangannya, Sura mempergunakan kesempatan yang ada padanya. Dengan sisa tenaganya ia membenturkan dirinya ke dada Mandra. Bahkan ia masih sempat mengangkat lututnya dan langsung menghantam perut lawannya dengan kerasnya, sementara tangannya masih juga berusaha mencengkam leher. Mandra terkejut sekali mengalami serangan yang tidak diperhitungkannya. Selagi tangannya sedang terangkat, ia terdorong dengan derasnya, sehingga ia tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya. Sejenak kemudian keduanya jatuh berguling. Sura yang telah melepaskan segenap kekuatannyapun tidak dapat bertahan lagi, dan jatuh menimpa Mandra. Beberapa saat keduanya berguling-guling. Namun sejenak kemudian keduanya sempat juga berdiri. Tetapi ternyata bahwa kekuatan mereka telah hampir terkuras habis. Dari mulut Sura tampak meleleh darah yang merah kehitam-hitaman, sedang sambil menyeringai Mandra memegangi perutnya yang bagaikan lumat. Sejenak keduanya berdiri termangu-mangu. Nafas mereka meloncat satu-satu dari lubang hidung. Ketika dengan tangan kirinya, Sura mengusap mulutnya, maka tangannyapun menjadi merah oleh darah. Melihat darah itu mata Sura menjadi semakin menyala. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa tenaganya semakin lama menjadi semakin tipis, dan nafasnyapun menjadi semakin dalam di dasar perutnya. Arumyang juga menyaksikan perkelahian itu menjadi nger i. Meskipun ia sudah mempelajari olah kanuragan, tetapi ia jarang sekali melihat kekerasan yang sebenarnya. Dan kini iamelihat dua orang raksasa sedang bertempur mati-mat ian di halaman rumahnya Terasa bulu-bulu gadis itu meremang. Rasa-rasanya tangannya bergetar dan kadang-kadang bergerak-gerak tanpa disadarinya. Bahkan kadang-kadang seakan-akan tangan- tangan yang kasar dari kedua raksasa itu telah menyentuh tubuhnya. Sekilas ia memandang wajah ayahnya yang tegang. Ia tahu bahwa ayahnya adalah seorang yang memiliki ilmu yang hampir sempurna. Ia yakin bahwa kedua orang yang sedang bertempur itu sama sekali bukan orang-orang yang mengagumkan bagi ayahnya. Namun dalam pada itu, Arum melihat suatu segi dunia yang rasa-rasanya lain dari dunia yang dikenalnya sehari-hari. Kedamaian di padepokan Jati Aking yang sejuk serta hubungan yang ramah di antara penghuninya. Meskipun mereka berlatih ilmu olah kanuragan, namun Arum belum pernah melihat kebencian yang sebenarnya seperti yang dilihatnya kini. Ia melihat pertengkaran di bulak Jati Sari, dan perkelahian di antara saudara-saudara seperguruannya dengan para pengiring Raden Rudira, adalah sebagai suatu pertentangan yang masih dapat dilihatnya sebagai suatu peristiwa yang dapat saja terjadi. Tetapi kali ini terpancar dari tatapan mata keduanya, kebencian yang melonjak-lonjak. Bukan sekedar persoalan yang tiba-tiba saja timbul karena perbedaan pendapat, tetapi mereka agaknya sudah menyimpan dendam di hati masing- masing. Demikianlah Arum mulai menjumpai lontaran dendam. Dendam yang tersimpan di hati, yang pada suatu saat memer lukan lontaran yang dahsyat. Sejenak Sura dan Mandra masih berdiri berhadap-hadapan dengan nafas yang tersenga-sengal. Tampak bahwa kekuatan keduanya sudah jauh susut. Namun dendam yang membara di hati masih tetap membakar perasaan mereka, sehinggadengan demikian mereka sama sekali tidak menghiraukan kenyataan, bahwa sebenarnya mereka sudah menjadi sangat lelah. Raden Rudirapun menjadi berdebar-debar. Kehadiran Sura di padepokan itu sama sekali di luar perhitungannya. “Pengkhianat itu memang harus mati” geram Raden Rudira “Kenapa Mandra tidak bersenjata saja dan memenggal lehernya sama sekali” Tetapi Raden Rudira tidak dapat berbuat lain kecuali memperhatikan saja perkelahian yang ber langsung itu. Ternyata bahwa baik Sura maupun Mandra tidak mau surut dari arena. Setelah nafas mereka agak teratur, merekapun saling mendekat dan tanpa berkata sepatah katapun, Mandra telah mulai menyerang lawannya. Meskipun serangannya sudah tidak segarang semula, namun lawannyapun juga sudah tidak lagi cukup cekatan. Sehingga karena itu, maka ayunan serangan mereka kadang-kadang sama sekali tidak terarah lagi, meskipun lawannya tidak menghindar. Bahkan kadang-kadang mereka terseret oleh ayunan tangannya sendiri dan terhuyung-huyung jatuh tertelungkup. Namun lawannya yang masih dibakar oleh nafsunya untuk memenangkan perkelahian itu dan yang dengan tergesa-gesa ingin mempergunakan kesempatan, ternyata kemampuan tubuhnya tidak lagi memungkinkan, sehingga justru iapun terjatuh sendiri hanya karena kakinya tersentuh sebuah batu kecil. Demikianlah perkelahian itu sudah berubah bentuknya. Tenaga kedua orang itu sama sekali tidak mampu lagi mengimbangi dendam yang masih menyala di hati. Seakan- akan mereka masih ingin menghancur lumatkan lawan masing-masing, seolah-olah mereka masih mempunyai tenaga yang cukup untuk meremas gunung dan mengeringkan lautan. Namun setiap kali mereka berdir i, maka kaki mereka menjadigemetar dan seakan-akan tulang belulang mereka telah menjadi selemas serat nanas. Akhirnya, betapapun mata mereka masih menyala, namun keduanya sudah tidak mampu lagi untuk berbuat sesuatu. Sura berdiri terhuyung-huyung sambil mengusap bibirnya yang berdarah, sedang Mandra bertelekan pada pinggangnya, untuk menahan perasaan mual yang mengaduk perutnya. Kiai Danatirta yang melihat bahwa perkelahian itu sudah mendekati akhirnya, menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kekuatan dua orang raksasa itu ber imbang. Karena itu, maka katanya kemudian “Sudahlah. Marilah Ki Sanak, kita sudahi kebencian yang menyala di hati kalian masing-masing. Marilah kita duduk sejenak untuk berist irahat. Tidak ada gunanya kita selalu dicengkam oleh dendam dan kebencian” Sura dan Mandra tidak sempat menjawab karena nafas mereka yang memburu, bahkan seakan-akan hampir terputus di kerongkongan. Namun dalam pada itu dada Raden Rudiralah yang serasa menyala. Terbayang kegagalan lagi yang akan ditemuinya di padepokan ini. Kegagalan demi kegagalan harus ditelannya. Alangkah pahitnya. Dengan wajah yang merah padam tiba-tiba terdengar suaranya menggelegar “Sura, kau sudah berkhianat lagi. Ternyata kau sudah mendahului aku, dan mengabarkan kehadiranku kepada Kiai Danatirta. Apakah keuntunganmu dengan berbuat demikian?“ Sura memandang Raden Rudira yang rasa-rasanya agak kabur. Namun disela-sela nafasnya yang terengah-engah ia berkata “Ya. Aku memang mendahului setelah aku mendengar kalian membicarakan rencana ini di kandang kuda” “Persetan” geram Raden Rudira “Apakah kau tahu akibat dari perbuatanmu?““Aku mengharap akibat inilah yang terjadi. Aku berharap bahwa aku akan dapat melumatkan Mandra. Tetapi aku ternyata gagal” “Anak demit” sahut Mandra “Akulah yang akan melumatkan kepalamu” Sebuah senyum yang masam tampak di bibir Sura “Kita melihat kenyataan ini” “Tetapi kau tidak akan terlepas dari hukuman pengkhianatanmu” sahut Raden Rudira lalu dipandanginya Kiai Danatirta “kau jangan melibatkan dir i pada pengkhianatannya. Biarlah ia menanggungnya sendir i” Kiai Danatirta memandanginya pula. Sorot keheranan memancar dari sepasang matanya yang lembut. Dengan terbata-bata ia bertanya “Apakah aku tuan anggap terlibat dalam persoalan antara kedua abdi tuan ini?“ Pertanyaan itu ternyata membingungkan Raden Rudira. Namun kemudian ia menjawab lantang “Ya. Kau sudah melindungi pelayanku yang berkhianat. Dengan demikian kau akan terlibat pula karenanya” “Raden” berkata Kiai Danatirta “Aku tidak mengetahui sama sekali persoalan antara kedua abdi tuan ini. Persoalan tuan di sini adalah persoalan gadis itu” “Tetapi kau sudah mempergunakan orang yang tidak aku sukai lagi untuk mengacaukan pembicaraan kita. Kedatangannya untuk berkhianat ini kau sambut dengan senang dan dengan demikian akan menguatkan sikap penolakanmu” Raden Rudira berhenti sejenak, lalu “Aku jangan kau anggap anak yang sama sekali tidak dapat menghubungkan persoalan yang satu dengan persoalan yang lain. Siapapun kalian, tetapi kali ini kalian mempunyai kepentingan yang dapat saling menguntungkan. Itulah sebabnya Sura ada di sini”Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Dengan hormatnya ia menjawab “Memang kadang-kadang sikap seseorang dapat menimbulkan akibat yang tidak dikehendakinya sendiri. Sebaiknya aku tidak ingkar, bahwa sebenarnyalah abdi tuan yang bernama Sura itu datang mendahului tuan. Tetapi yang penting baginya, bukan karena tuan akan mengambil anakku. Ia ingin mendapat kesempatan untuk melepaskan dendamnya terhadap kawannya yang bernama Mandra itu” “Dan kau yang menyebut dirimu Kiai Danatirta ternyata telah membakar nafsu dendam di hati seseorang” ”Bukan itu. Lebih baik dendam itu meledak di bawah saksi serupa ini daripada mereka mencari kesempatan sendiri. Tentu hal itu akan menjadi jauh lebih berbahaya” “Bukan itu. Yang penting bagimu, kau dapat menggagalkan niat kami membawa anakmu” potong Raden Rudira “Tetapi kau keliru. Meskipun seandainya Mandra tidak lagi dapat memaksamu karena ia harus berdiri berhadapan dengan pengkhianat itu, aku masih membawa beberapa pengiring yang akan dapat memaksamu” Kata-kata itu ternyata bagaikan api yang menyentuh telinga Buntal. Tetapi ketika ia bergeser setapak Juwiring telah menggamitnya. Agaknya anak muda itu dapat berpikir lebih tenang dari Buntal. “Raden” bertanya Kiai Danatirta “Akupun tetap pada permohonanku. Jangan tuan membawanya” “Kami akan memaksa. Anak itu atau kau” Sebelum Kiai Danatirta menjawab, Ki Dipanalalah yang menyahut sambil melangkah maju “Raden. Akupun adalah seorang abdi di Dalem Ranakusuman. Tetapi tuan jangan tergesa-gesa menuduh aku seorang pengkhianat. Aku ingin tuan mempertimbangkan keputusan tuan untuk mengambil Arumdar i rumah ini”“Maksudmu, agar aku membantah perintah ayahanda?“ “Raden, seperti Raden yang sudah bukan kanak-kanak lagi sehingga Raden dapat mengetahui apa yang sudah terjadi di padepokan ini dengan penghubungan peristiwa-peristiwa dan persoalan-persoalan yang telah terjadi, maka akupun demikian pula. Sudah tentu Kiai Danatirta yang sudah berusia lebih tua daripadaku itupun dapat mengerti, bahwa tuan datang tidak tidak atas perintah ayahandan tuan” Wajah Raden Rudira menjadi merah padam. “Kau juga berkhianat” “Tidak tuan. Aku adalah seorang tua. Ayahanda tuan banyak mendengarkan pendapatku, meskipun tidak semuanya dibenarkan. Aku berharap tuan mendengarkan aku. Barangkali tuan tidak senang mendengar pendapatku, tetapi bukan maksudku menyenangkan hati tuan dengan membenarkan segala sikap tuan seperti Sura sebelum tuan anggap ia berkhianat. Dan aku memang berbeda dari Sura, sehingga kadang-kadang Sura membenciku saat itu. Tetapi bagiku, bagi seorang abdi yang ingin berbakt i, tidak seharusnya selalu membenarkan sikap tuannya, namun sebaiknya ia menunjukkan kebenaran kepadanya” “Omong kosong” bentak Raden Rudira “Kau memang pandai berbicara. Kau sangka ayah akan berterima kasih dengan sesorahmu itu” “Ya. Aku memang menyangka demikian. Dan aku akan menghadap ayahanda tuan” Wajah Raden Rudira yang merah seakan-akan menjadi semakin menyala karenanya. Bahkan kemudian terdengar ia menggeretakkan giginya sambil berkata “Aku dapat memaksakan kehendakku” “Jika terjadi benturan kekerasan, aku menjadi saksi, bahwa bukan tuan yang berada di pihak yang benar. Dan sudah tentuaku tidak akan berdiri di pihak yang salah. Aku tidak hanya pandai berbicara, tetapi seperti yang tuan ketahui dari ayahanda tuan jika ayahanda tuan pernah berceritera, aku adalah seorang prajurit” Dada Raden Rudira bagaikan retak mendengar kata-kata Dipanala. Sejak ia berpaling kepada para pengiringnya yang berada di sekitarnya. Namun tampaklah wajah mereka yang ragu-ragu. Dan jantungnya terasa berdesir ketika ia memandang wajah-wajah yang lain wajah Dipanala, Juwir ing, Buntal dan bahkan wajah Arum sendir i. Tampaklah ketegangan yang mantap memancar di mata mereka. “Adimas Rudira“ Juwiringlah yang kemudian berbicara “Aku tidak mengerti, bagaimana kau menganggap aku Tetapi aku tetap merasa bahwa aku adalah saudara tuamu. Aku adalah kakakmu. Mungkin derajadku memang lebih rendah dari padamu namun sebagai saudara tua, aku ingin menasehatkan kepadamu, urungkan saja niatmu” “Aku tidak memerlukan nasehatmu. Aku tahu, kau t idak mau kehilangan gadis itu” “Adimas Rudira” potong Juwir ing “Kau jangan salah mengerti. Ia adalah adikku. Di dalam padukuhan ini, kami bertiga adalah putera Kiai Danatirta” “Bohong. Jika kau tidak berkepentingan, kau tidak akan bertahan. Kau bahkan harus menasehatkan kepada Kiai Danatirta agar gadis itu masuk ke istana Ranakusuman. Itu akan menguntungkan baginya dan bagi hari depannya” Tetapi Raden Juwiring menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku adalah seorang putera Bangsawan. Aku pernah hidup di lingkungan para bangsawan. Tidak seorangpun yang dapat menyatakan bahwa ibuku, yang dahulu juga masuk ke dalam lingkungan para bangsawan dengan harapan yang berlebih- lebihan, kemudian menemukan kebahagiaannya. Dan aku.anaknya, anak seorang bangsawan, tidak dapat hidup dengan tenang di rumah ayahnya sendiri” Sejenak Raden Rudira bagaikan membeku. Ia tidak dapat membantah kenyataan yang dikatakan oleh Juwir ing, karena anak muda itu telah mengalaminya sendiri. “Adimas Rudira” berkata Juwiring kemudian “sebenarnya ibunda Galihwar it tidak memerlukan seorang gadis untuk membantunya, karena di istana ayahanda Ranakusuma ada adinda Warih. Biarlah adinda Rara Warih mulai berkenalan dengan kerja sehari-hari yang pantas bagi seorang gadis” “Apa, apakah katamu kamas Juwiring? Kau akan menjadikan Diajeng Warih seperti seorang pelayan he? Seperti aku, adinda Warih derajatnya lebih t inggi dari kau. Dan kau sekarang berani mengatakan bahwa Diajeng Warih harus bekerja meskipun di rumah sendir i” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Bukankah tidak ada salahnya untuk melayani ibu sendir i?“ “Kau yang pantas melakukannya. Bukan aku dan bukan adikku yang lahir dari ibunda Galihwarit” potong Rudira yang menjadi semakin marah “Tetapi Arum. Gadis padepokan ini. Ia pantas melayani keluarga kami, selain kau” Wajah Juwiringpun menjadi merah pula. Namun Kiai Danatirtalah yang menyahut “Tuan, aku berterima kasih atas kesempatan yang terbuka bagi anakku, tetapi sayang, kali ini anakku belumbersedia menerima kesempatan itu” Ketika Raden Rudira akan menyahut, Dipanala mendahului “Silahkan tuan kembali. Aku akan menghadap ayahanda tuan. Jika ayahanda tuan berkeras untuk mengambil Arum, akulah yang akan menyampaikannya dan membujuknya agar ia bersedia. Tetapi jika ayahanda tuan dapat mengerti alasan Arum dan ayahnya, aku persilahkan tuan menahan perasaan. Karena kekerasan tidak akan menguntungkan tuan di sini. Kentongan itu akan dapat banyak berbicara, meskipun tuanseorang bangsawan. Cantrik padepokan tidak ubahnya seperti kuda tunggangan bagi gurunya. Apapun yang diperintahkannya akan dilakukan, seperti Sura pada saat-saat ia masih belum sempat berpikir. Apapun yang tuan perintahkan pasti akan dilakukannya juga, meskipun seandainya ia harus berkelahi melawan Pangeran Mangkubumi. Karena per intah Raden bagi Sura waktu itu adalah keputusan yang tidak dapat dibantah seperti perintah Kiai Danatirta bagi cantrik-cantriknya. Dan seperti yang sudah aku katakan, aku ingin mengatakan kebenaran kepada tuan, bukan sekedar membenarkan kata tuan” “Gila“ Rudira menggeram. Tetapi ia benar-benar merasa berdiri diatas minyak yang setiap saat dapat menyala. Ki Dipanala sudah menentukan sikapnya. Dan itu berarti bahwa ia akan berdiri di pihak Juwiring, anak muda yang bernama Buntal dan para cantrik. Namun demikian rasa-rasanya terlalu pedih untuk sekali lagi mengalami kegagalan. Wajah-wajah yang dilihatnya tegang di halaman itu bagaikan wajah-wajah orang-orang Sukawati yang menyilangkan tangan di dadanya, dan bahkan seperti wajah petani Sukawati yang sangat dibencinya itu. Tiba-tiba saja Rudira berkata “Kalian memang harus dimusnahkan seperti orang-orang Sukawati. Kalianpun harus disingkirkan dari bumi Surakarta, seperti Sukawati harus dipisahkan dari Ramanda Pangeran Mangkubumi. Jika kalian tetap berkeras kepala, kalian akan menyesal” Tidak seorangpun yang menjawab. Baik Kiai Danatirta, maupun Raden Juwir ing dan Ki Dipanala mengerti, bahwa di dalam dada Raden Rudira sedang terjadi pergolakan yang sengit. Karena itu maka merekapun membiarkannya untuk segera mengambil keputusan. Tetapi sekali lagi Raden Rudira t idak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapi. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh penghuni-penghuni padepokan itu, yangdisebut oleh Ki Dipanala sebagai cantrik-cantrik yang tidak mampu berpikir seperti Sura beberapa saat yang lampau. Raden Rudira tidak mengerti bahwa mereka bukannya cantrik- cantrik yang meneguk ilmu kanuragan di padepokan Jati Aking, karena Kiai Danatirta tidak menyatakan dir inya sebagai seorang guru di dalam ilmu kanuragan itu. Namun bahwa beberapa orang mengawasinya dari kejauhan, ternyata membuat hati Raden Rudira semakin susut. Dan sekali lagi Raden Rudira terpaksa mengambil keputusan yang sangat pahit. Ia tidak dapat memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Selain Sura, ternyata Ki Dipanala telah menentangnya pula. Namun kedudukan Ki Dipanala agak berbeda dengan Sura. Betapapun Ki Dipanala tidak disukai, tetapi rasa-rasanya masih juga ada pengaruhnya terhadap ayah dan ibundanya. Karena itu, betapa pahitnya, maka Raden Rudira terpaksa berkata “Baiklah. Kali ini kalian menang. Aku terpaksa membatalkan niatku untuk membawa gadis itu atas perintah ayahanda. Tetapi kalian tidak akan dapat menikmati kemenangan kalian. Juga kakanda Juwiring. Jangan kau sangka bahwa kau akan tetap berhasil mempertahankan Arum. Pada suatu saat kaulah yang akan kecewa, bahwa Arumakan lepas dari tanganmu. “Adimas Rudira” potong Juwiring “Kau salah paham” Tetapi Rudira ingin mengurangi kepahitan di hatinya. Karena itu ia tertawa sambil berkata “Jangan menyangkal. Kau lebih kerasan di padepokan ini daripada di rumah kita karena di sini ada Arum. Tetapi Arum tidak pantas berada di rumah ini bersama kau dan anak setan itu, apalagi dilingkungi oleh suasana padesan yang kasar” “Arum memang anak padesan Raden” sahut Kiai Danatirta “ sejak lahir ia adalah anak padepokan”“Tetapi ia tumbuh seperti sekuntum bunga. Tetapi bunga itu berkembang di batu karang yang gersang” Raden Rudira menyahut “Namun kamas Juwiring tidak akan berhasil memetik kembang itu” “Dengar adimas” potong Juwiring “Kau salah paham Bukan kehendakku sendir i bila aku berada di padepokan ini” “Dan kau tidak mau pergi lagi dari tempat ini” “Bukan maksudku”. Raden Rudira tertawa pula. Dipandanginya Arum sejenak. Dan wajah gadis itu menjadi merah padam. “Aku tinggalkan padepokan ini. Tetapi aku akan kembali dengan suatu sikap yang pasti” Raden Rudira tidak menunggu jawaban lagi. Iapun segera pergi ke kudanya. Para pengiringnya menjadi termangu- mangu sejenak, namun merekapun kemudian mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tetapi Mandra yang tertatih-tatih masih juga mengumpat “Sura aku tidak puas dengan perkelahian ini. Kita akan mengambil kesempatan lain. Aku ingin kita mempergunakan senjata” Sura memandangnya dengan tajam. Tetapi kemudian ia menarik nafas sambil menjawab “Baiklah. Memang kita adalah orang-orang yang mendambakan dendam di hati” “Persetan” geram Mandra. Namun ia tidak sempat berbicara terlalu banyak, karena kawan-kawannya telah berloncatan keatas punggung kuda. Sejenak kemudian iring- iringan itupun telah berpacu meninggalkan padepokan Jati Aking. Derap kaki-kaki kuda yang berlari-lari itu telah menghamburkan debu yang putih, berterbangan meninggi, namun kemudian pecah bertebaran dihembus angin, sepertipecahnya hati Raden Rudira, Putera Pangeran Ranakusuma itu ternyata telah gagal lagi. Dengan demikian timbunan kekecewaan dan buhkan dendam semakin tebal mengendap di hatinya. Setiap saat kebencian dan dendam itu akan dapat meledak seperti meledaknya Gunung Kelut. Namun dalam pada itu, kepergian Raden Rudira telah menumbuhkah kesan yang aneh di hati anak-anak muda di padepokan Jati Aking. Selama ini mereka tidak pernah mempersoalkan hubungan mereka yang satu dengan yang lain. Namun tiba-tiba kini mereka seperti dihentakkan dalam suatu kesempatan berpikir tentang diri mereka. Bahwa mereka sebenarnya adalah anak-anak muda yang meningkat dewasa. Buntal yang mendengar semua percakapan kedua kakak beradik itu menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba saja ia merasa dirinya memang terlalu kecil. Ia adalah seorang anak yang diketemukan di pinggir jalan oleh orang-orang Jati Sari, bahkan setelah dipukuli sampai merah biru. Sedang meskipun tersisih dari keluarganya, namun Raden Juwir ing adalah putera seorang Pangeran. Tanpa disadarinya Buntal memandang Arum yang masih juga belum beranjak dari tempatnya memandangi debu yang berhamburan di regol halaman padepokannya. Terasa sesuatu berdesir di dada Buntal Sepercik perasaan melonjak di hatinya “Arum memang terlalu cantik” Tetapi kepala itupun segera tertunduk. Didekatnya berdiri seorang yang lahir oleh tetesan darah seorang bangsawan. Juwiring. Buntal terkejut ketika seseorang menggamitnya. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya Juwir ing berdiri disinya. “Jangan hiraukan mereka. Mereka tidak akan bertindak lebih jauh lagi. Paman Dipanala sudah menjanj ikan akan menemui ayahanda Pangeran Ranakusuma?”Buntal tergagap sejenak. Namun kemiudian ia bertanya “Apakah ayahandamu akan mendengarkan keterangannya?“ “Sampai saat ini ayahanda masih mendengarkan. kata- katanya. Mudah-mudahan dalam hal inipun kata-katanya masih mendapat perhatian ayahanda” Buntal mengangguk-angguk. Dilihatnya Kiai Danatirta naik ke pendapa bersama Ki Dipanala dan Sura. Sura yang pernah diserangnya dengan serta-merta tanpa diduga-duga terlebih dahulu, sehingga hampir raksasa itu dapat dijatuhkannya. Sementara Arum bergegas melintasi pendapa masuk ke ruang dalam. Sekali lagi Buntal menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun berjalan berir ingan dengan Juwiring masuk ke longkangan samping. “Kita masih sempat pergi ke sawah” berkata Juwiring. Buntal menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya, aku akan berganti pakaian” Mereka berduapun segera masuk ke dalam bilik masing- masing Namun demikian pintu bilik Buntal tertutup, iapun merebahkan dirinya diatas amben bambu pembaringannya. Tiba-tiba saja batinya telah dirayapi oleh sesuatu yang kurang dimengertinya. Seakan-akan ia merasa dibayangi oleh kemuraman yang samar-samar. “Gila“ tiba-tiba Buntal menghentakkan dirinya sendiri “Aku sudah menjadi gila. Aku tidak boleh berpikir dengan hati yang kerdil. Agaknya aku telah dicengkam oleh kehendak iblis yang paling jahat” Dengan sekuat tenaga Buntal mencoba melupakan perasaan yang aneh itu, yang seakan-akan dengan tiba-tiba telah mencengkamnya. Memang setiap kali terpercik juga pujian atas gadis yang cantik itu, namun kata-kata Rudira justru serasa menusuk jantungnya dan menghunjamkan perasaan yang aneh itu ke dalamnya.Dengan tergesa-gesa Buntal berganti pakaian. Bahkan sebelum ia selesai, didengarnya suara Juwiring di depan biliknya “Apakah kau belum selesai?“ “Sudah, sudah” suara Buntal agak tergagap. Tetapi ia tidak sempat mengenakan ikat kepalanya, sehingga ikat kepala itu hanya dibelitkan saja di kepalanya. Sambil menyambar cangkulnya Buntal melangkah keluar. Derit pintu biliknya mengejutkannya sendiri, apalagi ketika Juwiring bertanya “Kenapa kau menutup pintu bilikmu rapat- rapat?“ Buntal tersenyum meskipun dipaksakannya. Tidak apa-apa Hampir t idak sengaja karena aku masih memikirkan Raden Rudira” Juwiring mengangguk-angguk. Katanya “Jangan hiraukan. Anak itu memang terlalu manja. Ibunyalah yang sebenarnya bersalah. Adiknya, adinda Warih tidak kalah manjanya dari adinda Rudira” Buntal mengangguk-angguk pula. “Ternyata bahwa sifatnya yang manja itu telah membahayakan dirinya. Nafsunya menyala seperti api yang ingin membakar setiap bentuk tanpa kendali, sehingga tingkah lakunya seakan-akan tidak berbatas lagi” Buntal masih mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian bertanya “Apakah ia tidak akan berbahaya bagimu. Jika tidak sekarang, apakah pada suatu saat ia tidak akan berbuat jauh lebih kasar lagi?“ Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Aku t idak tahu Buntal. Tetapi kemungkinan itu memang ada. Namun yang paling mencemaskan sebenarnya bukan aku sendiri. Bagaimanapun juga aku masih mempunyai lambaran yang dapat mengimbangi kebengalannya. Tetapi nafsu kemudaannya kini berbahaya bagi Arum”Dada Buntal berdesir mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak segera menjawab. Dan Juwiring berkata terus “Adalah tidak menguntungkan bagi Arum untuk tinggal di Ranakusuman. Seperti yang aku katakan, nasib ibuku tidak terlalu baik sampai saat meninggalnya, meskipun ia adalah isteri seorang Pangeran. Justru karena ibuku tidak mempunyai darah keturunan setingkat dengan isteri-isteri ayahanda yang lain” Buntal mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia bertanya “Tetapi bagaimana dengan Raden Ayu Manik? Bukankah ia juga mempunyai derajat yang setingkat dengan Raden Ayu Galihwar it itu?“ Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Persoalannya, adalah persoalan manusia Galihwarit dan Manik. Tetapi ayahanda Ranakusuma juga ikut menentukan ketidak-wajaran yang telah terjadi itu. Lebih daripada itu. ada pihak lain yang mengambil keuntungan” “Orang asing maksudmu?“ Juwiring memandang Buntal sejenak. Namun kemudian ia mengangguk. Buntal tidak berbicara lagi. Ketika mereka lewat di depan pendapa, dilihatnya Kiai Danatirta masih duduk bersama Sura dan Ki Dipanala. “Ayah, kami akan pergi ke sawah” berkata Juwiring kepada Kiai Danatirta. Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Jawabnya “Pergilah. Nanti jika sempat aku akan menyusul. Apakah kalian akan pulang di waktu makan, atau Arum harus membawa makananmu ke sawah?” “Kami akan pulang sore hari. Sesiang ini kami baru berangkat”“Baiklah. Biarlah Arum pergi membawa maka kalian siang nanti” Sura dan Dipanala memandang kedua anak muda yang berjalan melintasi halaman sambil membawa cangkul. Terasa sesuatu bergetar di dalam hati keduanya. Juwiring adalah putera seorang Pangeran. Siapapun ibunya, tetapi ayahnya adalah seorang Pangeran. Tetapi kini dengan ikhlas ia memanggul cangkul pergi ke sawah. turun ke dalam lumpur. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Sura berkata “Baru sekarang aku menyadari, betapa besar dosaku atas anak muda yang lapang dada itu. Ia sama sekali tidak tampak mendendam kepadaku, meskipun aku ikut serta berusaha menyingkirkannya dari Dalem Ranakusuman” Lalu tiba-tiba saja ia berpaling kepada Ki Dipanala “Ki Dipanala, apakah Raden Juwiring tidak mengetahui bahwa aku ikut menyingkirkannya?“ “Ia tentu mengetahuinya. Ia kenal siapa kau waktu itu” jawab Dipanala “Tetapi ia memang seorang anak muda yang berhati lautan. Sebagian adalah karena tuntutan Kiai Danatirta” “Ah“ desah Kiai Danatirta “Ia belum cukup lama di sini untuk dapat membentuk wataknya. Jika hatinya lapang selapang lautan adalah karena pembawaannya. Dan itu adalah suatu karunia bagi Raden Juwiring” Sura mengangguk-anggukkan kepalanya. Lambat laun ia merasa bahwa dirinya telah menjadi manusia kembali dengan segala macam gejolak di dalam hatinya. Ia kini sempat mempertimbangkan nalar dan perasaannya. Ia sempatmemperhitungkan persoalan tentang dirinya dan persoalan di luar dirinya. Hubungan antara manusia di sekitarnya dan antara dirinya, manusia dan alam besar yang meliputi bentuk- bentuk alam yang kecil. Pengaruh timbal balik dar i getaran di dalam dirinya terhadap alam di sekitarnya dan getaran alam di sekitarnya dan getaran alam di sekitarnya terhadap dirinya. Sura menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya seperti ia dilahirkan-kembali dengan tanpa bekal apapun, sehingga ia merasa dir inya betapa bodohnya. Sura terkejut ketika ia mendengar Ki Dipanala bertanya kepadanya “Sura, lalu apakah yang kau kerjakan? Apakah kau akan kembali ke DalemPangeran Ranakusuma atau tidak?“ Sura mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian menjawab “Aku akan kembali ke Dalem Ranakusuman. Aku adalah abdi Ranakusuman. Jika Pangeran Ranakusuma sudah tidak memerlukan aku lagi. aku akan pergi. Tetapi sebelum aku diusirnya, aku akan tetap berada di sana apapun yang akan terjadi, dan perlakuan apapun yang akan diperbuat oleh Raden Rudira dan Mandra. Aku masih mempunyai kepercayaan, bahwa beberapa orang abdi yang lain tidak akan ikut melibatkan dir inya di dalampersoalanku dengan Mandra” Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah Sura. Aku tidak akan melepas tangan. Persoalannya sudah menyangkut aku pula” “Tetapi kedudukan Ki Dipanala t idak segoyah kedudukanku meskipun aku sudah tinggal berpuluh tahun di istana itu” “Karena itu, aku akan membantu memecahkan persoalan- persoalan yang mungkin kau jumpai” “Terima kasih. Mudah-mudahan hal itu justru tidak menyulitkan Ki Dipanala sendiri”Kiai Danatirta yang selama itu mendengarkan percakapan mereka berdua, tiba-tiba menyela “Jika kalian tidak mendapat tempat lagi di Ranakusuman, tinggallah di padepokan ini. Kalian akan menjadi kawan yang baik bagi Raden Juwir ing dan Buntal” “Ya Kiai” jawab Sura “dan aku berterima kasih atas kesempatan itu. Namun aku masih juga mempunyai secuwil tanah warisan di padesan yang sempat aku perluas dengan uang yang aku dapat dari istana Ranakusuman itu pula dengan menjual kemanusiaanku” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun Ki Dipanalalah yang berkata kemudian “Kau akan lebih aman berada di padepokan ini. Banyak hal yang dapat terjadi atasmu karena sikapmu yang tiba-tiba berubah terhadap Raden Rudira” “Aku menyadari. Tetapi aku mempunyai anak isteri yang tentu tidak akan dapat tinggal bersama-sama di sini. Jika demikian maka padepokan ini akan penuh dengan keluargaku saja” “Padepokan ini cukup luas” sahut Kiai Danatirta. “Aku mengucapkan banyak terima kasih” Kiai Danatirta tidak menyela, lagi. Sambil mengangguk- anggukkan kepalanya ia menekur seakan-akan sedang merenungi sesuatu yang amat penting. Dalam pada itu, Sura masih berbicara tentang berbagai persoalan dengan Ki Dipanala. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Ranakusuman menjelang senja. “Apakah kalian tidak bermalam saja di sini agar Raden Rudira menjadi agak tenang sedikit. Jika kalian hadir di halaman Ranakusuman hari ini maka kemarahan Raden Rudira akan masih mudah terangkat kembali”Tetapi Ki Dipanala menggeleng. Katanya “Lebih baik kita tuntaskan persoalan ini jika memang Raden Rudira menghendaki, tetapi mudah-mudahan Pangeran Ranakusuma masih mau mendengar kata-kataku kali ini meskipun besok atau lusa aku akan diusir pula dari Ranakusuman. Jika aku yang diusir maka aku akan terpaksa tinggal di padepokan ini untuk sementara bersama keluargaku, sebelum aku mempertimbangkan untuk kembali saja ke Madiun” “Apakah kau pernah berpikir untuk kembali ke Madiun, saja?“ “Ya. Tetapi kadang-kadang menjadi kabur lagi” “Tinggallah di sini. Aku akan senang sekali jika kau bersedia, dan Arumpun akan mendapat kawan lagi yang sebaya” Ki Dipanala mengangguk-angguk. Jawabnya “Aku akan mempertimbangkannya” Demikianlah maka mereka masih duduk beberapa saat di pendapa. Namun Kiai Danatirta yang masih mempunyai beberapa pekerjaan itupun segera mempersilahkan kedua tamunya untuk beristirahat di gandok. “Terima kasih Kiai” jawab Sura “padepokan ini memang merupakan tempat yang dapat memberikan kesejukan. Aku akan menikmat i ketenangan ini meskipun hanya sejenak, sebelum aku kembali ke Surakarta menjelang senja” Ketika kedua tamunya kemudian pergi ke gandok maka Kiai Danatirtapun segera masuk ke ruang dalam. Orang tua itu terkejut ketika dari sela-sela pintu bilik Aram, ia melihat gadis itu menelungkup di pembaringannya. Karena itu maka dengan tergopoh ia mendekatinya sambil bertanya “Kenapa kau Arum?“ Arum mengangkat wajahnya. Tampaklah setitik air mata membasahi pelupuknya.“Ada apa ngger?“ bertanya ayahnya pula. Perlahan-lahan Arum bangkit dan duduk di pinggir ambennya. Ditatapnya wajah ayahnya sejenak. Namun justru titik air di matanya terasa menjadi semakin banyak. “Katakan Arum” bisik ayahnya. “Kenapa aku justru membuat ayah mengalami kesulitan?” “Kenapa??” bertanya ayahnya. “Kenapa Raden Rudira berbuat begitu terhadap ayah?“ Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Gadis itu merasa, bahwa dirinyalah yang menjadi sumber kesulitan yang tumbuh di padepokan itu. Namun Kiai Danatirta itu berkata “Jangan berpikir begitu Arum. Bukan kau satu-satunya sumber persoalan antara padepokan ini dengan Dalem Ranakusuman. Sejak Raden Juwiring dibawa kemari oleh pamanmu Dipanala, aku sudah merasa, bahwa persoalan yang lain akan menyusul. Kau adalah salah satu alasan saja yang diberikan oleh Raden Rudira untuk menumbuhkan persoalan- persoalan baru yang dapat mengguncangkan ketenangan padepokan ini, yang sebenarnya sebagian terbesar ditujukan kepada kakaknya, Raden Juwiring” “Jika ayah sudah mengetahui, kenapa ayah menerima Raden Juwiring itu di padepokan ini?“ tiba-tiba saja Arum bertanya. Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenung untuk mendapatkan jawaban yang dapat dimengerti oleh Arum. “Arum” berkata Kiai Danatirta kemudian “Memang sukar untuk mengatakan, apakah sebabnya aku menerima Raden Juwiring di padepokan ini justru karena aku mengerti bahwa persoalannya masih akan berkepanjangan. Tetapi sebagian terbesar adalah karena aku tidak dapat menolak permintaan pamanmu Ki Dipanala. Raden Juwiring adalah seorang anakbangsawan yang baik, tetapi hidupnya tersia-sia. Bahkan ayahnya sendiri sampai hati untuk menyingkirkannya, bukan karena anak itu nakal atau tidak mau tunduk kepada ayahnya. Tetapi karena kedengkian orang lain terhadapnya. Dengan alasan untuk mendapat ilmu kejiwaan, maka iapun dikir im kemari atas pendapat Dipanala” Arum tidak menjawab. Namun tampak di wajahnya, beberapa persoalan sedang bergulat di dalam hatinya. Kata- kata Kiai Danatirta itu seakan-akan merupakan bayangan yang dapat dilihatnya. Seorang anak muda dari seorang bangsawan yang dengan kepala tunduk meninggalkan istana kapangeranan dan kemudian t inggal di sebuah padepokan kecil. “Memang Raden Juwiring adalah anak yang baik” tiba-tiba saja timbul pengakuan di dalamhati Arum. Sekilas terbayang kembali wajah anak bangsawan itu. Senyumnya yang ramah di wajahnya yang selalu cerah. Arum menarik nafas dalam-dalam. Di sebelah bayangan wajah Raden Juwiring itu membayang wajah anak muda yang lain. Wajah yang tampaknya selalu bersungguh-sungguh dan prihatin. Wajah Buntal, anak muda yang diketemukan di pinggir jalan itu. Namun ternyata iapun adalah anak yang baik. “Sudahlah Arum” berkata Kiai Danatirta “Jangan kau pikirkan lagi. Persoalan yang baru saja terjadi, dan seandainya masih akan terjadi, adalah persoalan padepokan ini keseluruhan, bukan persoalan yang kau timbulkan. Dan yang lebih pent ing Arum, jangan menyalahkan dir i sendiri. Jika demikian maka kau akan kecewa atas dirimu sendir i, dan itu berarti bahwa kau kecewa terhadap karunia yang telah kau terima” Arum tidak menjawab. Tetapi air di matanya masih mengambang di pelupuknya.Kiai Danatirta memandang anak gadisnya itu sejenak. Namun hampir saja ia terseret oleh kenangan tentang anaknya yang sebenarnya, tentang ibu Arum. Wajah yang cantik dan sikap yang baik justru telah menyeretnya ke dalam kesulitan. “Apakah kecantikan Arum akan membawanya ke dalam kesulitan pula?” Kiai Danatirta bertanya kepada diri sendir i. Untunglah bahwa orang tua itu segera berhasil menguasai perasaannya yang hampir bergejolak itu, sehingga kemudian dipaksanya bibirnya untuk tersenyum sambil berkata “Arum, kakak-kakakmu sudah pergi ke sawah. Mereka baru akan pulang menjelang sore. Karena itu, kau masih mempunyai tugas. Kau harus pergi ke sawah untuk mengantar makan mereka” Arum menganggukkan kepalanya. Hampir setiap har i ia melakukannya, sehingga karena itu, maka hal itu bukan merupakan hal yang baru baginya. Demikianlah pada saatnya, ketika nasi sudah masak, dan mata hari sudah bergeser ke Barat, Arumpun segera berangkat ke sawah untuk menyampaikan nasi beserta lauk pauknya kepada kedua saudara angkatnya yang sedang bekerja di sawah. Meskipun pekerjaan ini sudah dikerjakan setiap hari, namun tiba-tiba saja hatinya menjadi berdebar-debar. Ketika ia menyusuri pematang, dilihatnya Juwiring aan Buntal yang sudah lelah, sedang beristirahat di bawah gubugnya. SejenakArum memandang keduanya berganti-ganti, namun sejenak kemudian terasa suatu getar yang aneh di dalam hatinya. Terngiang kata-kata Raden Rudira yang menyebut-nyebut hubungannya dengan Juwiring dan kebencian bangsawan muda itu kepada Buntal. Arum tidak pernah memikirkan hubungan itu. Keduanya serasa benar-benar seperti saudaranya sendiri. Tetapi tiba-tiba kini ia melihat keduanya sebagai anak-anak muda yang berasal dari padepokannya. Seolah-olah Arum itu sadar, bahwa Raden Juwiring adalah Putera Pangeran Ranakusuma yang dititipkannya di padepokan Jati Aking dan Buntal adalah anak muda yang asing, yang dikeroyok orang karena mengejutkannya ketika ia memanjat gubug yang berkaki tinggi itu. Untunglah bahwa Arumpun segera berhasil menguasai dirinya. Sejenak kemudian iapun sudah tersenyum ramah seperti kebiasaannya sehari-hari. Sambil meletakkan bakulnya ia berkata “Maaf, aku agak lambat. Tetapi bukan salahku. Nasi baru saja masak. Agaknya para pelayan sedang sibuk melihat perkelahian di halaman, sehingga mereka lambat mulai menanak nasi” “Kamipun lambat berangkat” sahut Juwiring. “Tetapi kami tidak ingin lambat pulang” berkata Buntal kemudian. Arum memandang Buntal sejenak, lalu “Aku membawa gembrot sembukan. Bukankah kakang Buntal senang sekali gembrot sembukan? Dan aku membawa pecel lele bagi kakang Juwiring” Buntal sudah mendengar kata-kata Arum berpuluh kali sejak ia berada di padepokan itu. Tetapi kali ini hatinya serasa tersentuh. Seolah-olah baru kali ini ia mendapat pelayanan dengan wajah yang bening tanpa keluhan kepr ihatinan.Seolah-olah baru kali ini ia menemukan suatu kehidupan yang sejuk. Tetapi Buntalpun menahan perasaannya sejauh-jauh dapat dilakukan. Ia sama sekali berusaha menghapus kesan itu dari gerak lahir iahnya, dari warna-warna kerut di wajahnya dan dari tatapan matanya. Karena itu maka iapun tertawa sambil berkata “Kau t idak pernah melupakan kegemaran kami. Terima kasih “Ia berhenti sejenak, lalu “Marilah kakang Juwiring” Juwiringpun tersenyum, la mengerti. bahwa orang-orang yang berada di dapur padepokan Jati Aking mengenal kegemarannya, dan demikian juga kegemaran penghuni- penghuni lainnya. Dan pecel lele yang dibawa Arum itu telah benar-benar membangkitkan seleranya. Demikianlah kedua anak-anak muda itupun kemudian makan dengan lahapnya. Arum yang duduk di pematang memandang keduanya dengan terenyum kecil. Ia memang selalu senang apa bila kedua anak-anak muda itu makan kiriman yang dibawanya dengan lahap. Dalam pada itu, Juwiring yang sedang mengunyah nasi dan pecel lelenya, sekali-sekali memandang wajah Arum juga. Meskipun gadis itu tinggal bersamanya unluk waktu yang panjang namun kali ini ia benar-benar memperhatikan wajahnya. Sambil menar ik nafas dalam-dalam ia berkata di dalam hatinya “Gadis ini memang cantik. Pantas adinda Rudira sangat tertarik kepadanya. Tetapi adalah berbahaya sekali apabila ia berada di istana, ayahanda Ranakusuma ia tidak akan dapat bertahan untuk tiga bulan dari ketamakan adinda Rudira, yang memantaskan segala cara untuk mencapai tujuannya”Namun ia terkejut ketika tiba-tiba saja sepucuk duri ikan lelenya tersangkut di kerongkongan, sehingga Juwiring itu menjadi terbatuk-batuk karenanya. “Minum kakang” berkata Arum sambil mengacungkan sebuah gendi ber isi air dingin. Juwiring menerima gendi itu, lalu diteguknya air yang terasa telah menyejukkan seluruh badanya, bukan saja sekedar melarutkan dur i dar i kerongkongannya. Demikianlah ketika mereka sudah beristirahat sejenak setelah makan, mulailah mereka bekerja kembali, sedang Arumpun membawa sisa-sisa makanannya pulang ke padepokan. Menjelang senja, kedua anak-anak muda padepokan Jati Aking itu sudah berada kembali di padepokannya. Mereka mengerti bahwa Sura dan Ki Dipanala akan kembali ke Surakarta. Karena itu, mereka pulang dengan tergesa-gesa untuk dapat bertemu lagi dengan kedua orang yang akan meninggalkan padepokannya itu. “Hati-hati1ah“ pesan Kiai Dinatirta kepada keduanya. “Ya Kiai. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di istana Ranakusuman jawab Ki Dipanala. “Mudah-mudahan” Sura menyahut “Tetapi rasa-rasanya hati ini selalu bergetar. Aku mempunyai persoalan yang agak berbeda dengan Ki Dipanala” “Memang persoalanmu lebih gawat Sura Kebencian dan dendam itu dapat tertumpah kepadamu. Seperti kita lihat, kegagalan Raden Rudira di Sukawati telah membawanya keman. Temya ia ia gagal sekarang. Karena itu, kau akan merupakan sasaran yang kemudian dari padanya” “Aku menyadari. Tetapi aku tidak akan lari”Ki Dipanala mengangguk-angguk. Dipandanginya Raden Juwiring dan Buntal sejenak, lalu katanya “Kalianpun harus berhati-hati. Kalian sekarang mengenal Raden Rudira lebih banyak, la dapat berbuat apa saja tanpa menghiraukan apapun iuga. Karena itu, kalian harus mengawasi adik kalian itu. Mungkin Raden Rudira mengambil cara lain untuk membawa Arum. Jika Arum sudah berada di istana Ranakusuman, maka akan sangat sulit bagi kalian untuk mengambilnya kembali apabila ibunda Raden Rudira, Raden Ayu Sontrang, ikut mencampuri persoalan ini” Juwir ing dan Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti sepenuhnya maksud Ki Dipanala. Mungkin Rudira dapat mengupah sekelompok orang untuk mengambil Arum dengan paksa, atau menculiknya selagi Arum berada di bulak. Karena itu sambil mengangguk-angguk, Juwiring menjawab “Baiklah paman. Kami akan mengawasinya” Ki Dipanala mengangguki pula. Lalu katanya kepada Kiai Danatirta “Baiklah kami segera minta dir i. Doakan agar kami tidak terjerumus ke dalam kesulitan yang lebih parah lagi” “Amiin“ sahut Kiai Danatirta “dan mudah-mudahan pula Pangeran Ranakusuma masih mau mendengarkan kata- katamu” “Terima kasih. Semuanya masih merupakan teka-teki bagiku. Dan aku akan memasuki halaman Ranakusuman setelah malam menjadi gelap dan suasana di Dalem Kapangeranan yang gelap pula” Demikianlah. Sura dan Ki Dipanala meninggalkan padepokan Jati Aking menjelang senja. Derap kaki kuda mereka berdetak di sepanjang jalan padukuhan dan sejenak, kemudian merekapun segera berpacu diengah bulak Jari Sari yang panjang. Betapapun mereka sudah bertekad untuk menghadapi setiap persoalan yang mungkin tumbuh, namun hati merekamenjadi berdebar-debar juga ketika mereka menjadi dekat dengan kota. Keduanya hampir tidak berbicara sama sekali di sepanjang perjalanan oleh gejolak perasaan masing-masing. Sehingga tanpa mereka sadari mereka telah menyusuri jalan kota yang gelap karena malam yang menyelubungi seluruh Surakarta. Sekali-sekali mereka memandang lampu- lampu minyak yang bergayutan di sudut-sudut gardu dan di simpang- simpang empat. Nyala yang kemerah-merahan terayun-ayun disentuh angin yang lembab. Sura menarik nafas dalam-dalam. Kesunyian kota membuat hatinya semakin sunyi. Jika terjadi sesuatu dengan dirinya, maka seluruh keluarganya pasti akan menderita. Tetapi ia tidak akan dapat kembali kepada suatu dunia tanpa perasaan dan nalar seperti yang pernah dilakukannya. Dunia yang seakan-akan tidak pernah berakhir, sehingga apa yang dilakukannya sama sekali tidak pernah memikirkan hari akhirat, tidak memikirkan hubungan antara dirinya dengan Tuhan Yang menciptakanNya. Semestinya yang dilakukannya adalah melakukan urusan dunia sesuai dengan garis-garis yang sudah ditentukan oleh agama dan dalam r idho Tuhan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan juga melakukan ibadah-ibadah dan amalan yang diperintahkan oleh agama. Kini ia menyadari betapa pentingnya hubungannya dengan sesama manusia dan lingkungan di sekitarnya bersamaan dengan hubungannya dengan Tuhan Sang Pencipta Alam semesta. Namun debar jantungnya terasa semakin cepat ketika dari kejauhan mereka melihat regol Dalem Ranakusuman ysng telah tertutup. Dengan tajamnya keduanya memandang regol itu tanpa berkedip, seolah-olah ingin mengetahui, apakah yangtersenyum di balik pintu serta dinding yang tinggi, yang mengelilingi halaman itu. Bahkan bagi Sura, bayangan-bayangan yang suram telah merambat di angan-angannya, seakan-akan di balik dinding dan pintu yang tertutup itu telah berbaris beberapa orang yang menunggunya dengan tombak yang merunduk, siap untuk menyobek perutnya apabila ia memasuki pintu regol. “Apaboleh buat” berkata Sura di dalam hatinya. Meskipun demikian, hatinya telah dicengkam pula oleh ketegangan. Ketika kedua orang itu sudah sampai di muka regol. maka keduanyapun turun dari kuda masing-masing. Sejenak mereka berpandangan Ki Dipanalalah yang mula bertanya “Kita bawa kuda-kuda ini ke dalam atau kita akan mengembalikannya lebih dahulu ke kandangnya?“ “Aku ingin segera melihat, apa yang bakal terjadi. Biarlah kita bawa kuda ini masuk” Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata kegelisahan di hati Sura justru memaksanya untuk segera melihat akibat yang bakal terjadi atasnya tanpa membawa kuda itu lebih dahulu ke rumah Dipanala yang terletak di belakang Dalem Ranakusuman dan dihubungkan dengan sebuah butulan kecil. Bahkan Dipanala menduga, bahwa Sura menganggap kuda itu setiap saat akan diper lukannya. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun sejenak kemudian tangan Sura yang gemetar telah mengetuk pintu regol itu. Sesaat kemudian terdengar seseorang menyapa dari dalam “Siapa diluar?“ Sebelum Sura menyahut, Ki Dipanalalah yang telah mendahuluinya “Aku, Dipanala”Ketika sebuah lubang persegi terbuka, Dipanala berdiri tepat di muka lubang itu, sehingga wajahnya seakan-akan telah memenuhi seluruh lubang persegi itu. O, Ki Dipanala“ desis para penjaga itu. Namun terasa suara mereka menyimpan nada yang lain dari kebiasaan mereka. “Agaknya orang-orang ini sudah mengetahui apa yang terjadi” berkata Ki Dipanala di dalam hatinya. Sejenak kemudian pintu regol itu berderit, dan perlahan- lahan terbuka. Yang mula-mula berdiri di muka pintu yang terbuka itu memang Ki Dipanala yang memegangi kendali kudanya. Namun kemudian para penjaga itupun melihat, bahwa Dipanala tidak datang sendir i. Para penjaga itu seakan-akan membeku sejenak ketika mereka melihat Sura berdir i di belakang Ki Dipanala. Melihat wajah-wajah yang tegang itu Surapun bertanya “Kenapa kalian memandang aku seperti itu?“ “Kau kembali juga ke Ranakusuman ini?“ bertanya seseorang. “Ya, kenapa?“ Para penjaga itu saling berpandangan sejenak. Tetapi Sura tidak menghiraukannya lagi. Seperti Ki Dipanala iapun langsung memasuki regol Ranakusuman sambil menuntun kudanya. “Orang itu sudah Gila“ berbisik para penjaga. “Apakah ia memiliki nyawa rangkap sehingga ia berani datang lagi ke halaman ini” desis salah seorang dari mereka. “Ia tidak akan dapat lari, karena ia harus membawa keluarganya. Kecuali jika ia ingin menyelamatkan dir inya sendiri tanpa menghiraukan anak isterinya” sahut yang lain.Dan seorang yang berkumis lebat berkata “Bagaimanapun juga Sura adalah seorang yang berani. Ia bukan seorang yang licik menghadapi persoalan-persoalan yang gawat. Ia berani bersikap jantan, akibat apapun yang akan dihadapi” Beberapa orang yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Bagaimanapun juga ada kekaguman dar i para penjaga terhadapnya. Dalam keadaan yang bagaimanapun juga, ia tidak melarikan diri seperti seorang pengecut. Namun ternyata di halaman Ranakusuman tidak ada persiapan apapun untuk menunggu kedatangan Sura. “Barangkali mereka memang menganggap bahwa aku tidak akan datang lagi ke halaman rumah ini” desis Sura di dalam hatinya. Bersama Ki Dipanala merekapun langsung pergi ke halaman samping. Kuda merekapun segera diikat pada sebatang pohon di belakang gandok. Tanpa mereka sadari, ternyata keduanya telah menjadi bahan pembicaraan orang-orang yang melihat kehadiran mereka. Ketika mereka sejenak berdiri termangu-mangu di bawah pohon tempat mereka menambatkan kuda-kuda mereka, ternyata beberapa pasang mata mengawasi mereka dengan sorot yang aneh. Tiba-tiba seorang dari antara mereka menyeruak kedepan sambil mengumpat. Dengan tangan di pinggang orang yang bertubuh raksasa itu berkata “Sura, apakah kau sudah gila dan karena itu berani memasuki halaman ini lagi?“ Sura yang mendengar suara itu berpaling. Dilihatnya Mandra berdiri di antara beberapa orang pengawal yang lain yang agaknya masih berkumpul di serambi gandok. Sura tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Mandra yang tegang dan sorot matanya yang berapi-api.“Sura. Kau benar-benar tidak tahu malu. Kau sudah berkhianat dan bahkan memberontak. Kenapa kau datang lagi kemari? Apakah kau sedang mengantarkan nyawamu, atau kau akan bersimpuh sambil mohon ampun atas pengkhianatanmu dan pemberontakanmu? sia-sia Sura. Tidak ada orang yang dapat mengampuni kau. Juga kawanmu yang merasa dir inya mempunyai pengaruh atas isi halaman ini. Kalian akan menyesal, karena semuanya sudah pasti, bahwa kalian adalah musuh dari Raden Rudira, berarti musuh dari seluruh isi halaman ini” Sura yang hatinya mulai terbakar ingin menjawab. Tetapi Dipanala menggamitnya sambil berdesis “Jangan kau tanggapi. Kita tidak memer lukan orang itu. Kita memer lukan Pangeran Ranakusuma” “Tetapi bagaimana dengan orang itu?” “Biarkan. Kita berdir i saja di sini sambil menunggu kesempatan. Jika Raden Rudira mengetahui kehadiran kita, ia pasti akan berbuat sesuatu. Aku mengharap, aku akan mendapat kesempatan, karena semua tindakan yang diambil di halaman ini biasanya mendapat perhatian dari Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit ” Sura tidak membantah. Ia percaya kepada Dipanala, karena selama ini Dipanala memang mendapat beberapa kesempatan yang lebih baik dari orang-orang lain, meskipun Dipanala adalah orang yang tidak disukai. Tetapi Mandra masih saja bertolak pinggang sambil berkata “Sura, apakah kau sekarang tuli atau bisu? Atau barangkali kau memang mempunyai nyawa yang liat, yang tidak dapat lepas dari tubuhmu” Dan sekali lagi Dipanala berdesis “Biarkan saja ia berteriak. Suaranya akan memanggil Raden Rudira dan ibundanya yang banyak ikut campur dalam setiap persoalan”Sura menggeram. Tetapi ia masih tetap berdiam diri ”Sura. Sura“ Mandra berteriak semakin keras. Sikap Sura yang diam itu membuatnya semakin marah.


Jilid 05
MANDRA berpaling. Ketika ia melihat Raden Rudira. maka ia pun segera berkata “Tuan. Cucunguk itu datang kemar i” “Siapa?” “Sura dan Dipanala” “Sura dan Dipanala?“ Raden Rudira terkejut. “Itulah mereka” Raden Rudira memandang ke dalam keremangan cahaya lampu yang sayup-sayup saja sampai. Tetapi iapun segera mengenal mereka berdua. Mereka benar-benar Sura dan Dipanala. Terdengar Raden Rudira menggeretakkan giginya. Lalu tiba-tiba keluar perintahnya sebelum ia sempat berpikir “Kepung mereka. Jangan sampai keduanya dapat lari dari halaman ini. Ikat mereka pada pohon sawo di halaman depan. Kita akan menunjukkan kepada semua abdi dan pengawal, bahwa yang terjadi adalah akibat dari pengkhianatan mereka”Sejenak para pengawal menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika Mandra mendahului melangkah mendekati Sura. maka yang lainpun segera mengikutinya. “Jangan melawan Sura” bisik Dipanala. “Apakah aku akan membiarkan dir iku mati dengan sia-sia” “Apakah kau masih percaya kepadaku?“ Sura merenung sejenak. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil berdesis “Ya. Aku masih percaya kepada Ki Dipanala” “Jika kau masih percaya kepadaku, jangan melawan. Aku masih mengharap bahwa kita tidak akan mati sambil terikat” “Aku tidak mau mati dengan tangan terikat. Aku ingin mati dengan pedang di tangan” “Percayalah kepadaku” Sura menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu orang- orang yang mengepungnya menjadi semakin rapat. Namun Sura tidak berbuat apa-apa seperti juga Dipanala. “Tangkap mereka. Jika mereka melawan, patahkan tangannya” teriak Raden Rudira. Ki Dipanala memandanginya sejenak, lalu jawabnya “Kami tidak akan melawan” “Bagus. Jika demikian ikat tangan mereka pada pohon sawo di halaman depan” Terdengar gigi Sura yang gemeretak. Tetapi ia tidak melawan seperti yang dinasehatkan Ki Dipanala, meskipun sebenarnya hatinya tidak mau menerima perlakuan itu. Dengan kasarnya Mandra mendorongnya dan kemudian beberapa orang mengikat tangannya dan menyeretnya kesebatang pohon sawo di halaman depan.“Tutup pintu regol. Jangan seorangpun yang diperbolehkan masuk” berkata Raden Rudira dengan lantang. Para penjaga di regol halaman, segera menutup pintu yang sudah tertutup itu menjadi semakin rapat dan memalangnya kuat-kuat. “Aku curiga, bahwa sebenarnya Sura tidak datang hanya berdua saja. Awasi semua sudut” Mandra mengerutkan keningnya, lalu berkata kepada kawan-kawannya “Benar juga. Mungkin mereka tidak hanya berdua saja. Awasi semua sudut” Beberapa orangpun segera memencar. Di dalam keremangan mereka mengawasi dinding-dinding halaman Dalem Ranakusuman. Mereka memperhatikan setiap desir dan setiap gerak. Tetapi tidak ada seorangpun yang mereka jumpai. Meskipun demikian mereka tetap Di tempatnya masing-masing. “Kau akan tetap terikat sampai besok Ki Dipanala” berkata Rudira “dan kau Sura, barangkali nasibmu akan lebih jelek lagi” Sura memandang Ki Dipanala sejenak, namun tampaknya wajah orang itu masih tetap tenang-tenang saja. Tetapi ketenangan Dipanala agaknya membuat hati Rudira semakin panas, sehingga iapun kemudian berteriak “Nasibmupun tidak perlu kau sesali. Besok, j ika matahari naik sampai keujung pepohonan, semua abdi dari istana ini akan berkumpul di halaman dan menyaksikan bagaimana aku memukul kalian dengan rotan sampai tubuh kalian tidak berbentuk. Setelah itu aku akan melemparkan kalian keluar regol halaman rumah ini untuk selamanya” Dipanala tidak menyahut sama sekali. Tetapi wajahnya masih tetap tenang dan seakan-akan yakin, bahwa tidak akan pernah terjadi sesuatu atas dirinya.Ternyata keributan dan teriakan-teriakan Raden Rudira telah membangunkan seisi istana itu. Bahkan Pangeran Ranakusuma yang telah nyenyakpun terbangun pula. Sambil bangkit dari pembaringannya ia berdesah “Apalagi yang dilakukan anak itu” Dengan wajah yang kusut Pangeran Ranakusuma keluar dari biliknya dan memukul sebuah bende kecil disisi pintu biliknya. Seorang pelayan dalam berlari-lari kecil mendekatinya. Beberapa langkah di hadapan Pangeran Ranakusuma pelayan itupun segera berjongkok sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Ada apa di luar?“ Pangeran Ranakusuma bertanya. “Raden Rudira sedang marah tuan” Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Ia berpaling ketika didengarnya suara isterinya, Raden Ayu Galihwar it “Siapakah yang kali ini dimarahinya?“ “Menurut pendengaran hamba, agaknya Raden Rudira marah-marah kepada Sura dan Ki Dipanala” “He?“ Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Tetapi yang bertanya lebih dahulu adalah Raden Ayu Sontrang “Maksudmu Ki Dipanala abdi Ranakusuman ini?“ “Hamba dengar demikian“ Sejenak Raden Ayu Galihwarit menjadi tegang. Tetapi iapun berusaha untuk menghilangkan kesan itu dari wajahnya. “Dimanakah mereka sekarang?“ “Di halaman depan tuan” Pangeran Ranakusuma termenung sejenak. Lalu ia bertanya kepada isterinya “Apakah ia mengatakan sesuatu tentang kedua orang itu?““Ya kamas. Ia merasa dikhianati oleh keduanya. Ia tidak berhasil mengambil gadis Jati Aking itu” “Gadis Jati Aking? Siapa?“ “Anak Danatirta” “He“ Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya “Jadi Rudira ingin mengambil anak gadis Danatirta?“ “Ya kamas. Aku memang memer lukan seorang pelayan untuk menjediakan kinangan dan botekan, khusus buatku” “Tetapi kenapa anak Danatirta? Aku sudah menit ipkan Juwiring di padepokan itu, dan sekarang Rudira ingin mengambil anaknya” “Apakah salahnya?“ Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Tidak. Aku tidak boleh membiarkannya. Keluarga kita tidak boleh menyakit i hatinya. Aku yakin, bahwa Danatirta tentu keberatan memberikan anaknya itu, dan Rudira tidak boleh memaksanya” “Tetapi itu dapat berarti menurunkan martabat kita kamas” “Kenapa?“ “Akan menjadi kebiasaan seorang rakyat kecil menolak perintah seorang bangsawan, apalagi seorang Pangeran seperti kamas Ranakusuma” “Tetapi perintah itu sama sekali tidak wajar” “Kenapa tidak? Bukankah sudah menjadi kebiasaan seorang bangsawan untuk mengambil seorang perempuan yang disukainya?“ Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat membantah karena ia pernah melakukannya, dan isterinya itupun mengetahuinya pula. Namun demikian, iamasih berkata “Tetapi Danatirta adalah seorang yang mengasuh anakku pula” “Ah, kamas masih selalu memikirkannya. Kamas masih selalu memperhitungkan anak itu, sedangkan yang sekarang menghadapi persoalan adalah Rudira, Putera kamas pula” Pangeran Ranakusuma menjadi termangu-mangu. Setiap kali ia dihadapkan pada persoalan yang rumit. Dan kali ini, ia berdiri disimpang jalan yang sangat membingungkan. Selagi ia termangu-mangu, maka Raden Rudirapun berjalan bergegas masuk ke ruang tengah dan langsung ke pintu bilik ayahandanya yang terbuka, sedang ayah dan ibunya masih berdiri di muka pintu dihadap seorang pelayan. “Ayahanda masih belum tidur?“ “Aku terkejut mendengar kau berteriak-teriak di halaman, aku baru bertanya apa yang sudah terjadi” “Aku telah menangkap Sura dan Ki Dipanala, keduanya aku ikat pada pohon sawo kecik di halaman untuk menjadi pengewan-ewan” “Rudira“ hampir berbareng ayah dan ibunya memotong. Namun hanya ayahanyalah yang melanjutkannya “Kau akan menghukum mereka?“ “Ya ayahanda. Aku akan menghukum kedunya” Wajah Ranakusuma menjadi tegang sejenak. Tanpa disadarinya ia berpaling memandang wajah Raden Ayu Galihwar it. Ternyata wajah itupun menegang pula. “Rudira” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Sura dan Dipanala adalah abdi-abdi Ranakusuman yang telah bertahun. Karena itu, setiap hukuman bagi mereka harus dipertimbangkan sebaik-baiknya” “Aku sudah mempertimbangkan ayahanda. Mereka adalah pengkhianat-pengkhianat yang harus dihukum. Mereka telahmenghina aku sebagai seorang putera Pangeran. Keduanya telah mencegah keinginanku mengambil seorang gadis dari padepokan Jati Aking. Mereka sama sekali tidak berhak berbuat demikian ayah” Pangeran Ranakusuma merenung sejenak. Dan sebelum ia menyahut. Raden Ayu Sontrang sudah mendahuluinya “Jangan berbuat sewenang-wenang terhadap keduanya Rudira. Terutama Ki Dipanala” “Kenapa dengan Ki Dipanala?“ bertanya Rudira “Ia tidak ada bedanya dengan abdi yang lain, sehingga karena itu, maka iapun waj ib mendapat perlakuan yang sama seperti Sura” Sejenak ayah dan ibu Rudira itu termenung. Namun kegelisahan yang sangat telah membayang di wajah mereka. Karena itu, tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma berkata “Aku ingin melihat mereka” “Tidak usah sekarang ayahanda. Biarlah mereka merasakan betapa dinginnya sisa malam ini” “Mereka tidak akan kedinginan karena hatinya yang panas” “Jika demikian, biarlah mereka merasakan panasnya sengatan rotan di punggung mereka besok siang” “Jangan kehilangan keseimbangan Rudira. Aku memerlukan Dipanala” “Ya“ sambung Raden Ayu Galihwar it “ Setidak-tidaknya Dipanala harus mendapat pertimbangan lebih banyak” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Timbullah pertanyaan di dalam hatinya, apakah Raden Ayu Sontrang juga mempunyai kepentingan dengan Dipanala seperti dirinya? Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak bertanya kepada isterinya. Kepada pelayan dalam ia berkata “Antarkan aku ke halaman depan”“Ayahanda“ Raden Rudira berusaha mencegah “biarkan mereka terikat sampai besok menjelang tengah hari. Biarlah mereka sekarang kedinginan, dan besok kepanasan” Tetapi Pangeran Ranakusuma t idak menjawab. Ia melangkah diikuti oleh Raden Ayu Galihwarit dan Raden Rudira. Di belakang mereka adalah pelayan dalam yang mendapat perintah untuk mengikutinya pula. “Aku masih memer lukan Dipanala” “Ya” sahut Raden Ayu Sontrang “Kau harus melepaskan Dipanala, Rudira” “Apakah yang lain pada Dipanala? Kenapa ayahanda agak terikat kepadanya?“ Ayahnya tidak menyahut. Tetapi jantung Raden Ayu Galihwar itpun menjadi berdebar-debar. Jika Rudira bertanya demikian kepadanya maka ia akan mengalami kesulitan untuk mencari jawabnya. Untunglah bahwa Rudira tidak bertanya kepadanya. Pangeran Ranakusuma sama sekali tidak menjawab pertanyaan Raden Rudira. Pelayan dalam itu bergegas membuka pintu samping ketika Pangeran Ranakusuma berkenan melalui pintu yang sudah ditutup rapat itu. Seusap angin malam yang berhembus dari Selatan telah membuat Pangeran Ranakusuma berdesis. Tetapi ketegangan di dalam hatinya membuatnya seolah-olah sama sekali tidak kedinginan. Bahkan beberapa titik keringat telah mengembun di dahinya. Kedatangan Pangeran Ranakusuma, Raden Ayu Galihwarit dan Raden Rudira membuat Sura menjadi berdebar-debar. Namun ia tidak mengerti, kenapa justru Ki Dipanala tersenyum karenanya. Senyum yang sama sekali tidak dapat dibaca maknanya.Beberapa orang prajurit yang ada di halaman itupun segera berjongkok. Berbagai pertanyaan telah timbul di dalam hati mereka. Apakah Pangeran Ranakusuma tidak sabar menunggu sampai besok?. Sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma sudah berdiri di hadapan Ki Dipanala. Dengan tajamnya ia memandang orang yang terikat itu. Namun sejenak kemudian, ia berpaling kepada Sura. Dan pertanyaan yang pertama-tama diberikan adalah justru kepada Sura “Sura, apakah benar kau sudah berkhianat?“ “Bukan maksud hamba berkhianat Pangeran” jawab Sura terbata-bata. “Jadi apakah maksudmu?“ “Hamba sekedar mulai berpikir dan menilai perbuatan- perbuatan hamba sendiri” “Apakah selama ini kau tidak pernah memikirkan perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakanmu?“ Sura menggelengkan kepalanya “Tidak tuan. Selama ini hamba t idak memikirkan perbuatan hamba” “Untuk apa sebenarnya kau mengabdikan dir imu, sehingga kau kehilangan kepribadianmu?“ Sura menundukkan kepalanya. Pertanyaan itu telah membelit hatinya kuat-kuat. “Ya. untuk apa?” Ia bertanya kepada dir i sendiri. Dan tiba-tiba saja ia menemukan jawab “Hamba ingin membuat keluarga, anak dan isteri hamba hidup agak baik tuan. Hamba telah menjual kepribadian hamba untuk itu” “Bukankah keputusan yang kau ambil itu juga hasil pemikiran? Apakah dengan demikian, bukan sebaliknya yang terjadi, bahwa justru sekaranglah kau telah kehilangankesempatan untuk berpikir? Untuk memikirkan keluargamu? Apakah dengan demikian, justru baru sekarang kau telah kehilangan arti dari dirimu sendir i? Kau memiliki kemampuan yang disertakan alam sejak kelahiranmu, dan kau dapat mempergunakannya sebaik-baiknya atas pertimbangan nalar untuk kesejahteraan keluargamu” Sura menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Ampun tuan. Jika hamba memandang dari segi itu, agaknya memang demikian. Hamba sudah kehilangan arti dari kemampuan yang hamba miliki bagi keluarga hamba. Tetapi pengenalan arti yang hamba maksudkan adalah pengenalan atas baik dan buruk, atas kebenaran yang kesesatan” “O“ Pangeran Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya “Kau mulai berguru olah kajiwan. Apakah kau ikut serta dengan Juwiring belajar pada Kiai Danatirta? Atau tiba- tiba saja kau mendapat ilham yang mengajarmu tentang baik dan buruk dan tentang kebenaran dan kesesatan?“ “Ampun Pangeran. Hamba tidak mempelajarinya dari Kiai Danatirta. Tetapi hamba mempelajari dar i jalan hidup hamba sendiri. Meskipun pengenalan atas baik dan buruk itu ada sejak aku sadar akan diriku di masa kanak-kanak, tetapi pengakuan dan penghayatannya itulah yang seakan-akan telah membuat aku manusia yang lahir kembali sekarang ini” “He, darimana kau belajar menyusun pembelaan ini? Kau memang mengagumkan Sura. Aku kira kau tidak pernah belajar apapun juga, dan tidak mempelajari ilmu kaj iwan dan pandangan hidup. Tetapi kau dapat menyebut kalimat-kalimat yang bernafas kajiwan. Bahkan aku telah mengagumi kata- katamu” Sura menunduk dalam-dalam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Menurut pengertiannya, tiba-tiba saja ia menyadarinya. Dan ia t idak dapat menyebutkan sumber yang manakah yang telah mengalir i hatinya, sehingga ia mampu mengucapkan kata-kata itu.“Sura” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Sayang, bahwa justru pengalamanmu atas dirimu sendir i itulah yang membuatmu telah berkhianat. Berkhianat kepada bendara dan berkhianat kepada kesadaranmu berkeluarga. Jika kau dihukum karenanya, maka keluargamu pasti akan terlantar” Dada Sura menjadi berdebar-debar. Sekilas ia memandang wajah Ki Dipanala yang masih terikat. Tetapi wajah itu masih tetap tenang dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa atasnya. “Apakah justru Ki Dipanala ini sekedar berpura-pura untuk menjebakku. Kemudian ia akan terlepas dari semua tanggung jawab yang mereka tuduhkan pengkhianatan ini?“ “Sura” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Kau adalah abdi yang sudah lama. Lama sekali. Tetapi sekarang kau dihadapkan pada suatu kenyataan, bahwa kau terpaksa mendapat hukuman. Sudah barang tentu bahwa itu adalah sekedar akibat dari kekeliruanmu” Sura sama sekali tidak menjawab. “Tetapi kau memang seorang laki-laki. Kau menghadapi semuanya dengan sikapmu yang jantan. Itulah yang masih ada padamu satu-satunya. Kejantanan” Sura masih tetap berdiam diri. Ia mengangkat wajahnya sebentar ketika Pangeran Ranakusuma kemudian berpaling kepada Ki Dipanala “Dipanala. Persoalanmu agak berbeda dengan Sura. Jika kau bersedia minta maaf kepadaku dan kepada Rudira. kau akan dibebaskan dari segala tuntutan” Pertanyaan itu telah mendebarkan dada Sura. Jika Dipanala sekedar minta maaf, dan kemudian dilepaskan tanpa menghiraukan dir inya, maka sadarlah ia bahwa sebenarnya Dipanala telah menjebaknya sehingga ia tidak melawan sama sekali ketika kedua tangannya diikat.Tetapi jawaban Dipanala benar-benar mengejutkannya “Tuan. Hamba tidak bersalah. Karena itu hamba tidak akan mohon maaf kepada siapapun juga” “Dipanala” tiba-tiba saja wajah Ranakusuma menjadi tegang. “Hamba hanya sekedar mencoba meluruskan jalan yang dilalui oleh Raden Rudira terhadap Arum, anak gadis Kiai Danatirta. Apakah hal itu sudah cukup kuat dipergunakan sebagai alasan untuk menyebut pengkhianat dan mengikat hamba di sini?“ “Kenapa kau ikut mencampur i persoalan ini?“ “Barangkali hamba memang suka mencampur i persoalan orang lain. Bukan baru kali ini hamba mencampuri persoalan penghuni Dalem Ranakusuman ini” “Cukup” tiba-tiba Raden Ayu Galihwarit berteriak memotong. Semua orang berpaling kepadanya. Bahkan Pangeran Ranakusuma memandangnya dengan heran. Apalagi Raden Rudira. Namun Raden Ayu Galihwarit segera menyadari keadaannya sehingga ia berkata seterusnya “Kau tidak usah mengigau. Seandainya kau memang pernah mencampuri urusan orang lain pula, aku tidak peduli. Tetapi aku minta kau jangan mencampuri persoalan anakku” Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang peristiwa-peristiwa yang suram yang terjadi di dalam halaman istana Ranakusuman ini. Namun kemudian ia berkata “Terserahlah kepada penilaian tuan. Tetapi hamba dan kawan hamba ini tidak bersalah. Jika hamba akan dihukum, maka sudah tentu hamba tidak akan mau mengalami derita seorang diri atau hanya berdua dengan Kawan hamba ini” Raden Ayu Galihwarit menggigit bibirnya. Namun wajah Pangeran Ranakusumapun menjadi tegang.“Jangan hiraukan orang itu ayahanda” berkata Raden Rudira kemudian “Aku akan memanggil para pengiring besok setelah matahari terbit. Aku dapat menghukum keduanya dengan cara yang paling menarik, selain hukumpicis” “Apa yang dapat kau lakukan Rudira?” “Macam-macam sekali ayah. Aku dapat membakar dua potong besi sehingga membara. Jika ujung-ujung besi itu tersentuh mata keduanya, maka akibatnya akan dapat dibayangkan” Terasa bulu-bulu tengkuk Raden Ayu Galihwarit meremang. Namun sebelum ia berkata sesuatu, Pangeran Ranakusuma telah mendahului “Rudira. Kita hidup pada jaman peradaban. Kita bukan lagi orang-orang liar yang dapat dengan sekehendak hati kita memperlakukan sesama manusia” Rudira menjadi heran mendengar kata-kata ayahnya. Ayahnya tentu tahu, bahwa ia tidak akan memperlakukan kedua orang itu seperti yang dikatakan. Tetapi ia benar-benar akan mendera keduanya dengan cambuk atau rotan. Belum lagi keragu-raguan itu mereda, tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma berkata “Lepaskan Dipanala” Kata-kata itu benar-benar telah mendebarkan jantung Raden Rudira. Namun selain Rudira, Surapun menjadi berdebar-debar pula. Perintah Pangeran Ranakusuma hanya berlaku bagi Dipanala. Tetapi tidak berlaku baginya. Namun ternyata Dipanala bertanya “Apakah aku akan dilepaskan sendiri?“ “Ya, kau akan dilepaskan atas perintahku. Kau sudah lama sekali t inggal di rumah ini. Karena itu, aku masih juga mempunyai perasaan iba” “Tuan” berkata Dipanala “Masa pengabdianku dan Sura tidak terpaut banyak. Karena itu, hamba mohon agar Sura juga mendapatkan kesempatan seperti hamba”“Gila” bentak Pangeran Ranakusuma “Aku hanya memaafkan engkau. Itu tergantung atas kehendakku” “Jika tuan tidak berbuat adil, maka biarlah hambapun mengalami perlakuan seperti yang akan dialami Sura. Hambapun tidak berkeberatan mengalami dera dengan cambuk atau rotan seratus kali pada badan hamba” “Dipanala. kau jangan berbuat bodoh dan gila. Aku tidak mau berbuat lain kecuali mengampuni kau meskipun Rudira tidak setuju. Sedang Sura, bagiku bukan seseorang yang aku perlukan lagi” “Tuan, soalnya bukan diper lukan atau tidak diperlukan. Soalnya aku dan Sura dapat dianggap berbuat kesalahan yang sama“ “Tidak. Jauh berbeda” sahut Raden Rudira “meskipun aku ingin menghukum kalian berdua, namun sebenarnya kesalahan Sura jauh lebih besar dari kesalahanmu. Sura dengan tegas menentang kehendakku. Ia berani melawan Mandra yang bertindak atas namaku“ Dipanala mengerutkan keningnya. Namun katanya “Tergantung kepada Pangeran. Tetapi hamba mohon Sura juga dilepaskan” “Tidak. Jika ayahanda ingin memaafkan kau Ki Dipanala, aku masih dapat mengerti, karena selama ini kau nampaknya mempunyai pengaruh atas ayahanda. Tetapi tidak dengan Sura. Ia benar-benar sudah berkhianat. Bukan saja dengan angan-angan. tetapi sudah dilakukan dengan perbuatan” “Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma “Kau hanya mempunyai dua pilihan. Menjalani hukuman bersama Sura, atau kau mohon maaf dan aku lepaskan” “Hamba memang mempunyai dua pilihan. Dilepaskan bersama-sama atau harus menjalani hukuman bersamanya. Perbedaan hukuman dan pengampunan sama sekali tidak adil.Dan hambapun sama sekali tidak berbuat kesalahan menurut hemat hamba” Raden Rudira menggeretakkan giginya. Katanya “Aku akan menghukum kedua-duanya “ Sejenak Pangeran Ranakusuma termenung. Ketika ia berpaling memandang isterinya, tampaklah betapa ketegangan yang memuncak membayang di wajahnya. “Apakah pertimbanganmu?“ tiba-tiba Pangeran Ranakusuma bertanya. Raden Ayu Galihwarit mendapatkan kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu, sehingga karena itu Pangeran Ranakusuma mendesaknya “Apa yang baik kita lakukan sekarang?“ Tubuh ibunda Raden Rudira itu menjadi gemetar. Disela- sela deru nafasnya ia berkata “Yang manapun yang baik menurut kakanda” Dipanala menjadi berdebar-debar juga. Memang ia mempunyai keuntungan dengan sikapnya. Tetapi kemungkinan yang lain justru pahit sekali. Baik Pangeran Ranakusuma, maupun Raden Ayu Galihwarit dapat memer intahkan untuk segera membunuhnya, agar mulutnya tidak lagi dapat mengucapkan kata-kata. “Jika demikian yang terjadi, apaboleh buat. Tetapi aku pasti masih mempunyai kesempatan untuk berteriak meskipun hanya beberapa kata. Dan yang beberapa kala itu akan membawa Pangeran Ranakusuma suami isteri untuk bersama- sama mengalami kenyerian yang tiada taranya meskipun berbeda bentuknya. Namun Pangeran Ranakusuma tidak segera berbuat sesuatu, la masih berdiri saja mematung memandang Dipanala yang terikat itu. Sekali-sekali dipandanginya pula wajah Sura yang tegang.Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Keduanya adalah abdi yang termasuk paling lama bekerja di Ranakusuman. Tetapi Sura bagi Pangeran Ranakusuma tidak lebih dari benda-benda mati. Jika ia tidak terpakai lagi, maka apa salahnya jika ia dibuang. Tetapi agaknya tidak demikian dengan Dipanala. Namun karena itu, Dipanala menjadi lebih tidak disukai lagi. Bahkan memang terlintas di angan-angan Pangeran Ranakusuma “Kenapa orang ini tidak segera mati saja?“ Selagi Pangeran Ranakusuma termangu-mangu, maka Raden Rudira berkata “Serahkan kepadaku ayahanda. Mungkin ayahanda tidak akan sampai hati karena orang-orang ini sudah terlalu lama berada dan mengabdikan dir i kepada ayahanda. Tetapi penghinaan yang diberikan kepadaku sepantasnya untuk diperhitungkan sebaik-baiknya. Dan aku tidak berkeberatan sama sekali untuk melakukannya. Wajah Pangeran Ranakusuma menjadi semakin tegang. Keringat dingin mulai mengalir di punggung dan tengkuknya. Raden Rudira menjadi heran melihat sikap ayahandanya. Bahkan sikap ibundanya Galihwar it. Seakan-akan ada sesuatu yang menghantui mereka berdua, sehingga mereka berdua tidak segera berani mengambil suatu sikap terhadap Dipanala. Setelah mengalami perjuangan yang berat di dalam jantungnya, tiba-tiba dengan suara gemetar Pangeran Ranakusuma berkata kepada anaknya “Lepaskan mereka” “Ayahanda“ Raden Rudira hampir berteriak “Mereka telah menghina aku. Sura terlebih- lebih lagi. Ia menghina aku di Sukawati dan kemudian di padepokan Jati Aking. Apakah ia harus dilepaskan?“ Terasa tubuh Pangeran itu menjadi semakin gemetar. Dipandanginya wajah Dipanala yang tenang. Lalu iapun menggeram “Kau memang licik seperti setan, Dipanala. Tetapijangan kau berharap bahwa lain kali kau dapat mempergunakan akal licikmu ini” “Tuan” berkata Dipanala “hamba sama sekali tidak ingin berbuat licik. Hamba hanya memohon agar tuan sudi mempertimbangkan untuk melepaskan kami, karena kami tidak bersalah. Sehingga karena itu maka kami berkeberatan untuk memohon maaf kepada Raden Rudira” “Diam, diam kau” teriak Pangeran Ranakusuma yang menjadi semakin marah. Tiba-tiba saja tangannya telah menampar mulut Dipanala, sehingga wajah Dipanala terdorong dan membentur batang sawo. Namun kemudian dengan suara yang bergetar Pangeran Ranakusuma berkata “Lepaskan mereka. Lepaskan setan-setan licik ini” “Ayahanda“ “Lepaskan, lepaskan. Apakah kalian mendengar?“ Raden Rudira menjadi tegang. Apalagi ketika ia melihat beberapa orang berdiri termangu-mangu di kejauhan. Di antara mereka adalah Mandra. Karena Rudira masih termangu-mangu, maka ayahandanya Pangeran Ranakusuma berteriak sekali lagi “Lepaskan. Lepaskan, apakah kalian tuli he?“ Selagi Raden Rudira berdiri termangu-mangu, maka ibunya, Raden, Ayu Galihwarit mendekatinya sambil berbisik “Jangan membantah per intah ayahanda, Rudira. Lepaskan. Kau tidak memer lukan keduanya” Terasa kerongkongan Raden Rudira seperti tersumbat. Bahkan matanya terasa menjadi panas. “Tetapi, tetapi . . ” ia masih akan berkata lebih banyak lagi. Namun dengan jari-jarinya ibunya menyentuh bibir puteranya sambil berkata pula “Rudira, bukankah kau satu-satunya Putera ayahanda yang paling patuh? Nah, lepaskan mereka seperti yang diperintahkan oleh ayahanda”Betapa kecewa menghentak-hentak dada Raden Rudira. Hampir saja ia berteriak dan menangis terlolong-lolong. Kekecewaan yang datang beruntun membuat hatinya serasa pecah. Dan kali ini ayahandanya dan ibundanya sendirilah yang membuatnya kecewa. Kecewa sekali, seperti saat ia gagal mengambil Arum. “Ibu membiarkan aku pergi ke Jati Aking” suara Rudira terputus-putus ”Tetapi ibu membiarkan pula aku terhina” “Bukan maksudku Rudira. tetapi sebaiknya kau melakukan perintah ayanda” Raden Rudira tidak dapat membantah lagi. Dengan mata yang menjadi merah, ia berteriak kepada pelayan dalam yang berdiri mematung “Lepaskan, lepaskan” Pelayan dalam itu termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia maju beberapa langkah dan melepaskan tali pengikat kedua orang itu pada batang-batang sawo di halaman itu. Ketika tali-tali itu terlepas, maka Dipanala dan Sura hampir berbareng menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada yang dalam Dipanala berkata “Tuan, hamba mengucapkan beribu terima kasih” “Diam, diam“ Pangeran Ranakusuma berteriak. Dipandanginya Dipanala dan Sura sejenak. Namun iapun kemudian segera melangkah meninggalkan halaman depan itu kembali memasuki ruangan dalam istananya diikut i oleh isterinya. Raden Rudira masih berdir i sejenak di halaman. Sorot matanya yang membara itu bagaikan menyala. Dengan suara gemetar ia berkata “Dipanala, apakah kau dapat menyihir dan memaksa ayahanda mengambil keputusan itu lewat tatapan matamu?” “Tidak tuan. Aku sama sekali tidak mengenal ilmu itu”“Tetapi kau sanggup memaksa ayah melepaskan kau berdua. Tetapi jangan tertawa atas kemenanganmu kali ini. Kau tahu siapa Raden Rudira. Pada suatu saat, aku akan menebus semua kegagalanku sekaligus. Petani Sukawati, Arumdan kau berdua” Dipanala tidak menyahut. Bahkan ditundukkannya wajahnya. Dan Rudira masih berkata “Dengan kemenanganmu sekarang ini ternyata telah mendekatkan kau kejalan kematianmu. Kau harus tahu, bahwa aku sama sekali tidak dapat menerima keadaan serupa ini” Dipanala masih tetap berdiam dir i. lapun mengerti, betapa kecewa hati anak muda itu. Karena itu, ia tidak ingin membakarnya sehingga dapat menghanguskannya sama sekali. Dalam pada itu di dalam istana, Pangeran Ranakusuma duduk dengan wajah yang suram. Isterinya, Raden Ayu Galihwar it berdir i bersandar bibir pintu biliknya. “Kenapa kau kali ini bersikap lain?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. “Maksud Pangeran?“ “Kau biasanya terlalu memanjakan anakmu. Tetapi kenapa kali ini kau membenarkan sikapku?“ “Pertanyaan Pangeran sangat aneh” sahut isterinya “bukankah aku berusaha untuk ikut memberikan bimbingan kepada Rudira, dan mendidiknya untuk mematuhi perintah ayahandanya” Pangeran Ranakusuma tidak bertanya lagi. Terasa sesuatu yang lain pada sikap isterinya saat itu. Kenapa ia tidak justru memaksanya untuk menyerahkan Dipanala dan Sura kepada Rudira?Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak bertanya lagi. Apalagi ketika anak gadisnya terbangun pula dan datang mendekati ibunya “Apa yang terjadi ibunda?“ ”Tidak apa-apa sayang. Tidurlah” “Saat apakah sekarang ini? Apakah masih belumpagi?“ “Belum. Hari masih malam” “Tetapi kenapa ayahanda dan ibunda tidak t idur pula?“ “Kami terbangun karena keributan di halaman. Kakandamu Rudira sedang sibuk dengan hamba-hamba istana yang licik dan berkhianat” “O, apakah kamas Rudira sedang menghukum mereka” “Ya” “Aku akan melihatnya” “Jangan, jangan“ tiba-tiba Raden Ayu Galihwarit menangkap lengan anaknya. Kemudian dibimbingnya anak itu masuk ke dalam biliknya sambil berkata kepada Pangeran Ranakusuma “Perkenankan aku menidurkan anak ini kamas” Pangeran Ranakusuma menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab sepatah kalapun. Sepeninggal Raden Ayu Galihwarit, Pangeran Ranakusuma masih saja duduk di tempatnya. Terbayang sekilas beberapa peristiwa yang tidak akan dapat dilupakan. Dan peristiwa itulah yang memaksanya untuk tidak dapat membiarkan Dipanala mener ima hukumannya, apabila ia tidak ingin terseret ke dalam kesulitan. “Setan itu sebaliknya lekas mati. Aku akan segera berusaha memeras aku. tetapi pada suatu saat ia dapat berbahaya bagiku” Tetapi melenyapkan Dipanala bukan suatu pekerjaan yang mudah. Pangeran Ranakusuma tahu benar, bahwa Dipanalaadalah seorang bekas prajurit yang mumpuni. Tetapi kini ia hampir tidak pernah bersikap dengan berlandaskan kepada kemampuannya dalam olah kanuragan. Namun demikian, di dalam keadaan yang memaksa, maka Dipanala adalah seekor harimau yang garang. Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Harimau itu kini tampaknya menjadi j inak. Bahkan ia sama sekali t idak berbuat apa-apa ketika Rudira dan pengir ingnya mengikatnya pada pohon sawo. Apabila Dipanala dan Sura itu melakukan perlawanan, maka akibatnya seisi istana Kapangeranan ini akan terlibat. Untuk berhasil menundukkan kedua orang yang bekerja bersama itu, diperlukan waktu dan tenaga. Dalam kebingungan itu Pangeran Ranakusuma melihat Raden Rudira memasuki biliknya tanpa berkata sepatah katapun. Dibantingnya tubuhnya di pembaringannya dengan kesalnya. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak menghiraukannya. Ia masih tetap duduk sambil merenung. Di bilik yang lain. Raden Ayu Galihwarit berbaring disisi anak gadisnya. Sekali-sekali puterinya itu bertanya, namun. Raden Ayu Galihwarit selalu menghindar dan menjawab “Tidurlah. Tidurlah” “Sebentar lagi hari akan menjadi terang. Aku tidak dapat Tidur lagi ibu” “Kalau begitu, ibulah yang akan tidur. Ibu terlalu lelah“ Puterinya tidak menyahut. Dibiarkannya Ibundanya berbaring diam disisinya. Tetapi ketika ia memandang wajah ibundanya dengan sudut matanya, ternyata mata Raden Ayu Galihwar it itu tidak terpejam. Dalam pada itu. Raden Ayu Galihwarit yang memandangi atap biliknya itu benar-benar sedang digelisahkan oleh peristiwa-peristiwa yang beruntun terjadi. Namun yang palingmenggelisahkannya adalah karena Dipanala sudah tersangkut pula di dalamnya. “Setan itu memang licik “Ia berkata di dalam hatinya “kenapa la tidak mati saja” Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam, sehingga desah nafasnya telah membuat puterinya berpaling. Tetapi gadis itu sama sekali tidak bertanya. Persoalan yang diketahuinya itu agaknya telah dipergunakannya sebagai alat untuk menyelamatkan diri Bahkan mungkin di saat-saat mendatang ia berbuat lebih berani lagi“ Raden Ayu Ranakusuma itu meneruskan di dalam hati “meskipun sampai saat ini ia belum pernah melakukan pemerasan, tetapi apakah hal itu pada suatu suat tidak terjadi? Raden Ayu Galihwarit itupun menjadi heran, bahwa sikap Pangeran Ranakusuma t iba-tiba saja menjadi begitu lunak terhadapnya. Bahkan Pangeran Ranakusuma terpaksa menurut i permintaan Dipanala untuk melepaskan Sura pula. “Pengaruh apa pula yang ada pada Dipanala terhadap kamas Ranakusuma?“ Pertanyaan itu ternyata telah sangat mengganggunya. Jika tidak ada sesuatu yang menyebabkannya. Pangeran Ranakusuma tentu tidak akan berbuat sedemikian lunaknya terhadap Dipanala dan kepada Sura. Meskipun kadang-kadang Pangeran Ranakusuma tidak sependapat dengan tingkah laku anak laki- lakinya. tetapi ia jarang sekali mengurungkan keputusan yang sudah diambil oleh anak itu. Namun kali ini. Pangeran Ranakusuma telah menggagalkan niat Raden Rudira untuk menghukum kedua orang itu. Mutlak. Ketika Raden Ayu Galihwar it berpaling, dilihatnya puterinya telah tertidur nyenyak di sampingnya. Karena itu, maka perlahan-lahan ia bangkit dan meninggalkan pembaringan itu.Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam ketika dari celah-celah pintu ia masih melihat Pangeran Ranakusuma duduk termenung. Tetapi ia sama sekali tidak menyapanya, bahkan Raden Ayu Galihwarit itu pun langsung pergi ke pembaringannya sendiri. Dalam pada itu, di halaman Sura masih berdiri termangu- mangu. Seperti bermimpi ia melihat orang-orang yang sudah siap untuk menghukumnya itu berlalu. Sejenak kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Dipanala sejenak. Namun akhirnya ia tidak dapat menahan keinginannya untuk mengetahui, apakah sebabnya semuanya itu sudah terjadi. “Apakah seperti kata Raden Rudira, kau sudah menyihirnya Ki Dipanala?” bertanya Sura. Ki Dipanala memandang Sura sejenak. Namun iapun kemudian tersenyum sambil menyahut “Aku tidak mengenal ilmu itu” Tetapi kenapa Pangeran Ranakusuma memenuhi permintaanmu, bahkan melepaskan aku sekaligus” Ki Dipanala mengangkat bahunya. Namun ia tidak menjawab. “Dan yang lebih mengherankan lagi, karena Raden Ayu Sontrang itu kali ini tidak memaksakan kehendak anak laki- lakinya yang manja itu? Jika Raden Ayu Galihwarit itu mencoba menekan Pangeran Ranakusuma, jangankan aku dan kau, sedangkan isterinya yang lain telah disingkirkannya, dan bidikan puteranya Raden Juwiring” Dipanala tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk- angguk kecil. “Apakah sebabnya?“ Sura mendesak.Tiba-tiba saja Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak begitu mengerti Sura. Tetapi aku masih mempunyai keyakinan bahwa kata-kataku masih juga didengar, justru oleh yang tua-tua. Tidak oleh Raden Rudira sendiri, karena ia belum mengenal aku sejauh-jauhnya” “Tidak banyak yang mengenal kau ki Dipanala. Meskipun kita bersama-sama berada di rumah ini bertahun-tahun, tetapi aku masih juga tidak mengerti, apa yang sebenarnya telah kau lakukan terhadap isi istana ini, sehingga seakan-akan kata-katamu merupakan keputusan bagi mereka” Sekali lagi Ki Dipanala menggeleng. Katanya “Entahlah. Mungkin karena aku mereka anggap sebagai orang tua di sini. Atau barangkali karena aku sudah terlalu lama t inggal di rumah ini” Sura memandang Dipanala dengan tatapan mata yang aneh. Namun seolah-olah Ki Dipanala itu diliputi oleh suatu rahasia yang tidak dapat diduganya. Tetapi Sura tidak bertanya lagi. Ia mengerti, bahwa Ki Dipanala tidak akan mengatakannya meskipun ia berulang kali mendesaknya. “Yang harus kau ketahui Sura” berkata Ki Dipanala kemudian “bahwa karena kata-kataku seakan-akan harus mereka dengar itulah, maka sebenarnya aku berada di ujung bahaya”Sura menjadi semakin tidak mengerti. Karena itu ia berkata “Kau bagiku seperti bayangan dikegelapan. Aku tidak dapat melihat garis-gar is bentukmu Ki Dipanala” “Mereka lebih senang melihat aku mati daripada aku masih harus berbicara, karena kata-kataku ternyata masih harus mereka dengarkan” “Aku menjadi semakin tidak mengerti. Tetapi Ki Dipanala tidak akan menjelaskannya kepadaku” “Ya. Karena persoalannya memang tidak dapat dijelaskan“ Sura menarik nafas dalam-dalam. “Sudahlah” berkata Ki Dipanala “Marilah kita kembalikan kuda-kuda itu ke kandangnya” Sura tidak menjawab. Diikutinya saja Ki Dipanala yang mengambil kudanya dan menuntunnya. “Kita akan lewat regol depan” Sura mengangguk. Namun kemudian ia bertanya “Apakah aku masih akan dapat masuk lagi?“ “Kau akan memasuki halaman ini bersamaku” Sura mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanyapun kemudian menuntun kuda-kuda mereka keluar halaman. Setelah mengitari dinding samping maka merekapun memasukkan kuda itu di kandangnya. di halaman belakang rumah Ki Dipanala. “Aku tidak mengerti Ki Dipanala. apakah sebaiknya aku tetap berada di Dalem Ranakusuman” “Kau belum diusir. Tetapi jika kau ingin pergi, sebaiknya kau siapkan tempat baru itu, supaya keluargamu tidak terlantar”“Tetapi j ika terjadi sesuatu dengan aku di Dalem Ranakusuman, apakah isteri dan anak-anakku harus menyaksikannya?“ Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya, ia dapat mengerti keberatan itu, sehingga katanya “Memang, sebaiknya kau bawa keluargamu pergi. Tetapi kau harus minta diri kepada Pangeran Ranakusuma, selagi aku masih dapat berbuat sesuatu untuk keselamatanmu dan keluargamu. Jika sampai saatnya aku sendiri akan dipancung, maka semuanya sudah akan lewat. Aku tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi” Sura mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia bergumam “Apakah aku dapat menghadap Pangeran Ranakusuma untuk minta diri?“ “Aku akan mengusahakan. Dan itu harus terjadi segera, sebelum keadaan berubah. Mungkin aku sudah tidak diperlukan lagi atau mungkin aku sudah terbunuh” “Lalu bagaimana dengan Ki Dipanala sendiri? Apakah Ki Dipanala t idak akan meninggalkan DalemRanakusuman?“ Ki Dipanala tidak segera menjawab. Sorot matanya memancarkan keragu-raguan. Namun kemudian ia menggeleng “Sementara ini belum. Aku masih didengar oleh Pangeran Ranakusuma. Senang atau tidak senang” “Tetapi apakah Ki Dipanala dapat mengetahui, sampai kapan Ki Dipanala akan mendapatkan kepercayaan itu, maksudku, bahwa kata-kata Ki Dipanala masih didengar oleh Pangeran Ranakusuma?“ Ki Dipanala menggeleng. Jawabnya “Aku tidak tahu” Keduanyapun kemudian saling berdiam dir i sejenak. Namun Ki Dipanala kemudian berkata Sura, kita masih mempunyai kesempatan sedikit untuk beristirahat. Meskipun langit sudah menjadi merah, namun kita masih sempal tidur meskipun hanya sekejap dan kita akan bangun kesiangan”“Apakah kita tidak kembali ke Ranakusuman?“ “Besok saja kita kembali ke Ranakusuman. Para penjaga regol itu akan menjadi jengkel, jika setiap kali kita minta mereka membuka pintu untuk kita” Sura tidak menyahut. Diikutinya saja Ki Dipanala pergi ke serambi depan rumahnya yang tidak begitu besar. “Kau dapat berbaring di amben ini. Aku tidak dapat mempersilahkan kau tidur di dalam, karena tidak ada lagi tempat” “Dan kau?“ “Aku akan tidur di ketepe itu” “Apakah anyaman belarak itu masih ada?“ “Untuk apa?“ “Aku juga lebih suka tidur di lantai, diatas ketepe belarak seperti kau” Ki Dipanala termenung sejenak Namun kemudian iapun mengetuk pintu rumahnya untuk mengambil tikar. “He, apakah kita benar-benar tidak akan t idur di dalam?“ bertanya Ki Dipanala kemudian “meskipun hanya di lantai?“ “Aku akan tidur di luar saja” Namun Ki. Dipanalapun kemudian berbaring juga diatas tikar pandan di samping Sura. Ternyata Sura masih juga sempat tidur mendekur. Meskipun agak gelisah, tetapi ia masih sempat melepaskan ketegangan di dalam hatinya. Tidur adalah suatu pelepasan yang baik bagi orang-orang yang mengalami himpitan perasaan seperti Sura. Tetapi Ki Dipanala sendiri sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ia ternyata lebih gelisah dari Sura.Yang terbayang di dalam angan-angan Ki Dipanala justru karena ia masih juga mempunyai pengaruh yang mantap terhadap Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit. “Tetapi pada suatu saat, mereka akan melenyapkan pengaruh ini, karena pengaruh itu terjadi bukan karena persoalan yang wajar. Bukan karena aku orang tua, bukan karena aku sudah terlalu lama berada di Dalem Ranakusuman, dan bukan karena nasehat-nasehatku mempunyai pengaruh yang sangat baik, atau bukan karena aku seorang yang pandai dan mumpuni” berkata Ki Dipanala di dalam hatinya. Sambil berbar ing terbayang kembali per istiwa-peristiwa yang pernah dialaminya. Peristiwa yang hanya karena kebetulan saja ia berkesempatan untuk mengambil keuntungan daripadanya. Dipanala menar ik nafas dalam-dalam Namun ia t idak mencoba untuk membayangkan kembali apa yang sudah terjadi dengan Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwar it. Namun, betapa Ki Dipanala dicengkam oleh kegelisahan, tetapi oleh lelah dan udara yang dingin segar, maka Ki Dipanala itupun terlena meskipun hanya sebentar. Dan ternyata bahwa Ki Dipanalapun telah terbangun lebih dahulu. Dibiarkannya saja Sura masih terbaring diatas tikar sambil memejamkan matanya. Agaknya ia dapat juga tidur nyenyak dalam keadaan yang bagaimanapun juga. Namun tidak lama kemudian, Surapun sudah terbangun pula. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke pakiwan untuk membersihkan dir inya dan membenahi pakaiannya. “Kita pergi ke Dalem Ranakusuman Ki Dipanala” bertanya Sura. “Sepagi ini?“ “Tidak ada pagi tidak ada sore bagiku sekarang”Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Kegelisahan yang sangat telah merayapi dada Sura begitu ia terbangun dari tidurnya. Ia justru ingin segera masuk ke halaman istana Ranakusuman. Ia ingin segera mengerti, akibat atau hukuman apa lagi yang akan diterimanya. Dan apakah masih ada kesempatan baginya untuk meninggalkan halaman itu tanpa meninggalkan kepalanya. Karena agaknya Raden Rudira benar-benar menganggapnya sebagai seorang pengkhianat. “Baiklah Sura” berkata Ki Dipanala “Memang t idak ada batasan waktu bagimu sekarang. Marilah, aku antarkan kau masuk ke halaman itu” “Jika aku masih mendapat kesempatan” berkata Sura “Aku akan segera meninggalkan Ranakusuman bersama seluruh keluargaku” “Kau belum mempersiapkan tempat untuk keluargamu Sura?“ “Aku mempunyai sekedar war isan meskipun hanya sejengkal. Dan aku sudah memperluasnya sedikit dengan uang yang aku terima selama aku menj ilat di Ranakusuman” “Apakah rumah warisan itu sudah siap kau pergunakan?“ “Siap atau tidak siap. Soalnya, semakin lama aku tinggal di Ranakusuman, maka kemungkinan-kemungkinan yang buruk akan selalu dapat terjadi. Kadang-kadang akupun kehilangan pengendalian diri apabila aku melihat tampang Mandra” Ki Dipanala mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti perasaan Sura, bagaimana ia merasa dirinya didesak oleh Mandra dan tersingkir karenanya. Ketika mula-mula Raden Rudira menjumpai Arum di bulak Jati Sari, sebelum mereka selalu dihantui oleh wajah Petani dari Sukawati, maka Sura masih menjadi orang pertama di antara para pengiring dan pengawal di Ranakusuman. Namun kini Sura hampir sudahtidak berarti lagi, bahkan hampir saja ia mengalami hukuman cambuk yang sangat pedih. Demikianlah keduanyapun segera kembali masuk ke halaman Ranakusuman lewat regol depan. Para penjaga yang melihat kedatangan mereka hanya menar ik nafas dalam- dalam. Ternyata keduanya adalah orang-orang aneh di dalam pandangan mereka. Bahkan seakan-akan keduanya dengan sengaja hilir mudik memamerkan dir i. Namun ketika salah seorang abdi berdesis di samping Sura yang kebetulan lewat “Kau datang kembali Sura?“ Maka Sura menjawab tanpa berhenti “Untuk yang terakhir kalinya” “Mudah-mudahan kau dapat keluar lagi dari halaman ini” sahut abdi itu. Tetapi Sura sudah semakin jauh sehingga ia sama sekali tidak mendengarnya. Dalam pada itu, Ki Dipanalalah yang berusaha untuk dapat menghadap Pangeran Ranakusuma. Lewat seorang Pelayan Dalam, Kj Dipanala menyampaikan permohonan untuk mendapat waktu beberapa saat saja. “Ampun tuan” berkata Pelayan Dalam itu sambil berjongkok dan menyembah. “Persetan dengan Dipanala. Katakan kepadanya, aku tidak mempunyai waktu. Suruh ia pergi sampai saatnya aku memanggilnya” Pelayan Dalam itu membungkukkan kepalanya. Tetapi sebelum ia pergi Raden Ayu Galihwarit berkata “Ber ilah orang itu waktu barang sekejap kamas. Aku ingin mendengar, apa yang akan dikatakannya” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah isterinya sejenak, namun ketika Galihwarit tersenyum, Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam sambil berkata “Aku hanya mempunyai waktu sedikit”Pelayan Dalam itu membungkuk sekali lagi sambil menyembah, kemudian bergeser surut sambil berjongkok. Baru ketika ia sudah menuruni tangga, iapun berdiri terbungkuk-bungkuk. Ki Dipanala dan Surapun kemudian dibawanya menghadap. Namun ketika Pangeran Ranakusuma yang duduk di serambi belakang melihat kehadiran dua orang itu ia mengerutkan keningnya. Kemudian tampak semburat merah terlintas di wajahnya sambil menggeram di dalam hati “Apakah Dipanala itu sekarang mulai memeras? Aku kira ia tidak akan berbuat sejahat itu waktu itu. Kalau saja aku tahu, aku pasti sudah membunuhnya “ Pangeran Ranakusuma masih belum beranjak ketika kedua orang itu kemudian seolah-olah merangkak dan duduk di hadapannya, Sejenak kedua orang itu duduk sambil menundukkan kepalanya. Sebelum Pangeran Ranakusuma bertanya sesuatu, mereka berdua sama sekali tidak berani berkata apapun juga. Baru kemudian Pangeran Ranakusuma bertanya “Apakah maksudmu memohon waktu untuk menghadap?” Ki Dipanala mengangkat wajahnya. Namun sebelum ia berkata sesuatu, dilihatnya Raden Ayu Galihwarit sudah berdiri di belakang Pangeran Ranakusuma. Perempuan bangsawan itu memandanginya sejenak dengan sorot mata yang penuh kecurigaan. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Dan terdengar Pangeran Ranakusuma membentaknya “Cepat, katakan. Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk melayanimu” “Maaf tuan” berkata Ki Dipanala “hamba berdua memberanikan dir i untuk memohon waktu sekedar. Sebenarnya bukanlah hamba yang mempunyai kepentingan, tetapi Sura. Suralah yang ingin menyampaikan suatu permohonan kepada tuan”Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Sura yang masih tetap menunduk itu sejenak. Lalu tiba-tiba ia membentak “Cepat cepat katakan” “Ampun Pangeran“ Sura terkejut sehingga ia tergeser sejengkal surut. ”Hamba ingin mengajukan permohonan kehadapan tuan” “Katakan, katakan” “Ya tuan” suara Sura bergetar juga betapapun ia berusaha untuk berbuat setenang-tenangnya “hamba sudah cukup lama bekerja dan mengabdi di hadapan Pangeran. Namun agaknya akhir akhir ini hamba tidak lagi mampu mengikuti perkembangan yang terjadi di Dalem Kapangeranan ini, khususnya Raden Rudira, sehingga seakan-akan hamba tidak lagi diper lukan di sini, bahkan menurut istilah yang dipergunakan oleh Raden Rudira, hamba telah berkhianat. Maka dengan t idak mengurangi perasaan terima kasih bahwa selama ini hamba seakan-akan telah mendapatkan tempat berteduh di Dalem Ranakusuman ini, maka perkenankanlah kini hamba mohon dir i. Semisal hamba ini selembar daun, maka agaknya daun itu sudah menguning dan sampai saatnya lepas dari tangkainya” Terasa sesuatu berdesir di hati Pangeran Ranakusuma. Bagaimanapun juga, Sura adalah orangnya yang sudah lama sekali bekerja padanya dan kemudian mendapat kepercayaan mengasuh dan melindungi anak laki- lakinya. Namun sampai pada suatu saat, orang itu telah dianggap berkhianat oleh anak laki-lakinya itu. Meskipun demikian Pangeran Ranakusuma telah berusaha menyembunyikan perasaannya itu. Bahkan dengan kasar ia membentak “Jika kau merasa telah berada di rumah ini untuk waktu yang lama kenapa kau berkhianat?” “Pangeran, benar-benar tidak terlintas di hati hamba, bahwa hamba akan berkhianat. Hamba yang sudah merasamapan menjadi abdi di Dalem Kapangeranan ini, kenapa hamba harus berkhianat? Namun barangkali bahwa hamba telah mencoba memberikan pendapat hamba itulah, maka terutama Raden Rudira menganggap hamba tidak lagi tunduk kepada perintahnya. Tetapi sebenarnyalah bahwa hamba ingin Raden Rudira tidak mendapatkan kesulitan di hari mendatang, terlebih-lebih lagi sehubungan dengan Petani dari Sukawati yang menurut pendapat hamba adalah tidak lain adalah dari Pangeran Mangkubumi itu sendiri” “Bohong, bohong” tiba- tiba saja terdengar suara Rudira dari dalam biliknya. Tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di ruangan itu, ia langsung melangkah kehadapan Sura dengan wajah yang merah padam. Bahkan dengan serta merta ia mengayunkan kakinya menghantampundak Sura. Sura terdorong surut. Meskipun ia mampu bertahan apabila ia mau, tetapi ia terjatuh berguling. Namun kemudian dengan tergesa-gesa ia bangkit dan duduk kembali sambil menundukkan kepalanya. Agaknya Raden Rudira masih belum puas. Ia telah dikecewakan oleh ayahnya, karena ia tidak boleh memukul kedua orang itu dengan rotan selagi mereka terikat di pohon sawo. Namun sebelum ia berbuat lebih jauh Ki Dipanala berkata “Ampun tuan. Hamba mengharap bahwa tuan mencegah t indakan puteranda lebih jauh lagi”Terasa sesuatu bergetar di hati Pangeran Ranakusuma. Ada sesuatu yang seakan-akan menekan hatinya sehingga terasa nafasnya menjadi sesak. “Persetan“ Raden Rudira menggeram. Namun Pangeran Ranakusuma kemudian mencegahnya “Rudira. Cobalah berbuat dengan nalar. Kau sudah menjadi semakin dewasa. Unsur dari perbuatanmu sebaiknya bukan saja penimbangan perasaan, tetapi juga nalar. Jika kau tidak mampu mendapatkan keseimbangan nalar dan perasanmu, maka semisal timbangan, kau akan menjadi berat sebelah, sehingga tindakan-tindakan yang lahir darimu, bukannya tindakan-tindakan yang terpuji” Wajah Raden Rudira yang merah menjadi semakin merah. Ditatapnya wajah ibunya yang penuh dengan kebimbangan, la mengharap bahwa kali ini ibunya dapat membantunya. Tetapi ia menjadi sangat kecewa ketika ibunya berkata “Bersabarlah Rudira. Seperti kata ayahandamu, kau sudah menjadi semakin dewasa” Kata-kata ibunya itu membuat dada Raden Rudira menjadi semakin pepat. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan ketika sekilas ia memandang wajah ibunya, wajah itu bukan saja dibayangi oleh kebimbangan, tetapi rasa-rasanya Raden Ayu Sontrang bagaikan berdiri di depan sarang hantu. Ketakutan. Raden Rudira benar-benar tidak dapat mengerti, apakah sebabnya bahwa ayah dan ibunya sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa di hadapan Dipanala. Namun Raden Rudira tidak ingin bertanya di hadapan kedua orang itu. Karena itu, maka sambil menghentakkan kakinya, iapun segera pergi meninggalkan mereka yang masih terpancang Di tempat masing-masing. “Sura” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian setelah Rudira pergi “ada bermacam-macam tanggapan terhadapmusekarang. Tetapi baiklah, aku mengambil kesimpulan, bahwa sebenarnya kau memang sudah tidak diperlukan lagi di rumah ini. Karena itu. jika memang kau kehendaki, aku tidak berkeberatan kau pergi meninggalkan tempat pengabdianmu yang sudah kau lakukan bertahun-tahun, karena tiba-tiba saja kau telah dicengkam oleh mimpi yang kau anggap dapat member i kepuasan batiniah itu” Sura tidak menyahut. Rasa-rasanya memang terlampau berat untuk meninggalkan pengabdian yang sudah lama dilakukan dengan penuh kesetiaan bahkan seakan-akan tanpa sempat memikirkan benar dan salah. “Nah, jika kau memang akan pergi, pergilah. Tetapi ingat Sura. Kau pernah menjadi abdi yang setia di rumah ini. Akupun merasa seakan-akan kau telah termasuk di dalam lingkup keluarga. Tetapi kau ternyata tidak menyesuikan dirimu lagi. Itu tidak apa. Tetapi kau jangan sebenarnya berkhianat. Pengkhianatan adalah bentuk yang paling jahat dari hubungan antar manusia. Apakah kau mengerti?“ “Ya Pangeran. Hamba mengerti” “Dan kau Dipanala? Apakah kau juga akan berkhianat?” Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Tidak tuan. Memang tidak terlintas di hati hamba untuk berkhianat. Dan Surapun tidak. Karena hamba sadar, pengkhianatan yang sebenarnya adalah perbuatan bukan saja yang paling jahat dari hubungan antar manusia, tetapi juga yang paling licik, pengecut, dan segala macam ist ilah yang paling buruk. Namun sayang sekali, bahwa setiap orang mempunyai penilaian yang berbeda-beda tentang arti dari pengkhianatan itu. Bahkan sebagian orang melihat pernyataan kebenaran justru sebagai suatu pengkhianatan” “Diam, diam“ Pangeran Ranakusuma membentak keras sekali sehingga Dipanala terkejut karenanya. Namun ia masih tetap dapat menguasai perasaannya. Bahkan ia masih sempatmemandang wajah Raden Ayu Galihwarit yang menjadi pucat karenanya. Namun Dipanala itu kemudian berkata “Ampun tuan. Hamba akan berusaha mengartikan pengkhianatan itu sebagaimana yang tuan kehendaki” Hampir saja Pangeran Ranakusuma kehilangan kesabarannya. Untunglah bahwa ia masih menyadari keadaannya, sehingga ia masih tetap berhasil menguasai dirinya. Bahkan tiba-tiba saja terasa tangan isterinya. Raden Ayu Galihwarit meraba pundaknya sambil berkata “Sudahlah kamas. Biarkan mereka pergi. Mereka tidak lagi kita perlukan” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Yang akan pergi hanyalah Sura saja. Biarlah Dipanala tetap berada di rumah ini. Aku masih mengharap bahwa ia menemukan dirinya kembali sebagai seorang pemomong yang sudah puluhan tahun berada di sini. Dengan umurnya yang semakin tua, ia seharusnya menjadi semakin mendekatkan dir inya pada ketenangan. Bukan justru sebaliknya” Ki Dipanala mengangguk-angguk. Katanya “Hamba tuan. Memang hamba tidak berniat untuk meninggalkan istana ini. Hamba akan mencoba menyesuaikan diri hamba yang menjadi semakin tua ini” “Baiklah, suruh Sura pergi j ika itu yang dikehendaki. Aku mengijinkan ia membawa semua miliknya yang ada dipondoknya di halaman Kapangeranan ini” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak, lalu katanya kepada Sura “mudah-mudahan kau menemukan hari-har i tuamu tanpa keprihatinan yang semakin mencengkam karena pokalmu sendiri” “Ya tuan. Hamba akan mencoba hidup sebagai seorang petani di padukuhan hamba dengan secuwil sawah dan pategalan”“Tetapi kau dapat menjadi orang yang berbahaya bagi padukuhanmu, justru karena kau merasa memiliki kelebihan dari orang lain. Selama ini kau hidup dengan bekal kemampuanmu berkelahi. Kebiasaan itu tidak akan dapat lenyap sehari dua hari. Dan malanglah nasib tetangga- tetanggamu itu” Sura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi per ingatan itu justru menjadi cambuk baginya, bahwa ia adalah manusia biasa yang harus dapat hidup sebagai manusia biasa yang lain. Kelebihan itu adalah suatu kebetulan saja. Tetapi dengan kelebihan itu ia tidak akan dapat hidup terpisah dari manusia yang lain. Demikianlah, maka pada hari itu, Sura benar-benar meninggalkan halaman Ranakusuman. Dengan sebuah pedati ia membawa barang-barangnya yang tidak begitu berarti. Namun ketika pedati itu meninggalkan regol Ranakusuman, terasa sesuatu bergetar di dalam hatinya. Seakan-akan ia kini merasa menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang mengerti hubungannya antara dia dengan Tuhan Yang Menciptakannya, dan antara dia dengan sesama manusia dan lingkungannya. Sura sendiri, tidak tahu, darimanakah ia menemukan kesadaran itu justru setelah ia mengalami benturan yang dahsyat ketika, ia sama sekali tidak berdaya melawan petani dari Sukawati itu. Namun hatinya masih bergejolak ketika ia melihat Mandra yang berdiri di sebelah regol sambil bertolak pinggang memandanginya. Suara tertawanya yang semakin lama menjadi semakin keras terasa menggelitik hati. Tetapi ketika ia melihat Ki Dipanala berdiri dengan tenangnya justru di sebelah Mandra itu terasa hatinya bagaikan disentuh oleh titik air yang sejuk dingin. Namun demikian di sepanjang jalan. Sura tidak habis berpikir, apakah sebabnya Dipanala mempunyai pengaruh yang begitu besar, meskipun jelas, bahwa ia bukan orangyang disenangi oleh Pangeran Ranakusuma, apalagi oleh Raden Rudira. “Apakah benar-benar ia mempunyai ilmu semacam ilmu sihir yang mampu mempengaruhi perasaan orang lain dengan tatapan mata nya?“ pertanyaan itu masih saja selalu terngiang di hatinya. Namun Surapun kemudian tidak mempedulikannya lagi. Kini ia sudah tidak mempunyai hubungan apapun juga dengan istana Ranakusuman. Dengan Raden Rudira dan dengan Mandra. Tetapi tiba-tiba terlintas di kepalanya bayangan seorang dari keluarga Ranakusuman yang justru tidak tinggal di istana itu. Seorang anak muda yang meskipun agak mirip dengan Raden Rudira pada bentuk lahiriahnya, namun mempunyai sikap dan pandangan hidup yang berbeda. Jauh berbeda. Tiba-tiba saja timbul keinginan Sura untuk menemui Raden Juwiring. bahkan tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk lebih dekat lagi dengan putera Pangeran Ranakusuma yang pernah disingkirkannya itu. “Aneh, kenapa saat itu Ki Dipanala justru membawanya pergi? Padahal ia mempunyai pengaruh yang kuat terhadap Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit. Jika ia menghendaki maka ia pasti akan dapat mencegahnya, sehingga Raden Juwiring masih akan tetap berada di istana. Demikian juga dengan orang-orang lain yang telah tersingkir” Namun Sura tidak kunjung menemukan jawabnya, sehingga ia sampai ke padukuhannya dan memulai suatu kehidupan baru sebagai seorang petani. Mula-mula memang agak canggung hidup di dalam dunia yang baru baginya. Seperti kata Pangeran Ranakusuma, memang ada tersembul nafsu untuk menguasai orang-orang di sekitarnya justru karena ia merasa memiliki kelebihan. Tetapi untunglah, bahwa ia menyadarinya sehingga ia selaluberhasil menahan dir i dan mencoba hidup seperti orang kebanyakan. Meskipun kadang-kadang sebagai orang baru ia mendapat berbagai macam kesulitan karena ada juga orang erang yang keras kepala dan menganggap Sura sebagai seorang yang tidak pantas berada di antara mereka. Namun Sura telah berhasil melampaui masa itu. Bahkan ia lelah berhasil luluh di dalam kehidupan para petani tanpa memper lihatkan kekerasan dan kemampuannya. Meskipun demikian ia masih belum berhasil melupakan keinginannya untuk menemui Raden Juwir ing di padepokan Jati Aking. “Pada suatu saat aku akan pergi ke padepokan itu” berkata Sura di dalam hatinya “mudah-mudahan kehadiranku di padepokan itu tidak menimbulkan persoalan bagi Raden Juwiring. Sebab kebencian Raden Rudira terhadap kakaknya itupun melonjak setinggi langit, sehingga dapat saja ia menuduh kakaknya telah berhubungan dengan aku, seorang pengkhianat” Dan keragu-raguan semacam itulah yang selalu menunda- nunda kepergian Sura ke padepokan Jati Aking di Jati Sari. Namun dalam pada itu, anak-anak muda yang berada di Jati Aking ternyata mempergunakan waktunya sebaik-baiknya. Mereka dengan tekun melatih dir i, seakan-akan ada firasat yang membisikkan ketelinga mereka, bahwa sesuatu akan terjadi. Bahkan kadang-kadang Kiai Danatirta menjadi heran, kesungguhan yang luar biasa, bahkan agak berlebih-lebihan telah mendorong Buntal berlatih tanpa mengenal waktu. Bukan saja di saat-saat seharusnya ia berlatih di malam hari, atau di saat-saat lain yang ditentukan oleh gurunya. Tetapi juga di saat-saat ia seharusnya beristirahat setelah ia bekerja keras di sawah, kadang-kadang dipergunakannya juga untuk mematangkan ilmu yang dikuasainya.Namun di dalam tangkapan gurunya, Buntal anak muda yang sedang tumbuh itu, memang sedang dibakar oleh gairah yang menyala-nyala di dalam dadanya. Sekali-sekali Kiai Danatirta terpaksa memperingatkan, agar kemauan yang begitu keras itu tidak justru mengganggu kesehatannya. “Kau harus menjaga keseimbangan hasrat dan batas kemampuan wadagmu Buntal” berkata gurunya “Aku senang sekali melihat perkembangan yang pesat padamu dan pada Juwiring, tetapi aku tidak dapat membiarkan kau tenggelam dalam latihan yang berlebih-lebihan. Dengan demikian, jika terjadi sesuatu dengan kesehatanmu, akulah yang harus mempertanggung jawabkannya” Setiap kali Buntal hanya menganggukkan kepalanya saja. Kemudian menunduk dalam-dalam. “Kau mengerti?“ Sekali lagi Buntal mengangguk sambil berdesis lambat sekali “Ya guru. Aku mengerti” Tetapi setiap kali, tanpa disadarinya, terasa sesuatu yang memacunya untuk berlatih lebih banyak. Dan hampir di luar sadarnya, kadang-kadang terbersit perasaan “Aku tidak boleh kalah dari Raden Juwiring. Raden Juwiring adalah seorang bangsawan, sedang aku adalah seorang pidak-pedarakan yang di ketemukan di pinggir jalan. Jika aku tidak dapat mengimbangi ilmunya, maka aku adalah seorang anak muda yang tidak akan berarti apa-apa dlpadepokan ini” Namun setiap kali Buntal menjadi malu sendiri. Apalagi apabila terpandang olehnya tatapan mata Arum yang lunak sejuk seperti tatapan mata ayahnya, Kiai Danatirta. Meskipun Buntal mempergunakan waktu yang lebih banyak dari Raden Juwiring untuk berlatih, namun hampir t idak dapat dimengerti oleh Buntal sendiri, bahwa setiap kali mereka berlatih bersama, ilmunya ternyata tidak lebih matang dari ilmu Raden Juwiring. Ia hanya mempunyai kelebihan tenagasedikit saja dari putera Pangeran itu, namun justru kemampuan menguasai tata gerak dan kecepatan, Raden Juwiring masih melampauinya. Dan itulah kelebihan Raden Juwiring dari Buntal. Raden Juwiring seakan-akan tidak menghiraukan sama sekali, jika Buntal mempergunakan hampir setiap waktu untuk menempa diri. Raden Juwir ing kadang-kadang pergi saja berjalan-jalan di kebun belakang dan duduk di bawah batang-batang kayu yang rindang, atau tinggal di dalam biliknya, berbaring sambil memandangi atap biliknya. Tetapi Buntal t idak tahu, bahwa Raden Juwiringpun mempergunakan waktu-waktu senggangnya untuk mematangkan ilmunya. Tetapi ia mempunyai cara yang lain dari cara yang dipakai oleh Buntal. Raden Juwiring ternyata tidak mempercayakan diri pada tenaga wadagnya semata-mata. Tetapi ia mempergunakan otaknya pula. Sambil duduk di bawah pohon yang rindang di sore hari di kebun belakang, atau jauh malam hari, bahkan menjelang dini hari di dalam biliknya, Raden Juwiring bermain- main dengan rontal dan kertas-kertas yang berwarna kekuning-kuningan. Dibuatnya beberapa buah gambar yang meskipun kurang baik namun dapat menyatakan gejolak di dalam batinnya mengenai tata gerak ilmunya. Raden Juwiring ternyata tidak hanya berlatih dengan badannya, tetapi ia mampu membuat rencana tata gerak yang bermanfaat bagi ilmunya. Kadang-kadang dipadukannya beberapa macam unsur gerak yang ada dan yang pernah dipelajarinya. Bahkan dengan unsur-unsur gerak alam dan binatang. Dan itulah sebabnya Raden Juwiring sering duduk termenung merenungi burung-burung yang berterbangan. Burung-burung kecil yang lincah cekatan menyambar bilalang. Tetapi juga burung elang yang dengan garangnya menyambar anak ayam. Bahkan juga bagaimana seekor domba membenturkan kepalanya padalawannya jika terpaksa mereka berlaga. Ayam jantan, dan kadang-kadang dilihatnya kerbau jantan yang sedang-marah. Bukan saja binatang yang ada di sekitarnya. Tetapi terbayang juga, bagaimana seekor harimau menerkam mangsanya dan bagaimana seekor kelinci menghindarkan diri justru menyusup di bawah kaki binatang-binatang yang menerkamnya. Betapa lucunya gerak seekor kera namun betapa gesitnya ia memanjat, menangkap sesuatu dan berloncatan. Itulah yang selalu dipikirkan oleh Raden Juwiring. Dan hal itu sama sekali tidak terlintas di kepala Buntal. Dan perbedaan perhatian itulah yang merupakan perbedaan kepribadian mereka. Buntal lebih senang langsung memantapkan tata gerak dan kekuatan jasmaniahnya, namun Raden Juwiring memperkaya tata gerak dari paduan gerak yang beraneka macam dan kegunaannya yang berlain-lainan. Namun mereka berdua berkembang dengan pesatnya menurut jalur yang digariskan oleh gurunya, Kiai Danatirta. Sebagai seorang yang berpengalaman, maka Kiai Danatirta melihat perbedaan di dalam dir i kedua muridnya itu. Namun Kiai Danatirta tidak melihat keberatannya sama sekali atas perkembangan kepr ibadian masing-masing. Bahkan di dalam latihan-latihan bersama Kiai Danatirta dapat memanfaatkan kemajuan kedua mur idnya itu dan meramunya dalam satu ciri- ciri ilmu yang tidak terpisah. Hanya karena perbedaan kepribadian itu sajalah, tampak perbedaan pula dalam ungkapan inti ilmu perguruan Jati Aking, namun pada dasarnya keduanya sama. Berbeda dari keduanya adalah Arum. Ia langsung mendapat tuntunan dari ayahnya menurut petunjuk-petunjuk dan nasehat-nasehatnya. Arum lebih mementingkan pada kecepatan bergerak dan kemampuannya menguasai arah gerak. Kadang-kadang ia justru dapat mengambil keuntungan dari serangan lawannya karena dorongan gerak serangan itusendiri. Dalam keadaan yang khusus Arum mendapat latihan untuk mempergunakan tenaga dorong lawannya. Bahkan Arum mampu mempergunakan tenaga lawannya untuk melemparkan dir inya sendiri apabila diper lukan, dan dalam kesempatan tertentu Arum dapat merobohkan lawannya karena ayunan tenaga lawan itu sendiri. Bagaimanapun juga, maka Kiai Danatirta tidak mau meninggalkan keturunannya sendiri di dalam olah kanuragan. Sejalan dengan kemajuan yang dicapai oleh Juwir ing dalam keragaman unsur geraknya beserta kegunaannya, dan sejalan dengan kemajuan kekuatan tenaga Buntal, maka Arum adalah seorang gadis yang lincah cekatan, seperti seekor kijang di padang rumput yang hijau segar. Dalam ujudnya masing-masing, ketiga murid Kiai Danatirta itu berkembang dengan pesatnya, justru oleh dorongan di dalam dir i murid-mur id itu sendiri. Memang kadang-kadang ada juga kecemasan di hati orang tua itu, bahwa murid- mur idnya sudah terjerumus ke dalam suatu pacuan yang berbahaya. Namun atas kebijaksanaannya, Kiai Danatirta mampu mengarahkannya sesuai dengan ajaran-ajaran keagamaan dar i padepokan Jati Aking. Mur id-mur idnya bukan saja mendapat tempaan kanuragan, tetapi mereka mendapat pengarahan yang mantap di bidang agama. Mereka langsung diperkenalkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka ditunjukkan, bahwa pertanggungan jawab tertinggi dari perbuatan manusia adalah pertanggungan jawab terhadap Tuhannya. Meskipun demikian, Buntal adalah seorang anak muda yang lengkap. Yang utuh. Jasmaniah dan rohaniah. Itulah sebabnya maka Buntalpun mengenal apa yang dikenal oleh orang lain. Di waktu matahari terbit, Buntal kadang-kadang berdiri di ujung halaman sambil memandang cahaya yang kemerah- merahan di langit. Ujung pegunungan nampak sepertiseonggok batu akik yang berukir dalam berbagai warna antara hijau dan merah. Juga di malam hari Buntal kadang-kadang merenungi kilauan bintang yang berhamburan di langit. Dikala bulan terang, anak muda itu mampu juga menangkap sesuatu yang menyentuh perasaannya. Ternyata bahwa Buntal, seorang anak muda yang ditemukan di pinggir jalan itu, mempunyai selera rohaniah yang lengkap. Dan karena itulah ia mengenal bentuk-bentuk keindahan. Bukan saja bentuk-bentuk keindahan yang tersebar di sekitarnya, namun ada sesuatu yang indah yang setiap hari direnunginya. Semakin lama justru menjadi semakin memikat. Yang lebih indah dari yang paling indah dari alam di sekitarnya itu adalah Arum yang mekar seperti mekarnya bunga menur yang berwarna putih. Betapapun juga ia mencoba mengelak, namun ia selalu dibayangi oleh kenyataan itu. Berterima kasihlah Buntal, bahwa Tuhan telah rezeki berbentuk mata yang dapat melihat, melihat keindahan dari alam di sekitarnya. Namun keindahan yang satu ini ternyata telah membuatnya selalu berdebar-debar. Selalu cemas dan kadang-kadang menjadi bingung. Sebenarnya iapun mengucapkan terima kasih bahwa setiap hari ia dapat menikmati keindahan itu. Tetapi tanpa disadarinya, ia dirayapi oleh suatu keinginan, bukan saja menikmatinya sebagai suatu bentuk keindahan, namun lebih daripada itu. “O, aku menjadi semakin gila” keluh Buntal. Sudah beberapa lama ia bertahan dan bahkan mencoba mengusir perasaan itu. Namun yang terlontar dari dir inya adalah kemauan yang semakin keras untuk melatih diri. Seolah-olah ia sedang berpacu untuk mencapai garis batas terlebih dahulu dengan taruhan yang tiada taranya.“Tidak. Arum bukan barang taruhan. Ia dapat menentukan sikapnya sendiri. Dan tidak seorangpun dapat merubah keputusan yang akan diambilnya” Demikianlah ketenangan padepokan itu rasa-rasanya mulai terganggu. Terasa dadanya bergetar jika ia melihat Arum sedang bergurau dengan Juwir ing. “Sejak aku pertama kali menginjakkan kakiku di padepokan ini, keduanya telah ser ing bergurau“ Buntal ingin mencoba mempergunakan nalarnya. Namun setiap kali ia tenggelam dalam arus perasaannya. Tetapi Buntal selalu menekan perasaan itu dalam-dalam di dasar hatinya. Endapan yang semakin lama menjadi semakin tebal itu tidak luput dari tatapan mata hati Kiai Danatirta. Gurunya itu melihat, bahwa Buntal semakin lama menjadi semakin dalamterendamoleh kediaman yang murung. Justru karena itulah, maka Buntalpun kadang-kadang tampak menyendiri duduk sambil merenungi bintik-bintik di kejauhan. Namun sejenak kemudian iapun segera berlari ke bangsal tempat berlatih. Dicurahkannya segenap kemurungannya pada gerak-gerak jasmaniahnya. Seolah-olah anak muda itu tidak mengenal lelah sama sekali. Di saat-saat yang demikian itu, kedua saudara seperguruannya kadang-kadang memperhatikannya juga. Bahkan di dalam hati merekapun tumbuh berbagai macam pertanyaan, apakah sebenarnya yang telah bergolak di hati anak muda itu. Buntal terkejut ketika pada suatu ketika ia sedang melarikan diri di dalam bangsal latihan itu. seseorang telah menyapanya “Buntal” Buntal mulai menahan tenaganya, sehingga akhirnya ia berhenti. Ketika ia berpaling dilihatnya Arum berdiri di sudut bilik itu.Buntal menarik nafas. Tetapi nafas itu setiap kali seakan- akan saling memburu. “Apakah kau tidak lelah?“ Buntal memandang Arum sejenak. Dan Arum yang kini bukan lagi Arum yang manja yang berlari-lar ian di pematang sambil menyingsingkan kain panjangnya. Meskipun setiap kali Arum masih juga pergi ke sawah mengantarkan makanan, tetapi sikapnya sudah lain dar i Arum yang terkejut melihat kehadirannya diatas gardu sawahnya. “Kau ber latih terlampau banyak Buntal” Buntal menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan ragu- ragu ia menjawab “Tidak Arum. Aku belum lelah” “Kau memiliki tenaga dan ketahanan nafas yang luar biasa. Tetapi kau harus beristirahat. Setiap kali kau mempunyai waktu tertuang, kau selalu berada di dalambangsal ini” Buntal tidak menyahut. “Beristirahatlah” Buntal masih tetap diam. “Marilah. Kita pergi ke dapur. Makan sudah tersedia” Buntal memandang Arum dengan tajamnya, dan di luar sadarnya ia bertanya “Dimana Raden Juwir ing” Arum mengerutkan keningnya. Sebelum ia menjawab, dengan tergesa-gesa Buntal menyambung “Maksudku, apakah ia akan makan bersama kita?“ “Ya. Kakang Juwiring sudah ada di dapur” Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya ” aiklah. Aku akan membersihkan diri dahulu” Arum menganggukkan kepalanya. Dipandanginya langkah Buntal yang lesu dengan kepala tunduk. Sama sekali tidaksegairah ketika ia berlatih seperti yang baru saja dilakukannya di bangsal ini. “Apakah ada sesuatu yang mengganggu perasaannya?” Arum bertanya kepada diri sendiri. Tetapi sudah barang tentu bahwa ia tidak akan dapat menemukan jawabnya. Dengan langkah yang berat Buntal pergi ke pakiwan. Ia berdiri saja sejenak di bawah sejuknya dedaunan sebelum ia membersihkan dirinya. Dibiarkannya keringatnya susut. Dan barulah kemudian ia mencuci muka, kaki dan tangannya. Ketika kemudian ia memasuki pintu dapur, hatinya tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar. Dilihat Arum dan Juwiring duduk di amben yang panjang. Agaknya keduanya sedang asyik berbincang. Pembicaraan keduanya berhenti ketika mereka melihat Buntal masuk. Sambil tersenyum Juwiring berkata “Marilah. Aku menunggumu. Bukankah kita akan makan bersama-sama seperti biasanya?“ Buntal menganggukkan kepalanya. Dicobanya pula untuk tersenyum sambil menjawab “Aku agak lupa waktu karena aku berada di bangsal latihan” “Arum menyusulmu?“ “Ya” jawab Buntal pendek. Keduanyapun kemudian makan bersama, dan seperti biasanya Arum melayani kedua saudara seperguruannya dan yang telah dijadikannya saudara angkatnya itu. Demikianlah, dari hari ke hari, kediaman Buntal menjadi semakin menar ik perhatian. Juwiring yang masih juga selalu bersama-sama pergi ke sawah menjadi heran. Meskipun setiap kali Buntat masih berusaha menunjukkan senyum dan tawanya, tetapi rasa-rasanya senyumdan tertawa itu hambar. Ternyata bahwa yang paling besar menaruh perhatian atas keadaan Buntal adalah justru gurunya. Karena itu, tanpadisangka-sangka oleh Buntal, gurunya telah memanggilnya bersama dengan kedua saudara angkatnya. Dan tanpa diduganya pula, maka Kiai Danatirta telah langsung bertanya kepadanya “Buntal. Jangan kau merasa tersinggung jika aku memerlukan bertanya kepadamu. Kau adalah tidak ubahnya dengan anakku sendiri. Karena itu pengamatanku atasmu tidak ada bedanya dengan pengamatanku atas Arum dan Juwir ing” Kiai Danatirta terdiam sesaat, lalu “Akhir-akhir ini Buntal, aku melihat sesuatu yang lain padamu. Sesuatu yang perlahan-lahan tumbuh pada sikap dan kebiasaanmu. Mungkin kau sendir i tidak menyadari. Tetapi bagaimanapun juga, pasti ada sebab yang membuat kau menjadi demikian. Mungkin sebab itu seharusnya dapat diabaikan. Namun mungkin pula, bahwa aku, guru dan sekaligus orang tuamu, saudara- saudaramu. dapat membantumu menemukan jalan yang baik, yang dapat membawamu keluar dari suasana yang sekarang. Suasana yang tampaknya tidak begitu cerah seperti di hari-hari yang lewat” Terasa dada Buntal menjadi berdeburan. Seakan- akan isi dadanya telah bergolak dengan dahsyatnya. Dan dalam pada itu Kiai Danatirta meneruskan “Jangan kau simpan persoalan itu di dalam hatimu Buntal. Jika demikian kau akan menjadi tertekan sendiri, sedang saudara-saudaramu dan aku tidak dapat ikut memecahkannya. Karena itu, katakanlah. Kami bukan orang lain lagi bagimu”Kepala Buntal tertunduk dalam-dalam. Bagaimana mungkin ia akan dapat mengatakan persoalannya itu. Persoalan yang bagi dir inya sendiri masih dianggapnya sebagai suatu persoalan yang gila. Dan nalarnyapun menganggapnya bahwa perasaan yang tumbuh di dalam dirinya itu adalah perasaan yang tidak waras. “Kau tidak usah merasa segan terhadap kami Buntal” berkata Juwiring kemudian “anggaplah aku sebagai saudara tuamu dan Arum sebagai adikmu. Kami sudah meningkat dewasa, dan karena itu, kami sudah mampu membuat pertimbangan-pertimbangan yang barangkali dapat membantumu” Jika sekiranya Buntal masih kanak-kanak, ingin rasanya ia menjer it dan menangis sekeras-kerasnya untuk melepaskan himpitan di dalamhati. Tetapi dalam keadaannya kini, ia t idak akan dapat melakukannya. Ia adalah seorang laki-laki dewasa yang sudah ditempa di padepokan Jati Aking. Karena itu, ia bukan lagi seorang anak yang cengeng yang menangis meronta-ronta jika hatinya tersentuh sedikit saja. Namun Buntal menyadari, bahwa ia tidak akan dapat berdiam dir i. Ia harus menjawab pertanyaan gurunya dan saudara-saudara angkatnya. Karena itu, Buntal terpaksa berbohong “Ayah” suaranya bergetar di bibirnya “sebenarnya apa yang tersangkut di dalam hati ini tidak pantas aku katakan” “Tetapi juga tidak sebaiknya kau simpan di dalam hati sedang wajahmu hampir setiap saat tampak muram. Dalam perkembangan berikutnya, hatimu akan terpengaruh dan kau dapat terperosok ke dalam suatu keadaan yang tidak menguntungkan bagimu sendir i” Buntal mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Ayah, tiba-tiba saja sebuah kenangan tentang keluargaku lelahmembayangi aku untuk beberapa hari terakhir. Ada semacam kerinduan yang tidak dapat aku singkirkan, meskipun aku tahu. bahwa aku tidak akan pernah dapat menjumpai mereka lagi. Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Itulah agaknya yang merisaukan hatimu” Buntal tidak menyahut. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk. Tiba-tiba saja ia merasa suatu beban baru telah tersangkut di hatinya. Ia sudah berbohong. Dan kebohongan itu harus dipertahankan. Bahkan untuk menyembunyikan suatu kebohongan ia kadang-kadang harus mengatakan kebohongan- kebohongan yang lain. Buntal tiba-tiba merasa denyut jantungnya menjadi semakin cepat. Namun ia tidak akan berani mengatakan perasaannya yang sebenarnya. “Buntal” berkata gurunya “Aku dapat mengerti. Memang tebuah kenangan kadang-kadang tiba-tiba saja mempengaruhi perasaan kita. Namun kau harus mampu membuat pertimbangan-pertimbangan dengan nalar, agar hidupmu tidak disaput oleh kenangan dan bayangan-bayangan yang terpisah dari kehidupanmu yang sebenarnya” Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kita sudah lama berkumpul di padepokan ini. Dan kita harus melihat kenyataan ini. Orang tuamu sekarang adalah aku, dan saudara-saudaramu adalah Juwiring dan Arum. Memang kita tidak dapat membendung hadirnya sebuah kenangan pada diri kita, seperti kita membendung air di par it- parit. Namun kita harus mampu menguasai perasaan kita dan membuat pertimbangan-pertimbangan dengan nalar” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Memang ada semacam kerinduan apabila kenangan itu hinggap pada diri kita.Kerinduan pada masa lampau. Tetapi kita harus sadar, bahwa kita tidak akan dapat kembali kepada masa lampau itu” Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas ditatapnya wajah Kiai Danatirta yang bersungguh-sungguh. Dan Buntalpun merasa bersalah pula, bahwa ia telah memaksa orang tua itu menasehatinya sedang persoalan yang sebenarnya adalah persoalan yang lain. “Nah, cobalah” berkata Kiai Danatirta mudah-mudahan kau berhasil. Mudah-mudahan kau dapat menjadikan masa lampaumu sebagai kenangan yang dapat mendorongmu menjelang masa depan yang cerah” “Ya ayah” jawab Buntal dengan suara gemetar. “Pandanglah saudara-saudaramu. Juwiring juga mempunyai kenangan yang dapat membuatnya rindu pada masa lampaunya di istana Ranakusuman. Arum juga mempunyai masa lampaunya sendiri dalam pelukan kasih sayang ibunya. Dan kaupun mempunyai kerinduan pada masa lampau itu. Tetapi masa lampau itu jangan merusak masa kini dan apalagi menyuramkan masa-masa datangmu” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha untuk mengambil arti dari nasehat gurunya, meskipun persoalan yang sebenarnya, berbeda dengan yang sedang dialaminya. “Nah, kita akan semakin banyak mengisi waktu kita dengan latihan-latihan kanuragan” berkata Kiai Danatirta kemudian “dengan demikian kalian telah membangun hari depan kalian, di samping ilmu pengetahuan dan kesusasteraan. Kalian tidak boleh melupakan membaca kitab suci yang berisi nasehat- nasehat dan petunjuk-petunjuk tentang hidup dan jawaban dari persoalan-persoalan kita” Ketiga anak-anak muda itupun mengangguk-angguk. Di padepokan itu mereka memang mendapat ilmu yang hampir menyeluruh. Agama, pengetahuan dan Kanuragan.“Nah” berkata Ki Danatirta kemudian “Kalian boleh mendengar serba sedikit, apa yang terjadi di Surakarta. Keadaan agaknya menjadi semakin panas. Orang asing itu menjadi semakin deksura. Kekuasaan Surakarta menjadi semakin terbatas. Dan itulah yang menyebabkan beberapa orang Pangeran tidak mau mener ima keadaan ini. Bagaikan api semakin lama menjadi semakin membara, sehingga pada suatu saat, kemungkinan yang paling dekat adalah meledaknya api itu dan membakar seluruh Surakarta. Karena itu, kalian harus mempersiapkan diri. Siapa tahu, bahwa tenaga kalian yang lemah itu diperlukan bersama dengan anak-anak muda yang lain” Buntal mengangkat wajahnya sejenak, lalu kepala itu tertunduk lagi. Ada semacam perasaan malu yang menyelinap di sudut hati. Selagi orang-orang di Surakarta mempersoalkan negara dan bangsanya, ia dicengkam oleh kegilaannya sendiri. Demikianlah, maka ketiga anak-anak muda itu di har i-hari berikutnya berlatih semakin mantap. Dengan susah payah Buntal berusaha untuk menghilangkan kesan kemurungan dari wajahnya. Meskipun demikian, di luar sadarnya. kadang- kadang ia memandang Arum dari kejauhan. Baik selagi ia berlatih dalam olah kanuragan, maupun apabila gadis itu mengambil air untuk mencuci mangkuk di dapur. Buntal menarik nafas dalam-dalam. la tidak dapat menentang gerak alamiah bagi seorang laki- laki. Yang dapal dilakukannya adalah sekedar membatasi diri dengan nalar seperti yang dikatakan oleh gurunya, meskipun dalam persoalan yang berbeda. Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa suasana menjadi semakin buruk. Udara Surakarta seakan-akan menjadi semakin panas. Beberapa orang Pangeran tidak dapat menerima keadaan yang sedang dihadapinya, namun beberapa orang yang lain justru memanfaatkan keadaan itu sebaik-baiknya bagi keuntungan diri sendiri.Demikianlah yang terjadi di istana Ranakusuman. Istana itu nampaknya semakin lama menjadi semakin cerah. Barang- barang pecah belah yang selamanya belum pernah dimiliki oleh Pangeran yang manapun juga, telah terdapat di Ranakusuman. Hadiah yang mengalir seperti mengalirnya Kali Bengawan yang diterima oleh Raden Ayu Galihwarit, membuat istana Ranakusuman menjadi semakin cemer lang. Namun dalam pada itu, Raden Rudirapun menjadi semakin manja. Kekayaan yang ada pada keluarganya membuatnya menjadi semakin sombong dan bahkan ia merasa menjadi seorang putera Pangeran yang paling kaya di seluruh Surakarta, tanpa mengerti dari mana kekayaan itu didapatnya. Ia hanya pernah mendengar ibunya berkata kepada ayahandanya “Sikap kakanda yang bersahabat terhadap orang asing itu ternyata menguntungkan sekali. Aku sering menerima hadiah yang tidak aku mengerti darimana dan dari siapa, meskipun aku tahu, pasti dari salah seorang sahabat kakanda itu” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam, la memang telah terjerumus ke dalam sikap yang menguntungkan orang-orang asing itu. Bukan saja karena Pangeran Ranakusuma t idak mempunyai keyakinan yang teguh atas kemampuan Surakarta untuk tegak sebagai suatu negara yang berkuasa, namun rumahnya seakan-akan sudah menjadi ajang pertemuan bagi orang-orang asing itu. Isterinya yang ramah dan mempunyai kelincahan bergaul membuat istana Ranakusuman menjadi sering dikunjungi oleh orang- orang asing. Karena itu. Pangeran Ranakusuma sama sekali tidak mengerti kenapa isterinya kadang-kadang mengingkarinya. Isterinya mengatakan kepadanya, bahwa kadang-kadang ia tidak mengerti dari siapa hadiah-hadiah itu datang, meskipun isterinyalah yang lebih banyak berhubungan dengan orang- orang asing itu.Dan bagi Raden Ayu Galihwarit, hubungannya dengan orang-orang asing itu banyak memberikan pengalaman baru. Pengalaman rohaniah dan jasmaniah, sehingga ia mengenal adat dari orang-orang asing itu di dalam tata pergaulannya serba sedikit. Hubungan tata pergaulan yang belum pernah dialami sebelumnya. Raden Ayu Galihwarit sama sekali tidak menghiraukan, apabila di dalam pertemuan-pertemuan resmi para Pangeran, beberapa orang isteri Pangeran duduk mempercakapkannya. Sambil berbisik-bisik mereka memandanginya dengan sudut mata. “Mereka adalah orang-orang yang dengki dan ir i hati” berkata Raden Ayu Galihwarit di dalamhatinya. Namun di saat-saat terakhir. Raden Ayu Galihwarit merasa terganggu oleh sikap Dipanala. Sepeninggal Sura, rasa- rasanya Dipanala justru dengan sengaja berbuat banyak hal yang membuatnya berdebat. Setiap kali ia menjadi curiga apabila Dipanala menghadap Pangeran Ranakusuma untuk kepentingan apapun, sehingga setiap kali ia selalu berusaha mengetahui atau mendengar percakapan mereka. Tetapi demikian juga agaknya Pangeran Ranakusuma. Ia tidak pernah membiarkan Dipanala menghadap isterinya untuk kepentingan apapun, sehingga setiap abdi terdekatnya dan pelayan dalam, dipesannya agar mendengar apa saja yang dikatakan oleh Dipanala kepada siapapun juga. Ternyata betapa kebencian memuncak di hati Pangeran Ranakusuma serta Raden Ayu Galihwarit, namun mereka tidak dapat berbuat banyak atas orang itu. Mereka tidak dapat mengusir dan apalagi menghukumnya. Hal itu sama sekali tidak dapat dimengerti oleh Raden Rudira. Baginya Dipanala bagaikan dur i di dalam daging. Setiap kali orang itu menghalang-halangi niatnya, ayahanda dan ibundanya tidak dapat mencegahnya. Jika dahulu sebelum Sura meninggalkan istana, Dipanala jarang atau hampir tidakpernah mencampuri persoalan ayahanda dan ibunda, namun kini, Dipanala justru menjadi lebih sering menghadap. “Aku harus mengetahui, kenapa setan itu tidak disingkirkan atau dibunuh saja oleh ayahanda Ranakusuma. Kenapa ia masih-bebas berkeliaran dan bahkan kadang-kadang dipanggil menghadap oieh ayahanda dan ibunda?“ bertanya Raden Rudira di dalam hatinya. Sebenarnyalah bahwa Dipanala memang sering dipanggil baik oleh Pangeran Ranakusuma, maupun oleh Raden Ayu Galihwar it. Namun sebenarnya Dipanala sama sekali tidak sedang diajak berunding. Bahkan Pangeran Ranakusuma selalu mengancamnya dan menakut-nakutinya. Ki Dipanala sendiri memang tidak pernah berniat jahat. Ia menyadari keadaannya dan sama sekali t idak timbul niatnya untuk mencelakakan orang lain. Tetapi kadang-kadang ia berani juga mencegah niat yang bertentangan dengan nuraninya. “Kau terlalu banyak mencampuri persoalanku Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma kepada Ki Dipanala pada suatu saat. “Apa yang sudah hamba lakukan Pangeran? Hamba t idak pernah berbuat apa-apa” “Kau sudah membuat anakku membencimu. Dan kadang- kadang kau berani berterus terang memper ingatkan tingkah lakuku di hadapan anak itu. Kau tidak usah mengurusi hubunganku dengan asing, atau hubungan Rudira dengan Juwiring dan petani dari Sukawati itu. Kau harus merasa berterima kasih bahwa kau dapat hidup layak di belakang istana ini. Aku masih tetap memberikan penghasilanmu, meskipun kau sama sekali tidak bermanfaat bagiku” “Justru karena hamba masih selalu mener ima pemberian tuanku itulah, hamba kadang-kadang ingin juga memberikan sedikit bahan pertimbangan. Juga atas hubungan tuan denganorang asing itu dan niat Raden Rudira yang tidak ada redanya untuk mencelakakan kakandanya. Hamba tahu, bahwa Raden Rudira menaruh perasaan cemburu, karena di padepokan itu ada seorang gadis cantik yang bernama Arum. Tetapi sebenarnyalah bahwa tidak ada hubungan apapun antara Raden Juwiring dengan Arum” Kedua orang yang sedang berbicara itu terkejut ketika tiba- tiba saja mereka mendengar suara Raden Ayu Galihwarit “Dipanala. Aku akan member imu tambahan penghasilan jika kau berjanji tidak akan mengganggu gugat masalah-masalah kami. Masalah kakanda Pangeran dalam hubungannya dengan orang asing itu, dan masalah anakku. Bahkan sebaiknya kau membujuk Kiai Danatirta, agar ia mau menyerahkan anaknya kemari. Aku memang memer lukannya. Sedang hubungan kakanda Pangeran dengan orang asing itu mendatangkan banyak keuntungan bagi kami, bagi rumah tangga kami. Istana kami adalah istana yang paling cerah dari semua istana Kapangeranan di Surakarta. Sahabat-sahabat kakanda Pangeran telah mengirimkan hadiah yang tidak ternilai dan yang sebelumnya belum pernah kita lihat dan apalagi kita miliki” Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Raden Ayu Galihwarit sejenak. Sekilas Dipanala melihat kecantikan yang memancar di wajah itu. Meskipun Raden Ayu Galihwar it sudah memiliki dua orang anak yang menjelang dewasa, namun ia sendir i masih tampak segar dan cantik. Tetapi kecantikan lahiriah itu sama sekali tidak bersumber pada kecantikan rohaniah. Kulitnya yang kuning bersih tidak mencerminkan hatinya yang sebenarnya buram, yang dikuasai oleh nafsu ketamakan yang tiada taranya. Ketamakan akan harta dan kekayaan, sehingga apapun yang ada padanya telah dikorbankannya untuk mendapatkan kekayaan dan harta benda yang diinginkan.“Pangeran” berkata Ki Dipanala kemudian “hamba senang sekali apabila hamba mendapatkan tambahan penghasilan yang dapat memperbaiki kehidupan hamba sekeluarga. Tetapi hambapun cemas melihat mendung yang mengambang diatas Surakarta sekarang ini. Orang asing itu tidak disukai oleh beberapa orang Pangeran” “Bodoh sekali. Itu adalah suatu kebodohan“ Raden Ayu Galihwar itlah yang menjawab “Apakah keberatan mereka atas kehadiran orang-orang asing itu? Hanya karena mereka tidak berhasil bersahabat dengan mereka dan tidak pernah mendapatkan pemberian apapun juga, mereka menganggap bahwa orang-orang asing itu tidak disenangi di Surakarta” Ki Dipanala tidak segera menjawab. Sudut pandangan Raden Ayu Galihwarit berbeda dari sudut pandangan dan sikap pemer intahan di Surakarta. Namun agaknya Raden Ayu Galihwar it itu sama sekali tidak mau tahu, apakah sebenarnya yang telah terjadi di Surakarta ini. “Sudahlah Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Seperti yang aku katakan, kau jangan terlampau banyak mencampuri persoalan kami. Aku tidak senang. Kau mengerti?“ “Hamba Pangeran. Hamba tidak akan banyak mencampuri persoalan yang ada di istana ini. Namun perkenankanlah hamba memperingatkan, bahwa sikap Pangeran Mangkubumi terhadap orang-orang asing itu menjadi semakin tegas” “Aku sudah mengerti…!!!“ Pangeran Ranakusuma membentak. Namun suaranya kemudian menurun “Tetapi ia tidak akan berbuat apa-apa” “Mudah-mudahan” sahut Dipanala. “Seandainya ia akan berbuat sesuatu, apakah yang dapat dilakukan? Meskipun ia seorang Pangeran yang pilih tanding, tetapi ia akan berdiri seorang dir i. Dan ia t idak akan berani menentang kekuasaan Susuhunan Paku Buwana, sehinggaapabila Susuhunan Paku Buwana sudah menentukan, maka semua Pangeran akan tunduk?” “Tetapi bagaimana dengan beberapa orang Pangeran yang telah meninggalkan kota dan melakukan perlawanan?“ “O, apakah yang dapat mereka lakukan? Mereka hanya berlari-lari dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain, dan sama sekali jauh dari kota Surakarta. Sebentar lagi mereka akan digiring dan dipaksa untuk menyerah” “Tetapi j ika kemudian di antara mereka terdapat Pangeran Mangkubumi?“ Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menjawab Raden Ayu Galihwarit telah menyahut “Apa bedanya Pangeran Mangkubumi dengan yang lain- lain itu?“ Ki Dipanala memandang Raden Ayu Galihwarit sejenak, lalu berpindah kepada Pangeran Ranakusuma “Apakah benar Pangeran dan Raden Ayu tidak tahu kelebihan Pangeran Mangkubumi” “Cukup, cukup” bentak Pangeran Ranakusuma ”kenapa kau mengajukan pertanyaan yang gila itu?“ Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Baginya hal itu merupakan pengakuan, betapa Pangeran Ranakusuma segan kepada saudara mudanya itu. Namun ternyata bahwa Raden Ayu Galihwaritlah yang menjawab “Aku tahu, kelebihan Pangeran Mangkubumi adalah pada ilmu kanuragan. Meskipun ia kebal atas segala macam senjata tajam, namun ia tidak akan dapat melawan senjata orang kulit putih itu. Sebutir peluru akan menembus jantungnya, dan ia akan mati seperti kebanyakan orang mati. Dan ia tidak akan dapat hidup kembali” Tiba-tiba saja kepala Pangeran Ranakusuma tertunduk dalam-dalam. Ada sesuatu yang bergolak di dadanya.Bagaimanapun juga, ia tidak dapat ingkar bahwa kulitnya tidak seputih kulit orang asing itu. Meskipun seandainya ia tidak memperhitungkan warna kulit, namun ia tahu benar niat kedatangan orang-orang asing itu di Surakarta. Seperti Pangeran Mangkubumi maka iapun merasa cemas melihat perkembangan Surakarta. Tetapi kadang-kadang semuanya itu lenyap jika ia melihat kepada dir inya sendiri. Apakah arti pengabdiannya kepada Surakarta, jika kedatangan orang asing itu menguntungkan dirinya. Pribadinya. “Apakah yang dapat aku petik dari kekuasaan Surakarta ini sekarang secara langsung?“ pertanyaan itu kadang-kadang melonjak di hatinya “sedangkan orang-orang asing ini banyak member ikan sesuatu yang memang aku perlukan, dan yang diperlukan oleh isteriku” Tetapi jika kemudian terbayang pergaulan yang terlalu rapat antara orang-orang asing itu dengan isterinya. maka hatinya menjadi berdebar-debar pula. Namun untuk mengusir perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya, tiba-tiba Pangeran Ranakusuma berteriak “Pergi, pergi kau Dipanala. Awas jika kau masih mengganggu kami. Aku dapat berbuat baik, tetapi aku juga dapat berbuat kasar” “Ampun tuan” berkata Ki Dipanala kemudian. Tetapi ia masih juga berkata “Sebelum hamba mohon dir i, hamba mohon agar tuanku bertanya kepada puteranda Raden Rudira. apakah yang diketahuinya tentang Sukawati” “Diam, diam“ Pangeran Ranakusuma berteriak “Aku tidak mau mendengar lagi tentang adinda Pangeran Mangkubumi” “Tidak Pangeran, bukan tentang Pangeran Mangkubumi itu sendiri, tetapi tentang orang-orang di daerah Sukawati dan sekitarnya. Daerah kalenggahan Pangeran Mangkubumi” “Aku tidak mau mendengar. Pergi”Ki Dipanalapun mengangguk dalam-dalam. Kemudian ia berdesis “Ampun tuan. Sekarang perkenankanlah hamba mengundurkan dir i” Pangeran Ranakusuma tidak menjawab, sedang Raden Ayu Galihwar it berdiri dengan gelisah. Orang itu memang berbahaya baginya. Dan tiba-tiba saja ia mengumpat di dalam hati “Kenapa orang itu tidak disambar petir saja kepalanya?“ Dari lubang pintu yang terbuka Raden Ayu Galihwarit melihat Ki Dipanala keluar dari serambi belakang. Langkahnya lurus menuju ke pintu butulan di dinding belakang. Orang itu sama sekali tidak berpaling. Namun terasa sesuatu berdesir di hati Raden Ayu Galihwar it ketika ia melihat seorang raksasa berdiri bertolak pinggang memandangi langkah Ki Dipanala. Tetapi raksasa itu sama sekali tidak berbuat apa-apa. “Mandra” desis Raden Ayu Galihwar it di dalam hatinya “sepeninggal Sura, orang itulah yang dipercaya oleh Rudira” Sejenak Raden Ayu Galihwarit berdiri membeku. Terbersit di dalam hatinya “Jika Dipanala tidak juga disambar petir, kenapa tidak ada orang yang membinasakannya saja? Dengan demikian semua persoalan yang diketahuinya tentang diriku akan ikut terkubur bersamanya” Raden Ayu Galihwarit itu menggigit bibirnya. Namun pikiran itu tiba-tiba saja melekat di hatinya. Dan ia mempunyai kekuatan untuk melakukannya. Ia mempunyai seorang anak laki- laki yang gagah dan berani bersama beberapa orang pengiringnya. Namun untuk beberapa lamanya, ia masih harus menyimpan pikiran itu sebaik-baiknya sebelum dipertimbangkannya masak-masak. Tetapi dari hari kehari Dipanala benar-benar merupakan duri di pusat jantungnya. Setiap detak dan setiap tarikan nafasterasa jantungnya menjadi pedih. Kenangan mengenai peristiwa itu benar-benar telah menghantuinya. “Jika Dipanala menjadi gila, maka akupun akan dibuatnya gila pula. Lenyaplah semua rencana dan harapan yang telah tersusun ini” namun kemudian “Tetapi j ika ia ingin mencelakakan aku, kenapa tidak sekarang, atau saat aku mengusir Juwiring atau karena perbuatan-perbuatanku yang lain?“ Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Memang terasa olehnya bahwa sampai saat ini Ki Dipanala tidak berniat berbuat jahat kepadanya. Namun dalam keadaan yang terpaksa maka orang itu dapat menjadi orang yang paling berbahaya baginya. “Rudira akan dapat menyelesaikannya” berkata Raden Ayu Galihwar it di dalam hati “bersama Mandra, Dipanala bukan lawan yang berat baginya meskipun Ki Dipanala pernah menjadi seorang prajurit. Tetapi akan lebih baik apabila Mandra dan Rudira sendiri tidak ikut menangani, agar tidak menambah beban lagi bagiku jika usaha ini gagal. Mereka dapat mencari seseorang yang dapat dipercaya. Atau katakanlah sekelompok kecil orang-orang yang diperhitungkan dapat melakukan tugas itu” Demikianlah ternyata bahwa di dalam tubuh Raden Ayu Galihwar it yang cantik itu tersimpan hati yang keras dan hitam. Dan agaknya, pikiran itu tetap dipertimbangkannya. Semakin hari justru terasa semakin mendesak. Apalagi setiap kali ia masih melihat Ki Dipanala berada di halaman istana Ranakusuman seolah-olah tidak terjadi sesuatu apapun atasnya. “Orang itu memang berhati batu” berkata Raden Ayu Galihwar it di dalam hatinya” Ia sama sekali tidak merasa bahwa ia tidak diperlukan lagi di sini. Agaknya Sura yang kasar itu masih juga memiliki perasaan, sehingga karena itu ia mintadiri untuk meninggalkan istana ini. Tetapi Ki Dipanala tidak. Ia masih tetap saja berkeliaran setiap hari” Namun hal itu agaknya telah mematangkan rencananya untuk melenyapkan saja Ki Dipanala itu. Untuk melakukan hal itu Raden Ayu Galihwarit sama sekali tidak berbicara lebih dahulu dengan suaminya. Ia tidak ingin Pangeran Ranakusutna bertanya kepadanya, dan mendesaknya, kenapa hal itu dilakukannya. Karena itu, maka satu-satunya orang yang dibawanya berbicara adalah anak laki- lakinya, Raden Rudira. Tetapi ternyata bahwa Raden Rudirapun bertanya kepada ibunya “Kenapa orang itu harus dilenyapkan ibu?“ “Ia sangat berbahaya bagi kita Rudira” “Ya, tetapi kenapa? Aku sudah lama merasakan bisa ludahnya. Seakan-akan ayahanda tidak dapat ingkar akan kata-katanya” Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Aku tidak tahu Rudira. Mungkin ada rahasia yang tersimpan antara ayahandamu dan Ki Dipanala. Tetapi yang pasti, kehadirannya sangat merugikan aku dan terutama kau. Jika orang itu dilenyapkan, maka banyak hal yang dapat kau kerjakan tanpa gangguan. Sebab sebenarnyalah jika ayahanda berkeberatan tentang apa pun juga, asalnya dari mulut Dipanala itu pula”Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya “Aku dapat membunuhnya bersama Mandra” Raden Ayu Galihwarit memandanginya sejenak. Namun kemudian ia berkata “Mungkin kau dan Mandra dapat melakukannya Rudira. Tetapi sebaiknya bukan kau tangani sendiri. Semula aku juga ragu-ragu. Apakah kau sendiri bersama Mandra atau orang lain. Tetapi jika gagal karena sesuatu sebab, maka kau tidak akan dapat ingkar lagi bahwa kau sudah berusaha membunuhnya“ “Tetapi j ika orang lain ibunda” jawab Rudira “persoalannya hampir sama saja. Jika ia tertangkap, maka ia akan berceritera tentang kita, bahwa kitalah yang telah menyuruhnya membunuh Ki Dipanala” “Amat-amati dari kejauhan. Jika ia gagal, kau dapat menyelesaikannya. Bukankah kau pandai berburu” “Maksud ibu, aku harus membunuh Dipanala dengan panah?“ “Jika mungkin. Jika tidak, maka orang-orang yang harus membunuh Dipanala itulah yang harus kau bunuh?“ Raden Rudira mengangguk-angguk. la sadar, bahwa dengan demikian mereka akan menghilangkan jejak. Karena itu, sambil mengangguk-angguk ia berkata “Aku mengerti ibu, tetapi apakah ayahanda sudah mengetahui rencana ini?“ “Aku tidak usah mohon kepada ayahandamu. Sebenarnya ayahandamu juga berniat demikian. Tetapi karena ada semacam hubungan yang sudah terlampau lama terjalin, maka ayahandamu tidak akan sampai hati melakukannya. Namun jika Dipanala itu masih saja berada di istana ini, ia akan menjadi iblis yang paling jahat” Raden Rudira masih mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Jadi, aku harus mencari orang yang mampu melakukannya dan dapat dipercaya”“Ya” Raden Rudira menar ik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian ia berkata “Aku akan berbicara dengan Mandra. Mungkin ia dapat menemukan orangnya. Tentu tidak hanya seorang Ki Dipanala adalah bekas seorang prajurit. Tentu ia memiliki kemampuan untuk berkelahi. Mungkin Mandra harus menyiapkan tiga atau empat orang yang yakin akan dapat membunuh Dipanala itu” Raden Ayu Galihwarit mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Kita sudah mulai. Kita tidak boleh berhenti sampai di tengah. Jika Dipanala sudah tersingkir, akan datang giliran Juwiring sehingga ia tidak akan dapat lagi menuntut hak atas warisan ayahandamu. Tetapi selama Dipanala masih ada, semuanya itu pasti akan dihalanginya” Rudira mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah ibu, serahkan semuanya kepadaku. Aku dan Mandra akan menyelesaikan sebaik-baiknya, meskipun barangkali aku memer lukan uang yang cukup untuk mengupah orang-orang yang akan melakukan pembunuhan itu” “Jangan cemas” sahut ibunya “Aku akan menyediakan uang berapa saja yang kau perlukan” Rudira termenung sejenak. Kemudian iapun minta diri kepada ibunya untuk menemui Mandra. ”Kau harus secepatnya mengatakan kepadaku jika kau sudah mendapatkan orang itu” pesan ibunya. “Baik ibu. Aku akan segera memberitahukan” Demikianlah Rudira pergi menemui Mandra tanpa orang lain yang mendengar percakapan mereka. Meskipun sebenarnya bagi Rudira, Mandra yang sekarang ini masih belum sebaik Sura sebelum ia berkhianat, namun agaknya orang inipun cukup memadai juga. “Kenapa bukan aku sendir i?“ bertanya Mandra.“Kau sudah cukup dikenal, bahwa kau adalah pengiringku. Aku juga sudah minta kepada ibunda, karena bukan aku dan kau. Tetapi ibunda ragu-ragu. Dan ibunda memutuskan untuk mengambil orang lain, tetapi di bawah pengawasan kita” lalu diceriterakannya apa yang harus dilakukan seandainya usaha itu mengalami kegagalan. “Tidak mungkin gagal” berkata Mandra “meskipun Dipanala seorang bekas prajurit tetapi ia menjadi semakin tua. Kemampuannya tidak lagi berkembang, justru menurun karena ia tidak berusaha memalangkan pelepasan tenaga cadangan” “Tetapi bagaimanapun juga ia cukup berbahaya” “Baiklah. Aku akan mencari liga atau empat orang yang sama sekali belum dikenal” “Ya. Kita akan mengatur segala sesuatunya. Ayahanda atau ibunda akan menyuruh Ki Dipanala pergi ke Jati Aking untuk menyampaikan sesuatu kepada kamas Juwir ing. Pada saat itulah, Ki Dipanala harus dibinasakan” Mandra mengangguk-angguk. “Kau harus menyiapkan orang itu di bulak Jati Sari. Lebiti baik jika kau beri pakaian kepada mereka seperti petani dari Sukawati itu. Jika mungkin seseorang melihat meskipun dari kejauhan, maka ia akan dapat mengatakannya” “Lebih baik kita lakukan di malam hari” “Tentu, Tetapi ada kalanya di malam hari orang pergi ke sawah melihat air” Mandra mengangguk-angguk pula. Katanya “Baik, baik. Aku akan melakukan dengan cermat. Tetapi tentu dengan kerja sama yang baik dengan ibunda Raden Rudira supaya waktu yang ditentukan itu tidak meleset”“Tentu. Pada saatnya kita akan menyusun rencana sebaik- baiknya” Dengan demikian, maka di luar pengetahuan Pangeran Ranakusuma, Raden Ayu Galihwarit dan anak laki-lakinya sedang menyusun rencana untuk membunuh Dipanala, orang yang dianggap paling berbahaya baginya. Akhirnya Mandra dan Rudira menemukan juga orang yang dapat dipercayanya untuk melakukan tugas itu. Mereka adalah kawan-kawan Mandra yang hidup dalam dunia yang gelap, sebagai orang yang mendapatkan nafkahnya dengan cara yang dikutuk oleh sesama. “Tetapi kau harus berhasil” berkata Mandra kepada mereka. Salah seorang dari mereka tertawa. Katanya “Pekerjaan itu sama sekali bukan pekerjaan yang sulit bagi kami. Membunuh Dipanala apakah sukarnya?“ “Jangan berkata begitu” sahut Mandra “kadang-kadang ada masalah lain yang berada di luar perhitungan” “Jangan cemas. Pokoknya kami akan membunuhnya, dan kami harus mendapat upah seperti yang kami minta” “Aku sudah menyanggupi. Tetapi jika gagal, kalian harus melarikan diri. Jangan sampai ada di antara kalian yang tertangkap hidup dan mengatakah, bahwa akulah yang menyuruh kalian melakukan pembunuhan itu” “Kami bukan anak-anak lagi. Kenapa kalian harus mengatakan pesan itu?“ “Jangan sombong. Kelemahanmu justru karena kau terlampau sombong. Aku tahu, bahwa kau memiliki kemampuan. Tetapi yang kau hadapi jangan kau anggap ringan, agar kau tidak terjerumus dalam kegagalan”“Kau terlalu banyak bicara. Nah, beritahukan waktunya, kapan kami harus mencegatnya di bulak Jati Sar i” “Kami akan mengatur sebaik-baiknya” Demikianlah, maka semuanya segera diatur serapi-rapinya. Raden Ayu Galihwarit berusaha untuk mengetahui dengan pasti, kapan Ki Dipanala akan pergi ke Jati Aking. “Sudah lama kita tidak mengir imkan perbekalan bagi Juwiring” berkata Raden Ayu Galihwarit. Pangeran Ranakusuma menjadi heran. Biasanya Galihwarit tidak pernah mempersoalkan perbekalan bagi Juwir ing yang tinggal di Jati Aking. Tetapi tiba-tiba kali ini ia mempersoalkannya. “Siapakah yang akan pergi mengir imkan perbekalan?“ bertanya Pangeran Ranakusuma yang mulai curiga, bahwa kesempatan ini akan dipergunakan oleh Raden Rudira, karena menurut keterangan yang didengarnya Rudira telah tertarik pada gadis padepokan Jati Aking yang bernama Arum, yang membuat Rudira dan Juwiring, dua orang saudara seayah, menjadi semakin renggang. Tetapi jawaban Raden Ayu Galihwarit ternyata tidak diduganya sama sekali “Bukankah biasanya Ki Dipanala juga yang membawanya ke Jati Aking?“ Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia terlampau berprasangka terhadap isteri dan anaknya. Isteri yang justru paling berpengaruh atasnya. “Baiklah” berkata Pangeran Ranakusuma “biarlah dipersiapkan perbekalan bagi Juwir ing. Biar lah Ki Dipanala membawanya ke Jati Aking” “Semuanya sudah siap. Tentu kita tidak usah mengirimkan beras, karena Jati Sari adalah lumbung beras yang subur”“Apakah aku pernah mengir imkan beras ke Jati Aking?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. “Tidak. Memang tidak. Maksudku, biarlah Ki Dipanala membawa beberapa lembar kain dan uang. Ki Danatirta tentu memer lukan uang untuk membeayai padepokannya. Mungkin beberapa lembar juga untuk gadis itu” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya isterinya menyebut gadis itu juga. Namun dengan demikian Raden Ayu Galihwarit telah menghilangkan kecurigaan Pangeran Ranakusuma, tentang hal yang lain-lain. Menurut dugaannya, Raden Ayu Galihwarit sedang mengambil hati gadis itu. yang dengan perlahan-lahan akan dipancing ke rumah ini. Tentu saja bagi Raden Rudira. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak berkeberatan dengan cara itu. Asal Rudira tidak melakukan kekerasan dan merampas gadis itu dari padepokan Kiai Danatirta. Jika dengan cara itu, Arum berhasil diambil masuk ke istana Ranakusuman dan tidak menumbuhkan persoalan apapun dengan Kiai Danatirta, maka Pangeran Ranakusuma tidak akan mencegahnya. “Mungkin Danatirta memang perlu disumbat mulutnya dengan uang atau Barang-barang lainnya, sehingga ia tidak berkeberatan. melepaskan anaknya. Sedang gadis itu sendiri tidak akan banyak menimbulkan persoalan apabila ayahnya sudah menyerahkannya” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya. Karena bagi beberapa orang bangsawan hal serupa itu bukannya hal yang baru pertama kali akan terjadi. "Bahkan kadang-kadang jika seorang gadis sudah mengandung, maka diserahkannya gadis itu kepada abdinya sebagai triman untuk mendapat pengesahan perkawinan. Ternyata Pangeran Ranakusuma sama sekali t idak menduga, bahwa saat yang ditentukan untuk mengutus Ki Dipanala ke Jati Aking itu menjadi perhatian Raden Rudira dan Mandra. Merekapun segera menyiapkan segala sesuatunya.Orang-orang yang ditugaskannya untuk membunuh Dipanala itupun sudah diber itahukannya. “Jika kalian berempat gagal, maka hancurlah semua rencana. Kalianpun akan digantung karena kalian berusaha membunuh seseorang j ika kalian tertangkap” Salah seorang dari orang-orang itu tertawa berkepanjangan. Katanya “Kau memang banyak bicara Mandra” “Kaulah yang terlampau sombong” jawab Mandra “Kau tahu bahwa aku dapat membunuh orang seperti kau dengan mudah. Tetapi aku tidak menganggap pekerjaan ini terlampau ringan” Orang itu masih tertawa. Namun katanya “Baiklah. Aku akan bertindak hati-hati sekali” “Jangan lupa. pakai pakaian seperti yang aku katakan” “Agar ujud kami tidak seperti perompok. Tetapi seperti petani biasa, begitu maksudmu?“ “Sebagian begitu” “Tetapi bagimu sebenarnya lebih aman jika kami berpakaian seperti yang kami pakai. Justru kami akan mempertegas bentuk kami sebagai perampok. Orang-orang akan mengatakan, jika ada. yang melihat, bahwa Ki Dipanala telah dirampok orang. Dan habis perkara” Mandra mengangguk-angguk. Tetapi agaknya ada niat lain pada Raden Rudira. Ia ingin memberikan kesan, bahwa petani perantau yang mengaku dari Sukawati itu dan kawan- kawannya ternyata telah merampok Dipanala pula di bulak Jati Sari. Demikianlah semuanya sudah ditentukan. Tetapi ternyata sangat sulitlah bagi Raden Ayu Galihwar it untuk memaksakan keinginannya agar Ki Dipanala dapat pergi ke Jati Aking dimalam hari. Yang dapal diusahakan hanyalah memper lambat persiapan agar Dipanala berangkat di sore har i. “Tunggulah sebentar” berkata Raden Ayu Galihwarit ketika Dipanala mohon dir i kepada Pangeran Ranakusuma untuk berangkat ke Jati Aking “Aku masih mempunyai selembar kain lurik yang halus untuk anak Danatirta itu” “Pemberian Pangeran Ranakusuma sudah terlampau banyak kali ini Raden Ayu” berkata Ki Dipanala. “Aku sudah menyediakannya, dan aku ingin member ikan kepadanya” Ki Dipanala tidak dapat menolak lagi. lapun terpaksa menunggu beberapa saat ketika Raden Ayu Galihwarit masih berpura-pura mencar inya. “Aku sudah menyediakannya. Aku simpan kain itu baik- baik. Tetapi karena itu aku justru lupa. dimana aku menyimpannya” Ki Dipanala hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, sedang Pangeran Ranakusumapun tidak dapat berbuat apa- apa. Ia tahu, bahwa isterinya akan menjadi sangat kecewa jika kain yang sudah lama disediakan itu tidak dapat dibawa serta. Meskipun demikian ketika Raden Ayu Galihwarit terlalu lama belum juga dapat menemukannya, Pangeran Ranakusuma berkata “Biarlah lain kali Dipanala membawanya. Ia masih akan pergi lagi ke Jati Aking” “Tidak. Tidak untuk lain kali. Tetapi aku ingin kain itu segera sampai ke tangan gadis itu” Ketika kain yang dicari itu ketemu, maka matahari sudah mulai condong ke Barat. Sejenak Raden Ayu Galihwarit member ikan beberapa pesan agar disampaikan kepada Kiai Danatirta.“Katakan kepadanya” berkata Raden Ayu Galihwarit “Aku sama sekali tidak mempunyai maksud apa-apa. Persoalannya lepas sama sekali dengan persoalan yang pernah timbul karena tingkah Rudira. Aku benar-benar ingin memberikan sesuatu tanpa pamrih apapun juga” “Baik Raden Ayu. Biarlah hamba sampaikan kepada Kiai Danatirta dan kepada anak gadis itu sendiri” “Dan pesanku kepada Juwiring” berkata Raden Ayu Galihwar it “Ia berada di padepokan Jati Aking untuk mempelajari ilmu kaj iwan dan kesusasteraan. Jangan terlampau banyak membuang waktunya untuk belajar bertani. Itu tidak penting baginya kelak. Jika ternyata kita melihat hasil yang baik, maka pada saatnya Juwiring kembali ke istana ini, Rudiralah yang akan mempelajari ilmu yang serupa” Ki Dipanala dan Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Sejenak mereka saling berpandangan, seakan- akan mereka mendapat kesan yang sama, bahwa sebenarnya Raden Ayu Galihwar it memang ingin memisahkan Juwiring dari Arum dan member ikan kesempatan kepada Raden Rudira, meskipun cara yang dipakainya adalah cara yang tampaknya wajar sekali, bahkan terlalu baik terhadap anak tirinya.Demikianlah mereka berbicara beberapa saat lamanya. Kemudian Ki Dipanalapun minta diri kepada kedua suami isteri itu. “Hamba akan sampai di Jati Aking senja har i Pangeran” berkata Dipanala. “Kau akan bermalam?“ “Ya. Hamba memang sering bermalam di padepokan itu” “Baiklah” “Tetapi, masih ada satu yang terlupa” berkata Raden Ayu Galihwar it “Aku masih mempunyai sesuatu buat anak-anakmu” “O, terima kasih. Hamba akan langsung berangkat ke Jati Aking. Besok j ika hamba kembali, hamba akan menghadap lagi“ “Ah, kau. Jangan terlalu malas. Bukankah kau dapat melintas halaman belakang dan lewat pintu butulan sejenak menyerahkannya kepada anak-anakmu” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun mengangguk sambil menjawab “Hamba mengucapkan beribu terima kasih” Maka dengan demikian sebelum berangkat Ki Dipanala masih harus pulang sejenak, untuk menyerahkan sebuah bungkusan kecil kepada anak-anaknya. “O, jadi ayah belum berangkat?“ bertanya anaknya yang kebetulan ada di halaman. “Segera akan berangkat. Simpanlah“ “Apakah ini ayah?“ “Nanti kau akan tahu. Ayah akan segera berangkat” “Apakah aku boleh membukanya” “Bukalah di dalamrumah. Ayah tergesa-gesa sekali”“Dimanakah ayah membeli ini?“ “Bukan ayah yang membeli. Tetapi itu adalah hadiah dari Raden Ayu Galihwarit” “O, hadiah dari Raden Ayu Galihwarit” anaknyapun kemudian berlari menghambur masuk ke dalam rumah untuk segera mengetahui isi bingkisan kecil itu. Ki Dipanalapun kemudian dengan tergesa-gesa kembali ke istana Ranakusuman untuk sekali lagi mohon diri dan member itahukan bahwa hadiah itu sudah diserahkannya kepada anak-anaknya. Ketika kudanya mulai berlar i di luar regol istana Ranakusuman Ki Dipanala menengadahkan wajahnya kelangit. Matahari sudah semakin condong. Karena itu maka katanya di dalam hati “Aku akan sampai ke Jati Aking sesudah padepokan itu menjadi gelap. Mudah-mudahan kedatanganku tidak mengejutkan kakang Danatirta” Sekali Ki Dipanala berpaling. Diamatinya sebungkus kain dibagian belakang kudanya. Kemudian dirabanya sebuah kampil kulit yang diikatkan di lambung kuda itu pula. Di dalam kampil itu disimpannya uang yang harus diserahkannya kepada Kiai Danatirta. “Banyak sekali yang harus aku bawa kali ini” berkata Ki Dipanala di dalam hati. Sebenarnya ia merasa heran, kenapa tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit menjadi begitu baik terhadapnya. Masih terasa tali-tali yang mengikatnya pada sebatang pohon sawo ketika Raden Rudira menjadi sangat marah kepadanya. Hampir saja ia menjadi pengewan-ewan. Dan sekarang, tiba-tiba anak-anaknyapun telah menerima hadiah dari Raden Ayu yang garang itu. Tetapi Ki Dipanala sama sekali t idak mengerti bahwa jumlah Barang-barang dan uang yang dibawanya adalah jumlah yang dijanjikan oleh Raden Rudira kepada keempat kawan-kawan Mandra. Jika mereka dapat membunuh Dipanalamaka apa yang dibawanya dapat diambilnya. Uang dan Barang-barang yang sebelumnya sudah disetujui jumlahnya. Bagi Ki Dipanala, Raden Ayu Sontrang itu sedang berusaha untuk membujuk secara halus, agar Arum akhirnya dapat juga diambil ke istana bagi Raden Rudira. Tidak lebih dari dugaan itu. Meskipun dugaan itu sudah cukup membuatnya berkeluh kesah. “Apakah yang dapat aku katakan kepada kakang Danatirta jika iapun menaruh curiga pula?“ Ki Dipanala bertanya kepada diri sendiri. Tetapi Ki Dipanalapun kemudian menggelengkan kepalanya. Dipacunya kudanya semakin cepat. Seleret teringat pula olehnya bulak Jati Sari yang panjang itu. “Jika ada seseorang yang mengetahui aku membawa barang-barang dan uang, ada juga bahayanya bulak panjang di Jati Sari itu” katanya di dalam hati. Tetapi bagi Ki Dipanala, hal itu tidak begitu dihiraukannya meskipun sekali-sekali ia menyentuh hulu keris yang diselipkan di lambungnya. Demikianlah kuda itu berpacu semakin lama seakan-akan menjadi semakin cepat. Apalagi ketika Ki Dipanala sudah meninggalkan pintu gerbang kota. Kudanya berlari seperti anak panah yang lepas dar i busurnya. Di perjalanan Ki Dipanala seakan-akan tidak berhenti sama sekali untuk ber istirahat. Hanya jika kudanya terasa terlalu lelah berlari, maka dikuranginya kecepatannya sedikit, dan sekali diberinya kesempatan kudanya minum beberapa teguk air jernih dari parit di pinggir jalan yang dilaluinya. Meskipun demikian, maka seperti yang sudah diperhitungkan bahwa ketika ia mulai memasuki daerah Jati Sari, maka gelap malampun mulai turun perlahan- lahan.Tetapi jaraknya sudah tidak terlampau jauh lagi. Ki Dipanalapun mulai merasa tenteram, bahwa ia akan dapat menyampaikan Barang-barang itu kepada yang berhak. Dalam keremangan malam yang semakin temaram Ki Dipanala memandang bulak Jati Sari yang panjang. Di ujung bulak itu terletak salah satu desa kecil dari kelompok pedukuhan Jati Sari. Dan di seberang bulak sempit ber ikutnya terletak padepokan kecil Jati Aking. Sementara itu, disebuah batu ditanggul parit yang membujur di sepanjang bulak itu duduk seseorang yang berpakaian seperti pakaian seorang petani. Tetapi dengan kain yang membelit lambung dan sebuah tutup kepala bambu yang lebar, agaknya petani itu baru saja menempuh sebuah perjalanan yang jauh. Ia telah duduk diatas balu itu sejak senja mulai turun. Sekali-sekali ia mengedarkan pandangan matanya ke daerah di sekitarnya. Sawah yang terbentang luas. Batang-batang padi yang hijau segar. Satu dua masih dilihatnya beberapa orang berjalan pulang kedesanya masing-masing yang terpencar di sekitar bulak yang luas itu. “Tentu ada di antara mereka yang sudah melihat aku duduk disini” berkata petani itu di dalam hatinya. Dan iapun tetap duduk saja Di tempatnya ketika seorang petani Jati Sari lewat di jalan di hadapannya" Petani Jati Sari itupun tidak berhenti dan tidak menyapanya. Ia belum mengenal orang itu. Ia hanya dapat menduga bahwa orang itu adalah seseorang yang sedang beristirahat setelah lelah berjalan. Dan karena petani yang sedang beristirahat itu tidak mengatakan apa-apa, maka menurut pendapatnya, ia memang tidak memerlukan bantuan apapun juga. Namun ketika senja menjadi gelap, ternyata bahwa petani itu tidak hanya seorang diri. Ternyata dua orang lainnya telahmenyusulnya dan kemudian duduk di pematang, terlindung oleh batang batang padi, dan seorang lagi duduk di seberang jalan, sehingga jumlah mereka semuanya adalah empat orang. “Apakah orang itu justru sudah lewat?“ bertanya salah seorang dari antara mereka kepada kawannya. Petani yang bertudung lebar dan duduk diatas batu itulah yang menyahut “Aku berada di sini sejak senja. Ia belum lewat” Kawannya menarik nafas. Katanya “Jika kita terlambat, kita harus menempuh jalan lain” “Apa?“ bertanya kawannya. “Mendatangi padepokan itu” “Gila. Kau sangka di padepokan itu tidak ada orang lain?” “Cantrik-cantrik maksudmu? Yang biasanya hanya menyabit rumput? Mereka sama sekali tidak berarti” “Raden Juwiring?“ “Ah, kita buat ia pingsan dengan sebuah pukulan di tengkuk. Kemudian kita bunuh Dipanala. Kita rampas kembali semua Barang-barang dan uang yang sudah diserahkan kepada Danatirta. Dan jika ada, justru kekayaan padepokan itu dapat kita bawa sama sekali” “Kau memang gila” Percakapan itu tiba-tiba terhenti ketika mereka mendengar derap kaki kuda di kejauhan. Sejenak mereka mengangkat kepala untuk mendengarnya. Ketika mereka sudah pasti, maka orang yang berpakaian petani itu berkata “Bersembunyilah. Aku akan menghentikannya” Yang lainpun segera bersembunyi rapat-rapat. Mereka berjongkok di dalam lumpur berlindung batang-batang padi.Gelap malam yang semakin buram telah menyembunyikan orang-orang itu semakin rapat. Sejenak kemudian derap kaki-kaki kuda itu menjadi semakin dekat. Meskipun sudah menjadi pekerjaan dan kebiasaan mereka merampok dan menyamun, namun kali ini keempat orang itu masih juga berdebar-debar, karena yang bakal mereka hadapi adalah Ki Dipanala. “Ia sudah semakin tua” desis salah seorang dari mereka tanpa disadari. “Kenapa?“ bertanya kawannya. “Ia tidak akan dapat apa-apa untuk membela dir inya” “Kau takut?“ “Tidak. Sebaliknya. Kenapa kita harus menyembunyikan diri dan menyergap dengan tiba-tiba” Kawannya memandanginya sejenak. Namun tiba-tiba kawannya itu tersenyum sambil berbisik “Kau berdebar-debar. Jangan ingkar. Aku juga” “Ah“ Tetapi ia tidak menyahut. Derap kuda itu terdengar semakin keras seperti detak jantungnya yang menjadi semakin berdentangan di dalam dadanya. Memang terasa aneh sekali, bahwa kedatangan orang setua Dipanala masih juga mendebarkan jantung. Apalagi mereka berempat, yang selama ini telah menyimpan banyak sekali pengalaman bagaimana mereka harus melayani orang- orang yang akan disamunnya. Dalam keremangan malam yang menjadi semakin gelap, orang yang duduk diatas batu itu masih juga melihat seekor kuda yang tegar berlari. Semakin lama semakin dekat. Dan tiba-tiba saja ia berdir i. Dilepaskan tudungnya yang lebar serta dilambaikannya sebagai suatu isyarat.Bukan saja kuda yang berlari itulah yang agak terkejut karenanya, tetapi Dipanala juga terkejut karena tiba-tiba saja orang yang semula duduk diam itu meloncat ketengah-tengah jalan yang dilaluinya. Dengan serta-merta Ki Dipanala menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu berdir i tegak sambil mer ingkik. Tetapi sesaat kemudian kuda itu sudah dapat dikuasainya dan menjadi tenang kembali. “Ki Sanak” berkata orang yang berpakaian petani dengan tudung yang besar itu “Apakah Ki Sanak akan pergi ke Jati Aking?“ Ki Dipanala menjadi ragu-ragu sejenak. Lalu iapun bertanya “Siapakah kau?“ “Aku petani dari Sukawati. ” “He?” Ki Dipanala menjadi ragu-ragu. Dicobanya mengamati wajah orang itu. Ia belum pernah mengenal orang yang berdiri di tengah jalan itu. Meskipun wajahnya yang samar di bawah bayangan kegelapan, namun Ki Dipanala pasti, bahwa ia belum pernah melihat orang itu. Namun nama petani dari Sukawati seperti yang pernah didengarnya membuat hatinya menjadi berdebar-debar. Nama itu menurut pendengarannya mempunyai arti yang tersendiri. Sebagai bekas seorang prajur it Ki Dipanala mempunyai naluri yang tajam dalam menghadapi persoalan-persoalan yang meragukannya. Karena itu, sebelum ia berbuat sesuatu, maka iapun memandang ke sekitatnya tanpa disengajanya. “He, kenapa kau tidak turun dari kuda?“. berkata orang yang berdiri di tengah-tengah jalan itu. “Apakah maksudmu menghentikan aku?“ bertanya Ki Dipanala.“Turunlah. Kita akan berbicara. Aku mempunyai beberapa pesan yang harus kau sampaikan kepada Juwir ing” Ki Dipanala menjadi semakin ragu-ragu. Sejenak ia seakan- akan membeku diatas punggung kudanya. “Turunlah “ Hampir saja Ki Dipanala meloncat turun, jika tangannya tidak menyentuh kampil uang yang diikat di lambung kuda itu, serta beberapa macam barang yang harus diberikannya kepada Juwiring, Kiai Danatirta dan Arum. “Turunlah “ “Katakanlah pesan itu” berkata Ki Dipanala kemudian “Aku akan segera melanjutkan perjalanan” “Turunlah. Kau harus berbuat sopan terhadapku” “Siapa kau sebenarnya?“ “Petani dari Sukawati” Sekali lagi jantung Ki Dipanala dijamah oleh kebimbangan yang sangat. Tetapi ia masih tetap bertahan duduk diatas kudanya sambil menjawab “Kenapa aku harus turun dari kuda jika aku berhadapan dengan seorang petani meskipun dari Sukawati?“ “Kau belum pernah mendengar siapakah petani dari Sukawati itu?“ Ki Dipanala menggeleng ”Aku belumpernah mendengar“ “Aku adalah Pangeran Mangkubumi” “Bohong” tiba-tiba Ki Dipanala berteriak. Kini ia yakin bahwa ia berhadapan dengan bahaya. Katanya “Pangeran Mangkubumi yang berpakaian petani tidak akan berkata bahwa inilah Pangeran Mangkubumi. Apakah arti pakaian petani baginya jika ia masih menyebut dir inya Pangeran Mangkubumi”Namun ternyata penyamun itu masih dapat menjawab dengan tenang “Kepada orang lain aku tidak memperkenalkan diriku yang sebenarnya. Tetapi karena aku mempunyai kepentingan dengan, kau dan Juwiring, maka aku mengatakan siapakah aku. Bukankah Juwiring sudah mengetahui bahwa petani di Sukawati itu sebenarnya adalah Pangeran Mangkubumi?“ Tetapi Ki Dipanala masih juga menjawab dengan keyakinan “Jika benar kau Pangeran Mangkubumi, kau tidak akan menunggu aku lewat, karena kau tidak tahu bahwa aku lewat” “Kau lupa bahwa aku mempunyai aj i Sapta Pameling dan Sapta Pangrungu, Sapta Pangganda dan Sapta Pangrasa. Aku tahu bahwa kau akan lewat dan karena itu aku menunggumu di sini” “Sekali lagi kau berbuat kesalahan. Jika kau mempunyai aji Sapta Pameling, maka kau t idak memer lukan aku untuk menyampaikan pesanmu kepada Raden Juwiring. Kau dapat duduk di sini dan memanggil Raden Juwiring menghadap dengan aji Sapta Pamelingmu” Orang yang mengaku petani dari Sukawati itu diam sejenak. Namun kemudian sambil menggeretakkan giginya ia berkata “Turun dari kudamu. Aku tidak peduli apakah kau percaya tentang aku atau tidak” “Katakan, apa maksudmu” jawab Ki Dipanala tegas. “Turun dahulu, sebelum aku menyeretmu” “Aku tidak akan turun” Orang itu menggeram. Selangkah ia maju, namun Ki Dipanalapun segera mempersiapkan dirinya menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Kini ia benar-benar harus berbuat sesuatu untuk mempertahankan tugasnya, dan sudah barang tentu mempertahankan hidupnya.Sejenak kemudian, petani itu berdiri tegak. Tetapi ia tidak mau kehilangan korbannya. Jika kuda itu meloncat dan berlari, maka akan lepaslah ia dari tangannya. Karena itu selagi hal itu belum terjadi maka iapun segera memberikan isyarat kepada kawan-kawannya. Dada Ki Dipanala menjadi berdebar-debar. Ia benar- benar berhadapan dengan empat orang penyamun. Namun demikian timbul juga pertanyaan di dalam hati “Darimana orang ini mengetahui beberapa masalah mengenai Petani dari Sukawati, Raden Juwiring dan bahwa aku akan lewat membawa Barang-barang dan uang bagi padepokan Jati Aking. Sekilas memang terlintas di dalam benaknya, bahwa di istana Ranakusuman banyak terdapat orang yang tidak menyukainya. Orang-orang yang menjilat dan bahkan Pangeran Ranakusuma berdua. Apalagi Raden Rudira dan orang-orang yang berdiri di belakangnya. Salah seorang dari mereka dapat saja berhubungan dengan para penyamun dan member itahukan bahwa ia membawa Barang-barang berharga ke Jati Aking. Tetapi di saat yang gawat itu ia tidak dapat sekedar mencari-cari, siapakah yang telah berbuat jahat dan berkhianat atasnya itu. Yang harus dilakukannya adalah mempertahankan barang-barang yang menjadi tanggung jawabnya. –
 
Jilid 06
“MENYERAHLAH” berkata orang yang semula mengaku petani dari Sukawati itu ”Kau memang mempunyai pandangan yang tajam. Kau tidak segera percaya bahwa aku adalah petani dari Sukawati itu” Ki Dipanala sama sekali t idak menjawab. “Nah, menyerahlah. Kami akan memperlakukan kau sebaik- baiknya” Berkata orang itu pula “serahkan semua Barang- barang yang akan kau bawa ke Jati Aking” Ki Dipanala masih tetap berdiamdiri. “Kau hanya seorang diri. Kau tidak akan dapat mengharapkan bantuan siapapun juga di sini. Aku memang masih melihat, seorang dua orang lewat sebelum kau, Jika sekarang masih ada juga yang melihat kita berdiri di sini, mereka t idak akan berani berbuat apapun juga” “Aku tidak mengharap siapapun juga” desis Ki Dipanala “Aku percaya kepada dir iku sendir i”“Omong kosong“ Orang yang mengaku petani, dari Sukawati itu tertawa ”suaramu bergetar. Kau sedang ketakutan” “Aku adalah lekas seorang prajur it. Adalah suatu anugerah bahwa aku masih tetap hidup setelah tugasku selesai. Dengan demikian maka mati bagiku bukan lagi bayangan yang menakutkan. Tetapi mungkin bagi kalian, karena selama hidup kalian, kalian selalu berbuat dosa, sehingga mat i adalah akhir yang paling mengerikan bagi kalian, kalian akan sengsara di akhirat” “Tutup mulut” bentak penyamun itu “Jangan menakut- nakuti aku dengan kepercayaan tahyul semacam itu. Tidak seorang pun yang dapat berbicara tentang mati. Tidak ada kehidupan setelah mati itu” “Jika benar demikian, kenapa aku takut mati?“ potong Dipanala “Apalagi aku percaya bahwa ada kehidupan akhirat yang abadi dan surga yang dijanjikan bagi mereka yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Suci dan tidak ada sekutu bagiNya, dan kepercayaan itulah yang membuat aku semakin tidak takut kepada mati” “Persetan” sahut penyamun itu “Jika kau tidak takut kepada mati, maka kau akan takut menjelang saat-saat matimu, karena kami berempat dapat berbuat apa saja atasmu sebelum kau mati” “Aku tidak akan menyerahkan leherku untuk kau jerat” “Tetapi kau tidak akan berdaya menghadapi kami berempat. Pilihlah. Menyerah, dan aku akan membunuhmu segera, atau kau akan melawan tetapi berakibat sangat buruk di saat menjelang mati” “Yang kedua. Tetapi tidak seluruhnya. Aku akan melawan dan membuat kalian menyesal sebelum kalian mati”“Omong kosong“ salah seorang dari para penyamun yang selama itu mengikuti pembicaraan menjadi sangat marah. Lalu “Kita terlalu banyak berbicara. Mari. kita seret dan kita bunuh segera” “Ya, sekarang” sahut yang lain. Ki Dipanala tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba kerisnya telah digenggamtangannya. Hampir berbareng keempat orang itu menyerang. Namun Ki Dipanala sudah bersiap meskipun ia masih diatas punggung kudanya. Tetapi ternyata bahwa kejutan-kejutan yang sengaja dilakukan oleh orang-orang itu, membuat kuda Ki Dipanala sukar dikendalikan sehingga kadang-kadang hampir saja ia kehilangan kesempatan untuk menghindar dan menangkis serangan-serangan yang mulai berdatangan. Karena itu, tidak ada cara lain daripadanya adalah turun dari kudanya. Ia sudah tidak melihat lagi kemungkinan untuk menembus kepungan keempat orang itu, karena dua dari mereka berdir i di depan dan dua yang lain di belakang. sehingga kali ini ia harus benar-benar berkelahi. “Tetapi tentu satu atau dua dari orang-orang ini akan melarikan kudaku” berkata Ki Dipanala itu di dalamhati. Tetapi itu lebih baik bagi Ki Dipanala dar ipada dadanya ditembus ujung pedang. Katanya pula di dalam hati “Jika aku berlasil menangkap seorang saja dari keempatnya, maka aku akan dapat mendengar keterangannya dan mencari kuda serta muatannya kembali. Atas perhitungan itulah maka Ki Dipanalapun kemudian meloncat turun dari kudanya. Dengan demikian ia justru merasa menjadi lebih lincah untuk melawan keempat orang yang mengeroyoknya.Ternyata bahwa dugaannya tentang kudanya adalah keliru. Tidak seorangpun dari keempat orang itu menghiraukan kuda yang kemudian menepi dan seakan-akan berdiri melihat apakah pemiliknya akan dapat mengatasi kesulitan yang sedang dihadapinya. Memang tidak seorangpun dari keempat lawannya yang menghiraukan kuda itu. Tugas mereka tidak sekedar merampas Barang-barang yang dibawa oleh Ki Dipanala, tetapi membinasakannya. Itulah sebabnya maka yang penting bagi mereka justru kematian Dipanala. Baru mereka akan menghitung uang dan Barang-barang yang ada padanya, apakah sesuai atau tidak dengan pembicaraan yang telah diadakan. Tetapi ternyata, meskipun Ki Dipanala sudah menjadi semakin tua, namun ia masih mampu bergerak secepat burung sikatan. Kakinya dengan ringan melontar-lontarkan tubuhnya dan kerisnyapun menyambar-nyambar dengan dahsyatnya di antara kilatan keempat ujung pedang lawannya. Meskipun pedang lawan-lawannya jauh lebih panjang dari keris Ki Dipanala. namun kecepatannya bergerak mampu mengimbangi kecepatan keempat ujung pedang yang lebih panjang itu. Demikianlah mereka segera terlibat dalam perkelahian yang sengit. Keempat orang penyamun itupun segera mengerahkan kemampuan mereka untuk mengatasi kecepatan bergerak lawannya. Namun bagaimanapun juga, ternyata bahwa Ki Dipanala memang tidak dapat mengimbangi keempat lawan-lawannya yang juga cukup berpengalaman. Perlahan-lahan semakin jelas, bahwa tenaganya terpaksa harus diperasnya untuk mempertahankan dir i. Tetapi dengan demikian maka tenaga itupun menjadi cepat surut. Sejenak kemudian, maka Ki Dipanalapun mulai terdesak. Ujung senjata lawannya seakan-akan telah mengurungnya,sehingga ia tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk menyerang. Semakin lama semakin terasa olehnya, bahwa senjatanya memang terlampau pendek. Namun demikian tidak terkilas pada Ki Dipanala untuk menyerah. Ia harus bertahan atau menyelamatkan dir i. Bukan karena ia takut mat i. Tetapi ia harus mendapat keterangan, apakah latar belakang dari penyamun ini. Sekedar Barang- barangnya, atau benar-benar suatu usaha pembunuhan atas dirinya. Jika sekedar perampokan, maka ia harus mendapat keterangan, siapakah yang sudah berkhianat dan member itahukan kepada para penyamun tentang keberangkatannya dan tentang Barang-barang yang dibawanya. Tetapi menilik tingkah laku dan sikap keempat orang itu, maka perhatian pertama dari mereka adalah kematiannya. Dengan demikian, maka Ki Dipanala kadang-kadang terpaksa mencari jalan untuk melepaskan dir i dari kepungan itu. Namun ternyata ia bahwa kepungan itu cukup rapat, sehingga usahanya selalu sia-sia. Akhirnya, tidak ada pilihan lain bagi Ki Dipanala selain berkelahi sejauh-jauh dapat dilakukan. Jika ia akhirnya harus mati, maka ia harus memberikan bekas pada perkelahian itu. Lawannyapun harus ada yang mati pula bersamanya. Karena itu, maka perlawanan Ki Dipanala justru menjadi semakin sengit. Ia berkelahi dengan sepenuh tenaga yang ada padanya, meskipun tenaga itu sudah menjadi semakin susut. Selagi Ki Dipanala tidak lagi dapat melepaskan diri dari kesulitan itu, maka tiba-tiba seseorang telah berlari- lari diatas pematang yang pendek. Dengan langkah yang r ingan ia meloncati parit dan sejenak kemudian ia sudah berdiri di pinggir jalan, di sebelah dar i arena perkelahian itu. “Kenapa kalian berkelahi di sini?“ t iba-tiba saja ia bertanya lantang.Keempat perampok itu menjadi berdebar-debar. Salah seorang dari mereka menjawab “Jangan hiraukan yang terjadi. Kami adalah penyamun yang sedang menyelesaikan korban kami. Jika kau ikut campur, maka kaupun akan menjadi korban pula meskipun kalian tidak mempunyai apa-apa” “Aku memang tidak mempunyai apa-apa” berkata orang itu “karena aku kebetulan saja melihat perkelahian ini selagi aku mengikut i arus air untuk mengair i sawah. Tetapi perkelahian yang tidak seimbang ini sangat menar ik perhatianku“ “Pergilah, aku tidak memer lukan kau” berkata salah seorang perampok itu “Atau kalau mau nonton, nontonlah, bagaimana kami membantai korban kami yang melawan kehendak kami. Kami tidak memer lukan kau, karena bajupun kau tidak mempunyai” Orang itu tidak segera pergi. Bahkan selangkah ia maju mendekat. Katanya “Sebenarnya aku tidak baru saja datang ke tempat ini. Aku sudah melihat kau sejak senja. Duduk diatas batu dan mengaku dir imu petani dari Sukawati. Itulah yang menarik perhatianku” Keempat orang yang sedang berkelahi melawan Ki Dipanala itu tanpa mereka sadari telah menghentikan serangan- serangan mereka, meskipun mereka tetap berdiri melingkari korbannya. Dengan bertanya-tanya di dalam hati mereka memandang orang yang justru berjalan mendekat itu. “Aku tertarik pada pakaian dan pengakuanmu kepada paman Dipanala” berkata orang itu kepada yang berpakaian seperti petani dari Sukawati “semula aku menyangka, karena aku hanya melihat dari jarak yang agak jauh bahwa kau benar-benar petani dari Sukawati itu. Itulah sebabnya aku menunggu sejenak dan kemudian berusaha mendekat. Tetapi ketika aku melihat kau menyamun, maka aku memastikan bahwa kau sama sekali tidak ada hubungan dengan petani dari Sukawati itu”“Persetan. Siapa kau?“ bentak orang yang mengaku petani dari Sukawati itu. Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia melangkah semakin dekat. Dalam keremangan malam, maka semakin dekat, Ki Dipanalapun menjadi semakin jelas, siapakah orang yang dalang itu. Meskipun ia belum begitu rapat mengenal anak muda itu serapat Raden Juwiring, namun akhirnya ia mengenal juga. Karena itu, maka katanya kemudian “Buntal. Bukankah kau Buntal?“ “Ya paman. Aku tahu benar, bahwa paman sedang dalam bahaya, karena sudah agak lama aku berada di sini, justru karena orang yang berpakaian seperti petani dari Sukawati itu. Pakaian itu sangat menarik perhatianku, sehingga aku mendekatinya dengan diam-diam, karena aku masih meragukannya. Aku mulai curiga karena orang itu tidak mengetahui kedatanganku, sehingga orang itu pasti tidak mempunyai aji Sapta Pangrungu, atau jika bukan aj i Sapta Pangrungu maka pendengarannya masih belum terlatih cukup baik untuk menangkap kehadiran seseorang di sekitarnya” “Gila” potong orang itu “Kau berada pada jarak yang terlampau jauh bagi pendengaran yang bagaimanapun juga tajamnya” “O. Mungkin begitu. Tetapi akhirnya aku yakin, bahwa paman Dipanala telah dicegat oleh beberapa orang penyamun di bulak Jati Sari yang panjang ini” “Ya. Aku tidak ingkar. Bukankah aku sudah mengatakan sejak kau datang” “Tetapi tentu tidak mungkin bahwa aku harus begitu saja meninggalkan paman Dipanala yang sedang menghadapi bahaya maut” “Siapa, kau sebenarnya, siapa?““Paman Dipanala sudah menyebut namaku, Buntal. Aku tinggal bersama-sama Raden Juwiring di padepokan Jati Aking” Sejenak para penyamun itu termenung. Namun kemudian salah seorang berkata “Ya, bukankah nama itu disebut-sebut juga oleh kawan kita itu?“ Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti bahwa orang inilah yang dimaksud oleh Mandra, anak muda yang ada di padepokan yang harus diperhitungkan juga. “Ya” sahut yang lain “anak ingusan ini memang suka mencampur i urusan orang lain” lalu katanya kepada Buntal “Buntal, aku masih memberimu kesempatan. Aku akan merampok semua milik Ki Dipanala dan membunuhnya sekali karena sudah melawan kehendakku sejak pertama kali aku member inya peringatan. Pergilah, atau kalau kau mau nonton, nontonlah. Kemudian katakan kepada Raden Juwiring, bahwa kiriman baginya sudah habis dirampok orang, sedang Ki Dipanala sudah terbunuh di tengah jalan sebagai seorang pahlawan yang mempertahankan tanggung jawabnya. Kau mengerti?“ “Sayang, bahwa aku tidak dapat berbuat begitu” jawab Buntal ”Aku mengenal Ki Dipanala dengan baik. Aku mengenal Raden Juwiring yang akan mener ima Barang-barang itu, dan bahkan aku tentu akan mendapat bagian pula apabila barang- barang yang akan kau rampok itu sampai ke padepokan” “He, kau sekedar ingin mendapat bagian? Aku akan member imu” sahut perampok itu. “Itu tidak baik. Aku akan menerima barang-barang yang sudah bernoda darah meskipun j ika Ki Dipanala terbunuh, tidak ada yang akan dapat mengatakan darimana aku mendapatkannya. Tetapi pada suatu saat orang-orang dari Ranakusuman akan mengenal barang-barang itu. Dan akuakan digantungnya pula. Tetapi j ika aku menerimanya langsung dari Ki Dipanala, aku dapat memakainya dengan tenang” “Diam” bentak orang yang berpakaian seperti petani dari Sukawati “Kau mau pergi atau tidak?“ Buntal menggeleng “Tidak” “Jika tidak, aku akan membunuhmu” “Silahkan. Aku akan membantu Ki Dipanala. Jika aku dapat mengurangi seorang saja dari keempat lawannya, maka paman Dipanala akan dapat bertempur dengan baik melawan tiga orang di antara kalian” “Persetan” tiba-tiba orang yang berpakaian petani itu menggeram “bunuh anak ini. Serahkan Dipanala kepadaku berdua, dan kalian berdua membunuh anak yang gila itu, supaya pekerjaan kita cepat selesai. Setelah anak itu mati dan kau lemparkan ke dalam parit, kita bunuh Dipanala pula” “Ya“ sahut yang lain “ mencampur i persoalan orang lain. Orang-orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Sejenak kemudian mereka sudah berloncatan menyerang. Yang dua orang menyerang Buntal, dan dua yang lain menyerang Ki Dipanala. Menurut perhitungan mereka, membunuh Buntal tidak memerlukan waktu sepanjang membunuh Ki Dipanala. Namun baik Buntal, maupun Ki Dipanala sudah siap pula menghadapi segala kemungkinan, sehingga karena itu, maka merekapun masih sempat mengelakkan serangan-serangan pertama itu, dan membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah cepatnya pula. Dalam pada itu, Buntal yang t idak siap untuk bertempur, tidak membawa senjata yang memadai untuk melawan dua buah pedang di tangan dua orang penyamun yang garang. Yang ada padanya hanyalah sebuah parang pembelah kayu yang dibawanya bersama sebuah cangkul ke sawah. Danparang itulah yang kemudian dipergunakannya untuk bertempur melawan sepasang pedang lawannya. Orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu menyangka, bahwa dua orang kawannya akan segera membunuh Buntal. Dengan demikian maka mereka akan segera dapat menyelesaikan Dipanala yang sudah hampir kehabisan tenaga itu. Meskipun ia masih tetap lincah. Tetapi melawan empat orang, ternyata ia tidak dapat berbuat banyak. Tetapi ternyata perhitungan itu tidak tepat. Meskipun hanya mempergunakan sebilah parang pembelah kayu, namun anak muda yang bernama Buntal itu ternyata memiliki kemampuan yang tinggi. Para penyamun itu tidak mengetahui, betapa tekunnya anak muda ini berlatih. Bagaimana Buntal setiap hari berusaha menambah kekuatan jasmaniah dan kepr igelan bermain senjata. Karena itulah, maka melawan dua orang penyamun itu, ia tidak segera dapat mereka kuasai. Bahkan sebaliknya. Buntal sekali-sekali berhasil membuat lawangnya menjadi bingung. Dalam pada itu, meskipun tenaga Ki Dipanala sudah susut, tetapi kini seakan-akan ia hanya menghadapi separo dari lawan-lawannya yang terdahulu. Karena itu, maka iapun masih juga sempat bernafas. Sekali-kali bahkan ia sempat menyaksikan bagaimana Buntal dengan kekuatannya yang luar biasa kadang-kadang berhasil mendesak lawannya. Setiap benturan senjata, membuat tangan lawannya menjadi sakit dan pedih. Jika Buntal saat itu menggenggam pedang yang kuat, maka ia akan segera berhasil melemparkan senjata-senjata lawannya apabila lawan-lawannya tidak menghindari benturan langsung dengari senjatanya. Kali ini lawan- lawannyalah yang berusaha melepaskan senjata buntal. Mereka menyangka bahwa parang pembelah kayu itu akan segera terlepas dari tangan anak muda itu. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Tangan kedua orangitulah yang menjadi pedih. Sehingga karena itu, selanjutnya mereka telah mencoba menghindari benturan-benturan langsung dengan parang itu. Namun Buntal sendir i menyadari, bahwa parangnya sudah mulai pecah-pecah di bagian tajamnya, karena parang itu tidak terbuat dari besi baja yang baik. Tetapi dengan demikian maka tajam parang Buntal itu bahkan seakan-akan menjadi bergerigi menger ikan. Demikian perkelahian dikedua lingkaran itu menjadi semakin seru. Ternyata Ki Dipanala yang hanya melawan dua orang lagi itu masih juga mampu bertahan. Bahkan kadang- kadang ia masih sempat mendesak lawannya pula. Sekali- sekali ia berhasil menyerang dengan garangnya sehingga hampir saja mengenai sasaran. Namun, kerja sama dari kedua lawannya benar-benar sangat rapi, sehingga setiap kali, Ki Dipanala harus menarik serangannya karena ia harus menghindari serangan dari lawannya yang lain. Meskipun demikian, setelah lawannya tinggal dua orang, perkelahian itu tidak lagi membahayakan jiwanya, jika ia tidak membuat suatu kesalahan di dalam perlawanannya. Buntal yang masih muda ternyata agak berbeda dengan Ki Dipanala. Bukan saja ia memiliki kekuatan yang sangat besar, tetapi keringat yang mulai membasahi tubuhnya, membuatnya semakin panas. Apalagi setiap kali kedua lawannya. itu. membuat gerakan-gerakan yang dapat membingungkannya dan bahkan kadang-kadang hampir membahayakan kedudukannya. Itulah sebabnya maka darah mudanyapun semakin lama menjadi semakin panas, dan akhirnya, ketika ujung pedang lawannya menyentuh kulitnya, ia tidak lagi dapat mengekang dir inya. Ternyata bahwa ujung pedang lawannya itu telah menitikkan darahnya di antara titik-titik keringat. Meskipun tidak begitu dalam dan panjang, tetapi goresan itu benar- benar telah membakar jantungnya.Meskipun demikian ia tetap sadar, bahwa kedua lawannya mempunyai keuntungan dengan senjata yang lebih panjang dan lebih baik daripadanya, apalagi lawannya bertempur berpasangan Tetapi Buntal telah ber latih tidak mengenal waktu untuk memantapkan ilmunya. Karena itu, maka sejenak kemudian ketika ia sudah sampai pada puncak kemarahannya, maka tandangnyapun menjadi semakin garang. Serangan- serangannya tidak lagi terkendali. Tangannya yang terjulur tidak lagi ditariknya jika ia melihat lawannya menyeringai. Kini tangannya bagaikan bergerak bebas menurut kehendak sendiri, meskipun t idak lepas dari pusat kemauannya. Demikianlah akhirnya Buntal semakin sering dapat menguasai lawannya. Semakin lama semakin nyata, sehingga kedua lawannya hampir tidak sempat melakukan perlawanan sebaik-baiknya selain meloncat-loncat surut. Dalam pada itu, jika Ki Dipanala menghendaki, kesempatan untuk melepaskan dir i kini sudah terbuka luas. Tetapi Ki Dipanala tidak mau melakukannya lagi, karena di antara perkelahian itu terdapat Buntal. Dengan demikian, maka iapun telah mengambil keputusan untuk bertempur terus bersama- sama dengan anak muda yang telah menolongnya itu. Tetapi keadaan Ki Dipanala sudah menjadi semakin baik. Ia dapat bertahan dari serangan-serangan kedua orang lawannya bagaimanapun juga mereka berusaha. Bahkan sekali-sekali ia masih sempat melihat di dalam keremangan malam, Buntal melontarkan dir i dengan kecepatan yang mengagumkan, menyerang kedua lawannya berganti-ganti. Ternyata bahwa kedua lawan Buntal itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Mereka benar-benar mendapat lawan yang tidak terduga-duga. Mereka yang menyangka bahwa untuk membunuh anak muda itu tidak diperlukan waktu yang lama, tetapi ternyata bahwa dua orang itu justru semakin lama menjadi semakin terdesak.Dalam pada itu, orang yang mengaku dirinya petani dari Sukuwati itu harus mengambil langkah untuk mengatasi kesulitan ini. Karenu itu, maka dengan tergesa-gesa ia kemudian berkata kepada seorang kawannya yang berkelahi bersama-sama melawan Ki Dipanala ”Bantulah kedua kawan- kawanmu itu untuk mempercepat kerja mereka. Bunuh saja anak itu tanpa belas kasihan karena ia sudah mengganggu tugas kami. Serahkan Ki Dipanala kepadaku” Seorang kawannya itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian dilepaskannya Ki Dipanala dan iapun segera bergabung dengan kedua kawannya yang lain. Dengan demikian maka orang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati itu harus bertempur melawan Ki Dipanala seorang lawan seorang. Betapapun, beratnya ia harus berusaha bertahan, meskipun hanya sekedar berloncat- loncatan. Ia berharap bahwa tiga orang kawannya itu akan segera dapat menyelesaikan anak muda yang bernama Buntal itu. Namun kemarahan Buntal menjadi kian memuncak. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi tiga orang lawan. Bahkan seakan-akan ia mendapat kesempatan untuk berlatih menghadapi bahaya yang sebenarnya. Bukan sekedar latihan- latihan di dalam sebuah bangsal yang tertutup rapat, bersama dengan orang-orang yang setiap hari sudah diketahui tingkat ilmunya dan yang berkembang bersama-sama. Ternyata bahwa Buntal mampu bertahan melawan ketiga orang itu. Bahkan ketika ia mengerahkan segenap kemampuannya, masih tampak bahwa ia kadang-kadang memiliki kesempatan untuk menguasai perkelahian itu meskipun dengan susah payah, karena lawan-lawannyapun telah memeras segenap kemampuan mereka untuk segera menghentikan perkelahian. Tetapi agaknya kedua belah pihak tidak segera berhasil. Kedua belah pihak seakan-akan memiliki kesempatan yang seimbang.Tetapi petani yang menyebut dir inya berasal dari Sukawati itulah yang kemudian mengalami, kesulitan karena ia harus melawan Ki Dipanala seorang diri. Meskipun Ki Dipanala seorang diri. Meskipun Ki Dipanala sudah menjadi semakin tua, tetapi bahwa ia bekas seorang prajurit yang memiliki kemampuan yang tinggi masih tampak pada sikap dan tata geraknya. Apalagi agaknya Ki Dipanala tidak mau melepaskan peluang itu, selagi la mendapat kesempatan. Karena itulah maka ia justru berusaha segera mengalahkan lawannya, sebelum ketiga orang penyamun yang lain dapat mengalahkan Buntal. Tetapi baik yang berkelahi melawan Ki Dipanala, maupun yang bertempur bertiga melawan Buntal, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan dapat memenangkan perkelahian itu. Itulah sebabnya penyamun yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu harus menyadari keadaannya. Ia tidak boleh mengingkar i kenyataan itu. Bahwa pada suatu saat, maka dirinya pasti akan dikalahkan oleh Ki Dipanala. Kemudian ketiga kawannya itupun seorang demi seorang akan berjatuhan. “Tentu tidak menyenangkan digantung di alun-alun karena aku telah menyamun utusan Pangeran Ranakusuma” berkata penyamun itu di dalam hatinya “dan terlampau sulit bagiku untuk mengkaitkan dir iku dengan Raden Rudira. Dengan mudah ia akan dapat ingkar, dan justru menuduhku telah memfitnahnya“ Berbagai pertimbangan di kepala penyamun itu, agaknya telah mendorongnya untuk mengambil suatu sikap. Daripada ia harus mengalami siksaan untuk mengaku siapakah yang telah memerintahkannya, jika tidak, dari siapa ia mengetahui bahwa Dipanala membawa Barang-barang berharga, dan kemudian digantung di alun-alun, maka lebih baik bagi mereka untuk melarikan diri. Kemungkinan itulah satu-satunya yangdapat ditempuh dalam, keadaan seperti ini, selagi kekuatan mereka masih utuh, sehingga sambil melar ikan dr i, mereka masih dapat melawan sejauh-jauh dapat dilakukan apabila kedua lawannya mengejarnya. Akhirnya, penyamun yang berpakaian seperti seorang petani itu mengambil keputusan, bahwa mereka harus lari. Karena itu, maka iapun segera memberikan isyarat, dengan sebuah suitan yang nyaring, agar kawan-kawannya melepaskan lawannya. Demikianlah, maka seperti berebut dahulu, para penyamun yang tidak dapat mengingkar i kenyataan itu berloncatan menjauhi lawannya, dan kemudian bersama-sama melarikan diri meninggalkan calon korbannya yang gagal. Tetapi ternyata bahwa Buntal tidak melepaskan mereka begitu saja. Dengan serta merta ia meloncat dan menerkam salah seorang penyamun itu, yang justru baru saja melepaskan Ki Dipanala dan berlari tidak jauh dar i Buntal menyusul kawan-kawannya. Sejenak mereka berguling-guling. Namun Buntal tidak mau melepaskannya. Dengan sekuat tenaganya, penyamun yang mengaku dirinya sebagai petani dari Sukawati itu mencoba melepaskan diri. Tetapi kejutan-kejutan yang tiba-tiba, dan yang karena itu telah membantingnya ke tanah, telah melepaskan senjatanya dari tangannya. Karena itu yang dapat dilakukannya adalah melawan Buntal dengan tangannya. Tetapi Buntalpun cukup tangkas. Sebuah pukulan mengenai tengkuk orang itu, sehingga pandangan matanyapun kemudian menjadi berkunang-kunang. Hampir saja ia menjadi pingsan. Namun dengan demikian, maka kekuatannyapun bagaikan lenyap sama sekali. Selagi ia bertahan agar matanya tidak menjadi gelap sama sekali, Buntal telah berhasil memilintangannya ke punggungnya dan menekan tubuhnya pada tanah berbatu-batu. Dalam pada itu, kawan-kawannya yang sedang berlari sejenak berhenti termangu-mangu. Tetapi mereka melihat Ki Dipanala telah siap untuk melawan mereka. Apa lagi ketika mereka melihat kawannya itu sama sekali tidak berdaya. Karena itulah maka mereka menganggap bahwa lebih baik lari menyelamatkan dir i daripada ikut tertangkap seperti kawannya yang seorang itu. Ki Dipanala yang sebenarnya sudah cukup payah tidak mengejar ketiga penyamun yang sedang berlari. Baginya cukup seorang saja yang dapat ditangkap. Yang seorang ini pasti akan dapat member ikan banyak, keterangan. Bahkan dari yang seorang ini pasti akan diketahui dimana persembunyian ketiga kawan-kawannya itu. Karena itu, ketika Ki Dipanala melihat Buntal memilin tangan orang itu sehingga orang itu menyeringai kesakitan iapun segera mendekatinya. “Jangan, jangan kau patahkan tanganku“ Orang itu hampir berteriak. “Kau harus dibunuh karena kau sudah berniat membunuh paman Dipanala” “Tidak. Aku tidak benar-benar akan membunuhnya. Aku hanya akan merampas Barang-barangnya” “Aku tidak percaya. Kau sudah siap membunuhnya. Karena itu, kaupun harus mati. Buntal yang marah itupun segera menar ik rambut orang yang sudah tidak berdaya itu. Sekali ia membenturkan kepala orang itu pada batu yang berserakkan di sepanjang jalan. “Jangan“ Orang berteriak. “Jangan” terdengar suara Ki Dipanala di belakang Buntal.“Aku akan membunuhnya” berkata Buntal ”Aku akan membunuh dengan tanganku” “Kau tidak dapat membunuhnya. Orang ini harus diserahkan kepada wewenang yang akan mengadilinya. Kita tidak dapat menghukumnya sendir i” “Tetapi ia adalah seorang penyamun paman. Ia akan membunuh kita j ika kita t idak membunuhnya” “Ia tidak berhasil membunuh kita” “Kita membela diri” “Kita sudah menangkapnya. Ia sudah tidak akan dapat melawan lagi” “Tidak ada orang yang tahu, apa yang telah terjadi sebenarnya” “Kita masing-masing mengetahuinya” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang saat dirinya sendiri terbaring di jalan ini pula. Di buIak Jati Sari, pada saat ia diketemukan oleh Juwir ing dan Kiai Danatirta. Orang-orang hampir saja membunuhnya pula karena ia disangka berbuat jahat atas Arum. Padahal ia tidak berbuat apa-apa pada waktu itu. Sedang orang ini adalah seorang penyamun. Namun ia masih mendengar Ki Dipanala berkata “Kita harus dapat menguasai dir i kita sendir i. Sebagai seorang yang berperi-kemanusiaan, kita wajib menghidupinya. Selain itu kita masih mempunyai kepentingan dengan orang ini. Ia adalah sumber keterangan yang dapat kita pergunakan untuk mencari jejak perampokan ini” Buntal mengangguk-angguk. Perlahan-lahan dilepaskannya orang yang sudah tidak berdaya itu. Ketika Buntal sudah berdir i, maka Ki Dipanalapun berkata kepada penyamun itu “Berdirilah. Aku memerlukan kau”Dengan tubuh gemetar orang itupun merangkak. Dari dahinya masih mengalir darah yang hangat, meskipun tidak begitu banyak. Buntalpun kemudian memungut pedang orang itu dan parangnya sendiri. Ia masih memer lukan parang itu untuk membelah kayu di padepokan atau untuk kepentingan yang serupa di sawah. “Cepat berdiri” berkata Ki Dipanala “Kita akan meneruskan perjalanan ini ke Jati Aking. Kau akan tinggal semalam di sana. Besok kau akan aku bawa ke Surakarta, dan aku serahkan kepada yang berwenang mengadilimu. Tetapi sebelumnya aku ingin tahu, siapa kau dan siapakah yang menunjukkan kepadamu tentang Barang-barang dan uang yang aku bawa” Orang itu sama sekali tidak menyahut. Dengan lengan bajunya ia mengusap darah yang meleleh didahinya. “Cepat. Kita akan segera meneruskan perjalanan Jati Aking sudah dekat” Tertatih-tatih orang itu berdiri. Badannya masih terasa lesu dan lemah. Tangannya terasa sakit bukan buatan karena Buntal benar-benar hampir mematahkannya. “Kita berjalan” berkata Ki Dipanala “Kita tidak akan berbicara di sini tetapi di Jati Aking” Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun Buntal mendorongnya sambil berkata “Cepat, sebelum aku mendorongmu dengan ujung pedang Berterima kasihlah bahwa kau masih tetap hidup” “Tetapi, tetapi aku tidak tahu apa-apa. “Jangan berkata sekarang. Kita akan berbicara di padepokan Jati Aking”.Orang itu terdiam. Ketika ujung pedangnya sendiri yang kini berada di tangan Buntal menyentuh punggungnya, maka iapun. berjalan dengan langkah yang sangat berat. “Ambil tudung kepalamu” berkata Buntal, kemudian “supaya lengkap pakaianmu. Pakaian petani dar i Sukawati” “Bukan maksudku” sahut orang itu gemetar “Aku hanya, ingin menakut-nakuti Ki Dipanala” “Ambillah“ Orang itupun segera membungkuk mengambil tudung kepalanya yang terjatuh di tengah-tengah jalan. Adalah di luar dugaan siapapun, bahwa sesuatu yang mengejutkan telah terjadi. Ketika orang yang membungkukkan badannya mengambil tudung kepalanya itu berdir i tegak, maka tiba- tiba saja ia memekik tinggi. Sejenak tubuhnya terhuyung- huyung, sehingga Buntal dengan serta-merta menangkapnya. “Kenapa?“ bertanya Ki Dipanala. Orang itu mengerang sekali. Namun kemudian tubuhnya menjadi tidak berdaya. “Panah ini paman. Panah” “He?” Dan keduanya dengan mata terbelalak melihat sebuah anak panah menancap tepat di dada orang itu.“Gila” teriak Ki Dipanala. Buntal tidak berkata apapun juga. Diletakkannya orang itu, kemudian iapun meloncat ber lari ke arah anak panah itu dilepaskan. “Buntal, Buntal, jangan” teriak Ki Dipanala “berbahaya bagimu” Tetapi Buntal tidak menghiraukannya. Ia belari terus sambil berloncatan di tanggul parit, untuk menghindari bidikan anak panah atas dirinya. Tetapi terlambat. Sebelum Buntar menemukan seseorang di dalam kegelapan, ia melihat dua sosok bayangan di kejauhan menghilang ke dalam gerumbul. Ia masih akan mengejar terus. Namun sejenak kemudian derap dua ekor kuda yang meluncur dari balik gerumbul itu telah memecah sepinya malam. “Gila. Gila” teriak Buntal seorang dir i. Di saat ia dapat mengerti betapa pentingnya orang yang ditangkapnya itu bagi keterangan seterusnya, maka seseorang telah membunuhnya dengan licik sekali. Sambil mengumpat-umpat Buntal berlar i-lari kembali mendapatkan orang yang telah terbaring di tanah. Diam. Meskipun masih terdengar nafasnya satu-satu, tetapi orang itu hampir sudah tidak memiliki kesadaran akan dir inya lagi. Sambil menempelkan mulutnya di telinga orang itu Ki Dipanala berkata “Sebutkan, siapakah yang telah menyuruhmu mencegat aku. Tentu orang yang membunuhmu itu. Aku berjanji akan mencarinya dan membalas dendam bagimu” Yang terdengar hanyalah desah nafas yang semakin lambat dan tidak teratur.“Apakah kau masih dapat mendengar suaraku” desak Ki Dipanala “sebut saja namanya. Aku akan berbuat sesuatu untukmu dan untuk dir iku sendir i” Orang itu mencoba menggerakkan bibirnya. Tetapi ia hanya mampu menyeringai dan berdesah. Kemudian sebuah tarikan nafas yang panjang. Sesaat kemudian maka orang itupun telah melepaskan nafasnya yang terakhir. “Ia sudah mati” desis Ki Dipanala. Buntal menggeretakkan giginya. Bukan saja ia ikut merasa kehilangan kemungkinan untuk mengetahui siapakah orang ini sebenarnya, tetapi ia juga merasa tersinggung oleh perbuatan pengecut itu. Dengan wajah yang tegang Buntal menyaksikan Ki Dipanala menarik anak panah dari tubuh orang itu, dan kemudian memperhatikannya dengan saksama. Tetapi di dalam gelapnya malam ia tidak dapat menemukan. sesuatu pada anak panah itu. Karena itu maka katanya ”Aku akan membawa anak panah ini” Buntal mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu memperhatikan anak panah itu, karena perhatiannya tiba-tiba saja tertarik kepada kuda Ki Dipanala yang justru sedang mengunyah rumput yang segar. Tetapi niatnya meminjam kuda itu untuk mengejar orang- orang yang lelah membunuh penyamun itu dengan licik diurungkannya karena ia menyadari bahwa pada kuda itu tersangkut Barang-barang yang bernilai dan uang. Buntal tersandar ketika Ki Dipanala memanggilnya dan berkata “Marilah kita bawa orang ini ke padepokanmu“ “Baik, baik paman” “Marilah Kita sangkutkan saja tubuhnya pada kuda itu. Kita akan melaporkannya besok kepada Ki Demang di Jati Sari, agar ada kesaksian atas peristiwa yang baru saja terjadi“Demikianlah mayat orang itupun kemudian disangkutkannya pada Kuda Ki Dipanala, setelah Barang- barang yang akan diserahkan kepada orang-orang di Padepokan Jati Aking disisihkan, agar tidak bernoda darah. Di dalam keremangan malam, Ki Dipanala dan Buntal berjalan menuntun kuda yang membawa mayat penyamun yang terbunuh itu. Beribu-ribu pertanyaan bergulat di dalam hati mereka. Dan adalah tiba-tiba saja Buntal itu bertanya “Siapakah orang yang membunuh penyamun ini paman? Apakah ia ingin menolong kita, atau sebaliknya?“ “Sebaliknya Buntal” jawab Ki Dipanala “Orang itu pasti berhubungan rapat dengan penyamun ini. Bahkan menurut dugaanku, orang itulah yang telah menyuruh penyamun ini merampok dan membunuhku” “Jika demikian, kenapa ia tidak membunuh paman saja dengan anak panahnya?“ “Mungkin aku berdir i di balik orang yang terbunuh itu, sehingga seolah-olah aku telah dilindunginya tanpa sengaja. Tetapi mungkin atas dasar perhitungan yang lain. Jika ia membunuh aku, maka kau akan dapat bertindak cepat. Menyingkirkan orang itu dan berusaha mendapatkan orang yang telah melepaskan anak panah itu” “Orang itu dapat menyerang aku selagi aku menghindari panah dari kawan mereka” “Kau dapat melumpuhkannya dengan cepat, tanpa membunuhnya dan melemparkannya ke dalam parit atau di balik pematang. Dan orang yang bersembunyi itu tentu tidak yakin, apakah ia dapat membunuhmu, karena ia melihat bagaimana kau dengan tangkas berhasil melawan penyamun- penyamun itu” sahut Ki Dipanala, lalu “Atau atas perhitungan yang lain lagi, aku t idak tahu. Tetapi yang paling pasti bagi mereka untuk menghilangkan jejak percobaan pembunuhanini adalah membunuh orang yang dapat menjadi sumber keterangan” Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia merenungi kata-kata Ki Dipanala itu. Namun tiba-tiba langkah mereka tertegun ketika dari arah yang berlawanan mereka melihat sebuah bayangan hitam mendekat. Semakin lama semakin dekat. Namun agaknya bayangan ilupun menjadi ragu-ragu. Langkahnya diperlambat dan sikapnya menjadi sangat berhati- hati. “Siapa?“ Buntallah yang bertanya pertama-tama. “Buntalkah itu?“ terdengar orang itu justru bertanya. “Ya, aku” “Aku mengenal suaramu” “Kakang Juwir ing. Aku juga mengenal suaramu. Aku datang bersama paman Dipanala” “O“ bayangan yang ternyata adalah Raden Juwiring itupun kemudian menjadi semakin dekat, lalu “Kami di padepokan menjadi cemas karena kau terlalu lambat pulang. Ternyata kau bertemu dengan paman Dipanala di bulak Jati Sari” “Ya” sahut Buntal. Namun ketika Juwir ing menjadi kian dekat, maka dilihatnya sesosok tubuh yang tersangkut di kuda Ki Dipanala, sehingga dengan serta-merta ia bertanya “Siapakah itu paman Dipanala?“ Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Ceriteranya cukup panjang Raden. Tetapi pada pokoknya, ada usaha untuk membunuhku” “Dan paman membunuhnya lebih dahulu?“Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Bukan aku yang membunuhnya dan bukan Buntal” “Jadi?” Sebelum Ki Dipanala menjawab, Juwiring berseru dengan tegang “Petani itu?“ “Bukan” sahut Juwiring “Bukan petani itu. Justru ia berpakaian mirip sekali” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Lalu “Baiklah. Aku akan bertanya lebih banyak lagi di padepokan. Tadi ayah Danatirta menjadi sangat cemas, kenapa Buntal terlambat sekali kembali ke padepokan dari sawah. Ternyata ada sesuatu yang telah terjadi” Demikianlah maka merekapun berjalan semakin cepat kembali ke padepokan Jati Aking. Untunglah bahwa di sepanjang jalan mereka tidak bertemu lagi dengan seseorang. Bahkan ketika mereka memilih jalan sempit di padukuhan sebelum mereka sampai ke padepokan Jati Aking, mereka juga tidak menjumpai seorangpun. Apalagi dengan sengaja mereka menghindari jalan yang di tunggui oleh para peronda di gardu-gardu. Ketika mereka sampai di padepokan, ternyata bahwa sosok mayat itu telah mengejutkan penghuni-penghuninya. Arum yang masih juga duduk di pendapa bersama ayahnya menunggu kedatangan Buntal dan Juwir ing. menjadi termangu-mangu. “Aku telah mengejutkan kakang Danatirta” berkata Ki Dipanala. “Ya. Aku terkejut sekali. Tetapi mar ilah, naiklah” Setelah mengikat kendali kudanya, maka Ki Dipanalapun segera naik ke pendapa. Sekali-sekali ia masih berpaling memandang mayat yang tersangkut di punggung kudanya. Namun ia masih juga membiarkannya.”Kau benar-benar mengejutkan. aku. Siapakah yang kau bawa diatas punggung kuda itu?“ “Kita harus melaporkannya kepada Ki Demang, kakang. Agar ada kesaksian, bahwa aku tidak membunuh orang” Ki Danatirta mengangguk-angguk. Katanya “Tetapi kau belum mengatakan kepadaku, siapakah orang itu. Dan dimana kau berjumpa dengan Buntal dan Juwiring” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Raden Juwiring juga ingin mendengar tentang orang itu. Aku belum mengatakan kepadanya. Tetapi Buntal mengetahui sendir i, apa yang sudah terjadi di bulak Jati Sar i” Kiai Danatirta memandang Juwir ing dan Buntal berganti- ganti. Namun kemudian kalanya kepada Ki Dipanala “Katakanlah” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun mulai mer iceriterakan apa yang dialaminya di bulak Jati Sari yang panjang itu. Kiai Danalirla, Arum dan Juwiring mendengarkan dengan penuh perhatian. Bahkan sekali-kali mereka mengangguk- angguk, dan kadang-kadang menggeleng-gelengkan kepalanya “Aku memang hampir mati” berkata Ki Dipanala. Lalu “Untunglah Buntal berhasil menolongku. Aku belum sempal mengucapkan terima kasih kepadanya” “Aku hanya sekedar membantu” berkata Buntal “Paman sendirilah yang sebenarnya telah menyelamatkan dir i sendir i” Seakan-akan tidak mendengar kata-kata Buntal, Ki Dipanala berkata selanjutnya “Aku ikut berbangga, bahwa anak padepokan Jati Aking memiliki ketangkasan jasmaniah seperti Buntal, dan sudah barang tentu Raden Juwiring” Mereka melatih dir i mereka sendir i sahut Kiai Danatirta.Ki Dipanala tidak membantah, tetapi senyum di bibirnya melantarkan suatu sikap hatinya terhadap anak-anak muda yang berada di padepokan Jati Aking. Namun kemudian terdengar Kiai Danatirta bertanya “Jadi kau sama sekali tidak mengetahui, siapakah yang sudah melepaskan anak panah itu?“ Dengan ragu-ragu Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak kakang” “Apakah peristiwa ini didahului dengan kejadian-kejadian yang dapat menarik suatu dugaan tentang peristiwa itu?“ Sekali lagi Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Juga tidak” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya “Jika demikian persoalan ini akan tetap menjadi gelap. Apakah kau tidak mempunyai bahan sama sekali untuk mengurai peristiwa ini?” Ki Dipanala masih menggelengkan kepalanya. “Tidak kakang. Tidak ada apa-apa yang dapat aku pergunakan sebagai bahan” katanya kemudian. “Baiklah” berkata Kiai Danatirta “besok kita akan memperhatikan tempat itu. Mungkin kita dapat menemukan sesuatu” ia berhenti sejenak, lalu “sekarang, bagaimana dengan mayat itu?“ “Aku akan membawanya kepada Ki Demang agar aku tidak mendapat tuduhan yang bukan-bukan” sahut Ki Dipanala. “Baiklah. Buntal akan menyertaimu” “Aku akan ikur serta dengan paman Dipanala” berkata Raden Juwiring.Kiai Danatirta berpikir sejenak. Kemudian jawabnya “Pergilah. Kalian dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi” Demikianlah maka mereka bertigapun segera pergi ke Kademangan meskipun malam menjadi semakin malam. Mereka tidak ingin terlambat apabila kemudian timbul persoalan karena kematian penyamun itu. Barulah ketika Ki Demang di Jati Sari mengerti akan persoalan yang sebenarnya terjadi, Ki Dipanala dapat bernafas lega, seakan-akan ia telah terbebas dari kemungkinan yang dapat menyeretnya ke dalam kesulitan. “Biar lah anak-anak meletakkan mayat itu di banjar” berkata Ki Demang kemudian “besok mereka akan menguburnya” “Baiklah Ki Demang. Aku mengucapkan terima kasih atas pengertian Ki Demang tentang peristiwa ini” Demikianlah, maka mayat itupun kemudian diusung oleh anak-anak muda yang sedang meronda ke banjar Kademangan untuk mendapat perawatan sebagaimana seharusnya besok pagi. Dalam pada itu, Ki Dipanala bersama Juwir ing dan Buntalpun segera kembali ke Padepokan. Setelah mereka membersihkan dir i masing-masing, maka merekapun duduk kembali di pendapa. Tetapi Ki Dipanala tidak menambah keterangannya mengenai orang yang terbunuh itu. “Orang itu akan tetap merupakan suatu teka-teki Ki Dipanala” berkata Kiai Danatirta “Ia sudah membawa rahasia tentang dirinya ke dalam kubur” Ki Dipanala hanya mengangguk-angguk saja. Namun ketika tiba-tiba ia teringat akan Barang-barang dan uang yang dibawanya, maka iapun segera berkata “Aku akan menyerahkan Barang-barang itu kepada kakang Danatirtasekarang. Barang-barang itu membuat dir iku diintai oleh bahaya maut” “Aku mengucapkan banyak terima kasih” berkata Kiai Danatirta. Ki Dipanala t idak menyahut. Iapun segera pergi ke kudanya dan mengambil Barang- barangnya serta uang di dalam kampil yang tersangkut di lambung kudanya pula. ”Bukan main” berkata Kiai Danatirta “pemberian Pangeran Ranakusuma bagi Juwir ing dan keluarga padepokan ini terlampau banyak sekali ini. Ditambah lagi dengan uang dan kain untuk Arum” Raden Juwiring mengerutkan keningnya melihat Barang- barang itu. Ia belum pernah menerima kiriman sebanyak itu. Namun sejenak kemudian ia tersenyum “Kita akan mengucapkan terima kasih kepada ayahanda Pangeran Ranakusuma dan ibunda Galihwarit” Ki Dipanala tersenyum. Jawabnya “Aku. akan menyampaikannya bersama laporan tentang dir iku sendir i” Demikianlah pemberian itu bukan hanya, untuk Juwiring saja, tetapi keluarga padepokan Jati Aking itu mendapat bagiannya masing-masing. Namun demikian hal itu ternyata justru telah menimbulkan berbagai pertanyaan di hati Kiai Danatirta meskipun tidak diucapkannya. Sekali-sekali dipandanginya wajah Ki Dipanalayang seolah-olah di saput oleh mendung yang membayangi sebuah rahasia. Tetapi Kiai Danatirta tidak bertanya apapun. Bahkan dengan sebuah senyum di bibir ia berkata “Nah anak- anak, bawalah pemberian yang banyak sekali ini ke dalam. Simpanlah baik-baik dan. kita akan mempergunakan dengan baik pula” “Baiklah” sahut Raden Juwiring. Lalu diajaknya Buntal dan Arum membawa Barang-barang itu masuk ke dalam. “Tetapi uang ini?“ bertanya Juwiring kepada Kiai Danatirta. “Bawalah masuk. Simpanlah. Kita akan memer lukannya” Ketiga anak muda itupun segera masuk ke dalam. Disimpannya Barang-barang itu dengan baik. Namun sekali-sekali Arum masih juga melekatkan kain di badannya sambil berkata “Bagus sekali. Aku kira aku pantas mempergunakan kain ini” “Pantas sekali” berkata Juwiring “kau akan bertambah cantik” “Ah“ wajah Arum menjadi kemerah-merahan. Diletakkannya kain itu sambil berkata “Terlalu baik. Aku tidak pantas memakainya” “Kenapa?“ bertanya Juwiring “Ayahanda dan ibunda Galihwar it menghadiahkannya kepadamu” Arum tidak menjawab. Tetapi sekali lagi kain itu diraihnya dan dibentangkannya diatas amben sambil tersenyum- senyum. Buntal yang duduk di sudut ruangan merasa seakan-akan ia dihadapkan pada sebuah cermin untuk melihat dir inya sendiri. Tidak ada seorangpun yang mengirimkan apapun kepadanya seperti Juwiring. Tidak ada sanak keluarganya yang memiliki sesuatu untuk diberikannya kepada Arum. Apalagi kain sebagus itu, dan sebenarnyalah akan membuat Arum semakincantik. Bahkan untuk dianya sendiri, ia kini menggantungkan sama sekali kepada pemberian Kiai Danatirta. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa dirinya menjadi semakin kecil disisi Juwir ing. Juwir ing putera seorang Pangeran yang kaya. Meskipun ia tersisih, tetapi ayahnya masih juga mumber ikan barang-barang sejumlah itu. Ia tidak dapat membayangkan, berapa nilai barang-barang itu. Apalagi Pangeran Ranakusuma masih juga menyertakan uang di dalam kampil untuk Kiai Danutirta. Buntal terkejut ketika Juwiring berkata “He Buntal, kau dapat memilih. Manakah yang paling sesuai bagimu?“ Anak muda itu memaksa bibirnya untuk tersenyum. Katanya “Aku sesuai dengan semuanya itu” Juwiring tertawa pendek. Lalu “Kita akan memilih sendri mana yang kita sukai dari kiriman-kiriman ini” ia berhenti sejenak, lalu ”dan yang paling berhak memilih lebih dahulu adalah Buntal, selain yang memang khusus untuk Arum, karena Barang-barang ini hampir saja lenyap dibawa penyamun. Bukan saja Barang-barang ini, tetapi bahkan jiwa paman Dipanala sendir i“ “Ya” sahut Arum “tanpa kau kakang Buntal, maka kita tidak akan melihat paman Dipanala membawa barang-barang ini sampai ke padepokan” “Ah“ Buntal berdesah “hanya suatu kebetulan” “Bukan suatu kebetulan saja. Jika kau tidak tertarik kepada orang yang berpakaian petani, itu, maka yang terjadi akan berbeda sekali” Buntal tidak menyahut. “Nah pilihlah. Kemudian aku akan memilih pula setelah Kiai Danatirta dan tentu saja kita tidak akan dapat melupakan paman Dipanala. Hidupnya sendiri tidak begitu baik. Iamenerima upah yang sangat sedikit dari ayahanda. Tetapi ia adalah orang yang setia” Dalam pada itu, selagi anak-anak muda di dalam sedang sibuk membicarakan Ki Dipanala, di pendapa, Kiai Danatirta mulai bertanya bersungguh-sungguh “Dipanala. Apakah kau benar-benar tidak dapat menduga, siapakah yang sudah melakukannya dan apakah kau tidak mendapatkan tanda apapun dalamperkelahian itu?“ Ki Dipanala memandang pintu yang sudah tertutup. Kemudian ia berkata lambat “Mungkin aku dapat menduga kakang. Tetapi sekedar menduga. Jika dugaanku salah, maka aku sudah berdosa menuduh orang yang tidak bersalah” “Tetapi bukankah kau belum berbuat apa-apa” sahut Kiai Danatirta “Kita baru menduga. Tentu saja dugaan kita mungkin keliru” Ki Dipanala itupun tiba-tiba berdir i. Katanya “Aku membawa anak panah yang menghunjam di dada orang yang terbunuh itu” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menyahut Ki Dipanala sudah melangkah turun dari pendapa. Dari pelana yang dilepasnya dari punggung kudanya, ia mengambil sepucuk anak panah dan dibawanya naik ke pendapa. Ia berhenti sejenak di bawah nyala pelita. Sambil mengerutkan keningnya ia mengamat-amatinya dengan saksama. “Kau mengenalnya?“ bertanya Kiai Danatirta. Ki Dipanalapun kemudian duduk kembali di hadapan Kiai Danatirta. Keningnya masih berkerut-merut Sedang tatapan matanya menjadi agak tegang, “Bagaimana?”Kiai Danatirta mendesak.“Kakang. ada semacam perasaan takut padaku untuk menerima kenyataan ini. Aku memang sudah mencurigainya. Pemberian Pangeran Ranakusuma yang berlebih-lebihan dan caranya melepaskan aku pergi ketika aku berangkat” “Jadi bagaimana?“ “Semula aku tidak memikirkannya, bahwa Raden Ayu Galihwar it berusaha memperlambat keberangkatanku. Ada- ada saja alasannya, sehingga aku akhirnya berangkat sesudah lewat tengah hari, bahkan sudah sore hari. Dengan demikan menurut perhitungan mereka, aku akan sampai di bulak Jati Sari setelah gelap” Kiai Danatirta mengangguk-angguk ketika Ki Dipanala mencer iterakan kembali, bagaimana sikap Raden Ayu Galihwar it sebelum ia berangkat. “Dan anak panah itu?” Ki Dinanala menar ik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia mengamat-amati anak panah yang bernoda darah itu. “Ada seribu anak panah yang mirip bentuknya” berkata Ki Dipanala. “Ya” sahut Kiai Danatirta “barangkali kau tidak akan dapat mengenal anak panah sebuah demi sebuah. Tetapi apakah sepintas lalu, kau pernah melihat anak panah seperti itu?“ Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Mungkin belum. Tetapi aku sudah dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi sebelumnya, sehingga karena itu, aku merasa seakan- akan aku mengenal anak panah ini” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Katanya “Ya, kau memang takut melihat kenyataan. Kau kecewa sekali bahwa hal semacam itu sudah terjadi atasmu, sehingga kau berusaha untuk mengaburkan penglihatanmu atas kenyataan itu. Ternyata kau masih seorang yang setia terhadap Pangeran Ranakusuma. meskipun ada semacam persoalan yangbergejolak di dalam hatimu. Tetapi kesetiaanmu ternyata berbeda dengan kesetiaan Sura pada waktu itu dan mungkin Mandra pada waktu ini. Kau adalah seorang yang benar-benar setia. Bukan sekedar menjilat dan menundukkan kepala dalam-dalam. Tetapi kau berani menyebut kesalahan dan kecurangan keluarga istana Ranakusuman justru karena kesetiaanmu itu. Tetapi tidak banyak orang yang mengerti, bahwa demikianlah adanya. Justru karena itulah, maka kau menjadi orang yang paling dibenci di Ranakusuman” “Mungkin kakang benar. Aku memang cemas dan bahkan takut melihat perkembangan yang terjadi di istana Ranakusuman. Mungkin aku memang orang yang setia, yang ingin memperingatkan dengan niat baik. Kadang-kadang aku mencoba mencegah dan bahkan aku menghalang-halangi” “Kenapa mereka tidak mengusir kau saja daripada mereka harus bertindak kasar dan licik semacam itu? Meskipun kau belum mengatakan, tetapi aku sudah menduga, apa yang ada di dalam hatimu. Yang menakut-nakutimu dan yang membual kau menghindari penglihatanmu atas kenyataan itu” Ki Dipanala tidak menyahut. “Ki Dipanala, apakah anak panah itu. anak panah Raden Rudira?“ Ki Dipanala tidak segera menyahut. Wajahnya menjadi kemerah-merahan. Sesuatu agaknya sedang bergejolak di dalam hatinya. Sejenak kemudian terdengar suaranya parau “Aku tidak tahu kakang. Aku tidak tahu” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Kali ini kau tidak usah mengingkari kata hatimu Dipanala. Kau sudah berada di ujung tanduk seekor kerbau liar yang dungu. Kau harus melihat kenyataan itu dengan dada terbuka” Ki Dipanala tidak segera menjawab.“Menurut urutan ceriteramu Dipanala, ternyata bahwa orang orang di istana Ranakusuman, Setidak-tidaknya sebagian dari mereka memang berusaha membunuhmu. Kau tidak disukai di Ranakusuman, tetapi mereka tidak dapat mengusirmu. Dan kau juga tidak dapat meninggalkan mereka seperti Sura, karena kau bukan sekedar penjilat yang akan lari jika tidak ada lagi tulang-tulang yang dilemparkan kepadanya. Kau adalah seorang yang sadar akan dir i dan harga dirimu” Kiai Danatirta berhenti sejenak! lalu “Namun demikian kaupun harus melihat kenyataan yang dapat terjadi” Ki Dipanala menjadi tegang sejenak. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil. “Dipanala. Sebenarnya kau dan aku sependapat. Setidak- tidaknya kita menduga, benar atau salah, bahwa ada yang dengan sengaja menjerumuskan kau ke dalam suatu perangkap pembunuhan. Salah atau benar, kita sama-sama menduga bahwa yang berusaha menutup mulut penyamun itu untuk selama-lamanya adalah orang-orang Ranakusuman. Karena kita tahu, bahwa Raden Rudira adalah seorang pemburu yang cakap, maka ia akan dapat membidik dengan tepat meskipun di malamhar i” Kepala Ki Dipanala menjadi semakin tunduk. Kata-kata Kiai Danatirta itu bagaikan guruh yang melingkar-lingkar di kepalanya. Namun ia tidak dapat lari dari suara itu, karena di dalam hatinya suara itupun telah berkumandang sebelum Kiai Danatirta mengucapkannya. "Bagaimana menuruti pendapatmu Dipanala?“ "Ki Dipanala masih terdiamsejenak. “Apakah kau tidak berani melihat hal itu?“ Ki Dipanala menarik nafas dalam sekali. Katanya “Aku memang takut melihatnya. Tetapi aku tidak dapat lari dari pengakuan itu” “Kau sependapat?“Ki Dipanala menganggukkan kepalanya ”Ya kakang” “Nah, jika kau sependapat, maka kita akan dapat melhat lebih jauh lagi. Kenapa di saat kau dijerumuskan ke dalam tangan para penyamun justru kau harus membawa Barang- barang yang cukup banyak beserta uang sekampil?“ Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tdak tahu kakang. Mungkin orang-orang yajg ingin membunuhku itu benar-benar membuat kesan, seakan-akan aku telah dirampok” “Jika Barang-barang itu hilang, atau jika kau sama sekali tidak membawa apa-apa, bukankah sama saja akibatnya bagi orang lain yang menemukan kau mati di tengah bulak?“ Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Namun sekali lagi ia menggeleng “Aku tidak mengerti. Perhitungan apakah yang membuat mereka berbuat demikian” “Kita memang tidak dapat menebak semua teka-teki dari percobaan pembunuhan ini. Tetapi bersukurlah kepada Tuhan bahwa kau telah terlepas dari bencana“ Ki Dipanala tidak segera menyahut. Namun iapun menyadari bahwa ia masih dilindungi oleh Tuhan Yang Tunggal, sehingga ia selamat dari tangan para penyamun itu, dengan membiarkan Buntal tetap berada di sawah meskipun langit menjadi buram, karena ia melihat orang yang berpakaian seperti petani dar i Sukawati itu. “Semua itu adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” katanya di dalamhati. “Dipanala” berkata Kiai Danatirta kemudian “Jika kita tetap tidak dapat memecahkan teka-teki tentang Barang-barang yang justru kau bawa, apakah kau dapat mencari alasan, kenapa kau akan dibunuhnya? Apakah sekedar karena kau pernah berusaha mencegah Raden Rudira membawa Arum?“Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku dan Sura memang pernah diikat pada sebatang pohon di halaman istana Pangeran Ranakusuma. Aku dan Sura akan mendapat hukuman cambuk di hadapan para abdi di Ranakusuman” “Tetapi bukankah keluarga Sura dan keluargamu tinggal di dalam dan di belakang halaman istana itu?“ Ki Ki Dipanala mengangguk. “Jadi bagaimana jika keluargamu, anak-anakmu dan anak- anak Sura melihatnya?“ “Mungkin memang itulah yang dimaksudkannya” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. “Tetapi aku dapat memaksa Pangeran Ranakusuma dan isterinya yang cantik itu untuk mengurungkan niatnya” desis Dipanala. “Itulah yang aku heran. Kadang-kadang kau berhasil memaksakan pendapatmu” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Tetapi hal itu pulalah agaknya yang telah membuat mereka ingin membunuhmu. Memang ada dua kemungkinan. Raden Rudira yang membencimu karena ayahandanya selalu mendengarkan kata-katamu atau Pangeran Ranakusuma sendiri atau Raden Ayu Galihwaritlah yang ingin membunuhmu, karena kau terlampau berpengaruh atas mereka karena sesuatu sebab” “Agaknya kedua-duanya kakang. Meskipun yang satu tidak tahu alasan yang tepat dari yang lain, namun ada semacam pertemuan pendapat, bahwa aku memang harus dilenyapkan. Raden Rudira tentu tahu rencana ini, ternyata jika dugaan kita benar, maka ia telah membunuh penyamun itu. Menurut dugaanku pula Raden Ayu Galihwaritpun tahu akan rencana ini, karena ia telah memperlambat keberangkatanku” “Bagaimana dengan Pangeran Ranakusuma?“Ki Dipanala menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu kakang. Tetapi tampaknya Pangeran Ranakusuma acuh tidak acuh saja atas rencana ini” Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula. Namun kemudian ia bertanya “Tetapi apakah alasan Raden Ayu Galihwarit? Apakah seperti juga Raden Rudira yang sakit hati karena Pangeran Ranakusuma selalu mendengar kata-katamu “ Ki Dipanala terdiam sejenak. Sekali lagi ia berpaling memandang piatu yang sudah tertutup. “Kakang, dimanakah anak-anak itu?“ “Mereka ada di dalam. Agaknya mereka sedang sibuk dengan barang-barang kiriman yang kau bawa. Selama ini mereka hanya mengenal kain lurik yang kasar. Sedang yang kau bawa adalah kain yang halus dan Barang-barang yang jarang dan bahkan hampir t idak pernah dilihat oleh Arum dan Buntal” Ki Dipanala mengangguk-angguk pula. Tetapi seakan-akan ia tidak yakin bahwa anak-anak itu tidak mendengar pembicaraan itu. “Ada yang ingin aku katakan kakang. Tetapi aku berharap agar anak-anak itu tidak mendengarnya. Pengaruhnya agak kurang baik bagi mereka” Kiai Danatirtapun mengangguk. Agaknya yang akan dikatakan oleh Ki Dipanala adalah suatu rahasia yang lama disimpannya. “Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya kepada siapapun. Juga kepada kakang, orang yang paling aku percaya. Tetapi karena tindakan yang telah diambilnya adalah suatu pembunuhan, maka ada baiknya orang lain mengetahuinya. Jika pada suatu saat aku benar-benar mati, maka ada orang yang tahu alasan sebenarnya atas kematianku itu”Kiai Danatirta merenungi wajah Ki Dipanala sejenak. Kemudian iapun berdiri sambil berkata “Coba aku lihat anak- anak itu” Ketika Kiai Danatirta masuk ke ruang dalam, maka ternyata ruangan itu sudah sepi. Barang-barang yang-semula di bentang selembar demi selembar, telah tersusun rapi dan diletakkan dalam tumpukan yang teratur di geledeg. Bahkan di sampingnya terletak kampil yang berisi uang. Kiai Danatirta menar ik nafas. Anak-anak, itu tentu menganggap bahwa t idak akan ada seorangpun yang akan mengusik Barang-barang itu. Apalagi mengambilnya, karena padepokan ini memang tidak pernah kehilangan karena tangan seseorang. Jika ada barang yang hilang itu hanyalah disebabkan kekurang telitian dari antara mereka yang menyimpan Barang-barang itu dan barang itu tidak dapat diketemukan lagi. Tetapi mungkin sebulan dua bulan barang yang hilang itu tanpa disengaja telah dijumpai oleh seseorang yang justru tidak sedang mencarinya. Dengan hati-hati Kiai Danatirta pergi ke bilik Arum. Dilihattiya dari sela-sela daun pintu yang tidak tertutup rapat, gadis itu telah terbaring di pembaringannya meskipun agaknya belumtertidur. Dari bilik Arum, Kiai Danatirta pergi ke bilik Juwiring dan Buntal. Keduanyapun sudah ada pula di dalam biliknya, meskipun keduanya masih berbicara tentang sesuatu. Kiai Danatirta itupun segera kembali ke pendapa. Mereka sengaja berbicara di pendapa, tidak di pringgitan, agar tidak mudah orang lain ikut mendengarnya justru karena pendapa itu terbuka. “Kakang” berkata Ki Dipanala kemudian “sebenarnya ceritera ini sudah berlangsung lama. Dan karena ceritera inilah maka aku seakan mempunyai pengaruh di Ranakusuman meskipun aku tidak disukai oleh siapapun juga”Kiai Danatirta tidak menyahut. Dibiarkannya Ki Dipanala meneruskan ceriteranya. “Adalah suatu kebetulan pula bahwa aku melihat hal itu terjadi. Dan karena itu pula aku seakan-akan mempunyai perbawa atas Raden Ayu Galihwarit. Sebenarnya aku sama sekali t idak berniat untuk memerasnya. Aku sudah berjanji untuk merahasiakan apa yang sudah terjadi itu. Namun agaknya Raden Ayu. Galihwarit selalu dihantui oleh bayangannya sendiri, la selalu curiga kepadaku. Bertahun- tahun hal itu terjadi. Tetapi pada suatu saat, karena persoalan-persoalan lain yang berkembang, agaknya sampai juga suatu keputusan pada Raden Ayu Galihwarit untuk membunuhku” Kiai Danatirta hanya mengangguk-angguk saja. Ia ingin segera mendengar cer itera yang sesungguhnya, sehingga Raden Ayu Galihwarit harus mengambil sikap itu. Membunuh atau mendengar setiap pendapat Dipanala. “Pada saat itu. Raden Ayu Galihwarit sedang berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk menyingkirkan Juwiring. Dengan berbagi macam cara dan hasutan, sehingga akhirnya Pangeran Ranakusuma mulai mendengar kata-kata itu” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu “Namun di samping itu, Raden Ayu Galihwarit mulai dihinggapi penyakit yang sekarang menjadi semakin parah” Kiai Danatirta hanya mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk saja. “Pada suatu malam, selagi aku pergi ke tempat seorang saudaraku, aku melihat sebuah kereka berhenti di pinggir jalan di pinggir kota, di bawah bayangan kegelapan. Aku menjadi curiga. Semula aku mengira saisnya tentu sedang mempunyai kepentingan di kegelapan. Dan menurut dugaanku kereta yang bagus itu tentu kosong. Jika ada penumpangnya, sais itu tentu tidak akan berani berhenti. Apalagi menurut dugaanku kereta itu tentu kereta seorang perwira kumpeni” KiDipanala berhenti sejenak, kemudian di teruskannya “Tetapi kemudian aku melihat sais itu berdir i bersandar sebatang pohon agak jauh dari keretanya. Kemudian berjalan mondar- mandir. Aku menjadi semakin heran. Timbullah keinginanku untuk mengetahui, apakah yang sebenarnya sudah terjadi. Karena itu, dengan diam-diam aku mendekati kereta itu tanpa diketahui oleh saisnya” tiba-tiba saja Ki Dipanala menjadi tegang. Katanya “Kakang, peristiwa berikutnya adalah peristiwa yang paling kotor yang pernah aku lihat” “Apa?“ “Setelah aku berhasil mendekati kereta yang memang berada di kegelapan itu, aku mendengar suara di dalamnya. Suara seorang perempuan dan seorang laki-laki. Menilik warna suaranya tentu seorang laki-laki asing” nafas Ki Dipanala serasa menjadi semakin cepat mengalir “Kakang, aku tidak tahan menyaksikan hal serupa itu. Orang asing itu telah mengotori kota ini dengan kebiadaban. Aku mengira bahwa mereka yang katanya membawa peradaban yang tinggi, ternyata memiliki tata kesopanan yang sangat rendah. Mereka akan mencemarkan nama kota ini dengan perbuatan yang kotor di jalan-jalan. Karena itu, dengan tidak sabar aku meloncat. Dengan sekuat tenaga aku tarik pintu kereta yang sekaligus terbuka” Dada Ki Dipanala menjadi seakan-akan berdebaran meskipun ia hanya sekedar berceritera. Lalu suaranya menjadi terputus-putus “Tetapi, tetapi sama sekali tidak aku duga. Ketika pintu itu terbuka, seseorang telah terdorong dan jatuh keluar. Seorang perempuan. Kemudian disusul seorang laki-laki asing meloncat pula. Tetapi, yang sama sekali tidak aku duga. ternyata perempuan itu bukannya perempuan yang aku sangka diambilnya di pinggir jalan. Perempuan itu adalah Raden Ayu Galihwarit yang sejak sore pergi memenuhi undangan perwira asing yang mengadakan pertemuan makan bersama dengan beberapa orang bangsawan. Tetapi karena kesibukannya, maka Pangeran Ranakusuma sendiri tidak dapat datang dan membiarkanisternya dijemput dan diantar kembali ke istana Ranakusuman. Tetapi agaknya yang mengantar Raden Ayu Galihwarit saat itu adalah seorang perwira kumpeni yang, gila dan setengah mabuk” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa bulu-bulunya meremang juga. Itulah sebabnya maka istana Ranakusuman menjadi penuh dengan berbagai macam Barang-barang hadiah dar i orang-orang asing itu. Barang- barang yang tidak terdapat di Surakarta sendiri. Sejenak kemudian, setelah menarik nafas dalam-dalam, Ki Dipanala meneruskan “Kakang dapat membayangkan, bagaimana perasaan Raden Ayu Galihwarit yang kemudian dibantu oleh orang asing itu berdir i memandang aku. Meskipun di dalam kegelapan, tetapi ia segera mengenal aku pula. “Dipanala” katanya dengan suara gemetar. Aku menjadi bingung. Tetapi akupun kemudian mengangguk sambil menjawab “Ya Raden Ayu” Sejenak Raden Ayu Galihwarit memandang aku. Kemudian terdengar la menggeram“Apakah kau sudah gila?“ “Maaf Raden Ayu, hamba tidak tahu” “Gila. Kenapa kau mencampuri persoalan orang lain. Seandainya kau tidak tahu siapa yang ada di dalam, apakah hubunganmu dengan hal ini?” “Ampun Raden Ayu.Hamba adalah seorang penghuni kota ini. Hamba tersinggung bahwa hal ini sudah terjadi di jalan- jalan raya di kota Surakarta yang amat hamba junjung tinggi ini” “Tetapi itu bukan urusanmu” “Terdorong oleh rasa tanggung jawab hamba semata-mata, atas kota ini”“Kakang Danatirta, sebenarnya aku sudah akan berlutut minta maaf kepada Raden Ayu Galihwarit. Tetapi orang asing yang agaknya sudah dapat mempergunakan bahasa kita itu ikut memaki. “Kau memang anj ing tidak tahu dir i” katanya. Dan Raden Ayu itu t idak melindungi aku sama sekali, bahkan iapun memaki “Kau merupakan malapetaka bagiku Dipanala” “Ampun Raden Ayu, hamba tidak akan berbuat apa-apa. Hamba akan pergi dan melupakan apa yang pernah hamba lihat ini” Raden Ayu Galihwarit memandangku dengan tajamnya. Namun agaknya Raden Ayu Galihwarit t idak mempercayaiku. “He anjing busuk” berkata kumpeni itu “Kau berani mengganggu Raden Ayu dan aku ya? Kau sudah menghina aku” “Ia sangat berbahaya bagiku” berkata Raden Ayu Galihwarit kepada orang asing itu. “Jadi apakah maksud Raden Ayu orang ini dilenyapkan saja?“ Dadaku berdesir mendengar pertanyaan itu. Dan apalagi setelah aku mendengar jawabnya “Terserahlah kepada tuan” Hatiku bergejolak mendengar orang asing itu tertawa. Apalagi ketika tiba-tiba saja tangannya meraba sesuatu di balik bajunya. Aku tahu, bahwa ia mengambil senjata api. Jika senjata api itu meletus, sebutir peluru akan menembus dadaku dan aku akan mat i seketika, sedang tidak akan seorangpun di sekitar tempat itu yang akan berani berbuat sesuatu, karena mereka sadar bahwa suara itu adalah suara senjata yang sangat menakutkan. Tetapi alangkah takutnya aku kepada mati pada waktu itu. Kematian bagiku lebih menakutkan daripada kumpeni itu dan juga daripada Raden Ayu Galihwarit. Itulah sebabnya aku tiba-tiba saja berbuat sesuatu untuk menghindarkan dir i dari kematian. Ketika aku melihat tangan orang asing itu menggenggam benda yang menakutkan itu tiba- tiba saja aku kehilangan pertimbangan lain. Aku menganggap bahwa membela dir i adalah jalan satu-satunya untuk melepaskan dir i dari ketakutanku akan mati. Karena itu ketika orang asing itu mengacungkan senjatanya kepadaku, tiba-tiba saja aku meloncat. Dengan kakiku aku berhasil menghantam pergelangan tangannya sehingga senjata itu terloncat dari tangannya sebelum meledak. Tetapi orang asing itu sama sekali tidak kehilangan akal. lapun segera mencabut pedangnya yang panjang. Dengan serta merta ia mencoba menusuk dadaku dengan pedang itu. Untunglah aku masih sempat menghindar. Namun ia benar- benar bertekad membunuhku, sehingga iapun segera memburu. Akupun telah bertekad membela dir iku. Karena itu maka tiba-, tiba saja kerisku sudah berada di dalam genggaman tanganku. Ternyata bahwa orang asing itu tidak begitu pandai berkelahi. Ia hanya dapat mengayun-ayunkan pedangnya. Tetapi kakinya seolah-olah mati. Ia mempercayakan tatageraknya pada gerak tangannya. Tetapi aku tidak demikian bodohnya. Aku mempergunakan semua anggauta badan kita. Kaki dan tangan. Karena itu, ketika aku meloncat-loncat ia menjadi bingung. Aku sendir i tidak ingat lagi. Aku sadar ketika aku mendengar orang asing itu mengeluh tertahan. Suaranya serak dan kemudian hilang ditelan seninya malam. Yang terdengar kemudian adalah suara tubuh itu roboh di tanah. Mati. Ternyata aku telah menusuknya tepai di dadanya. Raden Ayu Galihwarit melihat perkelahian itu dengan tubuh gemetar. Dengan suara yang parau ia berkata “Kau gila Dipanala. Kau dapat dibunuh oleh kumpeni. Kau sudah membunuh seorang perwira. Dan kau akan menebus kebodohanmu” “Tidak ada orang yang melihat pembunuhan ini” “Aku dan sais itu” Aku berpaling. Aku lihat sais itupun ketakutan berdiri disisi sebatang pohon yang besar. “Sais itu tidak mengenal hamba“ kataku. Aku tidak tahu dari mana aku mempunyai keberanian untuk berbantah dengan Raden Ayu Galihwarit. “Aku mengenalmu. Aku dapat mengatakan kepada Pangeran Ranakusuma dan kepala pimpinan kumpeni bahwa kau telah membunuh salah seorang dari mereka” “Raden Ayu tidak akan mengatakannya” “Kenapa tidak? Aku akan mengatakannya. Dan kau akan digantung di alun-alun, atau dipancung di perapatan” Tetapi aku tetap menggeleng dan berkata perlahan-lahan “Jangan terlalu keras Raden Ayu. Hamba tidak mau sais itu mendengar dan mengetahui tentang hamba” “Aku akan mengatakan. Aku akan mengatakan”“Raden Ayu tidak akan mengatakan. Baik kepada kumpeni, kepada Pangeran Ranakusuma maupun kepada sais itu. Bukankah dengan demikian Raden Ayu akan membuka rahasia Raden Ayu sendiri? Selama ini Pangeran Ranakusuma kadang- kadang bertanya-tanya juga, kenapa Raden Ayu sering sekali mengunjungi makan bersama dengan orang-orang asing itu meskipun pada saat-saat Pangeran Ranakusuma berhalangan. Ternyata justru saat-saat yang demikian itulah yang menyenangkan bagi Raden Ayu. Apakah Raden Ayu tidak mengetahui, bahwa perasaan seorang suami kadang-kadang tergetar jika isterinya berbuat seperti apa yang Raden Ayu lakukan meskipun tidak melihatnya sendiri? Apakah Raden Ayu tidak mencemaskan kemungkinan yang buruk bagi Raden Ayu jika Pangeran Ranakusuma mengetahui hal ini” “Tidak ada yang mengetahuinya” “Hamba dan sais itu. Jika tuan berusaha menjerumuskan hamba ke tiang gantungan atau hukuman apapun, maka hambapun akan sampai hati pula mengatakan kepada siapapun tentang Raden Ayu” “Kumpeni tidak akan percaya. Seandainya percaya, maka mereka pasti akan merahasiakannya, karena banyak sekali di antara mereka yang terlibat dajam keadaan yang sama. Bahkan bukan dengan aku sendir i. Ada puteri-puteri bangsawan yang lain yang melakukan seperti yang aku lakukan” “Tetapi Raden Ayulah yang paling menonjol di antara mereka itu” “Tutup mulutmu” “Dan Raden Ayupun akan menutup mulut. Jika Raden Ayu sampai hati membunuh hamba, hambapun akan sampai hati mengatakan yang terjadi. Mungkin Kumpeni tidak akan mempercayai bahwa ada perwira-perwiranya yang berbuat demikian, atau dengan sengaja menyembunyikan kenyataanitu, karena sebagian besar dari mereka terlibat. Namun hati Pangeran Ranakusuman pasti akan terketuk. Jika Pangeran Ranakusuma menangkap getaran isarat dalam lubuk hatinya, maka tuan akan mengalami nasib yang kurang baik. Bukankah isteri Pangeran Ranakusuma tidak hanya seorang? Dan bukankah isteri yang lain meskipun tidak selincah Raden Ayu tetapi ia adalah seorang isteri yang setia? Dan apakah tuan tahu, betapa pahitnya perasaan seorang suami jika mengetahui bahwa isterinya tidak setia seperti Raden Ayu meskipun Pangeran Rana kusuma adalah seorang suami yang longgar, yang member i banyak kesempatan kepada Raden Ayu untuk keluar rumah tanpa suaminya. Apalagi tuan sudah berbuat tidak senonoh dengan seorang asing, seorang bule“ “Diam, diam“ “Jangan berteriak. Aku mencegah. Tetapi wajah Raden Ayu Galihwar it menjadi pucat. “Nah Raden Ayu“ kataku kemudian “terserahlah kepada Raden Ayu. Sebelum ada orang yang mengetahui tentang aku, maka aku akan pergi. Tetapi jika hamba ditangkap oleh siapapun juga karena membunuh kumpeni. hamba akan mengatakannya juga kepada siapapun. bahwa tuan sudah berbuat sesat. Maka nama Raden Ayu, seorang puteri bangsawan yans menjadi isteri seorang Pangeran pula. akan tercemar. Dan tuan akan tersisih dari pergaulan. Mungkin Raden Ayu akan disingkirkan dari Ranakusuman dan ayahanda Raden Ayu tidak akan menerima Raden Ayu lagi. Dengan demikian Raden Ayu akan dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada Raden Ayu. Terasing dan dihinakan oleh seluruh rakyat Surakarta. Yang terbayang pada Raden Ayu hanyalah tinggal satu jalan, semakin jauh terperosok ke dalam kesesatan” “Tidak, tidak” t iba-tiba Raden Ayu Galihwarit menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Terdengar isak tangisnya tertahan-tahan.“Sudahlah Raden Ayu“ kataku kemudian aku akan pergi dan hentikan semuanya yang pernah Raden Ayu lakukan, mumpung belum ada seorangpun yang mengetahui dari keluarga tuan. Dari keluarga Ranakusuman, apalagi putera Raden Ayu yang meningkat dewasa itu” Aku tidak menghiraukannya lagi. Akupun segera pergi meninggalkannya. Meninggalkan Raden Ayu Galihwarit yang sering disebut Raden Ayu Sontrang itu, dan mayat seorang kumpeni di pinggir jalan yang sepi. Aku tidak peduli lagi kepada sais yang aku sangka ketakutan itu” “Kenapa sekedar kau sangka?“ tiba-tiba Kiai Danatirta bertanya. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Danatirta sejenak, lalu “Ceriteranya masih panjang kakang. Apakah kakang t idak menjadi jemu?“ “Ceriterakanlah” berkata Kiai Danatirta kemudian. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. “Aku ingin mendengar kelanjutan ceriteramu. Nanti saja kau makan hidangan yang ada. Sekarang kau berceritera terus” Ki Dipanala tersenyum. Namun dar i matanya memancar perasaannya yang pahit mengenangkan apa yang pernah terjadi itu. “Jadi, aku sudah membunuh seorang kumpeni kakang” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya “Itulah yang ingin aku katakan. Jadi perwira kumpeni yang mati itu kaulah yang membunuhnya?“ Ki Dipanala mengangguk. “Ternyata Raden Ayu Galihwarit benar-benar tidak membuka rahasiamu” “Ya kakang. Raden Ayu Galihwarit tidak membuka rahasiaku. Ia tidak mengatakannya kepada siapapun. Danakupun memenuhi janj iku pula. Aku merahasiakannya. Tidak seorangpun yang pernah mengetahui hal itu terjadi. Kepada kakangpun baru sekarang aku mengatakannya” Ki Dipanahi berhenti sejenak, lalu “Agaknya sesuatu telah menggerakkan hati Pangeran Ranakusuma. Tetapi, meskipun ia mulai curiga, bahkan anak laki-lakinya itupun mulai bertanya-tanya tentang tabiat ibunya, namun Pangeran Ranakusuma itu masih saja membiarkannya berbuat demikian. Mungkin Pangeran itu ingin menemukan bukti-bukti yang mantap” “Jadi Raden Ayu itu tidak sembuh meskipun kau pernah menemukannya?“ “Hanya untuk beberapa waktu. Tetapi penyakit, itu kambuh kembali. Namun aku semula tidak mempedulikannya lagi. Aku tidak akan mencampuri persoalannya. Jika aku membunuh orang asing itu, sama sekali bukan karena aku ingin mencampur i persoalan Raden Ayu Galihwarit meskipun hatiku menjadi sakit sekali” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. “Dan sais itupun tidak mengatakan kepada siapapun juga tentang kau dan tentang Raden Ayu Sontrang?“ Ki Dipanala menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Sekarang tidak dapat berkata kepada siapapun juga” “Kenapa?“ “la sudah mati” “Mati?“ “Ya” “Apakah Raden Ayu Galihwarit mencurigainya dan menyuruh seseorang membunuhnya” Sejenak Ki Dipanala termenung. Namun kemudian katanya- lambat “Akulah yang membunuhnya”“Kenapa kau?“ “Sais itu sebenarnya sama sekali tidak ketakutan ketika aku membunuh orang asing itu. Meskipun ia t idak mengatakan kepada siapapun juga, namun ia mempunyai maksud tertentu” Ki Dipanala berhenti sejenak “kakang, bukankah saat itu Surakarta menjadi gempar? Tetapi saat itu Raden Ayu Galihwar it mengatakan, bahwa ia tidak tahu menahu tentang pembunuhan itu. Tiba-tiba saja ketika orang asing itu mengantarkannya pulang seperti dipesankan oleh Pangeran Ranakusuma. ia sudah diserang oleh seseorang yang tidak dikenalnya” “Tetapi“ Kiai Danatirta memotong “Apakah tidak seorangpun yang bertanya, kenapa kereta itu lewat jalan yang sepi di pinggir kota?“ “Beberapa orang telah mencurigai sais itu kakang. Bahwa ia dengan sengaja telah mengumpankan perwira kumpeni itu. Mereka mempertimbangkan, bahwa orang-orang yang duduk di dalam kereta, tidak mengetahui, jalan manakah yang sudah mereka lewati karena mereka tidak memperhatikannya. Apalagi orang asing itu masih belum begitu mengenal jalan- jalan di Surakarta. Tetapi Raden Ayu Galihwar it yang mencemaskan nasibnya sendiri, bahwa sais itu akan berceritera tentang dirinya, mencoba membelanya. Menurut Raden Ayu Galihwarit, orang asing itu memang ingin melihat beberapa bagian dari kita Surakarta” “Di malam hari?“ “Di siang hari ia tidak mempunyai waktu lagi. Apalagi malam masih belum terlampau larut” “Apa tidak ada seorangpun yang justru mencur igai Raden Ayu Galihwarit?“ “Kumpeni-kumpeni itu yakin, kalau perempuan bangsawan itu dapat dipercaya”Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Lalu “Tetapi bagaimana sais itu kemudian terbunuh? Apakah Raden Ayu Galihwar it mengupahmu?“ Ki Dipanala menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak menerima upah dan aku memang bukan seorang pembunuh. Tetapi agaknya Raden Ayu Galihwarit tidak mau melibatkan orang lain lagi di dalam persoalan ini. Itulah sebabnya ia datang kepadaku dan minta kepadaku, agar aku membunuh sais itu” “Apakah sais itu akan membuka rahasia?“ Ki Dipanala mengangguk “Sais itu mengancam akan membuka rahasia” “Ia memeras?“ “Ya” “Barangkali itulah yang ditakutkan atasmu. Mungkin pada suatu saat kau akan memerasnya juga. Setelah sais itu, maka datang giliranmu untuk disingkirkan” Ki Dipanala mengangguk-angguk. Jawabnya “Kakang benar” “Apakah sais itu memeras harta benda Ranakusuman” “Jika demikian, aku sudah berjanj i untuk t idak mencampuri persoalan itu. Tetapi sikapnya yang sangat menyinggung perasaan itulah yang membuat aku marah dan membunuhnya. Apalagi ia dengan sengaja melawan aku. Karena itu, sebenarnya ia bukan seorang penakut yang gemetar melihat aku membunuh orang asing itu” “Jadi apa yang diperas?“ “Itulah yang gila. Sais yang masih muda itu telah memeras Raden Ayu Galihwarit”“Ya, tetapi apakah yang ingin didapatkannya dari Raden Ayu itu?“ “Raden Ayu itu sendir i” “He“ Kiai Danatirta benar-benar terkejut mendengar jawaban Ki Dipanala. “Ya kakang. Yang diinginkan oleh sais itu adalah Raden Ayu Galihwar it yang meskipun lebih tua daripada sais itu, namun kesegarannya telah membuat sais itu menjadi gila. Sais itu ingin berbuat terlalu banyak atas Raden Ayu Galihwarit seperti orang asing yang telah aku bunuh itu” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam sambil mengusap dadanya. Katanya “Apakah dunia ini benar-benar sudah hampir kiamat? Kenapa hal yang serupa itu dapat terjadi diatas bumi Surakarta ini” “Ya kakang. Itulah yang telah memuakkan aku. Jika Raden Ayu Galihwarit menolak, maka ia akan membuka rahasia pembunuhan itu kepada kumpeni dan kepada Pangeran Ranakusuma serta membuka rahasia hubungan Raden Ayu Galihwar it dengan orang-orang asing yang banyak diketahuinya“ “Dan kau percaya begitu saja? Mungkin itu hanya sekedar ceritera Raden Ayu Galihwarit untuk memaksamu membunuh sais itu” “Semula aku menyangka demikian kakang. Tetapi ternyata tidak. Ketika hal itu aku tanyakan langsung kepada Raden Ayu Galihwar it, maka ia bersedia membukt ikan apa yang dikatakannya” “Apa yang sudah dilakukannya?“ “Ia member itahukan kepadaku, apa yang harus dilakukannya untuk memenuhi niat sais yang gila itu. Sais itu akan menjemput Raden Ayu Galihwarit seolah-olah ia mendapat perintah dar i kumpeni. Raden Ayu Galihwarit harusberusaha agar ia pergi seorang diri tanpa emban atau pengawal seperti yang sering dilakukan j ika ia dijemput oleh orang-orang asing dari rumahnya. Orang asing yang banyak member i harapan bagi Pangeran Ranakusuma dan banyak member ikan kecemerlangan bagi istananya, sehingga Pangeran Ranakusuma tidak dapat melarang, jika isterinya pergi mengunjungi pertemuan yang diselenggarakan oleh kumpeni, apalagi penyelenggaraan itu dilakukan di rumah para bangsawan pula” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu ”Tetapi saat yang ditentukan itu sama sekali bukan atas perintah kumpeni tetapi atas kehendak sais itu sendir i” “O. Dosa itu berkembang begitu cepatnya” “Ya kakang. Dan aku harus melindungi dosaku dengan dosa baru yang harus aku lakukan. Aku harus membunuh lagi” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku harus menunggu di tempat yang sudah ditentukan oleh sais itu sendiri menurut petunjuk Raden Ayu Galihwarit, yang ternyata adalah sebuah pondok kosong milik orang tua sais yang gila itu. Di dalam pondok itu aku harus menanti dengan hati yang berdebar” “Dan mereka datang?” Kiai Danatirta menjadi tidak sabar. “Ya. Ketika senja mulai turun aku mendengar derap kaki kuda. Justru sebelum gelap. Langit masih merah oleh sisa cahaya matahari yang tersangkut di tepi gumpalan awan yang mengapung di langit” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. “Sebenarnyalah bahwa dada ini akan retak oleh kemuakan ketika aku mendengar mereka mendekati pintu rumah sais yang kosong itu” Ki Dipanala berhenti sejenak. Kemudian katanya “Silahkan Raden Ayu” berkata sais itu di luar pintu. Suaranya benar-benar membuat kepala pening kakang” Kiai Danatirta menahan nafasnya.Dan Ki Dipanala meneruskan “Aku mencoba menahan nafas ketika aku mendengar pintu berderit terbuka. Dan aku dengar Raden Ayu Galihwarit mengumpat “Kau gila. Kau akan dibunuh oleh Pangeran Ranakusuma” Tetapi sais itu tertawa “Tuan tidak akan mengatakannya seperti yang dikatakan oleh pembunuh orang asing itu” “Gila, kau dengar percakapan kami” “Aku dengar Raden Ayu” “Tetapi kalau kau masih menggangguku, kau akan menyesal” berkata Raden Ayu itu. “Kenapa tidak. Setiap saat kita dapat singgah ke rumah ini. Jika tuan puteri akan melayani orang-orang bule itu, tuan puteri akan aku persilahkan singgah dahulu. Bukankah aku berkulit sawo matang seperti Raden Ayu, dan orang-orang asing itu berkulit semerah kulit manggis dan jauh lebih kasar dari kulitku” “Gila, kau memang gila. Aku tidak mau berbuat gila seperti itu?” “Raden Ayu tidak mempunyai pilihan lain” “O“ terdengar Raden Ayu Galihwarit menahan tangisnya. “Jangan menangis Raden Ayu. Marilah kita hayati satu- satunya pilihan yang dapat tuan puteri lakukan agar aku tidak mengambil keputusan lain” “Kau lebih baik membunuh aku “ tangis Raden Ayu itu. “Silahkan duduk. Bukankah aku harus mengantar Raden Ayu kembali setelah gelap? Sebaiknya kita tidak membuang waktu“ Aku mendengar suara Raden Ayu Galihwarit gemetar. Mula- mula aku menjadi ragu-ragu untuk bertindak. Mungkin RadenAyu itu memang harus menanggung dosanya dan mendapat hukuman karenanya. Tetapi aku tidak dapat menahan perasaan muak yang menyesak dada ini, sehingga karena itu, maka nafaskupun menjadi tersengal-sengal. Bahkan bukan saja perasaan muak. tetapi juga oleh kekhawatiran, bahwa apabila orang itu dikecewakan oleh Raden Ayu Galihwarit pada suatu saat, dimana puleri bangsawan itu sudah tidak dapat bertahan lagi mengalami pemerasan yang paling parah itu, maka ia akan sampai pada suatu keputusan untuk membuka rahasia Raden Ayu Galihwar it dan rahasiaku sendiri. Sais yang gila itu tentu tidak akan mempedulikan lagi, malapetakan apa yang akan aku alami dan kehinaan yang akan dihayati oleh Raden Ayu Galihwar it. meskipun jika Raden Ayu Galihwarit membuka rahasia tentang sais itu sendiri, ia akan dapat dihukum mati pula” Kiai Danatirta masih mengangguk-angguk. Tetapi terasa kulit di seluruh tubuhnya meremang. Yang terjadi itu adalah hukuman yang paling laknat bagi Raden Ayu Galihwarit. “Dan kau tidak membiarkannya terjadi?” Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Hatiku bagaikan terpecah-pecah. Aku tidak dapat membiarkannya terjadi. Ketika kegilaan sais itu menjadi semakin meretakkan dada ini, tiba-tiba saja aku sudah meloncat masuk ke ruangan itu. Meskipun Raden Ayu Galihwarit mengetahui bahwa aku ada di rumah itu pula, tetapi kehadiranku di ruang itu membuatnya terpekik kecil. Sejenak wajahnya menjadi merah. Namun kemudian sepercik harapan tampak di matanya. Sais itupun terkejut bukan kepalang. Seperti yang aku duga. bahwa ia tidak akan menjadi ketakutan dan berdiri gemetar. Ternyata kehadiranku membuatnya marah bukan buatan.“Kau” geramnya. “Akupun sudah dibakar oleh kemarahan yang meluap- luap, sehingga aku menjawab kasar Aku datang untuk menghentikan kegilaan ini” “Kau sudah membunuh orang asing itu. Apakah kau juga aku membunuh aku“ sais itu bertanya. “Ya” Tetapi ternyata orang itu tidak takut sama sekali. Bahkan iapun tertawa sambil berkata “Kau sangka aku menjadi ketakutan seperti yang kau lihat di bawah pohon pada saat kau membunuh orang asing itu” “Aku tidak peduli” “Jangan menyesal kalau kaulah yang akan mati. Memang sepantasnya kau mati, supaya tidak ada orang lain yang akan memeras lagi kepada Raden Ayu Galihwarit, karena jika kau berhasil membunuh aku, maka kaulah yang akan melakukannya” “Aku bukan binatang buas yang pantas diburu“ Tetapi ia masih juga tertawa. Suara tertawanya yang tidak begitu keras itu membuatku semakin terbakar. Karena itulah maka akupun kemudian kehilangan pengamatan diri. Apalagi tidak ada jalan yang memang lebih baik dari membungkam untuk selama- lamanya. Dengan demikian, maka akupun berkata langsung kepadanya “Sekarang aku tidak mempunyai pilihan lain. Membunuh kau atau aku akan terbunuh. Jika kau tetap hidup, artinya akan sama saja dengan kematian bagiku, karena kati tidak akan lagi menyembunyikan rahasia yang pernah kau lihat itu” “Ya. Aku akan membunuhmu atau akan menyeretmu di belakang keretaku sehingga kulitmu akan terkelupas di sepanjang jalan kita ini. Bila kau masih hidup, makakumpenilah yang akan menyelesaikanmu meskipun terlebih dahulu luka- lukamu akan dibasahi dengan air garam” Memang mengerikan sekali j ika hal itu benar-benar terjadi. Diseret di belakang kereta yang dilarikan kencang-kencang. “Nah, kau memang tidak ada pilihan lain” katanya “dan Raden Ayu Galihwarit pasti akan tetap berdiam dir i” Aku sudah tidak dapat menahan kemarahan di dalam dada. Tetapi aku masih dapat berpikir sehingga aku tidak mau tenggelam dalam kehilangan nalar karena kemarahanku. Meskipun aku sudah siap, tetapi aku tidak segera menyerangnya. Aku menunggu sampai orang itupun menjadi sangat marah dan akan lebih baik kalau sais itulah yang kehilangan nalar dan bertempur dalam nyala kemarahan yang tidak terkendali. “Ayo, apa lagi yang kau tunggu?“ katanya. “Kumpeni” jawabku “Bukankah kereta itu kereta seorang perwira kumpeni? Mungkin yang sudah mati aku bunuh, tetapi mungkin kereta orang lain. Tetapi pasti bukan keretamu sendiri. Orang yang memiliki kereta itu pasti akan mencarimu. Mereka pasti akan melihat kereta berhenti di pinggir jalan itu dan mencarimu ke rumah ini” “Aku akan selamat. Raden Ayu Galihwarit tentu akan tetap diamdan melindungi aku” “Tidak. Raden Ayu Galihwarit sebenarnya dapat berterus terang saja kepada kumpeni karena semua yang kau kehendaki masih belum terlanjur terjadi. Mereka tidak akan menyampaikan rahasia itu kepada Pangeran Ranakusuma, karena mereka sendiri akan terlibat di dalamnya. Dan sudah tentu bahwa karena kau terlampau banyak mengetahui, maka kaupun akan dibunuhnya juga” “Gila” Orang itu menggeretakkan giginya.“Jangan menyesal” “Persetan dengan kau. Apapun yang akan terjadi atasku tetapi niatku tidak boleh gagal. Kau akan aku bunuh, dan aku akan melaksanakan niatku. Aku tidak peduli kepada kereta itu dan kepada kumpeni yang akan mencar inya” “Omong kosong. Kau tidak akan berani melakukan karena itu akan berarti kematianmu” Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun agaknya ia telah benar-benar menjadi marah. “Aku akan segera membunuhmu” ia menggeram sambil melangkah maju. “Semakin cepat semakin baik” Dan tiba-tiba saja bahwa orang itu menarik sebuah pisau belati dari balik bajunya Raden Ayu Galihwarit mundur selangkah sambil membenahi pakaiannya. Kilatan pisau itu mendebarkan jantungnya. Ia mengharap bahwa aku dapat memenangkan perkelahian yang sebentar lagi tentu akan terjadi. Dengan demikian maka ia berharap dapat terlepas dari nafsu sais yang gila itu. “Tetapi apakah Dipanala tidak akan melakukan kegilaan yang sama?“ Raden Ayu Galihwarit mungkin bertanya kepada diri sendiri. Tetapi agaknya baginya aku masih lebih baik dari sais yang ganas itu. Selain ia memang sudah mengenal diriku ini dengan baik, maka akupun adalah seorang, hamba istananya dan bekas seorang prajurit pula yang memiliki tingkatan yang tidak terlampau rendah. Sejenak kemudian maka Raden Ayu Galihwarit melangkah semakin surut melekat di sudut dinding ketika ia melihat sais itu meloncat menerkam aku sambil mengayunkan pisaunya. Tetapi aku sudah bersedia sepenuhnya. Bahkan ketika aku meloncat mengelak, aku telah menar ik kerisku dari wrangkanya.Sejenak kemudian terjadilah perkelahian yang seru. Ternyata sais itu bukannya sekedar seorang sais yang hanya pandai mengendalikan kuda. Ternyata ia adalah seorang yang mengenal dengan baik tata olah kanuragan, sehingga ia untuk beberapa lamanya mampu mengimbangi ilmuku. Tetapi aku adalah bekas seorang prajurit yang pernah mendapat kepercayaan dari atasanku di medan- medan perang. Dengan bekal yang ada padaku, ternyata aku memiliki beberapa keunggulan. Meskipun orang itu memiliki ilmu yang sudah lengkap, tetapi ia masih jauh dari aneka warna pengalaman, sehingga masih banyak kesempatan bagiku untuk menembus pertahanannya. Demikianlah, maka akhirnya akupun sampai pada puncak dari perkelahian itu. Setelah aku mengetahui kelemahan dan kekuatan yang ada padanya, maka akupun segera berusaha mengakhir inya. Meskipun semula terasa agak sulit, namun akhirnya aku berhasil mendesak dan menguasainya sehingga saat-saat yang menentukan itu datang. Tiba-tiba saja sais itu menjadi pucat. Dengan suara Terbata-bata ia berkata “Apakah benar-benar kau akan membunuhku?“Tidak ada kegilaan seperti perasanku pada saat itu. Aku sama sekali tidak lagi dapat mengekang diri. Meskipun sais yang tidak menyangka mendapat lawan yang dapat mengalahkannya itu benar-benar menjadi cemas akan dirinya, namun aku tidak menghiraukannya lagi. “Jangan bunuh aku“ Aku masih mendengar suaranya. Tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku desak ia ke sudut dan aku tidak mau mendengar lagi ia berkata separah katapun. Karena itu, maka ketika aku melihat mulutnya mulai bergerak di saat-saat yang paling menetukan, aku tidak mau menunggu. Sebuah tikaman yang tepat telah menghunjam di dadanya. Yang terdengar kemudian adalah orang itu mengerang. Ketika aku menarik kerisku, iapun terjerembab jatuh. Mati. Sejenak aku berdiri dengan tangan bergetar. Baru sesaat kemudian aku sadar, bahwa di ruang itu ada seorang perempuan yang gemetar ketakutan. Ketika aku memandang sela-sela daun pintu yang tidak tertutup rapat, maka senjapun sudah menjadi semakin suram. Ternyata aku tidak berkelahi terlalu lama. “Raden Ayu harus segera kembali ke istana Ranakusuman“ Aku berkata kepada perempuan itu. Aku sudah tidak begitu jelas lagi melihat perubahan wajahnya di dalam keremangan malamyang sudah turun perlahan- lahan. “Bagaimana aku akan pulang?“ bertanya Raden Ayu. “Terserah kepada Raden Ayu. Tugasku sudah selesai” “Tetapi, apa yang dapat aku katakan kepada Pangeran Ranakusuma tentang diriku” “Terserah kepada Raden Ayu” “Tidak. Aku memer lukan pendapatmu”Aku tidak peduli. Tetapi ketika aku melangkah pergi, Raden Ayu Ranakusuma telah menahanku, bahkan berpegangan lenganku. “Aku tidak dapat pulang sendiri dan aku tidak mempunyai alasan untuk mengatakan sesuatu kepada Pangeran Ranakusuma” “Terserah kepada Raden Ayu. Itu bukan urusanku” “Dipanala, Dipanala. jangan tinggalkan aku sendir i di sini“ tangisnya sambil berpegangan lenganku erat-erat. Untunglah bahwa aku sudah setua ini. Atau aku memang bukan sejenis orang yang memiliki darah yang terlampau panas, sehingga aku tidak mudah dibakar oleh nafsu yang gila itu meskipun Raden Ayu Ranakusuma agaknya sudah benar- benar kehilangan keseimbangan berpikir. Pada saat itu Raden Ayu Galihwarit pasti sudah kehilangan nalarnya sehingga untuk membawanya pulang dan menyerahkannya dengan selamat dan alasan-alasan yang dapat diterima oleh Pangeran Ranakusuma, apapun imbalannya pasti akan diberikan. Namun justru karena itu aku menjadi semakin muak. Hampir saja aku lemparkan perempuan itu. Untunglah bahwa aku segera sadar, bahwa aku adalah hambanya. Aku adalah seorang abdi Ranakusuman. Karena itu, maka akupun mencoba untuk menenangkan diri dan pengendapkan perasaan. Dalam keremangan yang semakin kelam aku masih melihat sesosok tubuh yang terbujur di lantai bergelimang darah. “Antarkan aku pulang” sekali lagi aku mendengar tangis Raden Ayu Galihwarit. Akhirnya akupun berpikir, bagaimana membawa Raden Ayu itu kembali ke rumahnya. “Marilah, hamba antar Raden Ayu pulang dengan kereta itu“ Akupun kemudian mengambil keputusan.“Tetapi apa yang akan aku katakan kepada Pangeran Ranakusuma?“ “Raden Ayu dapat mengatakan apa saja” “Ya, tetapi apa? Dan kenapa tiba-tiba kau membawa kereta ini kembali ke Ranakusuman? Dan bagaimana dengan mayat sais itu?“ “Raden Ayu dapat mengirimkan utusan kepada orang yang mempunyai kereta itu. Orang itu tentu akan berkata bahwa bukan dia yang menyuruh sais itu menjemput Raden Ayu” “Lalu kenapa kau yang membawa itu, dan kenapa sais itu mati?“ “Sais itu menipu Raden Ayu” “Ia memang menipu, maksudku memeras. Tetapi bagaimana aku harus mengatakan?“ “Sais itu menipu, kemudian ingin merampok Raden Ayu. Ketika kereta ini dipacu. Raden Ayu melihat hamba di pinggir jalan. Raden Ayu berteriak memanggil, dan hamba sempat menghentikan kereta itu. Hamba bunuh saisnya dan hamba membawa Raden Ayu kembali” “Tetapi kenapa di rumah ini” “Ia mencoba bersembunyi” “Lalu apakah alasanmu bahwa kau berada di jalan yang dilalui kereta ini” “Serahkan kepada hamba” Sejenak Raden Ayu Galihwarit berpikir. Namun kemudian iapun berkata sambil mengangguk kecil “Baiklah. Mudah- mudahan kamas Ranakusuma tidak bertanya terlampau banyak” “Mudah-mudahan“Raden Ayu Galihwaritpun kemudian berjalan tertatih-tatih ke kereta yang masih ada di tepi jalan. Aku mengikutinya dengan hati yang berdebar-debar. Namun akupun mulai berpikir, apakah yang harus aku katakan kepada Pangeran Ranakusuma. Ternyata bahwa usaha Raden Ayu Galihwarit untuk membersihkan dirinya berhasil. Seorang kumpeni datang ke Ranakusuman sambil memaki-maki. Ia merasa menyesal bahwa keretanya telah dipergunakan oleh sais itu untuk merampok. “Untunglah bahwa usaha itu gagal” katanya dengan nada yang kaku. Kedatangan orang asing itu memang mempengaruhi sikap Pangeran Ranakusuma. Ia percaya bahwa isterinya telah tertipu dan aku yang kebetulan melihatnya telah menolongnya. “Tentu sais itu pula yang menjebak kawanku, perwira yang terbunuh itu” berkata orang asing itu “Tetapi agaknya ia belum sempat merampok saat itu. Sejak saat itu sebenarnya aku sudah cur iga, tetapi Raden Ayu sendiri yang mengatakan bahwa sais itu tidak bersalah” Demikianlah semua kesalahan telah berhasil dilemparkan kepada sais yang mati itu. Dan akupun terlepas pula dari segala sangkut paut dan keterlibatan atas kematian sais itu. Sementara Raden Ayu Galihwaritpun berhasil menghindarkan diri dari kemarahan Pangeran Ranakusuma” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya “Jadi itulah agaknya yang menjadi sebab, kenapa Raden Ayu Galihwarit t idak dapat berbuat apa-apa atasmu” “Demikianlah agaknya kakang” “Sayang, bahwa ia justru tidak melakukannya karena ia merasa berterima kasih kepadamu. Jika demikian, maka iaakan menghent ikan semua kelakuannya yang binal itu, dan berbuat baik kepadamu dengan jujur. Ternyata bahwa yang dilakukan justru kebalikan dari itu. Ia sama sekali tidak merasa menyesal dan bahkan menganggap kau sebagai orang yang paling berbahaya baginya” “Ternyata demikian yang terjadi kakang. Meskipun di antara kami dengan diam-diam ada semacam perjanjian, bahwa kami t idak akan saling membuka rahasia, namun agaknya Raden Ayu Galihwarit menganggap bahwa dengan membunuhku, maka persoalannya menjadi lebih jernih. Ia akan berhasil melenyapkan semua rahasia yang hanya aku ketahui, jika rahasia itu aku bawa mati seperti sais itu pula” Kiai Danatirta masih mengangguk-angguk. Lalu katanya “Ternyata Raden Ayu Galihwarit adalah orang yang sangat berbahaya. Lebih berbahaya dari yang aku duga. Ia sampai hati melakukan pembunuhan meskipun tidak dengan tangan sendiri. Sudah barang tentu bahwa nasib Raden Juwiringpun pada suatu saat terancampula olehnya” “Ya kakang. Kemungkinan itu memang dapat terjadi” Kiai Danatirtapun terdiam sejenak. Wajahnya yang tenang dan dalam itu t iba-tiba seakan-akan bergejolak. Tetapi hanya sejenak, karena sejenak kemudian maka perasaan yang melonjak sesaat itupun segera dapat dikuasainya kembali. Namun demikian bagi Dipanala masih ada persoalan yang dihadapinya. Setelah ia terlepas dari maut, lalu apakah yang akan dilakukannya? Karena itu, maka iapun kemudian minta pertimbangan kepada Kiai Danatirta tentang persoalannya itu. Persoalan yang sangat rumit baginya. “Apakah aku masih akan kembali ke istana Ranakusuman kakang?“ Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Memang sulit bagi Ki Dipanala untuk menentukan sikap. Jika ia tidak kembalike Ranakusuman, maka Raden Ayu Galihwarit pasti akan menjadi semakin cemas akan dirinya sendiri. Raden Ayu itu tentu menduga, bahwa Dipanala mengetahui bahwa ia telah berusaha membunuhnya. Dengan demikian, maka nafsu membunuh itu akan menjadi semakin bergejolak di dalam hatinya, dan sebelum ia berhasil, ia pasti tidak akan berhenti, karena masalahnya akan menyangkut namanya dan kedudukannya. Apalagi keluarga Dipanala masih tinggal di belakang istana Ranakusuman, sehingga mungkin Raden Ayu yang garang itu akan melepaskan dendamnya kepada keluarga Dipanala, atau mempergunakan keluarga itu untuk memaksakan kehendaknya atas Dipanala. Tetapi jika ia kembali ke Ranakusuman, maka iapun akan berada di dalam bahaya. Namun setelah berpikir sejenak, Kiai Danatirta itu berkata “Sebaiknya kau kembali Dipanala?” Ki Dipanala memandang wajah Kiai Danatirta yang dalam, itu. “Berbuatlah seolah-olah kau tidak mengetahui apa yang telah terjadi atasmu. Kau tidak usah menyinggung-nyinggung masalah itu sebagai masalah yang menyangkut keluarga Ranakusuman” “Tetapi bukankah Raden Rudira mengetahui, bahwa aku sudah mengalami? Jika aku diam sama sekali, apakah hal itu justru tidak mencurigakan bagi mereka” “Maksudku, kau jangan menyinggung nama penghuni Ranakusuman. Kau dapat melaporkan bahwa kau telah dirampok di perjalanan. Kau dapat mengatakan apa yang terjadi. Tetapi kau tidak tahu siapakah yang lelah melakukan itu” Ki Dipanahi mengangguk-angguk. ”Namun bagaimanapun juga, kau harus berhati-hati. Usaha itu tentu tidak akan berhenti sampai sekian. Semakin lama kaupasti dianggapnya sebagai orang yang semakin berbahaya bagi Raden Ayu Galihwarit” “Ki Dipanala mengangguk-angguk. la sadar sesadar- sadarnya, bahwa kini ia benar-benar di dalam kesulitan, apapun yang dilakukannya. “Ki Dipanala” berkata Kiai Danatirta kemudian “Aku adalah orang tua. Mungkin aku tidak mempunyai kemampuan apapun juga untuk membantumu. Tetapi karena sedikit banyak persoalan ini menyangkut hubunganmu dengan padepokan ini, maka jika kau sempat, katakanlah kesulitan-kesulitanmu kepadaku” “Ah, kakang tidak terlibat. Semuanya adalah hasil perbuatanku sendiri. Dan aku memang harus mempertanggung jawabkannya” “Tetapi kemarahan Raden Rudira kepadamu terutama karena kau telah menentang niatnya untuk membawa Arum. Bahwa ibu dan ayahnya mengurungkan niatnya untuk menderamu di halaman Ranakusuman, bukannya karena mereka melarang, tetapi mereka takut jika kau membuka rahasia itu kepada setiap orang” Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Terima kasih kakang. Sebenarnyalah bahwa aku memer lukan perlindungan. Pada suatu saat mungkin aku memang harus menyingkirkan keluargaku dari rumah yang sekarang aku diami” “Memang mungkin mereka mengusirnya. Tetapi jika mereka sudah berhasil membinasakan kau” “Bukan saja karena Raden Ayu Galihwarit ingin membunuhku. Tetapi kota Surakarta memang menjadi semakin panas. Pengaruh orang asing yang semakin lama menjadi semakin terasa menjerat kaki dan tangan kita sendiri, telah menumbuhkan persoalan baru. Beberapa orang Pangeran tidak menerima keadaan ini. Dan menurut RadenRudira yang baru datang dari Sukawati, aku mendengar bisik- bisik di antara para pelayan dan hamba yang lain yang mendengarnya, bahwa keadaan Sukawati terasa sangat aneh. Rakyat Sukawati seakan-akan bukan lagi merupakan rakyat biasa seperti yang kita lihat di padukuhan-padukuhan lain. Rakyat Sukawati mempunyai bentuknya tersendiri” “Bagaimana dengan rakyat Sukawati itu?“ “Mereka memiliki sifat-sifat yang aneh. Seorang pengiring yang mengikut i Raden Rudira ke daerah Sukawati mengatakan bahwa ia seakan-akan masuk ke dalam suatu mimpi yang menggetarkan. Seakan-akan setiap orang di Sukawati adalah prajurit-prajurit yang siap untuk bertempur” “Tentu itulah sikap Pangeran Mangkubumi. Jika Raden Rudira mengatakan hal itu kepada ayahanda Pangeran Ranakusuma, maka kumpenipun tentu akan segera mendengarnya” “Tetapi Sukawati sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Mereka sama sekali tidak gentar menghadapi kemungkinan yang manapun jika Pangeran Mangkubumi memang sudah bersikap demikian” “Sebenarnyalah harapan kita tergantung kepadanya” “Menilik suasananya kakang, agaknya bagaikan bisul yang sudah masak. Entah pagi, entah sore, maka bisul itu akan segera pecah” “Apakah kau sudah merasakan?“ “Ya kakang. Baru-baru ini datang utusan kumpeni dari Semarang. Tentu ada persoalan yang akan berkembang lagi. Dan aku yakin bahwa hal itu pasti akan menyangkut persoalan Pangeran Mangkubumi dan segala kegiatannya” “Tentu kita tidak akan dapat tinggal diam. Jika angin bertiup maka kita harus bersikap. Tetap tegak ataskemampuan diri atau merunduk ke arah angin. Dan orang asing itu adalah angin yang sangat deras. Ki Dipanala mengangguk-angguk. Lalu katanya “Aku berada di padang ilalang” “Yang akan merunduk karena hembusan angin” “Ya kakang. Aku mengetahui dengan pasti sikap Pangeran Ranakusuma” “Kau tidak dapat memberikan pendapat? Bukankah sampai sekarang suaramu masih di dengar?“ Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Tetapi persoalannya hampir sama dengan persoalan Raden Ayu Galihwar it” “He?” Kiai Danatirta terkejut. “Tetapi bukan secara kebetulan. Pangeran Ranakusuma memang melakukannya dengan sengaja meskipun akhirnya ia terjerat oleh kebiasaannya itu. Aku pernah dijadikan penghubung antara Pangeran Ranakusuma dengan Raden Ayu Retnasasi” “Raden Ayu Retnasasi? Aku pernah mendengar namanya. Tetapi bukankan Pangeran Ranakusuma memang beristeri lebih dari seorang?“ “Jika Raden Ayu Retnasasi itu orang lain, maka persoalannya tidak akan terlampau sulit. Pangeran Ranakusuma dapat mengawininya. Mungkin Raden Ayu Galihwar it akan marah, tetapi tidak akan bertahan lama dan persoalannya akan berkembang seperti yang pernah terjadi. Tetapi yang lebih parah adalah karena Raden Ayu Retnasasi adalah adik kandung Raden Ayu Galihwarit sendiri” “He, itupun suatu kegilaan yang berlebih-lebihan” “Demikianlah keadaan istana Ranakusuman”“Jika terjadi sesuatu dengan Raden Ayu Retnasasi apakah yang dapat dilakukan oleh Pangeran Ranakusuma?“ “Tidak apa-apa. Raden Ayu Retnasasi sudah bersuami” “O” Kiai Danatirta memijit-mijit keningnya sambil menggeleng-geleng lemah ”Bukan main. Aku ingat sekarang. Raden Ayu Retnasasi agak berbeda dari kakaknya Raden Ayu Galihwar it yang juga disebut Raden Ayu Sontrang. Raden Ayu Retnasasi bertubuh kecil, tetapi lincah seperti burung sikatan” “Ya. Begitulah kira-kira” “Ternyata keluarga yang tampaknya menyilaukan itu, agaknya adalah keluarga yang rapuh sekali. Pada saatnya akan datang kekecewaan yang mencengkamseisi rumah itu” “Termasuk aku kakang, karena akupun sudah terlibat begitu jauh dar i seluruh persoalan yang ada di istana itu” “Tetapi kau dapat menyingkir Dipanala” “Terlambat kakang. Aku harus mempertanggung jawabkan semua yang pernah aku lakukan selama aku berhubungan dengan Keluarga itu. Bahkan hampir saja aku digilasnya. Tetapi agaknya lambat laun hal itu akan terjadi juga, karena mereka tentu t idak akan berhenti berusaha” “Tetapi kau tidak akan sekedar menundukkan kepala sambil mengacukan ibu jarimu untuk mempersilahkan mereka memenggal lehermu. Apalagi kau memiliki senjata yang dalam keadaan yang paling berbahaya masih dapat kau pergunakan” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. “Namun adalah kewaj ibanmu untuk berusaha melindungi dirimu sendir i. Kau memang harus berhati-hati sekali” “Kali ini agaknya Pangeran Ranakusuma belum terlibat dalam usaha untuk menyingkirkan aku. Tetapi lain kali. mungkin ialah yang melakukannya, dan tentu jauh lebih cermat dari usaha isterinya”Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula, tetapi ia t idak menyahut, sehingga dengan demikian keduanyapun berdiam diri untuk beberapa saat lamanya. Dalam pada itu, malampun menjadi semakin malam. Angin yang dingin berhembus menyentuh kulit. Di kejauhan terdengar derik bilalang bersahut-sahutan disela-sela r intih angkup yang samar-samar. “Sudahlah” berkata Kiai Danatirta kemudian “beristirahatlah. Kau tentu lelah setelah menyelesaikan perjalanan yang kurang menyenangkan itu. Apalagi kau masih harus berkelahi” Ki Dipanala tersenyum. Jawabnya “Terima kasih kakang” “Tidurlah di gandok kir i” “Terima kasih” Ketika Ki Dipanala berdiri bersama-sama dengari Kiai Danatirta, maka ia berkata “Aku akan membawa anak panah itu kembali besok. Aku akan berpura-pura tidak tahu, siapakah pemilik anak panah itu, dan aku tidak akan mengatakan bahwa Buntal terlibat dalam perkelahian ini. Kiai Danatirta tersenyum “Cobalah, mudah-mudahan pancinganmu mengena” Demikianlah maka keduanyapun kemudian meninggalkan pendapa. Ki Dipanala pergi ke gandok kir i. sedang Kiai Danatirta masuk ke ruang dalam. Ternyata bahwa kedua anak-anak muda itu sudah tidur. Juwiring tidur sambil memegang bajunya yang dilepasnya. Agaknya ia merasa udara terlalu panas malam itu, sedang Buntal pun juga t idak berbaju. Sambil mengangguk-angguk Kiai Danatirta meninggalkan bilik itu. Ia berhenti ketika ia melihat bilik Arum masih terbukasedikit. Dari celah-celah pintu itu ia melihat Arum terbaring di pembaringannya. Tetapi agaknya ia masih belumtidur. Arum terkejut ketika ia mendengar pintu itu berderit perlahan-lahan. Dengan cekatan ia meloncat bangkit. Namun gadis itupun menar ik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Kiai Danatirta berdiri di muka pintu. “Ayah mengejutkan aku” gadis itu bersungut-sungut. Kiai Danatirta tersenyum. Kemudian ia bertanya “Kenapa kau belum tidur?“ “Belum ayah. Udara panas sekali malam ini” “Kau memikirkan kir iman itu? Bukankah kau mendapat kiriman khusus dari Raden Ayu Ranakusuma, di samping kiriman-kiriman yang lain” “Ah” desis gadis itu. “Kain itu tentu bagus sekali” “Ah” sekali lagi Arumberdesis. “Tidurlah” berkata Kiai Danatirta kemudian. Arumpun segera membaringkan dir inya. Ia hanya berpaling sambil tersenyum ketika ia melihat ayahnya menutup pintu biliknya rapat-rapat. Sejenak kemudian Kiai Danatirtapun masuk pula ke dalam biliknya. Tetapi seperti Ki Dipanala, maka orang tua itu tidak segera dapat tertidur. Angan-angannya berterbangan mengitari setiap persoalan yang seakan-akan saling susul menyusul dengan cepatnya. Arum, Juwiring, Buntal, Sura, Dipanala kemudian tentang Surakarta dan kumpeni. Menjelang dini hari, barulah Kiai Danatirta dapat tidur sejenak. Karena sebentar kemudian ayam jantan telah berkokok saling sahut menyahut.Dalam pada itu, Raden Rudira dan Mandra masih berada di simpang empat di luar kota. Mereka duduk sambil berbincang, meskipun keduanya tampak gelisah. “Kenapa sampai gagal, Mandra?“ bertanya Rudira geram. “Aku tidak menyangka Raden. Tetapi menurut pengamatanku ada seseorang yang ikut serta dalam perkelahian itu” “Ya” “Apakah Raden mengetahuinya?“ Raden Rudira menggelengkan kepalanya. Katanya “Dari mana aku tahu. Di dalam malam gelap dan jarak yang tidak terlalu dekat” “Tetapi Raden dapat membidik dengan tepat” “Untuk membidik seseorang aku hanya memerlukan bentuknya. Bukan garis-garis wajahnya” “Tetapi apakah Raden tidak keliru?“ “Aku yakin tidak. Aku adalah pemburu yang baik” “Ya. Raden adalah seorang pemburu yang baik” gumam Mandra mudah-mudahan Dipanala tidak mengetahui apakah yang sebenarnya lelah terjadi” “Lalu apa yang akan kita katakan kepada ibunda?“ “Apa yang ada saja tuan. Mungkin usaha ini harus diulangi.”Raden Rudira merenung sejenak, lalu tiba-tiba saja ia berkata “Kenapa kau suruh cucurut-cucurut itu melakukan tugas yang penting ini Mandra, sehingga kita telah melewatkan kesempatan yang bagus ini” “Maaf Raden. Aku kira mereka akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Tetapi jika tidak ada orang lain yang ikut campur aku kira Dipanala sudah terbunuh” “Aku harus tahu siapakah orang itu” “Dari siapa tuan akan tahu?“ Raden Rudira merenung sejenak. Namun kemudian katanya “Dipanala pasti akan kembali ke Ranakusuman. Ia akan berceritera tentang perjalanannya” “Apakah jika ia mengetahui bahwa kita terlibat di dalamnya ia masih juga akan kembali?“ Raden Rudira tidak segera menyahut. Namun sekali lagi ia menggeram “Kau memang terlampau bodoh untuk memilih orang” “Aku minta maaf Raden” Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun bergumam seperti kepada diri sendiri “Mudah-mudahan Dipanala kembali ke Ranakusuman. Ia akan berceritera, siapakah yang membantunya” “Mudah-mudahan ia masih berani kembali ke Ranakusuman” “Ia harus kembali” bentak Raden Rudira “Jika ia t idak kembali, berarti ia mengetahui bahwa kita sudah terlibat. Dan itu berbahaya sekali. Kita harus memburunya kemana ia pergi dan membunuhnya” “Ya, ya Raden. Kita harus membunuhnya““Tetapi apa yang sekarang harus kita lakukan?“ Raden Rudira menahan kemarahan yang masih bersarang di dadanya. Tetapi ia tidak mau menyakiti hati Mandra agar iapun tidak berkianat. “Marilah kita kembali. Tuan akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi” Raden Rudira menarik nafas dalam. Lalu “Marilah kita segera kembali. Mudah-mudahan kita masih menemukan jalan yang sebaik kali ini, agar kita tidak usah memburunya seperti memburu kijang di hutan perburuan itu. Keduanyapun kemudian dengan lesu pergi ke kuda mereka yang tertambat di pohon perdu. Dengan lesu pula mereka meloncat naik dan berjalan memasuki kota Surakarta. Kota yang masih lengang itu udaranya terasa sangat panas sepanas hati mereka karena kegagalan yang dialaminya untuk yang kesekian kalinya. “Pada suatu saat aku harus berhasil” geram Raden Rudira di dalam hati “Jika besok Dipanala kembali dan menyebut orang yang membantunya itu, aku akan segera mengambil sikap. Sebaiknya tidak tanggung-tanggung” Dalam pada itu, semalam suntuk Raden Ayu Galihwarit sama sekali tidak dapat tertidur sekejappun. Dengan gelisah ia menunggu kedatangan puteranya yang mengawasi tugas orang-orang yang mencegat Dipanala. Semakin dekat fajar menyingsing. Raden Ayu Galihwarit menjadi semakin cemas. Jika terjadi sesuatu dengan Raden Rudira dan rahasia itu dapat diketahui oleh Dipanala, maka orang itu pasti akan membuka segala rahasianya pula, meskipun itu akan berakibat mati bagi Dipanala, karena dalam keadaan yang memaksa Raden Ayu Galihwarit pasti akan membuka rahasia Dipanala pula, karena Dipanala sudah membunuh seorang perwira kumpeni.Tetapi jika Pangeran Ranakusuma dan terlebih- lebih anak laki- lakinya ini mendengar rahasianya, maka iapun pasti akan terhina untuk selama-lamanya. Ia akan tersisih dari pergaulan yang wajar para bangsawan dan ia pasti akan diusir dari Ranakusuman. Meskipun Pangeran Ranakusuma adalah seorang bangsawan yang tidak terlampau ketat memegang kebiasaan yang berlaku bagi isteri-isterinya, karena hubungannya yang luas dengan orang-orang asing, namun apakah ia akan dapat membiarkan isterinya berbuat terlampau jauh. Dan apakah kata putera laki- lakinya tentang dirinya?” Kegelishan itu memuncak ketika ayam jantan sudah mulai berkokok bersahut-sahutan menjelang pagi. Namun Raden Rudira dan Mandra masih juga belum kembali. Dalam kegelisahan yang tidak tertahankan lagi, maka Raden Ayu Galihwaritpun segera bangkit dan keluar dari biliknya. Beberapa orang abdi melihatnya dengan heran. Tidak menjadi kebiasaan Raden Ayu Galihwarit bangun terlampau pagi, karena ia adalah seorang perempuan bangsawan yang mendambakan kamukten yang berlebih-lelbihan, sehingga sama sekali t idak terlintas di dalam angan-angannya untuk berbuat sesuatu yang dianggapnya dapat merendahkan martabat kebangsawanannya. Seperti orang yang sedang dicengkam oleh kebingungan yang sangat. Raden Ayu Galihwarit duduk di ruang depan, meskipun ia belum membenahi dir inya. Dan hal itupun adalah di luar kebiasaannya, la belum keluar dari biliknya sebelum ia yakin bahwa ia sudah menjadi sangat cantik. Raden Ayu Galihwarit tersentak ketika ia melihat regol terbuka. Yang, pertama dilihatnya adalah kepala seekor kuda yang tersembul dari sela pintu. Namun Raden Ayu Galihwarit sudah mengenal kuda itu baik-baik. Kuda itu adalah kuda puteranya Raden Rudira.Karena itu, maka Raden Ayu Galihwaritpun segera berdiri dan melangkah dengan tergesa-gesa ke tangga depan. Demikian Raden Rudira masuk, maka iapun segera memanggilnya. Raden Rudira berpaling mendengar suara ibunya. Dan iapun segera berbelok ke tangga pendapa Ranukusuman diikuti oleh Mandra. Dengan tidak sabar Raden Ayu Galihwarit menyongsong kedatangan anaknya. Hampir berlari- lari ia turun tangga dan berdiri di bawah kuncung. Demikian Raden Rudira meloncat dari kudanya, ibunya segera bertanya “Bagaimana?” Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia berpaling kepada Mandra. namun orang itu sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Bagaimana?“ sekali lagi Raden Ayu Galihwarit berdesis. “Aku berhasil mengawasi mereka ibu” jawab Raden Rudira. “Sst, jangan terlampau keras. Ayahanda masih tidur di dalam biliknya. Ia tidak boleh mengetahui rencana ini” Raden Rudira mengangguk. Namun terasa tenggorokannya bagaikan tersumbat. Ternyata terlampau berat baginya untuk mengatakan kegagalannya. Tetapi ia tidak dapat mengelak lagi. Ketika ibunya mendesaknya, maka iapun harus menceriterakan apa yang sudah terjadi. Tiba-tiba saja wajah Raden Ayu Galihwarit yang gelisah itu menjadi pucat. Dengan suara yang terputus-putus ia bertanya “Jadi, jadi Dipanala itu masih hidup?“ “Ya. Aku menyesal sekali bahwa aku gagal lagi kali ini”“Bodoh sekali. Kenapa kalian tidak berhasil membunuh kelinci yang akan dapat menjadi sebuas serigala itu?“ “Sekarang kami gagal ibu. tetapi percayalah bahwa pada suatu saat ia akan mati. Akulah orang yang paling mendendamnya. Akulah yang akan selalu berusaha memusnakannya” “Jangan menunggu ia menerkamaku” “Kenapa dengan ibu?“ bertanya Raden Rudira. Pertanyaan itu telah mengejutkan Raden Ayu Galihwarit. Namun dengan tergesa-gesa ia menyambung “Tidak. Maksudku, menerkam kita semuanya. Ia akan dapat berkhianat seperti Sura” “Ibunda dan ayahanda terlalu memanjakannya. Aku sudah ingin menderanya dengan rotan sambil mengikatnya pada pohon sawo kecik itu. Tetapi ayahanda dan ibunda melarangnya” Dada Raden Ayu Galihwarit menjadi semakin berdebar- debar. Katanya “Itu tidak bijaksana. Jika didengar oleh Pangeran-Pangeran yang lain, maka kita seakan-akan menjadi orang yang paling kejam di Surakarta” Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. “Tetapi orang itu harus dimusnahkan“ gumam Raden Ayu Galihwar it. Lalu “Kenapa bukan Dipanala saja yang kau bunuh dengan panahmu. Jika kau berhasil membidik orang itu, kaupun pasti berhasil membunuh Dipanala” “Tetapi orang yang tertangkap itu akan sangat berbahaya ibu. Ia dapat mengatakan siapakah yang menyuruhnya” “Orang itupun kau bunuh pula” “Itulah yang sulit. Orang yang berkelahi di pihak Dipanala itu mempunyai kesempatan untuk menyeretnya dan memukulnya hingga pingsan. Kemudian menyembunyikannyadi balik tanggul. Tentu aku tidak dapat mendekatinya, agar aku tidak dapat dikenai oleh orang yang memihak Dipanala itu, karena aku belum pasti dapat membunuhnya” “Siapakah orang itu?“ “Aku tidak mengenalnya di dalam gelap dan jarak yang tidak cukup dekat” Raden Ayu Galihwarit menundukkan kepalanya. Persoalan itu justru membuatnya semakin gelisah. Namun tiba-tiba saja ia menggeram “Tetapi orang itu harus dibunuh. Segera” Ketika ia menyadari keadaannya, ia menyambung “Jika tidak, maka semua keinginanmu pasti akan dihalang-halanginya. Sebenarnya aku tidak berkeberatan jika kau mengambil gadis itu Mungkin ia berguna bagiku dan bagimu. Apa salahnya kau mengambil seorang gadis padepokan, karena kau putera seorang Pangeran?“ Ternyata kata-kata itu berhasil membakar hati Raden Rudira, sehingga iapun menyahut “Ya. Ia akan aku bunuh segera. Jika aku tidak berbuat cepat, maka gadis itu akan menjadi selir kamas Juwir ing, karena mereka tinggal bersama- sama di padepokan itu” Raden Ayu Galihwarit tidak menghiraukan kata-kata itu. Baginya yang penting adalah, Dipanala terbunuh. “Jika Dipanala kembali, ia tentu akan berceritera tentang orang yang menolongnya itu” berkata Raden Rudira kemudian. “Apakah mungkin orang yang selalu kau sebut-sebut sebagai petani dari Sukawati itu?“ bertanya ibunya. Dada Raden Rudira berdesir. Namun iapun kemudian menjawab “Tentu bukan. Ia memer lukan waktu untuk mengalahkan lawan-lawannya. Tentu tidak demikian dengan petani dari Sukawati itu. Dengan gerak yang sederhana iaberhasil memaksa Sura untuk menyerah dan tidak berdaya lagi” “Ya, Dipanala akan berceritera. Tetapi apakah ia akan berani kembali kemari?“ “Ia tidak tahu bahwa akulah yang membunuh tangkapannya. Jika ia tidak kembali kemari, artinya ia mengetahui rahasia ini” “O“ Raden Ayu Galihwarit menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Kenapa ibu?“ “Aku kasihan kepadamu. Jika ia tahu akan rahasia ini, maka namamu akan tercemar” “Jangan hiraukan. Aku dapat menyebutnya sebagai fitnah belaka karena ia tidak akan dapat membuktikannya” Raden Ayu Galihwarit menganggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. “Sudahlah ibu” berkata Rudira “Jangan hiraukan lagi. Aku akan menyelesaikan semuanya. Sekarang aku akan menyingkirkan kuda ini” Raden Ayu Galihwarit mengangguk pula meskipun terasa hatinya menjadi semakin parah. Tetapi ia masih mempunyai harapan bahwa Rudira akan segera menyelesaikannya. “Tentu Dipanala t idak mengetahui bahwa yang membunuh tangkapannya itu adalah Rudira” berkata Raden Ayu Sontrang di dalam hatinya. Demikianlah Raden Rudira dan Mandrapun meninggalkan Raden Ayu Galihwarit. Sejenak Raden Ayu itu masih berdiri di tempatnya. Namun ketika dilihatnya seorang juru taman menyapu halaman, maka iapun segera menyadari keadaannya. Dengan tergesa-gesa ia masuk ke ruang dalam. Sejenak ia berdiri di muka bilik suaminya. Dari sela-sela pintuia melihat di pembaringan di sebelah pintu itu, Pangeran Ranakusuma masih terbaring diam. “Kamas Ranakusuma masih tertidur. Tetapi pintu biliknya sudah terbuka. Tentu ia sudah pergi ke pakiwan dan tidak rapat menutup pintu biliknya” pikir Raden Ayu Galihwarit. Tetapi Raden Ayu Galihwarit terkejut ketika ia mendengar suara suaminya yang masih berbaring “Masuklah“ Perlahan-lahan Raden Ayu Galihwarit melangkah maju. Hatinya yang gelisah menjadi semakin gelisah. “Apakah Pangeran Ranakusuma mengetahui pembicaraanku dengan Rudira?”Ia bertanya kepada diri sendiri. Ketika Raden Ayu Galihwarit sudah berdiri di depan pintu dalam bilik, Pangeran Ranakusumapun segera bangkit. Sambil duduk di bibir pembaringannya ia bertanya “Kau bangun terlalu pagi hari ini, apakah ada sesuatu yang penting?“ Raden Ayu Galihwarit menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak kamas. Tetapi tiba-tiba saja. aku menjadi gelisah. Biasanya aku melepaskan Rudira pergi berburu dengan hati yang tenang” “Apakah anak itu pergi berburu?“ Raden Ayu Galihwarit mengangguk. “Berbeda dengan kebiasaannya, ia membawa beberapa orang pengiring” “Aku sudah bertanya kepadanya. Tetapi kini ia mempergunakan cara lain. Orang yang berjumlah semakin banyak, akan mengganggu binatang buruannya” “Apakah ia mendapat sesuatu?“ Raden Ayu Galihwarit menggeleng. Jawabnya “Tidak”Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Akhirnya sama saja. Dengan atau tidak dengan pengiring, ia tidak mendapat seekor kelincipun” Raden Ayu Galihwarit tidak menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan getar di dalam hatinya. “Dimana Rudira sekarang?“ “Di belakang, kamas” “Tingkah lakunya menjadi semakin aneh sekarang. Dahulu ia berburu di malam har i. Kadang-kadang dua tiga malam ia berada di hutan buruan. Bahkan dahulu ia ser ing membawa seekor rusa atau Setidak-tidaknya kulitnya, jika rusanya sudah dimakan bersama pengir ing-pengir ingnya di tengah-tengah hutan. Tetapi akhir-akhir ini ia tidak berhasil mendapatkan apa-apa. Menurut penilaianku ia adalah seorang pembidik yang baik. Tetapi ia malas sekali mengikut i buruannya” Raden Ayu Galihwarit tidak menyahut, la ingin segera diperkenankan meninggalkan suaminya yang masih tetap duduk di bibir pembaringannya. Raden Ayu Galihwarit menarik nafas lega ketika Pangeran Ranakusuma berkata “Apakah kau akan mandi?“ “Ya kamas, aku belum mandi“ “Mandilah. Suruhlah seseorang menyediakan air panas buatku” “Baiklah Pangeran” sahut Raden Ayu Galihwarit sambil bergeser surut.Tetapi ketika ia sampai di pintu Pangeran Ranakusuma memanggilnya sambil bertanya “Apakah Dipanala sudah kembali?” “Sepengetahuanku belum kamas“ jawab Raden Ayu Galihwar it dengan dada yang semakin berdebar-debar. Rasa- rasanya lantai yang dipijaknya menjadi panas. “Kenapa belum?“ ”Bukankah sudah menjadi kebiasaannya bermalam di padepokan itu? Bahkan pernah ia bermalam sampai dua malamberturut-turut” Pangeran Ranakusuma mengangguk. Lalu katanya “Mandilah” Dengan tergesa-gesa Raden Ayu Galihwaritpun segera meninggalkannya sebelum Pangeran Ranakusuma bertanya lebih banyak lagi. Dalam pada itu, selagi Raden Ayu Galihwarit kemudian sibuk mempercantik dir inya. Sementara itu di padepokan Jati Aking Ki Dipanalapun sedang berkemas, ia benar-benar ingin kembali ke Ranakusuman, justru secepat-cepatnya. “Aku tiba-tiba saja ingin segera menghadap Pangeran Ranakusuma berdua. Aku ingin tahu kesan di wajah mereka ketika mereka melihat kehadiranku. Juga anak laki-lakinya itu apabila ia berada di istananya” gumam Dipanala sambil mengusap leher kudanya. Kiai Danatirta yang berdiri sarribil bersilang tangan berkata “Tetapi hati-hatilah Dipanala. Banyak hal yang tidak terduga- duga dapat terjadi. Tetapi juga mungkin karena kita salah menilai keadaan” “Ya kakang. Aku akan selalu berhati-hati”“Bukan saja karena keadaan di Ranakusuman sendir i, tetapi keadaan Surakarta pada umumnya. Jika terjadi huru hara, cobalah menghubungi kami di padepokan ini. Tetapi kau juga harus menjaga dir imu, karena dalam keadaan yang demikian, kesempatan untuk membunuhmu tanpa perkara akan menjadi semakin besar. Tidak ada orang yang sempat mengurus kematianmu j ika benar-benar pecah perartg karena ketidak puasan yang sudah tidak lagi dapat tertahan di dada beberapa orang Pangeran yang justru berpengaruh” “Ya kakang. Aku akan mencoba” “Ki Dipanala. Apakah tidak sebaiknya keluargamu sajalah yang lebih dahulu kau singkirkan?“ “Aku juga berpikir demikian kakang, tetapi tentu tidak segera agar tidak menumbuhkan kecur igaan bahwa aku akan melarikan dir i karena percobaan pembunuhan yang gagal ini” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Tentu aku tidak akan berkeberatan jika kau bawa keluargamu kemari. Arum akan mendapat kawan yang sebaya” Ki Dipanala menarik nafas dalami. Katanya “Terima kasih kakang. Kau terlalu baik terhadapku, terhadap keluargaku dan terhadap momonganku, Raden Juwir ing” “He, apa yang sudah aku lakukan?“ bertanya Kiai Danatirta. Ki Dipanala tersenyum. Mereka kemudian terdiam ketika Juwiring datang mendekat. Sambil tersenyum ia berkata “Biarlah aku memasang pelana kuda paman. Agaknya paman sedang dicari oleh Arum” “Kenapa?“ bertanya Ki Dipanala. “Makan pagi telah tersedia” Ki Dipanala tertawa. Dan Kiai Danatirtapun kemudian mempersilahkannya masuk ke ruang dalam.Setelah makan pagi, maka Ki Dipanalapun segera minta diri kepada Kiai Danatirta dan ketiga anak-anak muda yang mengantar mereka sampai ke regol halaman. Dengan wajah yang cerah Ki Dipanala berkata “Aku akan kembali ke Ranakusuman. Mudah-mudahan aku segera mendapat tugas serupa, membawa Barang-barang yang lain lagi kemar i” Juwiringpun tertawa pula. Katanya “Tetapi paman harus membawa beberapa orang pengawal agar paman tidak dirampok orang di perjalanan. Tentu Buntal tidak dapat setiap hari menunggu kedatangan paman di sawah” Yang mendengar kata-kata Juwiring itupun tertawa pula. Buntal bahkan menyahut “Aku akan menyongsong paman ke Surakarta jika aku tahu kapan paman akan datang, dan apakah paman membawa kain lur ik berwarna cerah buatku” Ki Dipanalapun tertawa pula, meskipun ia tidak dapat menyingkirkan debar dadanya karena peristiwa yang telah terjadi itu. “Tetapi paman tidak usah membawa apa-apa lagi buatku“ berkata Arum kemudian. “Kenapa? Kain itu pemberian Raden Ayu Galihwarit. Apakah kain itu kurang baik buatmu?“ “Bukan kurang baik, tetapi terlalu baik. Dan apakah pemberian itu tidak menyimpan pamr ih apapun” Ki Dipanala tersenyum. Jawabnya “Aku tidak tahu. Tetapi jika aku yang diber inya, aku akan menerimanya dengan senang hati, apapun pamrih yang tersimpan di dalam hatinya. Asal aku tidak goyah dari sikap dan pendirianku” “Itulah yang namanya memanfaatkan keadaan” sahut Kiai Danatirta sambil tertawa. Demikianlah, maka ketika matahari semakin tinggi dan panasnya terasa mulai menggigit kulit, Ki Dipanalapun meninggalkan padepokan Jati Aking. Dipacunya kudanyamenyusur jalan persawahan yang dilaluinya pada saat ia datang ke padepokan itu. Ketika ia sampai Di tempat ia dicegat beberapa orang perampok yang sekaligus akan membunuhnya itu, maka iapun berhenti. Agar tidak menimbulkan kecur igaan orang-orang yang berada di sawah masing-masing, maka iapun membiarkan kudanya minum seteguk di parit di pinggir jalan, sementara ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Ternyata di sebelah parit induk yang agak besar terdapat gerumbul-gerumbul perdu diatas tanggul. Namun agaknya tanggul itu cukup lebar untuk berpacu diatas punggung kuda. “Dari sana anak panah itu dilepaskan“ Ia bergumam. Lalu “Ketika Buntal memburunya sambil berloncat-loncatan, mereka lari ke kuda mereka yang ditambat di balik gerumbul- gerumbul itu dan berpacu menjauh” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Disentuhnya sebuah batu di pinggir jalan dengan kakinya. Di situlah orang yang berpakaian petani dengan tutup kepala yang lebar itu duduk menunggunya. Tetapi ternyata orang itu telah dibinasakan oleh Raden Rudira sendiri. Sejenak kemudian barulah Ki Dipanala meloncat ke punggung kudanya dan meneruskan perjalanannya kembali ke istana Ranakusuman. Tetapi setiap kali ia terngiang pesan Kiai Danatirta “Hati-hatilah”


Jilid 7
KI DIPANALA menarik nafas dalam-dalam. Di perjalanan Ki Dipanala tidak terlalu sering ber istirahat meskipun ia tidak berpacu terlalu cepat. Sekali-sekali ia berhenti sejenak untuk memberi kesempatan kudanya beristirahat. Apalagi ketika ia sudah mendekati kota. Kudanya berjalan semakin lamban. Ia berharap bahwa apabila ia datang di istana Ranakusuman, Pangeran Ranakusuma sudah ada di istana, jika Pangeran itu pergi menghadap Susuhunan. Karena itulah maka ketika ia mendekati regol Ranakusuman matahari sudah condong jauh ke Barat, meskipun panasnya masih terasa menyengat kulit Meskipun sejak ia memasuki kota ia sudah berusaha mengatur perasaannya, namun ia masih merasa berdebar- debar juga ketika ia berdir i di depan regol yang terbuka. Dengan agak gemetar ia meloncat turun dari kudanya dan menuntunnya masuk halaman.Para penjaga regol mengangguk sambil menyapanya. Salah seorang bertanya “Kau bermalamdi padepokan itu?“ “Ya” jawab Ki Dipanala. Lalu yang lain “Kau bawa ubi manis atau gembili?” Ki Dipanala mencoba terserryum. Jawabnya “ Sayang, aku tidak sempat. Aku datang lewat senja, dan pagi-pagi aku sudah berangkat lagi“ “Seharusnya kau membawa gembili ungu. Manisnya bukan main” Ki Dipanala masih saja tersenyum, namun ia t idak menjawab. Debar jantungnya terasa justru menjadi semakin keras sehingga sejenak ia masih saja berdiri di regol sambil termangu-mangu. Namun kemudian hatinyapun menjadi bulat. Apapun yang akan dihadapi. Karena itu, maka iapun melangkah maju sambil menuntun kudanya. Ki Dipanala terkejut ketika ia mendengar suara seorang perempuan menyapanya. Ketika ia berpaling dilihatnya Raden Ayu Galihwarit berdiri di pintu butulan. “He, kau sudah pulang Dipanala?“ Ki Dipanala mengangguk dalam-dalam sambil menjawab “Ya Raden Ayu. Baru saja hamba datang” “Kemarilah“ Panggil Raden Ayu Galihwarit. “Apakah hamba diperkenankan menambatkan kuda ini?“ “Ikat saja pada pohon itu. Kemar ilah” Ki Dipanala menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat membantah. Diikatnya kudanya pada sebatang pohon soka putih yang tumbuh di halaman samping, dan dengan hormatnya ia mendekati Raden Ayu GalihwaritDadanya berdesir ketika ia melihat di belakang Raden Ayu itu berdir i anak laki-lakinya. Raden Rudira. Ketika Ki Dipanala berjalan mendekat, maka Raden Ayu Galihwar itpun masuk ke ruang dalam dan duduk menghadap pintu, sementara Ki Dipanala merayap naik tangga dan kemudian duduk bersila di lantai di hadapan Raden Ayu Galihwar it. Raden Rudira yang kemudian masuk ke ruang itu pula berdiri di sisi ibundanya. Dengan tajamnya. dipandanginya Ki Dipanala yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. ”Bagaimaha. kabar kepergianmu ke padepokan Jati Aking?” bertanya Raden Ayu Galihwarit. “Hamba telah melakukan tugas hamba sebaik-baiknya Raden Ayu. Hamba telah sampai ke padepokan Jati Aking” “O“ Raden Ayu Galihwar it mengangguk-angguk. Lalu “Apakah kau sudah bertemu dengan Juwiring?“ Namun sebelum Ki Dipanala menjawab, ia mendengar suara dari ruang dalam “Suruh Dipanala kemar i” Raden Ayu Galihwarit mengerutkan keningnya. Tetapi ia kenal betul, bahwa suara itu adalah suara Pangeran Ranakusuma sehingga ia tidak dapat lagi membantahnya. “Menghadaplah” berkata Raden Ayu Galihwarit. Ki Dipanalapun kemudian bergeser sambil berjongkok bagaikan merayap masuk ke ruang dalam menghadap Pangeran Ranakusuma yang duduk dengan wajah yang buram, sementara Raden Ayu Galihwarit mengikutinya di belakang, dan yang kemudian duduk di sisi Pangeran Ranakusuma. Tetapi Rudira tidak ikut masuk ke ruang dalam. Bahkan dengan wajah bersungut-sungut ia berjalan keluar menemui Mandra di halaman belakang.“Dipanala sudah datang” bisiknya di telinga Mandra. “O. apakah yang dikatakannya kepada Pangeran“ “Aku tidak tahu. Ibunda duduk bersama ayahanda. Lebih baik aku menyingkir” Mandra mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Kita menunggu per intah Raden Ayu” Dalam pada itu, Dipanala yang menghadap Pangeran Ranakusuma duduk tepekur. Ia tidak berani mengangkat wajahnya sebelum Pangeran Ranakusuma bertanya sesuatu kepadanya. Baru sejenak kemudian terdengar suara Pangeran Ranakusuma ”Apakah semua kiriman kami sudah kau sampaikan?“ “Sudah Pangeran. Hamba sudah sampai di padepokan Jati Aking. Hamba sudah bertemu dengan Kiai Danatirta dan Raden Juwiring” “Baik. Mereka tentu senang menerima kir iman itu. Barangkali kali ini adalah kir iman kami yang paling banyak sejak ia berada di padepokan itu” “Hamba Pangeran” “Dan apakah kir imanku untuk Arum juga sudah kau sampaikan?“ bertanya Raden Ayu Galihwarit. “Sudah Raden Ayu. Hamba sudah menyampaikannya langsung kepada anak itu” “Apa katanya?“ “Anak padepokan itu belum pernah melihat kain sebagus itu sehingga ia menjadi kagum karenanya. Bahkan hampir tidak dapat mengerti, bahwa ada kain yang sebagus itu” Raden Ayu Galihwarit tersenyum sambil mengangguk- angguk. Tetapi hatinya mengumpat tidak habis-habisnya. Kainitu seharusnya tidak sampai ke tangan Arum. Kain itu seharusnya merupakan hadiah khusus bagi penyamun- penyamun yang berjanj i akan membunuh Ki Dipanala “Dan uang itu?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. “Semuanya sudah hamba sampaikan. Raden Juwir ing dan Kiai Danatirta beserta anak perempuannya mengucapkan beribu-riibu terima kasih atas kemurahan Pangeran” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Ia sama sekali tidak berprasangka apapun terhadap perjalanan Dipanala. Karena itu maka ia tidak bertanya lebih lanjut. Bahkan iapun kemudian berkata “Baiklah. Beristirahatlah. Kau sendiri tentu akan mendapat bagianmu juga” “Hamba telah mener imanya sebelum hamba berangkat Pangeran” “Itu masih belum cukup. Aku akan menambah besok” “Terima kasih Pangeran. Hamba mengucapkan beribu-r ibu terima kasih” “Kau boleh pulang sekarang” berkata Pangeran Ranakusuma. “Tetapi tuan, apakah hamba diperkenankan member itahukan apa yang terjadi di perjalanan yang baru saja hamba jalani” “He?“ “Maafkan hamba Pangeran, bahwa hamba akan sekedar berceritera. “Tentang apa?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. “Tentang perjalanan hamba yang baru saja hamba lakukan” “Tentu perjalanan yang menarik sekali” potong Raden Ayu Galihwar it, namun diteruskannya “sebenarnya PangeranRanakusuma sudah akan beristirahat. Karena itu aku tidak menghadapkan kau kepada Pangeran, jika Pangeran sendiri tidak memanggilmu karena aku tidak mau mengganggunya. Simpanlah ceriteramu itu untuk besok atau lusa apabila Pangeran tidak sedang sibuk atau akan ber istirahat seperti sekarang ini” “O“ Ki Dipanala menjadi kecewa. Tetapi ia masih menunggu perintah Pangeran Ranakusuma. Sejenak Pangeran Ranakusuma berpikir. Lalu katanya “Sebenarnya aku memang ingin tidur sebentar. Tetapi baiklah, katakan apa yang kau alami” Hati Raden Ayu Galihwarit menjadi berdebar-debar. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Rudira, jika Dipanala menuduh Rudira telah membunuh perampok itu, maka Dipanala harus dapat membuktikannya. Jika tidak, maka ia justru dapat dianggap memfitnahnya. Karena itu Raden Ayu Galihwarit tidak dapat mencegahnya lagi. Mau t idak mau ia harus mendengar apa yang akan dikatakannya. Tetapi jika Dipanala itu berceritera sampai kepada ceritera yang paling dirahasiakannya, maka semuanya pasti akan menjadi kacau. “Pangeran” berkata Dipanala kemudian “ternyata bahwa perjalanan hamba kali ini mengalami sebuah gangguan yang hampir saja menewaskan hamba” “He“ Pangeran Ranakusuma terkejut mendengar ceritera Dipanala itu, sehingga ia tergeser maju “Apa yang kau katakan?” “Empat orang penyamun telah menunggu hamba di bulak Jati Sari. Tidak jauh lagi dari padepokan Jati Aking” “Penyamun?“ Ki Dipanala mengangguk sambil menjawab “Hamba Pangeran”Wajah Pangeran Ranakusuma menjadi tegang. Sementara itu Ki Dipanala mencoba untuk menilainya, apakah Pangeran Ranakusuma benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi. Namun menilik sikapnya, agaknya Pangeran Ranakusuma benar-benar tidak terlibat di dalamnya. Ketika Ki Dipanala mencoba memandang wajah Raden Ayu Galihwar it, tampaklah wajah itu menjadi merah. Namun sejenak kemudian terdengar Raden Ayu itu bertanya “Bagaimana mungkin penyamun itu menunggumu di bulak Jati Sari?“ “Hamba tidak mengerti Raden Ayu, tetapi sebenarnyalah hamba telah ditunggu oleh empat orang penyamun. Apakah penyamun itu sengaja menunggu hamba atau tidak, hamba sama sekali tidak tahu. Tetapi yang hamba heran, penyamun itu mengetahui bahwa hamba membawa Barang-barang dan sekedar uang ke padepokan Jati Aking” “Ah, aneh sekali” sahut Raden Ayu Galihwarit. “Apakah di bulak itu memang sering terjadi hal serupa itu menurut ceritera orang-orang Jati Sari?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. Ki Dipanala menggelengkan kepalanya “Tidak Pangeran. Bulak itu adalah bulak yang aman. Bahkan seluruh daerah Jati Sari hampir tidak pernah lagi terdengar kerusuhan apapun yang terjadi” Pangeran Ranakusuma merenung sejenak. Ceritera itu ternyata sangat menarik perhatiannya. “Tetapi“ Raden Ayu Galihwaritlah yang berkata kemudian “sekarang kerusuhan memang mulai menjalar. Orang-orang yang tidak tahu diri berusaha menentang persahabatan antara orang-orang asing itu dengan bangsa sendir i. Mereka yang berjiwa kerdil menganggap bahwa persahabatan itu merugikan dir i sendir i”Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. “Tetapi hal itu masih belum terasa sampai ke padepokan Jati Aking Raden Ayu” Sahut Dipanala. “Mungkin baru sekarang kerusuhan itu mulai, dan kau adalah korban yang pertama. Dengan alasan yang dibuat- buat, seolah-olah orang-orang itu mencoba menegakkan harga diri, namun sebenarnya mereka hanya sekedar menumbuhkan keributan dan akibatnya mereka dengan leluasa dapat melakukan kejahatan” Terasa dada Ki Dipanala berdesir. Kata-kata itu sama sekali tidak dapat diterima oleh perasaannya. Namun ia tidak membantahnya, karena kata-kata itu diucapkan oleh Raden Ayu Galihwarit di hadapan Pangeran Ranakusuma yang berkuasa di lingkungan istana Ranakusuma ini. Pangeran Ranakusuma sendir i tidak menyahut. Namun kemudian ia justru bertanya “Tetapi bukankah kau berhasil melepaskan diri dari tangan para penyamun itu?“ “Ya Pangeran. Hamba terpaksa berkelahi melawan mereka. Tetapi karena hamba hanya seorang dan hamba tidak lebih hanya bersenjatakan sebilah keris yang pendek maka hamba hampir saja tidak dapat melihat sinar matahari yang terbit di pagi hari ini dan hamba tidak akan dapat menghadap Pangeran sekarang ini” “Jadi? Kenapa kau masih hidup?“ “Seseorang telah menolong hamba” “Siapa?“ bertanya Raden Ayu Galihwarit dengan serta- merta. Seperti Raden Rudira, maka iapun ingin sekali mendengar nama orang yang telah menolong Dipanala itu. Sejenak Dipanala berpikir. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berkata “Sayang Raden Ayu, hamba tidak mengenal orang itu. Hamba hanya melihatnya sepintas di dalamgelap, dan ia adalah seorang petani”“Petani dari Sukawati itu?“ bertanya Pangeran Ranakusuma dengan wajah tegang. “Hamba tidak dapat mengatakan dengan pasti. Malam sudah terlampau gelap, dan hamba tidak mendapat kesempatan untuk berbicara terlampau lama, karena orang itu segera meninggalkan hamba” “Kenapa ia segera pergi?“ Ki Dipanalapun lalu menceriterakan bahwa orang yang menolongnya itu berhasil menangkap seorang dari para penyamun itu, tetapi sayang, sebuah anak panah telah membunuh penyamun itu. “Orang itupun kemudian memburu orang yang melepaskan anak panah itu Pangeran” berkata Dipanala kemudian “dan hamba tidak bertemu lagi sampai sekarang, sehingga hamba masih belumsempat mengucapkan iterima kasih” “Tidak mungkin” tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit membantah “Kau tentu tahu siapa orang itu” Ki Dipanala menjadi terheran-heran. Dipandanginya Raden Ayu Galihwarit dan Pangeran Ranakusuma berganti-ganti. “Kalau orang itu tidak mengenalmu dan sebaliknya, tentu ia tidak akan menolongmu. Dan di daerah yang jauh terpencil itu tentu tidak banyak orang yang mampu memberikan pertolongan kepadamu melawan para perampok itu” Ki Dipanala masih juga terheran-heran. Lalu jawabnya “Ampun Raden Ayu. Hamba benar-benar tidak tahu. Dan apakah salahnya jika hamba tahu siapakah yang menolong hamba itu mengatakan kepada Raden Ayu dan Pangeran Ranakusuma?“ Wajah Raden Ayu Galihwarit menjadi gelisah sejenak. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata lembut “Sebenarnya aku ingin tahu siapakah orang itu. Ia sudah menyelamatkan kau dan barang-barang yang kamikirimkan ke padukuhan Jati Sari. Seharusnya kamipun mengucapkan terima kasih dan sekedar hadiah baginya dengan tulus” “Ya” sahut Pangeran Ranakusuma “Kami wajib mengucapkan terima kasih kepadanya” Ki Dipanala mengumpat di dalam hati. Ada saja alasan yang lapat diberikan oleh Raden Ayu Galihwarit untuk membayangi sikapnya. Hampir saja ia berhasil memancing sikap Raden Ayu itu sehingga menimbulkan kecur igaan Pangeran Ranakusuma, tetapi ada juga cara untuk mengaburkannya. Namun dalam pada itu, Ki Dipanala masih belum mengatakan semuanya yang telah dipersiapkannya. Masih ada satu persoalan lagi yang akan dikatakannya. Karena itu maka katanya kemudian “Pangeran, hamba akan berusaha untuk menemukan orang itu. Memang Di tempat terpencil tidak banyak orang yang dapat membantu hamba berkelahi melawan empat orang perampok. Tentu tidak banyak petani yang memiliki kemampuan serupa itu di Jati Sari. Hanya petani-petani di Sukawati sajalah yang memiliki kemampuan demikian” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu “ternyata bahwa petani dari Sukawati itu pulalah yang pernah ikut campur dalam persoalan putera-putera tuanku di bulak Jati Sari beberapa waktu yang lalu” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Raden Ayu Galihwarit berkata “Tidak semua petani di Sukawati. Tentu hanya satu dua orang yang kebetulan memiliki kemampuan serupa itu, seperti juga satu dua orang Jati Sari” “Mungkin juga demikian Raden Ayu?” sahut Ki Dipanala “dan karena itulah hamba akan mencarinya untuk mengucapkan terima kasih hamba sendir i dan pernyataan terima kasih dari Pangeran berdua”“Kau harus segera menemukannya” berkata Raden Ayu Galihwar it “supaya ia tidak sempat menganggap kami sebagai orang yang tidak mengenal terima kasih” “Tetapi itu bukan salah kami“ Pangeran Ranakusumalah yang menjawab “Ia sengaja merahasiakan dir inya” “Belum tentu. Mungkin ia mengejar orang yang. melepaskan anak panah itu sampai jarak yang jauh. Ketika ia kembali Dipanala sudah meninggalkan tempatnya” “Seandainya demikian, itupun bukan salah kami pula. Ia tentu tahu bahwa semuanya itu terjadi karena ketidak sengajaan” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa pembicaraan itu seakan-akan merupakan pembicaraan yang tidak mapan. Masing-masing mencari kelemahan dan mencoba menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya diketahuinya, kecuali Pangeran Ranakusuma yang kadang-kadang menjadi bingung mendengar pembicaraan itu. Dalam pada itu Raden Ayu Galihwaritpun menjawab pula “Tetapi bukankah lebih cepat akan menjadi lebih baik Pangeran?” “Ya, memang lebih cepat lebih baik” lalu katanya kepada Dipanala “Bukankah lebih cepat lebih baik Dipanala?“ “Ya Pangeran. Hamba akan mencarinya secepat-cepatnya. Lebih cepat memang lebih baik “Ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi hambapun akan mencari perampok-perampok yang berhasil melarikan dir i itu. Hambapun akan mencari orang yang membunuh perampok yang telah tertangkap itu. Hamba tahu bahwa orang yang melepaskan anak panah itu tentu mempunyai sangkut paut dengan penyamun yang terbunuh itu” “Ya. Itu dapat dimengerti. Orang itu tentu sekedar ingin menghilangkan jejak”“Atau dengan tujuan lain yang tidak kita mengerti“ Raden Ayu Galihwarit memotong “Tetapi bagiku Dipanala, mencari orang yang telah menolongmu itu jauh lebih pent ing dari mencari pembunuh itu. Sebenarnya kita tidak bersangkut paut dengan pembunuh itu. Apalagi kau sudah dapat kembali dengan selamat” “Tentu tidak“ Pangeran Ranakusumalah yang menjawab “Ia masih tetap berbahaya bagi Dipanala. Lain kali, jika Dipanala pergi ke Jati Aking, ia akan mengalami keadaan yang serupa jika orang itu masih belum diketemukan” Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Dengan dada yang berdebar-debar ia mengikuti pembicaraan selanjutnya. Dan Ki Dipanalapun berkata “Pangeran, sebenarnyalah hamba mempunyai bahan untuk memulainya, mencari orang yang melepaskan anak panah itu. Walaupun terlampau kecil dan barangkali kurang cukup untuk sampai pada orang yang aku car i itu” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Namun Raden Ayu Galihwaritlah yang menjadi sangat berdebar-debar dan cemas. “Apakah yang kau punyai?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. “Apakah hamba dapat mengambilnya tuan?“ bertanya Ki Dipanala. “Ambillah. Aku ingin melihatnya” Ki Dipanalapun kemudian bergeser surut dan turun ke halaman samping mengambil barang yang dikatakannya. Kemudian sambil menj injing sebuah anak panah ia menghadap Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwar it kembali. “Inilah yang dapat hamba bawa Pangeran. Anak panah inilah yang telah membunuh penyamun itu. Anak panah iniadalah satu-satunya landasan yang dapat hamba pakai untuk menemukan siapakah pembunuh penyamun itu yang seperti tuan katakan, bahwa pembunuh itu tentu tersangkut dalam usaha perampokan itu” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya, sedang wajah Raden Ayu Galihwarit menjadi tegang. “Berikan anak panah itu” berkata Pangeran Ranakusuma. Ki Dipanalapun bergeser maju untuk menyerahkan anak panah itu. Anak panah yang masih dikotori dengan noda-noda darah yang sudah kering. Ketika Pangeran Ranakusuma, melihat anak panah itu, tiba- tiba saja jantungnya serasa menghentak-hentak. Tangannya menjadi gemetar dan keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya. Sebagai seorang ayah yang sering ikut serta dalam kesenangan anaknya yang paling dimanjakannya, Pangeran Ranakusuma dapat mengenal anak panah itu meskipun belum pasti, karena pada umumnya setiap anak panah telah diberinya ciri tersendiri sebagai suatu kebanggaan. Anak panah yang kemudian dipegang oleh Pangeran Ranakusuma itu adalah anak panah yang pernah dikenalnya dengan ciri-ciri yang jelas pada warna dan garis-garis yang melingkar. Warna kuning emas di pangkal anak panah itu dan sebuah guratan pada bedornya. Guratan yang tidak terdapat pada anak panah yang lain selain jenis anak panah itu. Bukan saja Pangeran Ranakusuma, tetapi Raden Ayu Galihwar itpun menjadi pucat. Jika Dipanala dapat mengenal ciri-ciri anak panah itu, maka ia akan mendapat rint isan jalan untuk menemukan pembunuh itu. Raden Ayu Galihwarit tidak begitu mengerti akan cir i-ciri anak panah puteranya. Tetapi ia tahu bahwa ciri-ciri itu pasti ada karena puteranya dapat membedakan antara anak panahnya dengan anak panah pemburu-pemburu yang lain apabila kebetulan mereka berbareng pergi ke hutan perburuan.Namun Raden Ayu Galihwarit tidak dapat mengatakan apapun juga. Ia hanya menunggu saja, apa yang akan diperbuat oleh Pangeran Ranakusuma. Ki Dipanala yang memperhatikan wajah-wajah itu dapat meraba, bahwa sebenarnyalah Pangeran Ranakusuma dapat mengenali anak panah itu meskipun ia belum mengatakannya. Sedang kecemasan yang membayang di wajah Raden Ayu Galihwar itpun mempunyai kesan tersendiri pada Ki Dipanala, sehingga ia hampir pasti bahwa yang terjadi adalah seperti yang diduganya. Dan iapun hampir pasti bahwa rencana pembunuhan itu hanya dibuat oleh Raden Ayu Galihwarit dan Raden Rudira di luar pengetahuan Pangeran Ranakusuma. Pangeran Ranakusuma masih dengan tegang mengamat- amati anak panah yang kemudian sudah di tangannya. Namun ia tidak mengatakan sesuatu tentang anak panah itu. “Pangeran“ Ki Dipanala yang mula-mula berkata “Apakah Pangeran dapat mengenal anak panah itu? Jika Pangeran dapat mengenalnya, maka pembunuh itu akan segera dapat diketemukan” “Bodoh sekali” tiba-tiba Pangeran Ranakusuma membentak. Wajahnya menjadi merah padam. Dengan anak panah itu ia menunjuk hidung Ki Dipanala sambil berkata “Kau sangka aku seorang cucuk yang melayani para bangsawan yang sedang berburu, sehingga dengan demikian aku dapat mengenal anak panah yang beratus-ratus jenisnya itu? Dan alangkah bodohnya jika kau berpikir bahwa pemilik anak panah inilah yang telah membunuh penyamun itu. Tentu siapapun juga dapat mempergunakan anak panah yang manapun. Mungkin satu dua anak panah jenis ini tertinggal di hutan perburuan. Orang yang menemukan anak panah itu dapat saja mempergunakan untuk berbuat apa saja. Hanya orang gila sajalah yang percaya dan pasti bahwa pembunuh itu adalah pemilik anak panah ini”Ki Dipanala yang ditunjuk hidungnya bergeser sejengkal surut. Namun kemudian ia memberanikan dir i berkata “Pangeran. Memang demikianlah kemungkinan itu dapat terjadi. Tetapi kemungkinan seperti yang hamba katakanpun dapat pula terjadi. Karena itu, apakah salahnya jika anak panah itu hamba simpan dan hamba jadikan bukt i dalam pengusutan. Seandainya tuduhan itu salah, maka bukankah tertuduh belum menjalani hukuman apapun juga” “Tuduhan adalah hukuman yang paling keji bagi orang yang tidak bersalah. Karena itu, anak panah ini sama sekali tidak ada gunanya dan tidak ada harganya sebagai barang bukti” Adalah di luar dugaan Dipanala bahwa dengan wajah yang seakan-akan terbakar Pangeran Ranakusumapun kemudian mematahkan anak panah itu menjadi potongan-potongan yang kecil. Menghancurkan bulu-bulu dijuntainya dan melemparkannya ke sudut ruangan. “Pangeran” desis Ki Dipanala. “Jangan kau sebut lagi anak panah itu. Kau sudah cukup lama menghamba di istana ini setelah kau tidak lagi menjadi seorang prajurit. Menurut pendengaranku kau adalah prajurit yang cakap. Tetapi ternyata kau bodoh sekali seperti kerbau yang paling dungu” Raden Ayu Galihwarit yang melihat Pangeran Ranakusuma menghancurkan satu-satunya bukti itu menarik nafas dalam- dalam. Ia merasa seakan-akan dadanya yang terbakar itu tersiram oleh air yang sejuk. Dengan demikian maka tidak ada bukti lagi yang dapat dipergunakan unluk menuduh Rudira jika benar ciri-ciri panah itu adalah ciri-ciri anak panah puteranya. Dalam pada itu Ki Dipanala yang masih duduk di lantai berkata “Pangeran, apakah tindakan yang Pangeran lakukan itu cukup bijaksana?““Aku meyakini perbuatanku. Aku akan sangat merasa malu atas kebodohanmu jika orang lain mengetahuinya. Karena itu sekarang pergilah. Pulang ke rumahmu dan kalau kau ingin mencari orang yang telah menolongmu, carilah. Juga jika kau ingin menemukan pembunuh itu usahakanlah. Tetapi jangan mempergunakan cara yang paling bodoh dan memalukan itu” Ki Dipanala menar ik nafas dalam-dalam. Lalu iapun bertanya ”Tetapi bagaimanakah cara yang paling baik dapat hamba tempuh Pangeran” “Aku tidak sempat memikirkannya” Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Memang banyak sekali kenyataan yang tidak dapat diungkapkan. Kenyataan yang paling buruk dan kenyataan yang paling baik. Mungkin hamba tidak dapat menemukan penolong hamba, tetapi hamba juga tidak dapat menemukan pembunuh penyamun itu. Kedua-duanya adalah kenyataan yang telah terjadi, tetapi kedua-duanya tetap tidak akan pernah dapat diketahui kebenarannya. Siapakah mereka itu” “Cukup. Cukup. Kau tidak usah mengigau” bentak Pangeran Ranakusuma. “Baiklah Pangeran” jawab Ki Dipanala “Memang demikianlah agaknya. Seperti kenyataan yang berlaku atas diri hamba sendir i. Mungkin hambapun pernah melakukan perbuatan-perbuatan yang terkutuk tanpa diketahui orang lain, sehingga perbuatan hamba itu akan tetap tersembunyi untuk selama- lamanya tanpa mendapat hukuman apapun” Tiba-tiba saja wajah Pangeran Ranakusuma menjadi pucat. Dan hampir bersamaan itu pula. keringat dingin mengalir di tubuh Raden Ayu Galihwarit. Kedua-duanya menjadi sangat cemas bahwa Ki Dipanala akan mengatakan rahasia yang selama ini telah disimpannya rapat-rapat. Rahasia yang ada pada kedua-duanya dan yang kedua-duanya diketahui oleh Ki Dipanala.Tetapi Ki Dipanala kemudian menar ik nafas dalam-dalam sambil lerkata “Baiklah hamba mohon diri. Hamba melihat bahwa Pangeran dan Raden Ayu agaknya merasa terganggu oleh kehadiran hamba di sini. Hamba mohon maaf. Hamba sama sekali tidak bermaksud membuat Pangeran dan Raden Ayu menjadi gelisah. Hamba akan berusaha menemukan orang yang telah menolong hamba dan sekaligus pembunuh penyamun itu tanpa mengganggu ketenangan dan ketenteraman Pangeran berdua” “Aku tidak peduli” sahut Pangeran Ranakusuma “pergilah. Aku akan ber istirahat. Aku akan mencoba melupakan kebodohan yang pernah kau perbuat” Ki Dipanala mengangguk dalam-dalam. Tetapi katanya “Namun perkenankanlah hamba sekali lagi menyampaikan terima kasih putera Pangeran, Raden Juwiring, Kiai Danatirta dan anak gadisnya Arum” Pangeran Ranakusuma tidak menjawab. Wajahnya masih buram, serta tatapan matanya hinggap di sudut yang jauh. Ki Dipanalapun kemudian bergeser surut. Raden Ayu Galihwar itlah yang kemudian berkata “Ber istirahatlah. Jika kau masih terlalu lelah, jangan kau hiraukan lagi apa yang sudah terjadi. Kau sudah diselamatkan sehingga kau wajib mengucap sukur kepada Tuhan. Dan kau t idak per lu mencari keributan lagi dimana-mana dengan mencari orang yang tidak jelas tanda-tandanya” “Baiklah Raden Ayu. Hamba akan melepaskan persoalan ini seperti persoalan-persoalan yang telah pernah hamba jumpai sebelumnya. Sengaja atau tidak sengaja” Sepercik warna merah membayang di wajah Raden Ayu Galihwar it, sedang Pangeran Ranakusuma membelalakkan matanya memandanginya. Tetapi Ki Dipanala menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil bergeser surut. Akhirnya ia turun dari tangga dan meninggalkan pintu ruang dalam.Sejenak ia berdiri sambil menghela nafas dalam-dalam, serasa udara di halaman itu menjadi semakin segar. Ketika ia mengedarkan tatapan matanya di halaman samping itu, dilihatnya Raden Rudira dan Mandra berdir i agak jauh di kebun belakang. Tetapi Ki Dipanala tidak menghiraukannya lagi. Kini ia sudah mendapat kepastian justru karena tingkah laku Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit. Karena itu, kemudian iapun melepaskan kudanya dan menuntunnya ke belakang. Seperti yang diperintahkan oleh Pangeran Ranakusuma maka iapun langsung lewat pintu butulan pulang ke rumahnya di belakang dinding halaman istana Ranakusuman. Sepeninggal Ki Dipanala, maka Pangeran Ranakusumapun masih duduk merenung di tempatnya. Raden Ayu Galihwar it yang duduk di sampingnya tidak berani menegurnya, sehingga dengan demikian keduanya duduk sambil berdiam diri untuk beberapa saat lamanya. Masing-masing dihanyutkan oleh angan-angan yang buram tentang peristiwa yang baru saja terjadi atas Dipanala, tentang anak panah dan tentang usaha Dipanala untuk menemukan orang yang menolongnya dan sekaligus orang yang telah membunuh penyamun itu dengan anak panah. Anak panah yang sebenarnya dapat dikenal langsung oleh Pangeran Ranakusuma. Raden, Ayu Galihwarit menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Pangeran Ranakusuma bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke sudut ruangan. Diambilnya anak panah yang telah dipatah-patahkannya dan sekali lagi diamat-amatinya. “Apakah kau mengenal anak panah ini?“ bertanya Pangeran Ranakusuma kepada isterinya. Raden Ayu Galihwarit termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya “Apalagi aku Pangeran. Aku sama sekali tidak mengetahui ciri-ciri dari anak panah milik siapapun karena aku tidak pernah melihatnya”“Bukan milik orang lain. Tetapi anak panah semacam ini?” Raden Ayu Galihwarit menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku tidak tahu, kamas” Pangeran Ranakusuma memandang isterinya dengan tajamnya. Sebagai seorang Pangeran ia memiliki pandangan yang jauh dan luas, ia mampu mengurai persoalan yang dihadapinya dan kemudian mengambil kesimpulan. Pembicaraan yang singkat dengan Dipanala dan anak panah yang dikenalnya baik-baik itu member ikan gambaran kepadanya, siapakah yang telah merencanakan pembunuhan atas Ki Dipanala itu. Pangeran Ranakusumapun masih dapat mengingat apa yang telah dilakukan oleh isterinya ketika Dipanala akan berangkat ke padepokan Jati Aking. “Itulah sebabnya, ia berusaha memperlambat keberangkatan Ki Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hati. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak tahu pasti, alasan apakah yang telah mendorong Raden Ayu Galihwarit untuk melakukan rencana pembunuhan itu. Setelah merenungi anak panah yang telah patah-patah itu, Pangeran Ranakusumapun berkata “Baiklah. Aku akan beristirahat. Aku akan tidur” “Silahkanlah Pangeran” sahut Raden Ayu Galihwar it. Raden Ayu Galihwarit mengantarkan suaminya sampai ke pintu biliknya. Ketika Pangeran Ranakusuma masuk maka Raden Ayu itupun berdiri sejenak di muka pintu. Kemudian pintu itupun didorongnya dan tertutup rapat. Dengan tergesa-gesa pergi ke ruang dalam. Disuruhnya seorang pelayannya memanggil puteranya Raden Rudira. Dengan gelisah Raden Rudira mendapatkan ibunya yang tidak kalah gelisahnya. Dengan suara yang dalam dan lambat Raden Ayu Galihwarit berkata “Ki Dipanala membawa anakpanah yang bernoda darah. Anak panah yang telah membunuh penyamun itu” “He“ wajah Raden Rudira menjadi pucat. Lalu “ Di manakah anak panah itu sekarang?“ “Ada pada ayahandamu. Ketika ayahandamu menerima anak panah itu, ia menjadi marah dan anak panah itu dipatahkannya” “Apakah ayahanda mengetahui bahwa anak panah itu anak panahku?“ “Mungkin” “Dan ayahanda marah kepadaku?” “Tidak“ Raden Ayu Galihwar it menggeleng. Lalu diceriterakannya apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Pangeran Ranakusuma kepada Ki Dipanala. Raden Rudira menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Jadi ayah justru marah kepada Dipanala?“ “Ya” “Memang Dipanala bodoh sekali. Jika ada orang yang tahu hahwa anak panah itu anak panahku, tentu itu tidak dapat menjadi bukti yang kuat, bahwa aku telah melakukannya. Aku memang sering kehilangan anak panah selagi aku berburu seperti yang dikatakan oleh ayahanda itu” Raden Ayu Galihwarit mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun menjadi agak tenang pula, bahwa anaknya tidak dapat langsung mendapat tuduhan. Tetapi ia masih tetap gelisah tentang dirinya sendiri. Apakah pada suatu saat Dipanala tidak akan membuka rahasianya? Karena itu maka Raden Ayu Galihwaritpun berkata “Tetapi Rudira, bagaimanapun juga Dipanala adalah orang yang paling berbahaya bagi kita sekarang. Tentu ia masih tetapmenuduhmu, karena agaknya Dipanalapun mengenal anak panah itu” “Ia akan segera terbunuh” geramRaden Rudira. “Tetapi biarlah ia menemukan orang yang menolongnya lebih dahulu. Orang itupun cukup berbahaya bagi kita” “Mustahil kalau ia tidak mengetahui siapakah yang menolongnya itu” ”Mungkin petani dar i Sukawati itu” Raden Rudira menggeretakkan giginya. Katanya “Seharusnya Sukawatipun dihancurkan pula. Kumpeni harus mengambil tindakan yang tegas terhadap Pangeran Mangkubumi” “Ssst” desis ibunya “itu bukan persoalanmu. Kangjeng Susuhunan dan Kumpeni tentu sudah membuat perhitungan sebaik-baiknya. Mereka menyadari sikap Pangeran Mangkubumi” “Tetapi tidak boleh terlambat. Jika terlambat, maka semuanya akan menyesal, karena agaknya Sukawati sudah sampai pada persiapan untuk melakukan perang. Perang yang sebenarnya” “Apakah yang dapat dilakukan oleh orang-orang Sukawati untuk melawan senjata kumpeni?“ “Ya“ Raden Rudira mengangguk-angguk pula “Mereka akan ditumpas. Tetapi lebih baik membunuh anak macan daripada menunggu ia menjadi besar dan buas” Ibunya mengangguk-angguk. Tanpa sesadarnya ia berkata “Aku akan berusaha meyakinkan Kumpeni“ Raden Rudira mengerutkan keningnya. Katanya “Ibunda akan meyakinkan mereka?““Ya. Bukankah aku mengenal beberapa orang perwira yang sering berkunjung kemari“ Raden Rudira tidak segera menjawab. Kumpeni baginya adalah orang-orang yang aneh. Ia kadang-kadang merasa bahwa kehadiran kumpeni di Surakarta itu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pr ibadinya. Tetapi kadang-kadang ia merasa bahwa kumpeni itu sangat menyinggung perasaannya. Ia tidak senang melihat ibunya bergaul terlampau rapat dengan mereka. Bahkan kadang-kadang Raden Rudira merasa cemas, bahwa ia akan kehilangan ibunya yang sangat mengasihinya dan memanjakannya. Dan Raden Rudira tidak dapat mengerti kenapa ayahandanya tidak berbuat sesuatu melihat ibunya kadang- kadang hadir di dalam pertemuan-pertemuan tanpa dikawaninya. Betapapun sibuknya ayahandanya dalam keadaan yang gawat akhir-akhir ini, tetapi ia wajib member ikan sebagian waktunya bagi ibunya. Atau jika tidak, ayahandanya dapat melarangnya sama sekali. Tetapi Raden Rudira yang sudah menginjak dewasa itu dapat mengerti juga bahwa ayahandanya memer lukan kumpeni. Untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar di istana, ayahnya memerlukan dukungan. Kini kumpeni ternyata mempunyai pengaruh yang kuat di istana, sehingga dukungan dari kumpeni akan dapat menentukan. Namun setiap kali Raden Rudira memikirkan hal itu, terasa kulitnya meremang. Tetapi ia selalu berusaha menghindarkan diri dar i perasaannya yang kadang-kadang dengan kuat mencengkamnya ”Apakah ayahanda telah mempergunakan ibunda untuk kepentingan dir inya dan apakah agaknya ibunda sendiri merasa bahwa hal itu justru suatu kesempatan baginya?“ Raden Rudira terkejut ketika ibunya berkata “Apakah yang kau renungkan Rudira?““O“ Rudira tergagap “Tidak apa-apa ibu. Tetapi anak panah itu?“ “Anak panah itu sudah di tangan ayahandamu. Dan sudah tentu bahwa ayahandamu tidak akan berbuat apa-apa. terhadapmu” “Apakah ibu yakin?“ “Ibu yakin. Mungkin ayahanda akan bertanya kepadamu. Tetapi sebaiknya kau menghindar untuk sementara” Raden Rudira mengangguk-angguk. Memang masih belum terlintas di kepalanya, untuk mengucapkan pengakuan meskipun kepada ayahnya sendiri. Ia masih akan berusaha untuk melakukan tugasnya sampai berhasil. Dipanala harus mati. Pada saat yang bersamaan, di dada ibunyapun menggeletar semacam keputusan yang pasti “Dipanala harus mat i” Tetapi mereka tidak dapat mengerti, apakah yang sebenarnya dipikirkan oleh Pangeran Ranakusuma. Sambil berbaring ia mencoba untuk melihat kembali apa yang sudah dilakukan oleh isteri dan anak-anaknya, sehingga akhirnya ia sampai pada suatu kesimpulan, bahwa sebenarnyalah Rudira telah melakukannya bersama-sama dengan Raden Ayu Galihwar it. “Aku harus meyakinkannya. Aku harus mendengar sendiri dari mereka pengakuan itu” katanya sambil menghentakkan tangannya. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak bertindak tergesa-gesa. la tidak segera memanggil anaknya selagi ada ibunya. Untuk mendapatkan waktu itu sebenarnya Pangeran Ranakusuma tidak terlampau sulit. Ketika Raden Ayu Galihwar it mengajaknya pergi atas undangan seorang Pangeran yang sedang menyambut kedatangan seorang perwira kumpeni setelah senja, Pangeran Ranakusumaberkata “Aku sedang sibuk sekali. Keadaan menjadi semakin panas. Pergilah sendir i dan katakan, bahwa aku minta maaf karena aku tidak dapat hadir. Aku harus menghadap ke istana” “Apakah kakanda tidak dapat menunda sampai esok pagi?” “Tidak. Aku harus segera menghadap” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak, lalu “Apakah pertemuan itu harus aku hadiri?“ “Bukankah Pangeran juga menerima undangan khusus” “Terlalu mendadak. Seharusnya mereka mengundang aku sehari atau dua hari sebelumnya, sehingga aku sempat mengatur waktu” “Pertemuan ini bukan pertemuan resmi kamas. Sekedar pertemuan di antara beberapa orang terpenting di Surakarta” “Tetapi aku lebih penting menghadap Susuhunan malam ini“ “Kamas Pangeran selalu membiarkan aku pergi sendiri” “Maaf, aku adalah seorang Pangeran yang selalu harus member ikan pertimbangan-pertimbangan yang penting bersama dengan beberapa orang penasehat Susuhunan. Itulah sebabnya aku harus hadir dalam pertemuan-pertemuan khusus” “Baiklah Pangeran“ Raden Ayu Galihwarit memberengut “Aku terpaksa pergi sendiri. Tetapi aku akan kembali segera sebelum terlampau malam” “Bawalah keretanya jika kau perlukan” “Tidak Pangeran. Bukankah biasanya mereka datang menjemput?“ Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi.Namun demikian setiap kali Pangeran Ranakusuma harus menahan perasaannya melihat Raden Ayu Galihwarit itu mer ias dirinya agak berlebih-lebihan, seperti seorang gadis yang terlambat kawin menghadiri peralatan sambil mengharap untuk mendapatkan perhatian dari para jejaka. Sebenarnya di dalam hati kecilnya, ada juga perasaan yang menggelitik hatinya. Namun karena Pangeran Ranakusuma mengharapkan kekuasaan yang terlalu besar di istana Kangjeng Susuhunan, maka kadang-kadang ia menghindarkan diri dari perasaan-perasaan di hatinya itu. Bahkan kadang- kadang ia bersikap t idak jujur kepada dir i sendir i dan berkata “Ia adalah seorang isteri yang setia. Aku member ikan apa yang dimintanya. Tentu ia tidak akan membiarkan orang lain melanggar pagar ayu” Tetapi bagaimanapun juga, Pangeran Ranakusuma tidak dapat menghapus getar yang kadang-kadang mengguncangkan dadanya. Derap kereta yang kemudian membawa Raden Ayu Galihwar it pergi meninggalkan halaman istana Ranakusuman terasa menggetarkan jantung Pangeran Ranakusuma. Meskipun hal itu bukan untuk yang pertama kalinya, namun ia tidak dapat mengingkar kata hatinya meskipun kadang-kadang ia berhasil berpura-pura dan acuh tidak acuh. Ternyata bukan saja Pangeran. Ranakusuma yang memandang kereta itu sampai hilang ditelan pintu regol. Raden Rudirapun memandang dari kejauhan dengan hati yang berdebar-debar. Ibunya selalu pergi dengan atau tidak dengan ayahnya. Meskipun ibunya mengasihi dan memanjakannya, tetapi rasa-rasanya perhatian ibunya terhadap pertemuan- pertemuan, makan-makan dan kegembiraan di antara para bangsawan dan orang-orang asing itu telah merampas sebagian perhatian ibunya terhadap dirinya. “Tetapi pada suatu saat ibunda memer lukan orang asing itu” berkata Raden Rudira di dalam hatinya. Tetapi RadenRudira itu sekedar berpikir tentang dirinya sendiri. Jika orang asing itu dapat dimanfaatkan oleh ibunya, maka hal itupun sekedar untuk kepentingannya sendiri. Raden Rudira hampir tidak pernah memikirkan pergolakan yang terjadi di Surakarta dari sumber persoalannya. Ia melihat Surakarta pada permukaannya saja. Dan ia berusaha untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri tanpa menghiraukan masalah lain yang akan bersangkur paut. Raden Rudira yang sedang merenung tingkah ibunya itu mengerutkan keningnya, ketika seorang pelayan datang kepadanya dan berkata “Raden dipanggil oleh ayahanda” “Ayahanda memanggil aku?“ Rudira menjadi berdebar- debar. “Ya. Ayahanda Raden ada di ruang dalam” Raden Rudira mengerutkan keningnya. Namun ia harus datang menghadap. Dengan dada yang berdebaran Raden Rudira masuk ke ruang dalam. Dilihatnya ayahandanya duduk dengan wajah yang berkerut merut. “Kemarilah” suara Pangeran Ranakusuma datar. Raden Rudira menjadi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah ayahnya yang dingin dan sama sekali tidak memandang kepadanya. Tetapi iapun melangkah semakin dekat dan kemudian berdir i termangu-mangu. Sikap ayahnya itu bagi Raden Rudira adalah sikap yang agak lain dari sikapnya sehari-hari terhadapnya. “Duduklah” desis ayahnya. Raden Rudirapun kemudian duduk dengan gelisah menunggu apakah yang akan dikatakan oleh ayahnya.Tetapi untuk beberapa saat lamanya Pangeran Ranakusuma masih berdiam diri, sehingga Raden Rudirapun menjadi semakin gelisah pula. Akhirnya Raden Rudira tidak dapat menahan desakan di dalam hatinya yang meronta-ronta. Karena itulah maka iapun memaksa dirinya untuk bertanya “Apakah ayahanda memanggil aku?“ Ayahnya menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya. Aku ingin berbicara sedikit” “Apakah yang akan ayahanda bicarakan?“ Raden Rudira memandanginya sejenak. Namun kemudian dilemparkannya pandangannya kembali kekejauhan. “Rudira” berkata ayahanda kemudian ”apakah kau sudah mendengar cer itera yang terjadi atas Dipanala?“ Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Namun iapun menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Ya ayah. Aku sudah mendengar“ Ayahnya mengangguk. Tetapi pembicaraan itupun terputus ketika seorang abdi menyalakan semua lampu di setiap ruangan di dalam istana Ranakusuman. Dari ruang yang paling belakang sampai pendapa dan bahkan regol halaman, melengkapi beberapa buah lampu yang sudah dinyalakan lebih dahulu. Raden Rudira menundukkan kepalanya. Rasanya ia sedang menghadap untuk diadili karena kesalahan yang telah dilakukannya. “Rudira” berkata ayahandanya lebih lanjut “Apakah kau tidak tertarik oleh ceritera itu?“ Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam untuk menenteramkan hatinya. Jawabnya “Ceritera itu menarik sekali ayahanda. Ternyata di daerah Surakarta mulai terjadikerusuhan-kerusuhan sejak beberapa orang bangsawan yang iri hati melihat perkembangan kekuasaan bangsawan yang lain, menarik diri dari pemer intahan di Surakarta” Ayahandanya terkejut dan bertanya “Siapa yang mengatakan kepadamu?“ “Bukankah ayahanda pernah mengatakan?“ “Bukan menar ik diri. Tetapi ada beberapa orang putera Pangeran yang lolos dari kota. Karena itulah maka ayah mereka untuk sementara terpaksa membekukan diri dari pemerintahan karena tingkah anak mereka. Tetapi sekelompok anak-anak muda itu bukan pergi dari rumah mereka untuk merampok” “Tetapi akibat dari kerusuhan yang mereka lakukan, maka ketenteraman menjadi semakin buruk di Surakarta” “Memang hal itu mungkin sekali. Tetapi menurut pendengaranku, mereka sama sekali tidak berbuat apa-apa. Salah seorang dari mereka telah bertapa di lereng pegunungan untuk mendapat pepadang, apakah yang sebaiknya dilakukannya” “Tetapi jika mereka dibiarkan saja berkeliaran di luar kota Surakarta ayah, keadaan pasti akan bertambah buruk. Apalagi jika ayahanda mengetahui keadaan padukuhan Sukawati. Karena itu Kangjeng Susuhunan seharusnya mulai memperhatikan sikap Pangeran Mangkubumi” “Rudira” berkata ayahandanya kemudian “lepas dari setuju atau tidak setuju terhadap tujuan dan cara mereka mencapai tujuan, namun aku masih menaruh hormat kepada mereka, karena mereka adalah anak-anak muda yang bercita-cita. Mereka ikut memikirkan hari depan Surakarta menurut penilaian mereka” “Ayah sependapat dengan mereka?“Ayahnya menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak. Aku tidak sependapat dengan mereka. Tetapi aku menghormati mereka dengan cita-citanya” “Tetapi bukankah ayah berpihak kepada Kangjeng Susuhunan dan Kumpeni, sehingga jika terjadi sesuatu, ayah pasti akan berhadapan dengan siapapun yang melawan kekuasaan Kangjeng Susuhunan di Surakarta?“ Pangeran Ranakusuma menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya. Tetapi aku tetap hormat kepada mereka. Soalnya adalah perbedaan pendapat antara mereka dan aku. Aku tetap setia kepada kekuasaan Raja, dan mereka memer lukan perubahan” Raden Rudira tidak menjawab lagi. Kepalanya terangguk- angguk kecil. “Nah Rudira” berkata ayahandanya “seharusnya kaupun mulai memperhatikan keadaan yang berkembang terus ini. Kau harus mulai menempatkan dir imu dalam sikap tertentu. Bukankah saudara-saudara sepupumu yang sebaya dengan kau sudah mulai bersikap pula?“ “Yang ayahanda maksud, mereka yang meninggalkan kota?” “Ya, dan mereka yang setia. Kau tidak dapat berdiri sendiri di dalam keadaan yang gawat. Kau harus tergabung di dalam suatu kelompok bersama saudara-saudara sepupumu yang sesuai pendir ian dan sikapnya” Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau termasuk anak muda yang memiliki kemampuan. Kau adalah pembidik yang baik. Jika kau masih saja menurut i kata hatimu sendir i, pada suatu saat yang paling gawat, kau akan mendapat kesulitan” Raden Rudira tidak menjawab. Tetapi kepalanya masih terangguk-angguk.“Tetapi j ika berada di antara saudara-saudaramu itu, kau pasti akan mendapat tempat yang baik karena kelebihanmu. Bukankah mereka menyebutmu sebagai pemburu terbaik di antara mereka?“ “Ya ayah” “Nah, karena itu, beradalah di lingkungan mereka agar kau dapat mengikut i perkembangan keadaan secara terus- menerus” Raden Rudira tidak menyahut. Tetapi ia masih agak bingung. Apakah yang dikatakan ayahandanya itu ada sangkut pautnya dengan ceritera tentang Dipanala yang ditanyakannya itu. “Rudira” suara ayahnya tiba-tiba menjadi dalam “karena itu kau jangan terlampau dalam hanyut dalam kepentinganmu sendiri. Dalam pergolakan yang semakin panas ini, setiap keadaan akan menjadi sepercik api yang dapat menyala dan membakar suasana. Pertentangan yang tidak perlu harus dihindarkan. Kita harus dapat mengikat hati rakyat Surakarta, agar mereka tidak mudah dipengaruhi oleh sikap dan usaha yang tampaknya akan menguntungkan mereka” Raden Rudira mengerutkan keningnya. Tetapi terasa debar jantungnya menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya ayahnya sudah mulai mempersoalkan dirinya dan tindakannya atas Ki Dipanala. Dan dugaannya itu tidak salah. Sejenak kemudian ayahandanya berkata “Rudira. Seharusnya kaupun membantu agar rakyat Surakarta menganggap bahwa para bangsawan yang kini berkuasa di bawah perintah Kangjeng Susuhunan Pakubuwana sekarang ini, adalah pelindung rakyat. Dengan demikian kau jangan menyakiti hati rakyat dan orang-orang terdekat yang dapat menimbulkan kesan kesewenang- wenangan” Raden Rudira masih tetap berdiamdiri.“Nah, barangkali kau tahu maksudku. Kiai Danatirta adalah orang yang berpengaruh atas lingkungannya. Kau harus bersikap baik terhadapnya dan terhadap keluarganya” Raden Rudira sama sekali masih belum menyahut. Tetapi jantungnya seakan-akan berdetak semakin cepat. Namun demikian Raden Rudira menjadi heran, bahwa ayahnya mulai dari Kiai Danatirta. Apakah ayahnya tidak akan berbicara tentang Dipanala? “Jika kau berbuat kasar terhadap mereka, Rudira, maka orang-orang di Jati Sari akan mempunyai kesan yang kurang baik terhadap kita. Dengan demikian maka mereka akan dengan cepat dapat dipengaruhi oleh para bangsawan yang menentang kekuasaan Kangjeng Susuhunan” Dengan suara yang dalam Raden Rudira menjawab “Ya ayahanda” Namun ia mengharap agar ayahnya hanya sekedar membicarakan hubungannya dengan Kiai Danatirta. Dan ia mengharap agar itulah yang dimaksud dengan ceritera Dipanala. Mungkin Kiai Danatirta pernah mengeluh kepada Ki Dipanala, atau barangkali persoalan- persoalan lain yang dikemukakan kepadanya. Atau persoalannya sekedar rentetan dari persoalan yang dahulu pada saat ia hampir saja menghukum Dipanala dengan caranya.Namun rasa-rasanya jantungnya berhenti berdenyut ketika ayahnya kemudian berkata “Rudira, kenapa kau sakiti hati Dipanala? Tentu bukan karena sekedar dendam bahwa niatmu membawa anak gadis Danatirta itu gagal” Rudira menjadi semakin gelisah. “Dipanala dan Danatirta mempunyai hubungan yang rapat. Menurut katamu Sukawati sudah menyusun bentuk yang aneh yang menurut dugaanmu adalah suatu persiapan dari usaha mereka menyusun kekuatan. Apakah kau ingin Jati Sari juga membentuk dirinya menjadi padukuhan yang dibayangi oleh rahasia seperti Sukawati? Mungkin Jati Sari tidak mempunyai seorang seperti Adimas Pangeran Mangkubumi. Tetapi orang- orang Jati Sari dapat mencari hubungan dan bergabung dengan mereka” Sekali-sekali Rudira mencoba memandang ayahnya, namun kemudian wajahnya tertunduk dalam-dalam. “Rudira” suara Pangeran Ranakusuma menjadi dalam “Kenapa kau mencoba membunuh Dipanala?“ Pertanyaan itu bagaikan menghentak isi dadanya. Sejenak Rudira menjadi tegang dan bahkan terbungkam. “Kenapa?“ desak ayahnya “Katakan. Kau dan ibumu sudah mencoba melakukan pembunuhan dengan mengupah beberapa orang penjahat. Tetapi karena mereka tidak berhasil, dan justru salah seorang dari mereka tertangkap, maka kau telah membunuhnya” Rudira tidak segera dapat menjawab. Wajahnya bagaikan membeku dalam ketegangan. Dengan mata yang tidak berkedip ditatapnya wajah ayahnya. Namun ketika ayahnya memandangnya iapun segera melemparkan pandangannya dan jatuh pada ujung jari kakinya. “Kenapa?“ desak ayahnya.“Aku, aku tidak melakukan ayah” sahut Rudira tergagap setelah ia memaksa dirinya untuk menjawab. “Rudira, aku bukan orang yang terlampau dungu. Karena itu jangan menipu aku. Kau dan ibumu sudah bersepakat untuk membunuhnya” Raden Rudira masih akan mengingkarinya lagi. Tetapi ayahnya kemudian melemparkan anak panah yang sudah terpotong-potong kehadapan Rudira, sehingga karena itu, maka anak muda itupun telah terbungkam lagi. “Agaknya dendam yang membakar jantungmu sudah kau tiup-tiupkan ketelinga ibumu sehingga ibumu telah membantumu untuk memusnakan Dipanala, meskipun aku agak curiga, bahwa alasan itu terlampau kecil untuk mengambil keputusan untuk membunuh seseorang“ Rudira sama sekali tidak dapat menjawab lagi. Karena itu dengan mulut yang bagaikan terbungkam ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Rudira“ Ia mendengar suara ayahnya “Apakah pantas bagimu dan ibumu, bahwa karena persoalan yang kecil itu, kau sudah memutuskan untuk membunuhnya? Jika masalahnya adalah masalah Arum yang saat itu gagal kau bawa, sama sekali bukan alasan yang kuat untuk membunuhnya. Nah, apakah kau tahu alasan lain yang lebih dapat diterima dengan akal, bahwa Ki Dipanala harus dibunuh?“ Rudira sama sekali tidak menyahut “Rudira“ Ayahnya mendesak “jawablah pertanyaanku. Apakah kau mengetahui alasan lain atau alasanmu sendiri yang lebih mantap agar orang itu dapat dibunuh?“ Rudira masih belum menjawab. “Apakah kau tidak mendengar pertanyaanku, atau kau memang tidak dapat mengatakan apapun juga?““Aku tidak tahu ayah. Aku sama sekali tidak tahu” “Jadi alasanmu satu-satunya adalah karena Dipanala selalu mengganggu niatmu? Hanya itu?“ Rudira mengangguk. “Jika itu Rudira, kau adalah anak muda yang paling kejam dan bengis. Dipanala mempunyai keluarga. Mempunyai anak- anak yang makan karena jerih payahnya. Jika kau membunuhnya, maka anak anak itu akan terlantar, dan kau tidak akan mendapat keuntungan apa-apa karena Danatirta sendiri akan dapat mencegahnya” Rudira tidak dapat menjawab lagi. Dan kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk. “Rudira” berkata ayahnya “seharusnya untuk melakukan hal serupa itu, kau harus minta pertimbangan kepadaku, kepada ayahmu. Masalahnya adalah masalah yang besar. Jiwa manusia. Dan kau agaknya hanya berbicara dengan ibumu. Aku tidak tahu kenapa ibumu dapat menyetujui rencanamu yang bengis itu” Rudira menjadi semakin tunduk. “Kenapa?“ tiba-tiba ayahnya membentak sehingga Raden Rudira menjadi terkejut karenanya. Tetapi ia sama sekali tidak dapat menjawabnya. “Rudira, aku ingin mendengar jawabmu. Sebelum kau menjawab dengan jawaban yang dapat aku mengerti, kau masih harus tetap duduk di situ” Dada Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Hampir di luar sadarnya ia berkata “Ibunda justru menganjurkan aku membunuhnya ayah” “He?” Ayahnya terkejut. Tetapi kesan di wajahnya itupun segera lenyap. Bahkan wajah Pangeran Ranakusuma itu seakan-akan menjadi semakin terang.Raden Rudira yang mencoba memandang wajah ayahnya sekilas menjadi heran Ayahnya tampaknya menjadi tidak marah lagi kepadanya. Bahkan kemudian ia melihat Pangeran Ranakusuma itu tersenyum. Katanya “Jadi ibundamu yang menganjurkan kepadamu agar Dipanala dibunuh saja?“ Raden Rudira menjadi ragu-ragu. Lalu jawabnya “Ya ayah. Ibundalah yang menganjurkan agar aku membunuh Dipanala” “Apakah alasan ibumu?“ “Dipanala dapat mengganggu semua cita-citaku. Ia adalah orang yang berbahaya karena mulutnya berbisa“ Raden Rudira berhenti sejenak, lalu tiba-tiba ia bertanya dengan hati yang kosong “Kenapa ayahanda selalu mendengarkan kata- katanya? Ibunda kadang-kadang. merasakan suatu kejanggalan, seakan-akan Dipanalalah yang menentukan semua keputusan di sini. Ayahanda selalu menuruti pendapatnya, meskipun pendapat itu bertentangan dengan kepentinganku dan kepentingan ibunda” “He?“ Sekali lagi Pangeran Ranakusuma terkejut. Namun kesan itupun segera lenyap pula dari wajahnya. Namun demikian, terasa sesuatu bergetar di dalam hatinya. Bahkan kemudian timbul pertanyaan di dalam dir inya “Apakah Galihwar it mengetahui hubunganku dengan adiknya?“ Tetapi iapun kemudian menjawabnya sendiri “Tentu tidak. Jika demikian tentu bukan Dipanala yang akan dibunuhnya” Sejenak Pangeran Ranakusuma itu merenung. Sekali-sekali dipandanginya kepala Rudira yang tertunduk. Kemudian dilemparkannya pandangannya itu jauh menembus kegelapan di luar daun pintu yang terbuka. Namun dalam ada itu tumbuh pula persoalan di dalam dirinya dibumbui oleh perasaan yang selama ini dicobanya untuk menekan dalam-dalam di dalam lubuk hatinya, apabila ia melihat sikap dan rias isterinya itu agak berlebih-lebihan jikaia pergi mengunjungi pertemuan dan kadang-kadang makan dan minum bersama orang-orang asing itu. Dengan atau tidak dengan dirinya. Bahkan dengan bercermin kepada dir i sendir i, maka t imbul pertanyaan pula “Apakah isteriku juga menyimpan suatu rahasia yang diketahui oleh Dipanala sehingga ia akan membunuhnya?“ Sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma itu mengangguk- anggukkan kepalanya. Katanya kepada anaknya “Rudira. Kenapa kau tidak membicarakan rencanamu itu dengan ayahmu?“ Rudira tidak berani menengadahkan wajahnya, dan sama sekali t idak menjawab. Tetapi kata ayahnya lebih lanjut sama sekali tidak diduganya. “Jika kau membicarakannya dengan aku, mungkin aku akan dapat memberimu jalan sehingga kau t idak akan gagal” Tiba-tiba saja Raden Rudira mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah ayahnya dengan penuh pertanyaan. Tetapi ayahnya itu justru tersenyumkepadanya “Kau tidak percaya?“ Raden Rudira tidak menyahut. Ia masih belum mengerti tangkapan yang sebenarnya dari ayahanda itu. “Rudira” berkata ayahnya kemudian “Kau menjadi bingung?” “Aku tidak mengerti ayahanda, perasaan apakah yang sekarang bergolak di dalamhatiku” “Kau memang sedang bingung. Tetapi baiklah. Dengarlah. Aku akan membantumu jika kau dapat mengatakan alasan, kenapa ibumu menganjurkan kepadamu untuk membunuh Dipanala? Apakah benar bahwa hal itu sekedar karena cintanya dan kasih sayangnya kepadamu? Jika demikian, maka ia dapat mengambil jalan lain. Karena itu, untuk kepentinganmu dan kepentingan ibundamu sendir i Rudira,cobalah, usahakanlah mengerti, apakah alasan ibumu yang sebenarnya” “Apakah aku harus bertanya kepada ibunda?“ “Terserahlah kepadamu. Tetapi hati-hati. Jangan menyakiti hati ibundamu. Ia memang sangat mengasihimu” ayahandanya berhenti jenak, lalu “Jika aku mengetahui alasan yang sebenarnya itu. Maka aku akan menentukan sikap. Jika masalahnya memang pentingi sekali dan wajar, aku akan menolongmu” Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. “Nah, pergilah. Tetapi untuk selanjutnya kau harus berhati- hati. Jangan berbuat sesuatu yang dapat mencelakakan kau sendiri dan dapat menimbulkan kesan yang tidak baik. Jika terjadi sesuatu, dan rakyat yang bodoh itu dapat dibakar, maka kita akan menjadi sasaran pertama apabila kita selalu menyakit i hati mereka” Raden Rudira mengangguk kecil sambil menjawab “Ya ayah. Aku akan mengingat semuanya” Sejenak kemudian maka Raden Rudirapun segera minta diri, sementara ayahandanya masih duduk di tempatnya. Jika Rudira berbasil menemukan alasan ibundanya yang sebenarnya, dan alasan itu benar-benar dapat dimengertinya, maka hal itu pasti akan menenteramkannya. Ia tidak akan selalu dikejar oleh perasaan curiga dan cemas. Ia akan dapat berbuat sesuatu dengan mantap, karena sebenarnyalah Ki Dipanala tidak berguna lagi baginya sekarang. Hubungannya dengan adik kandung Raden Ayu Galihwar it telah berjalan dengan lancar tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali oleh Ki Dipanala. “Jika Galihwarit mengetahuinya dan terlebih-lebih lagi suami adik kandungnya itu, maka keadaan pasti akan bergejolak. Suaminya itu pasti akan menentukan sikap dan barangkali kami terpaksa melakukan perang tanding” berkataPangeran Ranakusuma di dalam hatinya “Tetapi itu tentu memalukan sekali meskipun aku dapat berbuat lebih dahulu dengan bantuan kumpeni” Sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma itupun segera berkemas. Ia memang benar-benar harus pergi ke istana meskipun hanya sekedar untuk mendengarkan perkembangan terakhir dari Kerajaan Surakarta di bawah pemer intahan Kangjeng Susuhunan Pakubuwana. Namun yang semakin lama tampak menjadi semakin suram karena selalu dibayang- bayangi oleh kekuasaan asing yang semakin dalam mencengkeram kekuasaan di Surakarta. Dalam pada itu Raden Rudira duduk termenung di ruang belakang. Tetapi ia selalu saja gelisah karena kata-kata ayahnya. Tetapi tidak seperti yang dikehendaki oleh ayahnya, agar ia dapat mengemukakan alasan ibunya seperti yang dikehendaki oleh ayahandanya, tetapi hatinya justru ditumbuhi oleh kecurigaan. Bahkan setiap kali timbul pertanyaan di dalam hatinya “Apakah benar ada alasan rahasia yang tidak dikatakan oleh ibunda tentang rencana pembunuhan itu? Jika demikian apakah alasan itu dapat langsung aku tanyakan kepada ibunda?“ Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang ibunya yang cantik dan masih tampak selalu muda itu berada di antara orang asing yang meskipun tidak banyak jumlahnya, tetapi cukup mencemaskannya. “Apa saja yang dilakukan oleh ibunda dan kadang-kadang bersama ayahanda di dalam pertemuan-pertemuan serupa itu? Apalagi jika ibunda pergi seorang diri?“ Perasaan kasih seorang ibu kepada anaknya, terasa setiap saat membelai hati Raden Rudira, Namun setiap kali ia selalu dicemaskan oleh tindak dan sikap ibunya. Bahkan kadang- kadang ia tidak rela apabila ibundanya pergi dan duduk didalam sebuah kereta bersama orang asing itu, meskipun kadang-kadang ibunya berkata kepadanya sebelum ia bertanya “Bagi mereka, hal serupa itu adalah menjadi kebiasaan. Mereka bukan orang-orang yang lekas menjadi cemburu seperti kita. Mereka menganggap persahabatan sebagai sesuatu yang harus dihormati, seperti mereka menghormat i diri mereka sendir i. Karena itulah maka tidak seorangpun dari mereka yang berbuat tidak senonoh” Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya “Mereka menghormati persahabatan seperti dirinya sendiri. Dengan demikian mereka tentu akan menghormati keluarga dan ikatan keluarga sahabat-sahabat mereka. Dan merekapun akan menghormati ibunda dan ayahanda, apalagi ayahanda adalah seorang Pangeran“ Meskipun demikian hati Raden Rudira tidak juga menjadi tenteram. Sebagai seorang anak laki-laki yang dewasa, ia dapat membayangkan kemungkinan yang dapat timbul. Tetapi setiap kali terngiang kata-kata ibunya “Mereka menghormati persahabatan seperti dirinya sendiri. Seperti dirinya sendiri” Raden Rudira menar ik nafas dalam-dalam. Ketika ia kemudian berdir i dam melangkah keluar, dilihatnya bayangan lampu obor yang menyala di sudut istananya bergetar oleh angin malamyang lembut. Tanpa maksud tertentu Rudira berjalan saja di halaman di sebelah rumahnya. Dingin malam yang semakin menggigit terasa membuat hatinya agak sejuk. Ketika ia kemudian menengadahkan kepalanya, dilihatnya bintang-bintang gemerlapan di langit yang seakan-akan tanpa batas. Rudira terkejut ketika seseorang menyapanya dari kegelapan. Namun mendengar suaranya yang agak parau, Rudira segera mengenalnya, bahwa orang itu adalah Mandra.“Apakah tuan menghadap ayahanda?“ bertanya Mandra. Raden Rudira menganggukkan kepalanya. “Apakah yang ditanyakan oleh ayahanda tuan kepada tuan ada hubungannya dengan kegagalan kita?“ Sekali lagi Raden Rudira mengangguk sambil menjawab “Ya. Ayah bertanya tentang penyamun itu, tentang anak panah yang ternyata telah disimpan oleh Dipanala, dan kemudian ayah langsung menunjuk hidungku sambil bertanya “Kenapa kau berusaha membunuh Dipanala?“ “Apakah tuan mengiyakan?“ “Sebenarnya aku ingin mengingkar inya seperti pesan ibunda. Tetapi aku tidak berhasil. Ayah mempunyai alasan yang kuat untuk menuduh aku” Mandra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia bertanya “Dengan demikian apakah ayahanda tuan juga menyebut namaku?“ “Tidak” “Tetapi Pangeran Ranakusuma tentu mengetahuinya. Jika yang seorang Raden Rudira, maka yang seorang tentu aku” “Apaboleh buat” “Tetapi, tetapi apakah ayahanda marah?“ Rudira menggeleng. Katanya “Aku harus mengetahui alasan ibunda yang sebenarnya, kenapa ibundapun dengan sangat bernafsu ingin membunuh Ki Dipanala. Akupun mulaimempertimbangkannya, jika tidak ada alasan yang kuat, ibunda tentu tidak akan mengambil langkah demikian” Mandrapun mengangguk-anggukkan kepalanya pula sambil berkata “Ya. Tentu ada alasan yang cukup kuat” “Itulah yang harus aku tanyakan kepada ibunda” Mandra tidak menyahut. Tetapi menurut dugaannya, alasan itu memang dapat saja alasan yang lain, tetapi mungkin juga bagi seorang ibu yang sangat memanjakan anaknya, kegagalan Rudira di Jati Aking, membuatnya marah sekali sehingga hampk di luar sadarnya ia memerintahkan agar orang yang bernama Dipanala itu dibunuh saja. Tetapi tidak mustahil pula bahwa memang ada alasan lain yang cukup kuat bagi Raden Ayu Galihwarit. “Aku memer lukan waktu” berkata Rudira kepada pengiringnya yang-setia itu. “Tetapi tidak terlalu lama. Keadaan kota ini bagaikan bisul yang akan pecah. Dan itu dapat terjadi siang, malam, pagi atau sore” Raden Rudira mengangguk-angguk. Namun katanya “Tetapi kenapa justru ibunda semakin sering pergi dengan atau tidak dengan ayahanda? Kumpeni sama sekali tidak menghiraukan keadaan yang sebenarnya terjadi di Surakarta. Mereka masih saja mengadakan bujana makan dan minum. Justru semakin lama bagaikan orang-orang yang tidak mempunyai persoalan sama sekali selain makan, minum bersenang-senang dan seakan-akan melepaskan semua kekangan nafsunya” “Ya, demikianlah agaknya” Namun ternyata kata-kata Raden Rudira itu telah mengejutkan dir inya sendiri. Tiba-tiba saja kecurigaannya menjadi semakin memuncak. Sekali lagi terngiang kata- katanya sendiri yang seolah-olah begitu saja terlontar darisela-sela bibirnya “Makan, minum, bersenang-senang dan seakan-akan melepaskan semua kekangan nafsunya” “Apakah betul begitu?” Ia bertanya kepada dir i sendir i. Namun pertanyaan yang lain telah membuat hatinya semakin gelisah “Jika tidak, apa saja yang mereka lakukan? Pada suatu saat mereka tentu akan jemu makan dan minum betapa enak dan beraneka macamnya makanan. Tetapi mereka tentu mencar i kepuasan yang lain, tidak sekedar makan minum” Terasa bulu-bulu Raden Rudira meremang. Sekilas terbayang wajah ibunya yang cantik dan masih selalu tampak muda. Pakaian dan r ias yang berlebih-lebihan. “Apakah ayahanda tidak pernah merasa cemburu, atau justru karena dengan demikian ayah akan mendapatkan apa yang dikehendakinya. Jabatan, kekuasaan dan segala macam benda yang selama ini belum pernah kita miliki?“ “Tidak. Tentu tidak” tiba-tiba saja hatinya melonjak “Ayah tentu tidak akan mengorbankan harga dirinya sampai serendah itu. Apalagi ayahanda adalah seorang Pangeran. Jika terjadi sesuatu yang menyimpang dari keterangan ibunda, bahwa mereka menghormat i persahabatan seperti dirinya sendiri, maka ayahanda tentu akan bertindak. Tentu ayahanda tidak akan menjual harga dir inya, berapapun juga mereka akan membeli” Tiba-tiba terasa hati Raden Rudira itu menjadi panas. Ia tidak mau, meskipun sekedar di dalam angan-angan, ibunya akan membagi kasih sayangnya. Ibunya mencintainya dan mencintai ayahandanya. Dan tidak boleh ada sangkutan kasih yang lain pada ibunya, apapun alasannya. Sadar atau tidak sadar, jujur atau tidak jujur. Tetapi Raden Rudira bahkan telah dicengkam oleh perasaan curiga yang amat sangat. Dan perasaan itu bagaikan mengorek dasar hatinya yang manja.Karena itu, maka terbersit suatu keinginan di dalam hatinya untuk sekali-sekali mengetahui meskipun dari kejauhan, apakah yang sebenarnya dilakukan oleh ibunda di dalam pertemuan-pertemuan serupa itu. ”O“ Raden Rudira mengeluh di dalam hati “Apakah aku sudah kehilangan kepercayaan kepada ibunda?“ Tetapi Raden Rudira. tidak dapat menyingkirkan keinginan itu. Bahkan semakin ia mencoba melupakannya, rasa-rasanya bagaikan semakin dalam menghunjam ke dalam jantungnya. Dalam pada itu, pengaruh perkembangan hubungan antara pimpinan pemerintahan di Surakarta dan kumpeni mempunyai pengaruh di dalam kehidupan sehari-har i. Beberapa orang bangsawan dengan tegas menunjukkan penolakan atas pengarus yang semakin besar mencengkam Surakarta, sedang beberapa orang Pangeran yang lain dengan senang hati menerima keadaan itu sebagai suatu karunia bagi mereka yang haus akan kekayaan dan kemewahan yang melimpah- limpah, tanpa menghiraukan kemungkinan apapun yang dapat terjadi atas bangsa dan negaranya. Pertentangan itulah yang bagaikan jalur yang menyelusur dari atas sampai ke bawah. Pengaruh para Pangeran ternyata mempunyai warna tersendiri di daerah palenggahan mereka atau di daerah pengaruh mereka masing-masing. Dan itulah yang menyedihkan. Mereka yang tidak banyak mengerti tentang persoalan yang menyangkut pemerintahan dan hubungannya dengan perkembangan tanah mereka, menjadi terpecah pula. Sebagian dengan sadar menentukan sikap, dan yang sebagian lagi tanpa memikirkan sebab dan akibatnya, langsung saja berpihak. Dalam keseluruhan Surakarta sudah mulai retak. Para bangsawan saling mencur igai di antara mereka. Dan demikian juga rakyat di suatu daerah terhadap rakyat di daerah yang lain. Seakan-akan mereka bukan lagi terdir i dari kesatuanyang selama ini telah bersama-sama membina Surakarta dengan segala kepr ihatinan. Di Jati Aking, udara yang panas itupun sudah terasa semakin. panas. Dengan demikian maka baik Raden Juwiring maupun Buntal telah menempa diri sejauh-jauh dapat dilakukan dengan cara masing-masing. Buntal masih saja mengisi segenap waktunya tanpa mengenal lelah, sedang Juwiring mempergunakan cara yang lebih sederhana namun mempunyai hasil yang cukup mengagumkan. Sedang Arum di bawah bimbingan khusus dari Kiai Danatirta, justru karena ia seorang gadis, meningkat dengan cepatnya pula mengiringi kemajuan kedua saudara angkatnya meskipun mereka adalah laki- laki. Namun sejalan dengan kemajuan mereka di dalam olah kanuragan, maka di mata Buntal, Arumpun berkembang seperti kuncup yang mulai mekar. Baunya yang semerbak dan warnanya yang cerah semakin menumbuhkan kesan yang lain. di dalam dirinya. Tetapi setiap kali ia masih saja harus mengusap dadanya, betapa ia merasa dirinya terlampau kecil. Di antara dirinya dan gadis itu seakan-akan telah berdiri seorang raksasa yang perkasa. Raden Juwiring. Setiap kali Buntal melihat Arum memakai pakaiannya yang paling bagus, yang diterimanya dari Raden Ayu Galihwarit, hatinya menjadi berdebar-debar. Sekali-sekali teringat pula olehnya Raden Rudira yang setiap saat dapat datang ke padukuhan ini atas perintah ayahandanya untuk mengambil gadis itu. Dengan umpan yang tidak ternilai harganya atau dengan kekerasan. Tetapi seandainya Raden Rudira itu tidak datang lagi ke padepokan ini makar di sini masih ada Raden Juwiring. Namun hal itu telah mendorongnya untuk menempa diri tanpa mengenal batas waktu. Kapan saja ia ingin, maka hal itu dilakukannya. Bahkan kadang-kadang di tengah malam, selagi ia terbangun dari tidurnya dan ia tidak berhasil memejamkanmatanya kembali, ma ka iapun kemudian pergi ke tempat yang sepi dan jarang disentuh kaki para penghuni padepokan itu, apalagi di malam hari, untuk melakukan latihan seorang diri. “Meskipun aku keturunan pidak pedarakan, tetapi aku tidak mau kalah dengan keturunan bangsawanan” katanya di dalam hati. Namun apabila kemudian ia sadar, ia menjadi malu sendiri, seakan-akan ia telah memusuhi Raden Juwiring yang bersikap terlalu baik kepadanya. “Gila” desisnya “hatiku sudah dicengkam oleh kuasa iblis yang paling jahat. Tidak demikian seharusnya aku bersikap, di dalam perbuatan dan angan-angan terhadap saudara angkat apabila aku seseorang yang jujur” Namun setiap kali persoalan itu kembali menggelitik hatinya. Adalah suatu hal yang mengejutkannya ketika pada suatu hari Kiai Danatirta telah memanggilnya bersama Raden Juwiring. Dengan wajah yang bersungguh- sungguh Kiai Danatirta itupun berkata “Anak- anakku, ternyata keadaan kini menjadi semakin gawat. Di sebelah Timur telah timbul kegelisahan yang sangat. Mungkin masih belum terasa dari daerah yang aman seperti Jati Sari. Namun kadang-kadang telah terjadi bentrokan yang gawat. Masih sering terjadi kesalah pahaman, sehingga seakan-akan yang terjadi adalah perselisihan di antara rakyat Surakarta. Seolah-olah terjadiperselisihan antara padukuhan jang satu dengan padukuhan yang lain, tetapi tidak demikian yang sebenarnya, Persoalannya jauh lebih dalam dari persoalan padukuhan yang kecil dan barangkali persoalan kerusuhan biasa” Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Apakah sebabnya yang terjadi adalah demikian ayah? Bukankah dengan demikian para petanilah yang menjadi korban tanpa menyentuh sasarannya. Bukankah kerusuhan yang demikian itu tidak akan berarti apa-apa bagi kumpeni?“ Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Jawabnya ”Ya. Jika yang terjadi demikian, memang Kumpeni tidak akan merasa terguncang. sama sekali. Bahkan mereka dapat memanfaatkan bentrokan-bentrokan kecil yang telah terjadi itu. Tetapi bagaimanapun juga yang telah terjadi itu merupakan persoalan. Jika para bangsawan masih saja berbeda sikap dan pendirian, maka hal serupa itu masih saja akan terjadi. Yang parah adalah apabila Kumpeni justru dapat mengambil keuntungan dan meniupkan pertentangan di antara kita menjadi lebih besar lagi” Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan dengan suara yang dalam Raden Juwiring berkata “Dengan menyesal aku harus menyaksikan sikap ayahanda yang condong berpihak kepada kumpeni” "Ya” sahut Kiai Danatirta “Tetapi tanpa sesadarnya. Raden Ayu Galihwaritlah yang telah mendorongnya. Seperti yang dikatakan oleh Ki Dipanala, bahwa pemberian kumpeni yang berlimpah- limpah itu agaknya telah mengaburkan sikap satria yang seharusnya dimiliki oleh para bangsawan di Surakarta” Raden Juwiring mengangguk-angguk. Tetapi wajahnya menjadi semakin buram. Agaknya sesuatu sedang bergejolak di dalam hatinya. “Anak-anakku” berkata Kiai Danatirta kemudian “dalam keadaan yang gawat ini, sebenarnya Surakarta memer lukanseorang yang kuat. Seorang yang dapat berdiri diatas segala kepentingan, sehingga justru tidak terjadi benturan di antara kita sendiri. Dan jauh sebelum semuanya terjadi, kita harus sudah memilih tempat. Dan aku percaya, bahwa Ki Demang di Sambi Sari akan sependapat dengan kita. Sebelum kita semua terlambat, kita harus mengambil sikap, agar apabila banjir bandang melanda Surakarta, kita tidak akan sekedar hanyut dan hilang tenggelam tanpa arti. Kita harus merupakan butir- butir air dalamarus banjir bandang, atau menjadi sebutir debu dari batu karang yang tidak tergoyahkan” Kedua anak-anak muda ku mengangguk-angguk. Mereka mengerti sikap guru dan sekaligus ayah angkatnya. Dalam keadaan yang paling gawat dan menentukan, mereka tidak dapat menunggu. Dan ternyata bahwa Kiai Danatirtapun kemudian berkata “Karena itu anak-anakku, jika kita ingin menentukan sikap, maka kita harus memilih sekarang, juga. Kita sudah dapat menduga, siapakah yang dapat dijadikan sandaran di dalam saat yang paling gawat” Juwiring mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu. Dan Kiai Danatirta berkata selanjutnya “Anak-anakku. Sebenarnya aku ingin mendengar pendapatmu. Yang kita kenal dan pasti, ada dua pihak yang berdir i bersebarangan di Surakarta. Katakaniah, bahwa yang satu pihak telah dipengaruhi oleh kehadiran orang asing itu dan justru membantunya mempersempit kemerdekaan dir i, sedang yang lain berdir i pada atas yang sewajarnya dibumi sendiri. Bukan untuk sesuatu yang berlebih-lebihan. Mereka yang tidak dapat menerima pengaruh yang semakin besar dari orang asing itu tidak menginginkan sesuatu di luar haknya. Mereka hanya ingin agar rumah tangganya tidak terganggu. Dan itu adalah wajar sekali” Wajah Raden Juwiring menjadi semakin berkerut.“Sekarang, menurut pendapatmu, dimana kita harus berdiri? Aku tahu bahwa Juwir ing menghadapi masalah yang cukup berat bagi dir inya sendir i, karena kebetulan ia adalah putera Pangeran Ranakusuma” Wajah Raden Juwiringpun menjadi semakin tunduk. “Karena itu” berkata Kiai Danatirta lebih lanjut “pikirkanlah sebaik-baiknya. Dimanakah kau akan berdir i. Tentu kau tidak akan dapat menjawabnya sekarang. Aku tidak mau kau mengambil keputusan yang tergesa-gesa. Hal ini akan menyangkut masalah yang sangat luas bagimu” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. “Namun sementara itu Juwiring, aku ingin memberitahukan kepada kalian, bahwa aku berniat untuk menghubungi Pangeran Mangkubumi atau orang-orangnya di Sukawati. Aku ingin mendapat penjelasan, apakah yang telah mereka lakukan, karena menurut pendengaranku, mereka telah mempersiapkan diri jika terjadi sesuatu” Juwiringpun kemudian mengangkat wajahnya. Dengan ragu-ragu ia, berkata “Ayah, aku memang menjadi bingung sekali. Tetapi pada dasarnya aku adalah salah seorang yang lahir dan dibesarkan diatas bumi Surakarta. Itulah yang mendorong aku untuk mencintai tanah ini. Meskipun aku wajib mencintai ayah dan ibunda, tetapi apakah salahnya bahwa aku tidak menempuh jalan yang sama seperti yang dilakukan oleh ayahanda Pangeran Ranakusuma. Apalagi seperti ibunda Galihwar it” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun ia masih berkata “Kau tergesa-gesa Juwiring. Jika aku mengambil sikap itu adalah sikap padepokan Jati Aking. Tetapi aku tidak mengharuskan kau bersikap seperti aku. Aku tidak akan marah dan apalagi mengingkari kau sebagai murid dan anak angkatku. Aku menghargai perbedaan pendirian. Jika kita memang harus menempuh jalan yang berbeda, kita akanberjalan diatas jalan kita masing-masing. Tetapi jika kita bersetuju untuk menempuh satu jalan, aku akan senang sekali” “Ayah, aku seolah-olah tidak mempunyai tempat lagi di rumah ayahanda Pangeran Ranakusuma. Karena itu, aku tidak akan dapat berada di dalam lingkungannya” “Apakah itu alasanmu? Sekedar untuk menempatkan diri dalam lingkungan yang baru karena kau kehilangan tempat di lingkunganmu yang lama?“ “Tidak ayah, bukan itu. Tetapi aku merasa bahwa aku tidak sesuai lagi dengan lingkungan ayahanda bukan karena aku disingkirkan, tetapi juga karena sikap ayahanda terhadap Kumpeni dan pengaruhnya” “Jadi bukan semata-mata sebuah luapan dendam terhadap kedudukanmu dalam keluargamu?“ “Sama sekali bukan ayah” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Lalu “Meskipun demikian kau masih mempunyai kesempatan yang panjang untuk memikirkannya” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “sementara itu, hubungan yang aku inginkan dengan Sukawati, akan aku teruskan” Sejenak Kiai Danatirta termangu-mangu. Namun kemudian katanya selanjutnya “Anak-anakku. Aku ingin kalianlah yang pergi ke Sukawati. Apalagi setelah aku mendengar isi hati Juwiring. Sambil berjalan ke Sukawati ia dapat berpikir dan memperbincangkan kedudukannya di dalam lingkungannya dengan kau Buntal. Bersikaplah jujur terhadap diri sendir i, sehingga semua tindakan yang akan kalian lakukan adalah tindakan yang berakar di dalam hati” Kedua anak muda itu tidak menjawab ”Apakah kalian sanggup melakukannya?“ Buntallah yang lebih dahulu menjawab meskipun nada suaranya agak dalam “Tentu kami akan bersedia ayah. Sepertiyang selalu ayah pesankan kepada kami, bahwa tanah yang kami injak, air yang kami minum dan butir-but ir beras yang kami makan adalah bagian dari bumi yang mengandung kami, seperti seorang ibu yang mengandung dan kemudian membesarkan anaknya. Adalah wajib bagi kami untuk berbuat sesuatu terhadapnya sesuai dengan tuntutan keadaan dan kemampuan kami masing- masing” “Bagus Buntal“ Kiai Danatirta mengangguk-angguk “Jika demikian, aku percaya kepada kalian berdua. Kalian adalah anak-anakku yang akan pergi ke Sukawati. Aku sudah tidak sangsi lagi. Jika Pangeran Mangkubumi tidak ada, maka bertemulah dengan orang-orang yang dipercayanya atau Ki Demang di Sukawati” “Bagaimana kami dapat menghadap Pangeran Mangkubumi ayah?” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Dalam keadaan seperti ini, tentu setiap orang mempunyai prasangka terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya. Karena itu, setelah merenung sejenak, maka Kiai Danatirtapun berkata “Kau harus menemukan jalan yang tepat. Jika tidak, kau t idak akan sampai padanya” orang itu berhenti sejenak, lalu “Aku mempunyai seorang sahabat yang tinggal di Sukawati. Aku berharap bahwa iapun ikut di dalam arus pergolakan yang telah terjadi di daerah itu. Menurut pendengaranku, orang-orang Sukawati bukan saja mempersiapkan segala jenis senjata, tetapi merekapun sibuk menyempurnakan ilmu mereka lahir dan batin. Beberapa orang lelah menempa dir i di dalam olah kanuragan. Yang lain mengasingkan dir i di lereng-lereng gunung dan tebing-tebing untuk mendapatkan jalan terang dan petunjuk, namun juga untuk membajakan ilmu mereka dan menyadap kekuatan alam di sekitarnya”Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Sahabatku adalah seorang yang memiliki kemampuan yang cukup. Itulah sebabnya aku mengharap bahwa iapun mempergunakan kemampuan itu untuk kepentingan tanah kelahiran ini” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Orang itu bernama Kiai Sarpa Srana, yang sering disebut orang Kiai Sarpa Ireng. Ia adalah seorang yang menguasai hubungan dengan ular. Seakan ia dapat berbicara dengan segala jenis ular. Ia dapat mempergunakan racun ular untuk kepentingan yaing dianggapnya baik” Kedua anak-anak muda itu mengangguk-angguk pula. “Temuilah Kiai Sarpa Ireng. Katakanlah bahwa kau berdua adalah muridku. Katakanlah apa maksud kedatanganmu. Mudah-mudahan orang itu dapat menolongmu” Juwiring mengangkat kepalanya, lalu katanya “Kami siap melakukannya ayah. Kapankah kami harus berangkat?“ “Jika matahari besok terbit, kalian berangkat dari padepokan ini. Sekarang kalian sempat menyediakan bekal secukupnya. Sukawati tidak terlalu jauh, meskipun bukan jarak yang dekat” “Baiklah ayah. Kami akan berkemas” “Kalian bukan saja harus menyediakan bekal, tetapi juga alat untuk menjaga dir i” “Senjata?“ “Ya” “Pedang maksud ayah, atau tombak” Kiai Danatirta menggeleng. Jawabnya “Bukan senjata yang justru dapat mengundang kesulitan. Bawalah senjata yang dapat kalian sembunyikan”“Pisau?“ “Semacam itu. Kau dapat membawa sebilah keris dan beberapa buah pisau kecil. Bukan semata-mata karena kalian ingin berke lahi. Tetapi keadaan ternyata sangat gawat. Semakin lama semakin panas. Jika karena sesuatu hal, di daerah Sukawati kau bertemu dengan kumpeni yang memiliki senjata yang dapat meledak dan membunuh dari jarak yang jauh, kau dapat melawannya dengan pisau-pisau kecil itu j ika perlu, meskipun jangkau lontaran tanganmu tidak sejauh jangkau peluru” Kedua anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka memang sudah melatih dir i melontarkan pisau-pisau kecil untuk menghadapi lawan pada jarak yang tidak dapat dijangkau dengan tangan. Dan jika mereka bertemu dengan Kumpeni, maka mereka mempunyai senjata yang dapat menyerang mereka dar i jarak yang jauh. Meskipun demikian Buntal masih juga bertanya “Ayah, apakah Kumpeni akan pergi ke Sukawati?“ “Hanya suatu kemungkinan Buntal. Menurut pendengaranku, Kumpeni sangat membenci daerah itu. Jika mereka datang kesana, maka akan mungkin sekali timbul bentrokan karena orang-orang Sukawati juga membenci mereka sampai keujung rambut” Buntal mengangguk-angguk. Meskipun tidak begitu jelas, tetapi ia mendengar juga dari Ki Dipanala atau kadang-kadang justru dari para pedagang yang keluar masuk kota Surakarta, bahwa keadaan memang memanjat semakin panas. “Nah, sekarang kalian dapat beristirahat” berkata Kiai Danatirta “besok pagi-pagi kalian akan berangkat” Kedua anak-anak muda itupun kemudian meninggalkan gurunya yang telah mengangkat mereka menjadi anak- anaknya. Perintahnya memberikan sesuatu yang terasa lain di hati kedua anak-anak muda itu. Jika selama ini merekaditempa untuk melatih dir i di dalam ruangan yang tertutup dan hampir t idak dilihat orang lain, maka kini mereka mendapat tugas untuk pergi keluar dari lingkungan mereka, meskipun tugas itu sekedar tugas yang pendek dan hampir tidak memer lukan kemampuan apapun juga, karena mereka hanya sekedar pergi untuk menemui seseorang seperti jika mereka di har i-hari yang senggang mengunjungi kakek dan nenek di padukuhan lain. Selagi mereka berdua berada di bilik mereka, maka kedua anak-anak itupun mulai berbincang. Meskipun Kiai Danatirta tidak menyebutkan dengan jelas, tetapi mereka sudah dapat menangkap maksud- gurunya menyuruh mereka berdua menghadap Pangeran Mangkubumi atau orang yang dianggapnya berwenang. “Apa yang akan kita katakan?” bertanya Buntal. “Kita akan berterus terang. Kita akan menyerahkan semuanya kepada Pangeran Mangkubumi. Maksudku, kita menyediakan diri untuk melakukan segala perintahnya. Bukankah menurut tangkapanmu juga demikian yang dimaksud oleh ayah?“ “Ya. Tetapi yang siap untuk melakukan segalanya barulah kita di padepokan ini, sedangkan rakyat Jati Sari masih memer lukan banyak persoalan” “Jika Pangeran Mangkubumi menerima penyerahan kita, maka kita akan segera mulai. Tentu rakyat Jati Sari tidak akan dapat menyamai rakyat Sukawati. Tetapi persiapan yang sedikit itu tentu akan banyak membantu menghadapi arus kekuasaan asing di bumi Surakarta. Setidak-tidaknya kita dapat member ikan gambaran siapakah yang akan kita lawan, dan kemampuan yang ada pada mereka. Senjata mereka yang ganas itu dan cara mereka menyerang lawan-lawannya”“Aku kira Pangeran Mangkubumi tidak akan menolak meskipun tentu ada juga kecurigaannya terhadap kita dan padepokan Jati Aking” Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Ya, karena di Jati Aking ada aku. Dan aku adalah Putera Pangeran Ranakusuma. Setiap orang di Surakarta mengetahui, bagaimanakah sikap ayahanda terhadap orang asing itu” Buntal tidak menyahut lagi. Ia tidak ingin mengorek luka itu lebih dalam lagi. Bagaimanapun juga ia dapat merasakan betapa berat persoalan yang dihadapi oleh Raden Juwiring. Di satu pihak, ia merasa ikut bertanggung jawab meskipun hanya seperti setitik air, tahwa Surakarta harus dipertahankan. Bukan hanya sekedar bentuk lahiriahnya saja, tetapi juga kekuasaan dan hakekat dari kekuasaan itu. Tetapi di pihak yang lain, ia merasa wajib juga berbakt i kepada ayahandanya dan menurut perintahnya. Jika ayahandanya memer lukan untuk ikut berjalan diatas jalan yang dibuatnya, maka Raden Juwiring akan berdir i di simpang jalan. Jalan yang ditunjukkan oleh ayahnya dan jalan yang telah diyakininya. Keduanyapun kemudian berdiam diri untuk sejenak. Dan yang mula-mula berkata adalah Juwiring “Sebaliknya kita berkemas. Mungkin kita akan bermalam beberapa malam di Sukawati. Mungkin kita harus menunggu Pangeran Mangkubumi sehar i dua hari” Buntal menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Baiklah. Apakah kita akan membawa pakaian beberapa potong?“ “Ya. Sepotong baju, sepotong celana dan sehelai kain panjang. Itu saja” Buntal mengangguk-angguk. Tetapi seperti kata gurunya, ia harus menyiapkan bukan saja pakaian, tetapi juga senjata. Karena itu, maka Buntalpun kemudian mempersiapkan pisau-pisaunya. Ia masih mempunyai kesempatan untukmencobanya sekali lagi. Di dalam ruang latihannya Buntal mulai berlatih. Selain untuk membiasakan jari-jari tangannya, ia merasa perlu mengisi waktunya yang seakan-akan berjalan terlampau lambat. Hampir ia t idak sabar menunggu malam menjelang pagi. Demikianlah maka akhirnya waktu yang ditunggunya itu datang juga. Malam itu Buntal hanya tertidur beberapa saat saja. Menjelang fajar ia sudah terbangun dan kemudian berwudhuk sebelum melakukan kewaj ibannya sebagai seseorang hamba yang mengakui adanya Tuhan. Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ternyata Juwiringpun telah melakukannya pula dalam waktu yang hampir bersamaan, sehingga sejenak kemudian merekapun segera bersiap untuk melakukan perjalanan yang tidak diketahui apakah yang akan terjadi di sepanjang jalan karena keadaan yang tidak menentu. Mungkin mereka tidak akan menjumpai apapun di perjaianan bahkan mungkin seseorang yang baik hati akan member inya beberapa butir buah kelapa muda. Tetapi mungkin juga mereka akan bertemu dengan segerombolan perampok yang memanfaatkan setiap keadaan untuk kepentingan mereka sendiri, atau mereka akan berpapasan dengan sekelompok peronda yang di antaranya terdapat beberapa orang Kumpeni.Tetapi betapa terkejut kedua anak-anak muda itu ketika tiba-tiba saja pintu bilik mereka itu terbuka. Ketika mereka serentak berpaling dilihatnya seseorang berdiri di muka pintu. “Aku sudah siap. Bukankah kita akan berangkat pagi ini?” “Arum” desis Juwir ing dan Buntal hampir berbareng. “Bukankah kita akan pergi ke Sukawati?“ bertanya Arum. “Kamilah yang akan pergi. Tetapi kau t idak” “Aku juga. Ayah menyuruh kita bertiga pergi di pagi ini” Juwiring dan Buntal saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Juwir ing berkata “Tidak Arum. Tentu ayahmu tidak akan membiarkan kau pergi” “Ayah menyuruh aku pergi bersama kalian ke Sukawati menghadap Pangeran Mangkubumi. Aku tahu benar. Bukankah kita harus lebih dahulu menemui Kiai Sarpasrana dan mengatakan maksud kedatangan kita?“ Sekali lagi kedua anak muda itu saling berpandangan. Arum mengerti per incian tugas mereka, sehingga dengan demikian mereka menjadi ragu-ragu. Apakah benar Kiai Danatirta telah memer intahkan Arum untuk pergi bersama mereka. “Kenapa kalian menjadi bingung. Ayah tidak membedakan aku dengan kalian. Meskipun aku seorang gadis, tetapi aku juga mendapat tuntunan dari ayah dalam olah kanuragan. Aku juga diajarinya melontarkan pisau-pisau kecil jika aku bertemu dengan Kumpeni yang mempunyai senjata yang dapat meledak dan melontarkan sebutir peluru api. Tetapi jika aku mendapat kesempatan, maka pisaukupun mampu membunuh mereka sebelum mereka berhasil meledakkan senjata mereka itu” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Dalam keragu-raguan iapun berkata “Baiklah Arum. Aku akan menemui Kiai Danatirta sejenak.“Buat apa kau menemuinya? Aku sudah minta diri atas nama kalian” “Ah, kau aneh” sahut Buntal “Tentu kita harus mohon diri dan barangkali masih ada pesan-pesannya terakhir sebelum kita berangkat” “Ah, kalian seperti seorang gadis yang mau ngunggah- unggahi. Akulah seorang gadis. Tetapi aku tidak cengeng seperti kalian” “Kau memang aneh Arum. Minta dir i dan mohon restu bukan suatu sikap yang cengeng” sahut Juwiring “adalah wajar sekali jika kita menghadap ayah dan minta diri serta mohon restu agar perjalanan kita selamat. Juga barangkali pesan-pesan terakhirnya, apakah yang sebaiknya kita lakukan dan kita sampaikan kepada Pangeran Mangkubumi agar Pangeran itu yakin bahwa niat kita adalah baik bagi Pangeran Mangkubumi dan bagi bumi Surakarta ini” Arumt idak menyahut. Tetapi ia berdir i saja di muka pintu. “Marilah Arum. Jika memang Kiai Danatirta menyuruh kita bertiga pergi, marilah kita bersama-sama mohon restunya” Arum mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata sambil bersungut-sungut “Pergilah menghadap. Aku sudah minta dir i. Kalian agaknya tidak percaya kepadaku” “Sama sekali bukan t idak percaya” berkata Buntal “Tetapi selain restu, itu adalah kewajiban kami sesuai dengan tata kesopanan kita” “Pergilah, pergilah” Tetapi Arum masih berdiri di muka pintu. Bahkan kemudian ia berpegangan tiang-tiang pintu sambil berkata lebih lanjut “Agaknya kau ingin mendapat bekal uang dari ayah” “Kami tidak memerlukan uang” “Jika demikian buat apa kalian menghadap?““Sudah aku katakan, itu adalah kuwajiban dan tata kesopanan” Arum menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tanpa berkata sesuatu iapun pergi meninggalkan kedua saudara angkatnya. “Apakah ia benar-benar sudah mendapat ijin dari ayah?“ bertanya Buntal. “Itulah yang kita sangsikan” “Tetapi kenapa ia tahu betul tugas yang harus kita lakukan?” “Mungkin ia kemar in mengintip di balik dinding dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Kiai Danatirta” Keduanya termenung sejenak. Namun kemudian keduanyapun tersenyum. “Memang, boleh jadi. Dan itulah kemungkinan yang terbesar” Demikianlah maka kedua anak-anak muda itupun pergi menghadap Kiai Danatirta untuk minta diri karena langit sudah menjadi semakin terang. Sebentar lagi matahari akan merayap naik ke atas bukit. Dan haripun akan menjadi semakin siang karenanya. Setelah mereka mohon dir i, maka Juwiringpun kemudian bertanya “Apakah ayah memerintahkan Arum untuk pergi bersama dengan kami?“ “Arum“ kening Kiai Danatirta menjadi berkerut-merut. “Ya ayah” “Tidak. Aku tidak menyuruhnya pergi. Tentu tidak. Ia searang gadis meskipun ia mampu menjaga dir inya. Apalagi dalam keadaan yang gawat dan panas ini”Kedua anak muda itu saling berpandangan. Sebelum salah seorang dari mereka menjawab, Kiai Danatirta sudah bertanya “Apakah Arum mengatakan demikian?“ “Ya ayah. Bahkan Arum sudah siap dengan pakaian yang sering dipergunakan untuk ber latih” Kiai Danatirta merenung sejenak, lalu “Dimana anak itu sekarang?” “Ia masih ada di dalam” jawab Juwir ing. “Panggillah ia kemari” Juwiringpun kemudian meninggalkan ruangan itu. Sejenak kemudian ia telah kembali bersama Arum. “Duduklah Arum” berkata Kiai Danatirta kemudian dengan nada yang datar. Arumpun kemudian duduk sambil menundukkan kepalanya. Tetapi sekilas tampak bahwa wajahnya menjadi buram. “Arum” berkata ayahnya kemudian “Apakah kau akan mengikut i kedua kakakmu pergi ke Sukawati?“ Arum mengangkat wajahnya sejenak. Tetapi wajah itu kemudian tertunduk lagi. “Kedua kakakmu mengatakan bahwa kau justru sudah siap untuk berangkat dan apakah aku telah menyuruhmu?“ Wajah Arum menjadi semakin muram. Sambil bersungut- sungut ia berkata “Ayah tidak adil. Kenapa hanya anak laki-laki saja yang boleh pergi ke Sukawati? Ayah tidak memanggil aku dan menyuruh aku pergi bersama dengan kakang Juwiring dan Buntal” “Untunglah bahwa kakakmu datang memberitahukan kepadaku bahwa kau akan ikut serta, bahkan katamu, akulah yang menyuruhnya” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Arum. Jika ayah tidak menyuruhmu, tentu ayah mempunyai alasan. Bukan ayah membedakan murid-muridnya di dalamolah kanuragan, tetapi menurut kodratmu kau adalah seorang gadis. Adalah tidak pantas jika kau ikut menempuh perjalanan ini. Selain jalan yang akan dilalui oleh kedua kakakmu itu masih merupakan sebuah daerah yang gelap karena kita tidak tahu apa yang akan mereka jumpai, adalah juga tidak pantas jika kau pergi bersama mereka. Setiap orang di padepokan dan padukuhan ini mengetahui, bahwa kedua anak muda itu sebenarnya bukan saudaramu yang sesungguhnya” “Ah apakah salahnya aku berjalan bersama kedua saudara angkatku? Aku menganggap mereka seperti sudaraku sendir i. Benar-benar seperti saudara kandung” Arum memandang ayahnya sejenak, namun kemudian kepalanya tertunduk lagi. Namun ia masih berkata “Dan seandainya jalan yang akan dilalui itu gawat, apakah jalan itu dapat membedakan antara seorang laki- laki dan perempuan? Jika jalan itu gawat bagiku, maka jalan itu gawat juga bagi kedua kakakku. Atau barangkali ayah menganggap bahwa kemampuanku lebih rendah dari kemampuan kedua kakakku? Jika demikian, ayahpun tidak adil pula” “Ah, pikiranmu selalu bergeser jauh dari persoalan yang sebenarnya sedang kita bicarakan. Bagaimanapun juga bahaya bagi seorang gadis menurut kodratnya adalah lebih besar bagi seorang laki-laki. Jika seorang laki- laki batas bencana bagi dirinya adalah mati, maka bagi seorang gadis masih ada lagi bencana yang lebih jahat dari itu, bencana yang akan menyiksa sepanjang umurnya” “Aku mengerti ayah, tetapi aku tidak akan menyerahkan diriku untuk mengalaminya, karena aku akan memilih mat i” ”Kadang-kadang yang terjadi bukan yang kita pilih Arum” “Apakah aku harus menyerah sebelum berbuat sesuatu?” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Anaknya memang keras hati. Jika ia sudah mempunyai niat yang mantap, maka sulitlah untuk menahannya. Jika karenaterpaksa Arum dapat dicegah, namun ia akan mencari arah pelarian dari kekecewaannya. Kadang-kadang dengan t ingkah laku yang berbahaya. “Jadi, bagaimanakah sebenarnya niatmu Arum?“ bertanya Kiai Danatirta kemudian. “Sudah jelas ayah. Aku akan ikut pergi ke Sukawati” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Hatimu terlalu keras Arum. Sekeras batu karang” “Aku hidup disela-sela batu karang yang keras ayah. Karena itulah jiwaku terbentuk sesuai dengan lingkunganku” “He, siapakah yang mengatakan kepadamu?“ Arumt idak menjawab. Tetapi tampak diwajahnya, bahwa ia sama sekali tidak ingin mengurungkan niatnya. “Arum” berkata ayahnya kemudian “Apaboleh buat, jika kau memang berkeras untuk pergi. Tetapi aku mempunyai beberapa syarat” “Apakah syarat itu ayah?“ “Kau tidak boleh mengganggu tugas kakak-kakakmu” “Apakah aku sering mengganggu mereka?“ “Aku belum selesai Arum, Maksudku, karena kau seorang gadis yang hampir t idak pernah melihat daerah yang agak jauh, kau jangan memburu kesenanganmu sendiri. Kau jangan membiarkan kedua kakakmu mengikuti keinginanmu untuk melihat-melihat daerah yang baru bagimu. Mungkin tanah pegunungan yang hijau, sungai yang bening dan hutan-hutan perburuan dengan binatang-binatangnya yang liar tetapi memikat” Arum menganggukkan kepalanya. “Dan masih ada syarat lagi “Arum mengangkat wajahnya yang menjadi tegang. “Sebaiknya kau memakai pakaian seorang laki-laki sepenuhnya. Itu lebih baik bagimu dan bagi perjalananmu. Hindarilah sejauh mungkin orang-orang padukuhan ini meskipun kita mengharap, agar mereka tidak mengenalmu dalam pakaian yang tidak pernah kau pergunakan keluar rumah itu” Arum menarik nafas dalam-dalam. “Masih ada lagi. Sebaiknya kau tidak berbicara di antara orang banyak, agar mereka tidak segera mengenalmu sebagai seorang gadis” Arum menjadi bersungut-sungut. Katanya seperti kepada diri sendir i “Ternyata bahwa laki-laki mempunyai kesempatan lebih banyak dari seorang perempuan” “Tidak Arum. Bukan itu maksudku“ “Ternyata aku harus menjadi seorang laki- laki. Kenapa aku tidak boleh bersikap dalam keadaanku yang sebenarnya?“ ”Jangan sekarang. Mungkin dalam keadaan yang lain” Arum masih saja bersungut-sungut. Tetapi iapun kemudian berkata “Jika demikian kehendak ayah, apaboleh buat. Tetapi aku akan ikut serta” “Bagus” gumam Kiai Danatirta, namun kemudian “Tetapi ambillah jalan yang lain dari jalan yang biasa kalian lalui. Kalian dapat mengambil jalan belakang padepokan ini dan menyusur jalan sempit itu sehingga kalian akan turun ke bulak panjang. Mudah-mudahan tidak banyak orang yang berada di sawah dimusimbegini” Demikianlah maka Arumpun segera berkemas dan berpakaian sepenuhnya seperti seorang laki-laki. Dengan ikat kepalanya menutup rambutnya yang panjang, yang dilipatnya di bawah ikat kepalanya itu.Juwiring dan Buntal tersenyum-senyum melihat Arum dalam pakaian laki- laki itu. Namun mereka terpaksa menyembunyikan senyumnya ketika Arum bergeremang “Aku tidak mau. Jika kakang berdua mentertawakan aku, aku tidak jadi” “Itu lebih baik” sahut Juwir ing. “Maksudku, aku tidak jadi memakai pakaian ini. Aku akan memakai pakaianku yang paling baik, yang aku terima dari Surakarta. Biar saja ayah marah. Aku t idak peduli” “Ah, jangan merajuk. Cepatlah. Hari sudah semakin siang. Kita akan kepanasan di perjalanan” “Aku tidak takut kepanasan. Nah, ini suatu bukti bahwa tidak selalu seorang perempuan lebih lemah dari laki-laki” Juwiring dan Buntal menahan senyum di bibir mereka. Namun Juwir inglah yang kemudian berkata “Sudahlah Arum. Marilah. Aku tidak mentertawakan kau lagi” Ketiganyapun kemudian sekali lagi minta dir i. Kiai Danatirta hanya dapat mengusap dadanya melihat anak perempuannya itu berjalan di antara kedua saudara angkatnya. Sikap Arum memang lebih mirip seorang anak laki-laki dalam pakaiannya itu, sehingga tentu banyak orang yang tidak dapat mengenalnya lagi. Bahkan mungkin gadis-gadis kawannya bermainpun tidak akan dapat segera mengenalnya. Ketika matahari hinggap di punggung pebukitan, ketiga anak-anak muda itu keluar dari regol butulan padepokannya diantar oleh Kiai Danatirta sampai kejalan sempit di sebelah luar dinding halaman, sambil memberikan pesan-pesannya. Dengan langkah yang tetap ketiganyapun kemudian berjalan semakin lama semakin jauh, menyusup di bawah bayangan dedaunan yang tumbuh di sebelah menyebelah jalan.Ketika ketiga anak-anak muda itu telah hilang di balik kelokan jalan, maka Kiai Danatirtapun menar ik nafas dalam- dalam. Di dalam hatinya ia bergumam “Anak yang keras hati, sekeras hati ibunya. Mudah-mudahan ia tidak memilih jalan yang sesat seperti jalan yang dilalui ibunya itu, sehingga yang terjadi adalah sebuah malapetaka” Namun seperti yang pernah terjadi, dada Kiai Danatirta menjadi berdebar-debar jika ia mengenangkan dua orang anak muda yang tinggal bersama di padepokannya. Dua anak muda yang memiliki sifat yang berbeda justru karena atas tempat mereka berpijakpun berbeda pula. Tetapi kedua- duanya memiliki kelebihan mereka masing-masing di samping kelemahan yang wajar terdapat pada setiap orang. “Mudah-mudahan tidak akan pernah timbul persoalan di antara mereka bertiga justru karena salah seorang dari mereka adalah seorang gadis“ gumam Kiai Danatirta di dalam hatinya. Dengan kepala tunduk orang tua itupun masuk kembali ke halaman samping padepokannya dan berjalan melintasi sebuah petamanan yang sempit. Akhirnya segalanya harus dipasrahkan kepada Tuhan Yang Suci. “Kemanakah mereka pergi Kiai?“ bertanya seorang cantrik. Kiai Danatirta berpaling. Dilihatnya cantriknya yang setia berdiri di belakangnya. Seorang yang telah mendekati usia setengah abad. “O” sahut Kiai Danatirta “Mereka pergi melihat-lihat daerah di luar padepokan ini. Mereka harus mempunyai gambaran tentang kehidupan di alam yang luas. Bukan selalu hidup dan melihat kehidupan yang sempit di padepokan ini saja” Cantrik itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Memang pengalaman itu sangat perlu. Tetapi kenapa justru saat ini?““Kenapa dengan saat ini?“ bertanya Kiai Danatirta. “Kiai” jawab Cantrik itu “hampir setiap orang mempersoalkan keadaan yang berkembang masa kini. Rasa- rasanya kota Surakarta telah dipanggang diatas bara yang semakin lama menjadi semakin panas” “Tetapi mereka tidak akan pergi ke kota cantrik. Mereka akan menyelusur i desa yang satu ke desa yang lain. Aku sudah menunjukkan kepada siapa mereka harus datang dan apakah yang harus dikatakannya” Cantrik itu mengangguk-angguk pula. Namun ia masih menjawab “Tetapi udara yang panas itu telah memanasi padesan dan padukuhan di daerah ini, Kiai, jalan yang semula aman dan tenteram, semaki lama menjadi semakin gelisah karena hal-hal yang tidak jelas” Kiai Danatirta tersenyum, katanya “Itulah yang sedang dilihat oleh anak-anak itu cantrik?“ Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Sebenarnya hal itu terlampau berbahaya bagi mereka Kiai. Mereka masih terlampau muda dan belumberpengalaman” Sambil menepuk bahu cantrik itu Kiai Danatirta berkata “Terima kasih cantrik. Kau sangat memperhatikan mereka. Mudah-mudahan mereka selamat. Tetapi sekali-sekali mereka memang harus berlatih menjelajahi daerah ini. Mengenal lingkungan di sekitarnya dan menghayati perjalanan yang kadang-kadang sulit” Cantrik itu masih mengangguk-angguk. “Nah, kembalilah kepada pekerjaanmu. Akupun akan pergi ke sawah. Karena kedua anak-anakku itu tidak ada di rumah, akulah yang harus membuka pematang untuk mendapatkan air” “Bukankah aku dapat juga pergi Kiai?““Kau mempunyai tugasmu sendiri” Cantrik itupun kemudian pergi ke belakang. Digapainya kapaknya dan iapun melanjutkan kerjanya, membelah kayu bakar. Dalam pada itu, ketiga anak muda dari padepokan Jati Aking itupun telah melintasi parit dan turun kejalan yang lebih besar. Untunglah tidak banyak orang yang mereka jumpai, sehingga mereka tidak perlu menjawab pertanyaan- pertanyaan mereka, karena semua orang di Jati Sari dan sekitarnya sudah mengenal mereka sebagai anak-anak angkat Kiai Danatirta. Apalagi merekapun mengetahui, bahwa Raden Juwiring adalah putera seorang Pangeran. Seorang yang masih harus diagungkan dan dihormati meskipun Juwiring sendiri sama sekali tidak menghendakinya. Ternyata pula bahwa Arum tidak menarik perhatian mereka justru karena mereka t idak menyangka sama sekali. Perjalanan itupun kemudian menjadi semakin laju ketika mereka keluar dari daerah yang telah mengenal mereka. Daerah yang telah mengenal mereka. Daerah yang masih agak asing bagi Arum, meskipun kadang-kadang ia ikut ayahnya pergi kekenalan-kenalannya di padesan di sekitar Kademangan Jati Sari. Orang-orang yang berpapasan dengan ketiga anak-anak muda itu sama sekali tidak mengira, bahwa seorang dari mereka adalah seorang gadis. Dalam pakaian laki- laki Arum memang benar-benar seperti seorang laki- laki. Langkahnya yang tegap dan tandang geraknya yang cekatan. Hanya apabila ia berbicara, maka suaranyalah yang terutama memperkenalkannya bahwa ia adalah seorang gadis. Kadang- kadang juga kenianjaannya dan wajahnya yang berubah- ubah. Kadang-kadang ia tersenyum, bahkan tertawa. Tetapi hampir tanpa sebab ia memberengut dan bersungut-sunguit. Tetapi Juwiring dan Buntal yang sudah bergaul lama dengan Arum, sudah mengenalnya dengan baik. Karena itu,mereka hampir t idak terpengaruh karenanya. Dibiarkannya Arum bersungut-sungut ketika ia melintasi par it yang kotor dan melemparkan bau yang tidak sedap di hidungnya. Tetapi ia tertawa karena ia melihat seorang anak kecil yang duduk diatas punggung kerbau yang digembalakannya. Ketika mereka kemudian melintasi jalan sempit di sebelah sebuah hutan perburuan yang tidak begitu lebat, maka Arumpun bertanya “Apakah kita tidak dapat menyusup lewat hutan ini?“ “Mungkin kita akan dapat sampai pula. Tetapi aku masih menyangsikannya” sahut Juwir ing. “Marilah kita coba. Kita masuk ke dalam hutan ini. Jika kita mengetahui arahnya, kita akan dapat menyelusur sampai ke tepi di sebelah lain” “Ah“ Buntallah yang kemudian menjawab “Bukankah ayah sudah berpesan, jangan menuruti kesenangan sendir i” “Tetapi aku tidak berbelok dari tugas yang aku bawa. Aku tetap pergi ke Sukawati. Aku hanya ingin berjalan di dalam hutan perburuan yang belum pernah aku lihat” “Binatang buruan adalah binatang yang memikat“ sela Juwiring. “Tergantung kepada kita. Jika kita tidak terpikat, kita tidak akan terganggu karenanya” “Lebih baik kia berjalan di luar hutan” berkata Buntal kemudian. “Apakah kalian takut bertemu dengan seekor harimau?“ Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu iapun kemudian bertanya “Apakah kau pernah melihat seekor har imau, Arum?“ “Tentu sudah” jawab Arum dengan serta-merta “di padang perdu, di sebelah padepokan kita, masih berkeliaran beberapa ekor harimau. Di pegunungan yang membujur ke Barat itupunterdapat beberapa ekor yang sering mengganggu padukuhan di sekitarnya karena harimau-harimau itu sering mencuri kambing” “Harimau tutul. Harimau yang agak kecil dibanding dengan harimau gembong yang berkulit loreng” “Kau takut?“ “Bukan takut. Tetapi perjalanan kita dapat terganggu. Kita harus memanjat dan menunggu sampai harimau itu pergi” “Ah, kita akan membunuhnya. Kita bunuh harimau itu dengan pisau-pisau kita. Kita melemparkan bersama-sama tiga buah pisau. Sebuah di pangkal pahanya yang depan, sebuah dikeningnya dan yang lain diarah jantung” Juwiring dan Buntal mengerutkan keningnya. Hampir di luar sadarnya Juwiring bertanya “Kenapa di pangkal pahanya yang depan?“ “Kau bertanya, atau sekedar ingin tahu apakah aku mengerti kata-kata yang aku ucapkan“ “Ah“ Juwir ing tersenyum“kedua-duanya” Arum memandangnya dengan tajam, lalu “Baiklah. Menurut ayah ketika ia menangkap seekor harimau yang berwarna kehitam-hitaman, pangkal paha depan dapat melumpuhkannya. Harimau itw tidak akan dapat lari kencang lagi” “Apakah Kiai Danatirta pernah membunuh seekor harimau?“ “Dahulu ketika aku masih kecil. Kalian belum ada di padepokan” Juwiring dan Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi bagaimana dengan kita?“ t iba-tiba saja Arumbertanya sambil berhenti.“Kenapa kau berhenti?“ bertanya Buntal. “Aku akan menyusup hutan r indang ini” “Ah” “Jika kalian tidak mau, aku akan menembus hutan ini sendiri” “Kau sudah mulai rewel Arum” desis Juwiring. “Terserahlah kepada kalian” Kedua anak muda itu saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka sadar, bahwa Arum memang keras kepala. Jika t idak, ia tentu tidak akan ikut serta bersama mereka. “Jangankan kami” berkata kedua anak muda itu di dalam hatinya “sedang Kiai Danatirtapum tidak dapat mencegahnya” “Apakah kalian akan ikut?“ tiba-tiba saja Arum bertanya sambil melangkah mendekati hutan perburuan itu. Juwiring dan Buntal berpandangan sejenak. Keduanyapun kemudian mengangkat bahunya. “Apaboleh buat” desis Juwir ing. Dengan demikian maka keduanyapun segera melangkah mengikut inya. Bagaimanapun juga hati mereka bergeremang, namun mereka tidak akan dapat mencegah gadis itu lagi. Apalagi sebenarnya keduanyapun mempunyai keinginan betapapun kecilnya, untuk sekali-sekali melihat-melihat daerah perburuan. Kadang-kadang beberapa orang bangsawan memasuki hutan itu dan berburu kijang atau rusa. Meskipun demikian kadang-kadang mereka bertemu juga dengan seekor harimau yang besar. Adalah di luar pengetahuan ketiganya bahwa hutan perburuan itu merupakan hutan yang tertutup. Karena binatang buruan menjadi semakin berkurang, maka hanya para bangsawan sajalah yang kemudian diperkenankanberburu di hutan itu. Dan Juwir ing yang pernah juga berburu, tidak mengetahui bahwa di saat terakhir telah dibuat peraturan serupa itu. Dengan berlari-lar i kecil Arum memasuki hutan yang tidak begitu lebat itu. Hutan yang baginya merupakan tempat bermain yang menyenangkan sekali. Juwiring dan Buntal hanya mengikutinya saja. Jika kemudian Arum hilang dari pandangan mata mereka, merekapun sekedar berteriak memanggil. “Aku di sini” jawab Arum dari kejauhan. “Jangan terlalu jauh. Kau dapat tersesat. Atau jika kita semuanya tersesat, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Tetapi jika kita bersama-sama, tersesat atau tidak, kita tetap bersama-sama” Arumpun agaknya dapat mengerti juga. Karena itu, iapun tidak lagi ber lari-lar i terlalu jauh. “Begitukah caramu berburu Arum” bertanya Juwiring “Jika demikian maka binatang-binatang buruan akan berlar i-larian menjauh sebelum kau sempat melihatnya” “Ah, jangan memperbodoh aku” sahut Arum “Bukankah kita tidak sedang berburu. Jika kita sedang berburu, kita harus mengetahui arah angin. Kita harus duduk didahan beberapa lama, dan jika kita harus menyelusuri jejak binatang, kitapun harus berjalan sangat berhati-hati atau menunggunya didekat sumber air di tengah hari, menunggu saat binatang buruan menjadi haus dan minum di sumber itu” Juwiring dan Buntal mengerutkan keningnya. Tetapi Juwiring segera menyahut “Tentu Kiai Danatirta yang memberi tahukan kepadamu” “Tentu. Jika bukan ayah, siapa lagi?“ Kedua anak-anak muda itu tersenyum.Namun dalam pada itu, ternyata suara mereka yang keras dan bergema di dalam hutan itu jika mereka saling memanggil, telah didengar oleh beberapa orang prajur it yang mendapat tugas merondai hutan itu. Prajurit-prajurit itu harus mencegah jika ada pemburu liar yang mereka sebut mencuri binatang di hutan itu. Itulah sebabnya, maka sejenak kemudian terdengar derap beberapa ekor kuda yang ber lari-lar i di hutan yang r indang itu. Juwiring, Buntal dan Arumpun kemudian terkejut mendengar derap kaki kuda itu. Mereka menyangka bahwa ada seorang bangsawan yang sedang berburu. Karena itu, maka Juwir ingpun berkata “Marilah kita menghindarinya. Aku tidak mau menemui siapapun. Mungkin pemburu itu adalah adimas Rudira, mungkin adimas atau kamas sepupuku atau barangkali pamanda Pangeran siapapun juga” “Kenapa kita harus menghindar?“ bertanya Arum “Aku ingin melihat cara mereka berburu” “Arum, kali ini aku minta dengan sangat. Cobalah mengerti perasaanku. Kau tidak boleh ingkar, bahwa kau mengetahui tentang diriku, bahwa aku adalah putera seorang Pangeran” Arum mengerutkan keningnya. Kemudian iapun menjawab “Apa salahnya jika kau putera seorang Pangeran. Justru mereka akan mengenalmu dan bahkan mungkin mengajak kita untuk ikut berburu” “Ah, kau aneh Arum. Aku adalah seorang putera Pangeran yang seakan-akan telah tersisih. Maka lebih baik bagiku apabila aku tidak berhubungan lagi dengan para bangsawan. Setidak-tidaknya untuk sementara, karena aku merasa dir iku telah terpisah dari mereka” Bagaimanapun juga keras hati gadis itu, tetapi ia melihat kesungguhan membayang di wajah Juwiring. Karena itu maka iapun kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata“Terserahlah kepadamu. Kau adalah saudara yang tertua di antara kami bertiga. Kaulah yang akan menentukannya” “Baiklah” jawab Juwiring “Terima kasih” Ia berhenti sejenak untuk mendengar langkah kaki-kaki kuda yang menjadi semakin dekat. “Kita berhenti saja di sini” berkata Juwir ing kemudian. Ketiganyapun kemudian duduk di bawah sebatang kayu yang besar. Mereka seakan-akan tidak menghiraukan langkah kaki-kaki kuda itu. Biar saja orang-orang berkuda itu lewat. Mereka tidak akan mengganggu. Tidak akan menyapa dan sama sekali tidak akan memperhatikannya. Bahkan Juwiring mengharap agar orang-orang berkuda itu tidak melihatnya, agar mereka bertiga tidak usah menghormati mereka dengan tata cara yang tidak disukainya. Apalagi mereka bertiga memakai pakaian petani yang sederhana. Tetapi ternyata derap kaki-kaki kuda itu menjadi kian dekat. Kadang-kadang berhenti dan kemudian terdengar lagi. Dalam pada itu, orang-orang berkuda yang sedang mencari anak-anak muda itu berusaha untuk mengikuti jejak yang telah mereka ketemukan. Bekas-bekas kaki ketiga anak-anak muda itu tampak pada ranting-ranting perdu yang patah dan rerumputan yang roboh. “Mereka masih berada Di tempat ini” berkata salah seorang dari mereka ”Suara mereka terdengar dari arah ini” “Ya” Suara itu bergema. Sangat sulit untuk menemukan arahnya” “Tetapi kita menemukan jejak kaki yang baru di daerah ini. Kita dapat mengikut i jejak ini dan kemudian menemukan mereka. Ternyata menilik jejaknya, mereka tidak hanya seorang diri.“Ya. Tentu, bukan hanya seorang, karena mereka saling memanggil” Demikianlah mereka maju perlahan-lahan. Selangkah demi selangkah, sehingga para prajur it itupun telah berloncatan dari punggung kuda mereka, agar mereka dapat mengikuti jejak itu dengan saksama. “Kita berpencar” berkata pemimpin sekelompok prajurit yang sedang menyusuri jejak itu. Jika salah seorang dari kita menemukannya, kita akan memberikan tanda-tanda. Di sini jejak itu berpisah. Dan kitapun berpisah” Maka sekelompok prajurit itupun kemudian berpencar. Karena jejak yang mereka ikutipun berpencar. Jejak yang memisahkan dir i itu adalah jejak Arum. Namun jejak itu tidak berpisah terlampau lama. Akhirnya jejak itupun bergabung kembali sehingga para prajurit itupun berkata di antara mereka “Jejak ini menyatu lagi” Pemimpin prajurit peronda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya mencoba memecahkan teka-teki itu Agaknya ia kehilangan binatang buruannya” “Atau karena kawannya memanggilnya. Bukankah lamat- lamat kita mendengar suara mereka memanggil” sahut salah seorang prajurit. Pemimpin kelompok peronda itu mengangguk-angguk pula. Lalu katanya “Baiklah, kita maju terus. Tetapi sebaiknya kita agak menebar” Sambil menuntun kuda masing-masing maka beberapa orang prajurit itupun maju terus. Semakin lama mereka memang menjadi semakin cekat dengan tempat Juwir ing dan adik-adik angkatnya duduk di bawah sebatang pohon yang besar.Seorang prajurit yang berada di paling depan akhirnya melihat ketiga anak-anak muda itu, sehingga karena itu, maka iapun berhenti dan member itahukannya kepada pemimpinnya. Pemimpinnyapun kemudian maju di samping orang itu. Dan dilihatnya tiga orang duduk di bawah sebatang pohon sambil menundukkan kepala mereka. “Hem, itulah mereka” gumam pemimpin kelompok itu. “Ya. Tetapi mereka tidak menunjukkan sesuatu yang mencur igakan. Mereka tidak membawa senjata untuk berburu” sahut seorang prajurit. “Bagaimanapun juga mereka sudah melanggar peraturan. Marilah kita dekati dan kita bertanya kepada mereka, apakah yang mereka car i disini” Maka beberapa orang prajurit itupun kemudian mendekati mereka yang sedang duduk sambil menunduk itu. Juwiring, Buntal dan Arum menyadari, bahwa beberapa orang sambil menuntun kuda mereka, telah berjalan mendekat. Menilik pakaian mereka, maka orang-orang itu adalah prajurit-prahurit Surakarta, sehingga karena itu, maka hati Juwiringpun menjadi semakin berdebar-debar. Beberapa langkah dari tempat ketiga anak-anak muda itu duduk, para prajurit itu berhenti. Sementara itu Juwiring berbisik kepada Buntal ”jawablah pertanyaan mereka” Buntal mengerutkan keningnya. Namun ia mengerti bahwa Juwiringbenar-benar ingin menyembunyikan dir inya, agar ia tidak dikenal oleh para prajurit itu sebagai seorang bangsawan. Karena itu, ketika orang-orang itu mendekatinya, maka Buntallah yang kemudian mengangkat wajahnya. “He, siapakah kalian?“ bertanya pemimpin prajurit itu. “Kami adalah anak-anak padepokan Jati Aking di Jati Sari tuan” “Kenapa kalian ada di tengah-tengah hutan perburuan ini?“ “Tidak apa-apa tuan. Kami hanya sekedar lewat. Kami akan melintasi hutan ini dari sebelah sisi sampai kesisi yang lain. Sebenarnyalah bahwa kami sedang mencar i jalan yang memintas” Pemimpin prajurit itu mengangguk-angguk. Kemudian maka iapun bertanya “Kemana kalian akan pergi?“ Buntal menjadi termangu-mangu sejenak. Sedang Juwiringpun menjadi berdebar-debar. Mereka sama sekali belum mengetahui sikap para prajur it itu. Apakah mereka termasuk orang yang berpihak kepada orang-orang asing itu dan membenci Pangeran Mangkubumi atau sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang bersikap memusuhi kumpeni dan sependapat dengan. Pangeran Mangkubumi Karena itu Buntal tidak segera menjawab. Dipandanginya Juwiring sejenak, tetapi Juwiring masih menundukkan kepalanya. “Kemana kalian akan pergi he?“ Buntal harus segera menjawab. Karena ia tidak mempunyai jawaban lain, maka iapun akhirnya menyahut “Kami akan pergi ke Sukawati tuan” “Sukawati? Kenapa kau pergi ke Sukawati he?“Dada Buntal menjadi kian berdebar-debar. Namun ia menyahut juga “Kami akan menengok kakek kami yang tinggal di daerah Sukawati. Sudah lama kami tidak menengoknya dan kakek kami yang sering datang ke Jati Aking sudah lama pula t idak datang” Prajurit itu mengerutkan keningnya. Meskipun ia sudah lama berada dan menjadi prajurit Surakarta, tetapi ia tidak mengetahui siapakah yang disebut penghuni-penghuni Jati Aking di Jati Sari, karena tugasnya yang berpindah-pindah. Karena itu nama-nama tempat itu sama sekali tidak menar ik perhatiannya. “He, kenapa kalian lewat hutan tertutup ini?” bertanya prajurit itu lebih lanjut. Buntal terkejut mendengar pertanyaan itu, apalagi Juwiring. Namun Juwiring masih saja menundukkan kepalanya meskipun ia ingin bertanya beberapa hal kepada prajurit itu. Untunglah bahwa Buntalpun bertanya pula kepada prajurit itu “Tetapi bukankah hutan ini hutan perburuan? Menurut pendengaranku hutan ini terbuka bagi siapapun juga yang ingin berburu binatang” “Sekarang tidak lagi. Hutan ini hanya diperuntukkan bagi para bangsawan” “O, kami tidak mengerti tuan. Kami mohon maaf. Kami akan segera keluar dari hutan ini. Kami berani memasuki hutan ini karena kami mengira bahwa hutan ini masih bukan hutan tertutup“ “Apa, begitu saja minta maaf dan akan pergi meninggalkan hutan ini?“ bertanya prajurit itu. Buntal mengerutkan keningnya. “Kau sudah berbuat kesalahan. Di dalam keadaan yang panas ini, kami tidak dapat berbuat terlalu baik terhadap siapapun. Dan aku tidak yakin jika kalian adalah anak-anakmuda yang sekedar tidak mengetahui bahwa hutan ini adalah hutan tertutup” “Tuan” berkata Buntal “Kami adalah anak-anak padepokan. Kami sama sekali tidak mengetahui perkembangan keadaan. Kami tidak tahu apakah yang sedang terjadi saat ini dan kamipun tidak tahu bahwa hutan ini adalah hutan larangan. Sehari-hari kami bergulat saja dengan padepokan kami. Sawah dan ladang dan sedikit olah kajiwan” “Aku tidak peduli. Kalian telah melanggar peraturan. Karena itu kalian harus ditangkap” Dada Buntal menjadi semakin berdebar-debar. Demikian juga agaknya Juwiring dan Arum. Arum merasa bahwa ialah yang telah menjerumuskan mereka bertiga dalam persoalan yang tidak mereka sangka-sangka. Tetapi seperti pesan yang diterimanya, bahwa sebaiknya ia tidak berbicara kepada orang lain sehingga tidak segera menimbulkan kecur igaan. Setidak- tidaknya mereka pasti akan bertanya, kenapa berpakaian seperti seorang laki-laki. “Tuan” berkata Buntal kemudian “Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya tuan. Kami benar-benar tidak mengerti, bahwa hutan ini sekarang menjadi hutan tertutup. Menurut pengetahuan kami, hutan ini adalah hutan yang terbuka karena kami pernah juga melihat orang-orang berburu di hutan ini beberapa saat lampau tanpa kami sengaja, ketika kami dalamperjalanan seperti sekarang ini” “Omong kosong” bentak prajurit itu “ikut kami” Buntal menjadi bingung. Karena itu, maka digamitnya Juwiring yang masih menunduk memeluk lututnya. “Jangan membantah perintah kami. Jika di dalam pemeriksaan selanjutnya kalian tidak bersalah, kalian akan kami lepaskan” “Apakah kami akan dibawa ke Surakarta?“ bertanya Buntal.“Tidak. Kalian akan kami bawa ke induk penjagaan hutan ini. Mereka, pemimpin kami yang lebih tinggi, akan menentukan apakah kalian boleh pergi atau tidak” Buntal menjadi termangu sejenak. Jika mereka dibawa pergi ke induk penjagaan hutan ini, dan para prajurit menemukan senjata di dalam tubuh mereka, maka hal itu pasti akan menjadi persoalan yang berkepanjangan. Apalagi di saat-saat seperti sekarang, saat Surakarta dipanggang diatas bara api ketidak pastian. Setiap orang tidak mengerti dengan pasti apa yang sebaiknya dilakukan selain mereka yang sudah bersikap. Karena itu, untuk menemui pemimpin prajurit yang bertugas di hutan perburuan itupun Buntal menjadi ragu-ragu. Jika para prajurit menjadi cur iga dengan senjata-senjata mereka, dengan pisau-pisau yang terselip pada ikat pinggang di bawah baju mereka, maka akan dapat timbul salah paham dengan para prajurit itu. “Cepat“ prajurit itu membentaknya “berdiri dan berjalan ke induk penjagaan itu. Jika kalian memang merasa tidak berbersalah, maka kalian tentu tidak akan berkeberatan. Tetapi jika kalian menolak, kami akan memaksa dengan kekerasan karena itu berarti bahwa kalian memang bersalah” Debar di dada Buntal menjadi semakin keras, Sekali-sekali dipandanginya prajurit-prajurit yang berdiri di sekitarnya dengan sudut matanya, seakan-akan Buntal ingin menjajagi kemampuan para prajur it itu. Namun demikian ia masih sempat juga berpikir, bahwa akibatnya jika ia menolak akan berkepanjangan juga, karena ia sudah terlanjur berterus terang bahwa ia adalah penghuni padepokan Jati Aking di Jati Sari. Selagi Buntal kebingungan, maka sambil menundukkan kepalanya Juwiring berkata “Kita pergi bersama mereka”Buntal termangu-mangu sejenak. Arum yang sudah mengangkat wajahnya, tidak jadi mengucapkan sepatah katapun, karena tiba-tiba-tiba saja ia teringat kepada pesan agar ia tidak berbicara. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Juwiringpun kemudian berdiri meskipun kepalanya masih tetap tunduk. Ditariknya lengan Arumsambil berkata “Marilah” Arum dan Buntal masih tampak ragu-ragu. Tetapi merekapun kemudian mengangguk pula. “Marilah” berkata Buntal kepada prajurit itu. “Jangan berbuat sesuatu yang dapat membuat kalian menyesal“ perintah pemimpin prajur it itu. Ketiga anak-anak muda itu tidak menjawab. “Ikutlah aku“ perintah prajurit itu kemudian baik ke atas punggung kuda masing-masing. Buntal, Juwiring dan Arumpun kemudian berjalan di belakangnya. Tetapi agaknya prajurit itu tidak mau melelahkan kakinya untuk berjalan. Ketika ketiga anak-anak muda itu sudah mengikutinya, maka iapun kemudian meloncat ke atas punggung kudanya. Para prajurit yang lain mengikuti di belakang ketiga anak muda dari Jati Aking itu. Tetapi merekapun segera berloncatan ke atas punggung kuda masing-masing. Buntal memandang para prajurit itu dengan hati yang bergejolak. Namun ketika ia sadar, bahwa ia bersama kedua saudara angkatnya itu berpakaian seperti seorang petani yang sederhana, maka iapun mencoba untuk menenangkan perasaannya. “Betapa rendahnya martabat seorang petani, tetapi sikap itu adalah sikap yang deksura” berkata Buntal di dalam hatinya.Namun ia masih juga berjalan terus bersama kedua saudara angkatnya mengikuti prajurit yang berkuda di hadapan mereka. Kadang-kadang mereka harus berlari- lari kecil dan bahkan berloncatan jika mereka sampai di bawah sebatang pohon tua dengan dahan-dahannya yang berpatahan. Dalam pada itu selama mereka berjalan, Buntal sempat bertanya kepada Juwiring “Bagaimanakah j ika mereka menemukan senjata-senjata kita?“ “Biar lah kita mengatakannya, bahwa senjata-senjata itu sekedar untuk menjaga dir i” “Tetapi senjata-senjata kami bukannya senjata yang biasa dipergunakan oleh orang kebanyakan. Mereka tentu akan bertanya terus-menerus tentang senjata-senjata kita yang pasti mereka anggap aneh” Juwiring mengerutkan keningnya. Ketika sekilas ia berpaling maka diketahuinya bahwa prajurit-prajurit yang membawanya itu belum mengenalnya atau jika ada yang pernah melihatnya, mereka tidak dapat mengenalinya karena pakaian yang dipakainya adalah pakaian seorang petani yang sederhana. “Aku harap mereka percaya” berkata Juwiring kemudian “Jika tidak, kita akan mencari jalan lain” “Melarikan diri? Aku sudah terlanjur mengatakan, bahwa kita adalah anak-anak Jati Aking. Mereka pasti akan mencari kita dan jika mereka tidak menemukan kita, maka Kiai Danatirtalah yang harus bertanggung jawab. Aku yakin bahwa Kiai Danatirta tidak akan berbohong” Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Memang agak sulit untuk memecahkan persoalan yang tiba-tiba saja harus mereka hadapi. Tetapi Juwiring dan Buntal t idak mau melemparkan kesalahan kepada Arum. Bagaimanapun juga mereka harus mempertanggung jawabkan bersama-sama.Hanya Arum sendirilah yang merasa di dalam hatinya, bahwa ia adalah sumber dari kesulitan ini. Bahkan tiba-tiba saja ia berbisik perlahan sekali agar suaranya yang bernada tinggi itu tidak didengar oleh para prajurit “Bagaimanakah jika kita nanti dibawa ke Surakarta?“ Juwiring memandanginya sejenak, namun iapun kemudian tersenyum “Tidak apa-apa. Bukankah sekali-sekali kau ingin juga bertamasya ke Surakarta” “Ah kau“ Arum bersungut-sungut. Namun sebelum ia meneruskan kata-katanya, Juwiring menyahut “Bukan maksudku. Tetapi jika kita terpaksa dibawa ke Surakarta, maka aku mengharap bahwa ada satu dua orang perwira atasan yang mengenal aku, bahwa aku adalah putera ayahanda Ranakusuma. Dengan demikian, maka kita akan dapat bebas dari segala tuduhan, meskipun perjalanan kita terhambat” “Tetapi dengan senjata-senjata kita yang aneh ini?“ “Kita memang ingin berburu” jawab Juwiring “dan aku harap, mereka tidak akan memperpanjang persoalan lagi” Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Juwiring sendiri tidak yakin akan kata-katanya. Meskipun ia putera Pangeran Ranakusuma, maka kumpeni dan para bangsawan yang berpihak kepadanya akan dapat mencurigainya, karena ternyata banyak pula para bangsawan yang menentang mereka. Dalam pada itu merekapun menjadi semakin dekat dengan induk penjagaan hutan itu. Dari kejauhan telah tampak sebuah gardu yang agak besar. Beberapa ekor kuda masih tertambat di pepohonan. Dua tiga orang prajurit duduk di serambi gardu itu sambil berbicara dengan asyiknya. Ketika mereka melihat prajurit berkuda yang di paling depan, maka merekapun segera berdiri. Seorang yang sudahsetengah umur memandang prajurit itu dengan sorot mata yang tajam. “Kami membawa mereka” berkata prajurit itu sambil meloncat dari kudanya. “Siapa?“ bertanya prajurit yang sudah agak lanjut usia “Anak muda yang ser ing mencuri binatang buruan” “Kami tidak pernah mencur i “ Buntal menyahut. “Diam” bentak prajurit itu. “Dimana kau temukan anak-anak itu?“ bertanya prajurit yang sudah ubanan. “Di tengah-tengah hutan ini ketika aku meronda. Mereka mencoba mencuri binatang buruan“ “Tidak“ sekali lagi Buntal menyahut. Namun Juwir ing yang selalu menundukkan kepalanya itupun menggamitnya. Prajurit-prajurit yang lainpun telah berdiri di belakang ketiga anak-anak muda itu. Tetapi mereka masih belum berbuat apa-apa. “Dimana Ki Lurah” bertanya pemimpin peronda itu kepada prajurit yang sudah setengah umur itu. “Di dalam” “Mari ikut aku” bentak pemimpin peronda itu kepada Buntal. “Kemana?“ beritanya Buntal. “Ikutlah” desis Juwir ing. Buntal termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Juwiring berbisik “Katakan bahwa kita memang ingin berburu” -


Jilid 8
BUNTAL mengerutkan keningnya. Dan iapun bertanya perlahan “Berburu atau sekedar untuk membela diri ?“ “Berburu. Katakan bahwa kita akan berburu.“ bisik Juwi- ring “kemudian jangan menolak apapun juga keputusan mereka. Kita berhadapan dengan prajur it2.“ Buntal menganggukkan kepalanya. Tetapi terbayang bahwa ia akan menghadapi kesulitan. “Cepat.“ bentak pemimpin peronda itu “ikut aku.” Buntalpun kemudian melangkah mengikuti pemimpin peronda itu memasuki gardu induk penjagaan hutan perburuan itu. Diruang dalam, seorang prajurit yang bertubuh tinggi tegap duduk diatas sebuah ambin kecil sambil bersandar tiang. Ia berpaling ketika ia melihat pemimpin peronda itu masuk bersama Buntal. “Siapa itu ?“ bertanya prajurit yang tinggi jtegap itu.“Seorang pencuri binatang buruan“ jawab prajur it yang membawa Buntal masuk. Prajurit yang tinggi tegap, yang agaknya adalah perolmpin «liiri seluruh penjagaan hutan itupun kemudian mengerutkan keningnya. Dipandanginya Buntal dengan tajamnya. Lalu katanya “Bawa ia masuk.Suruh ia duduk disitu.“ Prajurit itupun berpaling kepada Buntal dan kemudian menyuruhnya duduk disebuah dingklik kayu yang rendah “Duduk“ Buntal menjadi ber-debar2. Tetapi iapun duduk di dingklik kayu itu. Prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu memandangnya dengan sorot mata yang mendebarkan jantung. Lalu katanya dengan nada yang datar “Jadi inilah orangnya yang sering mencur i binatang buruan itu, sehingga semakin lama binatang buruan dihutan ini menjadi semakin tipis.“ Lalu tiba2 suaranya menyentak “He, kau dari mana?“ “Aku anak padepokan Jati Aking tuan.“ “Jati Aking, Jati Aking“ ia meng-ingat2 “aku pernah mendengar nama itu.” “Jati Aking terletak di padukuhan Jati Sari tuan.“ “Jadi kau anak Jati Sar i? “ “Ya tuan.“ “Kenapa kau mencur i binatang dihutan ini he?“ “Aku tidak mengetahui tuan, bahwa hutan ini merupakan hutan tertutup, sehingga aku sama sekali tidak berniat untuk mencur i. Itulah sebabnya kami bertiga sama sekali tidak berusaha bersembunyi atau melarikan diri ketika para peronda lewat.““Bertiga ? Jadi kau bertiga ?“ “Ya tuan.“ . “Kalian tidak tahu bahwa hutan ini hutan tertutup ?“ “Sungguh tidak tuan.“ “Bohong“ sahut prajurit yang membawa Buntal itu masuk. “hutan itu telah diberi gawar dengan hampir segenggam lawe, berwarna kuning.“ Buntal mengerutkan keningnya. Jika benar hutan itu telah di beri tanda dengan gawar lawe berwarna kuning, maka pelanggaran yang dilakukan adalah pelanggaran yang cukup berat. Tetapi justru diluar dugaannya, prajurit yang bertubuh tinggi tegap itulah yang bertanya kepada prajurit yang membawanya “Apakah gawar itu mengelilingi seluruh hutan ini sehingga setiap lubang masuk telah ditandai “ Prajurit itu mengerutkan keningnya. Jawabnya “Tidak Ki Lurah. Tetapi jalan masuk yang biasa dilalui orang sudah kami tandai.“ Prajurit yang tegap itu meng-angguk2. Lalu iapun bertanya kepada Buntal “Dar imana kau masuk ?“ “Kami semula berjalan menyusur pinggir hutan. Tiba2 saja kami ingin masuk untuk me- lihat2. Seandainya kami digolongkan dengan pemburu2, maka niat kami untuk menangkap binatang buruan, hanyalah tiba2 saja tumbuh setelah kami berada didalam hutan itu.“ Pemimpin prajurit itu bergeser sejengtal, lalu “Jadi apa niatmu sebenarnya?“ “Kami sekedar berjalan dipinggir hutan. Kami sedang dalam perjalanan kerumah keluarga kami, kakek kami yang tinggal di Sukawati.“Pemimpin prajur it itu mengerutkan keningnya. Dan tiba- tiba saja ia bertanya “Apakah orang ini membawa busur dan anak panah?“ Prajurit yang membawanya ter-mangu2 sejenak. Namun kemudian ia menggeleng sambil menyahut “Tidak. Mereka tidak membawa busur dan anak panah.“ Pemimpinnya meng-angguk2. Lalu “Apakah kau hanya membawa keris itu ? “ Buntallah yang menjadi ter-mangu2 sejenak. Lalu “Ya. Aku membawa ker is ini, dan jenis senjata kecil untuk menangkap binatang. Maksud kami apabila diperjalanan kami, kami bertemu dengan binatang2 yang harus kami lawan. Dan mungkin juga ada seekor kijang dipinggir hutan. Namun sebenarnyalah kami t idak tahu bahwa hutan ini merupakan hutan tertutup.“ Pemimpin prajurit itu bergeser lagi. Katanya “Jawabanmu ternyata tidak lurus. Mungkin kau ingin mengatakan bahwa kau benar2 tidak tahu bahwa hutan ini hutan tertutup. Tetapi apakah yang kau maksud dengan senjata2 kecil itu ?“ Buntal menjadi semakin ber-debar2. “Apa ?“ desak pemimpin prajurit itu. Sebenarnyalah Buntal menjadi bingung. Ternyata menjawab pertanyaan prajurit2 itu tidak semudah yang diduganya. Apalagi ia memang tidak siap menghadapi' keadaan serupa itu. “Tunjukkanlah senjata kecil yang kau maksud.“ Buntal tidak dapat berbuat lain. Dibukanya bagian dada bajunya, dan tampaklah beberapa buah belati kecil terselip diikat pinggangnya. Tiba2 saja Lurah prajurit itu melonjak berdiri. Dengan wajah yang tegang ia berkata lantang “Tidak. Kau bukan anakJati Aking. Kau bukan anak seorang petani yang pergi kerumah kakekmu.“ Buntal terkejut sehingga iapun berdir i diluar sadarnya. Tetapi tiba2 saja prajurit itu menghentakkan bajunya dan meraba bagian belakang ikat pinggangnya. Ternyata bahwa pisau kecil itu terdapat diselingkar perutnya. Dengan nada yang berat prajurit itu berkata “Kau bukan pencuri binatang buruan. Kau bukan sekedar ingin mengunjungi kakekmu di Sukawati. Tetapi kau benar2 orang yang pantas dicurigai dalam saat2 seperti ini.“ “Kenapa ?“ bertanya Buntal. “Jarang sekali aku menjumpai jenis2 senjata aneh seperti ini. Hanya orang2 yang khusus, yang memiliki kemampuan lontar yang tinggi sajalah yang membawanya. Dan kau tentu salah seorang daripadanya. Sudah tentu kau adalah perusuh2 yang harus ditangkap“ “Tidak tuan“ Buntal mencoba menjelaskan. Seperti pesan Juwiring, maka ia harus mengaku bahwa senjata2 itu adalah senjata berburu “Kami mempergunakannya untuk berburu tuan. Jika perlu kami dapat membuktikannya. Karena itulah maka kami t idak membawa busur dan anak panah, karena senjata ini adalah ganti dar ipada anak panah itu.“ “Bohong. Apakah kau dapat mendekati binatang buruan sedekat jarak lontaran pisau. ?“ Buntal menjadi agak bingung. Tetapi ia sempat menjawab “Kami harus nyanggong diatas pohon tuan. Jika binatang itu lewat dibawah kami, kami melontarkan pisau kami. Dua buah sekaligus mengarah kepangkal paha, kemudian disusul dengan lontaran berikutnya kearah jantung atau diantara kedua matanya apabila kami berkesempatan menghadapinya.“Lurah prajurit itu mengerutkan keningnya. Ternyata Buntal dapat menyebutkan cara yang baik, meskipun Buntalpun hanya sekedar mendengar keterangan Arum. Namun demikian, tiba2 Lurah prajurit itu memerintahkan kepada prajurit yang membawa Buntal masuk “Bawa yang lain menghadap. Apakah mereka juga membawa senjata serupa ini.“ Buntal menjadi ber-debar2. Tetapi ia tidak dapat berbuajt apa-apa. Bahkan Lurah prajurit itu kemudian memerintahkan “Kau duduk saja disitu. Duduk. Jangan berbuat sesuatu yang dapat mencelakakan dirimu. Pisau2 itu memang dapat berbahaya bagi orang lain. Tetapi tidak bagiku.“ Dada Buntal bagaikan menjadi pepat. Ter-lebih2 lagi ketika ia melihat beberapa orang prajurit yang lain membawa Juwiring dan Arum masuk keruang itu. Dengan wajah yang tegang pemimpin prajur it itu memandang keduanya. Namun ia tidak dapat melihat wajah2 itu dengan jelas, karena keduanya menundukkan kepalanya. “Anak ini juga membawa senjata serupa ?“ bertanya Lurah prajurit itu “bawa ia maju.“ Seorang prajurit mendorong Arum ke-tengah2 ruangan. Dan pemimpin prajurit itu membentaknya Kau masih terlalu muda. Apakah kau ikut juga terlibat dalam kerusuhan2 yang sering terjadi ?“ Arum tidak menjawab. Tetapi keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya. “Kemarilah“ berkata pemimpin prajurit itu. Arum berdiri membeku ditempatnya. “Kau tentu membawa senjata serupa itu“ berkata lurah prajurit itu “buka bajumu.“Perintah itu telah menggetarkan jantung Buntal dan Juwiring. Tentu tidak mungkin Arum harus membuka bajunya dihadapan beberapa orang prajurit itu. “Buka bajumu, cepat“ pemimpin prajurit itu berteriak. Namun Arum masih saja berdir i tegak. Sebagai seorang gadis yang jarang sekali keluar dari padepokannya, maka perintah itu telah membuatnya pucat. “Cepat, apakah aku harus memaksamu ?“ prajur it itu menjadi semakin marah. Meskipun demikian Arum masih tetap berdiri membeku. Ternyata pemimpin prajurit itu tidak sabar lagi. lapun meloncat maju sambil menjulurkan tangannya. Namun selagi tangan itu belum menyentuh baju Arum, Buntal dan Juwiring meloncat hampir berbareng, dan berdiri tepat dimuka Arum. “Jangan tuan“ hampir berbareng pula mereka mencegah. Pemimpin prajurit itu menjadi semakin marah bukan kepalang. Dengan tangan kirinya ia menampar wajah Buntal dan Juwiring ber-ganti2. Namun kedua anak muda yang telah mengalami pem-bajaan diri itu,' hampir tidak tergerak karenanya. “Kau gila. Apakah kau sadar bahwa perbuatanmu ini dapat Menyeretmu kelubang kubur?“ Juwiring dan Buntal tidak menyahut. Tetapi ketika mereka sempat melihat para prajurit disekitarnya dengan sudut mata, maka merekapun melihat ujung2 senjata yang telah terjulur kearah mereka. “Kenapa kau menghalangi aku he?“ bertanya lurah prajurit itu. Juwiringlah yang kemudian membuka bajunya dan berkata “Kami memang membawa senjata serupa ini“Pemimpin prajurit itu memandangi ikat pinggang Juwiring. Seperti ikat pinggang Buntal, maka beberapa buah pisau kecil terdapat pada ikat pinggang itu. “Aku ingin metihat yang seorang itu. Jika kalian berkeberatan, aku akan mempergunakan kekerasan.“ “Tetapi, tetapi“ suara Juwiring ter-putus2. Ia menjadi bingung, bagaimana mungkin ia mencegah lurah prajurit itu membuka baju Arum. “Bawa kedua anak ini menepi“ perintah pemimpin prajurit itu “aku akan melihat, apa yang tersimpan dibawah baju anak yang tampaknya paling muda ini.“ Juwiring dan Buntal menjadi bingung. Ter-lebih2 lagi Arum. Wajahnya menjadi semakin pucat, dan tubuhnya gemetar. Namun demikian didalam hati gadis itu, terbersit suatu tekat, jika mereka memaksa, maka ia akan melawan dengan se- kuat2 tenaganya. Bahkan terngiang ditelinganya kata2 ayahnya “Bagi seorang anak muda, bahaya yang paling pahit adalah mati“ Dan kini Arum mengalami, bahwa sebelum ia sampai pada bahaya yang paling besar bagi seorang gadis, maka yang terjadi mipun sudah hampir membuatnya pingsan. “Aku akan memilih mati.“ waktu itu ia menjawab. Dan ayahnya berkata bahwa kadang2 yang terjadi bukannya yang dipilihnya. Jika saat itu ia menjadi pingsan, maka ia tidak akan dapat memilih mat i itu. Ketika beberapa orang prajurit melangkah maju dan menekan-Vnn ujung pedangnya ditubuh Juwiring dan Buntal, maka t idak ada pilihan lain bagi Juwir ing untuk melakukan usaha terakhirnya.Karena itu, ketika ujung pedang itu menekannya semakin keras, maka tiba2 saja ia menarik ikat kepalanya yang kumal dan sama sekali membuka bajunya. Dengan suara yang bergejtar ia memanggil “Ki Lurah Bausasra.“ Lurah prajurit itu terkejut. Dengan tajamnya ia mengamati Juwiring yang tidak menundukkan kepalanya lagi, dan apalagi kini kepalanya tidak tertutup lagi oleh ikat kepala yang sudah kumal itu sebagaimana kebiasaan seorang petani. “Kau mengenal namaku ?“ “Ya Ki Lurah. Aku mengharap Ki Lurah juga mengenal aku atau se-tidak2nya salah seorang dari kalian.“ Lurah prajurit yang bernama Bausasra itu menjadi ter- heran2. Dipandanginya anak muda yang menyebut namanya itu dengan saksama. Dengan suara yang ragu2 ia bertanya “Siapa kau, siapa ?“ “Pandanglah aku. Adalah kebetulan kita sudah pernah bertemu. Kebetulan sekali kau pernah datang kerumahku, dan kita pernah ber-cakap2. Tentu kau lupa kepadaku, karena kau adalah seorang prajurit yang menunaikan tugasmu tidak disatu tempat. Tetapi aku tidak lupa kepadamu.“ “Siapa, siapa ?“ Bausasra bertanya semakin keras “sebut namamu j ika nama itu dapat mengingatkan aku kepadamu. Namun meskipun kau sudah mengenal aku, itu bukan berarti bahwa aku dapat melepaskan tanggung jawabku sebagai seorang prajurit yang menjaga hutan buruan ini.“ Juwiring menarik keningnya. Sambil meng-angguk2kan kepalanya ia berkata “Kau benar. Meskipun aku mengenal kau dan kau mengenal aku, itu bukan berarti bahwa kau dapat melepaskan tanggung jawabmu. Kau kini sedang bertugas mengawasi hutan bunian ini, dan melarang setiap orang berburu disini. Bukankah itu tugasmu ? Tugasmu sama sekali tidak untuk menangkap orang dalamtuduhan yang lain kecuali melarang peraturan hutan tutupan ini.““Tidak. Aku adalah seorang prajurit. Jika aku menjumpai kesalahan yang lain, apalagi perusuh2, meskipun tidak-sedang berada didaerah tugasku, aku memang wajib menangkapnya. Dan sekarang kalian menimbulkan kecurigaanku karena sikapmu, senjatamu dan itentu ada suatu rahasia yang tersembunyi pada anak yang masih terlalu muda itu.“ “Ki Lurah“ berkata Juwiring kemudian “marilah kita batasi persoalan kita. Kau bertugas dihutan buruan ini. Dan menurut peraturan, para bangsawan diperkenankan berburu dihutan ini. Dan aku pernah melihat Raden Rudira berburu disini.“ “Tentu, apakah yang kau maksud adalah Raden Rudira putera Pangeran Ranakusuma?“ “Ya.“ “Tentu. Raden Rudira boleh berburu, dan ia memang sering berburu kemari.” “Dan aku ?“ Ki Lurah Bausasra menjadi ter-mangu2. Orang yang tinggi tegap itu memandang Juwir ing dengan tajamnya. Kini diamatinya anak muda itu dari ujung kaki sampai keujung rambutnya. “Siapa kau ?“ suaranya menjadi rendah. Juwiring tersenyum. Katanya “Apakah benar2 tidak ada seorangpun yang mengenal aku disini.“ Ki Lurah memandang berkeliling. Beberapa orang prajurit menjadi ter-mangu2. Dan yang lain menggelengkan kepalanya. Tetapi dalam ruang yang tidak begitu luas itu seorang dari antara mereka tiba2 mendesak maju sambil berkata “Maaf, apakah aku boleh berbicara?“ “Apa yang akan kau katakan ?“ “Apakah aku boleh menyebut anak muda ini, meskipun barangkali tidak benar.“Pemimpin prajur it yang tegap itu mengangguk “Sebut namanya.“ “Apakah, apakah tuan berasal dari istana Ranakusuman juga seperti Raden Rudira ?“ perajurit itu justru bertanya. Juwiring tersenyum mendengar pertanyaan itu. Hatinya menjadi agak dingin. Jika ada seorang saja dari antara mereka yang mengenal, maka keadaannya akan menjadi semakin baik. Namun dalam pada itu, pemimpin prajur it yang tegap dan bernama Bausasra itu terkejut. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya “Dari Ranakusuman maksudmu?“ Prajurit itu mengangguk. Jawabnya “Ya. Aku pernah melihatnya dahulu. Sudah agak lama. Tetapi aku masih ingat.“ “Jadi siapa anak muda ini, siapa ?“ Ki Lurah Bausasra menjadi tidak sabar. “ “Kalau aku t idak salah, tetapi kalau tidak salah, bukankah anak muda ini Raden Juwir ing.“ “Raden Juwiring. He? Apakah anak muda ini Raden Juwiring ?“ Juwiring menganggukkan kepalanya. Katanya “Ya Ki Lurah Hausasra. Aku adalah Juwiring, Juwiring dari Ranakusuman. Karena itu aku mengenalmu meskipun kau t idak lagi dapat mengenali aku.“ “O, jadi, jadi?“ Ki Lurah Bausasra agak gugup. “Mungkin pakaianku dan sikapku membuatmu semakin tidak mengenal aku.“ Bausasra mengamati Raden Juwiring dengan saksama. Dan sejenak kemudian ia berteriak “Pergi, semuanya pergi dari ruangan mi. Biarlah ketiga anak2 muda ini tinggal bersama aku.“Para prajurit itupun menjadi ter-mangu2. Pedang yang masih telanjangpun kemudian tertunduk lesu. “Pergi“ sekali lagi. Bausasra berteriak. Beberapa orang prajurit yang ada didalam ruangan itupun kemudian melangkah surut dengan dada yang bcr-debar2. Dan ketika mereka sudah sampai dipintu, maka merekapun ber-desak2an meloncat keluar, se-akan2 ruangan itu menjadi terlampau panas bagi mereka. Ketika mereka sudah ada diluar, maka seorang dari prajurit itu berdesah “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi ? Jika Raden Juwiring itu menjadi marah, maka kita semuanya akan ? kena akibatnya,“ “Aku hampir tidak mengenalnya lagi. Baru ketika ia melepas ikat kepalanya sama sekali dan kemudian menyebut nama Raden Rudira. Bukankah Raden Rudira itu adiknya ?“ “Aku kurang mengerti. Dan barangkah aku memang kurang mengenalnya karena aku hampir tidak pernah bertugas didalam kota Surakarta sendiri. Apalagi aku belum lama menjadi seorang prajur it.“ Prajurit ijtu berhenti sejenak, lalu “tetapi yang aneh adalah Ki Lurah Bausasra. Kenapa ia tidak mengenal putera Pangeran Ranakusuma? Seharusnya ia mengenalinya.“ “Bukan hanya Ki Lurah Bausasra. Sebagian terbesar dari kita harus sudah mengenalnya. Tetapi pakaiannya dan keadaan yang tampak pada lahiriahnya, ia seperti seorang petani biasa. Petani kecil yang sederhana.“ Dan tiba2 seorang prajurit yang sudah beruban dikening menyahut “Bukankah Raden Juwiring sudah beberapa saat tidak berada diistana Ramakusuman ? Adalah benar kata anak muda yang pertama, bahwa mereka adalah anak2 Jati Sari. Raden Juwiring itu tentu berada di padepokan yang disebutnya Padepokan Jati Aking itu.“Prajurit2 itu terdiam sejenak. Tetapi mereka masih tetap berdebat. Pangeran Ranakusuma adalah seorang Pangeran yang berpengaruh diistana, apalagi di-saat2 terakhir ketika orang2 asing menjadi semakin banyak di Surakarta. Namun dalam pada itu didalam ruang dalam, Juwiring berkata kepada Ki Lurah Bausasra sambil tersenyum “Bukan salahmu Ki Lurah.“ “Kami mohon maaf Raden. Kami benar2 tidak mengenal K adai Juwiring. Tetapi tentu Raden Tidak percaya. Aku memang pernah berbicara dengan Raden ketika aku menghadap ayahanda l'angeran Ranakusuma, sebelum aku bertugas ke Timur untuk beberapa lamanya. Setelah aku kembali sampai sekarang, barulah kali ini aku bertemu lagi dengan Raden Juwiring. dan itupun dalam keadaan yang tidak aku duga sama sekali.” Juwiring masih tersenyum. Katanya “Tidak apa2. Aku tahu bahwa kau menjalankan tugas yang dibebankan kepadamu, meskipun barangkali kau tidak sesuai dengan tugas ini.“ Ki Lurah Bausasra menar ik nafas dalam2. Dengan ragu2 ia berkata “Memang Raden. Didalam suasana yang panas ini, setiap prajurit ingin berbuat sesuatu yang besar. Yang bernilai bagi seorang anak Surakarta. Tetapi aku justru mendapat tugas mengawasi binatang buruan. Hanya mengawasi beberapa ekor kijang dan har imau kumbang.“ Juwiring meng-angguk2kan. Katanya “Itu adalah tugas yang dapat diberikan kepadamu sekarang. Mungkin para pemimpin di Surakarta masih belum yakin akan sikapmu, sehingga kau masih belum mendapatkan tugas yang lebih baik dari mengawasi sebuah hutan tertutup.“ Ki Lurah Bausasra menar ik nafas dalam2. Sejenak dipandanginya anak2 muda yang kemudian dipersilahkan duduk diamben bambu.“Mungkin Raden benar“ sahut Ki Lurah “aku memang sudah jauh ketinggalan dari keadaan yang berkembang. Karena itu pula aku tidak mengenal Raden lagi. Sekali lagi kami mohon maaf Raden.“ Raden Juwiring tertawa. Katanya “Jangan kau sebut lagi hal itu. Sebenarnya kami memang tidak bermaksud mengejutkan kalian. Sebenarnyalah kami tidak mengetahui bahwa hutan ini sekarang menjadi hutan tertutup. Jika kau tidak memaksa adikku ini untuk membuka bajunya, maka aku t idak akan menyatakan diriku. Kami masih berusaha untuk dapat membebaskan diri tanpa memperkenalkan diriku yang sebenarnya. Tetapi kecurigaan kalian beralasan. Senjata2 Ini memang senjata yang aneh, yang tidak lazim, dipakai oleh para pemburu Tetapi kami dapat mempergunakannya dengan baik.“ Ki Lurah mengangguk. Tetapi ia bertanya “Siapakah yang Raden maksud dengan adik Raden?“ “Keduanya adalah adik seperguruanku didalam olah kajiwan dan kanuragan. Ssperti yang sudah dikatakan, kami kini tinggal ber-sama2 dipadepokan Jati Aking. Dan adikku yang bungsu ini adalah anak Kiai Danatirta dari Jati Aking. “ “O, aku minta maaf. Aku tidak mengerti. Tetapi penolakan Raden terhadap permintaanku sangat menambah kecurigaanku.“ “Kau benar. Tetapi bertanyalah, siapakah nama anak itu“ Arum termangu-mangu mendengar kata-kata Juwiring. Tetapi iapun kemudian mengerti maksudnya. Karena itu ketika Bausasra memandang kepadanya, ia menjawab “Namaku Arum.“ “He“ mata Bausasra terbelalak karenanya. Dengan suara gemetar ia bertanya “Apakah kau seorang gadis, atau suaramu sajalah yang seperti suara seorang gadis.““Ia memang seorang gadis, meskipun bentuknya seperti seorang anak laki2.“ “O“ keringat yang dingin mengembun didahi Ki Lurah Bausasra “Aku minta maaf yang se-besar2nya. Untunglah disini ada Raden Juwiring.“ Arum tertunduk dalam2. Dipipinya membayang warna semburat merah. Tetapi iapun tersenyum pula seperti Juwiring dan Buntal. “Sudahlah“ berkata Juwiring “marilah kita lupakan saja peristiwa ini. Aku akan segera melanjutkan perjalananku ke Sukawati.“ Ki Lurah Bausasra masih dicengkam oleh kegelisahan. Bahkan kemudian ia berkata “Aku minta maaf kepada kalian semua. Aku benar2 tidak mengerti, bahwa aku berhadapan dengan Raden Juwiring dan kedua adik seperguruannya. Apalagi seorang daripadanya adalah seorang gadis.“ “Bukan salahmu Ki Lurah. Aku tahu, kau dan para. prajurit itu sedang melakukan kuwajibannya. Akupun minta maaf, bahwa aku telah membuat kau dan prajur itmu menjadi sibuk.“ “Tidak. Tidak. Raden tidak bersalah Raden berhak berburu dihutan ini seperti juga Raden Rudira dan putera2 Pangeran yang lain.“ “Terima kasih. Kami tidak ingin berburu.“ Ki Lurah Bausasra mengerutkan keningnya. Namun Juwiring tertawa dan berkata “Mungkin keterangan kami ber- belit2 dan kadang2 saling bertentangan. Jika kalian tidak mengenal kami, maka kalian tentu akan menjadi semakin curiga. Tetapi sebenarnyalah bahwa kami memberikain keterangan yang tidak sebenarnya, karena semula kami tidak bermaksud mengatakan tentang diri kami masing2 yang sebenarnya. Terutama aku sendir i, sehingga kami mencobauntuk men-car i2 alasan, sehingga dengan demikian keterangan kami menjadi ber-belit2.” Ki Lurah Bausasra tidak menyahut. Dan Raden Juwiring berkata selanjutnya “Tetapi sebenarnyalah kami hanya ingin lewat Kami akan pergi ke Sukawati.“ Ki Lurah Bausasra meng-angguk2. “Oleh guru kami, kami dibekali dengan senjata2 kecil ini. Justru karena keadaan semakin lama menjadi semakin kisruh dan tidak menentu.“ Ki Lurah Bausasra masih meng-angguk2. “Kami sengaja tidak membawa senjata yang menyolok selain keris dan pisau2 belati kecil ini. Senjata2 ini dapat sekedar melindungi dir i kami apabila kami perlukan, namun tidak memancing perhatian dan persoalan, karena kami dapat menyembunyikannya dibawah baju kami.” “Kami mengerti“ jawab Ki Lurah Bausasra “kini aku percaya. Semula keterangan Raden dan adik2 seperguruan Raden memang membingungkan dan mencur igakan. Tetapi kini kami dapat mengerti, kenapa Raden dan adik2 Raden berusaha untuk meng hindarkan diri dar i pertanyaan2 kami dan tidak menjawab sebenarnya seperti yang akan Raden lakukan.“ “Ya. Terima kasih atas pengertian Ki Lurah. Dan sekarang kami akan minta dir i.“ “Tetapi tentu bukan untuk mengunjungi seorang kakek yang sudah lama tidak bertemu.“ Raden Juwiring tersenyum. “Sebenarnya aku juga menunggu kesempatan, kapan aku dapat menghadap Pangeran Mangkubumi.“ desis Bausasra. “He ?“ Juwir ing mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menar ik nafas dalam2. Ia harus hati2 menghadapiorang yang tidak begitu dikenalnya. Mungkin Bausasra hanya sekedar memancingnya, dan kemudian melaporkannya kepada pimpinan prajurit di Surakarta, yang mempunyai wewenang untuk melakukan penangkapan atas para bangsawan. Namun tiba2 Ki Lurah Bausasra itu menjadi sangat gelisah. Dan dengan suara yang bergetar ia bertanya “Tetapi Raden. Apakah Raden akan menghadap pamanda Pangeran Mangkubumi ?“ Juwiring masih tetap ber-hati2, meskipun se-akan2 acuh tidak acuh saja ia menjawab “Tidak Ki Lurah. Kami t idak akan menghadap pamanda Pangeran Mangkubumi. Kami akan pergi kepada seorang sahabat Kiai Danatirta.“ “O“ Ki Lurah Bausasra menjadi semakin gelisah. Namun seperti tidak terjadi apapun juga Raden Juwir ing berkata “Nah, sekarang kami akan minta diri. Sekali lagi kami minta maaf bahwa kami sudah mengganggu kalian. Tolong katakan kepada prajuritmu, bahwa kita lupakan saja apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah kita perbuat masing2.“ “Baik, baik Raden. Terima kasih atas kesempatan ini. Mudah-mudahan lain kali kami tidak membuat kesalahan. Nanti aku akan memerintahkan agar gawar lawe yang berwarna kuning itu tidak hanya disangkutkan pada lorong2 masuk kedalam hutan ini, tetapi direntangkan disekitar hutan yang menghadap kejalan yang Raden lalui, agar orang lain nanti tidak terjebak dalam kesalahan yang sama seperti Raden yang tidak mengetahui bahwa hutan ini adalah hutan tertutup. Untunglah bahwa Raden memang berhak melakukannya. Jika terjadi atas orang lain, akibatnya akan tidak menyenangkan bagi orang itu, meskipun sebenarnya ia memang tidak bersalah. “ “Baiklah.“ berkata Raden Juwiring. “Aku minta diri.” Buntal dan Arumpun kemudian minta diri pula kepada Ki lurah Bausasra, Merekapun kemudian diantar oleh Ki Lurah itusampai kehalaman dan selanjutnya meninggalkan barak penjagaan prajurit Surakarta itu. Beberapa langkah kemudian, Buntal bertanya kepada Juwiring “Jadi, bukankah Ki Lurah Bausasra agaknya tidak berpihak kepada Kompeni, atau se-tidak2hya tidak terlalu menj ilat mereka “ “Mungkin sekali. Tetapi aku masih ragu2. Kita tidak dapat berbuat ter-gesa2 terhadap orang yang belum kita kenal dengan baik. Mungkin Ki Lurah Bausasra sedang memancing kita. Tetapi menilik sikapnya, aku mempunyai dugaan, bahwa sebenarnya ia tidak ber-pura2. Ternyata ia justru menjadi gelisah.“ “Kenapa justru gelisah ?“ “Ki Lurah Bausasra mengerti kalau aku adalah Putera ayahanda Ranakusuma. Dan Ki Lurah Bausasrapun tahu, bagaimana sikap ayahanda terhadap perkembangan keadaan kini.“ Buntal dan Arum meng-angguk2kan kepalanya. Agaknya Ki Lurah Bausasra menjadi gelisah, karena menurut dugaannya Raden Juwiring pasti mempunyai sikap seperti ayahandanya. Tetapi mereka tidak mempersoalkannya lagi. Arum yang merasa tidak akan terganggu lagi di hutan tutupan itu mulai tertarik lagi pada gerumbul2 liar yang berserakan diantara pepohonan yang semakin lama semakin pepat. “Dalam gerumbul itu tentu bersembunyi binatang buruan. Kijang atau rusa.“ desisnya. “Atau harimau.“ sahut Buntal. “Apa salahnya seekor harimau.“ “Tentu bukan harimau. Disekitar tempat ini tentu tidak ada seekor harimaupun saat ini.“ desis Juwiring. “Kenapa kau tahu ?“ beritanya Arum.“Lihat. Disini banyak kera berkeliaran. Jika didaerah ini ada seekor harimau atau seekor ular yang besar, maka tentu tidak akan ada seekor kerapun yang tampak. Mereka akan menyisih jauh2. Bahkan jika seekor ular besar sedang lapar dan mengikatkan ujung ekornya pada sebatang dahan yang besar, bukan saja tidak ada seekor kerapun yang tampak, tetapi juga burung2 akan berterbangan pergi. Apabila arah angin tepat bertiup kearah kita, maka kita akan mencium bau yang langu.“ “Kau mengetahui banyak tentang hutan dan perburuan“ “Aku dahulu sering ikut berburu seperti adinda Rudira. Tetapi kemampuan berburu adinda Rudira berkembang karena ia kemudian mendapat kesempatan untuk pergi berburu sendiri dengan beberapa orang pengiring. Tetapi aku kemudian mendapat kesempatan lain. Mempelajari olah kanuragan, kajiwan serta' ilmu pergaulan dan tata pemerintahan dari Kiai Danatirta, meskipun adinda Rudira pasti juga mendapat dari orang lain.“ Buntal dan Arum ineng-angguk2. Tanpa mereka sedari mereka merasakan betapa pahitnya perasaan Raden Juwiring, karena ia telah tersisih dari lingkungan keluarganya, apapun alasannya. Namun sejenak kemudian perhatian Arum telah tertuju kepada hutan disekitarnya. Jika Juwiring dan Buntal setiap kali tidak mencegahnya, maka ia pasti sudah ber-lari2an diantara semak2 yang lebat. “Ada beberapa kemungkinan Arum“ berkata Juwiring “kau bukannya berburu, tetapi diburu oleh binatang liar, atau tersesat. “ “Mungkin aku dapat tersesat. Tetapi seandainya ada binatang liar, akulah yang akan menangkapnya. Bukankah yang ada hanyalah rusa atau kijang ? Bukankah disini tidak ada harimau. Bahkan seandainya ada harimau sekalipun akutidak takut. Aku dapat memanjat dan membunuhnya dengan pisau2 ini.“ “Bukan seekor harimau Arum. Tetapi yang paling berbahaya bagi pemburu adalah ular kecil yang berbisa. Hanya orang2 tertentu sajalah yang dapat mengobati gigitan ular weling, welang atau bandotan. Tetapi tidak kalah bahayanya adalah serangga2 yang berbisa. Laba2 biru atau lebih kendit, yang bergaris putih dipinggangnya yang ramping.“ Arum mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil rnemberengut ia berkata “Kau membohongi aku. Aku percaya kalau dihutan ini banyak ular berbisa. Tetapi tidak dengan serangga2 semacam itu.“ “Sebaiknya kau mempercayainya Arum“ berkata Buntal “Kakang Juwiring mempunyai pengalaman dan pengenalan atas hutan ini dan barangkali di-hutan2 yang lain.“ Arum tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi gelap. Dan tiba2 saja ia berkata ”Kita keluar dari hutan ini. Jika kita bertemu dengan peronda yang lain lagi, yang belum mengetahui tentang kita, maka kita harus berurusan lagi dengan mereka, dan Lurah itu akan memaksa lagi aku membuka baju.“ Juwiring dan Buntal tersenyum.“Kalian mentertawakan aku?“ “Mereka tidak tahu Arum. Justru karena itu membukt ikan bahwa kau pantas berpakaian seperti seorang laki-laki“ sahut Buntal. Arum tidak menjawab. Tetapi ia berjalan lebih cepat lagi mendahului kedua saudara seperguruannya. Demikianlah akhirnya merekapun keluar dari hutan tertutup itu. Mereka berjalan menyusur jalan sempit dipinggir hutan itu. Dan sebenarnyalah mereka dibeberapa tempat melihat gawar lawe berwarna kuning sebagai pertanda bahwa hutan itu adalah hutan tertutup. Perjalanan merekapun tidak terganggu lagi oleh keinginan Arum mencar i binatang buruan dihutan, setelah mereka menjadi semakin jauh dari hutan tertutup itu. Bahkan kemudian mereka sampai didaerah pategalan yang sudah ditanami dengan berbagai macam pohon buah2an. Dan sejenak kemudian merekapun sampai ilibulak persawahan yang panjang. Ketika matahari menjadi semakin rendah di Barat, maki merekapun berist irahat dibawah sebatang pohon yang rindang. Namun mereka sama sekali masih belum dapat duduk dengan tenang, karena Sukawati masih cukup jauh. Apalagi perjalanan mereka terganggu oleh prajur it2 yang bertugas di hutan tutupan itu. Dengan bekal yang hanya sedikit, mereka mengisi perut mereka sebelum melanjutkan perjalanan dibawah terik matahari menjelang sore. Meskipun panasnya sudah mulai susut, namun rasa2nya masih juga menyengat kulit yang se-akan2 menjadi merah seperti tembaga. Pakaian mereka telah basah oleh ker ingat dan kotor oleh debu. Tetapi mereka berjalan terus.“Kita harus sampai kerumahnya“ berkata Juwiring seakan kepada diri sendir i. Tetapi Buntal menyahut “Ya. Kita harus langsung sampai kerumah Kiai Sarpasrana meskipun lewat tengah malam.“ Arum tidak berkata apapun. Tetapi ia tidak berkeberatan seandainya ia masih harus berjalan sampai lewat tengah malam. Mes kipun ia seorang gadis, tetapi latihan2 yang teratur dan mapan, membuat ketahanan tubuhnya menjadi sangat tinggi, seperti juga luwiring dan Buntal. Dalam pada itu, mataharipun semakin lama menjadi semakin rendah. Langit menjadi ke-merah2an oleh sinarnya yang lemah. Dan ujung mega di atas pegunungan bagaikan membara. Arum yang se-akan2 telah mandi keringat, sempat memandang langit yang ditaburi oleh sisa2 sinar matahari menjelang senja. Angin yang lembut mengusap wajahnya yang basah. Sekali2 gadis itu mengusap keringat dikeningnya dengan lengan bajunya dengan acuh tidak acuh. Perhatiannya sedang dicengkam oleh warna2 yang dengan cepatnya be- rubah2 disore har i. Juwiring yang berjalan agak didepan menundukkan kepalanya. angan2nya telah mendahuluinya menemui Kiai Sarpasrana. Berbagai macam gambaran telah bergerak di kepalanya. Mungkin orang itu akan menyambutnya dengan baik, tetapi mungkin sebaliknya. Dalam pada itu, Buntal untuk beberapa saat terlempar kedalam dunia kenangan. Di-saat2 ia berjalan tanpa tujuan. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit dengan warnanya, yang semakin gelap. Seperti warna yang pernah dilihatnya di bulak Jati Sari. Betapa warna itu bagaikan bayangan hantu yang akan menerkamnya saat itu.Se-akan2 masih terasa tengkuknya bagaikan patah ketika orang orang Jati Sari memukulinya. Masih juga terngiang pekik Arumyang terkejut melihatnya diatas gubug. Buntal menarik nafas dalam2. Diluar sadarnya dipandanginya wajah Arum sekilas. Hanya sekilas. Tetapi Buntal melihat ujung rambutnya yang ber-gerak2 ditiup angin yang lembut, bagaikan rumbai2 yang menghiasi seraut wajah yang bulat cerah. Buntal menar ik nafas dalam2. Setiap kali ia mencoba mengusir pikiran gila itu dar i kepalanya. Namun setiap kali wajah itu ter bayang juga meskipun ia sudah berusaha untuk mengenyahkannya. “Kenapa aku harus membayangkan wajahnya“ Buntal membentak dir inya sendiri didalam hati “anak itu ada disini. Aku dapat memandanginya se-puas2nya. Bukan sekedar bayangan didalamangan2“ Buntal terkejut ketika ia mendengar suara Juwiring “Di malam hari, lebih sulit bagi kita untuk menemukan rumah Kiai Sarpasrana.“ Sejenak Buntal tergagap. Namun iapun kemudian menjawab “Ya. Tidak ada tempat untuk bertanya.“ “Mungkin di gardu2 parondan“ sahut Arum. Juwiring meng-angguk2. Katanya “Ada dua kemungkinan. Di gardu2 peronda kita akan mendapat petunjuk, atau justru dicurigai dalam keadaan seperti sekarang ini.“ “Ya“ Buntal menyahut “kita dapat dicur igai seperti prajurit2 itu mencurigai kita. Agaknya saat ini adalah saat saling curiga mencur igai diantara sesama orang Surakarta dan wilayahnya“ “Ya. Kedatangan orang2 asing itulah yang telah menggunjingkan sendi2 kehidupan di Surakarta.“ Juwiring berhenti sejenak, lalu “apakah kalian sependapat, apabila kita teruskan perjalanan kita sampai ke Sukawati malam ini,meskipun sampai j«uih dan bahkan lewat tengah malam? Tetapi baru besok pagi2 !? iia mencari rumah Kiai Sarpasrana?“ Tetapi Arum menggelengkan kepalanya “Kita sampai kerumahnya malam ini. Jika kita menunggu dimanapun juga, masih akan ada kemungkinan2 lain yang dapat terjadi.“ Buntal menganggukkan kepalanya “Ya. Tentu didaerah Sukawati peronda2 selalu nganglang hampir setiap saat. Lebih baik kita berterus terang kepada mereka.“ Juwiring meng-angguk2 pula. Katanya “Baiklah. Kita akan berusaha untuk menemukan rumah itu“ Ketiga anak muda itupun kemudian terdiam sejenak. Sementara langit menjadi buram dan ujung pegunungan telah menjadi pudar. Hampir tanpa mereka sadari, maka per-lahan2 malampun mulai turun. Cahaya matahari yang tersangkut ditepi langit telah padam sama sekali. Bintang2 satu demi satu mulai memancar didalam kegelapan. Ketiga anak2 muda itupun berhenti pula sejenak untuk melepaskan lelah. Meskipun mereka cukup terlatih menguasai diri, tenaga dan tubuh, namun mereka masih juga memer lukan ber istirahat sejenak. Membasahi kaki mereka dengan air parit yang bening. Bahkan kemudian tangan dan wajah mereka yang bagaikan hangus dibakar sinar matahari. “Kita duduk sejenak“ berkata Arum kemudian “bukan karena lelah Tetapi aku ingin menikmati segarnya udara“ Juwiring dan Buntal tersenyum, namun mereka t idak menjawab. Meskipun demikian Arum berkata “Kalian tidak percaya?“ “Tentu kami percaya“ jawab Juwiring “akupun ingin duduk sebentar. Angin terasa sejuk sekali.““Apakah perjalanan kita masih jauh?“ bertanya Arum kemudian. “Tidak begitu jauh lagi“ jawab Juwir ing “aku kira tidak sampai tengah malam kita sudah akan mencapai daerah Sukawati.” Arum tidak bertanya lagi. Ia duduk diatas rerumputan sambil bersandar sebatang pohon. Namun kemudian sambil berpaling memandang kedalam kegelapan bayangan pepohonan ia berkata “Bukankah aku tidak bersandar sebatang pohon hutan tutupan?“ “Tidak Arum“ Buntallah yang menjawab “kita berada di daerah pategalan.“ “O“ Arum menyandarkan dir inya lagi sambil memandang kekejauhan. Namun tiba2 Arum terkejut. Hampir bersamaan Juwir ing dan Buntalpun mengangkat kepala mereka memandang kekejauhan. “Beberapa buah obor“ desis Arum. “Ya“ Juwiring dan Buntal hampir bersamaan. “Siapakah mereka?“ bertanya Arumpula Juwiring menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak tahu.“ Arumpun kemudian berdiri. Dilihatnya beberapa buah obor itu berjalan beriringan. Tidak banyak. Ada tiga buah yang jaraknya agak berjauhan. “Mereka menuju kemari“ desis Buntal yang telah berdiri pula. “Ya. Obor itu menuju kemari.“Ketiganyapun kemudian berdiri ter-mangu2. Mereka memandangi obor yang semakin lama menjadi semakin dekat itu dengan saksama. “Mereka akan melewati jalan ini“ berkata Arum kemudian Juwiring merenung sejenak, lalu “Kita bersembunyi.“ “Menyingkir?“ beritanya Arum. “Tidak. Aku ingin melihat siapakah mereka.“ Buntal menganggukkan kepalanya sambil bergumam “Ya kita bersembunyi dibalik semak2 untuk melihat, siapakah mereka itu.“ Demikianlah ketiganyapun kemudian segera bersembunyi di-balik semak2 yang rimbun. Apalagi didalam gelapnya malam. “Hati2lah, jangan menimbulkan suara apapun yang dapat menarik perhatian mereka“ berkata Juwiring. Kedua adik2 seperguruannya itu tidak menjawab. Tetapi mereka menyadari, bahwa apabila mereka membuat kesalahan, maka akibatnya (tidak dapat dibayangkan karena mereka t idak mengetahui siapakah yang akan lewat itu. Arum yang telah mendapat pengalaman dari kesulitan yang dialaminya dihutan tertutup itupun menjadi agak ber-hati2. Apalagi apabila mereka berhadapan dengan orang2 yang sama sekali tidak diketahuinya. Mungkin perampok2, mungkin prajurit2 yang sedang mengejar perampok atau mencari apapun, (tetapi mungkin juga orang2 asing yang kadang2 dapat menjadi buas menghadapi gadis2, seperti cerita yang pernah didengarnya. Bahkan ketika obor2 itu menjadi semakin dekat, Arum telah menahan nafasnya, agar tidak terdengar oleh orang2 yang kemudian lewat di jalan dipinggir pategalan itu. Ketiga anak2 muda itupun kemudian memperhatikan sebuah iring2an yang mendebarkan jantung. Sebagianterbesar dari mereka adalah laki2 bersenjata Bahkan ada diantara mereka yang berpakaian seperti prajurit Surakarta. Sedang dibagian tengah dari iring-ir ingan itu, adalah beberapa orang perempuan dan bahkan anak2. Hampir saja Arum membuka mulutnya untuk bertanya kepada Buntal yang ada disebelahnya. Untunglah bahwa ia segera sadar sehingga niatnya itupun diurungkannya. Namun yang paling tegang dari ketiga anak2 muda itu adalah Juwiring. Dibawah cahaya obor yang menerangi terutama dibagian perempuan dan anak2 itu, dilihatnya seorang yang pernah dikenalnya. Sejenak ketiganya se- akan2 telah membeku. Tetapi dengan demikian mereka berhasil tidak menarik perhatian orang2 yang lewat beberapa langkah saja dihadapan mereka. Baru ketika ir ing2an itu sudah lewat agak jauh, ketiga anak2 muda itu bangkit dari persembunyiannya Per- lahan2 mereka bergeser maju. Dengan hati2 mereka menyusup diantara semak2 dan muncul dijalan yang baru saja dilalui oleh iring2an yang mendebarkan jantung itu. “Siapakah mereka ?“ desis Arum, Buntal menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku tidak tahu” “Apakah belum ada orang yang kau kenal sama sekali ?“Sekali lagi Buntal menggeleng. Katanya “Belum. Aku belum pernah mengenal mereka.“ Arum menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika ia berpaling kepada Juwir ing, dilihatnya didalam kesuraman malam, anak muda iiu merenung. “Apakah ada yang kau kenal ?“ bertanya Arum kepada Juwiring. Juwiring t idak segera menjawab. Ia masih memandang cahaya obor dikejauhan, yang se-akan2 bagaikan seberkas bara yang berterbangan didalam gelapnya malam. Bahkan Arum berdesis seperti kepada dir i sendir i “Seperti beberapa ekor burung kemamang.“ Juwiring meng-angguk2. Katanya kemudian “Se-akan2 aku pernah mengenainya salah seorang dar i mereka.“ “Siapa ?.“ bertanya Buntal dan Arum hampir bersamaan. “Yang berjalan diluar iring2an. Kebetulan saja ia melintas disebelah obor yang ada didepan perempuan dan anak2 itu.” “Ya siapa ?“ Arum tidak sabar. “Juga seorang bangsawan“ “Bangsawan ? Siapa ? Raden Rudira ? Atau siapa ? Laki-laki atau perempuan ?“ bertanya Arum. Juwiring masih belum menjawab, sehingga Arum mendesaknya lagi “Yang. kau maksudkan seorang laki2 atau seorang perempuan “ “Seorang laki2“ desis Juwiring. “Namanya ? Tentu ia mempunyai nama.“ “Raden Mas Said.“ “Raden Mas Said“ Arum dan Buntal mengulang. “Siapakah Raden Mas Said itu?” bertanya Buntal.Juwiring menarik nafas dalam2. Katanya “Aku tidak yakin, apakah aku benar. Tetapi jika benar ia Raden Mas Said, maka ia adalah puteranda paman Ar ia Mangku Negara.” “Tetapi apakah yang dilakukannya dengan perempuan dan anak2 itu ?“ “Aku tidak tahu pasti. Tetapi menilik sikapnya, apabila ia benar2 Raden Mas Said, maka ia pasti sedang menyingkir dari Surakarta. Laki2 bersenjata itu adalah pasukannya dan perempuan itu pasti keluarga mereka. Sikap pamanda Aria Mangku Negarapun sudah jelas bagi Surakarta.“ Buntal menarik nafas dalam2. Sambil meng-angguk2kan kepalanya ia berkata “Ternyata bahwa Surakarta benar2 terbelah. Bahkan keluarga Ranakusumapun terbelah “ “Lebih dari itu Buntal. Banyak diantara para bangsawan yang hatinya sendiri terbelah. Penuh ke-ragu2an dan tidak menentu. Bahkan tidak tahu apa yang sedang dilakukannya“ Buntal meng-angguk2kan kepalanya. Ia dapat membayangkan betapa kacaunya sikap para bangsawan dan pimpinan pemer intahan di Surakarta. Prasangka, curiga mencur igai, dan saling menfitnah. Setiap orang dapat menanggapi keadaan sesuai dengan kepentingan masing2. Tetapi bahwa api mulai berkorbar di Surakarta, agaknya sudah tidak dapat diingkari lagi. Dalam pada itu Arumpun kemudian bertanya “Lalu apa yang harus kita lakukan?“ “Sementara ini tidak berbuat apa2“ berkata Raden Juwi-miir “Kita melanjutkan perjalanan. Malam ini kita akan menemukan rumah Kiai Sarpasrana. Ternyata banyak ceritera yang dapat k:ta katakan kepadanya. Mungkin ia tahu agak banyak tentang pasukan yang baru saja lewat“ Marilah“ sahut Arum. “Kita jangan terlampau lama berdiri saja disini sambil berbicara tanpa ujung pangkal.““Ya. Kita melanjutkan perjalanan. Mungkin kita harus segera berbuat sesuatu apabila kita sudah bertemu dengan Kiai Sarpasrana.“ Ketiga anak2 muda itupun kemudian meneruskan perjalanan mereka ke Sukawati. Meskipun mereka telah menempuh perjalanan yang cukup panjang, namun karena kemauan yang mantap didalam liati, maka tampaknya mereka sama sekali tidak menjadi lelah. Apalagi tubuh mereka telah cukup terlatih, sehingga mereka mampu mengatur tenaga yang ada didalamdiri mereka se-baik2nya. Disepanjang perjalanan mereka kemudian, hampir t idak seorangpun yang berbicara. Mereka berjalan saja dengan langkah yang cepat. Angan2 mereka ternyata telah dipengaruhi oleh bayangan mereka masing2 tentang iring2an yang baru saja mereka lihat. “Ada yang membawa senjata api“ berkata Juwiring didalam hatinya, karena secara kebetulan pula ia melihat seseorang didalam ir ing2an itu membawanya “tentu didapatnya dari orang asing-asing itu dengan kekerasan.“ Tetapi Raden Juwiring tidak mengatakannya kepada kedua adik seperguruannya. Demikianlah, tanpa beristirahat lagi, merekapun memasuki tlatah Sukawati. Karena itu, mereka menjadi semakin ber- hati2. Sukawati agak berbeda dari padukuhannya. Meskipun Sukawatipun termasuk daerah yang tidak banyak diganggu oleh penjahat, namun agaknya Sukawati mempunyai persiapan yang khusus menghadapi keadaan yang semakin memuncak di Surakarta. Apalagi merekapun sadar, bahwa banyak orang2 di Sukawati yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan, sehingga apabila mereka kurang ber-hati2, maka mereka akan terjerumus kedalam kesulitan.Karena itu, agar mereka tidak membuat salah paham, maka mereka berkeputusan untuk langsung pergi kegardu yang pertama2 akan mereka temui dan langsung bertanya, dimanakah rumah Kiai Sarpasrana yang juga sering disebut Kiai Sarpa Treng. “Belum tengah malam“ bisik Buntal ketika ia menengadahkan kepalanya melihat bintang2 yang bersinar di langit “Ya“ sahut Juwiring “bintang Gubug Penceng sudah hampir tegak lurus. Sebentar lagi kita akan menginjak tengah malam. Dan mudah2an kita sudah sampai pada Kiai Sarpasrana.“ Arum meng-angguk2kan kepalanya meskipun ia tidak menyahut sama sekali. Demikianlah, ketika mereka melihat cahaya obor digardu perondan, maka merekapun langsung menghampirinya. Lebih baik mereka bertanya lebih dahulu daripada mereka dicur igai oleh para peronda itu. Para peronda yang ada didalam gardu itupun terkejut. Mereka segera berloncatan turun ketika mereka melihat tiga orang anak muda yang belum mereka kenal mendekati gardu mereka. “Siapakah kalian ?“ bertanya pemimpin peronda itu. “Kami datang dari Jati Sari Ki Sanak“ Juwir inglah yang menyahut “Siapa ?“ “Namaku Juwiring. Keduanya adalah adikku.“ Peronda itu ter-mangu2 sejenak, sedang Juwiring menjadi berdebar. Ia tidak sempat menyembunyikan namanya, apalagi membuat nama buat Arum jika ia dipaksa untuk menyebutnya.“Mudah2an mereka tidak mengenal Raden Juwir ing dari Ranakusuman“ berkata Juwiring didalamhatinya. Untunglah bahwa peronda itu sama sekali tidak mempersoalkan namanya dan t idak bertanya pula nama kedua adik seperguruannya. Yang ditanyakan kemudian adalah “Kemanakah kalian akan pergi dimalam begini ?“ “Kami kemalaman di jalan. Ki Sanak. Tetapi kami tidak berani berhenti dan bermalam dijalan. Karena itulah kami memaksa dir i untuk meneruskan perjalanan.“ “Kalian akan pergi kemana ?” desak peronda itu. “Kami akan mengunjungi paman Sarpasrana yang juga disebut Sarpa Ireng Karena kami belum pernah melihat rumahnya, maka kami sengaja datang ke gardu ini. Juga agar tidak timbul salah paham, karena kami memasuki padukuhan ini ditengah malam. “ Peronda itu merenung sejenak. Kemudian iapun berpaling kearah kawan2nya, tetapi tidak seorangpun yang mengatakan sesuatu. “Apa hubungan kalian dengan Kiai Sarpasrana ?“ bertanya peronda itu. “Ayahkulah yang mempunyai hubungan dengan Kiai Sarpasrana, tetapi tidak lebih dar i seorang sahabat. Sekarang aku disuruh oleh ayahku untuk datang menemuinya. Tetapi kami belum pernah melihat rumahnya.“ “Apakah kepentinganmu atau kepentingan ayahmu itu ?“ “Tidak ada kepentingan apa2. Ayahku sudah lama tidak bertemu Lalu disuruhnya aku menengoknya, apakah Ki Sarpasrana sehat2 saja.“Peronda itu menjadi ragu2. Ditatapnya saja wajah Juwiring yang menjadi semakin ke-merah2an oleh cahaya obor digardu pemuda itu. “Orang ini tentu tidak akan berani berbohong“ berkata prajurit itu didalam hatinya “Kiai Sarpasrana bukanlah orang kebanyakan. Seandainya orang2 ini berhasil menemuinya, tentu mereka tidak akan berani berbuat jahat. Seandainya mereka berani, maka merekapun pasti akan segera dibinasakan oleh Kiai Sarpasrana dan murid2nya.“ Dalam ke-ragu2an itu, ia kemudian bertanya lagi “Apakah benar kalian tidak bermaksud apa2?“ “Tentu“ jawab Juwiring “kami akan mengunjunginya. Hanya mengunjunginya saja. Tentu kami tidak akan dapat berbuat macam2 dihadapan Kiai Sarpasrana.“ Peronda itu menarik nafas dalam2. Anak muda itu se-olah2 dapat membaca isi hatinya. Dan sejenak kemudian ia berkata “Baiklah. Tetapi jangan mencoba mencelakai dirimu sendiri dengan perbuatan yang aneh2 dihadapan Kiai Sarpasrana. Jika kalian berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya, maka kalian pasti akan menyesal, karena Kiai Sarpasrana adalah orang yang keras. Sangat keras.“ Juwiring menganggukkan kepalanya sambil menyahut “Tentu. Kami tidak akan mencelakai dir i kami sendir i.” Peronda itupun kemudian menyuruh dua orang kawannya untuk mengantar Juwiring dan adik2 seperguruannya kerumah Kiai Sarpasrana yang juga disebut Kiai Sarpa Ireng. Namun disepanjang jalan para peronda itupun cukup ber-hati2. Dipersilahkannya Juwir ing dan kedua adik seperguruannya itu berjalan didepan. Ternyata untuk mencapai rumah Kiai Sarpasrana mereka masih harus berjalan beberapa lamanya. Mereka masih melalui beberapa gardu peronda dan sebuah bulak kecil,karena Kiai Sarpasrana itu terletak disebuah padukuhan kecil yang terpisah dari padukuhan induk Sukawati. “Itulah rumahnya“ berkata peronda yang mengantar ketiga anak2 muda itu “ber-hati21ah. Kiai Sarpasrana adalah orang yang dihormati. Meskipun tampaknya ia agak kasar, tetapi ia adalah orang yang baik. Ia mengerti perasaan orang2 Sukawati sehingga karena itulah maka iapun dekat dengan Pangeran Mangkubumi.“ “O“ Juwir ing menganggukkan kepalanya. “Didalam olah kanuragan, iapun memiliki beberapa kelebihan meskipun agaknya ia belum mendekati Pangeran Mangkubumi” Ketiga anak muda itu masih meng-angguk2. Sekilas terbayang wajah seorang tua yang keras hati. Namun melintas juga bayangan seorang Pangeran yang luar biasa, yang pilih tanding. Bahkan menurut beberapa orang, Pangeran Mangkubumi memiliki beberapa macam ilmu yang jarang dikuasai oleh orang lain. “Tetapi apakah Kiai Sarpasrana tidak menjadi marah karena kedatangan kami ditengah malam begini?“ tiba-tiba saja Buntal bertanya. “Jika kau mempunyai alasan yang kuat, maka Kiai Sarpasrana tentu tidak akan marah Bagi orang yang belum mengenalnya, sikapnya memang seperti orang yang sedang marah. Tetapi kemudian sikap itu akan berubah. Apakah kau sudah sering bertemu dengan orang itu ?“ Juwiring menggelengkan kepalanya. “Apakah ayahmu juga berpesan kepadamu. tentang sifat dan kebiasaan Kiai Sarpasrana itu ?“ Juwiring ragu2 sejenak. Namun kemudian jawabnya “Hanya sedikit. Tetapi kami sudah mempunyai gambaran tentang orang itu.““Jadi kalian sama sekali belum pernah menemuinya? Maksudku j ika sekali2 Kiai Sarpasrana itu berkunjung kepada ayahmu yang katamu adalah sahabatnya ?“ “Belum. Kami memang belum pernah bertemu dengan Kiai Sarpasrana. Tetapi menurut pesan ayahku, jika aku menyebut bahwa aku adalah anak2nya, maka Kiai Sarpasrana pasti akan segera mengenal aku.“ Peronda itu meng-angguk2- Dalam pada itu, merekapun sudah berdiri didepan regol halaman rumah Kiai Sarpasrana. Halaman yang cukup luas dengan berbagai macam pepohonan. Didalam gelapnya malam Juwir ing t idak segera dapat mengenal, pohon apa sajalah yang tumbuh di halaman rumah itu. “Masuklah“ berkata peronda itu “regol ini t idak pernah diselarak.“ Juwiring ragu2 sejenak. Lalu iapun bertanya “Apakah kalian tidak masuk.“ Peronda itupun menjadi ragu2 pula. Namun salah seorang dari mereka berkata “Baiklah. Marilah, kami antar kau mengetuk pintu pendapa.” Demikianlah dengan hati2 mereka membuka pintu regol halaman Per-lahan2 mereka maju melintasi halaman menuju ketangga pendapa. “Naiklah, dan ketuklah pintu pringgitan“ berkata peronda itu. Tetapi agaknya peronda itu sendir i ragu2 pula.“Apa boleh buat“ berkata Juwiring “kami sama sekali tidak berniat jelek.“ Tetapi ketika Juwiring baru menginjak anak tangga yang pertama, hampir saja mereka terlonjak karena terkejut. Peronda2 itu-pun terkejut pula ketika mereka mendengar suara seseorang dari kegelapan “Jangan mengetuk pintu.“ Semua orang berpaling kearah suara itu. Didalam kegelapan bayangan dedaunan mereka melihat seseorang yang berdiri tegak dengan kaki renggang. “O“ peronda itu hampir berbareng berdesis. Kemudian yang seorang melanjutkan “kami sekedar mengantar tiga anak muda ini ingin menghadap Kiai Sarpasrana“ “Dimalam hari begini ? Apakah kau sangka Kiai Sarpasrana itu sebangsa ular yang tidak pernah tidur ? Dan apabila sudah mulai tidur sebulan sama sekali tidak terbangun ?“ “Tetapi, tetapi anak2 ini akan dapat member ikan penjelasan lenapa mereka baru sampai disini ditengah malam.“ “Penjelasan atau tidak dengan penjelasan, ternyata kalian datang tengah malam. Kalian sebenarnya mempunyai otak untuk berpikir bahwa dimalam begini pada umumnya seseorang sedang tidur.“ “Tetapi ada juga yang karena sesuatu hal belum tidur.“ Juwiring mencoba menyahut “misalkan kami dan maaf, barangkali Ki Sanak juga“ “Persetan“ geram orang itu “itu bukan bicara seseorang yang cukup bijaksana. Sekarang kalian harus pergi sebelum Kiai Sarpasrana merasa terganggu.“ “Tetapi“ Juwiring masih ingin menjelaskan lebih lanjut. Agar ia segera mendapat perhatian, maka katanya “Tetapi kami adalah putera2 Kiai Danatirta di Jati Aking.““He ?“ orang itu agaknya memang menaruh perhatian atas nama itu Namun kemudian ia berkata “Siapapun kalian, namun kalian t idak dapat mengganggu Kiai Sarpasrana.“ “Ki Sanak“ berkata Juwiring “sebenarnya kami memang tidak ingin mengganggu. Tetapi kami terpaksa datang kerumah Kiai Sarpasrana ditengah malam. Jika kami sempat menemuinya, kami akan dapat member ikan keterangan tentang perjalanan kami.“ Orang itu diam sejenak. Lalu “Pergilah. Sebaiknya kalian pergi saja dari halaman rumah ini. Sebaiknya para peronda itu kembali saja kegardu kalian.“ Para peronda itu ter-mangu2. “Kembalilah. Kalian membawa orang2 ini. Dan orang2 ini sudah sampai kepadaku. Tinggalkan mereka. Aku akan memaksa mereka pergi. Tetapi tugasmu sudah selesai. Kalian tidak akan bersangkut paut lagi dengan anak2 gila ini.“ Para peronda itupun kemudian melangkah surut sambil berkata “Baiklah. Kami minta dir i. Kami sekedar menunjukkan ketiga anak muda ini.“ “Baiklah. Pergilah sebelum Kiai Sarpasrana bangun dan marah pula kepadamu“ Para peronda itu memandang Juwir ing, Buntal dan Arum ber-ganti2. Namun merekapun kemudian melangkah surut sambil berkata “Kami sudah membawa kalian sampai ketempat yang kalian cari.“ “Terima kasih“ sahut Juwiring. Para peronda itupun kemudian dengan ter-gesa2 pergi. Ketika mereka sudah hilang dibalik pintu regol, maka orang didalam kegelapan itu berkata lagi “Kalianpun harus cepat pergi. Jika Kiai Sarpasrana mengetahui bahwa dengan sangat bodoh kalian minta agar Kiai dibangunkan, maka ia pasti akan marah sekali. Bukan karena ia dibangunkan, karena meskipuntidak, tetapi jika ia mengetahui pikiran gilamu untuk membangunkannya ditengah malam, ia akan marah. Meskipun baru didalam angan2mu sekalipun, jika itu dapat dimengertinya, ia pasti akan marah karena ada seseorang yang sama sekali tidak menghormatinya, yang berniat, jadi atau tidak jadi, untuk membangunkannya selagi ia tidur nyenyak.“ Juwiring menjadi ragu2 sejenak. Ditatapnya wajah Buntal yang kemudian menjadi tegang “Bagaimana ?“ bertanya Juwiring kepada Buntal perlahan- lahan sekali. “Memang membingungkan. Tetapi jika kita dapat bertemu dengan Kiai Sarpasrana sendiri, kita akan sempat mengatakan kepentingan kita, dan siapakah kita ini.“ “He, kenapa kalian saling berbisik“ bertanya orang didalam kegelapan itu “cepat pergi.“ “Tunggu Ki Sanak“ Buntallah yang kemudian berbicara “Kami minta kesempatan untuk mengetuk pintu. Jika kemudian Kiai Sarpasrana marah, biarlah marah kepada kami. Apapun yang akan dilakukan atas kami. kami tidak akan mengelak. Tetapi j ika kami berkesempatan mengatakan bahwa kami adalah anak2 Kiai Danatirta, mudah2an Kiai Sarpasrana tidak menolak kehadiran kami disini.“ “Persetan“ geram orang itu “aku mempunyai wewenang menerima atau menolak setiap orang yang akan menemui Kiai Sarpasrana.“ “Tetapi siapakah Ki Sanak sebenarnya ?“ “Aku adalah Putut Srigunting Aku mempunyai kekuasaan seperti Kiai Sarpasrana dihalaman rumah ini.“ Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ditatapnya wajah Buntal yang tegang. Sementara Arum memandang kedua anak2 muda itu berganti-ganti.“Cepat pergi sebelum aku menjadi marah“ berkata orang yang menyebut dir inya Putut Srigunting. “Ki Sanak“ berkata Juwiring “apakah salahnya jika kami mencoba menemui Kiai Sarpasrana.“ “Kalian benar2 tidak tahu sopan santun. Kau lihat bintang Gubug Penceng yang sudah bergeser ke Barat itu ? Kini tengah malam sudah lewat. Dan kalian akan mengejutkan Kiai Sarpasrana yang sedang tidur nyenyak?“ Juwiring tidak segera menjawab. Ia memang mengharap agar perbantahan itu menjadi semakin keras dan dapat membangunkan Kiai Sarpasrana. Jika Kiai Sarpasrana menengoknya keluar, dan bertanya tentang dirinya dan kedua adik seperguruannya, maka mereka tentu akan diterima, meskipun mungkin Kiai Sarpasrana akan mem-bentak2nya dengan kasar karena sifatnya. “He, kenapa kalian masih saja berdir i disitu ?“ bertanya Putut itu. “Ki Sanak. Baiklah. Jika kami tidak dapat diterima malam ini. biariah kami menunggunya sampai fajar. Kami akan duduk saja dipendapa ini tanpa mengganggunya“ berkata Juwiring kemudian. Baginya itu lebih baik daripada pergi meninggalkan halaman rumah ini dan berkeliaran disepanjang jalan. Tetapi jawab Putut itu “Tidak. Kalian harus pergi. Aku tidak mau melihat kalian berkeliaran dihalaman rumah ini Kalian telah membuat halaman ini menjadi kotor. Kami tidak biasa menerima tamu semacam kalian, apalagi memaksa untuk menemui Kiai Sarpasrana dimalam hari. Hanya orang2 besar sajalah yang dapat menemuinya. Bukan petani2 miskin seperti kalian.“ Terasa dada ketiga anak2 muda itu berdesir. Ternyata ada alasan lain dari Putut Srigunting itu untuk menolaknya. Dan penolakan itu benar2 telah menyakitkan hati. Karena itu maka Juwiringpun berkata “Ki Sanak. Jangan menghinakan kamipetani2 miskin. Apakah di Sukawati ini tidak ada petani miskin ? Dan apakah Pangeran Mangkubumi juga membenci petani2 miskin“ “Aku tidak peduli orang2 Sukawati. Aku tidak peduli sikap Pangeran Mangkubumi. Tetapi aku tidak dapat membiarkan kalian, petani2 miskin dari Jati Sari untuk menemuinya. Bukan Danatirta tinggal dipadukuhan Jati Aking di Kademangan Jati Sari? “ “Ya Ki Sanak.“ “Nah, pergi kepada Danatirta. Beritahukan bahwa ia tidak berhak membuat hubungan dengan Kiai Sarpasrana. Martabat keduanya tidak sama. Danatirta adalah seorang petani miskin yang tinggal dipadepokan kecil, kotor dan buruk. Tetapi Kiai Sarpasrana tinggal disebuah padukuhan tersendiri. Besar dan berpengaruh” Kata2 itu benar2 menyakitkan bati ketiga anak2 muda itu. Hampir saja Arum menjawabnya dengan marah. Tetapi ketika ia melangkah maju, Buntal sempat menggamitnya. “Ki Sanak“ berkata Juwiring “kami tidak menyangka, bahwa kami akan mendapat sambutan yang begini hangat. Menurut Kiai Danatirta, kami akan diterima dengan baik oleh Kiai Sarpasrana, karena Kiai Danatirta adalah sahabat baik Kiai Sarpasrana. Tetapi yang kami jumpai justru sebaliknya.“ “Danatirtalah yang tidak tahu diri Ia membayangkan dir inya sejajar dengan Kiai Sarpasrana.“ orang itu berhenti sejenak, lalu “sekarang pergi Cepat pergi “ ”Baik“ suara Juwiring menjadi bergetar “tetapi aku masih ingin mengatakan kepadamu Putut. Jika aku sempat bertemu dengan Kiai Sarpasrana sendiri, tentu kami tidak akan menjumpai sikap sekasar sikapmu. Mungkin Kiai Sarpasrana akan marah kepada kami. Tetapi ia memang berhak marah. Dan kamipun tidak akan sakit hati karenanya. Tetapi kau, apahakmu marah kepada kami. Kau adalah seorang Putut. Seharusnya kau menyampaikan persoalan ini kepada Kiai Sarpasrana. Jika kau tidak berani membangunkan, aku sendiri akan mengetuk pintu. Dan j ika kau mendapat pesan agar Kiai Sarpasrana tidak diganggu, kau t idak usah bersikap begitu bodoh terhadap kami. Betapa rendahnya martabat Kiai Danatirta, tetapi ia adalah bapaku, guruku dan aku menghormat inya. Jika kau hinakan bapaku dan sekaligus guruku itu, maka adalah wajar sekali apabila aku merasa tersinggung karenanya.“ “O, kau merasa tersinggung. Danatirta-memang orang yang bodoh, yang mengir imkan anak2 ingusan itu untuk datang kemari. Jangan kau sangka bahwa Kiai Sarpasrana akan menundukkan kepalanya jika ia mendengar nama Danatirta. Akupun mengenal orang yang bernama Danatirta itu. Nah, kalian mau apa ?“ Juwiring yang masih muda seperti juga Buntal dan Arum itu ternyata sulit untuk menguasai perasaannya. Bagi Juwiring dan kedua adik2 angkatnya itu. Kiai Danatirta adalah orang yang paling dihormati. Karena itu, maka Juwiringpun berkata “Putut Srigunting- Aku tetap menghormati Kiai Sarpasrana, karena gurukupun menghormatinya. Tetapi maaf, aku sama sekali tidak dapat menghormatimu. Seharusnya kau masih belum pantas untuk menjadi seorang Putut. Kau masih harus magang untuk beberapa tahun lagi sebelum kau menjadi seorang cantrik. Apalagi Putut atau Jejanggan.“ Orang didalam kegelapan itu menggeram. Selangkah ia maju sambil berkata “Kau memang gila. Aku adalah Putut Srigunting mur id terpercaya dari Kiai Sarpasrana. Kau ternyata berani menghinakan aku. Apakah kau sudah jemu hidup“ “Ternyata kau bukan mur id yang baik. Kepercayaan Kiai Sarpasrana telah kau sia2kan. Mungkin Kiai Sarpasrana tidak pernah melihat sikap sombongmu itu.“ Juwiring berhenti sejenak, lalu “memang seorang budak yang bodoh kadang2ingin bersikap garang melampaui tuannya. Tetapi dengan demikian setiap orang tahu, bahwa sebenarnyalah ia belum pantas mendapat sedikit kekuasaan yang sudah mulai di salah gunakan.“ “Diam, diam“ orang itu berteriak. Juwiring terdiam. Tetapi ia menjadi heran. Tidak seorangpun yang terbangun di padepokan itu- “Apakah Kiai Sarpasrana tidak ada dipadepokan ?“ ia bertanya didalam hatinya. Namun yang terdengar adalah orang itu berkata lebih lanjut “Kau membuat aku marah. Jika sekali lagi kau menghina akU, aku akan membunuhmu.“ “Aku tidak pernah berhasrat untuk menyombongkan dir i. Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk memamerkan ilmu Jati Aking. Tetapi sudah sepantasnya kalau aku harus mempertahankan diriku, mempertahankan martabatku dan martabat guruku.” “O, kau memang ingin mati. Jika aku membunuh orang dipadepokan ini, tidak ada orang yang berani mengurusnya, karena tidak ada orang yang berani menentang Kiai Sarpasrana. Bahkan Pangeran Mangkubumipun tidak.“ “Dan hal itu bagimu merupakan alasan yang paling baik untuk berbuat se-wenang2.“ Juwiring yang marah menjadi gemetar karenanya. Bahkan Buntal merasa se-akan2 dadanya sudah retak oleh kemarahan yang meng-hentak2. Sedang Arum, yang merasa dirinya anak Kiai Danatirta mengatupkan giginya rapat2. Dalam pada itu orang didalam kegelapan itupun telah menggertakkan giginya. Dengan suara gemetar karena marah ia berkata “Aku tidak pernah berbuat se-wenang2. Tetapi aku dapat berbuat apa saja yang aku kehendaki dihalaman padepokan Kiai Sarpasrana selama Kiai Sarpasrana tidakmelarang. Dan kini kau harus menyadari, bahwa Kiai Sarpasrana tidak mencoba mencegah aku meskipun aku yakin bahwa Kiai Sarpasrana mendengar perbantahan ini. Dengan demikian, maka berarti bahwa umurmu tidak akan sampai besok pagi.“ “Dan kaupun jangan mengharap dapat melihat matahari terbit besok“ Putut Srigunting tidak dapat menahan diri lagi. Tiba2 ia berkata lantang sambil meloncat menyerang “Kau memang sombong sekali. Mulutmu memang harus diremas sampai lumat.“ Tetapi Juwiringpun sudah siap. Karena itu. ketika serangan itu meluncur kedadanya. ia masih sempat menghindar. Bahkan dengan putaran diatas tumitnya, kakinya terayun mendatar menebas lambung. Namun Purut Srigunt ingpun lincah sekali. Dengan loncatan ganda ia berhasil menghindari serangan Juwiring. Bahkan yang paling menyakitkan hati, ternyata bahwa ia tidak saja menghindari serangan Juwir ing, tetapi sekaligus ia menyerang Buntal yang berdir i ter-mangu2. Buntal terperanjat menerima serangan itu Untunglah bahwa loncatan Putut itu tidak begitu cepat, sehingga Buntal masih sempat menjatuhkan dirinya dan menghindarkan serangan yang langsung mengarah ke dadanya. Dengan cekatan ia meloncat bangkit dan siap untuk menyerang Srigunting pula.Tetapi Srigunting itu sudah meloncat menjauh. Sejauh ia mengamati lawan2nya. Kemudian sambil merendahkan dir inya ia merentangkan tangannya. Juwiring yang sudah mapan, mendahuluinya menyerang. Serangannya datang bagaikan hentakkan tenaga angin yang dahsyat. Namun Putut Srigunting masih mampu menghindar dengan lincahnya bahkan sekaligus iapun mencoba untuk menyerang sasaran ketiga seorang anak muda yang sejak semula hanya berdiri sambil mengatupkan giginya rapat2. Juwiring terkejut melihat serangan itu. Hampir bersamaan dengan Buntal ia berteriak “Arum hati2“ Arum menyadari serangan itu berbahaya baginya. Karena itu, iapun segera meloncat kesamping. Tetapi Putut itu masih akan menyerangnya. Ketika Putut itu menggerakkan tangannya, maka datanglah serangan ber- sama2 dari jurusan yang berbeda. Buntal meloncat dengan kaki mendatar mengarah kedada Putut itu. sedang Juwiring mempergunakan sisi telapak tangannya menghantam tengkuk. Serangan Putut Srigunt ing itupun diurungkan karena ia terpaksa menghindar i serangan Juwiring dan Buntal yang hampir bersamaan itu. Namun ternyata bahwa Putut Srigunting benar2 lincah dan mampu bergerak secepat angin. “Bagus“ katanya “kalian bertiga harus terlibat dalam perkelahian ini supaya ada alasanku untuk membunuh kalian. Jika yang lain tidak, maka sulitlah basiku untuk mempertanggung jawabkan pembunuhan ini terhadap Kiai Sarpasrana.” Ketiga anak-anak muda itu t idak menyahut. Namun merekapun bertempur semakin sengit. Sedang Putut Sriguntingpun bergerak semakin cepat pula. Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Ketiga anak-anak muda itu mengerahkan se«enapkemampuan mereka. Bukan saja untuk mempertahankan hidup mereka, tetapi juga martabat perguruan Jati Aking. “Inilah murid2 Jati Aking“ berkata Putut itu ”kalian bertiga tidak dapat mengalahkan aku.“ “Kami bukan murid yang paling baik di Jati Aking“ sahut Buntal “j ika kami bertiga tidak dapat segera membunuhmu, bukanlah salah perguruan Jati Aking. Tetapi itu adalah karena kebodohan kami- Tetapi dengan demikian. Jati Aking akan mengirimkan mur idnya yang terbaik untuk membunuhmu pula pada suatu saat. “ “O“ Putut itu tertawa “jangankan muridnya terbaik. Aku ingin Danatirta sendir i datang kemari.“ “Persetan“ Arum tidak dapat menahan dir i lagi, sehingga iapun menggeram sambil menyerang. Putut Srigunting sempat menghindari serangan Arum. Bahkan ia masih juga tertawa dan berkata “Nah, aku sudah menduga, seorang dari kalian bukannya seorang laki2. Bukankah yang bernama Arum ini seorang perempuan. Bagus, perguruan Kiai Sarpasrana tidak mempunyai murid seorang gadis. Kau harus tinggal disini dan menjadi seorang endang.“ “Tutup mulutmu“ geram Buntal Serangannya menjadi semakin dahsyat disusul oleh serangan2 Juwiring dan Arum berurutan seperti datangnya banjir bandang. Tetapi ternyata bahwa Putut itu benar2 lincah dengan cekatan. Ia masih saja mampu menghindarkan dirinya dari serangan2 yang datang beruntun itu. Bahkan sekali2 ia masih juga sempat menyerang sambil berbicara “Jika aku membunuh kedua laki2 ini, maka kiai Sarpasrana tentu akan menghadiahkan gadis ini kepadaku.” ”Jangan mengigau“ bentak Juwiring. Namun betapa ia mengerahkan tenaganya, namun Putut itu masih juga mampu menghindarkan dir inya.Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin cepat. Serangan anak Jati Aking itupun menjadi semakin dahsyat pula. Namun Putut Srigunting memang mampu bergerak seperti seekor burung Srigunting. Cepat dan serangan2nya benar2 berbahaya Juwiring yang paling tua dari ketiga anak2 muda itu mulai menilai keadaan. Sebenarnyalah bahwa Putut Srigunting mempunyai banyak kelebihan dar i mereka bertiga ber-sama2. Serangan2 yang dilancarkannya, sepenuh tenaga dan kemampuan, sama sekali tidak berhasil menyentuhnya. Bahkan sekali2 tubuh mereka justru telah mulai disentuh oleh tangan Putut Srigunting itu. Namun demikian, untuk menjunjung nama perguruan mereka, Juwiring tidak akan meninggalkan gelanggang. Apalagi Putut itu tahu benar, bahwa ketiganya datang dari Jati Aking, murid2 Kiai Danatirta. Karena itu. Juwiring telah membulatkan tekadnya, ia akan berkelahi sampai kemungkinan yang terakhir, meskipun benar-benar seperti yang dikatakan oleh Putut itu, bahwa ia t idak akan dapat lagi melihat esok pagi. Tetapi ternyata bahwa Putut itu benar2 lincah dan cekatan. Ia masih mampu menghindarkan dirinya dari serangan2 yang datang beruntun itu. Ternyata Buntalpun telah berpendirian demikian pula. Dikerahkan segenap kemampuan yang ada padanya untuk mempertahankan dirinya dan martabat perguruannya Karena itu maka iapun sama sekali tidak menghiraukan lagi, apakah yang akan terjadi atas dirinya diakhir perkelahian ini. Tetapi yang paling gelisah adalah Arum. Ia mulai menyadari kebenaran yang dikatakan oleh ayahnya. Ketika ia berada dihutan perburuan yang tertutup itu, ia masih dapat mengelakkan per istiwa itu sebagai suatu ketidak-sengajaan. Tetapi kini ia pasti, bahwa Putut Srigunting bukan sekedartidak sengaja, tetapi justru dirinyalah yang menjadi sasaran setelah Putut itu mengetahui bahwa ia adalah seorang gadis. Namun dengan demikian, Arum menjadi semakin muak. Iapiun bertempur semakin cepat. Serangan2nya datang beruntun isi mengisi dengan kedua kakak seperguruannya. Tetapi serangan2 itu se-akan2 tidak berarti sama sekali bagi Putut Sr igunting Ia mampu bergerak lebih cepat lagi. Serangan ketiga orang bergantian yang datang kepadanya, sama sekali tidak dapat mengenai sasarannya. Juwiring mulai menjadi gelisah. Bukan karena dir inya sendiri. Ia sadar, bahwa ia tidak perlu mempertanggung jawabkan dir inya sendiri apabila ia terbunuh diperkelahian ini. Tetapi bagaimana dengan Arum. Jika Arum benar2 akan dipaksa untuk tinggal dipadepokan ini, maka pertentangan inipun akan menjalar menjadi semakin besar. Kiai Danatirta tentu tidak akan tinggal diam. Dan ia pasti akan berjuang untuk mengambil anaknya. “Alangkah bodohnya aku“ berkata Juwiring didalam hati “ternyata aku tidak dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Jika hal ini dapat ditebus dengan mati, persoalannya akan segera selesai. Tetapi bagaimana dengan Arum“ Bukan saja Juwir ing yang digelisahkan oleh pikiran itu. Tetapi juga Buntal. Hatinya serasa terbakar mendengar kata2 Putut Srigunting itu. Se-akan2 Putut itu dengan sengaja menghinanya. Tetapi semuanya itu harus diselesaikan dengan kekerasan. Tidak ada jalan penyelesaian lain kecuali bertempur mati2an. Dengan demikian, maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Juwiring, Buntal dan Arum adalah mur id2 Kiai Danatirta yang sudah diberinya bekal yang cukup. Namun menghadapi Putut Srigunting, ketiganya se-akan2 tidak berdaya-Mereka sama sekali tidak mampu berbuat apa2, selain menghindari serangan2 Putut itu. Bahkan kadang2mereka bertiga menjadi bingung dan yang dapat mereka lakukan hanyalah menghindarkan diri jauh2, sebelum mereka dapat menyusun diri mereka kembali. Setiap kali terdengar Putut itu tertawa nyaring. Suara tertawa yang sangat menyakitkan hati. Suara tertawa yang se- akan2 dengan sengaja diperdengarkan untuk memanaskan hati ketiga anak2 muda. dari Jati Aking itu. Akhirnya Juwiringpun sampai kepada puncak usahanya. Tidak ada jalan lain baginya untuk menyelamatkan Arum selain dengan terpaksa sekali mempergunakan senjata2 mereka. Apabila mungkin tanpa membunuh seseorang, tetapi jika itu harus terjadi, apaboleh buat. Karena itu, ketika Juwiring sudah tidak lagi dapat berbuat lain, maha betapapun beratnya dan betapa semula ke-ragu2an membelit hatinya, akhirnya Juwiring telah menggenggam ker isnya. “Ha“ Putut Srigunt ing tertawa pula “kau sekarang bersenjata“ “Apaboleh buat“ berkata Juwiring “kegilaanmu memang harus dihentikan. Kau tentu berbuat serupa dengan orang2 lain yang bermaksud baik. Orang2 yang tidak sempat menghadap Kiai Sarpasrana karena pokalmu.“ “Jangan banyak bicara. Ayo, kalau kau ingin berkelahi dengan senjata, lakukanlah.“Juwiring t idak menjawab lagi. Dengan hati2 ia mendekati lawannya dengan senjata ditangannya. Ia sadar, bahwa dengan demikian ia dapat memaksa Putut Srigunting itu untuk mempergunakan senjatanya pula, namun ia memang harus berkelahi mati2an. Apapun yang akan terjadi. Bahkan ia sadar sepenuhnya bahwa jika ia harus menyelamatkan Arum dengan melukai atau membunuh Putut itu, maka tanggapan Kiai Sarpasrana tentu tidak akan sebaik yang diharapkan “Mudah2an Kiai Sarpasrana benar2 berjiwa besar. Dan dapat mendengar dan mengerti apa yang telah terjadi.“ Dalam pada itu, karena Juwiring telah menggenggam kerisnya, maka hampir diluar sadarnya, Buntal dan Arumpun telah bersenjata pula. Dengan dada yang bergelora mereka mengepung Putut Sr i gunt ing dar i tiga arah. Putut Srigunting memperhatikan ketiga lawannya yang kini telah bersenjata itu dengan saksama. Kini ia benar2 harus ber- hati2. Tiga ujung ker is dari Jati Aking itu dapat benar2 membunuhnya apabila ia tergores meskipun hanya seujung rambut. Sejenak kemudian, Juwiring yang memimpin kedua adik seperguruannya itu mulai menyerang kembali disusul oleh Buntal dan Arum. Meskipun tampak ketiga anak2 muda itu masih ragu2 mempergunakan senjatanya, namun dengan keris ditangan, Putut Srigunting tidak dapat lagi dengan leluasa bergerak. Bahkan ketika mereka sudah terlibat lagi dalam pertempuran yang sengit, tampaklah Putut Srigunting mulai terdesak-Tiga ujung ker is ditangan ketiga anak2 muda itu benar2 berbahaya baginya. Juwiringpun melihat hal itu. Setapak demi setapak ketiga anak anak muda itu dapat mendorong Putut Srigunting kesudut halaman.“Kau akan mati“ berkata Juwiring “kecuali j ika kau bersedia menyampaikan kedatanganku kepada Kiai Sarpasrana.“ Putut Srigunting tidak menjawab. Tetapi ia masih saja bertempur terus dengan sekuat tenaganya. Namun ia masih tetap lincah dan cekatan menghindari serangan2 ketiga anak2 muda itu. Bahkan sekali2 ia masih mampu menyerang, menembus putaran ketiga ujung keris anak2 muda itu. Tetapi lambat laun, semakin jelas, bahwa Putut Srigunting tidak akan dapat melawan ketiga anak2 muda yang bersenjata itu. Meskipun demikian Juwiring dan kedua adik2nya menyadari bahwa Putut Srigunting masih belum mempergunakan senjata. Agaknya ia benar2 seorang yang sangat sombong, yang ingin menghadapi ketiga lawannya dengan tanpa senjata. Tetapi Putut Srigunting t idak dapat bertahan terus. Karena ia selalu terdesak, dan bahkan akhirnya ia sudah tersudut pada dinding halaman, ia tidak dapat berbuat lain daripada melawan juga. dengan senjata. Dalam keadaan yang sulit, tiba2 saja Putut Sr igunting itu berbuat sesuatu yang mengejutkan sekali. Ketika ia berdiri tersandar dinding halaman yang tinggi, sedang ketiga ujung keris anak2 muda yang melawannya itu teracu kepadanya, Putut Srigunting tampaknya tidak akan lagi dapat berbuat apapun. Dalam keadaan itu Juwiring masih sempat berkata “Putut Srigunting. Sejak semula kami tidak ingin berkelahi. Kamipun tidak ingin mencelakai siapapun, apalagi membunuh. Satu2nya keinginan kami adalah bertemu dengan Kiai Sarpasrana. Karena memang itulah tujuan kedatangan, kami“ Putut Srigunting tidak menjawab. “Karena itu, Putut Srigunting. Meskipun kami akan dapat membunuhmu sekarang, namun kami masih tetap ingin menghindari nya. Berjanjilah bahwa kau akan menyampaikan kedatangan kami kepada Kiai Sarpasrana.“Putut Srigunting itu memandang ketiga lawannya dengan wajah yang tegang. Namun tiba2 saja ia berkata “Anak2 yang bodoh. Jika Kiai Sarpasrana bersedia menerima kedatangan kalian, aku tentu tidak usah menyampaikan kepadanya sekarang. Ia tentu mendengar apa yang terjadi. Karena itu, jangan berbuat sia-sia. Pergilah dan katakan kepada Danatirta bahwa ia tidak berhak berhubungan dengan Kiai Sarpasrana sekarang“ “Jangan menghina lagi“ Juwir ing membentak “tangan kami sudah gemetar. Kami akan mengalami kesulitan untuk menahan perasaan kami.“ “Jangan berbuat bodoh. Pergi sajalah dari halaman ini.” “Tidak“ Buntallah yang menjawab “kita harus membuat sebuah perjanjian. Perjanjian jantan yang harus kita tepati. Kita akan melepaskan kau j ika kau berjanji untuk membawa kami menghadap. Apapun yang akan dilakukan oleh Kiai Sarpasrana atas kami, sama sekali bukan urusanmu lagi.“ “Persetan. Kalian tidak dapat memaksa aku Biarlah aku mengalami apapun juga, tetapi aku akan tetap pada pendirianku. Dan aku sudah bertekad untuk membunuh kalian.“ “Kau tidak akan mendapat kesempatan lagi. Ujung keris kami telah siap untuk menerkam dadamu. Apakah kau akan mengingkar i kenyataan ini?“ “Kenyataan apakah yang sedang aku hadapi sekarang? Kalian benar2 anak-anak yang bodoh. Apa yang dapat kau lakukan atasku sekarang. ?“ “Apakah kau tidak melihat kenyataan ini“ Buntal menjadi tidak sabar lagi. Dan bahkan Arum menambahkan “Agaknya kau ingin memilih mati.“ Orang itu masih dapat tertawa- Katanya “Apa artinya mati bagiku ? Tetapi kalian tidak dapat membunuh aku. Aku adalahPutut Srigunting. Cobalah j ika kalian memang dapat melakukannya.“ Suara tertawanya memang benar2 menyakitkan hati. Karena itu, maka Juwiring ingin membungkam suaranya itu meskipun ia tidak benar2 ingin membunuhnya, karena ia masih mempertimbangkan kemungkinan yang dapat terjadi jika Kiai Sarpasrana kehilangan Putut yang agaknya paling dipercayainya. Dengan sebuah gerakan mendatar Juwiring mengayunkan kerisnya. Ia memang tidak ingin menggoreskan ker is itu ditubuh Putut Srigunting, sehingga karena itu, keris itu sama sekali t idak menyentuhnya. Namun Putut itu benar2 telah membakar hati ketiga anak muda itu. Ia masih saja tertawa dan berkata “Kalian tidak akan berani menyentuh tubuhku. Sentuhan kerismu berarti mati Dan kalian tidak akan berani membunuhku dihalaman padepokan ini karena kalian tidak akan dapat mempertanggung jawabkannya kepada siapapun. Kepada Kiai Sarpasrana dan kepada Ki Demang di Sukawati. Karian adalah penjahat2 yang membunuh orang dirumahnya sendiri.“ “Kau memang gila“ Juwiring menggeram “tetapi aku dapat membuatmu jera tanpa membunuhmu.“ Dengan kemarahan yang serasa menghentak dadanya, Juwiringpun kemudian meloncat menyerang orang itu dengan kakinya. Serangan yang cepat dan keras sekali, sambil mengerahkan ilmu dan kekuatan yang ada padanya. Tetapi orang itu sempat menghindar kesamping sehingga kaki Juwir ing justru mengenai dinding batu yang kuat itu. Karena itulah maka Juwiring mengeluh tertahan. Rasa2nya kakinya akan retak karenanya Ternyata dinding itu tidak roboh karenanya, meskipun kekuatan Juwiring yang mengagumkan itu mampu mengguncang dan membuat sebuah retak kecil membujur kebibir atas.“Bukan main“ Putut itu masih sempat berkata “kekuatanmu adalah kekuatan raksasa.“ Tetapi Putut itu terpaksa menutup mulutnya, karena serangan Buntal telah menyusul pula. Buntal tidak menyerang dengan kakinya, tetapi dengan tangan kirinya mengarah kepelipis Putut itu. Tetapi Buntal sempat memperhitungkan jarak jangkaunya sehingga ketika Putut itu membungkukkan dirinya, tangannya tidak menghantam dinding. Namun demikian Putut itu membungkukkan kepalanya, kaki Arumlah yang terayun mengarah kekeningnya. Bahkan hampir berbareng serangan Juwiringpun telah meluncur pula. Sisi telapak tangannya terayun dengan derasnya mengarah keteng-kuk Putut itu. Ternyata Putut itu benar lincah. Ia masih sempat menghindar kesamping sambil semakin merendahkan tubuhnya condong hampir rata dengan tanah Buntal tidak me-nyia2kan kesempatan itu. lapun segera meloncat dengan garangnya. Meskipun ia masih tetap sadar, bahwa ia tidak akan mempergunakan ker isnya jika tidak terpaksa sekali. Dengan kakinya ia berusaha menyerang Putut yang se- akan2 telah terbaring ditanak Disusul dengan serangan Arumdan Juwir ing sekaligus. Dan yang terjadi itulah yang hampir tidak masuk akal bagi ketiga anak2 muda itu. Putut itu sempat membuat suatu gerakan yang tidak dapat dimengerti.Ketiga serangan2 itu meluncur, Putut itu sempat meloncat. Tidak dengan kakinya, tetapi justru dengan tangannya. Kakinyalah yang terlempar keatas. Dan dengan kekuatan lontar tangannya Puput itu melenting t inggi. Ketiga anak2 muda yang kehilangan sasaran itu menjadi bingung sejenak. Dan ketika mereka menyadari keadaannya, maka mereka melihat Putut itu telah bertengger, berjongkok diatas dinding halaman itu. Yang terdengar adalah suara tertawanya. Tertawa berkepanjangan sehingga tubuhnya ter-guncang2. Ketiga anak2 muda itu menggertakkan giginya. Hampir saja ketiganya meloncat menyusulnya, meskipun hati mereka dicengkam oleh keheranan yang tiada taranya. Kemampuan yang diperlihatkan oleh Putut itu benar2 telah membuat mereka sangat kagum. Tetapi sebelum ketiga anak2 muda itu berloncatan naik, maka terdengar Putut itu berkata “Jangan meloncat naik. Tidak ada gunanya“ Ketiganya ter-mangu2 sejenak. Dan Juwiringpun berkata “Jangan mencoba melar ikan dir i.“ “Aku tidak akan lari meskipun aku dapat melakukannya dengan leluasa. Aku dapat meloncat keluar dari halaman ini dan pergi kemanapun aku mau. Tetapi aku masih akan membunuh kalian.“ Tiba-tiba saja timbul sebuah pikiran dikepala Juwir ing sehingga iapun bertanya “He, apakah kau bukan Putut dari padepokan ini?“ Sekali lagi orang itu tertawa. Katanya “Aku memang bukan Putut dari perguruan Ki Sarpasrana.“ “Gila. Seharusnya aku membunuhmu.“ sahut Buntal.“Aku sudah mencoba mencegah kalian, tetapi kalian t idak mendengarkan.“ “Siapa kau he ? Apakah kau pencuri ? Pencuri yang justru sedang mencuri dipadepokan ini ?“ Orang itu masih saja tertawa. Katanya kemudian “Jika kau mendengarkan aku, kau tidak akan terlibat dalam kesulitan dengan aku. Tetapi kau memang keras kepala. Dan jangan menyesal, aku tidak akan membiarkan kau hidup dan meninggalkan padepokan ini. Sebenarnyalah bahwa Kiai Sarpasrana tidak akan dapat menemui kalian, karena aku sudah membunuhnya.“ “He“ serentak ketiga anak2 muda itu bergeser “kau membunuh Kiai Sarpasrana“ “Ya“ “Tidak mungkin“ sahut Buntal “kau ,tidak akan dapat membunuh Kiai Sarpasrana.” “Kau ingin melihat mayatnya?“ “Omong kosong“ Juwir ingpun hampir berteriak “jangan mengigau. Kiai Sarpasrana bukan anak ingusan. Dan kau tidak akan dapat lari dari ujung keris kami.“ “Kau ingin melihat jenis senjataku ?“ “Senjata apapun juga, kami tidak gentar.“ Orang itu ter-mangu2 sejenak. Namun kemudian ia mengurai sehelai rantai baja yang dilingkarkan dilambungnya. Pada ujung rantai baja itu terdapat sebuah cakram bergerigi. “Kalian akan digigit oleh senjataku ini. Kerismu sama sekali tidak akan berarti apa2.“ Juwiring dan kedua adik seperguruannya ter-mangu2 melihat senjata itu. Senjata itu memang lebih panjang dari kerisnya. Kemampuannyapun agaknya dapat dibanggakanNamun ketiga anak2 muda itu tidak mau menyerah. Hampir berbareng pula mereka meraba pisau2 kecil mereka yang terselip diikat pinggang. “Apakah kalian masih akan melawan ?“ bertanya orang vzng berdiri diatas dinding batu itu. “Ya., Kami akan melawan dan akan membunuhmu sama sekali“ Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia menjadi tegang ketika ia melihat tiba2 saja Juwiringpun telah meloncat naik diatas dinding itu pula disusul oleh Buntal, sedang Arumtetap berada di bawah orang yang berdir i diatas dinding itu. “Kau tetap disitu Arum“ berkata Juwiring “jika ia lari turun kehalaman itu, kau harus berbuat sesuatu. Kau dapat melemparnya dengan pisau2mu. Jika ia lari keluar, Buntallah yang harus mencegahnya. Aku akan mencoba berkelahi diatas dinding dengan pisau2 kecil ini“ Tanpa mendapat perintah lagi, maka Buntalpun bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi ia tidak meloncat keluar. Ia masih berdiri diatas dinding batu, seberang menyeberang dengan Juwiring. Sejenak mereka terpaku diam. Namun .sejenak kemudian dengan herannya Juwiring, Buntal dan Arum melihat orang yang berdiri diatas dinding itu melipat senjatanya sambil berkata “Aku menyerah.“ Ketiga anak2 muda itu menjadi heran. Orang itu sama sekali belum mencoba melakukan perlawanan dengan senjatanya. Bahkan ia se-akan2 merasa sangat yakin akan senjatanya itu. Namun tiba2 saja ia menyatakan dirinya menyerah. “Apakah pisau2 kecil ini telah menggetarkan jantungnya ?“ bertanya ketiga anak muda itu didalamhatinyaTanpa menghiraukan ketiga lawannya orang itupun segera meloncat turun masuk kehalaman padepokan Kiai Sarpasrana, beberapa langkah disebelah Arum. Arum yang semula dicengkam keheranan, tiba2 saja telah bersiaga. Ia menduga, bahwa orang itu sedang mencari kesempatan selagi ia lengah. Dengan sigapnya, Arum telah menggenggam sehelai pisau ditangan kanannya, sedang kerisnya berpindah ditangan kir i. Jika orang itu mencoba menyerangnya, maka pisau itu siap untuk dilemparkannya. Tetapi orang itu sama sekali tidak berbuat apa2. Ia hanya berpaling saja ketika mereka mendengar Juwiring dan Buntalpun berloncatan turun. “Aku sudah menyerah“ berkata orang itu “aku benar2 tidak akan berkelahi lagi,“ “Siapakan kau sebenarnya ?“ desak Juwiring. “Nanti kau akan mengetahuinya Jika sekarang aku mengatakannya, maka kaupun tidak akan percaya.“ Juwiring menjadi heran. Dan ia mencoba mendesak lagi “Jangan mempermainkan kami.“ “Tidak. Aku tidak mempermainkan kalian. Marilah dan duduklah dipendapa.“ Keheranan didalam dada ketiga anak2 muda dari Jati Aking itu menjadi semakin mencengkam. Meskipun demikian mereka tidak kehilangan kewaspadaan. Ketiganya masih saja menggenggam senjata masing2, dan balikan Arum masih juga menggenggam sebilah pisau selain ker isnya. Orang itu naik kependapa tanpa segan2- Kemudian dipersilah-kannya ketiga anak2 muda itu naik pula. Katanya “Duduklah. Aku akan masuk sebentar.“ Juwiring dan kedua adik seperguruannya saling berpandangan sejenak. Mereka menjadi semakin ber-debar2ketika dengan suatu isyarat, seseorang yang bertubuh kekar, tinggi dan berwajah tenang berumur dipertengahan abad keluar dari ruang dalam. “Temuilah mereka lebih dahulu“ Orang bertubuh tinggi kekar itu mengangguk hormat. Jawabnya “Baik Kiai.“ “Mereka datang dari Jati Aking. Mereka adalah murid2 pamanmu Danatirta.“ lalu katanya kepada Juwiring dan kedua adik seperguruannya “Inilah Putut Srigunting yang sebenarnya. Tubuhnya yang seperti raksasa itu sama sekali tidak pantas menamakan dirinya Srigunt ing, karena Srigunting adalah seekor burung yang lamping.“ Ketiga anak-anak muda dari Jati Aking itu menjadi semakin bigung. Mereka t idak tahu apa yang sedang dihadapi sebenarnya. Sejenak kemudian maka orang yang telah berkelahi itupun masuk kedalam, dan orang yang bertubuh tinggi kekar itu melangkahh mendekat. Wajahnya yang tenang itu bagaikan air yang sama sekali tidak bergerak. “Silahkan duduk Ki Sanak“ suaranyapun dalam sekali, seakan berputar didalam dadanya saja. Juwiringlah yang kemudian menjawab “Ter ima kasih. Tetapi kami menjadi bingung. Kami tidak mengerti, apakah yang telah terjadi.“ Wajah itu berkerut sejenak Namun kemudian sebuah senyum yang lembut tampak dibibirnya. Berkata orang yang disebut bernama Putut Srigunt ing yang sebenarnya itu ”Jangan cemas. Duduklah.“ “Tetapi siapakah sebenarnya orang yang mengaku bernama Putut Srigunting itu, dan kemudian menyebut Ki Sanak juga bernama Putut Srigunting.““Disini hanya ada seorang yang bernama Putut Sr igunting. Benar akulah yang bernama Putut Sr igunting itu.“ “Dan orang itu ?“ “Ia akan segera menemui kalian dan ia akan segera menyebut namanya yang sebenarnya.“ Juwiring menjadi semakin bingung. Demikian pula Buntal dan Arum- Hampir diluar sadarnya Buntal bertanya “Tetapi apakah orang itu juga penghuni Padepokan ini?“ “Ya. Ia juga penghuni padepokan ini.“ “Ia menyebut dir inya Putut Srigunting, kemudian mengaku bahwa ia tidak berasal dari padepokan ini. Sekarang ia masuk kedalam se-akan2 sudah menjadi kebiasaannya. Kami benar2 menjadi bingung Ki Sanak.“ “Sebentar lagi kalian akan meyakini apakah yang sebenarnya telah terjadi. Jangan cemas.“ Juwiring dan kedua adik seperguruannya mengangguk. Ketika kemudian pintu bergerit, mereka melihat orang yang menyebut dir inya Putut Srigunting itu keluar. Tetapi rasa2nya kesan diwajahnya telah berbeda sekali dengan wajah itu pula, yang dilihatnya didalamgelapnya malam Meskipun pada wajah itu masih tampak kekerasan hati dan sikap, tetapi wajah itu kini dihiasi oleh senyum yang ramah. Orang yang mula2 menyebut dirinya Putut Srigunting itupun kemudian duduk pula diantara mereka. Rambutnya yang terjurai sedikit diluar ikat kepalanya, tampak sudah ke- putih2an dibawah cahaya obor dipendapa. “Iapun sudah berumur tidak kurang dari setengah abad“ berkata Juwiring didalam hati setelah ia dapat melihat wajah itu dengan jelas. Orang yang mula2 menyebut dirinya Putut Srigunting itupun telah duduk diantara mereka. Dengan sorot mata yangtajam ia memandang ketiga anak muda itu ber-ganti2. Kemudian sambil tersenyum ia berkata “Kalian benar2 anak2 Danatirta.“ Juwiring dan kedua adik seperguruannya tidak segera mengerti maksud orang itu. Sejenak mereka saling berpandangan, namun tidak seorangpun yang mengucapkan kata2 “Anak2ku“ berkata orang itu “tentu tidak setiap orang dapat langsung mempercayai keterangan orang lain yang belum pernah dikenalnya. Akupun tidak segera dapat mempercayai kalian, j ika kalian mengatakan bahwa kalian adalah murid2 Kiai Danatirta. Itulah sebabnya, aku harus meyakinkan.“ “Tetapi“ suara Juwiring sendat “siapakah Ki Sanak, maksudku, siapakah Kiai ini?“ Orang itu tertawa. Katanya “Akulah orang yang kau cari“ “Jadi, Kiailah yang bernama Kiai Sarpasrana ?“ “Ya. Akulah Sarpasrana.“ “O“ hampir berbareng ketiga anak2 muda itu berdesis. “Jadi, Kiaikah yang kami cari ?“ suara Juwiring terputus2 “kami sama sekali tidak mengetahui, bahwa Kiailah yang kami cari sehingga kami berani berbuat deksura, dan bahkan berani melawan Kiai. Jika kami tahu, kami tidak akan berani menyombongkan diri kami” “Tidak apa2“ berkata Kiai Sarpasrana “aku memang memancing perkelahian. Karena itu aku membuat kalian marah dengan segala macam cara. Jika tidak terjadi perkelahian, aku tidak akan tahu, apakah kalian benar2 murid Kiai Danatirta.“ Juwiring termenung sejenak. Dan Kiai Sarpasrana berkata terus “Hanya dengan cara itu aku dapat mengetahui, bahwakalian benar2 mur id Kiai Danatirta. Aku mengenalnya dengan baik. Dan bahkan aku mengenal ilmunya. Ketika kita bertempur, sejak mula2 aku percaya, bahwa tata gerak dan sikap kalian adalah tata gerak dan sikap Kiai Danatirta, meskipun pada anak2 muda yang dua ini sudah mendapat perkembangannya sendiri, sedang pada angger yang bernama Arum, ilmu Kiai Danatirta masih lebih murni, tetapi angger Arumternyata memiliki kelincahan yang luar biasa.“ “Maafkan kami Kiai“ berkata Juwiring kemudian “aku adalah yang tertua dari kami bertiga. Akulah yang bertanggung Jawab atas kesalahan ini“ “Tidak. Kalian tidak bersalah. Jika kalian tidak berani berkelahi, kalian tentu bukan murid Kiai Danatirta.“ Ketiga anak2 muda itu meng-angguk2. Itulah sebabnya, meskipun ada hiruk pikuk dihalaman, tidak seorangpun yang tampak terbangun dan apalagi keluar halaman. Ternyata yang berkelahi itu adalah Kiai Sarpasrana sendiri. Dan orang yang bertubuh tinggi, kekar dan bernama Putut Sr igunting itu pasti mengetahui pula dan bahkan mungkin dari cela2 dinding ia mengikut i perkelahian itu. Betapa ketiga anak2 muda itu kini dicengkam oleh perasaan yang aneh. Ternyata Kiai Sarpasrana mempunyai cara tersendiri untuk mengetahui kebenaran pengakuan mereka. Ketiga anak muda itu mengangkat wajah mereka, ketika Kiai Sarpasrana kemudian berkata “Aku bangga terhadap kalian seperti aku selalu kagum melihat Kiai Danatirta, apalagi dimasa mudanya. Agaknya sifat2nya menurun kepada kalian, dan bahkan kepada seorang gadis.“ “Arum adalah puteri Kiai Danatirta Kiai“ “He?“ Kiai Sarpasrana mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia berkata “Jadi gadis ini puteri Kiai Danatirta ?““Ya Kiai“ Sejenak Kiai Sarpasrana merenung. Ia memang pernah melihat seorang gadis puteri Kiai Danatirta. Tetapi menurut ingatannya, gadis itu tentu sudah jauh lebih tua dari gadis yang bernama Arum. Namun itu sudah lama lampau. Setelah itu, ia tidak sempat bertemu lagi dengan sahabatnya. Tetapi tanpa di-sangka2nya, suatu ketika dijumpainya Danatirta itu didaerah Jati Sari. Namun sayang, bahwa saat itu ia tidak sempat menanyakan tentang seluruh keluarganya. “Mungkin Kiai Danatirta mempunyai anak selain gadis yang pernah aku lihat itu“ Kiai Sarpasrana bergumam didalam hatinya. Namun agar tidak menumbuhkan salah paham, ia tidak bertanya lebih jauh lagi kepada anak2 muda itu tentang Arum. “Sekarang“ berkata Kiai Sarpasrana “kalian masih mendapat waktu untuk berist irahat Kalian dapat membersihkan diri di pakiwan, kemudian kalian dapat tidur nyenyak digandok. Sedang Arum dapat menempati bilik di ruang dalam.“ Arum mengerutkan keningnya. Dipandanginya kedua kakak seperguruannya ber-ganti2. Ia lebih senang t inggal bersama kedua kakak seperguruannya digandok. Bukan karena ia tidak percaya kepada Kiai Sarpasrana. tetapi ia merasa lebih tenang berada diantara kedua saudaranya itu. Agaknya Kiai Sarpasrana dapat membaca perasaan Arum, sehingga sambil tersenyum ia berkata “Baiklah Arum. Jika kau berkeberatan, kau dapat berada digandok bersama saudara2 seperguruanmu. Disana ada sebuah ruangan yang cukup luas dan amben bambu yang besar, yang cukup untuk berbaring sepuluh orang sekaligus. Meskipun sebenarnya lebih baik bagimu untuk berada didalam bilik yang lain“ Arum tidak menjawab. Hanya kepalanya sajalah yang tertunduk dalam2.“Baiklah. Saat ini kau bukan seorang gadis. Tetapi kaupun seorang laki2.“ Kiai Sarpasrana masih saja tersenyum “sekarang kalian dapat pergi ke pakiwan. Aku tahu, banyak masalah yang akan kau katakan. Tetapi katakanlah besok pagi. Kalian tentu lelah dan barangkali kalian juga belum makan.“ Ketiga anak2 muda itu tidak segera menjawab. “Nah. jika kalian memang belum makan, kalian dapat makan dahulu sebelum tidur.“ “Kami sudah membawa bekal sekedarnya Kiai. Dan kami sekarang tidak lapar.“ jawab Juwir ing. Kiai Sarpasrana tertawa. Katanya “Aku tahu. Meskipun seandainya kalian tidak membawa bekal sekalipun, murid Kiai Danaratirta tidak akan kelaparan hanya karena sehari tidak makan. Tetapi dalam keadaan yang wajar, makan perlu untuk kekuatan jasmaniah. Karena itu, jangan menolak. Aku akan menjamu kalian tuakan setelah kalian membersihkan diri“ “Tetapi itu akan merepotkan Kiai.“ “Tidak“ Kiai Sarpasrana menggelengkan kepalanya “bagi orang tua seperti aku, maka tempat nasiku dan tenong lauk pauk, tentu selalu terisi. Siang dan malam. Karena rumah ini menjadi sasaran penghubung dar i Surakarta, dan selain itu juga sanak kadangku sendiri yang datang dari jauh tanpa mengingat waktu.“ Kiai Sarpasrana berhenti sejenak, lalu “tetapi tidak semuanya mengalami sambutan seperti kalian. Selain aku memang belum mengenal kalian, juga karena kalian menyebut nama Kiai Danatirta, sehingga aku ingin meyakinkannya. “ Ketiga anak2 muda itu tidak menyahut. “Nah, pergilah kepakiwan.“ Juwiring dan kedua adik seperguruannyapun kemudian pergi membersihkan dir inya. Kakinya, tangannya danwajahnya Mereka iidak sempat untuk mandi, karena mereka menyadari, bahwa Kiai Sarpasrana dan Putut Srigunting sedang menunggunya. Demikianlah maka ketika mereka sudah selesai dengan membersihkan diri, merekapun segera dijamu oleh Kiai Sarpasrana. Mereka duduk melingkar dipringgitan menghadapi hidangan yang meskipun sudah dingin, namun kelelahan dan gelisah yang sebelumnya mencengkam mereka, membuat mereka bernafsu untuk makan se-banyak2nya. Apalagi Kiai Sarpasrana dan Putut Srigunting ikut makan pula bersama mereka. Namun dalam pada itu, selagi mereka makan, Juwiring ingin Mempergunakan kesempatan yang sedikit itu. Meskipun agak ragu2 iapun kemudian berkata “Kiai, diperjalanan kami bertemu dengan ir ing2an orang bersenjata. “ “He“ Kiai Sarpasrana tertarik pada ceritera itu “dimana dan apakah kau mengetahui ir ing2an itu ?“ Juwiring menggelengkan kepalanya. Tetapi ia berkata “Yang aku ketahui, diantara mereka terdapat Raden Mas Said. Tetapi mungkin aku keliru, karena aku tidak berani mendekati iring2an itu“ Kiai Sarpasrana menarik nafas dalam2. Sejenak ia merenung dan tanpa disadarinya kepalanya ter-angguk2 kecil. Dari sela2 bibirnya ia berkata “Api memang sudah mulai menyala di Surakarta.“ Juwiring dan kedua adik seperguruannya saling berpandangan sejenak, lalu mereka mendengar Kiai Sarpasrana meneruskan “Memang hal itu tidak akan dapat dihindar i. Api itupun akan berkobar di Sukawati“ Juwiring merasa mendapat kesempatan untuk mengatakan tentang gurunya. Karena itu maka iapun berkata “Kiai, sebenarnya dalamsoal itu pulalah aku bertiga diutus oleh guru kami menghubungi Kiai.“Tetapi ketiga anak2 muda itu menjadi heran ketika mereka melihat justru Kiai Sarpasrana tertawa “Sudahlah. Makanlah. Jika kalian mengatakan tentang api semacam itu lebih panjang lagi, maka kalian tidak akan dapat menikmati nasi liwet dari Sukawati yang sudah dingin ini. Sekarang makanlah, dan kemudian kalian akan dapat, tidur nyenyak. Nanti pagi2 kalian tidak usah ter-gesa2 bangun. Kalian dapat tidur sampai tengah hari. Barulah kemudian kalian bercer itera tentang padepokanmu, gurumu dan keperluanmu.“ Juwiring t idak dapat meneruskan kata2nya. Sambil memandangi kedua saudara seperguruannya, ia menyuapi mulutnya sehingga perutnya terasa kenyang. Sebenarnyalah, baru dihari berikutnya, ia akan mendapat kesempatan untuk berbicara agak panjang dengan Kiai Sarpasrana,, sehingga saat itu, Juwiring tidak berani memaksakannya lagi. Setelah selesai makan, maka merekapun segera diantar kegandok oleh Putut Srigunting yang sebenarnya. Dipersilahkannya mereka tidur diatas sebuah amben yang besar diruang yang terbuka. Mula2 mereka agak segan juga, karena meskipun tampaknya mereka sebagai tiga orang anak-anak muda, tetapi sebenarnyalah bahwa mereka mengetahui bahwa seorang dari mereka adalah seorang gadis Tanpa berjanji maka Arumpun memilih ujung amben yang besar itu, sedang kedua saudaranya dengan sendirinya berada diujung yang lain. Oleh sejuknya angin malam yang menyusup dinding gandok itu. merekapun segera dipengaruhi oleh perasaan kantuk. Sehingga selelah makanan yang mereka makan tidak lagi terasa sesak didada. mereka, maka merekapun segera berbaring di-ujung2 amben itu.Oleh perasaan letih diperjalanan dan perkelahian yang mereka lakukan, maka merekapun segera jatuh tertidur pula. Arum dan Juwiring yang tidak mempunyai perasaan apapun tidak menunggu terlalu lama, dan merekapun segera tenggelam kedalam mimpi yang segar. Tetapi Buntal tidak dapat segera tertidur. Bahkan sekali2 ia memandang Arum dengan sudut matanya. Arum yang tidur dengan nyenyaknya diujung lain. Dalam sepinya malam, Buntal tidak dapat melawan perasaannya yang terasa mencengkam dadanya. Ia tidak dapat ingkar lagi, bahwa sebenarnyalah wajah yang sedang tenang didalam tidurnya itu adalah wajah yang sangat cantik baginya Sekali2 Buntal menarik nafas dalam2. Dicobanya ia memejamkan matanya dan membelakangi Arum yang tidur diujung lain. menghadap Juwir ing yang juga tertidur nyenyak. Tetapi setiap kali hampir diluar sadarnya iapun menelentang menghadap atap yang. ke-hitam2an. Namun setiap kali pula sudut matanya mencur i pandang kewajah yang bening, bagaikan wajah anak2 yang belum, mengetahui apapun juga. “Hatikulah yang sangat kotor “ berkata Buntal didalami hatinya. Namun demikian, kadang2 timbul juga perasaan aneh didalam dadanya, apalagi setiap kali ia sadar, bahwa Juwiring mempunyai kelebihan didalam segala hal daripadanya. “Ah“ bahkan Buntal itu berdesah. Dicobanya untuk memejamkan matanya. Setelah lama ia berjuang, barulah ia berhasil pada saat ayam jantan berkokok menjelang fajar, terlena beberapa lama. Sebenarnyalah bahwa Kiai Sarpasrana tidak mengganggu anak-anak muda yang sedang .tidur nyenyak itu. Dibiarkannya saja mereka menikmati sejuknya pagi dipembaringan. Tetapi kebiasaan ketiga anak2 muda itu bangun pagi, telah membangunkan mereka. Yang mula2 bangkit adalah Juwir ing.Tetapi derit pembaringan yang besar itu se-akan2 telah membangunkan kedua adik seperguruannya. “Matahari telah terbit“ desis Juwiring. “Kita agak terlambat bangun.“ sahut Buntal “marilah kita pergi ke Pakiwan.“ “Pergilah kau dahulu Arum“ berkata Juwiring kemudian. Demikianlah ketiganya ber-ganti2 membersihkan dirinya. Arum masih juga mengenakan pakaian laki2nya ketika mereka kemudian menghadap Kiai Sarpasrana di pringgitan Dipendapa Putut Srigunting sedang duduk bersama dua orang yang agaknya juga penghuni padepokan itu. Mereka sedang berbincang ber-sungguh2. Tetapi Juwiring dan kedua adik seperguruannya itu tidak mendengar, apa saja yang mereka percakapkan. “Apakah kalian sudah tidak mengantuk ?“ bertanya Kiai Sarpasrana. “Tidak Kiai. Kami sudah cukup lama tidur.“ jawab Juwiring “dan perkenankanlah sekarang kami menyampaikan pesan2 dari guru kami.“ “Tunggu, kalian belum makan pagi.“ “Ah“ Juwir ing berdesah “kami t idak biasa makan pagi, Kiai.“ “Tetapi kalian adalah tamuku Kalian harus mengikuti kebiasaanku disini.“ Ketiga anak2 muda itu hanya dapat menarik nafas dalam2 dan saling berpandangan. Mereka masih harus menyimpan pesan itu didalam hatinya, sehingga mereka selesai makan pagi. Baru setelah mereka selesai makan pagi, Kiai Sarpasrana berkata “Nah, semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi yangharus kalian kerjakan. Sekarang, katakanlah pesan gurumu itu.” Juwiring, yang tertua dari ketiga mur id Kiai Danatirta itupun kemudian mengemukakan persoalan yang dibawanya. Hubungan yang mungkin dapat dijalin antara Jati Sari dan Sukawati dimasa yang gawat ini. “Apa yang diketahui oleh gurumu tentang Pangeran Mangkubumi, sehingga ia mengir imkan kalian kemari?“ “Menurut pendengaran kami, Pangeran Mangkubumi adalah, seorang yang dapat mengurai keadaan sekarang dengan se-baik2nya. Pangeran Mangkubumi bukan seorang yang begitu saja dapat ditakar oleh perasaannya, tetapi penilaiannya terhadap keadaan kini adalah yang pahng sesuai bagi Kiai Danatirta“ “Coba katakan, apakah yang kira2 akan dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi menurut dugaanmu atau dugaan gurumu.“ “Kiai“ Juwiring menar ik nafas dalam2 “agaknya guru sesuai dengan sikap Pangeran Mangkubumi, bahwa Pangeran Mangkubumi tidak ingin mengorbankan harga dir i kita sebagai bangsa dan merunduk dibawah kekuasaan bangsa lain.“ Kiai Sarpasrana meng-angguk2kan kepalanya. Katanya “Gurumu dapat menilai dengan tepat. Dengan demikian maka ia tidak sekedar sedang menjajagi. Tetapi apakah gurumu sudah mempertimbangkan kemungkinan2 yang dapat terjadi atas dirinya dan Jati Aking? “ “Guru sudah menyebutnya.“ Kiai Sarpasrana meng-angguk2 pula. Tetapi agaknya masih ada yang belum memuaskan baginya, la masih merasakan sesuatu yang kurang mapan. Setelah merenung sejenak, maka dengan hati2 orang tua itupun bertanya “Menurut keteranganmu Arum adalah puteriKiai Danatirta Tetapi siapakah kalian berdua? Maksudku, sebelum kalian menjadi murid Kiai Danatirta. Aku melihat secara lahiriah, perbedaan yang jauh dari kedua anak2 muda ini.“ Juwiring mengerutkan keningnya, sedang dada Buntal menjadi berdebaran. Pertanyaan itu se-akan2 menghadapkan dirinya pada sebuah cermin sehingga ia melihat kekurangan yang jauh pada dir inya dari Juwiring. Namun dalam pada itu. Kiai Sarpasrana melanjutkan “Maksudku, aku tidak membedakan siapakah kalian, karena ke-dua2nya adalah mur id Kiai Danatirta. Dan aku percaya bahwa Kiai Danatirta bukan anak2 sehingga pilihannyapun dapat dipercaya pula. Tetapi jika aku bertanya tentang kalian, justru karena aku melihat pada yang seorang ini, tetesan darah seorang bangsawan. Aku justru minta maaf, bahwa aku ingin tahu tentang hal itu, karena sikap para bangsawan yang ber-beda2.“ Juwiringlah yang kemudian menjadi ber-debar2 Ternyata Kiai Sarpasrana adalah seorang yang teliti menghadapi persoalan ini. Namun Juwir ing t idak ingin berbohong. Ia ingin mengatakan tentang dirinya dengan jujur. “Kiai“ katanya kemudian “aku adalah putera Pangeran Ranakusuma.“ Tersirat sesuatu diwajah orang tua itu. Kiai Sarpasrana tahu benar siapakah Pangeran Ranakusuma. Meskipun ia belum pernah berhubungan secara pribadi, tetapi nama Pangeran Ranakusuma telah termasuk didalam urutan nama para Pangeran yang tidak disukainya. Ternyata Juwiring cukup cerdas menangkap siratan diwajah orang tua itu. Maka katanya “Kiai, tentu Kiai sudah pernah mendengar nama ayahanda. Aku adalah puteranya yang sulung yang disingkirkan dar i istana kapangeranan“ “O“ Kiai Sarpasrana terkejut “kenapa ?““Persoalannya adalah persoalan keluarga saja.“ “Dan kau mendendam?“ “Tidak. Aku tidak menyangkutkan persoalan pr ibadiku dengan persoalan yang berkembang di Surakarta sekarang. Pendirianku banyak dipengaruhi oleh sikap dan pendirian guruku.“ “Kenapa kau dapat berada di padepokan Jati Aking ?“ “Maksud ayahanda, aku harus berguru kepada seorang yang dianggapnya mengerti masalah2 kaj iwan. Bukan kanuragan. Paman Dipanalalah yang menunjukkan tempat itu bagiku. “ Kiai Sarpasrana menarik nafas dalam2. Dipandanginya Juwiring sejenak. Lalu dipandanginya Buntal tajam2. Dari sela2 bibirnya terdengar orang tua itu berdesis “Dan kau ?“. Buntal bergeser sejengkal. Katanya ragu2 “Aku adalah anak kabur kanginan Kiai. Aku terlempar ke Jati Aking tanpa sengaja.” “O“ Kiai Sarpasrana mengerutkan keningnya, dan dengan singkat Buntalpun berceritera tentang dirinya. Kiai Sarpasrana meng-angguk2kan kepalanya. Kesannya memang lain dengan anak muda yang pertama. Buntal adalah anak yang se-akan2 terbuang karena ia memang kehilangan orang tuanya, tetapi Juwiring terbuang karena persoalan yang timbul didalamkeluarganya dan menyangkut orang tuanya. Namun yang meragukan Kiai Sarpasrana adalah justru karena Juwiring adalah putra Pangeran Ranakusuma. Juwiring agaknya dapat merasakan ke-ragu2an itu Karena itu ia mencoba untuk meyakinkan sikapnya. Katanya “Kiai, persoalanku dengan keluargaku sudah lama aku lupakan. Aku sudah pasrah pada keadaanku, pada kemungkinan yang dapat aku capai di Jati Aking. Tetapi jika kemudian timbul sikap yangberbeda dengan ayahanda Pangeran Ranakusuma didalam persoalan yang sedang kemelut, sama sekali tidak ada sangkut pautnya lagi dengan dendam dan tuntutan pr ibadi atas keluargaku. “ Kiai Sarpasrana meng-angguk2kan kepalanya. Ia melihat kesungguhan pada wajah Juwiring, sehingga karena itu, iapun dapat mempercayainya. Meskipun demikian ia masih juga harus bersikap hati2. Jika ia salah hitung, maka ia akan menyesal. Persoalan yang dihadapinya bukannya sekedar persoalan dirinya sendiri, bukan sekedar padepokan kecilnya atau bahkan Kademangan Sukawati. Tetapi persoalannya adalah persoalan kelangsungan hidup Surakarta Adalah jauh berbeda sikap dan pendirian Pangeran Mangkubumi dengan Pangeran Ranakusuma. “Tetapi tentu bukannya tanpa alasan jika Kiai Danatirta telah mengirimkannya kemar i“ berkata Kiai Sarpasrana didalam hatinya. Karena Kiai Danatirta tahu benar akibat yang dapat timbul jika ia salah pilih. Ketiga anak2 muda yang kehilangan sasaran itu menjadi bingung sejenak. Dan ketika mereka menyadari keadaannya, maka mereka melihat Putut itu telah bertengger berjongkok diatas dinding halaman itu. Namun sepercik ke-ragu2an masih saja membayang diliatinya. “Bagaimanakah jika justru Kiai Danatirta itu sekarang sudah terpengaruh oleh Pangeran Ranakusuma ?“ ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi pertanyaan itu dibantahnya sendiri “Tentu tidak mungkin Aku mengenal Kiai Danatirta dengan baik.“ Juwiringpun dapat melihat ke-ragu2an yang membayang pada sorot mata Kiai Sarpasrana. Tetapi iapun dapat mengerti. Bahkan kadang2 ia menyesali dirinya sendiri, bahwa ia telah dilahirkan didalam lingkungan keluarga yang tidak memberi kebanggaan sama sekali bagi tanah kelahirannya.Dalam pada itu. Kiai Sarpasranapun kemudian berkata “Baiklah anak2. Tinggallah kalian hari ini disini. Aku akan mempersoalkan pesan gurumu dengan orang2 yang berkepentingan disini. Tentu kami disini akan menyambut dengan gembira sikap gurumu itu. Tetapi kami disinipun harus memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Kami t idak ingin meng-hambur2kan korban terlampau banyak dengan hasil yang terlampau sedikit. Itulah sebabnya kami berbuat dengan hati2 Memang kadang2 anak2 muda tidak dapat mengikuti sikap kami. Bahkan ada diantara mereka yang sudah langsung bertindak dengan kekerasan. Aku dan kami disini menghargai sikap itu. Tetapi kami disini ingin berbuat sebaik2nya dengan korban yang se-kecil2nya. “ Juwiring meng-angguk2kan kepalanya. Katanya “Baiklah Kiai. Kami akan tinggal disini menunggu Kiai.“ Kiai Sarpasrana tidak mengatakan kemana ia akan pergi. Dan ketiga anak2 muda itupun tidak akan berani bertanya kemana ia akan pergi. Dengan demikian, maka Juwiring dan adik seperguruannya itu berada di padepokan Kiai Sarpasrana bersama Putut Srigunting dan beberapa orang mur id Kiai Saroasrana yang lain Berbeda dengan Kiai Danatirta. maka Kiai Sarpasrana mempunyai beberapa orang murid yang berlatih dalam olah kanuragan. Tetapi mereka mempunyai kedudukan yang lain dari murid2nya yang sebenarnya, seperti Putut Srigunting, meskipun umurnya hampir sebaya dengan Kiai Sarpasrana sendiri. Yang berlatih dipadepokan Kiai Sarpasrana adalah beberapa orang anak muda. Mereka sekedar mempelajari tata gerak dasar secukupnya, sebagai bekal apabila mereka menghadapi bahaya. Mereka sekedar mengetahui bagaimana mereka membela diri, dan mempunyai sedikit kelebihan dari anak2 muda yang lain. Jika mereka sudah cukup, makamerekapun segera kembali kerumah masing-masing dan disusul dengan serombongan anak-anak muda yang lain. “Darimana saja mereka itu datang ?“ bertanya Juwiring kepada Putut Srigunting yang setiap kali mewakili Kiai Sarpasrana apabila ia berhalangan. “Mereka adalah anak2 muda Sukawati dan sekitarnya.“ jawab Srigunting Juwiring meng-angguk2kan kepalanya. Ia sadar bahwa Sukawati benar2 telah mempersiapkan dirinya. Sehingga apabila benar2 terjadi sesuatu, maka Sukawati bukannya sekedar berbuat tanpa perhitungan, tetapi Sukawati benar2 sudah siap. “Orang2 asing dan prajurit Surakartapun mengalami latihan latihan sebelum mereka menjadi prajurit“ berkata Putut Srigunting “bahkan selama mereka bertugas, mereka masih selalu berusaha meningkatkan bekal mereka.“ Juwiring dan kedua adik seperguruannya meng-angguk2. Dengan tidak langsung Putut Sr igunting sudah memperbandingkan kekuatan anak2 muda Sukawati dengan orang2 asing yang berada di Surakarta. “Menurut pendengaranku” berkata Putut Srigunting “orang2 asing itu mengalami penempaan yang berat sebelum mereka dikirim ke tanah ini. Itulah sebabnya, maka kitapun harus berusaha mengimbanginya, agar kita tidak sekedar mengumpankan dir i , pada senjata2 mereka yang meledak itu. “ Murid2 Jati Aking itu masih saja meng-angguk2, “Dari padepokan ini, anak2 muda itupun masih selalu berlatih Kami mengir imkan cantrik2 terbaik dari padepokan ini untuk membantu mereka. Bahkan ada diantara mereka yang dengan tekun mesu diri ditempai yang terasing agar latihan2nya tidak terganggu. Dengan ilmu dasar yang merekakuasai, kadang2 mereka berhasil mencapai t ingkat yang mengagumkan. “Inilah Sukawati” berkata Buntal didalam hatinya “yang terjadi adalah jeritan hati rakyat Surakarta yang sebenarnya karena tingkah laku orang asing.“ Buntal dapat membayangkan, apa saja yang mereka lakukan ketika ia masih tinggal menghambakan dir i dirumah seorang Tumenggung yang sering mener ima kehadiran orang2 asing itu dimalam har i dalam kemewahan yang melimpah2. Dan kini ia menyadari kemaksiatan apa saja yang sudah terjadi apabila orang2 asing itu menjadi mabuk. Dan yang paling memuakkan adalah kesediaan sebagian bangsa sendiri untuk melayaninya. Tetapi suasana di Sukawati adalah jauh berbeda, Disini ia serasa hidup dalam nafas yang penuh dengan perjuangan untuk merebut masa depan yang baik. Bukan masa kini yang me- limpah2 buat diri sendir i, tetapi sama sekali menutup kemungkinan bagi anak cucu Disini justru rakyat Surakarta memikirkan hari depan yang jauh. Memikirkan anak cucu yang akan merupakan kelanjutan dari hidup mereka. Jika kini mereka gagal membina masa depan itu, maka masa depan itu akan menjadi sangat suram. Dipadepokan Kiai Sarpasrana ketiga mur id dar i Jati Aking itu mendapat pengalaman baru. Kiai Sarpasrana dan mur id2nya sama sekali tidak membatasi dinding padepokannya. Mereka tidak berlatih sambil bersembunyi didalam bangsal tertutup, bahkan para cantrik dari padepokan sendiripun hampir tidak mengetahuinya. Tetapi bangsal latihan Kiai Sarpasrana selalu terbuka. Dan itulah kelainan yang pokok dari kedua padepokan itu, dan pengaruh lingkungannya. Sukawati se-akan2 telah mempunyai bentuk yang mantap karena daerah ini adalah daerah Palenggahan Pangeran Mangkubumi, sehingga sikap dan pendir ian PangeranMangkubumi merupakan sikap dan pendirian seluruh rakyat Sukawati. “Apakah salahnya jika padepokan Jati Aking itupun dibuka pula seperti padepokan ini?.” pertanyaan itu telah mempengaruhi hati mereka. Namun merekapun menyadari, bahwa Jati Sari dalam keseluruhan sangat berbeda dengan Sukawati. Meskipun demikian, masih dapat diusahakan, agar sikap dan pendir ian padepokan Jati Aking dapat menjalar keseluruh Jati Sari; Apalagi apabila anak2 mudanya berhasil dipengaruhinya menghadapi keadaan yaag bagaikan hampir meledak ini. Demikianlah se-hari2an ketiga anak2 muda dari Jati Aking itu sempat melihat bagaimana Putut Srigunt ing melatih anak2 muda Sukawati. Mereka dikumpulkan dihalaman belakang ber- sama2 tidak kurang dari duapuluh orang. Mereka berlatih berpasangan ditunggui oleh empat orang murid Kiai Sarpasrana dibawah pimpinan Putut Srigunting. “Bagaimana latihan ini dimulai?“ bertanya Juwiring. “Mereka ber-sama2 harus menirukan unsur gerak pokok dari ilmu yang diturunkan oleh Kiai Sarpasrana. Jika unsur2 gerak itu telah mereka kuasai dengan baik, meskipun hanya pokok2nya saja, maka mulailah mereka mendapat petunjuk penggunaannya dan hubungan yang dapat dijalin antara unsur gerak yang satu dengan yang lain. Dengan demikian, maka mereka mendapatkan bentuk yang mengalir dari unsur2 itu untuk membela diri, bukan sekedar unsur2 gerak yang dengan urut dapat ditirukan tanpa mengerti maknanya, karena unsur2 gerak ini sama sekali bukan unsur2 gerak tari“ Juwiring meng-angguk2, sedang Buntal bertanya “Berapa lama mereka ber latih dipadepokan ini?“ “Tidak tentu, tergantung dari ketekunan dan kemauan mereka masing2.“Ketiga murid dari Jati Aking itu masih saja meng-angguk2 Dan Putut Srigunting itu berkata selanjutnya “Tetapi rata2 mereka berada dipadepokan ini selama tiga bulan.” “Tiga bulan“ Buntal mengulang. “Ya. Selama tiga bulan mereka mendapatkan tuntunan pokok-pokok tata gerak dan cara mempergunakan senjata. Berkelahi seorang lawan seorang dan bertempur dalam kelompok2 besar dan kecil.“ “Mereka adalah prajurit2“ gumam Juwiring. “Ya. Prajurit2 memang mendapat latihan selama tiga bulan sebelum mereka ditetapkan. Tetapi pada umumnya mereka sudah memiliki kemampuan dasar sebelumnya. Sedangkan anak2 muda ini baru disini mendapatkan pengetahuan olah kanuragan. Selebihnya mereka harus berusaha sendir i.“ “jadi bagaimana dengan mereka kemudian ?“ bertanya Buntal pula “apakah mereka puas dengan ilmu mereka yang tiga bulan ini?“ “Tidak. Seperti sudah aku katakan. Mereka memperdalam ilmu mereka diluar padepokan. Kadang2 kami mengir imkan seorang dua orang murid yang sebenarnya dari padepokan ini untuk berlatih bersama mereka. Ternyata bahwa tekad mereka t idak mereda. Justru semakin panas udara di Surakarta, mereka menjadi semakin keras berlatih.“ Buntal meng-angguk2. Terbayang didalam angan2nya, bahwa Jati Saripun harus berbuat seperti yang dilakukan oleh Sukawati meskipun tidak dapat menyamainya. Tetapi bahwa rakyat Surakarta harus mempersiapkan diri, semakin lama semakin diyakini oleh Buntal. Ketika matahari kemudian menjadi semakin rendah dan langit menjadi redup, maka ketiga anak2 muda dari Jati Aking itupun duduk dipendapa bersama Putut Srigunting. Mereka berbicara mengenai banyak persoalan yang terjadidipadepokan itu. Namun setiap kali Juwir ing atau Buntal bertanya tentang persiapan yang telah dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi, Putut Srigunting selalu mengelakkan diri- Ia selalu memutar pembicaraan kearah yang tidak menyinggung nama Pangeran itu, meskipun juga mengenai Suka-wati.. Sebelum sinar matahari lenyap dari wajah langit yang suram, maka Kiai Sarpasrana telah kembali kepadepokannya. Ternyata ia tidak pergi ketempat yang jauh. Agaknya ia hanya mengunjungi oiang2 yang dianggapnya perlu di padukuhan Sukawati. Juwiring Hampir tidak sabar menunggu. Ketika Kiai Sarpasrana telah duduk diantara mereka, dan setelah ia meneguk semangkuk air, maka Juwiringpun segera bertanya “Kiai, apakah Kiai bertemu dengan Pangeran Mangkubumi?“ “Pangeran Mangkubumi ?“ Kiai Sarpasrana mengerutkan keningnya “aku t idak menemui Pangeran Mangkubumi. Seandainya aku pergi menghadap pula, belum tentu Pangeran Mangkubumi ada di Sukawati.“ “O, maksudku, jika bukan Pangeran Mangkubumi, tentu orang2 penting lainnya di Sukawati.“ Kiai Sarpasrana rheng-angguk. “Aku sudah bertemu dengan beberapa orang dar i mereka.” “Lalu, keputusan apakah yang dapat kami sampaikan kepada Kiai Danatirta.“ “Keputusan ? Kenapa kau bertanya tentang keputusan ?“ Juwiring menjadi heran. Buntal dan Arumpun memandang wajah Kiai Sarpasrana dengan sorot mata yang mengandung pertanyaan. “Kiai“ berkata Juwiring “bukankah sudah kami sampaikan keinginan Jati Aking untuk ikut serta didalam setiap gerakdan» kegiatan Sukawati, karena Kiai Danatirta menyadari apakah yang sebenarnya berkembang didaerah Surakarta sekarang.“ “Sudah aku katakan, kami tentu akan senang sekali. Dan ternyata bahwa orang2 yang mendengar keinginan itupun menyatakan kegembiraan hati“ “Jika demikian, apakah yang harus kami lakukan di Jati Aking Kiai, dan apakah yang diper intahkan oleh Pangeran Mangkubumi kepada kami atau oleh orang yang dikuasakannya.“ “O, tentu Pangeran Mangkubumi atau orang2 yang dikuasakannya tidak akan memberikan perintah apapun kepada kalian. Kalian memang harus mempersiapkan dir i. Tetapi kami disini belum dapat berbuat apa2 atas kalian sekarang ini.“ Ketiga anak2 muda dari Jati Aking itu masih saja ter- beran2. Dan bahkan Kiai Sarpasrana itupun berkata “Sampaikan kepada Kiai Danatirta, agar ia sering mengir imkan utusannya kemari.“ “Baiklah Kiai. Kami akan menyampaikannya kepada guru. Dan tentu kami akan sering datang ke Sukawati. Tetapi perintah apakah yang segera dapat kami lakukan ?“ Kiai Sarpasranalah yang menjadi heran Lalu katanya “Tentu tidak ada perintah apa2. Seperti yang aku katakan, satu2nya pesan, sering datanglah kemari.“ “Hanya itu ?“ bertanya Buntal dengan herannya. “Itulah per intah yang kau maksud.“ Ketiga anak2 muda itu tidak mengerti. Kenapa mereka hanya sekedar harus dalang setiap kali ke Sukawati. Meskipun mereka mengerti bahwa hal itu penting bagi Kiai Danatirta untuk mengetahui perkembangan keadaan. Tetapi kenapatidak ada pesan2 lain yang penting bagi Jati Aking didalam keadaan yang gawat ini. “Sudahlah“ berkata Kiai Sarpasrana “jangan menjadi bingung. Sampaikan saja pesanku besok j ika kau kembali kepada Kiai Danatirta. Sering2 sajalah menyuruh kalian datang kemari.“ Ketiga anak2 muda itu meng-angguk2. Ternyata memang tidak ada perintah lain. Kiai Sarpasrana tidak memberitahukan kepada mereka, apa saja yang sudah dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi di Surakarta. Di mana persiapan untuk melakukan perlawanan bersenjata jika diperlukan dan apa saja yang harus dilakukan jika Surakarta benar2 telah dibakar oleh api pertentangan yang tidak teratasi lagi. “Ternyata yang dipesankan oleh Kiai Sarpasrana hanyalah agar kami ser ing datang ke Sukawati. Hanya itu.“ Tetapi ketiga anak2 muda itu tidak dapat memaksa agar Kiai Sarpasrana berkata lebih jauh, atau memaksa untuk membawa mereka menemui orang2 terpenting di Sukawati. Mereka harus puas dengan sekedar pesan itu. Namun hasil yang telah mereka peroleh, adalah jalan yang datar untuk melakukan hubungan selanjutnya. Demikianlah ketiga anak2 muda Jati Aking itu bermalam semalam lagi dipadepokan Kiai Sarpasrana Dipagi hari berikutnya mereka mohon dir i untuk segera kembali ke Jati Sari. Tetapi seperti dihari sebelumnya. Kiai Sarpasrana telah memaksa mereka untuk makan pagi lebih dahulu. “Itu adalah kebiasaan kami disini“ katanya. Ketiga anak2 muda itu tidak dapat menolak. Apalagi mereka sadar, bahwa perjalanan kembali akan memakan waktu sehari penuh, sehingga ada juga baiknya mereka makan pagi lebih dahulu.Baru setelah makan, mereka meninggalkan padepokan Kiai Sarpasrana. Mereka berjalan dengan ter-gesa2, agar mereka segera dapat menyampaikan hasil hubungan mereka dengan orang tua itu. Meckipun tidak mendapat pesan2 seperti yang mereka harapkan, namun mereka telah berhasil menemuinya. Dalam pada itu, di Surakarta, para Pangeran sedang sibuk dengan hati mereka masing2. Beberapa orang diantara mereka telah menemukan keputusan Namun ada diantara mereka yang terombang-ambing tidak menentu, seperti daun ilalang yang dihembus angin pusaran. Bahkan ada yang mencoba berkayuh didua perahu. Sebelah kakinya disebuah perahu dan kaki yang lain berpijak pada perahu yang lain pula. Selama kedua perahu itu masih dapat meluncur searah, maka tidak akan banyak dijumpai kesulitan, tetapi jika perah/a itu mulai berbeda tujuan, maka alangkah sakitnya. Dalam suasana yang panas itu. Kumpeni se-akan2 dengan sengaja memancing persoalan. Para perwira jika berada di Surakarta, menunjukkan kelakuan yang menyakitkan hati. Mereka mengadakan bujana makan yang ber-lebih2an. Membagi barang berharga dan memikat hati para bangsawan. Sedang terhadap rakyat kecil sikap mereka menjadi semakin angkuh dan sombong. se-akan2 rakyat Surakarta adalah penghuni r imba belantara yang tidak diperhitungkannya. Namun sikap itulah yang mematangkan suasana Rakyat menjadi semakin benci kepada mereka. Tetapi diantara beberapa orang Pangeran justru semakin lekat pada Kumpeni karena terdorong oleh nafsu kepentingan dir i mereka sendiri se-mata2. -

Jilid 9
DI ANTARA mereka adalah Pangeran Ranakusuma. Bukan saja karena ia menerima langsung berbagai macam hadiah, tetapi ia juga ingin mendapat pengaruh lebih banyak lagi di dalam istana Susuhunan. Selain kepentingan langsung itu, isterinyapun telah mendorongnya pula agar ia tidak menjauhkan diri dari lingkungan orang-orang asing yang baik hati, murah hati dan menyenangkan itu. Sejalan dengan perkembangan itu, hati Raden Rudirapun menjadi semakin berkembang pula. Keinginannya untuk mengetahui, apa saja yang dilakukan ibunya di dalam lingkungan orang-orang asing itu tanpa ayahnya, selalu mendesaknya, sehingga kadang-kadang ia hampir tidak dapat mengendalikan dir inya lagi. “Jangan bermain api Raden“ Mandra mencoba mencegahnya. “Aku tidak tahan lagi Mandra. Rasa-rasanya aku selalu digelit ik oleh perasaanku sendir i. Terus-terang aku menjadi curiga”“Apa yang Raden curigai?“ Raden Rudira tidak menjawab. Ia tahu bahwa sebenarnya Mandra sudah mengerti perasaannya. “Jangan tergesa-gesa” berkata Mandra kemudian “meskipun pada akhirnya rencana Raden itu dilakukan, tetapi Raden harus mengingat, bahwa perbuatan itu penuh dengan bahaya. Setiap kali diadakan pertemuan bagi kumpeni di rumah bangsawan yang manapun, penjagaan di sekitar halaman itu diperkuat. Apalagi mereka mempunyai senjata- senjata yang dapat melontarkan sebutir besi dan yang langsung dapat membunuh korbannya” “Aku tidak takut akan senjata api itu” “Memang kita tidak takut. Tetapi usaha kita gagal dan kita justru terbunuh oleh senjata api itu, maka bukankah dengan demikian tidak ada gunanya, apapun yang pernah kita lakukan?“ Raden Rudira mengangguk-angguk. “Jika Raden memang berkeinginan untuk melakukannya, sebaiknya Raden memberitahukan kepadaku. Aku akan menyelidiki dahulu kemungkinan yang sebaiknya Raden lakukan. Malam nanti Raden Ayu mendapat undangan pula dari seorang perwira kumpeni. Bukankah begitu? “Ya, dan ayahanda malam ini tidak dapat pergi mengantarkan ibunda karena ayahanda mendapat undangan tersendiri ke istana Susuhunan” “Tetapi sebaiknya Raden tidak bertindak malam ini. Undangan semacam itu masih akan berdatangan. Tentu tidak sampai tiga har i lagi” “Belum tentu Mandra. Mungkin di hari mendatang, ayahanda dapat pergi bersama ibunda. Karena itu, apa salahnya jika malam ini aku mencoba melihat apa yang terjadi. Jika aku gagal, barulah aku akan menentukan hari-hariberikutnya sehingga aku akhirnya yakin apa yang dilakukan ibunda itu. Dengan demikian hatiku akan menjadi tenteram” Mandra merenung sejenak. Dipandanginya wajah Rudira yang tegang. Namun orang yang bertubuh raksasa seperti Sura itu kemudian tersenyum “Baiklah Raden. Jika Raden tetap pada pendirian Raden apaboleh buat. Biarlah aku pergi lebih dahulu ketempat bujana itu akan diadakan. Apakah Raden mengetahuinya?” “Ya. Aku mengetahuinya. Di rumah pamanda Surawijaya,” Mandra menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tahu. Istananya berada di sebelah simpang tiga dengan pohon Kayu Legi yang terjajar tiga di halaman samping?“ “Ya” “Baiklah Raden. Jika memang Raden kehendaki, aku akan pergi ke istana Surawijayan. Aku mempunyai seorang kawan yang baik mengabdikan dir i pada di Surawijayan. Barangkali aku dapat menghubunginya dan mendapatkan kesempatan untuk memasuki halaman istana itu malam nanti untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi” “Baiklah. Pergilah. Tetapi hati-hati, jangan sampai rencana ini diketahui oleh siapapun. Jika demikian maka ibunda akan mengurungkan niatnya, atau kumpeni akan memasang penjagaan yang kuat. Tentu orang-orang kita juga yang akan berjaga-jaga di luar istana Surawijayan, sedang kumpeni akan makan minum dengan sepuas-puasnya” Mandra mengangguk-angguk. Katanya “Aku minta diri Raden. Selagi masih jauh waktunya, sehingga orang-orang di istana itu, atau barangkali pengawas-pengawas yang sudah dipersiapkan tidak mencurigai aku” “Pergilah” Rudirapun kemudian member ikan bekal uang kepada Mandra seperti yang biasa dilakukannya apabila iamember ikan tugas yang agak menyimpang dari tugasnya sehari-hari. Apalagi tugas ini termasuk tugas yang cukup berbahaya. Sepeninggal Mandra, Rudira selalu duduk merenung. Ia tidak dapat melepaskan dir i dari kecurigaan terhadap ibunya. Semakin lama semakin dalam. Sebagai satu-satunya anak laki- laki yang manja, ia benar-benar tidak mau melepaskan kasih sayang ibunya dan membaginya dengan orang lain. Bagi Rudira, perkawinan ayah dan ibunya adalah ikatan yang paling luhur di dalam hidup kekeluargaan. Setelah isteri ayahandanya semuanya tersisih dari istana itu, meninggal atau kembali ke orang tuanya, maka ibunyalah satu-satunya orang yang berhak sepenuhnya atas istana Ranakusuman di samping ayahandanya. Setelah ayahandanya menyisihkan orang-orang yang dapat mengurangi kasih sayangnya kepada isteri yang tinggal satu-satunya, maka ibundanyapun tidak boleh menodai kasih dan cinta itu. Umur Rudira yang menginjak dewasa itu, memandang cinta antara laki-laki dan perempuan sebagai cinta yang paling suci dan sama sekali tidak boleh dinodai. Dengan demikian maka keinginannya untuk mengetahui apa saja yang telah dilakukan ibunya itupun menjadi semakin besar. Dalam pada itu, sepeninggal Mandra, dari balik dinding yang menyekat ruangan pembicaraan antara Mandra dan Rudira seseorang perlahan-lahan sambil berjingkat, meninggalkan tempatnya setelah ia tanpa sengaja mendengar pembicaraan-pembicaraan itu. Pembicaraan yang sangat mendebarkan jantungnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam, ketika ia sudah berada di tempat yang terpisah oleh gandok sebelah kanan, orang itu mengangguk-angguk. Orang itu adalah Dipanala, yang masih saja berada di istana itu dengan berbagai macam akibat yang dapat terjadi atasnya. Dengan sadar Dipanala melihat kemungkinan-kemungkinan itu. Dari yang paling r ingan sampai yang paling pahit baginya, mati. Tetapi ia masih belum berniat meninggalkan istana Ranakusuman. Ternyata percakapan yang didengarnya tanpa sengaja itu benar-benar telah mendebarkan jantungnya. Bahkan tanpa disadarinya ia bergumam “Raden Rudira tidak tahu bencana apa saja yang dapat menimpanya. Untuk mendekati lingkungan itu adalah sangat berbahaya sekali meskipun Mandra akan berusaha menemukan jalan” Tetapi tiba-tiba saja melonjak perasaan sakit hati di dalam dadanya “Aku tidak peduli. Aku tidak berkepentingan apa-apa. Biar saja apa yang akan terjadi pada keduanya. Justru keduanya pernah mencoba membunuh aku. Dan tentu niat itu sampai saat ini masih tersimpan di dalam hati, karena niat itu bersumber dari ibundanya dan barangkali sebentar lagi dari kedua-duanya, dari ibunda dan ayahandanya” Dipanalapun kemudian mencoba melupakan, apa yang akan dilakukan oleh keduanya. Iapun segera pergi ke belakang, ke kandang kuda. Dibersihkannya beberapa ekor kuda yang ada di dalam kandang itu bersama juru pemelihara kuda. Para pekatik dan gamel itu kadang-kadang merasa heran juga, bahwa Ki Dipanala semakin sering bekerja di kandang kuda. Tetapi mereka tidak tahu, bahwa Dipanala di istana Ranakusuman itu seolah-olah sudah tidak mempunyai kerjaan lain yang pasti, kecuali kadang-kadang ia mendapat perintah dan Pangeran Ranakusuma untuk menyampaikan pesan kepada orang-orang yang dekat dengannya. Namun Dipanala yang keras hati itu tetap tidak meninggalkan istana Ranakusuman. Ia sadar, bahwa jika ia pergi, maka umurnyapun tidak akan dapat bertahan, karena baik Pangeran Ranakusuma maupun Raden Ayu Ranakusuma akan memer intahkan orang-orang upahan untuk membunuhnya agar ia tidak membuka rahasia mereka masing-masing.Dengan demikian maka kemungkinan baginya hampir t idak ada bedanya. Meninggalkan istana atau tetap tinggal. Namun yang sedang dipikirkannya adalah bagaimana ia dapat menyingkir bersama keluarganya dan bergabung dalam suatu kelompok kekuatan yang dapat melindunginya dan terutama yang mempunyai sikap yang pasti terhadap orang-orang asing yang semakin lama menjadi semakin berkuasa di Surakarta, dan dengan demikian mereka semakin leluasa menyebarkan racun perpecahan untuk memperkuat kedudukan mereka. Bagi Dipanala, tempat yang paling baik baginya adalah Padepokan Jati Aking. Namun di sana ada Raden Juwiring, sehingga hubungan antara istana ini dan padepokan Jati Aking tampaknya masih terlampau dekat. Tetapi Dipanala tidak begitu terpancang kepada usahanya itu. Sebenarnyalah bahwa ia memang harus berusaha menyelamatkan diri. Tetapi j ika maut memang sudah waktunya menjemputnya, ia tidak akan ingkar lagi, dengan suatu permohonan, mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa melindungi keluarganya dari malapetaka. Namun sehari-har ian itu Dipanala selalu saja digelisahkan oleh rencana Raden Rudira. Setiap kali ia berusaha melupakan rencana itu, karena ia memang tidak berkepentingan. Ia tidak ingin ikut campur sehingga ia akan tersudut semakin jauh. Semakin banyak rahasia yang diketahuinya, sengaja atau tidak sengaja, maka semakin sulitlah perasaannya dan bahkan semakin sempit lah ruang yang dapat dihuninya untuk mempertahankan hidupnya. ”Aku tidak ingin menjadi korban dar i rahasia orang-orang lain. Biar saja Raden Rudira mengetahui rahasia ibunya. Biar saja Raden Rudira melihat kenyataan bahwa ibunya sama sekali bukan seorang perempuan bangsawan yang terhormat seperti yang diduganya. Juga ayahandanya bukan seorang laki- laki yang baik apalagi sebagai seorang Pangeran. Bilamana dikehendaki ia dapat mengambil beberapa orangisteri, tetapi tidak meloncati pagar ayu, menodai cinta kasih seorang perempuan yang bersuami” berkata Dipanala di dalam hatinya. Tetapi ketika kemudian ia melihat sebuah kereta memasuki halaman istana Pangeran Ranakusuma menjelang senja, maka hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Ia tahu benar, bahwa Raden Rudirapun sudah menyiapkan kudanya meskipun Mandra masih belum datang menemuinya. Bagaimanapun juga ia berusaha, namun Ki Dipanala tidak dapat menutup mata, bahwa ia melihat Pangeran Ranakusuma telah berangkat lebih dahulu ke istana Kangjeng Susuhunan Pakubuwana, kemudian disusul oleh Raden Ayu Ranakusuma mengenakan pakaian yang cemerlang, dengan perhiasan yang berkilauan seperti bintang yang gemerlapan di langit. Dipanala yang berada dilongkangan belakang menar ik nafas dalam-dalam. Belum lagi debar jantungnya mereda, dilihatnya Mandra dengan tergesa-gesa menemui Raden Rudira di depan gedogan kuda. “Semuanya sudah beres. Kita dapat berangkat apabila gelap telah menyeluruh” Raden Rudira mengerutkan keningnya. Namun ia bertanya “Apakah kau baru datang?“ “Ya Raden” “Lama sekali?“ “Aku berusaha menyelesaikan semuanya. Dengan demikian maka kita tidak akan berbuat dua kali” Rudira yang kemudian melihat Dipanala berhenti sejenak. Meskipun Dipanala tampaknya tidak menghiraukannya, namun Rudirapun kemudian membawa Mandra pergi. “Persetan“ Dipanala merasa bahwa dir inya dicur igai oleh Kudira ”Aku t idak peduli. Aku tidak peduli”Ingin rasanya Dipanala itu menjerit. Seandainya ia seorang anak-anak yang masih pantas berteriak keras-keras, maka iapun akan berteriak keras-keras pula. Meskipun Dipanala tidak mendengar pembicaraan antara Rudira dan Mandra, namun ia sudah dapat menangkap maksudnya, karena iapun mendengar pembicaraan sebelumnya. “Aku tidak mau tahu“ Ki Dipanala menggeram. Rudira yang kemudian berbicara sambil berbisik-bisik dengan Mandrapun telah menetapkan rencana mereka. Mereka benar-benar akan pergi ke istana Pangeran Surawijaya untuk melihat sendiri, apa yang telah terjadi di dalam bujana makan dan minum yang diselenggarakan oleh beberapa orang perwira Kumpeni. Dipanala yang kemudian meninggalkan longkangan, karena ia tidak mau mengetahui rahasia itu lebih banyak, duduk di serambi gandok seorang dir i. Ia melihat beberapa orang penjaga regol yang sedang berganti tugas. Dalam kesibukan para pengawal disenja hari itu, Dipanala justru merasa hatinya terlalu sepi. Ia merasa bahwa tidak ada sesuatu yang dapat dikerjakan. Apapun yang dilakukan rasa- rasanya tidak akan bermanfaat sama sekali. Bahkan berbuat baikpun agaknya tidak akan menguntungkannya. Seandainya ia mencoba mencegah Rudira, karena yang akan dilakukannya itu benar-benar berbahaya, tentu anak muda itu akan salah paham. Dan ia akan dianggap sebagai seseorang yang lelah mengetahui rahasianya pula. “Lebih baik aku pulang” berkata Dipanala kepada diri sendiri “Lebih baik bermain-main dengan anak-anak. Jika orang-orang di istana ini memer lukan aku, mereka akan memanggil. Apalagi Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu tidak ada di rumah. Tentu tidak akan ada orang yang memer lukan aku”Tetapi ketika ia sedang berdiri, ia terkejut mendengar derap dua ekor kuda dari halaman belakang. Hampar di luar sadarnya ia melekatkan tubuhnya pada dinding gandok dan bergeser di belakang tiang sehingga terlindung dari cahaya obor yang sudah dinyalakan, karena bayangan tiang itu. Dengan hati yang berdebar-debar ia melihat Raden Rudira dan Mandra yang berada di atas punggung kuda keluar dari halaman istana Ranakusuman. Sejenak Dipanala seakan-akan membeku Di tempatnya. Keragu-raguan yang dalam telah menghentak-hentak di dadanya. Namun sekali lagi ia menggeram “Aku t idak peduli apa yang akan terjadi. Aku tidak berkepentingan sama sekali” Ketika suara derap kaki-kaki kuda itu lenyap, maka Dipanalapun kemudian meninggalkan tempatnya. Di halaman samping ia berpapasan dengan seorang pelayan yang baru keluar dari dalam istana. Katanya “Istana rasa-rasanya menjadi sangat sepi” “Tentu” sahut Ki Dipanala “semuanya telah pergi. Pangeran Ranakusuma, Raden Ayu dan Raden Rudira” jawab Ki Dipanala. “Berulang kali hal serupa itu terjadi. Tetapi rasa-rasanya tidak seperti malam ini” “Kenapa?“ bertanya Ki Dipanala kemudian. “Lampu di ruang tengah itu seakan-akan tidak mau menyala dengan terang. Meskipun sumbunya telah aku panjangkan, namun nyalanya itu bagaikan pelita yang kehabisan minyak saja” “Tentu minyaknyalah yang kurang bersih” “Minyaknya adalah minyak yang setiap kali aku pergunakan”“Tentu pada suatu ketika minyak itu habis, dan minyak yang baru itu tidak sebaik minyak yang lama” “Tidak. Aku sudah mempergunakan minyak ini selama tiga malamberturut-turut” Ki Dipanala tidak menjawab lagi. Tetapi ketika ia menengok ruang dalam lewat pintu butulan, rasa-rasanya ruangan itu memang sepi dan bersuasana lain. “Marilah kita lihat” berkata Ki Dipanala kepada pelayan itu. Keduanyapun kemudian memasuki ruang dalam istana Ranakusuman. Mereka memang merasakan suasana yamg lain. Lampu minyak yang biasanya terang benderang, rasa- rasanya memang menjadi suram. Bukan saja lampu di ruang tengah. Bahkan ketika keduanya memasuki bilik Raden Ayu Ranakusuma, terasa seakan-akan tengkuk mereka telah dihembus perlahan- lahan sehingga seluruh bulu kulit mereka berdiri. Dipanala bukan seorang penakut. Yang terjadi baginya seakan-akan sekedar suatu kebetulan saja. Namun demikian ia tidak dapat ingkar, bahwa hatinya telah diusik oleh kegelisahan, seakan-akan yang terjadi itu adalah suatu isyarat. Tetapi karena kebodohannya, maka ia tidak dapat mengurai apakah yang sebenarnya akan terjadi. Sekali lagi pelayan itu mencoba menar ik sumbu lampu- lampu minyak di ruang dalam, namun cahayanya bagaikan tetap redup. Tiba-tiba saja Dipanala tersenyum sambil berkata “Ada yang kau lupakan” “Apa Ki Dipanala?“ “Lihatlah, lampu di pendapa masih menyala terlampau terang Agaknya masih belum kau susut sama sekali” “Masih terlampau sore”“Maksudku, justru karena lampu di pendapa itu terlampau terang, maka lampu di dalam ruangan ini tampaknya sangat redup. Cobalah, susut sedikit lampu di pendapa itu” “Apakah begitu?“ “Cobalah. Nanti dibesarkan lagi” Pelayan itupun kemudian pergi ke pendapa. Disusutnya lampu yang menyala terang sekali, sehingga cahayanya menjadi redup. Dengan demikian, ketika ia masuk ke ruang dalam, maka lampu- lampu di ruang dalam itu rasa-rasanya menjadi bertambah terang. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Kau benar Ki Dipanala” “Nah, sekarang, tariklah sumbu lampu di pendapa itu, supaya istana ini t idak kelihatan redup” Pelayan itu kembali lagi ke pendapa, dan dibesarkannya nyala lampu yang tergantung di tengah-tengah pendapa yang besar dan dihiasi dengan Barang-barang yang cukup baik dan mahal, yang sebagian diterimanya sebagai hadiah dari perwira-perwira kumpeni. Tetapi belum lagi pelayan itu masuk, seorang peronda mendekatinya sampai di tangga pendapa sambil bertanya “He. kenapa kau bermain-main dengan lampu minyak itu?“ Pelayan itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Peronda itupun tidak bertanya lagi. Dengan dahi yang berkerut-merut ia melangkah kembali ke gardu di regol depan. Namun dalam pada itu, meskipun pelayan itu agaknya mencoba mengerti keterangan Ki Dipanala, bahwa ruangan- ruangan di dalam istana itu tampaknya redup karena justru lampu di pendapa terlampau terang, namun bagi Dipanala sendiri ada sesuatu yang masih tetap mengganggu, justru karena ia tahu, kemana Raden Rudira pergi.Karena itulah, maka hatinya masih tetap tidak tenang. Apalagi ketika terasa sesuatu yang aneh menyentuh perasaannya ketika ia berada di dalam bilik Raden Ayu Ranakusuma dan Raden Rudira yang terasa sangat sepi, sesepi kuburan. Yang tampak hanyalah alat-alat rumah tangga yang berdiri tegak dan kaku. Geledeg kayu berukir, pembaringan yang bersih dialasi dengan kain yang mengkilap, serta sebuah kaca yang besar, yang diterima juga sebagai hadiah dari orang-orang asing itu, dengan berbagai macam benda yang lain yang sangat mengagumkan. Namun semuanya itu bagaikan per lambang dari hati Raden Ayu Ranakusuma yang mati seperti benda-benda itu. Tidak berperasaan. Tetapi Ki Dipanala tidak mengatakan sesuatu kepada pelayan jang masih berdiri di sisinya. Bahkan perlahan-lahan pelayan itu berkata kepadanya “Bilik ini pada suatu saat tentu akan penuh sesak dengan hadiah-hadiah yang setiap saat diterimanya” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Marilah. Bukankah kau hanya mempersoalkan nyala lampu yang redup itu?“ Pelayan itu menganggukkan kepalanya. “Dan bukankah kau sudah mengetahui sebabnya?“ Sekali lagi pelayan itu mengangguk. “Jika demikian, aku akan keluar dan pulang, menengok anak-anak di rumah” “Silahkan Ki Dipanala” berkata pelayan itu. Ki Dipanalapun kemudian meninggalkan pelayan itu di tangga pintu butulan. Dengan langkah yang lamban, Dipanala berjalan menuju kebutulan dinding halaman di belakang, yang langsung menuju ke halaman rumahnya yang terletak di balik dinding halaman itu.Namun hatinya masih saja dipengaruhi oleh kepergian Raden Rudira. Setiap kali ia mencoba mengusir perasaannya itu, namun setiap kali pula ia menjadi berdebar-debar. Ketika Dipanala sudah berada di luar halaman, dan sudah menutup pintu itu kembali, hatinya menjadi semakin ragu- ragu. Karena itulah maka iapun mengurungkan niatnya untuk memasuki rumahnya yang sudah tertutup. Bahkan iapun pergi ke kandang kuda dan dengan hati-hati membenahi pakaian kudanya dan menuntunnya keluar perlahan-lahan, agar tidak mengejutkan isi rumahnya. Sejenak kemudian Ki Dipanalapun sudah berpacu di jalan yang sudah menjadi sepi karena malam yang semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin gelap, meskipun di langit bintang-bintang bercahaya dengan cerah. Kegelisahan di hati Ki Dipanala ternyata telah mendorongnya untuk berpacu lebih cepat. Iapun tahu benar, bahwa malam itu Raden Ayu Galihwarit sedang mengadakan bujana makan dan minum tanpa batas di rumah Pangeran Surawijaya. Tetapi ia tidak mau terlibat terlampau jauh. Sebenarnya ia hanya ingin mengetahui, apakah yang akan terjadi di rumah Pangeran itu, jika Raden Rudira mengetahui apa yang dilakukan oleh ibundanya. Karena itu, ia tidak langsung mendekati istana itu. Diikatnya kudanya agak jauh dari istana Pangeran Surawijaya. Kemudian untuk beberapa lamanya ia menunggu di dalam kegelapan sebelum ia pergi mendekati halaman yang luas dan berdinding tinggi. Tetapi pepohonan di luar dinding memberi kesempatan kepadanya untuk melihat apa yang ada di dalam, karena dahan-dahannya yang menjulang melampaui tinggi dinding halaman itu.Sejenak Ki Dipanala menunggu. Ia menduga, bahwa Raden Rudirapun pasti sedang menunggu. Tetapi ia tidak tahu, dimana anak muda itu bersembunyi bersama Mandra. Karena itu maka Ki Dipanala harus berhati-hati. Ia harus menghindarkan diri dari anak muda itu, agar ia tidak menambah kesulitan bagi dir inya sendiri karena ia mengetahui pula rahasianya disamping rahasia ayah dan ibundanya. Betapa dada Ki Dipanala menghentak-hentak ketika ia mendengar gelak tertawa di pendapa istana yang dihiasi dengan lampu yang terang benderang. Gelak tertawa orang- orang asing yang diseling dengan suara tertawa dalam nada tinggi. Suara isteri para bangsawan yang keriangan pula di dalam bujana itu. Apalagi mereka masih mengharap bermacam-macam hadiah dari orang-orang asing itu. Hadiah yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya, karena hadiah itu adalah benda-benda yang mereka bawa dari negeri mereka. Ki Dipanala yang menunggu di luar dinding menjadi pening. Suara tertawa itu dapat membuatnya menjadi gila. Karena itu, maka akan lebih baik baginya untuk melihat apa yang terjadi dari pada sekedar mendengar suaranya. Sebab dengan demikian ia dapat membayangkan apa saja menurut angan- angannya terjadi di balik dinding itu. Tetapi jika ia melihatnya, maka ia akan segera dibatasi oleh penglihatannya, meskipun yang dilihatnya itu mungkin juga sangat memuakkannya. Seperti anak-anak ingin melihat adu ayam di arena yang penuh, maka Ki Dipanalapun kemudian memanjat sebatang pohon di luar dinding. Dengan hati yang berdebar-debar ia menjengukkan kepalanya dari balik dedaunan yang rimbun. Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ternyata memang yang dibayangkan jauh lebih menggetarkan dadanya dari yang terjadi. Ternyata mereka hanya sekedar duduk berkeliling pendapa sambil berbicara, meskipun betapa riuhnya. Justru orang-orang asing yang belum menguasai bahasa Jawa, danmencoba mempergunakannya itulah yang dapat menimbulkan gelak yang sangat riuh. Dipanala meraba keningnya. Tetapi ia tetap duduk di atas dahan. Bahkan kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata “Mudah-mudahan tetap seperti itu saja, seperti yang sering dilakukan di rumah Pangeran Ranakusuma. Sekedar makan dan minum” Dan ternyata bahwa Ki Dipanala tidak melihat sesuatu yang dapat menggetarkan hatinya, dan sudah barang tentu hati Raden Rudira. Ia melihat juga Raden Ayu Galihwarit duduk di antara beberapa orang puteri bangsawan. Dan Raden Ayu Galihwar it yang berpakaian cemerlang itupun tidak berbuat apa-apa selain tertawa dan kadang-kadang sampai terguncang-guncang. Sejenak kemudian orang-orang di pendapa itupun dijamu makan yang bagi Dipanala, melampaui setiap batas keinginannya. Bermacam-macam jenis lauk pauk telah terhidang. Bahkan di antaranya adalah jenis lauk pauk yang belum pernah dilihatnya, yang mungkin disesuaikan dengan cara makan orang-orang asing itu. Tetapi acara makan itupun tidak menar ik perhatiannya. Bahkan Dipanalapun mulai jemu duduk di atas dahan itu. Tetapi ia masih juga ingin tahu kesudahan dari pertemuan yang demikian. “Apakah seperti yang sering terjadi di istana Pangeran Ranakusuma, atau masih ada acara-cara lain yang dapat membakar hati Raden Rudira?“ bertanya Ki Dipanala di dalam hatinya. Namun sejenak kemudian, ternyata pertemuan itu berakhir. Beberapa orang bangsawan dan orang asing itu minta diri dan meninggalkan istana Surawijayan. Ki Dipanala menarik nafas lega. Jika Raden Ayu Galihwar itpun kemudian pulang ke istana Ranakusuman, makatidak akan timbul persoalan yang dapat mendebarkan jantungnya. Raden Rudira yang tentu juga telah mengintip, pasti akan segera pulang tanpa terjadi sesuatu. Tetapi tiba-tiba alis Ki Dipanala berkerut. Dilihatnya pendapa itu semakin lama menjadi semakin sepi. Namun Raden Ayu Galihwarit masih belum minta diri untuk meninggalkan pendapa itu. Dada Ki Dipanala mulai berdebar-debar. Karena itu, maka ia justru memperhatikan pendapa itu lebih tajam lagi. Hatinya yang semula mulai tenang, kini telah bergejolak kembali. Dan rasa-rasanya kegelisahannya tidak lagi dapat ditahankannya di dalam dadanya, ketika bangsawan yang terakhir meninggalkan pendapa itu. “Apakah yang akan terjadi?“ Ki Dipanala menjadi semakin berdebar-debar. Namun sekali lagi ia harus menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa Raden Ayu Galihwaritpun kemudian minta diri pula. Seperti biasanya, maka sebuah kereta sudah siap untuk mengantarkannya. “Hem“ Ki Dipanala berdesah “Aku terlampau berprasangka. Ternyata Raden Ayu Galihwaritpun segera pula sebelum malam menjadi semakin jauh” Karena itu maka Dipanalapun segera turun dar i dahan di luar dinding halaman. Namun ada sesuatu yang tidak mapan di dalam hatinya. Ia tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk mengikuti kereta Raden Ayu Galihwar it itu. Bagaimanapun juga ia mencoba mencegah keinginannya itu, namun Ki Dipanala tidak berhasil. Dengan demikian maka iapun dengan tergesa-gesa pergi ke kudanya. Hatinya sendiri telah memaksanya untuk kemudian dari jarak yang agak jauh mengikuti sebuah kereta yang meninggalkan regol istana Pangeran Surawijaya.“Agaknya hatiku memang ditumbuhi rambut jagung” berkata Ki Dipanala di dalam hatinya “Akulah yang berpikir jelek” Tetapi Dipanala masih tetap mengikuti kereta itu di dalam keremangan malam di jalan raya kota Surakarta. Namun ia harus berhati-hati. Jika Raden Ayu Galihwarit mengetahui bahwa ia mengikutinya, maka nafsunya untuk membunuh pasti akan menjadi semakin besar. Sejenak Ki Dipanala hanya melihat kesepian. Kota yang ramai di siang hari itu bagaikan sudah tidur nyenyak. Sinar lampu minyak masih tampak berpencaran di beberapa buah rumah di pinggir jalan. Tetapi rumah-rumah yang lain tampaknya sudah menjadi gelap seperti tidak berpenghuni. Namun terasa dada Ki Dipanala berdesir ketika matanya yang tajam menangkap bayangan sesuatu di pinggir jalan di hadapannya, bahkan di hadapan kereta Raden Ayu Galihwarit. Bayangan itu adalah bayangan sebuah kereta pula, seperti kereta yang dipergunakan oleh Raden Ayu Galihwarit. Ki Dipanala benar-benar menjadi berdebar-debar. Iapun segera meloncat turun dan mengikat kudanya Di tempat yang agak jauh dan terlindung. Namun ia tidak segera tahu, apa yang harus dilakukan. Ki Dipanala hanya dapat mengawasi kereta Raden Ayu Galihwar it yang juga berhenti. Dengan hati-hati Dipanala merayap mendekat di luar sadarnya. Seakan-akan ia dengan bernafsu sekali ingin mengetahui apa yang telah terjadi. Terasa dada Ki Dipanala terguncang. Ia melihat seorang perwira berkulit putih turun dari kereta yang semula berhenti, kemudian meloncat naik kekereta yang lain, yang ditumpangi oleh Raden Ayu Galihwarit. “Gila, Gila“ terasa dada Dipanala bergejolak. Wajahnya menjadi panas dan tangannya bagaikan ingin meremas kepalaorang asing itu. Juga di luar sadarnya, Ki Dipanala meraba hulu kerisnya. Tetapi tiba-tiba ia menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Bahkan kemudian dengan geram ia berkata di dalam hatinya “O, apakah aku akan melibatkan diri dalam kesulitan yang lebih dalam? Ketika aku tanpa sengaja menjumpai peristiwa yang hampir sama, maka maut sudah mulai meraba tengkukku. Apalagi j ika aku sekarang mengulanginya. Maka aku rasa umurku tidak akan bertahan sampai sepekan” Ki Dipanala menahan gejolak di dadanya dengan telapak tangannya. “Aku tidak peduli. Aku tidak peduli. Ternyata yang telah terjadi itu tidak membuat Raden Ayu Galihwarit menjadi jera. Kemaksiatan itu masih juga diulanginya, tanpa menghiraukan kemungkinan yang dapat terjadi “ Namun dada Ki Dipanala tiba-tiba berguncang ketika ia teringat kepada Raden Rudira. Jika anak itu mengetahui apa yang terjadi, tentu ia tidak akan dapat menahan hatinya lagi. Apalagi jika Raden Rudira sempat mengikuti kemana kereta ini akan pergi dan apa yang akan dilakukan oleh Raden Ayu Galihwar it selanjutnya. “Aku tidak peduli. Aku tidak peduli“ Ki Dipanala menggeram di dalam dadanya. Karena itu, maka iapun kemudian melangkah surut, la tidak akan ikut mencampuri persoalan itu, agar ia tidak semakin tersudut di dalam kesulitan. Ia masih mempunyai keluarga yang harus mendapat per lindungannya. “Jika aku mati karena aku mempertahankan harga diri tanah ini, apaboleh buat. Tetapi alangkah nistanya mati tanpa arti dibunuh oleh Mandra dan kawan-kawannya” Ki Dipanala mengeluh di dalamhati.Tetapi niatnya diurungkannya ketika ia mendengar desir di tikungan. Ketika dari celah-celah dedaunan ia melihat di dalam keremangan malam dua ekor kuda yang perlahan- lahan maju di sebelah lorong kecil menuju ke jalan raya, hatinya bagaikan melonjak. Kedua orang penunggang kuda itu adalah Raden Rudira dan Mandra. Sejenak Ki Dipanala tidak dapat berpikir apakah yang sebaiknya dilakukan. Namun dalam pada itu, kereta yang semula ditumpangi oleh orang asing itu sudah mulai bergerak meninggalkan tempatnya. Sebelum Ki Dipanala berbuat sesuatu, maka ia mendengar Mandra berdesis “Sekarang Raden” Keduanya melecut kudanya, sehingga kuda itupun segera meloncat berlari menuju kekereta yang masih brhenti di pinggir jalan Sebuah desir yang tajam bagaikan membelah jantung Ki Dipanala. Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi kemudian. Karena itu. di luar sadarnya iapun bergeser menepi, sehingga meskipun dari kejauhan, ia dapat menyaksikan apa yang terjadi dalam keremangan malam. “O” Ia berdesah “kudaku tertambat agak jauh” Dipanala berdiri saja mematung. Dengan demikian ia memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika ia berlari ke kudanya, maka yang akan terjadi pasti sudah terjadi. Ki Dipanala terkejut ketika sejenak kemudian ia mendengar seseorang berteriak “Kubunuh kau bule“ Tetapi suara itu bukan suara Raden Rudira. Suara itu adalah suara Mandra. Pada saat itu, kereta yang ditumpangi oleh Raden Ayu Galihwar it dan perwira kumpeni itu sudah siap untuk berangkat. Tetapi suara Mandra itu bagaikan member i aba- aba kepada perwira kumpeni itu untuk bertindak. Dengantangkasnya ia menyambar sesuatu sebelum tangannya mendorong pintu keretanya. Ketika pintu itu terbuka, iapun segera meloncat turun. Sesaat kemudian terdengar sebuah ledakan memekakkan telinga. Ledakan yang serasa meretakkan dada Ki Dipanala. Ia tahu benar, suara apakah yang telah merobek sepinya malam itu. Dan hampir berbareng dengan itu, seorang dari kedua penunggang kuda yang ingin menyerang perwira kumpeni itupun terlempar dari kudanya dan jatuh di jalan berbatu-batu. Sementara itu, selagi orang yang terjatuh itu menggeliat, maka kuda yang lainpun berlar i kencang sekali dan hilang membelok ke dalam sebuah lorong sempit Ki Dipanala mengetahui, bahwa untuk meledakkan senjata itu untuk kedua kalinya diperlukan waktu. Karena itu hampir saja ia meloncat menyerang. Tetapi sekali lagi hatinya telah diterkam oleh keragu- raguan. Ia mengetahui bahwa yang terlempar itu justru adalah Raden Rudira yang berpacu di depan. Selagi Ki Dipanala ragu-ragu, maka terdengar kereta yang ditumpangi oleh perwira kumpeni dan Raden Ayu Galihwarit itu mulai berderak, dan roda-rodanyapun mulai berputar pula. Dalam pada itu, di dalam kereta yang sudah mulai bergerak itu, Raden Ayu Galihwarit menggigil ketakutan mendengar bunyi ledakan senjata perwira kumpeni itu. Namun sambiltersenyum perwira asing itu berkata dalam bahasa yang patah-patah “Tidak ada apa-apa” “Siapakah yang tuan tembak itu?“ Perwira itu tertawa “Seorang perampok. Mereka ingin merampok aku. Memang ada orang-orang Surakarta yang tidak senang melihat kehadiran kami, betapapun baik maksud dan tujuan kami” Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih bertanya “Apakah mereka tidak akan menyerang kita lagi nant i?“ “Tentu tidak berani. Yang masih hidup itu tentu akan lari, karena ia tidak akan dapat melawan senjataku. Mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak mau ditolong hidupnya untuk mengetahui kemajuan dunia. Pandangan mereka terlampau sempit dan sombong. Jika sekali-sekali mereka melihat negeriku dan negeri-negeri tetangga, barulah mereka sadar, bahwa mereka sudah ketinggalan untuk lebih dari satu abad lamanya. Raden Ayu Galihwarit tidak begitu mengerti maksud perwira asing itu. Namun iapun menjadi agak tenteram, karena perwira itu memang memiliki senjata sedahsyat petir. Dengan demikian Raden Ayu Galihwar it mencoba untuk melupakan apa yang baru saja terjadi. Ia harus berbuat sebaik-baiknya terhadap perwira kumpeni itu dan ia akan segera kembali ke istana Ranakusuman sebelum Pangeran Ranakusuma datang dari istana Susuhunan. Selagi kereta itu berderik di sepanjang jalan, maka Ki Dipanala berdir i membeku Di tempatnya. Namun ia tidak sampai hati untuk tidak berbuat sesuatu, karena dari kejauhan ia yakin bahwa sebenarnya Raden Rudira masih belum benar- benar terbunuh.Setelah melalui pergolakan perasaan yang riuh, akhirnya Ki Dipanala melangkah setapak demi setapak mendekati. Tetapi iapun segera meloncat ke samping dan hilang di balik dedaunan ketika ia mendengar seekor kuda berderap mendekat. Dan Ki Dipanala yakin, bahwa orang berkuda itu pasti Mandra. “Ia akan dapat segera menolongnya. Agaknya masih ada harapan bagi Raden Rudira” berkata Ki Dipanala di dalam hati. Sejenak kemudian maka seekor kuda berhenti beberapa langkah di samping tubuh Raden Rudira yang tergolek di tanah. Namun setiap kali anak muda itu masih mencoba untuk bangkit, meskipun ternyata ia sudah tidak mampu lagi. Ketika ia melihat Mandra berdiri tegak di sampingnya, maka terdengar suaranya lemah “Mandra. Mandra. Tolong bawa aku pulang. Aku ingin berbicara dengan ayahanda” Tetapi Mandra masih tetap berdir i Di tempatnya. “Mandra. Mandra“ nafas Raden Rudira menjadi semakin terengah-engah. Namun yang terdengar adalah suara tertawa yang berkepanjangan. Ternyata suara tertawa itu telah mengejutkan Raden Rudira, sehingga iapun tersentak sejenak. Kepalanya terangkat dan untuk beberapa lamanya ia bersandar pada siku tangannya. Tetapi tidak terlalu lama, karena kemudian kepalanya itu dengan lemahnya perlahan- lahan terkulai lagi di tanah. Namun terdengar suaranya lemah “Kenapa kau tertawa? Aku terluka. Meskipun peluru bangsat itu hanya mengenai pundakku, tetapi aku terbanting dari kuda. Punggungku terasa seakan-akan patah dan darah masih saja mengalir” Suara tertawa Mandra menjadi semakin keras. Namun sejenak kemudian suara itu mereda “Raden. Aku hanya ingin menimbulkan kesan kepada orang-orang yang tinggal tidakbegitu jauh dari tempat ini. Mereka tentu mendengar ledakan senjata orang asing itu. Mereka tentu menyangka terjadi sesuatu. Tetapi jika mereka mendengar suara tertawa, maka mereka tentu akan berpikir lain” “O“ suara Raden Rudira menjadi semakin lemah “sekarang tolonglah aku, bawa aku pulang. Aku akan berbicara dengan ayahanda. Ayahanda harus tahu apa yang telah terjadi” Tetapi aneh sekali. Ki Dipanala yang mendengar pembicaraan itu dari balik gerumbul di pinggir jalanpun menjadi bingung ketika ia mendengar Mandra tertawa pula. “Mandra“ desak Raden Rudira “Jangan tunggu aku mati di sini” Dan yang benar-benar mengejutkan adalah jawaban Mandra “Apakah salahnya?“ “Mandra” sekali lagi Raden Rudira tersentak kali lagi ia tergolek dengan lemahnya. “Yang terjadi adalah di luar kekuasaanku Raden” “Tetapi, kau dapat berusaha” “Terlambat” “Kenapa terlambat?“ Mandra tidak menjawab. Tetapi suara tertawanya masih terdengar. “Mandra, Mandra. Apakah kau sudah gila” desis Rudira. “Tidak, tidak Raden. Aku masih tetap sadar. Dan akupun menyadari kegagalan ini” “Kenapa bisa gagal Mandra? Kau mengatakan bahwa semuanya sudah kau atur sebaik-baiknya. Kau sudah berbicara dengan sais kereta itu. Dan kau katakan bahwa orang asing itu tidak akan membawa senjata di dalam keretanya, apalagi kereta yang satu itu”Ketika kemudian Mandra tertawa, Raden Rudira menjadi curiga. Juga Ki Dipanala menjadi cur iga. “Raden” berkata Mandra “nasib Raden memang terlampau jelek. Seharusnya orang itu tidak bersenjata dan seharusnya sais itu menahan keretanya” “Tetapi kenapa tidak” Suara tertawa Mandra semakin menyakitkan hati. Bahkan kemudian ia berkata “Sudahlah Raden. Ikhlaskan saja kematian Raden. Raden memang bernasib jelek hari ini” “Mandra, kau benar-benar gila” “Aku tidak gila” “Katakan, kenapa kau berbuat seperti orang gila j ika kau masih tetap sadar?“ “Baiklah Raden. Di saat terakhir sebelum Raden benar- benar mati aku akan mengatakannya” Mandra berhenti sejenak oleh suara tertawanya “Aku tidak dapat mencegah bahwa hal ini harus terjadi. Jika sais kereta itu berbuat sesuatu yang dapat menyelamatkan jiwa penumpangnya, maka hadiahnya terlampau banyak. Terlampau banyak untuk ditolak. Itulah yang menarik perhatianku Raden. Dan aku akan mendapat separo dari hadiah itu” “O“ Rudira benar-benar terkejut mendengarnya. Bahkan jantung Dipanalapun bagaikan melonjak mendengarnya. Hampir saja ia berteriak. Tetapi iapun masih berhasil menahan diri. Bahkan ia tidak dapat menolak ketika sebuah ingatan menyambar hatinya. “Keduanya telah berusaha membunuh aku. Aku tidak berkepentingan apapun atas keduanya. Jika aku melihat yang terjadi biarlah itu sebagai suatu pengalaman saja bagiku” Dalampada itu ia mendengar Raden Rudira berkata dengan suara bergetar “Pengkhianat. Pengkhianat”Tetapi Mandra tertawa saja. “Mandra, apakah aku tidak pernah memberimu sesuatu? Apakah aku tidak pernah memberimu hadiah dan upah yang cukup?“ “Memang cukup Raden. Menurut ukuran orang berkulit coklat seperti kita. Tetapi ternyata orang-orang berkulit putih itu memberikan upah terlalu banyak. Apalagi sais yang mencium rencana pembunuhan itu. Ia dapat mengarang ceritera, alasan apakah yang dipergunakan oleh pembunuh yang mengintai. Iri, dengki, pemberontak, dan apa saja. Sebelum hal ini terjadi, sais itu sudah mendapat kepercayaan. Apalagi setelah ia berhasil menyelamatkan tuannya dan Raden Ayu Galihwarit” “Diam, diam” Raden Rudira masih ingin berteriak. Tetapi suaranya sudah sangat lemah. “Anak yang malang. Di saat terakhir kau telah mengalami bencana ganda. Kau telah dikhianati oleh kepercayaanmu, dan kau harus melihat kenyataan bahwa ibumu bukan orang yang sebersih kapas” “O“ Mandra masih tertawa. Katanya “Aku selalu ingat kepada nasib Sura. Seorang penjilat besar. Mungkin lebih besar dari aku. Jika pada suatu saat tidak diperlukan lagi, maka ia akan dilempar jauh-jauh, bahkan mungkin dibunuh seperti Dipanala. Tetapi agaknya nyawa Dipanala masih cukup liat” Mandra berhenti sejenak, lalu “ingatan itu selalu menghantui aku. Dan terbayanglah nasibku sendiri jika aku tetap menjadi budak Raden yang setiap hari harus menjilat. Akhirnya aku jemu. Ketika sais sahabatku itu menawarkan pekerjaan yang lebih baik, dan sekaligus upah yang menggelarkan jantung, maka aku mengambil keputusan untuk berkhianat sekarang, sekaligus menghilangkan jejak. Memang licik sekali”Raden Rudira menggeram. Terdengar suaranya bergetar oleh perasaan sakit dan terlebih-lebih sakit lagi adalah hatinya “Kau tidak ubahnya seperti anj ing” Mandra justru tertawa. Katanya “Raden benar. Aku memang tidak ubahnya seperti anjing. Jika ada orang lain yang melemparkan tulang lebih besar, aku akan lari kepadanya. Bahkan sekaligus aku akan menggigit tuanku yang terdahulu. Jangan menyesal bahwa tuan sudah memelihara anjing. Dan anjing seperti aku dan Sura pasti masih akan berkeliaran” “Gila, gila. Kubunuh kau” Mandra tertawa semakin keras. Katanya kemudian “Sudahlah. Nikmatilah kepedihan hati yang terakhir. Pengkhianatan dan pelanggaran pagar ayu. Sejenak lagi aku harus kembali ke Ranakusuman. Berpura-pura mencari kau Raden, dan kemudian menangis sehari-harian karena kau tidak dapat diketemukan. Sesudah itu, agar aku tidak terlalu bersedih, aku akan meninggalkan Ranakusumam Di rumah itu aku akan selalu teringat kepada momonganku, karena aku adalah seorang abdi yang setia. Begitu?“ “Gila, gila sekali. O“ Raden Rudira menjadi semakin lemah. “Tetapi Raden, aku masih akan berbuat baik sekali lagi. Aku akan mempercepat penderitaan Raden, kemudian membuang Raden Di tempat yang terasing, begitu? Dan apakah Raden tahu tempat yang terasing itu? Di jalan menuju ke Jati Aking. Aku akan mencobek luka peluru itu. sehingga tepat seperti luka pedang” Mandra berhenti sejenak, lalu “setuju?“ “O“ Raden Rudira sudah kehilangan tenaganya. “Jika mayat Raden diketemukan, maka aku akan menangisinya sekali lagi, dan dengan menyesal meratap kenapa Raden pergi sendiri, tanpa aku. Tentu aku akan menyebar desas-desus bahwa telah terjadi pertengkaran antara Raden dan Raden Juwiring ketika Raden Juwir ing akanmemasuki kota. Kemudian kalian berkelahi dan saling mengejar di luar pengetahuanku karena aku sedang pulang ke rumahku beberapa lama. O, alangkah mudahnya membuat ceritera semacam itu. Mungkin ceritera lain yang lebih menarik” Rudira sama sekali tidak menjawab lagi. Tubuhnya sudah menjadi terlalu lemah oleh darah yang mengalir dan hati yang meronta-ronta. Alangkah pedihnya. “Baiklah Raden. Aku kira sudah cukup. Apakah Raden masih akan bertanya lagi?“ Rudira sama sekali tidak menjawab. “Bagus. Sekarang aku akan mempercepat kematian Raden. Sayang, peluru itu hanya mengenai pundak Raden, sehingga Raden tidak segera mati. Jika Raden cepat mati, Raden tidak akan mendengar pengakuanku yang menyakitkan hati dan mendengar kenyataan tentang ibunda yang cantik dan tetap muda itu” Rudira yang menjadi putus-asa itu sama sekali tidak menyahut lagi. Dalam saat yang menggetarkan jantung itu masih sempat diingatnya lamat-lamat, apa saja yang pernah terjadi dan apa saja yang pernah dilakukan. Dalam keremangan malam yang sepi di jalur jalan kota itu ia masih melihat bayangan Mandra yang berdiri tegak di sisi tubuhnya yang lemah. Sejenak kemudian ia melihat Mandra itu menar ik pedangnya sambil tertawa. Ki Dipanala masih bersembunyi Di tempatnya. Ia sudah mengambil keputusan untuk tidak ikut campur di dalam persoalan antara Mandra dan Raden Rudira. “Aku tidak mau terlibat lagi. Sudah cukup parah bagiku” katanya di dalam hati. Dari tempatnya ia melihat Mandra itu menyentuh Raden Rudira dengan kakinya sambil berkata “Bersiaplah untuk mati.Ini adalah kebaikan hatiku yang terakhir untuk segera mengakhir i penderitaan Raden. Penderitaan lahir dan batin. Mungkin di saat menjelang mati orang-orang berdosa seperti kita memang akan mengalami pender itaan lahir dan batin seperti Raden ini. Tetapi jangan menyesal setelah semuanya terlambat” Perlahan-lahan Mandra mengangkat pedangnya siap untuk menusuk dada Raden Rudira yang terbaring dengan lemahnya. “Jangan mengumpat. Dosamu akan bertambah” desis Mandra sambil tertawa. Namun ketika pedang Mandra itu perlahan-lahan mulai bergerak, ternyata sesuatu yang tidak dimengerti sama sekali oleh Ki Dipanala, telah mendorongnya tanpa dapat dilawannya. Kata hati nuraninya ternyata jauh lebih kuat dari nalarnya, sehingga tiba-tiba saja ia telah meloncat dari gerumbul di pinggir jalan itu. Mandra yang sudah siap untuk membunuh itu terkejut bukan buatan. Sejenak ia berdiri mematung, namun kemudian dengan cepat ia menginjak dada Rudira sambil melekatkan ujung pedangnya di dada itu pula. Katanya “Kau Dipanala. Apa yang akan kau lakukan?”Dipanala termangu-mangu sejenak. Pedang itu akan dapat segera menghunjamdi dada Raden Rudira. Karena itu, ia tidak boleh berbuat dengan tergesa-gesa. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba semua ingatan tentang usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Raden Rudira itu tersisih oleh kata nuraninya yang sebenarnya. Dengan demikian maka iapun kemudian berusaha dengan sungguh- sungguh untuk menyelamatkan anak muda yang malang itu. “Dipanala” geram Mandra kemudian “Kenapa kau di sini?“ Dipanala termenung sejenak. Lalu jawabnya “Kebetulan saja Mandra. Setiap kali dengan kebetulan aku melihat rahasia yang besar tentang keluarga Ranakusuman, sehingga hampir saja aku terbunuh agar aku tidak menyebarkan rahasia itu” “Lalu sekarang kau mau apa?“ “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat Raden Rudira mati” Mandra menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya Dipanala dan Rudira berganti-ganti. Dipanala yang berdiri tegak di dalam keremangan malam, sedang Rudira yang menjadi semakin lemah, sudah tidak dapat melawannya sama sekali, sementara kakinya diletakkannya di dada orang yang selama ini diturutinya setiap patah katanya. “Mandra” berkata Dipanala kemudian “Aku mengetahui segala rahasia yang tersimpan di Ranakusuman. Aku juga mengerti bahwa kau dan Raden Rudira berusaha membunuhku atas persetujuan Raden Ayu Galihwarit karena kebetulan aku mengetahui apa yang pernah terjadi, seperti yang terjadi saat ini” “Gila” geram Mandra. Tetapi iapun kemudian tertawa sambil berkata kepada Raden Rudira “Nah Raden, ketahuilah. Kita memang telah dipaksa dengan cara yang paling halus untuk membunuh Dipanala karena Dipanala pernahmengetahui rahasia ibunda Raden Rudira. Satu lagi bekal menjelang kematianmu” Raden Rudira memang sudah terlalu lemah. Tetapi yang paling buruk padanya, adalah perasaan putus-asanya, sehingga seakan-akan ia memang tidak mampu berbuat apapun lagi. “Nah, sekarang aku melihat satu rahasia lagi” berkata Dipanala kemudian “bahwa Mandra, penjilat besar yang berhasil menyingkirkan Sura, telah berkhianat pula. Memang agak berbeda dengan Sura. Sura dianggap berkhianat setelah ia sempat berpikir. Tetapi Mandra berkhianat justru karena ia menjadi penj ilat yang lebih besar lagi, yang sama sekali telah kehilangan akal dan pikiran” “Tutup mulutmu” teriak Mandra “J ika kau membuka mulutmu sekali lagi, pedangku akan segera terhunjam di dada anak malang ini” “Apa peduliku” jawab Dipanala “Kalian telah berusaha membunuh aku. Sekarang kalian akan saling berbunuhan sendiri Silahkan. Silahkan. Dendamku akan terbalas tanpa aku minta. Raden Rudira mati di ujung pedang Mandra, sedang Mandra kelak pasti akan tertangkap karena pembunuhan ini” “Tidak seorangpun melihat” geram Mandra. “Aku. Akulah yang melihat. Aku bersedia untuk menjad saksi di dalam perkara ini” Wajah Mandra menjadi merah padam Dipandanginya Dipanala yang masih berdir i Di tempatnya dengan wajah yang tegang. “Kau tidak akan melakukannya Dipanala” “Kenapa tidak? Ini adalah suatu kesempatan yang paling baik bagiku. Tanpa berbuat sesuatu aku sudah dapat melepaskan pembalasan yang setimpal. Kedua orang yang akan membunuh aku akan mati dengan caranya sendiri.Raden Rudira dengan cara yang pantas, sedang kau akan mengalaminya dengan cara yang lebih mengerikan. Mungkin kau akan digantung di alun-alun, tetapi mungkin kau akan menjadi pertunjukan pendahuluan pada upacara rampogan macan di alun-alun. Kau akan diadu dengan seekor harimau lapar tanpa senjata sebelum har imau itu dirampok oleh para prajurit” “Tidak. Tidak“ Mandra hampir berteriak. “Jangan berteriak. Bukankah ada rumah yang terletak tidak jauh dari tempat ini?“ “Aku tidak peduli” “Jangan menyesal bahwa kelak kau benar-benar akan diadu dengan harimau lapar, karena kau membunuh seorang putera Pangeran. Jika kau terlalu sakti dan memenangkan perkelahian melawan harimau itu, maka kau pasti akan dihukum picis” Namun tiba-tiba Mandra itu tertawa. Katanya “Tidak akan ada saksi hidup yang dapat mengatakan tentang peristiwa ini, kecuali orang asing itu. Ia tentu akan mengatakan bahwa justru aku sudah menyelamatkannya” “Memang kau sudah menyiapkan ceritera panjang tentang usaha pembunuhan itu. Tetapi seperti kau yang dapat mengarang cer itera semacam itu, bahkan tentang jalan sepi ke Jati Aking agar kesan kematian Raden Rudira seakan-akan oleh Raden Juwir ing, maka akupun akan dapat mengarang ceritera yang barangkali lebih baik dari ceriteramu” “Tidak“ Mandra tertawa semakin keras “karena kaupun akan mati di sini. Kau berdualah yang akan diketemukan orang di jalan sepi ke Jati Aking” “Kenapa aku?“ suara Dipanala menjadi gemetar. “Karena kebodohanmulah kau akan mati saat ini. Kenapa kau tidak melihat pembunuhan ini sambil bersembunyi sajajika kau memang ingin menjadi saksi hidup dan melepaskan dendammu kepadaku sama sekali? Tetapi sekarang sudah terlambat. Kau akan aku bunuh juga seperti Raden Rudira” “Aku tidak berbuat apa-apa” sahut Dipanala dengan cemasnya “Aku hanya melihat saja” Mandra tertawa semakin keras. Dan tiba-tiba saja ia mengangkat kakinya dari dada Raden Rudira. Baginya Rudira sudah tidak akan berdaya sama sekali. Kapanpun ia akan dapat membunuhnya dengan mudah. Karena itu, maka perlahan- lahan ia melangkah mendekati Dipanala yang bergeser surut. “Kau ternyata akan mati lebih dahulu dari Raden Rudira. Aku ingin membunuhmu sebelum kau sempat melihat sebagian dendammu terbalas. Kau tidak akan melihat Raden Rudira mati” Mandra tertawa semakin keras “Jangan menyesal bahwa kau terjebak oleh kebodohanmu sendiri” “Jangan, jangan” desis Dipanala sambil terus melangkah surut menjauhi tubuh Raden Rudira. “Apakah kau akan lari” “Tetapi jangan bunuh aku” “Persetan. Senang sekali melihat kau ketakutan. Ternyata aku lebih senang melihat kau ketakutan daripada melihat Raden Rudira yang pasrah. Gila, anak itu tidak menjadi ketakutan seperti kau. Dan untunglah kau datang dan member ikan kepuasan kepadaku” Dipanala masih melangkah surut beberapa langkah. Dan Mandrapun mendekatinya selangkah demi selangkah seperti seekor kucing yang sedang merunduk seekor tikus. Tetapi tiba-tiba Dipanala berhenti. Ia tidak melangkah surut lagi ketika punggungnya sudah melekat pada pagar batu di pinggir jalan.“Ha, kemana lagi kau akan lar i? Apakah kau akan meloncat masuk ke halaman kosong sebelah?“ “Tidak“ Dipanala menggelengkan kepalanya. “Apakah kau sudah pasrah seperti anak itu? Itu tidak menyenangkan. Lebih baik kau ketakutan dan berteriak minta ampun. Aku berharap bahwa tidak ada orang yang akan mendengarnya karena rumah yang terdekat di ujung lorong ini sudah menutup pintunya dan penghuninya sudah tertidur nyenyak. Seandainya lamat-lamat mendengar suaramu, mereka tidak akan berani keluar rumah di saat-saat yang gawat seperti ini. Apalagi mereka baru saja mendengar suara letusan senjata orang asing itu” “Tidak” berkata Dipanala “Aku tidak akan berteriak dan tidak akan lari. Aku sedang mengambil jarak dari Raden Rudira agar kau tidak berbuat licik atasnya karena ia memang sudah tidak berdaya” Mandra terkejut mendengar jawaban itu, sedang Dipanala masih berbicara terus “Aku memang mendendamnya Mandra, tetapi aku sama sekali tidak berhasil memaksa diriku sendiri untuk sekedar menonton saja sebuah pengkhianatan yang paling licik dar i yang pernah terjadi. Penjilat-penjilat semacam kau memang dapat saja berkhianat setiap saat seperti yang kau katakan sendiri, jika ada orang lain yang melemparkan tulang lebih baik dari tuannya, bahkan jika perlu menggigit tuannya yang terdahulu. Itulah yang sangat menyakitkan hatiku, karena dengan demikian kau sudah merendahkan martabatmu sebagai manusia” Mandra yang heran melihat perubahan sikap yang tiba-tiba itu masih belum sepenuhnya menguasai dir i, sehingga ia masih belum menjawab. Dan Dipanala pulalah yang berkata “Nah, sekarang kita akan berhadapan sebagai laki- laki. Aku tidak tahu siapakah yang akan mati di antara kita. Tetapi Setidak-tidaknya kau harus menyadari bahwa perbuatanmu itusama sekali tidak disukai oleh siapapun. Bahkan barangkali oleh dir imu sendir i” “Persetan“ Mandra itu menggeram “Jadi kau akan mencoba melawan” “Ya. Setelah kau tidak mungkin lagi berbuat licik dengan mengacukan pedang di atas tubuh anak muda itu, kemudian memaksa aku untuk membunuh dir i” “Kau benar-benar gila Dipanala. Apakah kau belum mengenal Mandra?“ “Justru karena aku mengenalmu baik-baik. Tetapi agaknya kaulah yang belum mengenal Dipanala. Aku berhasil menyelamatkan diriku dari tangan empat orang yang diupah oleh Raden Rudira” “Jangan sombong. Seseorang telah menolongmu. Tetapi sekarang jangan mengharap pertolongan orang lain” “Aku tidak akan mengharap pertolongan siapapun. Akupun tidak mau menumbuhkan persoalan karena ada seorang saksi bahwa aku telah membunuhmu” “Gila“ wajah Mandra menjadi merah padam. Pedang yang di tangannya tiba-tiba saja telah teracu lurus mengarah ke dada Ki Dipanala. Tetapi Ki Dipanalapun sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Tiba-tiba saja kerisnyapun telah berada di dalam genggaman. Meskipun senjatanya tidak sepanjang pedang Mandra, tetapi kerisnya mempunyai kelebihan pula. Setiap goresan ujung keris itu tentu akan berakibat maut j ika tidak segera mendapat pengobatan yang baik, karena keris itu dilumuri dengan warangan. yang tajam. Sejenak kemudian, oleh kemarahan yang memuncak, maka Mandrapun segera meloncat menyerang dengan pedangnya yang mematuk lurus kedepan. Namun Ki Dipanala yang berdiri melekat dinding batu itu sempat mengelak. Dengantangkasnya ia meloncat ke samping dan segera bersiaga menerima serangan berikutnya. Mandra yang gagal mengenai lawannya, berhasil mencegah ujung pedangnya membentur batu. Bahkan sekaligus ia berputar sambil menggerakkan pedangnya mendatar setinggi lambung menyambar perut Ki Dipanala. Tetapi sekali lagi Ki Dipanala berhasil menghindarinya dengan bergeser sambil menarik bagian tubuhnya yang hampir saja tersentuh pedang lawannya. Bahkan masih sambil membongkokkan badannya, ia mulai menyerang lawannya. Tepat pada saat pedang Mandra berdesing di depan perutnya ia meloncat maju. Senjata yang pendek itu hampir saja berhasil menggores lengan Mandra yang sedang terayun itu, tetapi ternyata Mandrapun tangkas pula sehingga ia berhasil menghindarkan dirinya. Demikianlah sekejap kemudian keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang sengit. Ternyata Mandra tidak berhasil untuk segera membinasakan lawannya. Bahkan semakin lama orang yang sudah melampaui masa pertengahan umurnya itu justru tampak menjadi semakin tangkas. Dalam pada itu, Raden Rudira yang terbaring pasrah, merasakan sesuatu yang asing di dalam dirinya. Ia merasa aneh bahwa tiba-tiba Dipanala telah berkelahi melawan Mandra karena orang itu tidak dapat melihat pembunuhan terjadi, meskipun Dipanala sadar bahwa Rudira memang pernah akan membunuhnya, namun orang itu masih juga berusaha bahkan mempertaruhkan jiwanya. Namun sejenak kemudian timbul pula prasangka di dalam dirinya. Raden Rudira yang lemah itu telah dibayangi oleh dosanya sendiri. “Agaknya Dipanala ingin membunuh aku dengan tangannya sendiri. Tidak oleh Mandra” katanya di dalam hati. Dan ternyata pikiran itu benar-benar telah menghantuinya.Mandra yang sedang bertempur dengan sengitnya menjadi semakin marah karena ternyata Dipanala benar-benar tangkas. Kini Mandra harus menyadari, bahwa Dipanala memang mampu bertahan untuk beberapa lamanya melawan empat orang perampok yang mencegatnya di bulak Jati Sari. “Tetapi aku harus berhasil membinasakannya” geram Mandra di dalam hatinya. Raden Rudira yang dicengkam oleh kecemasan itupun berusaha untuk bangkit. Tetapi badannya benar-benar telah menjadi lemah sehingga ia hanya dapat beringsut setapak demi setapak. Harapannya tumbuh sedikit ketika ia melihat kuda Mandra di pinggir jalan itu. Tetapi untuk mencapai kuda itu, ia memer lukan waktu yang panjang. “Dipanala tentu ingin membunuh Mandra, kemudian baru membunuhku. Mungkin ia mempergunakan cara yang lebih menger ikan lagi karena dendamnya kepadaku, sehingga sepeninggal Mandra ia akan leluasa melakukannya” berkata Raden Rudira di dalam hatinya yang dicengkam oleh prasangka dan kecemasan. Tetapi ia t idak dapat berbuat apa-apa lagi. Meskipun ia masih juga berusaha beringsut mendekati kuda itu, namun hasilnya sangat diragukannya sendiri. Apalagi ketika ia melihat justru Mandralah yang semakin lama menjadi semakin terdesak. “Siapapun yang menang, aku akan mengalami nasib yang jelek sekali” berkata Rudira pula di dalam hatinya. Sepercik penyesalan merayapi jantungnya. Namun kini agaknya telah terlambat. Dalam pada itu, seperti yang dilihat oleh Raden Rudira, sebenarnyalah Mandra yang juga bertubuh raksasa seperti Sura itu mulai terdesak. Meskipun Ki Dipanala bertubuh lebih kecil dan umurnya lebih tua, tetapi ia ternyata masih cukuplincah. Dengan penuh kesadaran, Ki Dipanala menghindari setiap benturan senjata. Bukan saja karena senjata Mandra lebih besar dan panjang, namun Ki Dipanalapun sadar, bahwa kekuatan Mandra tentu jauh lebih besar. Sehingga dengan demikian Dipanala memusatkan perlawanannya pada kepercayaan terhadap kecepatannya bergerak. Semakin lama Mandra yang marah itu justru menjadi semakin terdesak. Ki Dipanala membuatnya bingung karena ketangkasannya. Setiap kali Mandra yang garang itu kehilangan lawannya. Namun dengan senjatanya yang lebih panjang, maka ia masih tetap berhasil melindungi dirinya. Bahkan setiap kali senjatanya yang panjang itu masih juga berbahaya bagi Ki Dipanala. Ayunan yang keras dan kuat, kadang-kadang memaksa Ki Dippnala untuk ber loncatan menjauh, sehingga Mandra masih juga berhasil mendesaknya. Tetapi sejenak kemudian keris di tangan Ki Dipanala itu bagaikan berubah menjadi berpuluh-puluh jumlahnya, berdesing di sekitarnya, seperti sekelompok lebah yang berterbangan menyerang bersama. Namun semakin lama semakin nyata, bahwa Ki Dipanala yang tua itu memiliki beberapa kelebihan dar i Mandra. Ki Dipanala yang menyadari bahwa perkelahian itu akan memakan waktu, maka ia tidak menghabiskan segenap tenaganya sekaligus. Dengan demikian, maka ketika Mandra menjadi semakin terengah-engah diganggu oleh pernafasannya, Ki Dipanala masih tetap bertahan. Dan itulah sebabnya maka Mandra semakin lama menjadi semakin terdesak. Dan bahkan hampir kehabisan tenaga. Dalam keadaan yang demikian, Mandra masih sempat melihat sekilas tubuh Rudira yang bergeser beberapa jengkal dari tempatnya mendekati kudanya yang ada di tepi jalan. Kuda itu sama sekali tidak menghiraukan, apakah yang sedang terjadi beberapa langkah daripadanya.Tiba-tiba saja timbullah niatnya yang licik. Karena ia tidak melihat kemungkinan lagi untuk mengalahkan Ki Dipanala, maka Raden Rudira akan dapat dipakainya sebagai perisai jika ia berhasil menguasainya. Ia menyesal bahwa ia terpancing oleh sikap Ki Dipanala dan melepaskan Raden Rudira. Kini ternyata bahwa Ki Dipanala itu tidak dapat dikalahkannya. Sambil bertempur, perlahan-lahan Mandra bergeser mendekati Raden Rudira yang terbaring lemah. Dengan menghindari setiap serangan Ki Dipanala, dan bahkan sekali- sekali dengan gerak yang melingkar ia bergeser selangkah demi selangkah, sehingga Ki Dipanala tidak menjadi curiga. Ki Dipanala hanya menganggap bahwa Mandra semakin lama telah semakin terdesak olehnya, sehingga karena itu, maka Ki Dipanalapun berkata “Mandra. Masih ada kesempatan bagimu untuk menyerah. Jika kau melepaskan senjatamu, dan member ikan kedua tanganku untuk diikat, kau akan tetap hidup. Aku akan menyerahkan kau kepada yang berhak, Pangeran Ranakusuma” Mandra tidak segera menjawab. Tetapi tawaran itu telah membakar jantungnya. Ia merasa terhina untuk menyerahkan tangannya dan diikat. Terlebih-lebih lagi, jika ia dihadapkan kepada Pangeran Ranakusuma, maka ia tentu akan mendapat hukuman yang sangat berat. Apalagi jika Raden Rudira itu tidak tertolong lagi jiwanya. Meskipun demikian dengan licik ia bertanya “Apakah jaminanmu bahwa sebaiknya aku menyerah?“ “Aku tidak akan membunuhmu “ “Persetan“ Mandra menyerang dengan dahsyatnya. Namun Ki Dipanala berhasil menghindar dan bahkan membalas serangan itu dengan sengitnya pula. Dan memang itulah yang ditunggu oleh Mandra. Dengan loncatan, panjang ia menghindarinya seakan-akan ia benar-benar terdesak tanpa dapat berbuat apa-apa. Tetapi dengan demikian ia menjadi semakin dekat dengan Raden Rudira.“Sudah waktunya” katanya di dalam hati “Aku dapat mencapainya dengan beberapa loncatan, dan mengacukan pedang ini di dadanya. Sejenak Mandra masih memancing perhatian Ki Dipanala, namun ketika terbuka kesempatan baginya, maka dengan serta merta ia meloncat meninggalkan gelanggang perkelahian itu langsung ke tempat Raden Rudira terbaring. Ki Dipanala terkejut melihat hal itu. Ia memang tidak menyangka bahwa Mandra akan berbuat begitu liciknya. Namun bagaimanapun juga itu adalah suatu kelengahan baginya, karena ialah yang telah memulai memancing Mandra untuk meninggalkan Raden Rudira. Ternyata kemudian Mandra mempergunakan cara yang sebaliknya. Dalam waktu yang singkat, Ki Dipanala harus menemukan cara untuk menyelamatkan Rudira. Jika sekali lagi Mandra berhasil mencapai anak muda yang malang itu, maka tentu tidak akan ada kesempatan lagi baginya untuk membebaskannya. Karena itu, di dalam kesulitan itu, Ki Dipanala tidak dapat berpikir panjang. Dengan serta- merta ia melemparkan kerisnya meluncur mengejar Mandra. Sejenak kemudian Ki Dipanala memalingkan wajahnya. Ia mendengar Mandra mengerang tertahan, ketika kerisnya hinggap di punggung orang itu. Tetapi Ki Dipanala tidakmelihatnya ketika Mandra itu jatuh terguling. Yang didengarnya hanyalah sebuah umpatan pendek. Namun kemudian sepi. Sepi sekali. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Kini ia melangkah mendekati Mandra yang sudah menjadi mayat. Dengan dada yang berdebar-debar Ki Dipanala mendekatinya dan mencabut kerisnya dari punggung orang itu. “Aku telah membunuh lagi” desis Ki Dipanala perlahan- lahan “tanpa aku kehendaki, aku telah membunuh beberapa orang tidak di peperangan” Sejenak Ki Dipanala berdir i mematung. Namun sejenak kemudian sambil menjinj ing kerisnya yang berlumuran darah ia berjalan perlahan-lahan mendekati Rudira yang masih saja berusaha beringsut mendekati kuda Mandra yang terikat di pinggir jalan. Dalam keremangan malam Rudira melihat Ki Dipanala melangkah setapak demi setapak mendekatinya dengan keris telanjang di tangannya. Langkah itu terasa bagaikan hentakan yang dahsyat sekali memukul dadanya. Setiap langkah rasa- rasanya sebuah tulang iganya menjadi patah. Sejenak kemudian Ki Dipanala itu berdiri tegak di sisi tubuh Raden Rudira yang terbaring. Rasa-rasanya Ki Dipanala yang tidak sebesar Mandra itu bagaikan seorang raksasa yang berdiri tegak dengan kokohnya. Kakinya yang kuat itu siap menginjak dadanya sehingga tulang belulangnya akan remuk menjadi debu. Sejenak suasana menjadi tegang. Namun sejenak kemudian, hampir di luar dugaannya, Raden Rudira melihat Ki Dipanala itu berjongkok di sampingnya setelah menyarungkan kerisnya. Bahkan ketika ia mendengar Ki Dipanala itu berkata, suaranya tidak sekeras guruh yang menyambar telinganya. Kalanya “Luka Raden cukup parah. Sebaiknya Raden segera kembali ke Ranakusuman”Rudira tidak segera percaya kepada pendengarannya. Bahkan kepalanya mulai agak pening dan pandangannya berkunang-kunang. “Apakah aku sudah dipengaruhi oleh khayalan-khayalan yang menyesatkan” katanya di dalamhati. Namun ia mendengar sekali lagi Dipanala berkata “Marilah Raden, aku tolong Raden naik ke punggung kuda Mandra Kuda Raden sendir i agaknya telah ber lari agak jauh ketika Raden terjatuh” Raden Rudira masih termangu-mangu. Namun Dipanala tidak menunggu darah Raden Rudira semakin banyak mengalir. Bahkan kemudian Dipanala itu pulalah yang menyarankan agar Raden Rudira melepas saja ikat kepalanya untuk menahan darahnya dari luka oleh peluru perwira kumpeni itu. Dengant tertatih-tatih Raden Rudira dipapah oleh Ki Dipanala dan ditolongnya naik ke punggung kuda Mandra. “Hati-hatilah Raden. Tunggulah di sini sebentar. Aku akan mengambil kudaku” Ki Dipanalapun kemudian mengambil kudanya yang disembunyikannya. Kemudian sambil membawa mayat Mandra, Ki Dipanalapun naik bersama dengan Raden Rudira. Sedang mayat Mandra itu diletakkannya menyilang di punggung kudanya sendiri. “Aku akan menjaga Raden” berkata Ki Dipanala. Raden Rudira sendiri tidak mengerti, perasaan apakah yang berkecamuk di dalam dadanya. Bahkan ia masih saja dibayangi oleh prasangka, bahwa tiba-tiba saja Dipanala itu akan menusuk lambungnya dari belakang. Tetapi hal itu ternyata tidak terjadi. Dengan tanpa mengalami gangguan di perjalanan merekapun kemudian mendekati regol Ranakusuman.Ketika regol itu terbuka, maka para penjaganya menjadi sangat terkejut karenanya. Mereka melihat Raden Rudira yang lemah dilayani oleh Ki Dipanala, sedang di punggung kuda yang lain mereka melihat mayat Mandra tergantung menyilang. Sejenak para penjaga regol itu menjadi termangu-mangu. Namun sejenak kemudian pemimpin peronda itu dengan serta merta mengacukan tombaknya ke dada Ki Dipanala sambil berkata “Ki Dipanala, apakah yang sudah kau lakukan? Apakah kau membunuh Mandra dan melukai Raden Rudira” Sebelum Ki Dipanala menjawab, maka beberapa orang pengawal yang lain telah mengacukan senjata mereka pula mengelilingi Dipanala yang masih duduk di punggung kudanya. Sejenak Ki Dipanala menjadi tegang. Bahkan iapun menjadi cemas. Jika Raden Rudira yang sudah akan membunuhnya itu ingkar, dengan sepatah kata saja, anak muda itu akan dapat membunuhnya di regol itu dengan meminjam tangan dan senjata para penjaganya. Karena itu, maka dadanyapun segera bergolak. Dipandanginya para penjaga itu seorang demi seorang. Mereka tentu pernah mendengar, bahwa Raden Rudira sangat membencinya. Sejenak mereka yang ada di regol itu dicengkam ketegangan. Senjata para penjaga regol itu benar-benar sudah siap menembus tubuh Ki Dipanala jika mereka mendengar perintah Raden Rudira, karena para penjaga itu akan dapat menyebut beberapa alasan kenapa mereka melakukannya. “Keputusan terakhir dar i persoalan ini ada pada Raden Rudira” berkata Ki Dipanala di dalam hatinya. Ia sudah tidak sempat berbuat apa-apa lagi. Mengancam Raden Rudirapun ia sudah tidak dapat melakukannya, karena begitu tangannyabergerak mencabut kerisnya, maka tombak para penjaga itu pasti sudah menembus tubuhnya. Sejenak Ki Dipanala menunggu dengan tegangnya. Dadanya bagaikan berhenti berdetak ketika ia merasakan gerak Raden Rudira yang perlahan-lahan mengangkat kepalanya yang lemah. “Kami menunggu perintah Raden” berkata pemimpin penjaga itu. Nafas Raden Rudira menjadi semakin terengah-engah. Tetapi ia masih mencoba berkata “Minggir, minggir semua. Jangan menahan kami lebih lama lagi, supaya aku tidak terlanjur mati sebelum aku bertemu dengan ayahanda” Para penjaga regol itu terkejut. Mereka kurang yakin akan pendengarannya, sehingga karena itulah mereka menjadi ragu-ragu. Namun sekali lagi mereka mendengar suara Raden Rudira yang dalam “Minggir, minggir sebelum aku mat i” Para penjaga regol itupun segera bergeser surut dengan wajah yang tegang. Namun mereka tidak dapat berbuat lain. Mereka harus membiarkan Ki Dipanala memasuki halaman rumah itu sambil menjaga tubuh Raden Rudira yang lemah, sedang di belakangnya seekor kuda yang terikat pada pelana kuda Dipanala itu mengikut inya sambil membawa mayat Mandra. Beberapa langkah dari para penjaga itu Ki Dipanala berdesis “Ter ima kasih Raden” Rudira menar ik nafasnya yang terasa semakin sendat “Kenapa kau yang mengucapkan terima kasih?“ Ki Dipanala tidak menyahut. Sejenak merekapun telah sampai ke pintu samping. Dengan hati-hati Ki Dipanala turun dar i kudanya lebih dahulu,baru kemudian ia mengangkat tubuh Raden Rudira yang semakin lemah. “Buka pintu itu” berkata Ki Dipanala terhadap seorang pelayan yang menjadi termangu-mangu. Pelayan itupun kemudian dengan gugup membuka pintu samping kemudian mengikuti Ki Dipanala masuk ke dalam dan membar ingkan Raden Rudira di pembaringannya. “Panggil seorang tabib yang sering merawat Pangeran Ranakusuma” berkata Ki Dipanala kepada beberapa orang pelayan dengan berkerumun di luar pintu “Cepat” Para pelayan itu termangu-mangu, namun kemudian salah seorang meloncat ke punggung kuda yang baru saja dipergunakan oleh Ki Dipanala bersama Raden Rudira. Ketika di regol halaman para penjaga menghentikannya, pelayan itu hanya berteriak sambil berpacu “Aku harus segera memanggil seorang dukun yang paling pandai di Surakarta” Dalam pada itu, di dalam biliknya Raden Rudira berbaring dengan lemahnya. Ketika Dipanala meneteskan air di mulutnya, Rudira menarik nafas dalam-dalam. “Terima kasih” desisnya. “Sebentar lagi tabib itu akan datang” desis Ki Dipanala. Raden Rudira mengangguk kecil. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia bertanya “Apakah ayahanda belum datang?“ Ki Dipanala tidak dapat menjawab. Ketika ia berpaling kepada pelayan yang ada di belakangnya, maka pelayan itulah yang menjawab “Belum Raden. Ayahanda dan ibunda masih belumpulang” “Persetan dengan ibunda” tiba-tiba saja Raden Rudira menggeram. Wajahnya yang pucat itu menegang sejenak. Namun ia tidak dapat bangkit dari pembaringannya.Pelayan yang mendengarnya menjadi heran. Kenapa tiba- tiba saja Raden Rudira nampaknya marah kepada ibundanya, Raden Ayu Galihwarit. “Paman Dipanala” desis Rudira kemudian “Apakah paman dapat memerintahkan seseorang menyusul ayahanda di istana. Aku ingin segera bertemu dan mengatakan sesuatu sebelum aku mati.” “Tidak. Raden tidak akan mati. Raden akan sembuh karena sebentar lagi tabib itu akan datang” “Panggillah ayahanda” desisnya. Dipanala menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Baiklah Raden” Dipanalapun kemudian memerintahkan salah seorang abdi untuk pergi menyusul Pangeran Ranakusuma ke istana Kangjeng Susuhunan. “Hati-hati1ah. Sampaikan persoalannya dengan sebaik- baiknya. Jangan mengejutkan Pangeran Ranakusuma dan jangan membuatnya menjadi bingung” pesan Ki Dipanala kepada abdi yang akan menyusul Pangeran Ranakusuma itu. Dalam pada itu, di luar, kawan-kawan Mandra sedang merubung mayat orang bertubuh raksasa itu. Mereka ragu- ragu untuk mengambil mayat itu dar i atas punggung kuda. Namun salah seorang dari mereka berkata “Marilah kita bawa masuk ke dalam bilik belakang” “Tetapi, apakah dengan demikian kami tidak berbuat kesalahan?“ Mereka menjadi ragu-ragu sejenak, lalu “Kita bertanya dahulu kepada Ki Dipanala yang membawanya pulang” “Masuklah, dan bertanyalah kepadanya. Ia berada di dalam bilik Raden Rudira”Mereka menjadi ragu-ragu sejenak. Mereka sama sekali tidak dapat membayangkan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Kawan-kawan Mandra itupun menganggap bahwa Raden Rudira dan Mandra adalah orang yang sangat membenci Ki Dipanala meskipun mereka tidak tahu sebabnya. Dan kini mereka melihat justru Ki Dipanala membawa Raden Rudira yang parah dan mayat Mandra. Pada umumnya mereka mempunyai dugaan yang sama. Ki Dipanala telah membunuh Mandra dan melukai Raden Rudira. Tetapi mereka masih juga menyangsikannya. Apakah mungkin Ki Dipanala melawan kedua orang itu sekaligus. “Ki Dipanala mampu berkelahi melawan beberapa orang perampok sekaligus” desis salah seorang dari mereka. Kawan-kawan Mandra yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Memang mungkin sekali Ki Dipanala telah membunuhnya meskipun barangkali ia berbuat curang. Kemudian melukai Raden Rudira sekaligus” “Jika demikian buat apa Dipanala membawa mereka kemari? Kenapa keduanya tidak ditinggalkan saja dimanapun juga?“ “Dimanapun juga akibatnya tidak berbeda. Raden Rudira itu masih dapat menyebut namanya” “Tentu ia akan dibunuhnya sama sekali” Kawan-kawannya tidak menyahut. Keragu-raguan yang tajamtelah mencengkam hati mereka. Sementara itu, seorang pelayan melangkah keluar dari pintu samping. Kemudian pelayan itupun menemui kawan- kawan Mandra yang sedang berkerumun.Sebelum pelayan itu mengatakan sesuatu, kawan-kawan Mandra itupun telah mendahului bertanya “Apakah yang sebelumnya telah terjadi?“ Pelayan itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak seorangpun yang tahu. Raden Rudira masih sangat lemah. Ia tidak mau berbicara tentang apapun juga, selain minta agar Pangeran Ranakusuma dijemput” “Lalu, bagaimana dengan mayat Mandra ini?“ bertanya salah seorang kawannya” “Menurut Ki Dipanala, kita dimintanya untuk mengangkat mayat itu dan membawanya ke dalambilik di ruang belakang” “Kenapa Dipanala, bukan Raden Rudira?“ “Raden Rudira hampir t idak sadar” “Persetan dengan Dipanala. Apakah bukan Dipanala yang telah berkhianat?“ “Kami t idak tahu. Kami menunggu perintahnya. Tetapi Raden Rudira tidak berkata apapun juga. Bahkan seakan-akan ia hanya mau berbicara dengan Ki Dipanala saja” “Aneh“ salah seorang berdesis. Namun t iba-tiba katanya “Cepat, masuklah. Awasi Dipanala itu. Mungkin dengan diam- diam ia berusaha membunuh Raden Rudira yang luka itu untuk menghilangkan jejak kejahatan dan pengkhianatannya” Abdi itu menjadi termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Baiklah. Aku akan menungguinya” Ketika pelayan itu masuk kembali ke dalam, maka kawan- kawan Mandrapun mengangkat mayat itu dan membawanya ke belakang. “Jika benar Dipanala telah membunuhnya, maka ia pasti akan mendapat hukuman yang setimpal. Sebenarnya seisi istana ini sudah membencinya. Tetapi aku tidak tahu, bahwahanya karena kebaikan hati sajalah maka Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galih War it tidak mengusirnya” “Aku ingin, Dipanala itu diserahkan kepadaku” “Kepada kita” “Ya, kepada kita. Kita akan mencincangnya sampai lumat.” “Tidak dicincang. Tetapi kita akan menghukumpicis” “Ya hukum picis. Kita harus mendapatkan jeruk dan garam” “Disapu dengan rotan. Jika punggungnya sudah babak belur, kita mandikan orang itu dengan air jeruk dan garam. Itu lebih baik dari hukum picis. Dengan hukuman picis ia akan segera mati karena darah yang meleleh, tetapi dengan hukuman cambuk dengan rotan, kita akan dapat memeliharanya untuk empat atau lima hari” “Semuanya terserah kepada Pangeran Ranakusuma“ berkata salah seorang dari mereka. Kawan-kawannyapun kemudian terdiam. Mereka duduk mengelilingi mayat Mandra yang terbujur di atas pembaringan bambu yang besar. “Luka Mandra adalah luka yang mematikan” desis salah seorang dari mereka “Justru di punggung. Tentu suatu kecurangan. Jika Ki Dipanala itu berhadapan muka, maka ia tidak akan dapat membunuhnya. Mandra adalah orang yang luar biasa” Yang lain mengangguk-angguk. Namun tampaklah wajah di dalam, bilik itu dipenuhi oleh pertanyaan yang tidak dapat mereka jawab. “Kenapa Mandra mati dengan luka di punggungnya?“ Dalam pada itu, keadaan Raden Rudira menjadi semakin gawat. Meskipun Ki Dipanala sudah berusaha menahan darah yang keluar dari luka dilengannya, namun Rudira sudah benar-benar lemah. Punggungnya rasa-rasanya telah patah ketika ia terpelanting dari kudanya dan jatuh di jalan yang keras. Kecepatan lari kudanya telah menambah lukanya semakin parah. Dengan gelisah Ki Dipanala menunggu anak muda yang terbujur diam itu. Sekali-sekali terdengar erang tertahan. Namun yang mendengarnya seakan-akan ikut merasakan betapa sakit luka-lukanya. Beberapa orang ikut menungguinya. Beberapa di antara merekapun menaruh cur iga kepada Ki Dipanala. Apalagi abdi yang baru saja berbicara dengan kawan-kawan Mandra. Ia berada di paling depan sambil mengawasi Ki Dipanala dengan tanpa berkedip. Ki Dipanalapun merasa betapa sorot mata orang-orang di sekelilingnya itu bagaikan menusuk jantung Namun ia masih tetap di tempatnya. Ia hanya mengharap agar Raden Rudira masih tetap sadar sehingga ia akan dapat mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Karena itu, maka dengan tekun Ki Dipanala melayaninya. Menitikkan air setetes demi setetes, dan membasahi dahi anak muda yang mulai menjadi panas itu. Dengan gelisah orang-orang di dalam bilik dan yang berkerumun di luar pintu itu menunggu kedatangan seseorang yang akan dapat menyelamatkan Raden Rudira yang nampaknya menjadi semakin parah. Jika Raden Rudira itu tidak tertolong lagi, maka tidak akan ada keterangan yang dapat dipercaya. Karena pertimbangan itu pulalah Ki Dipanalapun masih tetap berdiam diri. Ia merasa bahwa kata-katanya tentu tidak akan dipercaya, sehingga karena itu, iapun menggantungkan diri kepada kejujuran Raden Rudira.“Mudah-mudahan Raden Rudira bersikap seperti ketika ia berada di regol halaman” berkata Ki Dipanala di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, tabib yang ditunggu-tunggu itupun masih juga belum datang, sehingga rasa-rasanya keadaan Raden Rudira menjadi semakin gawat. Ketika di halaman terdengar derap seekor kuda, maka semua orang yang berada di dalam bilik itu mengangkat wajahnya. Bahkan salah seorang berdesis “Tentu tabib itu datang” Ki Dipanalapun menjadi berdebar-debar. Tanpa sesadarnya ia bergeser ke pintu. Namun pelayan yang mendapat pesan dari kawan-kawan Mandra itupun segera bertanya “Kau mau kemana Ki Dipanala?“ Dipanala memandang pelayan itu sejenak, lalu jawabnya “Aku tidak akan pergi” “Kau harus tetap di sini. Kau harus mempertanggung jawabkan apa yang telah terjadi di sini “ Ki Dipanala mengerutkan keningnya. Dipandanginya pelayan itu dengan tajamnya. Namun ia dapat mengerti, bahwa kecurigaan itu tidak hanya hinggap pada seorang itu saja. Karena itu, untuk tidak menimbulkan persoalan- persoalan baru, Ki Dipanala tidak menjawab. Bahkan kemudian ia bergeser kembali mendekati Raden Rudira. Namun sekali lagi pelayan itu berkata “Jangan sentuh Raden Rudira” Terasa sesuatu berdesir di dada Ki Dipanala. Tetapi seperti tidak mendengar kata-kata itu, Ki Dipanala melangkah mendekati Raden Rudira dan meraba dahinya. “Panas sekali” desisnya. Terdengar Raden Rudira mengerang. Namun ia masih sempat berdesis “Air, air”Tanpa menghiraukan kecur igaan orang lain, Ki Dipanala meneteskan setitik air di bibir Raden Rudira Pelayan yang berdiri didekat Raden Rudira terbaring itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa, karena iapun tahu bahwa Ki Dipanala mempunyai pengaruh yang kuat pada Pangeran Ranakusuma betapapun orang itu dibencinya. Sesaat kemudian, pelayan yang harus memanggil tabib itupun bergegas masuk. Dengan kata-kata yang memburu di antara nafasnya ia berkata “Tabib itu, tabib itu, sebentar lagi. Sekarang ia sedang merawat seseorang di rumahnya. Seorang yang terjatuh dari pohon kelapa” “Tetapi bukankah kau sudah mengatakan, bahwa yang memer lukannya adalah putera Pangeran Ranakusuma?“ bertanya Ki Dipanala. “Ya, tetapi orang yang terjatuh itu sudah hampir meninggal, sehingga ia memerlukan perawatan segera” “Seperti juga Raden Rudira” “Ia akan segera datang, jika ia sudah selesai. Ia tidak dapat meninggalkan seseorang yang hampir mati tetapi masih mungkin mendapatkan pertolongan” Ki Dipanala hanya menarik nafat dalam-dalam. Ia tidak akan dapat memaksa tabib itu karena sedang menghadapi orang yang sedang berjuang melawan maut. Yang dapat dilakukannya hanyalah sekedar mengharap kehadirannya segera setelah pekerjaan itu selesai. Ternyata orang-orang yang ada di Ranakusuman itu tidak perlu menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian mereka mendengar derap seekor kuda pula memasuki halaman istana itu. “Lihat, siapakah orang itu“ perintah Ki Dipanala tanpa menghiraukan perasaan para abdi Ranakusuman itu terhadapnya.Seseorang segera berlari-lari keluar. Dan rasa-rasanya jantungnya yang hampir berhenti itu telah berdegup kembali. Yang datang itu tabib yang ditunggunya. Dengan tergesa-gesa tabib yang masih agak muda itupun segera masuk ke bilik tempat Raden Rudira dibaringkan. Ketika tabib itu membuka ikat kepala Raden Rudira yang di pergunakan untuk menyumbat lukanya, maka tabib itupun terkejut Dengan nada yang datar ia berkata “Luka oleh peluru” “Ya” sahut Ki Dipanala “luka itu oleh peluru” Para pelayanpun terkejut pula karenanya. Mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa luka Raden Rudira itu adalah bekas tertusuk peluru. Bukan oleh senjata tajam. “Tetapi” berkata Ki Dipanala kemudian “yang tidak kalah parahnya adalah punggung Raden Rudira karena ia terjatuh dari kudanya” Tabib itu mengangguk-angguk. Kemudian diambilnya reramuan obat-obatan dari dalam kantong yang dibawanya. “Air” katanya “reramuan itu harus dicairkan dengan air sedikit, kemudian harus diusahakan agar reramuan ini dapat diminum untuk menambah daya tahannya, sementara aku akan mengobati lukanya dan barangkali per lu merawat punggungnya” Seorang abdipun kemudian mengambil semangkok air yang kemudian dituangkan ke dalam mangkok yang lain untuk mencairkan reramuan obat yang dibawa oleh tabib itu. Untunglah bahwa Raden Rudira masih dapat menelan minuman itu, meskipun dengan agak kesulitan. Kemudian dengan cekatan tabib itu mengobati luka Raden Rudira yang tergores peluru. “Untunglah bahwa peluru itu t idak mengeram di dalam tubuhnya” desis tabib itu.Ki Dipanala tidak menyahut. Hanya kepalanya sajalah yang terangguk-angguk. Dalam pada itu, selagi tabib itu dengan telit i mengobati luka-luka Raden Rudira, baik karena peluru maupun karena goresan tanah yang keras, terdengar roda-roda kereta berderap di halaman. Beberapa orang pelayan segera bergeser pergi meninggalkan bilik itu. Yang datang dengan kereta itu tentu salah satu dari kedua orang tua Raden Rudira, sehingga dengan demikian, jika mereka masih berkumpul di bilik itu, tentu mereka akan mendapat marah. Yang tinggal di dalam bilik itu tinggallah Ki Dipanala, tabib yang sedang mengobati Raden Rudira itu, dan seorang pelayan yang masih saja tetap mencurigai Ki Dipanala meskipun karena luka di tubuh Raden Rudira itu adalah luka peluru, maka kecurigaannya itupun menjadi kabur. Ternyata yang datang dengan tergesa-gesa itu adalah Pangeran Ranakusuma yang sudah mendapat berita tentang puteranya yang terluka. Namun berita yang didengarnya dari seorang abdinya itu masih belum jelas, sehingga justru ia menjadi agak gugup. Dengan tergesa-gesa ia memasuki pintu depan yang masih terbuka langsung masuk ke dalam bilik Raden Rudira. Ketika dilihatnya Ki Dipanala ada di dalam bilik itu, maka Pangeran Ranakusumapun memandanginya dengan tajamnya. Dengan suara yang berat iapun kemudian berkata “Apa yang terjadi Dipanala. Berkatalah berterus terang” Ki Dipanala menundukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya “Jika Raden Rudira sudah agak tenang dan badannya menjadi agak kuat, sebaiknya Raden Rudira sajalah yang memberikan keterangan dengan singkat. Kemudian aku tinggal menjelaskan persoalannya” “Kaukah yang melakukannya?““Ampun Pangeran. Sudah hamba katakan, sebaiknya biarlah Raden Rudira saja yang mengatakannya nanti. Tetapi hamba mohon tidak seorang abdipun yang boleh mendengarnya” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia memandang abdi yang masih ada di dalam bilik itu sambil berkata “Tinggalkan bilik ini” Pelayan itu menjadi ragu-ragu. Namun iapun melangkah keluar dari bilik itu. Ketika ia berhenti di muka pintu, maka Pangeran Ranakusuma membentaknya “Cepat. Jangan ragu-ragu. Jika Dipanala berbuat gila aku dapat membunuhnya” Pelayan itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan bilik itu. Sebenarnyalah bahwa Pangeran Ranakusuma adalah seorang prajurit yang baik, sehingga Kangjeng Susuhunan memberinya anugerah nama Ranakusuma. Bunga di peperangan. “Nah, apa yang terjadi, katakan” Pangeran Ranakusuma Menjadi tidak sabar lagi. Ki Dipanala memandang tabib itu sejenak, lalu “Apakah Raden Rudira boleh berbicara” “Sekedarnya saja” jawab tabib itu. Ki Dipanalapun kemudian berlutut di samping tubuh Raden Rudira yang terbaring diam. Perlahan-lahan ia berbisik di telinganya “Raden, apakah Raden dapat berbicara beberapa patah kata saja dengan ayahanda” Raden Rudira mendengar dengan jelas kata-kata itu. Perlahan-lahan ia membuka matanya yang lemah, yang pelupuknya bagaikan telah melekat. Meskipun agak kabur ia masih dapat melihat, bahwa ayahandanya berdiri di sampingnya.“Ayahanda” suara Raden Rudira perlahan sekali. “Ya Rudira, di sini ayahandamu” “Ayah” suaranya sangat lemah “dengarkan ayah” “Ya, ya. Aku mendengar Rudira” sahut ayahandanya sambil mendekatkan telinganya ”Kenapa kau terluka?“ “Aku ditembak, ayahanda” “Ditembak? Siapakah yang menembakmu?“ “Mandra telah berkhianat. Biarlah paman Dipanala mengatakannya. Percayalah kepadanya ayah” Wajah Pangeran Ranakusuma menjadi tegang. Ketika terpandang wajah tabib yang merawat Raden Rudira itu, tabib itu mengangguk sambil berkata “Ya Pangeran. Lukanya adalah luka peluru” “Siapakah yang sudah berbuat gila itu?“ Tetapi Raden Rudira sudah memejamkan matanya kembali. Tubuhnya rasa-rasanya menjadi semakin lemah. “Bagaimana dengan anak itu?“ bertanya Pangeran Ranakusuma kepada tabib yang merawatnya. “Hamba sedang berusaha Pangeran” “Tetapi, maksudku, apakah masih ada harapan?“ Tabib itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya “Marilah kita bersama-sama berdoa. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Penyayang mengabulkan doa kita” Dada Pangeran Ranakusuma menjadi berdebaran. Jawaban tabib yang masih muda itu benar-benar membuatnya gelisah dan cemas. Ia kenal tabib itu dengan baik, karena setiap kali ia memerlukan maka dipanggilnya tabib itu bagi seluruh keluarganya. Kini tabib yang dikenalnya sebagai seorang yang pandai itu menjawab dengan penuh keragu-raguan.“Hamba sudah member ikan obat yang paling baik yang ada pada hamba Pangeran. Hambapun telah mengobati luka peluru itu dan member ikan param pada punggung Raden Rudira yang agaknya cidera ketika ia terjatuh dari kudanya” Raden Rudira mencoba bergeser sedikit, tetapi yang kemudian terdengar adalah rint ihannya yang tertahan. “Punggung itu sakit sekali” berkata tabib itu. Pangeran Ranakusuma memandang Ki Dipanala sejenak, lalu katanya “Kau dapat menceriterakannya?“ “Hamba Pangeran. Jika Pangeran tidak berkeberatan, hamba dapat mengatakan apa yang telah terjadi atas Raden Rudira“ Pangeran Ranakusuma terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Dipanala yang tampak bersungguh-sungguh dan sejenak kemudian ditatapnya wajah Rudira yang pucat dengan mata yang terpejam. Dengan suara yang dalam, maka Pangeran Ranakusumapun kemudian berkata “Katakanlah Dipanala. Aku kira kali ini aku harus mempercayaimu seperti yang dikatakan oleh Rudira” “Terima kasih Pangeran. Hamba akan menceriterakan apa yang hamba ketahui tanpa mengurangi dan tanpa menambahinya. Memang sama sekali bukan maksud hamba untuk selalu berusaha mengetahui segala macam rahasia yang ada di istana Ranakusuman ini. Tetapi agaknya memang nasib hamba yang tidak menguntungkan j ika pada suatu ketika hamba mengetahui beberapa macam rahasia tanpa hamba kehendaki sendir i” Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Ketika terpandang olehnya tabib yang menunggu Raden Rudira, maka katanya kemudian kepada Dipanala “Biarlah kitaberbicara di ruang yang lain, agar tidak mengganggu Rudira yang sedang beristirahat” Ki Dipanala menarik nafas. Ia menyadari bahwa di ruang itu masih ada orang lain. Karena itu maka katanya “Baiklah Pangeran. Hamba menurut saja perintah Pangeran” Merekapun kemudian keluar dari bilik itu dan pergi ke bilik Pangeran Ranakusuma. Setelah mereka yakin bahwa tidak ada orang lain yang mendengarnya, maka berkatalah Pangeran Ranakusuma “Katakanlah. Apapun yang terjadi. Jangan hiraukan perasaanku. Aku akan mencoba untuk melihat kenyataan dengan hati yang tenang. Karena kenyataanku sendiri seperti yang kau ketahui, bukannya kenyataan yang dapat dibanggakan” Ki Dipanala menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Aku tahu, bahwa kau ragu-ragu. Tetapi kali ini seperti aku mencoba untuk mempercayaimu, kaupun sebaiknya mencoba percaya kepadaku” “Ya Pangeran. Hamba akan mencobanya” “Nah, katakanlah. Aku tidak akan marah. Aku tidak akan mendendam dan segala macam perasaan terhadapmu” “Ampun Pangeran. Yang pernah hamba alami, meskipun hamba sudah mencoba menyimpan rahasia seseorang sebaik- baiknya, namun nyawa hamba masih juga terancam” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Apakah kau juga menganggap aku terlibat dalam, usaha membunuhmu?” Ki Dipanala menggelengkan kepalanya ”Tidak Pangeran, aku tahu bahwa Pangeran tidak terlibat dalam usaha pembunuhan itu” “Nah, sekarang, katakan apa yang kau ketahui”Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya ”Sekali lagi hamba ingin menjelaskan bahwa hamba sama sekali t idak bermaksud untuk mengetahui rahasia orang lain sebanyak-banyaknya, apalagi dengan tujuan yang kurang baik. untuk memeras misalnya” “Aku percaya, seperti yang dikatakan oleh Rudira. Karena aku tahu sikap Rudira sebelumnya terhadapmu” “Terima kasih Pangeran. Jika hamba mendapat jaminan bahwa tidak akan timbul salah paham, maka biarlah hamba mencer iterakannya” Demikianlah maka Ki Dipanala mencoba meneeriterakan dengan singkat, apa saja yang diketahuinya. Sejak ia tidak sengaja mendengar rencana Raden Rudira dan Mandra. Kemudian dorongan perasaannya untuk mengikuti keduanya dan menunggui pertemuan Raden Ayu Galihwarit dengan para perwira kumpeni dan beberapa orang bangsawan yang lain. Kemudian diceriterakan pula apa yang sebenarnya sudah dilakukan oleh Raden Ayu Galih Warit, sehingga memaksa Raden Rudira bertindak. Apalagi Mandra yang berkhianat ternyata sudah menyiapkan rencana yang sebaik-baiknya. Tanpa ada yang dilampauinya Ki Dipanala menceriterakannya, sampai pada akhirnya, ia membawa Raden Rudira dan mayat Mandra kembali ke Ranakusuman. Ketika Ki Dipanala mengakhiri cer itanya, dilihatnya Pangeran Ranakusuma dengan hati yang pedih menutupwajahnya dengan kedua belah tangannya. Seakan-akan ia tidak berani melihat gambaran yang jelas dari peristiwa yang diceritekan oleh Ki Dipanala tanpa ada yang terlampaui. Ki Dipanala memandang Pangeran Ranakusuma itu sejenak, kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Kemudian segalanya terserah kepada tuan. Hamba akan melakukan segala perintah” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada yang dalam “Terima kasih Dipanala. Aku percaya semua yang kau katakan. Tetapi dengan demikian aku justru menjadi yakin, bahwa kau mengetahui rahasia isteriku bukan baru kali ini saja. Itulah sebabnya ia berusaha membunuhmu dengan memperalat anak Laki- lakinya itu.” Ki Dipanala menganggukkan kepalanya ”Ampun Pangeran Sebenarnyalah demikian” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk pula. Katanya “Aku tidak ingin mendengar rahasia yang kau ketahui sebelumnya, karena aku sudah dapat meraba apa yang terjadi. Hal itu tentu hanya akan menambah luka di hati saja” Ki Dipanala tidak menjawab. “Terima kasih” desis Pangeran Ranakusuma kemudian “tinggalkan aku sendir i” Ki Dipanalapun kemudian mohon diri, keluar dari dalam bilik Pangeran Ranakusuma itu. Sepeninggal Ki Dipanala, maka Pangeran Ranakusuma itupun duduk diam mematung. Seakan-akan terbayang dengan jelas, apa yang sedang terjadi saat itu dengan isterinya. Meskipun sebelumnya memang sudah ada perasaan curiga, namun ia berusaha untuk mengingkari perasaan" itu. Tetapi tanpa disadarinya iapun telah memperalat Rudira untuk mengamati ibunya, sehingga kini akibat yang dialaminya ternyata menjadi sangat berat.“Anak itu akan kehilangan kepercayaan kepada orang lain. Jika ia sudah tidak mempercayai ibunya sendiri, maka tidak akan ada manusia lain yang akan dapat menyejukkan hatinya” Dengan penuh penyesalan Pangeran Ranakusuma melihat ke dalam dirinya sendiri, keluarganya dan orang-orang yang pernah bersangkut paut dengan dirinya. Terbayang kembali isterinya yang sudah meninggal dunia. Isterinya yang lain, yang dikembalikannya kepada orang tuanya. Anaknya yang disingkirkan ke padepokan Jati Aking dan anaknya yang manja, namun yang akhirnya terperosok ke dalam bencana yang tidak disangka-sangka oleh pengkhianatan orang yang selama ini menj ilat kakinya. “Alangkah rendahnya martabat manusia” katanya di dalam hati. Tetapi iapun tidak ingkar, bahwa sebenarnya dirinya sendiri tidak akan lebih baik dari Mandra, jika ia menyadari bahwa iapun sedang berusaha menjilat kekuasaan di Surakarta yang mulai kabur. “Akupun dapat seperti Mandra” suara hatinya itu serasa semakin keras bergema di dalam dadanya “Akupun akan dapat berkhianat kepada kumpeni dan kepada Susuhunan” Namun tiba-tiba tumbuh pertanyaan “Apakah selama ini aku tidak berkhianat terhadap Surakarta?“ Sekali lagi Pangeran Ranakusuma menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Semuanya menjadi semakin jelas terbayang. Pangeran Ranakusuma itu terkejut ketika ia mendengar seseorang memanggilnya “Pangeran, Pangeran” Pangeran Ranakusuma mengangkat wajahnya. Dilihatnya Ki Dipanala berdiri terbungkuk-bungkuk di depan pintu. “Ada apa?“ “Ampun Pangeran, Raden Rudira menjadi semakin lemah”“He“ dengan serta-merta Pangeran Ranakusuma meloncat berdiri. “Raden Rudira memanggil tuan” Dengan tergesa-gesa Pangeran Ranakusuma pergi ke bilik puteranya. Dilihatnya Raden Rudira menjadi gelisah. Kepalanya bergerak-gerak tidak menentu. “Rudira, Rudira” bisik ayahnya di telinganya “ini ayahandamu” “O” terdengar anak muda itu berdesah. “Tenanglah. Kau akan segera sembuh” “Ayahanda” suaranya lemah sekali “gelap ayahanda” Dada Pangeran Ranakusuma serasa dihentakkan oleh kata- kata itu. Namun ia menjawab “Ya, Rudira. Memang hari masih malam. Biar lah lampu dibesarkan” “Gelap. Gelap sekali ayah” Raden Rudira menar ik nafas dalam-dalam “panas, panas sekali” Pangeran Ranakusuma menjadi semakin bingung. Dipandanginya tabib yang berdiri di sampingnya. Namun wajah tabib yang masih agak muda itu menjadi tegang. Ki Dipanalapun menjadi sangat cemas. Ia masih berusaha untuk membasahi dahi Raden Rudira dengan air jeruk pecel. Tetapi ia t idak berhasil menenangkan kegelisahan anak muda itu. “Tidurlah Rudira” berkata ayahnya “Cobalah untuk tidur “ Tetapi Raden Rudira seakan-akan sudah t idak mendengarnya lagi. Bahkan ia menjadi semakin gelisah dan berdesis “Panas. Panas sekali. Sakit ayah” “Ayah ada di sini”Raden Rudira mengeluh pendek. Namun suaranya semakin lemah. “Raden“ tabib yang mengobatinya tiba-tiba saja berjongkok di sampingnya. Wajahnya menjadi semakin tegang dan dengan suara yang bergetar ia berkata “Raden Rudira” Rudira menggeliat sekali. Dicobanya untuk membuka matanya. Meskipun semakin kabur, ia masih melihat bayangan ayahandanya. Karena itu ia masih mencoba berbicara “Ayahanda, aku mohon maaf” “Rudira?” ayahnya menjadi bingung dan sangat cemas. “Dimana Dipanala“ “Di sini Raden, aku ada di sini” “Aku minta maaf kepadamu Dipanala. Aku pernah berbuat dosa terhadapmu. Aku tidak mengerti waktu itu, bahwa seharusnya aku tidak melakukannya” “Tidak, Raden tidak bersalah. Tenanglah. Jangan membayangi diri Raden dengan persoalan-persoalan yang tidak penting. Yang penting bagi Raden sekarang adalah penyembuhan dar i segala macam kesakitan yang ada pada diri Raden. Untuk itu Raden harus beristirahat. Lahir dan batin. Raden sekarang berada di dalam istana Raden sendiri. Karena itu jangan gelisah” Rudira mencoba mengangguk. Tetapi tubuhnya menjadi semakin lemah. Selama ia belum mendapat pertolongan, darahnya terlampau banyak mengalir. Punggungnya yang bagaikan patah, selalu menyakitinya dan seakan-akan tidak ada sesuatu lagi yang menar ik baginya. Ibunya telah mengecewakannya. Mengecewakan sekali, sehingga tidak akan ada kepercayaan lagi yang dapat diberikannya. “Ayah” desis Raden Rudira.“Rudira“ Ayahnya menjadi kehilangan akal. Lalu katanya kepada tabib itu “berbuatlah sesuatu, berbuatlah sesuatu” Tabib itupun menjadi gelisah. Obat yang paling baik telah diberikannya kepada Raden Rudira. Lukanya justru sudah tidak mengalirkan darah lagi. Namun sebenarnya perawatan baginya memang agak terlambat. Bukan karena kedatangannya yang lambat, tetapi darahnya memang sudah terlampau banyak mengalir. Ki Dipanalapun menyadari keadaan itu. Selama ia berkelahi melawan Mandra dan membunuhnya, ia tidak sempat berbuat apa-apa terhadap anak muda yang terluka itu, sehingga darahnya pasti terlampau banyak berceceran. Itulah kesulitan yang dihadapi oleh tabib yang sebenarnya cukup pandai itu. Apalagi hati Raden Rudira sendiri yang telah patah, membuatnya kehilangan nafsu untuk bertahan. Keadaan Raden Rudira membuat Pangeran Ranakusuma menjadi semakin bingung. Wajah anak muda itu telah menjadi seputih kapas, dan nafasnya seakan-akan tinggal satu-satu tersangkut di kerongkongan. “Berbuatlah sesuatu” suara Pangeran Ranakusuma menjadi bergetar. Tabib yang menunggui Raden Rudira itupun berjongkok disampingnya. Ia sudah merasa berbuat sejauh-jauhnya yang dapat dilakukan. Keputusan terakhir ada pada Yang Maha Kuasa. Namun demikian, ia masih juga berusaha. Diteteskannya air jernih ke bibir Raden Rudira. “Ayah” suara anak muda itu hampir tidak terdengar lagi “Apakah Ki Dipanala sudah mengatakan seluruhnya” “Sudah Rudira, sudah”“Itulah yang penting ayah. Aku sudah tidak berkepentingan lagi dengan hidupku. Ternyata ibuku sangat mengecewakan aku” “Rudira” Rudira memandang ayahnya sejenak. Tetapi pelupuknya bagaikan melekat. Namun demikian, ia masih melihat sebuah bayangan hitamyang ia yakin itu adalah ayahnya. Sebuah senyum terbayang di bibir anak muda itu. Perlahan sekali ia berkata “Aku masih sempat mohon maaf kepada ayah, kepada Ki Dipanala, kepada kakang Juwiring dan kepada siapapun juga. Karena itu aku merasa bersyukur. Yang utama akupun sempat menyesali dosa-dosaku terhadap Tuhan Yang Maha Pengampun” “Rudira“ Senyum Rudira tampak semakin cerah. Sekilas warna merah membayang di wajah yang pucat itu, namun kemudian semuanya itu lenyap seperti asap dihembus angin yang kencang. Sebuah tarikan nafas yang panjang menggerakkan dada Raden Rudira. Tetapi tarikan itu bagaikan terputus di tengah. “Rudira, Rudira“ Tetapi Raden Rudira sudah tidak mendengarnya lagi. ia telah mengakhiri hidupnya yang pendek. Ternyata bahwa ia meninggal dalam usia yang masih terlalu muda. Raden Rudira terbaring diam ketika ayahnya melekatkan mulutnya di telinganya sambil berbisik “Rudira, Rudira” Ki Dipanala dan tabib yang mencoba mengobatinya itu saling berpandangan sejenak. Mereka melihat setitik air mengambang di mata Pangeran Ranakusuma. Seorang Pangeran yang menjadi kebanggaan Surakarta di medan perang.Tetapi menghadapi per istiwa semacam itu, maka hampir tidak ada bedanya antara seorang Pangeran, seorang Senapati dan seorang rakyat kecil. Dengan penuh penyesalan seorang ayah melihat anaknya meninggal dalam keadaan seperti itu. Anak muda yang baru tumbuh. Betapapun bengal, kasar dan keras kepala, namun kesalahan seluruhnya tidak dapat ditimpakan kepada Raden Rudira. Dalam kedukaan yang paling dalam, Pangeran Ranakusuma melihat anaknya itu telah menjadi korban tingkah laku orang tuanya sendiri. Pangeran Ranakusumapun kemudian berdiri termangu- mangu. Dipandanginya tubuh anaknya yang terbaring diam membeku. Wajahnya menjadi putih dan tampak senyumnya masih membayang. Tetapi di balik senyum itu seakan-akan tampak penyesalan yang tiada taranya. Kecewa dan pedih. “Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma dengan suara parau “pindahkan tubuh itu ke pembar ingan ibunya” Ki Dipanala termangu-mangu mendengar perintah itu. Sehingga Pangeran Ranakusuma mengulanginya “Pindahkanlah tubuh itu ke bilik ibunya. Selimuti seperti jika ia sedang tidur. Jangan memberikan kesan apapun juga atas kematian Rudira. Berbuatlah seolah-olah tidak terjadi apa-apa sama sekali jika nanti ibunya datang” Ki Dipanala menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil menjawab “Baik Pangeran” “Aku akan duduk di pendapa. Setelah kau selesai, pergilah ke pendapa juga” lalu katanya kepada tabib yang mencoba mengobati Raden Rudira tetapi gagal “Aku mengucapkan terima kasih atas usahamu. Sekarang tidak ada gunanya lagi kau berbuat sesuatu atas mayat anakku. Karena itu, kau dapat meninggalkan rumah ini. Pada saatnya kami akan menyelesaikan perhitungan atas jasa-jasamu”“Terima kasih tuanku. Hamba sangat menyesal bahwa hamba t idak berhasil” “Bukan salahmu. Kau sudah berusaha. Bantulah Dipanala, kemudian kau boleh pulang” Pangeran Ranakusuma itupun kemudian pergi ke pendapa. Ditinggalkannya Rudira yang sudah tidak bernafas lagi itu dengan hati yang luka. Sepeninggal Pangeran Ranakusuma, maka Ki Dipanala yang mengerti maksud Pangeran itu, segera membawa Raden Rudira ke bilik ibunya dan dibaringkannya di pembaringan Raden Ayu Galih Warit, dengan diselimut inya baik-baik seolah- olah Raden Rudira sedang tidur nyenyak. Kemudian disusutkannya nyala lampu di dalam ruang itu dan dibersihkannya ruang Raden Rudira sendiri. Setelah semuanya selesai, maka tabib itupun minta diri kepada Ki Dipanala. “Sampaikan kepada Pangeran Ranakusuma. Aku tidak usah mohon dir i lagi kepadanya” “Baiklah. Tetapi jangan mengatakan kepada siapapun apa yang sudah terjadi” Tabib itu menganggukkan kepalanya, dan sejenak kemudian iapun meninggalkan istana Ranakusuman. Para pelayan yang berusaha menanyakan kepadanya tentang Raden Rudira, sama sekali tidak dijawabnya. Namun karena tabib itu nampaknya tersenyum-senyum, maka para abdi mengira bahwa keadaan Raden Rudira menjadi berangsur baik. Tetapi mereka masih tetap menjadi gelisah, karena Pangeran Ranakusuma belum member ikan perintah apapun bagi mayat Mandra yang masih dibar ingkan belakang.Dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma duduk di ruang depan dengan wajah yang murung. Terbayang apa saja yang sudah dilakukan selama ini. Usahanya untuk mendapatkan pengaruh dan kedudukan telah merampas seluruh waktunya sehingga ia tidak sempat menelit i tingkah lakunya sendir i. Sejenak kemudian maka Pangeran Ranakusuma itupun berdiri. Dilihatnya Dipanala sudah duduk di bibir tangga pendapa. Tetapi ia tidak menyapanya. Perlahan-lahan ia masuk ke ruang dalam dan menengok ke bilik sebelah bilik Rudira. Dilihatnya pembar ingan Raden Rara Warihpun masih kosong. “Tanpa diajari oleh ibunya, agaknya Warih mempunyai kebiasaan yang sama dengan ibunya” berkata Pangeran Ranakusuma “selama ini aku tidak pernah memperhatikan kedua anak-anakku. Aku t idak tahu apa saja yang dilakukan dan apa saja akibatnya. Apalagi ibunya yang tampaknya sangat menyayangi anak-anaknya” Ketika Pangeran Ranakusuma kembali ke pendapa, terbayang sekilas pergaulan anak gadisnya itu menurut penglihatannya yang hanya sepintas. Setiap kali ia pergi bersama anak-anak gadis putera bangsawan. Meskipun mereka adalah saudara-saudaranya juga, bahkan ada di antara mereka yang masih sepupunya, namun kadang-kadang akan dapat menumbuhkan persoalan pula di antara mereka. Tiba-tiba Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Katanya kepada diri sendiri “Tetapi kali ini ia pergi ke kakeknya. Mungkin besok ia baru kembali” Sambil menarik nafas dalam-dalam Pangeran Ranakusuma itu mulai melihat apa yang sudah dikerjakan oleh anak- anaknya. Akhir-akhir ini puterinya sering pergi ke istana kakeknya. Di sana ada beberapa orang gadis sepupunya. “Apakah anak itu harus diberi tahu tentang kakaknya?“ pertanyaan itu mulai mengganggunya.Namun akhirnya Pangeran Ranakusuma memutuskan, bahwa ia akan menunggu kedatangan Raden Ayu Galih War it lebih dahulu, kemudian baru berbicara tentang Warih. Untuk beberapa lamanya Pangeran Ranakusuma merenung. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Mungkin itu pula sebabnya, kenapa ia justru sering menyuruh Warih pergi ke kakeknya. Mungkin Warih dapat mengganggunya apabila ia ada di rumah. Bukan karena anak itu ingin menyertainya, tetapi mungkin kehadirannya dapat membuatnya bimbang untuk melakukan perbuatan yang tercela itu” Ki Dipanala yang duduk di ujung pendapa, sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya duduk sambil menundukkan kepalanya. Ia menunggu j ika Pangeran Ranakusuma bertanya sesuatu kepadanya. Tetapi karena Pangeran Ranakusuma sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun, maka Ki Dipanalapun hanya diam saja sambil merenungi peristiwa yang baru saja terjadi. Dengan demikian, meskipun di pendapa itu duduk dua orang yang tidak begitu berjauhan, namun suasananya benar- benar dicengkam kesenyapan. Pangeran Ranakusuma setiap kali menundukkan wajahnya dan mengusap ker ingat dingin yang meleleh dikeningnya, sedang Ki Dipanala setiap kali menarik nafas dalam-dalam. Mereka berdua bersama-sama mengangkat wajahnya ketika mereka mendengar suara kereta. “Tentu Galih Warit” desis Pangeran Ranakusuma, karena bukan kebiasaan Rara Warih datang berkereta di malam hari apabila ia pergi ke istana kakeknya, ayahanda ibunya. Dugaannya itu ternyata benar. Sejenak kemudian sebuah kereta berderap memasuki halaman istana Ranakusuman. Di dalamnya duduk seorang perempuan cantik dalam pakaian yang cemerlang. Sedang di samping sais seorang prajurit yangagaknya telah mengantarnya lengkap dengan senjata di lambungnya. Ki Dipanala dengan tergesa-gesa berdiri ketika kereta itu langsung menuju ke tangga pendapa. Sambil melangkah turun sampai ke anak tangga yang paling bawah, Dipanala memandang kereta itu dengan hampir tidak berkedip. Tiba- tiba saja dadanya menjadi berdebar-debar seperti sedang menghadapi bahaya yang tidak mungkin dapat diatasinya. Kereta itu berhenti tepat di kuncung pendapa. Prajurit yang duduk di dekat sais itupun segera meloncat turun dan membuka pintu kereta. Sambil membungkuk dalam-dalam ia mempersilahkan Raden Ayu Galih Warit keluar dari kereta itu. Pangeran Ranakusuma memandang isterinya yang baru turun dari kereta itu dari tempat duduknya. Ia sama sekali tidak beringsut dan apalagi berdir i. Ketika Raden Ayu Galih Warit turun dari keretanya dan dilihatnya Pangeran Ranakusuma sudah duduk di pendapa, dadanya berdesir. Namun ia segera berusaha tersenyum sambil bertanya “Kakanda sudah kembali dar i istana?“ “Belum lama” jawab Pangeran Ranakusuma. Jawaban itu ternyata mengejutkan Ki Dipanala. Hampir tidak ada kesan sama sekali, bahwa sebenarnya hati Pangeran Ranakusuma sedang dibelit oleh kedukaan yang tiada taranya. “O, Pangeran tidak langsung pergi ke pertemuan itu” “Aku kira kau sudah kembali” jawab Pangeran Ranakusuma. “Pertemuan itu baru saja bubar. Yang hadir melampaui yang diundang. Dan itu menimbulkan kesulitan” Raden Ayu Galih Warit tertawa, lalu “untunglah kesulitan itu dapat segera di atasi”Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Lalu, katanya “Apakah kereta itu masih akan kembali ke tempat pertemuan itu?“ “Ya kakanda. Masih ada beberapa orang yang harus dijemput” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk pula. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi. Raden Ayu Galih Waritlah yang kemudian menyuruh sais keretanya untuk meninggalkan istananya. “Kembalilah, mungkin masih ada yang akan mempergunakannya” katanya. Sejenak kemudian maka kereta itupun segera berderap meninggalkan halaman. Prajurit yang ada di samping sais itu mengangguk dalam-dalam ketika kereta itu mulai bergerak. “Cukup meriah” berkata Raden Ayu Galih Warit sambil tersenyum. Perlahan-lahan ia mendekati suaminya yang masih duduk Di tempatnya. “Sayang, kakanda tidak pergi menyusul hamba. Beberapa orang Pangeran hadir juga di dalamperjamuan itu” Raden Ayu Galih Warit berhenti sejenak, lalu “Kenapa mereka tidak menghadap Kangjeng Susuhunan” Pangeran Ranakusuma menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak tahu” Raden Ayu Galih Warit mengerutkan keningnya. Lalu sambil berdiri di belakang Pangeran Ranakusuma ia bertanya “Apakah ada sesuatu yang sulit di dalam pembicaraan Pangeran dengan pihak istana atau kumpeni?“ “Tidak, tidak” jawab Pangeran Ranakusuma “semuanya berjalan lancar. Justru karena itu aku pulang lebih awal dari pertemuan yang pernah dilakukan di istana”“O“ Raden Ayu Galih Warit tertawa. Kedua tangannya meraba pundak Pangeran Ranakusuma sambil berkata “Apakah kakanda akan duduk saja di pendapa?“ “Aku akan duduk di sini sebentar. Udara terlampau panas. Aku minta Ki Dipanala menemui aku” Raden Ayu Galih Warit berpaling memandang Dipanala yang sudah duduk kembali di lantai pendapa tepat di atas tangga. Sejenak terbersit kecemasan di dalam hatinya. Sikap Pangeran Ranakusuma kali ini agak meragukan. “Apakah cucurut itu sudah mulai menjilat dan mengatakan apa yang pernah diketahuinya?“ bertanya Raden Ayu Galih Warit di dalam hatinya. Tetapi dijawabnya sendiri “Jika demikian ia tentu tidak akan duduk tenang menerima kedatanganku. Mungkin Pangeran Ranakusuma langsung mengusir aku malam ini juga atau memanggil ayahanda untuk menjemputku” Karena itu, maka Raden Ayu Galih Warit itupun kemudian tersenyum pula sambil bertanya “Apakah Dipanala tidak mempunyai pekerjaan lain?” “Tentu tidak di malamhari” jawab Pangeran Ranakusuma. “O“ Raden Ayu Galih Warit tertawa “Tentu tidak. Ia bukan peronda di istana ini” “Ya. Ia memang bukan peronda” “Tetapi udara akan menjadi semakin dingin kamas. Apakah tidak sebaiknya Pangeran masuk ke dalam?“ “Masuklah dahulu. Aku akan duduk di sini sejenak” Raden Ayu Galih Warit menjadi ragu-ragu. Sekali lagi ia memandang Ki Dipanala yang duduk sambil menundukkan kepalanya.“Pangeran” berkata Raden Ayu Galih Warit “terasa tubuh Pangeran menjadi sangat dingin. Tentu Pangeran sudah kedinginan” “Udara terasa segar sekali di pendapa” “Kalau begitu, aku akan ikut duduk di sini” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Lalu “Masuklah. Atau berganti pakaianlah dahulu” Raden Ayu Galih Warit tertawa. Katanya kemudian “Barangkali ada juga yang ditunggu. Tetapi jika kakanda menunggu Warih, tentu ia tidak akan kembali malam ini. Mungkin besok bahkan mungkin lusa. Ia merasa kerasan di rumah kakeknya, karena di rumah eyangnya ia mendapatkan beberapa orang kawan sebaya” “Ya. Tentu ia kerasan di rumah eyangnya. Tetapi aku memang tidak sedang menunggu Warih. Jika kau ingin duduk pula bersama kami, berganti pakaianlah lebih dahulu” “Baiklah kakanda. Aku akan berganti pakaian dahulu, dan aku akan menyusul duduk di sini. Tetapi sebaiknya Dipanala menyuruh seorang pelayan untuk membuat minuman panas” “Baiklah. Biar ia nanti pergi”Raden Ayu Galih Waritpun kemudian melangkah masuk. Di muka pintu langkahnya terhenti. Serasa ada sesuatu yang menahannya. “Kamas“ Raden Ayu itu memanggil “Apakah tidak ada seorang pelayanpun yang ada di dalam?” “Di belakang” jawab Pangeran Ranakusuma. “Kenapa lampu di dalam bilik itu suram sekali?“ “O, tentu. Kau baru datang dari perjamuan. Tentu lampunya terang benderang sehingga lampu di dalam rumah kita itu rasa-rasanya terlampau suram. Tetapi nanti akhirnya akan terbiasa juga” Raden Ayu Galih Warit mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga ragu-ragu melangkah. Rasa-rasanya tengkuknya meremang dan jantungnya berdebaran. “Belum pernah aku merasakan perasaan seperti ini” berkata Raden Ayu itu kepada dir i sendiri. Tetapi kemudian dibantahnya sendiri “Mungkin aku menjadi gelisah karena kebetulan Pangeran Ranakusuma sudah datang mendahului. Tentu ada. perasaan yang kurang jernih padanya. Tetapi aku kira Dipanala t idak mengatakan sesuatu. Jika benar, Pangeran Ranakusuma tentu tidak akan setenang itu” “Ah, aku ternyata telah diganggu oleh perasaanku sendiri” berkata pula Raden Ayu Galih Warit kepada diri sendiri. Dengan demikian, maka kakinyapun terayun pula memasuki, ruangan dalam. Kemudian dengan ragu-ragu ia menuju ke pintu biliknya yang tertutup. Namun sekali lagi langkahnya tertegun. Ruangan dalam itu terasa terlampau sepi. Sepi sekali seperti kuburan. Dipandanginya pintu-pintu bilik yang tertutup. Biliknya sendiri, bilik kedua anak-anaknya dan bilik Pangeran Ranakusuma.Dan pintu-pintu yang tertutup itu kesannya bagaikan wajah- wajah yang murung dengan mata yang terpejam. Terasa sekali lagi tengkuknya meramang, seakan-akan dirambati oleh binatang-binatang kecil tetapi berjumlah banyak sekali. “Ah, tentu karena aku datang dari pertemuan yang ramai sehingga rumahku ini terasa sangat sepi“ Ia mencoba bertahan. Dipaksanya juga kakinya melangkah ke pintu biliknya. Meskipun hatinya ragu-ragu, namun perlahan-lahan didorongnya juga pintu bilik yang tertutup itu. Ketika terlihat olehnya sesosok tubuh terbaring di pembaringannya, Raden Ayu Galih Warit terkejut. Tetapi hanya sejenak, karena di dalam cahaya lampu minyak yang kemerah-merahan, ia segera mengenal wajah anak laki-lakinya Rudira. Raden Ayu Galih Warit menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia merasa aneh, bahwa Rudira tidur di pembar ingannya. Hal itu tidak pernah dilakukannya. Tiba-tiba saja dada Raden Ayu Galih Warit berdebar-debar. Katanya di dalam hati “Tentu ayahnya yang menyuruhnya tidur di pembaringanku sebagai cara untuk menegur keterlambatanku. Atau barangkali Dipanala memang sudah mengatakannya?“ Raden Ayu Galih Warit menjadi ragu-ragu. Bahkan iapun kemudian menduga, bahwa sebenarnya Rudira itu tentu belum tidur. Anak itu tidak pernah tidur lurus membujur di pembaringannya. Kadang-kadang ia tidur sambil melingkarkan tubuhnya atau bahkan menelungkup. Raden Ayu Galih War it menarik nafas dalam-dalam. “Biar lah aku akan bertanya kepadanya. Jika sesuatu akan terjadi, aku tentu masih mempunyai cara untuk mengelak. Aku akan mendapat bantuan dari para perwira kumpeni danbeberapa orang lainnya. Aku dapat mengupah beberapa orang untuk mengingkarinya dan memberikan kesaksian palsu. Tentu Rudira sendir i akan membantuku“ namun kemudian dengan ragu-ragu ia berkata kepada diri sendiri “Atau justru Rudira yang menjadi sangat marah kepadaku?“ “O, Dipanala memang pengkhianat. Kenapa ia masih belum terbunuh. Ia memang harus mati segera. Segera” Namun dengan demikian ibunda Raden Rudira itu justru ingin segera mengetahui, kenapa puteranya itu tidur di dalam biliknya. Perlahan-lahan ia mendekatinya agar Rudira itu tidak terkejut. Kemudian dengan perlahan-lahan pula ia meraba tubuh itu dan mengguncang pada ujung kakinya “Rudira, Rudira” Tetapi menurut dugaan Raden Ayu itu, Rudira tidak segera terbangun. “Anak ini” katanya “Jika sudah tertidur, betapa sukarnya untuk membangunkannya” namun kemudian “Tetapi anak ini tentu belumtidur” “Rudira, Rudira“ Panggilnya pula. Dan tubuh itu sama sekali tidak bergerak. Sama sekali. Bahkan dadanyapun tidak. Raden Ayu Galih Warit mulai curiga. Tetapi sekali lagi ia justru tertawa sambil berkata “Ah, bukan begitu caranya tidur Rudira. Orang yang tidur nyenyak tidak menjadi sekaku potongan kayu. Ayo bangun dan katakan, kenapa kau tidur di sini malam ini? Siapakah yang menyuruhmu? Ayahanda barangkali?“ Tetapi tetap tidak ada jawaban. Rudira tidak bangkit sambil tertawa. Tidak pula marah dan merajuk. Tetapi ia tetap berbaring diam membeku.“Rudira“ akhirnya kesabaran ibunyapun menjadi semakin susut. Katanya “Ayo bangun. Apa sebenarnya maumu?“ Masih tetap tidak ada jawaban. Raden Ayu Galih Warit tidak sabar lagi menunggu jawaban anaknya. Karena itu maka didekatinya tubuh Raden Rudira itu dan ditariknya selimut yang menyelubungi badannya. Ketika tubuh itu terbuka, dada Raden Ayu Galih Warit bagaikan dihentakkan oleh sesuatu di dalam dirinya. Dengan mata terbelalak ia melihat sesuatu yang aneh. Namun kemudian darahnya bagaikan terhenti mengalir ketika dilihatnya tubuh Raden Rudira itu benar-benar telah membeku dengan tangan yang disilangkan di dadanya. Noda-noda darah yang masih belum terhapus dan luka-luka yang tampak di antara bajunya yang bagaikan disayat. “O“ Raden Ayu Galih Warit berdir i sejenak. Namun kemudian sebuah pekik yang tinggi memecah keheningan malam itu. Dengan sekuat-kuat tenaganya Raden Ayu Galih Warit menjerit sambil memeluk tubuh anaknya. Beberapa orang pelayan yang mendengar jerit itupun segera berlari-lari ke pendapa, karena mereka tahu, bahwa kereta yang membawa Raden Ayu Galih Warit baru saja datang. Mungkin Raden Ayu Galih Warit terkejut melihat keadaan puteranya yang terluka itu. Dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma memang sudah menduga bahwa isterinya akan menjer it sekuat-kuatnya. Karena itu, ia sama sekali tidak terkejut karenanya. Bahkan ketika beberapa orang berlari-lar ian ke pendapa, Pangeran itu berdiri dan mendekati mereka sambil berkata “Tidak ada apa- apa. Ia hanya terkejut. Nanti ia akan tenang kembali. Pergilah ke tempatmu masing-masing” Para pelayan itu menjadi termangu-mangu. Satu-satu mereka berjalan meninggalkan pendapa kembali ke tempat masing-masing.Di dalam bilik Raden Ayu Galih War it menangis sejadi- jadinya. Dengan mengguncang-guncang tubuh yang terbaring itu dipanggilnya nama anaknya. Tetapi Raden Rudira tidak menyahut sama sekali. “Pangeran, Pangeran” Raden Ayu Galih Warit itu berteriak “Bagaimana dengan Rudira ini Pangeran” Pangeran Ranakusuma perlahan-lahan mendekati bilik itu sambil berkata kepada Dipanala “Ikut aku” Demikian Pangeran Ranakusuma sampai kedepan pintu bilik, isterinya segera berlari mendapatkannya. Sambil memeluk suaminya Raden Ayu Galih Warit berkata di antara tangisnya “Apa yang terjadi kakanda. Apa yang telah terjadi?“ Tetapi sikap Pangeran Ranakusuma sama sekali tidak seperti kebiasaannya. Setiap kali Raden Ayu Galih War it mengalami goncangan perasaan, atau bahkan kadang-kadang sekedar memanjakan diri, Pangeran Ranakusuma selalu berusaha untuk menenangkannya. Tetapi kali ini Pangeran Ranakusuma bagaikan patung yang membeku. Raden Ayu Galih Warit tidak segera dapat menanggapi keadaan. Bahkan iapun mengguncang-guncang tubuh Pangeran Ranakusuma sekuat-kuatnya sambil bertanya disela- sela isak tangisnya “Apa yang sudah terjadi atas Rudira?“ Perlahan-lahan Pangeran Ranakusuma mendorong tubuh Raden Ayu Galih War it sambil berkata “Diamlah” Raden Ayu Galih Warit mulai merasakan sikap yang semakin asing dari Pangeran Ranakusuma. Karena itu, ketika Pangeran Ranakusuma kemudian berjalan mendekati tubuh Rudira, ia justru terdiam karenanya. “Kemarilah” berkata Pangeran Ranakusuma kepada isterinya yang justru menjadi termangu-mangu.“Kemarilah“ Pangeran Ranakusuma mengulang “Rudira ternyata telah mengalami bencana tanpa kita duga-duga sebelumnya” Raden Ayu Galih Warit dengan ragu-ragu melangkah mendekat. “Ia sudah meninggal beberapa saat yang lalu” Raden Ayu Galib Warit menganggukkan kepalanya. Katanya terputus-putus “Kakanda tidak memberitahukan apapun pada saat aku datang” “Aku tidak ingin mengejutkanmu dan apalagi merusak kesan yang cerah di dalam hatimu, setelah kau mengunjungi pertemuan itu” Raden Ayu Galih Warit mengangkat wajahnya. Sekilas dipandanginya Dipanala yang berdiri sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bagaimanapun juga, hatinya merasa pedih melihat seorang ibu yang harus menghadapi kenyataan yang sangat pahit itu. “Siapakah yang telah mencelakai Rudira kakanda?“ Pangeran Ranakusuma menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku tidak tahu. Ia diketemukan terkapar di jalan” “O“ “Lihatlah lukanya. Luka itu bukan luka senjata tajam, tetapi lukanya adalah luka peluru” “Peluru?“ “Ya. Peluru kumpeni” “O, bagaimana mungkin hal itu terjadi?“ “Tidak ada yang dapat mengatakan dengan pasti” “Apakah Rudira hanya seorang diri? Biasanya ia pergi bersama Mandra”“Mandra juga mati” “Mandra juga mati?“ “Ya, tetapi dalam kedudukan yang lain. Bagaimanapun juga nakalnya Rudira, tetapi kali ini ia terbunuh selagi ia ingin menyatakan sikapnya sebagai seorang anak laki-laki yang baik” “Aku tidak mengerti” “Tentu kau tidak mengerti” jawab Pangeran Ranakusuma. Raden Ayu Galih Warit menjadi semakin bingung. Dipandanginya suaminya yang benar-benar terasa asing baginya, seperti juga Pangeran Ranakusuma merasa sebagai orang asing di dalam bilik itu. Isterinya yang cantik itu sama sekali tidak dapat memberinya gairah lagi kepadanya sebagai seorang suami. Bukan saja karena ia sedang berdiri di sisi mayat puteranya, namun apa yang terjadi memang sudah memisahkannya dari perasaan seorang suami. “Kematian Rudira memang memberikan suasana yang asing di dalam rumah ini” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian. Namun ia masih tetap berusaha menahan gejolak hatinya yang bagaikan meretakkan dada “Memang tidak ada bukti apapun yang dapat disangkutkan dengan kematian Rudira, selain luka peluru ini. Tetapi di Surakarta ini ada beberapa buah senjata yang dapat melepaskan peluru seperti ini” Raden Ayu Galih War it mengangguk kosong. “Tetapi senjata yang manakah yang telah melepaskan peluru dan melukai Rudira, tentu sulit sekali untuk diketahui” Isterinya menganggukkan kepalanya sekali lagi. “Tetapi” berkata Pangeran Ranakusuma selanjutnya “masih ada kemungkinan kita dapat menemukan pembunuh anak kita”“Siapa yang telah membunuhnya kamas?“ “Seseorang melihatnya, bagaimana seorang perwira kumpeni menembaknya” “O“ dada Raden Ayu Galih Warit menjadi berdebar-debar. “Perwira kumpeni itu meloncat dar i sebuah kereta” “Kereta?“ suara Raden Ayu Galih War it menjadi bergetar. “Ya. Seseorang melihat, sebuah kereta yang baru saja keluar dari tempat pertemuan yang meriah. Tetapi ternyata ada kereta lain yang sudah menunggunya di tempat yang gelap. Seorang perwira kumpeni telah berpindah tempat dari kereta yang berhenti lebih dahulu ke dalam kereta yang kemudian” “O, siapakah yang mengatakannya?“ “Tunggu. Ada hubungannya dengan kematian Rudira“ Wajah Raden Ayu Galih Warit menjadi pucat. “Apakah yang sudah dilakukan oleh Rudira?“ Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan sesuatu telah menyumbat di kerongkongannya. Namun akhirnya terucapkan juga dari sela-sela bibirnya “Rudira ingin melihat apa yang sudah dilakukan oleh perwira itu, karena ia mendengar suara seorang perempuan di dalam kereta yang kemudian. Ia tidak rela melihat bahwa sesuatu telah terjadi karena tingkah perwira kumpeni itu, karena ia tahu, bahwa seorang perempuan yang ada di dalam kereta itupun tentu seorang bangsawan” Wajah Raden Ayu Galih Warit yang pucat menjadi semakin pucat. Dengan suara gemetar ia bertanya “Apakah yang kemudian dilakukan oleh Rudira” “Ia menyusul kereta itu”“O“ tubuh Raden Ayu Galih Waritlah yang kemudian menjadi gemetar “Tidak. Tidak terjadi apa-apa. Tidak terjadi apa-apa. Itu hanyalah kebetulan saja, bahwa kereta itu bertemu di tengah jalan” “Apa yang tidak terjadi apa-apa?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. “Perwira itu tidak berbuat apa-apa” “Tentu ia berbuat apa-apa” “Tidak, tidak” Pangeran Ranakusuma memandang isterinya sejenak, lalu “Akulah yang memberitahukan hal ini kepadamu. Bukan kau” “Tetapi tidak terjadi apa-apa dengan kumpeni itu” “Darimana kau tahu? Dan apakah kau juga melihatnya?“ Pertanyaan itu terdengar bagaikan bunyi guntur yang meledak di langit. Sejenak Raden Ayu Galih Warit berdiri mematung. Dengan tatapan mata yang tajam dipandanginya wajah Pangeran Ranakusuma yang tegang. Lalu dengan suara gemetar ia berkata seakan-akan tidak terpikirkan lebih dahulu karena kegelisahan, kecemasan, kepedihan yang bercampur baur “Aku t idak tahu. Aku tidak tahu apa-apa” “Tetapi Rudira mengetahuinya” berkata Pangeran Ranakusuma “Ia tahu siapa yang berada di dalam kereta itu. Ia tahu siapa yang mengatur pertemuan itu. Namun dengan demikian ia sudah terjebak oleh pengkhianat Mandra” “O“ “Ketika Rudira dan Mandra mengejar kereta itu, dan Rudira berada di depan, ia melihat seorang perwira kumpeni meloncat dari kereta. Ia mendengar sebuah ledakan yang memekakkan telinga dan terasa ia terdorong pada pundaknya. Ia tidak dapat menguasai diri lagi. Dengan derasnya ia terlempar dan jatuh di atas jalan berbatu itu”“O“ “Ia masih hidup ketika aku datang karena disusul oleh seorang abdi. Ia masih dapat mengatakan, siapakah yang ada di dalam kereta itu” Raden Ayu Galih Warit rasa-rasanya tidak lagi berpijak di atas tanah. “Dari orang yang telah ditembak oleh kumpeni yang sedang dibakar oleh nafsu kecantikan seorang putera bangsawan itu adalah Rudira. Anakmu” Rasa-rasanya langit bagaikan runtuh menimpa dadanya. Sejenak Raden Ayu Galih Warit tidak dapat bergerak. Sekilas terbayang kembali perwira kumpeni yang meloncat turun. Kemudian disusul oleh bunyi tembakan dan suara tertawa yang berkepanjangan. Ketika dengan ketakutan ia bertanya, maka perwira itu menjawab, bahwa ia telah menembak seorang penjahat yang mencoba hendak membunuhnya. 


Jilid 10
“O“ MATA Raden Ayu Galih Warit mulai berkunang-kunang. Kini ia sadar, bahwa yang ditembak itu tentu Rudira, anaknya. Dan setelah anaknya itu terkapar di tengah jalan berbatu- batu, maka ia masih sempat tertawa meringkik seperti iblis betina di dalampelukan orang asing berkulit putih itu. “O” Tidak ada sepatah katapun yang dapat diucapkannya. Tetapi yang pernah dilakukan bagaikan terbayang kembali di dalam rongga matanya. Kemaksiatan yang pernah dilakukan. Dan akhirnya anaknya sendiri mati terbunuh selagi ia sedang menikmati nafsu yang gila. Tiba-tiba nafasnya menjadi terhenti. Sekilas ia melihat Rudira yang terbujur itu. Tetapi semakin lama semakin kabur. Raden Ayu Galih Warit masih sempat menjerit. Ter lalu keras. Sambil berlar i ia memanggil nama anaknya. Kemudian dijatuhkannya dir inya di atas mayat yang sudah membeku itu. “Rudira, Rudira” suaranya melengking tinggi “Tidak. Tidak” Suara Raden Ayu Galih Warit tiba-tiba terhenti. Tubuhnya menjadi lemas dan ia tidak lagi dapat berpegangan ketikatubuh itu psrlahan-lahan berguling dan jatuh di lantai. Pingsan. Pangeran Ranakusuma sama sekali tidak berbuat apa-apa. Dipandanginya saja isterinya yang tergolek di lantai di bawah pembaringannya. Dipanala menjadi termangu-mangu. Ia tahu, bahwa beberapa orang pelayan berkumpul di pintu belakang. Tetapi mereka t idak berani masuk ke dalam. “Pangeran” desis Dipanala “Apakah tidak sebaiknya Raden Ayu itu dibangunkan dari pingsannya” Pangeran Ranakusuma menandanginya sejenak, lalu “Biarkan saja ia terbaring di situ” “Tetapi itu berbahaya bagi Raden Ayu” “Kenapa?“ “Jika Raden Ayu terlampau lama pingsan, maka kesehatannya akan menjadi jelek sekali” “Aku tidak peduli” “Tetapi, tetapi, apakah hamba diperkenankan mencobanya bersama para pelayan?“ “Apa kepentinganmu? Bukankah kau pernah akan dibunuhnya? Rudira dan Mandralah yang mengatur segala sesuatunya. Buat apa kau sekarang akan menolongnya” “Hamba mengerti Pangeran. Tetapi hamba tidak sampai hati melihatnya, seperti pada saat hamba melihat Mandra sudah siap membunuh Raden Rudira” Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Sambil melangkah meninggalkan ruangan itu ia berdesis “Terserah kepadamu” Ki Dipanala menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya saja Pangeran Ranakusuma yang melangkah keluar biliknya.Meskipun tampaknya Pangeran itu tetap tenang, namun tatapan matanya yang tunduk membayangkan, betapa sakitnya dera yang menyentuh perasaannya. Ia telah kehilangan anak laki- lakinya, dan sekaligus telah kehilangan semuanya. Isterinya yang dianggapnya paling sesuai itu ternyata sama sekali t idak setia kepadanya, sedang isterinya yang lain telah meninggal lebih dahulu dan yang seorang telah dikembalikan kepada orang tuanya. Demikian juga kedua anak laki- lakinya. Yang seorang meninggal, dan yang seorang bagaikan telah dibuangnya. Anak perempuannya hampir seperti orang lain saja baginya. Meskipun kadang-kadang anak itu dengan manjanya merengek minta sesuatu, namun ia lebih dekat dengan ibunya bahkan dengan kakeknya daripada dengan dir inya sendiri. Ki Dipanala masih berdiri sambil termenung ketika ia melihat Pangeran Ranakusuma duduk di pendapa. Seakan- akan tidak terjadi sesuatu di dalam istananya yang besar. Seakan-akan tidak ada sesosok mayat yang terbujur di dalam bilik, dan tubuh yang terbaring pingsan di lantai di sisi mayat itu. Seakan-akan tidak pernah terjadi pengkhianatan dari abdi yang dianggapnya setia oleh anaknya itu, dan yang kemudian juga terbujur mati di ruang belakang. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia sadar bahwa Raden Ayu Galih Warit memer lukan pertolongan. Jika ia sama sekali tidak mendapat perawatan, maka akan ada t iga sosok mayat di dalam rumah ini. Karena itu, maka Ki Dipanala mencoba melupakan Pangeran Ranakusuma yang duduk mematung di pendapa. Dengan tergesa-gesa iapun kemudian pergi ke belakang. Di depan pintu Ki Dipanala hampir tidak dapat melangkah keluar karena para pelayan yang berdiri berjejal-jejal. “Apa yang terjadi?“ seseorang bertanya.“Ambillah minyak kelapa dan berambang. Raden Ayu Galih Warit sedang pingsan. ” Tidak ada yang sempat bertanya lagi. Ki Dipanala segera kembali masuk ke dalam bilik. Dipapahnya Raden Ayu Galih Warit yang pingsan itu ke bilik Raden Rudira, dan dibaringkannya di pembaringan puteranya yang sudah dibersihkan. Sejenak Ki Dipanala memandang wajah yang pucat itu. Wajah yang memang sangat cantik. Meskipun Raden Ayu Galih Warit sudah mempunyai seorang anak laki- laki dan seorang perempuan yang menginjak dewasa, namun ia masih tetap seorang perempuan yang cantik dengan tubuh yang mempesona. “Sayang” desis Ki Dipanala di dalam hatinya “kecantikannya hanyalah sekedar kulit. Sama sekali tidak meresap sampai ke dalam hati dan jantungnya” Sejenak kemudian, maka seseorang yang membawa minyak kelapa memasuki bilik itu setelah ia mencar inya di bilik Raden Ayu Galih War it, tetapi tidak menemukannya di sana. “Bawa kemari” Pelayan itupun mendekat. Namun ia berbisik “Apa yang terjadi dengan Raden Rudira itu? Apakah tabib yang pandai itu tidak berhasil?“ Ki Dipanala memandanginya sejenak, lalu katanya tanpa menjawab pertanyaan itu “Bantu aku” Orang itu tidak menjawab. Dibantunya Ki Dipanala mengusap kaki dan telinga Raden Ayu Galih Warit dengan minyak kelapa dan berambang merah. Namun Raden Ayu Galih Warit masih tetap diam. Karena itu maka berkata Ki Dipanala “Panggil seorang emban. Cepat”Pelayan itupun dengan tergesa-gesa pergi ke belakang. Ia sudah melupakan, bahwa iapun telah ikut membenci Dipanala selama ini. Sejenak kemudian seorang emban yang sudah agak lanjut umurnya datang tergopoh-gopoh ke dalam bilik itu, sementara pelayan yang memanggilnya mengikut inya dari belakang. “Tunggulah di luar” berkata Ki Dipanala kepada pelayan itu kemudian. Pelayan itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian pergi ke belakang. Dengan demikian berita kematian Raden Rudira segera tersebar. Beberapa macam tanggapan telah dilontarkan oleh para pelayan dan para pengawal. Sebagian dari mereka telah menganggap, bahwa Ki Dipanala telah membunuh dua orang sekaligus. “Tetapi kenapa Pangeran Ranakusuma seakan-akan tidak mengacuhkannya sama sekali?“ bertanya seseorang. “Kebingungan yang memuncak itu telah membuatnya seperti orang yang terganggu ingatannya” “Tetapi kemarahannya tentu akan membakar jantungnya dan Dipanala akan dicincangnya. Bukankah Pangeran Ranakusuma seorang Senapati yang dibanggakan di Surakarta” Yang lain mengerutkan keningnya. Seseorang berkata “Kita memang tidak tahu apa-apa. Baiklah kita menunggu penjelasan yang dapat kita percaya” Dalam pada itu, setelah pintu bilik ditutup rapat-rapat, maka Ki Dipanala dibantu oleh emban itupun segera berusaha untuk menyadarkan Raden Ayu Galih Warit. Ikat pinggang yang terlalu keras itupun telah dikendorkan, dan hampir seluruh tubuhnya telah diusap dengan minyak kelapa danberambang merah. Tetapi Raden Ayu Galih Warit tidak segera sadarkan diri. Semakin lama Ki Dipanala menjadi semakin gelisah. Karena itu maka apa saja yang dapat dilakukan, telah dilakukannya. Digerak-gerakkannya tangan Raden Ayu Galih Warit. Kemudian kakinya, kepalanya dan dengan cemas diguncang- guncangnya tubuh yang masih tetap diam itu. Tetapi Raden Ayu Galih Warit t idak bergerak sama sekali. Ki Dipanala dan emban yang membantunya itu semakin lama menjadi semakin cemas. Karena itu, maka Ki Dipanalapun kemudian berkata dengan gugup “Aku akan menghadap Pangeran Ranakusuma. Aku akan memohon agar Pangeran sekali lagi memanggil tabib itu. Kali ini bagi Raden Ayu Galih War it” Emban itu hanya dapat mengangguk-angguk saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ki Dipanalapun kemudian menghadap Pangeran Ranakusuma dengan ragu-ragu. Dengan ragu-ragu pula iapun kemudian berkata “Ampun Pangeran. Hamba tidak berhasil membangunkan Raden Ayu” Pangeran Ranakusuma masih saja memandang kekejauhan. Kekegelapan yang bagaikan memisahkan dunianya dengan dunia di balik tabir yang hitam itu. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berani bertanya lagi. Ia tahu benar, betapa sakit dan pedihnya hati Pangeran Ranakusuma yang selama ini mendambakan kekuasaan yang berlebihan di Surakarta. Ia adalah salah seorang Pangeran yang merasa dirinya memiliki kemampuan yang tidak ada tandingnya diantara para Pangeran yang lain. Bahkan Pangeran Mangkubumipun sebenarnya secara pribadi tidak menggetarkan selembar bulunya.Namun karena di hati kecilnya Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa sebenarnya sikap Pangeran Mangkubumi yang kadang-kadang aneh itu didorong oleh perasaan kecewa yang mendalam, maka kadang-kadang Pangeran Ranakusuma merasa dir inya lebih kecil. Ia sama sekali tidak berani mempergunakan kelebihannya untuk berdiri di atas sikap yang teguh seperti Pangeran Mangkubumi. Bukan sekedar tidak berani, tetapi juga karena didorong oleh nafsu duniawi yang berlebih-lebihan. Namun akhirnya yang didapatinya adalah kekosongan. Kekosongan dan kesepian. Semuanya seakan-akan pergi menjauh daripadanya. Hilang tanpa dapat diketemukannya lagi. Dalam kepahitan yang hampir tidak tertelan ia baru menyadari, bahwa ia telah member ikan korban terlalu banyak bagi ketamakannya. Ternyata bahwa anak laki-lakinya telah lepas dari kendali dan sukar untuk ditarik kembali. Akhirnya, ia adalah korban sifat sifat yang memuakkan dari orang tuanya. Orang tua yang hampir tidak menghiraukan tentang anak- anaknya. Disangkanya bahwa menyuapi mulut anaknya sebanyak-banyaknya dengan kemewahan, uang dan kekuasaan akan dapat membentuk anak itu menjadi seorang yang baik. Ternyata bahwa yang terjadi adalah sebaliknya. Korban yang sia-sia. Ki Dipanala masih duduk dengan gelisah. Ia melihat seakan-akan wajah Pangeran Ranakusuma itu memuat ceritera tentang dirinya sendiri sepenuhnya. Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Terbayang kembali hubungannya yang gelap dengan adik kandung Galih Warit. Dan itupun merupakan getar yang berpengaruh di dalam jiwa anak laki-lakinya meskipun secara wadag ia tidak melihatnya.Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Ketika terlihat olehnya Ki Dipanala duduk tepekur, maka iapun bertanya dengan sada yang datar “Kau mau apa?“ Ki Dipanala termangu-mangu sejenak. Namun dipaksakannya juga mulutnya berkata “Pangeran, agaknya Raden Ayu tidak segera dapat sadar” “Aku tidak peduli” jawab Pangeran Ranakusuma acuh t idak acuh. “Maksud hamba, apakah tidak sebaiknya tuan mengutus seorang untuk sekali lagi memanggil tabib itu?“ “Tidak ada gunanya” “Mungkin ada Pangeran” “Ia sudah gagal mengobati Rudira. Tentu ia akan gagal lagi jika ia mengobati siapapun juga hari ini” “Tetapi Raden Ayu tidak perlu diobati” “Jadi kenapa harus memanggil tabib itu?“ “Ia perlu dibangunkan. Tidak diobati Pangeran” Sekali lagi Pangeran Ranakusuma terdiam. Dan sekali lagi ia menatap kekejauhan, ke dalam gelapnya malam. Satu satu dilihatnya bintang yang bergayutan di langit yang hitam di atas atap rumah di hadapan istananya. Sejenak kemudian maka katanya “Aku tidak peduli Dipanala. Apa saja yang akan kau kerjakan dengan Galih Warit. Aku tidak memerlukannya lagi. Jika kau mau, ambillah dan bawa ia pulang” “Ampun Pangeran, tentu hamba tidak akan berani berbuat demikian, karena derajat hamba. Namun hamba memang tidak sampai hati membiarkannya dalam keadaan yang demikian”“Terserah kepadamu. Aku sudah berkata, terserah kepadamu” Ki Dipanala tidak segera berani menangkap kata-kata itu secara pasti. Karena itu, maka iapun masih saja tetapi duduk di tempatnya, sehingga Pangeran Ranakusuma menjawab “He, kenapa kau masih tetap duduk saja? Pergilah, dan berbuat sekehendak hatimu” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk data m-dalam iapun bergeser surut. Ketika ia sampai di bilik Raden Rudira, maka Raden Ayu itupun sudah menjadi terlalu pucat. Wajahnya bagaikan sudah tidak berdarah sama sekali. “Emban” berkata Ki Dipanala kemudian “Aku mohon agar Pangeran Ranakusuma memanggil seorang tabib yang pandai. Tetapi semuanya terserah saja kepadaku. Pangeran menjadi acuh tidak acuh” “Aneh. Raden Ayu Galih Warit dalam keadaan ini, Pangeran Ranakusuma masih tetap berdiam dir i saja. Apakah ia sama sekali tidak mengerti keadaan Raden Ayu, atau barangkali sedang marah atau ada persoalan-persoalan lain?“ Ki Dipanala hanya mengerutkan dahinya. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk mengatakan keadaan Pangeran itu, tetapi ia masih berusaha untuk melindungi nama baik Raden Ayu Galih" Warit di hadapan para pelayan di Ranakusuman. “Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan?“ bertanya emban itu. Ki Dipanala termangu-mangu sejenak. Tetapi ketika terpandang olehnya wajah yang pucat itu ia berkata “Baiklah kita memanggil tabib itu” “Tetapi apakah Pangeran Ranakusuma memperkenankan?” “Itu terserah kepadaku”“Itulah kata-katanya. Tetapi apakah demikian juga yang dipikirkannya dan sikapnya yang sebenarnya?“ Ki Dipanala menjadi ragu-ragu pula. “Tetapi apakah kita akan membiarkan Raden Ayu Galih Warit itu di dalam keadaannya?“ Emban itu tidak menjawab. Perlahan-lahan ia mengusap kening Raden Ayu Galih Warit. Dan tiba-tiba saja ia berdesis “Ki Dipanala, lihatlah. Raden Ayu mulai bergerak” Dipanala segera meloncat mendekatinya. Seperti yang dikatakan emban itu, maka ia melihat gerak yang lemah pada Raden Ayu Galih Warit. Terdengar tarikan nafas yang lamban. Namun kemudian diam lagi. “Emban, panggillah seseorang, Biarlah ia menjemput tabib itu sekali lagi. Suruhlah ia mengatakan bahwa kali ini ia harus menyadarkan Raden Ayu yang pingsan” Emban itupun kemudian meninggalkan bilik itu dan menyuruh seorang pelayan memanggil tabib itu sekali lagi. Sejenak kemudian seekor kuda berderap meninggalkan halaman istana Pangeran Ranakusuma. Sedang Pangeran Ranakusuma sendiri yang melihat kuda itu berlari keluar regol dari pendapa, sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia masih saja duduk sambil merenungi diri sendir i, keluarganya dan kemudian justru Surakarta. “Kumpeni itu sudah membunuh anakku” katanya di dalam hati “Apapula yang akan aku dapatkan dari mereka, ternyata harganya terlampau mahal. Aku harus mengorbankan Rudira dan bahkan aku harus menjual isteriku pula kepada mereka. Gila. Gila“ Pangeran Ranakusuma menggeretakkan giginya. Namun kemudian tubuhnya bagaikan terkulai lemah. Semuanya sudah terjadi. Bukan kesalahan orang lain, tetapi ia adalah orang yang justru paling bersalah. Juga atas kematian Rudira.Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Dalam pada itu, Ki Dipanala benar-benar mulai berpengharapan. Emban yang sudah ada kembali di dalam bilik itupun mulai berpengharapan pula. Sekali-sekali mereka melihat Raden Ayu Galih Warit mulai bergerak meskipun sedikit sekali. Pernafasannya mulai teratur dan kadang-kadang sudah terdengar ia berdesah perlahan- lahan. Ki Dipanala dan emban itupun dengan gelisah menunggu tabib yang telah diundang. Seakan-akan mereka menunggu terlampau lama. Jika Raden Ayu Galih Warit mulai bergerak, keduanya berlutut di samping pembar ingannya sambil meraba-raba tubuh yang terbaring itu, seakan-akan mendorongnya untuk segera bangun dan berbicara apa saja. Namun Raden Ayu Galih War it belum sadarkan dirinya. Sejenak kemudian mereka mendengar kuda berderap memasuki regol. Namun ketika mereka melihat Pangeran Ranakusuma duduk di pendapa, maka penungganyapun segera berloncatan turun sambil menghent ikan kuda mereka. Setelah mengikat kudanya di halaman sebelah, maka tabib itupun telah dibawa masuk oleh seorang pelayan langsung ke dalam bilik. “Bagaimana dengan Raden Ayu?“ bertanya pelayan itu. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam, lalu “Sebagaimana kau lihat. Ia pingsan ketika ia melihat mayat puteranya” Tabib itu menar ik keningnya. Sambil berpaling ke pintu ia berkata “Pangeran ada di pendapa” “Ya. Pangeran memang ada di pendapa” “Kenapa Pangeran tidak menunggui Raden Ayu” Ki Dipanala tidak segera dapat menjawab. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berkata “Mungkin Pangeran benar-benar telah dibingungkan olehkematian puteranya, sehingga ia tidak dapat lagi berpikir bening” Tabib itu mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia mendekati Raden Ayu Galih War it yang pingsan. Dirabanya tubuh yang masih diam itu sambil berkata “Apakah Raden Ayu sudah cukup lama pingsan?“ “Ya. Sudah cukup lama” Tabib itu mengangguk-angguk. Lalu katanya “Berilah aku air hangat” Emban itupun kemudian pergi ke belakang untuk mengambil air hangat. Dalam kesempatan itulah maka Ki Dipanala berkata “Raden Ayu telah mengecewakan Pangeran Ranakusuma, justru pada saat puteranya meninggal” “Kenapa?“ “Besok aku akan member itahukan kepadamu” Tabib itu mengangguk-angguk pula. Tetapi ia tidak bertanya lebih banyak lagi. Dan ketika emban yang membawa air hangat itu datang, maka iapun segera mencoba membangunkan Raden Ayu Galih Warit yang pingsan itu. Dalampada itu Ki Dipanalapun berkata kepada emban yang masih ada di dalam bilik itu “Sudahlah, beristirahatlah. Biarlah aku menunggui tabib ini, dan membantunya apabila diperlukan. Kau tentu lelah dan barangkali kantuk” “Ah“ desah emban itu. “Tinggalkan saja kami. Jika perlu aku akan memanggilmu” Emban itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian meninggalkan bilik itu meskipun dengan ragu-ragu. Sepeninggal emban itu, maka tabib itupun mulai menyeka kaki dan tangan Raden Ayu Galih Warit dengan air hangatyang sudah dibubuhi dengan berbagai macam obat-obatan yang dapat menghangatkan urat-urat darahnya. Dengan selembar kain yang dibasahi dengan air hangat itu sedikit, diusapnya bagian-bagian tubuhnya sehingga hampir merata. Sejenak kemudian Raden Ayu Galih Warit yang sudah mulai bergerak itupun berdesah. Semakin lama semakin sering. Dan bahkan kemudian terdengar ia merint ih. “Raden Ayu“ Ki Dipanala memanggilnya. Tetapi agaknya suara Ki Dipanala itu masih belum didengarnya. Tabib itupun kemudian menggerakkan tangan Raden Ayu itu perlahan-lahan beberapa kali. Dan nafas Raden Ayu itupun menjadi semakin teratur. Ki Dipanala bergeser maju ketika ia melihat Raden Ayu Galih War it itu membuka matanya sejenak. Hanya sejenak. Dan mata itupun terpejam kembali. ”Raden Ayu” sekali lagi Ki Dipanala memanggil Namun Ki Dipanala terkejut ketika ia melihat mulut Raden Ayu Galih Warit itu bergerak-gerak sejenak. Dan sebelum Ki Dipanala dan tabib yang merawatnya mengerti apa yang dikatakan, tiba-tiba saja Raden Ayu Galih Warit menjer it keras sekali. Keras dan panjang. “Raden Ayu“ desis Ki Dipanala. Tetapi suaranya tidak didengar. Raden Ayu itu masih menjer it kerasi. Kepalanya digeleng-gelengkannya semakinlama semakin cepat, sedang kedua belah matanya tetap terbuka. “Raden Ayu, Raden Ayu“ Ki Dipanala menjadi cemas. Apalagi ketika dilihatnya dahi tabib yang masih muda itu berkerur-merut” “Bagaimana Ki Sanak” bertanya Ki Dipanala. Tabib itu tidak segera menjawab. Dirabanya dahi Raden Ayu Galih Warit. Tetapi dahi itu sama sekali tidak menjadi hangat. “Raden Ayu“ tabib itupun memanggilnya. Tetapi Raden Ayu Galih Warit sama sekali t idak menghiraukannya. Tabib yang biasanya selalu tenang itu menjadi tampak agak cemas. Keringat dingin mengembun dikeningnya. Sekali-sekali diusapnya keringat itu dengan tangannya. Tetapi Raden Ayu masih berteriak-teriak keras sekali. Disela-sela suaranya yang melengking, kadang-kadang terdengar ia memanggil nama puteranya. “Rudira, Rudira“ Ki Dipanala menjadi tegang. Tanpa disadarinya ia menjenguk Pangeran Ranakusuma yana duduk di pendapa. Tetapi ternyata Pangeran itu masih duduk di tempatnya. Ki Dipanala menjadi heran. Begitu besar kekecewaan yang mencengkam hatinya. sehingga seakan-akan teriakan Raden Ayu itu sama sekali tidak didengarnya. Sebenarnyalah bahwa Pangeran Ranakusuma t idak mempedulikan suara itu. Kematian anak laki-lakinya. ketidak setiaan isterinya, justru yang menyebabkan kematian Raden Rudira itu, bagaikan titik-t itik embun yang tersimpan sewindu, yang menyiram dan telah membekukan hati dan jantungnya. Ada juga sentuhan suara isterinya yang menyayat itu. Bahkania sudah bergerak untuk berdir i. Namun kemudian Pangeran Ranakusuma itu duduk kembali di tempatnya. Hatinya telah benar-benar membeku seperti tubuh anak laki-lakinya yang sudah meninggal itu. Dari dalam bilik masih terdengar jerit yang melengking- lengking. Ki Dipanala masih berdiri termangu-mangu. Tetapi Dipanala itu tidak berani mengatakan sesuatu. Tentu Pangeran Ranakusuma sudah mendengar. Jika ia ingin bangkit dan mendekati isterinya tentu sudah dilakukannya. “Bukan main” desis Ki Dipanala kepada diri sendri “kekecewaan yang tiada taranya lelah membuatnya sama sekali tidak menghiraukan apa yang terjadi Demikian parah kepedihan seorang suami yang sama sekali tidak menyangka bahwa ketidak setiaan itu sudah terjadi, dan sekaligus menyebabkan kematian anak laki-lakinya” Dengan hati yang terpecah. Ki Dipanala kembali ke dalam bilik. Ia melihat beberapa orang pelayan berdiri di muka pintu butulan. Merekapun menjadi heran, bahwa Pangeran Ranakusuma masih tetap duduk diam di pendapa. “Rudira, Rudira” teriak Raden Ayu Galih Warit “Maafkan aku. Aku tidak sengaja membunuhmu. Bukan salahku saja. Bukan salahku“ Tabib itu menjadi tegang. Dipandanginya Ki Dipanala sejenak, lalu “Apakah yang sudah terjadi Ki Dipanala?“ Ki Dipanala tidak menjawabnya. Sementara itu Raden Ayu itu masih saja berteriak “O, bukan maksudku. Kumpeni itu bermaksud baik. Aku menyerahkan diriku karena aku mendapat imbalan yang tidak terkira. Aku bermaksud member ikan kepadamu Rudira. Kepadamu dan kepada Warih. Tetapi tidak untuk membunuhmu. Aku ingin mempengaruhi mereka untuk kepentingan ayahandamu. Ayahandamu harus menjadi Senopati Agung di Surakarta. Ayahandamu harus mendapat imbalan tanah yang jauh lebih banyak dari TanahSukawati. Tanah Sukawati itu memang harus diminta kembali dari Pangeran Mangkubumi, kemudian diserahkan kepada ayahandamu dan masih harus ditambah dengan daerah sekitarnya. Juga Jati Sari seisinya harus diserahkan, termasuk gadis itu Rudira, Arumdan juga kematian Juwir ing” “O” tabib itu berdiri gemetar. Dan Ki Dipanalapun bagaikan tidak dapat berpikir lagi mendengar isi hati Raden Ayu Galih Warit yang tidak sempat dikekangnya, karena ia masih belum sadar sepenuhnya. Untunglah bahwa bilik itu tertutup rapat, sehingga para pelayan yang berdiri di pintu butulan di belakang tidak begitu jelas mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Raden Ayu Galih War it itu. Mereka hanya mendengar lamat-lamat, Raden Ayu Galih Warit berteriak-teriak. Tetapi mereka sama sekali tidak mengerti maksudnya. Dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma yang sama sekali tidak berniat untuk menengok isterinya, mendengar juga serba sedikit teriakan Raden Ayu itu, sehingga hatinya tergelar karenanya. Bagaimanapun juga ia bertahan untuk tetap duduk Di tempatnya, namun iapun kemudian bangkit dan bergegas masuk ke dalam bilik itu sambil membentak “Suruh orang itu diam. Suruh orang itu diam” Ki Dipanala dan tabib itu menjadi termangu-mangu. Sementara itu Raden Ayu Galih Warit masih berteriak “Aku sama sekali tidak ingin berkhianat. Apa yang aku lakukan adalah suatu perjuangan. Aku telah berkorban dengan segala yang ada padaku untuk kepentingan keluargaku” “Diam, diam“ Pangeran Ranakusumapun berteriak pula. Tetapi Raden Ayu Galih Warit yang tidak sadar atas apa yang terjadi itu masih saja berteriak. Betapa gelapnya hati Pangeran Ranakusuma. Pengakuan yang langsung dapat didengarnya itu bagaikan pisau yang mengiris jantungnya. Itulah sebabnya maka ia tidak dapatmendengar suara itu lebih lama lagi. Dengan garangnya ia meloncat dengan jari-jari berkembang menerkam leher Radefn Ayu Galih War it. “Pangeran, Pangeran“ hampir berbareng Ki Dipanala dan tabib yang masih muda itu meloncat pula. Sambil memegangi lengan Pangeran itu Ki Dipanala berkata “Pangeran, hamba mengharap Pangeran mengerti. Raden Ayu sedang dalam keadaan tidak sadar” “Justru karena itulah maka ia mengatakan yang sebenarnya, la berkata apa yang pernah ia lakukan, dan apa yang pernah dilakukan itu sangat menyakitkan hati. Aku akan membunuhnya. Aku harus membunuhnya” “Pangeran” berkata tabib itu “terserahlah kepada Pangeran. Tetapi biar lah Raden Ayu sadar lebih dahulu dari pingsannya. Itu adalah kuwajiban hamba sebagai seorang tabib. Setelah Raden Ayu menyadari keadaannya maka semuanya adalah hak Pangeran untuk berbuat apapun dengan segala tanggung jawab Pangeran sendiri” Pangeran Ranakusuma memandang tabib itu sejenak. Lalu “Tetapi memalukan sekali. Aku tidak mau mendengar ia mengigau seperti itu” “Pangeran” berkata tabib ini biarlah hamba mencoba untuk menenangkan Raden Ayu Galih Warit. Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Tetapi hatinya bagaikan menyala ketika ia masih mendengar isterinya mengigau. Katanya “Mudah-mudahan aku berhasil. Jika kumpeni dapat membantuku, maka kamas Ranakusuma akan menjadi seorang Senapati Agung di Surakarta dan akan mendapat tanah kalenggahan yang mencukupi untuk tujuh turunan. Untuk anak cucuku, untuk anak cucu Rudira dan Warih” “Diam, diam. Aku tidak mau mendapatkan kedudukan yang harus dibeli dengan noda pada kesetiaan seorang isteri. Akumembiarkan kau bergaul dengan mereka, tetapi tidak untuk mengotori keluarga ini” Raden Ayu Galih Warit sama sekali tidak mendengar, sehingga karena itu ia masih saja berkata “Dan usaha itu tampaknya akan segera berhasil dalamwaktu singkat” “Tidak, tidak“ Pangeran Ranakusumapun berteriak. Tetapi Raden Ayu Galih War it sama sekali tidak mendengarnya. Namun dalam pada itu, justru telinga hati Pangeran Ranakusumalah yang telah mendengar suaranya sendiri. Sebenarnyalah bahwa ia memang telah memberikan waktu dan kesempatan terlalu banyak kepada isterinya. Dan sudah barang tentu dengan pamrih seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galih Warit itu. Pangeran Ranakusuma memang tidak dapat ingkar kepada diri sendiri, bahwa sebenarnyalah ia telah bermain api. Ia ingin membiarkan isterinya berdiri di atas pagar ayu, tetapi tidak melampauinya. Namun batas yang tidak berjarak itu ternyata tidak dapat dipertahankannya, sehingga akhirnya Raden Ayu Galih Warit itu telah terjerumus ke dalam tindakan yang tidak dapat dibenarkan. “O“ Pangeran Ranakusuma melangkah surut. Tangannya yang sudah siap mencekik leher isterinya, ditariknya kembali. Dengan kepala tunduk ia melangkah menjauh. Dengan hati yang pedih dilihatnya isi hatinya sendiri. Pamrih yang terlampau besar, seperti yang disebut-sebut isterinya itu. Ia memang ingin menjadi seorang Senapati Besar dengan tanah kelenggahan seluas tujuh kali tanah kalenggahan seorang Pangeran biasa. Karena itulah maka ia tidak berbuat apa-apa lagi. Sekali- sekali Raden Ayu Galih Warit masih juga mengigau, meskipun tidak sekeras sebelumnya. Tabib itu berusaha untuk menitikkan obat yang dapat menenangkannya meskipun hanya sedikit Tetapi obat itu bukan untuk menghentikan sama sekali, karena tabib itu tidakberani menanggung akibat, bahwa Raden Ayu Galih Warit akan terdiamuntuk selama- lamanya. Meskipun suara Raden Ayu Galih Warit menurun, tetapi ia tidak juga berhenti mengigau. Ia masih saja berbicara tentang dirinya, tentang anak-anaknya dan tentang cita-citanya. Pangeran Ranakusuma yang tidak mau lagi mendengar igauannya itupun kemudian meninggalkan bilik itu dan kembali duduk di pendapa. Bagaimana ia berusaha untuk mengusir angan-angannya, namun ternyata bahwa setiap kali iapun dihadapkan kepada sikapnya yang tamak. Sehingga karena itulah, maka yang terjadi sekarang bagaikan telah meremukkan jantung dan hatinya. Ki Dipanala dan tabib yang masih muda itu masih menunggui Raden Ayu Galih Warit. Setiap kali mereka harus menahan nafasnya jika Raden Ayu itu kadang-kadang menyebutkan rahasia dirinya yang paling dalam. Bahkan di dalam keadaannya yang semakin lemah karena obat yang dititikkan di mulutnya, ia masih dapat menyebut beberapa nama orang asing dengan kata-kata yang tidak jelas. “Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi” desis tabib itu perlahan-lahan. Terasa bulu kuduk Ki Dipanalapun meremang. Ia tidak pernah menduga, bahwa ia akan mendengar pengakuan yang menger ikan. Apalagi dari mulut seorang perempuan bangsawan. “Apakah kau tidak dapat berusaha agar Raden Ayu itu terdiam?“ desak Ki Dipanala. “Aku tidak berani melakukannya. Aku tidak berani menanggung akibatnya jika ia akan terdiam untuk seterusnya. Dan hal itu akan mungkin terjadi, jika aku menit ikkan agak terlalu banyak” “Kau dapat memperhitungkannya. Kau sudah cukup ahli”“Tetapi tidak ada jaminan yang pasti tentang kekuatan jasmaniah seseorang. Dan aku memang tidak biasa member ikan lebih dari yang sudah aku berikan” Ki Dipanala hanya menahan nafasnya saja. Namun kegelisahan yang sangat telah mencengkam jiwanya. Namun tiba-tiba Ki Dipanala itu terkejut. Dilihatnya Raden Ayu Galih Warit yang lemah itu tiba-tiba saja berhenti. Kemudian matanya terbelalak sejenak, hanya sejenak, karena iapun kemudian memejamkan matanya. “Bagaimana?“ bertanya Ki Dipanala. Tabib itu meraba tubuh Raden Ayu Galih Warit. Dipijit- pijitnya bagian belakang telinganya. Kemudian diusapnya dengan sejenis obat yang cair seperti minyak kelapa. “Mudah-mudahan ia akan segera sadar” berkata tabib itu. “Apakah itu gejalanya” “Memang ada kelainan. Tetapi mudah-mudahan” Sejenak Raden Ayu Galih Warit memejamkan matanya. Nafasnya dengan teratur lewat lubang hidungnya yang mancung. Tabib itu menjadi berdebar-debar. Dicobanya untuk mengusap kening Raden Ayu Galih Warit. Kemudian bagian belakang telinganya dan pundaknya. Perlahan-lahan Raden Ayu Galih Warit membuka matanya. Ki Dipanala dan tabib yang menungguinya menahan nafas dengan tegangnya. Sepercik harapan telah tumbuh di dalam hati mereka. Ki Dipanala bergeser mendekat ketika ia melihat Raden Ayu Galih Warit itu kemudian bergerak. Diangkatnya kepalanya sedikit. Namun karena badannya yang masih sangat lemah, maka kepala Raden Ayu itupun terkulai kembali di pembaringan.Ki Dipanala memandang tabib itu sejenak sambil mengangguk sedang tabib itupun mengangguk pula. Namun keduanya mengerutkan keningnya ketika mereka melihat Raden Ayu Galih War it itu tersenyum. “Kenapa ia justru tersenyum” bertanya Ki Dipanala di dalam hatinya. Dan keduanya terkejut ketika Raden Ayu itu justru tertawa perlahan-lahan. “Raden Ayu“ Panggil Ki Dipanala dengan cemas. Raden Ayu Galih Warit berpaling memandanginya. Ternyata bahwa ia sudah mendengar suara itu. Namun yang mencemaskan justru ketika Raden Ayu itu tertawa sambil bertanya “He, siapa kau?“ “Raden Ayu, apakah Raden Ayu tidak mengenal hamba lagi” Raden Ayu Galih Warit mengerutkan keningnya. Kemudian perlahan-lahan ia bangkit. Ternyata tubuhnya masih terlampau lemah, meskipun iapun kemudian berhasil duduk di pembaringan. “O” katanya kemudian “Kenapa kau ada di sini?“ “Raden Ayu baru saja pingsan” jawab Ki Dipanala. Raden Ayu itu mengerutkan keningnya. Lalu sambil tertawa ia berkata “He, kau mengigau. Dimanakah kapitan Dungkur?“ “Siapa Raden Ayu?“ “Kapitan Dungkur. He, apakah ia sudah pergi?“ Ki Dipanala tertegun sejenak. Dipandanginya tabib yang sedang termangu-mangu, sementara Raden Ayu Galih Warit itupun kemudian berdir i tertatih-tatih.“Uh, Dungkur memang rakus. Ia begitu saja pergi dengan diam-diam” Raden Ayu itupun kemudian tertawa “Tetapi ia mempunyai Barang-barang yang aneh. Dan ia mempunyai pengaruh yang besar dikalangan istana” Ki Dipanala hanya dapat berpaling ketika kemudian Raden Ayu Galih Warit itu berdiri sambil dengan tangannya membenahi pakaiannya yang memang dikendorkan ketika ia pingsan. “Dungkur yang rakus itu tidak mau menunggu aku berpakaian dengan rapi. Gila” Lalu tiba-tiba dipandanginya tabib itu “He siapa kau?“ “Ampun Raden Ayu. Hamba berusaha mengobati Raden Ayu” “Mengobati? Aku kenapa? O, bodoh sekali kau “ Raden Ayu itu tertawa “Apa yang kau obati padaku? Jika aku sakit kumpeni mempunyai obat yang tidak kau punyai. He, siapa kau?” Ki Dipanala menjadi semakin cemas. Apalagi ketika ia kemudian mendengar Raden Ayu itu tertawa terbahak-bahak. Tanpa menghiraukan kedua orang yang ada di dalam biliknya Raden Ayu Galih Warit memperbaiki letak pakaiannya sambil tersenyum-senyum. Ternyata senyum Raden Ayu itu telah menggetarkan hati Ki Dipanala dan tabib yang masih muda itu. Mereka menjadi cemas bahwa kejutan perasaan itu telah membuatnya berubah. Dengan ragu-ragu Ki Dipanala masih mencoba memanggil “Raden Ayu, apakah Raden Ayu tidak mengenal hamba lagi?“ “He?“ Raden Ayu berpaling Dengan tajamnya ia memandang Ki Dipanala. Lalu katanya “Kau tentu bukan Kapitan Dungkur. Kenapa kau di sini he? Apakah kau juga kumpeni? Tentu bukan. Kulitmu seperti kulit sawo”Terasa kulit Dipanala yang dikatakan seperti kulit sawo itu meremang ketika Raden Ayu Galih Warit merabanya. Sambil tertawa Raden Ayu itu berkata “Tentu bukan. Dungkur kulitnya putih kemerah-merahan seperti kulit babi. Tetapi tidak sekasar kulit Panderpol” Raden Ayu itu tertawa, lalu “meskipun kulitmu tidak putih, tetapi ternyata lebih halus dari kulit orang- orang asing itu” “Raden Ayu” suara Ki Dipanala bagaikan orang mengeluh “hamba adalah seorang abdi kapangeranan. Apakah Raden Ayu belum menyadari apa yang terjadi” Raden Ayu itu tertawa. Kemudian iapun melangkah kembali ke pembaringan. Tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di dalam bilik itu ia berbaring sambil berdendang perlahan- lahan. “O Tuhan” desis Ki Dipanala. Ia menjadi semakin cemas melihat keadaan Raden Ayu Galih Warit itu. Ternyata tabib yang menunggui Raden Ayu Galih Warit itupun menjadi berdebar-debar pula. Bahkan kemudian ia berbisik kepada Ki Dipanala “Sesuatu telah terjadi pada diri Raden Ayu Galih Warit itu. Goncangan perasaan yang tidak tertanggungkan agaknya telah mengganggu keseimbangan jiwanya.” “Jadi bagaimanakah keadaannya itu?“ Tabib itu menarik nafas dalam-dalam sambil mengangkat pundaknya. “Apakah Raden Ayu telah terganggu syarafnya?“ Tabib itu ragu-ragu sejenak. Namun katanya kemudian “Agaknya memang demikian Ki Dipanala. Apakah Ki Dipanala dapat menyampaikannya kepada Pangeran Ranakusuma?“ Ki Dipanala tidak segera menjawab. Sejenak ia termangu- mangu.“Lambat atau cepat, Pangeran Ranakusuma memang harus mengetahuinya. Selain persoalan Raden Ayu Galih Warit, bukankah masih harus dipikirkan apa yang sebaiknya dilakukan terhadap Raden Rudira yang terbaring di bilik sebelah dan tubuh Mandra yang disimpan di belakang?“ Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Sekilah dilihatnya Raden Ayu Ranakusuma yang berbaring sambil berdendang perlahan-lahan. Namun kemudian perempuan itu meloncat berdiri sambil bertanya “He, dimana anakku? Dimana Rudira? Apakah kau lihat? Ia tidak boleh mengikuti aku. Ia tidak boleh tahu apa yang terjadi dan apa yang aku lakukan meskipun semuanya itu untuknya dan untuk suamiku. Ia akan menjadi Senapati Agung di Surakarta, dan kami akan menjadi pangeran yang paling berpengaruh dan paling kaya raya. Tentu melampaui pepatih Surakarta sendir i” Ki Dipanala tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Karena itu untuk beberapa lamanya ia hanya berdiamdiri saja. “Dimana he“ Raden Ayu Ranakusuma mendesak “kau lihat anakku yang laki- laki?“ “Raden Ayu” berkata Dipanala kemudian “hamba berharap Raden Ayu beristirahat. Cobalah Raden Ayu tidur sejenak. Mungkin dapat menenteramkan hati Raden Ayu” “Tidur? Kau suruh aku tidur?“ tiba-tiba Raden Ayu tertawa berkepanjangan. Tabib itu menjadi tegang sejenak. Katanya kemudian “Aku akan memberikan obat yang dapat memaksanya tidur sejenak. Ramuan kulit dalam buah pala dengan beberapa macam reramuan yang lain. Tetapi sebelumnya, beritahukanlah kepada Pangeran Ranakusuma, agar Pangeran dapat melihat akibat yang telah terjadi pada isterinya” Ki Dipanala mengangguk sambil bergeser. Kemudian iapun melangkah keluar pintu.Ketika pintu bilik itu berderit, Raden Ayu Galih Waritpun melangkah ke pintu. Tetapi tabib muda itu mencoba menahannya “Raden Ayu. Silahkan Raden Ayu tinggal saja di dalam bilik ini. Sebentar lagi Dipanala akan kembali” “Apa?“ dipandanginya tabib itu sejenak, lalu “Kenapa kau melarang aku pergi?“ “Tinggallah di dalam bilik ini, saja Raden Ayu?“ “Apakah Rudira t idak akan melihat aku di sini?“ “Ya, ya Raden Ayu. Raden Rudira tidak akan melihat Raden Ayu tinggal di dalam” “Apakah Dungkur, atau Panderpol atau Setepen akan datang” “O“ tabib itu mengusap dadanya. Ternyata Raden Ayu Itu sudah menyebut sedikit-sedikitnya tiga buah nama. “Terlalu, terlalu“ tabib itu mengeluh sendiri. “He, kenapa kau diam saja?“ bentak Raden Ayu. “Di luar ada Raden Rudira” katanya begitu saja terloncat dari bibirnya “karena itu silahkan Raden Ayu tinggal di dalam” “O, apakah ia tidak akan datang kemar i?“ “Tidak. Tidak”Raden Ayu itu tertawa. Katanya “Sekali-sekali ada juga baiknya menipu kanak-kanak. Tetapi niatku baik. Niatku bersih untuk anak dan suamiku” Tabib itu menyahut “Ya, memang niat Raden Ayu bersih, karena itu, silahkan Raden Ayu duduk saja di dalam” Raden Ayu Galih Waru melangkah kembali ke pembar ingan. Kemudian dibaringkannya dir inya seenaknya tanpa menghiraukan orang lain di dalambilik itu. Dalam pada itu, dengan sangat ragu-ragu Ki Dipanala bagaikan merayap mendekati Pangeran Ranakusuma yang masih duduk mematung di pendapa. Dengan dada yang berdebar-debar Ki Dipanala kemudian berkata perlahan-lahan “Ampun Pangeran. Hamba akan mohon kesempatan untuk mengatakan sesuatu tentang Raden Ayu” “Apa yang akan kau katakan? Tentu kau akan mengatakan bahwa perempuan itu sudah mulai sadar” Pangeran Ranakusuma terdiam. Ia masih belum berani mengatakan dugaannya tentang Raden Ayu Galih Warit karena ia mendengar suara tertawa berkepanjangan. Jika isterinya itu masih dalam keadaan tidak sadar seperti pada saat m berteriak-teriak, maka ia harus menunggu isterinya itu bangun. Tetapi kalau perempuan itu sudah terbangun? “Hamba Pangeran” jawab Ki Dipanala “sebenarnya Raden Ayu sudah sadar. Maksud hamba, Raden Ayu sudah bangun dari pingsan dan bayang-bayang yang menyelubunginya. Tetapi, tetapi...” Ki Dipanala tidak dapat meneruskan kata- katanya. Namun karena justru kecemasan yang serupa itu sudah ada di dalam hati Pangeran Ranakusuma, maka tiba-tiba saja ia menyahut “Gila maksudmu? Atau setengah gila atau apa?“Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Hamba tidak dapat menyebutnya Pangeran. Tetapi memang ada gangguan pada syaraf kesadarannya. Raden Ayu tidak dapat mengenal hamba lagi” “O“ Pangeran Ranakusuma meletakkan dagunya pada kedua tangannya yang bertelekan pada pahanya dengan sikunya. Bahkan kemudian kepala itu menunduk dan bersembunyi di balik kedua telapak tangannya. “Hancur, semuanya sudah hancur. Aku masih mengharap bahwa cemar yang melumur i keluargaku masih dapat disembunyikan, meskipun tidak bagi hatiku sendiri. Tetapi aku masih mengharap bahwa perempuan itu akan menyimpan rahasianya meskipun aku sudah mengambil keputusan untuk menyingkirkannya dari istana ini. Tetapi j ika ia menjadi gila, maka ia akan berkicau apa saja tanpa menghiraukan noda yang tercoreng di kening” “Perlahan-lahan tabib itu dapat Pangeran perintahkan untuk mengobati sejauh-jauh dapat dilakukan” “Persetan“ Pangeran Ranakusuma itupun kemudian berdir i. Dengan tergesa-gesa ia melangkah ke bilik isterinya. Ketika dengan keras ia mendorong daun pintu, Raden Ayu Ranakusuma terkejut. Dengan serta-merta ia meloncat bangun. Dipandanginya Pangeran Ranakusuma sejenak, lalu tiba-tiba saja ia ber lari sambil berteriak “Kakanda, kakanda” Tetapi ketika Raden Ayu itu mencoba memeluk Pangeran Ranakusuma, maka perempuan itupun telah didorongnya sehingga terjatuh di lantai. Raden Ayu Galih Warit itu masih sempat memekik. Namun kemudian ia terdiam sejenak. Dipandanginya suaminya dengan tajamnya. Perlahan-lahan ia bangkit. Dan tiba-tiba saja Raden Ayu itu tertawa sambil berkata “He, aku belum mengenal caramu. Ternyata kau kasar seperti Setepen”“Diam” teriak Pangeran Ranakusuma. Hampir saja tangannya menampar mulut Raden Ayu Galih Warit yang tertawa itu jika Ki Dipanala tidak cepat-cepat berkata “Jangan Pangeran. Raden Ayu sedang dalam keadaan tidak sadar” “O“ Pangeran Ranakusuma melangkah menjauhi isterinya sambil berdesah “memalukan sekali. Memalukan sekali. Aku sudah terjerumus ke dalam kehancuran mut lak” Dan sambil menggeretakkan giginya Pangeran Ranakusuma menggeram “Ia harus diam. Ia harus diam” Lalu tiba-tiba ia berbalik sambil berkata “Aku akan membunuhnya. Aku akan membunuhnya” “Pangeran” berkata Ki Dipanala “ternyata Raden Ayu Galih Warit telah kehilangan kesadarannya. Hamba berharap bahwa tuanku akan tetap sadar menghadapi keadaan ini. Betapapun pahitnya empedu, jika itu memang harus ditelan, maka Pangeran tidak akan dapat memuntahkannya lagi” Pangeran Ranakusuma menggigit bibirnya seakan-akan ia sedang menahan, sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. ”Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma sambil memandang isterinya, hanya sekilas “Apa yang harus aku lakukan” Terasa jantungnya seakan-akan berhenti berdenyut ketika tiba-tiba saja ia mendengar isterinya itu tertawa. Perlahan- lahan Raden Ayu Galih Warit pergi ke pembaringan dan seperti yang telah dilakukan, Raden Ayu itu berdendang perlahan- lahan sambil mempermainkan ujung jari-jar inya. “Ia benar-benar sudah gila“ gumam Pangeran Ranakusuma. “Itulah sebabnya kita harus mengasihani” “Jika ia tidak berlumuran dengan noda, aku tidak akan ingkar. Aku mengambilnya sebagai isteriku dalam keadaan seutuhnya. Ia aku terima dengan segala yang ada padanya.Gelak tertawanya, tetapi juga tangisnya. Dan seharusnya aku juga bertanggung jawab selama ia terganggu jiwanya” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak “Tetapi sekarang aku tidak dapat melakukannya. Tidak dapat, justru karena Galih Warit tidak setia kepadaku, ia telah berkhianat apapun alasannya” Tidak seorangpun yang menjawab. “Aku akan mengantarnya pulang. Malam ini” “Pangeran, jadi bagaimana dengan tubuh Raden Rudira dan bagaimana dengan Mandra yang ternyata telah berkhianat itu” “Tidak ada gunanya Galih Warit ada di sini. Ia tidak akan tahu apa yang akan kita lakukan atas Rudira dan Mandra. Karena itu, siapkan kereta. Aku akan membawanya pulang kepada ayahanda dan ibundanya” “Pangeran“ Ki Dipanala berusaha untuk mencegah “akan timbul berbagai akibat dari tindakan Pangeran itu. Sebaiknya Pangeran memikirkannya masak-masak” Pangeran Ranakusuma memandang Ki Dipanala sejenak, lalu “Aku tidak dapat membiarkan hatiku terbakar dan kemudian di luar sadarku, aku membunuhnya. Selagi kau dan tabib itu ada di sini, biarlah aku membawanya kepada ayahnya. Mungkin itu akan lebih baik baginya dan bagiku sendiri” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Tetapi j ika demikian, tentu akan merupakan kejutan yang dahsyat bagi ayahanda dan ibunda Raden Ayu Galih Warit. Apalagi kini puteri Pangeran ada di sana pula” “Apaboleh buat” desis Pangeran Ranakusuma “Tetapi j ika aku masih saja selalu mendengar ia mengigau, aku selalu didorong oleh suatu keinginan untuk membunuhnya”Ki Dipanala tidak segera menyahut. Teringat, sekilas pada saat ia menyebutnya untuk pertama kali di hadapan Kiai Danatirta tentang ketamakan Raden Ayu Galih Warit yang sudah berhasil mengusir madunya dari rumah Pangeran Ranakusuma sebagai seorang puteri dari seorang Pangeran yang kurang waras. “Pangeran Sindurata memang kurang waras. Apakah memang ada semacam penyakit keturunan pada Raden Ayu Galih Warit, sehingga goncangan perasaan itu tidak tertanggungkan, dan penyakit yang semula masih tersembunyi itu tiba-tiba melonjak keluar?“ bertanya Ki Dipanala kepada diri sendiri. “Nah Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “siapkan kereta. Aku akan pergi mengantarkannya kepada Pangeran Sindurata” “Pangeran Sindurata akan terkejut sekali Pangeran” “Ialah yang mewariskan sifat yang tidak waras itu kepada Galih Warit” Ki Dipanala menjadi termangu-mangu. Dan tabib itupun kemudian berkata “Pangeran, sebaiknya Pangeran mengantarkannya tidak di malam har i. Mungkin malam ini Pangeran dapat menjauhi Raden Ayu untuk beberapa lamanya sementara Pangeran dapat memer intahkan menyelenggarakan jenazah Raden Rudira. Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Apa yang dapat aku lakukan agar Galih Warit Tidak mengigau terus menerus. Apalagi jika ada orang lain di dalambilik ini” Tabib itu menarik nafas dalam-dalam. “Katakan, apakah kau dapat melakukannya?”“Hamba tidak berani mencoba tuan. Jika hamba berbuat kesalahan, maka akibatnya, hamba akan dapat menjadi seorang pembunuh” “Persetan. Aku tidak minta kau membunuhnya. Tetapi jika itu terjadi, bukan salahmu” “Ampun Pangeran, hamba tidak berani melakukannya” “Lakukan, lakukanlah. Katakanlah kepada dirimu sendiri bahwa kau tidak berniat untuk membunuhnya. Kau membuatnya tertidur untuk beberapa lamanya, sementara itu, biarlah orang-orang membersihkan tubuh Rudira dan menyelenggarakan sebaik-baiknya. Usahakan agar Galih War it tidak segera terbangun di pagi hari agar aku dapat mengantarkannya selagi ia masih tertidur nyenyak” “Ampun Pangeran, tugas ini terlampau berat bagi hamba” “Kau adalah seorang tabib. Jika kau tidak dapat mempergunakan caramu, aku akan mempergunakan caraku. Aku dapat mematikan syaraf kesadarannya untuk beberapa saat dengan sebuah pukulan pada punggungnya bagian atas atau memij it tengkuknya. Tetapi itu adalah cara yang dilakukan oleh seorang prajurit. Bukan oleh seorang tabib. Karena di sini ada seorang tabib, maka lakukanlah. Kita sama- sama menghadapi kemungkinan yang serupa. Jika aku yang melakukannya, kemungkinan itupun dapat terjadi, bahwa ia tidak akan bangun untuk selama-lamanya?” Tabib itu menjadi ragu-ragu. “Baiklah. Jika kau masih tetap pada pendirianmu, biarlah aku yang melakukannya. Mudah-mudahan tulang belakangnya tidak patah karenanya” “Pangeran“ Ki Dipanala bergeser setapak ketika Pangeran Ranakusuma melangkah maju mendekati isterinya yang sedang bermain-main dengan ujung bajunya tanpamenghiraukan persoalan yang sedang diperbincangkan oleh orang-orang yang ada di dalambilik itu. “Apakah kau yang ingin melakukannya?“ “Tidak Pangeran. Tetapi apakah Raden Ayu Galih Warit tidak terlalu lemah untuk mengalami per lakuan yang keras itu?“ “Karena itu, aku harapkan ada jalan lain. Jika tabib itu mau melakukannya, biarlah ia mencobanya” “Tetapi, tetapi . . ” tabib itu ragu-ragu. “Maksudmu, kau tidak mau bertanggung jawab jika Galih Warit tidak mau bangun lagi untuk selamanya?“ “Bukan tidak mau bertanggung jawab Pangeran. Tetapi hamba t idak berani melakukannya” “Lakukanlah atas namaku. Aku akan bertanggung jawab apapun yang akan terjadi. Jika kemudian terjadi peristiwa yang tidak kau ingini itu, biarlah aku yang diseret ke depan pengadilan Istana Surakarta. Dipanala menjadi saksi” “Bukan saja oleh pengadilan di Surakarta, Pangeran” “Maksudmu jika ada dosa yang terjadi atas perbuatan itu? Kau tentu yakin, bahwa kau tidak berbuat salah. Akupun tidak. Yang terjadi adalah kecelakaan” “Mungkin kita dapat berkata demikian justru kepada pengadilan di Surakarta Pangeran. Tetapi tentu tidak kepada Yang Maha Kuasa” “Yang Maha Kuasa tentu melihat, bahwa kita benar-benar tidak ingin membunuhnya” Tabib itu masih tetap ragu-ragu. Namun tentu hal itu lebih baik daripada jika Pangeran Ranakusuma sendiri yang melakukan dengan sebuah hentakkan atau pukulan pada punggungnya.Karena itu, betapapun juga beratnya, maka iapun terpaksa mencobanya. Tetapi memang dengan niat di dalam hatinya, bahwa ia ingin membuat Raden Ayu Galih Warit itu tertidur sejenak. Bukan membunuhnya. Dan ia masih mengharap bahwa Raden Ayu Galih Warit itu akan terbangun. Demikianlah, maka tabib itupun kemudian membuat reramuan yang sedikit lebih keras dari yang sudah dipergunakannya. Namun ia tidak dapat menentukan, berapa lamanya obatnya itu akan mempengaruhi kesadaran Raden Ayu Galih Warit. Ia pernah mempergunakan obat serupa itu untuk seseorang yang karena suatu kecelakaan harus memotong kakinya. Tetapi begitu parah keadaannya, maka pada waktu itu tabib itu melakukannya dengan tanpa pilihan. Jika tidak, orang itu tentu akan mati, tetapi jika dilakukannya, maka masih ada harapan meskipun terlampau kecil. Tetapi waktu itu ia berhasil, dan orang itu kemudian dapat sadar kembali setelah beberapa lamanya ia tidak dapat mengingat sesuatu lagi. Sejenis dedaunan yang seolah-olah dapat membius dicampur dengan serbuk sejenis kulit kayu telah dipergunakan. Dengan hati-hati obat yang sudah dicairkannya dengan air itupun kemudian diberikannya kepada Raden Ayu Galih Warit. “He, apakah ini?“ bertanya Raden Ayu itu. “Minuman Raden Ayu?“ “Minuman keras?“ “Bukan, bukan minuman keras” Raden Ayu itu tertawa. Katanya “Aku jera meneguk minuman keras. Aku jadi mabuk dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Tidak ingat apa yang dilakukan oleh Setepen yang kasar itu”“Gila“ Pangeran Ranakusuma hampir berteriak “bunuh saja perempuan itu” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun juga. “Raden Ayu” berkata tabib itu “ini adalah obat yang paling baik bagi Raden Ayu, agar Raden Ayu tetap awet muda” “He“ Raden Ayu Galih Warit itu tertawa. Tetapi suara tertawanya lepas seperti tertawa perempuan yang sering menyusuri jalanan. Bukan tertawa seorang perempuan bangsawan. “Kau tahu bahwa aku ingin tetap awet muda? Dan aku ingin tetap awet muda sampai suamiku berhasil menjadi seorang Senapati Agung di Surakarta” “Bungkam mulutnya, bungkam mulutnya” Pangeran Ranakusuma benar-benar tidak dapat menahan perasaannya. “Siapakah orang itu? Kenapa ia berteriak-teriak?“ “Sudahlah Raden Ayu. Silahkan minum obat ini. Bukan saja obat ini akan membuat Raden Ayu awet muda, tetapi juga membuat Raden Ayu sehat dan tidak mudah menjadi sakit” “Uh, kau tentu akan meracun aku. Kau tentu ingin membunuh aku karena kau iri hati?“ Raden Ayu itu tertawa berkepanjangan sambil berkata “Jangan berbuat begitu. Aku tidak mau kau racun” “Tentu bukan racun Raden Ayu. Kenapa hamba harus meracun Raden Ayu? Bukankah hamba ini abdi yang paling setia?” “He“ Raden Ayu Galih Warit memandang tabib itu dengan tajamnya, namun Raden Ayu itu t idak dapat mengenalnya. Katanya “Aku belum mengenalmu. Jangan berpura-pura. Pergi, pergi dari ruangan ini. Nanti jika Dungkur datang, kau tentu akan dibunuhnya”“Persetan“ Pangeran Ranakusuma menggeram. Namun Ki Dipanala segera mendekatinya sambil berkata “Biar lah tabib itu berusaha Pangeran” Dan tabib itupun kemudian menjawab “Raden Ayu, inilah obat yang dikirimkan oleh Dungkur itu. Tentu Raden Ayu akan senang sekali menerimanya. Obat ini memang khusus dibuat di negerinya untuk Raden Ayu, karena bagi Dungkur perempuan sebangsanya tidak ada yang secantik Raden Ayu” “Benar begitu?“ “Hamba Raden Ayu, cobalah” Raden Ayu itu tertawa, sementara dada Pangeran Ranakusuma serasa akan retak. Namun Raden Ayu Galih Warit itu menerima mangkuk ber isi cairan itu. Kemudian dipandanginya beberapa lamanya. Lalu iapun bertanya “Kau t idak bohong?“ “Silahkan minum“ Tetapi Raden Ayu itupun masih juga ragu-ragu, sehingga Ki Dipanala maju beberapa langkah dan berkata “Sebenarnyalah Raden Ayu” Raden Ayu Galih Warit memandang Dipanala sejenak, lalu “Kau siapa?“ “Dipanala. Dipanala Raden Ayu” “O“ Raden Ayu itu tertawa “Kau Dipanala. Kau sudah tahu semua rahasiaku. Tetapi Dipanala siapa?“ Ki Dipanala menjadi termangu-mangu. Namun katanya “Hambalah yang membawa obat itu bagi Raden Ayu. Tentu Raden Ayu akan meminumnya. Bukankah jika Raden Ayu awet muda, Pangeran Ranakusuma akan selalu mencintai Raden Ayu apapun yang terjadi” “Gila” geram Pangeran Ranakusuma.Raden Ayu itu tertawa. Kemudian dengan kedua tangannya ia memegangi mangkuk itu. Perlahan-lahan mangkuk itu diangkatnya dan perlahan-lahan pula dilekatkannya di mulutnya. “Tidak mau” tiba-tiba saja ia bergumam. “Tentu, silahkan, silahkanlah Raden Ayu. Adalah menjadi idaman setiap perempuan untuk mendapat obat seperti itu, dan kini Raden Ayu sudah mendapatkannya. Silahkan, silahkan“ tabib itu bagaikan berbisik di telinga Raden Ayu Galih Warit. Raden Ayu Galih Warit yang sedang dalam keadaan terganggu kesadarannya itu sejenak termangu-mangu. Tetapi kata-kata dukun itu seakan-akan langsung menghunjam kehatinya. Karena itu tanpa pengamatan pikiran, tangan Raden Ayu Galih Warit itu terangkat, dan obat itupun diminumnya. Bukan sekedar obat yang membuatnya tidur sesaat. Tetapi obat itu adalah obat yang menghentikan segala kegiatan nalar dan perasaannya untuk beberapa lamanya, seperti yang dikehendaki oleh Pangeran Ranakusuma, sampai besok menjelang pagi karena Raden Ayu Galih Warit itu akan dibawa dalam keadaan tidak sadar ke rumah orang tuanya. Karena itu maka yang diberikan di dalam reramuan itu bukan sekedar kulit bagian dalam buah pala. Dengan tegang tabib itu menunggu apa yang akan terjadi pada Raden Ayu Galih Warit setelah minum obatnya itu. Demikian pula agaknya Ki Dipanala dan Pangeran Ranakusuma sendir i. Sesaat Raden Ayu Galih Warit masih berdiri. Kemudian tampak keningnya berkerut merut. Agaknya pengaruh obat itu mulai terasa di kepalanya yang kosong. Ketika Raden Ayu Galih Warit mulai terhuyung-huyung, maka tabib itupun membimbingnya ke pembaringan.“Siapa kau he?“ suara Raden Ayu itu menjadi lambat “Apakah kau Dungkur. He, jangan paksa aku ke pembaringan. Kepalaku agak pening. Oh” suaranya terputus. Demikian Raden Ayu Galih Warit terbaring, maka matanyapun mulai terpejam. Tetapi masih terdengar ia bergumam “Aku tidak minta apa-apa. Sekali ini aku minta senjata yang dapat meledak itu. Rudira harus mempunyainya. Dan ia harus membunuh musuh-musuhnya. Ia harus membunuh Dipanala yang mengetahui segala rahasiaku. Membunuh Juwir ing supaya warisan ayahnya tidak terbagi, membunuh orang yang selalu membayanginya dengan rahasia yang gelap, petani dari Sukawati itu” “O“ Pangeran Ranakusuma menutup kedua belah telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meskipun suara itu sudah sangat lemah, namun masih juga dapat didengar dengan jelas. Dipanalapun mendengarnya pula. Tabib itu menar ik nafas dalam-dalam. Itulah rahasia yang tersimpan di dalam diri Raden Ayu Galih Warit, yang semakin lama suaranya menjadi semakin lambat, dan akhirnya hilang sama sekali. “Mudah-mudahan ia tidak akan bangun lagi” desis Pangeran Ranakusuma. “Jangan Pangeran. Hamba masih mengharap bahwa hamba bukan pembunuh” Pangeran Ranakusuma memandang tabib itu sejenak, lalu katanya “Bawalah perempuan itu menyingkir dari bilik ini” Tabib itu termangu-mangu sejenak, karena ia tidak begitu pasti pada perintah itu. Dan karena itulah maka Pangeran Ranakusuma mengulangi perintahnya, kali ini kepada Dipanala “Bawa ia menyingkir Dipanala” Ki Dipanala menelan ludahnya. Namun kemudian ia bertanya “Hamba harus membawanya kemana Pangeran”“Bawa ke bilik Warih. Tutup pintunya dan uruslah Rudira” “Hamba tuanku. Tetapi apakah setelah Raden Ayu dibaringkan di pembaringan Raden Ajeng, hamba boleh memanggil para abdi yang lain untuk menylenggarakan jenazah Raden Rudira” “Lakukanlah mana yang baik menurut pikiranmu dan tabib itu” Ki Dipanalapun kemudian bersama-sama tabib itu mengangkat tubuh Raden Ayu Galih Warit yang telah kehilangan kesadarannya sama sekali. Dengan hati-hati tubuh itupun kemudian diletakannya di pembar ingan Rara Warih. Dalam pada itu, Ki Dipanala sempat berbisik “Kenapa kau ragu-ragu member ikan obat ini? Bukankah kau sudah mengatakan bahwa kau dapat memaksa Raden Ayu diam dengan semacam obat yang dapat membuatnya tidur, tetapi justru setelah Pangeran Ranakusuma memerintahkan kepadamu, kau berusaha menolak?“ “Aku ingin membagi tanggung jawab” jawab tabib itu “Sebenarnyalah bahwa aku memang ragu-ragu. Apalagi yang diminta oleh Pangeran Ranakusuma bukan sekedar obat yang membuatnya tidur untuk beberapa saat. Tetapi benar-benar sejenis obat yang dapat membiusnya untuk waktu yang lama. Dan itu agak berbahaya bagi Raden Ayu” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian menyadari betapa keragu-raguan dan kegelisahan yang bergejolak di dalam hati tabib itu. Disatu pihak ia memang ingin membantu menenangkan hati Pangeran Ranakusuma dengan memaksa Raden Ayu Galih Warit untuk diam, namun dilain pihak ia selalu dibayangi oleh kemungkinan- kemungkinan yang mengerikan yang dapat terjadi atas Raden Ayu itu. Namun obat itu telah diminum oleh Raden Ayu Galih Warit. Dan kini Raden Ayu itu sudah terbaring diam.Setelah menyelimutinya dan kemudian menutup pintu bilik itu, keduanya kembali menghadap Pangeran Ranakusuma yang masih berdir i termangu-mangu di bilik anak laki- lakinya. Sedang anak laki-lakinya itu kini sedang terbujur membeku di bilik isterinya. Ketika ia melihat kedua orang itu, maka katanya “Sekarang uruslah Rudira. Yang terjadi adalah akhir yang berlawanan dari yang aku harapkan selama ini. Dan aku memang harus menanggungkannya” Kata-kata itu memuat penyesalan yang luar biasa di dalam hati Pangeran Ranakusuma. Tetapi sebagai seorang laki-laki Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa ia tidak boleh tenggelam terlalu dalam digenangan perasaannya saja. Semuanya harus diselesaikan. Jenazah anak laki-lakinya, mayat Mandra yang ternyata telah berkhianat dan isterinya yang terganggu jiwanya. Ki Dipanala dan tabib itu berdiri saja mematung. Dan Pangeran Ranakusuma berkata seterusnya “Dipanala, mungkin kau menganggap bahwa keluarga kami selama ini bersikap pura-pura terhadapmu. Kami bersikap baik dan kadang- kadang harus mendengar kata-katamu bukan karena kami sependapat dengan kau, tetapi karena kami merasa tidak dapat menentang kehendakmu. Kami ternyata masing-masing mempunyai rahasia yang kau ketahui. Yang kami masing- masing menjadi cemas, jika kau pada suatu saat akan membuka rahasia itu. Sehingga pada puncak kebingungannya Galih Warit telah berusaha membunuhmu dengan mempergunakan tangan Rudira dan orang-orangnya. Tetapi usaha itu ternyata gagal. Dan kau masih tetap hidup. Bahkan kau telah berbuat sesuatu yang justru membuat aku merasa terlalu kecil” Pangeran Ranakusuma terhenti sejenak, lalu “Dipanala, sekarang aku berkata sebenarnya. Bukan karena kau mengetahui rahasia diriku karena aku tidak perlu lagicemas bahwa Galih Warit akan mengetahuinya, atau bahkan Pangeran Sindurata sendiri. Tetapi aku berkata dengan jujur, bahwa aku menyerahkan semua persoalan tentang Rudira dan Mandra kepadamu. Kau dapat berbuat apa saja yang baik bagi penyelenggaraan jenazah itu. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau dapat mengambil sendiri di dalam kotak di bilikku. Maksudku, beaya dari upacara pemakaman Rudira dan Mandra” “Pangeran” “Ternyata tidak ada orang lain yang dapat aku percaya kecuali kau. Barangkali aku sendiri tidak akan mampu memikirkan apakah yang sebaiknya aku lakukan” “Tetapi Pangeran, sebenarnyalah hamba sudah merasa bahwa pada saat itu, seakan-akan hamba telah melakukan pemerasan terhadap Pangeran sehingga kadang-kadang pendapat hamba dengan terpaksa sekali tuan dengarkan. Namun demikian, terasa pula kebencian Raden Rudira terhadap hamba sehingga para abdi di istana inipun sebagian terbesar tidak akan percaya kepada hamba” “Aku yang akan memerintahkan kepada mereka tunduk kepadamu sebagai orang yang mendapat limpahan wewenang daripadaku sendiri” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. “Nah, lakukanlah. Kasihan tubuh Rudira yang sudah terlampau lama terbaring. Bagiku, kini tidak ada lagi yangingin aku lakukan lagi kecuali mengubur Rudira sebaik- baiknya. Aku tidak akan bermimpi lagi menjadi orang terpenting di Surakarta karena justru keinginanku itulah yang telah merampas semuanya daripadaku. Aku tidak memer lukan lagi Galih Warit, aku tidak memerlukan lagi pengaruh dari kumpeni dan aku tidak memer lukan lagi kedudukan apapun” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menyahut. “Nah, panggillah beberapa orang pelayan dan kumpulkan mereka di ruang belakang. Aku akan berbicara kepada mereka” Pangeran Ranakusuma itu berhenti sejenak, lalu katanya kepada tabib yang masih berdir i mematung “Kau tinggal di sini. Kau bantu aku besok pagi-pagi benar membawa Galih Warit kembali ke rumahnya. Jika terjadi sesuatu, mungkin kau dapat berusaha untuk menolongnya. Tetapi jika tidak berhasil, apaboleh buat. Aku tidak akan menyesal” Tabib itu menarik nafas dalam-dalam. Hampir tidak terdengar ia menyahut “Baik Pangeran. Hamba akan melakukannya” “Sementara ini kau dapat membantu Dipanala” “Ya Pangeran” “Nah, sekarang, panggillah pelayan-pelayan itu” Ki Dipanalapun kemudian pergi ke belakang istana Pangeran Ranakusuma. Dengan nada yang dalam, ia member itahukan bahwa para pelayan dalam dipanggil menghadap di ruang belakang. Para pelayan memandang Ki Dipanala dengan wajah yang aneh. Sebagian dari mereka sudah tidak dapat mempercayainya lagi karena Dipanala adalah orang yang tidak disenangi. Lebih-lebih lagi mereka tahu benar bahwa Raden Rudira membenci orang itu setengah mati.Ki Dipanala yang memang merasa dirinya dibenci oleh orang-orang dalam, meskipun mereka tidak tahu persoalannya, mencoba menjelaskan ”Aku kali ini hanya menjalankan per intah” Pelayan-pelayan itu termangu-mangu sejenak. Seorang yang mendengar ceritera emban dan pelayan yang memasuki bilik Raden Ayu Galih Warit tetapi tidak tahu persoalannya dengan pasti bertanya “Apakah sebenarnya yang terjadi?“ “Masuklah, Pangeran Ranakusuma akan member ikan penjelasan kepada kalian” “Apakah benar Raden Rudira telah meninggal?“ Ki Dipanala termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian “Biar lah Pangeran Ranakusuma saja yang mengabarkan hal itu kepadamu” “Kami hanya ingin tahu, apakah Raden Rudira meninggal?” Ki Dipanala t idak dapat mengelak. Katanya “Ya, Raden Rudira meninggal” “Siapakah yang membunuhnya?“ desak yang lain. “Sudah aku katakan, biarlah Pangeran Ranakusuma member itahukan kepada kalian. Akupun tidak tahu pasti. Karena itu, agar tidak terjadi salah paham, maka Pangeran memanggil kalian memang untuk keper luan itu. Pangeran akan memberitahukan sebab kematian Raden Rudira dan Mandra” “Kau membunuhnya” tiba-tiba seorang kawan Mandra yang paling akrab bertanya. Ki Dipanala menggeleng “Aku tidak dapat membunuh seseorang tanpa sebab” “Jadi kau membunuhnya“ tiga orang berbareng bertanya.“Cepat, masuklah ke ruang belakang. Jika Pangeran marah karena kalian tidak segera menghadap, dalam keadaan yang pedih seperti sekarang, dapat saja ia mengambil tindakan yang tidak menguntungkan kalian” “Jawab pertanyaan kami” teriak seseorang. Ki Dipanala menjadi termangu-mangu. Orang-orang itu agaknya benar-benar telah mencur igainya. Namun agaknya, seandainya ia berkata sebenarnyapun mereka tidak akan percaya. Karena itu maka sekali lagi ia menjawab “Jangan memaksa aku. Nanti Pangeran Ranakusuma akan menjawab pertanyaanmu itu” “Jangan sombong Dipanala” teriak yang lain “Kau memang pandai berbicara. Mungkin kau sekarang dapat juga membujuk Pangeran, sehingga kau mendapat kepercayaan. Setiap kali kau memang berhasil membujuknya, bahkan kadang-kadang kau berhasil merubah keputusan yang sudah dijatuhkan oleh Pangeran Ranakusuma. Tetapi kami sudah muak. Kau adalah seekor ular yang berkepala dua. Kau menggigit Raden Rudira, tetapi kau sempat menjilat untuk mendapatkan kepercayaan. Jika kau masih tetap seperti sekarang, kamilah yang akan membunuhmu" Wajah Dipanala menjadi merah padam. Hampir saja ia kehilangan kesabaran. Namun ia masih mencoba untuk menahan diri dan berkata “Kalian kehilangan nalar yang bening. Tetapi aku hanya mendapat perintah untuk memanggil kalian. Karena itu aku tidak berani melanggar perintah itu dan berbuat sesuatu melampaui tugas yang diberikan kepadaku” “Bohong, bohong” teriak orang-orang itu sahut menyahut. Ki Dipanala tidak mau melayaninya lagi. Jika demikian maka keadaannya tentu akan menjadi kacau. Karena itu, maka ia tidak menghiraukannya lagi. Dit inggalkannya orang- orang itu sambil berkata “Terserah kepada kalian, apakahkalian masih mau mematuhi perintah Pangeran Ranakusuma atau tidak” Ketika Ki Dipanala memasuki pintu masih terdengar beberapa orang berteriak “Berhenti, berhenti. Jawab pertanyaan kami“ Tetapi Ki Dipanala tidak menghiraukannya lagi. Sepeninggal Ki Dipanala para pelayan itu menjadi termangu-mangu. Di antara mereka adalah beberapa orang pengiring Raden Rudira jika Raden Rudira pergi berburu atau pergi kemanapun yang agak berbahaya baginya. “Orang itu benar-benar gila. Ia berhasil menjilat melampaui orang lain meskipun tampaknya ia tidak disukai. Agaknya Raden Rudira merupakan penghalang baginya, sehingga dengan licik Raden Rudira dan Mandra sekaligus dibinasakan. Kita tidak tahu, alasan apakah yang dikatakannya kepada Pangeran, sehingga ia justru mendapat kepercayaan” “Marilah kita menghadap. Kita akan mendengar penjelasan itu, dan agar Pangeran tidak marah kepada kita. Mungkin Ki Dipanala dapat membumbuinya, dan mengatakan yang tidak sebenarnya, bahkan berlawanan. Gagak disebutnya bangau dan bangau dikatakannya gagak” “Ya, lebih baik kita menghadap. Mudah-mudahan Pangeran mendengarkan suara kita” “Kita bersama-sama akan menyampaikan kebenaran tentang orang itu” “Ya. Orang itu memang harus digantung karena ia telah membunuh dua orang sekaligus” Demikianlah para pelayan dan pengawal Raden Rudira itupun kemudian memasuki ruang belakang dan duduk berdesak-desakan di Iantai menunggu kehadiran Pangeran Ranakusuma.Namun dalam pada itu, selagi mereka sedang mereka-reka tuduhan yang paling baik untuk menggantung Ki Dipanala. beberapa orang di antaranya bertanya kepada diri sendiri “Apakah benar Dipanala telah melakukannya? Dan apakah benar-benar Ki Dipanala pantas melakukannya? Sebelum peristiwa akhir-akhir ini, Ki Dipanala adalah orang yang berpikir bening. Ia bukan sejenis orang yang dapat berbuat licik” Meskipun demikian orang-orang yang masih dapat membedakan sikap dan perbuatan seseorang itu tidak mengatakannya kepada orang lain, karena suasananya memang tidak menguntungkan. Sejenak kemudian Pangeran Ranakusumapun memasuki ruangan belakang diir ingi oleh Ki Dipanala dan tabib yang telah gagal mencoba menyelamatkan j iwa Raden Rudira, serta telah mengetahui serba sedikit rahasia yang tidak dapat dikekang meloncat dar i mulut Raden Ayu Galihwar it. Para abdi itupun kemudian menundukkan kepala mereka dalam-dalam ketika Pangeran Ranakusuma sudah duduk di hadapan mereka. Mereka hanya dapat menunggu apa yang akan dikatakannya. Pangeran Ranakusuma memandang mereka sejenak. Para abdi itu adalah para abdi yang setia. Tetapi tentu ada di antara mereka sekedar mengabdi karena ingin mendapat nafkah dan bahkan tentu ada orang yang mempunyai pertimbangan seperti Mandra meskipun dalam bentuk yang lebih kecil, yang tidak segan-segan meninggalkan pekerjaannya di istana ini jika ada kesempatan yang lebih baik baginya. Baru sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma itu berkata langsung pada persoalannya “Rudira telah meninggal”Beberapa orang di antara para abdi itu mengangkat wajahnya. Namun wajah-wajah itupun segera tertunduk kembali. “Seperti kalian mengetahui, Mandrapun sudah mati” Kepala para abdi itupun terangguk-angguk. “Tentu kalian bertanya, kenapa mereka mati” Kepala itupun terangguk-angguk lagi. “Mandra telah dibunuh oleh Dipanala” Serentak orang-orang itu mengangkat wajah mereka. Bahkan beberapa di antara mereka bergeser sejengkal. Kemudian dengan mata yang bagaikan menyala mereka memandang wajah Dipanala yang berkerut-merut. “Apakah kalian tidak bertanya kenapa Mandra telah dibunuh oleh Ki Dipanala?“ Hampir serentak para pelayan itu menjawab “Hamba Pangeran. Hamba ingin tahu, apakah sebabnya” Pangeran Ranakusuma memandang Ki Dipanala sejenak. Lalu katanya “Mereka bertempur di tengah jalan” Terdengar suara bergeramang. Lalu mereka terdiam ketika Pangeran Ranakusuma melanjutkan “Ternyata bahwa Mandra tidak dapat memenangkan pertempuran itu sehingga ia justru terbunuh” Wajah-wajah itu menjadi tegang. Pangeran Ranakusuma belum menjawab, kenapa Ki Dipanala bertempur dan membunuh Mandra. Tetapi mereka sudah menetapkan, bahwa Ki Dipanala memang akan membunuh Raden Rudira, sedangkan Mandra mencoba menyelamatkannya. Tetapi orang-orang itu terkejut bukan buatan, dan bahkan mereka tidak percaya Kepada pendengarannya ketika Pangeran Ranakusuma berkata “Mandra dibunuh olehDipanala karena Mandra berkhianat dan membunuh Rudira dengan meminjam tangan orang lain” Wajah-wajah yang tegang itu menjadi bertambah tegang. Dengan mulut ternganga mereka saling berpandangan sejenak. Lalu mereka mendengar Pangeran Ranakusuma berkata selanjutnya “Ternyata Mandra telah menjual Rudira kepada orang asing. Kalian tidak usah bertanya apakah sebabnya, namun Mandra ingin mendapat hadiah yang banyak dan kedudukan yang baik di dalam lingkungan orang asing itu” Sejenak mereka merenungi kata-kata itu. Namun beberapa orang di antara mereka segera berkata di dalam hatinya “Nah, bukankah Dipanala telah memutar balik keadaan. Gagak dikatakan bangau dan bangau dikatakannya gagak. Yang hitam dikatakan putih dan yang put ih dikatakannya hitam” Dalam pada itu Pangeran Ranakusuma berkata terus “Dalam usaha itulah, Dipanala dapat mengetahuinya meskipun agak terlambat, sehingga akhirnya Mandra terbunuh olehnya. Tetapi Rudirapun tidak lagi dapat diselamatkan” Beberapa orang abdi mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun di antara mereka, terutama para pengiring Raden Rudira menganggap bahwa Ki Dipanalalah yang sudah memfitnah Mandra. Karena itu maka mereka menjadi gelisah karenanya. Agaknya Pangeran Ranakusuma melihat kegelisahan itu, sehingga iapun bertanya “Apakah ada yang akan mengatakan sesuatu?“ Untuk beberapa saat tidak ada seorangpun yang berbicara. Namun kemudian salah seorang yang tidak dapat menahan perasaannya bergeser sedikit sambil berkata “Ampun Pangeran. Apakah yang dikatakan oleh Ki Dipanala itu dapat dipercaya sepenuhnya?“ “Apa yang dikatakan oleh Dipanala?““Bahwa Mandra telah berkhianat?” “Siapakah yang mengatakan bahwa hal itu diceriterakan oleh Dipanala?“ Orang itu menjadi tergagap. Namun iapun menjawab “Ampun Gusti. Bukankah Gusti mengatakan, bahwa Dipanala melihat usaha pengkhianatan itu” “Ya” “Dan, apakah hal itu dapat hamba artikan bahwa Ki Dipanala yang kemudian membawa jenazah Raden Rudira dan mayat Mandra, telah menceriterakan per istiwa itu” “Kau tahu bahwa Rudira masih hidup waktu dibawa pulang. Dan aku telah memanggil tabib untuk mengobatinya” “Hamba Pangeran” “Nah, kenapa kau memastikan bahwa Ki Dipanalalah yang telah menceriterakan hal itu kepadaku” “Ampun Gusti” “Yang mengatakan semuanya itu adalah Rudira. Rudira sendiri” Orang-orang itu tercenung sejenak. Mereka benar-benar diombang-ambingkan oleh kebimbangan dan keragu-raguan untuk mempercayai pendengaran mereka sendir i. “Kenapa kalian menjadi bingung. Dengar. Mandra telah berkhianat dengan menjerumuskan Rudira, sehingga seorang asing telah menembaknya. Tetapi ternyata Rudira tidak mati seketika. Ia masih mempunyai kesempatan untuk berusaha menyelamatkan dir inya. Ternyata bahwa Mandra tidak membiarkannya. Mandra berusaha untuk membunuh Rudira dengan pedang, kemudian menghilangkan bekas luka peluru dengan pedangnya pula. Setelah itu, ia akan melemparkan tubuh Rudira ke tempat yang sepi, atau jika. mungkin di sepanjang bulak Jati Sari sehingga dapat menimbulkan kesanbahwa Juwiring telah terlibat. Nah, apakah kalian percaya? Rudira sendiri mengatakannya. Dipanalalah yang menyelamatkan Rudira dari pedang Mandra dan membunuhnya. Kemudian membawa tubuh Rudira yang terluka parah itu kembali” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak lalu “Siapa yang tidak percaya? Siapa yang menganggap bahwa Mandra tidak bersalah?“ Wajah-wajah itu menjadi tertunduk dalam-dalam. Terlebih- lebih orang yang sudah memberanikan diri bertanya tentang kebenaran ceritera itu. “Nah, siapa yang tidak percaya kepada ceriteraku, aku beri kesempatan untuk meninggalkan rumah ini. Aku beri kesempatan untuk membawa mayat Mandra yang dianggapnya sebagai seorang pahlawan. Siapa, ayo siapa?“ Wajah-wajah yang tunduk itu menjadi semakin tunduk. Dan Pangeran Ranakusumapun kemudian berkata “Jika tidak ada, maka kalian sudah mengetahui persoalannya dengan pasti. Nah, sekarang kalian akan menyelenggarakan jenazah Rudira. Semuanya aku serahkan kepada Dipanala dan tabib ini. Aku menjadi terlampau bingung untuk berbuat sesuatu” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak, lalu “Terserahlah kepada kalian apakah yang akan kalian lakukan terhadap mayat Mandra” Tidak seorangpun yang kemudian berani mengangkat wajahnya. Mereka mengerti, di balik kata-kata yang keras itu sebenarnya tersembunyi perasaan yang pedih. Sangat pedih. Pangeran Ranakusumapun terdiam pula sesaat. Beberapa kali ia menelan ludahnya. Disekanya keringatnya yang membasah di kening. “Aku akan berada di pendapa. Jika kau memerlukan aku, aku ada di sana Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian.Pangeran Ranakusuma tidak menunggu jawaban Ki Dipanala. Iapun kemudian berdiri dan meninggalkan ruang belakang itu kembali ke pendapa dan duduk di tempatnya semula merenungi malamyang gelap. “Nah, marilah. Kita harus menyelenggarakan tubuh Raden Rudira. Lukanya tidak begitu besar, tetapi agaknya justru karena ia terbanting dari punggung kudanya yang lari kencang dan darah yang mengalir dari lukanya itu, nyawanya tidak tertolong lagi” Para pelayan itupun tiba-tiba menyadari keadaan yang sebenarnya. Merekapun kemudian berebut dahulu menyediakan kelengkapan untuk jenazah Raden Rudira. Mereka seakan-akan tidak mau mengingat lagi, bahwa di samping Raden Rudira, masih ada juga. Mandra. Tetapi mereka tidak dapat membiarkan mayat Mandra terbaring di tempatnya. Merekapun harus menyediakan sepotong kain putih untuknya. Dalam pada itu, malampun menjadi semakin dekat menjelang fajar. Pangeran Ranakusuma masih saja duduk di pendapa, seakan-akan tidak ada lagi niatnya untuk berdir i, dan masuk ke dalam istananya yang megah itu. Seakan-akan dunianya sudah menjadi buram dan lampu-lampu tidak dapat menyala lagi dengan terang. Setelah semuanya selesai, maka jenazah Raden Rudirapun dibaringkannya di ruang tengah, diselimuti dengan sehelai kain putih yang baru, dikelilingi oleh para pengiringnya dan abdi-abdinya yang lain. Sedang di belakang, mayat Mandrapun sudah diselimutinya pula. Hanya satu dua orang kawan dekatnya sajalah yang menungguinya dengan penuh penyesalan, bahwa Mandra sudah berkhianat. Dengan dada yang berdebar-debar Ki Dipanalapun kemudian pergi menghadap Pangeran Ranakusuma untuk menyampaikan bahwa semuanya sudah selesai. Bahkanperempuan-perempuanpun sudah mulai menyediakan keperluan yang lain. Sebagian dari mereka telah menyediakan masakan untuk menjamu tamu-tamu yang tentu akan berdatangan, dan menyediakan selamatan, sedang yang lain sudah sibuk mengatur kelengkapan penguburan jenazah yang sudah dibaringkan itu. Alat-alat upacara, dan apabila matahari telah terbit, mereka harus membeli bunga terutama melati dan mawar. “Jangan member itahukan kepada siapapun sebelum semuanya selesai” desis Pangeran Ranakusuma. “Semuanya sebenarnya sudah selesai Pangeran” jawab Ki Dipanala “Tetapi apakah tidak sebaiknya ayahanda Raden Ayu Galihwar it diberi tahu sekaligus adinda Raden Rudira yang ada di sana” “Aku sendiri akan memberitahukan kepadanya dengan membawa Galihwarit” Ki Dipanala hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. la tidak dapat mencegahnya lagi. Agaknya dorongan untuk menyerahkan kembali Raden Ayu Galihwarit sudah tidak tertahankan lagi. Seandainya perempuan itu tidak berkhianat, mungkin sakitnya akan justru menimbulkan iba yang dalam. Tetapi kini bagi Pangeran Ranakusuma, Raden Ayu Galihwar it adalah duri yang menusuk jantungnya. Tanpa mempersoalkan Raden Ayu Galihwar it, Ki Dipanala. bertanya pula “Jadi, siapakah yang sebaiknya hamba beritahu tentang Raden Rudira?“ Pangeran Ranakusuma tidak segera menjawab. Ditatapnya kedelapan malam yang justru berangsur menjadi kemerah- merahan. Ki Dipanala sama sekali tidak berani mendesaknya. Ia hanya dapat menunggu sambil menundukkan kepalanya.“Panggil Juwiring” tiba-tiba saja terloncat dari mulut Pangeran Ranakusuma sehingga Ki Dipanalapun terkejut karenanya. “Maksud Pangeran, hamba harus pergi ke Jati Aking” “Kau dapat menyuruh orang lain. Kau di sini mewakili aku” “Tetapi keadaan Raden Juwiring yang selama ini seakan- akan selalu diintip oleh bahaya, membuatnya selalu bercuriga kepada siapapun juga. Hamba kurang yakin, apakah Raden Juwiring mempercayai orang lain kecuali aku” “Jika begitu, orang yang akan pergi itu akan membawa sepucuk surat yang akan aku tanda tangani” Ki Dipanala menarik nafas. Meskipun orang itu membawa surat yang ditanda tangani oleh Pangeran Ranakusuma, namun sebenarnyalah bahwa kepada ayahandanya sendiri Raden Juwiring sudah menaruh curiga. Namun demikian tanda tangan itu memang merupakan kemungkinan terbesar untuk memanggil Raden Juwir ing. Demikianlah seorang utusan telah berpacu ke Jati Aking tanpa menunggu fajar. Meskipun kemungkinan untuk menghadiri penguburan jenazah adiknya, terlampau kecil bagi Juwiring. Ia tidak akan dapat sampai di istana Ranakusuman dekat setelah tengah hari. Dalam pada itu, setelah semuanya selesai, maka Pangeran Ranakusumapun segera memerintahkan untuk mempersiapkan kereta. Dipagi-pagi benar ia ingin pergi sendir i ke rumah mertuanya mengantarkan Galihwarit yang masih belum sadar. “Kau di rumah” berkata Pangeran Ranakusuma kepada Ki Dipanala “Aku akan pergi membawa Galihwarit bersama tabib itu. Ia akan dapat menolongku j ika tiba-tiba saja Galihwar it sadar di perjalanan”“Hamba Pangeran” “Suruhlah para pelayan menyiapkan tempat bagi mereka yang akan datang melawat. Aku tidak dapat menolak j ika orang-orang asing itu datang. Tetapi aku juga tidak akan merahasiakan, siapakah yang telah membunuh anakku, meskipun aku tidak dapat mengatakan seluruh peristiwanya” “Hamba Pangeran” Rasa-rasanya fajar datang terlampau lambat. Pangeran Ranakusuma hampir tidak sabar lagi menunggu. Ia ingin segera menyingkirkan Galihwar it dan menyerahkannya kembali kepada ayahnya. Demikian fajar menyingsing dan dedaunan yang hijau mulai tampak kemerah-merahan, maka Raden Ayu Galihwarit yang masih belum sadar itupun diangkat dan dimasukkannya ke dalam kereta. Sejenak kemudian maka kereta itupun mulai bergerak membawa Raden Ayu itu kembali ke istana orang tuanya. Ketika kereta itu sampai di regol halaman, maka Pangeran Ranakusuma menjenguk sejenak sambil berkata kepada Dipanala “Aku t idak lama. Persilahkan para tamu lebih dahulu. Katakan, bahwa aku pergi menjemput Warih. Jangan sebut- sebut tentang Galihwarit ” “Hamba Pangeran” jawab Ki Dipanala. “Jangan sebut tentang Mandra. Ia akan dikubur setelah para tamu yang melawat Rudira pulang” “Hamba tuanku” Demikianlah maka kereta itupun segera berderap meninggalkan halaman Ranakusuman menuju ke Istana Pangeran Sindurata. Dipanala yang ditinggalkan menjadi berdebar-debar. Pangeran Ranakusuma yang kematian anaknya itu tentu tidakdapat berpikir bening, sedang Pangeran Sindurata adalah seorang Pangeran yang lebih suka menuruti keinginan sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain, sehingga ada beberapa orang yang menganggapnya agak kurang waras. Jika mereka terlibat dalam perselisihan maka akan dapat timbul hal-hal yang kurang baik. “Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu pada keduanya” berkata Ki Dipanala di dalam hatinya. Demikianlah ketika kereta itu sudah lenyap di tikungan, maka Ki Dipanalapun kembali masuk ke ruang dalam. Dari pintu ia melihat tubuh Raden Rudira yang terbujur diam, ditunggui oleh beberapa orang. Masih belum tampak kesibukan di istana itu, selain perempuan yang sedang memasak dan beberapa orang lainnya menyiapkan benang rangkaian kembang melati dan mawar. Yang lain pergi ke pasar membeli bunga yang akan dirangkai itu, dan kebutuhan- kebutuhan lain. Tetapi bagi orang luar, istana Ranakusuman masih tetap sepi. Belum ada seorang tetanggapun yang mengetahui apa yang telah terjadi, dan tidak seorang tetanggapun yang mendengar suara-suara yang keras di malam hari, bahkan pekik nyaring Raden Ayu Galih Warit, karena halaman istana Pangeran Ranakusuma yang cukup luas itu. Namun sudah barang tentu bahwa Ki Dipanala tidak berani atas kehendaknya sendiri member itahukan kematian Raden Rudira itu kepada para bangsawan sanak keluarga Pangeran Ranakusuma. Untuk itu ia harus menunggu setelah Pangeran Ranakusuma memberikan perintah kepadanya. Dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma yang sedang dibelit oleh berbagai macam persoalan itu tidak sempat memikirkan hal itu sebelum ia menyerahkan isterinya kepada mertuanya. Di sepanjang jalan Pangeran Ranakusuma mencoba untuk mengendapkan segala macam pergolakan yang ada di dalam dadanya. Bagaimanapun juga ia masih mencoba untukmempergunakan nalarnya, justru setelah ia tahu bahwa jenazah Raden Rudira telah diselenggarakan sebaik-baiknya. “Aku harus sempat mengubur jenazah anakku” katanya di dalam hati. Dan niat itulah yang telah mengekang perasaannya agar tidak timbul persoalan yang tajam dengan Pangeran Sindurata. Kedatangan Pangeran Ranakusuma memang mengejutkan sekali. Apalagi ketika ternyata ia membawa tubuh Raden Ayu Galih Warit yang bagaikan tidak bernafas lagi. “Kenapa? Kenapa anakku?“ bertanya Pangeran Sindurata “Pingsan” jawab Pangeran Ranakusuma pendek. “O“ Pangeran Sinduratapun menjadi bingung. Karena itulah maka diper intahkannya pelayan-pelayannya untuk menyiapkan pembaringan bagi Raden Ayu Galihwarit. Rara Warih yang memang sedang berada di rumah kakeknya itupun terkejut bukan buatan. Hampir saja ia tidak dapat menahan jeritnya, jika ayahnya tidak berbisik kepadanya “Jangan gelisah. Ibumu hanya pingsan” Demikianlah maka Raden Ayu Galihwaritpun segera dibaringkannya di pembaringan di dalam bilik ibundanya.Seluruh keluarga menjadi bingung dan gelisah. Wajah Raden Ayu Galihwarit yang cant ik itu tampak pucat seperti kapas. “Kenapa dia he??“ bertanya Pangeran Sindurata pula. Pangeran Ranakusuma mencoba untuk menahan hatinya dan berbicara dengan nalarnya. Katanya “Ada beberapa persoalan yang akan aku sampaikan” “Tetapi bagaimana dengan isterimu?“ “Tidak apa. Aku membawa seorang tabib” Pangeran Sindurata memandang tabib yang masih muda yang masih berdir i di halaman itu sejenak. Lalu “Apakah ia tabib yang baik?“ “Ya. Ia adalah seorang tabib yang baik” “Jadi bagaimana dengan Galihwar it” “Apakah aku boleh duduk?“ “Ya, duduklah” Keduanyapun kemudian duduk di pendapa istana Pangeran Sindurata yang tidak kalah luasnya dari pendapa istana Ranakusuman. “Duduklah di situ” berkata Pangeran Sindurata kepada tabib yang masih berdir i. “Ya duduklah” ulang Pangeran Ranakusuma. Tabib itupun kemudian duduk di sudut pendapa dengan kepala tunduk. “Katakan sekarang“ desak Pangeran Sindurata “Kenapa dengan anakku?“ “Suatu kejutan telah membuatnya pingsan” jawab Pangeran Ranakusuma yang meskipun di dalam hubungan keluarga termasuk lebih muda, tetapi ia mempunyai kedudukan yang lebih baik di istana Kangjeng Susuhunan.“Apa yang terjadi?“ Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. “Apa yang terjadi?“ Pangeran Sindurata mendesak ”Rudira meninggal“ “He“ Pangeran Sindurata terbelalak karenanya. Terasa seakan-akan darahnya berhenti mengalir. Pemberitahuan yang tiba-tiba itu membuatnya terperanjat bukan buatan. Dengan singkat Pangeran Ranakusuma menceriterakan sebab kematian Rudira, meskipun ia tidak mengatakan sama sekali apa yang sudah dilakukan oleh Raden Ayu Galihwarit. “Ibunya terkejut” berkata Pangeran Ranakusuma “Agaknya ia tidak dapat menahan perasaannya sehingga menjadi pingsan karenanya. Aku ingin menyingkirkannya agar ia tidak selalu dicengkam oleh suasana kematian anaknya. Mungkin di sini ia akan menjadi agak tenang” “Tetapi, apakah ia akan segera sadar kembali?“ “Mudah-mudahan. Menurut tabib itu, ia akan segera sadar kembali. Suasana di rumah ini akan berbeda sekali” “Tetapi ia tentu ingin melihat anaknya” “Sebaiknya ia tetap berada di sini” Pangeran Sindurata berpikir sejenak, lalu “Bagaimana dengan Warih” “Aku ingin membawanya” “Biar lah ia di sini menunggui ibunya” “Aku akan segera membawanya kemari j ika semuanya sudah selesai” Pangeran Sindurata berpikir sejenak, lalu “Baiklah. Tetapi biarlah tabib itu berada di sini untuk menungguinya”Pangeran Ranakusuma menjadi termangu-mangu karenanya. Namun kemudian ia berkata “Ia berada di rumahku. Ia harus mengatur jenazah Rudira pada saat diberangkatkan. Tetapi jika sesuatu terjadi atas Galihwarit, ia dapat dipanggil dengan segera” Pangeran Sindurata mengangguk-angguk. Peristiwa yang tidak terduga-duga itu telah mencengkamnya sehingga untuk beberapa lamanya ia hanya dapat merenung memandang kekejauhan. Rudira adalah cucunya yang menyenangkan baginya, meskipun anak itu agak bengal. Namun tiba-tiba saja ia mati terbunuh oleh peluru kumpeni. Dan tiba-tiba saja Pangeran Sindurata itu menggeram “Siapa yang sudah menembak Rudira?“ Pangeran Ranakusuma termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu” “Jika aku tahu” desis Pangeran Sindurata “tanpa merubah sikapku kepada kumpeni. namun aku dapat berurusan dengan orang yang menembak cucuku secara pribadi” Pangeran Ranakusuma tidak menyahut. Jika ia mengetahui persoalan Galihwar it yang sebenarnya, tentu ia akan berpikir lain. “Biar lah ia mengetahui dengan sendirinya. Yang berhak membuat persoalan ini menjadi persoalan pr ibadi tanpa merubah sikap dan hubungan dengan kumpeni adalah aku” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya ”Mungkin aku memang seorang pengkhianat bagi Surakarta. Mungkin aku telah menjual harga dir i bangsaku. Tetapi harga diri pribadiku akan aku selesaikan dengan Dungkur, Panderpol, Setepen atau siapa lagi” Demikianlah, maka sejenak kemudian. Pangeran Sindurata telah memanggil cucu perempuannya. Dengan hati-hati ayahandanya, Pangeran Ranakusuma, memberitahukan apa yang telah terjadi dengan kakaknya, Raden Rudira.“Kamas Rudira terbunuh?“ mata gadis itu terbeliak. “Warih” berkata Pangeran Ranakusuma “Tentu tidak seorangpun yang menghendaki hal itu terjadi. Tetapi memang kadang-kadang yang terjadi itu berada di luar kehendak kita. Dan kita sama sekali tidak berkuasa untuk menolaknya” “Jadi, kamas Rudira sudah meninggal?“ Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin pedih ketika anak gadisnya itu berlari dan menjatuhkan kepalanya dipangkuannya. “Kenapa hal itu terjadi ayahanda. Kenapa?” Pangeran Ranakusuma mengusap rambut anak gadisnya. Beberapa orang keluarga yang lainpun kemudian mengerumuninya dan mencoba menghiburnya. Tetapi Rara Warih masih saja berteriak. “Sudahlah Warih. Ibumu pingsan karena kejutan perasaan. Jika ia sadar, dan ia mendengar kau berteriak-teriak, ia akan menjadi pingsan lagi. Bukan saja ibundamu, tetapi akupun dapat menjadi pingsan pula. Kata-kata ayahnya agaknya dapat memberikan sedikit kesadaran kepadanya, bahwa iapun harus berusaha mengekang perasaannya. Itulah sebabnya maka tangisnya menjadi sedikit mereda. “Kenapa ayahanda, kenapa kamas Rudira meninggal?“ “Suatu kecelakaan yang tidak dapat dihindari lagi Warih” Tangis gadis itupun semakin lama menjadi semakin surut. Tetapi ia masih saja terisak-isak sehingga rasa-rasanya ia tidak dapat menarik nafas lagi. “Berkemaslah Warih” berkata ayahnya “Kau pergi bersama ayahanda mendahului eyang dan keluarga yang lain”Rara Warihpun menganggukkan kepalanya. Dilepaskannya ayahnya dan iapun kemudian berdir i untuk berkemas. “Aku akan segera menyusul jika Galihwarit telah sadar” berkata Pangeran Sindurata. Demikianlah maka setelah Rara Warih selesai, iapun segera pergi mengikut ayahandanya kembali pulang. Sementara Pangeran Sindurata dan keluarganya sibuk mencoba menyadarkan Raden Ayu Galihwarit. “Tetapi” berkata Pangeran Sindurata “pada saatnya ia akan sadar dengan sendirinya seperti yang dikatakan tabib yang merawatnya sebelum ia dibawa kemar i. Ia akan sadar, dan ia akan mendapatkan suasana yang lain dari suasana di rumahnya” Meskipun demikian, masih saja seseorang tua mencoba menggosok daun telinganya dengan berambang dan telapak kakinya dengan minyak kelapa. Dalam pada itu kereta yang ditumpangi oleh Pangeran Ranakusuma bersama anak gadisnya, serta tabib yang mengikut inya itupun berderap dengan kencangnya di jalan- jalan kota Surakarta. Beberapa orang yang lewat di pinggir jalan menjadi heran melihat kereta yang berlari kencang itu. Namun mereka tidak menyangka bahwa di dalamnya duduk Pangeran Ranakusuma dan puterinya yang sedang dicengkam oleh kepedihan hati. Ketika kereta itu memasuki halaman istana Ranakusuman, ternyata pendapanya masih sepi. Yang tampak sibuk hanyalah para pelayan di ruang belakang dan di dapur. Meskipun demikian sebenarnyalah beberapa orang sebelah menyebelah istana itu telah mendengar bahwa Raden Rudira telah meninggal. Satu dua orang pelayan yang keluar istana sempat mencer iterakan apa yang sudah terjadi di dalam istana itu, meskipun hanya sekedar yang dapat mereka lihat.Maka demikian kereta itu berhenti, Rara Warih segera meloncat turun dan berlari ke ruang dalam. Ia tertegun ketika dilihatnya sesosok tubuh yang terbujur diam dikerudungi dengan sehelai kain. ”Ayahanda“ Warih menjerit. Ia tidak berani memeluk tubuh yang sudah membeku itu, sehingga karena itu, maka iapun berdiri saja beberapa langkah dengan tubuh gemetar. Ayahandanya dengan tergopoh-gopoh mendekatinya. Dengan sareh ayahandanya bertanya “Ada apa Warih?“ Rara Warih memandanginya sejenak. Kemudian ditatapnya tubuh yang terbujur diam itu. Tiba-tiba saja ia meloncat dan sekali lagi memeluk ayahanda sambil menangis sejadi-jadinya. “Sudahlah Warih” berkata ayahandanya “Jangan membuat hati ayahanda semakin bersedih” Tetapi Warih masih tetap menangis. Beberapa emban dan pemomongnyapun segera mengerumuninya dan mencoba menenangkannya. “Bawalah ia ke pembaringannya” berkata Pangeran Ranakusuma kepada para pelayannya itu. Beberapa embanpun kemudian memapah Rara Warih ke dalam biliknya. Dengan berbagai cara para emban itu mencoba meredakan tangisnya. Namun Warih masih saja menangis sehingga rasa-rasanya nafasnya menjadi sesak karenanya. Dalam pada itu. ketika Pangeran Ranakusuma sudah tidak lagi bersama puterinya, Ki Dipanalapun kemudian memper ingatkannya, bahwa sebaiknya Pangeran Ranakusuma member itahukan kematian Raden Rudira kepada keluarga terdekat. “Ya. Pergilah Dipanala. Atas namaku, beritahukan kepada saudara-saudara terdekat, dan panggillah lebih dahulu adindaCahyaningprang. Aku akan menyuruhnya menghadap ke istana Kangjeng Susuhunan untuk menyampaikan peristiwa ini” Ki Dipanalapun kemudian berangkat berkuda mengelilingi Surakarta, memberitahukan bencana yang telah menimpa Pangeran Renakusuma, meskipun setiap kali ia selalu menjawab pertanyaan “Hamba kurang tahu sebab-sebabnya Pangeran” Dan para Pangeran yang terkejut itu hanya mengangguk- anggukkan kepalanya saja. Seperti yang dipesankan oleh Pangeran Ranakusuma, maka Pangeran Cahyaningprangpun telah mendahului yang lain datang ke istana Ranakusuman. Tetapi iapun segera memacu kudanya menghadap Kangjeng Susuhunan untuk menyampaikan per istiwa yang terjadi atas Pangeran Ranakusuma. Dalam waktu yang singkat, maka tersebarlah ber ita kematian Raden Rudira kesegenap sudut kota Surakarta. Mula-mula para bangsawan, namun kemudian para abdinyapun mendengarnya juga, seringga apabila mereka keluar ke jalan raya. maka msrekapun mempercakapkannya dengan kenalan-kenalan mereka dan keluarga mereka masing- masing. Berita itu ternyata telah mengejutkan Pangeran Mangkubumi pula. Apalagi ketika ia mendengar bahwa kematian Raden Rudira disebabkan luka peluru kumpeni. ”Aneh” berkata Pangeran Mangkubumi di dalam hati “keluarga Ranakusuman bukan keluarga yang memusuhi kumpeni. Tetapi puteranya ternyata telah terbunuh oleh peluru kumpeni” Karena itulah, maka demikian berita itu sampai kepadanya, Pangeran Mangkubumipun segera pergi ke Ranakusuman.Meskipun pada hari-hari yang lain, lewatpun Pangeran Mangkubumi rasa-rasa-rya sangat segan. Pangeran Ranakusumapun terkejut melihat kehadiran Pangeran Mangkubumi begitu cepat. Justru mendahului keluarganya yang terdekat. Baru beberapa orang saja yang ada di pendapa Ranakusuman. “Tentu luka peluru kumpeni itulah yang menar ik perhatiannya” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya. Dengan diantar oleh Pangeran Ranakusuma Pangeran Mangkubumipun melihat jenazah Raden Rudira yang terbujur diam. Tetapi jenazah itu sudah terbungkus rapi dengan kain yang putih bersih. “Sayang sekali” tiba-tiba Pangeran Mangkubumi bergumam. Pangeran Ranakusuma memandang wajah Pangeran Mangkubumi sejenak. Wajah yang keras seperti hatinya yang membayang pada sorot matanya. Agaknya Pangeran Mangkubumi merasakan pandangan itu, sehingga katanya kemudian “Putera Kamas Pangeran masih terlalu muda“ “Ya. Ia masih terlalu muda” “Benar-benar perlakuan yang tidak adil. Apakah kamas tidak berkeberatan mengatakan kepadaku, apakah sebabnya Rudira luka oleh peluru?“Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Ia tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu. Bahkan kemudian sambil merenungi jenazah anaknya ia berkata di dalam hati “Jika aku dapat berdiri tegak di atas kedua kaki sendiri seperti adimas Pangeran Mangkubumi, maka tidak banyak persoalan lagi yang harus aku pertimbangkan. Tetapi sayang, bahwa Ranakusuma berdiri di atas atas yang berbeda dengan Pangeran Mangkubumi” Karena Pangeran Ranakusuma t idak segera menjawab, maka Pangeran Mangkubumipun mengulangi pertanyaannya “Apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan Rudira?“ “Aku masih belum tahu pasti dimas. Aku sedang menyelidikinya” jawab Pangeran Ranakusuma kemudian “Tentu adimas heran bahwa hal ini telah terjadi. Aku tidak dapat menyembunyikan kenyataanku di hadapan adimas, bahwa aku mempunyai hubungan yang baik dengan kumpeni. Namun yang terjadi adalah kematian Rudira oleh peluru kumpeni” Pangeran Mangkubumi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian “Ia pernah dalang ke Sukawati. Orang yang aku percaya menunggui Pesanggrahan mengatakannya kepadaku” Terasa dada Pangeran Ranakusuma berdesir. Lalu katanya “Aku pernah juga mendengar ceriteranya tentang Petani di Sukawati. Sayang sekali, bahwa Rudira belum sempat mengenal siapakah sebenarnya orang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati itu” Pangeran Mangkubumi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sedang Pangeran Ranakusuma berkata selanjutnya “Jika ia mengetahuinya, mungkin ia berpendapat lain tentang orang yang menyebut Petani dari Sukawati itu”“Siapakah yang dimaksud oleh Rudira?“ bertanya Pangeran Mangkubumi. Pangeran Ranakusuma memandang wajah Pangeran Mangkubumi sejenak. Tetapi ia tidak melihat perasaan apapun yang membayang di wajah yang keras itu. Tidak ada tanda- tanda bahwa ada hubungan apapun antara Pangeran Mangkubumi dan orang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati. Hubungan langsung atau tidak langsung. Karena itu, maka Pangeran Ranakusumapun menjadi ragu-ragu untuk berbicara tentang Petani itu selanjutnya. “Ia anak yang baik” tiba-tiba Pangeran Mangkubumi berkata “orang-orangku di pesanggrahan mengatakan bahwa ia cukup ramah dan bahkan ia telah berbicara panjang lebar dengan para penunggu pesanggrahan. Hal yang jarang sekali dilakukan oleh orang yang merasa dirinya berdarah bangsawan di Surakarta ini. Biasanya para bangsawan merasa segan untuk memandang rakyat kecil dengan sebelah matanya. Apalagi berbicara dengan mereka” Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Ia tidak tahu pasti, apakah Pangeran Mangkubumi berkata sebenarnya atau tidak. Tetapi menilik sikap dan sifat Rudira semasa hidupnya, tentu yang dikatakan itu sekedar pujian karena Rudira kini sudah meninggal. Namun demikian Pangeran Ranakusuma tidak segera menjawab. “Kamas Pangeran” berkata Pangeran Mangkubumi kemudian “Apakah kamas tidak dapat membayangkan, apakah yang sudah terjadi, atau Setidak-tidaknya dugaan, alasan apakah yang telah mendorong seseorang yang mungkin sekali orang-orang asing itu, untuk membunuh Rudira, anak yang masih terlampau muda ini?“ Pangeran Ranakusuma menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu. Tetapi aku ingin mengetahuinya dengan pasti”Pangeran Mangkubumi hanya mengangguk-angguk saja. Ia tahu pasti bahwa tentu masih harus ada ser ibu macam pertimbangan untuk berbuat sesuatu atas kematian puteranya bagi Pangeran Ranakusuma. Tetapi Pangeran Mangkubumi tidak bertanya lebih banyak lagi. Demikianlah, ketika Pangeran Mangkubumi itu dipersilahkan duduk di pendapa, justru ia malahan minta dir i. Ia tidak dapat duduk lebih lama lagi di istana Ranakusuman. “Maaf kamas. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan hari ini. Terpaksa sekali aku tidak dapat menunggu sampai jenazah itu diberangkatkan” “Sayang sekali” sahut Pangeran Ranakusuma “Tetapi apaboleh buat” “Apakah Kangjeng Susuhunan sudah tahu tentang peristiwa. ini” “Adimas Cahyaningprang yang aku minta menghadap. Tetapi ia belum kembali” Pangeran Mangkubumi hanya mengangguk-angguk saja. Dan iapun benar-benar meninggalkan istana Ranakusuman sebelum orang lain. terutama para Pangeran berdatangan. Bahkan Pangeran Sinduratapu belum. Ketika Pangeran Mangkubumi sudah keluar dari regol halaman, barulah wajahnya menjadi berkerut-merut. Kematian Rudira sangat menarik perhatiannya. Justru karena ia putera Pangeran. Ranakusuma yang berhubungan rapat sekali dengan kumpeni, tetapi puteranya telah terbunuh oleh sebutir peluru. “Apakah ada orang lain yang membunuhnya dengan senjata api itu dengan maksud untuk menghilangkan jejak” berkata Pangeran Mangkubumi di dalam hatinya. Namun selain perhatiannya yang besar terhadap kematian Rudira, sebenarnyalah ia ingin melihat, apakah puteraPangeran Ranakusuma yang seorang ada di istananya juga. Tetapi Pangeran. Mangkubumi t idak melihatnya sama sekali. Ia tidak melihat anak muda yang berada di padepokan Jati Aking itu. Namun dalam pada itu, kedatangan Pangeran Mangkubumi yang justru mendahului para bangsawan yang lain itu, kemudian bahkan menambah keyakinan Pangeran Ranakusuma. Petani di Sukawati itu benar-benar Pangeran Mangkubumi dalambentuknya yang lain. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak sempat memikirnya dalam keadaannya itu, karena sepeninggal Pangeran Mangkubumi, maka keluarga Pangeran Ranakusuma yang terdekat mulai berdatangan Beberapa di antara mereka langsung pergi ke ruang dalam melihat jenazah Raden Rudira yang terbujur diam, sedang beberapa orang yang lain pergi ke bilik Warih yang masih saja menangis. Kepada setiap orang yang menanyakan Raden Ayu Galihwar it maka Pangeran Ranakusuma, maupun Warih yang menjawab disela-sela isaknya, mengatakan, bahwa ibu Raden Rudira itu terpaksa diungsikan karena kejutan perasaan yang amat sangat. Dengan demikian, semakin tinggi matahari, pendapa Ranakusumapun menjadi semakin penuh, sedang para pelayan di belakangpun menjadi semakin sibuk. Beberapa orang perempuan bangsawan berkumpul di ruang tengah merangkai bunga mawar dan melati untuk menghiasi usungan yang akan membawa Raden Rudira ke makam keluarga para bangsawan. Namun demikian, meskipun pendapa Ranakusuman itu sudah, menjadi penuh, namun ternyata masih ada seorang yang ditunggu oleh Pangeran Ranakusuma. Seorang yang selama ini seakan-akan telah tersish dari hatinya. Seorang yang selama ini seakan-akan telah disingkirkannya dari istananya meskipun ia adalah puteranya sendiri. Dan kini, tiba-tiba saja ia menunggu dengan hati yang gelisah kedatangan anak laki-lakinya yang seorang itu, Juwiring, yang lahir bukan dari seorang perempuan bangsawan yang setingkat dengan Raden Ayu Galihwarit. Tetapi yang ditunggunya itu tidak juga segera datang. Sementara istana Ranakusuman menjadi semakin sibuk, maka utusan yang berpacu ke Jati Sari sejak sebelum fajar telah melintasi bulak panjang. Jarak yang akan dicapainya sudah tidak begitu jauh lagi. Apalagi kuda yang dipergunakannya adalah seekor kuda yang tegar dan kuat. Beberapa orang petani yang ada di sawahnya terkejut melihat kuda yang berpacu dengan kecepatan yang tinggi. Menilik pakaian yang dikenakan oleh penunggangnya, orang itu tentu bukan petani biasa yang sedang bepergian jauh. Tetapi orang itu tentu seorang piyayi dari kota, atau seorang abdi dalem dikeraton Surakarta. “Tentu orang itu akan pergi ke Jati Aking” desis seseorang. Yang lainpun menganggukkan kepalanya. Mereka tahu bahwa di Jati Aking ada seorang putera bangsawan yang tinggal bersama dengan Kiai Danatirta sekeluarga. Ternyata utusan itu tidak memerlukan waktu yang lama lagi untuk mencapai Jati Aking. Sejenak kemudian kudanya sudah berderap memasuki jalan yang menuju ke regol padepokan Kiai Danatirta. Derap kaki kuda itu ternyata telah mengejutkan penghuni padepokan kecil itu. Beberapa orang dengan dada yang berdebar-debar menengok ke halaman. Ketika yang dilihatnya hanyalah seorang penunggang kuda, dan sikapnyapun agaknya tidak mencur igakan, maka seorang di antara merekapun mendekatinya dan bertanya apakah yang dicarinya di padepokan itu.“Aku akan bertemu dengan Raden Juwiring” berkata utusan itu. “Siapakah Ki Sanak?“ “Aku adalah salah seorang abdi Ranakusuman” “O” Orang itu mengangguk-angguk “Silahkan. Silahkan duduk di pendapa. Aku akan menyampaikannya kepada Kiai Danatirta.” “Raden Juwiring sendir i kini sedang berada di sawah” Utusan itupun kemudian duduk di pendapa ditemui oleh Kiai Danatirta, sementara seorang cantrik dengan tergesa- gesa pergi ke sawah memanggil Juwiring dan saudara-saudara seperguruannya. “Kedatangan Ki Sanak telah mengejutkan kami” berkata Kiai Danatirta kemudian. “Aku mendapat per intah dari Pangeran Ranakusuma untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Raden Juwiring” “O” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun hampir di luar sadarnya ia bertanya “Kenapa bukan Ki Dipanala? Biasanya Ki Dipanalalah yang diutusnya kemari. Bahkan pernah Ki Dipanala hampir saja terbunuh oleh beberapa orang penyamun di bulak Jati Aking” Utusan itu terdiam sejenak. Iapun mengetahui bahwa biasanya Ki Dipanalalah yang mendapat tugas untuk menghubungi Raden Juwir ing. Tetapi agaknya kini Ki Dipanala sedang sibuk di istana Ranakusuman sehingga ialah yang mendapat tugas pergi ke Jati Aking. Karena utusan itu tidak menjawab, maka Kiai Danatirtapun kemudian bertanya pula “Tetapi bukankah Ki Dipanala tidak- mengalami sesuatu?“ Utusan itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak Kiai. Ki Dipanala selamat-selamat saja. Tetapi ia sedang terlalusibuk sehingga ia tidak dapat datang ke padepokan ini. Karena itu, maka kali ini akulah yang mendapat tugas itu” Kiai Danatirta tidak mendesak lagi. Meskipun ada semacam kecemasan yang menyentuh hatinya, karena orang tua itu mengetahui bahwa seisi istana Ranakusuman telah membenci Ki Dipanala, dan bahkan beberapa orang telah berusaha untuk membunuhnya. Karena itu, maka pembicaraan merekapun tidak lagi berkisar kepada Ki Dipanala dan surat yang dibawa oleh utusan itu. Mereka menunggu kedatangan Juwiring, karena surat itu ditujukan kepadanya. Yang mereka bicarakan kemudian adalah keadaan padepokan itu. Tanah yang subur, pepohonan yang hijau dan petani yang rajin bekerja menggarap sawah mereka. Sejenak kemudian, ketika seorang pelayan telah menghidangkan semangkuk minuman dan beberapa potong makanan, barulah Juwiring datang diiringi oleh Buntal dan Arum yang juga sedang berada di sawah menyampaikan makan kakak-kakak seperguruannya. Dengan dada yang berdebar-debar Juwiring yang masih dilekati lumpur itu langsung naik ke pendapa. Seakan-akan ia tidak sabar lagi mendengar kabar apakah yang dibawa oleh orang itu, sehingga ia tidak sempat pergi ke pakiwan mencuci kaki dan tangannya. Demikian juga Buntal dan Arum. Meskipun mereka tidak mendekat, tetapi merekapun duduk di bibir lantai pendapa itu. “Kau tidak mencuci kakimu dahulu?“ bertanya Kiai Danatirta. “Aku ingin segera tahu, kabar apakah yang dibawa oleh utusan ini” jawab Juwiring. Utusan itupun menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya kemudian “Raden, aku hanya seorang utusan. Aku persilahkan Raden menerima surat ayahanda. Segala sesuatusudah tercantum di dalam surat itu. Dan barangkali Raden bertanya di dalam hati, kenapa bukan Ki Dipanala yang datang, dapatlah aku beritahukan bahwa Ki Dipanala sedang sibuk di istana ayahanda Raden. Itulah sebabnya aku yang datang kemar i membawa surat ayahanda Raden itu” Dada Juwiring menjadi semakin berdebar-debar. Dengan jari-jari yang gemetar maka disobeknya surat yang dibawa oleh utusan itu. Huruf demi huruf dibacanya dengan saksama. Kiai Danatirta hanya memandanginya saja dengan tegang. Ia tidak dapat ikut membaca surat itu, meskipun dari tempatnya ia dapat melihat huruf yang tidak jelas, dengan sandangannya. Suku, wulu, layar, pepet dan sebagainya. Namun di dalam keseluruhannya Kiai Danatirta tidak dapat mengikut i bunyi tulisan itu. Orang tua itu menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat dahi Juwiring yang berkerut merut. Kemudian wajah anak muda itu menjadi tegang dan sorot matanya memancarkan kegelisahan yang sangat. Tiba-tiba Raden Juwir ing memandang utusan itu dengan tajamnya. Dengan suara gemetar ia bertanya “Jadi terjadi kecelakaan atas adimas Rudira?“ Utusan itu menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Ya Raden” “Apakah yang terjadi?” Kiai Danatirta bertanya. Buntal dan Arumpun tertarik pada pertanyaan Juwiring itu sehingga mereka bergeser setapak maju. “Juwiring” berkata Kiai Danatirta kemudian “Coba, katakan, apakah yang telah terjadi dengan adikmu itu?“ Dengan suara yang bergetar, Juwiringpun mengatakan isi surat yang dengan serba singkat menceriterakan peristiwa yang telah menimpa Raden Rudira.“O“ wajah Kiai Danatirtapun menjadi tegang “Jadi apakah benar pendengaranku, bahwa Raden Rudira terbunuh?“ “Ya ayah. Begitulah bunyi surat ini. Karena itulah maka aku telah dipanggil oleh ayahanda untuk segera kembali sekarang juga” “Apakah benar begitu?“ bertanya Kiai Danatirta kepada utusan itu. “Ya Kiai. Demikianlah yang telah terjadi. Itulah sebabnya Ki Dipanala menjadi terlampau sibuk, karena tidak ada orang lain yang dapat membantu kesibukan bukan saja penyelenggaraan jenazah Raden Rudira, tetapi juga kesibukan batin Pangeran Ranakusuma” “Bagaimana dengan ibunda Galihwar it?“ “Ibunda Raden Rudira telah menjadi pingsan untuk waktu yang sangat lama. Menurut pertimbangan ayahanda Raden, ibunda Raden Rudira telah diungsikan ke istana Pangeran Sindurata” Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun yang tampak di wajahnya ternyata bukan saja kejutan perasaannya, tetapi juga kebimbangan dan bahkan kecur igaan. Terkilas di kepalanya apa yang pernah terjadi atas Ki Dipanala di bulak Jati Sari. Namun j ika ia menyadari bahwa surat itu ternyata telah ditanda tangani oleh ayahandanya sendiri, maka iapun mulai mempercayainya. “Apakah bukan sekedar sebuah tanda tangan palsu?“ pertanyaan itu masih juga membersit di hatinya. Beberapa saat lamanya Juwiring merenungi surat itu. Ia terombang-ambing di antara percaya dan tidak. Dicobanya untuk meneliti tanda tangan yang tercantum di surat itu. Dan ia menganggap bahwa surat itu benar-benar telah dibuat oleh ayahandanya.“Apakah ayahanda sekedar diperalat oleh ibunda Galihwar it. Atau sebenarnyalah yang terjadi demikian?“ Juwiring selalu diganggu oleh berbagai pertanyaan “Tetapi aneh jika Rudira terbunuh oleh peluru kumpeni. Namun bahwa itu suatu kecelakaan memang mungkin saja terjadi” Juwiring masih saja bimbang, sehingga ia tidak segera dapat mengambil keputusan. “Jika aku berkemas sekarang, dan kemudian berangkat maka j ika benar-benar Rudira terbunuh, akupun sudah terlambat untuk dapat menunggui keberangkatan jenazahnya, karena perjalananku tentu akan memakan waktu. Aku akan sampai di kota setelah gelap. Dan menjelang gerbang kota. di dalam kegelapan itu banyak peristiwa yang dapat terjadi atasku. Seperti yang pernah terjadi atas Ki Dipanala” Juwiring ternyata telah dilanda oleh kebimbangan yang tajam. Kemudian katanya pula di dalam hati “Tetapi jika aku tidak pergi, dan sebenarnyalah yang terjadi demikian, maka ayahanda akan menunggu kedatanganku pula, sehingga baru besok akan dikuburkannya” Dalam pada itu, selagi Juwiring dicengkam oleh kebimbangan, maka Kiai Danatirtapun berkata kenadanya “Juwiring. Sebaiknya kau membersihkan dir imu lebih dahulu sambil mempertimbangkan apakah sebaiknya yang akan kau lakukan” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Baiklah ayah. Aku akan pergi ke pakiwan lebih dahulu” Lalu katanya kepada utusan itu “Tunggulah sebentar di sini. Aku akan berkemas” Demikianlah ketika kemudian Juwiring pergi ke belakang, tenyata Kiai Danatirta dan kedua mur idnya yang lainpun segera menyusul, sehingga mereka sempat mengadakan pembicaraan sebentar.“Juwiring” bertanya gurunya “Apakah kau yakin bahwa surat itu adalah surat ayahandamu Pangeran Ranakusuma?“ “Ya ayah” “Jika demikian, pergilah. Betapapun juga, seorang ayah tentu tidak akan berbuat sejauh yang kau ragukan, meskipun pengaruh Raden Ayu Galihwarit cukup besar. Apalagi kecelakaan itu memang mungkin terjadi atas Raden Rudira. karena. . . . ” kata-kata Kiai Danatirta terputus. Ia sadar, bahwa tidak seharusnya Juwiring mengetahui kelemahan ibu tirinya. Menurut perhitungannya, tentu Raden Rudira pada suatu saat mengetahui apa yang dilakukan oleh ibunya. Dan kemungkinan yang parah itu terjadi karena agaknya Raden Rudira menaruh dendam kepada kumpeni yang telah melanggar pagar ayu itu. Juwiring menunggu Kiai Danatirta menyelesaikan kata- katanya, tetapi ternyata gurunya itu berkata “Jika tulisan itu benar-benar tulisan tangan ayahandamu, aku percaya Juwiring. Karena itu pergilah. Tetapi jangan sendiri. Bawalah Buntal bersamamu” “Aku akan ikut serta ayah” “Ah, kau bersama ayah di padepokan ini. Jika kau juga pergi, siapakah yang akan membantu ayah dan ayah tentu akan menjadi kesepian, karena Juwiring tidak akan kembali besok atau lusa. Tentu ia memerlukan waktu sedikitnya sepekan” Tetapi seperti biasanya, Arum tidak mau merubah keinginannya. Dengan wajah yang berkcrut-merut ia berkata “Aku akan ikut bersama kakang Juwir ing dan kakang Buntal” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Anak perempuannya itu memang berhati keras. Namun demikian ia masih berusaha mencegahnya “Arum. Apakah yang akan kau lakukan di istana Ranakusuman. Kau tidak dikenal orang. Kau tentu akan tersisih saja dan bahkan kau akan merasa dirimuterlampau kecil karena kau anak padepokan. Kau tidak akan mempunyai arti apa-apa di sana. Berbeda dengan puteri- puteri bangsawan yang masih mempunyai saluran keluarga dekat atau jauh” Tetapi Arum tetap pada pendiriannya. Sambil bermain-main dengan ujung kain panjangnya ia berkata dalam nada yang rendah “Aku dapat tinggal di rumah paman Dipanala. Katanya rumah itu dekat sekali dengan istana Ranakusuman” Kiai Danatirta yang sudah mengenal sifat Arum tidak berusaha melarangnya lagi. Semakin ia dilarang, keinginannya rasa-rasanya menjadi semakin melonjak. Meskipun ia dapat memaksa anak itu agar tidak pergi, tetapi anak itu akan menjadi kecewa dan selama beberapa hari ia akan selalu dibayangi oleh kekecewaannya itu. Wajahnya akan menjadi gelap dan kadang-kadang berbuat sesuatu yang tidak sewajarnya. ”Ada juga kebengalan ibunya yang tampak pada Arum” berkata Kiai Danatirta di dalam hatinya. Dan karena itu, maka katanya kemudian “Arum. Jika kau memang ingin pergi bersama mereka, jagalah dirimu baik-baik. Kau akan berada di dalam suatu lingkungan yang belum kau kenal. Berbeda sekali dengan pergaulan di padepokan ini” “Kakang Buntal juga akan memasuki pergaulan yang asing” “Tetapi semasa kecilnya Buntal pernah tinggal di rumah seorang bangsawan, sehingga ia sudah mengenal unggah- ungguh dan tata pergaulan di istana Ranakusuman kau tidak dapat memanggil Juwir ing dengan sebutan sehari-hari yang kau pakai di padepokan ini. Kau harus memanggil seperti seharusnya” “Bagaimana aku harus memanggil” “Seperti pada saat Juwiring datang kemar i”“O“ Arum mengangguk-anggukkan kepalanya “Aku mengerti. Aku harus memanggilnya Raden Juwiring. Begitu” “Ah“ Juwiring berdesah. Tetapi Kiai Danatirta menyahut “Demikian memang seharusnya. di dalam istana Ranakusuman semuanya harus berlaku seperti seharusnya. Buntalpun harus memanggil sebutan itu selengkapnya. Kalian mengerti?“ Ketiga anak muda itu mengangguk, meskipun terbayang sepercik warna merah di wajah Juwir ing. “Jika demikian bersiaplah. Kalian dapat segera berangkat meskipun kalian akan sampai ke kota sesudah gelap. Sebaiknya kalian makan dahulu bersama utusan itu. Bagaimanapun juga kalian tidak akan dapat mencapai saat keberangkatan jenazah itu jika memang hari ini jenazah itu akan dimakamkan” Demikianlah ketiga anak-anak muda itupun segera berkemas, sementara seorang pelayan telah menyediakan makan bagi utusan yang duduk di pendapa. “Ah, seharusnya kami segera berangkat” berkata utusan itu. “Makanlah dahulu” berkata Kiai Danatirta kepada utusan itu pula “Jika benar hari ini jenazah itu dimakamkan, tentu kalian akan terlambat datang, makan atau tidak makan” Dan utusan itupun kemudian tidak dapat menolak lagi. Baru setelah mereka selesai, dan setelah Kiai Danatirta member ikan beberapa pesan kepada murid-muridnya, maka merekapun segera berangkat meninggalkan Jati Aking. Karena mereka harus berkuda maka Arumpun terpaksa mengenakan pakaian seorang laki- laki. “Sebaiknya kau tinggal di rumah pamanmu Ki Dipanala” sekali lagi ayahnya berpesan ketika ia melepaskan anaknya di regol halaman.Sementara itu, ketika Raden Juwiring bersama kedua saudara seperguruannya dan utusan ayahandanya itu berpacu di sepanjang bulak Jati Sari, maka di istana Ranakusumanpun menjadi semakin sibuk. Ki Dipanala menasehatkan agar Pangeran Ranakusuma mengambil keputusan, apakah ia akan menunggu Raden Juwiring atau tidak. “Tetapi” berkata Ki Dipanala ”j ika Pangeran menunggu maka mereka yang sudah berada di sini akan menjadi gelisah, karena tentu baru besok jenazah itu dimakamkan” “Jadi bagaimanakah sebaiknya menurut pertimbanganmu?“ “Sebaiknya jenazah itu dimakamkan hari ini Pangeran” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Iapun kemudian menemui beberapa orang tua, termasuk pangeran Sindurata yang sudah ada di pendapa itu pula. “Buat apa kau mempertimbangkan anak itu” berkata Pangeran Sindurata “lupakan saja anak itu. Kau masih mempunyai seorang anak perempuan yang kelak tentu akan mendapatkan jodohnya. Dan kau akan mendapatkan ganti Rudira yang malang itu” Terasa sesuatu bergejolak di dalam hati Pangeran Ranakusuma. di dalam keadaan yang demikian, Juwiring terasa sangat penting artinya bagi dir inya. Namun karena ia sadar, bahwa para tamu sudah menjadi semakin banyak, ditahankannya saja hatinya. Meskipun di dalam hati ia berkata“Jika Galihwarit sadar dan mulai berceritera tentang dirinya, baru kau tahu, kenapa aku membawanya kembali kepadamu” Dalam pada itu, kebanyakan dari orang-orang yang dianggap lebih tua berpendapat bahwa jenazah sebaiknya dimakamkan pada hari itu. Demikianlah selagi semua persiapan dilakukan untuk melakukan upacara pemakaman, para tamu telah dikejutkan oleh derap roda kereta yang memasuki halaman. Ternyata kereta itu adalah kereta perwira kumpeni. Agaknya beberapa orang kumpenipun telah memerlukan hadir di dalam upacara pemakaman itu. Pangeran Ranakusumapun kemudian menyongsong perwira-perwira kumpeni itu. Namun ia tidak dapat menahan gejolak di dalam hatinya. Jika ia melihat orang yang disangkanya menembak Rudira, apakah ia dapat menahan hati? Namun ternyata yang turun dari kereta itu adalah seorang perwira yang jarang sekali berada di Surakarta. Perwira yang justru mondar-mandir antara Semarang dan Surakarta. “Kenapa Dorep ini yang datang?“ bertanya Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya. Terasa dada Pangeran Ranakusuma menjadi sesak. Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan gejolak perasaannya. Dipersilahkannya Dorep dan seorang perwira yang lain naik ke pendapa dan duduk di antara para bangsawan. “Kenapa orang yang jarang berada di Surakarta inilah yang mewakili kawan-kawannya?“ pertanyaan itu selalu mengganggu perasaan Pangeran Ranakusuma “Agaknya kumpeni menyadari bahwa sesuatu telah terjadi. Perwira yang menembak Rudira itu tentu menyadari, bahwa pelurunya ternyata telah mengenai justru anak laki-laki Galihwar it sendiri. Karena itulah maka mereka mengir imkan orang yang jarang sekali tampak di Surakarta”Namun kemudian Pangeran Ranakusuma menganggap bahwa agaknya memang lebih baik demikian, agar ia tidak dibakar oleh goncangan perasaan yang sukar terkendali. Seperti yang kemudian diputuskan, maka jenazah Raden Rudirapun dimakamkan pada hari itu juga tanpa menunggu Raden Juwiring. Diir ingi oleh para bangsawan dan bahkan utusan resmi dari Kangjeng Susuhunan Pakubuwana, jenazah Raden Rudira dengan kereta telah dibawa kemakam untuk dibaringkan selama-lamanya. Ketika matahari kemudian turun di sisi Barat dari wajah langit yang kemerah-merahan, makam itu telah menjadi sepi. Yang tinggal hanyalah beberapa orang yang masih menyelesaikan pemasangan nisan batu yang besar yang berwarna hitam kelam. Orang-orang yang tinggal itupun segera menyelesaikan pekerjaannya. Sekali-sekali mereka menengadahkan wajahnya memandang langit yang kemerah-merahan. Kemudian mengusap keringat dibadannya deiigan tangannya. Namun dengan demikian punggungnya justru menjadi kotor oleh tanah yang melekat pada jari-jarinya yang basah itu. Sejenak kemudian merekapun mengemasi alat-alat mereka. Sebentar lagi mereka akan meninggalkan batu nisan yang diam membeku di antara batu-batu nisan yang lain. Namun mereka mengerutkan keningnya ketika mereka melihat seorang menghampir i makamyang masih baru itu. “Ki Sanak” berkata orang itu “Apakah ini makam Raden Rudira yang baru saja meninggal itu?“ “Ya” jawab salah seorang dari mereka yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya itu. Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu “Kenapa Raden Rudira ditembak oleh kumpeni?““Ah, tentu kami tidak mengetahuinya” jawab orang yang sudah siap untuk meninggalkan batu nisan itu “Tidak seorangpun yang mengetahuinya” “Selama pemakaman apakah kau tidak mendengar salah seorang membicarakannya?“ “Semua orang bertanya-tanya. Para bangsawan itupun bertanya.tanya. Apalagi aku” Orang itu mengangguk-angguk pula. Perlahan-lahan ia mendekati makam itu. Dirabanya batu nisan yang masih baru itu. “Siapakah kau?“ bertanya salah seorang pekerja makam itu. “Aku datang dari jauh” “Siapa? Dan apa hubunganmu dengan Raden Rudira?“ “Tidak ada hubungan apa-apa. Tetapi Raden Rudira pernah mengunjungi padukuhanku, bahkan singgah di rumahku” “Dimana rumahmu?“ “Sukawati. Aku seorang petani dari Sukawati” “Sukawati? Begitu jauh?“ “Ya. Begitu jauh. Tetapi Raden Rudira pernah datang ke rumahku yang jauh itu. Sayang, bahwa aku hanya dapat mengunjungi makamnya” Para pekerja di kuburan itu memandanginya sejenak. Petani dari Sukawati itu berdiri tepekur di sisi makam yang masih baru itu. “Orang asing itu memang sewenang-wenang” terdengar ia berdesis. Sejenak kuburan itu menjadi sepi. Para pekerja saling berpandangan sejenak. Kemudian merekapun memandangorang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu. Tetapi petani itu sama sekali tidak menggeser pandangan matanya dari nisan yang masih baru itu. “Raden Rudira adalah anak yang baik. Kenapa ia harus mati muda? Kumpeni sama sekali tidak mempertimbangkan akibat yang dapat merusak hati dan jantung orang tuanya. Terlebih- lebih ibundanya. Dan sekarang Raden Ayu Galihwarit itu mender ita. Bahkan mungkin untuk selama sisa hidupnya” Para pekerja itu masih mendengarkannya. “Ki Sanak” berkata petani itu kemudian sambil berpaling “perbuatan ini bukan saja menyakiti hati ayahanda dan ibundanya. Tetapi menyakiti hati kita semuanya. Apakah itu terasa di hati Ki Sanak?“ Tidak seorangpun yang segera menjawab. “Kita merasakan betapa pahitnya bekerja untuk sesuap nasi. Kau menggali kubur, dan aku setiap hari berjemur diterik matahari. Apakah yang kita dapatkan? Sedang orang-orang asing di sini hidup mewah dan lebih dar i itu mengangkut segala macam hasil tanah ini atas dasar perjanjian dengan para bangsawan” Petani itu berhenti sejenak. Ditatapnya wajah para pekerja tanah pekuburan itu seorang demi seorang. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata “Aku tidak tahu apa-apa Ki Sanak” Petani dari Sukawati itu menganggukkan kepalanya “Aku juga tidak berani berkata begitu j ika di antara kita ada orang- orang yang sudah dapat mengenyam kenikmatan hidup sekarang ini, apapun caranya. Tetapi kematian seorang anak muda bangsawan yang baik ini, tentu tidak akan dapat kita biarkan begitu saja. Jika terhadap anak-anak muda bangsawan kumpeni sudah berani berbuat demikian, apalagi terhadap kita jika kita membiarkan kepala kita di injaknya”Tiba-tiba saja para pekerja itu menganggukkan kepala. Bahkan salah seorang dari mereka, pekerja yang paling muda berkata “Ya. Mereka menganggap bangsa kita sebagai bangsa yang rendah. Kakekku adalah seorang bebahu Kademangan yang dihormati oleh tetangga-tetangganya. Tetapi pada suatu ketika, seorang asing meludahinya di muka umum karena kakekku berbuat sesuatu yang dianggapnya salah” “Kita memang sudah dihinakan” berkata petani itu. Tetapi pekerja yang lain berkata “Aku tidak tahu apa-apa. Aku bekerja untuk mencari nafkah. Jika aku berbuat sesuatu di luar urusanku, maka aku akan mengalami bencana sehingga anak isteriku tidak akan dapat makan. Mereka akan menjadi kelaparan dan barangkali mengalami nasib yang lebih jelek lagi” “Itu adalah suatu contoh kesewenang-wenangan yang baik sekali” sahut petani itu “meskipun kau tidak ikut apa-apa, tetapi pernyataanmu itu justru suatu bukti dari sikap mereka terhadap kita” “Sudahlah Ki Sanak” berkata pekerja kuburan itu “Aku minta dir i untuk ber istirahat sejenak. Malam nanti aku haras pergi meronda untuk mendapat tambahan upah buat hidup sehari-hari.” Petani dari Sukawati itu tidak dapat menahan mereka. Seorang demi seorang mereka minta dir i sehingga akhirnya kuburan itu menjadi semakin sepi. 


Jilid 11
PETANI dari Sukawati itupun kemudian duduk di atas batu nisan sambil memandang berkeliling. Kuburan itu benar-benar telah sepi. Namun untuk beberapa lamanya ia tidak meninggalkan batu nisan itu. Sambil memandang daun semboja yang bergetar disentuh angin Petani dari Sukawati itu berkata kepada diri sendiri “Tetapi sudah ada semacam kesadaran pada rakyat kecil. Mudah-mudahan mereka masih memiliki keberanian. Kegagalan yang pernah terjadi mudah-mudahan tidak membunuh keberanian mereka sama sekali” Petani itupun kemudian berdir i sambil mengusap keningnya. Matahari sudah menjadi semakin rendah, dan sebentar kemudian hilang di balik cakrawala. Dan malam yang kelampun mulai menyelubungi Surakarta. Tetapi petani dari Sukawati itu masih berada dikuburan. Ternyata ketika malam menjadi semakin kelam, sesosok bayangan yang lain bergerak-gerak di balik dinding batu yang mengelilingi makam itu. Sejenak kemudian terdengar bunyi burung kedasih yang ngelangut. Namun ternyata dari dalamkuburan itu terdengar suara burung yang sama seakan-akan menyahut suara burung yang pertama. Beberapa saat kemudian, maka sesosok bayangan yang memanggul sesuatu di pundaknya meloncat masuk dan mengendap di antara batu-batu nisan yang besar dan cungkup-cungkup yang gelap. “Bawa kemari” terdengar suara berat. “Hamba Pangeran” jawab orang yang memanggul sesuatu di pundaknya itu. “Sekarang adalah giliran kita untuk menguburnya” berkata suara yang pertama. “Hamba Pangeran” “Cepat, galilah tanah yang masih basah di samping kuburan Rudira” suara itu berhenti sejenak, lalu “Apakah kau seorang diri?“ “Hamba Pangeran. Hamba datang seorang diri” “Baiklah. Mar ilah aku bantu” Di dalam keremangan malam, maka dua sosok bayangan itupun sibuk menggali lubang di samping kuburan Rudira yang masih basah, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan j ika seseorang besok datang kekuburan itu. Ketika lubang itu sudah cukup dalam, maka merekapun segera memasukkan benda yang memanjang dan terbungkus tebal yang dipanggul di atas pundak orang yang meloncati pagar itu. “Ada berapa?“ “Lima Pangeran. Dan menurut pembicaraan yang sudah kami lakukan, mereka akan mengambilnya dua har i lagi”“Bagus, dan berhati-hatilah. Senjata-senjata api semacam itu sangat kami perlukan. Untuk melawan kumpeni, ada baiknya kita juga memiliki senjata api meskipun t idak banyak” Demikianlah, maka senjata api itupun kemudian ditimbuninya dengan baik, sehingga tidak meninggalkan bekas. “Marilah kita pergi. Mudah-mudahan kita akan mendapatkan senjata semacam itu yang lain” “Hamba Pangeran. Tetapi mudah-mudahan juga tidak ada orang yang berprasangka bahwa kitalah yang telah menembak Raden Rudira” “Tentu tidak. Tidak ada orang yang tahu bahwa kita memiliki senjata api. Dan orang-orang sudah yakin bahwa sebenarnya yang menembak Rudira adalah kumpeni” “Mudah-mudahan pula kematian Raden Rudira dapat membangkitkan harga diri rakyat Surakarta dan para bangsawan” “Tetapi sebagian dari para bangsawan telah benar-benar kehilangan harga diri dan keberanian” Tidak terdengar jawaban. Sejenak kemudian mereka berdua masih saja merenungi senjata-senjata api yang tertimbun di lubang itu. “Sudahlah, marilah segera kita hilangkan bekas-bekas kita, dan kita segera dapat meninggalkan tempat ini” Keduanyapun kemudian menyamarkan timbunan senjata api itu sebaik-baiknya sehingga mereka yakin bahwa tidak ada seorangpun yang akan dapat mengetahuinya. Dengan hati-hati keduanyapun meninggalkan kuburan itu. Ternyata mereka memerlukan waktu yang cukup lama untuk menggali dan menimbuni kuburan senjata itu, sehingga malamsudah menjadi semakin jauh.Dalam pada itu, selagi mereka merayap keluar dari kuburan itu. di istana Pangeran Sindurata telah terjadi sesuatu yang menggemparkan. Ketika per lahan-lahan Raden Ayu Galihwar it mulai sadar, maka Pangeran Sindurata menjadi gembira. Tetapi untuk sadar sama sekali. Raden Ayu Galihwarit memer lukan waktu hampir setengah hari. Namun berbeda dengan dugaan Pangeran Ranakusuma, bahwa ternyata Raden Ayu Galihwar it benar-benar menjadi agak baik. Ia mulai mengenal dirinya sendir i dan orang-orang yang berada di sekitarnya. “Galihwarit“ Panggil ayahandanya yang sudah kembali dari Ranakusuman. “Ayahanda” desis Galihwarit. “Ya Galihwarit. Aku adalah ayahandamu. Apakah kau sudah menjadi semakin baik?“ Raden Ayu Galihwarit memandang ayahandanya yang tampak masih agak kabur. Kemudian keluarganya yang lain. Keluarga yang tinggal di rumah orang tuanya. Bukan di rumahnya sendir i. “Beristirahatlah saja dahulu Galihwarit. Jangan pikirkan apapun juga” Galihwar it tidak menjawab. Kepalanya terasa pening sekali dan perutnya menjadi mual. Bayangan yang kabur itupun kadang-kadang bagaikan menghilang lagi. Wajah-wajah yang tampak tidak seperti sewajarnya. Kepala yang terlalu besar dan mata yang hitam kelam. Namun kadang-kadang bayangan yang aneh itu dapat dikenalnya seorang demi seorang, sebelum menjadi kabur dan seolah-olah berubah bentuknya. Ketika Raden Ayu Galihwarit akan muntah, maka ayahandanya yang cemas berkata “Pejamkan saja matamu. Mungkin kau menjadi pening dan rasa-rasanya ruangan ini sedang berputar”“Ya ayahanda” “Nah, cobalah tidur. Jangan hiraukan apa-apa lagi” Raden Ayu Galihwarit mencoba memejamkan matanya yang kabur. Namun sekali-sekali ingin juga ia melihat orang- orang yang ada disekitarnya. Tetapi pandangannya masih saja terasa terganggu. Kadang-kadang ia tidak dapat melihat apapun lagi, selain keputih-putihan. Seakan-akan ia berada di dalam gumpalan awan yang pekat. “Tidurlah” terdengar suara ayahandanya. Raden Ayu Galihwarit tidak menyahut. Tetapi ia memejamkan matanya. Namun dalam pada itu, ketika Raden Ayu Galihwarit mencoba mengingat apa yang telah terjadi dengan dirinya, mulailah angan-angannya menelusuri masa-masa yang telah terjadi. Raden Ayu itu dapat teringat meskipun samar-samar, mulai saat ia pergi meninggalkah istananya untuk memenuhi undangan beberapa orang perwira kumpeni. Diingatnya pula betapa meriahnya pertamuan itu, karena seorang perwira asing yang lucu dan senang bergurau. Dengan bahasa Jawa yang patah-patah ia mencoba berbicara terlalu banyak, sehingga suasananya menjadi sangat ramai. Raden Ayu itupun berhasil mengingat saat-saat ia meninggalkan istana yang mulai menjadi sepi, dan diingatnya pula saat-saat ia berpindah kereta di pinggir jalan. Tiba-tiba dada Raden Ayu Galihwarit berdesir. Seakan-akan terbayang meskipun masih agak kabur seperti wajah-wajah yang mengelilinginya, gambaran berikutnya dari peristiwa yang dialaminya. Seakan-akan ia mendengar derap kaki kuda menyusul keretanya dan kemudian disusul suara tembakan dan sesosok tubuh terbanting jatuh.Disela-sela derai suara tertawa yang suram bagaikan suara hantu yang menemukan sesosok mayat terkapar di tengah jalan, ia seakan-akan mendengar seorang kumpeni mengumpat. Dan ketika Raden Ayu Galihwar it bagaikan memaksa diri untuk mengingat apa yang selanjutnya terjadi, terasa sesuatu bagaikan menghentakkan dadanya. Tiba-tiba saja sebuah jerit yang panjang telah terloncat dari mulutnya. Ternyata kenangannya telah mulai menyentuh bayangan sesosok tubuh yang terkapar di pembaringan oleh luka peluru. Dan tubuh itu adalah tubuh anaknya sendiri. Raden Rudira. “Galihwarit” desis Pangeran Sindurata yang menjadi bingung “Kenapa? Kenapa?” Yang terdengar kemudian adalah tangis yang meledak. Di dalam bayangan yang gelap, Raden Ayu Galihwarit melihat dirinya sendiri dicengkam oleh iblis yang paling laknat. Karena itu, disela-sela tangisnya terdengar ia meratap “Bukan maksudku. Bukan maksudku untuk menjerumuskan kau ke dalam bencana itu Rudira. Bukan aku. Bukan aku yang membunuhmu” “Galihwarit, Galihwarit“ Pangeran Sindurata menjadi bingung, sedang orang-orang lainpun seakah dicengkam oleh kecemasan yang luar biasa. Tetapi kejutan yang telah mengguncang perasaan Galihwar it itu mulai mengganggu syarafnya lagi. Karena itulah, maka bayangan yang semula samar-samar dan semakin lama menjadi semakin jelas itupun telah menjadi kabur kembali. Dan bahkan hilang sama sekali. Yang kemudian mencengkamnya adalah kegelapan dan ketidak sadaran. Itulah sebabnya, maka kata-kata yang terloncat dari bibirnyapun sama sekali tidak terkendali lagi. Pengakuan-pengakuan yang kemudian mulai mengalir telah benar-benar mengganggu perasaan Pangeran Sindurata. Karena itulah maka tiba-tiba iapun berteriak keras-keras kepada orang-orang yang ada di dalam bilik itu “Pergi, semuapergi. Tinggalkan bilik ini. Biar lah aku sendiri yang menungguinya” Sejenak orang-orang yang ada di dalam bilik itu termangu- mangu. Namun karena itu, maka sekali lagi Pangeran Sindurata berteriak “Pergi, cepat. Pergi” Orang-orang yang ada di dalam bilik itu mulai bergeser. Seorang demi seorang mereka keluar dari dalam bilik itu. Para emban dan juga keluarganya. Saudara-saudaranya dan bahkan orang-orang tua. Tetapi Raden Ayu Galihwarit tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Sambil menangis ia meratapi peristiwa yang baru saja terjadi, dan yang mengakibatkan kematian Raden Rudira. Meskipun tidak jelas dan tidak berurutan, namun ternyata bahwa Pangeran Sindurata berhasil menangkap igauan yang terlontar dari mulut Raden Ayu Galihwarit. Rasa-rasanya setiap kata yang didengarnya telah menghantam dadanya. Ia sadar, bahwa ternyata selama ini puterinya yang telah berhasil menyingkirkan orang-orang yang tidak disenanginya dari istana Ranakusuman itu telah terperosok ke dalam lumpur yang kotor. “Memalukan sekali, memalukan sekali” geram Pangeran Sindurata. Ketika kemudian dipandanginya wajah anaknya itu, terbayang betapa ia telah melakukan perbuatan yang terkutuk untuk mencapai cita-citanya. “Anak setan” tiba-tiba ia menggeram. Lalu “Siapakah yang mengajarimu berbuat demikian?“ Tetapi Raden Ayu Galihwarit tidak mengerti pertanyaan itu. Dengan kedua tangannya ia mengusap air matanya. Dan tiba- tiba saja gangguan pada syarafnya menjadi semakin parah. Karena itulah maka tangisnya tidak lagi terdengar. Bahkan diluar dugaan Pangeran Sindurata Raden Ayu Galihwarit mulai tersenyum. “Gila, gila. O, kau sudah menjadi Gila“ Pangeran Sindurata berteriak. Terdengar Raden Ayu Galihwarit tertawa. Dan suara tertawanya telah mengguncang hati Pangeran Sindurata. Pangeran yang yang mudah sekali hanyut dalam arus perasaannya itu. Tingkah lakunya, suara tertawanya dan kata-katanya itu benar-benar membuat Pangeran Sindurata bagaikan dihempaskan ke dalam suatu lingkaran yang menghisapnya ke dalam dunia yang kelamdan memalukan. Karena itu, ketika Raden Ayu Galihwar it sekali lagi menyebut nama kumpeni di dalam hubungan yang lain dengan dirinya, maka darahnya bagaikan telah mendidih. Tiba-tiba saja ia meloncat menerkam pundak puterinya. Sambil mengguncang-guncangnya ia berkata “Galihwarit. Jadi kau benar-benar telah menjadi gila? Bukan saja gila dalam arti yang sewajarnya, seperti yang terjadi atasmu sekarang, tetapi kau telah sejak lama menjadi gila dengan tingkah lakumu yang terkutuk itu” Raden Ayu Galihwarit menyeringai karena terasa pundaknya menjadi sakit. Tetapi kemudian ia tersenyum sambil berkata “Jangan sakiti aku. Kau tidak usah memaksaku. Jika kau dapat menyediakan mutiara yang berwarna kelabu itu, kau tidak akan kecewa” “O, o“ Pangeran Sindurata menjadi lemas. Terhuyung- huyung ia melangkah menjauhi puterinya dan terduduk di atas pembaringan. “He, mana mutiara itu? Mana?“ “Tidak. Tidak“ Pangeran Sindurata justru menjadi bingung.Raden Ayu Galihwarit tertawa. Perlahan-lahan ia mendekatinya. Wajahnya yang pucat itu benar-benar membayangkan wajah seorang iblis betina yang cantik tetapi berbisa. Pangeran Sindurata menjadi semakin bingung. Setiap langkah puterinya. rasa-rasanya dadanya menjadi semakin pepat. Namun Raden Ayu Galihwarit masih saja melangkah maju. “Jangan, jangan“ Pangeran Sindurata itupun hampir berteriak. Tetapi Raden Ayu Galihwarit justru tertawa tertahan-tahan. Tiba-tiba sesuatu bergejolak di dalam hatinya. Getaran yang tidak dapat dimengertinya, namun yang kadang-kadang memang terasa hinggap di hatinya itu. Getaran itulah yang kadang-kadang membuatnya kehilangan pengamatan diri. sehingga beberapa orang menyebutnya agak kurang menguasai kesadarannya. Demikianlah ketika Raden Ayu Galihwarit tinggal lagi selangkah daripadanya, dan sambil tertawa memandanginya, Pangeran Sindurata tidak dapat lagi menguasai getaran di dalam dadanya itu. Wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang, dan matanya menjadi liar. Tanpa diduga-duga maka iapun sekali lagi meloncat menerkam Raden Ayu Galihwarit. Kali ini t idak dipundaknya, tetapi tepat mencengkam leher. “O“ Raden Ayu Galihwarit masih sempat berdesah. Namun suaranya hilang karena tenggorokannya tiba-tiba saja tersumbat. “Iblis betina” geram Pangeran Sindurata “Kau telah melumur i namaku dengan noda yang tidak terhapuskan. Kau memang harus mati. Kau telah dengan tidak langsungmembunuh anakmu sendir i dan melumuri namaku dengan kehinaan. Kau memang harus mat i. Kau harus mati” Dan tangan Pangeran Sindurata mencengkam semakin keras, sehingga Raden Ayu Galihwarit yang sedang terganggu syarafnya itu sama sekali tidak dapat mengeluh lagi. Namun dalam pada itu, selagi tangan Pangeran Sindurata yang sedang bingung itu semakin erat mencengkam leher puterinya, tiba-tiba saja pintu bilik itu terdorong dengan kerasnya. Seseorang meloncat masuk dan dengan suara bergetar berkata sambil menarik tangan Pangeran Sindurata “Kamas Pangeran, jangan. Jangan dilakukan” Pangeran Sindurata yang masih mencengkam leher puterinya berpaling. Dilihatnya adiknya dengan wajah yang cemas mencoba menahannya. “Jangan kau cegah aku adimas. Jangan” “Ingatlah kamas. Yang kamas lakukan itu sama sekali bukan suatu penyelesaian. Tetapi kamas justru sedang membuka persoalan baru lagi” Pangeran Sindurata berpikir sejenak. Namun dalam pada itu angannya menjadi semakin mengendor. “Lepaskan kamas, lepaskan”Seperti didorong oleh tenaga gaib maka tangan Pangeran Sinduratapun terlepas dari leher Raden Ayu Galihwarit. Namun dalam pada itu, tubuh puterinya itupun sudah menjadi demikian lemahnya. Untunglah bahwa Pangeran Sindumurti, adik Pangeran Sindurata yang lahir dar i ibu yang sama, cepat menangkap ketika Galihwarit terhuyung-huyung. Dipapahnya kemanakannya yang sedang terganggu itu dan dibaringkannya di pembaringan. Tetapi mata Raden Ayu Galihwarit masih saja terpejam meskipun nafasnya mulai mengalir tersengal-sengal. “Kenapa kau cegah aku adimas?“ geram Pangeran Sindurata. “Kamaspun ternyata telah diguncang oleh kejutan perasaan. Seperti yang sering terjadi, kamas tidak dapat mengendalikan perasaan yang sedang melonjak” “Memalukan sekali. Ia mengigau tentang laki-laki. Dan laki- laki itu adalah orang-orang asing” “Kamas” berkata Pangeran Sindumurti “Bukankah tentang orang asing itu aku sudah beberapa kali menyebutnya di hadapan kamas. Tetapi kamas sendiri berhubungan terlalu rapat dengan mereka. Demikian juga agaknya Galihwarit ” “Tetapi aku tidak mengajarinya berbuat demikian?“ “Tetapi kamas telah membiarkannya bermain-main dengan air. Pada suatu saat Galihwarit telah menjadi basah karenanya. Kesalahan ini jangan seluruhnya dibebankan kepada Galihwar it. Tetapi sebagian pada kamas sendiri dan sebagian pada suaminya, Pangeran Ranakusuma” Pangeran Sindurata menar ik nafas dalam-dalam. Ketika ia sempat memandang ke lubang pintu yang terbuka, dilihatnya beberapa orang masih menunggu meskipun pada jarak yang agak jauh dengan wajah yang termangu-mangu.“Kau dengar pembicaraan kami” tiba-tiba saja Pangeran Sindurata bertanya. “Aku yang ada di luar pintu mendengarnya dan mengetahui dengan pasti apa yang kamas lakukan. Tetapi para pelayan sudah aku suruh menjauh, agar mereka tidak mendengar lebih banyak lagi persoalan Galihwar it” Pangeran Sindurata termenung sejenak. Namun kemudian terasa dadanya bagaikan dicengkam oleh perasaan yang bercampur baur di dalam dadanya. Kecewa, cemas, malu dan juga ketakutan. Perlahan-lahan ia melangkah ke sudut ruangan dan terduduk dengan lemahnya. “Kamas” berkata Pangeran Sindumurt i “Baiklah kita berusaha. Mungkin ada tabib yang pandai yang dapat menyembuhkannya. Sementara ini sebaiknya kamas juga beristirahat menenangkan hati” “O“ keluh Pangeran Sindurata “sementara ini Galihwarit masih akan tetap mengigau. Ia masih dapat berteriak-teriak tentang sesuatu yang dapat menambah noda di dalam hidupku yang tidak begitu cerah ini” “Biar lah ia tetap tinggal di dalam biliknya. Aku akan membantu kamas menjaganya agar ia tidak pergi keluar seorang diri dan tidak membiarkan ia berbicara” “Kau akan tinggal di sini siang dan malam?“ “Tentu bukan aku seorang dir i. Kita bergantian. Dan sekali waktu isteriku dapat juga membantu dan beberapa orang pelayan yang dapat dipercaya” Pangeran Sindurata tidak dapat menolak pendapat adiknya. Memang ia tidak mendapat jalan lain dar ipada itu. Apalagi pikirannya yang sedang kacau itu sama sekali tidak dapat dipergunakannya dengan sebaik-baiknya.Namun demikian, untuk menyimpan Raden Ayu Galihwarit itu Pangeran Sindurata telah menyediakan sebuah bilik yang khusus. Bilik yang jarang dipergunakannya dan terletak di bagian belakang istananya meskipun masih berada di lingkungan dalam. Bilik itu kemudian seakan-akan menjadi sebuah bilik yang menyerupai sebuah tempat untuk menyembunyikan Raden Ayu Galihwarit. Pangeran Sindumurt i yang memiliki pandangan yang lebih jauh dar i kakaknya, masih sempat melayani Raden Ayu Galihwarit seperti melayani seorang anak yang cengeng dan nakal. “Ia memerlukan sikap yang khusus kamas” berkata Pangeran Sindumurti ”Kita tidak dapat berbuat kasar. Kita harus berusaha mengalihkan perhatiannya dari orang-orang yang selalu disebut namanya. Biarlah perhatiannya tertuju pada Barang-barang yang di sukainya. Makanan atau pakaian” “O” desis Pangeran Sindurata “Aku harus menyimpan seorang yang gila di dalamrumah ini” “Tetapi itu adalah darah daging kamas sendiri” Pangeran Sindurata hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bencana yang dahsyat ternyata telah menimpa keluarganya. Anaknya menjadi gila, dan cucunya mati tertembak oleh orang-orang asing yang selama ini dianggapnya sebagai bangsa yang akan dapat membawa kebahagiaan di dalam hidupnya, yang dengan ringan tangan memberikan banyak sekali hadiah yang berharga baginya. Tetapi Pangeran Sindurata tidak menerima per istiwa itu tanpa berbuat apa-apa. Ketika ia kemudian sempat berbicara dengan adiknya, Pangeran Sindumurti, merekapun mendapat kesimpulan bahwa peristiwa ini tentu mempunyai alasan yang tidak dimengertinya. Dan alasan itulah yang harus mereka ketemukan.“Untuk sementara aku tidak akan dapat menemui Pangeran Ranakusuma” desis Pangeran Sindurata “Aku menjadi sangat malu. Ia tentu sudah mengetahui dan mendengar igauan Galihwar it pula sehingga dibawanya Galihwarit kembali ke rumah ini, meskipun ia tidak mengatakannya” “Ya kamas. Tetapi biarlah kita melihat perkembangan keadaan dengan hati yang dingin. Jika kita dibakar oleh perasaan, maka kita akan mudah berbuat salah” Pangeran Sindurata mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak berhasil segera menyingkirkan pergolakan yang terjadi di dalam dadanya. Dan karena itulah, maka iapun telah dicengkam oleh kepr ihatinan yang dalam. Dalam pada itu selagi malam menjadi semakin dalam beberapa orang berkuda telah memasuki kota Surakarta. Beberapa orang prajurit peronda yang sedang nganglang terkejut mendengar derap itu. Apalagi pada suasana yang sedang buram karena kematian Raden Rudira, maka prajur it itupun kemudian berusaha menghentikan orang berkuda yang berpacu di jalan raya itu, apalagi di malam hari. Ketika orang-orang berkuda itu sudah berhenti, maka pemimpin peronda yang bersenjata tombak itupun segera mendekatinya. Tombaknya masih merunduk di bawah dadanya. Namun di dalam keadaan yang gawat itu, ia selalu berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan. Orang-orang berkuda itu masih tetap berada di punggung kuda ketika prajur it itu bertanya “Siapakah kalian?“ Orang yang berkuda di paling depan itupun menjawab “Kami adalah keluarga istana Ranakusuma” “He?“ “Aku sendir i adalah abdi Ranakusuman” “Yang lain”“Raden Juwiring. Putera tertua dari Pangeran Ranakusuma. Aku baru saja memberitahukan kepadanya bahwa Raden Rudira telah meninggal” “O“ prajurit itupun kemudian menganggukkan kepalanya dalam-dalam diikuti oleh para peronda yang lain. Katanya “Maaf Raden. Raden sudah terlalu lama tidak tinggal di dalam kota, sehingga kami tidak segera dapat mengenal” Raden Juwiring tersenyum. Katanya “Aku memang tidak banyak dikenal” Para peronda itu tidak menjawab. Mereka menganggap bahwa ucapan Raden Juwiring itu merupakan suatu sindiran bagi mereka. Tetapi sebenarnya Juwiring sama sekali tidak hendak berbuat demikian. Sesuatu di dalam hatinyalah yang telah mendesak kata-kata itu meloncat dar i mulutnya. “Jika demikian” berkata para peronda itu “Silahkan Raden melanjutkan perjalanan” Demikianlah maka ir ing-ir ingan itupun bergerak pula dan sejenak kemudian kuda-kuda itupun telah ber lari di jalan raya yang sepi. Lampu minyak yang terpancang di sebelah- menyebelah jalan memberikan sedikit pertolongan di dalam gelapnya malam sehingga mereka tidak mendapatkan kesulitan menelusuri jalan kota. “Kakang Juwiring sangat dihormati di sini” bisik Arum kepada Buntal. Namun ternyata bahwa Juwiringpun mendengarnya juga sehingga sebelum Buntal menyahut, Juwiring telah mendahuluinya “Hanya kebetulan. Mereka sebenarnya tidak menghormati aku, tetapi mereka menghormat i derajat ayahanda Pangeran. Jika aku bukan putera ayahanda Pangeran Ranakusuma, maka kedudukanku akan lain. Berbeda dengan seseorang yang dihormati karena pribadinya sendir i” Arum menjulurkan lidahnya sambil berdesis “Ternyata Raden Juwiring mendengarnya”“Ah kau” sahut Buntal “Kau t idak sedang berbisik. Tetapi kau berteriak” “Tetapi bukankah sebenarnya begitu?“ Buntal t idak menjawab lagi. Namun dalam pada itu, utusan dari Ranakusuman yang berada di antara mereka berpaling juga memandang Juwiring sejenak. Dan anak muda itu berkata lebih lanjut “Ada orang yang dihormati memang karena ia pantas dihormati. Ia telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang dan apalagi bagi Surakarta. Tetapi aku belum pernah berbuat apa- apa” Tidak ada yang menyahut. Namun agaknya Juwiring tidak sedang bergurau. Tetapi ia bersungguh-sungguh. Sejenak kemudian mereka telah berada di tengah-tengah kota Surakarta. Sebentar lagi mereka sudah berada di jalan lurus yang menuju ke istana Ranakusuman. Derap kaki-kaki kuda itu telah mengejutkan beberapa orang penjaga di regol Ranakusuman. Ketika mereka menjenguk lewat sebuah lubang di pintu regol, mereka melihat dua orang yang berdiri di muka pintu itu. “Siapa?“ “Aku, bersama Raden Juwiring” “O, Raden Juwiring” desis seseorang yang kemudian dengan tergopoh-gopoh membuka pintu regol. Ketika pintu itu terbuka, maka Juwiringpun segera bertanya “Apakah paman Dipanala ada?“ “Ada Raden. Ada. Silahkan masuk” “Aku tidak datang sendir i. Aku datang bersama kemanakan Ki Dipanala. Panggillah”Seorang penjaga dengan tergesa-gesa pergi ke ruang dalam yang masih terang benderang. Didapatinya Ki Dipanala duduk bersila di ruang dalam. Agaknya ia selalu siap menunggu setiap perintah. di sampingnya duduk seorang pelayan yang lain. “Ki Dipanala“ penjaga regol itu berdesis “Raden Juwir ing telah datang. Ia menunggumu di regol” “Kenapa tidak segera saja masuk?“ “Ia tidak datang seorang diri. Ia datang bersama kemanakan Ki Dipanala” “Kemanakanku?“ “Ya” Ki Dipanala berpikir sejenak. Dan tiba-tiba saja ia teringat kepada dua orang saudara seperguruan Juwiring. Karena itu, maka iapun segera berdiri dan turun ke halaman menyongsong anak-anak yang datang dari Jati Aking. Dugaannya memang tepat. Yang datang adalah Raden Juwiring. Sedang di sebelah regol menunggu Buntal dan Arum. “Marilah Raden” berkata Ki Dipanala “Ayahanda sudah menunggu” Lalu katanya kepada Buntal dan Arum “Marilah ngger. Silahkan masuk” Juwiring segera mendekati Ki Dipanala sambil berbisik “Biar lah mereka berada di rumah paman lebih dahulu karena menurut ayah, maksudku guru di Jati Aking, biarlah ia tidak mengalami kesulitan untuk menyesuaikan dir i dengan pergaulan di rumah ini” “O, tentu tidak. Silahkan, tidak ada keberatan apa-apa seandainya langsung dipersilahkan masuk. Masih ada tempat yang barangkali sesuai untuk mereka di dalam istana ini”“Tetapi tentu ada banyak orang di dalam. Tentu beberapa orang bangsawan dan keluarga ayahanda terdekat yang berjaga-jaga” lalu tiba-tiba suaranya merendah “Bukankah benar adimas Raden Rudira meninggal?“ “Ya Raden. Hampir di luar dugaan sama sekali” Raden Juwiring mengangguk-angguk, lalu diulanginya “ Biarlah mereka tinggal di rumah paman untuk malam ini. Besok biarlah mereka aku perkenalkan kepada ayahanda Pangeran“ “Jika demikian, baiklah Raden. Biarlah aku bawa mereka ke rumah. Sementara itu silahkan Raden masuk” Ketika Juwiring memasuki halaman rumahnya, maka Buntal dan Arum telah dibawa oleh Ki Dipanala ke rumahnya melalui jalan sempit di luar dinding halaman istana. Setelah menempatkan kedua anak-anak muda itu dan menyerahkannya kepada keluarganya, maka Ki Dipanalapun segera kembali ke istana Ranakusuman. Ternyata kedatangan Juwiring di istana Ranakusuman itu telah menarik perhatian setiap orang yang ada di dalam istana itu. Semuanya memandangnya dengan tanggapan masing- masing. Beberapa orang bangsawan yang dekat dengan Raden Ayu Galihwarit menganggap kedatangan Juwir ing itu sebagai suatu usaha untuk mempergunakan kesempatan, justru karena Rudira baru saja hilang dar i istana itu. “Sst” desis seorang perempuan bangsawan “Cepat benar Juwiring mengetahui bahwa adiknya telah meninggal” “Tentu Pangeran Ranakusuma telah mengirimkan utusan untuk member itahukannya” “Anak itu tentu bersorak di dalam hati. Kematian Rudira member ikan peluang baginya untuk menguasai seluruh kesempatan yang pernah dimiliki oleh Rudira”“Masih ada adik perempuannya” “Apakah daya seorang perempuan” “Ia akan bersuami” Kawannya berbicara tidak menyahut. Mereka hanya sekedar memandang saja ketika Juwiring lewat terbungkuk- bungkuk di hadapan mereka langsung masuk ke ruang dalam. “Dimana ayahanda?“ bertanya Juwiring kepada Ki Dipanala yang telah berada di istana itu pula. “Di dalam. Ayahanda Raden ternyata terlampau letih. Lahir dan batin. Agaknya ayahanda Raden telah tertidur meskipun sambil duduk di dalam bilik” Juwiring menjadi ragu-ragu sejenak. Meskipun ia adalah putera yang sulung, tetapi rasa-rasanya ada jarak yang selama ini membatasi antara dirinya dengan ayahandanya. “Silahkan Raden” berkata Ki Dipanala. “Di mana ibunda?“ “Masih di istana ayahandanya. Pangeran Sindurata” “Apakah ibunda Galihwarit tidak menunggui keberangkatan jenazah adinda Rudira?“ “Tidak Raden” Juwiring mengangguk-angguk. Agaknya tanpa Raden Ayu Galihwar it, rasa-rasanya Juwiring tidak begitu segan memasuki bilik ayahandanya yang sedang tertidur sambil duduk oleh kelelahan yang mencengkam. Lahir dan batin. Perlahan-lahan Raden Juwiring memasuki pintu bilik. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi beberapa orang memandanginya dengan bayangan perasaan yang berbeda- beda di wajah mereka.“Setelah tidak ada Rudira, anak itu merasa dirinya dapat berbuat apa saja di sini” desis seorang bangsawan tua. Tidak ada yang menyahut. Mereka melihat Raden Juwir ing itu hilang di balik pintu. Ternyata langkah Raden Juwiring telah mengejutkan ayahandanya yang sebenarnya tidak tidur nyenyak. Rasa- rasanya hanya bagaikan terlena beberapa saat. Sejenak Pangeran Ranakusuma memperhatikan seorang anak muda yang berdir i di hadapannya dengan kedua tangan ngapurancang. Kepalanya tertunduk dan pandangannya jatuh hampir di atas kakinya sendir i. “Juwiring” desis Pangeran Ranakusuma. “Ya ayahanda. Aku telah datang karena ayahanda berkenan memanggil” Pangeran Ranakusuma berdiri sambil menarik nafas dalam-dalam. Didekatinya anak laki- lakinya itu. Kemudian sambil menepuk bahunya ia berkata “Adikmu telah tidak ada lagi” “Ya ayahanda, seperti yang tersebut di dalam surat ayahanda.” “Ya, akulah yang membuat surat itu. Aku cemas bahwa kau sudah tidak mempunyai kepercayaan lagi kepada ayahmu, sehingga kau tidak mau datang meskipun aku telah memanggilmu”“Aku tentu akan menjalankan segala perintah ayahanda” “Bagus Juwiring. Ternyata kau anak yang baik. Selama ini aku mencoba mengenalmu. Tetapi baru malam ini aku berhasil, justru setelah adikmu t idak ada” Namun keduanya terkejut ketika tiba-tiba mereka mendengar suara dari sela-sela pintu yang kemudian terbuka “Ayahanda terpengaruh oleh hilangnya kakangmas Rudira. Ayahanda merasa kesepian, dan anak itu ayahanda anggap dapat menggantikan kedudukan kamas Rudira. Tidak. Anak itu tidak kita perlukan di istana ini” “Warih” desis Pangeran Ranakusuma “ini juga kakakmu, Warih” Rara Warih memandang Juwiring sejenak. Namun kemudian sambil memalingkan wajahnya ia berkata “Ia tidak pantas berada di istana ini” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan didekatinya anak gadisnya sambil bertanya “Warih. Sudahlah. Marilah kita lupakan pertikaian di antara keluarga kita. Sebaiknya kita mencoba menempatkan diri kita masing-masing di dalam hidup kekeluargaan yang rukun” “Ayahanda” berkata Rara Warih “Bukankah ayahanda sudah mengusirnya dan menempatkannya di padukuhan yang jauh? kenapa sekarang ia berada kembali di istana ini, tepat pada saat meninggalnya kamas Rudira?“ “Aku memanggilnya” “Kenapa ayah memanggilnya? Tentu karena ayah sedang merasa kehilangan. Ayah menganggap bahwa orang itu dapat menggantikan kamas Rudira yang hilang” “Bukan begitu Warih. Ia memang keluarga kita sendiri” “Tetapi ia tidak sederajad dengan aku dan kamas Rudira “Terasa sesuatu berdesir di dada Juwiring. Untunglah bahwa. ia tidak datang langsung bersama Buntal dan Arum. Jika keduanya ada di ruang itu juga, maka ia akan mender ita malu karenanya di hadapan saudara-saudara seperguruannya itu, yang selama ini kurang mengerti persoalan yang ada di antara keluarganya. “Warih” berkata Pangeran Ranakusuma “Kau harus belajar melihat kenyataan. Bagaimanapun juga Juwir ing adalah anakku. Dan kau juga anakku” “Tetapi ibunya tidak sederajad dengan ibuku” Dalam pada itu rasa-rasanya dada Juwiring menjadi semakin panas sehingga sebelum Pangeran Ranakusuma menjawab, Juwiring telah mendahului menyahut “Ayahanda. Baiklah. Jika kedatanganku memang tidak dapat diterima oleh keluarga ini, maka sebaiknya aku pergi. Aku sudah datang memenuhi surat ayahanda meskipun aku terlambat, karena aku tidak dapat menyaksikan keberangkatan jenazah adimas Rudira” “Dan itu memang tidak perlu bagimu” sahut Rara Warih. Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia ingin mengendapkan gejolak yang membakar dadanya. “Tidak Juwiring” berkata ayahandanya “Kau tetap di sini. Sebagian kata Warih memang benar. Aku kesepian. Kau adakah anakku laki-laki seperti Rudira. Dan kaupun berhak berada di rumah ini, karena rumah ini memang rumah kita. Rumah keluarga kita” “Tentu tidak” potong Warih “Jika ibunda datang ke istana ini, maka ibunda tentu akan mengambil sikap yang lebih tegas dari sikapku” “Ibumu tidak akan datang lagi ke rumah ini Warih” jawab Pangeran Ranakusuma. “Kenapa?“ Rara Warih menjadi tegang.Pertanyaan Rara Warih itu ternyata telah mengejutkan Pangeran Ranakusuma yang di luar sadarnya telah menyebut sesuatu tentang isterinya di hadapan Rara Warih. Karena itu, untuk beberapa saat ia termangu-mangu. Ia tidak segera menemukan jawaban atas pertanyaan puterinya itu. “Ayahanda?” desak Rara Warih “Kenapa ibunda tidak akan kembali lagi ke istana ini?“ “Bukan maksudku berkata begitu Warih” jawab Pangeran Ranakusuma kemudian “Aku hanya ingin mengatakan bahwa ibundamu mungkin memerlukan waktu yang lama untuk menenangkan goncangan perasaannya itu” “Dan hati ibunda akan terguncang lagi apabila ia melihat orang itu berada di dalam istana ini” “Mungkin akan terjadi sebaliknya” jawab Pangeran Ranakusuma “mungkin Juwir ing dapat menawarkan hatinya. Anak itu telah diasuhnya pula selagi masih bayi, sebelum kakakmu lahir, meskipun jaraknya tidak begitu jauh. Baru sejak Rudira lahir ibumu tidak sempat lagi menyentuh Juwiring karena ia sibuk dengan anaknya sendir i” “Tetapi ketika orang itu menjelang dewasa, maka ia sudah hanyak sekali menyakiti hati ibunda sehingga ia harus pergi dari istana ini. Pada saat itu ayahanda merestui keputusan itu juga” “Ya karena di antara keduanya, maksudku Rudira dan Juwiring agaknya kurang dapat hidup rukun meskipun mereka seayah. Karena itulah maka salah seorang dari keduanya harus menyingkir. Tetapi sekarang Rudira sudah tidak ada lagi” “Tetapi aku masih ada. Jika aku tidak dapat hidup rukun dengan orang itu, siapakah yang akan ayahanda singkirkan?“ Pangeran Ranakusuma menjadi termangu-mangu. Ia merasa benar-benar mendapat cobaan perasaan yang mahaberat. Karena itu untuk beberapa saat ia tidak menyahut pertanyaan Warih itu. “Ayahanda” terdengar Juwiring berkata “Apa salahnya jika aku kembali ke Jati Aking. Aku dapat hidup tenang sebagai seorang petani tanpa memalingkan dir i dari sikap seorang anak terhadap ayahandanya jika memang ayahanda member ikan perintah apapun. Aku tetap seorang anak yang harus patuh kepada orang tuanya. Jika aku t inggal di padepokan Jati Aking, itu adalah karena aku sedang menuntut ilmu. Ilmu kesusasteraan, ilmu pemerintahan dan ilmu kajiwan yang lain” “O“ kata-kata Juwiring itu justru membuat bati Pangeran Ranakusuma menjadi pedih. Dengan suara yang berat ia menjawab “Kau tetap di sini Juwiring“ Lalu katanya kepada Rara Warih “Kau juga tetap di sini Warih. Cobalah saling mengenal dan cobalah saling mendekatkan dir i. Kalian adalah anak-anakku“ “Ayahanda” berkata Rara Warih “Jika orang itu tetap berada di istana ini, akulah yang akan pergi ke istana eyang Pangeran Sindurata” “Tidak” tiba-tiba Juwiring langsung menjawab “Aku akan kembali ke Jati Aking seperti pesan Kiai Danatirta” Pangeran Ranakusuma menahan dadanya dengan telapak tangannya, seakan-akan ia ingin menahan dadanya yang akan retak. Dengan suara yang dalam ia berkata “Baiklah jangan kita perbincangkan sekarang. di luar masih banyak orang- orang yang berjaga-jaga sepeninggal Rudira. disini kita sudah mulai bertengkar di antara keluarga sendiri” “Tidak. Ayah harus memberikan ketegasan sekarang. Orang itu, atau akulah yang harus pergi dar i rumah ini” “Aku akan meninggalkan istana ini” jawab Juwiring.“Ya, ya” sahut Pangeran Ranakusuma “terserah saja kepada keputusan kalian. Tetapi diamlah. Sekarang bukan waktunya untuk berbicara tentang hal itu. Sebaiknya kalian menemui saudara-saudara kalian yang ada di rumah ini malam ini. Kawanilah mereka berjaga-jaga dan layanilah jika mereka memer lukan sesuatu. Bukan justru kalian bertengkar sendir i. Jika ada orang lain yang mendengar, maka kesan atas kita akan jelek sekali” Rara Warih memandang Juwir ing dengan sorot mata yang memancarkan kebencian yang mendalam. Sejenak ia masih berdiri di muka pintu. Namun iapun kemudian melangkah keluar dan pergi ke bilik sebelah. Ketika dijumpainya di dalam bilik itu bibinya, adik Raden Ayu Galihwarit, sedang beristirahat oleh kelelahan, tiba-tiba saja Rara Warih berlari dan memeluknya sambil menangis. “Warih“ bibinya itupun segera bangkit. “Bibi” terdengar suaranya di antara isaknya. “Kenapa kau menangis lagi? Sudahlah. Seharusnya kau mencoba menenangkan hatimu. Jika ibumu mengetahui bahwa kau masih saja menangis, maka ia tidak akan segera dapat menjadi tenang. Bukankah kau sayang kepada ibunda?“ Rara Warih mengangguk. “Malam ini, di rumah eyang Pangeran Sinduratapun tentu banyak orang yang menunggui ibundamu. Mudah-mudahan ibundamu sudah sadar, dan mampu mengendapkan perasaannya” Sekali lagi Rara Warih menganggukkan kepalanya. “Karena itu, sudahlah” “Bibi” berkata Rara Warih kemudian “Aku sudah mencoba untuk menerima keadaan ini dengan hati yang lapang. Tetapi tiba-tiba saja orang itu datang ke dalam istana ini. Apakah aku harus berdiamdiri dan membiarkannya berada di sini?““Siapa Warih?“ “Juwiring” Bibinya menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Biarlah ayah-andamu menyelesaikannya” “Ayahandalah yang justru memanggilnya. Selagi ayah merasa kehilangan, maka orang itu dianggapnya dapat menjadi pengganti kakanda Rudira. Tetapi orang itu sama sekali t idak sederajad dengan kakanda Rudira” “Seharusnya ia tidak kembali ke istana ini” “Bukankah kehadirannya itu sangat menyakitkan hatiku. Hatiku yang luka karena kehilangan kamas Rudira, dan kini ditambah lagi dengan kehadiran orang yang hanya akan mengotori istana ini” “Tetapi barangkali ia sekedar menampakkan diri pada saat jenazah adiknya dimakamkan” “Tidak. Ayahanda menghendakinya agar ia tetap tinggal disini” Bibinya mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Baiklah. Jika ibundamu telah sehat sama sekali dan kembali ke istana ini, maka anak itu pasti akan segera pergi” “Tetapi menurut ayahanda, ibunda tidak akan kembali lagi, atau Setidak-tidaknya ibunda memerlukan waktu yang lama untuk dapat dengan tatag kembali memasuki rumah ini” Bibinya mengusap kening Rara Warih sambil berkata “Sudahlah. Sebaiknya kau tidak mempersoalkannya lagi. Jika kau letih, berist irahatlah. Tidur lah sejenak, biar lah aku menemui sanak keluarga yang duduk di ruang dalam” “Tidak bibi. Aku tidak letih. Biarlah aku menemui mereka. Dan biar lah bibi beristirahat”“Aku sudah cukup beristirahat. Marilah, kita bersama-sama menemui mereka” Demikianlah keduanya keluar dari dalam bilik itu dan pergi ke ruang dalam. Ketika mereka melalui pintu bilik Pangeran Ranakusuma, mereka masih mendengar suaranya meskipun perlahan-lahan sekali. Dalam pada itu di dalam bilik itu Pangeran Ranakusuma berusaha meyakinkan Juwiring, bahwa hati adiknya itu pasti akan segera lunak kembali. Iapun akan menjadi kesepian dan memer lukan seseorang di dalam rumah itu selain ayahandanya yang sering pergi untuk melakukan tugasnya sebagai seorang Pangeran dan seorang perwira prajur it Surakarta. “Ayahanda” berkata Juwiring “Seperti pesan Kiai Danatirta, biarlah aku kembali ke Jati Aking. Mungkin akan lebih baik bagiku. Apalagi sebenarnyalah kedatanganku tidak seorang diri” “Dengan siapa kau datang? Dengan Kiai Danatirta?“ “Tidak ayahanda, tetapi dengan Arum, anak gadis Kiai Danatirta, dan Buntal, anak angkatnya” “Dimana mereka sekarang?“ “Mereka berada di rumah Ki Dipanala. Aku sudah membayangkan bahwa akan terjadi persoalan karena kehadiranku, meskipun tidak setajamyang aku temui” “Sudahlah. Jangan hiraukan. Biarlah besok kita berbicara lagi. Sekarang, kau dapat menemui keluarga kita di ruang depan” Tetapi Juwir ing menjadi ragu-ragu. Katanya “Ayahanda, apakah aku masih dapat diterima berada di lingkungan para bangsawan. Ada semacam perasaan rendah diri menghinggapi diriku menghadapi sikap dan tatapan mata mereka”Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah anak laki-laki itu sejenak. Wajah yang memang mengesankan wajah seorang anak bangsawan. Beberapa orang mengatakan bahwa Juwiring mirip sekali dengan wajahnya sendiri pada saat bayi itu dilahirkan. Kemudian di dalam perkembangannya wajah Juwiring lebih mendekati wajah ibunya. Sejenak Pangeran Ranakusuma tidak menyahut. Sepercik perasaan bersalah telah melonjak di dalam dadanya. Anak itu seakan-akan sudah diasingkannya, sehingga terpisah dari lingkungan para bangsawan. Juwiring selama ini hidup di padepokan yang terpencil, yang menurut pendengarannya ia telah berusaha menyesuaikan diri hidup di lingkungan para petani dan justru telah terjun ke dalamsawah berlumpur. Dan kini ia mencoba menariknya dari kehidupan itu dan kembali ke dalam lingkungan para bangsawan. “Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma “mungkin kelengkapan lahir iah dapat membuatmu diganggu oleh perasaan rendah diri. Tetapi kau adalah benar-benar anakku” Raden Juwiring tidak menyahut. “Memang sepantasnya kau berpakaian seperti seorang bangsawan. Kau dapat memakai pakaianku. Tentu sudah tidak terlampau besar. Bahkan mungkin agak sempit” “Ayahanda” desis Juwiring “biarlah aku memakai pakaianku sendiri. Aku sudah biasa memakai pakaian seperti ini” “Tetapi kau berada di dalam lingkunganmu sendiri sekarang. Kau harus mengenakan pakaian sepantasnya. Bukan karena pakaianmu maka kau diterima di dalam lingkunganmu, namun kesan pertama yang tampak pada seseorang adalah caranya berpakaian. Karena itu jangan menolak. Kau harus hadir di antara mereka dalam pakaian yang pantas bagi seorang putera Pangeran. Jika kau seganmemakai pakaianku, pakailah pakaian Rudira, yang barangkali tubuhnya tidak terpaut banyak daripadamu” “Terima kasih ayahanda. Kesannya akan lebih jelek lagi j ika aku memakai pakaian adimas Rudira. Semua orang akan memancangku sebagai seorang anak muda yang tidak tahu diri“ Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. “Ayahanda, mereka yang ada di pendapa sudah melihat aku dalam pakaian ini. Agaknya tidak pantas jika aku kemudian berganti pakaian dengan pakaian yang pantas bagi seorang putera Pangeran” “Baiklah Juwiring. Tetapi sebaiknya kau memang membersihkan diri sejenak, lalu berganti pakaian yang manapun yang kau kehendaki setelah perjalananmu, lalu temuilah sanak keluarga terdekat yang ada di ruang dalam dan di pendapa” Juwiring tidak dapat menolak. Sebenarnyalah bahwa ia memang segan menemui sanak keluarganya yang seakan- akan sudah terpisah dari dunianya. Bukan saja ada semacam perasaan rendah diri, tetapi baginya dunia semacam istana ayahanda ini sama sekali t idak menar ik. Hubungan yang kaku di antara mereka karena batasan unggah-ungguh. Sikap yang tidak wajar dan lingkungan dunia yang tidak dilandasi oleh kenyataan hidup yang sebenarnya bagi keseluruhan rakyat Surakarta. Istana ini bagaikan dunia yang terpisah, yang memilih batasan-batasan kehidupan tersendiri. Sambil melangkahkan kakinya ke pakiwan, sekilas Juwir ing terkenang kepada seseorang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati. Ia yakin bahwa orang yang menyebut petani dari Sukawati itu benar-benar seorang Pangeran seperti ayahandanya yang justru lebih muda. Dan menurut gambaran angan-angan Juwiring, cara hidup dan sikap petani dariSukawati itu tentu jauh berbeda dengan cara hidup dan sikap ayahandanya berserta sanak keluarganya. Ketika Raden Juwir ing berada di halaman belakang, tampaklah seluruh bagian belakang istana ini menjadi terang benderang seperti sedang ada sebuah peralatan. Tiba-tiba saja timbullah keinginannya untuk melihat-melihat ruang dan bilik-bilik di belakang istananya. Juwiring tertarik ketika ia melihat beberapa orang duduk melingkar di atas tikar yang putih. Namun suasananya diliputi oleh kemuraman. “Mereka adalah pengawal setia adimas Rudira” berkata Juwiring. Bahkan kemudian terbayang betapa para pengawal itu pernah mencoba menyerangnya di bawah pimpinan Sura dan kemudian masih saja terbayang tingkah laku Mandra, sepeninggal Sura. Tetapi Juwir ing tidak melihat Mandra. Dan akhirnya Juwiringpun mengetahui seluruhnya, apa yang telah terjadi atas Raden Rudira, Raden Ayu Galihwarit dan Mandra, ketika Juwiring bertemu dengan Ki Dipanala. “Mereka adalah kawan-kawan dekat Mandra” berkata Ki Dipanala “meskipun ia berkhianat, tetapi tidak sebaiknya kita membalas dendam pada mayatnya. Itulah sebabnya, ketika mereka yang melawat Raden Rudira mengantarkannya ke makam, maka mayat Mandrapun dibawa ke kuburan pula” Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin muak melihat kehidupan di balik dinding-dinding istana yang gemerlapan, tetapi yang dikotori oleh nafsu dan ketamakan yang berlebih- lebihan. “Tetapi di saat terakhir adimas Rudira masih mencoba mempertahankan kehormatan nama keluarga Ranakusuman” desis Juwir ing. “Ya Betapapun nakal dan bengalnya anak muda itu, tetapi ternyata ia masih mempunyai harga diri. Ia tidak peduli bahwaia akan berhadapan dengan kumpeni ketika ia mengetahui ibunya pergi bersama mereka. Mandralah yang benar-benar pengkhianat yang sangat licik” Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia semakin jelas dapat melihat kepalsuan yang bersarang di dalam hidup yang terlampau berlebih- lebihan ini. “Karena itu paman” berkata Raden Juwir ing “Aku berkeberatan jika ayahanda menghendaki aku tinggal di rumah ini kembali. Aku sudah menyesuaikan diri dengan kehidupan di padepokan. Dan rasa-rasanya hidup di padepokan jauh lebih segar dari kehidupan di istana ini, di sini semuanya digulat oleh kebanggaan lahiriah. di sini nilai seseorang ditentukan oleh gemerlapnya permata yang dipakainya. Orang-orang di dalam istana semacam ini rasa- rasanya semakin lama semakin jauh dari hakekat dirinya, sebagai mahluk yang diciptakan oleh Maha Penciptanya. Mereka sama sekali tidak pernah menyebut kebesaran Yang Mah Esa lagi dalam hidupnya sehari-hari. Yang mereka dambakan hanyalah kebendaan semata-mata. Bagi mereka, orang-orang asing itu lebih banyak member ikan harapan daripada Kasih dari Tuhan Yang Maha Pengasih. Bagi mereka, hidup hari ini agaknya jauh lebih penting dari kehidupan akhirat” Ki Dipanala memandang Raden Juwir ing dengan tatapan mata yang aneh. Yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang anak muda yang tidak jauh berselisih umur dengan Raden Rudira yang baru saja dimakamkan. Tetapi pengaruh kehidupan di padepokan Kiai Danatirta itu membuatnya jauh lebih dewasa menanggapi kehidupan ini. Bukan saja alam dunia ini, tetapi juga alamsetelah mati. Namun demikian, Ki Dipanala itu kemudian menyahut “Raden. Jika memang ayahanda menghendaki Raden ada di sini, aku ingin menyatakan pendapatku, bahwa sebaiknya Raden bersedia. Ibarat orang yang bertempur, maka Radenberada di medan yang paling depan. Memang istana ini memer lukan perubahan. Seandainya Raden tidak dapat merubah tata kehidupan beberapa orang bangsawan di Surakarta, Setidak-tidaknya keluarga ini dapat Raden selamatkan” “Ah, apakah yang dapat aku banggakan dengan pr ibadiku, sehingga paman berharap aku dapat menumbuhkan perubahan di sini? Baru saja Diajeng Warih mohon kepada ayahanda untuk mengusirku dar i istana ini” “Di sinilah letak ketabahan hati seseorang. di medan yang paling depan memang memerlukan ketabahan hati, keberanian dan kemampuan mengatasinya. Aku yakin bahwa Raden dapat melakukannya” Tetapi Raden Juwiring menggelengkan kepalanya. Katanya “Ada bermacam-macam alasan paman. Aku orang asing di sini. Dan aku masih ingin menyempurnakan ilmu yang aku sadap dari ayah di Jati Aking” “Raden tidak usah menghentikannya. Raden dapat menyempurnakannya dengan cara yang sesuai dengan keadaan Raden. Namun menurut pertimbanganku, kehadiran Raden di sini sangat diper lukan” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu “Jika diperlukan, aku dapat membantu Raden berhubungan dengan para bangsawan yang tidak puas terhadap keadaan sekarang ini” Raden Juwiring terdiam sejenak. Namun kemudian ia berkata “Aku tidak akan berarti apa-apa paman. Bahkan aku akan dapat hanyut jika aku terjun ke dalam arus banjir yang deras” “Di sinilah Raden dapat menguj i dir i sendir i. Apakah Raden hanya selembar daun kering yang jatuh ke dalam arus, ataukah sebongkah batu karang yang kuat berakar di dalam bumi. Jika Raden hanya selembar daun, maka Raden memang akan hanyut sampai ke mulut samodra. Tetapi jika Radenadalah batu karang yang tegak dengan kuat, maka Raden akan menjadi pegangan mereka yang ingin menyelamatkan diri dari arus itu” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. “Raden. Memang Raden tidak usah sekokoh Pangeran Mangkubumi. Tetapi Raden dapat merupakan gambaran daripadanya di dalam lingkungan Raden” Sejenak Juwir ing merenung. Namun katanya kemudian “Aku akan mencoba memikirkannya paman” “Silahkan Raden” berkata Ki Dipanala “sekarang silahkan Raden pergi ke pakiwan. Tentu ayahanda menunggu” Juwiringpun kemudian pergi ke pakiwan membersihkan dirinya. Namun dalam pada itu, kata-kata Ki Dipanala masih saja berkumandang di telinganya. Terasa sesuatu bergejolak di dalam hatinya. Meskipun ia masih belum dapat mengambil kesimpulan yang pasti, namun apa yang dikatakan oleh Ki Dipanala itu memang sangat menarik. “Aku akan pergi ke pendapa” katanya kemudian “Aku t idak perlu merasa diriku kecil. Aku tidak perlu memakai pakaian yang gemerlapan seperti layaknya seorang putera Pangeran. Aku akan hadir sebagaimana aku yang ada. Juwiring adalah Juwiring. Diterima atau tidak diterima, itu sama sekali bukanpersoalanku. Tetapi aku harus tetap berada pada kenyataanku” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menemukan sikap yang mapan. Dan ia tidak akan menghiraukan tanggapan orang lain atasnya. Demikianlah setelah membersihkan diri, Juwir ing membenahi pakaiannya. Pakaian yang sudah dipakainya itu. Dengan langkah yang pasti ia pergi ke pendapa seperti yang dimaksud oleh ayahandanya untuk menemui sanak kadangnya yang berjaga-jaga setelah kematian adiknya seayah. Kehadirannya memang sangat menarik perhatian. Beberapa orang masih saja memandanginya dengan tatapan mata yang kurang sedap. Namun Juwir ing sama sekali tidak menghiraukannya. Ia duduk di antara mereka, saudara- saudara sepupunya dengan dada tengadah. Meskipun ada juga sepercik pengakuan, bahwa ibunya adalah seorang perempuan yang tidak sederajad dengan ibu saudara-saudara sepupunya itu, namun Juwir ing telah menemukan kepr ibadian sendiri Dengan sikap yang wajar ia mencoba menempatkan dir inya di antara sanak kadangnya meskipun agak kaku. Tetapi Juwiring tidak berusaha mengisi keasingannya dengan tingkah laku yang berleburan. Meskipun ia tidak menjadi susut sekecil cucurut tetapi ia juga tidak menggembung sebesar kerbau. Ia adalah Juwiring. Saudara-saudaranya merasa agak canggung juga berbicara dengan anak muda yang sudah beberapa lamanya tidak ada di antara mereka. Bahkan ada di antara mereka yang memalingkan wajahnya dan berbicara di antara mereka sendiri. Tetapi Juwiring tidak menghiraukannya. Ia bersikap seperti sikapnya.Satu dua ada juga di antara mereka yang berbicara sepatah dua patah kata. Ada juga yang bertanya kepadanya tentang keadaannya selama ini. “Kau sudah lama tidak tampak di antara saudara-saudara sepupumu?“ bertanya seorang bangsawan yang baru saja melampaui masa mudanya. “Ya pamanda” jawab Juwir ing “selama ini aku berada di padepokan yang terpencil” “O. Apakah yang kau lakukan di sana?“ “Mempelajari beberapa jenis pengetahuan yang mungkin bermanfaat bagi hidupku kelak” “Kenapa harus dicari di padepokan yang terpencil? Apakah di Surakarta kurang orang-orang pandai yang dapat menuntunmu mempelajari beberapa macam ilmu? Dari ilmu kajiwan sampai ilmu kanuragan? Sepandai-pandai orang padepokan yang terpencil itu, namun mereka tidak akan dapat melampaui kepandaian orang-orang kota. Misalnya kamas Ranakusuma sendiri, la mumpuni segala macam ilmu. Tata pemerintahan, kesusasteraan, kajiwan dan juga kanuragan, sehingga kamas Pangeran diangkat menjadi seorang Senapati. Jika kau berguru kepada ayahandamu sendiri, tentu tidak akan kalah dari gurumu yang sekarang, yang tentu tidak begitu memahami tata pemerintahan dan unggah-ungguh” “Pamanda” jawab Juwiring “Agaknya memang demikian. Tetapi ada semacam ilmu yang aku dapatkan di padepokan itu, yang agaknya tidak akan dapat aku cari di dalam kota ini” “Apa?“ “Bertani. Aku sudah mendekati sempurna di dalam hal bercocok tanam. Bukan saja sekedar mengetahui cara dan beberapa macam perhitungan dan pertimbangan. Yang wajar dan yang dipengaruhi oleh kepercayaan, tetapi aku juga sudah pandai melakukannya”“Ya. Aku dengar kau sudah sudi melumuri tubuhmu dengan lumpur” “Ya” “Itukah sebabnya maka kau memakai pakaian serupa ini di dalam pertemuan ini?“ “Kenapa dengan pakaianku?“ Bangsawan lawan bicaranya itu tersenyum. Katanya “Agaknya kau benar-benar ingin menunjukkan bahwa kau adalah seorang petani yang pernah di sebut-sebut oleh almarhum Rudira sebagai seorang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati?“ “O, tentu tidak pamanda. Nama Petani dari Sukawati itu adalah nama yang besar. Bagaimana mungkin aku dapat mengharap untuk menyamainya, Setidak-tidaknya menyerupainya? Petani dari Sukawati mampu melakukan beberapa macam perbuatan yang dapat kita anggap aneh. Ia memiliki ilmu yang jarang ada duanya. Sepi angin. Sapta pemeling. Sapta Pangganda dan sebagainya” “Kau berpendapat demikian?“ “Ya. Petani dari Sukawati bukannya sembarang orang” Bangsawan itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mengedarkan tatapan matanya, maka dilihatnya beberapa orang memperhatikan juga pembicaraan itu. Namun justru dengan demikian bangsawan itupun terdiam. Rasa-rasanya setiap mata bertanya-tanya kepadanya, kenapa ia bersedia bercakap-cakap dengan anak padepokan Jati Aking itu. Cahaya kemerah-merahan ternyata telah mulai membayang di ujung Timur. Semalam suntuk para tanlu berjaga-jaga di pendapa dan ruang dalam. Mereka ikut menyatakan keprihatinan mereka atas meninggalnya Rudira karena peluru.Demikianlah, maka seorang demi seorang para tamu itupun justru mohon diri. Hanya beberapa orang yang paling dekat sajalah yang kemudian tinggal di istana Ranakusuman. Ternyata bahwa keluarga Ranakusuman sendir i, merasa agak asing dengan Juwiring. Beberapa orang dengan segan menghormat inya seperti mereka harus menghormat Rudira. Tetapi jika terpandang oleh mereka itu pakaian Juwiring yang sederhana, maka hormat yang mereka berikan itupun segera menjadi hambar. “Ternyata bahwa bentuk lahiriah seseorang sangat berpengaruh” berkata Juwiring di dalam hati “Namun demikian, tindak tanduk dan tingkah lakulah yang akan menentukan meskipun baru kemudian” Ketika halaman istana Ranakusuman menjadi terang oleh cahaya pagi, maka sebagian terbesar dari tamu-tamu itupun telah meninggalkan istana Ranakusuman. Makin sedikit orang yang berada di rumah itu, rasanya menjadi semakin canggung bagi Raden Juwir ing. Seorang demi seorang mereka meninggalkan pendapa sambil memandang wajah Juwir ing. Bahkan ada satu dua yang termangu-mangu bahwa orang itu bukannya Juwiring. Namun akhirnya mereka bersepakat bahwa karena Juwiring seakan-akan telah dilontarkan ke padepokan itu, maka dengan sengaja ia menunjukkan keadaannya, justru di dalam saat yang agak kalut. Bukan saja kekalutan di dalam istana Pangeran Ranakusuma, tetapi kekalutan yang tampak semakin gelap di atas bumi Surakarta. Apalagi beberapa orang di antara mereka pernah mendengar cer itera Rudira tentang Petani dar i Sukawati. Dengan demikian maka beberapa orang di antara mereka yang meninggalkan istana Ranakusuman itu bersama-sama saling berbisik “Agaknya ia ingin disebut Petani dari Sukawati”“Tidak. Ia berada di padepokan Jati Aking, sehingga ia akan menyebut dir inya Petani dari Jati Aking” Bangsawan-bangsawan muda itu tertawa berkepanjangan. Pangeran Ranakusuma yang melepaskan tamu-tamunya di anak tangga pendapa istananya melihat, betapa canggungnya hubungan antara Juwiring dengan sanak kadangnya. Berbeda sekali dengan Rudira. Meskipun Rudira mempunyai kesenangan sendiri, terutama berburu, namun di dalam pergaulan ia justru nampak agak menonjol. Mungkin karena ia senang membuat tentang perburuan yang sering dilakukannya. Pangeran Ranakusuma hanya dapat menar ik nafas. Sekali lagi ia merasa bersalah, karena ia telah mengasingkan anak muda yang baik itu dari lingkungannya. “Ia harus kembali ke rumah ini” katanya di dalam hati “Aku harus dapat mendamaikannya dengan War ih. Aku memer lukan kedua-duanya” Namun Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa untuk itu, bukannya kerja yang mudah dilakukannya. Ia pasti akan memer lukan waktu yang cukup panjang dan barangkali berbagai kesulitan akan ditemuinya. Bahkan memang mungkin sekali ia gagal. Tetapi Pangeran Ranakusuma sudah bertekad untuk melakukannya. Di har i yang kemudian menjadi semakin panas oleh matahari yang merambat semakin tinggi, Ranakusuman menjadi semakin sepi. Beberapa orang yang masih ada di istana itu menjadi lelah, dan sebagian telah tertidur, sengaja atau tidak sengaja. Sedang yang lain masih sibuk membersihkan pendapa, ruang dalam dan halaman. Sedang beberapa orang perempuan masih ada di dapur untuk menyiapkan makan dan hidangan apabila masih ada tamu- tamu yang bakal datang di har i itu.Pangeran Ranakusuma yang lesu kemudian duduk di ruang dalam menghadapi semangkuk minuman panas untuk menyegarkan tubuhnya. Ketika ia meneguk minuman yang manis dan hangat itu, tubuhnya memang merasa agak segar. Tetapi minuman itu tidak berhasil menyegarkan j iwanya yang letih dan sakit. Tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma teringat kepada anak laki- lakinya. Karena itu, maka disuruhnya seorang pelayannya memanggilnya. “Dimana kau selama ini Juwir ing?“ bertanya ayahandanya “sejak kau pergi dari pendapa, kau tidak kelihatan lagi“ “Aku ada di belakang ayahanda, bersama paman Dipanala” “Tempatmu adalah di sini. di ruangan ini. di dalam istana ini dimana kau suka. Tidak di belakang” Juwiring mengangguk dalam-dalam sambil menjawab “Terima kasih“ “Karena itu” berkata Pangeran Ranakusuma selanjutnya “sebaiknya kau berada di sini. Mudah-mudahan adikmu berubah sikap. Sebenarnya ia seorang gadis yang baik meskipun manja. Tetapi karena ia baru saja kehilangan kakak laki- lakinya, maka ia menjadi agak gugup dan tidak sempat memikirkan sikap dan kata-katanya. Karena itu, kau yang lebih tua, hendaklah mencoba dengan telaten dan sabar untuk melembutkan hatinya” Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menjawab juga “Baiklah ayahanda. Aku akan mencoba selagi aku masih berada di rumah ini” “Kau akan tetap tinggal di sini” “Ayahanda. Seandainya aku mengambil keputusan demikian, maka akupun harus kembali ke padepokan Jati Aking untuk minta diri”“Aku tidak berkeberatan. Tetapi kau harus memutuskan terlebih dahulu” “Aku akan memikirkannya ayahanda. Tetapi apakah kehadiranku di rumah ini t idak akan mengganggu ketenangan?“ “Apa yang kau maksudkan Juwiring?“ “Ayahanda, aku sudah biasa hidup di padepokan kecil. Sudah biasa hidup sebagai seorang petani. Mungkin t ingkah lakukupun sudah berubah, sehingga aku lebih mirip seorang petani daripada seorang putera ayahanda. Mungkin aku sudah menjadi kasar dan tidak mengenal lagi unggah-ungguh di antara para bangsawan“ “Kau belum lama tinggal di Jati Aking. Mungkin tata kehidupan di Jati Aking mempengaruhi sikap dan kebiasaanmu. Tetapi setelah kau berada di istana ini untuk beberapa bulan, maka kebiasaan itupun akan hilang dengan sendirinya. Sejak kecil kau hidup di antara para bangsawan. Kau akan segera mengenali kebiasaanmu itu kembali” Juwiring tidak segera menjawab. Kepalanya yang tertunduk menjadi semakin tertunduk. Tanpa disadarinya, iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berpaling ke pintu-pintu bilik yang masih tertutup. “Warih dan bibinya sedang tidur. Merekapun lelah” “Ya ayahanda” “Aku menunggu keputusanmu” Juwiring tidak segera menjawab. Beberapa kali ia menimbang apakah yang sebaiknya dilakukan. Namun ia masih tetap ragu-ragu dan goyah. “Ayahanda“ akhirnya ia berkata “Baiklah aku berbicara dengan anak dan anak angkat Kiai Danatirta itu.Sebenarnyalah kami sudah dipersaudarakannya. Dan kami menganggap Kiai Danatirta sebagai ayah kami” “Karena kau merasa sudah tidak berayah lagi?“ “Tidak. Sama sekali tidak ayahanda. Jika aku diangkat juga menjadi anaknya itu adalah karena ia tidak mau lagi membatasi dirinya karena aku adalah muridnya. Aku diperlakukannya seperti anaknya sendiri. Demikian juga Buntal” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Juwir ing mengingkarinya, namun rasa-rasanya ada juga kekosongan di hati anak yang jauh dari ayahnya, apalagi ia sudah tidak beribu lagi, sehingga dengan demikian ia mencari sandaran kepada orang yang dekat padanya, yang mengasihinya dan memperlakukannya dengan lembut. “Aku adalah seorang ayah yang jelek sekali“ katanya di dalam hati “Aku hampir saja kehilangan hatinya. Mudah- mudahan aku belum terlambat. Dan mudah-mudahan Juwiring tidak menganggap bahwa akupun sedang mencari sandaran karena hatiku menjadi kosong sepeninggal Rudira” “Ayahanda” berkata Juwiring kemudian “Aku akan mohon diri sejenak untuk pergi ke rumah paman Dipanala. Aku ingin menemui kedua saudara angkatku itu” “O“ Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya “Panggil saja mereka kemari” “Mereka adalah anak-anak padepokan ayahanda. Anak yang tinggal jauh dari kehidupan yang setertib istana ini” “Bawalah mereka kemari. Aku ingin melihat anak-anak itu. Apabila mereka salah sikap, itu bukan karena mereka tidak mau berbuat sebaik-baiknya. Tetapi aku mengerti, bahwa mereka memang tidak dapat berbuat lebih baik daripada itu”Juwiring berpikir sejenak, lalu “Baiklah j ika ayahanda memang menghendakinya. Aku akan mengajak paman Dipanala untuk memanggilnya” “Panggillah” Juwiringpun kemudian meninggalkan ruang dalam itu dan mencari Ki Dipanala untuk dibawanya memanggil kedua saudara seperguruannya. “Apakah yang harus aku katakan jika aku menghadap seorang Pangeran?“ bertanya Arum. “Tidak apa-apa” jawab Juwir ing “Jika kau ditanya, maka kau menjawab jika kau mengetahui jawabnya. Tidak ada bedanya dengan berbicara dengan aku dan Buntal” “Tentu berbeda. Aku harus duduk sambil menunduk dalam- dalam. Setiap kali aku harus menyembah dan membungkukkan kepala, begitu?“ “Ya. Sebenarnya hanya kepada Kangjeng Susuhunan saja kita menyembah. Tetapi para pengeranpun ingin disembah. Bahkan ada kalanya putera-putera Pangeran minta juga disembah” “Jadi bagaimana dengan aku?“ “Sekehendakmulah” “Ah, tentu tidak” “Menyembahlah” potong Ki Dipanala “Tidak ada salahnya. Tetapi Pangeran Ranakusuma bukan seorang bangsawan yang tinggi hati” “Cita-citanyalah yang agaknya terlampau tinggi” desis Juwiring ”Tetapi sayang . . ” kata-katanya terputus. Ki Dipanala memandanginya dengan sorot mata yang mengandung pertanyaan. Namun ia tidak mengucapkannya, karena ia seakan-akan dapat mengerti, bahwa Juwiring tidaksependapat dengan keinginan ayahnya untuk mendapatkan kedudukan yang terlalu tinggi di dalam istana Susuhunan dan kehmpahan kekayaan di istananya sendiri. Demikianlah maka kedua anak-anak Jati Aking itupun mengikut i Juwiring memasuki ruang dalam istana Ranakusuman yang dipenuhi dengan berbagai macam hiasan dan perlengkapan yang sangat asing bagi keduanya, terutama Arum. Bagi Buntal, meskipun tidak sebaik istana ini. ia pernah tinggal di rumah seorang bangsawan di Surakarta ini pula, sebelum ia kemudian berkeliaran tanpa tujuan. Bahkan ternyata Arum tidak dapat menahan keinginannya untuk memperhatikan setiap benda yang ada di sekitarnya. Yang baginya kadang-kadang dianggapnya aneh dan tidak diketahui gunanya sama sekali. “Aku tidak tahu, buat apakah sebenarnya guci-guci itu?” Ia berdesis “Apakah kadang-kadang perlu disediakan air di dalam ruangan ini?“ “Tidak” sahut Juwiring “guci-guci itu tidak lebih dari sebuah hiasan” “Hiasan? Jadi tidak ada gunanya selain hiasan itu? “Ya“ Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kini melihat sendiri, betapa istana seorang Pangeran menyimpan harta kekayaan yang tidak ada taranya. Ketika terpandang olehnya lampu minyak yang tergantung di ruang tengah, ia berdesis “He, permata sebesar itu dan bergantungan di situ?“ “Sst“ Buntal menggamitnya “Bukan permata. Itu terbuat dari bahan yang jauh lebih murah dari permata” Arum menarik nafas dalami“Kita menunggu sejenak” berkata Juwiring “Agaknya ayahanda baru ada di dalam. Biarlah aku mengatakannya bahwa kalian telah datang” “Kau duduk di permadani itu bersama Buntal” “Jangan tinggalkan kami” desis Arum. “Tetapi . . ” “Bersama aku” potong Buntal “Aku sudah pernah berada di dalam lingkungan seperti ini” Arum hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi hatinya berdebar-debar juga. Jauh lebih berdebar-debar daripada berada di tengah hutan yang lebat yang dihuni oleh binatang- binatang buas sekalipun. Juwiringpun kemudian meninggalkannya mencari ayahandanya yang agaknya sedang masuk ke dalambiliknya. “Apakah mereka sudah datang?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. “Mereka ada di ruang dalam ayahanda” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku akan segera datang” Ketika Juwiring kembali ke ruang dalam, dilihatnya Arum masih saja mengagumi perhiasan dan alat-alat rumah tangga yang ada di ruang dalam itu. “Ayahanda akan segera datang” berkata Juwiring yang kemudian duduk bersama kedua saudara seperguruannya itu di atas sebuah permadani yang berwarna kemerah-merahan” “Tikar ini bagus sekali. Tetapi rasa-rasanya kulitku agak gatal” bisik Arum. “Bukan tikar” sahut Buntal “ini adalah permadani yang dibeli dari seberang lautan”“O, dari mana?“ “Dari jauh sekali” ”Di rumah paman Dipanala juga ada tikar, eh, permadani seperti ini. Tetapi tidak sebagus ini dan tidak begitu gatal seperti ini” “Permadani di rumah paman Dipanala itu justru sudah terlalu tua sehingga bulu-bulunya sudah habis” Arum masih akan bertanya lagi. Tetapi suaranya ditelannya kembali ketika ia mendengar Juwiring berkata “Itulah ayahanda sudah datang” Arum cepat menundukkan kepalanya. Sekilas Buntal masih melihat Pangeran Ranakusuma berjalan mendekatinya. Ketika Pangeran itu duduk di tengah-tengah ruangan itu, maka Buntalpun menunduk pula. Sesaat Pangeran Ranakusuma memandang anaknya Raden Juwiring yang duduk bersama kedua anak-anak Jati Aking itu. Hampir saja ia memanggilnya dan menempatkan anaknya itu di sisinya. Tetapi ketika teringat olehnya bahwa ketiga anak- anak muda itu sudah diangkat menjadi saudara, maka niatnyapun diurungkannya. Arum yang tunduk dalam-dalam merasakan suasananya menjadi tegang. Ia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Sedang Pangeran Ranakusuma itu masih saja berdiam dir i untuk beberapa saat lamanya.Baru kemudian Pangeran itu berkata “Kaliankah anak-anak angkat Kiai Danatirta?“ Buntal mengangkat tangannya untuk menyembah sambil menjawab “Ya Pangeran. Hamba adalah anak-anak angkat Kiai Danatirta” “Aku, eh, hamba bukan. Hamba adalah anaknya“ “O, aku sudah mendengar dari Juwiring, bahwa kau adalah anak Kiai Danatirta. Dan kalian sudah diangkat menjadi saudara bersama-sama dengan anakku, Juwiring” Buntal menyembah dan menjawab ”Hamba Pangeran. di padepokan Jati Aking, kami adalah saudara angkat” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Ketika Arum dengan sudut matanya mencuri pandang, hampir saja Juwiring tidak dapat menahan senyumnya. Dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma memandang Buntal dengan tajamnya. Ternyata anak Jati Aking ini memiliki unggah-ungguh yang cukup baik. Seakan-akan ia sudah mempelajari tata kehidupan di rumah seorang bangsawan. Karena itu, maka iapun mulai tertarik kepada pr ibadinya yang sederhana namun tampaknya cukup baik. Sedang Arum, gadis Jati Aking itu agaknya masih asing sama sekali. Sikapnya, caranya duduk dan berbicara meskipun ia mencoba berbuat sebaik-baiknya. Meskipun kepalanya tunduk dalam-dalam, namun setiap kali gadis itu mencoba untuk melihat keadaan sekelilingnya dengan sudut matanya. Tetapi Pangeran Ranakusuma mengerti. Gadis itu sama sekali tidak ingin berbuat kurang baik. Ia adalah orang yang baru di dalam lingkungan yang asing baginya. “Anak-anak muda” berkata Pangeran Ranakusuma seterusnya “Sebenarnyalah kalian sudah mengetahui, bahwa Juwiring adalah anakku. Dalam keadaan yang tidak diduga- duga, adiknya telah meninggal. Karena itu, Juwiring adalahtinggal satu-satunya anak laki-laki bagiku. Bukan maksudku untuk memisahkannya dari kalian yang sudah dipersaudarakan, tetapi bagaimana pendapat kalian j ika kalian saja tinggal di sini?“ “O“ Arum t iba-tiba mengangkat wajahnya. Namun hanya sejenak, karena ketika ia sadar, maka iapun segera menundukkan kepalanya kembali. “Dan itu bukan berarti bahwa kalian harus terpisah dari ayah kalian. Kiai Danatirta. Setiap kali kalian dapat pergi ke Jati Aking” Buntal memandang Juwiring dengan sudut matanya. Namun anak muda itu segera menyadari, bahwa sebenarnya Pangeran Ranakusuma ingin agar Juwiring kembali ke istana ini. Namun agaknya Juwiringlah yang berkeberatan karena selama ini ia sudah berada di dalam lingkungan yang baginya cukup menyenangkan. “Kalian akan mendapat tuntunan di dalam berbagai macam hal, kalian akan mempelajari unggah-ungguh, tata susila dan sopan santun sesuai dengan lingkungan ini” “Ampun Pangeran” jawab Buntal sambil menyembah “bagi hamba, hal itu merupakan suatu karunia yang luar biasa. Tetapi jika demikian, bagaimana dengan ayah angkat hamba di padepokan Jati Aking. Ayah akan menjadi kesepian dan barangkali juga tidak ada yang dapat membantunya mengerjakan sawahnya. Memang ada beberapa orang pembantu di padepokan Jati Aking, tetapi tentu mereka tidak akan dapat bekerja seperti kami yang merasa diri kami anak- anak Kiai Danatirta” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Dan seperti yang diduga oleh Buntal, maka iapun berkata “Jika demikian, aku dan Juwiring akan minta pertimbangan kalian, bagaimana jika Juwir ing sajalah yang harus mondar-mandir kian kemari, karena ia juga anakku, tetapi juga anak Kiai Danatirta”Buntal tidak dapat menyahut. Tetapi iapun berpaling kepada Juwiring, seakan-akan mempersilahkan anak itu menjawabnya. Karena iapun sadar, bahwa bagi Pangeran Ranakusuma yang paling penting adalah Juwiring. “Aku sudah bertanya kepadanya” berkata Pangeran Ranakusuma “Tetapi ia memerlukan pendapat kalian” “Bagaimana pendapat Raden Juwiring sendir i Pangeran?“ bertanya Buntal. Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Buntal anak padepokan, tetapi caranya, sikapnya dan kata-katanya menunjukkan bahwa ia dapat berpikir dengan baik. Karena itulah maka Buntal menjadi semakin menarik bagi Pangeran Ranakusuma. Maka jawab Pangeran Ranakusuma kemudian “Baiklah. Juwiring sudah menjawab ketika aku bertanya kepadanya. Iapun merasa berkeberatan. Tetapi ada semacam kuwajibanku untuk minta kepadanya agar ia tinggal di istana ini. Ada banyak alasan yang dapat aku kemukakan. Tetapi baiklah. Kalian tentu tidak akan dapat mengambil kesimpulan. Yang paling baik bagiku adalah menemui Kiai Danatirta sendiri. Aku pernah menyerahkan anakku kepadanya lewat Ki Dipanala. Maka akan datang saatnya aku minta kesempatan untuk mengasuh anakku itu sendiri. Tentu saja dengan tidak mengurangi penghargaanku atas kesediaan Kiai Danatirta mengasuh Juwir ing selama ini” Buntal masih tetap menundukkan kepalanya. Namun Arumlah yang tiba-tiba saja bertanya “Jadi maksud Pangeran, kakang Juwir ing, eh, Raden Juwiring harus meninggalkan Padepokan?“ “Tidak sepenuhnya. Ia akan tetap berada di kedua tempat. Kadang-kadang di sini dan kadang-kadang di padepokan” Arum mengerutkan keningnya. Dipandanginya Juwir ing sejenak. Rasa-rasanya berat hatinya untuk berpisah dengansaudara-saudara angkatnya. Setiap kali mereka melakukan apa saja bertiga. Bekerja berlatih dan bergurau meskipun kadang-kadang mereka sering juga bertengkar. Arum yang kemudian menundukkan kepalanya itupun sangat menarik perhatian Pangeran Ranakusuma. Sekilas teringat olehnya, betapa Rudira seolah-olah tidak dapat melepaskan gadis itu dar i angan-angannya, meskipun Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa yang ada pada diri Rudira waktu itu barulah sekedar tertarik melihat kecantikan wajah gadis itu. Dan ternyata gadis yang bernama Arum itu memang cantik, dan seperti kebanyakan gadis padepokan ia tampak jujur dan berterus-terang. “Jika Juwiring memerlukannya, aku tidak akan berkeberatan“ berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya “Agaknya gadis itupun cerdas dan lincah. Jika ia mendapat tuntunan yang baik. tentu ia akan dapat segera menyesuaikan dir inya dengan lingkungan baru” Tetapi Pangeran Ranakusuma t idak mengatakannya. Apalagi kemudian timbul juga persoalan di dalam hatinya, bahwa gadis itu adalah gadis padepokan. Sampai saatnya, maka akan timbul persoalan seperti persoalan Juwiring sendiri, karena ibunya bukan seorang keturunan bangsawan yang sederajad, sehingga seakan-akan Juwiring telah mengalami tekanan batin yang berat. Apalagi keturunan seorang gadis padepokan. Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Biasanya para bangsawan mengambil gadis-gadis padesan dan padukuhan hanya sekedar sebagai selir, sebagai perempuan yang hanya sekedar memenuhi selera para bangsawan, yang apabila bangsawan itu menjadi jemu, maka perempuan-perempuan padesan itu kadang-kadang dilemparkan begitu saja tanpa pertanggungan jawab apapun, dan kadang-kadang ada juga yang di dalam keadaanmengandung diberikan sebagai perempuan, triman kepada hamba laki-lakinya untuk diper isterikan. “Tetapi Juwiring agaknya lain” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya pula “Ia mengalami hidup di padepokan, sehingga ia akan dapat menghargai nilai seorang yang dilahirkan di padepokan kecil“ Dalam pada itu, selagi mereka berdiam diri untuk beberapa saat lamanya, tiba-tiba mereka mendengar pintu yang berderit. Ketika hampir bersamaan mereka berpaling, dilihatnya seorang gadis keluar dari pintu sebuah bilik di sebelah ruang yang menjorok ke dalam menghubungkan ruang dalamdengan ruang depan istana yang besar itu. Warih, yang keluar dari biliknyapun terkejut melihat beberapa orang duduk di permadani di ruang dalam menghadap ayahandanya. Karena itu maka iapun segera mendekatinya. Ternyata di antara mereka yang duduk di permadani itu terdapat kakaknya, Juwiring. “Siapakah mereka itu ayahanda?“ bertanya Rara Warih". “Mereka adalah anak-anak padepokan Jati Aking Warih” “O, anak padesan itu sempat ayahanda terima di ruang dalam?” Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan. Arum bergeser sejengkal sambil mengangkat wajahnya, memandang gadis yang baru bangun dari tidurnya itu. Tetapi Buntal menggamitnya dan member inya isyarat untuk berdiam diri saja. “Warih” berkata Pangeran Ranakusuma “Anak-anak Jati Aking ini adalah anak-anak Kiai Danatirta. Anak-anak dari seorang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan meskipun lebih senang t inggal di padukuhan”“Tetapi bagaimanapun juga. mereka adalah anak-anak padesan” Rara Warih terdiam sejenak, lalu “O, jadi mereka adalah anak-anak padepokan tempat tinggal kamas Juwiring?“ “Ya Warih” “Dan gadis ini? Tentu gadis inilah yang sering disebut kamas Rudira bernama Arum” War ih mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu “Memang cantik sekali” Arum mengerutkan keningnya. Tetapi sekali lagi Buntal menggamitnya. “Pantas sekali” berkata Warih “sepantasnya memang kamas Juwiring duduk bersama anak-anak padesan. Tidak bersama kami dan juga t idak bersama ayahanda” Seleret warna merah melonjak di wajah Juwiring. Dengan susah payah ia berusaha menahan hatinya yang hampir tidak dapat dikendalikan lagi. Dalam pada itu, agaknya Pangeran Ranakusumapun t idak senang mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak ingin melukai hati anak gadisnya yang baru saja kehilangan kakaknya. Maka katanya tertahan-tahan “Sudahlah Warih. Pergilah ke belakang” “O, jadi sekarang akulah yang harus pergi ke belakang ayahanda?” “Maksudku, pergilah ke pakiwan. Membersihkan diri kemudian berpakaian. Hari ini tentu masih ada beberapa orang tamu yang akan berkunjung kemari” “Dan ayah sudah mempunyai seseorang yang akan menerima mereka” “Ya” jawab Pangeran Ranakusuma “Tetapi itu bukan berarti bahwa mereka tidak akan bertanya tentang kau” Jawaban ayahnya itu menyentuh hati Rara Warih. Terasa bahwa ayahnya sudah mulai kehilangan kesabaran. di dalamkeadaan tertentu Pangeran Ranakusuma dapat menjadi keras dan bahkan kasar seperti menghadapi lawan di peperangan. Rara Warihpun terdiam. Iapun kemudian meninggalkan ruangan itu pergi ke belakang. “Kau memang harus bersabar Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma ”Anak itu terlampau dimanjakan oleh ibunya, seperti juga Rudira. Tetapi aku mengharap bahwa ia akan sembuh, dan ia akan dapat mengerti keadaan dirinya di dalam lingkungan keluarganya” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun ternyata sikap Rara Warih itu justru mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Kadang-kadang tumbuh juga keinginan Juwir ing untuk pergi dan meninggalkan rumah itu dengan segenap isinya yang sombong dan tinggi hati. Tetapi kadang-kadang sikap yang kasar itu telah merupakan suatu tantangan yang harus dijawabnya. Bukan ditinggalkannya. Namun bagi Arum dan Buntal, suasana di istana itu benar- benar tidak menyenangkannya. Mereka tidak akan dapat membiarkan dir i mereka dihinakan terus-menerus. Tangan Arum seakan-akan sudah menjadi gatal. Rasa-rasanya ingin ia menampar pipi gadis yang cantik, adik seayah dari Raden Juwiring. Karena itu, maka ketika Rara Warih sudah tidak tampak lagi. Buntalpun berkata “Ampun Pangeran, rasa-rasanya hamba sudah, cukup menyulitkan Pangeran dan Raden Juwiring. Perkenankan, hamba berdua kembali ke pondok paman Dipanala. “Sebaiknya kalian bermalam di sini” berkata Pangeran Ranakusuma. “Ampun Pangeran, paman Dipanala telah menerima hamba berdua dengan baik. Seperti juga kemurahan Pangeran. Karena itu bagi hamba, tidak ada bedanya tinggal di rumah paman Dipanala dan di dalam istana ini. Tetapi agaknya istanaini masih terlampau sibuk, sehingga hamba akan dapat mengganggu” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Ia semakin tertarik kepada anak muda ini. Meskipun ia anak padepokan, tetapi unggah-ungguhnya sudah cukup lengkap dan baik. “Tetapi kalian jangan bergegas kembali ke padepokan” berkata Pangeran Ranakusuma “Kalian harus menunggu beberapa hari lagi. Mungkin kalian sempat melihat perubahan sikap Warih, Dan kalian akan tenang berada di rumah ini” “Hamba Pangeran. Hamba berdua memang berkeinginan untuk menunggu Raden Juwiring” “Bagaimana j ika ia tetap di sini?“ “Setidak-tidaknya keputusannya yang akan dapat hamba sampaikan kepada ayah di padepokan” “Baiklah. Aku tidak berkeberatan kalian tinggal pada Dipanala. Setiap saat jika kau ingin, datanglah. Dan jika aku memer lukan kau, aku akan memanggil. Jika kalian memer lukan sesuatu selama kalian berada di kota ini, katakanlah kepada Juwiring. Aku akan berusaha untuk kalian, agar kalian tidak sia-sia berada di kota ini untuk beberapa hari. Mudah-mudahan kalian dapat melihat isi kota ini dan kemudian kerasan tinggal di sini pula” “Terima kasih Pangeran. Hamba sangat berterima kasih atas kemurahan itu. Dan kini perkenankanlah hamba berdua mohon dir i” “Baiklah. Katakan kepada Dipanala, bahwa aku memer lukannya menghadap” Demikianlah maka Arumpun minta diri pula, dan diantar oleh Juwir ing mereka pergi ke pondok Ki Dipanala, sedang Ki Dipanala sendir i dipanggil untuk menghadap Pangeran Ranakusuma.Agaknya Pangeran Ranakusuma memang menaruh perhatian atas kehadiran anak-anak muda itu, ternyata kepada Ki Dipanalapun dikatakannya agar keperluan anak-anak muda itu diambilkannya dari Ranakusuman. Makan, minum dan kebutuhan mereka sehari-hari selama mereka berada di Surakarta. Dalam pada itu, ternyata Arum menjadi segan untuk memasuki halaman Ranakusuman. Baginya Rara Warih adalah sesosok hantu betina yang menakutkan. Sebenarnya ia sama sekali tidak takut kepada gadis itu, tetapi karena gadis itu puteri Pangeran Ranakusuma, maka ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Dan keseganannya itulah yang menyiksanya. Namun, dalam kesempatan lain, Arum senang sekali berjalan-jalan berkeliling kota Surakarta. Kadang-kadang mereka berdua saja dengan Buntal, namun kadang-kadang mereka pergi bersama Ki Dipanala. Baik Arum maupun Buntal tidak mau mengganggu Juwiring yang agaknya ikut menjadi sibuk di dalam istana ayahandanya menerima tamu yang masih saja berdatangan. Bukan saja dari Surakarta, tetapi juga dari tempat-tempat yang jauh. Tetapi sebenarnya bagi Juwiring sendir i, kehadirannya di istana itu sangat menjemukannya. Setiap hari ia terikat oleh adat dan tata cara yang sudah lama dilupakannya. Apalagi meskipun tidak memaksa, ayahandanya selalu minta kepadanya untuk mengenakan pakaian yang lebih pantas bagi seorang putera Pangeran daripada pakaian petaninya itu. Meskipun demikian, hubungannya dengan Rara Warih masih tetap selalu tegang. Rara Warih benar-benar tidak mau mendengarkan semua nasehat ayahandanya. Meskipun setiap kali ayahandanya memberitahukan hubungannya dengan Juwiring, Rara Warih selalu menundukkan kepalanya dan berdiam diri, tetapi sikapnya kepada Juwiring rasa-rasanya masih belumberubah.Namun, ternyata bahwa sikap Rara Warih itulah yang telah semakin lama semakin menebalkan niat Raden Juwiring untuk tetap tinggal di istana ayahandanya, meskipun ia tidak bermaksud meninggalkan padepokan Jati Aking sama sekali. Ia dapat hilir mudik setiap saat di antara kedua tempat yang dapat dicapai dengan berkuda itu. Sementara itu, Arum masih selalu ingin melihat keadaan di dalam kota Surakarta. Setiap hari ia menyelusuri jalan yang belum dilewatinya. Ternyata Buntal yang pernah tinggal di kota itu masih juga mengenal beberapa bagian dari jalan-jalan yang ramai. “Memang menyenangkan t inggal di tempat yang ramai ini” desis Arum ”Sebenarnya aku kerasan tinggal di kota. Tetapi tidak di rumah kakang Juwiring. Adiknya terlalu keras kepala dan sombong” “Mungkin di dalam sepekan dua pekan, kau kerasan tinggal di kota ini. Tetapi jika kita sudah terlibat di dalam persoalan hidup dan kehidupan, kita akan merasakan, betapa pahitnya hidup di kota, justru dinegerinya sendir i” “Kenapa?“ Buntal tidak menjawab. Tetapi dilihatnya sebuah kereta yang berderap kencang melampaui mereka berdua. “Kau lihat, siapa yang ada di dalam?“ “Ya, Orang asing”“Nah, orang-orang asing itu semakin lama menjadi semakin banyak berada di Surakarta” “Ya. Satu dua aku sudah melihatnya. Mereka membawa pedang panjang di lambung” “Mereka adalah prajurit-prajurit” “Apakah mereka juga mampu berkelahi dengan pedangnya itu?“ “Ya, mereka adalah orang-orang yang mengenal tata berkelahi dengan baik. Mereka dapat mempergunakan pedangnya dengan sempurna menurut ilmu yang mereka pelajari” “Darimana kau tahu?“ “Aku pernah melihat mereka memper lihatkan kemampuannya di dalam suatu pertemuan para bangsawan. Meskipun agaknya mereka sedang bergurau, namun aku melihat bagaimana mereka mempergunakan pedang. Tetapi waktu itu aku masih terlalu bodoh untuk menilai” Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia bertanya “He, bukankah kau waktu itu masih terlalu bodoh untuk menilai. Kenapa kau dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka cakap bermain pedang?“ “Aku masih ingat, bagaimana mereka menggerakkan pedang itu. Tetapi sayang, bahwa mereka mempercayakan kemampuannya pada kecepatan tangannya. Mereka hampir tidak memanfaatkan kakinya selain bergeser selangkah demi selangkah, maju dan mundur” jawab Buntal. Arum mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya “Apakah menurut kesimpulanmu, ilmu pedang yang kita pelajari mempunyai kelebihan?“ “Aku tidak berkata begitu, tetapi kita memanfaatkan kecepatan gerak kaki selain tangan kita. Kita berloncatansambil mengayunkan pedang. Tetapi orang-orang asing itu sekedar bergeser untuk menghadapi lawannya yang berputar sekalipun” “Mereka pandai menghemat tenaga” “Tetapi mereka akan bingung menghadapi lawan yang lincah tangan dan kakinya. Apalagi apabila di samping pedang, tiba-tiba saja kita menyerang dengan kaki” “Itu dugaanmu. Bukankah kau masih terlalu bodoh waktu itu?“ Buntal tersenyum sambil mengangguk “Ya. Aku masih terlalu bodoh waktu itu” Demikianlah mereka berbicara tentang kota, orang-orang asing, dan tentang hidup yang semakin sulit. Bahkan di jalan- jalan kota itupun mereka sering berpapasan dengan orang- orang yang berpakaian lebih jelek lagi dari pakaian-pakaian petani di padukuhan Jati Sari. “Mereka adalah orang-orang yang sangat miskin” berkata Buntal “Mereka bekerja sehari untuk hidup mereka sehari. Dan bahkan kadang-kadang tidak mencukupi. Apalagi yang mempunyai keluarga yang besar. Upah yang mereka terima tidak seberapa banyak, sedang mereka harus bekerja sejak matahari terbit sampai matahari terbenam di bawah ancaman dan bentakan-bentakan yang kasar, lebih kasar dari petani- petani” Arum memandang Buntal dengan kerut-merut di kening. Dengan nada yang tinggi ia bertanya “Tetapi rumah kakang Juwiring itu dihiasi dengan Barang-barang yang nilainya tidak terhitung. Apakah mereka t idak dapat member ikan satu dua macam Barang-barang yang seolah-olah tidak berguna itu untuk menolong orang-orang miskin. di rumah kakang Juwiring, Barang-barang itu sekedar untuk hiasan. Tetapi bagi orang-orang yang berbaju koyak itu, nilainya tentu besarsekali. Barang-barang itu dapat ditukar dengan pakaian yang utuh meskipun tidak usah yang mahal” “Itulah kehidupan di kota, Arum. Orang-orang kota seakan- akan tidak saling berhubungan yang satu dengan yang lain. Seandainya ada orang yang kelaparanpun, orang-orang kota tidak mempedulikan lagi. Yang seorang kaya raya dan berlebih-lebihan, sedang yang lain miskin dan lapar” “Tentu tidak begitu” “Kenapa tidak?“ “Aku melihat seorang pengemis” “Ya. di sini banyak pengemis” “Jika tidak ada orang yang mau berbelas kasihan, tentu tidak akan ada pengemis” Buntal menarik nafas. Jawabnya “Jalan pikiranmu benar. Tetapi apakah artinya belas kasihan yang sepotong-sepotong itu? Dengan memberi sedekah sekedarnya, sebenarnya hampir tidak berarti apa-apa bagi penyelesaian masalahnya” “Aku tidak mengerti” “Mereka masih tetap kaya raya dan orang-orang miskin tetap miskin” “Jadi apa yang harus mereka lakukan untuk menolong orang-orang miskin?“ “Pertama-tama tentu menolak kedatangan orang-orang asing yang semakin lama semakin berkuasa dibumi Surakana. Mereka ternyata telah menghisap kekayaan lanah ini. Kemudian mencari sebab kemiskinan yang semakin menjalar ini. Ketiadaan kerja dan penghisapan yang bukan saja dilakukan oleh kumpeni, tetapi juga oleh penjilat-penjilat itu” Arum mengerutkan keningnya.“Mereka benar-benar telah lupa untuk bersyukur atas nikmat Tuhan yang sudah diberikan kepada mereka, mereka lupa untuk memberikan sebagian kecil dari harta mereka kepada orang miskin. Harta itu adalah titipan dari Tuhan, akan datang masanya, harta-harta tersebut akan diambil kembali olehNya” Arum kini mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Mereka lebih mementingkan diri mereka sendir i. Ayah memang pernah mengatakannya, bahwa hidup kita masa kini sudah banyak ditemukan perbuatan-perbuatan manusia yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama, mereka sudan mengingkari Tuhannya” “Kata-kata ayah itu benar. Dan kita dapat melihat lebih jelas pada kehidupan orang-orang kota daripada di padukuhan” Arum tidak menyahut. Tetapi ia tertarik kepada beberapa anak-anak muda yang berkuda di jalan kota. Ternyata mereka adalah anak-anak muda yang cukup menguasai kuda masing- masing. Menilik sikap dan pakaian mereka, maka mereka tentu bangsawan-bangsawan muda. Ternyata pula satu dua orang yang sudah mengenal mereka menganggukkan kepala dalam-dalam. “He, mereka adalah bangsawan-bangsawan” desis Arum “Apakah kita harus berjongkok?“ “Agaknya tidak. Mereka bukan para Pangeran” “Dari mana kau mengetahui?“ “Orang-orang yang sudah mengenal mereka t idak berjongkok” desis Buntal “sebenarnya terhadap para Pangeranpun kita t idak per lu berjongkok, apalagi di kota” Arum mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Namun Arum menjadi berdebar-debar ketika salah seorang dari anak-anak muda yang naik kuda itu memandangnyadengan tajam. Bahkan kemudian tersenyum sambil berkata “He, tentu gadis itu yang pernah disebut-sebut oleh kamas Rudira, putera pamanda Pangeran Ranakusuma” Yang lain memandang Arum dengan kerut merut di kening. Salah seorang dari mereka bertanya “Darimana kau tahu?“ “Aku pernah melihat mereka berdua di depan regol istana pamanda Pangeran Ranakusuma bercakap-cakap dengan kamas Juwiring. Sikapnya dan tingkah lakunya menunjukkan bahwa keduanya sudah terlampau biasa bergaul dengan kamas Juwiring. Bukankah seperti yang dikatakan orang, kamas Juwiring datang ke istana ayahandanya dengan membawa dua orang anak Jati Aking. Yang seorang di antaranya adalah Arum. Yang dahulu sering disebut-sebut oleh kamas Rudira” Arum yang juga mendengar kata-kata itu menjadi bingung. Sepercik warna merah membayang di wajahnya yang memang kemerah-merahan oleh terik matahari yang setiap hari menyengatnya apabila ia berada di tengah sawah. Sedang Buntal yang berada di sampingnya menjadi termangu-mangu sejenak. Bahkan ia mencoba untuk meyakinkan, apakah pendengarannya itu benar. Sementara itu, anak-anak muda itupun tidak hanya sekedar menyebut namanya, tetapi mereka telah mendekati kedua anak-anak Jati Aking itu. Salah seorang dari anak-anak muda yang berada di punggung kuda itu berkata puli setelah ia menjadi semakin dekat “Pantas kamas Rudira tergila-gila kepada gadis ini semasa hidupnya. Ia memang cantik sekali. Sayang jika ia masih saja hidup di padepokan terpencil itu” Kata-kata itu benar-benar telah menggetarkan hati kedua anak-anak padepokan Jati Aking. Namun Buntal masih tetap menyadari dirinya sehingga digamitnya Arum yang hampir saja menyingsingkan kainnya dan meloncat menyerang.“Tahanlah sedikit hatimu Arum” bisik Buntal “Kita seakan- akan berada di daerah asing” Arum menar ik nafas dalam-dalam, seolah-olah ingin mengendapkan batinya yang bergejolak. Desisnya “Tetapi mereka menghina kita“ “Biar lah apa yang akan dikatakannya. Mereka adalah anak- anak bangsawan. Jika kita terlibat dalam pertengkaran dengan mereka maka kita akan mendapatkan kesulitan” “Apakah bangsawan dapat berbuat sekehendak hatinya?“ “Tentu tidak” “Kenapa kau paksa aku menahan hati?“ Tetapi Buntal tidak sempat menjawab. Iring-ir ingan beberapa anak muda berkuda itu sudah berada di hadapan mereka. Seorang dari mereka yang ada di paling depan tersenyum sambil bertanya “He, bukankah kau bernama Arum “ Arum memandang anak muda itu dengan tajamnya. Hampir saja ia lupa bahwa ia berhadapan dengan beberapa orang anak bangsawan. Dan ketika ia menyadarinya, maka iapun segera menundukkan kepalanya. “Anak itu adalah adikku Raden” berkata Buntal kemudian. “O” desis salah seorang anak-anak muda diatas punggung kuda itu “Tetapi bukankah benar anak itu bernama Arum?“ “Raden benar. Anak itu bernama Arum” “Dan bukankah anak itu yang sering disebut-sebut oleh kamas Rudira semasa hidupnya?“ “Aku tidak tahu Raden Tetapi tentu bukan anak padesan seperti kami” “Kalian datang dari Jati Aking?““Ya Raden. Kami datang dari Jati Aking” “Kalian kenal dengan kamas Rudira dan kamas Juwir ing?” “Kami mengenal kedua-duanya Raden” “Kalau begitu, kita pasti” berkata salah seorang dari mereka kepada yang lain “gadis itu memang cant ik” “Lalu bagaimana j ika gadis itu cantik?“ bertanya yang lain. Anak muda itu tersenyum. Katanya “Sayang kamas Rudira sudah meninggal. Jika ia masih hidup, maka nasibku akan menjadi semakin baik. Bukan saja menjadi gadis padepokan tempat kamas Juwiring terasing, tetapi mungkin kau akan menjadi selir kamas Rudira” Darah Arum serasa mendidih mendengar kelakar yang menyakitkan hati itu. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Buntal, sebaiknya ia menahan hati. “Tetapi meskipun kamas Rudira sudah meninggal, mungkin kamas Juwir ing mau mengambilmu menjadi selir ya?“ ejek yang lain. Terasa dada Buntalpun terguncang. Ia sadar, bahwa seharusnya ia menahan hati seperti yang dikatakannya kepada Arum. Tetapi ketika ia mendengar nama Juwiring yang dihubungkan dengan Arum, terasa dadanya bergetar. “Hem“ untunglah bahwa ia masih tetap sadar. Katanya di dalam hati “hatikulah yang telah dikotori oleh nafsu” “He, cah Jati Aking“ salah seorang dari mereka hampir berteriak “Bagaimana j ika kau ikut aku saja? Aku juga putera seorang Pangeran. Kau akan menjadi selirku. Jangan takut aku sia-siakan. Jika sampai saatnya kau dapat aku berikan sebagai seorang triman kepada pembantu ayahandaku, seorang Lurah Istana yang masih muda” Dada Arum hampir-hampir saja menjadi retak. Apalagi ketika dengan sudut matanya ia melihat beberapa orangmemandang hal itu dari kejauhan, seakan-akan mereka menonton sebuah pertunjukan yang menyenangkan. Tiba-tiba saja salah seorang dar i anak-anak bangsawan itu maju semakin dekat. Dari atas punggung kuda, tanpa diduga- duga tangannya terjulur menyentuh dagu Arum. Sentuhan itu benar-benar telah melenyapkan segala pertimbangan. Apalagi ketika kemudian terdengar suara tertawa yang meledak. Tetapi suara tertawa itu tiba-tiba saja terputus, ketika Arum tanpa dapat mengendalikan dir inya lagi menangkap tangan itu dan menghentakkannya keras- keras. Anak muda yang ada di atas punggung kuda itu sama sekali tidak menduga, bahwa gadis itu akan berbuat demikian. Karena itu maka ia sama sekali tidak bersiap untuk mempertahankan keseimbangannya. Hentakan itu ternyata telah menyeretnya dan membantingnya di tanah. Semua orang yang menyaksikan hal itu terkejut bukan buatan, Gadis itu adalah seorang gadis petani, sedang anak- anak muda yang berkuda itu adalah anak-anak bangsawan. Selain daripada itu, merekapun heran melihat kekuatan gadis padesan yang telah menyeret seorang anak muda yang gagah dari atas punggung kuda dan terjerembab di tanah.Buntalpun terkejut bukan buatan. Sekilas ia menjadi bingung, namun segera ia sadar, bahwa tentu akan terjadi sesuatu atasnya dan atas Arum. Sebenarnyalah bahwa perbuatan Arum itu telah menggetarkan dada para bangsawan muda itu. Serentak mereka meloncat turun. Beberapa orang di antara mereka menolong anak muda yang terjerembab dan bahkan berdarah pada hidungnya itu. “Kau gila” bentak salah seorang dari anak-anak muda itu “Apakah kau sadari, apa yang kau lakukan?“ Arum menjadi bingung. Tetapi ia sudah terlanjur melakukannya. Dan ia tidak mau dihinakan seperti gadis liar di sepanjang jalan. Karena itu, jika harus terjadi sesuatu atasnya, apaboleh buat. Tubuhnya memang tidak dibiarkan disentuh oleh orang yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. “Maaf Raden“ Buntal agaknya masih berusaha untuk mengekang dir i “Sebenarnyalah bahwa yang dilakukan oleh adikku itu di luar sadarnya. Ia terkejut karena hal yang serupa belum pernah dialaminya, sehingga karena itu ia telah berbuat sesuatu di luar sadarnya. Sebagai seorang gadis, tentu ia tidak akan mungkin dapat berbuat demikian j ika tidak terdorong oleh perasaan terkejut, atau bahkan ketakutan yang amat sangat” “Kenapa ia menjadi takut? Apakah yang sudah dilakukan oleh Dimas itu? Ia hanya menyentuhnya. Lebih dar ipada itu tidak” “Raden benar. Dan sentuhan itulah yang sangat ditakutinya. Kami selalu dibayangi oleh batasan-batasan hidup yang ketat di padukuhan kami. Kami tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis kita masing-masing j ika tidak ada hubungan apapun juga. Itulah sebabnya sentuhan itu sangatmenakutkannya, karena hukumannya bukan sekedar hukuman badani, tetapi kecemasan rohani yang akan berkepanjangan” “Omong kosong” bentak anak muda itu “Kalian telah dengan sengaja melawan para bangsawan. Aku tahu, kalian sudah diracuni oleh perasaan yang tidak berpijak pada kebenaran dan kenyataan. Kalian diracuni oleh pikiran seolah- olah para bangsawan itu bertindak menurut kehendaknya sendiri. Dan racun itulah yang membuat kalian berani menentang kami” Buntal menjadi semakin berdebar-debar. Jawabnya “Tidak Raden yang terjadi benar-benar suatu kebetulan tanpa disadari” “Dengar anak padesan” bentak anak muda itu “Tidak ada yang dapat menentang kehendak kami. Kami dapat berbuat baik jika kami kehendaki. Tetapi kami juga dapat berbuat kasar. Kami dapat berbuat apa saja berdasarkan atas kedudukan kami. Jika kami kehendaki, kami dapat mengambil adikmu itu tanpa alasan. Orang di kota inipun t idak berani menentangnya. Bahkan mereka akan berbangga jika salah seorang keluarganya kami kehendaki untuk menjadi selir-selir kami. Apalagi orang padesan seperti kalian. Dan karena kalian sudah melakukan kesalahan, maka terpakai atau tidak terpakai, kami menghendaki Arum” Kata-kata itu benar-benar telah mengguncangkan hati Buntal. Betapa pun ia menahan hati, namun rasa-rasanya jantungnya sudah mulai tersentuh ujung duri. Apalagi oleh dorongan perasaan yang kurang dikenalnya sendiri, telah membuatnya terbakar ketika ia men dengar bahwa anak-anak muda itu ingin membawa Arum. Sebelum sempat menjawab Buntal mendengar anak muda itu berkata “Jangan membantah. Kau lihat, kita dikelilingi oleh banyak orang yang mengutuk kelakuan gadis ini. Jika kalian mencoba berbuat sesuatu, melarikan dir i misalnya, orang- orang itu akan serentak mengejar kalian seperti mengejarpencuri. Apalagi jika kalian bertemu dengan sekelompok prajurit, dan aku menyerahkan Arum kepada mereka, akibatnya, kalian akan menyesal seumur hidup” Dada kedua anak-anak Jati Aking itu sudah terbakar. Benarkah yang terjadi harus demikian? “Jangan membantah lagi” bentak seorang anak muda yang lain. “Ikut kami” berkata yang lain lagi. “Akulah yang akan membawanya pulang” berkata anak muda yang hidungnya berdarah “Aku memer lukan obat nyeri di hidungku ini. Meskipun agaknya gadis ini agak liar, tetapi aku akan menundukkannya” Buntal sudah kehilangan kesabarannya. Karena itu maka katanya “Raden, maafkan kami jika kami terpaksa menolak keinginan yang tidak sesuai dengan nurani kami, adat kami dan terutama kepercayaan kami. Perbuatan semacam itu adalah dosa. Dan kami tidak akan membiarkan dir i kami melakukannya” “Diam“ bentak anak muda yang hidungnya terluka “Kalian tidak wenang membantah” “Jadi inikah kebenaran dan kenyataan yang Raden katakan? Inikah pertanda bahwa akulah yang sudah dibius oleh racun kebencian tanpa alasan seolah-olah para bangsawan bertindak aas kehendak sendiri tanpa menghiraukan perasaan kami?“ “Tutup mulutmu“ Anak muda yang lain berteriak “ini adalah hukuman atas kebiadaban gadis itu. Ia harus diajar untuk sedikit mengenal adab dan sopan santun” Buntal sudah tidak mampu lagi menahan hati. Wajahnya menjadi merah dan tangannya gemetar. Tetapi karena ia masih tetap sadar, maka pergolakan di dalam dadanya itumembuatnya bagaikan terbakar. Dengan demikian justru mulutnya menjadi seakan-akan terbungkam. Dalam pada itu, Arum sendiri sudah kehilangan pengendalian diri, sehingga meskipun ia tidak berkata apapun juga, namun apabila seseorang berani menyentuhnya, maka ia akan melawan apapun yang akan terjadi atasnya kemudian. Namun agaknya anak-anak muda itupun telah benar-benar marah. Seorang yang paling kekar di antara mereka maju beberapa langkah sambil berkata kepada anak muda yang hidungnya berdarah “Ambil anak ini, dan bawa kemana kau suka. Jika orang tuanya menuntut, maka ia akan digantung di alun-alun sebagai pertanda bahwa ia sudah melawan kekuasaan Surakarta” Anak muda yang hidungnya berdarah menyambung “Jangan mencoba berbuat sesuatu yang akan menyiksa dirimu” Tetapi ketika anak muda yang hidungnya berdarah ia melangkah maju, maka Arumpun segera bersiaga. “He, apakah yang akan kau lakukan?“ Arum menggeretakkan giginya. Meskipun ia mengenakan kain panjang yang ketat karena ia tidak mengira bahwa ia akan menghadapi persoalan itu, namun tangannya telah siap untuk berbuat sesuatu jika diperlukan. “Apakah kau gila?” anak muda yang hidungnya berdarah itu menggeram. Arum masih tetap berdiam diri. Tetapi ia tetap bersiap untuk berkelahi. Dan setiap orang melihat sikapnya itu. Sehingga dengan demikian orang-orang yang berkerumun meskipun tidak berani mendekat, menjadi heran. “Apakah gadis ini sudah gila?” Mereka bertanya kepada-diri sendiri.Anak muda yang berdarah hidungnya itu menjadi termangu-mangu. Namun yang bertubuh kekar itupun kemudian berkata “Jika ia. melawan, ikat ia pada kudamu. Biarlah anak laki-laki yang sombong itu menjadi urusanku. Dimas t idak usah menghiraukannya” Darah Buntalpun bagaikan sudah mendidih sampai ke ubun-ubunnya. Karena itu ia berkata “Baiklah, jika Raden memang ingin mengalaminya. Aku terpaksa mempertahankan diri” “Bagus” teriak yang bertubuh kekar “Kau akan menyesal. Ayah ibumu akan menyesal, dan seluruh padepokanmu akan menyesal” Buntal tidak menjawab. Tetapi yang terdengar adalah suara, yang lain, yang telah mengejutkan setiap orang yang ada di tempat itu. Ternyata seorang anak muda telah datang mendekati lingkaran pertengkaran itu. Meskipun ia berkuda, tetapi karena kuda. itu berjalan perlahan-lahan, dan semua perhatian dipusatkan kepada, mereka yang sedang bertengkar, maka kedatangan anak muda berkuda itu telah mengejutkan. Apalagi tiba-tiba saja ia berkata “inikah t ingkah laku anak-anak muda di Surakarta” Anak-anak muda yang sedang mengerumuni Buntal dan Arum itu memandanginya sejenak. Lalu anak yang bertubuh kekar itupun menjawab “Ia berani menentang kekuasaanku di sini” “Apakah kau sudah mencoba mencari sebabnya, kenapa ia menentang kekuasaanmu?” anak muda itu bertanya “dan apakah sebenarnya kekuasaan itu memang ada pada kalian? Kalian harus mempunyai dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa kalian mempunyai kekuasaan” “Aku seorang putera Pangeran” jawab anak muda yang bertubuh kekar “sedang mereka adalah anak-anak padesan” “Lalu?““Mereka tidak berhak melawan aku dan saudara- saudaraku” “Aku tidak membiarkan mereka jatuh ke tanganmu” “Aku anak seorang Pangeran. Aku berhak mengambilnya” “Hak itu sebenarnya tidak ada. Jika hak itu ada, maka akupun juga berhak” “Tetapi, tetapi . . ” anak yang hidungnya berdarah itu menyahut. Namun anak muda di atas punggung kuda itu memotong “Aku tahu. Kalian akan menyebut ibuku. Tetapi aku tahu, bahwa ada di antara kalian yang beribu sederajad dengan ibuku. Bahkan di bawahnya. Tetapi yang penting, aku adalah putera seorang Pangeran dengan sah. Ayahandaku adalah seorang Panglima. Nah, kalian mau apa. Jika kalian menghendaki, aku juga berani berkelahi melawan kalian. Satu demi satu, atau bersama-sama. Jika kalian ingin memamerkan kekuasaan ayah kalian, akupun dapat mengatakan bahwa pangkat ayahandaku lebih tinggi dar i pangkat ayah kalian di dalam kedudukannya sebagai Panglima. Nah, apalagi” “Gila. Apakah kamas Juwiring menghendaki gadis itu?“ “Aku tidak berkata begitu” jawab anak muda di atas punggung kuda itu “Tetapi ketika aku mendapat laporan tentang tingkah laku kalian, maka aku harus bertanggung jawab, Akulah yang membawa mereka kemar i“ Juwiring berhenti sejenak, lalu “dan seandainya kalian bukan putera Pangeran, maka kalian akan menyesal, sebab laki-laki padepokan itu mampu membuat kepalamu bengkak. Apakah kau tidak percaya?“ “Aku tidak percaya” “Kau ingin mencoba?“ Anak yang kekar itu termangu-mangu sejenak, lalu katanya “Aku akan membuktikan bahwa aku tidak sekedar berdiribersandar kekuasaan ayahanda. Tetapi jika perlu aku dapat memilin lehernya. Atau barangkali mematahkan tangannya” “Benar begitu?“ “Aku pasti” “Kita lihat, apakah di dalam keadaan yang sama kau benar- benar dapat berbuat seperti yang kau katakan” “Persetan. Aku ingin mencobanya” Juwiring mengangguk-angguk. Dipandanginya wajah Buntal yang masih termangu-mangu. Sebenarnyalah, bahwa Buntal dicengkam oleh kebimbangan yang dalam. Ia tidak biasa melihat sikap yang angkuh pada Juwir ing. Namun tiba-tiba anak muda itu benar- benar seorang anak muda yang angkuh dan tinggi hati. Bahkan ia telah menyebut-nyebut kekuasaan yang ada pada ayahandanya, salah seorang Panglima di Surakarta. “Baiklah” berkata Juwiring kemudian “Tetapi aku minta jaminan, bahwa kalian t idak akan licik” “Maksudmu?“ “Apabila kalian kalah, kalian harus mengaku kalah, dan tidak memperpanjang persoalan ini. Tetapi jika kalian ingkar, maka akulah yang akan mengambil alih persoalan ini dari anak muda Jati Aking itu” “Aku bukan pengecut” teriak anak muda bangsawan itu. “Bagus” berkata Juwiring “Kita akan bertemu sore nanti saat matahari terbenam di pinggir Bengawan. Setuju?“ Sejenak anak-anak muda bangsawan itu termangu-mangu. Namun anak muda yang kekar itu kemudian menyahut “Bagus. Aku akan pergi ke tepi Bengawan di tikungan di bawah bendungan. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak hanya dapat sekedar berbicara dan menakut-nakuti. Tetapiaku memper ingatkan sebelumnya, jangan menyesal apabila terjadi sesuatu atas anak padesan itu” “Aku yang bertanggung jawab. Jika ia sakit, akulah yang akan memanggil tabib. Jika kakinya patah, biarlah aku berusaha memulihkannya” “Bagus. Datanglah. Kita akan melihat siapakah yang hanya sekedar bisa berbicara tanpa berbuat sesuatu” Anak muda itu tidak menunggu jawaban Juwiring. Iapun segera meloncat ke punggung kudanya. Demikian juga kawan- kawannya yang lain, sedang anak muda yang hidungnya berdarah itupun dengan susah payah telah berada di punggung kudanya pula. “Sore nanti tulang-tulang igamu akan rontok anak yang dungu” geram anak muda yang kekar itu ketika kudanya lewat dekat sekali di hadapan Buntal ”Dan kali ini adalah kali yang pertama dan terakhir kau melihat kota Surakarta” Buntal tidak menjawab. Dibiarkannya saja kuda-kuda itu lewat hampir menginjak kakinya. Tetapi agaknya iapun sudah dijalari oleh keangkuhan Juwir ing, sehingga ia tidak mau bergeser sama sekali dar i tempatnya. Berbeda dengan Buntal, Arumlah yang bergeser di belakang. Buntal. Ia tidak mau anak-anak muda yang sedang pergi itu menyentuhnya lagi, agar ia tidak usah membantingnya lagi. Sejenak kemudian maka bangsawan-bangsawan muda itu meninggalkan. Buntal dan Arum. Kuda-kuda merekapun kemudian berlar i-larian di jalan, kota, sehingga orang-orang yang melihat pertengkaran itu dari kejauhan segera berlari- larian memencar. Sepeninggal anak-anak muda itu, maka Juwiringpun kemudian mendekati Buntal. Sambil tersenyum, ia berkata “Maaf. Aku telah membuat perjanjian sebelum aku berbicaradahulu dengan kau. Tetapi menghadapi anak-anak bengal itu kadang-kadang kitapun harus bersikap bengal” Buntal menarik nafas dalam-dalam, sementara Arum bertanya “Jadi, menurut perjanjian itu, kakang Buntal harus berkelahi di pinggir Bengawan sore nanti?“ “Ya” “Kau yakin bahwa kakang Buntal tidak akan cedera?“ “Aku mengenal bangsawan-bangsawan muda yang hanya pandai berbicara itu. Mereka tidak akan berbahaya bagi kalian” “Tetapi sebaiknya bukan kakang Buntal. Karena persoalannya berkisar karena kehadiranku, maka biar lah aku saja yang akan berkelahi melawan mereka” “Ah, jangan. Bagaimanapun juga. mereka memiliki banyak akal untuk memaksakan keinginannya. Sebaiknya kau tidak usah datang sore nanti” “Aku akan datang” Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu “Kita tidak tahu apakah mereka tidak ingkar kepada kejantanan yang mereka sebut-sebut itu. Jika mereka menjadi licik, dan membawa beberapa orang pengawal seperti Rudira yang setiap kali membawa Sura dan kemudian Mandra, maka persoalannya akan berbeda” “Tetapi aku dapat menjaga diriku sendiri” “Kemampuan seseorang terbatas Arum. Sedang jumlah mereka t idak terbatas” Arum masih akan menyahut. Tetapi Juwiring berkata “Sudahlah. Kembalilah ke pondok paman Dipanala. Nanti aku akan datang ke pondok itu. Kita dapat berbicara lebih tenang. Sekarang kita sedang menjadi tontonan orang”Barulah Arum menyadari keadaannya. Ketika ia memandang berkeliling, ternyata masih banyak orang yang mengawasinya dari kejauhan. Karena itu maka katanya “Memang sebaiknya kita kembali saja” Dengan tergesa-gesa Arum dan Buntalpun kemudian meninggalkan tempat itu. Demikian pula Juwir ing yang berkuda itu. Di sepanjang jalan Arum masih saja mengumpat-umpat dan beikata kepada Buntal “Aku yang akan berkelahi. Mereka harus tahu, bahwa aku bukan perempuan liar yang dapat dengan seenaknya dijadikan selir-selir seperti yang disebut- sebutnya itu” Buntal tidak menyahut. Ia tahu benar sifat Arum. Jika ia membantah, Arum dapat saja tiba-tiba berteriak di pinggir jalan. Karena itu, maka Buntal berjalan saja sambil berdiam diri. Hanya sekali-sekali ia berdesis sambil menganggukkan kepalanya. “He, kau tidak mau mendengarkan?“ “Aku mendengar” “Kenapa kau diam saja? Kau tidak setuju” “Bukan aku t idak setuju Arum, tetapi sebaiknya kita berbicara di rumah paman Dipanala” “Apa salahnya kita berbicara sambil berjalan?“ “Nanti kita menjadi tontonan lagi” Arum memandang berkeliling. Tidak banyak orang yang dijumpainya di jalan itu. Namun j ika ia bertengkar dengan Buntal maka orang-orang itu tentu akan berkerumun dan menonton. Karena itu Arumpun kemudian terdiam meskipun hatinya menjadi jengkel sekali.Demikianlah, ketika. mereka sudah berada di rumah Ki Dipanala, maka merekapun mulai membicarakan persoalan yang sedang mereka hadapi. Setiap kali Juwiring mencegah, maka Arumpun menjadi semakin bernafsu untuk ikut pergi kepinggir Bengawan. Juwiring sudah lama mengenal Arum. Bahkan ayahnyapun kadang-kadang sulit untuk mencegah gadis itu. Karena itu, maka Juwiringpun kemudian berkata “Terserah kepadamu Arum. Tetapi jika kau memang ingin ikut bersama kami, kau harus sudah bersiap menghadapi setiap kemungkinan” “Ya. Aku sudah siap” jawab Arum, namun kemudian “Tetapi, kenapa kakang Juwir ing menyerahkan hal itu kepadaku. Bagaimana sikap kakang sebenarnya?“ “Ya terserah kepadamu. Sebenarnya aku berkeberatan” “Kenapa? Aku sudah menjelaskan bahwa aku sudah siap menghadapi apapun” “Karena itu, terserah saja kepadamu” “Jangan terserah. Jika kakang, eh, Raden mengij inkan aku akan pergi” “Jika tidak” “Apakah alasannya. Aku bukan anak-anak yang menggantungkan diriku kepada selendang ibunya” “Ah, sudahlah Arum. Memang susah berbicara dengan kau. Jika aku berkata terserah, kau tidak puas. Jika aku melarang kau memaksa. Tetapi jika aku berkata “Baik, kita akan pergi Kau sangka aku sekedar memuaskan hatimu saja” Wajah Arum menjadi tegang. Namun ketika ia memandang wajah Buntal yang tidak dapat menahan senyumnya, Arumpun tanpa sengaja telah tersenyum pula. Tetapi ketika ia sadar, maka iapun tiba-tiba mencubit Buntal dengan tangan kir i danJuwiring dengan tangan kanannya, sehingga keduanya terlonjak dari tempat duduknya. “Jadi bagaimana, bagaimana” desisnya “terserah saja. Aku tidak mau berbicara” “Sudahlah” berkata Juwir ing “Jika kau mau pergi, pergilah. Tetapi nanti dulu, jangan membantah. Aku tidak sekedar memuaskan hatimu. Kau sudah cukup dewasa menghadapi keadaan. Karena itu, jika kau berkeras untuk ikut serta, maka kaupun sudah yakin bahwa tidak akan terjadi apa-apa atasmu” Arumt idak menyahut. Tetapi wajahnya jadi suram. Juwiring yang melihat wajah itupun menarik nafas dalam- dalam. Dan seperti biasanya, iapun tidak lagi mempersoalkannya dengan Arum. “Kau dapat memakai kuda yang ada di kandang halaman rumah ayahanda Pangeran, Buntal. Datanglah sebelum senja. Aku akan datang lebih dahulu agar aku dapat melihat, apakah tidak akan ada kecurangan yang berbahaya” “Baiklah Raden” jawab Buntal “sebenarnya aku tidak ingin berkelahi. Tetapi mereka telah memaksa aku berbuat demikian” “Sekali-sekali bangsawan-bangsawan muda itu memang harus mendapat peringatan, agar lain kali ia sedikit menghargai orang lain” “Kau juga bangsawan seperti mereka“ gumam Arum. Juwiring yang sedang tegang itu justru tersenyum. Jawabnya “Bangsawan yang tercecer dari lingkungannya” “Salahmu. Jika kau ingin bergabung dengan mereka, maka kau dapat berbuat apa saja, karena kau memiliki ilmu kanuragan yang melebihi mereka. “Ah““Seenaknya saja mereka menyebut tentang perempuan. Jangankan menjadi selir, menjadi isteri bangsawan yang sahpun aku tidak mau. Aku menyadari bahwa aku seorang padesan. Anakku akan tersia-sia meskipun ayahnya seorang bangsawan” Juwiring mengerutkan keningnya, sementara Buntal menggamit gadis itu. Tetapi Arum tidak menyadari kekeliruannya, bahkan ia bertanya dengan nada kesal “Apa. Kau akan berkata apa?“ Buntal menundukkan kepalanya. Sedang Arum masih akan berbicara terus. Tetapi tiba-tiba ia terkejut. Dilihatnya wajah Juwiring yang muram memandang kekejauhan. “O“ Arum terhenyak. Barulah ia sadar, bahwa kata-katanya telah menusuk hati Juwiring justru karena Juwiring mengalaminya. Meskipun ibunya bukan orang padesan, dan bahkan juga keturunan bangsawan, namun tidak sederajad dengan isteri-isteri Pangeran yang lain, maka ia mengalami suatu tekanan perasaan yang berat, apalagi ia mempunyai seorang ibu tir i seperti Raden Ayu Galih Warit. “Maaf Raden” desis Arum dengan nada yang dalam “Bukan maksudku menyinggung perasaanmu” Juwiring tersentak. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya “Tidak. Tidak apa-apa. Aku baru berangan-angan tentang bengawan itu” Arum tidak menjawab lagi. Ia merasa bersalah, bahwa kata-katanya sedikit terdorong sehingga agaknya telah menyentuh dasar hati Juwiring yang memang sudah terluka itu. “Sudahlah. Jangan berbicara apa-apa lagi. Kita bertemu nanti di pinggir bengawan. Anak-anak itu adalah anak-anak yang pantas mendapat peringatan”Buntal dan Arum hanya sekedar menganggukkan kepalanya saja. Mereka tidak mau menambah goresan pada luka di hati Juwiring. Demikianlah, maka Juwiringpun kemudian minta dir i. Namun agaknya masih ada sesuatu yang tersangkut di hati Buntal sehingga ketika mereka sudah berdiri di halaman, anak muda itu justru bertanya “Raden, sebenarnya aku tidak mengerti. Apakah bangsawan-bangsawan muda itu gambaran dari Surakarta yang akan datang? Bukankah mereka kelak akan menggantikan kedudukan ayahanda mereka di dalam pemerintahan?“ Juwiring mengerutkan keningnya. “Aku pernah mengenal Raden Rudira. Tetapi ternyata ia tidak berdir i, sendiri dalam sikapnya. Ada beberapa orang yang bersikap seperti Raden Rudira itu. Dengan demikian, aku menjadi cemas melihat gambaran negeri ini di masa mendatang, yang dekat. Anak-anak muda yang berkeliaran dan justru mereka tidak memiliki i!mu yang cukup” “Tidak Buntal. Bukan itu gambaran masa mendatang. Kita masih mempunyai harapan bahwa di antara bangsawan- bangsawan muda, apakah ia keturunan pertama atau kedua dari pemegang kekuasaan di Surakarta kini, masih ada yang tetap menyadari tugasnya. Kita mengenal beberapa nama yang dapat diharapkan. Baik dari sikap, perbuatan dan ilmu yang mereka miliki. Kita berharap bahwa mereka akan mendapat kesempatan untuk memerintah negeri ini kelak. Tetapi . . ” Juwiring menarik nafas dalam-dalam, lalu “tetapi seperti yang sudah kita ketahui, agaknya kumpeni mempunyai pengaruh yang kuat” Buntal menar ik nafas dalam-dalam. “Dan kita pernah mendengar ceritera tentang pemberontakan yang pernah terjadi. Tidak hanya satu dua kali. Tetapi beberapa kali. Dan setiap kali, maka kumpenitentu berhasil meneguk keuntungan daripadanya. Namun demikian, kadang-kadang kita memang tidak dapat lagi menanggung tekanan batin yang tiada taranya sehingga memaksa kita untuk melepaskah dir i dari belenggu penindasan, meskipun kadang-kadang kita harus menebusnya dengan maut” Buntal mendengarkan keterangan itu dengan saksama. Namun kemudian ia bergumam “Sokur lah jika masih ada orang yang menyadari keadaan ini. Kami yang tinggal jauh dari kota justru merasakan sesuatu yang menekan hati ketika kami melihat kehidupan di dalam kota ini. Sama sekali1 bukan berdasarkan hati yang iri semata-mata. Tetapi sebuah kecemasan yang bergolak di dalamdada ini” “Kau benar. Jika kita bicara dengan nurani yang bersih, maka setiap orang akan mengakuinya. Gemerlapnya istana- istana yang indah dan cantiknya wanita-wanita di dalam kota ini bukan lambang gemerlapnya Surakarta dan cantiknya tanah ini yang seakan-akan telah dinodai oleh bangsa asing dengan kedok perdagangan dan persahabatan. Buntal hanya mengangguk-angguk saja. Namun ternyata angan-angannya telah hinggap pada seorang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati. Dan hampir-di luar sadarnya ia berdesis di dalam hatinya “Pangeran Mangkubumi. Mudah- mudahan ia berbuat sesuatu untuk kepentingan rakyat Surakarta” “Sudahlah” berkata Juwiring kemudian “Aku akan kembali ke rumah ayahanda yang asing bagiku itu. Jangan lupa, datanglah menjelang matahari terbenam. Aku akan datang lebih dahulu” “Baiklah Raden” sahut Buntal “mudah-mudahan aku t idak menimbulkan persoalan yang berkepanjangan. Apalagi j ika kemudian menyangkut Pangeran Ranakusuma dan beberapa orang bangsawan yang lain”Juwiring hanya tersenyum saja. Meskipun senyum yang kecut. Demikianlah Buntal menjadi gelisah. Direnunginya dir inya sendiri di dalam lingkungan yang asing baginya. Tiba-tiba saja ia sudah terlibat di alam pertentangan kekerasan. Ia harus berkelahi melawan bangsawan-bangsawan muda itu. Dan sudah barang tentu baliwa sesuatu dapat terjadi di luar dugaan. Bangsawan di Surakarta mempunyai hak yang seakan-akan melampaui hak orang kebanyakan. Agaknya Arum tidak begitu menghiraukannya. Yang dipikirkannya adalah, bahwa ia tidak mau dihinakan oleh siapapun. Ia sama sekali t idak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang lain yang dapat terjadi. Meskipun ia pernah mendengar dari beberapa orang tentang hak para bangsawan, namun haknyalah untuk melindungi dirinya sendir i dan apalagi nama baiknya. Karena itulah, maka ketika matahari menjadi semakin condong ke Barat, Buntal menjadi semakin gelisah. Tetapi ia masih mempercayakan persoalan ber ikutnya apabila timbul, kepada Juwiring, karena Juwiring adalah seorang dari lingkungan mereka. Dan agaknya ayahandanyapun telah menerima kembali sebagai anaknya sepenuhnya. Buntal yang gelisah itu terkejut ketika dilihatnya dua orang abdi dari Ranakusuman datang ke rumah Ki Dipanala dengan membawa masing-masing seekor kuda. “Raden Juwiring memer intahkan kami menyerahkan kuda- kuda ini” berkata abdi itu kepada Buntal. “Terima kasih” sahut Buntal. Dan iapun sadar bahwa ia memang harus pergi. “Apakah Raden Juwiring ada di istana?“ bertanya Buntal lebih lanjut “Tidak. Raden Juwiring sudah pergi”“Sendir i?“ “Ya, sendiri” “Terima kasih” desis Buntal kemudian. Sepeninggal kedua orang abdi Ranakusuman itu Buntal menjadi semakin gelisah. Tetapi ia memang harus pergi ketepi Bengawan untuk berkelahi. Tetapi yang menjadi persoalan baginya kemudian adalah Arum. Karena itu, maka iapun pergi kepadanya dan bertanya “Apakah kau akan memakai. kain panjang seperti itu?“ “Kenapa?“ “Kita pergi berkuda. Dan kuda yang diberikan kepada kita adalah kuda Ranakusuman yang tegar dan besar. Bukan kuda kita yang agak lebih kecil. Dengan demikian kita akan menjadi lebih gagah. Tetapi yang penting kuda-kuda itu lebih tinggi dan barangkali kita masih harus memperkenalkan dir i” “Jadi bagaimana sebaiknya menurut pertimbanganmu?“ “Bagaimana jika kau berpakaian laki-laki? Selain lebih aman bagimu sendir i, tentu kau tidak akan terlalu menarik perhatian orang di sepanjang jalan” Arum mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya “Kenapa jika aku berkuda dalam pakaian perempuan. Kenapa harus menarik perhatian? Apakah perempuan tidak pantas naik kuda seperti seorang laki-laki?“ “Arum” berkata Buntal “ di dalam keadaan ini sebaiknya kita tidak berbicara tentang sikap kita terhadap persamaan atau perbedaan di antara kita. Tetapi kita berbicara tentang kenyataan. Barangkali kau akan dapat menjawab sendir i, apakah sebaiknya kau berpakaian seperti seorang laki-laki atau tetap dalampakaianmu”Arum tidak menyahut. Kali ini ia harus mengakui kebenaran pendapat Buntal. Karena itu, maka kepalanya hanya terangguk-angguk kecil saja. Dalam pada itu, selagi mereka berbincang, maka merekapun terhenti untuk menganggukkan kepala mereka ketika mereka melihat Ki Dipanala mendatanginya. Sambil tersenyum orang tua itu bertanya “Apakah kalian akan pergi dengan kuda-kuda itu?“ “Ya paman” jawab Buntal. “Kemana?“ Buntal menjadi ragu-ragu sejenak. Ia tidak segera menemukan jawabnya. Apakah ia harus berkata terus terang, atau masih harus merahasiakannya. Buntal tidak tahu apa yang sudah dikatakan oleh Juwiring kepada Ki Dipanala itu. Tetapi Ki Dipanala itupun kemudian tersenyum sambil berkata “Aku sudah mendengar dari Raden Juwir ing. Kalian harus pergi ke pinggir bengawan” “Ya paman” jawab Buntal sambil menundukkan kepalanya. “Memang mendebarkan hati. Tetapi apaboleh buat. Raden Juwiring akan dapat menanggung j ika terjadi akibat apapun” “Ya paman” sahut Buntal. Ki Dipanala memandang Buntal dengan mata yang buram. Sebenarnya ia menjadi kasihan melihat anak-anak muda itu terlibat dalam kekerasan tanpa mereka kehendaki sendir i. Tetapi iapun sadar, bahwa baik Buntal maupun Juwiring adalah anak-anak muda pula sehingga darah merekapun masih cepat mendidih. Karena itu, di samping keseganannya, maka menurut dugaan Ki Dipanala ada juga semacam kebanggaan pada Buntal. Namun ia tahu bahwa murid-murid Danatirta itu mempunyai pengekangan diri yang cukup baik dibandingdengan anak-anak muda sebayanya. Jika terpaksa terjadi sesuatu yang bersifat keras, tentu ada alasan yang cukup kuat telah memaksa mereka untuk melakukannya. “Paman” berkata Buntal kemudian “Aku tidak tahu, apakah yang aku lakukan ini benar atau salah. Tetapi kakang Juwiring telah mengambil sikap. Dan aku harus melakukannya” “Buntal” sahut Ki Dipanala “Raden Juwiring sekarang sudah mendapatkan kedudukannya kembali sebagai putera Pangeran Ranakusuma. Mungkin karena Raden Rudira sudah meninggal, sehingga Pangeran Ranakusuma memer lukan seorang anak laki- laki, tetapi juga mungkin karena Pangeran Ranakusuma telah berhasil menilai dir inya sendiri, dan menganggap apa yang terjadi pada Raden Juwiring itu keliru karena dorongan nafsu ketamakan Raden Ayu Galih Warit. Dengan demikian, maka j ika bangsawan-bangsawan muda itu ingin mencari sandaran kepada ayahanda masing-masing, maka Raden Juwiringpun dapat melakukannya” “Aku mengerti paman” desis Buntal “Tetapi apakah paman tidak akan pergi ke Bengawan” Ki Dipanala mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa Buntal menjadi agak cemas juga. Bukan karena iai harus berkelahi, dan raencemaskan kemampuan lawan- lawannya. Tetapi karena Buntal sendiri merasa sebagai seorang anak padesan. Ia harus menyandarkan nasibnya kepada orang lain jika perselisihan ini kemudian berkembang. “Aku tidak dapat pergi Buntal. Mungkin Pangeran Ranakusuma memerlukan aku. Sekarang aku justru mempunyai banyak pekerjaan. Seolah-olah semua persoalan ditumpahkan kepadaku sejak meninggalnya Raden Rudira” Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling dilihatnya Arumpun tampak menjadi gelisah. “Percayakah persoalan-persoalan yang dapat timbul kepada Raden Juwiring. Jika ia menemui kesulitan, aku akan mencobaiku memikirkannya” berkata Ki Dipanala kemudian, lalu “pergilah. Aku akan kembali ke Ranakusuman” Sejenak kemudian, maka Arum dan Buntalpun telah selesai berkemas. Arum memakai pakaian seorang laki-laki, sehingga dalam sekilas tidak seorangpun yang dapat mengenalnya sebagai seorang gadis. Demikianlah maka keduanyapun kemudian segera pergi kepinggir bengawan seperti yang sudah dijanj ikan. Meskipun Buntal telah siap menghadapi segala kemungkinan, namun hatinya masih berdebar-debar juga. “Kita tidak memer lukan senjata kakang?“ bertanya Arum. “Tidak. Kita tidak akan bertempur mati-matian. Kita hanya akan sekedar memuaskan dir i sendiri dengan perkelahian ini. Kalah atau menang. “Tetapi, bukankah kakang Juwir ing mengatakan bahwa kemampuan kita hanya terbatas, sedang jumlah mereka hampir tidak terbatas. Apakah itu tidak berarti bahwa mereka dapat melakukan sesuatu yang tidak wajar, atau katakanlah agak licik dan curang?“ “Memang mungkin. Tetapi senjata hanya akan membahayakan diri kita sendir i. Tentu kita tidak akan dapat mempergunakan Kita tidak akan dapat melukai seorangpun dari mereka dengan sengaja mempergunakan senjata yang sudah kita persiapkan. Dengan demikian kita akan berhadapan dengan kesulitan yang lebih luas lagi di tempat yang asing ini” Arum mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Buntal, sehingga karena itu, maka iapun tidak bertanya lebih lanjut. Namun demikian di dalam hatinya ia berkata “Kecuali senjata yang dapat kita rampas pada waktu itu. Dengan demikian berarti bahwa kita benar-benar sekedar membela dir i” Ketika Arum kemudian menengadahkan wajahnya, dilihatnya matahari sudah bertengger di ujung Barat. Namunmasih dapat melihat dengan jelas wajah-wajah orang yang berjalan di sepanjang jalan memandangnya dengan heran. Jarang sekali ada orang-orang berkuda di tengah-tengah kota selain para bangsawan muda dan prajurit. Kadang-kadang memang ada para pedagang yang tergesa-gesa menyelesaikan persoalannya. Tetapi tidak anak-anak muda berpakaian petani seperti Buntal dan Arum. -


Jilid 12
NAMUN kedua anak-anak muda itu seakan-akan tidak menghiraukan mereka yang memandanginya sambil bertanya di dalam hati. Mereka maju terus, meskipun tidak terlampau kencang. Ternyata Buntal masih mengenal dengan baik jalan menuju ke pinggir bengawan seperti yang telah dijanj ikan. Meskipun jalan itu kemudian menjadi agak sulit, namun merekapun semakin kuna menjadi semakin dekat dengan bengawan yang berarus deras dan berwarna lumpur. Ketika kuda mereka menuruni tebing yang agak landai dan sampai di atas pasir tepian, maka keduanyapun terkejut. Ternyata mereka melihat tidak saja bangsawan-bangsawan muda yang dijumpainya dan yang telah bertengkar dengan mereka tetapi jumlah itu telah bertambah lagi. “Nah, ternyata yang dikatakan Raden Juwiring itu benar” desis Arum. “Apa boleh buat” sahut Buntal. “Dan kita dapat dilemparkan ke dalambengawan itu”“Apa boleh buat. Tetapi mereka tidak akan melakukannya di hadapan Raden Juwiring, putera Pangeran Ranakusuma, seorang Senapati yang disegani di Surakarta ini” “Dan agaknya kita sudah mulai menyandarkan diri” “Apa boleh buat” Sejenak kemudian kedua ekor kuda itu berjalan di atas pasir tepian. Perlahan-lahan keduanya maju mendekati segerombol bangsawan-bangsawan muda yang sudah menunggu. “Ha, ternyata keduanya datang” berteriak salah seorang dari mereka. “Apakah yang seorang itulah Arum. Nampaknya seperti seorang laki- laki” Seorang bangsawan muda tiba-tiba saja meloncat naik ke punggung kudanya dan menyongsong Buntal. Beberapa langkah di hadapannya ia berteriak “Yang seorang adalah gadis itu. Ia berpakaian seorang laki-laki. Pantas sekali. Justru ia tampak sebagai seorang anak muda yang tampan sekali. Aku justru jatuh cinta kepadanya” Kata-kata itu bagaikan bara yang menyentuh telinga Arum dan Buntal. Tetapi mereka berdua sama sekali tidak menyahut. Mereka masih tetap maju perlahan- lahan. Bangsawan yang seorang, yang meyongsongnya itu masih saja mengitari keduanya sambil bsrteriak “Kita tidak dapat sekedar bermain-main. Agaknya anak ini yakin benar akan dirinya” Arum dan Buntal masih berdiam diri. Mereka mengerutkan kening ketika mereka melihat Raden Juwir ing melangkah maju. Katanya kepada Buntal. “Nah, kemarilah. Kita akan membuat perjanj ian. Perjanjian seorang laki-laki”Bangsawan muda yang berkuda di sebelah Arum itu berkata “Tidak ada yang menyebut aku seorang perempuan. Sedangkan gadis inipun berpakaian seperti laki-laki” “Bukan pakaiannya” jawab Juwiring “Aku tahu bahwa seorang laki-laki dapat saja berbuat seperti perempuan. Tetapi juga sebaliknya, seorang perempuan dapat berbuat seperti seorang laki- laki” “Apa yang dilakukan oleh Laki- laki dan apa yang dilakukan oleh perempuan?“ “Laki-laki akan menghargai kelaki-lakiannya di dalam setiap persoalan. Apa yang dikatakan dilakukannya. Ia yakin akan sikapnya, tetapi tidak mengingkari kenyataan. Ia berani mempertahankan keyakinannya, tetapi berani mengakui kesalahannya apabila hal itu disadarinya” “Dan perempuan?“ “Perempuan kadang-kadang menggantungkan diri kepada laki- laki. Ia pasrah kepada keadaan meskipun kadang-kadang harus mengeluh. Menekan perasaan di dalam dadanya sambil menekan gejolak hati. Tetapi sudah aku katakan, kadang- kadang terdapat kelainan. Dan kalian akan melihat kelainan itu di sini” Bangsawan-bangsawan muda itu memandang Juwir ing dengan heran. Lalu salah seorang di antara mereka bertanya “Apa yang akan kita lihat di sini?“ “Tidak apa-apa. Tetapi marilah kita membuat perjanjian. Perjanjian yang saling kita hormati” sahut Juwiring. “O“ bangsawan muda yang bertubuh kekar itupun maju selangkah “Aku tahu, kau menyangka bahwa kami akan berbuat curang. Itulah yang kau maksud, bahwa kita akan melihat kelainan di sini” “Sokur lah j ika hal itu tidak terjadi”“Kau sudah menghina kami. Dan kami tidak rela membiarkan diri kami mendapat penghinaan semacam itu” “Karena itu kalian harus membukt ikan, bahwa aku keliru” “Persetan, Suruh anak itu turun dari kudanya. Kita akan melihat, siapakah yang curang dan licik” Juwiring mengangguk-angguk sambil menyahut “Ya. Biarlah ia mendekat” Buntal yang sudah ada di dekat segerombol anak-anak muda itupun meloncat turun dari kudanya diikuti oleh Arum. Sekilas mereka masih melihat warna-warna merah yang tersangkut di bibir mega yang bergumpalan menghiasi langit yang jernih. “Cepat katakan” geram bangsawan muda yang bertubuh kekar itu “Apakah yang kita jadikan syarat dari perkelahian ini. Aku sudah tidak sabar lagi” “Kita saling menghormati” sahut Juwiring “yang kalah harus segera menyatakan kekalahannya dan yang menang tidak akan berbuat lebih banyak lagi. Itu agaknya syarat yang paling lunak, tetapi memadai” “Persetan?” desis anak muda yang bertubuh kekar itu, ”selebihnya?“ “Tidak ada. Kita sudah saling mengetahui bahwa jika kita bertanding, kita tidak boleh menggigit dan menggelitik” “Cukup” bentak anak muda yang masih ada di punggung kuda, yang semula menyongsong Buntal dan Arum “Kau menganggap kami seperti kanak-kanak yang baru pandai berjalan” “Bukan maksudku. Tetapi biarlah kita menjadi jelas pada persoalan yang sama-sama kita hadapi. Kita akan menjadi saksi” “Sekarang, kita mulai sekarang” desis anak muda yang lain.“Kita membuat lingkaran. Sebentar lagi matahari akan terbenam. Dan kita harus sudah mulai. Kita akan menguji siapakah yang memiliki indera lebih tajamdi dalam kegelapan” Demikianlah maka anak-anak muda itupun segera membuat sebuah lingkaran. Mereka berdiri di atas pasir yang basah dengan hati yang berdebar-debar. “Cepat, masuk ke dalam arena” berkata salah seorang dari mereka. Bangsawan muda yang bertubuh kekar itupun segera masuk ke dalam lingkaran. Juwiring yang berdir i di pinggir lingkaran itupun kemudian memanggil Buntal “Masuklah. Lawanmu sudah siap. Kita hanya ingin melihat, apakah jika kalian dibiarkan berkelahi, yang sedang memiliki kekuasaan dan kewenangan selalu menang “ “Kau jangan selalu menghina kami” bentak anak muda yang bertubuh kekar itu. Lalu “Kenapa bukan kau saja yang memasuki arena? Kita akan berjanji bahwa kita tidak akan menyeret orang tua kita masing-masing, karena aku tahu bahwa pamanda Ranakusuma adalah seorang Senapati yang terpandang” “Kau dan aku sederajad. Jika kau menganggap dir imu mempunyai hak dan wewenang khusus, melampaui hak dan wewenang anak padesan, maka akupun mempunyainya, sehingga perkelahian di antara kita, siapapun yang menang tidak akan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan kita” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia melihat Juwiring yang lain daripada Juwiring yang rendah hati di padepokan Jati Aking. Juwiring yang ada di pinggir arena itu adalah Juwiring yang agak sombong dan tinggi hati. Tetapi seperti yang sudah dikatakannya, di hadapan anak-anak muda yang bengal itu, maka Juwiringpun harus bersikap serupa. “Cepatlah, jangan ragu-ragu” berkata Juwiring kepada Buntal yang masih berdir i di tempatnya.Buntalpun kemudian melangkah maju mendekati lawannya di arena. Sejenak ia memandang wajah bangsawan muda yang bertubuh kekar. Tubuh yang memiliki kemungkinan yang sangat baik jika bangsawan muda itu mendapat tuntunan yang tepat di dalamolah kanuragan. Karena itu, seperti yang selalu dinasehatkan oleh Kiai Danatirta, Buntal tidak memandang rendah lawannya meskipun menurut Juwiring, anak-anak muda itu hampir tidak pernah menuntut ilmu apapun juga selain berbuat bengal. “Nah, kita akan segera muliai” berkata Juwiring “Mar ilah kita bersama-sama menjadi saksi. Saksi yang jujur atas perkelahian yang bakal terjadi” “Jangan banyak bicara lagi” desis bangsawan yang bertubuh kekar. “Baik. Mulailah” Bangsawan muda yang bertubuh kekar itu mulai bergerak. Dipandanginya Buntal yang mulai samar-samar. Sejenak keduanya bergeser, seakan-akan ingin menemukan kelemahan lawannya. Sepintas Buntal dapat melihat, bahwa lawannya tentu bukannya belum pernah mempelajari olah kanuragan. Sikapnya dan tatapan matanya mengatakan kepadanya, bahwa anak muda yang bertubuh kekar itupun tentu sudah mempelajari ilmu kanuragan. Dengan demikian Buntal menjadi semakin berhati-hati. Apalagi bayangan langit yang semakin buram mengaburkan wajah anak muda yang bertubuh kekar itu. Namun ada juga baiknya bagi Buntal karena yang tampak kemudian adalah semacam bayangan saja yang kehitam-hitaman, sehingga ia tidak melihat perbedaan yang jelas antara anak muda itu dengan orang-orang lain. di dalam gelapnya malam, maka tidak ada lagi bedanya, bayangan seorang bangsawan dan orang kebanyakan.Dalam pada itu, maka sejenak kemudian, terjadilah perkelahian itu. Sekejappun Buntal tidak berbicara sampai pada saatnya ia menghindari serangan yang pertama. Ternyata bahwa bangsawan muda yang bertubuh kekar itu agaknya memang pernah mempelajari ilmu kanuragan. Karena itu, maka untuk beberapa saat ia masih dapat dengan dada tengadah menyerang Buntal yang masih dipengaruhi oleh perasaan segan. Namun dalam serangan-serangan itu, Buntal segera mengetahui bahwa bangsawan muda itu masih belum menguasai benar ilmu yang dipelajarinya. Agaknya selama ini ia hanya membanggakan kekuatan tubuhnya yang kekar itu, sehingga tata geraknya sama sekali tidak menguntungkannya. Meskipun demikian Buntal masih harus berhati-hati. Anak muda itu benar-benar mempunyai kekuatan yang luar biasa. Adalah kebetulan sekali bahwa Buntalpun telah mempelajari ilmunya dengan cara yang berbeda dengan Juwiring, yang lebih banyak menyandarkan juga pada gerak jasmaniahnya, sehingga di dalam saat tertentu, jika terjadi benturan kekuatan, Buntal mampu mengimbangi kekuatan lawannya. Bahkan kadang-kadang Buntal dengan sengaja tidak menghindari serangan anak muda yang bertubuh kekar itu, tetapi membenturnya dengan kekuatannya pula. Meskipun malam menjadi gelap, tetapi keduanya mampu meneruskan perkelahian itu dengan sengitnya. Mereka berganti-ganti menyerang dan bertahan. Silih ungkih, seolah- olah keduanya memiliki ilmu yang seimbang. Tetapi sebenarnya Buntal segera mampu menguasai lawannya apabila ia menghendakinya. Ia memiliki bekal jauh lebih banyak dari anak muda yang bertubuh kekar itu. Apalagi di dalam kelamnya malam ketajaman penglihatannya sangat membantunya. Namun demikian ada sesuatu yang menahannya untuk tidak segera memenangkan perkelahian itu. Ternyata ia mempunyairasa hormat pula kepada para bangsawan. Buntal masih mengharap bahwa j ika ia kemudian menang, maka kemenangannya itu tidak terlampau menyakitkan hati lawannya, yang kebetulan adalah seorang bangsawan. Tetapi agaknya berbeda dengan Arum. Ia dapat melihat kelebihan Buntal seperti juga Juwir ing. Rasa-rasanya ia ingin mendorong anak muda itu agar segera menyelesaikan perkelahian, kemudian dengan demikian mereka akan meyakini kelebihan anak-anak padesan dari para bangsawan. Sementara itu, bangsawan-bangsawan muda yang menyaksikan perkelahian itupun menjadi berdebar-debar. Bagi mereka perkelahian itu adalah perkelahian yang dahsyat sekali, karena mereka melihat keduanya saling mendesak dan kadang-kadang keduanya terdorong surut oleh benturan yang keras. Namun sebenarnyalah bahwa anak muda itu menjadi heran. Kenapa bangsawan muda yang kekar itu tidak segera menguasai lawannya yang sekedar anak padesan. Mereka ingin segera melihat anak Jati Aking itu menyerah, dan kemudian beramai-ramai mereka akan dapat menghinakannya. Apalagi beserta anak muda itu, datang juga Arum meskipun ia mempergunakan pakaian seorang laki- laki. Dalam pada itu, selagi kedua anak-anak muda itu masih saja berkelahi, ternyata ada juga seorang bangsawan muda yang tidak dapat menahan hatinya melihat Arum justru dalam pakaian seorang laki-laki. di dalam gelap, Arum sama sekali tidak menghiraukan lagi orang-orang yang berdir i di seputar arena. Perhatiannya sepenuhnya terpusat kepada perkelahian itu, sehingga karena itu, maka ia berdiri saja tanpa prasangka terhadap bangsawan-bangsawan muda itu. Dan itulah kesalahannya. Setiap kali ia justru mendesak seseorang yang berdiri di sebelahnya, sehingga anak muda itu telah kehilangan kemampuannya untuk mengendalikan dirinya.Hampir di luar sadarnya, bangsawan muda itu menyentuh tubuh Arum. Dan adalah di luar dugaan Arum, bahwa sentuhan-sentuhan di lengan dan punggungnya itu adalah suatu kesengajaan. Ia menyangka bahwa mereka saling mendesak karena perhatian mereka terhadap perkelahian itu. Tetapi tangan itu ternyata semakin jauh merayapi tubuh Arum, sehingga perlahan-lahan Arum mulai memperhatikan tangan itu meskipun ia masih tetap berdiam dir i saja. Akhirnya sampai saatnya, Arumlah yang tidak dapat menahan dirinya. Ketika tangan itu masih saja menjalari tubuhnya, tiba-tiba saja tangan itu telah terpilin keras-keras. Bahkan kemudian tangan itu seakan-akan terangkat di atas bahu Arum yang merendah. Sebuah tarikan yang menghentak telah melemparkan anak muda itu lewat di atas pundak Arum dan terbanting jatuh di atas pasir. Hal itu benar-benar telah mengejutkan. Bangsawan muda yang terbanting jatuh itu terkejut bukan kepalang. Ia menyadari dirinya setelah ia berbaring di atas pasir yang basah. Beberapa orang justru berdiri bingung dan demikian juga Juwiring. Bukan saja mereka yang berdiri di seputar arena, bahkan mereka yang sedang berkelahi itupun terkejut pula sehingga perkelahian itu terhenti karenanya. Bangsawan muda yang terbanting itu tertatih-tatih berdiri sambil menyeringai. Tangannya rasa-rasanya akan patah dan punggungnya bagaikan retak. Meskipun demikian ia masih mencoba untuk mempertahankan harga dirinya Dipaksanya tangannya yang sakit itu untuk bertolak pinggang sambil menggeram. “Perempuan Gila“ Ia mengumpat “Jika kau seorang laki- laki, maka aku patahkan tanganmu” “Cobalah” jawab Arum “Kitalah sekarang yang berkelahi di arena”Juwiring menjadi cemas, sehingga iapun mendekatinya. Tetapi agaknya kemarahan Arum sudah sampai ke puncaknya sehingga tanpa menghiraukan apapun lagi ia melangkah maju sambil berkata “Marilah kita bertindak adil. Persoalan ini adalah persoalanku dengan anak muda yang lancang itu. Sebenarnya kamilah yang harus menyelesaikannya Bukan orang lain. Bukan kakang Buntal dan bukan anak muda yang lain. Tetapi kami yang memang mempunyai persoalan. Kemudian aku telah terpaksa membuka persoalan yang lain. Anak muda inipun agaknya anak muda yang lancang. Setelah perkelahian yang pertama, aku akan melawan orang kedua ini” Bangsawan-bangsawan muda yang berdir i melingkar itu terkejut bukan kepalang. Ternyata gadis ini benar-benar memiliki sesuatu yang dapat dipercaya. Karena itulah maka merekapun menjadi termangu-mangu untuk beberapa saat. Dalam pada itu maka Juwir ingpun kemudian mendekatinya. Dengan hati-hati ia berkata “Sabarlah Arum” “Akulah yang dihinakannya. Dan akulah yang paling berhak membersihkan namaku” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mengenal sifat Arum. Namun demikian ia tidak dapat membiarkan Arum terseret oleh perasaannya. Karena itu maka katanya kemudian “Di dalam persoalan ini, kita mempunyai cara tersendiri, Arum. Dan kita sedang mencoba menempuh jalan yang paling baik bagi kita” “Tetapi tidak paling baik bagiku. Mungkin kakang Buntal dapat memenangkan perkelahian itu, karena seharusnya ia sudah sejak perkelahian itu dimulai, dapat menjatuhkan lawannya. Tetapi agaknya ia merasa segan melakukannya. Tetapi kemenangan kakang Buntal adalah penyelesaian sementara bagiku. Karena apabila aku sedang berjalan sendiri dima-oapun, mungkin akan mereka jumpai, maka akan timbulpersoalan serupa jika aku sendir i tidak mencoba menyelesaikannya” Dada Juwiring menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia harus mencegahnya. Jika Arum tidak dapat mengendalikan diri, maka tingkah lakunya akan dapat menyinggung perasaan anak-anak muda itu sehingga persoalannya akan berkembang semakin luas. Namun dalam pada itu, sebelum Juwiring sempat berkata sesuatu lagi, mereka terkejut oleh suara bernada tinggi dari kegelapan, sehingga serentak mereka berpaling. Yang tampak hanyalah sebuah bayangan kehitam-hitaman yang berjalan mendekati arena itu. “Alangkah bodohnya bangsawan muda di Surakarta ini” berkata bayangan itu. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian Juwiring berdesis “Pamanda Hargasemi” Dan hampir berbareng anak-anak muda yang lainpun berdesis “Pamanda Pangeran Hargasemi” Bayangan itupun menjadi semakin dekat. Dalam keremangan malam tampaklah seorang Pangeran yang masih muda berdiri sambil bertolak pinggang. Terdengar ia tertawa pendek. Lalu katanya pula “Kalian tidak melihat kenyataan yang terjadi di hadapan kalian” Bangsawan muda itupun segera mengerumuninya. Bagi bangsawan muda yang berada di pinggir bengawan itu, Pangeran Hargasemi telah member ikan sesuatu yang rasa- rasanya menyenangkan. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Namun karena sehari-hari Pangeran Hargasemi merupakan kawan bermain yang baik, maka merekapun menyambutnya dengan gembira. Berbeda dengan mereka adalah Juwiring. Meskipun Juwiring tidak terlampau banyak mengenal Pangeran yangmasih muda itu, namun sedikit banyak ia pernah mendengar bahwa Pangeran Hargasemi adalah kawan yang baik bagi anak muda yang bengal itu dan terlebih-lebih lagi Pangeran muda itu adalah sahabat yang sangat dekat dengan kumpeni. Tetapi yang terlebih mendebarkan jantung, Pangeran Hargasemi memiliki ilmu olah kanuragan yang t inggi. Sejenak Pangeran Hargasemi memandang Juwir ing. Lalu katanya “Juwiring sekarang menjadi semakin tampan setelah ia berada di padepokan Jati Aking. Melihat anak-anak padesan itu berkelahi maka kitapun seharusnya dapat mengambil kesimpulan, bahwa Juwiring tentu memiliki ilmu kanuragan padesan yang kasar itu” Juwiring tidak menyahut, meskipun dengan susah payah ia menahan hatinya. Dalam pada itu Buntal dan Arumpun menjadi terheran- heran. Mereka mendengar bagaimana bangsawan-bangsawan muda itu menyebut orang yang baru saja datang itu. Karena itu, mereka masih juga menyadari bahwa mereka tidak dapat berbuat tanpa pertimbangan lebih jauh terhadap seorang Pangeran meskipun masih cukup muda. “Kalian ternyata terlampau dungu” berkata Pangeran Hargasemi itu “Sudah lama aku melihat perkelahian di arena. Aku melihat juga bagaimana gadis itu membanting lawannya dalam sekejap” Pangeran muda itu berhenti sejenak, lalu “seharusnya kalian menyadari bahwa kalian bukanlah lawan mereka. Anak muda yang berkelahi di arena itu sebenarnya sama sekali t idak ber imbang. Anak Jati Aking itu masih menaruh hormat kepada lawannya karena lawannya adalah seorang bangsawan seperti yang dikatakan oleh gadis itu. Dan tidak ada seorangpun di antara kalian yang dapat mengalahkah gadis itu. Nah, siapa yang tidak percaya dapat mencobanya” Tidak seorangpun yang menyahut, sedang Juwiring, Buntal dan Arum masih saja berdir i termangu-mangu.Pangeran Hargasemi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Bagus. Kalian harus menyadari bahwa gadis itu memang memiliki kelebihan. Karena itu, kalian tidak usah mencoba menyentuhnya jika tangan kalian tidak ingin dipatahkannya” tiba-tiba saja Pangeran Hargasemi itu tertawa. Suara tertawanya terdengar aneh dan tanpa disadarinya bulu- bulu kulit Arumpun terasa meremang. “Ah, sudah barang tentu, gadis seperti Arum itu dapat mengadakan sayembara tanding. Siapa yang dapat mengalahkan saudara-saudara seperguruannya termasuk Juwiring, ia akan dapat memilikinya. Atau barangkali sayembaranya akan berbunyi, siapa yang dapat mengalahkan dirinya” “Gila“ Arum menggeram. Juwiring berpaling. Ia mencoba memberi isyarat agar Arum mencoba menahan dir i. Tetapi di dalam kegelapan isyarat itu tidak tertangkap oleh Arum. Pangeran Hargasemi masih tertawa. Katanya “Gadis itu memang agak liar. Tetapi menyenangkan. He, siapa yang jatuh cinta kepadanya?“ Bangsawan- bangsawan muda itu saling berpandangan sejenak. Namun suasananya tiba-tiba telah berubah dengan kehadiran Pangeran Hargasemi. Bahkanketika Pangeran Hargasemi tertawa lebih keras lagi, beberapa orang yang lain telah tertawa pula. “Ayo, siapa yang akan memasuki sayembara tanding? Tidak ada? Jika tidak ada, akulah yang akan memasuki sayembara tanding itu. Dan aku akan memilih lawan yang paling tangguh. Juwiring. Tentu Juwiringlah yang paling sempurna di antara mur id-mur id guru olah kanuragan padesan terpencil itu. Jika aku kalah, aku menyerah meskipun aku akan dilemparkan ke dalam bengawan. Tetapi jika aku menang, aku akan mendapatkan Arum. Nah, jika aku mendapatkannya, kalian, anak-anak muda yang telah bersusah payah berkerumun di sini. tidak usah cemas” Pangeran muda itu tertawa, dan bangsawan muda yang lainpun tertawa riuh. Lalu “Jika ayahnya marah, biarlah aku yang menyelesaikan. Jika ia mempunyai sepasukan cantrik, aku akan meminjam tiga orang kumpeni. Tak ada orang yang dapat melawan kumpeni sekarang. Betapa tinggi ilmunya, jika tubuhnya tersentuh peluru, maka iapun akan mat i” “Cukup” teriak Arum yang tubuhnya menjadi gemetar “Aku akan berkelahi sampai mati” Tetapi Pangeran Hargasemi tertawa “Jangan mati. Aku dapat mengalahkanmu tanpa membunuhmu” Kemarahan Arum tiba-tiba telah membakar ubun-ubunnya. Tetapi dengan demikian mulutnya justru seakan-akan tersumbat karenanya. Dalam pada itu, tanpa disadari, berbareng Juwiring dan Buntal melangkah mendekati Arum. Memang tidak ada cara lain dar i pada mempertahankan kehormatan itu dengan apa saja yang dimilikinya. Termasuk nyawanya. Tetapi Pangeran Hargasemi tidak menghiraukannya. Katanya “Kalian akan menjadi saksi. Dan untuk itu kalian akan mendapat upah daripadaku nanti. Nanti atau besok atau lusa”Suara tertawapun meledaklah di pinggir bengawan itu. Wajah Arum rasa-rasanya seperti tersentuh bara. Oleh kemarahan yang memuncak, maka tubuhnya menjadi gemetar. “Nah, baiklah kalian bertiga berkelahi bersama-sama. Aku tidak berkeberatan” ia berhenti sejenak, lalu “Jika terjadi sesuatu atas kalian, terutama atas Juwiring, maka bukan maksudku menyeret kemarahan Kamas Ranakusuma. Aku tahu bahwa Juwiring menyandarkan diri kepada kamas Pangeran, karena kamas Pangeran adalah seorang Senapati yang berpengaruh. Tetapi pengaruhnya tidak akan dapat menyentuh aku, karena seperti kamas Pangeran, akupun mempunyai sahabat perwira-perwira kumpeni” “Pamanda” berkata Juwiring yang sudah tidak dapat menahan hati lagi “Aku mohon maaf, bahwa jika aku menentang kehendak pamanda, bukan berarti aku menentang kehendak orang tua. Tua dalam pengertian darah, karena agaknya umur pamanda tidak jauh di atas umurku. Tetapi aku terpaksa mencegah pamanda bertindak sewenang-wenang.” Pangeran Hargasemi tertawa. Katanya “Kau memang belum mengenal aku. Aku memiliki kemampuan berkelahi melawan kau bertiga. Bahkan lipat dua sekalipun. Karena itu jangan berusaha mencegah aku” “Pamanda. Apakah demikian contoh yang pamanda berikan kepada kami, anak-anak muda ini” Pangeran yang masih muda itu tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggelepar di sepanjang tepi bengawan. Katanya disela derai tertawanya “Jangan berbicara tentang anak-anak muda, tentang contoh yang baik dan yang buruk. Sekarang marilah kita berbicara dengan jujur. Aku ingin gadis itu. Itu adalah pengakuan yang jujur. Dan anak-anak muda memang harus jujur”“Itukah kejujuran yang pamanda ajarkan kepada kami? Juga seandainya kami ingin mengambil Kangjeng Kiai Plered sekalipun. Karena kami ingin jujur, maka kami harus datang menghadap Kangjeng Susuhunan dan mohon untuk mengambil tombak itu?“ “Jangan banyak bicara lagi. Kau tidak dapat melawan aku dipandang dari segala segi. Derajadku lebih tinggi, karena aku Pangeran. Umurku lebih tua meskipun sedikit, dan ilmuku lebih mantap dari ilmumu. Nah, kau mau apa. Kau tidak dapat berbuat apa-apa. Aku adalah seorang Pangeran” Darah Juwiring tiba-tiba telah mendidih. Meskipun ia menyadari bahwa Pangeran Hargasemi adalah seorang anak muda yang memiliki ilmu yang hampir sempurna, namun ia tidak mempunyai jalan lain. Namun sekali lagi tepian itu diguncang oleh suara tertawa berkepanjangan. Suara itu datang dari sebuah rakit di pinggir bengawan. Rakit yang tiba-tiba saja berada di tempat itu tanpa diketahui kapan datangnya. Kini semua mata tertuju kearah rakit itu. Sebuah pelita minyak terletak di ujungnya. di sebelah pelita itu duduk seseorang sambil memeluk lututnya. Para bangsawan yang ada di tepian bengawan itu menjadi termangu-mangu sejenak. Seolah-olah mereka telah melihat sesuatu yang tidak sewajarnya. Suara tertawa itupun kemudian mereda. Orang yang berada di dalam rakit itu masih duduk sambil memeluk lututnya di sebelah Pelita minyak yang menyala. Pangeran Hargasemi yang merasa dir inya mempunyai kemampuan yang tanpa tanding di antara para bangsawan itupun kemudian melangkah maju. Di dekatinya rakit yang berhenti di pinggir bengawan itu sambil bertanya “Siapakah kau he?”Orang di atas rakit itu masih belum menjawab ”Siapa kau, dan apakah maksudmu mengganggu kami yang sedang bermain-main “ “Maaf Pangeran” jawab orang itu “Bukan maksud kami mengganggu Pangeran yang sedang bermain bersama para bangsawan muda dar i Surakarta ini. Tetapi aku sangat tertarik kepada permainan yang tuan lakukan” “Apakah yang telah menarik perhatianmu?“ “Permainan itu sendiri. Agaknya Pangeran sedang bermain kekuasaan. di sini ada dua orang anak-anak dari padesan. Seorang laki-laki dan seorang perempuan. di antara sekian banyak bangsawan muda, bahkan ada seorang Pangeran yang masih muda pula, tetapi hanya seorang sajalah yang berpihak kepada kedua anak padesan itu. Itulah yang menarik. Menurut pendapatku permainan itu kurang adil. Bagaimana jika jumlah para bangsawan yang ada itu dibagi. Kemudian beradu binten. Atau bantingan di atas pasir” “Siapa kau he? Apa kepentinganmu dengan permainan kami ini?“ “Tidak apa-apa. Tetapi sama sekali t idak adil” “Kau salah. Kami tidak bersama-sama bermain melawan kedua anak-anak padesan itu. Justru aku mempersilahkan mereka untuk melawan aku bertiga. Nah, kau dengar”“O, begitu. Sayang sekali. Seharusnya Pangeran tidak usah menakut-nakuti mereka dengan kedudukan Pangeran. Mungkin salah seorang dari mereka akan dapat mengalahkan Pangeran. Tetapi sudah barang tentu mereka akan segan melakukannya, karena mereka takut akan akibatnya. Apalagi Pangeran Hargasemi adalah seorang Pangeran yang bersedia duduk di bawah atas kaki orang-orang asing itu, sehingga dengan demikian Pangeran akan segera mendapat bantuan mereka apabila diperlukan. Bahkan menghadapi Pangeran Ranakusuma sekalipun, meskipun Pangeran Ranakusuma juga seorang Pangeran yang bersedia bekerja bersama dengan kumpeni. Maksudku, Pangeran Ranakusuma. Bukan Raden Juwiring” Pangeran Hargasemi benar-benar menjadi bingung menghadapi persoalan itu. Seakan-akan orang yang duduk di atas rakit itu telah mengenal mereka seorang demi seorang. Karena itu, maka hatinya menjadi semakin terbakar. Katanya “Jangan banyak bicara. Jika kau ingin ikut serta dalam permainan ini, cepat, turun dari rakitmu” Orang itupun tiba-tiba berdiri. Sekali loncat ia sudah berada di atas pasir. Dikibaskannya kainnya yang semula diselubungkannya di atas punggungnya. Namun orang itu masih saja mengenakan tudung-kepala bambunya yang dianyamruncing. “Gila, kau akan melawan seorang Pangeran? Meskipun kau mempunyai nyawa rangkap tujuh, tetapi kau akan menyesal” geramPangeran Hargasemi. “Jangankan seorang Pangeran. Seorang Rajapun wajib dilawan j ika ia berbuat salah dan apalagi sewenang-wenang” “Persetan. Aku akan membunuhmu dan melemparkan mayatmu ke dalambengawan” “Aku hidup di bengawan, dan mencari penghidupan dibengawan itu pula. Aku adalah tukang satang yangmendapat upah karena menyeberangkan orang lain yang ingin melintasi bengawan. Jika aku kemudian mati dibengawan itu pula, artinya aku sudah bersatu dengan bengawan itu” “Persetan” bentak Pangeran Hargasemi “bersiaplah” “Baik Pangeran. Aku sudah siap” Pangeran Hargasemi yang marah sama sekali tidak dapat mengendalikan dir inya lagi. Sebagai seorang anak muda yang berilmu, maka iapun t idak ragu-ragu lagi menghadapi lawannya, seorang tukang satang. Karena itu, maka iapun segera meloncat menyerang tukang satang yang telah berani mengganggunya itu. Namun Pangeran Hargasemi itu terkejut bukan buatan. Serangan yang dilambar i dengan kemarahan yang meluap itu sama sekali tidak berhasil menyentuh lawannya. Bahkan hampir tanpa diketahuinya, lawannya telah beringsut di sisinya sambil berkata “Ilmu Pangeran memang dahsyat sekali. Pantas Pangeran berani menantang anak-anak itu untuk melawan bertiga” “Tutup mulutmu” Pangeran Hargasemi berteriak. Tetapi orang itu justru tertawa sambil berkata “Jangan marah. Aku berkata sebenarnya. Kau memang memiliki kemampuan yang luar biasa dibanding dengan usia Pangeran yang muda itu” Pangeran Hargasemi tidak menjawab. Tetapi ia menyerang semakin dahsyat. Namun serangannya itu bagaikan sia-sia saja. Malam yang gelap itu seakan-akan menjadi semakin gelap, sehingga kadang-kadang ia telah kehilangan lawannya. Dan tiba-tiba saja lawannya itu telah berada di belakangnya atau di sampingnya sambil tertawa pendek.Sikap itu benar menyakitkan hatinya. Kemarahan yang melonjak- lonjak di dadanya membuat Pangeran Hargasemi semakin kehilangan pengendalian dir i. Namun demikian, ia sama sekali tidak berdaya menghadapi lawannya. Seorang tukang satang. Para bangsawan yang memperhatikan perkelahian itu menjadi termangu-mangu. Merekapun menyadari, bahwa Pangeran Hargasemi tidak mampu mengimbangi lawnnya. Sekali-sekali mereka terpaksa menahan nafas jika mereka melihat Pangeran Hargasemi kehilangan lawannya. Namun dengan sangat terperanjat meloncat memutar tubuhnya ketika ia sadar bahwa lawannya sudah berada di belakangnya. Semakin lama semakin ternyata bahwa Pangeran Hargasemi bukan lawan orang yang menyebut dirinya tukang satang itu. Nafas Pangeran muda itu menjadi terengah-engah dan bahkan rasa-rasanya telah terputus di kerongkongan. Sedang orang yang menyebut dirinya tukang satang itu masih tetap segar dan sekali-sekali masih terdengar suara tertawanya. “Nah” katanya kemudian “Apakah Pangeran masih akan bermain lebih lama lagi?“ “Persetan” geram Pangeran Hargasemi disela-sela nafasnya yang hampir terputus. “Aku rasa permainan kita sudah cukup lama. Karena itu, sebaiknya kita mengakhir inya saja” berkata tukang satang itu kemudian “Tetapi dengan syarat. Jangan ganggu anak-anak Jati Aking itu. Kedua anak padesan yang kau anggap tidak berharga, bahkan dapat dihinakan seperti yang sudah kau lakukan, dan yang seorang adalah kemanakanmu sendir i. Raden Juwiring. Jika kau berjanji, aku tidak akan berbuat apa- apa” “Gila, itu urusanku” “Berjanjilah dengan janji jantan”“Itu urusanku” “Bukankah kau telah berjanj i akan berlaku sebagai seorang laki- laki? Seorang laki-laki akan mengakui kenyataan yang dihadapinya. Jika ia kalah, ia akan mengaku kalah” “Bukan aku yang berjanji” “Baik” geram tukang satang “Jika demikian, kau akan aku singkirkan dari tepian ini. Aku akan mengikatmu di atas rakit dan menghanyutkannya. Aku tidak tahu, apakah kau akan terbawa oleh arus bengawan itu sampai ke laut” “Gila” “Berjanjilah” “Aku tidak peduli” Dan sebelum mulutnya terkatup rapat, maka tiba-tiba saja rasa-rasanya tangannya akan patah terpilin. Sambil menyeringai Pangeran Hargasemi mencoba untuk melepaskan diri. Namun rasa-rasanya himpitan tangan itu justru menjadi semakin kuat, bagaikan akan meremukkan tulang. “Pangeran, berjanjilah bahwa Pangeran tidak akan mengganggu anak-anak Jati Aking itu” “Siapa kau? Siapa kau he?“ bertanya Pangeran Hargasemi. “Siapapun aku, tetapi berjanjilah” “Katakan, siapa kau” suaranya terputus oleh himpitan rasa sakit. “Sudah aku katakan, siapa aku tidak penting. Yang penting harus berjanji” Pangeran Hargasemi tidak dapat menahan rasa sakit di tangannya. Karena itu, maka betapapun beratnya ia akhirnya berkata “Karena kegilaanmu saja maka aku terpaksa memenuhinya”“Terima kasih. Apapun alasannya. Aku percaya bahwa kata- kata yang Pangeran ucapkan ini adalah kata-kata seorang laki- laki. Ter lebih- lebih lagi kata-kata seorang kesatria” Perlahan-lahan tangan yang terpilin itupun dilepaskannya. Dan sambil menyeringai Pangeran Hargasemi memij it tangannya yang kesakitan itu. Namun tiba-tiba ia berkata “He tukang satang. Apakah kau sangka bahwa kau dapat melawan kami semuanya?“ Tukang satang itu terkejut. Dengan heran ia bertanya “Apakah maksud Pangeran?“ “Aku dapat memerintahkan kemanakanku untuk mengepung dan menangkapmu” “Itu tidak mungkin. Itu tidak jantan” “Aku tidak peduli. Tetapi kau harus ditangkap karena kau berani melawan seorang Pangeran yang berkuasa di Surakarta ini” Tukang satang itu termangu-mangu sejenak. Lalu “Jadi, maksud Pangeran, Pangeran akan ingkar janji” “Jika per lu. Untuk menegakkan kedamaian di Surakarta” Sejenak tukang satang itu berdiam dir i. Namun kemudian “Suatu masa yang suram benar-benar telah melanda Surakarta. Seorang bangsawan tertinggi di Surakarta sudah tidak memenuhi janj inya. Ini adalah pertanda yang buruk bagi kerajaan yang sudah rapuh ini. Sebentar lagi pasar akan kehilangan gemanya, dan telaga akan kehilangan mata airnya. Surakarta akan menjadi suatu kerajaan yang miskin. Bukan miskin harta benda karena justru akan datang berlimpah, tetapi miskin harga diri, terutama harga dir i sebagai suatu bangsa”Kata-kata itu terasa menyentuh hati para bangsawan itu. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun yang sejenak itu telah membuat setiap dada rasa-rasanya menggelepar. Tetapi ternyata bahwa Pangeran Hargasemi sama sekali tidak mau mendengar kata-kata di sudut hatinya yang paling dalam. Bahkan ia berteriak “Aku akan menyeretmu menghadap kumpeni yang akan menyuapimu dengan peluru. Meskipun kau mempunyai aji tameng waja-sekalipun, kau tidak akan dapat menghindarkan diri dari maut ” Tetapi tukang patang itu menggeleng. Katanya “Tidak. Peluru bagiku tidak lebih berbahaya dari sebilah keris yang baik. Ujung peluru t idak akan mampu melubangi tudung kepalaku yang terbuat dari bambu ini. Tetapi keris yang baik, atau tombak Kiai Baru misalnya, akan dapat menyobek kulitku” Pangeran Hargasemi termangu-mangu sejenak. Dan tukang satang itu berkata lagi “Pangeran. Aku menjadi heran. Pangeran adalah seorang yang berilmu. Seharusnya Pangeran mengetahui, bahwa kita tidak perlu merasa dir i kita kecil menghadapi peluru. Seharusnya Pangeran mengetahui bahwa kita dapat melindungi diri kita terhadap keganasan peluru itu” Sejenak Pangeran Hargasemi terdiam. Sekilas terbayang kekuatan-kekuatan gaib yang pernah dimiliki oleh para bangsawan di Surakarta. Para prajurit dan penghuni-penghuni padepokan yang tersebar. Meskipun mereka tidak kebal sekalipun, namun mereka mempunyai kemampuan untuk melawan peluru. Kecepatan tangan mereka melontarkan pisau-pisau kecil dan ketepatan bidik mereka, sama sekali tidak kalah dari ketangkasan peluru kumpeni. Tetapi ketika ia menyadari, bahwa ia berdir i di antara para bangsawan muda, dan ketika ia menyadari kekalahannya melawan tukang satang itu, kemarahannya telah membakar jantungnya kembali. Dan sekali lagi ia berteriak “Tangkap tukang satang itu”Para bangsawan muda itu menjadi ragu-ragu. Mereka menyadari bahwa tukang satang itu memiliki ilmu yang luar biasa, sehingga untuk menangkapnya bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Namun terdengar sekali lagi perintah Pangeran Hargasemi “Tangkap orang itu. Aku akan melumpuhkannya, sementara kalian mengepung agar ia tidak dapat lari. Kalian dapat menyerang dari segala arah, dan kemudian menangkap dan menyeretnya, agar tidak menjadi kebiasaan tukang satang untuk menentang para bangsawan” Sekilas tampak tukang satang itu berdiri seakan-akan membeku. Namun kemudian ia berkata “Jangan memaksa aku melakukan per lawanan. Kalian harus menyadari, bahwa kalian adalah anak-anak ingusan yang merasa dirinya mampu melangkahi gunung Kelut. Jika aku terpaksa berkelahi melawan kalian, maka anak-anak Jati Aking itu tentu akan berpihak kepadaku. Kami berempat akan membuat kalian tidak dapat bangkit lagi sampai matahari terbit besok dan membiarkan kalian terbaring di tepian ini” “Kalian akan digantung karena perbuatan itu” desis seorang bangsawan yang bertubuh kecil. “Kalian tidak akan dapat menemukan aku” “Kami akan menangkap semua tukang satang di Surakarta” Tukang satang itu tertawa. Katanya “Kalian tentu tidak akan dapat menemukan aku. Mungkin rakitku. Tetapi sesudah ini untuk beberapa lamanya aku tidak akan turun ke bengawan. Aku akan menghindari penangkapan yang memang mungkin saja kalian lakukan” “Gila. Kau mengorbankan kawan-kawanmu untuk keselamatanmu” “Bukan maksudku. Tetapi jika demikian, kalianlah yang bertindak sewenang-wenang”Pangeran Hargasemi termenung sejenak. Namun kemudian katanya “Dan kau akan mati kelaparan karena kau tidak mendapatkan nafkah untuk waktu yang panjang, karena setiap kali kami akan mencarimu” “Ada beberapa alasan. Pangeran tidak mengenal aku dengan baik. Ada berpuluh-puluh orang tukang satang yang berpakaian seperti aku. Kemudian, aku tidak akan kelaparan meskipun aku tidak turun ke bengawan untuk waktu yang lama, karena aku juga seorang petani yang dapat hidup dari hasil sawahku. Apakah dengan demikian Pangeran juga akan menangkap semua petani di Surakarta? Atau barangkali di daerah yang lebih sempit, aku adalah petani dari Sukawati” Pengakuan itu bagaikan guruh yang meledak di atas tepian. Anak-anak dari Jati Aking itu terkejut bukan buatan. Mereka sudah pernah mengenal petani dari Sukawati. Tetapi tiba-tiba saja di malam hari mereka sama sekali t idak dapat mengenalnya. Karena itu maka merekapun segera mencoba untuk mengamatinya di dalam gelapnya malam. Tetapi, rasa-rasanya orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati ini memang agak lain. Orang ini agaknya lebih pendek sedikit dari orang yang dikenalnya bernama petani dari Sukawati itu. “Tudung kepalanya yang tinggi itulah barangkali yang membuat ia agak lain. Biasanya ia memakai caping yang rendah” berkata Juwir ing di dalamhatinya. Namun dalam pada itu bukan saja ketiga anak-anak Jati Aking itu yang terkejut mendengar pengakuan tukang satang yang menyebut dirinya juga sebagai petani dari Sukawati. Beberapa orang di antara mereka pernah mendengar nama itu. Pernah mendengar seseorang menyebut dirinya petani dari Sukawati tanpa menyebut nama sebenarnya. Rudira yang pertama-tama menjumpainya pernah berceritera kepada saudara-saudaranya tentang orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu.Karena itu, maka dada mereka menjadi semakin berdebaran. Pangeran Hargasemi yang merasa dirinya paling tua di antara para bangsawan kemanakannya itupun berdiri termangu-mangu untuk beberapa lamanya. “Nah Pangeran” berkata petani dari Sukawati “Pangeran dapat menangkap semua petani dari Sukawati. Tetapi kami adalah rakyat yang tinggal di dalam daerah kalenggahan Pangeran Mangkubumi. Karena itulah maka setiap tindakan terhadap kami, para petani dari Sukawati, Pangeran harus mempersoalkannya lebih dahulu dengan Pangeran Mangkubumi” Pangeran Hargasemi masih tetap berdiam diri. Ia menjadi bingung menghadapi keadaan yang tidak terduga-duga itu. Karena itu, maka untuk beberapa lamanya ia berdiri saja seperti patung. Dalam pada itu, terdengar tukang satang yang juga menyebut dirinya petani dari Sukawati itu berkata “Sudahlah Pangeran. Kita hentikan persoalan ini sampai di sini. Biarlah anak-anak Jati Aking itu pergi tanpa diganggu dan tanpa mengganggu Pangeran dan para bangsawan-bangsawan muda yang lain. Akupun akan minta diri. Mudah-mudahan Pangeran tidak membuka persoalan dengan kakanda Pangeran, yang mempunyai kalenggahan di daerah Sukawati itu. Jika Pangeran berurusan dengan Pangeran Mangkubumi, maka Pangeran agaknya akan menyesal, karena Pangeran sudah mengetahui sikap dan pendirian Pangeran Mangkubumi” Pangeran Hargasemi sama sekali tidak menjawab. Dan orang itu berkata kepada Juwiring “Nah Raden Juwir ing. Bawalah kedua anak itu kembali. Udara malam di pinggir bengawan ini agaknya kurang baik bagi mereka dan bagi Raden Juwiring sendiri” Juwiring menjadi ragu-ragu sejenak. Namun orang itu berkata “Silahkan. Akupun akan pergi dari tempat ini. Mungkinmalam ini aku masih menemukan satu dua orang kemalaman yang akan menyeberang” Juwiring yang termangu-mangu itupun kemudian menjawab “Ter ima kasih” Orang itu tertawa. Katanya “Selamat malam” Lalu kepada Pangeran Hargasemi ia berkata “Ingat, jangan ganggu lagi anak-anak itu. Selamat malam” Tukang satang itupun kemudian melangkah surut beberapa langkah. Kemudian iapun meloncat dan ber lari di tepian yang basah kembali kerakitnya. Namun beberapa langkah kemudian ia berhenti sebelum ia meloncat ke atas rakitnya. Sejenak ia termangu-mangu. Lalu sambil berpaling ke dalam kegelapan ia berkata “He, kenapa kau berada di situ?“ Semua orang yang melihatnya berpaling pula kearah pandangan mata tukang satang itu. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu. “Baiklah” berkata tukang-satang itu “Aku akan pergi lebih dahulu” Tukang satang yang juga menyebut dirinya petani dari Sukawati itupun kemudian meloncat ke atas rakit. Demikian lincahnya, sehingga rakit yang berada di atas air itu seakan- akan sama sekali tidak terguncang oleh loncatannya. Bahkan lampu minyak yang berada di atas rakit itupun masih tetap menyala berkeredipan di dalam gelap. Sepercik cahayanya yang jatuh di atas air bengawan yang berwarna lumpur itu memantul kekemerah-merahan. Dalam pada itu, ketika tukang satang itu sudah berada di atas rakitnya, Pangeran Hargasemipun mengumpat sambil bergeremang “Gila. Orang gila” Lalu tiba-tiba katanya kepada Juwiring “Kau sangka aku akan melepaskan kalian pergi. Meskipun tukang satang itu akan kembali, namun kami akan menangkap kalian bertiga. Aku akan menyelesaikannya dengan kamas Ranakusuma. Agaknya kau merasa bahwaSenapati perang seperti kamas Ranakusuma itu akan dapat membebaskan kau dari kesalahanmu kali ini” Raden Juwiring termangu-mangu. Tanpa sesadarnya ia memandang tukang satang yang masih ada di atas getek di tepi bengawan. “Kau mengharap bantuannya? Aku tidak peduli siapakah petani dari Sukawati itu. Namanya sesaat dapat mempesona kami. Tetapi jika ia turun lagi ke tepian, kami akan menangkapnya juga” “Gila” berkata Juwiring di dalam hatinya “Pamanda Hargasemi memang licik sekali” “Nah, daripada kau harus mengalami nasib yang jelek. Menyerahlah” Tetapi Juwiring, Buntal dan Arum justru mempersiapkan dirinya menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi. Dalam pada itu, terdengar suara tukang satang dari. atas rakitnya “Jadi kalian tidak mau mendengar kata-kataku?“ “Persetan“ Tukang satang itu masih berdiri tegak di dekat lampu minyak yang berkeredipan disentuh angin. Namun sebelum ia berkata sesuatu, sekali lagi para bangsawan itu terkejut. Mereka melihat seseorang melangkah mendekat. di dalam gelap, mereka hanya melihat sebuah bayangan yang kehitam- hitaman. “Kalian benar-benar licik dan pengecut” berkata bayangan itu. “Siapa lagi kau?“ bertanya Pangeran Hargasemi “ternyata kalian datang bukan seorang diri. Dan kalianpun akan digantung di alun-alun. Semuanya. He, apakah masih ada yang bersembunyi?“ “Tidak pamanda. Tidak ada yang bersembunyi”“O, siapa kau?“ Bayangan itu mendekat. Beberapa langkah di hadapan Pangeran Hargasemi ia berhenti dan berkata “Apakah pamanda tidak mengenal aku lagi?“ Sejenak Pangeran Hargasemi memandang orang itu dengan saksama. Tetapi malam menjadi bertambah gelap. Karena itu ia tidak segera mengenalnya. “Seharusnya pamanda tidak lupa kepadaku. Bukankah belum terlalu lama aku meninggalkan Surakarta. Barangkali adimas Juwiring lebih lama berada di Jati Aking dar ipada aku” “Siapa kau, siapa?“ “Said. Apakah pamanda mengenal nama itu” “He“ jantung Pangeran Hargasemi seakan-akan berhenti berdetak. Lamat-lamat ia mendengar tukang satang itu tertawa. Tetapi kini hatinya dicengkam oleh orang yang berdiri dihadapannya itu. “Apakah pamanda mengenal aku” “Said, Said” suara itu terdengar bergetar. Dan tiba-tiba saja ia menjadi pucat, seperti bangsawan-bangsawan yang lain.“Maaf pamanda, bahwa aku tiba-tiba saja telah mengganggu. Adalah kebetulan saja aku berada di tempat ini” Pangeran Hargasemi tidak segera menjawab. Dipandanginya bayangan itu dengan saksama. Dan sebenarnyalah bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Raden Mas Said. “Pamanda” berkata Raden Mas Said “permainan pamanda benar-benar mengerikan. Apalagi pamanda sudah mendapat peringatan dari pamanda. eh, maksudku tukang satang itu” “Kau kenal tukang satang itu?“ bertanya Pangeran Hargasemi. “Tidak pamanda. Tetapi siapapun orang itu, namun ia bersikap jantan. Dan pamanda harus menghargainya” “Tetapi, tetapi apa sangkut pautmu dengan permainanku ini?“ “Permainan yang menyangkut nama baik kita semua. Sikap pamanda tidak mencerminkan sikap seorang bangsawan yang baik. Karena itu, seharusnya pamanda tidak melakukannya” Pangeran Hargasemi menggeram. Katanya “Said, kau ternyata telah berkhianat terhadap Surakarta. Jika kehadiranmu di sini diketahui oleh kumpeni, maka kau akan ditembak mati tanpa ampun” “Jika mereka dapat melakukan, tentu sudah mereka lakukan” “Kau licik sekali. Tetapi bukankah kau sudah berjanji kepada kamas Pangeran Mangkubumi untuk tidak membuat kerusuhan lagi?“ “Ya. Aku sudah menyatakan kepada pamanda Pangeran Mangkubumi. Pamanda Pangeran Mangkubumi adalah orang yang sempurna bagiku. Ia seorang yang menjunjung tinggi perikemanusiaan. Dari sudut itulah terutama pandanganPangeran Mangkubumi, kenapa ia menghentikan pemberontakanku. Pangeran Mangkubumi melihat korban semakin berjatuhan di kedua belah pihak, sedang tujuanku rasa-rasanya masih sangat jauh. Tetapi sudah barang tentu bukan maksud pamanda Mangkubumi menentang cita-citaku. Dan itu aku pahami, karena sebenarnya Pangeran Mangkubumi juga mempunyai pendirian yang sama. Tetapi karena kematangannya berpikir, maka perhitungannya jauh lebih cermat dari padaku. Dan itu aku akui” Raden Mas Said berhenti sejenak, lalu “Tetapi jika aku berjanji kepada pamanda Pangeran untuk menghentikan gerakanku untuk sementara, bukan berarti aku harus membiarkan pamanda Pangeran Hargasemi untuk berbuat sewenang-wenang, karena aku tahu, bahwa pamanda Pangeran Mangkubumipun membenci tingkah laku yang demikian” “Bohong. Jika kamas Pangeran Mangkubumi melihat kau ada di sini, maka kau akan ditangkapnya. Kau tidak akan dapat menghindari tangannya yang bagaikan memiliki kemampuan seribu pasang tangan” “Dan pamanda memiliki aji pameling dan penggendam. Jika pamanda menghendaki, pamanda dapat menangkap aku sekarang. Tetapi tidak. Dan aku yakin, pamanda Pangeran Mangkubumi mengetahui, bahwa aku ada di sini. Nah, sekarang sebaiknya pamanda Pangeran Hargasemi membiarkan adimas Juwir ing dan kedua anak-anak muda Jati Aking itu meninggalkan arena permainan pamanda yang memuakkan ini. Berbeda dengan pamanda Pangeran Mangkubumi, aku adalah seorang yang kasar dan barangkali pamanda Pangeran Hargasemi akan menyebutku liar. Tetapi tidak apa. Pamanda Pangeran Mangkubumi akan berbuat dengan bijaksana. Tetapi mungkin aku akan berbuat lain. Aku akan mematahkan lengan pamanda Hargasemi dan barangkali melemparkan salah seorang dari kamas atau dimas yang ada di sini ke dalambengawan”Ancaman itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Pangeran Hargasemi yang merasa dirinya mumpuni itupun tiba-tiba telah menjadi gemetar. Raden Mas Said memang dapat berbuat apa saja seperti yang dikatakan. Apalagi apabila di dalam gelapnya malam, di balik pepohonan di pinggir bengawan itu bersembunyi orang-orangnya. Meskipun menurut penglihatan sehari-hari Raden Mas Said sudah tidak berbuat apa-apa lagi, tetapi ternyata pada suatu saat ia masih mungkin melakukan suatu tindakan yang berbahaya. “Pamanda Pangeran” berkata Raden Mas Said “Aku tahu benar, siapakah pamanda ini. Pamanda adalah sahabat kumpeni yang paling baik. Karena itu, sebenarnya bagi aku, adalah cukup alasan untuk melemparkan pamanda ke dalam bengawan. Tetapi sebaiknya aku mengingat pesan pamanda Mangkubumi, bahwa masih dicar i jalan yang lebih baik untuk mengungkat harga diri kita sebagai bangsa di mata orang asing itu. Dan aku sebaiknya tidak berbuat sesuatu yang merugikan usaha pamanda Pangeran Mangkubumi. Tetapi jika usaha itu gagal, Pangeran Mangkubumi yang berwatak air dan api itu, akan dapat bertindak dengan dahsyat sekali. Air adalah kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, demikian juga api. Tetapi jika air itu datang bagaikan banjir bandang, dan api menyambar bagaikan lidah langit yang menyala, maka manusia adalah mahluk yang sangat lemah menghadapinya” Kata-kata itu benar-benar telah melumpuhkan hati bangsawan-bangsawan muda yang ada di pinggir bengawan itu. Bahkan Pangeran Hargasemipun sama sekali tidak berdaya menghadapi ancaman itu. Maka iapun kemudian menundukkan kepalanya dengan lesu. “Sudahlah paman” berkata Raden Mas Said ”aku tidak dapat terlalu lama bersada di sini. Tetapi biarlah aku menyaksikan adimas Juwiring meninggalkan tempat ini bersama kedua anak-anak muda dari Jati Aking itu” lalukatanya kepada Juwiring “tinggalkan tempat ini adimas. Bawalah Buntal dan Arumbersamamu” Juwiring mengerutkan keningnya. Ternyata Raden Mas Said itu mengenal nama Buntal dan Arum. Tetapi Juwir ing tidak sempat bertanya. Karena Said berkata “Cepat, sebelum ada sikap yang dapat membakar dadaku, dan membuat aku kehilangan kekang atas diriku sendiri menghadapi bangsawan- bangsawan cengeng itu” Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Terima kasih kamas. Aku minta dir i” “Kembalilah kepada pamanda Ranakusuma. Katakan kepada pamanda Ranakusuma, apa yang kau lihat di sini. Bukan maksudku menentang pamanda Ranakusuma, Senapati yang sulit dicari tandingnya di peperangan. Tetapi sekedar mohon agar pamanda Ranakusuma menjadi lebih mengerti menghadapi pengkhianat-pengkhianat seperti aku ini” Juwiring menjadi berdebar-debar. “Pergilah adimas. Mudah-mudahan kau menjadi sumber kesadaran pamanda Ranakusuma, bahwa sebenarnyalah ia sebangsa dengan aku dan dengan pamanda Pangeran Mangkubumi. Meskipun ia seorang Senapati yang pilih tanding, tetapi aku masih berharap bahwa pada suatu saat pamanda Ranakusuma menyadari kediriannya” Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku akan mencoba kamas” ”Nah, pergilah” Juwiringpun kemudian berpaling kepada Buntal dan Arum yang menghayati peristiwa itu dengan hati yang tersentak- sentak. “Marilah kita pergi”Buntal dan Arum tidak menyahut. Namun hampir di luar sadarnya mereka berpaling memandang ketepi bengawan. Ternyata rakit yang semula berada di situ dengan sebuah lampu minyak dan tukang satang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu sudah t idak ada di tempatnya. “Rakit itu sudah t idak ada” desis Arum. “Ya” jawab Buntal sambil meloncat ke punggung kudanya. Sejenak kemudian ketiga ekor kuda itupun berderap meninggalkan tepian yang basah itu dengan kesan yang aneh di hati ketiga anak-anak muda itu. “Ternyata di perut kota Surakarta ini tersimpan berbagai macam isi” desis Arum. “Kau baru melihat sebagian” sahut Juwir ing. “Apalagi yang penting?“ “Andrawina, kembul dahar dan semacamnya di samping kemelaratan dan ketakutan. Tetapi juga perjuangan dan usaha yang tidak henti-hentinya seperti yang baru saja kita lihat” “Ya. Aku telah salah duga terhadap Surakarta” berkata Arum “ternyata Surakarta bukan sebuah, lumbung orang- orang yang pasrah, pengecut dan tamak. Ternyata di sini ada anak-anak muda yang terjaga seperti Raden Mas Said” “Dengan demikian kita masih mempunyai harapan. Juga terhadap petani dari Sukawati itu” “Petani yang aneh” desis Buntal “Apakah keadaan semacam itulah yang dapat disebut seseorang mampu mencela putra mandala puteri?“ “Mungkin. Tetapi petani dar i Sukawati itu memang menyimpan seribu kemungkinan”Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih berdesis “Apa yang kita lihat sekarang atas petani dari Sukawati itu ternyata berlainan dengan yang pernah kita lihat sebelumnya, dan mungkin sekali akan berbeda dengan yang akan kita lihat kemudian” “Tetapi orang-orang yang memiliki ketajaman pandangan akan dapat mengenalnya. Tentu kamas Said dapat mengenalnya pula” “Agaknya memang demikian. Tetapi apakah Pangeran Hargasemi tidak dapat mengenalnya?“ “Mungkin ia sama sekali tidak menduga, sehingga ia tidak menghubungkan petani dar i Sukawati, yang datang sebagai tukang satang itu dengan pamanda Pangeran Mangkubumi” Buntal mengangguk-angguk. Kekagumannya kepada para pemimpin yang sebenarnya masih tetap bersikap, menjadi semakin besar. Meskipun agaknya untuk beberapa langkah di permulaan itu petani dari Sukawati dan Raden Mas Said tidak sejalan, tetapi agaknya mereka mempunyai arah yang sama. Dan seperti dikatakan oleh Raden Mas Said sendir i, Pangeran Mangkubumi mempunyai pertimbangan yang lebih matang dari pertimbangan seorang anak muda. Demikianlah merekapun kemudian saling berdiam diri dalam cengkaman angan-angan masing-masing, sementara kuda-kuda mereka berlari- lari kecil di jalan kota yang mulai sepi. Lampu- lampu minyak berkeredipan di sudut-sudut jalan menerangi kota yang menjadi suram. Sementara itu, di tepi bengawan, Pangeran Hargasemi dan para bangsawan yang lainpun segera bersiap-siap meninggalkan tempat itu. Mereka dengan hati yang berdebar- debar melihat Raden Mas Said meninggalkan mereka. “Tukang satang itu sudah pergi” katanya sambil berpaling “Tetapi jangan sangka bahwa kau dapat melepaskan diri dari pengawasannya. Petani dari Sukawati itu adalah orang yangdapat melihat apa yang ingin dilihatnya. Ia tidak terkekang oleh batas dan tempat” Dada Pangeran Hargasemi dan kemanakan-kemanakannya menjadi semakin berdebaran. Tetapi mereka sama sekali tidak menyahut. Baru ketika Raden Mas Said hilang dari tatapan mata mereka, maka Pangeran Hargasemipun segera pergi ke kudanya yang diikat agak jauh dari tempat itu. Para bangsawan yang lainpun setelah mengambil kuda masing- masing segera mengikutinya. “Aku tidak tahu, siapakah yang curang” geram Pangeran Hargasemi untuk melontarkan kekecilan diri “Said atau kamas Mangkubumi. Menurut keterangan kamas Mangkubumi, Said dan pengikut-pengikutnya sudah tidak akan mengganggu Surakarta lagi” Salah seorang bangsawan muda yang mengikut i Pangeran Hargasemi itu berdesis “Apakah petani dari Sukawati itu dapat diserahkan saja kepada pamanda Pangeran Mangkubumi?“ “Bodoh kau” bentak Pangeran Hargasemi yang sedang kecewa itu “Kamas Pangeran tentu akan melindunginya seandainya ia tahu, siapakah orang yang menyebut dir inya tukang satang itu dan kemudian mengaku pula sebagai petani dari Sukawati. Dan hal yang serupa ini memang harus dilaporkan kepada kumpeni. Agaknya Sukawati memiliki orang-orang yang sudah terlatih dengan baik untuk menghadapi keadaan yang semakin gawat. Dan agaknya kamas Pangeran Mangkubumi tidak sekedar bermain-main” Bangsawan-bangsawan muda yang lain tidak menyahut. Ketika Pangeran Hargasemi kemudian meloncat ke punggung kuda, maka anak-anak muda itupun segera berpacu meninggalkan tepi bengawan yang menjadi senyap dan gelap.Ternyata apa yang telah terjadi itu telah menggoncangkan hati beberapa orang bangsawan muda di Surakarta. Meskipun tanggapan mereka berbeda-beda. Yang kemudian menjadi persoalan di dalam hati mereka, justru bukannya Arum dan Buntal yang dengan sengaja telah mereka lupakan. Yang kemudian selalu terbayang adalah sikap beberapa orang bangsawan yang terpandang di Surakarta. Paman dan kemanakan-kemanakan mereka sendiri. Alangkah jauh bedanya, bagaikan siang dan malam, dan bagaikan langit dan bumi, jika mereka bertemu dengan saudara sepupu mereka yang bernama Raden Mas Said dan juga Juwiring yang sudah beberapa lama berada di Jati Aking, dibandingkan dengan diri mereka sendir i, atau pamanda para bangsawan-bangsawan muda itu yang lain. Mereka akan tergetar juga hatinya jika mereka menyebut nama Pangeran Mangkubumi, dan beberapa orang bangsawan yang dengan tegas menentang kekuasaan kumpeni yang semakin bertambah-tambah. Beberapa di antara mereka menjadi terguncang. Mereka mulai berpikir dan menilai dir i sendiri. Apakah yang selama itu sudah dilakukan? Dan dengan susah payah mereka mencoba membayangkan sikap Juwiring, meskipun ayahandanya, Pangeran Ranakusuma adalah seorang yang termasuk dekat dengan kumpeni, apalagi ibu tirinya, ibu Raden Rudira. Lebih tajam lagi adalah sikap Raden Mas Said, yang sudah dengan tanpa tedeng aling-aling membuka medan peperangan melawan kumpeni. Dan lebih dari itu semuanya adalah sikap Pangeran Mangkubumi yang bagaikan air bengawan yang sangat dalam. Tegas, dan seakan-akan mengandung kekuatan tersembunyi yang sulit dijajagi, meskipun dilambari dengan kebijaksanaan yang matang. Namun justru kekuatan yang matang seperti kematangan sikap dan kebijaksanaannya itulah yang sangat berbahaya bagi kedudukan kumpeni di Surakarta. Bukan saja para bangsawan yang bersikap lemah menghadapi kehadiran orang asing itu karena berbagai macam alasan, mungkin karena harta benda yang melimpah,mungkin karena didorong oleh nafsu berkuasa dan pangkat, mungkin oleh keinginan yang lain lagi yang beribu macam itulah, namun juga Raden Mas Said kadang-kadang menjadi bingung menghadapi sikap Pangeran Mangkubumi. Kadang- kadang Raden Mas Said yang muda itu tidak telaten menunggu, seakan-akan menunggu turunnya hujan dimusim kering. Ketika pada suatu saat, Raden Mas Said tidak dapat menahan hati lagi, maka ia memer lukan dengan diam-diam menghadap pamanda Pangeran Mangkubumi untuk mendapatkan penjelasan tentang sikapnya yang sulit dimengerti itu. “Pamanda, apakah aku masih harus menunggu?“ bertanya Raden Mas Said “selama ini aku mematuhi perintah pamanda agar untuk sementara aku menyingkir. Tetapi sekarang pamanda masih belum berbuat apa-apa sehingga kumpeni rasa-rasanya menjadi semakin berpengaruh atas Surakarta” Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Katanya “Said. Banyak hal yang masih harus dipertimbangkan. Jika aku mengambil sikap yang keras sebelum aku matang berpikir, maka yang terjadi adalah sekedar bentrokan tanpa arah. Kita berdua sudah berhasil menghindarkan diri dari benturan dan adu domba, meskipun kau harus banyak berkorban karena kau harus menarik diri dari tempat yang sudah berhasil kau duduki. Namun sementara itu, aku mendapat kesempatan untuk menyusun kekuatan. Dan dalam masa yang senggang ini, aku yakin bahwa kaupun mendapat kesempatan serupa. Kau dapat menyegarkan orang-orangmu. Jika perlu pada suatu saat semuanya akan dapat melakukan tugas dengan sebaik-baiknya. Sementara ini kita dapat bersikap seperti keadaan kita selama ini, seolah-olah kita adalah domba aduan yang saling bertengkar. Sokurlah bahwa ada usaha lain yang dapat dilakukan selain kekerasan” “Tidak mungkin pamanda. Tidak akan ada jalan lain”“Said, coba renungkan. Mungkin aku dipengaruhi oleh sikap yang cengeng sehingga aku tidak dapat bertindak seperti kau” Pangeran Mangkubumi terdiam sejenak. Kepalanya tiba-tiba menunduk dalam-dalam, dan suaranya menjadi datar “Aku menjadi ngeri mendengar ancaman kumpeni dan ancamanmu akhir-akhir ini” “Maksud pamanda?“ “Said. Ketika anak buahmu berhasil membinasakan enam orang kumpeni di pinggir kota, bukankah kumpeni mengeluarkan maklumat, untuk menangkap orang yang membunuh kumpeni itu. Jika dalam waktu yang ditentukan pembunuh itu tidak tertangkap, maka kumpeni akan mengambil sepuluh nyawa sebagai ganti setiap kumpeni yang terbunuh. Dan sepuluh nyawa itu adalah sepuluh nyawa bangsa kita siapapun mereka. Bersalah atau tidak bersalah” “O“ Raden Mas Said menganggukkan kepalanya ”Aku sudah menjawab pamanda” “Bagaimana jawabmu?“ “Jika kumpeni melaksanakan ancaman itu, maka setiap orang bangsa kita yang terbunuh, aku akan mengambil sepuluh orang sebagai gantinya” “Kumpeni?“ “Ya, atau orang yang berpihak kepada mereka dan apalagi yang terbukti membantu mereka” Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada yang berat ia berkata “Said. Aku mengerti caramu berpikir. Mungkin pada suatu saat, kita tidak dapat menghindarkan dir i dari t indakan serupa itu. Tetapi sebelum kita kehilangan sepuluh ganda yang tiada akan henti-hentinya, maka aku akan mencoba menempuh jalan lain” Raden Mas Said mengerutkan keningnya. Lalu di antara kedua bibirnya ia berdesis “Maksud pamanda?““Said. Baik sepuluh orang untuk menukar jiwa seorang kumpeni, maupun kemudian sepuluh orang dari setiap orang yang terbunuh oleh kumpeni itu, adalah darah. daging kita. Mungkin mereka adalah pengkhianat-pengkhianat. Mungkin mereka menodai perjuangan kita untuk menegakkan kebebasan kita. Tetapi bagiku Said, rasa-rasanya masih terlampau pedih melihat mereka menjadi sasaran kemarahan kita dan juga sasaran kemarahan kumpeni” “Jadi maksud pamanda, agar kita bertindak lebih lunak lagi sehingga semakin banyak orang yang akan berpihak kepada orang asing itu?“ “Tidak Said. Hanya caranya sajalah yang harus kita pertimbangkan baik-baik. Jika kita dapat memberikan kesadaran kepada rakyat kita tanpa kekerasan, sehingga mereka merasa bertanggung jawab terhadap hari depan kita sendiri, maka kita akan berbesar hati” “Pamanda. Setiap cita-cita harus dilambari kesediaan untuk berkorban. Memang mungkin akan ada korban yang jatuh. Jika kita hanya sekedar inginkan cita-cita tanpa berani mengatasi kesulitan, maka tidak ada yang akan dapat kita capai, karena setiap cita-cita tentu akan menelan bebanten. Dalam keadaan yang semakin gawat ini, tentu kita tidak dapat sekedar menunggu. Dan aku minta ij in untuk memulai kembali perjuangan yang panjang ini paman”“Said. Aku mengerti. Jiwamu yang muda dan bergolak bagaikan api di kawah Gunung Merapi itu merupakan penggerak yang utama bagi kita. Tetapi aku minta waktu sedikit lagi. Mudah-mudahan aku berhasil, atau jika t idak, maka persiapan kitapun akan menjadi semakin matang. Jika kemudian terpaksa harus jatuh korban, apaboleh buat” Raden Mas Said menarik nafas dalam-dalam. Ia sebenarnya tidak sabar lagi menunggu. Tetapi Pangeran Mangkubumi adalah satu-satunya orang yang disegani di Surakarta Karena itu, betapa hati menggelegak, namun ia masih tetap menahan diri. Ia masih harus bersembunyi dan menurut nasehat pamannya, agar ia tidak berbuat sesuatu. Setiap kali terngiang di telinganya “Said, Jika aku berhasil memadamkan api yang kau nyalakan, maka aku akan mendapat banyak kesempatan mempersiapkan Sukawati. Kecurigaan terhadapku akan berkurang, dan aku dapat menuntut hak resmi atas tanah Sukawati itu. Bukan karena ketamakanku, bahwa aku mengorbankan cita-citamu sekedar untuk mendapat tanah kalenggahan yang luas. Tidak. Tetapi yang penting bahwa aku dan kau akan mendapat kesempatan menempa diri, itulah yang penting. Dengan persetujuan itu aku mendapat banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu di Sukawati, dan kau sekarang tidak lagi mendapatkan banyak pengawasan. Karena kau menghentikan kegiatanmu, maka kumpeni agaknya menganggap bahwa apimu telah hampir padam” Raden Mas Said hanya menundukkan kepalanya saja. “Marilah untuk sementara kita tetap dalam sikap kita. Kau pergunakan kesempatan ini untuk mempersiapkan pasukanmu yang tersebar. Sedang aku akan mempersiapkan orang- orangku. Jika kumpeni tidak mau menyadari keadaan, kita akan bergerak dengan kekerasan. Dan apaboleh buat. Namun sementara ini, aku adalah orang yang berhasil menghentikan kegiatanmu. Dan aku minta kau menerimanya dengan rela”Raden Mas Said tidak pernah dapat menolak sikap pamannya itu. Pamannya memang seorang yang mempertimbangkan perjuangan dari segala segi. Dan pamannya tidak sampai hati melihat korban berjatuhan dari hari kehari dan semakin lama semakin berganda. Namun, setelah hal itu berlaku beberapa saat, ternyata kumpeni tidak juga merubah sikapnya. Setiap kali kumpeni justru menunjukkan sikap angkuhnya dan seakan-akan bahwa bangsa yang berkulit putih itu mempunyai martabat yang lebih tinggi dari bangsa yang berkulit sawo. Dalam pada itu Pangeran Mangkubumipun sadar, bahwa Raden Mas Said tentu akan semakin bersakit hati terhadap kumpeni, namun dalam pada itu, Pangeran Mangkubumi yang melihat kemungkinan yang tipis untuk merubah keadaan tanpa kekerasanpun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Meskipun demikian, setiap kali Pangeran Mangkubumi masih diragukan Oleh hubungan kakak beradik dengan Kangjeng Susuhunan Pakubuwana. Sebagai dua orang bersaudara, Pangeran Mangkubumi adalah adik yang dekat dari Kangjeng Susuhunan Pakubuwana. Tetapi dari sikap dan pandangan hidup, mereka semakin lama seakan-akan menjadi semakin jauh. Raden Mas Said melihat persoalan yang rumit di dalam diri Pangeran Mangkubumi itu. Darah mudanyalah yang setiap kali mendorongnya untuk menghadap pamanda dengan diam- diam. Dan setiap kali ia selalu mempersoalkan keadaan yang menurut pertimbangannya menjadi semakin suram. “Aku mengerti Said” jawaban itu selalu didengar oleh Raden Mas Said yang muda. “Kapan kita akan berbuat sesuatu pamanda. Bukan sekedar pengertian atas segalanya yang terjadi”“Ya, ya. Kita akan berbuat sesuatu. Tetapi jika kau memperhatikan keadaan, maka sedikit demi sedikit, aku berhasil mempengaruhi Kangjeng Susuhunan. Beberapa perkem bangan sikap terasa sangat menggembirakan” “Tetapi sikap itu tidak terasa sampai kelapisan yang paling rendah dari rakyat kita paman” Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Lalu katanya “Said. Aku ingin sekali waktu kau datang ke Sukawati” Demikianlah dalam waktu yang sudah ditentukan, Pangeran Mangkubumi menunggu kehadiran Raden Mas Said. Pangeran Mangkubumi tersenyum melihat Raden Mas Said itu datang sebagai seorang yang berambut putih dan membawa beberapa bilah keris. “Kemarilah Kiai” berkata Pangeran Mangkubumi “Aku memang memerlukan sebilah keris dapur Mendarang” Raden Mas Said itupun tersenyum. Tetapi ia berbisik “Kumpeni menjelajahi padukuhan di sebelah Timur bengawan” Pangeran Mangkubumi terkejut ”Sebelah Timur bengawan?“ “Ya paman. Tetapi karena aku telah terlanjur berjanji untuk datang, akupun datang pula dengan cara ini” Namun sikap kumpeni itu membuat dada Pangeran Mangkubumi menjadi bergejolak. Kumpeni sudah menjelajahi daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah tersinggung. “Mereka mulai cur iga terhadap kediamanku selama ini” desis Raden Mas Said. “Baiklah Said. Tinggallah di sini beberapa saat” Dan yang beberapa saat itu dipergunakan oleh Raden Mas Said sebaik-baiknya. Baru kemudian setelah mengenal serba sedikit atas tanah Sukawati, ia mengangguk-angguk sambil berkata “Agaknya paman memang memilikiperhitungan yang jauh lebih matang. Kini aku tahu, bahwa sebenarnyalah pamanda tidak sedang tertidur di atas Tanah Sukawati. Maaf pamanda, sebenarnyalah sebelumnya ada dugaanku, bahwa paman mulai terlena di atas kehijauan sawah Sukawati yang subur ini“ Pangeran Mangkubumi tersenyum. Katanya “Nah, sejak saat ini, kita memang sudah didesak untuk semakin matang menghadapi keadaan. Jika kita harus mempergunakan kekerasan, kitapun akan mempergunakannya. Namun kita harus menyadari, bahwa kita berbuat sesuatu untuk kemanusiaan aan dilandasi oleh kemanusiaan, sehingga akibat perang yang terlampau ganas dan menger ikan harus kita hindari sejauh-jauh dapat kita lakukan” Raden Mas Said meninggalkan Sukawati dengan hati yang berdebar-debar. Bahkan ia melihat, bukan saja Sukawati yang telah berhasil dibentuk oleh Pangeran Mangkubumi, namun rakyat di sekitarnyapun mulai dijalari oleh sikap yang serupa. Sehingga karena itulah, maka Raden Mas Said justru menjadi semakin mapan menilai pamandanya, Pangeran Mangkubumi. Dan bahwa sebenarnyalah pamannya telah menyiapkan diri seperti yang dikatakannya. “Dengan persiapan yang lebih baik, kita tidak terperosok ke dalam sikap yang bodoh, seperti serangga terbang ke dalam api” berkata Raden Mas Said di dalam hatinya. Demikianlah Surakarta benar-benar bagaikan gunung berapi yang tampaknya tenang dan Agung. Terapi sebenarnyalah didalamnya bergolak api yang tiada tara panasnya. Dalam pada itu di dalam kemelutnya keadaan, Pangeran Ranakusuma sebagai seorang Senapati yang berpengaruh di Surakarta, mendapat banyak keterangan-angan dan laporan- laporan mengenai keadaan yang buram. Namun sebenarnyalah Pangeran Ranakusuma sedang menghadapikeadaan yang buram di dalam dirinya sendiri, di dalam keluarganya. Ternyata bahwa Rara Warih benar-benar tidak segera dapat dilunakkan hatinya. Bahkan ia sudah mengancam untuk meninggalkan rumah ayahnya dari pergi ke rumah eyangnya, jika Juwiring tidak segera pergi meninggalkan rumah itu. “Warih” berkata ayahandanya “Kau tidak boleh berkeras hati seperti itu” “Aku akan tinggal bersama ibunda” jawab Warih “barangkali hal itu akan lebih baik bagiku“ dan tiba-tiba saja ia bertanya “Kenapa maka ibunda tidak segera kembali ke rumah ini ayah. Kamas Rudira sudah dipanggil kembali oleh Tuhan. Dan tentu saja kita tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Ibunda tentu sudah mulai tenang dan menerima kenyataan ini dengan hati yang lapang” “Sudahlah War ih. Biar lah ibumu berada di rumah eyangmu untuk sementara. Jika ia sudah merasa tidak terganggu lagi ketenangannya, maka ia akan kembali dengan sendirinya” “Ah, bukan begitu ayah. Tentu ayahanda yang harus menjemput. Bukan ibunda yang datang dengan sendir inya” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Lalu “Sudahlah. Sebaiknya kau tidak mengganggu ketenangan ibumu. Kau harus mencoba bersikap dewasa, Warih. Kau adalah satu-satunya anak gadisku. Karena itu, kau sangat aku perlukan di sini. Tanpa kau, maka rumah ini bagaikan halaman yang tidak memiliki sebatang pohon bungapun. Gersang“ “Tetapi ayah harus menyingkirkan anak padesan itu” “Ia kakakmu Warih. Tidak ada bedanya dengan Rudira. Jika kau mendekatkan hatimu, maka kau akan merasakan bahwa ia benar-benar kakakmu” “Tidak. Aku tidak dapat menerimanya. Ibunya tidak sederajat dengan ibuku”Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat mengatakan sesuatu yang menggelepar di dalam hatinya, bahwa derajat seseorang tidak menentukan kelurusan hatinya. Bahwa Raden Ayu Galih Warit yang lebih tinggi derajatnya dari ibu Juwir ing tidak menjamin bahwa hatinya lebih putih. “Apakah anak itu harus mengetahui keadaan ibunya?” Ia bertanya kepada diri sendiri “biarlah ia mengetahui dengan sendiri. Aku tidak sampai hati mengatakannya. Jika ia memaksa untuk pergi ke istana eyangnya, mungkin ada juga baiknya” Ternyata pikiran itu telah mengganggu perasaan Pangeran Ranakusuma. Bahkan ia telah dicengkam oleh keragu-raguan yang dalam. Bagi Juwir ing, sikap adiknya itu selalu menggelitiknya. Justru seakan-akan merupakan tantangan yang harus dijawabnya. Karena itu, ketika ayahnya sekali lagi bertanya kepadanya, maka Juwir ingpun menjawab “Ayahanda. Aku akan pergi ke Jati Aking bersama kedua saudara angkatku. Aku akan membicarakannya dengan Kiai Danatirta, apakah sebaiknya aku berada di Jati Aking atau di Surakarta” “Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma “Jika. tidak ada sebab sebelumnya, jawabmu tidak akan dapat aku terima. Aku adalah ayahmu. Akulah yang menentukan, sehingga kau tidak perlu bertanya dan membicarakan dengan siapapun juga. Tetapi aku tidak dapat ingkar, bahwa selama ini aku bukannya seorang ayah yang baik bagimu, sehingga akupun tidak berani melarangmu. Pergilah dan sampaikan salamku kepada Kiai Danatirta. Aku akan minta kau dengan resmi seperti aku pernah menyerahkan kau kepadanya lewat Ki Dipanala. Karena itu biarlah Ki Dipanala menyertaimu” Demikianlah maka Juwiringpun segera mempersiapkan dirinya, Agaknya Buntal dan Arumpun sudah merindukan padepokannya setelah untuk beberapa hari mereka berada dikota. Setelah mereka melihat betapa keruhnya udara di atas kota yang tampaknya semakin gemer lapan itu. Diir ingi oleh Ki Dipanala merekapun mohon diri kepada Pangeran Ranakusuma untuk meninggalkan kota dan kembali ke padepokan mereka yang terasa tenteramdan damai. “Sekali-sekali kalian harus, datang kemari” berkata Pangeran Ranakusuma. “Terima kasih Pangeran jika hamba diijinkan untuk sekali- sekali datang kemari. Agaknya hamba berdua pada suatu saat tentu akan merindukan kota yang ramai ini dengan segala macam isinya” “Baiklah. Kalian dapat membawa bekal yang sudah disiapkan oleh Ki Dipanala dan sekedar oleh-oleh buat Kiai Danatirta. Aku mengharap dalam waktu yang dekat Ki Dipanala kembali dengan membawa Juwiring serta, meskipun ia seterusnya akan mondar-mandir antara kota ini dan padepokan Jati Aking seperti yang aku harapkan, kalianpun berbuat demikian pula” Dengan membawa beberapa macam pemberian dari Pangeran Ranakusuma, maka anak-anak Jati Aking itupun segera memacu kudanya, kembali ke padepokan yang rasa- rasanya sudah terlalu lama mereka tinggalkan. Apalagi Arum, yang hampir tidak pernah berpisah dengan ayahnya untuk waktu yang agak panjang, sehingga ketika kudanya sudah berlari di luar regol kota, rasa-rasanya ia segera ingin bertemu dengan ayahnya itu. “Selama ini tentu ayah pergi ke sawah seorang diri” katanya. “Tentu tidak Arum. Beberapa orang cantrik dapat membantunya” “Mereka kadang-kadang masih belum dapat dipercaya melakukan pekerjaan penting, sehingga tentu ayah sendiriyang melakukannya. Mereka bekerja tanpa berpikir selain mempergunakan tenaganya saja” Buntal mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Rasa-rasanya perjalanan kembali ke padepokan Jati Aking itu terlampau lama lagi Arum. Namun kesegaran udara padesan membuatnya segar setelah untuk beberapa lama, rasa-rasanya nafasnya tercekik oleh kehidupan kota. Semula Arum berpendapat, bahwa orang-orang kota, terutama para bangsawan adalah orang-orang yang hidup dengan ikatan- ikatan yang membatasi gerak dan tingkah laku mereka, sehingga mereka adalah orang-orang yang sopan, lembut dan bahkan hampir tidak berbuat sesuatu jika tidak perlu. Juwiring merupakan contoh gambaran tentang para bangsawan. Menurut Arum, Juwiring adalah bangsawan yang tersisih dan sudah lama hidup di padesan sehingga bangsawan yang tinggal di kota tentu lebih lembut dan beradab dari padanya. Namun ternyata ia keliru. Kota yang kaya itu adalah kota yang dipenuhi dengan nafas yang kotor dan kasar. Beberapa bangsawan yang dijumpainya di pinggir bengawan ternyata mempunyai sifat dan watak yang jauh lebih kasar dari para petani. Para petani betapapun kasarnya, namun pada umumnya memiliki kejujuran. Tetapi tidak bagi mereka yang ada di pinggir bengawan itu. Namun betapapun lambatnya menurut perasaan Arum, kuda-kuda itupun semakin lama menjadi semakin dekat dengan Jati Aking. Sekali-sekali mereka memang perlu beristirahat dan memberi kesempatan kepada kuda-kuda mereka yang berpacu itu untuk meneguk air bening di par it yang mengalir di pinggir jalan, dan makan rerumputan hijau yang segar. Dalam pada itu, ternyata Rara Warih di Surakarta, tidak dapat dicegah lagi oleh ayahandanya. Dengan keras ia memaksa untuk pergi ke rumah kakeknya.“Sebaiknya kau berpikir lebih jernih lagi Warih” berkata ayahnya “Kau jangan membuat ibundamu semakin bersedih” “Bukan aku. Tetapi ayahanda” “Kenapa aku Warih” “Ayahanda menyuruh anak Jati Aking itu untuk kembali lagi kemari. Bahkan ayahanda menyertakan Ki Dipanala untuk menyampaikannya kepada gurunya agar ia diperkenankan kembali. Sudah aku katakan ayahanda, bahwa aku tidak dapat menerimanya di rumah ini seperti yang pernah dikatakan oleh ibunda. Apalagi sepeninggal kamas Rudira. Anak itu tentu merasa menjadi raja di rumah ini, dan aku adalah sekedar inang pengasuhnya” “Jangan berprasangka Warih. Juwiring sudah biasa berprihatin sejak kecil. ia tidak akan berbuat seperti itu” “Aku harus mendengar pendapat ibunda dahulu ayahanda“ Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam Dan karena ia tidak dapat mencegah lagi, maka diperintahkannya menyiapkan kereta untuk mengantarkan Warih ke rumah kakeknya. Kedatangan Warih seorang diri telah mengejutkan eyangnya, Pangeran Sindurata, sehingga dengan tergesa-gesa ia menyongsong cucunya yang dikasihinya itu. “Warih, kau sendiri?“ bertanya Pangeran Sindurata. Warih merendah sedikit sambil menjawab “Ya eyang”“Dimana ayahmu?“ “Ayah ada di rumah, eyang” “Jadi ia sampai hati melepaskan kau sendiri?“ “Sebenarnya ayahanda berkeberatan aku datang kemar i. Tetapi aku telah memaksa. Dan ayahanda tidak mengantarkan aku selain memerintahkan menyiapkan kereta dan saisnya” “O” Pangeran Sindurata menar ik nafas dalam-dalam, lalu “Marilah masuklah” Warihpun kemudian mengikuti Pangeran Sindurata masuk ke dalam. Sejenak ia termangu-mangu, lalu iapun bertanya seolah-olah di luar sadarnya “Dimanakah ibunda?“ Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Lalu “Duduklah dahulu. Bibimu ada di sini” “Bibi?“ “Ya” sahut eyangnya. Dan sebelum ia meninggalkan Warih seorang perempuan bangsawan telah muncul dari balik pintu. Ia adalah adik kandung Raden Ayu Galihwarit yang mempunyai hubungan gelap dengan Pangeran Ranakusuma. “Kau Warih “ sapanya sambil tersenyum. Warihpun tertawa sambil menyahut “Ya bibi. Sudah lama bibi datang?“ “Sudah tiga har i aku berada di sini. Aku mengawani ibumu Warih” “O” Ia berdesis “Apakah ibunda masih belum sembuh dari kejutan itu” Bibinya tidak segera menyahut. Tetapi iapun kemudian duduk di sisi Warih sambil berkata “Duduklah dahulu. Biarlah para pelayan menghidangkan minuman. Kau tentu haus”“Ya, duduklah dahulu Warih” berkata Pangeran Sindurata “Aku akan ke pendapa” Pangeran Sinduratapun kemudian pergi ke pendapa dengan hati yang berdebar-debar. Jika Warih berkeras untuk menjumpai ibundanya, maka gadis itu akan menjumpai kekecewaan. Meskipun kadang-kadang Raden Ayu Galih War it sudah cukup sadar, namun kejutan yang kecil saja dapat membuatnya kambuh kembali dan mengigau tanpa terkendali. Jika ia melihat Warih, maka kemungkinan itu akan dapat terjadi, karena Warih akan menuntun kenangannya atas Raden Rudira, yang mati di hadapan hidungnya tanpa diketahuinya. Bahkan di dalam saat-saat tertentu Galih Warit telah merasa bersalah, seolah-olah ia sendir ilah yang telah membunuhnya. Dengan kepala tunduk Pangeran Sindurata itu berjalan di sepanjang tangga pendapa. Hatinya yang gelisah membuatnya bimbang, seakan-akan hari-harinya telah menjadi gelap. Pangeran Sindurata terkejut ketika t iba-tiba saja ia melihat seseorang berjongkok di bawah tangga. Sambil menyembah orang itu berkata terbata-bata “Ampun Pangeran. Apakah hamba harus menunggu cucunda atau hamba sudah diperkenankan mendahului kembali ke Ranakusuman?“ Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Dipandanginya sais itu sejenak, lalu iapun bertanya “Siapa kau?“ “Hamba adalah sais kereta Pangeran Ranakusuma yang mengantarkan puteri kemar i?“ “O, kau yang mengantarkan Warih?“ “Hamba Pangeran” “Pergilah. Biarlah War ih di sini. Jika ia memaksa kembali, biarlah keretaku dipergunakannya”“Hamba Pangeran. Jika demikian maka hamba akan mohon diri” Pangeran Ranakusuma tidak menjawab, la berjalan lagi hilir mudik. Tetapi ketika ia melihat kereta itu bergerak, maka timbullah pikirannya yang lain, sehingga tiba-tiba saja ia bertepuk tangan keras-keras sambil berteriak “Berhenti, he, berhenti“ Seorang juru taman yang mendengarnya dan mengerti maksudnya segera berlari-lari menghentikan kereta yang sudah bergerak maju. Pangeran Sinduratapun kemudian melambaikan tangannya memanggil sais yang dengan tergesa-gesa meloncat turun dari keretanya dan menghadap Pangeran Ranakusuma Dengan kepala tunduk iapun kemudian berjongkok dihuwah tangga pendapa. “Jangan pergi dahulu. Mungkin Warih tidak akan terlalu lama tinggal di sini. Taruhlah kereta itu di tempat yang terlindung oleh terik matahari, dan barangkali kau dapat member i minum dan makan kuda-kudamu lebih dahulu. Dan jika kau sendiri haus, pergilah ke belakang” Sais itu termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian ”Hamba Pangeran” Pangeran Sindurata tidak menghiraukannya lagi. lapun berjalan pula hilir mudik di tangga pendapa. “Mudah-mudahan Warih dapat dibujuk oleh bibinya“ berkata Pangeran Sindurata itu di dalamhatinya. Namun agaknya Warih yang keras hati itu ingin bertemu dengan ibunya betapapun bibinya membujuknya. “Aku akan membicarakan dengan ibunda. Anak Jati Aking itu kini merasa dirinya terlalu berkuasa di istana Ranakusuman” katanya dengan suara yang dalam. “Apa yang sudah dikerjakan? Apakah ia pernah berbuat kasar terhadapmu, Warih?“Rara Warih termangu-mangu sejenak, la mencoba mencari jawab. Tetapi ia menjadi bingung sendir i, karena ia tidak menemukan sesuatu yang dapat disebutnya sebagai jawaban. Juwiring memang belumpernah berbuat apa-apa. Karena itu untuk beberapa saat Rara Warih justru terdiam sambil menundukkan kepalanya. “Warih” berkata bibinya “Sudahlah. Jika anak itu memang tidak berbuat apa-apa, biarlah untuk sementara ia tinggal di sana jika memang ayahandamu menghendaki. Tetapi jika ibundamu sudah baik sama sekali, biarlah ia berusaha mengusirnya seperti yang pernah dilakukannya” “Tidak bibi. Orang itu harus segera pergi” Bibinya menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Sudahlah, tenanglah. Segala sesuatunya akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Percayalah” Warih menjadi gelisah. Ia tahu bahwa Juwir ing akan minta diri kepada gurunya di Jati Aking dan kemudian akan t inggal di istana Ranakusuman. Dan itulah yang membuatnya terlampau gelisah. Jika ibunya dapat diajaknya berbicara, maka ibunya tentu akan menentangnya. Biasanya ayahandanya tidak pernah menentang jika ibundanya sudah bersikap agak keras. Tetapi ibunya kini sedang dalam keadaan yang lain. Sejenak Rara Warih duduk bersama bibinya. Seorang pelayan menghidangkan semangkuk minuman panas dan beberapa potong makanan. Rara Warih sudah terbiasa makan jenis makanan yang lain dari makanan yang dijumpainya di Surakarta. Makanan yang dihidangkan itupun sejenis makanan yang datang oleh pengaruh kumpeni. Tetapi ketika Rara Warih sudah minum seteguk dan makan sepotong makanan, iapun mendesak lagi kepada bibinya untuk bertemu dengan ibunya.“Warih. cobalah mengerti. Apakah kau tidak kasihan kepada ibumu? Pertanyaanmu dapat menimbulkan persoalan baru di dalam dirinya. Jika kau memang tidak mau t inggal bersama anak yang kau sebut berasal dari Jati Aking itu, tinggallah untuk beberapa saat di rumahku” Rara Warih mengerutkan keningnya. Ia merasa aneh atas tawaran itu. Biasanya ia berada di rumah eyangnya, dan bahkan beberapa orang sepupunyapun berada di rumah ini. Tetapi kini bibinya menawarkan agar ia tinggal diminatinya. “Pikirkan baik-baik Warih” berkata bibinya. “Bibi” bertanya Warih kemudian “Jika aku t idak ingin tinggal di rumahku sendiri, kenapa aku t idak t inggal pada eyang di sini?“ Bibinya tersenyum. Katanya “Ibumu memerlukan ketenangan Warih” Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Namun keinginannya untuk bertemu dengan ibunya justru menjadi semakin mendesak. Meskipun demikian, ia mencoba menahan diri. Namun demikian di luar sadarnya ia berkata “Pintu bilik ibunda bibi. Apakah ibunda tidak terganggu oleh angin. Apakah tidak sebaiknya pintu itu ditutup?“ Bibinya menjadi termangu-mangu. Ia mendapat kesulitan untuk menjawab, karena sebenarnya Raden Ayu Galih War it tidak berada di dalam bilik yang terbuka itu. Meskipun demikian, bibinya itupun berdiri dan melangkah menutup daun pintu yang terbuka itu. “Ibundamu sedang tidur nyenyak” berkata bibinya. “Apakah aku dapat menengoknya? Bukankah selagi tidur ibunda tidak melihat aku” “Duduklah” bibinya mencegah, lalu “Warih. apakah kau pernah menjumpai makanan jenis ini? Kami mendapatkan dariseorang perwira kumpeni. Makanan ini disimpan dalam tempat tertutup yang rapat” Tetapi Warih mengangguk. Katanya “Ayahanda mempunyai banyak jenis makanan semacam ini” “O“ bibinya mengangguk-angguk. Namun ia menjadi gelisah karena nampaknya Warihpun menjadi gelisah. Dalam pada itu, maka Pangeran Sinduratapun kemudian ikut duduk bersama dengan mereka. Dicobanya untuk membicarakan berbagai masalah yang tidak menyangkut Raden Ayu Galihwarit. Namun setiap kali Rara Warihlah yang selalu menyebut-nyebut nama ibundanya. Dengan demikian, maka baik Pangeran Sindurata. maupun bibi Warih itu menjadi cemas. Apakah jika Rara Warih berada di istana itu sehari penuh, mereka akan tetap dapat memaksanya untuk duduk di tempatnya tanpa mendapatkan ibundanya sama sekali? Dalam pada itu. kelika Rara Warih sedang pergi ke pakiwan, bibinyapun berkata “Ayahanda, sebenarnya Warihpun sudah dewasa” Ayahnya, Pangeran Sindurata tidak segera menjawab. Direnunginya wajah anak perempuannya itu. Namun ia tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya bergolak di dalam hati anaknya itu. Sebenarnyalah, bahwa di dalam hati perempuan bangsawan itu justru dijalar i oleh pikiran yang aneh. Sejak Raden Ayu Galihwar it tidak lagi mungkin diterima di istana Ranakusuman sebelum ia sembuh benar-benar, ia merasa seakan-akan mendapat kebebasan yang lebih luas untuk berhubungan dengan Pangeran Ranakusuma. Karena itu, kadang-kadang ia harus berjuang untuk menindas godaan itu. Meskipun demikian, sepercik kabut yang kelam telah meliputi hatinya. Apakah salahnya jika Warih mengetahui keadaan ibunya dan kemudian karena itu ia menjadi sakit hati dan kehilangansegala gairah hidupnya? Bukankah dengan demikian berarti bahwa Pangeran Ranakusuma menjadi semakin bebas untuk berbuat apa saja? Sedangkan anak laki- lakinya yang pernah berada di Jati Aking itu tentu tidak akan banyak mencampuri persoalan ayahandanya, karena bahwa ia diij inkan kembali ke istana itupun agaknya telah membuatnya berterima kasih sampai keujung ubun-ubun. “Tetapi bagaimana j ika Warih justru menggantungkan dirinya sepenuhnya kepada ayahandanya setelah ia dikecewakan oleh ibunya?“ pertanyaan itu timbul juga di dalam hati bibi Warih itu. Tetapi lalu dijawabnya “Pangeran Ranakusuma adalah seorang Senapati, la tentu terlampau sering meninggalkan rumahnya dan anak-anaknya dengan alasan apapun. Dan Warih tidak akan dapat mencegahnya meskipun di saat?. Pangeran Ranakusuma ada di rumahnya, gadis itu menjadi sangat manja” Karena itu, maka selagi Pangeran Sindurata masih termenung, iapun berkata selanjutnya “Ayahanda, lambat atau cepat, akhirnya Warihpun akan mengetahuinya pula” Pangeran Sindurata mengangguk-angguk. Tetapi ia kemudian berkata “Tetapi tidak sekarang. Hatinya masih terlalu getas. Justru karena Juwiring ada di istananya pula, Biarlah aku menyuruhnya kembali saja. Aku telah menahan keretanya agar menunggu” “Tetapi alasan apakah yang harus kita katakan kepadanya ayahanda?“ “Katakan, bahwa ibundanya masih belum dapat menemui siapapun. “Aku sudah terlanjur mengatakan bahwa ibunya sedang tidur nyenyak. Dan sudah barang tentu ia menunggu sampai ibunya terbangun” Pangeran Sindurata menjadi bingung, sehingga ia t idak sempat berpikir apapun lagi. Apalagi ketika kepalanya mulaipening, maka katanya “Kepalaku mulai sakit. Tengkukku rasa- rasanya menjadi tegang. Penyakitku akan kambuh kembali j ika aku harus memecahkan persoalan yang sangat rumit ini bagiku. Karena itu, terserah saja kepadamu. Tetapi kau harus sadar, bahwa jika Warih mengetahui keadaan ibunya, ia akan mengalami kejutan yang tidak kalah dahsyatnya seperti saat Rudira meninggal. Dan kau harus bersiap menghadapi persoalan itu. Jika terjadi apa-apa dengan Warih di sini, maka persoalan kita dengan Pangeran Ranakusuma akan menjadi semakin bertambah-tambah. Kebenciannya kepadaku akan menjadi berganda. Tetapi akupun akan menjadi muak melihatnya” Anak perempuannya itu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menjawab “Mudah-mudahan Warih cukup tabah. Persoalan itu akan datang juga akhirnya. Bukankah ayahanda dapat menduga bahwa Pangeran Ranakusuma tidak berkeberatan melepaskan Warih dengan kemungkinan serupa itu? Ternyata Warih diperkenankan datang sendiri. Bahkan kareta itu diberikannya untuk mengantarkan Warih. Apakah hal ini bukan suatu isyarat, bahwa ayahandanya tidak berkeberatan jika Warih mengetahui persoalan yang sebenarnya, justru karena ia sudah dewasa?“ Pangeran Sindurata memijit tengkuknya yang mulai sakit. Katanya “Terserah kepadamu. Aku akan berbaring. Aku akan minum perahan daun selederi itu, agar kepalaku tidak terlanjur sakit” Ketika kemudian Rara Warih kembali dari Pakiwan, maka Pangeran Sindurata telah tidak ada di ruangan tengah. Pangeran tua itu telah berada di dalam biliknya dan berbaring sambil memejamkan matanya. Sejenak Rara Warih termangu-mangu. Tetapi ia tidak bertanya tentang eyangnya yang tidak tampak duduk di antara mereka.“Warih” berkata bibinya kemudian “sebenarnya sangat berat bagiku dan eyangmu, untuk mempertemukan kau dengan ibundamu. Karena agaknya kejutan itu masih mempengaruhinya selama ini” “Tetapi bibi, aku kira aku harus bertemu dengan ibunda segera sebelum kamas Juwir ing itu kembali ke istana Ranakusuman. Jika ibunda sempat membicarakan dengan ayahanda, maka tentu ayahanda sempat mengirimkan utusan untuk mencegah kedatangan anak Jati Aking itu” Sejenak bibi Warih itu dilanda oleh kebimbangan. Sekali- sekali ia masih mencoba mempertahankan dirinya dari godaan perasaan dan nafsunya. Namun ternyata bahwa ia tidak dapat melawannya lagi sehingga akhirnya ia berkata “Terserahlah kepadamu Warih. Tetapi aku dan eyangmu telah mencoba mencegahmu. Jika terjadi sesuatu dengan ibumu, itu adalah kesalahanmu” “Ah“ desah Rara Warih “Kenapa bibi berkata demikian?“ “Aku tahu bahwa ibundamu belumsembuh sama sekali” Rara Warih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata “Aku akan berhati-hati. Aku hanya ingin memohon agar ibunda sudi mengurungkan niat ayahanda memanggil kamas Juwir ing. Jika ibunda masih akan beristirahat di sini, aku hanya ingin ibunda menulis surat kepada ayahanda, bahwa ibunda tidak sependapat jika anak Jati Aking itu kembali lagi ke istana. Jika ayahanda masih memikirkan kesehatan ibunda untuk seterusnya, maka tentu ayahanda akan mengabulkannya. Sebab jika tidak maka ibunda tidak akan segera mendapatkan ketenangannya kembali” Bibinya menarik nafas dalam-dalam. Lalu “Terserah kepadamu Warih. Jika kau ingin bertemu, marilah” Rara Warih menjadi berdebar-debar. Tetapi iapun kemudian berdiri ketika bibinyapun berdiri pula.“Ibundamu ada di bilik belakang Warih” “O“ Rara Warih terkejut “Apakah ibunda tidak ada di dalam bilik itu?“ “Di sini agaknya terlalu ribut bagi ibundamu yang memer lukan ketenangan” Rara Warih tidak menyahut lagi. Ia mencoba mengerti keterangan bibinya itu. Dan iapun kemudian melangkah mengikut i bibinya ke bilik belakang, meskipun masih ada di dalam lingkungan istana dalam. Sejenak Warih berpaling memandangi pintu yang tertutup. Ia mengira bahwa ibunya ada di dalam ketika pintu itu terbuka. Ternyata ibundanya tidak ada di dalam bilik itu. Dengan langkah yang bimbang Rara Warih mengikuti bibinya. di depan pintu bilik yang tertutup mereka berhenti sejenak. Bibinya masih sempat berkata “Jangan membuatnya terkejut dan bersedih Warih” Warih mengangguk ”Ya bibi” Perlahan-lahan bibinya membukakan pintu bilik itu. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun sejenak kemudian iapun tersenyum sambil berkata “Apakah kau menjadi semakin baik?” Terdengar sebuah tarikan nafas yang dalam. “Masuklah” “Aku datang mengantarkan War ih” “Warih. Warih ada di sini?“ bertanya Raden Ayu Galih Warit yang berbaring di pembaringannya. Warih yang menahan kerinduannya tidak dapat bersabar lagi. Tiba-tiba saja ia berlar i dan memeluk ibunya yang masih tetap berbaring. “Ibunda” desisnya “ibunda sudah sembuh sama sekali?“Sambil membelai rambut anaknya Raden Ayu Galih Warit berkata “Aku sudah menjadi semakin baik Warih” Setitik air mata jatuh dari pelupuk Rara Warih. Katanya dengan suara serak “Aku sudah sangat rindu. Dan aku menunggu ibunda setiap saat” Ibunya tersenyum. Katanya “Jika ibunda sudah baik sama sekali, ibunda akan segera kembali” “Tentu ibunda. Jika sekiranya ibunda sudah sanggup, sebaiknya ibunda segera kembali. Nanti aku akan melayani semua kebutuhan ibunda” Raden Ayu Galih Warit menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika hatinya akan tergelincir ke dalam kepedihan, dengan sekuat tenaganya ia bertahan, dan mencoba menyingkirkan segala perasaannya, justru karena anak gadisnya ada di dalam bilik itu. Ternyata Raden Ayu Galih Warit berhasil. di dalam hatinya Raden Ayu Galih Warit itu berkata “Aku tidak boleh kehilangan kesadaran selagi Warih ada di sini. Aku harus tetap menyadari setiap kata yang aku ucapkan. Dan aku harus bertahan dari deraan perasaan yang hampir tidak tertanggungkan lagi” Dengan pemusatan segenap akal budi, maka untuk beberapa saat Raden Ayu Galih Warit ternyata mampu bertahan. Ketika kenangannya hampir saja menyentuh Rudira, dengan cepat ia menekannya dan mencoba memusatkan segenap perhatiannya kepada Rara Warih. “Warih” katanya sambil mengusap rambut anaknya “kau datang pada saat yang baik” “Ya ibu. Aku mengharap agar kedatanganku tidak mengganggu ketenangan ibunda” “Tidak Warih. Kau justru membuat aku menjadi gembira”Warih menekankan kepalanya ke dada ibunya. Rasa- rasanya seperti kehangatan di masa kanak-kanaknya tidur bersama ibunya di malam yang sepi. Bibinya yang masih berdir i di muka pintu menjadi tertegun melihatnya. Agaknya kehadiran Warih membuat hati ibunya semakin cerah. “Tetapi jika Warih mulai membicarakan persoalannya, maka yang akan terjadi agaknya berbeda sekali” katanya di dalam hati. Tetapi untuk beberapa saat Warih tidak mengatakan apa- apa. “Duduklah” terdengar suara Raden Ayu Galih Warit kepada adiknya. Perlahan-lahan ia melangkah maju dan duduk di atas sebuah tempat duduk dar i kayu yang beralaskan beludru. “Ibunda” berkata Warih kemudian sambil mengangkat wajahnya dan bahkan kemudian bangkit dan duduk di sisi ibundanya “Aku berharap agar ibunda segera sembuh dan kembali ke rumah. Rumah kita menjadi sepi dan rasa-rasanya kering” Raden Ayu Galih Warit tersenyum. Hampir saja ia terlempar ke dalam kenangan yang dapat menyuramkan kesadarannya. Namun ia kemudian berkata “Jika aku sudah sembuh Warih, aku akan datang” Rara Warih mengangguk-anggukkan kepalanya. Terlintas di dalam bayangan angan-angannya, Juwiring mulai berkuasa di istana Ranakusuman dan memerintah para abdi dan pelayan. Karena itu. ia tidak lagi dapat mengendalikan dir i lagi. Rasa- rasanya semua yang tersimpan di dalam hatinya, akan ditumpahkannya kepada ibundanya tanpa mengingat keadaannya.Tetapi sebelum ia megucapkan sesuatu, maka sambil tersenyum Raden Ayu Galih Warit berkata “Warih. Aku tahu, bahwa banyak sekali persoalan yang akan kau katakan kepadaku. Tetapi aku minta, kau menahankannya di dalam hatimu. Aku masih terlalu lemah, Warih. Bukan saja badani, tetapi juga rohani. Setiap kejutan, setiap persoalan yang berat, masih dapat membuat aku kehilangan kesadaran. Ketahuilah, bahwa saat ini aku sedang berjuang untuk mempertahankan kesadaranku. Agaknya aku berhasil. Tentu saja dengan kerelaanmu menahan hati” “O“ Rara Warih berdesah. Tetapi ketika ia melihat wajah ibunya yang meskipun dibayangi oleh sebuah senyuman di bibirnya, namun wajah itu terlampau pucat, ia tidak dapat menolaknya. Kacanya “Memang ada yang akan aku katakan ibunda. Tetapi jika ibunda tidak dapat mendengarkannya sekarang, barangkali di saat lain” “Terima kasih Warih” “Meskipun demikian ibunda” berkata Rara Warih kemudian “Apakah aku diperkenankan menyebut sebuah saja dari persoalan yang paling cepat harus diselesaikan?“ Raden Ayu Galih Warit mengerutkan keningnya. Namun ia menggelengkan kepalanya sambil berkata “Jangan Warih, jangan sekarang” Sebuah kekecewaan memercik di wajah Warih. Ia ingin mengatakan persoalan Juwiring, agar ibunyapun dapat mengambil sikap segera. Tetapi ia menjadi ragu-ragu melihat keadaan ibunya. Yang menjadi kecewa ternyata bukan saja Warih. Tetapi bibinyapun menjadi kecewa. Ia ingin melihat Warih terkejut dan kemudian kehilangan segala gairah hidupnya apabila ia mendengar ibunya mengigau tentang dirinya sendiri, sambil menyebut beberapa nama laki- laki. Dan laki-laki itu adalah kumpeni.Tetapi yang didengarnya adalah suara Rara Warih “Baiklah, ibu. Jika ibu memang tidak berkenan, biarlah aku kembali besok atau lusa. Tetapi secepat-cepatnya” Raden Ayu Galih Warit menar ik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia harus memusatkan segenap pikiran dan perasaannya untuk melawan gangguan pada pusat syarafnya. Dengan sepenuh kemauan ia memalingkan perasaannya. Bahkan Raden Ayu Galih Warit itu tersenyum “Kau memang sangat bijaksana Warih. Kau adalah anakku yang paling baik. Sekarang, tolong ibunda akan minum” “O“ Rara Warihpun kemudian berdiri. Sejenak ia memandang bibinya, seakan-akan ia ingin bertanya dimanakah letak. mangkuk minuman ibundanya. Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu, ia mengatakan sesuatu, ia sudah melihat sebuah mangkuk di atas nampan. Beberapa macam buah-buahan dan makanan. Dengan cekatan Rara Warih mengambil mangkuk itu dan menyerahkannya kepada ibunya. Setelah minum seteguk, maka Raden Ayu Galih Warit tersenyum pula sambil berkata “Terima kasih Warih. Aku merasa segar hari ini. Aku akan mencoba untuk tidur sejenak. Apakah kau akan bermalam di sini?“ Rara Warih ragu-ragu. Tetapi ibunya meneruskan “Kembali sajalah ke ayahmu. Ayahmu sendiri. Barangkah kau diperlukannya” “Akulah yang selalu sendiri ibunda. Ayah terlampau sering menghadap ke istana” Ibunya mengerutkan keningnya. Namun katanya ”Baiklah. Tetapi lebih baik bagimu ada di rumah. Supaya ada yang disegani oleh para abdi dan pelayan” Rara Warih mengangguk-anggukkan kepalanya.“Aku membawa kereta ayahanda” berkata Rara Warih “dan kereta itu memang masih menunggu di halaman” Ibunya tertawa ”Baiklah. Agaknya kau memang akan segera kembali” Rara Warihpun kemudian minta diri. Betapapun ia merasa kecewa, tetapi ia harus menahan dir i agar ibundanya tidak mendapat kejutan lagi. Rara Warihpun kemudian meninggalkan bilik itu betapapun ia merasa kecewa, seperti juga bibinya yang kecewa meskipun alasannya berlainan. “Jika tidak sekarang, pada saatnya Warih akan mengetahui” katanya di dalam hati “Jika ibundanya telah sembuh, maka akan timbul persoalan pada keluarga itu. Apakah kamas Ranakusuma dapat menerimanya kembali” Namun belum lagi mereka meninggalkan pintu bilik itu terlalu jauh, langkah mereka tiba-tiba tertegun. Mereka mendengar suara isak di dalambilik itu. Sepeninggal Rara Warih agaknya ibundanya tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Tiba saja tangisnya meledak. Seperti biasanya ia mulai dilanda oleh penyesalan yang tiada taranya. Sejenak Rara Warih dan bibinya tertegun. Namun ketika Rara Warih akan berlari mendapatkan ibunya yang sedang menangis maka lengannya ditarik oleh bibinya dengan gerak naluriah sambil berkata “Jangan Warih” “Tetapi ibunda menangis” “Jangan” Rara Warih mengibaskan tangan bibinya. Kemudian iapun berlari masuk ke dalam bilik itu. Ketika pintu bergetar, maka tiba-tiba saja tangis Raden Ayu Galih Warit terputus. Ditatapnya anak gadisnya yang berlari memasuki ruangan itu. Namun ternyata syarafnya sudah mulaiterganggu. Ketika ia melihat Rara Warih mendekatinya, tiba- tiba saja ia justru tertawa sambil berkata “He, kenapa kau datang berlari-lari. Aku tidak akan pergi sebelum kau member ikan senjata itu” Rara Warih terkejut bukan buatan. Wajah ibunya sudah berubah sama sekali, sehingga Rara Warih justru melangkah surut. Suara tertawa ibunya menjadi semakin keras. Namun tiba-tiba suara tertawa itu terputus. Sejenak ia memandang Rara Warih. Namun kemudian iapun menelungkup sambil menyembunyikan wajahnya di bawah kedua telapak tangannya. “Bukan aku yang membunuh. Bukan. Bukan” “Bibi“ Warihpun menjadi gemetar. Dan tiba-tiba saja ia berlar i memeluk bibinya. “Tenanglah Warih“ “Bibi. Apakah yang telah terjadi dengan ibunda?” “Tidak apa-apa Warih. Tetapi itu adalah sisa-sisa dar i kejutan yang tidak terhindarkan lagi” “Tetapi, tetapi ibunda menangis” Bibinya tidak menyahut. Dan tanpa dapat dikekang lagi, maka mulailah Raden Ayu Galih Warit mengigau sepatah- sepatah.“Warih” berkata bibinya “biarlah aku memanggil emban yang sudah biasa melayani ibundamu” “Aku takut bibi. Aku takut” Bibinya termenung sejenak, lalu “Marilah. Ikutlah” Rara Warihpun kemudian mengikuti bibinya memanggil emban yang sudah biasa melayani Raden Ayu Galih Warit jika gangguan syarafnya kambuh kembali. Namun dalam pada itu, meskipun hanya sekilas, Warihpun sempat mendengar igauan ibunya. Sepatah-patah yang didengarnya membuat hatinya berdebar-debar. Seakan-akan ia mendengar suara baru yang mengemandang dari dunia yang asing baginya. Mula-mula Warih tidak tahu arti dari igauan yang sepotong- sepotong itu. Namun sebagai seorang gadis yang meningkat dewasa, terasa sentuhan-sentuhan pada dinding hatinya. Semakin lama terasa semakin dalam dan pedih. “Bibi“ Wajah Rara Warih menjadi pucat. Melihat wajah yang seputih kapas itu, bibinyapun terkejut pula. Keringat dingin yang membasahi wajah itu, seolah-olah Warih baru saja selesai mandi. Sepercik kekecewaan meloncat di hati bibinya. Tetapi semuanya sudah terjadi. Dan Warih sudah mendengar sebagian besar dari rahasia ibunya yang selama ini tersembunyi baginya Warih yang sama sekali tidak siap mengalami kejutan semacam itu, bahkan bermimpipun ia tidak berani membayangkannya, tiba-tiba ia telah terbentur pada kenyataan itu. Karena itu, maka nadinya bagaikan tidak berdaya lagi. Sesaat ia mencoba bertahan. Namun kemudian matanya menjadi gelap dan gadis itupun menjadi pingsan. Ketika Warih sadar, ia sudah berbaring di dalam bilik depan. Dilihatnya bibinya duduk di sebelahnya sambilmengusap air mata. Ia benar-benar menyesal melihat akibat yang terkesan di hati gadis itu. Di sebelah pembaringan itu, Pangeran Sindurata duduk dengan tegangnya. Kepalanya dibalut dengan ikat kepalanya untuk menahan pening yang bagaikan menyengat tengkuk. “Eyang“ Warih mulai menangis “Apakah yang sebenarnya sudah terjadi atas ibunda?” “Sudahlah Warih” berkata Pangeran Sindurata “Jangan hiraukan” “Tetapi aku mendengar ibunda mengigau” suaranya terputus. Dan tangisnyapun meledak. Beberapa saat lamanya Rara Warih tenggelam di dalam isak tangisnya. Tetapi perlahan- lahan tangis itupun mereda pula. “Warih” berkata bibinya yang pelupuknya masih basah “Kau sudah cukup dewasa. Kau waj ib menghadapi kenyataan ini dengan hati yang tabah. Lambat atau cepat, kau pasti akan mengetahuinya juga. Karena itu, agar kau tidak selalu dicengkam oleh rahasia yang menyelubungi ibundamu, maka sebaiknya kau segera mengetahuinya” “Tetapi kenyataan itu terlampau kejam bagiku bibi. Tetapi apakah aku benar-benar mendengar igauan ibunda?“ “Kau harus tabah. Kematian kamasmu Rudira itulah yang benar-benar telah mengguncangkan hati ibundamu, sehingga penyesalan yang tiada taranya telah membuatnya kehilangan kesadarannya” “Tetapi apakah benar seperti apa yang dikatakan ibunda di dalam ketidak sadarannya tentang ibunda itu sendir i bibi?“ “Kita semuanya tidak mengetahuinya Warih”“Selama ini aku menganggap bahwa tidak ada noda sehitam itu di dalam keluarga kami” suara Warih terputus oleh isaknya yang kembali mulai menyesak. Bibinya menundukkan kepalanya. Tiba-tiba iapun dihadapkan pada suatu pengakuan. “Bagaimana j ika pada saatnya Warih mengetahui keadaan ayahnya? Warih menganggap ayahnya kini sebagai satu- satunya tempat bergantung. Meskipun mula-mula Warih kecewa, bahwa ayahnya mempunyai isteri lebih dari seorang, namun apabila gadis itu mengetahui bahwa disamping isteri- isterinya itu masih ada perempuan lain, dan perempuan lain itu adalah bibinya sendiri, maka hatinya tentu akan menjadi semakin parah” berkata bibinya itu di dalam hatinya. Sejalan dengan penyesalan yang mulai mencengkam dadanya. Bukan saja karena ia telah seakan-akan dengan sengaja melemparkan Rara Warih ke dalam keadaan yang pahit, namun juga karena hubungannya dengan Pangeran Ranakusuma. Apalagi kedua-duanya adalah orang yang telah berumah tangga. Karena itulah maka bukan saja Rara Warih, tetapi di pelupuk mata bibinya itupun, titik-titik air rasa-rasanya menjadi semakin banyak mengambang. Pangeran Sindurata yang tua, yang kepalanya sering diganggu oleh perasaan sakit dan pening itupun menjadi semakin pening. Tetapi ia sempat juga mencoba melunakkan hati Rara Warih, sehingga akhirnya ia berkata “Sudahlah Warih. Sekarang kau tahu, kenapa aku dan bibimu berusaha untuk mencegahmu menemui ibundamu. Tetapi agaknya semuanya telah terjadi. Kau harus bersikap dewasa. Dan agar hatimu tidak menjadi semakin pedih, sebaiknya kau kembali kepada ayahmu. Kau dapat berbicara dengan ayahmu dengan cara orang dewasa. Kau bukan anak-anak lagi. Terlebih-lebih lagi karena keadaan ibundamu itu. Sekarang kau harus percaya kepada dirimu sendir i, bahwa kau mampu mengatasisetiap keadaan yang bertentangan dengan keinginan dan bayangan di dalam angan-anganmu. Kau harus berani menghadapi kenyataan betapapun pahitnya” Rara Warih mencoba menganggukkan kepalanya. Tetapi ia sendiri tidak yakin bahwa ia akan dapat melakukannya Namun demikian, ia berkata “Baiklah eyang. Sebaiknya aku kembali pula. Aku akan mengatakannya kepada ayahanda, apa yang aku jumpai di sini. Agaknya ayahandapun memang membiarkan aku mendengar sendir i apa yang telah terjadi. Ternyata ayah telah membiarkan aku mempergunakan kereta itu” Pangeran Sindurata mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia berdesis “Agaknya kami dan juga ayahandamu menganggap bahwa kau benar-benar telah dewasa” Rara Warih yang masih menit ikkan air mata mengangguk lemah. Rasa-rasanya hatinya bagaikan mengambang di awang-awang tanpa alas. Namun ia berusaha untuk mendengarkan setiap nasehat dari kakek dan bibinya. Demikianlah, sejenak kemudian tanpa menengok ibundanya lagi, karena Warih tidak sampai hati, iapun kembali kerumahnya. di sepanjang jalan tangannya sibuk mengusap matanya yang basah. Di belakang keretanya berderap seekor kuda yang membawa seorang pengawal yang mendapat perintah dari Pangeran Sindurata untuk mengantarkan Warih sampai ke istana Ranakusuman. Ketika ia naik ke pendapa rumahnya, terasa rumah itu terlampau sepi. Sepi sekali. Meskipun di regol ada juga para pengawal dan para abdi yang sibuk di kebun dan halaman, tetapi rasa-rasanya rumah itu adalah rumah yang tidak berpenghuni.Perlahan-lahan Rara Warih melintasi pendapa. Ia tertegun sejenak ketika ia melihat pintu bergerak. Dan hatinya tiba-tiba terguncang ketika ia melihat ayahnya berdiri di depan pintu. Rara Warih sesaat bagaikan mematung. Namun kemudian iapun berlari memeluk ayahnya sambil berdesah memelas “Ayah. Ayah. Aku tidak beribu lagi” Pangeran Ranakusuma adalah seorang Panglima yang pilih tanding di peperangan. Tetapi menghadapi pengakuan anaknya itu rasa-rasanya matanya menjadi panas dan lehernya bagaikan tersumbat. “Ayahanda” desis Rara Warih disela-sela tangisnya “Kenapa ayahanda tidak mengatakan kepadaku sebelumnya” Pangeran Ranakusuma membelai rambut anak gadisnya. Setelah ia berhasil mengatur perasaannya, maka katanya “Masuklah Warih” Rara Warih mencoba menahan isaknya. Perlahan-lahan, dibimbing oleh ayahandanya ia masuk ke ruang dalam. Namun tiba-tiba saja gadis itu berlari masuk ke dalam biliknya dan menangis tersedu-sedu sambil menelungkup. Pangeran Ranakusuma berdir i sejenak di pintu yang terbuka. Dibiarkannya saja anaknya memeras air matanya. Dengan demikian, maka beban dihalinya akan menjadi bertambah ringan, seolah-olah sebagian telah ditumpahkan bersama air matanya. Pangeran Ranakusuma kemudian meninggalkan bilik itu dan duduk di hadapan pintu yang masih terbuka. Rasa- rasanya ia tidak sampai hati meninggalkan anak gadisnya, yang oleh kelelahan haii dan tubuhnya, telah tertidur sambil menelungkup. Seperti perasaan Warih, sebenarnyalah Pangeran Ranakusuma merasa betapa sepi istananya itu. Sekilas ia terkenang kepada isterinya yang telah diserahkannya kembalikepada orang tuanya juga kepada isterinya yang sudah meninggal dan meninggalkan seorang anak laki- laki bernama Juwiring, bahkan sekilas terbayang wajah adik kandung Raden Ayu Galih Warit. Namun bayangan-bayangan itu ditekankannya dalami di dalam dadanya. Sebagai seorang Senapati perang, maka ia harus dapat mempergunakan akalnya sebaik-baiknya untuk memecahkan setiap persoalan. Bukan sekedar perasaan. Dan persoalan pribadinya itupun dicobanya direnunginya dengan pertimbangan nalar. “Kedua anak-anak itu harus menemukan suatu cara untuk dapat berkumpul di dalam rumah ini sebagai anak-anakku” katanya di dalam hati. Ketika kemudian Rara Warih terbangun, maka agaknya ia sudah menjadi agak tenang. Ia tidak lagi menangis meskipun tampak betapa luka di hatinya terasa sangat pedih. Seolah- olah di dalam waktu yang pendek, ia sudah kehilangan dua orang yang paling dikasihinya. Kakaknya, Raden Rudira dan kini ibunya, yang meskipun masih hidup, tetapi pengakuan di luar sadarnya itu bagaikan sebuah benteng yang tebal dan tinggi, yang membatasi ikatan di antara dirinya dengan ibunya. Setelah membersihkan dir inya dipakiwan. maka Rara Warih mencoba untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang rasa-rasanya baru sama sekali di dalam rumahnya itu. Tidak ada lagi yang akan memanjakannya dengan berlebih-lebihan. Ayahnya, karena tugasnya sebagai seorang Senapati, terlampau ser ing meninggalkan istananya. Pangeran Ranakusuma membiarkan anak gadisnya berbuat apa saja. Tetapi hari itu, ia sama sekali t idak sampai hati meninggalkannya seorang dir i di rumah. Sementara itu, Ki Dipanala yang menyertai Juwir ing dan kedua adik seperguruannya, telah menghadapi Kiai Danatirta di Jati Aking. Banyak persoalan yang dikatakannya. Namun akhirnya sampai juga ia kepada persoalan pokok darikehadirannya, menyampaikan pesan Pangeran Ranakusuma untuk minta agar Kiai Danatirta mengijinkan Juwiring kembali ke istana Ranakusuman, meskipun itu bukan berarti bahwa ia harus meninggalkan Jati Aking. “Jarak antara Surakarta dan Jati. Aking tidak terlampau jauh” berkata Ki Dipanala kemudian. Lalu “Kakang, jika aku diperbolehkan member ikan pertimbangan, aku tidak berkeberatan jika Raden Juwiring ada di istana Ranakusuman. Dalam saat ini, Pangeran Ranakusuma seolah-olah sedang terlempar ke dalam dunia yang kosong. Jika Raden Juwiring berhasil menembus dinding hatinya yang kosong itu, tentu ia akan mendapat tempat. Bukan untuk kepentingan pr ibadi seperti Raden Rudira, tetapi untuk kepentingan yang jauh lebih luas dar i kepentingan pr ibadi itu” Kiai Danatirta segera mengerti maksud Ki Dipanala. Sebenarnya iapun sependapat, bahwa Pangeran Ranakusuma perlu dibangunkan dari tidurnya yang nyenyak. Bahkan kadang-kadang dengan mimpi yang indah yang dapat membuatnya membenci dirinya sendiri. Keluarganya dan bangsanya. Tetapi rasa-rasanya, sangat berat baginya untuk melepaskan Juwiring. Sudah lama anak muda itu tinggal di padepokannya. Bahkan rasa-rasanya Juwiring sudah seperti anaknya sendiri. Meskipun setiap saat Juwiring akan dapat datang ke padepokan ini, tetapi anak itu tidak akan tampak lagi mondar mandir di halaman, bekerja di sawah dan pategalan, serta berada di bangsal latihan. “Apakah tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh“ Orang tua itu bertanya kepada Ki Dipanala. “Aku tahu kakang. Sangat berat rasanya melepaskan Raden Juwiring. Tetapi aku berharap, agar kakang memberikan kesempatan yang luas kepadanya untuk membentuk masa depannya dengan semua kesempatan dan kemungkinan yangada padanya, selain harapan-harapan yang jauh lebih berharga dari itu” “Aku mengerti. Dan aku seharusnya tidak boleh berkeberatan. Tetapi aku tidak dapat melepaskan dir i dari berbicara tentang kepentingan diriku pula. Tentang perasaan seorang tua, dan tentang ketergantungan perasaanku tanpa keseimbangan nalar. Aku mengerti, seperti kesadaran seorang yang menangisi dan berteriak memanggil nama seseorang yang telah mati. di dalam keadaan yang wajar, ia tentu mengerti, bahwa suaranya tidak akan dapat didengar, dan yang mati tidak akan kembali. Tetapi di dalam saat tertentu, kesadaran itu menjadi pudar jika kita mengalaminya” Ki Dipanala hanya dapat menar ik nafas dalam-dalam. Kiai Danatirta adalah orang yang mumpuni, sehingga ia menyadari pergolakan di dalam dir inya sendiri. Menyadari keburaman kesadarannya. Menyadari kepincangan pertimbangan nalarnya. Namun setelah merenung sejenak, Kiai Danatirta itu berkata “Agaknya memang tidak ada yang dapat aku lakukan dari pada mengiakannya” orang tua itu berhenti sejenak, lalu “Bukan karena aku seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulitan perasaan sendiri. Tetapi yang lebih dari pada itu, aku mengerti bahwa aku tidak akan dapat melawan kehendak Pangeran Ranakusuma. Selain ia seorang Pangeran, ia juga ayah dari Raden Juwiring itu. Sebagai seorang ayah, ia mempunyai wewenang mut lak untuk itu” Sekali lagi Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak akan ada keputusan lain yang dapat diambil oleh Kiai Danatirta. Ia tentu tidak akan memanggil Raden Juwiring dan bertanya kepadanya, apakah ia bersedia atau tidak, karena menurut pertimbangannya, Raden Juwiring tidak mempunyai pilihan selain melakukan perintah ayahandanya seperti pada saat ia harus meninggal istana itu. Demikianlah maka ia sekarang harus kembali ke dalamnya, meskipunRaden Juwiring pernah bersikap untuk tidak mengaitkan dirinya lagi dengan istana dan keluarganya. Tetapi kini agaknya ada pertimbangan lain. Namun sebenarnyalah. Juwiring dicengkam oleh kebimbangan. Meskipun ia tidak berada di antara gurunya dan Ki Dipanala, namun ia duduk sendir i di dalam biliknya sambil merenungi dirinya sendiri, keluarganya dan Surakarta. “Kelebihan harta benda tidak menjamin kebahagiaan sebuah keluarga” katanya di dalam hati “meskipun j ika aku harus memilih, apakah aku lebih senang menjadi seorang yang kaya atau seorang yang miskin, aku akan memilih untuk menjadi seorang yang kaya. Namun aku tidak akan dapat ingkar, bahwa kekayaan bukan satu-satunya sumber kebahagiaan” Dan Juwiring melihat ke dalam dirinya sendir i, keluarganya yang kisruh meskipun bergelimang kekayaan dibanding dengan keluarga yang tampak tenang dan damai dipadepokan Jati Aking ini. Jika fajar mulai memerah di Timur, dan angin pagi yang segar bertiup di antara dedaunan, kemudian bayangan matahari yang menguning di wajah air jernih yang mengalir di parit-parit, disusul dengan kerja dipanasnya pagi, terasa betapa hidup ini teramat segar dan tenang. Suara seruling yang dilontarkan oleh anak-anak yang menggembalakan kambing ditebing kali, dentang palu pandai besi di perapian, dan rengek anak-anak menjelang minum susu ibunya di antara lenguh lembu dan kerbau, adalah suasana damai yang tidak akan ditemukan di dalam kota Surakarta yang sibuk oleh derap kehidupan yang terasa terlampau cepat dan tergesa- gesa. “Aku adalah salah seorang dari masa yang akan segera tertinggal oleh derap jaman” desis Juwiring di dalam hatinya“Tetapi aku senang menikmati hidup yang damai”Tetapi kemudian “Namun aku tidak dapat mengelakkan jalan hidup yang terbentang di hadapanku. Jalan yang menjadi semakin ramai dan riuh. Dan apakah aku akan membiarkan dir iku semakin jauh ketinggalan, selagi ada kesempatan untuk menemukan penghidupan baru yang barangkali akan dapat menjadi pancadan untuk mengembangkan hidup di padesan ini tanpa meninggalkan ciri-ciri kedamaian dan bentuk kekeluargaan yang rapat?“ Pertanyaan itupun ikut bergulat di dalam hati Juwiring. Namun iapun sadar, bahwa apapun keputusannya, jika ayahnya memaksakan kehendaknya, ia tidak akan dapat mengelak. Dan itulah sebabnya ia kemudian berkata kepada diri sendiri. “Aku harus membentuk jalanku sendiri, bukan sekedar terseret oleh arus betapapun derasnya, jika arus itu tidak sesuai dengan nuraniku” Dengan sandaran itulah Juwiring kemudian memutuskan di dalam hatinya, ia akan pergi ke Kota dan mencoba hidupi di dalam istana yang megah sebagai putera seorang Pangeran yang menjabat Senapati yang berpengaruh di Surakarta. Tanpa membicarakannya lebih dahulu, Kiai Danatirta dan Juwiring memang mempunyai kesimpulan yang sama, apapun alasannya. Juwiring akan meninggalkan padepokan Jati Aking. Ketika akhirnya keputusan itu saling disepakati dengan, beberapa pesan dari Kiai Danatirta, maka rasa-rasanya padepokan itu akan menjadi sepi bagi penghuninya yang tinggal. Kiai Danatirta yang kemudian memanggil anak-anak angkatnya itupun menjelaskan bahwa tidak ada jalan yang lebih baik bagi Raden Juwiring daripada meninggalkan padepokan ini. Tetapi bukan berarti bahwa tidak akan ada hubungan lagi di antara mereka, karena Juwiring akan selalu mondar mandir antara Surakarta dan Jati Aking.“Apakah tidak lebih baik kau tetap ada di sini kakang“ berkata Buntal kemudian “Tetapi kau sering menengok keluargamu yang ada di Kota” “Keluarganya memer lukannya” berkata Kiai Danatirta “betapapun beratnya, aku harus melepaskannya. Tetapi seperti yang aku pesankan kepadanya, bahwa Raden Juwiring bukan saja sekedar mengisi kesepian hati ayahandanya, tetapi ia wajib memberikan arah kepada keluarganya di dalam masa- masa yang suram bagi Surakarta ini. Dan karena itulah maka waktunya akan lebih banyak diper lukan di istananya. Namun demikian, ia masih harus menyempurnakan ilmunya. Dan aku berharap sepekan sekali Raden Juwir ing akan datang” “Ya ayah” jawab Juwir ing “Aku akan selalu datang. Aku menyadari bahwa ilmuku masih jauh dari mencukupi. Apalagi ketika aku berada di lingkungan para bangsawan. Terlebihi lagi ketika aku bertemu dengan Kamas Said di pinggir bengawan. Maka aku merasa diriku masih terlampau kecil” “Tentu“ Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya “Memang masih diperlukan waktu yang jauh untuk mendekati kemampuan Raden Mas Said, Meskipun kau tidak berhasil menyamainya, tetapi Setidak-tidaknya kau dapat mempergunakan kemampuan yang sedikit ada padamu untuk kepentingan yang baik. Baik bagi sesama dan terlebih- lebih bagi Surakarta, dan baik dalam pandangan Yang Maha Pencipta” Raden Juwiring menundukkan kepalanya, la sadar, bahwa kepergiannya dari Jati Aking kembali ke Surakarta, bukannya akhir dar i hidup keprihatinannya. Justru ia baru mulai dengan pengabdian yang nyata meskipun baru akan dimulai dari lingkungan kecil, istana Ranakusuman. Akhirnya, datanglah saatnya Juwiring benar-benar meninggalkan Jati Aking bersama Ki Dipanala. Terasa setiap hati menjadi berat. Buntal yang hampir setiap saat selalubersamanya di dalam kerja, tidur dan bergurau, merasakan betapa ngela-ngutnya perpisahan itu. Buntal menar ik nafas dalam-dalam. Ia merasakan pergolakan yang aneh di dalam hatinya. Air mata Arum itu bagaikan ujung-ujung duri yang menyentuh jantungnya. Terasa juga pedihnya. “Arum menangis karena kakang Juwiring pergi meninggalkan padepokan ini” katanya di dalamhati. Namun kemudian dengan segenap kemampuan kesadarannya, ia mencoba menekan perasaan itu. Katanya kepada diri sendiri “Itu adalah wajar sekali Ia sudah berkumpul lama sebagai saudara di dalam satu rumah. Kepergian Juwir ing tentu akan mempengaruhi perasaannya. Jangankan Arum seorang gadis betapapun ia memiliki kemampuan ilmu kanuragan. Sedangkan aku, seorang laki- lakipun, rasa-rasanya terlampau berat untuk berpisah dengan orang yang sudah lama t inggal bersama dan mengalami persoalan dari nasib yang serupa” Meskipun demikina, setiap kali ia melihat tetesan air mata Arum, rasa-rasanya jantungnya masih tersentuh pula. “Aku bukannya pergi untuk selama- lamanya” berkata Juwiring ketika mereka sudah berada di regol padepokan “Aku akan datang setiap kali. Kita masih akan selalu bertemu dan berlatih bersama. Mungkin aku akan ketinggalan karena aku hanya sempat berlatih sepekan sekali, sedangkan kalian akan melakukannya setiap hari. Namun aku sadar, bahwa aku masih harus meningkatkan ilmuku. Dan Jati Aking adalah sumber ilmu itu” Arum menganggukkan kepalanya. Tetapi tidak sepatah katapun yang dapat keluar dar i mulutnya. “Kami di sini akan selalu menunggu j ika saatnya kau datang” berkata Buntal kemudian “mudah-mudahan kau berhasil berdiri sebagai batu karang yang teguh di tengah arusbanjir bandang. Kau akan dapat menjadi pegangan, bukan justru kau akan hanyut di dalamnya” “Kau akan selalu berdoa untukku” sahut Juwir ing “Aku sadar betapa lemahnya manusia. Karena itu, aku memer lukan sandaran, kekuatan hati yang datang dari Maha Kuasa” “Kau akan selalu mendapatkannya anakku” berkata Kiai Danatirta kemudian “Tetapi jangan lupa menjalankan semua perintah-perintahNya, yang terutama perintah lima waktu, dan berdoalah memohon kepadaNya. Siang dan malam” “Ya ayah. Jika aku tidak menjalankannya, berarti aku sudah menjauhinya. Dan itu pertanda kegagalanku” “Tuhan akan dekat, kalau kita mendekatkan dir i kita kepadaNya” Juwiring menundukkan kepalanya. Pesan itu terasa menyentuh hatinya dalam-dalam. “Aku titipkan anak ini kepadamu” berkata Kiai Danatirta kepada Ki Dipanala. “Aku akan berbuat sebaik-baiknya kakang. Dan aku akan menyerahkannya kepada ayahandanya. Selanjutnya, bukan Raden Juwiringlah yang kau titipkan kepadaku, tetapi kami, seisi istana Ranakusuman mengharapkannya, dan menitipkan diri sendiri kepada anak muda ini” “Ah“ Raden Juwir ing berdesah. Demikianlah maka datanglah saatnya perpisahan itu. Raden Juwiring dan Ki Dipanalapun segera meloncat ke punggung kudanya dan meninggalkan padepokan Jati Aking dengan hati yang berat, meskipun ia masih akan selalu datang setiap pekan. Karena itu pulalah, maka semua Barang-barangnya, pakaiannya dan apa saja, tidak dibawanya, agar setiap saat ia memer lukan j ika ia datang ke padepokan itu, tidak harus membawanya lagi dar i kota.Untuk beberapa lama, keduanya sama sekali t idak berbicara. Ki Dipanala mengerti, bahwa Juwiring masih berusaha mengendapkan perasaannya. Agaknya iapun merasakan sesuatu yang hilang ditinggalkan di padepokan Jati Aking. Hubungan yang rapat dengan Buntal dan Arum sebagai saudara sekandung saja. Sikap yang lembut dari Kiai Danatirta, dan suasana yang nyaman dan damai. Namun kemudian di sela-sela derap suara kudanya, Juwiring berkata “Paman, rasa-rasanya aku akan pergi ke daerah yang asing bagiku meskipun aku sebenarnya pulang ke rumah orang tuaku” “Tetapi keasingan itu tidak akan terasa lama. Raden” jawab Ki Dipanala. “Aku tidak tahu, bagaimana sikap diajeng Warih terhadapku. Tetapi aku bertekad untuk tidak menghiraukannya” “Sebaiknya untuk sementara Raden menjauhinya, la berhati keras seperti ayahanda dan tinggi hati seperti ibundanya” Juwiring mengangguk-angguk. Warih baginya adalah tantangan pertama di dalam rumahnya itu. Kemudian para pengawal yang semula berada di bawah pengaruh Raden Rudira dan bahkan telah memusuhinya dan juga memusuhi Ki Dipanala. Tetapi bagi Juwiring, mereka tidak akan banyak member ikan kesulitan, karena apapun yang akan mereka lakukan, mereka tidak akan berani menerima akibat untuk dilepas dari pekerjaannya, atau bahkan menerima hukuman dari ayahandanya. Tetapi jika keadaan memaksa, maka Juwiring sendir i akan dapat menghadapinya jika mereka mempergunakan kekerasan akibat kebencian yang sudah dipupuk bertahun-tahun oleh Rudira. “Yang paling sulit bagiku justru adalah diajeng Warih sendiri. Tetapi justru sikap Warih itulah maka rasa-rasanya aku harus menjawab tantangannya”Di dalam perjalanan ber ikutnya, mereka masih berbicara lagi tentang banyak hal. Kadang-kadang Juwiring tidak dapat menyembunyikan keragu-raguannya. Namun Dipanala agaknya telah memantapkan keputusannya untuk kembali ke istana ayahandanya. Di padepokan Jati Aking, Ki Danatirta masih harus member ikan penjelasan kepada Arum untuk mengendapkan hatinya yang melonjak karena kepergian Juwir ing yang sudah dianggapnya sebagai saudara kandungnya sendiri. Sedang Buntal didera oleh persoalannnya sendiri. Perpisahan itu memang membuatnya muram. Tetapi tangis Arumpun telah menimbulkan persoalan yang betapapun disingkirkannya, masih saja selalu menggelitiknya. Demikianlah, maka dahari berikutnya, Juwiring telah mulai dengan tata kehidupannya yang baru. Ia kini tidak berada di rumah ayahandanya sekedar sebagai seorang tamu. Tetapi ia kini adalah putera Pangeran Ranakusuma. Bagi para pelayan dan abdi di istana itu, timbullah berbagai macam dugaan tentang putera Pangeran Ranakusuma yang seorang ini. Beberapa orang menganggapnya sebagai musuh yang berbahaya. Juwiring tentu akan mempergunakan kesempatan untuk membalas dendam, karena mereka merasa pernah melakukan tindakan kekerasan di masa lampau, baik selagi mereka masih dipimpin oleh Sura maupun kemudian oleh Mandra. Sedang beberapa orang yang lain, menganggap pribadi Juwir ing jauh berbeda dari Rudira, sehingga mereka menganggap bahwa kedatangannya yang tidak sekedar sebagal tamu itu, akan membawa angin baru di istana Ranakusuman. Tetapi yang pertama-tama harus di atasi oleh Juwir ing adalah perasaan rendah diri yang selama ini membayanginya. Terutama terhadap keluarga ayahandanya dan keluarga ibu Rara Warih yang masih ser ing berkunjung karena mereka mengerti kegelapan yang sedang menyelubungi istana itu.Di har i-hari yang pertama, Rara Warih masih tetap orang asing baginya. Namun sekilas, Juwiring melihat perbedaan sikap dan tanggapan pada adik perempuannya itu. Rara Warih tidak lagi memandangnya sebagai seorang budak yang hina, meskipun ia masih dibayangi oleh perasaan segan dan malu. Tetapi pada hari-hari berikutnya, ayahnya dengan telaten mencoba mempertemukan kedua saudara seayah iitu. Dan adalah di luar dugaan Raden Juwiring, bahwa sikap Warih selanjutnya adalah sikap yang ramah dan baik. “Demikian cepatnya perubahan itu terjadi” bertanya Juwiring di dalam hatinya “Agaknya ayahanda berhasil menjelaskan semua persoalan yang menyangkut aku dan diajeng Rara Warih” Namun sebenarnyalah Raden Juwiring tidak mengetaliui, bahwa Rara Warih yang merasa dirinya seakan-akan berdiri di atas menara gading karena ayahandanya seorang Pangeran dan ibundanya seorang bangsawan yang lebih tinggi dari ibu Juwiring itu harus melihat kenyataan, betapa rendahnya martabat ibundanya sebagai manusia. Dengan demikian, Rara Warih yang meningkat dewasa itu mampu menemukan arti dari martabat seseorang. Bukan karena ia seorang putera Pangeran, bahkan putera seorang Raja sekalipun. Tetapi martabat seseorang ditentukan oleh tingkah laku dan perbuatan yang dilandasi oleh hati yang bersih dan jujur. Itulah sebabnya, maka ia tidak berani lagi mengagungkan diri karena tingkat kebangsawanannya yang lebih tinggi dari Juwiring. Tingkah laku dan perbuatan ibundanya membuat Rara Warih menjadi rendah diri pula. Seakan-akan ia tidak lebih dari anak seorang yang tidak mempunyai harga sama sekali. Bahkan setiap kali ia bertanya kepada diri sendiri “Apakah kamas Juwiring juga mengetahui persoalan ibunda?“ Tetapi di hari-hari berikutnya, Juwiring yang mencoba menyesuaikan dirinya dengan kehidupan di istana yang sudahagak lama ditinggalkannya itu, tidak pernah menyinggung- nyinggung tentang Raden Ayu Galihwarit dan tentang ibunya sendiri. Seakan-akan ia mulai hidupnya sejak ia kembali ke istana itu, dan tidak tahu menahu sama sekali tentang apa yang pernah terjadi di istana itu sebelumnya. Dalam waktu yang dekat, para pelayan dan abdi di Ranakusuman sudah melihat pembedaan yang jelas, antara Raden Rudira dan Raden Juwiring. Juwiring bukan seorang anak muda yang senang berteriak memanggil pelayan- pelayannya dan memakainya, memerintah dan sekedar marah-marah, selain merajuk terhadap ibu dan ayahandanya. Tetapi Raden Juwiring mampu melakukan berbagai macam kerja. Bahkan yang para pelayannya mengalami kesulitan, terutama terhadap kuda yang banyak terdapat di kandang. Dengan demikian, maka para abdi di Ranakusuman segera mengenalnya sebagai seorang anak muda yang baik. Mereka yang biasa melayani Raden Rudira yang manja, merasakan, betapa Raden Juwiring sudah selalu mampu melayani dir inya sendiri Rara Warihpun merasakan perbedaan yang jauh antara kedua kakaknya itu. Bahkan kemudian rasa-rasanya ia malu kepada diri sendir i. Seharusnya setiap orang yang sudah meningkat dewasa tidak lagi terlalu banyak menggantungkan diri kepada orang lain. Sehingga dengan demikian sikap dan tingkah laku Juwiring, merupakan contoh yang sangat baik baginya. Perlahan-lahan Warihpun mencoba untuk menirunya. Hidupnya yang seakan-akan telah terhempas jatuh ke dalam jurang yang paling dalam itu memberinya kesempatan untuk mencari jalan bagi masa depannya. Seakan-akan ia kini mendapat bimbingan untuk bangkit dan memupuk kepercayaan kepada diri sendiri. Pangeran Ranakusuma yang mengamari perkembangan hubungan kedua anaknya itu menar ik nafas dalam-dalam. Bahkan setiap kali ia merasa bersukur, bahwa jarak yang adadi antara mereka semakin lama menjadi semakin pendek. Juwiring yang benar-benar sudah dapat berpikir secara dewasa itu, berusaha untuk menghindarkan kemungkinan yang dapat membatasi hubungannya dengan Rara Warih, apalagi mengungkit persoalan-yang sudah lampau dan yang dapat menjadi duri di dalam hati masing-masing. Sedang Rara Warih yang terbentur pada kejamnya kehidupan, berusaha untuk menemukan sandaran pada diri sendiri dan memupuk pengakuan, bahwa Juwiring sebenarnya adalah anak muda yang baik. Namun dengan demikian, maka Pangeran Ranakusuma itupun kemudian sampai pada suatu kesimpulan, bahwa kehadirannya di istana Ranakusuman bukannya suatu hal yang mut lak. Bahwa ia mendapat kesimpulan tentang anak- anaknya itu, telah melepaskannya dari kebimbangan untuk bertindak lebih jauh sebagai seorang laki-laki terhormat di Surakarta. Tidak ada seorangpun yang tahu, apa yang dipikirkannya. Meskipun sama sekali tidak menyangkut kekuasaan yang semakin bertambah-tambah dari orang asing itu atas Surakarta, namun sebagai seorang Senapati, maka Pangeran Ranakusumapun mempunyai sikap yang pasti bagi dirinya sendiri. Tetapi pada saatnya ia akan melakukan rencananya itu, dipanggilnya Ki Dipanala menghadap dan hanya kepadanya sajalah Pangeran Ranakusuma itu mengatakannya. “Pangeran“ Ki Dipanala menjadi tegang “hamba mengharap Pangeran memikirkannya berulang kali. Apakah rencana itu tidak dapat dibatalkan, atau Setidak-tidaknya ditunda?” “Tidak Dipanala. Aku sudah bertekad. Apalagi menurut penglihatanku, hubungan antara Juwiring dan adiknya sudah menjadi semakin baik. Dengan demikian, seandainya aku tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini, aku sudah tenang meninggalkannya”“Tidak Pangeran. Masih ada persoalan yang harus diperhitungkan. Mungkin akibat daripada peristiwa itu akan berkepanjangan” Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Namun ia menggeleng sambil berkata “Apaboleh buat Dipanala. Aku sudah menjadi seorang pengkhianat bagi Surakarta, karena aku selalu berhubungan dengan orang-orang asing dan bahkan member i kesempatan kekuasaan mereka berkembang, sekedar untuk pemuasan diri sendiri. Dengan demikian, maka aku sudah menjadi seorang yang mementingkan dir iku sendir i. Tetapi apakah artinya, jika dengan demikian justru dir iku sendiri inilah yang kemudian mendapat hinaan itu?“ Ki Dipanala termenung sejenak. Yang terbayang adalah peristiwa yang mengerikan akan terjadi. Tetapi ternyata ia tidak dapat mencegahnya. Dan apa yang direncanakan oleh Pangeran Ranakusuma itu benar-benar dilakukannya. Ketika bulan bulat di langit, dan udara cerah, Pangeran Ranakusuma telah memerintahkan menyiapkan keretanya. “Ayahanda akan menghadap ke istana?“ bertanya Rara Warih. Pangeran Ranakusuma menjadi bimbang sejenak. Dipandanginya wajah anaknya yang tidak lagi secerah saat ibundanya masih ada di istana ini. “Apakah ayahanda dipanggil oleh Kangjeng Susuhunan?“ Mata Pangeran Ranakusuma menjadi redup. Kemudian terdengar ia berdesah perlahan-lahan. “Warih” berkata Pangeran Ranakusuma “Baik-baiklah di rumah. Dimana kamasmu Juwiring?“ “Di belakang ayahanda” “Panggillah ia menghadap”Rara Warih mengerutkan keningnya. Tetapi ia t idak bertanya lagi. Dipanggilnya Juwiring, yang sedang berada di belakang. Ketika Juwiring kemudian menghadap ayahandanya, ia terkejut melihat sikap dan tatapan mata Pangeran Ranakusuma. Tetapi ia tidak berani bertanya sesuatu sebelum Pangeran Ranakusuma sendiri memberitahukan kepentingannya. Sejenak Juwir ing menunggu. Dan kemudian didengarnya suara ayahnya dalam “Baik-baiklah di rumah Juwir ing. Aku senang melihat kalian telah berubah dan saling mendekatkan diri sebagai dua orang kakak beradik” kata-kata Pangeran Ranakusuma terputus. Agaknya masih ada yang akan dikatakannya, tetapi rasa-rasanya tidak dapat dilontarkannya. Juwiring merasakan sesuatu yang lain pada ayahandanya. Karena itu, maka setelah beberapa saat ia menunggu, ayahnya masih tetap berdiam dir i, maka iapun kemudian bertanya “Kemanakah ayahanda akan pergi sekarang ini?“ “Ada tugas yang harus aku lakukan Juwiring” “Perintah Kangjeng Susuhunan?“ Sejenak Pangeran Ranakusuma termangu-mangu. Namun sejenak kemudian bibirnya tersenyum sambil berkata “Tentu. Tentu perintah Kangjeng Susuhunan. Nah, tinggallah di rumah baik-baik. Mungkin aku tidak pulang malam nanti” Kedua kakak beradik itu termangu-mangu. Namun mereka tidak dapat bertanya lebih jauh, karena Pangeran Ranakusumapun kemudian meninggalkan keduanya dan turun ke halaman. Keretanya sudah siap menunggu di bawah tangga sehingga sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma itupun hilang di balik pintu keretanya yang segera berderap. 


Jilid 13
KI DIPANALA yang berada di regol mengangguk dalam- dalam. Namun hampir di luar sadarnya ia berkata “Hati-hatilah Pangeran” Juwiring mendengar pesan itu lamat-lamat. Kecurigaan di hatinya tiba-tiba menjadi semakin mekar. Ayahandanya jarang sekali mengenakan pakaian kebesarannya sebagai seorang Senapati perang, apalagi membawa senjata rangkap. Sebilah pedang di lambung dan keris pusakanya di punggung. “Apakah sesuatu akan terjadi?” Ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi ia tidak mau menyatakan kegelisahannya kepada adiknya. Tetapi sejenak kemudian, iapun pergi keluar ruang dalam. Kepada adiknya ia mengatakan, bahwa masih ada sesuatu yang harus dikerjakan di kandang kuda. Namun Raden Juwir ing t idak pergi ke kandang kuda. la langsung menemui Ki Dipanala, dan memaksa agar Ki Dipanala mengatakan apa yang diketahui tentang ayahandanya.Sejenak Ki Dipanala termangu-mangu. Namun katanya kemudian “Aku percaya kepada Raden. Tetapi Radenpun harus melindungi kepercayaanku kepada Raden” “Aku mengerti. Katakan” Sejenak Ki Dipanala masih termangu-mangu. Namun kemudian dikatakannya pula rencana yang akan dilakukan oleh ayahandanya, Pangeran Ranakusuma. “Jadi ayahanda akan melakukannya sekarang?“ “Ya Raden. Tetapi akupun menjadi gelisah. Rasa-rasanya aku ingin menyaksikan apa yang akan terjadi” “Aku pergi bersamamu paman” “Ah jangan Raden. Raden belum mengenal keadaan kota ini sebaik-baiknya sejak orang-orang asing itu berkuasa” “Aku pergi bersama paman” “Mereka sangat curang dan licik” “Justru karena itu” Ki Dipanala menarik keningnya. Tetapi ia masih juga berusaha mencegah Raden Juwiring. Namun agaknya Juwiring tetap pada pendiriannya. Sehingga akhirnya Ki Dipanala berkata “Terserahlah kepada Raden. Tetapi kita harus berhati- hati” Demikianlah maka keduanyapun segera mempersiapkan diri. Ki Dipanala mengerti, apa yang akan terjadi dan kemana mereka harus pergi. Dalam pada itu, di tepi bengawan, beberapa orang telah berkumpul. Bahkan di bawah pepohonan yang berpencaran dengan liarnya terdapat beberapa buah kereta. Ketika orang- orang itu melihat lampu kereta di kejauhan dan kemudian mendengar derap kaki kuda, merupakan segera menyibak. Seorang yang berpakaian seorang Senapatipun kemudianmenyongsong sambil berdesis “Tentu kamas Ranakusuma. Ia tidak pernah ingkar janji” Ketika kereta itu mendekat, maka orang-orang yang sudah ada di tepi bengawan itupun menjadi tegang. Beberapa orang kumpeni yang ada juga di tempat itu menjadi tegang pula. Ternyata yang mereka duga adalah benar. Yang datang adalah Pangeran Ranakusuma. Demikian Pangeran Ranakusuma turun dari keretanya, maka iapun langsung mendekati orang-orang yang menunggunya sambil berkata “Aku sudah siap. Bulan sudah berada di ujung pepohonan di seberang bengawan. Sudah waktunya kita mulai” Orang-orang yang ada di tepian itupun segera menyibak. Beberapa orang yang mendapat tugaspun segera tampil ke depan. Empat orang. Yang dua orang adalah orang asing dalam pakaian kebesarannya sedang yang dua orang adalah bangsawan tertinggi di Surakarta. “Kalian akan menjadi saksi” geram Pangeran Rana-kusuma “Aku adalah laki-laki yang akan membela nama baikku. Aku minta perang tanding dengan pedang” Seorang kumpeni maju sambil menjawab dengan bahasa yang patah-patah ”Baik. Kalian akan melakukan perang tanding. Memang kehormatan dapat diselesaikan dengan melakukan duel. Apakah peraturan yang Pangeran pilih“ “Tidak ada peraturan buat perang tanding, selain aku atau Dungkur yang harus mati” “Ah, tidak begitu Pangeran. Ada peraturan yang lebih lunak dari itu” “Aku atau Dungkur yang akan mati. Di arena perang tanding atau tidak. Aku tidak dapat menghirup udara di Surakarta ini bersama dengan Dungkur”“Pangeran“ kumpeni itu masih berusaha melunakkan hati Pangeran Ranakusuma “Kita sudah lama bekerja sama di Surakarta ini untuk kepentingan kita bersama. Untuk kemajuan Surakarta, supaya Surakarta dapat mencapai tingkat kerajaan di luar pulau ini, dan menyamai daerah-daerah di daratan Barat. Karena itu, janganlah kita membuat jarak di antara kita” “Aku tetap menghormati kalian sebagai bangsa asing yang membawa peradaban baru di tanah ini. Aku tidak akan menarik kerja sama yang sudah kita pupuk. Tetapi persoalanku dengan Dungkur bukan persoalan kerja sama antara kerajaan Surakarta dan kerajaan Belanda. Tetapi persoalan itu adalah persoalan dua orang laki-laki yang akan membela nama baiknya masing-masing” “Aku dapat mengusulkan agar orang itu dipindahkan dari Surakarta dan ditarik ke Betawi” “Terserah. Tetapi persoalanku harus selesai. Meskipun ia sudah pergi dari bumi Surakarta, tetapi jika ada kesempatan aku akan tetap menantangnya perang tanding. Laki- laki itu sudah menyentuh isteriku. Bagi seorang bangsawan, seorang isteri bernilai seperti dir inya sendiri, meskipun isteriku juga mempunyai noda-noda kelemahan” Perwira kumpeni itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang kepada Dungkur, maka dilihatnya wajah yang tegang dan tangan yang mengepal. Ternyata bahwa kumpeni yang bernama Dungkur itupun telah siap melakukan perang tanding sampai mati. “Aku adalah kesatria” berkata kumpeni itu “Apalagi martabatku sebagai seorang kulit putih lebih tinggi dari martabatmu” “Tutup mulutmu” potong Pangeran Ranakusuma “Jangan mengungkat martabat kemanusiaan kita. Kita dilahirkan sama. Dan sekarang, salah seorang dari kita akan mati. Setelahmatipun tidak akan ada bedanya di antara kita. Jika mayat kita dikuburkan di bumi, maka yang akan t inggal adalah kerangka yang terdiri dari tulang-tulang melulu” “Persetan“ Dungkur hampir berteriak “Marilah kita mulai. Bangsa kulit putih adalah bangsa yang ditakdirkan menguasai orang-orang kulit berwarna seperti kau. Dan sudah ditakdirkan pula bahwa kami dapat mengambil apa yang kami kehendaki. Termasuk isterimu” Setiap orang terkejut ketika tiba-tiba saja Dungkur mengaduh. Tidak seorangpun tahu, bagaimana dapat terjadi. Tangan Pangeran Ranakusuma rasa-rasanya telah menampar pipi Dungkur. Padahal jarak keduanya lebih dar i satu langkah. Selagi orang yang mengitari mereka menjadi terheran- heran, maka Pangeran Ranakusumapun maju setapak sambil menyingsingkan kain panjangnya dan menyangkutkannya pada ikat-pinggangnya. Diputarnya keris yang ada di punggung, sehingga berada di lambung. Dungkurpun menjadi heran, bahkan tidak tahu apa yang telah terjadi. Tetapi pipinya benar-benar terasa sakit. “Ah, ini adalah semacam permainan yang tidak bermutu” katanya di dalam hati “Jika pedangku menyentuh dadanya, maka dadanya itu tentu akan sobek dan darahnya akan mengucur di tanah kelahirannya yang sebentar lagi akan lepas dari tangannya ini” Demikianlah, karena Pangeran Ranakusuma dan Dungkur telah tidak lagi dapat melunakkan hati mereka, maka perang tanding itupun segera akan dimulai, dengan tekad, salah seorang dari mereka akan mati. Kapitan Dungkur adalah seorang perwira yang memiliki pengalaman yang tiada taranya. Ia telah menjelajahi beberapa benua mengarungi lautan dan bahkan mengalami perang dibanyak daratan. Dungkur t idak pernah gentar melihat kapal di tengah laut yang menaikkan panj i-panji bergambartengkorak dan pedang bersilang karena bajak laut yang betapapun ganasnya, tidak banyak dapat berbuat terhadap kapal-kapal Belanda yang di pertahankan oleh orang-orang terlatih di dalampeperangan di daratan maupun di lautan. Kini yang dihadapinya tidak lebih dari seorang pribumi yang memakai kain panjang dan baju hitam berlengan panjang pula. Berikat pinggang sejengkal dan memakai tutup kepala. “Uh.” Dungkur t iba-tiba meludah “menggelikan sekali. Kau, orang yang hidup di dalam dunia yang lambat akan mencoba melawan aku? Barangkali kau belum pernah melihat betapa ganasnya lautan dan apalagi bajak laut. Kau belum pernah mengalami peperangan yang sebenarnya di benua lain. Kau sekarang sudah berani menantang aku berperang tanding. Malanglah nasib anakmu yang cantik itu. Sebenarnya jika kau berkeberatan memberikan isterimu, aku akan mengambil anakmu saja” Pangeran Ranakusuma. memandang perwira kumpeni yang akan menjadi saksi dalam perang tanding itu sambil berkata “Inikah gambaran dari keseluruhan bangsamu yang kau katakan mempunyai martabat yang tinggi?“ “Tidak, tidak Pangeran. Seperti bangsamu juga, kadang kadang ada di antara kami yang mempunyai sifat dan watak yang lain” jawab seorang perwira kumpeni. “Dan Dungkur adalah contoh dari kelainan itu?“ “Diam” bentak Dungkur “Kita akan mulai” Dungkur tidak menunggu jawaban Pangeran Ranakusuma. Dengan serta merta ditariknya pedangnya yang panjang, dengan sebuah pelindung bagi jar i-jarinya yang menggenggam hulu. Kemudian sebuah rantai yang melingkar di tangannya, terikat pada hulu pedang itu, sehingga jika pedang itu terlepas, maka pedang itu akan tetap tersangkut di tangannya.Pangeran Ranakusumapun menar ik pedangnya pula. Pedangnya jauh lebih sederhana. Tidak mengkilap seperti pedang Dungkur, bahkan agak kehitam-hitaman. Tetapi pedang Pangeran Ranakusuma adalah bukan sembarang pedang. Pedang itulah yang selama ini disebutnya Kiai Pagerwesi. Dengan demikian keduanya sudah berdir i saling berhadapan. Beberapa orang saksi berdiri mengelilinginya. Beberapa erang perwira kumpeni dan beberapa orang bangsawan tertinggi di Surakarta. Pangeran Ranakusuma membenahi kain panjangnya yang sudah tersangkut diikat pinggangnya yang besar. Setapak demi setapak ia maju mendekati lawannya. Dungkurpun telah bersiap melayaninya. Ia berdiri agak condong. Badannya dimir ingkannya, sedang pedangnya lurus terjulur ke depan. Satu tangannya terangkat di belakang seakan-akan merupakan pengatur keseimbangan dar i badannya yang miring itu. Tetapi Pangeran Ranakusuma bersikap lain. Ia menghadap lawannya. Pedangnya bersilang di muka dadanya. Setapak demi setapak ia masih saja melangkah mendekat Dungkur menjadi heran melihat sikap itu. Tetapi kemudian ia tersenyumdan berkata di dalam hatinya “Orang ini memang dungu. Ia sekedar dibakar oleh kemarahannya saja. Agaknya demikianlah Senapati Surakarta melakukan perang tanding. Tanpa memiliki pengetahuan sama sekali atas senjata yang dipergunakannya”Dengan gerak yang bagaikan acuh tidak acuh saja, Dungkur menggerakkan ujung pedangnya. Berputar sedikit, dan kemudian terjulur lurus mengarah ke dada. Ia tidak ingin segera melukai lawannya. Ia hanya ingin mengganggunya saja. Tetapi Dungkur terkejut ketika dengan sebuah gerakan kecil, Pangeran Ranakusuma meloncat ke samping, sambil mengangkat pedangnya. Pedang itupun kemudian terayun deras sekati mengarah ke leher Dungkur. Gerakan itu sama sekali tidak sulit. Dungkur segera menyilangkan pedangnya menangkis serangan itu dan memukulnya ke samping. Namun sama sekali tidak diduganya. Pukulan itu ternyata didorong oleh kekuatan yang luar biasa, sehingga tangkisannya yang pertama itu telah mengejutkannya. Yang terjadi adalah sebuah benturan yang dahsyat. Kekuatan yang sama sekali tidak diduganya telah menghantam pedangnya. Jauh lebih kuat dari ayunan pedang seorang bajak laut bertubuh raksasa yang pernah mencoba mengganggu kapalnya di lautan. Karena Dungkur sama sekali t idak mempersiapkan diri menghadapi kekuatan yang tidak terduga-duga dari seseorang sekedar memakai kain panjang, celana setinggi lutut dan berikat kepala itu, maka pedangnya telah terlepas dari tangannya. Untunglah bahwa rantai yang tersangkut dipergelangan tangannya tidak terlepas sehingga pedang itu masih tetap tersangkut di tubuhnya. Pangeran Ranakusuma berdiri membeku sejenak, dengan sengaja ia member ikan kesempatan kepada lawannya untuk memperbaiki keadaannya. Benturan yang pertama-tama itu benar telah mengejutkan beberapa orang yang menjadi saksi dari perang tanding itu,terutama para perwira kumpeni. Mereka tidak menyangka, bahwa hal itu dapat terjadi, karena mereka menganggap bahwa Dungkur adalah seorang yang memiliki ilmu pedang yang dikagumi oleh kawan-kawannya. “Dungkur tidak bersiap” berkata para perwira itu di dalam hatinya “Ia menganggap lawannya terlampau lemah, seperti orang-orang pribumi yang pernah ditemuinya selama penjelajahannya di beberapa benua” Sejenak kemudian Dungkur telah menggenggam pedangnya kembali. Sejenak ia mempersiapkan diri. Kini ia benar-benar harus berhati-hati menghadapi orang pribumi yang oleh lingkungannya disebutnya seorang Pangeran. Sejenak kemudian maka perkelahian itupun telah meledak lagi. Dungkur berusaha menyerang dengan tangkasnya. Tetapi setiap kali ujung pedangnya bagaikan menghantam dinding. Ternyata Pangeran Ranakusuma adalah seorang yang sangat tangkas mempergunakan pedangnya, meskipun dengan cara yang tidak dimengerti. Bahkan setiap kali Dungkur menjadi bingung, karena lawannya selalu berloncatan melingkar- lingkar seperti seekor kijang. Dungkur telah mengalami pertempuran pedang beberapa kali. Lawannya sering pula berloncatan jika terdesak. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak berbuat demikian. Ia selalu bergerak melingkar dan kemudian mengelilingnya sehingga ia harus berputar sambil menjulurkan pedangnya. Namun tiba- tiba lawannya itu menyerang sambil meloncat kearah yang tidak diduganya sama sekali. Keringat Dungkur itu segera membasahi pakaiannya. Namun tangannya yang lincah itu setiap kali masih berhasil menangkis serangan pedang Pangeran Ranakusuma. Bahkan Dungkur masih dapat mengharap, bahwa bertempur dengan cara yang ditempuh oleh Pangeran Ranakusuma itu tentu akan segera menghabiskan tenaga.Karena itu. Dungkur untuk sementara hanya bertahan saja sambil berputar. Kakinya yang merendah pada lututnya bergeser dengan cermat mengikut i arah pedangnya. ia berharap, bahwa dalam waktu yang singkat, Pangeran Ranakusuma yang bertempur dengan cara yang aneh dan menurut pendapat Dungkur agak liar dan kasar itu. akan segera kehabisan tenaga. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Semakin lama Dungkur menjadi semakin bingung menghadapi cara yang aneh dari seorang bangsawan Surakarta ini, seorang Senapati perang dari kerjaan yang disangkanya jauh terbelakang dibanding dengan kerajaan di daratan Benua Barat. Untuk beberapa lama Dungkur masih tetap mampu mempertahankan dir inya dengan kelincahan tangannya. Tetapi ia masih saja bergeser pada kedua kakinya setapak demi setapak. Kadang-kadang berputar dan sedikit meloncat. Sedang Pangeran Ranakusuma bertempur bagaikan burung sikatan. Menyambar-nyambar dengan garangnya. Sekali-sekali ujung pedangnya mematuk, kemudian terayun menyambar lawannya. Dan sesaat kemudian berputar seperti baling- baling. Para perwira kumpeni menjadi bingung pula melihat cara itu. Cara yang hampir tidak pernah dilihatnya. Jika di dalam peperangan di daerah ini ia melihat pedang yang berputaran seperti itu, disangkanya bahwa prajurit-prajurit Surakarta memang prajurit-prajur it yang dungu. Namun di dalam perang tanding, barulah mereka menyadari bahwa tata gerak yang demikian dapat membuat lawannya menjadi bingung. Yang kemudian lebih dahulu susut tenaganya adalah justru Dungkur sendir i. Meskipun ia sudah berusaha menghemat tenaganya, dan mengharap lawannya akan kehabisan nafas, namun ternyata bahwa tangannya merasa menjadi semakin lemah dan nafasnya sudah berangsur-angsur menjadi sendat.Karena itulah, maka ia menjadi semakin terdesak oleh serangan-serangan Pangeran Ranakusuma yang semakin dahsyat. Dungkur menjadi bingung ketika tiba-tiba saja pedang Pangeran Ranakusuma mematuk dari samping. Namun ia masih berhasil menghindar dan berusaha menangkis serangan itu. Tetapi dengan cepat Pangeran Ranakusuma menarik pedangnya dan menyerang mendatar. Dungkur tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar lagi. Sekali lagi ia mempergunakan kelincahan tangannya untuk menangkis serangan itu. Tetapi ayunan pedang Pangeran Ranakusuma ternyata terlampau keras, sehingga benturan yang terjadi adalah benturan yang dahsyat. Seperti yang pernah terjadi, tangan Dungkur tidak mampu lagi bertahan. Karena itu, maka ketika perasaan sakit menyengat pergelangannya, maka pedangnyapun telah terlepas dari tangannya. Tetapi pada saat itu, pedang Pangeran Ranakusuma terjulur lurus. Dungkur melihat ujung pedang itu. Tetapi ia tidak berdaya lagi. Ia hanya sempat mengelakkan diri bergeser setapak. Namun ujung pedang itu masih juga menyobek lengannya. Terdengar ia mengeluh tertahan. Ujung pedang itu telah mendorongnya sehingga ia hampir saja kehilangan keseimbangannya. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak melepaskannya. Sekali lagi ia meloncat menyerang dan di dalam keadaan yang sulit itu, Dungkur hampir tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika ia berusaha menggeliat, maka keseimbangannyapun tidak lagi dapat dikuasai, sehingga iapun jatuh terbanting. Namun agaknya justru memberinya kesempatan untuk menghindarkan dir i dari tusukan pedang yang langsung menghunjam di jantungnya, karena justru ketika ia terjatuh, maka tusukan pedang Pangeran Ranakusuma tidak mengenaidadanya. Tetapi kali ini pundaknyalah yang sobek oleh pedang lawannya yang berwarna kehitam-hitaman itu. Meskipun tusukan itu tidak langsung membunuhnya, namun ternyata Dungkur sudah tidak dapat berbuat apapun lagi. Badannya serasa menjadi lumpuh oleh perasaan sakit yang tidak terkira. Sekali ia berguling di pasir sambil mengerang kesakitan. Agaknya Pangeran Ranakusuma masih belum puas. Ia sudah bertekad untuk berperang tanding sampai salah seorang dari mereka mati di arena. Karena itu, maka ia masih meloncat sekali lagi sambil mengangkat pedangnya. Namun pada saat itu, seorang perwira kumpeni yang lainpun meloncat pula sambil berkata gugup “Sudah cukup Pangeran. Sudah cukup” “Aku sudah berkata, bahwa satu di antara kita harus mati” “Tetapi itu tidak berperikemanusiaan” “Ia juga tidak berperikemanusiaan, karena ia sudah menodai isteriku dan sekaligus membunuh anakku” “Tetapi, ia sudah Pangeran kalahkan” “Aku harus membunuhnya seperti ia membunuh anakku. Noda yang melekat pada keluargaku harus ditebus dengari nyawa” “Tidak Pangeran. Itu tidak baik” “Minggir, atau kau akan menggantikannya” bentak Pangeran Ranakusuma. Tetapi tiba-tiba seorang perwira kumpeni yang lain menggeram ”Itu perbuatan gila. Kau benar-benar bangsa yang biadab”Kemarahan Pangeran Ranakusuma menjadi semakin menyala di dadanya. Karena itu, maka iapun segera meloncat menghadapi perwira kumpeni yang telah mengumpatinya itu. Tetapi langkah Pangeran Ranakusuma tertegun. Ia melihat kumpeni itu membawa senjata api pendek di tangannya dan teracung kepadanya. Karena itu maka iapun kemudian menggeram “Licik. Mar ilah kita berperang tanding dengan senjata tajam” “Kau gila. Kau memang harus dibunuh Pangeran. Kau melukai seorang perwira kumpeni sehingga parah” “Persetan. Ia harus dibunuh” “Kau yang harus dibunuh” bentak kumpeni itu. “Tidak“ perwira kumpeni yang tertua itulah yang kemudian mencoba mencegahnya. Tetapi yang berdiri di tepian itu adalah prajurit-prajurit. Prajurit dari kerajaan Belanda yang terbiasa hidup di medan perang, di darat dan di lautan. Itulah sebabnya, maka darah merekapun cepat mendidih melihat akibat dari perang tanding itu. Namun demikian, Pangeran-Pangeran yang ada di tepian itupun prajurit-prajurit pula. Mereka mempertaruhkan nyawanya bagi nama baik dan kehormatannya secara pribadi. Karena itu, ketika perwira yang memegang senjata api pendek itu melangkah setapak demi setapak mendekati Pangeran Ranakusuma, maka hampir tidak dapat diketahui, apa yang telah terjadi, namun tiba-tiba seorang Pangeran yang masih jauh lebih muda dari Pangeran Ranakusuma telah menyekap Perwira kumpeni itu dari belakang, dan ujung kerisnya telah melekat lambung. “Jika kau berkeras kepala, aku akan mengingkari semua kerja sama yang pernah kita lakukan. Aku akan membunuhmu dengan kerisku” geram Pangeran itu.Perwira itu tertegun. Tetapi ia tidak sempat berbuat sesuatu karena keris Pangeran itu benar-benar telah terasa di lambungnya. Dalam pada itu, perwira kumpeni yang tertua itupun berteriak “Aku member ikan perintah. Hentikan semuanya” Perwira-perwira kumpeni yang lain, yang telah bersiappun menjadi ragu-ragu. Dan perwira tertua itu berkata “Kita tidak boleh mengorbankan hubungan baik selama ini karena persoalan pribadi. Persoalan negara adalah jauh lebih penting dari persoalan pr ibadi” Mereka yang berdiri di pinggir bengawan itu menjadi termangu-mangu. Namun kemudian seorang perwira berkata “Tetapi lukanya parah sekali” “Bawalah kepada tabib supaya lukanya segera diobati” perintah perwira itu. Kumpeni itupun kemudian mengangkat Dungkur ke dalam sebuah kereta. Namun terasa, ketegangan yang semakin memuncak. Dan sebelum kereta itu berderap Pangeran Ranakusuma menggeram “Jika ia sembuh, aku tantang ia berkelahi sampai mati. Aku tidak puas dengan kelicikan kalian, orang-orang yang menyebut dirinya kesatria dari Barat” “Cukup” bentak seorang perwira kumpeni yang lain. “Licik” teriak seorang Pangeran “Kalian memang licik. Perang tanding sampai mati, berarti yang kalah harus menandai dir i dengan kematian. Dan perwira kumpeni adalah licik sekali. Kematian baginya lebih berharga dari kehormatan” “Diam” bentak perwira kumpeni itu. “Cukup” teriak perwira kumpeni yang paling tua di antara mereka ”Persoalan ini harus kita anggap sudah selesai. Marilah kita kembali dan melupakannya” Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak beranjak dari tempatnya. Ketika ia melihat kereta yang membawa Dungkurmeninggalkan tepian itu ia menggeram “Akan datang saatnya aku membunuhnya” “Kita akan melupakan semuanya” berkata perwira kumpeni yang tertua “Kita sekarang akan kembali dan tidak seorangpun di antara kita yang akan menceriterakan peristiwa ini kepada siapapun juga” Pangeran Ranakusuma tidak menjawab. Tetapi dendam masih tampak menyala di dadanya. Noda pada isterinya adalah noda terhadap kehormatannya. Dan kematian anaknya adalah hentakkan yang sangat berat pula baginya. Ketika kereta yang membawa Dungkur dan kemudian perwira-perwira kumpeni yang lain itu meninggalkan tepi Bengawan, maka Pangeran Ranakusumapun kemudian menarik nafas dalam-dalam. “Tetapi hukuman itu sudah cukup baginya kamas” berkata salah seorang Pangeran yang mendekatinya, “Belum” sahut Pangeran Ranakusuma “hanya kematian yang dapat menebus semua peristiwa yang pernah dilakukan” Pangeran yang kemudian berdiri di sisinya itu tidak menjawab lagi. Ia sudah mengenal tabiat Pangeran Ranakusuma. Jika ia sudah bersikap demikian, maka tidak akan ada orang lain yang dapat melunakkannya kecuali dari dirinya sendir i. Dalam pada itu, sebelum para Pangeran itu meninggalkan tepian, maka dua orang yang melihat semua per istiwa itu dari balik gerumbul-gerumbul liar, dengan hati-hati meninggalkan tempatnya. Mereka tidak berani berjalan dengan cepat, karena desir kakinya akan didengar oleh para Pangeran yang ada di tepian. Kedua orang itu adalah Juwiring dan Dipanala. Mereka berdua melihat apa yang terjadi di tepian itu, meskipun kadang-kadang tidak begitu jelas. Namun mereka dapat menangkap kesan keseluruhan dari per istiwa itu.Bukan saja kesan tentang peristiwa itu, tetapi bagi Juwiring persoalannya menjadi semakin jelas. Ia mengerti apa yang telah terjadi atas Raden Ayu Galihwarit. Dan anak muda itu dapat membayangkan, betapa pahitnya perasaan ayahandanya menghadapi peristiwa yang hitam itu. Ketika keduanya sudah berada agak jauh dari tepian dan tidak lagi dapat dilihat oleh para Pangeran, maka keduanyapun kemudian menyusup ke dalam gerumbul mengambil kuda mereka yang memang ditambatkannya agak jauh. Tetapi ketika mereka berdua sudah berada di punggung kuda, mereka terkejut bukan buatan ketika mereka mendengar seseorang bertanya “Kau menyaksikan peristiwa itu?“ Keduanya serentak berpaling. Dilihatnya seorang anak muda yang bertolak pinggang di belakang mereka. “O“ Juwiringpun segera meloncat turun, diikuti oleh Ki Dipanala. “Kalian tidak usah turun” cegahnya. Tetapi Juwir ing dan Ki Dipanala sudah berdir i di atas tanah. “Kamas juga menyaksikan?“ bertanya Juwiring. “Ya. Aku melihat dari awal sampai akhir. Dan bukankah kau dapat melihat, bahwa sebenarnya pamanda Ranakusuma adalah seorang Senapati yang mumpuni? Bukan saja di dalam olah kanuragan secara pribadi di dalam perang tanding, tetapi ia adalah seorang Senapati yang sempurna di peperangan” “Ya kamas” “Orang asing itu kini melihat, bahwa Surakarta bukannya sebuah Kerajaan yang diperintah oleh anak-anak cengeng. Tetapi bahwa ayahandamu telah dapat melepaskan dendamnya. Meskipun orang asing itu tidak terbunuh seketika,tetapi aku yakin, ia akan mati, karena pedang ayahandamu adalah pedang yang sesungguhnya. Bukan sekedar pedang mainan seperti milik kumpeni itu. Karena itu, meskipun tidak disaksikan oleh pamanda Ranakusuma, namun orang asing itu tentu tidak akan pernah dilihatnya lagi berada di Surakarta. Namun agaknya pamanda Ranakusuma tidak puas jika ia tidak melihat kumpeni itu mati di hadapannya” Juwiring mengangguk. Katanya “Tetapi di dalam sikapnya mengenai negeri ini, aku masih meragukannya. Apakah ayahanda dan para Pangeran itu akan berubah” “Itu masih diper lukan waktu. Tetapi mudah-mudahan” Raden Juwiring t idak menyahut lagi. Dan anak muda itupun kemudian berkata “Sudahlah. Bukankah kau akan mendahului pamanda Ranakusuma pulang ke istana Ranakusuman?“ Juwiring tersenyum dan menjawab ”Ya kamas” “Pergilah” “Apakah kamas akan tinggal di sini?“ “Aku berada di segala tempat” Raden Juwiringpun kemudian meninggalkan tempat itu. Kudanya berpacu cepat sekali diikuti oleh Ki Dipanala. Mereka memang ingin mendahului ayahandanya yang agaknya masih berbincang beberapa lamanya di tepian dengan para Pangeran. Tetapi Pangeran Ranakusumapun tidak terlalu lama berada di antara mereka. Agaknya para Pangeran itu berusaha untukmenenangkannya. Namun Pangeran Ranakusuma masih tetap pada pendiriannya. “Kamas” berkata seorang Pangeran yang masih lebih muda daripadanya, yang ketika terjadi perang tanding, telah menyekap seorang perwira yang akan mempergunakan senjata api “Memang kami dapat mengerti, betapa dendam telah membakar hati kamas. Tetapi kamas juga sudah mendapat kesempatan” “Aku harus yakin, bahwa orang itu dapat aku bunuh. Jika oleh tabib yang menurut beritanya sangat pandai dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit itu, dapat diobatinya, maka aku akan mengulangi perang tanding ini” Para Pangeran itupun terdiam. Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi tidak seorangpun yang berbicara lagi. Pangeran Ranakusumapun kemudian segera naik ke dalam keretanya dan sejenak kemudian kereta itupun telah berderap menyusur jalan kota yang remang-remang. Beberapa buah pelita minyak terpancang di pinggir jalan berkeredipan disentuh angin. Ketika Pangeran Ranakusuma sampai di istananya, jauh malam, Juwiring sudah berada di dalam biliknya. Ketika ia berdiri dan melangkah keluar, ayahandanya lewat dan berkata “Beristirahatlah. Kenapa kau belumtidur?“ Tetapi ayahandanya sama sekali tidak berhenti. Pangeran Ranakusuma itu langsung masuk ke dalam biliknya. Ia tidak ingin dilihat oleh Juwiring, bahwa pakaiannya kusut dan kotor, bahkan sepercik noda darah telah mengotori bajunya. Dalam pada itu, kereta yang membawa Dungkurpun telah langsung mendapatkan tabib yang memang di tempatkan di Surakarta bagi para kumpeni yang ada di kota itu. Tetapi ternyata bahwa lukanya yang parah tidak memungkinkannya lagi untuk bertahan. Ketika ia memasuki pintu bilik tabib itudengan dipapah oleh kawan-kawannya, maka perwira kumpeni itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Mati” desis kawannya. Dungkur itupun kemudian dibaringkan di atas sebuah pembaringan. Lukanya yang parah itulah yang telah mencabut nyawanya. “Kematian ini harus ditebus oleh orang-orang pribumi yang liar itu” geram seorang perwira yang masih muda. Tetapi perwira yang paling tua di antara mereka menggelengkan kepalanya. Katanya “Kita adalah kesatria dari benua Eropa yang lebih beradab. Kita akan menghargai kejantanan. di dalam perang tanding ini, semuanya harus kita anggap sudah selesai. Bagi kita, Surakarta adalah suatu negeri, yang sangat penting. Pada saat terakhir, kita sudah berangsur-angsur dapat menguasai lebih banyak lagi jalur- jalur perdagangan dan bahkan pemerintahan. Jangan kalian merusak usaha yang kita buka dengan susah payah. Surakarta agak berbeda dengan daerah-daerah yang lain. Surakarta memiliki kekuatan dan lebih dari itu memiliki kesadaran kebangsaan yang tinggi. Karena itulah kita harus berhati-hati” “Tetapi apakah kita harus membiarkan penghinaan ini?“ “Itu adalah kesalahannya sendiri” berkata perwira yang tua itu “Jika ia tidak terlibat di dalam persoalan yang menyangkut kehormatan seorang kesatria di Surakarta, maka ia tidak akan sampai pada akhir hidupnya yang pedih. Tetapi perkelahian yang terjadi adalah adil. Kematiannya merupakan per ingatan bagi kita semua, bahwa kita memang harus berhati-hati mengisi kesepian” Perwira yang lebih muda itu terdiam. Tetapi tampaknya ia masih saja dibakar oleh dendam, seperti dendam yang menyala di hati Pangeran Ranakusuma sendiri.Namun dalam pada itu, kumpeni tidak dapat lagi menyembunyikan kematian perwiranya itu. Meskipun demikian masih ada saja dalih yang dapat mengurangi hangatnya persoalan. Kumpeni berhasil menyebar berita, bahwa perwiranya, yang mati itu karena diserang oleh penyakitnya yang sebenarnya sudah-lama ditanggungkannya. Namun karena tugas-tugasnya, maka rasa sakit itu sama sekali tidak dihiraukannya. “Dungkur meninggal karena sakit perut yang parah” berkata orang-orang di pinggir jalan. “Ya, tiba-tiba saja semalam ia diserang oleh perasaan sakit, sehingga seakan-akan pernafasannya tersumbat. Akibatnya nyawanya tidak tertolong lagi meskipun mereka mempunyai seorang tabib yang sangat pandai dan dapat mengobati segala macam penyakit. Tetapi kepandaian seseorang memang terbatas jika maut memang telah menjemput” Kematian perwira kumpeni itu ternyata telah menggemparkan semua pihak. Meskipun pada umumnya rakyat Surakarta percaya bahwa kematian perwira kumpeni itu karena sakit perut, tetapi kalangan yang lebih tinggi masih harus berpikir beberapa kali untuk mempercayainya. Terlebih- lebih lagi para perwira tinggi kumpeni di Jakarta. Pemimpin tertinggi kumpeni di Kota Intan itu segera mengirimkan utusan untuk mengetahui kebenaran peristiwa yang menimpa seorang perwiranya itu. Pimpinan Kumpeni di Surakarta dan Semarang tidak dapat ingkar atas apa yang sebenarnya terjadi. Namun mereka membatasi persoalan itu pada persoalan pr ibadi semata. Namun ternyata pimpinan kumpeni telah mendapat peringatan keras dari atasan mereka. Persoalan pribadi dengan seorang bangsawan tertinggi di Surakarta sangat tidak menguntungkan, apalagi seorang Pangeran yang selama ini bersikap baik terhadap kumpeni.Ternyata kemudian menurut penyelidikan, bukan saja Dungkur yang terlibat di dalam persoalan harga diri Pangeran Ranakusuma. Apalagi ketika mereka mendengar bahwa Pangeran Ranakusuma sudah menyiapkan tantangan- tantangan berikutnya bagi beberapa orang perwira kumpeni yang lain. Dengan tergesa-gesa pimpinan tertinggi di Surakarta dan Semarang, segera memerintahkan mereka yang terlibat itu untuk dipindahkan dari Surakarta. Dengan demikian, maka terjadi beberapa perubahan jabatan di antara mereka. Beberapa orang baru tampak mulai berkeliaran di kota. Namun ternyata bahwa orang-orang baru yang belum mengenal Surakarta dengan baik itu mempunyai sikap yang lain. Mereka ternyata adalah prajurit! yang kasar dan mement ingkan pedang dan senjata daripada sikap yang ramah dan baik, sehingga dengan demikian, sikap kumpeni di Surakarta menjadi semakin gila. Ditambah lagi dengan perwira-perwira muda yang merasa tersinggung kehormatannya karena kematian seorang kawannya oleh seorang pribumi di dalam perang tanding, seakan-akan kesatria dari negeri Atas Angin itu tidak dapat mengimbangi kemampuan kesatria dari negeri yang liar ini. Akibatnya, terasa sekali dalam kehidupan rakyat di Surakarta. Rasa-rasanya kumpeni menjadi semakin buas dan kasar. Sikapnya kepada rakyat kecil semakin semena-mena. Namun karena itulah maka darah kesatria di Surakarta menjadi semakin mendidih karenanya. Dengan demikian maka udara di atas Surakarta rasa- rasanya memang menjadi semakin panas. Ketegangan yang tersaput oleh sikap yang pura-pura semakin lama menjadi semakin nyata. Dan suasana itu telah dihayati oleh para pemimpin di Surakarta, terutama Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said yang menjadi semakin berprihatin.“Kapan aku dapat mulai“ kadang-kadang anak muda itu tidak dapat menahan hatinya lagi. Tetapi bangsawan muda itu masih harus menyabarkan dirinya. Agaknya saatnya memang belum datang, meskipun sudah dekat. Namun demikian, bangsawan muda itu tidak terlampau ketat membatasi anak buahnya, jika terpaksa sekali terlibat di dalam benturan yang memang kadang-kadang terjadi dengan kumpeni. Memang terlampau sulit baginya untuk menghentikan sama sekali perlawanan yang sudah lama dilakukannya. Namun dalam pada itu, selagi rakyat Surakarta bergejolak oleh tindakan-tindakan yang kasar dan keras dari kumpeni, maka dengan akal yang licik, kumpeni berhasil menusukkan jarum perpecahan yang lebih parah di dalam pimpinan pemerintahan. Beberapa orang bangsawan, para bupati, dan bahkan kemudian pepatih Susuhunan sendiri, mulai dijangkiti perasaan iri terhadap Pangeran Mangkubumi. Tanpa mereka sadari, racun yang dibiuskan di telinga mereka, berhasil membangunkan usaha, agar Susuhunan mencabut hak Pangeran Mangkubumi atas bumi kelenggahannya di Sukawati. Dengan demikian, maka Sukawati akan dapat dibagikan kepada beberapa orang bangsawan yang lain. Tetapi di luar sadar mereka, yang paling berkepentingan adalah kumpeni sendiri. Jika Sukawati terlepas dari tangan Pangeran Mangkubumi, maka keadaannya pasti akan berubah. Menurut penyelidikan kumpeni, keadaan di Sukawati sebenarnya telah benar-benar parah. Rakyat Sukawati telah berhasil dibangunkan dari t idur mereka dan dari mimpi yang buruk selama ini. Dengan demikian, maka dikalangan istana Kangjeng Susuhunan mulai terdengar bisik-bisik di antara para bangsawan, bahwa Sukawati memang harus ditarik. Adalah berlebih-lebihan bagi seorang Pangeran untuk menerima tanah kalenggahan seluas Sukawati.Sebelum Kangjeng Susuhunan mengambil keputusan, ternyata usaha untuk memisahkan Pangeran Mangkubumi dari rakyatnya itu sudah diketahuinya, sehingga dengan demikian, maka Pangeran Mangkubumipun dengan tergesa-gesa telah menyiapkan dir inya menghadapi setiap kemungkinan. Dalam kalutnya udara di atas Surakarta itu, maka di padepokan Jati Aking, Buntal dan Arum selalu melatih dir i, untuk mendapatkan tingkat kemampuan yang memadai di dalam suasana yang semakin panas itu. Bahkan bukan saja Buntal dan Arum, tetapi Raden Juwiring masih juga kadang-kadang datang menemui gurunya. Tetapi ternyata semakin lama menjadi semakin jarang. Bahkan kadang-kadang untuk waktu yang cukup panjang, Juwiring. sama sekali tidak menampakkan diri di padepokannya. Buntal merasakan kelainan itu. Dan apalagi apabila setiap kali Arum selalu bertanya kepadanya, kenapa Juwiring sudah terlampau lama tidak mengunjungi padepokan. Meskipun perasaan rindu kadang-kadang tersembul juga di hati Buntal, namun kerinduan Arum terhadap Juwiring itu kadang-kadang terasa menyentuh hatinya. Ia sendiri tidak berani mendengar apakah sebabnya, maka kadang-kadang ia tidak senang mendengar Arum selalu bertanya tentang Juwiring. “Kita sama-sama tidak mengerti” jawabnya pada suatu kali ketika Arumbertanya kepadanya, kenapa Juwiring sudah lama tidak berkunjung. “Barangkali Raden Juwir ing pernah mengatakan sesuatu kepadamu, tetapi tidak kepadaku” sahut Arum. “Tidak. Raden Juwiring tidak pernah mengatakan apapun kepadaku. Sebenarnyalah aku juga mengharap ia datang. Tetapi selebihnya aku tidak mengerti” Arum tidak bertanya lagi. Ia dapat mengerti jawaban Buntal. Namun ia tidak dapat merasakan, bahwa di balik kata- kata anak muda itu terselip perasaan yang asing bagi Arum. Demikianlah, Juwiring semakin lama menjadi semakin jarang datang kepada gurunya, sehingga pada suatu saat, rasa-rasanya Juwiring telah benar-benar melupakan, bahwa ia adalah anak yang diasuh di dalam olah kanuragan di padepokan Jati Aking. Dalam pada itu, Juwiring sendir i ternyata telah tenggelam di dalam hidup keluarganya yang-mulai menjadi tenang. Rara Warih mulai menyadari, apakah arti Juwiring bagi keluarganya. Ia adalah seorang anak muda yang baik dan memiliki ilmu yang cukup, melampaui kakaknya Raden Rudira. Bukan hanya di dalam olah kanuragan, tetapi di dalam segala hal. Warih tidak pernah mendengar Juwiring membentak- bentak, berteriak tidak ada artinya dan memerintahkan para pelayan dan pengawalnya untuk melakukan sesuatu yang aneh. Hampir di dalam setiap tindakan, Juwiring melakukannya dengan penuh tanggung jawab, sehingga dengan demikian, maka para pelayan, abdi dan pengawal, yang semula tidak mau mengerti kenapa anak itu harus hadir di istana ayahandanya, mulai menyesal atas sikapnya. Selain ketenangan yang berangsur-angsur pulih kembali, maka Juwiringpun ternyata telah menemukan seorang guru yang baru. Ayahandanya sendiri.Ternyata ayahandanya juga memiliki kemampuan yang luar biasa. Ilmunya yang tinggi dan pengalamannya yang luas, membuat Pangeran Ranakusuma benar-benar seorang Panglima. Dari ayahandanya itulah Juwiring menyadap ilmu kanuragan di samping ilmu yang telah dimilikinya. Ternyata ayahandanyapun tidak berbuat dengan tergesa-gesa. Ia mempelajari serba sedikit ilmu yang dimiliki Juwir ing. Kemudian memberikan ilmunya tanpa menumbuhkan pertentangan di dalamdiri anak laki-lakinya itu. Dari har i kehari nampak, bahwa Juwir ing benar-benar seorang yang memiliki daya tangkap yang luar biasa atas ilmu kanuragan. Apalagi ia sudah mempunyai dasar pengetahuan secara umum bagi olah kanuragan itu, sehingga ia tidak banyak menemui kesulitan menerima ilmu dari ayahandanya. Bahkan dari hari kehari, ilmunya menjadi kian meningkat dengan pesatnya. Pangeran Ranakusuma sendiri merasa heran, bahwa Juwiring akan mampu menangkap ilmu yang diberikan itu begitu cepat. Dengan demikian, maka perlahan-lahan istana Ranakusuman itupun telah melupakan seorang perempuan bangsawan yang pernah berkuasa. Bahkan Warih sendiri perlahan-lahan melupakan ibunya yang berada di rumah kakeknya. Bukan melupakannya sebagai seorang ibu, tetapi melupakan kejutan yang mengguncangkan isi istana itu. Setiap kali Warih masih selalu bertanya tentang keadaan ibunya. Tetapi ia tidak mau datang menengoknya sebelum ia yakin bahwa ibunya tidak akan dipengaruhi lagi oleh kenangan yang sangat pahit itu. Tetapi dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma sendiri sama sekali tidak pernah menyebutnya lagi. Ia tidak ingin terlempar di dalam kenangan yang sangat pedih. Ia mencoba mengisi waktunya untuk kepentingan kedua anaknya. Juwiring dan Warih.Dengan sepenuh perhatian, Pangeran Ranakusuma menempa Juwiring agar menjadi seorang Laki- laki yang mumpuni, di dalam olah kanuragan, di dalam olah kaj iwan, dan ilmu pemerintahan. Pangeran Ranakusuma memanggil seorang yang ahli untuk menuntun Juwir ing agar ia menjadi seorang bangsawan yang baik di segala bidang. Sedang bagi Warih, Pangeran Ranakusuma menyerahkannya kepada seorang perempuan yang meskipun sudah agak lanjut usia, tetapi masih mempunyai kelincahan di dalam banyak hal. Memasak, menghias dir i, memelihara dan mengatur rumah seisinya. Seperti cita-citanya bagi Juwiring, maka Pangeran Ranakusumapun mengharap agar Warih menjadi seorang perempuan bangsawan yang sempurna. Bukan saja seorang bangsawan yang cantik dan pandai menghias diri, tetapi ia harus menjadi seorang perempuan bangsawan yang mampu menjadikan rumah tangganya kelak, sebuah rumah tangga yang tenang damai dan berwibawa. Dengan demikian, dengan kesibukan yang semakin meningkat, Juwiring benar-benar tidak pernah lagi datang ke padepokan Jati Aking. Ia tenggelam dalam latihan-latihan olah kanuragan, belajar ilmu- ilmu yang lain yang harus dimilikinya dan sedikit waktu untuk beristirahat dan menyesuaikan diri dengan kedudukannya. Sekali-sekali Juwiring pernah mengikut i ayahnya di dalam himpunan para bangsawan dan mulai berkenalan dengan orang asing yang berkuasa di Surakarta. “Kau harus bersikap baik terhadap mereka Juwiring” berkata ayahnya “Apapun yang kau simpan di dalam hati, tetapi di hadapan mereka, kau harus menunjukkan sikap yang sopan dan beradab, agar kita tidak disebutnya sebagai bangsa yang tidak mengenal sopan santun dan tidak berperadaban” Dan Juwiring tidak berusaha menentang pesan ayahandanya. Perlahan-lahan ia menyesuaikan dir inya denganpergaulan yang semula terasa asing baginya. Namun lambat laun, iapun menjadi terbiasa pula. Demikian pulalah di dalam hidupnya sehari-hari. Meskipun ia tetap seorang anak muda yang rendah hati, tetapi kini Juwiring adalah benar-benar seorang putera Pangeran. Pakaiannya, sikapnya dan hubungan yang dilakukannya sehari-hari. Saudara-saudara sepupunya yang semula tidak mau mengenalnya lagi, satu dua sudah ada yang mulai bergaul meskipun t idak terlampau rapat Sikap dan tingkah lakunya itu, menimbulkan kekecewaan yang sangat pada Buntal dan Arum. Meskipun mereka tidak sempat menyaksikan sikap dan tingkah laku itu, namun sekali. mereka pernah juga mendengarnya. Sumber yang paling dapat dipercayainya adalah Ki Dipanala sendir i. Ki Dipanala ternyata sama sekali tidak ingin memutuskan hubungannya dengan Kiai Danatirta. Ia masih sering datang mengunjunginya. Daripadanyalah maka Buntal dan Arum mendengar, bahwa Raden Juwir ing kini sudah berhasil menyesuaikan dirinya dengan kehidupan yang seharusnya bagi seorang putera Pangeran. “Seharusnya ia tidak per lu belajar” berkata Arum sambil mengerutkan dahinya “Ia memang putera Pangeran. Sebelum tinggal di sini, ia tentu sudah terbiasa dengan. hidup seperti yang dilakukannya sekarang ini“ “Ya“ Ki Dipanala mengangguk-angguk “Tetapi sudah lama ia terpisah dari pergaulan para bangsawan, sehingga ia harus berusaha menyesuaikan dir inya kembali” “Apakah artinya ia berada di sini beberapa waktu yang lalu? Jika akhirnya ia melupakan padepokan ini, dan terlebih- lebih lagi segala cita-cita yang dengan berkobar-kobar pernah dikatakannya di sini?“ Ki Dipanala menarik nafas dalami. Dengan hati-hati ia berkata “Ia sama sekali tidak melupakan padepokan ini. Tetapiia kini sedang disibukkan oleh berbagai macam pekerjaan yang dibebankan kepadanya oleh ayahandanya” “Tentu, itu adalah suatu usaha untuk memisahkannya dari padepokan ini” bantah Arum, lalu “dan apakah gunanya ia mempelajari olah kanuragan, jika ia kemudian menjadi murid dari orang lain meskipun itu ayahandanya sendiri? Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dahulu? Ternyata Raden Juwiring kini benar-benar telah menjadi pengganti Raden Rudira” Ki Dipanala t idak segera menyahut. Sekilas ditatapnya wajah Kiai Danatirta yang lembut. “Arum” berkata Kiai Danatirta “Apakah salahnya jika Raden Juwiring menyesuaikan dir i dengan tata cara hidup keluarganya. Biarlah ia berada di dalam lingkungannya. Itu memang sudah haknya” “Tetapi apakah artinya padepokan ini baginya? Seperti silirnya angin di pegunungan. Alangkah segarnya jika wajah yang gersang bagaikan dibuat oleh desir yang lembut. Tetapi angin itu sudah berlalu. Dan tidak akan pernah diingatnya kembali” Kiai Danatirta justru tersenyum melihat wajah anaknya yang tegang. Katanya “Tetapi kita tidak dapat merampas haknya. Dan apakah sebenarnya yang pernah dihayatinya di padepokan ini? Apa yang kita lakukan di sini, adalah semata- mata suatu kewajiban. Dan kita tidak akan pernah menuntut pamr ih bagi dir i sendir i, penghargaan atau pujian dan imbalan berupa apapun. Jika kita melepaskan seekor burung yang kita selamatkan dari mulut seekor kucing, maka kita tidak akan pernah mengharap burung itu datang kembali kepada kita dengan membawa butiran-but iran padi seperti di dalam dongeng anak-anak menjelang t idur” Arum tidak menjawab lagi. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam, Ki Dipanala yang menyaksikannya hanya dapatmengangkat bahu. Ia mengerti, bahwa pergaulan yang cukup lama itu telah menumbuhkan ikatan persaudaraan yang dalam. Keduanya memang sudah dinyatakan sebagai saudara angkat apalagi mereka pada dasarnya adalah saudara seperguruan bersama dengan Buntal. Namun dalam pada itu. Buntal mempunyai tanggapan yang lain. Sebenarnya iapun mempunyai perasaan seperti yang dikatakan oleh Arum. di antara kekecewaan dan kerinduan kepada saudara angkatnya. Tetapi mendengar keluhan Arum di hadapannya itu, rasa-rasanya ia mempunyai tanggapan yang lain. Seakan-akan ia mendengar keluhan rindu seorang gadis atas seorang laki-laki muda yang telah menar ik hatinya. Karena itu, maka Buntal justru tidak mengatakan sesuatu. Ia bahkan harus berjuang mengatasi kerisauan hatinya sendiri. Dengan susah payah ia mencoba untuk tidak berprasangka buruk, dan bahkan katanya kepada diri sendiri “Alangkah hitamnya hati ini” Demikianlah, maka di saat-saat tertentu, masih terasa, bahwa kepergian Juwiring dari padepokan Jati Aking, telah menumbuhkan perubahan di dalam tata kehidupan di padepokan itu. Bahkan kemudian timbul di hati Buntal suatu keinginan, agar sebaiknya Juwiring tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi di padepokan itu. “Gila“ Ia mengumpati dirinya sendir i “perasaan ini adalah suatu pengkhianatan. Aku agaknya telah mementingkan dir iku sendiri. Aku sudah digulat oleh kedengkian karena aku ingin memisahkan Arum dari Juwiring” Namun betapa ia menjadi sakit karena benturan dengan dirinya sendiri. Antara tata krama, unggah-ungguh dan tuntutan hatinya sebagai seorang laki- laki muda. Tetapi betapapun sakitnya, ia harus menahan hati. Ia harus tetap seperti yang ada selama ini. Bahwa Buntal adalahsaudara angkat Arum, dan keduanya adalah saudara seperguruan. Dengan demikian maka Buntalpun selalu berusaha menekan perasaannya. Dialihkannya semua persoalan pada dirinya ke dalam mesu dir i. Berlatih dengan tekun tanpa mengenal lelah. Siang dan malam, apabila kerja di sawah sudah selesai, maka ia selalu berada di dalam sanggar untuk menyempurnakan ilmu kanuragannya. Kadang-kadang ia berlatih sendir i, kadang-kadang dengan gurunya dan Arum. Sebagai seorang tua, Kiai Danatirta mengetahui, bahwa ada sesuatu yang agaknya tersembunyi di dalam hati Buntal. Kemauannya melatih dir i agak berlebih-lebihan. Meskipun dengan demikian kemajuannya di dalam olah kanuragan menjadi semakin pesat, tetapi Kiai Danatirta melihat kemundurannya di lain segi dari kehidupan Buntal. “Anak muda itu sekarang sering menyendir i” berkata Kiai Danatirta di dalam hati. Tetapi orang tua itu tidak segera dapat menebak, perasaan apakah yang sebenarnya tersembunyi di dalamdiri muridnya itu. Dan Buntalpun memang tidak ingin menunjukkan gejolak hati yang sebenarnya. Dengan sepenuh hati. Buntal memperdalam ilmunya hampir setiap saat. Ketika udara sedang gelap karena mendung yang menyaput langit di ujung malam. Buntal berdiri terengah-engah di belakang sanggar. Keringatnya bagaikan diperas dari dalam tubuhnya. Baru saja ia menyelesaikan sebuah latihan yang berat. Sengaja tidak di dalam sanggar, agar ia dapat bergerak dengan bebas, tidak dibatasi oleh dinding-dinding bangsal yang dirasanya terlampau sempit. Apalagi halaman di belakang sanggar itupun dibatasi oleh dinding batu hampir berkeliling, sehingga latihannya sama sekali tidak mengganggu orang lain atau terganggu karenanya.Buntal menengadahkan wajahnya ketika dilihatnya lidah api meloncat di langit. Tetapi ia masih belum ingin ber istirahat. Ia masih ingin melanjutkan latihannya. Sekali lagi Buntal bersikap. Beberapa kali ia melakukan gerakan-gerakan yang sedang dipelajarinya sifat dan kemungkinannya. Berkali-kali gerak itu diulanginya. Sehingga akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Tetapi Buntal terkejut, ketika kilat menyambar di langit, dilihatnya sesuatu bergerak di balik gerumbul di sudut halaman. Sejenak ia membeku, namun kemudian ia masih saja berpura-pura tidak melihat sesuatu. Dilanjutkannya latihan-latihan yang dilakukannya itu, dari tata gerak yang satu, dihubungkan dengan tata gerak yang lain dalam rangkaian yang serasa. Namun demikian, ia masih tetap memperhatikan bayangan yang sekilas dilihatnya. Jika kilat menyambar lagi di langit, Buntal mengharap bahwa ia akan dapat melihatnya sekali lagi untuk meyakinkan, bahwa ia tidak sekedar diganggu oleh bayangan yang hanya sekedar mirip saja dengan bayangan seseorang. Beberapa saat lamanya Buntal masih tetap melatih diri di dalam kegelapan. Meskipun perhatiannya kini terbagi antara latihan dan gerumbul di sudut, namun ia masih tetap bergerak terus agar seandainya di balik gerumbul itu benar-benar ada orang yang mengintainya, orang itu masih akan. tetap berada ditempatnya. Ternyata bahwa sejenak kemudian kilat benar-benar memancar di langit. Sepercik sinarnya menyambar seseorang yang bersembunyi di balik gerumbul. Meskipun Buntal tidak dapat melihat dengan jelas, tetapi ia kini yakin, bahwa yang berada di balik gerumbul itu memang seseorang. Bukan sekedar dedaunan yang bergerak disentuh angin.Karena itu, Buntalpun mulai mencar i jalan, bagaimana ia dapat mendekati gerumbul itu tanpa menumbuhkan kecurigaan. Sejenak Buntal berpikir, sehingga tata geraknya menjadi sedikit kendor. Namun sejenak kemudian Buntal justru telah mengerahkan segenap kemampuan geraknya. Ia meloncat tinggi-tinggi sambil memutar tangannya diudara. Kemudian menyapu dengan kakinya rendah hampir melekat tanah. Sekali ia berguling, berputar dan melakukan gerakan-gerakan yang aneh. Bahkan ia meloncat dan berputar diudara. Dengan demikian Buntal bergerak hampir diseluas halaman di belakang Sanggar itu, sehingga tanpa menimbulkan kecurigaan, sampai juga ia di sebelah gerumbul itu. “Nah, aku kira aku sudah cukup dekat” katanya di dalam hati. Karena itu, sejenak ia mengumpulkan tenaganya, dan sesaat kemudian iapun segera meloncat menerkam bayangan yang ada di balik gerumbul itu. Tetapi ternyata Buntal keliru. Orang yang berada di balik gerumbul itu t idak tinggal diam dan membiarkan dir inya diterkamnya. Meskipun orang di balik gerumbul itu agak terkejut melihat Buntal yang tiba-tiba saja meloncat kearahnya, namun sambil berjongkok ia sempat menghindar diri dengan meloncat melangkah ke samping. Ketika Buntal yang gagal itu bersiap, maka orang itupun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan.Tetapi Buntal tertegun sejenak. Bahkan kemudian ia berdiri termangu-mangu. Orang itu tidak lain adalah Arum. “Kau berada di sini Arum?“ suaranya tergagap. Arum menundukkan kepalanya. Ia tidak lagi bersikap garang seperti jika ia hendak bertempur. Tetapi tiba-tiba saja Arumtelah menjadi seorang gadis yang tersipu-sipu. “Kenapa kau berada di sini?“ sekali Buntal mendesak sambil mendekatinya. “Tidak apa-apa. Aku memang ingin menyusulmu berlatih di sanggar. Tetapi ternyata kau tidak ada di dalam bangsal itu” “Tetapi kau tidak memakai kelengkapan untuk berlatih” Tanpa disadarinya Arum memandang pakaiannya dari ujung kaki sampai keujung tangannya. Ia memang tidak mengenakan kelengkapan untuk berlatih. Karena itu asal saja ia menjawab “Aku memang tidak ingin berlatih. Aku hanya sekedar ingin melihat, karena badanku rasa-rasanya lelah sekali hari ini” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jawaban itu dapat dimengertinya. Bahkan ia mencoba mengerti, karena Arum justru bersembunyi. Agaknya gadis itu ingin melihat perkembangan ilmunya tanpa mengganggunya atau membuatnya ragu-ragu justru karena ia sadar bahwa seseorang sedang memperhatikannya. Namun yang tidak dimengerti oleh Buntal, justru sikap Arum yang agak berbeda dengan sikapnya sehari-hari. Tampak Arum saat itu agak letih dan ragu-ragu. “Arum” berkata Buntal kemudian “Apakah kau sedang sakit?“ Arum menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab “Tidak Buntal. Aku tidak sakit. Tetapi rasa-rasanya hatiku tidak secerah saat-saat lampau”Dada Buntal menjadi berdebar-debar. Yang pertama-tama diingatnya adalah Juwiring. Tentu gadis ini merindukan anak muda yang sudah cukup lama tidak menampakkan dirinya. Dan hampir di luar sadarnya Buntal berkata “Arum, sebaiknya kau tidak usah memikirkannya lagi. Ia sudah pergi, dan meskipun aku juga mengharap, tetapi ia tidak akan dapat kembali di antara kita seperti biasanya” Tetapi Buntal menjadi terkejut ketika Arum menjadi tegang. Dan bahkan bertanya “Apakah yang kau maksud?“ Buntal termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dipaksanya menjawab “Aku kira seperti aku kau mengharap kakang Juwiring datang dan berada lagi di antara kita” Arum menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak memikirkannya lagi. Meskipun ia saudara angkatku dan aku menganggapnya sebagai kakak kandungku sendir i, tetapi ia sudah melupakan kita di padepokan yang terpencil ini” “O“ Buntal mengangguk-angguk ”Jadi, apakah yang kau pikirkan?“ Arum mengangkat wajahnya. Sekilas Buntal melihat matanya yang bercahaya. Tetapi mata itupun kemudian menjadi pudar kembali. “Aku tidak apa-apa kakang. Aku hanya terlalu lelah. Kemar in aku memaksa dir i berlatih terlampau lama. Dan hari ini akulah yang membuka pematang, karena ketika aku berada di sawah kebetulan air berlimpah. Saat itu kau belum datang, sehingga akulah yang melakukannya” Buntal mengangguk kecil. Tetapi sesuatu yang tidak terkatakan dapat ditangkapnya pada wajah dan kata-kata Arum. Tetapi Arum benar-benar tidak mengatakan sesuatu. Bahkan kemudian ia duduk saja dengan kepala tunduk di atassebuah batu yang besar, sedang Buntal dengan gelisah berdiri di sebelahnya. Kilat di langit seakan telah membangunkan keduanya. Arum yang kemudian berdir i itupun berkata “Aku akan masuk kakang. Apakah kau masih akan melanjutkan?“ Buntal menggeleng “Tidak Arum. Akupun sudah lelah sekali” Arum memandang Buntal dengan tatapan mata yang lain. Dan tiba-tiba saja di dalam tangkapan pandangan Buntal, yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang gadis yang meningkat menjadi dewasa dan matang. Buntal harus berjuang menahan gejolak perasaannya. Karena itu, maka iapun kemudian berpaling sambil melontarkan kegelisahannya dengan berkata agak keras “Arum, lihat. Langit mendung sekali. Tidak ada sebuah bintangpun yang tergantung di langit” Tetapi Arumhanya sekedar menjawabnya “Ya kakang” Buntal menarik nafas. Perbedaan sikap Arum membuatnya semakin gelisah dan bingung. Tetapi Arumpun kemudian melangkah meninggalkan Buntal yang berdiri termangu-mangu. di muka pintu butulan sanggar ia berpaling sambil berkata “Sebaiknya kaupun beristirahat kakang. Kau tentu lelah pula, setelah sehari-harian kau bekerja di sawah dan di rumah” Buntal mengangguk. Jawabnya ragu-ragu “Baiklah Arum” “Kau belum makan malam” Buntal mengangguk. Sepeninggal Arum, Buntal menjadi semakin gelisah. Ia tidak mengerti, kenapa Arum tiba-tiba saja berubah.“Apakah hal ini sudah dilakukannya beberapa kali?” Ia bertanya kepada diri sendiri. Namun kemudian ia memaksa dirinya mengambil kesimpulan “Semuanya adalah kebetulan. Jika hatinya menjadi letih, itu tentu karena ia berusaha melupakan kakang Juwiring” Buntal menengadahkan wajahnya di dalam kebimbangan. Dilihatnya langit semakin suram dan rasa-rasanya awan yang basah tergantung rendah sekali. Perlahan-lahan Buntal melangkah. Sejenak ia berhenti di dalam sanggar. Dilihatnya di bangsal tertutup itu berbagai macam senjata tergantung pada dinding. Jarang sekali orang yang masuk ke dalam bangsal itu selain dir inya sendiri, Kiai Danatirta dan Arum. Ternyata bahwa sikap Arum telah menumbuhkan teka-teki di dalam hatinya. Namun ia masih saja selalu dipengaruhi bayangan Juwiring yang sudah tidak datang ke padepokan ini. Sambil berjalan perlahan-lahan Buntal mengeringkan keringatnya. Kemudian ditinggalkannya bangsal itu, dan perlahan-lahan iapun pergi ke pakiwan. Udara malam terasa terlalu panas oleh mendung yang tebal. Sejenak Buntal berada dipakiwan membersihkan dir inya sebelum seperti biasanya ia pergi ke ruang belakang untuk makan malam. Dan seperti biasanya pula, Buntal adalah orang yang terakhir makan malam. Kiai Danatirta kadang-kadang sudah memper ingatkannya, agar ia membiasakan dir i makan lebih awal, agar perutnya tidak terganggu. Tetapi sekali dua kali setelah peringatan itu, maka kambuhlah kebiasaannya makan di jauh malam, sehingga t idak ada seorangpun lagi yang berada di dapur mengawaninya. Bahkan pernah makan dan lauk pauk yang disediakan baginya telah habis dimakan tikus. Tetapi kali ini Buntal terkejut. Ketika ia memasuki dapur yang sepi dilihatnya Arum duduk di atas amben yang besar disudut dapur itu sambil bermain-main dengan ujung kain panjangnya. “Arum“ sapa Buntal “Kau belum tidur?“ Arum memandang Buntal sejenak, lalu “Aku juga belum makan “ “O. Biasanya kau melayani ayah dan kemudian kau makan pula” “Ya. Tetapi sore ini aku berada di belakang sanggar itu setelah aku menyediakan makan ayah” Buntal tidak menyahut. Dikibaskannya tangannya yang masih basah dan kemudian iapun duduk pula di amben besar itu. Sekilas dilihatnya di atas geledeg persediaan makan baginya sudah tersedia seperti biasanya. Tetapi sebelum ia berdiri dan mengambilnya, maka Arum telah bangkit dan gadis itulah yang kemudian mengambil persediaan itu dan meletakkannya di atas amben. Buntal menjadi termangu-mangu. Hal itu tidak biasa dilakukan oleh Arum. Biasanya jika ia tidak berlatih pula, ia berada di biliknya di saat-saat begini. Kadang-kadang berbincang dengan ayahnya mengenai ilmu yang sedang dipelajarinya. Bahkan kadang kadang ayahnya sempat member ikan arti dari setiap gerak yang pernah dipelajari, sehingga Arum dan kadang-kadang Buntal pula, mengerti bahwa gerakan yang dilakukan mempunyai arti dan sifat tersendiri. Agaknya Arum mengetahui bahwa Buntal menjadi heran melihat perubahan itu. Karena itu, Arumpun menjadi berdebat pula. Meskipun demikian ia mencoba menjelaskan “Har i ini aku tidak begitu bernafsu untuk makan kakang. Tetapi biarlah aku mencobanya” Buntal menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun juga.Keduanyapun kemudian makan bersama di dalam dapur yang sepi. Yang terdengar hanyalah sentuhan-sentuhan mangkuk dan kadang-kadang gerak bibir mereka. Malam itu, setelah makan, merekapun segera pergi ke bilik mereka masing-masing. Seakan-akan tidak ada apa-apa yang terjadi. Bahkan mereka tidak terlalu banyak berbicara dan apalagi membicarakan masalah-masalah yang penting. Namun sebenarnya, yang terjadi di dalam hati mereka adalah gejolak yang riuh. Meskipun keduanya kemudian sudah berada di atas pembaringan, namun mereka masih saja duduk dengan gelisah. Ternyata sebagai seorang gadis, Arumpun tidak dapat menghindarkan dir inya dari naluri kemanusiaannya. Meskipun ia memiliki kelebihan dari gadis lain di dalam olah kanuragan, tetapi hatinya adalah hati seorang gadis. Itulah sebabnya, ia telah dicengkam pula oleh perasaan yang serupa dengan gejolak perasaan di dalam dada Buntal. Betapa kedua anak muda itu berusaha menghindarkan diri masing-masing, tetapi mereka ternyata bagaikan sudah masuk ke dalam jebakan. Namun demikian, masing-masing masih berusaha merahasiakan gejolak perasaan itu, sehingga yang seorang tidak dapat menerka apakah yang sebenarnya tumbuh di hati yang lain. Namun dalam pada itu, sebagai seorang tua yang memiliki ketajaman tanggapan terhadap anak-anaknya, apakah itu anaknya sendiri, atau anak angkatnya, maka Kiai Danatirtapun melihat sesuatu yang berbeda di dalam hubungan anak-anak muda itu. Setiap hari ia mencoba memperhatikan, seakan- akan ada sesuatu yang berkembang di hati masing-masing, semakin lama menjadi semakin mekar. Kiai Danatirta yang pernah mengalami kepahitan karena peristiwa yang terjadi atas anak gadisnya sehinggamenimbulkan persoalan yang sama sekali t idak dihendaki, menanggapi peristiwa ini dengan sangat berhati-hati. Meskipun ia sadar, bahwa kemungkinan yang demikian memang dapat saja terjadi. Apalagi keduanya menyadari bahwa mereka sebenarnya bukannya saudara sedarah. Mereka hanyalah saudara angkat dan saudara seperguruan. Tetapi agaknya Buntal sendiri, masih saja selalu diganggu oleh bayangan Juwiring yang kadang-kadang membuatnya kehilangan pegangan. Buntal yang perasa itu, tidak dapat menyingkirkan sebuah prasangka, bahwa jika Arum rasa- rasanya menjadi semakin dekat di hatinya, itu adalah karena Arumsendiri sedang merasa kesepian sepeninggal Juwir ing. Meskipun demikian, seperti matahari yang harus terbit di ujung Timur, demikian juga perasaan anak-anak muda itu tidak dapat dibendung lagi. Sepercik isyarat telah sama-sama mereka hayati. Kata hati yang tidak menyentuh indera wadag, namun dapat di tanggapi dengan firasat yang mencengkam perasaan masing-masing. Kiai Danatirta masih membiarkan hati kedua anak-anak muda itu mekar, selama mereka masih berbuat di dalam batas-batas yang wajar. Dengan hati-hati ia mengikuti perkembangan hubungan keduanya. Dan orang tua itupun mengetahui, bahwa kedua anak-anak muda itu sama sekali belum menyatakan sikap dan gejolak hati masing-masing dengan terbuka. “Mudah-mudahan tidak terjadi masalah-masalah yang dapat mengungkit kembali luka di hatiku” berkata orang tua itu kepada diri sendir i. Tetapi perkembangan keadaan di padepokan Jati Aking itu tidak dapat berdir i sendir i lepas dari pengaruh perkembangan keadaan, sejalan dengan panasnya udara di Surakarta. Beberapa orang bangsawan dan justru pejabat tertinggi di Surakarta yang merasa iri hati terhadap PangeranMangkubumi, bukan saja atas daerah kelenggahannya yang luas, juga karena Pangeran Mangkubumi terlalu dekat dengan rakyatnya, sehingga Pangeran itu mempunyai pengaruh yang sangat luas, semakin lama semakin jauh menyebarkan berita dan desas-desus tentang Pangeran Mangkubumi, sehingga akhirnya Kangjeng Susuhunan terpaksa memperhatikannya. Tetapi Pangeran Mangkubumi telah menilai keadaan itu dengan tepat. Karena itu, maka iapun menjadi semakin bersiaga menghadapi setiap kemungkinan. Meskipun pada dasarnya Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang tidak menghendaki darah tertumpah di atas tanah tercinta ini, tetapi apabila tanah ini semakin lama akan semakin jauh tenggelam di dalam perbudakan, maka memang tidak ada jalan lain daripada melepaskan beberapa orang korban sebagai bebanten dari perjuangan yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Surakarta. Dan arus yang panas itu ternyata telah menyentuh padepokan Jati Aking pula. Padepokan Jati Aking ternyata telah dikejutkan oleh kehadiran seorang penunggang kuda. Meskipun orang itu bukan lagi seorang anak muda, tetapi wajahnya tampak cerah dan tubuhnya ternyata cukup terpelihara. Namun agaknya Buntal yang kebetulan ada di halaman segera dapat mengenalinya. Dengan bergegas ia menyongsongnya sambil tersenyum “Putut Sr igunting “ Orang yang sudah menginjak usia pertengahan itu tersenyum. Sambil meloncat dari punggung kudanya ia menyambut anak muda yang menyongsongnya itu. Sambil mengguncang lengan Buntal Putut itupun berkata “Kau berkembang dengan pesatnya” “Ah“ Buntal tersenyum mendengar pujian itu “Kau menjadi semakin muda” Putut itupun tertawa. Lalu “dimanakah Kiai Danatirta?”“Marilah, ayah berada di dalam” Sejenak kemudian, maka Putut itupun telah duduk di pendapa bersama Buntal dan Kiai Danatirta sendiri. Sejenak kemudian Arumpun telah menghidangkan minuman dan makanan. “Gadis yang lengkap” berkata Putut Srigunting “Ia mampu bermain pedang, tetapi ia dapat dengan lembut menghidangkan hidangan seperti gadis pingitan” Wajah Arum menjadi merah. Tetapi ia tersenyum saja tanpa menjawab sepatah katapun. Sejenak merekapun kemudian berbincang tentang keselamatan dan keadaan di padepokan masing-masing. Namun akhirnya sampailah mereka pada pokok pembicaraan. Agaknya Putut Srigunting datang ke padepokan Jati Aking bukan sekedar ingin menengok Buntal dan saudara-saudara seperguruannya, tetapi kedatangannya memang membawa suatu maksud yang penting. Penting bagi Buntal dan penting bagi Kiai Sarpasrana. “Kiai Danatirta” berkata Putut Sr igunting kemudian “kedatanganku adalah karena aku mendapat perintah dari Kiai Sarpasrana. Agaknya keadaan di Surakarta sudah tidak dapat disejukkan lagi. Kedatangan orang-orang baru dan dendam yang menyala di hati perwira-perwira kumpeni membuat mereka menjadi semakin kasar. Ditambah lagi dengankedengkian dan ketamakan yang merajalela pada beberapa bangsawan tertinggi di Surakarta. Mereka ingin mempergunakan pengaruh mereka untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak mereka sukai, terutama Pangeran Mangkubumi” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Karena itu Kiai, aku telah berjalan mengelilingi Surakarta. Aku harus memberitahukan kepada orang-orang yang mengerti akan arti kecintaan terhadap tanah air, agar mereka mulai menyatukan dir i di dalamsatu ikatan yang teguh” Kiai Danatirta mulai berdebar-debar. Lalu “Maksudmu?“ “Kiai Sarpasrana telah mengumpulkan setiap orang yang mungkin dapat membantu perjuangan untuk menegakkan hak kita atas tanah tercinta ini. Saatnya sudah terlampau dekat, bahwa kita harus berbuat sesuatu” “Maksudmu, Pangeran Mangkubumi sudah bersiaga?“ Putut Srigunting ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya “Aku percaya kepada Kiai. Karena itu, aku berani mengiakannya bahwa Pangeran Mangkubumi memang sudah bersiap” “Apakah yang harus kita kerjakan di sini?“ “Masih belum dapat disebutkan sekarang, karena Pangeran Mangkubumi belum menjatuhkan perintah. Tetapi yang penting dari kedatanganku ini, adalah bahwa kita harus berkumpul di padepokan Kiai Sarpasrana untuk beberapa saat. Kemudian kami akan memencar ke daerah-daerah yang memer lukan apabila saatnya memang sudah tiba” “Jadi?“ “Kiai Sarpasrana minta agar mur id-mur id Kiai apabila bersedia datang pula ke padepokan kami untuk bergabung dengan pasukan yang memang sudah disiapkan”Kiai Danatirta terdiam sejenak. Sambil mengangguk-angguk ia meraba-raba janggutnya yang sudah mulai memutih. Namun dalam pada itu, dada Buntal dan Arum menjadi berdebar-debar. Mereka belum tahu pasti makna dari permintaan Putut Srigunting itu. Namun mereka sudah dapat meraba artinya, bahwa udara di atas Surakarta sudah menjadi semakin panas, sehingga air yang ada di kota ini bagaikan akan mendidih karenanya. “Putut Srigunting” berkata Kiai Danatirta “sebenarnya berat bagiku untuk melepaskan mur id-mur idku yang sama sekali belum memiliki bekal yang cukup. Namun demikian, segala sesuatunya masih tergantung kepada anak-anak itu sendir i. Terutama Buntal, karena Juwiring sekarang sudah jarang sekali datang ke padepokan ini” “Kami, dari padepokan Kiai Sarpasrana sudah mengetahui bahwa Raden Juwiring pada dasarnya sudah tidak berada di padepokan ini lagi. Sepeninggal Raden Rudira, Raden Juwiring diminta oleh ayahandanya untuk berada di istana Ranakusuman. Bahkan aku mendengar kisah di antara dendang para pedagang, bahwa Raden Juwiring memperdalam ilmu kanuragan dari ayahandanya sendiri” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian kepalanyapun terangguk lemah. “Kita t idak dapat membicarakannya lagi“ Arumlah yang kemudian menyahut “menurut ayah, biarlah ia mendapatkan haknya sebagai seorang putera Pangeran” “Ya“ Putut Sriguntingpun mengangguk-angguk pula “biarlah ia mendapatkan haknya” ia berhenti sejenak, lalu “karena itu yang sekarang aku minta untuk datang menyatukan diri dengan kami adalah Buntal. Hanya Buntal” Buntal mengangkat wajahnya. Sejenak dipandanginya gurunya dengan hati yang berdebar-debar, dan sejenak kemudian wajah Arumyang menegang.“Hanya kakang Buntal sendir i?“ bertanya gadis itu. “Ya” “Aku juga murid Kiai Danatirta” berkata Arum kemudian “Jika mur id-mur id Kiai Danatirta harus ikut di dalam perjuangan ini, maka akupun akan ikut serta, meskipun aku adalah seorang gadis” Putut Srigunting menar ik nafas. Katanya sambil tersenyum “Kiai Sarpasranapun telah menduga. Tetapi menurut pertimbangan yang luas, sebaiknya kau tetap berada di padepokan ini” “Kenapa?“ “Kau akan sendir ian di padepokan kami” “Maksudmu bahwa di padepokan itu tidak ada seorang perempuanpun yang ikut serta di dalamperjuangan?“ “Ya, secara langsung. Yang ada hanyalah mereka yang berkerja di dapur dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain” “Aku dapat bekerja di dapur dan mengerjakan pekerjaan lain seperti gadis-gadis yang lain” “Tetapi kau diperlukan di padepokan ini” “Tidak. Aku akan memilih berada di antara pasukan yang akan bertempur menghadapi kumpeni dan para penj ilat” Putut Srigunting menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Sayang. Sebaiknya jangan sekarang. di Sukawati sedang disiapkan sepasukan perempuan yang akan ikut berjuang di medan. Nah, pada saatnya kau akan ikut bersama mereka” “Tetapi kapan. Kapan pada saatnya itu akan datang?” Kiai Danatirta yang tahu akan sifat anaknya itupun kemudian terpaksa menengahi “Arum. Kau juga diperlukan. Tetapi dalam tahap berikutnya. Kini yang penting bagi Kiai Sarpasrana adalah sebuah pasukan yang kuat, yang terdiridari Laki- laki. Kau tahu, bahwa ada beberapa perbedaan kodrati antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Bukan di dalam olah kanuragan dan keprajuritan. Tetapi kelengkapan sifat dari kita masing-masing. Karena itu, akan dibentuk khusus sebuah pasukan yang terdiri dari perempuan- perempuan yang mempunyai sifat kodrati yang bersamaan sehingga yang satu tidak terasa mengganggu yang lain” Arum memandang ayahnya sejenak. Namun ternyata yang dikatakan oleh ayahnya itu dapat dimengertinya, sehingga meskipun membayang kekecewaan yang dalam di wajahnya, tetapi ia tidak membantah lagi. “Nah, selain dari itu semua, kau sebaiknya mengawani ayah yang menjadi semakin tua ini di rumah Arum” Arum tidak menjawab. Namun rasa-rasanya seperti seseorang yang kehilangan miliknya yang paling berharga. Kepergian Buntal dari rumah itu benar-benar telah mengguncang perasaannya meskipun tidak terucapkan. “Ia tentu akan merasa sangat kesepian” berkata ayahnya di dalam hatinya “baru saja ia berhasil melepaskan Juwiring. Kini ia harus kehilangan Buntal pula” Tetapi Kiai Danatirta tahu akan arti perjuangan itu. Karena itu maka ia tidak dapat menahan Buntal. Meskipun demikian Kiai Danatirta mempersilahkan Putut Srigunting untuk berbicara langsung dengan Buntal. Untuk beberapa saat Buntal memang ragu-ragu. Ada sesuatu yang memberati hatinya untuk meninggalkan padepokan ini. Tetapi ia tidak akan dapat ingkar jika kuwajiban memang memanggil. Apakah artinya perasaan benci dan muak terhadap ketidak-adilan yang terjadi di Surakarta, apabila perasaan itu sekedar disimpannya saja di dalam hati? Dan apakah artinya kekagumannya terhadap kesuburan tanah air ini, jika ia sekedar hanya mau memetik hasilnya. Apalagi ia sadar, bahwa kesuburan tanah ini semakinlama menjadi semakin tidak berarti bagi mereka yang dilahirkan dan dibesarkan di bumi ini. Dan apalagi kesuburan ini tidak akan berarti apa-apa bagi keturunannya, bagi anak cucu, karena hasilnya akan dihisap sebanyak-banyaknya oleh orang-orang asing itu. Dengan demikian, maka akhirnya Buntal itupun berkata “Aku akan ikut bersamamu Putut Srigunt ing. Aku akan berada di dalam lingkungan pasukan yang akan berdiri di belakang Pangeran Mangkubumi, karena aku tahu, bahwa Pangeran Mangkubumi akan mengangkat senjata, berjuang untuk mempertahankan hak kami atas bumi ini” Putut Sri Gunting menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguki ia berkata “Aku memang sudah menduga, bahwa kau tidak akan berkeberatan” Buntal tidak menyahut. Tanpa disadarinya dipandanginya wajah Arum yang tunduk. Buntal menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Arum mengusap matanya yang basah. Berbagai perasaan yang bergulat di hatinya. Namun kemudian ia berkata kepada diri sendiri “Tentu Arum merasa bahwa ia akan menjadi semakin kesepian karena kedua saudara seperguruannya telah pergi” “Kiai Danatirta” berkata Putut Sr igunting kemudian “ternyata Buntal bersedia meninggalkan padepokan ini dan pergi ke padepokan kami. Kiai Sarpasrana tentu akan senang sekali” “Tentu Buntal merasa bahwa itu memang sudah menjadi kuwajibannya” jawab Kiai Danatirta. “Terima kasih Kiai” berkata Srigunting kemudian “Tetapi aku tidak dapat menyertainya jika ia akan segera berangkat. Aku masih harus meneruskan perjalananku. Dan perjalananku akan berakhir di Surakarta sendir i” ”Jadi maksudmu?““Aku akan segera meninggalkan padepokan ini. Biarlah Buntal besok atau lusa pergi seorang dir i menemui Kiai Sarpasrana, karena aku tidak akan segera kembali. Perjalananku masih akan memer lukan waktu tiga sampai lima hari. Baru kemudian, jika semua tugasku selesai, aku dapat pulang kembali. ” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti, bahwa di dalam keadaan yang menentukan ini, Putut Srigunting tentu mempunyai tugas yang cukup banyak. Sehingga karena itu, maka katanya “Baiklah Putut Srigunt ing. Buntal tentu tidak akan berkeberatan untuk pergi sendiri menemui Kiai Sarpasrana. Biarlah ia besok atau lusa berangkat, sementara ia akan mempersiapkan bekalnya lebih dahulu, karena ia tentu akan berada di padepokanmu untuk waktu yang lama” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Bukankah begitu Buntal?“ Buntal tergagap. Dan dengan serta-merta ia menyahut “Ya, ya Guru. Aku akan berkemas lebih dahulu” “Terima kasih. Dengan demikian, tugas kita masing-masing akan dapat kita tunaikan dengan baik” Putut Srigunting itupun kemudian bergeser setapak sambil berkata “Aku kira aku sudah cukup lama berada di padepokan ini” “E, nanti dulu. Aku tidak akan menahanmu menjalankan tugas, apalagi menghambat. Tetapi tunggulah sebentar, kami sedang menyiapkan makan bagimu. Dan apakah kau tidak lebih baik menunggu matahari condong sehingga perjalananmu tidak terlampau panas?“ “Memang tidak bijaksana menolak rejeki. Terima kasih Tetapi sudah barangtentu setelah aku kenyang aku akan segera pergi” Sebenarnyalah seperti yang dikatakan. Setelah selesai makan dan berist irahat sejenak, maka Putut Sriguntingpun meneruskan perjalanannya, menyampaikan pesan dari KiaiSarpasrana kepada orang-orang yang dipercayainya dan bersedia membantu perjuangan yang agaknya akan menjadi semakin keras. Sepeninggal Putut Srigunt ing, maka Buntalpun segera mempersiapkan dir i. Mengumpulkan pakaian yang ada padanya. Membersihkan senjatanya dan menyiapkan dir inya untuk menghadapi persoalan yang agaknya akan menjadi sangat menarik baginya. Kiai Danatirta yang mengerti, apakah yang akan dihadapi oleh Buntal kemudian, memberikan berbagai macam pesan. Dan lebih dar i itu, maka ketika matahari telah terbenam di ujung Barat, maka Kiai Danatirtapun memanggil Buntal di sanggarnya bersama Arum. “Buntal” berkata Kiai Danatirta “Apakah kau sadari, apakah yang akan kau tempuh kelak jika kau sudah berada di padepokan Kiai Sarpasrana?“ Buntal mengangguk lemah. Jawabnya “Ya ayah. Aku mencoba untuk membayangkan perjuangan yang akan dilakukan oleh Kiai Sarpasrana” “Perjuangan yang keras dan akan memakan waktu yang lama Buntal. Menurut kesan yang aku tangkap pada pembicaraan kita dengan Putut Srigunt ing, agaknya kita memang akan segera mulai. Agaknya Pangeran Mangkubumi sudah tidak dapat menahan dir i lagi” “Apakah yang akan terjadi kemudian adalah perang yang dahsyat ayah?“ bertanya Arum. Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Mungkin sekali Arum. Yang akan terjadi adalah perang. Perang melawan kumpeni” “Tetapi bagaimanakah kedudukan Kangjeng Susuhunan kemudian ayah?““Kedudukan Kangjeng Susuhunan memang sulit. Tetapi agaknya kumpeni mempunyai pengaruh yang semakin besar, di samping beberapa bangsawan yang saling mengir i dan dengki. Itu adalah sumber kemenangan kumpeni. Sebenarnya kesalahan terbesar terletak pada kita sendir i, jika kita dapat dibenturkan melawan kita sendir i. Jika tetangga kita berhasil mengadu dua orang saudara kandung berebut warisan, maka yang paling bersalah adalah kedua saudara kandung itu sendiri. Barulah kemudian kita mengutuk tetangganya yang berusaha mengadu kedua orang saudara kandung itu. Jika kita selalu menyalahkan orang lain tanpa mengetahui kesalahan sendiri, maka kesalahan yang serupa itu akan selalu berulang. Dan korban yang paling parah adalah kita sendir i siapapun yang akan menang dan siapapun yang akan kalah. Dan pihak yang tidak terkalahkan siapapun yang menang, adalah kumpeni” “Tetapi jika terjadi perang, dan Kangjeng Susuhunan ternyata berdiri bersama dengan kumpeni, apakah dengan demikian mereka yang berdiri berseberangan tidak dapat disebut memberontak terhadap kekuasaan raja. Apalagi jika benar Pangeran Mangkubumi akan mengangkat senjata, maka ia akan melawan rajanya dan saudara tua yang harus dihormatinya. Bukankah dengan demikian, orang-orang yang tidak senang terhadap sikap itu akan mengatakan bahwa Pangeran Mangkubumi telah melepaskan kesetiaan yang harus dimiliki oleh setiap bangsawan apapun yang terjadi? Mereka harus setia kepada Kangjeng Susuhunan sebagai pemegang kekuasaan tunggal dan mereka harus setia kepada Surakarta?“ “Kau benar Arum. Dan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi adalah kesetiaan yang tidak terbatas itu. Pangeran Mangkubumi tidak ingin melihat Surakarta semakin lama semakin tenggelam. Kerajaan asing yang kini semakin mencengkam kekuasaan Kerajaan Surakarta ini harus disingkirkan. Sedangkan bagi Pangeran Mangkubumi,kekuasaan atas Surakarta satu-satunya terletak pada Kangjeng Susuhunan, sehingga jika ia berjuang, maka ia ingin memulihkan kekuasaan Kangjeng Susuhunan. Lepas dari perkembangan selanjutnya, jika Kangjeng Susuhunan benar- benar menjadi khilaf” Arum mengangguk-angguk. Ia melihat meskipun samar- samar, bahwa Pangeran Mangkubumi memang tidak dapat memilih jalan lain. Dalam pada itu, Buntalpun mengangguk-angguk mendengar pembicaraan itu Ia agaknya telah memahami apa yang harus dilakukannya. Ia akan berada di dalam sebuah barisan yang akan berada di medan yang keras melawan pasukan kumpeni dan bahkan mungkin pasukan Surakarta sendiri yang telah disesatkan oleh beberapa orang pemimpinnya yang kehilangan pegangan pengabdiannya kepada Surakarta. Sekilas terlintas kenangannya atas Raden Juwiring yang telah sekian lamanya tidak pernah datang ke padepokan itu. Jika ia kemudian menjadi mur id ayahandanya, Pangeran Ranakusuma, yang menjadi salah seorang Senapati pasukan Surakarta yang terpandang dan hubungannya dengan orang- orang kulit putih terlampau dekat, maka apakah yang kira-kira akan dilakukan di dalam pergolakan yang akan terjadi itu. Selagi Buntal merenungi saudara seperguruannya itu, maka Kiai Danatirtapun berkata “Buntal, kau masih mempunyai kesempatan satu dua hari di padepokan ini. Aku bermaksud di dalam waktu yang sangatsingkat ini, mencoba untuk menyempurnakan bekalmu. Tentu, tidak ada seorangpun di dunia ini yang sempurna di dalam segala hal. Namun kita dapat berusaha mendekatinya, meskipun kita sadar, bahwa kita tidak akan dapat mencapainya” Buntal memandang gurunya sejenak, namun kemudian iapun menundukkan kepalanya. “Nah, bersiaplah. Aku ingin memberikan puncak ilmu padepokan Jati Aking. Mungkin masih jauh dar i tingkatan ilmu para bangsawan, termasuk Pangeran Ranakusuma. Tetapi dari pada kau masih belum memilikinya, maka. kau akan semakin jauh ketinggalan. Apalagi bagimu memang sudah saatnya untuk mewarisi segenap ilmu yang ada padaku sampai tuntas. Kemudian terserahlah kepadamu, apakah kau akan mampu mengembangkannya. Dasar ilmu yang aku peroleh pada saat aku berikan. Selanjutnya aku berusaha mengembangkannya sendiri, sampai pada bentuk yang kau lihat sekarang ini” Buntal masih menundukkan wajahnya. Tetapi ia menyahut “Terima kasih guru. Aku akan mengucapkan beribu terima kasih. Mungkin aku akan terlempar ke medan, dan harus berhadapan dengan prajurit Surakarta yang tangguh atau dengan kumpeni yang memiliki jenis ilmunya tersendiri. Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan padepokan Jati Aking, dan tidak mengecewakan padepokan Kiai Sarpasrana yang mempercayai aku untuk ikut di dalambarisannya” “Baiklah Buntal. Tetapi karena di sini aku mempunyai dua orang murid, maka agar aku bertindak adil, maka kedua mur idku itu akan menerima haknya masing-masing. Dan keduanya tidak berbeda. Meskipun yang seorang adalah seorang laki- laki dan yang lain seorang perempuan” Arum terkejut mendengar keterangan ayahnya itu, sehingga ia bergeser setapak maju. Hampir di luar sadarnya ia berkata “Jadi ayah memperkenankan aku untuk bersama- sama mener ima puncak ilmu Padepokan Jati Aking”“Ya Arum. Tetapi selanjutnya kau harus bersikap sebagai seorang gadis yang dewasa penuh. Bukan saja di dalam sikap dan kodratmu sebagai gadis, tetapi sebagai seorang yang telah dewasa memiliki puncak ilmu dari Jati Aking” Wajah Arum bersinar sesaat. Katanya “Terima kasih ayah” “Marilah. Agar kita masih mempunyai waktu yang cukup. Aku memerlukan dua malam untuk memberikan puncak ilmuku kepada kalian” Demikianlah maka Buntal dan Arumpun segera mempersiapkan dirinya. Membenahi pakaiannya dan mengatur segenap kelengkapan tubuh dan jiwanya untuk menerima puncak ilmu Jati Aking. Sejenak mereka memusatkan segenap pikiran dan perasaan untuk memulainya dengan suatu latihan yang khusus, sehingga memer lukan keadaan yang khusus pula. Ketika semuanya sudah tersedia, kesiagaan jasmani dan rohani, maka Kiai Danatirtapun mulai melakukan gerakan- gerakan yang mempersiapkan kedua mur idnya untuk sampai pada puncak ilmunya. Di luar bilik malam menjadi semakin kelam. Langit yang luas bagaikan hamparan wajah yang hitam kelam. Awan basah yang tebal tergantung dari ujung sampai keujung cakrawala. Yang terdengar di dalam bangsal latihan itu hanyalah desah nafas. Justru loncatan-loncatan kaki yang ringan, seakan-akan tidak menimbulkan suara sama sekali oleh kecepatan gerak yang hampir sempurna. Semakin lama semakin cepat, semakin cepat. Dan mengalirlah unsur-unsur gerak yang tertinggi dari ilmu padepokan Jati Aking. Namun sejenak kemudian suara desah nafas dan kadang- kadang sentuhan ujung kaki itu lenyap ditimpa deru hujan yang turun dengan lebatnya seperti dituangkan dari langit.Dedaunan yang tertidur nyenyak bagaikan diguncang oleh titik-titik air yang tertumpah menimpanya. Tetapi yang berada di dalam sanggar, sama sekali t idak menghiraukannya. Juga tidak menghiraukan titik-titik air hujan yang menyusup lewat atap yang kurang rapat. Perhatian mereka sedang terpusat pada tata gerak puncak dari ilmu padepokan Jati Aking. Demikianlah mereka terbenam di dalam suatu pemusatan pikiran pada puncak ilmu itu. Ketika lewat tengah malam hujan mereda, dan kemudian tinggal titik-titik yang lembut saja yang menyentuh genangan-angan air di halaman, maka mereka bertiga masih saja berada di dalam sanggar itu. Namun akhirnya mereka berhenti pula setelah keringat mereka bagaikan terperas dari segenap tubuh. Betapa lelahnya ketiganya. Terutama Arum. Bagaimanapun juga, secara kodrati, kemampuan jasmaniahnya tidak dapat disamakan dengan Buntal. Karena itulah maka Kiai Danatirta tidak memaksakannya untuk menuntaskan ilmu itu hanya dalam satu malam saja. Di hari berikutnya, rasa-rasanya tubuh Arum menjadi sangat letih. Namun ia tidak memaksa diri untuk tetap berada di dalam biliknya. Meskipun tidak selincah seperti di hari-hari lain, namun Arum pergi juga ke dapur menyiapkan makan yang akan dibawanya ke sawah, karena Buntalpun seperti biasanya perg juga untuk mengair i sawah. Ketika kemudian hari menjadi gelap, dan Buntal sudah membersihkan dir i, makan malam dan beristirahat sejenak, mulailah mereka bertiga mengurung dir i di dalam sanggar. Dan seperti malam sebelumnya, mereka menempa dir i untuk menyadap puncak ilmu yang dimiliki oleh Kiai Danatirta. Seperti yang diduga oleh Kiai Danatirta, ternyata murid- mur idnya mampu menerima ilmu itu. Meskipun ternyata bagi Arum terasa betapa letih dan lelahnya. Namun ia telahberusaha sekuat-kuatnya sampai pada unsur gerak yang terakhir yang harus dilakukannya dilambari dengan segenap ungkapan watak dan sifatnya. Perlahan-lahan setiap gerakan telah meningkatkan lambaran ilmu itu, sehingga akhirnya sampai pada puncaknya yang paling dahsyat. Sebuah gerakan yang terakhir, telah melontarkan mereka ke dalam suatu keadaan yang semula samar, tetapi semakin lama semakin jelas dalambentuk arah isinya. Terasa pada kedua anak-anak muda itu, sesuatu menggelepar di dalam dadanya. Dan nafas merekapun bagaikan tersumbat. Namun mereka sudah sampai pada taraf terakhir, sehingga mereka memaksa duri untuk melepaskan tata gerak yang terakhir, sebuah lontaran kekuatan yang dahsyat. Berbareng dengan lontaran kekuatan yang dahsyat itu, terasa tubuh mereka bagaikan kehilangan keseimbangan. Rasa-rasanya mereka tidak lagi berpijak di bumi. Sejenak mereka terhuyung. Sedang mereka masih belum berhasil menghembuskan nafas dengan wajar. Buntal memejamkan matanya. Ia masih dapat menghentakkan dirinya dengan sisa tenaganya. Dan kemudian dengan susah payah menghirup nafas betapapun sendatnya. Sambil bersandar pada dinding bangsal, Buntal perlahan-lahan mencoba untuk menguasai keadaan tubuhnya dengan tenaga yang masih ada padanya. Sekali, dua kali, Buntal menarik nafas dalam-dalam. Kemudian per lahan-lahan, nafasnya bagaikan mengalir lagi dengan wajar, sehingga Buntal berhasil menguasai keseimbangannya sepenuhnya, betapapun tubuhnya merasa sangat letih. Tetapi ketika ia membuka matanya, dilihatnya Kiai Danatirta telah mengangkat Arum pada kedua tangannya dan membar ingkannya di atas sehelai t ikar di sudut bangsal.“Anak ini pingsan” berkata Kiai Danatirta. Meskipun masih agak pening, Buntalpun kemudian mendekatinya. Ditatapnya wajah Arum yang pucat. Matanya terpejamdan bibirnya terkatup rapat-rapat. Perlahan-lahan Kiai Danatirta menggerakkan tangannya. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang ada padanya, maka iapun segera berhasil membangunkan gadis yang pingsan itu. “Ayah” desisnya. Perlahan-lahan matanyapun terbuka. Yang pertama-tama tampak meskipun agak kabur, adalah wajah ayahnya yang menungguinya. “Bagaimana keadaanmu kini Arum?“ bertanya ayahnya. “Baik ayah. Aku merasa sangat letih, tetapi aku merasa segar. Aku agaknya menjadi t idak sadarkan dir i sejenak. Namun kini, semuanya rasainya menjadi semakin jernih” “Ya Arum. Mudah-mudahan kau akan selalu dalam keseimbangan j iwa setelah kau menguasai ilmu itu. Kau tidak boleh kehilangan pengamatan dir i, dan justru karena kau memiliki kelebihan, kau akan menjadi Arumyang lain” Arum masih saja tersenyum. Ketika ayahnya meraba keningnya ia berkata “Aku akan mengingatnya ayah” Buntal yang berjongkok di sisi tikar yang terbentang itupun menjadi berdebar-debar. Arum yang pucat dan tersenyum itu rasa-rasanya menjadi semakin cerah Tatapan matanya memang menjadi semakin bening. Buntal menar ik nafas dalam-dalam. Demikianlah, malam itu kedua murid padepokan Jati Aking itu telah sampai kepada ujung ilmunya. Namun demikian yang mereka kuasai adalah baru sekedar pokok ilmu itu sendir i. Kemungkinan dan perkembangan selanjutnya, adalah terserahkepada mereka yang memilikinya, dan tentu sangat tergantung kepada pembawaan pribadi seseorang. Dalam pada itu Buntal masih ingin beristirahat sehari lagi di padepokan Jati Aking sebelum ia akan menerjunkan dir i ke dalam suatu kancah yang akan merupakan suatu pengenalan baru baginya. Salah satu segi kehidupan yang paling dibenci oleh manusia, namun yang selalu terjadi di sepanjang abad. Perang adalah peristiwa yang paling mengerikan. di dalam perang segala kemungkinan yang keras, kasar dan bahkan kadang-kadang menyerupai t indakan yang buas dan liar, dapat terjadi. Dan hal itu disadari oleh setiap orang. Namun perang masih saja selalu terjadi. Demikianlah yang tanda-tandanya akan terjadi di Surakarta. Pangeran Mangkubumi adalah seseorang yang benci kepada peperangan. Ia sadar, bahwa perang berarti kematian dan kepedihan. Perempuan akan kehilangan suaminya, gadis akan kehilangan kekasihnya dan Surakarta akan kehilangan rakyatnya yang paling baik. Tetapi apakah ia harus duduk termenung merenungi nasib Surakarta yang buruk ini sambil mengutuk peperangan, sedang di seluruh Surakarta rakyat menjadi semakin melarat dan tertindas. Dan Buntal akan turun ke dalam peperangan itu. Ke dalam suatu keadaan yang memungkinkan seseorang membunuh sesama dengan ujung senjata. “Buntal” berkata Kiai Danatirta kepada mur idnya yang sudah akan meninggalkannya “lakukanlah kuwajibanmu. Aku memang sering mendengar tembang rawat-rawat di antara para pertapa di ujung-ujung pegunungan, bahwa tidak ada yang lebih suci daripada mendambakan ketenangan. Tetapi mereka melupakan salah satu ujud dari pada kasih antara sesama. Dan itulah yang harus kau lakukan. Melindungi manusia dari ketidak adilan. Bukan sekedar meneriakkannya di simpang empat sambil mengacukan tangan tinggi-tinggi. Tetapi dengan perbuatan yang nyata. Meskipun perbuatanyang nyata itu berupa perang. Dan di sinilah kita berdiri. Kadang-kadang kita memang harus melakukan sesuatu yang kita benci. Tetapi kita harus tetap berdiri di atas lembaran hati yang bersih” Buntal menganggukkan kepalanya sambil berdesis “Aku mengerti guru” Demikianlah, Buntalpun telah siap meninggalkah padepokan Jati Aking. Jika besok matahari terbit di Timur, ia akan berangkat menuju ke padepokan Kiai Sarpasrana yang pernah didatanginya. Namun malam itu, sesuatu tidak dapat dihindarkan dari sudut hatinya. Rasa-rasanya bayangan Arum tidak dapat disingkirkan dari rongga matanya. Dalam keadaan yang khusus itu, Buntal tidak dapat ingkar lagi kepada dir inya sendiri. Ternyata Arum benar-benar telah mencur i hatinya. Betapapun ia mencoba menyembunyikan perasaannya, namun gejolaknya terasa melanda dinding jantung. Tetapi Buntal tidak dapat berbuat banyak selain menekan perasaan itu dalam-dalam. Ia tidak berani menyatakannya kepada siapapun juga. Kepada Arum, dan apalagi kepada Kiai Danatirta. Setiap kali, ia teringat kepada seorang anak muda bangsawan yang bernama Juwir ing. Rasa-rasanya Juwiring merupakan batas yang memisahkannya dar i Arum. Namun, Buntal masih selalu berusaha berpikir jernih, sehingga ia masih saja berhasil membatasi persoalan itu di dalam dir inya sendir i. Tetapi untuk mengurangi beban yang rasa-rasanya hampir tidak terpikulkan, maka hampir di luar kemauannya sendiri. Buntal melangkah keluar biliknya dan melalui pintu butulan ia menjenguk keluar rumah.Terasa udara yang segar berhembus mengusap wajahnya. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya bintang berkeredipan di langit. di sudut cakrawala masih tampak segumpal awan yang kelabu. Namun kemudian bergeser ditiup angin malam yang sejuk. Ketika Buntal kemudian melangkah keluar pintu, ia menjadi termangu-mangu. Telinganya yang tajam menangkap desir langkah lembut di belakangnya. Karena itu, maka iapun berpaling. “Arum“ Buntal terkejut melihat Arum berdir i termangu- mangu di belakang pintu. Arum tidak menjawab. Tetapi tampak sekilas cahaya yang berkilat di matanya. Kemudian gadis itu menundukkan kepalanya pula. Buntal melangkah kembali masuk ke dalam rumah. Sejenak keduanya termangu-mangu. Namun kemudian Arum melangkah dan duduk di amben yang besar di ruang belakang itu. Hampir di luar sadarnya Buntal mengikutinya dan duduk di amben itu pula. Beberapa saat keduanya saling berdiam dir i. Rasa-rasanya mereka telah dibatasi oleh perasaan masing-masing yang sukar ditebak. Tetapi tanpa kata-kata, ada sesuatu yang terucapkan. Pada tatapan mata dan sikap mereka yang asing, masing-masing telah mengungkapkan perasaan yang sebenarnya sudah agak lama terpendam di dalam dir i. Namun, akhirnya terucapkan juga pertanyaan dari mulut Buntal “Kau masih belum tidur Arum?“ Arum menggeleng lemah. Katanya “Aku tidak dapat tidur kakang” “Kenapa?”Arum t idak segera menjawab. Ditatapnya wajah Buntal sejenak lalu, terbata-bata ia bertanya “Kau jadi pergi besok?” “Ya Arum” “Lama?“ “Aku tidak dapat mengatakan Arum. Tetapi agaknya aku akan berada di dalam medan yang berat. Aku menyadarinya” Arum menunduk semakin dalam. Tetapi terlontar dari bibirnya “Jika tugasmu selesai kakang, aku harap kau segera kembali. Bukankah kau akan kembali ke padepokan ini, dan bukan ke tempat lain?“ Terasa dada Buntal menjadi berdebar-debar. Sejenak ia justru terbungkam. Namun kemudian terdengar suaranya dalam nada berat dan datar “Aku akan kembali ke padepokan ini Arum. Aku adalah anak yang kabur kanginan. Aku tidak mempunyai orang tua lagi, sehingga karena itulah, maka aku menganggap Kiai Danatirta adalah satu-satunya tempat bagiku untuk berlindung” Arum mengangkat wajahnya. Ditatapnya Buntal sejenak. Namun gadis itu kembali menundukkan kepalanya sambil bergumam lirih “Tentu ayah akan senang sekali” Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Tetapi kedua hati anak-anak muda itu rasanya telah bersentuhan. Mereka tidak memer lukan kata-kata yang berkepanjangan. Namun mereka masing-masing telah dapat menghayati, apakah yang sebenarnya tersembunyi di balik kediaman itu. Ketika Arum kemudian kembali ke dalam biliknya, maka Buntalpun masuk pula ke dalam biliknya yang terasa sepi. Besok ia akan meninggalkan bilik yang sudah lama dihuninya. Mula-mula bersama Juwiring, namun kemudian sejak Juwiring meninggalkan Jati Aking, ia berada di dalam bilik itu sendir i. Meskipun sejak Juwir ing masih ada, ia kadang-kadang berada di dalam bilik itu sendir i jika Juwir ing menunggui sawahnya dimalam hari, tetapi kesendir ian yang dirasakannya kini, adalah perasaan yang mendera pusat hatinya. Tetapi Buntal harus menjelajahinya tanpa dapat menyingkir lagi. Namun dengan demikian, maka hampir semalam suntuk ia sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Hanya sesaat sebelum fajar menyingsing, matanya yang berat itupun terkatup untuk beberapa lamanya. Buntal terkejut mendengar ayam jantan berkokok di ujung pagi. Tergesa-gesa ia bangkit dan pergi ke pakiwan. Setelah melakukan semua kewaj ibannya, yang jasmani dan yang rohani, maka iapun membenahi dirinya. Menyiapkan sebungkus pakaian dan sebilah pedang tergantung di lambung, dan sebilah keris di punggung. “Hati-hatilah di perjalanan Buntal “ pesan Kiai Danatirta ketika ia mengantar Buntal sampai ke regol halaman. “Aku akan selalu berhati-hati guru“ sahut Buntal “Aku mohon doa dan restu sepanjang perjuanganku yang tidak aku ketahui sampai kapan akan berakhir” Kiai Danatirta tersenyum. Sambil menepuk bahu anak muda itu ia berkata “Tetapi perjuangan itu tentu akan ada akhirnya. Bagaimanapun bentuknya” Buntal memandang Kiai Danatirta yang tersenyum itu. Perlahan-lahan ia berkata “Mudah-mudahan aku dapat melihat akhir dar i perjuangan itu“ Dan tiba-tiba saja Arum yang berdiri di sisi ayahnya menyahut “Kenapa tidak kakang?“ Buntal menarik nafas. Katanya “Perjuangan yang akan dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi adalah perjuangan yang keras. Itulah sebabnya maka ada kalanya korban akan berjatuhan. Dan setiap orang di dalam pasukannya, akan menghadapi kemungkinan yang sama”“Benar Buntal” potong gurunya “Tetapi semua yang akan terjadi, sudah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika maut memang sudah datang menjemput kita masing-masing, maka kita tidak akan dapat memilih tempat dan waktu. Karena itu, perjuangan adalah arena pengabdian yang tidak lebih berbahaya dari setiap kerja yang kita lakukan” “Ya guru” sahut Buntal. “Namun adalah kuwajiban kita untuk berusaha. Dan usaha yang pantas kau lakukan di dalam perjuangan bersenjata adalah berhati-hati dan t idak membanggakan diri sendir i” Sekali lagi Buntal mengangguk. “Nah pergilah, kami di sini mengharap kedatanganmu kembali. Aku dan juga Arum” Wajah Arum menjadi merah mendengar kata-kata ayahnya. Dan apalagi ketika ayahnya itu meneruskan “Aku mendengar pembicaraanmu semalam” “Ah“ wajah Arum t iba-tiba menjadi semakin tunduk. Sedang Buntal mencoba untuk tersenyum betapapun kecutnya. Akhirnya anak muda itupun meloncat ke punggung kudanya. Hatinya memang berat untuk meninggalkan Jati Aking, dan terutama Arum dan ayahnya. Tetapi kuwajiban rasa-rasanya memang sudah memanggilnya. Sekali-sekali Buntal masih berpaling. Dilihatnya Arum menggerakkan tangannya dan tanpa sesadarnya Buntalpun melambai pula. Tetapi sejenak kemudian, kudanya bagaikan terbang meninggalkan padepokan Jati Aking. Bahkan kemudian meninggalkan Jati Sari. Beberapa orang petani yang sudah lama bergaul dengan anak muda itu masih sempat bertanya dari pematang “He, Buntal. Kemana kau sepagi ini. Aku baru akan pulang setelah semalamsuntuk menunggui air”Buntal memper lambat kudanya. Jawabnya “Sekedar melemaskan kaki-kaki kudaku paman. Sudah lama kudaku tidak berlar i kencang.” “Tetapi kau membawa bekal dan senjata?“ Buntal tersenyum “Sekedar kelengkapan j ika aku tersesat sampai ke hutan” Petani itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lagi karena Buntal menjadi semakin jauh, dan kudanyapun sudah mulai berpacu kembali. Sekali-sekali Buntal menengadahkan wajahnya kelangit. Dilihatnya matahari pagi memanjat semakin tinggi. Burung- burung liar berterbangan di atas tanah persawahan yang hijau segar. Buntal menar ik nafas dalam-dalam. “Apabila terjadi perang” katanya di dalam hati “maka tanaman yang hijau itu akan lumat diinjak kaki-kaki kuda j ika tempat ini menjadi ajang peperangan itu” Tetapi kadang-kadang seperti yang pernah didengarnya, seseorang harus melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Jika seseorang telah berada di dalam keadaan tanpa pilihan, maka hal itu harus dilakukannya. Kuda Buntal berpacu semakin cepat. Sebelum matahari sampai ke puncak langit, maka Buntal telah menelusur daerah hutan perburuan. Tetapi kali ini ia tidak ingin singgah ke hutan yang digawar dengan lawe. Bahkan ia tidak memilih jalan lain ketika ia sampai ke daerah hutan yang masih liar. la tahu bahwa jalan itu jarang sekali dilalui orang. Tetapi jalan itu adalah jalan yang memintas. Namun ternyata bahwa jalan itu terlampau sepi. Agaknya jarang sekali orang-orang yang lewat jalan yang memotong daerah pinggiran hutan yang masih agak lebat.Tiba-tiba Buntal terkejut ketika ia melihat beberapa orang berkuda lewat di jalan itu pula, justru berlawanan arah. Sebuah iring-ir ingan yang agaknya sudah lelah. “Siapakah mereka” bertanya Buntal kepada diri sendiri “Agaknya sebuah iring-ir ingan yang menempuh jarak yang jauh, atau menjumpai persoalan-persoalan lain yang membuat mereka jadi sangat letih” Buntal menjadi berdebar-debar. Ia melihat dua orang berkuda di paling depan. Kemudian berjarak beberapa langkah, tampak seekor kuda yang berjalan lambat. Jauh di belakang, masih dapat dilihatnya seekor kuda lagi muncul dari balik bayangan sebuah gerumbul liar di pinggir hutan itu. Tetapi agaknya orang-orang berkuda itu tertarik pula melihat seorang anak muda berkuda di hadapan mereka. Karena itu, orang yang berada di paling depan itupun segera menarik kekang kudanya sehingga kudanya berhenti menyilang jalan. Buntal memang sudah memper lambat derap kudanya. Beberapa langkah dari kuda yang menyilang jalan sempit itu. Buntal berhenti. “Siapa kau anak muda?“ bertanya orang yang menyilangkan kudanya. Buntal menjadi ragu-ragu. Ia belum mengenal orang itu. Jika orang itu bukan kawan-kawan yang berdiri di pihak yang sama, maka keadaannya akan menjadi semakin sulit. Apalagi ketika ia masih melihat satu dua ekor kuda muncul dari balik gerumbul-gerumbul. “Siapa?“ Yang paling aman bagi Buntal adalah menghindari kemungkinan namanya dapat segera disangkutkan dengan pihak-pihak yang sedang bertentangan. Karena itu maka jawabnya “Aku anak Jati Sar i”“Namamu?“ “Buntal. Aku sedang pergi untuk menengok pamanku” “Dimana rumah pamanmu?“ “Sukawati” Orang-orang itu mengerutkan keningnya. Sejenak mereka merenung. Namun sejenak kemudian orang yang menyilangkan udanya itupun bergerak maju seakan-akan member i jalan bagi Buntal untuk lewat. “Kenapa kau pergi seorang dir i?“ bertanya orang tu kemudian. “Aku biasa berkunjung ke rumah paman. Jalan ini sudah sering aku lalui” Orang itu masih mengerutkan keningnya. “Apakah kau tidak berbohong?“ ”Tidak. Aku berkata sebenarnya” Sejenak orang-orang itu termangu-mangu. Namun kemudian dilihatnya pedang Buntal yang tergantung di sisinya. Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka mendekat sambil berkata “Kau membawa sepasang senjata. Sebilah pedang dan sebilah keris” Buntal menjadi berdebar-debar. Namun diusahakannya agar ia tetap tenang jawabnya “Ya. di daerah ini sering terdapat binatang buas. Karena itu aku bersenjata sepasang” Namun dalam pada itu, selagi mereka berbicara, seorang anak muda yang berkulit hitam bermata merah mendesak maju sambil berkata “Rampas senjatanya. Itu sangat berbahaya. Mungkin ia orang yang berbahaya bagi kita atau justru bagi Sukawati” Debar di dada Buntal menjadi semakin cepat menggelepar. Tetapi ia masih tetap tenang.“Berikan senjatamu” “Ah“ jawab Buntal “Jika aku bertemu dengan binatang buas, aku tidak akan dapat berbuat apa-apa” “Aku tidak peduli. Ber ikan senjatamu” “Jangan Ki Sanak” suara Buntal menjadi semakin datar “senjata ini sangat aku per lukan” “Tidak bagi orang-orang seperti kau. Orang-orang malas yang hanya mementingkan diri sendir i. Hanya orang-orang yang hidup di medan sajalah yang pantas bersenjata” Buntal menjadi ragu-ragu. Ada kalanya ia ingin mengatakan tentang dirinya, bahwa ia adalah mur id Jati Aking dan sedang memenuhi panggilan Pangeran Mangkubumi melalui Kiai Sarpasrana di Sukawati. Namun ia masih saja dibayangi oleh keragu-raguan karena ia tidak tahu pasti, dengan siapa ia berbicara. Dalam pada itu anak muda yang berkulit hitam itu mendesaknya terus. Bahkan kemudian anak muda itu mendekatinya sambil membentak “Cepat. Kami tidak sedang bertamasya. Kami sedang menempuh perjalanan yang jauh. Berikan senjata itu sekarang.” Dada. Buntal yang berdebar-debar menjadi semakin berdebar-debar. Dan agaknya anak muda itu masih saja mendesaknya terus. Sementara itu, orang-orang yang lebih tua, yang justru mula-mula menahan Buntal dengan menyilangkan kudanya berkata “Kita akan memeriksanya. Aku kira ia tidak bermaksud apa-apa” “Belum tentu paman” jawab anak muda yang berkulit hitam “Kita harus mengetahui dengan pasti, bahwa orang ini tidak berbahaya bagi kita. Siapa tahu, ia merupakan petugas sandi dari Surakarta atau kumpeni”Mendengar kata-kata itu Buntal mulai mendapat petunjuk bahwa orang-orang itu tentu bukan orang-orang yang berpihak kepada kumpeni. Karena itu maka katanya kemudian “Ki Sanak. Sebenarnya aku adalah mur id dari perguruan Jati Aking. Aku akan pergi menemui Kiai Sarpasrana, salah seorang pengikut Pangeran Mangkubumi” “Kau dapat mengigau apa saja” berkata anak muda berkulit hitam itu sehingga Buntal terkejut pula karenanya. “Anak muda dari Jati Aking” berkata yang lebih tua dari anak muda yang berkulit hitam “Aku ingin menggeledah Barang-barangmu. Jika kau membawa Barang-barang yang mencur igakan, maka aku akan mengambil sikap lain” “Silahkan Ki Sanak. Aku tidak berkeberatan” jawab Buntal yang bahkan kemudian meloncat turun dar i kudanya. Orang yang sudah lebih tua itupun turun pula dari kudanya dan mendekati kuda Buntal. Dilihatnya Barang-barang yang dibawanya, yang tidak lebih dari pakaian-pakaian kumal. “Ia tidak membawa apapun juga. di dalam bungkusan pakaian itu tidak terdapat Barang-barang lain. Apalagi senjata api” “Tetapi itu belum merupakan pertanda bahwa ia tidak akan berbuat apa-apa” “Ia hanya bersenjata tajam seperti kita. Ia hanya seorang diri. Tidak banyak yang dapat dilakukan. Biarlah ia lewat. Kita jangan menambah lawan di sepanjang jalan” “Aku tetap menghendaki senjatanya” Buntal menjadi semakin bingung menghadapi anak muda berkulit hitam ini. Tetapi ia sudah bertekad bahwa ia tidak akan menyerahkan senjatanya. Apapun yang terjadi.Dalam pada itu, orang yang sudah lebih tua yang agaknya memimpin ir ing- iringan itu berkata “Kau memang keras hati. Tetapi dengar, anak muda itu akan menjawab“ “la tidak perlu member ikan pendapat apapun juga. Aku memer lukan senjatanya” “Sayang” sahut Buntal “senjata ini adalah pemberian guruku dar i Jati Aking. Tentu saja aku berkeberatan” “Gila, aku akan memaksamu” “Jangan Ki Sanak. Jika kau berkeras untuk mengambil senjataku, aku akan berkeras untuk mempertahankan” “Persetan“ Anak muda berkulit hitam itupun meloncat pula dari kudanya beberapa langkah di hadapan Buntal. Orang-orang yang melihat sikap kedua anak-anak muda itu menjadi tegang. Orang yang sudah lebih tua di dalam pasukan yang lewat itu, menjadi termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata “Baiklah kita akan melihat, apakah kau akan berhasil mengambil senjatanya. Dan di dalam perkelahian ini, kita tidak ingin melihat jatuh seorang korbanpun. Jika kau berhasil mengalahkannya, maka kau akan dapat merampas senjatanya, tetapi sebaliknya jika kau kalah, maka kau harus mengurungkan niatmu untuk merampas senjata itu, dan kau tidak dapat mengharapkan bantuan dari siapapun” “Baik, baik” jawab anak muda berkulit hitam itu. Demikianlah, maka beberapa orang yang sudah berada di dekat kedua anak-anak muda itupun berkerumun. Satu-satu masih saja ada seekor kuda dengan penunggangnya yang muncul dari balik gerumbul. Ketika mereka melihat orang- orang berkerumun, maka mereka yang datang kemudianpun ikut berkerumun pula. Demikianlah, maka anak muda yang hitam itu mempersiapkan dir inya. Dipandanginya Buntal dengan tajamnya. Sekilas tampak keheranan membayang diwajahnya. Ternyata anak muda yang berkulit hitam itu menjadi heran melihat sikap Buntal yang meyakinkan. Sejenak kemudian maka anak muda itu bergeser selangkah maju, dan Buntalpun berdir i dengan mapan pada kedua kakinya yang renggang. “Kau benar-benar keras kepala” berkata anak muda berkulit hitam “Tetapi persoalannya bukan lagi persoalan kecurigaan. Tetapi sikapmu terlampau sombong”. Buntal tidak menjawab. Tetapi matanya tidak terlepas uari ujung kaki lawannya. Seperti yang diduga, maka iapun segera melihat kaki itu mulai bergerak. Cepat sekali. Dan Buntalpun sempat melihat arah serangan yang deras itu, sehingga ia masih mampu mengelak selangkah ke samping. Dengan demikian maka serangan itu sama sekali t idak mengenai sasarannya. Serangan anak muda berkulit hitam itu lewat sejengkal dar i tubuh Buntal yang condong. Namun anak muda itu t idak membiarkan lawannya sempat memperbaiki keadaannya. Iapun segera berputar pada sebuah tumitnya dan sebuah serangan mendatar menyambar lambung Buntal. Serangan itu terlampau cepat untuk dielakkan. Karena itu tidak ada jalan lain bagi Buntal kecuali menangkis serangan itu. Tetapi karena Buntal belum tahu pasti kemampuan lawannya, maka Buntalpun tidak dengan serta merta membentur kekuatan itu. Dengan lincahnya ia berkisar sambil memukul kaki yang menyambar mendatar itu dengan sepenuh tenaga. Terdengar sebuah keluhan tertahan. Hampir saja anak muda berkulit hitam itu terdorong jatuh. Untunglah bahwa ia masih sempat meloncat dengan sebelah kakinya dan bertahan untuk tetap berdiri.Namun dengan demikian, anak muda berkulit hitam itu dapat menjajagi kekuatan dan kemampuan Buntal, sehingga untuk selanjutnya ia tidak dapat menganggap Buntal sebagai sekedar anak-anak yang sedang berbangga karena ia mulai dapat berjalan. Demikianlah maka perkelahian itupun berlangsung semakin lama semakin sengit. Ternyata anak muda yang berkulit hitam dengan sekuat tenaganya berusaha memenangkan perkelahian itu. Namun Buntalpun mengerti, bahwa persoalannya sebenarnya sudah berkisar. Anak muda itu kini bukannya sekedar ingin merampas senjata karena kecurigaannya. Tetapi kini anak muda berkulit hitam itu semata-mata ingin mempertahankan harga dirinya. Tentu ia tidak mau dikalahkan oleh Buntal di hadapan kawan- kawannya, karena ternyata Buntal memiliki kemampuan di luar dugaannya. Namun sebaliknya Bunlalpun tidak mau dikalahkan karena dengan demikian ia akan kehilangan senjatanya. Karena itu, maka perkelahian itupun menjadi semakin seru. Masing-masing tidak mau kehilangan kesempatan untuk tertahan dan jika mungkin memenangkan perkelahian. Namun dengan demikian Buntal tidak lagi sekedar dikuasai oleh perasaannya ingin mengalahkan lawannya. Semakin lama ia justru menjadi semakin yakin, bahwa kemampuan lawannya tidak dapat mengimbangi. kemampuannya. Lambat laun lawannya tentu akan dapat dikuasainya, jika ia tidak membuat kesalahan yang besar di dalam perkelahian itu. Bukan saja Buntal yang menyadari akan hal itu. Tetapi orang yang lebih tua dan anggauta-anggauta pasukan yang lain itupun mengetahui pula, sehingga iapun dapat mengambil kesimpulan bahwa Buntal pasti akan memenangkan perkelahian itu. Namun iapun menyadari, bahwa harga diri anak buahnya yang berkulit hitam itu tentu akan tersinggungjika ia tidak dapat memenangkan perkelahian itu, sehingga ia akan dapat berbuat sesuatu di luar sadarnya. Karena itu, maka orang itupun berusaha untuk mendapatkan suatu penyelesaian yang baik agar kedua belah pihak tidak mendapat kesulitan dan tersinggung karenanya. Apalagi ketika ia melihat, bahwa agaknya lawan anak buahnya itu meskipun masih muda, namun memiliki pertimbangan yang lebih mengendap menilik sikapnya dan tata geraknya di dalam perkelahian itu. Tetapi belum lagi orang itu menemukan sesuatu, tiba-tiba seorang yang bertubuh raksasa, yang baru saja datang mendekati arena itu, meloncat turun dari kudanya. Dengan serta-merta ia menyibakkan orang-orang yang mengerumuni perkelahian itu, yang semakin lama ternyata menjadi semakin banyak. “Cukup, cukup“ raksasa itupun kemudian berteriak, sehingga suaranya bagaikan menggeletarkan seisi hutan. Semua orang yang berada di sekitar arena itu terkejut. Mereka yang sedang bertempurpun terkejut pula, sehingga hampir di luar sadarnya, keduanya meloncat surut. Raksasa itu kini berdiri di dalam lingkungan orang-orang yang semakin banyak berkerumun. Dengan tajamnya orang itu memandang kedua anak-anak muda yang sedang berkelahi itu berganti-ganti. “Untunglah lawanmu seorang yang baik hati” geram raksasa itu sambil memandang anak muda yang berkulit hitam itu “Jangan merasa dirimu memiliki kemampuan yang setingkat dengan anak muda itu, karena kau seolah-olah dapat bertahan untuk beberapa saat lamanya. Tetapi sebenarnyalah bahwa kau telah dikasihani, sehingga kau tidak segera dikalahkannya” Anak muda berkulit hitam itu memandang raksasa itu dengan keragu-raguan yang membayang di wajahnya.“Kau tidak percaya?“ bentak raksasa itu. Anak muda berkulit hitam itu tidak menjawab. Sekilas disambarnya wajah Buntal yang disaput oleh keragu-raguan. Sejenak-Buntal memang berdiri saja dengan tegang. Namun ketika raksasa itu tersenyum padanya, iapun melangkah setapak maju sambil berdesis “Kaukah itu?“ “Ya, anak muda. Kau tentu tidak lupa kepadaku” “Sura” “Ya aku Sura” Tegapi wajah Buntal masih tetap membayangkan keragu- raguan, sehingga sambil tersenyum Sura berkata “Aku sekarang sudah menemukan diriku sendir i. Aku kini merasa diriku benar-benar seorang yang bebas, yang dapat menentukan pilihan. Seperti sudah kau ketahui, sejak aku meninggalkan Raden Rudira, aku kembali ke rumahku yang kecil, miring dan bocor di saat hujan turun. Keadaan yang jauh berlawanan dengan kehidupan yang pernah aku lihat di kota, membuat aku terbangun dari mimpi. Aku merasa bahwa aku harus berbuat sesuatu. Dan kini aku sudah memilih tempat” Buntal mengangguk-angguk. Tetapi ia masih belum menjawab. “Nah, barangkali kau masih tetap bertanya-tanya, dimana aku sekarang berdiri” “Jangan kau katakan” desis anak muda berkulit hitam itu. “Kau tidak usah cur iga kepadanya” Sura berhenti sejenak lalu “Kita adalah laskar Raden Mas Said. Nah, apakah kau sedang melakukan suatu tugas dari perguruanmu?“ “Aku akan pergi ke Sukawati. Aku akan menghadap Kiai Sarpasrana”“O. Bagus. Sukawati sedang bersiap-siap meskipun menurut pendapat kami, persiapan itu terlampau lamban. Tetapi itu lebih baik dar ipada tidak berbuat sesuatu” “Tentu dengan pertimbangan yang masak” “Ya, ya” Sura berpikir sejenak, lalu “Tetapi kau dapat memilih di antara Sukawati atau kami” Buntal memandang Sura dengan tajamnya. Namun kemudian ia bertanya “Apakah ada bedanya?“ “Pada dasarnya tidak. Tetapi kami memiliki gairah yang lebih besar” “Bukan Sura. Bukan perbedaan gairah perjuangan. Tetapi tentu ada pertimbangan lain yang lebih dalam daripada masalah-masalah lahir iah yang kita lihat. Sebenarnyalah perang adalah peristiwa yang tidak dikehendaki oleh siapapun. Tetapi jika tidak ada jalan lain, maka apaboleh buat” “Kami tidak menunggu sampai kami terantuk pada keharusan itu, karena kami tahu, bahwa akhirnya jalan itulah yang akan kami pilih” Buntal menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak ingin berbantah mengenai persoalan itu. Karena itu, maka katanya kemudian “Baiklah aku akan mempertimbangkannya. Tetapi karena aku sekarang sedang bertugas, maka jika tidak ada keberatan apapun, aku akan melanjutkan perjalanan” Anak muda yang berkulit hitam, yang baru saja berkelahi melawan Buntal memandang Sura dengan sorot mata bertanya-tanya. Dan agaknya Sura dapat mengerti, sehingga katanya “Biarlah ia pergi. Ia bukan orang yang berbahaya bagi kita. Bahkan kita berharap, pada suatu ketika kita akan bekerja bersama dengan anak muda yang baik itu” Tidak seorangpun yang menjawab. Dan Sura berkata terus “Nah, ingat-ingatlah. Kita harus berbuat sebaik-baiknya sehingga kita tidak terjerumus ke dalam arus perasaan melulu.Sampai saat ini kita selalu mencurigai orang-orang yang tidak bersama kita menyelusuri jalan, hutan dan sungai. Tetapi sebenarnyalah bahwa di luar pasukan kita, masih banyak orang yang melakukan perjuangan untuk kepentingan tanah ini dengan caranya masing-masing. Dan kalian harus menghargai mereka seperti kalian menghargai dir i kalian sendiri” Tidak ada yang menyahut. Lalu “Buntal. Silahkan meneruskan perjalanan. Kita akan berada di dalam tugas kita masing-masing. Sampaikan salamku kepada Kiai Sarpasrana. Meskipun aku belum mengenalnya langsung, tetapi aku pernah mendengar namanya di antara nama-nama para pengikut Pangeran Mangkubumi” “Baiklah. Ter ima kasih Sura” Sura tersenyum. Kemudian dengan suatu isyarat pasukan itupun melanjutkan perjalanannya menyusuri jalan sempit dan daerah yang berhutan. Sejenak Buntal termangu-mangu. Yang dijumpainya itupun sebuah pasukan. Tetapi pasukan itu tidak tergabung dengan pasukan Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian maka seakan-akan Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi telah berjalan sendiri-sendiri menurut cara masing-masing. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati “Cara ini t idak boleh berjalan terlalu lama “ Namun kemudian seakan-akan ia menyadari dir inya sendiri “Tentu Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said lebih mengerti akan hal ini” Buntal kemudian tersenyum sendiri. Perlahan-lahan ia melangkah menuntun kudanya. Justru karena ia melihat sebuah mata air di bawah sebatang pohon yang besar. Diberinya kesempatan bagi kuda untuk meneguk air sejenak. Kemudian dengan tangkasnya ia meloncat naik dan berpacu meninggalkan tempat itu.Dalam pada itu, Arum yang tinggal di padepokannya, merasa semakin sepi. Kepergian Buntal membawa kesan yang lebih dalam di hatinya daripada kepergian Juwir ing. Mungkin sepeninggal Juwiring ia masih mempunyai seorang saudara seperguruan di padepokannya. Tetapi sepeninggal Buntal, ia benar-benar seorang diri. Dengan demikian, maka pekerjaannya menjadi semakin banyak. Ia harus pergi ke sawah di pagi hari. Kadang-kadang harus melakukan tugas kedua saudara seperguruannya meskipun ayahnya sering memperingatkannya. “Biar lah aku dan para pembantu sajalah yang melakukannya Arum” berkata ayahnya kepada gadis itu. “Biar lah ayah. Apakah bedanya?“ “Kau adalah seorang gadis” Arum memandang ayahnya dengan herannya. Bukankah ayahnya mengetahui bahkan ayahnya telah membentuknya menjadi gadis yang lain dari kebanyakan gadis di padukuhan Jati Sari? Dan ayahnya mengetahui dengan pasti, bahwa tenaganya tidak jauh berbeda dengan tenaga Juwiring dan Buntal, dan bahkan jauh melampaui anak-anak muda di padukuhannya. Agaknya ayahnya menyadari akan hal itu. sehingga meskipun Arum tidak mengucapkannya, namun ayahnya menjawab “Kau memang seorang gadis yang lain Arum. Tetapi kau tidak dapat berbuat lain seperti itu di lingkungan kehidupan kita, di tengah-tengah para petani. Apalagi di padepokan ini terdapat beberapa orang laki-laki. Mereka akan menyangka bahwa kau anak tiriku. Seorang gadis harus bekerja keras, sedang di rumahnya terdapat beberapa orang laki- laki” “Ah, kenapa ayah merisaukan pendapat tetangga?““Pertanyaanmu aneh Arum. Kita tidak hidup sendiri. Kita hidup di dalam lingkungan kehidupan yang sudah terbentuk. Karena itu kita harus menyesuaikan diri. Jika ada perbedaan di antara kita dan para tetangga, maka kita harus menguranginya sehingga yang nampak adalah perbedaan yang sekecil-kecilnya” Arum tidak menyahut lagi. Ia mengerti keberatan ayahnya, sehingga karena itu, maka kepalanya terangguk-angguk kecil. Namun dengan demikian padepokan itu rasa-rasanya menjadi semakin sepi. Tanpa Buntal dan tanpa Juwiring. Di dalam kesepian itu, kadang-kadang Arum terperosok ke dalam sebuah angan-angan yang asing baginya. Kadang- kadang memang terbayang kedua saudara seperguruannya. Namun kemudian yang paling jelas terlukis di rongga matanya adalah Buntal. Rasa-rasanya Buntal mempunyai kedudukan yang khusus di dalam hatinya. Anak itu memang agak lebih kasar dari Juwir ing. Baik sikapnya, maupun ujudnya. Namun rasa-rasanya Buntal adalah orang yang paling sesuai bagi kehidupan di padepokan. Bukan kehidupan di istana seperti istana Ranakusuman. Beberapa hari sepeninggal Buntal, tidak terjadi sesuatu yang menarik di padepokan Jati Aking, selain kesepian yang semakin menghunjam jantung. Orang-orang Jati Aking dan Jati Sari bekerja seperti biasanya. Mereka memelihara sawah dengan tekun dan bersungguh-sungguh, karena sawah mereka adalah sumber kehidupan mereka sekeluarga. Makan, pakaian dan segala kebutuhan hidup bersumber dari hasil. sawah yang mereka garap itu. Tetapi ketika suasana di Surakarta menjadi semakin lama semakin panas, maka udara yang panas itu mengalir semakin deras ke daerah-daerah yang terpencil sekalipun. “Ayah” bertanya Arum pada suatu saat kepada ayahnya “Apakah ayah percaya bahwa tersebar berita, laskar yangmenentang Kumpeni itu bukan saja melakukan peperangan dimana-mana tetapi juga perampokan dan penyamunan disekitar daerah Surakarta ini?“ Ayahnya mengerutkan keningnya ”Darimana kau dengar berita itu Arum?“ “Hampir setiap orang mengatakannya pagi ini ayah. di sawah orang-orang berceritera tentang perampokan di daerah Maja. Seorang saudagar yang meskipun tidak begitu kaya, tetapi memiliki beberapa ekor ternak dan perhiasan, telah dirampok sampai habis. Bahkan ternaknyapun dibawa pula oleh, perampok-perampok itu” “Darimana mereka tahu bahwa mereka adalah laskar yang menentang kumpeni?“ “Mereka berkata tentang diri mereka sendir i. Mereka menganggap bahwa yang diambilnya itu adalah sekedar sumbangan bagi perjuangan menentang penjajahan” “Sekedar sumbangan, tetapi diambilnya semua kekayaan yang ada?“ “Ya ayah” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia berkata “Apakah orang-orang itu memperlihatkan ciri dari laskar yang mereka sebut laskar yang menentang kumpeni itu?“ “Tidak ayah. Tetapi mereka mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang dari pasukan Raden Mas Said” “Ah“ dengan serta-merta Kiai Danatirta bergeser. Lalu “Arum. Kita harus berhati-hati mener ima berita semacam itu. Karena orang-orang itu dengan terus-terang menyebut dirinya dari laskar Raden Mas Said. kita justru menjadi curiga karenanya” “Kenapa?“ bertanya Arum.“Arum” berkata ayahnya “ada beberapa cara untuk memukul lawannya. Jika Kumpeni tidak siap untuk berperang, maka ia dapat mempergunakan cara lain, di antaranya perampokan-perampokan itu” “Maksud ayah?“ “Mereka mengupah beberapa orang untuk melakukan kejahatan. Orang-orang itu dipersenjatainya dengan baik. Hasil rampasannya akan merupakan upah tambahan dari yang diterimanya dari kumpeni” “Dan mereka dengan sengaja menyebut dirinya orang- orang yang disegani oleh kumpeni, agar kedudukan mereka menjadi sulit. Begitu ayah?“ bertanya Arum “Licik sekali” “Nah, berhati-hatiiah. Jika kau mendengar berita apapun di saat seperti ini, kau harus mampu menyaringnya. Kau mengerti?“ “Aku mengerti ayah. Tetapi bagaimana dengan pendapat yang sudah terlanjur tersebar di antara rakyat?“ “Kita dapat menjelaskannya. Tetapi harus dengan sangat berhati-hati. Jika telinga kumpeni mendengar, maka akan terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan bagi kita di sini” Arum mengerutkan keningnya dan ayahnya meneruskan “Tentu kumpeni tidak akan berdiam dir i mendengar bahwa usahanya dapat diraba orang. ”Aku mengerti ayah” “Karena itu Arum, untuk menjelaskan kebenaran merupakan suatu perjuangan tersendiri apabila kebenaran itu merupakan cacat bagi kumpeni” “Baiklah ayah“ Arum bergumam seperti kepada diri sendiri “Aku akan berhati-hati. Tetapi sudah barang tentu bahwa aku tidak dapat berdiam dir i, membiarkan nama Raden Mas Said itu tercemar. Aku mengenal Raden Mas Said secara pribadimeskipun hanya sekilas ketika aku mengikut i Raden Juwiring ke Surakarta. Karena itu, aku yakin bahwa ia memang tidak akan membiarkan anak buahnya melakukan hal itu, sebab hal itu akan menodai perjuangannya. Bahkan seluruh perjuangan kita“ “Tentu kau benar anakku. Tetapi berhati-hatilah” Arum tidak menyahut. Tetapi ia yakin bahwa yang dikatakan oleh ayahnya itu benar. Kumpeni tentu menggunakan akal yang licik untuk menghancurkan nama lawannya. Tetapi pada suatu saat. Arum terpaksa datang lagi kepada ayahnya sambil berkata “Ayah, semalam tiga orang perampok telah dibunuh oleh kumpeni” Ayahnya semula tidak begitu tertarik kepada ceritera itu. Namun Arum mendesaknya “Ayah. jadi bagaimanakah yang sebenarnya menurut ayah. Jika mereka itu benar-benar orang yang diupah oleh kumpeni, kenapa mereka harus dibunuh sendiri oleh kumpeni” “Apakah kau heran?” “Tentu ayah” Ayahnya memandang Arum dengan tajamnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil bertanya “Coba Arum, pecahkan persoalan yang kau herankan itu. Seharusnya kau tidak saja memiliki kemampuan dalam olah kanuragan, tetapi juga di dalam kecerdasan memecahkan persoalan” Arum menjadi semakin heran. Sambil bersungut-sungut ia bergumam “Ayah justru berteka-teki” ”Bukan berteka-teki. Tetapi sepantasnya kau dapat menebak apakah sebabnya maka hal itu dilakukan oleh kumpeni” Arum terdiam sejenak, la mencoba untuk menemukan alasan, kenapa kumpeni telah melakukan hal itu. Tetapimeskipun untuk beberapa saat ia merenung, namun ia masih belumdapat memecahkannya. “Arum” berkata ayahnya “Jika kau memukul seekor kucing dengan tongkat, kemudian kau melihat pemilik kucing itu datang, maka kau tidak segan-segan untuk melemparkan bahkan mematahkan tongkat itu, agar pemiliknya tidak menuduhmu, bahwa kau sudah memukul kucingnya yang lari terbirit-birit” “O“ Arum menyahut hampir berteriak “Aku tahu ayah. Kumpeni sengaja membunuh orang-orang upahannya sendiri untuk melenyapkan jejak kelicikannya. Dengan demikian, maka rakyat tidak akan menyangka bahwa kumpeni telah dengan sengaja mengacaukan perjuangan Raden Mas Said dan juga Pangeran Mangkubumi apabila sampai saatnya ia kehilangan kesabaran dan kehilangan harapan untuk memecahkan persoalan Surakarta dengan damai tanpa menitikkan darah lebih banyak lagi” Ayahnya tersenyum sambil mengangguk-angguk. Katanya “Benar Arum. Demikianlah gambaran dar i kelicikan kumpeni. Caranya memecahkan persoalan adalah cara yang tidak pernah terbayang di dalam angan-angan kita sebelumnya. Tetapi setelah beberapa lama kita mengenal mereka, maka kitapun akan segera dapat mengetahui, apakah yang telah mereka lakukan. Hampir sama dengan cara-cara yang ditempuh oleh penjahat-penjahat kecil yang tidak mengenal kejantanan” “Tetapi kita perlu mengetahui cara-cara itu ayah, sehingga kita tidak akan selalu terjebak di dalam kelicikannya” “Ya Arum. Kita memang harus mempelajari ilmunya. Ilmu yang licik dan pengecut. Sebelumnya kita tidak pernah mengenalnya. Apalagi kesatria dan bangsawan yang turun temurun memiliki darah jantan. Tetapi jika kita mempelajarinya bukan maksud kita untukmempergunakannya. Namun dengan demikian kita tidak akan dapat masuk ke dalamperangkap” “Apalagi mereka sama sekali tidak menjadi malu dan menyesal apabila cara-caranya yang licik itu kemudian kita ketahui. Mereka sama sekali tidak mempedulikannya. Seakan- akan mereka tidak pernah melakukan apapun juga” “Nah, demikianlah Arum. Kau sudah tahu bahwa yang terbunuh itu memang orang-orang kumpeni sendir i” “Betapa kejamnya ayah. Mereka mengorbankan j iwa orang lain untuk mengelabui perjuangan rakyat Surakarta” “Ya. Memang kejam sekali. Mereka tidak menghargai jiwa manusia. Mereka menganggap bahwa jiwa kita, orang-orang yang mempunyai kulit berwarna itu, seperti jiwa budak-budak yang tidak berharga sama sekali” Tiba-tiba Arum menggeram. Katanya “Kita tidak dapat membiarkan diri kita kehilangan martabat kemanusiaan kita” “Dan itulah yang diperjuangkan oleh Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi dengan caranya masing-masing. Namun yang agaknya sebentar lagi. Pangeran Mangkubumipun akan menempuh cara yang sama” “Ya. Kakang Buntal telah dipanggilnya. Tentu bukan hanya kakang Buntal sendir i, tetapi berpuluh-puluh, bahkan beratus- ratus” Kiai Danatirta menganggukkan kepalanya. Lalu katanya “Arum, kau dapat menjelaskan apa yang kau ketahui tentang kumpeni itu kepada rakyat Jati Sari. Tetapi seperti yang aku katakan, kau harus berhati-hati. Kumpeni mempunyai telinga dan mata dimana-mana. Justru orang-orang yang memiliki kulit seperti kulit kita inilah yang telah merusakkan setiap usaha kita dengan upah yang besar. Tetapi upah itupun hanya sekedar janji, karena orang-orang itupun pada saatnya akandibunuh sebagai perampok dan yang lain disebutnya sebagai pengikut Raden Mas Said” Arum menyadari keadaan itu. Karena itulah, maka ia dengan sangat berhati-hati berusaha untuk mengatakan kebenaran yang diketahuinya. Mula-mula hanya di dalam lingkungan kecil, yang diketahuinya mempunyai sikap yang sejalan menghadapi kumpeni, meskipun mereka tidak dapat berbuat apapun juga karena mereka tidak memiliki kekuatan. “Memang masuk akal” desis seorang tua berjanggut putih “darimana kau ketahui akal licik itu Arum?“ “Aku hanya menduga-duga saja kakek. Mungkin aku salah” “Kau benar. Aku yakin kau benar. Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk meragukan perjuangan Raden Mas Said” Pendirian itupun perlahan- lahan menjalar dari orang-orang yang satu kepada orang yang lain. Sehingga akhirnya tidak ada lagi yang dapat mengatakan, bahwa yang pertama-tama meragukan tindakan kumpeni itu adalah Arum. Tetapi seperti yang diperhitungkan oleh Kiai Danatirta, maka ada jiwa telinga kumpeni yang mendengarnya, bahwa di padukuhan kecil yang bernama Jati Sari. ada orang-orang yang menganggap bahwa kumpeni telah melakukan kecurangan itu. Itulah sebabnya maka di padukuhan Jati Sari kadang- kadang tampak orang-orang yang tidak dikenal lewat di jalan padukuhan mereka. Meskipun sejak lama jalur jalan itu selalu dilalui oleh banyak orang, dan kadang-kadang orang-orang yang tidak dikenal, tetapi bagi Kiai Danatirta. tampak ada perbedaan tingkah laku dari orang-orang yang mempunyai maksud-maksud tertentu di daerah Jati Sari. Itulah sebabnya maka Kiai Danatirta selalu berpesan kepada Arum untuk berhati-hati.“Arum, sudah banyak orang yang bersikap benar menanggapi perampokan dan pembunuhan yang memakai kedok laskar Raden Mas Said. Karena itu, janganlah menyebarkannya lagi, karena akhir-akhir ini aku menaruh curiga kepada beberapa orang yang tidak aku kenal mondar- mandir di padukuhan ini” “Apakah maksudnya?“ bertanya Arum. “Tentu mereka mendapat laporan bahwa rakyat Jati Sari mencur igai desas-desus tentang perampok-perampok itu” Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah ayah. Aku akan diam. Pengertian itu sudah cukup tersebar di antara rakyat Jati Sari. Namun demikian ayah, apakah orang prang yang sampai saat ini masih bersedia diperalat itu tidak mengerti bahwa kawan-kawannya terbunuh setelah tidak diperlukan hgi?“ “Mungkin mereka mengerti, tetapi mereka mempunyai sesuatu yang lebih berharga menurut dugaan mereka sendiri dari kawan-kawannya yang terbunuh. Atau mereka menyangka bahwa kawan-kawannya yang terbunuh itu telah berkhianat dan harus dimusnahkan” Arum mengangguk-angguk. Itu adalah sikap yang sangat licik dari kumpeni. Tetapi Arum juga mempunyai dugaan lain “Bukan saja kelicikan kumpeni. Tetapi juga karena kebodohan kita sendir i. Apalagi karena kita adalah orang-orang yang tamak, yang segera tergelincir karena gemerlapnya sekeping uang” Dan orang yang demikian itu sebenarnya memang ada. Ketika Arum dan beberapa orang kawan-kawannya, sedang duduk di bawah sebatang pohon duwet di pategalan, dilihatnya dua orang anak muda yang berpakaian seperti pedagang-pedagang yang kecukupan lewat di jalan di sebelah pategalan itu. Ketika keduanya melihat beberapa orang gadisyang sedang duduk, maka keduanyapun saling berpandangan sejenak, lalu langkah merekapun terhenti. Gadis-gadis yang sedang duduk berteduh itupun menjadi berdebar-debar. Mereka belum mengenal kedua anak-anak muda itu. “Apakah aku dapat bertanya Ki Sanak” desis salah seorang dari keduanya sambil melangkah mendekat. Tidak ada seorangpun dar i gadis-gadis itu yang menjawab. Mereka saling berdesakan dan bahkan ada di antara mereka yang menjadi tersipu-sipu dan memalingkan wajahnya. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya” Seorang gadis yang bertubuh pendek memberanikan diri untuk menjawab “Silahkan. Jika aku dapat menjawab, aku akan menjawabnya” Anak muda itu tersenyum. Katanya “Bagus. Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih” Arum yang juga berdiam diri memperhatikan kedua anak muda itu berganti-ganti. Tetapi ia merasa bahwa keduanya belumpernah dilihatnya. “Siapakah namamu” bertanya anak muda itu kepada gadis yang bertubuh pendek. Gadis itu terdiam sejenak sambil menutup senyumnya dengan telapak tangannya. Wajahnya menjadi merah. Apalagi ketika anak muda yang tampan dan berpakaian cukup baik itu berjongkok di hadapan gadis-gadis yang sedang duduk itu, disusul dengan anak muda yang seorang lagi. “Siapakah namamu?“ desak anak muda itu. Gadis yang bertubuh pendek itu bergeser surut sehingga merekapun menjadi semakin berdesak-desakan.“Ah, kenapa kau malu “Anak muda itu tersenyum “Kau cantik sekali” “Ah“ gadis itu tiba-tiba saja menyembunyikan wajahnya. Belum pernah ia mendengar seorang anak muda memuj inya langsung di hadapannya. Bahkan kadang-kadang ia merasa rendah diri karena tubuhnya yang pendek dan wajahnya yang agak kasar. Karena itu ketika seseorang memujinya sebagai seorang gadis yang cantik, maka serasa jantungnya akan berhenti berdetak. “Baiklah” berkata anak muda itu “mungkin kalian tidak mau mendengar seseorang memuji. Itu adalah kebiasaan gadis- gadis padesan. Tetapi cobalah, katakan, apakah kalian sering melihat sesuatu yang menarik perhatian di padukuhan kalian?“ Gadis-gadis itu mengerutkan keningnya. Sebagian dari mereka menjadi bingung. Tetapi gadis yang bertubuh pendek itu justru mengangkat wajahnya. Ia merasa berhutang budi kepada anak muda yang sudah memujinya itu. “Maksud tuan?“ gadis itu bertanya. Anak muda itu tersenyum. Dan sekali lagi ia bertanya “Siapa namamu?“ Meskipun gadis itu menjadi tersipu-sipu lagi. tetapi ia menjawab “Warsi. Namaku Warsi” “Hanya Warsi?“ Gadis itu mengangguk. “Nama yang manis sekali “  


Jilid 14
SEKALI lagi Warsi menyembunyikan wajahnya dan bergeser surut. Sedang kawan-kawannya mulai berani tertawa tertahan-tahan sambil mendorong tubuh Warsi yang pendek itu. “Dan siapa namamu anak manis?“ tiba-tiba yang lain bertanya sambil memandang Arum yang duduk bersandar batang pohon duwet. Sebenarnya Arum mempunyai sikap yang lain daripada gadis-gadis kawannya bermain. Tetapi ia tidak mau menyatakan dirinya dan kematangan jiwanya. Itulah sebabnya, maka iapun berpura-pura menunduk sambil bermain-main dengan ujung kainnya. “Siapa?“ Arum t idak menjawab. Tetapi kawan-kawannyalah yang menyebut namanya. “Arum. Namanya Arum” “O, nama yang bagus sekali” desis anak muda itu.Tetapi Arum sendiri tetap menundukkan kepalanya sambil mengumpat di dalam hati “Memuakkan sekali” Meskipun demikian Arum masih tetap menundukkan kepalanya, dan dibiarkannya kawan-kawannya menyebut namanya berulang kali dan yang lain mengguncang-guncang. Anak-anak muda itu tertawa melihat sikap gadis-gadis desa yang masih diliputi oleh perasaan malu dan segan. Tetapi mereka dapat mengerti, karena lingkungan hidup yang membentuk mereka adalah demikian. “Baiklah” berkata anak-anak muda itu “Aku tidak akan memaksa kalian untuk bersikap lain. Tetapi kalian tentu memiliki selera seperti gadis-gadis yang lain. Gadis-gadis kota dan gadis-gadis di daerah yang lebih ramai dari padukuhan sepi ini. Apakah kalian pernah melihat permainan seperti ini?“ Gadis-gadis itu tertarik ketika salah seorang dari anak-anak muda itu mengambil seuntai kalung merjan yang bagus dari kantong yang dibawanya. Sambil mengguncang-guncang kalung itu, ia berkata “Semua gadis senang memiliki kalung seperti ini. Meskipun kalung ini tidak semahal kalung emas, tetapi kalung ini tampaknya lebih cerah dan menyenangkan” “Bagus sekali“ hampir berbareng beberapa orang gadis memuj inya. “Tentu” sahut anak muda itu “Aku membeli kalung ini di Semarang. Bagus sekali. Sebagus nama-nama Arum dan Warsi” “Ah“ gadis-gadis itu mulai saling mendorong lagi. Dan Arumpun t idak mau bersikap lain meskipun ia mengumpat- umpat di dalamhatinya. “Baiklah. Tetapi, ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian. Yang pertama, siapa yang senang akan kalung merjanini. Dan yang kedua, apakah kalian sering melihat sesuatu yang menarik perhatian di daerah ini” “Maksud tuan?“ beberapa orang gadis bertanya bersama- sama “Apakah kalian pernah melihat perampok yang berkeliaran di sini? Atau mendengar beritanya bahwa di sini ada perampok-perampok. Atau laskar yang lain” Gadis-gadis itu saling berpandangan. “Kami memang sedang mencar i keterangan tentang perampok-perampok agar perjalanan kami tidak terganggu” “Tetapi” tiba-tiba salah seorang gadis bertanya “Bukankah perampok-perampok itu sudah ditangkap” “Tentu belum semua“ kawannya yang menyahut ”Tetapi berita tentang perampok itu memang bersimpang siur di sini” “Maksudmu?“ bertanya salah seorang anak muda itu “Apakah di sini ada laskar yang bukan perampok?“ “Tidak ada. Semuanya tidak ada. Tetapi kami mendengar bertanya, bahwa sebenarnya perampok-perampok yang pernah disebut sebagai laskar Raden Mas Said itu sebenarnya salah. Mereka adalah orang-orang yang sengaja dibuat oleh kumpeni untuk mengelabui rakyat, agar membenci pasukan Raden Mas Said” Anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Mereka memang pernah mendengar, bahwa sikap rakyat Jati Sari terhadap perampok-perampok itu memang agak lain. Ternyata bahwa rakyat Jati Sari tidak mudah dikelabui seperti rakyat di Padukuhan-padukuhan terpencil lainnya. Dalam pada itu, dada Arum menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat mencegah kawan-kawannya mengatakan apa yang mereka ketahui.“Jadi” berkata salah seorang dari kedua anak-anak muda itu “Kalian tidak percaya bahwa yang merampok itu laskar Raden Mas Said, dan menganggap bahwa mereka justru orang-orang yang sengaja dibuat oleh kumpeni?“ “Ya” sahut seorang gadis kurus. Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Tetapi keduanya lalu tersenyum sambil mengayunkan kalung merjannya. Katanya “Nah, siapakah yang senang memiliki kalung ini” Hampir berbareng gadis-gadis itu berteriak “Aku, aku” Anak-anak muda itu tertawa. Katanya “Baik, baik. Jangan berebut. Aku membawa banyak sekali kalung merjan. Kalung ini memang tidak terlalu mahal. Tetapi sangat menarik. Kawan-kawanmu yang kebetulan tidak ada di sini tentu akan iri hati. Nah, hitunglah, ada berapa orang gadis di sini?“ Gadis-gadis itupun saling menghitung di antara mereka sendiri. Dan berebutan, mereka berteriak “Tujuh, tujuh “Tetapi yang lain berkata “delapan, delapan orang“ “Salah” seorang anak muda itu berkata “Delapan. Benar, ada delapan orang. Nah, aku akan memberikan delapan kalung merjan yang besar” Anak muda itupun kemudian bangkit dan mengambil kalung merjan. Sambil melangkah semakin dekat ia mengulurkan tangannya menyerahkan kalung itu. Gadis-gadis itupun kemudian berebutan berdiri untuk menerima kalung itu. Tetapi anak muda itu masih belum member ikan. Katanya “Sebentar. Masih ada satu pertanyaan. Siapakah yang mula-mula mengatakan bahwa perampok- perampok itu adalah kaki tangan kumpeni? Bukan anak buah Raden Mas Said?“ Gadis-gadis itu terdiam. Sejenak mereka saling memandang. Tetapi akhirnya mereka berdesis “Kami tidak tahu. Tetapi yang kami dengar adalah dari orang-orang tuakami. Mereka kadang-kadang berbicara tentang perampok- perampok itu jika mereka berada di sawah atau pategalan” Anak muda itu mengangguk-angguk. Lalu “Tetapi sebut salah seorang dari mereka yang berpendirian begitu. Aku ingin bertanya kepadanya karena aku akan menempuh perjalanan jauh, agar aku mengetahui persoalannya dengan pasti” Arum menjadi berdebar-debar. Tetapi seperti gadis-gadis yang lain ia ikut mengerumuni merjan itu agar tidak menimbulkan kesan yang lain. Namun demikian, ia sedang berpikir, bagaimanakah sebaiknya menjawab pertanyaan itu, Arum menjadi semakin cemas ketika ia melihat seorang kawannya yang berparas bulat telur dengan mata yang bulat berkata meskipun dengan kepala tunduk “Barangkali aku tahu” Arum tidak mau membiarkan kawannya itu menyebut nama seseorang. Sebab dengan demikian orang itu akan dapat menjadi rambatan untuk menemukan sumber yang sebenarnya. Dan sumber itu adalah dirinya sendiri. Karena itu dengan serta-merta ia menyahut “Ya, aku juga tahu. Orang yang mula-mula mengatakannya adalah seorang yang bertubuh gemuk. Aku tahu benar karena aku melihatnya” Kawan-kawannya kini berpaling kepada Arum. Kedua anak muda itupun memperhatikan kata-katanya dengan saksama. “Orang bertubuh gemuk dan naik seekor kuda berwarna coklat. Ia datang bersama seorang yang bertubuh sedang dengan kuda belang-belang. Merekalah yang mengatakan kepada orang-orang yang saat itu sedang berada di sawah, bahwa perampok-perampok itu bukan anak buah Raden Mas Said” “Jadi kau mendengar sendir i ceritera orang itu?“ bertanya anak muda itu dengan wajah yang tegang.“Aku mendengar sendiri” jawab Arum. Anak-anak muda itu mendekatinya. Lalu “Katakan, katakan, apa yang kau dengar dari mereka” Dan Arumpun mulai menyusun ceritera tentang dua orang berkuda yang pertama-tama mengatakan bahwa perampok- perampok itu bukan anak buah Raden Mas Said. Arumpun mengatakan bahwa perampok-perampok yang terbunuh itupun hanyalah sekedar umpan untuk memancing kepercayaan rakyat dengan mengorbankan jiwa orang-orang tamak itu. Lalu akhirnya “Tetapi orang itu mengancam agar kami t idak menyebutkan mereka berdua. Bahkan keduanya berkata bahwa semua kaki tangan kumpeni akhirnya akan dibunuh oleh kumpeni sendiri untuk menghapuskan jejak” Kedua anak muda itu menjadi semakin tegang. Tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak. Menilik sikap dan tatapan mata gadis-gadis Jati Sari, mereka telah berkata dengan jujur. Dan sudah, barang tentu bahwa mereka tidak akan dapat menyusun cer itera itu sendiri. “Kenapa kau sekarang mengatakan tentang kedua orang itu?“ bertanya salah seorang dari kedua anak muda itu “Bukankah mereka telah mengancam bahwa kau tidak boleh menyebut mereka” “Mereka sekarang sudah pergi jauh sekali. Dan mereka tentu tidak tahu bahwa sekarang aku mengatakannya kepada tuan“ Anak-anak muda itu tersenyum. Pikiran gadis desa memang terlampau sederhana. Namun jujur dan dapat dipercaya. Itulah sebabnya maka kedua anak-anak muda itupun mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata “Terima kasih. Nah, sekarang aku akan membagi kalung merjan ini”Gadis-gadis itupun semakin berdesakan maju. Tetapi anak muda yang memegang kalung merjan itu masih belum member ikannya. Dan bahkan ia masih bertanya “Tunggu sebentar. Aku masih ingin bertanya kepada Arum“ Arum menjadi semakin berdebar-debar. “Arum. Kenapa ceritera orang gemuk itu tersebar di Jati Sari? Apakah kau mengatakan kepada kawan-kawanmu, bahwa apa yang dikatakan oleh orang gemuk itu benar?“ Arum menjadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya “Aku tidak mengatakan” “Jadi siapa saja di antara kau dan orang-orang yang ada di sawah waktu itu yang menyebarkan pendapat orang gemuk berkuda coklat itu?“ Arum menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku tidak tahu” Anak muda itu tersenyum. Katanya “Sudahlah, jangan hiraukan lagi. Kau menjadi pucat Tetapi kau justru bertambah cantik” “Ah“ Arum menjadi tersipu-sipu. “Nah, kau akan mendapat dua untai kalung merjan” berkata anak muda itu “dan kau mendapat kehormatan memilih lebih dahulu” Wajah Arum masih kemerah-merahan. Apalagi ketika tangan anak muda itu menyentuh dagunya sambil berkata “Pilihlah” Kawan-kawannya mendorong Arum semakin dekat. Dan Arum tidak melawan. Dengan ragu-ragu ia memilih dua untai kalung yang berwarna kebiru-biruan di antara warna kuning yang lembut. “Kau pandai memilih warna. Kau tidak memilih warna yang tajam. Kau mempunyai kelainan dengan gadis-gadis yang lain”berkata anak muda itu “caramu memilih warna sangat menarik” Sekali lagi Arum menundukkan kepalanya. Tetapi kali ini ia benar-benar menjadi berdebar-debar. Ternyata kedua orang itu memiliki ketajaman perasaan yang tidak disangkanya. Caranya memilih warna memang tidak sejalan dengan sikapnya yang seperti gadis-gadis yang lain, bodoh, jujur, dan sederhana. Tetapi ia tidak menduga, bahwa orang-orang yang tidak dikenal itu memperhatiknya sampai pada caranya memilih warna. Dan ternyata ketika anak muda itu member i kesempatan kepada Warsi untuk memilih kalung merjan itu, ia memilih kalung yang berwarna merah, kuning tajam diseling oleh warna ungu yang tua. Sedang kawan-kawannya yang lain memilih warna-warna yang menyolok dan silau. Setelah semuanya memiliki kalung itu, maka kedua anak muda itupun kemudian berkata ”Nah, semuanya sudah memiliki kalung yang bagus. Sekarang aku akan pergi. Aku akan meneruskan perjalanan meskipun aku masih belum mendapat keterangan yang jelas mengenai perampok- perampok itu, sehingga aku masih ragu-ragu. Baiklah. Tetapi barangkali aku boleh singgah di rumahmu pada kesempatan lain Warsi, dimana rumahmu?“ “Ah rumahku hanya sekedar gubug mir ing yamg jelek. Malu ah?” gadis itu menyembunyikan wajahnya di punggung kawannya. Anak muda itu tersenyum. Lalu “Kalau Arum. dimana rumahmu?“ Sebelum Arum menjawab, kawan-kawannya telah mendahului “Itu, di padepokan itu. Rumahnya besar, halamannya luas” “Ah“ Arumpun menunduk dalam-dalam.“O” anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu “Baiklah. Jika kau tidak berkeberatan, aku akan singgah. Jika aku kelak lewat di daerah ini lagi, aku akan membawa kalung merjan yang berwarna lunak seperti kesenanganmu Arum” Arum tidak menjawab. Hampir saja ia memukul tangan anak mudai itu ketika tangan anak muda itu sekali lagi menyentuhnya. Untunglah bahwa ia menyadari keadaannya pada waktu itu sehingga ia hanya dapat melangkah surut, dan bersembunyi di antara kawan-kawannya. “Sudahlah, kami akan mohon diri. Terima kasih atas sikap kalian yang ramah. Kalian adalah gadis-gadis yang cantik. Gadis-gadis desa adalah gadis-gadis yang cantik, justru karena kalian bekerja setiap har i” Ketika gadis-gadis itu menjadi tersipu-sipu, maka kedua anak muda yang tampan itupun melangkah meninggalkan mereka. Sekali mereka masih berpaling dan melambaikan tangannya. Gadis-gadis itupun berebutan membalas lambaian tangan itu dengan melambaikan kalung-kalung mereka yang berwarna cerah. Ternyata kalung itu sangat menyenangkan hati gadis-gadis itu, selain Arum. Ia menjadi gelisah dan cemas. Firasatnya mengatakan bahwa kedua anak-anak muda itu tidak melepaskan perhatian mereka kepadanya. Bukan sebagai seorang gadis yang menurut mereka adalah gadis yang cantik. Tetapi kelengahannya memilih warna dan barangkah dengan demikian kedua anak muda itu menghubungkan hal itu dengan sikapnya yang lain, telah membuatnya gelisah. “Marilah kita pulang“ gadis-gadis itupun saling mengajak. Mereka ingin segera menunjukkan kalung masing-masing kepada orang tua mereka dan kepada kawan-kawannya yang kebetulan tidak bersama mereka. “Marilah, marilah“ Mereka saling menyahut.“Sebentar lagi aku akan menyusul kalian” berkata Arum “Aku masih akan memetik terung” “Marilah aku bantu” “Terima kasih. Silahkan berjalan dahulu” Gadis-gadis itupun kemudian meninggalkan Arum yang pergi ke pategalannya untuk mengambil beberapa buah terung. Namun sebenarnya Arum ingin memisahkan dir i dari kawan-kawannya. Ia ingin mendapat kesempatan merenungi apa yang baru saja terjadi. Sambil memetik terung, Arum mencoba menilai lagi sikapnya, kata-katanya dan pilihannya. “Hem“ Arum menarik nafas dalam-dalam “mudah-mudahan tidak menumbuhkan persoalan bagiku dan apalagi bagi padepokan Jati Aking” Ketika Arum kemudian meninggalkan pategalannya, langkahnya tertegun ketika ia melihat dua orang lain lagi berjalan dengan tergesa-gesa. Ketika keduanya melihatnya maka merekapun berhenti pula. Tetapi kali ini orang itu sangat menarik perhatian Arum. Bahkan kemudian dengan tergesa-gesa ia mendekatinya sambil berdesis “Paman“Orang itu adalah seorang yang bertubuh raksasa. Sambil tersenyum ia berkata “Bukankah kau Arum, saudara seperguruan Raden Juwiring” “Ya paman. Darimana paman, atau akan kemana?“ jawab Arum yang sudah mengetahui serba sedikit tentang perkembangan watak orang bertubuh raksasa itu. Orang itu memandang kawannya sejenak, lalu katanya “Ada sedikit kepentingan. Tetapi aku tidak akan mengganggumu, kecuali j ika kau mengerti” “Maksud paman?“ “Arum” berkata orang itu “Aku telah bertemu dengan Buntal” “He, dimana paman Sura bertemu dengan Buntal?“ Sura tersenyum sejenak, lalu diceriterakannya pertemuannya dengan Buntal. “O, pada saat kakang Buntal berangkat ke Sukawati?” bertanya Arum, namun kemudian “Tetapi apakah paman sekarang berada di dalam laskar Raden Mas Said” “Ya. Aku tidak usah bersembunyi, karena aku tahu sikapmu dan sikap ayahmu. Aku sedang dalam perjalanan mengikuti dua orang anak muda yang aku kira pergi ke padukuhan ini. Menurut keterangan, mereka harus mendapatkan keterangan tentang sikap orang-orang Jati Sari yang aneh, yang menentang pendapat umum, bahwa kami, laskar Raden Mas Said adalah perampok-perampok” “Tetapi apakah memang demikian?“ “Tentu tidak Arum. Memang mungkin ada satu dua orang yang menodai perjuangannya dengan ketamakan. Tetapi sikap kalian sudah benar. Aku sudah mendengar sikap orang-orang Jati Sari. Perampok-perampok itu memang dibuat oleh kumpeni, meskipun ada di antara mereka yang diupah untukdibunuh. Dan upah itu tidak akan pernah mereka terima” Sura terdiam sejenak, lalu “Apakah kau melihat dua orang yang tidak kalian kenal lewat di padukuhan ini?“ “Paman, kadang-kadang di daerah ini memang lewat orang-orang yang mencur igakan. Tetapi baru saja ada dua orang anak muda yang lewat membawa kalung-kalung merjan ini. Mereka memang bertanya tentang sikap kami” “Nah itulah yang aku ikuti. Tetapi aku kehilangan jejaknya di bulak sebelah. Dimana mereka sekarang?“ Arum menjadi ragu-ragu. Sejenak dipandanginya wajah Sura, kemudian wajah kawannya yang tampaknya selalu bercuriga. “Paman” berkata Arum “Mereka mengaku sebagai pedagang. Mereka memang ingin mendapat keterangan tentang perampok-perampok itu, yang katanya agar mereka tidak menemui kesulitan di perjalanan” Sura mengangguk-angguk sambil tersenyum “Ya, merekalah yang kami ikut i” Wajah Arum menjadi tegang. Hampir di luar sadarnya ia berdesis “Apakah maksud paman?“ Sura mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian tertawa sambil berkata “Jangan takut Arum. Aku tidak akan merampoknya” “O, tidak, tidak. Bukan maksudku paman“ Arum menjadi tergagap. Tetapi Sura justru tertawa. “Tidak apa-apa. Memang di masa seperti ini, setiap orang pantas dicurigai. Tetapi aku minta kau percaya kepadaku. Jika kau bertemu dengan Buntal, bertanyalah tentang aku” “Ya, ya paman. Aku percaya” Arum menarik nafas, lalu “kedua orang itu lewat jalan ini” “Apa saja, yang dilakukan menurut pengetahuanmu?“Arum menjadi ragu-ragu. Tetapi iapun kemudian mencer iterakan apa yang dilihat dan didengar dari kedua anak-anak muda yang tampan dan mengaku pedagang itu. Dikatakannya pula niat keduanya untuk singgah, karena ia sudah menyebut orang gemuk berkuda coklat sebagai sumber berita tentang perampok-perampok yang sebenarnya adalah kaki tangan kumpeni Sura mengangguk-angguk pula. Katanya “Kau sudah melakukan sesuatu yang berbahaya bagimu Arum. Tetapi siapakah sebenarnya sumber berita itu jika kau mengetahuinya“ Arum masih tetap ragu-ragu. Dan akhirnya ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab “Aku tidak tahu paman” “Baiklah. Aku akan mencoba mengikutinya. Mungkin aku terpaksa menghentikan mereka dan membawanya kembali ke kota. Atau, menghadap Raden Mas Said atau orang-orang kepercayaannya” Arum mengangguk kecil. Ia tahu apa yang dimaksudkan oleh Sura. Tetapi ia tidak menjawab. “Sudahlah Arum. Berhati-hatilah. Jaga dirimu baik-baik Kau adalah anak Kiai Jati Aking, maksudku Kiai Danatirta dari Jati Aking. Kau tentu memiliki kelainan dari gadis-gadis sebayamu, kau akui atau tidak kau akui. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu atasmu” Arum menundukkan kepala sambil menyahut “Aku tidak lebih dari seorang gadis padesan paman” “Ah, semua orang dari padepokan Jati Aking sangat berendah hati. Raden Juwiring adalah sebuah gambaran yang paling baik bagi anak-anak muda bangsawan. Buntal dan tentu juga kau”Wajah Arum masih tetap menunduk. Tidak dibuat-buat seperti ketika dua orang anak-anak muda yang membawa merjan itu memuji kecantikannya. “Pulang sajalah Arum. Dan ceriterakan semuanya kepada ayahmu. Semua yang kau dengar dan kau lihat. Ayahmu akan dapat mengambil kesimpulan” Arum menganggukkan kepalanya. Sura dan kawannyapun kemudian minta diri untuk melanjutkan perjalanannya. Mereka berdua masih mengharap untuk dapat menemukan kedua anak muda yang telah membagikan merjan kepada gadis-gadis Jati Sari Sepeninggal Sura, maka Arumpun bergegas pulang sambil menj inj ing bakul yang ber isi beberapa buah terung. Di sepanjang jalan, angan-angannya selalu dibayangi oleh kedua anak-anak muda yang memang mencur igakan itu. Ketika ia sampai padukuhan Jati Sari, ia melihat kawan- kawannya yang mendahuluinya, ternyata berdiri di depan gardu dikerumuni oleh kawan-kawannya yang lain. Mereka saling berebutan melihat kalung merjan yang berwarna cerah dan yang jarang dijumpai di padukuhan itu. Arum yang mendekati mereka yang berada di depan gardu itupun kemudian dikerumuni pula oleh kawan-kawannya. Mereka pun ingin melihat kalung yang dimiliki Arum. Bahkan dua untai. “Ia memilih lebih dahulu daripada kami” berkata salah seorang temannya. “Ia mendapat dua untai. Kami masing-masing satu” sahut yang lain. “O, agaknya anak muda itu jatuh cinta kepadamu Arum“ gurau seorang kawannya yang tidak mendapat kalung. Wajah Arum menjadi merah.“Ya. Anak muda yang kaya itu jatuh cinta kepadamu. Beruntunglah kau Arum. Ia tentu akan datang kembali dan membawa kalung lebih banyak lagi” “Ah“ Arum tidak menjawab. Jika ia menjawab sepatah saja maka kawan-kawannya akan mengganggunya semakin tajam. Karena itu maka Arumr ianya dapat menundukkan kepalanya. Tetapi agaknya kawan-kawannya tidak begitu tertarik pada kalung Arum yang berwarna lunak itu. Mereka lebih senang merjan yang berwarna tajam, sehingga seorang kawannya berkata “He. Arum, kenapa kau memilih warna yang suram ini?“ Sejenak Arum termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Aku menjadi gemetar sehingga aku tidak dapat memilih. Aku mengambil saja di antara untaian kalung di tangannya” Kawan-kawannya tertawa riuh Dan salah seorang berkata “Ya, sekali-sekali anak muda itu menganutnya” Dan Warsi berteriak “Di dagunya” Meledaklah suara tertawa di sudut desa itu, sehingga beberapa orang laki- laki yang berada di sawah dipinggir desa itu berpaling sejenak. Dilihatnya gadis-gadis padesan sedang bergurau dengan riuhnya, sehingga mereka hanya dapat menarik nafas saja. Seorang tua yang lewat di dekat merekapun berhenti sejenak dan bertanya “Apa yang menar ik?” “O, kakek” sahut Warsi “kalung merjan yang bagus” Kakek itu berhenti sejenak, lalu “Darimana kau dapatkan kalung ini?“ “Dari dua orang pedagang yang lewat” “He, kau sudah kenal?“ “Belum”“Bagaimana mungkin ia memberi kalung merjan?“ “Kami tidak minta. Merekalah yang member ikan kepada kami” Kakek itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya “Anak-anak gadis sekarang tidak lagi mengenal dir i. Seharusnya kalian menolak menerima pember ian dari laki-laki yang belum kalian kenal. Kalian belum tahu pasti maksud dari laki- laki itu, siapapun mereka” “Keduanya orang baik, kek?“ “Siapa tahu di dalam untaian kalung itu terdapat guna- guna. Kalian tentu akan tergila-gila kepada laki- laki itu, dan kalian akan diseret ke dalam cengkeramannya. Pada saatnya kalian akan dilemparkan setelah kalian tidak berharga lagi baginya” Gadis-gadis itu mengerutkan keningnya. Namun salah seorang menjawab “Tidak kek. Guna-guna itu tidak akan berpengaruh jika kalung ini sudah aku langkahi“ Kakek itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat gadis itu meletakkan kalungnya di tanah dan kemudian kalung itu dilompatinya tiga kali. Kawan-kawannyapun menirukannya kecuali Arum. “He, kau tidak Arum. Apakah benar-benar kau telah kena guna-guna itu” Arum menggeleng, jawabnya “Tidak. Aku sudah melakukannya lebih dahulu dari kalian. Ketika kalian mendahului aku, aku sebenarnya ingin melakukan hal itu, tetapi aku malu terhadap kalian. Karena itu, aku berpura-pura mengambil buah terung.” “O, jadi kau sudah mendahului kami?” Arum menganggukkan kepalanya.Kakek tua itu masih saja menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan sekali lagi ia bergumam sambil melangkah pergi “Gadis- gadis sekarang tidak lagi membatasi dirinya. Siapa tahu kalian akan kehilangan kesadaran. Jika laki- laki itu lewat sekali lagi kalian akan kepelet dan mengikutinya tanpa sadar” Gadis-gadis itu membiarkan laki- laki tua itu pergi. Ketika laki- laki tua itu telah hilang dikelokan, merekapun tertawa berkepanjangan. Seorang gadis yang berwajah panjang tertawa paling keras sambil berkata “Jika kalung-kalung itu mengandung guna- guna, maka Arumlah yang pertama-tama akan mencari laki- laki itu, karena ia mendapat dua untai kalung sekaligus” Dan yang lain menyahut “Ya. Tentu Arum yang akan mencarinya lebih dahulu” “Ah“ Arum tersenyum. Tetapi di dalam hati ia berkata “Aku memang ingin mencarinya. Tetapi seperti paman Sura, aku ingin menangkap mereka dan menyerahkan kepada Raden Mas Said. Tidak untuk kepentingan yang lain” “Arum“ Anak yang berwajah panjang yang belum mendapat kalung merjan itu masih berkata “Marilah kita membagi nasib. Berikan kalung yang seuntai kepadaku. Biarlah aku saja yang kelak mencarinya, bukan kau” Suara tertawa gadis-gadis itu bagaikan meledak. Arumpun tertawa pula sehingga air matanya mengambang di pelupuknya. “Cepat, sebelum kau benar-benar dicengkam oleh guna- guna itu” “Katakan saja, kau ingin mempunyai kalung merjan” berkata Arum kemudian. Dan gadis berwajah panjang itu menyahut “Baiklah. Agaknya memang begitu. Aku ingin memiliki kalung merjan” “Pantas, kau memang pandai membujuk” teriak yang lain.“Sst, jangan iri. Siapa tahu, Arum berbaik hati” “Baiklah” berkata Arum. Dan sebelum Arum melanjutkan gadis itu sudah meloncat sambil berkata “Nah, jangan ir i” “Tunggu” berkata Arum “Aku belum selesai. Aku ingin mengatakan, bahwa aku akan mencoba minta beberapa lagi untuk kalian jika aku bertemu” Sekali lagi gadis-gadis itu bersorak. Kali ini mereka mengejek kawannya yang berwajah panjang. “Sayang, sayang manis“ seorang gadis gemuk mendekati sambil membelai rambutnya. ”Aku akan menangis saja” berkata gadis berwajah panjang itu “Silahkan“ seorang kawannya tiba-tiba menyahut “Kami memang sudah lama tidak melihat kau menangis” “Tidak jadi” Arumpun tertawa. Tetapi sebenarnyalah ia melihat kekecewaan di wajah kawannya. Bukan sekedar bergurau. Karena itu, maka iapun mendekatinya sambil berkata “Jangan merajuk. Aku akan member ikan kepadamu yang seuntai. Benar-benar akan aku berikan” Gadis itu menjadi bingung sejenak. Tetapi ketika Arum benar-benar menyerahkan seuntai kepadanya, tiba-tiba saja ia meloncat sambil memeluk Arum. ”Terima kasih. Kau memang gadis yang paling cantik di Jati Sari. Kau memang pantas diguna-gunai oleh laki- laki lewat itu” “Hus, aku t idak jadi memberimu” “O, tidak, tidak. Akulah yang cantik, dan akulah yang pantas diguna-gunai oleh laki-laki” Gadis-gadis itu masih saja bergurau. Bahkan di sepanjang jalan pulang ke rumah masing-masingpun, mereka masih sajaberkelakar, sehingga orang-orang yang tinggal di sebelah- menyebelah jalan menjengukkan kepala mereka lewat pintu depan yang terbuka. “Ah, anak-anak itu” desisnya. Ketika gadis-gadis itu sampai ke rumah masing-masing, maka merekapun segera menceriterakan tentang laki-laki yang tidak mereka kenal, dan memberikan kalung kepada mereka. Beberapa orang tua memang menjadi cemas. Tetapi gadis- gadis itu berkata “Mereka tidak akan berbuat apa-apa ayah. Mereka hanya sekedar lewat. Dan mereka telah kami beritahu tentang perampok-perampok sehingga mereka akan dapat menyesuaikan dir i mereka selama perjalanan” Orang-orang tua merekapun hanya mengangguk- anggukkan kepalanya saja, karena mereka tidak begitu mengerti tentang perampok-perampok yang sedang menjadi bahan pembicaraan itu. Berbeda dengan mereka, meskipun Arumpun mencer iterakan peristiwa itu kepada ayahnya, namun arah pembicaraannya agak lain. Arum sama sekali tidak tertarik kepada kalung itu sendiri, tetapi ia tertarik kepada sikap dan pembicaraan kedua laki- laki muda itu. Seperti Sura, maka Kiai Danatirtapun kemudian dapat menangkap apa yang menarik perhatian kedua anak-anak muda itu. Karena itu maka katanya “Arum, memang ada kemungkinan bahwa keduanya akan datang ke rumah ini“ “Paman Sura juga mengatakan begitu” “Sura” ulang ayahnya “dimana kau bertemu pamanmu Sura?“ Arumpun menceriterakan serba sedikit pertemuannya dengan Sura, dan dikatakannya pula, bahwa ia telah menunjukkan kalungnya dan mengatakan tentang laki-laki muda itu.Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Katanya “Peristiwa ini bukan peristiwa yang akan berdiri sendiri. Jika Sura berhasil menemukan kedua orang itu, akan dapat terjadi persoalan- persoalan yang menyangkut kita semuanya” Arum dapat mengerti persoalan yang dikatakan oleh ayahnya itu, sehingga karena itu, maka iapun tidak akan dapat melepaskan tanggung jawabnya, jika sesuatu terjadi atas Jati Sari. Namun, di Jati Sari, seakan-akan ia berdiri sendiri di dalam sikap dan perbuatan. Orang-orang lain tidak banyak menghiraukan persoalan yang dapat timbul di masa-masa yang dekat. Ada beberapa anak muda yang dapat dipercaya di dalam sikap. Tetapi mereka tidak memiliki bekal untuk berbuat banyak. Jika terjadi sesuatu, maka mereka justru harus menyingkir, agar tidak menjadi korban yang sia-sia saja. “Seharusnya ayah tidak selalu menyelimuti dir inya dengan sikap yang pura-pura ini” berkata Arum “Seperti Kiai Sarpasrana, ayah dapat berbuat bagi anak-anak muda itu” Tetapi Arum tidak berani mengatakannya kepada ayahnya. Ia hanya sekedar mengatakan hal itu di dalam hati. Namun ia berpengharapan bahwa dalam keadaan yang memaksa, ayahnya akan mengambil sikap yang lain. Demikianlah, maka kedua orang yang membawa kalung merjan itu tetap merupakan persoalan bagi Arum. Sehari- harian ia tidak dapat tenang. Setiap kali dipandanginya kalung merjannya. Bahkan ketika ia keluar dari padepokannya di sore hari, kalung itu tetap dibawanya. “He, kemana Arum?“ bertanya seorang kawannya. “O“ Arum berhenti, lalu “ke sawah sebentar mengambil bakul. Aku tadi minta seorang pembantu memet ik lombok. Dan aku akan mengambilnya sendiri ke sawah” “Ah, kau tidak dapat pisah dengan kalungmu” Arumtersenyum. Tetapi ia tidak dapat menjawab.Ketika langit menjadi suram, Arum baru kembali ke padepokannya. Ia sejenak terhenti di simpang empat karena bertemu dengan beberapa orang kawannya. Karena itulah maka ia sampai di padepokan ketika matahari sudah bersembunyi di bawah kaki langit. “Darimana kau Arum” bertanya ayahnya. “Mengambil lombok ini ayah” “Yang kau susul sudah datang lebih dahulu” “Aku berhenti di simpang empat sebentar ayah. Kawan- kawan ada di sana” Kiai Danatirta tidak bertanya lagi. Dibiarkannya anaknya mandi dan berganti pakaian. Namun Arum menjadi termangu-mangu di dalam biliknya. Ada sesuatu yang selalu mengganggu perasaannya. Kalung itu. Tetapi ia yakin bahwa hal itu bukan karena guna-guna. Tetapi justru karena kehadiran Sura dan pesan ayahnya. Sejenak kemudian maka Arumpun makan malam bersama ayahnya. Kini tidak ada orang lain di antara mereka, karena Juwiring sama sekali tidak pernah menampakkan diri lagi, dan Buntal telah berada jauh dari Jati Sari, di antara anak-anak muda yang dipersiapkan oleh Kiai Sarpasrana di sekitar daerah Sukawati. Tetapi mereka berdua terkejut ketika seorang pembantunya masuk ke ruang dalam sambil membungkuk “Kiai, ada dua orang tamu” “Siapa?“ “Aku belumpernah melihatnya Kiai” “Masih muda” potong Arum. “Ya. Masih muda dan agaknya orang-orang kota”Arum menjadi berdebar-debar, dan ayahnya berdesis “Apakah mereka datang?“ Arumt idak segera menjawab. “Temuilah Arum. Kau buka saja anakku, tetapi kau adalah mur id perguruan Jati Aking” Arum memandang ayahnya sejenak. Dengan ragu-ragu iapun kemudian bertanya “Maksud ayah?“ “Arum. Kau tentu tahu, apa yang akan dilakukan. Tetapi kaupun tahu apa yang seharusnya kau lakukan. Tetapi ingat, kau harus berusaha agar kau tidak mengguncangkan ketenangan padepokan ini di saat-saat sekarang” Arum tidak segera menjawab. Dipandanginya ayahnya sejenak, kemudian orang yang datang memberitahukan kehadiran tamu-tamu itu. “Persilahkan mereka duduk di pendapa” berkata Arum kepada pembantunya itu “Katakan bahwa kami sedang makan” “Baiklah” sahut pembantunya sambil melangkah surut. Ketika hal itu diberitahukan kepada tamu itu, mereka menjadi agak ragu-ragu. Salah seorang dari mereka berkata “Dimanakah mereka makan?“ “Di ruang dalam” jawab pembantu itu. “Katakan, bahwa aku hanya sebentar” “Sudah aku katakan. Dan merekapun sudah hampir selesai makan” Kedua tamu itu saling berpandangan sejenak. Lalu yang seorang menjawab “Baiklah aku tunggu di halaman saja. Udara terlampau panas” Pembantu itu tidak dapat memaksa mereka. Dari kegelapan ia hanya dapat melihat kedua orang itupun kemudianmemencar. Yang seorang pergi ke regol halaman dan yang lain hilir mudik di sisi pendapa. “Mencur igakan sekali” desis pembantu Kiai Danatirta itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali masuk lagi ke lrang dalam dan memberitahukannya kepada Kiai Danatirta dan Arum. “Biar sajalah” berkata Arum “awasi mereka dari kegelapan. Tetapi jangan kau ganggu mereka” Sepeninggal pembantunya Arum bertanya “Apa yang mereka lakukan itu ayah?“ “Mereka agaknya cemas bahwa kau akan melarikan dir i. Mereka tentu mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang rumit seperti yang mereka ketahui tentang tugas mereka yang penuh dengan rahasia itu, maka mereka menganggap bahwa orang lainpun selalu berprasangka terhadap mereka” Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih bertanya “Apakah aku akan menemui mereka sendir i?“ Ayahnya menggelengkan kepalanya “Tidak Arum, akupun akan melihat tampang mereka itu” Arumpun kemudian meninggalkan ruang dalam setelah ia membenahi mangkuk dan sisa-sisa makan mereka. di muka pintu Arumterhenti sejenak. Ayahnya memandanginya dari kejauhan. Tetapi agaknya ia mengerti, apa yang diragukan oleh anaknya. Senjata. Karena itu maka Kiai Danatirtapun menggelengkan kepalanya, sehingga Arum dapat menangkap pula maksudnya, bahwa ia harus menemui tamunya tanpa mencurigakannya. Perlahan-lahan Arum membuka pintu depan. Ditebarkannya tatapan matanya menyapu pendapa rumahnya, kemudian keremangan malam di halaman. Samar-samar ia melihatbayangan yang hilir mudik di halaman, sedang yang lain berdiri di bagian dalamregol yang tertutup. “Silahkan“ Arum mempersilahkan tamu-tamunya. “O. Terima kasih” sahut yang seorang. Arum segera mengenal. Suara itu memang suara orang- orang yang pernah memberinya merjan. Karena itu, maka rasa-rasanya jantungnya berdetak semakin cepat. Ketika keduanya mendekati pendapa, dan sinar lampu minyak mulai meraba wajah-wajah mereka, Arumpun menjadi pasti bahwa keduanya itulah yang datang seperti yang pernah mereka katakan. ”Aku benar-benar singgah ke rumahmu anak manis” berkata salah seorang dari mereka sambil naik ke pendapa. Arum tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Tetapi iapun kemudian berdesis “Silahkan duduk” Keduanyapun duduk di atas tikar yang putih di tengah- tengah pendapa di bawah lampu minyak yang menyala terang. Sambil tersenyum salah seorang dari mereka berkata “Kemarilah. Kenapa kau masih berada di situ?“ “Aku akan mengatakannya kepada ayah, bahwa tuan-tuan datang kemar i” ”Tidak perlu. Aku datang mengunjungimu. Bukan ayahmu” “Tetapi sepantasnyalah bahwa ayah menemui tuan-tuan” “Pantas atau tidak pantas, itu tidak penting. Tetapi aku tidak ingin mengganggu ayahmu yang barangkali baru beristirahat, atau bahkan sudah tidur” “Belum, ayah baru saja makan” “Sudahlah. Jangan ganggu ayahmu”Tetapi sebelum Arum menjawab, pintu pr inggitan itupun terbuka lagi dan ayahnya telah berdiri sambil membenahi ikat kepalanya. “Maaf tuan-tuan, agaknya aku terlambat menyambut tuan- tuan” “Ah, kami sebenarnya tidak ingin mengganggu ketenangan Kiai. Barangkali bapak baru beristirahat atau bahkan sudah berbaring di pembaringan. Silahkan Kiai melanjutkannya. Aku hanya memer lukan Arum saja. Aku pernah bertemu siang tadi di pategalan. Dan aku tertarik melihat sikapnya yang agak lain dar i kawan-kawannya” “Apakah yang lain?“ bertanya ayahnya “Ia tidak ada bedanya dengan kawan- kawannya. Tetapi anakku memang agak lebih dungu dari mereka. Sedikit malas, dan banyak bergurau tanpa arti. Itulah yang tidak aku senangi” ayahnya berhenti sejenak. Lalu “Silahkan. Barangkali aku dapat mengawani kalian sejenak” “Tidak perlu. Tinggalkan kami bertiga” berkata salah seorang dari kedua tamu itu. “Ah“ Kiai Danatirta tertawa “Tuan juga senang bergurau. Biarlah aku duduk bersama tuan” “Aku tidak bergurau Kiai. Biarlah aku berbicara dengan Arum” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Lalu “Apakah tuan tidak bergurau?““Tidak. Kami t idak sedang bergurau. Kami ingin berbicara dengan anakmu. Dan kami tidak ingin mengganggumu” “Tuan” suara Kiai Danatirtapun merendah “Jika demikian, maka aku semakin ingin duduk bersama tuan-tuan. Aku kira tidak pantas seorang gadis menerima tamu laki- laki tanpa orang tuanya” Kedua anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun agaknya ayah Arum berkeras untuk ikut menemuinya, sehingga karena itu maka kedua anak muda itu tidak dapat menolaknya lagi. “Nah tuan, silahkan tuan berbicara dengan anakku. Aku tidak akan mengganggu. Seperti yang aku katakan, bahwa aku ada di sini sekedar agar anakku tidak menjadi buah pembicaraan orang Jati Sari. Apalagi anakku adalah seorang gadis padepokan yang menurut tetangga-tetangga kami di Jati Sari, padepokan ini merupakan daerah kecil terpencil yang menjadi arena untuk mempelajari olah kaj iwan, meskipun sekedar ilmu kaj iwan dari padepokan kecil yang tentu tidak akan banyak berarti” Keduanya memandang orang itu dengan kerut-merut di kening. Dan salah seorang dari merekapun berkata “Baiklah. Duduk sajalah di situ. Tetapi jangan mengganggu pertanyaan- pertanyaanku kepada Arum” Sejenak Kiai Danatirta terdiam. Namun kemudian ia mengangguk “Baiklah tuan” “Sebenarnya tidak ada persoalan yang penting yang aku bawa” berkata salah seorang dari mereka, lalu “Tetapi sebelum aku bertanya yang lain, aku ingin menunjukkan sebuah kalung merjan yang paling bagus yang pernah aku punyai. Bukan saja warnanya yang cerah, tetapi untainyapun agak lain dengan yang pernah aku ber ikan kepadamu Arum” “Ah“ Arumberdesah.“Ternyata bahwa kau adalah gadis yang paling cantik dari padukuhan ini. Karena itu maka aku lebih senang datang ke rumahmu daripada ke rumah orang lain. Ter lebih- lebih lagi karena kau melihat dua orang berkuda. Yang seorang bertubuh gemuk dan berkuda coklat” Dada Arum berdesir. Tentu ceriteranya itulah yang sangat menarik perhatian. Ceritera yang dikarangkannya dengan tiba- tiba saja untuk menghindari kecur igaan kedua orang itu. Namun akibatnya justru sebaliknya. Kedua orang itu benar- benar datang kepadanya. Agaknya mereka dengan sungguh- sungguh menganggap ceriteranya itu sebenarnya telah terjadi. Karena Arum tidak segera menjawab maka orang itupun berkata “Jangan takut Arum. Aku tidak apa-apa. Aku hanya sekedar ingin mendengar ceritera tentang orang-orang berkuda itu” “Bukankah aku sudah mengatakannya” sahut Arum. “O, kau memang sudah mengatakannya. Tetapi barangkali kau mengetahui lebih banyak lagi?“ “Tidak” “Baiklah. Jika demikian, selain kau siapa sajakah yang mendengar ceritera tentang perampok-perampok itu? Dan barangkali kau sudah mengenal mereka, karena mereka tentu berasal dari padepokan ini pula” Arum termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya “Aku sudah tidak ingat lagi, siapa saja yang waktu itu ada di sekitar tempat itu” Laki- laki muda itu tersenyum. Katanya “Kau dibayangi oleh ketakutan dan prasangka. Aku benar-benar sekedar mencari keterangan agar perjalananku selalu selamat. Jangan menduga yang bukan-bukan. Sebaiknya kau mencer iterakannya kepadaku. Dengan demikian, jika kau memang ketakutan, aku dapat bertanya kepada orang lain itu.Bukan kepadamu. Jika aku datang kepadamu, semata-mata aku hanya ingin memberimu kalung merjan. Gelang dan perhiasan-perhiasan yang lain. Kau memang sangat cantik” Kiai Danatirta yang ada di sisi Arum hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sama sekali tidak ikut di dalam pembicaraan itu. “Kenapa kau tidak mau menyebut salah seorang dari mereka Arum?“ Arum menggeleng sambil berkata “Aku benar-benar tidak ingat lagi. Apakah yang ada di tempat itu waktu itu beberapa orang laki-laki atau beberapa orang perempuan” ”Tetapi kau ingat bahwa kau tidak sendir i?“ “Ya. Aku tidak sendiri. Tetapi aku tidak ingat lagi, dengan siapa aku berada di sawah waktu itu” “Itu mustahil sekali Arum. Kau tentu ingat seorang dari mereka” “Aku benar-benar tidak ingat” Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Baiklah Arum, jika kau tidak ingat, aku tentu tidak akan dapat memaksa. Tetapi seperti yang aku katakan, aku mempunyai seuntai kalung merjan yang jauh lebih bagus. Marilah, kita ambil sebentar kalung itu. Aku meninggalkannya di dalam kereta” “Kau membawa kereta?“ “Ya. Aku membawa kereta” “Tadi siang kau tidak membawa kereta. Darimana kau mendapatkan kereta itu?“ “Tadi siang aku juga membawa kereta. Tetapi aku tinggalkan di ujung bulak, karena aku sengaja ingin memasuki padukuhan kecil ini untuk mendapatkan keterangan.Arum mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat- ingat apakah Sura yang membayangi kedua orang itupun tidak membawa kendaraan apapun. Juga tidak membawa kuda. Tetapi memang mungkin sekali mereka membawa kereta atau kuda yang dit inggalkannya di luar pedukuhan. “Marilah Arum. Kalung itu jauh lebih bagus dari kalung yang aku bawa siang tadi. Hanya kepada gadis secantik kau saja yang aku akan memberikan kalung itu” Arum menjadi termangu-mangu. Hanya gadis padesan yang paling bodoh sajalah yang tidak menaruh kecurigaan apa-apa terhadap kedua orang yang akan member inya kalung yang tertinggal di kereta. Tetapi justru karena Arum bukan anak yang paling dungu di padesaannya, ia digelitik oleh perasaan ingin tahu apakah sebenarnya yang akan dilakukan oleh kedua orang itu. “Kenapa kau termenung? Apakah kau takut?“ Arum menggelengkan kepala. Katanya “Tidak. Aku tidak takut. Tetapi tentu tidak pantas aku mengikuti di malam begini. Sedangkan tuan bukan sanak dan bukan kadangku” Kedua Laki- laki itu tertawa. Salah seorang berkata “Gadis- gadis padesan memang banyak bertingkah. Tetapi aku tahu, itu bukan karena kau merajuk atau karena maksud-maksud buruk. Tetapi karena kau memang benar-benar anak padesan yang masih dicengkam oleh perasaan-perasaan yang sebenarnya tidak berarti lagi bagi jaman ini. di kota, peradaban orang-orang asing itu telah sama sama kita miliki. Batas antara laki-laki dan perempuan semakin dekat dan akhirnya tentu akan hilang sama sekali” “Ah“ Arum berdesah “Tentu tidak. Kita bukan orang-orang asing itu” “Tetapi apa salahnya kita menyadap peradabannya. Bukankah dengan peradabannya mereka mampu menaklukkan lautan dan mengelilingi dunia ini? Sedang kita yang berpegangteguh pada peradaban kita yang picik ini, apakah yang dapat kita capai? Dunia pada suatu saat tentu akan terasa menjadi sempit, dan kitapun harus berada di tengah-tengah pergaulan yang sempit itu. Kenapa kita harus takut kepada peradaban asing itu?“ “Tuan“ Kiai Danatirtalah yang menyahut “kadang-kadang memang kita merasa bahwa kita menjadi bagian dari pergaulan dan peradaban yang semakin dekat dari isi bumi ini. Tetapi bagi orang-orang tua seperti aku ini, yang barangkali masih tetap terkebelakang, memang merasa bahwa kita harus terjun ke dalamnya. Tetapi jika kita berada di tengah-tengah dunia ini, maka kita adalah kita. Kita bukan orang yang terjun dan tenggelam. Tetapi kita terjun dan tetap berada di antara mereka sebagai kita-kita ini. Sebagai sebuah pribadi yang akan mereka kenal dan memang mempunyai kelainan seperti juga pribadi-pribadi yang lain, yang memiliki kedir iannya masing-masing” Kedua anak-anak muda mengerutkan keningnya, namun salah seorang daripadanya kemudian tertawa sambil berkata “Kau tidak akan dapat hidup di dalam alam yang dibayangi oleh harga dir i yang berlebih- lebihan itu terus menerus. Jika demikian, maka orang lain telah memiliki tujuh buah kereta yang ditarik oleh delapan ekor kuda karena ia tidak membatasi diri di dalam lingkungan dan hubungannya dengan orang asing, maka kau akan tetap berjalan kaki sampai kesegala penjuru pulau ini jika kau mempunyai keper luan. Tetapi itu adalah persoalanmu sendir i. Aku tidak akan berkeberatan“ Orang itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi sebaiknya kau biarkan anak gadismu menikmati hidup di masa remajanya. Jika kau akan tetap di dalam dunia yang terke belakang, itu terserah. Umurmu tinggal beberapa tahun lagi. Tetapi lepaskan anak gadismu menikmat i hidup ini sepuas-puasnya. Jika ia mau, ia akan menjadi orang yang terhormat di kota”“Ah, biarlah ia. tetap menjadi anak padesan” sahut Kiai Danatirta. Baiklah. Itu bukan persoalanku. Sekarang, biarlah aku menemui janjiku. Aku akan memberinya kalung merjan yang paling bagus” Arum menjadi ragu-ragu. Tetapi keinginannya untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh anak-anak muda itu menjadi semakin besar. Dan agaknya ayahnyapun mengetahuinya pula, sehingga hampir di luar dugaan kedua anak-anak muda itu, Kiai Danatirtapun berkata “Baiklah tuan. Jika tuan ingin member inya kalung, biar lah aku mengantarkannya sampai ke kereta tuan” Kedua anak muda itu saling berpandangan. Tetapi salah seorang dari mereka tertawa sambil berkata “Baiklah. Baiklah. Marilah kita pergi” Arum menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin tenang, karena ayahnya ikut pula bersamanya. Demikianlah maka Arumpun diantar oleh Kiai Danatirta turun ke halaman dan keluar dari regol. Beberapa saat lamanya mereka berjalan menyusuri jalan padukuhan di dalam gelapnya malam. Agaknya padukuhan itu menjadi lengang. Beberapa orang menjadi segan keluar dari rumahnya di malam hari setelah terjadi berita yang mendebarkan tentang perampok-perampok yang berkeliaran. Tetapi malam memang terlampau dingin sehingga malas juga berada di gardu-gardu. Ketika mereka sampai di luar padukuhan, mereka sama sekali tidak melihat seekor kudapun. Apalagi sebuah kereta sehingga Arum yang memang sudah bercur iga itupun bertanya “Dimanakah kereta tuan?“ “Di sana, di ujung bulak” “Di ujung bulak?“ ulang Arum. “Ya, di ujung bulak di sebelah sudut padukuhan“Arum tidak menjawab. Ia berjalan saja diiringi oleh ayahnya. Namun ketika mereka sampai keujung bulak, maka mereka masih belum melihat sesuatu, sehingga sekali lagi Aram bertanya “Tuan, dimanakah kereta tuah?“ Sejenak keduanya tidak menjawab. Tetapi mereka masih saja melangkah memasuki bulak yang gelap. “Tuan“ langkah Arumpun kemudian terhenti. Demikian juga Danatirta. “Kenapa kau berhenti?“ bertanya salah seorang dari kedua laki- laki muda itu. “Kereta tuan tidak ada” Laki- laki itu menar ik nafas, lalu “Ya, keretaku memang tidak ada” “Jadi, apakah maksud tuan sebenarnya?“ “Marilah, kita ambil kalung itu di Surakarta. Kalung itu bukan hanya dari merjan, tetapi dari emas. Kita singgah sebentar di rumah kawanku. Sebenarnyalah bahwa aku meninggalkan keretaku di sana. di daerah Losar i” “Losari?“ “Ya” “Bukankah padukuhan Losari itu jauh dari sini?“ “Masih lebih jauh ke Surakarta” “Ah, tidak tuan. Biarlah aku dan ayah kembali saja ke padepokan” “Jangan Arum. Aku memerlukan kau. Memang aku t idak memer lukan ayahmu. Biar lah ayahmu kembali. Kau mempunyai keterangan yang berharga tentang orang gemuk berkuda coklat. Dan kau adalah gadis yang cukup cantik. Kauakan mendapat tempat yang baik di Surakarta. Orang-orang asing akan member i apa saja yang kau minta. Dan jika mereka t idak mau, maka akupun bersedia memeliharamu” “Gila“ Arum berteriak. “Jangan berteriak di malam hari” “Tuan” berkata Kiai Danatirta “sebenarnya bukan caranya tuan berbuat begitu sebagai seorang laki-laki Surakarta. Tuan telah mengecewakan aku. Aku menganggap bahwa orang orang Surakarta adalah orang-orang jantan dan bersifat kesatria” “Hanya orang-orang yang bodoh sajalah yang berbuat demikian” orang itu tertawa “Kami tidak lagi ingin dicengkam oleh kebodohan kami, seolah-olah dengan kejantanan dan sifat-sifat kesatria kita akan dapat mencukupi kebutuhan kita“ “Kebutuhan lahir iah” “Itulah yang sangat menarik. Seperti kecantikan lahiriah anakmu” “Tuan, tentu aku tidak akan membiarkan anakku tuan bawa” “Persetan” “Ijinkanlah aku membawa anakku pulang” Kedua anak- anak muda itu termenung sejenak. Lalu salah seorang berkata “Jangan cari perkara Kiai. Pulanglah sendir i” Kiai Danatirta menjadi termangu-mangu. Ia masih ragu- ragu untuk berbuat sesuatu, karena dengan demikian akan dapat menimbulkan akibat yang berkepanjangan. Menurut penilaiannya, kedua anak-anak muda itu tentu bukan orang kebanyakan. Keduanya pasti orang-orang yang mendapat kepercayaan dari kumpeni atau dari para bangsawan yang berpihak kepada kumpeni untuk mengumpulkan keterangan tentang sikap orang-orang Jati Sar i.“Jika salah seorang dari keduanya berhasil melarikan dir i. atau barangkali ada kawan-kawannya yang ada di sekitar tempat ini dan melihat peristiwa ini terjadi, maka akibatnya akan menjadi sangat luas” berkata Kiai Danatirta di dalam hatinya “Tetapi jika aku membiarkan Arum mereka bawa, maka banyak kemungkinan dapat terjadi. Jika Arum terjerumus ke dalam lingkungan mereka, maka ia akan mengalami nasib yang sangat malang. Dan bahkan tidak dapat dibayangkan sebelumnya” Namun dalam pada itu kedua anak-anak muda itupun telah memperhitungkan setiap kemungkinan. Mereka tidak kehilangan kewaspadaan. Menurut pengalaman mereka, para penghuni padepokan, bukan saja menguasai olah kaj iwan, tetapi olah kanuragan pula. Karena itu, maka mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk membawa Arum pergi. Sebelum terjadi sesuatu yang akan dapat menyulitkan mereka, maka tiba-tiba saja, hampir di luar penglihatan mata, tangan salah seorang dari kedua anak muda itu telah melingkar dileher Arum. Sebuah pisau belati kecil tergenggam di tangan itu, sedang ujungnya telah menyentuh leher Arum yang menjadi tegang. “Jangan berbuat sesuatu Kiai” berkata salah seorang anak muda itu “Kau tentu masih sayang kepada anakmu. Jika kau mencoba untuk melakukan sesuatu yang mencur igakan, maka pisau ini akan menusuk leher anakmu” ia berhenti sejenak, lalu “Arum, kenapa dilehermu tidak tersangkut kalung merjan itu?“Arum mengumpat di dalam hati. Tetapi ia tidak bergerak sama sekali, karena ujung pisau itu terasa menekan lehernya. “Pergilah Kiai” berkata anak muda itu “pergilah. Atau kau ingin melihat leher anakmu ini sobek?“ “Jangan” suara Kiai Danatirta yang menjadi sangat cemas. “Pergilah. Dan jangan mencoba membuat keributan dengan membangunkan tetangga-tetanggamu, apalagi mengejar kami. Karena dengan demikian kau akan mempercepat kematian anakmu” Kiai Danatirta tidak dapat berbuat lain. Jika ia berbuat sesuatu, betapapun ia mampu bergerak dengan cepat, tetapi pisau itu tentu lebih cepat menghunjamdileher anak gadisnya. Karena itu, Kiai Danatirta tidak akan mempunyai pilihan, la harus tunduk kepada perintah anak-anak muda itu. “Cepatlah Kiai. Jangan membuat kami marah” geram anak muda itu. Perlahan-lahan Kiai Danatirta melangkah mundur. Dipandanginya saja wajah Arum yang tegang. di dalam kegelapan Kiai Danatirta tidak melihat bahwa wajah itu menjadi semerah bara. “Aku tidak akan berbuat apa-apa terhadap anakmu j ika kau menurut perintahku, dan seterusnya tidak mengganggu” berkata anak muda yang mengancam leher Arum dengan pisau itu. Kiai Danatirta tidak menjawab lagi. Iapun kemudian berjalan perlahan-lahan menjauhi kedua anak-anak muda yang sudah berhasil menguasai Arum. “Nah, sekarang kau seorang diri anak manis” berkata anak muda itu setelah Kiai Danatirta tidak kelihatan lagi “Aku memang hanya memerlukan kau. Bukan ayahmu. Dua orang kawanku telah menunggumu. Mereka adalah orang-orangyang baik, yang akan memberimu apa saja, asal kau menjawab pertanyaan mereka dengan baik. Misalnya, tentang orang gemuk berkuda coklat itu. Dan tentang tetangga- tetanggamu yang kebetulan mendengar juga orang gemuk berkuda coklat itu berceritera” Arum tidak menjawab. Ia tidak memberikan kesan bahwa ia memiliki kelainan dari gadis-gadis biasa. Karena itu, maka iapun menurut saja perintah yang diber ikan oleh kedua orang yang mengambilnya itu. Dengan demikian, maka orang-orang itupun menjadi tidak mencur igainya lagi, bahwa ia akan melawan, atau Setidak- tidaknya akan melarikan dir i. Anak muda yang mengacukan pisaunya itu telah menyarangkannya kembali. Namun demikian keduanya masih tetap berjalan sebelah menyebelah Arum. Di perjalanan itu Arumpun berusaha untuk menemukan jalan, agar ia dapat melepaskan diri dari keduanya. Arum sama sekali tidak tahu, sampai berapa jauh kemampuan kedua orang itu di dalam olah kanuragan. Namun yang jelas bagi Arum, bahwa anak-anak muda itu tentu membawa senjata. Setidak-tidaknya pisau-pisau belati seperti yang diacukan ke lehernya. Dengan hati-hati Arum mencoba menyentuhkan tangannya kelambung salah seorang dari keduanya dengan berpura-pura kakinya terperosok sebuah lubang di tengah jalan. Dan ternyata sentuhan itu member ikan kesan kepadanya, bahwa sebenarnyalah senjata anak-anak muda itu bukan hanya sebuah pisau belati kecil itu. di bawah kainnya terdapat sarung sebilah pisau belati yang lebih besar, bahkan hampir sebuah pedang kecil yang pendek. Sedang hulunyapun disembunyikannya di bawah bajunya yang longgar. Dengan demikian Arumpun menjadi bimbang. Apakah ia akan dapat berbuat sesuatu. Apalagi kedua orang itu berkata,bahwa masih ada dua orang kawannya lagi yang sedang menunggu. Di sepanjang langkahnya Arum mencoba memperhitungkan, apakah yang sebaiknya dilakukan. Jika kemudian mereka sampai kepada kedua orang yang menunggu itu, maka ia akan mengalami kesulitan yang lebih besar untuk melepaskan dir i. “Tetapi bagaimanakah akibatnya jika kedua orang ini memiliki kemampuan yang tinggi?“ Arum bertanya kepada diri sendiri. Dan pertanyaan itupun disusul pula oleh pertanyaan lain “Namun tentu tidak akan lebih baik jika aku berada di antara orang-orang yang tidak aku kenal dan berjumlah lebih banyak lagi. sehingga aku t idak dapat membayangkan apa yang akan terjadi atas diriku nanti” Arum terkejut ketika tiba-tiba saja salah seorang anak muda yang berjalan di sisinya itu menggamitnya sambil berkata “Jangan risau. Ayahmu pulang dengan selamat. Dan kaupun akan selamat jika kau tidak berbohong” Arum mencoba memandang wajah anak muda itu. Namun kepalanya di palingkannya ketika anak muda itu menyentuh pipinya “Kau t idak akan mengalami apapun juga, justru karena kau cantik. Bahkan mungkin kau akan mendapat perlakuan khusus dari mereka” Arum menjadi semakin muak kepada anak muda itu. Sepercik penyesalan telah meraba hatinya. Jika ia tidak menyebut orang gemuk berkuda coklat, maka ia tidak akan mengalami nasib serupa itu. “Tidak“ Ia menggeram di dalam hati “Aku tidak mau sampai kepada dua orang lain lagi yang tidak aku kenal. Apapun yang akan terjadi, aku harus berusaha. Jika kedua orang ini ternyata memiliki kemampuan yang tinggi, biarlah eku mat i di sini. Itu lebih baik daripada aku akan jatuh keta-ngan orang-orang yang tentu akan memeras keteranganku dengan segala macam cara. Dan bahkan mungkin dengan cara yang paling buas yang dapat dilakukan atas seorang perempuan” Dan ternyata Arumpun telah berketetapan hati. Karena itu, ia tidak mau menunggu lebih lama lagi. Apalagi saat itu mereka masih berjalan di jalan persawahan yang agak jauh dari padesan. “Aku harus berbuat sesuatu sebelum aku sampai keujung bulak itu” katanya di dalamhati. Arumpun kemudian mempersiapkan dir inya. Ia telah mempelajari ilmu olah kanuragan sampai tuntas, meskipun masih perlu dikembangkan lebih jauh. Namun dengan bekal yang ada, ia harus mempertahankan dir inya dari kebuasan orang-orang yang tidak dikenalnya itu. Untuk beberapa saat kemudian Arum masih saja berjalan dengan kepala tunduk. Dibiarkannya saja anak muda itu mengganggunya, bahkan kadang-kadang menyentuhnya. Namun adalah di luar dugaan mereka, bahwa tiba-tiba saja Arum meloncat selangkah surut, dan mempersiapkan dir inya untuk menghadapi setiap kemungkinan. Kedua anak-anak muda itu terkejut bukan kepalang. Dengan serta merta merekapun kemudian berhenti dan berpaling. Namun Arum tidak member inya kesempatan sama sekali, justru karena ia tidak mengerti tingkat ilmu dar i kedua orang itu. Tetapi Arum sudah memutuskan bahwa ia akan berjuang dengan sekuat tenaga sampai kemungkinan yang terakhir. Jika ia gagal, dan kedua anak muda itu berhasil membawanya, maka ia tentu akan memilih mati. Ia pernah mendengar bagaimana kumpeni atau orang-orangnya berbuat terhadap orang-orang yang dicurigai dan t idak disenanginya. Apalagi ia adalah seorang gadis.Sebelum kedua orang itu sempat berbuat sesuatu, maka Arumpun sudah memulainya. Ia berusaha untuk lebih dahulu melumpuhkan seorang dari antara mereka, karena dengan demikian ia akan berhadapan dengan seorang saja lagi. Setidak-tidaknya ia akan dapat mengurangi kemampuan yang seorang itu. Karena itulah, maka sebelum keduanya sadar sepenuhnya akan persoalan yang dihadapinya, sebuah serangan telah meluncur menghantam dada salah seorang dari kedua anak muda itu. Serang kaki yang lurus mendatar, sehingga karena itu maka anak muda yang tidak menduga akan mengalami serangan yang demikian keras dan cepatnya itu, tidak sempat berbuat apa-apa. Yang terdengar kemudian adalah hentakan yang keras di dada anak muda itu disusul oleh keluhan yang tertahan. Kemudian anak muda itu terhuyung-huyung dan jatuh terlentang. Peristiwa itu benar-benar telah mengejutkan anak muda yang seorang lagi. Namun dengan gerak naluriah iapun segera bersiap dan bahkan senjatanya telah tergenggam di tangannya. Seperti dugaan Arum, sebuah pedang yang pendek sekali, namun cukup berbahaya bagi lawannya. Menghadapi senjata pendek itu Arum harus berhati-hati. Tetapi ia sempat melihat dengan sudut matanya, anak muda yang seorang itu menggapaikan tangannya dan perlahan- lahan mencoba bangkit. Tetapi demikian anak itu berhasil duduk bersandar tangannya, sekali lagi Arum menyerangnya dengan kakinya tepat mengenai pelipisnya. Sekali lagi terdengar anak muda itu mengaduh, namun kemudian iapun jatuh pingsan. Tetapi berbareng dengan itu, anak muda yang lain, yang telah siap dengan senjatanya, menyadari sepenuhnya apayang sedang dihadapinya. Karena itu, maka iapun segera menyerang dengan pedang pendeknya. Arum sempat mengelak. Sebuah loncatan yang panjang telah melemparkannya agak jauh dari lawannya, sehingga ia sempat mempersiapkan dirinya menghadapi lawannya yang bersenjata itu. Namun dalam pada itu terasa angin malam menyentuh kakinya sampai kepaha. Ternyata bahwa kain panjangnya telah tersobek pada serangannya yang pertama hampir sampai ke ikat pinggangnya. “Aku tidak sempat memakai pakaian khususku” desisnya di dalam hati “Tetapi apa boleh buat. Lebih baik kainku yang tersobek daripada kulitku” Demikianlah keduanya kemudian terlibat di dalam perkelahian yang sengit. Anak muda itu harus mengakui, bahwa gadis yang dihadapinya saat itu bukannya gadis kebanyakan. Dan itu adalah di luar dugaannya. Arum yang tidak ingin-mengalami perlakuan yang tidak adil atas dirinya, dan bahkan kemudian berkembang bukan saja sekedar atas dirinya, tetapi atas orang-orang di padukuhannya, telah bertempur sekuat-kuatnya. Meskipun lawannya menggenggam sebuah pedang pendek, namun Arum tidak mengalami terlampau banyak kesulitan. Bahkan ia masih berhasil membuat lawannya itu menjadi bingung. Kadang-kadang Arum meloncat surut, namun kemudian melingkar dan menyerang menyusup ayunan pedang pendek lawannya. Tetapi lawannya benar-benar seorang yang licik di dalam kesulitan ia mencoba mencari jalan lain untuk menundukkan lawannya. Karena itu maka katanya kemudian “Kau memang luar biasa Arum. Aku tidak menyangka bahwa di Jati Sari ada seorang gadis yang lengkap seperti kau. Seorang gadis yang bukan saja cantik dan manis, tetapi juga seorang gadis yang memiliki kemampuan bertempur yang luar biasa”Arum t idak menghiraukannya. Ia masih tetap bertempur dengan sengitnya sehingga lawannya itu terdesak beberapa langkah. “Arum, kenapa kalungmu tidak kau pakai? Kau tentu akan bertambah cantik dengan kalung merjanmu” Arum menjadi muak. Dan tiba-tiba saja ia menjawab “Kalung yang tidak berharga itu sudah aku ber ikan kepada orang lain” “Kenapa?“ “Aku tidak memerlukannya. Aku menerimanya sekedar untuk menyenangkan hatimu. Tetapi ternyata kau adalah orang yang paling memuakkan” “Ah” Orang itu berdesah. Tetapi suaranya terputus karena serangan Arumyang semakin dahsyat. Ternyata bahwa kalung merjan itu tidak member ikan kesan apapun bagi Arum. Sejak gadis itu memilih kalung merjan, ia sudah mempunyai penilaian yang lain terhadap Arum. Ternyata bahwa tidak seperti gadis lain-lainnya, Arum tidak memer lukan kalung itu. “Kenapa kau tidak senang akan kalung merjan itu?” anak muda itu masih mencoba bertanya. Arum tidak menjawab. Ia berusaha untuk menghancurkan lawannya. Apalagi mereka sudah tidak berada di padukuhannya lagi sehingga jika bekas dari peristiwa itu diketemukan, maka tetangga-tetangganya tidak akan mengalami akibat yang parah karena hilangnya kedua orang itu. Karena kalung itu sama sekali tidak mempengaruhi Arum, maka orang itu mencari akal yang lain. Tiba-tiba saja ia tersenyum sambil berkata “Arum, aku hampir gila kau buat. Mungkin kau sengaja mempengaruhi agar aku tidak dapat bertempur seperti seharusnya. Jika aku berkelahi melawanperampok-perampok anak buah Raden Mas Said, aku tentu sudah membunuhnya. Tetapi sekarang yang aku lawan adalah seorang gadis yang cantik, yang tidak menutup tubuhnya dengan lengkap” Dada Arum bergetar mendengar kata-kata itu. Tanpa sesadarnya sebelah tangannya berusaha mengatupkan kainnya yang sobek sampai ke ikat pinggangnya. “Aku tidak dapat berbuat banyak atasmu Arum. Tanpa banyak kesulitan kau akan dapat memenangkan pertempuran ini. Justru karena kau singkapkan kain panjangmu” “Gila“ Arum hampir berteriak. Tetapi kini setiap kali ia sibuk dengan kainnya yang sobek. Anak muda itu tertawa. Katanya “Apakah kau menghendaki aku menyerah? Tetapi apakah kau akan menjamin keselamatanku“ “Persetan” bentak Arum “Aku akan membunuhmu“ “Tetapi itu tidak jujur. Kau mempergunakan cara yang tidak kesatria” Arum menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan kadang- kadang ia menjadi bingung. Karena itu, sebelah tangannya menjadi seakan. terikat pada kain panjangnya, dan tata gerak kakinya tidak lagi selincah sebelumnya. Setiap kali anak muda itu menyebut seolah-olah ia telah berbuat sengaja, sehingga dengan demikian ia telah berbuat licik. Karena itulah, maka Arum tidak lagi dapat memusatkan perhatiannya kepada lawannya. Bahkan kadang-kadang ia menjadi bingung, sehingga pedang lawannya menjadi semakin berbahaya baginya. Setiap kali dadanya berdesir jika ia mendengar lawannya tertawa dan menunjuk kainnya yang sobek itu dengan ujung pedangnya. “Gila” teriak Arum kemudian “Kaulah yang licik”“Kenapa aku? Aku tidak berbuat apa-apa. Bahkan aku bersedia menyerah jika kau menghendaki. Bukan karena kemampuanmu yang tinggi, tetapi justru karena kain panjangmu yang sengaja kau sobek sampai ke ikat pinggang itu” “Gila, gila, gila” bagaimanapun juga Arum adalah seorang gadis. Itulah sebabnya maka kelemahannya sebagian besar ada pada dirinya sendiri. Pada perasaannya. Dan lawannya telah mempergunakan sebaik-baiknya. Bahkan hampir menangis Arum berteriak “Kau pengecut. Kau tidak berani bertempur dengan jujur?” “Kaulah yang tidak jujur Arum” terdengar anak muda itu tertawa “ketika aku melihat kau di pategalan, aku sudah hampir menjadi gila. Apalagi sekarang, dengan caramu yang berhasil itu, aku benar-benar tidak mampu melawanmu” “Tutup mulutmu, tutup mulutmu. Kita sedang bertempur” Justru terdengar suara tertawa. Bukan saja tertawa kemenangan karena Arum menjadi semakin terdesak. Tetapi tertawa licik yang lambat laun akan dapat menghancurkan pertahanan di dalam dada Arum. Sejenak Arum bagaikan kehilangan akal. Ia hanya sekedar bertahan dan menghindar. Ia sama sekali tidak lagi dapat menyerang dengan garang, apalagi mempergunakan kakinya yang lincah. Bahwa Arum kemudian benar-benar terdesak, sama sekali bukan karena ia tidak mampu mengimbangi ilmu lawannya, tetapi semata-mata karena perasaannya sebagai seorang gadis padepokan yang hidup dalam lingkungan kecil. Anak muda itu merasa bahwa ia pasti akan berhasil menguasai Arum dengan caranya. Bahkan kemudian tumbuh pula di dalam hatinya, keinginannya untuk menangkap Arum hidup-hidup.“Tetapi ia akan dapat menjadi liar dan berbahaya” berkata orang itu di dalam hatinya. Tetapi lalu “Aku dapat mengikat tangannya dan membiarkannya berpakaian tidak lengkap seperti itu” Sebenarnyalah bahwa semakin lama Arum menjadi semakin terdesak. Bahkan sekali-sekali pedang lawannya bagaikan akan menyentuh tubuhnya. Dalam keadaan yang semakin terdesak itu Arum menjadi sangat gelisah. Namun ia masih tetap sadar, bahwa jika ia dapat ditangkap oleh orang itu, ia akan mengalami nasib yang parah. Karena itu, di dalam kesulitan yang semakin menghimpitnya, Arum mencoba mempertimbangkan apa yang sebaiknya dilakukan. Akhirnya Arum memutuskan bahwa baginya akan lebih baik bertempur dalam pakaiannya yang compang camping daripada tertangkap oleh orang yang memuakkannya itu. “Aku harus menghancurkannya sama sekali, agar ia t idak meninggalkan bekas yang selalu memanaskan hati jika aku pada suatu saat bertemu dengan orang ini” berkata Arum di dalam hatinya. Dengan keputusannya itu, maka Arumpun kemudian menemukan keseimbangannya kembali. Ia mencoba mengkesampingkan perasaannya dan mempergunakan nalarnya. Jika ia masih selalu dibayangi oleh perasaan malu dan segan karena pakaiannya, maka ia pasti akan mendapatkan malu yang jauh lebih besar lagi. Sejenak kemudian anak muda itu terkejut. Aram tiba-tiba melepaskan sebelah tangannya yang selalu memegangi kainnya yang sobek sampai ke ikat pinggang. Dan tiba-tiba saja Arumtelah menemukan bentuk perlawanannya kembali.Sejenak anak muda itu dicengkam oleh kecemasan. Namun kemudian ia berusaha mempengaruhi Aram dengan cara yang sama. Tetapi Aram tidak menghiraukannya. Bahkan ia berkata hampir di luar sadarnya “Aku tidak peduli. Malam cukup gelap untuk melindungi aku” Jawaban itu mengejutkan lawannya. Apalagi ketika ia melihat Arum semakin cepat bergerak. Bukan saja tangannya, tetapi juga kakinya. “He, kau tidak mengenal malu. Ternyata kau bukan seorang gadis yang baik seperti yang aku duga“ Anak muda itu hampir berteriak. Tetapi Arum menjawab “Memang aku bukan seorang gadis yang baik seperti yang kau duga” Anak muda itu menggeram. Ia kini merasa bahwa caranya untuk mempengaruhi Arum sudah tidak dapat dipercaya lagi. Agaknya Arum tidak lagi menghiraukan kainnya yang sobek hampir sampai ke ikat pinggang. Karena itu, maka anak muda itu menjadi gelisah. Meskipun ia bersenjata, tetapi ia tidak dapat menguasai Arum sama sekali. Bahkan sekali-sekali Arum berhasil menyusup di antara ayunan pedangnya, dan menyerangnya dengan dahsyatnya. Anak muda itu mengaduh tertahan ketika kaki Arum berhasil menyentuh lambungnya. Kemudian tangan gadis itu mengenai pelipisnya sehingga ia terdorong beberapa langkah surut,“Aku akan dikalahkannya” desis anak muda itu di dalam hati. Karena itu, ia harus melepaskan niatnya untuk menangkap Arum untuk dir inya sendiri. Ternyata ia lebih menyukai nyawanya sendiri daripada Arum. Dalam keadaan yang paling sulit, maka terdengar anak muda itu bersuit nyaring. Suaranya bagaikan bergema memantul pada dinding-dinding padukuhan. Dada Arum menjadi berdebar-debar karena ia mendengar suara suitan yang serupa di kejauhan. Agaknya kawan anak muda itulah yang menjawab isyarat Arum. “Mereka pasti akan datang” berkata Arum di dalam hatinya. Dengan demikian, kembali Arum menjadi gelisah. Bukan karena pakaiannya yang sobek, tetapi karena di arena itu tentu akan hadir beberapa orang laki-laki. Laki- laki yang kasar, buas dan liar. Sejenak Arum mencoba memecahkan cara yang paling baik untuk melawan. Sudah barang tentu ia tidak mau menyerah kepada orang-orang yang buas dan liar itu. “Apakah aku harus melarikan diri?“ bertanya Arum kepada diri sendiri. “Agaknya aku dapat menempuh cara itu. Sama sekali bukan karena aku menjadi licik dan pengecut. Tetapi perkelahian yang gila ini membuat aku ngeri. Bukan oleh kematian tetapi oleh persoalan lain yang lebih gila dari mati” Namun sebelum Arum sempat mengambil sikap, maka ia sudah melihat dua orang berdiri di pematang sambil bertolak pinggang. “He, apa yang kau lakukan?“ bertanya salah seorang dari mereka. “Memetik bunga. Tetapi agaknya bunga ini berduri”“Dan kau tidak dapat mengatasinya” “Aku ingin bunga ini tetap cantik” Kedua orang yang berdiri di pematang itu tertawa. Tiba- tiba salah seorang dari mereka bertanya dengan nada yang tegang “He, apakah kawanmu yang terbaring itu?“ “Ya” “Mati?“ “Aku tidak tahu” “Huh, ternyata kalian tidak dapat berbuat apa-apa melawan orang perempuan. He, agaknya di Jati Sari ada perempuan yang aneh” “Inilah perempuan yang aku katakan itu. Ialah yang menerima pemberianku dua untai kalung merjan” “Dan kini ia melawanmu” Anak muda yang sedang bertempur melawan Arum itu tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat membantah, bahwa serangan Arumbenar-benar menakjubkan. Kedua orang yang berada di pematang itupun menjadi heran pula. Ternyata bahwa gadis itu memiliki kemampuan yang tidak dapat diabaikan. Sejenak kedua orang yang berdiri di pematang itu masih menilai, betapa berbahayanya gadis Jati Sari itu. Sehingga mereka sampai pada suatu kesimpulan, bahwa mereka tidak akan dapat membiarkan seorang kawannya itu bertempur seorang diri. “Kita harus ikut campur” desis salah seorang dar i mereka. Arum menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat mencegah. Ia sadar bahwa lawan-lawannya memang orang- orang yang sangat licik" dan tidak tahu malu. sehingga karenaitu, tidak akan ada gunanya menggugat kejantanan dan cara perang tanding seperti seorang kesatria. Yang dipikirkan Arum adalah bagaimana ia akan mampu melawan ketiga orang itu sekaligus. Karena mereka tentu akan segera turun ke arena. Ketika Arum melihat salah seorang lawannya yang terbaring itu maka tiba-tiba saja ia teringat, bahwa orang itupun tentu bersenjata seperti kawannya. Karena itu, tiba-tiba saja ia menyerang lawannya dan mendesaknya menjauh. Kemudian dengan tiba-tiba ia meloncat kesisi orang yang terbaring itu. Sebelum seorangpun dapat mencegahnya, ternyata Arum sudah mencabut sehelai pedang pendek. Dengan pedang pendek itu Arum bertekad untuk melawan ketiga orang lawannya meskipun ia sadar, bahwa ketiga lawannya itu bukannya lawan yang r ingan. “Apaboleh buat. Aku harus bertempur. Tetapi menghadapi orang-orang yang licik, aku tidak perlu mempertahankan kejantanan. Jika perlu aku dapat melarikan dir i, bahkan berteriak sekalipun” berkata Arumdi dalam hatinya. Demikianlah, maka dengan pedang pendek itu Arum telah siap menghadapi segala kemungkinan. Menghadapi ketiga orang laki- laki yang bukan orang kebanyakan. Tetapi ia sudah bertekad apapun yang terjadi, ia tidak akan menyerah. Lebih baik lari atau mati sama sekali. Ternyata Arum tidak usah menunggu terlalu lama. Kedua orang itupun perlahan-lahan mendekati arena dan salah seorang menggeram “Kita akan ikut dalam permainan yang menyerangkan itu” Arum sadar sepenuhnya, bahwa ia harus memusatkan segenap perhatian dan kemampuannya atas ketiga lawannya. Ia tidak boleh terganggu oleh keadaan dir inya sendiri.Sekali-sekali anak muda yang bertempur pertama kali melawan Arum masih mencoba mengganggunya karena kainnya yang sobek. Dan agaknya kedua orang kawannya yang kemudian berada di dalam arena itupun segera tertarik dan ikut pula memperolok-olokkannya. Tetapi Arum benar- benar tidak peduli lagi. Ia sudah siap bertempur dengan sepenuh tenaga. Demikianlah sejenak kemudian Arum memang harus bertempur melawan tiga orang sekaligus. Ternyata bahwa ia benar-benar harus memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Lawan-lawannya, yang meskipun harus juga berusaha keras untuk menundukkan Arum, ternyata semakin lama merasa, bahwa mereka akan berhasil. Meskipun sekali-sekali mereka terkejut melihat kecepatan bergerak Arum dan bahkan serangan-serangannya kadang-kadang di luar dugaan, tetapi mereka bertiga dapat bekerja bersama sebaik-baiknya untuk memancing tenaga Arumtertumpah seluruhnya. “Gadis yang luar biasa ini akan segera menjadi lelah. Dan jika ia sudah tidak mampu lagi berbuat selincah itu, maka ia akan dengan mudah ditundukkan“ berkata salah seorang dari mereka. Arum menggeram, la sadar sepenuhnya, bahwa ia memang telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, sehingga dengan demikian, maka ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Tetapi jika ia tidak mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya, ia tidak akan berhasil mengimbangi kemampuan ketiga orang lawannya. Namun ternyata perhitungan ketiga orang itu meleset. Setelah mereka bertempur beberapa lamanya, tenaga Arum nampaknya sama sekali belum susut. Anak Jati Aking yang sudah membiasakan diri berlatih untuk waktu yang panjang itu masih tetap dapat mempertahankan keseimbangan tubuh dan ilmunya.“Apakah anak ini kepanj ingan setan” desis salah seorang lawannya yang menjadi sangat heran melihat kemampuan dan ketahanan tubuh Arum. Tetapi mereka harus menghadapi kenyataan itu. Dan mereka harus bertempur terus. Dalam pada itu, anak muda yang semula pingsan itupun mulai mengejapkan matanya. Udara malam yang segar, dan angin yang basah telah mengusap wajahnya. Kepalanya yang terasa akan pecah itupun berangsur-angsur menjadi ringan dan kesadarannya perlahan-lahan menjadi pulih kembali. Ketika ia mengangkat kepalanya, dilihatnya gadis yang menyerangnya dengan tiba-tiba itu masih bertempur melawan tiga orang. Dan ketiga orang itu adalah kawan-kawannya. Anak muda itu menarik nafas. Tetapi hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia meraba lambungnya. Pedangnya ternyata sudah tidak ada. Tetapi di lambungnya yang lain masih terselip sebuah pisau belati. Meskipun pisau itu terlampau kecil, namun itu akan lebih baik daripada ia tidak bersenjata sama sekali. Sejenak ia masih tetap berbaring diam. Ia mencoba memulihkan kekuatannya dan segenap kesadarannya. Baru sejenak kemudian ia mulai bangkit. Dengan pisau belati di tangan ia melangkah mendekati arena perkelahian itu. Meskipun dadanya masih terasa sakit, tetapi ia sudah merasa mampu untuk ikut di dalam perkelahian itu bersama dengan tiga orang kawannya. Arumlah yang kemudian menjadi semakin berdebar-debar. Kini ia harus bertempur melawan empat orang sekaligus. Meskipun ilmunya cukup tinggi, tetapi keempat orang yang sudah mendapat kepercayaan sebagai petugas-tugas sandi itu ternyata memiliki ilmu yang cukup pula, sehingga untukmelawan keempatnya bersama-sama merupakan pekerjaan yang sangat berat baginya. Sebenarnya kelemahan hati Arum justru dibebani oleh perasaannya sebagai seorang gadis. Ia masih belum mempunyai pengalaman sama sekali di dalam tata kehidupan yang luas di luar padukuhannya. Itulah sebabnya ia selalu cemas bahwa ia akan dapat tertangkap hidup dan mengalami perlakuan yang parah. Kecemasannya itulah yang kemudian mendorong Arum semakin dekat kepada keputusan untuk menghindarkan dirinya dari arena dan mendekati padukuhan. Yang kemudian paling penting baginya adalah menghindarkan dirinya dari tangan keempat lawannya yang menakutkan itu. Justru karena ia seorang gadis, dan lawannya adalah empat orang laki- laki yang seakan-akan menjadi semakin lama semakin buas. Bulu-bulu tengkuk Arum meremang ketika ia mendengar salah seorang dari keempat lawannya itu berkata “Menyerah sajalah anak manis. Kami akan memperlakukan kau sebaik- baiknya” “Kubunuh kau” bentak Arum yang mulai disentuh lagi oleh kebingungannya menghadapi Laki- laki itu. Terdengar suara tertawa. Dan keempatnya itupun mengepung Arum semakin rapat. Namun demikian mereka sebenarnya masih dihinggapi oleh perasaan kagum dan bahkan cemas, karena Arum masih saja bertempur dengan gigihnya. Nafasnya masih tetap teratur, meskipun kadang- kadang Arumsudah harus menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ternyata bahwa tenaga Arumpun mulai susut. Keempat orang lawannya itupun menjadi semakin yakin, bahwa mereka akan segera dapat menguasai gadis itu sepenuhnya.Arum yang merasa bahwa ia tidak dapat lagi mempertahankan tenaga dan kemampuannya karena nafasnya mulai mengganggu, menjadi semakin cemas. Bahkan kemudian ia menjadi agak bingung. Ia sama sekali belum memiliki pengalaman untuk menyelesaikan kesulitan serupa itu. Bahwa ia harus menghindari dari tangan keempat orang itulah yang selalu dipikirkannya, atau mati sama sekali. Kegelisahan yang semakin mengganggu Arum justru mempercepat kesulitannya sendir i. Beberapa kali ia sudah membuat kesalahan sehingga senjata lawannya hampir saja mengenainya. Sedang serangan-serangannya semakin jauhdari sasaran. Dengan demikian Arumpun menjadi semakin terdesak. Keseimbangannya perlahan-lahan semakin menjadi kisruh. Dan bahkan kemudian Arum benar-benar sudah berada di dalam kesulitan. Lawan-lawannya melihat kesulitan pada gadis yang bernama Arum itu. Karena itu, maka tanpa mereka bicarakan sebelumnya, seolah-olah mereka mempunyai niat yang sama. Keempat orang itupun kemudian mengepung Arum semakin rapat dan berusaha agar gadis itu tidak dapat lagi menghindar dari tangan mereka. Arum mengumpat-umpat di dalam hati. Namun ia kemudian bertekad untuk mati saja, karena agaknya ia tidak akan berhasil meloloskan dir inya dari kepungan itu. Dalam puncak kesulitan itu, tiba-tiba Arum dikejutkan oleh suara tertawa. Bukan dari keempat orang yang mengepungnya. Tetapi suara itu agak jauh dari arena perkelahian di tengah bulak itu. “Kau tidak dapat ingkar lagi Arum” terdengar suara disela- sela suara tertawa itu. Dada Arum menjadi semakin menggelepar. Agaknya kawan-kawan orang itu berdatangan semakin banyak.Tetapi ternyata bukan Arum saja yang terkejut mendengar suara itu. Keempat orang yang mengepungnya itupun agaknya terkejut pula sehingga seakan-akan merekapun berhenti menyerang dan berpaling kearah suara itu. Dan mereka mendengar suara itu lagi dari dalam kegelapan “Nah, sekarang aku melihat sendir i, bahwa padepokan Jati Aking benar-benar merupakan sebuah padepokan yang pantas dikagumi. Aku tidak akan heran bahwa Raden Juwiring dan Buntal dapat bertempur seperti seekor banteng terluka. Tetapi yang sekarang aku lihat adalah kau. Arum” Arum menjadi semakin bingung. Namun kemudian di dalam kegelapan ia melihat bayangan dua orang berjalan di pematang. Yang seorang, yang berjalan di depan adalah seorang yang bertubuh tinggi tegap berdada bidang. Tiba-tiba Arum dapat mengenali suara itu setelah ia merenung sejenak. Hampir di luar sadarnya ia berteriak “Paman Sura” Orang bertubuh raksasa itu tertawa. Katanya “Ya. Aku Sura. Sudah lama aku melihat kau berkelahi. Tetapi aku sengaja membiarkan saja kau sampai pada puncak ilmumu. Ternyata empat ekor kelinci jantan yang merindukan seekor harimau betina ini akan menjadi sangat kecewa” “Siapa kau?“ tiba-tiba salah seorang dari keempat orang yang berkelahi melawan Arum itu bertanya lantang. Sura tertawa lagi. Ia kini menjadi semakin dekat dan dengan sebuah loncatan ia berdiri di pinggir jalan di tengah bulak itu. Keempat orang yang baru saja bertempur dengan Arum itu menjadi termangu-mangu. Mereka melihat seorang yang bertubuh raksasa berdiri sambil tertawa. “Siapa kau?“ salah seorang dari keempat orang itu mengulangi pertanyaan itu.“Kau tentu pernah mendengar ceritera Arum tentang seseorang yang berkuda coklat. Nah, itu adalah aku” jawab Sura. “Kau? Tetapi Arum menyebutnya seorang bertubuh gemuk” “Anak padukuhan adalah anak yang berpikir sederhana. Baginya tidak ada bedanya, apakah ia bertubuh gemuk atau bertubuh seperti aku ini” Keempat orang itu memandang Sura dengan tegang. Tubuh Sura bukan tubuh yang dapat disebut gemuk. Tetapi ia bertubuh besar seperti raksasa. “Nah, lebih baik kau bertanya kepadaku langsung dari pada kau bertanya kepada gadis itu. Mungkin kau t idak akan mengalami kenyataan yang sangat memalukan, bahwa empat erang laki- laki muda tidak dapat mengalahkan seorang gadis padesan yang bernama Arum, yang masih senang bermain pasaran di padepokannya” “Diam” bentak salah seorang dar i keempat orang itu. “He, kenapa kau membentak? Bertanyalah kepadaku apa yang kau kehendaki. Jangan kepada Arum” Sura berhenti sejenak, lalu “Mungkin kau ingin mendapat penjelasan siapakah yang pertama-tama membantah berita bahwa perampok-perampok yang kadang-kadang membunuh, dan yang di antara mereka telah berhasil dibunuh oleh prajur it Surakarta dan kumpeni adalah anak buah Raden Mas Said. Bukankah begitu? Baiklah, aku sajalah yang menjawab. Tentu akan lebih jelas dari Arum karena akulah yang disebutnya orang gemuk berkuda coklat“ “Cepat, katakan “Anak muda yang member i merjan Arum itulah yang kemudian membentaknya. “Aku mengikut i kau sejak siang tadi, sejak kalian membagikan kalung merjan kepada gadis-gadis Jati Sari”“Persetan, aku ingin dengar jawabmu. Siapakah kau dan apakah yang sudah kau katakan kepada orang-orang Jati Sari tentang perampok-perampok itu” “Nah, pertanyaan itu lebih baik” “Cepat, jawablah pertanyaan itu” “Kau selalu tergesa-gesa. Baiklah. Namaku Sura. Tentu kau sudah mendengar Arum memanggil namaku. Yang aku katakan kepada orang Jati Sari adalah, bahwa ceritera tentang perampok itu tidak benar. Anak buah Raden Mas Said bukan perampok. Mungkin memang ada satu dua di antara kami yang merampok. Tetapi itu adalah orang-orang gila yang harus kami singkirkan dari antara kami. Tetapi yang lebih gila dari mereka adalah pengkhianat-pengkhianat seperti kau. He, berapa upah yang kau terima, sehingga kau bersedia menjual keterangan tentang Jati Sari kepada kumpeni itu?“ “Tutup mulutmu“ Orang yang tertua di antara keempat orang itu membentak “Kami adalah prajur it-prajurit yang setia. Kami berjuang untuk menegakkan wibawa Surakarta” Sura tertawa. Katanya “Baiklah. Jika demikian, aku harus member ikan keterangan lebih banyak lagi tentang perampok- perampok itu. Sebenarnyalah bahwa tidak ada hubungan apapun antara perampok dengan pasukan Raden Mas Said yang berjuang untuk mengusir kekuasaan orang asing itu. Nah, apakah sudah jelas? Itulah yang aku ceriterakan kepada orang-orang Jati Aking di sawah. Akulah orangnya yang berkuda coklat itu, kau dengar?“ Sejenak keempat orang itu termangu-mangu. Arumpun menjadi bingung. Ia merasa sekedar berbohong ketika ia menyebut orang gemuk berkuda coklat. Tetapi karena ia sudah menceriterakan hal itu kepada Sura, maka Sura agaknya berusaha mengambil alih ceritera itu daripadanya. “Apakah kau juga anak buah Raden Mas Said?““Ya. Aku adalah anak buah Raden Mas Said. Karena itu aku tahu pasti, bahwa kau sedang berusaha menyebarkan kabar bohong agar rakyat Surakarta membenci Raden Mas Said. Tetapi agaknya kau tidak akan berhasil, karena perjuangan kami yang tidak mengenal menyerah ini kami landasi dengan suara hati rakyat yang sebenarnya” “Persetan. Jika demikian, sepantasnya kaulah yang harus dibawa dan dihadapkan kepada kumpeni” Sura masih saja tertawa. Katanya “Baiklah. Tetapi sebaiknya biarlah kumpeni saja yang datang kepada kami dan menangkap kami. Bukan kau” “Jangan sombong. Kami telah mendapat kepercayaan untuk menangkap orang yang mengacaukan kebijaksanaan pemerintahan Surakarta sekarang ini. Karena itu, menyerahlah. Kalian akan kami tangkap” Sura tertawa semakin keras. Katanya “Sebaiknya kau bercermin pada tengkukmu. Mana mungkin kau akan membawa kami. Sedangkan seorang gadis padepokan saja telah berhasil mengacaukan per lawanan kalian berempat” Sura berhenti sejenak, lalu “Nah. kalian dapat menghitung. Aku datang berdua, sedang Arum masih tetap berada di sini. Tentu kau akan dapat membuat perbandingan. Meskipun aku tidak sekuat anak-anak Jati Aking, namun aku akan dapat membantunya, mengganggu pemusatan pematian kalian, sehingga seorang demi seorang kalian akan dibantai di sini oleh Arum“ Sura berhenti sejenak, lalu “eh. maksudku, kalian akan dapat dilumpuhkannya dan aku akan membawa kalian menghadap Raden Mas Said, jika Arumtidak berkeberatan” “Persetan“ Orang-orang itu menggeram. Namun mereka telah menyiapkan dir i mereka untuk melawan orang yang menyebut dir inya bernama Sura dan mengaku sebagai anak buah Raden Mas Said itu.Namun demikian, sebenarnyalah telah timbul kecemasan di dalam hati keempat orang itu. Melawan Arum seorang diri mereka tidak dapat segera mengalahkannya. Apalagi kini datang dua orang yang akan membantunya. Betapapun lemahnya kedua orang itu, namun kehadiran mereka tentu akan menambah kekuatan pada pihak Arum. Apalagi menilik bentuk dan sikap orang yang menyebut dir inya bernama Sura itu, maka rasa-rasanya bulu tengkuk orang-orang itu menjadi meremang karenanya. Tetapi tidak ada jalan lain bagi mereka. Jika mereka tertangkap oleh anak buah Raden Mas Said, maka nasib merekapun akan menjadi sangat buruk. Karena itu, maka keempat orang itupun telah mempersiapkan dir i mereka untuk menghadapi segala kemungkinan. “Ki Sanak” bertanya Sura kemudian “Apakah t idak ada niat pada kalian untuk menyerah saja? Kalian akan mengalami perlakuan dan nasib yang lebih baik daripada jika kalian memberikan terlalu banyak perlawanan. Yang dapat kalian berikan hanyalah sekedar memperpanjang waktu, dan membuat hati Arum semakin terbakar. Jika gadis Jati Aking itu kemudian menjadi benar-benar marah, maka kalian akan menyesal” “Jangan banyak bicara” bentak salah seorang drai keempat lawan Arum. “Baiklah, jika demikian, aku tidak akan berbicara lagi”Dada keempat orang itu menjadi berdebar-debar. Sura melangkah perlahan-lahan maju ke depan. Dengan suara yang datar ia berkata “Arum, aku minta ij in untuk turut dalam permainan ini. Kau tidak berkeberatan?“ “Tentu tidak paman” jawab Arum. “Baiklah, Marilah kita berpencar. Kita akan mengurung keempatnya. Bukan kitalah yang harus mereka kurung” Hampir di luar sadarnya, Arumpun menjauhi Sura. Demikian seorang kawan Sura yang hampir tidak mengucapkan sepatah katapun itu. Sejenak kemudian, maka mereka semuanya yang ada di bulak itu telah menggenggam senjata masing-masing. Sesaat lamanya mereka masih bergeser beberapa langkah. Namun tiba-tiba Sura meloncat maju menyerang sambil mengayunkan goloknya yang besar. Lawannyapun telah siap menyambutnya, sehingga dengan demikian maka merekapun segera terlibat di dalam perkelahian yang sengit. Demikian pula kawan Sura yang seorang itu. Iapun segera terjun di dalam perkelahian itu. Yang masih termangu-mangu justru Arum sendir i. Sejenak ia. melihat perkelahian itu. Sura dan seorang kawannya masing-masing harus berkelahi melawan dua orang. Dan Arum tidak mengerti kenapa ia sendir i tidak mendapatkan lawan dan seolah-olah lawan-lawannya tidak menghiraukannya lagi. “Agaknya mereka telah benar-benar kebingungan” berkata Arumdi dalamhatinya. Tetapi Arum sendiri tidak segera berbuat apa-apa. Bahkan seakan-akan ia melihat pertunjukan yang sangat menarik baginya. Sejenak ia menunggui perkelahian itu. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya. Kadang-kadang tangannya menghentak-hentak. Dan bahkan sekali-sekali ia memekik diluar sadarnya, seperti kebanyakan gadis-gadis yang sedang dicengkam ketegangan. Namun kemudian Arum menjadi heran melihat perkelahian itu. Ia sendiri tidak yakin kepada penglihatannya. Ternyata Sura dan seorang kawannya yang masing-masing harus melawan dua orang itu mengalami kesulitan. “Aneh” berkata Arum “Aku sendiri dapat melawan mereka bersama-sama meskipun akupun kemudian mengalami kesulitan” Sura bagi Arum adalah orang yang luar biasa. Yang memiliki kekuatan yang besar dan kemampuan berkelahi yang tinggi. Tetapi ternyata bahwa melawan dua orang petugas sandi itu, ia harus berjuang sekuat-kuatnya, meskipun tampak juga di dalam perkelahian itu bahwa tenaganya memang luar biasa. Jika perkelahian itu dibiarkan saja, belum tentu bahwa Sura akan segera dapat menyelesaikannya dengan baik. Namun dengan demikian. seolah-olah Arum dihadapkan pada sebuah cermin tentang dir inya sendiri. Ternyata bahwa kemajuan yang pernah dicapai di dalam olah kanuragan sudah sedemikian jauhnya. Jika Sura memuj i kemampuannya, sama sekali bukannya suatu hal yang dibuat-buat. Ternyata bahwa menurut penilaiannya di dalam perkelahian itu, ilmunya sendiri telah berada di atas kemampuan Sura. Demikianlah perkelahian itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Sura dan kawannya harus mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Dengan mengerahkan segenap kekuatannya Sura sekali-sekali berhasil mendesak lawannya. Jika ia mengayunkan pedangnya yang besar dengan sekuat tenaganya, maka kedua lawannya itu sama sekali tidak berani menangkisnya, sehingga mereka terpaksa berloncatan mundur.Akhirnya Arumpun menjadi jemu melihat perkelahian itu. Jika dibiarkannya, maka perkelahian itu akan berlangsung semalam suntuk, dan bahkan belum dapat dipastikan bahwa Sura akan dapat keluar dengan selamat. Demikian juga seorang kawannya itu. Karena itu, maka iapun kemudian mendekat sambil berkata “Paman Sura. Apakah paman masih ingin bertempur dengan cara ini semalamsuntuk?“ “Ah” terdengar Sura berdesah. Tetapi ia. masih sempat tertawa “Sudah aku katakan. Tentu aku tidak akan dapat mengimbangi kemampuan anak-anak Jati Aking” “Paman selalu memuj i” “Terus terang, aku mengalami kesulitan sedikit dengan kelinci ini” “Tutup mulut“ salah seorang lawannya membentak sambil menyerang dengan serunya, sehingga Sura terkejut karenanya. Namun kemudian diputarnya pedangnya yang besar itu sehingga lawannya itu tidak dapat mendekatinya lebih rapat lagi. Arum memekik kecil, karena iapun terkejut melihat serangan yang tiba-tiba itu. Tetapi kemudian ia tertawa kecil sambil berkata “Paman, apakah aku boleh ikut serta” “Ah, jangan bergurau Arum. Aku menjadi malu mendengar tawaranmu” Arum masih tertawa, sedang lawannyapun mengumpat- umpat t idak habis-habisnya. Tiba-tiba saja Arum merasa melihat suatu permainan yang mengasyikkan di dalam kejemuannya. Karena itu, maka iapun melangkah semakin dekat sambil berkata “Aku akan terjun. Malam sudah semakin larut, dan udara menjadi semakin dingin”Hampir di luar dugaannya, maka salah seorang lawan Sura itu menyahut “Sudah tentu, karena kau tidak mengenakan pakaian dengan baik” Arum mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia meraba kainnya dan menelakupkannya. Tetapi karena kain itu memang sudah sobek, maka setiap kali angin malam yang dingin telah menghembusnya. Namun sekali lagi Arum menemukan keseimbangan perasaannya kembali. Maka katanya “Bukan waktunya kau sebut-sebut lagi. Kita sudah membicarakannya sejak semula, dan agaknya sudah terlampau sering kau sebut-sebut” Jawaban itu membuat lawan-lawan Sura itu menjadi berdebar-debar. Sejenak kemudian Arum sudah berdir i di antara mereka yang sedang bertempur. Sekali-sekali ia masih disentuh oleh keragu-raguan, namun kemudian iapun mulai menggerakkan senjatanya. Lawannya sudah mengetahui betapa kemampuan gadis yang cantik itu. Karena itu, maka dua di antaranya melepaskan lawannya dan bertempur melawan Arum yang segera mulai menyerang salah seorang dari mereka. Namun dengan demikian akhir dari perkelahian itu sudah mulai terbayang. Keempat lawan Arum yang kini harus melawan tiga orang itu segera merasakan tekanan yang berat, sehingga debar di jantung merekapun menjadi semakin berdentangan. “Gadis ini benar-benar luar biasa” desis salah seorang dari mereka. Ternyata bahwa perkelahian itupun segera menuju keakhirnya. Kemampuan Arum benar-benar mengagumkan. Apalagi kini ia hanya melawan dua orang saja di antara keempat lawannya.Dalam pada itu Surapun segera berhasil menguasai seorang lawannya. Demikian pula kawannya. Sehingga dengan demikian, maka tidak ada kesempatan lagi bagi keempat orang itu untuk mengharap dapat memenangkan perkelahian itu. Namun ternyata bahwa mereka benar-benar bukan orang- orang jantan di dalam kesulitan itu, salah seorang lawan Arum ternyata berusaha untuk melarikan dir i, setelah ia mengumpankan kawannya sendiri dengan mendorongnya ke depan, sehingga hampir saja ia melanggar Arum yang terkejut. Tetapi Arum sempat menghindar. Bahkan ia masih sempat memukul orang yang terhuyung-huyung itu dengan sisi telapak tangan kirinya, sehingga orang itu justru terjerembab jatuh menelungkup. Bukan saja wajahnya yang mencium tanah, dan hidungnya yang membentur batu dan menjadi berdarah, tetapi ternyata pukulan Arum telah membuatnya pingsan. Kawannya, yang mendorongnya dengan sekuat tenaganya, untuk menghalang-halangi Arum agar ia mendapat kesempatan, segera berusaha melarikan dir i. Namun ternyata nasibnya justru lebih buruk dari kawannya yang pingsan itu, karena Arum yang marah tidak sempat berpikir panjang. Tiba-tiba saja ia melemparkan pedang pendeknya dengan sekuat tenaganya.Yang terdengar kemudian adalah pekik kesakitan yang melengking menyobek heningnya malam, seakan-akan menggetarkan dedaunan yang tidur dengan tenang di sebelah menyebelah jalan bulak itu. Arum sekilas melihat orang itu terhenti. Kemudian sejenak ia berdir i terhuyung-huyung, dan jatuh terjerumus ke dalam parit. di punggungnya masih menghunjam pedang pendek yang dilemparkan Arumdengan sekuat tenaganya. Tetapi Arum sendiri kemudian memekik sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sama sekali tidak sengaja membunuh lawannya dengan cara yang mengerikan itu. Yang dilakukan itu sekedar gerak naluriahnya, namun yang di dasari oleh ilmunya yang tuntas. Sura dan kawannya ternyata telah menyelesaikan pekerjaan mereka pula. Dengan sebuah ayunan yang keras, Sura berhasil melemparkan senjata lawannya, sehingga dengan gemetar lawannya itu tidak dapat melakukan perlawanan lagi ketika ujung pedang Sura menyentuh dadanya. “Kau menyerah?“ bentak Sura. Lawannya tidak menjawab. “Jika tidak, aku akan menekan pedang ini” “Aku menyerah” desisnya. Sura menarik nafas dalam-dalam, lalu “Lemparkan senjatamu dan duduklah menepi” Orang itu melemparkan senjatanya dan kemudian duduk bersila di atas tanggul parit di pinggir jalan, sambil menundukkan kepalanya. “Tautkan tanganmu di atas tengkuk“ perintah Sura. Orang itupun kemudian mentautkan kedua tangannya di atas tengkuk.Sementara itu, kawan Sura telah melukai lawannya sehingga orang itupun tidak dapat melawannya lagi meskipun ia tidak mati. Perlahan-lahan Sura mendekati Arum yang masih dicengkam oleh debar jantungnya. Dengan suara yang dalam Sura berkata “Sudahlah Arum. Kau t idak berbuat salah” Arum masih dicengkam oleh debar jantungnya yang keras. Namun perlahan- lahan ia mengangkat wajahnya dan memandang kepada Sura. Katanya “Aku tidak sengaja melakukannya paman” “Itulah gambaran dari benturan kekerasan. Perkelahian dan di dalam bentuknya yang besar adalah peperangan. Hampir dapat dikatakan tidak seorangpun dengan sengaja menjerumuskan diri di dalam peperangan. Setiap orang menginginkan kehidupan yang tenang dan damai. Tetapi pada suatu saat kita akan sampai pada daerah kehidupan yang tidak kita inginkan ini” Arum menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dalam pada itu kawan Sura menjadi heran. Tidak banyak gadis yang memiliki kemampuan seperti Arum. Gadis yang hampir sempurna di dalam olah kanuragan, tetapi yang gemetar melihat lawannya terbunuh dengan darah yang terpancar dari lukanya. “Paman” berkata Arum kemudian “Bagaimanakah dengan orang-orang ini? Jika mereka dibiarkan di sini. dan para petugas sandi dari Surakarta melihatnya, apakah tidak akan ada akibat yang tidak menyenangkan bagi padukuhan di sekitar tempat ini?“ “Tentu Arum. Karena itu, biarlah aku membawa semua orang yang ada di bulak ini. Biarlah aku menguburkan yang mati dan membawa yang hidup menghadap Raden Mas Said atau orang-orang kepercayaannya”Arumt idak segera menjawab. “Dengan demikian, kau dan padukuhan di sekitar tempat ini tidak usah bertanggung jawab atas hilangnya keempat orang petugasnya, karena tidak seorangpun yang akan menyangka bahwa kaulah yang melakukannya. Sementara itu, aku akan mengatakan bahwa kau telah membantu aku, bahkan hampir menentukan, sehingga keempat orang ini dapat tertangkap” Arum termangu-mangu sejenak, lalu “Terserahlah kepada paman” “Baiklah. Aku akan membawanya. Sebentar lagi yang seorang itu tentu akan sadar kembali. Aku sudah melihat ia mulai bergerak. Yang terluka itupun tidak terlampau parah, sedang yang seorang lagi masih sehat walafiat” Arum menganggukkan kepalanya. “Nah Arum. Jika kau akan kembali ke padepokanmu, silahkan. Mungkin ayahmu telah menunggumu dengan gelisah, meskipun ayahmu percaya sepenuhnya akan kemampuanmu” Arum mengangguk sekali lagi sambil menjawab “Baiklah paman. Terserahlah kepada paman untuk menghilangkan jejak kematian petugas sandi itu” “Serahkanlah kepadaku” Arum memandang Sura sejenak, lalu kepada kawannya berganti-ganti. Kemudian setelah minta diri, iapun segera kembali ke padepokannya dengan hati yang masih berdebar- debar. Jika teringat olehnya, lawannya mengaduh dan kemudian terhuyung-huyung karena pedang pendeknya menghunjam di punggung, maka iapun menjadi kian berdebar-debar. “Tetapi aku tidak dapat berbuat lain” katanya kepada diri sendiri Dan setiap kali terngiang kata-kata Sura di telinganya“Itulah gambaran dari benturan kekerasan. Perkelahian dan di dalam bentuknya yang besar adalah peperangan” Arum menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia mendengar desir langkah di belakangnya sehingga tiba-tiba saja ia telah bersiap dan memutar tubuhnya menghadap kearah suara itu. Di dalam kegelapan ia melihat sesosok tubuh yang berjalan di belakangnya. Tetapi yang sama sekali tidak berusaha menghindar atau bersembunyi ketika ia sudah menghadapinya. Arum menjadi berdebar-debar. Mungkin ia harus bertempur lagi menghadapi orang yang lebih berat dari keempat orang yang telah berada di bawah kekuasaan Sura itu. Tetapi ketika orang itu menjadi semakin dekat, maka Arumpun kemudian berdesis “Ayah” Terdengar suara ayahnya tertawa kecil sambil menyahut “Ya Arum” “Dari manakah ayah datang?“ “Kenapa kau bertanya begitu? Bukankah aku pergi bersamamu dar i rumah?“ “Tetapi ayah sudah pulang lebih dahulu” “Itulah orang tua Arum. Orang tua kadang-kadang selalu dibebani oleh perasaan cemas terhadap anaknya meskipun anaknya sudah cukup masak menghadapi masalahnya sendiri. Aku tentu tidak akan dapat membiarkan kau dibawa oleh orang-orang itu meskipun aku tahu bahwa kau akan dapat mengatasi kesulitanmu. Tetapi j ika pamanmu Sura tidak hadir di arena. mungkin kau memerlukan cara lain untuk mengatasi lawan-lawanmu yang sebenarnya cukup berat bagimu. Kemampuan mereka di dalam kelompok yang ternyata terdiridari empat orang pilihan itu memang berada di atas kemampuanmu” “Ayah melihat?“ “Ya Arum. Aku melihat sejak permulaan” “Dan ayah mengetahui kehadiran pama Sura” “Ya. Tetapi pamanmu Sura tidak mengetahui bahwa aku menungguinya” ayahnya berhenti sejenak, lalu “Tetapi Arum. Jangan membiasakan diri merasa aku selalu menungguimu. Sebenarnya aku ragu-ragu untuk mengatakan kepadamu kali ini bahwa aku ada di dekatmu saat itu. Aku mempunyai pertimbangan lain, bahwa aku tetap diam dalam hal ini agar kau tidak merasa bahwa setiap kali kelak, aku tentu ada di dekatmu jika kau mendapat kesulitan. Dengan demikian kau akan menjadi lemah dan kurang berusaha. Padahal sudah barang tentu bahwa aku tidak akan selalu dapat berbuat seperti ini” Arum mengerti maksud ayahnya. Sambil menganggukkan kepalanya ia menjawab ”Aku mengerti ayah” “Nah baiklah. Marilah kita percepat langkah kita” “Bagaimana dengan paman Sura?“ “Biar lah pamanmu menyelesaikan kesanggupannya. Agaknya tawanannya yang sehat itulah yang dipaksanya untuk mengusung temannya yang terbunuh. Ia akan menguburnya dan melenyapkan semua bekas-bekas perkelahian itu” Arum menarik nafas sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Demikianlah maka keduanyapun kemudian berjalan semakin cepat. Tetapi ketika sampai di padepokan, Arum tidak mau masuk melalui pintu depan rumahnya. Ia langsung pergi ke pintu butulan dan masuk lewat belakang. Baru setelah ia berganti pakaian maka iapun pergi ke ruang tengah menemuiayahnya yang duduk menghadapi semangkuk minuman panas. Agaknya beberapa orang pelayannya menjadi gelisah pula sepeninggal Arum, sehingga mereka tetap menunggu sampai saatnya Arum dan ayahnya pulang. Bahkan sempat menyediakan minuman panas bagi mereka. Dalam pada itu Sura sibuk dengan tawanannya. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, maka yang masih sehat itulah yang harus membawa mayat kawannya, sedang Sura dan kawannya membantu kedua orang yang lain. Bahkan ketika mereka sampai ke tanah pekuburan, maka orang itu pulalah yang harus menggali lubang. “Tidak ada cangkul” katanya. “Carilah di rumah yang paling dekat. Mungkin di kandang lembu dan kerbau. Biarlah aku tunggui orang-orang ini” berkata Sura kepada kawannya. Akhirnya kawan Sura itupun menemukan cangkul itu di sebuah kandang. Setelah mengubur kawannya yang terbunuh itu, maka tawanan itu masih harus memapah kawannya yang terluka. Sedang kawan Sura menolong orang yang baru sadar dari pingsannya karena tengkuknya dipukul oleh Arum dengan sisi telapak tangannya. “Kita akan pergi jauh. Apakah kalian tidak membawa kuda atau kereta atau apapun yang kau sembunyikan atau kau titipkan kepada seseorang?“ bertanya Sura kepada orang- orang itu. Ternyata mereka menyediakan kuda yang mereka tinggalkan di tengah-tengah pategalan, seperti juga kuda Sura. Karena itu maka merekapun kemudian mengambil kuda yang mereka simpan di tempat yang berbeda-beda. “Sudah tiga hari aku berkeliaran di daerah ini menunggu kedatangan kalian” berkata Sura “Agaknya petugas sandi yangberpihak kepada Raden Mas Said cukup tajam penciumannya. Akhirnya aku benar-benar menemukan kau. Pembicaraanmu dengan gadis-gadis itu meyakinkan aku bahwa kau akan kembali mengambil Arum” berkata Sura kepada mereka sambil tersenyum “Jangan menyesal bahwa ada di antara kalian yang menyadari arti perjuangan Raden Mas Said” Para petugas sandi itu tidak menyahut. Tetapi merekapun sudah menduga bahwa ada di antara kawannya yang berpihak kepada lawan, sehingga ada orang yang mengetahui kehadirannya di padukuhan Jati Sari. Tanpa dapat mengelak lagi, maka tawanan-tawanan itupun segera dibawa oleh Sura dan kawannya ke dalam daerah kekuasaan mereka, dan diserahkannya kepada para Senapati yang kelak akan membawanya langsung menghadap Raden Mas Said. “Jangan takut” berkata para pengawal Raden Mas Said itu “dalam keadaan yang bagaimanapun juga Raden Mas Said tetap menyadari bahwa kita adalah saudara sebangsa. Lihatlah kulitmu yang berwarna sawo seperti kulitku. Karena, itulah maka kami tetap tidak berbuat lain daripada berjuang untuk bangsa kita yang semakin lama semakin terdesak oleh orang-orang yang berkulit putih itu” Para tawanan itu tidak menjawab. Namun mereka sadar bahwa lebih baik berkata terus terang apabila ia dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan dari para pengawal Raden Mas Siad itu daripada mereka harus dipaksa untuk membuka mulut mereka dengan kekerasan. Meskipun demikian, masih ada saja yang ingin mereka sembunyikan. Tetapi mereka tidak akan dapat bertahan lama, apalagi apabila mereka melihat Sura yang bertubuh raksasa itu ada di antara mereka. “Aku pernah mengalami nasib seperti kalian” berkata Sura “Aku harus membuka rahasia laskar Raden Mas Said dihadapan kumpeni. Tetapi seperti kalian, aku tentu ingin merahasiakannya. Dan aku tetap berbuat demikian” Sura berhenti sejenak, lalu “Tetapi dengan demikian tulang- tulangku serasa remuk. Dari mulutku mengalir darah yang sudah menjadi kehitam-hitaman. Dan akhirnya aku tidak dapat bertahan lagi. Hampir saja aku membuka mulut. Tetapi untunglah bahwa seseorang telah menolongku. Meskipun aku belum mengenalnya, tetapi aku yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang berpihak kepada Raden Mas Said” sejenak Sura berdiri tegang. Lalu “Agaknya kalianpun akan berbuat seperti aku. Dan itu adalah layak sekali. Sebelum tulang belulang kalian remuk, dan sebelum dari mulut kalian mengalir darah yang kehitam-hitaman, kalian tentu belum akan mengatakan sampai tuntas apa yang kalian ketahui. Dan akupun tidak berkeberatan jika kalian menghendaki demikian” “Tidak. Tidak“ tawanan yang paling muda itu memohon dengan suara gemetar “Jangan sakiti aku. Aku akan mengatakan apa saja yang aku ketahui” Sura tersenyum di dalam hati. Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikannya sehingga wajahnya masih tetap tampak tegang “Jangan berbohong. Sebelum aku mulai memaksamu menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dengan baik, kau sudah berbohong” “Tidak, aku tidak berbohong” Sura berpaling sejenak kearah para pemimpin pengawal yang akan mengajukan beberapa pertanyaan pendahuluan seolah-olah mempersilahkan mereka untuk memulainya. Ternyata bahwa selanjutnya pemeriksaan pendahuluan itu berjalan lancar tanpa menyentuh orang-orang itu, apalagi melakukan kekerasan. Yang dilakukan Sura kemudian adalah sekedar duduk menonton orang-orang itu menjawab setiap pertanyaan dengan baik.Namun dalam pada itu, para pemimpin petugas-tugas sandi dari Surakarta yang bekerja bersama dengan kumpeni, merasa kehilangan empat orang anggautanya. Mereka adalah anak- anak muda yang baik menurut penilaian mereka. Tetapi ketika empat orang itu dikir im ke daerah Jati Sari untuk mendapatkan keterangan, siapakah yang mula-mula menyangkal desas desus bahwa perampok-perampok itu adalah anak buah Raden Mas Said, mereka t idak pernah kembali lagi kepada para pemimpin mereka. “Mereka hilang di Jati Sari” berkata salah seorang dari pemimpin-pemimpin petugas sandi itu. “Mencur igakan sekali” berkata seorang kumpeni dengan bahasa yang patah-patah “Tentu ada pengkhianatan” “Mungkin mereka hilang di Jati Sari. Tetapi mungkin di perjalanan” berkata salah seorang pemimpin petugas sandi dari Surakarta itu “Tetapi tentu ada pihak lain yang ikut tampur. Mungkin justru orang-orang Raden Mas Said sendiri yang agaknya berada di sembarang tempat. Mustahil j ika orang-orang Jati Sari sendiri berani melakukan sesuatu” Agaknya pendapat itu disetujui oleh para pemimpin yang lain. Namun sebelum mereka mengambil kesimpulan, maka salah seorang dari mereka berkata “Cobalah mengingat sesuatu yang barangkali dapat dijadikan pancatan untuk mengusut persoalan ini. Kalian tentu ingat, bahwa Raden Juwiring. putera Pangeran Ranakusuma pernah berada di Jati Aking. ternyata ia adalah seorang prajurit yang mumpuni” Sebelum orang itu melanjutkan, yang lain menyahut “Ia berguru dalam olah kajiwan dan kesusasteraan. Yang melatih ilmu kanuragan adalah ayahandanya sendiri” “Mungkin demikian. Tetapi sudah barang tentu Raden Juwiring banyak sekali mengetahui tentang Jati Sari. Mungkin Raden Juwiring dapat menemukan orang-orang yang kita perlukan, atau barangkali ia dapat bertanya kepada sahabat-sahabatnya, kawan-kawannya dan bahkan gurunya, jika mereka mengetahui kemana hilangnya petugas-tugas sandi itu. Jika sekiranya mereka melihat pertempuran atau semacam tindak kekerasan sebelum keempat orang itu dinyatakan hilang” Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Kumpeni yang ada di antara merekapun tersenyum sambil berkata “Ya, kenapa kita tidak minta kepada Pangeran Ranakusuma, agar Raden Juwiring dikir im ke Jati Aking” “Kita menaruh harapan kepadanya” “Ya. Kita akan menghubungi Pangeran Ranakusuma” Ternyata bahwa kumpeni itu benar-benar melaksanakan rencananya. Mereka menarik satu jalur ke atasan mereka yang benar-benar telah datang kepada Pangeran Ranakusuma, dan minta kepadanya agar puteranya diij inkan untuk memikul itu. “Apakah tugas itu sangat penting sehingga puteraku yang harus melakukannya? Apakah tidak ada petugas-tugas sandi yang cukup cakap?“ “Kami berpikir demikian Pangeran. Dan kami telah mengirimkan empat orang petugas sandi. Tetapi keempat orang itu tidak pernah kembali. Hal itulah yang membuat kami semakin khawatir akan daerah Jati Sari” “Jati Sari adalah daerah yang kecil, yang tidak mempunyai kekuatan apapun juga. Berbeda dengan Sukawati yang benar- benar harus kalian awasi seperti sekarang ini” “Tentu Pangeran. Tetapi sebentar lagi keputusan Susuhunan akan jatuh. Sukawati akan ditarik kembali dari kekuasaan Pangeran Mangkubumi” “Tetapi itu sangat menyakitkan hati” “Kita tidak peduli. Tetapi sebenarnya keadaan Sukawati sudah menjadi semakin parah. Apalagi tidak sepantasnyaPangeran Mangkubumi mendapat kedudukan begitu banyak dan luas di atas daerah yang sangat subur” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. “Nah Pangeran, sebelum Jati Sari menjadi daerah yang semakin berbahaya, ijinkanlah putera Pangeran untuk menyelidikinya. Putera Pangeran adalah seorang prajurit muda yang baik. Meskipun baru saja Raden Juwiring mendapat kedudukannya sekarang, tetapi ia menunjukkan banyak kelebihan dari putera Pangeran yang meninggal itu. Raden Rudira. Pangeran Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya “Terserahlah kepada kalian. Perintah baginya dapat disalurkan lewat Senapati yang memimpin pasukannya” “Tentu atas persetujuan Pangeran” “Ya, atas persetujuanku” Dalam pada itu. Raden Juwir ing menjadi berdebar-debar ketika la mendengar, bahwa ia mendapat perintah untuk pergi ke Jati Sari. Dengan tergesa-gesa ia menghadap ayahanda dan mohon pertimbangan atas perintah yang diterimanya itu. “Pergilah. Kau adalah seorang prajur it. Kau harus melakukan tugasmu sebaik-baiknya” Raden Juwiring menjadi tegang. Tetapi seperti kata ayahandanya, bahwa ia adalah seorang prajurit. Dan ia tidak akan dapat ingkar lagi untuk menjalankan perintah dari atasannya. Demikianlah maka Raden Juwiringpun kemudian mempersiapkan dir i dengan sepasukan kecil untuk pergi ke Jati Sari. Bukan sebagai pasukan sandi, tetapi sebagai sekelompok prajur it berkuda yang disertai beberapa orang prajurit pilihan.Dengan hati yang berat maka Raden Juwiringpun melakukan tugasnya sebagai seorang prajurit Surakarta. Sebagai seorang perwira yang masih muda dan memiliki kelebihan dari perwira-perwira muda yang lain, maka Raden Juwiring disegani oleh prajurit-prajur it yang berada di bawah pimpinannya. Ketika matahari mulai memancar di pagi har i, pasukan kecil itupun meninggalkan gerbang kota Surakarta menuju ke Jati Sari. Di sepanjang perjalanan prajurit itu selalu dibayangi oleh ketegangan. Setiap saat mereka dapat bertemu dengan orang-orang yang berada di bawah pengaruh Raden Mas Said. Bahkan Pangeran Mangkubumi. Meskipun Pangeran Mangkubumi nampaknya masih tetap diam, tetapi kediaman telaga yang sangat dalam adalah justru sangat menger ikan. Tetapi. prajurit-prajurit Surakarta itu sudah dilengkapi dengan sejenis senjata yang didapatnya dari kumpeni. Senjata yang memang lebih baik dari sekedar senjata tombak. Senjata api itu dapat dipergunakan untuk menyerang dari jarak yang jauh meskipun hanya untuk sekali dan harus dipersiapkan lagi sebelum dipergunakan ber ikutnya. Namun mereka mempunyai perhitungan bahwa laskar Raden Mas Said jarang sekali bergerak di siang har i. Mereka hanya berbuat sesuatu di malam hari. Sedangkan di saat terakhir, sejak Raden Mas Said mulai bergerak lagi, kegiatannya masih belum nampak seperti saat-saat sebelum gerakannya dihentikan untuk sementara. Tetapi tugas yang dibebankan kepada Raden Juwiring kali ini adalah tugas yang sangat mendebarkan jantung. Ia harus pergi ke Jati Sari untuk mencari keterangan tentang hilangnya keempat orang petugas sandi dari Surakarta yang dikir im ke Jati Sari sebelumnya. Sedangkan Jati Sari bagi Raden Juwiring adalah tempat untuk menempa dir i sebelum ia berguru pula kepada ayahandanya sendiri.“Aku harus dapat menyesuaikan dir i dengan keadaan yang sulit ini” berkata Raden Juwiring di dalam hatinya. Demikianlah maka pasukan itupun kemudian berderap menyusur bulak persawahan. Beberapa orang petani yang melihat pasukan itu lewat menjadi berdebar-debar. Mereka tahu bahwa prajurit yang lewat itu adalah prajurit dari pasukan berkuda yang terkenal. Bagi Surakarta mereka adalah prajurit-prajurit pilihan. Hanya untuk tugas-tugas yang penting sajalah mereka pergi keluar kota. Tetapi bagi tugas yang. di jalankannya sekarang, meskipun tidak terlampau penting, namun mereka harus memperhitungkan, sengaja atau tidak sengaja, mereka akan dapat berpapasan dengan pasukan Raden Mas Said yang besar dan kuat. Itulah sebabnya, maka Raden Juwiring kali ini membawa sepasukan prajurit dari pasukan berkuda di Surakarta Tidak banyak persoalan yang terjadi di sepanjang jalan. Merekapun tidak bertemu dengan pasukan Raden Mas Said. Yang mereka temui adalah tatapan mata para petani yang kecemasan melihat pasukannya. Setiap kali ada sepasukan prajurit yang lewat, maka para petani itupun menjadi cemas. Siapakah yang akan hilangdari rumah mereka. Dan justru biasanya adalah orang-orang yang berpengaruh. “Mereka menuju ke Jati Sari” desis salah seorang yang melihat pasukan itu lewat. “He, bukankah yang paling depan itu Raden Juwiring. ” “Siapakah Raden Juwiring itu?“ “Ah, masakan kau tidak mengetahuinya. Aku pernah beberapa, kali pergi ke Jati Sari. Setiap orang Jati Sari mempercakapkannya sebagai seorang bangsawan yang baik dan rendah hati. Ia tinggal pada Kiai Danatirta di padepokan Jati Aking”“O“ lawannya berbicara itu mengangguk-angguk “Aku mengerti. Aku pernah melihatnya” “Bukankah anak muda yang berkuda di paling depan itu?“ “Ya. Aku mengenalnya sekarang” “Tetapi kenapa ia berpakaian seorang prajur it dari Surakarta?“ “Apa salahnya? Bukankah ia seorang bangsawan Surakarta” “O“ yang seorang berhenti sejenak sambil memandangi pasukan yang lewat itu. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa terasa sesuatu yang aneh bahwa Raden Juwiring yang sudah cukup lama berada di Jati Aking itu tiba-tiba saja berpakaian seorang prajurit Surakarta. Kedatangan prajurit berkuda di padukuhan Jati Sari memang menimbulkan pertanyaan yang bermacam-macam di hati para petani yang menyaksikannya. Apalagi yang memimpin pasukan itu adalah Raden Juwiring, seorang bangsawan muda yang mereka kenal sebagai seorang bangsawan yang baik dan rendah hati. Tidak seorangpun dari orang-orang Jati Sari yang mengetahui, apakah yang pernah terjadi dikelamnya malam atas empat orang petugas sandi. Mereka tidak mengetahui bahwa Arum, anak gadis Kiai Danatirta itu telah membunuh seorang yang sedang berusaha mengamati padukuhan mereka. Karena itu, maka kedatangan pasukan itu menimbulkan berbagai macampertanyaan. Juwiring yang dengan berat hati membawa pasukannya memasuki daerah Jati Sari itupun berusaha untuk tidak terpengaruh oleh tatapan mata orang di sebelah menyebelah jalan. Namun demikian kadang-kadang terasa bahwa tatapan mata orang-orang Jati Sari itu terlampau tajam menusuk langsung ke jantungnya.“Tugas yang harus aku pikul memang terlampau berat” katanya di dalam hati. Tetapi Raden Juwiring tidak ingin mundur. Apapun yang dilakukannya, adalah keyakinannya. Untuk memulai dengan penyelidikannya Raden Juwiring telah memutuskan menempuh jalan yang paling baik dilakukan. Ia akan pergi ke Jati Aking dan menemui Kiai Danatirta. Tetapi Raden Juwiring tidak ingin membawa seluruh pasukannya ke padepokan itu. Karena itulah maka sebelum ia menemui Kiai Danatirta, maka iapun lebih dahulu pergi kepada seseorang yang dikenalnya mempunyai rumah yang besar dan halaman yang luas. “Tinggallah kalian di sini sejenak. Aku mempunyai seorang yang aku kenal baik-baik. Mungkin ia dapat membuka jalan penyelidikan yang akan kita lakukan ini” Setelah menyerahkan pimpinan pasukannya kepada seorang perwira yang dipercayanya, dan berpesan agar dilakukan penjagaan yang baik dan penuh kewaspadaan, maka Raden Juwir ingpun minta diri kepada pasukannya. “Apakah Raden memerlukan beberapa orang pengawal?” “Tidak. Aku akan pergi sendiri. Aku mengenal padukuhan ini dengan baik, seperti aku mengenal kota Surakarta” Demikianlah maka Raden Juwiringpun melarikan kudanya ke padepokan Jati Aking untuk menghadap Kiai Danatirta yang sudah lama sekali tidak pernah dikunjunginya. Dalam pada itu Kiai Danatirta telah mendengar kehadiran pasukan yang dipimpin oleh Raden Juwiring justru ketika ia berada di sawah. Karena itulah, maka Kiai Danatirta dengan sengaja menghindarinya dan tidak segera pulang ke padepokannya. Bahkan Kiai Danatirta itu langsung pergi ke sungai seakan-akan dengan sengaja menyembunyikan dir i.Yang ada di padepokannya adalah Arum dan para pembantunya. Kedatangan Raden Juwiring benar-benar sangat mengejutkannya. Apalagi ketika Arum melihat bahwa Raden Juwiring berpakaian seorang prajurit Surakarta. Arum yang semula ber lari-lar ian untuk menyongsongnya, setelah ia berdiri di pendapa, justru langkahnya tertegun. Untuk beberapa saat ia berdiri termangu-mangu memandang Raden Juwiring dalam pakaiannya. Meskipun anak muda itu nampak menjadi semakin gagah dan tampan, namun ada sesuatu yang rasa-rasanya hilang dari kepribadian Raden Juwiring itu. Sejenak kemudian barulah Arum dapat menguasai perasaannya. Perlahan-lahan ia melangkah melintasi pendapa dan menuruni tangga yang rendah. “Arum“ sapa Raden Juwiring sambil tersenyum “Apakah kau tidak dapat mengenali aku lagi?“ “Selamat datang Raden. Aku segera dapat mengenal Raden meskipun Raden berpakaian seorang prajurit. Tetapi ada sesuatu yang rasa-rasanya tidak aku kenal pada Raden” jawab Arum. “Kenapa kau berubah Arum. Panggil aku seperti kebiasaanmu memanggil aku selagi aku masih berada di padepokan ini” Arum menggelengkan kepalanya, Katanya “Sebelum aku menemukan yang hilang pada Raden, aku tidak akan dapat bersikap seperti itu” Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya Arum dengan ragu-ragu. Rasa-rasanya Arum telah berubah menjadi orang yang asing baginya, seperti Arum menganggapnya sudah berubah pula. Tetapi Raden Juwiringpun segera berhasil menguasai perasaannya. Sambil tersenyum ia berkata “Baiklah Arum.Mungkin karena kita sudah terlampau lama tidak bertemu, sehingga pertemuan ini menjadi canggung karenanya. Tetapi baiklah, kita akan segera dapat mengatasi perasaan kita masing-masing” “Mungkin Raden. Tetapi kecanggungan itu dapat juga disebabkan oleh pakaian Raden yang asing, yang rasainya telah membuat batas di antara kita” Raden Juwiring tertawa. Tetapi betapa pahitnya. “Marilah Raden. Silahkan duduk” Dengan agak ragu-ragu Juwiringpun kemudian naik ke pendapa. Pendapa yang di masa lalu menjadi bagian dari hidupnya, atau jika ia pulang dari sawah setelah mencuci kaki dan tangannya di sore hari bersama Buntal dan Kiai Danatirta. Setiap hari ia duduk-duduk di pendapa itu j ika malam mulai gelap, jelang saat-saat latihannya. Kadang-kadang ia menemui tamunya, kawan-kawannya dan kadang-kadang ia ikut di dalam pembicaraan-pembicaraan penting di pendapa. Kini ia benar-benar merasa orang asing yang dipersilahkan duduk di pendapa itu. “Raden” berkata Arum kemudian “Sudah cukup lama Raden tidak pernah mengunjungi padepokan ini. Kini tiba-tiba saja Raden datang dengan pakaian yang lengkap. Apakah ada keperluan yang penting yang harus Raden selesaikan di padepokan ini?“ Raden Juwiring termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun tidak dapat ingkar lagi akan tugasnya. Jika ia tidak menyebut-nyebut para prajurit yang dibawanya, Arumpun pasti akan mendengarnya juga. Karena itu, maka katanya kemudian “Arum. Aku datang untuk melakukan tugasku sebagai seorang prajur it. Aku tidak datang sendiri ke padepokan ini. Aku membawa sepasukan prajurit yang sekarang menunggu aku di ujung jalan ini”“O“ Arum mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu “Apakah Raden akan mencari kakang Buntal dan menangkapnya“ “Ah, kau berprasangka Arum. Sebenarnya aku sama sekali tidak berubah. Aku masih menganggap kau dan Buntal sebagai saudaraku” Arum memandang Juwiring dengan tatapan mata yang aneh. Dan tiba-tiba saja terbersit jawabannya di sudut bibirnya “Terima kasih” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berusaha untuk menyembunyikan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya. “Arum” berkata Buntal “kedatanganku adalah sekedar menjalankan tugas yang dibebankan kepadaku sebagai seorang prajurit. Aku kira aku sudah benar, bahwa aku datang ke padepokan ini sebelum aku mulai dengan tindakan- tindakan yang lain di padukuhan Jati Sari” Arum mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menyahut. “Dimanakah Kiai Danatirta Arum?“ bertanya Raden Juwiring. “Ayah berada di sawah. Apakah Raden memerlukannya? Apakah yang tuan cari bukan kakang Buntal tetapi ayah” “Tidak. Tidak. Jangan berprasangka lebih dahulu. Aku hanya ingin mendapat beberapa keterangan daripadanya” “Ayah tidak ada Raden. Benar-benar tidak ada di padepokan. Jika Raden tidak percaya, silahkan Raden mencarinya” Juwiring termenung sejenak, lalu “Baiklah. Jika Kiai Danatirta tidak ada, aku dapat menunggunya atau mencarinya di sawah. Tetapi sementara ini, biarlah aku bertanya saja lebih dahulu kepadamu Arum. Bagiku kau adalah orang yangterpilih di padukuhan ini. Tidak ada gadis yang lain yang memiliki kelebihan seperti kau. Karena itu, aku datang kepadamu” “Apakah yang ingin Raden tanyakan?“ ”Arum. Barangkali kau dapat membantuku. Aku mendapat tugas untuk mencari empat orang prajurit yang hilang di daerah ini di dalam tugas sandinya. Mereka mendapat tugas untuk mencar i keterangan, kenapa rakyat Jati Sari mempunyai sikap yang agak lain dari padepokan di sekitarnya” “Bagaimanakah bentuk kelainan itu Raden? Apakah Jati Sari tidak sanggup menghasilkan padi seperti yang dihasilkan oleh padukuhan yang lain, atau di Jati Sari terlalu sering terjadi kerusuhan dan pencurian yang menurut ceritera orang, mereka yang melakukan kejahatan itu adalah anak buah Raden Mas Said?“ “Ah, jika bukan kau yang bertanya demikian aku percaya bahwa orang itu benar-benar tidak mengerti. Tetapi seharusnya kau tidak bertanya demikian. Tentu aku tidak akan menanyakan tentang hasil padi. Tetapi karena kau menyinggung tentang anak buah Raden Mas Said, maka ada sedikit sentuhan dari tugasku” Juwiring berhenti sejenak, lalu “orang-orang yang hilang itu memang sedang mencari keterangan tentang perampok- perampok anak buah Raden Mas Said. Tetapi agaknya rakyat Jati Sari tidak mempercayainya. Nah, barangkali kau dapat mengatakan siapakah biang keladi dari penolakan itu?“ “Jika bukan Raden yang bertanya demikian, aku percaya bahwa yang diucapkan itu benar-benar suatu pertanyaan, bukan suatu tuduhan terhadap diri kami di padepokan ini” “Ah“ Raden Juwir ing menarik nafas dalam-dalam.“Raden. Apakah Raden menuduh kami? Dan apakah hubungannya dengan yang Raden katakan orang-orang yang hilang” “Pertanyaanku sebenarnya sudah jelas Arum. Tetapi aku benar-benar tidak menuduhkan apapun juga. Orang yang mencari keterangan itu telah hilang di daerah Jati Sari. Mereka bertugas kemar i, tetapi mereka tidak pernah kembali” “Apakah itu sudah merupakan bukti bahwa mereka hilang di Jati Sar i? Apakah tidak ada kemungkinan lain, bahwa orang- orang itu secara kebetulan bertemu dengan Raden Mas Said di perjalanan kemari?“ “Tentu Arum, tentu. Orang-orang itu mungkin sekali bertemu dengan pasukan Raden Mas Said yang kemudian menangkap atau bahkan membunuhnya” “Nah, sebaiknya Raden mencar i keterangan tentang hal itu lebih dahulu” “Arum” berkata Raden Juwiring “Sebenarnyalah bahwa kedatanganku ini benar-benar mengharap bantuan darimu. Tetapi yang aku jumpai adalah keadaan yang berbeda sekali dengan harapanku. Kau tidak lagi bersikap seperti seorang adik. Tetapi kau nampaknya dibayangi oleh prasangka dan kecurigaan” “Tepat” jawab Arum “pakaian Raden membuat aku berprasangka dan curiga” “Cobalah kau tidak menghiraukan pakaianku Arum. Tetapi aku benar-benar mengharap kau membantuku. Mungkin kau melihat beberapa orang yang asing di daerah ini. Dan mungkin kau tahu kemana mereka pergi” “Jalan yang membelah padukuhan Jati Sari adalah jalan yang menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain, antara kademangan yang satu dengan kademangan yang lain. Karena itu, setiap hari berpuluh-puluhorang yang tidak aku kenal lewat di jalan itu. Dari pagi sampai matahari hampir terbenam” Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. ia sadar, bahwa Arum tidak akan dapat dilunakkannya karena ia menganggapnya tidak dapat lagi dipercaya. Karena itu, maka sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Baiklah Arum. Jika kau tidak dapat mengatakan apapun juga tentang orang- orang yang hilang itu, baiklah. Aku akan mencari keterangan kepada orang lain” “Silahkan Raden. Barangkali ada orang lain yang bersedia member ikan keterangan kepada Raden” “Ternyata aku keliru datang kepadamu kali ini Arum” ”Benar. Raden keliru datang ke padepokan kecil ini. Raden adalah seorang bangsawan tinggi, karena Raden adalah putera seorang Pangeran” “Cukup Arum” potong Raden Juwiring. Terasa dadanya bergetar betapapun ia masih tetap berusaha untuk menahan perasaannya. ”Jika sudah cukup, silahkan“ Dada Raden Juwiring benar-benar terguncang. Tetapi iapun menyadari bahwa Arum adalah anak Kiai Danatirta. Meskipun ia seorang gadis tetapi ia memiliki kelebihan dar i gadis-gadis lain. Selama ia tidak datang lagi ke padepokan ini, maka Arum pasti sudah mendapat tempaan yang terakhir sehingga ilmu Jati Aking pasti sudah tuntas disadapnya. “Baiklah Arum. Aku minta diri. Sampaikan salamku kepada Buntal j ika kau bertemu” “Kakang Buntal sudah bergabung dengan Pangeran Mangkubumi di Sukawati” “Aku sudah mendengar” jawab Raden Juwiring “kemudian baktiku kepada ayah Kiai Danatirta”- 


Jilid 15
ARUM memandang Raden Juwiring sejenak Namun kecemasannya tumbuh lagi. Apalagi bahwa Raden Juwiring sudah mengetahui bahwa Buntal berada di Sukawati. Karena itu sekali lagi ia berkata “Raden. Jika Raden mengetahui bahwa kakang Buntal berada di Sukawati, apakah kedatangan Raden kali ini ada hubungannya dengan hal itu?“ “Kenapa kau sangat berprasangka Arum? Bukankah sudah aku katakan, aku hanya akan mencari keterangan tentang orang-orangku yang hilang. Tidak lebih” Arum tidak menjawab. Meskipun ia tidak dapat mempercayainya begitu saja keterangan Juwiring. Tetapi Arum t idak bertanya apapun lagi. Diantarnya Juwiring sampai ke halaman. Kemudian dilepaskannya anak muda itu dengan hati yang berdebar-debar. Sepeninggal Juwir ing, Arum duduk merenung di ruang dalam. Ia tidak mengerti, kenapa hal itu dapat terjadi. Ia mengenal Juwir ing jauh berbeda dengan Juwiring yang baru saja datang.“Agaknya keempat orang itu juga anak-anak bangsawan. Menilik ujudnya dan sikapnya, meskipun bangsawan yang telah agak jauh dar i pokok keturunan Kangjeng Susuhunan” tertata Arum di dalam hatinya, lalu “dan sekarang Raden Juwiring mencarinya. Bagaimana mungkin ia dapat berada di antara prajurit Surakarta” Dalam pada itu. Raden Juwiringpun meninggalkan halaman padepokan Jati Aking. Ia tidak bergegas kembali kepada pasukannya. Perlahan-lahan kudanya berjalan di atas jalan berbatu-batu. Jalan yang pernah dilaluinya beberapa kali sehari, ketika ia masih berada di Jati Aking. Tetapi jalan itu kini rasa-rasanya memang asing baginya. Namun Juwiring masih tetap menganggukkan kepalanya sambil tersenyum jika dijumpainya orang-orang Jati Sari yang sudah dikenalnya. Ia sama sekali tidak merubah sikapnya seperti ketika ia masih berada di padepokan. Beberapa orang petani yang menjumpainya, menganggukkan kepalanya pula. Tetapi rasa-rasanya memang ada batas yang menyekat hubungannya dengan orang-orang yang sudah pernah dikenalnya dengan baik itu. Jika mula- mula para petani itu tertawa dengan wajah yang cerah, namun ketika mereka menyadari bahwa Juwiring memakai pakaian seorang prajurit Surakarta, maka sikap merekapun jadi berbeda. Mereka kemudian membungkuk hormat seperti mereka menghormati para bangsawan yang lain. Juwiring hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. la tidak dapat menyalahkan mereka. Rakyat Jati Sari tentu menganggap bahwa ia kini adalah seorang bangsawan sepenuhnya yang memimpin sepasukan prajur it ke Jati Sari dan padepokan Jati Aking. Ketika ia sampai kepasukannya yang menunggu, terasa betapa suasana yang lain telah membayangi Jati Sari. Meskipun ia tidak melihat apa yang terjadi di balik-balik dinding rumah, namun firasatnya menangkap, bahwabeberapa orang telah mengintip dengan dada yang berdebar- debar. Orang yang memiliki halaman yang luas itupun agaknya menjadi ketakutan dan serba salah. Sepeninggal prajurit yang beristirahat di halamannya, ia harus bertanggung jawab terhadap tetangga-tetangganya, bahwa ia tidak ada hubungan apapun dengan mereka. Bahkan orang itu hanya sekedar memberikan tempatnya karena ia tidak dapat menolak. Ketika Juwiring kemudian berada di pasukannya, maka perwira yang diserahinya memimpin pasukannya untuk beberapa saat itupun segera bertanya “Apakah Raden sudah mempunyai jalan untuk mencari jawaban atas hilangnya empat orang prajur it sandi itu?“ Raden Juwiring menggelengkan kepalanya. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia berkata “Ternyata orang-orang di padepokan Jati Aking tidak mengetahui apapun juga tetang orang-orang itu” “Jadi, apakah yang harus kita kerjakan” “Kita beristirahat sejenak. Kemudian kita akan mencari keterangan kepada orang-orang lain” “Kita akan menyebar prajurit-prajurit ini agar setiap orang dapat ditanya tentang orang-orang yang hilang itu” Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya “Tidak. Kita akan pergi sendir i. Tanpa mereka” “Jadi?“ “Biar lah mereka di sini. Jika mereka berpencar dan memasuki rumah demi rumah, akibatnya akan sangat jauh bagi Jati Sari. Orang-orang Jati Sari dan padepokan Jati Aking akan ketakutan. Mereka tidak akan mempunyai ketenangan lagi, bukan saja hari ini. Tetapi untuk waktu yang panjang” “Tetapi kita hanya ingin mendapatkan keterangan”“Kita tentu mengetahui, bahwa prajurit-prajurit Surakarta akan dapat menirukan sikap kumpeni. Mereka sering melihat bagaimana kumpeni memaksa orang-orang yang diper iksanya untuk menjawab. Dan aku cemas, bahwa sebagian dari kita sudah kejangkitan penyakit serupa” Perwira itu memandang Raden Juwiring dengan heran. Namun sebelum ia berbicara, Raden Juwiring sudah mendahului “Lakukan perintahku. Akulah yang memimpin pasukan berkuda ini” “Tetapi apakah gunanya mereka pergi bersama kita Raden?“ “O, banyak sekali. Jika kita bertemu dengan pasukan Kamas Said, atau jika kita bertemu dengan perampok- perampok yang gila itu, kita harus bertempur” Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Nah, biarlah mereka beristirahat. Kita akan berjalan-jalan berdua saja” Perwira itu menganggukkan kepalanya. Lalu diperintahkannya seluruh pasukan beristirahat, meskipun mereka masih harus tetap waspada. “Tugas kita beristirahat di sini” berkata seorang prajurit muda “Agaknya tidak ada pekerjaan apapun yang dapat kita lakukan selain duduk terkantuk-kantuk” Kawannya mengerutkan keningnya. Katanya “Bukankah kebetulan sekali bahwa kita tidak usah berbuat apa-apa? Bukan salah kita. Pimpinan kita kali ini adalah seorang yang sangat rajin sehingga apapun dilakukannya sendir i” “Bukan karena ia terlalu rajin, tetapi ia sama sekali t idak percaya bahwa orang-orang semacam kau ini dapat melakukan tugasmu dengan baik. Bukankah kau dengar bahwa empat orang petugas sandi itu telah hilang? Dan kau bukannya orang yang lebih baik dari mereka”Yang lain lagi tertawa pendek sambil berkata “Bukankah Raden Juwiring pernah tinggal di padukuhan ini? Mungkin ia ingin mengunjungi gadis simpanannya” Prajurit-prajurit itu tertawa sehingga beberapa orang yang duduk ditempat lain berpaling kepadanya. Tetapi merekapun segera terdiam ketika seorang perwira datang kepada mereka dan bertanya “Kenapa kau tertawa?“ “Tidak apa-apa. Kami sedang bergurau“ Perwira itupun kemudian pergi meninggalkan prajurit- prajurit yang sedang bergurau. Tetapi agaknya ia mengerti, bahwa prajurit-prajurit itu sekedar melepaskan kejemuan mereka, karena mereka justru hanya harus duduk terkantuk- kantuk. Dalam pada itu Raden Juwiring bersama seorang perwira bawahannya tengah berjalan-jalan di sepanjang lorong di pinggir padukuhan Jati Sari. Juwiring masih saja mengangguk- anggukkan kepalanya apabila ia bertemu dengan orang-orang yang pernah dikenalnya Tetapi ia selalu mendapat tanggapan yang serupa. Senyumyang rasa-rasanya beku tanpa gairah. Tetapi Juwiringpun menyadari, bahwa ia telah menempuh jalan yang tidak diduga sama sekali oleh orang-orang Jati Aking. “Jika mereka melihat Rudira dalam pakaian ini mereka tentu tidak akan terlampau heran” berkata Juwiring di dalam hatinya. Namun tiba-tiba Juwiring terhenti ketika dilihatnya dua orang gadis yang berjalan menepi hampir melekat dinding. Mereka menjadi berdebar-debar karena justru Raden Juwiring berhenti dan memandanginya dengan tajamnya. Beberapa kali ia bertemu dengan gadis-gadis sebaya dengan Arum, dan beberapa kali ia menganggukkan kepalanya. Tetapi kedua gadis itu kini sangat menarik perhatiannya.“Berhentilah sejenak“ minta Raden Juwiring kepada kedua gadis itu. Kedua gadis itu menjadi tersipu-sipu dan bahkan mereka saling berdesakan. “He, apakah kalian lupa kepadaku?“ Termangu-mangu kedua gadis itu memandang sekilas dengan sudut matanya. Namun kemudian merekapun menundukkan kepala dalam-dalam. “Bukankah kalian mengenal aku” sekali lagi Juwir ing mendesak. Keduanya masih belum menjawab, sehingga Juwiring terpaksa melangkah semakin dekat dan berkata datar “Lihatlah. Aku adalah Juwiring, yang pernah tinggal di padepokan Jati Aking bersama Arumdan Buntal” Kedua gadis itu tiba-tiba saja tertawa tertahan-tahan. “Tentu kau tidak lupa kepadaku” desak Juwir ing. “Tidak, tidak” terbata-bata terdengar salah seorang menjawab sambil mengerutkan lehernya. “Nah, jika demikian, kenapa kalian bersikap lain. Mungkin kalian melihat pakaianku. Memang kali ini aku memakai pakaian perwira dari pasukan berkuda Surakarta. Tetapi apakah bedanya dengan aku yang tinggal di padepokan itu?“ Keduanya tidak menjawab. Bahkan mereka menjadi semakin berdesak-desakan. “Jangan malu. Aku tidak apa-apa. Aku hanya tertarik kepada perhiasanmu itu, kepada kalungmu” Keduanya mengangkat wajahnya bersama-sama. Namun berbareng pula keduanya menutupi kalung merjan yang mereka “Darimana kalian mendapatkan kalung yang bagus itu?“Keduanya belum menjawab. “Kalung itu tentu tidak banyak yang memilikinya” “Arum juga mempunyainya. Bahkan dua. Tetapi yang seuntai sudah diberakan seorang kawannya” jawab salah seorang dari mereka. “O“ Juwir ing mengerutkan keningnya. Katanya kemudian “Aku sudah menemui Arum. Tetapi Arum tidak memakai kalung sebagus itu” “Tentu tidak sedang dipakainya” desis yang seorang lagi. Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalung yang dipakai oleh gadis-gadis itulah yang sebenarnya menarik perhatiannya. Ia tahu benar bahwa gadis-gadis padukuhan kecil itu tidak akan memerlukan membeli kalung merjan, karena penghasilan mereka tidak banyak berlebih bagi hidup mereka sehar i-hari. Karena itu, maka iapun segera teringat, bahwa kumpeni mempunyai banyak sekali benda-benda yang menar ik semacam itu. Dari yang bernilai sangat tinggi, sampai kepada kalung-kalung merjan. Namun gunanya tidak jauh berbeda. Yang bernilai tinggi dipergunakannya untuk memikat hati orang-orang besar, sedang bernilai rendah dipergunakannya untuk memikat hati gadis-gadis padesan seperti kalung-kalung merjan itu. “Apakah ada hubungannya dengan kehadiran keempat petugas sandi yang hilang itu“ Ia bertanya kepada diri sendir i. Namun dalam pada itu, maka ia semakin tertarik kepada kalung-kalung merjan itu dan berusaha untuk mengetahui, dari manakah mereka mendapatkannya. Tetapi gadis-gadis itu rasa-rasanya masih saja tetap segan menjawab pertanyaan-pertanyaannya, karena ia berpakaian seorang perwira. Namun Juwiring tidak ingin melepaskan kesempatan itu.Karena itu, maka segala usaha dipergunakannya. Bahkan terpaksa sekali justru Juwiring menakut-nakuti mereka. Katanya “Kau harus menjawab pertanyaanku. Darimana kau mendapatkan kalung itu. ” Kedua gadis yang saling berdesakkan dan tertawa tertahan-tahan itu terkejut mendengar nada pertanyaan Juwiring yang agak lain. Dengan wajah yang tegang mereka kini memandang Juwir ing dengan kaki gemetar. Juwiring menyesal melihat ketakutan yang membayang di wajah gadis-gadis itu. Namun ia ingin mendapat keterangan itu. Karena itu ia masih juga mengulangi “Kau hanya wajib menjawab pertanyaanku ini. Tidak apa-apa. Darimana kau dapatkan kalung merjan itu, supaya prajurit-prajurit Surakarta yang berada di Jati Sari sekarang ini tidak salah sangka.” “Kenapa dengan kalung-kalung merjan ini“ salah seorang dari gadis-gadis itu bertanya ketakutan. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu dengan pasti dan benar, dari mana kau mendapatkannya. Tentu bukan kau terima dar i tangan yang salah” “Maksud Raden?” anak-anak itu semakin ketakutan. “Maksudku, bukan dari orang-orang yang sering mengganggu keamanan di kota. Kumpeni sering kehilangan Barang-barang yang berharga seperti kalung-kalung merjan itu selagi Barang-barang yang berharga seperti kalung-kalung merjan itu selagi Barang-barang itu dikirimkan dengan kereta- kereta kiriman untuk sahabat-sahabat mereka di kota?” “O, tentu tidak Raden. Aku menerima pember ian dari orang yang aku rasa bukan orang-orang jahat” jawab salah seorang dari mereka. “Siapakah mereka?“ Kedua gadis itu menjadi gemetar. Apalagi ketika tampak olehnya tatapan mata perwira kawan Juwir ing yang berdirimematung saja. “Kami tidak mengenal mereka Raden” jawab salah searang gadis yang ketakutan itu. “Aneh” “Benar Raden” “Coba katakan, siapa mereka” Meskipun dengan ragu-ragu, namun kedua gadis itupun berceritera berganti-ganti tentang anak-anak muda yang member ikan kalung itu kepada mereka. Merekapun mencer iterakan apa yang ingin mereka ketahui dari orang- orang Jati Sari. Tetapi mereka tidak sempat mencer iterakan kelanjutannya, bahwa Arum mengatakan tentang orang gemuk berkuda coklat, karena Raden Juwaringpun segera memotongnya “Ter ima kasih. Hanya itulah yang aku ingin mengetahui. Jika demikian, kalian mendapat kalung itu dengan baik. “Raden” potong perwira pengikut Juwiring yang sejak semula hanya mendengarkannya “Tetapi agaknya mereka dapat menceriterakan lebih banyak lagi tentang anak-anak muda yang mereka katakan membagi-bagikan kalung itu. Kenapa Arum yang disebut-sebut oleh kedua gadis itu mendapatkan dua untai? Apakah gadis itu dapat memberikan keterangan lebih banyak dari yang lain” Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian tertawa “Tentu. tidak. Mungkin orang-orang itu hanya tertarik kepada Arum yang biasanya pendiam” “Jika demikian aneh sekali. Kenapa mereka justru tertarik kepada pendiam itu” sahut perwira itu. “Tetapi bukankah Arum ada di antara kalian” bertanya Juwiring kepada kedua gadis itu “dan bukankah yang didengar oleh Arumsama bunyinya dengan yang kalian dengar?” Hampir di luar sadarnya kedua gadis itu mengangguk.“Nah“ Juwiring menarik nafas dalam-dalam “pulanglah. Kalian sudah memberikan jawaban yang sangat memuaskan kepada kita” Kedua gadis itu saling memandang sejenak, lalu “Jadi, apakah kami sudah boleh pergi?“ “Tentu. Kalian boleh saja pergi. Sejak tadipun kalian boleh pergi jika kalian berkeberatan berhenti sejenak. Aku menghentikan kalian karena aku merasa mengenal kalian sebagai kawan-kawan bermain di padukuhan ini pada saat aku masih tinggal di padepokan Jati Aking” “Ah“ gadis itu berdesah. Tetapi merekapun segera meninggalkan Juwir ing dengan tergesa-gesa. Juwiring memandang mereka dengan tersenyum, ketika gadis-gadis itu sudah menjadi semakin jauh ia berkata “Kau harus mengetahui sifat dari gadis-gadis padukuhan. Kau tentu tidak akan dapat bertanya kepada mereka dengan cara-cara yang dapat membuat mereka takut” Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. “Memang kadang-kadang kita harus menakut-nakuti sedikit. Tetapi setelah itu, kita harus mengembalikan kepercayaannya kepada kita, bahwa kita tidak akan berbuat apa-apa” “Tetapi kami memer lukan keterangan yang lebih banyak” sahut perwira itu “dan menilik pembicaraan itu, Arum mengetahui lebih dar i mereka berdua” “Tentu tidak. Tetapi jika demikian, maka kau tidak boleh membuat kesan bahwa kita memer lukan Arum. Gadis itu akan ketakutan, dan barangkali akan melarikan dir i atau bahkan membunuh diri“Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau mengerti maksudku?“ “Ya, aku mengerti” ”Itulah sebabnya aku tidak mempergunakan prajurit- prajurit yang dungu itu untuk kepentingan serupa ini. Mereka hanyalah sekedar pengawal apabila kita bertemu dengan pasukan Raden Mas Said yang kuat” Perwira itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jika aku memerintahkan mereka berpencar dan mencari keterangan tentang petugas-tugas sandi yang hilang, maka mereka tidak akan mendapatkan keterangan yang benar. Orang-orang Jati Sari akan menjawab apa saja yang diminta oleh prajurit-prajurit, prajurit sandi itu sekedar untuk menghindarkan dir i dar i ketakutan” “Maksud Raden?“ “Mereka tidak menjawab berdasarkan atas pengertian mereka tentang persoalannya. Tetapi mereka mengiakan apa saja yang diminta. Bukankah keterangan yang demikian justru akan menyesatkan” Perwira itu mengerutkan keningnya. Memang ada juga benarnya bahwa mereka itu sudah menuntut jawaban seperti yang dikehendakinya sebelum mengucapkan pertanyaan. Karena itu maka perwira itupun sekali lagi mengangguk- anggukkan kepalanya. “Nah, sekarang kau tahu, kenapa aku tidak memerintahkan mereka memencar. Dan kenapa aku harus menangani masalah ini sendiri. Kaupun harus dapat mengerti meskipun tidak perlu kau katakan kepada mereka, bahwa tugas mereka tidak lebih dari kekuatan tempur untuk melindungi kita berdua” “Baiklah” berkata perwira itu.“Akupun mengerti bahwa mereka akan merasa jemu untuk duduk saja sambil menguap. Tetapi apaboleh buat. Aku kira itu adalah yang paling baik yang dapat kita lakukan. Bahkan juga apabila kita harus bermalam” “Aku akan mencoba untuk mengatasi kejemuan itu” berkata perwira itu. “Apa yang akan kau lakukan?“ “Membawa mereka sekali dua kali mengitari daerah ini tanpa berhenti dan bertanya kepada siapapun” “Maksudmu?“ “Seolah-olah kita mendapat keterangan tentang gerakan Raden Mas Said” “Terserah kepadamu” Demikianlah maka keduanyapun kemudian kembali ke pasukan mereka, yang seperti dikatakan oleh Raden Juwir ing, mereka memang menunjukkan sikap yang aneh-aneh untuk menyatakan kejemuan mereka” Tetapi merekapun segera terkejut ketika perwira yang menyertai Raden Juwiring itu memanggil beberapa perwira muda berkumpul di depan regol. Perwira itu mengucapkan perintah beberapa kalimat. seakan-akan ia telah melihat bekas-bekas kaki kuda yang menyilang jalan padesan itu. “Kita akan mencoba melingkar padukuhan ini. Siapa tahu, ada petugas sandi Raden Mas Said yang melihat kehadiran kita di sini” Ternyata perwira itu berhasil membangunkan minat prajurit-prajuritnya. Merekapun dengan cepat berkemas. Dan sejenak kemudian mereka telah berada di punggung kuda. Hanya beberapa orang sajalah yang tinggal di halaman itu untuk mengawasi keadaan di padukuhan itu.Kuda-kuda para prajur it itupun kemudian berderap dijalur jalan pinggir padukuhan melingkar dan kemudian sampai ke bulak panjang di sebelah. Tetapi ternyata mereka tidak melihat sesuatu. “Apakah benar pasukan Raden Mas Said itu lewat?“ bertanya salah seorang kepada kawannya. “Bukan pasukan Raden Mas Said. Tetapi beberapa orang yang diduga anak buah Raden Mas Said yang sengaja mengawasi kita” Yang mula-mula bertanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak bertanya lagi. Dengan berdebar- debar dilihatnya perwira yang mewakili Raden Juwiring memimpin pasukan itu, berada di paling depan bersama beberapa orang perwira yang lebih muda, seakan-akan mereka sedang meneliti jalan yang membujur di hadapan mereka. “Mereka sedang mencari jejak” desis seorang prajur it yang lain. Kawannya yang ada di sampingnya mengangguk “Ya. Mereka sedang mencari jejak itu” Perwira yang ada di paling depan itu kadang-kadang mempercepat lar i kudanya, kadang-kadang lambat sekali. Dalam pada itu. selagi para prajur it berkuda itu membelah tanah persawahan, maka Raden Juwir ing segera pergi ke rumah Arum. Namun ternyata Kiai Danatirtapun masih belum ada di padepokannya.“Kenapa Kiai Danatirta belum kembali?“ bertanya Juwiring ”bukankah biasanya Kiai Danatirta tidak, terlampau lama di sawah?“ “Aku tidak tahu” jawab Arum “Akupun menjadi cemas kenapa ayah belum pulang” “Benar Kiai Danatirta belum pulang?“ “Kau tidak percaya?“ Juwiring menarik nafas dalam- dalam. Lalu “Arum, Baiklah. Aku tidak dapat menunggu terlalu lama. Tetapi sebenarnya aku memer lukan keterangannya” “Ayah tidak akan memberikan keterangan apa-apa kepada Raden dan kepada prajurit-prajurit Surakarta itu, karena tidak ada apapun yang kami ketahui” “Arum” suara Raden Juwiring merendah “Bagaimana dengan kalung-kalung merjan itu?“ Wajah Arum menjadi tegang. Namun sejenak kemudian ia berusaha untuk menghapus ketegangan itu. Katanya “Apakah yang Raden maksud dengan kalung-kalung merjan?“ “Kau mendapat dua untai kalung merjan dari dua orang yang tidak kau kenal. Tentu dua orang itu adalah dua di antara empat orang yang sedang aku cari” “Kenapa Raden dapat mengambil kesimpulan demikian?” “Mereka memang sering membagikan kalung-kalung merjan kepada gadis-gadis padesan” “Gadis-gadis dungu yang dapat disadap keterangannya”“Nah, kau tahu tepat seperti yang sebenarnya” Wajah. Arum menjadi merah. “Arum, kau sebaiknya tidak usah merahasiakan. Kau katakan apa yang kau ketahui saja. Selebihnya aku akan mencari sendir i” “Raden” berkata Arum “sebenarnya aku merasa bahwa tuduhan Raden pertama-tama tentu terhadap kami. Aku dan ayah, karena terhadap Raden, aku dan ayah tidak dapat bersembunyi bahwa sebenarnyalah kami memiliki kemampuan untuk melakukannya. Katakanlah seandainya kami membunuh keempat orang yang tuan cari. Tetapi kami sama sekali tidak melihat mereka” “Kau masih tetap ingkar. Kawan-kawanmu sudah mengatakan kepadaku, bahwa kau menerima dua untai kalung” “Ya. aku tidak ingkar tentang kalung itu. Tetapi Raden jangan memaksa aku mengetahui apa yang tidak aku ketahui selain dua untai kalung yang aku terima dari orang yang tidak aku kenal itu” “Dimanakah orang yang t idak kau kenal itu sekarang?” “Aku tidak tahu” “Kenapa kau menerima dua untai. Tidak seperti kawan- kawanmu yang lain, hanya satu?“ “Itu bukan persoalan kami, Raden. Mungkin orang itu mempunyai niat yang lain. Aku tidak mengatakan bahwa aku cantik dan dapat memikat hatinya. Tetapi bahwa mereka member i aku dua, itu aku tidak mengerti” “Jadi kau tidak dapat mengatakan apa-apa Arum” “Tidak” “Arum, sampai saat ini aku tetap membatasi, bahwa hanya aku sendirilah yang akan mencari keterangan. Jika orang-orang lain di dalam pasukanku mendapatkan bukti-bukti atau keterangan-keterangan yang dapat melibatkan kau ke dalamnya, maka akan sulitlah bagiku untuk berusaha melepaskan kau dari persoalan itu. Karena itu, jika kau tidak berkeberatan, katakanlah saja kepadaku sebelum orang lain ikut campur di dalam persoalan ini. Sampai sekarang prajur it- prajurit itu masih tetap diam karena aku masih dapat menguasai kejemuannya. Tetapi jika mereka pada suatu saat melihat kau terlibat, aku tidak tahu, apa yang akan mereka lakukan terhadapmu” “Raden” berkata Arum “Jika memang demikian, apaboleh buat. Aku mempelajari olah kanuragan bukan sekedar akan aku bawa mati sambil menyilangkan tangan di dada. Tetapi jika terpaksa aku akan merentangkan tanganku dan mati dengan sikap jantan, sebagai seorang anak padepokan Jati Aking” Wajah Raden Juwiring menegang sejenak. Namun iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Adalah wajar jika Arum mengucapkan kata-kata itu, karena ia adalah anak Kiai Danatirta, dari padepokan Jati Aking. Karena itu, ternyata baginya bahwa ia tidak akan dapat menyadap keterangan itu dari Arum. Arum bertekad untuk tidak mengatakan apapun juga, meskipun ia akan dipaksa dengan kasar atau halus. Dengan demikian maka Raden Juwiringpun kemudian berkata “Baiklah Arum. Jika kau memang tidak dapat member ikan keterangan apapun kepadaku” “Aku tidak tahu apa-apa tentang orang yang tidak aku kenal itu Raden” Raden Juwiring menarik nafas. Katanya “Aku mohon diri” Di regol halaman Raden Juwiring berpaling. Dilihatnya Arum berdiri di halaman sambil termangu-mangu. Adalah di luar dugaannya bahwa Raden Juwir ing itu berkata sambiltersenyum“Kau memang seorang gadis yang tabah Arum. Kau adalah anak Jati Aking yang baik” Arum tidak tahu maksud Raden Juwiring. Mungkin ia benar- benar memuj i. Tetapi mungkin Raden Juwiring sekedar melepaskan kekecewaannya saja. Jika demikian, maka Arum harus berhati-hati. Kekecewaan yang mencengkam dapat memaksanya berbuat sesuatu di luar dugaan. Dari padepokan Jati Aking, Raden Juwiring tidak segera kembali kepada pasukan induknya yang diduganya masih berkeliling di sekitar padukuhan itu sekedar untuk melepaskan kejemuan. Karena itu maka iapun segera pergi ke rumah salah seorang gadis berkalung merjan yang dijumpainya di pinggir padukuhan. Dengan ketakutan ayah gadis itupun ikut menemuinya pula. Bahkan dengan membungkukkan kepalanya dalam- dalam ayahnya itu berkata “Raden, jika kalung itu harus dilepas, biarlah ia melepaskannya. Dan jika kalung itu memang harus dikembalikan biar lah ia mengembalikan” “Kepada siapa kalung ijtu akan dikembalikan?“ bertanya Juwiring. Orang tua gadis itu menjadi bingung. Dan bahkan iapun bertanya kepada anaknya “Kepada siapa kalung itu akan kau kembalikan?“ “Aku tidak tahu” jawab gadis itu dengan gemetar. Juwiring tersenyum. Katanya “Jangan takut. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin mendengar sekali lagi ceriteramu tentang orang-orang yang member ikan kalung itu kepadamu. Aku ingin bertanya, kenapa Arum mendapat dua untai, sedang yang lain hanya satu?“ Gadis itu menjadi semakin cemas. Namun ia masih dapat mengingat apa yang dikatakan Arum tentang orang gemuk berkuda coklat.Dan hal itulah yang kemudian dikatakannya kepada Raden Juwiring. Bahwa Arum telah memberi tahukan tentang orang berkuda coklat itu sehingga ia mendapat hadiah kalung lebih banyak dari kawan-kawannya. Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ketajaman berpikirnya telah membawanya ke dalam suatu gambaran tentang Arum dan orang-orang itu. Jika benar- benar Arum memberikan penjelasan itu maka persoalannya tentu tidak hanya akan berhenti sampai sekedar memberikan dua untai kalung itu. Tetapi Raden Juwir ing tidak berhasil mendapat keterangan lebih banyak lagi dari gadis itu, karena gadis itu memang tidak mengetahui peristiwa-perist iwa yang menyusul kemudian. Dari rumah gadis itu, Raden Juwiring kembali ke induk pasukannya yang ternyata telah kembali pula dari perjalanan mereka mengelilingi daerah di sekitar padukuhan Jati Sari. “Apa yang kalian ketemukan?“ bertanya Raden Juwiring. “Aku mengambil kesimpulan, bahwa daerah ini memang merupakan daerah yang harus mendapat pengawasan” berkata Perwira itu “Kami menemukan jejak beberapa orang berkuda.” Semula Raden Juwiring mengira bahwa perwira itu sekedar berpura-pura untuk memberikan kesibukan berpikir kepada anak buahnya. Aar anak buahnya tidak tenggelam ke dalam sikap jemu yang berlebih-lebihan. Namun ternyata bahwa setelah keduanya duduk terpisah dari para prajurit yang beristirahat, perwira itu berkata “Sebenarnya aku melihat Raden. Ternyata kedatangan kami telah diketahui. Sepasukan kecil orang-orang berkuda lewat di bulak sebelah” “Kau berkata sungguh-sungguh?““Ya Raden. Semula aku memang sekedar ingin membangunkan anak-anak yang kantuk itu. Tetapi ternyata kami benar-benar menemukannya, meskipun aku belum dapat mengatakan dengan pasti, bahwa mereka adalah anak buah Raden Mas Said. Mungkin juga mereka adalah beberapa orang saudagar yang pergi bersama-sama untuk menghindarkan diri dari perampokan. Jika mereka bergabung, maka mereka akan dapat melawan perampok-perampok di sepanjang perjalanan mereka” Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya. Masih ada kemungkinan-kemungkinan lain. Tetapi sebaiknya kita memang harus berhati-hati. Kemungkinan paling besar dari jejak itu adalah pasukan Kamas Said. Ia tentu mengirimkan orang-orangnya untuk mengawasi perjalanan kita. Jika dianggapnya tepat, maka pada suatu saat ia-akan menyergap dan membinasakan kita“ Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih berkata “Tetapi aku belum pernah mendengar berita tentang sergapan laskar Raden Mas Said atas sepasukan prajurit Surakarta yang tidak dibarengi oleh kumpeni” “Mungkin kita adalah orang-orang yang pertama mengalami” jawab Raden Juwiring. Perwira itu hanya menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Raden Juwiring sesaat. Namun kemudian perwira itupun melemparkan tatapan matanya kekejauhan. Hampir di luar sadarnya, jika kemudian prajur it itu membayangkan seorang bangsawan muda yang berpacu di atas punggung kuda yang tegar dengan senjata telanjang di tangan. ”Memang luar biasa“ perwira itu berkata di dalam hatinya “Raden Mas Said memiliki kemampuan di atas kemampuan manusia kebanyakan” sejenak perwira itu memandang RadenJewiring dengan sudut matanya “Tetapi bangsawan muda yang duduk di sebelah inipun memiliki kemampuan orang kebanyakan seperti juga ayahandanya” Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi heran bahwa Raden Mas Said tidak segera dapat ditundukkan. di Surakarta sebenarnya banyak sekali prajurit bangsawan dan bahkan pimpinan pemerintahan yang memiliki kemampuan yang luar biasa yang barangkali t idak kalah dar i Raden Mas Said. Tetapi kenapa Raden Mas Said masih dapat dengan leluasa melakukan kegiatannya. Perwira itu terkejut ketika tangan Raden Juwiring menggamitnya. Katanya “Marilah, kita menemui beberapa orang yang pulang dar i sawah” Setelah menyerahkan pimpinan kepada perwira yang lebih muda, maka Raden Juwiringpun berjalan perlahan-lahan bersama perwira itu ke sudut desa. Sejenak mereka menunggu. Sebentar lagi orang-orang Jati Sari akan pulang dari sawahnya karena matahari telah hampir turun menginjak punggung bukit di sebelah Barat. “Jika mereka tahu kita berada di sini, mereka akan mengambil jalan lain” berkata Raden Juwiring. Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Karena itu, maka merekapun berdir i di tempat yang agak terlindung di balik tikungan di sudut desa. Ketika orang yang pertama lewat, dan dihentikan oleh Raden Juwiring, orang itupun terkejut sekali. Dipandanginya Raden Juwiring dengan tatapan mata yang tajam, tetapi penuh keheranan. “Paman tentu mengenal aku” berkata Raden Juwiring sambil tersenyum.Orang itupun kemudian mengangguk ragu. Katanya “Ya, ya. Aku sudah mengenal Raden. Bukankah Raden pernah berada di padepokan Jati Aking” “Ya. Aku Juwiring. Bukankah kita sering pergi ke sawah bersama-sama?“ “Ya, ya. Tetapi hampir saja aku tidak mengenal Raden dalam pakaian yang lain dari pakaian kebiasaan yang Raden pakai saat Raden ada di Jati Aking” Juwiring tersenyum. “Apakah Raden akan kembali ke Jati Aking” bertanya orang itu asal saja karena kebingungan. Raden Juwiring tersenyum. Jawabnya “Tidak saat ini paman“ Petani itu mengangguk-angguk. Dan Juwiring berkata selanjutnya “Aku hanya sekedar ingin menengok padukuhan yang sudah lama tidak pernah aku kunjungi” “O“ petani itu merenung sejenak, lalu “Jika demikian, silahkan singgah” “Terima kasih paman” “Kapan Raden sempat, datanglah. Sekarang, aku minta diri“ Juwiring tersenyum. Ada kesan yang aneh di wajah orang yang dengan tergesa-gesa ingin meninggalkannya. Namun karena itu maka Juwiringpun berkata “Tunggu paman. Jangan tergesa-gesa” “Tetapi, tetapi aku sudah pergi sehari-harian Raden” “Aku memer lukan waktu sebentar saja” Orang itu memandang Juwiring dengan herannya. Namun kemudian ia menjadi sangat gelisah.“Paman” berkata Juwiring kemudian “Aku hanya ingin bertanya, apakah di saat-saat terakhir ini paman pernah mendengar atau mengetahui perist iwa yang agak lain di padukuhan ini?“ “Maksud Raden?“ “Misalnya, perkelahian yang terjadi di daerah ini meskipun bukan terjadi atas orang-orang padukuhan ini. Atau peristiwa yang lain yang sebelumnya tidak pernah terjadi” Orang itu menjadi semakin gelisah. Dengan suara yang terputus-putus ia menjawab “Aku tidak tahu apa-apa Raden. di sini tidak pernah terjadi sesuatu. Padukuhan Jati Sari selalu tenang-tenang saja. Hanya kali ini sepasukan prajurit itu datang di Jati Sari bersama Raden” Juwiring memandang orang itu sejenak, lalu “Perampok misalnya, atau sebaliknya perampok yang tertangkap?“ “Tidak Raden. Tidak ada yang pernah terjadi” Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil tersenyum ia berkata “Baiklah paman. Silahkan jika paman ingin segera mandi dan kemudian makan nasi hangat dengan sambal teri” “Ah” Orang itu bingung sesaat. Namun iapun kemudian mengangguk sambil minta dir i “Sudahlah Raden. Hari sudah hampir gelap” Juwiring hanya tersenyum saja sambil menganggukkan kepalanya. “Sulit untuk mendapat keterangan Raden” berkata perwira itu. “Mereka adalah orang yang jujur dan terbuka. Jika terjadi sesuatu di daerah ini dan mereka mengetahui, maka mereka tentu akan mengatakan sesuatu”Perwira itu tidak menjawab lagi, karena Raden Juwiring telah menghentikan orang berikutnya. Tetapi dari orang inipun mereka t idak mendapat keterangan apapun juga. Menilik wajah dan sorot mata mereka, orang-orang Jati Sari itu sama sekati tidak sengaja mengelabuinya dengan jawaban-jawaban yang menyesatkan. Bahkan beberapa orang yang kemudian juga dihent ikan dan mendapat pertanyaan yang serupa, maka jawaban merekapun serupa pula. “Nah, kau dengar” berkata Juwiring kepada perwira itu “Mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi atas keempat orang petugas sandi itu. Jika terjadi sesuatu di padukuhan ini, maka mereka tentu dapat mengatakan, misalnya terjadi perkelahian antara empat orang melawan sepasukan laskar Raden Mas Said. Atau jika mereka tidak dapat menyebut demikian, maka mereka akan mengatakan, telah terjadi perkelahian antara beberapa orang gerombolan perampok, atau perkelahian antara orang-orang yang tidak dikenal. Tetapi ternyata mereka tidak mengetahui apapun juga” ”Tetapi dua dari empat orang itu pernah datang ke padukuhan ini Raden” sahut perwira itu. “Wajar sekali, karena tugas mereka memang di padukuhan ini. Mereka harus datang dan berusaha mendapat keterangan, kenapa orang-orang Jati Sari t idak percaya bahwa perampok- perampok yang mengganas itu adalah anak buah Raden Mas Said. Justru mereka menganggap bahwa hal itu sengaja dibuat oleh kumpeni” “Bagaimana jika tugas itu saja yang kita ambil alih. Kita bertanya kepada mereka, siapakah yang telah menyebarkan pendapat itu”“Aku sudah tahu jawabnya. Tentu orang-orang berkuda atau orang gemuk berkuda coklat itu, atau orang berjambang berkuda putih“ “Siapakah mereka?“ “Maksudku, tentu ada orang-orang Raden Mas Said yang berkeliaran di sini. Mungkin jejak kaki kuda yang kau lihat itu benar jejak kaki kuda anak buah kamas Said. Mereka berkeliaran di daerah ini dengan berbagai maksud” Perwira itu menarik nafas dalam-dalam, lalu “Raden. Mungkin pertanyaanku agak terlampau jauh. Tetapi beberapa orang perwira tinggi dari kalangan bangsawan selalu menyebut Pangeran Mangkubumi. Apakah daerah ini menjadi daerah pengaruh Raden Mas Said atau Pangeran Mangkubumi?“ Raden Juwiring mengerutkan keningnya, lalu “Aku tidak tahu pasti. Tetapi apa yang kau dengar tentang Pangeran Mangkubumi “ “Tentu Raden lebih tahu” “Aku ingin memperbandingkan saja” “Beberapa bangsawan telah sepakat untuk menyudutkan Pangeran Mangkubumi” “Dasarnya?“ “Ah. Raden tentu sudah tahu” “Katakan” “Daerah palenggahan Pangeran Mangkubumi terlampau luas” “Tepat. Aku sudah mendengar. di daerah yang terlalu luas itu sudah dibangun kekuatan yang dapat mengganggu ketenangan pemer intahan di Surakarta” “Nah, begitu Raden”Juwiring mengangguk-angguk, lalu “Apa kau sangka bahwa jejak kaki-kaki kuda itu adalah orang-orang dari daerah Sukawati?“ Perwira itu t idak menyahut. “Atau barangkali kau ingin mengatakan bahwa mungkin sekali keempat orang itu tidak jatuh ke tangan anak buah kamas Said, tetapi anak buah pamanda Pangeran Mangkubumi?” “Seperti yang Raden katakan, ada banyak kemungkinan dapat terjadi” “Aku belum memikirkan kemungkinan itu. Pamanda Pangeran Mangkubumi masih selalu menjalankan kuwajibannya. Ia selalu datang menghadap ke istana pada saatnya. Dan ia tidak berbuat sesuatu yang dapat dianggap dengan berterus terang menentang pemerintahan Surakarta dan kumpeni” “Bukankah Raden sudah menyebutkan, di daerah Sukawati sudah dibangun kekuatan yang dapat mengganggu ketenangan pemer intahan di Surakarta” “Bukankah itu baru merupakan perhitungan kita saja? Tetapi belum ada bukti perlawanan yang torang-orangan dari pamanda Pangeran meskipun jelas pamanda Pangeran Mangkubumi tidak senang melihat kumpeni semakin berpengaruh di Surakarta” Perwira itu mengangguk-angguk. Tetapi di dalam sudut hatinya, sebenarnya tersembunyi juga kecemasannya, bahwa yang berkeliaran di daerah ini tentu bukan hanya pasukan dari Raden Mas Said, tetapi tentu juga pasukan Pangeran Mangkubumi, yang diakui atau tidak diakui, kini sebenarnya sudah merupakan kekuatan yang dapat menggoyahkan kekuasaan di Surakarta.“Agaknya kabut yang gelap segera akan menyelubungi Surakarta. Jika Pangeran Mangkubumi dan beberapa saat yang lampau berhasil menghentikan kegiatan Raden Mas Said, agaknya tidak mustahil bahwa pada suatu saat keduanya akan merupakan kekuatan yang menakutkan bagi Surakarta” berkata perwira itu di dalamhatinya. Perwira itu terkejut ketika Raden Juwiring menggamitnya sambil berkata “Kita tidak akan mendapatkan keterangan apa- apa. Karena itu, kita harus mengambil kesimpulan. Kita harus menghubungkan hilangnya keempat orang itu dengan jejak kaki-kaki kuda itu” “Mungkin sekali“ Raden Juwiring mengangguk, lalu “Mar ilah kita kembali ke induk pasukan. Besok kita melanjutkan usaha kita terakhir” Demikianlah maka Raden Juwiringpun segera kembali ke induk pasukannya. Mereka bermalam di halaman yang agak luas itu. Sebagian tidur di pendapa beralaskan t ikar pandan. Yang lain di gandok sebelah menyebelah, dan yang lain lagi di halaman beralaskan ketepe belarak yang mereka anyam sendiri. Sedang di beberapa bagian, prajurit yang bertugas masih tetap bersiaga. Apalagi mereka mengetahui bahwa daerah itu merupakan daerah yang menyimpan beberapa rahasia yang belum terpecahkan, sehingga pasukan berkuda itu perlu berhati-hati. Sementara itu di dapur rumah itupun menjadi sibuk. Mereka harus menyediakan makan prajurit-prajurit berkuda yang ada di halaman itu. Meskipun seorang perwira prajurit itu member ikan sekedar uang kepada penghuni rumah itu sebagai ganti bahan-bahan makanan yang mereka pergunakan, namun menyediakan makan untuk sekelompok prajurit tanpa disiapkan lebih dahulu, adalah pekerjaan yang cukup berat.Di pagi harinya, Raden Juwiring membawa beberapa orang pengawal berkuda mengelilingi padukuhan itu. Tiba-tiba saja anak muda itu tertarik untuk pergi ke padukuhan di seberang bulak. Katanya kepada para pengawalnya “Mungkin terjadi sesuatu atas keempat orang itu, tetapi tidak di padukuhan ini Justru ketika mereka sudah meninggalkan daerah ini” “Maksud Raden?“ “Kita pergi ke padukuhan sebelah” Demikianlah maka Raden Juwiring dengan beberapa orang pengawalnyapun pergi ke padukuhan sebelah. Padukuhan yang terpisah dari Jati Sari oleh sebuah bulak yang agak panjang. Adalah mendebarkan hati, ketika Raden Juwiring justru mendapat keterangan dari seorang petani di padukuhan tersebut, bahwa di pategalan seseorang terdapat bekas kaki-kaki kuda yang agakyya ditambatkan di malam hari. “Darimana kau tahu?“ bertanya Raden Juwiring. “Orang itu berceritera kepada setiap orang, bahwa di pagi hari ketika ia pergi kepategalan diketemukan jejak-jejak kaki kuda. Agaknya bukan hanya seekor. Tiga atau empat” Juwiringpun segera tertarik kepada ceritera itu, sehingga sejenak kemudian, iapun telah berhadapan dengan pemilik pategalan itu.Tetapi yang dapat diceriterakan oleh pemilik tegalan itu tidak lebih dari yang sudah didengarnya, la hanya melihat jejak kaki-kaki kuda. Selebihnya tidak. Namun dengan demikian Juwir ing mengambil kesimpulan bahwa keempat petugas sandi itu sudah melakukan tugasnya di Jati Sari. Namun mereka tidak dapat kembali ke induk pasukannya. Waktu yang diperlukan sudah cukup lama. Jika tidak terjadi sesuatu atas mereka bersama-sama, maka salah seorang dari mereka tentu sudah kembali dan melaporkan apa yang telah terjadi. Perwira yang mengikutinyapun mengambil kesimpulan serupa. Dengan ragu-ragu ia berkata “Agaknya keempatnya sudah dibinasakan Raden. Atau mereka tertangkap hidup- hidup dan ditawan oleh pasukan Raden Mas Said, atau . . ” “Pamanda Mangkubumi maksudmu?“ Perwira itu mengangguk. Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia masih mempunyai dugaan lain, meskipun t idak dikatakannya kepada siapapun juga. Di Jati Aking ada Kiai Danatirta dan Arum. Jika keduanya bertindak atas keempat petugas sandi itu, maka keempatnya tentu tidak akan dapat berbuat banyak. Namun jika demikian, kemanakah kuda-kuda itu pergi Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Tugasnya kau ini memang sangat berat. Berat bagi pasukannya dan berat bagi perasaannya sendiri. Yang kemudian dapat disimpulkan oleh Raden Juwiring dan pasukannya, adalah bahwa keempat orang itu setelah melakukan tugasnya tidak berhasil kembali ke induknya. “Itulah yang dapat kita laporkan” berkata Raden Juwir ing kepada perwira yang tertua.Perwira itu menganggukkan kepalanya “Ya, kita tidak akan dapat mengambil kesimpulan lain. Sedang yang masih meragukan adalah, siapakah yang telah menangkap atau membunuh keempat orang itu. Mungkin anak buah Raden Mas Said, dan mungkin anak buah Pangeran Mangkubumi” “Pamanda Pangeran belum berbuat sesuatu” “Raden” berkata perwira itu “meskipun pamanda Raden belum berbuat sesuatu, biarlah kita menyebutnya. Bahkan jika perlu justru kita sebut kemungkinan terbesar adalah anak buah Pangeran Mangkubumi” “Gunanya?“ “Tindakan atas Pangeran Mangkubumi itu akan segera dilakukan. Para bangsawan tertinggi di Surakarta sama sekali tidak dapat menerima lagi kehadiran Pangeran Mangkubumi di antara mereka. Sikapnya yang asing, dan tanah kalenggah-an yang terlalu luas” “Jadi para Pangeran yang iri hati itu akan mempercepat tindakan atas pamanda Mangkubumi?“ “Ya, seperti juga ayahanda Raden. Pangeran Ranakusuma akan dapat mempergunakan bahan yang kita bawa ini untuk mempercepat usaha mencabut Tanah Sukawati dari kekuasaan Pangeran Mangkubumi. Tanah itu akan dipecah- pecah agar tidak ada lagi kesatuan di Sukawati” “Apa keuntunganmu jika hal itu terjadi?“ Perwira itu mengerutkan keningnya. Katanya “Tentu tidak secara langsung. Tetapi dengan demikian bahaya yang dapat ditimbulkan oleh orang-orang Sukawati itu menjadi kecil. Lebih dar i itu, aku dapat mengharap bahwa Senapati pasukan berkuda, Pangeran Windunata akan mendapat sebagian dari Sukawati itu. Sudah dapat dipastikan, aku akan menjadi penguasa daerah itu seperti yang sudah pernah disanggupkan oleh Pangeran Windunata kepadaku”Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Tetapi apa yang akan aku dapatkan?“ “Pangeran Ranakusuma akan mendapatkannya juga” “Tetapi tentu bukan aku penguasanya” “Tentu Raden. Raden adalah putera Pangeran Ranakusuma itu” Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tertawa sambil menepuk bahu perwira itu “Jika setiap Pangeran yang ikut membicarakan pamanda Mangkubumi akan mendapat bagian atas tanah Sukawati, maka setiap orang tentu hanya akan mendapat sejengkal. Dan itu tidak akan berarti apa-apa” Perwira itu tidak segera menjawab. Tetapi iapun kemudian tersenyumpula. Demikianlah maka Raden Juwiring dan pengawalnyapun segera kembali ke Jati Sari. Mereka tidak mendapat jawaban yang pasti tentang keempat orang yang hilang itu, selain dugaan-dugaan belaka meskipun serba sedikit ia menemukan jejaknya. “Kita mengatakan apa yang sebenarnya kita lihat“ berkata Raden Juwiring “Jika kita memberikan keterangan yang tidak benar, itu akan sangat berbahaya, karena para pemimpin prajurit akan dapat mengambil langkah yang salah atas dasar keterangan yang tidak benar itu” Perwira itupun hanya dapat menganggukkan kepalanya saja. Apalagi ia dapat mengerti keterangan yang diberikan oleh Raden Juwir ing itu. Setelah bermalam semalam lagi tanpa mendapat keterangan apapun juga, maka Raden Juwiringpun membawa pasukannya kembali ke kota. tanpa minta diri lebih dahulu ke padepokan Jati Aking. Raden Juwiring menganggap bahwa ia tidak perlu lagi menemui Arum. Juga Kiai Danatirta. Karenabaginya keduanya itu tentu tidak akan memberikan keterangan apa-apa seandainya ia minta. “Laporan kita tidak akan membuka jalan untuk menemukan keempat orang itu” berkata perwira pengawal Raden Juwiring di perjalanan “daerah ini adalah daerah terbuka yang luas. Setiap orang dapat lewat jalan yang melalui Jati Sari. Karena itu ada juga masuk akal, bahwa orang-orang Jati Sari sering sekali melihat orang-orang asing yang lewat di jalan yang menembus padukuhan itu” “Ya” sahut Raden Juwiring “Apalagi orang-orang yang memakai pakaian petani seperti mereka” “Kita tidak tahu pasti, apakah para petugas sandi itu mengenakan pakaian petani atau pakaian saudagar” “Apapun pakaian mereka, namun kita tidak akan dapat menemukan mereka lagi. Bahkan keterangan mengenai merekapun tentu amat sulit. Apalagi prajurit-prajurit yang belumpernah tinggal di Jati Sari seperti aku” Perwira itu hanya mengangguk-angguk saja. Sebenarnya memang sulit untuk mendapatkan keterangan lebih banyak lagi tentang orang-orang yang dicarinya. Dalam pada itu, sepeninggal prajurit-prajurit Surakarta, rasa-rasanya orang-orang Jati Sari dapat bernafas lagi. Mereka sendiri heran, kenapa bagi mereka prajur it Surakarta sama sekali tidak dapat memberikan ketenangan, sehingga mereka kadang-kadang bertanya kepada diri sendiri “Kepada siapakah sebenarnya kami harus berlindung? Surakarta adalah pusat pemerintahan kami. Tetapi kami tidak pernah merasa tenang dan tenteram apabila kami berada di dekat prajurit-prajur it Surakarta itu” Dan sebagian dari mereka mencoba menjawab “Karena Surakarta sudah terlampau dalam dicengkam oleh kekuasaan kumpeni“Di Jati Aking Arum mengadu kepada ayahnya tentang Raden Juwiring yang lain sekali dengan Raden Juwiring yang dikenalnya di padepokan Jati Aking dahulu. “Apakah ia berbuat sesuatu yang dapat kita anggap merugikan Jati Sari dan Jati Aking?“ bertanya ayahnya. “Kehadirannya sudah mencemaskan setiap orang Jati Sari ayah” jawab Arum. “Tetapi bukankah ia tidak berbuat apa-apa di sini?“ “Raden Juwiring mencari keterangan tentang empat orang yang hilang itu” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. “Ia mencari aku ayah. Aku merasakan kecur igaan disorot matanya. Mungkin ia mengerti dengan pasti bahwa di daerah ini tidak ada orang lain yang dapat melakukannya selain kita berdua” “Tetapi ternyata ia keliru. Bukankah orang-orang itu telah dibawa oleh Sura?“ “Tetapi bukankah sebagian sudah benar?“ Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya “Tetapi sikapmu sudah benar Arum. Dan akupun menganggap bahwa memang sebaiknya aku tidak menemuinya. Jika aku bertemu dengan Juwiring dengan sikap yang tidak wajar, maka aku tentu akan menyesal karena aku telah memberikan ilmu kepadanya” “Bahkan semua dasar-dasar ilmu Jati Aking. Tentu ia akan dapat mengembangkannya, ditambah ilmu dar i Pangeran Ranakusuma sendir i” “Kita tidak harus silau melihat ilmunya Arum. Tetapi bahwa ia pernah menjadi keluarga kita kadang-kadang dapat menimbulkan persoalan tersendiri”“Tetapi jika ia sudah benar-benar berdiri di seberang, apakah yang dapat kita lakukan atasnya ayah?“ “Kita masih harus meyakinkannya Arum. Kita baru melihat Raden Juwiring berpakaian seorang prajurit Surakarta. Hanya itu. Dan kitapun sebenarnya tidak boleh berprasangka kepada keseluruhan prajur it Surakarta” “Ayah tidak menjumpainya sendiri. Jika ayah bertemu dengan Raden Juwiring sendiri, maka ayah tentu akan merasakan perubahan itu. Bukan sekedar bentuk badaniah, tetapi agaknya juga sikap batinnya” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku akan mencari bukti yang lebih meyakinkan tentang sikapnya itu Arum” Arum memandang ayahnya sejenak. Namun seakan-akan ia tidak dapat merasakan kesungguhan kata-kata ayahnya itu. Seakan-akan ayahnya itu berkata kepadanya di masa kanak- kanak jika seseorang nakal kepadanya “Biarlah nanti aku putar telinganya Arum. Jangan menangis” Meskipun Arum tidak menyatakan perasaannya, namun agaknya Kiai Danatirta dapat menebaknya sehingga ia melanjutkannya “Aku berkata sesungguhnya Arum. Tetapi kita tidak akan dapat melontarkan tuduhan begitu saja sebelum kita melihat buktinya” “Apakah pakaiannya, pasukan yang dibawanya dan tugas yang dilakukannya itu belum dapat meyakinkan kita?“ Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Itu baru yang kasat mata Arum. Tetapi apakah kita dapat melihat hatinya? Ia adalah putera Pangeran Ranakusuma. Karena itu ia harus melakukan tugas-tugasnya seperti kebanyakan putera Pangeran”Arum tidak menjawab lagi meskipun tampak pada wajahnya bahwa ia tidak puas mendengarkan jawaban ayahnya itu. Demikianlah sikap dan tugas yang dibawa oleh Juwir ing benar-benar telah mengecewakan Arum. Ia tidak lagi menaruh hormat yang mendalam seperti pada saat Juwir ing masih berpakaian seorang petani di padepokan Jati Aking itu. Namun demikian, Arum tidak dapat berbuat apa-apa atas Raden Juwiring selain menyesalinya. Raden Juwiring adalah seorang yang telah dewasa dan berkedudukan baik, sehingga ia wenang menentukan sikapnya sendiri. Di hari itu wajah Arum nampak sangat murung. Kekecewaannya benar-benar telah mempengaruhi keadaannya. Ia tidak banyak berbicara dengan pembantu- pembantunya dan bahkan dengan Kiai Danatirta. Lewat tengah hari, Arum minta diri kepada ayahnya untuk pergi ke sawah. Sebenarnya tidak ada yang akan dikerjakannya, selain untuk melepaskan kekecewaan yang menyumbat dadanya. “Aku akan menemui kawan-kawan ayah” berkata Arum. “Tidak ada gadis-gadis yang pergi ke sawah lewat tengah hari di hari ini. Tidak ada yang akan mereka kerjakan. Pagi tadi banyak kawan-kawanmu pergi memetik lembayung” “Tentu masih ada ayah. Mereka kadang-kadang pergi ke sawah untuk mengambil bakul tempat makanan ketika mereka membawa makanan itu ke sawah. Atau barangkali masih ada satu dua yang menunggu ayahnya atau kakaknya yang bekerja di sawah dan pulang bersama menjelang sore” “Tetapi tidak sebanyak pagi hari. Kenapa kau tidak pergi besok pagi saja memetik lembayung?“ “Aku ingin pergi sekarang ayah”Kiai Danatirta tidak dapat mencegahnya lagi. Ia tahu bahwa sebenarnya Arum hanya ingin sekedar menghirup udara yang lapang di sawah, karena dadanya tentu serasa tersumbat mengalami per lakuan kakak seperguruannya yang ternyata sangat mengecewakannya itu. Karena itu Kiai Danatirta tidak mencegahnya lagi. Dibiarkannya saja Arum pergi ke sawah membawa sebuah bakul kecil. “Aku akan memetik terung ayah” berkata Arum ketika ia pergi. “Kau akan pergi kepategalan juga” “Ya ayah” Ayahnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Jika ia dapat melepaskan diri dar i kekecewaannya dengan bergurau bersama kawan-kawannya maka hatinya tentu akan menjadi sedikit lapang. Demikianlah maka Arum pergi ke sawah seorang dir i. Ternyata tidak banyak lagi gadis-gadis yang masih tinggal di sawah meskipun seperti yang dikatakannya masih ada juga gadis-gadis yang menunggui ayahnya bekerja dan pulang bersama-sama menjelang sore. Tetapi Arum tidak menemui mereka. Ia langsung pergi ke sawahnya. Perlahan-lahan ia melangkah di pematang sambil memperhatikan air yang mengalir di par it sepanjang pematang sawahnya. Kemudian Arumpun pergi ke gubugnya dan memanjat ke atas. Matahari yang sudah mulai condong ke Barat, panasnya masih menyengat kulit. Karena itu, maka Arum berteduh saja di dalam gubugnya. Bahkan iapun kemudian berbaring sambil merenungi peristiwa-per istiwa yang baru saja terjadi di Jati Aking.Bahkan sejenak ia teringat saat-saat ia bertemu dengan Buntal. Ia menjerit karena terkejut ketika Buntal memanjat gubug. Tetapi ternyata jeritnya telah membuat Buntal menjadi babak belur, dan bahkan hampir saja merenggut nyawa anak muda itu. “Aku akan mencer iterakan semua yang aku ketahui tentang kakang Juwiring” berkata Arum di dalamhatinya. Namun tiba-tiba ia terkejut ketika ia mendengar suara orang yang bercakap-cakap mendekati gubugnya. Semakin lama semakin dekat. Perlahan-lahan Arum bergeser menepi. Seperti yang diduga, ada dua orang yang berjalan di sepanjang pematang mendekati gubugnya itu. Namun tiba-tiba saja ia bangkit sambil menyebut nama orang yang datang mendekati gubugnya itu “Paman Sura“ Langkah Sura terhenti sejenak. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya Arum dengan tergesa-gesa turun dari gubugnya yang bertiang agak tinggi. “Siapa yang kau cari paman?“ bertanya Arum. ”Aku melihatmu naik ke gubug. Karena itu aku datang kemari” “Dimana paman selama ini?“ “Aku berada di bawah pohon preh itu melepaskan lelah”“Darimanakah paman pergi?“ “Aku sengaja pergi ke Jati Sari” “O“ Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dipandanginya kawan Sura yang termangu-mangu, sehingga Surapun kemudian berkata “Ia adalah kawanku. Kawan yang cukup baik” Arum menganggukkan kepalanya. Kawan Sura itu bukannya kawannya yang pernah datang bersamanya beberapa saat lampau. “Apakah ada keperluan penting paman? Atau paman mendengar berita tentang sesuatu yang harus segera mendapat tanggapan?“ Sura tersenyum. Jawabnya “Benar Arum. Aku mendapat perintah untuk melihat-melihat daerah ini. Menurut pendengaran kami sepasukan prajurit Surakarta telah dikerahkan untuk mencari keempat orang yang hilang itu” “Paman benar” berkata Arum ”sepasukan prajurit berkuda telah datang ke Jati Sari” “Apakah mereka berbuat sesuatu yang sangat merugikan rakyat Jati Sari?” Arum termangu-mangu sejenak. Sekilas terbayang Juwiring di masa ia masih berada di padepokan Jati Sari, kemudian Juwiring yang berpakaian seorang prajurit. Namun kemudian terloncat dari sela-sela bibirnya jawaban “Tidak paman. Mereka tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya bertanya tentang orang-orang yang mereka sangka telah datang ke Jati Sari” “Kepada siapakah mereka itu bertanya?“ “Kepada banyak orang”“Apa jawab mereka? Jika mereka mengatakan tidak tahu menahu, maka tentu tidak akan ada pertanyaan-pertanyaan berikutnya” “Mula-mula mereka berkata demikian paman” “Kenapa mula-mula?“ Arum memandang Sura sejenak, lalu “Mereka ternyata melihat beberapa gadis berkalung merjan yang didapat dari orang-orang itu. Merjan itu merupakan pancatan bagi mereka untuk bertanya tentang orang-orang itu. “O. Lalu apakah mereka bertanya juga kepadamu?“ “Ya, karena aku mendapat dua untai merjan. Dan pemimpin pasukan berkuda itu tahu benar bahwa di Jati Sari tidak ada orang lain yang pantas dicurigai selain aku dan ayah” “Siapakah pemimpin pasukan berkuda itu? Dan dari mana mereka mengetahuinya?“ “Tentu ia tahu pasti” “Siapa pemimpinnya? Aku hanya mendapat perintah untuk mengamat-amati akibat dari kedatangan sepasukan prajurit berkuda di Jati Sari. Tetapi aku tidak tahu secara pasti dan keseluruhan dar i pasukan berkuda itu” “Pemimpinnya adalah putera Pangeran Ranakusuma?” “He“ Sura terkejut “putera Pangeran Ranakusuma? Bukankah Raden Rudira sudah meninggal?“ “Apakah puteranya hanya seorang?“ “Ada yang lain, seorang puteri. Apakah gadis itu ikut di dalam pasukan berkuda?“ “Bukan seorang gadis” “Aku tidak mengerti”“Raden Juwiring” “He“ mata Sura terbelalak. Seolah-olah ia tidak percaya kepada pendengarannya sendiri. Arum sudah menduga, bahwa Sura akan terkejut mendengarnya, karena nama itu tentu tidak akan diduganya sama sekali. “Arum” desis Sura dengan ragu-ragu “Apakah maksudmu Raden Juwiring yang pernah tinggal di padepokan Jati Aking?“ “Ya. Raden Juwiring itu adalah Raden Juwiring yang pernah berguru kepada ayah“ Sura menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia termangu- mangu. Namun kemudian iapun bergumam “Arum, kadang- kadang kita memang dihadapkan kepada sesuatu persoalan yang tidak kita duga-duga sebelumnya. Dan itu merupakan ciri kelemahan hati seseorang. Semula kita menyangka bahwa Raden Juwiring adalah seorang anak muda yang jauh berbeda dengan Raden Rudira. Tetapi justru setelah ia berada di istana ayahandanya, maka iapun telah berubah” “Raden Juwiring justru akan menjadi lebih berbahaya dari Raden Rudira paman” berkata Arum “karena Raden Juwiring jauh lebih banyak mengetahui persoalan padesan dan memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi pula dari Raden Rudira, yang justru telah dimanjakan sejak kanak-kanak” Sura mengangguk-angguk. Tetapi ia masih sulit membayangkan bahwa kini Raden Juwir ing telah memimpin sebuah pasukan berkuda dari Surakarta. “Paman” berkata Arum “sejak masa kanak-kanak Raden Juwiring telah dibebani oleh perasaan dendam. Ia tersingkir dari lingkungannya dan kemudian menjelang masa remaja ia telah dipisahkan dari keluarganya dan tinggal di padepokan ini”Sura masih mengangguk. Katanya “Aku ikut bersalah di dalam hal ini Tetapi perkembangan pr ibadi seseorang benar- benar merupakan teka-teki yang rumit. Aku pernah tersesat ke jalan yang salah. Pada saat itu aku sudah mengalami benturan melawan Raden Juwiring betapapun sifatnya. Tetapi pada saat aku menemukan jalan lurus dan benar, maka kini aku mendengar, bahwa Raden Juwiringlah yang telah memilih jalan silang yang lain, sehingga masih akan ada kemungkinan aku bertemu di persimpangan” Arum menganggukkan kepalanya. Katanya “Agaknya keadaan di sekitarnya tentu akan sangat berpengaruh terhadap seseorang” “Lalu bagaimana dengan Ki Dipanala?“ Arum menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Sudah lama Ki Dipanalapun tidak pernah datang ke Jati Aking. Aku juga cemas bahwa iapun akan terlibat ke dalam sikap seperti sikap Raden Juwiring. Pada saat Raden Rudira memiliki kekuasaan tidak terbatas di dalam istana ayahandanya bersama paman Sura, kemudian Mandra, paman Dipanala seakan-akan telah tersisih. Tetapi kini yang ada di istana itu adalah Raden Juwiring, dan paman Dipanala adalah pemomong Raden Juwiring yang paling disegani sejak ia masih berada jauh dari keluarganya” Sura menarik keningnya, lalu “Ya, kau benar Arum. Kini aku benar-benar berdiri di atas jalan yang sulit. Akulah yang sering menerima tugas untuk mengawasi daerah di sekitar padukuhan Jati Sari. Tetapi agaknya karena Raden Juwiring pernah tinggal di Jati Aking, maka ialah yang akan selalu mendapat tugas untuk menggarap daerah yang sudah dianggap berbahaya ini. Tentu Raden Juwiring tahu pasti tentang padepokan Jati Aking dan padukuhan Jati Sar i secara keseluruhan” “Kami akan membantumu paman” sahut Arum.“Tetapi perasaanku akan menjadi pedih jika sekali lagi aku harus berhadapan dengan Raden Juwiring setelah kita seakan- akan bertukar tempat di dalam permainan anak-anak kecil kita kadang-kadang memang harus bertukar tempat, berlintangalihan. Tetapi yang kita hadapi sekarang ini bukan permainan anak-anak sehingga sangat beratlah rasa hati ini untuk berlintangalihan seperti ini“ “Tetapi apaboleh buat paman. Kita tidak mempunyai pilihan lain. Kita harus menghadapinya. Sudah barang tentu kami berdua tidak akan mampu berbuat banyak jika kita dihadapkan pada pasukan berkuda dari Surakarta dalam jumlah yang banyak itu” “Selama ini Arum, kami belum pernah melakukan t indakan langsung terhadap prajurit-prajurit Surakarta tanpa kumpeni. Mudah-mudahan Raden Juwiring tidak memaksa kami berbuat demikian” Arum menarik nafas dalam-dalam. “Arum“ berkata Sura “Aku sudah mendapat bahan yang cukup. Kau bagi kami adalah seorang yang sangat penting, meskipun kau seorang gadis” Sura berhenti sejenak, lalu “Arum. Dahulu Raden Rudira menyebutmu sebagai sekuntum bunga, tetapi yang tumbuh di atas batu-batu karang yang keras dan kasar. Maka akupun ternyata sependapat meskipun dengan maksud yang lain. Aku bukan seorang yang senang memuj i, tetapi bagi kami yang mengetahui sikapmu, kau benar-benar sekuntum bunga meskipun tumbuh di batu karang. Mungkin nada ucapanku agak berbeda dengan Raden Rudira, karena tekanannyapun memang berbeda. Bagi kami yang sedang berjuang, kau akan dapat membantu perjuangan kami sejauh-jauhnya, meskipun sangat berat bagimu, apalagi jika benar, daerah ini kemudian akan menjadi daerah pengawasan Raden Juwiring”“Kau selalu ber lebih- lebihan paman. Jika kau membenci seseorang, kau membencinya sampai keujung rambut. Jika kau memuj i maka kaupun memuji sampai keubun-ubun” “Tetapi kali ini tidak Arum. Mudah-mudahan kau tabah menghadapi masalah yang cukup rumit, justru karena saudara seperguruanmu sendiri” Arum menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menjawab. “Arum” berkata Sura kemudian karena Arum hanya. berdiam diri “Baiklah aku minta diri. Aku akan seringkah berkeliaran di daerah ini. Mudah-mudahan kau tidak jemu membantu aku dan seluruh kekuatan pasukan Raden Mas Said yang sudah mulai bergerak kembali setelah untuk beberapa saat lamanya terpaksa beristirahat dan menyingkir ke tempat yang terpencil dan jauh” Arum tidak menyahut. Dipandanginya tatapan mata Sura sejenak, namun kemudian kepala itu terangguk kecil. “Terima kasih Arum. Kami minta dir i. Setiap kali kami akan datang menemuimu. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang memaksa kau dan Kiai Danatirta melakukan perlawanan tanpa kami ketahui sehingga dapat membahayakan kalian” “Baiklah paman” berkata Arum kemudian “mudah-mudahan kami tidak harus berbuat terlalu banyak. Kami akan tetap hidup di padepokan Jati Aking dengan tenang dan tenteram” Sura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi iapun berkata “Arum, memang wajah lautan kadang-kadang tenang dan diam. Ketenangan dan kediaman itu mengandung keindahan tersendiri yang dapat dinikmati. Tetapi suatu saat air laut itu akan berguncang dan ombakpun akan menghantam pantai dengan dahsyatnya. Dan gejolak ombak itupun mengandung nilai tersendiri pula untuk dinikmat i Arum”Arum masih mengangguk-angguk kecil. Katanya “Benar paman. Tetapi sejauh dapat dijangkau, maka aku lebih senang menikmati ketenteraman hidup seperti yang diajarkan oleh ayah kepadaku. Bahkan sebenarnyalah setiap orang mendambakan ketenangan dan kedamaian di hati” “Aku mengerti Arum. Tetapi untuk menuju ke ketenangan dan kedamaian hati itu, agaknya jalan masih sangat panjang” Arum menganggukkan kepalanya. “Baiklah Arum, aku minta diri. Sampaikan salamku kepada Kiai Danatirta. Kepada Kiai Danatirtapun kami akan selalu mohon petunjuk dan pertolongan” “Aku akan menyampaikannya paman” Demikianlah maka Sura itupun meninggalkan Arum termangu-mangu. Semakin lama langkah Sura menjadi semakin jauh diir ingi oleh seorang kawannya. Seperti biasanya Sura tentu menyembunyikan kudanya di pategalan atau di hutan-hutan perdu. Arum menyadari dirinya ketika seseorang menegurnya “Arum siapakah yang kau tunggu?“ “O, tidak paman” “Kau lihat matahari sudah sangat rendah?“ Arumpun tergesa-gesa mengambil bakulnya. Tetapi ia tidak sempat mengambil terung di pategalan. Karena itu maka iapun segera meninggalkan sawahnya dan pulang ke padepokannya. Jati Aking. Di sepanjang jalan direnunginya persoalan yang berkisar di sekitar Jati Aking, yang seakan- akan menjadi pusaran perhatian kedua belah pihak yang sedang bertentangan. Tetapi Arum tidak sempat merenunginya lama-lama. Setiap kali ia bertemu dengan seseorang yang pulang dari sawahnya selalu menegurnya “Kau sendiri saja Arum?“Arum menyadari bahwa ia terlalu lama berada di sawahnya. Ia sudah tidak melihat lagi seorang gadispun di antara mereka yang pulang dari sawahnya. Sehingga karena itu maka langkahnya menjadi semakin cepat. Apalagi ia ingin segera menjumpai ayahnya dan menyampaikan pembicaraannya dengan Sura kepadanya. Tetapi ketika ia sampai di sudut desa ia terpaksa berhenti karena beberapa orang kawannya menghentikannya. “Arum” berkata, salah seorang dari mereka “Kenapa kalung merjan itu menjadi persoalan?“ Arum mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya “Aku juga akan bertanya begitu. Kenapa kalung itu menimbulkan persoalan yang berkepanjangan. Aku sebenarnya tidak tahu pasti, persoalan apakah yang sebenarnya timbul. Dan apakah kedatangan prajurit-prajurit itu juga ada hubungannya dengan kalung merjan itu“ “Kamilah yang seharusnya bertanya kepadamu. Bukankah yang memimpin pasukan berkuda itu Raden Juwiring, kakak angkatmu?“ “Ia tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Ia memang singgah di padepokan sebentar. Tetapi ia sama sekali tidak berkata berterus terang. Aku memang merasa bahwa kedatangannya itu bersentuhan dengan kalung merjan. Tetapi selanjutnya aku tidak tahu apa-apa lagi” “Jadi bagaimana dengan orang gemuk berkuda coklat itu? Agaknya itupun akan tetap menjadi tanda tanya. Dengan siapakah sebenarnya kau melihat orang itu?“ Dada Arum menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian ia menjawab “Aku tidak ingat lagi. Tetapi barangkali aku tidak berkawan waktu itu. Maksudku, meskipun ada orang-orang lain tetapi mereka tidak mendengarkan percakapan kami ketika ia bertanya tentang keadaan padepokan ini dan berceritera tentang beberapa hal”“Jika demikian, maka kau adalah satuinya sumber yang menularkan pendapat orang gemuk itu” “Aku tidak mengatakannya kepada siapapun. Nah, apakah kau pernah merasa, mendengar atau mengetahui bahwa aku menyebut-nyebutnya? Tetapi persoalan yang tumbuh itu tiba- tiba saja merata. Kita semua tiba-tiba saja tidak mempercayai lagi bahwa perampok-perampok itu adalah anak buah Raden Mas Said seperti yang dikatakan kumpeni. Nah, katakan, dari siapa kalian mendengar dan kemudian bersikap demikian?“ Gadis-gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang berkata “Memang bukan dari kau” “Nah, apakah kau dapat mengingat, dari siapa kau mendengar untuk pertama kali?“ Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Tentu sulit untuk diingat. Adalah kebetulan bahwa aku mendengar dar i orang yang tidak aku kenal sehingga dengan demikian justru aku selalu dapat mengingatnya. Tetapi mungkin orang gemuk berkuda coklat itu tidak hanya mengatakannya kepadaku. Tetapi juga kepada orang lain dan orang lain lagi” “Arum” tiba-tiba seorang gadis bertanya “Kenapa orang berkuda coklat itu mengatakannya justru kepadamu?“ Arum mengangkat bahunya sambil menjawab “Tentu aku tidak mengetahui alasannya. Tetapi barangkali itu sekedar suatu kebetulan” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Dan seorang gadis yang lain berkata “Jadi bagaimana dengan kalung-kalung merjan kita itu Arum?“ “Aku tetap menyimpannya” “Apakah hal itu tidak menyebabkan persoalan yang berkepanjangan kelak?““Kalung itu sudah terlanjur ada padaku. Seandainya kalung itu aku buang, maka pasti akan timbul persoalan baru j ika orang yang memberikannya atau kawan-kawannya menanyakannya” “Jika aku tahu bahwa kalung itu akan menimbulkan persoalan, aku tidak akan menerimanya” “Tentu aku juga” sahut Arum “Kita bersama-sama berada dalam keadaan yang tidak kita kehendaki” Gadis-gadis itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun nampak kecemasan di wajah mereka. Ternyata kalung merjan itu menimbulkan kegelisahan yang amat sangat di hati mereka, apalagi setelah sepasukan prajurit berkuda datang ke padukuhan Jati Sar i dan bahkan ke padukuhan di sekitarnya. “Baiklah Arum” berkata salah seorang gadis itu jika kau mengetahui perkembangan keadaan, tolonglah member itahukan kepada kami” “Tetapi demikian juga sebaliknya” jawab Arum. “Ya. Tetapi karena kau adalah adik angkat Raden Juwiring, barangkali kau mendapat banyak bahan daripadanya” Arum menarik nafas dalam-dalam. Juwiring kini seakan- akan telah berdir i berseberangan dengan padepokan Jati Aking. Namun demikian Arum mengangguk juga sambil berkata “Baiklah. Aku akan member itahukan jika aku mengetahui perkembangannya kelak” Arumpun kemudian minta diri sementara kawan-kawannya pergi kewarung di sudut desa untuk membeli kebutuhan mereka yang diperlukannya menjelang malam hari. Sebuah beban telah menambah muatan di hati Arum. Ia dapat mengerti bahwa kawan-kawannya itupun menjadi gelisah karenanya. Tetapi ia tidak dapat berbuat terlampau banyak. Meskipun demikian semuanya itu harus dikatakannya kepada ayahnya nanti.Ternyata langit telah menjadi semakin buram. Dan karena itulah maka Kiai Danatirta menjadi gelisah. Ia sadar bahwa Arum memiliki kemampuan untuk menjaga dir i, tetapi keadaan di Jati Aking agaknya berkembang kearah yang mencemaskan. Dalam pada itu Arum berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke padepokan kecilnya. Sebenarnya masih banyak yang ingin dipersoalkannya dengan kawan-kawannya yang lain, yang barangkali mendengar atau mengalami perist iwa yang dapat dijadikan bahan pengamatan bagi keadaan Jati Sari, tetapi Arum menjadi ragu-ragu. Dengan demikian maka ia akan menjadi pusat persoalan bukan saja bagi para prajur it di Surakarta yang justru dipimpin oleh Raden Juwir ing, tetapi juga oleh kawan-kawannya di Jati Sari. Dalam pada itu, selagi Arum melangkah semakin cepat, pendengarannya yang sudah terlatih mendengar lamat-lamat derap kaki kuda yang berpacu semakin lama menjadi semakin dekat. Karena itu, maka Arumpun menjadi berdebar-debar. Ia yakin bahwa kuda itu berderap sepanjang jalan yang dilaluinya menuju ke padepokan Jati Aking. Sejenak Arum termangu-mangu. Langit yang menjadi semakin buram sehingga bayangan pepohonan membuat jalan itu menjadi samar. Ternyata Arum tidak banyak mendapat kesempatan. Derap kaki kuda itu menjadi semakin dekat. Karena itu, maka tanpa berpikir lagi Arumpun segera meloncat menepi dan hilang di dalam gerumbul di pinggir jalan. Sejenak kemudian maka di dalam keremangan senja ia melihat seekor kuda berpacu. Meskipun ternyata tidak terlampau cepat, namun ia belum sempat melihat dengan jelas, siapakah yang berada di punggung kuda itu. Baru ketika kuda itu lewat di hadapannya, ia dapat mengenalnya. Tetapi ada sesuatu yang menahannya ketika ia hendak berteriak memanggil nama penunggang kuda itu.Tetapi kemudian dengan tergesa-gesa Arum meloncat kembali ke jalan dan berlari- lari kecil menuju ke padepokannya yang sudah tidak begitu jauh lagi. Ketika ia memasuki regol, ia masih melihat kuda itu di halaman beserta penunggangnya yang sudah meloncat turun. Hampir saja ia berlari dan memeluknya. Untunglah bahwa ia sadar akan kegadisannya sehingga langkahnya tertahan beberapa depa dari penunggang kuda itu. Tetapi mulutnya berdesis “Kakang Buntal” Buntal tersenyum. Katanya “Darimana kau Arum?“ “Dari sawah kakang. Kau melampaui aku di jalan menuju ke padepokan dekat di muka regol” “He, aku tidak melihatmu” “Aku bersembunyi. Aku tidak tahu siapakah penunggang kuda itu” “Kenapa bersembunyi?“ Arum menarik nafas dalam- dalam. Lalu “Marilah, naiklah ke pendapa. Apakah ayah sudah mengetahui bahwa kau datang. Buntal melangkah naik ke pendapa setelah mengikat kudanya sambil berkata “Seseorang telah menyampaikannya kepada Kiai Danatirta” Arum menganggukkan kepalanya. Namun rasa-rasanya dadanya tidak lagi dapat menahan gejolak hatinya yang akan tertumpah. Banyak sekali rasanya yang akan dikatakannya kepada Buntal tentang dirinya, tentang Jati Sari dan terutama tentang Raden Juwiring.Tetapi Arum masih menahan hatinya. Katanya kepada dirinya sendir i “ Biarlah ayah yang mengatakannya” Karena itu maka yang ditanyakan kemudian adalah sekedar keselamatan Buntal. “Lama sekali kau t idak datang kakang” Buntal menar ik nafas. Katanya “Kita selalu sibuk Arum” “Apa saja yang kau kerjakan di sana?“ “Kami tidak pernah mendapat kesempatan untuk berdiam diri. Kami mendapat latihan yang berat. Bukan saja kesempatan berlatih seorang demi seorang sesuai dengan ilmu yang dimiliki, tetapi kami ditempa untuk dapat bekerja bersama sebaik-baiknya” “O. menarik sekali. Siapakah yang memimpin kalian?” “Ada beberapa kelompok yang mempunyai pemimpinnya sendiri. Adalah kebetulan sekali bahwa kelompokku dipimpin oleh Ki Sarpasrana” “Senang sekali” “Sekali-sekali Pangeran Mangkubumi memer lukan untuk melihat sendiri latihan-latihan itu” “Pangeran Mangkubumi“ “Sst, jangan keras-keras” “Tidak ada orang lain di sini” “Pangeran Mangkubumi jarang sekali memperkenalkan dirinya sebagai seorang Pangeran. Yang sering kami jumpai adalah orang yang menamakan dirinya Petani dari Sukawati itu” “Sayang sekali” “Kenapa?““Aku bukan seorang laki- laki seperti kau kakang. Ternyata bahwa Ki Sarpasrana masih membedakan antara laki- laki dan perempuan. Kenapa aku tidak mendapat kesempatan untuk ikut serta bersama kau?“ “Aku kira belum saatnya Arum. Tentu tenaga seorang perempuan akan sangat dibutuhkan. Siapakah yang memasak untuk kami semua jika bukan perempuan yang menyediakan dirinya di dalam perjuangan ini” “O, jadi ada juga perempuan di sana” “Tentu?“ “Tetapi kenapa aku t idak diijinkan serta?“ “Pada saatnya Arum. Sekarang masih belum terlampau banyak diperlukan tenaganya. Perempuan-perempuan Sukawati sendiri masih jauh mencukupi” Arum mengerutkan keningnya. Kemudian sambil bersungut ia bertanya “Apakah perempuan dan gadis di Sukawati cantik- cantik?“ “Ah“ Buntal tertawa. Tetapi ia menyadari, betapapun matangnya Arum di dalam olah kanuragan, tetapi ia tetap seorang gadis. Namun dalam pada itu, pertanyaan itu telah menyentuh hatinya pula, seakan-akan Buntal merasakan bahwa Arum tidak mau kehilangan dir inya. Karena itulah, maka hati Buntalpun menjadi berdebar-debar pula. “Tentu” desis Arum kemudian. Buntal masih mencoba tertawa dan menjawab ”Pertanyaanmu aneh Arum. Tentu aku tidak sempat memperhatikan apakah perempuan dan gadis di Sukawati cantik-cantik” “Bohong” Buntal tidak menyahut. Tetapi ia masih tertawa saja.Dalam pada itu, Kiai Danatirtapun muncul dari pintu pringgitan. Dengan tergopoh-gopoh Buntal mendekatinya dan berjongkok sambil menangkap tangan Kiai Danatirta. “Aku menyampaikan baktiku ayah” berkata Buntal. Kiai Danatirta mengusap kepala muridnya sekaligus anak angkatnya itu. Katanya “Duduklah. Kau adalah anak yang baik “ Buntalpun kemudian kembali duduk di atas tikar pandan. Sekilas ia melihat Arum menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu bergetar di dada gadis itu melihat sikap Buntal. Alangkah jauh berbeda dengan sikap Juwiring yang datang dengan pakaian seorang prajurit. Juwiring benar-benar bersikap sebagai seorang bangsawan meskipun ia sudah lama berada di padepokan Jati Aking. Sejenak kemudian Kiai Danatirtapun menanyakan keselamatan Buntal dan kemudian juga Kiai Sarpasrana. “Kami semuanya selamat Kiai” “Apakah kau mendapat kesempatan beristirahat barang sehari dua hari sehingga kau sempat datang ke padepokan ini?“ Buntal menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya “Tidak ayah” “O, jadi?“. “Aku mengemban tugas dari Pangeran Mangkubumi lewat Kiai Sarpasrana” “Tugas apakah yang harus kau lakukan?“ Sekilas ditatapnya wajah Arum. Namun kemudian Buntal itu berkata “Ayah. Apakah benar bahwa empat orang petugas sandi dari Surakarta telah hilang di padepokan ini justru selagi mereka mencari keterangan tentang sikap orang Jati Sari?““O” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya, sedang Arum justru bergeser setapak maju. “Kau sudah mendengar pula akan hal itu?“ Buntal menarik nafas. Katanya “Maaf ayah. Barangkali tidak sepantasnya aku tiba-tiba saja membicarakan masalah yang tidak menar ik itu. Tetapi waktuku sangat terbatas. Aku harus segera kembali menghadap Kiai Sarpasrana. Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Aku tahu Buntal. Dalam keadaan seperti sekarang ini, maka waktu akan sangat berharga bagimu. Aku kira tidak ada keberatannya apabila kau berbicara langsung pada persoalannya. “Ayah” berkata Buntal “sebelum pagi aku harus sudah datang lagi menghadap Kiai Sarpasrana dan menyampaikan hasil kunjunganku. Kiai Sarpasrana yakin bahwa aku akan segera mendapat bahan selengkapnya tanpa melakukan pengamatan yang panjang, karena justru di sini ada ayah dan Arum” Kiai Danatirta masih mengangguk-angguk. Sejenak ia memandang Arum. Lalu katanya “Tetapi barangkali tidak banyak yang dapat aku katakan kepadamu. Apakah yang hendak kau ketahui tentang Jati Aking?“ “Tentang keempat orang itu ayah” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Lalu katanya kepada Arum “Arum, barangkali kau dapat memberikan penjelasan tentang orang-orang itu“ Arum menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia bertanya kepada ayahnya “Yang manakah yang harus aku katakan ayah?“ “Katakan seluruhnya kepada kakakmu Buntal. Kedudukannya tidak usah kita ragukan lagi. Juga kita tidak perlu meragukan Kiai Sarpasrana”Arum termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berkata “Sudah ada tiga pihak yang mencari keterangan tentang Jati Aking” Buntal mengerutkan keningnya. “Siapa saja Arum?“ “Yang pertama adalah pasukan berkuda dari Surakarta. Mereka mencari keempat orang yang hilang itu. Kemudian aku bertemu dengan Sura yang ingin mengetahui apa saja yang dilakukan oleh pasukan berkuda dari Surakarta. Dan kini kau datang pula ke Jati Aking. Jika Sura melakukannya untuk Raden Mas Said, maka agaknya kau mendapat perintah dari pihak Pangeran Mangkubumi” Buntal menarik nafas. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata “Demikianlah agaknya Arum. Tetapi bagaimana dengan paman Sura sekarang?“ Sebelum Arum menjawab, maka Kiai Danatirtapun bertanya pula “Apakah kau bertemu lagi dengan Sura?“ “Ya ayah. Aku bertemu lagi dengan Sura. Dan paman Surapun terkejut bukan kepalang mengetahui siapakah yang memimpin pasukan berkuda ke Jati Sar i” “Kenapa terkejut” bertanya Buntal. “Apakah kau mengetahui siapakah yang memimpin pasukan berkuda yang datang kemari mencari empat orang yang hilang itu?“ “Kedatangan pasukan berkuda itu memang sudah kami ketahui. Tetapi kami belum mendapatkan penjelasan lebih jauh tentang pasukan itu. Petugas sandi kami hanya melaporkan bahwa sekelompok prajurit dari pasukan berkuda telah memasuki daerah Jati Aking sehubungan dengan hilangnya empat orang petugas dari Surakarta yang langsung di bawah jalur hubungan dengan kumpeni”Arum menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kau tentu mengenal dengan baik” “Siapa?“ Arum termangu-mangu sejenak. di luar sadarnya ia berpaling kepada ayahnya. Baru ketika Kiai Danatirta mengangguk, Arum berkata “Pemimpin dari pasukan berkuda itu adalah Raden Juwiring” Seperti yang sudah diduga, maka Buntalpun terkejut bukan buatan. Sejenak ia memandang Arum dengan tajamnya, kemudian wajannya menjadi tegang. Sura sejenak kemudian ia bertanya “Maksudmu Raden Juwiring putera Pangeran Ranakusuma yang pernah berada di padepokan Jati Aking ini” Arum menganggukkan kepalanya. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Katanya seakan-akan kepada dir i sendir i “Alangkah cepatnya perubahan itu terjadi di dalam diri seseorang. Hampir tidak masuk akal bahwa Raden Juwiring tiba-tiba saja sudah menjadi seseorang Senapati dari pasukan berkuda Surakarta. Ia tentu merupakan seorang Senapati yang baik meskipun ia masih belum dapat menyamai Raden Mas Said. Tetapi jarang seorang Senapati semuda Raden Juwiring di dalampasukan Surakarta” “Memang hampir tidak masuk akal” sahut Arum “Tetapi itulah kenyataannya. Aku tidak dapat ingkar dari kenyataan itu” “Apakah Raden Juwiring mendapat keterangan yang dicarinya di sini?“ “Tidak. Meskipun ia datang juga ke padepokan ini. Tetapi aku tidak memberikan keterangan apapun juga kepadanya” Buntal mengangguk! kecil. “Ayah sama sekali t idak menjumpainya““Jadi, Raden Juwiring kembali tanpa membawa keterangan apapun?“ Arum bergeser setapak. Jawabnya “Mungkin ada beberapa keterangan. Tetapi barangkali tentang empat orang yang hilang itu akan tetap gelap baginya” Buntal menjadi gelisah. Ternyata Raden Juwiring, saudara angkat dan seperguruannya itu kini telah berada di seberang. Namun dalam pada itu, di hati kecilnya yang dalam, membersit pikirannya yang lain. Semakin jauh Raden Juwiring itu berdiri dari padepokan ini, baginya akan menjadi semakin baik. Ia tentu akan semakin jauh pula dari Arum. Jika terjadi perselisihan, maka tidak akan ada lagi keseganan di dalam diri masing-masing. Namun Buntalpun kemudian menjadi malu kepada diri sendiri. Ternyata ia telah terdorong ke dalam sikap mementingkan dir inya sendiri. Hampir saja ia terseret kepada suatu keadaan yang tidak sewajarnya bagi seorang yang sedang berjuang untuk tujuan yang besar. Bukan sekedar untuk kepentingannya sendiri. Karena itu, ketika ia menyadari kesalahan di dalam angan angannya ia berusaha untuk meluruskannya, seolah-olah ada seseorang yang dapat melihat perasaannya “Jadi, jadi Raden Juwiring tidak berhasil mendapatkan keterangan apapun juga? Sayang sekali” Arum menjadi heran, sehingga karena itu maka iapun bertanya “Apa maksudmu kakang? Apakah yang kau sayangkan?“ Sekati lagi Buntal tergagap. Jawabnya “Maksudku, sayang sekali bahwa Raden Juwiring kini justru menjadi seorang perwira prajurit Surakarta” “Tetapi kita tidak boleh berprasangka terlampau jauh Buntal” berkata Kiai Danatirta “mungkin karena kedudukannyasebagai seorang putera Pangeran, maka ia tidak dapat mengelakkan dir i dari kedudukan keprajuritan di Surakarta” Buntal mengangguk-angguk, tetapi Arum menyahut “Tetapi sikapnya sudah berbeda sama sekali ayah. Jika ayah sempat menemuinya, maka Raden Juwiring bersikap seperti seorang bangsawan yang utuh. Ia ingin memaksakan orang lain memenuhi keinginannya. Tidak ubahnya seperti Raden Rudira. Hanya keinginan yang harus dipenuhi itu sajalah yang berbeda” Kiai Danatirta tidak menyahut lagi. Hanya kepalanya sajalah yang terangguk-angguk kecil. “Tetapi Arum” berkata Buntal kemudian untuk menghindarkan diri dar i kegagapan “Apakah kau tahu yang sebenarnya, yang tidak kau katakan kepada Raden Juwiring, tentang empat orang yang sedang dicari oleh para prajur it dari Surakarta itu?“ Arum mengangguk kecil. Katanya “Aku mengetahui kakang. Dan paman Surapun mengetahuinya” Buntal menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Kami dari Sukawati sudah menduga, bahwa petugas-tugas sandi itu tentu hilang ditelan oleh kekuatan Raden Mas Said” Arum mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun menganggukkan kepalanya “Ya. Demikianlah agaknya” “Dan apakah yang telah terjadi seutuhnya?“ Arumpun kemudian menceriterakan apa yang pernah dialaminya. Diceriterakannya pula bagaimana keempat orang itu hilang, dan di antaranya telah terbunuh Buntal menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Itupun sudah aku duga. Hanya ada dua tebakan. Jika tidak laskar Raden Mas Said yang kebetulan ternyata dipimpin oleh Sura di daerah ini, tentu kekuatan yang tersembunyi di Jati Aking”“Raden Juwiringpun berpendapat demikian“ gumam Arum hampir kepada diri sendiri “karena itulah maka ia hampir memaksa aku untuk mengatakan tentang keempat orang itu justru karena aku mempunyai dua untai kalung merjan, meskipun yang seuntai sudah aku ber ikan kepada orang lain” Buntal mengangguk-angguk. Katanya “Memang tidak akan ada dugaan lain. Barangkali Raden Juwiring masih mempunyai satu sasaran lagi, yaitu laskar Sukawati” Arum tidak menyahut. Tetapi kepalanya terangguk kecil. “Jika demikian, semuanya menjadi jelas bagiku. Aku akan menghadap Kiai Sarpasrana dan menyampaikan hasil kunjunganku kepadepokan ini” “Kau akan segera kembali?“ bertanya Kiai Danatirta. “Ya ayah. Aku mendapat pesan agar aku segera kembali. Malam ini” “Tetapi masih ada waktu sedikit. Tinggallah untuk sejenak barangkali sudah disiapkan makan buatmu” Buntal tidak dapat menolak. Karena itu maka katanya “Terima kasih Kiai. Aku akan menunggu. Mungkin ada baiknya juga aku makan dahulu agar aku tidak kelaparan di perjalanan” Kiai Danatirtapun kemudian memberi isyarat kepada Arum, agar gadis itu pergi ke belakang menyiapkan hidangan bagi Buntal.Sepeninggal Arum, Kiai Danatirta masih berbicara untuk beberapa saat sehingga kemudian ia berkata “Jika kau akan mencuci kakimu lebih dahulu, pergilah ke pakiwan sebelum makan” Buntalpun kemudian turun ke halaman dan pergi ke belakang. Ada sesuatu yang menyentuh hatinya ketika ia melangkahkan kaki di halaman samping padepokan Jati Aking. Halaman yang dahulu selalu diambahnya hampir siang dan malam. Tanaman yang masih tetap terpelihara. Meskipun hanya di bawah sinar obor di regol butulan, namun Buntal dapat melihat bahwa tanaman itu masih tetap terpelihara rapi. Ketika Buntal sampai di halaman belakang, dilihatnya Arum membawa kelenting untuk mengambil air ke perigi. Karena itu maka dengan tergesa-gesa ia menyusulnya dan berkata “Arum, buat apa kau mengambil air di saat begini. Dan apakah tidak ada orang lain yang dapat kau suruh?“ Arumterhenti sejenak. Lalu jawabnya sambil tersenyum “Bukan kebiasaanku menyuruh orang lain kakang. Bukankah sejak kau masih ada di sini, aku sering mengambil air untuk mengisi gentong di dapur?“ “Tetapi setelah gelap begini?“ “Menurut orang tua-tua, gentong di dapur harus selalu penuh. Gentong itu ternyata tinggal separo isi, karena para pembantu harus mencuci beras dan mengisi gendi” “Dan kaulah yang harus mengisi gentong itu“ Arum tersenyum. Katanya “Biarlah aku mengisinya. Semuanya sedang sibuk menyiapkan makan buatmu” “O“ Buntalpun tertawa “Terima kasih. Jika demikian biarlah aku membantumu, menimba air dari perigi, dan kaulah yang membawanya ke dapur”Demikianlah maka Buntal menimba air, mengisi kelenting kemudian Arumlah yang membawa kelenting itu ke dapur dan menuangkannya ke dalamgentong. Tetapi ketika gentong itu sudah penuh, Arum masih juga pergi ke perigi. Dibiarkannya saja Buntal menuangkan air dari timba yang terbuat dari upih ke dalam kelent ingnya. Namun kemudian dibiarkannya saja kelenting itu terletak di pinggir sumur. “Sudah penuh” berkata Arum. “O, kau tidak mengatakannya sebelumnya” “Biar sajalah berada di kelenting” “Jika demikian aku akan mengisi jembangan di pakiwan. Aku akan mandi” Arum tidak menyahut. Dibiarkannya Buntal menimba air dan mengisi jembangan. Tetapi ia t idak beranjak pergi. Setelah jembangan di pakiwan itu penuh, maka Buntalpun berkata sekali lagi “Aku akan mandi sebelum menikmati hidanganmu, makan malam. Sudah lama akn t idak m- i-kan malamdi padepokan Jati Aking” “Apakah kau sering makan siang di sini sejak kau pergi?“ Buntal tertawa “Juga tidak” “Jadi, bukan sekedar makan malam” “Ya” Buntal berdesis “Aku akan mandi” Tetapi Arum t idak beranjak pergi. Bahkan kemudian ia pun duduk di atas sebuah batu di bibir sumur. “He, jangan duduk di situ“ Buntal memperingatkan. “Kau takut aku terperosok ke dalam?“ “Ya” “Aku cukup hati-hati”Buntal menarik nafas, la tidak tahu pasti, apakah maksud Arum. Dengan demikian maka untuk beberapa saat keduanya. saling berdiam dir i. Buntal masih saja berdiri bersandar batang senggot timba, sedang Arum masih tetap duduk di atas batu. Namun tiba-tiba saja Arum berkata “Kakang Buntal. Kenapa aku tidak boleh ikut bersamamu?“ Buntal mengerutkan keningnya, lalu “Tentu bukan aku saja yang berkeberatan Arum. Ayah tentu juga keberatan, dan belum ada tempat di Sukawati. Yang diper lukan adalah perempuan yang cekatan di dapur. Belum diper lukan seorang gadis yang cakap bermain senjata saat ini” “Aku akan bekerja di dapur. Tetapi aku ingin ikut bersamamu ke Sukawati” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Tentu tidak dalam waktu yang pendek Arum. Meskipun kau mau juga bekerja di dapur, tetapi rasa-rasanya kau memiliki sesuatu yang lebih baik daripada sekedar bekerja di dapur. Karena itu, sebaiknya kau tetap di sini” “Kenapa aku tidak boleh bekerja di dapur? Jika pada saatnya diperlukan tenagaku, maka aku dapat meninggalkan dapur dan berbuat lebih banyak lagi. Tetapi sebelum itu, aku bersedia bekerja di dapur saja” Buntal menggelengkan kepalanya ”Arum. Kau dapat membantu kami di Sukawati dengan tetap tinggal di sini. Jika saat ini kau tidak ada di Jati Aking, maka aku tentu tidak akan semudah ini mendapat keterangan tentang pasukan Surakarta, apalagi yang ternyata dipimpin oleh Raden Juwiring. Dan terutama keterangan tentang empat orang yang hilang itu“ Arum menar ik nafas dalam-dalam. la dapat mengerti keterangan Buntal. Kehadirannya di Jati Sari memang pentng bagi Buntal. Namun rasa-rasanya ada sesuatu yangmendesaknya untuk dapat ikut serta bersama Buntal ke Sukawati. Samar-samar tampak diangan-angan Arum bahwa menyenangkan sekali jika ia sempat pergi bersama Buntal ke Sukawati. “Bukan karena perjuangan yang wajib kau lakukan di Sukawati, Arum“ rasa-rasanya terdengar suara di relung hatinya “Tetapi sekedar terdengar oleh keinginanmu untuk pergi tersama dengan Buntal” Arum menundukkan kepalanya dalam-dalam. Meskipun tidak ada orang lain mendengar suara di hatinya itu, namun wajahnya tiba-tiba saja menjadi merah padam, la merasa malu kepada dirinya sendiri, bahwa ia telah didesak oleh kepentingan pr ibadinya. Karena itu. maka Arumpun kemudian t idak memaksa lagi untuk dapat pergi ke Sukawati. Kepalanya yang tunduk masih saja tunduk untuk beberapa saat lamanya. Arum terkejut ketika ia mendengar suara Buntal “Arum. Malam rasa-rasanya menjadi semakin gelap. Aku harus kembali ke Sukawati. Karena itu. apakah pekerjaanmu sudah selesai dan aku dapat mencuci kaki dan tanganku” “O“ Arum tersipu-sipu. Perlahan- lahan ia berdir i. Tetapi ia tidak segera meninggalkan Buntal. “Apakah kau akan pergi ke dapur?“ “Buntal“ Arum berdesis. Tetapi suaranyapun kemudian tersangkut di kerongkongan. Buntalpun kemudian berdiri seolah-olah membeku. Ditatapnya Arumyang juga terdiri memandanginya. Keduanya tidak mengucapkan kata-kata apapun. Tetapi tatapan mata mereka yang beradu. rasa-rasanya telah terlampau banyak melontarkan isi hati mereka. Namunbagaimanapun juga tangkapan hati mereka masih tetap merupakan sentuhan yang sama, karena tidak seorangpun di antara mereka berdua yang mengucapkan perasaannya dengan kata-kata sehingga dapat dijadikan pegangan karena telah menyentuh indera wadag. Arum memang menunggu. Tetapi Buntal pama sekali t idak mengatakan apapun juga. Memang ada sesuatu yang rasa-rasanya mendesak ingin meloncat lewat bibirnya, tetapi rasa-rasanya bibirnya telah membeku sehingga tidak sepatah kaIapun yang terucapkan. Namun demikian, hampir seluruh tubuh kedua anak muda itu lelah basah oleh keringat yang mengembun di seluruh permukaan kulit. Perlahan-lahan Buntal kemudian dapat menguasai perasaannya sepenuhnya. Karena itu. maka perlahan- lahan ia berkata “Silahkan Arum. Mungkin ayah menunggu kami di pendapa. Aku akan mencuci tangan sejenak” Ada kekecewaan membersit di wajah Arum. Ternyata Buntal tidak mengatakan apapun. Tetapi sepercik harapan telah melontar di hatinya. Tatapan mata Buntal memancarkan arti baginya. Demikianlah maka sejenak kemudian Arumpun mengambil kelentingnya dan meninggalkan Buntal sendiri di dekat pakiwan. Untuk beberapa saal Buntalpun masih saja merenung. Baru kemudian ia merasa bahwa tangannya menjadi gemetar, la memang ingin memaksa untuk mengatakan sesuatu kepada Arum. Mungkin ia t idak akan menemukan kesempatan serupa itu lagi. Tetapi setiap kali kata-katanya sama sekali tidak dapal meloncat. Bahkan sekilas terbayang olehnya Raden Juwiring dalam pakaian seorang bangsawan dan seorang perwira prajurit di Surakarta. Tentu jauh sekali bedanya dengan dirinya sendiri, la adalah seseorang yang tidak dikenal darah keturunannya meskipun ia dapat menceriterakannya. Dan kiniia tidak lebih dari seorang laskar dari pasukan Pangeran Mangkubumi yang sedang disusun di Sukawati. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya masuk ke pakiwan. Ia tidak lagi bernafsu untuk mandi, selain mencuci wajahnya, tangan dan kakinya. Kemudian dikibaskannya tangan dan kakinya supaya segera kering. Seperti yang sudah diduganya. Kiai Danatirta memang sudah terlalu lama menunggu di pendapa. Bahkan sebagian hidanganpun telah berada di atas tikar pandan yang putih. Asap mengepul dar i dalam ceting yang penuh dengan nasi panas. “Marilah Buntal“ ajak Kiai Danatirta “Makan sajalah dahulu. Baru kau kembali kepada Kiai Sarpasrana. Seandainya kau terlambat barang sesaat, tentu Kiai Sarpasrana tidak akan marah karena kau datang sambil membawa keterangan yang kau cari di sini” Buntalpun kemudian makan dengan lahapnya, la memang agak lapar. Apalagi ia masih harus menempuh perjalanan di malamhari. Karena itu, maka iapun makan sekenyangnya. Demikianlah setelah beristirahat sejenak. Buntalpun kemudian minta diri untuk kembali ke Sukawati. Tugasnya harus ditunaikannya sebaik-baiknya. Apalagi ia adalah orang baru di Sukawati meskipun ia termasuk seorang anak muda yang memiliki bekal yang cukup untuk menjadi pengikut Pangeran Mangkubumi. “Hati-hatilah Buntal“ pesan Kiai Danatirta “Kau dapat bertemu dengan kumpeni, dengan prajurit Surakarta atau dengan laskar Raden Mas Said. Meskipun pada dasarnya tidak ada pertentangan antara Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi, namun kadang-kadang ada juga perasaan bersaing di antara mereka yang justru berada di bawah. Mereka merasa bahwa medan yang mereka hadapi akanbersilang. Itulah sebabnya maka laskar Raden Mas Said dan laskar Sukawati kadang-kadang sering berebut pengaruh. Itu perlu kau perhitungkan. Kecuali j ika pada suatu saat pada keduanya benar-benar tidak terdapat berbedaan apapun lagi, maka kau tidak usah mempertimbangkan apapun juga tentang pasukan Raden Mas Said itu” Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku mengerti ayah” “Nah, pergilah. Sampaikan salamku kepada Kiai Sarpasrana. Pada saat yang tepat aku ingin mengunjunginya” Demikianlah Buntalpun mohon diri pula kepada Arum dan kepada para pembantu di padepokan itu. Arum melepaskannya dengan tatapan mata yang aneh. Terasa oleh Buntal bahwa ada sesuatu yang terpancar dari mata itu. Tetapi tidak sepatah katapun yang memberikan penjelasan tentang gejolak perasaan Buntal kepada Arum. Demikianlah maka kuda Buntal itupun kemudian berpacu menyusur jalan pedukuhan yang gelap. Baru ketika kuda itu keluar dari Jati Sari dan berlari di bulak persawahan, rasa- rasanya malam menjadi agak terang meskipun bulan tidak nampak sama sekali. Angin malam yang sejuk terasa mengusap wajah Buntal yang berlari kencang. Setiap kali ia teringat pesan Kiai Danatirta, bahwa ada kemungkinan ia bertemu dengan pihak lain di sepanjang jalan. Tetapi agaknya Buntal sama sekali tidak bertemu dengan siapapun juga di sepanjang jalan. Hanya sekali-sekali ia melihat seseorang yang sibuk membuka pematang sawahnya untuk mengalirkan air yang mengalir lambat di parit yang dangkal. Jika air itu tidak disadap di waktu malam, maka sawahnya tentu akan kering dan tanamannya akan mati. “Mereka mencintai tanamannya seperti keluarganya sendiri” desis Buntal kepada diri sendir i. Namun sebenarnyalah bahwatanaman di sawah adalah nyawa dari hidup keluarganya. Apalagi bagi petani-petani yang miskin. Namun tiba-tiba saja Buntal terkejut ketika tampak olehnya warna merah di langit. Bukan merahnya fajar, karena malam masih terlampau panjang. “Kebakaran” desis Buntal di dalamhatinya. Seperti yang diduganya, maka di kejauhan terdengar suara kentongan bergema. Tiga kali ganda berturut-turut. Semakin lama menjalar semakin luas. Buntal memperlambat kudanya. Bahkan kemudian ia terhenti sama sekali. Tetapi Buntal tidak berniat untuk berbelok. “Tentu tetangga-tetangganya sudah banyak yang membantu. Jika kebakaran itu menjalar semakin besar, akupun tidak akan banyak dapat membantu, karena aku hanya seorang diri” berkata Buntal di dalam hatinya. Namun kemudian suara, kentongan tiga ganda itu semakin lama menjadi semakin sumbang. Ada irama lain yang didengar oleh Buntal pada suara kentongan itu. Barulah kemudian ia menjadi jelas. Titir. Buntal menjadi berdebar-debar. Tentu bukan sekedar rumah yang terbakar. Titir adalah pertanda kejahatan bahkan mungkin pembunuhan. Sejenak Buntal termangu-mangu. Ia harus sampai di Sukawati sebelum fajar. Tetapi suara titir itu sangat menarik hatinya. “Aku ingin melihatnya. Mungkin tidak memerlukan waktu terlampau panjang” Hampir diluar sadarnya Buntalpun kemudian menar ik kekang kudanya berbelok lewat jalan sempit menuju ke tempat kebakaran itu.Semakin dekat Buntal dengan rumah yang terbakar itu. hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Suara titir itu bahkan hampir lenyap sama sekali justru di sekitar tempat kebakaran. Malahan di Padukuhan-padukuhan lain suara titir itu masih tetap bergema. “Ada sesuatu yang tidak pada tempatnya“ desis Buntal. Anak muda itupun kemudian membawa kudanya masuk kepategalan dan mengikatnya di balik pepohonan yang rimbun. Ia sendiri kemudian merayap memasuki padukuhan yang sedang dilanda oleh hiruk pikuk. Buntal berlindung di balik rimbunnya segerumbul belukar ketika ia melihat beberapa orang berlari-larian. Ternyata perempuan dan anak-anak, bahkan beberapa orang laki- laki. “Apa yang telah terjadi” desis Buntal di dalam hatinya “Jika sekedar kebakaran, mereka tentu akan membantu memadamkan api yang tidak terlampau besar itu. Bukan justru berlari keluar padukuhan” Karena itulah maka Buntal merayap semakin mendekat. Meskipun Buntal tidak berani menyusuri jalan, namun melintasi kebun dan halaman, iapun menjadi semakin dekat dari rumah yang terbakar itu. Barulah kemudian ia mengetahui bahwa yang terjadi adalah sebuah perampokan yang kasar. Beberapa orang perampok telah memasuki beberapa buah rumah dan membakar sebuahdi antaranya. Bahkan ketika Buntal berada di belakang sebuah rumah beberapa ratus langkah dari api, ia masih mendengar seseorang membentak-bentak di dalam rumah itu “Kalian harus menyumbang apa saja bagi perjuangan Raden Mas Said” Buntal menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Inilah satu contoh dari akal kumpeni“ Karena itu Buntal menjadi semakin bernafsu. ”Jika aku sempat menangkap satu di antara mereka. Menangkap hidup- hidup” Tetapi Buntal kemudian terpaksa surut dan berlindung di dalam kegelapan. Ternyata di dalam rumah itu masih terdapat beberapa orang. Bahkan ia melihat dua orang yang lain berkeliaran di halaman dengan senjata telanjang. “Beberapa orang yang mendapat tugas melakukan perampokan seperti ini?“ bertanya Buntal di dalam hatinya “Namun tentu sekelompok yang cukup kuat, karena di daerah ini ada kemungkinan mereka benar-benar bertemu dengan laskar Raden Mas Said yang sebenarnya” Karena Buntal hanya seorang diri, maka ia tidak dapat dengan tergesa-gesa bertindak. Ia memerlukan perhitungan yang matang. Tetapi agaknya ia tidak akan mendapat kesempatan. Beberapa saat kemudian ia melihat beberapa orang keluar dari rumah itu. Lamat-lamat ia mendengar seseorang mengerang kesakitan. Tentu pemilik rumah yang sudah disakiti oleh para perampok itu. “Gila” geram Buntal. Namun ia masih tetap berusaha. Dengan diam-diam ia mengikut i beberapa orang itu ke jalan padukuhan. Namun ternyata di simpang empat telah berkumpul beberapa orangyang lain. Sedang kuda-kuda mereka, mereka tambatkan pada batang-batang kayu di sekitar simpang empat itu. “Apakah kita sudah selesai” berkata salah seorang dari mereka. “Aku kira sudah cukup. Banyak orang yang berlari-lari mencari selamat dan meninggalkan rumah mereka begitu saja. Mereka tentu akan pergi ke padukuhan lain. Dan mereka tentu akan berceritera tentang laskar Raden Mas Said yang sedang merampok padukuhan ini” Terdengar suara tertawa pendek. Lalu “Marilah. Kita sudah cukup member ikan kesan, bahwa perampokan ini dilakukan oleh anak buah Raden Mas Said yang memberontak itu” Orang-orang itupun kemudian bersiap untuk meninggalkan padukuhan itu. Merekapun segera berloncatan ke atas punggung kuda dan kemudian berderap meninggalkan simpang empat itu. Buntal termangu-mangu sejenak. Namun berdasarkan perhitungan ia sama sekali tidak akan berbuat apa-apa. Karena itu maka Buntal hanya dapat menahan gelora di dalam dadanya. Namun ia masih saja tetap berdiri di tempatnya. Ia mengikuti derap kuda-kuda itu dengan scrot mata yang memancarkan kemarahan dan bahkan dendam di dalam hati. Sejenak kemudian maka derap kaki-kaki kuda itupun semakin menghilang. Yang didengarnya kemudian hanyalah gemeretak kayu dan bambu yang sedang dimakan api. Perlahan-lahan Buntal melangkah mendekatinya. Namun yang diketemukan hanyalah bara dan abu saja setelah nyala api menjadi susut. Tetapi Buntalpun segera bergeser dan bersembunyi lagi ketika ia mendengar derap kaki-kaki kuda mendekat. Ia menduga bahwa orang-orang yang telah merampok itukembali lagi karena ada sesuatu yang tertinggal atau sesuatu yang belumdiselesaikan. Dengan dada yang berdebar-debar Buntal bersembunyi di balik sebuah gerumbul perdu. Sejenak ia menunggu dengan gelisah. Menurut perhitungannya kuda yang datang itu tidak sebanyak yang telah pergi meninggalkan api yang sedang menj ilat dan menelan rumah itu. “Mungkin hanya dua atau tiga” desis Buntal. Maka timbullah harapannya untuk dapat melakukan rencananya, menangkap satu atau dua orang hidup-hidup. “Mungkin yang terjadi justru sebaliknya. Akulah yang mereka tangkap. Tetapi apaboleh buat. Kemungkinan- kemungkinan yang demikian memang dapat terjadi di dalam keadaan seperti ini” Setelah beberapa saat menunggu, Buntal melihat dua orang berkuda mendekati api itu. Mereka sama sekali tidak turun dari kudanya. Namun tangan mereka telah siap berada di lambung, meraba hulu senjata. Ketika wajah orang itu tersentuh merahnya cahaya api, Buntal terkejut karenanya. Salah seorang yang berkuda itu sudah dikenalnya dengan baik. Ki Dipanala. “Kenapa ia berada di sini?“ timbullah kecur igaan di hati Buntal. Ia telah mendengar ceritera tentang Raden Juwiring Sedang Ki Dipanala adalah orang yang dekat dengan Raden Juwiring itu. Apakah dengan demikian berarti bahwa Ki Dipanalapun kini terlibat dalam usaha kumpeni untuk memburukkan nama Raden Mas Said dengan cara yang licik ini. Untuk beberapa saat Buntal justru membeku. Namun kemudian ia mendengar Ki Dipanala berkata “Semuanya sudah selesai. Agaknya yang direncanakan itu telah dilakukan dengan baik”Kawannya tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk kecil. Pembicaraan yang pendek itu telah membuat Buntal menjadi semakin curiga kepada Ki Dipanala. Karena itu timbullah niatnya untuk langsung berbicara agar ia mendapat kepastian, apakah benar Ki Dipanala itu terlibat atau tidak. Karena itulah maka Buntalpun kemudian merayap semakin dekat. Dan tiba-tiba saja ia meloncat keluar dari persembunyiannya dan berdiri tegak di hadapan kedua orang itu. Ki Dipanala dan kawannya terkejut bukan buatan, Mereka sama sekali tidak menduga bahwa tiba-tiba saja seseorang telah berdiri di hadapannya. Apalagi ketika Ki Dipanala melihat wajah itu, seorang anak muda yang bernama Buntal. “Buntal“ Ia berdesis. “Ya Ki Dipanala. Agaknya Ki Dipanala masih mengenal aku” “Tentu, aku tentu mengenalmu” “Terima kasih Ki Dipanala” jawab Buntal kemudian, lalu “Tetapi di dalam keadaan seperti ini, perkenankanlah aku bertanya, apakah yang Kiai lakukan di sini? Baru saja sekelompok orang membakar dan merampok di padukuhan ini. Kemudian Ki Dipanala datang berdua seolah-olah melihat hasil dar i perbuatan yang ganas itu” Ki Dipanala termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya “Hanya suatu kebetulan bahwa aku lewat di tempat ini. Aku mendengar suara kentong titir, sehingga aku singgah sejenak untuk melihat, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Dan di sini aku melihat sebuah rumah sedang terbakar” “Ki Dipanala. Agaknya Ki Dipanala baru dalam perjalanan. Dari mana atau akan pergi kemana?“Ki Dipanala menjadi agak bingung. Jawabnya “Sekedar nganglang untuk melihat perkembangan keadaan Buntal” “Tetapi Ki Dipanala rasa-rasanya menilai per istiwa ini sebagai suatu keadaan yang sudah selesai, dan sebagai suatu rencana yang sudah dikerjakan dengan baik?“ “Ah, kau jangan mengada-ada. Aku benar-benar kebetulan saja lewat di daerah ini” “Paman” berkata Buntal kemudian “Aku minta maaf bahwa aku terpaksa berbuat sesuatu yang barangkali tidak menyenangkan bagi paman. Tetapi apa boleh buat” Buntal menarik nafas dalam-dalam, kemudian “Apakah paman terlibat di dalam perbuatan ini?“ “Buntal“ Ki Dipanala memotong “Kau jangan berprasangka yang demikian terhadapku” “Beberapa saat yang lampau, Jati Sari telah dibayangi oleh petugas sandi. Ketika petugas sandi itu hilang, maka sepasukan prajurit datang untuk mencarinya. Dan pasukan berkuda yang datang itu ternyata dipimpin oleh Raden Juwiring” “Apa hubungannya dengan aku sekarang?“ “Paman adalah orang yang dekat sekali dengan Raden Juwiring. Jika Raden Juwiring ternyata kemudian tergelincir ke dalam sikapnya sekarang, maka Ki Dipanalapun agaknya tidak akan sulit untuk sampai ke jalan serupa” Ki Dipanala menjadi semakin gelisah. Katanya “Kau mengambil kesimpulan yang salah Buntal. Aku sama sekali tidak ikut serta di dalam pergolakan ini. Aku berdiri di luar sama sekali“ “Tentu kau dapat berkata begitu sekarang paman. Namun kehadiran paman, dan penilaian paman atas yang terjadi ini sangat mencur igakan. Ketika aku mendengar bahwa Raden Juwiring kini menjadi seorang Senopati dari pasukan berkudaSurakarta yang bekerja bersama dengan kumpeni, aku menjadi sangat kecewa. Dan sekarang aku melihat sikap Ki Dipanala yang t idak dapat aku mengerti” “Sudahlah. Baiklah aku pergi. Jika kau anggap bahwa kehadiranku di sini dapat menumbuhkan kecur igaanmu” “Begitu saja pergi?“ sahut Buntal “Maaf paman. Sebaiknya paman aku antarkan menghadap Kiai Sarpasrana dan bahkan menghadap Pangeran Mangkubumi” “Pangeran Mangkubumi? Kenapa aku harus menghadap Pangeran Mangkubumi? Jika sekiranya kau menganggap tindakanku merugikan perjuangan Pangeran Mangkubumi, maka kau tidak berhak membawa aku kepadanya” “Paman” berkata Buntal “Paman tentu tahu, bahwa perbuatan orang-orang yang membakar dan merampok ini sangat merugikan perjuangan Raden Mas Said. Jika paman memang terlibat, maka pamanpun telah melakukan sesuatu yang merugikan perjuangan menentang kekuasaan asing itu. Nah, setiap orang merasa bertanggung jawab atas kemerdekaan negerinya dan berjuang untuk menghapuskan pengaruh kumpeni yang semakin lama semakin mencengkam Surakarta, sehingga tidak mustahil bahwa pada suatu ketika Surakarta benar-benar akan kehilangan dirinya sendiri” Ki Dipanala menjadi semakin gelisah. Katanya kemudian disela debar jantungnya yang semakin cepat “Jangan berprasangka terlampau jauh Buntal. Baiklah kita berpisah saja” “Tidak paman. Bersalah atau tidak bersalah paman terpaksa aku bawa menghadap Pangeran Mangkubumi” “Bukankah tuduhanmu tindakanku ini merugikan perjuangan Raden Mas Said, bukan Pangeran Mangkubumi?““Meskipun ada bedanya, tetapi di dalam hal ini terpaksa aku lakukan. Baik Pangeran Mangkubumi maupun Raden Mas Said tentu akan berkepentingan dengan sikapmu” “Buntal” suara Ki Dipanala menjadi dalam “Kau sudah melakukan kesalahan pula. Pangeran Mangkubumi sampai saat ini belum melakukan sesuatu tindakan yang dapat dianggap sebagai suatu perlawanan terhadap Surakarta. Hanya karena sikap ir i dan dengki beberapa orang bangsawan, Pangeran Mangkubumi menjadi semakin tersudut. Tetapi apakah kau pernah mendapat perintah untuk melakukan perlawanan atas Surakarta secara terbuka?“ Buntallah yang kemudian terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia sadar bahwa Ki Dipanala adalah seorang yang memiliki bukan saja pengertian yang jauh lebih luas daripadanya tentang pemerintahan, tetapi juga memiliki pengalaman yang cukup. Karena itu, maka untuk sejenak ia kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu. “Buntal” berkata Ki Dipanala kemudian “seandainya aku kau anggap orang Surakarta yang sedang melakukan perbuatan yang licik, maka kau sama sekali tidak berhak berbuat sesuatu. Apalagi atas nama Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian kau sudah mendahuluinya melakukan perlawanan terbuka, karena kau telah melakukan tindakan terhadapku” Sejenak Buntal mematung, dan Ki Dipanala berkata seterusnya “Karena itu, Buntal. Pergilah. Aku juga akan pergi. Masih banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu” Tetapi Buntal yang bimbang itu tiba-tiba berkata “Jangan Ki Dipanala. Jangan pergi” “Maksudmu?“ “Bukan maksudku mendahului tindakan Pangeran Mangkubumi. Tetapi perbuatanmu dan beberapa prajur it Surakarta telah benar-benar merugikan perjuangan Raden Mas Said. Dengan demikian kau harus mempertanggungjawabkan. Kau akan aku bawa, apapun yang akan terjadi. Sebab aku kira persoalannya akan menjadi semakin jelas jika kau berhadapan dengan orang yang memiliki pengertian dan pengalaman yang jauh lebih luas daripadaku. Seandainya keputusannya kelak, paman dilepaskan dan dipersilahkan kembali ke Surakarta, itu bukan lagi menjadi persoalanku” “Jangan keras kepala Buntal” berkata Ki Dipanala “Kau masih terlampau muda. Tindakanmu merugikan perjuangan Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian kau sudah menyusutkan Pangeran Mangkubumi ke dalam kesulitan yang lebih parah lagi dari sekarang” “Kau menggertak” tiba-tiba saja Buntal berkata tegas “Kau ingin aku melepaskanmu. Tidak. Aku t idak akan melepaskan pamandan kawan paman itu” “Ah” “Marilah. Serahkan senjata paman. Kita pergi ke Sukawati. Terserah apa yang akan mereka lakukan atas paman. Mungkin paman akan dilepaskan, tetapi mungkin pula paman akan diserahkan oleh para pemimpin di Sukawati kepada Raden Mas Said. Tetapi masih ada kemungkinan-kemungkinan lain yang aku tidak tahu” “Kau jangan berpikir terlampau pendek Buntal” “Waktuku sudah habis. Aku harus segera menghadap Kiai Sarpasrana” “Jika demikian kembalilah” “Aku akan kembali bersama paman” Ki Dipanala termangu-mangu sejenak. Ia sadar bahwa mur id Jati Aking ini tidak akan dapat diredakan begitu saja. Karena itu ia menjadi gelisah. Namun dalam pada itu, selagi Ki Dipanala belum menemukan cara yang sebaik-baiknya untuk menghindarkandiri dari persoalan yang akan menjadi semakin rumit dengan mur id Jati Aking ini, kawannya yang belum pernah bergaul dengan Buntal, tidak dapat menahan perasaannya lagi. Selama itu ia menyerahkan persoalannya kepada Ki Dipanala. Tetapi agaknya Ki Dipanala dipengaruhi oleh hubungan yang pernah ada sebelumnya. Karena itu, maka kawan Ki Dipanala itupun segera menyahut “Ki Dipanala. Kau sudah terlalu sabar menghadapi anak muda yang bernama Buntal itu. Kau sudah mengatakan segalanya yang dapat kita katakan. Tetapi ia tidak percaya. Karena itu, marilah kita tinggalkan saja anak itu. Kita tidak memerlukannya dan kita tidak berurusan dengannya. Tetapi jika ia akan menghalang-halangi kita, maka kita berhak menolong dir i kita sendiri” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Aku kenal anak itu dengan baik. Ia adalah saudara seperguruan Raden Juwiring. Tetapi agaknya ia sangat terpengaruh oleh keadaan sehingga ia tidak dapat menahan hatinya lagi” “Sudahlah Ki Dipanala. Marilah kita kembali ke Surakarta sekarang” “Kau menghina aku” t iba-tiba Buntal menggeram “Aku memang belum mengenalmu sebelumnya. Aku belum pernah mempunyai urusan apapun dengan kau. Tetapi aku tidak dapat memr iarkan pengkhianatan ini” Orang itu mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya Ki Dipanala dengan tajahlnya. Namun Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku sependapat dengan kau. Marilah kita tinggalkan saja Buntal” “Ki Dipanala. Aku tahu, bahwa kati adalah orang terdekat dengan Raden Juwiring. Kau adalah orang yang memiliki kemampuan yang dikagumi. Tetapi apaboleh buat. Aku harus memaksa kau datang menghadap Pangeran Mangkubumi atau orang yang dikuasakannya memer iksa persoalanmu”Ki Dipanala dan kawannya yang sudah turun dari atas punggung kudanya itupun segera mengikatkan kudanya pada sebatang pohon perdu. Dengan ragu-ragu Ki Dipanalapun berkata “Buntal. Apakah kau tidak dapat mengendalikan hatimu barang sedikit agar tidak terjadi sesuatu di antara kita?“ “Persetan. Serahkan senjatamu, dan menyerahlah” Tetapi Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku tahu bahwa kau adalah anak muda yang memiliki ilmu yang luar biasa. Kau adalah saudara seperguruan Raden Juwiring. Jika Raden Juwiring kemudian mendapat tambahan ilmu dari ayahandanya, maka kaupun tentu mendapat tambahan ilmu dari Kiai Sarpasrana. Dan aku yakin, bahwa apa yang kau miliki tidak akan kalah dari Raden Juwiring” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu “Buntal, tentu aku tidak akan berani melawan Raden Juwiring, bukan karena ia seorang putera Pangeran, tetapi ilmunya memang luar biasa. Karena kau memiliki kemampuan seperti Raden Juwiring, maka akupun sebenarnya tidak akan berani melawanmu. Tetapi jika kau tetap memaksa aku untuk ikut bersamamu, maka apaboleh buat. Aku akan mempertahankan kebebasanku” Buntal mengerutkan keningnya. Ditatapnya Ki Dipanala dengan sorot mata yang memancarkan keragu-raguan. Ia tahu benar bahwa Ki Dipanala adalah orang yang baik. Tetapi di dalam keadaan seperti itu, Buntal tidak mempunyai pilihan lain kecuali memaksanya untuk ikut bersamanya. “Jika aku biarkan Ki Dipanala lepas, maka ia akan dapat banyak berceritera tentang diriku kepada Raden Juwiring” berkata Buntal di dalamhatinya. Karena itu maka Buntalpun berkata “Maaf Ki Dipanala, jika Ki Dipanala tidak mau pergi bersamaku, aku akan memaksamu”Ki Dipanala tidak segera menjawab. Tetapi kawannyalah yang menyahut “Tentu kami akan bertahan. Kami sudah cukup menahan hati selama ini, karena kami menyadari bahwa kami adalah orang-orang tua yang harus lebih berdada longgar daripada anak muda-muda. Namun jika kemudian menyangkut kebebasan dan keselamatan, maka terpaksa aku harus berbuat sesuatu bersama Ki Dipanala. Mungkin kami berdua tidak memiliki kemampuan mempertahankan kebebasan dan keselamatan kami setingkat dengan kemampuanmu, namun apaboleh buat. Kami t idak akan menyerahkan diri tanpa perlawanan” Buntal menjadi tegang. Ada pertentangan di dalam dir inya justru karena ia mengenal Ki Dipanala dengan baik. Namun kemudian iapun menggeretakkan giginya sambil berkata “Adalah salah kalian j ika kalian berdir i di jalan yang salah” Ki Dipanala tidak menyahut lagi. Ia sadar, bahwa pembicaraan berikutnya tidak akan ada gunanya. Karena itu, maka iapun bersiaga untuk menghadapi segala kemungkinan. Buntalpun kemudian bersiap pula. Perlahan-lahan ia mendekati Ki Dipanala sambil berkata “Maaf paman. Mungkin aku akan menyakiti paman” Ki Dipanala masih tetap berdiri diri. Tetapi berdua dengan kawannya iapun segera melangkah saling menjauhi untuk memecah perhatian Buntal. Tetapi Buntal tidak gentar, la merasa bahwa ilmunya cukup kuat untuk menghadapi dua orang yang siap melawannya itu. Demikianlah maka di antara mereka tidak lagi dapat diketemukan cara yang baik untuk mempertemukan niat masing-masing. Dengan demikian maka jalan yang terakhir yang mereka tempuh adalah kekerasan. Ki Dipanala, orang yang sudah kenyang makan garamnya kehidupan, sekali-sekali masih juga menar ik nafas dalam- dalam. Tetapi seperti kata kawannya, jika persoalannyamenyangkut harga diri, kebebasan dan keselamatan, maka terpaksa iapun melayani gejolak darah Buntal yang masih muda. Sejenak kemudian Buntal telah mulai menyerang. Seperti yang diduga oleh Ki Dipanala, maka geraknya mantap penuh tenaga, la adalah murid perguruan Jati Aking dan sudah barang tentu. Buntal masih mendapat beberapa unsur tata gerak dari perguruan Kiai Sarpasrana yang dapat diluluhkan dengan ilmunya yang diterima dari Jati Aking. Dengan demikian, di dalam perkelahian berikutnya. Ki Dipanala melihat, bahwa Buntal adalah anak muda yang memiliki bekal yang cukup Raden Juwir ing yang meluluhkan ilmu dari perguruan Jati banyak untuk terjun di dalam gelanggang keprajuritan seperti Aking dengan ilmu yang diwarisinya dari ayahandanya, seorang Senapati yang tidak banyak tandingnya di Surakarta. Tetapi pada saat itu Ki Dipanala tidak berdiri seorang dir i. Ia berkelahi bersama seorang kawannya. Seorang yang lebih muda sedikit dari Ki Dipanala. Namun yang ternyata bukan sekedar seorang pengikut yang berlindung di balik punggung. Ketika perkelahian itu meningkat semakin seru, terasa oleh Buntal, bahwa kedua lawannya adalah lawan yang berat. Kedua orang itu tidak ser ingan keempat orang yang diceriterakan oleh Arum, menyelidiki dan mencari keterangan tentang Jati Sari, namun yang kemudian hilang dibawa oleh Sura selain yang terbunuh. Kedua orang itu memiliki kemampuan bertempur berpasangan sehingga terasa oleh Buntal, bahwa ia mendapat lawan yang cukup tangguh. Setiap kali Buntal memusatkan serangannya kepada salah seorang dari mereka, maka setiap kali yang lain dengan garangnya menyerang dari arah yang lain. Bukan sekedar serangan yang dapat mengganggu pemusatan perhatian danserangannya sendiri, tetapi serangan itu benar-benar berbahaya baginya. Ketika Buntal dengan sepenuh tenaganya menyerang Ki Dipanala, dan mencoba melumpuhkannya, maka kawan Ki Dipanala itupun menyerangnya seperti air banjir menghantam tanggul. Ternyata bahwa sebelum ia berhasil menyentuh Ki Dipanala, terasa pundaknya menjadi nyeri. Kawan Ki Dipanala justru telah berhasil memukul pundaknya itu dengan ujung jari-jarinya yang merapat. Buntal terkejut bukan buatan. Pukulan itu benar-benar pukulan yang berbahaya. Untunglah bahwa Buntal berhasil memutar tubuhnya searah dengan arah pukulan itu, sehingga pukulan itu t idak meremukkan tulang-tulangnya. Namun selain karena perasaan sakit yang menyengat pundaknya, Buntalpun merasa heran, bahwa pukulan itu rasa- rasanya pernah dikenalnya. Pukulan dengan ujung jari yang merapat, dan pukulan justru dengan ujung ibu jari mengarah kepangkal leher. “O, Raden Juwiring“ hampir saja Buntal berteriak, la ingat betul. Pada saat-saat Raden Juwiring telah berada kembali di istananya, tetapi sekali-sekali masih datang ke Jati Aking dan kadang-kadang masih ber latih bersama, ia sering melihat pukulan serupa itu. Pukulan dengan ujung jari yang merapat, dan pukulan dengan ujung ibu jari. “Siapakah orang ini“ Buntal menjadi berdebar-debar. Dan dengan demikian maka perhatiannya dipusatkannya kepada oiang yang belum dikenalnya itu. Seorang yang berpakaian seperti Ki Dipanala, seperti seorang abdi di rumah para bangsawan di Surakarta. Tetapi semakin lama Buntal menjadi semakin curiga. Orang itu tentu bukan sembarang abdi. Mungkin ia seorang prajurit sandi atau petugas-tugas yang lain. Bahkan kemudian Buntal merasa seakan-akan ia pernah melihat wajah seperti itu.Namun Buntal tidak sempat mengingat-ingat. Serangan kedua tawannya rasa-rasanya menjadi semakin berat. Bahkan kadang-kadang hampir di luar kemampuannya untuk mengelakkan dir i. Akhirnya Buntal kehilangan semua pertimbangannya. Ketika sekali lagi tangan kawan Ki Dipanala itu berhasil menyentuh lambungnya, sehingga perutnya menjadi mual, dan bahkan rasa-rasanya isi perutnya akan tertumpah keluar, maka ia sudah kehilangan pengekangan diri. la merasa bahwa kedua lawannya ternyata memiliki kemampuan yang bukan saja dapat mengimbanginya, tetapi justru terasa terlampau berat untuk dilawan. Karena itu maka hampir tanpa sempat berpikir lagi, Buntal telah menar ik senjatanya. Ia tidak lagi dapat mempertimbangkan siapakah yang dihadapinya. Dan ia tidak sempat memperhitungkan bahwa ia berniat menangkap Ki Dipanala dan kawannya itu hidup-hidup dan membawanya menghadap Kiai Sarpasrana. Kedua lawannya terkejut melihat Buntal kini telah menggenggam senjata. Bahkan keduanya meloncat surut. Ki Dipanala menjadi sangat tegang. Dengan suara bergetar ia berkata “Buntal. Jangan menjadi wuru. Kau sebaiknya tetap sadar, bahwa kita hanya sekedar bergurau. Kenapa kau tiba- tiba sudah menggenggam senjata?“ “Aku tidak bergurau. Jika kalian berdua tidak bersedia memenuhi niatku, membawa kalian menghadap Pangeran Mangkubumi atau yang dikuasakannya, maka lebih baik aku membunuh kalian di sini. Bagaimanapun juga aku sudah berbuat sesuatu bagi tanah ini. Aku sudah membantu mengurangi penj ilat-penjilat yang selama ini mempersubur kekuasaan orang asing” “Buntal“ Ki Dipanala menjadi cemas “Kau masih sangat muda. Kau belum mempunyai pertimbangan yang baik. Jika kau mau mendengar kata-kataku, pergilah kepada KiSarpasrana. Jika kata-katamu didengar, dan Kiai Sarpasrana memer lukan aku, kau tidak usah bertempur apalagi dengan senjata. Biarlah Kiai Sarpasrana menyuruh seorang cantriknya atau kau sendir i datang ke rumahku dan memanggilku. Aku akan datang. Tetapi tidak dalam keadaan seperti sekarang ini” “Aku tidak peduli. Jangan mencoba menyelamatkan dir imu dengan muslihat semacam itu” Ki Dipanala menar ik nafas dalam-dalam. Yang dihadapinya adalah seorang anak muda yang darahnya masih terlampau panas. Karena itu. maka ia menjadi agak bingung untuk meng hindarkan dir i dari bentrok senjata dengan anak muda dari Jati Aking. Tetapi Buntal tidak memberinya kesempatan. Dengan sigapnya ia mulai mengayunkan senjata dan siap untuk meloncat menyerang. Tidak ada pilihan lain dar i Ki Dipanala dan kawannya kecuali mempertahankan diri. Karena itulah maka keduanyapun kemudian telah mencabut pedang masing-masing. ”Buntal, masih ada waktu untuk menyadari segala tindakanmu sekarang ini” berkata Ki Dipanala. “Aku sadar sepenuhnya. Aku harus menangkapmu, hidup atau mati” Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti sepenuhnya, betapa darah muda di dalam tubuh Buntal yang dibakar oleh gairah perjuangannya itu sedang menggelegak. Namun dengan demikian ia menjadi semakin cemas, bahwa akan datang saatnya ia harus mempertaruhkan nyawanya melawan anak muda yang baik itu. Namun sebelum Ki Dipanala menyahut, kawannya sudah mendahuluinya “Apaboleh buat. Aku dan Ki Dipanalapun pernah belajar bermain senjata. Carangkah kami berdua masih sempat berusaha menyelamatkan diri”Buntal tidak menunggu kalimat itu selesai. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang dengan garangnya. Ujung pedangnya mematuk seperti ujung paruh seekor burung garuda yang menukik dari udara, menyambar dada kawan Ki Dipanala. Tetapi kawan Ki Dipanala itu benar-benar tangkas. Dengan sigapnya ia meloncat ke samping. Bukan saja menghindari serangan Buntal, tetapi Ia masih sempal menyerang anak muda itu. Dengan sekuat tenaganya ia memukul senjata Buntal. Buntal sama sekali tidak menduganya bahwa lawannya mampu berbuat secepat itu, sehingga karena itu, ia tidak siap menghadapinya. Ternyata pedangnya telah bergetar dan telapak tangannya bagaikan disengat oleh ujung senjata itu, sehingga senjata itu terlepas dari tangannya. Hanya karena Buntal telah terlatih dengan baik, maka dengan gerak naluriah ia masih sempat memungut pedangnya dan meloncat menjauhi lawannya. Ternyata lawannya tidak mengejarnya. Ki Dipanalapun tidak segera menyerangnya. Tetapi keduanya termangu- mangu untuk beberapa saat memandang Buntal yang memperbaiki kesalahan. Namun dalam pada itu, Buntal yang merasa tangannya masih pedih mencoba menilai keadaan. Lawannya benar- benar bukan orang kebanyakan. Semula ia mengira bahwa lawannya tidak akan lebih baik dari Ki Dipanala. Namun ternyata kawan Ki Dipanala itu memiliki kemampuan yang tinggi. Meskipun demikian semuanya sudah terlanjur dimulai. Buntal adalah seorang anak muda yang keras hati sehingga karena itu maka ia tidak berniat untuk menarik diri dari perkelahian itu. Sejenak ia mencoba menilai keadaan. Dicobanya menggenggam pedangnya erat-erat meskipun tangannyamasih nyeri Sambil menggeretakkan giginya Buntalpun melangkah maju. Pedang yang sudah berada di tangannya lagi itupun diacukannya. Tetapi ia tidak berani lagi bertindak dengan tergesa-gesa agar pedangnya tidak lagi terloncat dari tangannya. Kedua lawannya bergeser selangkah. Namun dalam pada itu, Ki Dipanala masih sempat berkata “Buntal, apakah kau masih akan melanjutkan perkelahian yang tidak akan ada artinya apa-apa ini” “Persetan“ Buntal benar-benar telah dibelit oleh perasaannya yang meluap-luap. Karena itu, ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali bertempur “Adalah sudah wajar, jika di dalam perkelahian, akan jatuh korban” katanya lebih lanjut “dan kita akan bertempur terus. Jika aku tidak berhasil membawa-Ki Dipanala dan kawanmu itu, maka biarlah mayatku terkapar di sini” “Ah, jangan berbicara tentang sesuatu yang menger ikan Buntal. Masih banyak jalan yang dapat ditempuh” Tetapi Buntal tidak menghiraukan. Kali ini ia meloncat menyerang Ki Dipanala. Namun Ki Dipanala sudah siap menghadapi keadaan itu, sehingga ia masih sempat mengelak. Tetapi Ki Dipanala tidak setangkas kawannya. Buntal masih sempat berputar dan mengayunkan pedangnya mendatar. Tetapi Ki Dipanala berhasil menangkis serangan itu meskipun ia harus berloncatan surut. Buntal tidak ingin melepaskan lawannya. Ia ingin mengurangi kekuatan lawannya. Meskipun semula tidak terlintas sama sekali niatnya untuk membunuh, apalagi ki Dipanala, namun dalam keadaan yang kalut itu, ia tidak dapat mengingat lagi untuk mengekang dirinya. Bahkan meskipun ia sudah mengerahkan tenaganya, ia masih belum dapat berbuat banyak terhadap kedua lawannya itu.Ternyata bahwa kemampuan Buntal memang lebih tinggi dari Ki Dipanala. Namun Ki Dipanala yang memiliki pengalaman jauh lebih banyak, masih sempat mencari kesempatan untuk membebaskan diri dari serangan Buntal yang datang bagaikan banj ir bandang. Tetapi dalam pada itu, kawan Ki Dipanala t idak membiarkannya berada dalam kesulitan. Dengan tangkasnya ia meloncat mendekatinya dan menolongnya. Dengan serangan mendatar kawan Ki Dipanala itu telah memotong serangan Buntal, dan memaksanya untuk menghadapinya. Sekali lagi Buntal kini berhadapan dengan kawan Ki Dipanala. Dengan garangnya Buntal memutar senjatanya dan menyerang dengan cepatnya. Tetapi sekali lagi terasa, bahwa lawannya memang memiliki kelebihan. Dengan sekedar menarik sebelah kakinya dan memiringkan tubuhnya, serangan Buntal sama sekali tidak berhasil menyentuhnya. Namun Buntalpun berpikir cepat. Dengan sekuat tenaganya ia menggerakkan pedangnya mendatar. Karena pedang itu berada terlampau dekat dengan tubuhnya, maka kawan Ki Dipanala itu sudah tidak sempat lagi mengelak. Tetapi ia masih sempat menyilangkan senjatanya menangkis serangan Buntal yang tergesa-gesa itu. Sekali lagi terjadi benturan antara kedua senjata. Karena Buntal tidak sempat mengayunkan senjatanya dengan sepenuh tenaga, dan lawannyapun hanya sekedar menangkisnya sair maka benturan itu tidak banyak menimbulkan akibat dikedu, belah pihak. Namun demikian sekali lagi Buntal merasa, senjatanya bagaikan menyentuh sebuah dinding baja yang kokoh. Buntal sempat meloncat menjauhi lawannya. Sekali lagi ia mencoba mengamati, siapakah sebenarnya kawan Ki Dipanalaitu. Namun kini orang itulah yang menyerangnya dengan cepatnya sambil menjulurkan pedangnya. 


Jilid 16
“Kita sudah terlalu lama bergurau di sini” katanya “perkelahian ini harus segera selesai” Buntal menghindari serangan itu. Namun dadanya menjadi berdebar-debar. Dan ternyata orang itu tidak hanya berbicara saja tentang perkelahian yang sudah terlalu lama. Dengan sigapnya ia menyerang terus. Ketika Buntal mencoba menangkis serangan orang itu dengan pedangnya, maka tiba-tiba saja orang itu telah memutar mata pedangnya yang sedang bersentuhan dengan senjata Buntal. Akibat dari sentuhan itu benar-benar tidak terduga. Pedang orang itu telah berhasil memutar senjata Buntal dan melemparkannya dari tangannya. Sejenak Buntal menjadi termangu-mangu. Dengan mata terbelalak ia melihat ujung pedang yang mengarah ke dadanya. Tetapi darah muda yang menggelegak di dalam dadanya telah memanasi seluruh tubuhnya. Tidak ada niat sama sekali padanya untuk menyerah dalam keadaan apapun. Karena itu,maka Buntal masih tetap mencari jalan, agar ia tidak harus pasrah diri di ujung pedang lawannya. “Kau tidak mempunyai kesempatan lagi Buntal” berkata orang yang mengacukan pedang itu. Buntal memandangnya dengan wajah yang tegang. Sejenak ia mencoba memperhitungkan keadaan. Sekali-sekali ia memandang Ki Dipanala dengan sudut matanya. Namun agaknya Ki Dipanala membiarkan saja kawannya menyelesaikan persoalannya. “Nah, apakah yang akan kau lakukan sekarang?“ bertanya orang itu. Buntal tetap berdiam diri sambil menggeretakkan giginya. Sekali-sekali ia terpaksa melangkah surut jika ujung pedang lawannya menyentuh dadanya. “Katakan apa yang akan kau lakukan sekarang. Menyerah, atau kau masih ingin bertempur atau kau mempunyai keputusan lain” Buntal menggeram. Dan t iba-tiba saja di luar dugaan lawannya ia menjatuhkan dirinya sambil menendang pergelangan tangan lawannya. Gerak itu sama sekali tidak diduga, sehingga karena itu, maka tendangan kaki Buntal yang kuat itu berhasil menggeser ujung pedang lawannya meskipun ia tidak berhasil melontarkan pedang itu dari genggaman. Kemudian dengan sigapnya Buntal melenting, disusul dengan sebuah tendang mendatar mengarah lambung lawannya. Tetapi sekali lagi Buntal gagal. Dan keadaan yang tidak disangka-sangka itu, ternyata lawannya dapat berbuat lebih cepat daripadanya. Tendangan mendatar itu masih sempat dihindar inya. Dan bahkan yang juga tidak diduga oleh Buntal,kawannya masih sempat menyerangnya pula. Tidak dengan pedangnya, tetapi dengan kakinya. Buntal yang tidak menyangka itu, tiba-tiba saja merasa dadanya bagaikan dihantam oleh kekuatan yang tidak terkirakan sehingga rasa-rasanya nafasnya terputus seketika. Matanya menjadi berkunang-kunang, dan kesadarannyapun perlahan-lahan menjadi kabur. Sejenak kemudian Buntal tidak tahu lagi apa yang terjadi atas dirinya. Pingsan. Tetapi agaknya Buntal tidak pingsan terlalu lama. Terasa silirnya angin, dan dinginnya air yang membasahi tubuhnya menyegarkan badannya. Perlahan-lahan kesadarannya mulai pulih kembali. Ia masih mendengar derap kaki kuda yang lamat-lamat menjauh. Dan ketika ia dengan tangan yang lemah meraba dirinya, terasa seluruh pakaiannya telah basah kuyup tersiramair. Perlahan-lahan Buntal mencoba bangkit. Ia masih melihat nyala api yang semakin redup. Dan ia melihat senjatanya masih tergolek di tempatnya. Tertatih-tatih Buntal mencoba berdiri. Berkali-kali ia meraba pakaiannya yang basah kuyup, seakan-akan ia baru saja ditimpa oleh hujan yang lebat. Ketika ia mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya, dilihatnya sebuah timba upih yang basah, sehingga karena itu ia mengerti, agaknya Ki Dipanala telah mengambil air dan menyiramnya sebelum ia ditinggalkannya. Buntal termangu-mangu sejenak. Ia menjadi heran mengalami perlakuan Ki Dipanala dan kawannya. “Aku akan menangkap mereka” berkata Buntal “Tetapi mereka t idak berbuat apa-apa atasku” Sambil terhuyung-huyung ia melangkah memungut pedangnya. Sekali lagi ia bergumam “Mungkin Ki Dipanalatidak sampai hati melihat aku pingsan dan ditinggalkannya begitu saja. Itulah agaknya yang mendorongnya ia menyiram aku dengan air, dan menunggu sampai aku hampir sadar” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi kawannya itu” Buntal benar-benar dicengkam oleh keheranan. Kawan Ki Dipanala ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa. Jika ia ingin membunuhnya, maka Buntal sendiri tentu sudah mati terkapar di tempat itu. Tetapi ia tidak berbuat demikian. “Aku tidak peduli” t iba-tiba Buntal yang muda itu menggeram ”Aku masih hidup dan sehat. Aku harus menghadap Kiai Sarpasrana dan menyampaikan laporanku kepadanya. Sudah barang tentu dengan peristiwa yang baru saja terjadi ini” Perlahan-lahan Buntalpun kemudian melangkah meninggalkan tempat itu. Badannya masih terasa lemah dan dadanya masih pepat. Nafasnya kadang-kadang masih terasa terganggu oleh rasa sakit yang menyengat. Tetapi Buntal dapat bertahan. Ia mendapat latihan yang berat di Jati Aking dan selama ia berada di Sukawati sehingga ketahanan tubuhnyapun cukup kuat untuk mengatasi perasaan sakitnya. Akhirnya Buntal dapat mencapai kudanya yang disembunyikannya. Iapun segera naik ke atas punggungnya dan kemudian berpacu kembali ke Sukawati. Tetapi Buntal tidak berani lagi melarikan kudanya terlampau cepat, karena perasaan sakit di dadanya. Namun dengan demikian maka Buntal mengalami sedikit kelambatan, la sampai di Sukawati setelah terang tanah. Kedatangannya dengan langkah yang letih dan nafas yang terengah-engah telah mengejutkan Kiai Sarpasrana. Karena itu, setelah Buntal duduk sejenak. Kiai Sarpasrana ingin segera mengetahui apa yang sudah dialami Buntal di perjalanannya.Dengan nafas yang berkejaran Buntal mulai menceriterakan perjalanannya. Mula-mula ia menceriterakan hasil kunjungannya ke Jati Aking. Keterangan yang didapatkannya dan yang tidak diduganya adalah bahwa Raden Juwiring kini tengah memimpin sepasukan prajurit berkuda dari Surakarta, mencari keempat orang yang hilang itu. Ki Sarpasrana mendengarkan ceritera itu dengan saksama. Namun Buntal juga merasa heran, bahwa Kiai Sarpasrana tidak terkejut dan heran mendengar ceriteranya. Bahkan dengan tenangnya ia berkata “Raden Juwiring tidak akan dapat ingkar. Ia adalah putera seorang Pangeran, sehingga ia tentu akan dibebani tugas keprajuritan. Apalagi ayahnya adalah seorang Senapati terpilih di Surakarta.” “Tetapi Kiai, menilik sikapnya selagi ia masih berada di Jati Aking, Raden Juwiring menunjukkan pendir iannya yang berlawanan dari yang dilakukannya sekarang” “Kita memang harus berhati-hati menghadapi suasananya yang tidak menentu ini. Perubahan masih selalu akan terjadi” Buntal menundukkan kepalanya, la teringat kepada tanggapan Kiai Danatirta atas Raden Juwiring. Agaknya orang- orang tua itu terlampau banyak pertimbangan sehingga ragu- ragu menentukan sikap. “Buntal” berkata Kiai Sarpasrana kemudian “Tetapi kenapa kau tampak terlalu letih dan nafasmu bagaikan akan terputus. Apalagi kau datang agak lambat dari waktu yang sudah ditentukan?“ bertanya Kiai Sarpasrana kemudian. Buntal bergeser sedikit. Ketika semangkuk minuman hangat diletakkan di hadapannya, maka tanpa menunggu lagi iapun segera meneguknya. “Aku haus sekali Kiai” desisnya. Kiai Sarpasrana tersenyum. Tetapi ia diam saja.Buntalpun kemudian menceriterakan pertemuannya yang aneh dengan Ki Dipanala, sehingga ia terlibat di dalam perkelahian. “O, kau bertempur melawan Ki Dipanala?“ “Tidak ada pilihan lain Kiai. Aku mencur igainya. Ia berada di tempat yang sedang mengalami kekisruhan. Aku yakin bahwa orang yang diupah oleh kumpeni sedang berusaha mempengaruhi sikap rakyat Surakarta terhadap pasukan Raden Mas Said” “Kau tidak mengenal siapa kawannya itu?“ “Tidak Kiai, tetapi aku melihat ciri yang pernah aku lihat sebelumnya” “Apa?“ Buntalpun menceriterakan sikap tangan kawan Ki Dipanala itu. Ia pernah melihat hal itu pada Raden Juwiring. Kiai Sarpasrana mengangguk-angguk. Ceritera Buntal ternyata sangat menarik baginya. “Kau sama sekali t idak dapat menduga, siapakah kawan Ki Dipanala itu?“ Pertanyaan Kiai Sarpasrana yang diulang itu memang menarik perhatian Buntal. Tetapi ia tetap menggelengkan kepalanya sambil menjawab “Tidak Kiai. Aku tidak dapat menduganya” Kiai Sarpasrana menar ik nafas. Katanya “Di malam hari memang sukar untuk mengenal seseorang yang belum dikenalnya baik-baik. Tetapi mungkin kau memang belum pernah melihatnya. Sudah barang tentu orang itu bukan Raden Juwiring, karena betapapun gelapnya kau tentu akan dapat mengenalnya”“Bukan Raden Juwiring Kiai” jawab Buntal “kecuali aku tentu dapat mengenalnya, maka ia tentu tidak akan berpakaian seperti seorang hamba atau pelayan” “Baiklah“ Kiai Sarpasrana menyahut “beristirahatlah. Laporanmu akan aku teruskan. Ternyata bahwa keadaan sudah menjadi semakin gawat. Raden Mas Said sudah tidak dapat menahan hati lagi. Sudah terlalu lama ia mencoba mengendorkan perjuangannya. Tetapi agaknya kumpeni justru berbuat sebaliknya. Dan kini bukan saja Raden Mas Said, tetapi Pangeran Mangkubumipun mengalami tekanan yang semakin berat justru oleh saudara-saudaranya sendiri yang dikendalikan oleh kumpeni itu. Karena itu. maka kita wajib mempersiapkan diri sebaik-baiknya Buntal” Buntal mengangguk. Katanya “Kita sudah lama menunggu perintah. Jika sekiranya Raden Mas Said dapat diajak berbicara dengan baik dan membagi pekerjaan yang berat ini. mungkin keadaan akan segera berubah” “Tentu, kenapa tidak? Raden Mas Said dan Raden Mas Sujono yang bergelar Pangeran Mangkubumi itu mempunyai tujuan yang sama. Tetapi agaknya Pangeran Mangkubumi ingin menempuh jalan yang lebih lunak meskipun agak jauh. Setiap korban yang jatuh menjadi perhatian Pangeran Mangkubumi. Ia bersedih jika ia melihat seseorang bersedih. Juga jika ia melihat orang yang menangis karena kehilangan anak laki- lakinya, atau kehilangan suaminya. Tetapi jika tidak ada ialan lain. maka Pangeran Mangkubumi dapat berubah bagaikan seekor banteng yang terluka di medan perang. Jarang ada seorang Senapati yang dapat mengimbanginya. Mungkin ayahanda Raden Juwir ing yang bergelar Pangeran Ranakusuma. Senapati yang pilih tanding itu dapat mengimbangi ilmu Pangeran Mangkubumi. tetapi ada perbedaan di antara keduanya. Pangeran Mangkubumi yakin akan perjuangannya, sedang Pangeran Ranakusuma tidak mengerti untuk apa sebenarnya ia berperang. Apalagisepeninggal puteranya yang dimanjakannya Raden Rudira, dan sejak isterinya selalu dibayangi oleh gangguan jiwani” Buntal mendengarkan keterangan itu dengan saksama. Bahkan kemudian ia seolah-olah tidak sabar lagi, kapan ia diperkenankan berada di medan perang melawan kumpeni dan orang-orang Surakarta sendiri yang berpihak kepada mereka. Tetapi Kiai Sarpasrana kemudian berkata “Kau tidak boleh tergesa-gesa Buntal. Kau harus menunggu perintah untuk itu. Karena itu, semua tindakanmu harus kau pikirkan masak- masak “Kiai Sarpasrana berhenti sejenak, lalu “Seperti yang baru saja kau lakukan Buntal, itu adalah hasil gejolak perasaanmu semata-mata” Buntal mengerutkan keningnya. Sedang Kiai Sarpasrana tersenyum sambil berkata “Untunglah, bahwa kedua orang itu tidak sampai hati mencelakaimu“ “Kiai” berkata Buntal sambil menundukkan kepalanya “Jika sekiranya aku harus mati, itu sudah menjadi kesanggupan seorang laki- laki yang berbuat sesuatu atas keyakinannya” Kiai Sarpasrana mengangguk-angguk. Katanya “Benar Buntal. Kau memang seorang anak muda yang tabah. Tetapi ada persoalan lain yang harus kau perhatikan. Jika sekiranya kau berhasil membunuh salah seorang dari mereka, sedang yang lain sempat melarikan diri, tentu orang itu akan mengadu di istana Surakarta, bahwa seorang kawannya telah dibunuh oleh pengikut Pangeran Mangkubumi. Jika demikian, apakah kau dapat membayangkan, bagaimana perasaan Pangeran Mangkubumi apabila Pangeran ada di istana pula?“ Buntal mengerutkan keningnya. Dan kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Tetapi Kiai Sarpasrana masih saja tersenyum. Katanya “Sudahlah. Kali ini kau dapat mempergunakannya sebagai pengalaman. Karena kedua orang itu selamat, aku kira merekatidak akan mengadu justru karena Ki Dipanala mengenalmu dengan baik. Sekarang beristirahatlah. Ceriteramu dan hasil pengamatanmu di Jati Sari merupakan laporan yang penting bagi Pangeran Mangkubumi. Aku akan segera menyampaikannya” “Tetapi Kiai“ Buntal memotong “Apakah Pangeran Mangkubumi kini berada di sini atau di istana?“ Kiai Sarpasrana justru tertawa. Katanya “Pangeran Mangkubumi berada dimana saja yang dikehendaki. Ah pertanyaanmu aneh Buntal. Pangeran Mangkubumi dapat saja hadir di istana, setelah itu dengan tergesa-gesa memacu kudanya kemari” Tetapi Buntal mempunyai tanggapan lain. Ia memang pernah mendengar bahwa Pangeran Mangkubumi memiliki ilmu yang luar biasa. “Apakah benar Pangeran Mangkubumi memiliki ilmu Sepi Angin?“ Buntal bertanya kepada dir i sendir i. Bahkan Buntal dapat menyebut bermacam-macam ilmu yang lain yang menurut pendengarannya dimiliki oleh Raden Mas Sujono yang bergelar Pangeran Mangkubumi itu. “Buntal” berkata Kiai Sarpasrana kemudian “sekarang kau dapat beristirahat. Jika ada persoalan yang lain, kau akan dipanggil dan barangkali kau akan mendapat tugas-tugas baru yang lebih berat” “Aku akan selalu bersedia melakukannya Kiai” “Tetapi tidak dikuasai oleh perasaanmu melulu” Buntal menundukkan kepalanya “Nah, pergilah ke belakang. Barangkali kau sudah lapar” Buntalpun kemudian pergi ke belakang. Ia memang lelah dan ingin beristirahat. Tetapi ia sama sekali tidak merasa lapar.Di biliknya Buntal berbaring sambil mengenang apa yang baru saja terjadi. Ia mencoba mengingat-ingat bentuk dan wajah kawan Ki Dipanala. Namun ia tidak dapat menemukan, siapakah orang itu sebenarnya. Dengan demikian, maka orang itu merupakan teka-teki yang tidak terpecahkan bagi Buntal. Bukan saja siapakah orang itu, tetapi juga sikapnya membuatnya tidak habis berpikir, kenapa ia masih tetap hidup setelah ia tidak berdaya lagi. “Mungkin Ki Dipanalalah yang mencegah agar orang itu tidak membunuhku” berkata Buntal di dalam hati “Tetapi bukankah dengan demikian aku tetap merupakan orang yang berbahaya bagi Ki Dipanala dimanapun kami akan bertemu?“ Buntal menggelengkan kepalanya, ia mencoba menyingkirkan angan-angan itu barang sejenak. Tetapi ia tidak mampu melakukannya. Demikianlah maka Buntal selalu saja dibayangi oleh peristiwa itu. Bukan hanya hari itu, tetapi di hari-hari kemudian, di dalam kesibukannya sehari-hari ia kadang- kadang masih merenung di luar sadarnya. Dalam pada itu, selagi di Sukawati rakyat dengan penuh gairah mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan, di istana Surakarta telah timbul persoalan-persoalan baru yang menyangkut kedudukan Tanah Sukawati. Beberapa orang bangsawan benar-benar tidak dapat menahan perasaan ir i melihat kebesaran Pangeran Mangkubumi dan penguasaannya atas Tanah Sukawati. Sebagian dari mereka mendapat hasutan dari kumpeni, agar mereka memohon kepada Susuhunan untuk meninjau kembali Tanah Palenggahaii Pangeran Mangkubumi di Sukawati itu. Ternyata sikap dan pendirian Susuhunan menjadi goncang. Beberapa orang bangsawan setiap saat memperbincangkan Tanah Sukawati. Bahkan di antara mereka ada yang dengan sengaja menumbuhkan kegelisahan hati Susuhunan.“Banyak bangsawan yang tidak dapat menerima sikap yang tidak adil itu Kangjeng Susuhunan“ seseorang telah menyampaikan persoalan itu kepada Susuhunan dengan nada yang buram “Jika Kangjeng Susuhunan tidak segera mengambil sikap, maka di dalam waktu yang dekat, tentu akan timbul persoalan di antara saudara-saudara kita sendiri” Persoalan itu membuat Kangjeng Susuhunan menjadi bingung. Ia menyadari bahwa Pangeran Mangkubumi memiliki hak atas Tanah Sukawati sesuai dengan janji Susuhunan sendiri. Tetapi jika ia tidak mendengarkan pendapat para bangsawan dan para pemimpin pemerintahan, terutama pepatih di Surakarta, maka persoalannyapun akan menjadi gawat. Karena itu, Susuhunan Paku Buwono benar-benar diliputi oleh kebingungan dan kegelisahan. Terlebih-lebih lagi Kangjeng Susuhunan mengetahui, bahwa kumpeni tidak tinggal diam melihat saja keadaan itu. Bahkan Kangjeng Susuhunan menyadari, bahwa kumpenipun telah ikut serta mempergunakan kesempatan itu untuk keuntungannya. Dalam kesempatan itu pula kumpeni mengadakan tekanan- tekanan atas Kangjeng Susuhunan. untuk memperluas hak- hak kumpeni. Pangeran Mangkubumi yang sudah memiliki benih-benih perlawanan tidak dapat menahan hatinya lagi. Dan itulah sebabnya maka perselisihan tidak dapat dihindarkan. Pangeran Mangkubumi tidak lagi mengekang diri ketika ia harus berbantah dengan pimpinan tertinggi kumpeni yang datang dari Betawi di paseban. Dan itulah yang membuat Pangeran Mangkubumi semakin terjepit. Sikap kumpeni tidak dapat dimaafkannya lagi. Sikap para pemimpin Surakarta yang justru berpihak kepada kumpenipun tidak dapat dimaafkannya lagi. Dan sikap Patih Pringgalayapun benar-benar tidak dapat dimengertinya.Peristiwa itu membuat Kangjeng Susuhunan benar-benar menjadi prihatin. Ia tidak dapat menolak tuntutan kumpeni atas Tegal dan Pekalongan, serta pengawasan sesala macam bea masuk dan keluar Kerajaan. Tetapi ia tidak akan dapat menahan Pangeran Mangkubumi untuk tetap bersabar menghadapi keadaan itu. Bahkan kemudian Kanjeng Susuhunan dengan desakan yang tidak terelakkan lagi dari Dara bangsawan dan kumpeni yang marah atas sikap Pangeran Mangkubumi telah memutuskan, betapapun berat di hati. mengambil kembali Tanah Sukawati dari tangan Pangeran Mangkubumi. “Sukawati menjadi neraka yang berbahaya” desak kumpeni ”Karena itu Sukawati harus dilepaskan dar i tangan Pangeran Mangkubumi yang telah berani melawan dengan terbuka perintah Gubernur Jenderal” Sedang para Pangeran dan bangsawan yang lain mendesak “Jika tidak segera diambil t indakan maka ir i hati akan dapat membakar Surakarta. Apakah yang ditakutkan pada Panaeran Mangkubumi. Surakarta adalah Kerajaan yang kuat. Apalagi kini kita berada di bawah per lindungan kumpeni” Perintah penarikan kembali Tanah Sukawati yang memang sudah diduga itu sama sekali tidak mengejutkan Pangeran Mangkubumi. Tetapi hai itu benar-benar sangat menyinggung perasaan. Bagi Pangeran Mangkubumi. Sukawati sebagai sebidang tanah yang luas dan subur, sebenarnya tidak begitu banyak menarik perhatiannya. Pangeran Mangkubumi adalah seorang Pangeran yang tidak terlampau cenderung kepada kekayaan lahiriah justru karena rakyat Surakarta semakin lama menjadi semakin melarat. Tetapi yang menyakitkan hati adalah justru tanah itu ditarik setelah ia berhasil membina Sukawati menjadi alas yang kuat baginya, sehingga penarikan itu akan sangat menguntungkan kumpeni.Tentang para Pangeran yang iri hati atas tanah kelenggahannya yang terlalu luas dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Pangeran Mangkubumi tidak akan menghiraukannya, seandainya Pangeran Mangkubumi tidak mengetahui bahwa sebagian besar dari para Pangeranpun sebenarnya telah dipengaruhi pula oleh kumpeni untuk memperkuat tuntutannya atas penarikan Tanah Sukawati itu. Karena itu, ketika Kangjeng Susuhunan dengan resmi menarik tanah ini, dan diumumkannya di dalam sidang para pemimpin pemerintahan dan para bangsawan, rasa-rasanya jantung Pangeran Mangkubumi telah disentuh oleh bara api. Tetapi Pangeran Mangkubumi tetap berhasil menahan perasaannya justru karena ia tahu, bahwa kakandanya, Kangjeng Susuhunan sama sekali tidak bermaksud berbuat demikian. Ia tidak bermaksud membuat Pangeran Mangkubumi malu dan sakit hati. Kelemahannyalah yang memaksanya untuk melakukan semua desakan kumpeni dan para Pangeran yang iri hati kepadanya, yang dengan tamak mengharap, bahwa Sukawati akan terbagi kepada para Pangeran itu. “Kakanda Susuhunan“ Pangeran Mangkubumi menanggapi penarikan atas tanah Sukawati itu “adalah wewenang kakanda untuk berbuat apa saja atas Tanah Sukawati, karena sebenarnya hamba hanya sekedar memelihara selagi tanah itu dikuasakan kepada hamba. Sebenarnyalah bahwa tanah itu adalah milik Surakarta. Karena itu, hamba tidak akan berkeberatan apapun juga seandainya tanah itu benar-benar ditarik dengan jujur untuk kepentingan Surakarta” Kangjeng Susuhunan Paku Buwono itu termangu-mangu sejenak. Terasa hatinya ikut tersentuh melihat sikap Pangeran Mangkubumi. Karena sebenarnya, sebagai seorang kakak maka Pangeran Mangkubumi adalah adiknya yang dikasihinya.Bahkan Kangjeng Susuhunan pernah meletakkan harapan kepada adiknya ini untuk memperkuat kedudukan Surakarta. Tetapi ternyata Surakarta menjadi semakin lemah karena kelemahannya sendiri. Kenapa ia tidak, berani bersikap seperti Pangeran Mangkubumi? Dan kenapa Pangeran-Pangeran yang lainpun bersikap lemah dan menj ilat?“ Selagi Kangjeng Susuhunan itu termangu-mangu, maka Pepatih Surakarta menyela “Ampun Kangjeng Susuhunan. Apakah hamba diperkenankan untuk berbicara?“ Kangjeng Susuhunan memandang Patihnya itu sejenak. Kemudian dengan ragu-ragu menganggukkan kepalanya. “Berbicaralah jika kau menganggap perlu” “Ampun Kangjeng Susuhunan. Sebenarnyalah penarikan Tanah Sukawati sudah dipertimbangkan sebaik-baiknya oleh Kangjeng Susuhunan. Berdasarkan keadilan dan kepentingan Kerajaan Surakarta seluruhnya. Mengingat pendapat Kumpeni dan kegelisahan para Pangeran, maka tidak ada jalan lain kecuali mengambil kembali Tanah Sukawati yang diberikan sebagai hadiah jika seseorang berhasil memadamkan pemberontakan Raden Mas Said. Sedang yang terjadi adalah sekedar menghentikan kegiatan Raden Mas Said untuk sementara karena Raden Mas Said dan Martapura kini sudah mulai melakukan kegiatannya menentang pemer intahan Surakarta lagi. Bahkan mungkin hamba menjadi curiga, bahwa saat-saat Raden Mas Said dan Pangeran Martapura tidak lagi melakukan kegiatan itu hanya sekedar kesempatan baik bagi Pangeran Mangkubumi“ “Paman Patih“ Pangeran Mangkubumi tidak dapat menahan hati lagi sehingga ia kehilangan suba sita. Namun sebelum berkepanjangan terdengar Kangjeng Susuhunan berkata “Adimas Pangeran Mangkubumi. Kau berada di paseban. Selama ini aku masih duduk di atas tahta. Berbicaralah kepadaku““Ampun kamas Susuhunan. Kata-kata Ki Patih terasa panas di telinga hamba” “Yang menentukan adalah aku, Susuhunan Paku Buwana kedua di Surakarta. Jika ada persoalan atas keputusanku, hendaknya disampaikan kepadaku” Pangeran Mangkubumi menggeram, la masih menghormati Kangjeng Susuhunan sebagai raja dan saudara tuanya. Itulah sebabnya dengan susah payah ia menahan perasaannya yang bergejolak. “Jika kau segan menyampaikannya sekarang adimas Mangkubumi, senja nanti aku memberi waktu kepadamu untuk datang menghadap sendir i di luar sidang di paseban” Pangeran Mangkubumi menyembah. Kemudian katanya “Hamba mohon diri kakanda. Jika hamba tetap berada di antara orang-orang ini. mungkin hamba akan kehilangan adat, sopan santun. Karena itu, hamba mohon ijin untuk menghadap kakanda Susuhunan senja nanti” “Aku tidak berkeberatan. Aku menyediakan waktu bagimu“ Pangeran Mangkubumipun kemudian meninggalkan sidang dengan wajah yang merah padam. Ia sadar, bahwa ia tidak dapat lagi berbuat dengan lunak untuk menghindari benturan kekerasan. Apalagi apabila diingatnya, bahwa kumpenilah yang sebenarnya berdiri di belakang mereka yang menghasut Susuhunan selama ini untuk memecah belah kekuatan Surakarta, sehingga dengan demikian Surakarta akan menjadirinskh dan tidak berdaya menghadaoi tekanan kumpeni yang semakin lama terasa semakin mencekik leher rakyat Surakarta dan kekuasaan Surakarta itu sendir i. Sepeninggal Pangeran Mangkubumi. maka beberapa orang bangsawan mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapat mereka tentang Pangeran Mangkubumi. Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa Pangeran Mangkubumi tidak akan berani berbuat apa-apa. Jika ia ingin menyatukan diri dengan Raden Mas Said, maka tentu Raden Mas Said mencur igainya karena Pangeran Mangkubumi pernah berusaha memadamkan pemberontakannya untuk mendapatkan Sukawati. “Sukawati kini menjadi ajang penempaan kekuatan bagi pengikut Pangeran Mangkubumi” berkata salah seorang bangsawan. “Ampun Kangjeng Susuhunan“ yang lain menyahut “Tidak ada kekuatan yang berarti di Sukawati” Namun demikian kumpeni tidak tinggal diam menanggapi sikap Pangeran Mangkubumi. Kumpeni yang mempunyai pengalaman perang yang dapat dibanggakan, dapat menangkap sikap dan pertimbangan yang tajam pada Pangeran Mangkubumi. Kecuali petugas-tugas sandinya sudah dapat mengetahui apa yang terjadi di Sukawati, juga karena kumpeni mengerti watak dan tabiat Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya. Karena itu, sebagai prajurit-prajurit yang pemah mengarungi samodra dan melintasi benua dari ujung bumi, maka kumpeni tidak ingin mengalami kegagalan di sebuah pulau yang jauh lebih kecil dari benua hitam yang pernah dilintasinya. Tetapi pulau yang kecil ini adalah pulau yang lebih besar dari negerinya sendiri. Dengan demikian, maka kumpeni benar-benar mempersiapkan dir i menghadapi kemungkinan yang terjadidengan sikap Pangeran Mangkubumi itu, meskipun dengan perhitungan, bahwa Surakarta harus merasa dirinya tidak mampu mengatasi dan minta bantuan kepada mereka. Dengan demikian maka kumpeni dapat memungut keuntungan dari permintaan bantuan itu. Bahkan dari pertentangan itu seluruhnya. Ternyata bukan hanya kumpeni sajalah yang mempersiapkan diri dengan diam-diam. Para Senapati di Surakartapun mendapat perintah agar bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang bakal terjadi. Tetapi sebagian dari mereka menganggap bahwa jika Pangeran Mangkubumi melakukan pemberontakan, maka yang terjadi tidak akan lebih dari menyalakan obor belarak. Obor daun kelapa kering. Mula-mulanya nyalanya melonjak sampai menggapai langit, namun beberapa saat kemudian, api itu akan padam dengan sendirinya karena belarak terlampau cepat dimakan api. Yang akan tersisa adalah sekedar abunya saja. “Meskipun demikian, kita harus mengawasi mereka” berkata Ki Patih dalam pertemuan dengan para Pangeran dan para Senapati. Dan di antara mereka adalah Pangeran Ranakusuma. “Bagaimana pendapat Pangeran?“ bertanya Ki Patih kepada Pangeran Ranakusuma ”Pangeran adalah seorang Senapati yang disegani di Surakarta. Juga Pangeran Mangkubumi merasa segan kepada Pangeran. Pangeran adalah Senapati yang pilih tanding. Bahkan seorang perwira kumpeni yang pernah menjelajahi bumipun dapat Pangeran kalahkan“ Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Menurut pendengaranku ia memiliki beberapa ilmu yang tidak dapat digolongkan dalam ilmu kewadagan. Bukan saja pr igel oleh senjata, tetapi juga ilmu yang tidak dapat dicapai dengan nalar”“Misalnya?“ bertanya seorang Pangeran yang masih sangat muda. “Misalnya aji Pameling. Aji Welut Put ih dan semacamnya” “Ah“ potong Ki Patih “Pangeran Ranakusuma adalah gedung perbendaharaan ilmu. Jangankan Pangeran Ranakusuma, sedang puteranya, Raden Juwiring, kini sudah nampak, bahwa ia akan menjadi seorang Senapati yang mumpuni. Pada suatu saat maka Surakarta akan berani menghadapkan Raden Juwir ing dengan Raden Mas Said” “Ia bukan tandingnya” jawab Pangeran Ranakusuma. “Sekarang belum. Tetapi kemajuan Raden Juwir ing agaknya melampaui pesat lajunya seekor kuda yang paling tegar” Pangeran Ranakusuma tidak menyahut lagi. Tetapi nampak bahwa ia sedang berpikir. Agaknya Pangeran Mangkubumi benar-benar orang yang harus diperhitungkannya. “Pangeran” berkata Ki Patih “menurut pendengaranku, Pangeranpun memiliki aji Lembu Sekilan yang lebih mantap dari aji Welut Putih. Aji Panggendam dan aji Tameng Waja. Bahkan masih banyak lagi yang belum aku sebutkan. Dengan demikian maka Pangeran Mangkubumi bukannya lawan yang berat bagi Pangeran. Apalagi di antara para Senapati yang lain masih ada yang dapat disebut namanya untuk mendampingi Pangeran di peperangan jika hal itu sungguh-sungguh akan terjadi” “Ya“ Pangeran Ranakusuma mengangguk “sebagai seorang Senapati aku tidak boleh memilih lawan, meskipun lawan itu adalah saudaraku sendiri dan memiliki ilmu yang betapapun sempurnanya. Namun sudah barang tentu bahwa setiap perbuatan itu harus diperhitungkan sebaik-baiknya. Demikian juga untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi. Aku kira kita harus membuat perhitungan yang secermat-cermatnya”“Terserahlah kepada para Senapati. Dan tentu Kangjeng Susuhunan akan percaya kepada para Senapati” “Senja nanti Pangeran Mangkubumi akan menghadap” desis Ki Patih. Pangeran Ranakusuma merenung sejenak, lalu terdengar suaranya yang datar “Apakah kira-kira yang akan dibicarakan?” “Tentu Pangeran Mangkubumi akan mengadu, seolah-olah kami hanya sekedar didorong oleh perasaan iri. Tetapi sebenarnyalah bahwa kami mengetahui persiapan yang sudah dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi di Sukawati” sahut seorang Pangeran yang lain. Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya, lalu jawabnya “Tentu Adimas akan berbuat demikian. Tetapi tentu tidak dengan Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang sudah dewasa cara berpikir dan bertindak” “Jadi, apakah yang akan dilakukan menurut kakang-mas“ “Ia tidak akan sekedar mengadu. Tetapi ia akan menyatakan pendapatnya dan sikapnya” Yang lain mendengarkan percakapan itu dengan dahi yang berkerut merut. Mereka sependapat bahwa Pangeran Mangkubumi tentu t idak hanya akan sekedar mengadu. “Kenapa Kangjeng Susuhunan member inya waktu untuk menghadap sendiri” desis Ki Patih kemudian. “Itu adil“ Pangeran Ranakusumalah yang menjawab “selama ini yang didengar oleh kakanda Susuhunan adalah ceritera tentang Pangeran Mangkubumi. Tentu harus datang giliran bahwa Pangeran Mangkubumilah yang didengar ceriteranya”“Tetapi sebenarnya tidak perlu” sahut Pangeran yang masih muda itu “kakangmas tentu sudah mengerti, bahwa sikap Pangeran Mangkubumi selama ini berbeda dengan sikap kita semua, seolah-olah Pangeran Mangkubumi bukan saudara kita. Seolah-olah ia adalah orang lain. Dengan demikian kita semua dan juga kakanda Susuhunan dapat berbuat seperti itu” “Itulah bedanya antara kau dan seorang raja yang bijaksana. Bagaimanapun juga ia harus berbuat seadil-adilnya meskipun ia tahu bahwa adiknya bersikap lain” Yang lainpun kemudian terdiam. Beberapa orang di antara mereka hanya sekedar mengangguk-angguk saja. Namun kemudian Ki Patih berkata “Terserahlah kepada para Senapati. di dalam hal ini para Senapati tentu lebih mengetahui karena persoalannya akan menyangkut segi keprajuritan. Namun di dalam hal ini kumpeni tentu tidak akan tinggal diam. Kita akan mendapat bantuannya apabila kita memerlukan. Dan kita percaya kepada mereka. Mereka adalah prajur it yang berpengalaman menjelajahi bumi dari ujung sampai keujung. Tentu bagi mereka Pangeran Mangkubumi tidak akan banyak artinya” “Apa artinya pengalaman mereka itu bagi kita” tiba-tiba Pangeran Ranakusuma menyahut “Mereka bukan dewa-dewa yang turun dari langit. Aku berhasil membunuh seorang perwira dalam perang tanding. Dan itu berarti bahwa Pangeran Mangkubumi akan dapat melakukannya pula. Juga di peperangan. Demikian pula setiap prajur it Surakarta dan orang-orang Sukawati akan dapat berbuat demikian pula atas prajurit- prajurit kumpeni itu” Ki Patih menarik nafas dalam-dalam. la mengerti bahwa Pangeran Ranakusuma mempunyai dendam pr ibadi pada kumpeni. Bukan saja bahwa puteranya. menurut berita yang didengarnya ternyata terbunuh oleh kumpeni, tetapi jugaisterinya yang cantik itu ternyata telah berhubungan dengan orang-orang asing itu apapun alasannya. Karena itu Ki Patih tidak mempersoalkannya lagi. la sadar, bahwa jika hal itu berkepanjangan. Pangeran Ranakusuma akan menjadi marah dan bahkan mungkin akan mempengaruhi sikapnya terhadap Pangeran Mangkubumi. Karena itu, Ki Patih t idak mencampurinya lagi. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada para Pangeran dan para Senapati perang. Apapun yang akan mereka lakukan untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi apabila karena kecewa dan sakit hati Pangeran Mangkubumi mengambil sikap yang keras dan bahkan mungkin sebuah pemberontakan. Sebenarnyalah bahwa para Senapati sadar, dalam keadaan itu mereka akan mengalami pukulan yang berat jika Pangeran Mangkubumi benar-benar akan mengangkat senjata. Mereka memperhitungkan pula kemungkinan yang dapat ditimbulkan oleh Raden Mas Said dan Martapura. Namun sebagian besar dari mereka percaya bahwa Surakarta tetap besar dan kuat. Terlebih- lebih lagi dengan bantuan kumpeni yang mempunyai senjata petir. Hanya dengan menarik sebuah pelatuk senjatanya, maka sebuah peluru akan terbang dan menyambar dada lawannya. “Aji Lembu Sekilanpun tidak akan dapat menahan laju peluru yang meluncur secepat tatit di langit“ gumam seorang Pangeran yang sudah dicengkam oleh pengaruh orang-orang asing itu. Yang kemudian ditunggu-tunggu oleh para Pangeran itu adalah hasil pembicaraan Pangeran Mangkubumi dan Kangjeng Susuhunan senja itu. Beberapa orang bangsawan dan Senapati berpendapat, bahwa Pangeran Mangkubumi memang akan menentukan sikapnya. Ketika kemudian matahari menjadi semakin condong ke Barat, dan sinarnya menjadi semakin pudar, maka parabangsawan dan Senapati menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan ada di antara mereka yang memerintahkan para abdi dan pelayannya untuk berhati-hati menjaga halaman istana masing-masing. “Siapa tahu, dendam Pangeran Mangkubumi akan ditumpahkan kepadaku” berkata mereka di dalamhati. Dengan demikian maka para abdi dan pelayan menjadi terheran-heran. Tetapi mereka yang bertugas di regolpun mempersiapkan senjata masing-masing seakan-akan Surakarta telah benar-benar dibakar oleh api peperangan. Dalam pada itu, selagi matahari tenggelam dan langit di atas Surakarta menjadi temaram, sebuah kereta berderap meninggalkan istana Pangeran Mangkubumi menuju ke istana Kangjeng Susuhunan di Surakarta. Seperti yang sudah dikatakan, Pangeran Mangkubumi pergi menghadap kakandanya. Susuhunan Paku Buwana kedua di Surakarta untuk menumpahkan segala macam persoalan di dalam hatinya. Namun sementara kereta itu berderap, maka yang tinggal di istana Mangkubumenpun telah sibuk berkemas. Pangeran Mangkubumi telah mengatakan kepada keluarganya, bahwa agaknya suasana akan memburuk. Dan mereka harus dengan ikhlas meninggalkan istana Mangkubumen. Jika perlu mereka akan tinggal di gubug-gubuk bambu, di antara rakyat banyak yang hidupnya semakin sulit karena penindasan kumpeni yang semakin terasa di bumi Surakarta. Dengan gelisah Kangjeng Susuhunan menerima kedatangan Pangeran Mangkubumi di bangsal yang khusus. Tidak ada orang lain di dalam bangsal itu kecuali Kangjeng Susuhunan sendir i dan kemudian Pangeran Mangkubumi. “Adimas Pangeran” berkata Kangjeng Susuhunan kemudian “Aku menyesal sekali bahwa aku harus menjatuhkan keputusan untuk mengambil kembali Tanah Sukawati. Akutahu bahwa hal itu akan menyakitkan hati adimas Pangeran. Namun aku tidak mempunyai pilihan lain. Para bangsawan, bahkan para Bupati dan Pringgalayapun berpendapat bahwa aku harus berbuat demikian” ”Ampun kakanda. Bagaimana sikap kumpeni dalamhal ini?“ Kangjeng Susuhunan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan nada yang datar dan terputus-putus ia menjawab “Aku minta maaf kepadamu adinda. Aku tidak akan ingkar akan kelemahanku. Seharusnya aku tidak berbuat demikian. Tetapi aku tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya” “Apakah kakanda tidak percaya bahwa kita memiliki kemampuan untuk berdiri tegak melawan kumpeni?“ “Tetapi sikap saudara-saudaramu sangat meragukan. Dan baiklah aku mengucapkannya sendiri daripada kau yang mengatakan, bahwa aku tidak memiliki kepr ibadian yang kuat untuk berbuat seperti itu” Pangeran Mangkubumi justru menjadi bimbang karena Susuhunan dengan jujur lelah mengakui kelemahannya. Sebenarnya ia ingin menjelaskan hal itu dan memohon agar Kangjeng Susuhunan kembali kepada sikap seorang Raja yang dihormati dan berwibawa. Namun agaknya Kangjeng Susuhunan akan terlampau sulit melakukannya. Meskipun demikian Pangeran Mangkubumi bertanya pula “Ampun kakanda. Hamba tidak berkeberatan atas Tanah Sukawati itu. Tetapi apakah kakanda dapat menunjukkan kepada hamba bahwa hal itu bukan karena kecemasan kumpeni melihat kesiagaan hamba di Sukawati?“ Kangjeng Susuhunan memandang Pangeran Mangkubumi dengan wajah yang sayu. Kemudian dengan sayu pula ia menjawab “Adimas. Itulah sebabnya aku sengaja menerimamu tanpa ada orang lain. Aku tahu bahwa kau akanmenelanjangiku. Kau akan menunjukkan semua cacat cela yang ada padaku” “Ampun kakanda. Bukan maksud hamba. Hamba hanya sekedar didorong oleh perasaan muak terhadap kumpeni dan saudara-saudara hamba yang telah menj ilat kepada mereka” “Kau tidak bersalah adinda. Dan aku memang harus mengakui. Aku memang dapat menjawab, bahwa keputusan itu berdasarkan pendapat para Pangeran dan pemimpin pemerintahan. Aku dapat menjawab bahwa keputusanku aku dasarkan kepada keadilan dan ketenteraman Surakarta, karena perasaan iri itu memang dapat menumbuhkan banyak akibat” “Tetapi kakanda . . . . . ” “Nanti dulu adimas” potong Kangjeng Susuhunan “Aku tahu apa yang akan kau katakan. Kau tentu akan menyebutkan bahwa itu hanya sebagian kecil dari persoalan yang sebenarnya, karena di belakang para Pangeran dan para Pemimpin pemer intahan itupun berdiri kumpeni. Bukankah begitu?” Pangeran Mangkubumi tidak menjawab. Tetapi kepalanya kemudian tertunduk dalam-dalam justru karena pengakuan yang jujur dari Susuhunan Paku Buwono itu. “Aku tidak akan ingkar adimas. Dan akupun tidak akan ingkar bahwa sebenarnyalah aku adalah orang yang kurang teguh pada pendirian dan sikap” Pangeran Mangkubumi menar ik nafas dalam-dalam, lalu dengan nada yang dalam ia berkata lambat “Ampun kakangmas. Sebenarnyalah bahwa itulah yang telah membuat hati hamba kecewa. Hamba tidak akan mungkin untuk selalu menahan hati seperti sekarang. Jika pada suatu saat hamba melihat seorang perwira kumpeni berdir i di paseban dan apalagi bersikap seakan-akan ialah yang paling berkuasa, maka hamba tidak yakin bahwa hamba dapat menahan diridan tidak membunuhnya di tempat itu juga” Pangeran Mangkubumi berhenti sejenak, lalu “karena itu. menurut pertimbangan hamba, lebih baik hamba tidak melakukannya. Jika terjadi demikian mungkin akibatnya akan sangat buruk bagi Surakarta” Kangjeng Susuhunan memandang Pangeran Mangkubumi dengan tatapan yang tanpa berkedip. “Karena itu kakangmas, sebaiknya hamba menyingkir dari lingkungan hamba yang semakin lama menjadi semakin tidak sesuai lagi” “Maksudmu?“ “kakanda. Jika sekiranya hamba tidak menjauhkan diri dari suasana yang bagi hamba menjadi semakin memuakkan ini, hamba t idak tahu, apakah yang akan terjadi” “Jika kau menjauhinya?“ Pangeran Mangkubumi tidak segera dapat menjawab. Iapun sadar, meskipun ia menjauhi istana ini, namun hatinya yang bergejolak sudah t idak akan dapat dikekangnya lagi. “Adimas Pangeran Mangkubumi” berkata Kangjeng Susuhunan “Aku tahu perasaan yang tersimpan di dalam hatimu. Karena itu, akupun dapat menduga, apakah yang sebenarnya akan kau lakukan. Kau tidak akan dapat lagi sejalan dengan saudara-saudaramu. Dengan aku dan apalagi dengan kumpeni. Apapun yang kita usahakan bersama, maka jalan kita memang bersimpangan” “Ampun kakanda” kepala Pangeran Mangkubumi menjadi semakin tunduk. Ia menyadari sepenuhnya bahwa yang duduk di hadapannya itu adalah saudara tuanya. Tetapi iapun menyadari bahwa sebenarnyalah jalan mereka memang bersimpangan.“Adinda Pangeran Mangkubumi” berkata Kangjeng Susuhunan seterusnya “Baiklah aku kini berbicara sebagai saudaramu, saudara tuamu. Dan kaupun aku minta berkata dengan nuranimu. Aku berjanji bahwa aku akan menyingkirkan sebutanku Susuhunan Paku Buwana ke II di Surakarta” Pangeran Mangkubumi mengangkat wajahnya. Dengan tatapan mata yang tajam ia bertanya “Apakah sebenarnya maksud kakanda” “Adinda, apakah sebenarnya yang akan kau lakukan j ika kau sudah menjauhi istana ini. Kau tentu tidak akan dapat kembali ke Sukawati, karena dengan resmi Sukawati sudah aku ambil kembali “Ampun kakanda” Pangeran Mangkubumi menjadi ragu- ragu. Namun kemudian dipaksakannya berkata “Kakanda tentu dapat menebak gejolak di dalamdada hamba” “Ya. Aku mengerti Kau akan mengangkat senjata” Meskipun sebenarnyalah demikian, tetapi terasa juga dada Pangeran Mangkubumi bergetar. “Bukankah begitu?“ “Kakanda” suara Pangeran Mangkubumi tersendat di kerongkongan “hamba memang tidak akan dapat menghindarikan diri dari t indakan itu. Hamba memang akan mengangkat senjata. Karena itu, sekaligus hamba mohon dir i. Tetapi jika kakanda berkeberatan, dan jika kakanda sekarang berdiri sebagai Raja di Surakarta yang bergelar Susuhunan Paku Buwana ke II tidak membenarkan hamba akan berjuang melawan kumpeni, maka hamba tidak akan melawan j ika kakanda memerintahkan para prajurit untuk menangkap hamba. Hamba masih menghormati kakanda sebagai saudara tua, pengganti ibu bapa, dan sebagai Raja yang aku sembah di Surakarta”Kangjeng Susuhunan Paku Buwana tidak segera dapat menjawab. Terasa tenggorokannya menjadi pepat, dan pelupuk matanya menjadi panas. “Adinda” katanya kemudian “Kau memang adikku yang aku kasihi. Aku kini benar-benar berdiri di simpang jalan. Aku berbangga bahwa di antara saudara-saudaraku masih ada yang berdiri tegak di atas kepribadian sendiri. di atas kepentingan rakyat Surakarta dan dengan dada tengadah melawan kumpeni. Tetapi aku juga merasa bersalah karena aku menyalahi tugasku sebagai raja yang adil di Surakarta, bahwa setiap perlawanan harus ditindas” Pangeran Mangkubumi menundukkan kepalanya pula. “Karena itu adimas Pangeran. Jika adimas tidak ada lagi, maka aku tentu tidak akan merasa selalu dikejar oleh pertentangan di hatiku sendir i seperti ini” Pangeran Mangkubumi terkejut mendengar kata-kata itu. Tetapi ia t idak tahu artinya dengan pasti. “Adinda Pangeran” berkata Susuhunan selanjutnya “karena itu, sebaiknya di istana Surakarta memang tidak ada lagi seorang Pangeran seperti adinda” Pangeran Mangkubumi masih tetap termangu-mangu. Namun kemudian hatinya menjadi berdebar-debar. Bahkan sebuah gejolak yang dahsyat telah melanda dinding jantungnya. Dengan hampir tidak berkedip ia melihat Susuhunan Paku Buwana ke II itu berdiri dari tempat duduknya. Perlahan-lahan ia melangkah ke tempat pusaka di sisi ruangan. Beberapa batang tombak berdiri tegak dengan megahnya di sisi sebuah songsong yang kuning keemasan. Dengan tangan gemetar Susuhunan menggegam tangkai sebuah dari tombak-tombak yang terpancang itu. Perlahan- lahan ia mengangkat tombak itu dengan wajah yang tegang.Sesaat kemudian ia berdir i menghadap tempat Pangeran Mangkubumi duduk bersila. Sejenak ia berdiri mematung. Namun kemudian selangkah demi selangkah Susuhunan Paku Buwana itu mendekati Pangeran Mangkubumi. “Adinda Pangeran Mangkubumi” suara Susuhunan menjadi sangat dalam “Kau tentu kenal tombak ini. Tombak pusaka yang tidak ada duanya di Surakarta” Pangeran Mangkubumi termangu-mangu. “Dengan tombak ini, leluhur kita Panembahan Senapati telah berhasil menyelesaikan tugasnya, ketika terjadi pertentangan antara Pajang dan Jipang” Pangeran Mangkubumi masih belum menjawab. Tetapi di dalam hatinya terdengar ia berdesis “Kangjeng Kiai Pleret” “Adinda Pangeran” berkata Susuhunan kemudian “tombak ini adalah Kangjeng Kiai Pleret. Tidak ada orang yang dapat menahan kesaktian tombak ini. Meskipun ia memiliki aji rangkap sembilan, namun tombak ini akan dapat menembus kulitnya. Biar ia merangkap ilmu Lembu Sekilan, Tameng Waja dan ilmu kekebalan yang lain, tetapi kekuatan aji itu tidak akan ada artinya untuk melawan tombak yang tiada duanya ini. Apakah kau mengerti?“ Wajah Pangeran Mangkubumi menjadi merah. Sejenak ia memandang ujung tombak yang masih berada di dalam wrangkanya dan ditutup oleh sebuah selongsong putih. Seuntai bunga melati yang sudah kekuning-kuningan tersangkut di bawah selongsongnya. Dada Pangeran itu benar-benar terguncang ketika ia melihat Kangjeng Susuhunan mengangkat tangkai tombak itu di atas dahinya, dan kemudian memejamkan matanya sejenak. Kemudian perlahan- lahan tombak itu diturunkannya. Dengan tangannya yang semakin gemetar Kangjeng Susuhunan meraba selongsong tombaknya.Pangeran Mangkubumi duduk mematung di tempatnya. Dan dengan nafas yang semakin cepat mengalir Pangeran itu mendengar kakandanya berkata “Adinda Pangeran Mangkubumi. Apakah kau benar-benar bertekad untuk memberontak?“ Untuk sesaat Pangeran Mangkubumi termangu-mangu. Namun ia adalah seorang Pangeran yang berhati baja. Apapun yang dihadapinya tidak akan dapat menggeser pendir iannya. Juga seaninya ia harus mendapat hukuman mati sekalipun di ruang ini. Karena itu maka iapun kemudian menyahut “Kakanda. Sebenarnyalah bahwa adinda tidak akan memberontak. Yang akan hamba lakukan adalah menegakkan harga diri kita sebagai bangsa dan melepaskan semua ikatan yang semakin lama terasa semakin menjerat leher rakyat Surakarta. Hamba akan berjuang melawan kumpeni” “Bukankah itu sama artinya dengan melawan kekuasaan Surakarta. Jika aku sudah memberikan beberapa wewenang kepada kumpeni, maka penolakan atas wewenang itu sama artinya dengan tidak mengakui lagi kuasaku” Pangeran Mangkubumi menjadi bimbang. Ia melihat perubahan sikap Kangjeng Susubunan. Namun Pangeran Mangkubumi tidak melepaskan sikapnya. Jawabnya “Kakanda. Hamba tidak dapat ingkar akan kekuasaan kakanda di Surakarta. Juga atas wewenang yang kakanda berikan. Tetapi bukankah kakanda mengakui babwa semuanya itu lahir karena kelemahan hati kakanda, bukan karena pertimbangan dan perhitungan sehingga wewenang itu benar-benar merupakan hak yang kakanda berikan atas kuasa kakanda. Bukan justru karena kelemahan” Kangjeng Susuhunan memandang Pangeran Mangkubumi dengan tajamnya. Kemudian perlahan-lahan tangannya yang sudah menggenggam selongsong tombak itupun ditariknya. Disangkutkannya selongsong tombak yang tidak ada duanyaitu di pundaknya. Dan kemudian tangannya telah membuka wrangka tombak itu sekaligus. Sekali lagi Kangjeng Susuhunan itu mengangkat tombak di atas keningnya. Debar jantung Pangeran Mangkubumi serasa semakin cepat menghentak-hentak di dadanya. Ia sadar, bahwa tombak Kiai Pleret adalah tombak yang tiada duanya. Aji Lembu Sekilan, Tameng Waja, Gedong Maruta, dan segala macam ilmu tidak akan darat menyelamatkaninya dari ujung tombak Kiai Pleret itu. Apalagi ternyata kemudian ia melihat, mata tombak itu bagaikan membara. Pangeran Mangkubumi sudah mengenai tombak itu dengan baik. Jika tombak itu dimandikan di ujung tahun, maka ia selalu hadir. Karena itu. ia seakan-akan dapat mengenal segala tabiat dan sifat dari tombak itu. di saat-saat tombak itu dimandikan, maka mata tombak itu tidak pernah menyala seperti bara seperti pada saat itu. Dan seperti yang pernah didengarnya, jika mata tombak itu sedang membara, maka itu adalah pertanda bahwa sesuatu akan terjadi dengan tombak itu. Kangjeng Susuhunanpun mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia mengangkat tangkai tombak itu di depan keningnya. Namun ujung mata tombak itu masih saja bercahaya kemerah-merahan. “Adimas Pangeran” berkata Kangjeng Susuhunan “hanya orang yang berhak atas Kangjeng Kiai Pleret sajalah yang berani memandang tombak ini di saat mata tombak ini membara” Pangeran Mangkubumi menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja timbullah gejolak yang dahsyat di hatinya. Ia sadar bahwa tombak itu adalah tombak yang tiada taranya. Tetapi apakah jangkauannya itu hanya akan sampai sekian. Apakah sepeninggalnya Kangjeng Susuhunan akan berjuang membela rakyat Surakarta? Dan apakah Raden Mas Said dan Martapuraakan dapat melanjutkannya dan menarik anak buahnya yang ditinggalkannya seperti sapu lidi kehilangan ikatannya. Tiba-tiba saja Pangeran Mangkubumi menggeram di dalam dadanya “Tidak. Aku bukan tikus clurut. Aku setia kepada kakanda Kangjeng Susuhunan sebagai raja dan saudara tua. Tetapi apakah aku harus setia sampai mati dengan mata yang buta?“ Terasa sesuatu bergetar di dadanya. di luar sadarnya Pangeran Mangkubumi meraba hulu kerisnya. Keris itu memang t idak memiliki kesaktian seperti Kiai Pleret. Tetapi kerisnyapun bukan keris kebanyakan. Keris pusaka yang ada di punggungnya, adalah keris yang jarang sekali dipakainya. Hanya dalam saat yang gawat sajalah keris itu keluar dari simpanan. Namun Pangeran Mangkubumi terkejut ketika Susuhunan Paku Buwana bertanya “Adimas. Apakah kau akan memperbandingkan kerismu dengan tombak Kangjeng Kiai Pleret?“ Kepala Pangeran Mangkubumi tertunduk kembali. dan terdengar suaranya lambat “Tidak kakangmas. Tidak, sama sekali tidak. Karena hamba tahu, bahwa keris hamba memang tidak sebanding sama sekali dengan tombak Kangjeng Kiai Pleret” “Jadi?“ Wibawa Kangjeng Kiai Pleret ternyata memang besar sekali. Rasa-rasanya dada Pangeran Mangkubumi tergetar karenanya. Namun imbangan kekuatan jiwanyalah yang mendorongnya untuk menjawab “Kakanda, hamba merasa bersukur bahwa hambapun memiliki sebuah pusaka yang akan dapat hamba pergunakan untuk sipat kandel dalam perlawanan hamba terhadap kumpeni. Hamba sudah bertekad. Dan hamba akan mempertaruhkan nyawa hamba kapanpun hamba harus mulai dengan perjuangan hamba”Tampak kerut menit di kening Kangjeng Susuhunan Paku buwana. Setapak demi setapak ia semakin mendekati adiknya. Kemudian dengan suara yang bergetar ia bertanya “Jadi kau sudah benar-benar mengambil keputusan adimas?” “Hamba kakanda” “Kau akan meninggalkan istanamu?“ “Hamba kakanda. Hamba memang akan mohon dir i Hamba harus sudah mulai” “Kapan?“ Dan tiba-tiba saja hampir di luar sadarnya Pangeran Mangkubumi menjawab “Sekarang” Kangjeng Susuhunan menundukkan kepalanya. Sesuatu rasa-rasanya menusuk hatinya. Wajahnya yang tegang menjadi buram. Dan dengan suara yang lemah ia berkata “Aku mengerti Pangeran Mangkubumi yang perkasa. Aku tidak akan sakit hati. Aku menyadari kebesaran jiwa dan tekadmu. Terasa di dalam nada suaramu, bahwa kau mulai memisahkan sikap antara saudara tua dan kepentingan Surakarta” “Kakanda“ “Tidak adimas. Aku tidak apa-apa. Kesetiaan seseorang terhadap raja dan saudara tuanya memang terbatas sampai pada titik keyakinannya mulai tersentuh. Dan aku dapat mengerti. Karena itu aku sama sekali tidak berkeberatan jika kau akan meninggalkan Surakarta dan akan mulai dengan sebuah perjuangan yang panjang” “Kakanda” desis Pangeran Mangkubumi yang tidak menyangka. Namun sekali-sekali ia masih memandang ujung tombak Kangjeng Kiai Pleret yang membara. Aku mengerti adimas, bahwa kau setia kepadaku. Bahkan sampai mati sekalipun. Tetapi t idak untuk melindungiwewenang kumpeni yang pernah aku berikan kepadanya. Aku mengerti. Karena itu aku restui kepergianmu” “Kakanda” suara Pangeran Mangkubumi terputus di kerongkongan. “Adimas” suara Kangjeng Susuhunan menjadi semakin dalam dan gemetar “Aku ingin memberimu bekal. Bekal sebagai tebusan kelemahanku. Terima tombak Kangjeng Kiai Pleret Pusaka terpercaya dari Surakarta ini. Pakailah selama dalam perjuanganmu melawan kumpeni dan para Pangeran yang menj ilat kepadanya. Kaulah yang telah mengembalikan pusaka ini pada saat Kartasura dilanda api per lawanan yang tiba-tiba pada beberapa saat lampau” Sesuatu bergejolak dengan dahsyatnya di hati Pangeran Mangkubumi. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Bagaimanapun juga ia masih ragu-ragu. Apakah yang dikatakan oleh Kangjeng Susuhunan itu sebenarnya demikian, atau hanya sekedar sebuah ungkapan yang mempunyai arti yang lain Tetapi ternyata Kangjeng Susuhunan Paku Buwana itu benar-benar menyerahkan tombak Kangjeng Kiai Pleret kepada Pangeran Mangkubumi “Terimalah adikku”Untuk beberapa saat Pangeran Mangkubumi masih termangu-mangu. Dipandanginya ujung tombak yang membara itu dan wajah kakandanya berganti-ganti. Namun kemudian dilihatnya sebuah senyum yang pahit di bibir Kangjeng Susuhunan itu. Dar i sela-sela bibir itu terdengar kata-katanya “Adinda. Jangan ragu-ragu. Terimalah. Tombak Kangjeng Kiai Pleret adalah lambang perjuanganku melawan kekuasaan asing. Kedudukanku, wadagku dan kelemahanku telah mengikat aku di atas tahta Surakarta. Alangkah senangnya menjadi seorang yang berkuasa. Dan aku tidak mau kehilangan kekuasaan itu. Aku tidak mau pergi ke hutan- hutan dan tinggal di bawah gubug yang basah dimusim hujan. Tidak. Dan itu adalah pengkhianatan atas diriku sendir i” Pangeran Mangkubumi melihat setitik air di pelupuk mata Kangjeng Susuhunan yang masih melanjutkan “karena itu, adinda. Yang dapat aku lalukan adalah sekedar melakukan perjuangan dengan cara yang kerdil ini. Tetapi sebenarnyalah di hati nuraniku, aku menentang kekuasaan asing yang semakin menjerat leherku dan kekuasaan di Surakarta. Bukan saja aku, tetapi juga keturunanku yang akan datang” “Kakanda” suara Pangeran Mangkubumi terputus di kerongkongan. “Adinda Pangeran. Jika kau meraba tombak ini di peperangan, anggaplah aku besertamu. Anggaplah bahwa yang ada di atas tahta Surakarta adalah wadagku yang dibelenggu oleh nafsu ketamakan, nafsu keduniawian dan segala macam nafsu yang lain. Tetapi hatiku ada padamu” Tubuh Pangeran Mangkubumi terasa gemetar. Betapa kuat hatinya, namun terasa jantungnya bagaikan tergores ujung duri. Pedih. Ia melihat kakandanya sebagai lambang dari benturan pribadi yang parah di saat Surakarta dilanda oleh bahaya yang sebenarnya. Tetapi pengakuan yang jujur itu membuat Pangeran Mangkubumi tetap hormat kepadanya.“Adimas” desis Kangjeng Susuhunan “Ter imalah Kangjeng Kiai Pleret ini“ Pangeran Mangkubumi bergeser setapak. Diacukannya tangannya untuk menerima tombak pusaka itu dengan dada yang berdebaran. “Kau adalah seorang Pangeran yang pantas memiliki pusaka ini di seluruh Surakarta tidak ada orang yang berhati seteguh hatimu” “Kakanda. Banyak yang tetap pada sikapnya apapun yang terjadi atas mereka. Justru di kalangan rakyat yang langsung mengalami kesulitan di dalam masa yang tidak ada kepastian ini. Dan hamba akan menerima tombak Kangjeng Kiai Pleret itu atas nama mereka yang berjuang untuk menentang penjajahan. Dan hambapun akan berkata kepada mereka, bahwa tombak ini adalah lambang kehadiran kakanda di setiap medan perlawanan terhadap kumpeni” Pangeran Mangkubumi melihat mata Susuhunan itu menjadi basah. Tetapi agaknya pantang bagi seorang laki-laki untuk menangis, sehingga karena itu, maka suara Susuhunan itupun segera berubah menghentak “Cepat. Terimalah tombak ini sebelumaku berubah pendir ian“ Pangeran Mangkubumipun bergeser lagi. Diterimanya tombak pusaka itu dengan tangan yang gemetar. Diangkatnya landean tombak itu ke depan dahinya, kemudian dengan suara gemetar pula ia berkata “Terima kasih kakanda. Hamba merasa bahwa memang hamba harus menjalankan tugas ini sampai tuntas” Kangjeng Susuhunan memandang mata tombak itu sejenak. Demikian juga Pangeran Mangkubumi yang dengan dada yang berdebar-debar memandang mata tombak itu. Ternyata mata tombak itu masih tetap membara.“Adimas” suara Kangjeng Susuhunan telah menurun lagi “ternyata kau mampu dan kuat memiliki tombak Kangjeng Kiai Pleret dengan rencana perjuanganmu. Ujung tombak itu masih tetap membara, sehingga karena itu, perjuanganmu tentu akan berhasil” “Kakanda, hamba selalu berdoa agar kita semua mendapat perlindungan dar i Tuhan Yang Maha Esa. Dan kepada Tuhanlah aku berserah diri, karena Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu, termasuk diriku” “Kita akan selalu berdoa bersama-sama di dalam hati kita masing-masing adinda. Pergilah. Aku tidak dapat memberimu bekal lebih daripada itu” “Kakanda, anugerah kakanda adalah dorongan yang tiada taranya bagi hamba. Dan hamba kini mengerti, apakah sebenarnya yang terjadi di dalamdiri kakanda” “Memang sebuah medan perang yang dahsyat sekali. Tetapi biar lah aku tetap dalam keadaan ini, keadaan yang dibayangi oleh kepura-puraan dan nafsu duniawi. Pergilah. Hatimu yang teguh ternyata memberi keteguhan kepada Surakarta” Pangeran Mangkubumipun kemudian mohon dir i. Diselubunginya mata tombak yang membara itu dengan wrangkanya, kemudian sebuah selongsong putih seputih kapas, dan seuntai rangkaian bunga melati yang sudah kekuning-kuningan. Ketika Pangeran Mangkubumi bergeser surut sampai ke pintu, ia masih melihat Kangjeng Susuhunan mengusap pelupuknya dengan jarinya. Namun sekali lagi ia mendengar Susuhunan menghentakkan kakinya sambil berkata “Pergilah, dan jangan kembali lagi“ Namun kemudian “Selamat jalan adinda. Mungkin kita tidak akan dapat bertemu lagi“ Pangeran Mangkubumi justru tertegun. Dengan suara parau ia bertanya “Kenapa kakanda?“Kangjeng Susuhunan menggelengkan kepalanya. Lalu “Sudahlah. Pergilah. Kau benar-benar berangkat berperang. Kau pantas memakai tanda Senapati perang dengan seuntai bunga melati yang melingkar di lehermu“ Pangeran Mangkubumi hanya menundukkan kepalanya saja. “Tetapi” tiba-tiba suara Kangjeng Susuhunan meninggi “bersiaplah Pangeran Mangkubumi. Surakartapun akan segera mengangkat seorang Senapati perang j ika pemberontakan itu terjadi” Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Ia melihat pertentangan di dalam diri Kangjeng Susuhunan itu dan meledak-meledak pada sikap dan kata-katanya kecuali ia sengaja berusaha menahan matanya yang menjadi basah. Demikianlah maka Pangeran Mangkubumi setelah sekali lagi menunduk hormat dan mohon dir i, maka iapun segera meninggalkan bangsal itu dengan membawa tombak pusaka Kangjeng Kiai Pleret. Tetapi untunglah bahwa ketika Pangeran Mangkubumi turun ke longkangan dan menuju ke keretanya, malam sudah menjadi semakin gelap. Tidak banyak orang yang melihat, apakah yang dibawa oleh Pangeran Mangkubumi. Memang beberapa prajurit tahu pasti bahwa di tangan Pangeran Mangkubumi itu adalah sepucuk tombak. Tetapi tidak seorangpun yang mengetahui bahwa tombak itu justru tombak Kangjeng Kiai Pleret Sejenak kemudian kereta Pangeran Mangkubumi itupun telah berderap di halaman dan hampir tanpa memalingkan wajahnya dilaluinya para penjaga di regol samping. Di sepanjang jalan wajah Pangeran Mangkubumi menjadi tegang. Terasa sekali betapa kasih kakandanya kepadanya. Namun juga terasa sekali betapa tersiksanya hati KangjengSusuhunan yang menyadari kelemahannya tetapi tidak memiliki kesempatan untuk berbuat sesuatu. “Agaknya kakanda Kangjeng Susuhunan mengetahui dengan pasti” berkata Pangeran Mangkubumi di dalam hatinya ”jika ia berbuat sesuatu dan tersingkir dari tahta karena campur tangan kumpeni dengan bantuan beberapa orang Pangeran, maka Surakarta akan menjadi semakin parah. Penggantinya tentu orang yang jauh lebih buruk lagi daripadanya sendiri. Karena itu ia bertahan di atas tahtanya, sedang pengejawantahan pemberontakan yang meledak di dalam dir inya adalah diserahkannya tombak Kangjeng Kiai Pleret itu kepadaku” Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipandanginya ujung tombak Kangjeng Kiai Pleret yang tertutup oleh selongsong putihnya dengan dada yang berdebar-debar. Demikianlah kereta itupun segera berpacu menuju ke Mangkubumen. Seperti yang dipesankan sebelum ia berangkat maka seisi istana itupun sudah mempersiapkan dir i. Pangeran Mangkubumi benar-benar akan meninggalkan Surakarta. Ia tidak dapat menahan diri lagi mengalami perlakuan yang gila dari orang-orang asing itu. Dan apalagi kini ia memiliki sebuah tombak pusaka yang tiada duanya di Surakarta. Kedatangan Pangeran Mangkubumi di istananya sambil membawa sebatang tombak telah mengejutkan keluarga dan pengikutnya yang ada di istana. Dengan singkat Pangeran Mangkubumi sempat menceriterakan. serba sedikit tentang tombak itu. Dengan demikian, maka para pengikutnya justru menjadi semakin mantap dan bertekad untuk melakukan perjuangan dengan sepenuh hati. Pada malam itu juga, seisi istana Mangkubumen mengemasi Barang-barang yang dapat mereka bawa sebagai bekal perjuangan mereka. Jika Pangeran Mangkubumi kemudian memer intahkan untuk membawa segala macamperhiasan dan benda-benda berharga yang terbuat dari emas dan perak, semata-mata bukan karena ia tidak mau kehilangan sebuahpun dari miliknya. Tetapi Barang-barang itu akan dapat menjadi bekal untuk membeayai perjuangannya. “Kita berangkat sebelum fajar” berkata Pangeran Mangkubumi kepada keluarga dan pengikutnya. Tidak seorangpun yang mengeluh. Mereka melakukan kerja masing-masing dengan hati yang tulus. Mereka mengerti arti dari perjuangan yang bakal dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi, sehingga merekapun harus membantunya. Lahir dan batin. Menjelang fajar, maka berangkatlah seisi istana Mangkubumen dengan diam-diam meninggalkan Surakarta. Beberapa buah kereta berderap diikuti oleh beberapa ekor kuda. Tidak banyak orang yang mengetahui. Satu-satu dua orang yang kebetulan berada di luar rumah, dan beberapa orang peronda yang berada di sepanjang jalan dengan heran melihat ir ing- iringan itu Mula-mula mereka tidak mengerti, apakah sebenarnya iring-iringan itu. Tetapi ketika di pagi harinya diketemukan istana Mangkubumen kosong, barulah orang-orang itu menghubungkan dengan iring-ir ingan yang dilihatnya semalam. Namun di antara mereka yang menyaksikan iring- iringan itu adalah seorang bangsawan muda yang duduk di atas kudanya dikawani oleh seorang pengawal setianya. Orang itu adalah Raden Juwiring dan Ki Dipanala. “Aku sudah mengira” berkata Raden Juwiring “bahwa pamanda Mangkubumi akhirnya akan meninggalkan Surakarta” “Banyak yang memperhitungkan demikian Raden. Agaknya malam ini banyak Pangeran yang tidak dapat tidur menunggu akibat pembicaraan Pangeran Mangkubumi dan Kangjeng Susuhunan di senja kemarin. Dan agaknya kepergianPangeran Mangkubumi tidak dapat dicegah lagi. Pendirian Pangeran Mangkubumi dan Kangjeng Susuhunan tidak akan dapat bertemu” Raden Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita dapat membayangkan, bahwa sebentar lagi, Surakarta akan dibakar oleh peperangan yang gawat. Pamanda Pangeran Mangkubumi tentu akan berhasil menyusun pasukan yang kuat di samping pasukan kamas Raden Mas Said yang sudah mulai tersusun kembali bersama pamanda Martapura” KI Dipanala menganggukkan kepalanya. Katanya dengan nada yang dalam “Kenapa kita harus mengalami masa-masa seperti ini Raden?“ “Kita tidak dapat memilih paman” sahut Raden Juwiring ”kita seakan-akan telah dilemparkan saja di atas tungku. Dan kita harus berbuat sesuatu agar kita tidak hangus karenanya” Ki Dipanala tidak menyahut. Tetapi tatapan matanya menembus bayangan fajar yang menjadi semakin terang. Dan dilihatnya dalam keremangan pagi, ir ing-ir ingan Pangeran Mangkubumi menjadi semakin jauh meninggalkan kota Surakarta. Meninggalkan hidup keduniawian. Sebagai seorang Pangeran, maka Pangeran Mangkubumi tidak kekurangan sesuatu. Namun ternyata ada juga yang tidak terpenuhi padanya. Keinginannya melihat Surakarta bebas dari kekuasaan asing yang rasa-rasanya semakin mencengkam. Dan bebas dari sifat-sifat tamak iri dan dengki. Karena itulah maka Pangeran Mangkubumi meninggalkan istananya yang tidak kekurangan kebutuhan-kebutuhan duniawi dan pemuasan keinginan manusiawinya, untuk menemukan nilai-nilai yang lebih tinggi dari arti kemanusiaannya. “Paman” berkata Raden Juwiring kemudian “Aku dapat memastikan. Bahwa salah seorang Senapati terpenting dari Surakarta adalah ayahanda Ranakusuma”Dengan tatapan mata yang buram Ki Dipanala mengangguk sambil menjawab “Ya Raden. Setiap prajurit di Surakarta menganggap bahwa Senapati yang akan mampu mengimbangi keunggulan pamanda Pangeran Mangkubumi adalah ayahanda Raden Juwiring” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. “Kita menghadap ayahanda paman. Ayahanda akan mendapat waktu untuk mempersiapkan diri apabila Kangjeng Susuhunan memanggilnya dan membicarakan masalah ini dengan para Senapati dan pimpinan pemerintahan” “Tentu pagi ini Kangjeng Susuhunan akan memanggil para Pangeran, para Senapati dan pimpinan pemerintahan. Memang sebaiknya Pangeran Ranakusuma mendengarnya lebih dahulu” Raden Juwiring mengangguk lemah. Sejenak ia masih memandang ke kejauhan. Kemudian ia berkata seakan-akan kepada diri sendiri “Selamat jalan pamanda Pangeran Mangkubumi “ Ki Dipanala menundukkan kepalanya. Sesuatu terasa bergetar di dadanya. Telah terbayang di dalam angan- angannya. di Surakarta akan pecah perang saudara yang dahsyat sekali. Dalam nyala api peperangan itulah kumpeni akan mendapatkan keuntungan yang besar jika para pemimpin pemerintahan di Surakarta tidak menyadari kedudukannya dan bahkan semakin tenggelam ke dalam pengaruh orang asing itu. Demikianlah maka Raden Juwiring dan Ki Dipanalapun segera kembali dan menyampaikan pengamatannya atas Pangeran Mangkubumi itu kepada ayahandanya. “Aku memang sudah menduga sebelumnya” berkata Pangeran Ranakusuma “karena itu aku menyuruhmu, berdua untuk melihat-melihat keadaan”“Ya ayahanda. Saat ini istana Mangkubumen tentu sudah kosong” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Terkilas diangan-angannya orang-orang yang tamak dan didorong oleh pamr ih. Karenanya maka katanya “Jika demikian istana itu perlu diselamatkan. Jika ada orang yang mengetahui dengan pasti bahwa istana itu kosong, maka mungkin sekali mereka akan memasukinya dan membawa Barang-barang yang masih ada. Tentu Pangeran Mangkubumi tidak akan dapat membawa semua Barang-barangnya. Bahkan mungkin perhiasan- perhiasan yang tersangkut di dinding dan di dalam bilik-bilik istana itu tidak sempat dibawanya. Dan tidak semua pakaiannya dan pakaian putra puterinya dapat dibawa” Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Dan iapun kemudian bertanya “Jadi bagaimana sebaiknya ayahanda?“ “Masukilah istana itu dan kuasailah semua yang masih ada. Jagalah baik-baik agar tidak selembar kainpun yang bergeser dari tempatnya” Raden Juwiring termangu-mangu sejenak, lalu iapun berkata “Tetapi ayahanda, jika aku yang datang ke istana itu, dan kebetulan sekali di halaman istana itu sudah ada orang lain, terlebih-lebih lagi jika yang datang lebih dahulu itu adalah salah seorang pamanda Pangeran, maka aku tidak akan dapat berbuat apa-apa” Pangeran Ranakusuma berpikir sejenak. Lalu katanya “Baiklah Juwiring. Kita akan pergi bersama-sama. Menurut perhitunganku sepagi ini tentu belum ada orang yang mengetahui bahwa rumah itu sudah kosong sama sekali” “Ayahanda, ada beberapa orang yang melihat iring-ir ingan keluar dari halaman istana itu. Dan selain itu tentu para Pangeran, Senapati dan pimpinan pemerintahan sudah menduga seperti juga ayahanda, bahwa Pangeran Mangkubumi akan lolos dar i Surakarta bersama keluarganya”Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Lalu “Kau benar Juwiring. Memang sebaiknya kita pergi bersama-sama” Sejenak kemudian Pangeran Ranakusumapun sudah selesai mepgemasi diri. Sebagai seorang prajurit ia dapat bertindak dengan cepat dan tiba-tiba. Dengan diiringi oleh beberapa orang pengawal Ranakusuman maka Pangeran Ranakusuma bersama Juwiring dan Ki Dipanalapun segera pergi ke istana Mangkubumen yang memang sudah kosong sama sekali. Tidak ada seorangpun yang masih t inggal menunggui istana yang besar dan penuh dengan barang-barang yang cukup berharga, tetani sama sekali tidak diperlukan oleh Pangeran Mangkubumi di dalam perjuangannya menentang kekuasaan asing di Surakarta. Namun ternyata pada saat Pangeran Ranakusuma bersama pengiringnya sampai di depan istana Pangeran Mangkubumi, maka istana itu sudah tidak kosong lagi. Beberapa orang telah berkerumun dan berjalan hilir mudik di dekat pintu gerbang halaman. Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada Juwiring yang berkuda di sisinya “Inilah gambaran Surakarta sekarang. Rakyat sudah kehilangan harga diri karena tekanan penghidupan mereka. Lihatlah. Mereka yang berkerumun itu tentu akan mencari kesempatan untuk masuk dan mengambil beramai-ramai apa saja yang ada di istana itu. Mereka tinggal meyakinkan saja, apakah istana itu benar-benar sudah kosong” “Begitu cepat mereka mengetahui ayahanda” sahut Juwiring. “Bukankah para peronda dan penjaga regol-regol padukuhan dan bahkan regol-regol istana para Pangeran mengetahui bahwa ada iring- iringan meninggalkan halaman istana itu”Raden Juwiring mengangguk-angguk. Jawabnya “Ya ayahanda” “Dan sekarang mereka meyakinkan, jika istana itu memang kosong, maka mereka tentu akan mengambil segala isinya” Raden Juwiring t idak menyahut lagi. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Inilah gambaran kekerdilan jiwa rakyat yang sudah hampir menjadi putus asa, sehingga jauh berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh rakyat Surakarta yang lan, yang masih mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri untuk berdiri tegak sebagai suatu bangsa, seperti yang nampak pada para pengikut Pangeran Mangkubumi. “Marilah kita langsung masuk ke halaman melihat keadaannya” berkata Pangeran Ranakusuma. Juwiring tidak menjawab. Diikutinya saja ayahandanya mendekati regol halaman istana yang kosong itu. Beberapa orang yang melihat kehadiran Pangeran Ranakusuma itupun segera menyibak. Bahkan ada di antara mereka yang dengan diam-diam menyingkir karena dengan demikian mereka t idak akan mendapatkan kesempatan lagi untuk berbuat apa-apa. Namun Pangeran Ranakusumapun terkejut ketika ia melihat dua ekor kuda tertambat di samping istana itu. Menilik pakaian yang tersangkut pada kuda itu. Pangeran Ranakusuma dan pengiringnya segera mengetahui bahwa kuda-kuda itu tentu milik para bangsawan pula. “Kuda siapakah itu?“ bertanya Pangeran Rana kusuma. Raden Juwiring menggelengkan kepalanya sambil menjawab “Aku tidak tahu ayahanda” “Marilah kita masuk ke dalam” desis Pangeran Ranakusuma.Keduanyapun kemudian meloncat dari punggung kudanya dan menyerahkannya kepada para pengiringnya yang sudah berloncatan turun pula. Dengan diir ingi oleh Ki Dipanala maka keduanyapun segera naik ke tangga pintu butulan dan langsung masuk ke ruang dalam. Istana yang besar itu memang sepi. Meskipun baru semalam ditinggalkan oleh penghuninya, namun agaknya pada saat matahari terbit itu rasa-rasanya rumah itu sudah bertahun-tahun tidak lagi disentuh tangan manusia. Pangeran Ranakusuma termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia melangkah terus, menusuk langsung ke dalam bilik Pangeran Mangkubumi sendiri. Namun langkah mereka terhenti ketika mereka mendengar suara di dalam bilik itu “Kita tunggu saja. Mereka tentu akan masuk pula ke dalam bilik ini” “Bagaimana j ika bukan Kamas Prabanata” “Bukankah kamas sudah berjanj i?“ “Lihatlah dari pintu samping” Suara-suara itu terdiam. Namun agaknya seseorang dari orang-orang itu akan keluar dari dalambilik. Pangeran Ranakusumapun segera menggamit Raden Juwiring dan Ki Dipanala. Keduanyapun segera bergeser masuk ke dalam bilik di sisi lorong di ruang dalam yang menghubungkan dengan ruang depan. Ternyata dugaan mereka benar. Salah seorang dari keduanyapun melangkah keluar dan menyelusur lorong itu menuju ke pintu butulan. Ketiganya terkejut karena mereka melihat seorang bangsawan muda yang berjalan lewat di depan pintu bilik yang terbuka sedikit sekali. Dari celah-celah pintu itu merekasempat mengintip dan mengetahui siapakah yang sudah berada di dalam bilik Pangeran Mangkubumi itu. Setelah bangsawan itu lampau, Pangeran Ranakusuma dan kedua pengikutnya itupun dengan tergesa-gesa melangkah dan langsung masuk ke dalam bilik Pangeran Mangkubumi yang sudah ditinggalkannya itu. Seorang bangsawan yang masih ada di dalamnya terkejut bukan buatan. Sejenak ia termangu-mangu melihat kehadiran Pangeran Ranakusuma yang tiba-tiba bersama Juwiring dan Ki Dipanala. “Oh” desisnya “Marilah, silahkan, silahkan“ Pangeran Ranakusuma t idak menghiraukannya. Ia langsung mendekati Pangeran itu dan membuka sebuah bungkusan yang terletak di pembaringan. “Arya Lampita” berkata Pangeran Ranakusuma “Siapakah yang telah mengumpulkan Barang-barang ini?“ Bangsawan itu tergagap. Kemudian jawabnya terputus- putus “Aku, aku tidak tahu pamanda. Aku tidak tahu” “Tentu Pangeran Mangkubumi sangat tergesa- gesa, sehingga ada juga perhiasannya yang tertinggal. Timang ini tentu sangat mahal. Jika Pangeran Mangkubumi sadar, barang ini tentu dibawanya karena akan sangat berguna baginya” Bangsawan yang bernama Arya Lampita itu masih berdiri tegak dengan wajahyang tegang. Dipandanginya saja Pangeran Ranakusuma yang sedang melihat-melihat isi bungkusan yang sudah dibukanya. “Bungkusan itu sudah ada di situ sejak aku masuk ruangan ini“ Arya Lampita menjelaskan. Pangeran Ranakusuma tidak menghiraukannya. Tetapi ia justru bertanya “Kenapa kau ada di ruangan ini?“ Bangsawan itu menjadi semakin tegang. Namun kemudian dijawabnya asal saja “Aku tidak sengaja datang kemari. Tetapi beberapa orang mengatakan bahwa istana ini sudah kosong” Pangeran Ranakusuma terdiam sejenak. Ia berpaling ketika ia mendengar langkah seseorang masuk. Orang itu adalah Bangsawan yang masih muda yang pergi keluar. “O“ Bangsawan yang masih muda itupun terkejut. Sejenak ia termangu-mangu di pintu. “Kuncara” desis Pangeran Ranakusuma. Bangsawan yang bernama Kuncara itu tidak menjawab. “Apakah adimas Prabajati akan datang juga kemari?” “Arya Lampita menjadi bingung. Dipandanginya wajah Kuncara yang semakin menunduk. “Apakah kalian telah bersepakat untuk datang kemari?” Kedua Bangsawan itu menjadi bingung. “Kalian berdua” berkata Pangeran Ranakusuma “ini adalah gambaran dari pendapat sementara orang bahwa Sukawati harus ditarik dari Pangeran Mangkubumi. Jika istana ini dikosongkan, dan kalian pagi-pagi sudah berada di sini, maka agaknya akan demikian pula dengan Sukawati kelak. Jika pada batas waktunya Sukawati harus ditinggalkan oleh Pangeran Mangkubumi, maka pada saat itu juga, setiap orang yang merasa ikut sependapat mengusirnya akan segera menduduki padukuhan demi padukuhan.Kedua Bangsawan itu menjadi gelisah. Namun terasa kuping mereka menjadi panas. Tetapi mereka tahu pasti siapakah Pangeran Ranakusuma sehingga merekapun tidak berani membantahnya. “Kalian berdua” berkata Pangeran Ranakusuma “semua yang ada di istana ini masih tetap milik Pangeran Mangkubumi. Setiap benda tidak boleh bergeser dari tempatnya” “Tetapi, kami t idak mengambil apa-apa“ Kuncara menjelaskan. “Meskipun demikian, kehadiran kalian sudah dapat menimbulkan kecurigaan” “Tetapi pamanda juga datang kemari“ Lampita mencoba membela dir i. “Ada perbedaannya” sahut Pangeran Ranakusuma “Aku datang dengan beberapa orang pengawal yang dapat menjadi saksi bahwa aku tidak merubah meskipun sekedar letak dari Barang-barang yang ada. Perhiasan dinding yang miring sekalipun aku tidak akan meluruskannya” “Kami juga t idak berbuat apa-apa” “Jika demikian, bagus sekali. Sekarang, tinggalkan tempat ini” Keduanya berpandangan sejenak. Dan hampir bersamaan keduanya memandang timang Pangeran Mangkubumi yang tertinggal. Timang yang bagus sekali dan tentu mahal harganya. Pangeran Ranakusuma tidak menghiraukannya meskipun ia tahu, bahwa kedua Pangeran itu menginginkan timang yang tertinggal itu. “Sudahlah. Silahkan” desis Pangeran Ranakusuma. Kedua bangsawan itu tidak dapat membantah lagi. Keduanyapunkemudian melangkah sambil menundukkan kepalanya keluar dari bilik itu. Pangeran Ranakusuma memandang Ki Dipanala yang kemudian berdir i termangu-mangu di sudut ruangan, sambil mengangkat bahunya. Katanya “Surakarta benar-benar telah menjadi sarang anak-anak yang kehilangan pegangan” Ki Dipanala tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba saja di luar kehendaknya teringat olehnya Raden Rudira. Putera Pangeran Ranakusuma yang sudah tidak ada lagi. Anak muda itu pada masa hidupnyapun benar-benar telah kehilangan pegangan. Bahkan Pangeran Ranakusuma sendiri saat itu. Kematian anaknya dan peristiwa yang menimpa isterinya, kemudian disusul oleh perang tanding dengan seorang perwira kumpeni agaknya telah menempatkan Pangeran Ranakusuma pada sikapnya yang sekarang, meskipun masih juga tetap samar- samar. Ki Dipanala terkejut ketika Pangeran Ranakusuma berkata selanjutnya kepada puteranya “Juwiring, masukkan Barang- barang itu ke dalam geledeg kayu itu. Mungkin pada suatu saat masih ada gunanya” Raden Juwiringpun segera membenahi bungkusan itu dan memasukkannya ke dalam sebuah geledeg kayu yang berukir bagus sekali. “Ki Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma “Aku harus segera menyampaikan persoalan ini kepada Kangjeng Susuhunan. Sementara itu, kau dan Juwiring tetap berada di sini menjaga semua barang yang masih ada atas perintahku, Senapati yang terpercaya di Surakarta. Aku akan menunggu perintah dari Kangjeng Susuhunan. Apakah yang harus aku lakukan atas semua Barang-barang milik Pangeran Mangkubumi” Demikianlah, meskipun bukan waktunya. Pangeran Ranakusuma segera pergi ke istana. Agaknya ia datang masihterlampau pagi. Namun berbeda dengan saat-saat yang lain, pagi itu Kangjeng Susuhunan sudah duduk merenung di depan bangsalnya. Terlampau pagi bagi Kangjeng Susuhunan. Ternyata sepeninggal Pangeran Mangkubumi, Kangjeng Susuhunan Paku Buwana sama sekali tidak dapat memejamkan matanya sekejappun. Karena itulah maka pagi- pagi benar ia sudah duduk merenung. Beberapa orang prajurit pengawal menjadi bingung. Mereka tidak pernah melihat Kangjeng Susuhunan dalam keadaan seperti itu, Para pelayan dan hamba istanapun hampir tidak tahu apa yang harus mereka lakukan menghadapi sikap yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Tetapi Kangjeng Susuhunan itu seolah-olah t idak menghiraukan apapun. Ia duduk saja merenungi cahaya matahari yang mulai bertebaran di halaman bangsal dalam. Kedatangan Pangeran Ranakusuma tidak mengejutkan Kangjeng Susuhunan. Seolah-olah ia sudah tahu dan bahkan telah siap menerima kedatangannya. “Panggil ia kemar i” per intah Kangjeng Susuhunan kepada abdinya. Pangeran Ranakusuma menghadap Kangjeng Susuhunan tidak di tempat yang seharusnya. Namun seakan-akan keadaan Surakarta yang tidak menentu itupun menyebabkan perubahan sikap dan kebiasaan Kangjeng Susuhunan Paku Buwana. “Ampun Kakangmas” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “hamba datang untuk memberitahukan, bahwa Pangeran Mangkubumi sudah lolos dar i istana Mangkubumen” Kangjeng Susuhunan sama sekali tidak merubah arah pandangan matanya. Dengan suara berat ia berkata “Ya. Akusudah menduga. Dan tentu saudara-saudaranyapun telah menduganya termasuk kau” “Hamba kakangmas. Karena itu hamba memasuki istana Mangkubumen sebelum orang lain, untuk menyelamatkan semua isinya, agar tidak ada Barang-barang yang bergeser dari tempatnya” Kangjeng Susuhunan mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia mengatakan sesuatu. Pangeran Ranakusuma sudah mendahuluinya “Selanjutnya hamba menunggu perintah Kangjeng Susuhunan apakah yang harus hamba lakukan atas istana itu atau keputusan lain yang kakangmas ambil” Kangjeng Susuhunan memandang wajah Pangeran Ranakusuma sejenak, lalu “Baiklah. Jagalan istana itu baik- baik. Semua isinya tidak boleh bergeser, karena istana itu seisinya masih tetap milik adimas Pangeran Mangkubumi” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ternyata pendapatnya sejalan dengan pendapat Kangjeng Susuhunan, bahwa istana Mangkubumen sama sekali tidak boleh berubah. “Adimas Pangeran Ranakusuma” berkata Kangjeng Susuhunan kemudian “seterusnya, aku sudah mengetahui dengan pasti, bahwa adimas Pangeran Mangkubumi telah meninggalkan Surakarta. Dan aku tahu pasti bahwa adimas Pangeran Mangkubumi akan mengangkat senjata dan berperang melawan kekuasaanku. Karena itu, aku akan segera mengadakan sidang pagi ini juga untuk menentukan sikap kita menghadapi sikap adimas Pangeran Mangkubumi itu” Pangeran Ranakusuma memandang wajah Kangjeng Susuhunan sejenak, namun kemudian ia tertunduk pula. Sekilas ia melihat sesuatu yang aneh tersirat di wajah Kangjeng Susuhunan. Namun Pangeran Ranakusuma menganggap bahwa sewajarnyalah jika terjadi pergolakan di hati Kangjeng Susuhunan.Pangeran Mangkubumi adalah adiknya. Justru sebenarnya adalah adiknya yang dikasihinya. Namun kini mereka berada di jalan simpang. Bahkan tidak mustahil bahwa pada suatu saat keduanya harus bertemu di peperangan, meskipun hanya pada saat-saat terakhir saja seorang raja terpaksa turun ke medan, jika tidak ada lagi Senapati yang pantas untuk memimpin pasukannya. “Adimas Ranakusuma” berkata Kangjeng Susuhunan kemudian “sekarang kita tidak dapat tinggal diam. Kita harus berbuat sesuatu untuk mempertahankan hak kita atas Surakarta. Adimas. Tidak ada orang yang dapat mengimbangi kemampuan adimas Mangkubumi selain kau sendiri. Namun demikian, aku masih akan bertemu para Senapati dan Pringgalaya, untuk mendengarkan pendapat mereka. Barangkali Kumpenipun dapat menyumbangkan pendapatnya menghadapi persoalan ini” “Kakanda” sembah Pangeran Ranakusuma “persoalan ini adalah persoalan kita sendiri. Sebaiknya kita tidak usah membicarakannya dengan kumpeni“ “Kita tidak dapat melepaskan pengaruh kumpeni atas Surakarta adimas” “Kakanda, kita tidak akan dapat melupakan peristiwa- peristiwa yang pernah terjadi. Sejak kekuasaan Mataram, kemudian bergeser ke Timur. Apabila pada setiap pertikaian kumpeni mendapat kesempatan ikut campur, maka yang paling beruntung pada pertikaian itu, siapapun yang akan menang dan siapapun yang akan kalah, adalah kumpenilah” “Tetapi adinda” berkata Kangjeng Susuhunan “Kita tidak dapat menutup mata bahwa kompeni mempunyai pengaruh yang nyata di sini. Jika kita tidak memintanya dengan terbuka, maka ia akan menyusun alasan-alasan yang bermacam- macam untuk melibatkan dir i sesuai dengan selera mereka sendiri. Mungkin dengan alasan untuk melindungi kepentingan mereka di sini, hak mereka, dan perkebunan yang merekaperlukan, dan segala macam persoalan. Tetapi jika kita datang kepadanya, kita dapat minta sesuai dengan kepentingan kita saja” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Tersirat sesuatu yang lain pada pembicaraan Kangjeng Susuhunan. Ternyata selama ini penilaiannya atas Kangjeng Susuhunan agak keliru. Kangjeng Susuhunan bukan semata-mata orang yang pasrah pada pengaruh kumpeni. Tetapi iapun mempunyai pertimbangan tersendiri untuk menghambat mekarnya pengaruh kumpeni. Meskipun nampak kelemahan yang mencengkamnya, namun Kangjeng Susuhunan bukan semata-mata seorang yang sekedar mendambakan kamukten semata-mata. Apalagi ketika Kangjeng Susuhunan melanjutkan “Adimas. Aku berniat menyerahkan pimpinan pasukan Surakarta kepada orang yang bertanggung jawab bukan saja terhadap keselamatan Surakarta sendiri, tetapi juga keselamatan perkembangan kepr ibadian kita. Pertikaian di antara kita sendiri memang harus disesalkan. Tetapi ternyata kali inipun sulit dihindari. Jika bukan adimas Pangeran Mangkubumi yang lolos dar i istananya, maka tentu akan tambul kekisruhan- kekisruhan yang lain yang justru didukung oleh kumpeni. Tentu hal itu akan lebih berbahaya bagi Surakarta. Seandainya kita tidak dapat menahan kekuasaan adimas Pangeran Mangkubumi dan terpaksa menyerah, maka yang akan memegang kekuasaan berikutnya telah kita ketahui dengan pasti, yaitu adimas Pangeran Mangkubumi. Tetapi jika yang mendesak kedudukan kita adalah orang lain yang mendapat dukungan kumpeni, maka Surakarta benar-benar akan padam kekuasaannya” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Kini perasaannya sendiri telah dijalari oleh tanggapan yang aneh.“Adimas Ranakusuma” berkata Kangjeng Susuhunan “Aku tidak pernah mengatakan hal ini kepada orang lain. Aku mengatakannya kepadamu, karena aku tahu, kau bukan orang yang semata-mata menggantungkan dir i kepada orang-orang asing. Dahulu kau memang bersikap demikian, seperti saudara-saudaraku yang lain. Tetapi aku kira, sekarang kau bersikap lain. Aku tahu bahwa kau telah membunuh seorang perwira kumpeni pada suatu perang tanding. Kemudian sikapmu sesudah itu aku rasakan perlahan-lahan berubah” Pangeran Ranakusuma hanya menundukkan kepalanya saja. “Nah, sekarang kau dapat meninggalkan tempat ini. Tindakanmu yang pertama kali sudah benar. Kau harus menjaga rumah adimas Pangeran Mangkubumi. Orang- orangmu cukup banyak untuk melindungi rumah itu. Lakukanlah atas perintahku” “Hamba akan melakukannya kakanda. Mudah-mudahan tidak ada orang lain yang tidak percaya bahwa yang hamba lakukan adalah per intah kakanda. “Aku sertakan kau seorang Lurah prajurit dari pasukan pengawal. Ia merupakan pertanda perintahku, sedangkan orang itu ada di bawah perintahmu di dalam pelaksanaan tugas ini” Demikianlah maka Pangeran Ranakusumapun segera meninggalkan istana dengan mengemban tugas. Ia menyadari betapa berat beban yang akan dipikulnya jika ia harus berhadapan dengan Pangeran Mangkubumi di medan.Dalampada itu Pangeran Ranakusuma tidak segera kembali ke istananya. Ia masih harus singgah ke istana Pangeran Mangkubumi bersama prajurit pengawal itu, dan memer intahkan beberapa orangnya untuk tetap tinggal di halaman istana itu untuk mencegah agar tidak terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki atas istana yang kosong itu. Namun ketika Pangeran Ranakusuma mendekati regol istana itu, ia terkejut. Dilihatnya sebuah kereta dan beberapa ekor kuda sudah berada di halaman istana. Dan Pangeran itupun segera mengenal bahwa kuda-kuda itu bukan kuda milik pengawalnya. Karena itu dengan tergesa-gesa Pangeran Ranakusuma memasuki halaman. Sejenak ia tertegun. Namun kemudian ia menyadari bahwa kumpeni telah ikut campur pula di dalam persoalan ini. Karena itu, maka Pangeran Ranakusumapun segera meloncat dari punggung kudanya diikuti oleh seorang perwira prajurit pengawal itu. Dengan tergesa-gesa Pangeran Ranakusumapun segera naik ke pendapa. Beberapa orang kumpeni ternyata telah ada di rumah itu. Ketika mereka melihat kedatangan Pangeran Ranakusuma. merekapun segera bergeser. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak menghiraukannya. Ia langsung masuk ke ruang dalam. Di ruang dalam itu ternyata seorang perwira kumpeni sedang marah-marah sehingga suaranya mengumandang memenuhi ruangan. “Aku adalah perwira kumpeni yang mendapat kuasa di Surakarta” teriak perwira kumpeni itu. Dan terdengar Juwiring menjawab “Maaf. Aku tidak peduli. Aku adalah putera Pangeran Ranakusuma. Aku mendapatperintah langsung dari ayahanda untuk melindungi rumah pamanda Mangkubumi“ “Ayahmu tidak berhak memer intahkan kau menjaga rumah ini” “Dan apakah hakmu? Apakah hak kumpeni untuk melakukan penggeledahan di dalam rumah yang telah kosong ini” “Aku harus menemukan Barang-barang milik kumpeni yang tersembunyi di rumah ini” “Kau harus minta ij in kepada Kangjeng Susuhunan lebih dahulu” “Aku sudah mendapat ij innya” Juwiring termangu-mangu. Memang tidak mustahil bahwa kumpeni telah mendapat ij in dar i Kangjeng Susuhunan yang menurut pendapat Juwiring sangat dipengaruhi oleh kekuasaan kumpeni. Namun demikian ia masih menjawab “Aku ingin mendapat bukti pernyataan ijin dari Kangjeng Susuhunan” “Gila” teriak perwira itu “Aku tidak pernah mendapat bukti pernyataan. Aku dapat berbuat apa saja” Pangeran Ranakusuma yang mendengar perbantahan itu justru berhenti sejenak. Ia ingin mendengar, apa saja yang dapat dikatakan dan bagaimana sikap Juwiring menghadapi kumpeni. Karena itu ia justru memberi isyarat kepada perwira prajurit pengawal itu untuk menunggu barang sejenak. Dalam pada itu terdengar Juwiring menjawab “Apapun yang pernah kau lakukan, tetapi aku memerlukan bukt i. Aku adalah kemanakan Kangjeng Susuhunan itu” Tetapi perwira kumpeni itupun tidak mau mundur. Ia sudah terlanjur melangkah. Sebagai seorang yang merasa dirinya memiliki kelebihan dalam banyak hal. maka perwira itupunkemudian berkata “Aku tidak peduli siapa kau. Susuhunan sendiri tidak akan menolak keinginan kumpeni. apalagi kau. Kau hanya anak seorang Pangeran dari Surakarta. Kau sama sekali t idak dapat mencegah aku” Wajah Raden Juwiring menjadi merah. Darah mudanya terasa mendidih sampai ke kepala. Sekilas teringat olehnya bahwa ayahandanyapun pernah berperang tanding melawan kumpeni. Kini ia memiliki ilmu yang cukup mantap seandainya ia harus berkelahi melawan kumpeni itu. apapun akibatnya. Karena itu maka katanya “Aku tidak peduli siapa kau dan apa hakmu. Tetapi aku sudah mendapat perintah untuk menjaga rumah ini” “Aku akan memer iksa rumah ini. Tentu ada perlengkapan Pangeran Mangkubumi yang disembunyikan di dalam rumah ini dan yang sekarang masih tertinggal” “Tidak” jawab Juwir ing tegas. “Jadi, apakah kau berdir i di pihak Pangeran Mangkubumi?” bertanya perwira itu tiba-tiba. Sejenak Raden Juwiring termangu-mangu. Bahkan Pangeran Ranakusuma yang masih belum menampakkan diri itupun menjadi termangu-mangu. Namun ia masih juga menunggu, bagaimanakah jawab Raden Juwir ing atas pertanyaan itu. Baru sejenak kemudian Raden Juwiring berkata “Aku berdiri di pihak ayahandaku, Pangeran Ranakusuma. Aku hanya menjalankan perintahnya. Dimanapun ia berdir i. Dati aku akan melakukan tugas ini sebaik-baiknya, apapun akibatnya” Wajah perwira kumpeni itupun menjadi tegang. Tetapi sebelum ia mengucapkan sepatah katapun, Raden Juwiring mendahuluinya “Aku tahu kau membawa pengawal. Tetapi akupun membawa pengawal yang cukup untuk menjalankan tugasku”Kumpeni itu menjadi gemetar menahan marah. Dengan gigi gemeretak ia berkata “Kalian akan mampus di sini. Aku akan mempertanggung jawabkan kepada Susuhunan” Sebelum Juwir ing menjawab, maka terdengar jawaban dari balik pintu yang didorong oleh Pangeran Ranakusuma “Kau tidak usah bertanggung jawab terhadap siapapun. Aku perintahkan kau meninggalkan rumah ini” “Gila” mata perwira itu menjadi merah “Kau mau apa Pangeran Ranakusuma?“ “Kau tentu mengenal kelengkapan prajurit pengawal khusus. Dengarlah perwira yang membawa perintah Kangjeng Susuhunan ini berbicara “ Perwira kumpeni itu menggeram. Ia memang mengenal pakaian dan kelengkapan prajurit pengawal khusus itu. Karena iapun termangu-mangu sejenak. Dan sebelum ia sempat berbicara Lurah Prajur it pengawal itu sudah berkata “Aku mengemban perintah Kangjeng Susuhunan Paku Buwana yang memer intah di Surakarta, agar aku melindungi gedung istana Pangeran Mangkubumi ini seisinya. Tidak boleh ada selembar atas pembaringan atau sebuah tempat dudukpun yang bergeser dari tempatnya” Wajah kumpeni yang merah itu menjadi semakin merah. Namun ia tidak dapat membantah lagi ketika Pangeran Ranakusuma berkata “Semua wewenang atas gedung ini sudah diserahkan kepadaku dan perwira prajurit ini. Karena itu, aku persilahkan kalian meninggalkan tempat ini, karena gedung ini sudah berada di bawah perlindunganku berdua atas perintah Kangjeng Susuhunan” “Tetapi, tetapi“ perwira kumpeni itu masih mencoba untuk bertahan “Aku memer lukan Barang-barangku yang hilang, terutama senjata”“Jika benar Pangeran Mangkubumi atau orang-orangnya telah mencur i senjata, mereka tentu tidak terlampau bodoh untuk menyimpan senjata itu di halaman rumah” Kumpeni itu memandang Pangeran Ranakusuma dengan tegang. Tetapi iapun menyadari, bahwa seorang kawannya tidak mampu melawan Pangeran itu di dalam perang tanding. Dalam keadaan demikian, jika ia memaksa untuk berbuat sesuatu, maka perselisihan akan segera timbul. Dan itu tidak akan menguntungkan bagi kumpeni maupun Surakarta dalam keadaan yang semakin gawat, karena Pangeran Mangkubumi telah meninggalkan Surakarta dengan diam-diam. “Pangeran” berkata perwira kumpeni itu “Jika Pangeran tidak mengij inkan aku mencari senjata di rumah ini, maka aku minta agar Pangeran membantu kumpeni. Jika Pangeran menemukan senjata kumpeni jenis apapun, kami harap Pangeran menyerahkannya kepada kami” “Aku mengerti apa yang harus aku lakukan” desis Pangeran Ranakusuma. Kumpeni itu termenung sejenak, namun kemudian katanya “Baiklah aku minta diri. Aku akan menyampaikan laporan kepada atasanku yang akan membicarakannya dengan Kangjeng Susuhunan” “Terserahlah kepadamu” sahut Pangeran Ranakusuma. Kumpeni itu menggeretakkan giginya menahan gejolak perasaannya. Namun kemudian ia dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu diikuti oleh anak buahnya. Agaknya kumpeni-kumpeni itupun berusaha menahan perasaan mereka sedalam-dalamnya, karena merekapun adalah praiurit-praiur it yang mempunyai harga diri yang merasa dirinya prajurit- prajurit pilihan yang telah mengarungi lautan dan melintasi benua. Tetapi menghadapi praiurit-praiur it Surakarta, mereka memang harus berpikir beberapa kali. Seperti yang ternyata dilakukan oleh pemimpin-pemimpin mereka, sebagian terbesardari kemenangan yang pernah mereka capai dengan penguasaan daerah baru, bukan karena kejantanan mereka dan keunggulan di medan perang. Seandainya orang-orang asing itu dapat melakukannya demikian di benua yang pernah dijelajahinya dengan kekuatan senjata, namun di bumi Surakarta mereka lebih banyak mempergunakan akal yang licik. Agaknya demikian jugalah yang harus mereka lakukan menghadapi perselisihan antara Pangeran Mangkubumi dengan Kangjeng Susuhunan Paku Buwana di Surakarta. Mereka harus berbuat licik dan licin sehingga akhirnya mereka akan mendapatkan keuntungan yang sebesar- besarnya. Demikianlah maka akhirnya perwira kumpeni itu telah memilih cara yang sering mereka pergunakan di bumi Surakarta. Mereka menyadari bahwa prajurit-prajurit Surakarta adalah prajurit-prajurit pilihan di bawah pimpinan Senapati-Senapati yang ternyata memiliki kemampuan, baik secara pribadi maupun di dalam kelompok pasukannya, memiliki kelebihan dan cara yang kadang-kadang di luar dugaan kumpeni. Namun masih ada satu dinding tembus yang dapat dengan mudah diselusupi oleh kumpeni. Betapa kuat pertahanan lahiriah pasukan Surakarta, namun secara batiniah mereka memiliki kelemahan yang meyakinkan bagi kumpeni. Bujukan adu domba, benda-benda yang bagi mereka aneh dan menyenangkan, adalah senjata yang paling baik untuk melumpuhkan kekuatan Surakarta. Dan kelumpuhan itu ternyata sama sekali bukan kesalahan dari orang-orang asing itu. Orang-orang asing itu memang menghendaki Surakarta menjadi lumpuh. Yang bersalah dalam hal ini adalah para pemimpin Surakarta sendiri. Memang mereka menyediakan diri untuk menyerahkan harga diri mereka di bawah pameran Barang-barang yang bagi mereka sangat menarik. janji-janjidan yang lebih parah lagi, kenapa mereka menyediakan diri untuk dijadikan semacam domba yang diadu yang satu dengan yang lain. Ada beberapa orang dari para pemimpin di Surakarta yang menyadari hal itu. Tetapi mereka tidak dapat banyak berbuat sesuatu karena mereka berada di dalam lingkaran yang seakan-akan telah membelenggu mereka. Dalam pada itu, sepeninggal kumpeni, maka Pangeran Ranakusuman segera memanggil beberapa orang yang dipercayanya. di bawah pimpinan Ki Dipanala dan Lurah prajurit pengawal, mereka harus tetap berada di halaman istana Pangeran Mangkubumi sampai ada perintah yang lain dari Kangjeng Susuhunan. “Kita bergantian paman” berkata Juwiring kemudian “dan tentu petugas dari istana itupun akan bergiliran setiap hari” “Tentu” jawab Lurah prajurit pengawal “pada waktunya akan datang orang lain menggantikan aku, tetapi pada dasarnya istana ini seisinya memang harus diselamatkan” Demikianlah setelah memberikan beberapa pesan kepada orang-orangnya yang akan ditinggal di istana Pangeran Mangkubumi itu, maka Pangeran Ranakusuma dan Juwiringpun segera kembali ke istananya. Tetapi Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa sebentar lagi ia tentu akan dipanggil untuk menghadir i pertemuan para Senapati yang akan mempersiapkan dir i menghadapi segala kemungkinan sehubungan dengan kepergian Pangeran Mangkubumi diam-diamdari Surakarta. Di sepanjang jalan Pangeran Ranakusuma tidak banyak berbicara. Namun ketika mereka mendekati istananya sendiri, Pangeran itu memberi isyarat agar Raden Juwiring berada di sisinya.“Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma “Agaknya mendung yang membayangi Kerajaan Mataram ini menjadi semakin tebal. Kita memang tidak boleh berdiam dir i saja dengan kesibukan-kesibukan kita sendiri. Pada suatu saat Surakarta tentu akan menyiapkan pasukannya untuk menghadapi pasukan Pangeran Mangkubumi. Dan kita harus sudah siap dengan rencana yang sebaik-baiknya” “Ya ayahanda” “Memang kita berdir i di tempat yang sulit. Tetapi kita tidak dapat mengingkarinya. Kita memang harus berdir i di sini. Dan itu sudah menjadi tekad kita” “Aku mengerti ayahanda” “Baiklah. Semuanya harus dipersiapkan baik-baik. Aku tentu harus segera menghadiri sidang para Senapati. Dan aku akan memikul tanggung jawab menghadapi Pangeran Mangkubumi. Orang-orang Surakarta percaya bahwa aku memiliki kemampuan seimbang dengan Pangeran Mangkubumi. Tetapi mereka tidak memperhitungkan bahwa karena sikapnya maka Pangeran Mangkubumi tentu akan mempunyai pengikut yang jauh lebih banyak dari prajurit yang akan diserahkan kepadaku sebagai Panglima yang akan memimpin seluruh perlawanan atas pasukan yang terlatih baik di Sukawati” Raden Juwiring tidak menjawab. “Kau dapat berbuat sesuatu di rumah Juwiring. Tentu bukan hanya prajurit Surakarta saja yang akan pergi ke medan bersama kita. Tetapi untuk kepentingan kita, maka para pengawal kita sendiripun harus kita persiapkan dan yang terpilah di antara mereka akan pergi bersama kita ke medan. Aku kira beberapa orang di antara pengawal terpilih kita sendiri akan lebih baik dari para prajurit di Surakarta”“Ya ayah. Aku akan mempersiapkannya. Tentu bersama paman Dipanala. Tetapi paman Dipanala masih sibuk di istana Mangkubumen” “Aku akan segera mohon prajur it-prajurit Surakarta dengan resmi menguasai istana itu agar tidak menjadi barang yang dapat dijarah rayah seperti istana raja yang kalah perang. Tetapi sudah barang tentu oleh prajurit-prajur it yang benar- benar dapat dipercaya” Demikianlah ketika mereka sudah berada di istana, maka Raden Juwiringpun mulai menyusun rencana bagi para pengawal di istana Ranakusuman, sedang Pangeran Ranakusuma sendiri harus segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan dengan lolosnya Pangeran Mangkubumi dengan seluruh keluarganya. Dengan ragu-ragu Pangeran Ranakusuma berdiri termangu-mangu di hadapan geledeg kayu berukir di dalam biliknya. Namun kemudian per lahan-lahan ia membuka geledeg itu dengan tangan gemetar. Beberapa saat lamanya ia berdiri tegak memandang sebuah peti kayu yang berukir pula dan disungging dengan warna-warna yang cerah. Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. di dalam peti itu tersimpan pusakanya yang paling baik. Pusaka yang hampir tidak pernah dikeluarkannya dari simpanan. Pangeran Ranakusuma memandang peti itu dengan tiada berkedip. Kemudian perlahan-lahan diambilnya peti berukir dan bersungging dengan warna cerah itu. Diambilnya dari dalam peti itu sebilah keris yang masih berada di dalam wrangkanya. Sebilah ker is yang disebutnya Kiai Tunggul. Perlahan-lahan Pangeran Ranakusuma menarik keris itu dari wrangkanya, dan mengangkatnya di atas kepalanya. Dengan cermat Pangeran Ranakusuma mengamat-amatinya dari ujungnya sampai keukirannya.Perlahan-lahan Pangeran itu berdesis “Kau akan pergi bersamaku ke medan yang gawat. Surakarta sudah diselimuti oleh kabut pertentangan yang tebal. Dan agaknya tidak ada seorangpun yang tebal. Dan agaknya tidak ada seorangpun yang akan mampu menguakkannya” Tiba-tiba saja tangan Pangeran Ranakusuma menjadi gemetar. Keris itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Keris itu tetap saja seperti pada saat ditariknya dari wrangkanya” Dengan tangan yang masih saja gemetar Pangeran Ranakusuma mengangkat keris itu sekali lagi di atas kepalanya, kemudian perlahan- lahan disarungkannya kembali ke dalam wrangkanya. Ketika Pangeran Ranakusuma memasukkan keris itu ke dalam peti dan meletakkan ke dalam geledeg, tiba-tiba saja ia terkejut mendengar seseorang menyapanya dengan suara yang lembut datar “Ayahanda” Pangeran Ranakusuma berpaling. Dilihatnya anak gadisnya berdiri termangu- mangu di belakangnya. “O” desis Pangeran Ranakusuma. Perlahan-lahan ia mendekati anaknya. Sambil memegang kedua pundaknya ia berkata “Kau sudah nampak cantik sekali. He, apakah kau akan bepergian, Warih?“ “Ayahanda” berkata Rara Warih “Sudah beberapa hari aku berada di sini. Aku ingin pergi menengok eyang”Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Diguncangnya tubuh anak gadisnya itu sambil berkata “Warih. Bukankah kau sendiri sudah mengatakannya. Jika kau pergi menengok eyangmu, maka kau selalu dibayangi oleh kekecewaan dan penyesalan. Kau tidak dapat melupakan apa yang telah terjadi dengan ibundamu dan apa yang terjadi atas kakakmu Rudira. Jika kau datang dari istana eyangmu, kau selalu menjadi pemurung. Baru setelah dua tiga har i kau berada di sini, kau mulai nampak hidup lagi. Karena itu, apakah kau tidak lebih baik menunda kepergianmu. Apalagi pada saat seperti ini” “Maksud ayahanda?“ Pangeran Ranakusuma termenung sejenak. Lalu katanya Maksudku, masa-masa yang kurang mantap seperti sekarang. Tetapi sebenarnya tidak banyak berpengaruh. Baik atas kita sekeluarga maupun atas Surakarta. Namun demikian, sebaiknya kau tidak usah memperdalam luka di hatimu. Besok sajalah kau pergi kesana” Rara Warih terdiam sejenak. Dipandanginya ayahnya dengan tajamnya seakan-akan ingin mengetahui perasaannya yang tersimpan di dasar hatinya. Namun tiba-tiba Rara Warih itu bertanya “Ayahanda, kenapa ayahanda mengambil pusaka itu?“ Wajah Pangeran Ranakusuma berubah sejenak. Rara Warih tahu pasti bahwa keris itu adalah ker isnya yang paling baik, karena pada saat-saat tertentu, sejak ibundanya masih ada di istana ini, ia selalu melihat keris itu ditaburi dengan bunga dan diasapi dengan dupa, lebih dari pusaka-pusakanya yang lain. Namun Pangeran Ranakusumapun kemudian tertawa. Katanya “Warih, sudah lama aku t idak melihat pusakaku yang satu, yang justru selalu tersimpan itu. Tiba-tiba saja aku ingin melihatnya. Karena seperti kau ketahui, pusaka yang merasadirinya tersia-sia dan tidak dihiraukan lagi, ia dapat musna dan mencari tempat tinggalnya yang baru” Rara Warih memandang ayahnya semakin tajam. Katanya “Tetapi ayahanda mengambil keris itu, menariknya dari wrangkanya dan rasa-rasanya ayah memang sedang memer lukan ker is itu pada saat ini, saat yang ayahanda katakan saat-saat seperti ini?“ “Kau terlalu peka Warih. Perasaanmu terlampau mudah tersentuh. Tidak ada hubungannya apa-apa, Warih” ”Ayahanda. Aku mendapat firasat bahwa sesuatu memang akan terjadi di Surakarta” Pangeran Ranakusuma merenung sejenak. Dipandanginya anak gadisnya yang nampaknya kini sudah benar-benar menjadi dewasa. Bukan saja bentuk jasmaniahnya, tetapi juga perkembangan nalar budinya. Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di dalam keluarga Ranakusuman, agaknya telah memacu jiwanya sehingga Rara Warih itu segera menjadi masak. “Warih” berkata Pangeran Ranakusuma “mungkin firasatmu benar. Tetapi seseorang dapat menangkap firasat dan menilainya berlebih- lebihan. Memang mungkin terjadi sesuatu di Surakarta. Tetapi tidak akan cukup menggelisahkan penduduknya. Jika aku harus mempersiapkan dir i menghadapi segala kemungkinan itu karena aku seorang Senapati. Seperti Senapati-Senapati yang lain, aku harus menjaga keamanan Surakarta sebaik-baiknya. Sampai pada kerusuhan-kerusuhan kecil sekalipun yang mungkin timbul” Rara Warih tidak segera menyahut. Namun pada wajahnya nampak membayang kecemasan. “Karena itu Warih“ Ayahnya meneruskan “Kau tetap berada di rumah untuk hari-hari ini. di sini kau akan mendapat perlindungan j ika kerusuhan-kerusuhan kecil itu memangterjadi. di sini ada beberapa orang pengawal yang siap menghadapi apapun juga karena aku seorang Senapati. Tetapi tentu tidak di rumah eyangmu, di sana mungkin ada beberapa orang pelayan laki- laki yang menjaga istana. Tetapi tentu bukan sepasukan pengawal seperti pengawal-pengawal di rumah kita ini” “Tetapi jika terjadi kerusuhan, istana eyang itu tidak akan menjadi sasaran seperti istana kita ini ayahanda, justru karena eyang sudah tua” “Warih” berkata Pangeran Ranakusuma “kerusuhan ini sama sekal! tidak akan memilih sasaran. Dan sudah barang tentu kerusuhan-kerusuhan kecil tidak akan berani memasuki halaman istana ini. Perusuh-perusuh itu hanya sekedar membuat kekacauan-kekacauan kecil, kemudian mereka merampok apa saja yang dapat mereka rampas di dalam kekacauan itu. Hanya itu” Rara Warih menganggukkan kepalanya. Tetapi nampak kesangsian memancar disorot matanya. “Nah, begitulah Warih. Jika kau ingin pergi juga, biarlah besok atau lusa, beberapa orang pengawal mengantarkanmu jika keadaan semakin baik” Warih nampak kecewa. Tetapi ia mengangguk sekali lagi. “Baiklah ayahanda. Aku akan menunda satu dua hari. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di kota ini. Dan mudah- mudahan ayahanda tidak usah pergi kemanapun juga untuk mengatasi kesulitan yang dapat timbul. Tetapi kepergian pamanda Pangeran Mangkubumi dengan diam-diam itu tidak akan dapat diabaikan begitu saja” “Warih“ Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya “Kau sudah mendengar bahwa pamandamu Pangeran Mangkubumi meninggalkan kota?“ “Setiap orang membicarakannya”Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Lalu “Dan karena itu kau akan pergi ke istana eyangmu?“ Warih menundukkan kepalanya. Lalu katanya dengan nada yang dalam “Ayahanda. Setiap orang di Surakarta, selalu meletakkan ayahanda dan pamanda Pangeran Mangkubumi pada dua ujung yang berlawanan. Agaknya di Surakarta tidak ada orang lain kecuali ayahanda dan pamanda Mangkubumi yang dipandang sebagai Senapati yang mumpuni. Ayahanda telah banyak menunjukkan pengabdian kepada Surakarta, dan Pangeran Mangkubumi ternyata telah berhasil menjinakkan perlawanan Raden Mas Said dan Martapura” “Warih” desis Pangeran Ranakusuma “Apakah hal semacam itu menarik perhatianmu? Selama ini kau tidak pernah memperhatikan dan menyebut masalah itu” “Ya ayahanda. Selama ini aku tenggelam dalam kesibukanku sendiri. Tetapi sejak kamas Juwiring ada di istana ini, aku mulai memperhatikan kesibukannya dan mendengarkan persoalan-persoalan yang dibicarakannya” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “Tidak ada persoalan apa-apa antara aku dan pamandamu Pangeran Mangkubumi. Hubungan kami baik sekali. Dan bukankah pada saat kamasmu meninggal, pamanmu datang sebagai orang yang pertama?“ “Memang tidak ada persoalan apa-apa antara ayahanda dan pamanda Pangeran Mangkubumi. Tetapi kedudukan ayahanda dan pamanda Mangkubumi, kelebihan-kelebihan yang ada pada ayahanda dan pamanda Mangkubumilah yang menempatkan ayahanda dan paman pada kedua ujung yang berlawanan” Pangeran Ranakusuma tersenyum. Ditepuknya bahu anak gadisnya sambil berkata “Sudahlah Warih. Jangan terlampau banyak dipengaruhi oleh persoalan-persoalan serupa itu. Ituadalah persoalan para Senapati. Mungkin kamasmu wajib ikut memperbincangkan. Tetapi kau tidak perlu” Rara Warih mengangguk kecil. “Warih” berkata ayahandanya “sekarang pergilah ke belakang. Lihatlah para pelayan. Apakah mereka sudah melakukan tugas mereka sebaik-baiknya. Mungkin ayah akan dipanggil ke istana untuk mengadakan pembicaraan- pembicaraan. Sebaiknya kau sediakan makan pagi. Jangan membiasakan melepaskan para pelayan tanpa pengawasanmu. Dan lebih baik lagi j ika kau sendiri ikut menanganinya” “Aku selalu melakukannya sendiri untuk ayah dan kamas Juwiring” “Kau memang cantik sekali Warih. Nah, pergilah ke belakang. Besok atau lusa, jika keadaan di Surakarta tidak lagi sama-samar seperti ini, kau akan diantar menghadap eyangmu” Sekali lagi Rara Warih menganggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia bergeser meninggalkan ruangan itu. Namun sekali lagi ia berpaling, dan tanpa sesadarnya ia memandang geledeg yang sudah tertutup, tempat ayahnya menyimpan kerisnya. Pangeran Ranakusuma menarik nafas. Ia menyadari arti tatapan mata anaknya yang kecemasan. Rara Warih seakan- akan mengetahui apa yang akan terjadi di Surakarta, dan kenapa ia telah melihat keris yang tersimpan itu. Ketika Rara Warih kemudian hilang di balik pintu, Pangeran Ranakusuma melangkah per lahan-lahan ke pembar ingan. Dengan lesu ia duduk di bibir pembar ingannya. Diedarkannya tatapan matanya kesekeliling biliknya, seakan-akan baru pertama kali dilihatnya, atau seolah-olah bilik itu akan ditinggalkannya untuk selama-lamanya.Pangeran Ranakusuma tidak menyadari, berapa lamanya ia duduk merenung. Ia terkejut ketika ia mendengar suara Rara Warih “Ayah, makan pagi bagi ayah dan kamas Juwiring telah tersedia. Aku sendirilah yang menyediakannya, ayah” “O“ Pangeran Ranakusuma memaksa dir inya untuk tersenyum“Apakah kau sendir i yang masak?“ Rara Warih tersipu-sipu. Jawabnya “Hari ini kebetulan sekali bukan, ayah. Tetapi kadang-kadang akupun sering memasak. Namun j ika aku berada di dapur, para pelayan nampaknya selalu gugup. Kadang-kadang mereka kehilangan ketajaman lidah mereka, sehingga masakan menjadi tidak enak” “Ah, kenapa?“ “Aku tidak tahu ayah. Karena itulah maka jika aku ingin masak, aku mengambil waktu yang lain. Jika saatnya para juru masak beristirahat, aku baru mulai, tanpa mengganggu mereka” Pangeran Ranakusuma tertawa. Kemudian ditepuknya bahu anak gadisnya sambil berkata “Kau menjadi semakin pandai dan cekatan. Demikianlah seharusnya seorang gadis. Bukan hanya sekedar duduk merias dir i dan pergi keperalatan atau bujana yang mewah dan ber lebih- lebihan saja” Rara Warih mengangguk. Tetapi kepalanya lalu tertunduk. Pangeran Ranakusuma termangu-mangu. Namun iapun segera menyesal. Ucapannya agaknya telah mengingatkan Rara Warih kepada ibunya. Sifat-sifatnya dan tingkah lakunya selagi ibunya itu masih berada di istananya. “Warih“ Pangeran Ranakusuma segera mencoba menar ik perhatian puterinya “Marilah. Kita makan bersama-sama” “Aku sudah makan ayah. Aku kira ayah tidak akan sesera kembali. Mungkin sampai petang. Apalagi aku akan pergi ke tempat eyang. Karena itu aku telah makan lebih dahulu”“Jika demikian, panggil kamasmu” Rara Warihpun kemudian meninggalkan ayahnya yang segera pergi ke ruang belakang. Dicarinya Raden Juwiring untuk pergi ke ruang belakang pula dan makan bersama dengan ayahandanya. Ternyata bahwa perhitungan Pangeran Ranakusuma t idak jauh menyimpang. Baru saja ia selesai makan bersama Juwiring, telah datang kepadanya dua orang utusan dariistana, untuk memanggilnya menghadap. “Baru saja aku menghadap Kangjeng Susuhunan” jawab Pangeran Ranakusuma. “Tetapi Kangjeng Susuhunan bukan saja memanggil Pangeran. Tetapi beberapa orang Panglima, Senapati dan beberapa orang pemimpin yang lain” “Termasuk Ki Patih?“ “Ya Pangeran” Pangeran Ranakusuma termenung sejenak. Namun ia menyadari bahwa ia memang harus menghadap. Tentu akan banyak persoalan yang akan dibicarakan. Terutama mengenai lolosnya Pangeran Mangkubumi. Namun tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma teringat sesuatu, lalu iapun bertanya “Apakah Kangjeng Susuhunan juga memanggil kumpeni?“ “Beberapa orang perwira telah ada di istana. Mereka sedang berbicara dengan Kangjeng Susuhunan” Pangeran Ranakusuma merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Namun ia tidak segera menjawab selain mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Aku. akan berbenah diri sebentar. Pergilah lebih dahulu, dan sampaikan bahwa sebentar lagi aku akan menghadap” “Baik Pangeran. Hamba mohon diri”Pangeran Ranakusuma melepaskan utusan itu dengan denyut jantung yang semakin cepat. Ternyata semuanya akan mulai dengan cepat. Baik Pangeran Mangkubumi, maupun Kangjeng Susuhunan dan kumpeni tidak akan menunda lagi. Dan benturan itupun akan segera mulai. Setelah membenahi dirinya, maka Pangeran Ranakusumapun segera berangkat, setelah ia memberikan beberapa pesan kepada Juwiring. “Jangan kau takut-takuti adikmu dengan suasana yang berkembang di Surakarta” pesannya. “Baik ayahanda” “Buatlah cer itera yang lain tentang Surakarta. Aku mengatakan kepadanya, bahwa gerombolan-gerombolan perampok agak mengganggu keamanan. Tetapi ia ternyata mengetahui bahwa Pangeran Mangkubumi telah meninggalkan Surakarta. Ia terlalu banyak memperhatikan keadaan yang berkembang di saat terakhir. Dan ternyata ia terlalu banyak mengendapkan ceritera yang didengarnya dari kau” “O“ Juwir ing mengangguk-angguk “Baiklah ayahanda. Aku akan lebih berhati-hati” Pangeran Ranakusumapun minta diri pula kepada Rara Warih. Tetapi ia sama sekali tidak member ikan kesan apa-apa. Seakan-akan seperti biasanya ia pergi menghadap Kangjeng Susuhunan. Ketika Pangeran Ranakusuma sampai di istana, ternyata yang telah mendahului hadir adalah beberapa orang Pangeran, Senapati dan Ki Patih. Kehadirannya ternyata telah sangat menarik perhatian. Agaknya sebagian besar dari para Pangeran dan Senapati menganap bahwa Pangeran Ranakusuma adalah Senapati yang paling baik untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi.Sehingga karena itulah, maka sebagian besar dari mereka segera ingin mendengar pendapat Pangeran Ranakusuma. “Tidak ada yang perlu mendapat perhatian khusus” sahut Pangeran Ranakusuma. “Tetapi adimas Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang pilih tanding” desis seorang Pangeran. “Memang benar. Tetapi ia seorang diri. Jika ia kemudian mendapat pengikut, mereka adalah petani-petani yang selama ini hanya pandai memegang cangkul“ “Jangan lupa kamas Pangeran Ranakusuma, bahwa Sukawati dan sekitarnya merupakan daerah pembajaan yang menggetarkan. Bahkan kumpempun mulai tergetar melihat kesiagaan daerah itu” Sahut Pangeran yang lain. “Kumpeni memang pengecut” Para Senapati yang ada di ruangan itu terperanjat. Tetapi merekapun segera menyadari bahwa Pangeran Ranakusuma mempunyai dendam pribadi kepada kumpeni. Karena itu, maka merekapun tidak bertanya lebih lanjut tentang kumpeni. Yang mereka tanyakan kemudian adalah kelebihan Pangeran Mangkubumi dari Raden Mas Said dan Martapura. “Tidak ada orang yang dapat meredakan perlawanan anakmas Said pada waktu itu selain Pangeran Mangkubumi” berkata seorang Senapati “itu adalah pertanda kelebihan Pangeran Mangkubumi dari kita semua” “Benar” jawab Pangeran Ranakusuma “Kalian tentu mengira bahwa untuk menghentikan perlawanan Raden Mas Said saja kita tidak mampu selain Pangeran Mangkubumi. Apalagi kini Pangeran Mangkubumi sendir ilah yang telah mengangkat senjata. Bukan begitu?“ “Ya” sahut beberapa orang berbareng.“Pangeran Mangkubumi mempunyai pengaruh pr ibadi yang besar atas Said. Karena itu, dengan mudah ia menyuruh Said untuk sementara menghentikan perlawanannya” “Tetapi bagaimana dengan kekuatan mereka dibandingkan dengan kekuatan kita sekarang” “Tergantung tangan yang akan memegang. Tetapi Pangeran Mangkubumi adalah manusia biasa seperti kalian, seperti aku dan seperti kumpeni. Karena itu, semuanya akan dapat terjadi. Kita mempunyai kemungkinan yang paling jelek, sama dengan Pangeran Mangkubumi. Tetapi kita mempunyai beberapa lelebihan Kita dapat menjilat kumpeni” desis Pangeran Ranakusuma. Kata-kata itu benar-benar telah menggetarkan setiap hati. Namun merekapun sekali lagi mengendapkan perasaan karena mereka mengerti bahwa Pangeran Ranakusuma membenci orang-orang asing itu sampai keujung ubun-ubunnya karena persoalan pribadi. “Tetapi hal itu tentu sangat tidak menguntungkan” berkata Ki Patih di dalam hatinya. Tetapi merekapun kemudian terdiam ketika Kangjeng Susuhunan memasuki ruangan. Mereka membenahi diri dan duduk sambil menundukkan kepala. Namun demikian hati Pangeran Ranakusuma bagaikan tersentuh api. Ia melihat kehadiran Kangjeng Susuhunan bersama seorang perwira tinggi kumpeni. “Gila” desis Pangeran Ranakusuma “Orang asing itu sudah terlalu berkuasa di Surakarta Kenapa ia dapat duduk saja di bawah Kangjeng Susuhunan? Dineger inya ia adalah orang yang tidak berani mendekati pintu istana rajanya” Tetapi karena itu sudah menjadi kehendak Kangjeng Susuhunan maka Pangeran Ranakusuma tidak dapat mencegahnya lagi.Demikianlah maka setelah dengan resmi Kangjeng Susuhunan membuka pertemuan itu dengan berbagai macam tanya jawab atas keselamatan dan tugas masing-masing, maka mulailah Kangjeng Susuhunan mempersoalkan laporan bahwa Pangeran Mangkubumi dengan diam-diam sudah meninggalkan kota. “Pangeran Mangkubumi menjadi sakit hati karena keputusanku mengambil kembali tanah Sukawati. Dan ini adalah tanggung jawab kita bersama, karena aku telah melaksanakan pendapat kalian” berkata Susuhunan kemudian. Para Pangeran, Senapati dan para pemimpin yang ada di ruang itu t idak segera menyahut. Mereka menyadari keadaan yang gawat sekali bakal mereka hadapi. Pada saat Raden Mas Said dan Martapura melakukan perlawanan, Surakarta hampir tidak mampu mengatasinya. Yang dapat meredakan perlawanan itu hanyalah Pangeran Mangkubumi. Kini Pangeran Mangkubumilah yang agaknya akan mengangkat senjata, justru pada saat Raden Mas Said mulai dengan perjuangannya kembali. “Pringgalaya” berkata Susuhunan kemudian “Apa katamu tentang masalah ini?“ “Ampun Kangjeng Susuhunan. Persoalannya sudah jelas bagi hamba, bahwa Pangeran Mangkubumi tidak mau memenuhi perintah Kangjeng Susuhunan. Pangeran Mangkubumi menjadi sakit hati dan meninggalkan istananya dengan diam-diam. Tujuannya tentu jelas bagi hamba. Mengadakan pemberontakan” Kangjeng Susuhunan mengangguk-angguk. “Kangjeng Susuhunan“ Pringgalaya melanjutkan “kebencian dan dendam telah membakar hati Pangeran Mangkubumi. Ia ternyata lebih berat mempertahankan secuwil tanah daripada kesetiaannya dan kepatuhannya kepada Kangjeng Susuhunan.Bukan saja sebagai seorang raja tetapi juga seorang saudara tua yang harus dihormati” “Ya” jawab Kangjeng Susuhunan singkat. “Dan itu adalah pengkhianatan yang harus dihukum. Seperti pengkhianatan yang telah dilakukan oleh Raden Mas Said dan beberapa orang lain” Kangjeng Susuhunan mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih menjawab singkat “Ya” “Kemudian terserah kepada Kangjeng Susuhunan, apakah yang harus hamba lakukan” Kangjeng Susuhunan termenung sejenak, lalu ia bertanya kepada sidang “Apakah yang patut kita lakukan atas adinda Pangeran Mangkubumi?“ Tidak seorangpun yang menjawab. Meskipun pada umumnya mereka berpendapat bahwa Pangeran Mangkubumi telah melakukan pemberontakan, namun mereka segan menyebut dan mengucapkan pendapat mereka itu. Karena beberapa saat lamanya tidak ada seorangpun yang menyatakan pendapatnya, maka Kangjeng Susuhunanpun kemudian berkata “Jika demikian, apakah kita dapat menganggap bahwa kepergian adinda Pangeran Mangkubumi itu sekedar seperti anak-anak yang sedang merajuk, dan karena itu sebaiknya kita biarkan saja? Nanti, pada suatu saat ia tentu akan kembali lagi ke rumahnya. Tentu ia sayang pula akan harta benda yang ditinggalkannya” “Ampun Kangjeng Susuhunan” desis Pringgalaya “Apakah memang demikian halnya? Hamba kira jauh daripada sekedar merajuk” Kangjeng Susuhunan mengerutkan keningnya. Dipandanginya saudara-saudaranya yang menghadap, para Senapati dan para pemimpin yang lain. Ketika terpandang olehnya Pangeran Ranakusuma Kangjeng Susuhunan menar iknafas. Tetapi Pangeran Ranakusuma itupun hanya menundukkan kepalanya saja. Namun dalam pada itu, seorang Pangeran yang lain berkata “Ampun kakanda Susuhunan. Hamba menjadi cemas mengikut i perkembangan keadaan di Surakarta. Kita sudah mempunyai banyak pengalaman. Bahwa keadaan yang tidak diduga-duga itulah yang selalu menyulitkan kita. Karena itulah kita tidak boleh lengah menghadapi keadaan kini” “Maksudmu?“ bertanya Kangjeng Susuhunan. “Kita harus bersiap menghadapi segala kemungkinan” “Kita siapkan prajur it?“ “Hamba kakanda” Kangjeng Susuhunan mengangguk-angguk. Namun ia kemudian bertanya “Bagaimana pendapat yang lain? Apakah tindakan adimas Mangkubumi sudah dapat disebut satu pemberontakan?“ Beberapa orang saling berpandangan. Namun hanya seorang yang menyahut “Hamba Kangjeng Susuhunan. Menurut hemat hamba, Pangeran Mangkubumi sudah memberontak” Kangjeng Susuhunan menarik nafas dalam-dalam. Keragu- raguan yang nampak pada para bangsawan, para Senapati dan para pemimpin pemerintahan, menunjukkan betapa besar perbawa Fangeran Mangkubumi atas mereka. Meskipun Pangeran Mangkubumi tidak hadir di dalam pertemuan itu namun mereka masih juga merasa segan untuk menyebutnya sebagai seorang pemberontak meskipun sebenarnya mereka bsrpendapat demikian. “Baiklah” berkata Kangjeng Susuhunan kemudian “meskipun kalian tidak mengatakan, namun aku mengerti bahwa kalian tidak dapat membiarkan tindakan adimas Pangeran Mangkubumi. Karena itu. baiklah kita mencobauntuk memecahkan persoalan ini. Aku berpendapat bahwa kita wajib mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Penjagaan harus diperkuat dan setiap orang yang keluar masuk kota harus mendapat pengawasan” Para bangsawan, Senapati dan para pemimpin menunggu kelanjutannya. Tetapi Kangjeng Susuhunanpun kemudian terdiam untuk beberapa saat sehingga orang-orang yang ada di ruang itu menjadi gelisah. Karena Kangjeng Susuhunan tidak berkata apapun lagi, maka Ki Pringgalaya memberanikan diri untuk bertanya “Ampun Kangjeng Susuhunan. Apakah cukup dengan memperketat penjagaan?“ Kangjeng Susuhunan mengerutkan keningnya. Lalu “Jadi bagaimana sebaiknya?“ “Agaknya para Senapati dapat mengajukan pendapatnya” “Aku sudah member i kesempatan. Tetapi tidak seorangpun yang menyatakan pendapatnya” Suasana menjadi hening sejenak. Baru kemudian seorang Senapati muda berkata “Ampun Kangjeng Susuhunan. Mungkin para Senapati sependapat, bahwa untuk menghadapi keadaan yang gawat ini, kita tidak dapat sekedar memperketat pengawasan atas kota Surakarta” “Jadi bagaimana?“ “Prajurit Surakarta harus turun ke medan” “Medan yang mana? Tidak ada peperangan” “Tetapi Pangeran Mangkubumi tentu sudah mempersiapkan sebuah peperangan” Kangjeng Susuhunan mengangguk-angguk. Katanya “Teruskan pendapatmu” “Surakarta harus menyusun barisan. Kita harus melumpuhkan pusat kekuatan Pangeran Mangkubumi sebelumsemuanya terjadi. Kelambatan pada kita akan berarti kesulitan yang berkepanjangan” “Begitu” suara Kangjeng Susuhunan datar, sehingga menimbulkan kebimbangan bagi mereka yang mendengarnya. Karena itu, beberapa saat mereka yang ada di dalam bilik itupun terdiam. Mereka mencoba menilai sikap Kangjeng Susuhunan Paku Buwana itu. “He“ Kangjeng Susuhunanlah yang memulainya “Kenapa kalian diam saja. Teruskan. Apakah pendapat kalian” “Kami sudah mengajukan pendapat kami” jawab Pangeran yang baru saja berbicara. “Baiklah. Jadi kalian berpendapat bahwa kita harus mengerahkan prajurit untuk menyerang adimas Pangeran Mangkubumi. Atau barangkali lebih tegas lagi, menduduki Sukawati yang telah aku tarik kembali daripadanya” Para bangsawan dan Senapati yang ada di ruang itu termangu-mangu. Ketegasan sikap Kangjeng Susuhunan itu justru membuat mereka menjadi ragu-ragu. Namun dalam pada itu, Ki Pringgalayalah yang menjawab “Hamba Kangjeng Susuhunan. Memang tidak ada jalan yang lebih baik daripada melumpuhkan kekuatan Pangeran Mangkubumi di sarangnya sendiri” “Baiklah. Aku tidak berkeberatan. Aku akan segera mengangkat seorang Senapati yang akan memimpin pasukan Surakarta di dalam tugas ini. Orang yang tentu saja memiliki kemampuan yang setingkat dengan adimas Pangeran Mangkubumi” Hampir di luar kesadaran mereka, maka para Senapati, para bangsawan dan para pemimpin di Surakarta itu serentak terpaling kepada Pangeran Ranakusuma yang duduk diam seolah-olah membeku. Satu kalimatpun tidak ada yangterlontar dari mulutnya sejak para bangsawan dan para Senapati membicarakan masalah Tanah Sukawati. Agaknya Kangjeng Susuhunan mengerti maksud para Bangsawan dan Senapati itu. Karena itu maka iapun berkata “Apakah kalian sudah bersepakat untuk menunjuk adimas Pangeran Ranakusuma?“ “Kami belum membicarakannya” jawab salah seorang Pangeran “Tetapi kami bersama-sama mengetahui bahwa kamas Pangeran Ranakusuma adalah orang yang paling sesuai dengan tugas itu“ “Ya Kangjeng Susuhunan” sahut Pringgalaya “tugas itu memang pantas bagi Pangeran Ranakusuma” Kangjeng Susuhunan mengangguk-angguk. Agaknya ia memang sependapat dengan pendapat para Pangeran dan Senapati di Surakarta itu. Tetapi sebelum Kangjeng Susuhunan memutuskan, maka perwira tinggi kumpeni yang hadir di dalam sidang itupun tiba- tiba memotong pembicaraan “Kangjeng Susuhunan. Aku tidak setuju jika Pangeran Ranakusuma memegang pimpinan prajurit Surakarta kali ini” Semua orang yang hadir terkejut mendengar pendapat itu. Apalagi Pangeran Ranakusuma sendir i. Wajahnya menjadi merah oleh berbagai perasaan yang bercampur baur di dalam dadanya. Perwira itu agaknya mengerti bahwa para bangsawan. Senapati dan pimpinan pemerintahan di Surakarta kecewa. Karena itu maka katanya “Kumpeni ingin mengusulkan seorang Senapati yang lain. Terserah kepada Kangjeng Susuhunan. Tetapi jangan Pangeran Ranakusuma. Kumpeni menganggap Pangeran Ranakusuma sebagai seorang Pangeran yang cakap dan pandai. Tetapi tidak untuk perang kali ini”“Apa alasanmu” bertanya Kangjeng Susuhunan. “Masih ada orang lain yang dapat diangkat” “Tetapi adimas Pangeran Mangkubumi adalah seorang prajurit yang pilih tanding” “Kumpeni sanggup membunuhnya. Bagaimanapun juga kemampuannya, jika peluru menembus dadanya, maka ia akan mati” “Tidak. Pangeran Mangkubumi tidak dapat ditembus oleh peluru kumpeni” “Bohong. Tidak ada orang yang tidak dapat ditembus oleh peluru” “Apakah kau ingin melihat” tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma bertanya. “Ya” jawab Kumpeni itu. “Baik. Kita bertaruh. Jika ada orang yang tidak dapat ditembus oleh peluru, maka kepalamupun harus dicoba dengan sebutir peluru yang sama” geram Pangeran itu lebih lanjut Wajah kumpeni itulah yang menjadi merah padam. “Nah“ Pangeran Ranakusuma bergeser “Cobalah. Aku sama sekali tidak bermaksud menyombongkan dir i. Tetapi aku hanya ingin menutup mulutmu” Kumpeni itu menjadi semakin marah. Sementara itu Pangeran Ranakusuma berkata lebih lanjut “Tembaklah aku.Dimanapun yang kau kehendaki. Jika pelurumu menembus kulitku, aku akan mat i. Jika tidak, maka kaulah yang akan mati” Tiba-tiba saja kumpeni itu menjadi ragu-ragu. Namun dalam pada itu Kangjeng Susuhunan segera menengahi “Kita berbicara tentang Pangeran Mangkubumi. Baiklah. Aku akan segera menunjuk Senapati yang lain yang akan pergi ke medan bersama kumpeni. Tetapi aku tetap menunjuk adimas Pangeran Ranakusuma sebagai salah seorang Senapati pengapit dari gelar apapun yang akan dipasang. “Kita akan berunding Kangjeng Susuhunan” berkata perwira kumpeni itu. Darah Pangeran Ranakusuma serasa mendidih karenanya. Tetapi iapun kemudian berdiam dir i karena Kangjeng Susuhunan masih duduk di ruang itu. Ia tidak mau mengulangi sikap Pangeran Mangkubumi yang dengan berani melawan seorang penjabat tertinggi Kumpeni yang kata- katanya merupakan undang-undang. Jika demikian Surakarta hanya akan bertambah kalut, dan kumpeni justru akan semakin banyak menarik keuntungan. “Jika demikian” berkata Kangjeng Susuhunan kemudian “Kalian dapat meninggalkan tempat ini Bersiaplah dengan pasukan masing-masing. Sebentar lagi, Senapati yang memimpin pasukan akan aku umumkan” Para bangsawan dan Senapati termangu-mangu sejenak. Mereka tidak menyangka bahwa kumpeni dengan terbuka telah menolak Pangeran Ranakusuma. Tentu mereka mempunyai pertimbangan tersendiri atas Pangeran yang telah pernah melakukan perang tanding dan membunuh seorang perwira kumpeni karena dendam pribadi. Karena kumpeni telah melangkahi pagar ayu, sehingga ia harus mempertahankan kehormatannya di arena perang tanding. Namun ternyata bahwa kemampuan Senapati dari Surakarta itu tidak kalah dari perwira kumpeni yang mengaku telahmenjelajahi lautan dan benua dari ujung sampai keujung bumi. Namun para bangsawan itu tidak dapat duduk membeku di tempatnya. Merekapun kemudian meninggalkan sidang itu dengan hati yang berdebaran. Kekecewaan Pangeran Ranakusuma tentu akan mempunyai akibat yang luas bagi Surakarta. Tetapi para bangsawan dan Senapati itupun menyadari bahwa Kangjeng Susuhunan tidak akan dapat mengabaikan kumpeni. Bantuan kumpeni dengan senjata apinya akan lebih banyak artinya dari seorang Pangeran Ranakusuma. Hanya beberapa orang saja di antara mereka yang sempat mempertimbangkan dengan baik, bahwa jika kumpeni bersedia membantu Kangjeng Susuhunan memerangi Pangeran Mangkubumi. maka bukan berarti bahwa kumpeni telah berbaik hati. Kumpeni tentu mempunyai pamrih dan pertimbangan sebaik-baiknya. Dalam pada itu. Pangeran Ranakusuma yang dengan wajah merah padam meninggalkan sidang, langsung berpacu kembali ke istananya. Roda keretanya berderap di atas jalan berbatu-batu. Beberapa orang bangsawan yang melihat kereta Pangeran Ranakusuma itu berpacu hanya dapat menarik nafas dalam- dalam. Mereka menangkap getar perasaan Pangeran yang memiliki kemampuan yang luar biasa itu. “Jika kumpeni tadi bersedia menembakkan senjatanya, maka Kumpeni itulah yang akan mati” desis seorang Senapati muda. “Setidak-tidaknya ia akan mengalami goncangan perasaan dan akan menjadi malu sekali. Pangeran Ranakusuma tentu bukannya tidak beralasan bahwa ia sudah menantang kumpeni itu”Yang lain menyambung “Aku percaya, bahwa peluru kumpeni tidak akan dapat menembus kulitnya. Seperti juga peluru kumpeni tidak akan dapat menembus kulit Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said yang masih muda itu” “Sebentar lagi, Raden Juwiring akan dapat berbuat seperti ayahnya pula. Sekarang sudah nampak gejala-gejalanya bahwa Raden Juwiring akan mampu mewarisi ilmu ayahandanya” Para Senapati itu terdiam. Tetapi terasa desir yang tajam di dadanya. Melawan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said sekaligus seakan-akan merupakan suatu kuwajiban yang tidak akan mungkin dilakukan oleh Surakarta meskipun dengan kumpeni sekalipun. -


Jilid 17
SEDANGKAN menurut pertimbangan mereka, tidak akan mustahil jika Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said akan segera menyatukan kekuatan mereka, karena sebenarnya keduanya tidak mau melihat kumpeni semakin berkuasa di Kerajaan Mataram, yang berpusar di Surakarta itu. Apalagi nampaknya sikap Pangeran Ranakusuma yang merasa tidak mendapat kepercayaan dari kumpeni itu meragukan sekali. Sudah barang tentu bahwa ia tidak akan berjuang seperti apabila ia mendapat tanggung jawab sepenuhnya dari Kangjeng Susuhunan untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi. Sementara itu, Pangeran Ranakusuma telah berada kembali di istananya. Dengan tergesa-gesa Juwiring menyongsongnya. Iapun ingin segera mendengar berita tentang pembicaraan yang dilakukan oleh para Senapati Agung di Surakarta. Setelah duduk sejenak, dan meneguk air panas yang dihidangkan oleh Warih sendiri maka Pangeran Ranakusumapun berkata “Bukan aku yang diangkat menjadi Panglima untuk melawan adinda Pangeran Mangkubumi”Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Ia mempunyai tanggapan yang aneh atas berita itu. Ia sendiri tidak mengetahui perasaan apakah sebenarnya yang bergolak di dalam dadanya. Sepercik kekecewaan telah melonjak di hatinya. Namun ada juga perasaan yang lain. Adalah kebetulan sekali bahwa ayahandanya tidak harus menjadi Panglima melawan pamandanya sendir i, “Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma “Aku bukan kecewa karena aku tidak akan berhadapan langsung dengan Pangeran Mangkubumi dalam jabatan tertinggi pasukan Surakarta yang menghadapinya. Tetapi bahwa kumpenilah yang telah menolak pengangkatanku itulah yang telah membuat hatiku menjadi panas” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti betapa panas hati ayahandanya. Apalagi ketika kemudian Pangeran Ranakusuma menceriterakan seluruh pertemuan yang berlangsung itu. “Tetapi akibatnya tidak akan terlampau banyak berubah” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Aku masih tetap Senapati pengapit siapapun yang akan menjadi Panglima. Dan aku akan tetap ikut memimpin pasukan Mataram. Aku akan tetap ikut menentukan jalannya peperangan” Raden Juwiring mengangguk lemah. “Semuanya akan berlangsung seperti yang kita kehendaki Juwiring. Kau kini adalah prajurit Surakarta. Kau harus selalu menyesuaikan dirimu dengan kedudukanmu dan derajatmu. Kau adalah putera seorang Pangeran” “Ya ayahanda” suara Juwir ing datar. “Bersiaplah. Semuanya akan berlangsung dengan cepat sekali. Agaknya pasukan Surakarta tidak akan menunggu. Tetapi demikian Kangjeng Susuhunan mengangkat seorang Panglima, maka perang akan segera pecah”Raden Juwiring menundukkan kepalanya. Perang itu sendiri bukan merupakan sesuatu yang menggetarkan. Tetapi yang paling menggelisahkan adalah perang di antara saudara sendiri. Saudara sendiri yang berbeda pendirian menghadapi kedatangan orang-orang asing di Surakarta. Dan Juwiring berdiri di atas atas yang sulit bagi dir inya sendiri. Dalam pada itu, Kangjeng Sultan telah mengambil keputusan pula untuk menutup regol dan setiap pintu istana Pangeran Mangkubumi. Seorang perwira diperintahkannya untuk menghitung setiap benda yang ada di dalam istana itu. Tidak satupun dari benda-benda itu yang boleh hilang, bahkan berpindah tempatpun tidak. Baru setelah prajurit-prajurit Surakarta dengan resmi menguasai istana itu, maka Ki Dipanalapun bemudian bersama beberapa orang pengawal kembali ke Ranakusuman. Demikianlah sehari penuh Surakarta dicengkam ketegangan. Para Senapati menjadi gelisah, karena sampai saatnya matahari terbenam, mereka masih belum tahu, siapakah yang akan diangkat untuk memimpin prajur it Surakarta. Seorang Senapati yang tidak sabar lagi menunggu telah datang ke istana. Tetapi istana itupun terasa sepi. Meskipun demikian ia bertemu juga dengan beberapa orang Senapati yang datang pula dengan gelisah. “Belum ada keputusan yang diberikan kepada kami” berkata seorang Senapati muda. “Kita harus menunggu sampai besok. Tetapi yang sehari ini adalah suatu permulaan dari kemenangan Pangeran Mangkubumi” desis yang lain. “Tidak” jawab yang lain lagi “Pangeran Mangkubumi tentu memer lukan waktu paling cepat sepekan untuk menghimpun orang-orangnya. Orang-orang Sukawati bukannya prajurit. Mereka tidak akan dapat dihimpun seperti memanggil prajur ityang sudah mapan. Dengan tengara yang dibunyikan di alun- alun. para prajurit dan bahkan dengan seluruh cadangannya akan siap sebelum gema suara tengara itu lenyap. Tetapi sudah tentu tidak dengan para petani. Isteri mereka, anak- anak perempuan dan kekasih mereka akan menangis j ika mereka akan pergi berperang” Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Namun seorang Pangeran yang sudah agak lebih tua berkata “Kalian salah. Sukawati telah ditempa menjadi barak raksasa yang dihuni oleh prajurit-prajur it pilihan. Kalian akan terkejut menghadapi mereka di medan.” Beberapa orang yang lain memandang Pangeran itu dengan herannya. Apalagi ketika mereka melihat sebuah senyum yang terlukis di bibirnya. di dalam hati para Senapati itu bertanya “Apa pula maksud Pangeran Hadiwijaya ini?“ Tetapi mereka tidak sempat bertanya, karena Pangeran Hadiwijayapun kemudian berlalu meninggalkan mereka yang termangu-mangu. Sejenak kemudian Pangeran Hadiwijaya itupun berhenti sambil berpaling dan berkata “Selamat berpisah saudara-saudaraku” Para Senapati yang memandanginya menjadi semakin heran, tingkah laku Pangeran Hadiwijaya itu, agak lain dari kebiasaannya. Setelah Pangeran Hadiwijaya hilang di dalam gelapnya ujung malam, maka seorang dari antara mereka yang keheranan itu berdesis “Kemanakah kiranya Pangeran Hadiwijaya itu pergi?“ Yang lain menggelengkan kepalanya sambil bergumam “Orang itu nampaknya agak lain” “Kenapa ia mengatakan selamat berpisah? Apakah Pangeran Hadiwijaya akan pergi?“Tidak seorangpun yang menjawab. Nampak di wajah mereka teka-teki itu tetap tidak terjawab. Ternyata setelah mereka duduk dan berbicara beberapa lamanya di bangsal itu tidak ada berita apapun yang datang dari Kangjeng Susuhunan. Tidak ada seorang utusan yang harus memanggil para Senapati untuk menghadap dan bersidang. Tidak ada kesibukan apa-apa yang melukiskan ketegangan yang terjadi di Surakarta. “Seisi kota ini menunggu” desis seorang Senapati. “Kangjeng Susuhunan berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan” “Ya, Kangjeng Susuhunan masih saja sering sakit-sakitan. Bahkan rasa-rasanya akhir-akhir ini nampak sangat pucat dan kehilangan gairah sama sekali” “Itu adalah salah Pangeran Mangkubumi” “Kenapa Pangeran Mangkubumi?” “Pangeran Mangkubumi adalah adik terkasih. Tetapi ia sama sekali tidak menunjukkan kesetiaannya kepada kakandanya dan bahkan rajanya” Merekapun mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak. telaten lagi menunggu. Karena itu, maka para Senapati itupun kemudian pulang ke rumah masing-masing. Ada juga satu dua di antara mereka yang memerlukan mengelilingi kota melihat- melihat suasana. Tetapi kota Surakarta nampak sepi. Sepi sekali. Lampu- lampu minyak satu dua yang tergantung di sudut-sudut jalan, rasa-rasanya tidak dapat menembus malam yang menjadi semakin pekat, seperti pekatnya mendung yang mengambang di atas langit Surakarta. Senapati-senapati itu masih juga sempat berhenti di beberapa gardu peronda. Mereka member ikan beberapa pesan kepada para prajurit untuk tetap berhati-hati danwaspada. Setiap saat bahaya akan dapat mengancam. Bukan saja nyawa mereka sendiri, tetapi juga kedamaian Surakarta. Sementara itu kumpenipun telah meningkatkan kesiagaan mereka. Prajurit-prajurit kumpeni yang ada di Surakarta telah dipusatkan dalam satu barak dengan senjata siap di tangan. Demikianlah, betapapun sepinya malam, namun terasa bahwa di balik kesepian yang senyap dan kelam itu tersembunyi ketegangan yang menusuk sampai kepusat pemerintahan. Dalam pada itu di dalam istana, bukan seperti yang diduga oleh para Senapati bahwa Kangjeng Susuhunan sekedar terlambat mengambil keputusan, atau karena kesehatannya yang terganggu. Sebenarnyalah bahwa Kangjeng Susuhunan sedang dicengkam oleh kegelisahan yang tiada taranya, sehingga semalam suntuk matanya tidak dapat terpejam sama sekali. Seperti para peronda yang hilir mudik di atas punggung kuda, maka demikian juga angan-angan Kangjeng Susuhunan Paku Buwana. Semalam suntuk angan-angannya menjelajahi seribu persoalan yang sedang dihadapi oleh Surakarta dan oleh Kangjeng Susuhunan itu sendir i. Angin malam yang mengusap atap istana terdengar seperti desah nafas yang lesu. Dan terasa betapa hati Kangjeng Susuhunanpun menjadi semakin lesu. Malam itu ternyata perlahan-lahan bergeser didesak oleh cahaya fajar. Para peronda yang berkeliling mengedar i kota telah kembali ke gardu masing-masing. Rasa-rasanya mereka tidak melihat sesuatu yang pantas mendapat perhatian yang lebih besar dan bersungguh-sungguh. Namun ketika bayangan rumah-rumah mulai menguak dari kegelapan, Ki Dipanala dengan tergesa-gesa memacu kudanya memasuki regol istana Ranakusuman.“Apakah ada sesuatu yang penting paman?“ bertanya Juwiring yang juga hampir tidak dapat tidur semalam suntuk, kecuali di saat fajar hampir menyingsing. Namun iapun segera terbangun mendengar ayam jantan yang berkokok bersahutan. Ki Dipanala yang sudah meloncat turun dar i kudanya menarik nafas. Dan ketika nafasnya mulai berjalan teratur, maka iapun mulai berkata “Istana Pangeran Hadiwijaya telah kosong” Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu “Paman mengetahuinya?“ “Aku melihat sejak Pangeran Hadiwijaya meninggalkan istananya. Belum lama, justru saat para peronda mulai kembali ke gardu masing-masing” “Jika demikian pamanda Pangeran Hadiwijaya masih berada di mulut gerbang kota” “Tentu tidak lewat gerbang” “Tentu, karena di gerbang kota ada beberapa orang penjaga. Maksudku, berada diperbatasan” Juwiring termenung sejenak, lalu “Tetapi setiap lorong betapapun kecilnya yang menembus keluar kota mendapat penjagaan sebaik-baiknya” “Pintu kota samping yang menghadap ke Timur telah kosong” “Maksudmu?“ “Penjaga-penjaganya adalah pengikut Pangeran Hadiwijaya. Mereka telah pergi bersama Pangeran Hadiwijaya. Bahkan beserta keluarganya” “Kau mengetahui seluruhnya?“ “Aku sudah sampai ke pintu samping di sebelah Timur itu” “Paman sudah meyakinkan?““Sudah Raden. Dan sebenarnyalah bahwa di dalam remang-remangnya pagi, aku masih melihat debu iring- iringan itu” “Apakah tidak ada prajurit Surakarta yang mengejarnya” “Aku berada di gardu itu beberapa lama. Tidak ada seorangpun yang menyusul mereka. Barangkali belum ada yang mengetahuinya bahwa Pangeran Hadiwijaya meninggalkan kota. Baru ketika iring-ir ingan itu tidak nampak lagi oleh embun yang mulai menguap aku kembali” Raden Juwiring menarik nafas. Dengan nada datar ia, berkata “Tentu bukan hanya pamanda Pangeran Hadjiwijaya. Besok atau lusa, tentu ada lagi yang menyusul. Memang keadaan Surakarta tidak lagi dapat diharapkan” Ki Dipanala tidak menyahut. “Tetapi baiklah aku menghadap ayahanda. Seorang Senapati telah meninggalkan kota. Pamanda Pangeran Hadiwijaya termasuk Senapati yang memiliki beberapa kelebihan meskipun ilmunya tidak setinggi Pangeran Mangkubumi. Tetapi untuk mencari imbangannya, agaknya Kangjeng Susuhunan juga akan mengalami banyak perhitungan. Apalagi kumpeni tidak menyetujui ayahanda Pangeran Ranakusuma untuk memimpin pasukan Surakarta” Ki Dipanala mengangguk-angguk. Katanya “Memang sebaiknya Raden segera menyampaikannya kepada Pangeran Ranakusuma” Raden Juwiringpun kemudian masuk ke dalam. Dilihatnya adiknya sedang membersihkan beberapa perabot istana. Hiasan-hiasan yang bergantungan dan melekat pada dinding. Raden Juwiring berhenti sejenak ketika ia melihat Warih memegangi sebuah patrem yang tergantung di dinding ruang tengah.“Kamas” desis Rara Warih ketika dilihatnya Juwiring berdiri termangu-mangu “ada beberapa emban yang membawa patrem selama tugasnya. Tentu mereka menguasai cara penggunaannya. Apakah kamas mau memberitahukan kepadaku, bagaimanakah caranya mempergunakan patrem?“ Juwiring tersenyum. Selangkah ia maju. Katanya “Buat apa kau bermain-main dengan patrem, Warih. Patrem adalah sejenis senjata yang berbahaya. Sebaiknya kau tidak usah memikirkannya. Apalagi penggunaannya” “Kamas, para emban itu juga menguasai cara-cara penggunaan. Bukankah patrem memang sejenis senjata buat seorang perempuan?“ “Tetapi dalam penggunaan yang khusus, Warih. Patrem adalah sejenis senjata pendek. Seperti kau lihat, bentuknya adalah sebuah keris yang kecil” “Aku tahu kamas. Patrem adalah senjata untuk membela diri bagi perempuan. Apalagi menghadapi lawan yang berhasil memasuki istana. Bukan senjata di medan perang. Bahkan jika perlu patrem dapat untuk membunuh dir i. Tetapi aku ingin tahu, bagaimana aku harus memegang dan menggerakkannya” Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Dipandanginya Warih sejenak, lalu “Kenapa membunuh diri?“ “Bukankah perempuan akan sekedar menjadi barang rampasan j ika kita kalah perang?“ ”Apakah kita akan berperang?“ “Pamanda Pangeran Mangkubumi sudah tidak ada di istananya lagi” “Tetapi pamanda Pangeran Mangkubumi adalah keluarga sendiri. Mungkin di dalam paham pemerintahan kita akan bertempur, tetapi pamanda Pangeran tentu tidak akan memper lakukan kau sewenang-wenang jika ia ternyatamenang dan berhasil menduduki kota. Pamanda Mangkubumi adalah orang yang baik. Hubungannya dengan ayahanda sebagai kakak beradik cukup baik” “Tentu bukan pamanda Mangkubumi sendir i. Kamas tahu bahwa pamanda Mangkubumi mempunyai pasukan orang- orang padesan yang kasar. Mungkin di antara mereka terdapat perampok-perampok. Nah. terhadap mereka itulah aku harus mempertahankan diri, dan jika nerlu akan dapat membunuh diri jika mereka akan menyentuhku” “Kau salah Warih” berkata Tuwir ing “Memang mereka adalah orang-orang padesan. Petani-petani dan barangkali orang-orang kasar. Tetapi kekasaran mereka tidak terletak pada nafsu mereka. Tidak pada ketamakan kebendaan, tidak pada pangkat dan derajad duniawi. Dan tidak pada perempuan. Mereka sekedar kasar menurut sikap lahir iah. Tetapi mereka adalah orang-orang yang bersih dan jujur” “Ah“ desah Warih “itu sekedar dugaan kamas” “Aku pernah hidup di antara mereka” “Tetapi di dalam peperangan segalanya dapat terjadi” berkata Warih “Juga atas dir iku” Juwiring menepuk bahu adiknya sambil tersenyum. Katanya “Tenangkan hatimu Warih. Tidak akan terjadi apa-apa. Gantungkan kembali patrem itu di dinding” Warih tidak menjawab. “Pasukan pamanda Pangeran Mangkubumi tidak akan berhasil memasuki kota ini. Prajurit Surakarta cukup kuat. Apalagi agaknya kumpeni sudah siap untuk membantu” “O“ tiba-tiba saja Warih justru menjadi tegang. di luar sadarnya gadis itu teringat akan ibunya dan kakaknya yang mati karena kumpeni.“Gila“ Warih menggeram “Aku tidak mau diperlakukan seperti ibunda. Tidak. Dan kau kamas, jangan sampai terjadi lagi, apa yang pernah terjadi atas kamas Rudira” Juwiring terkejut mendengar tanggapan Warih. la menyesal bahwa ia sudah menyebut kumpeni. Karena itu di dekatinya adiknya yang kemudian menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya “Sudahlah Warih. Sebenarnyalah tidak akan terjadi apa-apa. Kau harus sadar bahwa kau adalah putera seorang Senapati pilihan. Aku dan ayahanda tentu akan melindungimu” Rara Warih termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya “Ayahanda dan kamas tentu akan berada di peperangan” Juwiring justru tertawa. Katanya “Tetapi sepasukan pengawal akan berada di istana ini. Jika sekiranya kota ini diduduki, maka yang pertama-tama akan dimasuki adalah istana Kangjeng Susuhunan. di sana terdapat banyak sekali gadis-gadis cantik. Sementara itu para pengawal di rumah ini akan menyelamatkanmu” Warih tidak menjawab lagi. la menjadi kurang senang melihat sikap kakaknya, seakan-akan persoalan itu sekedar persoalan yang tidak penting, bahwa sekedar bergurau. “Memang tidak penting bagi laki- laki. Mereka akan mati jika mereka kalah. Tetapi perempuan akan mengalami bencana yang lebih mengerikan” gumam Warih di dalam hatinya. Namun gadis itu tidak mengatakannya. “Kembalikan patrem itu Warih. Aku akan menghadap ayahanda“ Warih tidak menyahut. Digantungkannya kembali patrem itu di dinding. Juwiringpun kemudian meninggalkannya untuk menjumpai ayahandanya. Ia harus melaporkan bahwa Pangeran Hadiwijayapun telah hilang dar i kota.Sejenak Warih masih termangu-mangu. Ketika Juwir ing kemudian hilang di balik pintu, patrem yang sudah tergantung di dinding itupun diambilnya kembali dan diselipkannya di bawah sabuk kainnya. Sementara itu. Raden Juwiringpun telah menghadap ayahandanya di ruang dalam. Dengan singkat diceriterakannya, apa yang sudah dilihat oleh Ki Dipanala tentang Pangeran Hadiwijaya. Tetapi Pangeran Ranakusuma ternyata tidak terkejut. Katanya dengan nada datar ”Aku memang sudah menduga” “Apakah selama ini sikap pamanda Hadiwijaya cukup meyakinkan?“ bertanya Raden Juwiring. “Memang tidak sekeras Pangeran Mangkubumi. Tetapi bahwa ia kemudian meninggalkan kota dan berada di dalam lingkungan Pangeran Mangkubumi, bukannya suatu hal yang mengejutkan” Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kemudian ”Tetapi apakah Surakarta tidak akan mengalami kesulitan? Semakin banyak Senapati yang melepaskan dir i, maka Surakarta tentu akan menjadi semakin ringkih” Pangeran Ranakusuma tidak segera menyahut. Dan Juwiringpun kemudian berkata “Kesempatan kumpeni untuk ikut campur menjadi semakin besar. Dan tuntutan-tuntutan yang lebih banyak akan dapat dimintanya” “Ya. Kangjeng Susuhunan yang nampaknya menjadi semakin lemah jasmaniahnya itu agaknya akan menjadi semakin lemah pula pendiriannya. Tetapi kita masih dapat mengharap bahwa pada suatu saat Kangjeng Susuhunan akan menyadari keadaan ini sebaik-baiknya. Mudah-mudahan tidak terlambat”Juwiring tidak menyahut, la menunggu saja. apa yang sebaiknya harus dilakukan. “Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma “ternyata sampai saat ini kita masih belum mengetahui siapakah yang akan berdiri di paling depan dari pasukan Surakarta menghadapi Pangeran Mangkubumi. Tetapi tentu tidak akan lebih dar i hari ini. Setelah itu tentu para Senapati akan mengadakan pertemuan dan menentukan sikap. Sementara itu kau harus menyiapkan para pengawal di istana ini. Serahkan mereka kemudian kepada Ki Dipanala. Sementara kau membenahi pasukanmu sendiri. Pasukan berkuda akan menjadi sangat penting artinya di dalam gerakan yang serba cepat. Akupun tentu akan diserahi sepasukan prajurit, karena aku akan menjadi Senapati pengapit siapapun yang akan menjadi Panglima perang” “Apakah pasukan kumpeni akan ikut pula ayahanda?” “Aku kira demikian. Pasukan kumpeni tentu akan ikut pula menyerang kedudukan Pangeran Mangkubumi“ Juwiring mengangguk kecil. “Nah, mulailah sekarang Juwir ing. Jika semuanya sudah pasti, kita akan berbicara lebih panjang. Banyak soal-soal yang harus kita pecahkan” “Ya ayahanda” “Mulailah dar i para pengawal di istana ini. Setelah kau serahkan kepada Dipanala, maka kau harus menyiapkan pasukan berkudamu” “Bagaimana jika pasukan berkuda tidak disertakan dalam peperangan ini karena pasukan berkuda akan tetap menjaga kota?“ “Kita menunggu“Raden Juwiring mengangguk kecil. Katanya “Baiklah ayahanda” “Sekarang, hubungi Dipanala. Kepergian Pangeran Hadiwijaya akan mempercepat setiap tindakan” Juwiringpun kemudian meninggalkan ayahandanya. Ketika ia lewat di tempat Warih mengambil patrem, iapun terhenti sejenak. Sambil menarik nafas panjang Juwir ing berdesis ”Patrem itu tidak dikembalikannya di tempatnya“ Tetapi Juwiring tidak melihat adiknya lagi. Karena itu, maka iapun melangkah terus mencar i Dipanala di halaman belakang istananya. Pembicaraan yang bersungguh-sungguh antara Raden Juwiring dan Ki Dipanala ternyata sangat menarik perhatian para pengawal. Mereka menyadari bahwa keadaan Surakarta memang benar-benar telah menjadi panas. Merekapun telah mendengar bahwa Pangeran Hadiwijayapun dengan diam- diam telah meninggalkan kota dengan segenap keluarga dan pengikut-pengikutnya. Sekelompok prajurit yang bertugas di regol samping di sebelah Timur ternyata telah mengikutinya pula. Bagi para pengawal di istana Ranakusuman, Juwiring mempunyai pengaruh yang lain dari Raden Rudira. Juwiring tidak disegani karena kekuasaannya, tetapi karena tingkah laku dan sikapnya. Apalagi orang-orang itu mengetahui bahwa Raden Juwiring ternyata telah mewarisi sebagian besar dari ilmu ayahandanya Pangeran Ranakusuma. Dalam pada itu, seorang utusan telah datang pula ke Ranakusuman. Seorang gandek yang mendapat tugas untuk memanggil para Senapati, para bangsawan dan pimpinan pemerintahan untuk menghadiri sidang-sidang yang diselenggarakan bukan pada waktunya.Setelah minta diri kepada Juwiring dan Warih. maka Pangeran Ranakusumapun segera berangkat ke istana untuk menghadiri pembicaraan-pembicaraan yang sangat penting. Sementara itu, Pangeran Mangkubumi yang telah meninggalkan Surakartapun telah mengadakan pembicaraan penting dengan para pengikutnya. Pangeran Mangkubumi menyadari sepenuhnya bahwa kepergiannya itu akan berakibat luas. Bukan saja bagi Surakarta dan sekitarnya, tetapi bagi seluruh negeri dan daerah yang berada di dalam lingkungan kesatuan Surakarta. Namun sebenarnya para pengikut Pangeran Mangkubumi memang sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Jika mereka mendapat perintah sewaktu-waktu untuk bergerak, maka merekapun akan segera dapat melakukannya. Semuanya sudah di siapkan bagaikan sekelompok prajur it pilihan. Bahkan jalur-jalur jalan yang akan menjadi jalur hubungan di antara mereka sudah ditentukan. Dalam pada itu, kepergian Pangeran Mangkubumi dari kota dengan diam-diam telah didengar pula oleh Raden Mas Said. Untuk menentukan sikap seterusnya, Raden Mas Said telah mengirimkan beberapa orang petugas sandinya untuk mengetahui apa yang telah terjadi dengan pasti. Jika Pangeran Mangkubumi sendiri akan memimpin perlawanan terhadap Surakarta dan kumpeni, maka Raden Mas Saidpun harus menyesuaikan diri. Karena tidak mungkin mereka dapat bergerak sendiri-sendiri. Demikianlah, semua pihak di Surakarta benar-benar mengalami ketegangan. Para pemimpin dan Senapati di Surakarta, kumpeni dan pengikut-pengikutnya, Raden Mas Said, Martapura, dan Pangeran Mangkubumi sendir i. Tetapi yang hampir pasti bahwa perang yang besar akan segera pecah. Perang di antara saudara sendiri. Saudara sekandung, sebangsa dan se tanah kelahiran.Namun dengan suatu keyakinan, bahwa perjuangan Pangeran Mangkubumi bukannya sekedar perjuangan untuk kepentingan pribadi. Tetapi kekuasaan orang asing itu memang harus dilenyapkan, atau Setidak-tidaknya dibatasi. Ternyata bahwa Pangeran Mangkubumi dan para Pangeran yang lain itu tidak berbuat sia-sia. Demikian beberapa pemimpin di padesan mendengar sikap itu, merekapun segera mencari hubungan dengan Pangeran Mangkubumi. Mereka yang semula masih ragu atas sikap Pangeran Mangkubumi. kini menjadi yakin bahwa yang diperjuangkan oleh Pangeran Mangkubumi sebenarnya adalah gejolak perasaan rakyat Surakarta. Dalam pada itu, Raden Mas Said yang sudah mendapat kepastian atas sikap Pangeran Mangkubumipun segera mempersiapkan diri. Dengan sepenuh harapan Raden Mas Said menunggu perkembangan keadaan. Sementara itu ia bersama dengan Martapura telah melakukan pengamatan dengan diam-diamatas daerah pertahanannya. Di dalam perjalanan itulah Raden Mas Said sempat bertemu dengan para pemimpin pasukannya. Ternyata berita kepergian Pangeran Mangkubumi benar-benar telah menumbuhkan suasana yang lain bagi setiap orang di dalam pasukan Raden Mas Said. “Kita harus segera mendapatkan hubungan dengan pamanda Pangeran Mangkubumi” berkata Raden Mas Said kepada Martapura setelah mereka melihat kesiagaan pasukannya. Martapura mengangguk-angguk. Katanya “Saatnya memang sudah tiba. Kita harus bekerja bersama” “Kita menggantungkan harapan atas sikap pamanda Pangeran. Selama ini pamanda Pangeran terlampau berhati- hati, sehingga aku hampir tidak telaten mengamati sikapnya itu”“Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang sudah cukup lama melihat penderitaan rakyat Surakarta. Itulah sebabnya Pangeran Mangkubumi mengharap penyelesaian yang tidak menambah titik darah yang sudah banyak tertumpah. Namun ternyata bahwa usahanya harus melalui perjuangan senjata pula akhirnya” Raden Mas Said merenungi kata-kata Martapura itu. Namun sebagai seorang yang masih muda, kadang-kadang ia masih juga mengharapkan sikap yang lebih cepat dan keras. Dalam pada itu, selagi mereka berbincang di dalam gubug yang mereka pergunakan sebagai tempat tinggal sementara, karena mereka selalu berpindah-pindah, seorang pengawal datang kepada mereka dengan ragu-ragu. “Ada apa?” bertanya Pangeran Martapura. “Pangeran, ada seseorang yang ingin menghadap“ “Siapa?“ bertanya Raden Mas Said. “Seorang tua dari padepokan di atas gumuk di sebelah Timur sungai Dengkeng” “Ya, siapa?“ “Ia akan menghadap dan mengatakan semuanya kepada Raden Mas” Raden Mas Said termangu-mangu sejenak. Adalah jarang sekali orang-orang di luar lingkungannya yang mengetahui dimana ia berada pada suatu saat. Namun demikian ia berkata kepada pengawal itu “Suruhlah ia masuk jika ia tidak mencur igakan menurut penilaianmu” “Orang itu sudah tua Raden Mas. Nampaknya ia adalah orang yang hidup di dalam padepokan yang terpencil dan menekuni olah kajiwan” Raden Mas Said mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dipandangnya wajah Martapura. Tetapi wajah itu tidakmelontarkan kecurigaan sama sekali. Sehingga karena itu maka katanya “Baiklah. Aku akan mener imanya” Pengawal itupun kemudian meninggalkan ruangan dalam gubug itu. Sejenak Raden Mas Said dan Martapura menunggu dengan berbagai pertanyaan di dalam dada mereka. Bahkan Martapura mencoba menghubungkan orang itu dengan keputusan Pangeran Mangkubumi. “Apakah orang itu utusan Pangeran Mangkubumi?” Ia bertanya kepada diri sendir i. Sesaat kemudian, masuklah seorang yang sudah berambut dan berjanggut putih. Dengan bersandar pada sebatang tongkat ia melangkah memasuki ruangan itu dengan ragu- ragu. “Marilah, silahkan Kiai“ Raden Mas Said mempersilahkan. “Terima kasih Raden Mas. Aku mohon maaf, bahwa aku sudah memberanikan diri datang menghadap Raden Mas” “O“ Martapura mengerutkan keningnya “Kau sudah mengenal kami Kiai?“ “Tentu Pangeran. Setiap orang di Surakarta mengenal, siapakah Raden Mas Said, seperti setiap orang mengenal Pangeran Mangkubumi”“Tetapi Kiai tentu belum pernah mengenal kami berdua secara pribadi“ “Memang belum Pangeran. Tetapi kami sudah sering melihat Raden Mas Said berkuda di tengah-tengah bulak persawahan. Kadang-kadang berjalan berdua diiringi oleh beberapa pengawal di malam hari” Martapura menjadi semakin heran. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Dan Raden Mas Saidlah yang kemudian bertanya “Darimana Kiai tahu bahwa kami saat ini ada di sini?“ Orang tua itu tersenyum. Lalu “Memang sulit untuk menerangkan Raden Mas. Tetapi kesibukan di daerah ini agak lain dari biasanya. Karena itu, aku berkeras menduga bahwa Raden Mas ada di padesan ini” “Tetapi siapakah yang menunjukkan gubug ini. Tentu bukan para pengawal. Mereka harus mendapat persetujuan kami berdua sebelum mereka menunjukkan kepada orang dibiar lingkungan kami, dimana kami berdua berada” “Raden Mas adalah seorang pemimpin yang baik di medan. Tetapi bagi orang-orang tua, kadang-kadang ada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan nalar. Kita memang sulit untuk mengerti, bahwa seekor laba-laba hijau yang juga disebut kemladean, mengerti, bahwa hujan akan turun meskipun langit masih bersih, sehingga laba-laba itu segera bersembunyi di bawah atap atau dedaunan meskipun sebelumnya ia membuat jar ing di tempat terbuka” “Maksud Kiai?“ Orang tua itu termenung sejenak. Dipandanginya Raden Mas Said dan Martapura berganti-ganti. Kemudian katanya “Ada semacam firasat yang menuntun aku kemari. Itulah Raden Mas, maka aku mengatakan bahwa kadang-kadang orang-orang tua berbuat sesuatu di luar perhitungan nalar. Gubug ini bagiku rasa-rasanya mempunyai pertanda, bahwa hari ini Raden Mas ada disini”Raden Mas Said tidak segera menjawab. Direnunginya wajah itu beberapa saat. Lalu katanya “Mungkin aku dapat mengerti meskipun di luar pertimbangan nalar. Tetapi siapakah Kiai ini sebenarnya” Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Raden Mas Said termangu-mangu sejenak, lalu desaknya “Siapakah namamu Kiai, dan dari manakah asalmu. Jika kau utusan seseorang, siapakah yang mengutusmu, tetapi jika kau datang atas kemauanmu sendir i, maka apakah maksudmu menjumpai aku” Orang tua itu nampak ragu-ragu. Namun kemudian katanya “Raden Mas. Mungkin yang akan aku katakan kepada Raden Mas bagaikan ceritera yang tiada artinya sama sekali. Meskipun demikian aku tidak berkeberatan, apapun tanggapan Raden Mas” “Katakan” “Raden Mas. Aku akan menyebut namaku dan kepentinganku pada saatnya. Aku datang untuk mengundang Raden Mas pergi ke sebuah bukit kecil di daerah Matesih” Raden Mas Said mengerutkan keningnya. Dipandanginya Pangeran Martapura sesaat. Namun agaknya Martapurapun menjadi ragu-ragu menanggapi kata-kata orang tua itu. “Apakah Raden Mas bersedia?“ Raden Mas Said tidak segera menjawab. Kerut keningnya membayangkan keragu-raguan hatinya. “Tidak ada yang penting Raden Mas. Tidak ada yang menarik. Aku hanya ingin Raden Mas pergi ke bukit kecil itu. Tidak lebih dan tidak kurang” “Aku tidak mengerti Kiai” jawab Raden Mas Said “Apakah gunanya aku pergi ke bukit kecil di Matesih itu?““Memang tidak ada Raden Mas. Memang tidak ada kepentingan apa-apa” Jawaban itu justru sangat menarik dan menggelitk keinginan Raden Mas Said untuk memenuhi permintaan orang tua itu. Tentu saja dengan perhitungan yang matang. Menurut perhitungan Raden Mas Said, permintaan itu tentu bukan sebuah pancingan dari kumpeni. Kumpeni tentu tidak akan berada di Matesih dalam keadaan seperti ini. Tetapi keinginan yang melonjak di hati Raden Mas Said sulit untuk dikekangnya, sehingga akhirnya ia bertanya “Kapan aku harus datang ke bukit kecil itu?“ “Pada saat bulan tidak nampak di langit semalam suntuk Raden Mas” “Ya, kapan? Hari apa?“ “Aku persilahkan Raden menghitung sendir i” Raden Mas Said menjadi semakin ragu-ragu. Namun keinginannya untuk mengetahui lebih banyak menjadi semakin mendesak. Karena itu maka katanya “Kiai, bagaimana kalau hasil perhitunganku lain dengan perhitungan Kiai, sehingga aku datang pada waktu yang tidak sama?“ “Jika kau berada tiga hari t iga malam di bukit itu. Raden tentu akan bertemu dengan aku” “Tiga hari t iga malam?“ “Ya” Sesuatu bergejolak di hati Raden Mas Said. Namun demikian sesuatu seakan-akan mendesaknya untuk menjawab “Baiklah. Aku akan datang dan aku akan berada di sana tiga hari tiga malam. Aku akan menunggu pada hari-hari itu. Tetapi jika kita tidak bertemu, aku tentu akan membuat pertimbangan khusus tentang hal ini”“Baik. baik Raden. Aku akan memenuhi segala janji yang pernah aku katakan” Raden Mas Said mengangguk-angguk. Dicobanya menatap wajah orang itu setajam-tajamnya untuk mendapatkan kesan lebih dalam tentang dirinya. Tetapi ia tidak menemukan sesuatu. “Raden Mas” berkata orang itu “Jika demikian, aku akan segera minta dir i. Aku akan kembali ke padepokanku” Dengan ragu-ragu. Raden Mas Said berkata “Silahkan Kiai. Akupun akan memenuhi janjiku, dan aku akan datang pada saatnya” Demikianlah orang itupun segera minta diri. Sementara itu Raden Mas Said segera memanggil seorang pengawalnya yang sangat dipercayanya. “Ikuti orang tua itu kemanapun ia pergi. Kau harus mengetahui, darimana ia datang dan hubungan apa saja yang dilakukan olehnya di sekitar tempat ini” Pengawal itupun kemudian dengan tergesa-gesa menyusul orang tua yang baru saja meninggalkan gubug itu dalam tugas sandinya. Ketika ia keluar dari pedukuhain, ia masih melihat orang tua itu berjalan dengan tongkatnya terbungkuk-bungkuk di bulak yang pendek. Perlahan-lahan pengawal itu mengikuti dari kejauhan. Namun ketika orang itu hampir memasuki padukuhan di hadapan mereka, pengawal itu mempercepat langkahnya, agar ia tidak kehilangan orang yang sedang diawasinya, sehingga dengan demikian, maka jarak merekapun menjadi semakin pendek. Ketika orang itu masuk ke dalam regol padukuhan, pengawal itupun sudah berada diambang. Karena itu beberapa saat kemudian, iapuin sudah melampaui regol padukuhan.Tetapi tiba-tiba saja ia menjadi berdebar-debar. Ia melihat jalan lurus terbentang di hadapannya. di sebelah menyebelah jalan berdir i dinding batu yang meskipun tidak tinggi, tetapi tidak terlampau mudah untuk diloncati, apalagi oleh seorang tua yang berjalan tertatih-tatih dengan tongkat di tangannya. Sejenak pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian ia berlari dan meloncat ke atas dinding batu di sebelah menyebelah. Tetapi ia tidak melihat seorangpun pada kedua sisi jalan itu. Pengawal itupun kemudian berdiri termenung. Jalan itu sepi sekali. Tidak ada seoraingpun yang lewat. Bahkan halaman rumah di sebelah menyebelahpun nampaknya sepi-sepi saja. Tetapi orang tua itu bagaikan hilang begitu saja. Beberapa saat pengawal itu menunggu. Namun ia tidak menemukan orang tua itu sama sekali. Jejak arahnyapun tidak. Dengan hati yang berdebar-debar dilaporkannya apa yang dilihatnya itu kepada Raden Mas Said. Sejak ia keluar dari padukuhannya, sehingga oraing itu bagaikan hilang seperti asap. Hal itu justru menambah keinginan Raden Mas Said untuk pergi ke bukit kecil di Matesih. Ia ingin tahu, apakah yang akan dikatakan oleh orang tua itu. Namun demikian Raden Mas Said tidak meninggalkan kewaspadaan. Ia segera memer intahkan petugas-tugas sandinya untuk meneliti keadaan Matesih. Apakah orang tua itu sekedar menjebaknya dengan mempersiapkan sepasukan kumpeni di sekitar bukit itu. “Tetapi kapankah hari-hari yang ditentukan itu paman?“ bertanya Raden Mas Said. “Tentu maksudnya bukannya sekedar hari-hari terakhir bulan ini” jawab Martapura “Tetapi, menurut dugaanku,bahwa saat ini Surakarta memang sedang dalam kegelapan. Seperti di dalamgelapnya malamtanpa bulan sama sekali” Raden Mas Said mengangguk-angguk. Lalu “Jadi, kapan aku harus datang?“ “Besok malam. Kita sudah berada di hari-hari terakhir dari bulan ini” “Tetapi apakah ini bukan berarti mengikat aku untuk selama t iga hari, dan selama itu sesuatu dapat terjadi?“ “Sebaiknya semua dipersiapkan dengan matang” “Baiklah paman. Aku serahkan semuanya kepada paman. Aku akan datang kebulkit itu” “Tidak sendiri. Raden Mas dapat menempatkan beberapa orang di sekitar bukit itu. Sejak hari ini” Demikianlah beberapa orang kepercayaan Raden Mas Said telah berangkat mendahuluinya ke Matesih, ke sekitar bukit kecil yang dikatakan oleh orang tua itu, sementara Raden Mas Said mempersiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan selama ia tidak ada di antara pasukannya. Dalam pada itu, selagi Raden Mas Said sibuk dengari teka- teki itu. Pangeran Mangkubumi telah menempatkan dir i tidak langsung di daerah Sukawati, tetapi di daerah Pandan Karangnangka. di daerah ini Pangeran Mangkubumi menempatkan pasukannya. Pasukannya yang masih belum banyak berkembang, tetapi yang memang sudah dipersiapkannya lebih dahulu. Namun ternyata yang terbanyak di antara pasukan yang berada di sekitar daerah Pandan Karangnangka itu adalah para petani dari daerah Sukawati. Dalam pada itu, Kiai Sarpasrana yang dengan setia mengikut i jejak Pangeran Mangkubumi, telah berada pula di Pandan Karangnangka bersama murid-muridnya. di antaramereka termasuk Buntal. Anak muda yang dengan cepat mendapat kepercayaan dari Kiai Sarpasrana, karena sejak Buntal datang kepadanya, ia sudah membawa bekal yang cukup, yang diperolehnya dari padepokan Jati Aking. Dalam ketegangan itu, Kiai Danatirta di Jati Akingpun t idak dapat lagi menyembunyikan berkembangan keadaan Surakarta kepada anak perempuannya. Bahkan berita tentang kepergian Pangeran Mangkubumi dari Surakartapun telah didengarnya pula. “Ayah” berkata Arum kepada ayahnya “saatnya agaknya sudah datang. Aku harap kakang Buntal tidak ingkar” “Kenapa ingkar?“ bertanya ayahnya. “Bukankah kakang Buntal akan menjemputku dan membawaku ke Sukawati?“ “Semuanya sedang mulai. Tentu pasukan Pangeran Mangkubumi sedang menyiapkan diri. Jika semuanya sudah mapan, Buntal baru akan mendapat kesempatan untuk menjemputmu. Saat ini Pangeran Mangkubumi tentu sedang menyusun kekuatan di daerah Pandan Karangnaingka” “Ayah” bertanya Arum “Kenapa Pangeran Mangkubumi tidak langsung menyusun kekuatan di Sukawati?“ “Pangeran Mangkubumi mempunyai perhitungan medan yang cermat. Jika semuanya berada di Sukawati. maka apabila kumpeni dan pasukan Surakarta yang kuat mengepung daerah itu, maka pasukan Pangeran Mangkubumi akan mengalami kesulitan. Tetapi kini lawannya harus memperhitungkan dua pusat kekuatan Pangeran Mangkubumi yang tidak diketahui dengan pasti oleh lawan-lawannya. Yang manakah yang sebenarnya menjadi pusat kekuatan, dan dimanakah sebenarnya Pangeran Mangkubumi berada” Arum mengangguk. Lalu “Ayah. Aku sudah siap untuk berada di dalam lingkungan mereka”“Tetapi kau harus menunggu Arum. Kau tidak dapat berbuat sendiri” berkata ayahnya ”Bukan saja untuk menggabungkan dirimu, tetapi juga di padepokan ini kau harus tetap tersembunyi agar kau t idak mengalami kesulitan sebelum kau berada di antara pasukan pengawal Pangeran Mangkubumi” Arum memandang ayahnya sejenak. Kemudian sambil menundukkan kepalanya ia bergumam “Sampai kapan aku harus menunggu? Sampai perang selesai, atau sampai Raden Juwiring datang dengan sepasukan prajur it untuk menangkap kita?“ Kiai Danatirta merenung sejenak, lalu “Aku kira Raden Juwiring tidak akan melakukannya” “Siapa tahu ayah. Tentang kalung merjan itupun Raden Juwiring sudah menunjukkan sikap yang keras. Apalagi dalam keadaan yang gawat seperti sekarang” Arum berhenti sejenak, lalu “sedangkan kita sadar sepenuhnya, bahwa Raden Juwiring tentu mengetahui sikap kita menghadapi keadaan yang berkembang di Surakarta ini” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun ia berkata “Kau benar Arum. Tetapi setiap tindakan harus kita perhitungkan sebaik-baiknya. Kita akan menunggu Buntal. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Dan ia tahu benar, bagaimana ia harus menghargai waktu sebaik-baiknya apalagi di dalam keadaan seperti sekarang ini” Arum tidak menjawab lagi. Meskipun sebenarnya masih ada persoalan di dalam dir inya, tetapi ia akan mematuhi nasehat ayahnya. Menunggu sampai Buntal datang. Hari-hari terakhir adalah hari-hari yang panasnya memuncak di Surakarta. Para Senapati sudah siap menunggu perintah. Tetapi mereka tidak mengerti, apakah sebabnya, Kangjeng Susuhunan tidak segera menentukan sikap. Bahkan seakan-akan pintu istana itu menjadi tertutup karenanya.Tetapi akhirnya para Senapati itu mengetahui bahwa hampir setiap saat kereta para perwira kumpeni hilir mudik memasuki gerbang, “Mereka sedang menentukan sikap” berkata salah seorang Senapati. “Tetapi agaknya pendapat mereka belum bertemu” sahut yang lain. Sebenarnyalah kumpenipun hampir tidak sabar lagi menghadapi sikap Kangjeng Susuhunan. Nama-nama yang mereka kemukakan tidak mendapatkan persesuaian. Bahkan kadang-kadang Kangjeng Susuhunan Pakubuwana minta kepada kumpeni untuk merenungkan pendapat mereka dan dengan alasan kesehatannya, ia minta waktu barang sehari. “Terlambat” desis kumpeni “Jika Kangjeng Susuhunan tidak berbuat cepat, maka kami akan menjadi sangat cemas, bahwa kedudukan kami akan terancam di Surakarta” “Aku akan bertindak secepat-cepatnya” “Kelambanan inilah yang membahayakan kita semuanya” “Datanglah besok. Aku akan menentukan, apakah aku setuju dengan pendapatmu” Kumpeni tidak dapat memaksa. Kesehatan Kangjeng Susuhunan memang nampak memburuk. Wajahnya pucat dan kadang-kadang menjadi gemetar. Namun dalam pada itu. apabila Kangjeng Susuhunan itu telah berada di dalam biliknya, ia berdoa di dalam hatinya agar Tuhan memberikan perlindungan kepada Surakarta, tetapi juga kepada adiknya yang dikasihinya, Pangeran Mangkubumi. “Mudah-mudahan adikku selalu selamat. Mudah-mudahan ia menemukan jalan lurus menuju kebebasan yang dicita- citakannya”Tetapi Kangjeng Susuhunan tidak akan terus dapat menghindarkan diri dari suatu sikap. Para Senapati, para bangsawan dan kumpeni akhirnya tidak akan dapat dengan sabar menunggu. Jika Kangjeng Susuhunan tidak segera mengambil sikap, maka mereka tentu akan berbuat menurut keinginan mereka sendiri. Itulah sebabnya, maka Kangjeng Susuhunan tidak akan dapat mengelakkan dir i lagi. Namun dalam pada itu. Kangjeng Susuhunan mengharap di dalam hatinya “Mudah-mudahan Pangeran Mangkubumi telah hilang dari daerah jangkau kumpeni dan prajurit-prajur it Surakarta sebelum ia berhasil melindungi dirinya dengan kekuatan yang cukup” Tertundanya hari-hari untuk mengambil keputusan itu, telah membuat para pemimpin di Surakarta semakin tegang. Sehingga pada suatu hari mereka dipanggil menghadap untuk menentukan sikap selanjutnya. Tetapi sementara itu, saat-saat yang ditunggu Raden Mas Said telah berlalu. Selagi malam-malam yang menyelimuti Surakarta menjadi sangat kelam karena di langit tidak ada bulan, maka Raden Mas Said seperti yang sudah dijanjikan, benar-benar pergi ke bukit kecil di daerah Matesih. Para petugas sandinya telah meyakinkan, bahwa di daerah itu sama sekali tidak ada jebakan apapun yang dapat memancingnya ke dalam kesulitan. Malam-malam yang kelam sudah dilaluinya. di malam yang pertama Raden Mas Said tidak menjumpai apapun dan siapapun juga. Daerah di sekitar bukit yang rimbun oleh belukar yang liar itu nampak sepi. Angin malam yang basah mengusap dedaunan dan membuat suara gemerisik. Tetapi tidak seorangpun yang nampak di antara semak-semak. Tetapi Raden Mas Said tidak meninggalkan tempat itu. Ia berdiri saja di atas bukit itu dan kadang-kadang berjalanbeberapa langkah hilir mudik. Bahkan kemudian memang timbul niatnya untuk mesu diri, mendapatkan petunjuk dari Yang Maha Kuasa, apakah yang sebaiknya dilakukan menghadapi hari-hari terakhir di Surakarta. Apakah ia akan tetap berdiri terpisah dari Pangeran Mangkubumi, apakah ada jalan lain yang harus ditempuh, atau bahkan ia harus memusuhi Pangeran Mangkubumi yang justru dapat menghambat perjuangannya. Meskipun di malam pertama Raden Mas Said t idak mendapatkan apapun juga. namun rasa-rasanya ia menemukan kemantapan di dalam hatinya. Itulah sebabnya ia bertekad untuk berada di tempat itu, tiga hari tiga malam terus-menerus. Meskipun di siang hari berikutnya matahari membakar kepalanya, Raden Mas Said sama sekali tidak berteduh. Dibiarkannya kulitnya menjadi hitam lekam disengat oleh sinar yang bagaikan membara. Sedangkan di malam hari kemudian, dinginnya rasa- rasanya sampai menusuk tulang. Namun Raden Mas Said masih berada di atas bukit itu. Bahkan sejak ia berada di atas bukit kecil itu, masih tetap berdiri dan selangkah dua langkah berjalan hilir mudik di atas batu-batu padas. Pada malam kedua, Raden Mas Said sama sekali t idak mengharap lagi siapapun juga. Ia tidak mengharap lagi kedatangan orang tua yang pernah berjanji akan menemuinya di bukit ini. Raden Mas Said lebih condong kepada mendekatkan dir inya kepada Yang Maha Suci, agar mendapat petunjuk di dalam perjuangannya yang berat. Dipuncak permohonannya Raden Mas Said tidak lagi melangkah setapakpun. Ia berdiri dan tetap berdiri sambil menyilangkan tangan di dadanya. Kepalanya terangkat memandang kelebaran bintang di langit memandangkebesaran ciptaan Sang Khalik. Betapapun besar ilmu manusia, hampir tidak berarti bagi kebesaran Yang Maha Pencipta. Seperti setetes air di lautan. Namun dari padanya Raden Mas Said menemukan dirinya sendiri. Bahwa yang sedang dilakukan adalah sekedar usaha bagi kemanusiaan. Hubungan dengan sesama manusia dan juga hubungan dengan Sang Pencipta. Menjelang dini hari Raden Mas Said masih tetap berdiri. Ia masih tetap memandang bintang-bintang di langit. Bahkan seluruh perhatiannya seakan-akan telah diarahkannya kepada kebesaran Tuhan. Tuhan Yang Maha Besar. Meskipun demikian inderanya yang terlatih masih dapat mendengar desir langkah seseorang. Karena itu, maka perlahan- lahan Raden Mas Said seakan-akan kembali menjejakkan kakinya di atas tanah. Dan itu adalah naluri manusiawi yang masih belum mencapai kesempurnaan yang sejati. Dan dengan sadar Raden Mas Said menilai dir inya dan seksama. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang mampu mencapai kesempurnaan yang sejati. Yang Sempurna adalah Yang Maha Sempurna itu sendiri. Ketika Raden Mas Said kemudian menarik nafas dalam- dalam, dilihatnya sesosok bayangan di dalam kelamnya malam. Dan dalam selintas Raden Mas Said segera dapatmengenal, orang tua itulah yang telah datang kepadanya dan berjanji untuk bertemu di atas bukit ini. “Selamat malam Raden Mas Said yang pinunjul“ sapa orang tua itu. Raden Mas Said yang sudah masak jiwanya tidak terpengaruh sama sekali oleh kata-kata yang manapun juga. Karena itu ia menjawab “Selamat malam Kiai. Sebutan itu bukan seharusnya kau berikan kepadaku. Jangan membantah. Sebaiknya kita bersikap sebagai orang-orang tua” “Itulah yang mempesona aku Raden Mas. Dan itulah yang pinunjul” “Sudah cukup Kiai. Sekarang, apakah Kiai akan mengatakan sesuatu kepadaku. Tentang dir i Kiai, atau tentang Surakarta yang sedang kalut?“ Orang tua itu melangkah semakin dekat. Sementara itu Raden Mas Said masih tetap berdiri di tempatnya. “Raden Mas memang seorang yang mengagumkan” desis orang tua itu. “Segala puji hanya untuk Tuhan semesta alam, dan apakah pujian itu masih saja akan berkepanjangan Kiai. Aku minta Kiai mengatakan sesuatu” “Raden Mas” berkata orang tua itu “sebenarnya memang tidak ada yang akan aku katakan kepadamu selain tentang diriku sendiri” “Sebutlah dirimu” “Namaku Adirasa. Ajar Adirasa” “Adirasa” ulang Raden Mas Said. “Ya Raden Mas” “Kemudian““Aku berasal dari padepokan kecil di atas sebuah gumuk di tepi sungai Dengkeng” “Ya, dan setelah aku mengetahui namamu dan tempat tinggalmu?“ “Tidak ada apa-apa lagi. Hanya itulah yang akan aku katakan kepada Raden Mas” “Jadi hanya untuk mengenal namamu dan tempat tinggalmu aku harus berada di sini tiga hari tiga malam?“ “Sekarang baru malam kedua. Terserah kepada Raden Mas, apakah Raden Mas akan melanjutkan atau tidak di malam ketiga besok” Raden Mas Said termangu-mangu sejenak. Tetapi ia sama sekali tidak menjadi marah dan merasa diperolok-olokkan oleh Ajar tua itu. Bahkan kemudian timbul tanggapan di dalam dirinya, bahwa tentu ada sesuatu maksud yang terkandung dibalik sikap yang nampaknya seperti sekedar berolok-olok itu. “Nah Raden Mas” berkata Ajar Adirasa itu “Tidak ada yang perlu lagi aku katakan kepada Raden Mas. Selamat tinggal. Terserah kepada Raden Mas, apakah Raden Mas akan mengakhir i perbuatan sia-sia ini, atau menyelesaikannya genap tiga hari” Raden Mas Said tidak menjawab. Dipandanginya saja orang tua itu sehingga hilang di dalam kegelapan. Raden Mas Said menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya udara di ujung malam itu menjadi semakin dingin. Justru langit yang sudah menjadi semburat merah, seakan-akan menghisap semua panas yang ada di muka bumi, sehingga bumi akan menjadi beku karenanya. Tetapi Raden Mas Said tetap berdiri di tempatnya. Ia telah menyilangkan tangannya kembali. Memandang kepada langit yang semburat merah di ujung Timur. Tetapi Raden Mas Said tetap berdiri tegak.Namun demikian, pikiran Raden Mas Said tidak lepas dari sikap yang aneh dar i orang tua yang menyebut dirinya Ajar Adirasa itu. “Jika tidak ada maksud tersembunyi, ia tidak akan berbuat segila itu” berkata Raden Mas Said di dalam hatinya. Dengan demikian, maka tekadnya menjadi semakin bulat untuk tetap berada di tempat itu sampai akhir malam ketiga. Matahari yang kemudian terbit di langit dan merayap semakin tinggi, seakan-akan telah membakar bukit kecil itu bersama Raden Mas Said di atasnya. Tetapi Raden Mas Said seolah-olah sama sekali tidak merasa, betapa sinar matahari menyengat kulitnya Demikianlah Raden Mas Said justru mengikuti putaran perjalanan matahari, sambil berdir i sejak terbit sehingga terbenamdi ujung Barat Ketika matahari kemudian tenggelam di bawah Cakrawala, maka kembali udara malam yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum. Tubuh Raden Mas Said yang baru saja terbakar oleh panas matahari, rasa-rasanya menjadi nyeri dan pedih karena gigitan udara yang dingin. Namun betapapun juga, rasa-rasanya Raden Mas Said bagaikan menunggu sesuatu di atas bukit ku. Meskipun tidak ada yang menjanjikannya, tetapi rasa-rasanya bahwa akan ada sesuatu terjadi pada malam itu. Karena itu maka Raden Mas Said semakin tekun merenungi malam yang gelap dan dirinya sendiri di dalamnya. Seakan- akan ia berada di dalam satu dunia yang asing, dunia yang sendiri. Di sekelilingnya hanyalah kegelapan yang hitam. Yang tampak olehnya adalah gemerlapnya bintang di langit yang bertebaran dari ujung cakrawala sampai ke ujung cakrawala. Semakin dalam malam yang kelam, Raden Mas Said menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi tidak ada sesuatuyang terjadi. Tidak ada tanda-tanda apapun yang dilihat atau didengarnya, selain pertanda bunyi malamyang ngelangut. Tetapi Raden Mas Said ternyata adalah orang yang tabah. Betapapun juga ia tidak berkisar dari tempatnya. Setiap waktu ia berharap, tetapi setiap waktu dilaluinya tanpa ada persoalan apapun juga. Meskipun demikian Raden Mas Said tidak kehilangan kesabaran. Ia masih tetap berdiri dan bersilang tangan di dada. Bahkan setelah malam hampir sampai pada akhirnya, Raden Mas Said sampai pada suatu keadaan yang tiada berpengharapan lagi. Namun demikian malam itu akan diakhir inya sampai tuntas. Tetapi bagi Raden Mas Said, ternyata ada sesuatu yang didapatkannya dalam ketiadaan apa-apa itu. Ia ternyata memiliki ketabahan yang telah diuj inya sendiri. Ia mempunyai jiwa yang keras dan tidak lekas berputus asa. Ketika fajar menyingsing, barulah Raden Mas Said menar ik nafas dalam-dalam dan beranjak dari tempatnya. Namun justru pada saat itu ia melihat sesuatu. Beberapa langkah saja dari tempatnya ia melihat bayangan yang kehitaman. Bukan bayangan seseorang, tetapi sesuatu yang teronggok di tanah. Debar jantung Raden Mas Said menjadi semakin keras memukul dinding dadanya. Tetapi ia tidak tergesa-gesa mendekatinya. Dengan tajamnya ia mengamati bayangan itu dari tempatnya berdiri. Ia menjadi heran bahwa ia tidak mendengar sama sekali gemerisik langkah seseorang, atau desir dedaunan. Bayangan hitam itu telah begitu saja berada di tempatnya. Sejenak kemudian maka Raden Mas Saidpun yakin, bahwa yang dihadapinya adalah benda-benda mati, karena ia tidakmendengar desah nafas dan tidak merasakan getar kehidupan sama sekali. Namun dengan demikian, ia menjadi semakin heran, bahwa benda-benda itu dengan tiba-tiba saja telah berada di sana. Menurut perhitungannya, ia tentu mendengar desir langkah seseorang, jika ada yang dengan sengaja meletakkan benda-benda itu di situ. Sekilas terkenang olehnya orang tua yang menyebut dirinya Kiai Adirasa. Dengan dada yang berdebar-debar ia bertanya kepada diri sendir i “Apakah Kiai Adirasa yang aneh itu yang telah meletakkan Barang-barang itu di situ?“ Sejenak Raden Mas Said membeku di tempatnya. Namun matahari yang semakin membayang di langit, kemudian menguakkan kegelapan yang menyelimuti bukit itu. Perlahan-lahan Raden Mas Said mendekatinya. Namun demikian ia masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Bahkan seakan akan ia berkata kepada diri sendiri “Itu tentu suatu jebakan. Mungkin Barang-barang itu dapat meledak seperti senjata kumpeni” Dengan demikian maka langkah Raden Mas Saidpun terhenti sejenak. Tetapi ia tidak meninggalkan benda-benda itu. Dalam keragu-raguan itulah maka sekali lagi Raden Mas di kejutkan oleh kehadiran seseorang tanpa diketahuinya. Ia menyadari bahwa seseorang berdiri beberapa langkah di belakangnya ketika orang itu tertawa perlahan-lahan. Dengan sigap Raden Mas Said meloncat menghadap suara itu dan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi yang dihadapinya adalah seorang yang berpakaian kusut di balik bayangan sebuah gerumbul, di atas kepalanya terletak sebuah tutup kepala yang agak lebar berujung runcing.Sekali lagi Raden Mas Said heran. Seharusnya ia dapat mendengar langkah seseorang yang tidak begitu jauh di belakangnya. Telinganya adalah telinga yang terlatih baik. Namun ternyata bahwa ia sama sekali tidak mengetahui kehadirannya. “Siapa kau?“ bertanya Raden Mas Said dengan ragu-ragu, karena ia sadar, bahwa orang itu tentu memiliki banyak kelebihan dari orang kebanyakan. Orang itu tertawa. Beberapa helai daun pohon perdu menutup wajahnya yang kehitam-hitaman sehingga Raden Mas Said tidak dapat memperhatikannya dengan jelas. “Apakah kau yang menyebut dirimu Adirasa?“ “Bukan Raden Mas. Aku tahu bahwa Kiai Ajar Adirasalah yang telah memberikan petunjuk agar Raden berada di tempat ini, di malam-malamterakhir bulan ini” Raden Mas Said t idak segera menjawab. Ia mencoba memandang wajah orang itu. Tetapi setiap saat, orang itu berusaha membayangi wajahnya dengan dedaunan. “Apakah kau mengenal Ajar Adirasa?“ bertanya Raden Mas Said kemudian. “Ya, aku mengenal Raden Mas” ”Kau tentu seperti Kiai Ajar Adirasa yang berusaha menyelubungi dir inya dengan rahasia. Tetapi aku masih akan mencoba barangkah kau termasuk orang biasa. Siapa kau?“ Orang itu tertawa. Katanya “Sebaiknya Raden Mas tidak usah bertanya. Jawabku tentu tidak akan memberikan kepuasan bagi Raden Mas. Yang penting, silahkan Raden Mas mengambil Barang-barang itu” “Apakah Barang-barang itu, dan apakah kau yang telah meletakkannya di situ?“ “Bukan”“Jadi siapa?“ “Pertanyaan Raden Mas sia-sia. Ada seribu jawab yang dapat aku berikan. Tetapi Seribu nama itu tidak penting bagi Raden Mas” “Kenapa? “Silahkan Raden Mas melihat, Barang-barang itu barangkali berguna bagi Raden Mas” Raden Mas Said termangu-mangu. Namun kemudaan mendekati benda-benda itu dengan hati-hati. Selain ia memperhatikan benda itu dengan saksama, Raden Mas Saidpun harus berhati-hati. Mungkin orang itu bermaksud buruk, dan tiba-tiba saja ia menyerangnya. Tetapi orang itu tidak beranjak dari tempatnya. Perlahan- lahan Raden Mas Said melangkah semakin dekat. Dilihatnya selembar kain menyelubungi sesuatu. Sejenak Raden Mas Said termangu-mangu, namun kemudian selubung itu dibukanya perlahan-lahan. “Sebuah panji-panj i” desis Raden Mas Said. Dan ketika ia mengamati benda yang sudah berselubung lagi, ia berkata pula “sebuah kerangka genderang” Raden Mas Said termenung sejenak sambil mengamati kedua macam benda itu berganti-ganti. Lamat-lamat ia masih mendengar seseorang berkata “Selembar panj i-panji bernama Kiai Duda dan kerangka genderang bernama Kiai Slamet. Nah, barangkali dalam keadaan kemelut seperti sekarang. keduanya mempunyai arti bagi Raden Mas” Raden Mas Said masih termenung. Dengan ragu-ragu dirabanya kerangka genderang itu. Benar-benar sebuah kerangka genderang dar i kayu. “Apakah artinya ini?“ ia berdesis. Tetapi tidak seorangpun yang menjawab.“Apakah maksudnya?“ Raden Mas Said mengulang. Tetapi yang terdengar hanya desir angin yang lembut. Karena tidak ada juga jawaban dari orang yang berdiri di belakang gerumbul itu, maka Raden Mas Saidpun kemudian berpaling. Tetapi sekali lagi ia terkejut sehingga darahnya serasa berhenti mengalir. Orang yang berdiri di belakang bayangan dedaunan itu sudah tidak ada lagi di tempatnya. Hampir di luar sadarnya Raden Mas Saidpun meloncat mencarinya. Beberapa buah gerumbul telah dilihatnya. Namun ia tidak dapat menemukan seorangpun. “Bukan main“ Ia bergumam “Tentu bukan orang kebanyakan. Orang itu tentu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain” Dalam kebimbangan itu Raden Mas Said melangkah perlahan-lahan kembali ke tempat benda-benda yang diketemukan di atas bukit itu. Benda-benda itu masih tetap ada di tempatnya. “Siapa?“ pertanyaan itu selalu kembali mengganggunya. Namun tiba-tiba wajah Raden Mas Said yang mulai memucat setelah selama tiga hari ia berada di atas bukit kecil itu berkerut. Sesuatu agaknya telah melintas di dalam kepalanya. Sambil memandang gerumbul yang tidak begitu lebat, tempat orang yang memakai tutup kepala yang runcing itu berdiri, Raden Mas Said mulai mencoba membayangkankembali wajahnya. Wajah orang itu, yang kotor dan sedikit tertutup oleh dedaunan, “Apakah ia telah dengan sengaja menemui aku di sini “ Raden Mas Said bergumam. Ketika ia berpaling dan memandang dua buah benda yang teronggok itu, hatinya berdesir. Seperti di luar sadarnya ia berkata “Apakah ini suatu isyarat, bahwa semuanya harus segera dimulai?“ Raden Mas Said untuk beberapa saat berdiri dalam kebimbangan. Namun kemudian ia mengambil kedua benda yang disebut bernama Kiai Duda dan Kiai Slamet itu sambil mereka-reka di dalam hatinya “Tentu bukannya tanpa maksud bahwa yang aku ketemukan di sini adalah sebuah panji-panji dan beraneka genderang” ia tertegun sejenak, lalu “orang itu, apakah mataku sudah kabur karena aku berada di sini tiga hari tiga malam pati-geni tanpa makan dan dipanggang di panas matahari di siang hari dan dibekukan oleh embun di malamhari?“ Dada Raden Mas Said berdebaran ketika mulutnya bergerak dan menyebut “Orang itu agaknya mirip sekali dengan pamanda Pangeran Mangkubumi” Namun Raden Mas Said tidak dapat meyakinkannya karena orang itu sudah tidak ada lagi. Karena itu maka iapun kemudian membawa dua buah benda yang diketemukannya itu turun dari bukit kecil tempat ia mesu diri selama tiga hari tiga malam. Tiba-tiba saja Raden Mas Said merasakan bahwa langkahnya mulai lamban. Sekali-sekali ia terpaksa berpegangan pada batang pohon-pohon perdu. Namun ia masih bertahan karena kekuatan tubuhnya yang luar biasa. Meskipun selama tiga hari ia berdir i di atas bukit tanpa makanan yang berarti, namun ia masih tetap menguasai keadaan dirinya sebaik-baiknya.Hanya kadang-kadang terasa kakinya bergetar. Tetapi dengan imbangan niat yang besar, maka semuanya itu seakan-akan tidak mengganggunya sama sekali. Ketika Raden Mas Said telah turun dari bukit kecil itu dan berjalan beberapa langkah, mulailah ia menyadari bahwa beberapa orang pengawalnya ada di sekitar bukit itu untuk mengawasi apabila terjadi kecurangan kumpeni dan sengaja menjebaknya. Atau orang-orang yang telah diupah oleh mereka. Dengan demikian, maka yang pertama-tama dilakukan oleh Raden Mas Said adalah mencar i mereka itu dan bersama-sama meninggalkan daerah Matesih. Seorang demi seorang pengawalnya dapat dijumpainya di tempat yang sudah ditentukan. Yang lainpun kemudian dipanggil pula oleh kawan-kawannya dan berkumpul mengerumuni Raden Mas Said yang duduk di atas sebuah batu. Dengan singkat Raden Mas menceriterakan apa yang dilihat dan didengarnya. Tentang dua orang yang aneh itu dan tentang dua buah benda yang aneh ini pula. Para pengawalnya tidak dapat memberikan tanggapan apapun selain mengangguk-angguk dengan herannya, karena tidak seorangpun dari para pengawal itu yang melihat seseorang naik ke atas bukit kecil yang diawasinya itu. “Kita harus segera kembali ke induk pasukan kita” berkata Raden Mas Said. “Apakah keadaan Raden Mas sudah memungkinkan?“ bertanya salah seorang pengawalnya. “Kenapa tidak?“ Raden Mas Salur menyahut, namun kemudian “Tetapi cobalah, carikan aku setitik air untuk membasahi mulutku”“Mungkin Raden Mas memerlukan makan?“ Raden Mas menggeleng. Demikianlah maka seseorang dari antara para Pengawal itupun mencari air dari sebuah mata air yang jernih. Dengan air itu Raden Mas Said membasahi mulut dan kerongkongannya beberapa titik saja. Tetapi yang beberapa titik itu ternyata telah membuat tubuh Raden Mas Said menjadi segar, dan bahkan seakan-akan segala kekuatannya telah menjadi pulih kembali, “Apakah Raden Mas tidak ingin makan meskipun hanya sesuap nasi?“ pengawalnya masih bertanya. “Sudah aku katakan, aku tidak akan makan sekarang” jawab Raden Mas Said, lalu “Aku sudah selesai. Marilah kita kembali menemui paman Martapura. Apakah kalian mendengar sesuatu telah terjadi selama aku berada di atas bukit?” Para pengawal djtu berpandangan sejenak, lalu salah seorang dari mereka menjawab “Tidak Raden Mas. Kami belum mendengar perkembangan baru yang terjadi di Surakarta” “Apakah Kangjeng Susuhunan dan kumpeni sudah mulai bertindak terhadap Pangeran Mangkubumi?“ “Kami belum mendengar“ Raden Mas Said mengangguk-angguk. Katanya “Mudah- mudahan belum ada tindakan apa-apa. Baik atas Pangeran Mangkubumi maupun atas kita” Para pengawalnya tidak menyahut. “Marilah kita tinggalkan tempat ini. Aku ingin berbicara dengan paman Martapura tentang benda-benda yang aku dapatkan di atas bukit kecil itu dan sekaligus tentang orang- orang aneh yang aku temui di atas bukit itu pula”Demikianlah maka merekapun segera meninggalkan bukit itu dan menuju ke tempat yang mereka rahasiakan. Tempat yang dipergunakan oleh Pangeran Martapura memegang pimpinan selama Raden Mas Said tidak ada di antara anak buahnya. Para pengawal Raden Mas Said benar-benar menjadi heran. Hanya oleh beberapa titik air, rasa-rasanya Raden Mas Said sudah pulih kembali. Tidak ada bekas-bekas sama sekali padanya, yang menunjukkan bahwa ia baru saja melakukan mesu raga selama tiga hari pati-geni. Wajahnya sudah nampak menjadi merah kembali, dan sorot matanya menunjukkan kegairahannya atas masa-masa yang mendatang. Meskipun demikian, ketika mereka lewat di rumah seorang pengikut Raden Mas Said yang dengan sandi tetap berada di lingkungannya, maka Raden Mas Saidpun memerlukannya singgah. Agar tidak. menimbulkan kecur igaan, maka para pengawalpun telah berpencaran. Sebagian mendahului, sebagian lagi berada di belakang dan berhenti di bawah pohon yang rindang, seperti seorang pejalan yang sejenak berlindung dari teriknya matahari. Di tempat itu Raden Mas Said mendapat sebuah kelapa muda. Airnya semakin menyegarkan tubuhnya, dan kelapa muda yang kemudian dimakannya telah memberikan kekuatan baru padanya. Karena itulah maka perjalanan berikutnya menjadi semakin lancar dan cepat. Namun malam itu Raden Mas Said masih belum langsung menjumpai Pangeran Martapura. Ia masih harus berhenti dan ber istirahat pada seorang pengikutnya yang lain yang dalam tugas sandinya pula tetap berada di rumahnya bersama keluarganya. Pada malam itu Raden Mas Said telah memerintahkan para pengawalnya untuk mencari keterangan, apakah yang telah terjadi di Surakarta.Sementara itu, Kangjeng Susuhunan telah mengambil keputusan yang sangat mengejutkan. Bukan saja para Senapati, tetapi juga para pemimpin pemerintahan. Kangjeng Susuhunan ternyata demikian terpengaruh oleh pendapat kumpeni, sehingga memutuskan mengangkat seorang Senapati yang mengecewakan sekali. Beberapa orang Senapati yang menghadap Kangjeng Susuhunan dan mendengar keputusan itu menjadi bertanya- tanya di dalam hati, apakah yang dapat dilakukan oleh seorang Senapati yang masih muda dan yang hanya mempercayakan kemampuannya pada olah perang yang disadapnya dari kumpeni. Meskipun lia sendiri selalu membawa senjata api berlaras pendek yang diselipkan di lambungnya, namun senjata itu t idak akan berguna sama sekali untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi. “Kenapa Pangeran Yudakusuma” bertanya seorang Senapati kepada seorang kawannya. Kawannya menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak tahu. Tetapi agaknya kumpenilah yang mendesak agar Kangjeng Susuhunan mengangkat seorang Senapati yang dapat dikendalikan oleh kumpeni” “Tetapi ia tidak akan berarti sama sekali” “Mungkin apabila ia harus berhadapan dalam perang tanding. Tetapi jika terjadi perang, bukannya perang tanding. Perang antara pasukan dalam jumlah yang cukup besar. Dan Senapati yang terpilih itu tentu akan mempergunakan cara yang baru bagi Surakarta. Cara yang sudah selalu kita pakai, dengan gelar-gelar perang yang sesuai dengan kekuatan prajurit kita akan digabungkannya dengan cara orang-orang asing itu bertempur dalam garis datar. Sejauh-jauhnya dalam gelar yang mir ip dengan Wulan Punanggal” Para Senapati itu tidak menanggapi lebih jauh lagi. Tetapi hampir setiap orang di antara mereka berpendapat, bahwapengangkatan itu benar-benar atas desakan kumpeni, karena Pangeran Yudakusuma adalah seorang Pangeran yang dekat sekali dengan kumpeni. Tetapi lepas dari kemampuannya, setiap orang mengakui bahwa Pangeran yang masih cukup muda ini memiliki keberanian dan ketegasan sikap. Bahkan sebenarnya ia bukannya seorang yang amat lemah dibandingkan dengan Senapati-Senapati sebayanya. Ia memiliki perhitungan yang jauh dan berani mengambil sikap dalam keadaan yang sulit. Demikianlah maka Surakarta telah menetapkan seseorang yang akan memimpin prajur itnya yang akan menghadapi segala kemungkinan dengan kepergian Pangeran Mangkubumi dari istananya dengan diam-diam. Meskipun hampir setiap prajurit menganggap bahwa keputusan itu terlampau lambat datangnya, dan yang ternyata mengecewakan, tetapi itu lebih baik daripada tidak mengambil sikap apapun. Apalagi para petugas sandi sudah selalu melaporkan, bahwa Pangeran Mangkubumi telah benar-benar menyusun kekuatan prajurit. Setiap hari para petugas sandi melihat beberapa orang berdatangan. Tetapi yang masih belum dapat diketahui dengan pasti, aoakah Pangeran Mangkubumi ada di Sukawati atau berada di daerah Pandan Karangnangka. Keduanya merupakan daerah yang harus diperhitungkan. Ternyata Pangeran Yudakusuma yang masih cukup muda itu mampu bergerak cepat. Dalam waktu yang singkat sesaat setelah ia diangkat menjadi Senapati Agung menghadapi keadaan yang buram di Surakarta itu, ia telah memanggil para Senapati untuk bertemu. Keputusan tentang pengangkatannya Itu telah disambut dengan dingin oleh Pangeran Ranakusuma. Tetapi sebagai seorang prajurit Pangeran Ranakusuma tetap mematuhi kuwajibannya. Ia ditetapkan menjadi Senapati pengapit disayap kiri, gelar apapun yang akan disusunnya di dalam keadaan medan yang akan dihadapi kelak. Sedang Senapatipengapit yang seorang lagi disayap kanan adalah seorang Senapati yang cukup masak dan berpengalaman meneguk pahit getirnya peperangan. Senapati itu adalah Tumenggung Sindura. Seorang Tumenggung yang meskipun bukan seorang bangsawan pada tingkat pertama, namun memuliki kemampuan yang selalu diperhitungkan oleh Surakarta. Dan agaknya Pangeran Yudakusuma mempercayakan kekuatannya pada kemampuan Tumenggung Sindura. Jika benar-benar Pangeran Mangkubumi t idak dapat dilukai dengan peluru senjata api kumpeni, maka adalah menjadi tugas Tumenggung Sindura untuk melawannya. Tumenggung Sindura mempunyai pusaka yang dapat diandalkan. Sebilah ker is yang sangat disegani oleh setiap orang yang pernah melihatnya. Keris yang disebutnya Kiai Cangkring. Tetapi tidak seorangpun yang dapat dengan pasti menghubungkan keris itu dengan keris yang pernah menggetarkan Singasari karena kutukan mPu Gandring. yang membuat keris itu, sehingga beberapa orang telah terbunuh karenanya. “Tidak seorangpun yang tahu dengan pasti bentuk dan ujud dari Kiai Cangkring yang dibuat oleh mPu Gandring itu” berkata seorang Senapati “sehingga kita tidak akan dapat mengatakan apakah keris Tumenggung Sindura itu berasal dari mPu Gandr ing” Meskipun para Senapati selengkapnya telah disusun di dalam perang yang besar di saat yang tepat, namun Pangeran Yudakusuma memutuskan untuk memberikan tekanan- tekanan sebelumnya kepada setiap kedudukan Pangeran Mangkubumi dengan bagian-bagian dari seluruh pasukan. Dengan demikian Surakarta akan dapat menjajagi kekuatan Pangeran Mangkubumi mes kipun tidak dengan pasti. “Kita akan mengirimkan pasukan pasukan untuk mendekati daerah pertahanannya. Kita harus tahu sebelumnya, di daerah dan padukuhan yang manakah kekuatan Pangeran Mangkubumi terpusat. Baik bagi induk kekuatannya di Sukawati maupun di Pandan Karangnangka. Kita akanmemancing benturan-benturan kecil sebelumnya, sehingga pada suatu saat kita yakin akan kemampuannya. Pada saatnya kita akan memukul kekuatan terbesarnya. Tetapi dengan sekali pukul kita tidak boleh gagal. Jika kita gagal, maka yang akan terjadi adalah peperangan yang berkepanjangan. Sementara kita dapat mengabaikan kekuatan Said dan Martapura. Karena itu, kita harus secepatnya menyelesaikan Kamas Mangkubumi” Beberapa orang Senapati segera menyatakan persetujuannya. Untuk langsung bertindak atas Pangeran Mangkubumi akan sama artinya dengan meloncat ke dalam gelap tanpa mengetahui betapa dalamnya jurang yang diloncatinya. Dengan demikian maka Senapati Agung yang sudah ditentukan itupun segera memer intahkan kepada para Senapati untuk mempersiapkan pasukan masing-masing. Setiap saat palsukan itu dapat diperintahkan untuk maju mendekati pertahanan Pangeran Mangkubumi dalam kelompok-kelompok kecil. “Tetapi kita tidak akan mengorbankan kelompok-kelompok kecil itu sehingga tumpas dibantai oleh para petani dan orang- orang kasar yang sudah dapat dipengaruhi oleh Pangeran Mangkubumi” berkata Pangeran Yudakusuma “karena itu, maka pasukan berkuda akan penting artinya di setiap keadaan. Setiap kelompok pasukan akan disertai oleh beberapa orang dari pasukan berkuda yang dapat menghubungkan pasukan yang sedang bergerak itu dengan induk pasukan yang segera akatn membuat perkemahan di luar kota menghadapi pusat-pusat pertahanan Pangeran Mangkubumi” Seorang Senapati yang berkumis lebat kemudian bertanya “Kenapa harus dibuat perkemahan di luar kota?“ “Jika Pangeran Mangkubumilah yang mengamlbil prakarsa menyerang Surakarta, maka kita tidak akan mengorbankankota. Karena kelengahan kita Kartasura sudah hancur di dalam geger Pacina yang mengejutkan itu. Karena itu, maka sekarang, setiap gerbang kota dan jalur-jalur jalan harus mendapat pengawasan yang kuat” jawab Pangeran Yudakusuma. Para Senapatipun mematuhi perintahnya. Mereka menempatkan dir i di bawah pimpinan tunggal yang telah ditetapkan oleh Kangjeng Susuhunan. Pangeran Ranakusuma yang lebih tua disegala bidangpun tidak banyak mempersoalkannya. Ia jalankan perintah Pangeran Mudakusuma sebaik-baiknya. Dihimpunnya pasukan yang ada di bawah perintahnya. Sebagian dari mereka adalah pasukan berkuda. Sekelompok dari pasukan berkuda itu di bawah pimpinan seorang anak muda yang paling dipercayanya Raden Juwiring. Surakarta bagaikan bangkit dari tidurnya. Betapapun diusahakan untuk tetap memelihara ketenangan, namun kesibukan para prajurit telah membuat hati penduduknya menjadi gelisah. Apalagi setelah mereka mengetahui bahwa Pangeran Mangkubumi telah lolos, disusul oleh Pangeran Hadiwijaya dan kemudian ternyata telah lenyap pula Pangeran Wijil. Dengan prihatin Kangjeng Susuhunan memperhatikan perkembangan keadaan. Dengan prihatin pula ia setiap kali mendengarkan laporan tentang persiapan yang sudah diambil oleh Pangeran Yudakusuma. “Aku tidak menyangka, bahwa orang itu dapat berbuat selincah itu” berkata Kangjeng Susuhunan kepada dir i sendir i. Tetapi Kangjeng Susuhunanpun telah menduga, bahwa Pangeran Yudakusuma tentu banyak mendapat nasehat dari perwira-perwira kumpeni. Dalam pada itu, semua yang berkembang di Surakarta, di dalam istana Kangjeng Susuhunan dan di luar istana telahdidengar oleh Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumipun telah menerima laporan pula, bahwa yang kemudian memegang pimpinan tertinggi pasukan Surakarta yang dipersiapkan untuk menindasnya apabila ia benar-benar mempergunakan kekerasan senjata adalah Pangeran Yudakusuma. “Aneh” berkata seorang Senapati yang berada di pihak Pangeran Mangkubumi “Tidak seorangpun memperhitungkan bahwa yang akan memegang pimpinan kemudian adalah Pangeran Yudakusuma” “Kenapa aneh?“ bertanya Pangeran Mangkubumi. “Pangeran Yudakusuma bukan seorang Senapati yang dapat disejajarkan dengan Pangeran Ranakusuma. Bahkan di medan perang, Tumenggung Sindura yang menjadi Senapati pengapitnya bersama Pangeran Ranakusuma, adalah Senapati yang lebih mantap meskipun ia bukan seorang Pangeran” “Pangeran Ranakusuma sudah terlampau tua” berkata Pangeran Mangkubumi. “Ah, tentu belum Pangeran” sahut Senapati itu “Ia masih sanggup berhubungan dengan adik isterinya itu dengan sembunyi-sembunyi. Dan ia adalah Senapati yang berpengalaman. Mungkin Tumenggung Sindura karena derajatnya tidak dapat memer intah para Pangeran. Tetapi bahwa yang terpilih Pangeran Yudakusuma adalah mengherankan sekali. Masih ada nama-nama yang pantas”Pangeran Mangkubumi tersenyum. Katanya “Tetapi menurut pengamatanmu, siapakah di antara mereka yang paling cakap mempergunakan gelar dan tata peperangan yang mirip dengan kumpeni?“ Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Memang Pangeran Yudakusuma sengaja mempelajari cara tata gelar seperti orang asing itu” Dan ia lebih percaya kepada senjata api berlaras pendek itu daripada kerisnya yang disebutnya bernama Kiai Sampir. Keris yang sebenarnya sangat berwibawa itu” “Benar Pangeran. Dan itulah lawan yang dihadapkan kepada Pangeran” “Bagiku akan lebih baik. Aku lebih senang j ika Panglima pasukan Surakarta itu langsung dipegang oleh orang asing. Dengan demikian, maka aku tidak akan dipengaruhi lagi oleh keragu-raguan dan lebih banyak dibayangi oleh hubungan keluarga, karena para Senapati itu adalah saudara-saudaraku sendiri” Senapati itu mengangguk-angguk. Ia mengerti betapa beratnya perasaan Pangeran Mangkubumi. Kangjeng Susuhunan adalah kakaknya yang justru mengasihinya. Tetapi ternyata bahwa jalan mereka telah bersimpang. Sementara itu. Raden Mas Said telah kembali pada induk pasukannya. Kepada Martapura, Raden Mas Said segera menunjukkan benda-benda yang didapatnya di atas bukit kecil itu. “Siapakah yang memberikan benda-benda ini kepada Raden Mas?” bertanya Martapura, Raden Mas Said menggelengkan kepalanya. Kemudian diceriterakannya, bagaimana ia mendapatkan benda-benda itu.Martapura merenungi panji-panj i dan kerangka genderang itu sambil mencoba menebak teka-teki yang rumit itu. Namun agaknya ia tidak segera berhasil. “Jadi pada saat anak mas mendapatkan benda itu anak mas dengan pasti melihat seseorang di atas bukit itu pula?“ “Ya paman” “Anak mas” berkata Martapura “kadang-kadang kita terganggu oleh bayangan-bayangan yang sebenarnya hanya ada di dalamangan-angan kita. Apalagi dalam keadaan seperti yang terjadi pada anakmas saat itu sesudah tiga har i tiga malam melakukan pati geni” “Ah“ desah Raden Mas Said “Aku tetap sadar tentang diriku dan keadaan di sekelilingku. Panji-panj i dan kerangka genderang inipun bukan sekedar Barang-barang yang hanya ada di dalam angan-angan kita” “Dan seperti yang kau ceriterakan, orang itu rasa-rasanya pernah kau kenal?” “Ya. Orang itu pernah aku kenal. Apalagi aku tahu bahwa pamanda Pangeran Mangkubumi sering mempergunakan pakaian seorang petani. Kadang-kadang seorang perantau” Martapura mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya “Raden Mas Said. Agaknya tidak ada pilihan lain bagi Pangeran Mangkubumi. Siapapun orang yang kau lihat, tetapi kau telah mendapatkan isyarat itu. Kau harus menegakkan panji-panji yang selama ini sudah kau kibarkan, dan kau harus mencanangkan genderang perang melawan orang-orang asing yang sudah kau mulai. Saat itu sudah tiba. Dan kau sudah sepantasnya bekerja bersama dalam satu langkah dengan Pangeran Mangkubumi. Kedua benda yang kau temukan itu adalah isyarat gaib yang kita terima dengan jelas” Raden Mas Said mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa tidakada perbedaan pokok dar i perjuangannya dengan perjuangan Pangeran Mangkubumi. Jika sebelumnya mereka tidak berjalan teriring, karena mereka mempunyai pertimbangan- pertimbangan tersendir i. Tetapi bukan perbedaan pada pangkal pendirian mereka. Ternyata kedua benda itu telah semakin mendekatkan hati Raden Mas Said kepada pamandanya, seolah-olah kedua benda itu merupakan aba-aba untuk menjunjung panj i-panji perjuangannya semakin tinggi, dan mengemandangkan genderang perang keseluruh wilayah Surakarta. Dari ujung sampai ke ujung. Namun demikian baik Raden Mas Said maupun Pangeran Mangkubumi masih belum mengadakan hubungan secara resmi. Agaknya mereka masing-masing masih akan memperhitungkan kemungkinan. yang diambil oleh Surakarta dan kumpeni. Namun mereka telah berusaha untuk saling mengisi apabila benar-benar terjadi benturan bersenjata. Dan karena itulah sebabnya maka Raden Mas Said dan Martapura kemudian bergeser dan menempatkan kekuatan di sebelah Utara. Dan karena Martapura semula adalah Bupati Grobogan yang tidak berseda tunduk kepada kekuasaan kumpeni yang semakin besar di Surakarta, maka sumber kekuatan Martapura adalah dukungan rakyat Grobogan, ditambah dengan rakyat di daerah daerah yang pernah dilalui oleh pasukannya yang mengerti arti perjuangannya bersama Raden Mas Said. Dua pemusatan pasukan yang besar itu memang harus diperhitungkan oleh Panglima pasukan Surakarta dan kumpeni. Tetapi arah pandangan Pangeran Yudakusuma yang pertama-tama adalah Pangeran Mangkubumi. Yang terjadi kemudian di sekitar Surakarta adalah kesibukan para prajurit. Pasukan Surakarta telah mulai mempersiapkan dir i di luar kota dan di sepanjang perbatasan. Padukuhan-padukuhan kecil di perbatasan merupakan pemusatan pasukan yang terpencar tetapi di bawah satuperintah. Setiap kali pasukan yang terpencar itu akan segera mampu berkumpul di tempat yang sudah ditentukan. Namun demikian setiap kelompok pasukan mempunyai tanggung jawab mereka sendiri sesuai dengan susunan tangga pimpinan mereka. Seperti yang direncanakan, maka Pangeran Yudakusumapun mulai mengir imkan peronda-peronda dalam jumlah yang cukup besar mendekati daerah yang dianggapnya berbahaya. Bahkan sebagian dari para peronda itupun telah memasuki padukuhan Jati Sari pula. Kiai Danatirta yang tinggal di padukuhan terpencil tidak dapat melepaskan dir i dari perkembangan keadaan itu. Bahkan ia harus menyaksikan pasukan Surakarta yang setiap saat memasuki padukuhannya. “Ayah” berkata Arum ketika ia bertemu dengan beberapa orang prajurit di jalan pulang dari sawah “prajurit-prajurit itu nampaknya sudah dalam kesiagaan perang” Ayahnya tidak merasa perlu untuk menyembunyikan keadaan, karena anaknya tentu sudah mendengarnya pula. Maka katanya “Ya Arum. Keadaan memang sudah menjadi gawat. Bahkan sudah merayap hampir sampai ke puncak” “Tetapi kakang Buntal sama sekali tidak memberi kesempatan kepadaku untuk ikut serta di dalam perjuangan ini. Jika sampai saatnya kakang Buntal masih tetap berdiam diri, aku akan datang sendiri menghadap Senapati dari pasukan Pangeran Mangkubumi yang paling dekat“ Ayahnya menarik nafas. Namun kemudian katanya “Arum. Kau memang berhak ikut di jalani perjuangan membebaskan Surakarta dari kekuasaan orang-orang asing yang semakin lama terasa semakin dalam mencengkam. Tetapi kau tidak dapat berbuat dengan tergesa-gesa. Tunggulah dengan sabar, bahwa pada saatnya kau akan mendapat kesempatan. Jika kau tidak berada di antara pasukan yang sudah siap untukbertempur itu. bukan berarti bahwa kau t idak akan mendapat kesempatan. Mungkin kau dapat melakukannya dengan cara lain” “Apakah yang dapat aku lakukan di sini ayah? Menunggu sampai aku tidak dapat mencetak lagi karena pasukan berkuda yang dipimpin oleh Raden Juwiring itu menangkapku” Ayahnya menggeleng. Katanya “Percayalah, bahwa Raden Juwiring tidak akan menangkapmu. Bagaimanapun juga ia adalah saudara seperguruanmu” “Ayah tidak melihat, bagaimana ia mengancamku hanya karena kalung merjan itu” Ayahnya memandang gadis yang sedang dibakar oleh hasrat perjuangannya. Memang Arum memiliki kelainan dari gadis-gadis kawannya bermain. Gadis-gadis itu pada umumnya hanya dapat berdesah dengan cemas, karena mereka tidak mempunyai bekal untuk berbuat lebih banyak daripada menyediakan makan dan minum apabila mereka terhimpun di dalam pasukan yang sedang berjuang itu. Tetapi Arum mampu bermain pedang. Namun demikian ayahnya masih juga menyabarkannya sambil berkata “Tunggulah untuk beberapa lama Arum. Buntal tentu akan segera datang” “Surakarta sudah mengangkat seorang Senapati besar ayah. Keadaan sudah demikian gawat. Seperti yang ayah lihat prajurit Surakartalah yang justru sudah berkeliaran di sini. Bukan dar i pasukan Pangeran Mangkubumi atau dari pasukan Raden Mas Said” “Aku mengerti Arum. Tetapi kau harus menunggu” Arum t idak menjawab lagi. Ia masih ingin memenuhi permintaan ayahnya dalam satu dua hari. Tetapi jika keadaan memaksa ia merasa lebih aman berada di antara pasukan bersenjata Pangeran Mangkubumi bersama Buntal daripadaberada di padukuhannya. Setiap saat Raden Juwiring dapat bertindak, karena Raden Juwiring mengetahui bahwa ia memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu. “Tetapi apakah sekedar didorong oleh hasrat untuk berjuang semata-mata?“ tiba-tiba saja timbul pertanyaan di dalam hatinya. Meskipun tidak ada orang lain yang mengerti pertanyaan yang melonjak di dalam hati itu, namun wajah Arum menjadi kemerah-merahan. Ia tidak dapat ingkar, bahwa sebenarnya bukan saja karena ia ingin menyumbangkan tenaganya bagi tanah tercinta, tetapi juga didorong oleh perasaan yang kadang-kadang disembunyikannya sendir i. Namun demikian, semakin lama menjadi semakin nyata bagi dirinya sendiri, bahwa ia merasa lebih tenang berada di dekat Buntal Tetapi sebagai seorang gadis ia terpaksa menahan diri. Ia masih harus menjaga agar ia t idak kehilangan kepribadiannya sebagai seorang gadis meskipun ia memiliki kelainan di dalam olah kanuragan. Karena itulah, maka Arum masih tetap berada di padukuhannya. Seperti biasa ketika matahari terbit, Arum sibuk membersihkan rumahnya, sementara beberapa orang pembantu rumahnya sibuk membersihkan halaman dan yang lain bekerja di dapur. Jika kemudian matahari semakin tinggi, Arum pergi bersama beberapa orang kawan-kawannya berbelanja di ujung padukuhannya, untuk menyiapkan makan yang akan mereka bawa ke sawah menjelang siang hari. Tetapi ketika itu, gadis-gadis padukuhan Jati Sari menjadi ketakutan. Mereka yang sudah berada di depan gardu tidak berani meneruskan langkahnya menuju ke ujung padukuhan untuk berbelanja. “Ada apa?“ bertanya Arum yang kemudian juga datang sambil membawa bakul kecil.“Pasukan berkuda” desis seorang gadis “Aku melihatnya sepasukan berkuda di bulak di luar padukuhan ini “ Dada Arum menjadi berdebar-debar. “Apakah pasukan yang pernah datang kemari untuk mengurus merjan itu?“ bertanya Arum “Bukankah kalian mengenal kakang Juwiring? Apakah pasukan itu dipimpin oleh kakang Juwiring juga” “Kami tidak dapat melihat dengan jelas” sahut gadis yang lain, yang juga melihat pasukan berkuda itu di luar padukuhan. Arum termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Tentu mereka tidak akan mengganggu kita. Mereka hanya meronda” Tetapi kawan-kawannya masih tetap termangu-mangu. “Aku akan menengoknya” berkata Arum “Jika agaknya mereka t idak berbahaya, aku akan pergi berbelanja juga. Siapa ikut?“ “Tetapi apakah mereka tidak akan menangkap kita?” “Kita lihat dari balik regol. Tentu kita akan dapat menduga, apakah mereka akan berbuat jahat atau tidak. Tetapi seharusnya mereka justru melindungi kita dari ketakutan di masa yang kalut ini” Gadis-gadis itupun saling memandang yang satu dengan yang lain. Kemudian salah seorang berkata “Baiklah. Marilah kita lihat. Mungkin mereka hanya akan lewat. Persoalan merjan itu agaknya sudah tidak akan mereka ulangi lagi” Demikianlah gadis-gadis itupun kemudian pergi berir ingan ke mulut lorong. Ketika mereka sampai ke regol, maka merekapun kemudian mencoba untuk melihat apa yang dilakukan oleh sekelompok pasukan berkuda yang berhenti di bulak di dekat padukuhan Jati Sari.Tetapi mereka tidak melihat apakah yang sedang mereka lakukan selain berdiri berkelompok. Nampaknya mereka sedang beristirahat. Mereka mengikat kuda-kuda mereka pada pohon-pohon perdu di pinggir jalan. “Mereka tidak berbuat apa-apa” desis Arum. “Ya. Mereka hanya berdiri saja dalam kelompok-kelompok kecil bertebaran” Gadis-gadis itu berdesakan di sisi regol sambil berlindung. Namun mereka ingin melihat apa yang dilakukan oleh prajurit- prajurit itu. Namun sejenak kemudian barulah gadis-gadis itu tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. Kelompok-kelompok prajurit itu ternyata terbagi dalam tiga arah di simpang tiga. “He, kau lihat beberapa orang itu?“ “Kumpeni“ “Ya“ sahut yang lain. Yang baru dapat melihat kumpeni itu setelah para prajurit berpencar. “Beberapa orang” desis yang lain pula. Arum menarik nafas dalam-dalam. Ternyata di antara prajurit itu terdapat beberapa orang kumpeni. Kedatangan mereka di Jati Sari tentu bukannya tanpa maksud. Namun yang membuat Arum agak tenang, bahwa di antara mereka tidak terdapat Raden Juwiring. Tetapi tiba-tiba ia berkata kepada diri sendiri di dalam hatinya “Siapa tahubahwa kakang Juwiring justru menugaskan orang lain untuk menangkap aku, karena ia sendiri tidak mau melakukannya karena perasaan segan terhadap ayah“ Sementara itu gadis-gadis yang sedang mengintip dari balik dinding regol itu melihat, bahwa prajurit-prajurit itu mulai menghentikan orang-orang yang berjalan di bulak itu. Orang- orang yang sudah terlanjur berada di jalan itu. “Mereka merampas segala jenis senjata” desis seorang gadis. “Ya. Keris, pedang dan bahkan parang pembelah kayu yang dibawa oleh para petani ke sawah” Arum menjadi semakin berdebar-debar. Iapun melihat, prajurit-prajurit itu merampas senjata yang dibawa oleh orang-orang yang lewat dan akan pergi ke sawah. Beberapa orang yang berkeras mempertahankan senjatanya, terutama keris, agaknya harus mengalami perlakuan yang kasar. “Keris itu tentu bernilai tinggi. Jika bukan karena tuahnya, tentu pondoknya dari emas” berkata seorang gadis pula. “Mungkin. Tetapi juga karena kumpeni dan prajurit-prajurit itu menjadi ketakutan bahwa senjata-senjata itu dapat dipergunakan untuk melawan mereka. Sekarang setiap orang dicurigai, bahwa mereka berada di pihak Pangeran Mangkubumi atau Raden Mas Said” sahut Arum. Kawan-kawannya berpaling kepadanya. Namun merekapun kemudian mengangguk. Demikianlah untuk beberapa saat gadis-gadis itu melihat apa yang terjadi. Satu dua orang yang lewat tidak akan dapat lolos lagi. Meskipun mereka memberikan alasan apapun juga. “Aku memer lukan senjata untuk melindungi dir i di perjalanan“ seseorang mencoba mempertahankan senjatanya.Tetapi ia tidak mampu mengelak ketika para prajurit itu memaksanya. Apalagi ketiga orang kumpeni itu agaknya tidak dapat diajak berbicara lagi. Bahkan kadang-kadang merekalah yang nampaknya memimpin para prajur it Surakarta. Hati Arum menjadi panas. Tetapi ia t idak dapat berbuat apa-apa. Seperti kawan-kawannya iapun masih tetap berlindung di mulut regol. “Apakah kita akan pergi berbelanja?“ t iba-tiba seseorang berdesis. “Kita pergi ke ujung lewat lorong- lorong di dalam padukuhan dan melintas halaman” sahut yang lain. Gadis-gadis itupun berpikir sejenak. Dan Arumpun kemudian menjawab “Marilah. Tetapi hati-hati” Sejenak mereka masih melihat kumpeni-kumpeni itu hilir mudik di jalan di hadapan padukuhan itu. Kemudian dengan hati-hati mereka beringsut dan meninggalkan tempat itu. Dengan tergesa-gesa mereka berjalan lewat lorong-lorong sempit dan kadang-kadang melintasi halaman-halaman rumah. “He, kenapa kalian berjalan beriringan lewat lorong-lorong sempit?“ bertanya seseorang. “Kami akan pergi berbelanja” “Kenapa lewat lorong ini, dan tidak melalui jalan di pinggir padesan?“ “Ada prajurit-prajurit berkuda dan kumpeni” “O“ yang bertanya itupun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian setelah gadis! itu meneruskan perjalanannya, orang itu membisikkannya ke telinga tetangganya. Demikianlah berita itu segera tersebar. Juga orang-orang yang urung pergi ke sawah setelah dari mulut padukuhanmereka melihat prajurit-prajurit itu. Hanya mereka yang sudah terlanjur sajalah yang tidak dapat kembali lagi untuk menghindari kecur igaan. Namun yang terjadi itu telah sangat menggelisahkan. Bukan saja penghuni padukuhan Jati Sari, tetapi orang-orang yang lewat membawa ber ita itu sampai ke tempat yang jauh. Mereka yang kehilangan ker is dan senjata-senjata merekapun dengan sangat bernafsu menceriterakan. bagaimana prajur it- prajurit Surakarta dan kumpeni telah merampas senjatanya. Ternyata yang terjadi tidak hanya di daerah Jati Aking. Tetapi pada saat yang hampir bersamaan, di sekitar kita Surakarta telah dilakukan hal yang serupa. Terutama di daerah yang diduga sering dilalui oleh orang-orang yang berpihak kepada Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said. Sikap prajurit-prajurit Surakarta itu ternyata benar-benar telah menggerakkan hati setiap orang yang masih memiliki harga diri. Apalagi di antara para prajurit itu terdapat beberapa orang asing, yang bahkan seakan-akan berkuasa atas prajurit-prajurit Surakarta sendiri. Ketika Arum kembali dar i ujung padukuhannya, maka ceriteranya tentang prajurit-prajurit itu mengalir seperti banjir. Bahkan kemudian sambil berdiri dan menghentakkan tangannya ia berkata “Ayah. Apakah kita masih harus berdiam diri?” “Tidak Arum” sahut ayahnya “Kita tidak boleh berdiam dir i. Tetapi kita harus mulai pada saat yang tepat” “Ayah. Daerah ini tentu sudah mendapat perhatian lebih dari daerah-daerah yang lain. Ternyata mereka melakukan hal itu tepat di hadapan padukuhan ini. Tentu mereka dengan sengaja melakukannya untuk menekan perasaan dan barangkali keberanian untuk berpihak kepada Pangeran Mangkubumi”“Aku mengerti Arum. Tetapi apakah yang dapat kita lakukan. Kita memang sedang menunggu Buntal” Arum termangu-mangu sejenak, Jalu “Tetapi ayah, jika prajurit Surakarta itu tetap mengadakan pengawasan terus menerus atas daerah ini, apakah kakang Buntal akan dapat memasuki padepokan ini dengan aman?“ “Ah, kau aneh Arum. Jalan memasuki padukuhan ini bukan hanya satu. Buntal tentu akan dapat memilih jalan. Jalan dari arah lain dapat juga sampai ke padepokan ini” Arum tidak menyahut. Tetapi ia masih diliputi oleh kecemasan. Jika Buntal t idak menyadari siapa yang ada di sepanjang jalan itu, maka ia akan dapat terjebak. Apalagi jika di antara para prajurit itu ada yang mengenalnya, baik di padepokan ini pada masa hidupnya Raden Rudira, atau selama Buntal berada di Ranakusuman bersama dengan Juwir ing dan dirinya sendir i. Kegelisahan itu memuncak ketika Arum mengetahui bahwa para prajurit itu masih tetap berada di bulak sampai lewat tengah hari. Bukan saja Arum mengurungkan niatnya untuk pergi ke sawah. tetapi juga digelisahkan oleh kemungkinan yang buruk apabila Buntal datang. “Ayah” berkata Arum kemudian “Kita setiap saat mengharap kedatangan kakang Buntal. Sehingga mungkin sekali kakang Buntal datang pada saat yang demikian” Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya iapun telah tersentuh oleh kekhawatiran yang sama. Tetapi ia masih mencoba menyembunyikannya. Maka katanya “Buntal mempunyai ketajaman pandangan seorang prajur it. Dengan demikian ia akan dapat melihat apa yang akan terjadi jika ia mendekati prajurit-prajurit yang ada di tengah bulak itu. Jangan kau cemaskan. Tetapi j ika prajurit-prajur it itu berada di bulak itu sampai petang hari, maka barulah kita mulai mencemaskannya”Arum mengangguk-angguk meskipun ia kurang yakin. Jika Buntal terlanjur memasuki jalur jalan di bulak itu. dan kemudian karena ia tidak mau terjebak, dan mencoba menghindar, maka sekelompok dari prajur it itu akan mengejarnya. Tetapi Arum mencoba menenteramkan hatinya. Ia mencoba untuk mempercayai ayahnya, karena ayahnya memiliki pengalaman dan pengetahuan yang jauh lebih banyak daripadanya. “Jika ayah masih belum mencemaskannya, akupun t idak perlu cemas“ Arum mencoba menenangkan hatinya sendiri. Karena itu, Arum ingin melupakannya dengan kesibukan di dapur. Seperti biasanya jika ia tidak pergi ke sawah, maka iapun ikut memasak di dapur. Bahkan ialah yang menyiapkan makan bagi ayahnya, sedang para pembantunya tinggal menyiapkan makan buat para pekerja dan penghuni padepokan itu yang lain. Namun selagi Aram sibuk memotong kangkung, tiba-tiba saja ia terkejut. Ia mendengar derap kaki kuda memasuki halaman rumahnya, sehingga karena itu. maka iapun segera meloncat berlari ke ruang dalam. “Ayah” desisnya “Siapakah yang datang?“ Ayahnya termangu-mangu sejenak. Kuda itu telah berhenti di halaman. “Aku akan menengoknya” desis ayahnya ”Aku akan berganti pakaian” “Tunggu, kita lihat siapakah yang datang. Jika tidak perlu, kau tidak usah mengenakan pakaian laki- laki itu” Dengan hati yang berdebar-debar Kiai Danatirtapun melangkah ke pintu. Namun belum lagi ia membuka pintu depan, seorang pembantunya memasuki ruangan itu daripintu butulan sambil berkata “Kiai, Buntal dan seorang kawannya telah berada di halaman” “Buntal” ulang Kiai Danatirta. Dan Arumpun terlonjak sambil berdesis “Kakang Buntal“ Keduanyapun kemudian dengan tergesa-gesa keluar ke pendapa. Seperti yang dikatakan oleh pembantunya, yang datang adalah Buntal dan seorang kawannya. “Buntal” suara Kiai Danatirta bergetar “Mar ilah. Naiklah” Buntal dan kawannya itupun kemudian naik ke pendapa. Dengan dada yang berdebar-debar Arum ikut pula menemui kedua tamunya. Namun hatinya menjadi agak tenang ketika ia melihat wajah Buntal yang tetap cerah. Sama sekali tidak nampak kegelisahan dan kecemasan yang membayang ditatapan matanya. “Apakah kau melampaui prajur it-prajurit yang berada di bulak itu Buntal?“ bertanya Kiai Danatirta pertama-tama. “Ah. tentu tidak ayah. Aku lewat arah lain. Mereka tidak melihat kami” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Demikian juga Arum. Dan karena itu maka Kiai Danatirta bertanya pula “Jadi, kau mengambil jalan yang mana?“ “Aku memotong jalan kecil yang langsung masuk ke padepokan ini ayah, sehingga kami telah dilindungi oleh padukuhan Jati Sar i dari penglihatan prajurit-prajur it itu” “Apakah kau sudah mengetahui bahwa di bulak itu ada prajurit-prajurit Surakarta, bahkan beberapa orang kumpeni?” “Justru aku mendapat perintah untuk mengawasi mereka dari padukuhan ini. Kiai Sarpasrana mengetahui bahwa aku berasal dari Jati Aking. Maka akulah orangnya yang paling tepat untuk mengawasi mereka”“Jadi Kiai Sarpasrana sudah mengetahuinya?” “Kami mendapat laporan tentang kegiatan prajurit-prajurit Surakarta itu. Dan kamipun segera berpencar” “Berpencar? Maksudmu?” “Prajurit Surakarta yang berada di bawah pengaruh kumpeni hari ini melakukan kegiatan serentak. Tidak hanya di hadapan padukuhan Jati Sari. Tetapi di beberapa tempat, mereka merampas senjata orang-orang yang lewat, siapapun mereka” Kiai Danatirta mengangguk. Kini ia mendapat gambaran bahwa sebenarnya peperangan memang sudah dimulai. di beberapa tempat kumpeni sudah memancing persoalan. “Apakah mereka merasa terlampau kuat untuk berbuat demikian Buntal?“ bertanya Kiai Danatirta. “Mungkin ayah. Tetapi yang penting, mereka menjajagi kekuatan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said” “Darimana kau tahu?“ Buntal tersenyum. Jawabnya kemudian “Aku mendapat perintah dan pemberitahuan dari atasanku ayah” Kiai Danatirta mengangkat keningnya, lalu “Apakah kau mendapat perintah untuk melakukan sesuatu?” “Ya ayah. Kita memang sudah mulai. Kita harus menunjukkan bahwa kita meniiliki kemampuan untuk melawan mereka” Kiat Danatirta memandang wajah Buntal sejenak. Tetapi wajah itu nampaknya justru membayangkan kecerahan seperti anak-anak yang akan bermain gobak dimakm terang bulan. “Jadi apa yang akan kau lakukan Buntal?““Kita akan menyerang mereka ayah. Tetapi kita harus dapat membuat kejutan bagi prajurit Surakarta dan kumpeni itu” “Maksudmu?“ “Kita harus menghancurkan mereka ayah” “O“ wajah Kiai Danatirta menjadi tegang ”Jadi kau mendapat perintah untuk membinasakan prajurit-prajur it Surakarta itu?“ “Tidak ayah. Perintah itu tidak berbunyi demikian. Agaknya Pangeran Mangkubumi tidak sampai hati untuk memulai dengan pembantaian terhadap saudara-saudara sendiri” “Jadi apa yang harus kau lakukan?“ “Kami harus dapat memecah kesatuan itu. Mencerai beraikan mereka untuk memberikan kesan bahwa kami cukup kuat untuk melawan orang asing dan pengaruhnya di Surakarta. Tetapi perintah itu disertai pesan, jangan menimbulkan kematian sejauh dapat dihindari” Dengan tiba-tiba saja Arum memotong “Per intah yang sangat sulit. Kau tidak boleh membunuh, tetapi bagaimana jika mereka membunuhmu?“ “Kami mengerahkan pasukan dalam jumlah yang besar. Kami harus dapat menguasai mereka sebaik-baiknya. Memecah mereka dan mencerai-beraikan. Sesudah itu, kita tinggalkan mereka dengan kesan bahwa kekuatan kami tidak akan dapat terlawan” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Tetapi sebelum ia bertanya Arum sudah mendahului “Apakah kakang juga akan berbuat demikian terhadap pasukan yang ada di depan regol itu?“ “Ya Arum” “Kakang hanya berdua”“Ada sepasukan laskar yang sudah siap. Aku hanya akan mengawasi mereka. Aku dapat melihat gerak-gerik mereka yang ada di bulak itu dari padukuhan ini. Pada saatnya aku akan memberikan isyarat” “Kakang akan menyergap mereka di bulak itu?“ bertanya Arum “Tentu kakang akan meninggalkan kesulitan bagi padukuhan ini. Mereka tentu akan melepaskan dendam mereka terhadap padukuhan di sekitarnya. Apalagi apabila jatuh korban di antara mereka. Tetapi Buntal tertawa sambil menjawab “Tidak Arum. Kita sudah memperhitungkan segala-galanya. Kita menunggu mereka kembali ke Surakarta. Aku akan memberikan isyarat. Dan kami akan menyergap mereka di pinggir hutan perburuan itu” “O“ tiba-tiba wajah Arum menjadi cerah, katanya “Aku ikut bersamamu kakang” Tetapi wajah itu segera menjadi tegang ketika ia melihat Buntal menggelengkan kepalanya “Tentu tidak mungkin Arum. Aku akan berada di dalam sebuah pasukan. Pasukan yang sudah memiliki bentuknya. Kehadiranmu akan dapat menimbulkan persoalan. Apalagi sebagian terbesar dari mereka belum mengenalmu. di dalam pertempuran yang riuh, maka akan dapat timbul salah paham” “Aku akan memakai ciri seperti orang-orang di dalam pasukanmu“ “Itupun tidak akan banyak menolong. Lawan yang dihadapi adalah Kumpeni prajurit Surakarta yang terlatih baik. Sehingga pertempuran yang akan terjadi adalah pertempuran yang seru” Arum menjadi kecewa sekali. Tetapi ia tidak lagi memaksanya ketika ayahnyapun kemudian berkata “Kehadiranmu hanya akan menambah beban kakakmu Buntal. Bukan karena kau tidak mampu menjaga dirimu, tetapikehadiranmu akan menimbulkan perhatian khusus bagi kawan-kawannya, agar mereka tidak keliru di dalam perang brubuh yang mungkin terjadi” Arum t idak menyahut. Namun di wajahnya yang kemudian tertunduk, nampaklah ia menjadi sangat kecewa. Dalam pada itu, maka Kiai Danatirtapun kemudian bertanya pula kepada Buntal “Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang? Apakah kau akan pergi ke bulak itu?“ “Ya ayah. Aku akan melihat mereka. Jika kekuatan mereka jauh melampaui kekuatan kami, maka akupun harus member ikan isyarat sebelumnya, agar segala sesuatunya dapat disiapkan” “Baiklah. Kami akan membantu apa yang dapat kami lakukan“ “Aku hanya akan menitipkan kuda-kuda kami ayah. Dan kami akan pergi ke regol untuk melihat prajurit-prajurit di bulak itu“ “Arum” berkata Kiai Danatirta “barangkali sekarang kau dapat ikut kakakmu. Agaknya dengan demikian akan mengurangi perhatian banyak orang terhadap Buntal yang sudah lama tidak kelihatan di padepokan ini” Arum memberengutkan wajahnya Katanya “Aku hanya boleh ikut sampai ke regol. Tetapi aku tidak boleh ikut kebutan perburuan itu”“Lain kali akan datang saatnya Arum” Arumt idak menjawab. Tetapi iapun kemudian berdiri. “He, kau akan kemana Arum” bertanya ayahnya “Berganti pakaian ayah“ “Tidak usah. Kau dengan pakaianmu itu. Pergilah, kawani kakakmu Buntal. Jika kau berganti pakaian, justru kaulah yang akan menarik perhatian. Kau tidak akan berbuat apa-apa selain mengintip prajurit-prajurit di bulak itu” Arum menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian duduk lagi di sebelah ayahnya Sejenak kemudian Buntalpun minta dir i untuk pergi ke regol padukuhan melihat apa yang akan dilakukan oleh prajur it- prajurit Surakarta dan beberapa orang kumpeni itu, bersama seorang kawannya dan Arum. Di regol, ketika Arum belum ada di sebelahnya, kawan Buntal berbisik di telinganya “Siapakah gadis itu? Kenapa ia ingin ikut ke medan j ika terjadi perang?“ Buntal tersenyum. Jawabnya “Adikku. Ia memang anak nakal sekali. Peperangan dianggapnya seperti sebuah permainan saja. Dikiranya di peperangan ada sesuatu yang menarik hati” “Ah, kau bohong. Tentu ada sesuatu yang membuatnya percaya kepada diri sendir i, bahwa ia akan dapat menjaga diri” Buntal masih saja tersenyum. Tetapi ia tidak sempat menjawab karena Arum sudah ada di antara mereka sambil berkata “Marilah. Tetapi apakah mereka masih ada di sana?“ Ketiganyapun kemudan meninggalkan halaman padepokan Jati Aking menyusur jalan padukuhan Jati Sari. Beberapa orang sempat berpaling memandang kepada ketiga anak-anakmuda itu. Tetapi mereka tidak banyak menaruh perhatian, karena mereka sudah mengenal dua di antara mereka. Namun demikian, timbul pula di hati mereka pertanyaan “Kemana saja anak-anak itu? Bukankah di bulak ada beberapa orang prajurit dan bahkan kumpeni yang sedang merampas senjata orang-orang yang lewat?“ Tetapi mereka tidak menanyakannya kepada anak-anak muda itu. Sejenak kemudian Arum bersama Buntal dan kawannya telah sampai ke regol padukuhan. Dari balik dinding batu mereka memperhatikan setiap kemungkinan. Ketika mereka yakin bahwa tempat itu tidak akan mendapat banyak perhatian, maka merekapun kemudian mencari tempat yang baik untuk melihat tingkah laku para prajurit itu dari balik dinding batu dan rimbunnya dedaunan. “Tetapi seperti yang disebut dalam laporan itu” desis Buntal. “Apa?“ bertanya Arum. Buntal berpaling. Kemudian dipandanginya kawannya yang termangu-mangu. “Apa yang kau katakan?“ desak Arum. “Prajurit-prajurit itu. Yang dilakukan tepat seperti yang dilaporkan“ “Siapa yang melaporkan?“ bertanya Arumpula. “Seorang kawan” jawab Buntal. “Ya, tetapi siapa” “Petugas sandi Pangeran Mangkubumi” “Siapakah petugas sandi itu?““Ah“ Buntal berdesah “Kau belum mengenalnya, dan kau tentu tidak akan mengerti” “Tetapi aku ingin tahu. Barangkali aku pernah mengenalnya sebelum ia berada di pasukanmu” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Dan karena Buntal tidak segera menjawab, Arum mendesak “Aku sudah tahu, bahwa pasukan sandi t idak boleh disebutkan namanya dan kedudukannya kepada setiap orang. Tetapi kepadaku boleh. Bukankah aku bukan kaki tangan kumpeni” Buntal mengangkat keningnya. Lalu “Namanya Raksa“ “Bohong. Aku tahu kau berbohong karena kau tahu, bahwa kebohonganmu tidak ada artinya bagiku. Siapapun yang kau sebut tidak akan ada bedanya” Kawan Buntal tertawa. Baru saja ia bergaul dengan Arum, tetapi sifat gadis itu sangat menarik. Dan dengan sikap itu, ia semakin yakin, bahwa Arum bukan sekedar gadis padesan yang hanya pandai masak dan membawa makanan ke sawah. Tetapi ia t idak bertanya lebih banyak lagi. Buntal hanya dapat mengangkat keningnya. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dari tempat mereka, ketiga anak muda itu dapat melihat apa yang dilakukan oleh prajurit-prajurit itu. Karena sudah tidak banyak orang yang lewat, maka prajur it-prajurit itupun hampir tidak berbuat apa-apa selain berkeliaran. Ternyata orang yang lewat ke arah yang berbeda-beda telah memberitahukan ke segenap penjuru, bahwa jalan itu telah ditunggui oleh prajur it-prajurit yang merampas senjata apa saja. Bahkan keris dan pendok yang berharga. Ternyata mereka tidak sedang mencari senjata untuk mengamankan kedudukan mereka saja, tetapi juga emas dan berlian yang melekat pada ukiran dan pendok keris. “Mereka tentu akan segera pergi” desis Arum tiba-tiba.“Ya. Mereka sudah tidak berbuat apa-apa lagi. Tetapi mungkin mereka masih menganggap perlu berada di tempat itu sampai sore” sahut Buntal. “Sebentar lagi senja akan turun” berkata kawan Buntal. Tetapi ketika mereka menengadahkan wajah ke langit, dilihatnya matahari masih cukup tinggi. Namun Buntal berkata “Kita mengharap mereka akan berada di tempat itu sampai menjelang gelap. Kita akan menunggu dan memecah pasukan mereka. Semakin gelap semakin baik. Tetapi apabila mereka kembali di sore haripun, apaboleh buat” Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menyahut. Untuk beberapa lamanya ketiga anak muda itu masih mengawasi prajur it-prajurit di simpang tiga itu, karena mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk mencegat mereka. Namun ternyata bahwa prajurit-prajurit itu tidak segera pergi. Mereka membawa bekal makan mereka untuk sehari. Menjelang sore, prajurit-prajurit itu mulai membenahi pasukan mereka. Mereka mulai berkumpul meskipun masih belum meninggalkan tempat itu. Beberapa orang pemimpin mereka sedang membicarakan beberapa masalah yang barangkali penting. Namun t idak lama kemudian, merekapun segera menyusun diri dalam barisan. “Lihat” berkata Buntal “susunan barisan itu sama sekali tidak seperti susunan gelar yang kita kenal bagi pasukan di medan. Susunan itu adalah susunan prajur it orang-orang asing itu” “Memang ada perbedaan” sahut kawannya. “Nah, sebentar lagi mereka akan pergi. Mar ilah kita mendahului” “Bagaimana dengan jumlah itu?““Tidak terlampau banyak. Kita akan segera dapat menyelesaikan” Arum yang mendengar pembicaraan. itupun segera bertanya “Apakah kalian akan pergi ke hutan perburuan di tepi jalan ke Surakarta atau ke Sukawati” “Ah” sahut Buntal “Tentu jalan ke Surakarta. Prajurit- prajurit itu adalah prajur it Surakarta yang akan kembali ke Surakarta, tidak ke Sukawati” Arum tidak menyahut. Tetapi nampak keningnya berkerut merut. “Marilah” berkata kawan Buntal “Kita mendahului mereka. Kita harus mempersiapkan diri” Buntal mengangguk, jawabnya “Mar ilah” “Tetapi kalian harus makan dahulu. Tentu para pelayan sudah masak untuk kalian” Buntal dan kawannya saling berpandangan sejenak. Tetapi Buntal memberi isyarat sambil berkata “Baiklah. Kita akan makan dahulu” Demikianlah maka ketiganyapun dengan tergesa-gesa kembali ke padepokan. Jati Aking. Seperti saat mereka pergi, maka di saat mereka kembali, tidak seorangpun yang memperhatikan mereka dengan sungguh-sungguh. Bahkan satu dua orang bergumam “Anak-anak muda itu agaknya memang kurang kerja. Apakah untungnya mengintip prajur it- prajurit yang sedang marah itu. Jika mereka mengetahui, maka akibatnya tentu akan disesalinya” Dalam pada itu ketiga anak muda itu langsung naik ke pendapa. Ketika Kiai Danatirta mempersilahkan mereka duduk Buntal berkata “Kita akan segera mendahului prajurit-prajur it itu ayah. Kita harus mempersiapkan diri menjelang mereka lewat”Kiai Danatirta mengangguk kecil. Tetapi Arum berkata “Kalian harus makan dahulu. Kita sudah terlanjur menangkap empat ekor gurameh sebesar kau“ Buntal memandang Arumsejenak. Lalu sambil tersenyum ia berkata “Terima kasih Arum. Tentu kau tahu, bahwa aku tidak boleh terlambat” “Tetapi kau sudah berjanj i” “Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu“ Buntal justru bertanya “Apakah sebaiknya aku makan dahulu atau tidak?“ Sebenarnyalah Arum mengetahui bahwa mereka tergesa- gesa dan taruhannya adalah nyawa beberapa orang. Karena itu, ia tidak akan dapat menahan. Tetapi pertanyaan Buntal itu sangat menjengkelkan, sehingga iapun menjawab “Terserahlah kepada kakang. Mana yang baik, mana yang tidak” Buntal tertawa. Dan kawannyapun tertawa pula. Sifat Arum semakin menar ik perhatiannya. “Baiklah Arum” berkata Buntal “Aku memang tergesa-gesa. Tetapi jika kau tidak berkeberatan, aku ingin membawa empat ekor gurameh itu. Kawan-kawanku tentu akan senang sekali mendapatkannya” Arum masih memberengut. Tetapi iapun kemudian pergi ke dapur, dan dengan tergesa-gesa membungkus empat ekor ikan gurameh itu. Sejenak kemudian maka kuda kedua anak muda itu sudah berpacu. Mereka mengambil jalan seperti pada saat mereka datang. Mereka harus mendahului prajur it-prajurit itu sampai ke hutan perburuan. Dalam pada itu, para prajurit yang berada di bulak panjang di hadapan padukuhan Jati Sari itupun telah bergerak pula. Tetapi nampaknya mereka tidak terlalu tergesa-gesa, sehinggakemudian barisan berkuda yang menyusuri jalan di tengah sawah itupun tidak ber lari terlampau cepat. Karena itulah maka Buntal telah sampai lebih dahulu di hutan perburuan. Dengan singkat ia melaporkan apa yang dilihatnya selama ia berada di Jati Sari. “Jadi mereka sudah bergerak?“ bertanya seorang yang telah berjanggut putih meskipun masih nampak tegap dan tangkas. Ialah yang saat itu mendapat tijgas untuk memimpin sekelompok pasukan Pangeran Mangkubumi yang bertugas merusak barisan prajur it dari Surakarta meskipun per intah itu masih diberi sedikit keterangan, jangan menimbulkan kematian pada prajur it Surakarta jika tidak per lu sekali, kecuali orang-orang asing itu. “Ya paman” jawab Buntal “sebentar lagi mereka akan sampai di ujung hutan ini” Orang berjanggut putih itu menengadahkan wajahnya. Tetapi langit masih cukup terang meskipun bayangan yang memerah sudah mewarnai langit. “Apakah mereka akan datang sebelum gelap?“ “Ya” sahut Buntal. “Kita akan menahan mereka di sini. Gelap atau belum. Kita akan bertempur seperti yang dipesankan oleh Kiai Sarpasrana. Karena Pangeran Mangkubumi tidak menghendaki korban yang terlampau banyak” “Perintah yang sulit sekali” jawab Buntal. “Ya. Kita akan mencobanya. Kita akan menyerang dan bertempur dengan cara yang lain. Kita tidak akan menghadapi mereka dalam satu gelar. Tetapi kita akan bertempur seperti burung sikatan. Menyerang, kemudian menghindar sementara orang lain telah menyerang pula”Buntal mengangguk lemah. Agaknya memang lebih mudah diucapkan dar ipada dilakukan. Meskipun demikian mereka harus mencoba. Mereka akan mempergunakan kecepatan bergerak untuk membuat lawan menjadi bingung dan kehilangan keseimbangan. Harapan terakhir, bahwa lawan akan terpancing dan terpecah-pecah dalam bagian-bagian yang kecil. Baru kemudian pasukan itu harus menyusun langsung ke dalam pasukan yang pecah itu dan mencerai beraikan mereka. Tetapi pemimpin yang berjanggut putih itu memper ingatkan pasukannya “Ingat. Yang kalian hadapi bukan anak-anak yang sedang mengejar bajing. Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit yang matang, yang telah mendalami ilmu keprajuritan, baik secara pribadi maupun secara bersama-sama dan gelar. Gelar yang kita pergunakan selama ini, dan gelar yang baru mereka sadap dari orang- orang berkulit putih itu” Setiap orang di dalam pasukan yang siap menunggu prajurit dari Surakarta itu termangu-mangu. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dada mereka. Agaknya kini mereka benar- benar telah berada dipersimpangan jalan dengan saudara- saudaranya yang masih tetap berada di dalam pasukan Surakarta. Apalagi di antara mereka terdapat beberapa orang kumpeni. Dada Buntalpun menjadi berdebar-debar. Ia mendapat kesempatan untuk menunjukkan, bahwa ia memiliki bekal yang cukup bagi perjuangan seperti yang sedang dilakukannya itu. Sejenak kemudian pasukan yang bersembunyi di hutan yang tidak terlampau lebat itu sudah siap. Dua orang berada di balik pepohonan di ujung hutan. Mereka harus memberikan isyarat apabila pasukan lawan mendekati hutan itu. Sejenak kedua pengawas itu menunggu. Dengan waspada mereka menatap jalan yang panjang di hadapan mereka.Namun ternyata yang terpandang oleh kedua orang itu bukannya jalan yang menjelujur itu saja, yang membelah tanah persawahan. Tetapi keduanyapun melihat batang- batang padi yang sedang tumbuh dengan suburnya di sebelah menyebelah jalan di luar hutan perburuan itu, di seberang padang rumput yang sempit. Jika pertempuran berkobar dengan sengitnya, dan berlangsung seperti yang direncanakan, maka padang rumput yang sempit itu tentu tidak akan dapat menampung pertempuran itu seluruhnya. Jika demikian, maka batang- batang padi yang subur itu akan segera menjadi berserakan diinjak oleh kaki-kaki kuda. Bahkan titik-titik darah akan menodai hijaunya daun padi yang terhampar sampai ke ujung cakrawala itu. Pengawas itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika angin di sore hari berhembus, daun padi itu mengombak seperti wajah lautan yang hijau kemerah- merahan oleh bayangan cahaya senja yang segera akan turun. “Apaboleh buat” desis mereka di dalam hati “batang-batang padi itu terpaksa dikorbankan” Tetapi keduanya terkejut ketika mereka melihat debu mengepul. Kemudian dilihatnya sepasukan prajurit berkuda muncul di hadapan mereka. Sebuah tunggul kerajaan dari panji-panji berwarna kuning dan dibatasi oleh tepi yang berwarna hitam melambai dit iup angin. Panji-panj i dari kesatuan pasukan berkuda yang menggetarkan itu. “Mereka telah datang” desis salah seorang pengawas itu. “Ya. Berikan isyarat” Sejenak kemudian terdengar suitan burung srigunting memecah sepinya hutan. Beberapa kait seperti yang disetujui bersama, bahwa itu merupakan isyarat bahwa musuh telah datang.Isyarat itupun segera didengar oleh pemimpin pasukan yang berjanggut putih itu. Iapun segera mengatur pasukannya. Beberapa dari mereka harus menyongsong pasukan lawan itu di padang rumput yang sempit di sebelah menyebelah jalan. Sedang yang lain kemudian harus menusuk ke tengah-tengah pasukan yang akan terpancing oleh serangan-serangan yang datang dan pergi. Buntal yang masih muda itu menjadi berdebar-debar. Meskipun ia memiliki ilmu yang cukup baik, namun ia masih belum memiliki pengalaman yang luas. Namun ia bertekad bahwa ia harus dapat membuktikan, bahwa ia adalah murid dari Jati Aking. Sejenak pasukan itu menunggu di antara pepohonan hutan. Sebagian dari mereka berada di seberang jalan, juga bersembunyi di balik pepohonan. Tetapi hutan di sebelah tidak sekias di sisi jalan yang lain. Karena itu, maka yang bersembunyi di seberangpun tidak begitu banyak seperti di sebelah lain. Dari kejauhan pasukan berkuda dari Surakarta itupun menjadi semakin dekat. Isyarat keduapun telah terdengar pula. Karena itulah maka bagian terdepan dari pasukan yang siap menunggu itupun mulai bergerak menepi. Tanpa disadarinya Buntal mengusap leher kudanya. Seolah- olah ia mengharap bantuan daripadanya. Dalam pertempuran berkuda yang riuh, maka ketabahan hati kudanyapun akan mempengaruhi pula. “Kau sudah sering bergulat di dalam latihan- latihan” berkata Buntal perlahan-lahan di telinga kudanya Lalu “Sekarang kau akan menghadapi pertempuran yang sebenarnya. Jangan nakal dan apalagi menjadi liar. Jika kau tidak membantuku, aku akan mendapatkan kesulitan”Buntal mengangkat wajahnya ketika sekari lagi ia mendengar isyarat. Isyarat terakhir sebelum pasukan itu harus meloncat keluar dari persembunyian. Tetapi ternyata bahwa para prajurit Surakarta itupun memiliki ketajaman pengamatan. Tiba-tiba saja orang yang berada di paling depan mengangkat tangannya. Sejenak kemudian maka pasukan berkuda itupun berhenti. “Ada sesuatu yang tidak wajar” berkata orang yang berada di paling depan” Seorang kumpeni yang ada di dalam pasukan itupun kemudian berada di sisi orang itu sambil bertanya “Apa yang kau lihat” Orang itu tidak menjawab. Namun ia menatap lurus ke ujung hutan itu. Ternyata bahwa tidak semua kuda dapat bersembunyi dengan baik. Karena itu. maka goncangan ranting dan dedaunan di tepi hutan itu telah memancing ketajaman penglihatan prajur it-prajurit itu. Karena itulah, maka tiba-tiba pemimpin prajur it berkuda itu berteriak “Bersiaplah. Kita menghadapi sesuatu di hutan itu. Mungkin bukan hambatan yang berat, tetapi mungkin mereka adalah pasukan pemberontak yang kuat” Tiba-tiba saja prajurit-prajurit berkuda itu telah menggenggam senjata di tangan. Merekapun mulai bergeser menempatkan dir i untuk menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada itu, sekelompok pasukan yang ada di hutan yang tidak begitu lebat itupun menjadi termangu-mangu. Ternyata bahwa pasukan berkuda dari Surakarta itu tidak maju terus sehingga mereka tidak akan dapat menyergap mereka di padang rumput yang tidak begitu luas di pinggir hutan.Sejenak pemimpin pasukan yang ada di dalam hutan itu termangu-mangu. Apalagi pemimpin pasukan itu sadar, bahwa di antara para prajurit Surakarta itu terdapat beberapa orang kumpeni yang membawa senjata api. Sepucuk berlaras panjang dan sepucuk berlaras pendek. Yang berlaras panjang itu biasanya diberi pisau pada ujungnya yang dengan demikian senjata itu akan dapat dipergunakan sebagai tombak apabila kumpeni itu tidak sempat mengisi peluru ke dalamnya setelah setiap kali dipergunakan di dalam perang brubuh. Tetapi selain senjata api, kumpeni itu juga membawa sebilah pedang di lambung. “Jika kita menyerang mereka” berkata pemimpin pasukan yang ada di dalam bulak itu. di dalam hatinya “maka setidak- tidaknya beberapa orang akan menjadi sasaran peluru beberapa orang kumpeni itu. Dan jika ada seorang saja di antara kami yang jatuh, maka sulitlah untuk mengendalikan perasaan mereka dan membatasi agar tidak jatuh korban terlampau banyak” Namun dalam pada itu, orang-orangnya telah menjadi gelisah. Mereka tidak dapat menunggu lama. karena sebagian dari mereka telah melihat prajurit Surakarta di luar hutan itu. “Apa yang kita tunggu” desis seorang pemimpin kelompok yang ada di sisi pemimpin yang berjanggut putih itu. Orang berjanggut putih itu menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita tidak mau mengorbankan meskipun hanya satu orang sebelumpertempuran yang sebenarnya mulai” Pemimpin kelompok itupun menyadari bahwa senjata kumpeni itu memang dapat memungut nyawa lawan sebelum mereka mendekat. Dan untuk melawan peluru, agaknya perisai tidak begitu banyak artinya. Buntal yang mendengar pembicaraan itu tiba-tiba menyela “Aku akan memancing perhatian mereka“Pemimpin kelompok itu memandanginya dengan tajamnya. Lalu iapun bertanya “Apa yang akan kau lakukan?“ “Aku akan menyerang mereka dari arah yang tidak mereka duga. Pada saat aku berpacu pada jarak yang agak jauh, maka mereka tentu akan menembak. Aku tidak yakin bahwa mereka dapat mengenai seseorang yang berkuda dengan kencangnya” “Mereka sudah terlatih baik” “Tetapi mereka akan dipengaruhi oleh suasana medan“ Pemimpin berjanggut put ih itu termenung sejenak, lalu “Baiklah. Tetapi tidak hanya satu orang. Kita mengir imkan beberapa orang dari arah yang berbeda-beda. Kalian harus berpacu secepat-cepatnya. Kemudian jika kalian telah mendengar tembakan, cepatlah mendekat dan melibatkan diri dalam pertempuran supaya mereka tidak sempat menembak lagi. Karena mereka tentu juga membawa senjata serupa yang berlaras pendek. Sementara kami akan menyerang mereka gelombang pertama seperti yang kita rencanakan sebelum kita memecah pasukan itu bercerai berai” Buntal mengangguk-angguk. Laki iapun bertanya “Siapakah yang akan pergi bersamaku” ”Aku sahut pemimpin kelompok yang ada di sisi orang berjanggut putih “Aku akan mengerahkan pimpinan kelompokku” Pemimpin berjanggut putih itu mengangguk-angguk pula. Kemudian disiapkannya lima orang yang akan memancing perhatian kumpeni-kumpeni itu. Sedang untuk mengurangi kemungkinan yang parah, beberapa orang akan datang dari arah yang berbeda-beda dan melontarkan anak panah ke dalam pasukan berkuda itu. Meskipun orang berjanggut putih itu menyadari bahwa anak panah itu tidak akan banyak bermanfaat sebagai senjata di saat yang demikian, namun pengaruhnya tentu ada pula.Setelah para penghubung memberitahukan rencana itu kepada kelompok yang terpisah di seberang jalan, maka Buntalpun kemudian bersiap di bibir hutan itu bersama empat orang lainnya. Bahkan yang seorang akan muncul dari ujung hutan di seberang jalan. Sejenak kemudian, ketika terdengar sebuah isyarat, maka kuda Buntalpun segera meloncat. Sesaat kemudian kuda itu telah berpacu di padang rumput di tepi hutan. Beberapa langkah di belakangnya menyusul seekor kuda yang lain, disusul pula yang ketiga dan keempat. Sedang dari seberang jalan seekor kuda yang lain telah berpacu pula dengan kencangnya. Buntal tidak langsung menuju ke kelompok prajurit Surakarta itu. Ia melingkar agak jauh dengan kecepatan yang tinggi. Demikian juga kawan-kawannya yang lain. Kehadiran Buntal benar-benar telah menarik perhatian. Beberapa orang kumpeni yang ada di dalam pasukan lawan itupun segera mempersiapkan senjata apinya yang berlaras panjang. “Tuan dapat menembak mereka” berkata pemimpin prajurit Surakarta. Tetapi kumpeni itu tidak segera melakukannya “Mereka akan semakin dekat” berkata pemimpin prajurit berkuda itu. Ternyata kumpeni itu benar-benar memiliki pengamatan yang cermat atas medan yang dihadapinya, sehingga iapun menjawab “Itulah yang aku tunggu. Biarkan saja anak itu berlari-lari” Pemimpin prajurit berkuda itupun mengeratkan keningnya, dan kumpeni itu berkata selanjutnya “Apakah yang dapat dilakukannya dengan berpacu melingkar-lingkar”Prajurit Surakarta itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya sajalah yang terangguk-angguk. Seperti yang dikatakan oleh kumpeni itu, maka Buntalpun menjadi semakin dekat meskipun ia tidak langsung menusuk ke dalam barisan lawan, namun jarak itu memang menjadi semakin pendek. “Nah, bukankah anak itu menjadi semakin dekat?” desis kumpeni. “Tetapi ia tidak sendir i. Lima orang” Kumpeni itu tertawa. Katanya “Kami akan menembak mereka. Di antara mereka akan mati. Apa yang dapat dilakukan oleh sisanya itu? Merekapun akan segera mati” “Tetapi mereka bukan hanya berlima. di hutan itu pasti masih ada beberapa orang kawannya. Jika mereka tidak merasa kuat untuk melawan kita, mereka akan tetap bersembunyi” Kumpeni itu masih saja tertawa. Jawabnya “Tentu aku tahu. Tetapi biarlah yang lima ini kita selesaikan. Mereka tentu sekedar memancing peluruku. Karena itu peluruku harus mengenai sasarannya” Pemimpin prajur it Surakarta itu mengangguk-angguk lagi. Ia dapat mengerti sikap kumpeni itu. Namun dalam pada itu, Buntal menjadi semakin dekat. Ia menjadi heran, bahwa kumpeni tidak berbuat sesuatu. Tetapi Buntal bukan anak yang dungu. Ia sadar, bahwa kumpenipun mempunyai perhitungan tersendiri. Karena itu, maka iapun menjadi semakin berhati-hati. Tetapi jika ia berpacu terus, maka ia akan melampaui pasukan Surakarta itu tanpa mendekatinya. Karena itu, maka Buntalpun harus mengambil sikap. Ia tidak dapat menunggu perintah lagi. Ia sudah terlepas dari ikatan pasukannya sehingga dalam keadaan demikian, ia harus mampumenemukan cara yang sebaik-baiknya untuk mengatasi keadaan. Selagi Buntal mencoba berpikir, kumpeni di dalam pasukan Surakarta masih saja tertawa. Katanya “Biar ia berkuda terus. Ia akan menjadi semakin jauh lagi meninggalkan kita. Kita anggap saja sebuah tontonan yang menarik” Sebenarnyalah Buntal berpacu terus. Dalam jarak yang agak jauh ia justru melampaui pasukan dari Surakarta itu. Tetapi Buntal bukan seorang badut yang hanya pantas ditertawakan, karena tiba-tiba saja Buntal menarik kekang kudanya sehingga kudanya berhenti dengan t iba-tiba. Ketika kawan-kawannya kemudian menyusulnya tanpa mengerti apa yang harus dilakukan, maka Buntalpun berkata kepada mereka “Marilah kita langsung menyerang. Kita harus saling menyilang agar mereka tidak dengan mudah membidik. Mudah-mudahan kawan kita yang ada di seberang dapat menyesuaikan dir i” Buntal tidak usah mengulang. Keempat kuda itupun kemudian melingkar dan dengan tiba-tiba mereka berpacu langsung menuju kebarisan lawan. Tetapi keempat kuda itu berlari saling menyilang seperti sebuah pertunjukan keahlian menunggang kuda. Namun ternyata keempatnya benar-benar telah menguasai kuda masing-masing dengan baiknya. Hal itu telah mendebarkan hati setiap prajurit Surakarta. Tetapi juga laskar Pangeran Mangkubumi yang ada di dalam hutan. Pemimpin pasukan yang berjanggut putih itu tergetar hatinya. Ternyata Buntal, anak Jati Aking itu memiliki kemampuan berpikir yang baik. Dalam keadaan yang menentukan, ia sempat mengambil sikap yang menguntungkan. Kumpeni yang ada di antara prajurit-prajurit Surakarta itu terkejut. Ia tidak mengira bahwa seorang anak muda pribumi yang tidak berada di dalam lingkungan keprajuritan, dapatmengambil sikap yang demikian. Bagi kumpeni masih berlaku anggapan, bahwa rakyat pedesan di daerah Mataram adalah rakyat yang sederhana dan hanya mampu melakukan kekerasan tanpa mempergunakan otaknya. Namun kini mereka melihat seorang anak muda yang mampu mengambil sikap yang mengagumkan menghadapi senjata api yang belumbanyak dikenal sifat dan wataknya “Siapakah anak itu sebenarnya?” kumpeni itu berdesis. Pemimpin prajurit Surakarta itu menggelengkan kepalanya sambil menjawab “Aku belumpernah mengenalnya“ “Baik” desis kumpeni itu “Kami akan menembak mereka. Awasilah yang seorang, yang datang dari sisi lain. Kami akan membunuh orang-orang berkuda itu. Meskipun mereka berlari saling menyilang, tetapi mereka tidak akan dapat lepas dari peluruku” Pemimpin prajurit Surakarta itu mengerutkan keningnya. Ia memang harus memperhitungkan, bahwa tentu bukan hanya lima orang itu sajalah yang akan segera menyerang. Sambil membidikkan senjatanya kumpeni itupun berkata “Bersiaplah. Tentu kita akan menghadapi orang lebih banyak lagi” Dalam pada itu pemimpin laskar Pangeran Mangkubumi yang berjanggut putih itupun harus segera mengambil sikap. Ia tidak dapat membiarkan perhatian kumpeni sepenuhnya tertumpah kepada Buntal dan kawan-kawannya. Karena itu. sejenak kemudian maka iapun segera memberikan isyarat. Hanya sekejap kemudian beberapa orang yang sudah siap dengan anak panah di ujung hutan itupun segera mulai bertindak. Kuda merekapun segera berloncatan. Bukan saja derap kuda-kuda itulah yang kemudian terdengar, tetapi mereka yang berpacu sambil menyerang itupun telah berteriak dengan kerasnya.Teriakan-teriakan itu benar-benar telah mengejutkan para prajurit Surakarta. Perhatian mereka benar-benar telah terpecah. Bahkan kumpeni yang mencoba memusatkan perhatian mereka kepada Buntal dan kawan-kawannyapun telah terganggu pula. Namun merekapun cukup berpengalaman menghadapi kejutan-kejutan seperti itu, sehingga sesaat kemudian mereka telah berhasil menguasai diri mereka kembali. Tanpa menghiraukan orang-orang yang berteriak-teriak sambil menyerang, kumpeni-kumpeni itu telah membidikkan senjatanya. Tetapi yang dibidik bukannya seekor kerbau yang berdiri tenang sambil makan rerumputan yang hijau segar. Yang dibidik oleh kumpeni-kumpeni itu adalah empat orang yang berpacu bersilangan. Tetapi dalam pada itu, pemimpin prajur it Surakarta itupun tidak tinggal diam. Ia tidak dapat menunggu kumpeni itu menembakkan pelurunya. Orang-orang yang menyerang sambil berteriak itu telah mempengaruhi ketenangan para prajuritnya. Karena itu, maka pemimpin prajurit Surakarta itupun segera memberikan isyarat. Prajurit Surakarta itupun mulai bergeser. Sementara itu kumpeni yang sedang membidik itupun merasa semakin terganggu karenanya. Sehingga ketika sebuah letusan terdengar, peluru itu berdesing menyambar tubuh Buntal. Tetapi karena Buntal selalu bergerak, maka yang tersentuh hanyalah ujung bajunya saja. Meskipun demikian Buntal menggeram. Bajunya yang tersayat sedikit itu membuat hatinya menjadi panas. Namun ia masih tetap sadar, bahwa yang didengarnya baru sebuah ledakan. Ledakan-ledakan berikutnya juga tidak mengenai sasarannya. Bahkan menyentuhpun tidak. Tetapi ledakan yang lain telah berhasil menyambar pundak kawan Buntal yang laki. Terdengar orang itu menggeram.Namun agaknya luka itu tidak terlampau parah, sehingga ia sama sekali tidak menghentikan kudanya. -


Jilid 18
TIDAK ada kesempatan lagi bagi kumpeni itu untuk mempergunakan senjatanya karena keadaan medan. Keempat orang lawannya telah menjadi terlampau dekat. Sejenak kemudian yang beradu adalah senjata di tangan keempat orang itu dengan senjata para prajurit dari Surakarta, sementara yang seorang dari sisi yang lainpun telah terlibat pula dalam pertempuran. Namun para prajurit Surakarta itu tidak sempat membinasakan kelima orang itu beramai-ramai karena prajurit-prajurit itu harus segera bersiaga menghadapi lontaran anak panah dari laskar berkuda yang lain. yang menyerang mereka langsung sambil berpacu dengan anak panah mereka. Kekalutan segera terjadi. Pertempuran seperti yang diduga tidak dapat dihindarkan. Dalam pada itu, maka serangan gelombang pertamapun telah meluncur dari balik pepohonan. Beberapa orang berkuda dengan lajunya memacu kuda mereka langsung menyerang para prajurit Surakarta yang memang telah menyiapkan dir i. Tetapi laskar Pangeran Mangkubumi itu bertempur dengan rencana tertentu. Betapapun mereka dicengkam oleh luapankemarahan, namun mereka tidak dapat meninggalkan rencana yang telah mereka susun dengan baik, apalagi sesuai dengan perintah yang telah diber ikan oleh Pangeran Mangkubumi. Karena itu, maka pasukan Pangeran Mangkubumi itu tidak langsung menusuk prajurit Surakarta itu sampai ke jantung barisan. Mereka seakan-akan hanya berputaran mengepung prajurit-prajurit Surakarta itu. Dengan demikian maka pertempuran yang terjadipun seakan-akan selalu bergeser dan bergerak. Tetapi putaran pasukan Pangeran Mangkubumi itu dapat membingungkan lawannya. Mereka harus berusaha menyesuaikan dir i. Dengan demikian mereka tidak segera dapat menyusun gelar tertentu untuk menghadapi perang yang berputaran. Apalagi pasukan Pangeran Mangkubumi bertempur sambil berteriak-teriak tidak menentu. Kadang- kadang mereka bersorak, tetapi kadang-kadang mengumpat- mengumpat dengan kasarnya. Beberapa orang kumpeni yang ada di dalam pasukan Surakarta itu tidak terkejut menghadapi peperangan yang agak liar itu. Penjelajahannya kebenua yang lainpun member ikan gambaran yang serupa. Orang-orang yang masih terbelakang, di dalam olah keprajuritan, biasanya memang berteriak-teriak sambil berlar i-lari tidak menentu. “Agaknya hanya orang-orang yang tinggal di kota dan yang sudah bergaul dengan kami sajalah yang telah menjadi beradab dan mengenal cara-cara yang baik di peperangan” berkata kumpeni itu di dalam hati. Meskipun mereka tidak dapat ingkar bahwa mereka telah menyaksikan seorang anak muda yang mampu mempergunakan otaknya, bukan saja tenaga jasmaniahnya. Demikianlah maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Namun agaknya putaran laskar Pangeran Mangkubumi semakin lama justru menjadi semakin luas. Bahkan kemudian, prajurit-prajur it Surakarta berhasilmendesak mereka semakin jauh dari pusat lingkaran yang telah mereka buat itu. Beberapa orang kumpeni yang ada di dalam pasukan Surakarta itupun bertempur dengan gigihnya. Ternyata mereka benar-benar cakap bertempur dengan pedang di atas punggung kuda. Karena itu, maka setiap sambaran pedang dari laskar yang berputaran itu sama sekali tidak dapat mengenai mereka. Dengan tangkasnya mereka menangkis setiap serangan. Bahkan dengan garang mereka menyerang kembali. Pedangnya yang bergerak seakan dalam bidang- bidang yang mendatar, tetapi tiba-tiba saja langsung mematuk dada, adalah gerak yang sangat berbahaya. Tetapi beberapa orang kumpeni itu tidak pernah mendapatkan lawan yang mapan. Setiap kali lawannya meninggalkannya, kemudian datang lawan yang lain menyerang sambil berteriak. Dalam pada itu, selagi laskar Pangeran Mangkubumi terdesak sehingga kepungannya menjadi semakin longgar dan bahwa hampir pecah, langitpun menjadi semakin suram. Matahari menjadi semakin rendah dan kemudian hilang di balik cakrawala. Untuk beberapa saat lamanya, cahaya merah masih bergayutan di bibir mega yang berarak di langit. Namun warna itupun segera menjadi kelabu. Ketika gelap mulai menyelubung, di padepokan Jati Aking, Kiai Danatirta duduk di pendapa rumahnya menghadapi mangkuk ber isi minuman panas dan beberapa potong makanan. Sambil memandang ke dalam kegelapan ia mulai membayangkan, bahwa agaknya pertempuran sedang berlangsung. Buntal dan kawan-kawannya tentu sedang dengan gigihnya bertempur melawan prajurit-prajur it Surakarta. Meskipun pasukan Pangeran Mangkubumi itu membawa pesan agar jangan sampai jatuh terlampau banyak korban di kedua belah pihak, tetapi di dalam pertempuran agaknya terlampau sulit untuk melaksanakannya.Selagi Kiai Danatirta menikmati minuman hangat dan makanan yang dihidangkan oleh Arum, meskipun dengan hati yang berdebar-debar, tiba-tiba saja ia telah dikejutkan oleh derap seekor kuda yang ber lari kencang di halaman. Dengan sigapnya Kiai Danatirta meloncat berdiri dan berlari turun dari tangga pendapa. Tetapi kuda itu sudah berderap melintas. Namun demikian terdengar suara Kiai Danatirta memanggil “Arum, Arum” Tetapi kuda itu tidak berhenti. Arum, yang lada di punggung kuda itu berpacu terus meninggalkan halaman rumahnya. Untuk beberapa saat lamanya Kiai Danatirta masih berdiri termangu-mangu. Ditatapnya kegelapan malam yang terbentang di hadapannya. Ia tersadar ketika beberapa orang penghuni padepokan itu mendekatinya. Seorang yang sudah agak lanjut usia bertanya “Siapakah yang berkuda begitu cepatnya Kiai?“ Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam ”Apakah ada seseorang yang telah mengambil kuda kita tanpa member itahukan lebih dahulu?“ Kiai Danatirta menggeleng. Dan yang lain lagi berkata “Tetapi, apakah aku mendengar Kiai memanggil nama Arum?“ Kiai Danatirta berpaling. Tetapi kemudian kepalanyapun tertunduk. Katanya dalam nada yang datar “Sudahlah. Biarlah kuda itu pergi” “Tetapi siapakah yang membawanya?“ Kiai Danatirta tidak menjawab. “Apakah Arum?“Kiai Danatirta masih tetap berdiam dir i. Tetapi ia berjalan, ke pendapa dan tanpa menjawab pertanyaan itu. iapun segera naik. Beberapa orang masih termangu-mangu sejenak. Namun merekapun kemudian segera kembali ke tempat masing- masing. Meskipun demikian masih saja ada yang berbicara di antara mereka “Dahulu aku sudah memper ingatkan, bahwa tidak baik seorang gadis belajar menunggang kuda. Beberapa tahun yang lalu. Tetapi agaknya Kiai Danatirta tidak begitu berkeberatan” “Ya meskipun hanya diperkenankan berlatih di malam hari atau di tempat yang sepi di padang ilalang di balik bukit-bukit kecil itu” “Akibatnya, ada kerinduan gadis itu untuk menunggang kuda. Agaknya sudah lama ia tidak diperkenankan lagi berlatih, sehingga tiba-tiba saja ia memaksa untuk naik tanpa ijin ayahnya” Keduanya mengangguk-angguk. Tetapi ketika mereka berpaling ke pendapa, mereka tidak melihat lagi Kiai Danatirta duduk menghadapi mangkuknya. “Kemana Kiai itu?“ “Apakah ia akan membiarkan anak gadisnya berkuda di malam hari dalam keadaan seperti ini? Selagi Surakarta dicengkam oleh udara yang panas dan baru siang tadi di bulak itu beberapa orang prajurit Surakarta Merampas senjata setiap orang yang lewat?“ Kedua terdiam sejenak. Ternyata yang mereka duga adalah benar. Sejenak kemudian mereka melihat Kiai Danatirta sudah di punggung kudanya sambil berkata kepada penghuni- penghuni padepokan yang dijumpainya di halaman “Jagalah rumah ini baik-baik. Mungkin malamhari aku baru kembali” “Kemana Kiai akan pergi?““Mencari Arum yang nakal itu. Jika keadaan Surakarta tidak sepanas ini, maka aku kira, aku tidak perlu mencarinya” “Tetapi kemana Kiai akan mencar i?“ “Entahlah. Tetapi aku dapat mengikuti jejak kaki kuda itu” “Di malam hari?” “Aku harus berhenti di setiap tikungan dan mencari arah jejak kaki-kaki kuda itu” “Dan kuda itu menjadi semakin jauh” “Pada saatnya ia akan berhenti” sahut Kiai Danatirta. Demikianlah maka Kiai Danatirtapun segera memacu kudanya. Sebenarnya ia tahu pasti arah kuda Arum. Gadis itu tentu pergi ke tempat yang disebut oleh Buntal. Setelah hari mulai gelap, maka diam-diam iapun pergi ke kandang kuda dan berpacu tanpa minta ijin lebih dahulu, karena Arum tahu bahwa ia tentu tidak akan diijinkan oleh ayahnya. “Jika pertempuran itu sudah berakhir saat Arum sampai di sana, alangkah baiknya” berkata Kiai Danatirta kepada diri sendiri sambil berpacu. Tetapi agaknya pertempuran itu tentu masih berlangsung. Prajur it-prajurit Surakarta adalah prajur it pilihan. Dan laskar Pangeran Mangkubumipun cukup terlatih dan dipersiapkan. Karena itu, pertempuran itu tentu akan menjadi sangat seru. Apalagi di malamhar i. “Jika gelap malam dapat menahan pertempuran itu serba sedikit alangkah baiknya. di dalam gelap, tentu mereka menjadi sangat hati-hati agar mereka tidak mengenai kawan- kawan sendir i” Kiai Danatirtapun kemudian berpacu lebih cepat lagi. Ia tidak mau terlambat terlampau lama. Jika Arum dengan serta merta ikut bertempur, maka persoalannya akan menjadi sangat gawat baginya.Dalam pada itu, sebenarnyalah Arum memang berpacu menuju ke hutan perburuan. Ia tahu bahwa di hutan itu tentu sedang berlangsung pertempuran yang sengit Ketika Buntal meninggalkan padepokannya, ia sudah menjadi bimbang, apakah ia akan mengikutinya. Tetapi ia tidak berani melakukannya, karena hal itu tentu akan menghambat perjalanan Buntal yang akan memaksanya untuk kembali. Waktu yang pendek selama Buntal harus bertegang hati memaksanya pulang ke padepokan itu, akan sangat berharga bagi pasukan yang ditinggalkan. Dan akan sangat berharga bagi setiap nyawa di dalam pasukan itu Keterlambatan Buntal akan mempunyai akibat yang sangat luas bagi pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Karena itu ia menyabarkan dir i, menunggu hari menjadi gelap. Baru kemudian dengan diam-diam ia pergi meninggalkan halaman rumahnya. Sebenarnya Arumpun mengetahui akibat yang gawat jika ia tidak dapat mengendalikan dirinya dan ikut bertempur begitu saja. Karena itu, yang akan dilakukannya hanyalah sekedar melihat. Mungkin dengan melihat pertempuran yang sebenarnya dari dua pasukan dalam jumlah yang cukup banyak, ia akan mendapatkan pengalaman. Dengan demikian maka kaki kuda Arum itupun berderap di atas jalan berbatu padas. Rambutnya yang disanggulnya tinggi, diusap oleh angin malam yang basah sehingga ujung tali-talinya menggapai-gapai di wajahnya. Sekali-sekali Arum memandang tanah persawahan disebelaK menyebelah jalan. Dilihatnya kunang-kunang yang berkeredipan dalam kelompok-kelompok yang besar. Arum menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan udara malam yang sejuk itu akan dihisapnya sampai tuntas, sementara kaki kudanya masih tetap berderap terus.Namun demikian, semakin dekat dengan hutan perburuan yang tidak terlampau lebat itu, Arumpun menjadi semakin berdebar-debar. Jika ia berjumpa dengan seseorang yang sama sekali t idak dikenalnya, apakah ia. petugas sandi atau penghubung dar i mereka yang bertempur di sebelah hutan itu, maka ia tidak akan dapat mengetahui, apakah orang itu prajurit Surakarta, atau laskar Pangeran Mangkubumi. “Prajurit-prajurit Surakarta mempunyai pakaian yang khusus. Aku akan segera dapat mengenalnya” berkata Arum di dalam hatinya. Namun kemudian “Tetapi petugas-tugas sandi biasanya tidak mempergunakan pakaian khusus itu, agar penyamarannya tidak dengan mudah dapat dikenal” Arum menjadi bimbang. Namun ia tidak berhenti. Ia masih berpacu terus mendekati hutan perburuan itu. Dalam pada itu, malam yang gelappun menjadi semakin gelap. di langit bintang nampak bergayutan dari ujung cakrawala sampai ke ujung yang lain. Dan angin yang dingin berhembus menembus dedaunan di hutan rindang. Ternyata Arum menyadari bahwa derap kaki kudanya dapat menarik perhatian orang-orang yang sedang bertempur Itu, atau pengawas-pengawas yang bertugas di luar medan. Karena itu, ketika ia menjadi semakin dekat dengan hutan perburuan itu, maka iapun segera menghentikan kudanya, dan meloncat turun. Ditambatkannya kudanya pada sebatang pohon perdu di balik gerumbul yang agak rimbun. Sejenak Arum termangu-mangu, di lambungnya tergantung sehelai pedang tipis dan dua batang pisau belati di lambung yang lain. Dan hampir di luar sadarnya Arum meraba pisau belatinya sambil berkata di dalam hati “Jika aku bertemu dengan kumpeni itu, aku dapat mempergunakan pisau ini. Pisauku dapat menyambar dadanya seperti peluru di senjata apinya. ”Agaknya Arum memang percaya kepada kemampuannya melontarkan pisau. Ia sengaja mempelajarinya sebaik-baiknya sejak la mendengar bahwa kumpeni mempunyai senjata yang dapat menyerang dari jarak yang cukup jauh. Meskipun iapun sadar bahwa jarak lontarannya tentu tidak akan dapat sejauh jarak lontaran peluru senjata kumpeni itu, tetapi dengan demikian ia masih akan mendapat kesempatan untuk melawan jika tiba-tiba saja ia menjumpainya. Sejenak kemudian, setelah mengatur diri sebaik-baiknya maka Arumpuh segera mendekati hutan perburuan itu dengan hati-hati. Ia berjalan di antara gerumbul-gerumbul perdu mendekati hutan itu dari arah yang lain dari jalan yang diikutinya dari pedukuhannya. Ternyata, sebelum ia dapat melihat sesuatu, telinganyalah yang telah lebih dahulu mendengar hiruk pikuk pertempuran itu, la mendengar beberapa orang berteriak-teriak tidak menentu. Arum menjadi Heran. Dan iapun bertanya kepada diri sendiri “Apakah demikian cara prajurit Surakarta bertempur? Atau barangkali kumpeni-kumpeni itu?” Namun kemudian “Tetapi juga mungkin pasukan Pangeran Mangkubumi itulah yang berteriak-teriak” Seakan-akan ada sesuatu yang mendorongnya untuk merayap semakin dekat. Dan Arum itu bergeser dari gerumbul yang satu ke gerumbul yang lain di sisi parit yang membujur di tepi jalan sempit. Arum bersembunyi di balik pohon-pohon jarak yang rimbun bahkan kadang-kadang berjongkok di balik tanggul parit, la tidak ingin dilihat lebih dahulu oleh siapapun juga sebelum ia melihat pertempuran yang sedang berlangsung itu. Di dalam gelapnya malam, Arumpun lamat-lamat mulai melihat bayang mereka yang bertempur. Tidak begitu jelas, namun Arum segera mengerti bahwa mereka yang bertempur masih tetap berada di punggung kudanya meskipun ada jugasatu dua orang yang ternyata telah terjatuh dan bertempur di atas tanah. Keinginan Arum untuk menyaksikan pertempuran itupun menjadi semakin besar. Karena itu, maka iapun merayap semakin dekat. Akhirnya Arum benar-benar mendapat kesempatan untuk melihat pertempuran itu, meskipun tidak terlampau dekat. Pertempuran berkuda itu ternyata memer lukan tempat yang luas. Beberapa orang yang bertempur di atas tanah harus menepi agar mereka tidak terinjak oleh kaki kuda yang berlari- larian itu. “Adalah mustahil dapat mengenal kawan sendir i sebaik- baiknya di dalam pertempuran seperti ini” berkata Arum di dalam hatinya “Apalagi j ika seseorang masih belum memahami benar-benar siapakah kawan-kawan mereka di peperangan” Dan karena itulah maka ia dapat mengerti, kenapa Buntal telah melarangnya untuk mengikutinya. di dalam perang yang demikian, dengan mudah dapat terjadi salah paham di antara kawan sendir i j ika mereka belum mengenal dengan baik. Karena itu, Arum memer lukan waktu yang lama untuk dapat menilai pertempuran itu. Ia kemudian dapat melihat, sebagian dari mereka yang bertempur itu, masih saja selalu bergerak dalam lingkaran meskipun semakin lama semakin lambat dan putaran itupun menjadi semakin longgar, sehingga akhirnya tidak lagi merupakan sebuah kepungan yang bergerak, karena di beberapa bagian kepungan yang semula berputar itu tetah hampir pecah. “Tentu laskar Pangeran Mangkubumi yang ada di luar“ desis Arum. Namun dengan demikian ia menjadi cemas melihat kepungan yang hampir patah dan bahkan pasukan Pangeran Mangkubumi itu terdesak semakin jauh. Bahkan mereka sudahmulai bertempur di dalam batasan pematang-pematang tanah persawahan. Dan seperti yang dicemaskan oleh para pengawas, maka batang-batang padipun kemudian telah terinjak-injak oleh kaki-kaki kuda. Namun pertempuran di tanah lumpur itu nampaknya menjadi lamban, tetapi justru menjadi lebih berbahaya. Jika kaki kudanya terperosok, maka seseorang menjadi terpecah perhatiannya. Sebagian pada kudanya dan sebagian pada senjata lawannya. “Ada beberapa orang kumpeni di dalam pertempuran itu“ berkata Arum di dalam hati. Dan adalah di luar sadarnya, bahwa tiba-tiba saja timbul niatnya untuk melihat kumpeni- kumpeni itu. atau bahkan ia berkata kepada, dir i sendiri “Jika ada di antara mereka yang memisahkan dir i. aku ingin mencoba kemampuannya. Apakah benar bahwa mereka memiliki kelebihan dari prajur it Surakarta, dan karena pengembaraannya yang panjang dari tanah kelahiran mereka sampai ke tanah ini, penjelajahan yang luas, maka mereka adalah prajurit-prajurit yang tidak terkalahkan. “Tetapi mereka ada di dalam pertempuran yang riuh” berkata Arumdi dalamhatinya pula. Demikianlah maka pertempuran itu semakin lama semakin menjadi seru. Lingkaran yang semula seakan-akan mengepung prajur it Surakarta itu menjadi semakin kendor dan bahkan hampir pecah sama sekali. Arumpun kemudian menjadi berdebar-debar ketika ia melihat lingkaran yang sudah terputus-putus itu bagaikan awan ditiup angin. Pecah berserakan didesak oleh prajur it- prajurit Surakarta yang bertempur dengan gigihnya. Tetapi pada saat itu, dari dalam hutan perburuan itu muncul beberapa kelompok kecil laskar berkuda. Kehadiran mereka benar-benar telah mengejutkan prajurit-prajur it Surakarta. Apalagi ketika mereka melihat pasukan yang meskipun tidak begitu banyak, tetapi masih cukup segar itu langsung menusuk ke pusat pertempuran itu.Sejenak pertempuran itu menjadi kisruh. Namun ketika para prajurit Surakarta berhasil menguasai diri masing-masing, maka laskar yang sudah berada dipusat pertempuran itupun mulai menyerang. Karena itulah maka pertempuran itupun bagaikan mekar semakin luas. Prajurit-prajurit Surakarta terdesak melebar, dan agaknya laskar Pangeran Mangkubumi yang ada di luar, sengaja membiarkan prajurit-prajur it Surakarta berserakan. Bahkan merekapun kemudian membantu kawan-kawannya yang menyerang prajurit-prajurit Surakarta itu dari pusat pertempuran setelah mereka berhasil menyusup ke dalamnya. Ternyata bahwa bukannya laskar Pangeran Mangkubumilah yang sebenarnya pecah. Tetapi adalah prajurit-prajurit Surakarta yang agak kebingungan menghadapi keadaan yang tidak diduga. Apalagi ternyata bahwa jumlah laskar Pangeran Mangkubumi itu banyaknya melampaui prajurit-prajur it Surakarta yang sudah mulai kehilangan keseimbangan. Arum bersorak di dalam hati. Ia melihat kemungkinan yang berbalik. Dengan pasukan yang baru, maka hampir dapat dipastikan bahwa pasukan Surakarta akan terpecah bercerai-berai. Sebenarnya itulah yang diharapkan oleh pimpinan pasukan Pangeran Mangkubumi yang sudah berjanggut putih. Ia hanya ingin memecah pasukan itu dan membubarkannya. Pasukanyang pecah bercerai-berai adalah pertanda bahwa pasukan itu benar-benar dikalahkan. Arum yang kegirangan itu agaknya itelah menjadi lengah. Sambil menghentak-hentakkan tangannya ia kadang-kadang lupa akan dir inya dan melonjak berdiri. Pada saat itulah ia terkejut mendengar langkah yang kasar di belakangnya. Dengan serta-merta ia meloncat dan berbalik. Sesaat Arum tertegun. Dilihatnya seseorang yang bertubuh tinggi besar berdiri di hadapannya. Dalam sekejap Arumpun segera mengetahui menilik ujud dan pakaiannya, bahwa yang dihadapinya itu adalah salah seorang dari beberapa orang kumpeni yang ada di dalam pasukan Surakarta itu. Sejenak Arum termangu-mangu. Ia merasa sesuatu bergejolak di hatinya. Seakan-akan tiba-tiba saja keinginannya terpenuhi. Namun dalam pada itu, iapun menjadi berdebar- debar. Perkelahian di dekat pertempuran yang seru itu akan berbahaya baginya. Jika orang-orang di medan itu melihat, maka perhatian mereka akan tertarik. Mungkin satu dua orang akan datang untuk melihat apa yang terjadi. Tetapi kumpeni itu kini sudah ada di hadapannya, dengan pedang yang teracu ia bertanya dengan bahasa yang patah- patah. ”Siapa kau? Kau juga pemberontak?“ Arumtermangu-mangu sejenak. “Siapa? Sebelumaku membunuhmu” Arum masih saja termangu-mangu. Namun kemudian iapun menjawab “Aku bukan dari kedua pasukan yang sedang bertempur” Kumpeni itu terkejut. Lalu “Kau perempuan? Suaramu suara perempuan, tetapi pakaianmu laki- laki”“Ya. Aku perempuan” “Kenapa kau ada di sini?“ Arum terdiam, la masih ragu-ragu untuk mulai dengan sebuah perkelahian betapapun ia ingin. Ia tidak mau memancing perhatian salah satu pihak yang sedang bertempur itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja Arum meloncat berlari menyusur parit yang rendah, sehingga tidak begitu nampak dari kejauhan, apalagi di dalam gelapnya malam dan sekali- sekali tertutup oleh pohon-pohon jarak yang tumbuh ditanggul parit. Kumpeni itu tidak membiarkan perempuan itu lari. Karena itu maka iapun segera mengejarnya tanpa menghiraukan apapun juga. Sementara itu pedangnyapun teracu-acu sambi berkata lantang “Jangan lar i. Jangan lari” Arum tidak menghiraukannya. Tetapi ia berlari terus, la tidak takut kumpeni itu menyerangnya dengan senjata api. Jika kumpeni itu masih mempunyai kesempatan mempergunakan senjata apinya yang berlaras pendek, maka senjata itu tentu sudah teracu sejak kumpeni itu mendekatinya. “Senjata itu sudah kehabisan peluru” berkata Arum di dalam hatinya “Atau kumpeni itu tidak sempat mengisinya lagi di dalam peperangan yang riuh itu, sehingga senjata itu tidak berguna lagi baginya” Meskipun demikian sekali-sekali Arum berpaling juga. Namun yang nampak di tangan kumpeni itu adalah pedangnya yang besar dan panjang. “Berhenti, berhenti“ kumpeni itu masih saja berteriak. Arum sama sekali tidak menghiraukannya. Ia berusaha mencapai tikungan. Di tikungan itu tumbuh gerumbul-gerumbul liar danpohon-pohon jarak yang rimbun. Jika ia harus berkelahi, maka m akan berkelahi di balik gerumbul-gerumbul itu. Ternyata kumpeni yang mengejar Arum itu menjadi heran. Meskipun yang dikejarnya itu seorang perempuan, namun perempuan itu dapat berlari cepat sekali. Dan terlebih- lebih lagi ketika dilihatnya sehelai pedang tergantung di lambungnya. “Orang ini tentu satu di antara pemberontak-pemberontak itu” berkata kumpeni di dalam hatinya “Tetapi kenapa ia seorang perempuan dan memisahkan diri dari pasukannya?“ Kumpeni itu kemudian mengira bahwa Arum adalah salah seorang pengawas saja dari pasukan yang telah mencegat prajurit Surakarta di pinggir hutan itu. Seperti yang diinginkan, ternyata Arum sempat mencapai tikungan. Dengan serta-merta iapun kemudian meloncat berbalik dengan cepatnya. Hampir di luar kemampuan tatapan mata kumpeni itu, maka Arumpun telah menggenggam pedang di tangannya. Kumpeni itu terkejut. Iapun kemudian berhenti termangu- mangu sejenak. Dipandanginya saja Arum yang kemudian berdiri tegak dengan pedang di tangannya. “Kau tentu juga pemberontak” geram kumpeni itu ternyata perempuan-perempuan turut memberontak” Arum memandang orang yang bertubuh t inggi besar itu dengan dada yang berdebar-debar. Ia sudah sering melihat kumpeni. Tetapi baru kini ia berdiri berhadap-hadapan pada jarak yang pendek. Ternyata bahwa orang-orang asing itu jauh lebih tinggi dari dirinya. “Tangannya tentu cukup panjang” berkata Arum di dalam hatinya “Tetapi ia hanya mempergunakan tangannya, ia. tidak banyak memanfaatkan kakinya seperti yang dikatakan Juwiring“Dan Arumpun pernah mendengar bahwa Pangeran Ranakusumapun pernah berhasil membunuh seorang kumpeni di dalam perang tanding. “Meskipun aku bukan Pangeran Ranakusuma yang memiliki ilmu yang hampir sempurna, tetapi aku juga sudah mempelajari ilmu pedang dengan saksama. Dan tentu kumpeni inipun bukan seorang perwira seperti yang pernah berperang tanding dengan Pangeran Ranakusuma, sehingga ilmunya pun tentu tidak setinggi perwira yang sudah terbunuh itu” berkata Arum di dalam hatinya. Karena Arum masih belum menjawab, maka kumpeni itu mendesaknya lagi “Siapa kau sebenarnya he? Pemberontak atau perampok atau apa?“ “Namaku Arum” jawab Arum. “Kau pemberontak juga?“ “Sudah aku katakan, bahwa aku tidak berdiri di pihak manapun juga” “Bohong. Jika demikian kenapa kau berada di dekat peperangan itu?“ “Aku sedang meronda padesan ketika aku mendengar hiruk pikuk. Ternyata pertempuran itu sedang berlangsung dengan serunya. Dan aku senang menonton prajurit-prajurit Surakarta di kejar-kejar oleh pasukan Pangeran Mangkubumi” “Darimana kau tahu bahwa pasukan itu pasukan Pangeran Mangkubumi, bukan pasukan Raden Mas Said?“ bertanya kumpeni lagi. Arum terdiam sejenak. Ia tidak menyangka bahwa ia akan dapat pertanyaan serupa itu. “Darimana kau tahu” desak kumpeni itu, lalu “Jika kau bukan salah seorang dari mereka kau tentu tidak akan dapat mengetahui dengan pasti”Arum tidak dapat mengelak lagi. Maka katanya kemudi an “Aku bukan dari golongan mereka, tetapi aku tahu pasti” “Persetan“ kumpeni itu menggeram. Perlahan-lahan ia lelangkah maju mendekat dengan pedang siap di tangan. Tetapi Arumpun telah siap pula menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. “Kau harus menyerah. Kau perempuan. Mungkin kau akan mendapat perlakuan yang lain dari laki- laki” berkata kumpeni itu. “Aku tidak akan menyerah. Aku akan bertempur. Bukankah kau lari dar i pertempuran itu dan secara kebetulan melihat aku?“ tebak Arum Wajah kumpeni itu menjadi merah. Katanya “Apa pedulimu perang dengan orang-orang liar tidak ada gunanya. Sekarang, aku akan menangkapmu, dan membawamu ke Surakarta” “Tidak ada gunanya. Kau akan dicari dan akan dibantai bersama orang kawan-kawanmu” Kumpeni itu terdiam sejenak. Katanya di dalam hati “Apakah tidak lebih baik bagiku untuk lar i saja menjauhi pertempuran itu dan mencapai Surakarta“ dan ia mengumpat di dalam hati. “Nah, kau sajalah yang menyerah” desis Arum. Kumpeni itu benar-benar merasa terhina. Ia adalah seorang prajurit Kerajaan yang besar dan pernah menjelajahi benua dan samodra. Kini seorang perempuan mengacukan pedangnya sambil mengancamnya agar ia menyerah. Bagi kumpeni itu, menghindar dari peperangan untuk mencari hidup, masih jauh lebih baik daripada diancam oleh seorang perempuan untuk menyerah. Karena itu, maka iapun menggeram marah “Kau gila. Aku dapat membunuhmu”“Akupun dapat membunuhmu” sahut Arum meskipun dadanya terasa agak berdebar-debar. Orang asing itu tentu mempunyai ilmu yang asing pula. Ternyata bahwa jawaban Arum itu benar-benar telah membakar jantung kumpeni itu. Bagaimanapun juga ia mempunyai harga diri yang cukup. Karena itulah maka iapun menggeram “Kau memang tidak dapat dimaafkan. Aku mencoba untuk berbuat baik terhadapmu. Tetapi kau keras kepala. Jangan menyesal bahwa kau benar-benar akan mati” Arum tidak menjawab, tetapi ia sudah bersiaga sepenuhnya. Bahkan iapun kemudian maju selangkah sambil mengacukan pedangnya. Sekali-sekali digerakkannya pula untuk memancing gerakan lawannya. Seperti yang dikatakan oleh Juwiring, bahwa kumpeni itupun segera memiringkan tubuhnya, mengacukan pedangnya hampir sepanjang lengannya. ”Begitulah caranya bertempur dengan pedang” berkata Arum. Sejenak Arum melihat sikap itu. Namun kemudian ia tidak dapat berdiam diri sambil mengamati lawannya, karena kumpeni itupun segera menyerangnya Pedangnya yang besar dan panjang itupun segera terjulur turus ke depan menusuk langsung kearah dada. Tetapi Arum sudah bersiap. Iapun segera mengelak. Ia tidak menangkis serangan lawannya, tetapi ia justru menyerang dengan ayunan mendatar. Kumpeni itu cukup lincah pula. Ia meloncat surut dan pedangnya menyambar pedang Arum. Dengan sengaja Arum membenturkan pedangnya, sehingga terdengar kedua pedang itu beradu. Sepercik bunga api meloncat dari benturan itu.Arum meloncat mundur. Kumpeni itu memiliki tenaga yang cukup kuat. Tetapi tenaganya benar-benar tenaga jasmaniah saja. Meskipun demikian Arum tidak dapat mengabaikan kekuatan itu. Sehingga dengan demikian, ia harus berusaha setiap kali menghindari benturan-benturan yang dapat terjadi. Karena itulah Arum mulai dengan serangan-serangannya. ia tidak hanya mempergunakan tangannya dan geseran kaki selangkah-selangkah. Tetapi Arum mulai berloncatan berputar-putar. Seperti kumpeni-kumpeni yang lain, mereka pernah mendapat petunjuk bagaimana orang-orang pribumi di Surakarta bertempur. Dari para prajurit, kumpeni-kumpeni itu sudah mempelajarinya serba sedikit tata gerak orang-orang Surakarta mempermainkan pedangnya, sehingga karena itu, kumpeni itu tidak terkejut melihat Arum berloncatan. Dengan sigapnya kumpeni itu bergeser setapak demi setapak. Berputar pada sebelah tumitnya dan kemudian sebuah loncatan yang panjang sambil menjulurkan pedangnya lurus- lurus. Tetapi gadis lawannya itu bertempur selincah tupai. Bahkan kemudian kakinya bagaikan tidak lagi menyentuh tanah. Kumpeni itu mengumpat di dalam hatinya. Pedangnya seakan-akan tidak pernah berarti sama sekali di dalam perkelahian itu. Arum hampir tidak pernah membiarkan senjatanya membentur senjata lawannya secara langsung. “Ia akan segera kehabisan tenaga” berkata kumpeni itu di dalam hatinya. Dan iapun membiarkannya Arum ber loncatan mengelilinginya. Tetapi semakin lama kumpeni itu menjadi semakin bingung. Ia tidak dapat sekedar menangkis dan menghindar sambil menunggu Arum kelelahan. Tetapi ia harus berbuat sesuatu untuk menghentikan usaha Arum menyerangnya seolah-olah dari segala jurusan.Dengan demikian, kumpeni itupun mulai mengerahkan segenap kemampuannya. Tangannya memang dapat bergerak cepat sekali. Serangan Arum yang mengarah kebagian tubuh lawannya, selalu menyentuh pedang kumpeni itu yang menangkisnya dengan cekatan. “Pertahanan kumpeni itu benar-benar rapat” desis Arum. Namun Arum masih berharap, bahwa kumpeni itu pada suatu saat akan menjadi semakin lamban dan memberikan kesempatan kepadanya untuk menyusupkan pedangnya. Tetapi kumpeni itupun mengharap, bahwa cara berkelahi yang dipergunakan oleh Arum akan segera membuat gadis itu kelelahan dan perempuan itu akan segera kehabisan tenaga. Dalam pada itu, di ujung hutan itupun pertempuran semakin lama menjadi semakin seru. Ternyata bahwa laskar Pangeran Mangkubumi telah berhasil memecah pasukan Surakarta. Mereka menjadi terpisah-pisah dibelah oleh laskar Pangeran Mangkubumi yang dengan sengaja melakukan gerakan-gerakan menyilang. Beberapa orang dari prajurit-prajur it Surakarta yang telah kehilangan kudanya, tidak mampu berbuat apa-apa lagi selain menyingkir dari pertempuran seperti yang dilakukan oleh kumpeni yang sedang bertempur dengan Arum itu. Bahkan ada di antara mereka yang berlari secepat-cepatnya menjauhi pertempuran itu untuk menyelamatkan nyawanya, karena baginya pertempuran itu seolah-olah sudah t idak memberikan tempat lagi baginya. Kumpeni-kumpeni yang ada di pertempuran itupun sudah terpisah yang seorang meninggalkan medan dan melihat Arum yang sedang merunduk. Kemudian terlibat dalam perkelahian melawannya. Yang lain masih berada di atas punggung kudanya dengan pedang di tangannya. Dengan gigih ia melawan orang-orang pribumi yang dianggapnya masih terlampau liar. Sedang seorang di antara mereka harus bertempur melawan seorang anak muda yang memilikikecepatan bergerak di luar dugaan. Anak muda itu adalah Buntal. Anak muda yang membenci kumpeni sampai ke ujung ubun-ubun. Ternyata kumpeni yang memiliki pengalaman yang luas itu, menjadi bingung pula melawan Buntal yang memiliki kecepatan bergerak yang luar biasa. Bagi kumpeni, orang-orang Surakarta agaknya tidak sebodoh yang diduganya. Orang-orang Surakarta telah mempunyai dasar-dasar yang kuat di dalam olah kanuragan, meskipun berbeda dengan ilmu yang mereka pelajari dinegeri mereka. Dan kumpeni itu tidak dapat mengatakan bahwa ilmunya jauh lebih baik dari ilmu orang-orang pribumi. Semula mereka menyangka bahwa para prajurit Surakarta memiliki kemampuan berperang dan bermain senjata karena kumpeni telah memberikan beberapa petunjuk kepada mereka. Tetapi di dalam pertempuran yang sesungguhnya, orang-orang yang tidak pernah mempelajari ilmu yang dibawanya itupun ternyata terlampau sulit dikalahkan. Dan kini salah seorang dari kumpeni itu merasakan, betapa beratnya melawan seorang anak muda yang bernama Buntal. Namun sementara itu, pertempuran di padang ilalang yang tidak terlampau luas itu menjadi kisruh. Para prajurit Surakarta tidak lagi dapat bertahan lebih lama. Mereka mulai terpencar dan menyebar sampai ke tanah persawahan. Bahkan sebagian dari mereka telah menjadi tercerai berai. Laskar Pangeran Mangkubumi dengan sekuat tenaga menekan lawannya dan berusaha segera memecah sampai lumat Kadang-kadang mereka menggeram jika setiap kali pasukan Pangeran Mangkubumi itu harus selalu dikekang oleh pesan-pesan pemimpinnya yang berjanggut putih, bahwa jangan ada korban yang jatuh jika tidak terpaksa sekali, karena prajurit-prajurit Surakarta itu sebenarnya adalah masih keluarga sendir i pula.“Tetapi mereka membunuh pula kawan-kawan kami“ hampir setiap orang di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi itu menggerutu di dalam hati. Sehingga dengan demikian, maka ada pula di antara mereka yang tidak dapat mengendalikan dir inya, dan ada juga prajurit-prajurit Surakarta yang menjadi korban. Ketika seorang laskar Pangeran Mangkubumi berhasil menghentikan seorang prajurit yang melarikan diri dan terluka di bahunya, maka laskar itupun berkata “Kau akan lari kemana?“ Prajurit Surakarta itu tidak menjawab, la sadar bahwa lukanya cukup parah, sehingga jika ia harus bertempur, maka ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Tetapi karena ia berada di medan perang, maka ia tidak dapat berbuat apapun juga. “Kemana?“ laskar itu membentak. Tetapi prajurit itu masih tetap diam. Meskipun demikian, prajurit yang terluka itu masih tetap menggenggam senjata di tangannya, “Apakah kau ingin mat i?” bertanya laskar itu. Prajurit itu memandangnya dengan tegang. Namun kemudian jawabnya “Kematian bagi seorang prajurit di medan adalah wajar. Tetapi aku masih menggenggampadang“ Terasa sepercik api memanasi telinga laskar itu. Tetapi setiap kali pula ia tertahan oleh pesan pemimpinnya. Bahkan kemudian di hati laskar Pangeran Mangkubumi itu tumbuh semacam keinginan untuk menunjukkan harga dir inya sebagai seorang yang berada di dalam lingkungan yang disebut pemberontak. Karena itu maka iapun kemudian berkata sambil tertawa “Jangan lekas berputus asa. Memang bagi seorang prajur it kematian adalah wajar. Tetapi sekarang aku inginmenunjukkan bahwa kau berada dalam keadaan yang tidak wajar, karena kau tidak akan mati. Pergilah. Dan sampaikan kepada kawan-kawanmu di Surakarta, bahwa laskar Pangeran Mangkubumi bukan pembunuh yang tidak berperi- kemanusiaan Jika kau berbicara tentang sifat kesatria, maka aku tidak akan membunuhmu karena kau sudah terluka parah dan tidak mampu lagi melawan dengan baik. Jika kau berbicara tentang warna kulit kita yang serupa, maka kita adalah saudara di dalam keluarga besar. Musuhku yang terutama adalah kumpeni-kumpeni itu, yang sebentar lagi akan mati di medan ini. Tetapi jika kau ingin berbicara tentang keluhuran budi, demikianlah agaknya Pangeran Mangkubumi yang berpesan mewanti-wanti, bahwa kami tidak diperkenankan membunuh prajurit-prajurit Surakarta jika bukan karena terpaksa harus mempertahankan hidup sendir i” laskar Pangeran Mangkubumi itu berhenti sejenak, lalu “sekarang pergilah. Sampaikan salamku kepada prajurit- prajurit Surakarta yang lain. Mereka bukan musuh kami dalam arti yang sebenarnya” Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Terasa sebuah sentuhan yang pedih tergores di dinding jantungnya Namun kemudian harga dir inyapun melonjak pula. Katanya “Jangan menjadi pengecut. Apakah kau melihat bahwa meskipun aku terluka, aku masih cukup kuat untuk membunuhmu” Laskar Pangeran Mangkubumi itu terkejut mendengar jawaban itu. Tetapi iapun kemudian menyadari bahwa prajurit itu tidak mau dihinakan. Maka katanya “Jangan merajuk. Pergilah sebelum kau menyesal” Laskar Pangeran Mangkubumi itu tidak menungguinya lebih lama lagi. Iapun segera meninggalkan prajurit Surakarta yang terluka itu untuk segera terjun kembali ke dalam pertempuran yang riuh, tetapi yang sudah tidak lagi merupakan benturan yang dahsyat dari dua kekuatan yang seimbang, karenasebagian besar prajurit Surakarta telah benar-benar tercerai berai. Sejenak prajurit Surakarta itu termangu-mangu. Ia t idak menyangka akan mengalami perlakuan yang demikian. Menurut pendengarannya, Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said telah menghimpun kekuatan dengan mengumpulkan para penjahat besar dan kecil. Orang kasar dan bodoh. Anak- anak muda yang tidak mempunyai hari depan sama sekali, sehingga dengan mudah dapat dihasut untuk melakukan kekerasan dan bahkan kejahatan sekalipun. Tetapi yang dijumpainya ternyata memberikan kesan yang berbeda sekali. Dalam keragu-raguan prajurit itu sempat melihat arena yang kacau. Tetapi iapun melihat yang sebenarnya telah terjadi, prajurit Surakarta telah tercerai berai sama sekali. Karena itu, tidak ada gunanya ia berbuat apapun juga selain meninggalkan medan dan kembali ke Surakarta. Dan prajurit itupun kemudian melangkah pergi dengan tergesa- gesa sambil menahan sakit pada lukanya. “Mudah-mudahan aku dapat mencapai Surakarta dengan keadaan seperti ini” Dalam pada itu pertempuran di ujung hutan itu sudah tidak terlalu riuh. Prajurit-prajurit Surakarta sudah tidak bertahan lebih lama lagi. Dan agaknya laskar Pangeran Mangkubumipun membiarkan mereka lar i meninggalkan gelanggang. Beberapa orang saja di antara laskar Pangeran Mangkubumi itu yang mengejar mereka sambil berteriak-teriak. Meskipun demikian mereka tidak bermaksud benar-benar memburu dan kemudian membunuh. Yang mereka lakukan adalah sekedar member ikan tekanan atas kekalahan pasukan Surakarta itu. Tetapi laskar Pangeran Mangkubumi itu sama sekali t idak member i kesempatan kepada kumpeni yang ada di medan itu untuk lari. Sepeninggal prajur it-prajurit Surakarta, makaperhatian mereka benar-benar hanya tertuju kepada kumpeni yang masih ada di medan. Pada saat laskar Pangeran Mangkubumi yang lain menyadari bahwa kumpeni itu masih ada di antara mereka, karena mereka sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk meninggalkan medan, maka kumpeni itu dengan cemas sedang berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Tetapi malang bagi yang seorang di antara mereka. Betapapun kumpeni itu cakap mempergunakan pedangnya, tetapi menghadapi lawan yang tidak menentu, iapun akhirnya menjadi bingung. Seakan-akan ia mendapat serangan dari segala arah oleh laskah berkuda yang berputaran. Dengan bahasa yang kasar kumpeni itu mengumpat-umpat ketika ia melihat prajurit-prajurit Surakarta meninggalkan medan. Sedang ia sendiri, bagaikan terperosok ke dalam sebuah lingkaran yang tidak tertembus. Namun ternyata bahwa kumpeni itu benar-benar seorang prajurit. Ia pernah mengarungi samodra yang hampir tidak berbatas. Pengembaraannnya selama itu telah membentuknya menjadi seorang prajurit berhati baja. Itulah sebabnya maka ia sama sekali tidak menjadi gentar meskipun maut telah membayang. Ia melihat seolah-olah di dalam gelapnya malam, sorot mata laskar Pangeran Mangkubumi bagaikan api yang memancarkan kebencian dan dendam. Tetapi kumpeni itu tidak mau mati dibantai seperti seekor lembu. Seperti kepercayaan yang telah berakar di dalam liatinya, seorang prajurit harus mati dengan pedang di tangan. Dan sebenarnyalah demikian yang terjadi. Akhirnya kumpeni itu tidak dapat bertahan melawan luapan kemarahan, kebencian dan dendam laskar Pangeran Mangkubumi, sehingga sejenak kemudian maka terdengar kumpeni itu mengaduh tertahan. Ia masih sempat meneriakkan kata-katayang tidak dimengerti oleh laskar Pangeran Mangkubumi. Namun kemudian iapun mulai kehilangan keseimbangan. Ketika sebilah ujung pedang menyambar pundaknya, maka iapun tidak lagi dapat bertahan, berpegangan pada kendali kudanya. Sesaat kumpeni itu masih berusaha mengangkat pedangnya. Namun tangannya sudah terlampau lemah, sehingga yang dapat dilakukannya adalah menggenggam pedang itu erat-erat. Ketika kudanya melonjak oleh kejutan sentuhan senjata seorang laskar Pangeran Mangkubumi, maka kumpeni itu sudah tidak mampu bertahan lagi, dan iapun terlempar dari punggung kudanya jatuh ke atas bumi. Bumi yang hendak dirampasnya dari tangan putra-putranya yang setia. Akhirnya kumpeni itu harus menebus keserakahannya dengan nyawanya. Di tempat yang lain, Buntal masih bertempur dengan gigihnya. Beberapa orang kawannya yang melihat pertempuran itu, segera melingkarinya. Mereka seakan-akan ingin melihat, apakah Buntal mampu mengalahkan kumpeni itu. Dengan demikian, mereka membiarkan Buntal bertempur seorang melawan seorang di atas punggung kuda masing-masing. Sebenarnyalah bahwa Buntal memang tidak ingin diganggu oleh kawan-kawannya. Ia benar-benar ingin mengukur kemampuannya dengan kumpeni itu. Kemampuan bermainpedang, dan kemampuan bermain-main dengan kuda. Meskipun kuda kumpeni itu agak lebih tegar dari kudanya, namun ternyata bahwa kuda Buntalpun cukup lincah pula. Dalam pada itu, di tempat lain, Arum masih bertempur dengan gigihnya melawan seorang dari kumpeni-kumpeni itu. Dalam keadaan berikutnya, ternyata Arum menjadi berbesar hati. Meskipun kumpeni itu bertubuh tinggi tegap, namun kecepatan geraknya dapat dilampauinya. Arum merasa bahwa dengan ilmunya ia akan dapat menembus pertahanan lawannya yang nampaknya masih cukup rapat. Setiap kali Arum berkata kepada diri sendiri “Benar juga. Kaki orang asing itu seperti diberati timah” Dan Arum dapat berloncatan semakin cepat seperti kijang di padang rerumputan. Tetapi ternyata bahwa Arum tidak dapat seger menembus pertahanan lawannya seperti yang diharapkan. Meskipun kumpeni itu nampaknya hanya bergeser setapak dua tapak, namun ia seakan-akan dapat menghadap kesegala arah darimanapun ia menyerang. “Gila“ desis Arum “Ia hanya berputar-putar saja di tempatnya” Tetapi Arum tidak menjadi bingung. Bahkan serangannya semakin lama menjadi semakin cepat dan seolah-olah telah mengurung kumpeni itu di dalam lingkaran pedang. Meskipun demikian kumpeni itu masih tetap pada sikapnya. Sekali-sekali kumpeni itu bergeser selangkah maju, kemudian surut dan berputar pada sebelah kakinya. Dalam pada itu, prajurit Surakarta telah tercerai berai ke segala arah di antara mereka ada pula yang berlari menyusur parit dan ketika tiba-tiba saja prajurit itu muncul di tikungan, dilihatnya di balik gerumbul dua orang yang sedang bertempur dengan sengitnya.Akhirnya prajurit itupun mengenal bahwa yang berkelahi itu adalah seorang kumpeni melawan orang yang tidak dikenalnya. “Tentu salah seorang pemberontak telah mengejar kumpeni itu“ berpikir prajurit itu. Karena itu, selagi tidak ada orang lain, maka iapun berkata di dalam hatinya “Aku harus menyelamatkan kumpeni itu sebelum orang-orang yang liar itu mengejar kami” Dengan demikian maka perlahan- lahan prajurit itupun mencoba untuk merunduk dengan senjata di tangan. Baru beberapa langkah di sebelah perkelahian itu ia meloncat sambil berkata “Tahankan tuan. Aku akan membantu tuan” Kumpeni itu sempat berpaling. Dilihatnya seorang prajurit Surakarta telah berdiri di belakangnya. “Bunuh saja perempuan ini” desis kumpeni itu. “Perempuan kata tuan” “Ya. Perempuan” Prajurit Surakarta itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian segera maju mendekati Arum dengan pedang terjulur. Arum menjadi berdebar-debar. la tidak segera dapat mengalahkan kumpeni yang bertempur dengan ilmunya yang lain dengan kebiasaan orang-orang Surakarta. Tetapi dengan ilmu itu kumpeni itupun tidak dapat berbuat banyak melawan Arumyang lincah selain mempertahankan diri. Tetapi tiba-tiba Arum kini dihadapkan kepada dua orang lawan sekaligus. Namun bagaimanapun juga, Arumsudah sengaja datang ke medan peperangan. Itulah sebabnya maka Arumpun telah membulatkan tekadnya menghadap segala akibat.Karena itu, maka iapun segera mempersiapkan diri untuk melawan kedua orang itu. Sejenak kemudian perkelahian itupun telah berkembang. Arum memusatkan perhatiannya kepada prajurit Surakarta yang bertempur dengan cara yang lain dari kumpeni itu. Prajurit Surakarta itu bertempur dengan memanfaatkan segenap tubuhnya seperti Arum sendiri. Ia tidak sekedar bergeser selangkah maju kemudian surut. Tetapi prajur it itupun berloncatan dengan cepat dan cekatan. Tetapi dengan kehadiran prajur it itu, ternyata bahwa kumpeni yang semula hanya bertahan saja mulai bergerak lebih banyak. Meskipun ia tidak dapat bertempur seperti Arum dan prajurit Surakarta itu, namun dengan caranya sendir i ia telah menyerang Arum pula. Terasa kemudian oleh Arum, bahwa melawan dua orang yang memiliki ilmu yang berbeda itu agak sulit pula. Kumpeni yang gerakannya sebagian besar adalah gerakan yang datar, seperti sekedar maju dan mundur itu dibarengi dengan serangan-serangan yang lincah dari prajurit Surakarta, merupakan perlawanan yang sangat berat. Namun Arum tidak menjadi berputus-asa. Ia bertempur terus dengan sekuat tenaganya. Tetapi bahwa kemudian yang melihat perkelahian itu tidak hanya seorang prajurit saja, membuat Arum menjadi berdebat. Sejenak kemudian telah datang pula seorang prajurit yang berlari- lari. Tetapi prajur it itupun berhenti pula setelah ia melihat seorang kawannya dan seorang kumpeni bertempur melawan seorang yang tidak dikenal. Seperti kawannya dan kumpeni itu, prajurit yang datang kemudian itupun menganggap bahwa orang itu tentu salah seorang dari laskar Pangeran Mangkubumi. Karena itulah, maka iapun segera melibatkan diri pula di dalam pertempuran itu.Arum yang mendapat lawan lagi, akhirnya merasa bahwa ia tentu akan mendapat kesulitan. Ia merasa bahwa terlampau berat, baginya untuk mengatasi ketiga lawannya itu sekaligus. Meskipun demikian, ia sudah dengan sengaja berada di medan. Dan akibat yang manapun juga akan diterima dengan dada tengadah. Tetapi selagi pertempuran itu menjadi semakin berat sebelah terdengarlah derap kaki kuda mendekat Ternyata kemudian nampak seorang penunggang kuda di dalam keremangan malam. Sejenak penunggang kuda itu termangu- mangu. Namun iapun kemudian dapat menilai keadaan. Seorang yang tidak dikenal sedang bertempur melawan seorang kumpeni dan dua orang prajur it. Karena itu, maka penunggang kuda itupun segera meloncat turun. Dengan hati-hati ia mendekati arena perkelahian itu dengan heran. Ia justru tidak mengenal orang yang sedang bertempur melawan kumpeni dan dua orang prajur it itu. Namun demikian, karena kebenciannya kepada kumpeni telah mencengkam jantungnya, dan ia telah kehilangan buruannya di gerumbul-gerumbul perdu, maka orang itupun segera mendekat sambil berkata kepada Arum “Aku tidak mengenalmu, tetapi karena kau bertempur melawan kumpeni, biarlah aku membantumu” “Lawanlah yang bukan kumpeni” berkata Arum Orang itu terkejut. Desisnya “Kau seorang perempuan?” Tetapi Arumtidak menjawab. Sejenak orang itu termangu-mangu. Namun ia tidak dapat menunggu lebih lama lagi, karena ketiga orang lawan perempuan itu agaknya bertempur semakin sengit Karena itu, maka iapun segera menerjunkan dir i di dalam perkelahian itu. Ia tidak tahu siapakah perempuan yangmampu bertahan melawan tiga orang meskipun nampaknya ia sudah sangat terdesak. Kehadiran orang itu telah memperingan tugas Arum. Tetapi agaknya orang yang baru datang itu tidak lebih baik dari seorang prajurit Surakarta, sehingga karena itu maka Arum masih harus melawan dua orang sekaligus. Tetapi perkelahian yang demikian itu tidak ber langsung lebih lama lagi. di arena di ujung hutan, pertempuran telah hampir selesai seluruhnya. Bahkan laskar Pangeran Mangkubumi itupun kemudian melihat lawan Buntal terlempar dari kudanya dan tidak akan dapat bangun lagi untuk selama- lamanya. Dadanya telah dikoyak oleh senjata Buntal sehingga darah telah memencar dengan derasnya. Sesaat mereka menjadi termangu-mangu. Namun kemudian merekapun berpencaran pula sambil menggertak prajurit-prajurit Surakarta yang berlari-larian karena kehilangan kuda mereka. Namun seperti yang dipesankan oleh pemimpinnya, mereka tidak berusaha membunuh lawan sebanyak-banyaknya. Dalam pada itu beberapa orang laskar Pangeran Mangkubumi yang juga berpencaran itu sudah mulai berkumpul kembali di ujung hutan. Namun tiba-tiba seseorang datang berkuda dengan tergesa-gesa dan memberikan laporan kepada pemimpinnya “Seorang perempuan sedang bertempur melawan kumpeni yang lari dari gelanggang. Beberapa orang kumpeni terbunuh di arena. Sedang yang seorang, yang melarikan diri, kini sedang berkelahi dengan seorang perempuan yang t idak kita kenal itu” Buntal yang mendengar laporan itu terkejut bukan buatan. Ia segera menduga, bahwa perempuan itu tentu Arum. Karena itu, maka tanpa menunggu per intah, iapun bertanya “Dimana?“ “Di tikungan, di tepi parit itu”Buntal segera memacu kudanya. Beberapa saat kemudian iapun telah melihat beberapa orang kawannya sedang melingkari sebuah arena pertempuran. Buntalpun kemudian berhenti di antara kawan-kawannya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia melihat Arum bertempur melawan seorang kumpeni. “Bagaimana mungkin hal ini terjadi?“ bertanya Buntal kepada kawannya. “Semula perempuan itu bertempur melawan tiga orang” “He?“ Buntal terkejut. “Ketika kami datang, seorang kawan kami telah mengambil seorang lawannya, sehingga ia tinggal berkelahi melawan seorang kumpeni dan seorang prajur it. Tetapi prajurit-prajur it Surakarta itu keduanya sudah kami tangkap, sedang kumpeni itu kita usahakan agar tidak dapat meninggalkan gelanggang” “Maksudmu, kalian membiarkan kumpeni itu bertempur seorang melawan seorang dengan perempuan itu?“ “Ya” “Gila. Apakah kalian menyangka bahwa kalian sedang menyabung ayam?“ “Bukan kami yang menyabung mereka. Ketika seorang kawan kami datang, mereka sudah bertempur. Bahkan perempuan itu berkelahi melawan tiga orang. Dua orang prajurit dan seorang kumpeni” “Seharusnya kalian mengambil alih lawan-lawan itu. Seluruhnya “ “Perempuan itu tidak mau melepaskan kumpeni itu” Buntal menggeram. Bukan saja karena ia melihat Arum berada di daerah pertempuran itu, tetapi juga karena kawan-kawannya yang melihat perkelahian itu seperti melihat sabung ayam. Dalam pada itu, Arum sendiri tidak sempat memperhatikan, siapa saja yang ada di sekitar arena. Dendamnya kepada kumpeni telah menutup segenap pertimbangannya. Rasa- rasanya ia ingin melumatkan kumpeni itu dengan tangannya. “Belum tentu aku akan mendapat kesempatan serupa ini setahun dua tahun lagi” berkata Arum di dalam hatinya. Tetapi agaknya Buntal tidak dapat membiarkan hal serupa itu berlangsung lebih lama lagi. Karena itu, tanpa menunggu perintah pemimpinnya, ia meloncat turun dari kudanya dan menyerahkan kendalinya kepada kawannya. “Pegang kudaku” “Kau mau apa?“ Buntal tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian berjalan mendekati arena. “Tidak seorangpun boleh mendekat“ seorang kawannya yang lain menegurnya. Tetapi Buntal t idak berhenti. Beberapa langkah dari arena Buntal berkata “Arum, Kenapa kau lakukan hal ini?“ Arum terkejut mendengar suara Buntal. Tetapi ia t idak dapat segera menanggapinya karena ia harus menghadapi serangan kumpeni itu. “Arum” berkata Buntal kemudian “tinggalkan lawanmu. Biarlah aku menyelesaikan” “Huh“ tiba-tiba Arum berdesis “Aku sudah melukainya. Sebentar lagi ia akan mat i di tanganku. Jangan ikut campur” “Arum, apakah kau t idak mau mendengarkan aku?“ “Tinggalkan aku sendir i. Bawalah prajurit-prajur it Surakarta itu. Tetapi jangan yang seorang ini”Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia memang melihat bahwa kumpeni itu sudah menjadi semakin lemah. Dipundaknya tergores luka yang meskipun tidak begitu dalam, tetapi semakin banyak darah yang mengalir, maka kumpeni itu menjadi semakin lemah. “Arum“ Buntal masih mencoba mencegah “daerah ini adalah daerah pertempuran” Arum masih bertempur terus. Bahkan ia menjadi semakin garang. Ia sama sekali tidak menghiraukan beberapa pasang mata yang memperhatikannya dengan berbagai macam tanggapan. “Arum” sekali lagi Buntal memanggil. “Buntal“ seorang kawannya yang menyaksikan perkelahian itu berkata “Kenapa kau menjadi ribut seperti cacing tersentuh api. Kita memang sedang menyaksikan perkelahian yang aneh. Ternyata bahwa di Surakarta ada juga seorang perempuan yang mampu bertempur melawan kumpeni. Lihat, kumpeni itu hampir mati” Buntal tidak menghiraukannya. Ia mendesak maju semakin dekat. “Hentikan Arum“ Buntal masih mencegah. Tetapi seorang kawannya mendekatinya sambil menar ik bahunya “Biarkan saja. Aku ingin melihat kumpeni itu jatuh tersungkur. Jangan cemaskan nasib perempuan itu. Ia tentu akan menang” “Tetapi aku tidak dapat membiarkannya menjadi tontonan seperti ini” “Siapakah perempuan itu? Isterimu?“ pertanyaan itu membuat wajah Buntal menjadi merah. Tetapi iapun kemudian menjawab “Ia adalah adikku” “Adikmu?“ bertanya beberapa orang bersama-sama.“Ya. Dan aku berhak melarangnya” Beberapa orang saling berpandangan. Kemudian salah seorang dari mereka berdesis “Mengagumkan. Jika demikian maka anak itu hidup dalam keluarga yang dibayangi oleh kemampuan olah kanuragan. Betapa tinggi kemampuan orang tua mereka” “Belum tentu” sahut yang lain “mungkin orang tua mereka hanya menyerahkan keduanya pada seorang guru” Yang lain tidak menyahut lagi. Kini mereka memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Buntal. “Arum” berkata Buntal “Apakah kau benar-benar tidak mau berhenti?“ “Nyawanya sudah ada di ujung pedangku. Jika sekali lagi aku mengibaskannya, maka nyawanya akan terlempar“ “Serahkan kepadaku” “Tidak” Arum hampir berteriak “Aku akan melakukannya sendiri” “Dan menjadi tontonan seperti sabungan ayam?“ Kata-kata Buntal yang terakhir membuat Arum meloncat surut. Ia sempat memperhatikan beberapa orang yang berdiri melingkarinya. Dalam pada itu, kumpeni yang terluka itu sudah berputus asa. Ia tidak melihat jalan keluar dari maut di sekitarnya berdiri beberapa orang laskar pemberontak yang memang sedang mencar inya. Namun justru karena itu, maka kumpeni itu telah kehilangan akal. Ia tidak lagi dapat berpikir, selain jika ia harus mati, maka ia harus tetap menggenggam senjata di tangan. Dan apabila mungkin, maka ia harus membawa lawannya serta.Karena itu, selagi Arum sedang termangu-mangu memperhatikan beberapa orang yang mengitarinya, maka kumpeni itupun meloncat menyerang dengan sisa-sisa tenaga yang ada padanya. Tetapi ternyata bahwa Arum masih tetap berwaspada. Ketika serangan yang dilontarkan dengan sisa tenaga itu terjulur ke dadanya, maka Arumpun sempat meloncat ke samping. Kemudian dengan sekuat tenaganya, Arum telah memukul pedang kumpeni itu sehingga pedang itu terlepas dari tangannya yang memang sudah menjadi semakin lemah. Kumpeni itu terkejut. Tetapi ia sudab tidak sempat berbuat apa-apa. Ketika ia berusaha untuk mengambil senjatanya, maka Arum telah meloncat maju dan melekatkan pedangnya di dada lawannya. “Kau harus mati” teriak Arum. Kumpeni itu menjadi gemetar. Ia ingin dapat menggenggam senjatanya kembali meskipun ia harus mati. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ujung senjata lawannya telah menyentuh kulitnya. Namun dalam pada itu, Buntal yang gelisah masih berdiri di tepi arena. Dengan lantang ia masih mencoba menahan pedang Arum “Tunggu Arum. Ada sesuatu yang akan aku katakan” “Aku akan membunuhnya” berkata Arum.Buntal termangu-mangu. Tetapi ia merasa bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa. Arum tentu tidak akan menghiraukannya lagi. Apa lagi karena ujung pedangnya memang sudah melekat di dada kumpeni yang sangat dibencinya itu. Namun beberapa saat lamanya Arum masih berdiri mematung Terasa sesuatu bergejolak di dadanya. Kebenciannya, memang telah mendorongnya untuk menghunjamkan pedangnya di tubuh lawannya. Namun demikian ada sesuatu yang rasa-rasanya telah memberatinya. “Membunuh di peperangan bukannya suatu dosa“ Ia mencoba menguatkan hatinya agar tangannya dapat digerakkannya, menusukkan pedangnya. Sekilas ia melihat lawannya yang tinggi besar dan berkulit putih itu berdir i tegak dengan tegangnya. Namun tiba-tiba terdengar suara yang seolah-olah menjawab kata-kata di hatinya itu “Jangan kau bunuh orang itu” Semua orang yang mendengar suara itu berpaling. Arumpun berpaling juga sekilas. Dilihatnya seseorang yang berjanggut putih berdiri di pinggir arena di sebelah Buntal. “Jangan kau bunuh orang itu“ Orang berjanggut putih itu mengulangi. “Itu adalah urusanku” jawab Arum “Aku telah berperang tanding dengan kumpeni ini. Penyelesaiannya terserah kepadaku” Orang berjanggut putih itu termangu-mangu sejenak. Yang terdengar kemudian adalah suara Buntal “Arum. Dengarlah perintahnya” “Tidak ada orang yang memerintah aku” “Tetapi ia adalah pemimpin laskar Pangeran Mangkubumi di daerah pertempuran ini”“Aku bukan anak buahnya” “Karena ia diangkat oleh Pangeran Mangkubumi, maka perintahnya sama nilainya dengan perintah Pangeran Mangkubumi sendiri di peperangan ini” Mendengar kata-kata Buntal itu Arum menjadi termangu- mangu sejenak. Kemudian hampir di luar sadarnya ia melangkah surut sehingga ujung pedangnya tidak lagi melekat di tubuh orang yang tinggi besar dan berkulit putih itu. “Dengarlah” berkata orang berjanggut putih. “Namanya Arum” potong Buntal. “Dengarlah Arum“ pemimpin itu melanjutkan “Aku tidak akan mencampur i persoalanmu. Kau memang sudah melakukan perang tanding di luar lingkungan pasukanku. Jika kau berkeras untuk memenuhi keinginan perasaanmu saja, aku tidak dapat mencegahmu” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi sifat seorang kesatria di Surakarta harus kau ketahui. Apabila lawan telah menguncupkan tangannya dan tidak mampu lagi berbuat apapun juga, maka seorang yang bersifat kesatria tidak akan membunuhnya” “Ambil pedangmu” t iba-tiba Arum berteriak kepada kumpeni yang sudah kehabisan tenaga itu. “Tidak ada gunanya” sahut pemimpin laskar Pangeran Mangkubumi itu “kumpeni itu sudah terlampau lemah. Ia tidak akan dapat melawan lagi” “Jadi bagaimana? ia tetap melawan. Ia tidak mau menyerah. Karena itu aku berhak membunuhnya” “Ya. Tetapi seperti yang aku katakan, ia sudah t idak berdaya lagi” pemimpin itu berhenti sejenak. Dipandanginya Arumyang berdiri termangu-mangu. “Arum” Orang itu melanjutkan “aku ingin mengusulkan kepadamu agar kau bersikap seperti seorang kesatria. Akukagum bahwa kau benar-benar seorang perempuan yang luar biasa. Tetapi aku juga kagum bahwa kau sebenarnya adalah seorang yang bersifat kesatria. Ternyata kau tidak langsung menusuk jantung orang itu. Kau menjadi ragu-ragu ketika ujung pedangmu sudah melekat di dadanya. Sifat itulah yang harus kau kembangkan di dalam diri sebagai kesatria di Surakarta. Dan kami akan berbangga karenanya“ “Jadi apa yang harus aku lakukan” “Biarkan orang itu pergi meninggalkan gelanggang” “Apakah kumpeni itu akan dibiarkan hidup?“ “Ya” Arum memandang pemimpin laskar Pangeran Mangkubumi itu dengan heran. Bahkan sebenarnya bukan saja Arum, tetapi setiap orang yang mendengar keputusan itu menjadi heran. Jika kumpeni itu berada di arena pertempuran di ujung hutan itu, meskipun ia berada dalam keadaan yang sama, apakah ia akan dapat diselamatkan? Tetapi kemudian masih terdengar pemimpin itu berkata “Nah, apa katamu Arum” “Tetapi ia adalah kumpeni” jawab Arum “Ia datang dari suatu kerajaan yang jauh dan ingin menguasai kerajaan Surakarta. Apakah kita akan membiarkannya hidup?“ “Dalam keadaan seperti itu aku ingin membiarkannya hidup. Akupun yakin, jika disini ada Pangeran Mangkubumi, maka Pangeran itupun akan membiarkannya hidup” Arum termangu-mangu sejenak. Kemudian dipandanginya Buntal seakan-akan ia ingin mendapat pertimbangan daripadanya. Tetapi Buntalpun menjadi bingung menanggapi keputusan itu. Jika ia mencegah Arum, maka ia hanya ingin menyingkirkan Arum dari arena, yang seakan-akan sepertiayam sabungan yang dikerumuni oleh penontonnya digelanggang sabungan. “Nah. jika kau sependapat, sarungkan pedangmu, Kita akan membiarkan kumpeni itu pergi“ Arum menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi karena orang itu telah menyebut sikap Pangeran Mangkubumi jika ia berada di tempat itu. maka Arumpun menjadi bimbang. Apalagi agaknya Buntal sama sekali tidak dapat membantunya member ikan pendapatnya. Dengan hati yang berat Arumpun kemudian melangkah surut. Perlahan-lahan iapun menyarungkan pedangnya sambil berkata “Jika memang demikian yang dikehendaki oleh Pangeran Mangkubumi, maka akupun akan mentaatinya” Pemimpin yang berjanggut putih itu menarik nafas dalam- dalam. Kekaguman di hatinya kian bertambah. Ternyata gadis itu memiliki rasa pengabdian pula kepada Pangeran Mangkubumi meskipun gadis itu tidak mempunyai hubungan apapun pada bentuk lahir iahnya. “Terima kasih Arum” berkata orang berjanggut putih itu kemudian “ternyata bahwa sikapmu yang terakhir itu menunjukkan bahwa meskipun kau berbuat atas namamu sendiri, tetapi kau merasa dirimu satu dengan perjuangan Pangeran Mangkubumi. Dan sekarang kau telah melepaskan lawanmu yang tidak berdaya itu“ pemimpin itu terdiam sejenak, lalu katanya kepada kumpeni itu “Pergilah” Kumpeni itu masih berdiri mematung. Tubuhnya terasa menjadi semakin lemah. “Pergilah” sekali lagi pemimpin laskar Pangeran Mangkubumi itu berkata “Kau kami bebaskan. Kawan- kawanmu telah mat i terbunuh di peperangan” Kumpeni itu memandang pemimpin berjanggut putih itu dengan heran.“Jangan bingung. Pergilah” Kumpeni itu masih berdiri di tempatnya. “Pergilah“ pemimpin berjanggut putih itu kemudian membentaknya “selamatkan dir imu. Jika kau dapat mencapai perbatasan malam ini, maka kau akan selamat dan hidup. Tetapi bahwa kami telah menunjukkan sikap kesatria, kau sudah mengetahuinya” “Gila“ t iba-tiba kumpeni itu mengumpat “Kalian akan menyesal karena kalian tidak membunuhku sekarang. Besok atau lusa, akulah yang akan membunuhmu” Tetapi pemimpin laskar Pangeran Mangkubumi itu tertawa. Katanya “Ternyata kau juga seorang prajurit jantan, Aku memang sudah mendengar bahwa meskipun kau datang dari kerajaan kerdil di benuamu, tetapi kalian adalah prajurit- prajurit pilihan. Sayang bahwa di samping kejantanan kalian secara pribadi, sikap kumpeni adalah sangat licik. Mengadu domba, menghasut dan kadang-kadang menipu” “Itu adalah akibat kebodohanmu sendir i“ kumpeni itu masih menjawab “dan bangsa yang bodoh seperti kalian memang tidak lebih baik dari domba aduan” “Aku juga kagum kepadamu” berkata orang berjanggut putih “Tidak sia-sia kau datang dari benua yang jauh, dari arah matahari terbenam. Tetapi sebaiknya kau pergi. Sampaikan salamku kepada kawan-kawanmu j ika kau dapat bertahan sampai ke kota” Kumpeni itu menggeram. Namun pemimpin pasukan Pangeran Mangkubumi itu tidak menghiraukannya lagi. Katanya kepada anak buahnya “Kita tinggalkan kumpeni ini. Buang senjatanya agar ia tidak mengganggu penduduk di sepanjang perjalanannya kembali ke kota” Meskipun anak buahnya menjadi ragu-ragu sejenak, namun akhirnya merekapun mulai bergerak meninggalkan tempat itu.Tetapi Buntal mendekati pemimpinnya sambil berdesis “Aku minta ij in untuk mengantarkan adikku kembali ke padepokan. Sebelum fajar aku sudah berada di antara kawan-kawan semuanya” Pemimpinnya mengerutkan keningnya. Katanya “Ia adalah seorang perempuan yang mengagumkan. Apakah ia tidak berani pulang sendir i?“ “Bukan tidak berani pulang sendiri” jawab Buntal, lalu suaranya menjadi semakin perlahan “Tetapi ia akan berkeliaran dan barangkali mencari kumpeni yang kita lepaskan itu“ Orang berjanggut putih itu tersenyum. Katanya “Adikmu memang luar biasa. Baiklah. Antarkan ia pulang dan serahkan kepada orang tuamu. Kemudian kau segera menyusul kami. Kami akan melaporkan hasil tugas kami, bersama dengan kelompok-kelompok di tempat-tempat lain” Buntal menar ik nafas. Ternyata pemimpinnya dapat mengerti dan memberikan ij in kepadanya untuk mengurus Arum lebih dahulu sebelum ia kembali kepada kawan- kawannya. Namun pemimpinnya itu masih bertanya “Apakah tidak sebaiknya kau membawa satu dua orang kawan? Dalam keadaan seperti ini kau memer lukan kawan. Mungkin kau bertemu dengan peronda kumpeni di perjalanan, atau prajurit- prajurit Surakarta. Mungkin juga kau bertemu dengan laskar Raden Mas Said yang tidak saling mengenal dan yang mungkin dapat terjadi salah paham” Buntal merenung sejenak. Tetapi ia tidak dapat menolak. Memang hal yang serupa itu dapat terjadi. “Baiklah” berkata Buntal kemudian “Aku akan membawa seorang kawan”Pemimpin berjanggut putih itupun kemudian memanggil dua orang kawan Buntal dan berkata “Bawalah keduanya bersamamu“ “Kemana?“ bertanya salah seorang dari mereka. “Ikutlah Buntal” Keduanya tidak menjawab lagi. Ketika pemimpinnya kemudian meninggalkan tempat itu, maka keduanyapun tinggal bersama Buntal. Arum masih berdiri termangu-mangu. Ia sempat melihat kumpeni yang sudah tidak bersenjata lagi itu tertatih-tatih meninggalkan arena sambil mengumpat dengan bahasa yang tidak dimengerti. Namun menilik nada dan tekanan kata- katanya, kumpeni itu merasa sangat terhina dan marah tidak habis-habisnya. Namun demikian, iapun meninggalkan arena itu dan hilang di dalam gelap. Arum mengerutkan keningnya ketika ia melihat laskar Pangeran Mangkubumi itu kemudian meninggalkan arena. Tetapi agaknya Buntal akan tetap tinggal mengawaninya. Tetapi ternyata bersama Buntal masih ada dua orang yang lain yang tidak segera pergi sehingga tiba-tiba saja Arum mendekat mereka sambil bertanya “Kalian tidak pergi bersama kawan kalian?“ “Arum” sahut Buntal “Aku akan mengantarkan kau kembali ke padepokan” “Kenapa kau akan mengantar aku? Apa kau sangka aku tidak berani pergi sendiri?“ “Bukan begitu, tetapi dalam keadaan serupa ini, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di sepanjang jalan. Kau tentu masih ingat orang-orang yang membawa kalung merjan itu. Merekapun prajurit-prajurit sandi yang berkeliaran. Ada banyak sekali prajurit-prajurit sandi seperti itu. Dan bahkan mungkin kita akan bertemu dengan laskar Raden Mas. Jikakita saling mempercayai tidak akan timbul sesuatu. Tetapi jika timbul salah paham, dan kita saling berprasangka, maka akan dapat timbul persoalan. Kita masing-masing tidak akan dapat membedakan, yang manakah laskar Pangeran Mangkubumi, yang manakah laskar Raden Mas Said, dan yang manakah prajurit-prajurit Surakarta dalam tugas sandi” Arum mengerutkan keningnya. Namun katanya sambil memandang kedua kawan Buntal “Kenapa mereka tinggal juga bersamamu?“ “Seperti yang aku katakan. Kita tidak dapat berjalan seorang diri dalam keadaan ini” “Kau takut?“ Buntal menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian “Bukan takut Arum. Ada bedanya antara ketakutan dan berhati-hati” Arum memandang kedua kawan Buntal berganti-ganti. Nampak kekecewaan membersit di hatinya. Dalam tanggapan perasaan Buntal yang telah terisi oleh sikap tertentu terhadap Arum, seakan-akan Arum menjadi kecewa bahwa ada orang lain yang akan pergi bersama mereka berdua. Tetapi Buntal yang menyadari keadaan, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam arus perasaannya saja. Karena itu. maka katanya kemudian “Marilah Arum. Apakah kau hanya berjalan kaki saja?“ “Aku membawa kuda. Aku sembunyikan kudaku di balik semak-semak itu” “Marilah. Secepatnya aku harus kembali kepasukanku” “Kenapa tidak sekarang saja?“ Buntal yang mengetahui sifat Arum hanya dapat menarik nafas. Sedang kedua kawannya mempunyai tanggapan yang, aneh terhadap adik Buntal itu. Tetapi bagi mereka sifat gadisitu memang sangat menarik. Keduanya tidak pernah menjumpai gadis yang mempunyai sifat dan sikap seperti Arum. Dan apalagi mampu bertempur melawan tiga orang sekaligus meskipun ia terdesak dan bahkan membahayakan jiwanya seandainya tidak ada orang lain yang melihatnya. Dalam pada itu, maka Buntalpun berkata pula “Mar ilah Arum. Dimana kudamu. Jangan mempersulit keadaanku” Buntal tidak menyahut. Sambil menuntun kudanya yang telah diserahkan kepadanya ia berjalan mendekat sambil berkata “Nah, kami akan mengambil kudamu lebih dahulu. Kemudian aku akan mengantarkan kau sampai ke padepokan” Arum tidak menyahut. Iapun kemudian melangkah meninggalkan tempatnya. di belakangnya Buntal dan kedua kawannya berjalan menuntun kuda masing-masing. Kedua kawan Buntal yang sempat melihat pakaian Arum di dalam keremangan malam, melihat kelengkapan yang dibawa oleh gadis itu. Selain pedang, ternyata diikat pinggangnya terselip pisau-pisau belati. Dengan demikian, kedua kawan Buntal itu dapat menduga, bahwa gadis itu benar-benar seorang gadis yang siap bertempur menghadapi segala kemungkinan. Tetapi sayang, bahwa ia melakukannya sendiri, tanpa ikatan dengan pasukan yang telah ada sehingga memang mungkin sekali dapat timbul salah paham. Tetapi keduanya tidak berkata apapun juga. Dalam waktu yang singkat keduanya dapat menangkap serba sedikit sikap dan sifat gadis itu. Demikianlah maka merekapun kemudian menyusup ke balik gerumbul untuk mengambil kuda Arum, yang ditinggalkannya ketika ia merayap mendekati hutan. Tetapi Arum terkejut bukan buatan ketika ia tidak melihat lagi kudanya di tempat ia menambatkannya.“Di sini aku menambatkan kudaku“ Arumhampir berteriak. “Apakah kuda itu lari dan terlepas?“ “Tentu tidak” jawab Arum “Jika kuda itu melepaskan diri dengan paksa, maka tentu akan nampak bekas-bekasnya. Ranting-ranting itu akan berpatahan, atau daun-daunan akan rontok oleh sentuhan kendali yang aku tambatkan dengan cukup kuat” “Jadi menurut dugaanmu, kudamu diambil orang“ “Ya“ dan tiba-tiba saja Arum menggeram “Tentu kumpeni itu. Ia menyusup gerumbul-gerumbul liar dan menemukan kuda itu. Gila. Kenapa aku tidak membunuhnya? “Ia tidak berjalan kearah ini. Ia menuju kearah kota. Tentu kumpeni itu tidak akan sampai ke tempat ini” “Siapa tahu ia mencari jalan melingkar karena ia masih tetap curiga. Atau barangkali ia memang tersesat, dan tanpa sengaja menemukan kudaku” Buntal mengerutkan keningnya, lalu katanya “Pakailah kudaku” “Tidak mau” “Kenapa?“ “Aku tidak mau berkuda berdua” “Bukan begitu. Maksudku, kau pakai kudaku. Aku akan berdua dengan salah seorang kawanku” Arum mengerutkan keningnya. Sejenak ia merenung. Kemudian iapun mengangguk kecil. Katanya “Baiklah” Kedua kawan Buntal tidak dapat menahan senyumnya. Gadis ini agak manja juga. Tetapi ternyata ia tidak sekedar bermanja-manja. Justru gadis itu memiliki kemampuan yang melampaui kebanyakan gadis-gadis sebayanya. Bahkan tidak banyak anak muda yang mampu berbuat seperti gadis itu.Namun dalam pada itu, selagi Buntal akan menyerahkan kudanya kepada Arum, terdengar gemerisik dedaunan di belakang mereka, sehingga dengan gerak nalur iah, maka mereka yang ada di tempat itupun segera mempersiapkan diri. Serentak mereka bersikap, menghadap kearah dedaunan yang mulai menyibak, dan sebuah bayangan nampak tersembul dari balik gerumbul-gerumbul yang rimbun itu. Semakin lama semakin jelas bagi mereka yang berdiri dengan tegang menantikannya. Dan hampir di luar sadar pula, tangan-tangan merekapun telah melekat dihulu senjata masing- masing. Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara tertawa perlahan-lahan. Dan disela-sela suara tertawa itu terdengar orang yang baru saja tersembul dari gerumbul itu berkata "Apakah kau mencari seekor kuda yang tertambat di sini” “Ayah“ Arum hampar berteriak “Tentu ayah yang sedang mempermainkan aku” Ternyata orang yang baru datang itu adalah Kiai Danatirta. Buntalpun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata “Ayah mengejutkan kami” Kiai Danatirta masih tertawa. Katanya “Ya. Akulah yang menyembunyikan kudamu”“Ayah selalu mengganggu aku” desis Arum. “Tidak. Tetapi aku benar-benar menyembunyikan kuda itu. Prajurit Surakarta yang berlari bercerai-berai itu ternyata ada yang sampai ke tempat ini pula. Jika aku tidak menyembunyikan kudamu, maka kudamu itu tentu sudah hilang pula” Arum termangu-mangu sejenak. Lalu tiba-tiba saja ia bertanya “Tetapi kenapa ayah tiba-tiba saja sudah ada di sini?“ “Kenapa kau berada di sini pula?” Justru ayahnya ganti bertanya. Arum tidak menyahut, tetapi kepalanya sajalah yang tertunduk dalam-dalam. Tanpa disadarinya tangannya telah mempermainkan hulu kedua pisau belati yang tidak dipergunakannya. “Arum telah melakukan sesuatu yang sangat berbahaya ayah” berkata Buntal. “Tumbak cucukan” desis Arum “Kenapa kau melaporkannya kepada ayah seperti kanak-kanak saja “ Buntal justru tertawa. Katanya “Jadi maksudmu agat ayah tidak mengetahui bahwa kau telah melakukan itu? Baiklah. Aku tidak akan mengatakan kepada ayah bahwa kau telah mencegat kumpeni itu dan kemudian bertempur melawan dua bahkan tiga orang sekaligus” “Tidak“ Arum hampir berteriak “kumpeni itulah yang merunduk aku dan kemudian menyerang. Dan aku tidak berkelahi melawan tiga orang. Kawan kakang Buntallah yang kemudian berkelahi itu” “Jadi kau tidak?“ bertanya Buntal. “Tidak” “Apakah aku dapat bertanya kedua kawanku ini”“Tentu mereka akan memihakmu” Sebelum Buntal menjawab, ayahnyalah yang mendahuluinya “Aku melihat semuanya. Aku melihat Arum melonjak- lonjak kegirangan melihat prajurit Surakarta terdesak yang karena itu ia menjadi lengah sehingga kumpeni itu melihatnya Kemudian akupun melihat kumpeni itu bertempur tanpa senjata api berlaras pendek. Kemudian datang seorang dan seorang lagi. Berturut-turut aku menungguinya” “O“ Buntal mengangguk-angguk sedang Arum menundukkan kepalanya. Dalam pada itu kedua kawan Buntal benar-benar menjadi heran. Ia yakin bahwa ayah gadis itu tentu bukan orang kebanyakan, menilik sikap dan tingkah lakunya. Namun ia membiarkan anak gadisnya bertempur melawan tiga orang, justru demikian berbahaya bagi jiwanya “Tetap agaknya ia yakin tentang anak gadisnya” berkata yang seorang di dalam hatinya, sedang yang lain berkata kepada diri sendiri “Tentu ayahnya sudah siap menyelamatkannya apabila keadaan menjadi semakin gawat” Dalampada itu, Kiai Danatirtapun kemudian berkata “Arum, marilah kita pulang. Biarlah Buntal dan kedua kawannya kembali ke induk pasukannya. Mereka masih harus melaporkan hasil dari tugas mereka” “Tetapi dimana kudaku itu ayah?“ “Jangan takut. Kudamu selamat. Prajurit-prajurit Surakarta yang tercerai berai itu tidak menjumpai kudamu” Arum mengangguk kecil. “Nah Buntal, sekarang kembali sajalah kepada induk pasukanmu. Biar lah aku yang membawa Arum kembali”“Baiklah ayah” jawab Buntal datar. Tetapi sepercik kekecewaan telah menyentuh hatinya. Ada semacam keinginan untuk pergi bersama Arum, meskipun dengan dua orang kawannya. Apalagi apabila ada kesempatan baginya untuk pergi berdua saja. Bagaimanapun juga sebagai seorang anak muda Buntal masih dibayangi oleh perkembangan jiwa mudanya. Namun demikian Buntal sadar sepenuhnya, bahwa ia berada dalam suasana yang khusus. Suasana yang diliputi oleh perjuangan untuk menegakkan hak dan harga diri. Bukan secara pribadi, tetapi hak dan harga diri bangsanya yang diancamoleh kekuasaan orang-orang asing. Karena itu, maka ia harus menekan perasaan sendir i. Perasaannya sebagai seorang yang meningkat dewasa terhadap seorang gadis yang memiliki kekhususan baginya. Bukan karena Arum seorang gadis yang mampu bermain pedang, tetapi sentuhan-sentuhan halus yang terasa membelati hatinya. Dalam pada itu, maka Buntal bersama kedua orang kawannyapun segera minta diri untuk kembali ke induk pasukannya. Namun terasa hati Buntal tergetar ketika ia melihat sorot mata Arum yang asing. Meskipun di dalam keremangan malam, seakan-akan ia melihat sorot mata yang sekejap menyala, namun kemudian wajah itu berpaling. Tetapi tiba-tiba saja terbayang sebuah wajah yang lain. Wajah seorang putera bangsawan yang tampan dan berwibawa Juwiring. Raden Juwiring, putera Pangeran Ranakusuma. “Persetan“ Ia menggeram di dalam hati “ia telah mengkhianati tanah kelahirannya. Ia telah mengkhianati gurunya dan ia telah berkhianat pula kepada dirinya sendir i, kepada cita-cita dan pendiriannya. Pada suatu saat aku akan menghadapinya di medan perang. Meskipun ia memiliki ilmu rangkap, dari perguruan Jati Aking dan dar i ayahandanyasendiri, akupun mempunyai ilmu rangkap pula. Selain ilmu dari Jati Aking, akupun telah mempelajari ilmu khusus dar i Kiai Sarpasrana yang tidak kalah dahsyatnya dari Pangeran Rana kusuma“ Demikianlah maka Buntalpun kemudian berpisah dengan Arum yang dibawa serta oleh ayahnya, dan kembali ke induk pasukannya bersama dengan kedua orang kawannya. “Adikmu lucu sekali” tiba-tiba salah seorang kawannya berdesis. “Kenapa?” bertanya Buntal. “la seorang gadis yang perkasa, tetapi sekaligus manja. Ia dapat menjadi seorang kawan yang bagus sekali di dalam kesulitan, tetapi juga seorang kawan yang manis di dalam kehidupan yang sewajarnya. Namun demikian, jika ia marah ia dapat menjadi berbahaya. Jika kelak suaminya bukan seorang yang mampu mengatasinya Setidak-tidaknya dari satu segi, jika bukan dalam olah kanuragan, mungkin dari segi kejiwaan maka ia adalah seorang isteri yang sulit dikendalikan” “Demikianlah” desis Buntal. Dan tiba-tiba saja kawannya yang lain berkata sambil tertawa “Sebenarnya aku ingin melamarnya Buntal. Tetapi aku menjadi cemas jika tiba-tiba ia menar ik pedangnya dalam perselisihan yang dapat saja terjadi di dalam lingkungan rumah tangga. Mungkin ia kecewa oleh kayu bakar yang basah di dapur, maka ia menjadi marah kepadaku dan menantang untuk berperang tanding. Atau barangkali aku terlambat bangun dan jambangan belum terisi ketika ia ingin mandi, maka aku dapat didorongnya dengan ujung pedang ke bibir sumur” Kawannya yang lain tertawa. Buntal sendiri tersenyum betapa masamnya. Hal yang serupa itu memang sudah terbayang diangan-angannya. Tetapi justru karena ia benar-benar mempertimbangkan hal itu, maka ia tidak mau mengatakannya kepada siapapun juga” “Tetapi kemanapun kita pergi di malam hari, rumah kita tidak akan dimasuki pencuri“ desis kawannya yang lain. “Benar. Tetapi ada keberatan lain. Jika kita pulang terlampau malam, maka kita harus berhadapan dalam perang tanding” Mereka itupun tertawa. Buntalpun tertawa pula. “Sudahlah” berkata Buntal kemudian “Jangan mempercakapkan anak nakal yang manja itu. Aku mempunya permintaan kepada kalian, agar kalian tidak menyebar luaskan ceritera tentang gadis yang suka menuruti kehendaknya sendiri. Hal itu akan dapat membahayakan padepokanku jika kelak terdengar oleh petugas-tugas sandi” “Tetapi kumpeni itu tentu mendengar nama adikmu disebut“ “Ia tidak akan dapat mengucapkan nama itu dengan baik, atau barangkali ia sudah lupa sama sekali. Seandainya ia ingat, iapun tidak akan dapat menunjukkannya” Demikianlah maka mereka bertiga itupun kemudian berpacu menyusul kawan-kawan mereka ke induk pasukan. Mereka sudah tahu benar, kemana mereka harus pergi setelah tugas itu selesai. Dalam pada itu, Arumpun sudah berpacu pula bersama ayahnya kembali ke padepokannya. di sepanjang jalan, mereka hampir tidak berbicara sama sekali, sampai pada saatnya Arum bertanya “Kenapa ayah berada di daerah pertempuran?” “Karena kau ada di sana pula Arum. Aku melihat kau berangkat. Kau sama sekali tidak berpaling ketika aku memanggilmu. Karena itu, maka akupun segera menyusulmu”“Jika ayah melihat aku bertempur melawan tiga orang, dan bahkan aku sudah menjadi sangat terdesak, kenapa ayah diamsaja?“ gadis itu seakan-akan menuntut. Kiai Danatirta justru tersenyum. Katenya “Aku memang ingin melihat kau mengerahkan segenap kemampuanmu sampai tuntas. Aku kecewa bahwa ada orang lain yang ikut campur di dalam perkelahian itu” “Apakah ayah menunggu dadaku sobek?“ Kiai Danatirta justru tertawa karenanya. Katanya “Jika kau benar-benar sudah sampai pada puncak kesulitan, tentu kau berusaha dengan segenap kemampuanmu untuk mencari jalan keluar. Jika kau merasa tidak mampu lagi melawan ketiga orang itu bersama-sama, maka aku menunggu kau mempergunakan senjatamu yang masih tetap berada di sarungnya” “O“ tanpa disadarinya Arum meraba pisau belatinya yang masih tetap terselip di pinggangnya. Dengan nada yang tinggi ia berkata “Jika. aku ingat, maka dua orang prajurit Surakarta itu tentu sudah tembus oleh pisau-pisau ini“ “Untunglah bahwa kau terlupa karenanya, sehingga kau tidak perlu membunuh sesamamu” “Tetapi bukankah di peperangan membunuh bukannya pantangan ayah? Jika seseorang tidak mau membunuh di peperangan, maka mungkin dar inya sendirilah yang akan terbunuh” “Benar. Tetapi peperangan bukan tempat orang yang sekedar ingin melepaskan dendam hatinya dan membunuh sebanyak-banyaknya. Justru di dalam peperangan kita diuj i, apakah kita akan tenggelam dalam ketidak sadaran atas diri sendiri, atau kita tetap berada di dalam kepribadian yang utuh. Jika peperangan dapat dimenangkan tanpa menitikkan darah setetespun itu tentu jauh lebih baik dari suatukebanggaan, bahwa di peperangan kita sudah membunuh beratus-ratus orang” Arum mengerutkan keningnya. Terngiang kembali kata-kata orang berjanggut putih, yang disebut pemimpin oleh laskar Pangeran Mangkubumi termasuk Buntal. Jika lawan telah mengucapkan tangannya, maka tidak sepantasnya kita membunuhnya, meskipun kita masih harus tetap berwaspada. Arum yang sedang merenungi kata-kata itu, untuk beberapa saat lamanya tidak berbicara. Kiai Danatirtapun masih berdiam dir i sambil memandang jauh ke depan. Ke dalam kegelapan malam yang menjadi semakin dalam. Semakin lama merekapun menjadi semakin dekat dengan padepokan Jati Aking. Yang baru saja terjadi, bagi Arum merupakan suatu pengalaman baru yang mungkin tidak akan terulang kembali. Kesempatan untuk bertempur seorang lawan seorang dengan kumpeni merupakan pengalaman yang sangat berharga baginya. Sebagai seorang anak Surakarta, maka Arum menjadi semakin percaya kepada diri sendir i, bahwa orang asing itu bukan orang-orang yang mempunyai martabat yang lebih tinggi daripadanya. Ternyata bahwa seorang laki- laki asing yang bertubuh tinggi tegap dan kekar, tidak mampu mengalahkannya di dalamperang tanding. “Apakah sebenarnya kelebihan mereka?“ bertanya Arum kepada diri sendir i. Dan akhirnya Arum mempunyai kesimpulan bahwa kelebihan mereka adalah kecakapan mereka mempergunakan dan memanfaatkan sifat-sifat sebagian anak-anak Surakarta sendiri. Tamak dan dungu. Benar-benar seperti seekor domba yang dengan mudahnya diadu yang satu dengan yang lain. Tetapi Arum, seorang gadis dar i padepokan kecil di daerah Jati Sari, tidak akan dapat berbuat apapun juga, selain memandang akibat dari pertentangan yang ditimbulkan di dalam dir i sendir i. Gemer lapnya istana para Pangeran memancing kebencian yang. diharapkan oleh orang-orangasing itu. Dan merekapun berusaha memperluas jarak antara para bangsawan yang kaya raya dan rakyat Surakarta kebanyakan. Namun pada suatu saat telah meledak perasaan kebencian rakyat Surakarta kepada kumpeni itu jauh di luar dugaan. Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi ternyata mampu menggoncangkan kedudukan orang-orang asing itu di Surakarta Yang terjadi di ujung hutan itu adalah salah satu kenyataan dari perjuangan Pangeran Mangkubumi. Pada malam itu juga para pemimpin kelompok yang mendapat tugas yang bersamaan di tempat-tempat yang berbeda telah memberikan laporan masing-masing. Ternyata bahwa tidak semua kelompok yang dikirim oleh Pangeran Mangkubumi dapat berhasil sebaik-baiknya. Ada di antara sekian banyak kelompok-kelompok itu yang hampir gagal sama sekali. Justru karena pesan dari para pemimpinnya, agar mereka t idak menjatuhkan korban sejauh dapat dihindari. “Ternyata beberapa orang kita sendiri menjadi korban” berkata seorang pemimpin kelompok yang terpaksa mundur sebelum berhasil memecah pasukan Surakarta yang dicegatnya. Namun dalam pada itu, ternyata yang telah terjadi merupakan goncangan yang telah menggetarkan Surakarta. Beberapa kelompok prajurit Surakarta yang mendapat tugas untuk merampas segala jenis senjata telah mendapat serangan serentak. Meskipun tidak dapat diketahui dengan pasti, tetapi prajurit-prajurit Surakarta itu dapat menebak, bahwa yang bergerak adalah pasukan Pangeran Mangkubumi Para pemimpin Surakarta dan kumpeni, sebenarnyalah dengan sengaja memancing ledakan itu. Tetapi mereka tidak menduga sama sekali, bahwa Pangeran Mangkubumi telah benar-benar bersiap menghadapi kemungkinan yang tiba-tiba.Jika kumpeni menghendaki agar Pangeran Mangkubumi menjadi marah karena para prajurit Surakarta dan kumpeni dengar sengaja melakukan perampasan senjata atas rakyat Surakarta, ternyata mereka telah dikejutkan oleh tindakan yang serta-merta dari Pangeran Mangkubumi. Tetapi dalam tindakan yang serta-merta itu pasukan Pangeran Mangkubumi bukan sekedar merupakan laskar dari segerombolan orang liar yang dengan kasar dan buas menyerang para prajurit Surakarta dan kumpeni yang menyertainya. Dan agaknya tindakan serta-merta tetapi yang sudah dipersiapkan dengan masak itu benar-benar telah mengejutkan paru pemimpin prajur it Surakarta dan kumpeni. Mereka tidak lagi mengharap Pangeran Mangkubumi menjadi marah dan kemudian mempersiapkan orang-orangnya untuk melakukan serangan-serangan kecil. Tetapi yang terjadi adalah sebenarnya sebuah peperangan besar yang merata di sekitar Surakarta. Dalam pada itu, selagi para pemimpin Surakarta mengadakan pembicaraan di antara mereka sebelum mereka dengan resmi melaporkan keadaan itu kepada Kangjeng Susuhunan. maka para prajurit yang per lahan-lahan mulai terkumpul lagi setelah mereka terpecah bercerai berai, mulai berbicara di antara mereka. Semula mereka ragu-ragu untuk menyatakan pengalaman masing-masing. Namun seorang prajurit yang terluka di pundaknya berkata “Aku menjadi bingung menghadapi sikap laskar Pangeran Mangkubumi” “Kenapa?“ bertanya kawannya. “Ketika salah seorang berhasil melukai aku, maka dalam keadaan yang tidak berdaya aku hanya dapat menunggu ujung pedangnya mengakhir i hidupku. Tetapi hal itu tidak dilakukannya, la membiarkan aku hidup dan kembali seperti yang kau lihat sekarang” prajurit itu berhenti sejenak, lalu-jika pada saat-saat yang mendebarkan itu aku hanya dapat membayangkan isteriku dan anak-anakku yang masihterlampau kecil untuk menjadi seorang anak yang tidak berbapa, maka agaknya aku masih akan mendapat kesempatan untuk benar-benar bertemu dengan mereka, bukan sekedar di dalamangan-angan” Ternyata kemudian bukan hanya satu dua orang sajalah yang berceritera tentang hal yang serupa. Dan bukan saja mereka yang berada di dalamsatu medan. “Agaknya Pangeran Mangkubumi memang membekali laskarnya dengan sikap itu” berkata seorang prajurit yang sudah lebih tua dari kawan-kawannya “dan sebenarnyalah sikapnya itu sikap seorang kesatria sejati. Kesatria Mataram yang sebenarnya” Para prajurit yang lain mengangguk-angguk. Mereka tidak dapat melepaskan diri dari kesan yang demikian. Dalam pada itu, kumpeni yang telah dilepaskan oleh pasukan Pangeran Mangkubumi, telah berhasil pula sampai ke Surakarta. Sebagai seorang prajurit yang memiliki pengalaman yang luas, ia tidak menyerah kepada keadaannya. Meskipun ia terluka, tetapi dengan segenap sisa kemampuannya kumpeni itu seolah-olah merangkak memasuki kota. Namun ia tidak berputus asa. Apalagi ia dibebani oleh perasaan dendam yang tiada taranya terhadap peristiwa yang baru saja dialami.Ternyata ia adalah salah satu dari dua orang kumpeni yang masih tetap hidup. Yang lain, yang ikut serta di dalam pasukan Surakarta yang tersebar untuk dengan sengaja memancing agar Pangeran Mangkubumi melepaskan laskarnya, telah tewas dalam pertempuran yang terjadi di beberapa tempat itu. “Aku mengenal setidak-tidaknya satu nama” desis kumpeni yang kemudian berbaring di pembar ingan di bawah perawatan seorang tabib. “Beristirahatlah. Kau tidak boleh terlampau banyak berbicara. Jika kau sudah agak tenang, maka kau dapat melaporkan semua yang kau alami. Dan nama itu mungkin akan sangat penting artinya” berkata tabib yang merawatnya. Kumpeni itu seakan-akan tidak sabar lagi. Tetapi ia t idak dapat bangkit dari pembaringannya karena tubuhnya menjadi sangat lemah. Tetapi ia masih mencoba minta kepada tabib itu “Apakah kau dapat menghubungi komandanku?” “Tentu. Tetapi tidak sekarang. Nanti pada saatnya ia akan datang kemar i, atau utusannya” Kumpeni itu menggeram. Terbayang seorang perempuan yang dengan wajah mengejek melukai tubuhnya dengan pedang. Kemudian beberapa orang laki- laki yang menangkap dua orang prajurit Surakarta mengerumuninya seperti melihat sabungan ayam yang banyak terdapat di pinggir kota Surakarta. “Kenapa mereka tidak membunuh aku “Ia menggeram “itu suatu penghinaan. Akulah kelak yang akan datang membunuh mereka. Dan mereka akan menyesali kesombongannya. Tatapi penyesalan itu tidak akan ada artinya. ” Dengan demikian ia berharap untuk segera dapat bertemu dengan siapapun juga. Ia harus mengatakan bahwa ia mengenal nama salah seorang dari pemberontak-pemberontak itu.“Arum” desisnya “namanya Arum” Namun kemudian “Tetapi j ika nama itu nama yang banyak dipakai oleh perempuan-perempuan pribumi, maka akan sulit untuk dapat menemukannya” Tetapi kumpeni itu kemudian teringat, bahwa ia mengenal seorang Senopati dari pasukan berkuda yang menurut pendengarannya pernah tinggal disuatu padepokan. “Padepokan itu terletak di dekat kami bertugas“ Ia menggeram “beberapa orang prajurit Surakarta menunjuk sebuah desa kecil dan mengatakan bahwa Raden Juwiring pernah berada di padukuhan itu untuk beberapa lamanya. Tentu ia akan dapat membantu menemukan perempuan yang bernama Arum itu” Kumpeni yang terbaring itu tersenyum sendiri. Seakan-akan ia sudah berada di punggung kuda bersama beberapa orang kawannya dan sepasukan prajurit Surakarta mencari perempuan yang bernama Arum itu. “Jika aku t idak membunuhnya, aku dapat berbuat apa saja atasnya jika ia sudah tertangkap. Meskipun ia lincah mempergunakan pedang, tetapi tanpa senjata ia tentu tidak berdaya” Kumpeni itu tersenyum sendir i. Namun tiba-tiba iapun menyeringai ketika lukanya terasa pedih. “Aku tidak akan mengatakan nama itu kepada siapapun, kecuali kepada komandan dan kepada Raden Juwiring, Senapati pasukan berkuda putera Pangeran Ranakusuma” Sehari-harian kumpeni itu masih saja dipengaruhi oleh bayangan-bayangan yang peristiwa yang dialaminya itu. Apalagi masih belum ada orang yang dapat menengoknya, sebelum ia menjadi tenang menurut penilaian tabib yang merawatnya.“Aku sudah tenang. Aku tidak apa-apa” katanya kepada diri sendiri. Namun ia masih harus tetap berbaring. Dengan demikian, tidak ada yang dapat dilakukan selain berangan-angan. Tentang dirinya sendiri, tentang perempuan yang melukainya dan tentang orang-orang yang mengerumuninya. Kumpeni itu tiba-tiba mengerutkan keningnya. Terbayang pedang gadis yang sudah melekat di dadanya itu. Tetapi nampak jelas padanya, keragu-raguan yang sangat telah menahan tangannya. “Kenapa ia ragu-ragu? Kenapa?“ kumpeni itu menggeram “itu suatu kesombongan yang tiada taranya” Namun tiba-tiba nampak padanya suatu segi yang lain dari keragu-raguan perempuan yang bernama Arum itu. Betapa kebencian telah mencengkam jantung perempuan itu, sehingga ia tidak mau membiarkan orang lain melawannya. Tetapi pada saat yang menentukan, pedangnya tidak segera menghunjam di dadanya. Dan menilik sikap dan tatapan matanya, perempuan itu telah terpengaruh oleh suatu perasaan yang memercik di hatinya. “Nampaknya bukan karena kesombongannya” tiba-tiba saja di luar sadarnya kumpeni itu berdesis. Dan bahkan meskipun tidak begitu jelas, tetapi ia mengerti bahwa niat untuk membunuhnya tetap menyala di hati gadis itu, karena kebencian yang tidak ada taranya. Tetapi ia tidak melalaikannya. Perempuan itu tidak membunuhnya, meskipun seandainya tidak ada orang lain yang melarangnya. “Kenapa ia tidak melakukannya?“ sebuah pertanyaan telah membelit hatinya. Kumpeni itu memejamkan matanya. Ia tidak dapat menolak ketika seakan-akan di depan wajahnya dihadapkan sebuah cermin. Perempuan pribumi yang dianggapnya masih terbelakang di dalam pengenalan ilmu lahir dan batin ituternyata memiliki perasaan kasih di antara sesama. Demikian tebalnya perasaan itu sehingga mampu mengatasi perasaan dendam dan benci yang mencengkam hati perempuan pribumi itu. “Dan ia tidak sampai hati menghunjamkan pedangnya di dadaku“ desahnya. Namun kemudian kumpeni itu menggeretakkan giginya sambil menggeram“Tidak. Aku tidak perlu belas kasihan itu” Tetapi yang terdengar di lubuk hati adalah jawaban “Bukan sekedar belas kasihan. Tetapi itu adalah perasaan kasihan” Kumpeni itu berdesis. Sekali-sekali ia menggeliat dalam kegelisahan seakan-akan lukanya terasa menjadi pedih. Itulah sebabnya seorang yang merawatnya selalu mengawasinya. Tetapi kegelisahan kumpeni itu bukan karena lukanya itu. Ia merasa bahwa ia dihadapkan pada suatu kenyataan yang tidak dapat dimengerti. Perempuan pribumi yang nampaknya masih dipengaruhi oleh keterbelakangan di dalam peradaban dunia yang luas, namun ternyata memiliki peradaban batin yang tinggi. Namun akhirnya kumpeni itu dapat menguasai perasaannya. Karena itu maka iapun menjadi tenang, dan kemudian berhasil memejamkan matanya meskipun hanya sesaat oleh kelelahan lahir dan batin. Ketika ia kemudian membuka matanya, terasa badannya menjadi agak segar. Dilihatnya di dalam biliknya dua orang kumpeni yang sedang bercakap-cakap perlahan-lahan. Ternyata yang seorang adalah seorang perwira. Pemimpinnya. “Tidur sajalah” berkata komandan itu. Kumpeni yang terluka itu berusaha untuk bangkit Tetapi tubuhnya masih terlampau lemah, dan komandannya itupun menahan pundaknya sambil berkata “Kau harus tetap berbaring”Kumpeni itu menarik nafas dalam-dalam. “Kau sudah menjadi agak tenang. Bukankah kau ingin bertemu dengan aku? Tabib yang menolongmu berkata, bahwa ada sesuatu yang akan kau katakan. Barangkali akan sangat berguna bagi Surakarta” Kumpeni yang terluka itu mengerutkan keningnya. “Apakah kau mengenal salah seorang dari pemberontak ku?“ bertanya komandannya. Kumpeni itu mengerutkan keningnya. Terbayang wajah perempuan yang memegang pedang itu. Terngiang nama perempuan itu disebut oleh kawan-kawannya. Namanya Arum. Dan jika kumpeni membawa Raden Juwiring besertanya, maka kemungkinan besar akan segera dapat diketemukan. Kemudian perempuan itu akan dapat diperas untuk menyebut nama-nama lain dari pemberontak-pemberontak itu, bahkan mungkin orang-orang sepadukuhan yang tersangkut di dalamnya. Mungkin orang-orang itu tidak pulang ke rumahnya, tetapi dengan menangkap keluarganya, isteri dan anak-anaknya, maka setiap laki-laki yang tidak berhati batu akan segera kembali. Apalagi jika dijanjikan pengampunan meskipun kemudian mereka akan dipancung di hadapan umum untuk menakut-nakuti orang-orang pribumi yang akan berpihak kepada pemberontak. Baik Pangeran Mangkubumi maupun Raden Mas Said. Dalam pada itu komandannya mendesaknya “Coba sebut saja nama itu, atau barangkali jalan yang paling baik untuk menemukannya” Kumpeni itu tiba-tiba menjadi tegang. Ketika bibirnya bergerak untuk menyebut nama perempuan yang sombong itu, tiba-tiba saja ia menjadi ragu-ragu. “Siapa?“ desak komandannya pulaSejenak kumpeni itu merenung. Namun tiba-tiba dengan suara gemetar ia berkata “Maaf komandan, aku tidak dapat menyebutnya” “Kenapa?“ “Aku tidak tahu, kenapa aku telah lupa sama sekali. Aku memang mendengar sebuah nama disebut. Tetapi nama itu terlampau sukar dan panjang” “Kau tentu dapat mengingat-ingatnya” Kumpeni itu termenung sejenak. Dibenaknya seolah-olah menari nama Arum. Arum. Tetapi sesuatu telah menahannya untuk menyebut nama yang sama sekali tidak dilupakannya itu. “Apakah kau tidak dapat mengingatnya sama sekali” Kumpeni itu menggeleng “Terlalu gila. Barangkali aku sudah menjadi gila komandan. Tetapi aku benar-benar tidak dapat mengingatnya, meskipun hanya satu suku kata dari nama yang panjang itu” Komandannya itu mengerutkan keningnya, katanya “Kau harus menemukan nama itu” Kumpeni itu menggeleng “Ingatanku menjadi gelap“ “Gila, sebut sebuah nama” Kumpeni itu memandang komandannya yang wajahnya menjadi kemerah-merahan. Tetapi sekali lagi ia menggeleng lemah “Aku akan berusaha komandan. Tetapi ingatanku sekarang benar-benar sedang gelap” Komandannya menjadi sangat kecewa. Bahkan marah Tetapi sebelum ia membentak lagi, tabib yang merawat kumpeni itu mendekatinya dan berkata “Ia masih harus banyak beristirahat”“Tetapi ia bodoh sekali. Ia harus dapat mengingat nama yang didengarnya itu” “Memang nama pr ibumi sangat sulit untuk diingat” berkata tabib itu. “Aku dapat mengingatnya jika aku mendengar. Itu termasuk salah satu dari tugasnya. Jika ia tidak dapat mengingatnya, kita kehilangan kesempatan untuk mencari jejak. Setidak-tidaknya sekelompok pemberontak itu. Dan dengan demikian kita tahu pasti, apakah yang dihadapi oleh para prajurit itu pemberontakan Pangeran Mangkubumi atau Raden Mas Said” “Tetapi ia tidak dapat dipaksa untuk berpikir terlampau banyak. Tubuhnya masih terlampau lemah. Sebaiknya biarlah ia beristirahat lagi” “Ia sudah cukup lama ber istirahat” Tetapi tabib itu menggeleng. Katanya “Goncangan perasaannya telah membuatnya menjadi kehilangan ingatan itu. Mudah-mudahan ia akan dapat menemukan kembali ingatan yang hilang itu” Komandannya terdiam sejenak. Tetapi nampak kekecewaan yang sangat memancar disorot matanya. Namun ia tidak dapat memaksa kumpeni itu untuk mengatakan sesuatu yang tidak dapat dikatakannya. Apalagi tabib yang merawatnya berkeberatan untuk memberinya kesempatan. “Baiklah” berkata komandan itu “Aku akan pergi. Tetapi usahakan ia dapat mengingat semuanya. Namanya, dan barangkali cir i-cir inya. Aku ingin menemukan orang itu” “Baik” jawab tabib itu “demikian ia dapat mengingat atau mengucapkan sebuah nama, aku akan mencatatnya” Demikianlah maka komandan kumpeni itupun kemudian meninggalkan bilik itu dengan wajah yang bersungut-sungut. Seorang pengawalnya masih berpaling memandang kawannyayang terbaring itu sejenak. Namun iapun kemudian meninggalkan bilik itu pula mengikuti komandannya. Kumpeni yang terbaring itu termenung sejenak. Ia melihat tabib yang merawatnya berdiri di sisinya. “Kau masih dipengaruhi oleh kegelisahan dan kebingungan” berkata tabib itu “tenangkan hatimu. Jangan hiraukan pertanyaan komandanmu. Pada suatu saat kau akan teringat nama itu. Nama orang-orang pr ibumi hampir sama” “Tentu tidak. Ada dua orang yang namanya jauh berbeda” jawab kumpeni itu “Mangkubumi dan Said. Itu baru dua nama. Maka jika kita mendengar sepuluh nama, maka nama itu akan sangat jauh berlainan” Tabib itu mengangguk. ”Memang nama itu ternyata sangat berlainan. Apalagi orang-orang pr ibumi tidak mempergunakan nama keluarga di belakang namanya. Jika mereka menjadi dewasa, maka mereka akan memilih namanya sendiri. Bahkan pegawai istana di Surakarta terlampau ser ing berganti nama jika jabatan mereka berganti pula” Namun dalam pada itu, kumpeni yang terbaring karena luka-lukanya itu sama sekali tidak lagi memikirkan untuk mengingat nama Arum yang sebenarnya dapat dengan mudah disebutnya. Ia sudah memutuskan untuk t idak mengatakan kepada siapapun bahwa perempuan yang telah melukainya itu bernama Arum. Kepada Raden Juwiringpun tidak. Demikianlah, setelah setiap kelompok prajurit Surakarta yang tersebar berhasil berkumpul barulah mereka mengetahui bahwa bagaimanapun juga, banyak di antara mereka yang tidak dapat kembali. Sedangkan yang terlukapun berdesakkan untuk mendapat perawatan. Bahkan beberapa di antara mereka yang harus berbaring di pembaringan dengan luka parah di tubuhnya. Tetapi di antara mereka hanya ada dua orang kumpeni yang berhasil kembali ke Surakarta.Ketika para pemimpin di Surakarta kemudian berkumpul dan membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi, maka mereka tidak lagi dapat mengelakkan, bahwa perang sudah benar-benar dimulai. “Kita tidak sekedar memancing mereka untuk mengetahui kekuatan mereka” berkata Panglima prajur it Surakarta yang dihadapkan kepada Pangeran Mangkubumi dan sekaligus Raden Mas Said ”Tetapi kita benar-benar sudah berada di dalam perang terbuka” “Ya” berkata seorang perwira kumpeni “Aku sudah kehilangan beberapa orang. Kita tidak dapat lagi berbuat lebih baik dari langsung menggempur pusat pertahanannya” “Apakah kau sudah mempertimbangkan seluruh kekuatan Pangeran Mangkubumi?“ bertanya Pangeran Ranakusuma yang ada di antara mereka pula. “Tidak lebih dari segerombolan orang-orang daerah Sukawati dan sekitarnya” Tetapi Pangeran Ranakusuma menggelengkan kepalanya. Katanya “Kau keliru. Kekuatan Pangeran Mangkubumi tidak terhitung besarnya. Jika perang yang sebenarnya mulai berkobar maka di segala tempat akan bangkit kesatuan- kesatuan yang berpihak kepadanya. Meskipun mereka bukan prajurit-prajurit terlatih, tetapi mereka adalah orang-orangyang mempunyai bekal ilmu secara pribadi dan dalam jumlah yang tidak terbatas” “Apa maksud Pangeran sebenarnya?“ bertanya perwira itu “Apakah Pangeran ingin menakut-nakuti kami atau Pangeran memang tidak berhasrat untuk menindas pemberontakan Pangeran Mangkubumi?“ Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Sekilas terbayang warna merah di wajahnya. Katanya “Aku tidak tahu maksud pertanyaanmu” “Pertanyaanku jelas. Pangeran justru melemahkan tekad kami” “Kau adalah seorang prajurit” jawab Pangeran Ranakusuma “bahkan menurut pendengaranku, kau pernah menjelajahi benua dan lautan. Tetapi kau masih bertanya, apakah maksudku” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak lalu “sebagai seorang prajurit kita tidak akan dapat menipu diri sendiri. Kita tidak dapat memperkecil arti lawan kita sekedar untuk menyenangkan hati sendiri atau sekedar untuk membangkitkan keberanian. Kita harus tahu pasti, berapakah jumlah lawan yang kita hadapi untuk dapat menyiapkan pasukan yang memadai” “Aku sudah tahu” potong perwira itu “Pangeran tidak usah mengajari aku. Aku memang sudah pernah menjelajahi benua dan lautan. Aku pernah mengalami peperangan dengan orang- orang yang berkebudayaan tinggi dan mempergunakan senjata api. Bukan sekedar batang-batang bambu yang diruncingkan” “Tetapi kau t idak mau mendengar kenyataan, bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi tidak terhitung jumlahnya, dan tidak dapat disebut tempatnya, karena pasukan itu berlebaran di setiap padukuhan dan jumlahnya tidak dapat disebut dengan bilangan. Bertanyalah kepada setiap prajurit Surakarta yang jujur menghadapi Pangeran Mangkubumi danRaden Mas Said. Akupun mencoba menyebut dengan jujur, meskipun aku tidak akan menyerah. Menurut ukuran kesatria Surakarta, maka perjuangan ini akan diselesaikan sampai tuntas” Kumpeni itulah yang kemudian menjadi merah. Kulitnya yang keputih-putihan nampak bagaikan tersentuh api. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu Panglima yang telah diserahi kekuasaan oleh Kangjeng Susuhunan Paku Buwana itupun berkata “Tidak ada gunanya kita bertengkar. Aku dapat mengerti kebenaran dari pendapat kalian. Karena itu. marilah kita mencari jalan untuk menyelesaikan peperangan ini dalam waktu yang singkat dan korban yang sekecil-kecilnya dari kedua belah pihak.” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah kumpeni itu sejenak. Tetapi ia tidak mengucapkan sesuatu. Dalam pada itu Panglima itupun kemudian mendengarkan beberapa laporan dari para pemimpin kelompok, pendapat mereka, dan kemudian berkata “Kita memang tidak sedang bermain-main. Menurut pengamatanku, yang kalian hadapi baru pasukan Pangeran Mangkubumi. Karena itu sebelum Raden Mas Said mengambil bagian di dalam peperangan yang lebih besar, maka kita harus menyusun rencana terperinci untuk membatasi setiap gerakan Pangeran Mangkubumi, dan apabila mungkin memadamkannya sama sekali” Pangeran Ranakusuma tidak menyahut. Tetapi tampak di bibirnya sikapnya yang sangat menjengkelkan bagi kumpeni meskipun perwira kumpeni itupun masih harus menahan diri. Namun akhirnya di dalam pertemuan itu, para Senapati berpendapat, bahwa Surakarta tidak boleh terlambat. Justru Surakartalah yang harus mengambil sikap karena jelas bahwa Pangeran Mangkubumi sudah memberontak.“Aku akan menghadap Kangjeng Susuhunan dan melaporkan semua yang telah terjadi” berkata Panglima. “Kita susun dahulu rencana sebaik-baiknya” berkata perwira kumpeni yang menghadir i pertemuan itu. “Tidak perlu” sahut Pangeran Ranakusuma “Kita menghadap Kangjeng Susuhunan. Jika Kangjeng Susuhunan memer intahkan agar kita langsung menyerang kedudukan Pangeran Mangkubumi, maka kita akan melakukannya. Tetapi jika Kangjeng Susuhunan mengambil kebijaksanaan lain, kita harus tunduk akan keputusannya” “Tidak mungkin ada keputusan lain” potong kumpeni itu “satu-satunya jalan, Pangeran Mangkubumi harus dihancurkan” “Kenapa tidak mungkin?“ bertanya Pangeran Ranakusuma. “Kita tidak dapat menunggu agar bukan kitalah yang akan menjadi hancur” “Yang berkuasa di Surakarta adalah Kangjeng Susuhunan Paku Buwana. Bukan pihak lain” Sekali lagi wajah kumpeni itu menjadi merah. Tetapi sebelum ia menjawab, maka Panglima pasukan Surakarta itupun segera berkata “Kita akan menghadap Kangjeng Susuhunan. Kita akan mengusulkan untuk menghancurkan Pangeran Mangkubumi. Kemudian Raden Mas Said. Setelah Pangeran Mangkubumi maka Raden Mas Said tentu tidak akan terlampau sulit ” Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun. Akhirnya Panglima itu memutuskan untuk membicarakan persoalan yang gawat itu di dalam lingkungan yang lebih kecil. Panglima menunjuk tujuh orang termasuk seorang perwira kumpeni untuk mohon menghadap Kangjeng Susuhunanuntuk melaporkan peristiwa yang sudah terjadi dan kemudian menentukan sikap seterusnya. “Semakin banyak orang yang ikut di dalam pembicaraan ini. persoalannya akan menjadi semakin kabur” berkata Panglima “Apalagi bahaya bahwa semua rencana itu akan merembes sampai ke telinga Pangeran Mangkubumi akan menjadi lebih besar” “Jadi apakah ada orang yang pantas kita curigai?“ tiba-tiba Pangeran Ranakusuma bertanya. “Bukan maksudku” jawab Panglima “Tetapi kita wajib berhati-hati” “Itu bijaksana sekali” berkata kumpeni “Aku memang t idak dapat mempercayai setiap orang di Surakarta ini” “Baiklah” berkata Panglima itu “Kita dapat melaksanakannya segera” Pangeran Ranakusuma memandang Panglima dan perwira kumpeni itu berganti-ganti. Namun ia masih nampak menyimpan sesuatu di dalam hatinya. Dalam pada itu, setelah pertemuan itu dibubarkan, maka ketujuh orang yang telah ditunjuk itupun segera menghadap Kangjeng Sultan. Selain perwira kumpeni yang seorang itu, terdapat pula Pangeran Ranakusuma sebagai Senapati pengapit, dan seorang yang memiliki pengalaman dan ilmu yang cukup. Panglima pasukan yang dipersiapkan untuk melawan Pangeran Mangkubumi itupun kemudian member ikan laporan kepada Kangjeng Susuhunan tentang tindakan pertama yang sudah diambil oleh prajurit Surakarta. Mereka telah berhasil memancing pasukan Pangeran Mangkubumi dan dapat menduga kekuatannya. “Ampun Kangjeng Susuhunan, ternyata bahwa kekuatan Pangeran Mangkubumi jauh lebih besar dari yang kami dugasebelumnya. Pangeran Mangkubumi dapat menyiapkan pasukan sebanyak yang disiapkan oleh Surakarta, bahkan melampaui. Setiap kelompok prajur it telah mendapat gangguan dan kadang-kadang cukup gawat” “Aku sudah kehilangan beberapa orang prajur it” berkata perwira kumpeni itu. Kangjeng Susuhunan mengerutkan keningnya. Namun tanpa diduga sebelumnya, Kangjeng Susuhunan itu justru tertawa. Katanya “Ternyata kalian memang terlampau bodoh dengan mengumpankan pasukan-pasukan kecil yang tersebar itu” “Ampun Kangjeng Susuhunan. di tempat-tempat yang diduga mempunyai kekuatan pengikut Pangeran Mangkubumi pasukan Surakarta sudah diperkuat” “Tetapi tidak mampu berbuat apa-apa atas pasukan adimas Pangeran Mangkubumi. Dan ternyata bahwa bukan hanya pasukan yang berada di tempat-tempat yang diduga dekat dengan pemusatan pasukan Pangeran Mangkubumi sajalah yang mendapat serangan. Tetapi semua kelompok prajur it yang kau sebarkan di sekitar kota” Panglima itu mengerutkan keningnya. Dan sebelum ia sempat menjawab, Kangjeng Susuhunan telah melanjutkan “Korban telah jatuh. Untunglah bahwa adimas Pangeran Mangkubumi masih merasa dirinya sekeluarga dengan kalian, sehingga ia berpesan untuk tidak menjatuhkan korban sebanyak-banyaknya atas kedua belah pihak” Kangjeng Susuhunan berhenti sejenak, lalu “banyak prajurit yang terluka, tetapi kembali dengan selamat. Tetapi di antara mereka hanya ada dua orang kumpeni yang lolos dari maut, meskipun yang seorang luka-luka” Orang-orang yang mendengar keterangan itu menjadi heran. Ternyata Kangjeng Susuhunan telah mengetahui semuanya sebelum laporan resmi itu disampaikan.Dengan demikian maka para pemimpin Surakarta itu berpendapat bahwa Kangjeng Susuhunan menaruh perhatian yang sangat besar terhadap perkembangan keadaan, sehingga ia telah menunjuk petugas-tugas sandinya sendirii yang dapat member ikan laporan dengan lengkap tanpa menunggu laporan para pemimpin prajur it Surakarta. Namun dengan demikian, maka para pemimpin prajurit itupun menyadari, bahwa dengan petugas-petugas khusus yang langsung member ikan laporan kepada Kangjeng Susuhunan, maka mereka tidak akan dapat berbohong. Mereka tidak akan dapat mengatakan kuntul sebagai gagak, dan tidak dapat mengatakan gagak sebagai kuntul. Mereka harus mengatakan apa yang sebenarnya ada dan sebenarnya terjadi. Karena para pemimpin prajur it itu masih saja termangu- mangu, maka Kangjeng Susuhunanpun kemudian berkata “Bagaimana? Apakah ada yang salah?“ “Tidak Kangjeng Susuhunan” jawab Panglima “semuanya benar seperti yang Kangjeng Susuhunan sebutkan” “Jika demikian, apakah rencana kalian?“ “Hamba belum menentukan sikap. Kedatangan hamba menghadap Kangjeng Susuhunan adalah dalam rangka menyusun tindakan berikutnya. Kami akan mengadakan pertemuan, dan kami akan menentukan sikap. Barangkali Kangjeng Susuhunan akan memberikan pesan kepada kami, sehingga dapat menunjukkan arah perjuangan kami membebaskan Surakarta dari pengaruh para pemberontak” Kangjeng Susuhunan menahan nafas sejenak. Sekilas dipandanginya wajah perwira kumpeni yang berdir i di hadapannya. Benar-benar suatu sikap yang menyakitkan hati. Tetapi karena adat mereka demikian, maka Kangjeng Susuhunan tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan berbuat demikian pula j ika mereka menghadap rajanya sendir i.Namun dalam pada itu, terpercik di dalam hatinya, bahwa sebenarnya usaha untuk menghent ikan pemberontakan Pangeran Mangkubumi itu tidak terlampau sulit. Jika ia memiliki keberanian untuk bertindak mengusir kumpeni dari Surakarta dan membatalkan semua persetujuan yang pernah dibuat, baik oleh dirinya sendir i maupun oleh Raja-raja sebelumnya. “Betapa penakutnya aku ini“ Kangjeng Susuhunan mengeluh di dalamhati. Sementara itu para pemimpin prajurit di Surakarta masih duduk tepekur. Mereka menunggu apa yang akan dikatakan oleh Kangjeng Susuhunan. Tetap! ternyata kemudian Kangjeng Susuhunan berkata “Siapkan dahulu rencana sebaik- baiknya. Kemudian sampaikan rencana itu kepadaku. Aku akan mempelajarinya dan memutuskan” Para pemimpin prajur it Surakarta itu serentak mengangguk-angguk kecil. Tetapi di dalam hati terbersit pertanyaan “Berapa lama keputusan itu akan jatuh?“ Namun mereka merasa, bahwa kelambatan itu datangnya harus bukan dari mereka. Mereka harus segera menyiapkan rencana dan menyampaikan kepada Kangjeng Susuhunan. “Menurut ingatanku, Kangjeng Susuhunan itupun seorang prajurit yang baik. Kangjeng Susuhunan seharusnya tahu apa yang harus dilakukan. Yang mana yang segera dan yang mana yang dapat diambil keputusan kemudian” berkata Panglima di dalam hatinya. Karena itu, demikian mereka meninggalkan ruangan, merekapun segera menentukan waktu untuk bertemu dan membicarakan rencana untuk menghadapi pemberontakan Pangeran Mangkubumi kemudian juga Raden Mas Said. Ternyata bahwa para prajurit Surakarta itu memang mampu bertindak cepat. Merekapun segera menjalankan tugasnya sebaik-baiknya. Mereka hanya sekedar pulang keistana masing-masing untuk sesaat, kemudian mereka telah siap untuk berangkat lagi menghadiri pertemuan yang diadakan khusus untuk membicarakan cara-cara yang sebaiknya untuk menumpas pemberontakan dengan bantuan kumpeni. “Kau harus bersiap Juwiring” berkata ayahandanya sesaat sebelum ia turun ke halaman “semuanya sudah mulai” “Ya ayahanda” sahut Juwir ing. “Kita tidak dapat berbuat banyak. Tetapi semuanya sudah mapan. Nanti sebentar lagi aku akan menghadiri pertemuan penting untuk menumpas pemberontakan. Kaupun harus mempersiapkan pasukanmu” “Apakah pasukanku juga akan diikut sertakan ayahanda?” “Aku masih belum tahu pasti. Tetapi pasukan berkuda akan merupakan pasukan yang sangat diperlukan. Setiap Senapati Surakarta tentu memperhitungkan bahwa Pangeran Mangkubumi akan mempergunakan cara-cara yang khusus. Ia akan membawa pasukannya dalam gerakan yang cepat. Seperti kabut ia datang, tetapi seperti kabut ditiup angin, mereka akan cepat menghilang” “Dengan demikian maka pasukan berkuda akan merupakan pasukan yang penting di dalamperang ini” “Ya. Tetapi jika rencana yang sepintas sudah aku dengar akan dibicarakan nanti adalah perang yang tentu akan merupakan perang besar. Surakarta bermaksud sekaligus menumpas pasukan Pangeran Mangkubumi sebelum mereka menyebar. Atau Setidak-tidaknya induk pasukannya termasuk Pangeran Mangkubumi sendir i. Petugas-tugas sandi telah dapat menemukan tempat yang diduga, tetapi agaknya mendekati kebenaran, tempat tinggal Pangeran Mangkubumi untuk sementara” “Sukawati?““Justru tidak di Sukawati” Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lagi ketika ayahanda berkata “Nanti aku akan member itahukan, apa saja yang harus kita lakukan setelah kami mengambil keputusan di dalam pembicaraan ini. Mungkin pembicaraan nanti akan berlangsung lama” “Ya ayahanda” “Jagalah adikmu baik-baik. Jangan kau beritahukan peristiwa-peristiwa yang dapat menggelisahkannya” “Ia sudah mendengar ayahanda, karena hampir semua orang sudah mendengar pula” Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Namun ia masih-berpesan “Tetapi usahakan agar kau dapat menenangkan hatinya” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak, lalu “dimana War ih sekarang?“ “Ia berada di dapur ayahanda. Diajeng Warih sekarang senang berada di dapur” “Sokur lah. la harus berubah. Dan agaknya ia sudah berusaha menyesuaikan dir inya” Demikianlah maka Raden Juwiring mengantar ayahandanya sampai ke mulut regol. Ketika kereta yang membawa ayahandanya berlari semakin kencang, maka sambil menundukkan kepalanya ia melintasi halaman rumahnya dan langsung naik ke tangga pendapa. Langkahnya tertegun ketika ia melihat adiknya berdiri di depan pintu sambil memandanginya dengan tajamnya. “O, aku kira kau masih ada di dapur” desis Juwiring. Adik perempuannya menarik nafas dalam-dalam. Namun sesuatu nampaknya tersembunyi di balik tatapan matanya.“Kamas“ gadis itu berkata perlahan-lahan “Jadi haruskah aku selalu diselubungi oleh teka-teki tentang Surakarta, tentang tugas ayahanda dan tugas-tugasmu kamas?” Raden Juwiring termangu-mangu sejenak. Kemudian iapun bertanya “Aku tidak mengerti. Apakah yang kau maksudkan?” “Ayahanda selalu berpesan agar kamas tidak member itahukan persoalan-persoalan yang terjadi kepadaku. Ayahanda selalu berpesan agar kamas menenangkan hatiku. Tetap bukankah dengan demikian ayahanda sekedar menyelubungi keadaan dengan sehelai tabir yang lapuk, yang setiap saat bila angin yang agak kencang berhembus, tabir itu akan sobek? Jika aku sama sekali tidak mengetahui apa yang tersembunyi di balik tabir itu, maka aku akan terkejut sekali melihatnya, dan aku akan kehilangan pegangan untuk seterusnya. Karena itu kamas, sebaiknya kau selalu mengatakan apa yang kau ketahui kepadaku, agar aku tidak selalu dibayangi oleh teka-teki dan pertanyaan-pertanyaan yang meragukan” Juwiring menegang sejenak. Namun kemudian ia tersenyum. Katanya “Itulah kasih sayang seorang ayah. Ayahanda tidak mau melihat kau menjadi gelisah dan apalagi cemas. Tetapi aku sudah mengatakan kepada ayahanda, bahwa kau sudah mendengar semuanya” “Dan ayahanda minta kepadamu agar kau berusaha membuat aku tenang dan tidak gelisah” “Ya“ “Dan mendapat gambaran yang lain dari peristiwa yang sudah terjadi itu?“ Juwiring tertawa. Katanya “Sudahlah. Jangan terlampau banyak berprasangka. Sebenarnyalah yang terjadi tidak segawat seperti yang dikatakan orang. Ayahanda sekarang sedang mengadakan pembicaraan dengan Panglima dan paraSenapati, bagaimana cara yang sebaik-baiknya untuk membuat Surakarta menjadi tenang” “Ada jalan lain” desis adiknya. “Yang mana?“ bertanya Juwiring. “Jika orang asing itu pergi dari Surakarta, maka pamanda Pangeran Mangkubumi tidak akan membrontak. Dan ayahanda tidak usah menjadi Senapati perang melawan kadang sendiri seperti pamanda Pangeran Mangkubumi” gadis itu berhenti sejenak, lalu “Pamanda Pangeran Mangkubumi adalah orang yang sangat baik. Bukankah ketika kamas Rudira meninggal, pamanda Pangeran Mangkubumi termasuk orang yang pertama-tama menjenguknya aku tahu, bahwa pamanda Pangeran tentu tidak senang terhadap anak-anak muda seperti kamas Rudira saat itu” Terasa dada Juwiring berdesir. Sebuah kenangan telah melintas di dadanya. Kenangan tentang Rudira, dan tentang padepokan Jati Aking. Bahkan terkenang olehnya saat-saat Dipanala datang kepadanya, dan ia berkata “Aku tidak mempunyai sangkut paut lagi dengan istana Ranakusuman” Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun segera berkata “Sudahlah. Kau jangan menghiraukan lagi pemberontakan Pamanda Pangeran Mangkubumi. Bukan maksudku untuk menyembunyikan kenyataan yang terjadi di Surakarta. Tetapi sebaiknya kau tidak usah memikirkannya. Biarlah itu menjadi tugas ayahanda dan para Senapati. Kemudian j ika saatnya datang, biarlah akupun berangkat ke medan tanpa membuat pertimbangan sendiri” “Jadi menurut kamas, apakah kita sebaiknya menjadi semacam seekor kuda yang sudah dipasang di depan sebuah kereta. Kadang-kadang seekor kuda bahkan ditutup matanya sama sekali, sehingga kuda itu berlari saja seperti dikehendaki oleh sais tanpa mengetahui arah”“Tentu tidak. Maksudku, ayahanda tahu apa yang harus dilakukan. Apa yang harus diputuskan” “Kumpeni memang harus pergi” desis gadis itu. Sekilas terbayang diangan-angannya, senjata api itu meledak dan kakaknya, Raden Rudira terlempar dar i punggung kudanya. Terbayang pula, apa saja yang pernah terjadi atas ibundanya. Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia memandang sesuatu yang nampak sedikit mencuat diikat pinggang adiknya di bawah kembennya. “Patrem itu tentu selalu dibawanya” berkata Juwiring di dalam hatinya. Dengan demikian Raden Juwiring dapat membayangkan kegelisahan di hati adiknya, seorang gadis. Jika kumpeni dan prajurit Surakarta kalah, dan kota kemudian diduduki orang- orang yang disebut pemberontak, maka ia akan menjadi barang rampasan dan oleh orang-orang yang disebut pemberontak itu, ia tentu akan diperlakukan sebagai perempuan rampasan yang tidak ada harganya. Tetapi adiknya itupun menyadari, bahwa kumpeni justru sudah memper lakukan perempuan-perempuan di Surakarta sebagai barang mainan. Gadis itu memejamkan matanya ketika seolah-olah terbayang tingkah laku ibundanya di rongga matanya. “Kau digelisahkan oleh angan-anganmu” berkata Juwiring sambil menepuk pundak adiknya. Adiknya memandanginya sesaat Namun gadis itupun kemudian berlari ke dalambiliknya. Ketika Juwiring menyusulnya, dilihatnya adiknya sudah menelungkup di pembaringannya sambil menangis. “Kau dihantui oleh bayangan angan-anganmu sendir i” berkata Juwiring sambil duduk di sebelah adiknya “Sudahlah.Jangan risau. Tidak akan terjadi perubahan apapun di Surakarta“ “Aku takut kamas” terdengar suara gadis itu disela-sela isak tangisnya “Aku tidak mau melihat kemungkinan yang manapun yang bakal terjadi. Aku tidak mau kumpeni memper lakukan perempuan-perempuan di Surakarta ini seperti memper lakukan ibunda. Dan aku juga t idak mau menjadi perempuan rampasan yang diperlakukan tidak lebih baik dari benda-benda rampasan yang lain j ika prajur it Surakarta kalah” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Yang dikatakan oleh adiknya adalah tepat seperti yang diduganya. “Kau tidak perlu gelisah. Bukankah di sekitar kita masih lengkap prajurit-prajur it pengawal? Aku adalah Senapati pasukan berkuda, sedang ayahanda adalah Senapati yang disegani” “Justru karena itulah kalian akan selalu berada di peperangan” “Ayahanda akan menyerahkan kau kepada paman Dipanala dan beberapa orang pengawal pilihan. Jika terpaksa kau dapat menempatkan dir imu di bawah perlindungan prajurit-prajur it Surakarta di istana. Tidak akan ada apa-apa” Tetapi adiknya masih terisak meskipun lambat laun akhirnya ia terdiam juga. Bahkan kemudian Juwiring mendengar desah nafas adiknya yang teratur. Ternyata gadis itu tertidur sambil menelungkup di pembaringannya. Juwiringpun kemudian tidak mengusiknya. Ditinggalkannya adiknya keluar dari bilik itu. Dengan hati-hati ia menutup pintu dan kemudian melangkah ke dalam biliknya sendir i. Sejenak Juwiring duduk termangu-mangu. Kini ia sendiripun mulai dipengaruhi oleh kegelisahan. Sebenarnyalah semuanya dapat terjadi atas Surakarta. Kekuatan PangeranMangkubumi memang t idak dapat diperhitungkan lebih dahulu. Ternyata bahwa kelompok- kelompok prajur it Surakarta telah mendapat serangan serentak dari pasukan Pangeran Mangkubumi. “Tentu ada orang dalam yang memberikan kabar tentang rencana mencegatan senjata itu” berkata Raden Juwiring di dalam hatinya “Jika tidak, maka pamanda Pangeran Mangkubumi tentu t idak akan mengetahui seluruh kelompok prajurit yang disebarkan oleh Surakarta di sekitar kota untuk merampas segala jenis senjata” Sementara itu, Pangeran Ranakusima telah berada bersama dengan beberapa orang yang telah ditentukan untuk menyusun rencana tindakan yang segera harus diambil oleh prajurit Surakarta, sebelum Pangeran Mangkubumi bergerak lebih luas lagi. “Tidak ada jalan lain kecuali membinasakannya segera” berkata kumpeni. “Jika hal itu sama-sama kita setujui, maka persoalannya adalah, bagaimana kita akan dapat membinasakan Pangeran Mangkubumi” bertanya seorang Senapati. “Kita harus dengan tindakan yang cepat menyergap pusat kemudi pemberontakannya. Menangkap hidup atau mati Pangeran Mangkubumi dengan beberapa orang Pangeran yang lain” “Mereka tentu terpencar” “Jika demikian yang penting adalah Pangeran Mangkubumi” “Tidak semudah yang kau katakan” desis Panglima. “Surakarta menyediakan pasukan sejauh dapat dihimpun” berkata kumpeni itu “Aku akan menyediakan prajuritku yang ada di Surakarta seluruhnya. Kita kepung tempat tinggal mereka. Kemudian kita binasakan. Semua bangunan kita bakar, dan semua orang kita bunuh, sehingga tidak ada yangterlampau. Menurut pendengaranku Pangeran Mangkubumi dapat merubah dirinya dalam segala bentuk penyamaran. Karena itu, untuk menghindari penyamaran yang sempurna, maka semua laki- laki yang tertangkap harus dibunuh. Siapapun mereka” Para Senapati dari Surakarta terdiam sejenak. Bagaimanapun juga. pemberontak-pemberontak itu adalah keluarga orang orang Surakarta sendir i. Namun demikian agaknya para Senapati segan mengemukakannya dihadapan perwira kumpeni itu, sehingga untuk beberapa saat tidak seorangpun yang mengatakan sesuatu pendapat. Tetapi akhirnya Pangeran Ranakusuma berkata “Jika semua laki- laki dibunuh, maka akan jatuh banyak sekali korban yang tidak berarti di antara rakyat Surakarta” Para Senapati yang mendengar kata-kata Pangeran Ranakusuma itu mengangguk-angguk. Merekapun t idak akan dapat membiarkan pembunuhan yang semena-mena itu terjadi di antara rakyat Surakarta. Namun demikian merekapun menyadari bahwa korban pasti akan jatuh di kedua belah pihak. Tetapi bukan pembunuhan dan pembantaian seperti yang dikatakan oleh kumpeni itu. Dalam pada itu perwira kumpeni itupun menjawab “Tetapi jika kita tidak berani bertindak tegas, maka pemberontakan itu akan cepat menjalar” “Kita harus dapat menyelesaikan persoalan ini dengan tegas, tetapi bijaksana” berkata Panglima. “Itu adalah kebijaksanaan” jawab kumpeni “Jika kita berani member ikan korban dengan tidak ragu-ragu, maka t idak akan ada orang lain yang berani berpihak kepada Pangeran Mangkubumi. Bukankah dengan demikian ada keseimbangan sehingga tidak akan jatuh korban-korban baru yang akanberceceran disegala tempat. Bukankah itu juga diperhitungkan atas pertimbangan yang sama dengan pertimbangan kalian?“ Para Senapati mengerutkan keningnya. Tetapi Pangeran Ranakusuma berkata “Aku dapat mengerti. Tetapi alangkah baiknya jika korban dapat dibatasi sekecil-kecilnya. Kita tidak usah mengadakan pembantaian dimanapun juga. Kita usahakan untuk mengepung tempat persembunyian Pangeran Mangkubumi. Kita tidak membiarkan seorangpun lolos. Jika kita berhasil memaksa mereka meletakkan senjata, kita akan dapat dengan segera mengenal Pangeran Mangkubumi” “Bagaimana j ika tidak?“ bertanya perwira kumpeni. “Kita bertempur. Tetapi ada bedanya antara bertempur sampai orang terakhir dengan membunuh semua orang laki- laki” Kumpeni menahan kata-kata yang sudah hampir meloncat dari bibirnya ketika Panglima pasukan Surakarta berkata “Aku sependapat. Kita bertempur sampai mereka menyerah atau musna sama sekal. Bukan pembunuhan semata-mata. Kita akan menemukan Pangeran Mangkubumi di antara mereka. Baru kemudian kita memikirkan Raden Mas Said” Perwira kumpeni tidak membantah lagi. Ia mengerti bahwa betapapun tipisnya ternyata masih juga ada perasaan kebangsaan di antara para bangsawan dan Senapati itu. Karena itu maka jalan yang paling baik adalah menerima ketentuan itu dengan perintah khusus bagi kumpeni, membunuh setiap laki-laki yang dijumpainya. Pembicaraan itu masih dilanjutkan. Setelah pokok pikiran itu diterima, maka merekapun mulai membicarakan cara yang dapat mereka tempuh untuk melaksanakannya. -


Jilid 19
“BESOK kita akan mendapat kepastian, dimana Pangeran Mangkubumi berada. Petugas-tugas sandi telah menyebar, dan bahkan ada di antara mereka yang berhasil menyusup di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi. Meskipun Pangeran Mangkubumi jarang sekali memperlihatkan dirinya, tetapi dengan usaha yang bersungguh-sungguh, orang itu tentu akan dapat mengetahui dimana Pangeran Mangkubumi itu berada” “Tetapi Pangeran Mangkubumi dapat berada di beberapa tempat sekaligus. Meskipun Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya tetap satu, namun orang itu akan dapat tersipu oleh bentuk-bentuk Pangeran Mangkubumi yang lain, sehingga yang dilaporkannya bukannya tempat Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya” berkata Pangeran Ranakusuma. Tetapi Panglima pasukan Surakarta itu tersenyum. Katanya “Yang akan menyelesaikan masalah ini bukannya anak-anak. Bukan orang yang baru menyelesaikan masa berguru pada seorang pertapa. Tetapi ia adalah orang yang sudah kenyang makan asin manisnya kehidupan, yang kasar maupun yanghalus. Yang badaniah maupun yang bersifat lembut dan tidak kasat mata” “Aku tidak peduli” potong kumpeni itu “yang penting ia berhasil mengetahui kedudukan Pangeran Mangkubumi dengan cerdik dan mempergunakan akal. Tidak dengan dongeng-dongeng yang disadap pada ceritera-ceritera khayal di jaman batu” “Terserah atas penilaianmu” jawab orang Senopati “tetapi untuk melawan ilmu Pangeran Mangkubumi diper lukan ketajaman indera. Kelima indera kita yang nampak, tidak akan dapat kita pergunakan, sehingga kita memer lukan indera yang lain” “Kita menempuh cara kita masing-masing” berkata Panglima “tetapi kita harus memadukannya dalam suatu kera- sama yang seimbang. Dengan demikian barulah kita akan berhasil” “Terserahlah” desis kumpeni itu “bagiku, akal yang jernih akan memenangkan segala perjuangan. Tetapi jika kalian masih menganggap perlu adanya kepercayaan atas ilmu hitam itu, terserahlah. Yang penting bagi kita adalah mengetahui dimana Pangeran Mangkubumi itu bersembunyi. Bukan orang- orang kembar yang disamarkan seolah-olah Pangeran Mangkubumi. Petugas-tugas sandi itu harus mempunyai ketajaman pengenalan atas Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya. Betapapun miripnya, tetapi orang-orang yang menyamar sebagai Pangeran Mangkubumi di beberapa tempat itu tentu mempunyai perbedaan-perbedaan. Mungkin suaranya, mungkin caranya berjalan” Para pemimpin prajurit Surakartapun merasa tidak perlu lagi menanggapi pendapat perwira kumpeni itu, sehingga merekapun kemudian hanya mengangguk-angguk saja. “Baiklah” berkata Panglima selanjutnya “kita serahkan kepada petugas-tugas sandi, cara yang manakah yang akanmereka pilih. Tetapi kita harus menemukan dengan pasti persembunyian Pangeran Mangkubumi” Tidak ada lagi yang membantah sehingga pembicaraan selanjutnyapun dapat dilakukan. Para Senapati yang dipimpin oleh Pangeran Yudakusuma itupun segera merencanakan cara yang paling baik untuk menyergap dengan sasaran sementara sesuai dengan laporan terakhir, laporan yang paling dapat dipercaya tentang kedudukan Pangeran Mangkubumi Sementara itu, mereka akan memer intahkan petugas-tugas sandi untuk mendapatkan kepastian dengan menghubungi orang-orang mereka yang berhasil menyusup di dalam pasukan yang mereka anggap pemberontak itu. “Kita menunggu satu hari satu malam” berkata Pangeran Yudakusuma yang menjadi Panglima pasukan Surakarta. “Tidak boleh tertunda lagi” berkata kumpeni “satu hari satu malamadalah waktu yang terlampau panjang” “Tidak mungkin kurang dar i itu j ika kita tidak mau gagal” jawab Panglima itu kita harus tahu dengan pasti. Bukan sekedar kira-kira” Akhirnya pembicaraan itupun mengambil beberapa sikap. Sikap yang harus mereka rahasiakan, agar sikap itu tidak sampai menjalar dari mulut ke mulut yang akhirnya dapat sampai ke telinga Pangeran Mangkubumi. Namun dalam pada itu, setiap Senapati sudah mendapat tugasnya masing-masing Pasukan yang sudah ditentukan ikut serta di dalam tugas yang besar dan berat harus segera dipersiapkan meskipun mereka tidak boleh mengetahui lebih dahulu tujuan dari persiapan mereka. Yang dapat mereka lakukan hanyalah sekedar meraba-raba. Mungkin setiap prajurit menyadari bahwa mereka dipersiapkan untuk melawan Pangeran Mangkubumi, tetapi mereka tidak tahu pasti, kapan dan dimana.“Semua harus siap dalam waktu sehari semalam sejak matahari terbit besok” berkata Panglima “pada saatnya kita akan mengumpulkan mereka. di malam berikutnya kita mulai bergerak dan mengepung pemusatan pasukan Pangeran Mangkubumi setelah kita mengetahui dengan pasti, dimanakah ia bersembunyi, dan berapa kekuatannya di dalam pemusatan itu. Selain pasukannya yang berada di tempat tersebut, kitapun harus mengetahui pasukan cadangan yang akan dapat membantui setiap saat, sehingga kitapun harus mempersiapkan pasukan untuk memotong pasukan cadangan mereka” Demikianlah setelah persoalan pokok terpecahkan, mereka mulai membicarakan pasukan-pasukan yang akan disertakan di dalam tugas itu. Kemudian cara yang paling baik untuk menyerang. Para Senapati itu sependapat, bahwa tempat pemusatan Pangeran Mangkubumi untuk sementara diperkirakan berada di salah satu padukuhan di sebelah selatan Matesih. Dan padukuhan yang paling mungkin itu adalah padukuhan Pandan Karangnangka, “Kita harus mengepungnya rapat-rapat di malam har i. Tidak boleh ada lubang seujung duripun yang dapat dipergunakan Pangeran Mangkubumi untuk lolos. Pada saat matahari terbit di pagi berikutnya, kita mulai maju dan menjerat semua orang yang ada di dalam padukuhan itu, sementara pasukan cadangan harus berjaga-jaga apabila ada bantuan yang datang dari manapun juga” berkata Panglima. “Semakin cepat semakin baik, selagi pengaruh Pangeran Mangkubumi belum meluas ke Padukuhan-padukuhan yang lain” berkata seorang Senapati. Keputusan itulah yang kemudian diambil. Dilengkapi dengan pasukan-pasukan yang akan disertakan beserta Senapati masing-masing. Termasuk sekelompok pasukankumpeni yang mempunyai kelengkapan perang yang lebih baik dar i prajur it-prajurit Surakarta. “Kita tidak boleh membiarkan pemberontakan itu menjalar semakin luas seperti Raden Mas Said sebelum ia terusir. Setelah Pangeran Mangkubumi, harus segera diselesaikan pula pasukan Raden Mas Said dengan cara yang sama. Menghancurkannya dengan cepat dan tuntas” berkata Senapati yang lain. “Nah” berkata Panglima kemudian “kita tinggal melaksanakan. Jika ternyata ada perubahan mengenai tempat persembunyian Pangeran Mangkubumi, maka sebagian besar persoalannya sudah kita pecahkan. Kita tinggal merubah beberapa bagian dari arah serangan kita” Demikianlah pembicaraan itupun diakhiri. Pangeran Ranakusuma dengan perwira kumpeni yang ikut serta dalam pembicaraan itu, mendapat tugas khusus untuk merencanakan arah setiap kelompok. Mereka harus menyusun dengan teliti, dengan memperhatikan setiap lorong yang menusuk ke dalam padukuhan itu. Parit, pematang, pepohonan besar tidak dapat mereka abaikan, termasuk gardu-gardu dan pagar batu yangagak tinggi. “Sebelum kita menyerang, kita akan memanggil setiap pemimpin kelompok. Setelah saatnya kita berangkat, kita akan menunjukkan kepada mereka, jalur jalan yang manakah yang harus mereka lalui Setiap kelompok harus tahu pasti, agar merek tidak saling berebut lawan, dan dengan demikian dapat menumbuhkan kelemahan dan kelengahan pada bagian- bagian tertentu” berkata Panglima perang itu. “kita akan mempergunakan gelar induk dari arah jalan yang paling besar memasuki padukuhan itu “berkata Pangeran Ranakusuma” di bagian lain sebagian besar adalah kelompok- kelompok yang sekedar bertugas menutup kepungan agar tidak seorangpun yang dapat lolos”“Kita akan menerima keseluruhan dari rencana itu” jawab Panglima “besok pagi aku akan mempelajarinya” Dengan demikian maka pembicaraan itupun dilanjutkan hanya oleh Pangeran Ranakusuma dan perwira kumpeni yang dianggap mempunyai pengalaman yang cukup, sedang Pangeran Ranakusuma selain seorang Senapati yang disegani, juga mempunyai bahan pengenalan yang cukup pula atas daerah itu. Keputusan yang diambil oleh Pangeran Ranakusuma dan perwira kumpeni itupun kemudian merupakan lencana yang masak dengan segala persoalan yang menyangkut sergapan besar-besaran itu. Tetapi amatlah sulit untuk mendapat kesepakatan. Mereka mempunyai pertimbangan yang berbeda. Namun itulah yang dikehendaki oleh Pangeran Yudakusuma. Justru karena perbedaan pandangan dan sikap, maka mereka akan melahirkan rencana yang sudah tersaring. Setelah semuanya selesai, maka keputusan-keputusan itupun disusun sebaik-baiknya dan siap untuk disampaikan kepada Kangjeng Susuhunan. “Aku akan menghadap langsung” berkata Pangeran Yudakusuma “Aku harus meyakinkan Kangjeng Susuhunan bahwa semuanya harus berjalan cepat sesuai dengan rencana. Jika tidak, maka kita akan ketinggalan dan persoalan selanjutnya akan berkepanjangan. Bukan hanya ketinggalan satu dua hari, tetapi jika lebih itu sudah pecah dan berterbangan bercerai berai dari sarangnya, maka mereka akan menjadi jauh lebih berbahaya daripada saat mereka masih tertidur nyenyak di dalam sarangnya” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menjawab, perwira kumpeni sudah mendahului “Cepat, dan usahakan agar Kangjeng Susuhunan dapat mengerti”Pangeran Yudakusumapun kemudian langsung pergi menghadap Kangjeng Susuhunan, sementara yang lain dapat kembali ke rumah masing-masing. “Baiklah, berikan rencana yang sudah kau susun sebaik- baiknya itu“ berkata Kangjeng Susuhunan setelah menerima Pangeran yang mendapat tugas untuk memimpin prajur it Surakarta mengepung pasukan Pangeran Mangkubumi. “Kangjeng Susuhunan, hamba mohon keputusan sekarang” jawab Pangeran Yudakusuma, “Aku akan mempelajarinya” Keadaan sudah memaksa. Jika kita terlambat, maka Surakarta benar-benar akan menjadi lautan medan pertempuran yang sangat mengerikan. di setiap padesan dan padukuhan akan terjadi pembunuhan dan kekerasan” Kangjeng Susuhunan merenung sejenak “Tuanku, hamba merasa bertanggung jawab atas rencana yang sudah hamba susun bersama dengan saudara-saudara hamba, para Senapati dan perwira kumpeni. Rencana itu adalah rencana yang paling baik yang dapat kami susun untuk waktu yang tepat seperti tercantum di dalam rencana kami itu” “Kau harus member i kesempatan aku memikirkannya” berkata Kangjeng Susuhunan “Aku adalah Raja. Aku bukan sekedar Senapati Agung di Surakarta, tetapi aku juga pelindung dan pangayoman lahir dan batin” “Hamba mengerti Kangjeng Susuhunan, justru karena kedudukan tuanku itulah maka hamba mohon, agar hamba diperkenankan melaksanakan kuwaj iban hamba secepat- cepatnya. Sebenarnyalah, bahwa hamba tidak akan sanggup lagi mengendalikan keadaan jika hamba terlambat sesaat saja dari rencana yang sudah hamba serahkan”“Jadi apa yang harus aku setujui, j ika aku belum mengerti persoalannya” “Seperti yang sudah Hamba jelaskan dihadapan tuanku. Pelaksanaan dalam garis-garis kecil terdapat di dalam susunan lengkap yang hamba serahkan kepada tuanku itu” Kangjeng Susuhunan menjadi termangu-mangu. Ia kini benar-benar berdiri dipersimpangan jalan yang pelik. Jika ia mengambil keputusan segera, maka kedudukan Pangeran Mangkubumi tentu akan mengalami kesulitan. Menurut penjelasan Panglima prajurit Surakarta, semuanya sudah diatur rapi. Seakan-akan tidak akan ada kesalahan sama sekali yang dapat dilakukan oleh pasukan Surakarta bersama kumpeni dalam tugas mereka menghancurkan pemberontakan Pangeran Mangkubumi. Namun apabila Kangjeng Susuhunan tidak memberikan keputusan segera, maka persoalannya akan menjadi berkepanjangan. Dan tentu akan t imbul kekerasan yang bertebaran di seluruh sudut Mataram dan sekitarnya. Seperti yang dikatakan oleh Panglima itu, jika lebah sudah tercerai beraikan dari sarangnya, mereka akan menjadi semakin berbahaya, karena lebah itu akan menjadi liar dan buas. Dalam kebimbangan itu, terngiang kata-kata Panglima “Sebenarnyalah bahwa hamba tidak akan dapat mengendalikan keadaan j ika hamba terlambat sesaat saja” Kangjeng Susuhunan menarik nafas dalam-dalam. Dalam pada itu, karena Kangjeng Susuhunan tidak segera menjawab, Pangeran Yudakusuma itu berkata “Ampun tuanku. Malam ini semua Senapati sudah dihubungi. Mereka harus menyiapkan pasukan mereka dalam waktu sehari semalam, seperti yang hamba sebutkan di dalam keseluruhan rencana hamba. Karena menurut pertimbangan hamba, menyiapkan prajurit Surakarta untuk sebuah peperangan yang besar, diperlukan waktu dan di dalam pelaksanaannya tidak mengejutkan dan membuat kegelisahan. Lebih dari itu, tidaksegera menimbulkan kecurigaan pada petugas-tugas sandi lawan” Kangjeng Susuhunan masih berdiam diri. Terbayang pasukan Surakarta bersiap sepenuhnya di tempat masing- masing tanpa mengetahui rencana dengan pasti. Baru setelah merekabergerak, mereka akan diberitahukan, apa yang harus merela lakukan. “Ampun Kangjeng Susuhunan” berkata Panglima itu “perintahkan hamba untuk melaksanakan secepatnya. Hamba akan segera mohon dir i dan member itahukan, bahwa Kangjeng Susuhunan sudah menjatuhkan per intah untuk melaksanakan” Kangjeng Susuhunan Pakubuwana itu masih termangu- mangu. Hatinya masih diragukan oleh kemungkinan yang dapat terjadi. Apapun yang dipilihnya, namun keadaannya memang sudah menjadi rumit. Maju atau mundur, ia menyadari bahwa ia akan membentur kesulitan bagi dir inya sendiri dan bagi Surakarta. Terasa betapa sulitnya keadaannya, sehingga rasa-rasanya kepalanya menjadi pening. Kesehatannya yang semakin lama menjadi semakin mundur itu memang tidak menguntungkan baginya dalam keadaan seperti itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak selain berusaha mengobati dirinya sendiri. Bahkan tabib yang manapun juga sudah dipanggilnya untuk mencoba memulihkan kesehatannya. “Kangjeng Susuhunan” berkata Panglima itu “hamba, hanya menunggu perintah pelaksanaannya. Seterusnya, tuanku dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada kami. Pada suatu saat hamba akan datang lagi melaporkan kehadapan Kangjeng Susuhunan, bahwa Pangeran Mangkubumi telah dapat kami tangkap, hidup atau mati” Kangjeng Susuhunan menar ik nafas dalam-dalam. Memang tidak ada pilihan lain lagi baginya. Ia harus memilih, Surakartaakan hancur bersama peradabannya karena peperangan yang akan membakar seluruh daerah Mataram, atau Pangeran Mangkubumi harus diikhlaskannya. Sejenak Kangjeng Susuhunan memandang Panglima itu sambil mengusap dadanya. Namun kemudian katanya “Baiklah. Jika kalian tidak dapat menunggu lagi barang sehari, lakukanlah rencana kalian. Tetapi seperti pesan yang pernah aku berikan bahwa yang penting di dalam peperangan ini bukannya suatu perlombaan membunuh sebanyak-banyaknya. Seorang Senapati yang baik adalah mereka yang dapat mencapai hasil yang sebesar-besarnya dengan titik darah yang sekecil-kecilnya di kedua belah pihak. Seorang Senapati harus dapat mengendalikan anak buahnya agar mereka t idak, berubah menjadi liar seperti kehidupan r imba raya” Panglima pasukan Surakarta itu menar ik nafas. Terngiang kata-kata perwira kumpeni yang ada di dalam pembicaraan selagi ia menyusun rencana penyerbuan ke sarang Pangeran Mangkubumi “Semua laki-laki harus dibunuh” Tetapi Panglima itu kemudian menjawab “Ampun Kangjeng Susuhunan. Hamba akan memperhatikan semua pesan tuanku” “Bukan sekedar diperhatikan. Tetapi kau harus melaksanakan perintah itu” berkata Kangjeng Susuhunan tegas. “Hamba tuanku“ Pangeran Yudakusuma menundukkan kepalanya. “Nah, pergilah. Kau dapat meniru Pangeran Mangkubumi yang berhasil mengendalikan anak buahnya. Kau dapat bertanya kepada prajurit yang kau sebar di seputar kota dengan cara yang bodoh sekali. Mereka yang terluka, dan tidak lagi dapat melawan, maka mereka seakan-akan dibiarkan saja oleh lawan-lawan mereka”Pangeran Yudakusuma menggeram di dalam hati. Ia tidak dapat mengerti, kenapa Kangjeng Susuhunan nampaknya sangat terpengaruh oleh sikap Pangeran Mangkubumi. “Pangeran Mangkubumi memang adiknya tersayang” berkata Pangeran Yudakusuma di dalam hatinya. Tetapi justru karena itu, perasaan iri hati telah melonjak di dalam hati. Hadiah Tanah Sukawati yang berlebih-lebihan tidak dapat diterima oleh beberapa orang Pangeran, termasuk Pepatih Surakarta. “Nah, pergilah. Mudah- mudahan kalian berhasil tanpa melepaskan korban terlampau banyak” “Hamba mohon restu tuanku” jawab Panglima itu. “Aku akan berdoa bagi Surakarta” jawab Kangjeng Susuhunan. Namun dalam pada itu, Panglima itupun tidak segera beringsut dar i tempatnya sehingga Kangjeng Susuhunan bertanya “Apalagi yang kau tunggu?“ “Ampun Kangjeng Susuhunan. Seingat Hamba, jika seseorang mendapat tugas langsung atas perintah tuanku, maka tuanku memberikan pertanda bahwa kuwajiban yang dipikul itu adalah kuwaj iban memangku kekuasaan tertinggi di Surakarta” Kangjeng Susuhunan menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Baiklah Panglima. Aku akan memberikan pertanda bahwa yang kau lakukan adalah perintah yang aku berikan. Bawalah salah satutunggul kerajaan sebagai pertanda itu. Kau dapat membawa tunggul Kiai Semi atau Kiai Baru, beserta panji-panjinya Kiai Kemitir. Pangeran Yudakusuma mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Ampun tuanku. Sebenarnyalah bahwa tugas hamba kali ini adalah tugas yang sangat berat. Setiap prajurit menyadari, siapakah Pangeran Mangkubumi itu. Seorang Pangeran yang pilih tanding dan dilambar i dengan segala macam ilmu yang tidak dimiliki oleh orang. lain. Sampai pada ilmu yang hampir tidak dikenal lagi sekarang ini. Ilmu Sepi Angin dan ilmu Lelimunan. Itulah sebabnya maka jika tuanku berkenan, maka hamba mohon untuk mendapat bekal bukan saja sebagai pertanda, tetapi juga sebagai lambaran kekuatan hamba, pusaka yang tidak ada duanya, Kangjeng Kiai Pleret” Terasa dada Kangjeng Susuhunan bergetar. Sekilas tumbuh dugaan di dalam hati Kangjeng Susuhunan, bahwa agaknya Pangeran Yudakusuma mengetahui bahwa tombak Kangjeng Kiai Pleret telah diberikannya kepada Pangeran Mangkubumi. Namun kemudian Kangjeng Susuhunan itu berhasil menguasai dirinya meskipun ia tidak dapat melenyapkan ketegangan di wajahnya. Meskipun demikian, ia berkata “Panglima. Seharusnya kau mengetahui, bahwa Kangjeng Kiai Pleret tidak akan dapat keluar dari gedung perbendaharaan pusaka tanpa aku sendiri berangkat ke medan” Wajah Panglima itu menjadi tegang. Ditatapnya wajah Kangjeng Susuhunan sejenak. Namun kemudian sambil menundukkan kepalanya ia berkata “Kangjeng Susuhunan, di dalam persoalan yang paling gawat seperti sekarang ini apakah hamba tidak dapat memohon kepada Kangjeng Susuhunan, seakan-akan Kepergianku langsung mengantar Kangjeng Susuhunan sendir i ke medan perang” “Jadi yang kau maksud, permintanmu atas tombak Kangjeng Kiai Pleret itu merupakan perlambang, bahwa kau mohon aku sendir i menjadi Senapati Agung di peperangan?““Tidak tuanku. Sama sekali tidak. Bahkan seandainya tuanku ingin pergi ke medan, hamba harus berusaha mencegahnya. Selagi masih ada para Pangeran dan para Senapati, maka Kangjeng Susuhunan tidak per lu beranjak duri istana. Apalagi Pangeran Mangkubumi adalah saudara muda Kangjeng Susuhunan yang tidak pantas tuanku layani sendiri. “Jadi?“ “Yang ingin hamba mohon adalah sekedar pusaka Mataram turun tumurun” “Sudah aku katakan. Kangjeng Kiai Pleret tidak akan dapat keluar dari istana tanpa aku sendir i. Tanpa Raja sendir i turun ke medan” “Tuanku, bukankah pada saat yang gawat, Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang, pernah memberikan pusaka Kangjeng Kiai Pleret kepada putera angkatnya, Mas Ngabehi Loring Pasar, yang kemudian bergelar Panembahan Senapati ing Ngalaga, pada saat Mas Ngabehi Loring Pasar sedang mengemban tugas yang paling gawat melawan Adipati dari Jipang” Kangjeng Susuhunan termenung sejenak. Namun kemudian ”Ada perbedaannya. Mas Ngabehi loring Pasar, leluhur kita itu memang sudah diharapkan oleh Kangjeng Sultan Hadiwijaya untuk menggantikannya kelak, setelah ia mengetahui betapa lemahnya sifat dan sikap puteranya sendiri, Pangeran Benawa yang kemudian menjadi Adipati di Jipang” Wajah Pangeran Yudakusuma menjadi merah sekilas. Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya yang tergetar. Dan Kangjeng Susuhunan Pakubuwana itu melanjutkan “Bukankah keadaan yang sekarang agak berbeda?“ Panglima itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu “Ampun Kangjeng Susuhunan. Jika demikian, baiklah, pada saat hamba akan maju ke medan, hamba akan menghadap danmohon diperkenankan membawa pertanda kuasa Kangjeng Susuhunan meskipun bukan Kangjeng Kiai Pleret” “Aku sudah mengatakan, kau dapat membawa panji-panj i Kiai Kemitir bersama tunggulnya yang dapat kau pilih di antara beberapa tunggul yang ada” Panglima itu membungkuk dalam-dalam. Tetapi di dalam hati berkata “Hanya sebuah tunggul kerajaan, bukan sebuah tombak pusaka yang dapat mencabarkan segala kesaktian Pangeran Mangkubumi” Namun Pangeran Yudakusuma masih mempunyai kepastian bahwa ia akan dapat mengalahkan pasukan Pangeran Mangkubumi. Menilik pembicaraan di antara para Senapati, maka nampak bahwa pasukan Mataram benar-benar sudah siap untuk menghancurkannya. Jika Pangeran Mangkubumi mempergunakan ilmunya di dalam peperangan itu, masih dapat diharapkan, beberapa orang Senapati akan dapat mengimbanginya, meskipun bersama-sama. “Jika Pangeran Mangkubumi sendir i turun ke peperangan tanpa bersedia menyerah, maka Pangeran Ranakusuma dan aku sendiri akan menghadapinya. Kami dapat menyatukan ilmu yang ada pada kami berdua untuk melawan ilmu yang bertimbun di dalam dir i Pangeran Mangkubumi. Jika perwira kumpeni itu trampil, selagi Pangeran Mangkubumi memusatkan perlawanan ilmunya atas kami, maka ia akan dapat menembak dengan senjata apinya, dan mudah- mudahan dapat menembus kulit Pangeran Mangkubumi itu“ berkata Panglima itu di dalamhatinya. Dengan demikian, maka Pangeran Yudakusuma sama sekali tidak dapat lagi mengatasi per intah Kangjeng Susuhunan. Ia tidak akan dapat membawa pusaka yang dikehendakinya. Kiai Pleret.Tetapi bahwa Kangjeng Susuhunan telah dapat dipaksanya untuk menyetujui rencananya dan bahkan segera dapat dilaksanakan, membuat Pangeran Yudakusuma berbesar hati. Waktu itu akan sangat berharga baginya. Dan jika ia dapat memanfaatkannya, maka ia tentu akan dapat berhasil dengan baik tanpa memberikan korban sebanyak-banyaknya. “Jika kumpeni ingin membantai pengikut Pangeran Mangkubumi sebanyak-banyaknya itu adalah tanggung jawabnya sendiri. Tentu prajurit-prajurit Surakarta tidak akan berbuat demikian, karena pengikut Pangeran Mangkubumi adalah orang-orang Surakarta pula seperti prajurit-prajurit itu sendiri. Jika ada dendam yang meledak, adalah wajar sekali terjadi di peperangan. Di peperangan seseorang akan bersikap lain dengan apabila orang itu berada di tempat ibadah” Pangeran Yudakusuma masih saja bergumam untuk dir inya sendiri. Perintah Kangjeng Susuhunan untuk segera melaksanakan rencananya, segera disampaikannya kepada Pangeran Ranakusuma dan perwira kumpeni itu. Agar berita itu tidak menjalar ke telinga orang yang tidak dikehendaki, maka Panglima itu datang sendiri langsung menjumpai kedua orang itu berturut-turut “Baiklah” berkata Pangeran Ranakusuma “Akupun akan segera bersiap. Pasukan di bawah panj i-panj i sayap kir i dan kanan akan segera disiapkan bersama Senapati Pengapit seorang” Pangeran Yudakusuma mengangguk-angguk. Ia menjadi berbesar hati melihat Pangeran Ranakusuma agaknya dengan sepenuh hati melakukan rencana ita. Apalagi apabila Tumenggung Sindura dapat menyesuaikan dirinya. Maka semuanya tentu akan segera berakhir. Demikianlah perintah Kangjeng Susuhunan untuk melaksanakan rencana itupun segera sampai ke telinga setiap Senapati, terutama yang ikut serta menyusun rencana itu.Kemudian mereka bersepakat untuk menyebarkan perintah, bahwa setiap pasukan akan diikut sertakan di dalam tugas itu untuk bersiapa tanpa mengetahui apa yang akan mereka lakukan. Perintah terakhir akan diberikan setelah mereka berangkat menuju kesasaran. Meskipun setiap prajurit tentu akan dapat menduga tugas apa yang harus mereka lakukan, tetapi mereka belum tahu dengan pasti, kemana mereka harus pergi serta bentuk tugas apa yang akan mereka lakukan. Di antara pasukan yang akan ikut di dalam tugas itu adalah sekelompok pasukan berkuda di bawah seorang Senapati yang masih muda, Raden Juwir ing. Demikian ia mendapat perintah, maka iapun segera mengumpulkan anak buahnya. Sepasukan prajurit berkuda terpilih dari antara pasukan berkuda yang lain. Apalagi setiap saat Raden Juwiring sendiri memberikan latihan-latihan khusus kepada anak buahnya. Meskipun banyak di antara mereka yang umurnya lebih tua, namun di dalam olah kanuragan. Senapati muda itu pantas dikagumi. Tetapi Juwiring tidak dengan sombong memamerkan kemampuannya sendiri. Ia mengakui, bahwa setiap orang mempunyai kelebihannya masing-masing. Karena itulah, maka ia memberikan kesempatan kepada setiap prajur it yang memiliki kelebihan, untuk melimpahkan kelebihannya kepada kawan-kawannya. Seorang prajurit berkuda yang sudah setengah baya, memiliki kemampuan yang luar biasa di dalam olah senjata lentur. Ia mampu mempergunakan berbagai jenis senjata lentur. Cemeti, cambuk, bahkan seutas tampar sabut. Maka orang itupun setiap kali diberi kesempatan untuk memberikan ilmunya serba sedikit kepada kawan-kawannya. Meskipun kawan-kawannya tidak akan dapat menyamainya di dalam mempergunakan senjata itu, namun, dengan demikian kawan- kawannya akan mendapat tambahan pengalaman danpengetahuan. Dalam keadaan terpaksa, mereka akan dapat mempergunakannya untuk mempertahankan dir i. Sedang yang lain, yang mampu melontarkan segala jenis senjatapun harus mengajarkan kemampuannya kepada kawan-kawannya, sehingga setiap orang di dalam pasukan Raden Juwiring mampu melontarkan pisau belati sambil berpacu di atas punggung kudanya. Dengan demikian maka setiap prajurit dari pasukan berkuda yang berada di bawahi pimpinan Raden Juwir ing, merupakan sepasukan prajurit kebanggaan, terutama bagi Pangeran Ranakusuma. Mereka masing-masing mampu mempergunakan jenis-jenis senjata yang beraneka ragam. Bahkan senjata-senjata yang dapat di ketemukian dimanapum juga. Tongkat, batu, tangkai kayu, cambuk lembu, dan bahkan dalam keadaan terpaksa, kain panjang mereka sendiri, atau ikat kepala. Seorang prajurit mengajarkan kepada kawannya, bagaimana dalam keadaan terpakai mereka dapat mengikat sebuah batu pada sudut ikat kepalanya, dan mempergunakannya sebagai senjata yang dapat melawan pedang dan tombak. Dalam pada itu, seperti yang direncanakan, maka setiap kelompokpun segera mempersiapkan dir i sepenuhnya untuk berangkat ke medan, meskipun mereka belum tahu medan yang mana. Mereka melengkapi setiap kelompok dengan bekal secukupnya. Senjata dan beberapa orang penghubung dan cadangan. “Agaknya kita akan dihadapkan dengan pasukan Pangeran Mangkubumi” berkata seorang prajurit. “Ya. Surakarta tidak pernah mempersiapkan diri seperti sekarang ini. Meskipun tidak nampak, tetapi kelompok- kelompok yang terpencar telah bersiap dibarak masing-masing. Pada saatnya kita akan berkumpul di alun-alun dan berangkat ke medan” Dalam waktu yang direncanakan, pasukan Surakarta benar- benar sudah siap tanpa melontarkan kesan yang menggoncangkan suasana hidup sehari-hari. Tidak banyak orang yang mengetahui, apa saja yang telah dilakukan oleh para prajurit yang nampaknya tidak keluar dari barak mereka. Ketika waktu yang satu hari satu malam telah habis, maka setiap prajurit benar-benar tidak boleh meninggalkan tempatnya Malam nanti mereka harus pergi. Tetapi hanya para Senapati sajalah yang tahu, bahwa malam nanti mereka akan mengepung tempat kedudukan Pangeran Mangkubumi. Seperti yang diperhitungkan semula, maka beberapa orang petugas sandi telah meyakinkan bahwa Pangeran Mangkubumi berada di Karangnangka. “Orang kita yang berhasil menyusup ke dalam tubuh pasukan Pangeran Mangkubumi dan yang dapat aku hubungi melihat sendiri Pangeran Mangkubumi“ “Pangeran Mangkubumi dapat berada di beberapa tempat” sahut Pangeran Yudakusuma. “Tetapi keluarganya ada di Pandan Karangnangka pula” petugas sandi itu menjelaskan “isteri dan putera-puterinya ada pula di sana. Bahkan orang itu juga melihat Pangeran Hadiwijaya berada di antara mereka” “Sudah aku duga. Tetapi yakinkah dengan pasti. Jangan sampai kita salah langkah. Masih ada waktu” “Petugas sandi yang berhasil masuk kelingkungan Sukawati tidak melihat Pangeran Mangkubumi di sana. Dan tidak ada petugas yang lain yang member ikan keterangan, bahkan kemungkinan melihat Pangeran Mangkubumi” Di siang hari menjelang malam yang ditentukan, kehidupan di Surakarta sama sekali tidak mengalami perubahan. Pasar-pasar masih juga penuh dengan orang-orang yang menjual hasil sawah dan hasil pekerjaan tangannya. Meskipun uang yang diterimanya tidak memadai, tetapi yang tidak memadai itu bagi mereka adalah lebih baik dar i tidak sama sekali. Demikian juga kehidupan orang-orang bangsawan dan kumpeni. Kereta yang hilir mudik, dan kehidupan yang melimpah di antara merekapumberjalan seperti biasa. Namun para bagsawan yang ikut menangani kegiatan keprajuritan sajalah yang tidak ada di istana masing-masing, karena mereka sudah bersiap untuk melakukan tugas yang akan dibebankan kepada mereka. Satu dua nampak prajurit yang bertugas meronda berkeliling kota. Tetapi itupun tidak menimbulkan kesan apapun, karena setiap hari hal yang serupa itu selalu nampak di jalan-jalan raya. Bahkan kadang-kadang dua orang prajur it berkuda lewat tanpa menumbuhkan kecur igaan. Di hari itu, di istana Pangeran Yudakusuma telah berkumpul para Senapati yang malam nanti akan melakukan tugas terpenting untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi. Meskipun kota Surakarta sendiri tidak nampak kesibukan apapun, tetapi di dalam istana itu nampak ketegangan mencengkamsetiap dada. Dengan pasti para Senapati itu menentukan tempat bagi pasukan masing-masing. Gelar perang yang akan menerkam Pandan Karangnangka. Sementara yang lain bersiaga mengepung dar i arah yang ditentukan pula. Mereka harus menahan usaha melar ikan dir i dari pasukan yang ada di dalam padukuhan itu. Menghadapi pasukan yang berkelompok di padukuhan itu, tidak ada gelar yang lebih baik dari gelar yang lengkung. Diinduk pasukan Pangeran Yudakusuma akan memimpin seluruh prajurit. Dan di induk pasukan itu pula akan terdapat Senapati penghubung. di depan Pangeran Yudakusumaterdapat tiga orang Senapati yang akan memimpin sergapan dari induk pasukan sementara Pangeran Yudakusuma masih harus memimpin seluruh kepungan. Jika keadaan memaksa, barulah Pangeran Yudakusuma sendir i akan berada di ujung. Apalagi apabila Pangeran Mangkubum sendiri telah turun di peperangan. “Pangeran Mangkubumi dapat menempuh dua pilihan. Dengan jantan turun melawan induk pasukan dan memimpin seluruh anak buahnya, yang berarti akan terjadi perang Senapati atau memilih jalan lain. Lolos dari peperangan dengan mengorbankan anak buahnya. Jika demikian maka Senapati yang memimpin kelompok-kelompok yang mengepung padukuhan itulah yang harus menahannya. Dan akan lenyaplah semua cer itera tentang segala macam ilmu yang bertimbun dalam dir inya. Tetapi jalan lolos itupun tidak akan dapat ditemukannya” berkata Pangeran Yudakusuma. Dalam pada itu Pangeran Ranakusuma yang akan memimpin sayap kiri dan Tumenggung Sindura disayap kanan, merenungi rencana itu sebaik-baiknya. Merekapun menyadari betapa beratnya melawan Pangeran Mangkubumi. Apalagi mereka mengetahui bahwa Pangeran Mangkubumi adalah Senapati perang yang tidak ada duanya di Surakarta. “Gelar yang disusun secermat-cermatnya ini, mungkin tidak akan berarti sama sekal” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hati “Pangeran Mangkubumi akan dengan mudah memecahkan kepungan justru ditentang arah gelar yang menyerang Pandan Karangnangka. Meskipun sebagian kelompok-kelompok pasukan kumpeni akan dipencarkan, selain yang berada diinduk pasukan, tetapi mereka tidak akan dapat banyak berbuat“ Dalam pada itu, agaknya Tumenggung Sindura mempunyai gagasan yang serupa. Namun ia tidak t inggal diam seperti Pangeran Ranakusuma. Tetapi ia berkata “Pangeran Yudakusuma. Jika saat gelar kita merayap mendekatipadukuhan itu, dan saat itu, gelar yang disusun Pangeran Mangkubumi bergeser memecah kepungan diasah lain, maka gelar kita tidak akan dapat bertemu. Pangeran Mangkubumi dapat menyusun gelar Gedong Minep yang bergerak cepat meninggalkan padukuhan itu. Atau karena Pangeran Mangkubumi adalah seorang Senapati yang berani, maka ia dapat memilih gelar Cakra Byuha dan berputar menyobek kepungan tanpa menunggu kedatangan induk pasukan kita dalam gelar Wulan Punanggal atau Sapit Urang sekalipun. Bahkan gelar yang dinasehatkan oleh perwira-perwira kumpeni itu” “Tumenggung Sindura” jawab Pangeran Yudakusuma “Aku masih mengharap Pangeran Mangkubumi bersikap jantan dan bertempur beradu dada. Jika tidak, maka kepungan yang kita susun adalah kepungan yang kuat. Dan bukankah kita sudah menyediakan pasukan berkuda yang lengkap? Jika kepungan mulai retak, maka pasukan berkuda akan bergerak mengisi keretakan itu. Dan bukankah hal ini sudah kita perhitungkan sebaik-baiknya” Tumenggung Sindura mengangguk-angguk Tangannya meraba-raba hulu kerisnya yang memiliki ciri tersendir i. Hulu keris itu terbuat dari kayu cangkring yang utuh. Seakan-akan begitu saja dipatahkan dari dahannya, dan kemudian diterapkan pada keris itu. Dan keris itulah yang sangat disegani oleh Senapati-Senapati yang lain, seolah-olah keris itu memiliki tuah yang luar biasa. Namun demikian Tumenggung Sindura yang kaya dengan pengalaman itu masih berkata “Pangeran. Dalam perang yang akan dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi, kita harus mempunyai penilaian yang lain. Menurut pengamatanku, menilik pasukan yang tidak begitu besar yang dimiliki oleh Pangeran Mangkubumi, ia tidak akan memperhitungkan kejantanan dari perang beradu dada itu. Ia akan memilih jalanyang barangkali agak lain dari penilaian yang selama ini kita kenal” Pangeran Yudakusuma mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling kearah Pangeran Ranakusuma, maka dilihatnya Pangeran Ranakusuma menunduk. Seolah-olah ia tidak memperhatikan kata-kata Tumenggung Sindura. “Jadi, bagaimana maksudmu?“ bertanya Pangeran Yudakusuma kemudian. “Aku hanya memperingatkan. Semua berjalan seperti yang sudah direncanakan. Tetapi aku masih berharap bahwa cara yang dapat ditempuh oleh Pangeran Mangkubumi itu mendapat perhatian. Jika ia berusaha lolos dari peperangan di dalam keadaan seperti ini, tentu tidak akan dapat dinilai sebagai tindakan pengecut. Seterusnya, apabila ia berhasil lolos ia akan mempergunakan cara itu. Menyergap dan lenyap. Dan itu adalah salah satu caranya berperang Apakah kita dapat menyebutnya pengecut?” jawab Tumenggung Sindura. Pangeran Yudakusuma mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Tumenggung Sindura itu. Karena itu, maka iapun menyahut “Baiklah. Setiap Senapati yang mengepung padukuhan itu akan mendapat perintah agar mereka tidak lengah. Jika agaknya mereka tidak kuat menahan desakan pasukan yang sedang dikepungnya, maka penghubungnya harus segera member ikan isyarat” Tumenggung Sindura tidak menyahut lagi. Agaknya memang demikian yang harus terjadi. Dalam pada itu, ketika semua persoalan telah dipecahkan bahkan sampai pada perbekalan dan makan seluruh pasukan, karena kemungkinan bahwa perang itu tidak akan selesai dalam waktu yang pendek, maka Pangeran Yudakusuma itupun kemudian berkata “Semua Senapati yang ada di tempat ini tidak boleh meninggalkan tempat. Nanti, jika malam mulai turun, kalian harus langsung kembali kepada pasukan kalian”Para Senapati mengerutkan keningnya. Tetapi mereka memang sudah menduga. Dan merekapun mengerti, bahwa hal itu dilakukan oleh Pangeran Yudakusuma untuk mengurangi kemungkinan rahasia yang telah mereka susun itu merembes ke telinga Pangeran Mangkubumi. Tetapi ketentuan itu tidak berlaku bagi perwira kumpeni dan orang-orang terpenting, termasuk Pangeran Ranakusuma dan Tumenggung Sindura. Justru merekalah yang harus melihat kesiagaan pasukan yang berpencar, meskipun tanpa Senapati masing-masing. Pangeran Ranakusuma dengan beberapa orang Senapati terpenting segera membagi tugas. Merekapun segera menarik garis silang yang membagi Surakarta dan sekitarnya. Mereka harus segera berpencar untuk melihat apakah kesiagaan prajurit Surakarta sudah memadai. Sehari yang nampaknya tidak ada perubahan apa-apa itu ternyata telah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para perwira tinggi di Surakarta. Meskipun demikian para perwira di Surakarta itupun selalu memperhitungkan keadaan. Untuk mencapai barak-barak para prajurit, mereka pergi berkuda hanya dengan dua atau tiga orang pengawal. Bahkan ada di antara mereka yang-berkereta seperti kebiasaan mereka sehari-hari. Karena itulah, maka rencana para prajurit Surakarta untuk mengepung Pandan Karangnangka itu tidak tercium oleh para petugas sandi. Baik petugas sandi yang ditinggalkan oleh Pangeran Mangkubumi, maupun petugas-tugas sandi yang disebarkan oleh Raden Mas Said di Surakarta. Yang nampak oleh mereka hanyalah beberapa persiapan khusus yang lebih banyak bersifat menjaga dan bertahan apabila kota diserang oleh Pangeran Mangkubumi maupun Raden Mas Said. Sama sekali tidak nampak persiapan untuk segera menyerang, bahkan mengepung dan menghancurkan sama sekali pasukan Pangeran Mangkubumi.Dengan demikian, seperti kehidupan di Surakarta yang tidak mengalami perubahan, maka kehidupan di Pandan Karangnangka dan sekitarnyapun sama sekali tidak mengalami perubahan. Rakyat di daerah itu bekerja seperti biasa. Ketika matahari terbit, mereka mempersiapkan diri untuk pergi ke sawah. Setelah makan sepotong ketela pohon yang langsung dicabut dari halaman belakang dan begitu saja direndam di dalam bara, maka merekapun segera menunaikan kuwajiban masing-masing Sedang para prajurit yang berpihak kepada Pangeran Mangkubumi yang mengikutinya meninggalkan Surakarta beserta para pengawalpun sama sekali t idak menduga, bahwa Surakarta akan bertindak sedemikian cepatnya. Bahkan Pangeran Mangkubumi sendiri, tidak memperhitungkan kemungkinan serangan yang bakal datang menjelang dini hari di malamyang bakal datang. Itulah sebabnya, maka kesiagaan Pangeran Mangkubumipun tidak mencapai puncak kemampuannya. Beberapa kelompok prajur it yang bertebaran di padukuhan di sekitarnya sama sekali tidak dipersiapkan untuk menghadapi serangan yang besar dan yang diperhitungkan oleh para Senapati di Surakarta, sekaligus menghancurkan. Bahkan beberapa orang di antara pengikut Pangeran Mangkubumi yang tersebar itu, masih sempat pergi ke sawah masing- masing seperti kebiasaan mereka. Yang nampak sibuk di antara mereka adalah pande-pande besi empu dan mranggi. Mereka mempersiapkan senjata sebanyak-banyaknya untuk menghadapi setiap kemungkinan. Jika kumpeni dan Prajur it-prajurit Surakarta mengulangi usahanya melucuti, senjata rakyat Surakarta dengan mencegat mereka di sepanjang jalan, maka mereka akan segera dapat dipersenjatai kembali. Sementara itu, para pengikut Pangeran Mangkubumi yang berada di Sukawatipun t idak mendapat perintah khusus dariPangeran Mangkubumi untuk menghadapi keadaan. Meskipun mereka selalu bersiaga, tetapi mereka tidak memperhitungkan bahwa malam nanti akan ada prahara dan banj ir bandang yang menyerang Pandan Karangnangka. Dalam pada itu, petugas-tugas sandi yang berada di kotapun memang tidak member ikan laporan yang dapat menumbuhkan pertimbangan bahwa sebuah serangan besar- besaran akan melanda pasukan Pangeran Mangkubumi itu, karena para petugas sandi memang tidak melihat persiapan yang cukup di Surakarta. Buntal yang pada saat itu berada di Sukawati, sama sekali juga tidak menduga, bahwa Pandan Karangnangka akan dikepung oleh pasukan Surakarta dan kumpeni. Meskipun seperti kawan-kawannya ia selalu bersiaga, namun ia tidak mempersiapkan diri untuk langsung berbuat sesuatu, atau memasuki arena pertempuran yang besar. Sehari itu para pengikut Pangeran Mangkubumi di Sukawati justru tidak berbuat apa-apa sama sekali. Mereka berlatih seperti biasa. Pasukan yang menjadi inti kekuatan Pasukan Mangkubumi memang t idak ada henti-hentinya berlatih dan menambah kemampuan bertempur. Dalam kelompok dan seorang demi seorang. Para pelatih mereka menempa setiap orang di dalam pasukan int i itu sehingga mereka merupakan kekuatan yang luar biasa. Untuk menjaga kekuatan pasukan Pangeran Mangkubumi, maka kekuatannya tidak seluruhnya diletakkan di sekitar Pangeran Mangkubumi sendir i. Dan itulah sebabnya maka selain pasukan yang kuat di Pandan Karangnangka, pasukan yang berada di Sukawati adalah pasukan yang tidak dapat diabaikan. Apalagi selain mereka yang berada di dalam pasukan inti kekuatan itu, setiap laki- laki di Sukawati adalah prajurit yang dengan tekun melatih diri. Demikian kerja mereka di sawah senggang, maka merekapun segera memegang senjata dan berlatih mempergunakan senjata itu.Dimanapun mereka mempunyai waktu, maka waktu itu mereka pergunakan sebaik-baiknya. Dua tiga orang yang berada di sawahpun segera melibatkan dir i dalam latihan yang bersungguh-sungguh j ika kerja mereka selesai. Anak-anak muda yang berada di tepian sungai. Yang berada di bendungan dan justru yang berada di gardu-gardu. Sedang anak-anak seolah-olah mendapatkan permainan baru. Mereka mempergunakan tongkat-tongkat bambu untuk melatih dir i. Dan anak-anak itupun mendapat bimbingan sebaik-baiknya sehingga yang mereka lakukan adalah permulaan dari latihan mempergunakan senjata yang sebenarnya. Lewat tengah hari, seperti biasanya Buntal mendapat tugas untuk pergi ke Pandan Karangnangka bersama dua orang kawannya Mereka merupakan penghubung tetap antara kedua tempat itu, agar setiap persoalan dapat segera diketahui bersama-sama. Tetapi seperti hari-hari sebelumnya, kedatangan Buntal di Pandan Karangnangka tidak mendapatkan berita-berita yang menarik. Laporan yang didengarnya dari petugas-tugas di Pandan Karangnangka hanyalah, penjagaan di lorong-lorong masuk kota Surakarta diperkuat. Beberapa orang dari pasukan berkuda nampak meronda disehiruh kota. Para Perwira dan Senapati mengadakan peninjauan langsung kebarak-barak para prajurit. Buntal yang kemudian bersama dengan dua orang kawannya beristirahat di sebuah gardu sama sekali tidak tertarik akan laporan itu. Mereka menunggu berita yang lebih panas dari sekedar penjagaan yang diperkuat di lorong-lorong masuk. Bukan pula sekedar kesibukan para Senapati di Surakarta mengunjungi barak-barak para prajurit. “Pangeran Mangkubumi dengan para Pangeran sedang mempersiapkan dir i membagi tugas” berkata seorang prajurit yang berada di gardu itu pula.“Bagaimana jika tiba-tiba saja prajurit Surakarta menyergap daerah ini” bertanya Buntal. “Kita sudah bersiaga. Surakarta tidak akan berbuat secepat itu. Mereka akan memperhitungkan setiap kemungkinan dari setiap gerakan mereka” “Tetapi menggerakkan prajurit-prajurit yang sudah terlatih akan jauh lebih mudah dar i menggerakkan rakyat yang bertebaran seperti Pangeran Mangkubumi“ “Tetapi kekuatan yang ada sudah memadai. Untuk bertempur dalam arena gelarpun kekuatan yang ada di Pandan Karangnangka tentu sudah cukup. Selebihnya, semuanya dapat dipersiapkan” Buntal tidak bertanya lagi. Yang diajaknya berbicara adalah seorang prajurit yang memiliki pengalaman dan pengetahuan medan jauh lebih banyak daripadanya, meskipun mungkin secara pribadi Buntal memiliki kelebihan. Dengan lesu Buntal dan kawan-kawannya berbaring di gardu itu sambil menunggu perintah, apakah ia sudah dapat kembali ke Sukawati. Tidak ada persoalan lagi sebenarnya yang harus dibicarakan. Tetapi adalah keharusan baginya untuk menunggu perintah, bahwa tugasnya hari itu sudah selesai. Ketika ia menjadi jemu berbaring di gardu, maka iapun melangkahkan kakinya menyusuri jalan padukuhan. Di sebuahhalaman yang luas, di depan sebuah pendapa yang besar, Buntal berhenti. Dilihatnya beberapa orang sedang berlatih di bawah terik matahari yang sudah mulai turun ke Barat mendekati cakrawala. Tiba-tiba saja Buntal terkejut ketika seorang penghubung dengan tergesa-gesa memanggilnya. Dengan nafas terengah- engah ia berkata “Aku cari kau kemana-mana” “Aku menunggu di gardu. Tetapi tiba-tiba saja aku menjadi jemu” “Buntal“ penghubung itu bersungguh-sungguh “ada tugas khusus untukmu” Buntal termangu-mangu sejenak. Ia masih belum tahu pasti, apakah kawannya itu berkata bersungguh-sungguh atau sekedar bergurau saja. Namun menilik ketegangan di wajahnya, maka Buntal dapat menduga bahwa ia berkata bersungguh-sungguh. “Kau dipanggil” berkata penghubung itu. “Siapa?“ “Ki Wandawa“ “He“ Buntal mengerutkan keningnya “Ki Wandawa?“ “Ya” Buntal mengangguk-angguk. Jika yang mengundang itu Ki Wandawa maka persoalannya tentu cukup penting. Biasanya penghubung-penghubung sajalah yang memberitahukan kepadanya bahwa tugasnya sudah selesai hari itu, dan tidak ada persoalan yang penting yang harus di tangani. Tetapi kali ini ia dipanggil oleh Ki Wandawa. “Apakah kau tahu persoalannya?“ bertanya Buntal. “Tidak” jawab penghubung itu.“Kenapa kau dapat mengatakan bahwa persoalan yang akan dibebankan kepadaku penting?“ “Kakang Wandawa tidak pernah membicarakan masalah atau memberikan tugas-tugas yang tidak penting” Buntal mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku akan menghadap” “Waktunya sangat sempit“ demikianlah pesannya. Buntal tidak menjawab lagi. Iapun kemudian dengan tergesa-gesa pergi untuk menghadap Ki Wandawa Dengan dada yang berdebar-debar Buntal memasuki sebuah ruangan khusus. di dalam bilik itu hanya ada seorang saja yang duduk di sebuah ambin yang besar. Ketika orang itu melihat Buntal di muka pintu, maka iapun kemudian memanggilnya “Kemarilah Buntal” Buntal merasakan bahwa nada itu adalah nada yang tergesa-gesa. Sehingga karena itu maka Buntalpun segera bergeser mendekat. “Duduklah” Buntal mengangguk. Iapun kemudian duduk sambil menundukkan kepalanya di hadapan orang yang bernama Ki Wandawa itu. “Buntal” berkata Ki Wandawa “bukankah kau berasal dari Jati Aking?“ Pertanyaan itu mendebarkan hati Buntal. Dengan ragu-ragu ia menjawab “Ya Ki Wandawa” “Nah, jika demikian, maka kaulah yang akan mendapatkan tugas itu. Pergilah ke Jati Aking” “Tugas apakah yang harus aku bawa ke Jati Aking?““Kau akan mengetahuinya nanti. Tetapi ingat, kau hanya boleh berhubungan dengan orang yang ditentukan. Orang kita sendiri, karena persoalannya adalah sangat rahasia” “Maksud Ki Wandawa?“ Ki Wandawa termenung sejenak. Kemudian katanya “Buntal, ada persoalan yang sangat penting dan rahasia, sehingga Surakarta tidak mengir imkan utusan langsung kemari. Jika ada penghubung langsung datang ke Pandan Karangnangka, maka penghubung itu akan cepat diketahui, meskipun masih ada kemungkinan untuk lolos. Jika penghubung itu mengalami nasib yang buruk dan tertangkap, maka ada kemungkinan perintah yang sangat rahasia itu dapat diperas, dan sumber keterangannya dapat diungkap. Tetapi tidak dengan penghubung yang datang itu. Ia hanya mendapat perintah untuk menunjuk seseorang pergi ke Taman di Kaki Bukit” “Apakah artinya?“ “Memang hanya orang-orang tertentu yang mengetahui. Penghubung itupun tidak mengetahui arti dari tempat yang di sebut Taman Di kaki bukit. Dengan demikian tempat itu akan tetap terlindung” ia berhenti sejenak, lalu “yang dimaksud Taman di kaki Bukit adalah padepokan Jati Aking” “O“ “Sebenarnyalah bahwa Jati Aking termasuk padepokan yang dapat kita percaya. Karena itu, Jati Aking menjadi salah satu tempat yang ditentukan untuk mengadakan hubungan rahasia“ Buntal mengangguk-angguk. Ia kini mengetahui bahwa berita itu tentu berita yang sangat penting sehingga diperlukan hubungan berganda. Dengan demikian Buntalpun menyadari pentingnya tugas yang harus dilaksanakannya.“Buntal” berkata Ki Wandawa “pergilah ke Taman di kaki Bukit. Kau akan bertemu dengan Bintang Selatan” Buntal mengerutkan keningnya. “Akupun tidak tahu, siapakah Bintang Selatan itu. Tetapi kau harus menyebut dirimu sebagai jawabannya Angin Utara” sambung Ki Wandawa “Kau mengerti?“ Buntal mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menjawab “Ya. Aku mengerti” “Nah, pergilah. Secepatnya. Waktu tinggal sedikit. Aku tidak tahu pasti, waktu yang tinggal sedikit itu dihubungkan dengan peristiwa yang mana” Ki Wandawa berkata selanjutnya “namun kau harus memanfaatkan waktu sebaik- baiknya” “Baik Ki Wandawa.” “Hati-hatilah. Bukan mustahil rahasia ini sudah diketahui oleh lawan. Dengan demikian kau harus memasuki Jati Aking dengan sangat berhati-hati. Jangan sampai kau terjebak oleh siapapun yang nampaknya kau kenal baik-baik. Kau hanya boleh berhubungan dengan Bintang Selatan. Jika ada orang lain yang ada di Jati Aking dan tidak menyebut dirinya Bintang Selatan kau harus berhati-hati. Tidak hanya satu dua orang saja yang mengenal Jati Aking dengan baik” “Baiklah Ki Wandawa. Aku mohon dir i untuk pergi ke Jati Aking” “Sadarilah. Tidak boleh ada rahasia yang merembes dari mulutmu tentang Pandan Karangnangka” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari pesan itu. Jika ia tertangkap oleh petugas-tugas sandi atau prajurit Surakarta, maka ia harus tetap diam sampai mat i sekalipun.“Pergilah. Sendir i, agar tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Rahasia yang diketahui oleh banyak orang tidak akan berarti lagi” Buntalpun segera minta diri. Ia harus pergi secepatnya ke Jati Aking dengan tugas yang sangat berat, tanpa ada orang lain yang boleh ikut memikulnya. Sejenak kemudian maka seekor kuda telah berderap keluar dari padukuhan Pandan Karangnangka. Buntal memacu kudanya secepat-cepat dapat, agar ia dapat mempergunakan waktu yang terlampau pendek, meskipun ia tidak tahu pasti batas dari waktu yang terlalu pendek itu. Di sepanjang jalan ia selalu mengingat-ingat, nama-nama yang harus didengar dan disebutnya Bintang Selatan dan kemudian ia harus menyebut dirinya Angin Utara. Barulah rahasia itu dapat didengarnya dan kemudian dibawanya kepada Ki Wandawa. “Tetapi bagaimanakah jika orang yang disebut Bintang Selatan itu tertangkap?“ ia bertanya di dalam hati. Namun dijawabnya “Itu memang mungkin sekali terjadi. Bukan hanya Bintang Selatan itu sajalah yang mungkin tertangkap, tetapi akupun mungkin tertangkap” Namun Buntal dapat mengerti, bahwa jalan yang ditempuh itu adalah jalan yang paling aman bagi petugas sandi yang ada di Surakarta. Orang yang pergi ke Jati Aking tentu tidak akan mendapat pengawasan yang ketat seperti orang yang pergi ke Pandan Karangnangka. “Jika orang yang pergi ke Pandan Karangnangka itu ternyata dapat lolos, maka orang yang pergi ke Jati Aking itupun tentu dapat lolos pula” katanya di dalam hati. Buntalpun kemudian berpacu semakin cepat. Ia akan sampai ke Jati Aking setelah gelap. Kemudian ia harus kembali lagi ke Pandan Karangnangka.Meskipun angan-angan Buntal dipenuhi oleh persoalan- persoalan yang rumit, namun ia sempat juga memikirkan Arum. Sudah agak mendesak pula keinginannya untuk menemui gadis itu. Meskipun hanya sekedar bertemu. Tiba-tiba terbersit sebuah bayangan yang lain. Bayangan seorang bangsawan yang kemudian menjadi Senapati pasukan berkuda di Surakarta. “Raden Juwiring juga mengetahui sikap guru” berkata Buntal di dalam hatinya. Lalu “tetapi apakah Surakarta sudah mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu? Dan apakah rahasia itu adalah rahasia tentang keputusan tindakan kekerasan yang akan diambil oleh Surakarta?“ Namun semuanya masih tetap merupakan teka-teki. Dan Buntal tidak mau lagi membuat kepalanya sendiri menjadi pening memikirkan teka-teki yang tentu tidak akan dapat dipecahkannya sendir i. Yang dipikirkan kemudian adalah justru Raden Juwiring. Jika Surakarta mengetahui rahasia Jati Aking yang dipergunakan sebagai tempat untuk melakukan hubungan antara petugas-petugas sandi dengan orang-orang Pangeran Mangkubumi, maka tentu Raden Juwiring akan mendapat tugas untuk bertindak, karena ia. adalah orang yang paling mengetahui tentang Jati Aking, seperti Juga Ki Wandawa memilihnya untuk pergi ke Jati Aking. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya sebagai anak muda, ia terikat hubungan yang mendalam dengan Raden Juwiring. Setelah beberapa lama ia bersamal berada di padepokan Kiai Danatirta, rasa-rasanya Juwiring benar-benar sudah seperti saudaranya sendiri. Bersama-sama mereka melakukan tugas sehari-hari. bersama-sama mereka berlatih dan bahkan bersama-sama mereka pergi menemui Ki Sarpasrana. “Tetapi keadaan itu telah berubah” berkata Buntal “sejak Raden Rudira meninggal, maka Raden Juwiring bukan lagikeluarga kami. Ia sudah kehilangan semuanya Bahkan kepribadiannya” Apalagi apabila teringat oleh Buntal akan Arum. Bagaimanapun juga ia merasa bahwa Raden Juwiring mempunyai banyak kelebihan daripada dirinya. Jika pada suatu saat Arum menjatuhkan pilihan kepada Raden Juwir ing, maka hidupnya tentu akan menjadi semakin sepi. Tanpa orang tua dan sanak kadang. Dan lepaslah sekuntum bunga dari tangannya. Kuda Buntal itu berpacu semakin cepat. Rasa-rasanya ia ingin segera sampai ke Jati Aking. Ketika matahari telah menyentuh cakrawala di ujung Barat, rasa-rasanya Buntal ingin memacu kudanya lebih cepat. Bahkan apabila mungkin terbang memintas. Namun ia tidak dapat menuntut lebih banyak lagi dari kudanya yang sudah berlari secepat-cepat dapat dilakukan itu. Apalagi jalan di hadapannya kadang-kadang bukanlah jalan yang baik, sehingga ia justru perlu memperlambat, agar kudanya tidak terperosok ke dalam kubangan yang terdapat di tengah- tengah jalan. Angin senja terasa semilir menyentuh keningnya. Sekali- sekali Buntal menengadahkan wajahnya ke langit. Dilihatnya cahaya matahari yang kemerah-merahan tersangkut di bibir awan putih yang berarak di langit. “Alangkah cerahnya senja ini“ berkata Buntal di dalam hatinya. Tetapi senja yang cerah ini telah dibayangi oleh kemelutnya mendung di atas Surakarta karena pertentangan yang terjadi di dalam tubuhnya sendiri, sejak kumpeni semakin dalam mencengkamkan kekuasaannya atas bumi tercinta ini” Ketika kemudan matahari benar-benar telah tenggelam. Buntal telah menjadi semakin dekat dengan Jati Aking. Sekilasia masih melihat warna-warna merah di langit, namun sejenak kemudian langitpun menjadi suram. Buntal tidak lagi berani memacu kudanya dengan kecepatan penuh. Jalan-jalan yang kadang-kadang berlubang- lubang dan batu-batu yang bertebaran dapat menjadi sentuhan kaki kudanya. Dengan demikian, maka rasa-rasanya jarak ke Jati Aking itu menjadi semakin jauh karenanya. Dengan dada yang berdebar-debar Buntal melintasi bulak- bulak panjang yang menjadi hijau gelap, dihiasi oleh cahaya kunang kunang yang seakan-akan seperti ditaburkan di atas daun-daun padi yang mulai rimbun. Sedang di langitpun bintang-bintang bergayutan dari ujung sampai ke ujung. Buntal menjadi semakin berdebar-debar ketika ia sudah memasuki jalan yang langsung memasuki padukuhan Jati Sari. Lewat padukuhan itu ia akan melintasi bulak yang sempit, dan langsung memasuki padukuhannya, Jati Aking, yang terpisah oleh bulak yang sempit dengan padukuhan induknya, Jati Sari. Tetapi Buntal kemudian menjadi ragu-ragu. Ia tidak tahu pasti, apakah padukuhannya tidak mendapat pengawasan dari para petugas dari Surakarta. Bahkan kemudian Buntal mulai membayangkan, bahwa di balik pepohonan itu telah menunggu prajurit-prajurit Surakarta yang akan menjebaknya. Jika petugas sandi Surakarta yang berpencaran menangkap isyarat akan kedatangannya di Jati Aking maka ia tentu tidakakan dapat kembali lagi ke dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi. Karena itu, maka Buntalpun segera menghentikan kudanya. Ia tidak ingin memasuki padukuhan Jati Sari. Ia ingin mendekati padepokannya lewat arah yang lain. Namun ia tetap harus berhati-hati jalan yang manapun yang akan dipilihnya. Buntal menar ik kekang kudanya, sehingga kudanya segera berputar dan berlari kearah yang berlawanan. Kemudian kuda itupun berbelok melingkari padukuhan Jati Sari, lewat Jalan sempit menuju ke padepokan Jati Aking. Tetapi Buntal t idak akan berkuda terus sampai ke halaman padepokannya. Beberapa puluh langkah dari padepokannya, ia berhenti dan mengikat kudanya pada sebatang pohon perdu. “Aku harus yakin, bahwa tidak ada petugas-tugas sandi atau prajurit-prajurit Surakarta yang sudah siap menunggu kedatanganku. Betapapun tinggi kemampuan ayah Kiai Danatirta, jika prajurit-prajurit Surakarta datang dalam jumlah yang banyak, apalagi disertai Senapati-Senapati terpilihnya, tentu mereka akan berhasil menguasai guru beserta Arum. Yang mereka lakukan kemudian tinggal bersembunyi sambil menunggu kedatanganku” Karena itu maka Buntalpun kemudian mendekati padukuhannya dengan sangat berhati-hati. Kudanya ditinggalkannya terikat beberapa tonggak dar i padepokan itu. Menurut pengamatan Buntal yang semakin dekat dengan padepokannya, ternyata padepokan itu rasa-rasanya masih tetap tenang. Ia tidak melihat tanda-tanda yang mencurigakan sama sekali. Ia tidak melihat orang-orang lain di daerah padepokannya. “Agaknya padepokan Jati Aking masih tetap aman” berkata Buntal di dalamhatinya.Meskipun demikian ia harus tetap berhati-hati. Rasa- rasanya padepokan itu justru terlampau sepi. Sejenak Buntal menunggu untuk meyakinkan, apakah ia benar-benar tidak akan terjebak. Ternyata padepokan itu tetap saja sepi. Para pembantu padepokan itu tentu sudah masuk ke dalam bilik masing- masing, kecuali mereka yang pergi ke sawah untuk menunggui arus air. Tetapi Buntal masih tetap berhati-hati. Dengan penuh kewaspadaan Buntal merayap semakin dekat. Buntal menarik nafas dalam-dalam ketika ia berdiri di belakang dinding batu yang membatasi halaman padepokannya. Rasa-rasanya memang tidak ada orang lain di dalam padepokannya itu. Apalagi sepasukan kecil prajur it yang menunggu kedatangannya. Namun Buntal tidak segera mengambil kudanya. Ia masih tetap dengan hati-hati melangkah masuk ke halaman padepokannya, dan kemudian diam-diam pergi ke longkangan di samping. Tetapi Buntal terkejut bukan kepalang. Dengan menahan nafas ia kemudian melekat pada dinding yang menyekat long- kangan itu. “Seekor kuda” desis Buntal. Sebenarnyalah Buntal melihat seekor kuda yang belum di kenalnya. Seekor kuda yang besar dan tegar. Tetapi ia pasti, bahwa kuda itu bukan kuda padepokan Jati Aking. Semakin jelas ia mengamati kuda itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Ternyata kuda itu adalah seekor kuda menurut jenis dan pakaiannya, adalah seekor kuda dari pasukan berkuda Surakarta.Buntal mulai ragu-ragu. Sekilas terbayang olehnya Juwiring, seorang perwira muda pada pasukan berkuda di Surakarta. “Ia mengenal padepokan ini dengan baik” berkata Buntal di dalam hatinya “j ika rahasia Taman di kaki Bukit sudah didengar oleh orang-orang Surakarta, maka gagallah semuanya” Tetapi Buntal tidak berhenti sampai di dinding longkangan itu. Perlahan-lahan ia bergeser dengan penuh kewaspadaan. Ia berhenti di sudut longkangan, di dalam bayangan kegelapan. Dengan dada yang berdebaran ia melihat seberkas sinar yang terlempar keluar pintu samping dan jatuh di atas tanah yang kemerah-merahan. “Apakah sudah ada orang yang menunggu aku?“ bertanya Buntal dengan ragu-ragu “apakah orang itu Bintang Selatan atau orang yang akan menjebak aku?“ Buntal mencoba mengatur perasaannya. Namun kemudian ia menjadi agak tenang. Katanya “Tentu seorang penghubung dari Surakarta. Aku harus segera menemuinya. Mungkin ia berhasil merampas seekor kuda dari pasukan berkuda dan mempergunakannya sekali” Buntalpun bergeser mendekati pintu. Tetapi ketika selangkah lagi ia mendekati berkas cahaya lampu yang meloncat keluar itu, ia tertegun, la mendengar suara Arum tertawa pendek. Dan bahkan terdengar suara Arum “Kau memang membuat aku bingung Raden” Dan rasa-rasanya dada Buntal akan retak ketika kemudian ia mendengar suara lain, suara seorang laki-laki. Dan suara itu dikenalnya baik-baik. Raden Juwiring. “Aku tidak dapat, mengatakan kepadamu sebelumnya Arum” berkata Raden Juwiring ”Tetapi untunglah belum terlambat, sehingga semuanya masih dapat diluruskan.”“Semuanya tidak aku duga sebelumnya. Aku menjadi bingung” Dan yang terdengar kemudian adalah keduanya tertawa cerah. Buntal adalah seorang anak muda. Ia sadar bahwa ia sedang mengemban tugas yang berat Tetapi ternyata bahwa tiba-tiba saja ia menjumpai persoalan lain di padepokan Jati Aking. Persoalan tentang dir inya sendiri. Tetapi Buntalpun kemudian menggeram “Tentu Raden Juwiringpun mendapat tugas seperti aku. Ia harus bertindak terhadap seseorang yang akan melakukan hubungan sandi di Jati Aking. Dan agaknya Arum telah berhasil dipengaruhinya” Campur baurnya tugas sandinya dan kepentingan pribadinya telah mendorong Buntal menjadi garang. Ia mulai mengenangkan masa-masa lampaunya di padepokan Jati Aking. Buntal seolah-olah melihat, bagaimana dengan tiba-tiba saja ia terlempar ke padepokan itu. Pada saat itu Juwiring sudah lebih dahulu ada di padepokan ini. Terbayang pula hubungan antara Arum dan Juwiring yang sangat rapat. Jika Arum kemudian membenci Juwiring, hanyalah karena Juwiring meninggalkan cita-citanya yang telah terbentuk di padepokan ini. Tetapi sebagai manusia Juwir ing mempunyai seribu macam kelebihan dari padanya. Juwiring adalah seorang bangsawan yang kaya raya. Sepeninggal Raden Rudira, Juwiring adalah satu-satunya anak laki-laki Pangeran Ranakusuma. Apalagi ia kemudian adalah seorang perwira pasukan berkuda di Surakarta, “Kini Raden Juwiring siap untuk mengambil Arum“ katanya di dalam hati “dan bahkan mungkin kematianku pula, karena aku adalah pengikut Pangeran Mangkubumi” Buntal tidak dapat berpikir lebih panjang lagi. Tiba-tiba saja ia kehilangan pengamatan dirinya. Sikap Juwir ing benar-benar tidak dapat dimaafkannya lagi. Bagi Buntal Juwir ing telahmengkhianati cita-citanya sendiri, dan kini mengkhianatinya dengan mengambil Arum. Dengan garangnya Buntalpun kemudian meloncat ke pintu. Terasa dadanya bagaikan terbakar ketika ia melihat Arum dan Juwiring duduk berdua saja di atas sebuah amben yang sempit. Juwiring dan Arum terkejut melihat seseorang tiba-tiba saja sudah berdiri diambang pintu. Bahkan bukan saja berdiri dengan wajah yang merah padam, tetapi juga dengan sebuah pedang terhunus. “Buntal” desis Juwiring dan Arumhampir bersamaan. Buntal sudah tidak mendengar lagi. Dengan suara gemetar ia berkata “Raden Juwiring. Akhirnya kita bertemu lagi setelah kau mengkhianati pribadimu sendiri. Sekarang kita berhadapan sebagai dua pihak yang memang sedang bermusuhan. Kau berdiri di pihak kumpeni seperti ayahandamu yang sudah menjilat kepada orang asing itu, dan aku adalah pengikut Pangeran Mangkubumi” “Buntal” desis Raden Juwir ing. Arum yang menjadi bingung sesaat, kemudian berkata “Kakang Buntal, duduklah. Kita akan berbicara dengan baik. Raden Juwiring memang menunggu kedatanganmu” “Aku mengerti. Aku sudah mendengar sebagian percakapanmu. Aku memang sudah merasa bahwa sejak kita masih berkumpul di sini, segalanya aku tidak dapat menyamai Raden Juwiring. Aku adalah seorang anak kabur kanginan. Tanpa ayah dan ibu. Seandainya ada, mereka adalah hamba- hamba dan budak-budak yang tidak berarti. Aku adalah seorang anak yang mengembara di bulak-bulak panjang. di malam hari berselimut langit dan embun, di siang har i dibakar terik matahari” Buntal berhenti sejenak “namun tiba-tiba senjatanya teracu “tetapi aku mempunyai harga diri. Aku tidak mengkhianati cita-cita perjuangan padepokan Jati Aking”“Sabarlah Buntal” berkata Juwiring sareh. “Kau memang mempunyai kelebihan yang tidak terhitung daripadaku. Kau memiliki segala-galanya. Harta, pangkat dan wajahmu adalah wajah seorang bangsawan” “Buntal” desis Arum. “Kau tidak usah ingkar Arum. Jika memang itulah yang kau kehendaki, aku tidak berkeberatan. Selama ini aku memang belumpernah mengatakan apapun kepadamu” “Kau salah kakang” “Aku yakin bahwa aku benar” Buntal menggeram “tetapi masih ada persoalan lain yang harus diselesaikan. Aku tidak akan menuntut apapun kepadamu Arum. Kau memang berhak memilih. Tetapi sebelumnya aku akan menyelesaikan persoalanku lebih dahulu. Aku adalah pengikut Pangeran Mangkubumi“ Seleret warna merah menyala di wajah Raden Juwiring. Tetapi ia masih berusaha untuk menyabarkan dir inya. Katanya “Duduklah Buntal. Marilah kita berbicara dengan baik. Berbicara secara dewasa. Bukan seperti kanak-kanak yang berebut makanan” “Aku tidak mempunyai waktu” sahut Buntal. Kemudian “Raden. Aku sudah mengetahui apa saja yang Raden lakukan selama ini. Kau adalah Senapati pasukan berkuda. Kau pula yang telah datang ke padepokan ini untuk mencari dua orang petugas sandi dari Surakarta yang hilang. Dan banyak lagi yang sudah kau lakukan selama ini sebagai seorang prajur it Surakarta dan seorang putera bangsawan. Dan kini. setiap orang mengetahui bahwa ayahandamu merupakan salah seorang dari pada Senapati yang terpilih untuk ikut memerangi Pangeran Mangkubumi. Bahkan Pangeran Ranakusuma adalah orang yang paling mungkin dihadapkan kepada Pangeran Mangkubumi. Dan sekarang, apakah yangakan kau lakukan? Apakah kedatanganmu membawa tugas keprajuritanmu atau sekedar ingin menjemput Arum?“ “Kakang” suara Arum menjadi gemetar “Kau sebaiknya duduk dahulu kakang. Kau mendengarkan penjelasan yang akan diber ikan oleh Raden Juwiring” “Tidak perlu Arum Semuanya sudah jelas bagiku” “Tidak” “Ya” “Tidak. Kau tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sini. Karena itu duduklah dan dengarkan kata-kata Raden Juwiring” “Apakah aku harus mendengarkan penjelasannya, kenapa ia datang mengambilmu?“ suara Buntalpun menjadi semakin garang “Arum. Kenapa tidak kau katakan sebelumnya. Dan kenapa kau membiarkan aku menyimpan harapan. Sekarang sudah jelas bagiku. Seperti yang sudah aku duga, bahwa pada suatu saat, Raden Juwiring akan datang untuk mengusir aku dari padepokan ini” Buntal menggeram “tetapi tidak. Aku kini bukan sekedar Buntal, anak kabur kanginan. Tetapi aku mengemban tugas sebagai pengikut Pangeran Mangkubumi. Aku harus memusnahkan siapa saja yang aku jumpai dan mencoba merintangi usahaku” “Buntal. Marilah kita lenyapkan kesalah pahaman ini” berkata Raden Juwiring. Tetapi Buntal seolah-olah tidak mendengar. Iapun segera bersiaga sambil berkata “Bersiaplah Raden Juwiring” “Kau tergesa-gesa Buntal. Persoalannya akan dapat bergeser dari persoalan yang seharusnya” Tetapi Buntal masih saja tidak menghiraukannya. Bahkan tiba-tiba ia meloncat maju sambil mengacukan pedangnya, dekat sekali ke dada Raden Juwiring.Raden Juwiring surut selangkah. Namun dalam pada itu, ia masih tetap tenang. “Raden Juwiring. Cepat ambil senjatamu. Aku tidak akan membunuh orang yang berpangku tangan. Kita adalah murid- mur id yang terpercaya dari Jati Aking. Karena itu, aku tidak akan merendahkan perguruan kita dengan membunuhmu sebelum kau menggenggam senjata. Aku tahu, bahwa setelah kau tinggalkan Jati Aking dan kemudian berkhianat atas cita- cita kita bersama, kau adalah murid dari ayahandamu, seorang Pangeran yang memiliki ilmu tiada taranya. Tetapi aku pun mendapat imbangan ilmu dari Kiai Sarpasrana. Nah, sekarang, siapakah di antara kita yang dapat menyebut dir inya mur id terbaik dari Kiai Danatirta” “Buntal” potong Arum. Namun Raden Juwiring berkata “Buntal. Bukankah baru sekarang kau katakan, bahwa sebenarnya kau mempunyai harapan untuk hidup bersama Arum. Agaknya selama ini kau bersembunyi dari kenyataan suara hatimu sendir i” “Bukan hanya aku Raden. Ternyata kau juga berbuat serupa” potong Buntal, lalu “tetapi aku akan melupakan persoalan itu, persoalan perempuan. Yang ada adalah persoalan antara penjilat kumpeni dan pengikut setia Pangeran Mangkubumi. Hanya itu. Kita tidak per lu berbicara tentang perempuan yang manapun juga” Wajah Arum menjadi merah padam. Dengan lantang ia berbicara “Kau menyinggung perasaanku kakang Buntal. Jika kau menjadi gelap mata dan kehilangan akal, karena sebenarnya kau berpikir tentang perempuan. Aku sadar, bahwa kau memang mencintai aku meskipun kau tidak mengatakannya dengan tegas. Dan akupun tidak dapat ingkar bahwa aku memang mencintaimu. Tetapi kata-katamu, seolah-olah aku adalah perempuan yang hanya dapat menumbuhkan pertengkaran adalah sangat menyakitkan hati”“Buntal” berkata Raden Juwiring kemudian “Kau harus menyadari kelambatanmu. Kau adalah seorang laki-laki. Tentu tidak mungkin Arum harus datang kepadamu dan mengatakan isi hatinya. Ia seorang gadis yang terikat oleh batasan-batasan hidup sebagai seorang gadis yang beradab” “Baik. Baiklah aku menyadari bahwa aku terlambat Sekarang kau sudah terlebih dahulu mendapatkannya. Tetapi aku tidak percaya bahwa persoalannya hanya sekedar karena kelambatanku. Jika semula aku melihat sepercik sinar di dalam hati Arum karena kau tidak ada Raden. Aku hanyalah sekedar pengisi kekosongan semata-mata. Sekarang, karena agaknya Arum sudah mendapatkan apa yang ditunggunya, maka aku tidak akan berarti lagi bagi hidupnya. Dan akupun tidak akan berjongkok untuk mohon belas kasihan. Aku datang sebagai utusan Pangeran Mangkubumi. Dan kedatanganmu kemari ternyala kurang menguntungkan, karena sejenak lagi akan datang seorang utusan dari Surakarta. Dan orang itu akan melihatmu di sini dan sekaligus akan dapat menjadi saksi pengkhianatanmu kepada semua orang di sekitarmu” “Buntal” berkata Raden Juwiring “jika kau mengerti bahwa akan datang seorang petugas sandi dari Surakarta, kenapa hal itu kau katakan kepadaku? Bukankah dengan demikian kau sudah mengucapkan rahasia yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh orang lain?“ “Karena sebentar lagi kau akan mati di sini Raden”“Buntal” suara Arum melengking “Kau memang picik. Kau tidak mengerti akan dirimu sendir i” Buntal tertegun ketika ia melihat air mata meleleh di pipi Arum. Ia seorang gadis yang keras hati. Bahkan ia seorang gadis yang kadang-kadang hanya menuruti kehendaknya sendiri. Tetapi ia kini menangis. Buntal menahan getaran tangannya yang hampir saja mengayunkan pedangnya. Sekilas ia melihat beberapa orang berdiri di muka pintu. Tetapi tidak seorangpun yang berani berbuat sesuatu. “Untunglah bahwa agaknya Kiai Danatirta tidak ada di padepokan” desis Buntal “Tidak akan ada orang yang dapat menghalangi aku membunuh Raden. Juwiring” Tetapi air mata di pelupuk Arum membuatnya agak ragu- ragu. “Kakang Buntal” berkata Arum “Kau memang seorang anak muda yang diburu oleh kebencian dan dendam. Keadaanmu sejak kau terlempar ke dalam keadaan yang tidak menentu, telah mendasari hatimu, sehingga meskipun kemudian kau mendapat tuntunan dar i ayah dan kemudian kau menunjukkan sikap yang baik, tetapi pada suatu saat kebencian dan dendam yang mengendap di dasar hatimu sejak kau kanak-kanak itu tidak dapat kau sembunyikan lagi” “Cukup“ potong Buntal “Kau tidak usah mengungkap masa itu Arum. Aku berterima kasih kepadamu, bahwa selama ini aku sudah mendapat perlindungan dan bahkan kebaikan yang tidak ada taranya. Aku akan tetap mengenangnya. Tetapi sekarang, aku mempunyai persoalan dengan Raden Juwiring. Tidak dengan kau” “Jangan ingkar Buntal. Meskipun sebenarnya aku malu sekali mengatakan, tetapi di dasar hatimu, kau sekali lagi merasa kehilangan cinta. Dahulu kau kehilangan cinta kasih orang tuamu dan orang-orang di sekitarmu. Sekarang kaumerasa bahwa kau telah kehilangan cintaku. Buntal, aku mencintaimu. Aku berkata dengan jujur” “Tetapi apa yang kau lakukan sekarang dengan Raden Juwiring?” Buntal membentak “persetan. Aku tidak peduli apapun juga. Aku akan membunuhnya” Tiba-tiba wajah Arum menjadi merah. Dan tiba-tiba saja gadis itu meloncat meraih pedang yang tergantung di dinding. Buntal terkejut melihat sikap Arum. Ternyata gadis itu kemudian menggenggam pedang dan mengacukan pula kepadanya. “Kakang Buntal. Raden Juwiring kali ini adalah tamuku. Aku berhak melindunginya meskipun ia mampu melindungi dir inya sendiri. Tetapi agaknya Raden Juwiring tidak bersedia menanggapi sikapmu, ternyata ia sama sekali tidak menarik senjatanya” “Arum” suara Buntal menjadi gemetar. “Ya. Kita sama-sama murid dari perguruan Jati Aking. Jika Raden Juwiring mendapat ilmu rangkap dari ayahandanya, dan kau dari Kiai Sarpasrana, maka aku tidak mendapatkan ilmu dar i orang lain kecuali Kiai Danatirta. Tetapi meskipun demikian, aku tidak akan menyerah. Aku akan menunjukkan bahwa aku mampu mengimbangi kalian dengan ilmu kalian masing-masing” “Arum” desis Buntal “sebaiknya kau t idak ikut campur. Serahkan persoalan antara aku dan Raden Juwiring kepada kami. Kami adalah laki- laki yang tahu bagaimana kami harus berhadapan sebagai laki-laki” “Aku tidak peduli apakah aku Laki- laki atau perempuan. Tetapi kau waj ib tunduk kepadaku karena akulah yang memiliki rumah ini. Jika ayah tidak ada, akulah yang bertanggung jawab”Wajah Buntal menjadi merah padam. Kemudian dipandanginya Raden Juwiring sambil berkata “Raden Juwiring Apakah kau membiarkan dirimu mendapat perlindungan dari seorang perempuan? Ataukah kalian memang sudah bersepakat untuk mengkhianati perjuangan Pangeran Mangkubumi” Buntal menjadi tidak sabar lagi ketika ia masih mendengar Raden Juwiring berkata “Sebaiknya kita berbicara dengan mulut kita. Tidak dengan senjata teracu. Arum, kau jangan membiarkan perasaanmu berbicara. Aku berharap bahwa Buntalpun akan menyadari kesalahannya” “Persetan. Aku tidak bersalah” “Di antara kita telah terjadi salah paham, Buntal. Kau terburu nafsu. Ketika kau melihat aku duduk berdua dengan Arum, maka kau sudah kehilangan pikiran warasmu” “Diam, diam” “Raden. Agaknya kakang Buntal memang sudah tidak dapat diajak berbicara lagi” “Kenapa tidak. Aku mengharap kau dapat berbicara sebaik- baiknya” “Cukup. Cukup” potong Buntal. Raden Juwiring menjadi termangu-mangu sejenak. Sekilas ia melihat kegelisahan di luar pintu. Beberapa orang berusaha mencari Kiai Danatirta untuk melaporkan apa yang terjadi. Tetapi mereka tidak berani minta pertolongan kepada orang- orang padukuhan Jati Sari, karena mereka tentu tidak akan mampu berbuat apa-apa. Tetapi mereka tidak segera menemukan Kiai Danatirta. Karena itu salah seorang dari merekapun segera berlari-lari ke sawah untuk mencar inya. Barangkali Kiai Danatirta sedang berada di sawah menunggui air.Dalam pada itu, keadaan di bilik yang tegang itu menjadi semakin tegang. Buntal tidak dapat mengelak lagi dari amukan api cemburu. Mau tidak mau ia harus mengakui, bahwa ia bukan saja mengacukan pedangnya karena da pengikut Pangeran Mangkubumi, tetapi juga karena perasaannya yang dihantaui oleh kesepian. Seperti yang dikatakan Arum, Buntal menjadi sangat ketakutan bahwa ia akan kehilangan cinta sekali lagi, setelah cinta kasih orang tuanya direnggut selagi sedang berkembang. Dan kini, cintanya sebagai seorang anak muda terhadap seorang gadis akan patah selagi bersemi. Dengan suara gemetar Buntal itupun kemudian berkata “Baiklah aku mengaku Arum. Aku harus mempertahankan harga diriku. Meskipun aku akan kehilangan sekali lagi setelah kasih sayang orang tuaku, maka satu-satunya yang aku miliki adalah harga diriku. Harga diri sebagai seorang laki-laki, dan harga diri sebagai seorang pejuang” Buntal berhenti sejenak “dan kini jika kau memang memilih orang lain Arum, apa- boleh buat. Dan jika kaupun telah mengkhianati perjuangan Pangeran Mangkubumi, maka sekali lagi aku katakan, apa- boleh buat” “Hatimu menjadi gelap kakang. Cobalah dengarkan Raden Juwiring memberi penjelasan” Lalu katanya kepada Raden Juwiring “kenapa kau diam saja Raden. Kau harus mengatakan sebelum terlambat. Kakang Buntal benar-benar sudah menjadi mata gelap. Dan baginya tidak ada jalan lain kecuali pedang kita harus beradu” Raden Juwiring termangu-mangu sejenak. Namun Buntal sudah mendahului “Aku t idak memer lukan penjelasan apapun” Selangkah ia maju dan pedangnya benar-benar telah menyentuh tubuh Raden Juwiring yang masih belum menarik senjata.“Kau takut he?“ bentak Buntal “Aku masih member imu kesempatan. Jika waktu itu habis, bersenjata atau tidak, aku akan membunuhmu” “Tidak” teriak Arum “Aku berhak melindunginya” Arumpun kemudian maju selangkah. Pedangnya benar- benar teracu ke arah tubuh Buntal. Katanya “Kakang Buntal. Kau harus menyadari, bahwa jika aku mau aku dapat membunuh seorang kumpeni yang aku jumpai di parit itu. Jika kau masih juga berkeras hati, akupun akan kehilangan segala pertimbangan” Buntal memandang Arum dengan ragu-ragu, sementara Arum berkata lantang “Raden Juwiring, kenapa kau diam saja. Katakan apa yang hendak kau lakukan di sini, sebelum semuanya terlanjur. Apakah kau memang menunggu kesempatan yang demikian?“ Raden Juwiring memandang Buntal yang wajahnya menjadi tegang. Selangkah ia surut. Kemudian katanya “Buntal Aku minta untuk yang terakhir kalinya. Dengarlah aku. Kemudian jika kau akan membunuhku, lakukanlah. Atau jika kau mau berperang tanding, aku akan melayanimu. Apakah kau mau?“ Buntal termangu-mangu sejenak. “Jika masih ada sisa rasa persaudaraanmu, dengarlah aku” Buntal masih tegang. “Kau mau?“ “Jangan mencoba bergurau” bentak Buntal “Apakah dengan demikian kau mengharap hatiku menjadi luluh dan member imu maaf atas kesalahan gandamu” “Dengar dahulu kata-katanya” potong Arum hampir berteriak.Juwiring memberi isyarat agar Arum berdiam dir i saja. Tetapi kegelisahan di hati Arum memaksanya untuk bergeser semakin dekat dengan pedang di tangan. “Buntal” berkata Juwiring “Aku memang menunggu saat yang tegang ini. Sebenarnya aku sudah ingin mengucapkan persoalanku dengan padepokan ini, tetapi tiba-tiba saja aku ingin mendengar pengakuanmu. Dalam keadaan yang wajar, kau dan Arum tidak akan dapat mengucapkan pengakuan cintamu masing-masing. Tetapi sekarang, kau sudah mengatakannya dan Arumpun sudah mengakuinya pula. Kalian tidak perlu saling berdiam diri dan saling menunggu. Kalian memang saling mencintai, dan kalian adalah anak-anak muda yang sepantasnya untuk mengikat perasaan masing- masing” Wajah Buntal dan Arum menjadi merah. Bahkan Arum yang menggenggam pedang itupun kemudian menundukkan kepalanya. Pedangnyapun seakan-akan merunduk karenanya. Tetapi Buntal masih tetap dalam sikapnya. Katanya “Kau akan membuat aku lengah” “Tidak Buntal. Seharusnya kaupun bersikap jantan menghadapi Arum. Kau harus berani datang kepadanya dan berkata bahwa kau cinta kepadanya. Semuanya akan berlangsung seperti yang kau harapkan” “Cukup. Sekarang apalagi yang akan kau katakan. Kau akan mengatakan bahwa aku telah terlambat dan Arum sudah terlanjur berjanji kepadamu untuk menjadi isterimu? Isteri seorang bangsawan yang mempunyai seribu macam kelebihan dari aku?” “Kakang” pekik Arum. Juwiring menggeleng ”Tidak Buntal. Aku tidak akan berkata demikian. Sekarang aku menunggu keputusanmu, apakah yang akan kau lakukan. Aku merasa bahwa tugasku bagi adik- adikku sudah selesai”Buntal menjadi termangu-mangu. Namun pedangnya masih teracu. “Kenapa kau ragu-ragu” Buntal masih tetap tegak di tempatnya, Juwiring yang berdiri beberapa langkah di hadapannya masih nampak tenang. Ia sama sekali tidak berusaha untuk menarik senjatanya. Bahkan kemudian ia tersenyum sambil berkata “Nah. Bukankah sudah jelas bagimu Buntal. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku justru telah mendengar pengakuan dari kalian berdua. Kemudian, terserahlah kepada kalian berdua, apa yang akan kalian perbuat di antara kalian“ Arum perlahan-lahan telah bergeser surut. Bahkan kemudian ia memalingkan wajahnya yang menjadi kemerah- merahan. Sedang Buntal berdir i termangu-mangu di tempatnya. Namun sejenak kemudaan Buntal masih menggeram “Raden Juwiring. Mungkin aku dapat mempercayaimu, bahwa kau memang tidak akan membawa Arum. Tetapi kau telah mempergunakan keadaan ini untuk mempersulit kedudukanku. Kau adalah seorang pengkhianat. Aku tidak akan dapat membiarkan kau pergi. Tetapi j ika aku bertindak atasmu, maka seolah-olah kau menuduh bahwa aku telah dibakar oleh gelap hati karena cemburu. Bahkan Arum menyebutku sebagai dendam dan kebencian yang tersembunyi di dalam hatiku, yang pada suatu saat telah terungkat, pada saat-saat aku menjadi ketakutan akan kehilangan cinta. Karena itu, sebaiknya aku tidak bertindak sendiri. Aku akan membawamu menghadap Kiai Sarpasrana atau Ki Wandawa” Raden Juwiring mengerutkan keningnya. “Raden” berkata Buntal “di dalam hal ini kau tidak akan dapat membujuk aku. Ada atau tidak ada persoalan dengan Arum, kau memang waj ib ditangkap”Arum mengangkat wajahnya. Dipandanginya Raden Juwiring yang sesaat menjadi tegang. “Buntal” berkata Raden Juwiring “Apakah kau percaya kepadaku bahwa aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Arum” “Yang aku persoalkan adalah pengkhianatmu” Raden Juwiring memandang Arum yang juga memandanginya. Katanya “Arum, sebagai seorang yang tertua dari perguruan Jati Aking, aku berharap bahwa kalian tidak akan menjadi salah paham lagi. Aku tidak akan menjadi sakit hati jika persoalan yang ada di antara aku dan Buntal kemudian bukan karena kau, tetapi karena alasan lain” Arum tidak menyahut Dan Buntal berkata “Nah, jika demikian menyerahlah. Biarlah Ki Wandawa mengambil keputusan atasmu” “Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?“ “Menangkapmu” “Bagaimana dengan petugas sandi yang bakal datang itu nanti. Apakah kau biarkan ia datang tanpa menemuimu?“ Buntal menjadi termangu-mangu. Sebenarnyalah ia menjadi agak bingung. Namun kemudian ia berkata “Raden Juwiring. Aku harus menangkapmu. Menyimpanmu di dalam tempat yang meyakinkan aku bahwa kau tidak akan melarikan dir i, sehingga saatnya kau akan aku bawa menghadap Ki Wandawa” “Kalau aku t idak mau” bertanya Juwiring. “Aku akan memaksamu”“Sudahlah Raden” berkata Arum “bukankah Raden mengatakan bahwa waktunya terlampau sempit? Dan Raden masih saja membuang-buang waktu” Juwiring mengerutkan keningnya, sedang Buntal menjadi tegang “Apakah maksudmu?“ “Tidak apa-apa” sahut Juwiring “sebenarnyalah waktuku memang terlampau sempit. Buntal, j ika persoalan Arum memang sudah selesai dan kau yakini, maka marilah kita mempersoalkan masalah yang barangkali penting bagimu. Sebaiknya kau mendengarkan aku berbicara tanpa menggenggam senjata” Tetapi Buntal justru mengangkat senjatanya teracu kearah Juwiring sambil berkata “Kau mencar i kesempatan“ “Tidak Buntal” desis Raden Juwiring perlahan-lahan “Marilah kita berbicara. Apakah kau pernah mendengar ceritera tentang Bintang Selatan?“ “He“ pertanyaan Juwiring itu rasa-rasanya telah menghentak dada Buntal. Sejenak ia berdir i tegang dengan tatapan yang menusuk langsung ke dada Juwiring. Juwiring masih tersenyum di tempatuya. Katanya “Sarungkan dahulu senjatamu. Kau memang berhadapan dengan Bintang Selatan, Sebutlah ciri sandimu, atau aku harus nangkap kau karena aku sudah terlanjur menyebutkan sandi itu?“ Buntal masih berdiri dengan perlahan-lahan mulutnya menyebut “Angin Utara, apakah aku harus menjawab demikian?“ Juwiring tertawa. Katanya “Bagaimanakah pesan Ki Wandawa?“ Buntal masih tetap berdiri dalam kebingungan. Yang dilakukan kemudian hampir di luar sadarnya. Dengan tangan gemetar ia menyarungkan pedangnya betapapun iadicengkam oleh keragu-raguan. Tetapi ia sudah mendengar Juwiring menyebutkan kata sandi itu. Bintang Selatan. Dan sebutan itu adalah sebutan yang dimiliki oleh petugas khusus dari Surakarta. “Buntal“ berkata Juwiring “sebenarnya aku juga tidak mengerti bahwa kita akan bertemu. Tetapi justru karena kau sudah mengatakan bahwa akan ada petugas sandi dari Surakarta yang datang, maka aku menduga, bahwa kaulah yang mendapat tugas dari para pimpinan petugas sandi pamanda Pangeran Mangkubumi, Karena itu aku justru sempat menunggumu berbicara tentang Arum” Rasa-rasanya segenap tubuh Buntal menjadi gemetar. Ia terduduk di amben kecil dengan lemahnya. “Nah, kemudian kita akan berbicara tentang perjuangan rakyat Surakarta” berkata Juwiring kemudian. Buntal mengusap keringat yang mengembun di keningnya. Tanpa disadarinya ia memandang Arum yang masih berdir i. Tetapi Arumsudah memutar tubuhnya dan membelakanginya “Arum” berkata Raden Juwiring “kemarilah, dan duduklah” Arum tidak beranjak dari tempatnya. Ia berdiri dengan kepala tunduk. Tetapi iapun telah menyarungkan pedangnya dan kemudian meletakkannya di atas aju-aju di sudut ruangan. Sementara itu orang-orang yang berada di luar ruangan menjadi heran. Mereka tidak tahu dengan pasti apa yang telah dilakukan oleh anak-anak muda di dalam ruangan itu. Mereka hanya mendengar sepatah-patah mereka bertengkar, dan kemudian pertengkaran itu mereda, tanpa mengetahui arti kata-kata mereka. Orang-orang itu ikut menarik nafas lega. Yang menar i Kiai Danatirta ternyata masih juga belum kembali, karena Kiai Danatirta memang tidak diketemukan di sawahnya.Buntal kemudian duduk dengan kepala tunduk. Perlahan- lahan ia mulai menilai sikapnya. Ternyata Raden Juwiring memang lebih dewasa dari dir inya. Anak muda itu tidak cepat kehilangan pegangan. Bahkan ia masih sempat memanfaatkan keadaan yang tegang itu. Ketika da mendengar Juwiring tertawa pendek melihat sikap Buntal dan Arum, maka Buntal itupun berkata “Kau telah mempermainkan aku Raden” “Tidak Buntal. Aku mengerti bahwa kau memer lukan suatu saat yang khusus untuk membuka hatimu. Dan aku melihat, agaknya saat itu dengan tiba-tiba saja telah datang“ Raden Juwiring berhenti sejenak, lalu “sekarang baiklah kita berbicara tentang Surakarta. Dengarlah. Aku sudah mendapat kepastian, bahwa menjelang dini hari malam ini, pasukan Surakarta yang lengkap akan mengepung Pandan Karangnangka.” “Menjelang dini hari? Dan Raden masih sempat bergurau sekarang ini?“ “Aku hanya menyita waktu sedikit. Sekarang kau harus segera kembali ke Pandan Karangnangka dengan berita itu. Pasukan itu akan dipimpin oleh Senapati Agung dari Surakarta didampingi oleh perwira kumpeni. Sepasukan kumpeni akan ikut di dalam penyergapan itu” “Jadi maksud Raden, Pangeran Mangkubumi harus bersiap melawan mereka”“Tergantung kepada perhitungan pamanda Pangeran Mangkubumi Tetapi pasukan yang akan datang, adalah pasukan yang kuat sekali. Senapati itu adalah pamanda Pangeran Yudakusuma, kemudian didampingi oleh pengapit Tumenggung Sindura dan ayahanda Ranakusuma” Buntal mengerutkan keningnya, Kemudian dari Raden Juwiring ia mendengar penjelasan terperinci dari kekuatan yang akan mengepung Pandan Karangnangka itu Sejenak Buntal termangu-mangu. Ada semacam keragu- raguan yang mengendap di hatinya. Selama ini ia melihat Raden Juwiring sebagai seorang Senapati muda dari pasukan berkuda. Namun kini tiba-tiba saja Raden Juwiring itu ternyata tetap berada pada pendiriannya sejak ia masih berada di padepokan Jati Aking. “Buntal” berkata Raden Juwir ing “kenapa kau nampak ragu-ragu” “Tidak, aku tidak ragu-ragu” Tetapi Buntal tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang terbersit ditatapan matanya. Karena itu maka Raden Juwiring berkata “Sepantasnya kau ragu-ragu Buntal. Tetapi jika tidak ada orang dalam, di dalam lingkungan keprajur itan Surakarta, maka rahasia semacam ini tidak akan pernah sampai kepada Pamanda Pangeran Mangkubumi. Karena itu, harus ada orang yang bersedia berkorban, Setidak-tidaknya mengorbankan perasaannya atas tuduhan yang keliru” “Maaf Raden” “Bukan maksudku. Justru demikianlah seharusnya. Kau harus berdiri di atas sikap dan pendirianmu. Sementara aku memang sudah menyerahkan diri ke dalam tugas ini. Jika kau mengetahui bahwa aku t idak sebenarnya berpihak kepada Surakarta, maka rahasiaku akan mungkin sekali terbuka”“Tetapi aku tentu akan tetap memegang rahasia itu seandainya aku mengetahui” “Bukan aku tidak percaya kepadamu Buntal. Tetapi itu adalah suatu sikap berhati-hati” Raden Juwiring berhenti sejenak, lalu “sekarang, tugas kita masing-masing harus segera kita selesaikan. Kau kembali ke Pandan Karangnangka, dan aku harus menyusup kembali ke dalampasukanku” Buntal masih saja termangu-mangu. Sekilas dipandanginya wajah Arum. Wajah yang masih saja buram. “Arum” berkata Buntal “kau mau memaafkan aku bukan?” Arum tidak segera menjawab. Tetapi wajahnya justru menunduk dalam-dalam. “Agaknya kau lebih dahulu mengetahui bahwa Raden Juwiring tetap berdiri di pihak Pangeran Mangkubumi” “Tentu“ sahut Arum “sebab Raden Juwir ing percaya kepadaku, karena aku…“ Arum t idak dapat melanjutkan kata- katanya. Meskipun ia ingin menyatakan kejengkelannya, namun suaranya bagaikan tersumbat. Raden Juwiring justru tertawa mendengarnya. Katanya “Sudahlah. Itu adalah salah paham semata-mata. Menurut pendengaranku, di dalam kehidupan keluarga salah paham akan sering terjadi. Dan, kalian harus berhati lapang untuk melupakannya apabila kalian sudah menemukan persesuaian. Demikian juga salah paham yang telah terjadi. Kalian harus melupakan saat ini dan untuk seterusnya tidak akan kalian singgung-singgung lagi” Arum menjadi semakin tunduk. Bahkan Buntalpun menjadi tersipu-sipu karenanya. “Nah” berkata Raden Juwir ing kemudian “semuanya sudah selesai. Tugas kita sekarang adalah menyelamatkan pasukan pamanda Pangeran Mangkubumi”Buntal menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian “tetapi, apakah guru tidak ada di rumah?“ Raden Juwiring memandang Arum sejenak, lalu “Aku juga belumbertemu dengan ayah” Arum menggelengkan kepalanya sambil berkata “Aku t idak tahu, kemana ayah pergi” Tetapi sebelum mereka berkata lebih jauh lagi, terdengar suara, justru dari ruang dalam “Aku di sini anak-anak” Semuanya terkejut mendengar suara itu. Apalagi kemudian mereka melihat Kiai Danatirta benar-benar muncul dar i ruang dalam. “Ayah ada di rumah?“ bertanya Arum. Kiai Danatirta tertawa. Katanya “Ya, aku ada di rumah. Aku juga tahu, dua tiga orang pelayan berlari-lari mencari aku. Dan aku juga tahu apa yang telah terjadi” Tiba-tiba saja Arum berlari keayahnya. Sambil mencubit lengannya bertubi-tubi ia berkata “Ayah memang nakal. Ayah membiarkan kami bertengkar tidak ada ujung pangkalnya” Kiai Danatirta masih tertawa perlahan-lahan. Sambil duduk di atas amben kecil itu pula ia berkata “Aku memang berharap sekali-kali kalian bertengkar. Semula aku memang akan menjelaskan persoalannya. Tetapi karena menurut pendapatku, angger Juwiring telah memilih cara yang tepat, maka akupun justru bersembunyi saja di ruang dalam” Ketika Arum mencubit lagi, ayahnya bergeser sambil berkata “Sudahlah Arum. Nanti ayah menjadi merah biru“ “Tetapi ayah mengganggu kami” “Aku mengerti bahwa akhirnya semua akan selesai dengan baik, karena aku tahu pasti, bahwa Raden Juwiring sedang mengemban tugas, dan Buntalpun demikian pula”“Jadi ayah tahu bahwa Raden Juwiring sampai saat ini tetap berdiri di pihak Pangeran Mangkubumi?“ Kiai Danatirta mengangguk. Katanya “Aku adalah satu- satunya orang yang diberitahu oleh Raden Juwiring tentang dirinya. Dan akupun harus menyesuaikan diriku pula. Aku tidak mengatakannya kepada siapapun” “Ayah telah membuat kami kebingungan selama ini” berkata Arum “dan apakah ayah sudah tahu pada saat Raden Juwiring datang mencari merjan?“ Ayahnya mengangguk sambil tersenyum. “Terlalu, terlalu sekali“ Arum mencubit lengan ayahnya lagi berkali-kali. “Jangan Arum, jangan. Tanganmu bukan tangan gadis kebanyakan” Buntal yang sebenarnya juga merasa heran, Ia hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sedang Raden Juwiring tersenyum sambil berkata “Akulah yang harus minta maaf Arum. Aku memang berpesan kepada Kiai Danatirta agar tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Bukan berarti aku tidak mempercayai kalian berdua. Tetapi semata-mata karena aku menjaga ketenangan dir i dalam tugasku” Arumt idak menyahut. Sedang Buntal termangu-mangu. “Arum” berkata ayahnya “bagaimanapun juga aku percaya bahwa semuanya akan berakhir dengan baik. Aku menganggap bahwa Raden Juwir ing telah bersikap dewasa, karena ia memang tertua di antara kalian. Sedangkan kalian yang lebih muda kadang-kadang masih terlampau mudah disentuh oleh api kemarahan sehingga tanpa disengaja, rahasia yang ada di dalamdiri kalian terloncat keluar” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari hal itu. Baru saja ia telah membuat suatu kesalahan sebagai petugassandi hanya karena hatinya dibakar oleh perasaan yang tidak menentu. “Sekarang” berkata Kiai Danatirta kemudian “Kau tentu menyadari betapa pentingnya tugasmu. Hari telah menjadi semakin malam. Sedang saat ini pasukan Surakarta tentu sudah bersiap. Menjelang dini hari mereka harus sudah mengepung Pandan Karangnangka. Pada saat matahari terbit mereka akan menyerang padukuhan itu dari satu jurusan dengan gelar yang lengkap, sedang di tempat lain, mereka sudah siap mengepung sehingga tidak seorangpun akan dapat lolos dan melar ikan diri. Bukankah begitu Raden?“ “Ya Kiai” “Karena itu Buntal. Bukan berarti aku akan mengusirmu. Tetapi lakukan tugas ini sebaik-baiknya” Buntal memandang Raden Juwir ing sejenak. Dilihatnya Raden Juwiring mengangguk sambil berkata “Demikianlah Buntal. Akupun harus segera berada dipasukanku kembali. Aku akan ikut menyerang Pandan Karangnangka di bawah Senapati Pengapit Pangeran Ranakusuma. “Tetapi bagaimana dengan ayahanda Raden?“ “Aku adalah puteranya. Aku harus tunduk atas segala perintahnya. Tetapi jika Pandan Karangnangka telah kosong, bukankah aku tidak akan bertempur dengan siapapun juga?” “Tetapi bagaimana j ika Pangeran Mangkubumi mengambil keputusan untuk melawan?“ Juwiring tersenyum. Katanya “Aku akan menemukan jalan keluar. Tetapi sebenarnyalah pasukan Surakarta terlampau kuat” , “Tetapi Pangeran Mangkubumi adalah seorang prajurit sejati”“Menghindari perang yang tidak seimbang bukan berarti lari atau ingkar akan kuwajiban. Tetapi itu berdasarkan atas pertimbangan yang masak untuk tujuan terakhir dari peperangan” Buntal mengangguk-angguk sambil berkata “Baiklah. Aku harus segera menyampaikan persoalan ini kepada Ki Wandawa” ia terdiam sejenak, lalu “Jika demikian Kiai, aku mohon dir i untuk segera kembali ke Pandan Karangnangka” “Aku berdoa untuk kalian. Bukankah Raden Juwiring juga harus segera kembali kepasukannya?“ “Ya Kiai. Aku juga akan segera mohon diri” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya “Perjuangan kalian masih akan memer lukan waktu dan tenaga. Hati- hatilah” Kedua anak muda itupun hampir bersamaan telah berdiri dan bersiap untuk pergi. Namun dalam pada itu, tiba-tiba Arumberdesis “Ayah” Kiai Danatirta berpaling kepadanya. Sejenak ia termangu- mangu. Namun kemudian ia bertanya “Ada apa Arum? Apakah ada yang akan kau katakan?“ Arum hanya menundukkan kepalanya. “Apakah kau akan ikut?“ Sejenak Arum diam. Tetapi kemudian kepalanya terangguk kecil. “Ada dua orang yang akan pergi kearah yang berlainan. Yang manakah yang akan kau ikuti?“ Wajah Arum menjadi merah. Sekali lagi ia mencubit lengan ayahnya bertubi-tubi sambil berdesah “Ayah selalu mengganggu aku”Kiai Danatirta tertawa. Namun kemudian Juwiringpun tertawa “Kau tentu memilih ikut aku Arum” Buntallah yang kemudian menjadi tersipu-sipu. Tetapi ia tersenyum meskipun tidak menyahut sama sekail “Baiklah Arum” berkata Kiai Danatirta kemudian “Aku tahu. bahwa kau benar-benar berniat untuk pergi. Pergilah. Tetapi kau harus tetap berhati-hati di dalam segala tingkah lakumu. Kau tidak dapat bersikap kekanak-kanakan terus-menerus di mana-mana. Kau harus menyesuaikan dirimu. Jika kau dituntut oleh keadaan karena keperempuananmu di dalam menentukan kuwaj iban, maka kau jangan ingkar” Arum mengangguk. “Dan sudah barang tentu kau harus tunduk kepada pimpinanmu. Mungkin kau akan mendapat tempat yang lain dengan kakakmu. Dan kau t idak boleh mengikuti perasaanmu saja” Sekali lagi Arum mengangguk. “Cepatlah berkemas. Waktu hanya sedikit sekali.” Arumpun segera berkemas, sementara seorang pelayan menyiapkan kudanya. “Aku titipkan Arum kepadamu Buntal. Aku kira sebentar lagi Jati Aking tidak akan aman lagi baginya. Jika orang-orang Surakarta mengetahui peranan Taman di kaki Bukit ini, maka semuanya akan menjadi sulit” Buntal memandang wajah gurunya dengan tajam. Kemudian terloncat pertanyaan dari mulutnya “Guru, apakah pada suatu saat, ada kemungkinan padepokan ini akan menjadi sasaran prajurit di Surakarta?“ “Bukan mustahil Buntal. Tetapi baiklah hal itu kita bicarakan kemudian. Sekarang pergilah menunaikan kuwajibanmu sebaik-baiknya”Ketiga anak-anak muda itupun sekali lagi minta dir i. Kemudian mereka meninggalkan Jati Aking untuk melakukan tugas masing-masing. Juwiring kembali kepasukannya yang sudah siap bergerak mengepung Pandan Karangnangka dan kemudian menghancurkan padukuhan itu menjelang pagi. Buntal yang kemudian mengambil kudanya dan Arumpun berpacu secepat-cepat dapat dilakukan. Hanya kadang-kadang mereka harus memper lambat derap kudanya karena jalan yang licin atau berlubang- lubang. di sepanjang jalan tidak banyak yang mereka bercakapkan. Kecuali Arum dan Buntal masih di antarai oleh keseganan masing-masing karena salah paham yang baru saja mereka selesaikan, merekapun ingin segera sampai ke Pandan Karangnangka untuk menyampaikan berita yang sangat penting itu. “Tidak mustahil kita bertemu dengan pengawas yang sudah dipasang oleh orang-orang Surakarta” berkata Buntal. Arum tidak menjawab, sehingga Buntal menjadi termangu- mangu sejenak. Tetapi karena yang akan dikatakannya adalah persoalan yang dianggapnya penting, maka iapun berkata pula “sebaiknya kita tidak menempuh jalan induk. Juga tidak melalui jalur yang menuju ke Surakarta selain jalan induk. Kita akan melalui jalan yang bertentangan, karena jalan dari Surakarta atau bahkan mungkin dari Pandan Karangnangka, sudah mendapat pengawasan” Arum menarik nafas dalam-dalam. Ia masih segan untuk terlalu banyak berbicara. Meskipun demikian ia mengangguk sambil menjawab “Aku mengikutimu jalan manapun yang kau tempuh” Buntal menarik nafas. Tetapi ia dapat mengerti perasaan Arum. Demikian mereka berdua kemudian mengambil jalan melingkar seperti saat Buntal memasuki padepokan Jati Sari.Dengan demikian mereka akan mengurangi kemungkinan pengawasan dari para petugas sandi di Surakarta. Ternyata usaha Buntal itu berarti tanpa mereka sadari. Jalan yang menuju ke Pandan Karangnangka memang mendapat pengawasan secermat-cermatnya sebelum pasukan Surakarta mengepung padukuhan itu. Terutama jalan masuk dari jurusan Surakarta. Tetapi Buntal mengambil jalan yang lain. Seperti ketika ia memasuki padukuhannya, Jati Sari, maka ia menjadi sangat berhati-hati. Dengan demikian maka beberapa orang petugas sandi yang berada di tepi jalur jalan dari Surakarta tidak melihat kedatangannya. Beberapa kali para pengawas itu melihat beberapa orang peronda yang berjalan mengitari Pandan Karangnangka. Tetapi para peronda itu sama sekali tidak melihat mereka. Dalam pada itu, Buntal dan Arum dengan diam-diam telah sampai di regol padukuhan. Para penjaga yang menghentikannya, kemudian mempersilahkan mereka berdua untuk segera menghadap Ki Wandawa. “Marilah Buntal“ Ki Wandawa mempersilahkannya ketika ia berada di depan pintu. “Aku datang bersama adikku Ki Wandawa” Ki Wandawa mengerutkan keningnya. Lalu iapun bertanya “Siapakah adikmu itu?“ “Arum” “Arum? Seorang gadis?“ “Ya” Ki Wandawa terdiam sejenak. Kemudian ia berkata dengan nada yang tinggi “Masuklah. Bawa adikmu masuk”Keduanyapun kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Seperti pada saat Buntal menerima perintah, maka ruangan itu masih tetap kosong, selain Ki Wandawa sendir i, seolah- olah Ki Wandawa tidak bergerak dari tempatnya sejak ia member ikan perintah kepada Buntal untuk pergi ke taman di kaki bukit. “Buntal” bertanya Ki Wandawa dengan nada yang datar “kenapa kau bawa adikmu itu. Bukankah kau sedang menjalankan tugas yang cukup berat” Buntal termangu-mangu mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian ia menjawab “ia ingin ikut berjuang bersamaku Ki Wandawa” “Siapa yang mengatakan begitu?“ “Adikku” “Apakah kau tahu apa yang dikatakannya itu sesuai dengan yang dipikirkannya?“ “Aku tahu pasti” “Tidak. Kau sudah berbuat kesalahan yang besar sekali. Tidak ada orang yang boleh mengetahui hubungan yang sedang kau lakukan. Adikmu, ayahmu dan saudara-saudaramu tidak” “Tetapi, aku berani menanggung segala akibatnya Ki Wandawa. Jika adikku berbuat sesuatu yang dapat merugikan perjuangan ini, biarlah aku yang digantung” “Tetapi jika kesalahan itu sudah terlanjur membawa korban, tidak ada artinya kau digantung setinggi pohon kelapa sekalipun. Karena itu, pergilah. Kau tidak akan mendengar penjelasan apapun lagi. Tetapi kau akan segera berada di bawah pengawasan beberapa orang petugas” “Ki Wandawa”“Kau sudah melakukan kesalahan yang besar di dalam tugasmu. Jika kau tidak dalam tugas rahasia bahkan sangat rahasia, kami akan mener ima kedatangan adikmu dengan baik. Tetapi dalam keadaan ini semuanya harus diyakinkan lebih dahulu, apakah kau tidak terdorong dalam suatu perangkap yang dapat merugikan keseluruhan kita” “Tetapi aku belum melaporkan, apa yang baru saja aku lakukan Ki Wandawa. Jika memang aku dianggap bersalah, aku tidak akan ingkar. Tetapi aku akan memberikan laporan lebih dahulu. Yang aku dengar memang penting sekali bagi Pandan Karangnangka” “Dan yang penting sekali itu sudah bocor ke telinga orang lain. Jika besok atau lusa, akibat dari kecerobohanmu ini akan mulai nampak, maka kau t idak akan dapat diampuni lagi” “Kakang” desis Arum. Buntal menggamit Arum. Kemudian iapun menjawab “Aku akan bersedia menerima hukuman apapun. Tetapi sebaiknya aku akan melaporkan tugasku” “Adikmu harus dibawa pergi lebih dahulu. Baru kau berbicara” “Ia sudah mengetahuinya” “Itulah yang sudah aku duga. Dengan demikian maka kau dan adikmu akan selalu berada di bawah pengawasan untuk beberapa lama” “Bukan aku yang memberitahukan kepadanya“ Ki Wandawa mengerutkan keningnya. Suaranya menjadi dalam “Siapa?“ “Bintang Selatan” “He“ wajah Ki Wandawa menjadi merah. Katanya kemudian “Kau berbohong. Orang yang mendapat kepercayaan daripetugas sandi di Surakarta tidak akan begitu bodoh mengatakan rahasia itu kepada setiap orang” “Tetapi demikianlah yang telah terjadi. Ketika aku datang, justru hampir terjadi salah paham antara aku dan Bintang Selatan yang sudah aku kenal sebelumnya” Ki Wandawa termangu-mangu. “Ki Wandawa” berkata Buntal kemudian “pada waktu itu di Taman di kaki Bukit itu memang telah bertemu Bintang Selatan, Angin Utara dan Bunga di Batu Karang” Ki Wandawa menjadi bingung. Katanya “Aku adalah orang tertinggi di pasukan Pangeran Mangkubumi yang mengurusi masalah sandi. Tetapi aku belum pernah mendengar Bunga dibatu Karang” “Memang bukan nama sandi. Tetapi jika dikehendaki, aku akan bertanggung jawab. Karena itu, Ki Wandawa sebaiknya segera mendengar laporanku. Kemudian terserah apa yang akan Ki Wandawa lakukan terhadap kami berdua” Ki Wandawa memandang, tatapan mata Buntal yang tajam. Ia adalah seorang yang memiliki pengalaman yang masak, sehingga karena itu, maka Ki Wandawa itu dapat menjajagi perasaan yang terberat di dalam dada Buntal. Apalagi ketika ia melihat wajah gadis yang dikatakan oleh Buntal sebagai adiknya itu. Ia melihat wajah itu nampak bersih. Karena itu, maka Ki Wandawapun kemudian berkata “Buntal, katakanlah Tetapi lebih dahulu sebutlah alasanmu mengapa kau menyebut Bunga di Batu Karang” “Tidak Ki Wandawa. Sebenarnya aku hanya sekedar mengatakan tanpa maksud tertentu. Yang menyebutnya sebagai Bunga di Batu Karang untuk yang pertama kali menurut ingatanku adalah Raden Rudira, putera Pangeran Ranakusuma ketika anak muda itu menginginkan adikku untukdijadikan selirnya. Ia menganggap tempat tinggalku sebagai batu karang yang keras dan gersang” Ki Wandawa menar ik nafas dalam-dalam. Ternyata sebutan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan tugas-tugas sandinya. Karena itu maka katanya “Baiklah. Sekarang, katakan apa yang kau dapat dari Bintang Selatan” Buntal termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya “Bintang Selatan adalah saudara tuaku” “O“ Ki Wandawa tidak menghiraukannya. “Itulah sebabnya, adikku dapat mendengarnya juga” “Suatu kesalahan. Tetapi cepat katakan” Buntalpun segera mencer iterakan apa yang didengarnya dari Raden Juwiring, bahwa pasukan Surakarta sudah siap mengepung Pandan Karangnangka. Wajah Ki Wandawa jadi tegang. Lalu “Jadi kepungan itu akan berlangsung sekarang?“ “Ya. Sebentar lagi” Ki Wandawa merenung sejenak. Kemudian katanya “Kau tetap berada di sini. Aku akan menghadap langsung Pangeran Mangkubumi. Mungkin kau diperlukan keteranganmu” Buntal termangu-mangu. Tetapi ia tidak sempat bertanya, karena Ki Wandawa itu telah lenyap di balik pintu.Tetapi demikian Ki Wandawa tidak nampak lagi, Buntal melihat dua orang bersenjata berdiri di depan pintu bilik itu. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata kepada Arum “kita harus tetap berada di sini Arum” “Sampai kapan?“ “Sampai kita diij inkan pergi” Arum mengerutkan keningnya. Dengan malasnya ia duduk di sebuah amben bambu. Tetapi dengan demikian Arum dapat mengetahui, bahwa ada semacam peraturan yang ketat berlaku di dalam lingkungan laskar Pangeran Mangkubumi, sehingga ia memang tidak akan dapat berbuat sekehendak hatinya sendir i. Dalam pada itu, atas permohonan Ki Wandawa, Pangeran Mangkubumi telah memanggil orang-orang terpenting untuk membicarakan keterangan yang mereka terima lewat Buntal. Mula-mula mereka menilai apakah berita itu dapat dipercaya. “Aku mempercayainya” berkata Ki Wandawa “keterangannya jelas dan terperinci. Tingkat sumber beritapun menurut ketentuan yang sudah kita setujui bersama dengan para petugas di dalam kota” “Tetapi apakah Ki Wandawa mengetahui, siapakah yang telah berhasil menyadap berita yang tentu sangat dirahasiakan itu? Jika Ki Wandawa dapat menyebutnya, atau menyebut nama sandinya, maka tidak akan ada persoalan lagi” bertanya seorang Senopati. “Sayang” berkata Ki Wandawa “Aku hanya mengenal pembawa beritanya. Bintang Selatan. Tetapi nama itu bagiku merupakan jaminan bahwa berita yang dibawanya bukannya berita isapan jempol belaka” Para pemimpin yang ada di dalam pertemuan itu kemudian hanya saling menunggu keputusan Pangeran Mangkubumi.Sejenak kemudian, di dalam keheningan yang tegang, Pangeran Mangkubumi berkata dengan suara yang berat “Aku mempercayainya” Tidak ada lagi yang mempersoalkannya. Pangeran Mangkubumi mempunyai tanggapan yang sangat tajam. Firasatnya dan nalurinya untuk bertindak melampaui kebanyakan orang sehingga orang menganggapnya mempunyai kekuatan lain dari kekuatan nalarnya. Orang-orang Surakarta percaya bahwa Pangeran Mangkubumi mempunyai aji Sapta Pangrungu, Sapta Pangrasa dan bermacam-macam aji yang lain. Bahkan sepi-angin dan panglununan. “Kemudian, apakah yang harus hamba lakukan?” bertanya Ki Wandawa. “Mencari petugas sandi yang mengawasi jalur jalan di sekitar tempat ini Menurut kemungkinan mereka menghubungi atasannya, kemudian kita harus meninggalkan padukuhan ini. Kita belum siap melawan mereka dalam gelar yang utuh. Kita harus menyiapkan diri di luar kepungan, dan menyerang mereka dengan tiba-tiba. Tetapi kita akan segera meninggalkan arena pertempuran. Kita akan pergi ke Utara, sementara pasukan dari Sukawati harus sudah meninggalkan tempatnya pula, karena mereka harus mengganggu prajur it Surakarta yang mengejar kami” “Mereka harus menjebak pasukan dari Surakarta?” “Tidak. Mereka hanya akan menyerang dan kemudian meninggalkannya seperti yang kita lakukan” Ki Wandawa mengerti apa yang harus dilakukan. Ia harus mengirimkan petugas sandi ke Sukawati secepatnya agar mereka dapat segera mempersiapkan diri. Tetapi dalam pada itu Pangeran Mangkubumipun kemudian berkata pula “Menjelang pertempuran yang akan terjadiperempuan dan anak-anak harus sudah disingkirkan. Mungkin prajurit Surakarta tidak akan mengganggu mereka, karena mereka adalah Saudara-saudara mereka sendir i. Tetapi kita tidak dapat mempercayai kumpeni sama sekali. Ia akan membunuh perempuan dan anak-anak seperti ceritera yang pernah kita dengar terjadi dibenua lain dalam penjelajahan orang-orang kulit putih. Bahkan dibenua lain orang pribumi ditangkap dan diperdagangkan sebagai budak-budak belian” Pangeran Mangkubumi berhenti sejenak. Kemudian “Ki Wandawa. Lakukan segera semua persiapan sebelum mereka datang. Tetapi aku perlu bertemu dengan anak muda yang langsung mendapat hubungan dar i Bintang Selatan” Ki Wandawapun segera meninggalkan pertemuan itu. Demikian pemimpin-pemimpin yang lain. Mereka harus mulai melakukan tugas masing-masing, karena waktu sudah terlampau sempit. Dalam pada itu, beberapa orang petugas sandi segera menyebar. Mereka yakin, sebelum pasukan yang besar itu datang untuk mengepung Pandan Karangnangka, maka petugas-tugas sandinya tentu sudah bertebaran lebih dahulu. “Kita harus meninggalkan padukuhan ini kearah yang tidak mendapat pengawasan” berkata Ki Wandawa kepada anak buahnya yang harus mempersiapkan perjalanan bukan saja pasukan Pangeran Mangkubumi, tetapi juga perempuan dan anak-anak, karena mereka pernah mendengar ceritera-ceritera yang mengerikan tentang orang-orang kulit putih yang sering berburu manusia. Ceritera yang mula-mula terloncat dari mulut orang-orang kulit put ih itu sendir i apabila mereka sedang menyombongkan diri atau sedang mabuk. Sementara beberapa orang petugas sandi mencari jalan keluar dari daerah Pandan Karangnangka, Buntal mendapat kehormatan untuk langsung menghadap Pangeran Mangkubumi di dalam sebuah bilik yang kecil. di dalam ruangan itu tidak ada orang lain kecuali PangeranMangkubumi sendiri. Tetapi Buntal harus menghadap seorang diri, sehingga Arumharus tetap tinggal di luar. “Buntal” suara Pangeran Mangkubumi berat “Kau mengenal Bintang Selatan sebelumnya?“ “Hamba Pangeran. Bintang Selatan adalah saudara seperguruan hamba” “Ya“ “Raden Juwiring pernah tinggal bersama hamba beberapa lama di Padepokan Jati Sar i” Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Kita kadang-kadang tidak tahu, siapakah yang akan dikirim oleh petugas-tugas sandi di dalam kota. Mereka harus melindungi orang-orangnya dengan penuh rahasia. Tetapi bukankah Juwiring itu putera Pangeran Ranakusuma?“ “Hamba Pangeran” Pangeran Mangkubumi mengerutkan keningnya. Pangeran Ranakusuma adalah seorang Pangeran yang dekat dengan kumpeni. Meskipun ada kekecewaan yang terselip di hatinya, namun ia tetap seorang yang berbahaya. Pangeran Ranakusuma adalah Senapati yang mumpuni. Mungkin ia menjadi agak jauh dengan perwira-perwira kumpeni karena persoalan pribadi. Tetapi ia adalah sapu kawat Surakarta, “Tetapi Juwir ing agaknya dapat dipercaya” berkata Pangeran Mangkubumi kemudian, lalu “Kau tetap berada di sini. Ada orang lain yang sudah diperintahkan ke Sukawati. Mungkin tenagamu diperlukan oleh Ki Wandawa” “Hamba Pangeran” “Sekarang, pergilah kepada Ki Wandawa untuk membantunya” Buntalpun kemudian meninggalkan bilik yang sempit itu. diluar ia menemui Arum dan bersama-sama menemui Ki Wandawa untuk mendapat perintah-perintah selanjutnya. Dalam pada itu Ki Wandawa benar-benar telah tenggelam dalam kesibukan. Ia sudah menyebarkan beberapa orang petugas sandi untuk merintis jalan keluar dari Pandan Karangnangka. Bukan saja agar arah kepergian mereka tidak diketahui oleh prajur it Surakarta, tetapi juga agar prajurit Surakarta tidak mengetahui bahwa padukuhan itu sudah kosong, sehingga mereka merasa dir inya gagal pada tindakan yang pertama. Kesan itu akan selalu mempengaruhi tindakan- tindakan mereka berikutnya. Sementara itu, beberapa orang petugaspun segera dikirim ke Sukawati setelah para petugas sandi meyakinkan arah yang tidak mendapat pengawasan dari petugas-tugas sandi dari Surakarta. Mereka harus melaporkan semua persoalan yang sudah dibicarakan di Pandan Karangnangka. “Tidak ada satu katapun yang boleh terloncat dari mulutmu, jika kalian tidak bertemu dengan Ki Sarpasrana atau Ki Wandan Putih” pesan Ki Wandawa “jika sesuatu terjadi di perjalanan, kau tahu apa yang harus kau lakukan” Demikianlah petugas sandi itupun segera meninggalkan Pandan Karangnangka. Mereka berkuda berir ingan pada jarak beberapa langkah, sehingga apabila terjadi sesuatu, ada kesempatan bagi salah seorang untuk melepaskan dir i. Sedang rahasia yang mereka bawa, harus mereka pertahankan sampai mati jika mereka bertemu atau bahkan tertangkap oleh lawan. Di lain arah, beberapa orang petugas sandi benar-benar dapat melihat petugas-tugas dari Surakarta. Tetapi mereka sama sekali tidak mengganggu. Bahkan mereka berusaha untuk menghindari dan sekedar mengawasi. Seorang petugas sandi yang membawa cangkul dalam pakaian petani yang akan mengair i sawahnya, pura-pura tidakmelihat sama sekali bayangan dua orang yang berusaha bersembunyi di dalamgerumbul yang tipis di pinggi jalan. Kedua petugas sandi itu termangu-mangu sejenak melihat petani itu berjalan dengan tenangnya seolah-olah sama sekali tidak mengetahui apa yang akan terjadi di padukuhan Pandan Karangnangka. “Sekarang ia mengairi sawahnya di malam begini” berkata salah seorang petugas sandi dari Surakarta itu “sebentar lagi sawahnya akan menjadi kubangan raksasa jika terjadi peperangan” “Yang akan menjadi ajang peperangan bukan sawah orang itu. Tetapi sawah di sekitar padukuhan” sahut yang lain. Kawannya mengangguk-angguk. Petani itu sudah t idak dilihatnya lagi di balik kegelapan. Yang terdengar kemudian adalah gemer icik air yang mengalir di parit di sebelah gerumbul itu. Sesaat kemudian laporan tentang jaring-jaring petugas sandi dari Surakarta telah sampai kepada Ki Wandawa. Meskipun pasti masih ada yang dilampaui, tetapi mereka sudah mempunyai gambaran, daerah manakah yang mendapat pengawasan yang paling ketat. “Jalan ke Surakarta benar-benar telah tertutup” berkata Ki Wandawa kepada Buntal “mereka menjaga agar tidak ada seorang petugas sandi yang dapat menyampaikan rencana sergapan ini kepada kita. Untunglah bahwa berita itu sudah sampai kepada Pangeran Mangkubumi. Dan pengawasan yang ketat itu agak memperkuat kepercayaan kita bahwa malam ini Pandan Karangnangka benar-benar akan dihancurkan” Setelah Ki Wandawa mendapat bayangan jaring-jaring pengawasan petugas-tugas sandi dari Surakarta, maka iapun segera memerintahkan menyiapkan perempuan dan anak- anak.“Kalian harus segera meninggalkan padukuhan ini” berkata Ki Wandawa kepada mereka “bawalah Barang-barang yang penting saja” Perempuan dan anak-anak menjadi terlalu sibuk. Beberapa orang anak kecil menangis di dalam dukungan ibunya. Tetapi mereka harus pergi untuk keselamatan mereka, karena yang akan datang di utara pasukan Surakarta adalah kumpeni. “Sepasukan pengawal akan menyertai kalian” berkata Ki Wandawa kemudian “Yang lain akan menyusul kemudian. Kalian tidak akan pergi ke Sukawati. Tetapi kalian akan di tempatkan di tempat yang sudah kami tentukan. Kalian akan mengetahuinya setelah kalian berada di tempat itu besok” Perempuan dan anak-anak itu tidak bertanya. Mereka mengerti bahwa tempat itu masih dirahasiakan untuk kepentingan keselamatan mereka sendir i. Setelah semuanya siap, maka sepasukan pengawal telah berjalan mendahului. Kemudian disusul dengan sebuah iring- iringan yang panjang, yang berjalan tanpa obor di dalam kegelapan, didampingi oleh beberapa orang pengawal pula. Di bagian belakang dari ir ing-ir ingan itupun diiringi pula oleh sekelompok pengawal yang siap untuk melindungi perempuan dan anak-anak itu apabila terjadi sesuatu di perjalanan. Sementara perempuan dan anak-anak meninggalkan padukuhan Pandan Karangnangka, maka Pangeran Mangkubumi memimpin sendir i pasukannya untuk menghadapi sergapan prajurit-prajurit Surakarta dan terutama kumpeni. “Kita berada di luar padukuhan“ perintah Pangeran Mangkubumi kepada pasukannya “kita akan menunggu sampai prajur it Surakarta mengepung Pandan Karangnangka. Kita akan melihat bagaimana mereka merayap masuk. Kemudian baru kita akan menyerang mereka. Kita tidak akanterlibat dalam perang yang besar. Kemudian kita akan mengundurkan diri. Sepanjang pengejaran itulah pasukan dari Sukawati harus siap. Mereka harus menyerang dengan tiba- tiba, dan menghilang pula dengan tiba-tiba. Kecuali dengan pertimbangan lain. Apabila menurut pertimbangan kita dapat menghancurkan mereka, maka kita akan bertempur terus” Demikianlah setelah pasukan Pangeran Mangkubumi siap, merekapun segera meninggalkan padukuhan. Tetapi mereka dengan sengaja tidak memadamkan lampu- lampu dan obor- obor di gardu-gardu. Bahkan mereka dengan sengaja meninggalkan satu dua orang yang ditugaskan untuk memukul kentongan, dengan nada dara muluk. Sekedar member i pertanda waktu dalam keadaan aman dan tenang. Ternyata perhitungan waktu Pangeran Mangkubumi hanya berselisih sekejap. Tepat pada saat pasukannya meninggalkan Pandan Karangnangka, sepasukan yang besar dan kuat telah mendekati padukuhan itu. Namun pasukan Pangeran Mangkubumi dapat menghindarkan diri dari pengamatan para petugas sandi dari Surakarta, sehingga ketika pasukan Surakarta mendekati Pandan Karangnangka, mereka sama sekali tidak mengira, bahwa padukuhan itu telah kosong. Apalagi karena mereka masih melihat obor-obor yang tetap menyala di sudut-sudut desa dan di gardu-gardu. Bahkan rumah-rumah yang nampak dari kejauhan masih juga diterangi nyala lampu minyak di regol-regolnya. Dalam pada itu, Pangeran Mangkubumi yang memimpin sendiri pasukannya, telah membawa mereka kesebuah padukuhan kecil yang tidak begitu jauh dari Pandan Karangnangka. Sebuah bulak pendek telah memisahkan kedua padukuhan itu, sehingga setiap perkembangan keadaan, Pangeran Mangkubumi dan pasukannya akan segera mendengar laporan dari para pengawas.Ketika kentongan dengan nada dara-muluk terdengar dari jantung padukuhan Pandan Karangnangka, maka Senapati perang yang memimpin pasukan Surakarta itupun menarik nafas dalam-dalam. Pandan Karangnangka agaknya masih diliputi oleh suasana tenang. “Mereka tidak menyadari apa yang akan terjadi sebentar lagi atas padukuhan itu“ berkata seorang perwira kumpeni kepada kawannya “Aku ingin melihat padukuhan itu dibakar habis dengan segala isinya” Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian “Banyak orang-orang pribumi yang cantik. Barangkali satu dua orang perempuan masih kita perlukan” “Perempuan desa yang kotor, di kota masih banyak perempuan yang bersih dan cantik” Kawannya tidak menjawab. Mereka merayap maju semakin dekat. Dengan isyarat yang sudah ditentukan, maka pasukan Surakarta itupun berhenti beberapa pula tonggak dari Pandan Karangnangka. Kemudian para Senapatinya berunding sejenak untuk menentukan langkah terakhir. “Kita bergerak mulai sekarang” berkata Senapati perang. Yang lain tidak menyatakan pendapatnya. Sebentar lagi fajar akan menyingsing, sehingga Pandan Karangnangka benar-benar harus sudah dikepung. Setelah mendengarkan penjelasan dari beberapa orang petugas sandi yang mendahului pasukan itu, maka Pangeran Yudakusumapun menentukan sikapnya. “Kita akan memasang gelar. Gelar yang paling baik adalah gelar supit urang. Kita akan menempatkan pasukan berkuda diekor gelar, dan Senapati pengapit akan berada disapit kiri dan kanan. Kemudian pasukan cadangan akan berada di perut dan sementara itu, beberapa kelompok akan berada di hadapan gelar Supit Urang untuk menahan pasukan lawanyang akan mengundurkan dir i” Pangeran Ranakusuma dan Tumenggung Sindura mengangguk-angguk. Sedang seorang perwira kumpeni bertanya “Dimana kami kau tempatkan?“ “Kita ada di ujung gelar. Kita adalah kepala dar i gelar supit urang itu” “Darimana kita melakukan gerakan pertama?“ bertanya kumpeni itu pula. Ia sudah mengerti serba sedikit tentang gelar supit urang. Dan iapun dapat melihat manfaatnya meskipun bagi kumpeni ada beberapa bagian yang sebenarnya tidak perlu ”Apakah kita akan melakukan gerakan pertama dari kepala atau justru dari sapit kedua belah pihak?“ Pangeran Ranakusuma yang mendengar pertanyaan itu memandang Pangeran Yudakusuma dengan tajamnya Pangeran yang cerdik itu tentu mempunyai perhitungan yang menguntungkan bukan saja bagi seluruh gelar. Tetapi juga bagi dir inya sendir i. Dan jawaban yang diduga itupun terloncat dari mulut Pangeran Yudakusuma “Gerakan akan dimulai dari kedua sapit gelar kita untuk mendorong lawan masuk ke dalam jebakan yang lebih dalam” Ketika perwira kumpeni itu mengangguk-angguk, maka Pangeran Ranakusuma tersenyum di dalam hati. Bagaimanapun juga tatag dan beraninya Pangeran Yudakusuma, tetapi ia masih menempatkan Senapati pengapit pada kedudukan yang paling berat menghadapi Pangeran Mangkubumi secara pr ibadi. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak memberikan tanggapan apapun juga. Apalagi seluruh pasukan itu mengetahui bahwa orang yang paling seimbang untuk berhadapan secara pribadi dengan Pangeran Mangkubumi adalah Pangeran Ranakusuma. Jika ada beberapa kekurangan pada Pangeran Ranakusuma, maka Senapati-Senapati yang mendampinginya akan dapatmengisi kekurangan itu. Orang kedua adalah justru Tumenggung Sindura. Dengan pengawal-pengawalnya yang kuat ia akan dapat dihadapkan kepada Pangeran Mangkubumi apabila kebetulan Pangeran Mangkubumi ada di sayap kanan. Sedang apabila Pangeran Mangkubumi langsung menghadapi induk pasukan, barulah Pangeran Yudakusuma dengan perwira-perwira kumpeni yang bersenjata petir akan melawannya. Karena tidak ada tanggapan apapun, maka Pangeran Yudakusuma segera memutuskan untuk melakukan gerakan terakhir mendekati Pandan Karangnangka. Mereka harus menyerang sebelum fajar dengan gerakan yang tiba-tiba dan sekaligus untuk menghancurkan semua kekuatan induk Pangeran Mangkubumi. Jika kekuatan induk itu sudah hancur, maka kekuatan yang lain tidak akan banyak berarti. Kekuatan Pangeran Mangkubumi di Sukawati bukan merupakan kekuatan yang sulit untuk dikuasai. “Pangeran Mangkubumi ingin mengelabui Surakarta dengan menempatkan kekuatannya di sini” berkata Pangeran Yudakusuma “ia tentu mengharap serangan yang pertama justru menuju ke Sukawati. Tetapi ia tidak dapat menipu ketajaman pengamatan pasukan sandi Surakarta” Demikianlah pasukan Surakarta itu bergerak dengan tertib. Setiap isyarat dapat mereka terima dan dapat mereka mengerti sehingga karena latihan- latihan dan pengalaman yang matang maka gerakan yang harus mereka lakukan berjalan dengan cepat sesuai dengan yang dikehendaki oleh Pangeran Yudakusuma, Dengan demikian maka sejenak kemudian Pandan Karangnangka telah benar-benar terkepung. Tidak ada lubang seujung jarumpun yang akan dapat ditembus. Tidak ada orang yang akan dapat lolos dari jaring-jaring kepungan yang teratur dan mapan.Namun sebenarnyalah bahwa Pandan Karangnangka telah kosong. Orang yang terakhir, yang memukul kentongan dengan nada dara mulukpun telah meninggalkan padukuhan itu. Dalam pada itu, pasukan yang telah mengepung Pandan Karangnangka itupun menunggu sejenak. Pangeran Yudakusuma telah memerintahkan kepada setiap Senapati pengapit, Senapati yang lain dan pemimpin-pemimpin kelompok, untuk memperhatikan isyarat yang sudah ditentukan. Jika ayam jantan mulai berkokok di padukuhan Pandan Karangnangka maka semua orang di dalam pasukan Surakarta itu harus mempersiapkan diri, karena sebentar kemudian Senapati tertinggi di dalam pasukan itu akan menjatuhkan perintah untuk menyerang. Sementara itu, pasukan Pangeran Mangkubumi yang telah berada di padukuhan yang lain, mengikuti perkembangan keadaan dengan seksama. Petugas-tugasnya selalu mengamati medan dan mengirimkan laporan kepada Pangeran Mangkubumi. Ki Wandawa adalah orang yang paling sibuk pada saat itu. Ia harus menerima laporan yang dilihat oleh petugas- tugasnya, kemudian mengurai dan mengambil kesimpulan- kesimpulan. Kesimpulan-kesimpulannya itupun disampaikannya pula sebagai pertimbangan kepada Pangeran Mangkubumi. Buntal yang ada di dekat Ki Wandawa mengikuti kesibukannya dengan berdebar-debar. Ketika ada kesempatan maka Buntalpun memberanikan diri untuk bertanya “Ki Wandawa, apakah mereka takan menyerang Pandan Karangnangka setelah siang?“ “Kita belum mendapatkan tanda-tanda” sahut Ki Wandawa. “Jika demikian, apakah kita tetap pada rencana kita untuk menyerang mereka dan menghilang? di siang hari gerakan itu agak sulit dilakukan”“Tidak. Sama sekali tidak. Kita akan menghindari ke tempat yang sudah ditentukan. Sementara pasukan dari Sukawati sekarang sudah siap menunggu di sebuah tikungan untuk menjebak mereka. Tetapi merekapun harus segera menarik diri dan menghilang” “Bagaimana j ika mereka mengejar terus?“  

Jilid 20
"KITA bukan sekedar lari. Kita memberikan perlawanan sambil menarik diri. Kita berpendapat bahwa mereka tidak akan berani mengejar terus setelah pasukan dari Sukawati menyerang mereka. Bahkan seandainya mereka mengejar kita, kitalah yang akan mengambil peranan didalam pertempuran itu. Dari beberapa laporan kami sudah dapat menguatirakan beberapa besar pasukan mereka." "Pasukan itu terlampau besar." "Jumlah kita cukup banyak untuk melawan mereka, karena merekalah sebenarnya yang tidak mengetahui jumlah pasukan kita yang sebenarnya. Meskipun sebagian dari pasukan kita adalah orang-orang yang baru sedikit mendapatkan ilmu keprajuritan, tetapi sebagian yang lain adalah orang-orang yang sudah mendapat tempaan yang dapat dipercaya. Kecuali ku, merekapun didasari oleh hasrat berjuang yang menyala- nyala, sehingga mereka akan merupakan kekuatan yang tangguh."Buntal mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa jumlah pasukan Pangeran Mangkubumi cukup besar. Apalagi apabila pasukan dari Sukawati telah terjun pula kemedan perang. Meskipun demikian Buntal menjadi berdebar-debar ketika langit menjadi semakin merah. Apalagi ketika Ki Wahdawa- pun kemudian berkata "Buntal, Kau dan adikmu tetap bersama aku. Mungkin aku memer lukan tenagamu setiap saat " Buntal mengangguki ia sadar, bahwa ia tidak termasuk dalam kelompok yang manapun juga di Pandan Karangnangka karena ia sebenarnya berada di Sukawati. Karena itu, da langsung berada dibawah perintah Ki Wandawa bersama Arum, setelah Buntal serba sedikit menceriterakan tentang gadis itu serta kemampuan yang ada padanya. Demikianlah maka saat-saat menjelang ayam jantan berkokok di dini hari menjelang fajar, merupakan saat-saat yang sangat tegang. Baik bagi prajurit-prajurit Surakarta dan kumpeni yang mengepung Pandan Karangnangka, maupun bagi Pangeran Mangkubumi yang menunggu kapan prajurit- prajurit Surakarta mulai bergerak, "Kita akan menyerang mereka, sesudah mereka mulai dengan sergapan mereka, sehingga perhatian mereka sebagian besar tertuju kepada pusat pertahanan yang mereka duga masih ada di padukuhan Pandan Karangnangka." berkata Ki Wandawa kepada Buntal "Pangeran Mangkubumi sendiri akan memimpin sergapan ku. Aku harus mengikutinya. Dan kau berdua bersama aku di medan." Buntal dan Arum mengangguk, "Ingat. Kalian tidak boleh lupa sebutan sandi, Jika kau berada diantara kelompok-kelompok yang belum kau kenal dan terpisah daripadaku, kau harus dapat menjawab panggilan sandi itu. Apakah kau ingat ?" "Ya Ki Wandawa. Aku harus menjawab setiap panggilan sandi dengan kata bandang. ""Ya. Banjir dan kau jawab bandang. Jangan keliru. Sebab sepatah kau tergelincir, dadamu akan tertembus ujung tombak kawan sendiri. " Arum mengerutkan keningnya. Ia belum pernah berada dimedan yang sesungguhnya. Karena itu, selalu mengingat- ingat panggilan sandi agar ia tidak keliru mengucapkannya. Setiap kali ia bergumam "Banj ir" bandang. Banj ir "tendang." Ketika langit menjadi kemerah-merahan di Timur, maka sua-sanapun menjadi semakin tegang. Pangeran Yudakusuma hampir tidak sabar lagi menunggu. Seakan-akan waktu berjalan terlampau lamban. "Apakah' orang-orang Pandan Karangnangka sudah kelaparan dan menyembelih semua ayam jantan yang ada dipadukuhan itu" Pangeran Yudakusuma menggeram "j ika demikian maka ayam-ayam jantan dipadukuhan lain akan berkokok juga, dan suaranya betapapun lamat-lamatnya akan terdengar juga dari padukuhan yang paling dekat. " Namun dalam pada itu, selagi semuanya menjadi tegang, maka Raden Juwir ing yang berada diantara pasukan berkudapun nampak sangat gelisah. Seperti Pangeran Yudakusuma ia menganggap waktu merambat seperti siput yang lumpuh. Lambat, dan hampir tidak bergerak sama sekali. Beberapa kali ia menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kadang-kadang ia berjalan mondar-mandir sambil menuntun kudanya diekor gelar Sipit Urang yang sempurna. Pada saat yang bersamaan, disapit kiri dari gelar supit- urang itu, Pangeran Ranakusuma memanggil beberapa orang pemimpin kelompoknya. Pemimpin kelompok yang setia kepadanya, dan selalu patuh kepada per intah-perintahnya, apapun yang harus mereka lakukan. "Saatnya telah tiba" berkata Pangeran Ranakusuma "sebentar lagi pasukan Surakarta akan bergerak. Dan padasaat itu aku akan menuntut kesetiaan kalian yang paling mendalam." Pemimpin-pemimpin kelompok itu tidak ada yang menyahut. Mereka hanya menundukkan kepala saja. Tetapi terpancar didalam wajah mereka kesediaan berkorban sampai titik darah terakhir bagi segala perintah Pangeran Ranakusuma. "Aku mengerti, sebenarnya aku tidak berhak berbuat demikian. Tetapi aku mohon kepada kalian." Para pemimpin kelompok itu menjadi heran. Seharusnya Pangeran Ranakusuma dapat menjatuhkan perintah. Bukan sekedar permohonan, apapun yang harus mereka lakukan. Dalam pada itu, selagi mereka sibuk mendengarkan penjelasan yang kemudian diberikan oleh Pangeran Ranakusuma, tentang segala sesuatu yang harus mereka lakukan, maka tiba-tiba telah terjadi keributan kecil didalam lingkungan sayap kiri dari gelar supit urang itu. "Apa yang terjadi ?" bertanya Pangeran Ranakusuma. "Pangeran" berkata seorang petugas sandi dari pasukan Pangeran Ranakusuma "orang ini akan berkhianat. " "Kenapa ?" bertanya Pangeran Ranakusuma sambil memandang seseorang yang dihadapkan kepadanya dengan ujung pedang yang melekat pada punggungnya. "Ia akan keluar dar i pasukan dan sudah terang tentu akan menyampaikan rahasia kita kepada pihak lain" "Tidak" orang itu hampir berteriak "aku tidak akan berkhianat. Aku hanya akan melihat-lihat." "Bukan waktunya untuk melihat-lihat." Pangeran Ranakusuma memandang orang itu dengan tajamnya. Perlahan-lahan tangannya meraba hulu kerisnya.Setiap orang sudah menduga bahwa keris itu akan segera mengakhir i hidup orang yang akan berkhianat itu. Prajur it- prajurit itu sudah mengenal sikap Pangeran Ranakusuma dipeperangan. Namun tiba-tiba para Senapati itu mengerutkan keningnya. Pangeran Ranakusuma yang sudah, menarik kerisnya perlahan-lahan tiba-tiba mengurungkannya dan menyarungkannya kembali. "Aku tidak akan membunuhnya" katanya dalam suara yang parau "ikat sajalah pada sebatang pohon. Ia harus tetap berada ditempatnya sampai semuanya selesai." Para Senapati memandang wajah Pangeran Ranakusuma yang tegang, namun akhirnya menjadi buram. Bahkan kemudian ia berdiri dan memandang jauh kedalam kegelapan malam. Malam yang tegang dan senyap. Nampak pada tatapan mata dan sikapnya, kegelisahan yang mencengkam. Tetapi Pangeran Ranakusuma tetap seorang Senapati yang besar, yang tidak kehilangan pengaruh dan wibawa atas anak buahnya. "Sebentar lagi ayam berkokok" katanya "dan kita semuanya harus sudah siap. Aku yakin bahwa yang akan terjadi berbeda dengan yang kita rancangkan sejak dari Surakarta. Aku berharap, kalian sudah membekali dir i dengan sikap dan keputusan yang sudah kita ambil. Jika didalam tindakan selanjutnya terjadi pengkhianatan, maka setiap Senapati didalam pasukanku berhak mengambil keputusan. Bahkan membunuhnya sama sekali. " Para perwira didalam pasukan Pangeran Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka menyadari tugas yang harus mereka lakukan. Tugas sebagai prajurit Bukan prajurit yang melakukan segala per intah tanpa mempergunakan pertimbangan nalar. Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit yang bercita-cita.Sejenak kemudian, saat yang dinanti-nantikan itupun datang. Mula-Mula yang terdengar adalah kokok ayam jantan dipadukuhan tetangga. Lamat-Lamat, tetapi hampir setiap orang didalam gelar supit urang itu mendengar. Apalagi kemudian setiap ayam jantan dipadukuhan Pandan Karangnangka berkokok pula Sesaat kemudian terdengarlah aba-aba Hampir diseluruh kelompok didalam gelar supit urang. Pangeran Yudakusuma berdiri dengan sebatang tombak ditangannya. Tunggul kerajaan yang dibawa berada didalam genggaman prajur it- prajurit pilihan dengan pengawalan yang kuat. Sedangkan para Senapati yang lainpun menjadi berdebar-debar karenanya. Perwira-perwira kumpeni telah mengatur pasukannya dalam barisan yang khusus meskipun mereka tetap berada didalam induk pasukan. Ditangan setiap orang didalam barisan yang khusus itu tergenggam senjata yang dapat meledak dan melontarkan peluru yang dapat menembus dada. Sedang diujung senjata itu dikaitkan sebuah pisau yang runcing, sehingga senjata itu dapat dipergunakan, dalam perang campuh sebagai sebatang tombak pendek pula. Kokok ayam itu telah menggerakkan Tumenggung Sindura pula. Perlahan-lahan ia melangkah keujung pasukannya. Sambil memandang kejantung padukuhan Pandan Karangnangka ia memasang perisai ditangannya. Adalah menjadi kebiasaannya dimedan perang mempergunakan sebuah perisai yang tidak begitu besar dan sebilah pedang ditangan kanan. Dalam keadaan yang paling gawat sajalah ia akan menarik ker is pusaka kebanggaannya. Ternyata kokok ayam itu telati menggetarkan jantung Pangeran Ranakusuma. Dimedan sperang yang manapun ia tidak pernah merasa gelisah seperti saat ia mendengar kokok ayam jantan di padukuhan Pandan Karangnangka itu. Namun ia masih dapat menguasai dirinya sebagai seorang Senapati yang besar.Sekilas Pangeran Ranakusuma memandang langit yang kemerah-merahan. Rasa-rasanya ia masih ingin melihat matahari terbit. Rasa-rasanya untuk selanjutnya ia tidak akan dapat melihatnya lagi. "Ah" desisnya "aku sudah pernah berada dipeperangan berpuluh kali. Aku akhirnya dapat melepaskan diri dari maut. Sekarang, kenapa aku menjadi gelisah." Tetapi kegelisahan didadanya itu tidak dapat diusirnya. Sejenak Pangeran Ranakusuma masih berdir i tegak. Angin di dini hari yang sejuk mengusap wajahnya yang tegang. Sekilas Pangeran Ranakusuma teringat kepada anak gadis yang ditinggalkannya. Namun kemudian ia menggertakkan giginya sambil menggeram "Dimedan ini ada Juwiring. Ia harus menjadi Senapati yang pilih tanding kelak. Mudahlan ia berhasil lolos dari kepahitan yang paling tajam dipepetangan yang baru pertama kali diikutinya. Peperangan yang sebenarnya.” Pangeran Ranakusuma tidak dapat berangan-angan lebih lama lagi. Ketika didengarnya isyarat, maka ia sadar sepenuhnya bahwa pasukannya harus mulai bergerak. Seperti yang ditentukan, gerakan akan dimulai dari kedua sayap dan menekan lawan semakin dalam masuk kepedukuhan Pandan Karangnangka. Kemudian induk pasukan akan menggilas mereka sampai tuntas. Sedang pasukan yang berada disisi lain akan menghancurkan siapa saja yang melarikan dir i. Isyarat yang sudah terdengar, seolah-olah telah membangunkan Pangeran Ranakusuma. Dengan tangan gemetar ia memanggil seorang Senapati dengan isyarat pula. Kemudian dari Senapati itu Pangeran Ranakusuma menerima senjata yang selalu dibawanya kemedan perang. Sebuah trisula, bertangkai pendek. "Bersiaplah. Kita harus mendahului semuanya" gumam Pangeran Ranakusuma.Senapati yang ada didalam pasukannya, yang telah mendengar segala penjelasan Pangeran Ranakusumapun mempersiapkan diri. Seperti Pangeran Ranakusuma, merekapun seolah-olah merasa bahwa mereka tidak akan sempat melihat matahari terbit. Tetapi langit sudah menjadi semakin merah. Sejenak kemudian terdengarlah Pangeran Ranakusuma menggertakkan gigi dan disusul dengan suaranya yang parau meneriakkan aba-aba. Maka pasukannyapun segera bergerak. Disebelah menyebelahnya dua orang Senapati pilihan berjalan dengan wajah yang tegang. Kemudian pasukannya perlahan-lahan mulai menebar. Tetapi Pangeran Ranakusuma agaknya telah memilih jalan yang ditentukan sendiri. Ia tidak langsung menusuk kepusat pertahanan lawan di Pandan Karangnangka seperti yang diperhitungkan. Tetapi Pangeran Ranakusuma mengambil jalan lain melingkari padukuhan itu. Gerakan itu ternyata telah dapat dilihat oleh petugas sandi Pangeran Mangkubumi. Dengan tergesa-gesa seorang diantara mereka segera melaporkannya kepada Ki Wandawa, bahwa pasukan Surakarta dan kumpeni sudah mulai merayap mendekati Pandan Karangnangka dalamgelar yang sempurna. Laporan itupun sejenak kemudian telah sampai pula kepada Pangeran Mangkubumi. Ki Wandawa sendiri menghadap untuk member ikan pertimbangan-pertimbangannya. "Kita harus cepat bergerak. Jika mereka menyadari bahwa padukuhan itu kosong, mereka sempat membuat pertimbangan lain." berkata Ki Wandawa. Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Kemudian iapun menentukan sikap seperti yang telah dibicarakan sebelumnya.Beberapa orang Pangeran yang ada pula didalam pasukannya kemudian pergi kepasukan masing-masing. Mereka sudah siap bergerak untuk memukul pasukan Surakarta dan Kumpeni. Namun kemudian menghindar ketempat yang sudah ditentukan. Jika pasukan Surakarta mengejar, maka pasukan dar i Sukawati sudah bergerak pula untuk mencegat merekai Dan seorang penghubung dari Sukawati telah datang melaporkan semua persiapan berjalan dengan baik. Sesaat kemudian, maka Pangeran Mangkubumipun telah member ikan isyarat Pasukannya telah beroda diujung padukuhan yang menghadap ke Pandan Karangnangka. Jarak antara kedua padukuhan itu tidak begitu jauh. Jika perintah telah jatuh, maka pasukan itu akan menyerbu dengan cepat dan mengejutkan. "Semua obor harus dinyalakan demikian kita mulai bergerak." perintah Pangeran Mangkubumi. - "Langit menjadi semakin terang." "Tetapi obor yang bertebaran akan mempengaruhi ketabahan hati mereka." Ki Wandawa mengangguk-angguk. Dan sebagian dari obor- obor itu hanya sekedar untuk mempengaruhi lawan, karena kekuatan yang sebenarnya justru tidak terletak pada pasukan yang akan berpencar sambil membawa obor itu. Ketika Pangeran Mangkubumi menganggap waktunya telah tiba maka iapun telah bersiap untuk menjatuhkan .perintah. Tetapi ia tertegun sejenak, ketika seorang petugas sandi datang bergegas-gegas dengan nafas terengah-engah. "Apa yang kau lihat ?" bertanya Ki Wandawa. "Ki Wandawa" desisnya disela-sela engah1 nafasnya. Bahkan kemudian "Ampun Pangeran. Hamba tidak bermimpi.Hamba mengetahui dan kawan-kawan yang lain disekitar Pandan Karangnangkapun melihat, bahwa di Pandan Karangnangka telah terjadi pertempuran. " "He ?" Ki Wandawa terkejut. Pangeran Mangkubumipun terkejut pula sehingga untuk beberapa saat ia tertegun. "Kau mengigau" desis Ki Wandawa "kau tahu, semua pasukan yang ada bahkan semua penghuni pedukuhan itu telah pergi?" "Ya Ki Wandawa. Tetapi sebenarnyalah telah terjadi pertempuran." Sejenak kemudian laporan itu t idak dapat dibantah lagi. Dari padukuhan Karangnangka telah terdengar ledakan- ledakan senjata api yang telah dilepaskan oleh kumpeni. "Pangeran" Ki Wandawa menjadi tegang "yang terjadi adalah diluar pertimbangan dan perhitungan kita." Pangeran Mangkubumi ternyata memang seorang pemimpin yang besar dan yang menguasai hampir setiap persoalan yang harus dipecahkannya. Karena itu maka katanya "Panggil para Senapati terpenting dari pasukan kita." Semua orang didalam pasukan itu harus bekerja cepat. Cepat sekali. Apalagi keadaan ternyata berkembang diluar perhitungan. Ketika para Pangeran dan Senapati telah menghadap, maka Pangeran Mangkubumi berkata "Tentu terjadi sesuatu. Ketika mereka menyadari kegagalan mereka, maka mereka telah menjadi saing mencur igai'. Tentu ada diantara mereka yang dituduh berkhianat dan harus ditangkap." Buntal dan Arum yang diperkenankan mengikut Ki Wandawa hampir diluar sadarnya berdesis "Raden Juwir ing."Ki Wandawa berpaling. Kemudian iapun bertanya "Bagaimana dengan Raden Juwir ing." "Bintang Selatan. Dan ia ada dipasukan itu." "Mungkin bukan Juwiring" sahut Pangeran Mangkubumi "tetapi orang yang lebih penting daripadanya." Ki Wandawa mengangguk-angguk. "Jadi, apakah yang harus kami kerjakan sekarang Pangeran." "Cepat, kembali kepasukan masing-masing. Lakukan sesuai dengan rencana. Tetapi hati-hati1ah, karena tentu ada diantara mereka yang justru harus mendapat perlindungan kita." "Tugas ini akan menjadi semakin sulit." "Tetapi mungkin akan berakhir lain. Jangan meninggalkan medan seperti yang direncanakan sebelum mendengar isyarat sandi dari Ki Wandawa." Semua Senapatipun segera kembali kepasukan masing- masing, sedang Ki Wandawa selalu ada didekat Pangeran Mangkubumi. Ia harus menampung segala perintahnya dan menyampaikan kepada seluruh pasukan dengan cara yang sudah disetujui bersama. Demikianlah, maka perintahpun segera jatuh. Hampir bersamaan waktunya para prajurit yang sudah1 ditentukan, menyalakan obor-obor mereka meskipun langit sudah menjadi semakin cerah. Kemudian serentak mereka maju dengan cepat, seperti banjir bandang yang baru saja memecahkan bendungan menuju kepadukuhan Pandan Karangnangka. Sebenarnyalah dipadukuhan Pandan Karangnangka telati terjadi pertempuran yang benar-benar mengejutkan Pangeran Yudakusuma. Sejenak Pangeran Yudakusuma termangu-mangu. Semula pasukan Surakarta menyangka, bahwa pasukan PangeranMangkubumi telah menyongsong langsung induk pasukan sebelum pasukan yang dipimpin oleh Senapati pengapit mendesak mereka masuk kepadukuhan Pandan Karangnangka. "Pangeran” seorang penghubung melaporkan dengan nafas terengah-engah "serangan datang justru dari lambung." "Bagaimana dengan pasukan di sayap kir i." "Sangat kabur. Tetapi pertempuran memang sudah terjadi dengan sengitnya." Sejenak Pangeran Yudakusuma merenung. Lalu "Apakah kau mengenal satu dua orang lawan, atau cir i-cir i yang dapat kau sebutkan?" "Mereka adalah prajurit-prajurit Surakarta" "Gila" teriak Pangeran Yudakusuma. "Aku sendir i akan melihatnya. Amati pasukan itu sebaik-baiknya. Aku masih akan member ikan beberapa perintah lebih dahulu." Penghubung itupun segera kembali ketempatnya. Sementara itu Pangeran Yudakusuma mencari hubungan dengan sapit kanan dan memer intahkan untuk bergerak sesuai dengan rencana. Tetapi baru saja penghubung itu pergi, datanglah seorang. yang dikir im oleh Tumenggung Sindura menghadap Pangeran Yudakusuma. "Pangeran. Padukuhan Pandan Karangnangka telah kosong." "He ?" sekali lagi Pangeran Yudakusuma terkejut. "Apakah kalian sedang bermimpi ? Dilambung kir i telah terjadi pertempuran. Dan kau katakan Pandan Karangnangka telah kosong ?”"Hamba Pangeran. Tidak ada seorangpun yang dijumpai oleh pasukan disapit kir i. Bahkan rumah-rumah telah kosong meskipun lampu masih menyala." Pangeran Yudakusuma menjadi tegang. Lalu perintahnya "Masuklah lebih dalam lagi. Kuasai daerah yang dapat kalian kuasai. Jika memang tidak ada lawan yang kalian jumpai, kalian harus langsung masuk sampai kesayap kiri dan melihat apa yang telah jterjadi. Aku belum berhasil menghubungi Senapati Pengapit disayap kiri." Ketika Penghubung itu pergi, maka pertempuranpun berkobar semakin dahsyat. Bahkan tiba-tiba saja Pangeran Yudakusuma terkejut ketika terjadi pertempuran diekor barisannya. "Gila, semua orang sudah gila." teriak Pangeran Yudakusuma. Ketika seorang prajurit datang menghadap dengan darah yang membasahi tubuhnya, ia membentak "Apa yang terjadi? Apa?" "Sebagian pasukan berkuda telah berkhianat Pangeran." "Berkhianat. Kelompok yang mana ?" "Dibawah pimpinan Raden Juwir ing." "O, gila. Gila. Aku bunuh anak itu." "Kini telah terjadi pertempuran yang sengit diantara pasukan berkuda diekor barisan. Sebagian dar i pasukan berkuda yang berkhianat itu langsung menusuk kedalam pasukan kumpeni." "Mereka akan dibungkam dengan senjata api." "Sebagian besar dari kumpeni itu tidak sempat meledakkan senjatanya, karena sergapan yang begitu tiba-tiba dan tanpa diduga-duga." Pangeran Yudakusuma menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih sempat membuat pertimbangan-pertimbangan. Karenaitu, maka ia-pun kemudian member ikan perintah lewat penghubung-penghubumgnya "Bawa pasukan kesayap kiri." Lalu "Perintahkan Senapati pengapit kanan untuk maju terus. Dan pasukan yang bersiaga untuk menyergap pasukan lawan yang melarikan dir i, supaya segera menyesuaikan dengan keadaan baru. Perintah selanjutnya akan menyusul." Tetapi belum lagi para penghubung itu bergerak, datang laporan, pasukan dari padukuhan sebelah datang dalam jumlah yang besar. Pangeran Yudakusuma menjadi semakin marah. Ia sadar, bahwa yang datang itu tentu pasukan Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya. Tetapi disamping itu, iapun sadar, bahwa didalam pasukannya telah terdapat prajurit-prajurit Surakarta yang berpihak kepada Pangeran Mangkubumi. Dengan lantang Pangeran Yudakusuma berteriak "Pasukan yang mengepung Pandan Karangnangka, dan tidak termasuk dalam gelar, agar menahan pasukan Pangeran Mangkubumi yang datang. Kami akan menyelesaikan pemberontakan didalam pasukan ini sebentar sebelum kami akan datang menghancurkan pasukan Pangeran Mangkubumi. Tumenggung Sindura, aku perintahkan untuk membantu penyelesaian kedalam sebelum pasukannya akan menghadapi pasukan Pangeran Mangkubumi.” Demikianlah pertempuranpun segera berkobar dengan sengitnya hampir disegala tempat. Untuk beberapa saat lamanya prajurit-prajurit Surakarta dicengkam oleh keributan yang membingungkan. Namun semakin lama keadaanpun menjadi semakin jelas. Mereka mulai dapat memisahkan dir i. Yang mana yang berada dipihak Pangeran Yudakusuma dan Senapati-senapati yang setia kepadanya, dan yang manakah yang dengan tiba-tiba telah member ikan perlawanan terhadap mereka. Sementara itu, pasukan yang ada diluar gelar, yang semula disiapkan untuk menahan arus .pengunduran diri dari.pasukan Pangeran Mangkubumi, dengan tergesa-gesa telah memutar haluan dan dengan berdebar-debar menghadapi pasukan yang datang menyerbu kepadukuhan Pandan Karangnangka. Seorang Senapati yang memimpin pasukan Surakarta itu- pun segera meneriakkan aba-aba. Pasukan itupun mulai menebar mengimbangi tebaran pasukan Pangeran Mangkubumi. "Mereka mempergunakan gelar glatik neba." desis Senapati itu. Seorang pengawal yang berdiri disampingnya menganggukkan kepalanya. Obor-obor yang mendekat itu memang bertebaran tidak beraturan. Seolah-olah pasukan Pangeran Mangkubumi memang mempergunakan gelar glatik neba. Sementara itu langit telah menjadi semakin merah. Bintang-bintang telah mulai lenyap dari kebiruan wajah malam yang menjelang fajar. Namun demikian, Pangeran Yudakusuma masih belum berhasil mencar i hubungan dengan Pangeran Ranakusuma yang berada disapit kiri. "Kita harus segera mengetahui nasib Pangeran Ranakusuma. Sayap kir i agaknya telah melawan perintahnya dan memberontak justru kita sudah berada dihadapan pasukan Pangeran Mangkubumi. Kita ternyata sudah diperbodohnya dan mengepung padukuhan yang kosong sama sekali. Ternyata semua petugas sandi dari Surakarta adalah petugas-petugas yang berkepala kosong" Pangeran Yudakusuma yang marah itu selalu mengumpat-umpat. Namun yang didengarnya segera adalah berita yang telah mengguncangkan jantungnya. Berita yang didengarnya bagaikan ledakan petir yang menyambar kepalanya."Pangeran" berkata seorang penghubung "hamba tidak berhasil mencari hubungan dengan Senapati di sapit kir i. Karena sebenarnyalah yang hamba dengar bahwa perlawanan sayap kiri itu justru dipimpin sendiri oleh Pangeran Ranakusuma." "He" wajah Pangeran Yudakusuma menjadi merah padam "apakah kau berkata sebenarnya?" "Demikian menurut pendengaran hamba." "Gila. Tidak seorang petugas sandi dari Surakarta yang dapat menemukan keterangan-keterangan yang benar. Kau lihat. Pandan Karangnangka ternyata telah kosong sama sekali. Tidak ada» seorang petugas sandipun yang mengetahui. Dan sekarang kau mengigau bahwa Pangeran Ranakusuma memimpin perlawanan itu." "Tetapi tidak nampak pertentangan disayap kiri Pangeran. Mereka serentak menyerang lambung. Itu tidak dapat terjadi tanpa ikatan yang berwibawa diantara mereka. Padahal tidak ada orang lain yang memiliki kelebihan dari Pangeran Ranakusuma, sehingga dengan demikian menurut, penilaian hamba, sebenarnya telah terjadi demikian." Pangeran Yudakusuma mengerutkan keningnya. Kemudian katanya "Memang mungkin terjadi. Jika benar, maka sasaran utamanya tentu kumpeni." ia berhenti sejenak "tetapi jika demikian, Pangeran Ranakusuma telah melangkahi hak dan wewenangku sebagai Panglima didalam peperangan ini. Dan itu memang suatu pengkhianatan." "Demikianlah Pangeran. Hamba memang menganggapnya demikian." Pangeran Yudakusuma menggeretakkan giginya. Di sekitarnya pertempuran menjadi semakin seru. Setiap kali! masih terdengar ledakan senjata api yang dilepaskan oleh kumpeni. Tetapi kesempatan untuk mempergunakannya terlampau sempit. Mereka tidak mempunyai waktu untukmengisi peluru dan membersihkan laras. Sehingga dengan demikian mereka mempergunakan senjata mereka dalam pertempuran jarak pendek dengan memasang sangkur diujung laras. Pasukan Raden Juwir ing yang ada diekor barisanpun ternyata telah mengacaukan keseluruhan pasukan berkuda. Mereka bertempur pada jarak yang terlampau sempit. Sedang disayap kiri prajurit-prajurit Pangeran Ranakusuma telah menyerang lambung dan langsung menusuk kepusat pasukan Surakarta. Seperti yang diduga oleh Pangeran Yudakusuma, sebenarnyalah bahwa Pangeran Ranakusuma telah muak melihat kekuasaan kumpeni di Surakarta. Ia mula-mula telah terbius oleh gemerlapannya harta dan kekayaan duniawi sehingga ia telah kehilangan arti dari sifat kesatria Surakarta. Namun akhirnya ia tidak dapat menahan gejolak didalam hatinya, sehingga pada saat yang menentukan itu, ia telah berhasil memecah kungkungan yang mengikat. Sebenarnya bukan tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma menentukan sikap. Sudah lama ia bertekad untuk berbuat demikian bersama puteranya Raden Juwiring. Tetapi ia tidak dapat 'berbuat dengan terbuka. Yang dapat dilakukannya adalah bertindak dengan sangat hati-hati. Karena itu pulalah maka berita tentang sergapan atas Pandan Karangnangka itu dapat sampai ketelinga Pangeran Mangkubumi betapapun dirahasiakannya. Dan dalam pada itu, Pangeran Yudakusumapun mengumpat "Tentu Pangeran Ranakusuma yang telah mengirimkan utusan kepada Pangeran Mangkubumi, agar ia meninggalkan Pandan Karangnangka. Benar-benar suatu pengkhianatan yang tidak dapat diampuni lagi." Dengan kemarahan yang tidak tertahankan lagi, maka Pangeran Yudakusumapun segera mengir imkan berita itukepada Tumenggung Sindura. Dengan tegas ia menjatuhkan perintah "Kita bersama-sama membinasakan Pangeran Ranakusuma sebelum kita akan berhadapan dengan Pangeran Mangkubumi." Dan perintah yang samapun telah diberikan kepada beberapa orang perwira kumpeni, sehingga mereka telah mengirimkan beberapa orang yang akan mengawal Pangeran Yudakusuma menghadapi induk kekuatan sayap kiri yang berkhianat itu. Demikianlah Pangeran Yudakusuma sendir i maju menghadapi pasukan yang datang dari sayap kiri. Prajurit- prajuritnya telah bertempur dengan gigih, karena mereka tidak mau membiarkan dir i mereka terbunuh oleh siapapun. Baik oleh pasukan Pangeran Mangkubumi maupun oleh prajurit-prajurit Surakarta sendir i. Dengan atau tidak dengan cita-cita, namun mereka tetap ingin hidup lebih lama lagi. Tumenggung Sindura yang mendengar pesan dan perintah Pangeran Yudakusuma menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memang sudah menduga, bahwa gerakan disayap kiri tentu dipimpin oleh Pangeran Ranakusuma sendiri. Dengan demikian, maka Tumenggung Sincfurapun kemudian memusatkan gerakan pasukannya menghadapi prajurit-prajurit Surakarta sendiri. Ia sependapat dengan Pangeran Yudakusuma, bahwa lebih baik menghancurkan pengkhianatan lebih dahulu sebelum menghadapi pasukan Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya. Karena itu, maka diapun kemudian dengan tergesa-tergesa maju kemedan diantara pasukan dalam gelar itu sendir i. Dengan beberapa orang pengawalnya yang terpilih Tumenggung Sindura berusaha untuk dapat bertemu dengan Pangeran Ranakusuma langsung. Jika Pangeran Ranakusuma dapat dikuasai hidup atau mati, maka pasukannyapun akan dengan mudah dikuasainya pula.Ternyata dari induk pasukan Pangeran Yudakusumapun bersikap serupa. Dengan beberapa orang kumpeni ia maju mendekati peperangan dilambung kiri. Sementara mereka sibuk menahan sergapan prajurit- prajurit Surakarta disayap kir i, maka diekor pasukan itu, Raden Juwiring bagaikan mengamuk diantara pasukan berkuda sendiri. Beberapa orang yang berusaha menangkapnya telah bergeser mundur karena senjata Raden Juwiring yang berputaran ditangan kanannya. Sementara anak buahnyapun telah bertempur dengan tidak menghiraukan keselamatan mereka sendir i. Meskipun jumlah pasukan berkuda Raden Juwiring tidak terlampau banyak, namun Senapati yang memimpin ekor dari gelar supit urang tidak segera dapat menguasainya. Bahkan ada beberapa orang prajurit yang menjadi ragu-ragu. Meskipun mereka bukan dari kelompok yang dipimpin oleh perwira muda yang bernama Juwir ing itu, namun beberapa orang muda didalam pasukan berkuda itu menjadi termangu- mangu. Raden Juwiring bagi mereka adalah seorang perwira yang baik dan terpuji. Dengan demikian, maka didalam pergaulan sehari-haripun banyak orang yang senang dan dekat kepadanya. Tiba-Tiba saja kini dimedan perang mereka harus berhadapan sebagai lawan. Sementara itu, Tumenggung Sindura yang langsung masuk keinduk pasukan dari sayap kanan telah berada digaris perang. Sedang dari induk pasukan Pangeran Yudakusumapun telah berada diarena pula. Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Pertempuran antara kesatuan-kesatuan prajurit Surakarta sendiri yang memiliki tuntunan dan latihan-latihan yang serupa, sehingga karena itulah maka pertempuran itupun menjadi sangat seru. Namun ternyata bahwa prajurit Surakarta yang berada di sapit kiri itu, kemudian harus menghadapi lawan yang terlampau banyak jumlahnya. Pasukan dari sapit kanan yangseimbang dengan pasukan di sapit kir i, dan induk pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Yudakusuma sendir i. Tetapi prajurit-prajurit Surakarta yang memberontak terhadap induk pasukannya itu bagaikan orang-orang yang sedang wuru. Mereka seolah-olah bertempur dengan tidak menghiraukan apapun juga. Mereka memutar senjata mereka dengan gairah yang membakar jantung. Apalagi apabila mereka harus berhadapan dengan kumpeni. Maka tidak ada pilihan lain daripada membunuh atau dibunuh. Namun demikian tekanan yang datang dari pasukan Tumenggung Sindura dan yang langsung dipimpin oleh Pangeran Yudakusuma memang terasa sangat berat. Diekor pasukan Juwiring kadang-kadang berhasil menarik perhatian dan bahkan mengacaukan induk pasukan. Tetapi hanya disatu sisi. Prajurit-prajurit berkuda dan sebagian kumpeni berhasil menahannya untuk tidak langsung menerobos masuk keinduk pasukan yang sedang bertempur melawan pasukan Ranakusuma. Sebenarnyalah bahwa Pangeran Ranakusuma sendiri bertempur bagaikan singa yang terluka. Dengan pedang ditangan kanan dan keris pusakanya ditangan kiri, ia mengamuk diujung pasukannya. Yang menjadi sasaran kemarahannya, terutama adalah kumpeni. Beberapa orang kumpeni yang mencoba menahannya, tidak mampu menahan amukan pedangnya. Beberapa orang terluka karenanya. Dan yang lahi harus bergeser surut. Apalagi pengawal khusus Pangeran Ranakusuma itu bertempur seperti Pangeran Ranakusuma sendiri. "Aku akan menghentikannya" desis seorang perwira kumpeni yang ada disisi Pangeran Yudakusuma setelah ia berhasil menjumpai Pangeran yang dianggapnya memberontak itu,"Apa yang akan kau lakukan ?" bertanya Pangeran Yudakusuma. "Peluruku akan menembus dadanya. Dan ia akan mati. Tidak seorangpun yang dapat lepas dari bidikanku. Aku adalah penembak tepat sejak aku masih sangat muda," Pangeran Yudakusuma tidak menyahut. Kemudian ia melihat kumpeni itu membidikkan senjatanya. Tetapi sebelum pelurunya meloncat dari ujung laras, Pangeran Yudakusuma tiba-tiba saja berkata "Pangeran Ranakusuma pernah mengatakan, peluru tidak akan dapat menembus tubuhnya. " "Bohong" geram kumpeni itu. Namun tiba-tiba saja keragu- raguan yang sangat telah melanda jantungnya. Dengan suara terbata-bata ia berkata "Orang-orang terbelakang memang percaya akan tahayul." Pangeran Yudakusuma terdiam. Namun ia melihat ujung laras senjata itu agak bergetar. Sejenak kemudian terdengar senjata itu meledak. Tidak terlampau mengejutkan karena bunyi senjata api masih saja terdengar meledak dimana-mana. Tetapi yang mengejutkan adalah, bahwa Pangeran Ranakusuma yang seolah-olah tidak mendengar bunyi ledakan itu, sama sekali tidak merasa tersentuh oleh apapun. Ia masih tetap bertempur seperti seekor singa jantan. Senjatanya masih menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Menyayat kulit lawan, dan merobek lambung mereka yang berani menghalanginya. Seorangkumpeni yang tidak sempat mengisi senjatanya, melawan dengan sangkur diujung laras. Tetapi ia sama sekali tidak berdaya. Dadanya bagaikan terbelah dan darah mengalir seperti pancuran dipinggir sungai. Kompeni yang melepaskan tembakan itu menjadi berdebar- debar. Kemudian dengan suara gemetar ia berkata "Aku tidak pernah meleset. Bidikanku tentu mengenai sasaran." "Tetapi tanganmu gemetar" berkata Pangeran Yudakusuma. "Tidak." "Jika demikian, Pangeran Yudakusuma memang tidak dapat dilukai oleh peluru," "Persetan" "Miinggirlah" berkata Pangeran Yudakusuma kemudian "j ika ia tidak dapat terluka oleh peluru, maka kerisku akan melukainya." Demikianlah maka Pangeran Yudakusumapun segera maju menyongsong kedatangan Pangeran Ranakusuma. Beberapa orang pengawalnya telah melindunginya dari serangan prajurit-prajurit yang lain, sehingga ia benar-benar mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Senapati yang disegani itu. Dalam pada itu, seorang kumpeni yang lain telah membidikkan senjatanya pula. Kumpeni yang telah gagal membunuhnya dengan peluru itupun berbisik "Cepat, sebelum mereka terlibat dalam perang tanding." Sekali lagi sepucuk senjata api meledak. Tetapi Pangeran Ranakusuma tetap berdiri tegak seperti batu karang. "Gila" desis kumpeni yang menembak itu "aku tidak pernah salah bidik.""Tetapi tanganmu juga gemetar" berkata kawannya yang telah lebih dahulu gagal. "Tidak. Tanganku tidak gemetar"l alu "apakah ia hantu atau iblis." "Tidak. Tentu tanganmu gemetar dan dalam hiruk pikuk pertempuran seperti ini. kesalahan bidik tentu akan terjadi." Kawannya tidak menyahut. Tetapi sejenak kemudian tidak seorangpun yang sempat membidikkan senjatanya, karena Pangeran Yudakusuma sudah menghadapinya langsung. "Kenapa kau memberontak ?" bertanya Pangeran Yudakusuma. "Tidak banyak alasan yang dapat aku kemukakan. Tetapi sebenarnya aku sudah muak melihat permainan kita. Kau dan juga aku sendiri." Wajah Pangeran Yudakusuma menjadi merah. Lalu "Aku tidak peduli pendapatmu itu. Tetapi kau sudah ingkar akan kesetiaanmu kepada Kangjeng Susuhunan." "Mungkin akan dapat dinilai demikian. Tetapi yang aku lakukan adalah sekedar melepaskan himpitan perasaan yang tidak tertahankan lagi." "Itu adalah masalah yang terlampau pr ibadi. Tetapi kau sudah mempengaruhi seluruh rencana kita, justru pada saat kita sudah berhadapan dengan Pangeran Mangkubumi." "Tidak apa-apa. Kalau kau serahkan semua kumpeni yang ada didalam pasukan kita, maka aku akan berdiri tegak dipaling depan menghadapi Pangeran Mangkubumi." "Gila. Dendam pribadimu kau pertaruhkan atas seluruh keselamatan Surakarta." "Sudah lama kita bersama-sama mempertaruhkan Surakarta bagi kepentingan pr ibadi kita masing-masing.""Cukup" "Memang sudah cukup." Keduanya tidak berbicara lagi. Tetapi senjata merekalah yang mulai bergetar. Dan sejenak kemudian, keduanya sudah terlibat dalampertempuran yang sengit. Tetapi keduanya seolah-olah telah terpisah dari pertempuran yang terjadi disekitarnya. Para pengawal dari kedua belah pihak telah terlibat perang diantara mereka, sehingga yang terjadi kemudian adalah perang tanding yang sangat dahsyat. Keduanya adalah Senapati pilihan di Surakarta. Keduanya adalah kesatria terpilih. Namun kemudian ternyata bahwa Pangeran Ranakusuma yang memiliki pengalaman lebih banyak dan ternyata juga kemampuan yang lebih tinggi, berhasil mendesak Pangeran Yudakusuma. Meskipun pasukan Pangeran Ranakusuma yang jumlahnya lebih kecil tidak akan dapat bertahan terlalu lama. namun Senapatinya tidak dapat dikalahkan oleh Panglima pasukan Surakarta itu. Sejenak kemudian nampak bahwa Pangeran Yudakusuma sudah terdesak. Betapa gigihnya Pangeran Yudakusuma mempertahankan diri, namun seolah-olah ia bukan saja melawan seorang Pangeran Ranakusuma, tetapi beberapa orang Pangeran Ranakusuma yang berdiri diatas empat keblat diseputarnya. Bahkan senjata Pangeran Ranakusuma, pedang ditangan kanan dan keris ditangan kir i itu bagaikan menjelma menjadi puluhan pedang dan puluhan ker is yang berterbangan diseki-tarnya. Pangeran Yudakusuma menjadi semakin bingung. Jantungnya terasa berdetak semakin cepat. "Sebenarnyalah Pangeran Ranakusuma seorang yang pilih tanding. Seorang Senapati yang barangkali dapat mengimbangi kemampuan Pangeran Mangkubumi." desis beberapa orang prajurit yang sempat melihat tandangnya.Tetapi kini Pangeran Ranakusuma tidak melawan Pangeran Mangkubumi, tetapi ia menghadapi Pangeran Yudakusuma. Tetapi Pangeran Yudakusumapun seorang prajurit yang tanggon. Seorang prajurit yang menyadari tugas dan kuwajibannya menurut keyakinannya. Karena itulah maka Pangeran Yudakusuma bertempur dengan gigihnya. Apapun yang dapat terjadi atasnya, namun ia sama sekali tidak berusaha untuk melarikan diri dari medan. Ia masih mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, bahwa ia akan mampu bertahan sampai prajurit-prajur itnya berhasil mengusir atau bahkan membinasakan sama sekali prajur it- prajurit yang berpihak kepada Pangeran Ranakusuma. Jika demikian, maka Pangeran Ranakusuma akan bertempur seorang diri, sehingga betapapun ia memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi, namun ia tidak akan berhasil mempertahankan dir inya menghadapi sekelompok Senapati pilihan yang akan bertempur bersamanya. Tetapi ternyata bahwa kemajuan prajur it dari pasukan induk itu terlampau lama. Pasukan di sapit kir i bertempur tanpa pertimbangan keselamatan diri. Karena itulah maka kekuatan mereka bagaikan menjadi ber lipat ganda. Kenyataan itu tidak dapat diingkar oleh Pangeran Yudakusuma. Ia sudah terdesak terus sehingga keadaannya menjadi semakin berbahaya. Bahkan kadang-kadang ujung pedang Pangeran Ranakusuma rasa-rasanya sudah mulai menyentuh pakaiannya. Usaha pengawal-pengawalnya untuk membantunya agaknya dapat dibendung oleh pengawal-pengawal Pangeran Ranakusuma. Seolah-olah mereka dengan sengaja ingin melihat perang tanding yang dahsyat itu. Perang tanding antara dua orang Senapati dari Surakarta sendiri. Dalam kesulitan yang hampir t idak teratasi, tiba-tiba arena pertempuran itu telah bergeser. Seakan-akan terjadi desakanoleh sekelompok prajurit yang datang kemudian, langsung masuk kegelanggang pertempuran yang seru itu. Ternyata yang datang adalah Tumenggung Sindura dengan pengawalnya. Tidak seorangpun yang dapat menahan Tumenggung Sindura yang marah. Pengawal-pengawal Pangeran Rana-kusumapun bagaikan menyibak meskipun mereka sudah pasrah diri dalamsentuhan maut. Sejenak Pangeran Ranakusuma memandang orang yang baru datang itu. Ia melihat Tumenggung Sindura memasuki arena. Dada Pangeran Ranakusuma berdesir ketika ia melihat Tumenggung Sindura justru menyarungkan pedangnya. Dengan wajah yang tegang, Tumenggung Sindura itupun kemudian menarik keris pusakanya yang jarang sekali dipergunakannya apabila ia tidak merasa menghadapi kesulitan dipeperangan. "Pangeran Ranakusuma" berkata Tumenggung Sindura "aku menghormati Pangeran Ranakusuma sebagai Senapati yang tidak ada duanya. Tetapi aku kecewa melihat sikap Pangeran, justru pada keadaan yang gawat ini." "Aku hanya menuntut agar kumpeni yang ada dipasukan ini diserahkan kepadaku." "Bukankah hal itu tidak mungkin ?" "Kenapa ?" "Kita bersama-sama menghadapi pasukan Pangeran Mangkubumi" "Bagiku, kumpeni adalah musuh yang jauh lebih jahat dari Pangeran Mangkubumi," "Tetapi bukankah kita sudah menyusun rencana yang bersama-sama kita setujui ? Apakah arti tindakan Pangeran Ranakusuma dimedan seperti ini""Sebuah, ledakan hati yang tidak tertahankan lagi." Pangeran Yudakusuma yang berwajah kemerah-merahan bukan saja oleh kemarahan, tetapi juga oleh cahaya matahari yang mulai mereka berteriak "Kita hancurkan pasukannya." Tumenggung Sindura mengangguk-angguk. Kemudian iapun mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Katanya "Aku akan melawannya Pangeran. Aku ingin membuktikan apakah kini Pangeran Ranakusuma masih mempunyai banyak aji yang dapat menyelamatkan dir inya dari kerisku." "Kita bertempur bersama" sahut Pangeran Yudakusuma "bukan saatnya untuk menunjukkan harga diri. Pasukan Pangeran Mangkubumi sudah terlibat dalam pertempuran dengan pasukan kita diluar gelar. Kita masih harus memperbaiki susunan gelar yang dikacaukan oleh Pangeran Ranakusuma ini." "Baiklah" sahut Pangeran Ranakusuma "mar ilah. Majulah bersama-sama." Pangeran Yudakusuma tidak menyahut lagi. Iapun langsung menyerang meskipun ia sadar Pangeran Ranakusuma masih akan dapat mengelak. Namun sejenak kemudian disusul serangan Tumenggung Sindura yang tidak kalah dahsyatnya. Ditangan kiri ia masih memegang perisai kecilnya, sedang ditangan kanan ia menggenggam sebilah keris yang diterima tumurun dari nenek moyangnya.Tetapi lawannya adalah Pangeran Ranakusuma. Seorang Pangeran yang disegani. Bahkan beberapa orang terkemuka di Surakarta menganggap bahwa Pangeran Ranakusuma memiliki kemampuan setingkat dengan Pangeran Mangkubumi, Karena itulah, ketika Tumenggung Sindura mengayunkan kerisnya mendatar, Pangeran Ranakusuma meloncat surut, la tahu benar bahwa keris ditangan Tumenggung itu adalah keris yang memiliki kemampuan yang t inggi. Bahkan Pangeran Ra- nakusumapun harus memperhitungkan kemungkinan yang paling buruk jika keris itu sempat menggores kulitnya. Namun Pangeran Ranakusumapun percaya, bahwa keris Tumenggung Sindura itu tentu tidak lebih baik dari kerisnya sendiri. Itulah sebabnya, maka hatinya menjadi tatag. Dengan keris ditangan kiri dan pedang ditangan kanan, Pangeran Ranakusuma melawan dua orang Senapati Surakarta lainnya, yang memiliki nama yang menggetarkan pula. Dalam pada itu, Pangeran Yudakusumapun telah menyesuaikan dir i. Pangeran itu mengakui, bahwa Tumenggung Sindura memiliki pengalaman yang lebih banyak dari dirinya sendiri. Karena itu untuk menghadapi Pangeran Ranakusuma, Pangeran Yudakusuma lebih banyak mengikuti dan mengisi setiap kesempatan diantara serangan-serangan yang dilancarkan oleh Tumenggung Sindura. Betapapun tinggi ilmu yang dimiliki oleh Pangeran Ranakusuma. namun melawan dua orang Senapati besar sekaligus ternyata ia harus memeras tenaga dan kemampuannya. Tumenggung Sindura dengan keris dan perisainya bergerak dengan cepat mengitarinya. Namun setiap saat, senjata Pangeran Yudakusuma mematuknya dengan cepat dari arah samping. Dalam keadaan yang demikian, Pangeran Ranakusuma hanya dapat meloncat menghindar. Namun dengan tiba-tibasaja ia telah meloncat kembali sambil mengayunkan pedangnya. Tetapi setiap kali, kedua lawannya bagaikan berpencar. Mereka mengambil arah yang berbeda. Dengan demikian, maka Pangeran Ranakusuma harus bersikap sangat berhati- hati. Sementara pertempuran disekitar perang Senapati itupun masih berlangsung dengan sengitnya. Setiap kali terdengar sorak yang bagaikan meledak. Namun kemudian yang terdengar adalah jerit kesakitan dan desah yang tertahan disela-sela dentang senjata yang sedang beradu. Dalam keadaan yang seolah-olah saling berbaur itu, terasa betapa beratnya bagi Pangeran Ranakusuma yang harus bertempur melawan dua orang Senapati. Ketika ia berusaha menyerang Pangeran Yudakusuma dengan ujung pedangnya, maka Tumenggung Sindura dengan sigapnya telah meloncat sambil menjulurkan ker isnya. Namun Pangeran Ranakusuma yang memiliki kemampuan yang dikagumi oleh setiap Senapati itu, seolah-olah dapat bergeser dari tempatnya tanpa menggerakkan kakinya. Karena itulah, setiap kali ayunan pusaka Tumenggung Sindura bagaikan sekedar menyentuh angin. Tetapi Tumer iggung Sindura adalah Senapati yang pilihan pula. Ia sadar sepenuhnya dengan siapa ia berhadapan. Dan iapun sadar sepenuhnya bahwa pertempuran itu akan menentukan sampai batas akhir. Karena itulah, maka Tumenggung Sindura berusaha untuk mengendalikan dir i. Ia tidak boleh tergesa-gesa mengambil sikap menghadapi Pangeran Ranakusuma. Tetapi ia didampingi oleh Senapati pilihan pula. Pangeran Yudakusuma. Meskipun Pangeran ini masih lebih muda dalam usia dan pengalaman, namun Pangeran inipun memiliki kelebihan-kelebihan tersendiri.Sebenarnyalah bahwa Pangeran Ranakusuma merasa akan sangat berat menghadapi kedua Senapati besar dari Surakarta ini. Namun ia sudah menjatuhkan tekat, bahwa ia akan melawan pasukan Surakarta yang seolah-olah telah dibius oleh kekuasaan Kumpeni itu. Dalam pada itu, ketika terjadi goncangan-goncangan dimedan, Tumenggung Sindura yang merasa gelisah oleh keadaan medan seluruhnya itupun sempat memberi peringatan kepada Pangeran Ranakusuma setelah keringatnya membasahi jari-jar inya. "Pangeran" katanya "kita masih mempunyai waktu untuk membuat pertimbangan-pertimbangan dan barangkali menyelesaikan persoalan diantara kita dengan cara lain. Namun sekarang kita berada di medan menghadapi pemberontakan yang akan dapat menggoncangkan kekuasaan Surakarta. Apakah Pangeran tidak mempertimbangkannya lebih panjang." "Sudah aku jawab. Jangan kau ulang-ulang lagi pertanyaanmu semacam itu" jawab Pangeran Ranakusuma "sekali lagi aku katakan, lebih baik aku melawan Kumpeni daripada melawan adimas Mangkubumi. Karena itu, dengarlah. Aku memang segan bertempur dengan keluarga sendiri. Keluarga besar prajurit Surakarta. Jika kau ingin melawan adimas Pangeran Mangkubumi, lakukanlah. Aku tidak akan menghalangimu, asal kau member i kesempatan kepadaku untuk menusuk langsung kedalam induk pasukanmu dan berhadapan dengan Kumpeni. Aku ingin menghancurkan mereka sampai orang terakhir. Baru kemudian, kau dan Senapati besar yang bernama Pangeran Yudakusuma ini akan dapat menangkap aku. Aku tidak akan melawan dan akupun tidak akan berkeberatan menerima hukuman dari Kangjeng Susuhunan. Ingat, Kangjeng Susuhunan. Bukan Kumpeni." Tumenggung Sindura menggeram. Katanya "Yang Pangeran kehendaki adalah yang tidak akan terpenuhi.Baiklah, dengan demikian maka tidak ada jalan lain bagiku selain bertempur." Pangeran Ranakusuma tidak menjawab lagi. Ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan, meskipun ia sadar, bahwa setiap kali ia harus berusaha melepaskan dir i dari libatan kedua orang lawan yang sangat berat itu. Namun beberapa orang Senapati pembantunya tidak melepaskannya pula. Meskipun kemampuan mereka sangat terbatas, namun dalam keadaan tertentu, merekapun berusaha mengganggu Tumenggung Sindura dan Pangeran Yudakusuma. Dalam pada itu, pasukan Pangeran Mangkubumi telah menghantam pasukan Surakarta yang menebar menghalanginya. Tetapi ternyata pasukan Surakarta itu terkejut bukan buatan. Dalam keremangan fajar yang mulai menyingsing, ketika pasukan itu sudah mendekat. Senapati yang memimpin prajurit-prajur it Surakarta itu baru menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan, ternyata pasukan Pangeran Mangkubumi tidak mempergunakan gelar gelatik neba. Meskipun obor yang menyala nampak berserakan, tetapi sebenarnyalah pasukan Mangkubumi berada dalam gelar Cakra Byuha. Gelar yang bulat padat dan bergerigi bergulung- gulung bagaikan alun yang datang melanda pantai dengan dahsyatnya. "Gila. Kita rubah gelar kita" teriak Senapati yang kemudian melihat kedatangan gelar lawan. Tetapi kesempatan mereka hanya sedikit sekali. Pasukan yang menebar itu dengan tergesa-tergesa ditarik untuk menghadapi lawan dalam gelar yang dahsyat itu. Pada benturan yang pertama telah terasa, betapa beratnya menghadapi pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Beberapa langkah pasukan Surakarta harus mundur sambil mengatur diri. Baru kemudian mereka berhasil menyusun pasukannya untuk melawan Cakra Byuha yang sempurna dari pasukan Pangeran Mangkubumi.Namun ternyata bahwa prajurit Surakarta itu tidak mempunyai kekuatan yang memadai. Mereka dipersiapkan sekedar untuk menahan usaha melarikan diri dari pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Namun kini mereka bukannya menahan sebuah pasukan yang pecah tercerai berai mencari selamat, tetapi kini mereka harus menghadapi pasukan yang utuh dalamgelar Cakra Byuha. Karena itu, maka merekapun segera terdesak mundur. Meskipun prajurit-prajurit Surakarta itu berhasil menyusun diri, tetapi seluruh pasukannya tidak dapat bertahan pada garis benturan antara prajurit-prajurit itu dengan pasukan Pangeran Mangkubumi. Sementara itu, Pangeran Mangkubumi telah memer intahkan Ki Wandawa untuk mendapat keterangan dari pertempuran yang telah terjadi didalam pasukan Surakarta itu sendiri, agar Pangeran Mangkubumi dapat mengambil sikap dalam keadaan yang harus diatasi dengan cepat. Apakah mereka akan bertempur terus, atau seperti yang telah direncanakan. Sekedar menunjukkan dir i bahwa pasukan itu memang ada dan kemudian menghilang menyusur i jalan yang sudah ditentukan, karena pasukan yang berada di Sukawati sudah siap menyergap prajurit-prajurit Surakarta dan Kumpeni bila mereka mengejar terus. Ki Wandawa yang ada didalam lingkaran gelar Cakra Byuha itupun kemudian memer intahkan beberapa orang petugas sandi untuk melihat keadaan diseluruh medan. Mereka sejauh mungkin dapat melihat, apa yang sebenarnya sudah terjadi, "Ki Wandawa, apakah aku dapat ikut bersama mereka?" bertanya Buntal. Ki Wandawa menggelengkan kepalanya "Kau tetap berada disini. Mereka yang bertugas didalam perang yang belum kita ketahui keadaannya ini akan mengenakan pakaian keprajuritan Surakarta. Hanya mereka membawa ciri khususyang dapat mudah dikenai, dan kata-kata sandi yang sudah kita sepakati bersama." Buntal mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia kecewa, bahwa ia harus berada didekat Ki Wandawa. Bahkan sekali- sekali terdengar ia berdesah. "Kakang" bertanya Arum sambil berbisik "apakah yang sebenarnya terjadi atas kita berdua ?" "Apa maksudmu ?" "Apakah sebenarnya kita ini dicur igai dan tidak boleh lepas dari pengawasan Ki Wandawa ?" "Ah. aku tidak berpikir demikian. Tetapi sebenarnya aku juga kecewa bahwa aku tidak berada digerigi gelar ini." Arum t idak menyahut. Dengan wajah yang tegang ia memperhatikan pertempuran yang terjadi disekitarnya. Apalagi ketika cahaya pagi menjadi semakin terang. Maka iapun segera melihat betapa dahsyatnya pertempuran yang telah berlangsung. Dalam pada itu, beberapa orang pasukan sandi telah memencar untuk mendapatkan gambaran dari seluruh pertempuran yang telah ber langsung itu. Diekor pasukan Surakarta, perlahan-lahan Senapati yang memimpin pasukan berkuda dapat menguasai keadaan. Kekuatan Raden Juwiring yang tidak begitu besar, segera dapat dibatasi. Betapapun dahsyatnya kemampuan Senapati muda itu, namun ia tidak dapat melampaui batas kemampuan diri sendir i. Karena itulah, maka pasukan berkuda yang lain dan sebagian dari kumpeni berhasil mengepung mereka dan membatasi pertempuran. Tetapi Raden Juwir ing sama sekali tidak gentar. Yang justru menjadi sasaran utamanya adalah kumpeni. Itulah sebabnya, maka serangannya bagaikan berpusat pada dinding kepungan yang dilakukan oleh kumpeni saja.Gerakan itu memang sangat menarik perhatian. Beberapa orang prajurit berkuda yang mengepung Raden Juwiring itu semakin lama semakin menyadari sikapnya yang semula agak terasa aneh. Seolah-olah Raden Juwiring salah hitung dan mencoba menembus kepungan pada dinding yang terdiri dari kumpeni itu. Tetapi lambat laun, prajurit-prajurit Surakarta mengerti bahwa serangan Raden Juwir ing memang sebagian besar ditujukan kepada kumpeni. Dengan demikian maka korban yang paling banyak jatuh adalah justru kumpeni. Prajurit Surakarta mencoba melindungi mereka sejauh mungkin dengan jumlah yang cukup banyak. Tetapi ternyata diekor gelar Supit Urang itu, prajurit-prajur it berkuda yang masih muda mempunyai sikap dan pertimbangan tersendiri. Tidak ada yang memer intah mereka untuk melakukannya. Tetapi hampir bersamaan tumbuh didalamhati prajurit-prajur it muda itu. Merekapun kemudian menjadi segan bertempur melawan prajurit-prajurit berkuda dari kelompok Raden Juwiring yang dianggap memberontak bersama dengan ayahandanya di sapit kir i. Untuk menghapus jejak dari sikap mereka, maka prajurit- prajurit muda itupun berpura-pura bertempur juga. Tetapi mereka hanya memacu kudanya berlari-lar ian melingkar- lingkar dan membiarkan kumpeni-kumpeni itu menemui kesulitan melawan pasukan berkuda di bawah pimpinan Raden Juwiring. Demikian pula disapit kir i. Sasaran utama dari pasukan Pangeran Ranakusuma adalah kumpeni. Tetapi agaknya sikap Pangeran Yudakusuma dan Tumenggung Sindura telah membuat prajur it-prajurit mereka bertempur bersungguh- sungguh sehingga per lahan tetapi pasti pasukan Pangeran Ranakusuma terdesak. Sedangkan Pangeran Ranakusuma sendiri yang harus bertempur melawan Pangeran Yudakusumadan Tumenggung Sindura harus memeras segenap kemampuannya untuk tetap dapat bertahan. Semua yang terjadi itu, berhasil diamati oleh petugas- petugas sandi dari pasukan Pangeran Mangkubumi. Meskipun tidak tepat sampai bagian yang sekeril-kerilnya, tetapi demikianlah keadaan pada umumnya dapat dilaporkannya kepada Ki Wandawa. Untuk beberapa saat Ki Wandawa sempat berbincang dengan Pangeran Mangkubumi. sementara pasukannya berhasil mendesak maju prajurit-prajurit Surakarta yang kurang kuat. "Bagaimana dengan Juwir ing ?" bertanya Pangeran Mangkubumi "Raden Juwiring mengalami kesulitan Pangeran. Pasukannya yang jumlahnya tidak begitu banyak telah terkepung" Pangeran Mangkubumi termenung sejenak. Seolah- olah ia sedang membuat penilaian atas peristiwa yang terjadi tanpa dilihatnya. Namun ternyata ketajaman perasaan Pangeran Mangkubumi selalu menghasilkan uraian yang hampir tepat atas keterangan yang hanya sekedarnya. Sejenak kemudian ternyata Pangeran Mangkubumi telah menjatuhkan perintah bagi seluruh pasukannya "Perintahkan sekelompok pasukan untuk membantu Juwiring. Kemudian perintahkankepada setiap pimpinan yang ada didalam gelar Cakra Byuha ini. Gelar ini tidak akan ditarik dan mundur untuk seterusnya menghilang seperti rencana semula. Kita akan bertempur terus. Potong jalur hubungan yang dapat dijalin oleh prajur it- prajurit Surakarta dengan pimpinan prajur it di kota Surakarta, dan perintahkan pasukan Sukawati untuk bergerak langsung ke Pandan Karangnangka karena kita tidak akan lewat jalan yang sudah ditentukan. Kita akan bertempur disini sampai tuntas." Sejenak kemudian beberapa orang penghubungpun sudah menebar. Sementara itu Ki Wandawa telah menyiapkan sekelompok pasukan untuk menyelamatkan Raden Juwir ing. "Buntal" berkata Ki Wandawa "kau sekarang mendapat tugas yang barangkali cukup menarik bagimu." "Apa Ki Wandawa.?" "Kau harus mengenakan cir i-cir i yang kita kenal. Kemudian pergilah keekor pasukan Surakarta. Kau akan dituntun oleh seorang penghubung. Kau akan disertai sekelompok pasukan untuk membantu Raden Juwiring yang mengalami kesulitan." Terasa bulu-bulu tengkuk Buntal meremang. Ia memang sudah menunggu perintah semacam itu, sehingga karena itu maka jawabnya justru tergagap "Baik, baik Ki Wandawa. Aku akan berangkat." "Aku ?" bertanya Arum. Buntal memandang Ki Wandawa sejenak seolah-olah ia mmta pertimbangan, apa yang dapat dilakukan oleh gadis itu. Ki Wandawa menarik nafas dalam. Katanya "Arum. Aku mengerti bahwa kau memiliki kemampuan bertempur. Tetapi jika kau benar anak tunggal Kiai Danatirta, maka aku ragu- ragu untuk melepaskanmu.""Tidak Ki Wandawa. Ayah sudah mengizinkan aku pergi. Padahal ayah sudah mengetahui bahwa aku akan pergi kedaerah pertempuran seperti ini.” sahut Arum. Ki Wandawa termangu-mangu sejenak, lalu "Kau dapat mengambil keputusan Buntal." Buntal termenung sejenak, lalu "Tetapi j ika kau ingin pergi bersamaku Arum, kau harus berhati-hati. Kau tidak boleh bersikap menurut kesenanganmu sendiri." "Aku berjanj i" jawab Arum. Buntal memandang Arum dengan tajamnya. Dengan ragu- ragu iapun kemudian berkata "Baiklah Ki Wandawa. Biarlah Arumpergi bersamaku." "Bersiaplah. Aku akan menarik sekelompok prajur it dari gelar ini." "Tetapi bagaimana dengan Pangeran Ranakusuma.? Bukankah menurut laporan, pasukannya juga terdesak ?" "Gelar Cakra Byuha ini akan segera menusuk sampai keinduk pasukan Supit Urang. Mudah-Mudahan dengan demikian sebagian prajur it yang sedang bertempur disapit kiri akan terhisap oleh kehadiran gelar ini." "Tetapi apakah bijaksana kita melawan gelar Supit Urang dengan gelar Cakra Byuha. Bentuk gelar ini tidak menguntungkan." "Jika jumlah pasukan seimbang memang tidak menguntungkan. Tetapi untuk sementara kita menganggap pasukan kita lebih kecil. Apalagi kita tahu bahwa gelar Supit Urang itu sudah rusak sama sekali karena pergolakan didalam tubuh sendir i." Buntal tidak bertanya lagi. Iapun kemudian mengikuti Ki Wandawa. Setelah memakai ciri-ciri yang dikenal oleh pasukan dalam keseluruhan maka Buntalpun menyiapkan sepasukanpengawal untuk membantu Raden Juwiring. Demikian juga Arum pun telah siap untuk mengikutinya dalam pasukan yang dibentuk dengan tergesa-gesa itu. Sejenak kemudian maka sekelompok pasukan kecil itu memisahkan diri dari gelarnya. Dituntun oleh seorang petugas sandi, kelompok kecil itu melingkari arena pertempuran dan langsung menuju keekor gelar Supit Urang yang sudah menjadi semakin kacau. Demikianlah pertempuran itupun kemudian ber langsung dengan jelas dan pasti. Matahari yang merayap terus dilangit wajah matahari itu, rasa-rasanya bagaikan sehelai tirai yang tipis seolah-olah ikut menyaksikan pertempuran yang menjadi semakin dahsyat itu. Ketika selembar awan terbang dipermukaan yang melindungi matahari dari pertunjukan yang menger ikan diatas bumi. diantara anak-anak manusia yang sedang bertengkar melampaui pertarungan binatang yang paling buas ditengah-tengah hutan yang paling lebat. Dalam pada itu, kehadiran Buntal bersama pasukan kecilnya diekor gelar Supit Urang itu telah mengejutkan prajurit-prajurit Surakarta yang sedang bertempur. Juwiringpun terkejut pula karenanya, ketika tiba-tiba saja pasukan itu langsung menyerang prajurit-prajurit berkuda yang mengepungnya. Kepungan itupun kemudian menjadi goyah. Beberapa bagian dari dinding kepungan itu terpaksa melayani serangan sekelompok pasukan yang datang dan langsung menyerang mereka. Arum yang ada didalam pasukan itu menjadi berdebar- debar. la berusaha untuk menyesuaikan dir i dengan gerak seluruh pasukan. Meskipun keinginannya untuk menyerbu kedalam kelompok pasukan kumpeni, namun ia harus menahan diri. Buntal sudah berpesan kepadanya, bahwa ia harus tetap berada didalambarisan.Dengan kehadiran pasukan kecil itu, maka kepungan pasukan berkuda dan kumpeni diekor gelar supit urang yang sudah retak itu menjadi agak longgar. Juwiring dengan cepat mempergunakan kesempatan itu. Ia sadar sepenuhnya bahwa Pangeran Mangkubumi tentu sudah mengir imkan pasukan itu. "Luar biasa" berkata Juwiring didalam hatinya "pa-manda Pangeran Mangkubumi selalu mengambil sikap yang cepat. Petugas sandinyapun memiliki ketajaman penglihatan. Mereka melihat kesulitan yang aku alami disini dan dengan cepat pula mengirimkan pasukannya." Apalagi ketika Buntal dan pasukannya sudah berhasil memecah kepungan dan menghubungkan pasukannya dengan pasukan Raden Juwir ing. "Buntal" Raden Juwir ing berteriak. Buntal yang sedang bertempur tidak dapat berpaling. Tetapi ia sempat melambaikan senjatanya sebagai jawaban panggilan Raden Juwiring itu. Untuk beberapa saat lamanya, Buntal dan pasukannya memang mengalami kesulitan untuk membedakan pasukan berkuda yang berpihak kepada Raden Juwiring dan sebaliknya Namun kemudian pasukan itu telah menarik gar is batas. Pasukan berkuda itu tidak lagi dapat mengepung pasukan Raden Juwiring yang menjadi semakin banyak karena kehadiran sekelompok pasukan Pangeran Mangkubumi. Senapati yang memegang pimpinan diekor gelar itu menjadi gelisah melihat kehadiran sekelompok pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Apalagi ketika kepungannya menjadi pecah dan tidak lagi dapat disusun melingkari pasukan Raden Juwir ing.Dengan tergesa-gesa Senapati itupun memanggil seorang peng hubung dan diperintahkannya untuk menarik sekelompok prajurit dar i induk pasukan. "Cepat, bawa mereka kemari untuk menghancurkan pasukan yang berkhianat itu, sekaligus sepasukan pemberontak yang tiba-tiba saja telah ikut didalam pertempuran ini." Prajurit penghubung itupun segera meninggalkan pertempuran diekor gelar itu dan langsung mencari Senapati yang berada di induk pasukan. Namun ternyata bahwa prajurit diinduk pasukanpun sedang terlibat dalam pertempuran yang sengit. Mereka harus menghancurkan pasukan Pangeran Ranakusuma. Bahkan kumpeni yang berada diinduk pasukanpun sedang memeras tenaga untuk mempertahankan dir i, karena tekanan terberat justru pada pasukan kumpeni itu. Namun sebenarnyalah bahwa pasukan kumpeni itu memang memiliki kemampuan berperang yang cukup. Pengalaman pengembaraan mereka, telah membuat mereka menjadi prajurit-prajur it yang gigih. Meskipun mereka tidak sempat mempergunakan senjata api, namun senjata mereka yang pada ujung larasnya diberi sangkur, dapat mereka pergunakan sebagai ujung tombak yang runcing. Bahkan ada diantara mereka yang melemparkan senjata mereka dan menarik pedang dari sarungnya. Dan ternyata kumpeni memang prajurit-prajurit yang terlatih baik. Tetapi mereka tidak dapat meninggalkan induk pasukan. Mereka menghadapi prajur it-prajurit Surakarta yang dipimpin oleh Pangeran Ranakusuma, yang bertempur bagaikan orang- orang yang kehilangan akal. "Kami memer lukan bantuan" desis penghubung dari ekor gelar."Pertahankan diri sejenak. Pertempuran ini tentu tidak akan lama. Sebentar lagi pasukan Pangeran Ranakusuma akan segera hancur. Sebagian dari kami akan membantu prajur it- prajurit yang sedang bertempur melawan pasukan Pangeran Mangkubumi. Sebagian akan kami kirim ke ekor barisan." "Dimanakah Pangeran Yudakusuma ?" bertanya penghubung itu. "Terlibat dalam pertempuran langsung melawan Pangeran Ranakusuma." Penghubung itu termangu-mangu sejenak. Pertempuran diinduk pasukanpun nampaknya sangat seru. Tetapi prajurit- prajurit Surakarta dan kumpeni agaknya segera akan berhasil mendesak dan menguasai keadaan. "Tetapi berapa lama kami harus menunggu ?" bertanya penghubung itu. "Tidak lama." "Aku minta sekelompok kecil lebih dahulu. Pertimbangkan sebelum ekor gelar ini menjadi kacau." Senapati itu berpikir sejenak. Agaknya memang t idak begitu sulit bagi prajurit-prajurit yang ada diinduk pasukan untuk melawan pasukan Pangeran Mangkubumi, sehingga agaknya memang dapat dipertimbangkan untuk mengir imkan bantuan ke-ekor gelar yang semakin kacau. Namun sebelum putusan itu diber ikan, terasa pasukan itu seluruhnya bagaikan diguncang. Sejenak Senapati itu termangu-mangu. Namun kemudian seorang prajurit penghubung datang dengan tergesa-gesa dan berkata dengan suara gemetar "Pertahanan didepan gelar sudah pecah. Pasukan Pangeran Mangkubumi langsung menusuk keinduk pasukan." Senapati itu tercenung sejenak. Rasa-rasanya darahnya menjadi semakin lambat mengalir. Laporan yang didengarnyaitu memberikan arti yang mendebarkan. Pasukan Pangeran Mangkubumi telah berhasil langsung menusuk induk pasukan sementara induk pasukan sedang berusaha menghancurkan sepasukan di sapit kiri dari gelar supit urang yang telah memberontak itu. Untuk beberapa saat Senapati itu justru terdiam, la adalah Senapati yang bertanggung jawab atas induk pasukan. Bukan keseluruhan gelar. Panglima dari gelar supit urang ini adalah Pangeran Yudakusuma. Tetapi Pangeran Yudakusuma kini sedang terlibat dalam perang melawan Pangeran Ranakusuma. Karena itu, maka yang dapat dilakukan adalah sekedar menggerakkan induk pasukan. Ia mengharap bahwa Tumenggung Sindura juga telah menerima laporan dan membagi pasukan di supit kanan. Sebagian masih harus menumpas pemberontakan didalam gelar, dan sebagian yang lain menahan arus pasukan Pangeran Mangkubumi. Demikianlah Senapati itupun segera mengambil sikap. Setelah darahnya mengalir wajar kembali, maka iapun berkata kepada penghubung dar i ekor gelar "Kau mendengar sendiri laporan itu. Jagalah agar pasukan berkuda dan kumpeni yang ada diekor gelar dapat menjaga keseimbangan. Tugas induk pasukan menjadi semakin berat." Penghubung yang mendengar langsung laporan dari bagian depan gelar yang retak itu tidak dapat berbuat apa-apa. Iapun segera kembali keekor gelar yang sudah rusak pula dan menyampaikan apa yang telah didengarnya. "Gila. Ternyata kita telah terperosok kedalam kandang harimau lapar" desis Senapati itu "tetapi kita cukup mem punyai kekuatan untuk keluar dari kandang ini dan meninggalkan bangkai dar i seluruh penghuninya." Dalam pada itu Senapati yang ada diinduk pasukanpun segera memberikan perintah kepada setiap pemimpinkelompok untuk membagi dir i. Sebagian tetap menghadapi prajurit-prajurit Surakarta sendiri yang sudah memberontak, sedang yang lain harus menyongsong pasukan Pangeran Mangkubumi. Namun ternyata bahwa pasukan yang datang dari sapit kananpun telah mendapat laporan pula. Karena Senapati pengapit sedang bertempur bersama Pangeran Yudakusuma melawan Pangeran Ranakusuma, maka Senapati tertua yang merasa bertanggung jawab, segera memberikan perintah serupa. "Kita sudah berada diperang brubuh" berkata Senapati itu "hati-hatilah. Kalian harus berusaha agar kalian akan dapat memulihkan gelar ini kembali setelah pasukan yang memberontak itu kita singkirkan, bahkan kita binasakan.” Demikianlah maka benturan antara pasukan Pangeran Mangkubumi dengan pasukan Surakarta diinduk pasukan benar-benar telah menggetarkan seluruh medan. Pasukan Pangeran Mangkubumi masih tetap berada dalam gelar Cakra Byuha yang utuh sehingga lingkaran bergigi itu seolah-olah telah membelah pertahanan prajurit Surakarta yang semula berada diluar gelar, dan langsung menyobek induk pasukan yang memang sedang goncang itu. Prajurit-prajurit Surakartapun kemudian berusaha menyesuaikan dir i menghadapi musuh yang datang itu. Merekapun adalah prajurit-prajur it yang terlatih. Demikian pula kumpeni yang ada didalam pasukan Itu. Mereka segera mengambil sikap menghadapi keadaan yang baru itu. Dalam pada itu. pertempuran telah terjadi hampir diseluruh bagian dari pasukan Surakarta. Bahkan kemudian pasukan Surakarta itulah yang seolah-olah telah dikepung. Mereka harus menghadapi musuh dari tiga arah. Dari sayap kiri gelarnya sendiri. Dari depan, dan dari belakang, yang dilakukan oleh sebagian dari pasukan berkuda yang dipimpinoleh Juwiring dan sekelompok pasukan yang dikirim oleh Ki Wandawa dan dipimpin oleh Buntal. Pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Jumlah pasukan Surakarta cukup banyak untuk melawan seluruh pasukan Pangeran Mangkubumi ditambah dengan prajurit- prajurit yang memberontak itu sendir i. Apalagi sebagian dari oasukan Pangeran Mangkubumi memang bukan prajurit. Mereka belum memiliki pengalaman yang cukup meskipun mereka telah berlatih sebaik-sebaiknya. Karena itulah meskipun jumlah mereka memadai, namun kemampuan mereka masih belum setinggi prajurit-prajurit Surakarta dan kumpeni yang telah menjelajahi benua dan samodra. Namun demikian pertempuran itu berjalan dengan sengitnya. Dalam pada itu matahari yang sudah melampaui puncak langit telah mulai turun keujung Barat. Prajurit-prajurit Surakarta justru telah mulai berhasil menyusun diri, sementara pasukan Pangeran Mangkubumi masih tetap memberikan tekanan yang sangat berat Tetap! sementara itu. beberapa orang didalam pasukan Pangeran Mangkubumi telah menjadi letih. Meskipun tekad mereka masih menyala didalam dada. namun ternyata bahwa kemampuan jasmaniah mereka tidak sekuat prajurit-prajur it yang berpengalaman. Beberapa orang diantara mereka tidak lagi mampu bertempur dengan lincah dan tangkas. Satu dua orang mulai kelelahan. Tangan mereka bagaikan tidak dapat digerakkan lagi. Sedangkan beberapa orang lagi diantara. mereka, bukan saja kelelahan, tetapi mereka telah terbaring ditanah dengan darah yang mengalir dar i luka. Mereka adalah beban-ten dari perjuangan Pangeran Mangkubumi dan Rakyat Surakarta untuk mengusir penjajahan. Semuanya itu t idak lepas dari pengawasan Pangeran Mangkubumi, karena Pangeran Mangkubumi bukan sajaberteriak member ikan aba-aba, tetapi Pangeran Mangkubumi sendiri telah menerjunkan dir i kedalam kancah peperangan. Kelelahan dan korban yang jatuh diantara anak buahnya, membuat Pangeran Mangkubumi menjadi semakin marah. Karena itu maka iapun menjatuhkan perintah kepada setiap orang yang memiliki kemampuan jasmaniah melampaui kawan-kawannya, agar dengan segenap tenaganya, bertempur untuk menentukan, siapakah yang akan berhasil memenangkan perang yang menjadi semakin dahsyat itu. Menurut perhitungan Pangeran Mangkubumi, pasukan Pangeran Ranakusuma akan tetap bertahan, dan pasukan Raden Juwiring yang dibantu oleh sekelompok kecil dari pasukannya, akan mendesak masuk kedalam induk pasukan. Perhitungan Pangeran Mangkubumi tidak meleset jauh. Meskipun pasukannya tidak dapat mendesak lebih maju lagi kedalam induk pasukan, namun seperti yang diduganya, bahwa pasukan Juwiringlah yang justru berhasil mendesak lawannya. Kepungan yang telah pecah itu memberikan jalan kepada Raden Juwiring dan prajurit- prajuritnya yang terlatih baik untuk mendesak maju menyerang induk pasukan dari arah yang lain. Buntal, yang mendapat kesempatan menunjukkan pengabdiannya telah bertempur sebaik-baiknya. Demikian pula Arum. Meskipun ia seorang gadis, tetapi latihan-latihan yang berat dipade-pokannya telahmembentuknya menjadi seorang gadis yang memiliki daya tahan jasmaniah yang mengagumkan. Beberapa orang prajurit Surakarta yang berdiri dibelakang Raden Juwiring, bahkan pasukan Pangeran Mangkubumi sendiri, kadang-kadang mencari kesempatan untuk dapat sekedar melihat Arum bertempur, "Tidak menyangka sama sekali, bahwa seorang gadis mampu bertempur sedemikian garangnya. Bahkan sampai saat matahari condong ke Barat, ia masih mampu mengayunkan pedangnya dengan dahsyatnya.” Namun sebenarnyalah bahwa Arum sudah mulai diganggu oleh perasaan letih. Keringatnya telah membasahi segenap pakaiannya. Terik matahari yang bagaikan membakar kulit, membuat Arum merasa haus. Meskipun ia sudah terlampau sering disengat oleh panas matahari disawah dan bahkan dalam latihan-latihan khusus, tetapi bertempur untuk waktu yang lama dan sekaligus dipanggang dalam terik matahari, membuatnya merasa lelah, haus dan gelisah. Apalagi Arum memang belum pernah mengalami peperangan sedahsyat itu. Disana-sini ia melihat tubuh yang bergelimpangan berlumuran darah. Meskipun demikian Arum sadar, jika ia lengah, maka dirinyalah yang akan terbaring diantara sosok-sosok tubuh yang terbujur lintang ditanah itu. Dalam keadaan yang demikian, maka Pangeran Mangkubumi mencoba untuk memecahkan kesulitan yang dialaminya. Tetapi ia tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa pasukannya bukanlah terdiri dari prajurit-prajurit pilihan yang sudah terlatih untuk bertahun-tahun lamanya. Tetapi pasukannya mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh prajurit! Surakarta. Pasukannya yang kurang terlatih itu memiliki gelora perjuangan yang menyala didalam dadanya untuk mengusir orang-orang asing yang telah menjamahkebebasan Surakarta. Bahkan perlahan-lahan orang asing itu berhasil mengendalikan pemerintahan dan roda perdagangan di-seluruh negeri. Hanya karena api yang menyala didalam dada itu sajalah yang membuat pasukannya tetap bertahan. Tetap bertempur dengan tenaga yang semakin lemah dipanggang oleh teriknya matahari dan tekanan yang terasa semakin berat dari prajurit- prajurit Surakarta. Desakan pasukan Raden Juwiring dan Buntal dari ekor gelar terasa juga pengaruhnya. Beberapa bagian dari prajurit diinduk pasukan terpaksa berpaling dan menahan serangan serangan yang semakin lama semakin terasa karena pasukan diekor gelar itu sendir i tidak lagi mampu bertahan. Apalagi diantara mereka, meskipun tidak terlampau banyak, ada kesengajaan untuk tidak bertempur bersungguh-sungguh. Namun pengaruh itu tidak cukup kuat untuk membantu mendesak induk pasukan itu dari arah yang lain. Ketika matahari menjadi semakin condong, maka pasukan Pangeran Mangkubumi terasa menjadi semakin lemah. Beberapa orang prajurit Surakarta yang berdiri dibelakang Raden Juwiring, bahkan pasukan Pangeran Mangkubumi seponi, kadang-kadang mencari kesempatan untuk dapat sekedar melihat Arum bertempur. Meskipun diantara mereka masih ada yang bertempur tanpa nampak susut kekuatannya, tetapi ada pula yang hanya sekedar mampu bertahan untuk beberapa lama saja oleh kelelahan, panas dan haus. Pertempuran itu merupakan pengalaman bagi Pangeran Mangkubumi. Ia mulai mempertimbangkan lagi untuk menyingkir dari medan. Namun semuanya sudah terlanjur. Pasukannya sudah berada didalam lingkungan pasukan lawan. Meskipun gelar Cakra Byuha yang disusunnya belum pecah, namun kemampuannya sudah jauh berkurang. Untunglahbahwa prajurit-prajurit Surakarta dibawah pimpinan Pangeran Ranakusuma masih mampu bertahan. Meskipun Pangeran Ranakusuma sendiri terlibat dalam perang Senapati. Betapa beratnya Pangeran Ranakusuma melawan dua orang Senapati terpilih dari Surakarta. Namun setiap kali pengawal- pengawalnya selalu berusaha menolongnya dari kesulitan yang menentukan. Dalam pada itu, selagi Pangeran Mangkubumi membuat pertimbangan-pertimbangan sambil bertempur dengan dahsyatnya, mulai terasa, bahwa pasukannya telah benar- benar terdesak. Karena itulah maka Pangeran Mangkubumi menjadi semakin marah marah dan mengamuk bagaikan seekor banteng yang terluka. Ia tidak menghiraukan lagi, apakah pedangnya menembus dada seorang pemimpin prajurit, apalagi Senapati yang memimpin beberapa kelompok. Prajuritpun j ika menghalanginya tentu dibinasakannya. Lawan-Lawannya yang langsung bertemu dengan Pangeran Mangkubumi dimedan menjadi nger i. Seolah-olah tubuh Pangeran Mangkubumi itu berlapis baja. Seorang prajurit yang kehilangan akal telah melontarkan tombak pendeknya langsung kepunggung Pangeran Mangkubumi. Tetapi ujung tombak itu sama sekali tidak melukainya. Untuk menenteramkan kegoncangan yang timbul didalam hati ia berkata kepada dir i sendir i "Tombakku mengenai wrangka ker is dipunggung Pangeran Mangkubumi." Demikian pula ketika seorang kumpeni berhasil mengisi senjatanya dan membidik kearah Pangeran Mangkubumi. Ledakan senjatanya sama sekali tidak menarik perhatian Pangeran Mangkubumi. Apalagi melukai dan membunuhnya. Tetapi seperti kawan-kawannya yang lain yang mengalami peristiwa seperti itu berkata kepada diri sendiri "Sulit menembak seseorang dalam perang yang kisruh ini."Namun bagaimanapun juga Pangeran Mangkubumi menghantui setiap orang lawannya, pasukannya semakin lama menjadi semakin lemah. Bahkan mulai bergeser setapak demi setapak. Pangeran Mangkubumi menjadi sangat prihatin. Sekilas ia melihat matahari. Agaknya matahari masih terlampau tinggi untuk menunggu gelap yang bakal melingkupi seluruh Surakarta. Demikianlah maka Pangeran Mangkubumi menjadi sangat gelisah. Ia sama sekali tidak memikirkan dir i sendir i. Tetapi ia memikirkan anak buahnya. Jika mereka tidak dapat bertahan lagi, maka korban akan jatuh semakin lama semakin banyak. Tetapi dalam pada itu, selagi Pangeran Mangkubumi mencari akal dan cara untuk membebaskan pasukannya dari kemungkinan yang lebih buruk, seorang penghubung berlari-lari mencarinya. Tanpa menghiraukan pertempuran yang terjadi, ia berusaha langsung menjumpai Pangeran Mangkubumi. "Ada apa ?" bertanya Pangeran Mangkubumi dengan dada yang semakin berdebar-debar. "Pangeran, Pangeran, mereka telah datang." "Siapa ?" sekilas terbayang bantuan yang datang dari Surakarta.Agaknya pasukan sandinya yang memotong jalur hubungan dengan Surakarta bekerja kurang baik, sehingga ada utusan yang berhasil lolos dan memanggil bantuan secukupnya. "Pangeran pasukan itu telah datang." "Ya. Pasukan siapa?" "Dari Sukawati. Pasukan yang sedianya harus mengganggu pasukan Surakarta apabila mengejar kita yang menurut rencana akan segera menarik dir i. " "Pasukan dari Sukawati ?" Pangeran Mangkubumi menar ik nafas dalam-dalam. "terpujilah nama Tuhan yang masih melindungi kita semuanya.” "Pangeran" berkata penghubung itu "mereka berhenti diluar medan. Mereka menunggu perintah Pangeran." "Baiklah" berkata Pangeran Mangkubumi "mereka harus langsung masuk kemedan. Pasukan Surakarta kini bertempur menghadap ketiga arah. Menghadapi pasukan Pangeran Ranakusuma, pasukan Raden Juwir ing dan pasukanku. Maka pasukan dari Sukawati akan menjadi pasukan keempat yang akan menyerang dari arah keempat pula.” Penghubung itu tidak menunggu perintah Pangeran Mangkubumi diulangi. Iapun segera meninggalkan medan kembali menghubungi pasukan yang baru datang itu. Sementara itu Pangeran Mangkubumi yang seakan-akan. mendapatkan tenaga baru itupun bertempur semakin gigih. Demikian pula para Senapati dan para pemimpin yang lain, yang ada didalam pasukannya Beberapa orang Pangeran justru telah mengamuk seperti burung garuda dirusak sarangnya. Sejenak kemudian maka pasukan dari Sukawati itupun telah mendekati arena dari arah keempat. Pasukan yang masih segar itu, meskipun tidak terlampau besar, namunmemiliki kemampuan yang akan menentukan dalam medan yang sudah mulai lelah. Kedatangan pasukan Sukawati itu benar-benar telah mengejutkan pasukan Surakarta. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa Pangeran Mangkubumi masih mempunyai pasukan cadangan yang kuat, yang segera menggoyahkan seluruh pasukan Surakarta. Dalam pada ito pasukan sapit kanan dari gelar Supit Urang yang sudah semakin rusak, masih tetap berada disapit kiri Meskipun sebagian dari pasukan itu berada diinduk pasukan melawan pasukan Pangeran Mangkubumi, namun Tumenggung Sindura sendiri tidak nampak pada seluruh pasukannya, karena ia masih harus bertempur melawan Pangeran Ranakusuma bersama Pangeran Yudakusuma. Karena itu Senapati yang berada diinduk pasukanlah yang harus mengambil pimpinan. Ia harus membagi pasukannya melawan pasukan Pangeran Mangkubumi yang bara datang dari Sukawati. Namun, kedatangan pasukan yang segar itu benar-benar telah merusak keseimbangan. Serangan yang menyentak itu bagaikan gotncangan yang terasa disegenap pasukan dalam gelar yang sudah rusak sama sekali itu. Dengan demikian, maka prajurit Surakarta dan kumpeni harus memeras tenaga melawan kekuatan yang kini menjadi lebih besar. Bahkan terasa jauh lebih besar. Senapati yang ada di induk pasukanpun kemudian meneriakkan per intah, agar pasukan Surakarta bertempur dengan segenap kemampuan yang ada. "Kalian adalah kesatria dari Surakarta" teriak Senapati itu "kalian harus menjunjung tinggi martabat kalian, Surakarta adalah negara yang memancarkan wahyu perlindungan. Karena itu harus kalian pertahankan dengan bertaruh nyawa."Teriakan itu memang dapat menyentuh hati setiap prajurit Surakarta. Darah didalam setiap dada rasa-rasanya bagaikan mendidih karenanya. Namun dalam pada itu, tiba-tiba terdengar bagaikan jawaban seorang Senapati dari pasukan lawan menjawab "Marilah kita bertempur melawan prajur it- prajurit yang telah kehilangan pegangan. Hanya kesatria sejati sajalah yang bertempur dengan sadar, bahwa yang dilakukan didasari atas cita-cita yang luhur. Nah, prajurit-prajurit dari Surakarta. Katakan, apakah yang sedang kalian lakukan sekarang ? Kalian bertempur melawan keluarga sendiri sekedar untuk melindungi orang kulit putih itu ?" Jawaban itu benar-benar telah menggoncangkan setiap dada. Prajurit-prajurit Surakarta yang sudah mulai menggelora itupun, terasa terpengaruh juga oleh jawaban lawannya. Dan bahkan beberapa orang diantara mereka mulai berpikir "Apakah yang sebenarnya telah aku lakukan ?" Tetapi sebenarnyalah mereka tidak sempat berpikir lebih panjang lagi. Sejenak kemudian, pemimpin mereka telah berteriak pula memberikan aba-aba, sehingga yang terjadi kemudian adalah peperangan yang semakin dahsyat. Namun, kedatangan pasukan dari Sukawati benar-benar telah mendebarkan jantung setiap Senapati dari Surakarta. Tenaga mereka yang masih segar, segera mengatasi kesulitan yang dialami oleh Pangeran Mangkubumi, Dalam keadaan yang lebih baik itulah, maka Pangeran Mangkubumi mulai memikirkan Senapati-senapati lawannya. Bahkan Panglima pasukan Surakarta yang dikenalnya dengan baik, karena sebenarnyalah Senapati Agung itu adalah saudaranya sendiri. Setelah Pangeran Mangkubumi yakin, maka iapun segera memanggil seorang Pangeran yang mengikutinya didalam pasukannya. Pangeran Hadiwijaya. Dengan mantap Pangeran Mangkubumi berkata "Peganglah pimpinan. Aku akan mencari dan langsung menemui Pangeran Yudakusuma, Panglimapasukan Surakarta yang kini dipersiapkan menggempur Pandan Karangnangka. Kemudian aku juga akan berusaha bertemu dengan Tumenggung Sindura, sebelum aku menggilas kumpeni sampai habis didalampasukan lawan." "Adimas" berkata Pangeran Hadiwijaya "serahkan Tumenggung Sindura kepadaku. Aku akan menemukannya meskipun ia sudah tidak berada disayap kanan gelarnya yang rusak." "Kau tetap disini. Pimpinan pasukan ada di tanganmu." Pangeran Hadiwijaya tidak dapat mengelak lagi. Ia harus memegang pimpinan gelar Cakra Byuha dan sekaligus member ikan perintah dan imbangan pada pasukannya yang ada diarah lain. Bahkan pasukannya yang dibawa oleh Buntal membantu Raden Juwiring diekor gelar lawan. Demikianlah Pangeran Mangkubumi berusaha melepaskan diri dari gelar keseluruhan. Ia berusaha untuk dapat bertemu dengan Senapati Agung dari Surakarta, atau orang kedua yang memiliki kelebihan dari Senapati-senapati yang lain, yaitu Tumenggung Sindura, karena orang yang sebenarnya paling diperhitungkan oleh Pangeran Mangkubumi, yaitu Pangeran Ranakusuma, ternyata menentukan sikap lain dipeperangan itu. Namun Pangeran Mangkubumi tidak dapat mengabaikan pertempuran secara keseluruhan. Ternyata pasukan yang datang dari Sukawati itu terlampau cepat mempengaruhi medan. Tenaga mereka yang masih segar mereka pergunakan sebaik-baiknya. Sekali! terdengar mereka bersorak seperti membelah langit, diikuti dengan gerak maju yang mengejutkan lawan. Kumpeni yang ada didalam pasukan Surakarta mengumpat tidak habis-habisnya. Seorang perwira menggeram "Orang- orang terbelakang masih juga mempergunakan mulutnya dimedan perang."Desakan pasukan yang datang dari Sukawati itu benar- benar mempengaruhi seluruh medan. Karena sebagian pasukan Surakarta terhisap oleh serangan baru itu, maka dibagian-dibagian yang Iainpun pasukan Surakarta menjadi semakin lemah. Ternyata pasukan Surakarta dan Kumpeni itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Disayap kiripun prajurit-prajur it Surakarta yang saling bertempur itu menjadi parah sekali. Sehingga perubahan keseimbangan yang terjadi, benar-benar telah menentukan keseluruhan peperangan itu. Sejenak kemudian ternyata bahwa pasukan Surakarta tidak dapat bertahan lagi. Senapati tertinggi didalam pasukan merekapun segera memerintahkan, pasukan Surakarta tidak lagi bertahan lebih lama. Dan sesaat kemudian perintah yang diberikan secara rahasia itupun telah beredar diseluruh kelompok pasukan Surakarta. Merekapun perlahan-perlahan menguncup dan bersiap untuk melakukan gerakan surut. Sementara langit menjadi semakin lama semakin buram. Matahari yang menjadi semakin rendah, cahayanya memerah seperti mata seorang gadis yang menangisi kekasihnya yang gugur dimedan perang. Ternyata prajurit-prajurit Surakarta mengambil kesempatan dengan baik. Mereka bertahan untuk beberapa lama, sehingga matahari benar-benar telah hilang dibalik cakrawala. Demikian senja menjadi semakin buram, maka jatuhlah perintah yang sebenarnya dari pimpinan prajurit-prajur it Surakarta, bahwa sisa pasukan Surakarta dan Kumpeni yang parah, diperintahkan untuk mundur dan meninggalkan medan. Perintah itu telah menggerakkan arena dalam keseluruhan. Pertempuran itu seakan-akan telah mengalir dan bergeser dari tempatnya dengan cepat Tetapi prajurit Surakarta adalah prajurit-prajurit terlatih. Karena itu, mereka tidak mundur darimedan seperti segerombolan kanak-kanak yang ketakutan, lari bercerai-berai. Pasukan Surakarta dan Kumpeni masih tetap berada dalam kesatuan meskipun tidak lagi berbentuk gelar perang. Mereka mundur sambil bertempur sesuai dengan kebulatan pasukannya. Namun pasukan Surakarta dan Kumpeni itupun masih harus melepaskan korban-korban ber ikutnya disepanjang garis surut. Tetapi pasukan Pangeran Mangkubumipun tidak luput dari bebanten, Saat-saat mereka mendesak pasukan Surakarta, masih juga ada pengawal-pengawal yang harus dilepaskan pergi untuk selama-lamanya. Dalam pada itu, pasukan Raden Juwir ing dan Buntal harus menyingkir menghindari gerakan mundur pasukan Surakarta itu. Mereka tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk menahan, agar prajurit-prajurit Surakarta itu tetap berada ditempatnya sampai orang terakhir. Sehingga dengan demikian, justru pasukan Raden Juwir inglah yang harus member ikan jalan kepada mereka untuk menarik pasukannya. Semakin lama maka malampun menjadi semakin gelap. Tidak ada seorangpun yang sempat menyalakan obor dimedan yang mulai menjadi kisruh. Baik prajur it Surakarta maupun para pengawal dari Pandan Karangnangka dan dari Sukawati. harus berhati-hati menentukan lawan. Didalam gelap, tidak mudah untuk segera mengenal, siapakah sebenarnya yang sedang dihadapinya. Karena itulah, maka Pangeran Mangkubumipun menyadari, bahwa pasukannya akan menemui kesulitan apabila perang masih terus dilakukan. Sehari penuh pasukannya telah bertempur melawan prajurit-prajurit Surakarta yang terlatih baik. Karena itulah, maka Pangeran Mangkubumipun t idak membiarkan pasukannya kehilangan banyak korban yang tidakmenentu didalam perang yang gelap. Dan Pangeran Mangkubumi harus tetap tidak dikejar oleh gejolak perasaannya saja karena kebenciannya kepada kumpeni. Ternyata Pangeran Mangkubumi tetap menyadarinya. Meskipun keinginannya untuk menumpas semua orang asing didalam pasukan Surakarta itu belum dapat dilaksanakan tetapi Pangeran Mangkubumi mengetahui, bahwa sudah banyak sekali korban yang jatuh diantara kumpeni. Kesadaran atas keadaan itulah, yang telah mendorongnya untuk memer intahkan pasukannya menghentikan pertempuran, dan menarik pasukannya yang sedang mendesak prajur it-prajurit Surakarta yang sudah kehilangan tenaga dan tekad. Malam yang gelaplah yang agaknya telah menolong prajurit-prajurit Surakarta dan Kumpeni yang tersisa. Namun yang tersisa itupun benar-benar bagaikan seorang prajur it yang telah kehilangan tangannya. Tidak bertenaga sama sekali. Sedangkan yang paling parah diantara pasukan Surakarta itu adalah kumpeni. Demikianlah, maka pasukan Pangeran Mangkubumi itupun akhirnya telah melepaskan pasukan Surakarta yang bergerak surut. Dengan kecewa mereka kembali keinduk pasukan karena mereka masih melihat beberapa orang kumpeni yang sempat melar ikan dir i didalam pasukan Surakarta itu. Ketika pasukan itu telah berkumpul, barulah mereka sempat mulai menyalakan obor. Ketika api yang kemerah- merahan menerangi medan, mereka masih melihat prajurit- prajurit Surakarta; ada diantara mereka. Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit Surakarta yang dipimpin oleh Raden Juwiring dan Pangeran Ranakusuma. Dengan ragu-ragu Raden Juwiringpun kemudian mendekati pamandanya. Sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam ia berkata "Ampun pamanda. Ternyata tidak sepadan apa yang sudah aku dapatkan dari tanah ini." Pangeran Mangkubumi menepuk bahunya sambil berkata "Juwiring, kau sudah berbuat sebaik-baiknya. Kau telah menunjukkan bakti dan kesetiaanmu kepada Surakarta melampaui segala-segalanya. Aku sudah mendengar pula, bahwa kaulah erang yang mendapat kepercayaan untuk membawa berita penyergapan atas Pandan Karangnangka dan diterima oleh saudara seperguruanmu Buntal atas perintah Ki Wandawa. Dan kau telah ikut pula meringkihkan perlawanan Kumpeni dimedan ini. Kau dapat bertindak tepat pada waktunya tanpa ada pengkhianatan dari anak buahmu. Dan itu pertanda bahwa kau adalah seorang Senapati yang ditaati dan berwibawa. Selebihnya, ternyata bahwa kau telah mendapat bimbingan yang benar. Bukan saja oleh gurumu, tetapi ayahandamupun telah ikut membentuk kau menjadi seorang pejuang yang baik." Kata-Kata itu bagaikan mengingatkan Juwir ing kepada ayahandanya. Karena itu maka katanya "Tetapi aku belum melihat ayahanda. Ketika pasukan Surakarta mundur, seharusnya ayahanda ikut memberikan tekanan disayap yang pecah itu" Pangeran Mangkubumi mengerutkan keningnya. Kemudian memandang prajur it-prajurit Surakarta yang semula berada di sapit kiri "Dimanakah Senapati pengapit yang telah membantu kami menghalau kumpeni itu ?" Beberapa orang prajurit termangu-mangu. Seorang lurah prajurit menjawab "Disaat terakhir hamba masih melihat Pangeran Ranakusuma bertempur melawan Tumenggung Sindura, dibantu oleh Pangeran Yudakusuma yang telah terluka." "Pamanda Yudakusuma terluka?""Ya. Oleh Pangeran Ranakusuma. Tetapi Pangeran Yudakusuma masih bertempur terus. Kemudian arena berguncang, sehingga semuanya agak menjadi kacau, sampai saatnya gelap menyelimut i medan dalam keseluruhan." Wajah Raden Juwiring menjadi tegang. Sejenak ia mencoba memandang berkeliling. Tetapi gelap yang pekat bagaikan dinding yang tidak tertembus oleh tatapan matanya. "Kita lihat dibekas arena pertempuran. Kita cari ditempat lurah prajurit itu melihat terakhir." "Apakah prajurit-prajurit Surakarta sempat menangkapnya" desis seorang pengawal Pangeran Mangkubumi. "Tidak" sahut Juwiring "tidak ada seorangpun yang dapat menangkap ayahanda, kecuali j ika ayahanda telah gugur dipeperangan." Pengawal Pangeran Mangkubumi itupun terdiam. Ia mengerti bahwa tidak mudah menangkap Pangeran Ranakusuma. Dan jika ada orang yang mampu menangkapnya, maka Pangeran Ranakusuma tentu tidak akan mudah menyerahkan diri dalam keadaan hidup apabila ia sudah menentukan sikap seperti yang dilakukannya. Karena itu, maka yang dapat dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi, para Pangeran yang lain didalam pasukannya, Juwiring dan prajur it-prajuritnya adalah mencari Pangeran Ranakusuma. Beberapa orang yang membawa obor telah mendahuluinya. Mereka menerangi hampir seluruh arena di sayap kiri gelar supit urang yang telah dipasang oleh pasukan Surakarta. Untuk beberapa saat mereka mendekati setiap tubuh yang terbaring. Sekaligus mereka mencar i orang-orang yang terluka, tetapi masih hidup untuk mendapat perawatan seperlunya. Baik pasukan Pangeran Mangkubumi maupun prajurit-prajurit Surakarta. Merekalah yang mendapatperhatian terlebih dahulu daripada tubuh yang telah membeku dan tidak bernyawa lagi. Meskipun adalah menjadi kuwajiban pula untuk menguburkan mayat yang gugur dipeperangan dari kedua belah pihak. Dalam pada itu, seorang prajurit y£ng mendekati tubuh demi tubuh yang terbaring itu, tiba-tiba berteriak "Pangeran hamba menemukan Pangeran Ranakusuma" Juwiringlah yang pertama-tama berlari mendekati orang itu, diikuti oleh orang-orang lain. Seperti yang dikatakan oleh prajurit itu, sebenarnyalah mereka menemukan tubuh Pangeran Ranakusuma terbaring ditanah. Namun agaknya Pangeran Ranakusuma masih bernafas betapa sendatnya. "Ayah, ayahanda" Juwiring berteriak sambil berlutut disisi tubuh ayahnya. Kemudian mengangkat kepala ayahnya dan diletakkannya dipangkuannya. "Ayahanda" desis Juwir ing. Pangeran Ranakusuma membuka matanya. Dilihatnya dalam keremangan malam, dan kekaburan pandangannya, beberapa orang mengerumuninya. Cahaya obor yang kemerah-merahan mengusap wajah-wajah yang tegang yang ada disekitarnya. "Siapa kau" suara Pangeran Ranakusuma lir ih. "Hamba ayahanda Juwiring.” Nampak Pangeran Ranakusuma tersenyum. Namun ternyata bahwa keadaannya telah terlampau lemah. "Ayahanda terluka ?" bertanya Juwiring karena ia tidak melihat luka ayahandanya sama sekali. Apalagi Juwiring percaya bahwa peluru kumpeni dan ujung senjata lawannya, tidak mudah dapat menembus kulit Pangeran Ranakusuma.Pangeran Ranakusuma mengangguk. Lalu suaranya tersendat-sendat "Siapakah orang-orang itu Juwiring." Sebelum Juwir ing menjawab, Pangeran Mangkubumi telah berjongkok pula disisinya. "Kamas, kami telah menghadap." "Siapa ?" "Mangkubumi." Pangeran Ranakusuma yang lemah itu berusaha mengangkat kepalanya, tetapi kepala itupun kemudian terkulai lagi di-pangkuan Juwiring. Sedang dari bibirnya terdengar Pangeran Ranakusuma berdesis "Adimas. Adimas Mangkubumi." Pangeran Mangkubumi mendekat sambil menjawab "Ya kamas." "Akhirnya aku meyakini kebenaran sikapmu. Agaknya kau adalah tumpuan harapan rakyat Surakarta." Pangeran Mangkubumi bergeser semakin dekat. Katanya "Kamas. Baiklah kami berusaha untuk menolong kamas. Mungkin diantara pasukan kami ada seorang tabib yang baik." Tetapi Pangeran Ranakusuma menggelengkan kepalanya. Katanya "Adimas. Aku kira, sudah tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk sembuh dar i luka ini." "Tetapi ayahanda tidak terluka." desis Juwiring. Pangeran Ranakusuma tersenyum. Katanya "Kau tidak melihat lukaku Juwiring. Luka yang sangat parah. " "Tetapi tidak ada setitik darahpun ditubuh ayahanda." "Lihatlah pergelangan tanganku" Juwiring termangu-mangu sejenak. Ia ragu-ragu untuk melihat pergelangan jtangan ayahandanya. Namun Pangeran Mangkubumi- lah yang kemudian mengangkat tangan itu dan mengamat-amatinya dengan saksama.Perlahan-lahan kepalanya terangguk-angguk. Ia melihat luka yang menganga tergores dipergelangan tangan itu meskipun t idak menitikkan darah. Tetapi disekitar luka itu nampak warna yang hitam kemerah-merahan seperti luka bakar. Sementara ditangan Pangeran Ranakusuma nampak noda yang kebiru-biruan dibeberapa tempat. "Pamanda" suara Juwir ing tersekat dikerongkongan. "Luka ini agaknya memang berbahaya. Semacam racun yang keras telah bekerja didalamtubuh kamas Ranakusuma." "Jadi ?" Pangeran Mangkubumi berpaling, Dengan isyarat ia memanggil seorang tabib yang memang dibawanya kemedan. Perlahan-lahan tabib itu mengamat-amati luka ditangan Pangeran Ranakusuma. Sejenak nampak wajahnya berkerut dalam. Pangeran Ranakusuma berdesis serak "Tidak ada gunanya lagi kalian mencoba mengobati aku. Racun itu memang terlampau keras. Racun itu berasal dari sebilah keris yang tidak ada duanya." "Ayahanda" Juwiring menjadi semakin cemas, "Adimas Mangkubumi" berkata Pangeran Ranakusuma kemudian "Didekat tubuhku terbaring ini, terdapat tubuh Tumenggung Sindura yang sakti itu. Hanya kerisnya sajalah yang dapat melukai kulitku. Namun iapun harus menebus pula dengan jiwanya. Kami telah sampyuh dimedan setelah aku berhasil melukai adimas Yudakusuma. Tetapi agaknya adimas Yudakusuma sempat membebaskan dir inya dari ujung senjataku." "Ya kamas. Pangeran Yudakusuma sempat menarik diri diantar pasukannya,"Pangeran Ranakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia menggeretakkan giginya sambil menggeram "Bagaimana dengan kumpeni? Aku sudah bertempur mejawan kedua Senapati tertinggi dari Surakarta. Aku ingin agar pasukanku sempat menghancurkan kumpeni." "Kumpeni mengalami kerugian yang besar sekali kamas. Mereka hampir musna dipeperangan ini." "Mereka harus ditumpas." "Ya kamas. Mereka memang harus ditumpas." Kepala Pangeran Ranakusumapun terkulai lagi dengan lemahnya. Sementara itu tabib yang melihat lukanya menggelengkan kepalanya dengan tanpa harapan. Pangeran Mangkubumipun menjadi tegang melihat keadaan Pangeran Ranakusuma yang semakin lama menjadi semakin lemah itu. ' "Adimas Pangeran Mangkubumi" berkata Pangeran Ranakusuma "kenapa hal ini harus terjadi ? Ternyata aku telah membunuh seorang Senapati besar dari Surakarta. Tumenggung Sindura dan melukai Senapati yang cerdik, Pangeran Yudakusuma. Aku sendir i harus mati dipeperangan sebelum aku melihat mayat terakhir dari kumpeni yang ada di- bumi ini." "Kamas sudah berjuang sebaik-baiknya bagi tanah ini" berkata Pangeran Mangkubumi. Tetapi Pangeran Ranakusuma menggelengkan kepalanya. Katanya "Aku hanya mampu saling berbunuhan dengan kadang sendiri. Adimas. Kau adalah pejuang yang sebenarnya. Kau berjuang atas sikap dan keyakinanmu." "Kamas juga. Kamaslah sebenarnya yang telah menentukan kemenangan dibenturan pertama ini, meskipun agaknya korban cukup besar."Tetapi Pangeran Ranakusuma menggelengkan kepalanya sambil tersenyum "Tidak adimas. Aku sama sekali bukan seorang pejuang yang berkeyakinan seperti kau. Kau benar- benar berjuang atas dasar cita-cita yang luhur bagi tanah ini. Tetapi jika kita bersikap jujur, aku bertempur karena dendam pribadi." "Tentu bukan hanya karena itu" potong Pangeran Mangkubumi. "Baru kemudian tumbuh kesadaran perjuangan itu. Tetapi itupun kurang berarti. Yang nampak didalam hatiku adalah dendam semata-mata. Kematian anakku Rudira, dan isteriku yang telah dicemarkan namanya oleh orang-orang asing dan masih banyak lagi yang dilakukan, telah membuat aku semakin kuna menjadi semakin muak." Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam "tetapi berbeda dengan kau adimas. Kau sejak semula memang orang pejuang. Aku iri melihat sikapmu itu." "Kamas harus meyakini. Kamas sudah berjuang pula." Tetapi sekali lagi Pangeran Ranakusuma menggeleng "Aku adalah orang yang mendambakan dendam dihati. Tanpa dendam aku t idak akan berbuat apa-apa. Bahkan mungkin akulah yang harus berhadapan dengan adimas Pangeran Mangkubumi dipeperangan." "Apapun alasannya kamas, tetapi kamas telah berbuat sesuatu. Kamas telah berjasa bagi Surakarta, karena ternyata bahwa dipeperangan yang baru saja terjadi, kumpeni telah banyak sekali kehilangan. Kehilangan orang-orangnya dan senjatanya." Pangeran Ranakusuma tersenyum betapapun pahitnya- Kemudian ia mencoba menggeliat sambil menyeringai. Katanya "Aku tidak akan dapat bertahan lagi." "Ayahanda" desis Juwir ing.Pangeran Ranakusuma memandang Juwir ing sejenak, lalu "Juwiring, kau adalah satu-satunya anak laki-laki. Sepeninggalku, kau akan menggantikan kedudukanku. Tetapi sudah barang tentu kau t idak akan dapat kembali ke Surakarta jika kau tidak ingin digantung. Lupakan saja apa yang ada dirumah kita. Barang-barang mewah yang sebagian justru berasal dari kumpeni." "Ya ayahanda." "Tetapi dirumah itu ada sesuatu yang berharga bagi kita. Sangat berharga." "Apa ayahanda. ?" "Warih" "O. Diajeng Warih" "Ya." "Apakah aku harus mengambilnya ?" Pangeran Ranakusuma menggelengkan kepalanya. Katanya "Tidak. Ia sudah dibawa keluar kota. Ia berada di padepokan Jati Aking. Untuk sementara ia aku t itipkan pula kepada Kiai Danatirta karena aku percaya kepadanya, karena ia telah menghasilkan anak-anak muda seperti kau dan Buntal." "Siapakah yang membawanya ke sana?" "Dipanala," suara Pangeran Ranakusuma menjadi semakin lemah "Juwiring, kau adalah kakaknya, Kau bertanggung jawab atasnya." "Kamas" desis Pangeran Mangkubumi yang melihat keadaan kakak seayah itu menjadi semakin lemah. "Perjuanganmu suci adimas Pangeran Mangkubumi. Kau berhak meneruskannya. Tetapi aku t idak. Perjuanganku bernoda dendam. Karena itu namaku tidak pantas disebut bersama namamu. Dan aku lebih senang j ika namakudilupakan orang, karena setiap disebut namaku, akan tersirat pula meskipun tidak diucapkan, nama-nama Rudira yang telah terbunuh oleh kumpeni dan Raden Ayu Sontrang." "Setiap orang akan menarik batas diantara kamas dan orang lain meskipun keluarga kamas sendir i." "Itu tidak perlu. Aku sudah merasa puas bahwa disaat terakhir aku sudah dapat meringankan bebanmu adimas.". suara Pangeran Ranakusuma terputus. Nampak wajahnya menjadi tegang "Ayahanda" panggil Juwiring. Pangeran Ranakusuma mengerahkan tenaganya yang masih tersisa "Juwir ing, salamku buat saudara-saudara seperguruanmu Buntal dan gadis yang disebut-sebut sebagai Bunga Dibatu Karang itu." "Mereka ada disini ayahanda." Pangeran Ranakusuma tersenyum ketika sama-sama nampak Buntal dan Arum mendekatinya. Perlahan-lahan ia mengangguk, dengan susah payah. "Ambillah Warih menjadi adikmu. Bukankah kalian sudah dipersaudarakan dan diangkat anak oleh Kiai Danatirta" desis Pangeran Ranakusuma kepada Buntal: "Nah, Juwiring, ayahmu kemudian adalah Kiai Danatirta, Aku tidak akan dapatmenungguimu lebih lama. Lupakan yang pernah terjadi atasmu dan lupakan pula seorang Pangeran yang bernama Ranakusuma" "Kamas." desis Pangeran Mangkubumi "Adimas, perjuanganmu masih panjang Lanjutkan. Kau tentu akan berhasil. " Pangeran Ranakusuma sudah kehilangan segenap tenaganya. Ia benar-benar sudah lemah sekali, dan tabib yang sudah berada disisinya merasa tidak mampu lagi berbuat apa- apa untuk menolongnya "Aku minta dir i" desisnya "batillah dengan keris yang telah melukai tanganku. Juwiring, keris itu agaknya masih menuntut korban demi korban. Karena itu, carilah keris yang bertangkai kayu cangkring. Labuhlah ker is itu diatas gunung Lawu. Biarlah ker is itu beristirahat disana untuk selamanya. Mudah- mudahan tidak ada seorangpun yang akan menemukannya" “Ya ayahanda" jawab Juwir ing. Tetapi suaranya hampir tidak dapat meluncur dari kerongkongannya yang terasa panas sekali. Sesaat kemudian, nampaknya Pangeran Ranakusuma sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Nafasnya menjadi semakin sendat. Dengan matanya yang buram dipandanginya orang-orang yang ada disekitarnya. Ketika terlihat olehnya samar-samar Pangeran Mangkubumi maka btbirnyapun bergerak "Selamat berjuang adimas." Pangeran Mangkubumi tidak sempat menjawab. Mata Pangeran Ranakusuma itupun kemudian terpejam, dan dengan sisa tenaganya ia menggerakkan tangannya bersilang didada. Tidak seorangpun yang dapat berbuat apa-apa. Pangeran Ranakusumapun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ketika nafas itu dilepaskannya, maka nafas itu adalah nafasnya yangterakhir. Pangeran Ranakusuma gugur dipangkuan anak laki- lakinya yang pernah disisihkannya dari istananya. Sejenak rasa-rasanya Juwiring membeku. Tetapi t idak setitik airpun yang mengembun dimatanya. Betapa kesedihan melanda jantungnya. Namun Juwir ing adalah seorang prajur it yang berada dimedan perang yang menunggai ayahandanya, juga seorang prajurit linuwih yang telah gugur didalam perjuangannya, apapun alasannya. Tetapi Pangeran Ranakusuma telah berjuang untuk menghancurkan kumpeni yang mempunyai kedudukan semakin kuat di Surakarta. Pangeran Mangkubumi kemudian berdiri dengan kepala tunduk. Tetapi gugurnya Pangeran Ranakusuma telah menjadi cambuk bagi perjuangannya. Sejenak kemudian. Pangeran Mangkubumi itupun berdesis "Juwiring. Biar lah para prajurit menyelenggarakan tubuh ayahandamu yang telah dilepaskannya dalam perjuangan ini. Karena sebenarnyalah ia akan menjalani hidupnya yang kekal. Tubuh itulah yang justru tidak akan dapat dipertahankan betapapun tinggi ilmu yang akan dicapai oleh manusia untuk tetap dapat hidup sebagaimana hidup itu sendiri akan kekal adanya, didalam satu jaman yang kekal disisi Tuhan Yang Maha Esa." Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun beringsut pula, dan menyerahkan wadag yang telah kosong itu kepada para prajurit yang setia kepada Pangeran Ranakusuma. "Kita tidak akan dapat terlalu lama berada ditempat ini" berkata Pangeran Mangkubumi "meskipun menurut perhitungan, Kumpeni dan prajur it Surakarta tentu tidak akan segera datang mengepung tempat ini, karena keadaan pasukan mereka. Namun kemungkinan yang demikian, betapapun kecilnya masih harus diperhitungkan. Pangeran Yudakusuma adalah seorang Senapati yang trampil dan bertindak cepat. Perhitungannyapun cukup mantap. Apalagidisampingnya terdapat beberapa orang perwira Kumpeni yang harus diakui ketajaman perhitungannya atas medan, sebagaimana pengalaman yang pernah mereka peroleh dalam pengembaraan mereka melintasi benua dan samodra." "Kamba pamanda." jawab Juwiring sambil menunduk dalam-dalam. "Karena itu, kita harus segera bersiap-bersiap meninggalkan tempat ini. Kita akan menarik dir i dengan membawa semua korban. Sementara itu, bukan berarti bahwa kita sama sekali t idak berperikemanusiaan jika kita meninggalkan korban lawan dimedan ini. Karena kitapun percaya, bahwa orang-orang Surakarta dan prajurit Surakarta yang ada, masih juga mempunyai rasa perikemanusiaan yang cukup untuk menyelenggarakan tubuh-tubuh yang terbaring dimedan ini." berkata Pangeran Mangkubumi. "Hamba pamanda" jawab Juwir ing "namun hamba masih harus melaksanakan pesan ayahanda. Hamba masih harus mencari tubuh Tumenggung Sindura dan mengambil keris yang telah membunuh ayahanda itu." Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Carilah bersama beberapa orang prajurit. Aku akan mempersiapkan pasukan ini bersama pembantu-pembantuku dan menentukan langkah selanjutnya. Kau akan diber i tahu, apa yang harus kita lakukan bersama." Juwiring mengangguk sambil menjawab "Hamba Pamanda. Jika hamba telah selesai, maka hamba akan menghubungi pamanda." Pangeran Mangkubumipun kemudian meninggalkan Juwiring untuk mengatur penarikan pasukannya. Meskipun pada benturan pertama itu, pasukannya mendapat kemenangan, namun yang terjadi itu tidak akan dapat dilepaskan dengan dendam yang membara dihati Pangeran Ranakusuma. Jika Pangeran Ranakusuma tidak mengambillangkah seperti yang dilakukannya itu, maka yang dilakukan Pangeran Mangkubumipun akan berbeda. Ia akan melakukan rencana yang telah disusunnya. Menyerang, kemudian menarik diri, sementara pasukan dari Sukawati akan menyerang pasukan Surakarta dan Kumpeni yang akan mengejar pasukan itu. Tetapi yang terjadi tidaklah demikian. Tanpa diketahui lebih dahulu oleh Pangeran Mangkubumi, maka Pangeran Ranakusuma telah melakukan satu tindakan yang menguntungkan pasukan Pangeran Mangkubumi. Tetapi yang terjadi itupun merupakan satu pengalaman tersendiri bagi Pangeran Mangkubumi. Dalam pertempuran itu, ternyata korban yang paling besar adalah justru orang orang Surakarta sendiri. Meskipun Kumpeni mengalami kerugian yang besar, tetapi masih belum sebesar prajurit Surakarta. Sawahpun menjadi rusak. Tanaman padi yang sedang saatnya berbunga itupun menjadi hancur terinjak kaki para prajurit, dan parit serta pematangpun pecah dan terputus oleh kaki kuda yang melingkar-melingkar dalam perang yang baru saja terjadi. Sementara itu dua Senapati besar dar i Surakarta telah sampyuh dimedan. Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Yang terjadi itu bukanlah yang dikehendaki. Yang menjadi musuh utama baginya adalah Kumpeni. Meskipun Kumpeni bertempur bersama prajurit Surakarta, namun ia harus mencari jalan, bahwa sasaran utamanya adalah Kumpeni. Pengalaman itu ternyata telah mempengaruhi cara yang dipergunakan oleh Pangeran Mangkubumi untuk menghadapi Kumpeni di Surakarta. Sementara itu, selagi Pangeran Mangkubumi mempersiapkan pasukan itu untuk menarik dir i, sebelumSurakarta mengambil sikap tertentu, maka Juwiring masih sibuk mencari tubuh Tumenggung Sindura. Akhirnya, Juwiring dapat menemukannya. Tumenggung Sindura yang terbaring itu masih menggenggam ker is yang telah tergores ditubuh ayahandanya. "Inilah keris itu" desis Juwir ing. Buntal dan Arum yang masih berada dimedan bersama Raden Juwiring itupun menyaksikan, betapa keris ditangan Tumenggung Sindura itu bagaikan menyala. "Keris yang menurut ayah, selalu dibayangi oleh dendam" berkata Raden Juwiring "keris yang sakti ini harus aku labuh sesuai dengan pesan ayahanda sebelum keris ir i menuntut korban berikutnya dan berikutnya lagi." Buntal bergeser mendekat. Ia melihat sebilah ker is yang nampaknya masih belum siap benar. Wilahannya yang kasar dan apalagi hulunya yang dibuat seolah-olah sekedarnya saja. Namun demikian, oleh mata wadag, meskipun bagi seseorang yang tidak mengerti sama sekali tentang ker is dan wesi aj i, akan dapat melihat bahwa keris itu memiliki sesuatu yang terpancar oleh tuahnya. "Pantas" desis Juwiring. "Apa ?" bertanya Arum. "Bahwa keris ini berhasil menggores tangan ayahanda dan bahkan telah menyebabkan ayahanda gugur dipeperangan ini" jawab Juwiring. Arum mengangguk-angguk. Ia melihat, betapa keris itu seakan-akan tidak mau terlepas dari tangan Tumenggung Sindura. Namun akhirnya Juwiring berhasil mengambil keris itu dari tangan. Tumenggung Sindura. Bahkan kemudian diambilnya pula wrangka yang terselip dipunggungnya. Namun sepertikeris itu sendir i, maka wrangkanyapun ternyata sangat sederhana. Bahkan tidak pantas sebagaimana wrangka keris seorang Senapati besar seperti Tumenggung Sindura. Namun didalam kesederhanaan ujud itu, ternyata keris itu adalah keris yang jarang dicari bandingnya. "Mudah-mudahan keris ini tidak mempengaruhi jiwaku" berkata Raden Juwiring. "Mempengaruhi bagaimana ?" bertanya Arum. "Keris yang bertuah akan dapat mempengaruhi mereka yang membawa atau menyimpannya" jawab Raden Juwiring. Namun kemudian Buntal menyahut "Ya. Wesi aji memang mempunyai pengaruh tertentu kepada pemiliknya atau orang yang menyimpannya. Namun hal itu tergantung pula kepada setiap pribadi yang bersangkutan. Jika pribadi yang bersangkutan cukup kuat dan mapan, maka tidak akan ada pengaruh yang dapat menggoncangkan kepribadian itu." "Nah, bukankah begitu" Arum menambahnya "bukankah ayah pernah berkata bahwa kematangan pribadi akan sangat berarti bagi perkembangan j iwa kita selanjutnya. Aku kira termasuk kemungkinan pengaruh wesi aj i seperti yang dikatakan oleh Raden Juwir ing itu." "Sebut namaku. Bukankah kita bersaudara" desis Juwiring, Arum menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Juwir ing berkata "Mudah-mudahan pr ibadiku cukup besar untuk mengatasi pengaruh keris yang luar biasa milik Tumenggung Sindura dari yang telah merenggut jiwa ayahanda." "Dengan keyakinan yang teguh" sahut Buntal. Raden Juwiring mengangguk-angguk. Katanya "Pusaka ini tidak akan terlalu lama berada ditanganku. Aku harus segera melabuhnya tanpa diketahui oleh orang lain, sehingga keris ini tidak akan jatuh ketangan orang yang tidak berhak, yang-akandapat menjadi saluran dendam yang tersimpan didalam keris ini." Buntal mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa Raden Juwiring harus melakukannya dengan baik dan sangat berhati- hati. Bahkan Raden Juwiringpun harus menjaga, agar dirinya sendiri tidak terdorong kedalam satu keinginan untuk nieniiliki pusaka yang jarang ada bandingnya itu. Dalam pada itu, ternyata Pangeran Mangkubumi telah selesai dengan mengatur pasukannya. Mereka yang mendapat tugas untuk mengumpulkan para korbanpun telah selesai pulai Karena itulah, maka Pangeran Mangkubumipun segera membawa pasukannya meninggalkan medan. Ada juga terbersit keragu-raguan untuk meninggalkan korban lawan begitu saja. Namun Rangeran Mangkubumi tidak mempunyai waktu lagi. Iapun masih tetap memperhitungkan kemungkinan, pasukan Surakarta dan Kumpeni akan datang dalam kekuatan yang berlipat. Tetapi Pangeran Mangkubumipun percaya, bahwa hal itu tentu sudah diperhatikan pula oleh para prajurit Surakarta dan mungkin orang-orang yang berada dipadukuhan terdekat. Tetapi sudah tentu bukan. Pandan Karangnangka yang telah kosong. Karena itulah, maka sejenak kemudian pasukan Pangeran Mangkubumipun membawa pasukannya ketempat yang sudah ditentukan, yang hanya diketahui oleh beberapa orang terpenting saja. Namun dalam pada itu, pasukan Pangeran Mangkubumi justru telah bertambah. Para prajurit Surakarta yang semula berada dibawah pimpinan Pangeran Ranakusuma dan sebagian dari pasukan berkuda yang berada dibawah pimpinan Raden Juwiringpun telah berada didalam pasukan Pangeran Mangkubumi."Kita sudah melangkah" berkata Pangeran Mangkubumi "kita tidak akan dapat surut lagi." Dengan demikian, maka setiap orang yang telah menempatkan diri kedalam pasukan Pangeran Mangkubumipun menyadari, bahwa peperangan demi peperangan akan terjadi. Pertempuran-pertempuran yang seru masih akan menunggu kapanpun. Dalam pada itu, yang menjadi angan-angan Buntal adalah justru padepokan Jati Aking. Mungkin para Senapati di Surakarta dan para perwira Kumpeni yang cerdas, akan sempat mengurai peristiwa yang baru terjadi. Didalam pasukan Surakarta, Pangeran Ranakusuma telah memberontak bersama anaknya Raden Juwiring. Sementara Raden Juwiring mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Jati Aking. Tidak mustahil, bahwa para perwira di Surakarta dan para perwira Kumpeni pada akhirnya dapat mengambil satu kesimpulan bahwa jalur yang telah membocorkan rencana Surakarta dan Kumpeni menyerang Pandan Karangnangka adalah Pangeran Ranakusuma lewat puteranya Raden Juwiring yang menyampaikan berita itu melalui Padepokan Jati Aking. Karena itu, didalam perjalanan meninggalkan bekas arena itu Buntal berbisik kepada Raden Juwiring "Apakah kita tidak berusaha untuk mengamankan Jati Aking ?" "Maksudmu ?"bertanya Raden Juwiring. Buntalpun kemudian menguraikan pendapatnya tentang kemungkinan-kemungkinan itu. Lalu katanya "Bukankah Rara Warih berada di Jati Aking pula ?" "Ya" sahut Juwiring. "Jika hal itu diketahui, oleh para petugas sandi dari Surakarta, maka mungkin akan dapat membahayakan keadaannya dan seluruh isi padepokan."Raden Juwiring mengangguk-angguk. Iapun menyadari bahwa kemungkinan seperti yang dikatakan oleh Buntal itu akan dapat terjadi. Karena itu, maka iapun bertanya "Bagaimana menurut pertimbanganmu Buntal ?" "Kita pergi ke Jati Aking. Kemudian kita akan menyusul pasukan Pangeran Mangkubumi." jawab Buntal. Raden Juwiring mengangguk-angguk. Lalu katanya "Baiklah. Aku akan mohon ijin pamanda Pangeran. Jika pamanda Pangeran mengij inkan, aku sependapat, bahwa Warihpun harus diselamatkan disamping ayah Danatirta sendiri." "Demikianlah menurut pertimbanganku" sahut Buntal. Raden Juwiringpun kemudian menghadap pamanda Pangeran Mangkubumi untuk menyampaikan permohonannya, agar ia diperkenankan untuk melihat keadaan adik perempuannya lebih dahulu. Pangeran Mangkubumi berpikir sejenak. Kemudian katanya "Bertemulah dengan Ki Wandawa. Katakan niatmu dan katakan pula kepadanya, bahwa kau sudah menyampaikan permohonan itu kepadaku." "Hamba pamanda" sahut Raden Juwiring. Iapun mengerti, bahwa dalam beberapa hal yang menyangkut persoalan sandi dan pengamanan ada pada Ki Wandawa, sehingga karena itu, maka Raden Juwiringpun segera menemui Ki Wandawa yang berjalan tidak terlalu jauh dibelakang Pangeran Mangkubumi. "Raden akan pergi bersama kedua anak Jati Aking itu ?" bertanya Ki Wandawa. "Ya paman." jawab Juwiring. "Baiklah. Jika Raden akan pergi ke Jati Aking, aku persilahkan segera. Kemungkinan seperti yang Radencemaskan itu memang dapat terjadi. Karena itu, daripada Raden akan datang bersama petugas sandi dar i Surakarta, lebih baik Raden datang lebih dahulu. Menurut pendapatku, Padepokan itu memang harus diselamatkan seperti yang Raden maksudkan." Raden Juwiring tidak kembali lagi kepada pamandanya, karena Ki Wandawa sudah mengatakan, bahwa ia sendir ilah yang akan menyampaikannya kepada Pangeran Mangkubumi. Karena itulah, setelah Raden Juwir ing menyerahkan pasukannya bekas sebagian dari Pasukan berkuda, kepada Ki Wandawa agar ditunjuk pimpinan yang akan menggantikan untuk sementara, maka Raden Juwiringpun mohon diri bersama Buntal dan Arum, untuk pergi ke Jati Aking, karena menurut Pangeran Ranakusuma, sesaat sebelum segalanya terjadi, Warih telah diserahkan kepada Ki Dipanala untuk dibawa ke Padepokan Jati Aking. "Hati-hatilah" pesan Ki Wandawa "keadaan sudah menjadi semakin gawat. Tentu akan terjadi semacam perlombaan, siapakah yang bertindak cepat aritara pasukan Surakarta bersama Kumpeni dan pasukan Pangeran Mangkubumi. Selain itu, akan terjadi pula pacuan ketajaman penglihatan dan kecerdasan nalar antara para petugas sandi dari kedua belah pihak, karena hal itu akan ikut menentukan akhir dari setiap peristiwa." "Terima kasih" jawab Raden Juwir ing "aku mohon restu. Mudah-Mudahan yang akan terjadi selalu berada dibawah perundungan Tuhan Yang Maha Esa." Demikianlah, ketiga orang itupun segera meninggalkan pasukan Pangeran Mangkubumi. Mereka mengambil arah memintas langsung menuju ke padepokan Jati Aking. Seperti pesan Ki Wandawa, mereka harus segera sampai ke padepokan itu sebelum justru para prajurit Surakartalah yang datang lebih dahulu.Ketiga anak-anak muda itu berpacu dengan kecepatan tinggi. Disepanjang jalan, beberapa orang petani melihat dengan hati yang berdebar-debar. Mereka telah mengetahui, bahwa baru saja terjadi perang yang mengerikan. Beberapa orang yang melihat peristiwa itu pada sisa-sisanya di pagi hari, telah mencer iterakan hal itu kepada setiap orang yang dijumpainya. Dengan demikian maka berita itu segera meloncat dari mulut kemulut, merayap keseluruh daerah yang luas. Tetapi ketiga anak-anak muda itu tidak menghiraukannya. Bahkan semakin lama kuda mereka seolah-olah berlari semakin cepat menuju ke padepokan Jati Aking. Dalam pada itu, seperti yang dikatakan oleh Pangeran Ranakusuma. Warih memang sudah berada di padepokan Jati Aking. Ki Dipanala yang mendapat tugas untuk mengantarkannya, telah menyerahkan gadis itu kepada Kiai Danatirta demi keselamatannya. "Lalu, apa yang akan kau lakukan Ki Dipanala ?” bertanya Kiai Danatirta. "Aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku tidak akan berani kembali keistana Ranakusuman lagi, justru setelah peristiwa itu terjadi. Meskipun aku belum tahu, bagaimanakah akhir dari peristiwa yang tentu akan sangat mendebarkan itu. namun aku sudah dapat membayangkan bahwa istana Ranakusuman akan ditutup oleh Kumpeni." "Bagaimana dengan keluargamu ?" bertanya Kiai Danatirta. “Aku sudah membawa mereka pergi sehari sebelumnya" jawab Ki Dipanala "mereka berada didesa terpencil tempat asalnya." Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya"Tetapi bagaimana menurut pertimbanganmu tentang padepokan kecil ini." Ki Dipanala menar ik nafas dalam-dalam. Karena Rara Warih berada didalam, maka Ki Dipanalapun kemudian berkata "Pangeran Ranakusuma telah memilih jalan yang paling dekat. Bersama Raden Juwiring ia telah menentukan sikap. Karena itu, maka memang tidak mustahil, bahwa padepokan ini akan berada dalam putaran perhitungan para perwira prajur it Surakarta dan Kumpeni. Mereka tentu akan menghubungkan dengan masa lampau Raden Juwiring. Ia pernah berada dipa depokan ini. Dengan demikian, maka penghianatan Pangeran Ranakusuma menurut pendapat mereka, tentu disalurkan lewat anak laki- lakinya dan hubungan itu akan dilakukan melalui padepokan ini." Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya "Kita akan menunggu hasil dari pertempuran yang tentu sudah berlangsung atau bahkan masih berlangsung pagi ini. Mungkin Pasukan Pangeran Mangkubumi ikut terlibat kedalam pertempuran itu, tetapi jika Pangeran Mangkubumi telah meninggalkan padukuhan itu, dan tidak melihat apa yang terjadi, maka kemungkinan yang paling pahit akan terjadi atas Pangeran Ranakusuma dengan seluruh pasukannya." Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian "Tetapi aku kira Pangeran Mangkubumi masih meninggalkan sebagian pasukannya seandainya ia benar- benar meninggalkan dan mengosongkan padukuhan itu. Namun menurut perhitunganku, Pangeran Mangkubumi akan mempergunakan cara yang terbiasa dikatakan dan dalam latihan-latihan dipergunakan, adalah cara menyerang dan kemudian menghilang. Dengan pasukan kecil, Pangeran Mangkubumi akan berhasil menjatuhkan korban yang cukup besar." "Jika masih ada Pasukan Pangeran Mangkubumi ditempat itu, mungkin keadaan akan berbeda. Mungkin PangeranRanakusuma dan pasukannya akan mendapat bantuan betapapun kecilnya." Kedua orang tua itu mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Kiai Danatirta berkata "Jika demikian, maka bukankah sebaiknya kita mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan ?" "Sudah tentu" jawab Ki Dipanala "tetapi apa yang dapat kita lakukan selain menyelamatkan dir i. Jika beberapa utusan sandi datang kemari dan menangkap kita, maka apakah kita akan dapat mengelak?" "Jika yang datang hanya satu atau dua orang saja, kenapa kita harus bercemas hati ?" bertanya Ki Danatirta pula "Jika yang datang sepuluh orang dan terpilih pula. Apakah para cantrik akan dapat berbuat sesuatu ?" desis Ki Dipanala. Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Lalu katanya "Jalan yang paling baik memang menghindar. Apakah kita akan meninggalkan padepokan ini ?" Kiai Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Tetapi Kiai memang harus mengambil langkah-langkah tertentu." Kiai Danatirta menyadari gawatnya keadaan. Memang tidak mustahil, bahwa para perwira di Surakarta akan melihat padepokan ini sebagai salah satu tempat yang menjadi jalur hubungan antara orang-orang dalam dengan mereka yang dianggap telah memberontak, justru karena sikap Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwir ing yang diketahui pernah tinggal dipadepokan ini." Karena itu, maka Kiai Danatirtapun berkata "Baiklah. Aku akan memberitahukan kepada para cantrik, untuk sementara biarlah mereka kembali kerumah masing-masing. Padepokan ini memang harus dikosongkan." "Lalu, Kiai Danatirta sendir i akan pergi kemana ?" bertanya Ki Dipanala.Kiaj Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku tidak tahu. Tanpa putri yang diserahkan oleh Pangeran Ranakusuma, aku akan dapat mencar i tempat untuk diri sendiri. Aku dapat menemui Kiai Sarpasrana dan berada didalam lingkungannya. Tetapi dengan Putri Warih, aku harus mendapatkan tempat yang baik dan terlindung. Tidak mustahil bahwa Kumpeni akan berbuat licik dengan menangkap putri itu untuk dipergunakan sebagai jaminan, agar Raden Juwiring menyerahkan diri." "Memang mungkin sekali" berkata Ki Dipanala. "Aku akan memikirkannya kemudian" desis Ki Danatirta "sekarang, aku akan memanggil para cantrik dan memberi kesempatan kepada mereka untuk meninggalkan padepokan ini." "Silahkan Kiai" jawab Ki Dipanala "sementara itu, mungkin ada pikiran yang baik bagi Kiai Danatirta." Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bangkit dan melangkah dengan langkah lesu keruang belakang. Seorang cantrik yang kebetulan lewat dipanggilnya. Katanya "Panggillah kawan-kawanmu. Aku ingin berbicara dengan kalian semuanya." Cantrik itu termangu-mangu. Namun kemudian iapun melangkah surut. Kawan-kawannyapun menjadi heran. Nampaknya ada persoalan yang sangat penting yang akan disampaikan, kepada mereka. Biasanya Kiai Danatirta tidak pernah bersikap demikian sungguhi dan rasa-rasanya bahkan agak menyimpang dari kebiasaannya. Tetapi para cantrik itupun akhirnya berkumpul pula. Bahkan rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Kiai Danatirta itu.Namun akhirnya, dengan hati yang berdebar-debar para cantrik itu mendengar, betapa gawatnya keadaan. Dengan hati-hati Kiai Danatirta berusaha untuk menjelaskan "Persoalannya tidak menyangkut kalian masing-masing. Tetapi sebaiknya kalian memaklumi. Keadaan tidak menentu sekarang ini akan dapat menyulitkan kalian. Karena itulah, maka untuk sementara, aku anjurkan, agar kalian pulang kerumah masing-masing. Sudah barang tentu hanya untuk sementara. Pada saatnya, aku akan memanggil kalian kembali kepadepokan” Para cantrik itu menjadi semakin gelisah. Tetapi merekapun sudah mendengar kemelut' yang terjadi di Surakarta. Namun mereka t idak mengetahui dengan jelas, hubungan yang langsung antara kemelut itu dengan padepokan mereka, sehingga mereka harus meninggalkannya. Tetapi merekapun menyadari, seandainya tidak ada masalah yang sangat penting, maka Kiai Danatirta tentu tidak akan memperlakukan mereka demikian. Karena para cantrik itu nampaknya masih saja termangu- mangu, maka Kiai Danatirta itupun berkata "Jangan menjadi bingung atau kehilangan pegangan. Keadaan memang menghendaki demikian. Pada saatnya semuanya akan lampau. Dan kalian akan berada dipadepokan ini kembali dengan damai." "Kapan Kiai ?" bertanya seorang cantrik. Kiai Danatirta tersenyum. Jawabnya "Aku tidak dapat menjawab. Tetapi kita akan berdoa bersama-sama, agar saat itu segera akan datang." Kecewa dan gelisah membayang disetiap wajah para cantrik. Namun Kiai Danatirta menekankan "Untuk kepentingan kalian, segeralah bersiap. Kalian tidak mempunyai waktu banyak. Hari ini kalian harus sudah meninggalkan padepokan kecil ini."Dengan demikian, betapapun perasaan kecewa menghentak dada para cantrik, namun merekapun segera kembali ke bilik masing-masing. Mereka mempersiapkan barang-barang milik mereka yang pada umumnya tidak banyak. Hanya beberapa lembar pakaian yang mereka pergunakan dalam kehidupan mereka yang sederhana di padepokan itu. Sementara para cantrik mengemasi barang-barangnya, Kiai Danatirta jtelah berada kembali di pendapa. Dengan sungguh- sungguh ia masih saja berbincang dengan Ki Dipanala tentang kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang. Dalam pada itu, tiba-tiba saja Rara Warih muncul dengan ragu-ragu kependapa. Dengan tatapan mata yang penuh pertanyaan dipandanginya Kiai Danatirta dan Ki Dipanala berganti-ganti. "Marilah puteri, apakah ada sesuatu yang ingin puteri katakan kepada kami ?" bertanya Kiai Danatirta. Rara Warih termangu-mangu. Namun kemudian terloncat pertanyaannya "Kiai, apakah para cantrik akan pergi meninggalkan padepokan ini ?" -


Jilid 21
KIAI DANATIRTA memandang Rara Warih sekilas. Namun kemudian iapun menarik nafas sambil berpaling kepada Ki Dipanala. “Katakan Kiai” desis Ki Dipanala “sudah saatnya puteri melihat kenyataan di sekitarnya” Kiai Danatirta beringsut sejenak. Lalu katanya “Silahkan duduk puteri. Mungkin ada beberapa keterangan yang perlu puteri ketahui” Rara Warihpun melangkah mendekat dan kemudian duduk di sebelah Ki Dipanala. Tatapan matanya yang memancarkan kegelisahan dan seribu macam pertanyaan membuat Kiai Danatirta justru termangu-mangu. Nampaknya tatapan matanya itu begitu bersih dan jujur. Sesaat Kiai Danatirta justru terdiam. Ketika ia memandang Ki Dipanala, orang itupun sedang menundukkan kepalanya. Terasa betapa beratnya untuk mengatakan kebenaran tentang keadaan Surakarta dalam keseluruhan kepada Rara Warih.Namun sebaiknya gadis itu mengetahui, apa yang sedang berkecamuk dan bahkan telah mulai membakar Surakarta. “Puteri” berkata Kiai Danatirta kemudian “para cantr ik memang akan meninggalkan padepokan ini” “Kenapa Kiai?“ bertanya Warih. Namun Kiai Danatirtapun telah menduga, bahwa Rara Warih telah dapat menjajagi peristiwa yang mungkin bakal terjadi. Meskipun Rara Warih termasuk seorang gadis yang manja sebelumnya, tetapi ia adalah seorang gadis yang cerdas. Karena itu, maka Kiai Danatirtapun menjawab “Puteri. Mungkin Puteri telah dapat menduga, apa yang dapat terjadi atas padepokan ini dalam kemelut yang semakin panas dan mulai menyala di Surakarta ini. Padepokan ini adalah padepokan yang pernah menjadi tempat tinggal Raden Juwiring” Rara Warih menundukkan kepalanya. Namun terdengar desis lembut “Aku kurang mengerti Kiai, apakah yang sudah dilakukan oleh ayahanda dan kakanda Juwiring dalam pergolakan sekarang ini” Kiai Daniatirta menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Puteri telah dibebaskan dari persoalan itu dengan membawa puteri kemari. Tetapi menurut perhitungan kami di sini, maka kamipun harus mengambil satu sikap” “Kenapa dengan padepokan ini Kiai?“ bertanya Warih. “Kakanda puteri, Raden Juwiring, pernah tinggal di padepokan ini. Puteri, pagi ini perang telah mulai berkobar. Tetapi kumpeni tentu mendapat kesan, bahwa telah terjadi pengkhianatan dari antara pemimpin prajur it Surakarta sendiri. Dan kemudian akan ternyata bahwa Raden Juwiring telah dengan sengaja menyusup di antara prajurit berkuda di Surakarta, namun dalam keyakinan yang tetap, yaitu untuk mengusir kumpeni dari Tanah ini” jawab Kiai Danatirta,“Ya Kiai. Aku sudah menduga, bahwa kakanda Juwiring akan bersikap demikian. Bahkan meskipun aku tidak pasti, tetapi menurut pengamatanku, sikap itu sudah diketahui oleh ayahanda” sahut Rara Warih. “Ya puteri. Tetapi apakah puteri mengetahui sikap ayahanda puteri?“ bertanya Kiai Danatiijta. Rara Warih ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menjawab sambil menggeleng “Aku tidak yakin. Tetapi kebencian ayah kepada kumpeni pada akhirnya akan membakar jantungnya” “Tepat puteri” berkata Kiai Danatirta kemudian “dan semuanya itulah yang kami pertimbangkan di sini, sehingga padepokan ini harus dikosongkan. Apalagi j ika ada petugas sandi yang mengetahui, bahwa puteri ada di sini” Rara Warih mengangguk kecil. Sementara Kiai Danatirta melanjutkan “Kita masih belum mengetahui dengan pasti hasil terakhir dari pertempuran yang terjadi. Kitapun tidak tahu pasti, apakah Pangeran Mangkubumi akan meninggalkan padukuhan itu sepenuhnya, atau akan melakukan perlawanan dengan caranya” Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara rendah ia berkata “Aku mengerti Kiai. Dan akupun mengerti, kenapa padepokan ini harus dikosongkan. Itukah agaknya maka para cantrik harus meninggalkan padepokan ini” “Benar puteri. Dan kami berduapun sedang memikirkan apakah yang sebaiknya kami lakukan. Kami berdua dan sudah barang tentu puteri" sendiri, juga harus meninggalkan padepokan ini” berkata Kiai Danatirta. Rara Warih menunduk sambil bergumam lirih “Aku hanya dapat membuat orang lain menjadi sibuk dan kesulitan” “Tidak. Bukan begitu puteri” sahut Kiai Danatirta dengan serta merta ”Dalam keadaan seperti ini, maka kita semua akanmenjadi sibuk. Seandainya puteri tidak berada di sinipun, kami tentu sudah membuat pertimbangan-pertimbangan serupa sehingga akupun merasa wajib untuk menyelamatkan para cantrik” “Terlebih-lebih setelah aku berada di sini” desis War ih. “Itu sudah menjadi kewaj ibanku, puteri“ Dipanalalah yang menyahut “tugasku tidak terlalu berat jika dibandingkan dengan tugas kakanda puteri, Raden Juwiring, yang harus hadir di medan dengan dua wajah. Demikian pula ayahanda puteri. Pangeran Ranakusuma dan prajurit-prajurit yang setia di dalam pasukannya” Rara Warih menundukkan kepalanya semakin dalam. Terbayang dua orang anak muda yang pernah tinggal bersama kakandanya di padepokan ini, yang menurut pendengarannya telah menyatukan diri dengan pasukan Pangeran Mangku-bumi, seperti juga yang dilakukan oleh kakandanya, namun dengan cara yang berbeda. Sementara itu, para cantrikpun telah selesai mempersiapkan diri. Mereka telah berkumpul di pendapa untuk minta dir i kepada Kiai Danatirta. “Baik-baiklah di perjalanan” berkata Kiai Danatirta “mungkin kalian akan bertemu dengan pasukan yang manapun juga. Kalian tidak per lu gelisah. Jika mereka bertanya kepada kalian, katakan bahwa kalian sedang menempuh perjalanan pulang, setelah kalian beberapa lama berada di rumah sanak kadang. Jika tidak terpaksa, jangan sebut padepokan Jati Aking. Nama padepokan ini mungkin akan menyulitkan kalian. Para cantrik mulai mengerti akan kedudukan padepokan itu. Karena itu, maka merekapun menyadari, bahwa yang dilakukan oleh Kiai Danatirta adalah semata-mata bagi keselamatan mereka semuanya.Kiai Danatirta masih memberikan beberapa pesan kepada para cantrik itu. Baru kemudian iapun-berkata “Nah, aku tidak dapat member ikan bekal apapun juga dalam keadaan seperti sekarang ini. Mudah-mudahan kalian selamat di perjalanan sampai ke tempat keluarga kalian masing-masing. Sampaikan salamku kepada orang tua kalian, dan aku mohon maaf, bahwa aku tidak dapat mengantarkan kalian masing-masing. Sebenarnya aku ingin menyiapkan kalian untuk membantu perjuangan Pangeran Mangkubumi, tetapi waktunya terlalu sempit, sehingga kalian belum siap untuk langsung turun ke medan. Karena itu, kembalikan kepada keluarga kalian. Mungkin ada yang dapat kalian lakukan di padukuhan kalian masing-masing” Betapa beratnya, namun para cantrik itupun kemudian mohon dir i meninggalkan padepokan itu. Rasa-rasanya kaki mereka t idak mau melangkah lagi, ketika mereka sudah berada di regol padepokan. Ada semacam kecintaan yang sulit untuk di tanggalkan terhadap isi padepokan itu. Tanaman yang hijau segar, Buah-buahan dan terbersit pula di dalam hati mereka, siapakah yang akan memelihara ternak dan binatang peliharaan yang terdapat di padepokan itu? “Apakah Kiai Danatirta akan menggembalakan kambing dan menaburkan makanan bagi ayam dan itik?“ bertanya para cantrik itu di dalam hatinya. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain. Keadaan Surakarta dalam keseluruhan menuntut mereka menyelamatkan dir i dari tangan kumpeni atau orang-orang yang telah berkiblat kepada mereka. Sementara itu, sepeninggal para cantrik. Kiai Danatirta dan Ki Dipanala telah merencanakan untuk berbuat sesuatu bagi keselamatan binatang peliharaan di padepokan itu. Kiai Danatirta berniat untuk membagi saja kambing, itik dan ayam kepada orang-orang di padukuhan sebelah. Dengan demikian,maka binatang itu akan tetap terpelihara, sementara orang- orang padukuhan itupun akan berterima kasih kepadanya. “Ki Dipanala” berkata Kiai Danatirta kemudian “semuanya harus kita lakukan dengan segera. Baru kemudian, kita akan meninggalkan padepokan ini juga” “Apakah Kiai sudah mempunyai satu gambaran yang pasti, kemanakah Kiai akan pergi?“ bertanya Ki Dipanala. “Aku belum menentukan. Tetapi tujuan kita yang pertama, dan untuk sementara kita akan dapat tinggal, adalah padepokan saudara sepupuku. Padepokan Karangsari. Kita akan tinggal untuk sementara. Dan aku yakin, bahwa tidak ada orang yang akan menelusuri kita sampai ke padepokan yang kecil dan terpencil itu” jawab Kiai Danatirta “selama itu, aku akan mencari hubungan dengan Raden Juwir ing yang berada di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi atau dalam kedudukan yang khusus. Jika Raden Juwir ing masih belum bergabung dengan pasukan Pangeran Mangkubumi, maka aku akan dapat berhubungan dengan Buntal atau Kiai Sarpasrana” Ki Dipanala mengangguk-angguk. Lalu katanya “Baiklah. Jika demikian, marilah. Kita akan menyerahkan ternak itu. Apakah kita mengundang orang-orang yang akan kita serahi, atau kita akan mengantarkan kepada mereka. Sementara puteri sempat berkemas sehingga kitapun akan segera dapat berangkat” Namun dalam pada itu, selagi Kiai Danatirta membicarakan kemungkinan yang paling baik untuk membagi ternak dan hewan yang ada di padepokan itu, mereka telah terkejut oleh derap kaki kuda mendekati gerbang padepokan. Dengan tergesa-gesa Kiai Danatirta berdesis “Masuklah puteri” Warihpun mengerti. Karena itu, maka iapun dengan cepatnya menyelinap memasuki pintu pr inggitan dan hilang di ruang dalam.Kiai Danatirta dan Ki Dipanala tetap duduk di pendapa. Meskipun debar jantungnya mereka menjadi semakin cepat, seperti derap kaki kuda yang semakin dekat. Namun mereka nampaknya masih tetap tenang. Sejenak kemudian, beberapa ekor kuda dengan penunggangnya telah memasuki halaman padepokan. Ternyata denyut jantung kedua orang itu seakan-akan telah berhenti, ketika mereka melihat orang-orang yang dengan wajah yang garang menarik kekang kuda mereka di halaman. Para penunggang kuda itupun segera berloncatan. Dengan tergesa-gesa mereka menambatkan kuda mereka pada patok- patok yang memang disediakan. Tetapi karena jumlah kuda itu lebih banyak dari patok-patok yang ada. maka sebagian dari kuda-kuda itu telah ditambatkan pada batang-batang perdu yang ada di halaman itu. Kiai Danatira dan Ki Dipanalapun saling berpandangan sesaat. Namun merekapun kemudian bangkit berdiri menyongsong orang-orang berkuda yang kemudian berdiri tegak di halaman. Kiai Danatirta dan Ki Dipanala yang sudah berada di halaman itupun mengangguk hormat. Dengan suara dalam Kiai Danatirta berkata “Marilah Ki Sanak. Aku persilahkan Ki Sanak semuanya naik ke pendapa” Orang yang nampaknya menjadi pemimpin sekelompok orang-orang berkuda itu maju beberapa langkah mendekati Kiai Danatirta dan Ki Dipanala. Dengan suara parau ia bertanya “Apakah aku berhadapan dengan Kiai Danatirta?“ “Ya. Ki Sanak memang berhadapan dengan Kiai Danatirta” jawab Kiai Danatirta dengan hati yang berdebar-debar “tetapi silahkan. Mungkin Ki Sanak memang mempunyai kepentingan dengan aku?““Terima kasih Kiai” jawab orang itu. Lalu katanya “Baiklah aku langsung pada persoalannya. Waktuku hanya sedikit” “Apakah ada sesuatu yang penting sekali?“ bertanya Kiai Danatirta. “Ya. Memang pent ing sekali” jawab orang itu “sebelumnya, baiklah aku memperkenalkan dir i. Kami sekelompok ini, adalah kelompok prajurit berkuda dari Surakarta. Kami sengaja tidak mempergunakan tanda-tanda keprajuritan agar, tidak terlalu menarik perhatian” “O, jadi Ki Sanak dar i pasukan berkuda di Surakarta?“ bertanya Kiai Danatirta. “Ya. Dan kami mengemban tugas dari pimpinan kami untuk berbicara langsung dengan Kiai Danatirta” berkata pemimpin prajurit berkuda itu. “Baiklah. Marilah silahkan duduk” Kiai Danatirta mempersilahkan. Tetapi sekali lagi orang itu menolak. Katanya “Terima kasih. Waktuku hanya sedikit. Aku datang untuk bertanya tentang Raden Juwiring” “O, kenapa dengan Raden Juwiring?“ bertanya Kiai Danatirta. “Kau tentu sudah tahu. Apa yang dilakukan oleh Raden Juwiring dan ayahandanya, Pangeran Ranakusuma, Raden Juwiring adalah mur id padepokan ini. Banyak yang dapat aku tuduhkan kepadamu Kiai. Tetapi sebaiknya tidak sekarang. Marilah, ikut aku ke Surakarta jika Raden Juwir ing sekarang tidak berada di tempat ini” “Ki Sanak” berkata Kiai Danatirta “berita yang Ki Sanak bawa benar mengejutkan aku. Aku memang tidak mengetahui apapun juga. Raden Juwiring telah lama tidak berada di padepokan ini. Sejak adindanya yang bernama Raden Rudira itu meninggal, Raden Juwiring telah diambil kembali olehayahandanya. Sejak itu. ia tidak pernah datang lagi ke padepokan ini” “Katakanlah kepada para perwira tinggi di Surakarta. Mungkin Kiai juga akan berurusan dengan perwira kumpeni yaug bertugas di Surakarta. Jangan kau katakan apapun juga kepadaku” jawab pemimpin dar i sekelompok pasukan berkuda yang tidak mengenakan cir i-cir i keprajuritan itu. Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara berat ia berkata “Ki Sanak. Aku mempunyai pekerjaan yang cukup banyak di padepokan ini. Agaknya sulit bagiku untuk meninggalkan padepokan ini meskipun hanya satu hari saja” “Kiai Danatirta” berkata pemimpin prajurit berkuda itu “seharusnya Kiai sudah mengetahui bahwa Kiai tidak dapat menjawab seperti itu. Sibuk atau tidak sibuk. Mau atau tidak mau. Kiai harus ikut aku ke Surakarta. Katakan segala sesuatu tentang Raden Juwiring, Dan barangkali kau dapat juga mengatakan, bahwa padepokan ini menjadi tempat pertemuan antara Raden Juwiring yang membawa berita dari ayahandanya bagi Pangeran Mangkubumi yang sudah jelas memberontak terhadap Kangjeng Susuhunan” “Ki Sanak” potong Kiai Danatirta “Apakah yang kau katakan itu? Aku tidak mengerti sama sekali apa yang kau maksud” “Sudahlah” sahut pemimpin pasukan berkuda itu “cepatlah berkemas. Aku masih mempunyai banyak tugas” Kiai Danatirta termangu-mangu sejenak. di luar sadarnya ia telah menghitung jumlah kuda yang terikat di halaman itu. “Sepuluh” desisnya bagi diri sendiri ”Betapa beratnya menghadapi sepuluh orang sekaligus. Tetapi agaknya akan lebih baik daripada harus menghadap ke Surakarta” Namun Kiai Danatirta tidak melupakan Rara Warih. Ia tidak boleh jatuh ke tangan prajurit berkuda, yang pernah menjadi kesatuan kakandanya yang dianggap memberontak. Jika RaraWarih jatuh ke tangan mereka, maka orang-orang itu akan dapat memaksa Raden Juwiring untuk menyerah. Karena itu, maka Kiai Danatirtapun berniat untuk memberi kesempatan kepada Rara Warih untuk menghindar. Jika terjadi benturan kekuatan, siapapun yang akan binasa, maka prajurit-prajurit itu tentu akan mencari siapapun yang ada di dalam. padepokan ijtu. Karena itu, maka Kiai Danatirtapun berkata “Baiklah Ki Sanak. Apapun yang akan aku lakukan, maka aku harus bersedia melakukan perintah Ki Sanak” lalu katanya kepada Ki Dipanala “Aku titipkan padepokan ini kepadamu” “Tidak” bentak pemimpin prajurit itu “semuanya ikut bersama kami” Kiai Danatirta tertegun sejenak. Lalu katanya “Ki Sanak. Orang ini adalah tamuku. Ia bukan penghuni padepokan ini. Ia datang untuk menjengukku, karena ia seolah-olah tidak ubahnya seperti saudara kandungku sendir i.” Pemimpin prajurit berkuda itu ragu-ragu sejenak. Namun tiba-tiba dari antara prajurit berkuda iitu, seorang yang bertubuh tinggi maju ke depan sambil berdesis “Bukankah orang ini Ki Dipanala? Salah seorang abdi Pangeran Ranakusuma” “He?“ pemimpin prajurit berkuda itu terkejut “jadi ia salah seorang abdi Ranakusuman?“ “Ya. Aku pasti” desis orang yang bertubuh tinggi itu. Ki Dipanala tidak dapat mengelak lagi. Namun seperti Kiai Danatirta, ia sudah bertekad untuk lebih baik bertempur di padepokan ini daripada harus menghadap perwira kumpeni di Surakarta.Dalam pada itu, Kiai Danatirta yang ingin menyelamatkan Rara Warih tiba-tiba saja berkata “Baiklah. Baiklah kami berdua menghadap ke Surakarta. Tetapi biarlah aku berkemas dahulu” Pemimpin pasukan berkuda itu tidak menyahut. Namun demikian Kiai Danatirta masuk ke ruang dalam, pemimpin prajurit berkuda itu menjatuhkan perintah “Kepung rumah ini. Jangan seorangpun boleh meninggalkan padepokan” Kiai Danatirta yang sudah berada di ruang dalam masih mendengar per intah itu. Karena itu, sesaat ia menjadi ragu-ragu. Namun demikian ia menemui juga Rara Warih untuk memberikan sedikit penjelasan tentang keadaan di padepokan itu. “Jadi, apa yang harus aku lakukan Kiai?“ bertanya Rara Warih dengan cemas. “Carilah kesempatan puteri. Aku akan melawan mereka bersama Ki Dipanala” jawab Kiai Danatirta. “Kiai hanya berdua” desis Rara Wilis. “Biar lah. Agaknya jalan itu harus ditempuh. Dengan demikian, puteri akan mempunyai kesempatan untuk menyelinap. Terserahlah, cara dan kesempatan yang akan puteri peroleh dari peristiwa yang bakal terjadi. Nampaknya aku tidak akan dapat memberikan jalan yang lebih baik dari memancing mereka dalam satu perkelahian” desis Kiai Danatirta “Aku mohon maaf atas peristiwa yang menyulitkanputeri sekarang ini. Berhati-hatilah. Mudah-mudahan Tuhan melindungi puteri“ Rara Warih tidak dapat menjawab. Debar jantungnya terasa semakin cepat. Namun, ketika ia teringat akan ayahandanya dan kakaknya, yang kedua-duanya adalah prajurit dan bahkan Senapati terpilih, maka timbullah ketabahan di dalam hatinya. Meskipun ia seorang gadis, tetapi ia adalah keturunan prajurit linuwih? Karena itu, maka katanya kemudian “Kiai, terserahlah apa yang akan Kiai lakukan. Aku akan mencoba mengambil kesempatan” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tersenyum. Seolah-olah ia melihat gejolak di dalam hati gadis itu. Maka katanya “Darah ayahanda Pangeran Ranakusuma tentu mengalir di dalam dir i puteri. Meskipun puteri seorang gadis, tetapi puteri akan dapat berbuat sesuatu sesuai dengan darah prajurit yang mengalir di dalam diri puteri. Karena itu, aku yakin bahwa puteri akan dapat bertindak dengan sikap seorang prajurit” Rara Warih tidak menjawab. Dipandanginya Kiai Danatirta yang kemudian melangkah masuk ke dalam biliknya sambil bergumam “Bersiap-siaplah puteri. Segalanya akan segera mulai. Dan agaknya rumah ini sudah dikepung. Karena itu, aku akan berusaha memancing mereka dalam satu arena perkelahian, sehingga puteri akan mendapat kesempatan untuk meloloskan dir i dar i padepokan ini” Rara Warih masih tetap berdiri. Ia melihat Kiai Danatirta yang hilang di dalam biliknya, namun tanpa menutup pintunya. Sesaat kemudian, ia sudah melihat orang tua itu keluar lagi dari biliknya sambil menj injing dua bilah pedang yang sudah tidak berada di dalam sarungnya. Sementara sebilah keris sudah terselip di lambungnya. Meskipun masih dalamwrangkanya, tetapi hulu keris itu diletakkannya di bagian depan badannya. Sekilas Kiai Danatirta memandang Rara Warih. Namun kemudian tanpa berkata sepatah kata pun ia melangkah menuju ke pintu depan. Rara Warih sadar akan dir inya ketika ia mendengar pintu berderit. Iapun segera meninggalkan ruang dalam menuju ke pintu butulan. Ia menunggu kesempatan untuk meninggalkan padepokan itu jika perkelahian terjadi antara para prajurit dengan Kiai Danatirta yang hanya berdua saja dengan Ki Dipanala. Dalam pada itu, demikian Kiai Danatirta muncul di muka pintu, iapun berteriak “Ki Dipanala, apakah kita akan meninggalkan sifat kita sebagai seorang cantrik padepokan yang setia?“ Ki Dipanala berpaling. Ia melihat Kiai Danatirta menggenggam pedang dikedua tangannya. Karena itu, iapun segera tanggap, apa yang harus dilakukannya. Dengan loncatan panjang Ki Dipanala naik ke pendapa. Diterimanya sebilah pedang telanjang dari Kiai Danatirta. Dengan dada tengadah iapun kemudian melangkah satu-satu melintasi pendapa dan kemudian menuruni tangga ke halaman. “Aku adalah abdi di istana Kapangeranan. Aku terikat kesetiaan kepada Pangeran tempat aku mengabdi lebih dari segala-galanya. Juga lebih dari pengabdian orang-orang Surakarta yang sudah terbius manisnya bujukan kumpeni” geram Ki Dinapala sambil menyilangkan pedangnya di dada. “He, apaklah kalian berdua sudah gila“ geram pemimpin pasukan berkuda “kalian tahu siapa kami?“ “Ya“ jawab Kiai Danatirta “Aku mengetahui bahwa Ki Sanak semuanya adalah prajur it dari pasukan berkuda”“Apakah kalian akan melawan?“ bertanya pemimpin prajurit itu dengan heran “abdi Ranakusuma ini masih dapat dimengerti jika ia menggenggam pedang di tangannya. Tetapi Kiai Danatirta yang sudah ubanan inipun akan mencoba-coba bermain dengan pedang” “Ki Sanak” berkata Kiai Danatirta aku sejak kecil berada di padepokan sebagai seorang prajurit yang tekun menyadap ilmu kajiwan dan kanuragan. Meskipun tidak setinggi ilmu kanuragan seorang prajurit, tetapi aku akan berusaha mencoba mempertahankan padepokan ini dengan segala daya dan segala cara” Pemimpin pasukan berkuda itu masih termangu-mangu. Nampaknya ia tidak percaya bahwa Kiai Danatirta benar-benar akan melawannya. Apalagi da hanya berdua saja dengan Ki Dipanala, sementara ia membawa sembilan orang dan sepuluh dengan dirinya sendiri yang sudah siap menghadapi lawan yang betapapun beratnya dalam tataran kemampuan seorang prajurit. “Kiai” berkata pemimpin prajurit itu “j ika kau menjadi putus asa. janganlah mencoba untuk membunuh diri. Lebih baik kau menyerah dan bersama kami pergi menghadap para perwira di Surakarta yang barangkali mempunyai beberapa pertanyaan saja kepadamu. Jika kau menjawab semua pertanyaan itu dengan baik, maka tidak akan terjadi sesuatu atasmu dan atas orang yang bernama Ki Dipanala. Bahkan mungkin aku akan mengambil satu sikap untuk membebaskan semua cantrik yang ada di padepokan ini, tanpa membawa mereka seorangpun” “Tidak ada seorang cantr ikpun di padepokan ini. Yang ada hanya aku dan Ki Dipanala, karena aku sudah memerintahkan para cantrik untuk meninggalkan padepokan ini sejak kemarin saat fajar menyingsing” “Jadi, agaknya kau sudah tahu apa yang kira-kira bakal terjadi di padepokan ini Kiai?“ bertanya pemimpin prajur it itu.“Begitulah kira-kira. Dan karena itu, maka aku t idak terkejut melihat kedatangan kalian” jawab Kiai Danatirta. Pemimpin prajur it itu menggeram. Katanya “Jika demikian, agaknya kau memang sudah bersiap untuk melawan segala perintah yang turun dari para pemimpin di Surakarta. Baiklah Kiai, dengan demikian kau sudah melibatkan dir i dalam pemberontakan Pangeran Mangkubumi, langsung atau tidak langsung. Karena itulah, maka aku harus menangkapmu dan membawamu menghadap ke Surakarta. Hidup atau mati” Kiai Danatirta yang sudah berdiri di sebelah Ki Dipanalapun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Beberapa orang prajurit berkuda telah melangkah mendekatinya. “Tangkap orang tua itu “ perintah pemimpin pasukan berkuda itu. Empat orang telah mendekatinya dengan pedang terhunus. Sambil mengacukan pedangnya, orang yang bertubuh tinggi, yang telah mengenalnya sebagai abdi Ranakusuman itu berkata “Jangan menganggap bahwa yang kalian lakukan itu akan berarti” Ki Dipanalalah yang menjawab “Berarti atau tidak berarti, biarlah kami mengangkat senjata daripada menguncupkan tangan di hadapan kumpeni” “Ternyata pengkhianatan tuanmu telah berkembang di seluruh istana Ranakusuman” berkata orang itu pula. Lalu “Baiklah. Kau sudah mendengar perintah itu. Kami harus menangkapmu. Hidup atau mati” Ki Dipanala tidak menjawab lagi. Tetapi iapun sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Sejenak kemudian maka keempat orang itupun berpencar. Usaha mereka memaksa Kiai Danatirta dan Ki Dipanala menyerah tanpa perlawanan tidak berhasil. Karena itu, maka merekapun mulai menggerakkan senjata mereka.Ki Dipanala dan Kiai Danatirtapun segera menempatkan diri. Ketika salah seorang dar i keempat orang prajur it itu menyerang langsung kearah Kiai Danatirta, maka orang tua itu ternyata masih sempat mengelak. “Kau masih dapat juga bermain loncat-loncatan” desis salah seorang dari keempat orang prajurit itu. Kiai Danatirta tidak menjawab. Namun di luar dugaan setiap prajurit, bahwa tiba-tiba saja Kiai Danatirtalah yang telah menjulurkan pedangnya mematuk dada prajurit itu. Prajurit itu terkejut bukan buatan. Ketika ia meloncat dengan tergesa-gesa, maka terasa dadanya telah tersentuh oleh ujung pedang Kiai Danatirta. Meskipun lukanya hanya seujung duri, tetapi darah mulai mengembun dari luka yang tidak berarti itu. Meskipun demikian, tetapi prajurit yang tersentuh ujung pedang Kiai Danatirta itu mengumpat dengan kata- kata kasar. Dengan tangannya ia mengusap titik darah di dadanya. Namun dengan demikian, ternyata prajurit itu menjadi semakin garang. Ia berusaha untuk menebus kelengahannya dengan serangan-serangan yang datang beruntun bagaikan badai. Tetapi ternyata kedua orang di dalam kepungan itu masih dapat mengelak. Bahkan sekali-sekali mereka masih juga sempat menyerang.Untuk beberapa saat, pertempuran itu berlangsung. Pemimpin prajurit berkuda itupun masih sempat memer intahkan prajurit-prajuritnya untuk memperketat kepungan. Ia tidak percaya bahwa padepokan dtu benar- benar telah kosong, meskipun nampaknya memang lengang sekali. Dalam pada itu, Kiai Danatirtapun mulai berpikir keras. Ia tidak akan dapat memancing para prajur it untuk hadir di pertempuran itu j ika ia tidak menunjukkan sesuatu yang mengejutkan. Karena itu, maka iapun telah menghentakkan kekuatannya. Ia ingin menjatuhkan lawannya untuk membuat para prajurit itu marah dan dalam keseluruhan akan mengepungnya. Demikian cepat gerak pedang Kiai Danatirta maka seorang dari lawannya tidak sempat lagi mengelak. Ujung pedang Kiai Danatirta tidak saja menyentuh tubuhnya seujung duri, tetapi pedang yang terayun itu benar-benar telah tergores melintang di dada lawannya. Terdengar prajurit yang terluka itu mengaduh. Sementara itu. Ki Dipanalapun mempergunakan kesempatan ini sebaik- baiknya. Dengan serta meria, selagi sebagian dari perhatian lawan-lawannya tertuju kepada kawannya yang terluka, maka dengan tangkasnya Ki Dipanala telah meloncat menyerang. Pedangnya mematuk dengan cepatnya mengarah ke jantung. Namun dalam pada itu, lawannya masih sempat mengelak, meskipun ia tidak berhasil membebaskan diri sepenuhnya dari ujung senjata Ki Dipanala. Namun ujung senjata itu tidak menembus jantungnya, dan sekaligus merenggut nyawanya. Meskipun demikian ujung pedang itu masih tetap melukainya, mengoyak kulit di pundaknya. Yang terjadi itu benar-benar mengejutkan pemimpin prajurit berkuda yang semula tidak begitu menghiraukan pertempuran itu, karena ia yakin, bahwa keempat prajuritnya akan berhasil menangkap kedua orang itu, hidup atau mati.Tetapi ternyata bahwa dua di antara empat orang itu sudah terluka, namun seorang di antara mereka, masih dapat meneruskan pertempuran meskipun darahnya telah meleleh. Karena itu, maka pemimpin prajurit berkuda itu segera mengambil sikap. Iapun segera memer intahkan lima orang prajurit untuk bersama-sama dengan dua orang kawannya yang masih berhadapan dengan kedua orang-orang tua itu untuk menangkap mereka. Seperti perintah yang telah diberikan sebelumnya, hidup atau mati. Tujuh orang telah siap untuk menangkap Ki Dipanala dan Kiai Danatirta, sementara dua orang lainnya diper intahkannya untuk mengamati keadaan di belakang padepokan itu. “Gila” berkata Kiai Danatirta di dalam hatinya “Kenapa tidak semua prajuritnya dipanggil untuk menangkap aku dan Dipanala” Namun demikian, ternyata ketujuh orang itupun segera mengepung kedua orang tua itu. Beruntun mereka menyerang susul menyusul, sehingga segera terasa, bahwa tekanan dari lawan-lawannya itu benar-benar sulit untuk diatasi. Sebenarnyalah bahwa Kiai Danatirta adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Murid-muridnya telah mengejutkan anak anak muda sebayanya. Bahkan putera Pangeran Ranakusuma Senapati besar di Surakarta, pernah belajar padanya dalamolah kanuragan. Karena itulah, bahwa sebenarnya ilmu Kiai Danatirta tidak terpaut banyak dari ilmu yang dimiliki oleh Pangeran Ranakusuma sendir i. Bahkan mungkin dalam tingkat yang sama, namun dalam kedudukan yang berbeda. Karena itulah, maka meskipun ia menghadapi tujuh orang hanya berdua saja dengan Ki Dipanala, maka ternyata tidak terlalu mudah untuk menundukkannya. Apalagi Dipanalapun memiliki pengalaman yang luas di dalamolah senjata.Sementara pertempuran itu berlangsung semakin sengit, maka pemimpin sekelompok prajurit berkuda itu telah mengobati orang-orangnya yang terluka. Yang tidak terlalu parah, karena goresan yang tidak dalam dipundaknya, segera bersiap kembali untuk memasuki arena pertempuran. Namun yang dadanya tergores menyilang, terpaksa beristirahat di bawah sebatang pohon yang rindang, meskipun pada luka itu telah ditaburkan obat untuk mencegah mengalirnya darah terlalu banyak. Demikianlah perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Namun pemimpin sekelompok prajurit berkuda itu segera melihat, bahwa orang-orangnya akan segera dapat menguasai keadaan. Nampaknya kedua orang tua itu telah sampai ke puncak ilmunya, meskipun pemimpin pasukan berkuda itu harus menggelengkan kepalanya, melihat betapa kemampuan kedua orang tua itu jauh berada di atas kemampuan prajur it kebanyakan. “Tujuh orang prajurit tidak segera dapat mengalahkan mereka” desis pemimnin prajurit berkuda itu. Namun dalam pada itu, dua orang prajur it yang lain masih tetap berada di halaman belakang. Ketika Rara Warih mengintip dari celah-celah pintu butulan, ia masih melihat seseorang yang melintas. Karena itu maka iapun telah menunda niatnya untuk menghambur ke halaman samping dan menyusup ke kebun di belakang padepokan itu dan berusaha melarikan dir i. Sementara itu kegelisahan yang sangat telah mencengkam jantung Rara Warih yang sekali-sekali mendengar teriakan- teriakan menghentak di halaman. Prajurit Surakarta yang marah, karena mereka tidak segera dapat menguasai kedua orang itu, kadang kadang menyerangnya sambil berteriak mengumpat. Dalam pada itu. Kiai Danatirtapun merasa, bahwa ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Nafasnya mulai terasamengganggu. Berhadapan dengan tujuh orang yang kemudian turun ke medan sepenuhnya meskipun seorang di antaranya sudah terluka, ternyata telah dengan cepat menghisap tenaganya. Apalagi di antara mereka terdapat pemimpin dari pasukan berkuda itu sendiri. “Aku harus mengambil Sikap, agar Rara Warih mendapat kesempatan untuk meninggalkan padepokan ini” berkata Kiai Danatirta di dalamhatinya. Karena itu, dalam satu kesempatan, ia berbisik “Kita meninggalkan halaman dan bertempur di luar padepokan” Ki Dipanala segera menangkap maksudnya. Karena itulah maka ketika Kiai Danatirta memberikan isyarat, maka kedua orang itupun segera menyerang dengan menghentak. Demikian mengejutkan, sehingga beberapa orang bergeser menjauh. Kesempatan itulah yang dipergunakan oleh keduanya untuk meloncat dan berlar i meninggalkan arena. “Jangan lari” teriak pemimpin pasukan berkuda itu “tidak ada gunanya” Tetapi Kiai Danatirta dan Ki Dipanala tidak menghiraukannya. Keduanya berlari meloncati dinding padepokan dan memasuki tanah persawahan yang basah. Namun dalam pada itu, ketujuh orang itupun t idak melepaskannya. Enam orang prajurit telah mengejarnya, sementara pemimpin prajurit berkuda itu masih sempat berteriak kepada kedua orangnya yang tertinggal “Cari di seluruh padepokan, tangkap setiap orang yang ada” Perintah itu benar-benar menggelisahkan. Namun Kiai Danatirta menganggap bahwa dua orang itu tidak akan dapat mengawasi seluruh halaman dan kebun di padepokan itu.Dalam pada itu, setelah meneriakkan aba-aba, maka pemimpin prajurit berkuda itupun telah menyusul kawan- kawannya, mengejar Kiai Danatirta dan Ki Dipanala. Sebenarnyalah bahwa Kiai Danatirta dan Ki Dipanala tidak dapat melarikan diri terlalu jauh, karena lawan-lawannya telah menyusulnya. Kedua orang tua itu benar-benar telah kehabisan nafas, setelah keduanya mengerahkan tenaganya untuk melawan ketujuh orang prajurit berkuda yang memiliki pengalaman yang cukup pula. Dalam pada itu, pemimpin prajurit berkuda itu sekali lagi memper ingatkannya “Kiai Danatirta dan Ki Dipanala. Perlawanan kalian tidak akan ada gunanya selain memperberat kesalahan kalian. Menyerahlah dan ikut kami ke Surakarta” Kiai Danatirta tidak menjawab. Tetapi dengan sisa tenaganya, ia telah menyerang pemimpin pasukan berkuda itu dengan cepatnya. Namun lawannya yang lain berhasil memotong serangan itu, sehingga Kiai Danatirta tidak berhasil menyentuh pemimpin pasukan berkuda itu dengan pedangnya. Dalam pada itu, dalam keadaan yang paling sulit dari kedua orang tua yang harus bertempur menghadapi tujuh orang prajurit berkuda itu, terdengar tiga ekor kuda berderap dengan kecepatan seperti angin menuju ke padepokan Jati Aking. Tanpa menghiraukan perhatian orang yang kebetulan berada di sawah, maka ketiganya berusaha untuk secepatnya sampai ke padepokan yang menurut dugaan mereka, akan dapat menjadi sasaran dendam prajurit Surakarta yang merasa dikhianati oleh Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwiring. Namun dalam pada itu, ketiga orang anak muda yang berpacu itu terkejut ketika mereka melihat di tengah sawah, di sebelah padepokan yang telah menjadi semakin dekat, telahterjadi pertempuran. Karena itulah, maka debar jantung mereka menjadi semakin cepat Kuda yang telah berlar i sepenuh kecepatan itu, rasa- rasanya masih saja terlalu lamban. Namun jarak itu tidak terlalu panjang lagi. Bahkan akhirnya mereka sampai juga ke dekat arena perkelahian itu. Kedatangan mereka bertiga memang menar ik perhatian. Setiap orang yang terlibat ke dalam pertempuran itu telah berpaling. Hampir berbareng, Kiai Danatirta dan pemimpin pasukan berkuda itu bergumam dengan nada yang berbeda “Raden Juwiring” Sebenarnyalah Juwiring, Buntal dan Arumlah yang kemudian berloncatan turun dari kuda mereka. Merekapun segera melihat, bahwa Kiai Danatirta dan Ki Dipanala sedang bertempur melawan tujuh orang prajurit prajurit berkuda dari Surakarta. Karena itulah, maka Raden Juwiring segera meloncat mendekat sambil berkata “He, bukankah kalian dari pasukan berkuda di Surakarta? Aku mengenal satu dua orang di antara kalian, karena akupun berasal dari pasukan berkuda. Tetapi kenapa kalian tidak mengenakan pakaian kebesaran dan kebanggaan dari pasukan berkuda di Surakarta, dan kenapa kalian telah bertempur dengan licik melawan dua orang tua itu?“ “Kenapa?“ bertanya Juwiring. “Untuk menangkap Raden, tentu disediakan hadiah yang sangat menarik. Karena itu, jika Raden bersedia membantu aku, agar aku dapat menerima hadiah itu, menyerah sajalah” berkata pemimpin pasukan berkuda itu. “Kau nampaknya memang sudah gila” jawab Raden Juwiring “meskipun aku belum tahu pasti sebabnya, tetapi aku mengharap agar kalian tidak mengganggu kedua orang tuaitu. Seorang adalah sahabatku dar i istana ayahanda Ranakusuma, dan yang seorang adalah ayah angkatku” “Kami tidak akan mengganggu mereka, jika Raden bersedia menyerah” berkata pemimpin pasukan berkuda itu. Dalam pada itu, pertempuran di antara Kiai Danatirta dan Ki Dipanala melawan para prajurit itu seolah-olah telah berhenti dengan sendirinya. Mereka telah terpukau oleh kehadiran Raden Juwiring bersama dua orang anak muda lainnya yang belum mereka kenal. “Ki Sanak” berkata Raden Juwiring “dalam keadaan seperti sekarang ini, maka keyakinan akan sikap dan pendirian yang teguh sangat diperlukan. Karena itu, agaknya kita memang tidak akan dapat menemukan kesepakatan. Aku tahu bahwa pimpinan prajurit Surakarta dan Kumpeni di Surakarta tentu sudah mengetahui apa yang terjadi. Karena itu, baiklah aku tidak usah berbicara panjang lebar. Nampaknya kita memang berdiri berseberangan. Aku berdiri di pihak bangsaku dan kau berdiri di pihak bangsa asing itu” “Jangan memakai istilah yang salah Raden” jawab pemimpin sekelompok pasukan berkuda itu “yang benar adalah, bahwa Raden berdiri di pihak pemberontak dan aku berdiri di pihak Kangjeng Susuhunan Pakubuwana di Surakarta” Raden Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Setiap orang akan dapat memutar balikkan kenyataan dengan istilah yang menguntungkan diri sendir i, sekedar untuk memantapkan sikap dan keyakinannya, seolah-olah berlandaskan kebenaran. Baiklah. Agaknya kita memang harus bertempur” Raden Juwiring tidak berbicara lebih banyak lagi. Iapun kemudian meloncat menghadapi pemimpin sekelompok pasukan berkuda itu, sementara ia berkata kepada Buntal danArum “Jangan biarkan ayah bertempur melawan orang yang terlalu banyak” Buntal dan Arum mengerti maksud Raden Juwiring. Merekapun kemudian berloncatan mendekati Ki Dipanala dan Kiai Danatirta yang masih berada di dalam kepungan. Pemimpin sekelompok pasukan berkuda itu mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa Raden Juwiring adalah putera seorang Senapati Besar di Surakarta, dan bahkan Raden Juwiringpun termasuk seorang perwira muda dalam pasukan berkuda. Namun pemimpin pasukan berkuda itu yakin akan dir inya sendiri. Bahwa ia akan dapat mengalahkan Raden Juwir ing. Demikianlah, maka sejenak kemudian, pemimpin sekelompok pasukan berkuda itu mulai menggerakkan senjatanya sambil berkata “Selesaikan kedua orang itua dan kedua anak ingusan itu. Aku akan menangkap Raden Juwiring hidup-hidup. Ia harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Mati di sini, adalah terlalu menyenangkan baginya sebelum ia dihadapkan kepada pengadilan para pemimpin keprajuritan di Surakarta” “Barangkali Kumpeni maksudmu?” potong Raden Juwiring. Pemimpin sekelompok pasukan berkuda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya “Ya. Kumpeni” Raden Juwuingpun telah siap pula dengan senjatanya. Sementara itu Arumlah yang tidak sabar lagi. Ialah yang justru mulai menyerang para prajurit yang mengepung ayahnya dan Ki Dipanala. Sejenak kemudian, maka pertempuran telah berkobar lagi. Namun keseimbangannyapun menjadi jauh berbeda. Enam orang prajurit berkuda yang bertempur melawan ampat orang padepokan Jati Aking itu ternyata segera merasakan, betapa beratnya tekanan dari keempat orang padepokan itu.Bertujuh mereka tidak segera dapat mengalahkan kedua orang tua itu. Apalagi bersama kedua orang tua itu telah ikut melibatkan dir i dua orang anak muda yang ternyata memiliki kemampuan yang tinggi pula. Dalam pada itu, seorang dari ketujuh orang prajurit berkuda itu tengah menghadapi Raden Juwiring. Keduanya adalah prajurit pilihan yang memiliki bekal ilmu kanuragan. Karena itu, maka pertempuran di antara keduanyapun segera menjadi semakin seru. Pemimpin sekelompok pasukan berkuda itu mampu bergerak dengan tangkas. Senjatanya berputaran dengan cepat, seperti putaran angin pusaran. Namun Raden Juwir ing sama sekali tidak menjadi bingung. Ia memiliki dasar ilmu dari padepokan Jati Aking. Namun iapun memiliki ilmu yang diturunkan ayahandanya kepadanya. Bahkan ia tidak memerlukan waktu terlalu lama. Beberapa saat ia menjajagi ilmu lawannya dengan sekedar bertahan dan menghindar. Namun kemudian, datanglah gilirannya, bahwa Raden Juwiringlah yang menyerang seperti angin prahara. Dalam pada itu, di lingkaran pertempuran yang lainpun keadaannya adalah serupa. Kiai Danatirta dan Ki Dipanala yang hampir kehabisan nafas itupun sempat menghirup udara, setelah Buntal dan Arum hadir di arena. Ternyata kedua anak muda itu mampu mengimbangi lawan-lawannya. Bahkan ternyata bahwa Buntal dan Arum secara pribadi memiliki kelebihan dari prajur it-prajurit berkuda itu. Karena itu, maka seluruh arenapun segera dikuasai oleh para penghuni padepokan Jati Aking itu. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka pertempuran itu akan dapat diselesaikan. Namun dalam pada itu, Kiai Danatirtapun segera teringat kepada Rara Warih. Gadis itu,masih berada di padepokan. Bahkan mungkin gadis itu sudah diketahui oleh kedua prajur it yang tinggal di padepokan. Karena itu, maka katanya kepadaBuntal “Gantikan Raden Juwiring, dan biarlah Raden Juwiring melihat adiknya yang berada di padepokan” “Warih ada di padepokan, Kiai“ terdengar suara Juwiring dalam nada tinggi “Ya. Hati-hatilah. di padepokan ada dua orang prajurit berkuda yang tinggal untuk mengawasi keadaan” jawab Kiai Danatirta. Juwiring menggeram. Ternyata ia tidak menyerahkan lawannya kepada Buntal. Berita tentang adik perempuannya telah menyalakan gejolak kemarahan yang tidak terbendung lagi. Karena itu, maka seolah-olah di luar sadarnya, Raden Juwiring telah menyerang lawannya dengan sepenuh kemampuannya. Ternyata pemimpin sekelompok prajurit berkuda itu tidak setangkas Raden Juwiring. Ketika kemarahan Raden Juwiring sampai ke puncak, dan serangannya datang membadai, maka pemimpin sekelompok prajurit berkuda itu tidak sempat mengelak. Yang terdengar kemudian adalah geram kemarahan Raden Juwiring disusul oleh keluhan yang tertahan. Segores luka telah menganga di lambung pemimpin sekelompok prajur it berkuda itu. Sejenak Raden Juwiring memandanginya. Namun sejenak kemudian, Raden Juwiring itupun segera berlari kearah padepokan dengan meninggalkan lawannya yang masih tetapberdiri. Namun darahnya telah tertumpah dari lukanya. Bahkan sejenak kemudian orang itupun terhuyung-huyung dan jatuh di tanah sambil mengerang. Namun Raden Juwiring, sama sekali tidak berpaling lagi. Keterangan Kiai Danatirta tentang Rara Warih itu bukan saja menggelisahkan Juwir ing. Tetapi Buntal dan Arumpun menjadi gelisah pula. Karena itu, maka pada saat-saat yang menentukan dalam lingkaran pertempuran antara Raden Juwiring dan pemimpin pasukan berkuda itu, Buntalpun telah mempergunakan kesempatan. Pada saat pemimpin sekelompok pasukan berkuda itu tergores senjata Raden Juwiring, maka Buntalpun telah menghentakkan? kekuatannya justru ketika prajurit-prajurit dari pasukan berkuda itu mencemaskan nasib pemimpinnya. Dengan serangan yang cepat, Buntal telah mengejutkan beberapa orang lawannya. Namun ternyata Arumlah yang telah berhasil memotong loncatan seorang lawan yang terdesak oleh serangan Buntal yang membadai. Orang itu terkejut. Tetapi ia tidak sempat mengelak. Segores luka telah mengoyak lengannya. Dalam pada itu, Buntal yang mencemaskan keadaan Rara Warih dan Raden Juwiring justru karena di padepokan itu ada dua orang prajurit berkuda yang belum diketahui kemampuannya, maka iapun kemudian berdesis “Ayah, apakah aku diij inkan untuk menyusul Raden Juwir ing?“ Kiai Danatirta yang melihat kekuatan lawannya sudah jauh berkurang, sementara di antara mereka masih ada Arum, maka jawabnya “Baiklah. Tetapi kaupun harus berhati-hati” Buntal tidak menunggu lagi, Iapun segera meloncat berlari menyusul Raden Juwir ing yang telah meloncati dinding memasuki padepokan. Buntalpun tidak sempat melingkar memasuki halaman padepokan itu lewat pintu gerbang. Iapun meloncat sepertiyang dilakukan oleh Raden Juwiring. Namun, demikian ia berada dihailaman, ia sama sekali sudah tidak melihat anak muda yang pernah menjadi perwira di lingkungan pasukan berkuda itu. Sejenak Buntal menjadi berdebar-debar. Namun iapun kemudian meloncat menghambur naik ke pendapa dan memasuki pintu pringgitan. Namun ia tetap berhati-hati, karena menurut Kiai Danatirta, ada dua orang prajurit berkuda di padepokan itu. Dengan pedang teracu ia memasuki ruang dalam. Dengan hati-hati ia melihat segala bilik di dalam rumah induk di padepokan itu. Namun ia t idak menjumpai seorangpun. Bahkan Raden Juwiringpun tidak. Demikian ia selesai memeriksa ruangan demi ruangan, maka Buntalpun segera berlari turun ke halaman samping lewat pintu butulan. Namun demikian ia turun, dilihatnya Raden Juwiring yang ber lari keluar dar i Sanggar lewat pintu belakang. “Kau ketemukan Rara Warih” bertanya Buntal. “Belum” jawab Juwir ing “dua orang prajurit berkuda itupun tidak aku jumpai “ Keduanya menjadi semakin berdebar-debar. Sekali lagi keduanya berlari kearah yang berbeda. Bahkan kemudian keduanya telah berlari-lari mengitari seluruh padepokan. Namun mereka tidak menemukan seorangpun juga. Rara Warih tidak, dan dua orang prajur it itupun tidak. Ketika sekali lagi keduanya bertemu di longkangan belakang, maka dengan gelisah Raden Juwiring berkata “Bagaimana mungkin mereka lenyap saja seperti asap” Wajah Buntalpun menegang. Sambil menggeretakkan giginya ia berkata “Kita cari sekali lagi”Sekali lagi keduanya berlari-lari mengelilingi padepokan itu. Mereka tidak lagi mengambil arah yang berbeda, tetapi mereka berdua berlari- lari bersama-sama. Tetapi seperti semula, mereka t idak menemukan seorangpun. “Kita lihat di depan. Mungkin kita dapat menghitung jumlah kuda mereka. Apakah sudah ada diantara mereka yang meninggalkan padepokan ini” geramJuwir ing. “Kita tidak tahu pasti, berapa jumlah mereka” desis Buntal “Dapat dihitung” sahut Juwir ing. Tetapi mereka tidak menunggu sambil menghitung. Keduanyapun kemudian berlari-lari ke halaman. Di halaman masih terikat beberapa ekor kuda. Tentu kuda prajurit-prajurit berkuda yang masih bertempur di luar padepokan itu. Namun ketika mereka mencoba muka menghitung, mereka melihat seseorang yang bersandar pada sebatang pohon dengan luka yang menyilang di dada. Hampir berbareng Raden Juwiring dan Buntal meloncat mendekati orang yang tergolek diam itu. Namun ternyata bahwa orang itu tidak pingsan. Bahkan dilukanya telah terdapat hamburan obat yang dapat mengurangi arus darahnya yang keluar.“Dimana kawan-kawanmu” bentak Juwir ing yang tanpa bertanya tahu pasti bahwa orang itupun tentu dari pasukan berkuda. Orang itu memandang Juwiring sejenak. Iapun mengenal, bahwa yang bertanya kepadanya itu adalah Raden Juwir ing. Seorang perwira dari pasukan berkuda yang telah memberontak. Namun bagaimanapun juga, ia dalam keadaan yang parah, sehingga ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. “Cepat katakan, dimana kedua orang kawanmu yang berada di padepokan ini” desak Raden Juwir ing. Orang itu tidak menjawab. Dipandanginya Raden Juwiring dengan penuh kebencian. Juwiring yang gelisah ternyata tidak terlalu lunak menghadapi orang yang terluka itu. Dengan garangnya ia hampir berteriak “Katakan, dimana kedua orang kawanmu dan adik perempuanku” Ketika orang itu masih tetap diam, maka tiba-tiba saja Raden Juwiring menggeram “Buntal. Pergilah ke dapur. Ambillah garam dan air asam. Aku ingin melihat, apakah orang ini akan tetap diam saja jika kita taburkan garam dan kita siramkan air asampada lukanya” “Jangan“ tiba-tiba saja orang itu berusaha mencegah. “Tidak ada jalan lain” jawab Juwiring “Kau membuat hatiku sakit dan gelisah, karena kau sama sekali tidak mau menjawab pertanyaanku. Sekarang akupun dapat membuat kau sakit dengan cara ini” “Jangan lakukan. Itu sama sekali t idak berperikemanusiaan” desis orang itu. “Tetapi sebut, dimana kedua orang kawanmu dan adikku, Warih” Raden Juwiring membentak pula. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun menilik sikap Raden Juwiring, ia bukannya sekedar menakut-nakutinyauntuk menaburkan garam dan air asam pada tubuhnya, karena kegelisahannya. “Cepat“ tiba-tiba saja Raden Juwiring yang marah itu telah merenggut leher bajunya yang terbelah diarah luka yang menyilang di dada ”Jika kau tidak segera berbicara, aku dapat berbuat apa saja yang barangkali tidak pernah kau duga. Aku tidak peduli seandainya seseorang mengatakan bahwa aku tidak berperikemanusiaan” Orang itu terkejut. Hentakkan tangan Raden Juwiring membuat lukanya bertambah sakit. Apalagi ketika kemudian Raden Juwiring mengguncang-guncangnya dengan kasar. “Cepat, katakan” bentak Raden Juwiring. Orang itu tidak dapat bertahan lagi. Guncangan tangan Raden Juwiring rasa-rasanya membuat dadanya bagaikan pecah. Karena itu, maka katanya kemudian “Lepaskan Raden. Aku akan mengatakannya” “Tidak“ geram Juwir ing “katakan lebih dahulu” Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Puteri Ranakusuman itu telah dibawa oleh kedua orang kawanku. Mereka telah melarikan dir i langsung menuju ke Surakarta” “Gila. Diajeng Warih telah mereka bawa?“ suara Raden Juwiring meninggi. “Ya. Puteri itu telah dibawa. Kedua orang kawanku menemukannya di dalam rumah itu” jawab prajurit yang terluka itu dengan gemetar. Raden Juwiringpun menjadi gemetar pula. Sejenak ia memandang Buntal. Namun kemudian iapun segera berlari kearah kuda-kuda yang terikat. “Kemana?“ bertanya Buntal. “Aku harus menyusulnya” jawab Juwiring sambil ber lari-lar i.“Tunggu. Kau akan menyusulnya kemana?“ teriak Buntal. “Ke Surakarta. Aku harus mengambilnya atau aku akan mati untuk membelanya” jawab Juwir ing. “Tunggu. Jangan kehilangan akal” Buntal berteriak sambil berlari mendekati Juwiring yang sudah melepas tali seekor kuda. “Kakang Juwiring. Tunggu. Jangan melakukan hal itu” cegah Buntal. “Aku akan mengejar mereka” teriaknya. “Tidak mungkin. Mereka telah jauh. Dan kita tidak akan dapat mengejarnya langsung masuk ke dalam kota. Ingat, kota tentu dijaga ketat sekarang ini” Buntal masih mencoba untuk member inya peringatan. Juwiring seolah-olah tidak mendengarnya. Namun ketika ia meloncat naik, Buntal justru memegang kendali kuda itu sambil berkata keras-keras “Jangan. Jangan kehilangan akal. Kau tidak akan dapat menyusulnya. Nampaknya mereka telah agak lama pergi. Sementara itu, kehadiranmu di kota akan sangat berbahaya bagimu” “Lepaskan” teriak Juwiring. “Jangan. Jangan kehilangan akal” ulang Buntal. “Lepaskan, atau aku akan memaksamu melepaskan kendali itu” teriak Juwir ing semakin keras. Namun dalam pada itu, ternyata Buntal berpikir bening. Ia mencoba menjelaskan “Kakang Juwiring. Jika terjadi sesuatu atasmu, maka harapan untuk membebaskan adikmu itu sudah lenyap sama sekali. Ia akan mengalami nasib yang paling buruk. Lebih buruk dari nasibmu sendiri. Mungkin kau akan dibunuh di alun-alun, dan kepalamu akan ditanjir di regol Kapangeranan. Tetapi kau tidak akan mengetahui apa yang terjadi. Dan di antara merekai yang berjuang bagi tanah iniakan tetap menganggapmu sebagai seorang pejuang yang gugur dalam keperwiraan. Tetapi bayangkan apa yang terjadi atas adikmu itu. Atas Rara Warih yang jatuh di tangan para perwira kumpeni yang jauh dari keluarga mereka sendiri. Yang jauh dari lingkungan hidup mereka” Juwiring mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Buntal sejenak. Lalu katanya “Jadi, bagaimana menurut pertimbanganmu, Buntal” “Kita mempunyai cara lain yang harus kita pikirkan masak- masak” jawab Buntal. Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya dengan nada rendah “Apakah jika aku mengejarnya sekarang, aku tidak akan berhasil memburunya sebelum mereka memasuki kota” “Sulit” jawab Buntal “Kita tidak tahu arah mereka sehingga kita harus mengamati jejak. Mungkin kita akan mendapat arah yang benar, tetapi sementara itu, mereka sudah berada di dalam satu lingkungan prajur it berkuda” Juwiring termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berdesis “Kau benar Buntal. Aku kira, aku tidak akan berhasil mengejar Diajeng Warih” “Karena itu, marilah kita selesaikan orang-orang yang tertinggal” berkata Buntal kemudian. Juwiring mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba wajahnya telah menegang lagi. Dengan lantang ia berkata “Mereka memang harus diselesaikan” Raden Juwiring meloncat turun dari kudanya. Kemudian iapun telah berlari kembali ke arena pertempuran di sebelah padepokan. Seperti saat ia memasuki padepokan, maka iapun telah meloncati dinding. Buntalpun menyusulnya di belakang. Ia sadar bahwa Juwiring masih diliput i oleh kegoncangan perasaan, sehinggakarena itu ia akan dapat melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ketika Raden Juwiring sampai ke arena pertempuran, maka keadaannya benar-benar telah tidak seimbang. Lima orang yang tersisa, bertempur melawan tiga orang yang memiliki kemampuan jauh di atas kemampuan mereka. Dengan demikian, maka kelima orang itu sama sekali sudah tidak berpengharapan untuk dapat menyelamatkan diri. Dalampada itu, terdengar suara Kiai Danatirta “Sudahlah Ki Sanak. Menyerah sajalah. Kita akan dapat berbicara dengan baik” Namun agaknya Juwiring mendengar tawaran Kiai Danatirta itu. Karena itu maka iapun berteriak “Tidak. Semua orang harus mati” “Juwiring” desis Kiai Danatirta yang kecemasan “bagaimana dengan adikmu” “Kedua setan itu dengan licik telah membawa Diajeng Warih. Aku tidak tahu, bagaimana nasibnya. Karena itu, yang tinggal di antara prajurit berkuda itu harus mati” geram Juwiring yang telah berdir i beberapa langkah dari arena pertempuran. Sejenak kemudian, Buntalpun telah berdiri di belakangnya dengan jantung yang berdebar-debar. Dalam pada itu Raden Juwir ing sudah siap untuk meloncat menyerang dan membunuh orang-orang yang tersisa. Namun di belakangnya Buntal berdesis “Kakang Juwiring. Ingatlah bahwa kau adalah seorang yang berdarah kesatria. Kau harus mempunyai wawasan yang luas terhadap mereka yang sudah tidak berdaya. di dalam perang, membunuh atau dibunuh merupakan pilihan yang sangat wajar. Tetapi di dalam peperangan kita dapat menunjukkan, bahwa kita masih tetap menjunjung t inggi nilai-nilai kemanusiaan”“Apa maksudmu?“ bertanya Juwiring. “Ayah sudah menawarkan kepada orang-orang itu agar mereka menyerah. Dengan demikian, maka tidak diper lukan cara penyelesaian yang lain” jawab Buntal. Juwiring yang masih diliput i oleh kegelapan hati menyahut lantang “Tidak. Aku akan membunuhnya karena merekapun licik seperti liciknya Kumpeni. Aku tidak merasa berhadapan dengan prajurit-prajurit yang pantas diperlakukan sebagai prajurit. Tetapi aku merasa berhadapan dengan penjahat- penjahat yang tidak mungkin lagi diampuni karena tidak akan pernah terjadi penyesalan di dalamhati mereka”? “Disinilah letak kebesaran jiwa seseorang, Juwiring“ Kiai Danatirtalah yang menjawab “sekali lagi aku ingin menawarkan kepada prajurit-prajurit berkuda ini, agar mereka menyerah saja” “Itu tidak adil“ Juwir ing hampir berteriak “mereka membawa Diajeng Warih” “Kita dapat memperhitungkan kemudian” jawab Kiai Danatirta “tetapi jika mereka akan menyerah, biarlah mereka menyerah” Prajurit berkuda yang sudah tidak mempunyai harapan sama sekali itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi kehadiran Juwiring yang sangat marah itu rasa-rasanya membuat hati mereka semakin cemas. Namun demikian, mereka masih berharap bahwa di antara orang-orang padepokan itu masih ada yang berkepala dingin dan tidak berbuat sewenang-wenang. Dalam pada itu, Buntal selalu berdiri di sebelah Juwir ing. Ia masih saja merasa cemas, bahwa Juwiring akan kehilangan pengamatan diri dan melakukan tindakan yang tidak bijaksana terhadap lawan-lawannya yang justru akan bertentangan pula dengan perintah Pangeran Mangkubumi sendiri.“Ya, perintah Pangeran Mangkubumi“ ingatan itu telah mendorongnya untuk berbisik “Kakang Juwir ing. Bukankah kita termasuk pasukan Pangeran Mangkubumi” “Ya, kenapa?“ bertanya Juwiring. “Kita harus selalu ingat pesannya lewat siapapun juga. Lewat Ki Wandawa, lewat Ki Sarpasrana, lewat para Tumenggung yang berpihak kepadanya dan lewat setiap prajurit yang berdiri di sisi Pangeran Mangkubumi itu” desis Buntal. “Ya, apa pesannya“ Juwiring yang marah itu hampir berteriak. “Jangan bertindak terlalu kasar terhadap sanak kita sendiri. Terhadap orang-orang berkulit sawo seperti kita” lanjut Buntal. Kata-kata Buntal itu ternyata telah menyentuh hatinya. Iapun pernah mendengar pesan Pangeran Mangkubumi seperti itu. Dan karena itulah, maka hatinya menjadi agak tenang, sehingga ia dapat memandang prajur it-prajurit berkuda yang sudah tidak berdaya itu sebagaimana sikap seorang kesatria dari Surakarta. Karena itu, maka katanya kemudian “Baiklah ayah. Jika mereka memang bersedia menyerah, segala sesuatunya terserah kepada ayah” Kiai Danatirta masih bertempur meskipun sudah tidak lagi harus memeras tenaganya, karena selain lawannya sudah jauh berkurang, merekapun nampaknya sudah tidak berpengharapan lagi. Bahkan nampaknya Arumpun dapat mengerti maksud ayahnya, bahwa orang-orang itu sebaiknya tidak meneruskan perlawanannya, karena memang t idak akan ada gunanya lagi.Dengan sikap Juwiring yang menjadi lebih lunak itu, maka Kiai Danatirta sekali lagi berkata kepada prajurit-prajur it berkuda itu “Sekarang, menyerahlah Ki Sanak. Kalian tidak akan mempunyai kesempatan lagi” Kelima orang yang masih bertempur dengan setengah hati itupun tidak lagi dapat menahan hati untuk menyerah. Karena itu. maka salah seorang dari merekapun berkata “Kami menyerah” Kiai Danatirtapun kemudian memberi isyarat kepada Ki Dipanala dan Arum. agar mereka surut beberapa langkah untuk memberi kesempatan kepada kelima orang itu meletakkan senjatanya. Demikianlah, maka kelima orang itupun segera melontarkan senjata masing-masing. Meskipun masih nampak kekhawatiran mereka terhadap sikap Juwiring, namun menyerah adalah kemungkinan yang paling baik yang dapat mereka lakukan. Ki Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa nafasnya memang sudah mulai bekejaran. Meskipun sejak kehadiran anak-anak angkatnya pekerjaannya sudah menjadi semakin r ingan. Kelima orang prajur it berkuda itupun kemudian berdiri berjajar. Sementara Juwiring dan Buntal melangkah maju mendekati Kiai Danatirta yang memandangi orang-orang itu seorang demi seorang. Namun tiba-tiba katanya “Lihatlah kawan-kawanmu yang terluka itu. Bawalah mereka ke pendapa padepokan. Mungkin aku sempat mengobatinya” Kelima orang prajurit itu termangu-mangu, sementara Kiai Danatirta mengulangi “Cepat, sebelumterlambat” Kelima orang itupun kemudian menghampir i pemimpin mereka yang terluka parah, sementara di sebelahnya duduk kawannya yang lengannya tersobek oleh senjata Arum padasaat ia menghindar i serangan Buntal. Meskipun luka itu hanya pada lengannya, tetapi lengan itu bagaikan terkoyak sampai ke tulang, sehingga orang itu hampir menjadi pingsan karenanya. “Bawalah mereka ke pendapa” berkata Kiai Danatirta. Kelima orang itupun kemudian memapah seorang yang terluka dilengannya, dan mengusung pemimpinnya yang sudah tidak sadarkan diri karena luka- lukanya. Dengan tergesa-gesa mereka telah membawa kawan-kawan mereka yang terluka itu ke pendapa padepokan, sementara kawannya yang seorang lagi, telah dipapah oleh Buntal dari bawah sebatang pohon di halaman. Meskipun lukanya telah ditaburi obat, namun nampaknya orang itu kian menjadi lemah. Dalam pada itu, agaknya Kiai Danatirta tidak sampai hati membiarkan orang-orang itu terluka tanpa perawatan. Meskipun orang-orang itu telah berusaha untuk menangkapnya hidup atau mati, tetapi setelah mereka menyerah, maka terasa getar belas kasihan di hati orang tua itu. Apalagi Kiai Danatirtapun mendengar, bahwa Pangeran Mangkubumi sendiri telah berpesan, bahwa lawan yang sesungguhnya bukannya prajurit-prajurit Surakarta, tetapi Kumpeni. Hanya dalam keadaan terpaksa sajalah, maka para pengikut Pangeran Mangkubumi harus bertempur dan barangkali tidak dapat dihindari lagi, akan jatuhnya korban di antara sanak dan kadang sendiri. Selain mereka yang terluka parah, maka di antara mereka yang masih bertempur beberapa lama kemudian itupun ada yang telah tergores senjata pula. Tetapi luka- lukanya tidak berbahaya dan tidak mengurangi kemampuan mereka. Meskipun demikian orang-orang itupun harus mendapat perawatan. Namun dalam pada itu, Kiai Danatirtapun menyadari, bahwa dua orang yang melarikan Rara Warih ke kota, bukan saja akan menyerahkan Rara Warih, tetapi mereka tentu akanmencer iterakan apa yang lelah terjadi di padepokan. Apalagi jika mereka telah mengetahui bahwa Juwiring ada pula di padepokan Jati Aking. Karena itu, setelah Kiai Danatirta selesai dengan mengobati orang-orang itu, maka iapun mengajak anak-anak angkatnya dan Ki Dipanala masuk ke ruang dalam. “Bagaimana dengan orang-orang itu?“ bertanya Juwiring. “Biar lah mereka berada di pendapa” jawab Kiai Danatirta. “Apakah mereka tidak akan lari?“ bertanya Buntal pula. “Untuk sementara tidak” jawab Kiai Danatirta pula. “Tetapi kita tidak boleh terlalu percaya kepada orang-orang itu“ desis Arumpula. “Percayalah” jawab Kiai Danatirta “Mereka tidak akan lari” Ketiga anak-anak muda itu tidak memaksa Kiai Danatirta untuk mengambil sikap tertentu kepada ketiga orang itu. Meskipun ada juga semacam kekhawatiran, tetapi mereka mencoba untuk mempercayai Kiai Danatirta. Dalam pada itu, setelah mereka berada di ruang dalam, maka Kiai Danatirtapun berkata kepada Raden Juwiring “Angger Juwiring. Hilangnya Rara Warih merupakan masalah khusus bagi kita, terutama angger Juwir ing dan Ki Dipanala” “Ya Kiai” desis. Ki Dipanala “bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan hilangnya puteri itu jika pada suatu saat aku bertemu dengan Pangeran Ranakusuma” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Tetapi sebelum ia menyahut, Juwiring telah mendahuluinya “Aku belum sempat mencer iterakan, apa yang terjadi di pertempuran besar itu” “Ya. Kau memang belum mengatakan sesuatu” desis Kiai Danatirta.Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Danatirta dan Ki Dipanala berganti-ganti. Kemudian katanya “Yang terjadi, benar-benar merupakan satu bebanten yang tiada taranya bagi perjuangan Surakarta untuk mengusir orang-orang asing yang semakin dalam mencengkeram tanah ini” Wajah Kiai Danatirta dan Ki Dipanala menegang. Dengan nada rendah Kiai Danatirta bertanya “Apa yang telah terjadi?“ Juwiringpun menceriterakan apa yang telah terjadi di peperangan dengan singkat. Beberapa orang Senapati terpilih di Surakarta telah gugur dan terluka, di pihak manapun mereka berdiri. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya menunduk sementara suaranya menjadi parau “Jadi Pangeran Ranakusuma telah gugur?“ “Ya” jawab Juwiring “Aku melihat saat-saat ayahanda menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tetapi aku mencoba untuk berbangga. Justru ayahanda yang sebelumnya menempuh jalan yang salah, pada saat terakhirnya, ia telah berdiri di pihak yang benar” Ki Dipanala mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian desisnya “Aku telah mengabdi di kapangeranan untuk waktu yang lama. Meskipun aku termasuk orang yang dibenci, tetapi aku merasa bahwa Ranakusuman adalah rumahku sendiri. Aku sudah menyaksikan yang manis, tetapi juga yang paling pahit di Ranakusuman. Dan di saat-saat terakhir segalanya harus terjadi. Pangeran Ranakusuma gugur di peperangan, sementara Raden Ayu mengalami kejutan jiwa. Dan kini, kita semuanya menghadapi satu masalah yang tidak kalah beratnya. Rara Warih jatuh ke tangan orang-orang yang memusuhi Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwir ing”“Yang terjadi, sudah terjadi” desis Kiai Danatirta “mar ilah kita berbuat sesuatu dengan landasan kenyataan ini untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya” Juwiring menar ik nafas dalam-dalam, sementara Ki Dipanala berkata “Memang sulit untuk mendera perasaan sendiri. Tetapi aku ingin mencoba untuk mempergunakan nalar sebaik-baiknya” “Marilah kita mencobanya” berkata Kiai Danatirta “sekarang kita harus mulai menilai keadaan dengan kenyataan yang kita hadapi. Padepokan ini tidak akan dapat memberikan ketenangan lagi” “Ya” desis Ki Dipanala “Kita memang harus pergi. Tetapi bagaimana dengan Rara Warih” “Aku belum dapat mengatakan sesuatu” jawab Kiai Danatirta “tetapi kita akan berusaha. Sementara itu kita harus membuat satu keadaan dimana kita masih dapat berusaha” “Aku mengerti maksud ayah” sahut Juwiring “Kita lebih dahulu memikirkan kemungkinan untuk menyelamatkan diri” “Ya” sahut Kiai Danatirta “Kita harus segera meninggalkan padepokan ini. Sebentar lagi padepokan ini tentu akan dikepung oleh kekuatan yang lebih besar. Kedua prajurit yang membawa Rara Warih itu akan mengatakan segala-galanya. Bahkan mungkin yang tidak pernah terjadipun akan dikatakannya” “Baiklah ayah” jawab Juwiring “tetapi bagaimana dengan orang-orang itu“ “Biar lah mereka kita tinggalkan di sini” jawab Kiai Danatirta. “He“ Raden Juwiring terkejut “Apakah maksud ayah, mereka akan kita lepaskan begitu saja?““Ya. Kita tidak mempunyai cara lain. Kita tidak akan dapat menawan mereka dan membawa kemana kita pergi” jawab Kiai Danatirta “dan sebaliknya kita t idak akan dapat membunuh mereka semuanya” Wajah Juwiring menjadi tegang. Tetapi ia tidak segera dapat mengatakan, apa yang sebaiknya harus dilakukannya. Memang benar seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, bahwa mereka tidak akan dapat membawa orang-orang itu kemana mereka pergi. Sebaliknya, merekapun t idak akan dapat membunuh mereka yang telah menyerah itu. Dalam pada itu, Buntal dan Arumpun termangu-mangu. Merekapun merasa bahwa tidak adil untuk melepaskan orang- orang itu begitu saja. Tetapi juga tidak akan dapat melakukan yang lain seperti dikatakan oleh Kiai Danatirta. Dalam pada itu. Kiai Danatirtapun berkata “Dalam keadaan yang wajar, kita akan dapat melakukan sesuatu yang lebih baik dan masuk akal. Jika kita menangkap satu dua orang penjahat, maka kita akan dapat menyerahkannya kepada yang berkewajiban. Tetapi dalam keadaan seperti ini, tidak. Dan kitapun tidak berniat untuk menghakimi dan menghukum mereka sendiri” Ketiga anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Bahkan Ki Dipanalapun ikut mengangguk-angguk pula. Sebenarnyalah ia mempunyai perasaan seperti ketiga anak-anak muda itu. Apalagi iapun merasa, bahwa hampir saja nyawanya direnggut oleh orang-orang itu, seandainya Juwiring, Buntal dan Arum tidak segera datang. Bahkan dua di antara mereka telah mengambil Rara Warih. Puteri Pangeran Ranakusuma yang dengan susah payah telah dibawa menyingkir dari istana Ranakusuman. Namun demikian, Ki Dipanala tidak akan dapat membantah keputusan Kiai Danatirta. Apalagi keputusan itu memang dapat dimengerti. Seandainya ia menolak, maka ia harus dapat menunjukkan cara yang lebih baik.Namun dalam pada itu, mereka akhirnya mengambil keputusan seperti yang dimaksud oleh Kiai Danatirta. Mereka akan segera meninggalkan padepokan itu, sementara para prajurit dari pasukan berkuda yang telah mereka kalahkan itu akan mereka tinggalkan di padepokan. Tetapi agar orang-orang itu tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya mengikuti jejak mereka yang akan dapat menjadi petunjuk bagi orang-orang berikutnya yang akan mencari mereka, maka Kiai Danatirta tidak berkeberatan, jika kuda-kuda dari prajurit-prajurit berkuda itu dilepaskan dan justru di singkirkan dari padepokan itu. Demikianlah, ketika keputusan itu sudah bulat, maka Kiai Danatirtapun kemudian bangkit dan keluar ke pendapa diikuti oleh Ki Dipanala dan ketiga anak-anak muda yang telah bergabung dengan pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Ketika mereka keluar dari pintu yang menyekat ruang dalam dan pringgitan, maka mereka melihat orang-orang yang telah menyerah itu masih tetap berada di tempatnya. Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, tidak seorangpun yang melarikan dir i meskipun kesempatan terbuka. Bahkan tanda- tanda untuk itupun sama sekali tidak nampak. Seolah-olah mereka adalah cantrik-cantrik padepokan yang patuh menunggu Kiai Danatirta keluar dari Sanggar untuk member ikan petunjuk-petunjuk tentang ilmu kanuragan dan ilmu kaj iwan. Dalam pada itu, Kiai Danatirta dan Ki Dipanala serta ketiga anak-anak muda itupun duduk di antara orang-orang yang telah menyerah itu dengan sikap wajar, seolah-olah tidak ada batas di antara mereka. Namun justru karena itu, maka para prajurit dari pasukan berkuda itu telah menundukkan kepalanya.“Bagaimana keadaan kawan-kawan kalian yang terluka?“ bertanya Kiai Danatirta. Seorang yang tertua di antara mereka menjawab meskipun dengan ragu-ragu “Nampaknya mereka menjadi lebih tenang Kiai” “Yang paling parah adalah yang terluka melintang di dada” berkata Kiai Danatirta “Yang nampaknya adalah pemimpin kalian” “Ya. Ia adalah pemimpin kami” jawab prajur it itu. Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian beringsut mendekati orang yang terbaring di pendapa itu. Juwiring menahan nafasnya Ialah yang telah menggoreskan pedangnya di dada orang itu. Namun dalam keadaan yang khusus, maka hal itu dapat saja terjadi. Jika ia tidak berbuat demikian, maka mungkin ia sendirilah yang akan mengalami luka parah seperti itu. Namun nampaknya obat yang diberikan oleh Kiai Danatirta mempunyai pengaruh pula atas orang itu. Darahnya telah mampat, dan bahkan kemudian orang itu telah membuka matanya. “Tenanglah” berkata Kiai Danatirta “Jangan bergerak, agar lukamu tidak berdarah lagi“ Orang itu mengedipkan matanya. Semakin lama semakin jelas, bahwa orang yang duduk di sebelahnya adalah Kiai Danatirta. Namun nampaknya Kiai Danatirta itu tidak berbuat apa-apa atasnya. “Tidurlah jika mungkin” berkata Kiai Danatirta “beristirahat adalah satu satu obat yang baik bagimu Ki Sanak”Orang itu tidak menjawab. Tetapi matanya sajalah yang berkeredipan. Namun dalam pada itu, nampak betapa pertanyaan yang kisruh telah beraduk di dalamdadanya. Sementara itu, Kiai Danatirtapun kemudian berkata kepada para prajurit itu “Ki Sanak. Tidak sebaiknya aku tetap berada di padepokan ini. Sudah aku katakan, bahwa para cantrik telah meninggalkan padepokan ini. Yang tinggal hanyalah aku berdua dengan Ki Dipanala. Sebenarnya ada orang ketiga, Rara Warih yang telah dibawa oleh kedua orang kawanmu yang telah melarikan dir i lebih dahulu. Sebenarnya nyawa Rara Warih lebih berharga dari nyawa kalian semuanya. Tetapi kami tidak dapat membunuh kalian. Hendaknya kalian menjadi saksi. Bahwa sikap ini adalah sikap prajurit Pangeran Mangkubumi” Orang tertua di antara prajurit itu bertanya “Jadi Kiai akan pergi kemana?“ Kiai Danatirta tersenyum. Jawabnya “Kami memang tidak dapat Biarlah mempercayai kalian sepenuhnya. Karena itu, kami t idak akan dapat menjawab, kemana kami akan pergi” Orang itu mengangguk-angguk. Katanya “Maaf Kiai. Kami mengerti, bahwa kami memang pantas untuk dicurigai. Karena itu terserahlah kepada Kiai” “Baiklah. Kami mohon diri. Kami titipkan padepokan ini kepada Kalian. Aku yakin, bahwa sebentar lagi akan datang kawan-kawan kalian, setelah kedua orang yang membawa Rara Warih itu sampai ke kota” berkata Kiai Danatirta. Prajurit-prajurit itu terheran-heran. Salah seorang dari mereka bertanya “Kenapa Kiai menitipkan padepokan ini kepada kami? Kami terikat dengan tugas kami, sehingga kami harus kembali ke Surakarta” Kiai Danatirta tertawa. Katanya “Jika kalian harus pergi, pergilah. Tetapi barangkali ada satu pekerjaan yang dapat kalian lakukan. Sebutlah, bahwa aku minta tolong kepadakalian, untuk membagi ternak dan semua binatang peliharaan di padepokan ini kepada orang-orang di sekitar padepokan ini. Kami tidak dapat atau katakan tidak sempat melakukannya. Kami cemas, bahwa tidak lama lagi kawan-kawan kalian akan datang dan bermaksud menangkap kami seperti yang kalian lakukan. Hidup atau mati. Sehingga dengan demikian kami akan terpaksa bertempur lagi. Kami terpaksa untuk mempertahankan dir i. yang barangkali agar tidak dibunuh maka kami akan membunuh saudara-saudara kami yang berkulit sawo” Para prajurit itu tidak menjawab. Tetapi sebagian dari mereka telah tersentuh hatinya meskipun mereka tidak mengatakan sesuatu. “Nah” berkata Kiai Danatirta “waktunya telah tiba. Sebelum kawan-kawanmu datang, kami akan menanggalkan padepokan ini” Para prajurit itu hanya dapat mengangguk-angguk saja sementara Kiai Danatirta berkata selanjutnya “Tetapi maaf Ki Sanak. Kami terpaksa untuk menghalau kuda-kuda kalian, karena pertimbangan-pertimbangan tertentu yang barangkali tidak masuk akal” Para prajurit itu terkejut. Tetapi sebagian dari mereka menyadari bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa, sehingga karena itu, maka merekapun hanya berdiam diri saja. Namun ternyata salah seorang dari mereka berkata “Kuda- kuda itu milik kami Kiai. Kiai tidak wenang untuk melakukannya” “Kami hanya menjaga keselamatan diri kami” jawab Kiai Danatirta. “Itu berarti bahwa Kiai hanya mementingkan dir i sendir i. Jika Kiai mau pergi, pergilah. Tetapi jangan mengganggu milik kami. Apalagi hal itu semata-mata karena Kiai hanyamengenal kepentingan dir i sendir i saja” berkata prajurit itu pula. “Tutup mulutmu“ Arumlah yang membentak “Kau kira apa yang kau katakan itu berarti bagi kami” Prajurit itu benar-benar merasa terhina. Apalagi ternyata bahwa anak muda itu seorang gadis. Namun sebelum ia berkata sesuatu Arum mendahului “Ingat. Kami dapat membunuh kalian jika kalian mengatakan bahwa kami hanya mengenal kepentingan diri sendiri” Para prajurit itu termangu-mangu. Namun prajurit itu masih membantah “Lalu apakah keuntungan kalian dengan menghalau kuda-kuda kami” “Tidak seorangpun di antara kalian akan dapat mengikuti kami atau Setidak-t idaknya mengetahui arah kepergian kami setelah kami keluar dari padepokan ini” jawab Kiai Danatirta “Tetapi bagaimana dengan kami. Kami bukan penghuni padepokan ini. Kami harus kembali ke Surakarta” desis prajurit itu pula. “Berjailan kaki” bentak Arum yang marah “atau bunuh diri saja di sini setelah kalian gagal membunuh kami. Ingat, kalian akan membunuh kami. Dan kami hanya menghalau kuda-kuda kalian. Atau kau memang minta dibunuh saja?” Prajurit itu benar-benar tersinggung. Tetapi ia menyadari keadaannya, sehingga karena itu, maka wajahnya sajalah yang menjadi merah padam. Namun dalam pada itu, terdengar desis perlahan “Dengar perintahku” Prajurit itu berpaling. Yang lainpun berpaling pula. Ternyata pemimpinnya yang terluka itu telah membuka matanya dan berbicara betapapun lir ihnya. Seorang di antara para prajurit dari pasukan berkuda itu mendekat. Dan pemimpinnya yang terluka itu berkata “Dengar perintahku“ ulangnya “Apapun yang akan dilakukan oleh KiaiDanatirta, kalian tidak wenang lagi membantah, karena kita semuanya adalah tawanannya” Prajurit-prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian prajur it yang tersinggung oleh sikap Arum itupun dengan hati yang sangat berat, harus menerima perintah itu. Apalagi iapun menyadari, bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa betapapun hatinya bergejolak. Dalam pada itu, sebenarnyalah Arum benar-benar menjadi marah kepada prajurit yang seorang itu. Tetapi iapun harus menahan hati. Seandainya ia tidak terikat oleh perintah ayahnya, maka ia tentu sudah bertindak atas prajurit yang saru Sebenarnyalah, bahwa Kiai Danatirtapun kemudian berkata “Sudanlah, kami akan berangkat. Sekali lagi aku minta tolong agar segala binatang peliharaan di padepokan ini dapat diserahkan, atau biarlah orang-orang di sekitar padepokan ini datang sendiri untuk mengambilnya, meskipun dengan demikian diper lukan pengawasan agar mereka tidak saling berebutan” “Baiklah Kiai” jawab prajurit yang tertua “kami akan mencoba melakukannya” Betapapun terasa suasana yang ganjil di hati anak-anak muda Jati Aking itu, namun merekapun tidak berbuat sesuatu, karena mereka memang tidak dapat menunjukkan penyelesaian yang lebih baik, seperti juga Ki Dipanala.Karena itu, maka merekapun segera berkemas. Sejenak kemudian mereka telah berada di halaman dengan kuda masing-masing. Sementara itu, Buntal dan Juwir ing telah melepaskan semua kuda dari ikatannya. Sejenak kemudian, Juwiring dan Buntalpun telah menghentakkan cambuk mereka. Kuda-kuda itupun terkejut dan berlarikan keluar halaman. Apalagi karena Buntal dan Juwiring berusaha untuk menyentuh kuda-kuda itu dengan ujung cambuknya sehingga kuda-kuda itu berlari lebih cepat lagi menjauhi padepokan Jati Aking. Demikian kuda-kuda itu hilang dari halaman, maka Kiai Danatirta dan Ki Dipanala serta ketiga anak-anak muda itupun meloncat naik ke punggung kuda masing-masing. Ketika kuda mereka mulai bergerak, maka Kiai Danatirta masih berkata “Selamat tinggal. Jagalah kawan-kawanmu yang terluka dengan baik Sebentar lagi akan datang orang-orang Surakarta yang akan membawa tabib yang pala baik yang akan dapat mengobati luka- luka itu dengan lebih sempurna. Salamku bagi saudara-saudara kita dari Surakarta. Mudah-mudahan mereka cepat menyadari keadaan Tanah ini yang sebenarnya sehingga mereka tidak akan tersesat semakin jauh. Jika mungkin kalianpun dapat merenungi dir i kalian, apakah juga termasuk kalian sendir i” Para prajurit itu tidak menjawab. Mereka memandangi saja orang-orang yang meninggalkan padepokan itu. Namun dalam pada itu, salah seorang dari para prajurit itu bergumam “Mereka adalah orang-orang gila yang sombong. Mereka mengira bahwa dengan membiarkan kita tetap hidup, mereka dapat disebut sebagai pahlawan kemanusiaan. Tetapi pada suatu saat, jika kita bertemu lagi dengan mereka, maka mereka akan menyesal” Kawan-kawannya memandanginya dengan sorot mata yang aneh. Orang tertua di antara mereka berkata “Kau selalu mengumpat-umpat saja. Kita sudah tidak berhak untukmenentukan apapun juga. Jika mereka menghalau kuda-kuda itu, itu adalah hak mereka. Kau tidak dapat menyatakan keberatan sama sekali” “Kalian tidak membantu aku” desis prajur it itu. “Kau yang keliru. Untunglah ada orang-orang tua yang dapat menguasai anak-anak muda itu. Jika tidak, kita semua sudah menjadi mayat dan terkapar di tengah sawah itu” jawab kawannya. “Itu lebih baik bagiku” jawab prajurit itu. “Kau keras kepala” jawab orang tertua “tetapi kenapa tidak kau lakukan. Ketika kami menyerah, kau ikut pula menyerah. Kenapa kau tidak ingin disebut sebagai pahlawan pula, yang gugur di medan pertempuran melawan para pemberontak” Orang itu menggeretakkan giginya. Katanya “Kalian terlalu lemah sehingga kalian dapat dipermainkan oleh orang-orang padepokan itu. Meskipun kita sudah menyerah, tetapi jika kita bersikap agak keras, mereka tentu akan mendengarkan” “Bagaimana jika yang terjadi sebaliknya. Anak muda yang ternyata seorang gadis itu nampaknya pendiriannya keras sekali, sementara Raden Juwiring yang kehilangan adiknya itu akan dapat kehilangan pengamatan diri pula” jawab orang tertua “dan adalah satu kenyataan, bahwa kita tetap hidup. Pemimpin kita mendapat pengobatan bersama kawan-kawan kita yang terluka” “Kau sudah terpengaruh” geramprajur it yang marah. “Mungkin demikian. Tetapi mereka ternyata bersikap baik terhadap prajurit Surakarta yang terdiri dari orang-orang berkulit sawo matang seperti kita, karena sebagaimana pesan Pangeran Mangkubumi, para pengikutnya tidak dibenarkan untuk bertindak sewenang-wenang terhadap bangsa sendiri, dimanapun kita berdiri”Kawannya yang marah itu tidak menjawab. Tetapi masih terdengar ia menggeramang. Namun demikian lawannya tidak menghiraukannya lagi. Dalam pada itu, kuda-kuda mereka telah dihalau pergi oleh Juwiring dan Buntal. Karena itu, maka mereka tidak dapat dengan segera kembali ke Surakarta. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, merekapun berharap bahwa sepasukan prajurit dari pasukan berkuda yang kuat akan datang ke padepokan itu, sehingga karena itu. maka mereka sebaiknya memang menunggu. “Sementara kita menunggu, kita dapat melakukan pesan Kiai Danatirta” berkata prajurit tertua di antara mereka. “Aku tidak sudi melakukan” desis prajurit yang marah itu. Prajurit tertua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Apa salahnya kita berbuat baik bagi orang-orang di sekitar padepokan ini. Jika kita membagi ternak yang ada di padepokan ini, maka mereka tentu mengira, bahwa kitalah yang berbaik hati kepada mereka” “Tetapi apakah kita tidak memperhitungkan satu kemungkinan, bahwa orang tua itu dengan sengaja membuat kita untuk tinggal di sini lebih lama lagi, sementara itu ia memanggil orang-orangnya lebih, banyak lagi untuk beramai- ramai membantai kita di sini” jawab prajurit yang marah. “Kau sudah kehilangan nalar” jawab kawannya yang Jain “jika ia ingin membunuh, hal itu sudah dapat dilakukannya. Ia tidak perlu menawarkan agar kita menyerah. Mereka dengan mudah akan dapat membunuh kita seorang demi seorang. Tetapi hal itu tidak dilakukannya. Ia minta kita menyerah. Dan kita sudah diperlakukan dengan baik” “Omong kosong” jawab kawannya yang marah “tetapi aku tidak mau berbuat apa-apa”“Biar lah ia tidak berbuat apa-apa” jawab kawannya yang lain “Kita dapat membagi semua binatang peliharaan di padepokan ini atas nama kita sendiri. Orang-orang padukuhan akan berterima kasih kepada kita” “Yang penting” berkata orang tertua “binatang peliharaan itu tidak mati kelaparan. Sementara orang-orang padukuhan akan mendapatkan tambahan binatang peliharaan. Marilah, siapa yang ingin ikut bersama aku memanggil beberapa orang padukuhan terdekat dan menyerahkan binatang-binatang yang ada kepada mereka” “Tetapi kita belum tahu, binatang apa saja yang ada di padepokan ini” desis seorang prajur it “Kita akan dapat melihatnya” jawab orang tertua itu. Demikianlah orang tertua itu telah menghubungi pemimpinnya yang terluka. Namun agaknya obat Kiai Danatirta telah banyak menolongnya. Meskipun ia masih sangat lemah, tetapi ia sudah dapat memberikan pertimbangan. Katanya lirih “Lakukanlah. Sambil menunggu kawan-kawan kita yang tentu akan datang. Lambat atau cepat” Kedatangan para prajurit yang tidak mengenakan cir i-ciri keprajuritan di padukuhan terdekat dan mengaku orang kebanyakan itu telah memanggil beberapa penghuni padukuhan itu, “Kiai Danatirta telah pergi” berkata para prajurit itu “kamilah yang diserahi padepokan itu. Tetapi kami tidak akan dapat berbuat banyak. Karena itu, kami mengambil kebijaksanaan untuk membagi saja ternak yang ada di padepokan ini bagi kalian dengan maksud dapat dipelihara sebaik-baiknya” Orang-orang padukuhan itupun berterima kasih kepada prajurit-prajurit itu. Namun masih ada juga yang bertanya“Apakah Kiai Danatirta tidak akan marah akan hal ini?“ ”Tidak. Segalanya kami lakukan atas ijinnya. Bahkan pesannya sebelum ia pergi” jawab prajurit tertua itu. Demikianlah, terjadi seperti yang dikehendaki oleh Kiai Danatirta. Namun prajurit yang marah itu masih saja berkata “Itukah yang kalian lakukan atas nama kalian sendir i? Orang- orang itu masih bertanya juga tentang Kiai Danatirta. Bahkan mereka langsung atau tidak langsung menuduh kalian telah melampaui hak orang tua itu” Tetapi kawan-kawannya tidak menghiraukannya. Mereka melakukannya seperti yang dimaksud oleh orang tua itu. Dalam pada itu, maka dua orang prajur it berkuda yang membawa Rara Warih telah memasuki kota. Mereka sama sekali tidak menghiraukan, beberapa orang memperhatikan mereka dengan curiga. Apalagi karena mereka tidak mengenakan pakaian keprajur itan. Namun orang yang sekuda dengan Rara Warih telah mengancam gadis itu untuk berbuat lebih jauh j ika gadis itu melakukan sesuatu yang dapat menarik perhatian orang banyak. “Jika seseorang bertanya, aku akan mengatakan bahwa aku membawa seorang gadis yang sakit” berkata penunggang kuda itu. Rara Warih memang tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sadar bahwa prajurit itu dapat membunuhnya atau dapat berbuat apa saja sehingga akan mencelakainya lebih dari mati. Namun demikian, iapun sadar bahwa di Surakarta ia akan menghadapi persoalan yang gawat. Meskipun ia tidak tahu pasti, namun ia mengerti, bahwa ayah dan kakaknya mempunyai satu sikap yang khusus terhadap kumpeni. Agaknya karena itulah maka para prajurit itu telah memburunya sampai ke padepokan Jati Aking” Namun Rara Warih yang sadar bahwa ia adalah puteri seorang Senapati, telah berusaha menempa dirinya sendir i,sehingga ia harus tabah menghadapi segalanya. Ia tidak boleh kehilangan akal dan merengek-rengek. Tetapi pada suatu saat ia harus menunjukkan sikap sebagaimana sikap seorang puteri Senapati besar dari Surakarta. “Aku bukan lagi gadis ingusan yang kehilangan golek mainan” berkata Rara Warih di dalam hatinya “tetapi aku adalah seorang yang telah dewasa dan harus menghadapi semua persoalan dengan dewasa pula. Termasuk menghadapi kematian” Rara Warih sama sekali tidak berbuat apapun juga. Karena itu, maka prajur it-prajurit itupun tidak berbuat lebih kasar lagi kepadanya. Meskipun demikian ketika kedua orang prajurit itu berkuda di jalan-jalan kota, beberapa orang telah memandang mereka dengan penuh pertanyaan. “Gadis apakah yang telah dibawa oleh kedua orang itu “desis salah seorang di antara mereka. Namun ketika seseorang meludah di pinggir jalan ketika mereka melihat seorang gadis berkuda bersama seorang laki- laki, maka prajur it yang berkuda bersama Rara Warih itu berteriak “Adikku sedang sakit parah. Ia harus dibawa keseorang dukun yang pandai” “O“ orang yang meludah itupun berteriak “maaf, aku tidak tahu” Demikianlah kedua orang prajurit itu telah membawa Rara Warih ke baraknya, ke barak pasukan berkuda. Kedatangan mereka benar-benar telah mengejutkan beberapa orang. Gadis itu sangat cantik, sehingga beberapa orang telah mengerumuninya dengan serta merta. Namun kedua prajurit yang membawanya itu telah memberikan keterangan singkat, sehingga dengan demikian kawan- kawannya segera beringsut meninggalkannya “Gadis ini puteri Pangeran Ranakusuma. Kami berhasil menangkapnya di padepokan Jati Aking”Hanya beberapa orang sajalah yang kemudian berdiri di sebelah menyebelah kedua orang prajur it yang datang dari Jati Aking itu. Salah seorang perwira muda bertanya “Kau memang luar biasa. Kau telah berhasil melakukan satu tugas yang besar. Sebaiknya gadis itu kau hadapkan kepada Panglima pasukan berkuda” “Ya” jawab kedua prajurit itu ”aku memang akan menyerahkannya. Mungkin para pemimpin pasukan berkuda akan dapat mengambil satu sikap tertentu” Perwira muda itu memandang Rara Warih sejenak Namun perwira itu menjadi heran dan kemudian kagum Pada wajah gadis itu sama sekali tidak terlintas perasaan cemas dan takut. Gadis itu berdiri tegak dengan sorot mata yang tajam memandangi setiap orang yang berada di sekitarnya. “Marilah puteri” berkata prajurit berkuda itu “Kita akan menghadap para pemimpin pasukan berkuda” Rara Warih tidak menjawab. Tetapi ia melangkah dengan langkah tetap mengikut i prajurit berkuda yang membawanya dari Jati Aking, sementara seorang yang lain berjalan di belakangnya. Beberapa orang pimpinan tertinggi pasukan berkuda yang kemudian diberitahu bahwa dua orang prajurit akan menghadap dengan membawa puteri Pangeran Ranakusuma, telah memerintahkan memanggil mereka dan membawa puteri itu bersama mereka. Seperti saat-saat kemudian Rara Warih memasuki ruang para pemimpin pasukan berkuda dengan wajah tengadah. Bahkan ternyata di antara mereka telah dikenalnya sebagai kawan dekat kakandanya, Raden Juwiring. “Marilah diajeng“ seorang perwira muda mempersilahkan. Rara Warih memandang perwira muda itu yang ternyata juga seorang kawan Raden Juwiring.Rara Warih termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian duduk diisebuah tempat duduk kayu yang dialasi dengan kain beludru berwarna ungu. Seperti kain beludru yang banyak terdapat di istana Pangeran Ranakusuma. “Diajeng” berkata perwira muda itu “adimas Juwir ing sempat membuat kami semuanya menjadi kacau di medan perang” Rara Warih sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia t idak menundukkan kepalanya. “Adalah satu hal yang barangkali baik bagi diajeng sendir i, bahwa dua orang prajurit telah membawa diajeng kemari” berkata perwira muda itu “dengan demikian diajeng dapat diselamatkan dari segala macam noda perjuangan yang ada di Surakarta dalam menegakkan wibawa Kangjeng Susuhunan” Rara Warih masih tetap diam. Sementara itu, perwira yang lain telah membawa dua orang prajur it yang berhasil menangkap Rara Warih itu ke sebuah bilik yang lain. “Bagaimana caramu menangkap gadis itu?“ bertanya seorang perwira pimpinan pasukan berkuda. Kedua prajurit itupun mencer iterakan apa yang telah terjadi. Tetapi ternyata bahwa kedua prajurit itu belum tahu bahwa Raden Juwiring telah datang ke padepokan Jati Aking. “Kami tidak menunggu pertempuran di padepokan itu selesai. Kami melihat orang-orang tua yang bertempur melawan kawan-kawan kami sudah tidak berdaya. Karena itu, agar segalanya dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya, maka kami berdua telah mendahului kawan-kawan kami” “Tetapi kawan-kawan kalian itu belum datang” desis perwira itu. “Ya. Tetapi tidak lama lagi mereka akan datang. Kiai Danatirta dan Ki Dipanala tidak akan dapat bertahan lama. Mereka sudah bertempur sambil ber lari-lar i ketika akumeninggalkan padepokan” jawab salah seorang dari kedua prajurit itu. “Yang kalian lakukan ternyata memberikan kemungkinan yang baik untuk menangkap Raden Juwiring. Panglima dari pasukan berkuda tentu akan berterima kasih kepadamu. Bahkan mungkin Panglima Besar yang diangkat khusus untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi, Pangeran Yudakusuma akan member ikan perhatian khusus kepadamu. Meskipun Pangeran Yudakusuma terluka cukup gawat karena senjata Pangeran Ranakusuma yang memiliki kekuatan khusus itu, namun ternyata seorang tabib berhasil mengobatinya dan menyelamatkan j iwanya. Mungkin Pangeran Yudakusuma dalam waktu dekat akan bertindak lebih jauh lagi bersama Kumpeni yang mendendam Pangeran Mangkubumi karena kekalahannya. Dan kau tahu, bahwa sebab terbesar dari kekalahan itu adalah justru pengkhianatan Pangeran Ranakusuma dan puteranya, Raden Juwiring” Prajurit itu mengangguk-angguk. Namun terasa kebanggaan mekar di hatinya. “Tinggalkan Rara Warih. Kami akan memanggilmu dalam keadaan yang khusus. Kami para perwira pimpinan pasukan berkuda mengucapkan selamat atas hasil yang kau peroleh. Dengan Rara Warih sebagai umpan, maka tidak akan terlalu sulit untuk menangkap Raden Juwiring. Ia saat ini termasuk buruan yang penting bagi Surakarta dan Kumpeni“ Kedua prajurit yang berbangga itu mengangguk-angguk. Terbayang di angan-angan mereka, hadiah yang besar yang akan mereka terima dari pimpinan pasukan berkuda, atau dari Pangeran Yudakusuma sendir i dengan kenaikan pangkat dan jabatan, atau gemerincingnya uang dari Kumpeni. “Sekali-sekali aku ingin juga duduk di atas tempat duduk beludru di rumah, dan memberikan kain sutera yang halus kepada isteriku” berkata prajurit itu di dalam hatinya.Dalam pada itu, di ruang lain, seorang perwira yang sudah berambut putih telah memanggil Rara Warih menghadap seorang diri. Demikian Rara Warih memasuki ruangan itu, maka perwira berambut putih itupun dengan tergesa-gesa berdiri dan menyorongkan tempat duduk kepada Rara Warih. “Marilah, marilah ngger“ perwira itu mempersilahkan. “Paman Tumenggung” desis Rara Warih yang sudah mengenal perwira berambut putih itu. Tumenggung yang berambut putih yang terkenal dengan sebutan Tumenggung Watang itu tersenyum sambil menjawab “Ya ngger. Tentu angger mengenal aku dengan baik. Aku adalah salah seorang prajur it yang pernah berada di bawah pimpinan ayahanda puteri, Pangeran Rnakusuma. Aku kagum akan kemampuan ayahanda puteri itu. Sehingga sebenarnyalah di peperangan Pangeran Ranakusuma adalah guruku” Rara Warih tidak menjawab. Tetapi seperti saat ia memasuki barak itu, ia sama sekali t idak menundukkan kepalanya. “Tetapi puteri, pada saat terakhir, telah terjadi perubahan sikap Pangeran Ranakusuma dan juga Raden Juwiring. Nampaknya pengaruh persoalan pr ibadi pada Pangeran Ranakusuma itu demikian besarnya sehingga Pangeran Ranakusuma mengambil satu keputusan yang sangat mencemaskan bagi seluruh Surakarta” berkataTumenggung yang lebih dikenal dengan nama Tumenggung Watang. Rara Warih masih tetap berdiam diri. Namun dalam pada itu, sejenak Tumenggung Watang itupun terdiam. Dipandanginya gadis yang duduk di hadapannya dengan wajah tengadah. Sama sekali tidak menunjukkan kecemasan meskipun ia sudah berada di dalam satu lingkungan yang berbahaya baginya. Namun dalam pada itu, ternyata Tumenggung Watang mengemban satu tugas yang sangat berat baginya. Menurut pertimbangan para perwira pasukan berkuda, Rara Warih nampaknya belum tahu apa yang telah terjadi di peperangan. Berita gugurnya Pangeran Ranakusuma yang sudah sampai pada pimpinan pasukan berkuda dan seluruh prajurit Surakarta, agaknya masih belum diketahui oleh puterinya. Dan tugas untuk memberitahukan hal itu telah diserahkan kepada seorang perwira yang usianya sudah melampaui pertengahan abad. “Apakah benar Rara Warih masih belum mengetahui, bahwa ayahandanya telah gugur?“ bertanya Tumenggung Watang itu di dalam hatinya. Namun bagaimanapun juga puteri itu harus diberi tahu. Kemudian ia akan tetap berada di dalam kekuasaan para prajurit meskipun dalam keadaan yang barangkali harus dipertimbangkan sesuai dengan keadaannya. Karena gadis itu akan dapat dipergunakan untuk memanggil Raden Juwiring yang merupakan buruan bagi Surakarta. Baru sejenak kemudian. Tumenggung Watang itu berkata “Angger, bahwa angger telah bersedia kembali ke Surakarta agaknya telah membuat kami menjadi lebih tenang. Sebenarnyalah kami kewatir, bahwa angger akan mengalami keadaan yang sangat pahit, karena angger telah meninggalkan Surakarta. Mungkin angger telah dibujuk oleh pemomong angger yang bernama Ki Dipanala itu. Namunsebenarnyalah hal itu tidak akan menguntungkan bagi angger. Apalagi bagi masa depan angger. Bukankah masih ada ibunda yang akan dapat mengasuh puteri dengan kasih seorang ibu” Rara Warih memandang wajah Tumenggung itu sejenak. Namun sama sekali tidak nampak kesan khusus di wajahnya. Sehingga dengan demikian maka Tumenggung Watang itupun menganggap bahwa Rara Warih memang masih belum mengetahui bahwa ayahandanya telah gugur. “Karena itu puteri” berkata Tumenggung Watang “untuk sementara puteri akan mendapat pengawalan khusus bagi keselamatan puteri, karena mungkin sekali para abdi di Ranakusuman akan mendendam puteri yang mereka anggap telah berkhianat terhadap ayahanda. Tetapi jangan cemas. Baru kemudian setelah keadaan menjadi semakin baik, puteri akan kami serahkan kembali kepada ibunda, karena saat ini, ibunda angger itu adalah satu-satunya orang tua yang masih ada” Rara Warih mengerutkan keningnya. Tetapi ternyata ia tidak bertanya tentang keterangan Tumenggung Watang bahwa ibundanya adalah satu-satunya orang tuanya, yang menurut tangkapan Rara Warih karena ayahandanya tidak lagi berada di kota. Tetapi yang dikatakan kemudian oleh Rara Warih telah membuat Tumenggung Watang menggeleng- gelengkan kepalanya, “Paman Tumenggung” berkata Rara Warih “Kenapa paman tidak berkata berterus terang. Aku akan menjadi tawanan karena ayahanda dianggap berkhianat bersama kakanda Juwiring. Mungkin aku akan dapat dipergunakan untuk memancing dan kemudian menangkap ayahanda dan kakanda Juwiring. Dengan mengancam akan membunuh aku atau memper lakukan aku dengan kasar, maka paman dan barangkali juga Senapati yang lain mengharap ayahanda atau kakanda Juwir ing bersedia untuk datang menghadap”Tumenggung Watang memandang Rara Warih dengan tatapan mata yang redup. Namun kekaguman telah merayap di dadanya. Rara Warih telah mencerminkan ketajaman perasaan seperti juga ayahandanya. “Jangan beprasangka terlalu buruk, ngger” jawab Ki Tumenggung. “Tidak paman. Yang aku katakan bukan sekedar prasangka. Aku tahu pasti paman dan para Senapati akan berbuat demikian, karena aku bukan lagi anak-anak yang sama sekali tidak tahu menahu apa yang pernah dilakukan oleh para prajurit. Tetapi paman” berkata Rara Warih lebih lanjut “paman tidak akan berhasil berbuat demikian. Ayahanda dan kakanda Juwiringpun berjiwa prajur it. Jangankan aku anaknya yang tidak berarti apa-apa, sedangkan dirinya sendiripun jika perlu akan dikorbankan. Karena itu. jangan berharap bahwa aku akan dapat dipergunakan untuk memancing mereka agar mereka menyerah. Ayahanda dan kakanda Juwiring akan mempunyai pertimbangan seorang prajurit. Bukan pertimbangan seorang ayah dan seorang kakak yang cengeng” Tumenggung Watang menarik nafas dalam-dalam. Katanya seolah-olah bergumam kepada diri sendir i “Aku sudah menduga, bahwa sikap angger mencerminkan sikap ayahanda puteri” Rara Warih mengerutkan keningnya. Namun ketika ia memandang wajah Ki Tumenggung Watang, justru Rara Warihlah yang menjadi heran. Tatapan mata Tumenggung yang berambut putih itu nampaknya menjadi buram. Bahkan ia masih saja bergumam “Angger Warih, bagaimanapun juga aku tetap menganggap bahwa Pangeran Ranakusuma adalah guruku di peperangan. Pangeran Ranakusumalah yang mengusulkan untuk mengangkat aku menjadi Tumenggung sebelum aku dipindahkan untuk menjadi orang terpenting dalam pasukan berkuda di Surakarta sekarang ini”Rara Warih tidak menjawab. Sementara Tumenggung Watang berkata seterusnya “Karena itu ngger, duka yang terjadi di Ranakusuman adalah dukaku, lepas dari apa yang pernah dilakukan oleh Pangeran Ranakusuma pada saat terakhir” Rara Warih mengerutkan keningnya. Tetapi terasa hatinya berdesir lembut “Apa yang sebenarnya ingin paman katakan?“ “Maaf ngger, bahwa aku telah mengetahui sejauh-jauhnya, apa yang telah terjadi di dalam lingkungan keluarga angger, justru karena sikap ayahanda angger itu sendiri” desis Ki Tumenggung. Rara Warih termangu-mangu sejenak. Sementara Tumenggung Watang berkata selanjutnya “Maaf ngger. Bukan maksudku mencampuri persoalan keluarga Ranakusuman. Bukan pula karena aku didorong oleh sifat ingin tahu. Tetapi keterangan yang aku cari dalam waktu singkat ini justru untuk dapat mengambil satu kesimpulan yang benar, tentang apa yang telah terjadi. Aku telah menghubungi beberapa orang termasuk beberapa perwira kumpeni yang mengetahui latar bala kang sikap ayahda angger terhadap kumpeni itu. “Cukup” potong Warih “paman ingin mengungkap rahasia keluargaku untuk melemahkan hatiku. Paman tidak akan dapat memeras aku. Jika paman menghendaki sesuatu dari padaku dengan mempergunakan rahasia itu untuk memeras, maka paman tidak akan berhasil Silahkan mengumumkan apa yang telah paman ketahui. Aku, ayahanda Ranakusuma dan kakanda Juwiring tidak akan berkeberatan. Bahkan ibunda juga tidak akan berkeberatan sama sekali, karena jika benar paman mengetahui keadaan keluargaku sebaik-baiknya, ibunda telah kehilangan kesadarannya” “Tidak puteri. Bukan begitu” sahut Tumenggung Watang “sudah aku katakan ngger. Duka di istana Ranakusuman adalah dukaku sekeluarga. Apakah angger tidak ingat lagi anak gadisku yang sebaya dengan angger, yang bahkanmenurut penglihatanku, angger telah mengenal anak itu itu dengan baik. Bahkan angger bersikap terlalu baik ia terhadapnya” “Apa hubungannya dengan anak gadis paman” bertanya Warih. “Tidak ada ngger” jawab Tumenggung Watang “tetapi sebagai seorang ayah yang mempunyai seorang anak gadis yang sebaya dengan angger, maka aku tidak akan pernah dapat melepaskan ingatanku terhadap anak gadisku pada saat-saat seperti ini. Bahkan aku membayangkan, seandainya yang terjadi atas angger ini terjadi atas anak gadisku, maka anak itu tentu sudah pingsan, dan barangkali ia akan mati membeku” Rara Warih memandang Ki Tumenggung dengan tenang. Namun ia masih menunggu Tumenggung Watang meneruskan kata-katanya “Puteri, betapa beratnya untuk mengatakan kepada puteri, bahwa duka itu datang bagaikan datangnya gelombang laut. Susul menyusul tidak henti-hentinya. Aku tahu, betapa berat duka yang akan angger tanggungkan, namun aku memang harus mengatakannya. Tetapi aku yakin, bahwa angger adalah seorang puteri Senapati Besar yang darahnya mengalir di tubuh angger meskipun angger seorang puteri” Denyut jantung Rara Warih bertambah cepat berdetak. Sementara Ki Tumenggung berkata “Puteri, aku berkata dengan sebenarnya sebagaimana aku berhadapan dengan, anakku sendir i. Sebenarnyalah bahwa ayahanda puteri, tidak akan dapat puteri jumpai lagi unluk selama-lamanya” “Paman“ wajah Warih menegang sejenak. ”Terimalah kabar ini sebagaimana puteri tabah menghadapi keadaan puteri sendiri” desis Tumenggung Watang” Ayahanda puteri, Pangeran Ranakusuma sudah gugur di peperangan”Wajah Rara Warih menjadi semakin tegang. Tiba-tiba saja ia menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Betapapun puteri itu tabah menghadapi kenyataan hidupnya, namun ketika ia mendengar, bahwa ayahandanya telah gugur di pertempuran, hatinya bagaikan runtuh di dalam dadanya. Rara Warih tidak berhasil menahan air matanya yang mengalir semakin deras dari sepasang matanya. Tumenggung Watang menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat Rara Warih menangis, maka matanyapun menjadi panas. Ia adalah seorang Senapati pilihan seperti beberapa orang Senapati lainnya di Surakarta. Tetapi seperti yang dikatakannya, setiap kali, ia teringat akan anak gadisnya yang sebaya dengan Rara Warih. Jika anak gadisnya itulah yang harus mengalami keadaan seperti yang dialami Rara Warih. mungkin j iwanya akan sudah terganggu. “Puteri” berkata Ki Tumenggung kemudian “Puteri adalah seorang gadis yang sangat tabah, karena ketabahan hati ayahanda puteri mengalir pula di dalam dir i puteri. Ayahanda adalah seorang Senapati yang justru akan mendapat kehormatan apabila ia gugur di pertempuran. Selebihnya, segalanya memang harus diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang. Jika ayahanda memang sudah saatnya dipanggil, maka dimanapun juga ia berada, maka akan datang pula saat untuk menghadap itu” Rara Warih mencoba mengusap air matanya. Namun tiba- tiba ia mengangkat wajahnya. Dengan sorot mata yang menyala ia berkata lantang “Paman bohong. Ayah tidak gugur di pertempuran itu. Paman ingin berbuat sesuatu atasku. Mungkin paman ingin mendengar keterangan apapun juga yang paman sangka aku sudah mengetahuinya. Semula paman ingin memeras aku dengan rahasia keluargaku. Tetapi karena paman tidak berhasil, sekarang paman mencoba untukmempengaruhi perasaanku dengan mengabarkan ceritera bohong itu” Tumenggung Watang menarik nafas dalam-dalam. Sikap Rara Warih itu membuatnya semakin pr ihatin. Meskipun ia mengerti, bahwa Rara Warih tidak akan mempercayai siapapun juga yang dianggapnya berdiri berseberangan dengan ayahanda dan kakandanya, namun jika dalam hal ini Rara Warih tidak mempercayainya, maka pada suatu saat, kenyataan itu akan dapat membenturnya lebih parah lagi. Karena itu, maka Tumenggung itupun kemudian berkata sareh “Angger. Apakah keuntunganku dengan berbohong kepada angger tentang hal yang satu ini” “Paman ingin memaksa aku untuk mengikuti segala perintah paman. Dengan berita bohong itu paman berharap bahwa aku akan menjadi putus asa dan tidak lagi mempunyai hasrat apapun juga. Dengan demikian apa yang paman inginkan, mungkin keterangan, mungkin sikap tertentu, akan selalu aku lakukan” sahut Rara Warih. “Tidak ngger” berkata Tumenggung itu lebih lanjut “meskipun angger dapat saja menganggap bahwa aku tidak berpihak kepada Pangeran Ranakusuma, tetapi masih ada perasaanku untuk tidak berbohong dalam hal yang satu ini. Prajurit Surakarta sudah meyakinkan, bahwa ayahanda puteri telah gugur, sampyuh dengan Tumenggung Sindura dan Pangeran Yudakusuma yang bertempur bersama-sama. Namun jiwa Pangeran Yudakusuma ternyata masih dapat tertolong. Rara Warih termangu-mangu sejenak. Sementara itu Tumenggung Watang berkata pula “Angger terlalu berprasangka. Mungkin angger dapat menganggap aku sebagai musuh karena dalam satu dan dua hal aku tidak sejalan dengan Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwir ing. Tetapi dalam pada itu, dalam hal ini dihadapan angger Warih aku adalah orang tua yang barangkali masih dapat dipercaya”Rara Warih memandang Tumenggung itu dengan mata. yang basah. Namun melihat sikap dan pandangan mata orang tua itu, akhirnya Rara Warih mempercayainya, bahwa ayahandanya memang sudah gugur di peperangan. Air mata gadis itu mengalir semakin deras di pipinya. Dalam pada itu terdengar di antara isaknya pertanyaan “Apakah paman mengetahui nasib kakanda Juwir ing” Tumenggung Watang menggeleng lemah. Katanya “Aku tidak mengetahui nasibnya ngger. Tetapi tidak seorangpun yang melaporkan bahwa Raden Juwir ing mengalami cidera. Mungkin Raden Juwiring berhasil bergabung dengan pasukan Pangeran Mangkubumi yang pada saat itu telah hadir pula di medan pertempuran. Lepas dari setuju atau tidak setuju, namun aku kagum akan kerapian rencana Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwir ing” “Dan paman tidak setuju?“ tiba-tiba saja Rara Warih bertanya. Pertanyaan yang tidak diduga sama sekali oleh Tumenggung Watang justru pada saat Rara Warih dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa ayahandanya telah gugur. Tumenggung Watang menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Kadang-kadang kita memang mempunyai pilihan yang berbeda ngger. Tetapi perbedaan itu wajar sekali. Mungkin karena atas tempat kita masing-masing berdiri sudah berbeda. Tetapi mungkin pula karena gambaran kita masing- masing tentang masa depanlah yang berbeda” Ki Tumenggung berhenti sejenak lalu “Tetapi sudahlah. Rasa- rasanya dadaku tidak lagi pepat. Aku sudah berhasil menyampaikan ber ita itu kepadamu ngger, betapapun beratnya. Bagiku kau tetap aku anggap sebagai anakku sendiri. Bahkan aku merasa iri melihat sikap dan ketabahan hati angger yang jauh berbeda dengan anak gadisku sendiri yang sebaya dengan angger” “Lalu, apakah yang akan paman lakukan atasku? Menahan aku atau menyerahkan aku kepada kumpeni yang akanmemer intahkan memasang wara-wara di sepanjang jalan, bahwa Warih, anak gadis Pangeran Ranakusuma sudah tertangkap. Karena itu maka Kumpeni memer intahkan Raden Juwiring untuk datang dan menyerah. Kalau tidak Warih akan di pancung di alun-alun dan kepalanya akan ditanjir di regol Ranakusuman, begitu?“ geram Rara Warih sambil mengusap matanya yang basah. “Jangan begitu ngger” jawab Tumenggung Watang “kami memang harus melindungi puteri segala dendam mereka yang merasa dikhianati oleh Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwiring” “Paman memakai istilah yang salah. Bukan dilindungi, tetapi ditahan untuk kepentingan tertentu” potong Warih. Tumenggung Watang mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah ngger. Aku akan memakai istilah itu. Angger untuk sementara memang harus ditahan. Tetapi percayalah, bahwa aku merasa angger sebagai anakku sendiri“ Rara Warih memandang wajah Tumenggung Watang sejenak. Namun kemudian katanya “Paman akan menganggap aku sebagai puteri paman. Tetapi sudah tentu pamanpun akan bersikap sebagai seorang prajurit” “Bagaimana dengan sikap seorang prajur it?“ bertanya Tumenggung Watang. “Paman akan memper lakukan semua orang sesuai dengan ketentuan yang berlaku menurut angger-angger keprajuritan. Meskipun akan mengenai anak sendiri sekalipun” jawab Warih “dan pamanpun akan mengetrapkannya kepadaku yang paman perlakukan sebagai anak sendir i” Tumenggung Watang mengangguk-angguk. Katanya “Puteri sudah dilambari dengan prasangka buruk terhadap semua orang yang tidak berpihak kepada Pangeran Mangkubumi, atau yang tidak sejalan dengan Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwiring. Tetapi hal itu memangdapat aku mengerti Meskipun demikian sikapku tidak akan berubah” Rara Warih tidak menjawab. Namun setiap kali ia memandang wajah Tumenggung Watang, maka terbersit di dalam hatinya, sebenarnyalah Tumenggung itu berkata dengan tulus kepadanya. “Puteri” berkata Tumenggung itu kemudian ”sekarang, apa boleh buat. Jika puteri lebih senang mempergunakan istilah ditahan. Maka puteri akan aku tahan di dalam tahanan khusus yang akan dijaga sebaik-baiknya. Puteri akan diperlakukan sebagaimana seharusnya dan tidak akan mengalami tindakan- tindakan yang tidak sepantasnya” Rara Warih tidak menjawab. Sejenak kemudian. Tumenggung Watang itupun bertepuk tangan. Dua orang perwira muda memasuki bilik itu dan berdir i tegak menunggu perintah. “Rara Warih harus mendapat perlakuan yang baik” berkata Tumenggung Watang “meskipun ia harus ditahan dan barangkali Pangeran Yudakusuma sendiri akan bertemu dengan puteri itu, namun segalanya harus dapat dipertanggung jawabkan. Aku akan melihatnya setiap saat” “Baik Ki Tumenggung” jawab salah seorang dari perwira muda itu. Demikianlah maka Rara Warih dibawa keluar dari bilik itu. di ruang yang lebih luas Rara Warih hanya melintas saja tanpa berhenti. Beberapa orang perwira yang berada di ruang itu memandanginya dengan sorot mata yang menyala. Kecuali kecantikan wajah Rara Warih, perwira-perwira itupun mengetahui, bahwa gadis itu adalah adik Raden Juwir ing, salah seorang perwira yang disegani dari pasukan berkuda, namun yang ternyata telah berkhianat terhadap pasukannya. Demikian Rara Warih keluar pintu dan turun tangga, maka sebuah kereta telah menunggunya.“Silahkan puteri“ perwira itu mempersilahkan “kami harus mengantar puteri” “Kemana?“ bertanya Rara Warih. “Pada saatnya puteri akan mengetahuinya” jawab perwira itu. Rara Warih tidak bertanya lagi. Iapun kemudian masuk ke dalam kereta itu diikut i oleh kedua orang perwira muda yang duduk di sebelah menyebelah. Sementara itu, seorang sais sudah siap untuk membawa kereta itu ke tujuan” Sejenak kemudian kereta itupun mulai berderap. Rara Warih sama sekali tidak bertanya lagi. Ketika kereta itu keluar dari halaman barak pasukan berkuda, Rara Warih mulai mengenal jalan-jalan kota yang sering dilaluinya. Rara Warih sama sekali tidak dilarang untuk melihat ke luar. Melihat jalan yang dilaluinya. Karena itulah maka Rara Warih tahu pasti arah perjalanan kereta itu. Semakin lama ia berkereta ia menjadi semakin berdebar- debar. ia kenal dengan pasti arah yang dilaluinya. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak bertanya. Ia tetap berteka-teki di dalam hatinya sendir i. Namun akhirnya Rara Warih tidak dapat menahan diri lagi. Ketika kereta ia berbelok memasuki sebuah regol istana yang berhalaman luas, maka iapun berdesis “Ranakusuman” “Ya puteri. Ini adalah istana Ranakusuman” jawab salah seorang dari kedua orang perwira itu. “Untuk apa aku dibawa kemari?“ bertanya gadis itu. “Untuk sementara puteri dimohon untuk t inggal di sini” jawab salah seorang dari perwira muda itu. Wajah Rara Warih menjadi tegang. Ketika kereta itu kemudian berhenti di halaman, maka jantung gadis itu menjadi berdentangan.“Nampaknya istana ini sudah dipergunakan untuk satu keperluan” berkata Rara Warih di dalam hatinya. Namun ia tidak perlu bertanya tentang hal itu. Perwira muda yang duduk di sampingnya itupun berkata “Puteri. Istana Ranakusuman sekarang dipergunakan untuk kepentingan pasukan berkuda. Pimpinan tertinggi pasukan berkuda itu berada di sini” “Siapakah pemimpin tertinggi itu?“ bertanya Rara Warih. “Pimpinan itu sekarang dijabat oleh Tumenggung Watang. Bahkan ia sudah berniat untuk tinggal di istana ini. Tidak untuk memilikinya, dan sudah barang tentu tidak di Dalem Ageng. Tumenggung Watang mengatakan kepada kami agar kami membersihkan gandok sebelah kiri, yang akan dipergunakannya bersama keluarganya yang kecil, agar dengan demikian ia akan dapat menjalankan tugasnya setiap saat. Justru dalam keadaan yang gawat ini” Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Hampir di luar sadarnya ia bertanya “Apakah Tumenggung Watang sudah berada di istana ini?“ “Belum puteri. Sebagaimana puteri tahu, ia masih berada di barak bersama kami. Istana ini baru kami bukan pagi ini. Dan semuanya itu baru rencana. Juga rencana Tumenggung Watang tinggal di sini. Itupun jika ada ijin dar i Kangjeng Susuhunan dan Panglima yang sekarang sedang memimpin perlawanan terhadap Pangeran Mangkubumi.” Rara Warih mengangguk-angguk. Segalanya telah berubah. Tentu baru semalam atau menjelang pagi hari ayahandanya gugur, karena ia tahu ayahandanya dan kakandanya, berada dalam pasukan yang akan menggempur Pangeran Mangkubumi. Sementara itu ayahandanya dan kakandanya Juwiring memang bertekad untuk berbalik melawan kumpeni jika mereka sudah berada di medan.Dalam pada itu, di tangga istana Ranakusuman, dua orang prajurit turun menyongsong. Agaknya mereka sudah diberi tahu, apa yang harus mereka lakukan. Demikian Rara Warih turun dari kereta, maka dua orang prajurit itu mengangguk hormat. Perwira muda yang membawa Rara Warih dengan kereta itupun kemudian menyerahkan gadis itu kepada kedua prajurit yang sudah menunggunya. “Puteri” berkata salah seorang perwira muda itu “untuk sementara puteri dipersilahkan tinggal di istana puteri sendiri” Rara Warih tidak menyahut. Ia sadar, bahwa ia telah ditahan di bekas rumahnya sendiri. Dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi atas dir inya kemudian. Kedua prajurit itu telah mempersilahkan Rara Warih masuk ke ruang di sebelah gandok kanan, di dalam seketheng. Dan sadarlah Rara Warih bahwa tempat itu akan menjadi bangsal tahanan baginya untuk sementara. Ia kenal benar dengan ruangan itu. Dan iapun tahu, bahwa ruangan itu hanya mempunyai satu pintu, sehingga bagi pengawasnya, akan selalu dapat memperhatikan siapa saja yang, keluar masuk bilik itu. Ketika Rara Warih memasuki bilik itu. dilihatnya bilik itu tetap bersih seperti saat ditinggalkannya kemarin. Namun Rara Warihpun kagum melihat kecepatan gerak pasukan Surakarta. Seolah-olah segalanya telah terjadi dan direncanakan berhari-har i sebelumnya. Sementara itu Rara Warihpun mengetahui, bahwa yang terjadi itu tentu dilakukan dengan tiba-tiba. Beberapa saat Rara Warih mengamati Barang-barang yang ada di dalam bilik itu. Tidak ada yang hilang. bahkan tidak ada yang bergeser dari tempatnya.Rara Warih terkejut ketika ia mendengar, pintu berderit. Seorang emban memasuki ruangan itu dan langsung duduk di sebelah pintu. Sambil menunduk hormat emban itu berkata “Puteri. Ampun bahwa aku berada di Ranakusuman baru mulai hari ini dengan perintah untuk melayani puteri. Ampun puteri, jika berkenan di hati puteri, segala perintah akan aku junjung” “Siapa kau?” bertanya Rara Warih" “Aku adalah seorang emban dari katumenggungan, Aku adalah seorang abdi Tumenggung Watang yang mendapat perintah untuk melayani puteri” jawab emban itu. Tetapi Rara Warih menarik nafas dalam-dalam sambil berkata “Baiklah, Mungkin aku memerlukanmu. Tetapi bukan kebiasaan seorang emban di istana ini untuk membawa patrem seperti yang kau lakukan. Aku tidak tahu, apakah kebiasaan itu ada di istana paman Tumenggung Watang, atau kau adalah seorang prajurit perempuan yang harus mengawasi aku di sini? Atau setiap perempuan di Surakarta sekarang memang telah bersedia patrem agar j ika pasukan paman Mangkubumi memasuki Surakarta kita semuanya akan membunuh diri” Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Baru kemudian ia dapat menjawab “Ampun puteri. Dalam keadaan yang gawat ini segalanya memang dapat terjadi, Dan karena itu agaknya, kami para emban diperintahkan untuk membawa patrem yang aku sendir i tidak tahu gunanya” Rara Warih mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah emban. Aku percaya kepadamu. Mungkin aku memer lukan banyak pertolonganmu, karena aku adalah seorang tahanan di rumah ini. Bukan lagi sebagai seorang gadis yang tinggal di rumahnya sendir i” “Sebaiknya puteri t idak merasa demikian. Agar puteri tidak mengalami tekanan batin, anggaplah puteri berada di istana sendiri seperti hari-hari kemarin. Apa yang puteri perlukanakulah yang akan melayaninya” jawab emban itu “sebentar lagi akan aku bawa pakaian puteri yang berada di ruang dalam. Pakaian yang tidak sempat puteri bawa ketika puteri meninggalkan istana ini” “Nah, apakah dengan cara itu aku akan dapat merasa di rumah sendir i?“ bertanya Rara Warih. “Bukankah ada aku, yang akan dapat puteri perintahkan apa saja?“ emban itu menjadi heran. “Jika benar aku harus merasa di rumah sendiri, biar lah aku mengambil sendir i apa yang aku perlukan seperti yang selalu aku lakukan sebelumnya” berkata Rara Warih. “Itu tidak per lu puteri. Karena sekarang ada aku. Puteri dapat memer intah apa saja yang puteri kehendaki”? sahut emban itu. Rara Warih tertawa betapapun pahitnya. Katanya “Karena itu, jangan kelabui aku seperti kanak-kanak emban. Katakan sajalah bahwa aku harus menurut segala ketentuan yang dibuat oleh orang-orang yang berkuasa di sini, dan kau adalah seorang prajurit perempuan yang harus mengawasi aku. Tetapi aku berterima kasih bahwa kau sudah bersedia berlaku seperti seorang emban yang akan melayani aku. Sebelumnya aku minta maaf, bahwa aku akan berbuat terlalu kasar pada suatu saat, sebagaimana aku berbuat terhadap emban yang sebenarnya” Emban itu menarik nafas panjang. Dipandanginya Rara Warih sejenak. Kemudian katanya “Puteri mempunyai tanggapan yang sangat tajam. Tetapi puteri sangat menyenangkan. Puteri mengatakan apa yang tersirat di hati puteri. Dengan demikian maka keterbukaan hati puteri akan mempermudah pelayananku terhadap puteri” “Aku terbiasa dengan sikap ini” desis Rara Warih.“Justru karena itu, sebaiknya aku tidak usah ingkar tentang diriku sendir i. Tetapi aku mohon puteri dapat menganggap aku sebagai sebenarnya emban disini. Jangan segan dan jangan merasa aku orang lain” berkata emban itu. “Baiklah. Tetapi apakah kau mengetahui, dimanakah para abdi di Ranakusuman ini?“ bertanya Rara Warih. “Keluarga Ki Dipanala telah pergi. Dan ini sudah puteri ketahui. Yang lainpun telah meninggalkan istana ini pula. Masih ada dua orang abdi yang tinggal. Seorang juru taman dan seorang juru madaran, yang agaknya tidak mempunyai keluarga lain lagi di padesan” jawab emban itu. Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk iapun bergumam “Kasihan mereka yang harus tercerai berai” Lalu iapun bertanya “bagaimana caraku untuk memanggilmu?“ “Aku berada di bilik sebelah, puteri, Puteri dapat langsung memanggil aku. Aku tentu mendengarnya. Gebyok ini tidak terlalu rapat sehingga t idak akan dapat menyekat suara serapat-rapatnya” “O“ Rara Warih mengangguk-angguk. Namun dengan demikian ia menjadi semakin yakin, bahwa orang yang menyebut dir inya emban itu adalah seorang prajur it yang dengan sengaja di tempatkan di sebelah biliknya untuk mengawasinya. “Puteri” berkata orang yang menyebut dirinya emban itu “aku tidak seorang dir i. Tetapi aku berdua dengan seorang emban yang masih muda, meskipun masih lebih tua dari puteri. Emban itu pandai bermain gatheng dan dakon. Mungkin ia akan dapat menjadi kawan puteri” “O“ Rara Warih mengangguk-angguk “dimana ia sekarang?““Ia baru berada di belakang puteri. Sebentar lagi ia akan menghadap. Perlakukan ia seperti puteri memperlakukan aku, seorang emban” berkata perempuan itu. “Emban yang muda itu juga membawa patrem?“ bertanya Warih. Perempuan itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil berkata “Tidak. Tidak puteri. Ia tidak membawa patrem” “Bagus. Sebab patrem sebenarnya adalah alat untuk membunuh diri. Jika emban muda itu membawanya, maka aku ingin meminjamnya barang sebentar” berkata Rara Warih. Tetapi emban itu menjawab “Puteri. Aku yakin, bukan watak puteri untuk melakukan perbuatan terkutuk itu. Puteri adalah seorang yang sangat tabah dan berani” “Kau memuji aku“ Rara Warih tersenyum masam. “Tidak puteri. Bukan maksudku. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya” jawab emban itu, lalu “Sudahlah puteri, aku akan kembali ke dalam bilik. Biarlah kawanku yang muda itu datang menghadap sambil membawa dakon dan kecik” “Bawa kelungsu. Aku lebih senang mempergunakan kelungsu” jawab War ih. Perempuan itupun kemudian ber ingsut dan keluar dari bilik Rara Warih. Setelah menutup pintu dari luar, maka iapun melangkah ke pintu bilik di sampingnya. Namun tiba-tiba saja langkahnya berhenti. Dipandanginya pintu bilik yang tertutup. Seorang prajurit muda yang mengawasinya dari kejauhan mendekatinya sambil bertanya “Bagaimana pendapat bibi?” “Ia anak yang sangat baik” jawab perempuan yang menyebut dir inya seorang emban itu ”aku senang terhadapnya. Namun ia akan dapat juga berbahaya. Tetapi justru karena itu aku tertarik untuk merawatnya. Ternyataseperti yang dipesankan oleh beberapa orang bahwa puteri itu memiliki sifat-sifat ayahandanya. Cerdas, tanggapannya tajam dan agaknya juga keras hati, meskipun nampak juga sifat- sifatnya yang manja” “Gadis itu cantik sekali” desis prajurit muda itu. “Ya. Karena itu bekerjalah dengan baik, agar kau cepat menjadi seorang Tumenggung. Kau akan dapat melamarnya” desis perempuan itu sambil tersenyum. “Sampai ubanan aku t idak akan dapat menjadi Tumenggung” jawab prajur it muda itu. Perempuan yang menyebut dirinya emban itu tersenyum. Katanya “Siapa tahu nasib seseorang” namun kemudiaii “tetapi kau jangan mengganggu momonganku itu. Aku senang kepadanya. Dan aku akan menjaganya baik-baik” “Agar ia tidak melar ikan dir i” potong prajurit muda itu. “Tidak. Ia tidak akan melarikan diri. Tetapi aku akan menjaganya seperti aku benar-benar seorang emban. Karena aku memang senang kepadanya” Prajurit muda itu tidak menjawab lagi. Namun sejenak kemudian, maka iapun segera meninggalkan perempuan yang juga melanjutkan langkahnya kembali ke biliknya. Dalam pada itu, ternyata di barak para prajurit berkuda beberapa orang perwira menjadi cemas, bahwa kawan-kawan prajurit berkuda yang berhasil membawa Rara Warih itu belum kembali. Menurut laporan kedua orang prajur it yang membawa Rara Warih, maka nampaknya kawan-kawannya akan dapat segera menyelesaikan tugasnya. Mereka akan segera. dapat menangkap Kiai Danatirta dan Ki Dipanala, hidup atau mati. Dalam kegelisahan itu. maka seorang perwira telah memanggil kedua orang yang membawa Rara Warih itu menghadap.“Kita akan mendapat hadiah” desis salah seorang dari mereka, “Ya. Dan kenaikan pangkat” jawab yang lain. “Dan hadiah uang atau Barang-barang berharga dari Kumpeni” berkata yang pertama. Keduanya tertawa. Mereka memang benar-benar menantikan untuk mendapat hadiah berupa apapun juga. Derajat, pangkat atau uang atau apapun karena mereka merasa telah berjasa dapat menangkap Rara Warih yang akan sangat besar artinya bagi usaha penangkapan Raden Juwiring jika ia masih hidup. Tetapi ketika keduanya memasuki sebuah ruangan, yang ada di dalam ruangan itu hanyalah seorang perwira muda yang berwajah muram. “Bagaimana dengan kawan-kawanmu“ perwira itu langsung bertanya kepada kedua orang prajurit Itu. Kedua orang prajurit itu sudah mulai kecewa. Nampaknya mereka tidak akan demikian cepatnya menerima hadiah. Yang ditanyakan oleh perwira muda itu justru kawan-kawannya. “Menurut penilaianku, pekerjaan mereka tidak terlalu berat” jawab salah seorang prajurit itu “mereka bertujuh melawan dua orang tua-tua yang tidak berarti” “Kenapa hanya tujuh?“ bertanya perwira itu. “Aku berdua, sedang seorang di antara kami terluka” jawab salah seorang dari kedua prajur it itu. “Kenapa seorang kawanmu terluka? Jika pekerjaan itu tidak terlalu berat, maka tentu tidak akan ada kawanmu yang terluka” berkata perwira muda itu. Kawanku itu terlalu lengah. Ia menganggap kedua orang tua itu tidak akan berdaya sama sekali untuk melawannya. Akhirnya tubuhnyalah yang terkoyak oleh senjata. Namunkemudian pemimpin kami memerintahkan semuanya bertempur melawan kedua orang itu, kecuali kami berdua yang diperintahkan untuk meneliti keadaan padepokan. Pertempuran tidak ber langsung terlalu lama ketika kedua orang itu melarikan diri keluar padepokan yang kemudian dikejar oleh ketujuh orang di antara kami. Sebenarnyalah menurut perhitungan kami keduanya akan segera dapat diselesaikan” Perwira muda itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Jadi apakah menurut perhitunganmu, mereka seharusnya sudah kembali saat ini?“ “Ya. Menurut perhitunganku, mereka harus sudah kembali sekarang ini” jawab salah seorang dar i kedua orang itu. Perwira itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Bagaimana menurut pertimbanganmu? Apakah mungkin ada orang lain yang ikut campur dalampersoalan ini?“ “Laskar Pangeran Mangkubumi?“ bertanya salah seorang prajurit itu. “Mungkin laskar Pangeran Mangkubumi. tetapi mungkin juga laskar Raden Mas Said” jawab perwira muda itu. “Memang mungkin mereka bertemu di perjalanan atau mungkin laskar itu tersesat di padepokan” berkata prajurit itu “tetapi nampaknya tidak mungkin. Mereka masih sibuk untuk menarik diri dari daerah pertempuran” “Kaupun menganggap mereka tidak berdaya” jawab perwira muda itu “baiklah, kita menyiapkan sekelompok prajurit berkuda untuk melihat mereka. Kita akan membawa pasukan yang kuat dengan beberapa orang penghubung yang akan dapat melakukan tugas dengan cepat jika terjadi sesuatu di perjalanan”Kedua orang prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang bertanya “Jadi, siapa sajakah yang akan pergi?“ “Aku akan membawa duapuluh lima orang, termasuk kau berdua” jawab perwira muda itu. Kedua prajurit itu menjadi berdebar-debar. Ternyata mereka tidak segera menerima hadiah, tetapi justru tugas yang cukup berat. Perjalanan ke Jati Aking bukan perjalanan yang sangat panjang. Namun kemungkinan-kemungkinan yang paling buruk akan dapat terjadi di sepanjang jalan. Nampaknya perwira muda itu melihat keseganan pada sikap orang itu. Karena itu maka katanya “Kalian adalah penunjuk jalan yang paling baik” Hampir di luar sadar salah seorang menjawab “Hampir setiap prajurit berkuda pernah melihat Padepokan Jati Aking” “Kalian berdualah yang baru saja datang dari padepokan itu. Karena itu. kalian aku perintahkan untuk ikut serta. Aku sendiri yang akan memimpin pasukan itu” - 


Jilid 22
Kedua prajurit itu tidak akan dapat ingkar lagi. Mereka harus berada di dalam satu kelompok prajurit yang akan pergi ke Jati Aking untuk melihat keadaan kawan-kawan-mereka, beberapa orang prajurit yang seharusnya sudah kembali ke Surakarta Ketika kemudian mereka bersiap-siap membenahi dir i, kuda-kuda mereka dan senjata masing-masing, maka salah seorang dari kedua orang itu berdesis “Surakarta telah terbakar oleh api peperangan. Setiap jengkal tanah di luar kota telah berubah menjadi bara. Dan kita akan masuk ke dalamnya” Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita adalah prajurit. Apapun yang akan terjadi, kita memang harus melakukannya j ika itu memang. tugas dan kewajiban. Namun menjelajahi daerah yang juga menjadi daerah jelajah Pangeran Mangkubumi atau Raden Mas Said, rasa-rasanya memang mengerikan. Bulak-bulak panjang rasa-rasanya telah berubah menjadi jalur jalan menuju ke kuburan”Yang lain mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bagi para prajurit Surakarta, pecahnya perang melawan Pangeran Mangkubumi yang tidak dapat menahan kesabarannya lagi itu merupakan hantu yang selalu membayangi mereka siang dan malam. Jika semula masih ada keseganan Raden Mas Said terhadap pamandanya, sehingga untuk beberapa saat kegiatannya agak mereda, maka pada saat terakhir sikap Pangeran Mangkubumi justru seperti menyiramkan minyak ke dalam api yang sudah redup itu, sehingga api itu akan menyala semakin besar membakar langit Surakarta Namun Senapati muda yang akan memimpin sepasukan prajurit pergi ke Jati Aking itu seolah-olah t idak mengerti, apa yang telah terjadi. Karena itu maka ia sama sekali tidak menjadi gentar. Dengan membawa duapuluh lima orang prajurit berkuda terpilih, maka Senapati muda itupun meninggalkan baraknya atas ij in pimpinan pasukan berkuda. “Pasukan berkuda adalah pasukan terbaik di Surakarta” berkata Senapati muda itu “meskipun jumlah pasukan berkuda terhitung sedikit di Surakarta, tetapi yang sedikit ini harus menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang terpilih. Sikap Raden Juwiring telah menaburkan noda atas pasukan berkuda, sehingga kepercayaan para Panglima atas pasukan ini menjadi susut. Adalah kewajiban kita untuk mengangkat kembali nama baik dar i pasukan ini” Para prajurit dari pasukan berkuda itu merasa bangga akan kelebihan mereka. Namun meskipun demikian, setiap mereka menyadari keadaan, maka hati merekapun menjadi berdebar- debar, betapapun mereka adalah prajur it terbaik. Meskipun demikian mereka harus dapat melakukan tugas mereka melampui prajurit dar i kesatuan yang lain. Dengan dada tengadah prajur it-prajurit dari pasukan berkuda itu berderap melalui jalan-jalan kota. Kemudian merekapun menuju ke pintu gerbang yang dijaga ketat pada saat-saat yang panas itu. Beberapa orang yang melihatpasukan itu lewat, merasa bangga sehingga merekapun yakin, bahwa kota Surakarta tidak akan disentuh oleh peperangan. “Tidak seorang pemberontakpun yang akan dapat memasuki kota berkata orang-orang itu di dalam hatinya.” Sementara itu, prajurit dari pasukan berkuda itupun telah melewati gerbang kota. Dengan pandangan acuh tidak acuh mereka sekilas melihat para prajurit yang bertugas di pintu gerbang. Bahkan salah seorang pemimpin kelompok di bagian paling belakang dari iring- iringan itu berdesis “Apa kerja kalian sebenarnya di situ? Tidur?“ Prajurit yang bertugas di pintu gerbang itu tidak segera menangkap maksudnya. Karena itu tidak seorangpun yang menjawab. Baru kemudian, ketika mereka menyadari arti dari kata-kata itupun, maka beberapa orang telah mengumpat. Seorang prajurit yang berkumis lebat menggeram “Anak setan yang sombong. Dikiranya hanya prajurit dari pasukan berkuda saja yang mempunyai arti bagi Surakarta?“ Kawannya yang bertubuh kecil yang berdiri di sampingnya meraba hulu pedangnya sambil berkata “Aku sanggup melawan dalam perang tanding setiap orang dari prajurit berkuda itu” “Suatu ketika mereka akan mengakui, bahwa mereka bukan prajurit yang paling baik di Surakarta. Bahkan sebagian dari pasukan itu justru sudah berkhianat” gumam yang lain. “Ya. di bawahi pimpinan Senapati muda yang bernama Juwiring itu” sahut yang bertubuh pendek. Kawan-kawanya tidak menyahut lagi. Namun nampak di wajah mereka, perasaan tidak senang melihat kesombongan prajurit dari pasukan berkuda itu, seolah-olah mereka adalah prajurit-prajurit yang memiliki kelebihan dari prajurit-prajur il yang lainDalam pada itu, iringan prajur it dari pasukan berkuda yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil itupun berpacu ke padepokan Jati Aking. Mereka semakin mencemaskan keadaan kawan-kawanya yang ternyata masih belum kembali. Ketika iring-ir ingan prajurit dari pasukan berkuda itu mendekati padepokan Jati Aking, maka mereka memper lambat lari kuda mereka. Bahkan kemudian Senapati muda yang memimpin pasukan berkuda itupun memer intahkan dua orang untuk mendahului ir ing-ir ingan itu. “Awasi keadaan di seputar padepokan itu“ perintah Senapati muda itu “aku akan membawa seluruh pasukan ini memasuki padepokan. Beri isyarat jika kau melihat sesuatu yang mencur igakan” Kedua prajurit itupun mendahului pasukannya dan mencoba memperhatikan keadaan di hadapan mereka. Nampaknya mereka tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, sehingga merekapun sama sekali tidak memberikan isyarat. Demikian Senapati muda dengan pasukannya memasuki pintu gerbang halaman padepokan, maka. kedua orang prajurit itupun tinggal di sebelah menyebelah regol untuk mengamati keadaan yang mungkin tidak menguntungkan. Dalam pada itu, ketika iring- iringan itu memasuki halaman, Para prajurit itupun segera melihat beberapa orang yang duduk di tangga pendapa. Iring-iringan itu ternyata telah menumbuhkan kegembiraan setelah sekian lama mereka menunggu. Rasa-rasanya mereka sudah berada di padepokan itu bertahun-tahun tanpa ada seorangpun yang menengoknya. Sejenak kemudian, Senapati muda itupun telah mendengar laporan tentang peristiwa yang terjadi di padepokan itu. “Orang dungu“ geram Senapati itu “kalian adalah prajurit dari pasukan berkuda. Apakah kalian yang berjumlah lebih. banyak itu tidak mampu mengalahkan mereka?“”Apapun yang dapat kami katakan, namun kenyataannya memang demikian” jawab orang tertua dari para prajurit yang sudah kehilangan kuda itu. “Aku hampir tidak percaya” sahut Senapati muda yang marah itu. “Kami memang terlalu lemah” berkata prajur it yang berbeda sikap dari kawan-kawannya “Aku mencoba menunjukkan harga dir i dari para prajur it dari pasukan berkuda. Tetapi kawan-kawanku t idak berbuat demikian” “Mereka pantas dihukum” suara Senapati muda itu menjadi gemetar menahan gejolak hati. “Terserahlah” jawab prajurit tertua “justru pemimpin kami telah terluka parah” “Prajurit dari pasukan berkuda tidak mengenal menyerah” bentak Senapati muda itu. “Kami tidak dapat berbuat lain” jawab orang tertua “dan pendapat itu menjadi semakin mantap melihat sikap dan tingkah laku isi padepokan ini Sebagaimana kau lihat, kami tidak terkapar sebagai mayat di sini” “Mereka telah terbius oleh sikap manis” sahut prajurit yang berpendirian lain itu seolah-olah para pengikut Pangeran Mangkubumi adalah malaikat-malaikat berhati seputih kapas” “Jangan menjadi gila” desis orang tertua itu. “Bukan karena ada pasukan berkuda yang datang menolong kita, tetapi aku sudah mengatakan sejak tadi” sahut prajurit itu. “Seharusnya kalian bersikap jantan“ Senapati muda itu masih marah" “tetapi untunglah, Setidak-tidaknya masih ada seseorang yang berhati baja. Tetapi karena tidak ada orang lain yang mendukung sikap itu, maka ia tidak akan dapat bertahan”“Pasukan berkuda sudah dihinakan“ geram prajur it itu “dan sebagian di antara kita ikut pula mencemarkannya” Dalam pada itu, Senapati yang marah itpun bertanya “Kemana isi padepokan ini pergi?“ “Kami tidak mengetahuinya” sahut orang tertua. “Kami seharusnya mengetahui” sahut prajur it yang berpendirian lain “tetapi kami sama sekali tidak berusaha untuk mengetahui. Meskipun demikian, kuda mereka tentu akan meninggalkan jejak” “Jangan bodoh” potong Senapati muda itu “Kita tidak akan mengambil keputusan yang akan dapat menjerat leher kita sendiri. Tetapi seandainya kita mengikuti jejaknya, apakah kita masih akan mungkin dapat menyusulnya?“ Orang tertua itu menggeleng “Tidak mungkin. Yang mungkin adalah, bahwa iring-ir ingan kita yang menelusuri jejak itu akan masuk ke dalam perangkap Pangeran Mangkubumi” “Kau takut?“ bertanya Senapati itu. “Senapati seharusnya sudah mengenal aku di peperangan. Namun baiklah aku menjawab bahwa aku memang takut” jawab orang tertua itu. Wajah Senapati itu menjadi merah. Namun kemudian ia harus menahan diri. la memang mengenal prajur it tertua itu dengan baik. Ia adalah prajurit yang tidak pernah merasa gentar di medan yang bagaimanapun juga Jika ia mengaku takut, tentu ada alasan yang kuat yang mendorongnya untuk berkata demikian, “Senapati” berkata prajurit tertua itu “Kita harus menilai medan sebaik-baiknya” “Ia merasa berhutang budi” sahut prajurit yang bersikap lain“Kami tidak dibunuh oleh penghuni padepokan ini. Perbuatan itu adalah perbuatan yang paling sombong. Tetapi ternyata juga mengandung racun yang sangat tajam bagi prajurit Surakarta, karena kami yang berjiwa lemah akan merasa berhutang budi, sehingga kami yang berjiwa lemah itu akan berceritera kepada siapapun juga, termasuk kepada para prajurit dari pasukan berkuda, bahwa para pengikut Pangeran Mangkubumi adalah orang-orang yang baik hati dan berperikemanusiaan tinggi” Orang tertua yang berhasil dikalahkan oleh penghuni padepokan itupun menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Aku adalah seseorang yang masih berjantung. Aku tidak ingkar, bahwa aku memang mempunyai kesan yang demikian. Tetapi aku tidak pernah merasa bersalah karena kesan itu. Bahkan kadang-kadang aku bertanya kepada diri sendiri, apakah yang akan aku lakukan, jika aku mendapat kesempatan menawan beberapa orang pengikut Pangeran Mangkubumi Apakah aku dapat juga berjiwa besar seperti pengikut Pangeran Mangkubumi menghadapi lawan-lawannya” “Kita berada pada kedudukan yang berbeda” jawab Senapati itu “Pangeran Mangkubumi adalah seorang pemberontak. Semua pengikutnya juga pengkhianat. Sedangkan kita adalah prajurit Kerajaan. Perlakuan terhadap pengkhianat dan terhadap prajurit Kerajaan memang harus berbeda. Pengkhianat memang harus dibunuh, sementara kita dilindungi oleh anger-angger, bahwa seorang prajurit yang telah menyerah tidak akan dibunuh” Prajurit Surakarta yang tertua yang tidak berhasil menangkap Juwiring itu tertawa. Katanya “Itulah sikap seorang prajurit. Masalahnya bukan angger-angger. Tetapi bagaimana warna jantung kita. Apakah kita masih mengenal warna? Apakah kita masih mengenal dir i kita sendiri sebagai bangsa? Sama sekali bukan karena seorang prajurit yang menyerah tidak dapat dibunuh Seandainya para pengikutPangeran Mangkubumi membunuh kami yang menyerah, tentu tidak akan ada akibat apapun yang akan menjadikan mereka lebih buruk lagi keadaannya. Membunuh atau tidak membunuh, mereka adalah orang-orang yang berkhianat. Membunuh atau tidak, mereka dapat dibunuh tanpa harus dibuktikan kesalahan mereka. Karena itu, yang terjadi bukannya karena angger-angger, tetapi semata-mata karena kebesaran jiwa. Pangeran Mangkubumi mengajari pengikutnya untuk mengerti, bahwa lawan yang sebenarnya bagi mereka bukannya orang-orang yang kulitnya sewarna. Tetapi musuh utamanya adalah kumpeni” Wajah Senapati itupun menjadi tegang. Tetapi iapun kemudian menghentakkan kakinya “Omong kosong. Jangan gurui aku. Sebenarnyalah kau telah diracuni oleh sikap manis dan karena itu, maka kau telah merasa berhutang budi kepada mereka“ “Senapati” berkata orang tertua itu “aku tidak akan menolak. Tetapi karena di sini masih ada pemimpin kami, meskipun terluka parah, namun ia masih akan dapat member ikan keterangan” “Persetan” geram Senapati itu “iapun tentu merasa berhutang budi seperti kau. Ditaburkannya pasir lembut dilukanya, dan ia sudah merasa diobati, dimaafkan dan bahkan ditolong jiwanya. Orang- orang berjiwa kerdil. Bersiaplah Kita akan kembali ke Surakarta”“Kami tidak mempunyai kuda lagi” sahut prajurit yang berbeda sikap itu. “Kemana kuda kalian?“ bertanya Senapati itu “dirampas oleh orang-orang yang baik hati itu? Ternyata harga jiwa kalian tidak lebih dari harga kuda kalian. Mereka menghidupi kalian dan menganggap kalian tidak berarti, bagi mereka” “Tidak Senapati” jawab orang tertua itu “kuda-kuda itu telah dihalau untuk menghidarkan kemungkinan yang kurang menguntungkan bagi mereka, Mungkin satu dua orang di antara kita akan mengikuti mereka atau Setidak-tidaknya melihat arah kepergian mereka. Atau perbuatan-perbuatan lain yang tidak mereka kehendaki” “Gila” geram Senapati itu “orang-orang Pangeran Mangkubumi memang orang-orang gila. Mereka dapat merampas kuda itu dan mempergunakannya. Tetapi nalar mereka t idak akan sampai sekian panjangnya” “Karena itu, kami tidak akan dapat kembali berkuda ke Surakarta desis prajurit itu. “Kalian dapat berjalan kaki” bentak Senapati itu tiba-tiba “Kalian memang tidak mengenakan pakaian keprajuritan. Tetapi jika demikian akan memerlukan waktu yang terlalu panjang” Senapati itu berhenti sebentar lalu “ambil kuda yang ada di padukuhan Jati Sar i. Berapapun yang ada” Wajah orang tertua itu menjadi tegang. Katanya “Kita akan merampas milik rakyak kita sendiri?“ “Kita memer lukannya” jawab Senapati itu. “Mereka juga memerlukannya” jawab orang tertua itu. “Aku tidak peduli. Tetapi kepentingan kita jauh lebih besar dari kepentingan mereka. Kita menghormati kepentingan seseorang. Tetapi jika kepentingan yang lebih besar menghendaki, maka kepentingan yang lebih kecil itu dapatdikorbankan. Dan malanglah nasib mereka yang kebetulan menjadi korban korban itu” jawab Senapati itu. “Jika demikian, biarlah kami berjalan kaki” jawab prajurit tertua itu “Kami akan membawa kawan-kawan kami yang terluka. Dan kami akan memasuki kota pada saat saat yang manapun juga, bahkan seandainya menjelang dini hari” “Tidak” bentak Senapati itu “ini perintahku. Ambil kuda yang ada di padukuhan Surakarta memer lukan untuk kepentingan yang jauh lebih berarti dari kepentingan mereka sendiri. Kepentingan perseorangan. Tidak perlu kuda yang setegar kuda pasukan berkuda. Kuda yang kerdil sekalipun akan dapat dipergunakan, karena larinya tentu akan lebih cepat dari jika kalian berlari- lari kembali ke Surakarta” Bagaimanapun juga, mereka adalah prajurit, Perintah itu tidak dapat dibantah lagi. Karena itu, maka prajurit tertua itu berkata “Baiklah, jika demikian biarlah mereka yang berpakaian prajurit sajalah yang melakukan. Jika kami yang melakukan, maka orang-orang padukuhan itu tentu akan melawan, karena mereka tidak tahu pasti, siapakah kami” “Baik” geram Senapati itu. Lalu perintahnya kepada para prajurit dari pasukan berkuda “pergilah ke padukuhan, dan ambil kuda yang ada. Sedikit-sedikitnya sepuluh ekor” Tidak seorangpun yang mempersoalkan perintah itu. Beberapa orang prajurit segera meninggalkan halaman itu dan pergi ke padukuhan Jati Sari. Semua orang merasa keberatan untuk melepaskan milik mereka, meskipun dengan dalih untuk kepentingan yang lebih besar. Pada umumnya, kuda adalah milik yang berharga, dan yang pada umumnya mempunyai arti yang penting bagi pemiliknya. Namun t iba-tiba mereka harus melepaskan kuda itu kepada orang lain begitu saja. Tetapi mereka tidak dapat menentang kekuasaan Surakarta itu. Dengan hati yang pahit, mereka terpaksa melepaskankuda mereka. Sehingga akhirnya para prajurit itu mendapat genap sepuluh ekor kuda dari segala sudut padukuhan itu. Memang ada di antaranya kuda yang tegar. Tetapi memang ada kuda yang hampir dapat disebut kerdil. Para prajurit itu membawa kuda-kuda rampasan itu ke padepokan Jati Aking dan menyerahkannya kepada para prajurit yang telah datang lebih dahulu ke padepokan itu. “Kami hanya tinggal delapan orang. di antara kami yang tinggal itu telah terluka, sehingga tidak akan mungkin berkuda sendiri” desis orang tertua. “Terserah kepada kalian. Aturlah orang-orangmu. Jika ada kuda tersisa, kuda itu dapat dipergunakan untuk membawa Barang-barang penting di padepokan ini?“ “Maksud Senapati, kita akan merampok isi padepokan ini” bertanya prajurit tertua itu. “Tutup mulutmu” bentak Senapati itu “aku akan membawa semua senjata yang ada di padepokan ini dengan kuda yang tersisa itu” Orang tertua itu menarik nafas dalam-dalam. Jika benar Senapati itu akan membawa senjata saja, tanpa barang- barang lain, ia tidak akan dapat mencegahnya. Sebenarnya, bahwa akhirnya prajurit-prajurit itu menemukan sanggar. Kiai Danatirta. Beberapa macam senjata memang tersimpan di dalam sanggar itu, sehingga Senapati itupun telah memer intahkan mengambil semua senjata dan membawanya ke Surakarta dengan kuda-kuda yang tidak mendapat penunggangnya. Demikianlah, segalanya telah dikemasi Karena itu, maka iringan prajurit dari pasukan berkuda itupun segera kembali ke Surakarta dengan membawa kawan-kawan mereka yang semula tertahan di padepokan Jati Aking karena mereka tidak mempunyai kuda lagi.Meskipun pada umumnya para prajurit yang tidak memakai gelar ke prajuritannya itu merasa senang untuk segera kembali di Surakarta, namun mereka telah mendapat kesan tersendiri atas para pengikut Pangeran Mangkubumi. Rasa dendam dan permusuhan yang sebelumnya menyala di dalam dada mereka, rasa-rasanya menjadi pudar, seperti api lampu yang kehabisan minyak. Meskipun ada juga di antara mereka yang justru merasa terhina oleh sikap para pengikut Pangeran Mangkubumi itu. Dalam pada itu, maka dengan membawa mereka yang terluka, iring-ir ingan itupun menuju ke kota. Beberapa orang yang menyaksikan ir ing-ir ingan itu telah menduga-duga. Bahkan ada yang mengira bahwa orang-orang yang tidak dalam pakaian prajur it itu adalah para pengikut Pangeran Mangkubumi yang berhasil ditangkap oleh para prajurit dan pasukan berkuda. Ketika mereka melewati bulak-bulak panjang, maka merekapun tidak menjadi lengah sama sekali. Pada saat-saat yang tidak mereka perhitungkan, dapat terjadi, pasukan Pangeran Mangkubumi atau pasukan Raden Mas Said yang bercampur baur di medan yang sama itu akan dapat menyergap mereka. Namun ternyata bahwa mereka sama sekali t idak mengalami gangguan sampai saatnya mereka kembali memasuki pintu gerbang. Namun agaknya para prajurit yang bertugas di pintu gerbang telah berganti, sehingga para prajurit yang merasa sakit hati atas sikap sombong prajur it dari pasukan berkuda itu telah t idak ada di tempat. Meskipun demikian, para prajurit yang bertugas itupun merasa kurang senang melihat sikap kawan-kawannya dari pasukan berkuda yang merasa dir inya tebih penting dari pasukan yang lain. Sementara itu, maka Surakarta telah mengambil kebijaksanaan-kebijaksanaan baru. Laporan mengenai RaraWarih yang telah sampai kepada Panglima yang mengatur perlawanan terhadap pembrontakan Pangeran Mangkubumi itu, menganggap bahwa Rara Warih adalah seorang tawanan yang penting. Seperti yang diduga oleh orang-orang yang bersangkutan dengan Rara Warih, maka para pemimpin di Surakarta memang mempertimbangkan untuk mempergunakan Rara Warih untuk memancing Raden Juwir ing. Meskipun Raden Juwiring bukan orang yang dianggap terlalu penting di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi, namun ia akan dapat di pakai sebagai pancadan untuk mencari orang-orang lain yang telah berkhianat di antara pasukan berkuda dan pasukan yang dipimpin oleh ayahnya, Pangeran Ranakusuma. “Mungkin masih ada orang-orang lain yang sengaja ditinggalkan di dalam tubuh pasukan berkuda atau di antara pasukan yang lain” berkata para pemimpin prajurit Surakarta atas pertimbangan kumpeni “karena itu anak muda itu penting bagi kita” Dengan demikian maka para pemimpin Surakarta itu sudah mulai mencari cara untuk memancing Raden Juwir ing agar menyerah dengan taruhan adik perempuannya. “Tetapi hubungan antara kakak beradik itu kurang baik” berkata salah seorang yang mengenal Raden Juwiring. Namun yang kurang mengetahui perkembangan hubungan itu di hari- hari terakhir, sehingga ia tidak mengerti bahwa kedua kakak beradik itu telah menemukan diri mereka masing -masing di dalam hubungan keluarga. “Bagaimana menurut pertimbanganmu?“ bertanya seorang perwira dari pasukan berkuda. “Menurut pengenalanku, keduanya seolah-olah saling bermusuhan” jawab orang yang telah mengenal Raden Juwiring itu “Rara Warih yang kehilangan kakandanya Raden Rudira tidak dapat mener ima kehadiran Raden Juwir ing,karena menurut pendapatnya, Raden Juwiring yang berlainan ibu itu akan merampas ayahandanya dari padanya” “Tetapi menurut laporan dari para prajurit dari pasukan berkuda yang mengambil Rara Warih di Jati Aking, Juwiring marah sekali ketika ia mengetahui bahwa adiknya yang berada di padepokan itu pula telah dibawa oleh para prajurit yang lain” jawab perwira itu. “Mungkin ia marah karena ia merasa terhina. Tetapi aku tidak tahu, bagaimana sikap Rara Warih terhadap kakandanya dan sikap Raden Juwiring apabila sudah diperhitungkan bahwa keadaan adiknya itu tidak menguntungkannya” berkata orang yang mengenal Raden Juwir ing itu. “Maksudmu, Juwiring tidak peduli apa yang akan terjadi dengan adik perempuannya itu?“ bertanya perwira itu “Ya“ “Tetapi kita akan dapat mencoba. Aku akan mengusulkan, agar Rara Warih dipakai sebagai tanggungan untuk menangkap Juwiring. Jika perlu dengan ancaman-ancaman dan janji-janj i” berkata perwira ijtu. “Memang dapat dicoba. Tetapi aku meragukan hasilnya” berkata orang itu. Tetapi para perwira itu masih mempertimbangkan untuk melakukan rencana itu. Bahkan merekapun telah mempertimbangkan kemungkinan sikap keluarga Rara Warih dari pihak ibunya akan mencampurinya “Pangeran Sindurata mungkin akan berusaha membebaskan gadis itu pula” berkata seorang perwira ketika mereka mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas gadis yang tertangkap itu. “Kita mengenal Pangeran Sindurata” berkata seorang perwira yang rambutnya sudah memutih “Biarlah PangeranYudakusuma yang menjelaskan persoalannya kepadanya. Mungkin ia akan mengerti” “Kita akan mengatakan kepadanya, bahwa keselamatan puteri itu akan kita jamin, sehingga tidak akan terjadi sesuatu atasnya selama puteri itu berada di dalam tahanan” berkata perwira yang lain. “Aku setuju. Puteri itu memang per lu ditahan untuk member ikan tekanan agar Juwir ing memperhatikannya” berkata perwira yang lain pula. Ternyata para pemimpin tertinggi di Surakartapun sependapat dengan rencana itu. Karena itu, maka segala sesuatunya sudah diatur dengan cepat. Berita penangkapan dan penahanan itu akan segera disebar luaskan, kemudian panggilan bagi Raden Juwiringpun akan segera diumumkan. Namun Pangeran Sindurata harus dihubungi lebih dahulu. Dalam pada itu, Kiai Danatirta, Ki Dipanala dan anak-anak angkat dari padepokan Jati Aking ternyata menjadi lebih leluasa tanpa Rara Warih. Mereka segera kembali ke dalam pasukan Pangeran Mangkubumi yang bertahan di Gebang. Namun dalam pada itu, Juwir ing t idak dapat melupakan adik perempuannya. Ia membayangkan sesuatu yang sangat menger ikan akan dapat terjadi atas adiknya. Apalagi jika ia jatuh ke tangan kumpeni. Ia masih berharap perlakuan yang baik jika Rara Warih berada di tangan para perwira di Surakarta. Mungkin satu dua orang di antara mereka masih merasa perlu untuk melindungi gadis putera puteri Pangeran Ranakusuma itu, meskipun Pangeran Ranakusuma sendiri oleh beberapa orang di Surakarta dianggap sebagai pengkhianat. “Yang paling parah, ayah” berkata Raden Juwiring kepada Kiai Danatirta “jika Warih tetap berada di tangan para prajurit berkuda dan tidak diserahkan kepada para perwira, atau justru diserahkan kepada kumpeni”“Kita memang harus mencari jalan untuk membebaskannya” berkata Ki Dipanala. “Tetapi jangan kehilangan pertimbangan” sahut Kiai Danatirta “Kita harus membuat perhitungan sebaik-baiknya. Jika kita salah langkah, maka kita akan dapat terjebak” “Tetapi sudah tentu kita tidak akan tinggal diam” sahut Juwiring. “Ya. Aku mengerti” jawab Kiai Danatirta “tetapi jika kita terjebak, maka kita akan mengalami kesulitan ganda. Kita sendiri akan tertangkap, sementara kita tidak akan dapat berbuat apa-apa atas puteri” “Jadi, bagaimana menurut pertimbangan ayah?“ bertanya Juwiring “Kita harus tahu pasti, bagaimana keadaan Surakarta sekarang, kemudian kitapun harus mendapat keterangan pasti, dimana Rara Warih ditahan. Baru kemudian kita menentukan langkah” jawab Kiai Danatirta. “Jika demikian, biarlah aku masuk ke kota” desis Juwiring. “Aku tidak keberatan. Tetapi sebaiknya biarlah orang lain lebih dahulu berusaha mencari keterangan” berkata Kiai Danatirta. “Aku akan dapat melakukannya” potong Buntal “Aku sudah mengenal kota itu serba sedikit. Aku akan dapat berbuat sesuatu” “Biar lah aku saja” berkata Ki Dipanala “Aku masih mempunyai beberapa orang kawan yang dapat dipercaya. Aku akan dapat datang kepadanya dan minta perlindungan barang satu dua hari, sementara aku dapat mendengar dan melihat serba sedikit tentang kota Surakarta” Kiai Danatirta mengangguk-angguk kecil, sementara Juwiring berkata lebih lanjut “Kita harus melakukannya segeraayah. Aku masih mempunyai tugas yang lain dari ayahanda yang masih belum aku lakukan” “Apa?” bertanya Kiai Danatirta, “Menyingkirkan pusaka Tumenggung Sindura yang telah merenggut j iwa ayahanda” jawab Juwiring. Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula.Katanya “Baiklah. Kita harus bekerja cepat. Tetapi tidak dengan tergesa-gesa dan kehilangan segala perhitungan. Karena itu, kita harus berhubungan dengan Ki Wandawa, karena masalahnya akan menyangkut babagan sandi” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat ingkar, bahwa persoalannya memang harus dibicarakan lebih dahulu, agar tidak terjadi salah langkah. Juwiringpun menyadari, bahwa ia tidak dapat mengambil langkah sendiri. Jika ia tertangkap, maka persoalannya tidak akan dapat dibatasi pada dir inya sendiri. Ia adalah salah seorang pengikut Pangeran Mangkubumi yang akan dapat menjadi sumber keterangan tentang pasukan Pangeran Mangkubumi itu” Karena itu, sambil mengangguk-angguk Juwir ing berdesir “Ya. Aku akan menghadap Ki Wandawa untuk minta petunjuk, apa yang sebaiknya harus aku lakukan” Juwiring memang tidak ingin menunda-nunda lagi. Iapun segera menghadap Ki Wandawa untuk mohon petunjuknya, apakah yang sebaiknya dilakukan atas adiknya yang tertangkap itu. “Aku sedang menunggu laporan terakhir tentang keadaan kota Surakarta” berkata Ki Wandawa ”Meskipun aku mengerti, betapa gelisahnya kau, tetapi aku mohon kau tetap bersabar barang satu hari” Juwiring menarik nafas panjang. Betapapun jantungnya bergejolak, namun ia terpaksa mengangguk sambil menjawab“Baiklah. Aku akan menunggu. Selebihnya, jika diperkenankan, aku akan melihat keadaan itu sendiri” “Aku belum dapat menjawab. Dan akupun masih harus mempertimbangkan apakah menguntungkan jika kau sendiri memasuki kota Surakarta” jawab Ki Wandawa. Ia menjadi sangat kecewa. Tetapi ia tidak akan dapat melanggarnya. “Tunggulah” berkata Kiai Danatirta ketika Juwir ing member itahukan kepadanya sikap Ki Wandawa. Yang sehari itu rasa-rasanya bagaikan sebulan penuh. Ketika malam turun, Juwiring tidak dapat memejamkan matanya. Ia selalu berangan-angan tentang adik perempuannya. Karena itu, jantungnya menjadi berdebar-debar ketika di keesokan harinya ia dipanggil oleh Ki Wandawa. “Jangan menentukan sikap sendiri” pesan Kiai Danatirta “Kau adalah seorang prajurit di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi. Karena itu, kau harus mentaati perintah apapun yang kau terima” Dengan hati yang berdebar- debar, Juwiring segera menghadap Ki Wandawa untuk mendapat keterangan tentang adik perempuannya yang berada di tangan prajurit Surakarta. “Raden Juwiring” berkata Ki Wandawa “Yang pertama, kau dapat sedikit menjadi tenang, karena adikmu. Rara Warih telah berada di tangan pimpinan prajurit dari pasukan berkuda di Surakarta. Dengan demikian, ia akan mendapat pelakuanyang dapat diawasi oleh para perwira yang barangkali ada yang sudah dikenalnya dengan baik” Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun masih bertanya “Tetapi apakah mungkin diajeng Warih akan diserahkan kepada kumpeni?“ “Aku tidak dapat meramalkan. Tetapi menurut perhitunganku, adikmu tidak akan diserahkan kepada kumpeni” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih tetap dibayangi oleh kecemasan bahwa orang-orang Surakarta benar-benar telah menjadi kehilangan harga dir inya dan tidak lagi sempat memikirkan kepentingan orang lain. Namun Juwiring masih dapat menahan dir inya sesuai dengan petunjuk Ki Wandawa. Ia masih harus menunggu. Ia mencoba untuk percaya, bahwa justru adiknya telah berada di tangan pimpinan prajurit dari pasukan berkuda, maka nasibnya tidak akan terlalu buruk. “Tetapi apakah yang paling menakutkan itu benar-benar belumterjadi?“ pertanyaan itu masih saja selalu mengganggu. Kepada Kiai Danatirta Juwir ingpun memberitahukan apa yang di ketahuinya. Ternyata bahwa Kiai Danatirtapun menasehatkan. agar ia tetap bersabar sampai ada isyarat dari Ki Wandawa. Namun dalam pada itu, setelah satu dua hari menunggu, Juwiring t idak mendapat kejelasan persoalan adik perempuannya. Karena itu hatinya menjadi semakin gelisah dan berdebar-debar. Bahkan rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu. “Kenapa aku harus menunggu ij in dar i Ki Wandawa?“ geramnya. “Kau terikat oleh kedudukanmu dalam pasukan ini, seperti juga dalamjenjang keprajur itan” jawab Kiai Danatirta.Memang tidak ada jalan untuk menembus langsung ke dalam jantung kota, jika Ki Wandawa tidak mengijinkan. Kecuali jika ia bersedia untuk disingkirkan dar i lingkungan para pengikut Pangeran Mangkubumi. Namun tentu tidak menyenangkan sekali untuk diper lakukan demikian. Ia sudah dianggap tidak patuh terhadap Pangeran Mangkubumi, maka nasibnya tentu akan sangat pahit di dalam pergolakan suasana yang kemelut Itu. Juwiring dan para pengikut Pangeran Mangkubumi itupun kemudian mendapat keterangan, bahwa kumpeni dan para prajurit Surakarta sudah menyiapkan diri untuk bertindak lebih jauh. Mereka sudah mengetahui bahwa Pangeran Mangkubumi berada di Gebang, sementara Raden Mas Said berkedudukan di Penambangan. Namun agaknya kumpeni tidak ingin bertindak tergesa- gesa. Mereka berusaha untuk melihat keadaan secermat- cermatnya. Kegagalan yang pahit hendaknya tidak terulang lagi. Tetapi dalam pada itu, selain berita tentang persiapan kumpeni dan prajurit Surakarta yang akan menyerang Gebang, maka seorang petugas sandi telah membawa berita khusus bagi Raden Juwir ing. Karena itu, maka Raden Juwiring bersama saudara-saudara angkatnya telah dipanggil menghadap Ki Wandawa. “Raden Juwiring” berkata Ki Wandawa “berita yang akan aku sampaikan mungkin mengejutkan, tetapi mungkin pula tidak bagimu” Raden Juwiring menjadi berdebar-debar. Dengan gelisah ia menunggu Ki Wandawa berkata selanjutnya “Seperti yang aku katakan, Rara Warih benar berada di tangan para pemimpin pasukan berkuda Surakarta, sehingga ia mendapat perlakuan yang baik. Para petugas sandi, selain mengamati keadaan dan sikap kumpeni serta sikap Surakarta, merekapun sempatmencari keterangan tentang Rara Warih yang berada di tangan para pemimpin pasukan berkuda” Ki Wandawa itu terdiam sejenak. Kemudian katanya lebih lanjut “bahkan Raden, ternyata bahwa Rara Warih telah ditahan di Istana Ranakusuman.” “Di rumah kami sendiri?“. bertanya Raden Juwiring dengan serta merta. “Ya” jawab Ki Wandawa “istana Ranakusuman sekarang menjadi pusat kepemimpinan prajurit dan pasukan berkuda yang sekarang ini dijabat oleh Tumenggung Watang.” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Wandawa berkata selanjutnya “Bahkan Tumenggung Watang telah tinggal di istana itu pula“ “Tumenggung Watang berada di istana Ranakusuman?” Juwiring menjadi semakin tegang. “Ya. Tetapi ia tidak mempergunakan Dalem Ageng. Ia tinggal di gandok saja bersama keluarganya, Bukankah keluarga Tumenggung Watang termasuk keluarga kecil?” jawab Ki Wandawa. Juwiring mengangguk-angguk. Hal itu adalah wajar sekali. Istana Pangeran Ranakusuma yang dianggap memberontak itu telah dikuasai oleh pasukan berkuda. Sementara adik perempuannya telah ditahan pula di istana itu pula. Dalam pada itu, Ki Wandawapun berkata pula “Selebihnya Raden, yang kita cemaskan memang telah terjadi. Ternyata kumpeni bersama pimpinan prajurit di Surakarta, khususnya dari pasukan berkuda telah menyebar wara-wara khusus ditujukan kepada Raden Juwir ing. “Wara-wara apa itu Ki Wandawa?“ bertanya Juwiring dengan jantung yang berdebar-debar. “Memang menggelisahkan. Tetapi seperti yang sudah berulang kali aku katakan, jangan kehilangan akal” jawab KiWandawa “namun masalahnya sudah kita duga sebelumnya sehingga kita tidak akan terlalu terkejut, karenanya” Juwiring menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi keterangan Ki Wandawa itu memang sudah mengarah, sehingga karena itu, maka iapun sudah menduga, apa yang akan dikatakan selanjutnya. “Raden” berkata Ki Wandawa kemudian “ternyata kumpeni dan pimpinan prajur it dari pasukan berkuda telah membuat wara-wara yang khusus ditujukan kepada Raden, agar Raden bersedia menyerah. Adik perempuan Raden itulah yang akan menjadi taruhan” Raden Juwiring menggeretakkan giginya. Katanya “Mereka memang licik. Kita memang sudah mengira, bahwa akan demikian jadinya. Tetapi sebenarnya aku masih berharap bahwa orang-orang asing itu masih mempunyai harga diri sedikit, sehingga ia t idak akan mengambil jalan yang licik itu. “Ternyata cara itulah yang mereka pergunakan Raden” jawab Ki Wandawa “wara-wara itu sudah disebarkan keseluruh kota. Dalam waktu lima hari lima malam, Raden harus menyerahkan diri Jika tidak, maka Rara Warih akan diasingkan keluar Surakarta” Wajah Raden Juwiring menjadi tegang. Dengan nada berat ia berkata “Jika lewat waktunya, apakah diajeng Warih akan benar-benar diasingkan?“ “Aku kurang pasti Raden” jawab Ki Wandawa “mudah- mudahan hal itu hanya sekedar cara untuk memaksa angger menyerah” “Tetapi bagaimana jika diajeng Warih benar-benar akan diasingkan keluar Surakarta, ke tempat yang tidak diketahui?“ bertanya Juwiring.Ki Wandawa menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Raden Juwiring berkata “Ki Wandawa, nampaknya tidak ada usaha lain yang pantas selain berusaha membebaskannya” “Tetapi Raden harus mengetahui, bahwa Rara Warih berada di istana Ranakusuma. Istana Ranakusuman yang kini dipergunakan sebagai tempat pimpinan pasukan berkuda di Surakarta yang sedang dalam keadaan gawat, sementara Panglima Pasukan berkuda itu sendiri tinggal di istana itu, meskipun hanya di gandok. sahut Ki Wandawa “Segalanya itu harus diperhitungkan. Jika kita salah langkah, maka yang terjadi bukannya puteri itu dibebaskan, tetapi yang ditahan akan bertambah lagi. Apalagi j ika kumpeni atau pimpinan pasukan berkuda berhasil menangkap Raden Juwiring, maka tentu puteri tidak akan dilepaskan, karena Raden tidak datang untuk menyerahkan diri, tetapi Raden justru telah tertangkap” Raden Juwiring mengangguk-angguk. Persoalannya memang rumit. Dan ia tidak boleh bertindak dengan tergesa- gesa. “Raden Juwiring” berkata Ki Wandawa “sudah barang tentu, kami akan membantu Raden. Kita akan bersama memikirkan, cara yang paling baik untuk membebaskan Rara Warih. Jika kami menemukan cara itu, kami akan member itahukannya kepada Raden, tetapi jika Raden melihat satu kemungkinan, maka cepatlah memberitahukan kepada kami. Apa yang kau perlukan, kami akan membantunya, sepanjang menurut perhitungan kami hal itu mungkin dilakukan” “Terima kasih Ki Wandawa” berkata Raden Juwiring “Kami akan berusaha untuk melakukan apa saja yang mungkin untuk membebaskan diajeng Warih. Aku mempunyai tanggung jawab terhadapnya. Sepeninggal ayah anda, maka aku, Saudara tuanya, adalah orang yang seharusnya melindunginya”“Aku mengerti Raden. Sekali lagi aku katakan, bahwa kami di sini akan bersedia membantu, sementara ini para petugas sandi akan tetap mencari ber ita tentang puteri” jawab Ki Wandawa Raden Juwiring dan saudara-saudara angkatnyapun kemudian mohon dir i. Mereka kembali ke pondok mereka yang dihuni bersama Kiai Danatirta dan Ki Dipanala, yang hanya berbatasan pagar dan sekat halaman sempit dengan pondok yang dipergunakan oleh Ki Sarpasrana dengan beberapa mur idnya, yang juga langsung berada di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi. Dengan cemas, Raden Juwiring menyampaikan berita tentang wara-wara itu kepada gurunya. Batas waktu yang terlalu sempit. Lima har i lima malam. Kiai Danatirta dan Ki Dipanalapun menjadi cemas pula karenanya. Dengan suara datar Ki Dipanala berkata “Aku telah gagal melakukan perintah terakhir dari Pangeran Ranakusuma untuk menyelamatkan puteri” “Akupun bertanggung jawab” sahut Juwiring. “Bukan waktunya untuk mencari siapakah yang bersalah” berkata Kiai Danatirta “tetapi yang penting, bagaimana kita dapat menolongnya” Dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Dipanala berkata dengan ragu-ragu “Raden, bagaimana dengan ibunda puteri, Raden Ayu Galih Warit. Apakah masih ada kemungkinan untuk mohon pertolongannya bagi keselamatan puterinya, atau kepada Pangeran Sindurata. Menurut pengamatan beberapa pihak, Pangeran Sindurata masih mempunyai hubungan dekat dengan kumpeni. Mungkin untuk sementara kita akan dapat menitipkan puteri kepada mereka, atau mungkin justru mereka akan dapat mohon puteri untuk tinggal bersama mereka. Nah, nampaknya, di istana Pangeran Sindurata itu segala usaha akan dapat dilakukan lebih mudah”Sekilas terpancar harapan di wajah Raden Juwiring. Namun kemudian ia menjadi ragu-ragu. Katanya “Apakah ibunda Galih Warit masih dapat diajak berbicara? Bukankah ibunda sedang mender ita sakit?“ “Pada saat-saat tertentu, kesadarannya seakan-akan tidak terganggu Raden. Namun sakitnya itu datang kapan saja dengan tiba-tiba, sehingga memang sulit untuk diperhitungkan. Meskipun demikian, dalam keadaan yang wajar, aku kira Raden Ayu masih dapat berbincang dengan Pangeran Sindurata” jawab ia Dipanala. Kiai Danatirta mengangguk kecil. Katanya “Mungkin masih dapat dicoba ngger. Tetapi anggaplah bahwa yang penting kau hubungi adalah Pangeran Sindurata. Jika mungkin, memang perlu berbicara dengan Raden Ayu. Tetapi setidak- tidaknya pengaruh Pangeran Sindurata akan dapat membantu. Pangeran Sindurata akan dapat menjelaskan bahwa cucunya tidak tersangkut kesalahan ayahandanya, sehingga tidak adil jika Rara Warih harus diasingkan ke tempat yang tidak diketahui. Yang pantas dihukum adalah Pangeran Ranakusuma dan Raden Juwiring menurut penilaian orang- orang Surakarta, bukan Rara Warih” Juwiring mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku akan menghadap Pangeran Sindurata Aku akan menyampaikan persoalannya. Meskipun mungkin Pangeran Sindurata telah mendengar bahwa Rara Warih ditahan oleh pimpinan pasukan berkuda, namun mungkin ia belum menguasai persoalannya sehingga Pangeran tua itu tidak berbuat apa-apa” “Tetapi berhati-hatilah” desis Kiai Danatirta “dan bukankah segalanya harus dibicarakan dengan Ki Wandawa? Temuilah Ki Wandawa dan sampaikan rencanamu untuk menghadap Pangeran Sindurata” Raden Juwiring tidak menyia-nyiakan waktu. Iapun segera menghadap Ki Wandawa untuk membicarakan rencananya.“Sekedar melindungi diajeng War ih” berkata Juwiring “Apalagi jika Pangeran tua itu bersedia mengambil diajeng Warih dan menempatkannya di istana Sinduratan. Segala usaha nampaknya akan menjadi lebih mudah” “Apakah kau akan mencobanya?“ bertanya Kiai Danatirta Juwiring termangu-mangu sejenak, Dengan nada rendah ia berkata “tetapi keluarga ibunda Galihwar it sangat membenciku. Aku telah disingkirkan, dan segalanya tentu akan menimbulkan kemarahan” “Tetapi keadaan telah berubah” berkata Ki Dipanala “seperti puteri juga telah berubah sikap terhadap Raden” “Diajeng War ih melihat dan mendengar apa yang telah? terjadi. Kenyataan ibunda Galihwarit telah membuatnya lebih cepat menyadari keadaan dirinya sendiri” jawab Raden Juwiring “karena itu, agak berbeda dengan ibunda Galihwar it sendir i atau eyang Pangeran Sindurata. Apalagi jika Eyang Pangeran mendengar apa yang telah aku lakukan” “Aku dapat melakukannya“ tiba-tiba saja Buntal menyahut “Aku orang yang tidak dikenal di istana itu. Aku dapat menghadap Pangeran Sindurata untuk berbicara tentang puteri Warih” “Tidak“ t iba-tiba Juwir ing memotong “Apapun yang akan terjadi atas diriku, aku tidak peduli. Yang penting ibunda Galihwar it dan eyang Sindurata mengerti apa yang telah terjadi atas diajeng Warih dan bersedia membebaskannya. Jika dengan demikian aku harus ditangkap, maka aku tidak akan berkeberatan”“Tetapi mungkin Ki Wandawa akan berkeberatan” desis Kiai Danatirta. “Aku tidak akan memberikan gambaran apapun juga kepada Ki Wandawa yang akan mengarahkan perhitungannya kepada kemungkinan itu” jawab Juwiring “sementara itu, akupun sudah bertekad untuk bersikap sebagai seorang prajurit Pangeran Mangkubumi. Jika aku tertangkap, aku tidak akan dapat dipaksa untuk berbicara tentang keadaan pasukan ini” “Kau akan mengalami penderitaan yang paling pahit yang pernah terjadi atas seseorang jika kau jatuh ke tangan kumpeni. Kumpeni akan mempergunakan segala cara untuk memerasmu, agar kau berbicara tentang pasukan Pangeran Mangkubumi” desis Buntal. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan” jawab Juwir ing “meskipun demikian, aku memer lukan bantuanmu” “Jika aku mampu melakukannya, aku akan melakukannya” jawab Buntal. “Kita pergi bersama-sama ke istana Pangeran Sindurata“ berkata Juwiring. “Bagus” jawab Buntal dengan serta merta “Aku akan pergi bersamamu” “Aku juga” tiba-tiba saja Arum memotong. Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Sebaiknya kau tinggal bersama ayah di sini Arum. Yang akan kami lakukan di Surakarta adalah satu loncatan ke dalam gelap. Kami sama sekali belum mengetahui apakah yang akan kami jumpai di dalam kegelapan itu” “Apa salahnya kita bersama-sama melakukannya” jawab Arum “Aku seorang perempuan. Mungkin aku akan dapat melakukan lebih banyak dar i kalian dalam penyamaran”Namun Kiai Danatirtapun menengahinya “Kau akan dapat berbuat sesuatu pada saat yang lebih pasti Arum. Tidak dalam keadaan seperti ini. Semuanya masih tidak pasti. Pada keadaan yang demikian, maka sebaiknya kau tidak pergi bersama kedua kakakmu” “Apa bedanya aku dengan kakang Buntal dan kakang Juwiring?“ bertanya Arum. “Ada bedanya” jawab ayahnya “jika kalian tertangkap, maka pender itaan yang akan kau alami, tidak akan sama dengan apa yang akan dialami oleh kedua kakakmu, Rara Warih mungkin masih mendapat perlindungan dar i beberapa orang yang mengenalnya atau yang dalam hubungan keluarga masih mempunyai sangkut paut. Tetapi kau tidak sama sekali. Kau adalah pengikut Pangeran Mangkubumi” “Aku tidak takut” jawab Arum “Aku dapat membunuh diri jika aku harus menghadapi keadaan yang paling pahit itu“ “Kita masih belum terjebak ke dalam keadaan untuk terputus asa. Hal itu dapat dihindari dengan t idak usah membunuh dir i” berkata ayahnya. Lalu “Cara itu adalah, kau tidak usah ikut bersama mereka” Arum menarik nafas dalami. Ia mulai menyadari, bahwa ia masih belum waktunya untuk ikut serta bersama kedua kakaknya. Karena itu, maka katanya “Baiklah. Jika demikian, aku akan mengurungkan niatku. Tetapi pada suatu saat jika kalian memer lukan aku, maka aku akan bersedia melakukan apa saja” “Tentu Arum” desis Juwiring ”perjuangan ini masih sangat panjang. Bahkan untuk membebaskan diajeng Warihpun masih diperlukan pengorbanan tersendir i” “Jika sudah bulat niatmu” berkata Kiai Danatirta kemudian pergilah menghadap Ki Wandawa. Katakan apa yang kaurencanakan. Mungkin ia mempunyai pesan dan nasehat yang akan berarti bagimu” Demikianlah Juwiring dan Buntalpun pergi menghadap Ki Wandawa lagi untuk menyampaikan rencananya. Ternyata Ki Wandawa yang mengetahui betapa gelisahnya hati Juwiring dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai lewat Pangeran Sindurata, maka nampaknya iapun tidak berkeberatan. Namun demikian, ia masih juga berpesan “Raden Juwiring. Pangeran Sindurata adalah seorang Pangeran yang dekat hubungannya dengan Kumpeni. Aku kira ia mempunyai sikap yang sama dengan beberapa orang bangsawan Surakarta yang lain, yang memusuhi Pangeran Mangkubumi. Karena itu, maka kau harus membatasi persoalan. Persoalan yang dapat kau kemukakan kepada Pangeran Sindurata adalah sekedar memberi tahukan keadaan Rara Warih. Serahkan saja pembebasannya kepada Pangeran Sindurata. Meskipun Pangeran itu mempunyai sikap yang sulit dimengerti, tetapi aku kira ia sangat memperhatikan cucunya itu. Apalagi Pangeran Sindurata tentu sudah mengetahui bahwa Pangeran Ranakusuma sudah tidak ada lagi, sehingga ia akan merasa bertanggung jawab akan nasib cucunya” Ki Wandawa berhenti sesaat, lalu “kecuali itu, kaupun harus memperhitungkan bahwa Pangeran itu sudah tahu pula bahwa cucunya ditangkap. Jika kau memberitahukan kepadanya, adalah sebagai suatu usaha untuk memperingatkannya, bahwa Rara Warih adalah cucunya yang sedang mengalami suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Tetapi kaupun harus memperhitungkan, bahwa Pangeran Sindurata itupun dapat dianggap mengetahui bahwa Rara Warih itu ditahan karena kumpeni ingin menangkapmu” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Yang akan dilakukan memang cukup berbabaha. a. Namun Ki Wandawa pun berkata “Tetapi aku masih terharap bahwa Pangeran Sindurata bukan seorang yang licik, yang menganggapkedatarganmu sebagai satu anugerah. Dengan demikian ia tidak akan menangkapmu dan menyerahkanmu kepada kumpeni sebagai satu jaminan bagi pembebasan Rara Warih” Juwiring mengangguk-angguk. Meskipun Ki Wandawa berharap Pangeran itu tidak akan berbuat licik, namun iapun memper ingatkannya, bahwa kemungkinan yang demikian memang ada. Karena itu, maka iapun harus sangat berhati-hati. Segala kemungkinan dapat terjadi. Sementara pesan Ki Wandawa yang terakhir adalah “Namun aku percaya bahwa kailan berdua adalah pengikut Pangeran Mangkubumi yang baik. Karena itu, jika nasib kalian kurang baik, sehingga kalian tertangkap, maka aku berharap bahwa kalian t idak akan banyak berceritera tentang Gebang, Sukawati, Penambangan dan tempat-tempat lain yang pernah kau dengar namanya dan baranglali pernah kau kunjungi” “Aku mengerti Ki Wandawa. Aku mohon restu. Mudah- mudahan aku dapat menemukan jalan untuk membebaskan diajeng Rara Warih” berkata Juwiring yang kemudian mohon diri untuk melakukan rencananya bersama Buntal. Atas restu Ki Wandawa, Kiai Danatirta dan Ki Dipanala maka kedua anak muda itupun mempersiapkan dir i lahir dan batin untuk melakukan satu tugas yang penting dan gawat. Apalagi keduanya memang bukan petugas sandi yang terbiasa melakukan tugas-tugas yang bersifat rahasia. Namun demikian, ternyata dua orang petugas sandi telah mendapat perintah Ki Wandawa untuk mengamati keadaan mereka. “Dimana kami dapat bertemu dengan kalian“ bertanya Juwiring ketika kedua orang petugas itu memperkenalkan diri. Salah seorang dari kedua petugas sandi itu menggeleng. Katanya “Bukan Raden yang mencari kami, tetapi kami yang akan selalu membayangi Raden”“Tetapi jika kami memerlukan kalian setiap saat?” desis Raden Juwiring. “Kami minta maaf, bahwa tidak setiap orang dapat mengetahui tempat persinggahan kami. Bukan kami tidak percaya kepada Raden, tetapi siapa tahu nasib seseorang. Karena itu, lebih baik Raden tidak mengetahui dimana tempat persinggahan kami. Tetapi percayalah, bahwa kami tidak akan terlalu. jauh dari Raden. Memang mungkin kami tidak akan dapat mengawasi Raden jika Raden berhasil memasuki istana Sinduratan. Tetapi Setidak-tidaknya kami mengetahui seandainya Raden tidak dapat keluar lagi dari istana itu, atau satu kesempatan lain yang dapat kami lakukan, meskipun sangat terbatas” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa sifat rahasia dari petugas sandi memang dijaga sebaik-baiknya meskipun di antara lingkungan sendiri. Sehingga dengan demikian maka Raden Juwir ing tidak dapat mendesak lagi. Demikianlah, segala yang direncanakan oleh Juwir ing telah diperhitungkan masak-masak atas persetujuan kedua orang petugas sandi yang mendapat tugas untuk mengamatinya. Juwiring dan Buntalpun menyadari bahwa yang dapat dilakukan oleh petugas sandi itu memang sangat terbatas. Sehingga dengan demikian, maka keduanya akan lebih banyak tergantung kepada kemampuan mereka sendir i Ketika keduanya berangkat menuju ke kota, terasa debar jantung seisi pondok kecil itu. Bahkan Kiai Sarpasranapun telah hadir pula untuk ikut serta melepas mereka. Tidak banyak orang yang mengetahui, apa yang akan dilakukan oleh kedua orang anak muda itu. Seperti tugas sandi lainnya, maka hanya orang-orang terbatas sajalah yang mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kedua orang itu. Arum, seorang gadis yang memiliki kemampuan olah kanuragan itu, melepas kedua kakak angkatnya denganjantung yang berdegupan. Ketika ia memandang keduanya berjalan semakin jauh, maka terasa sesuatu mendesak di pelupuk matanya. Yang pergi itu bukan saja kakak angkatnya. Bukan pula sekedar kawan seperjuangan di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi, tetapi keduanya mempunyai arti yang dalam di perjalanan hidupnya. Juwiring benar-benar bagaikan kakak kandungnya yang banyak memberikan tuntunan kepadanya, sementara Buntal telah menyusup ke dalam dasar perasaannya sebagai seorang gadis terhadap seorang anak muda. Karena itulah, maka kecemasannyapun rasanya menjadi berlipat. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan keduanya. Namun iapun mengerti, bahwa ia t idak akan dapat mencegah keduanya. Arum menyadari keadaannya ketika ayahnya menggamitnya sambil berkata “Berdoalah untuk keduanya. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan mendengarkan permohonan hambanya” Arum mengangguk kecil. Namun terasa kerongkongannya bagaikan tersumbat. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke pakiwan. Pertama-tama ia membersihkan jari-jarinya, kemudian Arum membersihkan mulut, muka, tangan, kepala serta kakinya, kemudian masuk ke dalam biliknya. Seperti kata ayahnya, maka iapun mengangkat tangannya, berdoa kepada Tuhan Sang Pencipta. Dalam pada itu, Juwiring dan Buntal yang telah bertekad untuk mencari jalan agar Warih dilepaskan, sambil berjalan di sepanjang bulak sibuk membicarakan cara yang sebaik- baiknya untuk menghadap Pangeran Sindurata. Keduanya yang bertugas sandi itu telah mengenakan pakaian yang sama sekali tidak memberikan kesan tentang keduanya. Apalagi bahwa seorang di antara mereka adalah putera seorang Pangeran. Keduanya memakai pakaian petani yang lusuh.Tudung kepala yang runcing dan kain yang tinggi di bawah lutut. Namun dalam pada itu, seperti yang telah ditentukan, pimpinan pasukan berkuda memang sudah menghubungi Pangeran Sindurata untuk memberitahukan bahwa Rara Warih ada di dalam tahanan pasukan berkuda. “Apakah kalian sudah gila” bentak Pangeran Sindurata di hadapan tiga orang pewira dari pasukan berkuda “Warih adalah cucuku. Kau sangka ia terpercik dosa ayah dan kakaknya anak bengal itu?“ “Bukan begitu Pangeran” jawab salah seorang dari para perwira pasukan berkuda itu “Kami tahu, bahwa puteri tidak bersalah. Tetapi maksud kami sekedar mempergunakannya untuk memancing agar kakandanya, Raden Juwiring menyerah” “Itulah kebodohan kalian“ Pangeran Sindurata masih membentak “Kau kira kau akan berhasil? Kau sudah mengorbankan kebebasan seseorang, sementara tujuan kalian sama sekali tidak akan dapat kalian capai. Kau kira Juwiring mengerti arti hubungannya dengan Warih. Anak itu sama sekali tidak tahu diri. Ia merasa dir inya jauh melampaui kedudukannya yang sebenarnya. Karena ia dipanggil oleh ayahandanya masuk ke dalam istana Ranakusuman, maka ia menjadi besar kepala, dan menganggap orang lain tidak berarti apa-apa-Aku kasihan kepada cucuku. di rumah ia dianggap orang lain, tiba-tiba saja di luar kesalahannya ia sudah ditahan. Bukankah itu tindak yang sewenang-wenang” “Keadaan puteri sangat baik. Ia berada di istananya sendiri. Tiga orang emban khusus telah melayaninya setiap hari. Apapun yang dikehendaki tentu terpenuhi, kecuali meninggikan istana itu” jawab salah seorang dari para perwira itu.“Jangan kau tipu aku. Aku mengerti, apa yang kau maksud dengan emban khusus itu” Pangeran Sindurata hampir berteriak. “Ya, ya Pangeran. Kami mohon Pangeran dapat mengerti. Bukankah dengan demikian berarti bahwa Rara Warih telah berkorban untuk kepentingan Surakarta. Pada saatnya, jika pemberontakan ini sudah dipadamkan, setiap orang akan mengetahui berapa besarnya pengorbanan Rara Warih” jawab perwira itu. “Omong kosong” geram Pangeran Sindurata “Kenapa kalian tidak berusaha menangkap pengkhianat itu dengan cara lain. Tidak dengan cara yang sewenang-wenang itu terhadap cucu gadisku. Jika ibunya yang jiwanya tertekan itu mendengar, api jadinya? Sampai saat ini ia tidak tahu apa yang terjadi atas suaminya yang pengkhianat itu. Ia juga tidak mendengar bahwa Warih kalian korbankan untuk menangkap pengkhianat kecil itu” Pangeran Sindurata berhenti sejenak, lalu “He. apakah kau kira nilai cucuku seimbang dengan nilai anak gila itu he? Kau mempergunakan umpan yang terlalu tinggi nilainya dibanding dengan ikan yang ingin kau tangkap. Itu tidak adil” “Pangeran” berkata salah seorang perwira itu “Kami sudah member ikan batas waktu. Lima hari lima malam. Setelah itu, apapun yang akan terjadi, kami tidak akan mempergunakan lagi puteri cucu Pangeran itu. Kami akan mempergunakan cara lain. Kami menyadari bahwa Raden Ayu Galihwarit kadang- kadang masih saja diguncang oleh kegelisahannya sepeninggal Raden Rudira. Jika Raden Ayu mendengar akan hal ini, maka guncangan perasaan itu akan bertambah-tambah parah. Atas segala macam pertimbangan inilah, maka kami telah datang menghadap Pangeran untuk sekedar member itahukan keadaan yang sebenarnya dari puteri cucunda itu”Pangeran Sindurata menggeram. Namun ia tidak dapat menolak per lakuan para perwira dar i pasukan berkuda yang telah mempergunakan cucunya untuk menangkap Juwir ing. meskipun Pangeran itu tidak yakin bahwa usaha itu akan berhasil. “Kami menjamin Pangeran” berkata para perwira itu “Kami tidak ingin benar-benar berbuat lebih jauh terhadap puteri. Jika kami membuat wara-wara yang seolah-olah kami benar- benar ingin mengorbankan puteri, itu semata-mata hanyalah satu tekanan untuk memaksa Raden Juwir ing menyerah” Pangeran Sindurata termangu-mangu sejenak. Sebenarnya ia tidak rela menyerahkan cucunya untuk satu kepentingan yang tidak akan berarti apa-apa, selain membuat perasaan cucunya semakin pahit. “Terserahlah kepada kalian“ akhirnya ia berkata “tetapi jika terjadi sesuatu, maka kalian harus bertanggung jawab. Anak itu tidak boleh bersedih. Lebih baik kalian berterus terang, bahwa tahanan yang dikenakan kepadanya itu sekedar permainan pura-pura. Dengan demikian ia menyadari apa yang dilakukannya, sehingga ia tidak merasa tersiksa karenanya Kecuali itu, kalian tidak berhak menolak jika aku ingin menjumpainya kapan saja aku mau” Para perwira dari pasukan berkuda itu saling berpandangan sejenak. Mereka mengerti, agaknya Pangeran Sindurata tidak mengenal cucunya sebaik-baiknya. Nampaknya yangdikatakan oleh Pangeran Sindurata itu tidak sesuai dengan sikap Rara Warih sendir i. Tetapi para perwira itu tidak membantah. Bahkan seorang di antara mereka “Baiklah Pangeran. Kami akan melakukannya seperti yang Pangeran kehendaki. Pangeran Sindurata itu tidak menjawab lagi. Ketika para perwira prajurit dari pasukan berkuda itu minta dir i maka dengan pendek ia menjawab “Ya. Tetapi cucuku adalah tanggung jawabmu” Para perwira itupun kemudian meninggalkan istana Pangeran Sindurata. Demikian mereka meloncat ke punggung kuda di luar gerbang halaman istana Pangeran Sindurata, mereka tersenyum-senyum kecil. Seorang di antara mereka berdesis “Pangeran itu mempunyai penyakit marah. Kadang- kadang saja ia menjadi pening dan marah tanpa sebab. Wajahnya menjadi merah seperti bara. Nampaknya memang ada gejala sakit syaraf turun temurun, sehingga kejutan sedikit atas Raden Ayu Galihwarit saat puteranya meninggal, telah membuatnya kadang-kadang-kadang kehilangan kesadaran meskipun tidak setiap saat” “Puteri yang cantik” sahut yang lain “Raden Ayu Sontrang yang nampaknya masih terlalu muda dibandingkan dengan usianya itu mengalami sesuatu yang patut disesalkan. Tetapi ternyata kecantikan puterinya itu adalah kecantikan keturunan pula. Karena itu, kehadirannya di lingkungan pasukan berkuda hanya membuat kepalanya pening saja setiap hari.” Para perwira itu tertawa. Yang seorang masih berkata “Kasihan Pangeran tua itu. Tetapi apaboleh buat” Para perwira itupun kemudian menyusuri jalan-jalan kota. Kaki-kaki kudanya berderap tidak terlalu cepat. Sambil menengadahkan kepalanya mereka memandang gadis-gadis yang lewat dan berpapasan.Namun dalam pada itu, sepeninggal para perwira dari pasukan berkuda itu, kepala Pangeran Sindurata menjadi pening. Sambil menghentak-hentakkan kakinya, ia berjalan hilir mudik. Ketika perasaan pening di kepala dan rasa sakit ditengkuknya itu semakin terasa menggigit, maka seperti biasanya iapun melepas ikat kepalanya dan mengikat keningnya keras-keras dengan ikat kepalanya itu untuk mengurangi rasa sakit. “Yang gila adalah Juwiring” geram Pangeran Sindurata “jika ia tidak berkhianat, maka Warih tidak akan dijadikan taruhan seperti itu. Jika pada suatu saat ibunya mengetahuinya, maka hatinya akan menjadi semakin pedih, dan syarafnya akan menjadi semakin terganggu. Ia akan menjadi kehilangan kesadaran bukan saja di waktu-waktu tertentu. Tetapi setiap saat” Pangeran Sindurata merasa beruntung, bahwa kehadiran para perwira prajurit Surakarta dari pasukan berkuda itu dapat diterimanya langsung, sehingga tidak ada orang lain yang mengetahuinya. “Tetapi berita tentang hal itu tentu akan tersebar luas“ gumam Pangeran Sindurata “para perwira itu dengan sengaja akan menyebarkan wara-wara agar Juwiring dapat mendengarnya” Tiba-tiba saja Pangeran tua itu menggeram “Jika saja aku dapat menangkapnya. Aku akan menyerahkannya kepada pasukan berkuda agar cucuku itu dapat dilepaskan segera” Dalam keadaan yang demikian itulah, Juwiring dan Buntal melangkah mendekati istana Pangeran Sindurata. Justru pada saat Pangeran Sindurata sedang dicengkam oleh kegelisahan karena cucunya yang ditahan oleh pimpinan pasukan berkuda. Di perjalanan Juwiring dan Buntal sedang mereka-reka satu usaha agar mereka dapat memasuki istana Pangeran Sindurata. Dari para petugas sandi keduanya telah mendapatgambaran kota Surakarta dalam keseluruhan, sehingga mereka akan dapat menyesuaikan diri. Jalan yang manakah yang harus dihindari karena kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas mereka, dan jalan-jalan manakah yang dapat mereka lalui dengan aman. “Eyang Sindurata adalah seorang penggemar burung” desis Juwiring. “Apakah maksud kakang, kita akan membawa burung?“ bertanya Buntal, “Kita dapat berpura-pura menjadi penjual burung. Kita memasuki istana untuk menawarkan seekor atau dua ekor burung berkicau yang baik” jawab Juwiring. “Aku mengerti. Tetapi dari mana kita mendapatkan seekor burung dengan sangkarnya. Kita bawa burung itu ke istana Pangeran Sindurata. Setidak-tidaknya kita akan dapat men dekati istana itu tanpa dicur igai” jawab Juwiring. “Apakah Pangeran Sindurata mengenalmu dengan baik?” desis Buntal. Juwiring termangu-mangu sejenak. Kemudian iapun menggelengkan kepalanya “Aku kira tidak. Eyang Sindurata jarang sekali melihat aku. Bagi Pangeran Sindurata, termasuk seluruh keluarganya, aku adalah orang yang tidak berarti apa- apa. Aku bukan orang yang sederajat, meskipun sebenarnya demikian. Ayahku adalah ayah anak-anak ibunda Raden Ayu Galihwar it. Yang menentukan derajad adalah ayahanda Meskipun derajad ibunda lebih rendah, tetapi itu bukan berarti bahwa derajadku lebih rendah dar i anak-anak ibunda Raden Ayu Galihwarit” “Tetapi mereka menganggap seperti itu” desis Buntal. “Ya. Tetapi sekarang hal itu merupakan satu keuntungan. Mudah-mudahan bahwa Pangeran Sindurata tidak mengenalku dengan baik akan membuka jalan bagiku untuk berbicaradengan Pangeran Sindurata dan terutama ibunda Raden Ayu Galihwar it meskipun mereka akan memaki aku melampaui seorang pengemis yang paling buruk, sahut Juwir ing. Dalam pada itu, keduanyapun sepakat untuk membeli dua ekor burung jenis burung berkicau yang baik dan kemudian membawanya ke istana Pangeran Sindurata, karena Pangeran itu memang penggemar burung. Dengan seekor burung kutilang dan seekor burung kepodang, keduanya dengan jantung yang berdebar-debar mendekati regol istana Sinduratan. Halaman istana itu nampak sepi. Pangeran Sindurata memang bukan seorang Pangeran yang mempunyai kegiatan yang khusus. Ia lebih banyak mengurusi dir inya sendiri dan keluarganya. Meskipun Pangeran itu hadir pada upacara-cara tertentu, namun kehadirannya hanyalah karena kewajiban. Meskipun demikian, kedatangan kumpeni di Surakarta telah membuatnya mendapat satu kesibukan baru. Nampaknya Pangeran Sindurata senang bergaul dengan orang-orang asing itu seperti juga puterinya, Raden Ayu Galihwarit. “Tidak ada pengawal sama sekali?” desis Buntal. “Ada. Aku sudah mendapat keterangan. Tetapi pengawal itu berada di dalam, sebagaimana abdi yang lain. Namun bukan berarti bahwa pengawalan di istana ini dapat diabaikan” jawab Juwiring. Karena halaman istana itu sepi, maka kedua anak-anak muda iu justru menjadi ragu-ragu. Namun sebenarnyalah kehadirannya di regol istana itu sama sekali tidak menarik perhatian. Hampir setiap orang di sekitar istana itu memang mengetahui, bahwa Pangeran Sindurata adalah seorang penggemar burung. Karena itu, maka menurut tanggapan orang-orang yang melihat kehadiran kedua anak muda itu adalah sekedar ingin menawarkan burung.Baru sejenak kemudian, Juwiring melihat seorang abdi yang lewat melintasi halaman. Dengan ragu-ragu iapun memasuki halaman itu pula diikut i oleh Buntal. Sambil berjalan-jalan terbungkuk-bungkuk keduanya mendekati abdi yang terhenti ketika ia melihat kedua anak muda yang membawa burung di dalamsangkarnya itu. “Kalian mau apa?“ bertanya abdi itu meskipun ia sudah menduga, apakah maksud mereka. Juwiringlah yang menjawab “Sebenarnyalah aku ingin menawarkan burung-burung ini kepada Pangeran. Ayahku member itahukan kepadaku, bahwa Pangeran memer lukan seekor burung kepodang putih. Aku membawanya. Sementara itu, akupun mempunyai seekor kutilang yang sudah jadi” “Hem” gumam abdi itu “Pangeran sedang sibuk dengan masalah-masalah yang penting” “Masalah apa?“ bertanya Juwiring. “Aku tidak tahu pasti. Mungkin ada sangkut pautnya dengan keadaan Surakarta sekarang ini. Tetapi mungkin juga karena keadaan cucunda puteri” “Cucunda Pangeran kenapa?“ bertanya Buntal. “Puteri itu ditangkap oleh pimpinan pasukan berkuda Telah disebarkan wara-wara tentang puteri itu” berkata abdi itu selanjutnya. “Tetapi mungkin burung-burung ini akan dapat menjadi penghibur. Cobalah Ki Sanak, bawa aku menghadap Pangeran Sindurata. Burungku adalah burung yang sangat baik. Kepodang kuning sudah banyak jumlahnya di istana ini, karena ayahku sering membawakannya. Tetapi kepodang putih nampaknya belum” desak Juwiring. “Aku akan mencoba menyampaikannya” jawab abdi itu.“Jika Pangeran sudi membeli burung-burung ini, aku akan tahu apa yang harus aku lakukan terhadap Ki Sanak” desis Juwiring. “Ah” sahut orang itu “berapa harga kedua ekor burung itu. Jika kau menyebut-nyebut aku, maka kalian justru tidak akan menerima uang sama sekali” “Jangan begitu Ki Sanak” jawab Buntal “semuanya tergantung kepada Pangeran Sindurata. Jika Pangeran sudi membeli mahal, maka besok pagi-pagi kau akan dapat membeli selembar ikat kepala” Orang itu tertawa. Katanya “Manakah yang lebih mahal. Burung-burung itu atau ikat kepala?“ Juwiring dan Buntalpun tertawa pula. Namun keduanyapun kemudian disuruh menunggu di bawah sebatang pohon kemuning di halaman depan. Abdi itu akan menghadap Pangeran Sindurata yang nampaknya sedang disibukkan oleh kegelisahan. Agak berbeda dengan dugaan abdi itu. Ternyata ketika ia menyampaikan kehadiran kedua orang anak muda untuk menjual burung, justru ia segera tertarik. Katanya “Bawalah mereka kemari. Aku memang ingin membeli seekor burung yang sangat baik. Aku jemu memikirkan keadaan yang semakin panas. Kemelut yang tidak ada akhir-akhirnya. Perselisihan antara keluarga sendiri memang sangat tidak menyenangkan” ia berhenti sejenak, lalu “bawa anak-anak itu kemari” Abdi itupun kemudian memanggil Juwiring dan Buntal menghadap Pangeran Sindurata di serambi, di dalam seketheng. Abdi itu ternyata tidak berbohong. Kedua anak muda itu memang membawa dua ekor burung yang bagus. Seekor kepodang dan yang seekor kutilang.“Aku memerlukan kepodang putih ini” desis Pangeran Sindurata “tetapi tidak kutilangnya. Aku sudah mempunyai beberapa ekor burung kutilang.” Juwiring dan Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Pangeran Sindurata benar-benar ingin membeli seekor burung. Dengan demikian, maka ia akan dapat menghadap dan berbicara dengan Pangeran Sindurata. Sejenak kemudian Pangeran Sindurata telah duduk di serambi dihadap oleh kedua anak muda yang menawarkan burung itu. Sejenak Pangeran itu asyik memperhatikan burung yang berada di dalam sangkar bambu yang kurang baik. “Aku akan menggantinya dengan sangkar yang pantas untuk burung kepodang putih ini” gumam Pangeran Sindurata. “Ampun Pangeran, tentu akan sesuai dengan keindahan bentuk dan bunyinya yang merdu” desis Juwir ing. “Kau jangan memuj i” potong Pangeran Sindurata “Tidak ada orang yang tidak memuji barang yang dijualnya. Aku menjadi kecewa mendengar puj ianmu” “Ampun Pangeran” sahut Juwiring. Sementara Buntal menarik nafas panjang. Ia mulai menilai sifat Pangeran tua itu. Namun dalam pada itu, telah terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka. Sementara Pangeran Sindurata memperhatikan burung kepodang putih itu, tiba-tiba saja seorang abdi yang juga bertugas sebagai pengawal di istana Sinduratan itu datang menghadap diiringi oleh seorang yang lain beberapa langkah di belakangnya. Dengan ragu-ragu orang itu beringsut mendekat sambil memperhatikan Juwiring dan Buntal yang tidak menghiraukan orang itu. “Ada apa?“ tiba-tiba saja Pangeran Sindurata bertanya kepada pengawal itu.Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian dipaksanya dirinya untuk berkata “Ampun Pangeran. Sebenarnyalah kami mencurigai kedua anak-anak muda ini” “He“ Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya, sementara jantung kedua anak-anak muda itu berdegup semakin keras. “Kenapa kalian mencur igainya?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Kami pernah mengenal seorang di antara keduanya” berkata pengawal itu. “He, siapa? Yang mana?“ bertanya Pangeran tua itu pula. “Menurut penilikan kami, anak muda yang duduk di sebelah kanan itu adalah Raden Juwir ing” berkata pengawal itu pula. “Juwiring“ Pangeran tua itu terkejut sehingga ia terloncat berdiri dan bergeser surut “He, yang mana?“ Pangeran itu beringsut maju, sementara kawannyapun beringsut pula mendekat “Maaf Raden” berkata pengawal itu “aku mengenal Raden dengan baik, karena aku adalah seorang hamba yang sering mendapat perintah ke istana Ranakusuman pada waktu itu, sehingga agaknya aku tidak akan salah lagi” Wajah Juwiring menjadi tegang. Tetapi jika ia sudah dikenalnya, iapun tidak berkeberatan. Yang penting bahwa ia sudah berhasil menghadap Pangeran Sindurata untuk menyampaikan persoalan Rara Warih yang sedang ditahan oleh pasukan berkuda dan kumpeni. Karena itu, maka dengan nada datar iapun berkata “Baiklah. Aku t idak akan ingkar. Aku adalah Juwir ing” “Juwiring. Jadi kau pengkhianat itu?“ teriak Pangeran Sindurata. “Ya eyang. Hamba adalah Juwiring” sahut Juwiring ragu.“Setan alas. Jadi kau ingin membunuh aku he? Kau telah menyusup ke istana ini” geram Pangeran tua itu. “Ampun eyang. Bukan maksud hamba untuk mengejutkan eyang” desis Juwir ing. Namun dengan serta merta Pangeran Sindurata memotong “Jangan panggil aku eyang. Aku tidak mempunyai cucu seorang pemberotak. Seorang pengkhianat” “Baiklah Pangeran” sahut Juwiring “kedatangan hamba sama sekali tidak bermaksud buruk. Hamba tahu, bahwa hamba tidak akan mungkin dapat berbuat sesuatu di sini, selain mohon perlindungan Pangeran atas saudara perempuan hamba, Rara Warih” Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Juwiring masih tetap duduk bersila sambil menundukkan kepalanya. Tidak ada tanda- tanda bahwa ia akan berbuat jahat. Meskipun demikian, Pangeran Sindurata masih tetap berhati-hati. Demikian pula kedua pengawal itupun telah bersiaga sepenuhnya, jika terjadi sesuatu dengan kedua anak muda itu. “Pangeran” berkata Juwiring kemudian “j ika hamba menghadap Pangeran, adalah semata-mata karena hamba ingin mohon perlindungan seperti yang telah hamba katakan. Adik perempuan hamba, Rara Warih” “Cukup” potong Pangeran Sindurata “Kau kira bahwa sikapmu itu dapat menyenangkan hatiku. He, anak Pidak pedarakan. Jangan kau sebut cucuku itu sebagai adikmu, dankau jangan sekali-sekali merasa berjasa bahwa kau telah member itahukan hal itu kepadaku, karena aku sudah mengetahui segala-galanya. Aku tahu bahwa cucuku telah ditangkap. Tetapi kau terlalu bodoh untuk datang kemar i. Kau kira bahwa Warih benar-benar telah ditahan?“ Juwiring beringsut setapak. Terasa jantungnya berdebar semakin cepat. Menurut dugaannya, Rara Warih benar-benar ditahan oleh pasukan berkuda, setelah gadis itu ditangkap di padepokan. “Pangeran” berkata Juwiring kemudian “Hamba tidak akan menolak apapun yang akan Pangeran tuduhkan terhadap hamba kemudian, tetapi hamba mohon diperkenankan untuk berbicara serba sedikit tentang Rara Warih?” “Aku sudah tahu semuanya. Ia sudah ditangkap. Dan seharusnya akulah yang bertanya kepadamu, apakah kau tahu, kenapa ia pura-pura ditahan oleh pasukan berkuda?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Apakah menurut Pangeran, yang terjadi itu sekedar pura- pura?“ Juwir ing ganti bertanya. “Ya. Aku sudah meyakinkan. Rara Warih tidak boleh meninggalkan rumahnya. Bukan karena ia dianggap bersalah, tetapi justru yang dilakukan itu adalah suatu perjuangan, satu pengorbanan yang dapat diberikan bagi Surakarta” Wajah Juwiring menjadi tegang. Sementara Pangeran Sindurata itu berkata seterusnya “Para pemimpin dari pasukan berkuda tahu, bahwa kau tentu akan berusaha mengambil hasilnya. Kau tentu ingin menjual jasa agar kau dapat diakui sebagi kakaknya. Kau tentu tahu, sepeninggal ayahandanya, istana dan seisinya adalah milik cucuku. Maksudku milik anakku, ibunda Rara Warih. Dan kau merayap untuk merendahkan diri, menjual tenaga untuk sekedar mendapat belas kasihannya atas warisan yang ditinggalkan”Jantung Juwiring bagaikan meledak mendengar penghinaan itu. Tetapi ia masih tetap berusaha menahan hati. Bahkan Buntalpun menjadi gemetar, meskipun ia tidak berbuat sesuatu selain menahan agar jantungnya tidak meledak. “Pangeran” berkata Juwiring “perkenankanlah hamba berbicara sedikit saja mengenai cucunda Pangeran untuk menjadi bahan pertimbangan. Setelah hamba berbicara, terserah kepada Pangeran, apakah yang ingin Pangeran lakukan atas hamba” Wajah Pangeran Sindurata menjadi semakin tegang. Namun ternyata ia masih memberi kesempatan kepada Juwiring untuk berbicara “Katakan Cepat, sebelum aku mengambil tindakan” Lalu katanya kepada para pengawal “Tetaplah di situ” Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun berkata “Pangeran. Apa yang hamba ketahui tentang Rara Warih adalah, bahwa Rara Warih telah dianggap bersalah seperti kesalahan yang pernah dilakukan oleh ayahanda Pangeran Ranakusuma” “Omong kosong” bentak Pangeran Sindurata. Juwiring tidak menghiraukannya. Iapun kemudian berceritera tentang Rara Warih seperti yang telah terjadi sebenarnya Rara Warih tidak ditahan, seolah-olah sekedar tidak boleh keluar dari rumahnya, yang justru dianggap sebagai satu pengorbanan. Tetapi Rara Warih benar-benar telah ditangkap dan dibawa dengan paksa oleh prajurit dari pasukan berkuda dari Padepokan Jati Aking” “Gila” bentak Pangeran Sindurata “Kau mengingau he? Kau ingin memfitnah dan membuat segalanya rusak setelah kau rusak hidup dan hati ibunda Rara Warih, karena kedengkianmu terhadap kebahagiaannya di samping orang yang kau sebut ayahandamu”“Hamba mohon Pangeran sudi mendengarkan keterangan hamba. Kedatangan hamba kemari sekedar untuk member itahukan, bahwa Rara Warih benar-benar memer lukan pertolongan” berkata Juwir ing. Namun dalam pada itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Sikap dan tanggapan Pangeran Sindurata benar-benar tidak menguntungkan. Dengan demikian mungkin sekali Pangeran itu benar-benar seperti yang dicemaskan oleh Ki Wandawa yang menganggap kehadirannya sebagai satu anugerah. "Apakah Pangeran ini akan bertindak licik dan menangkap aku dan Buntal?” pertanyaan itu telah menyentuh hatinya. Dalam pada itu sepercik ingatan telah menyentuh hati Juwiring. Jika Pangeran itu tidak mau mendengarkannya, bagaimana dengan Raden Ayu Galihwarit. Betapa bencinya Raden Ayu itu kepadanya. Tetapi ia datang untuk kepentingan puterinya. Hubungan baik keluarga ini dengan kumpeni akan memungkinkan untuk melepaskan Rara Warih tanpa mengorbankan dirinya. Namun ternyata bahwa Juwiring tidak mempunyai kesempatan. Sementara itu, Pangeran Sindurata telah berkata “Juwiring. Kedatanganmu kemari adalah satu sikap sombong yang tidak dapat dimaafkan. Seharusnya kau tahu, bahwa cucuku harus berkorban untuk ditahan karena ia sadar, bahwa kau harus ditangkap. Karena itu, menyerahlah. Kau akan aku tangkap. Dengan demikian, maka pengorbanan cucuku tidak berkepanjangan” Juwiring termangu-mangu sejenak. Jika benar Pangeran itu akan menangkapnya, ia harus mengambil satu sikap. Lebih baik ia menyerahkan diri langsung kepada prajurit pasukan berkuda daripada ia harus menyerah kepada Pangeran Sindurata. Jika ia menyerah kepada prajurit dari pasukan berkuda maka t idak akan ada alasan untuk menunda pembebasan Rara Warih. Tetapi jika ia tertangkap, maka pasukan berkuda akan mempunyai alasan untukmenumbuhkan persoalan baru sebagai alasan untuk tidak membebaskan Rara Warih, karena sebenarnyalah sikap Rara Warih sama sekali berbeda dengan sikap seperti yang diduga oleh Pangeran Sindurata. Namun dalam pada itu, Juwiringpun selalu ingat pula pesan Kiai Danatirta, bahwa lebih baik ia tidak di tangan lawan karena dengan demikian ia kehilangan segala kesempatan. Kesempatan untuk melanjutkan perjuangan dan kesempatan untuk membebaskan Rara Warih. Sebenarnyalah bahwa Pangeran Sindurata tidak mau berpikir lebih jauh. Ia lebih senang menangkap Juwiring dan membebaskan cucunya dari tangan prajurit dar i pasukan berkuda. Karena itu, maka katanya “Juwiring, kau jangan mencoba untuk berbuat sesuatu yang akan dapat mencelakaimu. Menyerahlah. Biarlah pengawalku mengikat tangan dan kakimu, kemudian aku akan membawamu untuk membebaskan cucuku itu” Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Namun ia masih berusaha untuk berbicara “Pangeran, apakah aku dapat member ikan penjelasan kepada Raden Ayu Galihwarit serba sedikit tentang keadaan puterinya? Aku kira persoalannya tidak terlalu sederhana. Menangkap kau aku kemudian melepaskan Rara Warih yang Pangeran anggap telah member ikan pengorbanan bagi Surakarta sekedar untuk menangkap aku, Seharusnya Pangeran mengetahui, bagaimana sikap Rara Warih sendiri” “Aku tidak peduli” geram Pangeran Sindurata “Cepat, menyerahlah. Aku tidak akan memberimu kesempatan bertemu dengan puteriku yang sudah kau fitnah itu” “Jangan berkata begitu Pangeran” jawab Juwiring “Aku kira Pangeranpun mengetahui persoalan yang seharusnya dari Raden Ayu Galihwarit. Apa yang menyebabkan Raden Ayusering terganggu. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan hamba karena hamba tidak berada di istana ayahanda pada waktu itu” “Cukup” bentak Pangeran Sindurata. Namun Juwir ing berkata lebih lanjut “Hamba mohon Pangeran sudi mengenali cucu Pangeran pada saat ini. Dari sikapnya mungkin Pangeran akan dapat mengambil kesimpulan lain. Jangan menggurui aku” potong Pangeran Sindurata, lalu “sekarang menyerahlah kepada kedua pengawalku itu” Juwiring tidak melihat kesempatan lain. Namun dalam pada itu keinginannya untuk bertemu dengan Raden Ayu Galihwar it menjadi semakin mendesak, Karena itu, maka iapun berbisik kepada Buntal “Tahanlah mereka. Aku akan mencar i Raden Ayu Galihwarit” Buntal mengerti maksud Juwiring, karena itu maka ia pun segera bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada itu, maka Pangeran Sindurata itupun menjatuhkan per intah kepada pengawal-pengawalnya. ”Tangkap anak itu. Aku sendiri akan menyerahkannya kepada pemimpin dari pasukan berkuda yang telah menahan cucuku” Ketika kedua orang pengawal itu beringsut, maka Juwiring dan Buntal itupun segera bangkit. Dengan nada tinggi Juwiring berkata “Hamba mohon maaf Pangeran, bahwa hamba t idak akan menyerahkan diri begitu saja” “Persetan” geram Pangeran Sindurata “Kau kira kau akan mampu melar ikan dir i?“ “Hamba akan berusaha Pangeran, karena sebenarnyalah hamba tidak ingin ditangkap. Kedatangan hamba kemari adalah karena hamba ingin berbicara dengan Pangeran tentang Rara Warih dan sikapnya. Ia bukannya sekedar tidak bersalah dan memberikan pengorbanan bagi Surakarta”“Omong kosong. Cepat, tangkap kedua anak itu. Aku akan membawanya untuk pembebasan Warih, dan sekaligus aku akan mendapat seeekor burung kepodang putih” geramnya. Buntal mengumpat di dalam hati. Orang tua itu. masih juga ingat burung kepodang putih. Namun dalam pada itu, kedua orang pengawal itu benar benar telah siap menyerangnya. Karena itu, maka dengan rencana Juwiring untuk mencar i Raden Ayu Galihwarit, maka iapun bersiap-siap untuk meninggalkan perkelahian yang akan segera terjadi, dan menyerahkan kedua orang pengawal itu kepada Buntal. Ia berharap bahwa Buntal akan dapat mengatasi keadaan untuk sementara “Mudah-mudahan aku akan segera mendapat jalan untuk menolong Buntal, jika Pangeran Sindurata sendiri akan turun ke arena” berkata Juwir ing di dalamhatinya. Karena itu, maka ketika kedua orang pengawal itu sudah mulai bergerak, Buntallah yang justru mendahului menyerang Meskipun ia belum menjajagi kemampuan kedua pengawal itu, namun ia berharap bahwa kemampuan keduanya tidak melampaui kebanyakan prajurit Para pengawal itu terkejut melihat kecepatan gerak Buntal Dengan tangkas ia menyerang kedua pengawal itu berurutan. Meskipun kedua serangannya yang beruntun itu tidak mengenai sasaran namun hal itu sudah berhasil menar ik perhatian kedua orang pengawal itu. Pada saat itulah Juwiring telah mengambil kesempatan untuk meloncat berlari meninggalkan kedua pengawal itu. Meskipun ia tidak tahu pasti, dimanakah letak bilik Raden Ayu Sontrang, namun ia pernah mendengar secara tidak langsung dari Rara Warih, bahwa ibundanya berada di bilik belakang. Kedua pengawal itu tidak sempat mengejar. Bahkan Pangeran Sinduratapun tidak mengejarnya pula, karena demikian ia melangkah, Buntal telah menyerangnya pula“Anak Setan” geram Pangeran Sindurata. Serangan Buntal sama sekali tidak menyentuhnya. Bahkan masih terlalu jauh. Namun hal itu telah mengurungkan niat Pangeran Sindurata untuk mengejar Juwiring. “Kita tangkap anak setan ini“ perintah Pangeran itu. Kedua pengawal itu bertempur semakin seru, sementara Pangeran Sinduratapun telah berada di halaman. Sambil menyaksikan kedua pengawalnya berusaha mengalahkan Buntal, Pangeran itu berkata lantang “Lumpuhkan anak iblis itu. Nampaknya ia mengira bahwa aku yang tua ini tidak mampu melibatkan diri ke dalam arena. Biarlah ia berdua dengan pengihianat itu sekalipun, aku tidak gentar” Buntal bertempur dengan sepenuh kemampuannya untuk langsung mengikat para pengawal itu agar mereka tidak mengejar Juwiring. Namun agaknya pengawal di istana itu bukan hanya kedua orang itu saja. Sejenak kemudian, dua orang lainnya telah datang berlari- lari. “Tangkap pemberontak itu. Ia lari ke belakang“ perintah Pangeran Sindurata. Kedua pengawal itupun segera memburu ke belakang. Mereka yakin akan dapat menemukannya. Kedua anak itu, atau salah seorang daripadanya tidak akan dapat lari meninggalkan halaman, karena pintu-pintu butulan tertutup. Dinding halaman cukup tinggi dan seorang pengawal telah menjaga regol di depan. “Anak-anak dungu itu memang ingin mati” geram Pangeran Sindurata “menyerahlah. Jika tidak, maka aku akan membunyikan isyarat. Prajurit Surakarta yang mendengarnya tentu akan segera datang untuk membantu kami”Tetapi Buntal tidak menghiraukannya. Ia bertempur dengan tangkasnya. Sekali-sekali menyerang pengawal yang satu, kemudian segera menyerang pengawal yang lain. Sehingga dengan demikian, keduanya tetap terikat dalam perkelahian melawan Buntal. Dalam pada itu, Juwiringpun segera lari ke belakang. Ia dapat memperkirakan letak bilik Raden Ayu Galihwarit itu. Dengan sedikit salah langkah, akhirnya iapun mengetahui, bahwa bilik yang sedang terbuka pintunya, menghadap ke kebun di sebelah adalah bilik Raden Ayu Galihwarit, yang kebetulan sekali, sedang berada di serambi untuk melihat- melihat pertamanan. Sebenarnyalah bahwa Raden Ayu Galihwarit juga mendengar suara ayahandanya berteriak-teriak. Tetap ia tidak jelas, apa yang dikatakannya. Bahkan Raden Ayu mengira, bahwa ayahandanya marah-marah seperti biasanya kepada hamba- hamba di istana itu. Hampir setiap hari Pangeran Sindurata marah-marah dan berteriak-teriak, sehingga karena itu, maka sama sekali tidak menimbulkan dugaan apapun juga pada puteri yang sedang mengalami kepahitan hidup itu. Namun puteri itu terkejut ketika tiba-tiba saja seorang anak muda berlar i kearahnya. Apalagi ketika puteri itu melihat sebilah pisau belati kecil yang tiba-tiba saja sudah berada di depan dadanya. “Marilah Raden Ayu” berkata Juwiring “Jangan menolak. Masuklah ke dalambilik”Raden Ayu Galihwarit t iba-tiba menjadi sangat ketakutan. Karena itu, maka iapun tidak dapat menolak. Perlahan dengan ujung belatinya Juwiring mendorong Raden Ayu itu masuk. Demikian ia berada di pintu kedua pengawal yang mengejarnyapun sampai di muka bilik itu pula, Namun merekapun tertegun ketika mereka melihat Juwiring telah mengacukan pisaunya ke dada Raden Ayu Galihwar it. “Jangan berbuat sesuatu. Puteri ini menjadi taruhannya. Kembalilah kepada Pangeran Sindurata Dan hentikan perkelahian melawan adikku itu, agar puteri ini selamat” Kedua orang pengawal itu termangu-mangu. Namun Juwiring membentaknya “Cepat. Sebelum aku bertindak labih jauh” Salah seorang pengawal itu beringsut surut. Betapapun ia ragu-ragu, namun iapun kemudian berlari kembari ke tempat Pangeran Sindurata yang tua menunggui perkelaian di halaman samping, di dalamseketeng. Dengan tergesa-gesa dan nada tinggi, pengawal itu member i tahukan apa yang dilihatnya. Ternyata Raden Ayu Galihwar it telah dipergunakan sebagai taruhan. “Gila” geram Pangeran tua itu “itu perbuatan gila” “Terserah kepada Pangeran” gumam Buntal yang masih bertempur melawan dua orang pengawal. Akhirnya Pangeran Sindurata memerintahkan kedua pengawalnya berhenti. Dengan tergesa-gesa iapun kemudian pergi ke belakang, ke bilik Raden Ayu Galihwar it. Di muka bilik itu, seorang pengawal masih berjaga-jaga. Namun ternyata bilik Raden Ayu Galihwarit itu sudah tertutup rapat-rapat. “Gila, apa yang diperbuatnya?“ geramPangeran Sindurata.“Raden Juwiring mengancam bahwa ia akan membunuh Raden Ayu, jika seseorang berani membuka pintu itu” jawab pengawal itu. Pangeran Sindurata menjadi bingung. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sambil menghentak-hentakkan kakinya ia berjalan hilir mudik di depan bilik Raden Ayu. Namun tiba-tiba saja ia berteriak “Juwiring. Apa sebenarnya yang kau kehendaki” “Sebentar Pangeran” jawab Juwiring “Hamba akan berbincang dengan Raden Ayu” Pangeran Sindurata mengumpat Katanya “Keluarlah. Kita berbicara di luar” “Tidak Pangeran. Aku di sini. Dan aku mohon Pangeran tidak berbuat sesuatu yang dapat mencelakai Raden Ayu Galihwar it. Apalagi Pangeran member itahukan kehadiranku di sini kepada prajurit Surakarta dengan cara apapun juga” Pangeran Sindurata mengumpat-umpat pula. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Ketika terpandang olehnya Buntal yang berdiri termangu-mangu. maka iapun menggeram. Seolah-olah ia ingin menerkam anak itu dan meremasnya menjadi debu. Tetapi ia tidak berani berbuat demikian, karena keselamatan anaknya yang berada di dalam bilik yang tertutup. Sementara itu, di dalam bilik yang tertutup Raden Ayu Galihwar it gemetar ketakutan. Namun ia masih tetap menguasai kesadarannya. Keadaannya memang tidak memaksanya untuk mengenang peristiwa masa lampaunya karena justru ia sedang berhadapan dengan ancaman bagi dirinya sendiri. Dengan demikian Raden Ayu itu tidak segera dibayangi oleh gangguan syarafnya. Dalam pada itu, ketika Juwiring melihat Raden Ayu Galihwar it yang ketakutan itu, telah timbul ibanya. Karena itu. maka kemudian katanya “Silahkan duduk Raden Ayu”Raden Ayu Galihwarit itupun kemudian duduk di bibir pembaringannya. Namun tubuhnya masih saja gemetar ketakutan. Sementara itu Pangeran Sindurata juga mendengar suara di dalam bilik itu. Namun karena Juwiring tidak berbicara terlalu keras, maka yang berada di luar tidak begitu mengetahui, apa yang sedang mereka bicarakan itu. Demikian Raden Ayu Galihwar it duduk di pembar ingan, maka per lahan-lahan Juwir ingpun beringsut mendekat. Kemudian iapun duduk bersila di lantai di hadapan Raden Ayu Galihwar it yang menjadi heran melihat sikap itu. “Ampun Raden Ayu” desis Juwiring “mungkin sikapku mengejutkan Raden Ayu, atau bahkan membuat Raden Ayu ketakutan” “Siapa kau?“ bertanya Raden Ayu Galihwarit Pangeran Sindurata melekatkan telinganya di pintu bilik itu. Dan iapun ternyata menjadi agak tenang, karena ia mendengar kata-kata Juwiring, sehingga iapun dapat membayangkan sikap anak muda itu. Meskipun demikian, Pangeran Sindurata masih harus berhati-hati dan tidak mengambil sikap yang dapat membuat Juwir ing menjadi liar kembali. Juwiring ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya “Ampun Raden Ayu. Mungkin kedatanganku menemui Raden Ayu didorong oleh rasa tanggung jawabku sebagai saudara tua. Mungkin Raden Ayu sama sekali t idak senang melihat kehadiranku di sini. Bahkan memuakkan. Tetapi aku mohon Raden Ayu sempat mendengarkan ceriteraku sampai akhir sehingga Raden Ayu dapat mengambil sikap yang pasti” Raden Ayu menjadi berdebar-debar. Lalu katanya “Aku akan mencoba. Tetapi siapa kau dan kepentingan yang kau katakan itu sangat mendebarkan jantung” “Raden Ayu” berkata Juwiring kemudian “sebelumnya aku mohon maaf, bahwa aku telah mengambil satu sikap yangkasar. Mungkin namaku akan sangat mengejutkan Raden Ayu. Tetapi jika Raden Ayu sempat memperhatikan aku, maka Raden Ayu akan mengenal aku” Raden Ayu itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan saksama ia memperhatikan anak muda yang duduk bersila dengan sikap yang mapan di hadapannya. Namun tiba-tiba saja Raden Ayu itu terpekik kecil “Juwiring. Kau Juwir ing he?“ “Ya Raden Ayu. Tetapi perkenankanlah aku mengatakan alasanku, kenapa aku menghadap Raden Ayu dengan cara yang kasar ini” berkata Juwiring. Raden Ayu itu beringsut menjauh. Kebencian mulai memancar di wajahnya. Namun ia masih selalu dibayangi oleh ketakutan. Anak itu tiba-tiba saja akan dapat menjadi kasar dan liar. “Apa maksudmu memasuki bilikku sambil mengancam?“ bertanya Raden Ayu. “Perkenankanlah aku memberitahukan apa yang telah terjadi di luar dinding bilik Raden Ayu” berkata Juwir ing. “Cukup, cukup“ terdengar suara Pangeran Sindurata di luar. Tetapi Juwiring t idak menghiraukannya. Ia ingin mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya, sebelum Raden Ayu itu dijalari oleh gangguan syarafnya. Karena itu, maka katanya “Ampun Raden Ayu. Kedatanganku, sekedar member itahukan kepada Raden Ayu, bahwa Rara Warih telah ditangkap oleh prajurit Surakarta dari pasukan berkuda” “Warih ditangkap?“ suaranya menjadi gemetar seperti juga tubuhnya yang gemetar. “Ya Raden Ayu. Sekarang Rara Warih ditahan oleh pasukan berkuda dan kumpeni. Sebaiknya Raden Ayu mendengarkan semua keteranganku. Dengan demikian Raden Ayu akan dapatmengambil kesimpulan. Aku mohon Raden Ayu untuk sesaat dapat mengesampingkan dir i Raden Ayu sendiri. Jangan memikirkan sesuatu. Tetapi aku mohon Raden Ayu mendengarkan kata-kataku” berkata Juwir ing kemudian. Raden Ayu Galihwarit meraba keningnya. Kepalanya mulai menjadi pusing. Tetapi di luar sadarnya ia telah melakukan apa yang dikatakan oleh Juwiring. Dan ia berhasil menyingkirkan kenangan masa lampaunya, sehingga ia tidak segera diterkam oleh penyakitnya yang dapat kambuh setiap saat. Juwiringpun kemudian mencer iterakan apa yang telah terjadi di Surakarta. Pangeran Mangkubumi yang mengangkat senjata karena kebenciannya kepada kumpeni. Kemudian apa yang telah dilakukan oleh Pangeran Ranakusuma di saat terakhir. Pangeran Ranakusuma menjadi muak terhadap kekuasaan kumpeni di Surakarta. Dengan hati-hati Juwiring mencoba mengungkapkan sikap Pangeran Ranakusuma tanpa menyinggung perasaan Raden Ayu Galihwarit. Sementara itu, iapun mulai membayangkan sikap Rara Warih yang menyadari apa yang telah terjadi di Surakarta, sehingga akhirnya, Juwiring berkata “Ampun Raden Ayu. Pada saat terakhir aku ingin mohon perlindungan Raden Ayu. Bukan atas diriku, tetapi atas Rara Warih, karena tidak ada lagi orang yang dapat melindunginya. Rara Warih sekarang sudah tidak berayah lagi. Dalam pertempuran melawan kumpeni dan prajurit Surakarta, Pangeran Ranakusuma telah gugur di peperangan, sampyuh dengan Tumenggung Sindura dan melukai Pangeran Yudakusuma. Aku dapat beibangga bahwa ternyata ayahanda Pangeran Ranakusuma pada saat terakhir telah menempatkan diri sebagai seorang kesatria Surakarta yang sebenarnya” “Juwiring” suara Raden Ayu kian gemetar sehingga Juwiring terkejut karenanya “ayahandamu telah gugur?“Juwiring mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah Raden Ayu Galihwarit yang pucat. Kemudian Juwiring melihat bibir itu bergerak lemah “Jadi ayahandamu telah gugur?“ Juwiring tanpa sesadarnya beringsut mendekat. Katanya “Ya Raden Ayu. Tetapi ayahanda gugur sebagai seorang pahlawan Surakarta yang sudah bertekad untuk menyingkirkan kumpeni” Raden Ayu Galihwarit masih mendengar kata-kata Juwiring itu. Nampak bibirnya mencoba tersenyum. Namun tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit itu rebah. Untunglah Juwiring cepat menangkapnya dan dengan bingung diletakkan tubuh itu di pembaringannya. Ternyata bahwa Raden Ayu Galihwarit telah pingsan. Juwiring benar-benar menjadi bingung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sehingga karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah bergegas membuka pintu sambil berkata dengan kata-kata yang bergetar “Raden Ayu Galihwarit telah pingsan” “He“ Pangeran Sinduratapun terkejut. Kemudian iapun mengumpat “Kau, kaulah yang menyebabkannya pingsan. Panggil emban” Juwiring tertegun. Ia tidak tahu emban yang manakah yang harus dipanggilnya. Namun ternyata bahwa salah seorang pengawal itupun telah berlari memanggil emban yang terbiasa melayani Raden Ayu. “Cepat. Kenapa kau bersembunyi saja he?“ bentak Pangeran Sindurata. “Hamba takut mendekat Pangeran” jawab emban itu. “Cepat. Raden Ayu sedang pingsan” Beberapa orang yang berada di tempat itupun menjadi sibuk. Pangeran Sindurata telah berdiri di sampingpembaringan Raden Ayu Galihwarit, sementara embannya berusaha memijit-mijit keningnya. “Ambil air” desis Pangeran Sindurata. Emban itupun kemudian berlari ke belakang. Seorang emban tua telah memberitahukan kepadanya agar ia membawa jeruk pecel dan enjet putih. “Berambang dan minyak kelapa” desis yang lain. Dengan demikian, maka yang kemudian memasuki bilik itu bukannya hanya emban yang membawa minuman saja, tetapi juga seorang kawannya yang membawa berambang, minyak kelapa, jeruk pecel dan enjet. Dengan berambang dan minyak kelapa emban itu menggosok kaki Raden Ayu yang menjadi sangat dingin, sementara yang Lain berusaha menggosok bagian tangannya dengan jeruk enjet sambil memijit-mijitnya. Pangeran Sindurata telah menitikkan minum di bibir Raden Ayu yang pingsan itu. Setitik demi setitik. Sementara Juwiring yang kebingungan bagaikan membeku di bawah pembar ingan. Sementara orang-orang yang berada di dalam bilik itu menjadi sibuk, maka pengawal yang berada di depan pintu berdesis kepada Buntal “Jangan berbuat sesuatu yang akan dapat mencelakaimu“ Buntal memandang pengawal itu sejenak. Namun ia tidak menghiraukannya lagi. Perhatiannya tertuju kepada kesibukan di dalam bilik Raden Ayu Galihwarit itu. Sementara itu, usaha untuk menolong Raden Ayu itu masih dilakukan. Emban yang berada di dalam bilik itu masih memijit-mijitnya dan mengusap minyak tanah dengan berambang pada kakinya. Ternyata titik-titik air di bibir Raden Ayu itu membuatnya menjadi segar, sementara berambang dan minyak kelapaserta jeruk pecel dan enjet itupun membuat tubuhnya menjadi hangat, sehingga perlahan-lahan Raden Ayu itupun menjadi sadar. Yang bergerak pertama-tama adalah kelopak matanya. Ketika mata itu terbuka, maka terdengar ia merintih. Namun dalam pada itu, Pangeran Sindurata telah dihinggapi oleh kecemasan baru. Jika Raden Ayu itu kemudian sadar, maka kemungkinan lain akan terjadi. Mungkin ia justru telah kehilangan kesadarannya sama sekali dalambentuk yang lain. Gangguan syarafnya akan bertambah parah dan bahkan mungkin ia tidak akan pernah menemukan kesadarannya kembali barang sesaatpun. Kecemasan itu telah membuat perasaan Pangeran Sindurata bagaikan tersayat. Puterinya yang mengalami nasib sangat buruk itu akan semakin menjadi parah. Selebihnya ia akan menjadi beban yang bertambah berat. Karena itu, ketika kemudian Raden Ayu itu mulai bergerak, Pangeran Sindurata telah bergeser surut. Dipandanginya puterinya yang telah membuka matanya dan mulai memperhatikan keadaan di sekelilingnya. “Apa yang telah terjadi?“ t iba-tiba saja puteri itu berdesis. Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Kepalanya terasa semakin bertambah pening. Bahkan tengkuknya rasa- rasanya bagaikan ditekan dengan batu. “Apa yang telah terjadi?“ sekali lagi Raden Ayu itu bertanya. Emban yang terbiasa melayaninyapun beringsut maju sambil berbisik “Tidak ada apa-apa Raden Ayu. Tidak ada apa- apa. Jika Raden Ayu ingin tidur, sebaiknya Raden Ayu beristirahat dan tidur barang sejenak” Raden Ayu itu mengerutkan keningnya. Emban itupun terbiasa, jika gangguan syaraf itu datang, dan pada suatu saatkemudian Raden Ayu itu t idur oleh kelelahan, biasanya jika ia terbangun, gangguan itu sudah jauh berkurang. Namun Raden Ayu itupun kemudian justru berusaha untuk bangkit. Emban yang duduk bersimpuh di sisi pembaringan itupun berdesis “Sebaiknya Raden Ayu tidur sajalah barang sejenak” Tetapi Raden Ayu itu telah duduk di bibir pembar ingan. Sejenak ia memperhatikan seisi biliknya. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Perlahan-lahan iapun mulai dapat mengumpulkan ingatannya. Ketika ia melihat Juwiring berdiri termangu-mangu, maka lengkaplah ingatannya tentang dirinya dan tentang apa yang telah terjadi sebelumnya. Sekali lagi hatinya merasa berdesir ketika ia teringat dengan gamblang apa yang dikatakan oleh Juwiring. Pangeran Ranakusuma, suaminya, telah gugur di peperangan melawan kumpeni dan prajurit Surakarta. Bahkan telah sampyuh dengan Tumenggung Widura dan melukai Pangeran Yudakusuma. Tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit itu menangis. Terdengar isaknya disela-sela kata-katanya “Kakanda Ranakusuma gugur pada saat ia menyimpan dendam. Aku adalah sumber dari segalanya” Pangeran Sindurata menjadi berdebar-debar. Kepalanya terasa bertambah pening. Katanya kepada emban yang terbiasa melayani Raden Ayu Galihwarit “Ia sudah mulai menangis. Ia akan mengingat segalanya dan gangguan itu akan segera datang” Pangeran Sindurata berhenti sejenak, lalu katanya kepada Juwiring “Keluar dari bilik ini. Kaulah yang menyebabkannya. Karena itu, kau harus ditangkap dengan kesalahan ganda” Juwiring seolah-olah menjadi sadar. Tetapi ia terlambat. Ia berdiri tidak terlalu dekat dengan Raden Ayu Galihwarit, sehingga ia tidak akan dapat segera meloncat danmengancamnya. Pangeran Sindurata yang meskipun sudah tua, tetapi ia akah mencegahnya dan barangkali ia masih dapat berbuat sesuana sambil berteriak memanggil para pengawal. “Cepat” teriak Pangeran Sindurata Ia menjadi tergesa-gesa. Juwiring harus keluar sebelum Raden Ayu Galihwarit itu mengigau seperti biasanya, sambil menyebut nama-nama orang-orang asing yang pernah berhubungan dengannya. Namun dalam pada itu. Pangeran Sindurata itu terkejut. Ternyata Raden Ayu Galihwarit yang menangis itu tidak mengigau seperti biasanya. Bahkan dengan suara utuh ia berkata “Ayahanda, biarlah Juwir ing berada di sini” Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Dipandanginya Raden Ayu Galihwarit yang sudah tidak menangis lagi. Sambil mengusap matanya yang basah ia berkata “Akan berbicara panjang dengan anakku” “Anakmu yang mana?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Juwiring. Ia adalah anakku seperti juga Warih” suara Raden Ayu itu menjadi lembut. Pangeran Sindurata terkejut. Ketika ia menatap mata Raden Ayu Galihwarit, terasa sesuatu yang lain dar i yang biasa dilihatnya. Mata itu menjadi suram, tetapi tidak menjadi liar seperti pada saat-saat sebehunnya dalam keadaan yang serupa. “Galihwarit” desis Pangeran Sindurata “Apakah kau menyadari apa yang kau katakan?“ “Aku sadar sepenuhnya ayahanda” jawab Galihwarit “mungkin ayahanda heran, bahwa pada saat-saat seperti ini aku tidak jatuh ke dalam wajah gelapku. Aku sendir i juga heran, bahwa aku tidak lagi terperosok ke dalam satu pusaran waktu yang membuatku menjadi gila”Pangeran Sindurata setapak melangkah maju dengan ragu- ragu. Sementara itu Raden Ayu Galihwarit berkata “Kemar ilah ngger. Kemarilah. Anggaplah aku sebagai ibumu. Aku tahu, sebelumnya memang ada jarak di antara kita. Tetapi pada saat terakhir, aku menyadari, bahwa akulah yang telah membuat jarak itu di antara kita, di antara kau dan adikmu Warih dan di antara kita sekeluarga” “Apa maksudmu Galihwarit?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Aku sudah mendengar segala keterangan Juwir ing, Aku sudah mendengar permohonannya, agar kita, maksudnya aku dan ayahanda, berusaha menodong Warih, tanpa menyerahkan Juwiring, karena menyerahkan Juwir ing dengan cara apapun juga, tidak akan menjamin bahwa Warih akan benar-benar dilepaskan” berkata Raden Ayu Sontrang dengan nada mantap dan kalimat yang utuh. Pangeran Sindurata termangu-mangu sejenak. Ternyata anaknya berada dalam keadaan yang berbeda. “Ayahanda” berkata Raden Ayu Galihwarit “Aku telah diguncang oleh keterkejutanku seperti saat aku melihat Rudira terbujur di pembaringan. Agaknya justru karena itu, aku mendapatkan kembali kesadaranku sepenuhnya. Rasa-rasanya aku sekarang mampu berpikir bening. Aku mengerti, selama ini aku diganggu oleh kelainan syaraf yang tidak dapat aku atasi, sehingga pada saat-saat tertentu aku lupa segala- galanya. Namun sekarang aku sadar sepenuhnya apa yang aku hadapi Mudah-mudahan Tuhan memaafkan aku dan member ikan kesembuhan kepadaku” “Galihwarit” desis Pangeran Sindurata sambil melangkah maju “nampaknya kau memang lain. Goncangan perasaanmu agaknya telah membuat kau terlempar kepada keadaanmu yang sebenarnya, kepada duniamu sendiri”“Tuhan Maha Besar ayahanda” desis Raden Ayu Galihwarit sambil mengusap titik air di pelupuknya “karena itu, biarlah anakku dekat kepadaku” Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Raden Ayu Galihwarit berkata “Kemar ilah Juwiring” “Ampun Raden Ayu” sahut Juwiring sambil berjongkok di dekat pembaringan Raden Ayu Galihwarit yang duduk termangu-mangu. “Jangan panggil aku Raden Ayu. Aku adalah ibumu ngger. Panggil aku seperti Warih memanggil aku” desis Raden Ayu Galihwar it. Wajah Juwiringpun menunduk dalam-dalam. Sementara itu Raden Ayu berkata “Aku mohon ayahanda mengerti perasaanku. Ijinkan aku berbicara dengan Juwiring tentang Warih” “Lalu, apakah yang harus aku kerjakan?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Tidak apa-apa ayahanda. Tetapi jika ayahanda ingin ikut berbicara bersama kami, aku persilahkan ayah tetap berada di bilik ini” Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam sementara Juwiring berkata “Hamba tidak seorang dir i Raden Ayu“ “Panggil aku sebagaimana kau memanggil ibumu” desis Raden Ayu Galihwarit. Juwiring beringsut setapak. Ketika ia memandang Pangeran Sindurata, nampak keheranan masih membayang di wajah Pangeran tua itu. Sementara Raden Ayu Galihwarit berkata selanjutnya “Apakah kau membawa kawan?““Ya ibunda“ meskipun agak canggung, tetapi Juwir ing menyebutnya juga seperti dikehendaki oleh Raden Ayu Galihwar it. “Bawa kawanmu itu masuk. Eyangmu tentu akan mengijinkannya” berkata Raden Ayu itu lebih lanjut. Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Tetapi ia t idak membantah. Meskipun ada juga sentuhan yang pahit di hatinya karena anak yang dianggapnya sudah terbuang itu harus menyebutnya seperti cucunya sendiri. Ketika Juwir ing masih nampak ragu-ragu, maka Raden Ayu Galihwar it itu mendesaknya “ Ajaklah kemari. Jika di luar ada satu dua orang pengawal, biarlah eyangmu memberitahukan kepada mereka” Juwiringpun kemudian beringsut surut dan melangkah keluar. Dilihatnya para pengawal masih tetap bersiaga mengawasi Buntal yang berdiri tegak. Namun sejenak kemudian Pangeran Sinduratapun telah berdiri di pintu sambil berkata “Biarkan mereka” Para pengawal itu termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa ketika Juwiring kemudian membawa Buntal masuk ke dalambilik itu. Ketika semuanya sudaK duduk, Raden Ayu Galihwaritpun berkata kepada Juwiring “Aku sudah mendengar keteranganmu tentang Warih, ngger. Tetapi jelaskan, bagaimana rencanamu seutuhnya” Juwiringpun sekali lagi menjelaskan, apa yang telah terjadi atas Rara Warih. Lalu katanya “Jika aku menghadap ibunda, sebenarnyalah maksud kami, orang-orang padepokan Jati Aking, mohon agar ibunda dapat menempuh cara lain untuk membebaskannya. Memang cara yang paling pendek adalah menangkap aku dan menyerahkan aku kepada para prajurit dari pasukan berkuda. Tetapi apakah hal itu sudah dapat dijadikan jaminan bahwa Warih akan dapat dilepaskan.Memang tidak ada satu kepastian pendapat tentang sikap para prajurit dari pasukan berkuda. Namun j ika ibunda mengetahui sikap Rara Warih sendiri, maka ibunda akan dapat membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi atas diajeng Rara Warih itu” “Aku memang ingin mengetahui sikap Warih itu sendir i” desis Raden Ayu. “Apa yang akan kau lakukan?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Menemui Warih” jawab Raden Ayu, “Tetapi, tetapi ….“ kata-kata itu terputus. Sementara Raden Ayu menarik nafas sambil berdesis “Aku merasa lain ayahanda. Mungkin ayahanda menjadi cemas, bahwa aku akan kehilangan kesadaran di hadapan banyak orang. Tetapi rasa-rasanya pikiranku menjadi bening. Dan rasa-rasanya aku sudah dapat melepaskan segala penyesalan dan kekecewaan, justru pada saat aku yakin, bahwa segala kesalahan harus ditimpakan kepadaku, sehingga kakanda Ranakusuma mengambil satu sikap yang sama sekali tidak aku duga” Pangeran Sindurata tidak menyahut. Tetapi kepalanya benar-benar bagaikan dihimpit Gunung Lawu. “Ayahanda” berkata Raden Ayu kemudian “nampaknya segalanya memang harus terjadi. Dan segalanya harus aku terima dengan ikhlas. Keikhlasan itulah agaknya sumber pengampunan atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan. Tuhan memang Maha Besar” “Biar lah aku saja yang menemui War ih” tiba-tiba saja Pangeran Sindurata itu menggeram. “Aku akan menemuinya sendiri ayahanda. Adalah kewajibanku untuk berusaha membebaskan anakku tanpa mengorbankan anakku yang lain. Aku akan mencari jalanpembebasan Warih tanpa menjerumuskan Juwiring ke dalam tangan prajurit Surakarta dan apalagi kepada kumpeni” jawab Raden Ayu Galihwarit “karena itu, biar lah Juwir ing kembali ke induk pasukannya dalam lingkungan Pangeran Mangkubumi. Akulah yang akan berbuat apa saja untuk pembebasan Warih” Pangeran Sindurata tidak mau berpikir lagi. Kepalanya benar-benar sudah tidak dapat dipergunakan lagi, sehingga iapun berkata “Terserah kepada kalian. Aku akan tidur” “Silahkan ayahanda beristirahat” berkata Raden Ayu Galihwar it. Pangeran Sindurata itupun kemudian melangkah keluar dari bilik Raden Ayu Galihwarit. Namun di depan pintu ia berhenti sejenak. Katanya “Aku akan membeli kepodang putih itu. Tetapi aku tidak memer lukan seekor kutilang, karena aku sudah mempunyai beberapa ekor” “Ya, ya Pangeran” sahut Juwiring dengan serta merta. Sepeninggal Pangeran Sindurata, Raden Ayu Galihwarit sempat bertanya kepada Buntal “Apakah kau juga dari pasukan Pangeran Mangkubumi?“ “Ya Raden Ayu. Kami berdua berasal dari satu kelompok di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi” jawab Buntal. “Ia adalah adik seperguruanku ibunda dan oleh guru, kami berdua telah diangkat menjadi anak angkatnya dan dengan demikian kami berdua selain saudara seperguruan juga saudara angkat” Juwiring menjelaskan. “Bagus. Karena Juwiring adalah anakku, maka kaupun anakku pula” desis Raden Ayu. Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya memang ada sesuatu kejutan yang telah merubah segala-galanya di dalam hati Raden Ayu Galihwarit. Kejutan itu bukan saja telah menumbuhkan perubahan jiwani, sehingga ia justru telahtidak lagi dihinggapi oleh gangguan kesadaran, namun sifat dan wataknyapun telah bergeser pula. Dalam pada itu, maka emban di Sinduratan itupun telah diperintahkan oleh Raden Ayu Galihwarit untuk menjamu kedua anak muda itu. Raden Ayu itu nampaknya benar-benar telah sembuh dan menganggap kedua anak muda itu benar- benar dengan perubahan pandangan dar i sifat dan watak yang berubah pula. Baru kemudian, Raden Ayu itu berkata “Juwiring, jika kau ingin kembali, kembalilah. Berhati-hatilah, karena banyak kemungkinan dapat terjadi. Serahkan adikmu kepadaku. Pada saat tertentu kau dapat datang untuk menengok, apakah aku sudah berhasil atau belum” “Dua har i lagi, kami akan datang lagi ibunda” jawab Juwiring. ”Baiklah. Tetapi jangan terlalu sering. Kau adalah buruan yang penting bagi kumpeni. Karena itu, kau harus dapat menjaga dir i” pesan Raden Ayu itu pula “Aku akan berusaha meyakinkan ayahanda, bahwa para hamba di istana Sinduratan ini tidak akan berkhianat kepadamu. Meskipun aku belum melihat keadaan sejak aku dikurung di rumah ini, tetapi aku sudah dapat membayangkan lewat keteranganmu dan pengenalanku sebelumnya atas kumpeni dan sikap beberapa orang Surakarta sendiri” “Terima kasih atas segala keputusan yang sudah ibunda ambil. Ternyata aku mendapat jauh lebih banyak dari yang aku harapkan” berkata Juwir ing kemudian “karena itu, perkenankan aku mohon dir i” “Hati-hatilah” pesan ibundanya “tetapi percayalah bahwa penghuni istana ini masih dapat aku yakini kesetiaannya” Demikianlah Juwir ing dan Buntal kemudian mohon dir i. Tetapi mereka tidak sempat mohon dir i kepada Pangeran Sindurata yang sudah berbaring di dalam biliknya karenakepalanya yang pening. Tetapi Juwiring masih sempat menyerahkan burung kepodang putih kepada seorang hamba. Namun dalam pada itu, para pengawal yang sudah siap menangkap kedua anak muda itu memandangi saja dari kejauhan. Mereka sama sekali tidak menyapa mereka, karena para pengawal itu masih belum tahu pasti apa yang telah terjadi. Tetapi bahwa Pangeran Sindurata telah memer intahkan agar kedua anak itu dibiarkan saja, telah menimbulkan teka-teki pula di hati mereka. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galihwarit, maka iapun segera mohon kepada ayahandanya untuk member ikan penjelasan tentang Juwiring meskipun tidak seluruhnya. “Kepalaku sedang pening” desis Pangeran Sindurata. “Sebentar saja ayahanda“ minta Raden Ayu Galihwarit “dalam waktu dekat, segalanya dapat terjadi. Jika para abdi di istana ini tidak segera diberitahu apa yang sebenarnya telah terjadi, mereka akan mengambil sikap sendir i“ “Apa peduliku” geram Pangeran Sindurata. Raden Ayu Galihwar itpun kemudian duduk dipembaringan ayahandanya sambil berkata “Aku mohon ayahanda. Jika terjadi sesuatu atas anak itu, yang tanpa aku sadari telah berhasil mengisi kekosongan hatiku setelah aku kehilangan Rudira, maka aku akan merasa sekali lagi kehilangan. Aku tidak tahu, apakah aku masih akan mampu bertahan oleh kepahitan yang demikian” Pangeran Sindurata mengumpat di dalam hatinya. Namun ia memaksa diri untuk bangkit dan melangkah keluar. Dipanggilnya semua hambanya tanpa ada seorangpun yang ketinggalan. “Beritahukah kepada mereka” berkata. Pangeran Sindurata kepada Raden Ayu Galihwarit.Raden Ayu itupun kemudian menjelaskan persoalannya, meskipun tidak seperti keadaan seutuhnya. “Aku minta kalian ikut menjaga, agar tidak seorangpun mengetahui bahwa Juwiring pernah datang ke istana ini“ berkata Raden Ayu Galihwarit. “Ia telah berhasil mendapatkan obat yang sangat mujarab bagiku, apapun yang telah dilakukan dan dengan cara yang bagaimanapun. Aku memang memer lukannya. Jika kalian berbelas kasihan kepadaku, maka kalian akan membantu aku” “Tetapi anak itu menjadi buruan kumpeni“ salah seorang pengawal berdesis. “Kau benar. Tetapi manakah yang lebih berarti bagiku, bagi kalian yang sudah lama hidup bersama di dalam rumah ini. Kumpeni atau kesembuhanku seperti yang kau lihat sekarang. Aku sekarang sadar, sesadar-sadarnya siapakah aku ini“ berkata Raden Ayu “persoalannya dengan kumpeni bukan persoalan kita. Dan aku masih percaya kepada kalian, bahwa kalian t idak ingin melihat aku menjadi semakin parah. Aku mengerti, pada saat-saat tertentu aku lupa segala-galanya Meskipun aku tidak tahu apa yang aku lakukan pada saat-saat yang demikian, tetapi tentu tingkah laku yang sangat memalukan“ Para hamba dan pelayan yang mendengarkan keterangan itu mengangguk-angguk. Terlebih-lebih emban yang tahu benar, apa yang terjadi di saat-saat Raden Ayu itu mengalami gangguan syaraf. Namun dalam pada itu, Pangeran Sinduratapun telah memperkuat permintaan Raden Ayu itu dengan caranya “Jangan mencoba melanggar. Akupun sebenarnya tidak senang melihat anak itu. Tetapi akupun tidak senang melihat Galihwar it selalu diganggu oleh keadaan yang tidak wajar itu. Karena itu dengarlah permintaannya. Karena jika ada yang melanggar permintaan itu, lambat atau cepat, tentu akan akuketahui pula. Terhadap orang yang demikian, aku akan dapat mengambil sikap yang kasar” Para hamba, pengawal dan pelayan di istana itu mengangguk-angguk kecil. Mereka sudah mengenal Pangeran Sindurata dengan baik. Namun merekapun tidak mengabaikan ancaman itu, bahwa mungkin sekali Pangeran itu memang akan berbuat demikian. Dalam pada itu. Raden Ayu itupun masih menambah keterangannya “Aku minta, tidak seorangpun di luar lingkungan kita boleh mengetahui, meskipun itu adikku sendiri” Sekali lagi mereka yang mendapat pesan itu mengangguk- angguk. “Nah, kalian boleh kembali kepekerjaan kalian masing- masing” berkata Raden Ayu itu pula “doakan agar aku benar- benar dapat sembuh. Tuhan nampaknya sudah memaafkan semua kesalahanku, dan hukuman yang aku jalani sudah cukup. Mudah-mudahan tidak seorangpun di antara kalian yang ingin membuat hukuman-hukuman baru bagiku” Para hamba, pengawal dan pelayan itupun kemudian kembali ke tugas mereka masing-masing. Betapapun juga para pengawal merasa heran, namun mereka merasa perlu untuk memenuhi permintaan itu. Kecuali mereka memang merasa abdi dari Sinduratan, merekapun merasa iba jika Raden Ayu yang sudah nampak berangsur sembuh itu akan mengalami gangguan j iwa kembali. Sementara itu, Juwiring dan Buntal dengan hati-hati menelusuri jalan kota. Seperti saat ia memasuki kota Surakarta, maka ketika keduanya menuju kegerbang untuk keluar, merekapun memilih jalan sebagaimana di tunjukkan oleh para petugas sandi. Sambil menj injing seekor burung di dalam sangkar, Buntal berjalan di sebelah Raden Juwiring yang selalu menunduk.Meskipun ia mengenakan pakaian yang lusuh dan memakai tudung kepala, namun ternyata ada juga orang yang dapat mengenalnya. Karena itu, maka Raden Juwiring itu selalu berusaha untuk menyembunyikan wajahnya. Namun demikian, keduanya terkejut ketika seorang yang duduk tepekur di bawah sebatang pohon yang rindang di tikungan menyapanya meskipun perlahan-lahan “Apakah kalian sedang menjajakan burung itu?“ Kedua anak muda itu terkejut. Namun mereka menjadi tegang ketika orang itu berdesis “Kemarilah Raden Juwir ing” Raden Juwiring menarik nafas dalami. Buntalpun kemudian tersenyum ketika keduanya melihat bahwa orang itu adalah seorang dari petugas sandi yang selalu mengamatinya. Juwiring dan Buntalpun kemudian mendekat. Mereka duduk di bawah sebatang pohon, sementara burung kutilang di dalam sangkar itu diletakkan di antara mereka bertiga, seolah- olah mereka sedang membicarakan burung di dalam sangkar itu. “Aku menjadi cemas” berkata orang itu “apakah kau mengalami kesulitan?“ “Hampir” jawab Juwiring “tetapi segalanya sudah dapat di atasi, justru di luar dugaan” Dengan singkat Juwiring menceriterakan apa yang telah dialami di istana Sinduratan. Iapun mengatakan, bahwa Raden Ayu Galihwarit telah bersedia berusaha membebaskan Warih tanpa menjebak Juwir ing. “Tetapi-usaha itu adalah satu usaha yang sulit Meskipun demikian, mudah-mudahan Raden Ayu berhasil” jawab orang itu.“Ibunda Galihwar it nampaknya telah terlempar ke dalam dunia yang lain. Nampaknya peristiwa yang telah terjadi di peperangan itu telah mengejutkannya, sehingga terjadi sesuatu di dalam dirinya” jawab Juwiring “justru karena itu, aku percaya kepada usaha ibunda Galihwar it” “Sokur lah” berkata orang itu “kemudian silahkan melanjutkan perjalanan. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu di sepanjang jalan. Kami akan selalu mengamati perjalanan kalian. “Dimana kawanmu yang seorang” bertanya Raden Juwiring. Orang itu tersenyum sambil memandang kesatu arah. Ternyata beberapa puluh langkah, di tikungan, seorang laki- laki duduk di hadapan seorang penjual jamu di pinggir jalan. Juwiring dan Buntal tersenyum. Sambil bangkit berdiri Buntal berkata “Mudah-mudahan ia selalu sehat“ Orang itupun tersenyum pula. Jawabnya “Kau pandai juga berkicau seperti burung kutilang itu” Kedua anak muda itu tidak menjawab meskipun keduanya tertawa. Merekapun kemudian melanjutkan perjalanan keluar kota Surakarta kembali ke pondok mereka di Gebang. Namun mereka memang harus berhati-hati karena tidak mustahil bahwa petugas sandi dari Surakarta dan kumpenipun berkeliaran juga di sepanjang jalan. Dalam pada itu, di istana Sinduratan, Raden Ayu Galihwarit telah menyusun rencana untuk berusaha membebaskan anak gadisnya. Meskipun ia masih belum yakin bahwa hal itu akan dapat dilakukan. Namun ia berharap, bahwa ia masih akan mendapat kesempatan. Di hari ber ikutnya, ketika Juwiring dan Buntal yang sudah berada di pondoknya masih saja dibayangi oleh kegelisahan, maka Raden Ayu Galihwarit sejak pagi-pagi telah bersiap. Raden Ayu yang nampak agak kurus dan pucat itu telahberhias sebaik-baiknya seperti yang selalu dilakukannya pada saat ia masih berada di istana Ranakusuman. “Apa yang akan kau lakukan?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Aku akan pergi menengok Warih, ayahanda” jawab Raden Ayu Galihwarit. “Jangan kau. Biarlah aku saja yang pergi” berkata Pangeran Sindurata. “Tidak ayahanda, akulah yang akan menjumpai Warih” desis Raden Ayu Galihwarit “mungkin aku akan mendapat kesempatan lebih banyak dari ayahanda. Justru karena aku seorang perempuan yang kebetulan adalah ibunya” “Tetapi kau masih nampak kurus dan pucat” sahut ayahandanya. Jawab Raden Ayu Galihwarit sangat mengejutkan ayahandanya “Tetapi aku justru kelihatan lebih muda dan cantik ayah” “Galihwarit?” desis ayahandanya. Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Katanya “Jangan hiraukan aku ayahanda. Aku ingin membebaskan Warih tanpa mengorbankan anakku laki- laki. Itu saja. Mungkin aku harus mempergunakan cara yang palng aku kuasai“ “Tetapi . . “ wajah Pangeran Sindurata menjadi tegang. “Jangan cemas ayahanda. Aku sudah mengalami satu masa yang sangat pahit dalam hidupku. Mudah-mudahan aku sudah benar-benar sembuh. Aku sudah mencoba untuk mengenang segalanya. Sejak aku menjadi isteri Kamas Pangeran Ranakusuma sampai saat anakku Rudira terbunuh. Ternyata aku tidak lagi terlempar pada satu keadaan yang tidak aku kuasai secara jiwani. Agaknya aku sudah mampu meletakkan persoalan hidupku pada tempat yang seharusnya di dalamhatiku” jawab Raden Ayu Galihwarit “karena itu, meskipun tubuhku masih belum pulih, namun jiwaku sudah tenang dan aku akan dapat merencanakan segalanya dengan pikiran yang bening. Jika aku berada di jalan yang suram, itu memang sudah aku sengaja, bukan karena kegilaanku” “O” desis Pangeran Sindurata “Kau akan membuat dosa- dosa baru?“ “Tidak ayahanda. Justru aku akan menebus dosa-dosaku“ jawab Raden Ayu Galihwarit “Aku mohon ayahanda dapat mengerti” Pangeran Sindurata itu memegangi keningnya. Kepalanya mulai menjadi pening. “Sudahlah ayahanda” berkata Raden Ayu Galihwar it “Sebaiknya ayahanda tidak usah memikirkan aku lagi. Aku sudah tua. Agaknya aku sudah seharusnya dapat memilih, manakah yang baik aku lakukan, dan yang manakah yang tidak” “Kau tidak tahu manakah yang baik dan manakah yang buruk” geram ayahandanya. Wajah Raden Ayu Galihwar it berkerut. Terasa jantungnya bergejolak. Namun ia tidak dapat membantah, bahwa beberapa saat yang lampau ia sudah kehilangan keblat sehingga ia t idak tahu lagi mana yang baik dan mana yang tidak. Tanpa menyangkal, Raden Ayu itu kemudian berkata “Ayahanda. Sekarang aku akan mencoba melakukan sesuatu yang baik. Maksudku baik buat anakku, meskipun belum tentu baik menurut ukuran orang lain terhadap aku” “O“ Pangeran Sindurata memegangi kepalanya yang terasa semakin sakit Tetapi Raden Ayu itu masih saja tersenyum “Ayahanda, apapun yang akan aku lakukan, aku harap bahwa aku akan dapat membebaskan Rara Warih”Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Seolah- olah ia ingin menelan segala kepahitan yang dituangkan ke dalam mulutnya. Namun demikian, Pangeran Sindurata tidak dapat mencegahnya. Raden Ayu Galihwar it bukan seorang gadis remaja lagi. Ia adalah seorang perempuan yang telah masak, yang meskipun baru saja sembuh dari penyakitnya yang aneh, namun agaknya ia telah benar-benar melakukan segalanya dengan penuh kesadaran. Raden Ayu Galihwarit itupun kemudian berkemas. Dari embannya ia mengetahui apakah yang telah dilakukan jika ia sedang dicengkam oleh gangguan jiwani. Emban itu semula tidak berani mengatakannya, tetapi karena Raden Ayu itu memaksanya dan berjanji untuk tidak marah, maka akhirnya emban itupun mengatakannya. ”Terima kasih emban” berkata Raden Ayu itu “aku sudah dapat mengetahui apakah yang aku lakukan. Memang memalukan. Tetapi aku tidak dapat malu terhadapmu, karena sebenarnyalah kau memang mengetahui dengan pasti, apakah yang telah aku lakukan dalam keadaan yang demikian. Bahkan pada saat-saat aku tidak ingat lagi tentang apapun juga” Dengan bekal pengertiannya terhadap dirinya sendiri, maka Raden Ayu Galihwarit telah bersiap untuk pergi ke istana Ranakusuman. Dengan kereta Pangeran Sindurata. maka sejenak kemudian Raden Ayu yang nampak agak kekurus- kurusan dan pucat itu meninggalkan pintu gerbang, di dalam sebuah kereta yang ditarik dengan dua ekor kuda. Kereta itu memang t idak sebagus kereta Pangeran Ranakusuma, tetapi kereta itu cukup memadai. Sebagaimana kereta seorang Pangeran. Setelah untuk waktu yang cukup lama Raden Ayu tidak keluar dari halaman istananya, maka rasa-rasanya ia melihat sesuatu yang asing. Namun lambat laun iapun segeramengenalinya kembali, jalan-jalan dan rumah-rumah yang berada di pinggir jalan. Tetapi rasa-rasanya kota Surakarta menjadi bertambah sepi. Tetapi Raden Ayu Galihwaritpun mengerti, bahwa keadaan menjadi semakin gawat. Meskipun pertempuran yang telah terjadi berada di luar kota Surakarta, namun orang-orang di dalam kota itupun tentu sudah mendengarnya pula. sehingga mereka menjadi cemas. Namun dalam pada itu, ternyata kereta yang berisi hanya seorang puteri itupun telah menarik perhatian. Ketika dua orang perwira, dari pasukan berkuda diikuti oleh beberapa prajurit yang sedang nganglang melihatnya, maka keduanyapun terkejut. Mula-mula mereka tercengang melihat seorang puteri yang sangat cantik duduk sendiri di dalam sebuah kereta. Namun kemudian seolah-olah mereka telah pernah menge. nal wajah yang sangat cantik itu. “He, bukankah yang berada di dalam kereta itu Raden Ayu Ranakusuma?“ bertanya yang seorang. “Ya. Seolah-olah aku memang melihat Raden Ayu Sontrang. Tetapi apakah bukan Rara Warih?” desis yang lain. “Tidak. Bukankah Rara Warih ada di dalam tahanan?“ sahut kawannya. “Tetapi Raden Ayu Ranakusuma sedang sakit” jawab yang lain. “Apakah seseorang yang sedang sakit itu tidak akan pernah sembuh? Meskipun sakit Raden Ayu menurut pendengaran kami adalah sakit yang aneh, namun pada suatu saat, mungkin ia menjadi sembuh pula” Tiba-tiba saja para prajurit yang sedang nganglang itu ingin melihat, siapakah yang berada di dalam kereta itu, sehingga perwira yang masih muda itu memutuskan untuk memutar arah dan mengikuti kereta itu dar i kejauhan.Sebenarnyalah kereta itu memang menuju ke istana Ranakusuman yang sudah dipergunakan oleh pasukan berkuda. Bahkan Tumenggung Watang yang untuk sementara memegang pimpinan pasukan berkuda telah berada dan tinggal di istana itu pula, meskipun hanya di gandok saja. “Tentu Raden Ayu Sontrang” desis perwira muda itu “ia nampak lebih muda, lebih kuning dan lebih cantik” “Ya” jawab kawannya “mungkin justru karena ia sedang sakit, ia menjadi kurus dan kuning karena tidak pernah keluar dari biliknya” “Tetapi menjadi bertambah cantik” sahut perwira muda itu. 


Jilid 23
IRING-IRINGAN pasukan berkuda itupun kemudian sekali lagi memutar haluan. Mereka meneruskan tugas mereka, nganglang mengelilingi kota Surakarta. Sementara itu, kereta Pangeran Sindurata yang dipergunakan oleh Raden Ayu Galihwarit telah sampai ke regol halaman istana Ranakusuman. Ketika para penjaga regol itu melihat seorang perempuan cantik seorang diri berada di dalam kereta itu, mereka menjadi berdebar-debar. Namun akhirnya salah seorang dari mereka segera dapat mengenalinya. Karena itu, maka iapun berdesis “Raden Ayu Ranakusuma” Kawan-kawannya termangu-mangu sejenak. Namun dalam pada itu Raden Ayu Galihwarit memerintahkan kepada saisnya “Terus. Langsung memasuki halaman” Saisnya ragu-ragu. Tetapi ketika kereta itu bergeser maju, maka para penjagapun telah menyibak dan tidak seorangpun berusaha untuk bertanya sesuatu kepada sais maupun penumpang kereta itu.Kedatangan Raden Ayu Ranakusuma ke bekas istananya itu memang telah mengejutkan para prajurit dar i pasukan berkuda. Bahkan Tumenggung Watang yang menerima laporan tentang kehadiran Raden Ayu Ranakusuma itupun dengan tergesa-gesa telah menyongsongnya. Namun Tumenggung yang berpikiran jernih itu segera dapat menangkap kepentingan kehadiran puteri itu, karena anak gadisnya, Rara Warih telah berada di dalam tangan para prajurit dari pasukan berkuda. Tetapi bagaimanapun juga, Tumenggung Watang masih bersikap hormat kepada Raden Ayu Ranakusuma. Meskipun Pangeran Ranakusuma sendiri telah dianggap berkhianat, tetapi kebesaran namanya pada masa lampau masih saja membekas di setiap hati para prajur it, termasuk Tumenggung Watang. Demikian kereta itu berhenti di kuncung pendapa, maka Tumenggung Watang diiringi oleh dua orang perwira telah menyongsongnya dan dengan hormat mempersilahkan puteri itu naik ke pendapa. Raden Ayu Galihwarit yang telah turun dari keretanya itu memandang berkeliling, seolah-olah ia ingin mengenali kembali istana yang sudah agak lama ditinggalkannya. Bukan saja sejak Pangeran Ranakusuma dianggap berkhianat, tetapi jauh sebelum itu ia telah diantar pulang ke rumah orang tuanya oleh Pangeran Ranakusuma sendir i. “Marilah, silahkan Raden Ayu“ Tumenggung Watang mempersilahkan. Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Jawabnya “Terima kasih. Apakah aku masih diperkenankan naik ke pendapa?“ “Tentu. Silahkan“ Tumenggung Watang mempersilahkannya sekali lagi.Raden Ayu Ranakusuma itu masih saja tersenyum. Dengan langkah-langkah kecil ia naik ke pendapa dan sekali lagi ia memandang berkeliling. “Aku tidak melihat perubahan sama sekali” gumamnya. “Ya Raden Ayu” sahut Tumenggung Watang “Kami yang sekarang berada di sini berusaha untuk menjaga agar segalanya tetap seperti semula” Raden Ayu Ranakusuma mengangguk-angguk. Ia tidak segera duduk di pendapa. Tetapi ia berjalan berkeliling. Diamatinya perhiasan dinding satu demi satu. Jambangan bunga yang tidak lagi berisi bunga di atas bancik berukir di sudut. “Sayang” berkata Raden Ayu Ranakusuma “Aku mendapatkan jambangan bunga ini dar i tuan Dungkur. Kenapa Ki Tumenggung tidak menyuruh salah seorang pelayan untuk mengisinya dengan bunga? Jambangan itu adalah jambangan yang sangat mahal. Buatan Cina dan berumur tua. Ki Tumenggung dapat menyuruh seseorang memetik bunga ceplok piring. He, bukankah di sudut halaman samping terdapat beberapa batang bunga ceplok piring?“ “Ya Raden Ayu” jawab Tumenggung Watang “Tetapi aku tidak sempat melakukannya” “O. Para prajurit Surakarta tentu sedang sibuk” desis Raden Ayu “Tetapi apakah aku diperkenankan melihat-lihat keadaan di dalam istana yang pernah aku huni ini?“ Tumenggung Watang menar ik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Silahkan Raden Ayu. Tetapi aku mohon maaf bahwa aku tidak dapat mengantarkannya Biarlah perwira muda ini mengantar Raden Ayu melihat-lihat isi bekas istana Raden Ayu ini” “Ah, aku tidak mau mengganggu kalian. Kenapa harus mengganggu tugas seorang perwira hanya sekedar untukmengantar aku? Aku mengenal rumah ini dengan segala isinya. Aku tidak akan tersesat sehingga tidak dapat keluar lagi” berkata Raden Ayu Galihwarit “Soalnya bukan demikian” jawab Tumenggung Watang, yang dengan serta merta dipotong oleh Raden Ayu Ranakusuma. “Baiklah. Aku mengerti. Kalian tentu mencur igai aku, karena aku adalah isteri seorang Pangeran yang dianggap berkhianat. Bukan saja suamiku yang terbunuh di peperangan itu. Tetapi juga anak perempuanku. Bukankah Warih ada di sini?“ Ki Tumenggung Watang mengangguk-angguk kecil. Jawabnya “Ya. Rara Warih memang ada di sini” “Aku sudah mendengar semuanya” berkata Raden Ayu Sontrang “anak gadisku itu ditangkap untuk memancing anak dungu yang menyebut dirinya putera Pangeran Ranakusuma itu” Tumenggung Watang mengerutkan keningnya. Sementara itu Raden Ayu Sontrang berkata “Tetapi silahkan Ki Tumenggung. Aku t idak akan mengganggumu. Aku akan melihat-lihat isi rumahku. Jika para prajurit mencurigaiku, silahkan siapa di antara para prajurit yang akan mengawasi aku” “Tetapi Raden Ayu” berkata Tumenggung Watang kemudian “Aku menduga bahwa kedatangan Raden Ayu bukannya sekedar ingin melihat-lihat istana ini dan isinya, tetapi tentu berhubungan dengan keadaan Rara Warih” “Tepat” jawab Raden Ayu Ranakusuma “nanti aku akan menghadap Ki Tumenggung setelah aku puas memanjakan kenangan masa lampau yang sangat menyenangkan itu” Tumenggung Watang mulai diganggu oleh perasaan jemu menanggapi sikap Raden Ayu Galihwar it. Ia bukan lagi isteriseorang Pangeran yang besar bagi Surakarta, justru sebaliknya. Nama Pangeran Ranakusuma di lingkungan para bangsawan di Surakarta telah menjadi buram. Di luar dugaan Tumenggung Watang, Raden Ayu itupun berkata “Maaf Ki Tumenggung. Barangkali aku terlalu memuakkan bagi Ki Tumenggung. Tetapi aku minta ijin barang sejenak untuk melihat-lihat. Mudah-mudahan dapat menjadi obat bagi penyakitku yang sudah beberapa lama masih saja selalu datang mengganggu. Mungkin Ki Tumenggung pernah juga mendengar, bahwa aku mengalami satu masa yang sangat mengganggu dalam hidupku. Mudah- mudahan aku akan benar-benar dapat sembuh” Tumenggung Watang tidak telaten lagi melayani Raden Ayu Ranakusuma itu. Karena itu, maka diperintahkannya seorang perwira untuk mengikutinya tetapi sekaligus mengawasinya. Perwira muda itu mengikut saja kemana Raden Ayu Galihwar it pergi. Dimasukinya setiap ruang di dalam bekas istananya itu. Ternyata seperti yang dikatakan oleh Tumenggung Watang, segalanya masih berada di tempatnya dan terpelihara baik. “Dimana Warih di simpan?“ bertanya Raden Ayu itu tiba- tiba. “Di gandok Raden Ayu” jawab perwira muda itu. “Gandok mana“ desak Raden Ayu itu. “Gandok kanan” jawab perwira itu pula. “Apakah aku dapat menengoknya?“ bertanya Raden Ayu itu pula. “Aku kira Raden Ayu akan dapat menemuinya, tetapi segalanya terserah kepada Tumenggung Watang” jawab perwira muda itu. Perwira muda itu menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Katanya “Baik. Aku akanmenemui Ki Tumenggung” Ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi aku belum selesai. Aku ingin melihat semua ruang. Dari ruang yang paling ujung, sampai ke ruang tidurku” Perwira itu menjadi semakin berdebar-debar ketika tiba-tiba saja Raden Ayu itu justru membimbing lengannya seperti membimbing anaknya. Sambil tersenyum ia berkata “Marilah anak manis. Jika anakku masih hidup, umurnya tentu tidak berada di istana ini” Terasa tangan perwira muda itu menjadi gemetar. Namun Raden Ayu itu tertawa “Jangan takut. Aku tidak apa-apa. Aku tidak sedang kambuh. Aku sehat dan menyadari apa yang aku lakukan” Perwira muda itu tidak dapat mengelak, Ketika mereka memasuki sebuah ruangan, maka Raden Ayu itupun berkata “Ini adalah bilik tidurku. di sini aku tidur di saat aku masih akan terpaut banyak dengan umurmu” Perwira muda itu berdiri tegak di pintu bilik. Ia tidak mau melangkah lagi. Karena itu, maka Raden Ayu itupun kemudian memasuki bilik yang cukup luas itu seorang dir i. Kemudian duduk di atas pembaringannya yang masih saja seperti dahulu, “Alangkah senangnya masa-masa yang lewat. Tetapi sekarang suamiku sudah terbunuh di peperangan sebagai seorang pengkhianat. Bukankah begitu anak muda?“ bertanya Raden Ayu itu sambil tertawa kecil. Perwira muda itu tergagap. Namun kemudian iapun mengangguk sambil menjawab “Ya. Ya Raden Ayu, demikianlah agaknya” Raden Ayu Galhwarit tersenyum. Namun bagaimanapun juga, terasa jantungnya bagaikan tergores sembilu. Kenangannya mulai merayap menelusur i masa lampaunya. Di pembaringan itu pula Rudira dibaringkan seperti seorang yang sedang tidur nyenyak. Betapa ia terkejut ketika ia menyadariapa yang telah terjadi, sehingga kejutan itu telah mengganggu kesadarannya. Terasa kepala Raden Ayu Galihwarit mulai menjadi patung. Rasa-rasanya ia akan terlempar kembali ke dalam satu dunia yang buram, sebagaimana saat-saat penyakitnya akan kambuh. Untuk beberapa saat perwira yang menungguinya di pintu menjadi berdebar-debar. Ia melihat Raden Ayu Galihwarit itu memegangi keningnya. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Raden Ayu Itu menghentakkan tangannya sambil bergumam didatam hati “Tidak. Aku tidak boleh gila disini. Aku sedang berusaha untuk berbuat sesuatu untuk Rara Warih. Jika aku tenggelam dalam kenangan atas Rudira dan masa lampau, maka aku akan kehilangan lagi. Warih“ Perwira yang masih tegak di pintu itu heran melihat sikap Raden Ayu Galihwarit. Ia pernah mendengar bahwa puteri itu mempunyai semacam penyakit yang mengganggu syarafnya. Karena itu, iapun menjadi berdebar-debar. Lebih baik ia berada di medan perang daripada harus menghadapi seorang puteri yang terganggu syarafnya. Perwira itu menjadi sangat gelisah. Ketika Raden Ayu Galihwar it itu berdiri sambil tersenyum, maka iapun melangkah surut. “Jangan takut anak muda. Mungkin kau pernah mendengar serba sedikit tentang penyakitku. Tetapi sekarang aku sadar sepenuhnya” berkata Raden Ayu Galihwarit “sekarang, antarkan aku kepada Ki Tumenggung Watang. Aku akan berbicara tentang Warih” Perwira muda itu menar ik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian mempersilahkan Raden Ayu berjalan di depan.Di luar sadarnya, perwira muda itu sempat mengamati Raden Ayu Galihwarit yang berjalan di depannya. Langkahnya kecil-kecil meskipun agak cepat, seirama dengan gerak lambungnya. “Gila. Ia sudah setua ibuku“ perwira itu menggeram di dalam hatinya. Namun ia tidak dapat ingkar, bahwa Raden Ayu Galihwarit adalah seorang puteri yang cantik dan nampak jauh lebih muda dari usianya, justru setelah ia menjadi agak kurus dan bertambah kuning. “Memang agak aneh” berkata perwira itu di dalam hatinya “dalam keadaan sakit, ia masih tetap sempat memelihara kecantikannya” Tetapi perwira itupun mengetahui, bahwa Raden Ayu itu tidak dalam keadaan sakit seperti orang sakit kebanyakan. Hanya kadang-kadang saja gangguan syaraf itu datang. Selebihnya, ia sebagaimana orang sehat-sehat saja, sehingga ia masih sempat juga ngadi sarira sebagaimana selalu dilakukannya. Sejenak kemudian, maka Raden Ayu itupun telah dipersilahkan memasuki sebuah bilik yang cukup besar. Tumenggung Watang telah menunggunya dengan tidak sabar. Ia tahu pasti, bahwa Raden Ayu Galihwarit itu tentu akan menemuinya dan minta ijin kepadanya untuk menemui puterinya yang ditahan di bekas istana Pangeran Ranakusuma itu. “Silahkan Raden Ayu“ Tumenggung Watang mempersilahkan. Raden Ayu itupun kemudian duduk di hadapan Tumenggung Watang. Sebelum dipersilahkan, Raden Ayu itupun berkata “Ki Tumenggung tentu sudah mengetahui maksud kedatanganku kemar i” “Ya Raden Ayu” jawab Tumenggung Watang “Raden Ayu akan berbicara tentang Rara Warih”“Ya. Aku ingin bertemu dengan puteriku” berkata Raden Ayu Ranakusuma kemudian “Apakah aku diijinkan?“ “Pada dasarnya kami tidak berkeberatan Raden Ayu” jawab Tumenggung Watang “Tetapi bukankah Raden Ayu sudah tahu, kenapa Rara Warih itu ditangkap?“ “Ternyata telah terjadi satu kesalahan sikap dari pasukan berkuda atau dari para Senapati di Surakarta” berkata Raden Ayu Galihwar it “Apa artinya Rara Warih bagi anak pidak pedarakan yang menyebut dir inya putera Pangeran Ranakusuma itu” “Maksud Raden Ayu?“ bertanya Tumenggung Watang. “Apakah Ki Tumenggung menganggap bahwa Warih akan dapat dipergunakan untuk memancing Juwiring?“ justru Raden Ayu itupun bertanya. Tumenggung Watang mengangguk. Jawabnya “Ya Raden Ayu. Karena itu, maka kami terpaksa untuk sementara menahan Rara Warih di sini atas persetujuan para Senapati” “Dan kumpeni“ Raden Ayu bertanya. Tumenggung Watang menarik nafas panjang. Kemudian jawabnya “Ya. Atas persetujuan kumpeni. Tetapi persetujuan itu pada dasarnya karena keterangan-keterangan yang kami berikan”Tetapi Raden Ayu Galihwarit itu tertawa. Katanya “Kalian salah hitung. Warih dan Juwiring bukan dua orang saudara yang mempunyai ikatan jiwani. Juwiring t idak akan menghiraukan meskipun seandainya Warih akan digantung sekalipun” Tumenggung Watang mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya “Semuanya telah berubah sejak Raden Ayu sakit. Aku yakin, bahwa keduanya telah menemukan diri mereka dalamhubungan dua orang saudara” Tetapi Raden Ayu menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku lebih tahu tentang j iwa anakku. Aku tahu bahwa pada suatu saat ia tidak dapat menolak tekanan ayahandanya untuk menerima Juwir ing sebagai kakaknya. Tetapi aku tahu pasti, apa yang bergejolak di dalam jiwa anakku. Tetapi sebaliknya, aku juga tahu, apa yang bergejolak di dalam jiwa Juwir ing. Tanpa Rara Warih, Juwiring adalah satu-satunya putera Pangeran Ranakusuma” “Untuk apa kebanggaan Raden Juwir ing, bahwa ia adalah satu-satunya putera Pangeran Ranakusuma? Jika keadaan tidak berubah, mungkin ia akan mendapatkan hak atas warisan dari segala harta kekayaan Pangeran Ranakusuma. Tetapi sekarang tidak lagi. Tidak ada lagi yang berhak mewarisi kekayaan Pangeran Ranakusuma yang melimpah ini, karena Pangeran Ranakusuma sudah menentang Kangjeng Susuhunan” Tetapi Raden Ayu itu tersenyum. Katanya “Pandangan Ki Tumenggung ternyata sangat sempit. Apakah Ki Tumenggung tidak memperhitungkan bahwa suwasana akan berubah? Bahkan mungkin sekali Pangeran Mangkubumi akan menang, sehingga dengan demikian Juwiring akan dapat memperhitungkan warisan yang ditinggalkan oleh Pangeran Ranakusuma yang bagi perjuangan Pangeran Mangkubumi sama sekali bukan seorang pengkhianat, bahkan ia adalah seorang pahlawan” Raden Ayu itu berhenti sejenak, lalu “Nah,atas dasar perhitungan itulah maka Juwiring justru ingin diangkat sebagai satu-satunya putera Pangeran Ranakusuma” “Tetapi apakah Raden Ayu mempunyai perhitungan, meskipun hanya sepercik kecil, bahwa Pangeran Mangkubumi akan menang?“ bertanya Tumenggung Watang. “Semua kemungkinan dapat terjadi” jawab Raden Ayu. Lalu “Tetapi sudah barang tentu bahwa aku tidak akan berdoa demikian. Aku ingin keadaan tidak berubah. Karena dengan demikian, maka aku akan mendapat kesempatan untuk menuntut hak semua warisan yang ditinggalkan oleh Pangeran Ranakusuma. Aku tidak dapat disertakan dalam kesalahannya, karena aku tidak terlibat di dalamnya. Bahkan pada waktu itu, seolah-olah aku memang sedang disingkirkan. Karena itu, maka akulah yang berhak untuk mendapatkan segala kekayaan Pangeran Ranakusuma. Sebelum segalanya terjadi, maka aku memang akan mulai dengan segala macam usaha untuk mendapatkan hakku kembali. Sudah tentu bahwa kemudian segala warisan Itu akan jatuh ke tangan Rara Warih” Tetapi Tumenggung Watang menggelengkan kepalanya. Dengan nada dalam ia berkata “Aku mohon Raden Ayu dapat bertemu dengan Rara Warih sendir i. Raden Ayu akan dajgat berbicara dengan puteri itu. Raden Ayu akan tahu sikapnya. Mudah-mudahan Raden Ayu tidak kecewa karenanya” “Aku memang akan bertemu dengan Warih. Aku ingin berbicara berterus terang” desis Raden Ayu Galihwarit. “Silahkan. Biarlah seorang emban mengantarkan Raden Ayu berkata Tumenggung Watang. “Aku ingin berbicara dengan War ih tanpa orang lain. Aku ingin ia berbicara terbuka” jawab Raden Ayu Galihwarit. Tumenggung Watang menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Silahkan. Biarlah seorang prajurit mengantar Raden Ayu sampai ke bilik Rara Warih”Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Kemudian seperti dikatakan oleh Tumenggung Watang, maka iapun segera diantarkan oleh seorang prajur it menuju ke bilik Rara Warih di gandok. Kehadiran Raden Ayu Galihwarit membuat puterinya terkejut bukan buatan. Ia sama sekali t idak menyangka, bahwa ibunya akan datang menemuinya. Rara Warih masih tegak mematung di dalam biliknya ketika ibunya memberi isyarat kepada prajurit yang mengantarkannya untuk meninggalkan bilik itu. Demikian prajur it itu pergi, maka Raden Ayu itupun segera menutup dan menyelarak pintu dar i dalam. Untuk beberapa saat keduanya berdiri mematung sambil berpandangan. Namun Raden Ayu itu menyadari, bahwa Rara Warih masih dibayangi oleh kebimbangan perasaan. Karena itu, ketika Raden Ayu maju setapak, justru Rara Warih mundur selangkah. “Warih” desis ibundanya. Rara Warih menjadi semakin cemas. Dengan bibir gemetar ia berdesis “Ibunda. Bukankah ibunda sedang sakit?“ Betapa pedihnya pertanyaan itu. Pertanyaan yang dilontarkan oleh anak gadisnya yang sangat dicintainya, tetapi yang dengan sadar Raden Ayu Galihwarit mengerti bahwa anaknya itu tentu merasa muak memandanginya. “Aku memang sedang sakit, Warih” jawab ibunya hati-hati “Tetapi ketika aku mendengar bahwa kau berada disini, aku memer lukan datang menengokmu” Wajah Rara Warih menjadi semakin membayangkan kecemasannya. Namun dalam pada itu ibundanya barkata “Tetapi bukankah kau mengetahui, bahwa aku tidak berbahaya bagimu? Dan meskipun aku sakit, tetapi adakalanya aku sadar sepenuhnya tentang apa yang aku lakukan seperti sekarang ini?“ “Tetapi kenapa ibu tidak t inggal saja di istana eyang Sindurata. Jika ibunda kambuh di sembarang tempat, maka alangkah sakitnya hati keluarga eyang Sindurata” desis Warih. “Aku menyadari sepenuhnya Warih. Itulah sebabnya aku berjuang sekuat-kuatnya untuk tidak kambuh di sembarang tempat. Ketika aku memasuki bilik-bilik di bekas istana kita, rasa-rasanya hatiku mulai bergetar. Tetapi aku sudah mempunyai kekuatan batin untuk melawan kegilaanku itu. Justru pada saat aku mendengar ayahandamu gugur di peperangan, maka kejutan itu merupakan imbangan dari kejutan pada saat aku mendengar kakakmu terbunuh, justru di hadapan mataku, tetapi tanpa aku sadari” Rara Warih bergeser surut. Ketika ibunya melangkah maju lagi, ia berkata “Ibunda tetap di situ” “Warih” desis ibundanya “Aku sadar sepenuhnya. Dan aku sudah mendapatkan kekuatanku kembali untuk tetap sadar” “Seandainya ibunda sudah sembuh, namun ibunda tentu tidak akan mengerti persoalan yang sedang aku hadapi sekarang” berkata Rara Warih. “Aku mengerti sepenuhnya Warih” jawab ibundanya “Kau telah ditangkap oleh prajur it dari pasukan berkuda. Atas persetujuan para Senapati di Surakarta serta kumpeni, kau telah ditahan sebagai taruhan, agar kakandamu Raden Juwiring dengan mudah dapat ditangkap” Rara Warih memandang ibundanya dengan tatapan mata yang aneh. Menurut pendengarannya, aneh pula bahwa ibundanya telah menyebut Raden Juwir ing dengan sebutan yang lengkap sebagai kakaknya.Biasanya ibundanya sangat merendahkan Raden Juwiring dan menganggapnya bahwa Juwiring tidak sederajad dengan dirinya meskipun keduanya seayah. Sementara Rara Warih masih dicengkam oleh kebimbangan akan sikap, ibundanya, Raden Ayu Galihwarit itupun berkata seterusnya “Warih. Aku telah mendengar banyak tentang persoalan yang kau hadapi” “Jika demikian” sahut Rara Warih “Apakah yang karang ibunda kehendaki” “Aku ingin mendengar pengakuanmu. Bagaimanakah sikapmu terhadap tindakan ayahandamu dan kakandamu Raden Juwiring” jawab ibundanya. “Jika ibunda mengetahuinya?“ bertanya Rara Warih pula. Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti, anak gadisnya itu tidak lagi menaruh hormat kepadanya Rara Warih tentu sudah pernah mendengar, mungkin dari mulutnya sendiri, atau dari mulut orang lain, bahwa dalam keadaan tidak sadar, ia dapat menyebut apa saja yang bagi seorang gadis seumur Rara Warih itu tentu akan sangat memuakkan. Tetapi Raden Ayu Galihwarit tidak akan ingkar. Ia justru telah mempersiapkan dir inya lahir batin untuk mengalami perlakuan apa saja dari siapa saja. Namun bahwa ia telah meletakkan dasar dan tujuan dengan penuh kesadarannya atas sikapnya itu. Karena itu, maka katanya kemudian “Rara Warih. Betapapun rendah martabat seseorang, namun ia akan tetap mencintai anaknya. Aku tahu, bahwa kau memandang aku tidak lagi sebagai seorang perempuan yang pantas dihormati. Aku tidak berkeberatan Warih. Aku mengerti perasaanmu. Tetapi bagaimanapun juga, aku merasa bahwa aku tidak akan dapat membiarkan kau disekap dalamkeadaan seperti ini”“Dan ibunda akan mengorbankan kamas Juwiring agar aku dapat dilepaskan dar i tempat ini?“ bertanya Rara Warih pula. Raden Ayu Galihwarit itu menahan gejolak perasaannya. Betapa matanya terasa panas, tetapi ia tidak mau menangis. Ia tidak mau hanyut ke dalam arus perasaannya yang tidak menentu. Jika demikian, ia akan kehilangan pengamatan diri, dan ia akan jatuh ke dalam suasana yang mengerikan bagi anak gadisnya itu. Karena itu, bagaimanapun juga ia yakinkan dirinya sendir i, bahwa ia akan tabah menghadapinya. Rara Warih mengerutkan keningnya ketika ia melihat ibundanya justru tersenyum. Katanya “Rara Warih. Cobalah katakan. Dimanakah kau sekarang berdiri. Biarlah aku tahu deagan pasti, sehingga aku akan dapat mengambil langkah- langkah yang sebaiknya aku lakukan. Sebenarnya aku sudah menduga sikapmu sekarang. Tetapi aku ingin mendengar kau sendiri mengucapkannya” “Aku berdiri bersama kakangmas Juwir ing” jawab Rara Warih tegas. Sekali lagi Rara Warih terkejut ketika ia melihat ibunya mengangguk. Ibunya sama sekali tidak menunjukkan perubahan perasaan di wajahnya ketika ia mendengar pengakuan Rara Warih. Bahkan Raden Ayu Galihwarit itupun kemudian berkata “Aku yakin bahwa kau akan mengatakannya Warih” “Aku tidak mengerti sikap ibunda“ justru Rara Warihlah yang kemudian menjadi bingung. “Aku sudah mendengar serba sedikit, bahwa kau telah melibatkan dir i, langsung atau tidak langsung. Kau ditangkap di padepokan Jati Aking dan bahkan para prajurit pasukan berkudapun yakin bahwa kau akan dapat dipergunakannya memancing kakandamu Raden Juwiring” berkata Raden Ayu kemudian.“Lalu, apakah yang akan ibunda lakukan? Berusaha memancing kakangmas Juwiring?“ bertanya Rara Warih. “Aku tidak merasa aneh bahwa kau akan berprasangka demikian. Tetapi Warih, ternyata pengalaman batinku telah membuat aku berubah. Aku sudah bertemu dengan kakandamu Raden Juwiring. Aku sudah mendengar segala- galanya” jawab Raden Ayu Ranakusuma. “Jadi, bagaimana sikap ibunda?“ bertanya Rara Warih pula. “Warih” desis ibundanya perlahan-lahan “Aku tidak akan ingkar di hadapanmu. Kau tentu sudah tahu apa yang pernah aku lakukan, sehingga kau tentu menganggap aku seorang perempuan yang kotor. Tetapi bagaimanapun juga, aku masih berperasaan. Pada akhirnya aku melihat suatu perkembangan j iwani di dalam dadaku. Aku merasa bersalah. Sampai saatnya Pangeran Ranakusuma gugur, aku belum pernah mohon maaf kepadanya. Karena itu, berilah aku kesempatan untuk menebus segala, dosa dan noda yang pernah melumur i kecantikanku” “Ibunda” suara Rara Warih menjadi parau. “Aku berkata sebenarnya Warih. Aku akan mempergunakan sisa hidupku untuk berbakti kepada Pangeran Ranakusuma” desis Raden Ayu Galihwar it “Aku akan meneruskan perjuangannya, sudah tentu aku akan mempergunakan caraku” Wajah Rara Warih menjadi tegang.“Apakah masih ada secercah kepercayaanmu kepada ibundamu ini ngger?“ suara Raden Ayu Galihwar it menurun. Terasa sesuatu tergetar di jantung Rara Warih. Betapapun kotornya, perempuan itu adalah ibundanya yang mencintainya dan yang sebenarnya juga dicintainya. Karena itu, di luar sadarnya, tiba-tiba saja matanya mulai mengaca. “Warih“ terdengar ibundanya berkata pula “aku mohon kau percaya. Aku sudah mengakui segala kesalahanku. Aku mohon maaf kepadamu, justru kau seorang gadis yang sangat mudah melihat segala kesalahan dan dosa-dosaku. Selebihnya, dengan ikhlas aku sudah menerima Raden Juwiring sebagai anakku sendir i. Apalagi setelah aku mengerti, betapa kuat hatinya dan ternyata ia seorang yang luhur budi” ibundanya berhenti sejenak, lalu “Kau mau memaafkan aku, Warih?“ Rara Warih termenung sejenak. Namun kemudian iapun berlari memeluk ibundanya. Pelupuknya tidak lagi mampu membendung air matanya yang mengalir bagaikan banjir. Seperti masa kanak-kanaknya, Rara Warih menangis di dalam pelukan ibundanya. Air matanya membasahi pangkuan ibundanya yang kemudian duduk di pembaringan Rara Warih. Betapa jantungnya bagaikan teriris sembilu, namun Raden Ayu Ranakusuma itu berusaha bertahan dari hempasan perasaannya. Ia masih dibayangi oleh satu kecemasan, bahwa jika ia terseret arus perasaannya yang tidak terkendali, maka ia akan dapat kehilangan pengamatan atas kesadarannya dan jatuh ke dalam keadaan yang akan dapat membuat Warih terguncang pula hatinya. “Tidak“ ia mengatupkan giginya untuk menahan hati “Aku tidak mau kehilangan lagi. Aku t idak mau menjadi sampah yang tidak berarti di hadapan anakku sendiri”Dengan tangan gemetar Raden Ayu itu mengusap kepala anaknya sambil berkata “Sudahlah Warih. Kita sudah sampai pada satu keadaan seperti ini. Penyesalan tidak lagi banyak membantu kita. Karena itu kita sekarang harus memikirkan, bagaimana kita dapat mengatasi kesulitan ini” Rara Warih mengusap wajahnya yang basah. Ia masih mendengar ibunya berkata “Kita jangan kehilangan akal. Mungkin kau masih harus tabah untuk satu dua hari lagi” “Apakah yang akan ibu lakukan?“ bertanya Rara Warih. “Aku akan berusaha agar kau dapat keluar dari tempat ini tanpa mengorbankan kakandamu” jawab ibundanya. ”Apakah ibunda mempunyai cara tertentu? Apakah para pemimpin prajurit dari pasukan berkuda ini dapat diajak berunding?“ bertanya puterinya. “Aku akah mempergunakan segala cara” jawab ibundanya “jika ayahandamu telah memberikan korban yang paling besar, ialah nyawanya, maka akupun akan mengorbankan apa yang ada padaku. Maksudku bukan sekedar agar kau bebas dari batas-batas dinding ruangan ini, tetapi agar kau tidak menjadi hambatan bagi perjuangan kakandamu Raden Juwiring. Bahkan mungkin dalam keadaan putus-asa, Juwiring akan benar-benar datang menyerahkan dirinya bagi kebebasanmu” Wajah Rara Warih inenjadi tegang. Terbayang cara yang akan ditempuh oleh ibundanya. Terasa bulu-bulunya mulai meremang. Namun ibundanya tersenyum sambil berkata “Warih. Jangan hiraukan aku. Aku adalah sampah yang paling kotor. Tetapi biarlah sampah itu mempunyai arti juga sebagaimana sampah itu pula. Sampah akan berguna juga sebagai pupuk tanaman justru ia adalah sampah”Sekali lagi perasaan gadis itu tersentak. Sekali lagi ia menjatuhkan kepalanya dipangkuan ibunya sambil menangis. Dengan tangan gemetar ibundanya mengusap lagi rambutnya sambil berkata “Sudahlah Warih. Jangan kau tangisi ibundamu. Mudah-mudahan usaha kita berhasil. Kematian ayah-andamu janganlah sia-sia. Meskipun Pangeran Mangkubumi tidak mengerti apa yang kita lakukan, biarlah kita membantunya meskipun hanya setitik air yang menetes di lautan. Diamlah dan bersikaplah sebagaimana sikap ayahandamu menghadapi amukan api peperangan” Kata-kata ibundanya itu ternyata telah menyentuh hati Rara Warih. Pada saat-saat batinya menjadi lemah, ia mencoba bersandar pada kebesaran nama ayahandanya. Dan kini ibundanya juga menyebut nama ayahandanya, Pangeran Ranakusuma. Seorang Senapati pilih tanding di medan perang. Karena itu, maka Rara Warihpun telah mencoba menahan air matanya. Bahkan iapun kemudian mencoba duduk di samping ibundanya. “Warih” berkata Raden Ayu Ranakusuma “pertemuan kita sudah cukup lama. Aku akan kembali kepada eyangmu. Aku akan mencoba mempergunakan pengaruhnya untuk membebaskanmu. Atau usaha-usaha yang lain yang mungkin dapat aku lakukan” Rara Warih mengangguk sambi berdesis “Silahkan ibunda” “Tetapi ketahuilah, bahkan kepada orang lain, aku bersikap seolah-olah aku tidak mengakui Juwir ing sebagai putera Pangeran. Ranakusuma yang sederajad denganmu. Mungkin sikapku itu menyakiti hatinya j ika ia menyaksikannya lewat mata siapapun juga. Tetapi mudah-mudahan dengan demikian aku akan berhasil” berkata ibundanya. Sekali lagi Raden Ayu itu minta diri. Kemudian dibukanya selarak pintu bilik itu. Ketika ia keluar dari bilik itu, dilihatnya prajurit yang mengantarkannya berdiri di seketheng.Langkah Raden Ayu yang mendekati prajur it itu telah menyadarkannya dari sebuah lamunan. Ketika prajurit itu berpaling, dilihatnya Raden Ayu Ranakusuma tersenyum kepadanya sambil berkata “Aku sudah selesai. Antarkan aku kepada Tumenggung Watang” Prajurit itupun kemudian mempersilahkan Raden Ayu Galihwar it kembali memasuki bilik Tumenggung Watang yang nampaknya masih menunggu. “Silahkan Raden Ayu“ Tumenggung itu mempersilahkan. Sambil duduk Raden Ayu itu berkata “Aku sudah bertemu dengan anak gadisku” “Nah, bukankah Raden Ayu sudah mengetahui sikap dan pendiriannya?“ bertanya Tumenggung Watang. Raden Ayu Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam Katanya “Ia hanya salah menangkap suasana” “Maksud Raden Ayu?“ bertanya Tumenggung Watang. “Aku sudah member i penjelasan kepadanya” berkata Raden Ayu Ranakusuma “bahwa segalanya sama sekali tidak berarti baginya” “Bagaimana pendapat Rara Warih?“ bertanya Tumenggung itu pula. “Seperti aku katakan, aku adalah ibundanya. Aku mengerti watak dan tabiatnya. Karena itu, maka aku merasa yakin dapat menjelaskan kepadanya” Raden Ayu itu berhenti sejenak, lalu “Ki Tumenggung. Rara Warih telah mendapat keterangan yang salah dari ayahandanya, justru karena ayahandanya tiba-tiba saja melihat aku sebagai seorang yang tidak pantas lagi tinggal di istana ini pada saat aku sakit. Dengan keterangan-keterangan khusus, dan mungkin dengan sedikit tekanan puteriku telah menerima kehadiran Juwiring sebagai kakaknya. Tetapi semuanya itu bukannya memancar dari hatinya. Juga perjuangan Pangeran Mangkubumi samasekali tidak dimengertinya. Ia mendengar dan mendapat keterangan yang berlebih-lebihan dari ayahandanya yang kebetulan mengambil langkah yang salah” Tumenggung Watang mengerutkan keningnya. Sementara Raden Ayu itu berkata selanjutnya “Ki Tumenggung. Mungkin Ki Tumenggung telah mengenal cara hidupku sebelum aku disingkirkan dari istana ini. Dan aku sudah terbiasa dengan hidup seperti itu. Aku tidak akan dapat menempuh cara hidup yang lain” “Tetapi, bagaimana sikap puteri terhadap Rara Warih?“ bertanya Tumenggung Watang. “Aku sudah memberikan penjelasan kepadanya. Ternyata bahwa hatinya memang lebih dekat dengan ibundanya. Ia percaya kepadaku, dan ia tidak menghiraukan lagi apakah ada seseorang yang bernama Juwiring, karena derajad kami memang berbeda” Tumenggung Watang mengerutkan keningnya. Jika menyinggung soal derajad, maka ia sendiripun akam merasa tersentuh pula, karena tentu Raden Ayu itu menganggapnya bahwa ia tidak sederajad dengan keluarga Ranakusuman. “Lalu, bagaimanakah menurut Raden Ayu?“ bertanya Tumenggung Watang itu pula. “Aku dan Rara Warih sendiri tidak berkeberatan untuk tinggal di tempatnya. Mungkin pengorbanannya itu benar- benar akan dapat memancing Juwiring. Tetapi kemungkinan itu kecil sekali” jawab Raden Ayu “Juwiring tentu tidak menghiraukan sama sekali arti Rara Warih baginya” “Jadi penahanan itu menurut puteri tidak akan ada gunanya?” bertanya Tumenggung Watang. “Tidak” jawab Raden Ayu Galihwarit “Tetapi dapat dicoba. Sudah aku katakan, Rara Warih tidak berkeberatan tinggal di tempat itu selama lima har i lagi. Mudah-mudahan Juwiringbenar-benar seorang laki-laki jantan dan bersedia datang untuk pembebasan Rara Warih” Tumenggung Watang termaogu-mangu sejenak. Namun ia tergagap ketika Raden Ayu itu bertanya “Tetapi Ki Tumenggung. Setelah saat pengorbanan itu berakhir, apa yang akan Ki Tumenggung lakukan terhadap anak gadisku? Jika benar dalam waktu lima hari Juwiring tidak memenuhi wara-wara itu, apakah kesalahannya akan ditimpakan kepada Rara Warih? Jika demikian alangkah bangganya Juwiring dengan sikapnya. Ia sudah berhasil menepuk dua ekor lalat dengan sekali ayun. Yang pertama ia tetap bebas, sedang yang kedua, Warih, saingannya dalam memperebutkan warisan apapun ujudnya dari Pangeran Ranakusuma, telah di sisihkan oleh tangan-tangan yang tidak mengerti keadaan dan persoalannya” Namun ternyata Ki Tumenggung itu menggeleng. Jawabnya “Tentu tidak Raden Ayu. Tentu kami tidak akan dapat membebankan kesalahan Raden Juwiring dan ayahandanya kepada Rara Warih” “Ki Tumenggung berbicara sebagai pribadi atau sebagai seorang Senapati dari pasukan berkuda yang dapat mempertanggung jawabkan kepada para Senapati yang lain dan kumpeni?“ bertanya Raden Ayu Galihwarit. Sejenak Tumenggung itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Aku akan membicarakannya dengan segala pihak. Mudah-mudahan mereka dapat mengerti” Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Katanya “Terima kasih Ki Tumenggung. Aku akan membantu Ki Tumenggung untuk membicarakannya dengan segala pihak” Tumenggung Watang mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Apa maksud Raden Ayu?“ Raden Ayu tertawa. Katanya “Bukankah Ki Tumenggung sudah menyatakan bahwa Rara Warih tidak akan ternodai olehkesalahan ayahandanya dan oleh Juwiring yang mengaku putera Pangeran Ranakusuma itu” “Raden Juwiring memang putera Pangeran Ranakusuma” potong Tumenggung Watang. “Tetapi ia tidak sederajad dengan Rara Warih” jawab Raden Ayu dengan wajah yang merah. Tumenggung Watang tidak menyahut. Ia tidak ingin berbantah tentang susunan keluarga Pangeran Ranakusuma. Karena itu maka katanya kemudian “Tetapi apakah yang Raden Ayu maksudkan dengan membantu aku untuk membicarakannya dengan segala pihak” “Aku akan berbicara dengan siapa saja yang mungkin aku temui, dan yang mempunyai hubungan dan kepentingan langsung dengan penahanan Rara Warih selain Ki Tumenggung. Jika mereka sependapat dengan Ki Tumenggung, bukankah persoalannya sudah selesai?” jawab Raden Ayu Galihwarit. Wajah Ki Tumenggung menegang. Tetapi ia tahu maksud Raden Ayu Galihwarit. Karena itu, katanya kemudian “Tetapi penahanan itu harus genap sampai har i ke lima” “Itu bukannya sikap yang dewasa” jawab Raden Ayu “Tidak ada salahnya Warih dibebaskan meskipun ia baru satu atau dua hari berada di dalam tahanan. Tetapi dengan cara yang baik. Tidak seorangpun yang mengetahui bahwa gadis itu sudah dibebaskan. Sudah tentu para petugas akan mengetahui. Tetapi maksudku, orang luar tidak akan mengetahuinya, sehingga tidak akan mempengaruhi sikap Juwiring, meskipun aku tetap ragu, bahwa ia akan menghiraukan gadis yang disebut adiknya itu” Tumenggung Watang hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memang memperhitungkan, bahwa Raden Ayu Galihwar it itu akan mungkin sekali mendapat persetujuan dari para Senapati dan Kumpeni.Karena itu, maka katanya “Terserahlah kepada Raden Ayu. Tetapi itu bukan berarti bahwa aku tidak berperhitungan” “Tentu. Ki Tumenggung akan dapat menilai segala keputusan yang akan diambil bersama tanpa merugikan usaha untuk menangkap. Juwiring, sebagaimana akupun sebenarnya menghendakinya. Bahkan bukan saja ditangkap, tetapi dengan satu keyakinan, bahwa ia tidak akan mengganggu Warih dikemudian hari, karena aku akan bekerja dengan segala cara untuk menuntut hakku atas segala harta benda yang ditinggalkan oleh Pangeran Ranakusuma” jawab Raden Ayu Galihwar it. Tumenggung Watang hanya dapat mengangguk-angguk. Ia tidak dapat langsung menentang usaha Raden Ayu itu untuk mengambil haknya, justru ia sudah terlanjur tinggal di istana itu, meskipun hanya di sebagian kecil saja dari seluruh istana yang luas itu. Jika ia berbuat demikian, maka Raden Ayu itu akan menyangka, bahwa ia sendirilah yang sebenarnya ingin memiliki segala harta yang ada di dalam istana yang kosong itu. Dalam pada itu, maka Raden Ayu Galihwaritpun segera minta dir i kepada Tumenggung Watang untuk kembali ke istana ayahandanya, Pangeran Sindurata. Namun, demikian ia turun tangga menuju ke keretanya, ia masih sempat berpesan kepada Ki Tumenggung “Ki Tumenggung, aku ingin mendengar Juwiring itu tertangkap di medan, bukan karena ia menyerahkan diri bagi pembebasan Rara Warih. Aku tidak mau berhutang budipada anak pidak-pedarakan itu, agar aku tidak merasa berkewajiban untuk menebusnya dengan cara apapun juga. Aku kira pasukan berkuda dar i Surakarta yang besar itu akan dapat menangkapnya, hidup atau mati” Tumenggung Watang tersenyum. Jawabnya “Mudah- mudahan Raden Ayu. Mudah-mudahan kami segera dapat melakukannya tanpa menunggu anak itu datang menyerahkan diri” Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Kemudian iapun naik ke dalam kereta Pangeran Sindurata yang tidak sebaik kereta Pangeran Ranakusuma. Tetapi kereta itu cukup memadai bagi seorang puteri secantik Raden Ayu Galihwarit. Sejenak kemudian maka kereta itupun telah berderap meninggalkan halaman istana Pangeran Ranakusuma yang telah dikosongkan, dan yang kemudian dipergunakan oleh pasukan berkuda Surakarta yang perkasa itu. Demikian kereta itu keluar dari regol halaman, maka senyum Raden Ayu itupun segera lenyap dari bibirnya. Ia mulai merenung, bagaimana sebaiknya yang dilakukannya agar ia dapat membebaskan Rara Warih tanpa menunggu batas waktu yang diberikan oleh para Senapati di Surakarta. Tetapi Raden Ayu Galihwarit telah berpengalaman bergaul dengan kumpeni. Ia akan dapat memanfaatkan kebiasaannya itu. Apalagi karena Pangeran Ranakusuma sudah t idak ada. Ketika ia sampai di istana ayahandanya, maka Raden Ayu itupun segera menyampaikan persoalannya kepada ayahandanya. Ia mohon agar ayahandanya dapat membantunya, membebaskan Warih dari tangan pasukan berkuda yang menahannya. “Aku tidak turut campur” jawab Pangeran Sindurata “Aku sudah tua. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan menghadapi persoalan ini”“Dan ayahanda sampai hati membiarkan cucunda dalam keadaan seperti sekarang?“ bertanya Rara Warih. “Sudah tentu aku tidak akan sampai hati. Tetapi apa yang dapat aku lakukan? Jika aku berusaha membebaskannya, apakah aku tidak akan dapat dituduh membantunya?” jawab Pangeran Sindurata. Namun kemudian katanya “Tetapi kau tidak usah cemas Galihwarit. Semuanya sudah aku bicarakan dengan beberapa orang perwira dari pasukan berkuda yang datang kemar i. Yang mereka lakukan hanya sekedar sebuah permainan. Warih tidak akan mengalami apapun juga. Justru yang dilakukan itu akan dianggap sebagai satu pengorbanan dan satu perjuangan bagi Surakarta” Raden Ayu Galihwarit yang merasa mempunyai kemampuan tersendiri untuk menolong puterinya itupun menjawab “Baiklah ayahanda. Kita akan menunggu saja, apa yang akan terjadi atas anak gadisku itu” Tetapi sebenarnyalah Raden Ayu Galihwarit tidak menunggu. Ternyata bahwa ia bertindak cepat. Sebagaimana pernah dilakukannya, maka iapun mulai mengunjungi loji tempat tinggal kumpeni yang berada di Surakarta, Kedatangannya memang mengejutkan. Tetapi Raden Ayu dapat saja mencari alasan, seolah-olah bahwa iapun ikut mengutuk tingkah laku Pangeran Ranakusuma. “Aku sudah diusirnya, jauh sebelum ia berkhianat” desis Raden Ayu Galihwarit sambil mengusap matanya. “Jangan sedih Raden Ayu“ seorang perwira kumpeni menghiburnya “bukankah dengan demikian, Raden Ayu akan mendapat kebebasan lebih besar untuk berbuat apa saja” Raden Ayu hanya tersenyumsaja. “Sekarang tidak akan ada lagi orang yang akan menantang duel salah seorang dari kami yang berhubungan dengan Raden Ayu” berkata kumpeni itu sambil tertawa.Raden Ayu Galihwarit itupun tersenyumpula. “Raden Ayu nampak bertambah kurus” berkata perwira itu “Kami tahu, Raden Ayu sedang sakit” “Sekarang aku sudah sembuh” jawab Raden Ayu. “Dan bertambah cantik“ perwira itu mulai bergurau. Raden Ayu Galihwarit sama sekali tidak canggung lagi bergaul dengan orang asing itu. Bahkan ia nampak semakin berani dan semakin panas sepeninggal suaminya. Namun dalam pada itu, di pagi harinya, pada saat matahari baru menjenguk dar i balik cakrawala, sebuah kereta berderap menuju ke istana Ranakusuman yang dipergunakan oleh pasukan berkuda. Seorang puteri yang cantik duduk seorang diri di dalam kereta itu. “Raden Ayu Galihwarit” desis para penjaga regol di istana Ranakusuman itu ”sepagi ini ia sudah datang kemari” Tidak seorangpun yang tahu maksudnya. Namun mereka sama sekali tidak mencegah kereta itu memasuki halaman. Ki Tumenggung Watangpun terkejut pula melihat kehadiran Raden Ayu itu. Karena itu, maka dengan tergopoh-gopoh ia menyambutnya. “Nampaknya ada sesuatu yang penting Raden Ayu?” bertanya Tumenggung Watang ketika Raden Ayu itu sudah duduk di dalam ruang yang khusus dipergunakan oleh Tumenggung Watang. Raden Ayu tersenyum cerah sekali. Tanpa menjawab separah katapun ia menunjukkan sehelai surat kepada Tumenggung Watang. Wajah Tumenggung Watang itupun menjadi tegang. Diterima surat itu dengan jantung yang berdebaran. “Apakah artinya ini Raden Ayu” bertanya Tumenggung Watang.“Silahkan Ki Tumenggung membacanya” jawab Raden Ayu “surat itu ditulis oleh seorang juru tulis yang berada di lingkungan kumpeni. Pada surat itu sudah dibubuhkan tanda sah atas surat itu” Sejenak Tumenggung itu termangu-mangu. Namun kemudian iapun membaca isi surat itu. Terasa wajah Tumenggung Watang menjadi panas. Dengan nada dalam ia bertanya “Bagaimana mungkin hal ini terjadi Raden Ayu” “Seperti sudah aku katakan, aku akan membantu Ki Tumenggung” jawab Raden Ayu Galihwarit “Tetapi tindakan Raden Ayu ini telah melanggar hakku. Dan surat inipun sebenarnya dapat aku tolak dan tidak berlaku” jawab Tumenggung Watang. Raden Ayu itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil berkata “Tentu akan terasa aneh jka Ki Tumenggung menolak surat itu. Yang mula-mula mengatakan bahwa Rara Warih tidak dapat dibebani kesalahan ayahandanya dan kesalahan Juwiring adalah Ki Tumenggung Kemudian Ki Tumenggung mengatakan, akan membicarakan hal ini dengan pihak-pihak lain. Untuk itu aku bersedia membantunya. Dan aku sudah berbicara dengan kumpeni, sehingga kumpeni telah menulis surat itu” “Tetapi ia tdak berhak memerintahkan kepadaku Untuk melepaskannya” geramTumenggung Watang. “Bukankah kumpeni tidak memer intahkan kepada Tumenggung Watang? Tetapi bukankah surat itu mengatakan, bahwa kumpeni tidak berkeberatan jika Rara Warih dilepaskan Tetapi dengan syarat. Nah, bagaimana pendapat Ki Tumenggung? Apakah justru Ki Tumenggung yang menjadi tumpuan harapanku yang pertama sebelum aku bertemu dengan kumpeni, justru akan berubah sikap?“ desak Raden Ayu itu.Tumenggung Watang akhirnya menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat mengabaikan pendapat kumpeni, meskipun secara urutan kekuasaan ia dapat menolak surat itu dan menunjuk kepada Senapati dalam tataran yang lebih tinggi, Panglima perang yang telah diangkat oleh Kangjeng Susuhunan dalam keadaan yang gawat itu. Namun akhirnya Ki Tumenggung itu berkata “Raden Ayu. Baiklah. Aku setuju. Tetapi syarat yang tersebut dalam surat ini harus dipenuhi. Rara Warih dibebaskan dengan rahasia. Karena itu, biarlah nanti malam gadis itu diantar ke istana Sinduratan” “Kenapa nanti malam? Bukankah aku dapat membawanya sekarang?“ bertanya Raden Ayu. “Jangan sekarang Raden Ayu. Mungkin seseorang akan melhatnya di jalan” jawab Ki Tumenggung Watang “sementara itu, justru kami akan mengeluarkan wara-wara yang lebih keras sifatnya, agar Raden Juwiring menyerah. Seolah-oeh kami akan membebaskan segala kesalahan kepada Rara Warih jika Raden Juwiring tidak tertangkap” Raden Ayu mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia berkata “Silahkan Ki Tumenggung. Aku justru sependapat sekali. Tidak seorangpun memang boleh mengetahui bahwa Rara Warih telah dibebaskan, agar masih ada satu kemungkinan seperti yang Ki Tumenggung harapkan. Meskipun harapan itu sangat kecil” Dengan demikian maka di antara Raden Ayu dan Ki Tumenggung Watang itu telah tercapai satu persetujuan, meskipun Tumenggung Watang itu telah tersinggung oleh sikap kumpeni yang seolah-olah dengan sesuka hatinya dapat memer intah segala bagian dalam jalur keprajuritan di Surakarta. Namun iapun seakan-akan telah kalah janji, bahwa ia sama sekali tidak akan menimpakan kesalahan Juwiring danPangeran Ranakusuma kepada gadis itu, sehingga jika ia berkeberatan untuk melepaskan gadis itu, maka seolah-olah ialah yang memersulit justru ia adalah orang yang pertama- tama mengatakan, bahwa Rara Warih tidak bersalah sama sekali. Setelah Ki Tumenggung berjanji untuk mengirimkan Rara Warih setelah gelap sehingga tidak akan ada orang lain yang mengetahui, dengan kereta yang terdapat di istana Ranakusuman, maka Raden Ayu itupun telah mohon kesempatan untuk bertemu dengan anak gadisnya. Tetapi Raden Ayu itu tidak memerlukan waktu yang lama. Ia hanya mengatakan beberapa patah kata tentang rencana yang akan dilakukan oleh Ki Tumenggung Watang atas gadis itu. Rara Warih memandang wajah ibunya dengan tatapan mata yang buram. Meskipun bibirnya mengucap terima kasih, tetapi hatinya bagaikan menjadi hancur. Ia sadar apa yang telah dilakukan oleh ibundanya. Ibundanya telah mengorbankan apa saja bagi kebebasannya. Tetapi Rara Warih berusaha untuk menahan hatinya. Ia tidak mau menyinggung perasaan ibunya yang telah berbuat apa saja baginya. Ia sadar, bahwa yang dilakukan oleh ibundanya itu justru karena ibundanya sangat mencintainya. Namun demikian, Raden Ayu Galihwar it meninggalkan bilik itu, Rara Warih telah menjatuhkan dirinya di pembaringannya. Ia tidak dapat menahan gejolak perasaannya. Alangkah pahitnya nasib yang menimpa dirinya. “Apakah sudah seimbang pengorbanan yang diberikan oleh ibunda bagi kebebasanku“ tangis Rara Warih. Namun Rara Warihpun sadar, bahwa yang dilakukan oleh ibundanya bukan saja bagi kebebasannya. Sebelumnya Ibundanya pernah melakukannya, justru karena ibundanyaadalah seorang puteri yang tamak, yang ingin memiliki jauh lebih banyak dari yang dapat diberikan oleh ayahandanya. Rara Warih hampir tidak dapat menahan diri lagi. Hampir saja ia menangis menjerit sekuat-kuatnya untuk melepaskan pepat di dadanya. Tetapi dalam pada itu, seorang emban telah memasuki biliknya. Dengan suara lembut ia berkata “Puteri, kenapa puteri justru menangis?“ Rara Warih berusaha untuk menahan diri. Tetapi justru karena itu maka iapun menjadi terisak-isak. Dadanya bagaikan menjadi pepat oleh tangis yang tertahan di lehernya. “Sudahlah puteri“ emban itu beringsut mendekat “Aku tidak pernah membawa patrem lagi seperti yang puteri perintahkan” Rara Warih mengangguk kecil. Tetapi isaknya masih saja menyesakkan dadanya. “Aku akan menemani puteri untuk mengisi waktu puteri, agar puteri tidak selalu berduka” berkata emban itu. ”katakan puteri, apa yang puteri kehendaki” Rara Warih menggeleng lemah. Tetapi tangisnya mulai mereda. Meskipun Rara Warih tahu, bahwa emban itu sebenarnya adalah petugas yang harus mengawasinya, tetapi sikapnya terlalu baik dan keibuan. Karena itulah, maka emban itu memang dapat mengisi hatinya yang seakan-akan dalam kekosongan. Dalam pada itu, sebenarnyalah yang dijanjikan oleh Tumenggung Watang. Ketika Surakarta mulai disaput oleh gelapnya malam, maka Tumenggung Watangpun telah menyiapkan sebuah kereta. Meskipun pada dasarnya ia percaya kepada para perwiranya, namun ia sendirilah yang akan mengantar Rara Warih ke istana Sinduratan. Bagaimanapun juga, ia masih mempertimbangkan kemungkinan yang buruk yang dapat terjadi atas puteri itu.Karena menurut penilaian para, prajurit, gadis itu adalah seorang tahanan, anak seorang pengkhianat yang dapat diperlakukan sekehendak hati mereka. Kedatangan Rara Warih disambut oleh ibunya dengan tiik air mata di pelupuknya. Tetapi seperti yang selalu dilakukan, ia berusaha untuk tidak tenggelam ke dalam dunianya yang suram. “Terima kasih Ki Tumenggung” berkata Raden Ayu itu kepada Ki Tumenggung. Tetapi ketika ia mempersilahkan Tumenggung itu duduk, maka Tumenggung Watang menjawab “Terma kasih Raden Ayu. Aku masih mempunyai tugas di rumah” Raden Ayu itu tersenyum. Katanya “Baiklah. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih” Tumenggung itupun kemudian minta diri pula kepada Pangeran Sindurata. sebelum sejenak kemudian keretanya berderap meninggalkan istana itu. Sepeninggal Ki Tumenggung, maka Raden Ayupun segera mengajak Rara Warih masuk. Kepada Pangeran Sindurata. Raden Ayu itupun memberi tahukan bahwa Rara Warih diij inkan tinggal di istana itu, namun bersifat rahasia. Tidak seorangpun boleh mengetahuinya. “Para hamba istana inipun harus diberitahukan, agar mereka tidak membuka rahasia ini“ minta Raden Ayu kepada ayahanda “jika hal ini didengar oleh para Senapati diSurakarta dan kumpeni, maka Rara Warih tentu akan diambil lagi dan ditahan di tempat yang lebih sulit untuk ditemui” “Serahkan hal itu kepadaku” jawab Pangeran Sindurata. Dalam pada itu. justru di har i berikutnya, telah dikeluarkan wara-wara, bahwa waktu yang disediakan bagi Juwir ing dan anak buahnya tinggal dua hari lagi. Bukan saja Juwir ing teapi juga anak buahnya, bekas pasukan berkuda, harus menyerahkan dir i. Jika tidak, maka semua kesalahan akan ditimpakan kepada Rara Warih yang juga tertangkap di padepokan Jati Aking, di antara pasukan Raden Juwiring. Wara-wara itu segera dapat didengar oleh para petugas sandi dari pasukan Pangeran Mangkubumi, sehingga hal itupun segera terdengar pula oleh Ki Wandawa. Karena itu, maka Ki Wandawapun segera memanggil Juwiring dan saudara angkatnya, Buntal untuk mendapat penjelasan bagaimana sikap yang akan diambilnya. Keterangan itu membuat Juwiring menjadi cemas. Dengan wajah yang tegang ia berkata “Aku pernah berjanji kepada ibunda Galihwarit untuk segera kembali. Tetapi aku sudah terlambat satu hari. Tetapi sebaiknya aku harus menghadap untuk mendapat penjelasannya” “Pergilah, tetapi kau harus berhati-hati. Mungkin wara-wara ini memang satu jebakan, agar kau berada di sekitar istana Ranakusuman atau di daerah tertentu yang mungkin akan kau datangi. di antaranya adalah istana Sinduratan?” pesan Ki Wandawa. Juwiringpun kemudian mempersiapkan dirinya. Ia memang harus berhati-hati sekali. Benturan-benturan kecil antara pasukan Pangeran Mangkubumi dengan kumpeni dan prajurit Surakarta yang terjadi di beberapa tempat, membuat para prajurit Surakarta itu semakin ketat mengawasi keadaan. “Aku akan ikut bersamamu kakang“ Arum mulai merengek.“Perjalanan ini sangat berbahaya” jawab Juwiring. “Tetapi aku akan dapat mengetahui, apakah kau boleh masuk ke istana Sinduratan atau tidak” desis Arum. “Bagaimana mungkin” sahut Buntal. “Aku akan mendahului kalian memasuki istana itu. Aku dapat saja membawa dagangan apapun juga. Kau tidak akan dapat mengulangi caramu. Jika di sekitar istana itu ada beberapa orang pasukan sandi dari Surakarta dan orang-orang upahan kumpeni, mereka akan segera mengenalmu. Tetapi tidak terhadapku” berkata Arum. Buntal mengerutkan keningnya. Tetapi Juwiringpun kemudian mengangguk-angguk. Desisnya “Ada juga baiknya. He, kau mau menjual apa yang pantas kau bawa masuk ke istana Sinduratan?“ “Apa saja. Mungkin sayuran. Mungkin juga tikar pandan atau reramuan jamu. Mangir atau lulur” jawab Arum “ayah Danatirta tentu akan dapat membuatnya” Akhirnya mereka sepakat untuk segera berangkat ke Surakarta dengan cara yang telah mereka setujui. Mereka memasuki kota ketika matahari mulai naik di hari berikutnya. Waktunya memang. sudah dekat dengan batas yang diberikan oleh para pemimpin di Surakarta. Juwiringpun kemudian menjadi semakin cemas ketika ia mengetahui bahwa tuntutan para pemimpin pasukan berkuda itu telah berkembang. Bukan saja Juwir ing, tetapi juga para pengikutnya, terutama bekas prajurit pasukan berkuda yang berpihak kepada Pangeran Mangkubumi. Dengan membawa reramuan obat-obatan, Arum berjalan di depan. di belakangnya Buntal dan Juwiring berjalan seolah- olah tidak menghiraukan gadis itu sama sekali. Dengan segala cara Juwiring berusaha untuk menyamarkan wajahnya. Dengan goresan-goresan kecil, pada bibir dan pelupukmatanya, ia sudah nampak berubah. Juga karena pakaiannya yang lusuh dan kakinya yang agak timpang. Bahkan kadang-kadang Buntal harus tertawa sendiri melihat sikap Raden Juwiring itu. “Sst, kau tentu menganggap aku pengecut” desis Juwiring. “Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi orang yang demikian itu tentu akan sangat menderita. Tidak akan ada seorang gadispun yang akan tertarik. Wajah yang kotor, buruk dan cacat” sahut Buntal. Juwiringpum tersenyum. Ia harus mempertahankan sikapnya sebagai seorang yang agak timpang, meskipun hanya sedikit. “Jika aku harus berjalan dengan cara ini sehari penuh, maka aku akan benar-benar menjadi timpang” desisnya. Untuk menjaga segala kemungkinan, maka Buntal dan Juwiring telah berhenti beberapa puluh langkah dari regol Sinduratan, sementara Arum sambil membawa reramuan obat-obatan yang dibuat dari dedaunan dan jenis akar empon- empon memasuki regol Sinduratan. Tidak seorangpun yang berminat untuk membeli reramuan obat-obatan itu. Namun Arum sudah melihat, tidak ada kesiagaan khusus di dalam halaman istana Pangeran Sindurata. Meskipun demikian, Arum masih juga berusaha untuk dapat bertemu dengan Raden Ayu Ranakusuma. Dengan nekad ia berkata kepada pelayan yang menolak untuk membeli itu “Raden Ayu Ranakusuma pernah berpesan kepadaku untuk membawa reramuan obat-obatan untuk sakit pening dan yang penting adalah pesanan Raden Ayu bagi kesehatannya agar nampak awet muda. Mangir dan lulur yang terbuat dari sejenis akar yang khusus”“Apakah Raden Ayu pernah memesannya?“ bertanya pelayannya. “Ya. Aku pernah mendapat pesan itu” jawab Arum. Tetapi ia tidak menduga bahwa pelayan itu bertanya “Dimana kau bertemu dengan Raden Ayu?“ Sejenak Arum kebingungan. Namun keumdian ia menjawab asal saja “di muka regol ini. Pagi-pagi benar. Matahari masih belum terbit. Nampaknya Raden Ayu sedang berjalan-jalan di halaman istana ini. Regol baru dibuka sedikit ketika tiba-tiba saja Raden Ayu itu mendorong pintu regol. Akupun berhenti dan berjongkok di hadapannya” Pelayan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Aku akan menyampaikannya kepada Raden Ayu” Ketika Raden Ayu mendengar keterangan pelayannya itu, dengan serta merta ia menjawab “Ia tentu berbohong. Aku tidak pernah memesan reramuan obat-obatan semacam itu. Katakan, aku tidak memerlukannya” Tetapi ketika pelayan itu pergi, baru Raden Ayu itu sadar, bahwa pada saat semacam itu, maka dengan tergesa-gesa iapun segera menyusul pelayannya. Arum merasa kecewa sekali mendengar jawaban pelayan itu. Tetapi harapannya telah tumbuh kembali ketika ia melihat seorang puteri yang muncul di belakang pelayan itu. “Itukah perempuan yang mengatakan bahwa aku telah memesan reramuan obat-obatan?“ bertanya Raden Ayu Galihwar it. Arum menjadi berdebar-debar. Jika Raden Ayu itu justru marah kepadanya, maka ia akan mengalami kesulitan. “Ya Raden Ayu, Anak inilah yang mengatakannya” jawab pelayannya.Arum menarik nafas dalam-dalam ketika Raden Ayu itu justru berkata “Aku baru ingat. Aku memang pernah memesannya“ Pelayan itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ketika ia melihat Raden Ayu itu tersenyum, maka iapun segera beringsut pergi. Demikian pelayan itu pergi, Raden Ayupun mendekati Arum sambil bertanya “Mungkin aku benar-benar lupa, apakah kau memang pernah datang kemar i?“ Arum tidak melepaskan kesempatan itu. Katanya kemudian “Ampun puteri. Hamba adalah anak dari Jati Aking” Raden Ayu Ranakusuma mengerutkan keningnya. Ia pernah mendengar nama Jati Aking. Karena Raden Ayu itu masih ragu-ragu, maka Arumpun menjelaskan sebelum ada orang lain yang mendekat “Hamba adalah utusan Raden Juwir ing” “O“ Raden Ayu itu mengangguk-angguk “dimana anak itu sekarang he?“ “Raden Juwiring merasa bahwa pengawasan kota menjadi semakin rapat. Apalagi wara-wara terakhir yang mungkin dapat menjebaknya ke dalam perangkap. Karena itu, hamba harus meyakinkan, apakah Raden Juwiring dapat menghadap” desis Arum. “Tentu. Tidak ada apa-apa di sini. Biar lah ia menghadap, aku memang sudah menunggunya. Ia datang lewat saat yang dijanjikannya” jawab Raden Ayu itu kemudian. “Hamba akan memanggilnya” berkata Arum kemudian. Arumpun kemudian bergeser ke regol. Ia melihat Juwiring dan Buntal beberapa puluh langkah dari regol itu. Kemudian dengan isyarat gadis itu memberitahukan bahwa mereka dapat memasuki halaman istana.Juwiring dan Buntalpun melihat isyarat itu. Karena itu, maka merekapun segera mendekat. Di luar regol keduanyapun tidak melihat sesuatu yang mencur igakan. Ketiga anak Jati Aking itu telah dibawa ke serambi belakang Sambil berjalan Raden Ayu itu berkata “Seandainya prajurit Surakarta dan kumpeni ingin menjebakmu, aku kira tidak akan berada di sekitar tempat ini Juwir ing, karena di dalam pengertian mereka, aku sangat membencimu seperti yang terjadi sebelum aku diusir dari istana Ranakusuman oleh Pangeran Ranakusuma. Dan untuk mengelabui mereka, akupun seolah-olah masih tetap bersikap seperti itu” “Terima kasih ibunda” jawab Raden Juwiring “bahwa dengan demikian ibunda telah berusaha untuk memberikan tempat kepadaku” “Marilah. Aku kira kalian aman di sini”desis Raden Ayu itu pula. Sementara itu, demikian mereka sampai di serambi belakang, Juwiring telah dikejutkan oleh hadirnya seorang gadis. Dengan serta merta ia berdesis “Diajeng Warih?“ Gadis itu terkejut. Dipandanginya tiga orang dalam pakaian lusuh yang mengikuti ibundanya itu. Namun akhirnya Rara Warihpun mengenalnya juga, bahwa salah seorang dari mereka adalah Raden Juwir ing. “Kakangmas Juwiring” desis gadis itu tertahan. Namun gadis itupun kemudian berlari memeluknya. Ia tidak dapat menahan tangisnya yang bagaikan meledak. Tiba-tiba saja hatinya telah bergejolak ketika dilihatnya kakandanya.Rasa-rasanya ia ingin meneriakkan segala luka di hatinya. Tentang dirinya sendiri, tentang pengorbanan ibundanya yang membuat hatinya sangat pedih. Dan tentang keadaan keluarganya dalam keseluruhan di masa yang gawat itu. “Jangan menangis begitu Warih“ bisik Raden Juwir ing “Kita dapat berbicara tentang persoalan-persoalan yang kita hadapi dengan hati yang jernih, justru karena kita harus mengamati segalanya dengan saksama” Raden Ayu Galihwaritpun menepuk bahu anak gadisnya sambil berkata “Sudahlah Warih. Seperti aku katakan, kau harus menghadapi segalanya dengan tabah” Warih masih menangis. Tetapi di dalam hatinya ia berkata “Aku akan tabah menghadapi persoalan yang sedang aku hadapi. Tetapi rasa-rasanya aku tidak dapat menahan pedih hati ini j ika aku menyadari, apa yang telah ibunda lakukan” Namun dalam pada itu. perlahan-lahan akhirnya Warihpun dapat menguasai dir inya. Ketika tangisnya mereda, maka merekapun kemudian duduk di serambi belakang. Yang pertama-tama ditanyakan oleh Juwir ing, justru kenapa Rara Warih telah berada di istana Sinduratan. Dengan singkat Raden Ayu Galihwarit menceriterakan tentang Rara Warih dan sikap Tumenggung Watang. Rara Warih memang telah dibebaskan dengan rahasia. Dan Raden Ayu itupun tidak menyembunyikan sikapnya terhadap Juwiring. “Tetapi bagaimana dengan wara-wara itu?“ bertanya Juwiring “Apakah jika aku t idak datang menyerahkan dir i, diajeng Warih akan diambil lagi?“ “Tidak” jawab Raden Ayu “Tumenggung Watang telah mengatakan kepadaku, bahwa Rara Warih pada dasarnya tidak akan terkena noda dari kesalahan yang dianggap telah dilakukan oeh Pangeran Ranakusuma dan kau lakukanbersama para prajurit dari pasukan berkuda di bawah pimpinanmu” Juwiring mengangguk-angguk. Ternyata Raden Ayu Galihwar it telah berbuat sesuatu yang justru dapat memper ingan perjuangannya. Ia tidak akan dibebani lagi oleh perasaan bersalah terhadap adiknya yang disangkanya masih tetap ditahan dan akan mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan seandainya ia tidak menyerahkan diri. Dalam pada itu, Raden Ayu itupun berkata “Juwiring. Untuk sementara kau tidak usah memikirkan adikmu. Serahkan ia kepadaku. Aku akan berusaha melindunginya dengan caraku. Lakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Perjuanganmu masih panjang di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi” “Terima kasih ibunda” jawab Juwir ing “namun pada suatu saat, tentu keadaan diajeng Warihpun akan terancam. Tetapi aku kira untuk sementara aku percayakan keadaannya kepada ibunda. Pada suatu saat, jika perlu, diajeng Warih harus menyingkir keluar kota. Lambat atau cepat, para prajurit Surakarta dan kumpeni akan mencium juga permainan ini” “Aku mengerti Juwir ing” jawab Raden Ayu “j ika saatnya tiba, terserahlah. Mana yang lebih baik menurut pertimbanganmu” “Baiklah ibunda” berkata Raden Juwiring kemudian “ternyata keadaan diajeng Warih lebih baik dar i yang aku duga. Dengan demikian maka aku akan sempat melakukan pesan ayahanda di saat terakhir di medan pertempuran itu” “Apa pesan ayahandamu?“ bertanya Raden Ayu. “Ayahanda gugur sampyuh dengan Tumenggung Sindura yang berpasangan dengan Pangeran Yudakusumo. Pada tangan ayahanda terdapat segores luka bekas sentuhan senjata Tumenggung Sindura yang luar biasa. Nampaknya peluru dan senjata-senjata yang lain tidak diperhatikan olehayahanda. Namun goresan senjata Tumenggung Sindura telah mengantarkan ayahanda ke dalam lingkungan maut” jawab Juwiring. Lalu “Namun ayahanda masih sempat berpesan, agar senjata Tumenggung Sindura yang sempat merenggut jiwa ayahanda itu di singkirkan saja jauh-jauh agar tidak dimiliki oleh siapapun, terutama mereka yang mempunyai maksud kurang baik” Raden Ayu Galihwarit mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah Juwiring. Lakukan pesan ayahandamu. Mudah- mudahan, apa yang akan dapat aku lakukanpun tidak terbatas pada perlindungan terhadap Rara Warih. Jika kau mendengar sesuatu yang penting, kau dapat datang kepadaku. Mudah- mudahan aku dapat membantumu” Raden Juwiring itupun kemudian minta dir i bersama kedua saudara angkatnya. Namun rasa-rasanya kakinya menjadi berat ketika ia melihat Rara Warih menit ikkan air matanya pula. Betapa berat hati Rara Warih menghadapi kenyataan- kenyataan tendang dirinya dan tentang ibundanya. Namun ia tidak dapat mengatakannya kepada siapapun juga. “Jangan kau tangisi kakandamu” berkata ibundanya “lepaskan ia sebagaimana kau melepaskan saudaramu itu maju ke medan perang” Rara Warih mengangguk. Tetapi hatinya menjerit “Aku tidak menangisi kakangmas Juwir ing. Tetapi aku menangisi kenyataan yang dengan kejam telah menerpa lahir dan batinku” Sejenak kemudian maka Raden Juwir ing dan kedua saudara angkatnya itupun meninggalkan serambi belakang. Arum tertegun sejenak, ketika Rara Warih memeluknya sambil berbisik “Kenanglah aku. Aku ingin berada di antara kalian”Arum hanya mengangguk kecil. Tetapi iapun seorang gadis. sehingga ketika terasa titik air mata Rara Warih di pundaknya, matanyapun terasa menjadi panas. Dalam pada itu, maka seperti ketika memasuki istana itu, Arumlah yang berjalan lebih dahulu. Baru kemudian Buntal dan Juwiring mengikut i setelah Arum meninggalkan regol istana itu beberapa puluh langkah. Ketiga anak-anak muda itupun telah tiba dengan selamat d! pondokan mereka di antara pasukan Pangeran Mangkubumi. Seelah mereka menyampaikan laporan kepada Kiai Danatirta, maka merekapun langsung menghadap Ki Wandawa. “Apakah kau yakin bahwa Raden Ayu Ranakusuma itu tidak sekedar menenangkan hatimu?“ bertanya Ki Wandawa. “Menilik bahwa Rara Warih benar-benar sudah berada di istana Sinduratan, maka ibunda Galihwarit tentu, berkata sebenarnya” jawab Raden Juwiring “atau jika ibunda Galihwar it teribat dalam satu usaha menangkap aku, maka itu tentu sudah dilakukannya” Ki Wandawa mengangguk-angguk. Katanya “Sokur lah. Jika demikian maka Raden Ayu itu justru akan dapat menjadi salah satu tempat untuk mendapatkan bahan dan keterangan tentang keadaan di dalam kota Surakarta” “Aku percaya kepada ibunda Galihwarit” berkata Raden Juwiring “agaknya penyesalan yang sangat telah merubah segala-galanya” “Hal itu memang mungkin sekali terjadi. Raden Ayu Galihwar it telah kehilangan anak laki- lakinya. Kemudian suaminya, apapun sebabnya” sahut Ki Wandawa. Dalam pada itu, maka Juwiringpun telah memberitahukan kepada Ki Wandawa bahwa ia ingin melaksanakan perintah ayahandanya yang terakhir, menyingkirkan ker is yang dianggap oleh ayahandanya akan dapat menumbuhkankesulitan justru karena ker is itu adalah keris yang berbahaya. Menurut ayahandanya keris itu tentu masih akan menuntut korban demi korban, justru orang-orang yang tidak dapat dilukai oleh jenis senjata yang lain, karena keris itu memiliki kekuatan yang luar biasa. “Ayahanda Pangeran Ranakusuma telah gugur oleh goresan keris itu” berkata Juwiring. “Ya” jawab Ki Wandawa “Aku sudah mendengarnya. Memang mengejutkan bahwa hanya oleh segores luka kecil Pangeran Ranakusuma gugur di peperangan. Menurut kabar yang tersebar dari mulut ke mulut, pelurupun tidak dapat melukainya dan apalagi merenggut hidupnya” namun kemudian Ki Wandawa berkata “Tetapi kenapa Pangeran Ranakusuma tidak lebih baik berpesan, agar keris itu dapat kau pergunakan. Bukankah dengan demikian kau akan dapat melawan orang-orang yang menurut kepercayaan orang lain tidak dapat dilukai dengan apapun juga?“ Raden Juwiring menggeleng. Jawabnya “Aku masih belum yakin akan keteguhan pr ibadiku. Mungkin keris itu memiliki kekuatan yang luar biasa sehingga dapat mempengaruhi pribadiku sehingga menimbulkan akibat yang kurang baik bagiku sendiri” Ki Wandawa mengerutkan keningnya. Dicobanya untuk mengingat apa yang dikenalnya pada seseorang yang bernama Ki Tumenggung Sindura. Namun Ki Wandawa tidak banyak mengetahui tentang orang itu, meskipun ia pernah mendengar kebesaran namanya. Tetapi agaknya Ki Wandawa tidak ingin mengecewakan Radon Juwiring. Taoun kemudan menyerahkan hal itu kepada anak muda itu untuk menentukan sikap. Namun ia berpesan “Tetapi kau harus berusaha menyesuaikan dir imu Raden. Jika kau benar-benar akan berangkat ke Gunung Lawu. maka kau aku harap memberitahukan lebih dahulu kepadaku kepastian waktu. Aku berpendapat bahwa lebih baik Raden melakukansetelah waktu yang dijadikan batasan saat penyerahanmu itu lewat. Mungkin ada satu perkembangan baru yang menuntut perhatianmu atas adikmu yang berada di bawah perlindungan ibundanya itu” Raden Juwiring mengangguk-angguk. Agaknya ia memang harus menunggu sampai har i terakhir Dalam pada itu, suasana benar-benar menjadi semakin panas. Kumpeni telah bergerak di beberapa tempat bukan saja untuk menghadapi langsung Pangeran Mangkubumi. Tetapi perlawanan telah menjadi semakin meluas di seluruh daerah Surakarta. Namun sejalan dengan itu, maka Kumpenipun telah mengambl tindakan yang sangat menyakiti hati rakyat Surakarta. Dengan kasar kumpeni memaksa rakyat untuk menyatakan tanda takluk. Bahkan sampai ke daerah yang paling miskin sekalipun, tanda takluk itu harus diber ikan. Di rumah-rumah yang besar dan kecukupan kumpeni mengambil sendiri apa yang disebutnya sebagai upeti dan tanda takluk itu. Pendok emas, permata dan perhiasan- perhiasan. Namun mereka yang tidak memilikinya, kumpeni mempunyai cara tersendiri. Orang-orang miskin itu harus menyusun kelompok-kelompok kecil pada setiap padukuhan. Setiap kelompok yang terdiri dari paling banyak duapuluh lima orang itu harus menyerahkan satu tanda takluk. Sebuah pendok emas. “Kami orang-orang miskin tuan“ keluh orang-orang itu “Kami tidak mempunyai sesuatu yang dapat kami berikansebagai tanda takluk itu. Tidak ada yang dapat kami jual dan tidak ada yang dapat kami tukarkan” Tetapi kumpeni itu sama sekali tidak menghiraukainnya. Mereka memberikan waktu sepuluh hari bagi orang-orang yang paling miskin. Jika kelompok-kelompok kecil mereka tidak dapat menyerahkan satu pendok emas, maka mereka akan dihukum menurut hukum kumpeni. Hukum peperangan. “Tetapi bagaimana kami dapat memenuhinya“ tangis orang-orang miskin itu. “Itu urusanmu” jawab seorang prajurit kumpeni yang garang, berkumis panjang dengan pedang di tangan “atau minta saja kepada orang yang sudah berkhianat itu” “Siapa? Kepada siapa?“ bertanya orang-orang miskin itu. “Pangeran Mangkubumi. Mintalah kepadanya atau kepada siapa saja. Aku tidak peduli. Sepuluh hari lagi, aku akan datang mengambil pendok itu” Kumpeni sama sekali tidak mau tahu kesulitan rakyat kecil itu. Jika mula-mula mereka mengambil j ika mereka menemukannya di rumah-rumah yang besar dan berkecukupan, maka kemudian mereka sudah memaksa orang-orang miskin untuk berusaha menyediakan. Sementara itu, orang-orang miskin itupun menjadi kebingungan. Mereka t idak mempunyai alasan apapun juga yang dapat diberikan kepada kumpeni. “Memang semua ini kesalahan Pangeran Mangkubumi” berkata salah seorang dari orang-orang miskin itu. “Kenapa Pangeran Mangkubumi?“ bertanya kawannya “justru Pangeran Mangkubumi ingin membebaskan kita dari pemerasan seperti ini”“Jika Pangeran Mangkubumi t idak memberontak, maka kita tidak harus memberikan tanda takluk itu”? jawab orang pertama. “Kau bodoh. Jika kumpeni itu lebih lama berada di Surakarta, ia tidak hanya minta tanda takluk berupa pondok emas. Tetapi segalanya yang ada pada kita akan dimintanya. Sawah, ladang, pekarangan dan akhirnya kita semua akan menjadi budak-budak yang tidak berarti” jawab yang lain. “Itu pikiran yang sangat picik” jawab orang pertama “Mereka datang untuk memberikan kebahagiaan hidup kepada kita” “Mereka adalah perampok yang maha besar. He, bukankah kita kadang-kadang mengumpati pencuri yang mengambil seekor ayam di kandang kita. Nah, apa yang diambil kompeni dari kita? Perampok hanya memaksa membawa apa yang dapat mereka bawa. Tetapi maha perampok ini telah memaksa kita menyediakan barang-barang yang akan mereka rampok” jawab yang lain. Namun perselisihan itu justru telah berkembang. Sebagian dari rakyat Surakarta menganggap sumber kesalahan adalah Pangeran Mangkubumi yang telah memberontak. Namun. sebagian yang lain semakin merasa, bahwa mereka memang memer lukan perlindungan dari kekuasaan golongan yang mereka anggap sebagai perampok yang tidak terlawan kehendaknya. Peristiwa-peristiwa semacam itu t idak luput dari perhatian Pangeran Mangkubumi. Sikap yang sangat licik dari kumpeni itu membuat Pangeran Mangkubumi sangat berprihatin. Ia semula tidak menduga, bahwa kelicikan orang asing itu benar- benar tanpa perasaan perikemanusiaan sama sekali. Orang- orang asing yang menganggap dirinya sebagai manusia yang memiliki kelebihan dalam peradaban. Yang mengatakan bahwa kedatangannya di negeri ini justru untukmengembangkan ilmu yang mereka punyai bagi kesejahteraan umat manusia. Sebagaimana halnya yang dilakukan oleh kumpeni dan prajurit Surakarta atas Raden Juwiring. Mereka tanpa malu- malu telah menangkap seorang gadis yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang persoalan ayahanda dan kakandanya. Namun ia sudah disekap sebagai taruhan. Tetapi masalah yang dialami oleh Raden Juwiring itu telah sampai pula kepada Pangeran Mangkubumi. Dengan nada datar ia berkata kepada Ki Wandawa yang memberikan laporan kepada Pangeran itu “Sokurlah. Mudah-mudahan Rara Warih benar-benar tidak mengalami kesulitan untuk seterusnya” Dengan berdebar-debar Juwiring menunggu Har i terakhir dari batas waktu yang diberikan kepadanya, sebagaimana orang-orang miskin itupun dengan berdebar-debar dan gelisah berusaha mengumpulkan uang di antara kelompok-kelompok mereka. Sebenarnyalah ketidak adilan telah menjalar dan membakar sendi-sendi kehidupan di Surakarta. Sementara orang-orang miskin itu diperas oleh kumpeni untuk menyerahkan upeti sebagai tanda takluk agar mereka tidak dianggap ikut serta memberontak, maka di Surakarta sendiri kumpeni telah membagikan barang-barang yang mewah kepada para pemimpin pemerintahan dan para Senapati. Seolah-olah kumpeni itu datang ke Surakarta dengan hadiah yang melimpah dari kerajaan mereka di seberang lautan. Mereka menjelajahi benua dan samodra dengan niat khusus datang ke Surakarta untuk memberikan tanda persahabatan yang tidak ternilai harganya. Ketika seorang Demang mengumpati para pemimpin Surakarta yang bodoh dan mudah dikelabuhi itu, kawannya, juga seorang Demang yang berada di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi berkata “Tidak kakang.Orang-orang Surakarta tidak sebodoh itu. Mereka bukan orang-orang berjiwa tumpul dan sama sekali t idak tahu, bahwa kumpeni telah menipu mereka. Tetapi sebagaimana seseorang yang terkena suap, maka para pemimpin yang berpihak kepada kumpeni itu menjadi pura-pura bodoh dan tidak tahu. Sebenarnya mereka mengerti, tingkah laku kumpeni di negeri ini. Tetapi justru karena ketamakan mereka itulah, maka mereka lebih senang disebut bodoh dam tidak mengerti bahwa kumpeni telah mengadu domba di antara mereka dengan rakyat Surakarta sendiri” Kawannya mengangguk-angguk. Katanya “Nampaknya memang begitu. Kau benar. Adi nampaknya memandang keadaan dari sudut yang lebih baik dari tanggapanku. Ternyata akulah yang bodoh. Bukan para pemimpin dan para Senapati di Surakarta” Dalam pada itu, maka har i kelima sebagaimana merupakan batasan bagi Juwiring telah lampau. Dengan hati yang gelisah Juwiring menunggu apakah ada sesuatu yang terjadi atas Rara Warih. Bagaimanapun juga jantungnya menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar wara-wara bahwa pimpinan pasukan berkuda di Surakarta dan kumpeni telah melaksanakan dengan tegas sebagaimana di umumkan sebelumnya terhadap Rara Warih. Namun demikian, masih terbuka kesempatan bagi Raden Juwiring dan para pengikutnya, para prajurit pasukan berkuda yang menyeberang, untuk datang menyerahkan diri. Sehingga masih ada kemungkinan untuk memperingan hukuman yang telah dijatuhkan atas Rara Warih. “Jika ibundamu telah berjanj i untuk melindungi adikmu itu, maka ia akan melakukannya” berkata Ki Wandawa “karena pada umumnya seseorang yang keras hati seperti ibundamu itu, juga seorang yang bertanggung jawab”“Tetapi apakah aku diperkenankan untuk membuktikannya sehingga aku benar-benar yakin akan keselamatannya?“ beritanya Juwiring. Ki Wandawa tidak berkeberatan. Dengan cara seperti yang pernah dilakukan bersama Buntal dan Arum, Raden Juwiring dapat meyakinkan dir inya bahwa wara-wara itu hanya sekedar usaha untuk mengelabuinya, karena Rara Warih masih tetap berada di istana Sinduratan. Namun dalam kesempatan Rara Warih dapat berbicara sendiri kepada Raden Juwir ing, maka dengan nada memelas ia berkata “Bawa aku serta kakangmas. Aku tidak tahan mengalami tekanan perasaan di sini. Aku tidak dapat menerima dengan ikhlas cara yang ditempuh oleh ibunda bagi kebebasanku” Juwiring mengerutkan keningnya, la mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rara Warih, Juwiringpun mengetahui apakah yang pernah dilakukan oleh ibundanya Galihwar it sebelum ia diantar pulang ke istana Sinduratan. Namun untuk membawa Rara Warih pada saat semacam itu, dimana justru dirinya sedang menjadi pusat perhatian para prajurit Surakarta dari pasukan berkuda, tentu akan sangat berbahaya. Karena itu, maka Raden Juwiring itupun berkata “Aku mengerti kesulitan perasaanmu diajeng. Tetapi tunggulah keadaan sedikit mereda. Kau dan aku saat ini sedang menjadi bahan pembicaraan di kalangan para prajurit dari pasukan berkuda dan kumpeni. Cobalah menahan perasaan dengan sabar. Apa yang dilakukan ibunda sekarang, tentu berbeda tujuannya dengan apa yang dilakukan oleh ibunda pada saat itu” “Tetapi apakah sudah sewajarnya kakang, bahwa cara apapun dapat ditempuh untuk mencapai satu tujuan?“ bertanya Rara Warih.“Tentu tidak diajeng. Tetapi apa yang dilakukan oleh ibunda mempunyai penilaian tersendiri” jawab Raden Juwiring “Kita akan dapat menilai apa yang pernah dilakukan oldh ibunda sebelumnya” “Ya, aku mengerti kakang. Bukankah kau bermaksud bahwa ibunda telah mengalami kemajuan berpikir. Yang dilakukan itu sekarang mempunyai latar belakang dan tujuan lebih baik dari yang pernah dilakukan sebelumnya” sahut Rara. Warih. Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga, bagi Rara Warih, seorang gadis yang menginjak masa dewasa, tindakan ibundanya itu benar-benar sangat menusuk perasaannya. Tetapi ia itidak dapat mencegahnya. Siapapun tidak, apalagi karena hal itu dilakukan dengan dasar landasan sikap satu pengorbanan seorang ibu buat anak gadisnya. Karena itu, maka Rara Warihpun tidak dapat memaksa untuk mengikut inya saat itu. Tetapi ia berharap bahwa ia tidak harus terlalu lama menunggu. Demikianlah, maka Raden Juwiringpun segera minta dir i. Namun dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit berkata kepadanya “Juwiring. Aku sudah terlanjur tenggelam ke dalam lumpur. Lebih baik aku dapat memungut mutiaranya sekaligus daripada aku hanya sekedar harus berlumuran tanpa arti, atau hanya untuk tujuan yang tunggal. Karena itu, aku harap kau sering datang kemar i. Jika kau berhalangan, kau dapat mencari seorang penghubung yang dapat kau percaya” “Maksud ibunda?“ bertanya Raden Juwiring. “Mungkin aku dapat mendengar serba sedikit pembicaraan orang-orang asing tentang rencana mereka dalam hubungannya dengan Pangeran Mangkubumi atau para Pangeran yang telah manunggal dengannya” jawab ibundanya.Raden Juwiring menarik nafas panjang. Ia mengerti sepenuhnya, apa yang dimaksud oleh Raden Ayu Galihwarit yang mengatakannya tanpa tedheng aling-aling di hadapan anak gadisnya. Namun dalam pada itu, Arumlah yang menyahut “Apakah aku dapat melakukan tugas itu? Mungkin, aku dapat melepaskan diri dari perhatian para prajurit dam kumpeni, karena aku belumbanyak dikenal” Raden Ayu Galihwarit memandang gadis itu sejenak. Kemudian sambil mengusap rambut Arum ia berkata “Tugas ini adalah tugas yang berat anak manis” “Aku akan mencobanya” jawab Arum “sebagaimana orang- orang lain yang dengan suka rela memanggil tugas yang berat dalam perjuangan ini” Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Katanya kemudian “Segala sesuatu terserah pertimbangan Juwir ing. Mungkin kau dapat melakukan. Mungkin orang lain. Tetapi aku minta ada semacam pertanda bagi orang yang dipercaya menghubungi aku. Kita dapat berjanji, apakah yang harus diucapkannya, agar aku percaya bahwa orang itu adalah utusanmu Raden Juwiring” Juwiring merenung sejenak. Lalu katanya “Baiklah ibunda. Aku akan memberikan, pesan agar orang yang datang kepada ibunda, kecuali di antara kami bertiga, untuk mengucapkan nama keris yang akan aku labuh ke Gunung Lawu seperti pesan ayahanda, Cangkring” “Baiklah. Hanya orang yang menyebut nama keris itu yang aku percaya bahwa ia adalah utusanmu. Selanjutnya aku akan berpesan kepada orang itu, kata sandi berikutnya, untuk utusan mendatang. Jangan Jupa” Demikianlah, Raden Juwir ing dan saudara angkatnya meninggalkan istana Sinduratan. Seperti biasanya, maka Rara Warih keluar regol halaman mendahului saudara-saudaranya.Namun dalam pada itu, Raden Juwiring sudah mendapat kepastian, bahwa prajurit dari pasukan berkuda tidak sungguh-sungguh bertindak atas Rara Warih. Karena itu, maka menurut pertimbangan Raden Juwiring, maka ia mempunyai kesempatan untuk melakukan tugas yang dibebankan-oleh ayahandanya, menyingkirkan ker is milik Ki Sindura, Tetapi ternyata bahwa rencana itupun masih harus tertunda. Seperti pesan ibundanya, maka tiga hari setelah Juwiring menghadap, maka ia ingin memenuhi permintaan ibundanya sebelum ia pergi ke Gunung Lawu. Menurut laporan yang sampai pada pasukan Pangeran Mangkubumi, prajur it Surakarta dan kumpeni nampak melakukan kegiatan yang meningkat. Karena itu, mungkin ada sesuatu yang dapat didengarnya dari Raden Ayu Galihwarit. “Kenapa kakang lebih percaya kepada orang lain, dari pada kepadaku?“ bertanya Arum. “Soalnya bukan tidak percaya” jawab Juwir ing “Tetapi tugas ini adalah tugas yang sangat berat. Biarlah orang lain yang melakukannya. Kau dapat melakukan tugas-tugas yang lain saja” “Kakang“ minta Arum “Aku mohon kali ini kakang percaya kepadaku” Aku bukan Iagi-kanak-kanak yang harus dimanjakan di padepokan. Tetapi sudah waktunya aku mengemban tugas-tugas semacam ini. Apalagi tugas ini bukanlah tugas pancer. Bukan akulah yang seharusnya mendapat keterangan bagi pasukan Pangeran Mangkubumi. Tetapi yang kita lakukan adalah sekedar mencar i keterangan pelengkap. Yang barangkali berguna bagi bahan banding keterangan yang seharusnya didapat oleh petugas sandi yang sebenarnya” Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya wajah Buntal yang tegang.Namun akhirnya Raden Juwiring itupun berkata kepada Buntal “Aku serahkan keputusan terakhir kepadamu” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga. ia merasa berat untuk melepaskan Arum. Karena itu. hampir di luar sadarnya ia berkata “Biar lah aku mengantarkannya” Wajah Juwiring menegang. Tetapi Buntal telah mendahuluinya berdesis “Jangan takut terjadi sesuatu atas kami berdua. Mungkin kakang Juwiring menganggap bahwa bahaya yang mengancam lebih gawat adalah justru datang dari kami berdua sendiri Bukan dar i kumpeni” “Ah” desis Arum “Kita bukan orang-orang gila. Kita sedang berada dalam perjuangan” “Maaf” potong Juwiring “bukan maksudku” “Baiklah. Bagaimana pendapatmu, jika aku juga pergi?“ bertanya Buntal kemudian “Tetapi jangan mengatakan bahwa kau akan pergi juga. Dalam keadaan seperti ini, agaknya akan sangat berbahaya” “Baiklah. Tetapi kita harus minta ij in kepada Ki Wandawa. Mungkin ada pesan sandi yang harus kau ketahui” berkata Juwiring. Sebenarnyalah bahwa dalam keadaan yang gawat, Ki Wandawa telah mengirimkan beberapa petugas sandi langsung dari pusat pertahanan Pangeran Mangkubumi di Gebang. Karena itu, maka untuk tidak terjadi salah paham, maka Buntal dan Arum yang akan memasuki Kota Surakartapuin telah mendapat pesan pula dari Ki Wandawa dengan kata sandi yang ber laku untuk t iga hari. “Ingat” berkata Juwiring kepada Buntal dan Arum “jika kau bertemu dengan petugas sandi Pangeran Mangkubumi, kau harus dapat menyahut jika mereka menyapa dengan kata sandi. Jika seseorang menyapa kata “sapu“ maka kau harus menjawab “angin“ Kau mengerti?““Ya. Kami akan berusaha untuk mengingat-ingat pesan itu” jawab Buntal. “Baiklah. Besok kalian akan berangkat pagi-pagi benar” berkata Juwiring Demikianlah ketika malam turun. Arum justru menjadi gelisah. Telah beberapa kali ia masuk ke kota Surakarta bersama kedua saudara angkatnya. Namun tugas yang akan dilakukan esek pagi. justru atas permintaannya sendiri, membuatnya berdebar-debar. Dalam pada itu, malam itu Rara Warihpun tidak dapat nyenyak pula. Hampir setiap malam ia gelisah karena ibundanya pergi. Ketika senja turun, sebuah kereta telah menjemput ibundanya. Kereta yang sudah sering datang ke istana Sinduratan. Bahkan kadang-kadang dengan seorang perwira kumpeni. Ketika istana itu menjadi sepi. hatinya semakin ngelangut. Bahkan ia tidak dapat menahan lagi air matanya yang membasahi bantalnya, betapapun ia mencoba bertahan. Namun demikian, Rara Warih itupun sibuk membersihkan wajahnya ketika ia mendengar derap kaki-kaki kuda yang memasuki halaman. Sapi malam telah terkoyak seperti hati Rara Warih sendiri. Rara Warih menutup telinganya ketika ia mendengar langkah-langkah gontai di serambi. Kemudian terdengar suara ibundanya tertawa. Nyaring tetapi ngeri. “Silahkan Raden Ayu masuk“ terdengar suara berat yang tersendat-sendat. Dan Rara Warihpun mengerti, itu suara seorang perwira kumpeni yang mengantarkan ibundanya. “Raden Ayu tentu pening“ terdengar suara itu pula. “Aku tidak apa-apa“ Raden Ayu tertawa pula “malam masih panjang. He, mana alas kakiku. O, lampu- lampu menjadi buram”“Raden Ayu sedang mabuk. Silahkan masuk” perwira kumpeni itu mempersilahkan. “Tinggalkan aku di sini. Aku tidak apa-apa. Aku kenal dimana aku harus masuk “ sekali lagi suara Raden Ayu meninggi. Nampaknya perwira kumpeni itu termangu-mangu. Namun kemudian terdengar derap sepatunya melangkah menjauh. Sejenak kemudian terdengar kereta itu pergi. Demikian suara kereta itu hilang terdengar pintu samping diketuk perlahan. “Warih, Warih. Kau sudah tidur?“ suara ibundanya merendah. Di telinga Rara Warih suara itu berbeda sekali dengan suara ibundanya ketika perwira kumpeni itu masih ada. Sekali lagi Rara Warih mengusap matanya. Perlahan-lahan ia melangkah ke pintu. Sebentar kemudian pintu itupun berderit. Ketika pintu terbuka, maka Raden Ayu itupun mencium kening puterinya. Namun terasa nafas Rara Warih menjadi sesak. di mulut ibundanya ia mencium bau minuman keras. “Ibunda memang sedang mabuk“ katanya di dalamhati. Tetapi ia terkejut ketika terdengar suara Raden Ayu Galihwar it tenang “Aku tidak apa-apa Warih. Aku memang sengaja berkumur dengan minuman keras. Tetapi aku tidak menelannya. Dan akupun memang berusaha agar aku dianggap oleh mereka sedang mabuk” Rara Warih tercenung sejenak. Ia tersadar ketika ibundanya yang sudah melangkah masuk itu berkata “Tutuplah pintunya” Rara Warih tersentak. Namun iapun kemudian menutup pintu samping dan mengikuti ibundanya masuk ke dalam bilik.Ketika ibundanya berganti pakaian, Rara Warih duduk di bibir pembar ingannya sambi menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak ingin menunjukkan kepada ibundanya, betapa hatinya bagaikan tersayat melihat tingkah ibundanya itu. Meskipun demikian, Rara Warih bertanya-tanya pula di dalam hatinya, kenapa ibundanya berpura-pura mabuk. Dalam pada itu, sambil membuka pakaiannya, Raden Ayu itu berkata perlahan-lahan “Warih. Sebenarnya aku memer lukan kakandamu. Aku harap ia datang dalam satu hari ini. Jika tidak, maka yang akan terjadi itu akan menggoncangkan perjuangan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said” Wajah Rara Warih berkerut. Sekilas ia melihat ibundanya yang nampak masih muda dan cantik. Namun kata-kata ibundanya itu memang menarik perhatiannya. “Apakah yang ibunda ketahui tentang rencana kumpeni?“ bertanya Rara Warih tiba-tiba. “Justru itulah aku telah berpura-pura mabuk” jawab ibundanya “dengan demikian mereka tidak menganggap bahwa aku dengan sadar mendengar pembicaraan sebagian dari antara para perwira kumpeni dan beberapa orang Senapati prajurit Surakarta” “Ibu mendengar berita penting?“ bertanya Warih pula. “Ya. Kumpeni sudah menyiapkan pasukan segelar sepapan bersama prajurit Surakarta untuk mengepung Panambangan” jawab ibundanya. “Panambangan? Bukankah Panambangan merupakan iandasan perjuangan Raden Mas Said?” desis Rara Warih. “Ya. Karena itulah, maka berita ini harus segera didengar oleh Raden Mas Said” desis ibundanya. ”Kapan mereka akan melakukannya?“ bertanya Rara Warih.”Secepatnya. Pada akhir pekan ini mereka mulai beri gerak sehingga pasukan Raden Mas Said akan terjepit. Mereka telah memperhitungkan segala sesuatu sehingga Raden Mas Said tidak akan sempat lolos” jawab ibundanya, lalu “dengan demikian, maka Pangeran Mangkubumi dalam keseluruhan akan menjadi lemah, karena kekuatan Raden Mas Said cukup besar di antara seluruh pasukan Pangeran Mangkubumi dan para pemimpin lainnya yang sedang berjuang menegakkan kewibawaan Surakarta” Rara Warih menjadi tegang. Kemudian katanya “Jika dalam dua hari ini kakanda Juwir ing tidak datang, biarlah aku akan mencarinya” “Tidak mungkin Warih. Kita belum tahu dimana Pangeran Mangkubumi membangun landasan perjuangan. Kita hanya mendengar bahwa Pangeran Mangkubumi berada di Gebang, di samping pasukanmya yang berada di Sukawati. Tetapi untuk menemukan satu orangpun di antara mereka di padukuhan Gebang, tentu akan sangat sulit ” cegah ibundanya. “Tetapi itu lebih baik dar ipada kita tidak berusaha sama sekali ibunda” bantah Rara Warih yang sebenarnyalah bahwa iapun ingin meninggalkan istananya, meninggalkan daerah pertentangan di dalamhatinya sendiri. “Kita harus mencari jalan lain” desis ibundanya “tetapi kita memang wajib mengerti jalan” Ibundanya yang telah selesai dengan berganti pakaian itupun masih pergi ke pakiwan. Kemudian setelah ia berada kembali di dalam biliknya maka iapun membaringkan dir inya sambil berdesis “Aku lelah sekali Warih. Aku ingin tidur” Rara Warih tidak menjawab. Ketika ibundanya berbaring, maka iapun telah mencoba berbaring pula di pembaringannya. Namun ternyata bahwa Raden Ayu Galihwaritlah yang telah tertidur lebih dahulu dengan nyenyaknya.“O” desis Rara Warih “ibunda dapat tidur nyenyak tanpa digelisahkan oleh tingkah lakunya” Namun akhirnya, menjelang pagi, Rara Warihpun menjadi lelap pula. Meskipun demikian, di dalam tidur, rasa-rasanya ia masih saja dibayangi oleh kegelisahan dan mimpi yang buruk tentang dirinya sendir i dan tentang ibundanya. Tetapi justru karena gadis itu baru dapat lelap menjelang pagi, maka iapun telah terlambat bangun pula. Rara Warih terkejut ketika ia membuka matanya, ia sudah melihat cahaya cerah masuk ke dalam biliknya lewat pintu yang terbuka. Perlahan-lahan ia bangkit di pembaringan yang lain ibundanya telah tidak nampak. Karena itulah, maka iapun segera bangkit dan melangkah keluar. Namun tiba-tiba langkahnya tertegun ketika ia melihat dua orang anak muda, saudara angkat kakandanya, telah duduk pada sehelai tikar di serambi. “O, sepagi ini kalian telah datang?“ bertanya Rara Warih. “Ya puteri. Kami sengaja datang pagi-pagi, selagi masih belum terlalu panas, dan kami tidak akan kemalaman di jalan pada perjalanan kembali” jawab Arum. “Ibunda menunggu kehadiran kalian sejak tadi malam. Untunglah bahwa pagi ini kalian benar-benar datang” berkata Rara Warih. “Ya puteri. Rasa-rasanya memang ada yang berpesan di dalam hati ini, agar secepatnya kami menghadap” jawab Arum. Kemudian katanya “Kami sudah menghadap Raden Ayu yang baru pergi ke belakang sebentar” “Apakah ibunda sudah memberikan pesan-pesannya?“ bertanya Warih. “Belum. Raden Ayu belum mengatakan apa-apa” jawab Arum.Warihpun kemudian mempersilahkan keduanya menunggu. Namun sebelum ibundanya datang sekali lagi ia berpesan “Katakan kepada kakangmas Juwir ing. Kapan aku diij inkan bersamanya dan bersama kalian“ Arum hanya dapat mengangguk kecil sambil berdesis “Akan aku sampaikan, demikian aku kembali” Warih tidak dapat berkata lebih banyak lagi, karena ibundanya telah datang. Warihlah yang kemudian meninggalkan kedua anak muda itu dan pergi ke pakiwan untuk mencuci mukanya. Dalam pada itu, maka Raden Ayupun telah member ikan beberapa penjelasan mengenai rencana kumpeni dan pasukan Surakarta untuk menyerang Penambangan. “Ternyata kumpeni ingin melemahkan kedudukan Pangeran Mangkubumi dari bagian-bagiannya” berkata Raden Ayu Ranakusuma “j ika ia berhasil, maka ia akan dengan mudah menghancurkan kekuatan-kekuatan para pengikut Pangeran Mangkubumi yang tersebar. Baru yang terakhir mereka akan memukul induk kekuatan Pangeran Mangkubumi” Berita itu merupakan ber ita yang sangat penting bagi Pangeran Mangkubumi. Karena itu, maka ber ita itu harus segera mereka sampaikan kepada Ki Wandawa. Raden Ayu Ranakusuma memberikan secara terperinci rencana kumpeni untuk mengepung Penambangan menurut pendengarannya. “Cepat sampaikan berita ini” berkata Raden Ayu Ranakusuma “bukan berarti aku mengusirmu. Tetapi kau dapat mengerti maksudku” “Ya Raden Ayu. Kami mengerti. Semakin cepat berita ini sampai kepada Ki Wandawa. agaknya memang semakin baik” jawab Arum.Meskipun demikian, Arum dan Buntal sempat juga sekedar minum dan makan makanan yang disuguhkan kepada mereka. Baru kemudian mereka mohon dir i. Ternyata berita itu benar-benar menggelisahkan Ki Wandawa. Ketika ia mener ima Raden Juwiring yang menghadap bersama Buntal dan Arum untuk memberikan laporan tentang rencana kumpeni itu, maka Ki Wandawa segera mengadakan uraian tentang laporan-laporan yang lain. Akhirnya Ki Wandawa mengambil kesimpulan, berdasarkan beberapa laporan, bahwa keterangan Arum dan Buntal itu dapat dipercaya. Apa yang didengar oleh Raden Ayu Ranakusuma itu tentu merupakan bagian dari satu keputusan yang besar. Karena itu, maka Ki Wandawapun secara terperinci telah melaporkan segalanya itu kepada Pangeran Mangkubumi. Dilengkapi dengan sikap dan pertimbangan Ki Wandawa sendiri. Pangeran Mangkubumipum merenungi laporan itu beberapa saat. Kemudian katanya “Siapkan beberapa orang pilihan. Mereka harus pergi ke Penambangan dan menyampaikan suratku kepada Raden Mas Said” Ternyata bahwa pilihan Ki Wandawa jatuh kepada Raden Juwiring yang pernah memimpin bagian dari pasukan berkuda. Bersama Buntal ia mendapat perintah untuk menghadap Raden Mas Said di Penambangan untuk menyampaikan surat kepada Raden Mas Said. Untuk perjalanan yang panjang dan berbahaya ini, Juwiring telah mohon kepada Kiai Danatirta, agar menahan Arum yang tentu akan ingin mengikutinya Agar gadis itu tidak menjadi sangat kecewa, maka ia mendapat tugas untuk menghadap Raden Ayu Ranakusuma selang satu hari kemudian.“Hindari daerah Jatimalang” pesan Ki Wandawa “sepasukan prajurit Surakarta dan kumpeni berada di Jatimalang dalam kesiagaan tinggi” “Baik Ki Wandawa” jawab Juwir ing “Kami akan memilih jalan yang pada hemat kami, tidak terlalu gawat, tetapi juga tidak melingkar terlalu panjang” “Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan” berkata Ki Wandawa. Sebenarnyalah Arum hampir saja memaksa untuk pergi bersama mereka. Tetapi ketika Juwiring justru menyuruhnya menghadap Raden Ayu Ranakusuma, maka iapun akhirnya bersedia untuk t inggal. “Perkembangan keadaan ini cepat sekali terjadi” berkata Juwiring ”Karena itu, semakin sering kita berhubungan dengan ibunda Galihwarit, kita akan semakin banyak dan cepat mendapat keterangan. Meskipun dengan demikian, seolah- olah kita ikut menyakit i hati diajeng Warih. Namun pada suatu saat, aku akan mengambil sikap khusus, sesuai dengan keinginan diajeng Rara Warih untuk berada di antara kita” Juwiring berhenti sejenak, lalu “jika besok aku belum kembali, dan kau mendapat keterangan yang penting dari ibunda, maka kaupun harus segera menghadap Ki Wandawa” Demikianlah, maka Juwir ing dan Buntal tidak membuang waktu lagi. Merekapun kemudian berpacu dengan kuda yang tegar dan besar langsung menuju ke Penambangan. Jarak yang cukup jauh, apalagi mereka masih harus menghindari prajurit Surakarta dan kumpeni yang diketahui berpusat di Jatimalang. Segalanya rasa-rasanya menjadi tergesa-gesa. Namun Raden Juwiring yang pernah menjadi salah seorang Senapati muda dalam lingkungan pasukan berkuda itupun tidak mengecewakan. Sementara Buntal yang pernah menempa diridi padepokan Jati Aking itupun dapat mengimbangi ketram- pilan berkuda Raden Juwiring. Kedua anak muda itu berpacu seperti angin. Mereka bukan saja harus secepatnya menghadap Raden Mas Said. Tetapi merekapun harus dapat mengatasi hambatan-hambatan yang mungkin timbul di perjalanan. Ternyata bahwa keduanya tidak menjumpai rintangan yang berarti. Meskipun demikian, mereka sempat melihat, betapa rakyat Surakarta menjadi semakin menderita karena tingkah laku kumpeni. Dengan licik mereka berusaha melemparkan segala kesalahan kepada Pangeran Mangkubumi dan mereka yang menempatkan dir i di dalam garis perjuangannya. Raden Juwiring dan Buntal selamat menghadap Raden Mas Said. Mereka segera menyampaikan surat dari Pangeran Mangkubumi, yang memberikan beberapa keterangan dan petunjuk. Ternyata Raden Mas Said sependapat sepenuhnya dengan Pangeran Mangkubumi. Karena itu, dengan cepat ia memanggil beberapa orang pemimpin dalam pasukannya. Beberapa saat mereka berunding. Kemudian Juwiring dan Buntalpun dipanggilnya menghadap di antara para pemimpin pasukan Raden Mas Said. “Aku akan memberikan jawaban” berkata Raden Mas Said “jika karena sesuatu hal surat itu harus aku musnahkan di perjalanan, maka sampaikan pesanku, bahwa pasukanku sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Sesuai dengan petunjuk yang aku terima, serta pertimbangan dari para pemimpin di dalam pasukanku, aku akan pergi ke Keduwang. Segalanya akan aku jalankan sebagaimana seharusnya” Dengan demikian, maka Raden Juwiringpun harus segera kembali pula menghadap Pangeran Mangkubumi untuk menyampaikan surat balasan Raden Mas Said. Namun jika mereka menganggap perlu, surat itu dapat merekamusnahkan, sementara mereka telah mengetahui isi surat dari Raden Mas Said itu. Pagi-pagi benar di hari berikutnya. Raden Juwiring dan Buntal itupun berpacu kembali ke Gebang, landasan utama pasukan Pangeran Mangkubumi. Angin pagi yang silir telah mengusap wajah-wajah mereka. Sementara langit yang merah mulai diwarnai oleh sinar matahari pagi yang sebentar lagi akan naik ke punggung Gunung. “Hari ini Arum menghadap Raden Ayu Ranakusuma” gumam Buntal tiba-tiba. “Ya” sahut Juwiring “Tetapi ia sudah terbiasa melakukannya. Nampaknya orang-orang Surakarta masih tetap menghormat seorang perempuan, sehingga mereka tidak mencur igainya” “Arum memang pantas untuk menjadi seorang penjual jamu. Agaknya ia akan membawa reramuan jamu dan seperti biasanya mangir dan lulur” desis Buntal. Namun, bagaimanapun juga Raden Juwiring menangkap kegelisahan hati anak muda itu. Surakarta sedang dalam suasana yang hangat, karena persiapan-persiapan yang dilakukan oleh para prajur it Surakarta dan kumpeni. Karena itu, maka Juwiringpun berkata “Buntal. Aku kira perhatian para prajurit Surakarta dan kumpeni lebih banyak tertuju kepada orang laki- laki. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa Arum tidak harus berhati-hati. Aku kira pengenalan Arum atas keadaan Surakarta akan banyak menolongnya” Buntal mengangguk-angguk. Iapun berusaha untuk menenangkan hatinya. Yang dilakukan oleh Arum adalah hal yang sudah dua tiga kali dilakukannya tanpa ada kesulitan. Seandainya di Surakarta diadakan pemeriksaan pada setiap orang yang lewat di pintu gerbang, pada Arum tidak akandiketemukan apapun juga. selain reramuan obat-obatan, mangir dan lulur yang sebenarnya. Sebenarnyalah pada saat itu Arum sudah mendekati kota Surakarta, Ketika matahari kemudian terbit. Arum berjalan semakin cepat agar ia tidak ker iangan. Kedatangannya di istana Sinduratan disambut oleh Rara Warih yang wajahnya seolah-olah bertambah hari bertambah muram. Namun kedatangan Arum nampaknya telah member ikan satu hembusan udara yang segar. “Marilah“ Rara Warih mempersilahkan “Apakah kau hanya seorang diri?“ “Ya puteri. Aku hanya seorang diri” jawab Arum. “Kau memang luar biasa. Dalam keadaan yang gawat ini, kau berani melalui lapisan- lapisan peronda di Surakarta” desis Arum. “Aku hanyalah seorang perempuan, puteri. Tidak ada seorangpun yang menghiraukan. Seorang perempuan padesan yang sama sekali t idak berarti bagi mereka“ jawab Arum. “Tetapi kau cantik Arum” desis Rara Warih “kecantikan kadang-kadang dapat menjadi racun bagi diri kita sendir i” “Apakah maksud puteri?“ bertanya Arum. “Kecantikan akan dapat menjerat kita ke dalam kesulitan. Kadang-kadang kita akan mengalami peristiwa yang paling pahit di dalam kehidupan ini justru karena kita cantik. Tetapi mungkin dengan penuh kesadaran, kita dengan sengaja menjerumuskan dir i ke dalam satu kehidupan yang gelap, justru karena kita cantik. Seseorang dapat mempergunakan kecantikannya untuk maksud tertentu. Baik atau buruk, dengan cara yang baik, tetapi juga dengan cara yang buruk” Arum mengangguk kecil. Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh Rara Warih. Tidak selamanya kecantikan itumenguntungkan. Namun kadang-kadang dengan kecantikan seorang perempuan dapat menggulung bumi. Warihpun kemudian mengajak Arum menghadap ibundanya. Dipersilahkannya gadis itu menunggu di serambi, sementara ia memberitahukan kedatangan gadis Itu kepada ibundanya yang sedang berhias. “O, gadis itu datang lagi?“ bertanya Raden Ayu kepada Rara Warih. “Ya ibunda, ia hanya datang seorang dir i” jawab Rara Warih. “Seorang diri?“ wajah Raden Ayu itupun menegang. Tergopoh-gopoh ia keluar dari biliknya. Tetapi ketika Arum kemudian menceriterakan bahwa Raden Juwiring dan Buntal mendapat tugas ke Penambangan, maka Raden Ayu itupun menarik nafas dalam-dalam. “Sokur lah” berkata Raden Ayu “Aku menjadi cemas, bahwa sesuatu telah terjadi dengan anak-anak itu” “Tidak Raden Ayu. Tidak terjadi sesuatu dengan mereka. Justru karena mereka sedang bertugas, maka aku diperintahkannya untuk menghadap Raden Ayu” berkata Arum kemudian. “Baiklah. Tetapi agaknya masih belum ada sesuatu perkembangan yang menarik perhatian” jawab Raden Ayu. “Akupun tahu, bahwa sebenarnya tugas ini sekedar menahan agar aku t idak memaksa ikut ke Penambangan” jawab Arum dengan nada dalam. Raden Ayu itu tersenyum. Katanya “Kau memang lebih baik datang kepadaku daripada ke Penambangan. Kau tentu membawa mangir dan lulur. Ternyata mangir dan lulur yang kau bawa itu benar-benar bermutu tinggi. Aku senang memakainya. Dan akupun sudah mencoba menawarkankepada beberapa orang puteri. Mereka mulai tertarik dan ingin membeli. Bukankah dengan demikian ada alasanmu untuk datang setiap saat ke rumah ini” ”Ya, ya Raden Ayu. Aku akan mengatakan kepada ayah, agar ayah membuatnya lebih banyak lagi” sahut Arum. Raden Ayu itupun tertawa. Namun kemudian katanya “Arum. Meskipun demikian ada satu hal yang dapat kau sampaikan kepada para pemimpin dalam pasukan Pangeran Mangkubumi, bahwa pasukan yang akan dikir im ke Penambangan itu adalah pasukan yang langsung berangkat dari kota ini. Mereka tidak menggerakkan pasukan di Jatimalang. Bahkan pasukan di Jatimalang itu telah disiapkan untuk mencegat jika ada bantuan datang dari arah utara, tentu maksudnya pasukan dar i Sukawati atau dari Gebang, bagi pasukan Raden Mas Said yang berada di Penambangan, apabila Penambangan telah terkepung” Arum mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah Raden Ayu. Aku kira hal ini penting juga aku sampaikan. Msskipun barangkali para pemimpin pasukan khususnya pasukan sandi Pangeran Mangkubumi sudah mengetahui, bahwa pasukan Surakarta dan kumpeni berada di Jatimalang, namun mereka perlu mendapat keterangan bahwa pasukan itu telah disiapkan untuk memotong setiap iring-ir ingan pasukan yang menuju ke Penambangan” Setelah beristirahat sebentar, maka Arumpun kemudian mohon dir i untuk segera kembali ke Gebang. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Rara Warih memohon kepada ibundanya “Ibunda, apakah aku diperkenankan ikut bersama dengan Arum ke Gebang? Aku ingin tinggal bersama kakangmas Juwir ing dan pamanda Pangeran Mangkubumi” Raden Ayu itu mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian “Aku tidak berkeberatan Warih. Tetapi jangan sekarang, maka kau akan menjadi beban bagi Arum,sementara Arum yang hanya seorang gadis itu masih harus menjaga dirinya sendiri” Sementara itu Arumpun menyambungnya “Jangan sekarang puteri. Aku akan menjadi ketakutan. Aku tidak akan berani mempertanggung jawabkan puteri di sepanjang perjalanan” Kekecewaan yang dalam membayang di wajah Rara Warih. Tetapi iapun menyadari, bahwa dengan demikian ia hanya akan menjadi beban saja bagi gadis itu. Karena itu, betapapun hatinya bergejolak, maka ia harus tetap berada di sisi ibundanya. Betapapun hatinya menjadi semakin pahit. Sejenak kemudian, maka Arumpun meninggalkan istana Sinduratan. Ia merasa bahwa satu dua orang bangsawan muda, pernah mengenalnya ketika ia berkunjung ke istana Ranakusuman. Tetapi pengenalan yang sekilas itu tentu tidak akan banyak menimbulkan kesulitan kepadanya, justru karena pakaiannya yang lusuh dan sikapnya sebagai seorang gadis kebanyakan yang lewat di jalan-jalan raya seperti kebanyakan perempuan padesan. Namun dalam pada itu, Arumpun sempat melihat kesiagaan prajurit Surakarta. Sepasukan prajurit dari pasukan berkuda lewat berderap di sepanjang jalan kota. Ketika ia berpapasan dengan dua orang laki-laki, ia mendengar bahwa pasukan itu baru pulang dari alun-alun ke barak mereka, setelah mereka mengadakan latihan sodoran. Dari orang lain, Arumpun mendengar bahwa latihan-latihan menjadi semakin meningkat. Bahkan hampir tidak pernah ada hari yang luang. “Tentu persiapan bagi pasukan yang akan menuju ke Penambangan” desis Arum.Sebenarnyalah bahwa kumpeni telah menyiapkan pasukannya sebaik-baiknya. Mereka menyadari, bahwa kecuali pasukan induk yang dipimpin langsung oleh Pangeran Mangkubumi di Gebang atau di Sukawati, ternyata bahwa pasukan Raden Mas Saidlah yang paling kuat. Karena itu, maka untuk menghancurkan Penambangan, kumpeni dan pasukan Surakarta telah mengerahkan pasukannya yang terbaik. Pasukan yang langsung dikirim dar i kota Surakarta. Seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galihwarit kepada Arum, bahwa pasukan di Jatimalang justru disiapkan untuk mencegat j ika ada bantuan yang menuju ke Penambangan. Namun dalam-pada itu, di hari-har i yang semakin dekat, kumpeni dan para Senapati di Surakarta telah meniupkan kabar angin, bahwa pasukan yang disiapkan itu justru akan menuju ke Gebang, langsung memukul induk pasukan Pangeran Mangkubumi. Tetapi kumpeni dan para Senapati tidak mengetahui, bahwa rencana mereka sudah didengar oleh Pangeran Mangkubumi, justru karena kelengahan satu dua orang perwiranya di meja bujana andrawina dan di bawah segarnya senyumRaden Ayu Galihwar it yang menjadi semakin cantik. Kumpeni dan para pemimpin prajurit Surakarta benar-benar telah siap. Sepasukan berkuda akan ikut bersama pasukan segelar sepapan untuk mengepung Penambangan. Bahkan mereka yakin, bahwa pasukan Raden Mas Said akan dapat ditumpasnya sampai punah. Sementara itu, Arumpun telah keluar dari pintu gerbang kota. Para prajurit yang berjaga-jaga di pintu gerbang sama sekali tidak menghiraukannya. Yang lewat itu bagi mereka adalah seorang gadis padesan seperti kebanyakan gadis padesan yang pergi ke kota untuk menjual hasil kebun dan pategalannya. Pada saat Arum dalam perjalanan kembali. Juwir ing dan Buntal masih juga memacu kudanya. Jarak yang ditempuholeh Juwiring dan Buntal berlipat ganda dari jarak yang ditempuh Arum. Tetapi karena mereka berkuda, maka merekapun akan dapat lebih cepat sampai. Apalagi mereka berangkat pada dini har i, sementara Arum baru mendekati kota. Tetapi agaknya tidak seperti saat mereka berangkat menuju ke Penambangan. Ketika mereka kembali dari Penambangan, melalui padukuhan kecil di hadapan padukuhan Jatimalang, mereka telah dilihat oleh beberapa orang peronda dari pasukan Surakarta yang berada di Jatimalang. Nampaknya mereka menjadi cur iga melihat dua orang berpacu dengan kencangnya. Karena itulah, maka ampat di antara merekapun segera mengejarnya. Namun ternyata bahwa kuda Raden Juwiring dan Buntal berlari lebih cepat, sehingga keempat kuda itu telah berjuang sekeras-kerasnya untuk dapat menyusul. Justru semakin lama semakin jelas, bahwa dua di antara keempat ekor kuda itu telah tertinggal. Dua yang lain masih mampu untuk berlari mencoba mengimbangi langkah kaki kuda Juwir ing. dan Buntal. “Mereka mengejar kita” desis Raden Juwiring. “Hanya dua orang” sahut Buntal. “Empat orang” jawab Raden Juwir ing. “Yang dua tertinggal. Tetapi yang dua itu agaknya masih berusaha untuk menyusul kita” “Apakah kita akan melayani mereka?“ bertanya Raden Juwiring. “Terserahlah kepada Raden” jawab Buntal “Tetapi kita mempunyai kewaj iban untuk menyampaikan balasan Raden Mas Said” Raden Juwiring mengangguk. Karena itu, iapun tidak ingin menunggu orang-orang yang mengejarnya.Namun tiba-tiba saja Buntal berdesis “Mereka memotong jalan” “Gila” geram Raden Juwiring “Kita tidak sempat mengelak lagi. Tidak ada jalan simpang Atau kita akan terjun ke sawah untuk menghindar?” Buntal tidak sempat menjawab. Dua ekor kuda yang berhasil memotong lewat jalan setapak itu, semakin lama menjadi semakin mendekati jalur jalan yang ditempuh oleh Juwiring dan Buntal, justru di hadapan mereka. “Mereka lebih mengenal daerah ini” berkata Juwiring. Sementara itu, ketika mereka berpaling, meskipun masih cukup jauh, dua orang penunggang kuda lainnya, masih juga mengejar mereka. “Tidak ada kemungkinan lain” desis Buntal, “Baiklah Buntal. Kita akan bertempur. Aku terbiasa bertempur di punggung kuda, karena aku adalah seorang Senapati muda prajurit Surakarta dari pasukan bekuda. Cobalab menyesuaikan diri. Kuasai kudamu baik-baik. Medan ini memang tidak menguntungkan bagi pertempuran di atas punggung kuda. Tetapi aku akan langsung menjatuhkan salah seorang dari keduanya demikian merekan masuk kejalur jalan ini. “Tetapi kita belumpasti, siapakah mereka” desis Buntal. “Aku mengenal semua cir i dari para prajurit di Surakarta. Mereka adalah prajur it Surakarta, tetapi bukan dari pasukan berkuda meskipun mereka berkuda. Agaknya mereka memang sedang meronda” jawab Juwiring. “Jadi, kita akan langsung melawan mereka?“ bertanya Buntal. “Kita harus mengambil keuntungan pada benturan pertama. Ingat, mereka berempat. Sebentar lagi, dua orangpenunggang kuda yang menyusul di belakang itu akan sampai pula di sini” jawab Juwiring. Buntal mengangguk. Ia percaya kepada Raden Juwiring, karena iapun menganggap bahwa pengalaman Raden Juwiring di lingkungan keprajuritan lebih banyak dan luas. Sebenarnyalah Raden Juwiring telah meninggalkan Buntal beberapa langkah. Ia tidak mau terlambat. Demikian kedua ekor kuda lawan itu masuk ke jalur jalan yang dilaluinya, maka iapun harus berhasil Sesaat kemudian mereka masih berpacu. Dua ekor kuda yang memotong jalan itupun menjadi semakin dekat, kedua orang penunggangnya itupun sudah siap pula menghadapi segala kemungkinan. Juwiring memperhatikan sikap dari kedua orang penunggang kuda itu. Mereka akan memasuki jalur jalan dari arah kanan. Ada sedikit keuntungan padanya, karena keduanya agaknya akan memegang senjata mereka dengan tangan kanan. Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka kedua orang penunggang kuda yang memotong jalan itupun telah menar ik senjata mereka. Seorang yang berkumis lebat berada di depan, dan seorang yang berkulit kehitam-hitaman berada di belakang. Juwiringpun telah siap menghadapi penunggang yang di depan. Ia berharap Buntal dapat menyesuaikan diri menghadap yang seorang lagi. Saat-saat yang menegangkan itupun menjadi semakin dekat. Ketika beberapa langkah lagi, mereka akan sampai kesimpang tiga, maka Raden Juwiring telah mencabut pedangnya. Sekaligus pedangnya itupun telah terayun dengan perhitungan yang tepat. Ternyata ia dapat menyesuaikan waktu seperti yang dikehendakinya. Kuda yang memotong jalan itu masuk selangkah lebih dahulu. Namun dengancepatnya kuda Raden Juwiring telah menyambarnya. Sekali ayun senjata Raden Juwiring telah tergores dipundak lawannya yang belumsempat menempatkan dir i. Buntal ternyata menjadi berdebar-debar. Ia berusaha berbuat seperti Raden Juwiring. Tetapi, di saat terakhir ia telah merubah niatnya. Ia mempunyai perhitungan tersendiri. Ketika lawannya melihat kawannya yang mendahuluinya tidak sempat menangkis pada serangan pertama, maka orang itu berusaha memper lambat kudanya untuk mendapatkan kesempatan mengatur benturan di simpang tiga. Tetapi Buntalpun memperlambat kudanya Justru dengan demikian maka kedua ekor kuda itupun bertemu di simpang tiga. Penunggang kuda yang berkulit kehitam-hitaman itu ternyata telah menjadi bimbang melihat Buntal yang sama sekali tidak menarik senjatanya. Namun pada saat ia masih termangu-mangu, Buntal telah meloncatinya dan mendorongnya bersama-sama jatuh di tanah, sebelum orang itu sempat mengayunkan senjatanya, Keduanyapun jatuh berguling-guling beberapa langkah. Kemudian hampir bersamaan merekapun berloncatan berdiri tegak. Baru pada saat yang demikian Buntal menggenggam senjatanya. Pada saat yang bersamaan Raden Juwiring telah memutar kudanya Ternyata ia memang lebih cepat dari lawannya. Sekali lagi ia menyambar dengan senjata terayun. Namun lawannya sudah siap menangkis serangan itu meskipun ia telah terluka di pundak kir i. Meskipun demikian serangan Raden Juwiring membuatnya cemas. Ketika ia menangkis senjata Raden Juwiring yang terayun, sehingga terjadi benturan senjata, maka terasa tangan prajurit yang telah terluka itu menjadi sakitSebenarnyalah bahwa Raden Juwiring pantas untuk menjadi Senapati pada pasukan berkuda. Selagi lawannya memperbaiki kedudukannya serta genggaman pedangnya, kuda Raden Juwiring melingkar hampir melekat sehingga kuda lawannya yang terkejut melonjak dan surut beberapa langkah. Sekali lagi terdengar prajurit itu mengeluh. Pedang Raden Juwiring telah sekait lagi menggores lengan, justru tangan kanan. Prajurit itu menjadi semakin gelisah. Luka di pundak kiri dan lengan kanannya itu terasa menjadi pedih Ketika darah mengucur semakin banyak, maka iapun bertambah resah. Tetapi ia masih berharap, kedua orang kawannya yang lain, yang menjadi semakin dekat, akan dapat membantunya. Sementara itu, orang yang kehitam-hitaman yang berhadapan dengan Buntal masih sempat bertanya “Siapa kalian, he?“ “Sudah jelas” jawab Buntal “seharusnya kanan mengerti siapa kami. Kami adalah orang-orang padepokan Raga Tunggal” “Aku belum pernah mendengar padepokan Raga Tunggal” desis orang itu. Buntal tertawa. Katanya “Karena kau akan mati, maka kau boleh mengerti, siapakah kami. Dalam kemelut seperti ini slangkah suburnya daerah perburuan kami. Tidak ada orang yang sempat memperhatikan tingkah laku kami. Kami adalah segerombolan perampok yang paling ditakuti di daerah Utara. Kami mencoba keuntungan kami di daerah Selatan, Ternyata daerah Selatan justru lebih subur. Kami tidak takut bertemu dengan Pangeran Mangkubumi atau para pengikutnya” “Setan” geram prajur it yang berkulit kehitam-hitaman itu “ternyata kalian telah merendahkan martabat para prajurit Surakarta. Sekarang kalian harus menyerah dan karena kaliantelah melakukan kejahatan dalam keadaan seperti sekarang, maka kalian akan digantung di alun-alun” “Kenapa kau ributkan kami? Bagi kami, lebih baik kami rampok sendiri daripada pendok emas dan intan berlian dirampok oleh kumpeni. Di tangan kami, barang-barang itu hanya berpindah tempat. Tetapi tidak akan diangkut ke tanah di seberang benua dan samodra” jawab Buntal. Prajurit berkulit kehitam-hitaman itu menggeram. Sejenak kemudian iapun telah siap menyerang Buntal. Namun Buntal telah bersiap pula menghadapinya. Karena itu, ketika prajurit itu menikamnya langsung pada arah jantung, Buntal sempat bergeser. Justru dengan tangkasnya pula ia mengayunkan pedangnya mendatar. Prajurit itupun sempat menangkis serangan Buntal. Dengan cepat ia meloncat ke samping. Pada satu putaran di atas sebelah kakinya ia mengambil jarak. Kemudian dengan tangkasnya pula ia meloncat menyerang. Keduanyapun kemudian bertempur dengan sengitnya. Namun beberapa saat kemudian, ternyata bahwa pedang Buntal dapat bergerak lebih cepat. Pada saat-saat yang menentukan, derap dua ekor kuda menjadi semakin dekat. Sementara itu, lawan Juwiring yang telah terluka, hampir tidak mampu lagi melawan. Ia seakan-akan menyerahkan nasibnya kepada kudanya yang kemudian membawanya lari menyongsong kedua orang kawannya. Juwiring tidak mengejar mereka, karena ia tidak mau terjebak. Namun ia menjadi cemas karena kuda Buntal yang tidak nampak lagi. Tetapi ia tidak sempat memikirkannya lebih lama. karena kedua orang lawannya yang baru menjadi semakin dekat. Tetapi Juwiring tidak menjadi cemas. Ia tahu pasti bahwa Buntal akan dapat mengalahkan lawannya sebelum kedua orang baru itu sempat menguasainya.Sebenarnyalah, ketika kedua orang lawannya yang baru itu mendekat, diiringi oleh prajur it yang terluka itu, maka Buntal telah menghentakkan senjatanya mengarah lambung. Tetapi lawannya tidak membiarkan lambungnya disayat oleh pedang Buntal. Karena itu, dengan serta merta, ia telah mengayunkan pedangnya memukul pedang Buntal. Tetapi Buntal menar ik serangannya dengan cepat. Dengan tiba-tiba saja ia telah meloncat dengan pedang terjulur menikam jantung, di saat dada lawannya sedang terbuka. Lawannya tidak sempat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat memandangi dengan wajah tegang ujung pedang yang dengan demikian cepatnya mematuknya. Tetapi pada saat ujung pedang itu hampir menyentuh kulit, telah terbersit perasaan iba di hati Buntal melihat sorot mata lawannya. Karena itu pada saat yang tepat, ia sempat menggerakkan pergelangan tangannya sedikit sehingga ujung pedangnya telah bergeser. Meskipun pedang itu masih menikam bagian tepi dadanya, tetapi pedang itu tidak langsung membelah jantungnya. Namun terdengar orang itu berdesah. Buntal yang kemudian menarik pedangnya melihat darah mengucur dari luka yang menganga. Tetapi orang itu tidak langsung jatuh dan mati karena lukanya itu. Dalam pada itu, kedua orang berkuda yang baru datang itupun telah mulai bertempur melawan Juwiring. Meskipun ia harus melawan dua orang, tetapi keadaan medan menguntungkannya, sehingga kedua orang itu tidak sempat menyerang bersama dari arah yang berbeda. Tetapi ketika lawan Buntal itu sudah tidak berdaya, meskipun ia masih sempat merangkak menepi maka Buntalpun melangkah mendekati medan. Sementara seorang penunggang kuda yang telah dilukai oleh Juwir ing menjadi semakin lemah duduk di punggung kudanya.Dalam pada itu, dua orang prajurit yang bertempur melawan Juwir ing itupun segera menyesuaikan dir i. Karena mereka t idak mendapat banyak kesempatan untuk bertempur berpasangan, maka akhirnya yang seorang telah berusaha untuk menyerang Buntal. Di luar dugaan, orang itupun telah memutar kudanya dan langsung menyambar Buntal yang masih berdir i termangu-mangu. Buntal terkejut ketika ia melihat pedang orang berkuda itu terayun ke lehernya. Karena itu, maka dengan serta merta iapun segera meloncat dan jatuh berguling. Hampir saja ia terperosok masuk ke dalam parit yang ternyata airnya tidak terlalu bersih. Ketika Buntal meloncat bangkit, maka ia melihat kuda itu telah menyambarnya lagi. Karena itu, maka iapun segera meloncati parit di pinggir jalan itu, sehingga senjata lawannya tidak dapat menggapainya.

Jilid 24
NAMPAKNYA lawannya menjadi marah. Karena itu, maka japun segera menghentikan kudanya dan meloncat turun. Buntal yang memang lebih mantap bertempur diatas tanah, segera meloncati parit itu lagi dan dengan tegak ia berdiri menghadapi lawannya yang mendekatinya. Pertempuran yang serupa telah terjadi pula Raden Juwiring dengan kemampuannya bertempur diatas kuda, telah mendesak lawannya. Namun nampaknya kurang cermat mengendalikan kudanya, sehingga tiba-tiba saja kudanya telah tergelincir dan jatuh terguling kedalam parit, Malang bagi prajur it itu. Diluar kuasanya mengendalikan diri, ternyata senjatanya telah melukainya sendiri. Lambungnya telah dikoyak tajamsenjatanya sendiri Karena itu, ketika kudanya berusaha untuk bangun, justru prajurit itu dengan susah payah berusaha untuk bangkit. Tetapi Juwiring terkejut ketika melihat darah mengalir dari tubuh lawannya. Barulah Juwiring sadar, bahwa lawannya telah terluka karena senjatanya sendiri.Yang masih memberikan perlawanan adalah lawan Buntal. Seorang yang bertubuh tinggi tegap berjambang panjang, tetapi ia tidak akan berdaya jika Juwiringpun ikut pula melawannya. Karena itu, maka Juwiring yang masih duduk di punggung kudanya berkata ”Sudahlah. Menyerah sajalah. Tidak ada gunanya kau melawan. Kamipun sebenarnya tidak ingin melawan prajurit Surakarta. Jika kami terpaksa melakukannya, maka kami hanya sekedar menghindar. Mungkin kalian akan menangkap kami, karena kami adalah orang-orang dari padepokan didaerah Utara.“ “Padepokan Rasa Tunggal”desis Buntal menyambung. Lawan Buntal yang terluka di pinggir jalan, yang mendengar jawaban itu menjadi heran. Yang diucapkan itu berbeda dengan pendengarannya terdahulu. Karena itu. tiba-tiba saja ia ingin meyakinkan. Betapa sakit mencengkam dadanya, namun ia masih bertanya ”Padepokan Rasa Tunggal atau Raga Tunggal ? “ Buntal tergagap. Namun kemudian dijawabnya ”Raga Tunggal. Bukankah aku mengatakannya sejak semula Raga Tunggal? Nah, jika kalian ingin memburu kami pergilah ke padepokan Raga Tunggal,” Prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu termangu-mangu. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa tiga orang kawannya sudah tidak berdaya. Meskipun demikian, ia masih bertanya ”Jika aku menyerah, apa yang akan kau lakukan ?“Sebagaimana pesan yang selalu didengar dari para pemimpin pasukan Pangeran Mangkubumi, maka Juwir ingpun menjawab ”Aku tidak akan berbuat-apa-apa. Tetapi jangan berusaha menangkap kami.“ Prajurit itu menjadi heran. Tetapi nampaknya kedua anak muda itu bersungguh-sungguh, karena Buntalpun berkata ”Jika kami ingin membunuh, kami sudah membunuh. Karena itu, jika kau memang masih ingin hidup, menyerah sajalah. Tetapi dengan syarat.“ “Apa ?” bertanya prajurit itu. “Aku ambil kudamu, karena kudaku telah hilang.” jawab Buntal, Prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu memang merasa, bahwa anak-anak muda itu sengaja menyinggung perasaannya dengan sikapnya. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. karena sebenarnyalah bahwa ia masih belum ingin mati. Karena itu, maka para prajurit itupun menyatakan tidak akan menangkap mereka dan memberikan kuda yang diminta oleh Buntal. Sejenak kemudian, maka kedua anak muda itupun telah rneninggaikaln medan. Namun Buntal mendapat seekor kuda tidak setegar kudanya sendir i. Tetapi tiba-tiba saja bagaikan bersorak ia berkata ”He, lihat.” Ketika mereka berpacu sampai batas pategalan mereka melihat seekor kuda yang sedang dengan tenang makan rerumputan dipinggir jalan. “Itu kudaku.” desis Buntal. “Kuda itu nampaknya masih menunggumu” sahut Juwiring.Karena ku maka Buntalpum telah berganti kuda. Sementara itu kuda yang dipinjamnya itupun dihadapkanmya kearati pemiliknya. Kemudian dengan satu lecutan kuda itu berderap berlari tanpa penunggang. Sementara itu, prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu telah mengumpulkan kawan-kawannya yang terluka. Yang tinggal di tempat itu. hanyalah dua ekor kuda. Karena itu. maka agar mereka tidak terlalu lama, diusahakannya agar setiap ekor kuda dapat membawa dua orang bersama-sama. Tetapi merekapun terkejut ketika mereka mendengar derap seekor kuda berlari kearah mereka. Ternyata kuda itu adalah kuda yang dipinjam oleh anak-anak muda yang mengaku dari padepokan Raga Tunggal. “Siapakah sebenarnya mereka?” bertanya orang bertubuh tegap itu seolah-olah kepada diri sendiri. Hampir diluar sadarnya, orang yang berkulit kehitam- hitaman, yang terluka dliidada menyahut ”Mungkin mereka adalah para pengikut Pangeran Mangkubumi “ “Tandanya ?” bertanya kawannya yang terluka oleh senjata sendiri “Mereka tidak membunuh kita.” jawab arang yang berkulit kehitam-hitaman ”aku merasa, bahwa anak muda itu sengaja membiarkan aku hidup, justru karena ia menggeser tikaman senjatanya.“ Para prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang yang bertubuh tegap itu berkata ”Cepat, sebelum luka kalian itu menuntut lebih banyak lagi dari kalian. “ Demikianlah maka dengan kuda yang ada, para prajurit itu kembali ke Jatimalang. Dengan pakaian yang di kotori oleh darah mereka sendir i, maka prajurit itu bagaikan merangkak kembali kepada kawan-kawannya.Kedatangan mereka telah mengejutkan. Seorang Senapati muda langsung bertanya ”Apakah kau bertemu dengan para pengikut Pangeran Mangkubunti?” Orang yang berkulit kehitam-hitaman itulah yang dengan serta merta menjawab ”Tidak Senapati. Kami bertemu dengan sekawanan perampok yang justru mempergunakan kesempatan pada saat-saat seperti ini.” “Perampok? Dan kalian tidak dapat menangkap mereka ?” bertanya Senapati itu. ”Menurut laporan yang aku dengar, mereka hanya berdua saja.” “Ya. Ketika kami melihat dari padukuhan sebelah, mereka memang hanya berdua. Kami mengejarnya berempat Tetapi ternyata ada tiga orang kawannya telah menunggu di ujung bulak sebelah. Selagi kami berempat bertempur melawan lima orang perampok, telah datang lagi dari arah yang berbeda, seorang yang ternyata adalah pemimpinnya.“ “Enam orang perampok. Dan kalian adalah prajurit. Surakarta.” geramSenapati itu. “Ya. Kami berhasil bertahan. Mereka telah melarikan diri dengan membawa beberapa orang terluka. Tetapi kami sudah terlalu lemah, sehingga kami tidak akan mungkin mengejarnya lagi “ jawab orang berkulit kehitam-hitaman itu. Senapati itu agaknya kurang mempercayai keterangan itu. Dipandanginya wajah-wajah pucat dari ketiga orang lainnya. Namun orang bertubuh tegap itupun mengangguk sambil menjawab ”Kami tidak mendapat kesempatan terlalu banyak. Para perampok itu ternyata memiliki kemampuan yang cukup untuk melawan kami selain jumlah mereka yang lebih banyak. Karena itu. kami tidak dapat menangkap seorangpun diantara mereka, meskipun kami dapat melukai beberapa orang. Mungkin membunuhnya, karena mereka sempat dibawa oleh kawan-kawannya.““Bodoh sekali” geram Senapati itu ”musnakan rnereka. Perampok-perampok memang berusaha untuk memanfaatkan keadaan.“ Keempat orang itu tidak menjawab. Namun Senapati itupun kemudian berkata ”Obati lukamu. “ Para prajurit yang terluka itupun kemudian telah pergi ke belakang barak mereka untuk menemui tabib pasukan yang segera mengobatinya. Dalam pada itu Raden Juwir ing dan Buntal telah berpacu semakin cepat. Perkelahian itu telah merampas waktu mereka cukup panjang. Sehingga karena itu, maka mereka harus berpacu lebih cepat lagi, agar mereka tidak terlalu lama mencapai daerah pertahanan Pangeran Mangkubunii untuk memberakan surat jawaban Raden Mas Said yang sudah mereka mengerti isinya. Namun dalam pada itu, perjalanan Arum ketika ia kembali itupun tidak selancar ketika ia berangkat. Ketika ia sampai di bulak panjang yang sepi, tiba-tiba saja ia berpapasan dengan dua orang berwajah kasar. Seorang masih muda sedangkan yang lain mendekati pertengahan abad. Semula Arum tidak menghiraukan mereka. Jarak yang ditempuh sudah menjadi tidak terlalu panjang lagi. Sebentar lagi ia akan memasuki daerah pengawasan pasukan Pangeran Mangkubumi. Namun ternyata kedua orang itu telah menghentikannya. Anak muda itu berdir i ditengah jalan sambil bertolak pinggang, sementara orang yang separo baya itu berdiri termangu- mangu di pinggir jalan. Aram menjadi berdebar-debar. Menilik bahwa kedua orang itu bersenjata, maka agaknya keduanya adalah bagian dari satu pasukan. Tetapi pasukan yang mana.Arum mengenal kalimat-kalimat sandi apabila diperlukan. Karena itu apabila keduanya adalah orang-orang dari pasukan Pangeran Mangkubumi maka keduanya tidak akan berbahaya baginya. Tetapi, ternyata bahwa jantung Arumpun berdebar semakin cepat. Nampaknya keduanya memiliki sifat yang agak berbeda dari para pengikut Pangeran Mangkubumi. Karena itu, moka Arumpun menjadi semakin berhati-hati ketika ia mendekati kedua orang yang nampaknya sengaja menunggunya. “Jika keduanya orang-orang yang dipasang kumpeni, aku akan menjadi sangat bingung. Jika aku melawan, maka ia akan dapat melihat bahwa aku memiliki kemampuan serba sedikit. Jika pada suatu saat aku bertemu lagi dengan mereka di kota apabila aku menghadapi Raden Gaiihwaiit, maka mereka akan dapat berbahaya bagiku.” berkata Arum didalam hatinya, Kedua orang itu t idak menegornya sampai Arum berada beberapa langkah saja dihadapan anak muda yang berdiri ditengah jalan itu. Tetapi ketika Arum melangkah menepi, barulah anak muda itu beringsut. Sambil tersenyum ia bertanya ”He, anak manis. Dari mana, he ?” Arum mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil melangkah surut ia menjawab ”Dari kota, Ki Sanak.“ “Ada apa ke kota ? Apakah kau mempunyai sanak kadang di kota ? Bukankah di kota suasananya sedang kisruh setelah kumpeni ada di Surakarta.” desis anak muda itu. “Tidak Ki Sanak. Di kota tidak ada apa-apa. Aku berjualan jamu dan mangir serta lulur untuk perempuan-perempuan kota.” jawab Arum. “O, begitu” jawab anak muda itu ”agaknya karena itu maka kau cantik. He, apakah daganganmu itu laku ? “ ”Sebagian” jawab Arum,Dalampada itu, orang yang separo baya itupun berdesis “Ambil saja uangnya. Jangan terlalu lama.“ Arum mengerutkan keningnya. Atas sikap, itu, ia sudah dapat menduga, bahwa keduanya tentu bukan para pengikut Pangeran Mangkubumi. Atau seandainya keduanya pengikut Pangeran Mangkubumi juga. maka keduanya sudah menyalahi paugeran bagi pasukan Pangeran Mangkubumi. Anak muda yang berdir i ditengah jalan itupun berdesis “Tidak hanya uangnya paman, tetapi gadis, eh. perempuan ini terlalu cantik, apakah ia gadis atau bersuami atau janda muda. “ Wajah Arum menjadi tegang. “Kau sudah kambuh” desis orang yang separo baya. Tetapi anak muda itu tertawa. Katanya ”Paman jangan berpura-pura. Jika aku bawa gadis ini, pamanlah yang akan lebih senang dari aku sendir i, karena paman memerlukannya lebih banyak.“ Laki- laki separo baya itu mengerutkan keningnya. Jawabnya ”Ambil uangnya. Kita segera pergi.“ “Paman agaknya menjadi cemas, bahwa daerah ini menjadi daerah pengamatan pasukan Pangeran Mangkubumi. Jangan takut paman. Bulak ini terlalu panjang, sepi dan jarang dilalui orang. Jika perempuan ini berteriak, tidak akan ada seorangpun yang mendengar. Di sawah disekitar tempat ini. aku tidak melihat seorangpun yang sedang bekerja. Sementara jika pasukan Pangeran Mangkubumi nganglang lewat bulak ini, jauh-jauh kita sudah melihatnya.” jawab anak muda itu. “Anak setan” geram orang tua itu ”j ika kau ingin berbuat sesuatu, lakukanlah. Aku hanya memer lukan uangnya. Bukankah ia baru saja menjual jamu, mangir dan lulur? He,perempuan yang malang, berikan uangmu. Aku hanya memer lukan uangmu. “ Arum menjadi semakin tegang, la tidak mendapat uang. Ia hanya membawa bekal seperlunya diperjalanan. Apalagi jika ia memperhatikan anak muda yang berdir i ditengah jalan itu. Hatinya menjadi berdebar-debar. Tetapi dengan demikian Arumpun mengetahui, bahwa orang itu bukan kaki tangan kumpeni. Juga bukan orang- orang dari pasukan yang manapun juga. Kesimpulan Arum. orang-orang itu adalah perampok atau penyamun yang mengambil kesempatan justru pada saat yang sedang gawat. “Berikan uangmu, analk manis” desis anak muda itu “dan berikan apa saja yang aku kehendaki. “ Wajah Arum menjadi merah. Tetapi ia sudah dapat mengambil sikap tegas. Orang-orang iitu harus dilawannya. Meskipun Arum belum mengetahui tataran kemampuannya, namun Arum tidak akan menyerahkan apapun yang diminta, oleh orang-orang itu. Sejenak Arum mengamati senjata orang-orang itu. Keduanya membawa parang yang tidak terlalu panjang, tetapi nampaknya besar dan berat. Sementara Arum sendiri tidak membawa senjata panjang, la hanya menyembunyikan beberapa senjata pendek dibawah setagennya. Pisau-pisau belati kecil yang akan dapat membantunya jika terpaksa. “Jangan mencoba menentang kehendak kami” berkata anak muda itu” bulak ini terlampau panjang. Meskipun kau berteriak, suaramu akan hilang ditelan luasnya bulak ini, sementara seperti yang kau lihat, tidak ada seorangpun yang bekerja disawahnya disaat seperti ini. “ Arum mengumpat didalam hati. Hambatan itu justru datang dari orang-orang gila seperti itu. Bukan dari prajurit Surakarta, dan bukan puja dari Kumpeni.“Tetapi aku dapat bertindak tegas menghadapi mereka“ berkata Arumdidalam hatinya. Sementara itu, orang yang sudah separo baya itu berkata kepada kawannya dengan lantang ”Jika kau menjadi gila melihat gadis itu, terserah. Tetapi aku akan mengambil uangnya dan pergi. Lakukan apa yang kau lakukan seterusnya tanpa menghiraukan alku lagi.“ Anak muda itu tertawa. Katanya ”Sejak kapan kau menjadi demikian lembut hati.“ “Daerah ini adalah daerah pengawasan pasukan Pangeran Mangkubumi. Setiap saat orang-orangnya dapat saja muncui dibulak ini. Dan kata tidak akan mendapat kesempatan untuk lolos.“ “Baiklah” berkata anak muda itu ”jika kau pergi, pergilah. Aku akan mengambil apa saja yang dapat aku ambil dari perempuan ini. Termasuk uangnya. Katakan, di-mana kau akan menunggu aku. “ Kawannya menggeram. Namun katanya ”Aku akan membawa uangnya lebih dahulu.” Ia berhenti sejenak, lalu katanya kepada Arum ”He, anak malang. Berikan uang itu kepadaku. Kau tentu mendapat uang dari perempuan- perempuan yang sudah bersolek dengan mangir, lulur dan memelihara kemudaan mereka dengan reramuan jamu. “ “Aku tidak membawa uang” jawab Arum ”aku hanya menyerahkan barang-barang itu. Semuanya adalah urusan ibuku. Uangnyapun akan diterima oleh ibuku kelak.“ “Jangan begitu” desis orang yang separo baya itu ”aku sudah berusaha untuk menghindarkan diri dari tindakan- tindakan yang lebih gawat bagimu. Karena itu, serahkan saja uangmu. Kemudian aku akan pergi.“ “Aku tidak mempunyai uang. Aku t idak bohong” jawab Arum.Orang itu. menarik nafas dalam-dalam. Sementara anak muda itu tertawa ”Percayalah. Perempuan imi tidak mudah menyerahkan uangnya. Karena itu, jangan terlalu berbaik hati.“ “Nampaknya perempuan ini memang keras kepala” sahut yang lain ”apakah kau ingin kami berdua menyeretmu keluar dari daerah ini? Disebelah padesan itu terdapat sebuah sungai. Menelusuri sungai itu, kami akan dapat sampai kesarang kami. Apakah kau ingin mengikuti kami ?“ Wajah Arum terasa bagaikan tersentuh bara. Karena itu, maka iapun menjawab ”Baiklah. Aku akan datang kesarangmu kelak bersama Ki Jagabaya dari padukuhan ini. Kau akan diseret dan di pertontonkan kepada seluruh penghuni Kademangan ini “ “He” wajah kedua orang itu menegang. Sementara itu, anak muda itupun menyahut ”Jangan lancang berbicara dengan aku. Aku dapat berbuat apa saja. Halus, kasar dan barangkali akan dapat membuat kau menyesal seumur hidup mu, “ Arumpun menjadi semakin marah pula. Karena itu, maka iapun menjawab ”Jangan mengancam dan menakut-nakuti aku. Ingat, daerah ini adalah daerah pengawasan pasukan Pangeran Mangkubumi seperti yang kau katakan sendiri. Setiap saat, pasukan peronda akan lewat. Sementara menunggu mereka, aku akan melawan kalian berdua.“ Kata-kata itu benar-benar membingungkan kedua orang itu. sehingga untuk sejenak, keduanya justru berdiam diri sambil berpandangan. “Ki Sanak” berkata Arum kemudian ”aku masih memberi kesempatan kalian untuk menyingkir dari jalan ini sebelum pasukan peronda Pangeran Mangkubumi lewat dan menyeret kalian ke daerah pertahanannya untuk diadili.“Wajah anak muda itupun masih nampak tegang. Namun kemudian ia tertawa sambil berkata ”Luar biasa. Kau adalah perempuan yang luar biasa. Kau tidak menjadi gemetar melihat kami dan rencana kami, bagaimana kami akan memper lakukan kau. Justru kau masih sempat berusaha untuk membebaskan dirimu dengan menggertak kami.“ “Aku tidak menggertak. Aku akan melakukannya” desis Arum sambil melepaskan keba yang didukungnya dengan selendang di lambungnya. ”Bagaimanapun juga, aku wajib melawan kalian, Cacingpun akan menggeliat jika terinjak kaki. Apalagi aku.“ Sikap Arum benar-benar mengherankan kedua orang itu. Namun anak muda ku berkata ”Sikapmu semakin menar ik anak manis. Perempuan yahg demikian adalah perempuan yang sangat menarik perhatianku.“ Namun anak muda itu terkejut bukan buatan. Sebelum ia sempat tertawa lagi, tiba-tiba terasa wajahnya bagaikan dibakar dengan api. Ternyata Arum yang sudah melepaskan keba pandannya itu, telah meloncat pendek, mendekati anak muda itu dan langsung menampar pipinya. Demikian kerasnya, sehingga terasa pipi anak muda itu bagaikan terbakar. Sementara itu ketika ia meludah, ternyata giginya telah berdarah. Yang dilakukan Arum itu memang sangat mengejutkan. Namun sekaligus Arum dapat menjajagi serba sedikit, kekuatan dan daya tahan lawannya. Ternyata anak muda tiu tidak sempat mengelak, meskipun Arumpun sadar, bahwa halitu disebabkan karena anak muda itu lengah dan tidak menduga sama sekali, bahwa hal itu akan terjadi Namun dalam pada itu, apa yang dilakukan Arum itu benar- benar menggetarkan hati. Keduanyapun menyadari, bahwa ternyata perempuan yang mengaku penjual reramuan jamu, mangir dan luhur itu bukannya perempuan kebanyakan. Karena itu, maka keduanyapun bergeser surut. Dengan suara lantang anak muda itu berkata ”Perempuan ini agaknya perempuan gila. Baiklah, kau akan menyesal karena kau sudah menghina kami. Kami dapat membuat kau malu dan menyesal sepanjang hidupmu. Tetapi kamipun dapat membunuhmu dan membiarkan mayatmu terkapar di jalan bulak ini.“ “Kau kira aku menjadi gemetar mendengar ancaman mu itu ?” jawab Arum ”marilah. Aku terpaksa melakukannya untuk mempertahankan dir i dan sedikit memberi peringatan kepada perampok dan penyamun yang memanfaatkan keadaan yang gawat ini.”. Kedua orang berwajah kasar itu termangu-mangu. Namun anak muda itupun berkata “Baik. Kau memang sangat menarik anak manis. Kau menjadi semakin menar ik bagiku.“ Anak muda itupun tiba-tiba saja telah bersiap. Sementara kawannyapun telah bergeser. Dengan suara berat ia berkata ”Kau sudah menyakiti hati kami.” Arum tidak melihat kemungkinan lain daripada berkelahi melawan kedua orang itu. Tetapi karena ia t idak memakai pakaian khususnya, maka rasa-rasanya memang agak canggung juga baginya. Namun demikian ia terpaksa menyingsingkan bukan saja lengan bajunya, tetapi juga kain panjangnya, “Anak gila” geram anak muda yang mencegatnya.Arum t idak menghiraukannya, la tidak ingin mengalami bencana yang gawat menghadapi kedua orang itu. Karena itu, maka ia t idak menghiraukan apa saja yang dikatakan oleh kedua orang lawannya. Ternyata kedua orang laki- laki berwajah kasar itu masih juga menganggap bahwa Arum adalah seorang perempuan yang meskipun memiliki kelebihan, tetapi tidak akan mengejutkan mereka. Sehingga karena itu, maka keduanya tidak segera mencabut senjatanya. “Perempuan yang banyak tingkah” geram anak muda itu ”aku masih dapat bersabar saat ini. Tetapi jika kau keras kepala, maka kau akan mengalami perlakuan yang sangat buruk. Kami akan menyeretmu ke sarang kami. Dan kau akan dapat membayangkan, apa yang dapat terjadi dengan beberapa orang kawan-kawanku jika mereka melihatmu.“ Arum tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan. “Nampaknya anak ini memang keras kepala” desis orang yang sudah separo baya ”baiklah. Aku akan merampas uangnya. Dan aku kira karena kekerasan hatinya, ia wajib mendapat hukuman di sarang kita nanti.“ Arum masih tetap berdiam dir i. Tetapi ia sudah benar-benar siap. Dalam pada itu, anak muda yang menganggap Arum hanyalah seorang perempuan yang keras kepala, telah melangkah mendekat. Dijulurkannya tangannya untuk menjajagi kesigapan lawannya, Namun agaknya Arum mengerti, sehingga ia sama sekali tidak berbuat sesuatu karena ia tahu, tangan itu t idak akan sampai menyentuhnya. Sikap Arum itu justru mendebarkan. Ternyata perempuan itu memiliki pengamatan yang tajam atas gerak lawannya. Karena itu, maka orang yang sudah separo baya itu bergerak lebih jauh lagi. Ia mulai menyerang, meskipun belumbersungguh-sungguh. Tetapi tangannya benar-benar telah mengarah kening. Arum bergeser selangkah surut. Tetapi ia masih belum berbuat yang lain. Ketenangan sikap Arum membuat kedua orang itu semakin bersungguh-sungguh menghadapinya. Ketika orang yang lebih tua itu menarik tangannya, maka anak muda kupun tidak sabar lagi. Ia mulai dengan serangan yang sebenarnya. Sambil meloncat maju tangannya terjulur kearah pundak Arum. Arum menyadari, bahwa lawannya mulai menjadi marah dan bersungguh-sungguh. Karena itu, maka iapun menjadi semakin berhati-hati. Ia dengan cermat mengelakkan serangan lawannya. Namun seperti yang diperhitungkannya, demikian ia bergeser, lawannya itupun telah meloncat menyerang dengan kakinya mengarah lambung. Tetapi Arumpun telah siap menghadapinya. Iapun telah bertekad untuk melawan dengan bersungguh-sungguh. Bahkan Arumpun sadar, bahwa pada saatnya kedua orang itu tentu akan mempergunakan senjatanya apabila mereka terdesak. Namun demikian Arum harus tetap berhati-hati, karena ia belumtahu t ingkat kemampuan lawannya yang sebenarnya. Dengan tangkas Arumpun melnmcat menghindar. Tetapi ternyata bahwa kawannya yang lebih tua itu, tidak membiarkan gadis itu melepaskan diri. Karena itu, dengan serta merta iapun telah menyerang juga. Barulah keduanya menyadari, bahwa perempuan itu benar- benar tangkas. Ia mampu bergerak lebih cepat dari kedua orang itu. Kedua orang yang merasa dirinya sudah kenyang makan garam petualangan dalam benturan-benturan ilmu dan kekuatan.Karena itu, maka orang yang lebih tua itupun bergumam “Ternyata perempuan ini merasa mempunyai bekal ilmu untuk melawan kita berdua. Itulah agaknya ia dengan sengaja menentang setiap keinginan kita. Mungkin dengan sengaja pula ia ingin menunjukkan kemampuannya. “ “Tidak” jawab Arum ”kau memaksa aku untuk mempergunakan ilmu kanuragan. Tetapi bahwa sikapmu telah menunjukkan siapakah kalian, maka telah timbul pula keinginanku untuk menangkap kalian.“ “Huh. perempuan sombong” geram anak muda itu “kau kira kau dapat melakukannya. Kaulah yang akan menyesal.“ Arum tidak menjawab. Tetapi ketika ia bergeser, tiba-tiba saja anak muda itu telah menyerangnya sekali lagi. la ingin bergerak cepat, sebelum Arum siap sepenuhnya. Dengan ayunan yang keras ia memukul kening Arum dengan sisi telapak tangannya. Namun Arum mengelak. Bahkan dengan tangkas iapun mulai menyerang. Tetapi karena ia tidak memakai pakaian khususnya, maka Arum tidak menyerang dengan kakinya. Sambil meloncat dan membungkukkan badannya Arum telah menyerang lambung. Meskipun serangan Arum kurang mapan, tetapi kecepatannya bergerak telah memungkinkan tangannya mengenai lawannya. Arum sengaja menyerang dengan ujung- ujung jarinya yang terbuka dan merapat. Perasaan sakit telah menyengat lambung anak muda itu. Sambil menyeringai dan mengumpat ia meloncat surut. Arum yang sudah siap untuk memburunya, ternyata harus mengurungkan niatnya karena orang yang lebih tua itu telah berusaha untuk melindungi kawannya. Dengan cepat orang itu menyerang Arumdengan kakinya langsung mengarah perut.Arum bergeser selangkah. Ketika kaki lawannya gagal menggapai perutnya, maka dengan tangannya Arum memukul kaki itu menyamping. Ternyata kekuatan Arum sama sekali tidak diduga oleh lawannya yang lebih tua itu. Pukulan pada kakinya telah mendorongnya dalam satu putaran. Hampir saja ia terjatuh, karena keseimbangannya yang goyah oleh putaran itu. Namun dengan susah payah ia berhasil menguasai keseimbangan kembali, sementara kawannya yang sudah berhasil menguasai dirinya itupun telah berusaha untuk menolongnya pula dengan serangan yang cepat. Namun betapapun juga, ternyata Arum mampu bergerak lebih cepat. Meskipun ia harus bertempur melawan dua orang, tetapi ia masih mampu membuat kedua lawannya iitu menjadi bingung. Sementara lawannya hanya bertumpu pada kekuatan dan kekasarannya, Arum telah bertempur dengan dasar-dasar kemampuan, ilmu dan kecepatan gerak. Meskipun demikian perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Kedua orang yang mencegat Arum itu nampak menjadi semakin kasar. Mereka tidak lagi berusaha untuk bertindak lebih baik menghadapi seorang perempuan, Justru karena perempuan itu ternyata memiliki kemampuan untuk melawan mereka, maka mereka merasa tersinggung karenanya. Mereka bukan saja sekedar ingin merampas uang atau apa saja dari perempuan itu, tetapi harga diri mereka benar-benar telah direndahkan. Karena itu, maka keduanyapun berusaha untuk bertempur dengan segenap kemampuan mereka. Keduanya telah bertempur berpasangan dengan sebaik-baiknya. Namun ternyata bahwa keduanya tidak segera dapat menguasai perempuan itu hanya seorang diri. Dalam pada itu, kedua orang itu tidak dapat bersabar lagi. Kemarahan dan harga dir i mereka tidak lagi dapat dikendalikan. Meskipun keduanya semula ragu-ragu, apakahdua orang laki-laki yang berkelahi melawan seorang perempuan harus menarik senjata mereka. Tetapi mereka tidak dapat mengingkari kenyatan. Keduanya tidak segera dapat mengalahkan perempuan itu. Karena itu, maka mereka tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi. Dengan senjata. mereka temu akan segera menguasainya. Bahkan jika perlu, kematian perempuan itu tidak akan membebani perasaan mereka, karena keduanya sudah terbiasa membunuh siapa saja yang tidak menuruti kemauan mereka tanpa menganut satu paugeranpun. Dalam pada itu, Arum telah melihat gelagat itu. Karena itu ia harus berpikir untuk mengatasinya. Jika keduanya bersenjata, maka ia tentu akan mengalami kesulitan. Bagaimanapun juga, dua orang itu sudah terbiasa bermain dengan senjata. Dengan demikian, maka Arum harus bertindak lebih cepat. Ia sadar, bahwa ia akan menghadapi kesulitan dengan senjata-senjata itu. Namun Arum tidak kehabisan akal. Sesaat sebelum keduanya menarik senjatanya, Arum telah menyerang mereka dengan garangnya. Bagaikan angin pusaran ia berputar, meloncat dan menyerang dari arah yang tidak terduga. Dalam keadaan yang demikian Arum telah melupakan pakaiannya. Meskipun ia tidak berpakaian khusus. Tetapi pertimbangan- pertimbangan lain telah mendorongnya untuk bertempur lebih garang. Kedua lawannya terkejut melibat perubahan sikap gadis itu. Bahkan anak muda yang mencegatnya itu, tidak sempat mengelak ketika Arum menghantam lambungnya dengan kakinya. Demikian ia menar ik kakinya, sambil berputar ia telah menyerang lawannya yang lain dengan tangan yang terjulur lurus kearah dada.Arum memang memancing kekisruhan. Disaat keduanya berusaha untuk memperbaiki kedudukan mereka, sehingga kerja sama mereka dapat disusun kembali, maka Arum tiba- tiba saja telah melibat anak muda itu dalam perkelahian jarak pendek. Jangkauan tangan Arum telah menangkap pergelangan tangan anak muda itu dan memilinnya. Yang terjadi itu demikian cepatnya, sehingga anak muda itu tidak sempat berbuat sesuatu. Apalagi ketika tiba-tiba Arum telah menghantam punggungnya dengan lutut, dan dengan serta merta mendorong anak muda itu sehingga jatuh tertelungkup. Adalah diluar perhitungan mereka bahara semuanya itu dapat terjadi begitu cepat. Anak muda itu baru menyadari, apakah yang telah terjadi, ketika tiba-tiba saja terasa wajahnya mencium debu. Ternyata tangan perempuan itu tidak selembut yang diduganya ketika ia melihat Arum berjalan mendekatinya dari arah kota. Anak muda itu mengira, bahwa perempuan itu adalah sebagaimana kebanyak perempuan cantik, berkulit lembut dan berhati lemah. Tetapi ternyata perempuan yang seorang ini, agak berbeda dengan perempuan kebanyakan. Dalam pada itu, kawannya yang melihat sikap Arum, tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja ditanganinya telah tergenggam senjatanya tanpa memikirkan harga dirinya lagi, meskipun yang dilawannya hanya seorang perempuan.Namun orang itupun terkejut bukan kepalang. Selagi ia sudah siap untuk menyerang, juga dalam usahanya menyelamatkan kawannya yang sedang berusaha untuk bangkit, dilihatnya perempuan itupun telah memegang senjata pula ditanganinya. Baru kedua orang itu sadar, bahwa dalam pergulatan berjarak pendek antara anak muda itu dengan Arum, maka Arum telah berhasil menar ik senjata anak muda itu diluar sadar pemiliknya. Dengan demikian, wajah kedua orang laki-laki kasar itu menjadi semakin tegang. Ketika anak muda itu berhasil berdiri dan menguasai keseimbangannya, iapun menjadi bingung karena senjatanya sudah terlepas dari sarungnya. “Licik” geram anak muda itu ”kau cur i senjataku. “ “Sudah adil” jawab Arum ”kalian membawa sebilah senjata, akupun membawanya. Aku tidak menghitung jumlah orangnya. “ “Persetan” geram anak muda yang marah itu ”kembalikan senjataku. “ “Jangan merengek seperti kanak-kanak kehilangan mainan. Tang sedang kita pertaruhkan sekarang adalah nyawa kita masing-masing.” jawab Arum. Kedua laki- laki itu menggeram. Tetapi mereka tidak dapat memaksa Arum menyerahkan senjatanya. Namun dalam pada itu, laki- laki muda yang sudah tidak berpedang itupun telah mengurai ikat pinggangnya. Sambil mengikatkan kain panjangnya pada pinggangnya, ia berkata ”Ikat pinggangku tidak kalah nilainya dengan parang itu. Jika kau tersentuh ikat pinggangku, maka kulitmupun tentu akan terkelupas.“ “Terserahlah” jawab Arum ”tetapi agaknya aku lebih senang mempergunakan senjatamu.“Orang yang lebih tua itu tidak sabar lagi. Iapun segera menggerakkan parangnya yang terjulur mendatar. Sekali- sekali ia bergeser, sementara ujung pedangnya masih tetap mengarah kedada Arum, Arum masih sempat mengelak dengan sebuah loncatan pendek. Namun dalam pada itu, lawannya yang muda telah meloncat sambil mengayunkan ikat pinggang kulitnya yang tebal. Hampir saja ujung ikat pinggang itu menyambar Wajahnya. Untunglah bahwa Arum masih sempat mengelak. Dengan memiringkan kepalanya ia dapat membebaskan dir i dari sambaran ujung ikat pinggang yang memang akan dapat mengo-yahkan kulit diwajahnya. “Kurang sedikit ” geram anak muda itu ”jika kulit pipimu tersentuh, maka tulanglah kecantikanmu. “ Arum tidak menanggapinya. Ia sudah bersiap dengan parangnya, meskipun parang itu agak terlalu berat dibandingkan dengan pedangnya sendiri. Dalam pada itu, maka kedua orang lawannya itupun telah berpencar. Nampaknya mereka menjadi semakin cermat menghadapi perempuan yang garang itu. Keduanya telah memilih arah dan keduanya berusaha untuk saling mengisi dalam serangan-serangan berikutnya. Tetapi Arum tidak sekedar membiarkan dir inya terperangkap kedalam serangan-serangan lawan yang dapat bekerja bersama dengan baik. Tetapi ternyata bahwa iapun dapat menentukan jalannya perkelahian itu. Karena itulah, maka justru Aramlah yang telah menyerang lebih dahulu. Ia memutar parangnya. Namun kemudian parangnya itu telah mematuk anak muda yang bersenjata ikat pinggangnya.Anak muda itu terpaksa meloncat mengelak, karena senjata, tidak dapat dipergunakannya untuk menangkisnya. Namun sambil mengelak, anak muda itu telah siap mengayunkan senjatanya jika Arum memburunya. Bahkan dalam pada itu, kawannya yang lebih tua itupun telah memburu Arum untuk mencegah Arum bertindak lebih jauh atas anak muda yang terdorong surut itu. Tetapi adalah tidak terduga-duga, bahwa Arum justru menyongsong lawannya yang tua. Dengan tangkas Arum memukul senjata lawannya kesamping, kemudian dengan satu putaran maka senjata Arum justru telah mengarah kedada lawannya. Lawannya, menjadi bingung, sementara senjatanya terpukul kesamping, dalam sekejap senjata lawannya telah memburunya. Yang dapat dilakukan adalah berusaha untuk mengelak. Tetapi ketika Ia memiringkan tubuhnya, maka ujung parang Arum telah menyentuh pundaknya. “Gila. Kau benar-benar betina liar dan buas” geram lawannya yang tua. “Jangan mengumpat-umpat begitu kasar” sahut Arum. Lalu ”Kita akan bertempur dengan senjata. Bukan sekedar mengumpat dan mencaci maki.“ “Persetan” geram lawannya yang tua, yang kemudian telah mengacukan senjatanya pula. Sementara perhatian Arum tertuju kepada lawannya yang tua, maka yang muda itupun telah dengan diam-diam meloncat menyerang leher Arumdengan ikat pinggangnya. Demikian kerasnyar sehingga terdengar desir angin yang bersuit nyaring. Namun sekali lagi serangan ku gagal. Ternyata Arum masih sempat mengelak. Sambil berputar dan merendah. Arum mengayunkan senjatanya mendatar, justru pada saat tangan anak muda itu terayun. Yang terdengar adalah pekik kesakitan. Senjata Arum telah menyentuh sisi dada anak muda itu, sehingga dagingnya telah terkoyak karenanya. Luka itu tidak terlalu dalam, seperti luka lawannya yang tua. Namun bahwa keduanya telah terluka, maka keduanyapun menjadi semakin gelisah. Betapapun juga luka itu terasa nyeri, sementara darahpun mengalir menghangati kulitnya. Melihat kedua lawannya menjadi gelisah, Arum menjadi semakin garang. Ia mendesak kedua lawannya, sehingga keduanya hanya dapat meloncat-loncat menghindar i serangan Arumyang menjadi semakin cepat. Dalam pada itu, selagi kedua orang perampok itu kebingungan, terdengar derap kaki kuda dikejauhan. Ketika mereka yang bertempur itu berkesempatan berpaling sejenak, merekia melihat dikejauhan dua orang penunggang kuda memacu kudanya seperti angin. Kedua perampok itu menjadi semakin gelisah. Mereka tidak tahu, siapakah yang berpacu itu. Namun tentu bukan kawan- kawan mereka. Karena itu, maka mereka harus segera mengambil sikap. Untuk melawan seorang perempuanpun ternyata mereka tidak mampu. Apalagi j ika ternyata kedua orang itu adalah pengikut Pangeran Mangkubumi atau prajurit Surakarta yang tidak akan membenarkan t ingkah laku mereka pula.Dengan demikian, maka orang yang lebih tua itupun segera member ikan isyarat untuk melarikan diri selagi luka mereka masih belum membuat mereka menjadi lumpuh. Karena itu, maka dengan serta merta keduanyapun segera bergeser surut dan meloncat berlar i meninggalkan Arum. Ada juga niat Arum untuk mengejar mereka. Tetapi ia tidak dapat bebas berlari, karena kain panjangnya. Sehingga dengan demikian, iapun mengurungkan niatnya. Bahkan kemudian timbul pula kecemasannya atas dua orang berkuda itu. “Aku harus berbohong” berkata Arum didalam hatinya samlbil membetulkan kain panjangnya dan melepaskan parangnya ”aku harus mengatakan bahwa yang seorang telah mengganggu aku, sedangkan yang lain telah menolong aku. Ketika yang mengganggu aku lar i, maka penolongku itu berusaha mengejarnya. Mudah-mudahan mereka tidak melihat jelas apa yang telah terjadi. “ Arumpun kemudian mengambil kebanya yang diletakkan disaat ia harus menghadapi kedua orang itu dan membawanya dengan selendang dilambungnya. Namun Arum justru bergeramang ketika kedua orang itu menjadi semakin dekat. Ternyata keduanya adalah Buntal dan Juwiring. Sambil menarik kekang kudanya Juwiring bertanya ”Kau baru pulang dari kota Arum? Dan apakah yang telah terjadi ? “ “Kalian juga baru pulang ?” Arum bertanya pula. “Ya. Kami baru pulang.” jawab Juwiring. “Kalian singgah di mana saja?” bertanya Arum pula. “Kami tidak singgah di manapun” jawab Buntal. Kemudian ”Tetapi apa yang terjadi ?“ “Tidak apa-apa” jawab Arum.Juwiring menar ik nafas dalam-dalam. Hampir berbareng dengan Buntal, ia meloncat turun dari kudanya. “Aku melihat dua orang yang berlari meninggalkan tempat ini” desis Juwir ing. “Tidak apa-apa. Mereka tidak apa-apa” jawab Arum. Buntal memungut parang yang basah oleh darah. Dengan nada dalam ia berkata ”Katakan Arum. Tentu sesuatu telah terjadi ? Kenapa kau tidak mau menyebutnya.“ “Kalian juga tidak mau mengatakan, dimana kalian singgah” gumamArum. “Kami tidak singgah dimana-mana” Juwiringlah yang menyahut. Arum termenung sejenak. Ketika ia melihat Buntal menimang parang yang dipergunakannya, maka iapun menjawab ”Dua orang penyamun. Mereka sangka, aku membawa uang, karena aku menjawab bahwa aku baru saja dari kota menjual jamu, mangrr dan lulur bagi perempuan- perempuan kota.” “Parang siapa ?” bertanya Buntal ”nampaknya parang ini telah melukai seseorang ? “ “Aku yang mempergunakannya, aku pinjam salah seorang dari kedua penyamun itu” jawab Arum. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Arum telah melukai kedua atau salah seorang dari lawannya. Tetapi tidak terlalu parah, sehingga keduanya masih sempat melarikan dir i. Juwiringpun nampaknya mengerti juga. Karena itu, maka katanya ”Marilah kita kembali segera. Mungkin kita sudah ditunggu oleh Ki Wandawa. Barangkali kau ingin mempergunakan salah seekor kuda itu Arum. Biarlah aku dan Buntal memakai yang lain berdua.““Tentu tidak mungkin. Aku berkain panjang Aku t idak terbiasa menunggang kuda dengan tubuh miring. Aku dapat jatuh terpelanting” jawab Arum. Kemudian ”Pergi sajalah dahulu. Aku akan berjalan kaki.“ Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Baiklah. Kita akan berjalan kaki.“ “Jika kalian tergesa-gesa, kenapa kalian tidak berkuda saja ?” bertanya Arum. “Tidak. Kami tidak tergesa-gesa” jawab Juwiring. Arum tidak menjawab lagi, Iapun kemudian melangkah melanjutkan perjalanan diikut i oleh Juwir ing dan Buntal. Namun dalam pada itu Buntal masih bertanya ”Kau tinggalkan saja parang itu disitu ? “ “Apakah aku harus membawanya ?” Arumganti bertanya. Buntal tidak menyahut lagi. Tetapi ia masih sempat melemparkan parang itu menepi. Dengan demikian, maka mereka bertigapun telah berjalan kembali ke daerah pertahanan pasukan Pangeran Mangkubumi untuk melaporkan tugas masing-masing. Sementara itu, disepanjang jalan Buntalpun masih sempat pula berceritera kepada Arum, bahwa pedangnyapun telah dibasahi oleh darah prajurit Surakarta yang mencur igai dan mengejarnya. “Kau bunuh orang itu ?” bertanya Arum. “Tidak. Aku tidak membunuhnya” jawab Buntal, lalu ”kakang Juwiringpun t idak membunuh lawannya pula.” Demikianlah, meskipun agak lambat akhirnya mereka sampai kebarak mereka dianstara pasukan Pangeran Mangkubumi. Setelah memberitahukan hasil perjalanannya kepada Kiai Danatirta, maka merekapun minta dir i untuk langsung menghadap Ki Wandawa.“Sokur lah” berkata Ki Wandawa ”kalian ternyata telah selamat sampai ketempat ini. Agaknya perjalanan di-daerah Surakarta saat ini menjadi semakin banyak hambatannya. Sementara Arumpun mengalami gangguan di perjalanan. “ “Tetapi itu adalah suatu kebetulan saja Ki Wandawa” berkata Arum kemudian ”jalan itu biasanya sepi dan tidak ditambah oleh para penyamun, apalagi disaang hari. Nampaknya perjalananku kali ini mengalami nasib yang buruk, sehingga aku telah berjumpa dengan dua orang penyamun.“ “Mungkin memang suatu kebetulan Arum. Tetapi mungkin kejahatan memang semakin meningkat dalam keadaan yang tidak menentu ini.” berkata Ki Wandawa ”dan itu harus kau tangkap sebagai suatu isyarat, bahwa kalian harus berhati-hati menghadapi segala pihak.“ Arum menundukkan kepalanya. Sementara Juwiring dan Buntal mengangguk-angguk kecil. “Baiklah” berkata Ki Wandawa ”semua laporan kalian akan aku sampaikan kepada Pangeran Mangkubumi. Baik mengenai surat Raden Mas Said sebagai surat balasan Pangeran Mangkubumi, maupun keterangan Raden Ayu Galihwarit kepada Arum tentang kekuatan yang akan dipergunakan oleh kumpeni dan prajurit Surakarta untuk menggempur kekuatan Raden Mas Said.“ “Kami menunggu perintah selanjutnya” berkata Raden Juwiring ”mungkin kami mendapat perintah untuk mengamati perang yang akan berkobar antara kumpeni dengan pasukan Raden Mas Said, atau bagian dari pasukan Raden Mas Said yang akan menarik dir i.“ “Sebaiknya kalian menunggu” jawab Ki Wandawa ”j ika ada perintah, maka kalian akan dipanggil menghadap.“ Dengan bahan yang didapat dari Juwiring, Buntal dan Arum, maka Ki Wandawapun segera menghadap. Setelah menyampaikan surat dari Raden Mas Said, maka Ki Wandawapun melaporkan keterangan Raden Ayu Galihwar it yang disampaikan oleh Arum, tentang kekuatan yang sudah dipersiapkan untuk mengepung kekuatan Raden Mas Said. “Jadi pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta yang akan digerakkan adalah kekuatan langsung dari kota ”desis Pangeran Mangkubumi, “Ya, Pangeran.” jawab Ki Wandawa. “Aku sudah mengira. Justru karena pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta yang berada di Jatimalang seolah-olah tidak mengalami perubahan. Tidak ada persiapan dan tidak ada penambahan pasukan.” gumam Pangeran Mangkubumi kemudian. Lalu ”J ika demikian Ki Wandawa, kita harus menjajagi kekuatan kumpeni dan prajurit Surakarta di Jatimalang dengan cermat, agar kita dapat memperhitungkan langkah dengan tepat.“ “Apakah Pangeran akan memukul Jatimalang pada saat kumpeni dan prajurit Surakarta mengepung pasukan Raden Mas Said ?” bertanya Ki Wandawa. “Aku kira, kita tidak akan bergerak langsung.” jawab Pangeran Mangkubumi ”agaknya aku condong untuk mengambil langkah yang lebih bermanfaat daripada langsung memukul Jatimalang.“ “Maksud Pangeran?” bertanya Ki Wandawa. “Menurut suratnya, maka aku sudah dapat melepaskan pasukan Said untuk menghindar tanpa mencampurinya” berkata Pangeran Mangkubumi ”aku yakin bahwa ia dapat bertindak dewasa. Karena itu, maka aku ingin memusatkan perhatianku untuk satu gerakan tertentu.“ Ki Wandawa mengangguk kecil. Ia tidak bertanya lebih jauh. Nampaknya Pangeran Mangkubumi masih akan memikirkannya, dan mungkin juga akan membicarakannya dengan beberapa orang pemimpin yang lain.Dalam pada itu, sebenarnyalah pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta sudah siap melakukan rencana mereka. Sejalan dengan persiapan yang semakin matang, maka merekapun semakin menyebarluaskan kabar bahwa pasukan kumpeni dan prajur it Mataram siap untuk langsung memukul pasukan induk Pangeran Mangkubumi. Beberapa orang petugas sandi telah member ikan peringatan kepada Ki Wandawa akan berita yang tersebar luas di Surakarta itu. Namun Ki Wandawa sedang menunggu rencana Pangeran Mangkubumi untuk mengimbangi gerak kumpeni dan prajur it Surakarta itu. Meskipun demikian Ki Wandawa tidak lengah. Segala kemungkinan memang dapat saja terjadi. Mungkin pula pada saat terakhir, kumpeni merubah stopnya. Pasukannya justru benar-benar pergi ke pusat pertahanan pasukan induk Pangeran Mangkubumi, Karena itu, atas persetujuan Pangeran Mangkubumi, maka para petugas sandipun telah disebarkan untuk mengamat gerak pasukan kumpeni dan pasukan Surakarta. Sementara itu, pasukan di induk kekuatan Pangeran Mangkubumi-pun telah dipersiapkan sebaik-baiknya untuk bergerak setiap saat. “Aku lebih percaya kepada keterangan Raden Ayu Galihwar it dari kabar angin yang tersiar di Surakarta. Meskipun demikian pasukan kita harus dipersiapkan. Jika tidak untuk menghindari lawan, maka pasukan itu akan aku pergunakan justru menusuk sarang lawan.” berkata Pangeran Mangkubumi. Ki Wandawa berusaha melaksanakan pesan itu sebaik- baiknya. Namun ternyata bahwa Pangeran Mangkubumi sendiri agaknya ingin meyakinkan apa yang akan terjadi, sehingga karena itu, maka untuk beberapa saat Ki Wandawa tidak dapat menemukan Pangeran Mangkubumi didalam pondoknya.Sudah menjadi kebiasaan Pangeran Mangkubumi untuk berada di sembarang tempat disembarang waktu. Karena itulah, maka Pangeran Mangkubumi sendiri telah menyaksikan, kemana pasukan kumpeni dan Surakarta itu pergi. Agaknya bukan saja para petugas sandi, tetapi menjelang tengah malam, ketika pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta keluar dari pintu gerbang, dari jarak yang tidak terlalu jauh, Pangeran Mangkubumi sempat menyaksikannya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata kepada diri sendiri ”Sokur lah Said sudah mengetahuinya. Jika ia sempat dikepung oleh pasukan yang demikian kuatnya, maka ia akan berada dalam keadaan yang sangat gawat.“ Namun Pangeran Mangkubumipun yakin, bahwa pasukan Raden Mas Said akan sempat menghindar i pertempuran terbuka melawan pasukan yang sangat kuat itu. Bahkan Pangeran Mangkubumipun yakin, bahwa pasukan Raden Mas Said yang akan meninggalkan Panamlbangan akan dapat memasuki Keduwang dengan selamat dan mendudukinya. Setelah Pangeran Mangkubumi yakin, bahwa pasukan itu menuju kearah Panambangan, maka iapun segera bergeser menjauhi ir ing-ir ingan itu. Pangeran Mangkubumi menganggap penting untuk segera berada diantara pasukannya dan bertindak cepat mengimbangi pasukan kumpeni dan prajur it Surakarta yang menyerang Penambangan. Namun dalam pada itu, bukan saja Pangeran Mangkubumi yang menyaksikan ir ing- iringan itu menuju ke Penambangan. Seorang anak muda menyaksikan pula pasukan yang kuat itu meninggalkan kota. “Kumpeni benar-benar ingin membinasakan pasukanku” desis anak muda yang melihat iring-ir ingan yang kuat itu,namun ditempat lain sehingga ia tidak bertemu dengan Pangeran Mangkubumi. Sejenak kemudian anak muda itupun bergegas menuju ketempat yang tersembunyi untuk mengambil kudanya yang ditunggui oleh seorang pengawalnya. “Kita harus cepat mendahului iring-ir ingan itu” berkata Raden Mas Said. “Mereka sudah berangkat?” bertanya pengawalnya. “Ya. Tetapi pasukan kita sudah siap untuk menghindar. Kita tidak akan terjebak. Kita akan meninggalkan sekelompok keci yang akan memancing pasukan yang kuat itu untuk benar- benar memasuki Penambangan yang kosong.” berkata Raden Mas Said. Sejenak kemudian kedua ekor kuda itu berderap dalam gelapnya malam. Namun agaknya keduanya telah menguasai medan yang akan dilaluinya dengan baik. Mereka mengambil jalan memintas, melalui jalan sempit. Namun yang jaraknya menjadi jauh lebih pendek dari jalan yang ditempuh oleh kumpeni. Apalagi sebagian besar pasukan itu berjalan kaki, meskipun diantara mereka ikut pula sebagian dari prajurit dari pasukan berkuda Surakarta yang terkenal. Dalam pada itu, Raden Mas Saidpun sadar, bahwa kumpeni tentu ingin mengepung Penambangan dan menjelang fajar menyala, mereka akan mendekati daerah pertahanan, sehingga saat matahari terbit, mereka benar-benar akan menyerang. “Mereka akan sempat beristirahat sejenak menjelang pagi” berkata Raden Mas Said ”tetapi mereka akan menemukan tempat yang telah kosong.“ “Perjalanan mereka yang cukup panjang itu akan sia-sia. Sementara besok mereka akan mendapat laporan, bahwaKeduwang telah memisahkan diri dari kekuasaan Surakarta yang dipengaruhi oleh kumpeni.” gumam pengawalnya. Sementara itu, kedua ekor kuda itupun berpacu semakin cepat. Di dinginnya malam, angin bertiup bagaikan menghunjamsampai ketulang. Beberapa bulak lagi dari Penambangan, Raden Mas Said dan pengawalnya terpaksa menghent ikan kuda mereka ketika mereka melihat beberapa orang yang menunggu mereka di tengah-tengah jalan. Nampaknya mereka sebagai petani-petani dengan cangkul dipundak. Namun Raden Mas Said yakin bahwa mereka bukan petani-petani yang sedang menunggu air. “Berhentilah sebentar Ki Sanak” sapa salah seorang petani itu. Raden Mas Said yang berhenti beberapa langkah dihadapan orang itu menyahut ”Siapakah kalian? Bulan, api atau angin? “ “O” orang yang berpakaian petani itu mengangguk sambil menyahut ”silahkan.“ Raden Mas Said tersenyum. Katanya ”Bagus. Kalian harus menguasai daerah ini sebaik-baiknya. Tidak boleh ada seorang petugas sandi lawan yang mengetahui apa yang sedang terjadi di daerah Penambangan.“ “Baik. Kami akan melaksanakan sebaik-baiknya ”jawab petani itu.Namun dalam pada itu, salah seorang dari mereka berdesis ”Bukankah salah seorang dar i keduanya adalah Raden Mas Said sendir i?“ Raden Mas Said mendengar suara itu. Dengan serta meria ia menyahut ”Lupakan. Raden Mas Said tidak akan berkeliaran pada saat yang gawat ini. Ia berada diantara pasukannya di Penambangan.“ Orang-orang yang berpakaian petani itupun kemudian menyibak. Demikian kuda-kuda itu berderap, mereka segera duduk kembali dipinggir parit, seolah-olah mereka benar- benar petani-petani yang sedang menunggui air yang tidak begitu banyak mengalir. “Aku kira salah seorang diantara mereka adalah Raden Mas Said sendir i” desis salah seorang dari mereka. “Kau memang bodoh. Tentu seperti yang dikatakannya, Raden Mas Said ada diantara pasukannya dalam keadaan yang gawat ini” sahut kawannya. Orang-orang itu mengangguk-angguk. Tetapi orang yang sudah mengenal Raden Mas Said itu tetap merasa dirinya telah bertemu dengan Raden Mas Said sendiri, meskipun tidak dikatakannya. Dalam pada itu, ternyata perjalanan Raden Mas Said tidak hanya terhenti satu dua kali. Beberapa kali ia harus berhenti untuk mengucapkan kata-kata sandi. Namun dengan demikian, Raden Mas Said justru merasa tenang, karena para pengikutnya telah melakukan perintahnya dengan sebaik- baiknya. Justru pada saat yang paling gawat. Ketika Raden Mas Said kemudian sampai ke Penambangan, maka iapun segera memanggil para pemimpin dari para pengikutnya. Dengan singkat ia memberikan beberapa petunjuk. Kemudian katanya ”Waktu kita tidak terlalu banyak.”“Kita sudah siap” jawab seorang pemimpin pasukannya. “Baiklah. Kita akan segera meninggalkan daerah ini. Jika kita terlambat, maka kita benar-benar tidak akan dapat keluar dari kepungan.” berkata Raden Mas Said, yang kemudian melanjutkan ”Apakah pasukan yang akan memancing perhatian itu sudah dipersiapkan pula ?“ “Segalanya sudah siap” jawab seorang Senapati muda. Raden Mas Said mengangguk-angguk. Kemudian katanya ”Kita akan meninggalkan tempat ini langsung menuju ke Keduwang. Sementara pasukan yang akan memancing perhatian kumpeni dan pasukan Surakarta itupun akan segera menyusul kami. Hati-hatilah dengan pasukan berkuda. Di sebelah gumuk Watu Pitu, akan menunggu sepasukan yang akan dapat membebaskan pasukan yang akan memancing perhatian itu jika pasukan berkuda mengejarnya. Aku perlu mengingatkan, pasukan berkuda adalah pasukan khusus yang memiliki kelebihan dari pasukan yang lain yang apalagi diantara mereka terdapat pasukan berkuda dari pasukan kumpeni. Dengan senjata api, mereka benar-benar merupakan lawan yang sangat berbahaya. Karena itu, pasukan yang akan memancing perhatian kumpeni itupun harus dengan cekatan meninggalkan Penambangan apabila tugas mereka sudah selesai, dengan berkuda pula. Jangan memilih jalan lain kecuali lewat gumuk Watu Pitu.“ Demikianlah, maka Raden Mas Said dan seluruh kekuatannyapun telah meninggalkan Penambangan menuju ke Keduwang. Meskipun demikian, Raden Mas Said telah meninggalkan sebagian kecil dari pasukannya yang terpilih untuk member ikan kesan bahwa Penambangan tidak kosong. Dalam pada itu, selagi kekuatan kumpeni dan prajurit Surakarta yang besar menuju ke Penambangan, maka Pangeran Mangkubumipun telah kembali ke Gebang. Malam itu juga Pangeran Mangkubumi telah memanggil para pemimpin pasukannya.“Kumpeni benar-benar menuju ke Penambangan” berkata Pangeran Mangkubumi ”aku telah mendapat laporan terperinci. “ Para pengikutnya mengangguk-angguk. Namun sebagian dari mereka memperhitungkan, bahwa Pangeran Mangkubumi sendiri tentu melihatnya apa yang telah dilakukan oleh kumpeni. Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang bertanya. “Karena itu” berkata Pangeran Mangkubumi kemudian ”kita harus mampu mengimbangi gerakan kumpeni, sehingga dengan demikian, kita tidak hanya sekedar menjadi sasaran serangan mereka dan sekedar menghindarkan dir i.“ “Maksud Pangeran ?” bertanya seorang Senapatinya. “Besok, kita memasuki kota Surakarta.” jawab Pangeran Mangkubumi. Jantung para pengikutnya menjadi berdebar-debar. Demikian tiba-tiba pasukannya harus menyerang kota Surakarta. “Jangan cemas akan kekuatan kita” berkata Pangeran Mangkubumi pula ”kita akan berhasil menguasai seluruh kota. Dan kita akan meninggalkan kota, sebelum kumpeni dan para prajurit Surakarta kembali dari Penambangan.“ Para pengikutnya mengangguk-angguk. Langkah itu agaknya akan saingat mempengaruhi sikap dan pandangan Rakyat Surakarta terhadap kekuatan Pangeran Mangkubumi. Mereka yang menganggap bahwa Pangeran Mangkubumi dapat diabaikan, akan melihat satu kenyataan bahwa Pangeran Mangkubumi bukan kanak-kanak yang sekedar sedang merajuk, Tetapi perjuangannya berdiri diatas satu alas yang kuat. Baik dari segi keyakinan akan kebenarannya, maupun dar i segi kekuatan dan kemampuan menghimpun, menggerakkan dan wibawanya terhadap pasukannya.Dengan rencana Pangeran Mangkubumi memasuki kota, akan terbuka pulalah mata kumpeni, dengan siapa ia berhadapan. Apalagi jika serangannya atas Penambangan gagal, sementara pasukan Pangeran Mangkubumi berhasil menguasai kota. Demikianlah, maka malam itu juga, Pangeran Mangkubumi menyiapkan pasukannya yang memang sejak sebelumnya telah diatur sebaik-baiknya untuk menghadapi segala kemungkinan. Bahkan kemungkinan menyingkir dari Gebang jika kumpeni benar-benar menuju ke daerah pertahanannya itu. Dengan demikian, maka persiapan itu tidak memerlukan waktu yang panjang. Pasukan di Gebang dan juga atas perintah Pangeran Mangkubumi lewat seorang penghubung, palsukan di Sukawatipun telah bersiap pula. “Nampaknya kumpeni akan memasuki Penambangan saat matahari terbit. Kitapun akan memasuki kota saat matahari terbit atau lewat sesaat.” berkata Pangeran Mangkubumi. Maka sejenak kemudian, pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat telah berangkat menuju ke kota Surakarta yang ditinggalkan oleh kumpeni dan sebagian besar dar i prajur it Surakarta termasuk pasukan berkuda. Satu gerakan yang sama sekali tidak diduga oleh kumpeni dan para pemimpin di Surakarta. Mereka mengira bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi sedang bersiap menunggu kedatangan kumpeni yang akan menyerangnya atau menghindar ke Utara. Tetapi ternyata di saat pasukan Surakarta bergerak ke Penambangan justru Pangeran Mangkubumi telah bergerak ke kota. Meskipun Pangeran Mangkubumi tidak akan dapat mencapai kota tepat saat matahari terbit, namun ia tidak akan terlalu siang memasuki gerbang. Namun jika kota telah bangun, dan pasar mulai mengumandang, maka kehadirannya memang akan dapat membuat kebingungan. Tetapi sepecti biasanya, Pangeran Mangkubumi telah menjatuhkan perintahagar para pengikutnya sama sekali tidak mengganggu rakyat Surakarta. Setiap pelanggaran akan mendapat hukuman yang berat. Sementara itu, pasukan kumpeni dan pasukan Surakarta telah mendekati Penambangan. Ketika cahaya fajar mulai membayang, mereka sudah berada di ambang pintu sasaran. Namun dalam pada itu, pasukan itu telah dikejutkan oleh obor-obor yang tiba-tiba saja menyala. Satu, dua, tiga dan berpuluh-puluh. Sejenak kemudian, maka terdengar sorak membahana bagaikan menggugurkan langit Pasukan yang kuat itu terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa pasukan lawan telah menyongsongnya. Karena itu, mereka t idak terlalu siap menghadapinya. Apalagi ketika obor-obor itu telah menyala, maka mereka melihat, sepasukan laskar berkuda telah menyerang mereka dengan lontaran-Jontaran lembing. Belum lagi mereka sempat mengatur diri, ternyata bahwa para penyerang itu tidak saja melontarkan lembing, tetapi mereka yang membawa oborpun telah dilemparkan kearah pasukan Surakarta. Sejenak ketegangan telah mencengkam. Namun pasukan Surakarta itu sempat bertebaran untuk menghindari obor yang menyala yang langsung dilemparkan kearah mereka dari laskar berkuda yang tiba-tiba saja telah menyerang mereka di-samping lontaran-lontaran lembing.Beberapa orang kumpeni telah mengaduh. Lembing itu cukup tajam untuk menghunjam kedalam tubuh mereka. Sementara apipun menyala disebelah menyebelah. Apalagi selain api obor, beberapa orang sengaja melemparkan bumbung-bumbung minyak yang kemudian tumpah dan disambar api-api obor, sehingga untuk beberapa saat lamanya pasukan yang kuat itu terpecah. Dalam keadaan yang demikian, maka laskar berkuda itupun segera meninggalkan medan. Dengan satu isyarat, maka kuda-kuda itupun segera berlari meninggalkan pasukan Surakarta. Pada saat itulah terdengar senapan meledak. Tetapi laskar Raden Mas Said telah menjadi semakin jauh. Mereka datang sekejap, kemudian menghilang didalam keremangan dini hari. Kuda mereka menerobos tanah pategalan. Menuju ke jalan kecil di pinggir padukuhan sebelah untuk kemudian menghilang kedalam pintu gerbang padukuhan itu. Namun pada saat itu terdengar perintah melengking. Pasukan berkuda harus mengejar mereka sampai dapat. “Jumlah mereka tidak terlalu banyak. Sementara yang lain langsung mengepung Penambangan. Kedatangan kita sudah diketahui oleh Raden Mas Said.” perintah Panglima pasukan itu. Seorang kumpeni berpangkat mayor. Pasukan itupun kemudian bergegas menuju ke Penambangan yang sudah dekat. Mereka akan langsung memasang gelar, mengepung daerah itu dengan ketat, Sementara itu, sebagian dari pasukan berkuda tengah mengejar pasukan Raden Mas Said yang melarikan dir i. Ternyata pasukan berkuda dari Surakarta yang sebagian dari mereka adalah kumpeni, adalah prajurit-prajurit berkuda yang tangkas. Kuda-kuda merekapun adalah kuda-kuda yang tegar dan kuat, sehingga meskipun mereka telah tertinggal beberapa saat, namun mereka yakin akan dapat mengejar,dan menghancurkan pasukan berkuda yang menyerang mereka, yang jumlahnya memang tidak terlalu banyak. Tetapi laskar berkuda itu tidak melar ikan diri menuju ke Penambangan. Memang sepercik pertanyaan telah timbul pada hati letnan Panlangen yang mengenal arah Penambangan di atas peta. “Mereka pergi kemana ?” bertanya Panlangen kepada seorang Senapati muda dari pasukan berkuda Surakarta. ”Aku tidak tahu. Tetapi mereka tidak pergi ke Penambangan” jawab Senapati muda yang benar-benar sudah mengenal daerah itu. Letnan Panlangen pemimpin pasukan berkuda itu tiba-tiba saja, tertawa sambil memacu kudanya. Disela-sela suara derap kudanya ia berkata lantang ”Orang-orang pribumi yang bodoh. Mereka berusaha memancing agar pasukan Surakarta tidak pergi ke Penambangan. Dan itu adalah pikiran yang bodoh sekali. Jika kita mengejar mereka, mereka sangka, bahwa tidak ada lagi pasukan yang pergi ke Penambangan. Pasukan yang justru pasukan yang terkuat.” Senapati muda ku tidak menjawab. Sementara itu, pasukan berkuda yang mengejar laskar Raden Mas Said, telah melihat dalam bayangan fajar, kuda-kuda yang berderap dihadapan mereka. Dibulak panjang Panlangen melihat, bahwa laskar Raden Mas Said itu tidak mampu maju secepat pasukan berkuda dari Surakarta. “Sebentar lagi kita akan menghancurkan mereka” geram Panlangen ”orang-orang pribumi yang bodoh itu telah melukai beberapa orang kumpeni, dan barangkali telah membunuh satu dua orang diantara mereka dengan lembing-lembing bambu itu. Kita tidak akan memaafkan mereka. Setiap pengkhianat harus dibunuh dimanapun kita menemukan mereka.“Senapati muda itu masih tetap berdiam diri. Tetapi rasa- rasanya jantungnya menjadi semakin tegang, ketika jarak antara pasukan berkuda dengan laskar Raden Mas Said itu menjadi semakin dekat. Panlangen yang tidak sabar lagi itupun meneriakkan aba- aba untuk mempercepat laju pasukan itu. Selagi mereka berada di bulak panjang dan padang ilalang, maka medan akan lebih menguntungkan daripada j ika mereka berada di padukuhan-padukuhan yang banyak ditumbuhi pepohonan. Jarak antara kedua pasukan itu memang menjadi semakin dekat. Dalam pada itu, seorang anak muda bertubuh tinggi kekar dan berjambang lebat, yang memimpin pasukan Raden Mas Said itupun memberikan isyarat agar pasukannya bergerak leblilh cepat pula. Jantung merekapun menjadi berdebar-debar pula ketika mereka melihat sebuah gumuk yang besar di sebelah jalan yang menikung dibelakang gumuk itu. Gumuk itulah yang disebut gumuk Watu Pitu. “Kita harus mencapai gumuk itu” anak muda berjambang itu memberikan aba-aba dengan lantang. Setiap orang didalam pasukannyapun menyadari, jika pasukan berkuda itu mencapai mereka sebelum mereka melalui gumuk itu, maka mereka akan mengalami kesulitan. Tetapi kuda-kuda dari laskar Raden Mas Said itu memang tidak sebaik kuda dari pasukan berkuda Surakarta. Dengan demikian, jarak antara kedua pasukan itu memang menjadi semakin pendek. “Hancurkan mereka” perintah Panlangen itu menggelegar bagaikan bunyi guruh. Kuda para prajurit dan kumpeni dar i pasukan berkuda itu menjadi semakin laju. Tiba-tiba saja seorang prajur it berkuda berkata ”Di belakang gumuk itu jalan menikung ke-kanan. Kita dapat memotong lewat padang melingkari gumuk itu.““Jalan berbahaya” sahut Senapati muda itu. “Tidak. Ilalang itu tidak begitu lebat dan tinggi. Aku mengenal daerah ini dengan baik.“ Senapati itu berpikir sejenak. Namun kemudian katanya ”Bawa kelompokmu. Tidak lebih. Tugasmu hanya menghambat.“ Prajurit itupun segera memisahkan dir i dengan kelompoknya yang hanya berjumlah sepuluh orang. Tetapi yang sepuluh orang itu akan dapat mengejutkan pasukan berkuda yang sedang mereka kejar. Kemudian menghambatnya. Dalam pada itu, pasukan yang mengejar itupun akan segera mencapai laskar itu dan menghantam mereka dar i belakang, sehingga laskar Raden Mas Said itu akan musna sama sekali.” Seperti yang dikatakan oleh prajurit itu, padang ilalang diseputar gumuk itu tidak berbahaya bagi kuda-kuda yang berderap. Ilalangnya tidak terlalu lebat dan tinggi, sedang tanah dibawahnyapun datar dan tidak berbatu padas. Karena itu, maka prajurit itu berharap untuk dapat memotong iring- iringan laskar Raden Mas Said di balik gumuk yang disebut gumuk Watu Pitu itu. Namun yang terjadi, sama sekali tidak seperti yang direncanakan oleh prajurit itu. Dan juga tidak seperti yang diperhitungkan oleh letnan Panlangen. Ternyata laskar berkuda Raden Mas Said ku, tidak berlari terus meninggalkan lawan-lawannya yang sudah menjadi semakin dekat. Demikian mereka melintasi gumuk itu, maka anak muda berjambang yang memimpin pasukan itu, member ikan isyarat dengan suitan nyaring, yang disambut dengan isyarat yang sama. Karena itu, maka anak muda berjambang itupun meyakini, bahwa pasukan yang dipersiapkan di gumuk itu tidak terlambat dan tepat berada ditempat yang sudah ditetapkan.Karena itu, maka demikian mereka sampai ditikungan. maka terdengarlah anak muda, itu meneriakkan aba-aba agar pasukan berkuda ku berhenti dan siap menghadapi lawan yang akan segera menyerang. Keadaan itu, ternyata telah mengejutkan pasukan yang mengejarnya. Panlangen dan Senapati prajurit Surakarta dari pasukan berkuda itu mendengar isyarat yang bersahutan. Karena itu, naluri keprajuritan merekapun telah menggerakkan Panlangen untuk mengangkat tangan sambil memberikan perintah agar pasukannya memperlambat laju mereka. Namun segalanya telah terlambat. Dalam keremangan fajar yang menjadi semakin terang, Panlangen melihat pasukan berkuda lawannya berbalik ditikungan. Sementara itu, tiba-tiba saja mereka telah mendapat serangan anak panah yang bagaikan hujan dari balik bebatuan di gumuk Watu Pitu. Panlangen dengan cepat mengatur pasukannya. Diteriakkannya aba-aba dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh laskar Raden Mas Said. Namun dalam pada itu, serangan mereka yang tiba-tiba itu telah berhasil mengacaukan pasukan Panlangen dan pasukan berkuda dari Surakarta. Selagi pasukan itu menjadi kacau, maka laskar berkuda Raden Mas Said mempersiapkan dir i menghadapi segala kemungkinan. Tetapi mereka tidak menyerang pasukan yang sedang kacau itu, untuk memberi kesempatan kepada kawan- kawannya yang berada dii balik batu-batu padas untuk menyerang dengan lontaran anak panah. Namun ketika pasukan berkuda dari Surakarta itu sedang berusaha untuk menyusun kekuatannya, muncullah sepuluh orang berkuda yang melingkari gumuk Watu Pitu. Orang-orang itu terkejut, ketika mereka melihat justru pasukan berkuda yatag ingin dicegatnya itu berhenti ditikungan. Apalagi ketika mereka menyadari, bahwa telah terjadi sesuatu diluar perhitungan mereka. Ternyata diantarabebatuan di gumuk itu terdapat pasukan lawan yang sudah siap menunggu kedatangan mereka. Dalam keremangan pagi yang samar, mereka ternyata tidak segera dapat melihat orang-orang yang seolah-olah telah tersamar di bebatuan. Baru kemudian, lontaran-lontaran senjata itu telah menyatakan, bahwa di gumuk Watu Pitu itu terdapat sepasukan yang memang sengaja menunggu kehadiran prajur it berkuda dari Surakarta. Pasukan berkuda Raden Mas Saidpun terkejut melihat sepuluh orang berkuda yang muncul dari balik gumuk. Namun demikian mereka melihat pakaian dan ciri-cirinya, meskipun pagi masih remang, merekapun segera mengenal, bahwa mereka adalah prajurit dan pasukan berkuda. Untuk sesaat pemimpin pasukan Raden Mas Said itu ragu- ragu, justru karena mereka adalah prajurit Surakarta. Namun akhirnya, ketika ia melihat kumpeni yang berhasil menyusun diri siap dengan senjata api mereka, maka pemimpin pasukan berkuda itupun segera meneriakkan perintah, agar pasukannya segera menyerang. Bukan saja mereka yang berkuda. Namun demikian perintah itu terdengar, maka bermuncullanlah laskar Raden Mas Said dari balik bebatuan. Mereka masih saja menyerang dengan anak panah, sehingga kumpeni dan prajurit dari pasukan berkuda Surakarta, terpaksa berusaha untuk menghindar atau menangkis. Namun dalam pada itu, pasukan berkuda Raden Mas Said itupun telah menghadap kembali kearah mereka dan menyerang seperti angin prahara. Pasukan berkuda kumpeni dan prajurit Surakarta itu memang prajurit pilihan. Tetapi menghadapi keadaan yang tiba-tiba, mereka menjadi berdebar-debar pula. Serangan ternyata datang dari dua arah, dengan kekuatan yang hampirseimbang, sementara orang-orang yang muncul dari gumuk itu masih saja menyerang dengan anak panah mereka. Satu dua orang kumpeni. telah terluka. Karena itu, maka senjata merekapun segera mulai meledak. Namun dalam pada, itu, pasukan berkuda Raden Mas Said telah menyerang mereka, sehingga mereka terpaksa bertempur dengan senjata jarak pendek. Sebenarnya seorang demi seorang, pasukan kumpeni dan prajurit dari pasukan berkuda Surakarta, mempunyai kemampuan yang jauh lebih baik. Tetapi ternyata mereka telah terjebak dalam satu keadaan yang tidak menguntungkan. Pada benturan kedua pasukan itu, kumpeni telah kehilangan beberapa orang prajurit yang terluka, sementara prajurit Surakartapun mengalami keadaan yang serupa. Ternyata bahwa jumlah pasukan Raden Mas Said yang terdiri dari dua kelompok itu, jumahnya jauh lebih banyak. Sehingga dengan demikian, maka kumpeni dan pasukan berkuda Surakarta itu segera mengalami kesulitan. Sepuluh orang yang berusaha memotong jalan itupun segera memasuki arena pula. Namun merekapun segera tenggelam dalam keributan pertempuran. Letnan PaJnlangen yang hanya sempat menembakkan senjatanya satu kali, telah mencabut pedangnya. Dengan garangnya ia bertempur diatas punggung kuda. Ternyata ia benar-benar seorang Senapati yang memiliki kemampuan tinggi dari pasukan kumpeni. Itulah sebabnya ia dipercaya untuk memimpin pasukan berkuda gabungan antara kumpeni dan prajurit Surakarta dari pasukan berkuda. Tetapi ia menghadapi musuh yang terlalu banyak. Dalam hiruk pikuk pertempuran ia berhadapan tidak saja lawan yang berada diatas punggung kuda. Tetapi beberapa orang laskarRaden Mas Said telah menyerangnya dengan tombak sambi berlari-lari, karena mereka tidak berkuda. Kecuali letnan Panlangen dan kumpeni, prajurit dari pasukan berkuda Surakartapun memiliki kelebihan. Itulah sebabnya Raden Mas Said sendiri telah memperingatkan, agar mereka berhati-hati menghadapi pasukan berkuda itu. Tetapi betapapun kuatnya pasukan berkuda itu, namun akhirnya mereka tidak dapat mengingkari kenyataan. Tombak para pengikut Raden Mas Said itu telah menyentuh kumpeni itu seorang demi seorang. Seperti yang direncanakan, yang menjadi sasaran utama adalah justru kumpeni. Setiap Raden Mas Said bertemu dengan Pangeran Mangkubumi, maka Pangeran itu selalu menekankan, bahwa lawan yang sebenarnya bagi mereka adalah kumpeni. Bukan prajurit Surakarta sendiri. Bahwa dalam pertempuran yang sengit itu, terpaksa ada juga prajurit Surakarta yang terbunuh, itu adalah diluar kemampuan usaha mereka yang menghindar, karena sebenarnyalah bahwa prajurit Surakarta itu, telah berusaha pula untuk benar-benar membunuh. Dalam pertempuran yang sengit itu, maka korbanpun mulai jatuh. Seorang demi seorang ujung-ujung tombak telah menyusup diantara tulang-tulang iga kumpeni. Satu-satu mereka berjatuhan dari punggung kuda. Ternyata prajurit dan pasukan berkuda dan kumpeni tidak berhasil menguasai lawannya yang dengan sengaja telah menjebak mereka. Sementara itu, merekapun tidak sempat lagi minta bantuan dari Surakarta. Apalagi jika diingat bahwa prajurit yang berangkat ke Penambangan adalah sekelompok prajurit yang pating baik dari Surakarta, termasuk prajurit dari pasukan berkuda. Tidak ada jalan kembali bagi letnan Panlangen. Setelah pedangnya merah oleh darah, maka datang giliran ia harusmengakui keunggulan pasukan Raden Mas Said yang jumlahnya jauh lebih banyak dari pasukannya. Dengan marah ia menyaksikan seorang demi seorang kumpeni yang jatuh, terluka dan kemudian terbunuh di peperangan itu. Namun dalam pada itu, pasukan Raden Mas Said sebagaimana umumnya para pengikut Pangeran Mangkubumi telah mendengar dan selalu mendengar, bahwa lawan mereka adalah kumpeni. Meskipun demikian dalam pertempuran yang seru, maka tidak akan dapat dihindari, bahwa satu dua prajur it Surakarta dari pasukan berkuda itupun telah tersentuh senjata. Bahkan satu dua diantara mereka telah terjatuh dan terkapar ditanah. Letnan Panlangen yang marah itupun bertempur dengan garangnya. Pedangnya menyambar-nyambar. Demikian pula pasukan berkuda kumpeni yang lain, telah bertempur dengan kemarahan dan kebencian. Apalagi ketika mereka melihat kawan-kawan mereka yang terbunuh dan yang terluka oleh senjata orang-orang yang mereka anggap liar, yang bertempur dengan lembing-lembing bambu dan parang- parang pemotong kayu. Tetapi lembing-lembmg bambu dan parang pemotong kayu itu mampu juga menghunjam kedalamtubuh mereka. Pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Tetapi tidak ada lagi harapan Panlangen untuk dapat mengalahkan lawannya. Karena itu, maka t idak ada kemungkinan lain yang paling baik daripada menghindarkan diri. Karena itu, maka sejenak kemudian terdengar aba-aba yang diteriakkan oleh letnan itu. Aba-aba yang diberikan kepada pasukannya untuk meninggalkan arena. Sebenarnyalah kecemasan telah mencekam setiap orang yang masih tersisa dalam pasukan berkuda itu. Mereka sama sekali sudah tidak berpengharapan. Sementara merekapun tidak ingin untuk membunuh dir i dengan meminjam tanganpasukan Raden Mas Said. Karena itu, demikian mereka mendengar aba-aba dari letnan Panlangen, maka merekapun segera berusaha melepaskan diri dari keterikatan pertempuran. Sekali lagi pasukan berkuda itu menunjukkan ketangkasan mereka. Dengan tangkasnya mereka menghindar dan dengan cepat pula mereka berhasil melepaskan diri dari pertempuran yang seru itu. Pada saat pasukan berkuda dari Surakarta yang terdiri dari prajurit Surakarta sendiri dan kumpeni itu meninggalkan arena, maka anak muda yang berjambang, berkumis dan berjanggut lebat itupun telah memberikan aba-aba untuk tidak mengejar mereka. “Kenapa mereka kita lepaskan saja ?” bertanya salah seorang dari laskar Raden Mas Said itu. “Tidak ada gunanya. Kuda mereka jauh lebih baik dari kuda kita. Kita tidak akan dapat mengejarnya. Jika kita mencoba, maka jarak diantara pasukan kita dengan mereka akan semakin lama menjadi semakin panjang.” jawab pemimpin pasukan Raden Mas Said itu. Dalam pada itu, ternyata bekas medan itu telah basah oleh darah. Mayat masih terbujur lintang mengerikan. Sebagian besar dari mereka adalah kumpeni yang merasa dir i mereka orang yang lebih tinggi derajat dan martabatnya dari orang berkulit sawo. Namun tidak dapat dihindar i bahwa korbanpun telah jatuh diantara prajurit Surakarta dari pasukan berkuda, dan bahkan mereka dari pasukan Raden Mas Said sendir i. “Kita masih mempunyai tugas yang harus kita lakukan dengan cepat” berkata pemimpin dar i pasukan berkuda Raden Mas Said itu. “Tugas apa lagi?” bertanya salah seorang dari laskarnya.Pemimpin pasukan itupun merenung sejenak. Namun kemudian katanya dengan nada datar ”Bagaimana dengan mayat-mayat ini?” Kawan-kawannyapun mengerutkan keningnya. Mereka tidak akan sampai hati meninggalkan mayat itu terkapar begitu saja. “Kita akan menguburkan mereka” desis pemimpin pasukan itu. “Apakah kita tidak memikirkan kemungkinan, bahwa pasukan Surakarta itu akan datang lagi dengan jumlah yang jauh lebih besar ? Seluruh pasukan berkuda akan datang dan mengepung kita.” sahut salah seorang anak buahnya. Pemimpin pasukan itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata ”Kita akan singgah di padukuhan terdekat. Kita akan minta kepada mereka untuk mengubur mayat-mayat. itu. Tetapi kita tidak akan dapat meninggalkan mayat kawan- kawan kita sendiri. Kita akan membawanya menuju ke tempat yang sudah ditentukan dan menguburkannya disaina. Baru kemudian kita akan menyusul ke Keduwang.“ Tidak ada jalan lain yang lebih baik. Karena itu, maka laskar Raden Mas Said itupun segera mencari kawan-kawan mereka yang terbunuh diantara mayat yang berserakan, sementara yang terluka parah telah mendapat perawatan sementara, bahkan lawan sekalipun. Ternyata bahwa ada beberapa ekor kuda dari pasukan berkuda Surakarta yang masih berkeliaran di sekitar medan itu tanpa penunggangnya. Dengan demikian, maka laskar Raden Mas Said itu kecuali sempat mengambil senjata kumpeni yang terbunuh, merekapun mendapat juga beberapa ekor kuda yang besar dan tegar. Demikianlah, dengan kuda-kuda yang besar itu, para pengikut Raden Mas, Said itu telah membawa kawan- kawannya yang terluka dan yang gugur dipertempuiran.Meskipun demikian, mereka tidak sampai hati membiarkan mayat itu tanpa diperlakukan sebagaimana seharusnya. Karena itu, maka merekapun telah singgah di padukuhan terdekat. Kepada penghuni padukuhan itu pemimpin laskar Raden Mas Said itupun minta agar mereka bersedia sekedar melakukan tindak terpuji untuk mengubur mayat yang berserak-kan di sebelah gumuk Watu Pitu, dan merawat yang terluka. “Ada beberapa pertimbangan” berkata pemimpin pasukan itu ”kecuali dari segi sikap yang terpuji atas dasar perikemanusiaan, juga atas pertimbangan kesehatan penghuni padukuhan ini sendiri. Jika mayat-mayat itu membusuk, maka akibatnya akan kurang baik bagi penghuni padukuhan ini. “Tetapi apakah hal itu tidak akan membuat kita mendapat bencana. Jika para prajurit Surakarta dan kumpeni menuduh kita terlibat dalam hal ini, maka masih kita akan menjadi sangat buruk.” “Mereka tahu siapa yang telah membunuh kawan- kawannya” jawab pemimpin pasukan Raden Mas Said itu ”karena itu, selagi mereka masih tetap manusia dan apalagi prajurit Surakarta sendiri, tentu akan mengucapkan terima kasih kepada kalian. Tetapi ada kemungkinan kawan-kawan mereka t idak akan kembali lagi ketempat ini. Mereka akan pergi ke Penambangan, menggabungkan dir i dengan induk pasukan mereka, setelah mereka mengalami kerugian yang sangat besar didaerah ini. Karena kalian harus merawat mereka yang terluka untuk sementara.“ Meskipun ragu-ragu, namun akhirnya penghuni padukuhan itupun menyatakan kesediaan mereka untuk melakukannya. Setelah mendengar kesanggupan itu, barulah rjemimpin pasukan itu merasa tenang. Setelah mengucapkan terima kasih, maka merekapun segera meninggalkan tempat itu, menuju ke tempat yang sudah ditentukan sebelum mereka memasuki Keduwang.Dalam pada itu, pasukan Raden Mas Said itupun telah dibagi menjadi dua. Yang berkuda akan mendahului melalui jalan yang lebih besar, sementara yang berjalan kaki akan menempuh jalan memintas, melewati jalan-jalan sempit dan bahkan pematang-pematang. Namun jaraknya menjadi jauh lebih dekat. Sementara itu, pasukan induk Surakarta benar-benar telah mengepung Penambangan. Mereka yakin bahwa mereka akan berhasil menghancurkan, pasukan Raden Mas Said. Seperti letnan Panlangen, merekapun menganggap bahwa serangan kecil itu hanyalah sekedar memancing perhatian untuk mengalihkan sasaran. “Menurut perhitungan kami” berkata seorang Senapati dari Surakarta ”mereka tidak sempat menghindar dari daerah ini Demikian pasukan berkuda mengejar penyerang-penyerang yang tidak seberapa jumlahnya itu, beberapa orang petugas sandi telah mendahului perjalanan pasukan ini. Tidak secrangpun yang sempat keluar dar i daerah Penambangan.“ ”Tetapi bahwa mereka mengerti kedatangan kita itupun merupakan satu persoalan” jawab kumpeni berpangkat, mayor yang menjadi Panglima pasukan Surakarta yang terdiri dari prajurit-prajur it terbaik dar i Surakarta dan kumpeni itu. “Kita akan menunggu sejenak” berkata Senapati itu ”pasukan berkuda itu akan segera datang. Kita tidak usah cemas, bahwa meskipun orang-orang yang berada didalam kepungan ini mengetahui kehadiran kita, mereka tidak akan dapat mengelakkan dir i lagi.” Namun ternyata bahwa pasukan berkuda itu tidak segera datang, “Orang-orang pribumi itu sempat juga mengadakan perlawanan” desis Mayor kumpeni itu.Namun akhirnya, mereka melihat juga iring- iringan pasukan berkuda yang letih mendekati kepungan induk pasukan Surakarta di Penambangan. Kedatangan mereka benar-benar mengejutkan. Keadaan mereka yang parah, memberikan kesan yang sangat buruk bagi Panglima pasukan Surakarta itu. Dengan garangnya Mayor iitu menerima Panlangen yang menghadap dengan kepala tunduk. Pada punggung Panlangen sendiri terdapat noda darah, karena punggungnya memang tersentuh senjata. Dengan nada dalam. Panlangen membelikan laporan, apa yang telah terjadi dengan pasukannya, sehingga tanpa dapat dicegah lagi, pasukannya telah menjadi parah seperti yang dapat disaksikan itu. “Gila, anak monyet, sambar geledek” Mayor ilu mengumpat-umpat. Sementara letnan Panlangen hanya dapat menundukkan kepalanya oleh berbagai perasaan yang bercampur baur dihatinya. Kemarahan mayor itu tidak terkatakan. Dengan wajah merah membara ia kemudian membentak ”Apakah kau tidak mampu mengalahkan monyet-monyet itu he ?“ “Jumlah mereka terlalu banyak, mayor” jawab Panlangen:. “Kalian memang pengecut. Berapa banyaknya, tetapi mereka harus dapat dibinasakan” geram mayor yang hampir menjadi gila itu. Karena itu tiba-tiba ia berkata lantang ”Kita hancurkan Penambangan. Semua orang harus dibunuh kecuali Raden Mas Said. Ia harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Dan ia akan dibunuh di alun-alun Surakarta dengan tali gantungan dihadapan rakyat.“ Panlangen tidak menjawab. Tetapi ia mengenal mayor itu dengan baik. Karena itu, maka iapun dapat membayangkan, apa yang akan terjadi di Penambangan. Mayor itu akan benar-benar melakukan seperti yang dikatakannya. Semua orang harus mati. Sementara mayor itu memerintahkan untuk mengurung Penambangan semakin sempit, maka pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat dari arah Gebang dan Sukawati telah mendekati kota. Pasukan itu menjadi tergesa-gesa ketika matahari sudah mulai memanjat langit. Dengan cermat Pangeran Mangkubumi telah membagi pasukannya. Beberapa orang Pangeran dan bangsawan yang ada didalam pasukannya .telah di bagi dalam beberapa kelompok. Mereka akan memimpin kelompok-kelompok yang akan berpencar didalam ko,ta. “Kita harus memberikan kesan, bahwa seluruh kota sudah kita kuasai meskipun hanya untuk sementara” berkata Petngeran Mangkubumi, Demikianlah, maka ketika panasnya matahari pagi mulai terasa gatal, kota sudah mulai menjadi gelisah. Satu dua oiang telah melihat kedatangan pasukan yang kuat itu, sehingga merekapun dengan cemas telah berusaha untuk member itahukan hal itu kepada para prajurit yang berjaga- jaga di pintu gerbang. Namun sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, pasukan itu benar-benar telah datang. Tidak hanya dari satu arah, tetapi dari beberapa arah. Pasukan yang memasuki kota tidak saja melalui gerbang-gerbang utama, tetapi juga melalui jalan jalan kecil disisi utara kota Surakarta. Sejenak kemudian kota Surakarta menjadi gempar. Sebenarnya itulah yang tidak diinginkan oleh Pangeran Mangkubumi. Tetapi apaboleh buat. Tidak ada lagi waktu yang lebih baik dari saat itu, selagi kumpeni dengan pasukannya yang terkuat sedang berada di luar kota bersama sebagian besar prajurit Surakarta.Kedatangan pasukan Pangeran Mangkubumi itupun segera tersiar keseluruh kota. Beberapa orang kumpeni yang masih ada dikota segera bersiap. Pasukan berkuda yang tinggal-pun segera keluar dari baraknya. Bersama sepasukan kumpeni mereka menyongsong pasukan Pangeran Mangkubumi yang memasuki kota lewat gerbang utama yang menghadap ke Utara. Pertempuranpun segera berkobar. Jalan-jalan kota telah menjadi ajang peperangan. Terdengar beberapa kali ledakan senjata api. Tetapi jarak demikian dekat, sehingga perang yang kemudian terjadi adalah perang dengan senjata pendek. Tetapi yang memasuki kota lewat pintu gerbang utama adalah sebagian saja dari pasukan dalam keseluruhannya. Sementara itu, maka kelompok-kelompok yang lain dari pasukan Pangeran Mangkubumi telah menebar. Dalam pada itu, prajurit Surakarta segera mengalami kesulitan. Tekanan pasukan Pangeran Mangkubumi terasa sangat berat. Apalagi pasukan mereka yang terkuat sedang meninggalkan kota menuju ke Penambangan. Namun seperti yang dicemaskan Pangeran Mangkubumi, prajurit-prajuritnya tidak leluasa bertempur melawan kumpeni dan pasukan Surakarta, justru karena kebingungan rakyat Surakarta sendiri. Beberapa keluarga yang ketakutan justru berlari-larian di sepanjang jalan. Mereka menjadi kebingungan dan sebagian tidak lagi tahu, kemana mereka akan mengungsi. Tetapi menurut pendengaran mereka, pasukan Pangeran Mangkubumi adalah pasukan pemberontak yang garang, yang akan mencelakai rakyat Surakarta. Sebagian besar rakyat yang tinggal di kota Surakarta percaya akan kabar itu. Orang-orang yang membenci Pangeran Mangkubumi dengan sengaja mengatakan bahwa Pangeran itu telah memberontak karena ia tidak mau tunduk kepada perintah Sri Paduka Kangjeng Susuhunan. Pangeran itu tidak mau menyerahkan tanah Kalenggahannya yangterlalu banyak. Akhirnya bahkan Pangeran Mangkubumi telah menyatakan ingin mengusir Kangjeng Susuhunan dari tahtanya, dan kemudian menggantikannya, Ternyata kumpeni telah memanfaatkan rakyat yang kebingungan itu. Justru mereka dapat dipergunakan sebagai perisai disaat-saat kumpeni tidak mampu lagi bertahan. Di belakang rakyat yang kebingungan kumpeni menarik diri masuk ke loj i. Dalam pada itu, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Kumpeni yang belum sempat melarikan dir i, menjadi sasaran kemarahan pasukan Pangeran Mangkubumi, sehingga korbanpun telah berjatuhan. Tetapi kengerian yang memuncak, memaksa rakyat Surakarta sendiri menjadi hambatan dari gerakan Pangeran Mangkubumi. Dan itu sudah diperhitungkan oleh Pangeran Mangkubumi jika mereka kesiangan masuk kedalam kota. Namun mereka sudah terlanjur. Karena itu, maka pasukan Pangeran Mangkubumipun berusaha menyesuaikan dir i. Mereka sama sekali tidak mengganggu rakyat yang sedang mengungsi. Sebagian dari mereka telah masuk kedalam keraton lewat gerbang belakang. Bagi mereka tidak ada tempat lain yang lebih aman daripada berada didalam lingkungan dinding keraton yang dijaga oleh para prajurit dan bahkan diantara mereka terdapat beberapa orang kumpeni bersenjata api. Semua pintu gerbangpun kemudian ditutup. Sekali-sekali pintu itu masih harus dibuka j ika ada. beberapa orang pengungsi yang memaksa untuk masuk. “Gila, usir mereka” bentak Selor, seorang sersan kumpeni yang berkumis lebat. “Mereka ketakutan diluar” sahut searang Senapati muda “biarlah mereka mendapat ketenangan disini.““Itu tidak boleh. Halaman istana ini harus bersih dar i orang- orang dungu dan pengecut itu” bentak Selor ”usir mereka dan biar mereka berada diluar.“ “Diluar dinding ini terjadi pertempuran. Orang-orang yang tak bersenjata ini akan dapat mati terinjak-injak kaki kuda” Senapati muda itupun kemudian membentak. “Aku perintahkan, bawa mereka keluar. Mereka mengganggu disini. Siapa tahu diantara mereka terdapat petugas-petugas sandi dari pemberontak itu” sersan Selor semakin marah. Tetapi Senapati muda itupun menjadi semakin marah pula. Katanya ”Mereka tidak mengganggu disini. Mereka hanya sekedar mengungsi karena ketakutan.“ “Jika kau tidak mau mengusir mereka, kumpeni akan mengusir mereka” teriak sersan berkumis lebat itu. Senapati muda itupun telah kehilangan kesabarannya pula. Dengan lantang ia menjawab ”Kau bukan pimpinan-ku. Kau tidak dapat memerintah aku. Istana inipun bukan istana rajamu. Ini adalah istana Kangjeng Susuhunan Paku Buwana. raja di Surakarta. Istana ini seharusnya memang memberikan perlindungan kepada rakyat yang ketakutan.“ “Aku tidak pedui. Aku akan mengusir mereka” teriak Selor lebih keras sambil menarik pedangnya ”siapa yang tidak mau pergi, aku bunuh ia disini.“ Tetapi Senapati itu tidak kalah marahnya. Iapun telah menyambar tombak seorang penjaga yang berdiri termangu- mangu sambil berteriak pula ”Lakukan. Coba lakukan jika kau jantan. Ayo, jika kau berani berbuat sesuatu terhadap rakyat Surakarta dihadapan mataku. Perutmu akan aku koyak dengan tombak ini. Biar namamu saja yang kembali ke seberang lautan tempat asalmu,“ “Gila. Kau juga pemberontak ya” geram Selor.“Aku berada di bumiku sendir i. Aku melindungi rakyatku yang ketakutan. Dan kau akan menambah kalut pikiran mereka dengan tingkah lakumu yang biadab” jawab Senapati itu sambil1 menggeretakkan giginya. Untunglah, bahwa karena keributan itu, telah datang pemimpin-pemimpin mereka yang sempat berpikir lebih bening. Seorang letnan kumpeni telah menenangkan hati sersan Selor dan memerintahkannya untuk tidak meneruskan niatnya, sementara seorang Senapati Surakarta yang lebih tuapun telah berusaha membawa Senapati muda itu bergeser dari tempatnya. “Setan itu akan mengusir para pengungsi yang ketakutan” geramSenapati muda itu. “Tidak, la tidak akan melakukannya lagi” desis Senapati yang lebih tua ”sebaiknya kita tidak berselisih diantara kita, sedangkan pasukan Pangeran Mangkubumi telah berada diluar dinding istana ini. Kangjeng Susuhunan tentu akan menjadi semakin gelisah.“ “Tetapi aku t idak dapat membiarkan kebiadaban itu berlaku, justru oleh orang-orang yang katanya akan membawa peradaban baru di Surakarta, bagi kepentingan rakyat Surakarta.” “Sudahlah” berkata Senapati yang lebih tua ”kita bersiap menghadapi kemungkinan, jika pasukan Pangeran Mangkubumi memasuki halaman istana dari arah manapun juga.“ Senapati muda itu tidak menjawab. Namun masih terasa dentang jantungnya yang memukul-mukul dinding dadanya. Sementara itu, kota Surakarta benar-benar telah dikuasai oleh pasukan Pangeran Mangkubumi. Hanya beberapa bagian dari barak-barak prajur it sajalah yang dibiarkannya, untuk mencegah korban yang tidak terhitung jumlahnya. Jika sekelompok pasukannya memasuki barak prajur it yang tidaklagi dapat dipertahankan sebaik-baiknya karena sebagian besar dari mereka sedang dalam perjalanan ke Penambangan, maka tidak akan dapat dicegah lagi bahwa perasaan akan mulai berbicara, tidak lagi dengan ujung-ujung lidah, tetapi dengan ujung senjata. Pangeran Mangkubumi sudah memperhitungkannya sebelumnya, sehingga karena itu, maka para Senapatinyapun telah berbuat serupa pula. Dalam pada itu, barak-barak prajurit Surakartapun telah menutup segala regol dan pintu-pintu teteg di halaman dan seketheng. Juga pintu regol istana Ranakusuman yang dipergunakan oleh pasukan berkuda. Namun dalam pada itu, para prajurit yang menarik dir i kedalam barak-barak mereka, selain yang berada di istana, telah bersiap menghadapi kemungkinan terakhir. Sebagai seorang prajurit, maka agaknya merekapun akan melawan sampai kemungkinan yang terakhir Namun dalam pada itu, Tumenggung Reksanata, salah seorang Senapati pada pasukan Pangeran Mangkubumi telah menghadap dan mohon ijin untuk menyerang barak-barak prajurit yang tersisa. “Mereka tidak akan dapat melawan kekuatan kita” berkata Reksanata. Namun Pangeran Mangkubumi menggeleng sambil berkata ”Biar lah mereka melihat dan menjadi saksi, apa yang telah kami lakukan. Seandainya kalian memasuki barak-barak prajurit dan membunuh mereka semuanya, apakah kesan dari rakyat Surakarta sendiri dan apa pula kesan yang akan timbul pada diri Kangjeng Susuhunan terhadap kita yang telah menyatakan janji untuk berusaha mengusir kumpeni, belum lagi- j ika kita menghitung korban diipihak kita.“Reksanata mengangguk-angguk Namun ia masih mohon ”Jika demikian, biarlah loji itu kita bakar dan semua sisa kumpeni kita binasakan.“ “Apakah kau t idak melihat Reksanata” berkata Pangeran Mangkubumi ”mereka t idak saja bersiap dengan senapan- senapan. Tetapi mereka telah mempersiapkan beberapa buah mer iam. Sebenarnya, kita akan dapat memasuki loj i itu dari segala arah dan menumpas mereka. Tetapi jika meriam- mer iam itu meledak, maka korban akan berjatuhan. Bukan saja dari antara kita sendir i, tetapi kau dapat membayangkan mer iam-meriam itu meledak didalam kota, dan rumah-rumah penduduk yang tidak bersalah itupun akan dapat menjadi sasaran. Demikian pula pengungsi-pengungsi yang masih saja hilir mudik kebingungan.“ “Lalu apa yang akan kita capai dengan serangan ini Pangeran?” bertanya Senapati itu. “Kita menunjukkan kepada kumpeni, bahwa kita mampu berbuat sesuatu yang besar, terpimpin dan terkendali. Juga satu ketegasan sikap yang kita sampaikan kepada Kangjeng Susuhunan. Khususnya sikap kita menghadapi kumpeni.” Raksanata menarik nafas dalam-dalam. Demikian besar cinta Pangeran Mangkubumi terhadap rakyat Surakarta, meskipun sebagian dari rakyat yang tinggal di kota itu membencinya. Pertempuran masih terjadi dibeberapa bagian dari kota. Namun justru para prajurit Surakarta itupun berusaha menarik diri memasuki dinding halaman istana untuk bertahan bersama prajurit-prajurit yang lain yang telah lebih dahulu memasuki halaman istana bersama kumpeni yang bertugas berjaga-jaga dan melindungi istana. Tatapi pasukan Pangeran Mangkubumi yang mendapat pesan mawanti-wanti untuk tidak bertindak sewenang-wenang tidak berusaha untuk menghancurkan mereka. Apalagiberusaha mengejar mereka memasuki regol halaman samping dan belakang istana. Sementara itu, dalam hiruk pikuk yang terjadi di kota, Juwiring, Buntal dan Arum yang ikut pula didalam pasukan Pangeran Mangkubumi sempat singgah meskipun hanya sekejap di istana Sinduratan. Ketika mereka yakin, bahwa jalan-jalan telah menjadi sepi dan tidak ada orang yang melihatnya, maka merekapun minta ijin kepada Ki Wandawa untuk singgah barang sekejap. “Waktu kita sangat terbatas” jawab Ki Wandawa. ”Hanya sekejap untuk mengucapkan terima kasih” sahut Arum. Ki Wandawa mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil menyahut ”Sampaikan ucapan terima kasih kami semuanya kepada Raden Ayu Galihwarit. Ternyata karena keterangannya, kita dapat berbuat sebaik-baiknya.“ Sebenarnyalah Juwiring, Buntal dan Arum hanya singgah sekejap. Mereka menyampaikan ucapan terima kasih sebagaimana dipesan oleh Ki Wandawa, “Sering-seringlah datang” berkata Raden Ayu Galihwarit ”aku yakin, setelah peristiwa ini, tentu akan disusul oleh peristiwa yang lebih besar. Kumpeni tentu semakin mendendam dan mereka akan berusaha untuk menebus kekalahannya.“ “Terima kasih ibunda” desis Juwir ing. Sejenak kemudian merekapun minta diri. Namun dalam pada itu, Juwiriing melihat mata adik perempuannya menjadi berkaca-kaca, “Apakah aku dapat ikut bersamamu kakangmas?” bertanya Rara Warfh.“Kita dalam keadaan yang sangat gawat sekarang ini diajeng.” jawab Juwir ing ”mungkin beberapa saat lagi, dihari- hari mendatang aku akan mempertimbangkannya.“ Rara Warih tidak menjawab. Tetapi ketika Juwiring, Buntal dan Arum yang mohon dir i itu meninggalkan serambi samping, Bara Warih sempat berbisik ditelinga kakandanya ”Aku tidak tahan lagi kakangmas. Ibunda membuat hatiku hancur. Disamping pengertianku akan usaha ibunda membantu perjuangan Pangeran Mangkubumi, namun alangkah pahitnya melihat, kenyataan, cara-cara yang telah dipergunakan oleh ibunda yang telah merendahkan martabat kita sekarang.“ Juwiring hanya menar ik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat menjawab karena Raden Ayu Galihwarit berada beberapa langkah saja dibelakangnya. Namun ibu yang sudah mengenyam pahit getirnya kehidupan melampaui kebanyakan perempuan itu nampaknya mengerti perasaan anak gadisnya. Karena itu, ia justru menjauh. Rara Warih memang memer lukan tempat untuk memuntahkan segala yang menyesak didadanya, agar anak itu tidak menjadi semakin lama semakin mender ita. Rara Warih yang melihat ibundanya justru mendahului keregol, yang kemudian seolah-olah dengan hati-hati mengintip keluar, sempat mengulangi ”Aku tidak akan tahan mengalami hal seperti ini.“ “Tetapi tidak sekarang diajeng.” jawab Juwiring. “Aku tidak tahan. Tetapi aku tidak dapat mencegahnya. Kecuali aku adalah anak yang berhadapan dengan ibundanya, akupun mengerti bahwa yang dilakukan oleh ibunda itu bermanfaat bagi perjuangan.” desis Rara Warih. “Ikhlaskan cara yang dipilih oleh ibunda, diajeng.“ bisik Juwiring.“O” Rara Warih terkejut. Namun tiba-tiba ia memeluk Juwiring sambil menangis ”Kakangmas, sampai hati kau mengatakan demikian. Aku tahu, bahwa ibunda Galihwar it bukan ibundamu, sehingga kau tidak merasakan perasaan seperti yang aku rasakan.“ “Bukan. Bukan” sahut Juwir ing dengan serta merta. Sekilas ia memandang Raden Ayu Galihwarit yang masih berdiri diregol. Namun ibundanya itupun kemudian melangkah mendekatinya. Dengan nada lugu seakan-akan tidak mengetahui sama sekali perasaan anak gadisnya ia berkata ”Jangan kau tahan kakandamu Warih. Biarlah ia melakukan tugasnya demi perjuangan dalam keseluruhan.“ Rara Warih berusaha untuk menahan tangisnya. Sementara iapun melepaskan tangannya sambil berdesis ”Kapan kau datang kembali ?“ ”Aku belum tahu. Tetapi kau jangan salah mengerti” Juwiring masih ingin memperbaiki kata-katanya yang ternyata telah menyinggung perasaan adiknya. Rara Warih tidak menjawab lagi lapun kemudian melepaskan Juwir ing yang menjadi berdebar-debar. Seolah- olah ia tidak sampai lati meninggalkan adiknya dalam keadaan salah paham. Tetapi ia tidak dapal tinggal terlalu lama di istana Sinduratan. Karena itu, maka sekali lagi ia mohon diri dan keluar dengan hati-hati dari istana itu, agar tidak menimbulkan salah paham. Sepeninggal Juwiring. Buntal dan Arum, Pangeran Sindurata keluar pula kehalaman sambil berkata lantang ”Kemana anak-anak bengal itu. Ia dapat membuat rumah ini dicurigai.“ “Mereka adalah anak-anakku ayahanda. Tentu aku akan menerimanya kapanpun mereka datang.” jawab Raden Ayu Galihwar it.Sementara itu. Raden Juwiringpun telah melapor kembali kepada Ki Wandawa dan kembali kedalam pasukannya. Arum, yang oleh kawan-kawan Juwiring dan Buntal disebut gadis aneh. tetap berada diantara mereka pula. Sementara itu Pangeran Mangkubumi masih tetap berada didalam kota. Bahkan seolah-olah mutlak menguasai seluruh kota. Prajurit Surakarta telah menarik dir i dan tidak member ikan perlawanan lagi, sementara pasukan kumpenipun telah menyusun pertahanannya di baraknya selain mereka yang berada di istana. Tetapi Pangeran Mangkubumi seolah-olah tidak mengusik mereka. Pangeran Mangkubumipun sama sekali tidak menyentuh bagian dalam istana. Ketika sebagian dari pasukannya melintas di alun-alun, ternyata yang berada di paling depan dengan payung keemasan, bukanlah Pangeran Mangkubumi sendiri. Hal itu telah sempat menimbulkan persoalan didalam istana. Dan adalah diluar dugaan Pangeran Mangkubumi bahwa ternyata di belakang para pengawal istana yang kuat. Kangjeng Susuhunan sendiri mencoba melihat suasana di luar istana, meskipun hanya terbatas pada keadaan di alun-alun dan sekitarnya. Ketika sebagian pasukan Pangeran Mangkubumi yang dipimpin oleh seorang Senapati yang bukan Pangeran Mangkubumi sendiri meskipun dengan payung keemasan itu sudah lewat, maka alun-alun itu menjadi sepi. Seolah-olah Surakarta adalah kota mati. Tetapi Pangeran Mangkubumi memang tidak ingin mengganggu istana. Ia cukup sadar, bahwa Kangjeng Susuhunan Paku Buwana itupun seorang prajurit. Jika istananya tersinggung, apapun alasannya, maka ia akan bangkit dan mungkin Kangjeng Susuhunan sendiri yang akan memimpin per lawanan untuk menyelamatkan istananya.Apalagi dalam keadaan yang bagaimanapun juga, Pangeran Mangkubumi selalu ingat, bahwa ia sama sekali t idak akan melawan Kangjeng Susuhunan. Yang dilawannya adalah pengaruh kumpeni yang semakin lama menjadi semakin kuat di Surakarta. Perjanjian demi perjanjian yang bagaikan mata rantai yang mengikat Surakarta, semakin lama semakin erat. “Kangjeng Susuhunan telah memberikan restu kepadaku ketika aku menyatakan niat untuk melawan kumpeni” berkata Pangeran Mangkubumi kepada dirinya sendir i. Namun dalam pada itu, ternyata seorang petugas sandi melaporkan, bahwa mereka telah melihat seorang petugas keprajuritan Surakarta dalam penyamaran, telah berkuda ke- arah Timur. Tidak mustahil bahwa keduanya telah pergi ke Penambangan atau ke Jatimalang. “Tentu ke Jatimalang” desis Pangeran Mangkubumi “Lalu, apakah yang sebaiknya kita lakukan sekarang” bertanya salah seorang Senapatinya yang dipanggilnya berkumpul. ”Apakah kita merasa sudah cukup dengan gerakan ini untuk memberikan kesan seperti yang kita kehendaki ?“ Pangeran Mangkubumi adalah seorang pemikir yang cerdas. Ia dapat memperhitungkan keadaan dengan baik dan cermat. Seolah-olah Pangeran Mangkubumi itu dapat melihat yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Dalam keadaan yang tiba-tiba itu Pangeran Mangkubumi berkata ”Kita akan menyongsong pasukan yang akan datang dari Jatimalang.“ Para Senapati pasukan Pangeran Mangkubumi itu menjadi berdebar-debar. Namun sikap Pangeran Mangkubumi itu adalah langkah yang paling tepat yang dapat dilakukan oleh pasukannya. Karena itu, maka Pangeran Mangkubumipun segera memer intahkan untuk mengumpulkan pasukannya. Agaknyakesan yang timbul tentang pasukan itu sudah cukup bagi kota Surakarta dan penghuni-penghuninya. Dalam pada itu. seorang Senapati telah bertanya ”Apakah Pangeran percaya bahwa pasukan yang berada di Jatimalang itu akan datang membantu pasukan Surakarta yang ada di kota ini ?“ “Aku mempunyai perhitungan yang demikian” berkata Pangeran Mangkubumi ”pasukan di Jatimalang itu mengetahui bahwa pasukan terkuat telah pergi ke Penambangan. Karena itu, maka mereka tentu mencemaskan nasib para prajurit dan kumpeni yang ada di kota ini. Karena prajurit dan kumpeni yang tersisa tidak terlalu banyak.“ Para Senapati itupun mengangguk-angguk. Perhitungan Pangeran Mangkubumi jarang sekali meleset. Karena itu, maka para Senapati itupun telah menyiapkan pasukannya sebaik-baiknya. Pasukan Surakarta dan kumpeni di Jatimalang termasuk pasukan yang kuat. Sejenak kemudian setelah pasukan itu bersiap, maka merekapun segera meninggalkan kota menuju ke arah Timur. Sebenarnyalah bahwa dua orang berkuda yang berhasil lolos dari tangan pasukan Pangeran Mangkubumi telah sampai ke Jatimalang. Mereka segera melaporkan apa yang telah terjadi di kota Surakarta. “Gila” geram letnan Belangker yang berada di Jatimalang ”kita Harus membantu pasukan kumpeni yang ada di kota.“ Senapati Surakarta yang berada di Jatimalang itupun sependapat. Kekuatan prajurit Surakarta yang tinggal agaknya kurang mencukupi untuk melindungi istana dan seluruh kota. Karena itu maka prajurit Surakarta dan kumpeni yang berada di Jatimalang telah mempersiapkan diri dengan tergesa-gesa untuk pergi ke kota, membantu pasukan yang menurut perhitungan mereka t idak akan cukup kuat melawan pasukan Pangeran Mangkubumi.Demikianlah dengan tergesa-gesa letnan Belangker telah membawa pasukan Surakarta dan kumpeni menuju ke arah Barat. Mereka harus segera mencapai kota sebelum kota itu hancur sama. sekali. “Pasukan yang ada akan dapat bertahan untuk sementara” berkata Belangker ”sementara kita datang dan menghancurkan pasukan Pangeran Mangkubumi. Belum tentu hal semacam ini dapat kita lakukan jika bukan Pangeran Mangkubumi sendiri memasuki perangkap. Mungkin kita akan gagal jika pasukan kita yang kuat datang mengepung Sukawati atau Gebang.“ Senapati prajurit Surakarta hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi iapun merasa cemas, bahwa pasukan itu akan terlambat. Karena itu, maka Senapati itu lebih senang mempercepat perjalanan mereka daripada sekedar bermimpi menghancurkan pasukan Pangeran Mangkubumi. Setelah menempuh perjalanan beberapa lama, maka merekapun mendekati Bengawan yang membujur seolah-olah membatasi sisi kota Surakarta bagian Timur. Seluruh pasukan itu menjadi berdebar-debar. Mereka membayangkan, bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi telah menguasai sebagian besar dari kota, Namuni j ika mereka datang, mereka akan segera membebaskan seluruh kota dari tangan Pangeran Mangkubumi. Prajurit dan kumpeni yang hampir menjadi putus-asa tentu akan segera bangkit, Pasukan Surakarta yang terlatih dan kumpeni yang telah menjelajahi benua dan Samodra itu benar-benar mampu bergerak cepat Mereka senlah-olah telah tahu pasti, apa yang harus mereka lakukan saat mereka berada dipinggir bengawan. Beberapa orang tukang satang tidak dapat menolak, ketika para prajurit dan kumpeni memer intahkan agar mereka membawa para prajurit dan kumpeni menyeberang. Berapasaja gethek yang ada, seluruhnya telah dipergunakan oleh para prajurit dan kumpeni. Meskipun demikian, gethek yang ada tidak cukup banyak untuk membawa mereka sekaligus. Sebagian mereka yang terdiri dari prajurit-prajurit Surakarta harus menunggu gethek itu sudah sampai kesisi sebelah Barat. Demikianlah, sebagian pasukan gabungan itu telah di bawa dalam beberapa gethek yang ada. Dengan memeras keringat tukang satang telah bekerja keras agar pasukan itu dapat menyeberang secepat mungkin. Letnan Belangker telah membentak-bentak t idak sabar, seolah-olah tukang satang itu dengan sengaja telah memperlambat gethek mereka. “Cepat sedikit” letnan itu berteriak. Tetapi tukang satang itu telah mengerahkan segenap tenaganya. Mereka tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Apalagi arus bengawan itu agak lebih besar dari biasanya. Namun adalah diluar dugaan mereka, ketika tiba-tiba saja. demikian mereka sampai tepi bengawan di seberang Barat, telah muncul pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat. Dengan sengaja mereka mengejutkan pasukan yang mulai menginjakkan kakinya di tepian bengawan itu. Tidak banyak kesempatan yang dapat mereka lakukan. Kumpeni yang ada diantara mereka, tidak sempat mempersiapkan senjata api mereka, ketika tiba-tiba saja pasukan Pangeran Mangkubumi yang telah menunggu itu muncul dar i balik gerumbul-gerumbuil perdu, dari balik tanaman disawah dan dari balik batu-batu padas. “Gila” teriak letnan Belangker ”apa artinya ini.” Lalu terdengar ia meneriakkan aba-aba ”Bunuh semua lawan.“ Para prajurit Surakarta dan kumpeni itupun segera menyongsong pasukan Pangeran Mangkubumi. Namun demikian tiba-tiba, sehingga sebagian dari mereka menjadibingung dan tidak tahu apa yang harus segera mereka lakukan. Mereka sadar, ketika tiba-tiba saja mereka telah terdorong masuk ke bengawan. Dengan susah payah mereka harus berusaha untuk tidak hanyut Meskipun sebagian besar diantara para prajurit Surakarta itu berhasil menyelamatkan diri, namun beberapa puluh langkah dari tempat mereka terjatuh karena dorongan lawan, sementara senjata-senjata mereka sebagian telas terlepas di bengawan. Sementara itu, ternyata pasukan Pangeran Mangkubumi memper lakukan kumpeni dengan sikap yang berbeda. Para pengikut Pangeran Mangkubumi tidak sekedar mendorong mereka kedalam air, tetapi mendorong mereka dengan ujung pedang dan tombak. Dengan demikian, maka kumpeni itupun demikian cepatnya telah menjadi susut. Pada kejutan pertama, para pengikut Pangeran Mangkubumi berhasil memungut korban yang cukup banyak pada pihak kumpeni. Tetapi mereka memang orang-orang yang tabah dan berani. Meskipun kawan-kawan mereka telah terbunuh dan terluka, namun yang lain masih bertempur dengan garangnya, sementara para prajurit Surakarta yang berhasil naik dari air bengawan telah siap membantu mereka. Tetapi mereka masih harus menemukan senjata, karena senjata mereka telah terjatuh. Namun mereka yang masih tetap memegang senjata maka merekapun langsung menerjunkan diri kedalam peperangan.. Sementara itu, ternyata tukang-tukang satang yang seharusnya kembali ke seberang sebelah Timur itupun tidak segera kembali. Sebagian dari merekapun menjadi kebingungan dan ketakutan, sehingga ada diantara mereka yang justru terjun kedalam air dan meninggalkan gethek mereka tertambat di-tepian sebelah Barat, sementara mereka sendiri berenang menjauhi hiruk pikuk pertempuran itu.Para prajurit yang masih berada di seberang Timur bengawan, berteriak-teriak memanggil para tukang satang. Tetapi mereka hanya, dapat mengumpat-umpat, karena tukang satang yang ketakutan itu tidak lagi mendengarkan suara mereka. Dengan demikian para prajurit di seberang Timur itu menjadi kebingungan. Tetapi mereka tidak berani turun kedalam air dan menyeberang ke sebelah Barat dengan berenang dalamair yang cukup deras arusnya itu. Karena jumlah mereka yang terbagi, maka prajurit Surakarta dan kumpeni yang sudah berada di sebelah Barat bengawan itu sama sekali t idak dapat melawan pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat. Karena itu, maka yang tersisa itupun telah terdesak. Semakin lama semakin jauh ke Selatan disepanjang bengawan. Akhirnya tidak ada pilihan lain dari mereka, keuali melarikan diri. Karena itulah, maka ketika mereka sudah kehilangan kesempatan, maka letnan Belangker itupun meneriakkan isyarat kepada anak buahnya untuk membebaskan dir i dar i lawan mereka. Demikianlah, kumpeni dan para prajur it itupun segera melakukan gerakan mundur. Dengan dilindungi oleh tembakan tembakan senjata api yang tidak banyak lagi yang tersisa dan sama sekait tidak terarah, mereka telah berusaha melarikan diri dari medan pertempuran. Seperti yang banyak dilakukan, maka pasukan Pangeran Mangkubumi itupun tidak mengejar mereka. Tidak terlalu jauh dari bengawan, pasukan itu akan masuk kedalam kota. Mungkin pertempuran itu akan dapat menggugah pertempuran lain didalam kota yang akan dapat mencelakai rakyat Surakarta sendiri. Dengan demikian, maka Pangeran Mangkubumi t idak mengejar pasukan lawan yang menarik diri kedalam kota.Untuk beberapa saat Pangeran Mangkubumi masih tetap berada dipinggir bengawan. Sementara itu di sebelah Timur sebagian dari prajurit Surakarta masih tinggal. Namun ketika pasukan Surakarta yang tinggal itu melihat kawan-kawan mereka menar ik diri, maka merekapun justru tidak berusaha lagi untuk menyeberang. Apalagi para tukang satang tidak lagi berada di gethek masing-masing, atau mereka justru telah melarikan diri bersama gethek mereka mengikut i arus bengawan ke Utara. Namun akhirnya Pangeran Mangkubumi merasa, bahwa yang mereka lakukan sudah cukup banyak pada hari itu. Sementara langitpun menjadi merah, karena matahari yang sudah semakin turun di sebelah Barat. “Kita sudah menguasai kota sekitar setengah hari” berkata Pangeran Mangkubumi kepada para Senapatinya ”aku kira kesan yang kita timbulkan sudah cukup. Mereka akan mengerti, bahwa pasukan kita bukan pasukan liar yang ganas dan dengan penuh nafsu untuk membunuh dan merusak. Tentu saja, kita tidak dapat menghindarkan dir i sama sekali dari korban-korban yang jatuh. Karena itu, kita akan mengikhlaskan mereka yang telah gugur dalam perjuangan ini. “ Ternyata para Senapati dan setiap orang didalam pasukan Pangeran Mangkubumi itu dapat menanggapi maksudnya. “Sekarang kita dapat kembali ke Gebang, sambil membawa korban yang sempat kita selamatkan.” berkata Pangeran Mangkubumi kemudian ”aku kira, pasukan yang mengepung Penambangan akan segera kembali j ika mereka menyadari bahwa Penambangan telah kosong. Sebenarnyalah bahwa. Panglima pasukan gabungan yang mengepung Penambangan itupun akhirnya menemukan Penambangan yang telah kosong. Betapa dada Panglima pasukan itu hampir meledak. Mereka telah menyiapkan pasukan yang sangat kuat. Namun perjalanan mereka itusama sekali tidak berarti. Bahkan sebagian dar i pasukan berkuda mereka telah menjadi korban karena kebodohan mereka. “Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi adalah orang yang sama-sama licik. Mereka tidak berani bertempur berhadapan” Mayor yang menjadi Panglima pasukan gabungan yang kuat itu mengumpat-umpat. Ia menjadi sangat marah, bukan saja karena ia gagal menangkap Raden Mas Said, tetapi juga karena justru pasukannya telah menjadi korban. Sebagian dari pasukannya yang terbaik, pasukan, berkuda, telah terjebak dan menjadi parah. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Penambangan benar-benar telah kosong. Karena itu. maka kumpeni telah melepaskan kemarahan mereka terhadap ujud, bentuk dan bangunan-bangunan yang ada di Penambangan. Rumah-rumah, banjar, gapura-gapura dan apa saja yang sebenarnya tidak bersalah sama sekali, telah disentuh oleh lidah api. sehingga kebakaran yang besar- pun telah melanda Penambangan. Tidak ada orang yang berusaha untuk memadamkan api. Tidak ada setitik airpun yang dilontarkan kedalam api yang menyala bagaikan menjilat langit. Asap mengepul tinggi menggapai awan. Demikianlah, maka Penambangan telah menjadi lautan api Sebagaimana Pangeran Mangkubumi yang kembali ke Gebang dengan mengambil jalan penyeberangan yang lain, maka prajur it Surakarta dan kumpeni di Penamibanganpun kembali menjelang. matahari terbenam. Mereka yang lelah lahir dan batin itu akan dapat berjalan lebih tenang di malam hari. Namun berbeda dengan prajurit Surakarta dan kumpeni yang mengalami kegagalan mutlak, maka pasukan PangeranMangkubumi telah berhasil melakukan satu kewajiban sesuai dengan yang mereka rencanakan. Bahkan kepada para prajurit Surakarta yang tertahan di sebelah Timur bengawan, pasukan Pangeran Mangkubumi itu masih sempat melambai- lambaikan tangan mereka, seperti seorang saudara muda yang mengucapkan selamat tinggal kepada saudara tuanya, menjelang sebuah perjalanan yang panjang. Lamat-lamat para prajur it Surakarta itupun melihat pula. Dalam cahaya merahnya senja, para prajurit itu menjadi heran melihat sikap pasukan Pangeran Mangkubumi. Bahkan ada satu dua orang diantara mereka, yang diluar sadar, telah melambaikan tangannya pula, “He” desis kawannya sambil menggamitnya ”apa yang kau lakukan ? Apakah mereka kawan-kawanmu ?“ Prajurit yang melambaikan tangan itu terkejut. Namun kemudian ia menjawab ”Bukan. Bukan apa-apa. Tetapi aku tahu bahwa anak bibiku ada yang berada dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi.“ Namun prajurit disebelahnya lagi justru berkata ”Adik kandungku berada dalam pasukan Pangeran Mangkubumi.“ “Dan kau tidak mencegahnya” bertanya kawannya. “Adalah satu kebetulan bahwa aku telah bertemu ketika kami tanpa berjanji bersama-sama pulang pada saat yang sama” sahut prajurit itu, “Apa yang kau katakan kepadanya?” bertanya kawannya. “Aku bertanya apakah ia yakin akan kebenaran langkahnya. Ketika ia menjawab dengan satu keyakinan yang teguh, maka aku berkata kepadanya. Teruskan saja. “ “Apakah kau ingin pada suatu ketika bertemu dengan adikmu di satu medan ?” bertanya kawannya pula.“Seandainya kami bertemu, tidak akan terjadi apa-apa. Aku tidak akan dapat membunuhnya karena ia adalah adik kandungku. Dan ia tidak akan membunuhku, karena ia sudah mendapat pesan dengan sungguh-sungguh dari setiap Senapati di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi, bahwa musuhnya bukan prajurit Surakarta.“ “Omong kosong” jawab seorang prajurit berkumis lebat ”ternyata banyak juga prajurit Surakarta yang mati.“ “Hal itu tidak akan mungkin dihindari. Apa yang harus dilakukan oleh seseorang jika orang lain berusaha membunuhnya? Kitalah yang dengan dendam dan benci tanpa tahu alasan dan sebabnya memusuhi mereka.” jawab prajurit itu. “Nampaknya kau sudah mulai terpengaruh oleh adik kandungmu itu.” berkata prajur it berkumis lebat. Kawannya yang lain tiba-tiba menengahinya ”Sudahlah. Kita harus memikirkan, bagaimana kita akan menyebetang. Tukang-tukang satang itu menjadi ketakutan dan lari tidak tentu arah. Tentu saja kita tidak akan dapat berenang melintasi bengawan ini.“ Kawan-kawannya yang hampk saja berbantah itupun terdiam. Pasukan Pangeran Mangkubumi sudah menjauh. Dan gelap yang turunpun menjadi semakin pekat. Namun akhirnya pasukan itu harus menyusur tepian kearah yang berbeda dengan pasukan Pangeran Mangkubumi untuk menemukan tempat penyeberangan yang lain. Ketika pasukan yang pertama, yang dipimpin oleh letnan Belangker mendekati gerbang kota. maka sudah terasa olehnya, bahwa kedatangannya tentu sudah terlambat. Belangker sudah menduga, bahwa yang mencegatnya dipinggir bengawan itu adalah pasukan Pangeran Mangkubumi yang baru saja menduduki kota.Karena itu, demikian pasukan yang sudah tidak utuh lagi itu memasuki kota. maka yang nampak dimana-mana adalah kesepian dan kegelapan yang mencengkam. “Gila” geram letnan Belangker ”kita terlambat. Kota sudah ditinggalkan. Sedangkan pasukan kita sendir i menjadi parah.“ Senapati Surakarta yang menyertainya tidak menjawab. Pasukan itu memang sudah parah. Selain yang luka. banyak diantara mereka yang terbunuh. Bahkan mungkin masih terdapat kawan-kawan mereka yang terluka tertinggal di pinggir bengawan, selain yang terbunuh. “Kita menuju ke istana Susuhunan” desis Belangker ”apa yang terjadi diistana itu.“ Senapati itu hanya mengangguk saja. Namun harapannya sudah sangat tipis bahwa mereka akan dapat bertemu dengan kawan-kawannya didalam istana. Bahkan timbul sebuah pertanyaan ”Apakah Kangjeng Susuhunan masih berada di istana? “ Surakarta benar-benar sepi seperti kuburan. Jika prajurit Surakarta masih menguasai keadaan, mereka tentu akan nampak di jalan-jalan, terutama di jalan-jalan utama. Namun seperti yang di katakan oleh Belangker, pasukan yang sudah terluka parah itu menuju ke istana melalui gerbang samping. Sejenak Belangker termangu-mangu berdir i di pintu gerbang yang tertutup rapat. Namun akhirnya iapun mengetuk gerbang itu dengan keras setelah memperingatkan pasukan yang tersisa untuk bersiaga. Sebenarnyalah pasukan yang berada didalam istana itupun telah bersiap menghadapi kemungkinan yang terakhir dari serangan pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Ketika penjaga regol yang siap dengan senjata telanjang mendengar kehadiran satu pasukan diluar pintu, mereka telah bersiap-siap. Seorang diantara mereka telah melaporkan dan seorang Senapati telah berada digerbang itu pula. Ternyata yang terdengar diluar regol adalah suara letnan Belangker. Namun Senapati itu tidak segera membuka pintu gerbang. Seorang prajurit ditugaskannya untuk melihat pasukan itu lewat tangga yang disandarkan pada dinding halaman samping. “Siapa tahu. seorang kumpeni yang tertawan telah dipaksa untuk mengetuk pintu.” berkata Senapati itu. Prajurit yang menengok mereka lewat dinding halaman itu kemudian melihat, bahwa sebenarnyalah yang berada di dalam gelapnya malam di luar dinding adalah prajur it Surakarta dan kumpeni. Setelah memberi isyarat kepada Senapati yang berada di depan regol, maka Senapati itupun memer intahkan untuk membuka pintu regol. Letnan Belangkerlah yang kemudian bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan ia menduga, bahwa yang berada di balik pintu regol itu bukan lagi prajur it Surakarta dan kumpeni, tetapi pasukan Pangeran Mangkubumi. Demikian regol itu terbuka, maka mereka akan langsung menyerangnya. Namun ternyata tidak seperti yang dicemaskannya. Ketika pintu terbuka, maka eorang Senapati berdir i tegak menyambut kedatangan pasukan itu. Letnan Belangkerpun kemudian menyatakan, bahwa pasukan itu adalah pasukan yang berada di Jatimalang. Setelah mendapat laporan bahwa kota diserang, merekapun dengan tergesa-gesa telah berusaha untuk mencapai kota. “Silahkan membawa pasukanmu masuk” Senapati itu mempersilahkan.Dalam pada itu, Belangkerpun telah diterima oleh perwira- perwira kumpeni. Seorang kapten bertanya dengan nada keras ”Kau hanya membawa sebagian kecil dari pasukanmu?” Letnan Belangker menjadi berdebar-debar. Tetapi iapun harus melaporkan apa yang telah dialaminya. Kapten itu mengumpat-umpat. Tetapi ia tidak dapat menyalahkan letnan Belangker. Yang terjadi benar-benar diluar kemampuan pengamatan dan perhitungannya. “Jadi. bagaimana dengan pasukan yang kau tinggalkan di seberang bengawan” bertanya kapten itu. “Mudah-mudahan mereka dapat mencar i jalan sendir i” jawab Belangker. Kami tidak dapat memberikan petunjuk apa- apa, karena demikian kami mendarat dari rakit-rakit yang menyeberangkan kami, pasukan itu tiba-tiba saja telah menyerang. Sebagian dari kami terjerumus kedalam bengawan. Sebagian yang lain tidak dapat mengelakkan senjata, mereka.“ Kapten itu mengumpat-umpat semakin keras. Namun akhirnya ia bertanya ”Bagaimana keadaan kota setelah kau lewat pintu gerbang dan memasuki kota ini “ “Sepi, seperti kuburan” desis Belangker itu. “Jadi pasukan orang-orang liar itu. benar-benar telah pergi?” bertanya kapten itu. “Ya. Kami tidak menjumpai mereka didalam kota, kecuali diipinggir bengawan itu,” jawab Belangker. Kapten itupun kemudian memerintahkan para prajurit dan kumpeni yang terluka untuk mendapat perawatan. Namun Belangkerpun melaporkan bahwa mungkin masih ada orang- orang terluka yang tertinggal.“Kita akan pergi ke bengawan” berkata kapten itu ”kita akan singgah di loji, dan membawa kumpeni yang tersisa bersama kami.” “Tidak ada lagi lawan seorangpun” desis Belangker. “Siapa tahu” jawab kapten itu ”mereka sangat licik dan pengecut.“ Belangker t idak menjawab, lapun menganggap pasukan lawan itu licik dan pengecut. Demikianlah, maka sebagian pasukan yang berada di halaman istana itu keluar dari regol samping. Diantara mereka terdapat Belangker dan beberapa orangnya yang tidak cidera, sementara yang lain mendapat kesempatan untuk berisrahat, dan apabila perlu mereka dapat menggant ikan pasukan yang meninggalkan istana itu. Dalam pada itu, pasukan kecil itupun telah menjelajah jalan-jalan kota. Mereka singgah di loji dan memberitahukan kepada pimpinan pasukan kumpeni yang tersisa di loji itu, bahwa kapten itu memerlukan kumpeni yang ada untuk bersama-sama pergi ke bengawan. “Berbahaya kapten” jawab seorang kumpeni ”bagaimana jika pasukan liar itu masih berada ditepi bengawan” “Kita singgah di barak pasukan berkuda Surakarta. Prajurit yang tersisa akan bersama kita, dan demikian pula prajurit- prajurit yang lain.“ Dalam waktu singkat dan tergesa-gesa, disusun sepasukan prajurit yang cukup banyak, yang akan pergi ke bengawan. Mereka seolah-olah sudah siap seandainya pasukan Pangeran Mangkubumi masih berada di tempat itu. Namun menurut perhitungan kapten itu, Pangeran Mangkubumi yang telah meninggalkan kota dan tidak memburu pasukan Belangker, tentu telah pergi.Dengan diam-diam pasukan itu meninggalkan kota. Pintu gerbang kota sama sekali tidak dijaga oleh seorang prajur it- pun. Sepinya kota Surakarta apalagi di malam har i, memang seperti yang dikatakan oleh letnan Belangker. Seperti kuburan. Namun pasukan itu terkejut, ketika tiba-tiba saja muncul dari dalam kegelapan, sepasukan laskar dihadapan mereka. Dengan serta meria, kapten itupun meneriakkan aba-aba agar pasukannya segera bersiap menghadapi kemungkinan. Tetapi ternyata aba-aba itu telah memperkenalkan pasukan itu kepada pasukan yang baru datang. Pasukan yang datang itu adalah prajur it yang telah ditinggalkan oleh Belangker di seberang bengawan. Sehingga dengan demikian, maka dapat dihindar i salah paham. Ternyata prajurit yang baru datang itu harus menempuh perjalanan beberapa lama sebelum mereka menemukan tempat penyeberangan yang lain. Baru kemudian mereka berhasil menyeberang dan dengan tergesa-gesa menuju ke kota. “Kita akan mengambil kawan-kawan kita yang terbunuh dan terluka di pinggir bengawan” berkata Belangker kepada pasukannya yang baru datang itu. Yang kemudian memer intahkan mereka untuk ikut serta menuju ke bengawan. Ternyata bahwa prajurit Surakarta dan kumpeni itu tidak menjumpai hambatan apapun juga. Mereka sempat mengambil kawan-kawan mereka yang terbunuh dan terluka. Dengan obor-obor mereka mencari diantara semak-semak dan pohon-pohon perdu di pinggir bengawan itu. Namun yang kemudian mereka katakan kepada kawan- kawan mereka setelah mereka kembali ke Surakarta, bahwa pasukan mereka telah berhasil menghalau pasukan Pangeran Mangkubumi.Malam itu juga, prajurit Surakarta dan kumpeni yang telah yakin bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi telah menar ik dirii telah turun ke jalan-jalan. Pasukan berkuda telah meronda sampai kesudut-sudut bahkan sampai keluar regol kota. Malam itu juga seorang kapten kumpeni menghadap Kangjeng Susuhunan yang masih tetap berada diantara para pimpinan prajurit di Surakarta untuk melaporkan bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi telah mundur. “Kami telah menghalau mereka“ berkata kapten itu. Untuk beberapa saat Kangjeng Susuhunan tetap terdiam, Sementara kapten itu berkata pula “Kami berhasil memukul mundur pasukan Pangeran Mangkubumi dari kota dan mendesaknya sampai kepinggir bengawan. Akhirnya pasukan Pangeran Mangkubumi itu mundur kearah Utara menyusuri tepian. Mereka meninggalkan mayat dan kawan-kawan mereka yang terluka. “ Kangjeng Susuhunan itupun mengerutkan keningnya. Kemudian ia berkata ”Aku ingin bertemu dengan orang-orang yang terluka itu, Dimana mereka sekarang ?“ Pernyataan itu membuat kapten yang memberikan laporan itu tergagap. Namun akhirnya ia menjawab ”Mereka masih berada di tepi bengawan.“ “Aku akan pergi ke tepi bengawan.” sabut Kangjeng Susuhunan dengan nada datar. -

Jilid 25
“Jangan, jangan Kangjeng Susuhunan. Tuan harus tetap tinggal di istana. Sangat berbahaya bagi Tuan jika Tuan keluar dari istana apalagi pergi ke bengawan. Mungkin masih ada satu dua kelompok kecil orang-orang yang ingin membunuh diri” desis kapten itu. Lalu “mohon Tuan mengetahui, pasukan Pangeran Mangkubumi adalah pasukan liar yang licik” Tetapi jawab Kangjeng Susuhunan bena-benar mengejutkan “Aku muak mendengar bualanmu. Jangan berbohong kepadaku. Aku mengerti apa yang terjadi di luar dinding halaman istana ini” Kapten itu termangu-mangu. Namun iapun sadar, bahwa Kangjeng Susuhunan tentu sudah mendengar laporan serba sedikit tentang apa yang telah terjadi. Tetapi kapten kumpeni itupun yakin, bahwa yang dikatakan oleh Kangjeng Susuhunan itu adalah sekedar untuk menutupi kecemasannya saja. Namun sementara itu, jalan-jalan kota Surakarta rasa- rasanya menjadi hidup lagi meskipun di malam hari. Tetapi yang hilir mudik di jalan-jalan adalah para prajurit dan kumpeni dengan lagak mereka masing-masing. Seolah-olahmemang merekalah yang telah berhasil mengusir pasukan Pangeran Mangkubumi yang sekitar setengah hari telah menguasai kota. Ternyata kota itu menjadi semakin ramai menjelang pagi hari. Ternyata pasukan yang meninggalkan Penambangan dengan penuh kesal telah memasuki kota pula. Penduduk kota Surakarta sendiri masih belum berani keluar dari rumah atau tempat mereka mengungsi. Yang berada di halaman istana masih tetap berada di halaman, sementara yang menutup pintu rumahnya erat-erat, masih belum juga berani membuka. Namun pagi hari itu Surakarta menjadi ramai. Pasukan yang datang dari Penambangan itupun sangat mengejutkan. Mereka membawa kawan-kawan mereka yang terluka. Namun ternyata bahwa ada pula kawan-kawan mereka yang hanya kembali namanya saja, karena mereka tidak sempat membawanya. Dalam pada itu, Kumpeni benar-benar merasa terpukul. Mereka yang menganggap dir inya memiliki banyak kelebihan dari orang-orang pribumi dengari pengalaman mereka menjelajahi benua dan samodra, ternyata telah gagal mutlak meskipun mereka telah menyusun rencana dengan cermat dengan mengerahkan hampir seluruh kekuatan kumpeni yang berada di Surakarta. Namun beberapa orang perwira, kumpeni memang orang- orang yang cerdas. Demikian mereka bertemu setelah kegagalan-kegagalan itu, maka mereka langsung mengurai sebab-sebab dari kegagalan mereka. Satu kesimpulan yang mereka dapatkan adalah, bahwa rencana mereka agaknya telah bocor “Tentu ada pengkhianat di antara kita” berkata kumpeni- kumpeni itu.Beberapa orang perwira prajurit Surakarta yang mendengarkan kesimpulan itupun sependapat. Kegagalan yang pahit itu agaknya bukan satu kebetulan. Dengan demikian, maka kecur igaan-kecur igaan mulai timbul di antara para perwira di Surakarta. Bebocoran itu tidak mungkin dilakukan oleh para perwira kumpeni. Karena itu, maka pengkhianat itu tentu terdapat di lingkungan orang- orang Surakarta sendiri. Perwira-perwira prajurit Surakarta memang sulit untuk membantah. Agaknya memang tidak mungkin j ika seorang kumpeni dengan sengaja telah membocorkan rahasia yang mereka pegang teguh. Menurut pengetahuan para perwira di Surakarta, tidak seorang perwira kumpenipun yang mempunyai kepentingan lain di Surakarta, kecuali tugas-tugas yang mereka emban sebagai prajur it dan pimpinan kumpeni. Namun para perwira itu, baik perwira kumpeni maupun perwira prajurit Surakarta telah berjanji untuk bersama-sama menemukan, siapakah pengkhianat yang telah menghancurkan segala rencana yang telah disusun sebaik- baiknya. “Pengkhianatan ini tidak kalah berbahayanya dari pengkhianatan Pangeran Ranakusuma dan anak laki-lakinya yang semula berada di lingkungan pasukan berkuda” berkata seorang perwira kumpeni. Bagaimanapun juga para perwira prajurit Surakarta itupun ikuit tersentuh pula perasaan mereka. Tetapi mereka tidak dapat membantah, diam merekapun tidak dapat mengatakan yang lain dari kenyataan itu. Kenyataan dari sudut pandangan kumpeni dan para prajur it dari Surakarta. Dalam pada itu, ketika matahari menjadi semakin tinggi dan tidak terdengar lagi pertempuran-pertempuran di dalam kota, maka satu demi satu penduduk yang ketakutan itupun mencoba membuka pintu rumahnya. Yang mengungsi dihalaman istanapun telah diberi tahu oleh para prajurit bahwa keadaan sudah menjadi aman. “Kami telah menghalau pemberontak-pemberontak itu” berkata seorang sersan kumpeni “Kami membunuh orang- orang yang keras kepala” Para pengungsi itu menjadi berdebar-debar. Tetapi prajurit Surakarta sendiripun memberitahukan kepada mereka, bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi memang sudah ditarik dari kota. Satu demi satu, orang- orang yang mengungsi itupun keluar dari gerbang samping. Ketika ternyata jalan-jalan tidak lagi menjadi ajang pertempuran, maka merekapun keluar seperti laron keluar dari liangnya. Berduyun-duyun dan setengah berlari-lari orang- orang yang mengungsi itu pulang ke rumah masing- masing. Di sepanjang jalan mereka merasa aman karena mereka banyak berpapasan dengan prajurit yang meronda. Bahkan merekapun bertemu pula dengan kumpeni-kumpeni berkuda yang melibat lihat keadaan kota Surakarta setelah setengah hari dikuasai oleh pasukan Pangeran Mangkubumi. Namun demikian, beberapa rumah masih tertutup rapat. Regol beberapa orang bangsawanpun masih belum terbuka. Ketika seorang perwira kumpeni dengan beberapa orang pengawalnya lewat di muka pintu gerbang istana Sinduratan, maka mereka melihat pintu regol masih tertutup rapat. Tetapiketika seorang di antara mereka di luar sadar menyentuh pintu gerbang itu, ternyata pintu itu tidak diselarak, sehingga pintu itupun terbuka sejengkal. Perwira kumpeni itupun t iba-tiba saja telah tertarik untuk memasuki halaman istana itu. Beberapa ekor kuda itupun kemudian berderap memasuki halaman. Beberapa orang pelayan istana itu terkejut. Seorang di antara merekapun telah memberitahukan kehadiran beberapa orang kumpeni itu kepada Pangeran Sindurata dan kepada Raden Ayu Galihwarit. Jantung puteri itupun berdebar. Bagaimanapun juga ia mempunyai hubungan dengan per istiwa yang baru saja terjadi. Namun demikian, sebagaimana ia pandai memulas wajahnya, maka seolah-olah tidak ada kegelisahan apapun juga, ia keluar dari seketheng. Ketika Raden Ayu sampai di halaman, ayahandanya telah berada di halaman. Perwira kumpeni. dan para pengawalnya yang sudah meloncat turun itupun menjadi kecewa ketika yang menemui mereka adalah Pangeran Sindurata. Namun akhirnya mereka tersenyum juga ketika mereka melihat Raden Ayu keluar sambil tertawa. “Marilah, aku persilahkan kalian naik ke pendapa “ Raden Ayu itu mempersilahkan. “Aku juga sudah mempersilahkan” sahut Pangeran Sindurata. Perwira itu ternyata menguasai bahasa yang diucapkan oleh Raden Ayu Galihwarit. Tetapi beberapa orang kawannya tidak mengerti, sehingga mereka hanya mengangguk-angguk dan tersanyum-senyum saja. “Terima kasih” jawab perwira itu “aku sedang bertugas. Tetapi kenapa pintu itu tidak di kancing. Apakah kalian tidak cemas dengan pemberontak-pemberontak itu?““Tentu” jawab Raden Ayu mendahului ayahandanya “kami baru saja membuka selaraknya ketika keadaan menjadi berangsur baik. Sebelumnya kami telah menyelaraknya. Kami takut, jika ada dendam di antara bekas pengawal Pangeran Ranakusuma. Karena mereka tidak dapat melepaskan dendam mereka kepada para prajurit atau kumpeni, mereka akan dapat mencari sasaran yang tidak akan dapat melawan” Perwira itu tertawa. Katanya “Jangan takut. Pemberontak- pemberontak itu tidak akan dapat berbuat-apa-apa. Mereka datang untuk menyerahkan nyawa beberapa orang di antara mereka tanpa hasil yang pantas untuk mereka” “Tetapi kami bukan prajurit” jawab Raden Ayu. “Dalam keadaan yang gawat rumah ini tentu akan mendapat pengawasan yang sebaik-baiknya” jawab perwira itu. “Terima kasih. Marilah, silahkan duduk“ sekali lagi Raden Ayu itu mempersilahkan. Tetapi kumpeni itu menggeleng. Jawabnya “Aku akan meneruskan tugas ini. Kami mohon diri Pangeran” Pangeran Sindurata yang mendengarkan pembicaraan itupun menyahut dengan serta merta “Silahkan. Terima kasih atas perhatian kalian” Sejenak kemudian kumpeni-kumpeni itupun meninggalkan istana Sindurata. Demikian mereka hilang di balik regol, maka Pangeran Sinduratapun berkata “Hati-hatilah Galihwarit. Tentu mereka bukannya tidak mempunyai maksud tertentu datang kemari. Mungkin mereka mengira atas beberapa keterangan, bahwa tempat ini menjadi tempat persembunyian orang-orang Pangeran Mangkubumi. atau dugaan-dugaan lain yang menyangkut persoalan seperti itu. Karena itu, kedatangan anak-anak padepokan itu membuat aku menjadi cemas”Tetapi Raden Ayu itupun hanya tertawa saja. Bahkan kemudian ia berkata “Jangan cemas ayahanda. Hanya itulah yang dapat aku persembahkan kepada Surakarta. Mungkin sebuah permata. Tetapi aku harus memungutnya dari dalam lumpur” Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun segera meninggalkan Raden Ayu dan naik. ke pendapa. Sejenak kemudian Pangeran itupun telah hilang di balik pintu pringgitan. Raden Ayu Galihwarit termangu-mangu sejenak di halaman. Ia sadar betapa kotornya cara yang ditempuhnya. Iapun sadar, bahwa Warih yang telah dewasa itu tersiksa dengan sikapnya. Tetapi ia tidak mempunyai cara lain untuk mengabdi kepada Surakarta sebagai tebusan atas segala kesalahan yang pernah dilakukannya terhadap suami dan rakyat, bahkan yang telah merampas korban anak laki-lakinya pula. Raden Ayu itu menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia melangkah ke seketheng. Namun ia terkejut ketika Raden Ayu itu melihat anak gadisnya muncul dengan tergesa-gesa “Apa yang terjadi ibunda. Aku baru dari pakiwan ketika aku mendengar dari seorang pelayan, bahwa beberapa orang kumpeni telah datang?“ Betapa pahitnya, namun Raden Ayu itupun tersenyum, Jawabnya “Tidak apa-apa manis” Tetapi Rara Warih masih saja gelisah dan bertanya pula “Apakah ada hubungannya dengan peristiwa yang baru saja terjadi?“ “Tidak. Tidak ada apa-apa. Kita menjadi gelisah karena kita mengetahui apa yang kita lakukan. Tetapi orang lain yang tidak mengetahuinya, tidak akan menjadi gelisah seperti kita” jawab ibundanya.“Jadi, kenapa mereka singgah?“ bertanya gadis itu pula. “Tidak apa-apa. Mereka sedang meronda. Aku kira mereka memasuki setiap halaman istana untuk menanyakan keselamatan setiap penghuninya. Dengan demikian, maka mereka berusaha untuk mendekati hati rakyat Surakarta, seolah-olah mereka adalah pelindung-pelindung yang baik” jawab Raden Ayu Galihwar it. Rara Warih tidak bertanya lagi. Bersama ibundanya iapun kembali ke ruang dalam lewat pintu samping di belakang seketheng. Dalam pada itu. perlahan-lahan Surakarta mulai hidup kembali. Orang-orang yang merasa bahwa keadaan menjadi semakin aman. telah membuka pintu rumahnya. Mereka menjadi sibuk dengan keperluan mereka masing- masing setelah di har i sebelumnya mereka tidak sempat berbuat apa-apa. Bahkan makanpun rasa- rasanya mereka tidak sempat melakukannya oleh kegelisahan, kecemasan dan ketakutan. Sementara orang-orang Surakarta mulai melakukan kewajibannya sehari-hari, maka para prajuritpun masih saja hilir mudik di setiap pintu gerbang, nampak pasukan yang kuat berjaga- jaga. Di istana, ternyata Kangjeng Susuhunan masih saja di bayangi oleh kegelisahan. Bahkan kemudian KangjengSusuhunan itu memerintahkan para Panglima untuk bersiap- siap. Katanya “Aku akan melihat, apa yang telah terjadi di Surakarta” Seorang Kapten kumpeni dengan ragu-ragu mencoba mencegahnya. Katanya “Kangjeng Susuhunan, sebaiknya tuan tidak meninggalkan istana. Mungkin masih terjadi sesuatu. Selebihnya biarlah kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh pemberontak itu dibenahi. Dengan demikian Kangjeng Susuhunan tidak akan melihat betapa liarnya pasukan pemberontak itu. Hal itu hanya akan menambah gelisah Kangjeng Susuhunan saja” “Kapten” jawab Kangjeng Susuhunan “Aku adalah prajurit seperti kau. Seandainya aku bertemu dengan pasukan lawanpun aku t idak akan lari. Aku dapat memimpin sendiri pasukan Surakarta untuk menghadapi mereka di medan” “Tetapi Kangjeng Susuhunan sekarang adalah seorang Raja. Dalam keadaan tertentu, maka keselamatan Kangjeng Susuhunan merupakan masalah bagi seluruh prajur it Surakarta, karena Kangjeng Susuhunan adalah pemegang kekuasaan di Surakarta. Jika terjadi sesuatu atas Kangjeng Susuhunan, maka akibatnya bukan saja di bidang keprajur itan yang kebilangan pengikatnya” “Dengan demikian maka seorang Raja akan menjadi golek pajangan yang tidak berarti apa-apa bagi rakyatnya” jawab Kangjeng Susuhunan. Lalu “Aku memerintahkan untuk mempersiapkan pasukan. Aku akan melihat-lihat keadaan seluruh kota. Aku tidak akan mempergunakan kereta, tetapi aku akan berkuda” Tidak ada orang yang dapat mencegahnya lagi. Kangjeng Susuhunan memang ingin melihat apa yang telah dilakukan oleh pasukan Pangeran Mangkubumi di dalam kota Surakarta. Sejenak kemudian, maka pasukan pengawal Kangjeng Susuhunan itupun sudah siap. Kuda yang akandipergunakannya itupun telah siap pula. Seekor kuda yang tegar dan berwarna gelap. Ketika terdengar aba-aba di belakang regol halaman samping istana Kangjeng Susuhunan, maka regol itupun perlahan lahan terbuka. Dengan gelar kebesaran sepenuhnya Kangjeng Susuhunan meninggalkan halaman istana mengelilingi kota Surakarta untuk melihat apa yang telah terjadi sebenarnya. Sebagaimana seorang prajurit, maka Kangjeng Susuhunanpun membawa kelengkapan seorang prajurit. Seorang Senapati pengawal yang berkuda dekat di belakangnya membawa sebatang tombak pendek yang dibelit dengan cinde pada tangkainya, sementara seorang yang lain membawa songsong kebesaran yang berwarna emas. Rakyat Surakarta yang baru saja berani turun ke jalan telah terkejut melihat iring- iringan itu. Mereka melihat songsong keemasan yang mereka kenal sebagai songsong Kangjeng Susuhunan sendir i. Meskipun semula mereka ragu-ragu, namun akhirnya mereka melihat, sebenarnyalah bahwa Kangjeng Susuhunan telah menelusur i jalan-jalan kota untuk melihat-lihat keadaan. Dalam pada itu, Kangjeng Susuhunan sendiri menjadi berdebar-debar ketika ia sudah berada di jalan-jalan raya. Rasa-rasanya ia akan melihat, betapa kota Surakarta mengalami kerusakan yang sangat berat karena kehadiran pasukan Pangeran Mangkubumi. Rumah-rumah banyak yang dibakar dan hancur menjadi abu. Apalagi rumah-rumah mereka yang dianggap berhubungan dengan orang-orang asing yang berada di Surakarta. Bahkan mungkin istana-istana Pangeran yang berpihak kepada Kangjeng Susuhunan. Namun sedikit demi sedikit ketegangan itupun mulai mengendor. Setelah menempuh sebagian kecil jalan-jalan di kota Surakarta maka sambil menarik nafas dalam-dalam Kangjeng Susuhunan itu bergumam di dalam hati “AdimasMangkubumi memenuhi janjinya. Ia tidak memusuhi rakyat Surakarta” Sebenarnyalah tidak banyak kerusakan yang berarti di kota Surakarta. Jika ada kerusakan-kerusakan kecil, maka hal itu dapat di mengerti. Dalam pertempuran yang terjadi di seluruh kota maka sudah tentu terjadi hentakan-hentakan perasaan yang sulit dikendalikan. Namun dalam keseluruhan, Kangjeng Susuhunan benar-benar mengagumi kesetiaan Pangeran Mangkubumi kepada janj inya. Ketika iring- iringan itu melintas tidak terlalu jauh dari loj i yang dihuni kumpeni, maka Kangjeng Susuhunan telah melihat beberapa bangunan yang hancur. Tetapi sama sekali bukan karena perbuatan pasukan Pangeran Mangkubumi. Menilik bekas-bekasnya, justru meriam kumpenilah yang telah menghancurkannya. Agaknya kumpeni berusaha mengusir pasukan Pangeran Mangkubumi yang mendekati loji itu dengan tanpa menghiraukan apakah peluru meriamnya akan dapat menimbulkan kerusakan justru pada rumah-rumah penduduk. Ketika Kangjeng Susuhunan berpaling kearah seorang perwira kumpeni yang ada di dalam ir ing-ir ingan itu, maka dengan sengaja kumpeni itu berpura-pura menunduk memperhatikan sesuatu pada dirinya. Demikianlah, maka Kangjeng Susuhunan melihat sendiri apa yang telah terjadi, seolah-olah ia melihat saat-saat pasukan Pangeran Mangkubumi berada di dalam kota selama kira-kira setengah hari. Namun dalam pada itu, bahwa Kangjeng Susuhunan telah turun ke jalan-jalan raya, di kota, maka rasa-rasanya rakyat Surakartapun menjadi semakin tenang. Mereka merasa, bahwa Kangjeng Susuhunan itu benar-benar telah memperhatikan keadaan mereka.Ternyata bahwa Kangjeng Susuhunan tidak sekedar melalui jalan-jalan raya saja. Dalam beberapa hal, Kangjeng Susuhunan justru melintas di jalan-jalan sempit Bahkan turun di halaman seseorang untuk berbicara dengan penghuninya yang menyambut kehadiran Kangjeng Susuhunan sambil berjongkok di halaman. Dari percakapan-percakapan itupun Kangjeng Susuhunan mengetahui bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi memang tidak mengganggu rakyat Surakarta dari tingkatan yang paling tinggi sampai tingkatan yang paling rendah, kecuali benturan- benturan senjata dengan para prajurit. Demikianlah setelah melihat-lihat keadaan seluruh kota, maka Kangjeng Susuhunanpun kembali ke istana dengan kesan tersendiri Namun demikian, Kangjeng Susuhunan tidak banyak berbicara dengan para pengawalnya dan dengan para perwira kumpeni. Namun dalam pada itu, para perwira kumpeni dan para Senapati di Surakarta, masih tetap pada sikap mereka. Menurut pengamatan mereka, tentu ada pengkhianat yang tersembunyi di lingkungan mereka sehingga rencana-rencana yang telah mereka susun sebaik-baiknya itu dapat diketahui oleh lawan. Dalam pada itu, selagi rakyat Surakarta berusaha memulihkan keadaan kehidupan mereka sehari-hari, di istana telah diterima laporan bahwa Raden Mas Said yang meninggalkan Penambangan telah menyusun pemerintahan di daerah Keduwang. Keduwang telah menjadi daerah pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Bupati yang memer intah bagi Raden Mas Said sendir i telah bersiap-siap untuk kembali ke Penambangan. “Penambangan telah hancur” geram perwira kumpeni yang memimpin sergapan ke Penambangan yang gagal itu.“Ia akan dapat membangun daerah itu dalam waktu singkat meskipun dengan bangunan-bangunan darurat Tetapi Penambangan mempunyai daerah yang subur yang dapat menjadi lumbung bagi pasukan Raden Mas Said” jawab salah seorang Senapati prajurit Surakarta. Kumpeni itu hanya dapat mengumpat. Untuk menyerang Penambangan lagi tentu memerlukan waktu dan perhitungan yang cermat, karena kegagalan yang mereka alami itu, telah mengecilkan arti kumpeni bagi Surakarta. Karena itu, maka kumpeni dan para Senapati akan berusaha mencari lebih dahulu, siapakah pengkhianat yang berada di antara mereka. Sehingga dengan demikian, maka untuk sementara kumpeni tidak mempunyai rencana untuk menyerang. Kumpeni dan pasukan Surakarta memusatkan kekuatannya pada tempat-tempat tertentu yang merupakan pusat-pusat pertahanan untuk membendung seandainya ada serangan sekali lagi ke jantung kota. Sepasukan prajurit dan kumpeni yang diper lengkapi dengan senjata-senjata api dan meriam kembali berada di Jatimalang, sementara pasukan yang lain berada di padukuhan sedikit di luar kota menghadap ke arah Sukawati. Meskipun demikian bukan berarti bahwa tempat-tempat lain diabaikan. Dalam pada itui, Raden Ayu Galihwaritpun mendengar dari mulut para perwira kumpeni yang berbau minuman keras, bahwa di antara prajurit Surakarta tentu ada satu atau lebih pengkhianat yang telah menggagalkan semua rencana kumpeni yang telah tersusun rapi, “Siapa lagi yang akan berkhianat?“ bertanya Raden Ayu Galihwar it kepada seorang perwira kumpeni yang masih muda. Perwira itu menggeleng. Jawabnya “Itulah yang harus kami cari”“Pengkhianat itu harus dapat ditangkap sebelum meledak seperti Pangeran Ranakusuma yang langsung memberontak di dalam gelar yang dipimpinnya. Dengan demikian ia telah menikam langsung dari dalam tubuh sendiri. Bahkan anak laki- lakinyapun telah ikut pula melakukannya” “Aku muak mendengar namanya” geram Raden Ayu Galihwar it “ketika aku masih berada di istana Ranakusuman anak itu aku usir pergi. Aku tidak mau tinggal bersama anak anak padesan yang tidak tahu diri. Tetapi demikian aku meninggalkan istana itu sepeninggal anak laki-lakiku sendir i, maka anak padesan itu telah dipanggil masuk. Agaknya keduanya menemukan jalan yang sama. Berkhianat” Perwira itu mengangguk-angguk. Katanya “Tetapi bukankah Pangeran Ranakusuma sudah mati?“ “Tetapi anak yang memuakkan itu justru masih hidup” sahut Raden Ayu Galiihwar it “bahkan anak itu telah sempat menjerumuskan anak gadisku ke dalam tangan pasukan berkuda yang menganggap bahwa dengan menahan Warih, Juwiring akan menyerah. O, alangkah mudahnya mengambil satu kesimpulan. Juwiring dan Warih bagaikan air dengan minyak. Bahkan seandainya Warih digantung sekalipun, Juwiring tidak akan meratapinya. Bahkan ia akan mengucap sukur bahwa pada satu kesempatan ia akan dapat memiliki semua peninggalan Pangeran Ranakusuma” “Ya. Raden Ayu benar. Memang bodoh itu Panglima pasukan berkuda” sahut perwira kumpeni itu “Tetapi bukankah Raden Ayu sudah dapat mengambil gadis itu dan membawanya pulang?” “Sudah. Dengan surat kumpeni aku telah membawanya pulang” jawab Raden Ayu. “Itu sudah cukup untuk sementara” jawab perwira itu “kumpenilah yang selanjutnya akan menangkap pengkhianat kecil itu dan menggantungnya di alun-alun. Kepalanyakemudian akan dipenggal dan ditanjir dengan ujung tombak di gerbang samping istana Kangjeng Susuhunan, agar setiap orang yang lewat mengerti, apa yang pantas oleh para pengkhianat” Raden Ayu hanya mengangguk-angguk saja. Namun dengan demikian ia mengerti bahwa kumpeni benar-benar sedang berusaha untuk menemukan seorang pengkhianat di antara para prajurit Surakarta. Karena itu, maka Raden Ayu itupun menjadi semakin berhati-hati. Iapun sadar, bahwa jika mereka tidak menemukan pengkhianat itu di antara para prajurit, maka kumpeni akan berpaling kepada orang-orang yang berhubungan dengan mereka. Ketika di hari-hari ber ikutnya, setelah keadaan kota menjadi tenang kembali, Arum dan Buntal yang memasuki istana Sinduratan telah mendapat peringatan dari Raden Ayu Galihwar it, bahwa keadaan menjadi semakin gawat bagi mereka. “Adalah tepat, bahwa kalian tidak datang bersama Juwiring” berkata Raden Ayu “nampaknya kumpeni menjadi semakin berhati-hati. Meskipun, dalam penyamaran, namun Juwiring akan dapat lebih mudah dikenali oleh kawan- kawannya dari pasukan berkuda yang selalu meronda di seluruh kota”“Ya Raden Ayu. Agaknya Ki Wandawa sudah memperhitungkannya pula, sehingga untuk menghubungi Raden Ayu selanjutnya, kami berdualah yang mendapatkan tugas itu” jawab Buntal. Raden Ayupun kemudian memberitahukan bahwa agaknya untuk sementara kumpeni tidak akan melakukan gerakan- gerakan keluar. Mereka masih akan membuat perhitungan ke dalam, sehingga mereka ingin menemukan lebih dahulu, siapakah pengkhianat yang berada di antara mereka. “Meskipun demikian, bukan berarti bahwa kalian tidak akan lagi sering datang ke tempat ini” berkata Raden Ayu Galihwarit “kecuali mungkin sekali kumpeni merubah pendir iannya sehingga dengan tiba-tiba merencanakan satu gerakan keluar, agaknya kehadiran Arum ke rumah ini dapat memberikan suasana yang lain bagi Warih” Arum menundukkan kepalanya. Iapun merasa, jika ia hadir di istana itu, Rara Warih nampak menjadi gembira, seperti anak-anak yang mendapat kawan untuk bermain. Tetapi jika saatnya untuk meninggalkan istana itu tiba, maka wajah gadis itupun kembali menjadi muram. “Kami akan selalu datang Raden Ayu” berkata Buntal kemudian, namun kalanya pula “Tetapi untuk beberapa hari kami akan melaksanakan per intah Pangeran Ranakusuma” “Perintah yang mana?“ bertanya Raden Ayu. “Di saat terakhir, Pangeran Ranakusuma memerintahkan Kepada Raden Juwiring untuk menyingkirkan sebilah keris yang telah melukai Pangeran Ranakusuma. Agaknya keris itu pulalah yang telah menyebabkan Pangeran itu gugur” jawab Buntal. “Keris Tumenggung Sindura seperti yang pernah kalian ceritarakan itu?” bertanya Raden Ayu Galihwarit. “Ya Raden Ayu” jawab Buntal.“Baiklah. Tetapi kalian benar-benar harus berhati-hati. Keris itu menurut pendengaranku, memang keris linuwih. Sebagaimana nampak pengaruhnya kepada Tumenggung Sindura semasa hidupnya, Ia adalah seorang prajurit yang keras, tegas tetapi juga terlalu cepat mengambil keputusan untuk membunuh. Menurut keterangan beberapa orang yang tentu juga diketahui oleh Pangeran Ranakusuma, namun agaknya tidak sempat mengatakannya kepada Juwir ing, bahwa keris itu menuntut kematian demi kematian. Kematian yang dirahasiakan di dalam lingkungan keluarga Tumenggung Sindurata telah beberapa kali terjadi Tumenggung Wiguna menurut cer itera juga terbunuh oleh keris itu, meskipun ia saudara kandung Tumenggung Sindura sendiri dalam perselisihan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Tetapi rakyat Surakarta menganggap bahwa Tumenggung Wiguna telah ditenung oleh lawan-lawannya yang tersembunyi di dalam lingkungan pasukannya. Beberapa orang ingin menduduki jabatannya, sehingga akhirnya ia meninggal oleh tenung yang keras. Buntal mengangguk-angguk. Sementara itu Raden Ayu berkata selanjutnya “Kelebihan dari ker is itu adalah, bahwa keris itu dapat mempengaruhi pribadi seseorang pada saat- saat tertentu. Seolah-olah keris itupun merupakan satu pribadi yang dapat berbuat sesuatu atas pribadi orang lain pada saat- saat dikehendakinya. Karena itu, kalian harus berhati teguh selama kalian menyimpan keris itu. Aku setuju bahwa keris itu harus segera di labuh ke gunung Lawu. Sebenarnyalah bahwa Tumenggung Sindurapun telah menanggung akibat dari pengaruh keris itu pada pribadinya. Sebelum ia mendapatkan keris itu, pribadinya jauh berbeda dari saat-saat ia mulai menyimpan keris itu. Hampir semua orang yang sebayanya mengetahui akan hal itu” Buntal masih mengangguk-angguk. Kemudian jawabnya “Terima kasih Raden Ayu. Aku akan menyampaikannya kepada Raden Juwiring. Dan sebenarnyalah bahwa menurutrencana kami, besok kami akan membawanya ke Gunung Lawu, mumpung kumpeni agaknya sedang sibuk dengan persoalan ke dalam tubuh sendiri” “Berhati-hatilah” pesan Raden Ayu “namun, demikian kalian kembali dari Gunung Lawu, aku minta kalian segera datang kemari. Mungkin ada sesuatu yang penting perlu kalian ketahui” “Baik Raden Ayu” jawab Buntal “Kami akan segera menghadap setelah kami turun” Demikianlah, Raden Ayu masih memberikan beberapa pesan kepada kedua anak-anak muda itu. Namun kemudian, keduanyapun mendapat kesempatan untuk beristirahat dan berbicara tentang beberapa hal dengan Rara Warih. Lewat tengah hari kedua anak muda itupun minta dir i. Setiap kali mereka harus menjelaskan kepada Rara Warih, bahwa keadaan masih belum mapan jika Rara Warih akan ikut bersama mereka. “Pada saatnya kami akan menjemput puteri” berkata Arum ketika ia melihat wajah itu menjadi muram. Keterangan Raden Ayu itu ternyata telah menguatkan rencana Juwiring untuk meninggalkan pasukannya dalam beberapa hari. Ia ingin memenuhi pesan terakhir dari Pangeran Ranakusuma, untuk menyingkirkan ker is yang sangat berbahaya itu. Bukan saja karena racunnya yang seolah-olah tidak terlawan, tetapi juga karena satu kepercayaan bahwa keris itu dapat mempengaruhi pr ibadi seseorang. Buntal dan Arumpun. kemudian segera menghadap Kiai Danatirta setelah mereka kembali dari kota. Bersama Raden Juwiring mereka memberikan laporan tentang pembicaraan- mereka dengan Raden Ayu Galihwarit kepada Kiai Danatirta.“Sokur lah bahwa Raden Juwiring tidak pergi bersamamu ke kota” desis Kiai Danatirta. “Ya” sahut Arum “hampir di setiap saat kami bertemu dengan prajurit dari pasukan berkuda. Jika kakang Juwiring ada bersama kami, maka satu dan di antara mereka tentu akan dapat mengenalinya, sehingga hal itu akan sangat berbahaya bagi dirinya” “Untuk beberapa saat sebaiknya kakang Juwiring memang tidak usah pergi ke kota” desis Buntal. “Aku memang tidak akan ke kota sampai aku menyelesaikan kewaj iban terakhir yang dibebankan ayahanda kepadaku” jawab Juwir ing. “Jadi kalian benar-benar akan pergi ke Gunung Lawu untuk menyingkirkan keris itu?“ bertanya Kiai Danatirta. “Ya ayah” jawab Jiuwiring “keris itu mempunyai pengaruh yang kurang baik bagi seseorang” “Mungkin” jawab Kiai Danatirta “jika demikian, maka kalian harus mempersiapkan dir i sebelum berangkat. Kalianpun harus memberitahukan, dan selebihnya minta ijin kepada Ki Wandawa” “Aku pernah mengatakan kepada Ki Wandawa tentang rencana itu” jawab Juwiring “Tetapi aku belum mengatakan kepastiannya. Nampaknya sekarang rencana itu sudah pasti. Menurut ibunda Galihwar it, untuk beberapa lamanya kumpeni tidak akan mengadakan gerakan besar-besaran. Karena itu, maka untuk sementara aku tidak per lu menghadap ibunda. Demikian pula Buntal dan Arum. Namun itu bukan berarti bahwa kita semuanya dapat meninggalkan kewaspadaan” “Menurut rencanamu, kapan kau dan adikmu akan berangkat?“ bertanya Juwiring. “Aku juga akan pergi” potong Arum.“Sebaiknya kau tinggal menemani aku Arum” sahut Kiai Danatirta. “Ayah di sini sudah mempunyai banyak kawan” jawab Arum “pokoknya kali ini aku harus ikut. Boleh atau tidak boleh” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian menurut pertimbangannya perjalanan itu tidak terlalu berbahaya, karena mereka akan pergi ke tempat yang sepi dan melewati jalan yang jarang disinggung oleh peronda dari Surakarta. Dengan demikian maka j ika Arum akan ikutpun bagi Juwir ing t idak terlalu banyak keberatannya Karena itu, maka katanya “Ayah, jika Arum memaksa untuk ikut, kami berduapun tidak berkeberatan. Tetapi dengan janji, bahwa Arum akan bersedia berjalan untuk jarak yang panjang sekali dan tidak akan mengeluh sama sekali betapapun letihnya” “Apakah kita tidak akan berkuda?“ bertanya Arum. “Kita akan berkuda sampai di kaki Gunung Lawu. Kemudian kita akan memanjat naik dan meletakkan keris itu di tempat yang tinggi, yang tidak akan pernah disentuh oleh seseorang kapanpun juga” jawab Juwiring. “Kenapa kita harus memanjat? Asal kita sudah sampai ke lereng Gunung Lawu, maka pesan itu sudah terpenuhi. Kakang dapat mencari tempat yang tersembunyi, tetapi tidak usah memanjat naik” desis Arum. “Kau sudah mulai segan” desis Buntal. “Tidak. Aku tidak akan segan meskipun harus naik sampai ke puncak” sahut Arum dengan serta merta. Dengan demikian maka Kiai Danatirtapun tidak dapat menolak. Ia harus melepaskan Arum ikut serta pergi ke Gunung Lawu untuk menyingkirkan keris yang mempunyai kekuatan nggegir isi itu.Ternyata Juwiring tidak menunda-nunda lagi keberangkatannya. Jika pada saatnya, keadaan bertambah gawat, maka ia berharap bahwa ia sudah berada di dalam pasukannya. Malam itu juga Juwiring dan Buntal telah menghadap Ki Wandawa untuk mohon ijin. Bahwa di har i berikutnya mereka akan mohon dir i untuk beberapa hari, mendaki Gunung Lawu untuk menyingkirkan ker is sesuai dengan pesan ayahanda Ranakusuma. “Meskipun tugas ini nampaknya tidak terlalu berat Raden” berkata Ki Wandawa “seolah-olah hanya sekedar membuang barang yang tidak dapat dipergunakan lagi, namun kalian harus tetap berhati-hati. Perjalanan ke, Gunung Lawu, meskipun t idak terlalu jauh, tetapi juga tidak terlalu dekat. Lereng Gunung Lawu masih merupakan hutan yang lebat, yang jarang sekali disentuh kaki manusia” “Terima kasih Ki Wandawa” sahut Juwiring “Aku akan mengikut i segala petunjuk Ki Wandawa dan sudah barang tentu juga ayah Danatirta?” Dengan singkat Ki Wandawa member ikan petunjuk jalan yang paling baik di laluinya, sehingga kemungkinan untuk bertemu dengan prajurit Surakarta atau petugas-petugas sandi sangat kecil. Namun adalah di luar dugaan Juwiring ketika seseorang telah dengan diam-diam mendengarkan pembicaraan itu. Seorang yang bertubuh tinggi kekarberjambang lebat. Dari balik dinding ia mendengar bahwa Raden Juwiring akan memenuhi permintaan ayahanda Pangeran Ranakusuma, bahwa keris yang dipergunakan oleh Ki Tumenggung Sindura itu harus dilabuh di Gunung Lawu. “Bodoh” berkata orang itu kepada seorang kawannya “keris itu adalah keris yang bertuah. Keris yang dapat memberikan kewibawaan kecuali ker is itu sendir i adalah keris yang sakti” “Lalu, apa maksudmu?” bertanya kawannya. “Aku akan mengambilnya dari tangan anak itu“ geramnya. “Tetapi jika anak itu menolak memberikan keris itu kepadamu?“ bertanya kawannya. Orang bertabuh tinggi kekar itu tertawa. Katanya “Anak itu tidak banyak berarti bagiku. Aku dapat menyingkirkannya” “Tetapi, ia adalah seorang yang baik dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi” desis kawannya pula. Tetapi orang bertubuh kekar itu tertawa semakin keras. Katanya “Apakah kau juga ingin menjadi seorang pengawal Pangeran Mangkubumi yang baik? Persetan dengan perjuangan ini. Jika aku berada di antara pasukan Pangeran Mangkubumi, adalah karena aku memerlukan kedok yang paling baik bagi usahaku, selama ini. Ternyata di sini aku benar-benar celah terlindung, Tidak ada seorangpun yang menyangka bahwa seorang dari antara pasukan Pangeran Maingkubumi adalah perampok yang namanya pernah menggetarkan pesisir Utara. ” “Banyak di antara kita di sini perampok-perampok” jawab kawannya “Tetapi justru setelah kita berada di dalam pasukan ini maka kita telah meninggalkan pekerjaan itu untuk kepentingan nama baik pasukan Pangeran Mangkubumi” “Bodoh sekali” desis orang bertubuh kekar itu ”dan aku bukan termasuk orang-orang yang bodoh seperti itu”Kawannya termangu-mangu. Namun orang bertubuh kekar itu berkata “Nah, jika kau t idak terbius oleh pikiran-pikiran bodoh itu, ikut aku ke kaki Gunung Lawu. Kita akan merampas keris itu. Jika kelak pengaruh keris itu telah nampak padaku, dan aku menjadi seorang Tumenggung seperti Tumenggung Widura, maka kau akan mendapat kesempatan menikmati kedudukan itu” Kawannya mengerutkan keningnya. “Seandainya keris itu tidak akan membuat aku menjadi seorang Tumenggung, namun ker is itu adalah keris yang tidak ada duanya. Pangeran Ranakusuma yang kebal oleh segala macam senjata itu ternyata terbunuh oleh keris Ki Tumenggung Widura yang akan dilabuh ke Gunung Lawu itu” orang bertubuh kekar itu melanjutkan. Kawannya jangan menjadi gila dan merasa dirimu berjasa karena kau sudah berada di antara pasukan Pangeran Mangkubumi. Aku tahu, bahwa kau semula adalah perampok juga seperti aku” kawannya itu masih berbicara terus “He, apakah kau tahu, jika kelak perjuangan Pangeran Mangkubumi sudah selesai, maka kau akan ditangkap kembali dan dimasukkan ke dalam penjara seperti yang pernah kau alami. Tetapi jika kita sudah menjadi kaya raya dengan menyimpan harta benda dan memiliki pusaka yang tidak ada duanya, maka kita akan segera memisahkan dir i dan menikmati kekayaan kita itu. Atau mungkin kita mempunyai rencana- rencana lain yang lebih baik lagi” Kawannya mengerutkan keningnya. Kata-kata itu telah menggelitik hatinya. Jika untuk beberapa lamanya ia tenggelam dalam kehidupan yang gelap, maka rasa-rasanya cara yang ditempuh oleh kawannya yang bertubuh kekar itu masuk di akalnya. Karena itu, maka akhirnya ia bertanya “Tetapi apakah kawan-kawan kita tidak mencur igai j ika kita juga pergi demikian anak itu meninggalkan baraknya.“Kita akan mendahuluinya, Besok mereka akan berangkat, malam ini kita minta dir i. Kita dapat menyebut alasan apapun juga. Mungkin saudara atau orang tua kita sakit keras atau alasan-alasan lain yang masuk akal” berkata orang bertubuh tinggi kekar itu. Kawannya kemudian berdesis “Aku akan memikirkannya” “Kau gila. Sekarang kita akan minta dir i. Sampai kapan kau akan berpikir? Kita masih akan membenahi dir i, dan barangkali ada pertimbangan-pertimbangan yang perlu kita dengarkan dari pimpinan kelompok kita” geram orang bertubuh tinggi kekar itu. Kawannya masih termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja ia bertanya “Darimaha kau. tahu segalanya itu?“ “Secara kebetulan aku mendengar pembicaraan itu dari balik dinding ketika anak itu melaporkan kepada Ki Wandawa” jawab orang bertubuh tinggi itu. “Balik dinding yang mana? Apakah kau dapat masuk ke ruang dalam tempat tinggal Ki Wandawa?“ bertanya kawannya. “Nampaknya rahasia ini bukan rahasia yang dianggap sangat penting. Mereka berbicara di serambi,. Tidak di ruang dalam. Adalah kebetulan aku lewat dan berhenti sejenak untuk mengerti apa yang mereka bicarakan. Nah, jika kau ingin ikut menikmati kemukten dari keris itu, ikut lah aku. Aku akan pergi bersama adikku. Ia tentu akan dengan senang hati melakukannya” jawab orang bertubuh tinggi kekar itu. Ternyata kawannya iu telah berhasil dipengaruhi oleh orang bertubuh tinggi kekar itu. Setelah berpikir sejenak, maka iapuru mengangguk sambil berkata “Aku ikut bersamamu. Tetapi kaulah yang minta ij in kepada pemimpin kelompok kita” “Aku akan mengatakannya” jawab orang bertubuh tinggi kekar itu.Seperti yang direncanakan, maka orang itupun telah menghadap pemimpin kelompoknya. Dengan memelas ia minta dir i dengan mengatakan bahwa ayahnya sedang sakit keras” “Darimana kau mengetahui bahwa ayahmu sakit keras?” bertanya pemimpin kdompoknya. “Adikku telah datang kemari” jawab orang itu. “Dimana adikmu sekarang?“ bertanya pemimpin kelompoknya. “Ia sangat tergesa-gesa. Ia sudah melanjutkan perjalanan ke kota untuk memberi tahukan hal ini kepada paman” jawab orang itu. Akhirnya permintaan ijin itupun dikabulkannya dengan pertimbangan kemanusiaan dan bahwa keadaan tidak lagi dalam puncak kegawatan. Dalam pada itu, maka adik orang bertubuh tinggi kekar itupun telah minta ijin pula kepada pemimpin kelompoknya dengan alasan yang sama dan bahwa ia akan pergi bersama dengan kakaknya yang berada di kelompok lain. Seperti orang bertubuh tinggi itu, iapun mengatakan bahwa adiknya yang bungsulah yang telah datang kepadanya dan kepada kakaknya. Malam itu juga dengan berkuda keduanya telah meninggalkan kelompok masing-masing. Seorang kawannya telah ikut pula bersama mereka. “Kau sudah minta ij in untukku?“ bertanya kawannya. “Sudah” jawab orang bertubuh tinggi itu berbohong Demikianlah ketiga orang itu telah mendahului pergi ke Gunung Lawu. Sebagaimana di nasehatkan oleh Ki Wandawa kepada Juwiring, maka orang itupun telah melalui jajan yang akan dilalui oleh Raden Juwir ing dan Buntal.“Kita harus lebih dahulu sampai” berkata orang bertubuh tinggi kekar itu “Kita tidak hanya sekedar memungut pusaka itu setelah di sembunyikan. Tetapi kita akan mencoba, apakah pusaka itu benar-benar pusaka yang sakti” “Maksudmu?“ bertanya adiknya. “Jika kita sudah mendapatkan pusaka itu, maka aku akan mencoba, seberapa tinggi kemampuan anak muda yang bernama Juwir ing itu sebenarnya. Apakah ia mampu bertahan melampau ketahanan tubuh ayahandanya sehingga ia akan dapat hidup j ika ia kembali dar i Gunung Lawu” berkata orang bertubuh tinggi kekar itu. Namun kawannya berkata “Itu satu perbuatan bodoh. Biar sajalah mereka kembali. Kita tidak peduli Tetapi jika anak itu tidak kembali, maka tentu akan t imbul kecur igaan dari orang- orang disekitarnya. Mungkin justru Ki Wandawa sendiri” “Persetan” geram orang bertubuh tinggi kekar itu “t idak seorangpun yang akan menghubungkan kepergian Juwiring dengan kepergian kita” Kawannya tidak menjawab. Iapun kemudian berpikir, bahwa hanya karena kecemasannya sajalah maka ia telah berangan-angan seolah-olah semua orang mengetahui bahwa mereka bertiga telah mendahului perjalanan Raden Juwiring. Ternyata bahwa ketiga orang itu telah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Mereka telah mendahului Raden Juwiring menuju ke Gunung Lawu. Jika mereka telah sampai ke kaki gunung, maka mereka akan menunggu. Kemudian dengan diam-diam mereka akan mengikutinya. “Lebih baik menunggu anak itu melepaskan pusaka itu daripada merampasnya” desis orang bertubuh tinggi kekar itu “karena dengan demikian, dalam keadaan yang paling gawat, ia akan dapat mempergunakannya”“Jika anak itu mempergunakan juga keris itu, apakah kakang akan melangkahi surut?“ bertanya adiknya. “Tentu tidak” jawab orang bertubuh tinggi kekar itu “aku sudah terkenal di pesisir Utara. Aku adalah orang yang paling ditakuti di antara, para perampok. Jika anak itu mengetahui bahwa kita telah mengikutinya, maka aku akan menyelesaikannya meskipun ia membawa pusaka itu. Betapa saktinya pusaka itu, tetapi jika kulitku tidak tergores sama sekali maka racun keris itu t idak akan membunuhku” Adiknya mengangguk-angguk. Katanya “Itu lebih baik. Tetapi kita akan mencoba mencari jalan yang paling baik. Meskipun demikian, jika yang paling baik itu tidak dapat kita gapai, maka kita akan mengambil jalan yang manapun juga” Orang bertubuh tinggi kekar itu mengangguk-angguk. Rencananya sudah masak, meskipun, ia akan menghadapi keadaan yang mungkin tidak sesuai dengan harapan mereka. Namun mereka bertekad untuk mengambil sikap yang menentukan apapun yang akan terjadi. Ketika langit mulai dibayangi warna fajar, ketiga orang itu telah melalui jarak yang cukup. Tetapi mereka tidak segera beristirahat. Mereka masih berkuda terus meskipun tidak terlalu tergesa-gesa. Pada saat yang sama Juwiring telah membenahi dir inya bersama Buntal dan Arum yang tidak mau ketinggalan. Mereka akan menempuh perjalanan ke Gunung Lawu dengan menelusuri jalan seperti di nasehatkan oleh Ki Wandawa. Peronda-peronda dari Surakarta kadang-kadang memang mengejar orang-orang yang berkuda. Mungkin karena kecurigaan, tetapi kadang-kadang mereka memerlukan kuda- kuda yang baik bagi pasukan mereka. Demikianlah, maka menjelang matahari menjenguk cakrawala, tiga orang anak muda telah meninggalkan Gebang menuju ke Gunung Lawu. Beberapa orang yang melihatmereka, menyapanya. Tetapi jika mereka, bertanya, kemana ketiga anak-anak muda itu akan pergi, maka Juwir ing hanya tersenyumsaja. Dalam pada itu, maka Juwiring telah menyembunyikan keris yang akan di labuhnya di Gunung Lawu di bawah bajunya. Sementara itu, pada lambung kudanya ketiganya telah menyangkutkan senjata mereka. Jika mereka bertemu dengan hambatan yang gawat, maka mereka akan dapat mempergunakannya. Demikian mereka keluar dari Gebang, maka matahari sudah mulai memancarkan cahayanya. Dua orang pengawal yang bertugas di ujung padukuhan menyapanya. Namun seperti setiap kali seseorang bertanya kemana, maka Raden Juwiring hanya dapat tersenyumsaja. “Mereka tentu mendapat tugas sandi dari Ki Wandawa” desis yang seorang. Yang lain hanya mengangguk-angguk saja. Beberapa kali Raden Juwir ing mendapat pertanyaan yang demikian oleh para petugas yang tersebar. Bahkan setelah mereka melampaui bulak panjang dan memasuki padukuhan berikutnya, petugas-petugas sandi masih saja mengamatinya. Satu dua di antara mereka telah mengenalnya dan bertanya pula kepada mereka. Tetapi Raden Juwiring tidak mengatakannya, kemana mereka akan pergi. Namun dalam pada itu, ketika Raden Juwiring bertemu dengan seorang anak muda yang telah mengenalnya dalam pakaian seorang petani kebanyakan, sambil menj injing hasil sawah untuk di jual ke pasar, maka anak muda itu berkata “Semalamaku melihat tiga orang berkuda melalui jalan ini” “Siapa?“ bertanya Raden Juwiring. “Aku hanya mengenal seorang di antara mereka” jawab anak muda itu.“Siapa?“ bertanya Raden Juwiring pula. “Ki Singaprana” jawab anak muda itu “bersamanya ikut pula dua orang yang lain, yang aku belum mengenalnya” “Kemana?“ bertanya Raden Juwiring. “Aku tidak tahu. Aku tidak menyapanya, karena aku segan berbicara dengan orang itu” jawab anak muda itu. “Kenapa?“ bertanya Buntal. “Ia selalu menyombongkan dir i. Kemudian menggurui siapa saja, Semalam ia lewat jalan ini. Tetapi ia tidak melihat aku, karena aku kebetulan berbaring di atas jerami di pematang” jawab anak muda itu. Raden Juwiring mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Terima kasih. Sekarang kau akan kemana?“ “Ke pasar. Aku akan menjual kacang tanah” jawab anak muda itu. “Kacang tanah hanya segenggam dan masih terlalu muda itu?“ justru Arumlah yang bertanya. Tetapi Juwir inglah yang menjawab “Yang penting bukan kacang tanah itu. Tetapi bahwa ia akan berada di pasar, di antara orang-orang yang berada di pasar adalah orang-orang dari banyak padukuhan. Mereka akan berbicara tentang banyak hal yang mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan sikap” Anak muda itu tersenyum. Katanya “Tetapi jika kacang ini laku juga, aku dapat membeli dawet cendol j ika aku haus.” Juwiring, Buntal dan Arum tersenyum. Namun merekapun kemudian minta diri untuk meneruskan perjalanan. Di beberapa daerah yang agak jauh dari kota, pangaruh pertempuran besar yang baru saja terjadi di kota kurang terasa. Meskipun ada juga satu dua orang yangmembicarakannya, namun pasar-pasar masih banyak dikunjungi orang. Demikianlah perjalanan ketiga orang anak muda itu t idak menemui hambatan apapun juga. Agaknya jalan yang mereka tempuh, sesuai dengan petunjuk Ki Wandawa, memang tidak pernah di jamah oleh para prajurit Surakarta, apalagi kumpeni. Tidak ada kesan yang mereka lihat di sepanjang jalan. Bahkan nampak bahwa pengaruh Pangeran Mangkubumi terasa di padukuhan-pedukuhan itu. Perjalanan ketiga anak-anak muda itu tidak terlalu tergesa- gesa. Sekali-sekali mereka ber istirahat untuk memberi kesempatan kuda mereka beristirahat pula. Dalam pada itu, maka seperti yang telah mereka rencanakan, bahwa mereka hanya akan berkuda sampai ke kaki Gunung Lawu, Kemudian mereka akan mendaki Gunung untuk melabuh keris milik Tumenggung Sindura yang gawat itu. Karena itu, ketika mereka sampai kelereng Gunung Lawu, maka merekapun telah singgah di sebuah kedai untuk makan dan sekaligus mencari tempat untuk menitipkan kuda mereka. “Maaf Ki Sanak” berkata pemilik warung itu ketika Juwir ing mengatakan kepadanya untuk menit ipkan kudanya “Tidak ada tempat dan tenaga yang dapat menjaga kuda” “Apakah di daerah ini banyak terjadi pencurian?” bertanya Juwiring. “Tidak. Maksud kami bukan karena kami takut kehilangan kuda itu. Tetapi sudah barang tentu bahwa kuda itu memer lukan makan dan minum. Mungkin pemeliharaan sekedarnya” jawab pemilik warung itu. Kemudian “Baru siang tadi ada juga tiga orang yang akan menitipkan kudanya. Tetapi kami juga tidak sanggup mener imanya” “Tiga orang?“ bertanya Juwiring.“Ya. Mereka akan mendaki Gunung Lawu” jawab pemilik warung itu. “Untuk apa?“ bertanya Juwiring pula. “Aku kurang tahu” jawab pemilik warung itu. Lalu “Karena itu, maka merekapun pergi dan mencari titipan di tempat yang lain” Juwiring memandang Buntal sejenak. Kemudian katanya “Ki Sanak. Apakah tidak ada orang di sekitar tempat ini yang dapat menolong memelihara kuda hanya untuk har i ini. Jika seseorang bersedia untuk menyabit rumput dan memberi sekedar dedak bagi kudaku, maka aku akan membayar berapa yang kau kehendaki” Pemilik warung itu berpikir sejenak. Namun kemudian ia bertanya “Hanya hari ini?“ “Maksudku hanya satu dua hari saja” Juwir ing menjelaskan. Ternyata pemilik warung itu mulai mempartimbangkannya. Akhirnya sebagaimana sifatnya sebagai seorang pedagang maka iapun telah menawarkan harga tertentu untak pemeliharaan setiap ekor kuda di setiap hari. Juwiring t idak memikirkan nilai penawaran itu. Ia langsung mengiakannya. Pikirannya sepenuhnya tertuju pada pelepasan pusaka itu. Semakin cepat ia dapat melakukannya, akan semakin baik. Demikianlah, maka setelah ketiga anak-anak muda itu selesai makan dan minum serta pembicaraan tentang kuda yang telah mendapatkan kesesuaian, maka merekapun segera minta dir i. “Kalian akan naik ke Gunung Lawu” bertanya pemilik warung itu. “Ya” jawab Juwir ing. “Untuk apa?“ bertanya pemilik warung itu pula.“Samadi” jawab Juwir ing singkat. Pemilik warung itu tidak bertanya lebih lanjut. Memang sering terjadi, satu dua orang naik ke Gunung Lawu untuk nenepi. Dalam pada itu, maka Juwiring serta adik-adik seperguruannya itupun segera menelusur i jalan sempit di kaki Gunung Lawu. Setelah mereka mengambil senjata masing- masing. Nampaknya lereng masih landai. Tetapi beberapa saat kemudian mereka akan sampai pada lereng yang menjadi semakin terjal. Arum yang lebih banyak diam, apalagi jika ada orang lan. agar ia tidak segera dikenal sebagai seorang gadis, memandang hutan di kaki Gunung Lawu itu dengan dada yang berdebaran. Apalagi langit menjadi buram, karena matahari telah menjadi sangat rendah di ujung Barat. “Kita naik lewat hutan ini“ gadis itu bertanya di luar sadarnya. Juwiring memandanginya sekilas. Timbul juga perasaan ibanya, bahwa gadis itu harus memanjat tebing yang semakin lama menjadi semakin curam sementara hutan yang lebat itu rasa-rasanya menjadi semakin pepat. Tetapi Arum seolah-olah menangkap gejolak perasaan itu. Karena itu justru katanya “Menyenangkan sekali. Satu pengalaman baru yang belum pernah aku lakukan. Naik ke lambung Gunung Lawu” Juwiring dan Buntal menarik nafas panjang. Namun tiba- tiba saja Arum itu bertanya “He, apakah keris itu harus kita labuh di puncaknya atau dapat kita lakukan pada lambungnya saja asal sudah jelas t idak akan dapat diketemukan orang?“ “Kita akan memanjat sampai ke puncak, Arum” jawab Juwiring.“Sampai ke puncak?“ Arum mengulang. Tetapi terasa pada nada kata-katanya, bahwa ia merasa segan untuk berjalan sampai ke puncak. Namun demikian, ia sudah terlanjur berjanji untuk tidak mengeluh dan mengganggu perjalanan itu. Juwiring tersenyum. Ketika ia memandang Buntal, maka Buntallah yang menjawab “Semakin tinggi kita memanjat, maka kita tentu akan semakin banyak mendapat pengalaman” Arum mengerutkan dahinya. Ia sadar, bahwa kedua orang kakaknya itu mulai mengganggunya. Tetapi justru karena itu maka ia menjawab “Ya. Nampaknya akan menyenangkan sekali” Buntal dan Juwiring masih saja tersenyum. Tetapi keduanya tidak menyahut lagi. Namun dalam pada itu, ketika langit menjadi semakin gelap, Juwiring harus membuat perhitungan, apakah ia akan terus memanjat naik atau berusaha untuk mendapat tempat peristirahatan. Iapun menyadari betapa sulitnya melanjutkan perjalanan di malamhari. Ketika ketiga anak-anak muda itu sampai pada sebuah lereng yang sedikit terbuka, maka Juwir ingpun bertanya kepada Buntal “Apakah kita akan melanjutkan perjalanan, atau kita akan berhenti di sini sampai menjelang pagi?“Buntal mengamati keadaan di sekitarnya. Tempat yang terbuka itu ternyata terdiri dari bebatuan yang keras, sehingga pepohonan tidak dapat tumbuh di atasnya, sementara di sekitar tempat itu, hutan masih tetap lebat dan pepat. “Aku kira, kita dapat berhenti sejenak di sini untuk menilai keadaan” berkata Buntal. Arum menarik nafas dalam-dalam. Ia memang berharap untuk beristirahat. Tetapi jika ia yang mengucapkannya, maka kedua orang kakak seperguruannya itu tentu akan semakin mengganggunya. Ternyata Juwiringpun sependapat. Mereka berhenti di antara bebatuan raksasa yang tersebar. Nampaknya tempat itu seolah-olah sebuah longkangan sempit di antara lebatnya hutan di lereng Gunung Lawu. Demikianlah maka ketiga anak muda itupun segera mencari tempat masing-masing. Arum telah mendapatkan sebuah batu yang besar dan justru datar di bagian atasnya, sehingga iapun langsung membaringkan dirinya sambil menatap langit yang hitam penuh dengan bintang-bintang yang bergayutan. Ia tidak menghiraukan bahwa batu itu basah oleh embun yang sudah mulai turun. Dalam pada itu, Juwiring dan Buntalpun telah duduk pula di batu sebelah menyebelah. Rasa-rasanya merekapun telah diganggu pula oleh perasaan letih, sehingga demikian mereka duduk, maka merekapun telah menjelujurkan kaki mereka. Sambil memij it-mij it kakinya Buntal berdesis “Letih juga berkuda sehari-harian. kemudian memanjat kaki bukit ini” Tiba-tiba saja Arum memotong “Bukan aku yang mengatakannya” Buntal dan Juwiring tertawa kecil. Dalam pada itu, Juwiringpun kemudian berkata “Bukankah kita membawa bekal?““Ya. Ada di kampil ini” jawab Buntal. “Aku tidak ingin makan sekarang. Bukankah kita sudah makan di warung itu. Besok pagi, aku baru merasa lapar. Pondoh jagung itu masih akan tahan dua hari lagi” berkata Arum. “Aku juga tidak lapar” sahut Juwiring “Tetapi mulut ini rasa- rasanya ingin mengunyah sesuatu” “Kau tidak membeli kacang yang dibawa anak muda yang kita jumpai menjelang kita berangkat itu” desis Arum. “Aku tidak memikirkannya pada waktu itu” desis Juwiring. “Tetapi j ika kau akan makan pondoh jagung ini, marilah” Buntal menawarkannya. Tetapi Juwiringpun justru membaringkan dir inya di atas sebongkah batu pula sambil berkata “Kita bergantian. Aku akan tidur dahulu, j ika tengah malam lewat, bangunkan aku” Buntal mengangguk sambil menjawab “Tidurlah kalian. Nanti pada saatnya aku akan membangunkan kalian” Arum dan Juwir ingpun kemudian memejamkan mata mereka. Nampaknya Arum benar-benar letih, sehingga iapun segera tertidur. Baru kemudian Juwiringpun telah tertidur pala. Buntal masih duduk di atas batu. Ia berusaha untuk menahan diri agar iapun tidak tertidur pula. Meskipun mereka berada di tengah hutan, namun sesuatu dapat saja terjadi. Apalagi menilik lebatnya hutan itu, tentu banyak menyimpan binatang buas di dalamnya. Namun selain binatang buas. Buntal juga berpikir tentang tiga orang berkuda yang juga akan naik ke Gunung Lawu. Ketika mereka bertiga berangkat, seorang anak mudapun member itahukan, bahwa malam sebelumnya, Ki Singaprana telah menuju ke arah seperti yang ditempuhnya juga bertigaseperti orang-orang yang akan menitipkan kudanya di warung itu. Pikiran itu ternyata telah mengganggunya. Buntal t idak dapat mengabaikan keadaan itu. Apalagi ia mengetahui serba sedikit tentang Ki Singaprana yang dalam beberapa hal berada di dekat Ki Wandawa. Namun Ki Wandawa memang pernah mengatakan, bahwa orang itu adalah salah seorang pengawalnya, tetapi tidak untuk diajak berbicara Tiba-tiba saja Buntal menjadi gelisah. Tetapi justru kegelisahannya itu telah membuatnya tidak mengantuk. Ia berusaha untuk menghubungkan keterangan pemilik warung tempat ia menit ipkan kudanya, dengan keterangan anak muda ketika ia berangkat meninggalkan Gebang. “Apakah mungkin orang itu mengetahui bahwa kami bertiga akan melabuh pusaka yang keramat itu?“ bertanya Buntal di dalamhatinya. Buntal mengangkat wajahnya ketika ia mendengar seekor harimau mengaum. Suaranya bagaikan menggetarkan seluruh hutan di lereng Gunung Lawu itu. Ternyata bahwa aum harimau itu telah membangunkan Juwiring. Iapun menggeliat dan kemudian bangkit duduk di atas batu itu. Namun Arum yamg agaknya terganggu juga tidurnya, hanya berkisar saja sambil berdesis “Bangunkan aku jika har imau itu datang kemar i” Buntal tidak menyahut. Harimau yang lain telah mengaum pula seolah-olah menjawab sapa harimau yang pertama. Namun Arum tetap saja berbaring sambil mendekapkan tangannya di dadanya Tetapi Juwiring agaknya tidak berminat lagi untuk tidur. Bahkan katanya “Jika kau akan ber istirahat, beristirahatlah”Buntal mengangguk. Namun ia tidak segera berbaring. Bahkan katanya “Kau ingat kata pemilik warung itu tentang tiga orang berkuda yang datang sebelum kita?“ Juwiring mengangguk sambil menjawab “Ya. Aku juga sedang memikirkannya. Agaknya kau juga menghubungkan tiga orang yang dikatakan oleh pemilik warung itu dengan tiga orang yang dikatakan oleh petugas sandi pada saat kita berangkat. Ki Singaprana dengan dua orang kawannya” Buntal mengangguk pula sambil menjawab “Ya. Nampaknya ada sesuatu yang perlu diperhatian tentang mereka” Ternyata kedua anak muda itu mempunyai sikap yang sama terhadap ceritera tentang tiga orang berkuda yang telah berada di kaki Gunung Lawu itu. Apalagi karena merekapun ternyata akan naik kelambung seperti yang mereka katakan kepada pemilik warung itu. Kedua anak muda itupun tidak berbicara lagi. Buntallah yang kemudian berbaring di atas sebuah batu yanbg basah oleh embun malam. Namun Buntal sama sekali tidak menghiraukannya Ternyata Buntal yang juga merasa letih itupun sempat juga tertidur. Tetapi iapun tidak dapat tidur terlalu lama. Buntal juga terbangun ketika terdengar aumbinatang buas. Akhirnya baik Juwiring maupun Buntal tidak lagi berbaring dan berusaha untuk tidur. Namun mereka membiarkan saja Arum berbaring meskipun kadang-kadang nampak juga ia gelisah. Sekali-sekali Arum menggeliat dan berbalik. Namun kemudian ia menyilangkan tangannya kembali di dadanya. Sebenarnyalah pada saat itu, orang yang disebut bernama Ki Singaprana memang telah berada di kaki Gunung Lawu. Mereka adalah orang yang disebut pula oleh pemilik warung yang menolak menerima kuda mereka untuk dititipkan. Ternyata bahwa ketiganya berhasil menitipkan kudanya justrukepada seorang penghuni padukuhan meskipun mereka juga berjanji untuk member ikan imbalan. Setelah hampir jemu menunggu, maka merekapun akhirnya melihat juga tiga orang anak-anak muda yang mendaki lereng Gunung. Justru di saat matahari terbenamdi ujung Barat. Dengan sangat berhati-hati, ketiga orang itu mengikuti anak-anak muda itu memanjat lereng Gunung. Mereka tidak dapat terlalu dekat, tetapi juga tidak dapat terlalu jauh, agar mereka t idak kehilangan jejak. Tetapi mereka mengumpat ketika ternyata ketiga anak- anak muda itu beristirahat di tempat yang agak terbuka. Sudah barang tentu bahwa mereka tidak dapat ikut memasuki tempat terbuka itu. Ketiga orang itu harus menunggu di antara pepatnya pepohonan dan liarnya gerumbul-gerumbul perdu semak dan duri. “Anak-anak malas, kenapa mereka tidak melabuh keris itu justru di malam har i” geram orang bertubuh kekar yang bernama Ki Singaprana itu. “Kita akan lebih mudah mengikutinya di siang hari” desis adiknya. “Kenapa?“ bertanya Ki Singaprana. “Jika kita tidak langsung dapat melihatnya, maka kita akan dapat mencari jejak dan bekasnya. Mungkin ranting-ranting patah, mungkin dedaunan yang menyibak atau tanda-tanda yang lain” jawab adiknya. Ternyata Ki Singapranapun sependapat, meskipun mereka harus berada di tempat yang lembab dan pengab Ketika fajar nampak di Timur, ketiga anak-anak muda itupun telah berkemas. Arum agak jengkel karena di tempat itu tidak ada air. Namun Buntalpun kemudian berkata “Aku kira di tempat ini banyak terdapat sumber air. Marilah pertama-tama kita akan mencari air”Ketiga anak-anak muda itupun kemudian meninggalkan tempat mereka bermalam. Seperti yang dikatakan oleh Buntal, maka mereka pertama-tama akan mencari air. Sekali lagi Ki Singaprana mengumpat. Mereka masih harus menunggu anak-anak muda itu membersihkan diri. Terutama anak muda yang nampaknya berwajah ke kanak-kanakan itu. Demikianlah, maka ketika matahari mulai memanjat langit ketiga anak-anak muda itu melanjutkan perjalanan. Namun baik Juwiring maupun Buntal telah dibekali dengan dugaan, bahwa ketiga orang yang disebut-sebut oleh pemilik warung itu adalah tiga orang yang dikatakan oleh petugas sandi pada saat mereka berangkat. Dan kepergian mereka ke lambung Gunung Lawu itu tentu ada hubungannya dengan kehadiran Juwiring sendiri dengan kedua adik seperguruannya. Karena itu, maka keduanya tidak kehilangan kewaspadaan. Bahkan akhirnya merekapun merasa perlu untuk member itahukan hal itu kepada Arum, agar gadis itu tidak terkejut apabila terjadi sesuatu. Ternyata Arum sama sekali tidak heran mendengar keterangan Juwiring tentang ketiga orang itu. Bahkan Arumpun kemudian berkata “Aku sudah menduga. Akupun tahu bahwa kakang juga mempunyai dugaan yang demikian” “Kenapa hal itu t idak kau katakan?“ bertanya Juwiring. “Aku yakin, kakang berdua sudah mengetahuinya” jawab Arum. Juwiring dan Buntal hanya dapat menarik nafas dalam- dalam. Tetapi merekapun berbangga bahwa ternyata Arumpun mempunyai penggraita yang cukup tajam. Dalam beberapa hal, jika Arum terpaksa harus melakukan tugas tanpa orang lain, maka ia tidak akan mudah terjebak oleh satu keadaan yang sebenarnya dapat dihindari.Ketiga anak muda itupun kemudian memanjat semakin tinggi. Jalan setapak yang mereka lalui menjadi semakin sulit. Bahkan kemudian mereka tidak lagi melihat jalur yang dapat mereka telusur i. Sehingga karena itu. maka merekapun kemudian harus membuat jalan bagi mereka sendiri. Betapapun sulitnya, Arum yang sudah berjanji untuk tidak mengeluh, sama sekali tidak mengatakan apapun juga. Iapun merasa, bahwa ia pernah mendapat tempaan lahir dan batin seperti juga kedua saudara seperguruannya. Karena itu, jika kedua saudara seperguruannya itu mampu melakukan, maka iapun akan mampu melakukannya pula. Meskipun demikian terbersit pula pertanyaan di hati Arum kenapa mereka masih memanjat terus hanya sekedar untuk membuang sebilah keris saja. Tetapi pertanyaan itu tidak pernah diucapkannya. Dalam pada itu, lerengpun semakin lama menjadi semakin curam. Ternyata mereka menjadi semakin lambat maju. Setapak demi setapak. Sementara itu, meskipun Arum tidak pernah mengatakannya, tetapi Juwiring dan Buntallah yang mengatur saat-saat mereka ber istirahat. Panasnya matahari tidak terasa langsung membakar tubuh mereka, karena pepohonan yang pepat. Tanah terasa lembab dan basah. Namun kadang-kadang mereka harus memanjat tanah berbatu padas. Ada beberapa longkangan yang tidak berpohon, sehingga dalam keadaan yang demikian, sinar matahari benar-benar menggigit sampai ke tulang. “Apakah malam ini kita akan bermalam lagi?“ bertanya Arum. Juwiring memandang adik seperguruannya itu. Namun ia mengerti, apa yang sebenarnya ingin ditanyakannya. Arum sebenarnya ingin tahu apakah perjalanan itu masih panjang.Dalam pada itu, Juwiringlah yang menyahut “Kita akan bermalam satu malam lagi. Menurut beberapa keterangan, sebentar lagi kita akan lepas dari daerah hutan yang lebat. Kita masih akan melintasi ara-ara perdu. Kemudian kita akan muncul di tempat terbuka. di tempat itulah kita akan melabuh keris itu. Kita akan menemukan sebuah jurang yang dalam dan menempatkan keris itu ke dalamnya, agar keris itu tertidur di sana selama-lamanya. Arum mengangguk. Ia mengerti, bahwa batas itu masih jauh dari puncak Gunung Lawu. Tetapi agaknya Juwiring menganggap bahwa mereka tidak perlu naik sampai ke puncak. Kecuali jalan terlalu sulit, mereka tidak membawa perlengkapan yang cukup untuk melawan udara dingin. Tetapi sebenarnyalah mereka tidak akan memanjat terlalu tinggi. Karena itu mereka sama sekali t idak tergesa-gesa. Apalagi jalan memang sangat sulit. Beberapa kali mereka harus berhenti, beristirahat dan makan bekal yang mereka bawa. Sementara itu, ternyata di lereng Gunung yang papat oleh pepohonan itu, mereka tidak terlalu sulit untuk mencari air. Namun dalam pada itu, Juwiring, Buntal dan Arum itu ternyata tidak dapat mengabaikan tiga orang berkuda yang mungkin mengikutinya. Karena itu, sambil berist irahat di antara pepohonan mereka mulai membicarakan, apa yang harus mereka lakukan. “Kita harus memancing mereka” berkata Buntal. “Aku setuju. Aku akan berpura-pura meletakkan keris itu di antara bebatuan di luar hutan ini. Kemudian kita meninggalkannya” jawab Juwiring. “Ya. Dengan suatu upacara kecil“ sambung Arum. “Upacara bagaimana?“ bertanya Buntal.“Untuk meyakinkan bahwa kakang Juwir ing telah meletakkan ker is itu. Kita akan berjongkok dan pura-pura berdoa. Kemudian baru kita tinggalkan tempat itu” jawab Arum. Juwiring dan Buntal tertawa. Sementara Arum berusaha membela pendapatnya “Bukankah kita telah datang dari tempat yang jauh untuk melabuh keris itu? Jika kita hanya ingin membuangnya saja, kenapa tidak kita lemparkan saja keris itu di Bengawan?“ “Ya, ya. Aku setuju” jawab Juwiring “Aku tidak mentertawakan pendapatmu. Tetapi aku merasa geli seandainya kita sudah terlanjur berjongkok, pura-pura berdoa, tetapi ternyata tidak seorangpun yang melihat apalagi kemudian terpancing karenanya” “Ah, bukankah kita berusaha” jawab Arum. “Aku setuju“ Buntal menyahut. Lalu “segalanya akan nampak bersungguh-sungguh. Dengan demikian, maka seandainya ketiga orang itu benar-benar mengikuti kita, mereka akan segera mencari keris itu” “Jika demikian, apakah yang akan kita lakukan?“ bertanya Juwiring dengan sungguh-sungguh. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Mereka memang ingin menjebak. Tetapi lalu apa yang paling baik mereka lakukan, ternyata merupakan persoalan tersendiri bagi mereka. Akhirnya mereka sepakat. untuk menangkap mereka bertiga. Melaporkannya kepada Ki Wandawa bahwa mereka telah berbuat curang. “Tetapi kakang Juwir ing” berkata Buntal “Ki Singaprana bukan orang kebanyakan. Ia adalah seorang yang memiliki nama yang ditakuti oleh lingkungannya sebelum ia berada di antara pasukan Pangeran Mangkubumi”“Aku tahu” jawab Juwir ing “Tetapi kita wajib menangkapnya. Jika kita tidak berbuat sesuatu, kita tidak akan dapat mengemukakan hal itu kepada Ki Wandawa. Setidak-tidaknya kita menunjukkan kepadanya bahwa kita akan dapat memberikan satu kesaksian dari satu perbuatannya yang keliru. Yang tidak seharusnya dilakukan. Kecuali karena ia ingin memiliki ker is yang bukan haknya, ia juga telah mencuri satu rahasia yang tidak seharusnya didengarnya” Anak-anak muda-itupun telah mengambil satu keputusan, meskipun merekapun menyadari, bahwa ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Menangkap ketiga orang itu atau mereka bertiga tidak akan pernah kembali. Demikianlah setelah mereka istirahat secukupnya, maka merekapun melanjutkan perjalanan. Jarak yang akan mereka capai tidak terlalu jauh lagi. Sejenak kemudian hutanpun terasa menjadi semakin tipis. Batu-batu padas terasa di bawah telapak kaki mereka. Ketika kemudian mereka sampai ke hutan yang lebih jarang dan sebagian besar adalah pepohonan perdu maka merekapun segera mencar i tempat yang paling baik untuk berpura-pura meletakkan keris yang harus dilabuh. “Kau lihat batu padas yang menjorok itu?“ bertanya Juwiring. “Ya” jawab Buntal. “Sebuah goa kecil itu merupakan tempat yang baik untuk permainan ini” desis Juwiring. “Ya. Kita akan melakukannya di tempat itu. di sisi goa itu terdapat sebatang pohon serut yang umurnya melampaui panjangnya jalan di seluruh negeri ini” desis Arum.Ketiga anak-anak muda itupun kemudian pergi ke tempat yang mereka tunjuk. Sebuah dinding padas yang di bagian bawahnya terdapat semacamgoa yang kecil dan dangkal. Sejenak kemudian ketiga anak-anak muda itupun telah berdiri tegak di hadapan dinding padas yang menjorok itu. “Kita berjongkok di sini” desis Arum. “Ya. Aku akan berpura-pura meletakkan sesuatu” sahut Juwiring. Ketiga anak-anak muda itupun kemudian berjongkok di hadapan goa kecil itu. Juwiring telah berpura-wira meletakkan sesuatu pada goa itu sementara Buntal dan Arum menunggu dengan penuh khidmat. “Kita sekarang berpura-pura berdoa” desis Arum. Ketika orang anak muda itupun kemudian berlutut sambil menunduk kepala mereka dalam-dalam. Namun dalam pada itu, Arum sendir i tersenyum membayangkan tingkah laku mereka. Namun dalam pada itu, sebenarnyalah tiga orang mengawasi mereka dari kejauhan. Ki Singaprana yang memimpin ketiga orang kawannya itupun mengangguk- angguk sambil berkata “Kita akan berhasil. Aku akan mengambil keris itu. Kemudian menghentikan ketiga anak- anak muda itu dan membunuhnya” Adiknya tersenyum. Katanya “Ternyata yang kita lakukan tidak sesulit yang kita bayangkan” “Jangan meremehkan anak-anak itu” sahut kawannya “Mereka adalah anak-anak muda yang mendapat kepercayaan dari Ki Wandawa” “Kepercayaan apa?“ sahut Ki Singaprana “Apakah karena Juwiring itu bekas seorang prajur it dari pasukan berkuda, maka ia memiliki ilmu yang luar biasa? Aku percaya bahwaPangeran Ranakusuma adalah seorang Senapati yang pilih tanding. Tetapi apa artinya Juwiring itu bagiku. Seandainya aku mendapat kesempatan seperti Tumenggung Sindura dengan keris yang keramat itu. mungkin akupun akan dapat melawan Pangeran Ranakusuma. Apalagi Juwir ing” Kawannya tidak menjawab lagi. Iapun percaya bahwa Ki Singaprana adalah seorang yang memiliki kemampuan di atas kemampuan orang kebanyakan. Dalam pada itu, untuk beberapa lamanya orang itu menunggu. Akhirnya mereka menarik nafas dalam-dalam ketika mereka melihat ketiga anak-anak muda itu kemudian berdiri. Setelah mundur beberapa langkah ketiga anak-anak muda itu masih mengangguk sekali. Baru kemudian mereka meninggalkan tempat itu. “Jangan tergesa-gesa” berkata Ki Singaprana ”Biarlah anak- anak itu menjauh dan hilang di balik pepohonan. Kita akan mengambilnya dan kemudian menyusulnya untuk membuktikan, arti dari keris yang dengan bodoh mereka tinggalkan untuk mereka labuh di bawah pohon serut di hadapan dinding padas itu” Ketiga orang itu masih menunggu. Anak-anak muda itupun kemudian telah menghilang di balik pepohonan. Menurut pengamatan ketiga orang yang menungguinya itu, anak-anak muda itu tentu sudah mulai dengan perjalanan mereka menuruni lambung Gunung Lawu. Baru setelah menunggu beberapa lama, adik Ki Singaprana itu berkata “Jangan membiarkan mereka terlalu jauh. Kita akan terpisah dari mereka, sehingga sulit untuk menyusulnya” Ki Singapranapun kemudian bangkit berdiri. Sejenak kemudian katanya “Marilah. Kita mengambil pusaka itu. Aku akan memilikinya dan memeliharanya sebaik-baiknya, agar tuah keris itu benar-benar akan bermanfaat bagiku. Aku akan menjadi seorang Tumenggung dan aku akan memiliki wibawasebesar Tumenggung Sindura. Tanpa Pangeran Ranakusuma, maka Tumenggung Sindura tidak akan di kalahkan oleh siapapun juga” Ki Singaprana bersama adik dan kawannya itupun kemudian keluar dari tempat persembunyian mereka. Dengan hati-hati mereka mendekati dinding padas yang menjorok itu. Ketiga orang itupun langsung menuju ke sebuah goa kecil yang terdapat pada dinding padas itu. “Pohon serut itu agaknya yang menjadi ancar-ancar mereka. Mungkin Pangeran Ranakusuma yang berpesan, agar keris itu dilabuh di bawah pohon serut. Nampaknya Pangeran Ranakusuma benar-benar takut terhadap keris itu, sehingga ia berharap dengan demikian anak keturunannya tidak akan tersentuh oleh keris itu” berkata Ki Singaprana. Tetapi adiknya menyahut “Tetapi justru anaknya langsunglah yang akan mengalaminya” Ki Singaprana tertawa. Katanya “Itu adalah perbuatan nasib. Dan nasib Juwir ing memang sangat buruk” Ketiga orang itupun berhenti di depan dinding padas. Sejenak mereka mengawasi keadaan. Kemudian mereka mulai melihat, apa yang terdapat di dalam goa kecil, di bawah pohon serut itu. “Gila” desis Ki Singaprana “keris itu dikuburnya” Ketiga orang itupun kemudian berjongkok di depan goa kecil itu. Mereka mendapatkan seonggok tanah sebagaimana sebuah kuburan kecil yang di tandai oleh sebuah batu hitam. Dengan hati-hati Ki Singapranapun membongkar onggokan tanah itu. Sementara adiknya berpesan “Hati-hatilah. Jika ujung ker is itu sempat tergores di jari-jarimu“ “Kau benar” jawab Ki Singaprana. Iapun kemudian mencabut pedangnya. Dengan pedang itu ia mengaduk seonggok tanah di dalam goa kecil dan dangkal itu.Untuk beberapa lamanya Ki Singaprana melakukannya. Namun keningnya semakin lama semakin berkerut. Bahkan kemudian ia tidak sabar lagi. Diletakkannya pedangnya dan ia mulai lagi melakukannya dengan tangannya. “Tidak ada apa-apa” desisnya. “He?“ adiknyapun menjadi tegang pula “mungkin bukan di sini. Ker is itu tentu tidak akan dikuburkannya” “Tetapi tidak terdapat tanda-tanda lain” sahut kawannya, Ketiga orang itu menjadi tegang. Sejenak mereka termangu-mangu. Bahkan kemudian Ki Singaprana telah menghentakkan kakinya sambi menggeram “Apakah anak- anak itu telah mempermainkan kita?“ Tetapi adiknya berkata “Mereka tidak mengetahui bahwa kita telah mengikutinya” “Belum tentu. Mungkin mereka mengetahuinya, atau firasat mereka mengatakan, bahwa ada orang yang mengikuti mereka” jawab Ki Singaprana. Dalam pada itu, adik Ki Singaprana dan kawannyapun telah mencari di sekitar tempat itu. di bawah pohon serut, di sekitar batu padas yang menjorok, di dinding-dinding goa kecil itu. Bahkan dibahk-baliik batu di sekitar tempat itu. “Gila” geram Ki Singaprana “Mereka telah mempermainkan kita” “Jadi, apakah yang akan kita lakukan?“ bertanya adiknya. “Kita akan menyusulnya. Kita akan membunuh mereka bertiga dan merampas pusaka itu” geramKi Singaprana. “Sekarang” geram adiknya “Jangan biarkan mereka pergi.” Namun dalam pada itu, sebelum mereka melangkah, tiba- tiba saja mereka dikejutkan oleh kehadiran seseorang. Denganlantang orang ita berkata “Kalian tidak usah mencari aku. Aku masih tetap di sini” Ki Singaprana berpaling kearah suara itu. Kemudian terdengar suaranya dalam“Raden Juwiring” “Ya paman. Aku memang menunggu paman di sini. Ternyata paman benar-benar datang” sahut Juwiring. Sesaat Ki Singaprana terdiam. Tetapi wajahnya menjadi semakin tegang. Dalam pada itu, maka adiknyalah yang kemudian berkata “Nah, adalah kebetulan sekali bahwa kau datang Raden. Sekarang kami ingin bertanya, dimanakah keris yang akan Raden labuh itu” “Di bawah pohon serut itu” jawab Juwiring. “Jangan bergurau seperti anak kecil” jawab adik Ki Singaprana “Aku sudah terlalu lama tidak bercanda dengan cara yang cengeng itu. Aku lebih senang bercanda dengan pedang. Nah, katakan, dimana pusaka itu” “Apakah kau tidak mendengar” sahut Raden Juwiring “ker is itu aku letakkan di bawah pohon serut itu seperti pesan ayahanda. Tetapi akupun terkejut ketika terasa seolah-olah ada tangan-tangan yang memang menerima keris itu. Aku tidak dapat melawan ketika tangan itu kemudian menggenggamnya dan merenggutnya dari tanganku. Semuanya itu hanya terjadi dalam sesaat, karena sekejap kemudian ker is itu telah hilang, manj ing ke dalam tubuh batang serut itu. Aku tidak tahu,apakah jika pohon itu ditebang, kayupun di belah, akan dapat diketemukan keris itu juga” “Raden jangan ngayawara” geram Ki Singaprana “agaknya Raden memang menganggap kami sebagai kanak-kanak yang pantas diajak bergurau dalam keadaan seperti ini. Raden. Aku mohon, cepat tunjukkan dimana keris itu. Bukankah keris itu sudah tidak terpakai lagi bagi Raden?“ “Tetapi keris itu memang harus dilabuh paman. Dan tidak seorangpun boleh memilikinya. Karena itu, maka perjalanan kami, kami lakukan secara rahasia. Adalah aneh j ika paman dapat mengetahui, bahwa kami pada hari ini berada di Gunung Lawu untuk menyingkirkan keris itu sebagaimana dipesankan oleh ayahanda Pangeran Ranakusuma” “Sudahlah. Sebaiknya Raden jangan bertanya suatu yang bukan kewaj iban Raden. Yang penting, tunjukkan keris itu” Ki Singaprana menjadi tidak sabar lagi. “Sudah aku labuh” jawab Raden Juwir ing. “Belum. Raden bohong” sahut Ki Singaprana “Tetapi akupun mengerti bahwa Raden akan berkeberatan untuk mengatakan, dimana keris itu. Baiklah. Aku akan memaksa Raden untuk berbicara. Raden tentu mengenal, siapakah aku. Namaku ditakuti orang sejak bertahun-tahun yang lalu. Namun ternyata perjuangan Pangeran Mangkubumi telah berhasil menjinakkan namaku yang semula dianggap liar. Tetapi justru karena aku telah banyak berjasa pada pasukan Pangeran Mangkubumi, aku mohon Raden tidak berkeberatan untuk menyerahkan keris itu” Tetapi Raden Juwir ing menggeleng. Jawabnya “Maaf paman. Seandainya keris itu belum aku labuh, akupun tidak akan menyerahkannya, karena demikianlah pesan ayahanda Pangeran Ranakusuma pada saat-saat terakhir dari hidupnya”“Tetapi ayahanda Raden sudah meninggal. Akan tidak ada manfaatnya lagi untuk memaksa diri melaksanakan pesan pesannya” geramadik Ki Singaprana. “Maaf. Aku tidak dapat menunjukkan dimana keris itu aku labuh” jawab Juwir ing. “Jangan memaksa kami untuk melakukan kekerasan Raden” berkata Ki Singaprana. “Akupun mengharap demikian. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalahnya. Seandainya paman membunuhku, tentu tidak akan ada manusia yang akan dapat menunjukkan keris itu kepada paman” jawab Juwiring. “Tetapi jika kau tidak mau mengatakannya, aku terpaksa membunuhmu. Biarlah ker is itu tidak aku ketahui dimana tempatnya. Tetapi dengan kematianmu, maka rahasia itu tidak akan pernah didengar oleh siapapun juga” geram Ki Singaprana. “Aku memang tidak akan pernah mengatakannya” desis Juwiring. “Tetapi rahasia yang demikian pada suatu saat akan dapat terucapkan. Sengaja atau tidak sengaja” jawab Ki Singaprana “Nah, sekarang tinggal memilih. Mengatakan dimana keris itu atau kami akan membunuhmu” Juwiring memandang ketiga orang itu dengan tegang. Iapun pernah mendengar bahwa Ki Singaprana adalah seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Namun demikian ia sudah bertekad untuk tidak mengatakannya kepada siapapun tentang pusaka itu. Karena itu, maka iapun kemudian berkata “Aku tidak akan mengatakannya” Ki Singapranapun menganggap bahwa t idak ada gunanya lagi untuk berbicara panjang lebar. Juwiringpun ternyata tidak mengenal takut. Sebagai seorang prajurit dan pasukanberkuda, maka ia tentu telah mendapat tempaan untuk tidak gentar menghadapi apapun juga. Karena itu, maka Ki Singaprana itupun kemudian berkata “Baiklah. Kami akan membunuhmu. Kami tahu bahwa kalian bertiga di sini” “Ya” jawab Juwiring yang kemudian segera mempersiapkan diri sambil memanggil kedua adik seperguruannya. Buntal dan Arumpun segera bersiap pula. Mereka berdiri beberapa langkah dari Juwiring. Masing-masing telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ki Singaprana dan kedua orang yang bersamanya itupun melangkah mendekat. Kemarahan nampak memancar di wajah orang yang namanya pernah menggetarkan pesisir Utara itu. Namun yang kemudian telah bergabung pada pasukan Pangeran Mangkubumi, meskipun ternyata hal itu sekedar dipergunakannya sebagai selubung saja. “Sebenarnya aku merasa sayang untuk membunuh anak anak muda ini” berkata Ki Singaprana “Kalian masih diper lukan oleh pasukan Pangeran Mangkubumi. Tetapi karena kalian keras kepala, maka apaboleh buat. Kami akan membunuh kalian bertiga, meskipun sebenarnya kalian sendiri dapat menghindari hal ini” Juwiring tidak menjawab. Iapun tergeser maju. Dengan tajamnya ia menatap Ki Singaprana. Nampaknya Ki Singaprana adalah orang yang paling gawat di antara tiga orang yang mengikutinya. Karena Juwiring merasa dir inya yang tertua di antara ketiga anak muda itu, maka iapun telah menempatkan dir i menghadapi Ki Singaprana. Sementara Buntal telah bersiap di hadapan adik Ki Singaprana, sementara kawan mereka telah dihadapi oleh Arum. Namun tiba-tiba kawan Ki Singaprana itu berkata “Apakah gadis ini boleh dibiarkan hidup?“Adik Ki Singapranalah jang menyahut “Aku sependapat Biarlah ia dibiarkan hidup. Aku akan mengantarkannya kembali kepada ayahnya” “Memuakkan” geram Arumyang marah. Namun Juwiring menyahut “Jangan marah Arum. Kau harus menghadapi lawanmu dengan hati yang terang agar kau tidak dikacaukan oleh kecurangan yang dilakukan orang-orang itu justru karena kau seorang gadis yang tidak akan dapat dikalahkan dengan ujung senjata” Arum tidak menyahut. Ia pernah mengalami per istiwa yang demikian. Dam iapun mengerti, bahwa gejolak perasaan yang tidak terkendali hanya akan mempersulit kedudukannya saja. Karena itu, ketika sekali lagi lawannya itu mencoba menyentuh perasaannya, ia justru berkata “He, nampaknya kau akan dapat menjadi suami yang baik. Sayang sebentar lagi kau akan mati” “Persetan” geram laki-laki itu. Dalampada itu, Ki Singaprana sudah tidak sabar lagi. Iapun telah mencabut pedangnya. Kemudian menjulurkan pedang itu lurus ke dada Juwir ing sambil menggeram “Kau akan segera mati” Raden Juwiring tidak menyahut. Iapun telah menggenggam pedangnya pula. Ia harus bertahan, betapapun tinggi ilmu orang yang bernama Ki Singaprana itu. Adik Ki Singaprana dan kawannya yang berhadapan dengan Arum itupun telah siap dengan senjata masing-masing pula. Sebilah pedang, dan kawannya itu mempergunakan canggih bertangkai pendek. Arum memperhatikan senjata lawannya. Ia sadar, bahwa canggah yang bermata rangkap itu adalah senjata yang berbahaya. Jika lawannya itu membawa senjata jenis itu, maka tentu iapun akan mampu mempergunakan sebaik-baiknya. Menurut pengalamannya mempergunakan senjata, serta latihan-latihan yang dilakukan, maka senjata bermata rangkap mempunyai kemampuan merampas senjata lawannya. Jika pedangnya terperangkap di antara kedua mata canggah itu, dan kemudian canggah itu diputarnya, maka senjatanya tentu akan terlepas dari genggaman. Karena itu Arum memang harus berhati-hati. Ia tidak boleh lengah sehingga senjatanya akan dapat terlepas dari tangannya. Sejenak kemudian, Ki Singaprana yang tidak sabar itulah yang telah mulai menggerakkan senjatanya. Juwiring dengan sengaja bergeser ke tempat yang lebih, lapang dan datar meskipun di bawah kakinya terhampar batu-batu padas yang keras. Buntalpun menanggapi sikap Juwiring. Iapun bergeser pula untuk dapat melawan adik Ki Singaprana itu dengan loncatan- loncatan panjang. Sementara Arum masih tetap berada di tempatnya. Pedangnyalah yang terjulur. Ketika ujungnya mulai bergerak, maka lawannyapun bersiap menghadapinya Menilik sikapnya, meskipun Arum seorang gadis, tetapi ia memiliki kemampuan ilmu pedang yang baik. Ternyata lawannyalah yang memancing perlawanan Arum, Ia mengangkat canggahnya dan terayun dari sisi kanan Arum. Tetapi ternyata Arum tidak menjadi tegang terkejut dan apalagi meloncat-loncat. Dengan tenang ia bergeser setapak. Namun justru ialah yang kemudian meloncat menyerang langsung kearah dada. Sikap Arum itu benar-benar telah mengejutkan. Dengan demikian maka orang itupun menjadi semakin yakin, bahwa Arum memang seorang gadis yang memiliki ilmu pedang yang baik. Lawannya itupun terpaksa meloncat ke samping. Dengan canggahnya yang bertangkai pendek itu ia mencoba menjepitpedang Arum dan memutarnya. Tetapi Arumpun dapat bergerak cepat, apalagi ia sudah mengetahui kemampuan senjata bermata dua itu. Karena itulah, maka iapun telah menarik pedangnya sehingga canggah lawannya itu tidak menyentuhnya. Namun sekali lagi ia mengejutkan lawannya, karena pedangnya terayun mendatar menyerang lambung. Sekali lagi lawannya mengelak. Tetapi Arum tidak memburunya, karena ia menyadari, bahwa lawannyalah yang kemudian bersiap untuk menjebak senjatanya Sejenak Arum berdir i dengan pedang yang masih tetap terjulur. Ketika lawannya bergeser, iapun berputar mengikuti arah lawannya. Sementara itu, Buntal telah bertempur dengan cepat dan keras mengimbangi kekerasan lawannya. Keduanya berloncatan dengan langkah panjang. Namun kemudian senjata mereka berbenturan dengan dahsyatnya. Mereka saing menyerang dan menangkis. Dalam pada itu. Buntal yang sudah menduga bahwa lawannya akan bertempur dengan keras, sama sekali tidak terkejut ketika lawannya itu meloncat sambil berteriak. Sambaran pedangnya yang garang dan kuat, disusul dengan hentakkan-hentakkan yang kasar. Ternyata anak muda dar i padepokan Jati Aking itu sudah cukup memiliki pengalaman bertempur melawan berjenis-jenis ilmu. Karena itu maka iapun segera mampu menyesuaikan diri dengan sikap dan cara lawannya itu bertempur. Ki Singaprana ternyata tidak kalah garangnya. Namun nampaknya Ki Singaprana masih menjaga diri sebagai salah seorang pengawal dalam pasukan Pangeran Mangkubumi. Meskipun tandangnya juga keras, tetapi ia berusaha meninggalkan kebiasaannya sebagaimana yang selalu dilakukannya di pesisir Utara.Dengan tangkasnya ia memutar pedangnya. Sekali terjulur, kemudian menebas datar. Pada kesempatan lain terayun dengan derasnya menyambar kening. Tetapi Juwiringpun cukup tangkas. Ia mampu mengimbangi kecepatan gerak lawannya. Bahkan sekali-sekali jika senjata mereka bersentuhan, terasa bahwa Juwiring memang mempunyai kekuatan yang cukup. Tetapi ternyata Ki Singaprana itu t idak telaten bertempur dengan cara itu. Di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi ia bertempur dalam satu kelompok bersama para pengawal yang lain, sehingga ia sendiri berada di antara satu kekuatan yang harus saling menyesuaikan diri. Dalam keadaan yang demikian, sifat dan wataknya sebagai seorang yang namanya di takuti di pesisir Utara, tidak terlalu menonjol. Namun ketika ia harus bertempur seorang melawan seorang dengan Raden Juwiring, murid padepokan Jati Aking dan juga bekas seorang prajurit dari pasukan berkuda maka ia tidak akan dapat bertahan pada sikapnya itu. “Persetan“ katanya di dalam hati ”aku tidak peduli apa yang akan dikatakan oleh anak itu. Sebentar lagi aku akan membunuhnya Kemudian ia tidak akan dapat berbicara apapun tentang aku” Dengan demikian maka Ki Singaprana itupun t idak lagi berusaha mengekang dir i. Semakin lama tata geraknyapun menjadi semakin kasar. Akhirnya sebagaimana nampak pada adiknya Ki Singaprana telah berada pada wajahnya yang sebenarnya selagi ia berada di pesisir Utara. Kegarangan dan kekasarannya benar-benar mendebarkan jantung Juwiring, yang seperti Buntal memiliki pengalaman yang luas dalam dunia petualangan olah kanuragan. Namun menghadapi orang yang bernama Ki Singaprana ini, Juwiring menjadi berdebar-debar.Sebenarnyalah tingkat kemampuan ilmu Ki Singaprana dan adiknya memang berselisih selapis. Ki Singaprana memiliki kekuatan dan pengalaman melampaui adiknya pada atas ilmu yang sama. Karena itu, maka Ki Singaprana adalah seseorang yang lebih berbahaya dari adiknya dan kawannya yang juga bekas seorang perampok yang disegani. Dengan demikian, maka ketiga orang yang meskipun juga pernah berada dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi, namun dalam keadaan yang demikian, telah nampak warna mereka yang sebenarnya. Sehingga di lambung Gunung. Lawu itupun kemudian telah terdengar teriakan- teriakan nyaring dan bahkan kadang-kadang umpatan kasar dan tidak sewajarnya diucapkan. Apalagi di antara mereka terdapat seorang gadis. Dengan demikian, maka Juwir ingpun telah melihat satu kenyataan bahwa tidak semua orang yang berada di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi adalah orang- orang yang benar-benar ingin menegakkan keadilan di atas Surakarta. Bahkan orang yang bukan saja tidak bercita-cita, tetapi dengan sengaja telah berusaha menyelubungi dirinya. “Orang-orang yang demikian itulah agaknya yang telah menodai perjuangan” berkata Juwiring di dalam hatinya “setitik nila yang diteteskannya, akan dapat merusak susu sebelanga” Karena itu, maka Juwiringpun telah bertekad untuk menghancurkan orang itu sama sekali. Namun ternyata bahwa orang itu seperti yang pernah didengarnya, adalah orang yang memiliki kelebihan. Dengan kasar, buas dan liar ia telah melawan Raden Juwiring. Orang itu telah meloncat-loncat sambil berteriak-teriak. Menghentak hentak tidak menentu. Namun bukan berarti bahwa ia tidak mengenal ilmu pedang dan tata gerak ilmu kanuragan. Nampaknya ia telah mendapat tuntunan yang demikian di dalam padepokan tempat orang itu berguru. di sampinglandasan unsur-unsur gerak yang mapan, ketrampilan dan kecepatan gerak, orang itu telah menunjukkan perlawanan yang nggegerisi. Juwiring t idak dapat ingkar akan kenyataan itu. Betapapun ia mengerahkan segenap kemampuannya, namun ia telah terdesak semakin berat. Kekasaran lawannya benar-benar membuatnya kadang-kadang bingung dan terkejut. Sementara itu. Buntal telah melawan adik Ki Singaprana dengan mapan. Meskipun orang itu juga berteriak-teriak, meloncat-loncat dengan kasar dan liar, namun dasar landasan kemampuannya setingkat di bawah Ki Singaprana, sehingga karena itu, ketenangan Buntal masih dapat mengimbanginya. Apapun yang dilakukan oleh lawannya, Buntal berhasil menyesuaikan dir i, meskipun dengan demikian kadang-kadang iapun harus bertempur dengan kasar. Namun dalam pada itu, pada benturan-benturan yang terjadi kemudian, Buntal berhasil mempengaruhi lawannya, karena terriyata ia memiliki tenaga yang lebih besar dari lawannya. Ketika lawannya menyerangnya sambil berteriak, Buntal berkata “Apa gunanya kau berteriak-teriak? Kau kira kau dapat menakuti aku dengan mulutmu yang lebar itu? Kau tidak dapat ingkar, bahwa pada setiap benturan tanganmu bergetar” “Persetan” geram adik Ki Singaprana itu “aku akan membunuhmu” Buntal tidak menyabut. Tetapi ia tidak pernah menyia- nyiakan setiap kesempatan. Namun dalam pada itu. jantungnya berdesir ketika ia melihat Juwir ing yang justru terdesak Beberapa kali Juwiring harus meloncat surut menjauhi lawannya untuk menghindari kekasaran dan keliarannya. Namun lawannyapun mampubertindak cepat, sehingga dengan garangnya iapun telah berusaha memburunya kemana Juwir ing menghindar. Buntalpun menyadari, bahwa Ki Singaprana tentu lebih tinggi ilmunya daripada adiknya. Karena dtu, maka Juwiring tentu benar-benar berada dalam kesulitan. Tetapi jika ia ingin membantunya, maka ia harus mengalahkan lawannya lebih dahulu. Ia harus melumpuhkan atau bahkan membunuhnya sama sekali. Dada Buntal tergetar sekali lagi ketika ia melihat Arum. Lawannya yang kasar benar-benar mempengaruhi perlawanan gadis itu. Sebagaimana pernah terjadi, maka sikap dan kata- kata kotor orang itu bagi Arum tidak kalah berbahayanya dari mata canggah di dalamgenggamannya “Kau ingin bertempur atau sekedar berteriak-teriak mengumpat” geramArum. Tetapi lawannya tertawa. Ia menjadi semakin kasar dan semakin liar. Kata-katanyapun menjadi semakin kotor. Arumpun ternyata telah terdesak pula. Sekali-sekali ia meloncat surut. Namun suara tertawa dan teriakan-teriakan yang memuakkan masih selalu terdengar. Namun bukan hanya sikapnya yang liar dan kata-katanya sajalah yang menjadi semakin kotor. Tetapi canggah itu benar-benar berbahaya bagi Arum. Sekali-sekali canggah itu menyambar lengan, namun pada keadaan tertentu canggah itu langsung mematuk leher. Jika Arum terlambat menghindar, maka lehernya akan terjepit kedua mata canggah itu yang tajam di bagian dalam, sehingga leher itu akan tertebas dari kedua belah sisi. Meskipun ternyata Arum cukup cepat bergerak, tetapi lawannya selalu memburunya dengan sikapnya yang licik. Tetapi Arum sadar, bahwa ia tidak akan dapat menghentikan kata-kata kotor, umpatan-umpatan danteriakan-teriakan itu dengan kata-kata. Karena itu, maka iapun bertempur semakin cepat dan garang. Namun dernikian, menurut pengamatan Buntal, Arum masih dapat didesak oleh lawannya. “Aku harus dengan cepat menyelesaikan orang ini” berkata Buntal di dalam hatinya “lawan Arum itu terlalu kasar. Tetapi sudah tentu bahwa iapun memiliki ilmu yang matang. Bahkan nampaknya lebih baik atau lebah liar dari lawanku ini” Tetapi lawan Buntal itupun tidak membiarkan Buntal dengan mudah mengalahkannya. Ketika Buntal mengerahkan segenap kemampuannya, maka iapun telah melawan dengan segala kekuatan yang ada padanya. Bahkan agaknya orang itupun mempunyai perhitungan yang cermat. Ia melihat, bahwa Ki Singaprana berhasil mendesak Juwir ing, sementara kawannya meskipun dengan licik, tetapi dapat menekan Arum yang menjadi sangat gelisah. Karena itu, maka ia mempunyai perhitungan, seandainya ia sekedar menghindar saja, berlari- lari dan meloncat-loncat, akhirnya Buntal harus menghadapi tiga orang sekaligus setelah Juwiring terbunuh dan Arum dapat diselesaikan pula. Juwiringpun menjadi sangat gelisah. Ia melihat, bagaimana Arum mulai terdesak. Tatapi ia tidak dapat mengelakkan kenyataan, bahwa ia sendir ipun telah terdesak pula. Benturan-bentuian yang terjadi telah menggetarkan tangan Juwiring. Orang yang bernama Ki Singaprana itu benar-benar seorang yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang sangat luas, selain sikap dan tandangnya yang sangat kasar. Bahkan kesulitan demi kesulitan telah menekan Juwir ing sehingga sekali-sekali ia hampir kehilangan keseimbangan. Batu-batu padas di bawah kakinya rasa-rasanya menjadi semakin tajamdan menghunjam pada telapak kakinya. Senjata orang itu terasa semakin dekat terayun di sisi tubuhnya. Ketika Juwiring terpaksa meloncat surut, makaujung senjata lawannya itu telah memburunya. Dengan cepat Juwiring berusaha menangkisnya. Senjata itu memang bergeser, tetapi tiba-tiba justru terayun mengarah ke dadanya. Demikian cepatnya, sehingga Juwiring terkejut karenanya. Sekali lagi ia berusaha menangkis serangan itu. Namun ia tidak berhasil sepenuhnya. Ujung senjata lawannya itu masih tergores di pundaknya. Juwiring menggeram. Luka itu tidak terlalu dalam. Tetapi darah telah mulai menitik dari luka itu. “Menyerahlah” geram Ki Singaprana “sebentar lagi kau akan mati” Yang terdengar adalah gemeretak gigi. Juwir ing sama sekali tidak ingin menyerahkan lehernya kepada orang itu. Luka dilengannya telah membuatnya bagaikan banteng ketaton. Dalam pada itu, Buntal memang berhasil mendesak lawannya,. Tetapi iapun tidak segera melihat, bahwa ia akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dalam waktu dekat Apalagi lawannya yang mengetahui pula keadaan pertempuran itu mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Ia tidak melawan Buntal dalam benturan-benturan senjata dan dengan saling melibat pada jarak yang dekat. Tetapi orang itu telah berloncatan dengan langkah-langkah panjang. Demikianlah, pertempuran di lambung Gunung Lawu itu berlangsung dengan sengitnya. Darah di lengan Juwiring mengalir semakin banyak. Anak muda itu berdesah ketika sekali lagi ujung pedang Ki Singaprana mengenai pundaknya. Yang terdengar adalah suara tertawa Ki Singaprana. Dengan lantang iapun kemudian berkata “Kau akan mati di sini. Bukan ker is itulah yang akan dilabuh. Tetapi mayat kalian bertiga” Betapa kemarahan menghentak-hentak dadanya. Tetapi kenyataan itu telah terjadiJantung Juwiringpun hampir meledak ketika ia melihat, Arum benar-benar dalam kesulitan. Ganggah lawan gadis itu berputar bagaikan baling-baling. Ketika Arum mempergunakan satu kesempatan yang terbuka dengan menebas lawannya, tiba-tiba saja tawannya berhasil menangkis dan bahkan pedang Arum telah terperangkap di antara kedua mata canggah. Dan yang dicemaskan itupun telah terjadi. Dengan cepat lawan Arum lalu memutar canggahnya. Sebelum Arum sempat menarik senjatanya itu, maka satu hentakkan yang kuat telah merenggut senjata Arum, sehingga senjata itu telah terlempar beberapa langkah dari padanya. Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa meledak bagaikan mengguncangkan Gunung Lawu. Kawan Ki Singaprana itu merasa bahwa ia telah berhasil menyelesaikan satu pertempuran yang berat. Dengan demikian, maka gadis itu akan segera menjadi j inak dan tunduk kepada segala perintahnya. Yang terjadi itu membuat Buntal bagaikan kehilangan akal. Seperti badai ia memburu lawannya. Tidak ada lagi pertimbangan-pertimbangan yang dapat menghambatnya. Dengan demikian, maka tenaga Buntal bagaikan menjadi berlipat. Seperti prahara ia mengamuk. Lawannya yang berloncatan itu seakan-akan tidak mendapat tempat lagi. Pedang Buntal selalu mengejarnya seperti seekor lalat yang berdesing di telinganya. Sehingga akhirnya lawannya itu merasa punggungnya membentur dinding padas. Dengan demikian maka lawan Buntal itu t idak akan dapat lagi berloncatan surut. Sementara itu, tidak kalah garangnya sikap Juwiring. Ia sadar, bahwa ia telah terluka. Iapun sadar, bahwa Ki Singaprana mempunyai kelebihan dari padanya. Namun ia tidak dapat membiarkan Arum mengalami perlakuan yangsangat mengerikan dari orang yang seolah-olah menjadi mabuk itu. Karena itu, terjadilah yang sama sekali tidak direncanakan. Juwiring yang seolah-olah telah kehabisan akal itu t idak lagi dapat membuat pertimbangan-pertimbangan lain. Dalam keadaan yang paling sulit, sementara ia tersudut dalam dua keadaan yang bertentangan, di saat ia harus melindungi Arum sebagaimana harus dilakukan oleh saudara tertua, namun juga kenyataan bahwa ia tidak akan mampu melawan Ki Singaprana dalam keadaan wajar, maka tiba-tiba saja ia telah menyingkapkan bajunya. Dengan tiba-tiba-saja tangannya telah menarik keris yang disembunyikan di balik bajunya. Justru keris yang harus di labuhnya itu. Tiba-tiba saja, bahkan seolah-olah bagaikan terjadi di luar kewajaran, langit yang cerah itu bagaikan menyala sekejap. Seolah-olah kilat yang dahsyat telah menyambar di langit tanpa mendung tanpa hujan setitikpun. Namun kemudian Ki Singaprana melihat, bahwa sebilah keris yang bercahaya kemerah-merah telah berada di dalam genggaman tangan Juwiring. “Raden Juwiring” desis Ki Singaprana. “Aku tidak mempunyai pilihan lain. Kau harus mati oleh keris yang kau buru ini” geram Juwir ing. Ki Singaprana mundur selangkah. Nampak pada tatapan matanya bahwa hatinya telah tergetar. Namun kemudian iapun berkata “Raden. Keris itu memang keris yang luar biasa. Setiap sentuhan akan berakibat maut. Tetapi aku tidak yakin bahwa Raden dapat menyentuh kulitku dengan ker is itu” Wajah Raden Juwiring menjadi merah padam. Matanya bagaikan menyala dan giginya gemeretak. Seolah-olah Raden Juwiring yang menggenggam pedang di tangan kanan dan keris di tangan kiri itu bukan Raden Juwiring yang dikenal oleh Ki Singaprana. Raden Juwiring yang menggenggam ker is ituseolah-olah adalah orang lain yang garang, kasar dan sebuas Ki Singaprana sendiri. Ki Singaprana tidak mempunyai pilihan lain. Sejenak kemudian Juwiring yang digelisahkan oleh keadaan Arum itupun segera menyerang. Langkahnya seolah-olah menjadi semakin kasar dan keras. Pedangnya terayun-ayun menger ikan. Seakan akan Juwir ing sudah tidak mempunyai perhitungan sama sekali. Namun dalam pada itu, selagi Juwiring tenggelam ke dalam gejolak perasaan yang tidak terkendali, ternyata Buntal telah menekan lawannya semakin berat. Justru karena lawannya seolah-olah telah bersandar pada dinding padas, maka kesempatannya menjadi semakin sempat. Dengan garang oleh kemarahan yang tidak tertahan lagi karena sikap lawan Arum maka Buntal telah mempergunakan kesempatan itu sebaik- baiknya. Ketika ia menjulurkan pedangnya, lawannya itu masih sempat menangkis. Ia memukul pedang Buntal ke samping. Namun Buntal menarik senjatanya. Dengan ayunan yang keras ia menebas lambung. Sekali lagi lawannya berusaha bergeser sambil memukul senjata Buntal, namun Buntal tidak mau lebih lama lagi membiarkan Arum dalam kesulitan. Karena itu, maka ia telah menemukan saat yang paling tepat Demikian senjata lawannya terayun, maka ia melihat kesempatan terbuka pada dada lawannya. Dengan kecepatan yang menghentak dilandasi segenap tenaga dan kemampuannya, maka Buntal telah menggeser pedangnya dan langsung menusuk dada adik Ki Singaprana. Tidak ada kesempatan untuk menangkis. Tetapi orang itu masih berusaha mengelak, dengan bergeser setapak. Tetapi Buntal telah memperhitungkannya. Karena itu, maka pedangnyapun bergeser pula, sehingga ujung pedang itupun telah menghunjam langsung ke dalamjantung lawannya. Orang itu tidak sempat mengelak. Ketika Buntal menar ik pedangnya, maka orang itupun telah terhuyung-huyung dankemudian jatuh menelungkup di tanah. Ia tidak sempat lagi mengeluh, karena tusukan pedang Buntal itu langsung membunuhnya. Sementara itu. Buntal tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera meloncat, menuju ke arena pertempuran antara Arumdan lawannya. Namun Buntal tertegun sejenak. Ia masih melihat Arum telah mengerahkan kemampuannya yang terakhir untuk mempertahankan dir inya meskipun ia telah kehilangan pedangnya. Pada saat-saat lawannya menikmati kemenangannya, ia telah menjadi lengah. Ia sadar ketika ia melihat di tangan Arumtergenggam pisau-pisau belati kecil. Tetapi terlambat. Demikian ia berusaha menyiapkan diri ternyata sebilah pisau belati kecil telah meluncur mematuk langsung ke dadanya. Meskipun ia berusaha mengelak, tetapi pisau itu menancap pula di pundaknya. Orang itu menggeram. Kemarahannya tidak terkatakan. Ternyata Arum benar-benar tidak dapat dij inakkan. Bahkan orang itupun kemudian melihat tangan kiri Arum telah terayun pula. Sebilah pisau belati meluncur ke lehernya. Dengan gontai orang itu bergeser ke samping sambi menangkis pisau belati itu. Sebenarnyalah ia berhasil. Namun dalam pada itu, diluar dugaannya pula pisau yang luput itu diikuti oleh sambaran pisau belati ber ikutnya, langsung menancap pada lambung. “Gila, perempuan gila” geramnya. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan. Perasaan sakit, pedih dan nyeri pada pundak dan lambungnya membuatnya kehilangan pengamatan diri. Itulah sebabnya ketika tiga pisau meluncur lagi dari tangan Arum satu di antaranya benar-benar telah menancap di dadanya, meskipun yang dua dapat ditangkisnya dengan canggahnya.Betapapun kemarahan menghentak-hentak. Namun orang itu tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Ia menyesal atas kelengahannya. Tetapi segalanya telah terjadi. Ia tidak dapat mengulangi dari permulaan sejak saat ia berhasil merampas pedang gadis itu. Namun terkilas juga di dalam kepalanya, seandainya ia tidak kehilangan kewaspadaan, maka ia tidak akan mengalami nasib yang demikian buruknya. Sejenak orang itu berdir i tegak. Dipandanginya Arum dengan nyala kemarahan yang tiada taranya. Tubuhnya mulai bergetar oleh kemarahan dan rasa sakit yang menghunjam sampai ke sungsum. Namun agaknya Arum masih belum meyakini keadaan lawannya. Dua buah pisau lagi telah meluncur. Keduanya mengenai dada orang yang sudah tidak mampu mengelak lagi itu. Sejenak kemudian, maka orang itupun telah terjatuh, la masih mengumpat dengan kata-kata kotor. Tetapi sejenak kemudian iapun telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Arum menarik nafas dalam-dalam. Dirabanya ikat pinggangnya yang besar. Sebagaimana kebiasaannya, ia telah menyimpan pisau-pisau kecil pada ikat pinggangnya di bawah bajunya. “Hampir semuanya sudah aku lontarkan“ desir Arum. Suaranya masih bergetar oleh gejolak perasaan di dalam dadanya. “Aku akan mengumpulkannya nanti dan membersihkannya” desis Buntal. “Pisau itu sudah bernoda darah” jawab Arum. “Kau dapat memakai pisau-pisauku meskipun t idak sebanyak pisau yang kau bawa” jawab Buntal.Namun dalam pada itu, Arum melontarkan pandangan matanya ke arah Juwiring yang masih bertempur. Buntalpun telah berpaling pula kepadanya. Terasa jantung mereka berdentang semakin cepat melihat darah di tubuh Juwir ing. Tetapi yang terjadi kemudian sudah berubah. Agaknya Juwiring telah mendesak lawannya yang menjadi sangat berhati-hati. Meskipun sekali-sekali ujung pedang Ki Singaprana masih saja menahan serangan-serangan Juwiring dengan sentuhan-sentuhan kecil, tetapi Juwiring seolah-olah tidak lagi menghiraukannya. Ia menyerang seolah-olah tidak memperhitungkan keadaan dir inya. Ki Singaprana adalah seorang perampok yang memiliki nama yang ditakuti di pesisir Utara. Ia adalah orang yang kasar, buas dan liar. Tidak ada yang dapat mencegahnya untuk berbuat apa saja j ika hal itu sudah dikehendaki. Namun menghadapi Juwir ing yang menggenggam keris yang luar biasa itu di tangan kir inya, rasa-rasanya jantungnya berdegup semakin cepat. Ia melihat seolah-olah keris itu membara dengan warna kemerah-merah, sementara tingkah laku Juwiring telah berubah sama sekali. Ia tidak bertempur sebagai seorang kesatria, apalagi putera Pangeran Ranakusuma. Tetapi ia bertempur dengan kasar pula seperti Ki Singaprana sendiri. Akhirnya Ki Singaprana itu tidak lagi mampu melawan kegarangan Juwiring dengan senjata rangkap. Pedang di tangan kanan anak muda itu mampu memancing pedang Ki Singaprana yang menangkisnya. Namun tiba-tiba dengan kecepatan yang tidak diduga, Juwiring meloncat dengan garangnya. Keris di tangan kir inya terjulur lurus kearah dada. Tetapi Ki Singaprana tidak mau dikenai keris itu. Karena itu, iapun segera meloncat menghindar. Namun Juwiring memburunya. Ketika ia melihat pedang Ki Singaprana terjulur untuk menghentikan serangannya, ia menangkis dengan pedangnya pula. Sementara itu. ia masih meloncat puladengan tangan kiri terjulur. Ujung pedang Ki Singaprana itu masih mengoyak kulit lengannya. Namun Juwir ing tidak menghiraukannya. Tanpa diduga ia meloncat semakin dekat. Terjadilah bencana yang tidak dapat dielakkan lagi bagi Ki Singaprana. Dalam kekalutan sikap karena serangan-serangan Juwiring yang seperti orang kerasukan itu, maka ujung keris yang akan dilabuh itu telah tergores pada ujung jari Ki Singaprana. Hanya pada ujung jari saja. Namun dalam pada itu, wajah Ki Singapranapun segera menjadi pucat. Dengan loncatan panjang ia menjauhi Raden Juwir ing sambil berkata “Cukup Raden. Kau telah menyelesaikan pertempuran ini” Raden Juwiring tertegun sejenak. Namun kemudian ia melihat Ki Singaprana mengacukan jarinya yang tergores keris itu. Katanya di luar sadar “ternyata gerak tanganku telah menyentuh ker is itu” ”Dengan sengaja aku lakukan” potong Juwiring. Wajah Ki Singaprana menegang sejenak. Namun kemudian katanya “Aku percaya” Kata-katanya terputus. Keris itu benar- benar keris yang luar biasa. Tubuh Ki Singaprana itupun gemetar. Wajahnya menjadi merah biru. Dengan sisa tenaganya Ki Singaprana itupun segera duduk bersandar sebatang pohon sambil menyilangkan tangannya. Rasa-rasanya kematian itu menjemputnya terlampau cepat, sehingga ia hanya sempat berkata “Waktuku telah tiba” Ki Singaprana masih sempat memejamkan matanya. Namun kemudian ia tidak dapat bergerak lagi. Nafasnya terhenti di ujung hidungnya, sedang darahnya telah mengental di dalam tubuhnya. Juwiring berdir i di hadapannya dengan garangnya. Pedangnya masih tetap digenggamnya di tangan kanan, sementara tangan kirinya masih pula menggenggam ker is yang harus dilabuhnya.Demikian Juwir ing mengakhiri pertempuran itu, maka Buntal dan Arumpun menar ik nafas dalam-dalam. Setelah saling memandang sejenak, merekapun kemudian melangkah mendekati Juwir ing yang masih berdiri tegak. Namun langkah kedua anak muda itu tertegun. Mereka tidak menyangka sama sekali bahwa Juwiring itupun mengumpat dengan garangnya sambil mendorong mayat yang terduduk itu dengan kakinya. Bahkan kemudian katanya “Mayatmu akan menjadi racun bagi binatang buas yang akan mengoyak dagingmu. di tempat ini akan bertimbun bangkai- bangkai binatang buas dan burung gagak yang berkeliaran di langit” Sekali lagi Buntal dan Arum saling berpandangan. Namun kemudian mereka melangkah lagi mendekat. Dengan hati hati Buntal melangkah di sebelah sambil berkata “Ia sudah mati kakang” “Ya. Ia sudah mati” geramJuwiring. “Kamipun telah berhasil membunuh lawan- lawan kami” berkata Buntal selanjutnya. “Bagus. Semuanya memang harus dibunuh dan dicincang di sini” sahut Juwir ing dengan kasar. Buntal mengerutkan keningnya. Sikap Juwiring memang agak berbeda. Kelelahan, kejengkelan dan kemarahan yang tidak terkendali memang dapat membuat seseorang menjadi kasar. “Tetapi kita tidak akan dapat meninggalkan mereka begitu saja” berkata Buntal. “Lalu, apa yang harus kita lakukan?“ bertanya Juwiring dengan nada tinggi. “Kita akan menguburkannya” jawab Buntal.“Mengubur perampok-perampok yang telah mengkhianati perjuangan Pangeran Mangkubumi ini?“ bertanya Juwiring pula. “Mereka memang pengkhianat. Tetapi mereka telah mat i. Kita tidak pantas mendendam kepada orang mat i. Karena itu, biarlah kita menguburkan mayat mereka. Kita dapat mencari disela-sela batu-batu pada tanah yang lebih lunak” berkata Buntal. “Tidak. Aku tidak akan menguburkan mereka. Terutama iblis ini. Ia mati karena racun yang luar biasa telah bekerja pada tubuhnya. Biarlah kematiannya menjadi bencana bagi binatang-binatang buas dan burung pemakan bangkai” bentak Juwiring. Buntal merasa aneh. Namun Juwiring kemudian membentaknya sekali lagi “Jangan hiraukan mayat-mayat itu” “Tetapi bukankah kita berkewajiban kakang” suara Arum penuh keragu-raguan” “Tidak“ Juwiring hampir berteriak “sudah aku katakan, tidak pantas orang-orang yang telah berkhianat itu mendapat kehormatan. Aku tidak mau. Bahkan seharusnya kita memenggal kepala mereka dan membawanya kembali kepada Ki Wandawa. Menunjukkan kepadanya dan minta agar kepala itu di tanjir di pintu gerbang padukuhan Gebang, sebagaimana dilakukan oleh kumpeni” Jawaban Juwiring itu benar-benar telah membingungkan Buntal dan Arum. Karena itu sejenak keduanya termangu- mangu. Arumlah yang kemudian mendekati Juwir ing sambil berkata “Betapapun jantung kita bergejolak, tetapi kita jangan kehilangan nalar yang bening. Kakang, apakah salahnya jika kita berbuat sesuatu yang kita anggap baik. Mayat-mayat itu sudah tidak akan berarti apa-apa bagi kita. Mereka sudah mati. Aku berhasil membunuh lawanku dengan pisau-pisaukecilku. Kakang Buntal menusuknya dengan pedang, dan kau yang mendapat lawan paling berat telah membunuh lawanmu dengan keris yang akan kita labuh. Bukankah semuanya sudah selesai. Kenapa kita masih harus mendendam terhadap mayat- mayat yang sudah tidak akan dapat berbuat apa-apa itu?“ Wajah Juwiring menjadi semakin tegang. Namun kemudian ia berkata “Lakukan jika kalian akan melakukannya. Aku lelah sekali. Aku t idak peduli terhadap mayat-mayat itu” Buntal dan Arum menjadi semakin heran melihat keadaan Juwiring. Tetapi mereka menganggap bahwa Juwiring benar- benar telah mengalami pergolakan perasaan yang dahsyat, sehingga ia masih belum dapat berpikir bening. Karena itu, maka Arumpun berkata kepada Buntal “Semuanya dapat kita selesaikan nanti, setelah kakang Juwiring beristirahat dan hatinya menjadi tenang. Aku ingin mencari air untuk membersihkan diri dan mencuci senjataku” Buntal mengangguk kecil. Katanya “Aku akan memungut pisau-pisau kecilmu. Yang mengenai lawan, maupun yang tidak. Kita akan mencucinya. Jika kau ingin membawa yang bersih, yang tidak ternoda darah meskipun telah dicuci, kau dapat membawa pisau-pisauku, dan aku akan membawa pisau-pisaumu” Arum mengangguk. Tetapi ia memberikan isyarat kepada Buntal agar ia mengajak Juwir ing bersama mereka, atau setidak-tidaknya minta ijin kepadanya. Buntal yang dengan ragu-ragu mendekati Juwiring yang duduk di atas sebuah batu itupun kemudian berkata “Kakang. Kami akan mencari air untuk membersihkan diri. Apakah kau juga akan membersihkan dir i?“ “Tidak. Aku di sini. Aku perlu beristirahat” jawab Juwiring. Buntal dan Arum tidak dapat memaksanya. Mereka berduapun kemudian memasuki lebatnya pepohonan untukmencari sebuah belik yang terdapat di bawa pohon-pohon raksasa di hutan itu. Namun sebelum mereka turun, Buntal telah memungut beberapa pisau yang dapat diketemukannya dan mencabut pisau yang tertancap di tubuh lawan Arum. sementara Arum telah memungut pedangnya yang terlepas dari tangannya. Ternyata mereka tidak terlalu sulit untuk mencar i sebuah belik. di bawah sebatang pohon preh yang besar mereka menemukan sebuah belik. Meskipun airnya jernih, tetapi belok kecil itu dikotori oleh daun-daun ker ing yang runtuh dari dahannya. Namun dalam pada itu, sambil mencuci senjata-senjata dan membersihkan dirinya, keduanya sempat berbincang tentang Juwiring dengan sifat-sifatnya yang aneh. “Hatinya benar-benar terguncang” berkata Buntal “hampir saja kakang Juwiring kehilangan kesempatan” “Ia terluka” desis Arum. “Kakang Juwiring mempunyai obat pemampat darah. Nampaknya luka-lukanya tidak begitu berbahaya” jawab Buntal. Arum menar ik nafas dalam-dalam. Sementara Buntal berkata “Aku justru menduga, bahwa kaulah yang akan di hentak oleh kejutan perasaan sehingga mungkin untuk beberapa saat lamanya, kau akan dicengkam oleh kegelisahan. Tetapi justru bukan kau, tetapi kakang Juwir ing” “Aku sudah melambati perasaanku dengan pasrah” jawab Arum “ternyata bahwa Yang Maha Pelindung telah melindungi kita. Sementara kakang Juwiring benar-benar menghadapi keadaan yang paling gawat. Mungkin kakang Juwiring melihat juga, seperti yang kau lihat, pedangku telah terlepas dari tanganku”“Ya Sementara itu kakang Juwiring sendiri telah terdesak” sahut Buntal. “Keadaan itulah yang agaknya membuat kakang Juwir ing seolah-olah berubah akal” gumam Arum “Tetapi mudah- mudahan ia menjadi tenang kembali. Nalarnya menjadi jernih dan ia dapat menilai semuanya yang telah terjadi dengan hati yang bening” Buntal mengangguk-angguk. Sementara tangannya masih sibuk dengan pisau-pisau kecil yang bernoda darah. Setelah beberapa saat mereka berada di belik itu, dan setelah mereka menganggap bahwa Juwiring menjadi tenang, merekapun telah menyimpan senjata masing-masing. Dengan hati yang berdebar-debar mereka kembali ke tempat Juwiring beristirahat. Namun hati mereka tergetar ketika mereka melihat Juwiring duduk di atas sebongkah batu padas. Nampaknya ia sudah mengobati luka- lukanya. Tetapi ia masih sibuk menimang keris yang akan di labuhnya di lambung Gunung Lawu itu. Ketika Juwiring melihat kedua adik seperguruannya, tiba- tiba saja matanya menjadi menyala. Dengan kasar ia bertanya “He, apakah yang telah kalian lakukan? Aku harus menunggu di sini sampai tua? Kalian datang ke tempat ini untuk satu tugas yang penting, bukan untuk bercinta seperti itu” Wajah kedua adik seperguruannya menjadi merah. Tetapi Buntal menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin menelan kembali perasaannya yang tiba-tiba saja telah melonjak. “Aku mencuci pedang kakang” jawab Buntal “selebihnya aku memang menunggu kakang menjadi tenang”“Cukup” bentak Juwiring “Aku tidak mau mendengar alasan-alasan yang kalian buat-buat. Waktu kita tidak terlalu banyak. Kita akan segera kembali ke Gebang” Kedua adik seperguruannya itupun terkejut pula. Bahkan dengan serta merta Arum bertanya “Tetapi bukankah kita masih akan melabuh keris itu kakang?“ “Bodoh“ geram Juwir ing “ternyata kita sudah berbuat bodoh” Buntal menjadi semakin tidak mengerti. Dengan heran ia bertanya “Kau membuat aku bingung kakang. Apakah sebenarnya yang kau kehendaki setelah kau berhasil membunuh Ki Singaprana? Jika kau memerlukan waktu yang cukup untuk menenangkan hatimu, maka kami tidak akan berkeberatan” “Cukup. Tutup mulutmu Buntal” bentak Juwir ing “dengar. Aku tidak memerlukan waktu untuk beristirahat. Aku ingin segera kembali ke Gebang. Aku ingin segera melaporkan segala peristiwa ini kepada Ki Wandawa bahwa tiga orang di antara pasukan Pangeran Mangkubumi telah berkhianat” “Tetapi bagaimana dengan pusaka itu?“ bertanya Arum. “Aku akan membawa pusaka ini kembali” jawab Juwiring “adalah bodoh untuk membuang pusaka yang keramat seperti ini. Pusaka ini memiliki kemungkinan yang tidak terbatas. Sebagaimana kau lihat, aku dapat membunuh Ki Singaprana yang memiliki kelebihan dari aku” “Tetapi kakang” sahut Buntal “bukankah ayahanda kakang Juwiring, Senapati Agung Surakarta yang bergelar Pangeran Ranakusuma telah memberikan perintah kepadamu, untuk melabuh keris itu di Gunung Lawu ini” Buntal dan Arum terkejut melihat sikap Juwiring. Mereka menjadi semakin tidak mengerti. Bahkan kulit mereka serasa meremang ketika mereka mendengar Juwiring tertawaberkepanjangan. Katanya “Jangan cengeng seperti itu. Pangeran Ranakusuma adalah ayahku. Ialah yang member ikan perintah itu. Tetapi ayahanda sudah gugur. Karena itu, maka perintahnya sudah tidak mengikat lagi“ “Kakang” potong Arum “Apakah kau menyadari apa yang kau katakan?“ “Tentu. Aku menyadari sepenuhnya apa yang aku katakan” jawab Juwiring “Aku tidak sedang gila sekarang ini. Aku sadar sepenuhnya apa yang terjadi. Aku tahu, kalian adalah adik seperguruanku. Aku tahu bahwa kita bertiga datang ke tempat ini untuk memenuhi per intah ayahanda agar pusaka yang telah dipergunakan oleh Tumenggung Sindura itu di labuh. Aku sadar sepenuhnya” “Jika demikian, kenapa kakang Juwiring akan membatalkan niat kakang untuk melabuh pusaka itu?“ bertanya Arum. “Baru sekarang aku menyadari, betapa tinggi nilai keris itu. Akupun baru saja menyadari, bahwa saat ayahanda akan gugur, maka nalarnya sudah tidak bekerja lagi dengan baik, sehingga perasaannya sajalah yang bergejolak. Karena itulah maka ayahanda telah menjatuhkan perintah agar keris itu dilabuh saja. Tetapi jika saat itu, perasaan ayahanda dapat diimbangi dengan nalar, ayahanda tentu tidak akan memer intahkan demikian. Keris ini akan sangat berarti bagiku, apalagi dalam perjuangan sekarang ini. Aku akan dapat memasuki barak kumpeni di loj i, dan aku akan dapat membunuh kumpeni sebanyak-banyaknya. Apakah hal itu tidak kau sadari” Jantung kedua anak muda, adik seperguruan Juwiring itu berdebar-debar. Ketika mereka menatap wajah Juwir ing, terasa kulit mereka meremang. Wajahya Juwiring seolah-olah telah berubah sama sekali. Ia bukan lagi Juwiring putera Pangeran Ranakusuma. Bukan pula anak angkat dan sekaligus mur id Kiai Danatirta. Tetapi yang berada di hadapan kedua anak-anak muda itu adalah seorang anak muda yangberwajah liar dan membayangkan watak yang gelap dalam bayangan nafsu untuk membunuh. Dalam kebingungan maka Buntalpun kemudian berkata “Kakang Juwir ing. Aku mohon kakang dapat menenangkan hati. Cobalah mengingat segala pesan dan perintah ayahanda kakang Juwiring. Keris itu harus dilabuh di atas Gunung Lawu. Kita sekarang sudah berada di lambung Gunung Lawu” “Tidak. Sekali lagi aku katakan tidak. Aku akan kembali sambil membawa keris ini. Aku memer lukannya. Aku adalah putera-seorang Pangeran yang sudah barang tentu pada suatu saat aku akan memangku jabatan penting di Surakarta, apabila Pangeran Mangkubumi sudah berhasil mengusir kumpeni. Kangjeng Susuhunanpun akan terusir pula karena ia berpihak kepada kumpeni. Jika Pangeran Mangkubumi menang, aku akan menjadi seorang Tumenggung. Namaku akan dikenal oleh seluruh rakyat Surakarta. Bahkan mungkin namaku akan lebih besar dari Tumenggung Sindura sendiri” “Kakang” potong Arum “kakang sudah melupakan tugas kakang. Kakang telah kehilangan kepr ibadian kakang” “Omong kosong” geram Juwir ing. “Kakang” berkata Buntal “lepaskan keris itu barang sekejap. Keris yang kotor oleh darah itu agaknya telah mempengaruhi kepribadianmu” “Gila“ Juwir ing justru menjadi marah “Kau kira aku sudah kehilangan kepr ibadian? Kau kira aku adalah seorang yang berjiwa lemah yang dengan mudah dapat dipengaruhi oleh keadaan di luar diriku sendir i? Kau kira karena aku memegang keris ini, maka kepr ibadianku telah berubah dan aku telah lupa segala-galanya yang baik menurut pertimbangan kepribadianku yang sebenarnya? Tidak anak-anak. Sama sekali t idak. Tetapi perkembangan nalar itu dapat terjadi. Bukan kehilangan kepribadian. Jika sekarang aku menganggap bahwa keris ini adalah keris yang sangat berarti bagikedudukanku kelak, bukan berarti bahwa aku sudah kehilangan kepr ibadianku. Tetapi ini adalah perkembangan sikap j iwani. Perkembangan yang demikian itulah yang akan dapat membawa seseorang kepada cita-citanya. Sebagaimana Pangeran Mangkubumi pernah berusaha untuk mengekang pemberontakan Raden Mas Said, namun karena perkembangan sikap jiwaninya, maka Pangeran Mangkubumi sendiri telah mengangkat senjata” “Bukan satu perbandingan“ bantah Buntal “Tetapi yang kakang lakukan sekarang adalah benar-benar satu perubahan kepribadian. Kakang yang lembut dan berhati bersih, seperti seharusnya seorang kesatria yang penuh dengan pengabdian, tiba-tiba kakang telah berubah menjadi seorang yang tamak dan penuh dengan nafsu angkara. Kakang sebelumnya tidak pernah berbicara tentang kedudukan dan pangkat, tiba-tiba kakang sudah mengigau tentang kedudukan. Bahkan lebih baik dari kedudukan Tumenggung Sindura. Cobalah, jika masih ada sisa kesadaranmu. Lepaskan keris itu barang sejenak” Wajah Juwiring menjadi kian membara. Dengan nada kasar ia berkata “Apakah kau menjadi iri Buntal? J ika ker is ini aku lepaskan, maka kau tentu akan menerkamnya dan memilikinya” “Tidak kakang. Sama sekali tidak. Aku tidak memerlukan keris itu, karena menurut Pangeran Ranakusuma, keris itu harus di labuh. Karena itu ker is itu harus ditinggalkan di Gunung Lawu ini” Raden Juwiring menjadi semakin marah. Katanya “Aku adalah saudara tertua di antara kalian. Seharusnya kalian menurut segala petunjukku. Namun nampaknya kalian justru akan mengajari aku. Karena itu, aku tidak peduli lagi akan Kalian. Aku akan kembali ke Gebang. Meneruskan perjuangan. Memenangkan perang melawan Surakarta, dan aku akanmenjadi seorang Senapati pilihan seperti ayahanda Pangeran Ranakusuma” Raden Juwiring tidak menghiraukan kedua adik seperguruannya lagi. Iapun segera membenahi dir i. Sambil menj inj ing keris yang seharusnya di labuh itu, maka ia meninggalkan tempatnya. “Kakang“ panggil Buntal “Jangan kehilangan akal” “Tutup mulutmu” bentaknya. Namun Arum ber lari- lari memotong jalan Juwir ing sambil berkata “Jangan kakang. Jangan” Langkah Juwir ing tertegun. Sekali lagi ia berteriak “Minggir. Arum, kau jangan menjadi gila seperti itu. Aku adalah saudara seperguruanmu dalam urutan yang lebah tua. Karena itu, jangan menggurui aku” “Jangan pergi kakang. Jangan kau lakukan pelanggaran itu “Arum hampir menangis. Tetapi Juwiring bergeser arah. Dengan tergesa-gesa ia melangkah meninggalkan lambung Gunung itu. Namun Buntallah yang mencegatnya. Dengan suara yang hampir parau iapun berusaha mencegah Juwir ing yang dianggapnya sudah kehilangan kepribadian. Akhirnya Juwiring telah benar-benar kehilangan kesabaran. Dengan suara bergetar ia berkata “Buntal dan Arum. Kalian adalah adik-adik seperguruanku. Kalian telah aku anggap sebagai adikku sendir i, sehingga selama ini. kita selalu berbagi duka dan berbagi suka. Tetapi kali ini kalian menjadi berubah. Kalian telah dipengaruhi oleh perasaan ir i dan dengki. Apakah salahnya jika aku kelak menemukan kamukten? Apakah kalian menganggap bahwa aku tidak akan ingat lagi kepada kalian”“Tidak. Tidak sama sekali“ Arum benar-benar menangis “Aku tidak menginginkan apapun juga kakang. Tetapi aku mohn kakang menyadari apa yang kakang lakukan kali ini” “Arum, apakah kau ingin bahwa Buntallah yang harus mewarisi keris ini agar ialah yang kelak dapat menjadi seorang Tumenggung? Dengan demikian, jika kau menjadi isterinya, maka kau adalah isteri seorang Tumenggung?“ “Tidak, tidak” Arum tidak dapat menahan diri lagi. Tangisnya meledak-ledak, betapapun ia berusaha menahannya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tetapi Juwir ing sama sekali tidak menghiraukannya lagi. Bahkan katanya “Aku sudah tidak sabar lagi. Kalian memang iblis yang tidak tahu diri. Jangan berpura-pura lagi bersikap seperti saudara yang baik hati. Aku tahu apa yang terkandung di dalam hatimu” Juwiring tidak menghiraukan lagi kedua saudara seperguruannya itu. Namun Buntal benar-benar tidak ingin melepaskannya. Setiap kali ia selalu memotong langkah Juwiring yang nampak tergesa-gesa. Akhirnya Juwiring itupun berteriak “Buntal. Kau adalah saudara yang bagiku bagaikan saudara kandung sendir i. Tetapi kau sebenarnya bukan apa-apa. Kau adalah anak yang hilang yang di ketemukan dan dipelihara di padepokan Jati Aking. Karena itu, jika kau berkeras untuk merebut ini, maka akhirnya aku akan sampai kepada satu keputusan, bahwa kaupun harus disingkirkan” “Kakang“ wajah Buntal menjadi tegang, sementara Arumpun yang sedang menangis bagaikan dihentakkan oleh kata-kata itu, sehingga justru tangisnya terhenti dengan tiba- tiba. “Kakang” suara Arum tiba-tiba melengking “Jadi kau sudah benar-benar kehilangan dir i?”“Persetan dengan kau. Aku tidak peduli” “Arum” sahut Buntal “adalah menjadi kewajiban kita untuk mencegahnya, justru karena kita adalah saudara seperguruannya” “Cukup” teriak Juwiring “Kalian akan menjadi hambatan bagiku. Sekarang atau kelak. Kalianpun tentu akan membocorkan rahasia ini sehingga keris ini akan menjadi rebutan. Karena itu. kalian berdua memang harus disingkirkan. Sebenarnyalah kalian sama sekali tidak ada hubungan keluarga apapun dengan aku” Tiba-tiba saja Juwiring telah mengangkat keris itu. Sambil menggerakkan keris yang bercahaya kemerah-merahan itu ia berkata “Kalian harus mat i” Buntal melangkah surut. Ia memandang ker is itu dengan jantung yang berdebaran. Kemudian dipandanginya wajah Juwiring yang telah berubah sama sekali. Betapa bengisnya wajah itu, “Bersedialah untuk mati” geram Juwir ing. Tetapi Buntal tidak mau mati. Karena itu ketika Juwir ing mendekatinya dengan keris terjulur di tangannya. iapun telah mencabut pedangnya sambal berkata “Maaf kakang. Aku terpaksa melindungi dir iku sendiri” Juwiring tidak menyahut. Iapun dengan serta merta meloncat menyerang. Namun Buntal masih sempat mengelak. Iapun menyadari, bahwa segores luka, akan berarti maut baginya. Namun nampaknya Arumpun telah kehilangan akal. Tiba- tiba iapun telah mencabut pedangnya pula. Dengan loncatan panjang ia mendekat sambil berkata “Aku berdir i di pihak kakang Buntal” “Bagus” teriak Juwiring “Kalian berdua akan mati”Buntal menjadi sangat gelisah. Dengan pedang di tangan ia berdiri beberapa langkah dari Arum. Keduanya telas bersiap untuk mempertahankan hidup masing-masing, sementara Juwiring memandang mereka dengan mata yang kemerah- merahan seperti cahaya yang memancar dari keris di tangannya. Keris yang sakti tiada taranya, namun yang selalu menuntut kematian demi kematian, 


Jilid 26
YANG berhadapan dengan senjata di tangan masing- masing itu adalah anak-anak muda. Darah mereka masih panas dan jiwa mereka masih mudah terbakar. Namun demikian Buntal masih tetap menyadari, bahwa sebenarnyalah yang terjadi atas Raden Juwiring itu karena pengaruh keris yang di tangannya. Karena itu, ia masih juga membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu. Meskipun demikian iapun sadar sepenuhnya, bahwa Juwiring yang sudah berada di bawah pengaruh keris itu benar-benar akan dapat membunuhnya. “Kenapa kakang Juwir ing telah kehilangan kepr ibadiannya?“ pertanyaan itu selalu mengganggunya. Namun menurut penilaian Buntal, sebenarnya Juwiring adalah seseorang yang memiliki kepribadian yang kuat. Tetapi karena ia telah terdorong untuk mempergunakan keris itu pada saat ia melawan Ki Singaprana dan membasahi ker is itu dengan darah meskipun hanya setitik, maka seakan-akanpengaruh keris itu telah dengan kuatnya menyusup ke dalam dirinya. “Keris itu harus terlepas dari tangannya” berkata Buntal di dalam hatinya. Namun untuk berbuat demikian, bukannya satu pekerjaan yang mudah, apalagi Buntal selalu dibayangi oleh satu kemungkinan, bahwa ia sendir ilah yang justru akan dijemput oleh maut. Dalam pada itu, Juwiring yang telah dibayangi oleh pengaruh keris itu sama sekali tidak dapat lagi berpikir bening. Dengan segenap kemampuan yang ada padanya, ia benar- benar ingin membunuh kedua orang saudara seperguruannya. Karena itu, maka dengan segenap ilmunya ia telah bertempur melawan Buntal dan Arum. Juwiring adalah murid Jati Aking yang dilengkapi dengan ilmu ayahandanya Pangeran Ranakusuma. Karena itu, maka ia adalah anak muda yang nggegirisi. Apalagi ditangannya telah tergenggam keris yang dahsyat, yang sakti dan bahkan mampu mempengaruhi orang yang sedang menggenggamnya. Tetapi saat itu Juwiring harus melawan dua orang anak muda yang memiliki bekal yang cukup pula. Buntal adalah juga mur id Jati Aking. Sementara itu iapun telah menyadap ilmu dar i Kiai Sarpasrana yang dapat melengkapi ilmunya. Sedangkan Arum adalah mur id dan sekaligus anak Kiai Danatirta, meskipun sebenarnya ia adalah cucunya. Sepeninggal kedua saudara seperguruannya, maka Arumlah yang mendapat tempaan ilmu sampai tuntas. Meskipun ia seorang gadis, namun pada atas kodrat alaminya, Arum mampu menunjukkan kepada setiap orang, bahwa ia adalah pewaris yang paling lengkap dar i perguruan Jati Aking. Karena itu, maka meskipun di tangan Juwiring tergenggam keris yang dahsyat, namun melawan dua orang anak muda yang pilih tanding, maka iapun harus berjuang dengan sekuat tenaganya.Sebenarnyalah Arum tidak dapat menahan kemarahannya. Seperti Juwiring, Arumpun seolah-olah telah kehilangan pengekangan dir i. Pedangnya berputaran dengan cepatnya bagaikan baling-baling, sehingga yang nampak kemudian seolah-olah hanyalah gumpalan awan put ih yang menyelubungi dir inya. Dari ketiga orang anak-anak muda yang bertempur mempertaruhkan nyawa mereka itu, Buntallah yang masih mampu berpikir. Meskipun kadang-kadang Jantungnya bagaikan meledak melihat sikap Juwiring, tetapi setiap kali ia memandang ker is di tangan Juwiring itu, ia masih tetap sadar, bahwa yang dihadapinya bukannya pribadi Juwiring sepenuhnya. Karena itu, maka Buntal masih selalu nampak ragu-ragu. Namun demikian ia mampu melindungi dir inya dengan permainan pedang yang rapat. Meskipun demikian, Buntal menjadi lebih sering menghindar dan berloncatan surut. Tetapi Juwiring tidak pernah sempat memburunya, karena Arumlah yang kemudian melibatnya dengan garangnya. Gadis itu ternyata mampu bergerak secepat burung walet di wajah batu-batu karang di tepi samodra. Untuk beberapa lamanya ketiga anak muda itu masih terlibat dalam pertempuran yang sengit. Arum yang melihat keragu-raguan Buntalpun berteriak “Kakang, kenapa kau menjadi ragu-ragu. Kita tidak bersalah. Kita mempertahankan hidup kita yang terancamoleh kegilaan yang berbahaya” “Persetan“ Juwiringlah yang menyahut “sebentar lagi kalian akan mati” Namun Buntal masih juga menyahut “Kita sedang dicengkam oleh pengaruh yang paling gila dari ker is itu. Jika kakang Juwiring sempat menyadari barang sekejap, dan melepaskan ker is itu, maka keadaan ini akan segera berubah”“Pengecut” geram Juwiring “Yang sekejap itu tentu sudah kau pergunakan untuk membunuhku” “Jika kau kehendaki, kami akan mundur beberapa puluh langkah pada saat kau melepaskan senjata itu” sahut Buntal sambil meloncat menghindari serangan Juwir ing. “Omong kosong. Kalian mempunyai kemampuan melemparkan pisau-pisau kecil itu. Tetapi kalian tidak dapat menipu aku lagi dengan jarak yang tentu akan dapat kalian jangkau dengan pisau-pisau itu justru pada saat aku lengah. Namun pada saat semacam ini, pisau-pisaumu tidak akan berdaya” teriak Juwiring marah. Buntal benar-benar hampir kehabisan akal. Tetapi ia masih tetap sadar, dengan siapa ia berhadapan. Namun justru karena itulah, maka Buntallah yang lebih dahulu nampak dalam kesulitan. Arum yang tidak mau menghiraukan lagi siapakah yang menjadi lawannya, justru menjadi lebih mapan, sehingga dengan demikian, maka serangan-serangan Juwiring justru lebih banyak tertuju kepada Buntal. “Kakang Buntal“ Arum hampir menjer it ketika ia melihat Buntal yang terdesak harus meloncat jauh-jauh surut “Apakah kau memang ingin mati? Jika kakang Juwiring benar-benar ingin membunuhmu, kenapa kau tidak bersikap serupa” Buntal menarik nafas dalam-dalam setelah ia berhasil membebaskan diri dari serangan Juwiring. Dengan ragu ia menjawab “Arum. Kita jangan kehilangan akal. Aku masih mempunyai harapan untuk dapat menyelesaikan persoalan Ini tanpa jatuh korban” “Keris itu luar biasa” teriak Arum “setiap sentuhan akan merenggut nyawa. Jangankan kita atau Singaprana atau kakang Juwir ing sendiri. Pangeran Ranakusumapun tidak mampu bertahan dengan ilmu kebalnya. Meskipun pelurutidak menembus kulitnya, namun goresan kecil keris itu telah merenggut nyawanya” Buntal tidak sempat menjawab. Juwiring yang memandanginya dengan sorot mata yang membara telah meloncat memburunya. Dengan pedangnya Buntal melindungi dirinya, sementara Arumpun telah meloncat menyerang, sehingga Juwir ing terpaksa membagi perhatiannya. Namun nampaknya Arum benar-benar mampu bergerak cepat. Demikian Juwir ing bergeser dari serangannya atas Buntal, maka ternyata pedang Arum telah menyentuh pundangnya. Terdengar Juwiring berdesis, sementara Buntal hampir berteriak “Arum. Kau melukainya” “Aku akan membunuhnya” jawab Arum. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Juwir ing yang marah menjadi semakin marah. Tiba-tiba saja ia menghadap kepada Arum dengan keris terjulur ke depan. Selangkah demi selangkah ia maju mendekati gadis itu. Tetapi Arum sudah siap. Pedangnyapun mulai bergetar. Bahkan kemudian pedangnya telah berputar lagi melindungi dirinya serapat dinding. Betapapun marahnya Juwiring, ia harus melihat perisai putaran pedang Arum. Memang sulit baginya untuk dapat menembus meskipun ia menggenggam keris sakti. Sementara itu Buntal telah mendekatinya pula. Ia menjadi semakin gelisah dan bingung. Juwir ing telah terluka di pundaknya, sehingga bagaimanapun juga. pertempuran ini sudah meninggalkan bekasnya. Namun dalam pada itu, ternyata bukan saja luka pedang Arum sajalah yang telah mengalirkan darah. Luka-lukanya yang terdahulu, yang sudah diobatinya, mulai mengembun lagi. Dengan mengerahkan kemampuan dan kekuatannya,maka luka- luka yang mulai mampat itu seakan-akan telah terkoyak lagi. Namun ternyata Arum tidak menghiraukan lagi. Ketika Juwiring maju lagi selangkah, Arum justru meloncat menyerang dengan cepatnya. Ujung pedangnya menyambar mendatar hampir menyentuh dada, sehingga Juwiring harus melangkah surut. Pada saat yang demikian, pedang Buntalpun telah siap mematuk Juwir ing yang dengan tergesa-gesa menghindar. Namun ada sesuatu yang menahannya, sehingga diluar kehendaknya, pedang itu telah tergeser arahnya, sehingga sama sekali tidak menyentuh Juwiring. Tetapi justru pada saat itu Juwir ing merendah pada lututnya, dengan cepat ia memutar tubuhnya sambil mengayunkan kerisnya. Buntal terkejut. Tetapi ia masih sempat meloncat surut Tetapi Juwiring ternyata benar benar telah terpengaruh dan kehilangan kepribadiannya, sehingga iapun telah siap meloncat memburu Buntal yang sedang berusaha menghindar. Dalam keadaan yang demikian, maka seolah-olah tidak, ada lagi kesempatan bagi Buntal. Jika Juwiring meloncat, maka ia tentu belum sempat berbuat sesuatu, Yang dapat dilakukannya kemudian adalah mengambil keuntungan dari senjatanya yang lebih panjang dari sebilah keris. Karena itu, maka ketika Juwir ing benar-benar meloncat menyerangnya, Buntal justru telah menjulurkan pedangnya. Hentakkan kemarahan Juwir ing telah membuatnya kurang berperhitungan. Ketika tangannya terjulur lurus mengarah ke dada, Juwiring justru terkejut. Seolah-olah tiba-tiba saja ujung pedang Buntal sudah ada di depan matanya. Dengan tangkasnya Juwiring menggeliat. Tetapi kesempatannya terlalu sempit. Ternyata bahwa ia tidak dapatmembebaskan diri sepenuhnya. Ujung pedang Buntal masih mengenai lengannya, sehingga kulitnya telah terkoyak. Terdengar Juwiring berdesis menahan pedih. Luka itu telah membuatnya semakin garang. Namun sebelum ia sempat berbuat sesuatu, pedang Arum telah terjulur pula lurus mengarah ke punggung, “Arum” teriak Buntal yang melihat ujung pedang itu akan dapat berakibat gawat. Suara Buntal ternyata masih juga berpengaruh. Seperti yang telah dilakukan Buntal, maka Arumpun telah disentuh oleh pengaruh hubungannya yang lama dengan Juwiring sebagai saudara seperguruan. Karena itulah maka ia telah menggeser arah pedangnya, sehingga pedang itu tidak lagi tertancap di punggung dan langsung menghunjam sampai ke jantung. Tetapi pedang itu telah mengoyak lambung Juwir ing. Juwiring terlonjak oleh kesakitan yang menyengat. Dengan serta merta ia meloncat berbalik. Dilihatnya Arum berdir i termangu-mangu dengan pedang datangannya yang gemetar. Buntal melihat satu saat yang memungkinnya untuk berbuat sesuatu. Justru pada saat perhatian Juwiring tertuju sepenuhnya kepada Arum, maka tiba-tiba Buntal telah meloncat dan dengan sekuat tenaganya memukul keris yang berada di tangan Juwiring dengan pedangnya. Juwiring sama sekali tidak menduga bahwa hal itu akan dilakukan oleh Buntal. Karena itu, betapa ia menjadi terkejut.Tangannya tergetar sehingga genggamannya telah mengendor. Sebelum Juwiring sempat berbuat sesuatu, sekali lagi pedang Buntal terayun deras. Buntal tidak lagi memukul keris di tangan Juwiring tetapi Buntal langsung memukul pergelangan tangan Juwiring dengan punggung pedangnya. Juwiring mengaduh kesakitan. Ia benar-benar tidak mampu lagi menahan perasaan sakit. Karena itulah, maka kerisnya telah terlepas dari tangannya. Sambil mengumpat Juwiring dengan tergesa-gesa berusaha memungut kembali ker isnya. Tetapi Buntal bergerak cepat. Sebelum tangan Juwiring menyentuh keris itu. maka Buntal telah menerkamnya sambil melepaskan pedangnya. Keduanya terdorong beberapa langkah. Kemudian keduanya jatuh berguling. Untuk beberapa saat keduanya bergumul di atas tanah berbatu padas. Arum berdiri membatu. Dipandanginya kedua orang saudara seperguruannya yang sedang bergulay. Namun ketika keduanya mendekati lereng yang terjal, tiba-tiba saja Arum telah memekik keras sekali. Suara Arum itu bagaikan menghantam lambung Gunung, menggelepar dan bergema melingkar-lingkar. Ternyata suara itu telah mengejutkan Buntal dan Juwir ing yang sedang bergulat. Suara itu seakan-akan bagaikan kekuatan gaib yang telah menyentuh jantung mereka, sehingga keduanyapun bagaikan berjanji telah berhenti bergulat. Buntallah yang pertama-tama meloncat berdir i. Ketika terasa kakinya menginjak batu pada yang miring, maka iapun sadar, bahwa ia telah berdir i di bibir jurang yang dalam. Karena itu, maka iapun segera bergeser menjauhi lereng yang terjal itu.Ketika Juwiring kemudian berusaha bangkit Buntal masih sempat memper ingatkannya “Hati-hatilah. Kau berada di mulut jurang yang dalam. Jika kau tergelincir, maka tubuhmu akan lumat menjadi debu” Ternyata tubuh Juwiring telah menjadi semakin lemah. Darahnya mengalir semakin banyak. Namun ia masih sempat bergeser bagaikan merangkak. Perlahan- lahan ia berdiri tertatih-tatih. Tetapi Buntal tidak berani mendekatinya. Jika Juwiring masih belum menyadari apa yang telah terjadi atas dirinya, maka anak muda itu akan dapat menariknya dan kemudian mendorongnya ke dalam jurang. Arumpun kemudian melangkah mendekatinya, di tangannya masih tergenggam senjatanya yang siap dipergunakannya, Selangkah ia berada di sisi Buntal yang termangu-mangu. Juwiring yang berdiri tegak itu memandang kedua adik seperguruannya sejenak Namun kemudian nampak bahwa sorot matanya menjadi semakin redup. Wajahnya tidak lagi nampak bengis dan liar. Bahkan kemudian ia berpaling memandang keadaan di sekitarnya. Dengan suara parau ia berdesir “Apa yang telah terjadi” “Kau sadari apa yang telah terjadi kakang?“ suara Buntal rendah. Juwiring melangkah beberapa langkah maju. Namun kemudian ia telah tertunduk di atas batu padas. Sambil menutup, wajahnya dengan kedua belah tangannya ia bertanya “Apa yang telah aku lakukan Buntal?“ Buntal melangkah mendekat. Namun Arum menggamitnya dengan curiga. Karena itu, maka langkah Buntalpun tertegun. “Buntal” desis Juwiring “Aku telah menjadi gila. Aku sedang mencoba mengingat-ingat, apa yang telah terjadi. Apa yangtelah aku lakukan. Dan apa yang telah mencengkam jiwaku itu” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian melangkah mendekat. Arum tidak, lagi menahannya, meskipun ia t idak melepaskan senjatanya. Juwiringpun kemudian menarik nafas dalam-dalam Sekali lagi ia mengangkat wajahnya dan memandang berkeliling. Ketika terpandang olehnya keris yang tergolek di tanah, maka dadanya menjadi berdesir. “Ya“ Juwir ing mengangguk-angguk “Aku ingat semuanya. Aku telah diterkam oleh pengaruh keris itu, sehingga aku tidak kuasa melawannya” “Tetapi bukankah kau sudah melepaskan ker is itu“ bertanya Buntal Juwiring menarik nafas dalam sekali. Terdengar suaranya parau “Kau sudah membebaskan aku dar i kegilaan ini, Buntal. Untunglah bahwa aku tidak berhasil menggoreskan ujung keris itu pada tubuh kalian, meskipun aku telah benar-benar ingin berbuat demikian” “Sudahlah” desis Buntal “Aku tahu. kau tidak sengaja melakukannya” Mata Juwiring tiba-tiba terasa panas. Ketika ia menatap Arum, terasa tenggorokannyapun bagaikan tersumbat. Namun Juwiring telah berkata “Arum. Aku minta maaf. Aku merasa betapa ringkihnya hati ini” Arum memandang, wajah Juwir ing yang pucat dan lesu. Apalagi ketika terpandang olehnya mata Juwiring yang merah. Bukan karena keliarannya lagi. Tetapi rasa-rasanya Juwiring telah bertahan untuk tidak menitikkan air mata. Tetapi Arum adalah seorang gadis. Betapapun garangnya, namun pada suatu saat sifat-sifatnya sebagai seorang gadis tidak dapat dikekangnya lagi. Tiba-tiba saja Arum telahterduduk. Diletakkannya senjatanya di sampingnya. Sementara kedua tangannya telah sibuk mengusap air matanya. Buntallah yang kemudian mendekatinya sambil berkata “Jangan menangis Arum. Semuanya sudah selesai” Arum mengusap matanya. Namun air itu masih saja mengembun. Dalam pada itu, terdengar Juwiring berkata “Buntal. Tolong, bantulah aku mengobati lukaku” Buntalpun kemudian mendekat. Bahkan Arumpun mendekat pula. Merekapun membantu mengobati luka-luka di tubuh Juwiring. Ketika tersentuh luka oleh ujung senjatanya, tiba-tiba Arum terpekik kecil. Katanya “Akupun sudah menjadi gila kakang. Aku juga menjadi gila” “Kau tidak bersalah adikku” desis Juwiring “Kau hanya sekedar membela diri. Sudahlah. Seperti yang dikatakan Buntal, semuanya sudah selesai” Arum berusaha menahan tangisnya. Dengan lengan bajunya ia mengusap, matanya. Tetapi semakin ia sibuk mengusap matanya, maka air itupun rasa-rasanya mengalir semakin deras. Dalam pada itu, terasa oleh Buntal, betapa lemahnya keadaan Juwiring. Darah sudah terlalu banyak mengalir dari tubuhnya. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berdesis lemah “Buntal, apa yang akan terjadi?“ Buntal terkejut. Ketika ia memandang wajah Juwiring, wajah itu menjadi sangat pucat. “Kakang Juwiring” desis Buntal. “Pandanganku menjadi kekunang-kunang” desis Juwir ing. Ketika kemudian Buntal memegangi kedua lengannya, terasa anak muda itu menjadi gemetar.“Berbaringlah” desis Buntal sambil membantu Juwir ing berbaring di atas tanah berbatu padas. Nafas Juwiringpun seolah-olah telah menjadi sendat. Sementara itu Buntal berusaha untuk memijit dadanya untuk membantu arus pernafasannya. Namun ternyata tubuh Juwiring sudah terlalu lemah. Sekali Juwir ing berdesis. Namun kemudian matanyapun terpejam. Pingsan. “Kakang, kakang“ panggil Buntal dengan gelisah. “Kenapa, kenapa kakang Juwiring?“ bertanya Arum dengan nada patah-patah. Sebelum Buntal menjawab, Arum yang melihat keadaan Juwiring, tiba-tiba saja telah menjer it. Diguncang-guncangnya tubuh itu sambil menangis “Kakang, kakang” “Jangan kau perlakukan begitu, Arum“ Buntal mencoba mencegahnya. “Aku telah membunuhnya “ tangis gadis itu. “Kakang Juwiring tidak mati. Ia pingsan” sahut Buntal. Arum memandang Buntal dengan tatapan yang mengandung harapan. Maka iapun bertanya dengan nada dalam “Jadi kakang Juwir ing hanya pingsan?“ “Ya. Ia pingsan. Tubuhnya dan hatinya terlalu letih oleh keadaan yang tidak dikehendakinya sendiri. Kau lihat, luka- lukanya sudah mulai pampat kembali. Jika tubuhnya kau guncang-guncang seperti itu, maka luka-lukanya mungkin akan dapat berdarah lagi”Arum melepaskan tubuh yang terbaring diam itu. Sementara itu Buntalpun berkata “Tunggulah di sini. Aku akan mencari air. Air itu akan membuatnya sedikit sgar” “Apakah air di dalam impes itu sudah habis?“ bertanya Arum. Buntalpun kemudian pergi ke mata air yang tidak terlalu jauh, yang diketemukainnya sebelum ia terpaksa bertempur melawan Juwiring. Dengan daun lumbu ia membawa air yang bening dan dingin. Perlahan-lahan air itupun kemudian diusapkan ke wajah Juwiring, kerambutnya dan lehernya. Ternyata air itu membuat tubuh Juwir ing menjadi sedikit segar. Perlahan-lahan anak muda itu menggerakkan pelupuk matanya. Ketika matanya terbuka, yang dilihatnya pertama- tama adalah dua orang adik seperguruannya yang berjongkok di sampingnya sambil mengusap wajahnya dengan air yang sejuk. “Kakang” desis Arum ketika ia melihat anak muda itu membuka matanya. Juwiring berdesah. Terasa tubuhnya letih sekali. Tulang- tulangnya bagaikan dilepas dari kulit dagingnya. Namun usapan yang dingin membuatnya semakin segar. “Beristirahatlah kakang” desis Buntal. Juwiring mengangguk kecil. Namun ketika ia menggerakkan badannya, tulang punggungnya serasa akan patah. “Tanah ini memang keras sekali” desis, Buntal “Tetapi lebih baik kau tetap berbaring” Arumlah yang kemudian bangkit untuk mengambil dedaunan pada ranting-ranting perdu. Katanya “Mungkin kurang sesuai, tetapi cobalah untuk mengurangi perasaan sakit karena keras batu-batu padas”Buntal dan Arum telah membantu Juwir ing untuk menggeser tubuhnya ke atas setumpuk dedaunan. Terasa tubuh Juwiring tidak terlalu sakit lagi oleh kerasnya batu-batu padas. Dalam pada itu, meskipun anak-anak muda itu tidak membicarakannya, namun mereka sudah saling mengerti, bahwa mereka harus bermalam lagi. Betapa dinginnya malam, namun mereka tidak akan dapat meninggalkan tempat itu karena keadaan Juwiring. Dalam pada itu, selagi Juwiring berusaha untuk memperbaiki keadaannya, Buntal telah berusaha menemukan tempat yang agak lunak. Ia tidak dapat membiarkan tubuh- tubuh dari mereka yang telah terbunuh untuk ditinggalkannya begitu saja. “Sulit untuk membuat lubang di sini” desis Arum. Akhirnya mereka bersepakat untuk mengubur mereka pada lekuk dinding-dinding padas dan kemudian menimbuninya. Namun sementara itu, keris yang masih tetap tergolek itupun merupakan persoalan tersendiri. Jika keris itu ditinggalkannya di situ saja, maka ada kemungkinan bahwa seseorang akan dapat menemukannya. Tetapi untuk membuangnya lebih jauh, maka anak-anak muda itu tidak lagi berniat untuk memegangnya meskipun hanya sekejap. “Apa yang harus kita lakukan?“ bertanya Buntal kepada Arum yang bersama-sama sedang menunggui Juwiring yang masih terbaring di atas seonggok dedaunan. “Biar lah keris itu berada di tempat itu sampai esok. Kita akan memikirkan malam ini, apa yang sebaiknya kita lakukan” desis Arum, “Tetapi yang semalam itu akan dapat menumbuhkan perubahan yang tidak kita kehendaki” sahut Buntal.“Aku tidak tahu, apa yang sebaiknya kita lakukan” jawab Arumpula. Namun tiba-tiba saja Buntal berkata “Aku akan mengungkitnya dan melemparkannya ke dalam jurang. Tanpa menyentuh langsung dengan tanganku” Arum mengerutkan keningnya. Ketika keduanya memandang Juwiring yang masih terbaring, ternyata anak muda itu berkata perlahan-lahan “Kau dapat mencobanya Buntal. Tetapi ingat, jangan kau sentuh dengan tanganmu. Jangan pula kau ungkit dengan pedangmu. Carilah sepotong kayu yang kemudian akan kau lemparkan pula ke dalam jurang itu. karena mungkin sekali sentuhan sepotong kayu dengan keris itu akan dapat mengakibatkan sentuhan racun dari ker is itu pula. Buntal mengangguk-angguk. Katanya “Aku akan mencoba kakang. Tetapi aku minta kepada Arum untuk mengamati agar aku tidak membuat kesalahan lagi seperti yang pernah kau lakukan” “Baiklah” desis Juwiring “Kau dapat membantunya Arum” Buntalpun kemudian mencari sepotong kayu. Dengan kayu itu ia mengungkit keris itu. Sedikit demi sedikit. Sementara Arumselalu mengikutinya. Ternyata bahwa usaha Buntal itu berhasil. Ia berhasil mengungkit keris itu sampai ke bibir jurang yang dalam. Kemudian dengan satu ungkitan lagi, maka ker is itupun telah terlempar ke dalam jurang yang dalam dan terjal, yang tidak mungkin di sentuh oleh kaki manusia. Sementara itu, Buntalpun telah melemparkan pula sepotong kayu yang dipergunakannya untuk mengungkit ker is itu. “Tetapi yang kita lakukan hanya sekedar satu usaha” berkata Buntal “Tetapi siapa tahu. bahwa ada jalan lain yang justru akan langsung sampai ke bagian bawah dar i jurang itu”Arum mengangguk-angguk. Katanya “Memang mungkin kakang. Tetapi menilik keadaannya, maka jurang itu tentu tidak akan pernah di sentuh kaki manusia” Juwiring menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar keterangan kedua adik seperguruannya mengenai keris itu. Meskipun hampir saja merenggut nyawanya, namun mereka bertiga telah berhasil melakukan per intah ayahandanya yang terakhir untuk menyimpan ker is itu ke tempat yang tidak pernah disentuh oleh tangan manusia. Demikianlah, di malam yang dingin ketiga anak muda itu telah bermalam lagi di lereng Gunung Lawu. Mereka berusaha mengusir dinginnya malam di lereng gunung dengan membuat perapian. Buntal telah mencari kekayuan dan ranting-ranting yang kering. Kemudian mereka membakarnya di dekat tempat Juwiring berbaring. “Tidurlah” berkata Buntal kepada Arum. Arum menarik nafas. Tetapi ia tidak sampai hati untuk tidur sementara Buntal akan berjaga-jaga semalam suntuk. “Kita bergantian” berkata Arum “Jangan anggap aku sebagai seorang gadis kecil yang hanya pandai merengek” Buntal menarik nafas dalam-dalam. Namun jawabnya “Baiklah. Sekarang giliranku berjaga-jaga. Tidurlah. Pada saatnya aku akan membangunkanmu” Tetapi Arumpun mengerti, bahwa Buntal tidak akan membangunkannya. Karena itu, maka Arumpun t idak mau tidur sama sekali, meskipun ia duduk sambil memeluk lututnya dan meletakkan kepalanya di atas lututnya itu. Ketika matahari memancar di keesokan harinya, ternyata keadaan Juwiring sudah berangsur baik. Ia sudah mau makan sepotong makanan dari bekal yang dibawanya. Bekal yang di buat persediaan untuk waktu yang cukup lama. “Bagaimana dengan keadaanmu?“ bertanya Buntal“Apakah kau sudah merasa baik dan dapat melakukan perjalanan?“ “Jangan kau paksa” desis Arum. Namun Juwiringlah yang menjawab “Aku rasa keadaanku cukup baik. Tubuhku sudah merasa segar. Tetapi sudah barang tentu aku memerlukan bantuan kalian untuk menuruni lereng gunung ini” “Jika per lu, kita dapat menunda sehari lagi” berkata Buntal. “Akan menjadi kurang baik bagiku” jawab Juwir ing “Semakin cepat aku kembali di antara lingkungan kita, maka akan menjadi semakin baik bagiku. Kita akan dapat membuat laporan tentang Singaprana, tetapi lebih dari itu, aku akan mendapat pengobatan yang lebih baik. Dengan demikian, maka keadaankupun akan cepat pulih kembali” Kedua adik seperguruannyapun menyetujuinya pula. Karena itu, maka merekapun segera berbenah dir i Bergantian Arum dan Buntal pergi ke mata air yang tidak terlalu jauh. Sementara Buntalpun telah membawa air yang sejuk dengan daun lumbu. Dengan air itu Juwiring mengusap wajah dan rambutnya, sehingga tubuhnya terasa menjadi semakin segar. Setelah berbenah diri, maka anak-anak muda itupun kemudian bersiap untuk menuruni lereng. Senjata-senjata mereka sudah tergantung di lambung, sementara Buntal masih membawa kampil berisi bekal mereka yang tidak terlalu banyak. Perlahan-lahan merekapun mulai menuruni tebing Gunung Lawu. Mereka harus sangat berhati-hati, karena di antara mereka terdapat Juwiring yang lemah. Meskipun demikian ternyata Juwiring memang seorang anak muda yang mempunyai daya tahan tubuh yang luar biasa. Meskipun badannya sangat letih, namun iapun menuruni gunung itu tanpa mengeluh.Tetapi dengan keadaannya itu, ketiga anak muda itupun beberapa kali harus berhenti untuk beristirahat. Setiap kali Buntal melihat, apakah luka Juwiring berdarah lagi. Namun agaknya setelah mendapat pengobatan, luka Juwiring itu benar-benar sudah pampat. Anak-anak muda itu ternyata memer lukan waktu yang berlipat untuk menuruni lereng gunung itu dibanding dengan saat mereka naik. Namun ketiga anak-anak muda itu menar ik nafas dalam-dalam ketika mereka benar-benar sudah sampai pada satu tataran yang sudah sering dilalui orang. Mereka mulai berjalan di atas jalan yang lebih baik dar i batu-batu padas yang mir ing. Apalagi mereka mulai memasuki padukuhan yang berpenghuni. Namun keadaan mereka memang dapat menarik perhatian satu dua orang yang mereka jumpai. Ketika seorang yang membawa cangkul berpapasan dengan ketiga anak muda itu, maka dengan wajah cemas orang itu bertanya “Anak muda, kenapa kawanmu itu?“ Buntal bingung sesaat. Namun akhirnya ia menemukan jawaban “Ternyata tanah licin di lereng gunung. Kawanku tergelincir dan jatuh ke dalam jurang. Untunglah bukan jurang yang terlalu dalam” “O“ orang tua itu mengangguk-angguk ”sokur lah bahwa jurang itu tidak terlalu dalam. Tetapi keadaannya nampaknya cukup payah” “Mudah-mudahan segera bertambah baik” desis Buntal. Orang itu mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bergumam “Kalian harus berhati-hati. Daerah ini memang daerah yang wingit” Ketiga anak muda itupun melanjutkan perjalanannya menuju kesebuah kedai tempat mereka menitipkan kuda mereka. Setiap kali ada orang yang bertanya, maka Buntalpunmenjawab serupa. Bahwa Juwiring telah tergelincir dan jatuh ke dalam jurang yang untungnya tidak begitu dalam. “Itulah anak-anak sekarang” desis seorang perempuan tua yang juga mendapat jawaban yang sama “Mereka sudah tidak menghormat i lagi keadaan di lereng Gunung ini. Untunglah bahwa anak yang tergelincir itu tidak mati, atau ketiga-tiganya tidak kalap sama sekali di lambung Gunung itu” Setelah menempuh perjalanan yang lambat, akhirnya mereka sampai juga kokedai tempat mereka menitipkan kuda- kuda mereka. Kedatangan ketiga anak muda itu benar-benar telah mengejutkan pemilik warung itu. Apalagi ketika ia mendapat jawaban yang sama dar i Buntal seperti ia menjawab setiap pertanyaan tentang keadaan Juwiring. “Sokur lah bahwa keadaannya berangsur baik” berkata pemilik warung itu. Bahkan beberapa orang yang sedang berada di warung itupun ikut mengangguk-angguk. Seperti beberapa orang lain, maka pemilik warung itupun menganggap anak muda yang tergelincir itu masih beruntung. “Tiga bulan yang lalu, seseorang telah meninggal” berkata pemilik warung itu. “O” Buntal mengerutkan keningnya. “Ia juga tergelincir. Tetapi agak ke Utara dari jurusan yang kalian ambil. Empat orang mendaki bukit untuk nenepi seperti yang akan kalian lakukan. Tiga orang turun ke padukuhan untuk minta tolong agar mereka membantu mengambil kawannya yang tergelincir. Juga di jurang yang tidak begitu dalam. Tetapi nyawanya tidak tertolong lagi” Namun tiba-tiba orang itu bertanya “Tetapi bagaimana kalian dapat naik?“ Buntal menjadi agak bingung. Namun ia justru bertanya “Naik kemana?“ “Bukankah kawanmu itu tergelincir ke dalam jurang?“ bertanya pemilik warung itu,“Ya. Ia tergelincir. Terguling-guling di atas batu-batu padas dan membentur seonggok batu padas pula” jawab Buntal “O“ pemilik warung itu mengangguk-angguk “Jadi t idak terperosok masuk ke dalam jurang yang terjal?” “Tidak” jawab Buntal. Ternyata pemilik warung itu cukup baik. Meskipun ketika ketiga anak muda itu berangkat, pemilik warung itu hanya mau menerima kuda yang ditit ipkan dengan imbalan uang, namun melihat keadaan Juwiring ia menjadi iba. Pemilik warung itu telah memberikan tempat bagi Juwiring untuk beristirahat. Dipersilahkannya Juwir ing berbaring di sebuah amben yang besar di serambi samping. Dalam pada itu, Buntalpun telah memesan minuman hangat dan beberapa potong makanan. Selain bagi Juwiring juga Buntal dan Arumpun memerlukannya. Meskipun mereka membawa bekal, tetapi nasi hangat dan minuman panas membuat tubuh Juwir ing semakin segar. Dengan keadaan yang lebih baik, maka ketiga anak-anak muda Itupun merencanakan untuk segera kembali ke tempat kedudukan mereka di Gebang. Mereka t idak akan dapat berbuat untuk kepentingan mereka sendir i tanpa menghiraukan keadaan yang setiap saat dapat berubah-rubah dengan cepatnya. Meskipun keadaan Juwiring belum pulih benar, namun ia sudah menjadi semakin kuat dan memungkinkan menempuh perjalanan, Dengan demikian, maka setelah mereka beristirahat beberapa lama, maka merekapun segera bersiap-siap untuk meninggalkan warung di kaki Gunung Lawu itu. Agar mereka tidak selalu menarik perhatian orang di sepanjang jalan, maka Juwiringpun telah mengganti pakaiannya yang bernoda darah dan telah dikoyak oleh senjata Singaprana, Arum dan Buntal. Tetapi pakaian yangkoyak itu telah disimpan oleh Juwiring untuk mengenang apa yang pernah terjadi atas dirinya karena pengaruh keris yang luar biasa itu. Demikianlah, setelah membayar makanan, minuman dan upah selama pemilik warung itu memelihara kuda anak-anak muda yang memanjat kaki Gunung Lawu itu, maka merekapun segera mohon dir i, “Tetapi bukankah kau masih terlalu letih?“ bertanya pemilik warung itu kepada Juwir ing. “Aku sudah baik” jawab Juwir ing “terima kasih atas segala kebaikan bagi kami bertiga” Pemilik warung itu tidak menahan mereka. Bagaimanapun juga ada perasaan cemas melihat keadaan Juwiring. Tetapi karena anak-anak muda itu sudah berniat untuk pergi, maka dilepaskannya anak-anak muda itu dengan ragu-ragu. Sejenak kemudian ketiga anak muda itu telah meninggalkan kaki Gunung Lawu. Mereka t idak berpacu terlalu cepat, mengingat keadaan Juwiring, Tetapi Juwir ing sendiri nampaknya sudah tidak menghiraukan lagi keadaan dirinya. Ialah yang justru selalu berada di paling depan. “Jangan kau paksa dir imu “ Buntal memperingatkannya. “Aku tidak apa-apa. Bukankah aku tinggal duduk saja di punggung kuda?“ sahut Juwir ing sambil tersenyum. ”Kau akan terguncang-guncang” sahut Buntal. Juwiring masih saja tersenyum. Tetapi ia mengangguk- angguk. Di perjalanan kembali anak-anak muda itu lebih memperhitungkan keadaan. Jika mereka bertemu dengan lawan, maka keadaannya akan menjadi semakin gawat. Meskipun Juwir ing yang sudah menjadi semakin baik itu akan dapat berbuat sesuatu untuk melindungi dir inya, tetapi ia tidakberada di puncak kemampuannya, sehingga j ika hal itu terjadi, maka mereka akan berada dalam bahaya. Dengan sangat berhati-hati mereka menempuh perjalanan ke Gebang. Mereka menelusuri jalan yang paling aman, sesuai dengan petunjuk-petunjuk Ki Wandawa. Sehingga dengan demikian, mereka sama sekali tidak mengalami hambatan apapun juga di perjalanan. Namun dalam pada itu, ketika mereka singgah sebuah kedai, maka mereka berhasil memancing pembicaraan dengan pemilik kedai itu, bahwa sejak beberapa hari yang lalu, keadaan menjadi agak tenang. Memang ada peronda dari Surakarta yang bergerak, tetapi dalam jumlah kecil dan tidak terlalu jauh dar i pusat-pusat pertahanan mereka. Sementara itu pasukan Pangeran Mangkubumipun tidak bergerak pula. Tetapi ketiga anak muda itu gagal untuk mencari keterangan, bagaimana sikap orang-orang di sekitar warung itu karena setiap orang menjadi sangat berhati-hati. Mereka tidak dengan terbuka dapat mengutarakan isi hatinya, karena mereka selalu meragukan, dengan siapa mereka berhadapan. Namun demikian, ketiga orang anak muda itu menjadi tebih tenang. Selama mereka berada di Gunung Lawu, ternyata tidak terjadi sesuatu atas Gebang, dan mungkin juga tidak terjadi sesuatu atas Raden Ayu Galihwarit. Demikianlah, maka merekapun kemudian meneruskan perjalanan mereka. Dengan selamat mereka sampai ke tempat kedudukan mereka di Gebang. Ternyata ketiga anak-anak muda itu tidak ingin menunda laporannya. Karena itulah, setelah mereka berbincang dengan Kiai Danatirta serba sedikit, maka merekapun segera menghadap Ki Wandawa. Dengan tegang Ki Wandawa mendengarkan laporan ketiga anak-anak muda itu. Sekali-kali ia memandang Juwiring sekilas. Kemudian kedua adik seperguruannya, seolah-olahingin mengetahui apakah yang dikatakan oleh Juwir ing itu benar. Di luar sadarnya, kadang-kadang Buntalpun mengangguk- angguk kecil, sehingga Ki Wandawa dapat mengambil kesimpulan, bahwa yang dikatakan oleh Juwiring itu dibenarkan oleh Buntal. “Jadi Singaprana mengikuti perjalananmu?“ Ki Wandawa menegaskan. “Aku terpaksa membunuhnya” sahut Juwiring kemudian. Sementara itu iapun melaporkan pula apa yang telah terjadi atas dirinya. “Untunglah bahwa kalian bertiga” berkata Ki Wandawa “dengan demikian maka ada kekuatan yang dapat mencegah pengaruh keris itu atas dirimu Raden” “Kami bersokur, bahwa agaknya Yang Maha Kuasa masih selalu melindungi kami bertiga” sahut Juwir ing “Baiklah” berkata Ki Wandawa “bagaimanapun juga kematian Singaprana harus direlakan. Aku memang masih belum mempercayainya sepenuhnya. Namun bahwa ia berhasil mendengarkan pembicaraan kita, itu merupakan satu peringatan bagi kita, bahwa kita masih harus meningkatkan kewaspadaan dan perlindungan terhadap rahasia kita. Terutama yang menyangkut rahasia tingkah laku pasukan ini”Ketiga anak muda itupun kemudian minta dir i. Juwiring ingin mengobati luka- lukanya dengan cara yang lebih baik. agar luka-lukanya itu menjadi semakin cepat sembuh. Ketika kemudian Kiai Danatirta membuka baju Juwiring dan melihat luka- luka di tubuhnya orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Jarang sekali orang yang memiliki daya tahan seperti kau Raden. Luka-luka itu cukup banyak dan parah. Meskipun sudah kau pampatkan dengan obat yang kau bawa, namun luka-luka ini masih tetap merupakan luka- luka yang gawat” “Adik-adikku sangat membantu. Perjalanan kami kembali dari Gunung Lawu merupakan perjalanan yang sangat lambat. Hampir seperti siput yang merambat di pinggir par it” desis Juwiring. Dalam pada itu, Kiai Danatirtapun telah merawat luka- luka Juwiring yang di antaranya adalah karena ujung pedang Arum dan Buntal. Namun peristiwa itu ternyata tidak meninggalkan luka di hati. Anak-anak muda itupun telah menyadari, bahwa yang terjadi itu seolah-olah bukan karena kehendak mereka sendiri. Meskipun peristiwa itu sendiri sudah hampir saja merenggut j iwa salah seorang dari mereka. Sementara itu, keadaan Surakarta memang agak tenang. Kumpeni sedang sibuk mencari orang yang dianggapnya berkhianat. di antara para Senapati dan perwira prajur it Surakarta, ternyata tidak dapat mereka ketemukan, dugaan- dugaan tentang seorang pengkhianat. “Mungkin yang terjadi itu adalah satu kebetulan saja” berkata seorang perwira Surakarta “atas dasar kemampuan Raden Mas Said memperhitungkan keadaan, serta pengamatan para petugas sandinya, maka da mengambil kesimpulan bahwa serangan yang dipersiapkan kumpeni dan prajurit Surakarta, sama sekali tidak akan diarahkan kepada pasukan induk Pangeran Mangkubumi”Seorang perwira yang sudah lebih tua mengangguk- angguk. Katanya “Hal itu memang mungkin sekali. Raden Mas Said adalah seorang yang memiliki penggraita yang sangat tajam. Hampir seperti Pangeran Mangkubumi sendiri” “Mungkin sekali ia mempunyai seorang guru, penasehat atau apapun yang dapat melihat isyarat atas sesuatu yang belumterjadi” desis seorang perwira prajur it Surakarta. “Omong kosong“ bantah seorang perwira Kumpeni “itu hanya omong kosong. Tentu ada seorang pengkhianat, atau kecerdasannyalah yang telah mengambil kesimpulan, bahwa kita akan datang menyerang, sehingga mereka sempat memasang jerat” “Tetapi mereka mempunyai perhitungan waktu yang tepat” desis perwira kumpeni yang lain. “Mungkin mereka sudah dua har i melakukan jebakan itu” jawab perwira kumpeni yang pertama “dengan sabar mereka menunggu. Seandainya kita tidak, datang pada waktu itu, mereka akan tetap menunggu sampai seminggu Dengan demikian kita akan mendapat kesan, bahwa mereka dapat memperhitungkan segalanya dengan tepat” Para perwira kumpeni dan para Senapati dari Surakarta itu mengangguk-angguk. Memang masuk akal. Sementara merekapun menyadari, bahwa petugas sandi, baik dari pasukan Raden Mas Said maupun dari pasukan induk Pangeran Mangkubumi tentu berkeliaran di Surakarta. “Seandainya tidak ada seorang pengkhianat” berkata salah seorang Senapati “para petugas sandi yang satu dengan yang lain dapat menghubungkan persoalan yang dapat mereka amati. Kemudian orang-orang seperti Raden Mas Said dan apalagi Pangeran Mangkubumi sendiri akan dapat mengambil kesimpulan. Dan kesimpulan itu biasanya mendekati kebenaran”“Ya” sahut seorang perwira Kumpeni “Kita memang menghadapi seseorang yang tidak pernah kita perhitungkan ada di Surakarta. Ternyata mereka memang memiliki kecerdasan yang tinggi” “Apa yang kau maksudkan?“ bertanya seorang Senapati muda. Perwira kumpeni itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu- ragu ia menjawab “Ada juga orang pribumi yang mempunyai kecerdasan yang baik sebagaimana Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said” “Tidak hanya dua. Tetapi lebih dari jumlah kumpeni yang ada di Surakarta” jawab Senapati muda itu. “Tentu tidak” berkata kumpeni itu pula “jika demikian peradaban kalian tentu lebih tinggi dari sekarang. Apalagi kami t idak akan perlu berada di sini untuk melindungi kalian” “Memang sebaiknya kalian pergi” desis Senapati muda itu. “Sudahlah” potong Senapati yang lebih tua “Kita sedang berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di lingkungan kita. Dengan demikian kita akan dapat menjadi salah paham dan bahkan menambah ketiuak tunangan kita” Senapati muda iitu menunduk. Ia tidak membantah lagi. Jika ia masih juga menolak anggapan orang-orang berkulit putih itu, bahwa orang-orang Surakarta memiliki tingkat kecerdasan yang rendah, maka orang-orang yang marah itu akan dapat mengarahkan kecurigaannya kepadanya. Namun dalam pada itu, ketika kumpeni itu tidak lagi dapat menemukan orang-orang yang dicurigainya di antara mereka. maka mereka mulai melihat kepada orang-orang yang selalu berhubungan dengan mereka terdapat Raden Ayu Galihwarit. Sementara itu, Arum, Buntal dam Juwir ing yang telah berada di Gebang, merasa perlu untuk segera berhubungandengan Raden Ayu Galihwarit. Meskipun nampaknya untuk beberapa hari tidak ada gerakan dar i segala pihak, namun mungkin sekali akan dapat terjadi sesuatu yang tiba-tiba. Tetapi seperti yang pernah dipesankan oleh beberapa pihak, apalagi karena keadaan kesehatannya yang masih belum memungkinkan, maka hanya Buntal dan Arum sajalah yang akan pergi menemui Raden Ayu Galihwarit. Bagaimanapun juga keadaan masih sangat gawat jika Juwiring sendiri pergi memasuki kota. Seperti biasa yang mereka lakukan, maka di dini hari mereka sudah siap untuk berangkat dengan membawa beberapa jenis barang dagangan, terutama alat-alat untuk mer ias diri. Sebenarnyalah bahwa Kiai Danatirta mampu meramu lulur dan mangir yang baik, sehingga benar-benar dapat dipergunakan oleh Raden Ayu Galihwarit. Bahkan seperti yang sudah dilakukannya, maka Raden Ayu Galihwar it telah menularkannya kepada beberapa orang puteri dan yang ternyata merekapun sependapat bahwa lulur dan mangir itu cukup baik. Kedatangan Buntal dan Arum itelah disambut dengan gembira oleh Raden Ayu Galihwarit, terlebih-lebih lagi Rara Warih, yang rasa-rasanya sudah tidak betah lagi tinggal di istana Eyangnya. Selagi ibundanya masih membenahi diri di dalam biliknya Rara Warih menerima Arum dan Buntal itu di serambi. Seperti kanak-kanak Rara Warih selalu saja bertanya apa yang pernah terjadi di padukuhan di luar kota Surakarta. Bahkan Arumpun sempat menceriterakan keadaan Raden Juwiring yang masih belum pulih benar karena keadaannya yang terjadi di luar kemauahnya. “Aneh sekali” berkata Rara Warih “Jadi benda itu dapat mempengaruhi kepribadian seseorang?“ “Ya” jawab Arum“langsung atau tidak langsung”“Bagaimana yang langsung dan bagaimana yang tidak langsung?“ bertanya Rara Warih. “Seperti yang terjadi atas Raden Juwiring itu, benda di tangannya dengan langsung mempengaruhinya, meskipun hal itu terjadi karena Raden Juwiring telah mempergunakannya lebih dahulu untuk melawan orang yang bernama Singaprana” jawab Arum. Kemudian “Sedangkan yang tidak langsung, dapat kita lihat lebih banyak lagi. Karena sesuatu benda apakah itu pusaka atau bukan, tetapi benda-benda berharga, akan dapat membuat kita kehilangan pegangan. Kau lihat, beberapa orang yang tergelincir ke dalam pengaruh kumpeni itu, bukankan juga karena pengaruh benda-benda mati seperti itu? Jarang di antara mereka yang berpegang pada satu keyakinan, bahwa kumpeni akan dapat mendatangkan kesejahteraan lahir batin bagi Surakarta. Namun sebagian dari mereka telah didorong oleh satu keinginan pr ibadi. Maksudku, telah dipengaruhi dengan tidak langsung oleh benda-benda berharga” Rara Warih mengangguk-angguk. Namun mereka telah terkejut ketika mendengar suara di ambang pintu “Kau benar ngger. Pengaruh gelar keduniawian memang sangat besar, sehingga seseorang akan dapat kehilangan kepr ibadiannya” Arum terkejut. Wajahnya menjadi redup ketika ia melihat Raden Ayu Galihwarit melangkah keluar pintu. Namun gadis itu menjadi agak tenang ketika ia melihat. Raden Ayu itu masih tetap tersenyum. “Nampaknya memang demikian Arum” berkata Raden Ayu Galihwar it yang kemudian duduk bersama mereka. “Aku mendengar apa yang kau ceriterakan tentang Juwiring. Sungguh menegangkan. Untunglah bahwa Tuhan masih melindungi kalian bertiga” “Ya Raden Ayu” desis Arum sambil menunduk dalam-dalam “Tuhan Yang Maha Penyayang masih melindungi kami bertiga”“Tetapi hal itu akan dapat kalian jadikan pengalaman. Dan tanpa kau sadari, kau dapat mengambil arti dari peristiwa itu dengan memperbandingkan antara pengaruh yang langsung dan yang tidak langsung” berkata Raden Ayu Galihwar it selanjutnya. Arumt idak menjawab. Ia menjadi berdebar-debar lagi. Namun Raden Ayu Galihwarit itu kemudian berkata “Dengan pengalaman itu Arum, kau dan saudara-saudaramu akan tetap berpegang pada keyakinanmu. Sebagaimana akhirnya Juwiring berhasil bebas dari pengaruh ker is itu. Karena sebenarnyalah keris itu mempunyai perbawa yang luar biasa, dan hal ini telah pernah aku ceriterakan, juga tentang perubahan watak yang terjadi pada Tumenggung Sindura. ” Arum masih menundukkan kepalanya, sementara Buntal mengangguk-angguk. “Ah, sudahlah. Kalian dapat berbincang lebih panjang. Aku akan melihat-lihat mangirmu Arum” berkata Raden Ayu itu kemudian. Sambil membawa mangir yang diserahkan Arum, Raden Ayu Galihwaritpun masuk kembali ke dalambiliknya sementara Arum, Buntal dan Rara Warih masih saja berbincang sambil menunggu keterangan yang mungkin akan diber ikan oleh Raden Ayu Galihwarit tentang keadaan terakhir. Namun dalam pada itu, akhirnya Warih sampai juga kepada persoalan dirinya sendiri. Kata-katanya menjadi semakin lambat dan terputus-putus. Seolah-olah dengan sengaja ia telah berusaha agar suaranya tidak didengar oleh ibundanya. “Aku menjadi semakin tidak kerasan tinggal di rumah ini” desis Warih. “Puteri harus menahan dir i” jawab Arum yang hampir berbisik pula terpengaruh oleh suara Rara Warih “pada suatu saat, segalanya akan berakhir”“Pada suatu saat segalanya memang akan berakhir” jawab Warih “Tetapi untuk menunggu waktu yang kau sebut pada suatu saat itu telah membuat aku hampir menjadi gila” “Puteri memang harus tabah. Kita semuanya harus tabah menghadapi perjuangan ini” sahut Arum. “Aku dapat mengerti. Tetapi sulit bagiku untuk menerima cara yang dipergunakan oleh ibunda. Bahkan pada saat-saat terakhir, orang-orang asing itu telah sering datang keru-mah ini. Pada malam buta mereka datang mengantarkan ibunda. Lewat senja mereka datang menjemput” Rara Warih berhenti sejenak, lalu “bahkan mereka telah mengotori rumah ini dengan sikap mereka yang gila” Arum tidak tahu, apa yang harus dikatakannya. Karena itu, maka ia justru menjadi termangu-mangu. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Buntal bertanya hampir di luar sadarnya “Bagaimanakah sikap Pangeran Sindurata?“ “Uh, eyang tidak lagi mempedulikan apa yang terjadi. Eyang menyadari bahwa jika ia memikirkan sesuatu, sakitnya akan dapat kambuh. Kepalanya menjadi pening, tengkuknya serasa kejang dan jika ia dalam keadaan yang demikian, maka eyang selalu marah-marah. Apa saja telah menumbuhkan kemarahannya sehingga kadang-kadang Eyang dapat kehilangan kesadaran dan melakukan sesuatu yang berbahaya” jawab Warih sambil mengusap matanya.Buntal tidak bertanya lebih banyak lagi. Ia mengerti, sebagaimana juga Arum mengerti sepenuhnya perasaan gadis itu. Tetapi mereka belum dapat berbuat sesuatu. Buntal tidak bertanya lebih banyak lagi. Sementara Arum pun hanya mengangguk-angguk saja. Namun sejenak kemudian, agaknya Warihpun merasa bahwa tidak sepantasnya ia selalu mengeluh saja di hadapan tamu- tamunya, sehingga karena itu, maka iapun kemudian mencoba untuk berbicara tentang berbagai hal yang berkembang di Surakarta sejak kota itu diduduki untuk setengah hari oleh pasukan Pangeran Mangkubumi. Namun dalam pada itu, selagi mereka sibuk berbincang, mereka telah dikejutkan oleh derap suara kereta memasuki halaman istana Pangeran Sindurata. Wajah Rara Warih menegang. Sambil mengangkat kepalanya ia berdesis “Tentu mereka pula” Buntal dan Arumpun menjadi berdebar-debar. Bagaimanapun juga mereka merasa, bahwa keduanya adalah orang-orang yang dikir im oleh para pengikut Pangeran Mangkubumi. Belum lagj mereka sempat berbuat sesuatu, Raden Ayu Galihwar it dengan tergesa-gesa telah keluar dari biliknya. Agaknya Raden Ayu itu juga mendengar derap kereta yang memasuki halaman. “Bukan maksudku untuk merendahkan kalian” berkata Raden Ayu Galihwarit “namun aku minta bagi keselamatan kalian untuk pergi ke belakang” Buntal dan Arum termangu-mangu. Namun War ihpun telah berpikir cepat, dibimbingnya Arum menyusuri serambi menuju ke bagian belakang istana Pangeran Sindurata. “Duduklah di sini” berkata Warih “Mereka tidak akan pernah pergi ke belakang”Arum mengangguk. Buntalpun kemudian duduk pula di bagian belakang istana itu untuk menunggu sampai orang- orang yang datang dengan kereta, yang menurut dugaan mereka adalah orang-orang asing itu pergi. Sebenarnyalah yang datang adalah dua orang perwira kumpeni. Ternyata seorang di antara mereka masih belum pernah datang ke istana itu. Sebelum mereka ditemui oleh Raden Ayu Galihwarit, keduanya sempat berdiri di tangga pendapa untuk beberapa saat. Namun tiba-tiba yang seorang dari mereka berkata “Raden Ayu Galihwarit tinggal di sisi sebelah kiri” Kumpeni yang belum pernah datang ke istana itupun mengangguk-angguk. Namun demikian ia melangkah ke seketheng dan menjenguk ke longkangan dalam. “Di sini Raden Ayu tinggal?“ bertanya kumpeni itu. “Ya. Tetapi ia menemui tamu-tamunya di pendapa” jawab yang lain. Kumpeni yang seorang itu masih saja mengangguk-angguk. Nampaknya ia senang melihat kebun bunga yang ditumbuhi dengan berbagai jenis bunga yang jarang dilihatnya di barak- barak kumpeni dan bahkan di loj i sekalipun. Namun sejenak kemudian, maka Raden Ayu Galihwarit yang sudah selesai berpakaian muncul dar i pintu pringgitan. Sambil tertawa cerah mereka mempersilahkan tamunya untuk naik ke pendapa. Seperti biasanya, maka pembicaraanpun berjalan dengan lancar. Orang yang baru saja diperkenalkan kepada Radeh Ayu itupun segera dapat menyesuaikan diri, sehingga mereka pun telah berkelakar dengan gembiranya. Meskipun yang seorang di antara mereka adalah orang baru di Surakarta, namun ia telah mampu berbicara sepatah-sepatah sebagaimana perwira-perwira yang lain. Jika ia mendapat kesulitan untukmengutarakan pikirannya, maka kawannyalah yang kemudian membantunya. “Raden Ayu harus datang ke dalam pesta itu” berkata perwira yang sudah lama mengenal Raden Ayu. Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Sambil mengerling kepada perwira yang baru dikenalnya itu ia bertanya “Tetapi bukankah dalam pesta itu sudah akan hadir puteri-puteri cantik dan muda” Kedua perwira itu tertawa. Salah seorang dari mereka menjawab “Tidak ada seorangpun yang dapat menyamai Raden Ayu“ Raden Ayu itupun tertawa pula meledak. Dalam pada itu. seperti biasanya, setiap kali Rara Warih mendengar suara tertawa yang berat dan dibarengi oleh suara tertawa ibundanya, hatinya bagaikan disayat. Ia hanya dapat mengusap air matanya di dalambiliknya. Ketika teringat oleh Rara Warih bahwa di belakang ada Buntal dan Arum, maka iapun merasa lebh baik berada di belakang bersama mereka. Namun ia tertegun ketika ia mendengar derap sepatu kedua kumpeni itu. “Mereka sudah akan pergi” berkata Rara Warih di dalam hatinya. Tetapi Rara Warih tidak menghiraukannya. Setelah mengusap matanya dan membenahi pakaiannya, maka iapun keluar dari pintu samping untuk pergi ke belakang. Namun demikian ia membuka pintu, langkahnya tertegun. Ternyata dua orang perwira kumpeni itu berada di seketheng. Warih masih mendengar salah seorang kumpeni itu berkata “Sejuk sekali. Raden Ayu sendir i memelihara taman ini?“ “Ya” jawab ibunda Rara Warih.Namun dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit tertegun ketika ia melihat kumpeni yang seorang, yang belum pernah dikenalnya sebelumnya itu memandang Rara Warih dengan kerut di keningnya. Kemudian dengan suara patah-patah ia bertanya “Siapakah itu?” Raden Ayu Galihwarit menjadi bimbang. Sementara itu Warih telah melangkah ke belakang. “Anak gadisku” jawab Raden Ayu kemudian. “O, cantik sekali. Seperti ibunya“ berkata kumpeni itu ”Bawa anak itu malam nanti ke pesta” Lalu katanya kepada kawannya “Kau mengambil ibunya, aku akan mengambil anaknya. Kita tidak usah berebut” “Ah” sahut Raden Ayu “anak itu pemalu. Ia tidak akan mau pergi ke pesta” “Jangan begitu” sahut perwira itu “aku sudah mendengar serba sedikit tentang Raden Ayu. Tentu Raden Ayu berbangga jika anak gadis Raden Ayu itupun akan dapat menjadi bunga ros di antara perempuan-perempuan yang hadir di samping Raden Ayu sendiri sebagai bunga dalia” “Ah“ desah Raden Ayu ”Maaf, aku tidak dapat membawanya. Ia masih terlalu muda. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya di dalam pesta” “Jangan begitu Raden Ayu” berkata perwira yang baru itu “sebagaimana Raden Ayu pernah memulainya, maka anak perempuan Raden Ayu itu akan dapat memulainya pula. Ia sudah sering melihat apa yang Raden Ayu lakukan” “Tetapi ia baru sakit” jawab Raden Ayu yang mulai menjadi kebingungan. “Sakit apa?“ bertanya perwira itu. “Dadanya serasa sesak” jawab Raden Ayu “bukankah tadi kau lihat, wajahnya muram sekali”“Aku melihatnya cantik sekali” desis kumpeni itu “he, dimana anak itu sekarang. Aku ingin berkenalan saja” “Tunggulah sampai anak itu sembuh” jawab Raden Ayu. Tetapi perwira kumpeni itu tidak mau menunggu. Ternyata ia masih lebih kasar dari kawan-kawannya yang sudah agak lama berada di Surakarta. “Tunggulah“ kawannya berusaha mencegahnya. Tetapi perwira itu justru meloncat-loncat di halaman sambil tertawa “Aku tidak pernah menunda keinginanku” “Jangan gila“ kawannya hampir berteriak. Tetapi ia tidak berhenti. Sementara itu Raden Ayu Galihwarit menjadi gelisah dan pucat. Bukan saja tentang anak gadisnya. Tetapi ia tahu bahwa di ruang belakang Buntal dan Arum sedang bersembunyi. Karena itu, maka Raden Ayu itupun berlari-lari menyusul perwira kumpeni itu, diikuti oleh perwira yang seorang lagi. Dalam pada itu, perwira baru di Surakarta itu telah memasuki ruang belakang. Ia tertegun ketika ia melihat tiga orang berada di ruang itu, duduk di atas amben kayu yang panjang. Terdengar perwira itu kemudian tertawa. Dengan kalimat yang patah-patah ia berkata kepada Warih “Nah, akhirnya aku ketemu juga. He, bukankah kau anak Raden Ayu itu?“ Warih yang terkejut melihat kehadiran kumpeni itu menjadi gemetar. Mulutnya justru bagaikan terbungkam. “Jangan takut” berkata perwira itu “aku tidak apa-apa. Aku senang karena kau cantik. Marilah, ikut aku. Malam nanti kita pergi ke sebuah pesta yang menarik”Ketika perwira itu mendekap Warih bergeser setapak tetapi perwira itu justru tertawa. Sementara itu, maka Raden Ayu Galihwaritpun telah memasuki ruang itu pula dengan nafas yang terengah-engah. Dengan gagap ia berkata “Jangan, jangan kau lakukan itu terhadapnya. Apapun yang dapat kau lakukan terhadap aku, lakukanlah. Tetapi tidak terhadap anakku” Perwira yang kasar itu tertawa. Katanya “Kau sangat cantik Raden Ayu. Tetapi kau sudah terlalu tua. Anakmu ini juga cantik dan muda. Aku lebih senang memilihnya. Jika ia memang anak Raden Ayu, apa salahnya aku memper lakukannya seperti kawan-kawanku memperlakukan Raden Ayu” “Tutup mulutmu“ bentak Raden Ayu Galihwarit “Kau tidak dapat berbuat seperti itu terhadap anakku” Namun perwira yang lain, yang sudah lama dikenalnya itu telah mengejutkan Raden Ayu itu pula ketika ia kemudian berkata “Sudahlah Raden Ayu. Buat apa Raden Ayu menolak permintaannya. Biarlah ia langsung berbicara dengan anak perempuan itu” “Anakku t idak dapat diperlakukan demikian” bentak Raden Ayu. Tetapi perwira itu berkata “Ia tidak akan memperlakukan anak itu seperti itu, jika ia belum pernah mendengar serba sedikit tentang tingkah laku ibunya.”Kemarahan yang memuncak telah membakar jantung Raden Ayu Galihwarit, di luar sadarnya, dengan serta merta tangannya telah melayang menghantampipi perwira itu. Perwira itu terkejut. Namun kemudian ia tertawa. Katanya “Jangan berubah menjadi begitu garang Raden Ayu. Kita sudah lama saling mengenal. Apa artinya harga diri Raden Ayu dan anak perempuan Raden Ayu itu, jika kami sudah mengetahui sifat-sifat Raden Ayu” Kemarahan Raden Ayu Galihwarit telah memuncak. Sementara itu perwira yang lain t iba-tiba saja dengan tanpa menghiraukan Buntal dan Arum telah mendekati Rara Warih dan berusaha menangkap tangannya. Rara Warih berlari menjauhinya. Adalah di luar kehendaknya sendiri, bahwa ia telah berdiri di belakang Buntal dan Arum yang sudah bangkit pula dar i tempat duduknya. Sementara itu Buntal menjadi berdebar-debar. Ia menjadi sangat bingung. Ia sadar, bahwa ia berhadapan dengan kumpeni justru di dalam kota Surakarta. Namun sudah barang tentu ia tidak akan dapat membiarkan kegilaan orang-orang asing itu terjadi di hadapan matanya. Dalam pada itu perwira kumpeni itupun agaknya tidak menghentikan niatnya. Dengan wajah garang ia membentak Buntal dan Arum “Minggir” Buntal masih tetap ragu-ragu. Namun ternyata sikap Raden Ayu telah membulatkan niatnya. Ketika perwira itu mendorongnya, terdengar Raden Ayu memekik kecil “Jangan” Oleh kata-kata Raden Ayu itu, seolah-olah Buntal telah digerakkan untuk menolak dorongan perwira kumpeni itu. Bahkan Buntal telah mendorong kumpeni itu sambil berkata “Jangan ganggu, sebagaimana dikatakan oleh Raden Ayu”Perwira itu terkejut bukan kepalang. Ia tidak menduga sama sekali bahwa orang yang tidak diperhitungkan itu tiba- tiba telah mendorongnya. Bahkan terlalu keras. Ternyata Raden Ayu Galihwaritpun terkejut pula melihat sikap Buntal. Namun bagaimanapun juga, ia memang tidak akan mengorbankan anak perempuannya. Apapun yang dikatakan orang tentang dirinya, diterimanya dengan telinga dan mata tertutup. Tetapi tidak dengan anak gadisnya yang untuk beberapa lama telah tersiksa oleh sikap ibundanya itu. Karena itu, maka Raden Ayu Galihwarit itupun kemudian justru mengharap Buntal akan dapat melindungi Rara Warih. Perwira kumpeni yang marah itu memandang Buntal dengan mata berapi-api. Kemudian dengan garang ia menggeram “He, apakah kau sudah gila?“ Tetapi Buntal tidak bergeser. Bahkan ia menjawab “Kau harus mendengarkan keterangan Raden Ayu. Bukankah Raden Ayu sudah membatasi keadaan diri. Kau dapat berbuat apa saja terhadap Raden Ayu. Tetapi tidak terhadap puteri” “Jangan membantah” geramperwira itu. “Kau yang harus melakukan permintaan kami. Kaulah yang seharusnya tidak membantah” geram Buntal. “Tutup mulutmu” bentak perwira kumpeni itu “minggir atau aku akan membunuhmu. Aku mempunyai wewenang untuk melakukannya tanpa ada tindakan hukum j ika aku membunuhmu dalam keadaan seperti sekarang ini” “Aku akan membela dir i“ Buntalpun mulai kehilangan kesabaran. itu. Wajah perwira itu menjadi merah padam. Tiba-tiba saja tangannya melayang menyerang wajah Buntal. Namun Buntal sudah memperhitungkannya. Karena itu, maka iapun masih sempat menghindar.Justru karena serangannya tidak mengenai sasaran, perwira kumpeni itu menjadi sangat marah. Dengan serta merta ia telah mencabut pedangnya yang panjang. Buntal surut selangkah. Sementara itu Arumpun telah membimbing Rara Warih menjauh, sedangkan Raden Ayu Galihwar itpun segera berlar i mendekati pulennya. “Kau harus mat i” geram perwira itu sambil mengacukan pedangnya kearah dada Buntal. Buntal menjadi berdebar-debar. Ia mengerti bahwa para perwira kumpeni pada umumnya kemampuan bermain pedang. Karena itu maka iapun harus berhati-hati. Apalagi ia tidak membawa senjata panjang yang akan dapat mengimbangi pedang lawannya. Namun dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit yang melihat keadaan yang tidak seimbang itupun telah berteriak “Tidak adil. Jika kau benar-benar perwira yang pernah menjelajahi samodra dan benua, yang pernah mengalahkan bangsa- bangsa di daratan dan perompak di lautan, beri kesempatan anak pribumi itu juga bersenjata” “Ambil senjata” teriak perwira yang marah itu “apapun yang akan dipergunakannya, aku akan membunuhnya” Buntal menjadi berdebar-debar. Namun perwira itu t idak member i kesempatan kepadanya. Tiba-tiba saja ia sudah menyerang. Pedangnya terjulur lurus mematuk dada. Buntal masih sempat mengelak. Dengan tangkas ia meloncat ke samping. Namun tiba-tiba pedang itu ditariknya surut. Sebuah ayunan mendatar menyerang leher Buntal, sehingga Buntal harus ber loncatan pula surut. Ternyata Raden Ayu Galihwarit tidak membiarkan pertempuran yang tidak seimbang. Tiba-tiba saja ia berlari lewat pintu dalam masuk ke ruang tengah. di raihnyasebatang tombak yang berdiri pada sebuah ploncon bersama sebatang songsong kebesaran milik Pangeran Sindurata. Sesaat kemudian Raden Ayu itu telah kembali ke ruang belakang. Sambil mengacukan tombak di tangannya Raden Ayu itu berkata “Bersikaplah jantan” Perwira itu tidak menjawab. Ia masih mengayunkan senjatanya menyerang Buntal. Namun Buntaipun menyadari. Tanpa senjata ia akan sangat sulit melawan ilmu pedang kumpeni yang mapan itu. Karena itu, maka Buntaipun segera meloncat kearah Raden Ayu Galihwarit. Dengan serta merta maka iapun menerima tombak yang berada di tangan Raden Ayu itu. “Aku juga bersenjata sekarang” geram Buntal “dengan demikian aku tidak hanya menjadi sasaran pedangmu saja” “Kau akan mati anak setan” sahut perwira kumpeni itu. Sementara itu, Arum telah membimbing Rara Warih semakin menjauh. Ruang belakang yang luas itu ternyata tidak cukup luas untuk bertempur dengan senjata panjang. Karena itu maka Buntal telah berloncatan surut untuk mencari jalan keluar dari ruangan itu. Ia tidak dapat lewat pintu yang dilalui oleh kumpeni itu, karena perwira yang seorang lagi masih berdiri di dekat pintu itu sambil memperhatikan perkelahian itu dengan saksama. Melalui pintu butulan yang lain, Buntal berhasil meloncat keluar. Dengan demikian ia sudah berada di longkangan belakang, sehingga ia mendapat tempat yang luas untuk bertempur dengan tombak. Raden Ayu yang cemas melihat keadaan Buntal, karena iapun telah mendengar bahwa para perwira kumpeni adalah orang-orang yang mumpuni bermain pedang, telah melangkah di luar sadarnya kearah pintu butulan itu pula. Namun tiba- tiba perwira yang seorang lagi berkata “Raden Ayu tidak perlumendekat. Nanti Raden Ayu takut melihat anak pribumi itu mati ditembus ujung pedang” perwira itu melangkah mendekat sambil berkata selanjutnya “Siapakah anak itu Raden Ayu?“ “Pelayanku” jawab Raden Ayu itu tanpa berpikir lagi. Tetapi Arum yang mendengar jawaban itu sama sekali tidak merasa tersinggung, karena iapun mengerti bahwa Raden Ayu sedang berusaha mengelakkan keadaan yang sesungguhnya. “Aku tidak percaya” sahut perwira itu “ia memiliki kemampuan berkelahi. Aku tahu pasti. Sebelum ia menggenggam tombak, ia sudah mampu menghindari serangan-serangan pedang kawanku yang terkenal berilmu pedang yang tinggi” “Ia adalah pengawal istana ini” jawab Raden Ayu itu pula. “Pengawal atau pelayan atau apa lagi?“ suara perwira kumpeni itu menjadi semakin kasar. Dalam pada itu, hiruk pikuk itu telah menimbulkan keributan di istana Pangeran Sindurata. Beberapa orang pelayan menjadi kebingungan. Sementara itu, Pangeran Sindurata yang mendengar keributan itu telah berlari-lari ke ruang belakang. Namun langkahnya tertegun ketika tiba-tiba saja ia melihat seorang perwira kumpeni yang berdiri menghadap anak, cucunya dan anak padesan yang sering datang menjual mangir ke rumahnya itu. Bahkan demikian Pangeran Sindurata memasuki ruang itu, kumpeni itu telah mengacukan sebuah senjata api berlaras pendek. “Kami harus menahan kalian semuanya” berkata perwira kumpeni itu. “Apa yang terjadi?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Keluarga Pangeran telah melawan kami” jawab perwira kumpeni itu.“Tidak benar” jawab Raden Ayu Galihwarit “ seharusnya kau dapat mengatakan apa sebenarnya terjadi di sini. Kau sudah menghinakan keluarga kami” “Apa yang sudah dilakukannya?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Perwira kumpeni yang bertempur di luar itu ingin memaksa Warih untuk pergi bersamanya. Aku berkeberatan karena Warih sendiri tidak bersedia melakuannya” jawab Raden Ayu Galihwarit. “Itu hanya pura-pura” jawab kumpeni itu. “Tidak“ Raden Ayu Galihwar it hampir berteriak “Kau sendiri berusaha mencegahnya. Tetapi kawanmu itu benar benar menjadi gila dan tidak mau mendengar sama sekali” “Sudah aku katakan Raden Ayu, jika kawanku itu tidak mengenal Raden Ayu, maka ia tidak akan berbuat demikian terhadap anak perempuan Raden Ayu yang tentu sifat-sifatnya tidak akan jauh berbeda dengan ibunya” “Tidak” teriak Raden Ayu Galihwarit. Sementara itu, dada Rara Warih bagaikan dihentak oleh sebuah pipisan batu hitam. Betapa pedih hati gadis itu. Orang lain menganggap bahwa ia tidak akan ada ubahnya dengan sifat dan tabiat ibundanya. Anggapan itu bagaikan hukuman baginya tanpa melakukan kesalahan. Raden Ayu Galihwaritpun mengerti, betapa sakit hati puterinya. Karena itu sambil memeluk anak gadisnya Raden Ayu itu berkata “Jangan kau lumuri anak gadisku dengan tuduhan yang tidak beralasan karena dosa-dosaku” Perwira kumpeni itu tertawa katanya “Raden Ayu sudah terlalu lama bergelimang kemewahan hidup yang Raden Ayu dapatkan dengan cara yang tidak terhormat itu. Tetapi dengan demikian Raden Ayu dan beberapa orang kawan Raden Ayusudah dapat member ikan kesenangan kepada kami, yang selama ini jauh dari keluarga kami” “Tutup mulutmu” bentak Raden Ayu “Aku tidak lagi melakukan semuanya itu karena aku sudah menjadi budak harta benda” “Raden Ayu” potong Arum dengan serta merta. Raden Ayu Galihwar it ternyata terkejut juga. Kemarahan di dadanya hampir saja menjerumuskannya ke dalam keadaan yang sulit. Untunglah bahwa ia belum terlanjur menyebut sesuatu tentang tugasnya dalam hubungannya dengan Pangeran Mangkubumi. Namun perwira itu cukup tajam tanggapannya atas jawaban Raden Ayu itu. Karena itu maka iapun bertanya sambil mengerutkan keningnya “Jika Raden Ayu tidak berbuat untuk menumpuk harta benda dan kekayaan, apalagi yang Raden Ayu cari dengan mengorbankan harga diri itu” Tetapi Raden Ayupun cukup cerdik, meskipun ia harus berkorban perasaan lebih parah lagi, namun ia menjawab “Aku sekarang seorang janda. Aku terbiasa hidup bukan saja dalam kemewahan, tetapi akupun terbiasa berada di lingkungan kalian. Apalagi sekarang. Aku tidak lagi didampingi oleh seorang laki- laki di rumah” Perwira kumpeni itu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa. Katanya “Jadi ada juga dorongan lain dari diri Raden Ayu sendiri” Wajah Raden Ayu Galihwar it itu menjadi tegang. Betapapun juga terasa hatinya menjadi pedih. Sementara itu, Warih seolah-olah tidak lagi berjejak di atas tanah. Segalanya terasa sangat pahit. Meskipun ia sadar, bahwa ibunya melakukan hal itu bagi satu perjuangan yang berharga bagi Surakarta, namun ia tidak dapat ingkar dari kata hatinya.Arumpun menjadi sangat tegang. Ia juga seorang gadis. Namun timbul juga pertanyaan di hatinya, betapa mungkin seseorang memberikan pengorbanan yang demikian besarnya. Tetapi bagaimanapun juga Arum tidak dapat menutup penglihatannya, bahwa yang dilakukan oleh Raden Ayu itu bukannya dari permulaan. Ia tampil dalam perjuangan setelah ia berada di dalamsuasana seperti itu. Pangeran Sindurata yang berdiri termangu-mangu itupun kemudian berkata “Aku tidak tahu apa-apa. He, aku tidak tahu apa-apa” Tetapi kumpeni itu masih saja mengacukan senjata apinya “Jangan membuat tindakan yang dapat mencelakai kalian sendiri. Aku menunggu kawanku yang akan membunuh anak pribumi itu. Baru kemudian aku akan menentukan sikap terhadap kalian” Ketika Pangeran Sindurata bergeser, perwira itu menggeser ujung laras senjatanya sambil berkata “Pangeran, jika Pangeran tidak betah berdiri, aku persilahkan kalian semuanya untuk duduk. Cepat” Pangeran Sinduratapun menuju ke amben kayu diikuti oleh Raden Ayu Galihwarit, dan Arum yang membimbing Rara Warih. Mereka duduk berjajar bagaikan membeku, sementara perwira kumpeni itu berdir i beberapa langkah diha-dapan mereka. “Aku sudah terbiasa berdiri, berjalan mondar-mandir atau bahkan berlari-lar i” berkata perwira kumpeni itu sambil tersenyum. Dalam pada itu, selagi keempat orang di ruang belakang itu dicengkam oleh ketegangan, maka di longkangan belakang. Buntal telah bertempur melawan perwira kumpeni yang belum lama bertugas di Surakarta itu. Ternyata perwira kumpeni itu benar-benar menguasai ilmu pedang yang agak lain dengan ilmu pedang yang dikenal oleh Buntal. Namun demikian,pengalaman Buntal cukup banyak untuk mengetahui apa yang dapat dilakukan oleh lawannya. Sambil memiringkan tubuhnya, sedikit merendah pada lututnya, perwira itu menjulurkan pedangnya. Namun melawan sebatang tombak maka perwira itu harus menyesuaikan dir i. Gerakannya menjadi lebih cepat, dan kadang-kadang ia bergeser bukan saja maju dan surut selangkah, tetapi perwira itu harus berloncatan pula untuk menghindari dan menangkis ujung tombak Buntal. Demikianlah dua cabang ilmu yang datang dari dunia yang berbeda telah bertemu. Namun keduanya telah melengkapi ilmu masing-masing dengan pengalaman yang cukup panjang. Keduanya sudah saling mengenal dan menjajagi jenis ilmu lawannya. Karena itu, maka pertempuran yang terjadi kemudian adalah benturan dari dua kekuatan yang dahsyat. Keduanya telah pernah menempa dir i untuk menguasai ilmunya meskipun dengan cara yang berbeda. Pedang perwira kumpeni itu menyapu dengan kekuatan yang mengejutkan. Namun Buntal mampu bergerak tangkas, la meloncat mundur sambil memutar tombaknya. Ketika perwira kumpeni itu memburunya dengan pedang terjulur, Buntal telah berdir i tegak. Tombaknya telah siap menunggu. Selangkah perwira kumpeni itu maju, maka ujung tombak Buntallah yang akan menyayat perutnya. Tetapi perwira kumpeni itu tidak terkejut melihat sikap Buntal. Ternyata ia tetap meloncat maju. Dengan pedangnya ia memukul tombak Buntal ke samping. Kemudian pedang itu berputar mengungkit tombak lawannya. Ketika tombak Buntal terangkat, maka perwira kumpeni itu bergeser menusuk dengan ujung pedangnya langsung mengarah jantung. Namun Buntal tidak membiarkannya jantungnya dikoyak oleh pedang kumpeni. Ketika ujung tombaknya terangkat,maka ia justru mempergunakan tangkai tombaknya. Ia berhasil menangkis serangan perwira kumpeni itu. Bahkan sekaligus tangkai tombaknyalah yang terjulur. Hampir saja ujung tangkai tombaknya yang tersalut besi baja yang bulat itu memukul lutut kumpeni itu. Tetapi perwira kumpeni itu sadar. Jika lututnya tersentuh besi baja yang bulat pada tangkai tombak itu, maka ia akan lumpuh. Tulang pada lututnya akan pecah dan dengan demikian, maka ia akan terkapar tanpa mampu memberikan perlawanan. Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Keduanya mampu bertempur dengan kelebihannya masing- masing. Mereka saling mendesak. Bergeser dan berputar. Melejid sambil mengayunkan senjatanya. Sementara itu, Arumpun menjadi tegang. Ia masih mendengar derap kaki kedua orang yang sedang bertempur itu. Dengan telinganya yang terlatih Arum dapat membayangkan, apakah yang kira-kira terjadi. Perkelahian itu tentu merupakan perkelahian yang sangat seru. Tetapi bukan saja Arum yang dapat membayangkan peristiwa di longkangan itu. Kumpeni yang seorang, yang mengacukan senjata berlaras pendek itupun dapat membayangkan. Seperti Arum ia mengerti, bahwa pertempuran yang terjadi itupun sangat dahsyatnya. Dengan demikian perwira kumpeni yang seorang itu menjadi heran. Anak pribumi yang bersenjata tombak itu mampu melawan kawannya, seorang perwira yang baru saja datang di Surakarta. Seorang perwira yang memiliki kemampuan yang luar biasa. “Bagaimana mungkin hal ini terjadi” berkata perwira kumpeni itu di dalam hatinya. Namun dengan demikian ia mulai membayangkan, apa yang dapat dilakukan oleh para Senapati dari pasukan Pangeran Mangkubumi, jika orang-orang pribumi yang menjadi pelayan atau pengawal di istana para Pangeran itu mampu melawan kawannya, seorang perwira yang pilih tanding. “Gila” tiba-tiba kumpeni itu mengumpat. di luar sadarnya, tiba-tiba saja ia sampai pada satu kesimpulan yang mengejutkan. Mengejutkan bagi dirinya sendiri dan mengejutkan bagi orang-orang yang berdir i di hadapannya. “Raden Ayu” geram perwira kumpeni itu “orang itu tentu pengikut Pangeran Mangkubumi” Wajah Raden Ayu Galihwar it menjadi pucat. Dengan suara gemetar ia bertanya “Bagaimana kau dapat mengambil kesimpulan seperti itu?” “Ternyata bahwa orang yang kami cari telah aku ketemukan di sini. Selama ini kami tidak pernah dapat menduga, siapakah yang telah berkhianat terhadap Surakarta. Serangan kami yang gagal atas Raden Mas Said dan bahkan harus ditebus dengan korban yang tidak kecil, bukan saja mereka yang menyerang pasukan Raden Mas Said itu, tetapi juga karena pada saat yang sama pasukan Pangeran Mangkubumi memasuki kota ini, adalah karena sikap Raden Ayu. Raden Ayu yang berada di antara para perwira kumpeni tentu dapat dengan mudah menyadap berita tentang rencana serangan yang akan dilakukan oleh kumpeni. Ternyata di rumah ini ada orang-orang Pangeran Mangkubumi, atau orang-orang Raden Mas Said yang dapat menjadi penghubung antara Raden Ayu dengan mereka” “Omong kosong. Kau tidak dapat membuktikannya“ bantah Raden Ayu Galihwarit. “Aku akan membuktikannya” jawab kumpeni itu “aku t idak percaya bahwa ada orang yang mampu bertahan sekian lama menghadapi kawanku itu, jika orang itu bukan, orang pilihan. Karena itu. maka yang sedang bertempur melawan kawankuitu tentu orang yang pilih tanding. Orang itu tentu petugas sandi” Keringat dingin telah membasahi pakaian Raden Ayu Galihwar it. Namun mulutnya justru telah terbungkam. ia tidak dapat membantah tuduhan perwira kumpeni itu, bahwa anak muda yang bertempur di longkangan itu adalah petugas sandi dari pasukan Pangeran Mangkubumi. Sejenak kemudian perwira kumpeni itu tertawa. ia merasa menang bahwa ia telah berhasil menemukan salah seorang pengkhianat yang telah menggagalkan segala usaha kumpeni selama ini. “Raden Ayu” berkata kumpeni itu “ternyata bukan kebetulan, apa yang selama ini kau lakukan. Bahkan mungkin sejak Pangeran Ranakusuma mengatur pengkhianatannya. Raden Ayu sudah membantunya. Raden Ayu dengan sengaja telah diselipkan di antara para perwira untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang akan menguntungkan pasukan Pangeran Mangkubumi” Perwira itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi Raden Ayu sekarang tidak dapat ingkar lagi. Aku sudah pasti. Raden Ayulah orang yang sedang kami cari di antara para Senapati dan Panglima prajurit Surakarta” Raden Ayu Galihwarit benar-benar terbungkam. Sementara itu, perwira itu berkata “Jangan bergerak. Aku akan menembak siapa saja yang melakukan perbuatan yang tidak sewajarnya” Suasana menjadi semakin tegang. Sementara itu Arum malai menduga-duga, apakah yang akan dilakukan oleh perwira kumpeni itu. Sejenak perwira itu termangu-mangu. Namun iapun kemudian bergeser ke pintu yang menuju ke longkangan belakang. Dengan nada berat ia berkata “Aku akan mengakhiri pertempuran itu”“Apa yang akan kau lakukan?“ Raden Ayulah yang bertanya. “Aku akan menembak anak itu” geram perwira kumpeni. Suasana yang tegang itu menjadi semakin mencengkam. Tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit itu berdir i sambil berkata “Jika kau mau menembak, tembak aku. Anak itu tidak bersalah” Perwira itu tertawa. Katanya “Raden Ayu menjadi cemas. Hal itu menguatkan keyakinanku, orang itu adalah petugas sandi dari Pangeran Mangkubumi” “Cukup” potong Raden Ayu “tembak aku” “Duduklah Raden Ayu” kumpeni itu masih tertawa “Aku akan membuat pertimbangan tersendir i bagi Raden Ayu dan bagi anak perempuan Raden Ayu yang ternyata memang cantik seperti Raden Ayu. Tetapi anak Raden Ayu itu masih muda. Semua bunga yang sedang mekar” “Tutup mulutmu“ Raden Ayu itu membentak. Tetapi ketika ia melangkah maju, ujung laras senjata api itu tertuju ke dadanya. “Aku benar-benar dapat merobek dadamu Raden Ayu. Kemudian membawa anak gadismu pergi” bentak kumpeni itu pula. Raden Ayu Galihwarit tertegun. Ketika ia memandang lubang laras senjata perira kumpeni itu, rasa-rasanya ia menjadi nger i. Namun dalam pada itu, Arumlah yang berbuat sesuatu. Jika ia berdiam dir i, maka kumpeni itu akan pergi ke pintu. Dari pintu ia akan menembak Buntal yang sedang bertempur. Jika Buntal mati, apapun yang dapat dilakukannya, tentu tidak akan dapat diselesaikannya, karena Arum tidak yakin akan dapat melawan dua orang perwira itu. Arum cukup menyadari, bahwa kedua perwira itu memiliki ilmu yang tinggi sesuaidengan cara yang mereka anut. Namun yang ternyata sulit untuk di atasi. Karena itu, ia harus mengambil satu sikap. Ia tidak dapat menunggu, sehingga ia akan terperosok ke dalam kesulitan yang semakin gawat. “Jika aku gagal, apaboleh buat. Bahwa kumpeni dtu sudah sampai pada suatu dugaan tentang kakang Buntal sebagai petugas sandi Pangeran Mangkubumi, maka tidak ada lagi kesempatan yang boleh dilewatkan” berkata Arum didaiam hatinya. Demikianlah, ketika kumpeni itu sudah mendekati pintu, namun sementara perhatiannya masih saja tertuju kepada Raden Ayu Galihwarit yang termangu-mangu, maka Arumpun telah mengambil kesempatan itu. Sesaat ia menunggu. Ketika perwira itu kemudian berdir i diambang pintu dan memperhatikan pertempuran yang sedang berlangsung, maka Arumpun sampai pada batas perhitungannya. Karena itu, ketika sambil tersenyum kumpeni itu mulai mengarahkan senjatanya keluar, tiba-tiba Arum telah meloncat berdiri. Kumpeni itu terkejut. Tetapi ia terlambat. Ketika ia berpaling kearah Arum, dua buah pisau telah meluncur dengan cepatnya langsung menghunjam ke dadanya. Suatu hal yang tidak di sangkanya sama sekali. “Anak setan“ ia mengumpat. Dengan gerak naluriah senjatanya telah berpaling. Namun ternyata Arum menjadilebih mapan. Sebuah pisau lagi telah meluncur menghantam pangkal lengannya. Perwira kumpeni itu menyeringai menahan sakit. Ketika ia mencoba membidikkan senjatanya dengan tangannya yang gemetar, sebuah lagi pisau meluncur mengoyak dada perwira kumpeni itu. Senjatanya memang meledak. Tetapi sama sekali tidak mengenai siapapun. Pada saat itulah Arum meloncat dengan cepatnya. Ia tidak mempedulikan kain panjangnya yang koyak hampir sejengkal. Namun pada saat yang tepat, ia telah menyerang perwira kumpeni itu dengan ibu jar inya, tepat mengenai lehernya. Nafas kumpeni itu bagaikan tersumbat. Serangan Arum telah mendorongnya selangkah. Kemudian iapun terhuyung- huyung jatuh, justru keluar pintu. Ledakan senjatanya telah mengejutkan dua orang yang sedang bertempur di longkangan belakang. Baik Buntal maupun perwira kumpeni yang belum lama berada di Surakarta itu berpaling kearah pintu. Yang kemudian mereka lihat adalah, perwira kumpeni yang terhuyung-huyung jatuh terbanting di tanah. Hal itu sanga! mengejutkan kawannya. Sejenak ia justru bagaikan membeku. Namun yang sejenak itu. ternyata telah menentukan segala-galanya. Buntal cepat mempergunakan saat itu sebaik-baiknya. Dengan cepat ia meloncat menyerang dengan ujung tombaknya. Perwira kumpeni itupun terlambat menangkis serangan Buntal. Ujung tombak itu ternyata telah menghunjam ke dalam perutnya. Buntal tidak perlu mengulanginya. Perwira kumpeni itu terdorong surut selangkah. Ketika Buntal menarik tombaknyamaka kumpeni itupun bagaikan sebatang kayu yang jatuh di tanah. Hampir di luar sadarnya Rade Ayu Galihwaritpun berlari ke pintu. Namun ketika ia melihat tubuh-tubuh yang terbaring di tanah dengan berlumuran darah, cepat-cepat ia berbalik dan berlari memeluk anak gadisnya. “O“ Raden Ayu itu berdesah “mengerikan sekali” Rara Warihpun mengetahui, ibunya tentu melihat kumpeni yang diserang oleh Arum dan terjatuh keluar pintu. Sementara itu, Pangeran Sinduratalah yang kemudian menuju ke pintu itu. la masih melihat Buntal berdiri sambil menggenggam tombaknya yang basah oleh merahnya darah. Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudiania ia berkata “Yang terjadi ini merupakan malapetaka bagi kita” Buntal dan Arum t idak dapat menjawab. Merekapun kemudian mulai terdampar pada satu persoalan yang harus mereka pertanggung jawabkan. “Kematian kumpeni di halaman rumah ini akan mengundang kesulitan bagi kita” Pangeran Sindurata itu mengeluh. Buntalpun kemudian memasuki ruangan itu. Ia masih menggenggam tombak yang tegak di sisinya. Sejenak orang-orang yang berada di ruangan itu terdiam. Mereka saling berpandangan. Sebenarnyalah mereka akan menghadapi satu persoalan yang rumit. “Tetapi mereka memang harus mati” tiba-tiba saja Arum memecahkan ketegangan itu. “Kenapa?“ bertanya Pangeran Sindurata.“Ada beberapa alasan Pangeran” jawab Arum “Yang terpenting, mereka sudah tahu, bahwa Raden Ayu Galihwarit mempunyai hubungan dengan pasukan Pangeran Mangkubumi. Hal itu akan dapat menyeret Raden Ayu ke dalam keadaan yang paling parah. Bahkan mungkin hukuman mati” “Tetapi membunuh kumpeni itupun akan mempunyai akibat yang sama. Hukuman mati” jawab Pangeran Sindurata. “Tetapi ada bedanya” tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit menyahut “Aku akan dapat mencar i alasan yang tepat untuk membela diri, kenapa kedua orang kumpeni itu terbunuh di halaman ini” “Apa alasanmu, dan apakah kau dapat menjelaskan, siapakah yang telah membunuhnya” bertanya Pangeran Sindurata. Raden Ayu Galihwarit itu berpikir sejenak. Namun kemudian katanya “Aku mempunyai alasan ayahanda. Kedua orang perwira itu akan ber laku kasar terhadap Warih.’ “Apakah hal itu cukup alasan untuk membunuh?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Tentu“ jawab Raden Ayu Galihwarit “Mereka akan menghinakan anak gadisku, karena mereka menganggap bahwa anakku pantas untuk ikut menanggung dosa-dosa yang selama ini aku lakukan. Tetapi anakku itu menolak” “Tetapi apakah mereka akan percaya bahwa yang telah membunuh kedua orang kumpeni itu adalah Warih?“ bertanya Pangeran Sindurata “atau kau akan mengatakan bahwa yang telah membunuh itu seperti apa yang memang terjadi?” “Tentu tidak ayahanda. Buntal dan Arum harus segera meninggalkan tempat ini. Mereka harus segera kembali ke pasukan Pangeran Mangkubumi sekarang juga” jawab RadenAyu Galihwarit “Apapun yang terjadi di sini, akulah yang akan mempertanggung jawabkan” “Lalu apa yang akan kau katakan, jika mereka bertanya, siapakah yang telah membunuh kedua orang perwira kumpeni itu dengan luka-luka yang akan dapat mereka kenali, jenis senjata apakah yang telah melukai mereka” Raden Ayu Galihwarit itu memandang ayahandanya sejenak. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia berkata “Yang melakukan adalah ayahanda” “Aku, he? Bagaimana mungkin kau dapat manyebut aku?” Pangeran Sindurata hampir berteriak. “Jangan terlalu keras ayahanda” desis Raden Ayu Galihwarit “Kita harus berbicara sebaik-baiknya untuk memecahkan persoalan ini” “Tetapi apakah akalmu sudah terbalik. Kau akan mengorbankan aku dan melindungi anak padesan itu?“ bentak Pangeran Sindurata. “Tidak ayahanda, sama sekali tidak” jawab Raden Ayu Galihwar it “ada beberapa pertimbangan yang dapat dinalar” “Aku tidak mengerti“ Pangeran Sindurata mulai meraba keningnya “Kau dapat membuat aku menjadi gila” “Ayahanda” berkata Raden Ayu Galihwarit “cobalah ayahanda mendengarkan pertimbanganku. Biarlah Buntal dan Arum meninggalkan rumah ini. Jika kemudian kumpeni datang kemari, maka ayahanda dapat mengatakan kepada mereka, bahwa ayahanda telah berusaha melindungi cucu ayahanda yang akan mengalami perlakuan yang tidak pantas dari kedua orang kumpeni itu” “Mereka tidak akan mempedulikannya. Mereka akan tetap menangkap aku dan mereka akan menggantung aku di alun- alun” bantah Pangeran Sindurata.“Aku yakin hal itu tidak akan dapat dilakukan” jawab Raden Ayu Galihwarit “sebelum segala sesuatunya terjadi di halaman rumah ini, aku akan menghadap Pangeran Yudakusuma” “Kenapa dengan Pangeran Yudakusuma?“ bertanya Pangeran Sindurata. “Ia masih Panglima pasukan Surakarta pada saat ini. Aku akan mengadukan persoalan ini. Aku akan mengatakan kepada Pangeran Yudakusuma bahwa dua orang kumpeni telah datang ke rumah ini. Bukan untuk menjemput aku, tetap mereka ingin mendapatkan Warih. Ayahanda melihat bagaimana kedua orang kumpeni itu memaksa Warih untuk menurut i kemauannya, sehingga ayah terpaksa melakukan perlawanan untuk melindungi Warih. Nah, dengan tidak terencana maka ayah telah membunuh kedua orang kumpeni itu” berkata Raden Ayu Galihwar it. Tetapi Pangeran Sindurata menggelengkan kepalanya. Katanya dengan nada tinggi “Aku tidak peduli. Aku tidak mau menjadi korban dalam persoalan yang tidak aku mengerti ini. Akupun tidak peduli bahwa kedua anak padepokan ini akan ditangkap, dihukum mati atau apa saja yang akan terjadi atasnya” “Tetapi ayahanda tahu, kumpeni itu mula-mula benar-benar akan mengambil Warih. Buntal berusaha melindunginya, dan kemudian Arumpun terpaksa terlibat karena keadaan berkembang semakin buruk” “Jika demikian, kenapa harus aku? Katakan apa yang terjadi. Dan aku tidak ikut campur” Pangeran Sindurata mulai membentak-bentak sambil memij it-mij it kepalanya “Aku akan tidur” “Tunggu ayahanda“ panggil Raden Ayu Galihwar it “Apalagi yang harus ditunggu. Aku tidak mempunyai persoalan lagi” jawab Pangeran Sindurata.“Bukan masalah persoalan lagi. Tetapi aku mohon waktu untuk minta dir i. Mungkin justru karena sikap ayahanda itu, kita tidak akan bertemu lagi” suara Raden Ayu merendah. “Apa maksudmu?“ bertanya Pangeran Sindurata. Raden Ayu Galihwarit menundukkan kepalanya. Dengan suara rendah ia berkata “Ayah. Yang terjadi ini sama sekali tidak kita maksudkan. Tetapi kumpeni itu benar-benar ingin menghinakan keluarga kami. Aku sendir i tidak berkeberatan mengalami perlakuan yang bagaimanapun juga, karena aku memang sudah berkubang di dalam lumpur, apapun alasan dan tujuannya. Tetapi aku tidak rela jika anakku ikut terpercik oleh noda itu. Karena itu, maka aku t idak berkeberatan, Buntal dan Arum melindungi anakku, sehingga akibatnya seperti yang terjadi” Raden Ayu Galihwarit berhenti sejenak, sementara ayahandanya bertanya “Tetapi kenapa kau akan minta dir i?“ “Jika ayahanda tidak mau aku sebut namanya, maka akulah yang akan mempertanggung jawabkan. Warih memang anakku. Biarlah ia pergi bersama Buntal dan Arum. Sementara aku akan mengakui segalanya yang terjadi ini, meskipun aku kira mereka tidak akan percaya bahwa akulah yang telah melakukannya. Jika ayahanda tidak mau mengakui telah membunuh kumpeni itu, maka aku harus mengatakan kepada mereka, ada orang lain yang melakukannya. Karena aku tidak dapat menghadapkan orang lain itu, maka segalanya akan dipikul oleh pundakku” Raden Ayu itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi aku t idak berkeberatan. Aku akan memikul segala tanggung jawab” “Jika kau akan dapat membebaskan aku dari segala tuntutan hukum kumpeni, kenapa kau tidak dapat melakukan atas dirimu sendiri” bertanya Pangeran Sindurata “atau, kenapa kau tidak memberikan keterangan apa adanya” “Berbeda ayahanda. Jika ayahanda mengaku membunuh mereka, maka hal itu sangat mungkin. Sementara ayahanda, mempertahankan kehormatan keluarga ayahanda. Tetapi jikaaku menyebut nama lain, dan aku tidak dapat membuktikannya, maka persoalannya akan berkembang, sehingga mungkin sekali akan sampai kepada dugaan-dugaan yang berhubungan dengan pasukan Pangeran Mangkubumi, seperti yang dengan tiba-tiba telah tercetus di benak kumpeni yang terbunuh itu” “Gila, gila” geramPangeran Sindurata “Sudahlah ayahanda. Aku hanya ingin mohon diri. Cucu ayahanda juga akan mohon dir i, karena ia akan pergi ke tempat yang belum pasti dapat memberikan perlindungan kepadanya. Aku akan menghadap Mayor Bilman. Aku akan menyerahkan diri kepadanya. Apapun yang akan dilakukannya” “Anak setan“ umpat Pangeran Sindurata “Kenapa kau t idak pergi ke Pangeran Yudakusuma?“ “Jika ayahanda mau menyelamatkan kami. Pangeran Yudakusuma harus mengambil keputusan lebih dahulu sebelum kumpeni mengambil tindakan” jawab Raden Ayu Galihwar it. “O, anak Setan“ Pangeran Sindurata itu telah memukul- mukul keningnya “kepalaku pusing. Aku hampir menjadi gila” Pangeran itu berhenti sejenak. Namun kemudian ia membentak “Apa kau akan membiarkan dir imu digantung?“ “Aku tidak mempunyai pilihan lain” jawab Raden Ayu itu “dan selesailah segala persoalan yang menyangkut diri Raden Ayu Sontrang yang cantik dan membuat beberapa orang perwira kumpeni menjadi gila. Rakyat Surakarta pada saatnya akan berbondong-bondong pergi ke alun-alun. melihat tubuhku tergantung di tiang gantungan. Satu-satu mereka akan lewat di bawah tubuhku sambil meludah ke tanah” “Kau tidak mau diperlakukan demikian. Karena itu kau minta akulah yang digantung itu“ geramPangeran Sindurata.“Tidak ayahanda. Biar aku saja yang digantung. Aku lebih senang digantung. Aku lebih senang digantung oleh Mayor Bilman daripada orang lain” jawab Raden Ayu Galihwarit. Pangeran Sindurata menggeram. Namun kemudian ia terduduk lesu sambil berkata “Pergilah ke Pangeran Yudakusuma. Katakan, akulah yang telah membunuh kedua orang asing itu” “Ayahanda” desis Raden Ayu Galihwarit. Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Ya. Aku akan mengatakan kepada siapapun juga, bahwa akulah yang telah membunuh mereka” Raden Ayu Galihwaritpun kemudian ber lari dan berlutut, di kaki ayahandanya. Tiba-tiba saja ia menangis. Dengan suara terputus-putus ia berkata “Tidak. Ayahanda sudah terlalu tua untuk melibatkan diri dalam keadaan seperti ini. ” “Sudahlah” suara Pangeran Sindurata justru menjadi sareh “pergilah ke Pangeran Yudakusuma. Katakan seperti yang ingin kau katakan. Cepat, sebelum sais kereta itu mengerti, apa yang terjadi” “Tetapi . . “ kata-kata Raden Ayu patah ketika ayahandanya memotong “Sudahlah. Jangan berpikir lagi. Semakin banyak kita pikirkan persoalannya akan menjadi semakin kalut” “Jadi?“ “Aku mengerti. Biarlah Buntal dan Arum meninggalkan tempat ini. Dengan demikian maka mereka tidak akan menjadi bersih dari segala macam tuduhan dalam hubungan dengan pasukan Pangeran Mangkubumi” berkata Pangeran Sindurata. “Terima kasih ayahanda” suara Raden Ayu menjadi parau. “Aku akan memberitahukan kepada setiap orang di dalam rumah ini. seperti yang kau maksudkan, agar setiappertanyaan dapat dijawab dengan baik” berkata Pangeran Sindurata. Raden Ayu Galihwaritpun kemudian mengatur segala- galanya. Ia akan pergi ke Pangeran Yudakusuma. Sementara itu Buntal dan Arum harus meninggalkan istana itu” Dalam pada itu. Warih tidak dapat berbuat lain kecuali menangis. Tetapi ibundanya berkata kepadanya “Jangan menangis lagi Warih. Kita sedang bekerja keras untuk kepentingan kita bersama” Warih mengangguk. Diusapnya air matanya sampai kering. Tetapi di luar kehendaknya matanya telah menjadi basah lagi. Buntal dan Arumpun segera mempersiapkan diri. Mereka akan meninggalkan istana itu setelah Raden Ayu Galihwar it pergi ke istana Pangeran Yudakusuma. “Bukan maksud kami mengingkari tanggung jawab, puteri” berkata Buntal kepada Rara Warih “Tetapi yang kami lakukan ini kami dasarkan bagi kepentingan segala pihak” Warih mengangguk. Dengan suara sendat ia menjawab “Aku mengerti. Aku berterima kasih kepada kalian. Tanpa kalian, aku tidak tahu, apa yang terjadi atas diriku” Demikianlah, setelah segala rencana dapat saling dimengerti, Raden Ayu itupun telah membenahi pakaiannya. Kemudian iapun keluar lewat pintu pringgitan, turun tangga pendapa mendapatkan sais yang menunggu dengan tegang. Sais itu mendengar suara tembakan. Tetapi perkelahian di longkangan belakang itu terlalu jauh untuk didengarnya. Karena itulah maka ia tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Meskipun ia merasa sesuatu yang menggelisahkannya. Namun istana yang besar dan sepi itu merupakan teka-teki baginya. Apalagi ketika Raden Ayu Galihwar it turun seorang diri dari pendapa dan mendapatkannya.Tetapi Raden Ayu itu tertawa. Kepada sais ia berkata “Tuanmu masih belum ingin pergi. Mereka nampaknya sedang asyik berbincang dengan anak gadisku” Sais itu mengerutkan keningnya. Namun di dalam hati ia berkata “O, puteri ini sudah mengajari anaknya untuk dapat berbuat seperti dirinya sendir i” Namun Raden Ayu itupun kemudian berkata “Sekarang antarkan aku ke istana Pangeran Yudakusuma. Aku harus menyampaikan surat dari tuanmu” Sais itu menjadi heran. Namun Raden Ayu itu berkata sambil tersenyum “Tuanmu memang terlalu. Ia sedang sibuk bagi kepentingannya sendir i. Akulah yang harus menyampaikan suratnya kepada Pangeran Yudakusuma” Sais itu tidak membantah. Tetapi di dalam hati ia berkata “Aku lebih baik kelaparan dari membiarkan anak gadisku berbuat seperti itu. Anehnya, apakah Pangeran Sindurata sama sekali tidak berkeberatan istananya menjadi ajang permainan gila ini” Namun ketika Raden Ayu Galihwarit itu sudah berada dalam kereta, maka kereta itupun berderap meninggalkan halaman istana itu. Sementara itu, demikian kereta itu hilang di balik regol. Buntal dan Arumpun segera minta dir i, “Hati-hatilah“ Pangeran Sindurata justru berpesan kepada mereka sehingga kedua anak muda itu menjadi segan. Namun Buntal telah menjawabnya “Hamba Pangeran. Hamba berdua akan berhati-hati. Agaknya suasana akan segera menjadi panas” Sejenak kemudian kedua anak muda itupun telah meninggalkan halaman istana Pangeran Ranakusuma. Dengan cepat tetapi tidak segera menarik perhatian orang lain,keduanya langsung menuju ke jalur jalan yang seharusnya mereka lalui. “Kita harus segera meninggalkan kota” berkata Buntal “dalam pengusutan yang kasar, mungkin satu dua orang di istana itu akan mengaku dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Jika hal itu benar-benar terjadi demikian, mungkin sekelompok prajurit akan mengejar kita dengan marah” “Aku masih membayangkan, apa yang terjadi di istana itu. Mungkin kumpeni mengambil sikap kasar terhadap Raden Ayu Galihwar it dan Rara Warih” jawab Arum “hampir saja aku mohon kepada Raden Ayu, agar Rara Warih diperkenankan pergi keluar kota bersama kami. Namun kepergiannya tentu akan menimbulkan kecurigaan pula kepada kumpeni” Buntal mengangguk-angguk. Katanya “Yang terjadi dengan tiba-tiba itu memang dapat menyulitkan Raden Ayu. Tetapi jika Raden Ayu berhasil dengan rencananya, dan Pangeran Sindurata teguh dalam sikap, aku kira memang akan dapat di atasinya” Arum mengangguk-angguk. Namun mereka berdua itupun sadar, bahwa mereka harus memperhatikan diri mereka pula. Karena itulah, maka keduanyapun berjalan semakin lama semakin cepat. Semakin jauh dari kota, maka keduanyapun merasa, bahwa tidak lagi banyak orang yang memperhatikannya. Namun dalam pada itu, Buntaipun bertanya “He, kenapa kau dengan kain panjangmu?“ “Sobek sampai sejengkal” desis Arum “untung hanya, selembar, sehingga tertutup oleh lapisan di dalamnya” Buntal menar ik nafas dalam-dalam. Yang terjadi di istana itu memang mendebarkan. Bahkan penyelesaiannyapun tentu akan menegangkan pula.Dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit yang mempergunakan kereta kumpeni yang terbunuh di rumahnya, telah memasuki istana Pangeran Yudakusuma. Ternyata kedatangannya telah mengejutkan Pangeran yang kebetulan ada di istananya itu. “Kedatangan Raden Ayu sangat mengejutkan aku” berkata Pangeran Yudakusuma. Raden Ayu Galihwarit menar ik nafas dalam-dalam. ia sadar, bahwa Pangeran Yudakusuma adalah seorang Pangeran yang berhati teguh. Raden Ayupun tahu, bahwa Pangeran Yudakusuma adalah satu di antara dua orang yang bertempur melawan Pangeran Ranakusuma di saat terakhir, dan bahkan Pangeran itu telah dilukai pula oleh Pangeran Ranakusuma. “Aku mempunyai satu kepentingan yang tidak dapat ditunda lagi Pangeran” desis Raden Ayu. Pangeran Yudakusuma memandang Raden Ayu Galihwarit dengan pandangan yang aneh. Sebenarnyalah Pangeran itu tidak senang terhadap sikap Raden Ayu Galihwarit sebagai seorang perempuan yang berdarah luhur di Surakarta. Hal itupun disadarinya pula oleh Raden Ayu Galihwarit. Namun ia sudah mengatur diri di sepanjang perjalanan dari istana Pangeran Sindurata sampai ke istana Pangeran Yudakusuma, Raden Ayu Galihwarit sudah merancang, apa yang akan dikatakan. Ia akan menjawab dengan pengertian yang sudah dianyamnya sebaik-baiknya. Dalam pada itu, Pangeran Yudakusumapun bertanya pula “Apakah keperluan Raden Ayu itu? Dan kenapa Raden Ayu harus menyampaikan keperluan Raden Ayu itu kepadaku” “Pangeran” suara Raden Ayu menurun “Aku mohon keadilan” “Keadilan? Kenapa kepadaku? Aku adalah seorang Panglima perang. Bukan seorang yang harus menengahipersoalan dan memutuskan perkara” berkata Pangeran Yudakusuma. “Justru karena Pangeran adalah Panglima perang“ jawab Raden Ayu “karena persoalannya menyangkut hubungan dengan kumpeni” Wajah Pangeran Yudakusuma berkerut. Dengan nada datar ia berkata “Tidak semua persoalan dengan kumpeni aku dapat ikut campur. Aku hanya dapat ikut berbicara tentang, persoalan keprajuritan. Tidak tentang prajurit kumpeni itu sendiri” Terasa betapa tajamnya kata-kata Pangeran Yudakusuma itu di telinganya. Namun Raden Ayu sudah siap menerimanya. Bahkan yang lebih tajam dari sindiriran itu sekalipun. Dengan sareh Raden Ayu menjawab “Pangeran. Aku tidak tahu. apakah persoalan yang aku hadapi ini persoalan keprajuritan atau persoalan prajurit kumpeni itu sendiri. Tetapi masalahnya akan dapat menyangkut hubungan antara kumpeni dan Surakarta” “Persoalan yang menyangkut Raden Ayu?“ bertanya Pangeran Yudakusuma dengan wajah berkerut. Raden Ayu Galihwarit menar ik nafas dalam-dalam. Ia memang harus menahan hati. Jawabnya kemudian “Pangeran. Dengan tidak direncanakan lebih dahulu, dua orang kumpeni terbunuh di rumahku” “He“ Pangeran Yudakusuma terkejut sehingga ia bergeser maju “Apakah aku tidak salah dengar? Dua orang kumpeni terbunuh di istana Pangeran Sindurata?“ “Ya Pangeran” jawab Raden Ayu sambil menundukkan kepalanya. “Siapakah yang telah membunuhnya? bertanya Pangeran Yudakusuma.“Ayahanda, Pangeran Sindurata” jawab Raden Ayu Galihwar it. “Pangeran Sindurata?“ Pangeran Yudakusuma menjadi tegang. “Ya Pangeran?” jawab Raden Ayu Galihwarit pula. “Dalam persoalan apa? Apakah Pangeran Sindurata marah melihat tingkah mereka dalam hubungan mereka dengan Raden Ayu? Atau apa?“ desak Pangeran Yudakusuma. Raden Ayu itu termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya iapun menceriterakan apa yang telah terjadi di istana Pangeran Sindurata menurut rencananya. Raden Ayu dapat mengatakan dengan jelas seakan-akan memang terjadi seperti yang dikatakannya itu. Pangeran Yudakusuma mendengarkan pengaduan Raden Ayu Galihwarit itu dengan sungguh-sungguh. Persoalan ternyata tidak seperti yang diduganya. “Pangeran” berkata Raden Ayu Galihwarit “Aku menyadari, bahwa aku sendiri sama sekali sudah tidak berharga. Demikian pula di hadapan ayahanda Pangeran Sindurata. Ayahanda tidak peduli lagi apapun yang terjadi atasku. Juga seandainya aku mati di pinggir jalan, ayahanda tidak akan menyesalinya” Raden Ayu itu terdiam sejenak, lalu “Tetapi yang terjadi itu adalah usaha pelanggaran kehormatan seorang gadis, cucu ayahanda Pangeran Sindurata. Itulah sebabnya, maka ayahanda menjadi marah. Dan tidak dengan per ingatan apapun, ayahanda telah menyerang kedua orang kumpeni itu” Wajah Pangeran Yudakusuma menjadi tegang. Namun hampir di luar sadarnya ia berkata “Persoalannya memang akan dapat menyangkut banyak pihak. Tetapi Raden Ayupun tidak akan dapat menyangkut banyak pihak. Tetapi Raden Ayupun tidak akan dapat melemparkan tanggung jawab atas peristiwa ini, meskipun dari sudut yang berbeda. Jika gadis itu bukan anak perempuan Raden Ayu, aku kira kumpeni itupunakan bersikap lain, karena kumpeni itu sudah terbiasa bergaul dengan Raden Ayu” Jantung Raden Ayu Galihwarit bagai ditusuk dengan sembilu. Betapa pedihnya. Tetapi dengan tabah ia menjawab “Aku mengerti Pangeran. Salah satu sebab tentu karena kelakuanku sendir i. Tetapi ternyata bahwa anak perempuanku mempunyai pendirian yang lain. Ia membenci aku karena cara hidup yang aku tempuh selama ini. Dan kumpeni itu tidak mau tahu” “Apa yang dilakukan?“ bertanya Pangeran Yudakusuma, “Seorang di antara kedua orang kumpeni yang datang ke rumah itu. telah berusaha melanggar kehormatan anak gadisku. Ketika anak gadisku berteriak, maka ayahanda Sindurata mendengarnya” jawab Raden Ayu Galihwar it. “Apa yang Raden Ayu lakukan?“ bertanya Pangeran Yudakusuma. “Aku mencoba melindungi anak perempuanku. Tetapi kumpeni yang seorang telah memegangi aku. Dan aku tidak berdaya untuk melepaskan diri” jawab Raden Ayu “semula akupun mencoba membatasi persoalan itu. Tetapi kumpeni yang seorang bagaikan menjadi gila. Dan terjadilah pembunuhan itu” Pangeran Yudakusuma termangu-mangu sejenak. Sementara itu Raden Ayu Galihwarit mulai menangis “Kami mohon perlindungan Pangeran. Aku menyadari keadaan diriku, tetapi bukan seharusnya kumpeni menghinakan setiap orang perempuan di Surakarta” “Ya“ terdengar Pangeran Yudakusuma menggeram “Tidak seharusnya kumpeni menganggap setiap perempuan di Surakarta ini seperti Raden Ayu” Raden Ayu Galihwarit mengangkat wajahnya. Namun wajah itupun telah menunduk lagi. Setitik air matanya meleleh dipipinya. Ia benar-benar menangis meskipun semula Raden Ayu itu hanya berpura-pura. Pangeran Yudakusuma yang melihat Raden Ayu menangis itupun kemudian bertanya “Kereta siapa yang Raden Ayu pakai itu? Kereta Pangeran Sindurata?“ “Tidak Pangeran” jawab Raden Ayu “Aku mempergunakan kereta kedua orang kumpeni yang terbunuh itu. Sais kereta itu belum mengetahui persoalannya, karena peristiwa itu terjadi di longkangan belakang. Sebenarnyalah kumpeni itu telah memburu anak gadisku sampai ke ruang belakang, karena anak gadisku berusaha untuk melarikan dir i” Pangeran Yudakusuma berpikir sejenak. Bagaimanapun juga ia juga merasa tersinggung atas sikap kumpeni itu. Karena itu, maka Pangeran Yudakusuma berniat untuk bertemu dengan Pangeran Sindurata. Pangeran tua itu adalah seorang Pangeran yang mempunyai Hubungan yang dekat pula dengan kumpeni. Jika ia membunuh kumpeni. maka tentu ada alasan yang khusus, yang mungkin benar seperti apa yang dikatakan oleh Raden Ayu Galihwarit. Karena itu, maka Pangeran Yudakusunia itupun menganggap persoalan itu bukan persoalan yan dapat dengan mudah diputuskan, bahwa karena seseorang telah membunuh kumpeni, maka ia akan dihukum gantung. Apalagi persoalannya menyangkut seorang Pangeran di Surakarta. “Baiklah Raden Ayu” berkata Pangeran Yudakusuma “Aku akan melihat keadaan di istana Pangeran Sindurata” “Silahkan Pangeran, aku hanya dapat mengucapkan terima kasih” desis Raden Ayu Galihwarit “mungkin Pangeran sudah mengetahui sifat-sifat ayahanda. Ia cepat menjadi marah. Demikian pula menghadapi kedua orang kumpeni itu” Pangeran Yudakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ia memang mengenal sifat-sifat Pangeran Sindurata. Justru karena sifat-sifatnya itu ia seolah-olah tidak pernah mendapattugas-tugas penting meskipun ia di masa mudanya adalah seorang prajurit yang mumpuni. Namun pada usianya yang semakin tua, ia tidak dapat menjadi Senapati yang baik, karena ia terlalu cepat dipengaruhi oleh luapan kemarahannya, sehingga ia bukannya seorang yang dapat menguasai dir i. “Silahkan Raden Ayu mendahului” berkata Pangeran Yudakusuma “Aku akan segera datang” “Tetapi aku takut Pangeran” jawab Raden Ayu itu. “Apa yang Raden Ayu takutkan?“ bertanya Pangeran Yudakusuma. “Kumpeni. Mereka akan mempergunakan wewenang mereka. Bukan lagi ber landaskan pada keadilan” jawab Raden Ayu. “Aku akan datang“ Pangeran Yudakusuma menegaskan. Raden Ayu Galihwarit termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berkata “Baiklah Pangeran. Jika Pangeran menghendaki aku mendahului aku akan mendahului” “Silahkan” jawab Pangeran Yudakusuma. Raden Ayu itupun kemudian mohon dir i. Dengan kereta yang dipergunakannya di saat ia pergi ke istana itu. iapun kemudian kembali ke istana ayahandanya. Ternyata Pangeran Yudakusuma pun bertindak cepat, la tahu. bahwa kumpeni yang datang ke istana Pangeran Sindurata untuk menemui Raden Ayu Galihwar it itu tentu para perwira. Dan kematian dua orang perwira kumpeni di Surakarta tentu akan dapat menimbulkan persoalan yang perlu di tanggapi dengan sungguh-sungguh. Karena itu, demikian Raden Ayu itu sampai di rumahnya dan member itahukan segala sesuatunya yang dibicarakannyadengan Pangeran Yudakusuma kepada ayahandanya, maka terdengar derap beberapa ekor kuda memasuki halaman. “Ayahanda” berkata Raden Ayu Galihwarit “agaknya Pangeran Yudakusuma sudah datang, apakah aku dapat mempersilahkannya” “Persilahkan mereka masuk ke ruang belakang” Lalu katanya kepada Rara Warih “Warih, kau di sini. Duduk di sampingku“ Rara Warihpun kemudian duduk di samping Pangeran Sindurata. Wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar, la memang benar-benar menjadi ketakutan. “Warih” desis ibunya “Kau harus berbuat sebaik-baiknya. Sebagaimana para pelayan di istana inipun harus berbuat demikian untuk keselamatan kita semuanya” Warih mengangguk kecil. Namun jantungnya terasa berdegup semakin keras oleh kecemasan, ketakutan dan berbagai perasaan yang bercampur baur. Dalam pada itu, seorang pelayan telah member itahukan, bahwa ada beberapa orang prajurit di halaman depan. Karena itulah, maka Raden Ayu Galihwaritpun segera berlari-lari ke halaman depan lewat longkangan samping. Demikian Raden Ayu itu muncul dari seketheng, maka dilihatnya Pangeran Yudakusuma, diir ingi oleh beberapa orang perwira dan prajur it pengawal dari pasukan berkuda. “Silahkan Pangeran“ Raden Ayu itu mempersilahkan. “Aku sendiri telah memerlukan datang untuk melihat keadaan” sahut Pangeran Yudakusuma. Lalu “Semula aku ingin memer intahkan beberapa orang Senapati untuk melihat apa yang terjadi. Tetapi ternyata aku menganggap kemudian bahwa persoalannya benar-benar gawat. Pangeran Yudakusuma berhenti sejenak, lalu “Dimana Pangeran Sindurata”“Ayahanda berada di belakang. Ayahanda masih menggenggam tombaknya yang masih berbau darah. Aku agak takut mendekatinya, karena kemarahan ayah sebagian juga tertuju kepadaku” jawab Raden Ayu. “Aku dapat mengerti, kenapa kemarahan Pangeran Sindurata sebagian juga tertuju kepadamu” sahut Pangeran Yudakusuma “antarkan aku kepada Pangeran Sindurata” Raden Ayu Galihwar itpun kemudian mempersilahkan Pangeran Yudakusuma dan beberapa orang Senapati dan pengawalnya untuk pergi ke ruang belakang, sementara dua orang masih tetap berada di halaman depan. Demikian mereka berdir i di depan pintu ruang belakang, mereka melihat Pangeran Sindurata yang duduk di sebelah Rara Warih. Ditangan Pangeran tua itu masih tergenggam sebatang tombak pusakanya. “Pamanda Pangeran Sindurata” desis Pangeran Yudakusuma. Pangeran Sindurata bangkit dar i duduknya. Diamatinya Pangeran Yudakusuma sejenak. Kemudian katanya “Marilah anakmas Yudakusuma. Apakah anakmas datang bersama kumpeni?“ “Tidak pamanda” jawab Pangeran Yudakusuma yang melihat ketegangan di wajah Pangeran Sindurata. Apalagi ketika ia melihat tombak Pangeran tua itu menjadi condong “Kami datang tanpa seorang kumpenipun” berkata Pangeran Yudakusuma “Raden Ayu Galihwarit telah melaporkan kepadaku, apa yang telah terjadi di istana ini. Karena itu, aku datang untuk melihat sendiri” “Aku membunuh dua orang kumpeni” jawab Pangeran Sindurata “Mereka menjadi gila melihat cucuku. Aku tidak peduli. Aku harus melindunginya. Aku tidak pernah mencampur i urusan kumpeni jika ia berhubungan denganGalihwar it. Biarlah yang sudah lepas dari tangan tidak akan kembali dalam pegangan. Tetapi t idak dengan cucuku. Ia seorang gadis yang baik. Ia bukan seperti ibunya. Aku sudah kehilangan anak perempuanku tenggelam dalam kebinalannya. kehilangan cucu laki- lakiku yang mati, dan sekarang aku tidak mau kehilangan cucu perempuanku yang tinggal satu-satunya harapan dari keturunan keluarga yang rusak, Ranakusuma” Pangeran Yudakusuma mengangguk-angguk. Meskipun Pangeran Sindurata sudah tua. tetapi matanya masih tetap memancarkan darah kejantanannya. Apalagi Pangeran Yudakusuma tahu benar, bahwa Pangeran Sindurata mempunyai semacam penyakit yang sudah lama diderita. Cepat marah dan kurang menguasai dir i. “Pamanda” berkata Pangeran Yudakusuma kemudian “Apakah aku diperkenankan melihat, dimana kedua orang kumpeni yang terbunuh itu?“ “Mereka ada di longkangan belakang” jawab Pangeran Sindurata. Pangeran Yudakusumapun kemudian melangkah diikuti oleh pengawal-pengawalnya menuju ke pintu yang menghadap ke longkangan belakang. Demikian mereka sampai ke pintu, maka mereka sudah melihat dua orang perwira kumpeni terkapar di tanah. Yang seorang bersenjata pedang yang lain bersenjata api berlaras pendek. Pangeran Yudakusumapun kemudian mendekati kedua sosok mayat itu. Yang seorang perutnya koyak oleh ujung tombak, sedangkan yang lain terbunuh oleh pisau-pisau kecil yang tertancap di tubuhnya. Tanpa bertanya, Pangeran Yudakusuma telah membuat uraian sendiri terhadap peristiwa itu. Pangeran Sindurata telah bertempur dengan kumpeni yang bersenjata pedang itu dan membunuhnya. Sementara kumpeni yang lain, demikiankeluar dari pintu dengan senjata api di tangan, beberapa pisau kecil telah menyambarnya. “Senjata api ini sudah meledak” berkata seorang Senapati yang melihat senjata api itu. “Tetapi tidak mengenai sasaran” sahut Pangeran Yudakusuma. Dalam pada itu, Pangeran Sindurakapun turun pula kelengkungan itu. Tombaknya masih selalu dibawanya. Dengan nada datar ia berkata “Aku merobek perutnya dengan tombakku ini“ Pangeran Yudakusuma mengangguk. Jawabnya “Aku mengenalinya dari lukanya” “Ya. Dan sekarang, apakah yang akan anakmas Pangeran lakukan?“ bertanya Pangeran Sindurata. Pangeran Yudakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Dengan kerut di keningnya ia bertanya “Jadi yang terjadi seperti apa yang sudah pamanda ceriterakan?“ “Apakah kau tidak percaya?“ justru Pangeran Sindurata itupun bertanya pula. “Bukan maksudku tidak percaya. Aku hanya ingin menegaskan” sahut Pangeran Yudakusuma. “Ya. Demikianlah yang terjadi. Aku tidak rela cucuku dinodai. Orang asing itu akan menghinakan setiap perempuan di Surakarta” geram Pangeran Sindurata “dan aku akan mempertanggung-jawabkan apa yang terjadi kepada siapapun. Aku sudah tua. Jika aku harus digantung di alun- alun, maka aku akan menjadi lambang kekerdilan sikap Surakarta, yang membiarkan dirinya sendiri di nodai oleh orang asing. Meskipun sebelumnya aku berhubungan baik dengan kumpeni, dan yang karena itu pula aku tidak mengambil sikap tegas terhadap anak perempuanku, namunaku masih tetap mempunyai harga diri sebagai seorang bangsawan di Surakarta” Pangeran Yudakusuma mengangguk-angguk. Sementara itu, beberapa orang Senapati menjadi kagum melihat bekas tangan Pangeran Sindurata. Meskipun Pangeran itu sudah tua, tetapi bekas arena pertempuran, tubuh kumpeni yang terkoyak oleh ujung tombak maupun pisau-pisau yang membunuh kumpeni yang lain, menunjukkan betapa tinggi ilmu Pangeran itu. Apalagi di masa mudanya. Tetapi setiap orangpun tahu, bahwa Pangeran Sindurata memang bekas seorang prajur it. Dalam pada itu, maka Pangeran Yudakusumapun kemudian berkata kepada seorang Senapatinya “Beritahukan kematian kedua orang kumpeni ini kepada atasannya di Loji. Berikan alasannya kenapa hal ini terjadi. Dan katakan bahwa aku sudah berada di sini” Senapati yang mendapat tugas itupun segera meninggalkan halaman istana Pangeran Sindurata bersama seorang pengawalnya. Ketika ia sampai di loj i, ia diterima oleh seorang perwira kumpeni yang sudah mulai ditumbuhi uban di kepalanya. Tetapi perwira itu masih nampak kokoh dan kuat. “Mayor Bilman” berkata Senapati itu “aku ditugaskan oleh Pangeran Yudakusuma untuk menyampaikan satu berita yang penting bagi Mayor” Mayor Bilman mengerutkan keningnya. Kemudian iapun bertanya “Berita apa?“ Senapati itupun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi di halaman rumah Pangeran Sindurata. Mayor itu terkejut. Wajahnya menjadi merah. Dengan suara gagap ia bertanya “Jadi kedua orang perwiraku itu terbunuh?““Ya Mayor. Tetapi sebagaimana aku katakan, ada alasan yang kuat kenapa Pangeran tua yang pemarah itu membunuh kedua perwira kumpeni itu” jawab Senapati itu. Bilman mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “Coba ulangi, yang kau maksud dengan perempuan itu, Raden Galihwar it atau anak gadisnya?“ “Anak gadisnya, Mayor. Pangeran Sindurata tidak akan mempedulikan seandainya kumpeni itu akan berbuat apa saja terhadap Raden Ayu Galihwarit. Raden Ayu itu sudah dianggap hilang oleh ayahandanya. Tetapi kumpeni itu akan menodai anak gadis Raden Ayu itu. Cucu Pangeran Sindurata yang sangat dicintainya, yang bagi Pangeran itu merupakan ganti dari anak perempuannya yang sudah dianggapnya hilang itu” Mayor Bilman menggeram. Kemudian dipanggilnya dua orang perwira bawahannya dan diberitahu apa yang telan terjadi. “Gila“ salah seorang perwira itu mengumpat “orang itu harus dihukum” “Tunggu” potong Mayor Bilman “Kita harus melihat perkaranya. Aku juga tidak senang melihat pembunuhan itu, tetapi aku juga tidak senang melihat watak prajurit kumpeni yang buas dan liar seperti itu. Aku tidak pernah berkeberatan, dan bahkan aku sendir i melakukan hubungan dengan perempuan pribumi, tetapi pada batas-batas tertentu. Sikap yang liar dan buas, akan dapat merusak hubungan kita dengan para Senapati di Surakarta” “Tetapi apakah Mayor percaya begitu saja terhadap laporan ini?“ bertanya salah seorang dari kedua perwira bawahannya itu. “Aku akan melihat apa yang terjadi. Pangeran Yudakusuma juga sudah berada di sana” berkata Bilman.Kedua perwira itupun telah diperintahkan menyiapkan sekelompok kumpeni untuk mengikutinya ke istana Pangeran Sindurata untuk melihat apa yang terjadi. Dengan melihat sendiri peristiwa itu, maka kumpeni akan mendapat gambaran yang jelas, apakah yang sebenarnya sudah terjadi. Demikianlah, maka sejenak kemudian Mayor Bilman bersama Senapati utusan Pangeran Yudakusuma itupun segera berangkat menuju istana Pangeran Sindurata bersama beberapa orang yang lain. Para perwira kumpeni itu ternyata. mempunyai tanggapan yang berbeda atas laporan Senapati Surakarta itu. Ada di antara mereka yang percaya. Ada yang tidak percaya. Ada yang dengan serta merta mendendam kepada Pangeran Sindurata karena Pangeran itu telah membunuh kawannya. Tetapi ada juga yang menyesal, bahwa orang kulit putih yang menganggap dir inya mempunyai tataran peradaban yang lebih tinggi itu telah menodai namanya sendir i. Ketika mereka sampai di istana Pangeran Sindurata, maka merekapun segera dibawa ke longkangan belakang. Di longkangan belakang mereka bertemu dengan Pangeran Yudakusuma dan beberapa orang Senapati. Sementara itu Pangeran Sindurata masih menggenggam tombak di tangannya. “Selamat bertemu Pangeran“ Mayor Bilman mengangguk hormat. Pangeran Sindurata juga mengangguk Tetapi ia tidak menjawab. Namun dalam pada itu, Mayor Bilman itu berkata “Tetapi sebaiknya Pangeran meletakkan tombak itu. Kita akan berbicara dengan baik. Aku kira setiap persoalan akan dapat dipecahkan” “Aku menggenggam tombakku sendir i” jawab Pangeran Sindurata.Mayor Bilman menarik mafas dalam-dalam. Ketika seorang kumpeni berbisik di telinganya Mayor Bilman menggeleng. Bahkan Mayor Bilman itu berkata “Aku ingin mendengar pendapat Pangeran Yudakusuma” Pangeran Yudakusumapun kemudian mengatakan apa yang didengarnya tentang peristiwa itu dan bahkan ia sudah mengatakan, kemungkinan yang terjadi sehingga kedua orang kumpeni itu terbunuh” “Aku tidak percaya” potong seorang perwira kumpeni “Pangeran itu terlalu tua untuk membunuhnya. Ia adalah orang yang baru di Surakarta. Menurut pendengaran kami, perwira itu memiliki ilmu pedang yang sulit dicari bandingnya” Belum lagi Pangeran Yudakusuma menyahut. Pangeran Sindurata bergeser maju sambil membentak “Siapa yang tidak percaya. Aku masih sanggup merobek perutnya jika ia berbuat seperti kumpeni itu” “Sudahlah” potong Mayor Bilman. Ia ternyata cukup bijaksana. Dari mata para Senapati prajurit Surakarta, ia dapat membaca, bahwa sikap kumpeni yang terbunuh itu memang sangat mereka sesalkan. Bahkan nampak kemarahan yang membayang di wajah para Senapati itu. Dalam pada itu keteganganpun telah mencengkam longkangan belakang istana Pangeran Sindurata itu. Beberapa orang perwira kumpeni merasa tersinggung karena dua orang kawannya telah terbunuh. Sementara beberapa orang Senapati di Surakartapun merasa tersinggung, bahwa kumpeni itu ingin mencemarkan kehormatan seorang gadis bangsawan Surakarta. Namun dalam pada itu, hampir setiap orang menganggap bahwa kesalahan yang paling mendasar adalah kesalahan Raden Ayu Galihwarit sendiri. Meskipun demikian para Senapati di Surakarta menganggap bahwa yang dilakukan oleh Pangeran Sindurata itu dapat dimengerti. Apalagi mereka mengenal sifat Pangeran Sindurata yang garang, cepat marah dan kurang pertimbangan. Dalam pada itu. Mayor Bilmanpun kemudian berkata kepada Pangeran Sindurata “Pangeran, apakah aku diperkenankan bertemu dengan Raden Ayu Galihwarit. Bukankah Raden Ayu itu yang melaporkannya kepada Pangeran Yudakusuma?“ Pangeran Sindurata termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya ”Bertanyalah kepadanya. Ia menunggui anak gadisnya atau barangkali membawa anak gadisnya ke dalam biliknya” “Biar lah aku menemuinya di ruang belakang. Tidak di sini” berkata Mayor Bilman. Mayor Bilmanpun kemudian masuk ke ruang belakang. Sejenak ia termangu-mangu. Tidak seorangpun yang nampak berada di ruang belakang. Agaknya Raden Ayu Galihwar it telah masuk ke ruang dalam. Namun dalam pada itu, ternyata Mayor Bilman melihat seorang pelayan istana itu yang termangu-mangu. Karena itu, maka iapun mendekatinya dan minta agar disampaikan kepada Raden Ayu Galihwarit, bahwa ia ingin bertemu. Ketika Raden Ayu keluar ke ruang belakang, dan dilihatnya Mayor Bilman berdir i di pintu menunggunya, maka iapun berdesis “Mayor?“ “O” desis Mayor Bilman “Aku ingin bertemu dengan Raden Ayu” “Untuk apa?“ bertanya Raden Ayu. “Bukankah Raden Ayu melihat per istiwa ini sejak awal. Maksudku sejak kedua orang perwiraku itu datang, Raden Ayulah yang menerimanya?““Ya Mayor. Akulah yang menerima mereka” Raden Ayu itu berhenti sejenak. Dari pintu belakang ia melihat beberapa orang Senapati dan perwira kumpeni yang termangu mangu. “Bawa Raden Ayu Itu kemar i” berkata seorang perwira kumpeni “Kita dapat mendengar keterangannya dengan jelas” “Aku takut melihat sosok mayat di longkangan itu” jawab Raden Ayu lantang “Baiklah” berkata Mayor Bilman “Aku mendengar dari Pangeran Yudakusuma dan Pangeran Sindurata apa yang terjadi. Kedua orang kumpeni itu ingin merusak kehormatan anak gadis Raden Ayu” Raden Ayu itu bergeser sedikit Namun tiba-tiba ia menjawab perlahan “Benar Mayor. Perwiramu, orang baru itu, menjadi gila ketika ia melihat anak gadisku. Kawannya telah membantunya sehingga anak gadisku menjer it-jerit. Suaranya telah memanggil ayahanda Pangeran Sindurata” “Hanya itu?“ bertanya Mayor Bilman. Raden Ayu itu telah bergeser semakin dekat. Tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya “Mayor tahu. Perwiramu yang seorang, bukan yang baru itu. telah gila terhadapku. Ia selalu mengancam j ika aku berhubungan dengan Mayor. Bahkan ia pernah mengatakan kepadaku, bahwa Mayor Bilman akan dipindah dari Surakarta. Apa benar begitu?“ “Tidak. Itu bohong” Jawab Mayor Bilman. “Nah, agaknya iri hatinya itulah yang telah mendorongnya membantu kawannya melakukan pelanggaran kehormatan terhadap anakku. Untunglah bahwa Hal itu tidak pernah dapat dilakukan” Raden Ayu itu berhenti sebentar, lalu “tetapi sebenarnyalah aku takut kepada perwiramu itu. Ia pernah mengancam, jika aku masih tetap berhubungan dengan Mayor, ia akan membunuhku atau membunuh Mayor jika Mayor tidak jadi dipindah”“Gila. Aku memang sudah tahu, bahwa ia berusaha berhubungan rapat dengan Raden Ayu dan berusaha menggeser aku dari sisi Raden Ayu. Tetapi aku tidak menyangka bahwa ia teramat licik seperti itu” geram Mayor Bilman. Lalu “Jika demikian, maka biarlah ia mati” “Terserah kepada sikap Mayor” berkata Raden Ayu “Tetapi jika Mayor bertanya kepadaku, kecuali karena sikap keduanya yang telah berusaha menodai anak gadisku yang berarti menyakit i hati setiap perempuan di Surakarta, sebenarnyalah aku takut kepadanya” Mayor itu mengangguk-angguk. Kemudian iapun berkata “Cukup Raden Ayu. Aku harus segera mengambil keputusan yang paling baik bagi Surakarta” Mayor itupun kemudian meninggalkan Raden Ayu di ruang belakang. Dengan wajah yang berkerut ia turun ke longkangan belakang. Pangeran Yudakusuma menunggunya dengan tegang, sementara orang-orang lainpun masih berdiri di tempatnya masing-masing. “Tidak ada selisih serambutpun dengan apa yang dikatakan oleh Pangeran Yudakusuma. Aku sudah mendengar dari Raden Ayu itu sendiri, yang menceriterakan peristiwa itu sejak awal” berkata Mayor Bilman. “Apa kesimpulanmu?” desis Pangeran Yudakusuma. “Aku tidak dapat menyalahkan Pangeran Sindurata“ jawab Mayor itu “peristiwa yang terjadi memang sangat menyinggung perasaan seisi istana ini” “Dan Mayor percaya begitu saja?“ bertanya seorang perwira. “Aku sudah menjajagi dari segala sudut” jawab Mayor Bilman “dan seharusnya kalian tahu sifat kawanmu yang terbunuh itu. Baru beberapa waktu ia berada di Surakarta, Dan apakah yang sudah dilakukan di sini? Ia sudah pernahmendapat peringatan dalam persoalan yang hampir serupa” Mayor Bilman itu berhenti sejenak, lalu “Tetap ada persoalan yang lebih penting yang harus kita sadari. Aku akan berbicara setelah kita kembali” Para perwira kumpeni itu sebagian masih saja tidak puas. Tetapi sebagian yang lain sependapat dengan Mayor Bilman. Perbuatan itu akan dapat merusak nama baik seluruh prajur it yang berada di dalam lingkungan kumpeni di Surakarta. Dalam pada itu, ketika mereka telah memperhatikan letak dan keadaan kedua sosok mayat itu, maka Mayor, Bilmanpun kemudian memerintahkan para pengawalnya untuk membawanya ke loji untuk diselenggarakan sebagaimana seharusnya. Di loj i, Mayor Bilman telah mengumpulkan orang-orangnya, para perwira, terutama mereka yang langsung memimpin pasukan. Mayor itu memberikan penjelasan seperlunya. Persoalan yang menyangkut lugas mereka yang lebih besar. Bukan sekedar persoalan pr ibadi. “Tetapi kita juga mempunyai harga dir i” desis seorang perwira kumpeni. “Jadi apa yang harus kita lakukan?“ Mayor. Bilman ganti bertanya “menangkap Pangeran Sindurata dan mengadilinya? Tetapi dengan demikian kita akan berhadapan dengan sikap para Senapati di Surakarta termasuk Pangeran Yudakusuma. Panglima pasukan yang sudah ditunjuk oleh Kangjeng Susuhunan untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi?” “Tetapi apakah itu berarti bahwa kita akan membiarkan diri kita dihinakan di sini?“ bertanya perwira yang lain. 


Jilid 27
"SIAPAKAH sebenarnya yang telah bersalah dalam hal ini ? Siapa yang telah memancing persoalan ?" bertanya Mayor Bilman kemudian "aku akan mengambil tindakan yang pantas terhadap siapa saja yang menghinakan kita. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk membela orang yang justru mencemarkan nama kita di kalangan para bangsawan di Surakarta." Mayor Bilman berhenti sejenak, lalu "Aku adalah komandan pasukan khusus yang ditempatkan dii Surakarta. Tetapi akupun akan berbicara dengan perwira-perwira yang lain yang menangani masalah yang berhubungan dengan pemerintahan. Bagaimana pendapat mereka. Apakah sebaiknya yang aku lakukan," Dalam pada itu, ketika Mayor Bilman bersiap untuk menemui perwira-perwira yang lain, maka Pangeran Yudakusuma pun telah siap meninggalkan istana Pangeran Sindurata. Ketika Pangeran itu akan meloncat kepunggung kudanya, ia masih sempat berpesan kepada Pangeran Sindurata "Paman, persoalan ini untuk sementara dapat kita anggap selesai. Tetapi aku mohon pamanda juga menjaga diri." "Aku bersiap menghadapi apapun juga" jawab Pangeran Sindurata "aku tidak mau noda yang sudah melekat di rumah ini akan bertambah-tambah parah. Aku tidak mau kehilangan Rara Warih." "Aku mengerti pamanda" jawab Pangeran Yudakusuma "mudah-mudahan persoalan ini tidak akan berkembang. Atau terjadi bahwa satu dua orang kawan kumpeni yang mati itu akan mengambil sikap sendiri-sendiri." "Aku akan melayani, apa saja yang akan mereka lakukan," jawab Pangeran Sindurata, Pangeran Yudakusumapun mengangguk-angguk. Kemudian iapun minta dir i bersama para Senapati dan pengawalnya.Namun sebenarnyalah Pangeran Yudakusuma masih dipengaruhi oleh peristiwa yang baru saja terjadi itu. Bahkan Pangeran Yudakusuma masih bimbang, apakah benar kumpeni menganggap bahwa persoalannya memang sudah selesai. Namun demikian ia berkata didalam hatinya "Betapapun juga besar jasa orang-orang asing itu, tetapi sudah tentu kami, orang-orang Surakarta tidak akan dapat membiarkan mereka menodai gadis-gadis kami." Karena itulah, maka Pangeran Yudakusumapun telah mengambil satu sikap yang pasti menghadapi masalah yang mungkin masih akan berkembang itu. Dalam pada itu, sepeninggal Pangeran Yudakusuma, maka Pangeran Sindurata itupun menyandarkan tombaknya pada dinding serambi. Dengan lemahnya 'ia terduduk disebuah amben bambu. Ketegangan yang memuncak telah membuat kepalanya bagaikan dihimpit oleh Gunung Lawu. Dalam pada itu, Raden Ayu Galihwaritpun bergegas mendapatkannya. Sambil berjongkok dihadapannya Raden Ayu itu berkata tersendat-sendat "Aku mengucapkan terima kasih ayahanda. Semuanya berlangsung sebagaimana kita harapkan. Mudah-mudahan Mayor itu menganggap bahwa persoalan ini sebanannyalah telah selesai." "Pakaianku telah basah Galihwar it. Karena itu, aku akan menyeberang terus apapun yang akan terjadi. Tenangkan hati anakmu. Ia tentu mengalami ketegangan yang sangat oleh peristiwa ini." sahut Pangeran Sindurata. Raden Ayu Galihwarit mencium tangan ayahandanya. Kemudian iapun bangkit masuk kedalam untuk menjumpai anak gadisnya yang kemudian berada didalam biliknya. Seperti yang dikatakan oleh Pangeran Sindurata, maka Rara Warih benar-benar dicengkam oleh ketegangan yang sangat. Bahkan kemudiam ternyata pada hari itu, Rara Warih sama sekali tidak mau makan. Kecuali ia sama sekali tidak menjadi lapar, namunkematian yang terjadi di longkangan belakang istananya itu membuatnya serasa sangat mual. "Sudahlah" berkata Raden Ayu Galihwarit "beristirahatlah. Aku yakin bahwa Mayor itu tidak akan berbuat apa-apa untuk selanjutnya. Bahkan ia tentu akan membuat peraturan yang lebih ketat bagi anak buahnya sehingga dengan demikian, maka gadis-gadis Surakarta akan menjadi lebih aman." Warih memandang ibundanya sejenak. Terkilas didalam angan-angannya, bahwa jika gadis-gadis Surakarta menjadi semakin aman, bagaimana dengan mereka yang dengan sengaja membiarkan diri mereka sendir i dihinakan kehormatannya. Diluar sadarnya, terasa titik-titik air dipelupuk mata gadis itupun meleleh kepipinya. "Sudahlah" desis Raden Ayu Galihwarit "jangan memikirkan .peristiwa itu lagi. Jika kau dapat tidur, tidur lah. Kau akan mendapatkan ketenangan." Tetapi bagaimana mungkin Rara Warih akan dapat tidur. Ia memang akan menjadi tenang jika ia dapat tidur barang sejenak. Tetapi kegelisahannya itulah yang membuatnya tidak akan dapat tidur sama sekali1. Meskipun demikian Rara Warih itupun mencoba berbaring di pembaringannya Namun dengan demikian justru angan angannyalah yang menerawang kedunia angan-angannya. Rara Warih kadang-kadang memang tidur disiang hari. Tetapi justru kekalutan hatinya membuatnya sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Bahkan iapun kemudian teringat kepada Buntal dan Arum yang dengan tergesa-gesa meninggalkan istana itu. "Mudah-mudahan mereka selamat" berkata Rara Warih didalam hatinya.Dalam pada itu, sebenarnyalah Buntal dan Arum telah mendekati padukuhannya di Gebang. Memang tidak ada rintangan apapun di perjalanan. Ketika mereka bertemu dengan orang-orang yang mencurigakan, ternyata orang- orang itu tidak berbuat apa-apa. "Aku kira mereka akan menyamun seperti yang pernah aku alami" berkata Arum. "Mungkin mereka bukan penyamun, tetapi mereka adalah orang-orang yang dipasang oleh prajurit Surakarta sebagai petugas sandi." jawab Buntal "karena itu mereka hanya mengawasi saja orang-orang yang lewat tanpa berbuat apa- apa." Arum mengangguk-angguk. Jika benar yang dikatakan oleh Buntal, ia berharap bahwa orang itu tidak mencur igainya. Demikianlah, maka ketika mereka sampai ditempat, maka meretoapun segera menceriterakan apa yang terjadi kepada Kiai Danatirta. Sejak awal sampai akhir. Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian "Tuhan masih melindungi kalian. Bersukur- lah. Tetapi untuk selanjutnya kalian harus menjadi sangat ber hati- hati untuk berhubungan dengan Raden Ayu Galihwarit.” "Dimana kakang Juwir ing ? "bertanya Arum. "Ia sedang berada diantara para prajurit yang telah menyatakan diri berpihak kepada Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi dengan resmi akan membentuk pasukan berkuda seperti yang pernah kau dengar sebelumnya." “Hanya sekedar meresmikan. Pasukan itu sebelumnya memang sudah ada" berkata Buntal. Lalu "baiklah aku akan menemuinya dan bersama-sama menghadap Ki Wandawa." "Aku akan bersamamu" berkata Arum.Kedua anak muda itupun kemudian mencari Juwiring. Ternyata pembicaraan mengenai diresmikannya satu pasukan berkuda telah selesai. Dalam waktu dekat pasukan itu akan disusun dan diresmikan, sebagai satu perkembangan dari kelompok-kelompok laskar berkuda yang memang sudah ada. Karena itu, maka Buntal dan Arumpun kemudian dapat menemuinya dan menceriterakan apa yang telah terjadi di istana Pangeran Sindurata, "Gila" geramnya "jadi kumpeni itu telah berusaha menodai kehormatan diajeng Warih?" "Ya" jawab Buntal. Juwiring menggeretakkan giginya. Kemudian katanya "Untunglah bahwa kalian sedang berada di tempat itu dan berhasil menggagalkannya." "Meskipun demikian, kami tidak mengetahui apakah yang terjadi kemudian. Apakah kumpeni akan mengambil langkah- langkah tertentu karena dua orang kawannya telah terbunuh."sahut Buntal. Raden Juwiring menjadi gelisah. Mungkin kumpeni akan mengambil satu sikap yang keras. "Mudah-mudahan rencana Raden Ayu dapat berhasil" berkata Buntal kemudian "Pangeran Sindurata telah menyatakan kesediaannya untuk mengambil alih persoalan ini. Pangeran itulah yang akan bertanggung jawab seolah-olah Pangeran Sinduratalah yang telah melakukannya."Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya "Sebenarnya Pangeran Sindurata telah terlalu tua untuk melibatkan dir i dalam persoalan ini. Tetapi bahwa ia bersedia melindungi kalian adalah satu hal yang mendebarkan. Satu perkembangan sikap yang sebelumnya tidak pernah dapat dibayangkan. Namun aku tidak dapat membayangkan, bagaimanakah keadaannya jika penyakitnya itu sedang kambuh." Buntal dan Arum mengangguk-angguk. Sementara itu Ju- wiringpun berkata "Kita akan menghadap Ki Wandawa." Ki Wandawa menggeleng-gelengkan kepalanya ketika aa mendengar laporan tentang peristiwa itu. Iapun menjadi gelisah, bahwa persoalan itu akan dapat berkembang sehingga Raden Ayu Galihwarit akan mengalami kesulitan. "Aku akan memer intahkan petugas sandi untuk mengamati. Mungkin akan dapat di ambil kesimpulan dari keadaan istana itu yang dapat dilihat dari luar. Adalah berbahaya jika salah seorang dari kalian akan langsung memasuki istana itu. Mungkin kumpeni akan memasang pengawas khusus yang akan dapat menjebak kalian yang memasuki regol dtu. Agakmya kumpeni akan dapat mengambil cara yang paling lembut, tetapi juga yang paling kasar untuk mengetahui apa yang telah terjadi." Juwiring, Buntal dan Arum memang hanya dapat menunggu. Seperti yang dikatakan oleh Ki Wandawa, maka akan sangat berbahaya jika salah seorang dari mereka memasuki istana Pangeran Sindurata. Tetapi dalam pada itu, orang-orang yang kemudian dikir im oleh Ki Wandawa tidak melihat sesuatu yang lain pada istana itu. Mereka masih juga melihat Raden Ayu Galihwarit keluar dari pintu regol istananya. Merekapun melihat Rara Warih yang sedang menyiram bunga di halaman depan. Dan merekapun dapat melihat Pangeran Sindurata yang sibuk dengan burung-burungnya.Ketika hal itu dilaporkan kepada Raden Juwiring, maka anak muda itupun bergumam "Sokurlah. Ternyata bahwa mereka t idak mengalami bencana karena peristiwa itu." Meskipun demikian Ki Wandawa masih belum mengijinkan salah seorang dari ketiga anak muda itu untuk mengunjungi Raden Ayu Galihwarit. "Kumpeni dan para Senapati prajur it di Surakarta mempunyai penciuman yang sangat tajam." berkata Ki Wandawa. "Namun bukankah sampai saat ini keadaan keluarga itu masih utuh. Tetapi kita tidak tahu apakah yang ada di-dalam istana itu. Mungkin ada sekelompok petugas sandi yang dipasang kumpeni, atau bahkan prajurit dengan senjata yang siap untuk menangkap orang-orang yang mereka curigai." Juwiring dan adik-adik seperguruannya itu mengangguk- angguk. Merekapun menyadari bahaya yang tersembunyi di- dalam istana itu, karena sulit untuk melihat keadaan langsung dibalik dinding. Namun dalam pada itu, hubungan Raden Ayu Galihwarit dengan para perwirapun masih saja berlangsung. Mayor Bilman merasa bahwa saingannya yang paling kasar dan bahkan mengancam akan membunuhnya justru telah terbunuh. Meskipun perwira yang terbunuh itu pangkatnya masih dua lapis di bawahnya, namun seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galihwarit, bahwa perwira itu akan dapat membunuhnya. Sejalan dengan itu, keprihatinan Rara Warihpun masih tetap membuat hatinya setiap kali terasa pedih. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Apalagi ia menyadari, bahwa yang dilakukan oleh ibundanya itu telah memberikan banyak sekali keuntungan bagi perjuangan Pangeran Mangkubumi. Dengan sikap dan tingkah lakunya. Raden Ayu Galihwarit telah dapat menyadap berbagai keterangan penting dari mulut kumpeni yang berbau minuman keras.Tetapi sebagai seorang gadis, maka hidupnya benar-benar telah tersiksa. Namun dalam pada itu, yang tidak diketahui oleh Rara Warih, ibundanyapun telah dicengkam oleh satu perasaan ngeri jika ia mengingat jalan hidup yang ditempuhnya. Peristiwa yang terjadi dirumahnya merupakan satu peringatan yang paling 'berat baginya. Karena tingkah lakunya, maka orang menganggap, ia bertanggung jawab atas sikap kumpeni yang terbunuh itu terhadap anak gadisnya. Masih terngiang bahwa hampir setiap orang berkata kepadanya bahwa Rara Warih dianggap dapat diperlakukan apa saja seperti dirinya sendiri. Jika ibunya telah bersedia melakukan apa saja, bahkan menyerahkan harga dir inya, maka anaknyapun akan berbuat demikian pula. Anggapan itulah yang terasa sangat menyakitkan. Terkilas di hati Raden Ayu untuk menghentikan tingkah lakunya, justru karena iapun merasa menjadi semakin tua. Namun dalam keadaan yang semakin gawat ia merasa per lu untuk tetap mendengar rencana-rencana yang dibuat oleh kumpeni. Ketika kematian dua orang kumpeni itu perlahan-lahan telah di lupakan, baik oleh para Senapati prajurit Surakarta, maupun kumpeni yang suasananya dengan sengaja telah dibuat oleh Mayor Bilman, maka mulailah kumpeni dan para prajurit Surakarta membuat rancangan-rancangan baru untuk mengamankan Surakarta dari para pemberontak. Namun disamping rencana yang akan disusun itu, mereka masih saja selalu sibuk mencar i siapakah sebenarnya yang pantas dicurigai diantara mereka yang ikut duduk dalam meja perundingan dan perencanaan. Namun nampaknya segalanya masih serba gelap. Tidak ada seorangpun yang pantas untuk dicurigai berkhianat diantara mereka. Namun demikian, Surakarta memang t idak akan tinggal diam. Semakin lama pengaruh Pangeran Mangkubumi terasamenjadi semakin tersebar. Rencananya secara terpadu dengan gerakan Raden Mas Said membuat kumpeni semakin gelisah. "Kita harus mengambil tindakan yang cepat dan tuntas” berkata seorang psrwira kumpeni "sebaiknya kita menusuk langsung kejantung kekuatan Pangeran Mangkubumi. Pangeran itu telah menghina kita dengan menduduki kota ini selama setengah har i." Persoalan yang dilontarkannya itu ternyata mendapat tanggapan yang baik. Kumpeni berniat untuk langsung mengepung Gebang, tempat kedudukan induk pasukan Pangeran Mangkubumi. "Kita akan menghubungi Pangeran Yudakusuma" berkata perwira kumpeni itu. "Tetapi rahasia ini harus kita simpan sebaik-baiknya." Dalam pertemuan terbatas, maka mereka telah merencanakan untuk melakukan satu gerakan yang tiba-tiba. Gebang akan dikepung pada saat matahari terbit. Kemudian tempat itu akan dihancur lumatkan. "Kegagalan kita menghancurkan pasukan Raden Mas Said akan menjadi pengalaman" berkata perwira itu. Kemudian "Perencanaan yang lebih terperinci akan kita serahkan kepada Mayor Bilman. Ia akan membawa pasukan khususnya ke Gebang dan dengan tandas melumatkan pasukan pemberontak itu.""Jika demikian, aku memerlukan kekuasaan yang lebih besar. Aku akan membicarakan dengan Pangeran Yudakusuma" berkata Mayor Bilman. "Segalanya harus direncanakan sebaik-baiknya" jawab perwira kumpeni yang mencemaskan tersebarnya pengaruh Pangeran Mangkubumi. Para perwira itupun kemudian mengadakan pertemuan dengan para Senapati di Surakarta yang dipimpin langsung oleh Pangeran Yudakusuma. Berbagai kemungkinan telah dibahas. Terutama hambatan yang mungkin terjadi. "Tidak ada yang mengetahuinya selain kita yang berada disini" berkata Mayor Bilman "segalanya akan terjadi dengan tiba-tiba. Kita tidak perlu mengadakan persiapan-persiapan seperti pada saat kita akan mengepung kedudukan Raden Mas Said. Dengan demikian maka petugas sandi mereka akan mengetahui, apa yang akan kita lakukan. Berdasarkan atas perhitungan dan pertimbangan yang cermat, mereka ternyata mampu menduga, kemana kita akan pergi." "Mungkin" jawab Pangeran Yudakusuma "tetapi mungkin pula, semakin banyak orang yang mengetahui rencana kita, maka diantara mereka adalah penghianat. Karena itu, maka dalam pertemuan yang terbatas ini kita dapat memperkecil kemungkinan itu. Aku yakin, tidak ada pengkhianat diantara kita sekarang ini." "Bagus" sahut Mayor Bilman "kita akan menjatuhkan perintah untuk dilaksanakan pada hari itu juga. Tidak ada kesempatan untuk menyampaikan berita itu seandainya diantara para prajurit terdapat penghianat. Tetapi Pangeran Yudakusuma memang ingin berhati-hati. Dalami gerakan yang besar, Surakarta telah pernah gagal sampai dua kali. Yang pertama mereka gagal menghancurkan pasukan Pangeran Mangkubumi yang sebagian besar karena pengkhianatan dari dalam pasukannya sendiri. Pangeran Ra-nakusuma telah menyerang pasukan Surakarta dari sayap pasukan itu sendiri. Kemudian kegagalan pasukan Surakarta menghancurkan pasukan Raden Mas Said. Bahkan .pasukannya menderita kerugian yang sangat besar, yang bersamaan dengan itu, justru pasukan Pangeran Mangkubumi telah menduduki kota. Karena itu, maka seperti yang dikatakan oleh Bilman, maka persoalannya kemudian hanya diketahui oleh orang-orang yang, sangat terbatas. Pada saatnya perintah akan diberikan tanpa menyebut arah gerakan pasukan dalam keseluruhan. Baru kemudian pasukan itu akan mengerti dengan sendirinya setelah pasukan itu bergerak. Pada pertemuan berikutnya, Pangeran Yudakusuma dan Mayor Bilman telah menentukan waktunya, pula. Dua hari lagi mereka akan berangkat. Mereka akan meninggalkan Surakarta lewat senja, langsung mengepung Gebang. Mayor Bilman akan disertai dengan seorang kapten yang pilih tanding Yang dikenal diantara kumpeni sebagai seekor harimau salju yang nggegirisi. Kapten Kenop. Bahkan tersiar berita diantara kawan-kawannya, bahwa ketika kapalnya di samodra di cegat oleh kapal bajak laut yang ditakuti, maka justru Kapten Kenoplah yang meloncat memasuki kapal bajak laut itu dan menghancurkan isinya. Demikianlah, para perwira kumpeni dan prajur it Surakarta yang sangat terbatas telah mengolah laporan-laporan dari para petugas sandi untuk mengetahui keadaan. Mereka mempelajari medan dan suasana tanpa minta keterangan khusus dari pihak manapun juga, agar rencana mereka tidak merembes sampai ketelinga Pangeran Mangkubumi. Namun dalam pada itu. Mayor Bilman yang menganggap bahwa tugas mereka yang akan dilakukan itu merupakan tugas yang amat berat, maka ia masih juga menyisihkan kesempatan untuk memuaskan keinginannya. Pada malam sebelum pasukannya berangkat, Mayor itu telah tenggelamdalam satu pesta yang mewah. Sementara itu, Mayor Bilman merasa tidak ada lagi perwira kumpeni yang dengan kasar telah mencoba menyainginya. Mayor itu tidak berkeberatan jika ada satu dua orang perwira yang juga bergaul rapat dengan Raden Ayu Galihwarit. Namun t idak dengan sikap yang licik, dan bahkan berusaha untuk membunuhnya pula. Dalam pada itu, ketika malam telah larut, maka Mayor Bilman sendiri telah mengantarkan Raden Ayu Galihwar it kembali ke istana Pangeran Sindurata. Tetapi dalam hal yang demikian, penggraita Raden Ayu Galihwar it yang tajam, telah mencium satu hal yang mendebarkan hati. Meskipun pesta yang demikian itu sering diadakan oleh kumpeni, namun dalam pesta yang mewah dan berlebih-lebihan, kadang-kadang dikandung satu isyarat akan ada tugas yang berat. Karena itu, ketika kereta itu memasuki halaman istana Pangeran Sindurata, Raden Ayu itu berkata "Besok aku akan datang ke loji Mayor." "Untuk apa?" bertanya Mayor Bilman. "Kesempatan kita hanya sedikit sekali malam ini. Pesta itu sendiri terlalu lama, sehingga yang dapat kita lakukan sama Sekali tidak menarik." berkata Raden Ayu Galihwarit. Mayor Bilman berpikir sejenak. Kemudian katanya "Besok pagi aku terlalu sibuk.""Besok malam maksudku" berkata Raden Ayu Galihwarit "tuan menjemput aku kemari. Aku akan datang ke loji. Perwira yang kasar itu tidak akan mengganggu lagi" Tetapi Mayor Bilman menjadi gelisah. Katanya "Jangan. Kau tidak perlu datang ke loj i." "Kenapa ? Bukankah bukan untuk yang pertama kalinya aku datang ke loji ? Apakah di dalam loji itu sudah terdapat perempuan-perempuan lain ? Atau tuan telah memanggil isteri tuan dari negeri tuan ?" bertanya Raden Ayu. “Tidak. Tidak." jawab Mayor itu "t idak ada perempuan. Tidak ada isteri disini. Kau boleh datang ke loji seperti biasanya kau datang. Siang atau malam. Tetapi jangan besok." Raden Ayu Galihwarit menjadi semakin tertarik kepada keterangan Mayor itu. Karena itu, meskipun kereta sudah berhenti, namun Raden Ayu itu masih belumturun dari kereta. "Mayor" berkata Raden Ayu Galihwarit "aku telah banyak berhubungan dengan perwira-perwira kumpeni. Tetapi aku menganggap mereka sebagai orang yang berjalan lewat sekilas di serambi hatiku. Aku menerima mereka karena mereka memiliki sesuatu yang aku tidak mempunyainya. Mereka dapat menghias rumahku dengan barang-barang mewah yang tidak terdapat dinegeri ini," Raden Ayu itu terdiam sejenak, lalu "tetapi bagiku Mayor adalah lain. Mayor memiliki sifat kebapaan sebagaimana dimiliki oleh Pangeran Ranakusuma. Kejantanan dan sifat kesatria sebagaimana dikagumi oleh orang-orang Surakarta. Karena itu, Mayor bagiku bukan sekedar pejalan kaki yang singgah sejenak dihatiku. Pertemuan yang mewah seperti malam ini hanya mengundang kerinduanku saja kepada Mayor jika malam nanti aku berbaring sendir i dipembaringan."' Terasa hati Mayor yang garang itu tersentuh: “Sambil menepuk pundak Raden Ayu Galihwarit Mayor itu berkata"Kau memang lembut Raden Ayu. Aku tahu, kau telah kehilangan suamimu. Karena itu kau mer indukannya. Jika beberapa hal dari sifat suamimu terdapat padaku, adalah wajar sekali kau menganggap aku akan dapat menjadi gantinya, sementara aku yang jauh dari keluarga diseberang yang dibatasi oleh samodra dan benua, menemukan kelembutan hati disini. Tetapi aku terpaksa tidak dapat menerimamu besok." "Mayor akan pergi ? Untuk satu tugas yang berat ?" bertanya Raden Ayu Galihwarit Mayor itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja Raden Ayu itu memeluknya sambil menangis tertahan "Mayor jangan pergi. Mayor tidak usah menghiraukan peperangan ini. Mayor dapat memerintahkan anak buah Mayor untuk menyerang Raden Mas Said dan menghancurkannya." Hati Mayor Bilman itu menjadi semakin berdebar-debar. Air mata itu membuat hatinya yang sekeras baja menjadi luluh. Raden Ayu Galihwarit memang dapat mengisi kesepiannya selama ia bertugas di Surakarta, sehingga karena itu, ia memang mempunyai tanggapan yang lain terhadap Raden Ayu itu dari perempuan-perempuan lain yang pernah dikenalnya, "Kau perintahkan kapten-kaptenmu untuk melakukan tugas itu Mayor" tangis Raden Ayu. Mayor Bilman menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku memang dapat memerintahkan satu dua orang kapten dalam pasukan khusus itu untuk menyerang Raden Mas Said. Tetapi aku tidak dapat berbuat demikian jika kami harus berhadapan dengan Pangeran Mangkubumi sendir i." Jantung Raden Ayu itu bagaikan berhenti berdenyut Namun ia masih harus bermain sebaik-baiknya. Karena itu, maka iapun segera berusaha menahan perasaannya dan berkata "Apalagi untuk melawan Pangeran Mangkubumi. Bukankahkau mempunyai kekuasaan disini ? Mayor, aku tidak mau kehilangan lagi. Meskipun aku belum pernah memiliki Mayor sepenuhnya, tetapi aku menjadi ketakutan, bahwa aku akan kehilangan yang belum aku miliki itu." Mayor Bilman mengusap kening Raden Ayu yang basah sambil berkata "Sudahlah Raden Ayu. Aku adalah seorang prajurit. Tugasku adalah menjaga dan melindungi orang-orang yang lemah. Saat ini, Surakarta benar-benar dalam keadaan gawat Aku mempunyai kewajiban sebagai seorang kesatria seperti yang kau katakan menurut tanggapan orang Surakarta. Aku harus melindungi rakyat Surakarta dari ancaman pemberontakan yang nafsu ketamakan bagi diri pribadi seperu yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi." "Tetapi kau harus kembali dengan selamat" desis Raden Ayu. "Aku pergi untuk membinasakan pemberontak itu. Bukan untuk bunuh diri" jawab Mayor itu. Sejenak keduanya terdiam. Terasa dada Mayor Bilman, dada Raden Ayu itu berdebaran. Meskipun Mayor itu tidak tahu sebab yang sebenarnya. Tetapi ia menganggap bahwa Raden Ayu itu beriar-benar telah digelisahkan oleh kepergiannya. "Sekarang, aku persilahkan Raden Ayu untuk beristirahat" berkata Mayor Bilman "j ika aku mengharap Raden Ayu besok malam tidak usah datang, sama sekali bukan karena aku tidak mau menerima Raden Ayu." Raden Ayu Galihwarit mengusap air matanya. Mayor Bilmanlah yang turun lebih dahulu. Kemudian melingkari kereta itu, ia membantu Raden Ayu turun dar i keretanya. "Selamat malam Raden Ayu" desis Mayor itu "semoga Raden Ayu bermimpi indah.""Selamat malam Mayor." suara Raden Ayu serak "aku tidak mau kehilangan lagi." Mayor itu tersenyum. Namun kemudian iapun naik ke keretanya dan sejenak kemudian kereta itu berderap pergi. Mayor Bilman masih melambaikan tangannya ketika ia keluar , dari regol halaman istana Pangeran Sindurata. Namun, demikian kereta itu lenyap, maka Raden Ayu Galihwar it itu bergegas pergi kebiliknya. Ia masih melihat penjaga regol menutup pintu. Namun ia tidak menghiraukannya lagi. Sebelum Raden Ayu Galihwarit mengetuk pintu biliknya, ternyata Rara Warih telah membukanya. Agaknya gadis itu masih belumtidur Raden Ayu mengerutkan keningnya ketika ia melihat mata Rara Warih yang basah dan kemerah-merahan. Gadis itu tentu telah menangis untuk waktu yang lama. Raden Ayu Galihwarit mencium kening anak gadisnya setelah ia menutup pintu kembali. Namun terasa pada Rara Warih pipi ibunya itu menjadi sangat kasar. Raden Ayu Galihwarit mengerti, kenapa anak gadisnya menangis. Tetapi ia memang harus menahan hati. Ia sudah bertekad mengorbankan dir inya, kehormatannya dan apapun juga untuk menebus dosa-dosa yang pernah dilakukan. Meskipun kadang-kadang ia bertanya kepada dir i sendir i, apakah ia memang harus menebus dosa-dosanya dengan dosa-dosa yang baru. Namun dalam pada itu, sebuah kegelisahan telah bergejolak didalam dadanya, mengatasi perasaannya yang lain. Karena itu, setelah ia duduk dan menenangkan hatinya, maka Raden Ayu itupun kemudian berkata "Warih. Kita menghadapi satu kesulitan." Warih mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya."Aku kira saudara-saudara angkat Juwiring itu masih belum akan datang kemar i untuk satu dua pekan ini. Namun ada sesuatu yang penting yang harus disampaikan kepada pasukan Pangeran Mangkubumi." berkata ibundanya lebih lanjut. Rara Warih memandang ibundanya sekilas. Namun rasa- rasanya ia tidak tahan memandang wajah ibunya yang cantik. Ia membayangkan diluar sadar, apa saja yang telah terjadi dengan ibundanya itu selagi ia berada diantara para perwira kumpeni. Namun ibundanya seakan-akan tidak menghiraukannya. Bahkan katanya kemudian "Warih. Meskipun demikian, aku akan menunggu sampai esok pagi. Jika Arum dan Buntal tidak datang, maka kita harus mengambil sikap. Kita tidak boleh terlambat." Warih mulai tertarik kepada kata-kata ibundanya itu, sehingga karena itu, maka iapun telah mengangkat wajahnya pula. Bahkan ia mulai bertanya "Apakah kumpeni akan menyerang Pangeran Mangkubumi ?" "Ya" jawab ibundanya "Mayor Bilman telah mengatakan, bahwa ia sendiri akan memimpin pasukannya. Jika tidak langsung menghadapi pamandamu Pangeran Mangkubumi, maka ia akan dapat memerintahkan perwira-perwira bawahannya. Namun kali ini pasukan itu akan berhadapan langsung dengan Pangeran Mangkubumi." "Apakah itu berarti bahwa kumpeni akan menyerang Gebang?" bertanya Rata Warih Wajah Raden Ayu yang cantik itu menjadi tegang. Sambil mengangguk kecil ia menjawab "Aku memang berkesimpulan demikian Warih" Rara Warih menjadi termangu-mangu. Peristiwa yang telah terjadi di istana itu, dengan terbunuhnya dua orang kumpeni, memang telah membatasi kunjungan Buntal dan Arum.Karena itu, maka hampir dihiar sadarnya ia bergumam "Tetapi bagaimana jika besok Buntal dan Arum itu tidak datang ibunda?" Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam. Wajahnya menjadi tegang. Dengan sungguh-sungguh ia berkata "Tidak ada seorangpun yang dapat dipercaya untuk menyampaikan! berita ini kepada pasukan Pangeran Mangkubumi." ia berhenti sejenak, kemudian "tetapi aku masih akan menunggu. Jika nasib pasukan itu baik, maka besok Buntal dan Arum, atau salah seorang dari keduanya akan datang ke rumah ini.” Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kegelisahan yang sangat telah menghentak-hentak didalam dadanya. Apakah jadinya jika pasukan Pangeran Mangkubumi tidak mendapat keterangan tentang pasukan yang akan menyergapnya. "Ibunda" bertanya Rara Wariti kemudian "apakah ibunda dapat menyebut secara terperinci, waktu dan kekuatan pasukan yang akan pergi ke Gebang ?" Raden Ayu Galihwarit menggeleng. Jawabnya "Aku rianya tahu bahwa besok malam Mayor Bilman tidak ada di loj i, karena ia harus memimpin pasukan khususnya untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi." Rara Waria menjadi tegang. Dengan ragu-ragu ia berdesis "Mudah-mudahan petugas sandi yang lain akan dapat mencium rencana itu," "Tetapi agaknya rencana itu dirahasiakan sekali" berkata Raden Ayu Galihwarit" tidak ada persiapan apapun yang nampak. Tidak seorang perwirapun yang pernah menyebut meskipun secara samar-samar. Bahkan dalam pesta diantara mereka tidak ada yang memperbincangkannya. Biasanya, meskipun hanya satu dua kalimat, para perwira itu akan menyebut-nyebut rencana besar yang akan mereka lakukan. Agaknya kegagalan mereka di Penambangan membuatmereka menjadi semakin berhati-hati, dan bahkan mungkin telah mencurigai setiap orang yang pernah berhubungan dengan kumpeni. Nampaknya ada pihak yang kurang puas dengan sikap Mayor Bilman atas kematian dua orang perwira di halaman rumah ini," Rara Warih menundukkan kepalanya, kepahitan yang menghimpit jantungnya terasa semakin pedih. Sikap ibundanya, namun ternyata banyak memberikan manfaat kepada pasukan Pangeran Mangkubumi yang sedang berjuang bagi kebebasan rakyat Surakarta, merupakan masalah yang tidak akan terpecahkan bagi perasaannya. "Sudanlah Warih" berkata ibundanya "sekarang beristirahatlah. Tidak ada yang dapat kita lakukan malam ini. Kita memang harus menunggu pagi, kesimpulan apapun yang akan kita ambil." Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Ibundanyalah yang kemudian bangkit Mengenakan pakaian t idurnya. Dan kemudian berbaring di pembaringannya. Namun dalam pada itu, bagaimanapun juga, kedua orang ibu dan gadisnya itu sulit sekali memejamkan matanya oleh kegelisahan. Mereka selalu di bayangi oleh per istiwa yang menger ikan karena sergapan yang tiba-tiba akan dilakukan. Meskipun mereka bukan prajurit, tetapi mereka dapat menduga, bahwa Bilman akan berangkat lewat senja. Mengepung Gebang di malam hari dan demikian fajar menyingsing, mereka menyergap dengan ledakan-ledakan senapan, didahului oleh dentuman meriam-meriam kecil yang akan mereka bawa, ditarik dengan kuda-kuda yang tegar. Namun Raden Ayu Galihwarit itupun kemudian berkata didalam hatinya "Tetapi pasukan Pangeran Mangkubumi tidak terdiri dari anak-anak. Mereka tentu mempunyai cara untuk menghindarinya. Kekuatan mereka cukup besar untuk melawan. Selebihnya, tentu ada petugas sandi lain yang akan dapat menyadap rencana ini."Tetapi betapapun juga Raden Ayu itu berusaha memejamkan matanya, namun ia tidak berhasil tidur barang sekejappun. Raden Ayu itu tidak yakin bahwa rahasia yang disimpan terlalu rapat itu dapat didengar oleh seseorang yang akan dapat menyampaikannya kepada pasukan Pangeran Mangkubumi. Bahkan nampaknya beberapa orang perwira pentingpun tidak tahu apa-apa tentang rencana itu. Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa beberapa orang perwira dalam tugas sandi kumpeni di Surakarta, agak sulit menerima sikap Mayor Bilman atas kematian kedua orang perwira kumpeni. Bahkan dengan ketajaman penciuman tugas sandi, seorang perwira telah mengetahui hubungan yang erat sekali antara Mayor Bilman dengan Raden Ayu Galihwarit. Penyelidikan selanjutnya telah membawa mereka pada satu kesimpulan, bahwa ada persaingan antara Mayor itu dengan perwira yang telah terbunuh diistana Pangeran Sindurata. Meskipun petugas sandi itu tidak menyangsikan kesetiaan Mayor Bilman kepada tugasnya, namun agaknya dalam pengusutan kedua orang perwira yang mati terbunuh itu terdapat sesuatu yang kurang wajar. Namun demikian, petugas sandi itu tidak dapat berbuat sesuatu yang akan mengganggu rencana yang sudah tersusun. Bagi petugas sandi yang mengenal Mayor itu dengan baik menganggap bahwa Mayor Bilman yang juga atasannya itu adalah seorang prajurit yang luar biasa. Kemampuannya di medan dan kemampuannya berpikir memperhitungkan muslihat .peperangan, telah diakui, sehingga ia mendapat tugas memimpin sepasukan yang dikenal sebagai pasukan khusus yang disegani. Yang kemudian dilakukan oleh petugas sandi itu kemudian adalah menugaskan orang-orangnya, terutama yang pribumi untuk mengawasi istana Pangeran Sindurata. Mungkin terdapat sesuatu yang mencurigakan. Bahkan mungkin adakesengajaan untuk membunuh kumpeni yang memasuki istana itu. "Mayor Bilman juga sering datang ke istana itu" berkata salah seorang petugas "bahkan malam hari. Tetapi ia selalu keluar dengan selamat." "Awasi saja. Aku hanya menduga ada sesuatu yang patut diamati. Memang mungkin sekali, kesimpulan Mayor Bilman benar. Yang terjadipun benar seperti apa yang kita ketahui. Tetapi nalur iku menuntut untuk mengawasinya" perintah perwira dalam tugas sandi itu. Karena itulah, maka istana itu memang selalu diawasi oleh para petugas sandi yang justru orang-orang Surakarta sendiri. Sementara itu, pada malam yang menegangkan itu, baik Raden Ayu Galihwarit, maupun Rara Warih memang tidak dapat tidur. Betapapun mereka berusaha untuk menyisihkan kegelisahan di hati. Mereka berbaring di pembaringan dengan angan-angan yang bergejolak. Hampir tidak sabar mereka me nunggu sampai hari esok. Ketika matahari mulai mewarnai langit di sebelah Timur, maka Rara Warihpun segera pergi ke pakiwan. Air yang diingin membuat tubuhnya menjadi agak segar. Namun terasa betapa tubuhnya sangat letih oleh perasaan yang gelisah. Ketika Rara Warih telah selesai dengan membenahi dir i, maka ibundanya dengan nada cemas berkata "Mudah- mudahan salah seorang dar i kedua saudara angkat Juwiring itu datang," Rara Warih tidak menyahut. Tetapi agaknya mereka masih harus memperhitungkan keadaan. Hampir diluar sadarnya, dalam kegelisahan Rara Warih itupun kemudian berjalan-jalan dihalaman. Rasa-rasanya ia memang menuggu kedatangan seseorang sebagaimana diharapkan oleh ibundanya. Bahkan Rara Warih hanyaberjalan-jalan saja dihalaman lingkungan halaman istananya, namun iapun telah berada dipintu gerbang yang terbuka. Dilihatnya orang-orang yang lewat. Satu dua dengan membawa barang-barang yang akan mereka perjual belikan di pasar. Ada yang membawa barang anyaman, tetapi ada juga yang membawa hasil sawah dan ladangya, tetapi ada juga ada yang membawa hasil sawah dan ladang mereka. Sayur sayuran dan buah-buahan. Namun dalam pada itu diluar kehendaknya, dan secara kebetulan Rara Warih melihat dua orang yang duduk agak jauh dari pintu gerbang itu. Keduanya agaknya memang sedang mengawasi pintu gerbangnya. Rara Warih memang berpura-pura tidak menghiraukannya. Tetapi setiap kali ia melihat orang itu memandanginya. Bahkan kemudian salah seorang dari keduanya berbicara sambil memandang Rara Warih yang berusaha untuk member ikan kesan, bahwa ia tidak mengetahui kehadiran kedua orang itu. Tanggapan Rara Warih atas dua orang itu sangat menggelisahkan. Keduanya tentu bukan kawan-kawan Buntal dan Arum. Menilik sikap mereka, kedua orang itu sedang mengawasi regol istananya. Meskipun demikian Rara Warih memang menunggu sejenak. Jika keduanya adalah orang-orang baru yang akan menghubunginya, karena sesuatu hal telah menghalangi Arum dan Buntal, maka keduanya tentu akan datang kepadanya, atau salah seorang dari mereka. Tetapi keduanya sama .sekali tidak berusaha membuat hubungan dengan Rara Warih. Bahkan nampak keduanya mengawasinya dengan sungguh-sungguh. Rara Warihpun kemudian masuk kedalam. Kepada ibundanya ia mengatakan apa yang dilihatnya.Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada Rara Warih "Agaknya keadaan memang menjadi semakin gawat. Aku kira ada pihak yang memang sudah mencur igai aku dalam keadaan seperti ini, apalagi karena kematian kedua orang kumpeni itu." "Jadi seandainya Buntal dan Arum itu datang juga, apakah hal itu tidak akan berbahaya baginya" bertanya Warih. Raden Ayu Galihwarit merenung sejenak. Lalu katanya "Kita dalam kesulitan. Berita bahwa kumpeni akan menyerang Gebang harus segera disampaikan. Sementara .pengawasan atas rumah ini menjadi semakin ketat." "Apakah mungkin ada sumber lain yang akan dapat menyampaikan berita tentang rencana serangan itu ibunda ?" bertanya Rara Warih. "Mudah-mudahan petugas sandi Pangeran Mangkubumi dapat menangkap rencana itu lewat sumber lain" jawab Raden Ayu Galihwarit "tetapi rasa-rasanya rencana ini memang tertutup rapat-rapat. Sebenarnya aku agak cemas bahwa tidak ada sumber lain yang dapat menyampaikan rencana ini." desis ibundanya. "Tetapi bukankah pasukan pamanda Pangeran Mangkubumi cukup kuat seandainya dengan tiba-tiba saja kumpeni menyerangnya ? Atau di sekitar daerah Gebang itu tentu sudah diawasi dengan ketat sehingga para pengawas itu akan melihat kedatangan satu pasukan yang besar mendekati Gebang. "berkata Rara Warih. "Meskipun demikian kesempatannya menjadi kecil sekali untuk dapat menyusun perlawanan atau jika mereka hendak meninggalkan daerah itu. Pasukan berkuda akan dengan cepat mengepungnya. Sementara senjata-senjata yang akan mampu menghancurkan Gebang sudah siap pula bersama pasukan berkuda itu Mereka tentu membawa mer iam-meriam kecil yang dapat melontarkan peluru yang akan menghancurkanpertahanan Pangeran Mangkubumi, sebelum pasukannya menyerang memasuki daerah pertahanan itu," jawab ibundanya. Rara Warihpun terdiam. Sebagaimana ibundanya, keduanya tidak pernah berada di medan, sehingga keduanya sebenarnya kurang dapat membayangkan apa yang dapat terjad:. Tetapi sebagai isteri seorang Senapati Agung. Raden Ayu Galihwarit pernah juga mendengar, bagaimana Pangeran Ranakusuma berada di peperangan. Pangeran Ranakusuma pada masanya, kadang-kadang menyatakan kebanggaannya juga kepada kterinya apa yang pernah di capai dengan satu siasat yang matang di peperangan. Karena itu, maka rasa-rasanya Raden Ayu itu pernah juga membayangkan apa yang dapat terjadi di satu medan. Dalam kegelisahan itu, maka katanya "Aku mengharapkan dua hal yang sangat bertentangan." Rara Warih memandang ibundanya sejenak. Kemudian iapun bertanya dengan ragu-ragu "Apakah yang ibunda maksudkan. ?" "Disatu pihak aku mengharap agar Buntal dan Arum tidak usah mendekati rumah ini lebih dahulu. Tetapi dilain pihak, aku mengharap kedatangannya agar berita tentang serangan ke Gebang itu dapat disampaikannya kepada pasukan Pangeran Mangkubumi." jawab Rara Warih. Rara Warih menar ik nafas dalam-dalam. Memang sesuatu yang rumit untuk dipecahkan. Dalam pada itu. kedua orang itupun kemudian telah berada diregol pula, karena Raden Ayu ingin melihat kedua orang yang disebut oleh Rara Warih. Ternyata kedua orang itu masih juga berada ditempatnya. Sementara Raden Ayu Galihwar it dan Rara Warih seakan-akan sedang menunggu seseorang yang membawa barang dagangan yang dikehendakinya.Untuk melenyapkan prasangka orang-orang yang sedang mengamatinya, kadang-kadang Raden Ayu juga menghentikan seseorang yang membawa barang dagangannya. Tetapi ia sekedar bertanya, apakah yang dibawanya. Tetapi keduanya tidak lama berada diregol. Kegelisahan yang sangat telah menyengat hati mereka. Keadaan memang benar-benar bertambah gawat. Seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galihwarit. Jika mereka datang, mungkin mereka akan terjebak. Jika mereka tidak datang, maka ber ita penyergapan itu tidak dapat disampaikannya kepada pasukan Pangeran Mangkubumi. Setiap kali Raden Ayu mencoba menghibur dir i, bahwa mungkin sekali sumber lain akan dapat menyadap rencana itu. Tetapi usahanya itu tidak dapat menenangkan hatinya. Dalam kegelisahan itu, tiba-tiba saja Rara Warih berkata "Ibunda. Bagaimanakah pendapat ibunda, jika aku sajalah yang pergi ke Gebang." "Warih" desis ibundanya "kau belum pernah pergi keluar istana ini. Seolah-olah kau baru mengenal lingkungan di dalam dinding halaman ini. Atau katakanlah, kau baru mengenal daerah kota raja. Jika kau akan pergi, maka kau akan mengalami kesulitan diperjalanan." Tetapi .pada saat-saat Buntal dan Arum datang kemari, mereka selalu berceritera tentang jalan yang mereka lalui. Meskipun aku belum pernah melihatnya, tetapi rasa-rasanya aku telah mengenalnya. Sehingga aku merasa bahwa jika aku menelusur i jalan itu, aku akan sampai juga di Gebang." jawab Rara Warih."Perjalanan yang sangat berbahaya bagimu Warih" berkata ibundanya "selebihnya kau tidak tahu ucapan sandi pada saat terakchir. Jika terjadi salah paham, maka kau akan dapat mengalami bencana justru oleh .para pengawal Pangeran Mangkubumi sendiri.” "Aku akan berusaha menjelaskan dengan jujur ibunda. Aku berharap mereka akan dapat mengerti" jawab Rara Warih. "Tetapi setelah kau katakan segalanya menurut pengertian kita, ternyata orang itu bukan pengawal Pangeran Mangkubumi, tetapi petugas sandi dari Surakarta. Nah, apakah yang akan terjadi ?" bertanya Raden Ayu. “Setiap usaha memang ada dua kemungkinan ibunda. Berhasil atau tidak. Jika aku gagal, dan aku harus berhadapan dengan pasukan sandi Surakarta, apa boleh buat." berkata Rara Warih. "Tetapi kau jangan pergi Warih" minta ibundanya. Rara Warih memandang ibundanya sejenak. Namun kemudian katanya "Ibunda. Dalam keadaan seperti sekarang ini, semua tenaga sangat di .perlukan. Ibunda telah member ikan banyak sumbangan kepada pasukan Pangeran Mangkubumi dengan cara yang ibunda pahami. Biarlah aku juga memberikan setitik manfaat bagi perjuangan ini. Karena itu, biarkan aku pergi mencari, dimanakah letak padukuhan Gebang itu. Sebenarnyalah, aku telah mempunyai satu bayangan yang jelas tentang tempat itu. Tentang jalan-jalan yang harus aku lewati. Bahkan tentang tikungan dan jalan simpang, rasa-rasanya aku sudah dapat mengingatnya dengan pasti.” Raden Ayu Galihwarit kemudian telah dicengkam oleh keragu-raguan yang sangat Ia sadar, bahwa perjuangan Pangeran Mangkubumi memang memer lukan pengorbanan yang besar. Ia sendiri merasa sudah mengorbankan apa yang dimilikinya. Namun jika ia harus mengorbankan Rara Warih,Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Jika Buntal dan Arum datang, maka keduanyalah yang akan menjadi korban. Bahkan mungkin pengakuan yang keluar dari keduanya akan melibatkan dir inya sendiri dengan tuduhan yang akan dapat membawanya ketiang gantungan. Meskipun Raden Ayu Galihwarit tidak akan lebih menghargai dirinya sendiri daripada anak gadisnya, namun segalanya memang harus diperhitungkan sebaik-baiknya. Pasukan Pangeran Mangkubumi memang tidak boleh dihancurkan oleh kumpeni. Keragu-raguan itulah yang kemudian membuat segalanya menjadi lambat. Sementara itu matahari merayap terus naik keatas punggung pegunungan di sebelah Timur. Semakin lama menjadi semakin tinggi. "Ibunda" berkata Rara Warih setelah makan pag i"aku menunggu keputusan ibunda. Seandainya Buntal atau Arum datang, biasanya mereka sudah datang lebih pagi dari saat ini Agaknya mereka meninggalkan Gebang lewat tengah malam, sehingga mereka akan memasuki kota menjelang matahari terbit, sebagaimana orang-orang padesan membawa hasil tanahnya ke pasar." Betapapun juga Raden Ayu Galihwarit masih tetap bimbang. Tetapi ketika ia membayangkan kehancuran yang akan dialami oleh pasukan induk Pangeran Mangkubumi j ika Gebang disergap dengan tiba-tiba. maka dengan sendat ia berkata "Jika kau memang sudah siap untuk memberikan pengorbanan itu Warih, aku tidak dapat menghalangimu lagi.” “Aku sudah siap ibunda, apapun yang akan terjadi" berkala Rara Warih. Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya "Kau tidak usah minta dir i kepada eyangmu. Kau tentu tidak akan diijinkannya.""Tetapi bagaimanakah jawab ibunda jika eyang mencari aku ?" bertanya Rara Warih. "Mungkin aku harus berbohong. Aku akan menganggapmu lari, karena kau takut mengalami peristiwa seperti yang telah terjadi. Mungkin ada kumpeni lain yang akan menjadi gila sepsrti yang pernah terjadi. Sebenarnyalah tingkah laku mereka terpengaruh sekali oleh sikap ibumu ini Warih." jawab ibundanya. "Tidak, bukan karena ibunda" sahut War ih. Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya "Jika kau merasa sanggup melakukannya, lakukan." Rara Warihpun kemudian segera bersiap-siap. Seperti yang dikatakannya, maka ia benar-benar mampu membayangkan jalan manakah yang harus dilaluinya. Seolah-olah ia memang sudah pernah mengenali jalan menuju ke Gebang. Seperti yang dinasehatkan oleh ibundanya, maka Rara Warih dengan sengaja tidak minta diri kepada Pangeran Sindurata. Dengan diam-diam iapun sudah siap meninggalkan halaman istananya. Tidak dengan pakaian seorang puteri, tetapi dengan pakaian orang kebanyakan, sehingga perjalanannya tidak akan banyak menarik perhatian. Namun dalam pada itu, ibundanya rasa-rasanya tidak sampai hati melepaskan anak puterinya berjalan seorang dir i. Karena itu, maka katanya "Rara Warih. Aku kira, seorang pengawal akan lebih baik mengantarkanmu." Rara Warih mengerutkan keningnya. Katanya "Apakah hal itu perlu aku lakukan ibunda ? Bukankah dengan demikian akan ada orang lain yang mengerti, apa yang kita lakukan selama ini" "Aku akan memilih seorang pengawal yang aku anggap paling setia selama ini." jawab ibundanya. Lalu "Sementaraitu, apabila kau sudah sampai ketujuan, maka kaupun harus melaporkan tentang pengawal itu. Mungkin kakangmas-mu Juwiring akan mengambil satu kebijaksanaan, bahwa pengawal itu akan diperintahkannya untuk tinggal bersamanya di Gebang, sehingga selama perjuangan ini masih berlangsung pengawal itu tidak akan kembali lagi ke istana ini. Atau setelah kakangmasmu Juwir ing yakin, bahwa pengawal itupun telah menginsyafi dengan sesungguhnya perjuangan ini, sehingga iapua telah benar-benar dapat dipercaya." Rara Warih termangu-mangu sejenak. Tetapi dengan seorang kawan agaknya memang lebih baik daripada berjalan seorang diri. Demikianlah maka Raden Ayu Galihwarit telah memer intahkan seorang pengawal yang dianggapnya paling setia Seorang laki- laki yang pendiam. Yang menurut penilaian Raden Ayu memiliki sekedar ilmu untuk membela diri j ika diperlukan diperjalanan menghadapi orang-orang yang bermaksud jahat. Selebihnya, dalam pembicaraan yang sepotong-sepotong, menurut penilikan Raden Ayu, laki-laki pendiam itu juga mempunyai perasaan kagum terhadap Pangeran Mangkubumi meskipun ia tidak berani berterus terang. "Jika ia ingin berkhianat, tentu hal itu sudah dilakukannya, karena orang itu juga mengetahui kehadiran Juwir ing ke rumah ini" berkata Raden Ayu Galihwarit "bahkan juga kehadiran Buntal dan Arum. Iapun tahu, siapakah yang sebenarnya telah membunuh kedua orang kumpeni itu." Ketika matahari menjadi semakin t inggi, maka Rara Warihpun meninggalkan istananya melalui regol butulan bersama seorang pengawalnya. Tetapi tidak seorangpun yang menyangka, bahwa perempuan yang keluar dari regol butulan itu adalah puteri Pangeran Ranakusuma. Mereka yang melihatnya, termasuk kedua orang pengamat yang dipasang oleh kumpeni itupun menganggap bahwa yang keluar daripintu butulan samping itu adalah para pelayan. Karena perempuan yang keluar dari regol butulan itu membawa keranjang anyaman, maka dikiranya pelayan itu akan pergi ke pasar untuk berbelanja. Apalagi bagi mereka, yang penting adalah justru orang-orang yang datang memasuki istana itu. Mungkin diiantara mereka ada orang-orang yang pantas dicurigainya. Demikianlah maka Rara Warihpun telah mulai dengan perjalanannya menuju ke Gebang diantar oleh seorang pengawal. Pengawal yang dianggap paling setia dan pendiam. Tidak banyak persoalan yang dibuatnya. Selalu patuh dan melakukan tugasnya dengan rajin dan penuh tanggung jawab. Namun orang itu akan dapat memasuki satu lingkungan yang akan memaksanya untuk tidak keluar lagi dalam waktu yang mungkin lama, tetapi mungkin juga tidak terlalu lama, apabila ia dapat membuktikan bahwa ia benar-benar setia terhadap lingkungan Pangeran Sindurata, dan juga kepada perjuangan Pangeran Mangkubumi Demikianlah perjalanan itu dimulai ketika panas matahari sudah mulai terasa menggigit punggung. Namun dalam pada itu, bersama-sama orang-orang yang pulang dari pasar untuk menjual hasil kebunnya, maka Rara Warih dan pengawalnya telah keluar dari pintu gerbang. Untunglah bahwa tidak seorangpun pengawal dipintu gerbang itu mencurigai mereka. Baik Rara Warih maupun pengawalnya. Demikian mereka lepas dari gerbang kota, maka mereka- pun berusaha mempercepat perjalanan. Tetapi Rara Warih yang tidak terbiasa berjalan jauh, terlalu cepat menjadi letih. Namun demikian tekadnya yang membaja dihati, ia telah mampu mengatasi perasaan lelahnya, sehingga iapun berjalan terus untuk beberapa lama tanpa berhenti. Ternyata daya angan Rara Warih cukup tajam. Meskipun ia seorang puteri yang terkurung dalam lingkungan sempit,tetapi ia adalah seorang puteri dari seorang panglima yang memiliki kelebihan dari para Senapati dalam tatarannya. Karena itulah, maka ternyata Rara Warih benar-benar dapat mengenali jalan yang hanya dilihatnya dalam angan-angannya sebagaimana di katakan oleh Buntal dan Arum. Ternyata pengawalnya telah mengikutinya dengan setia. Meskipun sekali-sekali Rara Warih memerlukan pertimbangan pertimbangannya, tetapi karena orang itu justru belum pernah melihat, mengenal maupun diber i tahu oleh seseorang, maka ia tidak banyak dapat membantu. Namun demikian ternyata Rara Warih tidak tersesat. Tetapi betapapun keras kemauannya, maka atas nasehat pengawalnya, maka sekali-sekali Rara Warihpun beristirahat di bawah pohon yang teduh. Sementara pengawalnyapun yang nampak juga mulai lelah, telah beristirahat pula sambil memijit-mijit mata 'kakinya. Perjalanan Rara Warih ternyata jauh lebih lambat dari perjalanan yang sering dilakukan oleh Arum dan Buntal. Arum dan Buntal adalah orang-orang yang terbiasa berjalan di jalan- jalan padesan. Bahkan menelusur i pematang dan tanggul- tanggul parit. Karena itulah, maka ketika matahari sudah turun ke Barat, mereka masih belum mendekati Gebang. "Tetapi aku masih mempunyai waktu" berkata Rara Warih didalam hatinya "pasukan kumpeni baru akan bergerak menjelang malam. Baru malam nanti mereka akan mengepung Gebang, dan baru esok pagi, saatnya fajar menyingsing mereka akan menyerang." Betapapun perasaan letih menyengat kakinya, tetapi Rara Warihpun kemudian memaksa dir inya untuk melanjutkan .perjalanannya menuju ke Gebang. Tetapi yng terayata kemudaan nampak terlalu letih adalah justru pegawainya Meskipun ia adalah seorang laki- laki yangmemii'ki kemampuan dalam olah kanuragan, namun ternyata ia tidak dapat berjalan terus sebagaimana dikehendaki eleh Rara Warih. Setiap kali ia justru mohon untuk beristirahat barang sejenak. Kemudian tertatih-tatih ia berdiri dan melangkah mergikuti Rara Warih. "Sebentar lagi malamakan turun" berkata Rara Warih. "Tetapi bukankah Gebang sudah dekat ?" bertanya pengawal itu. Rara Warih memandang kekejauhan. Ia melihat sebatang pohon nyamplung yang besar dalam sebuah gerumbul. Arum pernah menyebut pohon itu yang menurut kepercayaan orang-orang disekitarnya sering menyesatkan orang berjalan. Namun agak jauh ia masih melihat sebuah gumuk kecil. Dan Rara Warih pun teringat Arum pernah mengatakan "Jangan hiraukan pohon ryamplung itu. Puteri harus memperhatikan gumuk disebekah. Lewat gumuk itu puteri tidak akan tersesat lagi. Jalan lurus menuju ke Gebang. Jika kemudian puteri harus menyeberang sebuah sungai kecil, maka beberapa puluh tonggak lagi puteri akan segera sampai." "Jika demikian Gebang tidak terlalu jauh lagi" berkata Rara Warih. "Jika demikian, kita tidak usah tergesa-gesa puteri" jawab pengawalnya. "Tetapi jika berita ini sampai kepada pasukan Parageran Mangkubumi, mereka masih memer lukan waktu." sahut Rara Warih. “Berita apa?" bertanya pengawalnya itu. Rara Warih ragu-ragu. Namun kemudian jawabnya "Ibunda memanggil kakangmas Juwiring. Penting sekali, sesuai dengan niat eyang Pangeran untuk meninggalkan Surakarta.” Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bangkit dan berjalan di belakang Rara Warih.Sebenarnyalah akhirnya mereka sampai kesebuah sungai kecil setelah mereka melewati pohon nyamplung, gurauk kecil dan berjalan beberapa saat. "Aku akan merendam kaki barang sejenak puteri" berkata pengawal itu ketika ia merasa betapa segarnya air sungai kecil itu di kakinya. "Tetapi gelap sudah turun Mar ilah kita bertahan beberapa langkah lagi. Kemudian kau akan dapat merendam kakimu untuk waktu yang tidak terbatas. "sahut Rara Warih. Namun jawab pengawal itu benar-benar mengejutkan. Katanya "Puteri. Aku akan mandi. Aku mohon puteri juga mandi dahulu di. sungai kecil ini." "Jangan gila" sahut Rara Warih. Tiba-tiba saja pendiam itu telah tertawa. Terdengar aneh sekali. Orang itu jarang sekali tertawa. "Gelap memang sudah turun puteri. Itulah yang aku tunggu." katanya. "Apa maksudmu ?" bertanya Rara Warih. "Tempat ini jauh dari padukuhan manapun juga puteri." desis orang itu pula. "Jangan gila. Katakan apa maksudmu ?" bentak Rara Warih yang bulu-bulunya mulai meremang. "Aku adalah hamba yang paling setia dari istana Pangeran Sindurata" berkata pengawal itu " karena itu, apakah salahnya jika sekali-sekali aku mendapat upah mirunggan. Sebenarnyalah kecantikan Raden Ayu Galihwarit membuat aku hampir gila. Tetapi kecantikan puteri benar-benar membuat aku sudah gila” Rara Warih bergeser beberapa langkah surut. Tetapi pengawal itu tertawa semakin keras "Puteri akan lari kemana? Betapapun juga puteri tidak akan dapat menentangkeinginanku. Aku tahu rahasia puteri dan seisi istana Sinduratan. Jika aku membuka mulut sedikit saja dihadapain kumpeni, maka seisi istana itu akan digantung di alun-alun." "Kau sudah gila" bentak Rara Warih. "Ya. Aku memang sudah gila. Tetapi jangan melawan kegilaanku. Tidak ada gunanya." berkata pengawal itu. "Kau akan dibunuh oleh kakangmas Juwiring." geram Rara Warih. "Disini tidak ada Raden Juwir ing. Yang ada hanya aku dan puteri. Jangan membuat aku marah. Hidup mati istana Sinduratan ada ditanganku. Sebagaimana Raden Ayu Galihwar it telah mengorbankan segala-galanya, maka puteripun harus bersedia berkorban pula bagi kemenangan pasukan Pangeran Mangkubumi, diantaranya pengorbanan seperti yang selalu ibunda puteri berikan." "Tidak. Jangan sentuh aku" teriak Rara Warih. "Jangan berteriak" bentak pengawal itu "aku dapat berbuat halus, tetapi aku dapat juga berbuat kasar melampaui kekasaran orang yang benar-benar gila. Kau tklak mempunyai pilihan lain puteri." Rara Warih masih ingin berteriak. Tetapi orang itu telah menerkamnya. Dengan telapak tangannya ia berusaha untuk menutup mulut Rara Warih. Tetapi Rara Warih sempat menggigit tangan orang itu, sehingga mulutnya itupun sempat pula terbuka. Yang terdengar adalah teriakan melengking didalam gelapnya ujung malam. Namun tempat itu terlalu jauh dari padukuhan yang manapun juga. Suara teriakan Rara Warih itupun segera lenyap. Tangan pengawalnya yang kuat telah berhasil sekali lagi membungkamnya. Kemudian Rara Warih itu tidak lagi berdaya oleh tangan-tangan yang kuat dan kasar.Tetapi sejenak kemudian, terdengar keluhan tertahan. Wajah laki- laki pendiam itu menjadi tegang. Matanya terbelalak lebar. Perlahan-lahan tangannya menjadi lemah. Akhirnya ia terjerumus menelungkup diatas pasir tepian. Rara Warih tidak sempat melihat. Matanya terpejam. Namun ia masih sempat memekik keras sekali. Namun akhirnya iapun jatuh ditanah. Pingsan. Tetapi ditangannya masih tergenggam patrem kecil yang selalu dibawanya pada saat-saat terakhir, setelah dua orang kumpeni terbunuh di halaman rumahnya. Ketika Rara Warih sadar, ia berada disebuah bilik yang sempit. Sebuah lampu minyak menyala berkeredipan. Pandangannya yang semula samar-samar menjadi semakin jelas. Hampir saja ia terpekik ketika ia melihat dua orang laki-laki yang bertubuh dan berpakaian kasar berada di sisi pembar ingannya. Namun ia berhasil menahan diri dan mengatupkan mulutnya rapat-rapat. "O, anak itu sudah sadar" berkata yang seorang. Kawannya mengangguk-angguk. Kemudian katanya "Aku akan memanggil Ki Lurah.” Rara Warih menjadi semakin cemas. Ia memerlukan waktu sejenak untuk mengingat apa yang telah terjadi atas dirinya. Namun kemudian ketakutannya menjadi semakin bertambah- tambah. Ia berhasil membebaskan dir i dari pengawalnya yang gila. Tetapi ia tidak tahu, dimana ia kemudian berada.Nampaknya ia diketemukan oleh salah seorang diantara orang-orang kasar itu dan dibawa kedalam sarangnya. Sejenak kemudian, seorang berjanggut putih memasuki ruangan yang sempat itu. Sambil mengangguk-angguk ia berkata "Kau sudah sadar ngger." Rara Warih tidak segera menjawab. Tetapi dipandanginya orang itu sekilas. Nampaknya orang tua ini tidak sekasar orang-orang lain yang ada diantara mereka. "Duduklah jika kau sudah kuat" minta orang tua itu Rara Warihpun kemudian berusaha untuk bangkit. Ketika salah seorang diantara orang-orang kasar itu berusaha membantunya, maka gadis itu telah mengibaskan tangannya. Sejenak kemudian Rara Warih telah duduk di bibir pembaringannya. Dengan ragu-ragu iapun kemudian berdesis "Kiai, aku ini berada dimana?" "Kau berada di Gebang ngger" jawab orang tua itu. Jawaban itu memang sangat mengejutkan. Sekali lagi ia menjelaskan "Di Gebang?" "Ya. Ampat orang peronda kami mendengar kau menjerit. Ketika mereka datang, mereka menemukan kau pingsan dengan patrem ditanganmu. Sementara seorang laki-laki terbujur disebelahmu. Mati, karena perutnya kau cabik dengan patremini." "O" Rara Warih menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Sementara orang tua bertanya "Siapakah kau sebenarnya. dan kau akan pergi kemana ?" "Tetapi apakah benar aku berada di Gebang Kiai? "bertanya Rara Warih. "Ya. kau memang beraba di Gebang" jawab laki- laki itu. Rara Warih menarik nafas dalam-dalam Meskipun ia maasih dibayangi oleh keragu-raguan namun peristiwa yang baru sajaterjadi telah membuat hatinya menjadi kabur. Karena itu maka ia tidak berpikir lebih lama lagi. Katanya "Aku mencari seorang saudaraku yang berada di Gebang." Orang-orang yang berada didalam bilik itu terkejut. Orang tua itupun bertanya dengan bimbang: "Kau akan menrcari saudatamu ? Siapakah nama saudaramu ?" Rara Warihpun merasa ragu. Tetapi sekali lagi terdorong oleh keadaannya dan kebingungannya setelah terjadi peristiwa yang tidak diduganya itu, ia berkata "Nama saudaraku adalah Juwiring." Wajah orang-orang itu menegang sejenak. Orang tua berjanggut putih itupun berkata "Apakah kau berkata sebenarnya ?" "Ya. Aku adiknya" jawab War ih. "Sebutlah beberapa kenyataan tentang anak muda yang kau sebutkan itu. Jika kau dapat mengatakan dengan tepat, maka aku akan menolongmu. Tetapi jika tidak, maka kau akan dihadapkan kepada pengadilan kita malam ini juga disini" berkata orang berjanggut putih itu. Mengerikan sekali. Terasa kulit diseluruh tubuh Rara Warih meremang. Pengadilan itu tentu akan sangat mengerikannya dengan tingkah laku pengawalnya yang gila itu. Karena itu, maka katanya "Kakangmas Juwir ing, putera Pangeran Ranakusuma yang telah gugur." "Dan kau ?" desak orang berjanggut put ih. "Aku adiknya Aku juga putera puteri Pangeran Ranakusuma." jawab Rara Warih. Orang berjanggut putih itu menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian diraihnya sebilah patrem yang terletak diatas geledek bambu didalam bilik yang sempit itu. Sambil memperhatikan patrem itu ia berkata "Patrem ini adalahpatrem yang luar biasa. Tetapi apakah benar kau puteri Pangeran Ranakusuma.?" "Pertemukan aku dengan kakangmas Juwir ing. Biar lah ia mengadili aku Jika aku berbohong" jawab Rara Warih. Namun akhirnya ia menjadi ragu-ragu ketika ia melihat orang-orang itu saling berpandangan. Jika mereka bukan orang-orang dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi, maka ia akan mengalami nasib yang lebih buruk lagi. Orang tua itu tidak menjawab sama sekali. Tapi kemudian melangkah keluar dan membiarkan dua orang laki-laki kasar menungguinya. Sekali-sekali Rara Warih melihat, betapa mata kedua orang laki- laki kasar itu menjadi liar memandanginya. Ketika lampu minyak menjadi redup. yang seorang diantara laki- laki kasar itu berkata "Lampu akan mati.” Jawab kawannya memang mendebarkan jantung Rara Warih "Minyak sudah habis. Bilik ini akan menjadi gelap sebentar lagi." Namun dalam pada itu. dalam kegelisahan yang sangat, ia mendengar langkah- langkah kaki. Tiba-tiba saja muncul dihadapannya, dimuka pintu bilik sempit itu, tiga orang anak muda. Dua orang laki- laki dan seorang gadis. "Kakangmas" Rara Warih berteriak sambil meloncat dari ambennya. Sambil memeluk kakaknya maka gadis itu telah menangis sejadi-jadinya. Buntal, dan Arum yang hadir juga, menarik nafas dalam- dalam. Mereka membiarkan Rara Warih melepaskan perasaan yang menghimpit hatinya. Baru kemudian kakangmasnya itu berkata "Duduklah. Kita akan berbicara." Namun salah seorang laki-laki kasar itu berkata "Silah-kan duduk diluar Raden. Bilik ini akan menjadi gelap. Minyaklampu itu sudah kehabisan minyak, dan kita sudah tidak mempunyai persediaan lagi untuk malam ini." Raden Juwiringpun kemudian mengajak adiknya duduk diamben besar di ruang dalam yang juga tidak begitu luas. Kepada orang berjanggut putih itu, Juwiring mengatakan "Anak ini benar adikku Kiai." "Sokur lah Raden" berkata orang berjanggut putih itu. Juwiring mengangguk-angguk. Kemudian kayanya "Warih, jika tidak ada sesuatu yang sangat penting, kau tentu tidak akan datang kemari. Akupun sudah mendengar cer itera orang- orang yang menemukanmu. Siapa yang mati dipinggir sungai kecil itu ?" "Pengawal eyang Sindurata" jawab Rara Warih "pengawal yang paling setia dan pendiam. Ia selalu bersungguh-sungguh dan dalam keadannya sehari-hari ia sangat sopan dan bertanggung jawab. Tetapi ketika ibunda mempercayainya mengantar aku, ia telah kehilangan nalarnya dan ingin bertindak diluar paugeran." "Dan kau sendir i telah membunuhnya ?" bertanya Juwiring. "Aku tidak tahu lagi apa yang aku lakukan. Tetapi aku membawa patrem dibawah bajuku. Diluar sadarku, aku telah membunuhnya" desis Rara Warih sambil menunduk. Air matanya mulai mengalir lagi dengan derasnya. "Sudahlah" berkata Raden Juwiring "kau tidak bersalah. Kau membela dir imu dalam keadaan yang tersudut. Tetapi apakah ada yang penting sekali sehingga kau sendiri harus datang kemar i?" "Ya kakangmas, karena sudah beberapa lama tidak seorangpun yang datang menghubungi kami." jawab Rara Warih. "Bukankah istana eyang Sindurata kini diawasi?" desis Juwiring "kami memang menjadi agak bingung karenakeadaan. Petugas sandi mengatakan, bahwa istana Sinduratan lelah diawasi oleh prajur it Surakarta dalam tugas sandi pula." "Ya. Kami mengerti. Karena itu, kami tidak dapat mengharap kedatangan salah seorang dari saudara- saudaramu. Buntal atau Arum atau kedua-duanya." jawab Rara Warih "karena persoalannya penting sekali, maka aku telah memberanikan dir i untuk mencarimu dengan diantar oleh seorang pengawal. Tetapi pengawal itu menjadi gila” "Sudahlah. Lupakan pengawal itu. Katakan, apa yang penting yang harus kita ketahui disini" desis Raden Juwiring. Rara Warih menjadi ragu-ragu, sementara Juwiring mendesaknya "Semua orang disini dapat dipercaya. Katakanlah." "Apakah tidak ada petugas sandi lain yang telah menyampaikannya kepada pimpinan pasukan disini ? "bertanya Rara Warih. "Aku belum mendengar masalahnya" sahut Juwir ing t idak sabar. Rara Warihpun kemudian mengatakan apa yang diketahui oleh ibundanya. Malam ini Mayor Bilman tidak ada di loji karena ia harus membawa pasukannya. Ia tidak dapat menugaskan orang lain, karena pasukan itu akan berhadapan langsung dengan induk pasukan Pangeran Mangkubumi. "Jadi kesimpulan ibunda, Mayor Bilman dan prajurit Surakarta akan langsung menyerang Gebang?" bertanya Raden Juwiring. Rara Warih mengangguk. "Apakah ibunda dapat menyebut kekuatan pasukan kumpeni?" bertanya Juwiring. Rara Warih menggeleng. Katanya "Ibunda tidak dapat menangkap isyarat lain, kecuali bahwa Mayor Bilman akanmemimpin sendir i pasukan khususnya itu. Nampaknya gerakan yang dilakukan kali ini adalah gerakan yang besar dan sangat rahasia" "Ya" jawab Juwiring "t idak seorang petugas sandi-pun yang menyinggung persoalan ini. Karena itu, aku harus segera menemui Ki Wandawa. Jika benar Mayor itu berangkat malam ini, maka besok pagi-pagi mereka tentu akan menyerang dengan tiba-tiba, setelah mengepung daerah ini. Karena itu, kita harus bersiap apapun yang akan kita lakukan. Tetapi adalah tekad Pangeran Mangkubumi untuk selalu menghindari pertempuran besar-besaran. Meskipun demikian, aku tidak tahu. keputusan apakah yang akan diambil kali ini." Raden Juwiringpun kemudian mengajak kedua saudara angkatnya menghadap Ki Wandawa. Untuk menjelaskan persoalannya, maka diajaknya pula Rara Warih bersamanya. Sambil minta diri, Raden Juwir ing berkata kepada orang berjanggut putih itu "Terima kasih Kiai Kau sudah menyelamatkan adikku Aku mohon satu dua orang menyelenggarakan mayat pengawal yang semula adalah orang yang setia dan bertanggung jawab itu, namun yang justru telah kehilangan nalarnya." Demikianlah maka Raden Juwiringpun telah menghadap Ki Wandawa dengan membawa Rara Warih serta disamping kedua adik angkatnya. Dengan singkat ia mengatakan yang telah didengar oleh Rara Warih dari ibundanya. Malam ini pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta sedang dalam perjalanan menuju ke Gebang. Ki Wandawa mengangguk-angguk. Laporan yang diberikan atas dasar pemberitahuan dari Raden Ayu Galihwarit pada umumnya dapat dipercaya. Karena itu. maka katanya "Aku akan menghadap Pangeran. Mudah-mudahan Pangeran ada di tempat."Demikianlah, maka Ki Wandawapun segera menghadap Pangeran Mangkubumi untuk memberitahukan rencana kumpeni yang dapat disadap oleh Raden Ayu Galihwarit. "Siapakah yang datang kemari untuk membawa berita itu ?" bertanya Pangeran Mangkubumi. "Seorang puteri. Adik Raden Juwir ing" sahut Ki Wandawa. "Siapa?" "Mamanya Rara Warih" jawab Ki Wandawa yang kemudian dengan singkat pula menceriterakan, kenapa gadis itu yang telah datang dan apa yang telah terjadi dengannya diperjalanan. "Nampaknya berita itu sangat bersungguh-sungguh. Jika tidak, maka Raden Ayu Ranakusuma tidak akan melepaskan satu-satunya anak perempuannya itu. Untunglah bahwa ia tidak menemui bencana diperjalanan. Karena itu, sebaiknya kita memperhatikannya. Kita akan menghindari pertempuran besar itu. Tetapi kita akan mengganggunya. Panggillah para Senapati. Aku akan berbicara dengan mereka." Demikiankah semuanya dilakukan dengan cepat dan tergesa-gesa. Waktunya sudah menjadi semakin sempit. Jika kumpeni dan pasukan Surakarta itu datang, maka kesempatan untuk membuat perhitungan yang lain tidak akan dapat di'akukannya lagi kecuali membenturkan diri. Sementara itu Pangeran Mangkubumipun mengerti, bahwa kumpeni tentu akan membawa segala jenis senjatanya. Apalagi pasukan khususnya akan ikut mengambil bagian. Tentu akan disertai pasukan berkuda dari prajur it Surakarta yang juga terkenal itu. Setelah mereka menemukan kesepakatan, apa yang akan dilakukan cleh pasukan Pangeran Mangkubumi itu, maka Pengeran Mangkubumipun telah memer intahkan kepada semua Senapati untuk melakukan tugas mereka sebaik- baiknya. Sementara itu Pangeran Mangkubumi telahmember ikan perintah kepada pasukannya di Sukawati untuk melakukan gerakan terpadu dengan pasukannya di Gebang. Demikianlah dengan cepat segalanya telah dapat diatur sebaik-baiknya. Dalam waktu singkat, maka Gebangpun telah dikosongkan. Sementara itu beberapa orang penghubung berkuda telah menuju ke Sukawati. Sedangkan beberapa orang petugas sandi harus mengamati jalan dar i arah Surakarta. Dalam pada itu, para peronda telah melakukan tugasnya pula. Para Senapati di Gebang telah memerintahkan melakukan pengamanan atas rencana yang telah disusun. Sebelum pasukan Surakarta datang, maka tentu akan ada petugas sandi yang akan mengamati daerah yang akan menjadi sasaran. Menjelang pengosongan Gebang, tiga orang telah ditangkap oleh para peronda karena mereka mencur igakan. Mereka tidak dapat menjawab pertanyaan para peronda dengan baik, dan apalagi ketika didalam kantong ikat pinggang mereka terdapat tanda keprajuritan Surakarta. "Kalian ingin mengetahui, apa yang kami lakukan disini ?" bertanya peronda itu. Petugas sandi itu sama sekali tidak menjawab. Ketika mereka dibawa kepada orang yang berwenang mengurusi mereka didalam pasukan Pangeran Mangkubumi, orang-orang itu terkejut melihat bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi telah melakukan satu gerakan menghadapi kedatangan pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta. "Kalian sudah mengetahui ?" bertanya petugas sandi itu. Orang yang menahannya disebuah padukuhan kecil diluar padukuhan Gebang tersenyum. Katanya "Kami akan menyambut kedatangan kalian sebaik-baiknya.""Setan" geram petugas sandi dari Surakarta itu "jadi ada juga pengkhianat yang menyampaikan kepada kalian tentang gerakan pasukan itu ?" "O" sahut orang yang menahannya "jadi kau menganggap orang yang menyampaikan berita itu sebagai pengkhianat ?" "Ya. Mereka telah menentang Kangjeng Susuhunan." jawab orang itu. "Tidak Ki Sanak" jawab orang yang menahannya "kami sama sekali tidak merasa memusuhi Kangjeng Susuhunan." Petugas sandi dari Surakarta itu memandang orang yang menahannya dengan tatapan mata tajam. Dengan nada dalam ia bertanya "Jika kalian tidak menentang Kangjeng Susuhunan, lalu apa yang kalian lakukan disini ?" "Kami menentang kehadiran kumpeni di Surakarta" jawab orang yang menahannya. "Tetapi itu sama artinya menentang Kangjeng Susuhunan karena Kangjeng Susuhunan menyatakan menerima kedatangan mereka di Surakarta." jawab petugas sandi itu. Tetapi pengikut Pangeran Mangkubumi itu tersenyum. Jawabnya "Apakah kau yakin bahwa Kangjeng Susuhunan menerima kedatangan mereka dengan ikhlas? Apakah kau tidak pernah berpikir, bahwa Kangjeng Susuhunan memer lukan dukungan yang nyata untuk mengambil satu langkah mengusir kumpeni itu dari Surakarta?" Para petugas sandi itu termenung. Pertanyaan itu memang menyentuh hatinya. Karena itu, maka ia tidak menjawab sama sekali. Dalam pada itu, Gebang menjadi sibuk. Pasukan Pangeran Mangkubumi segera mempersiapkan dir i sesuai dengan rencana yang telah mereka susun. Gebang memang dikosongkan. Tetapi tidak sama sekali kosong. Masih ada yangtersisa, yang harus memancing satu gerakan kumpeni dan pasukan Surakarta. Untuk beberapa saat pasukan Pangeran Mangkubumi menunggu dengan berdebar-debar. Apakah yang disampaikan oleh adik perempuan Juwir ing dan bersumber dari Raden Ayu Ranakusuma itu benar-benar akan terjadi. Sebenarnyalah pada saat itu, pasukan kumpeni yang dipimpin langsung oleh Panglima pasukan khusus tengah bergerak maju bersama sepasukan prajurit Surakarta, termasuk pasukan berkuda. Mereka keluar dari kota setelah matahari terbenam. Menurut perhitungan mereka perjalanan mereka tentu tidak akan diketahui oleh Pangeran Mangkubumi. Bahkan beberapa orang Senapati dari tataran menengahpun baru mengetahui apa yang akan mereka lakukan, setelah pasukan itu mulai bergerak. Mayor Bilman di bantu oleh seorang kapten yang memiliki pengalaman hampir seluas Mayor Bilman itu sendir i, telah membawa pasukan yang sangat kuat. Seperti yang diperhitungkan oleh para Senapati Pangeran Mangkubumi. maka mereka telah membawa beberapa buah mer iam kecil beroda yang ditarik oleh kuda. Dengan mer iam-meriam itu mereka akan memecah pertahanan Pangeran Mangkubumi, sehingga pasukannya akan menerobos dengan mudah untuk menghancurkannya sama sekali. Dalam pasukan segelar sepapan, prajurit Surakarta dan kumpeni itu dipimpin langsung oleh Pangeran Yudakusuma. Namun demikian, ia memberi keleluasaan yang besar bagi kumpeni untuk menentukan langkah khusus asal tidak bertentangan dengan kesepakatan mereKa. Demikianlah, di gelapnya malam pasukan itu merayap maju. Ternyata untuk mengamati jalan, beberapa orang petugas sandi sudah dikirimkan lebih dahulu di muka pasukan yang besar dan kuat itu.Namun dalam pada itu, kumpeni telah memperhitungkan pula kemungkinan adanya pengawas dari pasukan Pangeran Mangkubumi. "Jika pengawas itu melihat pasukan ini, maka kita tentu sudah dekat. Mereka tidak akan sempat berbuat banyak, sementara pasukan berkuda kita akan dapat mendahului dan mengepung Gebang, sementara pasukan kitapun akan segera sampai." berkata seorang perwira kumpeni kepada Mayor Bilman. Semakin dekat dengan Gebang, maka pasukan itupun menjadi semakin berdebar-debar. Para Senapati dari prajur it Surakartapun menjadi gelisah. Mereka akan bertemu dengan saudara-saudara mereka sendiri dalam sikap dan pendirian yang berbeda. Namun dalam pada itu, kumpeni merasa, bahwa sergapan mereka sekali ini tidak akan gagal. Mereka harus dapat menguasai dan menghancurkan induk pasukan itu. "Jika Pangeran Mangkubumi ada di Gebang, maka ia harus dapat ditangkap, hidup atau mati" berkata Mayor Bilman. Tetapi Mayor itupun menyadari, bahwa Pangeran Mangkubumi kadang kadang tidak ada di dalam lingkungannya. Mungkin ia berada di Sukawati. Mungkin di Gunung Garigal. Mungkin justru di tengah-tengah kota Surakarta tanpa diketahui oleh siapapun juga. Ketika mereka semakin dekat dengan Gebang, maka seperti yang mereka duga, tiba-tiba saja dua panah sendaren telah meluncur di langit. Suaranya bagaikan jerit panjang yang melengking menuju ke padukuhan Gebang. “Seorang pengawas melihat pasukan ini” berkata kapten Kenop kepada Mayor Bilman "apakah sebaiknya pasukan berkuda mulai bergerak untuk mengepung Gebang? Dengan demikian, maka kita sudah memberikan kesan, bahwa mereka tidak sempat lagi meninggalkan sarang mereka, sehinggamereka harus bertahan. Pada kesempatan berikutnya, menjelang fajar, kita akan menghancurkan pertahanan mereka dengan meriam-mer iam." Mayor Bilman merenung sejenak. Kemudian katanya kepada seorang perwiranya "Laporkan kepada Pangeran Yudakusuma. Pasukan berkuda akan bergerak. Justru bersama-sama dengan pasukan berkuda dari Surakarta sendiri." Perwira itupun segera menghadap Pangeran Yudakusuma. Ternyata Pangeran Yudakusuma itu tidak berkeberatan. Sejenak kemudian, maka pasukan berkuda itupun mulai bergerak. Derap kaki kuda telah menyayat sepinya malam. Debu yang putih berhamburan bagaikan kabut yang turun di malamhari. Pasukan berkuda itupun kemudian memisahkan diri menjelang sampai ke padukuhan. Mereka akan mendekati Gebang dari dua arah. Yang separo akan melingkari padukuhan itu untuk memberikan kesan, bahwa Gebang telah terkepung, sementara yang lain akan datang dar i jurusan yang berbeda untuk member ikan kesan yang sama. Tetapi pasukan berkuda yang melingkar i Gebang terkejut, Mereka melihat belum begitu jauh, pasukan Pangeran Mangkubumi meninggalkan Gebang. Sebagian dar i mereka justru membawa obor untuk menerangi jalan yang mereka lalui. "Gila" geram kapten Kenop "mereka mampu bergerak demikian cepatnya. Begitu isyarat itu naik keudara. mereka telah siap untuk meninggalkan Gebang. He, apakah mereka sudah mendengar sebelumnya bahwa pasukan ini akan datang ?" Kapten Kenop termangu-mangu sejenak. Kemudian diperintahkannya dua orang penghubung untuk melaporkannya kepada Mayor Bilman dan PangeranYudakusuma yang masih dalam perjalanan meskipun merekapun sudah dekat. Laporan itu cukup mengejutkan. Mayor Bilman sendiri kemudian menemui Pangeran Yudakusuma. Keduanya sepakat untuk mendahului pasukannya Berkuda serta di kawal oleh beberapa orang prajurit, keduanya mendahului pasukannya menyusul pasukan berkuda yang telah berada di seberang Gebang. Kedatangan keduanya belum terlambat. Lamat-lamat mereka masih melihat orang- orang terakhir dar i iring- iringan pasukan Pangeran Mangkubumi yang meninggalkan Gebang sambil membawa obor. “Ini adalah satu kegilaan yang tidak dapat dimaafkan” bentak Mayor Bilman" ikut aku melihat keadaan Gebang” Tetapi ketika Mayor itu mulai bergerak, kapten Kenop berkata "Biarlah dua orang pengamat mendahului perjalanan Mayor memasuki padukuhan itu. Siapa tahu, kita berada dalam jebakan,” Mayor yang marah itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia berkata "Bagus kapten. Segera perintahkan dua orang pengamat." Dua orang yang mendapat perintah untuk melihat keadaan padukuhan itupun segera merayap mendekat dengan hati- hati. Ketika mereka sampai di regol padukuhan, ternyata regol itu sepi. Tidak ada seorangpun yang berjaga-jaga digardu.Ketika mereka memasuki padukuhan itu beberapa langkah, maka yakinlah mereka, bahwa padukuhan itu telah kosong, sehingga merekapun kemudian berlar i-lari menyusuri jalan padukuhan untuk meyakinkan pengamatan mereka. Ketika mereka mengetuk dan kemudian membuka dengan paksa pintu-pintu rumah, maka rumah-rumah itupun telah kosong. Sambil mengumpat keduanya dengan tergesa-gesa kembali kepada kapten Kenop untuk melaporkan, apa yang mereka lihat di padukuhan itu. "Mustahil" geram Kapten Kenop "j ika mereka tahu pada saat isyarat itu dilontarkan, mereka tentu belum selesai bersiaga. Menurut kesimpulanku, mereka sudah memperhitungkan bahwa Gebang akan dikepung hari ini." "Tetapi tidak mungkin rahasia ini bocor" geram Mayor Bilman. "Ya. Tidak mungkin" sahut Pangeran Yudakusuma "segalanya dilakukan dengan penuh kewaspadaan dan berhati-hati." "Tetapi kita tidak dapat mengingkari kenyataan ini" berkata kapten Kenop kemudian. "Kita tidak ada waktu untuk berbantah sekarang" berkata Mayor Bilman "pasukan Pangeran Mangkubumi masih belum jauh. Kita akan mengikuti mereka. Ternyata mereka cukup bodoh, sehingga mereka justru membawa obor yang akan dapat menuntun kita dengan mudah mengikuti mereka. "Apakah kita akan menyergap mereka?" bertanya seorang perwira. "Kita akan mengikut i mereka. Jika fajar menyingsing, dimanapun mereka berada, kita akan menyergap dan mengi hancurkan. Mungkin kita tidak akan dapat mengepungnya. Tetapi mereka tidak akan dapat melarikan diri dari pasukan berkuda" sahut Mayor Bilman.Demikianlah, maka Pangeran Yudakusumapun telah mengambil satu sikap. Dipanggilnya para Senapatinya untuk mendengar perintahnya. Mereka akan mengikuti pasukan Pangeran Mangkubumi yang agaknya juga hanya berjalan kaki. Pasukan berkuda akan berada didepan, tetapi mereka akan maju bersama pasukan lain yang tidak berkuda. Mereka akan mengikuti pada jarak tertentu, sehingga Pangeran Mangkubu. mi tidak menyadari, bahwa mereka telah diikuti. Perintah itu jelas bagi setiap Senapati. Karena itu, maka merekapun segera menyiapkan pasukan maeing-masing. Dipaling depan adalah pasukan berkuda yang dipimpin oleh kapten Kenop. Baru kemudian pasukan yang lain, yang mengiringinya dengan berjalan kaki. Tidak sulit bagi pasukan itu untuk mengikuti pasukan Pangeran Mangkubumi dari jarak yang cukup. Merekan melihat obor bergerak ditengah-tengah bulak. Berpuluh-puluh. Meskipun nampaknya tidak setiap orang membawa obor, tetapi dari yang paling ujung, sampai ke pangkalnya, nampak iring- iringan itu cukup panjang. "Seluruh isi Gebang ikut dalam ir ing-ir ingan itu" berkata Kapten Kenop "nampaknya mereka menuju ke Sukawati." "Ya mereka menuju ke Sukawati" sahut perwira yang lain "tetapi mereka tidak akan sampai di Sukawati Sebentar lagi langit akan mulai dibayangi fajar. Pasukan Pangeran Mangkubumi itu merayap seperti siput." Kapten Kenop tidak menjawab. Namun ia memang harus menahan hati untuk menunggu fajar. Sebenarnyalah menurut perhitungan, perang itu akan lebih baik dilakukan setelah matahari terbit, agar tidak terjadi salah paham. Apalagi kumpeni agak sulit untuk membedakan orang-rang pribumi, kecuali dari ujud pakaiannya saja. Untuk beberapa pasukan Kumpeni dan prajur it Surakarta itu mengikuti puluhan obor yang menyingkir dar i Gebang.Sementara itu kapten Kenop sudah memperhitungkan, bahwa diantara mereka tentu terdapat perempuan dan anak-anak. "Tetapi, apaboleh buat" berkata kapten yang garang itu "jika terjadi sesuatu atas perempuan dan anak-anak ilu adalah tanggung jawab Pangeran Mangkubumi. karena ia tidak dengan tegas memisahkan mereka dengan pasukannya." Kapten Kenop sudah memerintahkan sepasukan kecil dari pasukan berkuda itu untuk menyerang dari lambung, meskipun mereka harus menyeberangi sawah yang basah. Kemudian pasukan yang lain akan menyerang dari belakang. Jika sebagian dar i mereka akan ber lari cerai berai, maka sudah ada petugas-petugas yang akan mengejar mereka dan menghancur lumatkan. Sejenak kemudian ternyata bahwa iring-iringan orang membawa obor itu melintasi sebuah sungai yang curam. Karena itu, maka kapten Kenop telah memerintahkan agar mereka yang membawa meriam berhati-hati. "Meriam-mer iam itu jangan sampai terperosok ketempat yang sulit untuk di angkat" katanya kepada penghubung yang segera menyampaikannya kepada pasukan kecil yang bertanggung jawab atas meriam-meriam yang mereka bawa. Demikianlah, maka kapten Kenop melihat obor-obor itu turun ke sungai, namun beberapa saat kemudian nampak obor obor itu mendaki di seberang. Kapten Kenop sudah membayangkan, bahwa sungai itu akan dapat sedikit menghambat pasukannya. Agaknya pasukan Pangeran Mangkubumi harus maju lebih lambat lagi ketika mereka menyeberang sungai itu, apalagi agaknya diseberang tebingpun curampula. Tetapi kapten Kenoppun tahu, karena ada jalur jalan yang memang melintasi sungai itu, tentu jalan menyeberang itupun akan dapat ditempuhnya, meskipun agak sulit.Ketika pasukan berkuda yang berada di ujung pasukan itu sampai ditebing, maka kapten Kenoppun memerintahkan pasukannya berhenti sejenak. Dipandanginya obor-obor dihadapannya merayap menjauhi tebing diseberang sungai. Tetapi jarak mereka justru menjadi semakin dekat. Tetapi dalam pada itu, fajar masih belum menyingsing, meskipun bintang-bintang sudah jauh bergeser ke Barat. Namun agaknya dini hari sudah terlalu dekat sehingga kapten Kenop merasa perlu untuk memperingatkan pasukannya. Baru sesaat kemudian, maka kuda yang pertamapun menuruni tebing yang curam, tetapi yang ternyata memang ada jalur jalan yang tidak terlalu sulit untuk dilalui. Namun seperti yang diperingatkan oleh kapten Kenop, mereka yang membawa mer iam memang harus berhati-hati sekali, agar roda-roda meriam itu tidak tergelincir sehingga mer iam-meriam kecil itu akan jatuh terlentang. Agaknya beberapa orang harus ikut menahan pada saat kuda-kuda yang menarik mer iam itu menuruni tebing. Demikianlah pasukan berkuda yang dipimpin kapten Kenop itulah yang pertama-tama menyeberang. Kemudian induk pasukannya yang berjalan beriringan dibelakang diba-wah pimpinan Pangeran Yudakusuma dan Mayor Bilman. "Kita sudah berjalan cukup jauh dari Gebang" berkata Mayor Bilman. “Ya” jawab Pangeran Yudakusuma "tetapi Sukawati-pun masih cukup jauh. Sebentar lagi langit akan dibayangi oleh fajar, dan kitapun akan cepat bergerak menghancurkan pasukan itu." "Kita akan melumatkannya" geram Mayor Bilman. "Tetapi ingat, jika diantara mereka terdapat keluarga yang tidak bersalah. Perempuan dan anak-anak, maka merekabukannya sasaran kita.” Pangeran Yudakusuma memper ingatkan. Mayor Bilman tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah didalam hatinya terbersit pikiran seperti juga kapten Kenop, bahwa tanggung jawab akan terletak kepada Pangeran Mangkubumi yang justru mempergunakan perempuan dan anak-anak sebagai perisainya. Namun ternyata terjadilah hal yang sama sekali t idak diduga-duga. Kapten Kenop yang memimpin pasukan berkuda masih tetap menganggap bahwa jarak mereka dengan pasukan Pangeran Mangkubumi yang diikut inya masih tetap cukup jauh, meskipun ia akan dapat menyergapnya dengan tiba-tiba. Ketika pasukan berkuda itu naik keatas tebing diseberang, mereka masih tetap melihat obor-obor itu dihadapan mereka. Demikian langit mulai terang, maka pasukan berkuda itu akan segera berpacu menghantam pasukan itu dari arah sebagaimana di kehendakinya. Tetapi yang terjadi benar-benar diluar perhitungan kapten Kenop dan para Senapati dalam pasukan kumpeni dan prajur it Surakarta itu. Demikian pasukan itu naik ke atas tebing, tiba- tiba telah datang serangan yang mengejut dari arah depan. Ternyata pasukan Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya bukannya iring- iringan yang membawa obor itu. Tetapi pasukan itu telah menunggu mereka diatas tebing. Serangan yang tiba-tiba itupun sangat mengejutkan. Beberapa orang kumpeni dari pasukan berkuda itu tidak sempat melawan. Demikian orang-orang yang bersembunyi dibalik tanggul, gerumbul-gerumbul dan bebatuan itu meloncat menyergap sambil berteriak nyaring, maka beberapa orang kumpeni telah terlempar dari punggung kuda mereka. Betapa kemarahan telah menghentak didada kapten Kenop. Sebagai seorang perwira yang memiliki pengalaman yang luas dan yang pernah menjelajahi samodra dan benua, maka iapuncepat mengambil sikap. Dengan pedang teracu, maka iapun telah meneriakkan aba-aba bagi pasukannya. Beberapa orang dari pasukan berkuda itu berusaha naik keatas tebing untuk mendapatkan pancatan perlawanan seperti yang dikehendaki oleh kapten Kenop. Ia sendir i sudah berada diatas. Dengan pedang ditangan iapun segera mengamuk seperti singa kelaparan Sementara itu beberapa orang anak buahnyapun berhasil naik keatas tebing dan bertempur bersamanya. Tetapi lawan terlalu banyak. Pasukan Pangeran Mangkubumi masih bermunculan dari balik batang-batang perdu dan pandan. Bahkan ada diantara mereka yang melontarkan lem-bing- lembing bambu berbedor besi yang runcing. Mayor Bilman yang melihat keadaan itupun segera mengambil sikap. Diperintahkannya pasukannya untuk cepat mengatasi kekalutan yang terjadi. Di atas tebing ternyata telah menunggu pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat "Kita sudah dikelabui oleh obor-obor itu" teriak Mayor Bilman "kita harus cepat mengatasi kekalutan dan menar ik garis berlawanan yang jelas." Sementara itu, prajurit Surakartapun telah mengambil jarak. Mereka menebar sepanjang sungai. Mereka harus mendaki tebing pada tebaran yang agak luas, agar mereka tidak dihancurkan justru dimedan yang terlalu sempit. . Dengan demikian, maka pasukan Surakarta itu memencar sebelah menyebelah di bawah tebing. Baru kemudian mereka memanjat naik. Mereka memperhitungkan, bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi berkumpul di hadapan kumpeni yang naik di jalur jalan menyeberang. Jika mereka berhasil, maka mereka justru akan dapat mejyerang pasukan Pangeran Mangkubumi yang menunggu diseberangi itu dari arah lambung.Tetapi perhitungan mereka itupun ternyata meleset. Ketika prajurit Surakarta itu menebar, maka tiba-tiba saja telah datang pula serangan dari dua arah. Dari balik gerumbul di pinggir kali di bawah tebing, dan dari balik bebatuan, telah muncul pula para pengikut Pangeran Mangkubumi dengan senjata telanjang. Bahkan ada diantara mereka yang lebih senang membawa sepotong bambu wuhing yang diruncingkan, menjadi tombak yang justru menger ikan. Ujung bambu yang rucing itu telah di basahi dengan minyak, kemudian di panggang di panasnya api sehingga menjadi kehitam-hitaman. Sebelum dipergunakan maka ujung bambu yang diruncingkan itu digosok dahulu dengan pasir dan dihunjamkan kepada tanah tujuh kali. Dengan demikian seandainya mereka bertemu dengan lawan yang kebal atau mempunyai aji lembu sekilan, maka kekebalan akan dapat ditembus. Kehadiran pasukan dari sebelah menyebelah itu telah menambah kebingungan pasukan Surakarta. Mereka tidak sempat memanjat tebing, karena segera mereka terlibat dalam pertempuran diatas bebatuan. Mereka berloncatan dan saling menyerang dalam keadaan yang kisruh. Kedua belah pihak tidak sempat memasang gelar, sehingga yang terjadi kemudian ada lah perang brubuh. Pangeran Yudakusuma ternyata masih tetap mampu berpikir dengan tenang. Iapun kemudian memerintahkan menarik sebagian dari pasukannya yang masih belum turun tebing. Pasukan itulah yang akan membentuk gelar, dan yang kemudian akan maju dengan teratur. Tetapi sekali lagi rencana itu tidak dapat dilakukannya. Selagi kekuatan terjadi, maka dari belakang, pasukan yang kuat telah menerkam pasukan Pangeran Yudakusuma. Ternyata pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta itu telah dikepung rapat. Dihadapan mereka adalah pasukan yang datang dari Sukawati. Kemudian dari sebelah menyebelah danyang kemudian menghantam mereka dari belakang adalah pasukan yang semula berada di Gebang. Berita yang dibawa olah Rara Warih telah sempat dipergunakan sebaik-baiknya, sehingga dengan persiapan yang mapan, maka pasukan Pangeran Mangkubumi telah berhasil menjebak kumpeni dan para prajur it dari Surakarta. Pertempuranpun kemudian berlangsung dengan sengitnya. Sementara itu, ketika terdengar ledakan-ledakan senjata api mulai membelah hiruk pikuk pertempuran, maka obor-obor yang semula diikut i oleh kumpeni itupun segera padam. "Gila" kapten Kenop mengumpat" mereka telah menjebak kita dengan licik," Sementara itu, orang-orang yang semula membawa obor itupun telah berkumpul. Mereka adalah orang-orang yang sengaja telah memencar dengan obor pada jarak yang jauh. agar dengan demikian, dari kejauhan dan didalam kegelapan, nampak seolah-olah satu iring-ir ingan yang panjang dari sekumpulan orang yang cukup banyak. Namun sebenarnya jumlah mereka tidak terlalu banyak. Bahkan hanya beberapa puluh orang saja. Diantara mereka justru wanita yang bersedia berbuat sebagaimana kewajiban mereka di peperangan. Pada suatu saat mereka harus menyediakan makan dan minum bagi para prajurit dimanapun mereka berhenti. Juga diantara mereka terdapat orang-orang yang akan dapat membantu melakukan pengobatan atas mereka yang terluka. Ketika mereka menyadari bahwa pertempuran telah berkobar di sungai sebagaimana memang telah direncanakan, maka sekelompok orang itu telah bersiap-siap dan justru bergerak mendekat, meskipun t idak terjun kearena karena mereka mempunyai tugas tersendiri. Pada mereka terdapat bukan saja makanan yang siap dibagikan, tetapi juga bahan- bahan yang perlu mereka amankan dar i Gebang.Didalam kelompok itu terdapat Rara Warih yang datang ke Gebang untuk menyampaikan pesan ibunya. Selain Warih, Arumpun telah mengawaninya pula. Namun diantara kelompok itu terdapat pula beberapa orang yang siap bertempur apabila diperlukan. "Agaknya pertempuran itu telah menjadi dahsyat sekali" desis Rara Warih. "Ya puteri. Tetapi kita yakin, bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat akan menang. Puteri ternyata telah menyeiamatkan kami dari kehancuran mut lak. Melihat kekuatan kumpeni dan pasukan dari Surakarta, kita tidak akan dapat melawannya apabila kita harus berhadapan dalam garis perang. Tetapi dalam sergapan yang tiba-tiba demikian, kesempatan bagi kumpeni tidak terlalu banyak. Merekapun tidak akan dapat mempergunakan meriam-meriam mereka, karena perang yang terjadi adalah perang brubuh." jawab Arum. Rara Warih mengangguk-angguk. Iapun telah mendengar bahwa bukan saja pasukan yang berada di Gebang yang telah dikerahkan. Tetapi juga pasukan yang berada di Sukawati dan padukuhan-padukuhan di sekitarnya. Sebenarnyalah bahwa pertempuran yang terjadi adalah dahsyat sekali. Pasukan Pangeran Mangkubumi ternyata merupakan pasukan yang kuat tangguh. Bahkan sebagian dari mereka telah berada dimedan sebagaimana sebagian dari kumpeni dan pasukan berkuda. Dipimpin oleh Raden Juwiring maka pasukan yang terlatih telah bersiap melawan kumpeni dan prajurit Surakarta dari pasukan berkuda. Dalamkekalut an perang itu, Juwiring yang berada disebuah padukuhan terdekat dari jebakan itu telah mucul bersama pasukannya. Sementara itu, sebagian dari kumpeni yang marah, berusaha melepaskan dir i. Mereka mendendam terhadap orang-orang yang semula membawa obor dan memancing mereka mengikuti sehingga mereka sampai ketempat jebakan.Karena itu, maka sebagian dari kumpeni dan prajurit Surakarta dari pasukan berkuda, telah menerobos pasukan Pangeran Mangkubumi. Dengan kemarahannya yang menghentak-hentak jantung mereka berusaha memburu orang-orang yang membawa obor. yang kemudian mereka sadari tentu tidak sebanyak yang mereka duga. Namun dalam pada itu, orang-orang yang ada didalam kelompok kecil itupun telah bersiap pula. Mereka melihat sekelompok kecil itupun telah bersiap pula. Mereka melihat sekelompok orang-orang berkuda berpacu kearah mereka. "Minggir lah" Arumlah yang kemudian mengatur perempuan-perempuan yang ada diantara mereka "kalian tentu tidak akan mampu melawan pasukan berkuda itu. Biarlah para pengawal menyelesaikan." Perempuan-peremuan itupun kemudian segera menepi. Bahkan merekapun telah menyeberangi parit dipinggir jalan dan berdiri di belakang tanggul. Sementara itu, beberapa orang pengawal yang ada diantara mereka telah bersiap dengan senjata masing-masing. Tetapi dalam pada itu, ternyata Juwiring melibat kelicikan pasukan berkuda itu. Karena itu, bersama beberapa orang kawannya iapun telah memburunya. Sejenak kemudian, maka telah terjadi pula pertempuran antara dua kelompok pasukan berkuda. Juwiring, Buntal dan kawannya telah bertempur dengan pasukan berkuda yang dikejarnya dan kawan-kawannya. Pertempuran, berkuda itupun telah terjadi dengan sengitnya. Ternyata yang memburu kumpeni dan pasukan berkuda Surakarta itu diantaranya adalah bekas anak buah Juwiring ketika ia masih menjadi salah seorang Senapati muda dalam lingkungan pasukan berkuda di Surakarta.Karena itu, maka pertempuran itupun telah terjadi dengan sengitnya. Masing-masing memiliki kelebihan sesuai dengan perkembangan setiap pribadi didalam pasukan itu. Dalam pertempuran yang semakin sengit, maka beberapa ekor kuda telah tejun ke sawah yang basah, tetapi ada juga diantara mereka yang bertempur di sawah yang kering. Namun tanaman jagungpun telah menjadi rusak dan berserakan. Ketika seorang kumpeni terlempar dari kudanya yang terperosok kedalam parit, maka dengan serta merta, iapun segera bangkit berdiri. Tetapi ternyata ia tidak berlari mengejar lawannya yang berkuda. Dendam dan kemarahannya tidak terkendali lagi, sehingga ketika ia melihat beberapa orang perempuan, maka tiba-tiba saja ia berteriak "Tentu kalianlah yang telah mengelabui kami dengan obor- obor itu.” Perempuan-perempuan itu menjadi sangat nger i. Ketika kumpeni itu kemudian mendekati mereka dengan pedang teracu, maka merekapun menjadi saling berdesakan. Sementara itu, pertempuran menjadi semakin dahsyat. Di sungai yang bertebing curam itu, telah terjadi pertempuran yang dahsyat antara pasukan Pangeran Mangkubumi yang besar menghadapi kumpeni dan prajurit Surakarta segelar sepapan. Namun agaknya sergapan pertama dar i pasukan Pangeran Mangkubumi ikut pula menentukan. Kecuali yang bertempur di antara tebing yang curam itu. terjadi juga pertempuran berkuda yang sengit. Kuda-kuda berlarian dan meringkik keras-keras. Para penunggangnya telah bertempur dengan ilmu masing-masing yang berbeda watak dan tabiat. Namun kedua belah pihak adalah pasukan terpilih yang mempunyai kelebihan dari para prajurit yang lain. Ketika langit menjadi terang, maka pertempuran itupun menjadi semakin jelas. Sungai yang bertebing curam itubagaikan mengalirkan darah. Airnya menjadi merah dan pasir te-piannyapun telah ditaburi dengan tubuh yang terbujur lintang. Di tepian Mayor Bilman bertempur dengan garangnya Pedangnya terayun-ayun mengerikan. Beberapa orang pengawalnya yang terpilih bertempur disekitarnya menghadapi pasukan Pangeran Mangkubumi yang sedang marah. Sementara itu. Pangeran Yudakusuma pun bertempur dengan dahsyatnya pula. Seperti badai ia mengamuk, sehingga dengan demikian maka senjatanya telah menjadi merah karena darah. Diantas tebing, kapten Kenop memimpin pasukan berkuda melawan pasukan Pangeran Mangkubumi yang datang dari Sukawati. Betapapun garangnya kapten yang di segani oleh bajak laut yang paling buas sekalipun itu, ternyata mengalami kesulitan. Pasukan Pangeran Mangkubumi menyerangnya dari segala arah. Mereka tidak menghiraukan kaki-kaki kuda yang akan dapat menginjak mereka sampai lumat. Ketika langit menjadi semakin terang, maka Arum berdiri tegak di paling depan dari perempuan-perempuan yang merasa ngeri melihat seorang kumpeni yang seakan-akan terlepas dari medan dan mendekati mereka. Senjatanya teracu-acu, sementara mulutnya mengumpat-umpat. Matanya yang merah dan liar membuat wajah yang kemerah-merahan itu menjadi semakin menger ikan. "Aku akan membunuh kalian" geram kumpeni itu "kalian telah menjebak kami, sehingga banyak kawan-kawan kami yang mati." Tetapi Arum tidak menjadi gemetar. Sambil berdiri tegak dihadapan perempuan-perempuan itu, ia berkata "Jangan licik. Seharusnya kau tidak melawan perempuan-perempuan. Kenapa kau tidak mencar i lawan diantara prajurit berkuda itu,""Aku nanti akan membunuh mereka. Tetapi sekarang aku akan membunuh kalian, karena kalian sama jahatnya dengan laki- laki pengkhianat yang manapun juga" jawab kumpeni itu. "Kami tidak akan menyerahkan leher kami" bentak Arum, Ditangan Arumpun telah tergenggamsehelai pedang pula. "Kau akan melawan aku ?" kumpeni itu menjadi heran. "Bukan sekedar melawan. Tetapi aku akan membunuhmu” Kumpeni itu menjadi ragu-ragu sejenak. Ketika ia berpaling, dilihatnya pertempuran menjadi semakin dahsyat di-mana- mana. Bahkan kemudian itidak ada lagi batas antara kedua belah pihak yang bertempur dalam perang brubuh, dan bercampur-baur. Tetapi kumpeni itupun kemudian berkata "Tidak ada gunanya kau melawan. Kematianmu akan menjadi semakin sendat. Jika kalian menyerah, kalian akan cepat mati dengan tanpa merasakan sakit sama sekali, karena pedangku adalah pedang yang sangat tajam.” Arum tidak menjawab. Tetapi iapun telah mengacukan pedangnya. Ketika seorang penunggang kuda berlar i didekatnya sambil memburu lawannya yang menghindar, Arum memandanginya sejenak, sementara penunggang kuda itupun berpaling pula kepadanya. Namun agaknya penunggang kuda itu sempat berteriak "Selesaikan saja orang itu Arum." Arum menar ik nafas dalam-dalam. Dilihatnya Buntal itupun kemudian telah terlibat pula dalam pertempuran berkuda yang sengit. Dalam pada itu, kumpeni itupun mengumpat sejadi-jadinya. Dengan senjata teracu ia mendekati Arum sambil berkata "Jika memang itu yang kau kehendaki, baiklah. Kita akan bertempur."Arum masih tetap diam. Tetapi ia mulai bergeser maju untuk mengambil jarak dar i perempuan-perempuan yang semakin berdesakan. "Mundur lah" berkata Arum kepada kawan-kawannya "biarlah aku menyelesaikan orang ini." Kemarahan kumpeni itu sudah tidak tertahankan lagi. Tiba- tiba saja ia telah meloncat sambil menjulurkan pedangnya lurus kearah dada Arum. Namun Arum sempat menangkis serangan itu. Bahkan iapun kemudian meloncat selangkah kesamping. Kemudian sambil meloncat maju ia menyerang lawannya dengan ayunan yang cepat. Seperti yang pernah terjadi, ilmu pedang kedua orang itu berbeda pada dasarnya. Namun ketika dua jenis ilmu itu berbenturan, maka pertempuran itupun menjadi seru sekali, Sebagai biasanya Arum bertempur sambil berloncatan. Sementara lawannya lebih banyak menggerakkan kakinya yang setengah langkah berada didepan dengan lutut merendah. Namun pada saat-saat yang tiba-tiba, lawannya itupun mampu pula berloncatan bukan saja maju dan mundur, tetapi juga kesamping. Arum sama sekali tidak terkejut melihat jenis ilmu kumpeni itu. Ia sudah pernah bertempur melawan ilmu seperti itu. dan ia mampu mengatasinya. Namun Arum selalu ingat pesan ayahnya, kakak seperguruannya dan orang-orang yang lebih berpengalaman, bahwa orang asing itu lebih banyak mempergunakan otaknya daripada tenaganya. Karena itu. maka Arum pun harus mengimbanginya. Ia harus benar-benar memperhitungkan setiap kemungkinan. Ia tidak dapat dengan serta merta berusaha mengalahkan lawannya dengan kekuatannya saja. dan mungkin kecepatannya bergerak saja. Rara warih yang berada diantara perempuan-perempuan yang menjadi ngeri itu pernah mendengar, bahwa Arumpunmampu bertempur. Ia sudah melihat, bagaimana dengan pisau pisau kecilnya Arum membunuh seorang kumpeni dirumah-nya, sementara seorang yang lain telah dibunuh oleh Buntal. Namun kini ia melihat, bagaimana Arum itu bertempur dengan pedang ditangan melawan seorang kumpeni dalam kesempatan yang sama. Karena itulah, maka jantungnya menjadi semakin berdebar- debar. Setiap kali Arum terdesak, darahnya serasa telah berhenti mengalir. Namun jantungnya serasa mengembang jika ia melihat Arum itulah yang berhasil mendesak lawannya. Ternyata bertempuran yang terjadi seakan-akan terpisah dari pertempuran dalam keseluruhan itu telah mendebarkan hati perempuan-perempuan yang kemudian bergeser menjauh. Jika kemudian dapat dikalahkan, maka nasib mereka akan menjadi sangat buruk. Sementara itu pertempuran diantara pasukan berkuda itupun masih terjadi dengan sengitnya, sehingga rasa-rasanya tidak akan ada seorangpun yang akan sempat menolongnya. Di pinggir sungai, diantara tebing yang curam meriam- mer iam kecil berserakkan tanpa arti sama sekali. Senjata itu sama sekali tidak dapat dipergunakan oleh kumpeni. Bahkan senjata-senjata apipun kemudian tidak lagi terdengar meledak. Mereka telah memasang sangkur dan bertempur pada jarak yang pendek. Tetapi senjata dengan sangkur itu tidak dapat dipergunakannya dengan trampil. Karena itu, maka mereka lebih setang melepaskan senjata mereka, dan kemudian mencabut pedang yang ada dilambung mereka. Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin dahsyat. Kemampuan secara pribadi sangat diperlukan dalam perang brubuh yang membingungkan. Namun karena matahari telah memanjat naik, maka mereka telah dapat membedakan kawan dan lawan dengan jelas.Dalam pada itu, ternyata bahwa induk pasukan Pangeran Mangkubumi yang hampir lengkap karena kehadiran pasukannya di Sukawati'itupun mampu mengimbangi kemampuan lawannya. Dengan hentakkan-hentakkan, mereka berusaha mengejutkan kumpeni dan pasukan Surakarta. Bahkan pasukan berkuda yang mampu mengimbangi pasukan berkuda Surakarta didalam ketrampilannya itu, benar-benar tidak diduga. Meskipun jumlah pasukan berkuda Pangeran Mangkubumi tidak sebanyak kumpeni berkuda dan prajur it Surakarta dari pasukan berkuda, namun kehadiran Juwiring dan kawan-kawannya itu telah membuat pasukan Surakarta menjadi agak bingung. Dalam pada itu, Juwiring, Buntal dan beberapa orang kawannya, ternyata berhasil menguasai lawan mereka yang marah kepada orang-orang yang membawa obor untuk menjebak mereka, yang jumlahnya juga tidak begitu banyak. Beberapa orang kumpeni telah terlempar dari kudanya dan tidak sanggup lagi untuk bangkit. Karena itu, maka yang tersisa merasa tidak perlu lagi untuk bertahan terpisah dari pasukannya. Meskipun mereka menjadi kecewa bahwa mereka t idak dapat melepaskan dendam mereka, bahkan justru beberapa orang kawan mereka telah menjadi korban lagi. Dengan demikian maka akhirnya Juwir ing telah mendesak sebagian kumpeni dan prajurit Surakarta dari pasukan berkuda itu ke induk pasukannya, sehingga medan pertempuranpun kemudian seolah-olah telah menyatu meskipun dalam tebaran yang luas. Namun kumpeni yang masih bertempur melawan Arum tidak segera dapat meninggalkan lawannya. Karena itu, maka ia mengumpat semakin kasar. Seolah-olah ia telah ditinggalkan sendiri oleh kawan-kawannya. Karena itu, maka iapun berusaha untuk segera dapat mengakhir i pertempuran itu. Tetapi Arumpun tidak mudahuntuk dipaksa menyerah. Ketika kumpeni itu meningkatkan serang-serangannya, maka Arumpun mengerahkan segenap kemampuannya. Namun sejenak kemudian, ketika orang-orang berkuda yang semula mendendam dan ingin menghancurkan orang- orang yang menjebak mereka dengan obor itu telah berhasil didesak kembali ke induk pasukannya, maka beberapa orang pengawal yang semula bersama dengan perempuan- perempuan itupun telah mendekati mereka pula. Ketika mereka melihat Arum bertempur melawan kumpeni, maka merekapun segera bergerak mengepungnya. Namun tiba-tiba saja seorang yang tertua diantara mereka memberikan isyarat, agar mereka tidak mengganggu. Tetapi kedatangan mereka ternyata telah membingungkan kumpeni itu. Selagi kepungan itu belum rapat, maka kumpeni yang kehilangan akal itu tiba-tiba meloncat berlari untuk menyelamatkan dir i, karena ia mengira, bahwa orang-orang dari pasukan Pangeran Mangkubumi itu akan bersama-sama mencincangnya. Namun tindakannya itulah yang justru telah menjerumuskannya kedalam keadaan yang sangat buruk. Orang-orang yang mendekat dengan senjata yang masih telanjang itu, telah dengan serta merta berusaha mencegahnya. Bukan saja dengan teriakan-teriakan. Tetapi senjata-senjata mereka telah terjulur, sehingga akhirnya kumpeni itu terkapar ditanah. Beberapa orang perempuan memekik kecil. Rara Warih-pun kemudian memalingkan wajahnya. Ia sudah beberapa kali melihat orang yang terbunuh. Bahkan ia sendiri pernah membunuh seseorang diluar sadarnya. Namun setiap kali, kematian membuat jantungnya serasa berhenti mengalir. Dalam pada itu. pertempuran nampaknya masih akan ber langsung lama. Dengan demikian, maka pimpinan kelompok itupun telah mengambil satu kebijaksanaan. Ditugaskannyabeberapa orang pengawal untuk mengantar perempuan- perempuan itu melanjutkan perjalanan ke padukuhan terdekat yang berada dibawah pengaruh Pangeran Mangkubumi. "Aku akan melaporkannya kepada Ki Wandawa" berkata pemimpin kelompok itu" di tempat itu, kalian sebaiknya berusaha dapat menyediakan makan dan minum lebih banyak lagi. Sementara itu kalian berada ditempat yang lebih tenang." Sejenak pemimpin kelompok itu telah mengatur untuk menyingkirkan perempuan-perempuan itu dari medan. Dalam keadaan yang cepat berkembang, maka kehadiran mereka di medan akan sangat berbahaya. Mungkin pasukan Pangeran Mangkubumi harus menghindar. Mungkin pula akan ada sikap yang lain yang akan diambil oleh pimpinan tertinggi pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Meskipun agak kecewa, Arum terpaksa memenuhi perintah untuk bersama-sama dengan perempuan itu menyingkir dari medan. Ia termasuk seseorang yang ikut mengawal untuk melindungi perempuan-perempuan itu meskipun ia sendiri juga seorang perempuan. Demikian perempuan-perempuan itu meninggalkan medan maka pimpinan kelompok itupun telah mencar i hubungan dengan Ki Wandawa di medan perang yang seru. Ternyata bahwa medan perang itupun telah berkembang. Pasukan Pangeran Mangkubumi tidak berhasil membatasi pertempuran itu hanya di antara tebing yang curam dan kemudian menutup arah sebelah menyebelah dengan pasukan yang kuat. Namun ternyata bahwa beberapa kelompok kumpeni dan prajurit Surakarta berhasil menembus pasukan Pangeran Mangkubumi, sehingga memperluas medan. Namun demikian, usaha kumpeni dan prajurit Surakarta itu tidak banyak memberikan kesempatan kepada mereka. Pukulan pertama pasukan Pangeran Mangkubumi terasasangat berat bagi mereka, sehingga kekuatan merekapun telah susut dengan cepat, Diantara pemimpin pasukan berkuda, kapten Kenop benar- benar seorang perwira yang luar biasa. Dengan memegang kendali di tangan kiri dan pedang ditangan kanan, maka ia mengamuk bukan kepalang Kudanya berlari-larian seakan- akan mengetahui setiap keinginan penunggangnya. Pedang kapten Kenop yang telah menjadi merah oleh darah itupun masih terayun-ayun mengerikan. Namun dalam pada itu, ketika pedangnya terayun kearah seorang anak muda yang memasuki arena dan langsung berusaha menghadapinya, ternyata pedang itu telah membentur kekuatan yang mengejutkan. Anak muda dipunggung kuda itu mampu mengimbangi kekuatan kapten Kenop, seorang perwira yang memiliki pengalaman yang sangat luas. "Persetan" kapten itu menggeram "anak ini harus dilumatkan." Namun anak muda itu cukup cekatan. Kudanya dapat mengimbangi kemampuan kuda kapten Kenop. Ketika kuda kapten Kenop berputar, maka kuda anak muda itu menyambarnya diarah kiri, sehingga kapten Kenop harus secara khusus menangkis serangan anak muda itu. Ternyata anak muda yang berada dipunggung kuda itupun bertempur dengan perhitungan nalarnya. Ia tidak sekedar dihentak oleh perasaan marah dan kebencian. Tetapi dengan hati-hati dan dengan perhitungan yang cermat ia menghadapi perwira yang telah menjelajahi samodra dan benua itu. "Kau masih terlalu muda untuk mati" geram kapten Kenop "siapa namamu he ?" "Juwiring" jawab anak muda itu.Kapten Kenop menggeram. Ia pernah mendengar namanya. Ia pernah mendengar nama seorang Pangeran yang berkhianat, justru seorang Senapati Agung. Dan iapun mendengar bahwa Juwir ing yang ikut serta dalam pengkhianatan itu adalah anaknya. "Kalau kau yang bernama Juwiring" berkata kapten Kenop "maka kau memang harus dibunuh.” Juwiring tidak menjawab. Tetapi serangan kapten Kenop benar-benar menjadi semakin sengit. Tetapi Juwiring yang pernah mendapat latihan- latihan yang berat dalam pasukan berkuda di Surakarta, dan latihan-latihan kanuragan di padepokan Jati Aking. telah berusaha mengimbangi kemarahan kapten yang. mengamuk seperti seekor singa itu. Dengan demikian, diantara pertempuran berkuda itu. kapten Kenop telah bertempur melawan Juwir ing. Kapten Kenop yang lebih tua dan lebih luas pengalamannya, harus berhadapan dengan seorang anak muda yang jiwanya bergelora oleh tuntutan kebebasan bagi nusa dan bangsanya. Gelora perjuangan yang bergejolak didalam dada Juwir ing yang semula kurang diperhitungkan oleh kapten Kenop itu ternyata telah membuatnya berdebar-debar. Jika semula kapten Kenop hanya memperhitungkan kematangan anak muda itu bermain kuda dan pedang, sehingga ia merasa akan dapat dengan cepat menguasainya, maka ia telah salah hitung. Disamping kemampuan, ketrampilan dan kecepatan eerak. maka Juwiring telah digelorakan pula oleh jiwa pengabdiannya yang bagaikan membakar jantung. Gelora itulah yang kemudian harus diperhitungkan pula oleh kapten Kenop. Sebab dengan gelora jiwa yang bagaikan mendidih didalam dada itu, Juwiring seolah-olah sama sekali tidak dipengaruhi oleh perasaan letih dan lelah.Karena itu, meskipun keduanya telah bertempur untuk waktu yang lama, Juwir ing masih saja memiliki ketangkasannya seperti saat mereka baru bertemu. Kapten Kenop mengumpat didalam hatinya, la adalah orang yang sudah matang dalam ilmu pedang menurut jenisnya. Pengalamannya pun merupakan pengalaman yang sangat luas bukan saja dibumi Surakarta, tetapi di negeri-negeri lain yang berserakan di dunia ini. Namun menghadapi anak muda ini. kapten itu merasa betapa sulitnya untuk menundukkannya. Bahkan mungkin ia akan mengalami kesulitan jika ia tidak segera dapat menemukan cara untuk membunuhnya. Tetapi bukan hanya Kapten Kenop sajalah yang mengalami kesulitan melawan anak-anak muda Surakarta yang sudah bertekad untuk mengusir orang-orang asing yang perlahan- lahan namun dengan pasti akan menguasai Surakarta. Beberapa orang kumpeni yang berpengalaman lainnyapun kadang-kadang telah menjadi bingung. Bahkan ada diantara mereka yang kehilangan kesempatan sama sekali untuk meneruskan pertempuran karena jiwanya telah direnggut pleh ujung tombak pengikut Pangeran Mangkubumi. Dalam pada itu Mayor Bilmanpun bertempur dengan garangnya diantara para pengawalnya. Satu demi satu Mayor yang matang dalam ilmu perang itu berhasil menyapu lawan- lawannya. Seorang Senapati dari pasukan Pangeran Mangkubumi telah terlempar dengan dada terkoyak. Sementara yang lain telah terluka dan terpaksa menjauhinya. Sementara itu, di bagian lain dari arena pertempuran itu. Pangeran Yudakusuma, yang dikenal sebagai Senapati Agung dari Surakarta yang telah ditunjuk sebagai Panglima itupun bertempur dengan garangnya. Agak sulit bagi para pengikut Pangeran Mangkubumi untuk mengimbangi kemampuan serta ilmunya. Seolah-olah Pangeran Yudakusuma itu dipeperangan telah menggenggam sepuluh pedang dengan sepuluh tangannya.Dengan demikian, maka pertempuran itu semakin siang menjadi semakin r iuh. Ketika ker ingat telah membasahi seluruh tubuh, maka para prajurit Surakarta, kumpeni dan pasukan Pangeran Mangkubumipun rasa-rasanya menjadi semakin panas. Kawan kawan mereka yang terluka dan bahkan yang terbunuh, membuat darah mereka bagaikan mendidih. Mereka mengenang saat-saat mereka masih bersendau gurau dan berkelakar menjelang fajar sambil menunggu saat-saat yang menegangkan itu. Namun yang kemudian sudah terkapar tidak bernyawa tagi. Pertempuran yang dahsyat itu menjadi semakin dahsyat. Di atas tebing yang curam. Di tepian dan justru di sungai itu sendiri membujur sebelah menyebelah. Kemudian di atas tebing diseberang. Kuda-kuda berlarian, sambar menyambar dan bahkan kadang-kadang saling mendesak dan saling berbenturan. Dalam pada itu, Juwiring masih bertempur melawan kapten Kenop yang garang. Keduanya memiliki kemampuan yang tinggi. Baik dalam mengendalikan kudanya, maupun dalam permainan senjata. Ketika langit menjadi semakin panas oleh matahari yang menjadi semakin tinggi mendekati puncak langit, pertempuran itupun rasa-rasanya menjadi semakin mengerikan bagaikan amukan isi neraka. Darah, erang kesakitan, dentang senjata dan mayat yang terbujur lintang telah mewarnai arena pertempuran itu. Namun sebenarnyalah, baik kumpeni yang terlatih dan berpengalaman luas, prajurit Surakarta dan pasukan Pangeran Mangkubumi yang digelorakan oleh j iwa pengabdian, mempunyai daya tahan yang luar biasa. Mereka tidak merasa betapa matahari bahkan telah melalui puncak langit.Dalam pada itu, ternyata bahwa kapten Kenop memang memiliki pengalaman yang lebih luas dan matang dari Raden Juwiring. Betapapun Raden Juwiring di lambari dengan gejolak perjuangannya, namun sulit baginya untuk dapat mengimbangi ketrampilan kapten yang garang itu. Bahkan agaknya kapten Kenop telah mempergunakan segala cara untuk dapat memenangkan pertempuran itu. Karena itulah, maka kadang-kadang terasa betapa kapten itu lebih banyak mempergunakan akalnya. Dalam saat-saat yang hampir menentukan, kapten Kenop memacu kudanya meninggalkan lawannya. Namun tiba-tiba kuda itu berputar menyusup diantara pertempuran yang gemuruh. Usaha kapten Kenop untuk membakar hati anak muda ku akhirnya berhasil. Kemarahan Raden Juwiring perlahan-lahan telah membuat akalnya menjadi buram. Sekali-sekali terdengar giginya gemeretak sambil berdesis "Pengecut. Jangan lari." Namun tiba-tiba saja Raden Juwiring terkejut, ketika kuda lawannya berputar dan pedangnya menyambar hampir mengenai kening. Kemarahan Raden Juwiring itulah yang menjadi salah satu sebab kegagalannya melawan kapten yang disegani itu. Dalam hentakkan perasaan, maka Juwiring kurang memperhatikan para pengawal khusus kapten Kenop yang kadang-kadang ikut menjebaknya. Bahkan kemarahan Raden Juwiring telah hampir memadamkan akalnya sama sekali, sehingga pada putaran berikutnya. Raden Juwiring telah memburu kapten Kenop sambil menghentak-hentakkan senjatanya. Tetapi pasukan berkuda yang melingkar i Gebang terkejut. Mereka melihat belum begitu jauh, pasukan Pangeran Mangkubumi meninggalkan Gebang. Sebagian dar i mereka justru membawa obor untuk menerangi jalan yang mereka lalui.Ia sama sekati tidak sempat membuat perhitungan lagi, apakah yang kemudian akan dilakukan oleh kapten yang cerdik itu. Sebenarnyalah kagten Kenop telah merencanakan segalanya. Dengan tiba-tiba ia memutar kudangnya, sehingga kudanya itu meringkik sambil melonjak berdir i. Namun tepat pada saatnya, kapten Kenop telah berhasil menghadap serangan Raden Juwiring yang terkejut melihat sikap lawannya. Meskipun demikian, Raden Juwiring masih sempat menarik kendali kudanya, sehingga kudanya itu bergeser arah. Namun kapten Kenop masih mampu menjangkau Juwiring dengan pedangnya. Geseran yang tiba-tiba tanpa direncanakannya lebih dahulu, membuat Juwiring harus bertahan pada keseimbangannya. Karena itu, ia menjadi kurang dapat menanggapi serangan pedang lawannya. Meskipun ia berusaha menangkis serangan itu, tetapi ternyata bahwa pedang lawannya masih dapat merryusup pertahanannya, sehingga segores luka telah menyobek pundaknya. Terdengar Juwiring mengeluh tertahan. Darahpun mulai mengalir membasahi pakaiannya. Sementara itu perasaan sakit telah menyengat di tempat lukanya itu menganga. Bahkan tangan kanannya itupun rasa-rasanya menjadi bagaikan lumpuh oleh lukanya itu. Tetapi Raden Juwir ing t idak mudah menyerah kepada keadaannya. Ia masih berusaha untuk melawan. Namun ternyata tangannya memang sudah terlalu lemah. Sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya, kapten Kenop tidak mau melepaskan korbannya. Dengan tangkasnya ia memburu sambil mengayunkan pedangnya sekali lagi dari arah yang berlainan. Permainan senjata Juwiring memang menjadi kabur. Ia tidak banyak dapat berbuat. Karena itu, meskipun ia berusaha menghindari sambil bergeser diatas kudanya, namun sekalilagi pedang kapten Kenop mampu melukainya, justru dilambung sebelah kir i. Juwiring menggeretakkan giginya. Kemudaannyalah yang sebagian besar membuatnya kurang berhati-hati. Lukanya itu ternyata benar-benar telah menghisap sebagian dari kemampuannya dan ketrampilannya bermain kuda dan bermain pedang. Yang terdengar kemudian adalah kapten Kenop tertawa pendek. Ia sudah siap menghentakkan pedangnya untuk yang terakhir dan mengakhiri pertempuran berkuda yang sangat melelahkan itu. Namun tiba-tiba saja ia terkejut ketika seekor kuda menyambarnya. Hampir saja pedang penunggang kuda itu mencabik dadanya. Namun kapten yang berpengalaman itu masih sempat menarik tubuhnya, sehingga hanya angin sambarannya sajalah yang telah menyentuh bajunya. "Gila" geram kapten Itu. Ketika ia berpaling dilihatnya seekor kuda sedang berputar. Seorang anak muda telah siap untuk menyerangnya. "Kau juga ingin mati" geram kapten Kenop. Anak muda itu tidak menghiraukannya. Ia sudah siap untuk menyerang dengan pedang teracu. Namun sebelum anak muda itu memacu kudanya, tiba-tiba saja seorang penunggang kuda berbaju kutungan sepanjang siku berwarna wulung menggamitnya sambil berkata "Ia bukan lawanmu. Raden Juwiring yang lebih berpengalaman itu mengalami kesulitan melawan perwira yang berpengalaman sangat luas itu." "Aku akan membunuhnya atau biarlah ia membunuh aku" jawab Buntal.Tetapi orang itu tersenyum. Jawabnya "Biarlah yang tua ini sajalah yang menghadapinya." Buntal itldak sempat menjawab lagi. Orang berbaju kurungan yang bersenjata tombak itupun telah menggerakkan kendali kudanya. Sejenak kemudian kudanya telah berlari menyerang kapten Kenop yang memandanginya dengan heran "Orang gila mana pula yang datang ini" geram kapten Kenop didalamhatinya. Tetapi ia t idak sempat membuat pertimbangan- pertimbangan. Orang berbaju kutungan itu telah menyerangnya. Ujung tombaknya hampir saja mematuk dadanya. Namun kapten Kenop berhasil menangkisnya. Meskipun demikian, kapten itu terkejut bukan buatan. Tenaga orang itu bukan saja dapat mengimbangi tenaga anak muda yang telah dilukainya itu, tetapi sentuhan itu benar-benar telah membuat tangannya menjadi bergetar. "Iblis tua" geramnya "mampuslah kau" Kapten Kenop menjadi sangat marah. Dengan serta merta, iapun telah memutar kudanya menyusul orang berbaju kurungan itu. Namun orang itu telah memutar kudanya dan menghadapinya* Demikianlah maka kapten Kenop itu telah mendapat lawannya yang baru. Seorang yang sudah setengah umur, berbaju kutungan berwarna wulung dan bersenjata tombak. Pakaian orang itu sama sekali tidak meyakinkan. Tetapi ketika tombaknya mulai berputaran dan menyambar-nyambar maka kapten Kenop harus menghadapi kenyataan, bahwa orang separo baya itu adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Dengan segenap kemampuannya kapten Kenop telah berusaha untuk membunuh lawannya itu pula. Ia yang kecewakarena Juwiring terlepas dari tangannya, ingin mendapat sasaran baru untuk melepaskan kekecewaannya. Tetapi ternyata bahwa orang itu justru memiliki banyak kelebihan dar i Juwir ing. Dalam kekalutan pertempuran itu. kapten Kenop benar-benar mengalami kesulitan. Kuda orang itu bagaikan terus-menerus memburunya. Bagaimanapun juga ia mengendalikan kudanya sendiri, namun kuda lawannya itu seakan-akan dengan tiba-tiba saja telah menyergapnya lebih dahulu. Kapten Kenop mengumpat-umpat. Tetapi ia ternyata tidak mendapat banyak kesempatan. Matahari yang mulai beredar dibelahan langit sebelah Barat, rasa-rasanya semakin membakar arena pertempuran itu. Pada saat-saat yang gawat, tiba-tiba saja terdengar kapten Kenop itu mengaduh. Ujung tombak lawannya telah berhasil menggores didadanya. Memang tidak terlalu dalam, tetapi luka itu benar-benar mendebarkan. Kapten Kenop yang berpengalaman itu tahu, bahwa orang-orang pribumi kadang-kadang memberi racun Warangan pada ujung senjatanya. Sejenak ia masih mencoba bertahan. Tetapi kemudian badannya serasa menjadi gemetar. Dan iapun tahu. bahwa ia telah benar-benar terkena racun. Karena itulah, maka ketika orang berbaju kutung itu siap untuk menyerangnya, maka kapten Kenop telah memutar kudanya, menyusup kedalam lingkungan para pengawalnya. Orang berbaju kutungan itu memandangi lawannya yang berusaha melepaskan diri daripadanya. Namun orang itu tidak memburunya, karena iapun harus memperhitungkan keadaan. Sejenak kemudian, maka karena tidak ada lawan lagi yang dianggapnya berbahaya, maka iapun telah memutar kudanya dan hilang dibalik gemuruhnya peperangan.Dalam pada itu Buntalpun telah mendekati Juwir ing yang terluka, bahkan agak parah. Dengan hati-hati maka iapun membawanya menepi. Sementara dua orang kawan yang lainpun telah mendekatinya pula. "Peperangan belum berakhir" berkata Juwir ing "jangan hiraukan aku.— "Tetapi lukamu parah" desis Buntal. "Aku akan mengurus diriku sendiri. Aku membawa obat yang untuk sementara, akan dapat memampatkan luka-luka Ini." berkata Juwir ing. Buntal termangu-mangu sejenak. Namun sekali lagi Juwiring mendesak "Tinggalkan aku." Buntal mengangguk. Katanya "Aku akan kembali ke-medan. Tetapi biarlah seorang kawan membantumu mengobati lukamu. Baru kemudian biarlah ia kembali pula ke medan." Ternyata Juwiring tidak berkeberatan. Buntal dan seorang kawannya segera meloncat kembali kepunggung kudanya dan kembali memasuki arena pertempuran, sedang seorang kawannya yang lain membantu Juwiring mengobati luka- lukanya dan menyadarkannya pada sebatang pohon yang rindang. "Nampaknya luka- lukamu yang lama baru saja sembuh" berkata kawannya. Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia memang baru saja sembuh dari luka-lukanya yang lama. Bahkan tenaganya belum lama terasa pulih kembali setelah ia hampir saja menjadi korban ker is milik Tumenggung Sindura yang harus ditabuhnya di Gunung Lawu. Sementara itu Buntal dan kawannya telah terjun kembali kemedan, karena dalam pertempuran yang seimbang, setiap orang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan.Sementara ku kapten Kenop telah berada dilingkungan para prajuritnya pula. Dengan tergesa-gesa ia minta di bawa kepada tabib pasukan yang ada diantara prajurit-prajur itnya. "Racun" berkata kapten Kenop kepada tabib yang kemudian merawatnya. Tabib itupun memiliki pengetahuan yang cukup mengenai segala macam luka. Karena itu, maka iapun segera berusaha mengobati luka kapten Kenop yang disebabkan oleh racun warangan yang sangat kuat, setelah kapten itu dibawa ketempat yang tidak terlalu kisruh oleh pertempuran. Untunglah bahwa tabib itu sempat bertindak cepat, karena kapten Kenop sendiri mempunyai pengalaman dan pengetahuan serba sedikit tentang jenis-jenis senjata orang pribumi. Jika ia terlambat barang sepenginang, maka nyawanya tentu tidak akan dapat diselamatkan lagi. Namun demikian, tenaga kapten itu bagaikan dihisap oleh racun dilukanya, yang justru telah digores dengan pisau sehingga berdarah, sementara ia harus minum obat lewat mulutnya dan kemudian obat yang ditaburkan pada luka barunya oleh goresan pisau itu. Karena itulah, maka kapten Kenop itu hanya dapat menggeram menahan kemarahannya karena ia sendiri harus berbaring dibawah pengawalan yang kuat. Laporan tentang keadaan kapten Kenop telah didengar oleh Mayor Bilman. Kemarahannyapun telah membakar jantungnya. Ia tidak dapat menahan diri untuk bertempur di tepian. Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk naik keatas tebing, bertempur diantara pasukan berkuda menggantikan kepemimpinan kapten Kenop yang luka parah itu. "Pertempuran di tepian t idak seberat perang berkuda itu” berkata Mayor Bilman didalam hatinya. Karena itu ia dapat mempercayakannya kepada perwiranya yang lain, sementaradi tepian itu ada juga beberapa orang Senapati Surakarta. Namun Pangeran Yudakusuma sendir i ternyata kemudian berada diatas tebing berseberangan dengan Mayor Bilman. Dengan garangnya Mayor Bilman pun kemudian menyapu para pengikut Pangeran Mangkubumi yang berusaha menyerangnya. Buntal yang melihat kehadiran Mayor itu tidak dapat menahan diri lagi. Karena itu, maka iapun segera menyerang dengan garangnya. Mayor itu terkejut. Baru kemudian ia sadar, bahwa orang- orang berkuda diantara pasukan Pangeran Mangkubumi itupun merupakan orang-orang yang benar-benar memiliki kemampuan berkuda dan ilmu pedang. Tetapi seperti juga kapten Kenop, Mayor itu justru memiliki kelebihan. Itulah sebabnya, maka Buntalpun segera mengalami kesulitan. Kecuali ketrampilannya, ternyata tenaga Mayor itu bagaikan tenaga seekor gajah. Hampir saja pada benturan yang terjadi, pedang Buntal terlempar dari tangannya. Namun sebelum Buntal mampu memperbaiki keadaannya, maka tubuhnyalah yang hampir terlempar dari punggung kudanya. Ternyata Mayor Bilman yang cekatan itu berhasil menggoreskan senjatanya pada punggung Buntal. Namun Bilman tidak sempat membunuhnya. Seorang anak muda yang lain telah menyerangnya. Anak muda yang pernah bersama-sama dengan Juwir ing berada didalam lingkungan pasukan berkuda. Bilman harus memperhitungkan keadaan itu. Karena itu maka serangannya yang akan dapat mematikan. Buntal terpaksa tertunda. Namun dalam pada itu, sekali lagi terjadi, seperti yang telah terjadi pada Buntal. Seorang berbaju kutung berwarna wulung telah menggamit anak muda itu sambil berkata "Orang ini lebih berbahaya dari kapten yang terluka itu. Karena itu, minggirlah. Biarlah aku saja yang melawannya.” Mayor Bilman yang melibat orang berbaju kurungan itu menjadi sangat marai. Ia mengerti maksud orang itu. Orang itulah yang kemudian akan melawannya dengan tombak. Karena itu. Mayor Bilman tidak menunggu lebih lama lagi. Ialah yang kemudian menyerang orang berbaju kuningan itu. Sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang dahsyat. Mayor Bdlman benar-benar seorang pemimpin yang tangguh dan berani. Karena itu maka untuk beberapa saat ia dapat membuat orang berbaju kutungan itu menjadi gelisah. Namun di saat terakhir, ternyata bahwa Mayor itupun tidak mampu melawan kecepatan ujung tombak orang itu. Ketika Mayor itu sedang sibuk memutar kudanya, maka orang berbaju kutungan itu sempat menyerangnya dari samping. Mayor Bilman berusaha untuk mengelak. Tetapi kuda orang berbaju kutungan itu telah menyambar kuda Mayor Bilman, sehingga kuda itu tergeser. Maka orang berbaju kutungan itu cepat bertindak. Kudanya telah diputarnya mendesak kuda Mayor Bilman. Pada jarak yang pendek itu orang berbaju kutungan itu telah berhasil menggoreskan ujung tombaknya pada lengan Mayor Bilman. Betapa kemarahan Mayor itu menghentak-hentak didadanya. Seperti kapten Kenop, maka iapun mengerti, bahwa ujung tombak itu tentu beracun. Namun karena kemarahan yang meluap, maka ia justru berusaha memburunya dan menyerang dengan pedangnya. Sambaran pedang Mayor itu memang dahsyat sekali. Yang menyapu wajah orang berbaju kutungan itu adalah sambaran anginnya. Tetapi senjata Mayor itu sendir i sama sekali tidak menyentuhnya.Namun orang berbaju kutungan itu memiliki perhitungan yang cermat. Ia masih memancing Mayor itu untuk menyerang. Dengan memiringkan tubuhnya, seolah-olah keseimbangannya sedang terganggu ia mengharap bahwa Mayor Bilman memburunya. Sebenarnyalah Mayor itu memburunya. Namun belum lagi Mayor itu berhasil mencapai orang berbaju kutungan itu, maka racun di tubuhnya telah mulai bekerja dengan ganasnya Tubuh Mayor itu menggigil. Baru ia sadar, bahwa ia tidak akan mampu melawan kekuatan racun warangan pada senjata-senjata tajamorang pr ibumi. Karena itu. maka Mayor itupun berusaha mencari perlindungan kedalam pertempuran, dibelakang kumpeni yang semakin lama menjadi semakin susut. Dijaga oleh pengawalnya, maka Mayor itupun telah dibawa kepada tabib yang sedang mengobati kapten Kenop. "Mayor" sapa kapten Kenop. Tetapi wajah Mayor itu sudah menjadi kemerah-merahan. "Mayor kena senjata beracun ? " bertanya kapten Kenop,  


Jilid 28
MAYOR BILMAN menggeram. Tetapi tubuhnya menjadi semaian lemah. Sementara itu itabib dar i pasukan Mayor Bilman telah bekerja keras. Seperti yang dilakukan atas Kapten Kenop maka luka Mayor Bilman itupun telah digoresnya dengan pisau. Tetapi tabib itu menjadi sangat gelisah, justru Mayor Bilman tidak lagi mengaduh ketika lengannya itu tergores pisau. "Bagaimana ?" bertanya kapten Kenop dengan gelisah pula. Tabib itu tidak melihat lagi kesempatan untuk berbuat sesuatu. Keadaan Mayor Bilman jauh lebih gawat dari keadaan Kapten Kenop justru karena Mayor Bilman diguncang oleh kemarahannya dan tidak segera berusaha untuk menemui tabib itu. Tetapi karena keadaan kapten Kenop sendir i yang parah, maka ia t idak dapat berbuat apa-apa. Kepada seorang pengawal ia berkata "Panggil letnan Rapis atau letnan Morman.”Pengawal itupun segera meninggalkan tempat itu memasuki arena untuk menemui salah seorang dari kedua orang yang disebut namanya oleh 'kapten Kenop Itu. Namun dalam pada itu, keadaan Mayor Bilman sudah menjadi semakin parah. Kesadarannya telah menjadi, semakin kabur. Namun dalam pada itu, tabib yang merawatnya masih mendengar Mayor itu berkata "Tentu ada pengkhianait di- antara kita,” "Apakah Mayor mempunyai dugaan atau justru dengan yakin?" bertanya tabib itu. Tetapi Mayor yang semakin lemah itu menggeleng. Sebenarnyalah jantung Mayor yang dalam keadaan yang sulit itu sedang bergejolak. Ia sadar, bahwa tentu ada sesuatu yang tidak wajar, justru karena kedatangan pasukannya dan pasukan Surakarta itu telah diketahui oleh Pangeran Mangkubumi. Sepercik tuduhan memang telah terlontar kepada seorang perempuan yang telah mengisi kekosongan hatinya selama ia berada di Surakarta. Teringat oleh Mayor itu, bahwa ia memang pernah mengatakan, bahwa ia akan berhadapan langsung dengan pasukan Pangeran Mangkubumi sehingga ia sendiri harus berangkat kemedan. Tetapi mulutnya terasa sangat berat untuk menyebut nama Raden Ayu Galihwarit. Perempuan itu benar-benar telah berhasil merebut hatinya di saat-saat ia jauh dar i keluarganya. "Jika aku menyebut namanya, maka ia tentu akan digantung di alun-alun atau dihadapkan kepada seregu prajurit yang akan menembaknya sampai mati." berkata Mayor itu di dalam hatinya "tetapi jika aku keliru, dan aku tidak sempat memperbaiki kesalahan ini. maka aku sudah membunuh seseorang yang tidak berdosa, justru seseorang yang telah member ikan isi pada hidupku yang kosong diseberang lautan ini."Justru dalam keragu-raguan itulah racun tombak orang berbaju kutung itu semakin meresap kedalam jantungnya, membekukan darahnya. Segala usaha dan obat yang diberikan oleh tabibnya yang pandai itu ternyata tidak banyak menolongnya, karena kelambatannya sendiri. "Jika saja Mayor cepat menghubungi aku" desis tabib itu. Nampak keringat membasah di keningnya. Namun sebenarnyalah hahwa usahanya sia-sia. Sejenak kemudian, telah timbul noda-noda hitam dan kemerah-merahan ditubuh Mayor Bilman. Karena itu, maka segala usaha sudah sia-sia. Sejenak kemudian Mayor yang berani itu seakan-akan telah membeku. Penjelajahannya diantara benua dan samodrapun telah diselesaikannya di Surakarta. "Bagaimana keadaannya ?" bertanya kapten Kenop. Tabib itu menggeleng. "Gila" geram kapten itu. Namun ketika ia akan bangkit, tabib lalu melarangnya. Katanya "kapten harus mengambil keadaan Mayor Bilman sebagai pengalaman. Kelambatannya yang hanya beberapa saat saja telah membuat kehilangan kesempatan. Ia telah meninggal" "Jika demikian, pasukan kumpeni ini menjadi tanggung jawabku" geram kapten Kenop. "Tetapi keadaan kapten sendiri tidak menguntungkan" jawab tabib itu. Lalu "Kapten dapat memberikan perintah lewat letnan Rapis atau letnan Morman." Kapten Kenop menggeretakkan giginya. Tetapi ia harus mengikut i petunjuk tabib itu. Disampingnya Mayor Bilman terbujur diamuntuk selama-lamanya. Sejenak kemudian pengawal yang diperintahkan untuk memanggil letnan Rapis atau letnan Morman itupun telahdatang. Bersama orang itu adalah seorang letnan yang berkumis lebat, panjang. Setelah member ikan hormat, maka letnan itupun berjongkok disamping kapten Kenop. "Kau Iihat keadaan Mayor ?" bertanya kapten Kenop. "Ya kapten" jawab letnan itu. "Dan kau lihat keadaanku ?" bertanya kapten Kenop pula. "Ya kapten" jawab letnan itu pula. "Aku perintahkan kau memimpin pasukan kumpeni. Hubungi Pangeran Yudakusuma dan laporkan apa yang terjadi." perintah kapten Kenop. Lalu "beritahukan hal ini kepada letnan Rapis.” "Letnan Rapis berada disebelah sungai bersama Pangeran Yudakusuma" jawab letnan itu. "Cari hubungan dengan letnan Rapis dan Pangeran Yudakusuma. Cepat. Keadaan medan semakin gawat" berkata kapten yang terluka itu. "Bukan saja gawat kapten" jawab letnan itu "tetapi parah. Tetapi keadaan lawanpun tidak berbeda." "Hancurkan mereka. Usahakan menangkap orang berbaju warna ungu gelap, dengan lengan baju sampai kesiku." perintah kapten itu pula. Letnan itupun bangkit. Setelah memberi hormat maka iapun meninggalkan kapten yang terluka itu dengan darah yang bagaikan mendidih. Dua orang perwira tertinggi dalam pasukannya telah lumpuh. Bahkan Mayor Bilman telah terbunuh dipertempuran itu. Satu korban yang sangat mahal harganya Dengan wajah yang geram maka iapun memer intahkan seorang sersan kumpcni untuk menghubungi letnan Rapisyang bertempur berdampingan dengan Pangeran Yudakusuma. Sementara itu, maka iapun telah mempergunakan seekor kuda untuk memasuki arena pertempuran di seberang sungai. Dengan kemarahan yang menyala ia berjanji kepada diri sendiri untuk membunuh orang berbaju ungu gelap dengan lengan baju sampai kesiku. Sementara itu, di arena pertempuran berkuda, Juwiring dan Buntalpun telah tersisih pula karena luka-luka mereka. Namun dalam pada itu, perlawanan pasukan berkuda dari lingkungan Pangeran Mangkubumi masih juga membakar arena. Mereka yang tidak mempergunakan kudapun telah melibatkan diri melawan kumpeni dan pasukan berkuda dari Surakarta. Dengan tombak dan lembing-lembing tajam mereka berusaha untuk menyerang lawan mereka yang berada di punggung kuda. Tetapi dalam pada itu, letnan Morman itu sama sekali tidak bertemu dengan orang berbaju kutung. Meskipun demikian, ia tidak dengan mudah dapat menghalau lawan-lawannya, meskipun letnan itupun memiliki kemampuan yang tinggi Namun sementara itu; sersan yang diperintahkannya mencari hubungan dengan letnan Rapis telah menyusulnya. Dengan wajah tegang sersan itu berkata "Letnan Rapis tertuka parah." "He ? Terluka ?" bertanya letnan Morman."Ya letnan. Terluka oleh orang berbaju ungu gelap dengan lengan baju sepanjang sikunya." jawab sersan itu. "Gila, Dimana orang itu sekarang?" bertanya Morman. "Orang itu menghilang dimedan" jawab sersan itu. "Aku cari orang itu disini. Bukankah di arena ini Mayor Bilman terbunuh dan kapten Kenop terluka. Tetapi tiba-tiba saja ia sudah berada diseberang. Aku berharap bahwa orang itu berani menghadapi aku dimedan ini" letnan Mor-njan yang marah itu berteriak. Tetapi suaranya tenggelam dalam hiruk pikuk pertempuran. Sementara itu sersan itupun berkata "Aku sudah membuat hubungan dengan Pangeran Yudakusuma." "Apa perintahnya?" bertanya letnan itu. "Keadaan menjadi gawat. Pangeran minta pertimbangan letnan. Agaknya tidak ada gunanya pertempuran dilanjutkan." jawab sersan itu, Letnan itu mengerutkan keningnya. Ketika ia melayangkan pandangannya kemedan, maka nampak kedua belah pihak menjadi sangat letih. Sementara matahari telah condong ke Barat Seperti juga pasukan kedua belah pihak yang sedang bertempur, matahari itupun dengan letih pula bergantung di- langit. Semakin lama semakin rendah. Namun sebenarnyalah pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat yang menurunkan Senapati-senapati terpentingnya, diantaranya beberapa orang bangsawan Surakarta, telah berusaha untuk menghadapkan kekuatannya sebagian besar kepada kumpeni, meskipun merekapun harus bertahan terhadap pasukan Surakarta. Sementara itu ketika seorang Pangeran yang bertempur dimedan dengan sebatang tombak pendek mendekati Pangeran Yudakusuma, maka terdengar PangeranYudakusuma menggeram "Marilah adimas. Kita akan menentukan, siapakah Senapati terbaik diantara kita.” Tetapi jawaban Pangeran di pihak Pangeran Mangkubumi itu mengejutkan sekal. Katanya "Tentu kakangmas Yudakusuma. Tidak ada yang dapat mengimbangi keperwiraan kakangmas Pangeran. Namun sayang, bahwa keperwiraan itu ternyata berada di pihak yang salah." "Aku bukan kanak-kanak yang tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk” jawab Pangeran Yudakusuma "dipeperangan kita akan memperbandingkan tajamnya ujung senjata kita." "Aku sama sekali tidak akan berani melawan kakangmas." jawab Pangeran yang berdiri di pihak Pangeran Mangkubumi itu "karena itu, aku akan mencari lawan yang sebenarnya lawan. Kumpeni. Biarlah para pengawal menahan kemarahan kakangmas," Pangeran Yudakusuma menggeram Tetapi Pangeran itu meninggalkannya, seolah-olah tidak menghiraukannya sama sekali. Tetapi ketika ia berusaha memburunya, maka ia harus melawan orang-orang yang bagaikan mengepungnya. Para pengikut Pangeran Mangkubumi itu tahu benar, bahwa Pangeran Yudakusuma, Senapati Agung dari Surakarta itu harus di hadapi dalamsebuah kelompok. Tetapi yang terjadi itu telah terulang kembali, Seorang Pangeran yang lainpun memperlakukannya seperti Pangeran yang terdahulu. Bahkan Pangeran yang kemudian itu berkata "Jika kakangmas ingin melihat rakyat Surakarta menjadi bagaikan tebangan ilalang, maka kakangmas akan dapat melakukannya. Mungkin kakangmas Pangeran Mangkubumi akan dapat menahan kemarahan kakangmas Yudakusuma. Tetapi kakangmas Pangeran Mangkubumi lebih tertarik membunuh para perwira kumpeni. Dan itu sudah dilakukannya."Jantung Pangeran Yudakusuma menjadi berdebaran. Keadaan pertempuran itu sama sekali tidak menguntungkan pasukannya dan pasukan kumpeni. apalagi sepeninggal Mayor Bilman seperti yang telah dilaporkannya kepadanya. Sikap para Pangeran dan Senapati dalam pasukan Pangeran Mangkubumi itupun telah menyakitkan hatinya. Tetapi sementara itu, iapun sempat melihat apa yang sebenarnya dihadapinya. Jika ia membunuh sebanyak- banyaknya, maka yang dibunuhnya itu adalah rakyat Surakarta sendiri. Sementara Pangeran Mangkubumi telah memilih lawan. Bukan orang Surakarta. Yang terjadi itu ternyata telah membuat isi dadanya bergejolak Karena itu, ia hampir tidak sabar menunggu pendapat letnan Morman yang untuk sementara harus memegang tanggung jawab, karena Mayor Bilman terbunuh dan kapten Kenop telah terluka. Dalam pada itu, pertempuranpun masih berlangsung dengan sengitnya. Panas matahari di langit seolah-olah telah menambah kemarahan disetiap hati, sehingga karena itu, maka pedang dan tombakpun telah berdentang semakin keras. Tetapi hati Pangeran Yudakusuma telah terguncang oleh sikap para Senapati pasukan lawan. Nampaknya memang sudah diatur, bahwa ia harus berhadapan dengan sekelompok pengikut Pangeran Mangkubumi. Tentu sekelompok orang yang memiliki kemampuan untuk melawannya, namun mereka bukan orang-orang yang menentukan. Sementara itu para Senapati telah berusaha untuk berhadapan langsung dengan para perwira kumpeni. Pangeran Yudakusuma itupun telah mendengar laporan tentang perwira-perwira yang terluka. Dalam pada itu, dalam kegelisahannya, seorang penghubung telah datang kepadanya, untuk melaporkan,bahwa letnan Morman sedang berhubungan dengan kapten Kenop yang terlukai. "Aku memerlukan pendapatnya secepatnya" berkata Pangeran Yudakusuma. Sementara itu letnan Morman memang telah menghadap kapten Kenop untuk melaporkan keadaan medan dalam keseluruhan. Iapun telah melaporkan bahwa Rapis telah terluka oleh orang yang disebut berbaju warna ungu gelap dan lengan bajunya hanya sepanjang siku. "Aku mencarinya di medan yang kapten sebutkan" berkata Morman" tetapi tiba-tiba ia sudah melukai letnan Rapis di seberang sungai itu," "Orang itu-memang Iblis" geram kapten Kenop. "Bagaimana pertimbangan kapten?" bertanya Morman. Kapten Kenop menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya "Aku sependapat dengan letnan. Pasukan kita memang harus ditarik sebelum keadaan menjadi semakin parah.” Sejenak kemudian letnan Morman sendiri telah menemui Pangeran Yudakusuma. Keduanyapun. kemudian sepakat untuk menarik pasukan Surakarta yang telah menjadi jauh susut. Meskipun lawanpun menjadi parah pula. Sebentar kemudian telah terdengar suara terompet. Dua orang kumpeni telah meniupkan aba-aba bagi pasukannya. Mereka tidak lagi akan bertahan terlalu lama dalam pertempuran yang menggila itu. Perintah itu cukup tegas. Sejenak kemudian setiap orang didalam pasukan Surakarta itupun telah membenahi dir i. Beberapa orang masih berusaha untuk membawa kawan- kawan mereka yang terluka dengan perlindungan kawan- kawannya yang lain.Sementara itu, ternyata dari pihak pasukan Pangeran Mangkubumipun telah terdengar isyarat pula. Tiga buah panah sendaren naik ke udara. Pertanda bahwa pasukan Pangeran Mangkubumipun berusaha untuk menghentikan pertempuran sebelum waktunya. Sebenarnyalah, pasukan Pangeran Mangkubumi sama sekali t idak berusaha mengejar pasukan lawan yang bergeser surut. Karena kemampuan yang mapan, maka kumpeni dan pasukan Surakarta itu tidak terpecah dan berlari tercerai berai. Mereka mundur dengan teratur meskipun agak tergesa-gesa, sehingga ada saja diantara mereka yang terluka tertinggal, dan senjata yang tidak terbawa. Bahkan beberapa meriam kecil telah mereka tinggalkan di pinggir sungai yang berlereng agak terjal itu. Pangeran Mangkubumi memang memerintahkan agar pasukannya tetap tinggal. Menilik kekuatan yang tidak terpaut terlalu banyak maka pasukan Pangeran Mangkubumi itu tidak akan berhasil menghancurkan kumpeni dan pasukan Surakarta yang mengundurkan diri. Namun dalam benturan itu ternyata bahwa korban yang terbesar justru adalah kumpeni. Karena itu, maka pasukan Mangkubumi telah melepaskan lawannya menarik diri kembali ke Surakarta dalam keadaan yang parah. Diantara mereka terdapat tubuh Mayor Bilman yang terbunuh. Kapten Kenop dan letnan Rapis yang terluka berat. Beberapa orang bintara dan prajurit yang sempat mereka ambil dari antara tubuh yang terkapar diarena. Namun korban di pihak Pangeran Mangkubumipun tidak sedikit. Beberapa Senapati telah terluka. Sementara itu diantara pasukan berkuda, Juwiring dan Buntalpun telah terluka pula. Meskipun demikian, para pemimpin didalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi itupun mengucap sukur bahwa mereka berhasil menahan kekuatan kumpeni dan pasukan Surakarta. Tanpa perlindungan dari yang MahaAgung, dengan lantaran Raden Ayu Galihwarit yang sempat menyampaikan berita rencana serangan kumpeni itu lewat Rara Warih, maka pasukan Mangkubumi tentu akan mengalami keadaan yang sangat pahit. Mereka tidak akan sempat menyusun rencana jebakan. Bahkan merekalah yang akan terjebak didalam kepungan tanpa sempat memberi tahu pasukan yang berada di Surakawati. Jika terjadi demikian, maka kekuatan pokok pasukan Pangeran Mangkubumi benar-benar akan patah, karena pasukan Surakarta itu benar-benar dihimpun untuk maksud menghancurkan sampai tuntas pasukan Pangeran Mangkubumi. Dengan persiapan yang tergesa-gesa, namun pasukan Pangeran Mangkubumi berhasil di selamatkan, meskipun korban memang harus jatuh. Tetapi korban itu tidak mematahkan kekuatan pokok Pangeran Mangkubumi. Dalam pada itu, pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta yang menarik diri telah meninggalkan medan dengan lesu. Ketika mereka melalui bulak panjang, tiba-tiba saja mereka terkejut ketika mereka melihat di jalur jalan sempit yang sejajar dengan jalan itu, seorang penunggang kuda dengan baju berwarna ungu gelap dan dengan lengan baju sampai ke siku. “Anak iblis" geram letnan Morman yang melihatnya "orang itulah yang telah melukai kapten Kenop dan membunuh Mayor Bilman." "Apakah kami harus menangkapnya letnan ?" bertanya seorang sersan pengawal. Letnan Morman ragu-ragu. Sementara itu seorang Senapati Surakarta berdesis "Tidak ada gunanya. Kau tidak akan dapat mengejarnya.""Kita akan menembaknya" geram letnan Morman, yang kemudian memerintahkan beberapa orang prajuritnya siap dengan senapan mereka. "Tidak ada gunanya" sekali lagi Senapati Surakarta itu seolah-olah bergumam bagi dir i sendiri. Letnan Morman mengerutkan keningnya. Tetapi ia tetap pada pendiriannya. Katanya "Orang itu berada dalam jarak jangkau tembakan senapan." Senapati yang bergumam itu menarik nafas dalam- dalam. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Sejenak kemudian, beberapa orang kumpeni telah siap dengan senapan mereka. Letnan Morman memerintahkan mereka berjajar dipinggir jalan. Orang berbaju kutung itu berkuda perlahan-lahan, sebagaimana pasukan Surakarta yang lesu itu, berjarak kotak- kotak sawah yang mengantarai dua jalur jalan yang sejajar. Tiba-tiba saja letnan Morman itupun memekikkan aba-aba. Sesaat kemudian, beberapa pucuk senapan telah meledak bersama-sama. Letnan Morman melihat kuda orang berbaju kutung itu bergeser dan melonjak. Tetapi sesaat kemudian orang berbaju kutung itu sudah menguasai kudanya kembali. Pangeran Yudakusuma yang berada dipaling depan mendengar di belakang, ledakan tembakan itu. Ia hanya sekedar berpaling. Tetapi ia tidak menghiraukannya lebihlanjut. Seperti Senapati-senapati Surakarta, ia tahu bahwa tembakan itu tidak akan ada gunanya sama sekal. Bahkan Pangeran Yudakusumapun menjadi berdebar-debar melihat orang berbaju kutung itu. Iapun mendengar bahwa ada orang berbaju kutung dimedan. Beberapa orang perwira kumpeni telah terbunuh. Tetapi orang berbaju kutung itu tidak pernah dapat dikalahkan. Dan sekarang ia melibat orang berbaju kutung itu. "Meskipun semua senapan akan meledak, tetapi orang itu tidak akan dapat dikenainya" berkata Pangeran Yudakusuma kemudian "kecuali jaraknya tidak cukup dekat, kumpeni yang lelah itu tidak akan mampu mengangkat laras senapannya dan membidik dengan tepat" Namun sebenarnyalah didalam hati Pangeran Yudakusuma berkata "Orang itu adalah Pangeran Mangkubumi sendir i. Ternyata Pangeran Mangkubumi telah benar-benar marah dengan gerakan pasukan ini. Kecuali ia sendiri langsung menyusup di medan dengan pakaian yang aneh itu, ditangannya telah tergenggam tombak Kangjeng Kiai Pleret itu sendiri." Pangeran Yudakusuma menar ik nafas dalam-dalam. Sementara itu letnan Morman mengumpat dengan kasarnya. Tidak sebutir pelurupun yang nampaknya menyentuh orang berbaju kutung itu. "Kami akan mengejarnya" minta seorang sersan dari pasukan berkuda "kami seberangi sawah yang sempit ini. Kami akan menembaknya dengan pestol dari jarak yang lebih pendek." Seorang Senapati Surakarta yang mendengarnya tersenyum. Katanya "Jangan bermimpi melawan orang itu. Yang dapat membunuhnya bukan senjata-senjata semacam itu.” "Apa?" bertanya Morman."Seperti Pangeran Ranakusuma, diperlukan sepucuk pusaka yang mampu mengatasi kekebalan kulitnya." jawab Senapati. "Omong kosong" geram Morman "kalau aku mendekatinya dengan senjata api ditangan, ia tentu melarikan diri. Orang pribumi memang mempunyai kepercayaan yang aneh-aneh." Tetapi Senapati itu menyahut "Kau lihat. Peluru-pelurumu tidak mengenainya." "Jarak ini memang terlalu jauh untuk dapat membidik dengan tepat" jawab Morman. "Tetapi jika kau yang berdiri di jalan itu, maka peluru- peluru itu akan menembus kulitmu "berkata Senapati itu. "Aku tidak percaya" jawab Morman marah. "Terserah kepadamu. Jika kau ingin mengejarnya, ajak sepuluh orang prajurit kumpeni untuk melakukannya. Aku memang percaya bahwa orang berbaju kutung itu akan melarikan dir i. Tetapi tembakan-tembakanmu tidak akan mengenainya sama sekali." berkata Senapati itu pula. Morman menggeram. Tetapi ia tidak memerintahkan kumpeni untuk mengejarnya. Bukan karena ia takut bahwa orang berbaju kutung itu tidak akan tembus peluru. Tetapi selama kumpeni itu menyeberangi sawah beberapa kotak dan bergumul dengan lumpur, orang itu tentu sudah sempat melarikan kudanya jauh-jauh. Karena itu maka Morman tidak menghiraukannya lagi. Demikian orang-orang lain dalam pasukan itu. Akhirnya orang berbaju kutung itu tidak mengikut inya untuk selanjutnya. Ketika orang itu sampai kesebuah tikungan, maka iapun berbelok menjauhi iring- iringan pasukan kumpeni. Selanjutnya orang itu menghilang didalam sebuah padukuhan kecil dinadapannya.Para Senapati prajurit Surakarta menarik nafas dalam- dalam. Seolah-olah mereka telah terlepas dari pengawasan seseorang yang sangat mendebarkan jantungnya. Pangeran Mangkubumi sendiri. Sebenarnyalah, bahwa Pangeran Mangkubumi telah memer intahkan kepada pasukannya untuk t idak mundur lagi ke Sukawati atau ke Gebang. Sebagian saja pasukannya agar pergi ke Sukawati. Namun yang lain diper intahkannya pergi ke Gunung Garigal. Sebuah bukit kecil yang menurut pengamatan Pangeran Mangkubumi memiliki kemungkinan pertahanan yang lebih baik dari Gebang. Ternyata bahwa kumpeni dan pasukan Surakarta akan dapat menyerangnya dengan tiba- tiba. Sementara di bukit Garigal, mereka akan dapat mengawasi keadaan lebih baik dari tempat yang agak tinggi dan untuk mencapai bukit itu diperlukan perjalanan yang agak sulit Pada saat-saat Pangeran Mangkubumi mengawasi langsung pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta yang menarik dir i, maka pasukannyapun telah bersiap-siap. Karena Pangeran Mangkubumi tidak memberikan tanda apa-apa, maka pasukannya berpendapat, bahwa pasukan lawan bukan hanya sekedar membuat gelar menarik diri untuk datang kembali dengan pukulan yang lebih berat karena mereka sempat mengatur diri. Tetapi pasukan lawan itu benar-benar telah kembali ke Surakarta. Karena itu, maka pasukan Pangeran Mangkubumi itupun sempat membenahi dir i. Mengurusi mereka yang gugur dipe- perangan. Bukan saja dari pasukannya sendiri, tetapi juga para prajurit dari Surakarta dan kumpeni. Mereka sempat mengenali beberapa orang prajurit Surakarta yang terpaksa saling membunuh dengan orang-orang Surakarta sendiri. Sementara itu, beberapa orang telah mendahului meninggalkan medan sambil membawa mereka yang terluka ke Sukawati. Beberapa orang perempuan dan anak-anakpunikut pula ke Sukawati sebelum mereka dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan baru. Ketika Arum mengetahui bahwa kedua kakak angkatnya telah terluka, maka iapun menjadi gelisah. Dengan tergesa- gesa ia mendapatkan Juwiring dan Buntal, bersama Rara Warih. Tetapi keduanya telah mendapat pengobatan untuk sementara, sehingga darah mereka sudah tidak lagi mengalir dari luka. "Kau baru saja sembuh kakangmas" berkata Warih kepada Juwiring "sekarang kau terluka lagi." Juwiring tersenyum. Jawabnya "Aku tidak apa-apa Warih. Sebentar lagi lukaku ini akan sembuh." "Bagaimana dengan kakang Buntal" bertanya Arumpula. Ternyata keadaan Buntal masih lebih baik. Jawabnya "Lukaku lebih ringan dari luka kakang Juwir ing. Orang berbaju kutungan berwarna wulung itu telah menolong kami." "Pamanda Pangeran Mangkubumi" desis Juwiring. "Aku sudah menduga, tetapi aku tidak sempat memperhatikannya lebih lama karena keadaan medan" jawab Buntal. Dalam pada itu, maka Buntal dan Juwiringpun termasuk diantara mereka yang harus berada di Sukawati untukbeberapa saat. Arum dan Rara Warib akan mengikutinya bersama beberapa orang yang lain. Ketika malam turun, beberapa puluh orang dari pasukan Pangeran Mangkubumi masih sibuk untuk membenahi medan. Sebagian dari mereka telah meninggalkan medan untuk mengatur tempat yang baru bagi mereka. Ternyata dari pertempuran itu pasukan Mangkubumi telah mendapat beberapa pucuk senjata. Bahkan meriam-meriam kecil yang akan dapat mereka tempatkan di lereng bukit Garigal, meskipun mereka hanya mendapat beberapa butir peluru. Namun para pengikut Pangeran Mangkubumi itu akan dapat berusaha mendapatkan peluru lebih banyak lagi, dengan cara sebagaimana pernah mereka lakukan, karena diantara para pelayan dan pengikut kumpeni ditempatkan beberapa orang pengikut setia Pangeran Mangkubumi. Hampir semalam suntuk kumpeni dan prajurit Surakarta menempuh perjalanan kembali ke Surakarta. Karena keadaan pasukan itu, maka setiap kali pasukan itu berhenti. Orang- orang yang luka parah memerlukan perawatan khusus, sementara yang letihpun menjatuhkan dirinya ditepi jalan apabila oasukan itu beristirahat. Bahkan diantara mereka ada yang berbaring saja direrumputan. Dalam pada itu. para pemimpin pasukan Surakarta dan kumpeni itu yakin, bahwa seorang pengkhianat telah member itahukan kepada petugas-petugas sandi Pangeran Mangkubumi bahwa pasukan kumpeni yang kuat akan menyerang Gebang. "Tidak terduga sama sekali" berkata seorang Senapati "meskipun rencana ini disusun dalam lingkungan yang sangat terbatas, tetapi telinga petugas sandi Pangeran Mangkubumi sempat juga mendengarnya. "Tentu seorang pengkhianat" geram seorang perwira kumpeni.Senapati itu tidak membantah, lapun sependapat, tentu ada seorang pengkhianat. Tetapi siapa ? Teka-teki itu memang harus dijawab. Ketika kumpeni dan prajurit Surakarta gagal mengepung dan menghancurkan pasukan Raden Mas Said, merekapun sependapat. Ada seorang pengkhianat. Tetapi pengkhianat diantara mereka masih belum dapat diketemukan. Ketika kemudian Surakarta merencanakan menyerang Gebang dengan rencana yang sangat dirahasiakan, bahkan sampai saat pasukan itu berangkat tidak banyak yang mengetahuinya selain para pemimpin tertinggi, namun rencana itu dapat juga diketahui oleh Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian, maka setiap pemimpin Surakarta dan kumpeni telah sependapat, bahwa persoalan pengkhianatan itulah yang harus diselesaikan lebih dahulu. Baru kemudian mereka akan dapat merencanakan tindakan-tindakan lebih lanjut. Karena itu, ketika pasukan Surakarta yang marah memasuki kota menjelang dini hari, maka para pemimpin Surakarta menyambutnya dengan penuh keprihatinan. "Hampir tidak mungkin" berkata seorang Tumenggung. "Siapa tahu, Pangeran Mangkubumi mempunyai aji lelimunan. Ia dapat melenyapkan diri dan hadir dalam setiap pembicaraan" sahut yang lain. "Aku percaya kalau Pangeran Mangkubumi memiliki sekumpulan ilmu dan aj i-aji. Tetapi aku kira tidak aji lelimunan." sahut Tumenggung yang pertama. "Menurut pendapatku, tentu ada pengkhianatan diantara para pemimpin tertinggi. Aku sendiri tidak tahu, bahwa sepasukan yang besar telah menuju ke Gebang. Baru kemudian aku mengetahuinya setelah pasukan itu berangkat. Tentu beberapa orangpun seperti halnya dengan aku. Jika ada pengkhianatan, apakah mungkin penghubungnya sempat menyampaikan rencana itudan memberikan kemungkinan pasukan Pangeran Mangkubumi menyiapkan jebakan yang demikian sempurna, meskipun masih juga ada kelemahan-kelemahannya, jika pengkhianatnya bukan justru para pemimpin?" Kawannya mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga adalah satu kenyataan bahwa rencana kumpeni itu dapat dicium oleh hidung petugas sandi Pangeran Mangkubumi. Pada hari berikutnya, rasa-rasanya para pemimpin Surakarta menjadi berkabung. Mereka yang terluka parah, ternyata ada yang tidak sempat ditolong lagi. Namun mereka masih beruntung bahwa mereka sempat melihat Surakarta lagi kipun dalam gelapnya pagi hari. Karena itu, maka telah terjadi kesibukan yang menar ik perhatian rakyat Surakarta. Bahkan akhirnya para prajurit tidak lagi dapat menyembunyikan kegagalan mereka, sehingga berita itupun tersebar secepat tumbuhnya matahari di langit. Orang-orang yang pergi kepasarpun segera mendengar, bahwa pasukan Surakarta telah mengalami kegagalan. Bahkan mengalami kerugian yang parah. Mayor Bihnan telah terbunuh dipeperangan. Dalam pada itu, di istana Sinduratan, Raden Ayu Galuhwarit masih selalu dicengkam oleh kegelisahan. Kepergian Rara Warih ke Gebang membuatnya selalu gelisah. Apakah gadisnya itu sampai ketujuan. Karena itu, sejak Rara Warih meninggalkan Sinduratan diantar oleh seorang pengawal, Raden Ayu Galihwarit menjadi selalu gelisah. Rasa-rasanya ia tidak dapat duduk tenang dan tidak dapat tidur nyenyak ketika malamt iba. Bahkan bukan saja karena Rara Warih yang belum pernah mengemban tugas-tugas seperti yang dilakukannya itu, tetapi Raden Ayu Galihwarit juga memikirkan keadaan pasukan Pangeran Mangkubumi. Jika Warih terlambat atau tersesat dan tidak berhasil mencapai Gebang, maka keadaan pasukanPangeran Mangkubumi tentu akan parah. Meskipun seandainya Rara Warih tersesat, namun kemudian ia berhasil pulang kembali keistana Sinduratan dengan selamat, namun kelambatan pemberitahuan pada pasukan Pangeran Mangkubumi itu tidak akan dapat diperbaikinya lagi. Jika malam itu pasukan Pangeran Mangkubumi dihancurkan, maka pasukan itu akan lumpuh. Jika Pangeran Mangkubumi sendiri berhasil lolos, maka untuk menyusun kekuatan kembali diperlukan waktu dan barangkali juga menyusun kembali kepercayaan orang-orang Surakarta atas kemampuannya. Menjelang pagi, jantung Raden Ayu Galihwarit bagaikan berdentang semakin cepat. Raden Ayu sadar, bahwa saat-saat menjelang fajar itulah Bilman dan pasukannya akan mengepung dan menghancurkan pasukan Pangeran Mangkubumi yang berada di Gebang. Karena kegelisahannya itulah, maka Raden Ayu Galihwarit yang hampir tidak t idur semalam suntuk itupun berjalan mondar-mandir di serambi biliknya. Semakin terang langit di sebelah Timur, rasa-rasanya jantungnya menjadi semakin cepat berdenyut. Jika terjadi perang besar, maka perang itu tentu sudah pecah. Seperti kemar in, sehari itupun Raden Ayu Galihwarit dicengkam oleh kegelisahan yang semakin dalam. Tidak ada seorangpun yang dapat membantunya memikul beban di hatinya. Ia tidak sampai hati membuat ayahandanya menjadi gelisah pula seperti dir inya. Dalam keadaan yang pelik, kadang-kadang ayahandanya justru tidak dapat berpikir lagi jika penyakitnya menjadi kambuh. Hari itu adalah hari yang menyiksa bagi Raden Ayu Galihwar it. Rasa-rasanya panas matahari telah membakar seisi istana. Dimana-mana terasa panas, sementara jantungnya menjadi semakin berdebaran. "Apakah Warih memang tidak sempat pulang" katanya didalam hati "atau justru karena peristiwa ini, ia benar-benarmeninggalkan aku sendiri sebagaimana dimintanya setiap kali."Namun kadang-kadang hatinya meronta "Akulah yang bodoh, yang member inya satu beban yang terlalu berat baginya. Jika Warih gagal, dan mengalami kesulitan bagi dirinya sendir i serta kehancuran bagi pasukan Pangeran Mangkubumi. maka tanggung jawabnya adalah pada pundakku. Kenapa aku t idak berangkat sendiri." Tetapi sekilas terbayang orang-orang yang mendapat tugas mengawasi istana Sinduratan itu. Jika Raden Ayu sendiri yang keluar meskipun dar i pintu butulan, tentu akan lebih cepat dikenal oleh para pengawas yang ditempatkan disekitar istana itu. "Mereka sudah mulai cur iga kepadaku" berkata Raden Ayu itu kepada diri sendir i. Namun dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit masih teiap berusaha menyembunyikan kegelisahannya kepada ayahandanya. Apalagi ayahandanya masih tetap murung didalam biliknya karena kepalanya yang terasa sangat pening di hari-hari terakhir. Sejak peristiwa kematian dua orang perwira kumpeni di istananya, Pangeran Sindurata memang sering merenung. Tetapi Raden Ayu Galihwarit yang sibuk dengan persoalannya sendiri tidak sempat untuk mengamati keadaan ayahandanya, bahkan ia justru berusaha menyembunyikan persoalannya sendiri agar tidak menambah beban hati ayahandanya Malam kedua terasa siksaan itu menjadi semakin berat. Semalam suntuk Raden Ayu Galihwarit tidak tidur sama sekali. Bahkan rasa-rasanya udara didalam biliknya terlalu panas seperti didalam tungku. Karena itu, seperti malam sebelumnya. Raden Ayu itu berjalan mondar-mandir di serambi. Bahkan kadang-kadang ia duduk dengan gelisah. Ketika pengawal istana itu mengelilingi halaman dan kebun, maka setelah membungkuk hormat, pengawal itu bertanya "Kenapa Raden Ayu berada diluar bilik di malambegini ?""Udara panas sekali" jawab Raden Ayu singkat. Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun mohon dir i untuk melanjutkan tugasnya. Meskipun pengawal Itu membungkuk hormat namun didalam hati ia berkata “Perempuan itu kesepian. Agaknya tidak ada perwira yang sempat menjemputnya kesebuah bujana dua malamberturut-turut ini.” Bahkan pengawal itu sebagaimana juga para pelayan di istana itu menganggap bahwa puteri itu telah menyingkirkan anak gadisnya. Mungkin untuk mengamankan anak gadisnya dari kebuasan orang-orang asing. Tetapi mungkin juga karena Rara Warih yang meningkat dewasa dan tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik itu akan dapat menyaingi kecantikannya dimata orang-orang pendatang dari seberang yang disebut kumpeni itu. Karena itulah, maka sebenarnyalah para pelayan itu sama sekali t idak menaruh hormat kepada Raden Ayu itu didalam hati, meskipun yangf terungkap dalam sikap dan tingkah laku mereka setiap hari agak berbeda. Demikianlah, kegelisahan itu mencengkam Raden Ayu tanpa dapat dihindarinya. Karena itulah, ketika ia mendengar seorang pelayannya didapur yang baru saja kembali dari pasar di pagi harinya, berbicara tentang pasukan Surakarta, dengan serta merta maka pelayan itu telah dipanggilnya. "Apa yang kau dengar di pasar pagi ini?" bertanya Raden Ayu Galihwarit "Ampun Raden Ayu" jawab pelayannya itu "orang-orang dipasar berbicara tentang kumpeni dan pasukan Surakarta yang kembali dari medan." "Medan mana?" bertanya Raden Ayu. "Hamba tidak tabu Raden Ayu" jawab pelayan itu "tetapi mereka menyebut-nyebut pasukan Pangeran Mangkubumi.""Coba katakan, apa yang telah kau dengar sebagaimana kau dengar. Jangan ditambah dan jangan dikurangi. Aku ingin mendengar apa yang telah terjadi.” Pelayan itu beringsut setapak. Kemudian katanya "Raden Ayu, orang-orang dipasar itu mengatakan, bahwa pagi ini pasukan Surakarta yang terdiri dari kumpeni dan prajur it- prajurit Surakarta yang dipimpin oleh Pangeran Yudakusuma dan Mayor Bilman telah memasuki kota dalam keadaan yang parah." "Parah bagaimana ?" bertanya Raden Ayu itu tidak sabar. "Menurut ceritera yang hamba dengar, pasukan itu mengalami kegagalan, karena perlawanan pasukan Pangeran Mangkubumi. Seorang dapat mengatakan seolah-olah melihatnya sendiri, bahwa pasukan itu telah terjebak.” Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Ternyata pasukan Pangeran Mangkubumi itu berhasil mengatasi kedatangan kumpeni dan para prajur it Surakarta. Meskipun Raden Ayu Galihwar it tidak mengabaikan kemungkinan, bahwa berita tentang sergapan yang tiba-tiba itu didengar oleh Pangeran Mangkubumi dari petugas-petugas sandinya yang lain, namun bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi tidak justru terjebak itu, membuatnya sedikit berlega hati. "Raden Ayu" pelayannya itu melanjutkan "memang kasihan sekali. Ketika hamba berangkat kepasar, hamba memang melihat kesibukan para prajurit. Kemudian hamba mendengar, bahwa banyak kumpeni dan prajurit yang gugur, dan terluka parah." Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian terkejut ketika ia mendengar pelayannya itu berkata "Diantara mereka yang gugur terdapat Mayor Bilman, dan yang terluka parah diantaranya adalah kapten Kenop dan letnan Rapis.""Mayor Bilman gugur ?" Raden Ayu mengulang. Pelayannya mengerutkan keningnya. Pelayan itu tahu bahwa Mayor Bilman adalah salah seorang dari kawan Raden Ayu yang dekat. Tetapi ia sudah terlanjur menyebutkannya. Karena itu, maka jawabnya "Itu hanya yang hamba dengar Raden Ayu. Tetapi hamba tidak tahu. apa yang sebenarnya telah terjadi." Raden Ayu mengangguk-angguk. Kemudian katanya "Terima kasih. Pergilah kedapur." Pelayan itupun kemudian meninggalkan Raden Ayu itu seorang diri. Kegelisahannya tiba-tiba saja telah justru meningkat. Ia kemudian berpikir tentang Rara Warih. Apakah yang kemudian terjadi atasnya. Namun akhirnya Raden Ayu Galihwarit itu tidak dapat ingkar. Kematian Mayor Bilman memang berkesan sekali. Laki- laki asing itu mempunyai kedudukan yang khusus didalam hatinya. Meskipun ia tetap menganggap orang asing, serta hubungannya di saat-saat terakhir adalah justru karena usahanya memperbaiki kesalahannya dan menebus segala dosanya dengan caranya, yang justru melahirkan dosa-dosa baru, namun Bilman adalah lain dari para perwira kumpeni yang lain. Karena itu, berita kematiannya telah membekas pula dihatinya. Sejak itu, maka ia tidak akan dapat bertemu lagi dengan Mayor yang kadang-kadang lembut, tetapi kadang- kadang kasar sesuai dengan sifatnya sebagai seorang prajurit yang telah menjelajahi benua dan samodra, namun yang tidak dapat berbuat banyak menghadapi Pangeran Mangkubumi dari Surakarta, Baru kemudian, setelah Raden Ayu Galihwarit sempat menilai perasaannya, maka ia mulai menyisihkan kematian Mayor Bilman dari hatinya. Pada saat-saat ia sudah bertekad untuk menunjukkan pengabdiannya kepada keluarganya yangtelah dinodainya, kepada Surakarta dan kepada bangsanya, maka sentuhan perasaan terhadap Mayor Bilman itu harus disingkirkan. Jika ia benar-benar merasa hadirnya sesuatu ikatan, maka ia justru telah menodai lagi kesetiaannya kepada Pangeran Ranakusuma. Bukan saja dengan tingkah laku lahiriah karena ia menginginkan sesuatu yang tidak pernah dipunyainya sebelumnya, tetapi justru makna dari kesetiaannya itu sendiri, "Jika aku berhubungan dengan Bilman, dengan siapa-pun juga diantara para perwira kumpeni, justru karena aku ingin menghancurkan mereka'" perasaan Raden Ayu itupun menghentak didalam dadanya untuk mengatasi getar hatinya karena kematian Mayor Bilman. Dengan demikian, maka Raden Ayu itupun menjadi semakin tenang. Kematian Mayor Bilman adalah pertanda bahwa Pangeran Mangkubumi benar-benar berhasil mengatasi kehadiran pasukan kumpeni dan para prajurit Surakarta yang tiba-tiba.. Yang kemudian masih dipikirkannya adalah Rara Warih. Tetapi iapun dapat berharap, bahwa Rara Warih telah benar- benar sampai ke daerah Gebang. "Rasa-rasanya tidak ada orang lain yang mengetahui rahasia yang dipegang sangat rapat oleh kumpeni dan para perwira tinggi di Surakarta. Karena itu, tentu Rara Warih telah sampai dengan selamat ke padukuhan Gebang." Raden Ayu Galihwar it mencoba menenangkan hatinya sendiri. Sementara itu, rakyat Surakarta di har i berikutnya benar- benar menyaksikan keparahan kumpeni dan prajur it Surakarta. Mayor Bilman dimakamkan dengan upacara kebesaran menurut tataran keprajuritan. Namun ternyata disamping Mayor Bilman terdapat beberapa korban yang lain. Mereka yang semula terluka parah, namun ternyata nyawa mereka t idak sempat diselamatkan. Diantara mereka terdapat letnan Rapis,Sementara itu, dengan upacara keprajuritan pula, beberapa orang prajurit Surakarta yang terbunuh dipeperanganpun dimakamkan pula. Nampaknya memang tidak terlalu banyak seperti juga korban dipihak kumpeni. Tetapi ternyata bahwa sebagian dari mereka yang terbunuh di peperangan itu tidak sempat terbawa pada saat pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta mengundurkan dir i. Rasa-rasanya Surakarta memang berkabung. Rakyat Surakarta yang ingin melibat ir ing-ir ingan itu telah berdiri berjajar di pinggir jalan. Berbagai tanggap telah hinggap di hati rakyat Surakarta. Sebagian dari mereka menyesali sikap Pangeran Mangkuhuml Tetapi yang lain menganggap bahwa korban itu adalah wajar sekali, justru karena perjuangan Pangeran Mangkubumi untuk merebut kembali martabat Surakarta dihadapan orang-orang asing itu. Dalam pada itu, diantara rakyat Surakarta yang menyaksikan pemakaman para prajur it termasuk kumpeni dengan upacaranya masing-masing, terdapat seorang petani yang berwajah murung. Tidak seorangpun yang menghiraukan kehadirannya diantara mereka, karena orang itu sama sekali tidak menarik perhatian. Dengan pakaian dan sikap kewajaran seorang petani ia berdiri termangu-mangu. Namun karena iring- iringan korban yang akan dimakamkan masih juga belum lewat, orang itupun meninggalkan tempatnya, bergeser dibelakang jajaran rakyat yang berdiri di pinggir jalan. Ketika seseorang berpaling, maka orang itu berkata didalam hatinya "Orang itu tentu tidak sempat menunggu lebih lama lagi, karena ia harus kembali kerumahnya yang jauh.” Yang lain mengira bahwa orang itu tentu baru saja pergi ke pasar menjual hasil sawahnya. Namun ternyata orang itu membawa sebuah kurungan berisi seekor burung menco yang masih muda.Sebenarnyalah orang itupun beringsut semakin lama semakin jauh. Kemudian ia telah .berbelok kesebuah lorong kecil dan hilang dari antara orang-orang yang menunggu iring- iringan korban yang akan dimakamkan. Sebagaimana semula, tidak ada orang yang menghiraukan petani yang membawa sebuah kurungan berisi seekor burung menco muda itu. Dalam pada itu, petani yang membawa kurungan itu telah pergi ke istana Sinduratan. Sementara itu, orang-orang yang bertugas mengawasi istana itu nampaknya juga tertarik untuk menyaksikan pemakaman korban perang melawan pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Sehingga karena itu, tidak seorang-pun yang memperhatikan petani itu kemudian memasuki istana. Bahkan seandainya orang yang mengawasi istana itu melihatnya, maka mereka tidak akan menghiraukan seseorang yang akan menawarkan seekor burung menco kepada Pangeran Sindurata. Sebenarnyalah pada saat itu Pangeran Sindurata tidak berada diistananya. Sebagaimana para Pangeran yang lain maka ia telah datang dalam upacara pemakaman korban- korban yang jatuh' di peperangan itu. Dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit yang masih saja digelisahkan oleh tugas yang diberikannya kepada Rara Warih, tiba-tiba saja terkejut ketika ia melihat seorang petani yang membawa sebuah kurungan dan seekor burung didalamnya berdiri di pintu seketheng. Dengan serta-merta maka Raden Ayu Galihwarit itupun kemudian berkata "Ayahanda tidak ada dirumah. Aku tidak mengerti apakah ayahanda masih memer lukan seekor burung.” Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi ia tidak beringsut dari tempatnya. Sehingga karena itu, maka Raden Ayu-pun menjadi berdebar-debar.Sekali lagi ia berkata "Ayahanda tidak ada dirumah, Aku tidak mendapat pesan apapun tentang seekor burung." Tetapi orang yang membawa seekor burung menco dalam kurungan itu masih tetap berdiri di tempatnya, sehingga karena itu Raden Ayu Galihwaritpun menjadi berdebar-debar. Hampir saja ia berteriak memanggil seorang pengawal yang kebetulan ada di belakang. "Apakah Raden Ayu tidak mengenal aku lagi ?" bertanya orang yang membawa kurungan dan memakai pakaian petani itu. Raden Ayu Galihwarit mengerutkan keningnya. Wajah-nya menjadi tegang. Namun kemudian dengan tergesa-gesa ia berlari menyongsongnya. "Pangeran Mangkubumi" desis Raden Ayu Galihwarit. "Ya" jawab petani itu "aku datang khusus untuk menemuii Raden Ayu." "Marilah Pangeran. Silahkan duduk" Raden Ayu mempersalahkan. "Terima kasih. Jika aku duduk diserambi, maka para pelayan di istana ini akan menjadi heran, bahwa Raden Ayu telah menerima tamu seorang petani." "Aku selalu menerima Juwiring, Buntal dan Arum di serambi ini" jawab Raden Ayu "mereka datang sebagai penjual reramuan perawatan tubuh. Mangir dan lulur." "Terima kasih. Waktuku juga tidak terlalu banyak. Aku membawa seekor burung menco. Aku kira pamanda Pangeran Sindurata akan senang sekali, karena burung menco ini benar- benar seekor burung akan sangat bagus." berkata Pangeran Mangkubumi. "Terima kasih Pangeran. Aku akan menyampaikannya kepada ayahanda" jawab Raden Ayu Galihwarit."Tetapi ada sesuatu yang penting ingin aku sampaikan kepada Raden Ayu. Kami, sepasukan, ingin mengucapkan terima kasih atas pesan Raden Ayu yang dibawa Warih kepada kami." berkata Pangeran Mangkubumi selanjutnya. "Ah" desis Raden Ayu Galihwarit "aku hanya melakukan kewajibanku sebagai rakyat yang mulai menyadari keadaan diri." "Sebenarnyalah apa yang telah Raden Ayu lakukan itu sangat menguntungkan pasukan kami. Jika Warih tidak datang tepat pada waktunya, maka akhir dar i pertempuran itu akan sangat berlainan dengan yang ternyata kemudian terjadi. Mungkin kami akan kehilangan sebagian besar kekuatan kami" berkata Pangeran Mangkubumi kemudian. "Hanya itulah yang dapait kami lakukan Pangeran" sahut Raden Ayu Galihwarit sambil menundukkan kepalanya. Namun kemudian tiba-tiba saja ia bertanya "Jadi, Warih telah berada di Gebang ?" "Ia telah sampai ke Gebang pada waktunya dengan selamat." jawab Pangeran Mangkubumi. Meskipun Pangeran Mangkubumi mendengar juga laporan tentang perlakuan pengawal Rara Warih yang kemudian justru terbunuh, tetapi Pangeran Manglkubumi sama sekali tidak mengatakannya. Karena hal itu akan dapat mengguncangkan perasaan Raden Ayu Galihwair it "Sokur lah" desis Raden Ayu "dua hari dua malam aku menjadi gelisah. Bukan saja karena Warih, tetapi jika ia gagal mencapai Gebang, maka mungkin akan t imbul akibat yang kurang baik bagi pasukan Pangeran.” "Karena itu aku sengaja datang untuk mengucapkan terima kasih" sahut Pangeran Mangkubumi" namun lebih dar i itu, aku ingin memberikan satu per ingatan kepadamu."Wajah Raden Ayu Galihwarit menegang. Dengan ragu-ragu ia bertanya "Peringatan apa Pangeran ? Apakah aku telah membuat kesalahan ?" "Tidak Sama sekali tidak." jawab Pangeran Mangkubumi dengan serta merta "tetapi satu peringatan bagi keselamatan Raden Ayu untuk seterusnya." Raden Ayu Galihwarit termangu-mangu. Sementara itu Pangeran Mangkubumi berkata selanjutnya "Raden Ayu. Kegagalan kumpeni yang terakhir ini benar-benar membuat mereka marah. Karena itu, mala mereka akan dengan sungguh-sungguh mencari, siapakah sebenarnya yang telah berkhianat menurut anggapan mereka." "Ya Pangeran" berkata Raden Ayu "agaknya mereka memang mulai mencurigai aku. Di depan rumah ini ada dua atau tiga orang pengawas yang mengawasi pintu-pintu regol." "Mereka tidak ada ditempat sekarang" jawab Pangeran Mangkubumi" mungkin mereka ingin juga melihat iring- iringan korban yang akan dimakamkan." "O" Raden Ayu mengangguk-angguk. "Namun Raden Ayu, justru karena itu, sebenarnya Raden Ayu masih mempunyai kesempatan. Menurut laporan yang aku terima, kecurigaan itu memang sudah terlalu mengarah. Menurut beberapa orang perwira, orang yang terakhir berhubungan dengan Mayor Bilman selain para perwira dan Senapati terpenting di Surakarta adalah Raden Ayu Galihwar it." berkata Pangeran Mangkubumi selanjutnya "karena itu tidak mustahil, bahwa pada satu saat yang dekat, mereka akan benar-benar melakukan satu tindakan yang mengejutkan bagi Raden Ayu.” “Tetapi apakah aku masih akan dapat mengelak?" bertanya Raden Ayu."Karena itu, aku ingin menunjukkan satu jalan" jawab Pangeran Mangkubumi. "Jalan yang mana Pangeran ?" bertanya Raden Ayu itu pula. "Raden Ayu meninggalkan kota Surakarta" jawab Pangeran Mangkubumi. "Meninggalkan kota ?" ulang Raden Ayu dengan kening yang berkerut. "Ya. Satu-satunya jalan. Raden Ayu tidak akan dapat bersembunyi didalam kota. Kemanapun juga, agaknya Raden Ayu akan dapat diketahui oleh kumpeni." jawab Pangeran Mangkubumi "karena itu, jika Raden Ayu sependapat, sekarang adalah saatnya. Orang-orang Surakarta menjadi lengah karena mereka ingin melihat korban-korban itu dimakamkan dengan upacara keprajuritan." "Sekarang ?" wajah Raden Ayu menjadi semakin tegang. "Tidak ada kesempatan lain. Sebentar lagi kumpeni akan datang keistana ini dan mencari keterangan dengan teliti, apakah Raden Ayu tidak terlibat dalam tindak yang mereka anggap pengkhianatan itu." berkata Pangeran Mangkubumi. "Lalu, menurut Pangeran, aku harus kemana ?" bertanya Raden Ayu. "Menyusul anak gadismu. Rara Warih tentu akan senang sekali menerima kedatanganmu di Sukawati atau ditempat lain yang kemudian akan ditempatinya. Mungkin Gunung Garigal atau padukuhan-padukuhan disekitarnya." Wajah Raden Ayu Galihwarit menegang sejenak. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Apakah hal itu perlu sekali aku lakukan Pangeran ?" "Aku kira perlu sekali Raden Ayu" berkata Pangeran Mangkubumi "Raden Ayu telah banyak sekali member ikan jasadalam perjuangan kami. Aku kira segalanya yang pernah Raden Ayu lakukan telah lebih dari cukup. Karena itu, sudah sampai waktunya Raden Ayu memikirkan keselamatan Raden Ayu selama ini." Namun tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit menggeleng. Katanya "Pangeran. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku akan menebus segala dosa dan kesalahanku terhadap Pangeran Ranakusuma. Mungkin yang aku lakukan selama ini memang bukan satu perjuangan yang murni, karena sebenarnyalah tujuanku bukannya murni. Jika seandainya aku tidak merasa bersalah terhadap keluargaku, mungkin aku t idak akan melakukan seperti apa yang aku lakukan sekaraing ini, karena sebenarnyalah bahwa aku termasuk salah seorang yang dekat dengan kumpeni pada mulanya." "Jangan berkata begitu Raden Ayu" jawab Pangeran Mangkubumi "apa yang Raden Ayu lakukan adalah satu perjuangan yang besar bagi negeri yang sedang mengalami keruntuhan ini. Raden Ayu harus menyadari, jika kumpeni berhasil mendapatkan bukt i atau saksi bahwa Raden Ayu pernah memberikan keterangan kepadaku, lewat siapapun juga. maka Raden Ayu akan mengalami nasib yang sangat buruk. Karena itu, aku minta Raden Ayu untuk meninggalkan kota bersama aku sekarang. Tulislah surat kepada pamanda Sindu rata dan tinggalkan surat itu sebagai permohonan diri bahwa Raden Ayu akan pergi ketempat yang tidak Raden Ayu ketahui." Sejenak wajah Raden Ayu Galihwarit menjadi semakin tegang. Namun akhirnya sekali lagi ia menggeleng sambil tersenyum "Pangeran. Aku titipkan Warih kepada Pangeran. Aku akan tetap berada ditempat ini apapun yang akan terjadi. Mudah-mudahan aku masih dapat berbuat sesuatu bagi Pangeran sebagai salah satu cara untuk mengurangi beban perasaanku”"Itu berbahaya sekali" Pangeran Mangkubumi mendesak "aku sudah mendapat keterangan. Nama Raden Ayu sudah disebut-sebut. Percayalah.” "Pangeran. Aku tidak pernah tidak mempercayai Pangeran. Aku mengucapkan beribu terima kasih. Tetapi aku mohon perkenan Pangeran untuk tetap tinggal disini. Mudah- mudahan aku masih mempunyai arti" jawab Raden Ayu. "Sekali lagi aku katakan dengan jujur. Perjuanganmu telah melampaui setiap orang didalam pasukanku."jawab Pangeran Mangkubumi "karena itu. kau sudah berhak untuk mendapat kehormatan tertinggi, meskipun kau tidak lagi melakukan perjuangan seperti yang pernah kau lakukan sebelumnya" Tatapan mata Raden Ayu Galihwarit menjadi buram Namun ia masih mencoba tersenyum. Meskipun demikian Pangeran Mangkubumi melihat titik air di pelupuk mata Raden Ayu Galihwar it yang pernah dikenal dengan sebutan Raden Ayu Sontnang itu. "Aku, mohon ampun Pangeran. Aku tidak sampai hati meninggalkan ayahanda yang tua dan sakit-sakitan itu. Jika aku tidak ada dirumah ini, maka tentu ayahandalah yang akan menjadi sasaran kemarahan kumpeni. Namun demikian, aku masih mengharap, bahwa kumpeni tidak akan berbuat apa- apa terhadap keluarga kami." berkata Raden Ayu itu tersendat. "Aku yakin, mereka akan datang kerumah ini" jawab Pangeran Mangkubumi. "Segalanya akan aku hadapi dengan penuh tanggung jawab" desis Raden Ayu ita sambil menunduk dalam-dalam. Dengan sehelai sapu tangan Raden Ayu itu mengusap matanya yang basah. Katanya kemudian "Aku tahu maksud baik Pangeran yang ingin menyelamatkan aku dari kemungkinan yang paling buruk. Tetapi aku mohon ampun,bahwa aku akan tinggal. Aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas perhatian Pangeran terhadap keselamatanku." Pangeran Mangkubumipun menarik nafas dalam-dalam. Dari kejauhan terdengar senapan meledak. Karena itu, katanya "Upacara pemakaman korban dari pihak kumpeni itu sudah dimulai. Aku sudah mendengar tembakan kehormatannya. Karena itu. sebentar lagi upacara itu akan selesai. Raden Ayu. masih ada kesempatan. Raden Ayu dapat berganti pakaian dengan pakaian pelayan. Kita akan pergi." Tetapi Raden Ayu Galihwarit tetap menggeleng, meskipun air matanya menjadi semakin deras. Katanya "Selamat jalan Pangeran. Aku mohon tit ip anakku Warih, anakku Juwir ing dan yang sudah aku anggap sebagai anak-anakku pula Buntal dan Arum." Pangeran Mangkubumi tidak dapat memaksanya lagi. Karena itu maka katanya "Jika Raden Ayu berkeras. apaboleh buat. Aku datang untuk mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga. Namun akupun berdoa, mudah-mudahan Tuhan akan selalu melindungi Raden Ayu." "Kita akan saling berdoa, Pangeran" jawab Raden Ayu Galihwar it "Jika demikian, perkenankan aku mohon dir i. Aku akan meninggalkan burung ini. Burung ini tentu akan tumbuh menjadi burung dewasa yang sangat bagus. Mudah-mudahan pamanda Pangeran Sindurata akan berkenan di hati."Raden Ayu Galihwarit tersenyum. Tetapi air di matanya mengalir semakin deras. Bahkan tiba-tiba saja Raden Ayu itu telah berjongkok memeluk kaki Pangeran Mangkubumi. ”Sst, jangan lakukan" cegah Pangeran Mangkubumi "j ika seorang pelayan atau pengawal istana ini melihat bahwa kau berjongkok dihadapan seorang petani, maka jelaslah sudah, bahwa Mangkubumi pernah datang ketempat ini." Raden Ayu Galihwaritpun kemudian bangkit sambil toengusap matanya. Betapapun juga ia masih berusaha tersenyum. Katanya "Selamat berjuang Pangeran." Pangeran Mangkubumi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata "Selamat tinggal Raden Ayu. Kita memang harus saling berdoa." Demikianlah maka Pangeran Mangkubumi itupun meletakkan burung menco dengan sangkarnya. Kemudian iapun mengangguk kecil sambil berkata "Aku minta dir i." Raden Ayu Galihwarit masih akan menjawab. Tetapi terasa tenggorokannya tersumbat. Yang terdengar kata-katanya patah "Aku titipkan anak-anakku.” Pangeran Mangkubumi tidak sempat menjawab karena Raden Ayu itupun menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tiba-tiba saja tangisnya tidak tertahankan lagi. Sambil menarik nafas dalam-dalam Pangeran Mangkubu- mipun meninggalnya. Ketika ia keluar dari regol, diamatinya keadaan disekitarnya. Ternyata tidak ada seorangpun. Agaknya orang-orang di Surakarta khususnya yang tinggal didalam kota sedang menyaksikan upacara pemakaman dengan tatanan keprajuritan itu. Pangeran Mangkubumi kemudian dengan cepat meninggalkan regol itu. Ia menyesal bahwa Raden Ayu Galihwar it tidak mau meninggalkan istana Sindurata, karena keterangan yang diterimanya dan menurut perhitungannya,maka Raden Ayu Galihwarit tentu akan menjadi sasaran pengamatan para petugas sandi kompeni dan prajur it Surakarta. Namun ia tidak akan dapat memaksanya. Dalam pada itu, Raden Ayu Galihwaritpun kemudian membawa sangkar dan isinya itu ke serambi. Ketika ia berhasil mengatasi isak tangisnya, maka iapun menggantungkan kurungan itu diserambi. Diamatinya burung menco yang masih muda itu didalam sangkarnya. Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Didalam kurungan itu terdapat tempat makanan yang terisi. Pisang yang tersangkut pada dinding kurungan. Air yang jernih. Namun agaknya burung itupun nampak murung dibatasi oleh ruji-ruji kurungannya. '"Sementara itu rakyat Surakarta sekarang telah siap memasuki sebuah sangkar emas yang bernama Surakarta itu” berkata Raden Ayu Galihwarit kemudian. Hampir diluar sadarnya Raden Ayu itu masuk kedalam biliknya. Pada saat-saat permulaan ia bergaul dengan kumpeni, maka barang-barang yang dianggapnya aneh telah memikat hatinya. Kemudian kekayaan yang melimpah seolah- olah telah merupakan tujuan hidupnya untuk menemukan kebahagiaan. Tetapi ternyata ia keliru. Kekayaan, harta benda, barang- barang yang menarik itu, bukannya membuat hidupnya berbahagia. Bahkan ia telah kehilangan segala-galanya. Dan sekarang, ia seolah-olah hidup sendir i. Meskipun ia masih mempunyai seorang anak gadis, tetapi sebenarnyalah ia tidak pantas lagi menyebut dir inya sebagai ibu anak gadisnya yang menghargai kesucian keluarga. Sementara ia telah menodainya dengan tingkah laku yang tidak dapat dimaafkan lagi. Meskipun ia telah melakukan apa saja bagi perjuangan rakyai Surakarta. Tetapi nodanya dalam keluarga justru menjadi semakin bertambah-tambah.Tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwar it itu membayangkan sebuah jalan lurus untuk meninggalkan kemurungan itu. Untuk melupakan segala dosa-dosa yang pernah dilakukan. Dosa- dosa dalam penebusan dosanya yang lama. Bertimbun dan bertimbun "Maut adalah jalan yang menarik" berkata Raden Ayu Galihwar it itu didalam hatinya. Namun demikian, air matanya kembali membasahi pipinya. Pipi seorang perempuan cantik. Tetapi ketika tangannya mengusap pipinya itu, terasa pipinya tidak sepadat dahulu. Terasa bahwa pipinya itu menjadi semakin kendor oleh umurnya yang merambat terus. "Anak laki-lakiku Rudira. kakangmas Ranakusuma dan kemudian Bilmanpun telah melewati jalan itu" berkata Raden Ayu Galihwarit itu didalam hatinya. Raden Ayu Galihwarit itupun kemudian menjatuhkan dir inya dipembaringannya. Ia tidak memikirkan lagi rakyat Surakarta yang berjejal melihat ir ing-ir ingan yang lewat. Raden Ayu itupun tidak mengetahui, kapan ayahanda kembali. Tetapi ketika ia bangkit dan keluar keserambi, ia melihat ayahandanya sedang mengamati burung menconya "Burung dari mana ?" bertanya ayahandanya. "O" desis Raden Ayu Galihwarit "kapan ayahanda pulang ? Aku sama sekali tidak mendengar derap kereta ayahanda." "Belum lama. Nampaknya kau sedang merenung" jawab Pangeran Sindurata "he, dari mana kau dapat burung ini ?" Raden Ayu Galihwarit sama sekali tidak ingkar. Karena itu jawabnya "Pangeran Mangkubumi.” "Pangeran Mangkubumi ?" Pangeran Sindurata mengulang "kau tidak mimpi bahwa Pangeran Mangkubumi datang sambil membawa seekor burung menco muda yang bagus sekali ?""Aku berkata sebenarnya ayahanda" jawab Raden Ayu Galihwar it "Pangeran Mangkubumi dalam pakaian seorang petani." "Bukan main" desis Pangeran Sindurata "apa yang dikatakannya kepadamu ?" "Pangeran Mangkubumi mengucapkan terima kasih atas bantuanku selama ini" jawab Raden Ayu Galihwarit "yang terakhir Pangeran Mangkubumi memperingatkan agar aku meninggalkan kota.” Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya Namun kemudian katanya "Pendapat Pangeran Mangkubumi benar." Raden Ayu Galihwarit terkejut. Sementara itu ayahanda berkata selanjutnya "aku sudah merasakan kecurigaan yang semakin meningkat. Dan akupun t idak dapat berpura-pura untuk tidak mengetahui untuk seterusnya. Kedatangan Juwiring dan saudara angkatnya itu tentu sudah menjadi perhatian. Kematian kedua orang perwira itu tentu mendapat pertimbanean dari segala sudut. Karena itu, maka aku sependapat bahwa kau sebaiknya meninggalkan kota. Biarlah aku yang tua ini akan mempertanggung jawabkan segala sesuatunya jika kumpeni menuntut pertanggungan jawab itu." "Ayahanda" potong Raden Ayu Galihwar it. "Aku berkata sebenarnya Sontrang." berkata ayahandanya. Raden Ayu Galihwarit menjadi tegang. Dipandanginya dengan tajamnya seolah-olah ingin mengetahui isi jantungnya yang sebenarnya. Dalam pada itu ayahandanya berkata pula "Galihwarit. Sampai saat ini kita belum melihat pengkhianatan diantara kita di rumah ini. Tetapi sebenarnyalah aku tidak yakin, bahwa kelicikan kumpeni tidak akan dapat membuka mulut salah seorang dari pelayan kita. Mereka mempunyai seribu cara. Dari cara yang paling kasar, sampai dengan cara yang palinglembut. Mereka dapat mengancam, menakut-nakuti, tetapi juga dapat mereka pergunakan uang.” Raden Ayu menarik nafas dalam-dalam. Air matanya yang sudah mulai kering itupun nampak membasahi pipinya lagi. Namun dalam pada itu ia berkata "Ayahanda. Semuanya sudah aku lakukan dengan sadar. Jika saat itu datang, biarlah aku menghadapinya. Aku tidak akan meninggalkan ayahanda sendiri dirumah ini untuk mempertanggung jawabkan sesuatu yang tidak ayahanda ketahui, atau yang sebenarnya tidak ayahanda lakukan sejak semula." "Aku sudah tua" berkata Pangeran Sindurata "aku sudah kenyang makan pahit getirnya kehidupan. Juga sudah kenyang asin manisnya. Karena itu, maka tidak ada lagi yang dapat menahanku untuk menghadapi pertanggungan jawab yang bagaimanapun beratnya.” "Tidak. Tidak." sahut Galihwarit "dengan demikian aku akan menambah dosaku lagi." Pangeran Sindurata memandang anaknya dengan wajah sayu. Namun kemudian ia berkata "Jika hatimu sudah bulat aku tidak akan dapat memaksamu." "Aku akan pasrah diri terhadap keadaan, apapun yang akan aku alami." berkata Raden Ayu Galihwarit "sementara itu aku hanya dapat berdoa. Dan kcupun telah menyerahkan semua anak-anakku kepada Pangeran Mangkubumi.” "Warih dan Juwiring ?" bertanya Pangeran Sindurata, "Ya, Juga Buntal dan Arum. Karena mereka adalah saudara Juwiring maka keduanya juga anak-anakku." jawab Raden Ayu Galihwar it, Pangeran Sindurata menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun berkata "Aku sudah mengerti tentang Warih. Baiklah. Kita hanya dapat berdoa.”Ketika ayahandanya melangkah meninggalkan serambi, Raden Ayu itu berkata ”Burung itu ayahanda. Pangeran Mangkubumi memang membawanya untuk ayahanda.” "O" Pangeran Sindurata tertegun. Kemudian diambilnya kurungan itu sambil berkata "Terima kasih. Burung ini bagus sekali." Sambil membawa kurungan berisi seekor burung menco yang masih-muda Pangeran Sindurata meninggalkan serambi bilik anak perempuannya. Kepaknya terasa mulai pening. Tetapi ia sendir i tidak tahu, kenapa ia tidak ingin marah sama sekali seperti biasanya. Justru ia merasa iba dan kasihan melihat anak perempuannya yang telah menjalani masa hidupnya yang kelam. Bahkan perjuangan yang ditempuhnyapun dilaluinya lewat genangan lumpur yang paling kotor. Hari itu, seisi istana itu telah dicengkam oleh kegelisahan. Raden Ayu Galihwarit dan Pangeran Sindurata tidak dapat mengesampingkan satu kemungkinan bahwa kumpeni akan datang ke istana itu dan menangkap semua isinya. Sementara para pelayaopun menjadi gelisah melihat sikap Raden Ayu Galihwar it dan Pangeran Sindurata. Mereka tidak tahu apa yang sedang mencengkamperasaan kedua orang tuanya itu. Namun ternyata bahwa pada hari itu, tidak seorang kumpeni yang datang. Juga tidak ada seorang perwirapun yang mendatangi Raden Ayu Galihwarit sebagaimana biasanya. Tetapi ketika malam turun, ternyata Raden Ayu Galihwarit telah benar-benar dapat menenangkan hatinya dalam pasrah. Ia benar-benar menjadi mapan menghadapi segala kemungkinan. Justru karena telah diketahuinya dengan pasti, bahwa anak gadisnya selamat sampai ke Gebang, serta bahwa dengan demikian pasukan Pangeran Mangkubumi tidak mengalami kehancuran mutlak. Maka persoalan selanjutnya adalah yang menyangkut dir inya sendir i."Seandainya besok kumpeni itu benar-benar datang, maka biarlah segalanya itu terjadi" berkata Raden Ayu Galihwar it. Namun dalam pasrah itulah, akhirnya Raden Ayu Galihwarit yang kelelahan itupun tertidur juga. Ketika matahari terbit di Timur, Raden Ayu Galihwarit itu telah bangun. Disuruhnya pelayannya menyediakan beberapa ikat merang. "Aku akan mandi keramas" berkata Radon Ayu Galihwarit. Tidak seperti biasanya, Raden Ayu ku, membakar merang itu sendiri. Kemudian mengumpulkam abunya dan merendamnya didalam air. Menjelang matahari sepenggalah, maka Raden Ayu itupun telah berada di pakiwan untuk mengeramasi rambutnya yang panjang ikal. Sambil mencuci rambutnya dan membersihkan tubuhnya, Raden Ayu itu seolah-olah telah menempatkan diri kedalam jalur jalan menuju kepada Yang Maha Agung. Sambil mencuci rambutnya ia sempat mengingat segala macam dosa yang pernah dilakukannya. Kemudian dengan sedalam-dalamnya ia mengakui dosa itu didalam hatinya dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Demikianlah, setelah selesai mandi dan keramas, maka Raden Ayu itupun duduk diserambi sambil mengurai rambutnya yang ikal panjang. Dipandanginya dedaunan yang bergerak-gerak disentuh angin yang lembut. Tetapi sebenarnyalah Raden Ayu Galihwarit tidak melihat gerak dedaunan itu. Yang dilihatnya adalah perjalanan hidupnya dimasa yang lampau. Ketika rambutnya sudah kering, maka mulailah Raden Ayu itu membenahi dir inya. Adalah menar ik perhatian para pelayannya, bahwa Raden Ayu Galihwar it itu telah mer ias dirinya sebaik-baiknya, seolah-olah ia hendak pergi ke sebuah bujana yang besar. Dipergunakannya reramuan yang paling baik yang aida padanya. Namun kemudian Raden Ayu itujustru mempergunakan pakaiannya yang paling sederhana. Dikumpulkannya semua perhiasannya didalam sebuah kotak dan diletakkannya didepao cermin. Raden Ayu itu berpaling ketika ia mendengar ayahandanya datang kepadanya sambil bertanya "Apakah kau akan pergi ?" Raden Ayu tersenyum sambil menggeleng. Katanya "Tidak ayahanda. Aku tidak akan pergi kemanapun juga. Aku akan tetap berada dirumah menemani ayahanda,” Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Raden Ayu itupun berkata "Aku telah menyimpan perhiasanku di kotak ini ayahanda. Jika pada suatu saat aku dapat bertemu dengan Warih dan Arum, aku akan menyerahkannya semuanya kepada keduanya. Tetapi jika aku tidak sempat bertemu lagi dengan keduanya, biarlah ayahanda saja kelak yang memberikan kepadanya." "Jangan berkata begitu Galihwarit" berkata ayahandanya "kedua anak itu pada suatu saat tentu akan datang lagi kepadamu." Galihwar it tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Ketika Pangeran Sindurata itu kemudian meninggalkan anak perempuannya, terasa hatinya terguncang. Tiba-tiba saja ia merasa bahwa ia sudah meloncati jarak yang membatasinya dengan anak perempuannya yang seorang itu. Anak yang semula telah dianggapnya hilang karena tingkah lakunya yang menodai keluarganya. Namun kini anak itu telah hadir lagi diliatinya. Justru melampaui anaknya yang lain. Pangeran Sindurata itupun kemudian pergi keserambi di- sebelah yang lain. Diturunkannya burung-burungnya dari gantungannya. Sebagaimana biasanya ia sendirilah yang member i makan dan minum burung-burung yang dipeliharanya.Namun dalam pada itu, selagi Pangeran Sindurata itu sibuk dengan burung-burungnya, tiba-tiba telah terdengar derap sebuah kereta dan beberapa ekor kuda memasuki halaman. Karena itu, maka dengan serta merta, maka Pangeran Sindurata itu telah bergegas kehalaman depan. Pangeran itu terkejut ketika ia melihat sepasukan kecil kumpeni dan beberapa orang perwira prajur it Surakarta lengkap bersenjata telah berada di halaman itu Ketika mereka melihat Pangeran Sindurata, maka perwira kumpeni di pasukan kecil itu telah meloncat turun dari kudanya, diikut i oleh para prajurit yang lain. Sambil membungkuk hormat, perwira itupun kemudian mendekatinya sambil berkata "Kami mohon maaf Pangeran, mungkin kami telah mengejutkan Pangeran" "Apakah keperluan kalian" bertanya Pangeran Sindurata kepada perwira kumpeni itu. Perwira kumpeni itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Kami membawa perintah untuk memanggil Raden Ayu Galihwarit menghadap" Wajah Pangeran Sindurata menjadi tegang. Dengan lantang ia bertanya "Siapa yang memer intahmu ?” "Kapten Kenop"jawab perwira itu. Wajah Pangeran Sindurata menjadi merah padam. Dengan geram ia berkata "Katakan kepada kapten Kenop. Ia tidak berhak memanggil anakku. Ia adalah putera puteri seorang Pangeran dari Surakarta, sedangkan kapten Kenop adalah orang asing disini." Jawaban itu sama sekali t idak terduga. Justru karena itu, maka perwira kumpeni itu tertegun untuk beberapa saat. Namun kemudian wajahnya menjadi tegang. Dengan gagap oleh gejolak perasaannya ia berkata "Pangeran. Aku membawa perintah. Aku akan melaksanakan perintah itu.”"Aku tidak mengakui kekuasaan kapten Kenop disini" bentak Pangeran Sindurata, "Sepeninggal Mayor Bilman ia adalah pejabat pimpinan pasukan khusus di Surakarta." perwira itupun membentak pula. "Aku tidak peduli apa jabatannya dalam urutan kekuasaan kumpeni. Tetapi itu adalah kepangkatan kumpeni. Bukan termasuk pimpinan pemerintahan di Surakarta." jawab Pangeran Sindurata "karena itu, cepat pergi dari rumahku. Atau aku akan melaporkannya kepada Kangjeng Susuhunan.” "Kangjeng Susuhunan mengesahkan kekuasaan kumpeni di Surakarta" jawab perwira itu. "Atas masalah-masalah tertentu dan diantara kumpeni sendiri. Tetapi kau tidak berhak memanggil, menangkap dan apalagi menghukum rakyat Surakarta. Karena itu pergilah dari halaman rumahku" Pangeran Sindurata berteriak semakin keras. Perwira kumpeni itupun menjadi marah. Katanya "Pangeran pernah membunuh dua orang perwira kumpeni disini. Saat itu Pangeran masih sempat mengelabui kami. Tetapi sekarang tidak lagi. Kami akan menangkap Raden Ayu Galihwarit sekaligus Pangeran sendir i." "Aku menolak. Jika kau berkeras, aku tantang kau sebagaimana seorang laki-laki. Jika kau pengecut, manilah bersama-sama. Aku lebih baik mati di halaman rumahku ini dari pada tunduk kepada perintah orang yang tidak berhak." Pangeran Sindurata itupun kemudian bertolak pinggang dengan sorot mata yang menyala. Perwira kumpeni itupun benar-benar marah. Namun sebelum ia bertindak lebih lanjut, seorang Senapati prajurit Surakarta yang menyertainya berkata ”Pangeran benar. Ia memang dapat menolak perintah yang dikeluarkan oleh kapten Kenop.""Omong kosong." bentak perwira itu. "Perintah itu harus datang dari Kangjeng Susuhunan atau orang yang mendapat limpahan kuasanya dalam keadaan perang ini" jawab Senapati itu "karena itu, maka kita harus memenuhinya. Membawa perintah dari Kangjeng Susuhunan atau orang yang mendapat limpahan kuasanya itu." "Aku tidak peduli. Aku mempunyai kekuasaan dan kekuatan untuk memaksanya sekarang” teriak perwira kumpeni itu. "Paksalah j ika kau berani memaksa" jawab Pangeran Sindurata yang meskipun sudah tua, tetapi suaranya masih cukup lantang "aku akan menolak. Jika kau akan membunuh aku, bunuhlah. Kau akan digantung oleh kuasa Kangjeng Susuhunan karena kau sudah membunuh seorang Pangeran." Tetapi perwira kumpeni itu nampaknya tidak menghiraukannya. Ia memang akan memaksa Pangeran Sindurata untuk menyerahkan anak perempuannya yang bernama Gahhwarit itu. Tetapi ketika ia sudah siap untuk memaksakan niatnya berdasarkan atas perintah dari kapten Kenop, maka Senapati prajurit Surakarta itu berkata "Aku masih menghormati para Pangeran di Surakarta. Karena itu, urungkan niatmu." "Kau dengar perintah kapten Kenop. Kau tidak menolak dan tidak membantah ketika perintah itu jatuh. Bahkan kau disertakan dengan kami agar kau mendampingi kami menjalankan tugas ini. Sekarang kau bersikap lain" bentak perwira kumpeni itu. "Satu kekhilafan. Aku sudah terbiasa menjalankan perintah kumpeni meskipun kadang-kadang menurut susunan tataran keprajuritan itu keliru. Tetapi harga diriku memang tidak cukup tinggi seperti harga diri seorang Pangeran. Sekarang, kalian berhadapan dengan seorang Pangeran di Surakarta. Karena itu, kalian harus menghargai. Kalian harus menempuh jalur yang seharusnya. Kalian harus menghubungi SenapatiSurakarta yang berhak melakukannya karena limpahan kekuasaan dari Kangjeng Susuhunan. Misalnya Pangeran Yudakusuma, Senapati Agung pasukan Surakarta sekarang ini." jawab Senapati itu. "Persetan. Aku tidak ingin mengulangi kerja yang sudah hampir selesai aku lakukan. Aku mempunyai kekuatan hukum untuk melakukan tugas ini. Aku membawa surat perintah." bentak perwira itu pula. "Yang menanda tangani surat perintah itulah yang tidak diakui oleh Pangeran Sindurata, bahwa ia berhak memberikan perintah menangkap Raden Ayu Galihwarit, putera puteri Pangeran Sindurata atas tuduhan keterlibatannya dalam peperangan ini." Senapati itupun mulai berbicara dengan keras. "Kau mencoba melindungi kesalahannya ?" bertanya perwira itu, "Tidak. Tetapi aku juga tidak ikhlas bahwa orang-orang yang tidak berhak melakukan tindakan yang dapat mengurangi wibawa pimpinan pemer intahan di Surakarta." jawab Senapati itu. Wajahperwira itu menjadi merah. Sekilas dipandanginya para prajuritnya. Namun dalam pada itu, para prajurit Surakarta yang menyertai kumpeni itupun telah bersiaga pula. Karena itu, maka perwira kumpeni itupun harus berikir jernih. Ia tidak akan dapat berbuat tanpa menghiraukan sikap Senapati itu. Karena itu, maka katanya "Jadi menurut pendapatmu, kita semuanya sekarang kembali untuk mendapatkan surat perintah yang baru dari Pangeran Yudakusuma ?" "Ya" jawab Senapati itu. "Dan membiarkan orang yang akan kita tangkap melar ikan diri ?" bertanya perwira itu pula."Jika kau mempunyai nalar, kau dapat melakukan satu tindakan pencegahan" jawab Senapati ku pula. Perwira itu menar ik nafas panjang. Seolah-olah ia ingin menelan kembali kemarahan yang sudah memuncak sampai keubun-ubun. Namun kemudian maka iapun berkata "Aku akan melaporkan kepada kapten Kenop. Tetapi sebagian dari orang- orangku akan tetap berada disini agar orang yang kami kehendaki tidak melarikan diri. "Terserahlah kepadamu" jawab Senapati itu. "Lalu kau, apa yang akan kau kerjakan?" bertanya perwira itu. "Aku akan menunggu sampai per intah dari yang berhak itu ada" jawab Senapati itu. Perwira kumpeni itupun kemudian memberikan beberapa perintah kepada prajurit-prajuritnya. Sementara itu ia sendiri akan menemui kapten Kenop. Bagaimanapun juga kumpeni itu memang harus menghargai seorang Pangeran dar i Surakarta, karena ia sadas sepenuhnya jika persoalan ini didengar cleh para Pangeran yang lain, maka mungkin sekali akan menimbulkan persoalan tersendiri, seolah-olah kekuasaan kumpeni sudah melampaui kekuasaan Kangjeng Susuhunan sendiri. "Biarkan kereta yang akan membawa Raden Ayu itu disiini" perintah perwira itu. Sejenak kemudian, diiringi oleh beberapa orang pengawalnya, perwira itu meninggalkan halaman istana Pangeran Sindurata, sementara sebagian yang lain memencar ke sudut-sudut halaman untuk mengawasi keadaan. Sedangkan para Senapati dan prajurit Surakarta yang menyertai kumpeni itu telah menyingkir dan berdir i diluar regol.Dalam pada itu, Pangeran Sindurata telah meninggalkan halaman dan menemui anak perempuannya. Sementara itu Raden Ayu Galihwarit telah selesai berkemas dan membenahi diir inya. "Mereka datang Galihwarit" desis Pangeran Sindurata. Sama sekali tidak nampak kecemasan di wajah Raden Ayu Galihwar it. Bahkan sambil tersenyum ia menjawab "Aku sudah mendengar ayahanda. Dan aku sudah siap." Jantung Pangeran Sindurata berdesir. Anak perempuannya itu ternyata telah benar-benar siap lahir dan batin. Ia sudah mandi dan keramas, serta merias dir i sebaik-baiknya, meskipun pakaian yang kemudian dikenakannya adalah justru pakaian yang sederhana. Namun seolah-olah ia telah berusaha menyucikan diri pada ujud kelahirannya. Sementara itu, sikapnya yang tenang dan wajahnya yang jernih telah menunjukkan bahwa secara jiwani, Raden Ayu Galihwaritpun telah siap menghadapi persoalan itu. "Apakah aku harus berangkat sekarang?" bertanya Raden Ayu itu. Pangeran Sindurata menggeleng. Katanya "Aku menolak surat perintah yang ditanda tangani oleh kapten Kenop Aku, seorang bangsawan Surakarta hanya mengakui kekuasaan Kangjeng Susuhunan atau orang yang mendapat limpahan kuasanya. Tidak kepada kumpeni.” Raden Ayu Galihwarit itu tersenyum pula. Katanya "Terima kasih ayah. Aku sependapat, bahwa yang berhak menangkap aku adalah mereka yang diper intahkan oleh pimpinan prajur it Surakarta dalam masa perang ini.” "Sebentar lagi mereka tentu akan datang." berkata Pangeran Sindurata "Pangeran Yudakusuma tentu tidak akan berkeberatan untuk menandatangani surat perintah semacam itu. Tetapi aku sudah mempertahankan harga diri seorang bangsawan Surakarta meskipun tidak ada sekuku-irengdibanding dengan apa yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi dan para pengikutnya. Tetapi aku sudah berbuat sesuatu bagi kebanggaanku, seorang putra Surakarta." Raden Ayu Galihwarit tertawa. Kemudian katanya "Sebentar lagi aku akan mohon dir i ayah." Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata "Mungkin mereka akan membawa aku pula.” "Tidak ada alasan untuk membawa ayahanda." berkata Raden Ayu GahhwafiL "Aku dapat dituduh membantumu. Atau mereka akan menelusuri kematian kedua orang kumpeni itu" jawab Pangeran Sindurata. "Tidak" jawab Raden Ayu sambil menggeleng "mereka hanya akan membawa aku sendir i." Pangeran Sindurata mengangguk kecil. Iapun kemudian terduduk diserambi, sementara Raden Ayu Galihwarit telah mengemasi pakaian yang akan dibawanya. Hanya selembar kain dan selembar baju. "Kau membawa ganti pakaian ?" bertanya ayahandanya. "Ya ayahanda" jawab Raden Ayu "aku kira selembar sudah cukup. Aku tidak memer lukan terlalu banyak pakaian diidalam tahanan." Pangeran Sindurata tidak bertanya lebih banyak, la duduk termenung sambil memandang kekejauhan. Namun yang terasa adalah kepalanya menjadi sangat pening. Dalam pada itu, istana Sinduratan itu telah mendapat pengawasan yang ketat. Ternyata kumpeni tidak hanya berada di halaman depan. Tetapi mereka juga mengelilingi bagian luar dinding istana dan mengawasi regol-regol butulan.Tetapi yang mereka lakukan itu tidak ada gunanya sama sekali, kaTena Pangeran Sindurata maupun Raden Ayu Galihwar it sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dalam pada itu, beberapa saat kemudian ternyata sepasukan kecil kumpeni dan prajurit Surakarta telah memasuki halaman itu lagi. Bukan hanya kumpeni yang terpaksa urung menangkap Raden Ayu Galhwarit, tetapi diantara mereka terdapat seorang Tumenggung dari Surakarta. Pangeran Sindurata yang mendengar derap kaki kuda memasuki halamannya itupun telah keluar lewat seketheng. Dengan tidak ragu-ragu sama sekali ia melangkah mendekati Tumenggung yang sudah turun dari kudanya. Tumenggung itu mengangguk hormat sambil berkata "Ampun Pangeran, aku mengemban tugas dari Pangeran Yudakusuma." "Aku mengerti." jawab Pangeran Sindurata. "Pangeran Yudakusuma tidak memberikan surat perintah kepada kumpeni, tetapi akulah yang telah diperintahkan untuk menjemput putera pulen Pangeran, Raden Ayu Galihwarit." berkata Tumenggung itu sambil menunjukkan sebuah tunggul yang dibawa oleh seorang prajurit. "Begitulah seharusnya tatanan di Surakarta" berkata Pangeran Sindurata "dengan demikian aku percaya bahwa kau adalah utusan Senapati Agung di Surakarta. Aku kenal tunggul dan kelebet kecil berwarna kelabu dengan gar is merah itu. Karena ku, aku akan menjalankan segala perintah dengan sebaik-baiknya. Jika semula aku menolak kumpeni itu, karena aku tidak percaya bahwa mereka akan bertindak sebagaimana seharusnya. Mungkin anak perempuanku akan jatuh ketangan orang-orang yang tidak berhak. Tetapi hanya karena mereka menginginkannya saja.""Ada surat perintah dari kapten Kenop" perwira itu memotong. "Justru kepada Kenop itulah yang aku tidak percaya." jawab Pangeran Sindurata. Perwira kumpeni itu masih akan menjawab. Tetapi Tumenggung yang datang dengan tunggul dan kelebet kecil itupun berkata "Jika demikian Pangeran, aku mohon maaf, bahwa aku akan membawa Raden Ayu sekarang." "la sudah siap." jawab Pangeran Sindurata. "Jika demikian, aku akan segera meninggalkan istana ini" berkata Tumenggung itu. Pangeran Sinduratapun kemudian memanggil Raden Ayu Galihwar it. Ketika Raden Ayu itu sampai di seketheng maka ttrasa jantungnya bergetar. Dilihatnya beberapa orang prajurit dan kumpeni yang bersenjata Kemudian sebuah kereta yang sudah siap untuk membawanya. Namun sejenak kemudian kegelisahannya itupun lenyap bagaikan dihembus oleh angin. Ketika ia selangkah maju. maka Raden Ayu itu sudah tersenyum sambil berkata "Marilah. Apakah aku juga harus naik kuda ?" Tumenggung itulah yang kemudian menjawabnya "Aku sudah menyediakan sebuah kereta untuk Raden Ayu. Silahkan” "Terima kasih" jawab Raden Ayu sambil melangkah menuju ke kereta yang sudah menunggu itu. "Kita akan kemana?" bertanya Raden Ayu kepada Tumenggung itu. Raden Ayu tertawa kecil. Kemudian dipandanginya ayahnya yang berdiri termangu-mangu. Dengan wajah yang sama sekali tidak membayangkan kecemasan, Raden Ayu ituberkata kepada ayahandainya "Aku harus meninggalkan ayahanda." "Pergilah ngger" desis Pangeran Sindurata. Suaranya menjadi parau. Seolah-olah ia telah kehilangan Raden Ayu Galihwar it itu untuk kedua kalinya. Baru beberapa hari sebelumnya ia menemukan kembali anaknya yang hilang itu. Namun ternyata bahwa anak itu terpaksa dilepaskannya lagi. Sejenak kemudian Raden Ayu Galihwarit itupun telah berada didalam kereta yang akan membawanya. Ia masih melambaikan tangannya kepada ayahandanya. Sementara Tumenggung yang akan membawa Raden Ayu itu berkata "Pangeran. Aku mohon dir i. Raden Ayu aku bawa atas perintah Pangeran Yudakusuma. Perintah yang lain tertuju kepada Pangeran sendiri." "Apa" bertanya Pangeran Sindurata. "Dalam kedudukannya sebagai Senapati Agung, Pangeran Yudakusuma minta agar Pangeran tidak meninggalkan istana ini. Setiap saat Pangeran diperlukan untuk memberikan keterangan atau kesaksian tentang Raden Ayu Galihwarit.” "Perintah itu akan aku jalani" jawab Pangeran Sindurata. "Terima kasih Pangeran. Sekarang, kami akan minta diri" berkata Tumenggung itu. Sejenak kemudian, maka iring- iringan itupun telah keluar dari regol halaman istana Sinduratan. Tumenggung yang mengemban perintah Pangeran Yudakusunia itupun kemudian member i perintah kepada sais kereta yang membawa RadenAyu "Bawa ke bekas istana Pangeran Ranakusuma." "He, apa yang kau katakan ?" perwira kumpani itu memotong. "Untuk sementara Raden Ayu akan ditempatkan di istananya sendiri" berkata Tumenggung itu."Tidak mungkin. Kapten Kenop memer intahkan membawanya ke loj i. Perempuan itu harus di tahan di loji." berkata perwira itu. Tetapi Tumenggung itu menggeleng. Katanya "Aku melakukan perintah Pangeran Yudakusuma. Kuasa Pangeran Yudakusuma melampaui kuasa kapten Kenop disini. Kecuali karena perintah itu, maka sangat berbahaya bagi Raden Ayu untuk ditahan di loj i." "Ia seorang pengkhianat" geram perwira itu. "Ia dituduh berkhianat" sahut Tumenggung itu. Lalu "meskipun demikian seandainya ia berkhianat, maka tidak selayaknya ia berada di loji. Raden Ayu akan menjadi seekor kelinci yang masuk kesarang serigala yang kelaparan." Wajah perwira itu menjadi merah. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun demikian, iapun menggeram "Aku akan melaporkannya kepada kapten Kenop.” "Terserah kepadamu. Tetapi kapten Kenop tentu menyadari, bahwa ia tidak akan dapat membawa Raden Ayu ke loj i." jawab Tumenggung itu. Raden Ayu Galihwarit mendengarkan perdebatan itu Sebenarnyalah kulitnya telah meremang ketika ia mendengar, bahwa kumpeni akan membawanya ke loji. Ia sadar, bahwa sebagai seorang tahanan, maka harga dirinya akan jauh berbeda dari harga dirinya pada saat-saat lain ia memasuki loji itu. Sedangkan pada saat ia dengan suka rela memasuki loji itu harga dirinya sudah dikorbankan. Apalagi sebagai seorang tawanan. Maka kumpeni akan dapat memperkkukannya sekehendaki hati mereka. Ketika ia mendengar bahwa Tumenggung yang mengemban tugas dari Pangeran Yudakusuma itu berkeras untuk menempatkannya di bekas istananya, maka iapun menjadi agak lega, Betapapun ia pasrah diri, tetapi perlakuan orang-orang yang menawannya memang dapatmempengaruhi ketahanan jiwanya. Dan ia berterima kasih kepada Pangeran Yudakusuma bahwa atas perintahnya, ia akan di tempatkan di luar loji sebagaimana dikehendaki oleh kapten Kenop. Demikianlah, maka akhirnya, iring-ir ingan itu memasuki bekas istana Pangeran Ranakusuma yang dipergunakan oleh pasukan berkuda. Kedatangan ir ing- iringan itu telah disambut oteh beberapa orang perwira prajurit Surakarta dari pasukan berkuda. Mereka telah mendapat pemberitahuan sebelumnya, bahwa Raden Ayu Galihwarit akan ditempatkan di istana itu, sebagaimana pernah dilakukan atas Rara Warih. puteri dari Raden Ayu Galihwarit itu sendiri. Ternyata bahwa mang yang disediakan juga ruang yang pernah dipergunakan oleh Rara Warih, karena ruang itu adalah ruang yang rapat dan mudah diawasi. Ketika Raden Ayu Galihwarit turun dari keretanya di halaman bekas istananya, sebelum dibawa ke ruang yang telah disediakan, maka ia telah diterima oleh Tumenggung Watang, yang untuk sementara diserahi pimpinan pasukan berkuda. "Selamat datang Raden Ayu" sapa Ki Tumenggung Watang. "Selamat Ki Tumenggung" jawab Raden Ayu sambil tersenyum. Sama sekali tidak nampak kegelisahan di wajahnya "kali ini aku tidak berkepentingan dengan anakku, tetapi aku sendirilah yang akan menjalaninya sebagaimana pernah di jalani oleh anakku, Rara Warih." "Aku akan sekedar menjalankan tugas Raden Ayu" berkata Tumenggung Watang. "Ya. Aku mengerti. Kalian hanyalah menjalankan tugas kalian." jawab Raden Ayu.Sesaat kemudian, maka Raden Ayu itupun telah dibawa dan dipersilahkan masuk kedalam ruangan yang telah disiapkan. Ketika Raden Ayu sudah berada didalam, maka Tumenggung yang membawanya dari istana Sinduratan itupun telah menyerahkan tanggung jawabnya atas Raden Ayu Galihwar it kepada Ki Tumenggung Watang, katanya "Kakang Tumenggung. Segala sesuatunya kini terserah kepada kakang. Mungkin nanti, mungkin besok, Raden Ayu tentu akan diperiksa. Bukan saja oleh para Senapati kita sendiri, tetapi Kenop yang belum sembuh sama sekali itupun tentu akan ikut memer iksanya." "Aku akan menyiapkan segala-galanya" jawab Ki Tumenggung Watang. "Terima kasih" jawab Tumenggung yang menyerahkannya. Kemudian perlahan-lahan Ki Tumenggung itupun mencer iterakan keinginan kumpeni untuk menahan Raden Ayu didalam loj i. "Tentu akan terjadi kekasaran" berkata Tumenggung Watang "mereka adalah orang-orang yang menjadi buas karena terlalu lama jauh dari lingkungan keluarga.” "Karena itu, bijaksana sekali bahwa perintah Pangeran Yudakusuma adalah, membawanya ke tempat ini." berkata Tumenggung itu pula "karena itu, segala sesuatunya terserah kepadamu.” Dengan demikian, maka Raden Ayu Galihwaritpun telah ditinggalkan oleh orang-orang yang mengambilnya didalam satu bilik yang tertutup rapat dan diawasi dengan sebaik- baiknya. Beberapa orang kumpeni mengumpat karena mereka gagal membawa Raden Ayu menghadap kapten Kenop dan menahannya di loj i. Memang ada niat yang tidak sewajarnya, bahwa mereka akan menahan Raden Ayu itu di loji. Seorang perwira rendahan berkata kepada kawannya "Gila. Aku kirabahwa akhirnya aku akan dapat juga bahagian. Ternyata perempuan itu tidak dibawa ke loji. Tetapi disimpan di bekas rumahnya sendiri. Dibawah pengawasan Tumenggung Watang yang ketat, tidak seorangpun akan dapat mengganggunya kapan saja.” Dalam pada itu, maka perwira kumpeni yang semula akan mengambil Raden Ayu GaBhwar it itupun telah menghadap kapten Kenop dan melaporkan bahwa Raden Ayu Galihwarit telah berada di dalam pengawasan pasukan berkuda dari Surakarta. Kapten Kenop mengumpat dengan kasar. Sambil bangkit dari pembar ingan ia berkata "Persetan dengan keputusan Pangeran Yudakusuma. Kita akan menyiapkan tuduhan itu dengan lengkap. Kau hubungi saksi yang telah bersedia untuk member ikan keterangan itu. Penuhi uang yang kau janjikan. Kita akan membuat hubungan dengan Pangeran Yudakusuma agar didalam pemer iksaan-pemeriksaan selanjutnya, aku diperkenankan hadir dengan membawa saksi itu.” "Tetapi kapten masih sakit" berkata perwira bawahannya itu. “Aku akan segera sembuh. Jika bukan aku, Morman yang akan pergi kepada Pangeran Yudakusuma," jawab kapten Kenop. Perwira bawahannya itu mengangguk-angguk, ia akan menjalankan segala perintah sebaik-baiknya. Dalam pada itu tabib yang mengobati kapten Kenop pun memasuki biliknya dan mempersilahkan kapten Kenop itu untuk berbaring saja di pembaringannya. Dalam pada itu, di Sukawati, Pangeran Mangkubumi telah menemui Juwiring, Rara Warih, Buntal dan Arum. Pangeran Mangkubumi telah member itahukan langsung kepada mereka, bahwa ia telah berusaha untuk membawa Raden AyuGalihwar it keluar dari kota karena keadaannya menjadi gawat. Tetapi Raden Ayu Galihwarit tidak bersedia. "Aku sudah memberikan beberapa peringatan" berkata Pangeran Mangkubumi "tetapi ibundamu adalah seorang yang sangat tabah menghadapi keadaan. Karena itu, maka ibundamu berkeras untuk tetap tinggal dirumah." "Tetapi dengan demikian, apakah mungkin ibunda akan ditangkap, pamanda ?" bertanya Rara Warih. Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya "Baiklah aku berkata berterus terang Warih. Kau sudah dewasa menghadapi keadaan. Yang lainpun telah dewasa pula. Karena itu, maka aku dapat berterus terang, bahwa aku sudah mendengar rencana kumpeni untuk menangkap ibundamu. Karena itu, maka aku telah datang kerjadanya, memberitahukan kepadanya. Tetapi seperti yang aku katakan, ibundamu tidak dapat meninggalkan istana ayahandanya dan juga ayahandanya itu sendiri, yang sudah semakin tua dan sakit-sakitan." "O" Rara Warih menjadi sangat gelisah. "Ibunda salah hitung. Ibunda tidak sampai hati meninggalkan eyang Sindurata. Tetapi jika ibunda ditangkap, apakah itu juga bukan berarti meninggalkan eyang Sindurata." “Tetapi ada dorongan lain War ih" berkata Pangeran Mangkubumi “ibundamu seorang pejuang yang bertanggung jawab." "Tetapi bukankah hak seseorang untuk menghindar i bahaya yang mengancamnya" berkata Rara Warih yang kecemasan. Pangeran Mangkubumi menganggug-angguk. Nampaknya masih ada yang ingin di katakainnya. Tetapi niatnya itupun diurungkannya. "Marilah kita berdoa" katanya kemudian "mudah-mudahan Tuhan selalu melindungi kita."Pangeran Mangkubumi kemudian minta diri untuk melakukan tugas-tugasnya yang lain. Namun akhirnya laporan yang dicemaskan itupun datang. Seorang petugas sandi yang datang dari kota melaporkan bahwa Raden Ayu Galihwarit sudah ditangkap. Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam, la merasa berkewajiban untuk menyampaikannya kepada anak anak muda yang disebut oleh Raden Ayu itu sebagai anak- anaknya. Tetapi agaknya hati Rara Wariih masih terlalu lemah untuk melihat kenyataan itu. “Tetapi aku kira lebih baik ia mengetahui sejak awal daripada ia akan dikejutkan oleh keputusan kumpeni yang tiba-tiba" berkata Pangeran Mangkubumi didalam hatinya. Karena sebenarnyalah Pangeran Mangkubumi sudah memperhitungkan hukuman apa yang akan diterima oleh Raden Ayu Galihwarit itu. Karena itu. maka pada kesempatan yang dianggap baik. sekali lagi Pangeran Mangkubumi menemui anak-anak muda itu. Warih dan Arum masih merawat Juwiring dan Buntal yang terluka. Tetapi nampaknya Buntal yang lukanya tidak terlalu parah, sudah mulai pulih kembali meskipun lukanya itu sendiri masih belum sembuh, sementara Juwirnggpun telah berangsur-angsur menjadi lebih baik. Dengan sangat berhati-hati, Pangeran Mangkubumipun akhirnya sampai juga pada berita. bahwa Raden Ayu Galihwar it memang sudah dutangkap Ternyata berita itu cukup mengguncangkan hati Rara Warih.. Didalampelukan Arum ia menangis terisak-isak. "Sudah diajeng" Raden Juwiring berusaha menghiburnya "kita serahkan segala kepada Tuhan. Aku kira ibunda bukan tidak mempunyai perhitungan." Rara Warih memandang kakaknya dengan mata basah. Gadis itu tahu bahwa Raden Ayu Galihwarit bukan ibundakakaknya itu yang sebenarnya. Karena itu, tanggapan dihatinya tentu berbeda dengan tanggapan dihatinya sendiri. Raden Juwiring seolah-olah dapat membaca gejolak hati adiknya. Karena itu, katanya "Diajeng. Bagiku ibunda Galihwar it tidak ubahnya dengan ibundaku sendir i. Pada saat- saat terakhir ibunda itupun telah menganggap aku sebagai puteranya sendiri. Apalagi dalam perjuangan yang saling mengisi ini. Namun bagaimanapun juga, kita memang harus sampai kepada sikap pasrah. Tidak ada kuasa apapun juga yang akan dapat merebah keputusan-Nya." Tetapi akhirnya semuanya yang menyaksikan Warih menangis dapat juga mengerti, bahwa hal itu adalah wajar sekali. Namun demikian Pangeran Mangkubumipun berpesan "Menangis memang dapat mengurangi beban di hati Warih. Tetapi kaupun harus berusaha menghubungkan kenyataan yang kau hadapi dengan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang tidak dapat diubah oleh kuasa apapun seperti yang dikatakan oleh kakakmu Juwir ing. Kau dapat menyesali apa yang terjadi. Tetapi tentu dilambari dengan nalar. Dan sekali- sekali jangan menyesali apa yang dikehendaki oleh Tuhan itu sendiri." Rara Warih mengangguk kecil meskipun ia masih juga terisak. Sementara itu, Pangeran Mangkubumipun berkata "Baimanapun juga, kau harus ikut merasa bangga, bahwa beberapa kali ibundamu telah memberikan keterangan yang sangat berharga.” Sekali lagi Rara Warih mengangguk. Iapun kemudian mencoba menempatkan dir inya dalam gejolak perjuangan itu. Ibundanya telah ditangkap karena perjuangannya. Sekilas Rara Warih membayangkan, apa yang terjadi dalam pertempuran yang dahsyat di pinggir kali itu. Korban berjatuhan tanpa dihitung lagi. Seandainya ibundanya tidak berhasil menyadap berita sergapan itu, apakah yang akan terjadi dengan pasukan Pangeran Mangkubumi. Namundengan demikian, ibunya telah mengorbankan segala-galanya. Kehormatannya, dan kini ia telah ditangkap. Jantung Rara Warih serasa berhenti berdetak jika ia membayangkan hukuman apa yang dapat dijatuhkan atas ibundanya Sebagaimana pernah didengarnya, hukuman bagi orang yang dianggap berkhianat. Dalam tekanan perasaan itu, ia membayangkan kembali korban-korban di pertempuran. Orang-orang itu juga mengorbankan nyawanya bagi pengabdiannya untuk menegakkan kebebasan bagi tanah air tercinta. "Sudahlah Warih" berkata Pangeran Mangkubumi kemudian “Kita akan sama-sama berdoa." Sepeninggal Pangeran Mangkubumi, Warih berusaha menahan air matanya. Sementara itu ia masih berada didalam pelukan Arum. Meskipun keduanya sebaya, tetapi Arum nampak lebih tabah karena tempaan kehidupannya di padepokan. Namun akhirnya Rara Warihpun dapat menenangkan hatinya. Meskipun jantungnya masih terasa berdegupan, tetapi ia berhasil mengatasi tangisnya. Meskipun demikian, wajah-wajah yang lainpun masih nampak murung, karena mereka tahu, kemungkinan yang dapat terjadi atas Raden Ayu Galihwarit. Pada hari berikutnya, Pangeran Mangkubumi telah memer intahkan petugas-petugas sandinya untuk melihat satu kemungkinan atas Raden Ayu Galihwarit. Jika kemungkinan itu nampak, betapapun kecilnya, maka Pangeran Mangkubumi akan berusaha untuk membebaskannya dari tangan prajurit Surakarta yang menahannya Tetapi laporan yang diterimanya sangat mengecewakannya."Kami sama sekali tidak melihat kemungkinan itu, Pangeran" berkata seorang petugas sandi yang menyelidiki tempat Raden Ayu Galihwarit ditahan." Pangeran Mangkubumi hanya dapat menarik nafas dalam- dalam. Pangeran Mangkubumi yang kebetulan berada di Sukawati itu telah memanggil Raden Juwiring. Bersama-sama petugas sandi itu mereka mengurai kemungkinan yang dapat mereka lakukan. Karena Juwir ing pernah t inggal di istana Pangeran Ranakusuma. maka ia dapat mengenal semua sudut istana itu. Namun menurut laporan yang diterima dari para petugas sandi, maka segala kemungkinan telah tertutup karena penjagaan yang ketat dan berlapis. Bahkan kumpeni yang kecewa. Sudah memberikan bantuannya, yang sebenarnya berpangkal pada kecurigaan kumpeni, bahwa ada usaha untuk melindungi Raden Ayu Galihwarit dan apalagi berusaha untuk member i kesempatan kepadanya untuk melar ikan dir i. Tetapi sebenarnyalah bahwa prajurit Surakarta benar-benar telah menjaga agar Raden Ayu Galihwarit dapat diperiksa. Pimpinan tertinggi pasukan Surakarta merasa, bahwa korban telah terlalu banyak yang jatuh. Namun mereka sama sekali tidak berhasil berbuat sesuatu yang berarti untuk mengatasi perlawanan Pangeran Mangkubumi. Karena itulah, maka para pengikut Pangeran Mangkubumi sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menolong Raden Ayu Galihwarit. Bahkan Pangeran Mangkubumipun masih juga menyangsikan, seandainya kesempatan itu ada, apakah Raden Ayu Galihwarit bersedia melarikan dir i. Dengan demikian, maka usaha untuk menolong Raden Ayu itupun terpaksa tidak dapat dilakukan, agar tidak akan jatuh korban yang hanya sia-sia. Dalam pada itu, maka di hari-har i berikutnya, Raden Ayu memang mengalami pemer iksaan yang terus-menerus. Namunsebenarnyalah pemeriksaan itu berjalan tanpa kesulitan. Raden Ayu mengatakan apa saja yang pernah dilakukannya. Namun demikian ia masih berusaha melindungi nama ayahandanya, "Tidak ada gunanya aku menyembunyikan setit ik rahasiapun dihadapan kalian" berkata Raden Ayu itu kepada para petugas dari Surakarta dan kumpeni "aku tahu, bahwa kalian telah mendengar segala-galanya. Mustahil kalian dapat member ikan tuduhan begitu terperinci j ika tidak ada seorang pelayan atau pengawal istana Sinduratan yang bersedia member ikan keterangan.” "Apa kewajiban ayahanda Raden Ayu dalam hubungannya dengan keterangan-keterangan yang Raden Ayu berikan kepada pasukan Pangeran Mangkubumi ?" bertanya seorang perwira kumpeni. "Ayah tidak bersangkut paut dengan tugas-tugas semacam itu" jawab Raden Ayu Galihwarit "yang ayah ketahui semula anak-anakku itu disangkanya penjual burung dan penjual lulur. Ketika kemudian ayahanda mengetahui siapa mereka, maka ayahanda menjadi sangat marah dan untuk seterusnya tidak mau tahu tentang apa saja yang aku lakukan. Aku dianggapnya anak yang hilang karena tingkah lakuku." "Bohong" perwira kumpeni itu membentak. Raden Ayu mengerutkan keningnya. Dengan lantang ia berkata "Kau jangan membentak-bentak di hadapanku. Kau kira aku seorang tawanan karena aku mencopet di pasar ?" Perwira itu masih akan membentak. Namun Tumenggung Watang yang ikut serta dalam pemer iksaan itu telah bertanya dengan lembut "Raden Ayu. Jadi menurut Raden Ayu. ayahanda Raden Ayu sama sekali tidak ikut campur dalam hal ini ?" "Ya" jawab Raden Ayu Galihwarit."Apakah Raden Ayu bersedia jika kami hadapkan seorang saksi ?" berkata Tumenggung Watang. "Silahkan. Silahkan" jawab Raden Ayu sambil tersenyum. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kegelisahannya meskipun ia akan dihadapkan kepada siapa saja. Sejenak kemudian, seseorang telah dibawa masuk keda- tam bilik pemeriksaan. Ketika dilihatnya Raden Ayu Galihwarit. maka kepalanyapun telah ditundukkan dalam-dalam. Namun dalam pada itu, Raden Ayupun tersenyum sambil menyapanya "Bagaimana khabar keselamatanmu Ki Samangun ?" Wajah orang itu menjadi semakin tunduk. Pertanyaan Raden Ayu itu benar-benar telah menusuk jantungnya. Justru karena itu, maka sepatahpun ia tidak dapat menjawab. Dalam pada itu, maka perwira kumpeni yang ikut memer iksa Raden Ayu itulah yang kemudian berkata "Nah. sekarang katakan terus terang, apa yang kau ketahui tentang Raden Ayu ini.” Wajah orang itu menjadi merah padam. Di hadapan Raden Ayu Galihwarit rasa-rasanya mulutnya menjadi tersumbat. "Cepat, bicara" bentak perwira kumpeni itu. Terasa punggungnya didorong oleh tangan yang kasar kuat. Tentu tangan perwira kumpeni ku. Karena itu. maka tiba-tiba tumbuhlah ketakutannya, sehingga dengan suara bergetar ia kemudian bertanya "Apa yang harus aku katakan, tuan?" "Apa yang kau ketahui tentang keterlibatan Pangeran Sindurata" bentak kumpeni itu. Orang itu bergeser setapak. Kemudian katanya "Pangeran Sindurata mengenal Raden Juwiring.""Tentu. Bodoh" perwira itu menjadi marah "tetapi hubungannya dengan pengkhianatan ini." "Aku tidak tahu tuan" jawab orang itu "tetapi yang aku katakan sejak semula, bahwa Pangeran Sindurata mengetahui bahwa Raden Juwiring datang ke istana Sinduratan." Perwira kumpeni itu menjadi sangat marah. Namun dalam pada itu sambil tersenyum Raden Ayu berkata "Nah, bukankah seperti yang aku katakan. Ayahanda akhirnya tahu, bahwa yang datang dengan membawa burung itu adalah anakku. Juwiring. Hal itulah yang membuat ayahanda semakin marah kepadaku.” "Begitu ?" teriak perwira kumpeni itu. Diluar dugaan kumpeni itu, maka orang itupun mengangguk sambil berkata "Ya tuan. Begitulah." Hampir saja punggung orang itu dihantam sepatu oleh perwira yang marah sekali itu. Namun seorang Senapati yang ada didalam bilik itu mencegahnya "Ia seorang saksi.” "Tetapi ia berbohong" geramperwira kumpeni ku. "Biar lah ia mengatakan apa yang ingin dikatakannya" berkata Senapati itu. Dalam pada itu Raden Ayu Galihwaritpun berkata "Apa lagi yang sebenarnya kalian inginkan. Aku tidak ingkar, bahwa akulah yang memberitahukan beberapa persoalan penting kepada pasukan Pangeran Mangkubumi lewat anak-anakku yang sekarang berada di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Nah, apalagi ? Bukankah kalian t inggal menjatuhkan hukuman yang paing sesuai atasku?" "Pengkhianat" geramperwira kumpeni itu. Tetapi Raden Ayu justru tertawa. Katanya "Tergantung siapa yang menyebutnya. Bukankah begitu Ki Tumenggung Watang ?"Tumenggung Watang mengangguk kecil sambil menjawab "Ya Raden Ayu. Memang tergantung sekali, siapakah yang mengatakannya." Wajah perwira kumpeni itu bagaikan membara. Tetapi Tumenggung Watang memang berbeda dengan Ki Samangun yang duduk di lantai dengan kepala tunduk. Tumenggung Watang dapat mengatakan apa saja yang ingin dikatakannya tanpa perasaan takut. Meskipun demikian, setelah pemeriksaan atas Raden Ayu Galihwar it itu selesai, maka baik kumpeni maupun pimpinan keprajuritan di Surakarta telah menyatakannya bersalah. Namun mereka tidak dapat menyebut dengan pasti, bahwa Pangeran Sindurata telah terlibat dalam kesalahan Raden Ayu Galihwar it. Akhirnya yang berhak mengambil keputusan dalam waktu perang di Surakarta itu telah mengambil keputusan atas Raden Ayu Galihwarit yangi dituduh telah berkhianat atas Surakarta, yang beberapa kali telah memberikan keterangan penting dalam hubungannya, dengan peperangan yang sedang berlangsung antara Surakarta dengan Pangeran Mangkubumi yang mengadakan perlawanan terhadap kekuasaan yang sah di Surakarta. Dan keputusan itu adalah keputusan hukuman yang terberat. Hukuman mati. Tetapi Keputusan itu sama sekali t idak mengejutkan Raden Ayu Galihwarit. Ia sudah menduga sejak semula, bahwa hukuman yang paling sesuai baginya menurut sudut pandangan orang-orang Surakarta dan kumpeni adalah hukuman mati. Dan ia sama sekali tidak akan ingkar menghadapi hukuman itu. Karena itu. maka ketika para pemimpin prajurit Surakarta dan kumpeni bertanya kepadanya, apakah ia menerima keputusan itu, maka Raden Ayu Galihwarit menjawab sambiltersenyum "Tidak ada hukuman lain yang lebih pantas bagiku selain hukuman mati menurut pandangan kalian. Karena itu, aku menerima hukuman itu." Namun yang masih mendebarkan hati Raden Ayu itu adalah cara yang akan dipergunakan untuk menjatuhkan hukuman mati itu. Semula keputusan itu berbunyi dihukum gantung sampai mati. Tetapi akhirnya dirubah menjadi dihukum tembak sampai mati dihadapan regu tembak Sebenarnyalah beberapa orang perwira kumpeni yang ikut berbicara saat-saat keputusan itu diambil adalah kawan-kawan Raden Ayu Galihwarit. Bagaimanapun juga, mereka tidak dapat mengingkari getar perasaan mereka. Tentu mereka tidak akan sampai hati melihat perempuan cantik itu tergantung di tiang gantungan. Karena itu, maka mereka telah berpendapat, bahwa ada cara yang lebih baik untuk menghukumnya menurut cara yang sering dilakukan oleh kumpeni. Dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit telah benar-benar bersiap menghadapi kematiannya. Lahir dan batin. Ia sendiri sudah mulai dicengkam oleh kejemuan terhadap hidupnya yang selalu dilumuri oleh kotornya lumpur kehidupan itu sendiri. Namun disaat terakhir ia sudah sempat menyatakan penyesalan dan pertaubatan didalam hati. Bahkan didalam ketiadaan sadar, kadang-kadang ia sendiri melihat kematian adalah salah satu jalan yang telah dipilihnya untuk mengakhiri kehidupannya yang suram. Namun untunglah, bahwa pada: saat terakhir, dengan cara hidupnya itu Raden Ayu Galihwarit masih melibat kesempatan, bahwa hidupnya yang kotor itu masih juga ada gunanya, sebelum akhirnya maut itu memang datang menjemputnya. Keputusan itu telah menggemparkan Surakarta. Ketika keputusan itu diumumkan, maka terasa bahwa perasaanrakyat Surakarta telah bergejolak. Ada berbagai tanggapan yang mencengkamperasaan rakyat Surakarta. Ketika Raden Ayu Galihwar it itu ditangkap, sudah banyak rakyat Surakarta yang memperbincangkannya. Meskipun saat itu mereka sudah mulai bertanya-tanya dan menilai tentang dirinya. Namun sebenarnyalah rakyat Surakarta memang tidak begitu menghiraukannya, karena Raden Ayu Galihwar it yang cantik itu bagaikan sekuntum bunga yang indah yang kembang diatas setambun sampah didalam lumpur. Bahkan seperti pendapat beberapa orang pelayan didalam istana Simduratan yang tersebar dilingkungan para tetangga dan orang-orang yang mereka kenal di pasar, bahwa Raden Ayu Galihwarit telah menyingkirkan anak gadisnya, karena anak gadisnya itu ternyata tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik, yang akan dapat menyainginya. Kematian dua orang perwira kumpeni di istana Sinduratan telah menarik perhatian rakyat Surakarta. Kemudian disusul penangkapan Raden Ayu itu sendiri. Tetapi tidak banyak orang yang tahu dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh, apakah sebenarnya yang telah terjadi dengan seorang puteri bangsawan yang telah sempat mencemarkan nama baik puteri Surakarta itu dihadapan kumpeni. Namun ketika dengan resmi diumumkan, bahwa Raden Ayu Galihwar it telah dijatuhi hukuman mati karena ia telah berkhianat dan memberikan beberapa keterangan penting kepada pasukan Pangeran Mangkubumi sehingga beberapa kali gerakan kumpeni dan pasukan Surakarta gagal, maka mulailah rakyat Surakarta dengan sungguh-sungguh menilainya. Ternyata bahwa Raden Ayu Galihwarit bukannya sampah yang paling kotor seperti yang mereka duga. Apalagi mereka yang mendukung perjuangan Pangeran Mangkubumi meskipun didalam hati, tiba-tiba telah merasabersalah, bahwa selama itu mereka menganggap bahwa Raden Ayu Galihwarit adalah perempuan yang hanya tahu tentang dirinya dan bahkan telah melanggar segala paugeran bagi puteri utama di Surakarta. Tetapi berita tentang hukuman mat i dan sebabnya itu, benar-benar telah menyentuh hati mereka. Dalam pada itu, Pangeran Mangkubumi dan pasukannya- pun telah mendengar, bahwa Raden Ayu Galihwarit telah di jatuhi hukuman mati. Sebenarnyalah mereka memang sudah menduga. Bagi kumpeni kesalahan Raden Ayu Galihwar it adalah besar sekali. Bahkan Pangeran Mangkubumi berpendapat, seandainya ada hukuman yang lebih berat dari hukuman mat i, maka hukuman itulah yang akan dijatuhkannya. Juwiring, Buntal dan Arum telah dipanggil menghadap. Betapa berat perasaan mereka mendengar keputusan itu. Dan betapa beratnya mereka akan menyampaikan berita itu kepada Rara Warih. "Juwiring" berkata Pangeran Mangkubumi "bagaimanapun juga, aku adalah orang tuanya. Warih adalah kemanakanku. Sepeninggal ayah dan ibunya, ia adalah anakku. Karena itu, panggillah ia kemar i. Aku sendiri yang akan menyampaikan kepadanya.” Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian beringsut dan bangkit untuk memanggil Rara Warih. Dengan sangat hati-hati, Pangeran Mangkubumi sendiri telah menyampaikan berita keputusan kumpeni dan pimpinan keprajuritan Surakarta tentang Raden Ayu Galihwarit. "Tidak ada didunia ini yang kekal, Rara Warih" berkata Pangeran Mangkubumi "segalanya yang ada akan tiada. Dan segala yang hidup pada akhirnya akan mati"Wajah Rara Warih menjadi tegang. Ia sudah mulai dapat meraba arah pembicaraan Pangeran Mangkubumi. Karena itu, tiba-tiba saja ia bertanya "Bagaimana dengan ibunda ?” Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Bahwa kita harus kembali kepada Maha Pencipta itu tidak akan dapat kita ingkar i. Bahkan waktunya pun tidak akan dapat kita tawar lagi j ika waktu itu memang sudah tiba. Warih, bagaimanapun juga kita yang ditinggalkan akan merasa kehilangan, namun sebenarnyalah bahwa yang meninggalkan kita itu akan kembali kesisi Yang Maha Pencipta.” "Bagaimana dengan ibunda, pamanda Pangeran ?” Rara Warih tidak sabar lagi. "Yang terjadi hanyalah bagaimana kematian itu datang menjemput kita. Tetapi kematian itu sendir i tidak dapat kita hindari" jawab Pangeran Mangkubumi. Lalu "Rara Warih. pada saatnya ibundamu tentu akan kembali ke sisi Tuhan. Dan kumpeni berniat mengantarkan saat-saat ibundamu itu kembali ke asal kita. Dari mana kita datang, kemana lagi kita akan pergi.” "Pamanda" wajah Rara Warih menjadi semakin tegang "maksud pamanda Pangeran, ibunda dihukum mati ?" Pangeran Mangkubumi terpukau di tempatnya. Namun hampir diluar sadarnya, ia telah mengangguk kecil. Terdengar Rara Warih itu menjerit. Namun untunglah bahwa Juwiring dengan cepat telah menangkapnya, sehingga ketika Rara Warih itu pingsan, ia berada di tangan Raden Juwiiring. Beberapa orang menjadi sibuk. Mereka mengerti, betapa hancurnya hati gadis itu. Ia merasa seolah-olah hidupnya sendiri sama sekali tidak pernah mengalami kegembiraan. Ayahandanya sudah gugur dipeperamgan sepeninggalkakaknya, Rudira. Kemudian ibundanya harus mengalami hukuman mat i. Ketika Rara Warih itu sadar, ia melihat wajah Pangeran Mangkubumi yang mengamatinya. Ketika terdengar isak tangisnya, maka Pangeran Mangkubumi itu berkata "Rara Warih. Terimalah keputusan itu dengan menyebut nama Maha Pencipta. Serahkan ibundamu kembali kepadanya." "Aku tidak lagi berbapa dan beribu" tangisnya. "Aku adalah pengganti orang tuamu, Warih" jawab Pangeran Mangkubumi. Rara Warih memandang Pangeran Mangkubumi dengan sorot mata yang layu. Namun kemudian gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia telah mencoba untuk mengerti persoalan yang dmadapinya. Namun demikian, bagaimanapun juga, kepergian ibundanya adalah satu himpitan baru di hatinya. Dalam pada itu, ternyata Surakarta tidak berniat untuk menunda-nunda hukuman mati yang sunah mereka jatuhkan atas Raden Ayu GaUhwarit. Karena itu, pada saat yang pendek maka Surakarta sudah bersiap-siap untuk melakukannya. Sebenarnya Raden Ayu Galihwarit bukannya orang yang pertama mengalami hukuman mati. Tetapi biasanya kumpeni tidak pernah mempergunakan tatanan yang seperti ditrapkan kepada Raden Ayu Galihwarit yang kebetulan adalah seorang bangsawan. Biasanya kumpani langsung menghukum mati setiap orang yang dicurigainya tanpa pemeriksaan yang teliti. Tanpa pengakuan, tanpa bukt i dan tanpa saksi. Jika kumpeni mencur igai seseorang berdasarkan laporan yang tidak jelas, hal itu sudah cukup kuat untuk menembak, orang itu disembarang tempat dan disembarang waktu. Tetapi tidak demikian dengan Raden Ayu Galihwar it. Puteri itu masih mendapat kehormatan untuk dihukum mati disebuah lapangan di depan loji. Surakarta sengaja menghukum puteriitu didepan umum, dengan pengertian, bahwa tingkah lakunya jangan ditiru oleh orang lain. Dan Surakarta ingin membuktikan bahwa hukum berlaku bagi siapa saja, termasuk seorang anak perempuan Pangeran di Surakarta sendiri. Pada hari yang ditentukan, maka terjadi kesibukan di lapangan didepan loj i. Penjagaan dilakukan dengan sangat ketat. Bukan saja ditemptat kejadian, tetapi diseluruh kota. Hampir disetiap .pintu gerbang telah dipasang meriam-meriam kecil yang dapat menahan serangan jika hal itu akan terjadi. Sementara para peronda hilir mudik diseluruh kota tanpa ada hentinya sejak matahari terbit. Dalam pada itu, ternyata banyak juga orang, yang ingin menyaksikan, bagaimana Raden Ayu Galihwar it itu mengakhiri hidupnya. Karena itu, maka jalan-jalan diseluruh kota-pun menjadi ramai. Berkelompok-kelompok orang menuju ke lapangan di depan loji. Dengan perasaan yang berbeda-beda rakyat Surakarta berusaha untuk melihat, apa yang sebentar lagi akan terjadi. Dalam pada itu, betapapun tabahnya hati Raden Ayu Galihwar it, namun ketika datang saatnya hukuman mati itu akan dilaksanakan, maka wajahnyapun nampak menjadi pucat. Jantungnya bagaikan berdetak semakin cepat Pada saat seorang penjaga membuka pintu biliknya, kemudian mempersilahkan Tumenggung Watang memasuki bflik itu, terasa jantungnya bagaikan berhenti mengalir. Tetapi Raden Ayu Galihwarit tidak mau menunjukkan kegelisahannya yang sangat. Karena itu, iapun berusaha untuk tetap tersenyum sambil bertanya "Apakah aku harus berangkat sekarang?" "Belum Raden Ayu" jawab Tumenggung Watang "aku masih mendapat kesempatan untuk bertanya kepada Raden Ayu, apakah masih ada yang Raden Ayu inginkan sebelum Raden Ayu menjalani hukuman itu. ?"Jantung Raden Ayu itu bergetar. Namun katanya kemudian "Aku ingin bertemu dengan ayahanda sekali lagi.” "Baiklah Raden Ayu. Biarlah ayahanda dijemput untuk datang ketempat ini sebelum Raden Ayu pergi" jawab Tumenggung Watang. Namun dalam pada itu, ternyata Tumenggung Watang sendirilah yang telah pergi menjemput Pangeran Sindurata. Ketika ia memasuki halaman istana Sinduratan maka iapun segera meloncat turun dari kudanya diikuti oleh para pengawalnya. Tumenggung Watang tertegun ketika ia melihat Pangeran tua itu duduk di pendapa istananya seorang diri. Tidak seorangpun yang menghadap dan menemaninya. Anak- anaknya yang lain juga tidak. Dengan kerut merut yang semakin dalam karena usianya serta beban perasaannya, Pangeran itu merenungi pepohonan yang tegak di halaman istananya. Ketika Pangeran Sindurata melihat Tumenggung Watang, maka tanpa bergerak dari tempat duduknya, ia mempersilahkan Tumenggung itu naik. "Apa keiperluanmu ? Apakah kau juga mendapat perintah untuk menangkap aku?" bertanya Pangeran Sindurata. "Tidak Pangeran" jawab Tumenggung Watang yang kemudian menyampaikan permohonan Raden Ayu Galihwar it untuk dapat bertemu dengan ayahandanya sekali lagi. "Terima kasih" jawab Pangeran Sindurata "aku akan segera datang." "Kami akan menunggu Pangeran berkemas." jawab Tumenggung Watang. Dengan tergesa-gesa Pangeran Sinduratapun segera membenahi dir i. Dengan keretanya iapun kemudian pergi ke bekas istana Pangeran Ranakusuma untuk menjumpai anakperempuannya yang sebentar lagi akan menjalani hukuman mati. Ketika di jalan-jalan raya Pangeran itu melihat orang berduyun-duyun, maka iapun bergumam seolah-olah kepada diri sendir i "Mereka akan melihat satu pertunjukan yang paling baik di pekan ini." Kedatangannya disambut oleh Raden Ayu Galihwarit dengan isak yang tertahan. Sambil berjongkok Raden Ayu itu menyembah kepada ayahandanya. Satu hal yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya sejak ia berada dalam satu lingkungan yang dekat dengan kumpeni. "Hamba mohon maaf atas segala kesalahan hamba ayahanda. Hamba telah mengotori nama ayahanda dengan tingkah laku hamba. Hamba telah membunuh anak hamba laki- laki dan hamba pula yang telah mendorong kakangmas Ranakusuma untuk mengambil sikap yang menyebabkan ia gugur." tangis puteri itu. "Tetapi Pangeran Ranakusuma gugur sebagai pahlawan" jawab Pangeran Sindurata "dan kaupun akan menjalani hukumanmu sebagai! seorang pejuang." "Hamba mohon restu, agar hati hamba menjadi tabah" desis Raden Ayu. "Ketabahan adalah ciri kepahlawananmu Galihwar it. Kau telah mapan dan pasrah, sehingga tidak ada yang dapat menggoyahkan hatimu lagi. Kau akan berdiri tegak seperti batu karang di pinggir Samodra. Perjuanganmu adalah bunga yang akan mekar di persada tanah air inti. Jika pada saatnya kembang itu gugur, maka baunya yang harum akan tetap dikenang." Raden Ayu Galihwarit mengusap matanya yang basah. Sekali lagi ia menyembah ayahandanya dan mencium kakinya. Kemudian iapun berdiri tegak sambil berkata "Aku sudah siap ayahanda.”"Pergilah. Aku akan mengiringimu dengan doa, semoga kau diterima dsisi Tuhan Yang Maha Esa," jawab ayahandanya. Raden Ayu Galihwarit mengangguk sambil tersenyum. Katanya lirih "Selamat t inggal ayahanda," Pangeran Sindurata tidak menyahut. Iapun kemudian keluar dari bilik itu langsung menuju ke keretanya. Betapa kerasnya hati orang tua itu. namun dikedua matanya telah mengembun setitik air mata. Sepeninggal Pangeran Sindurata, maka Tumenggung Watangpun masuk kedalam bilik Raden Ayu itu pula. Dengan nada dalam ia bertanya "Apakah masfih ada keinginan Raden Ayu yang tertinggal?" Raden Ayu Galihwarit itu tertawa. Katanya "Sudah cukup Ki Tumenggung. Jika Ki Tumenggung bertanya lagi, maka aku akan menjawab, bahwa yang aku inginkan adalah kepala kapten Kenop.” "Ah" desah Tumenggung Watang. "Sekarang aku sudah siap." berkata Raden Ayu. Tumenggung Watang menar ik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Raden Ayu itu sekilas. Hampir saja ia bertanya, dimanakah puterinya yang bernama Rara Warih sekarang. Tetapi niatnya itu diurungkan. Hal itu akan dapat mengungkit luka dihati Raden Ayu itu justru pada saat-saat terakhir. Bahkan mungkin Raden Ayu itu akan salah mengerti, bahwa disangkanya ia akan memburunya dan menangkapnya. Tetapi ingatan Tumenggung Watang itu semata-mata karena Warih adalah kawan baik anak perempuannya yang sebaya. "Apa yang ditunggu lagi Ki Tumenggung ?" justru Raden Ayu itulah yang mendesak. "Sebentar lagi akan datang kereta khusus yang menjemput Raden Ayu" jawab Tumenggung Watang.Raden Ayu itu mengangguk-angguk. Namun belum lagi Raden Ayu bertanya tentang yang lain, maka telah terdengar derap kereta dan kaki kuda memasuki halaman itu. "Mereka datang." berkata Tumenggung Watang. Sejenak kemudian, maka di halaman itu telah siap sebuah kereta yang menjemput Raden Ayu itu. Diiringi oleh beberapa orang kumpeni yang siap dengan senjata di tangan. Sementara itu pasukan berkuda Surakartapun telah menyiapkan sekelompok prajuritnya untuk mengawal Raden Ayu itu pula. "Marilah Raden Ayu" Tumenggung Watang memper- silahkan. Denyut jantung Raden Ayu Galihwarit terasa semakin cepat. Tetapi ia sudah benar-benar pasrah. Pasrah bagi dir inya sendiri dan pasrah atas anak-anaknya yang ditinggalkannya. Dalam pada itu, diir ingi oleh Tumenggung Watang dan serenang perwira kumpeni, Raden Ayu Galihwar it itu naik kedalam kereta. Namun dalam pada itu, ia berkata "Aku masih mempunyai satu permintaan Ki Tumenggung." Tumenggung Watang mengerutkan keningnya. Ia cemas, bahwa Raden Ayu itu akan minta kepala seorang kumpeni. Tetapi dalam pada itu, Raden Ayu itupun berkata "Aku minta bahwa yang berada disebelah menyebelah kereta ini adalah prajurit Surakarta. Bukan kumpeni Karena aku adalah rakyat Surakarta.” Tumenggung Watang menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Baiklah Raden Ayu. Permintaan itu akan aku penuhi.” Demikianlah, maka iring- iringan itupun meninggalkan halaman bekas istana Pangeran Ranakusuma. Diluar regol Raden Ayu masih berpaling sekali, seolah-olah ingin melihat regol bekas istananya itu sekali lagi. Kemudian, Raden Ayu itupun duduk .tenang didalam keretanya.Jantungnya menjadi berdebaran ketika ia meilhat sedemikian banyak orang yang menunggunya. Terasa hatinya tersentuh. Sekian banyak orang yang ingin melihat dan menjadi saksi kematiannya. Tetapi Raden Ayupun sadar, bahwa perasaan orang-orang itu tentu berbeda-beda menghadapi peristiwa yang bakal terjadi atas dir inya Dalam pada itu, di Sukawati, Juwiring, Buntal dan Arum tengah berusaha menenangkan Rara Warih. Mereka tahu, bahwa hukuman mati itu dilaksanakan pada pagi hari itu. Karena itu, Rara Warih telah dicengkam lagi oleh kegelisahan. Bahkan dalam pada itu, Juwiring telah mengundang Kiai Danatirta dari Guntung Garigal. Ia berharap bahwa Kiai Danaitirta akan dapat membantunya menenangkan air perempuannya itu. Karena pada waktu itu Pangeran Mangkubumi tidak berada di Sukawati. Juwiring tahu, bahwa Pangeran Mangkubumi tentu berada didalam kota pada saat hukuman itu dilaksanakan Dengan sabar Kiai Danatirta memberikan beberapa petunjuk kepada Ratra Warih tentang saat-saat manusia datang dan saat-saat mereka harus pergi "Yang penting ngger" berkata Kiai Danaitirta "apakah yang kemudian dapat kita lakukan untuk melanjutkan perjuangan ibundamu." Rara Warih tersentuh oleh kata-kata Kiai Danatirta, itu. Sekali lagi ia mengulang didalam hatinya "Yang penting, apakah yang kemudian dapat kita lakukan untuk melanjutkan perjuangan ibunda." Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Betapapun juga. akhirnya ia harus sampai kepada kenyataan yang dihadapinya. Sementara ku pesan Kiai Danatirta ku telah tergores didinding jantungnya. "Aku sudah berada didalami lingkungan pasukan pamanda Mangkubumi" berkata Rara Warih didalam hatinya "aku akan-berbuat apa saja bagi perjuangan ini" Tetapi ia masih melanjutkan "Namun aku t idak akan berani menempuh cara seperti yang ibunda lakukan.” Dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit telah berada di antara orang-orang yang ingin menjadi saksi atas hukuman mati yang akan dijatuhkan. Namun sekali lagi, Raden Ayu itu telah menggetarkan hati Rakyat Surakarta. Dari jendela kereta yang membawanya rakyat Surakarta melihat wajah Raden Ayu itu sama sekali tidak menunduk. Tetapi sambil menengadahkan wajahnya Raden Ayu ku justru melambaikan tangannya. Ketika kereta itu kemudian berhenti di lapangan didepan loji maka yang nampak turun dari kereta itu adalah seorang perempuan cantik yang masih saja tersenyum. Dengan tengadah Raden Ayu Galihwarit memandang kesekelilingnya. Sehingga justru karena itulah, maka wajah-wajah rakyat Surakarta itulah yang menunduk dalam-dalam. Sebuah gejolak yang dahsyat telah menerpa jantung mereka. Yang membenci maupun yang mencintainya, telah berdesah didalam hati "Seorang perempuan yang Agung.” Raden Ayu Galihwarit menolak untuk ditutup matanya. Ketika ia berdir i dihadapan sekelompok penembak, maka ia berdiri dengan tegak. Yang justru menjadi gemetar adalah letnan Morman. Ia mendapat perintah untuk memberikan aba-aba kepada, tujuh orang kumpeni dengan senapan di tangan. "Luar biasa" 'berkata Morman itu didalam hatinya "ia sadar sekali, apa yang dilakukannya bagi tanah air. bagi bangsa dan bagi dir inya sendir i." Bagaimanapun juga letnan itu terpaksa mengangguk hormat ketika Raden Ayu Galihwar it memandangnya sambil tersenyum.Di sebelah kiri dar i lapangan itu, beberapa orang bangsawan dan pemimpin dar i Surakarta berdiri tegak. Pangeran Yudakusuma hadir dalam pelaksanaan hukuman mati itu. Dalam pada itu, tidak seorangpun diantara mereka yang berani menatap wajah Raden Ayu Galihwarit Sambil menundukkan kepala, mereka berkata didalam hati "Bahwa perempuan yang pernah tercemar namanya ini, pada suatu saat telah menempatkan diri sebagai seorang pejuang yang sulit dicari bandingnya." Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang berani melihat dan meruku diri mereka sendir i. Beberapa orang pimpinan dalam jajaran tertinggi di Surakarta, yang sejak semula telah berusaha menjatuhkan kedudukan Pangeran Mangkubumi karena ir i dan dengki, berusaha untuk membaurkan pengakuan didalam hatinya itu dengan pernyataan-pernyataan yang semu, sehingga dengan susah payah barulah mereka berhasil menipu diri mereka sendiri. Sejenak kemudian, maka pelaksanaan hukuman mati itupun telah di persiapkan. Ketika Morman menempatkan Raden Ayu yang tidak mau ditutup matanya itu, maka ia telah berbisik dengan bahasa yang kaku "Aku mohon maaf Raden Ayu. Aku adalah prajurit yang menjalankan tugasku." Raden Ayu attu tersenyum. Seperti kepada anak-anak yang merengek minta gula-gula Raden Ayu itu menepuk pundaknya "Lakukan tugasmu dengan baik letnan." Sejenak kemudian, maka tujuh orang penembak tepat itu telah bersiap. Namun dalam pada itu, rakyat yang menyaksikan peristiwa itu telah bergejolak. Beberapa orang tidak dapat menahan tangisnya, sementara 'beberapa, orang yang lain dengan tergesa-gesa telah meninggalkan tempat itu, sebelum hukuman dilaksanakan, Dalam pada itu, ketika dengan suara gemetar Morman meneriakkan aba-aba dan senapan yang tujuh pucuk itu meledak, maka meledak pula pertempuran yang dahsyat diJatimalang. Ternyata Pangeran Mangkubumi tidak menyaksikan hukuman mait i itu dilaksanakan. Pagi-pagi sekal ia memang berada di kota, diantara orang-orang yang berduyun-duyun kelapangan didepan loji itu. Namun kemudian ia telah meninggalkan kota justru ketika ia melihat, bahwa seluruh kekuatan kumpeni dan prajur it Surakarta telah dikerahkan untuk menjaga keamanan kota pada saat pelaksanaan hukuman mati itu. Kematian Raden Ayu Galihwarit didepan tujuh orang penembak itu, bukannya dibiarkan saja berlalu oleh Pangeran Mangkubumi. Namun pada saat yang bersamaan, ternyata pasukan Pangeran Mangkubumi yang berada di Gunung Garigal telah turun dan menyerang salah satu pertahanan kumpeni yang kuat. Tetapi ternyata bahwa Pangeran Mangkubumi sendiri telah memimpin serangan itu dengan sebagian besar kekuatannya. Pasukan di Jatimalang itu tidak sempat minta bantuan ke kota. Dengan kemarahan yang meluap, Pangeran Mangkubumi telah menyapu mereka sehingga pertahanan di Jatimalang itu hancur menjadi debu. Hanya beberapa orang kumpeni yang berhasil lolos dan melarikan dir i ke kota, yang masih diliputi suasana yang mengandung rahasia. Karena tidak seorangpun yang dapat menghitung dengan pasti, berapa orang yang menarik nafas lega karena pengkhianat telah terbunuh sementara berapa orang yang telah mengutuk hukuman itu sebagai satu tindakan yang paling biadab. Kapten Kenop telah mendapat laporan di tempat tidurnya, bahwa pelaksanaan hukuman mati itu telah dijalankan. Namun pada hari itu juga ia telah mendengar pula, bahwa pasukan kumpeni di Jatimalang telah digilas habis oleh pasukan Pangeran Mangkubumi yang marah, yang menuntut keseimbangan perist iwa atas hukuman mati yang dijatuhkan kepada! Raden Ayu GalmwaritKemarahan yang tidak ada taranya telah membakar dada kapten Kenop. Tetapi ia masih!harus berbaring dipembaringan. Sehingga karena itu ia hanya dapat mengumpat-umpat dengan kata-kata kasar. Sementara itu, beberapa perwira lainnya, telah menyiapkan pasukan yang akan dikirim untuk membangun kembali pertahanan di Jatimaiang. Malam itu, Surakarta 'bagaikan kota mati. Sepi. Bahkan seperti sebuah kuburan yang sangat hias. Rakyat masih dicengkam oleh peristiwa yang menggetarkan jantung mereka di lapangan didepan loj i. Sementara kumpeni masih dihantui oleh peristiwa hancurnya pertahanan di Jatimalang, yang terjadi dalampertempuran yang termasuk cepat dan tiba-tiba. Hari itu juga tubuh Raden Ayu Galihwarit telah dimakamkan. Tetapi hari itu juga, mayat kumpeni yang berserakkan di Jatimalang, karena kawan-kawannya tidak sempat membawanya telah diambil oleh pasukan yang kemudian datang, setelah laporan itu sampai kepada para perwira kumpeni di Surakarta. Malam itu, Pangeran Mangkubumi berada di Sukawati setelah membersihkan diri. Bersama Kiai Danatirta, Juwiring. Buntal, Warih dan Aram, Pangeran itu duduk disebuah amben yang besar. Dengan wajah yang tenang Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk ketika ia mendengar Warih berkata "Aku mengerti pamanda. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta bagaimana aku harus melanjutkan perjuangan ibunda. Tetapi aku berbeda dengan ibunda dan berbeda dengan Arum yang memiliki ilmu kanuragan." Pangeran Mangkubumi tersenyum. Katanya "Perjuangan untuk menegakkan cita-cita kemerdekaan ada seribu macam cara. Ibundamu telah mengambil salah satu cara yang barangkali teriaki sulit untuk dilakukan oleh orang lain. Arum juga mengambil caranya sendiri untuk ikut serta dalamperjuangan ini. Aku yakin, bahwa besok atau lusa, kau akan segera menyesuaikan dirimu dengan salah satu cara yang paling baik bagimu. Perjuangan ku masih panjang War ih.” Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah kakaknya yang menegang. Namun Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam ketika Rara Warih mengangguk. "Aku akan menyesuaikan dir i dengan keadanku sekarang" berkata Rara Warih ”aku akan berusaha pamanda" "Bagus" berkata Pangeran Mangkubumi ”kita. akan mulai dengan perjuangan yang barangkah akan lebih luas dan lebih cepat. Kira akan selalu bergerak Pengalaman kita sampai sekarang mengatakan, bahwa Untuk menetap disatu tempat kadang-kadang kurang menguntungkan. Seandainya kita tidak dapat mencium rencana kumpeni menyerang dengan kekuatan yang besar, maka kita akan dapat dihancurkan." Juwiring dan Buntalpun mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Danatirta berkata "Pangeran, agaknya dukungan terhadap perjuangan Pangeranpun menjadi semakin luas. Kemanapun Pangeran pergi, agaknya Pangeran akan mendapat sambutan yang baik. Bukan saja bagi kedatangan Pangeran, tetapi juga bagi perjuangan Pangeran." "Terima kasih Kiai Besok kami akan bertemu dengan kawan-kawan kami yang tersebar. Kami akan menentukan langkah yang lebih tepat menghadapi keadaan yang berkembang dengan cepat," berkata Pangeran Mangkubumi "nah, sejak sekarang, bersiap-silaplah. Mudah-mudahan Juwiring dan Buntal akan segera sembuh” “Aku sudah sembuh Pangeran" jawab Buntal. "Besok akupun sembuh" desis Juwiring sambil tersenyum. Demikianlah Pangeran Mangkubumi telah meninggalkan anak-anak muda itu. Malam itu juga Pangeran Mangkubumi kembali ke Gunung Gar igal, mempersiapkan sebuahpertemuan yang akan dilakukan dikeesokan harinya disita tempat yang dirahasiakan. Namun dalam pada itu, di Sukawati seorang petugas sandi telah menemui anak-anak muda itu. Tanpa dapat dicegah lagi ia berceritera. tentang hukuman mati yang sudah dilaksanakan. Bagaimana sebagian dari rakyat Surakarta menangisi kematian Raden Ayu Galihwar it. "Ditempat Raden Ayu ditembak sekarang menggunung bunga tabur. Entah siapa yang memulainya, namun kumpeni tidak dapat mencegah, rakyat Surakarta yang bagaikan arus bengawan mengalir untuk menaburkan 'bunga ditempat itu," berkata petugas sandi itu. Setitik air nampak di pelupuk mata Rara Warih. Tetapi ia tidak menangis lagi. Demikianlah, agaknya gugurnya Raden Ayu Galihwarit menjadi pertanda perubahan cara yang ditempuh oleh Pangeran Mangkubumi. Didalam pertemuan dihari ber ikutnya ditempat yang dirahasiakan, para pemimpin pasukan Pangeran Mangkubumi, termasuk Raden Mas Said mengakui, bahwa sekuntum bunga telah gugur. Bukan bunga yang tumbuh di taman sari yang asri, tetapi bunga yang tumbuh digersangnya batu karang, sebagaimana gersangnya kehidupan Raden Ayu Galihwarit itu sendir i. Namun bunga- bunga yang lain masih dan akan berkembang. Bunga yang tumbuh di batu-batu karang, yang tumbuh di tanah-tanah tandus, dihutan-hutan perdu, dan di alas gung liwang- liwung. Karena taman sari yang asri justru sedang dijamah oleh orang-orang asing yang dengan tamaknya telah menghisap saripatinya kehidupan di Surakarta, sehingga kehidupan rakyat Surakarta itu akan menjadi semakin tandus, gersang dan kering. Namun perjuangan Pangeran Mangkubumi t idak terhenti. Justru semakin lama menjadi semakin dahsyat Kumpeni menjadi semakin pening menghadapi perlawanan yangsemakin teratur meskipun menebar didaerah yang sangat luas. Juwiring dan Warih kemudian menjadi satu bagian dari perjuangan Pangeran Mangkubumi. Sementara Buntal dan Arum merupakan pasangan yang tidak terpisahkan. Bukan saja ikatan pribadinya, tetapi juga dalam lingkungan perjuangan Pangeran Mangkubumi, bersama dengan ayah angkat mereka. Kiai Danatirta. Arum memang mempunyai cara yang berbeda dari Rara Warih. Namun dalam beberapa hal keduanya berada dalam satu medan yang saling mengisi. Dengan perempuan-perempuan yang siap menghadapi tantangan perjuangan, Warih telah menyiapkan segala keperluan para pejuang di medan. Sementara Arum dan beberapa orang pengawal siap melindungi mereka dalam bentuk apapun juga. Perjuangan itu ternyata telah menempa anak-anak muda itu menjadi semakin dewasa. Sehingga dewasa pulalah hubungan antara Arumdan Buntal. Namun dalam pada itu, genderang dan sangkakala masih bergema disetiap lereng bukit dan lembah-lembah. Perjuangan Pangeran Mangkubumi telah menggetarkan jantung kumpeni. Semakin lama menjadi semakin dahsyat, sehingga akhirnya kumpeni tidak lagi dapat berbuat banyak. Betapapun juga, perang terbuka telah diakhir i pada perjanjian Giyanti. Kumpeni t idak dapat mengingkari kekuatan Pangeran yang pernah dianggap tidak berarti di Surakarta itu. Namun sebenarnyalah perjuangan belum berakhir. Pada saat- saat berikutnya perang terbuka itu pecah pula di mana-mana diseluruh persada pertiwi, sehingga akhirnya, penjajahan benar-benar telah terusir dari bumi tercinta ini. (Tamat)

 

 (c) topmdi.net 2011. All Rights Reserved.