Bara Diatas Singgasana .. 05 [tamat]

Jilid 71

SEJENAK KEMUDIAN keduanya telah menjadi semakin dekat. Darah rakyat Singasari yang mengelilingi arena seakan-akan berhenti mengalir ketika kedua orang diarena itu saling berbenturan.

Mulut mereka terbungkam ketika mereka melihat Tohjaya terdorong oleh ujung tongkat lawannya. Tetapi ternyata bahwa ia benar-benar memiliki ketangkasan berkuda. Meski-pun ia sudah menjadi miring, namun ia berhasil memperbaiki, kemudian Tohjaya-pun telah tegak kembali diatas punggung kuda.

Sri Rajasa terkejut juga melihat kedudukan Tohjaya yang goyah itu, sehingga ia bergeser setapak. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, ketika puteranya terkasih itu ternyata berhasil memperbaiki keseimbangannya.

Namun demikian, pada benturan yang pertama Sri Rajasa melihat, bahwa agaknya Kesatria Putih memang memiliki kemampuan yang lebih besar dari Tohjaya.

“Mudah-mudahan Tohjaya mampu bertahan, sehingga ia mendapat kesempatan untuk bertanding pada jarak yang pendek.“ Sri Rajasa berharap, bahwa kepandaian Tohjaya mengendalikan kudanya akan berpengaruh didalam pertandingan itu.

Ketika kedua orang yang berada diarena itu harus mengulangi benturan dengan ancang-ancang itu, Sri Rajasa telah menahan nafasnya. Demikian juga para penonton disekeliling arena. Tidak seorang-pun yang bergerak dan tidak seorang-pun yang mengucapkan sepatah kata. Semuanya seakan-akan membeku karenanya.

Yang terdengar hanyalah derap kaki-kaki kuda, diikuti oleh tatapan mata yang tegang.

Sejenak kemudian, sekali lagi setiap orang harus menahan nafasnya ketika benturan kedua itu terjadi.

Sri Rajasa hampir meloncat berdiri. Untunglah ia sadar, bahwa ia adalah seorang Maharaja yang besar. Karena itu maka ia tetap saja duduk ditempatnya.

Ternyata benturan yang kedua menguntungkan Tohjaya ketika Kesatria Putih agak terlambat mengangkat tongkatnya. Sentuhan tongkat Tohjaya telah menggerakkan ujung tongkat Kesatria Putih sehingga sama sekali tidak mengenai sasarannya. Namun dalam pada itu, Tohjaya dengan cepat berhasil menggerakkan ujung tongkatnya sehingga menyentuh pundak Kesatria Putih.

Kesatria Putih mencoba untuk menghindar. Tetapi geraknya sangat terbatas, karena kudanya berlari terus. Meski-pun ia berusaha memutar tubuhnya, namun ujung tongkat Tohjaya masih mengenainya sehingga hampir saja Kesatria Putih terlempar dari kudanya. Tetapi seperti Tohjaya, Kesatria Putih masih berhasil mempertahankan dirinya. Kakinya masih berpegangan dengan kuat, sedang sebelah tangannya memeluk kudanya sementara tangannya yang lain memegangi, tongkatnya erat-erat.

Untunglah bahwa kudanya adalah kuda yang baik, sehingga meski-pun kendalinya lepas sama sekali, tetapi kuda putih itu tidak melonjak dan melemparkan penunggangnya yang sedang dalam kesulitan.

Tohjaya melihat kedudukan Kesatria Putih yang lemah itu. Karena itu, setelah kedua benturan itu tidak berhasil menjatuhkan salah seorang daripada mereka yang bertanding, mereka akan meneruskan pertandingan pada jarak pendek tanpa ancang-ancang.

Dalam pada itu Tohjaya ingin mempergunakan kesempatan selagi Kesatria Putih masih berusaha memperbaiki keseimbangannya. Dengan serta-merta ia menarik kendali kudanya berputar. Dengan tergesa-gesa Tohjaya memacu kudanya kembali

mengejar kuda Kesatria Putih. Namun sementara itu, Kesatria Putih sudah sempat duduk kembali diatas punggung kudanya. Ia sudah berhasil menguasai keadaan sepenuhnya. Karena itu ketika ia sadar bahwa Tohjaya menyerangnya, maka ia-pun segera memutar kudanya menghadap lawannya.

Sejenak kemudian keduanya-pun telah terlihat dalam pertandingan yang seru. Masing-masing menggerakkan tongkatnya dengan cepatnya. Sekali-sekali terdengar kedua tongkat panjang itu berbenturan. Namun kemudian tongkat-tongkat itu terayun mengenai tubuh-tubuh mereka berganti-ganti. Bahkan kadang-kadang tongkat itu berhasil mendorong lawannya. Tetapi keduanya adalah orang-orang yang trampil dan seakan-akan mumpuni mempergunakan senjata panjang dan naik diatas punggung kuda.

Mereka yang berada diatas panggung kehormatan-pun menjadi tegang. Sri Rajasa hampir tidak berkedip menyaksikan pergulatan yang sengit itu. Mahisa Agni bagaikan patung batu. Bahkan seakan-akan bernafas-pun tidak.

Apalagi Ken Umang yang menyaksikan putranya bertempur dengan orang yang penuh rahasia, yang oleh rakyat Singasari dianggap sebagai seorang Pahlawan.

Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin dahsyat. Bahkan kemudian mereka seakan-akan telah menjadi bersungguh-sungguh. Hanya karena ujung tongkat-tongkat itu dilapisi dengan sabut, serta daya tahan tubuh-tubuh itu sangat kuat, maka mereka berdua masih tetap berada dipunggung kuda.

Anak-anak muda Singasari menyaksikan pertandingan itu dengan dada yang berdebaran. Kini mereka merasa, betapa kecilnya diri mereka sendiri dibandingkan dengan kedua kesatria yang tengah beradu ketrampilan ditengah-engah arena.

Tetapi lambat laun., ternyata bahwa Kesatria Putih memiliki ketahanan tubuh dan kelebihan setingkat didalam olah ketrampilan. Bahkan semakin lama, mereka yang memiliki ilmu yang cukup dapat melihat, bahwa sebenarnyalah Kesatria Putih berusaha untuk

mengekang diri. Mereka yang berilmu matang, seperti para Panglima dan para Senapati pilihan, Mahisa Agni dan Sri Rajasa sendiri merasa bahwa Kesatria Putih berusaha menghormati Tohjaya sebaik-baiknya, sehingga meski-pun Tohjaya akan kalah juga, namun ia kalah dengan hormat, setelah berjuang habis-habisan serta melayani lawannya hampir seimbang. Kekalahan itu seakan-akan hanyalah sekedar kekalahan kecil atau justru karena Tohjaya sudah lelah, karena ia sudah dua kali bertanding melawan orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi.

Dengan demikian Sri Rajasa menjadi semakin cemas. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat menghentikan pertandingan. Ia tidak akan dapat berbuat sesuatu atas Kesatria Putih, karena ia adalah seorang pahlawan.

“Kesatria Putih akan mewenangkan pertandingan ini,“ ia berdesah, “jika demikian, maka ia harus dilenyapkan, agar di Singasari hanya ada seorang pahlawan saja, Tohjaya.”

Tanpa sesadarnya Sri Rajasa berpaling kepada Mahisa Agni sambil berkata didalam hati, “Ia harus menyelesaikannya nanti”

Dalam pada itu Mahisa Agni sendiri duduk dengan tegangnya menyaksikan pertandingan itu. Karena itu ia sama sekali tidak menyadari bahwa Sri Rajasa sedang memandanginya dan bahkan berkata didalam hatinya, bahwa Mahisa Agni akan mendapat tugas yang sangat berat. Membinasakan Kesatria Putih tanpa diketahui oleh orang lain, agar tidak menimbulkan kesan, bahwa Singasari telah berkhianat terhadap kesatria yang selama ini telah mengabdi kepada rakyat tanpa pamrih.

Demikianlah pertandingan di arena itu berlangsung terus.

Tetapi agaknya Tohjaya sudah menjadi semakin letih. Serangan-serangannya sama sekali sudah tidak mapan lagi. Bahkan sekali dua kali apabila Kesatria Putih berhasil menghindar, maka ayunan tongkatnya hampir-hampir saja menyeretnya jatuh dari atas punggung kuda.

Dalam pada itu Kesatria Putih nampaknya masih segar, sesegar ketika ia datang. Dengan sentuhan kecil, Tohjaya pasti sudah akan terlempar dari kudanya. Namun ternyata Kesatria Putih tidak melakukannya. Seperti pada saat Tohjaya bertanding melawan anak muda yang terakhir. Kesatria Putih banyak memberi kesempatan kepada lawannya untuk bertahan duduk diatas punggung kudanya.

Demikianlah sebenarnya tampak oleh mereka yang berdiri disekitar arena, apalagi bagi yang duduk diatas panggung kehormatan, bahwa Tohjaya sudah kehilangan kemampuan karena kelelahan meski-pun ia masih tetap duduk diatas punggung kuda. Ternyata bahwa Kesatria Putih tidak berhasrat sama sekali menjatuhkannya dari atas punggung kuda itu. Bagi orang-orang yang berada dipanggung kehormatan, tampak jelas, bagaimana Kesatria Putih masih berpura-pura menyerang Tohjaya. Namun serangan-serangan itu sama sekali bukan serangan sebenarnya yang dapat menjatuhkannya.

Sri Rajasa tidak mengerti, apa sebabnya Kesatria Putih berbuat demikian. Tohjaya-pun tidak mengerti, kenapa Kesatria Putih itu tidak menyentuh saja tubuhnya, dan ia akan segera terpelanting jatuh.

Adalah diluar dugaan, ketika Kesatria Putih itu kemudian mendekati Senapati yang menjadi saksi utama didalam pertandingan itu sambil berkata. “Apakah ketentuan dari pertandingan ini, jika tidak seorang-pun terjatuh dari kudanya, dapat dianggap bahwa pertandingan ini berakhir tanpa ada yang menang dan kalah?”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak membuat ketentuan itu. Pertandingan akan berlangsung terus, sehingga salah seorang dapat dikalahkan. Bahkan meski-pun tidak dengan sengaja, ada juga salah seorang peserta yang jatuh dan pingsan.

“Bagaimana?” Kesatria Putih mendesak.

Sebelum ia menjawab, Tohjayalah yang menyahut, “Aku tahu, kau memenangkan pertandingan ini. Kenapa kau tidak mau mendorong aku jatuh?”

“Tidak. Kau, eh, maksud hamba, tuanku adalah seorang yang memiliki kemampuan yang mengagumkan. Tuanku bukan seorang yang dengan mudah dapat dikalahkan. Dan hamba kira, hamba tidak akan dapat menjatuhkan tuanku, meski-pun tampaknya tuanku sudah lelah. Hamba-pun sadar, bahwa hal ini juga disebabkan bahwa tuanku sudah bertempur dua kali berturut-turut.”

“Jangan mengigau, ayo, selesaikan tugasmu, kau akan dielu-elukan oleh rakyat Singasari sebagai pahlawan terbesar melampaui kebesaranku.”

Kesatria Putih tidak menyahut. Namun tiba-tiba saja ia mengangkat wajahnya memandang Sri Rajasa yang kemudian berdiri di panggung kehormatan, “Tohjaya. Kau harus mengakui kelebihan Kesatria Putih kali ini, meski-pun kau dapat bertahan sampai saat terakhir. Kau sudah bertempur dua kali melawan orang-orang terkuat di Singasari. Namun itu bukan alasan yang dapat kau pergunakan untuk membela diri. Sudahlah, turunlah dari kudamu sebagai pertanda kemenangan lawanmu.“

Tohjaya memandang Sri Rajasa dengan tegangnya. Tetapi ia-pun kemudian turun dari kudanya didepan panggung kehormatan. Dengan tergesa-gesa ia-pun naik keatas panggung itu, lalu bersimpuh dihadapan Sri Rajasa sambil berkata, “Ampun ayahanda, hamba tidak dapat mempertahankan kebesaran nama ayahanda diarena ini karena kehadiran Kesatria Putih.”

“Kau sudah berbuat sebaiknya. Marilah sekarang kita menuntut janji Kesatria Putih. Jika ia memenangkan pertandingan ini, ia akan membuka kerudung putihnya dihadapan kita disini, sehingga rakyat Singasari akan mengenalnya, siapakah sebenarnya pahlawan yang besar ini, yang selama ini sudah menyelamatkan puluhan, bahkan ratusan rakyat yang mengalami bencana.“

Tohjaya mengangkat wajahnya. Kini ia memandang Kesatria Putih yang masih duduk diatas punggung kudanya dengan tongkat panjang ditangan kanannya.

“Kesatria Putih,“ panggil Sri Rajasa, “kemarilah.”

Kesatria Putih tampak ragu-ragu sejenak.

“Buat apa kakanda memanggil setan itu,“ desis Ken Umang, “biarlah ia segera pergi. Ia sudah melepaskan harapan Tohjaya untuk menjadi anak muda terkuat diseluruh negeri.”

Ketika Sri Rajasa berpaling, dilihatnya wajah Ken Umang yang merah padam. Setitik air matanya mengambang disudut matanya yang basah itu.

“Aku memerlukannya. Aku ingin tahu, apakah Kesatria Putih memenuhi ketentuan yang ada didalam pertandingan ini. Jika tidak, ia sudah menipu kita semua, dan hukumannya adalah hukuman pancung disini juga.”

Ken Umang tidak menjawab lagi. Kini dilihatnya Kesatria Putih yang masih duduk diatas punggung kudanya perlahan-lahan mendekati panggung kehormatan.

“Mendekatlah,“ berkata Sri Rajasa, “aku ingin melihat, apakah kau masih berhak ikut didalam pertandingan ini.”

Kesatria Putih itu menjadi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Sri Rajasa yang berdiri diatas panggung kehormatan. Kemudian Senapati yang menjadi saksi utama dari pertandingan terbuka itu, serta beberapa orang Senapati dan prajurit yang berada disekitar arena.

“Mendekatlah.“ panggil Sri Rajasa sekali lagi, “bukalah kerudung wajahmu seperti yang kau janjikan.”

Ken Umang yang kehilangan harapan atas puteranya untuk mendapat gelar pahlawan terbesar itu mulai terisak. Dengan tangannya ia mengusap air mata yang jatuh satu-satu

dipangkuannya. Air mata yang mencerminkan betapa tamaknya hati perempuan itu.

Sedang disebelah lain, mata Ken Dedes-pun berlinang-linang pula. Ia mulai membayangkan wajah Anusapati yang seakan-akan semakin lama semakin tersisih. Didalam kesempatan serupa ini, Anusapati sama sekali tidak terucapkan. Hampir saja Tohjaya berhasil merebut hati rakjat Singasari. Jika Tohjaya memenangkan pertandingan terakhir, maka sempurnalah permainan Sri Rajasa.

Lamat-lamat terbayang kembali bagaimana Tunggul Ametung tersingkir dari kedudukannya. Bagaimana-pun juga akhirnya Ken Dedes-pun mengerti, bahwa sebenarnya Ken Arok saat itu telah berhasil melakukan peranannya dengan baik sekali.

Hanya karena hatinya yang disaput oleh gejolak naluri seorang perempuan, serta kemudian diikuti oleh kenyataan bahwa Ken Arok berhasil memerintah Singasari lebih baik dari Tunggul Ametung, Ken Dedes tidak pernah mempersoalkan kematian Tunggul Ametung. Tetapi kini, dengan cara yang selembut itu pula Sri Rajasa berusaha menyingkirkan keturunan Tunggul Ametung, meski-pun anak itu sendiri sama sekali tidak mengetahuinya.

Seperti Ken Umang, Ken Dedes-pun mengusap air matanya. Tetapi seakan-akan cahaya yang terpantul dari butiran-butiran air mata dari kedua risteri Sri Rajasa itu berwarna lain.

Demikianlah kuda Kesatria Putih kini sudah berdiri di depan panggung kehormatan. Perlahan-lahan Kesatria Putih itu-pun meloncat turun dari kudanya. Katanya kemudian, “Ampun tuanku Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Apakah tuanku benar-benar berkeinginan melihat wajah hamba yang jelek ini.”

“Aku tidak peduli. Namun aku ingin mengetahui, apakah kau masih pantas untuk ikut bermain-main bersama anak-anak di arena ini.“

Kesatria Putih membungkukkan badanya dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera membuka kerudung putihnya. Perlahan-lahan ia

mendekati tangga panggung kehormatan itu. Dan tanpa diduga-duga oleh siapa-pun ia mulai naik setapak demi setapak.

Langkahnya ternyata telah mempesona setiap orang. Mereka bagaikan membeku melihat Kesatria Putih naik ke atas panggung. Bahkan Sri Rajasa-pun bagaikan kehilangan nalar sejenak, melihat Kesatria Putih itu semakin lama semakin mendekat.

Yang mendebarkan jantung setiap orang adalah, tiba-tiba saja Kesatria Putih itu-pun berlutut. Tidak dihadapan Sri Rajasa tetapi yang mula-mula adalah dihadapan Permaisuri.

Semua orang terkejut karenanya. Ken Dedes-pun terkejut bukan kepalang, sehingga ia hanya diam mematung, tidak tahu apa yang akan dilakukan.

Baru setelah berlutut dihadapan Permaisuri, Kesatria Putih bersimpuh dihadapan Sri Rajasa sambil berkata, “Perkenankanlah hamba membuka kerudung putih hamba betapa-pun jeleknya wajah ini.”

“Berdirilah,“ berkata Sri Rajasa yang serasa masih terpesona oleh peristiwa-peristiwa yang tidak mereka perhitungkan sebelumnya, “dan bukalah kerudung putihmu menghadap rakyat Singasari yang akan menilai, siapakah Kesatria Putih sebenarnya, dan apakah ia masih dapat disebut kanak-anak.”

Kesatria Putih termangu-mangu sejenak. Namun seperti perintah Sri Rajasa, maka Kesatria Putih itu-pun kemudian berdiri. Sekali ia berpaling memandang Tohjaya dan Ken Umang, barulah kemudian tangannya bergerak menggapai kerudung putihnya.

Darah Tohjaya serasa berhenti mengalir. Ia menjadi sangat tegang menunggu. Demikian juga rakyat Singasari.

Nafas mereka tertahan-tahan. Mereka tidak sabar lagi menunggu, siapakah sebenarnya Kesatria Putih itu.

Tiba-tiba hati mereka terjerat oleh kata-kata Kesatria Putih yang lantang, “Rakyat Singasari. Inilah kenyataanku, Kesatria Putih yang selama ini menumbuhkan teka-teki bagi kalian.”

Bersamaan dengan terkatubnya bibir Kesatria Putih itu, maka direnggutnya tirai yang selama ini menutup wajahnya. Tirai putih yang membuatnya disebut Kesatria Putih selain kudanya yang putih pula.

Ketika tirai di wajah itu terbuka, setiap dada telah dihentakkan oleh kenyataan yang tidak mereka duga-duga sama sekali. Demikian wajah itu terbuka, setiap mulut telah menyebut namanya dengan wajah tegang penuh keheranan dan bahkan pertanyaan yang ragu-ragu, “Anusapati Putera Mahkota.”

Mereka menjadi yakin ketika Kesatria Putih yang sudah tidak berkerudung lagi itu berkata, “Akulah Anusapati, Putera Mahkota Kerajaan Singasari yang besar, Putera Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi yang lahir dari ibunda Permaisuri Ken Dedes.”

Arena itu menjadi gegap gempita. Lebih dahsyat dari ledakan seribu guntur bersama-sama. Langit rasa-rasanya akan runtuh dan demikian pula hati Tohjaya dan Ken Umang. Seperti belanga yang terbanting dibatu pualam, maka hati mereka-pun pecah berkeping-keping.

Dalam pada itu Sri Rajasa berdiri dengan wajah yang merah padam. Sejenak dipandanginya Anusapati, namun kemudian dipandanginya wajah Mahisa Agni tenang. Tetapi wajah yang tenang itu bagaikan air pusaran yang dahsyat yang menghisapnya kedalam kehancuran yang mutlak.

Mahisa Agni sendiri masih tetap berada ditempatnya. Ia sama sekali tidak berbuat sesuatu. Dibiarkannya semuanya terjadi menurut perkembangan yang wajar dari peristiwa yang sudah diperhitungkannya masak-masak. Sri Rajasa pasti tidak akan berani berbuat apa-pun juga dihadapan rakyat Singasari yang selama ini menganggap Kesatria Putih sebagai pelindung mereka. Apalagi kini mereka mengetahui, bahwa Kesatria Putih itu tidak lain adalah Putera Mahkota. Putera Mahkota yang selama ini mereka anggap sebagai seorang laki-laki yang hanya mampu menunggui isterinya, tanpa menghiraukan keadaan pemerintah sama sekali, tanpa berbuat apa-pun juga untuk kesejahteraan rakyatnya. Ternyata

bahwa dugaan itu keliru. Yang mereka anggap sebagai pahlawan selama ini ternyata adalah orang yang tepat, orang yang dapat mereka pergunakan sebagai tempat berpegangan yang kokoh dimasa mendatang.

Rakyat Singasari sama sekali tidak menghiraukan, perasaan apakah yang sedang bergejolak didalam hati Sri Rajasa. Bahkan sebagian dari mereka menganggap, bahwa Sri Rajasa-pun akan menjadi gembira sekali menghadapi kenyataan itu.

Namun dalam pada itu Sri Rajasa terpaksa mengakui didalam hati, bahwa kini ia menghadapi permainan Mahisa Agni yang ternyata berhasil mengatasi permainannya. Ketika ia berhasil menyingkirkan Tunggui Ametung, Mahisa Agni hanyalah seorang anak muda Panawijen yang sedang sibuk membuat bendungan, ia sama sekali tidak berbuat sesuatu, selain justru membantunya, mengalahkan Witantra ketika ia berusaha membersihkan nama Kebo Ijo yang telah dibunuhnya pula.

Tetapi kini, ia menghadapi permainan Mahisa Agni. Dan Sri Rajasa-pun sadar, bahwa Anusapati adalah kemenakan Mahisa Agni. Meski-pun kecurigaan itu timbul sejak lama, dan menyingkirkan Mahisa Agni ke Kediri, namun ternyata bahwa Mahisa Agni masih sempat membentuk Anusapati menjadi seorang anak muda yang pilih tanding, yang melampaui kemampuan Tohjaya.

Meski-pun demikian, Sri Rajasa bukannya seorang yang terlampau bodoh. Ia adalah seorang pemikir yang masak. Yang mampu menyingkirkan Tunggul Ametung dan sekaligus memperisteri Ken Dedes, kemudian menggunakan gejolak perasaan orang-orang Kediri sendiri untuk menjatuhkan Maharaja Kediri yang termashur.

Karena itu, setelah ia berhasil menguasai gejolak perasaannya, maka tiba-tiba Sri Rajasa itu-pun melangkah maju mendekati Anusapati. Sambil menepuk bahunya ia berkata kepada rakyat Kediri. “Rakyatku yang baik. Sekarang kalian sudah melihat kenyataan ini. Yang kalian elu-elukan sebagai pahlawan dan kalian sebut Kesatria Putih itu adalah seorang yang memang seharusnya

menjadi seorang pahlawan. Ia adalah Putera Mahkota. Itulah sebabnya aku ikut berbangga, bahwa pilihanku tidak salah. Anak sulungku, yang selama ini aku bentuk untuk menjadi seorang pahlawan dimasa datang, telah menunjukkan kemampuannya. Selama ini aku simpan ia didalam istana dalam penempaan yang tidak mengenal jemu bersama Tohjaya. Dan harapanku atas keduanya ternyata tidak sia-sia. Tohjaya telah mencoba berbuat sejauh dapat dilakukan, sedang Anusapati telah menunjukkan baktinya pula kepada rakyat Singasari dengan caranya, karena ia tidak mau menyanjung diri. Dan adalah wajar sekali bila Tohjaya tidak dapat mengalahkan Kesatria Putih, karena ternyata bahwa Kesatria Putih bukan saja saudara tuanya, tetapi juga saudara tua seperguruan. Kini terimalah kedua Puteraku ditengah-engah kalian.”

Rakyat Singasari itu menyambut kata-kata Sri Rajasa dengan tepuk tangan dan sorak mawurahan.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ternyata Sri Rajasa masih mempunyai cara untuk meneruskan permainan. Tetapi bagaimana-pun juga, Mahisaa Agni sudah memiliki separo kemenangan. Sedang separo lagi masih diperebutkan. Jika Mahisa Agni mendapat sebagiadan yang separo, maka bagiannya sudah lebih banyak dari yang akan didapat oleh Sri Rajasa.

Tetapi Mahisa Agni-pun mempertimbangkan semuanya dengan saksama. Kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang didalam istana. Tetapi kesempatan untuk merebut hati rakyat dihadapan rakyat itu adalah kesempatan yang hampir mustahil didapatkannya jika bukan karena tingkah Tohjaya sendiri.

Dalam pada itu, kedua isteri Sri Rajasa ternyata tengah menekuni perasaan masing-masing yang bergejolak didalam dada. Ternyata mereka telah menjumpai persoalan yang sama sekali tidak diduga-duga. Begitu besar hati Ken Dedes menyaksikan putranya yang tanpa disangkanya, bahkan mimpi-pun tidak, tiba-tiba saja menjadi seorang pahlawan yang paling besar di kalangan anak-anak muda Singasari sesuai dengan kedudukannya sebagai Putera Mahkota. Sebagai seorang yang berpikir cerah, Ken Dedes-pun segera dapat

menyelusuri, apakah yang sebenarnya telah terjadi dibalik dinding istana yang tinggi itu. Tentu Mahisa Agni memegang peranan yang penting didalam permainan ini. Tanpa Mahisa Agni, Anusapati hanyalah sekedar abu didalam kobaran api ketamakan istana Singasari.

Tanpa disadarinya, maka air mata Permaisuri itu mengalir dengan derasnya. Setiap kali tangannya mengusap maka air itu telah tumbuh pula dipelupuk.

Ken Umang-pun telah menangis pula. Betapa ia mencoba bertahan menghadapi kenyataan. Betapa ia mencoba menghibur diri dengan keterangan Sri Rajasa. Namun ternyata bahwa dendam telah menyala tanpa terkendali didalam hati. Kekalahan Tohjaya dari Anusapati, dan kenyataan bahwa pahlawan besar yang selama ini dielu-elukan rakyat Singasari melampaui puteranya, dan yang mereka sebut Kesatria Putih itu adalah Anusapati.

“Kenapa ia tidak dibunuh saja,“ geram Ken Umang didalam hatinya, sedang Tohjaya berkata didalam hati pula, “Pantas Mahisa Agni dan Anusapati begitu mudahnya menyingkirkan Kesatria Putih seperti yang dikatakan ayahanda itu.”

Tetapi sekarang tidak mudah bagi siapa-pun juga untuk menyingkirkan Kesatria Putih yang ternyata adalah Anusapati. Tentu Anusapati kini merupakan pahlawan besar pula bagi rakyat Singasari, yang dengan demikian tidak akan dapat dengan begitu saja disingkirkan dari hati rakyat itu.

Ternyata bahwa latihan dan pertandingan terbuka yang diminta oleh Tohjaya itu telah menimbulkan kecut dihati Sri Rajasa dan Ken Umang beserta puteranya terkasih, yang diharapkan akan dapat menjadi anak muda yang paling perkasa diseluruh Singasari. Namun mereka tidak dapat menghindarkan diri dari kenyataan, bahwa Anusapati adalah anak muda yang lebih besar dari padanya.

Dengan demikian, bukan saja Anusapati yang harus menengadahkan dadanya, bahwa ia bukan seorang anak muda yang dungu seperti yang diduga oleh para prajurit dan Senapati,

juga oleh Tohjaya dan gurunya, namun setiap orang-pun akan menilai Mahisa Agni, orang terdekat disisi Anusapati. Tidak seorang-pun yang tidak menyorotkan pandangan matanya atas ilmu Anusapati pada kemampuan Mahisa Agni.

“Aku-pun tidak dapat menyembunyikan diri lagi,“ berkata Mahisa Agni, “kini kita bermain dengan pintu terbuka.”

Anusapati yang dengan patuh menjalankan semua petunjuk Mahisa Agni ternyata mendapat cara untuk tampil langsung didepan mata rakyat Singasari.

Setelah pertandingan itu dinyatakan selesai dan rakyat Singasari yang ada di sekitar arena pergi meninggalkan alun-alun, maka yang mereka percakapkan tidak ada lain kecuali Putera Mahkota.

“Ternyata aku telah sesat,“ berkata salah seorang dari mereka. “selama ini aku menganggap bahwa Putera Mahkota itu adalah seorang laki-laki yang tidak mampu menunjukkan kejantanan diri. Berbeda dengan adindanya Tohjaya, yang dengan penuh tanggung jawab telah berusaha menyelamatkan rakyatnya dari kesusahan. Tetapi ternyata bahwa bukan demikian yang sebenarnya. Tuanku Putera Mahkota-pun adalah seorang pahlawan yang besar.”

“Ia tidak mendapat kesempatan itu,“ seseorang berbisik.

“Kenapa?”

Seorang yang berjanggut putih berkata diantara kedua telapak tangannya, “Apakah kau lupa, bahwa tuanku Permaisuri melahirkan puteranda Anusapati hanya enam bulan setelah perkawinannya dengan Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi?”

“Ah, jangan menyinggung itu lagi. Mungkin itu memang suatu dosa, bahwa tuanku Permaisuri mengandung sebelum perkawinannya. Tetapi Ken Arok tidak ingkar.”

“Bodoh sekali. Putera yang dikandung itu bukan hadir dari dosa. Ia ada didalam kandungan dari suaminya yang dahulu.”

“O, ya. Ia adalah putera Tunggul Ametung.”

“Sst.”

Kawannya terdiam. Namun mereka sadar, bahwa bukan hanya mereka sajalah yang mengerti bahwa Anusapati lahir terlampau cepat, setelah perkawinan Ken Dedes dengan Ken Arok, sehingga sebenarnya hampir setiap orang tua-tua di Singasari mengerti, bahwa Anusapati adalah Putera Tunggul Ametung.

Demikian pula akhirnya para Senapati mengambil kesimpulan yang sama. Tetapi susunan keprajuritan yang lahir setelah Sri Rajasa memegang pemerintahan, mencerminkan kesetiaan mereka kepada Sri Rajasa. Terlebih-lebih adalah Senapati-Senapati muda yang diangkat di saat-saat Sri Rajasa sudah berkuasa.

Namun Mahisa Agni sudah memperhitungkannya juga.

Dalam pada itu, Sri Rajasa yang kemudian duduk termangu-mangu menerima keluh kesah puteranya yang lahir dari Ken Umang. Bukan saja Tohjaya, tetapi Ken Umang sendiri menangis berkata. “Memalukan sekali tuanku, Tohjaya sudah turun kearena dan dikalahkan oleh anak sakit-sakitan itu.”

“Jangan berkata begitu, ia adalah Putera Mahkota.”

“Tetapi ia tidak berhak menghancurkan nama Tohjaya dihadapan rakyat Singasari.”

“Tidak seorang-pun yang tahu bahwa akan terjadi demikian.”

“Tentu pokal Mahisa Agni. Kenapa tuanku masih juga mempergunakan orang yang jelas tidak setia kepada tuanku?“

“Tidak mudah untuk menuduh demikian, Mahisa Agnilah yang datang bersama aku ke Kediri dan menundukkan Gubar Baleman. Tidak ada seorang-pun yang dapat melakukan hal itu.“

“Tentu tuanku sendiri dapat melakukannya.”

“Aku tidak yakin, setelah aku memeras tenaga melawan Maharaja dari Kediri itu.“ sahut Sri Rajasa, “apalagi jika tanpa

Mahisa Agni saat itu, kedua kekuatan itu pasti akan bergabung. Dan aku tidak akan pernah kembali ke Singasari. Tidak ada kekuatan yang dapat melawan Gubar Baleman dan Maharaja Kediri bersama-sama.”

Ken Umang tidak menyahut lagi. Ia memang tidak dapat ingkar, tanpa Mahisa Agni, Singasari tidak akan dapat sebesar saat ini. Bahkan mungkin Kediri akan mampu mematahkannya sebelum tumbuh dan berkembang. Namun kini ternyata Mahisa Agni menjadi penghalang baginya, bagi puteranya Tohjaya, karena Mahisa Agni adalah paman Anusapati.

“Jangan kau risaukan,“ berkata Sri Rajasa, “aku mempunyai seribu jalan. Tetapi aku tidak dapat berbuat kasar. Aku harus berhati-hati. Sekarang aku tahu, bahwa pasti Anusapati sendirilah yang telah berhasil membunuh Kiai Kisi ketika ia pergi menumpas penjahat itu. Dan aku-pun harus memperhitungkannya sebagai orang berkerudung hitam yang berkeliaran di istana ini. Jika demikian, maka aku harus menjadi semakin berhati-hati permainan Mahisa Agni cukup matang.”

Ken Umang dan Tohjaya tidak menyahut. Mereka harus mengerti, bahwa tidak menguntungkan apabila mereka berbuat dengan tergesa-gesa. Ternyata orang Panawijen itu bukannya seorang yang tidak mampu menanggap permainan Sri Rajasa.

“Mahisa Agni sudah dapat membaca rencanaku,“ berkata Sri Rajasa didalam hatinya. Dan Sri Rajasa-pun agaknya sudah menduga bahwa Mahisa Agni sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi atas Tunggul Ametung.

“Tidak mustahil ia akan mengambil sikap yang menentukan.“ katanya didalam hati. Tetapi Sri Rajasa tidak pernah menyatakan kecemasannya kepada , ken Umang, mau-pun kapada Tohjaya.

Dalam pada itu, Permaisuri sedang menangisi kenyataan yang tidak terduga-duga. Dihadap oleh putera-puteranya. ia mengucapkan syukur kepada Yang Tunggal, bahwa ternyata

Anusapati bukan seekor domba yang lemah dipadang rumput yang penuh dengan serigala.

“Dimana kau mendapat kemungkinan untuk mengalahkan Tohjaya?“ bertanya ibunya.

Anusapati tidak menyahut. Ia hanya menundukkan kepalanya saja disamping isteri dan anaknya yang mulai nakal.

“Aku benar-benar iri hati kanda,“ berkata Mahisa Wonga Teleng, “kanda tentu tidak berkeberatan mengajari aku.”

Anusapati tersenyum. Jawabnya, “Tentu. Tetapi kau akan banyak kehilangan waktu.”

“Kenapa? Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”

“Baiklah, pada saatnya, kau dapat saja belajar ilmu tata bela diri. Mungkin bersama dengan anak-anak kita.”

Mahisa Wonga Teleng tertawa. Anak-anak mereka memang telah tumbuh semakin besar. Mereka adalah laki-laki yang kuat dan nakal.

“Tetapi dengan demikian kau harus berhati-hati Anusapati,“ berkata ibunya.

“Kenapa ibu?”

Ken Dedes tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah Anusapati sejenak. Masih tampak kegembiraan disorot matanya meski-pun mata itu basah. Namun lambat laun, mata itu menjadi suram. Terbayang dimata Ken Dedes itu, kenyataan tentang Anusapati. Wajah puteranya itu mirip benar dengan wajah Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel yang telah disingkirkan oleh Ken Arok.

Sebagai seorang ibu, maka Ken Dedes justru mulai dirayapi oleh kecemasan tentang puteranya itu. Ia sadar, bahwa Ken Arok tidak bersikap jujur. Gelar Putera Mahkota diberikan kepada Anusapati bukan karena hatinya berkata demikian. Tetapi sekedar untuk mengelabui kata hatinya yang sebenarnya. Beberapa orang tua-tua di Tumapel mengetahui, bahwa sumber kekuasaan atas Tumapel ada ditangan Tunggul Ametung yang melimpah kepada Ken Dedes,

sehingga kekuasaan itu sudah sewajarnya diwarisi oleh Anusapati. Tetapi tentu Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak ikhlas membiarkan Anusapati kelak benar-benar bertahta di Singasari.

Betapa perasaan itu menghentak-hentak didadanya, sehingga pada suatu saat, ia tidak dapat bertahan lagi. Dipanggilnya Anusapati menghadap seorang diri, dan terloncat dibibirnya pesan, “kau memang harus berhati-hati Anusapati.”

Anusapati yang memang sudah menyimpan berbagai pertanyaan didalam hati, seolah-olah mendapat jalan untuk bertanya kepada ibunya. “Kenapa ibu setiap kali berpesan kepada hamba untuk berhati-hati. Dan kenapa hamba merasa bahwa memang hamba selalu dibayangi oleh pengawasan yang tidak sewajarnya didalam istana ini?”

Ken Dedes yang dadanya sudah dipenuhi oleh berbagai macam perasaan itu hampir saja menuangkan segala sesuatu kepada Anusapati. Namun tiba-tiba ia merasa sesuatu telah menahannya.

Karena itu yang terlontar dari bibirnya hanyalah sebagian saja, “Kau mempunyai ibu tiri Anusapati. Dan ibu tirimu juga mempunyai seorang anak laki-laki, hampir sebaya dengan kau.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tetapi ibu, apakah hamba harus mencurigai saudaraku sendiri meski-pun bukan lahir dari ibu yang sama?“

Pertanyaan itu menyentuh hati Ken Dedes. Maka sejenak ia merenung. Ada sesuatu yang memberati hatinya untuk berkata berterus terang. Apalagi setelah ia tahu bahwa anaknya bukan seorang laki-laki dungu yang hanya dapat mengeluh dan meratap. Kini baginya Anusapati adalah seorang laki-laki, seorang jantan sepenuhnya, sehingga ia-pun pasti akan dapat mengambil sikap jika hatinya tersinggung.

Karena itu, Ken Dedes hanyalah dapat menarik nafas dalam-dalam.

Namun desakan perasaan didada Anusapatilah yang kemudian mendorongnya bertanya, “Bunda, hamba tidak mengerti, apakah hanya sekedar perasaan hamba, bahwa sebenarnyalah ayahanda tidak bersikap adil terhadap hamba dan adinda Tohjaya. Sejak hamba kanak-anak, hamba merasakan perbedaan sikap itu. Didalam banyak hal ayahanda Sri Rajasa tidak membantu hamba. Juga didalam olah kanuragan. Hamba seakan-akan selalu tersisih. Hanya adinda Tohjayalah yang mendapat kesempatan sebaik-baiknya. Baginya, sebelum hamba muncul sebagai Kesatria Putih di arena, hamba adalah seorang yang tidak berharga. Dengan demikian hamba harus menempuh jalan lain untuk dapat mengimbanginya.“

“Jalan apakah yang sudah kau tempuh Anusapati?”

“Untunglah ada pamanda Mahisa Agni. Pamanda Mahisa Agnilah yang telah membentuk hamba menjadi seorang yang mampu mengimbangi Tohjaya tanpa diketahui olehnya dan oleh ayahanda Sri Rajasa. Jika hamba tidak mendapat kesempatan atas permainan pamanda Mahisa Agni, sebagai Kesatria Putih yang sudah dikenal Rakyat Singasari, mungkin hamba akan mengalami akibat lain, jika diketahui bahwa hamba mempunyai ilmu yang cukup.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tanpa disadarinya air matanya mengalir semakin deras. Terbayang keadaan Anusapati yang seakan-akan selalu terdorong menjauh dari setiap kesempatan.

Tetapi Ken Dedes tidak dapat mengatakannya. Ken Dedes tidak dapat mengemukakan perasaan yang sebenarnya bergejolak didalam hatinya.

“Ibu,“ bertanya Anusapati lebih lanjut, “kenapa ayahanda Sri Rajasa bersikap demikian? Apakah sesuatu yang membuatnya membenci hamba?”

“Tidak Anusapati, tidak. Itu hanya sekedar perasaanmu saja. Sikap ayahandamu kepadamu tidak ubahnya dengan sikap Sri Rajasa kepada putera-puteranya yang lain. Aku juga pernah mendengar Tohjaya mengeluh kepada ibunya, menanyakan sikap

ayahanda Sri Rajasa. Kenapa ia selalu tersisih dan dengan tergesa-gesa menyerahkan gelar Putera Mahkota kepadamu, seakan-akan ayahanda Sri Rajasa cemas, bahwa Tohjaya ingin merebutnya.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Jika benar demikian, maka adalah bayangan yang tumbuh dari mimpi buruk sajalah yang menyebabkannya merasa tersisih.

Tetapi Anusapati yang sudah dewasa itu menangkap sesuatu yang tersirat di wajah dan titik air mata ibunya. Meski-pun ibunya mencoba menyembunyikan perasaannya, namun Anusapati berhasil menangkapnya, dan merasa bahwa apa yang dikatakan oleh ibunya itu bukannya yang sebenarnya dirasakannya.

Namun Anusapati tidak mendesaknya. Ia sadar, dengan demikian ia akan membuat ibunya menjadi semakin sakit hati. Karena itu untuk sementara Anusapati terpaksa menyimpannya didalam hati.

Tetapi demikian ia mundur dari hadapan ibunya, maka dicarinya pamannya yang masih berada di istana Singasari.

Ia kini tidak perlu mencari kesempatan tersembunyi. Setiap orang didalam istana itu tanpa mendapat penjelasan dari siapapun, mulai meraba-raba, bahwa kemampuan Anusapati pasti diturunkan oleh Mahisa Agni, karena mereka tahu. bahwa latihan-latihan yang dilakukan bersama Tohjaya hampir tidak berarti sama sekali. Terlebih-lebih adalah Tohjaya sendiri dan gurunya, yang tidak segan-segan berbicara tentang kemungkinan itu dengan siapa-pun juga.

“Curang,“ katanya, “kakanda Anusapati merahasiakan kemampuannya selama ini. Tentu maksudnya tidak baik. Hanya orang-orang yang licik sajalah yang merahasiakan ilmunya. Tentu untuk tujuan-tujuan yang kurang baik.”

Tetapi hampir setiap orang berkata, “Ternyata bahwa Anusapati mampu mendapatkan ilmu dengan caranya sendiri dan mengamalkannya sebagai Kesatria Putih.”

Meski-pun demikian, beberapa orang perwira yang mempunyai kepentingan tersendiri berkata diantara mereka, “Licik. Tuanku Tohjaya harus berhati-hati menghadapinya.”

Dan untuk sikap itu para perwira itu-pun mendapat janji yang baik dihari mendatang.

“Ayahanda ada dipihakku,“ berkata Tohjaya. Tetapi semuanya itu disadari oleh Mahisa Agni. Ia sudah membuka daun pintu yang selama ini ditutupnya, dan semua orang sudah melihat apa yang terdapat didalamnya. Ternyata bahwa rakyat Singasari menerima kehadiran Anusapati yang tiba-tiba itu.

“Kau harus meneruskan amalmu sebagai Kesatria Putih,“ berkata Mahisa Agni ketika Anusapati menghadapnya.

“Ya paman. Aku akan melakukannya. Tetapi disamping tugas itu, aku harus memperhatikan sikap Tohjaya. Aku yakin bahwa ada suatu yang tidak wajar pada ayahanda. Aku sudah mencoba bertanya kepada ibunda Permaisuri. Tetapi setiap kali ibunda Ken Dedes hanya menangis. Dan aku-pun yakin, ada sesuatu yang disembunyikan. Agaknya ibunda berusaha melindungi pula sikap ayahanda.”

“Jangan salah mengerti Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “bukan maksud ibundamu melindungi sikap yang tidak wajar dari ayahandamu Sri Rajasa. Tetapi sebagai seorang ibu ia harus bijaksana. Ibundamu memang tidak boleh membakar perasaanmu. Dan kau-pun harus menyadari, jangan memaksa ibumu mengatakan sesuatu, agar hatinya tidak semakin sakit.“

Anusapati menundukkan kepalanya. Namun perlahan-lahan ia berkata, “Kenapa ibunda Permaisuri masih harus menyimpan perasaannya itu. Hampir setiap orang didalam istana ini mengetahui, bahwa sikap ayahanda tidak adil, bukan saja terhadap putera-puteranya, tetapi juga terhadap ibunda berdua, Ayahanda Sri Rajasa lebih mementingkan ibunda Ken Umang. Mungkin ibunda Ken Umang adalah seseorang yang lebih terbuka dari ibunda Ken Dedes yang lebih dalam menyimpan perasaannya.”

“Sudahlah Anusapati,“ potong Mahisa Agni, “tidak baik bagimu untuk selalu menyesali diri. Kau sudah mendapat kesempatan. Pergunakan sebaik-baiknya. Bentuklah hari depanmu sendiri tanpa menggantungkannya kepada orang lain, meski-pun kepada ayahanda Sri Rajasa sendiri.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah paman.“

Demikianlah maka Anusapati-pun mulai keluar lagi dari istana dimalam hari dengan kuda putihnya. Tetapi ia masih merasa perlu menyembunyikan wajahnya meski-pun kadang-kadang dibukanya. Tetapi rakyat yang jauh dari kota, meski-pun mereka sudah mendengar pula bahwa Kesatria Putih itu adalah Putera Mahkota, namun mereka masih sering menjumpai Kesatria Putih lengkap dalam pakaiannya yang semula. Kuda Putih dan kerudung putih.

Demikianlah bagi rakyat Kesatria Putih masih tetap merupakan teka-teki. Ia berada disegala tempat dan disegala waktu. Seolah-olah Kesatria Putih dapat mengelilingi seluruh Singasari dalam waktu sekejap.

Namun dalam pakaian Kesatria Putih, Anusapati dapat keluar masuk pintu gerbang istana dengan leluasa. Kini tidak seorang-pun yang berani menegurnya. Bahkan setiap Kesatria Putih lewat pintu gerbang istana, maka hati para prajurit menjadi tenang, karena para penjahat pasti akan menjauh dan Singasari menjadi makin tenteram.

Dalam pada itu kebesaran nama Kesatria Putih semakin hari menjadi semakin menambat hati rakyat Singasari. Hampir tidak masuk akal, bahwa Anusapati dalam waktu hampir berbareng telah menangani dan menghancurkan dua kelompok penjahat ditempat yang berbeda-beda.

Tetapi tidak seorang-pun yang memperhatikan, bekas tangan Kesatria Putih. Hanya Mahisa Agnilah yang dengan teliti mengikutinya. Didalam hati ia masih menyebut perbedaan akibat dari tindakan Kesatria Putih.

“Dibagian Utara kota Singasari. Kesatria Putih jarang sekali membinasakan lawannya, tetapi dibagian Barat, hampir setiap penjahat tidak lolos dari ujung pedangnya.”

Dengan demikian, Mahisa Agni merasa perlu untuk menertibkan tindakan Kesatria Putih sebelum orang lain mencurigainya juga, karena sebenarnya bukan saja Anusapati, tetapi ia masih juga dibantu oleh orang-orang yang sebelumnya telah mengenakan pakaian Kesatria Putih diatas kudanya yang putih.

“Untunglah, bahwa Anusapati sudah pantas dilepaskan dalam bentuk Kesatria Putih,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya pula, “meski-pun Anusapati masih belum menyamai Witantra. Kuda Sempana dan Mahendra, tetapi dengan bekal yang ada, ia cukup mampu menghadapi kejahatan didaerah padesan.”

Sejalan dengan memanjatnya nama Kesatria Putih yang dikenal sebagai Putera Mahkota, maka hati Sri Rajasa-pun menjadi semakin kecut. Kadang-kadang ia menjadi hampir berputus asa. Ia mengakui, betapa cerahnya hati Mahisa Agni melawan permainannya.

“Aku lengah menghadapinya karena ia berada jauh dari istana. Ternyata ditempat yang jauh itu, ia masih mampu melakukan permainan yang matang,“ katanya setiap kali kepada diri sendiri.

Apalagi semakin lama nama Tohjaya semakin tidak pernah diucapkan lagi oleh rakyat Singasari diluar istana, karena Tohjaya hampir tidak pernah mendapat kesempatan apapun. Setelah mereka mengetahui bahwa Kesatria Putih itu adalah Anusapati, maka mereka mulai ragu-ragu mempergunakan prajurit-prajurit sebagai umpan yang akan dipergunakan untuk memanjatkan nama Tohjaya.

Meski-pun demikian, beberapa orang perwira dipuncak pimpinan prajurit Singasari, masih berhasil dikuasainya dengan berbagai macam janji dan kesempatan.

Namun bagi Sri Rajasa, semuanya itu tidak akan banyak memberi harapan.

Bahkan di saat-saat ia duduk sendiri dibelakang bangsalnya, jika matahari sudah tenggelam, kadang-kadang Sri Rajasa tidak dapat menghindarkan diri dari kenangan masa lampaunya. Bahkan kadang-kadang kenangan itu bagaikan hantu yang merayap mengintainya dan menerkamnya setiap saat.

“Apakah dewa-dewa sudah mulai melepaskan aku sendiri?“ katanya kepada diri sendiri.

Sekilas terkenang kata-kata mPu Purwa dipadang Karautan, “Kembalilah kepada Yang Maha Agung.”

Dan Ken Arok yang saat itu menghantui padang Karautan bertanya kepada diri sendiri, “Siapakah Yang Maha Agung itu?”

Terkenanglah olehnya bagaimana ia dikejar-kejar oleh orang-orang padesan didaerah Kemundungan. Karena kebingungan ia segera memanjat pohon tal. Tetapi orang-orang itu berusaha menebang pohon tal tempat ia memanjat. Di saat yang gawat itulah ia mendengar suara di angkasa, “Ambil daun tal, pakailah sebagai sayapmu kiri dan kanan.”

Dan Ken Arok selamatlah menyeberangi sungai dengan sayap daun tal.

“Itu adalah suara Yang Maha Agung,“ desisnya.

Saat itu, ia ternyata dekat sekali dengan Yang Maha Agung. Beberapa kali ia menjumpai keajaiban yang tidak dimengertinya sendiri, sehingga sampai saat ini ia masih bertanya, “Ilmu apakah yang sebenarnya aku miliki sekarang, sehingga aku dapat mengalahkan Maharaja di Kediri?”

“Tetapi apakah kini Yang Maha Agung itu masih dekat dengan aku?“ pertanyaan itu mulai mengganggunya.

Bahkan kadang-kadang didalam kegelapan. Sri Rajasa melihat bayangan seseorang yang duduk bersimpuh sambil memegang dadanya yang terluka. Namun kadang-kadang bayangan itu mengangkat tangannya yang menuding wajahnya, “Kau membunuh aku Ken Arok.”

“Tidak, tidak,“ Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu berdesis sambil menutup wajahnya. Bayangan itu adalah bayangan mPu Gandring yang telah dibunuhnya dengan keris yang dibuat oleh mPu Gandring itu sendiri.

Ketika bayangan itu lenyap, hadirlah bayangan yang lain, seorang anak muda yang berwajah riang. Tetapi wajah itu rasa-rasanya bagaikan menyala, “Kau memperdaya aku Ken Arok. Aku tidak pernah bersalah. Aku tidak pernah membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Dan ketika bayangan yang kemudian hadir, hatinya menjadi semakin kecut. Dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung dalang sambil menggeram, “Akan datang saatnya aku menuntut balas Ken Arok.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menjadi semakin kecut. Bayangan Tunggul Amelung itu semakin lama menjadi semakin jelas.

Bukan, bukan wajah Tunggul Ametung, tetapi wajah itu adalah wajah Anusapati. Wajah Kesatria Putih yang lahir dari Ken Dedes oleh tetesan darah Akuwu yang telah dibunuhnya itu.

Terasa kengerian yang sangat mencekam hati Sri Rajasa. Wajah demi wajah dari orang yang telah dibunuhnya silih berganti membayanginya, bercampur baur dengan wajah Anusapati, bahkan kemudian wajah Mahisa Agni.

“Mahisa Agni,“ tiba-tiba Sri Rajasa menggeram.

Bagi Sri Rajasa ternyata Mahisa Agnilah kini orang yang paling berbahaya. Tanpa Mahisa Agni, Anusapati sama sekali tidak berarti baginya.

Tetapi Sri Rajasa untuk sementara tidak akan dapat berbuat banyak terhadap Mahisa Agni, meski-pun Sri Rajasa yakin bahwa Mahisa Agni tidak akan berhenti sampai sekian. Kemenangan yang pernah dicapainya akan mendorongnya untuk berbuat lebih banyak lagi.

Bagi Mahisa Agni perjuangan itu pasti dianggapnya sebagai kewajiban. Ia telah kehilangan pamannya, mPu Gandring, suami Ken Dedes, dan bahkan terjerumus kedalam perang tanding melawan Witantra untuk menetapkan kekalahan Kebo Ijo.

“Mahisa Agni pasti sudah menemukan kebenaran dari segala peristiwa yang terjadi,“ berkata Sri Rajasa kepada diri sendiri.

Dan tiba-tiba saja Sri Rajasa-pun teringat pula kepada Witantra dan saudara seperguruannya, Mahendra.

Ingatan yang tumbuh dihati Sri Rajasa itu membuatnya semakin gelisah. Terapi ia sudah melangkah. Tingkat demi tingkat dari suatu perjuangan yang berat sudah dilaluinya. Yang. kini ia sudah sampai pada titik perjuangan yang terakhir, mewariskan kekuasaan yang dibangunnya selama ini kepada keturunannya, bukan keturunannya Tunggul Ametung. Meski-pun ada juga putra-putranya yang lahir dari Ken Dedes, tapi Sri Rajasa menganggapnya bahwa Ken Dedes pernah melahirkan anak Tunggul Ametung. Tapi kegagalannya menampilkan Tohjaya menjadi pahlawan terbesar diantara putra-putranya membuatnya kehilangan arah. Semua rencananya pecah bersama dengan kekalahan Tohjaya diarena melawan Kesatria Putih yang ternyata adalah Anusapati.

“Aku harus mulai dari permulaan lagi,“ berkata Sri Rajasa di dalam hatinya. Tapi ia belum tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Namun yang terlintas didalam angan-angannya, Mahisa Agni harus segera kembali ke Kediri sehingga kesempatannya bertemu dan berbincang dengan Anusapati menjadi sangat terbatas.

Demikianlah maka dihari berikutnya jatuhlah perintah bahwa Mahisa Agni harus segera meninggalkan istana Singasari.

Mahisa Agni-pun sebenarnya telah menduga bahwa ia harus segera meninggalkan Singasari untuk dijauhkan dari putra Mahkota. Tetapi jalan sudah terbuka meski-pun justru bahaya menjadi semakin besar bagi Anusapati. Namun bertindak sesuatu atas Anusapati yang dikenal oleh rakyat Singasari sebagai kesatria Putih memerlukan pertanggungan yang besar.

Meski-pun demikian Mahisa Agni tidak boleh lengah sebelum ia berangkat meninggalkan istana ia banyak sekali memberikan pesan kepada Anusapati.

Tetapi satu hal yang tidak dikatakannya, bahwa Anusapati sebenarnya bukan putera Sri Rajasa.

“Paman,“ Anusapati mendesak, “apakah sebabnya, aku harus menempuh jalan yang aneh untuk mendapatkan tempat dihati rakyat Singasari. Dan kenapa aku rasa-rasanya menjadi semakin jauh dari ayahanda Sri Rajasa?”

“Tidak ada persoalan apa-pun yang dapat menjadi alasan itu Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “jika sekarang kau menghadapi kenyataan itu, barangkali, karena ibumu seorang yang lebih banyak menyimpan perasaan. Seorang yang tidak ingin melontarkan diri keatas awang-awang, melampaui dan bahkan jika perlu beralaskan orang lain. Tetapi sifat-sifat Ken Umang memang tidak terpuji. Itulah agaknya yang menyebabkan ada perbedaan antara kau dan Tohjaya dihadapan Sri Rajasa. Tetapi percayalah bahwa hal itu tidak akan langgeng. Akhirnya akan tampak dan terbukti, mana yang baik dan mana yang tidak.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam.

“Jalanmu sudah terbuka. Teruskan amalmu sebagai Kesatria Putih. Kau harus lebih banyak keluar dari istana. Jangan sampai terjadi, Kesatria Putih melakukan tindakan disuatu tempat tetapi kau berada didalam istana. Jika demikian pasti akan menimbulkan pertanyaan. Satu kali dua kali mungkin tidak akan diketahui, tetapi perasaan Sri Rajasa yang tajam, dan usaha Tohjaya untuk mencari kelemahanmu, akan memaksa mereka mencari setiap kesalahan yang mungkin terjadi.”

Anusapati menganggukkan kepalanya.

“Pada suatu saat Anusapati, untuk tidak menimbulkan kesalahan, sebaiknya kau sendirilah yang akan menjadi Kesatria Putih. Kau seorang diri tanpa orang lain. Meski-pun kegiatan

Kesatria Putih akan berkurang, tetapi lubang-lubang yang dapat membuat kau terperosok kedalamnya menjadi semakin kecil.”

“Ya, paman.”

“Sementara itu, untuk keselamatanmu, setiap kali salah seorang dari orang-orang tua itu akan mengawasimu dari kejauhan seperti yang juga sering terjadi. Menghadapi kejahatan yang besar dan dilakukan oleh penjahat-penjahat yang kuat, kau tidak boleh berjuang seorang diri. Satu atau dua orang akan membantumu. Tetapi hanya seorang sajalah yang boleh berperan sebagai Kesatria Putih.”

“Tetapi bagaimana aku dapat berhubungan dengan mereka paman.”

“Merekalah yang akan menghubungi kau setiap kali. Sumekar dapat menjadi penghubung yang baik pula.“

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, jagalah dirimu baik-baik. Tetapi jangan sekedar tenggelam dalam tugas Kesatria Putih. Kau harus menyempurnakan ilmumu sebaik-baiknya. Jika pada suatu saat kau menjumpai bahaya dari mana-pun datangnya, kau benar-benar sudah menjadi sempurna dan mampu mempertahankan dirimu. Orang-orang seperti Kiai Kisi masih akan berkeliaran mencarimu. Suatu saat akan datang orang yang jauh lebih dari kiai Kisi, karena ternyata Sri Rajasa kini pasti sudah memperhitungkan, bahwa kau sendirilah yang telah membunuh Kiai Kisi itu.”

Demikianlah, maka pesan Mahisa Agni itu selalu diingat oleh Anusapati. Ia harus berhati-hati. Baik didalam lingkungan hidupnya sehari-hari, mau-pun apabila ia pergi keluar istana sebagai Kesatria Putih. Namun seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, Anusapati masih selalu memerlukan waktu untuk menyempurnakan ilmunya. Setiap hari ia singgah di tempat yang terasing untuk mematangkan ilmu yang sudah dimilikinya.

Namun ternyata ada beban baru yang harus dilakukannya. Mahisa Wonga Teleng berkeras untuk mempelajari ilmu daripadanya.

“Aku jauh ketinggalan dari saudara-saudaraku,“ berkata Mahisa Wonga Teleng. “Tentu ada kesengajaan ayahanda Sri Rajasa untuk membedakan aku dengan saudara-saudaraku yang lahir dari ibunda Ken Umang.”

“Tidak Mahisa Wonga Teleng,“ jawab Anusapati, “tidak ada perbedaan apa-apa. Itu hanyalah perasaan kita.“ Anusapati mencoba menirukan Mahisa Agni setiap kali ia mengeluh. Dan kini ia mencoba menenteramkan hati adiknya itu.

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Meski-pun Anusapati sendiri melihat kenyataan itu. Adalah tidak mustahil, terdorong oleh sikap Tohjaya maka adik-adiknya yang lahir dari Ken Umang telah membenci Mahisa Wonga Teleng karena ia adalah adik Anusapati.

“Kakanda Tohjaya juga mengajari adik-adiknya yang lahir dari ibunda Ken Umang. Apa salahnya aku minta kakanda Anusapati melatih aku?”

“Baiklah.“ berkata Anusapati, “kita mencari tempat yang baik. Di pagi-pagi benar kita mulai berlatih sampai matahari terbit.”

“Waktunya hanya pendek sekali.“ sahut Mahisa Wonga Teleng, “bagaimana kalau sampai matahari sepenggalah?”

Anusapati tersenyum. Katanya, “Bukankah kau sudah mempunyai seorang guru yang mengajarimu bersama-sama dengan adinda yang lain.“

“Tetapi tidak lagi bagiku setelah aku kawin. Seperti juga kakanda Anusapati tidak mendapat kesempatan berguru lagi. Untunglah ada pamanda Mahisa Agni. Jika aku tahu sebelumnya, aku pasti ikut berlatih pada paman Mahisa Agni. Akulah yang barangkali bernasib jelek. Aku tidak mendapat perhatian dari

pamanda Mahisa Agni, dan tidak terhitung oleh Ramanda Sri Rajasa.“

“Jangan begitu. Tidak ada perbedaan. Baik pada paman Mahisa Agni, mau-pun pada ayahanda Sri Rajasa.”

“Entahlah,“ sahut Mahisa Wonga Teleng, “tetapi sekarang aku minta kepada kakanda Anusapati, ajari aku meski-pun terlambat. Aku menjadi semakin tua, dan anakku menjadi semakin besar.“

Anusapati tidak dapat menolak permintaan adiknya. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Wonga Teleng belum menjadi tua. Ia masih sangat muda. Meski-pun anaknya bertambah besar, tetapi saat perkawinannyalah yang terlampau maju. Anusapati tidak mengerti, kenapa ayahanda Sri Rajasa berlaku demikian. Apakah tujuannya, karena ternyata sikap ayahanda Sri Rajasa-pun jauh lebih baik pada Mahisa Wonga Teleng daripada kepada, dirinya sendiri.

Tidak seperti pada saat Anusapati mempelajari olah kanuragan dari pamannya, Mahisa Wonga Teleng tidak perlu bersembunyi-sembunyi. Ternyata ia berani menghadapi tantangan disekitarnya. Dan ternyata tidak ada seorang-pun yang berani merintanginya, apalagi gurunya adalah Kesatria Putih.

Namun dalam pada itu, sebenarnya Tohjaya sama sekali masih belum mengakui kemenangan Anusapati daripadanya. Memang Anusapati dapat mengalahkannya dalam permainan sodoran di arena. Tetapi itu tidak berarti bahwa Anusapati dapat mengalahkannya apabila benar-benar mereka harus berperang tanding.

Tetapi Tohjaya tidak berani mencobanya. Ia masih belum mengetahui dengan pasti, kemampuan yang sebenarnya dimiliki oleh Anusapati.

“Tuanku,“ guru Tohjaya yang siang dan malam memikirkan cara untuk melenyapkan Kesatria Putih, sejak ia masih belum mengenakan bentuknya itu, berkata kepada muridnya, “adalah suatu keharusan untuk melenyapkan Kesatria Putih. Aku rasa kita

tidak akan dapat bertindak atasnya. Jika kita memberikan beban ini kepada salah seorang diantara kita, atau setidak-tidaknya orang yang ada dilingkungan kita, jika orang itu tidak berhasil, maka akan sangat berbahaya akibatnya bagi kita. Untunglah bahwa sampai saat ini, usaha kita belum dapat diketahuinya dengan pasti.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi gurunya menjadi ragu-ragu sendiri. Terbayang didalam angan-angannya, seseorang berkerudung hitam telah memancingnya dan melibatnya dalam perkalahian. Ketika ia merasa, bahwa ia akan berhasil membunuh orang itu, rahasia yang disimpannya terlanjur dikatakannya.

“Apakah orang itu juga Anusapati?“ katanya didalam hati, “Jika orang itu Putera Mahkota, kenapa ia masih tetap berdiam diri sampai sekarang?”

Hal itu ternyata sangat membingungkan sekali. Menurut pengamatannya, bentuk tubuhnya dan sikap terjangnya, orang itu bukan Putera Mahkota. Tetapi siapa?

Orang itu sama sekali tidak menduga, bahwa di halaman istana itu ada seorang juru taman yang memiliki kemampuan seperti Kesatria Putih dan seperti orang-orang berkerudung yang pernah dikenal di istana Singasari.

“Jadi bagaimana maksudmu?“ bertanya Tohjaya kemudian.

“Kita minta pertolongan seseorang diluar lingkungan kita.”

Tohjaya mengerutkan keningnya, namun kemudian ia berkata lemah, “Kau pernah gagal. Kiai Kisi tidak dapat berbuat apa-apa. Bukankah kau pernah mengatakannya meski-pun kau tidak mengajak aku berbicara ketika kau merencanakan? Dan bukankah ayah pernah marah kepadamu?”

“Tetapi keadaannya sekarang berbeda. Kita tidak membenturkan orang itu langsung kepada Putera Mahkota, tetapi kepada Kesatria Putih.“

“Apa bedanya? Setiap orang tahu bahwa Kesatria Putih adalah kakanda Anusapati.”

“Tuanku,“ berkata Penasehat Sri Rajasa itu, “hamba mempunyai seorang sahabat. Seorang sakti yang bertapa dilereng Gunung Semeru.”

“Jangan mengigau. Kita tidak tahu kekuatan yang sebenarnya tersimpan didalam diri kakanda Anusapati.“ potong Tohjaya, “sedangkan jika pertapa itu orang yang putih, ia pasti tidak akan bersedia memenuhi keinginan itu.”

“Orang itu adalah kakak seperguruan Kiai Kisi.”

“Tidak ada gunanya. Ilmunya tidak akan jauh lebih tinggi dari Kiai Kisi.”

“Tentu dengan cara yang khusus. Ia mempunyai beberapa orang murid.”

“Kesatria Putih dijebak, kemudian dikerubut bersama-sama?”

“Ya.”

“Kakanda Anusapati bukan seorang yang bodoh. Ia pasti mempunyai perhitungan tersendiri.”

“Biarlah mereka menjadikan dirinya penjahat kecil yang mengotori daerah Singasari. Kesatria Putih pasti akan datang mencarinya.”

“Seperti beberapa orang prajurit itu? Mereka dimusnakan oleh Kesatria Putih.”

“Cecurut-cecurut yang tidak berarti itu. Kita telah salah hitung. Tetapi kali ini hamba akan berhati-hati. Jebakan ini harus mengena. Kalau tidak, kita memang akan menjumpai kesulitan. Tetapi betapa-pun kuatnya Kesatria Putih, tetapi seorang diri ia tidak akan dapat mengalahkan orang itu beserta beberapa orang muridnya. Apalagi dendam yang ada didalam dirinya kita hembus semakin besar.”

Tohjaya merenung sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Terserah kepada ayahanda. Aku tidak dapat mengambil kesimpulan.”

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak yakin kalau ayahanda memperkenankan.”

“Mungkin ayahanda tidak menghendaki kematian Kesatria Putih. Meski-pun ayah hendak menyingkirkannya, tetapi bukan membunuhnya.”

Penasehat Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih belum mengatakan, bahwa Anusapati bukan saudara Tohjaya. Sama sekali bukan, karena mereka tidak seayah dan tidak seibu.”

Sejenak keduanya saling berdiam diri. Sebenarnya bagi Tohjaya, Anusapati memang lebih baik disingkirkan sama sekali, bukan saja dari kedudukannya sebagai Putera Mahkota, tetapi untuk seterusnya, sehingga ia tidak akan dapat mengganggunya lagi kapan-pun juga.

“Tetapi aku kira ayahanda bersikap lain,“ berkata Tohjaya didalam hatinya, “apalagi setelah ayahanda tahu, bahwa Kesatria Putih adalah kakanda Anusapati. Bagaimana-pun juga kematian kakanda Kesatria Putih akan sangat berpengaruh pada pemerintahan Singasari kelak. Ayahanda pasti akan terpaksa ikut berduka karena ibunda Permaisuri berduka, meski-pun seandainya kematian Kesatria Putih itu dikehendaki oleh ayahanda. Setelah itu maka untuk mengangkat seorang Putera Mahkota pasti akan menimbulkan persoalan tersendiri pula. Aku yakin bahwa ayahanda akan memilih aku. Tetapi adalah sulit sekali untuk menembus ketentuan yang berlaku, bahwa Putera Mahkota adalah putera seorang Permaisuri.”

Tohjaya menarik nafas dalam-dalam.

“Kematian itu dapat ditempuh,“ berkata Tohjaya pula didalam hatinya, “ayahanda adalah seorang Maharaja yang berkuasa. Kata-katanya adalah ketentuan yang tidak dapat dibantah mengatasi

segala ketentuan yang sudah ada. Selagi ayahanda masih ada, tidak akan ada seorang-pun yang berani menentang keputusannya.”

Namun segera terlintas dikepalanya, wajah seorang Senapati Singasari yang tidak ada duanya, yang bersama-sama Sri Rajasa telah mengalahkan Kediri. Mahisa Agni.

“Orang itulah yang seharusnya disingkirkan,“ geram Tohjaya tiba-tiba.

“Siapa tuanku? “ gurunya itu bertanya.

“O,“ Tohjaya baru sadar, bahwa ia sedang dihanyutkan oleh angan-angannya.

“Siapakah yang seharusnya disingkirkan tuanku?”

Tohjaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Semua rencana rusak oleh pamanda Mahisa Agni.“

“Ya tuanku. Ternyata Mahisa Agni adalah seorang yang bukan saja memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni, tetapi ia memiliki kemampuan berpikir yang tidak terduga-duga. Anak padesan itu hampir berhasil merusakkan seluruh rencana tuanku Sri Rajasa. Karena itu, kita harus bersikap lebih keras lagi. Ayahanda tuan memilih jalan yang paling lembut untuk mencapai maksudnya. Namun ternyata Mahisa Agni adalah seorang yang sangat licik.”

“Kau nasehatkan kepada ayahanda. Jika mungkin mengambil jalan kekerasan meski-pun ayahanda pernah tidak menyetujuinya. Tetapi saat itu, jalan masih terbuka dan ayahanda masih belum mengetahui betapa licik lawannya.”

“Hamba akan mencoba. Tetapi sebelum ayahanda memutuskan, kita memang tidak akan dapat berbuat apa-apa,“ berkata gurunya.

“Aku menunggu, meski-pun aku hampir tidak sabar.”

Demikianlah guru Tohjaya yang juga menjadi penasehat Sri Rajasa itu mencoba untuk mendorong Sri Rajasa mempergunakan kekarasan didalam usahanya menyingkirkan Kesatria Putih.

“Kau memang bodoh sekali,“ berkata Sri Rajasa, “apakah kau masih belum jera atas kegagalanmu itu?”

“Tetapi kali ini jalan kita lebih lapang tuanku. Kesatria Putih adalah musuh setiap penjahat. Jika terjadi sesuatu atas Kesatria Putih, maka tidak seorang-pun yang dapat dituntut. Berbeda dengan Putera Mahkota didalam sebuah pasukan. Hamba memang terlampau tergesa-gesa waktu itu.“

“Bagaimana dengan Tohjaya?“

“Tuanku Tohjaya hampir tidak sabar menunggu.“

“Apakah kau mengatakan kepadanya, siapakah Anusapati sebenarnya dan hubungan antara kedua anak-anak itu.”

“Tidak tuanku.“

“Kau tidak berdusta?“

“Tidak tuanku.”

Sri Rajasa justru terdiam. Tiba-tiba saja ia merenung. “Bagaimanakah pendapat tuanku?“ bertanya penasehatnya.

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Tetapi yang terlintas di angan-angannya justru persoalan yang sama sekali menyimpang dari pertanyaan penasehatnya.

Tohjaya sampai hati menjatuhkan pilihan, menyingkirkan Anusapati. Bukan karena Sri Rajasa terlampau sayang kepada Anusapati tetapi ia sedang merenungi watak puteranya. Apalagi karena Tohjaya tidak tahu, hubungan yang sebenarnya antara ia dan Anusapati itu.

“Seharusnya ia menganggap Anusapati sebagai kakaknya. Dan ia sampai hati untuk melenyapkan kakaknya itu,“ berkata Sri Rajasa diadalam hatinya. Sekilas terbayang segala macam tingkah lakunya semasa ia masih muda. Petualangan, kejahatan, bahkan pembunuhan dan perkosaan telah dilakukannya. Apakah sifat dan watak itu menurun kepada puteranya? Ditambah dengan sifat-sifat Ken Umang yang tamak dan sombong.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu memejamkan matanya. Dan bayangan-angan itu justru menjadi semakin jelas. Terlintas dalam angan-angannya itu, bagaimana ia menemukan Ken Umang dihutan perburuan. Bagaimana gadis itu menjeratnya dengan menyerahkan dirinya sendiri.

Gabungan dari sifat-sifat yang hitam itu kini tampak pada puteranya.

“Apakah anak-anakku yang lain juga bersifat seperti itu?“ ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi suatu kenyataan bahwa Mahisa Wonga Teleng, memiliki sifat-sifat yang lain dari Tohjaya, justru karena ia lahir dari ibu yang lain.

“Apakah sifat itu menurun ataukah justru karena tuntunan yang diterimanya dari ibunyalah yang salah?“ bertanya Ken Arok kepada dirinya sendiri pula.

Ternyata pertanyaan-pertanyaan itu telah membuat Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menjadi termangu-mangu. Kesadaran tentang tingkah lakunya dimasa mudanya, membuat ia kini bersedih atas kelakuan puteranya.

Namun tiba-tiba terbayang dendam yang membara di wajah Anusapati. Seakan-akan wajah itu memancarkan sorot mata Tunggal Ametung. Karena itu maka sambil menggeretakkan giginya Sri Rajasa menggeram didalam dadanya, “Ia harus dibunuh.”

Saat-saat yang demikian menegangkan, membuat Sri Rajasa bagaikan kehilangan akal. Rasa-rasanya ia berada didalam suatu keadaan sesaat sebelum ia menghunjamkan kerisnya didada mPu Gandring dan juga didada Akuwu Tunggul Ametung. Ragu-ragu, bimbang dan segala macam perasaan bercampur-baur.

“Semuanya sudah terlanjur. Aku sudah mengorbankan, beberapa nyawa dan orang-orang yang terlalu baik kepadaku. Sekarang korban yang jatuh itu tidak boleh sia-sia, keturunan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumilah yang harus berkuasa di Singasari,“ katanya kepada diri sendiri.

Penasehatnya masih duduk sambil menundukkan kepalanya dihadapannya ia menunggu dengan sabar, keptutusan yang akan diambil oleh Ssi Rajasa tentang Anusapati.

Namun tiba-tiba saja Sri Rajasa itu berkata, “kita selesaikan dahulu Mahisa Agni. Itu adalah sumber kegagalan-kegagalanku menghadapi Anusapati. Setelah Mahisa Agni lenyap, kita akan dapat berbuat apa saja.”

Penasehat menjadi tegang sejenak. Ia tidak menduga bahwa Mahisa Agni yang menjadi pusat perhatian Sri Rajasa.

“Kematian Mahisa Agni tidak akan banyak menimbulkan persoalan padaku. Aku tidak akan dibingungkan tentang jabatan Putera Mahkota untuk sementara, sebelum aku menemukan jalan. Dan kesalahan atas kematian Mahisa Agni dapat aku bebankan kepada orang-orang Kediri. Ternyata mereka telah membunuh wakil Mahkota di Kediri.”

Penasehat Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam, “Soalnya, apakah orang yang kau katakan mempunyai kemampuan untuk melakukannya? Aku kira Mahisa Agni tidak akan menduga bahwa hal serupa itu dapat terjadi atasnya. Orang-orang itu harus memasuki istananya tanpa diketahui oleh para penjaga. Mereka harus menyerang Mahisa Agni dengan serta merta. Jangan hanya satu dua orang. Ambillah tiga atau empat orang yang setingkat. Aku dapat memberikan apa saja yang diminta. Hanya dengan demikian Mahisa Agni akan dapat terbunuh.”

“Hamba tidak dapat mengatakannya tuanku. Apakah orang itu mampu mengalahkan Mahisa Agni.”

“Jangan sendiri.“

“Hamba juga belum tahu. apakah ada kawan-kawannya atau saudara-saudara seperguruannya yang dapat melakukannya.”

“Cobalah, hubungi orang itu. Tetapi hati-hati supaya kau tidak terjerumus ketiang gantungan karena kesalahanmu.”

Terasa sesuatu bergetar didada penasehat itu. Namun ia berkata, “Hamba tuanku. Hamba akan sangat berhati-hati.”

“Jika kau temukan tiga atau empat orang, bawalah mereka kemari. Mereka harus menunjukkan kemampuan mereka. Aku akan menjajagi ilmu mereka langsung.”

“Maksud tuanku.”

“Aku akan mencoba melawan mereka seorang demi seorang. Baru aku dapat menentukan apakah mereka mampu melakukan tugas itu atau tidak, karena Mahisa Agni adalah seorang yang pilih tanding, hampir tidak ada duanya didunia ini.”

“Hamba tuanku. Hamba mengerti.”

“Nah, lakukanlah. Setelah itu baru aku akan menentukan sikap terhadap Anusapati. Kematian Anusapati pasti akan mempengaruhi perasaan Permaisuri dan pengaruhnya yang lain akan terasa sekali pada pemerintahan yang sedang berjalan di Singasari. Tetapi tidak demikian dengan Mahisa Agni. Meski-pun ia akan diserahkan kembali kepada asalnya dengan upacara kebesaran salah seorang pemimpin tertinggi di Singasari, namun persoalannya akan segera selesai dan orang-orang Singasari dan Kediri akan segera melupakannya.”

“Baiklah tuanku. Hamba mengerti tugas yang harus hamba lakukan.”

“Kerjakan baik-baik. Jangan kau katakan lebih dahulu kepada Tohjaya. Aku sendirilah yang akan mengatakan kepadanya.”

“Hamba tuanku. Hamba mengerti. Hamba mengerti,“ penasehat itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, lakukanlah baik-baik. Jika kau sudah menemukan, bawalah mereka kemari. Didalam saat yang tepat, mereka akan pergi ke Kediri, sementara Anusapati harus diusahakan tetap berada di istana saat itu. Jika tidak, dan kebetulan sekali ia berada di Kediri, maka gabungan kekuatan keduanya benar-benar mencemaskan meski-pun harus melawan tiga atau empat orang sekaligus.”

“Hamba tuanku. Hamba mohon waktu sepekan. Hamba akan segera memberikan laporan tentang orang yang hamba katakan.”

“Aku menunggu waktu yang kau katakan. Segala sesuatu harus kau bicarakah dahulu dengan aku. Kau mengerti? Jangan membuat rencana sendiri yang justru akan dapat menggagalkan semua rencana yang sudah tersusun.“

“Hamba tuanku.“ penasehat itu mengangguk-angguk.

Sejenak kemudian maka ia-pun mohon diri. Bukan saja dari hadapan Sri Rajasa, tetapi ia mohon kesempatan sepekan untuk melakukan tugas itu, sehingga dalam waktu itu ia tidak akan berada di istana.

Demikianlah dengan gelisah Sri Rajasa menunggu kesempatan itu. Penasehat itu masih mohon diri pula, ketika ia siap meninggalkan istana dengan kudanya yang tegar.

Ketika kuda itu berlari keluar dari regol istana, sepasang mata mengikutinya dengan tajamnya. Mata seorang juru taman.

Sumekar menjadi curiga melihat kepergian orang itu. Menilik bekal yang dibawanya, yang tersangkut dipunggung kudanya pula, ia tidak hanya sekedar pergi keluar istana untuk beberapa saat. Tetapi ia pasti meninggalkan istana untuk beberapa hari.

“Kemana orang itu?“ ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi tidak ada orang yang dapat menjadi tempat ia bertanya.

Namun karena ia mengetahui apa yang pernah dilakukan oleh orang itu atas Putera Mahkota, maka ia tidak dapat melepaskan perhatiannya kepada kepergiannya itu. Mungkin ia sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakakan Putera Mahkota pula.

Karena itu, mau tidak mau, Sumekar harus menghubungi Anusapati dan memberi tahukan kepergian penasehat Sri Rajasa itu.

“Tuanku harus berhati-hati. Selama tuanku menjalankan tugas tuanku sebagai Kesatria Putih. Mungkin pada suatu saat orang itu sengaja menjebak tuanku.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Teringat pula olehnya bagaimana ia telah dijebak oleh seorang yang menyebut dirinya bernama Kiai Kisi, sehingga kemungkinan yang serupa memang akan dapat terjadi. Teringat pula olehnya, sekelompok prajurit yang menyamar menjadi perampok untuk menjebak Kesatria Putih. Tetapi mereka dapat dihancurkan dan bahkan pedang-pedangnya telah dilemparkan kedepan regol istana.

Dengan demikian Anusapati semakin menyadari, bahwa bahaya menjadi semakin besar mengancamnya dari segala arah. Baik sebagai Putera Mahkota, apalagi sebagai Kesatria yang berkeliaran disegala tempat dan disegala waktu.

“Jadi bagaimana menurut pertimbangan paman Sumekar?”

“Tuanku harus menyampaikan hal ini kepada orang-orang lain yang menyatakan dirinya dalam pakaian Kesatria Putih itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mereka memang harus lebih berhati-hati.”

“Bukan sekedar berhati-hati tuanku. Mereka harus memperhitungkan segala kemungkinan. Jika salah seorang Kesatria Putih itu dapat dijebak oleh sekelompok orang-orang itu, dan Kesatria Putih itu ternyata bukan tuanku, maka persoalannya akan menggemparkan seluruh Singasari. Nama tuanku akan terguncang pula karenanya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mengerti paman. Aku akan menghubungi mereka. Biasanya salah seorang dari mereka menunggu aku dibatas kota. Tentu saja tidak sebagai Kesatria Putih.”

“Sebaiknya tuanku cepat menyampaikan kabar ini sebelum terlambat.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari kesulitan yang dapat timbul apabila sekelompok orang yang berilmu tinggi sengaja menjebak salah seorang dari Kesatria Putih itu.

Demikianlah, dimalam harinya, Anusapati-pun seperti biasanya keluar dari regol istana dalam pakaian Kesatria Putih. Para prajurit yang sedang bertugas menganggukkan kepalanya dengan hormatnya. Mereka sadar betapa beratnya tugas yang telah dibebankan dipundaknya sendiri oleh Putera Mahkota itu. Tugas yang dilakukan seorang diri sebagai Kesatria Putih itu ternyata melampaui kemampuan sepasukan prajurit pilihan.

Namun malam itu Anusapati telah membawa pesan yang mendebarkan bagi Kesatria Putih yang lain. Orang yang malam itu menghubungi Anusapati dibatas kota adalah Witantra sendiri.

“Paman, menurut paman Sumekar, kemungkinan yang buruk itu dapat terjadi.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Memang tuanku. Jika terjadi demikian, maka semuanya akan rusak.”

“Jadi bagaimana menurut pertimbangan paman?”

“Aku akan menarik mereka malam ini.”

“Tetapi dimanakah mereka itu?”

“Hanya seorang yang berpakaian Kesatria Putih malam ini. Kuda Sempana. Aku tahu kemana ia pergi.”

“Jadi maksud paman, Kesatria Putih harus menghentikan kegiatannya untuk sementara?“

“Sampai aku menghubungi tuanku lewat Sumekar.“

Anusapati mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu kainnya, “Jadi bagaimana aku malam ini?”

“Marilah tuanku pergi bersama aku. Sebaiknya tuanku melepaskan pakaian Kesatria Putih itu supaya jika bertamu dengan Kuda Sempana dalam pakaian Kesatria Putih, tidak akan ada dua Kesatria Putih dalam waktu bersamaan, jika kebetulan ada seseorang yang melihatnya, maka akibatnya dapat mengganggu pula.

“Tetapi bagaimana dengan kudaku?“ bertanya Anusapati, “kuda putih adalah salah satu ciri Kesatria Putih.”

“Banyak kuda putih di Singasari. Tetapi asal tuanku tidak mempergunakan pakaian dan kerudung putih, maka orang tidak segera mengambil kesimpulan, bahwa yang lewat adalah Kesatria Putih.”

Anusapati ragu-ragu sejenak. Tetapi ia-pun segera melepaskan tirai putih yang tersangkut dilehernya. Bahkan kemudian ia melepas kain pancingnya dan dikerudungkannya dipunggungnya, agar orang tidak mudah mengenalnya sebagai Putera Mahkota.

“Tuanku seperti seekor burung yang besar sekali di atas seekor kuda,“ berkata Witantra.

Anusapati tersenyum. Tetapi katanya, “Kita menempuh jalan paling aman, kita menghindari seseorang sejauh mungkin agar tidak timbul pertanyaan tentang kuda putih ini.”

“Yang penting tuanku, asal tidak ada dua orang Kesatria Putih bersama-sama. Yang berbahaya adalah saat kita bertemu dengan Kuda Sempana. Dan kita akan berusaha menemuinya tanpa dilihat oleh orang lain, meski-pun tuanku tidak dalam pakaian Kesatria Putih. Sampai saat ini Kesatria Putih masih dianggap sebagai seseorang yang ajaib. Yang ada disembarang tempat dan waktu meski-pun sudah mengalami pengekangan yang agak jauh.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari bahwa pamannya sudah berusaha mengatur serapi mungkin agar tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengurangi nilai dari perbuatan Kesatria Putih.

Demikianlah maka Witantra telah membawa Anusapati berpacu didalam kegelapan. Untunglah bahwa keduanya telah terbiasa berkuda didalam gelap menyusuri jalan-jalan di daerah yang paling sulit sekalipun. Malam itu mereka harus menemukan Kuda Sempana dan menariknya sebelum ia bertemu dengan jebakan yang belum dimengerti.

Untunglah bahwa disetiap malam mereka yang menamakan diri Kesatria Putih itu selalu saling berbicara tentang daerah yang akan mereka datangi, sehingga dalam keadaan yang gawat, mereka akan segera dapat dihubungi. Demikianlah menjelang tengah malam, mereka telah sampai ditempat yang disebutkan oleh Kuda Sempana. Sesuai dengan ciri-ciri yang diberikannya, maka Witantra-pun berhasil mengikuti jejak perjalanan Kesatria Putih sehingga pada suatu tempat, mereka menemukan Kesatria Putih yang sedang menunggu dibawah sebatang pohon cangkring.

“He, ternyata tuanku Putera Mahkota,“ berkata Kuda Sempana.

“Ya, aku dibawa oleh paman Witantra kemari.”

“Apakah ada sesuatu yang penting tuanku? Bukankah malam ini hamba diperbolehkan bergerak setelah tengah malam, karena diseparo malam pertama, tuanku sendiri akan mengelilingi kota Singasari.”

“Ya. Tetapi ada sesuatu yang penting aku sampaikan,“ sahut Anusapati, “sehingga paman Witantra memandang perlu untuk membawa aku kemari.”

“Apakah yang penting itu tuanku? Apakah ada kejahatan dilewat tengah malam yang akan tuanku tangani sendiri, sehingga hamba harus membatalkan tugas hamba malam ini.“

“Tidak, tetapi ada sesuatu yang berbahaya bagi kita,“ jawab Anusapati.

Kuda Sempana menganggukan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi, dan Anusapatilah yang kemudian berceritera tentang Penasehat Sri Rajasa dan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti bahwa dengan demikian tugas Kesatria Putih ada dalam bahaya. Seperti yang dikatakan oleh Anusapati, apabila seseorang atdn segerombolan orang berhasil menangkap Kesatria Putih, dan Kesatria Putih itu bukan Putera Mahkota, maka nama Putera

Mahkota memang dapat terancam. Tohjaya akan memanfaatkan hal itu untuk kepentingannya.

Karena itu, maka Kuda Sempana-pun sependapat, bahwa untuk sementara semua rencana akan dibatalkan sehingga mendapatkan suatu penyelesaian yang dapat dipertanggung jawabkan.

“Tetapi kita tidak boleh berhenti,“ berkata Witantra, “Kesatria Putih masih harus tetap berjuang melawan kejahatan sebelum kejahatan itu berakhir.”

“Hampir tidak mungkin,“ sahut Kuda Sempana, “umur kejahatan sama dengan umur manusia, karena pada dasarnya manusia dikuasai oleh sifat-sifat yang jahat. Hanya mereka yang berhasil menguasai diri sendiri dan berjuang merebut dirinya dari tangan setan sajalah yang mampu menghindari kejahatan.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jika demikian kita masih akan berbuat banyak sekali. Dengan pakkaian Kesatria kita langsung menghadapi kejahatan dimedan. Tetapi lewat cara lain kita harus berusaha membawa setiap orang berusaha merebut dirinya sendiri dari kekuasaan setan itu. Jika kita berhasil, maka tugas kita dimedan akan jauh berkurang.”

Kuda Sempana mengangguk-angguk. Lalu ia-pun bertanya, “Jadi apa yang akan kita lakukan?”

Kita akan berhubungan dengan Mahisa Agni. Tetapi aku kira kita akan menentukan, bahwa biarlah Putera Mahkota sajalah yang berpakaian Kesatria Putih. Kita akan selalu membayangi. Jika Putera Mahkota masuk kedalam suatu jebakan, kita akan membantunya. Bukan sebagai Kesatria Putih.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Malam ini semua rencana kita batalkan,“ berkata Witantra, “Siapa tahu, bahwa guru Tohjaya itu sudah mulai bergerak dengan kekuatan yang besar.”

Demikianlah maka malam itu. Kuda Sempana membatalkan niatnya untuk membelah daerah itu yang didengarnya sedang

diambah oleh kejahatan. Untunglah bahwa malam itu tidak terjadi apa-pun sehingga seandainya Kuda Sempana tetap berada didaerah itu-pun tidak akan dijumpainya seseorang.

Malam itu sebelum Anusapati masuk kembali keregol istana, dikenakannya kembali ciri pakaian Kesatria Putih, supaya kehadirannya tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan.

Dalam pada itu, guru Tohjaya sudah menempuh jarak yang jauh untuk menemui orang yang dikatakannya. Ia memutuskan untuk menemui kakak seperguruannya yang tertua. Juga segaris perguruan dengan Kiai Kisi.

Kedatangannya telah menimbulkan berbagai pertanyaan didalam sebuah padepokan yang terpencil. Padepokan yang dihiasi dengan berbagai macam kemuraman karena mereka yang tinggal dipadepokan itu bukanlah sekelompok orang-orang yang berhati putih.

“Kau masih ingat kepadaku?“ berkata saudara tua seperguruan itu. “Sudah lama sekali kau tidak datang kepadepokan ini.”

“Aku tidak pernah melupakan kau kakang. Kesempatankulah yang masih belum ada. Tetapi sekarang aku memerlukan datang menemui kakang.”

“Tentu ada suatu kepentingan yang mendesak. Aku sudah mendengar kematian Kiai Kisi yang malang itu. Kedatanganmu tentu ada hubungan kelanjutan dari kematiannya.”

“Sebenarnya aku tidak akan segera mengatakannya, tetapi kakang sudah menebak tepat sehingga aku tidak akan ingkar.”

Kakak seperguruan yang tertua dari guru Tohjaya itu tertawa, katanya, “Aku tidak memaksa kau mengatakannya jika kau berkeberatan.”

“Bukan begitu. Maksudku, setelah aku berada disini sehari dua hari, barulah aku akan menyampaikannya.”

“Buat apa aku harus menebak-nebak selama sehari dua hari. Meski-pun kau akan tinggal disini beberapa hari, tetapi masalahnya sudah aku ketahui.”

Guru Tohjaya itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku kira kau tidak lagi memerlukan aku setelah kau menjadi orang istana. Menjadi penasehat Hantu Karautan dan menjadi guru dari anaknya yang lahir dari Ken Umang itu.“

“Tidak kakang. Aku tidak lupa kepada siapapun.“

“Dalam kesulitan kau ingat kepada kami. Dan justru karena itu Kiai Kisi sudah menjadi korban perhitunganmu yang tidak cermat. Apakah kau sudah tahu siapakah yang telah membunuh Kiai Kisi itu?”

“Ya kakang. Aku sudah mengetahuinya kini, meski-pun tidak dapat aku buktikan.”

“Hanya dugaan?”

“Dugaan yang didasarkan atas perhitungan.”

“Siapa yang telah membunuhnya?“

“Putera Mahkota sendiri.”

“Anusapati?“ kakak seperguruannya terkejut.

“Apakah kakang belum mendengar hasil permainan sodoran di alun-alun Singasari?”

“Singasari sangat jauh dari tempat ini. Tetapi aku sudah mendengarnya, bahwa orang yang menyebut dirinya Kesatria Putih ternyata adalah Putera Mahkota.”

“Nah, ternyata Kiai Kisi tidak berhasil membunuh Putera Mahkota saat itu. Justru ia sendiri telah terbunuh.”

“Kiai Kisi memang belum cukup masak untuk menghadapi lawan yang kuat. Tetapi bagaimana dengan kau sendiri?”

“Tentu tidak mungkin. Aku orang istana.”

“Kau juga takut?”

Tentu tidak kakang. Aku merasa bahwa aku tidak lebih jelek dari Kiai Kisi. Tentu aku dapat membinasakan Kesatria Putih. Tetapi sudah aku katakan, jika ada yang berhasil mengetahui persoalannya akan menjadi sangat buruk, karena aku adalah guru tuanku Tohjaya dan kadang-kadang juga diajaknya berbicara tentang keprajuritan disamping para Panglima.”

Kakak seperguruannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Jadi kau bermaksud agar aku membunuh Kesatria Putih, begitu?”

Kakak seperguruannya mengerutkan keningnya ketika guru Tohjaya itu menggeleng, “Bukan Kesatria Putih.”

“He. Bukan Kesatria Putih? Jadi siapa?”

“Orang yang sebenarnya berdiri sebagai lawan Sri Rajasa.”

“Siapa?”

“Mahisa Agni yang justru menjadi wakil Mahkota di Kediri, mengawasi pemerintahan yang diserahkan kepada keluarga dan keturunan Maharaja di Kediri itu sendiri.”

“Mahisa Agni,“ kakak seperguruannya itu menganggukkan kepalanya, “dari perguruan manakah orang itu?”

“Aku tidak tahu. Tetapi orang menyebutnya berasal dari Panawijen.”

Kakak seperguruannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku pernah mendengar perguruan dipadepokan Panawijen bertahun-tahun yang lalu. Tetapi aku tidak peduli, ia berhenti sejenak. Lalu, “Apa yang harus kita kerjakan?”

“Membunuhnya.“

"Dimanakah ia tinggal?”

“Di Kediri. Kakang harus pergi ke Kediri. Kakang harus memasuki istananya dan membunuhnya didalam istana itu.”

“Aku belum mengenal orangnya. Apakah aku harus pergi sendiri?”

“Tidak kakang. Menurut Sri Rajasa, kakang harus pergi bersama tiga atau empat orang yang akan didadar oleh Sri Rajasa sendiri.”

“He, jadi Sri Rajasa tidak percaya akan kemampuanku.”

“Bukan tidak percaya. Tetapi Sri Rajasa ingin berhati-hati menghadapi persoalan ini. Sudah beberapa kali rencananya gagal, sehingga karena itu, ia tidak mau gagal untuk kesekian kalinya.”

“Jadi maksudmu, kami harus menghadap ke istana dan berkelahi dengan Sri Rajasa?”

“Bukan begitu. Sri Rajasa hanya ingin mengetahui, betapa kekuatanmu bersama tiga atau empat orang yang lain agar Sri Rajasa mempunyai kepastian, rencananya kali ini tidak gagal.”

“Terserah saja. Aku tidak berkeberatan. Tetapi apa yang akan aku terima setelah aku berhasil membunuhnya?”

Penasehat Sri Rajasa itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kau dapat berbicara sendiri dengan Sri Rajasa.”

Kakak seperguruannya itu mengerutkan keningnya. Ia pernah mendengar kemenangan Sri Rajasa atas Kediri. Dan ia juga mendengar seorang Senapatinya yang berhasil membunuh Senapati tertinggi dari Kediri yang hampir tidak terkalahkan. Orang itu agaknya yang bernama Mahisa Agni.

Ketika ia bertanya kepada guru Tohjaya, maka orang itu-pun mengiakannya.

“Memang tugas yang berat. Aku memang memerlukan kawan. Tetapi Sri Rajasa tidak usah kuwatir. Betapa tinggi kemampuannya, selagi kakinya masih berjejak diatas tanah, aku akan dapat membinasakannya meski-pun tidak sendiri.” ia berhenti sejenak, lalu sekali lagi, “Apa yang akan aku terima dari Sri Rajasa?”

“Kelak kau akan mendengarnya sendiri.”

Kakak seperguruan penasehat Sri Rajasa itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah. Aku percaya kepadamu meski-pun sebenarnya aku tidak percaya kepada Sri Rajasa.”

“Kenapa kau tidak percaya kepada Sri Rajasa?”

“Aku bukan seorang yang bersih. Aku adalah seorang yang licik dan barangkali pengecut. Karena itu aku mangerti. Sri Rajasa sudah sampai hati berusaha membinasakan seorang Senapatinya yang telah berjasa besar kepadanya. Bahkan juga Putera Mahkota. Apakah masih ada orang yang dapat percaya kepadanya? Jika orang yang bernama Mahisa Agni itu dibunuhnya, apakah hal yang serupa tidak dapat terjadi atasku, atasmu dan siapapun? Karena itu, aku harus berhati-hati. Kau juga harus berhati-hati.”

Penasehat Sri Rajasa itu mengangguk-anggukkan. Katanya, “Kau benar. Tetapi sampai saat ini aku masih dipercayanya meski-pun kadang-kadang dibentak-bentaknya.”

“Baiklah. Aku akan menghadap keistana. Berhadapan dengan orang selicik dan sejahat Sri Rajasa, aku-pun harus hati-hati.”

“Apakah Sri Rajasa termasuk seorang yang jahat?”

“Tentu. Tetapi ia mempunyai kelebihan dari aku. Ia berhasil membuat Singasari besar. Itu adalah jasa yang telah diberikan kepada tanah ini dan tidak akan dilupakan orang. Tetapi aku tidak berbuat apa-apa. Meski-pun demikian, dihadapan kebenaran Sri Rajasa adalah orang yang pernah ingkar daripadanya.”

Penasehat Sri Rajasa itu menganggukakan kepalanya. Katanya, “Baiklah kakang datang ke istana. Terserah, apa yang akan kakang bicarakan.”

“Aku akan membawa dua orang saudara seperguruan kita yang tersisa dan dua orang muridku tertua dan yang sudah memiliki kemampuan penuh.”

Penasehat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Terserahlah. Tetapi Mahisa Agni pernah membinasakan Senapati tertinggi dari Kediri.“

Demikianlah, maka pada hari yang ditetapkan setelah beberapa lama penasehat Sri Rajasa tinggal dipadepokan saudara seperguruannya itu, mereka berangkat ke istana Singasari. Untuk menyesuaikan diri dengan keadaannya, maka saudara tua panasehat Sri Rajasa itu mengenakan pakaian yang pantas bagi seorang tamu istana, sedang yang lain, untuk menghindarkan kecurigaan akan ditempatkan diluar istana, pada seorang kepercayaan penasehat Sri Rajasa itu.

Ternyata kehadiran tamu yang tidak dikenal bersama penasehat Sri Rajasa itu telah menarik perhatian Sumekar yang mengetahui, apa yang pernah dilakukan oleh penasehat itu atas Putera Mahkota. Karena itu, maka kehadiran orang yang tidak dikenal bersamanya, telah menumbuhkan kecurigaannya.

“Menilik bentuk wajahnya dan sorot yang tersirat dari tatapan matanya, ia bukan orang yang baik,“ berkata Sumekar didalam hatinya.

Karena itulah, maka timbullah niatnya untuk selalu mengawasinya. Mungkin ada sesuatu yang pantas dilakukan untuk keselamatan Putera Mahkota. Karena bagaimana-pun juga, seolah-olah Sumekar merasa dirinya telah terlibat didalam pertentangan tertutup antara Putera Mahkota dan Tohjaya.

Sumekar tidak dapat mengetahui, apa yang telah dibicarakan antara tamu yang aneh itu dengan Sri Rajasa. Tetapi ia tidak dapat mencegah keinginannya untuk mengetahui lebih dekat atas tamu itu.

Ketika istana Singasari kemudian disaput oleh gelapnya malam, maka Sumekar segera mengenakan pakaian hitamnya dan dengan hati-hati mendekati bangsal Sri Rajasa. Mungkin ia dapat melihat sesuatu yang dijadikannya bahan pertimbangan.

Dengan hati-hati pula ia memanjat sebatang pohon sawo sehingga ia dapat langsung melihat longkangan dibelakang bangsal itu. Longkangan yang tertutup.

Namun dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Ia melihat Sri Rajasa, penasehatnya dan tamunya berada dilongkangan itu, bahkan seakan-akan mereka akan bertempur.

“Apakah yang akan mereka lakukan?“ bertanya Sumekar didalam hati.

Dari kejauhan ia melihat, Sri Rajasa telah bersiap berhadapan dengan tamunya.

“Apakah mataku tidak beres lagi malam ini,“ Sumekar menggosok-gosok matanya.

Namun ia benar-benar melihat sejenak kemudian keduanya terlibat dalam suatu perkelahian. Semakin lama semakin seru disaksikan oleh penasehat Sri Rajasa yang juga menjadi guru Tohjaya, Sumekar menahan nafasnya. Meski-pun ia berada agak jauh, tetapi ia mampu juga menilai keduanya.

“Sri Rajasa memang orang yang pilih tanding,“ berkata Sumekar didalam hatinya, meski-pun ia tidak dapat mengatakan cara yang telah dipergunakan oleh Maharaja Si ngasari itu. Tandangnya kasar dan keras, namun kemampuannya benar-benar tidak ada duanya.

Lawannya adalah seorang yang bertempur dengan kasar dan keras pula. Tetapi lambat laun tampak, bahwa Sri Rajasa memiliki kelebihan yang tidak teratasi oleh lawannya.

Meski-pun demikian, menurut penilaian Sumekar, orang yang berkelahi melawan Sri Rajasa itu-pun adalah seorang yang mempunyai ilmu yang cukup tinggi.

“Apakah akan terjadi sesuatu dengan Putera Mahkota?“ pertanyaan itulah yang pertama-tama membelit dada Sumekar, sehingga ia mulai menilai kemampuan orang itu dengan kemampuan yang dimiliki oleh Anusapati.

“Tuanku Putera Mahkota masih terlalu muda menghadapinya apabila dipaksakan suatu tindakan kekerasan berhadapan oleh orang itu,“ katanya didalam hali.

Sejenak kemudian maka perkelahian itu-pun berakhir. Meski-pun Sri Rajasa belum mengalahkan lawannya dengan mutlak, tetapi pastilah demikian jika mereka berkelahi terus.

Sumekar tidak tahu apa yang mereka bicarakan kemudian. Yang terlintas dikepalanya adalah cara-cara yang akan dipergunakan oleh Sri Rajasa untuk menjebak Kesatria Putih seperti yang pernah dilakukan oleh Kiai Kisi terhadap Putera Mahkota.

Karena itu, maka ia-pun segera menyingkir dan mencoba mencari Putera Mahkota. Tetapi malam itu Sumekar tidak sempat menemukannya dan sudah tentu ia tidak akan dapat pergi kebangsal Anusapati yang selalu mendapat pengawasan oleh para prajurit.

Meski-pun prajurit yang bertugas disekitar rumah Putera Mahkota adalah prajurit-prajurit yang baik terhadap Putera Mahkota, namun kehadirannya pasti akan menjadi buah bibir yang akan sampai ketelinga mereka yang tidak menyukainya.

Dalam pada itu, setelah Sri Rajasa selesai dengan perkelahiannya melawan kakak seperguruan penasehatnya itu, ia-pun kemudian berkata, “Kau cukup baik untuk melawan Mahisa Agni meski-pun kalau kau bertempur sendiri, kau pasti akan dikalahkannya.“

“Apakah Mahisa Agni memiliki kemampuan setingkat dengan tuanku?”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi demikianlah kira-kira. Karena itu kau harus menyiapkan dirimu baik-baik. Jangan hanya berdua meski-pun kawanmu setingkat dengan kemampuanmu.”

“Kami akan datang berlima,“ jawab orang itu.

“Siapakah mereka?”

“Hamba sendiri dan dua orang saudara seperguruan hamba yang memiliki kemampuan tidak terpaut banyak dari hamba. Kemudian dua orang murid hamba yang tertua, yang memiliki kemampuan sepenuhnya dari ilmu hamba, meski-pun masih belum masak benar. Tetapi keduanya sudah dapat dilepaskan berbuat sendiri didalam saat-saat tertentu.“

“Baiklah. Hati-hatilah. Kau harus memasuki istana itu tanpa diketahui orang. Kau langsung masuk kedalam dan mencari biliknya. Jangan memberi kesempatan kepadanya untuk melawan meski-pun kalian berlima. Meski-pun barangkali Mahisa Agni tidak dapat mengimbangi kekuatan kalian berlima bersama-sama, tetapi ia mempunyai kemampuan memperhitungkan keadaan hampir sempurna. Dan itu sangat berbahaya, ia tidak saja berkelahi dengan tenaganya, tetapi terutama dengan otaknya.

“Hamba tuanku. Hamba akan melakukannya sebaik-baiknya. Tetapi tuanku tidak usah cemas. Mahisa Agni pasti akan binasa. Ia tidak akan mengira bahwa hamba akan memasuki istananya.”

“Jaga, agar para petugas yang menjaga istana itu tidak melihat kalian. Mereka pasti akan sangat berbahaya apabila mereka sempat membunyikan tanda bahaya. Bersama-sama dengan Mahisa Agni, mereka tidak akan dapat kalian kalahkan, karena para prajurit pengawal itu berjumlah cukup banyak.”

“Hamba tuanku. Hamba akan berhati-hati. Dan hamba akan menjaga diri hamba sebaik-baiknya karena hamba masih ingin menikmati hadiah yang akan hamba terima dari tuanku.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Aku akan memberi hadiah sebanyak-banyaknya jika kau berhasil.”

“Jika hamba berhasil, apakah yang akan hamba terima tuanku.”

“Aku akan memberikan beberapa potong emas kepadamu.”

“Apakah hamba dapat menerima hadiah itu lebih dahulu? Hamba berniat untuk tidak kembali lagi ke istana ini setelah hamba

menyelesaikan tugas hamba untuk menghindarkan kecurigaan orang. Hamba akan terus kembali kepadepokan hamba.”

Kerut merut yang dalam membayang di wajah Sri Rajasa. Namun kakak seperguruan penasehatnya itu segera menyambung, “Ampun tuanku, bukan maksud hamba, bahwa hamba akan mendahului titah tuanku. Tetapi hamba hanya sekedar ingin menjauhkan diri dari kecurigaan orang sepeninggal Mahisa Agni itu.”

Wajah Sri Rajasa perlahan-lahan menjadi tegang. Penasehatnya melihat perubahan itu sehingga dadanya menjadi berdebar-debar. Ternyata hal itu tidak berkenan dihati Sri Rajasa. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia menengahi, “Tuanku. Sebenarnya tuanku tidak usah memberikan hadiah apa-pun juga kepada kakak seperguruanku. Jika tuanku berkenan dihati, biarlah ia mencari hadiahnya sendiri di istana Kediri itu. Berapa banyak yang dapat dibawa oleh lima orang itu, disana disediakan barang-barang perak dan emas.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya sejenak. Ia tahu, bahwa di istana wakil Mahkota itu memang terdapat beberapa potong perhiasan dari emas yang melekat ditiang pusat ruangan tengah. Sebuah tongkat kerajaan yang tergantung didinding dan berkepala emas pula. Sebuah patung kecil diatas bancik kayu yang tinggi terbuat dari tembaga berlapis emas.

Sejenak Sri Rajasa termenung. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. Kau dapat mengambil semua perhiasan emas dan perak didalam istana itu sebagai hadiahmu, kacuali tongkat kerajaan peninggalan Ratu Angabaya dari jaman kerajaan Kediri, dan sebuah patung yang berlapis emas, diatas bancik di bangsal dalam apabila belum dipindahkan oleh Mahisa Agni dan para pembantu rumah tangga di istana itu. Tetapi kau akan mengenal patung itu dengan segera, dan kau tidak boleh mambawanya.”

Kakak seperguruan Penasehat Sri Rajasa itu termenung sejenak. Ia tidak dapat membayangkan, apakah barang-barang yang ada itu memadai. Namun adik seperguruannya berkata, “Aku yakin, bahwa kalian merasa hadiah itu cukup banyak. Dan pembunuhan itu sendiri

tidak akan terlalu lama dipersoalkan, karena masalahnya adalah masalah parampokan biasa. Perampok yang paling gila yang pernah ada sepanjang umur Kerajaan Kediri dan Singasari. Hal itu akan merupakan tantangan bagi Kesatria Putih. Kau mengerti kakang?”

Kakak seperguruan penasehat Sri Rajasa itu menganggukkan kepalanya. Namun ia masih ragu-ragu. Apa saja yang dapat dibawanya dari istana yang kini dihuni oleh Mahisa Agni, anak Panawijen itu. Apakah jika ada benda-benda itu masih ada ditempatnya.

Selagi ia ragu-ragu itu, penasehat Sri Rajasa berkata, “Kakang, sebagian barang-barang dari istana Kediri telah dipindahkan ke istana wakil Mahkota itu. Tetapi ingat, jangan kau bawa serta tongkat kerajaan serta patung emas itu, seperti yang dipesankan oleh Sri Rajasa, peninggalan dari Ratu Angabaya dari jaman kerajaan Kediri itu.”

Akhirnya kakak seperguruannya menganggukkan. Tetapi ia masih berkata, “Hamba terima perjanjian ini untuk sementara. Tetapi jika yang ada hanya barang-barang perak semata-mata, maka hamba akan mohon kebijaksanaan tuanku Sri Rajasa.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jangan takut. Aku bukan seorang yang sangat kikir. Semuanya yang aku janjikan akan aku penuhi jika kau sudah berhasil.”

“Baiklah tuanku. Hamba mohon diri. Hamba akan menyiapkan segala sesuatu yang perlu bagi hamba itu.”

“Kapan kau berangkat?”

“Besok pagi tuanku. Besok hamba akan berkumpul dengan kawan-kawan hamba, dan hamba akan segera pergi ke Kediri.”

Demikianlah, di pagi-pagi benar Sumekar sudah berada di halaman bangsal Putera Mahkota. Ketika seorang prajurit bertanya kepadanya maka jawabnya, “Aku harus memindah kembang kantil bajang di halaman ini. Untuk itu hanya dapat aku lakukan sebelum

matahari terbit. Jika matahari sudah terbit, maka pohon kantil bajang yang sulit dicari ini akan mati.“

“Apakah Putera Mahkota sudah memerintahkan.“

“Kemarin Putera Mahkota sudah menyebut-nyebutnya. Tetapi aku sebenarnya ingin ketegasan. Apakah Putera Mahkota sudah bangun.”

“Sst, jangan berteriak-teriak,“ potong prajurit itu, “kau berbicara terlalu keras.”

Namun usaha Sumekar memanggil Anusapati dengan caranya itu berhasil. Ternyata Putera Mahkota sudah duduk di serambi ketika Sumekar masuk kehalaman bangsalnya. Karena itu, maka ia-pun segera turun kehalaman sambil bertanya, “Ada apa juru taman?”

“Ha,“ bisik prajurit yang bertugas, “kau sudah membangunkannya.”

“Memang itulah yang kuharapkan.”

“He, ada apa juru taman,“ Anusapati mengulanginya.

“Ampun tuanku, hamba ingin bertanya tentang kantil bajang ini.”

“Bagaimana dengan kantil bajang itu.”

“Apakah yang tuanku perintahkan kemarin, harus kami lalakukan sekarang, mumpung matahari belum terbit.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Tetapi ia sadar, bahwa sesuatu yang penting telah terjadi. Karena itu, maka ia-pun segera mendekat lagi sambil berkata, “Marilah kita lihat.”

Prajurit yang merasa tidak berkepentingan dengan pemindahan batang kantil bajang itu-pun tidak mengikutinya lagi. Ketika juru taman dan Putera Mahkota itu kemudian berjongkok disebelah sebatang kantil bajang, maka prajurit itu-pun justru menjauh.

Dalam kesempatan itu, Sumekar-pun segera menceriterakan apa yang dilihatnya, bahwa Sri Rajasa semalam telah mencoba kemampuan seseorang dibelakang bangsal.

Anusapati mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu apa yang hendak dilakukan oleh ayahanda Sri Rajasa. Apakah orang itu calon hamba istana yang akan menjadi pengawal adinda Tohjaya atau petugas yang lain?”

“Hamba tidak tahu tuanku. Tetapi bagaimana-pun juga, tuanku wajib berhati-hati. Bukan maksud hamba berprasangka terhadap ayahanda tuanku. Tetapi penasehat ayahanda tuanku dan guru tuanku Tohjaya itu mempunyai banyak akal. Mungkin ia menghadapkan seorang hamba yang dapat menjadi pelindung atau guru atau apa-pun bagi tuanku Tohjaya, tetapi disamping itu ia dapat berbahaya bagi tuanku diluar pengetahuan ayahanda Sri Rajasa atau .... “ Sumekar tidak meneruskan kata-katanya.

“Atau?“ desak Anusapati.

“Atau setahu ayahanda.”

“Maksudmu?”

“Tidak apa-apa tuanku, tatapi ayahanda hanya sekedar mengangkat tuanku Tohjaya yang telah tuanku kalahkan di arena. Hanya itu. Tetapi yang hanya sekedar usaha menebus kekalahan itu dapat disalah gunakan oleh orang lain.“

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jika orang itu berada di istana ini, tuanku harus berhati-hati terhadapnya.”

“Terima kasih paman Sumekar. Aku akan memperhatikan.”

“Hamba mohon diri tuanku. Biarlah kantil bajang itu ditempatnya.”

Sumekar-pun kemudian meninggalkan Putera Mahkota Prajurit yang mengamatinya dari jauh itu-pun bertanya, “Bagaimana dengan pohon kantil bajang itu?”

“Tidak jadi. Putera Mahkota masih ragu-ragu. Biarlah pohon kantil itu disana.”

Prajurit itu tidak menghiraukan lagi. Dibiarkannya Sumekar meninggalkan bangsal Putera Mahkota, langsung menuju ketaman meski-pun hari masih pagi. Tetapi langit sudah mulai cerah dan bayangan sinar matahari mulai membayang dilangit.

Sumekar terkejut ketika ia melihat halaman depan. Ia melihat orang yang semalam berkelahi dengan Sri Rajasa itu meninggalkan istana, diantar oleh penasehat Sri Rajasa sampai keregol.

Sumekar memperhatikan orang itu sampai hilang dibalik dinding. Namun ia tidak dapat mendapat penjelasan lebih banyak lagi. Ketika Penasehat Sri Rajasa kembali masuk istana, Sumekar berjalan menyilangnya sambil menjinjing lodong bambu berisi air.

Dihadapan penasehat Sri Rajasa Sumekar membungkuk hormat. Namun tiba-tiba saja lodongnya terlepas dari tangannya, sehingga isinya tumpah dan terpercik kepakaian penasehat itu.

“O, ampun tuan,“ berkata Sumekar, “aku tidak sengaja.”

Sorot mata penasehat itu menjadi merah. Katanya, “Untung bukan tamuku yang kau kotori dengan air itu.”

“Aku tidak sengaja. Apalagi mengotori.”

“Sekali lagi kau lakukan, aku putuskan lehermu.”

“Ampun tuan. Aku tidak tahu bahwa tuan akan lewat atau aku sangka bukan tuanlah yang sedang lewat sepagi ini, sehingga aku terkejut dan tergopoh-gopoh memberikan hormat, sehingga lodong bambuku terlepas.”

“Pergi. Jangan ganggu lagi.“

Sumekar-pun kemudian memungut lodong bambunya. Namun ia masih juga mencoba bertanya, “Ampun tuan, siapakah tamu tuan sepagi ini.”

“Apa pedulimu he?“ tiba-tiba matanya menjadi tajam menembus dada Sumekar.

“Tidak apa-apa tuan,“ jawab Sumekar dengan serta merta sambil berjongkok, “aku hanya kagum melihat wajahnya yang keras dan berwibawa. Apakah tamu itu masih keluarga tuanku Sri Rajasa atau keluarga tuanku puteri Ken Umang?”

“Bukan keluarga Sri Rajasa dan bukan pula keluarga tuan Puteri Ken Umang, orang itu adalah saudaraku,“ jawab penasehat itu.

“O, maksud tuan, kakak atau adik tuan?”

“Kakakku.”

“Pantas sekali. Memang tuan mirip sekali dengan tamu yang baru saja pulang. Tetapi kenapa pagi-pagi benar tamu itu sudah meninggalkan istana? Sejak kapan ia berada disini?”

“Hanya satu malam.”

“O, kenapa hanya satu malam? Bukankah disini ia berada dirumah saudara mudanya sendiri?”

“Ada keperluan yang mendesak.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak dapat bertanya lebih lanjut. Penasehat Sri Rajasa itu segera meninggalkannya sambil mengibas-ngibaskan pakaiannya yang basah. Sumekar-pun kemudian meninggalkan tempat itu. Ia mencoba untuk mencari alasan, kenapa orang itu datang, menjajagi kemampuannya melawan Sri Rajasa, kemudian pergi dengan tergesa-gesa.

“Tentu untuk membinasakan Kesatria Putih.“ kesimpulan itulah yang untuk sementara dapat diambilnya.

Ketika matahari naik, Sumekar berusaha untuk menjumpai Putera Mahkota lagi. Sambil membawa beberapa bibit pohon bunga ia datang kehalaman bangsal Putera Mahkota di istana. Sejenak ia berjongkok disudut sambil menanam pohon-pohon bunga itu. Tetapi

ia tidak melihat Putera Mahkota didalam bangsalnya. Yang dilihatnya hanyalah isteri Putera Mahkota beserta puteranya.

Namun sejenak kemudian Sumekar justru melihat Anusapati baru datang memasuki halaman bangsalnya.

“O,“ berkata Anusapati, “kau sudah ada disitu?”

“Inilah batang-batang pohon bunga yang tuanku pesan dari hamba.”

“Terima kasih,“ Anusapati-pun segera mendekatinya. Namun yang mereka bicarakan kemudian bukanlah tentang pohon-pohon bunga itu.

“Orang yang hamba katakan kemarin telah meninggalkan istana tuanku. Agaknya ia akan melakukan tugasnya di luar istana, menghadapi tuanku selaku Kesatria Putih.”

“Tentu tidak paman,“ jawab Anusapati, “baru saja aku dipanggil menghadap oleh ayahanda. Untuk beberapa hari aku diperlukannya setiap saat, sehingga aku tidak dibenarkannya keluar. Ada persoalan yang penting yang harus ditangani setiap saat dalam kedudukanku sebagai Putera Mahkota, justru karena ada tamu yang baru saja menghadap.”

Sumekar mengerutkan keningnya. Sri Rajasa menyebut tamu itu langsung kepada Anusapati. Apakah Sri Rajasa juga mencurigai tamunya, bahwa ia akan mengancam Putera Mahkota?

“Barangkali ayahanda juga mencemaskan nasib tuanku.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Mungkin. Mungkin juga ayahanda mencurigainya bahwa orang itu akan mencelakai Kesatria Putih, sehingga ayahanda menahan aku agar aku tidak keluar dari istana.“ Putera Mahkota berhenti sejenak. Lalu, “tetapi apakah orang itu mampu menandingi paman Witantra, Mahendra atau paman Kuda Sempana?”

“Kita dihadapkan pada suatu teka-teki tuanku. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita hadapi. Sebaiknya tuanku memang tetap tinggal di istana.”

“Tetapi bagaimana dengan paman-yang lain.”

“Apakah mereka tetap menjalankan tugas Kesatria Putih.”

“Tidak. Untuk beberapa hari. Tetapi mereka tetap menunggu hubungan. Jika aku tidak dapat keluar, paman aku harap pergi menemui salah seorang dari mereka.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari Anusapati ia mendapat petunjuk dimana mereka dapat menjumpai salah seorang dari ketiganya.

“Baiklah tuanku. Hamba akan mencoba menghubungi salah seorang yang kebetulan sedang bertugas menunggu tuanku.”

“Hati-hatilah. Kita memang dihadapkan pada teka-teki yang membingungkan. Kita hanya dapat menduga-duga. Tetapi kita akan berusaha memecahkan teka-teki ini bersama paman-paman yang berada diluar istana dan tentu saja paman Mahisa Agni di Kediri.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Tuanku, setelah tuanku tidak lagi menyembunyikan kenyataan pada diri tuanku, maka yang mendapat sorotan para pemimpin Singasari tentu bukan saja tuanku. Orang yang tidak senang melihat kemenangan tuanku atas tuanku Tohjaya didalam arena permainan sodoran itu, akan membuat penilaian yang cermat. Permainan sodoran itu sendiri barangkali tidak begitu berarti, baik bagi tuanku mau-pun bagi tuanku Tohjaya. Tetapi akibat daripadanyalah yang seakan-akan menentukan. Ternyata bahwa tuanku Putera Mahkota bukan orang yang lemah, yang selalu berada di bangsalnya menunggui isterinya. Dan itulah yang tidak menyenangkan bagi lawan-lawan tuanku.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Hampir saja ia bertanya pendapat Sumekar tentang ayahanda Sri Rajasa. Namun pertanyaan yang sudah ada ditenggorokannya itu ditelannya kembali. Rasa-

rasanya tidak pantas baginya untuk mencurigai ayah sendiri meski-pun demikianlah yang sebenarnya bergejolak didalam nuraninya.

“Tuanku,“ berkata Sumekar kemudian, “aku yakin bahwa pamanda tuanku, Mahisa Agni, pasti sudah memperhitungkan pula, bahwa yang seakan-akan berada diujung runcingnya duri itu bukannya tuanku saja, tetapi juga pamanda tuanku.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Adinda Tohjaya dan gurunya pasti meyakini bahwa aku mendapatkan ilmuku dari pamanda Mahisa Agni.”

“Nah, karena itu, maka yang harus selalu berhati-hati saat-saat terakhir adalah tuanku dan pamanda tuanku itu. Meski-pun aku yakin bahwa pamanda tuanku selalu berhati-hati, tetapi pamanda tuanku tidak mengetahui apa yang telah terjadi di istana ini. Karena itu, tuanku Putera Mahkota, hamba harus memberitahukan, bahwa arah pembalasan dendam selain pada tuanku juga ditujukan pada pamanda Mahisa Agni.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah,“ berkata Putera Mahkota, “katakan kepada siapa-pun yang datang, bahwa pamanda harus meningkatkan kesiagaannya. Aku tidak dapat pergi untuk beberapa hari. Tetapi mungkin juga Tohjaya ingin tahu, jika terjadi keributan dan perampokan sementara aku berada di istana, apakah ada seorang Kesatria Putih yang lain yang bertindak.”

“Hamba akan membicarakan semuanya tuanku, sehingga pamanda tuanku Mahisa Agni akan mendapat gambaran yang jelas.”

Demikianlah ketika hari telah berlalu, dan malam turun perlahan-lahan, Sumekar sudah siap pergi keluar istana dengan diam-diam. Kali ini ia tidak keluar lewat regol sambil berlenggang menikmati waktu istirahatnya, tetapi ia meloncat lewat dinding yang dibayangi oleh kegelapan supaya tidak menumbuhkan bermacam-macam pertanyaan pada para penjaga jika ia kembali nanti jauh malam.

Seperti yang ditunjukkan oleh Anusapati, maka Sumekar-pun segera menuju kepingir kota. Seperti yang sudah diduganya, bahwa seseorang telah menunggu. Bahkan kali itu bukan hanya seorang, tetapi dua orang.

“Kalian berdua?“ bertanya Sumekar kepada keduanya.

“Ya,“ yang menjawab Witantra, “Mahendra ingin ikut saja malam ini. Kami mencemaskan nasib Putera Mahkota jika benar-benar ada sebuah jebakan, sehingga kami pergi berdua untuk membayanginya jika ia benar-benar akan pergi malam ini.”

“Tidak, barangkali sudah dikatakan, bahwa Putera Mahkota mempertimbangkan suatu teka-teki.”

“Yang dikatakannya tentang guru Tohjaya.”

“Ia datang membawa seorang tamu. Dan tamu itulah yang membuat teka-teki ini menjadi semakin kalut.“

“Mahisa Agni sudah sependapat, bahwa Anusapati dapat terus menjalankan tugasnya dibawah perlindungan kami.”

“Aku sependapat,“ berkata Sumekar, “tetapi soalnya sekarang telah berkembang.”

Witantra dan Mahendra mengerutkan keningnya.

Dalam pada itu Sumekar-pun segera menceriterakan apa yang diketahuinya di istana. Bahkan, ia berpendapat bahwa Sri Rajasa agaknya telah memutuskan untuk menyingkirkan Anusapati. Tetapi dugaan ini sama sekali tidak dikatakannya kepada Anusapati sendiri.

“Kau bijaksana,“ berkata Witantra, “jika Anusapati mengerti bahwa ayahanda sendiri berusaha untuk menyingkirkan dalam arti yang sebenarnya, ia akan kehilangan pegangan.”

“Dan sekarang, Putera Mahkota menunggu, apakah yang harus dilakukan dalam perkembangan keadaan terakhir. Putera Mahkota justru tidak diperkenankan keluar istana untuk sementara.”

Witantra adalah seorang yang memiliki pengalaman yang cukup disepanjang hidupnya yang penuh dengan persoalan. Baik yang menyangkut dirinya sendiri, mau-pun persoalan di luar dirinya. Karena itu, maka setelah merenung sejenak, ia berkata, “Kita memang harus berhati-hati. Kau harus mengawasi Putera Mahkota. Mungkin jebakan itu justru berada di istana. Sedang kami akan pergi ke Kediri. Kami harus bertemu dengan Mahisa Agni secepatnya. Kita akan menempuh perjalanan disepanjang malam, agar kita dapat mencapai Kediri pada waktunya.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Bahaya itu mungkin berada di istana Singasari, tetapi juga mungkin di istana wakil Mahkota di Kediri.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebelum ia menjawab, maka ketiganya mengangkat wajahnya hampir bersamaan. Ternyata Mereka telah dikejutkan oleh derap beberapa ekor kuda yang berlari laju dijalan yang melaju meninggalkan kota.

Karena itu, maka mereka bertiga-pun segera menyelinap bersama kuda-kuda mereka masuk kedalam semak-semak. Dengna hati yang berdebar-debar mereka menunggu, siapakah yang berpacu dimalam hari.

Sejenak kemudian mereka melihat beberapa orang berkuda dengan cepatnya lewat dijalan yang menjelujur meninggalkan kota itu.

Namun demikian mereka kuda-kuda itu lewat, Sumekar berdesis, “Apakah aku tidak salah lihat?”

Witantra dan Mahendra hampir berbareng bertanya, “Siapa?“

“Orang yang aku katakan itu,“ jawab Sumekar, “orang yang berada di istana bersama penasehat Sri Rajasa dan yang bahkan telah mencoba kemampuannya dengan Sri Rajasa sendiri?”

“Apakah kau tidak keliru?”

“Aku memang agak ragu-ragu. Selain malam yang gelap, kuda itu berjalan cepat. Namun rasa-rasanya orang itulah yang aku lihat itu.”

Witantra mengerutkan keningnya, sejenak ia merenung, lalu katanya, “Baiklah aku mencoba mengikutinya kemana mereka pergi, meski-pun hanya sekedar arahnya. Kami akan langsung pergi ke Kediri untuk menyampaikan semua persoalan kepada Mahisa Agni.”

“Baiklah. Meski-pun hubungan kami agak jauh, tetapi aku berharap bahwa kami akan mendapat kabar dari kalian dua tiga hari mendatang.”

“Ya, kami akan kembali memberikan keputusan-keputusan yang akan kami ambil bersama Mahisa Agni. Hati-hatilah di istana Singasari, kau berdua dengan Anusapati kami harap dapat menjaga diri kalian sebaik-baiknya.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kami minta diri sebelum mereka menjadi terlalu jauh.”

“Silahkanlah,“ jawab Sumekar.

Witantra dan Mahendra-pun kemudian menggerakkan kekang kudanya. Sejenak kemudian kuda itu-pun telah berpacu pula menyusul beberapa ekor kuda yang telah mendahuluinya.

Demikianlah maka kuda-kuda itu-pun segera berderap diatas jalan berbatu-batu. Witantra dan Mahendra tidak berani mengikuti mereka terlalu dekat. Dengan demikian orang-orang berkuda itu akan dapat mencurigai mereka. Karena itu, keduanya mengikuti dari jarak yang agak jauh. Jika mereka menjadi ragu-ragu dikelokan jalan, maka mereka-pun segera membuat api dengan dimik-dimik belerang untuk mengetahui jejak kuda-kuda yang mendahuluinya itu.

Namun semakin lama kecurigaan dihati Witantra menjadi semakin tajam. Ternyata kuda-kuda itu berpacu kearah kota Kediri. Karena itu, maka Witantra dan Mahendra-pun berpacu semakin cepat. Jarak ke Kediri masih sangat jauh. Tetapi arah yang

ditempuh telah menunjukkan kepada mereka, bahwa kuda yang mereka ikuti itu benar-benar menuju ke Kediri, “Apa yang akan mereka lakukan?“ bertanya Mahendra.

Witantra mengerutkan keningnya. Meski-pun ia tidak tahu pasti namun seperti suatu firasat yang tiba-tiba saja melonjak dikepalanya adalah, “Selain Anusapati, maka Mahisa Agnilah orang yang harus dilenyapkan dari Singasari.”

Ketika ia mengatakannya kepada Mahendra, maka Mahendra-pun menyahut, “Sumekar juga mengatakannya. Bukankah begitu?”

-ooo0dw0ooo-

(bersambung jilid 72)

Jilid 72

“YA, SUMEKAR JUGA melihat kemungkinan itu. Bahaya yang sebenarnya mungkin berada di istana Singasari, tetapi mungkin juga berada di istana Kediri. Dan itu bagiku cukup jelas. Tentu Mahisa Agni dianggap sebagai orang yang berdiri dibelakang tabir semua kejadian yang telah melemparkan Tohjaya dari kedudukannya.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia-pun sependapat dengan kemungkinan-kemungkinan yang dikatakan oleh Witantra dan Sumekar, bahwa Mahisa Agni-pun sedang terancam pula. Tanpa Mahisa Agni, Anusapati sama sekali bukan lawan yang berarti bagi Sri Rajasa.

Karena itu, maka mereka-pun menjadi semakin gelisah. Kuda mereka dipacunya semakin cepat. Namun Witantra kemudian berkata, “Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa malam ini. Mereka baru akan mencapai Kediri lewat pagi hari.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun sadar, bahwa perjalanan ke Kediri bukan jarak yang pendek, meski-pun hampir setiap pekan ia hilir mudik berganti-ganti dengan Witantra dan Kuda Sempana.

Oleh kesadaran itu, maka hati mereka-pun menjadi agak tenteram. Mereka dapat mengikuti jejak kuda-kuda yang mendahuluinya dengan agak tenang. Bahkan kemudian mereka-pun beristirahat karena kuda-kuda mereka-pun agaknya menjadi lelah.

Mereka memasuki Kediri dihari berikutnya. Tidak lagti berpacu secepat-cepatnya. Bahkan mereka berhasil menyelusur jejak kuda-kuda yang mereka ikuti sampai masuk kedalam pintu gerbang kota, justru karena mereka menunggu matahari mulai terbit. Derap kaki kuda yang masih tampak jelas diatas tanah berembun menunjukkan kepada mereka, kemana kuda-kuda itu pergi.

Witantra tidak memerlukan lagi kelanjutan jejak itu. Kaki para pejalan dan pedati yang hilir mudik setelah matahari semakin tinggi telah menghapus jejak kaki kuda itu. Tetapi Witantra sudah mendapat kepastian, mereka berada didalam kota Kediri.

Dengan demikian maka Witantra menganggap bahwa bahaya yang sebenarnya, ternyata berada di istana wakil Mahkota di Kediri.

“Apakah yang akan mereka lakukan?“ bertanya Mahendra.

“Kita belum dapat menebak. Tetapi Mahisa Agni harus segera mengetahuinya. Aku kira mereka tidak akan menyiapkan waktu sehingga apabila malam tiba, Mahisa Agni harus siap menghadapi segala kemungkinan.”

Demikianlah, mereka-pun segera pergi keistana Mahisa Agni dengan cara yang khusus, agar tidak menimbulkan kecurigaan pada para pengawal istana itu.

Seperti biasanya mereka menitipkan kuda-kuda mereka pada orang yang dapat mereka percaya. Kemudian mereka pergi ke istana wakil Mahkota untuk mencari seorang juru taman yang sebenarnya adalah Kuda Sempana.

“Kalian siapa?“ bertanya para prajurit yang bertugas, diregol.

“Kami adalah saudara-saudaranya yang datang dari desa, dari pedukuhan.“ Witantra menjawab. Lalu, “bukankah kami berdua pernah berkunjung juga kemari?”

Prajurit-prajurit itu ragu-ragu sejenak, namun kemudian keduanya-pun dibiarkannya masuk menemui juru taman dipetamanan belakang.”

“Lebih baik masuk dimalam hari,“ desis Mahendra.

Witantra tidak menjawab, tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Dimalam hari mereka memang tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan para penjaga, karena mereka selalu meloncati pagar batu yang tinggi.

Mahisa Agni yang kebetulan ada dipendapa melihat kehadiran keduanya. Tetapi ia sama sekali tidak menegurnya, bahkan acuh tak acuh. Namun sejenak kemudian maka Mahisa Agni-pun segera pergi ke petamanan di kebun belakang untuk meneliti tanam-tanaman yang dipesannya kepada juru tamannya. Karena Mahisa Agni adalah orang yang senang sekali pada tanaman-tanaman, sehingga juru tamannya tidak pernah sempat beringsut dari petamanan, kecuali jika ia mohon untuk beristirahat dua tiga hari, kembali kekampung halaman.

“O, kau mempunyai tamu?“ bertanya Mahisa Agni kepada juru tamannya yang sedang duduk-duduk dibawah sebatang pohon kantil bersama Witantra dan Mahendra.

“Ya tuan. Keduanya adalah saudaraaku.“ jawab Kuda Sempana.

Beberapa orang pelayan yang melihat mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Mahisa Agni memang sering berada dipetamanan itu.

Sejenak kemudian, sambil berdiri Mahisa Agni mendengarkan keterangan yang diberikan oleh Witantra dan Mahendra berganti-ganti.

Dengan sungguh-sungguh Mahisa Agni mendengarkan keterangan itu, serta beberapa pendapat Sumekar tentang orang-orang yang dicurigainya itu.

“Aku sependapat Mahisa Agni, bahwa bahaya itu dapat berada di istana Singasari, tetapi juga dapat disini. Semalam suntuk aku sudah

menempuh jarak yang jauh. Baru tengah hari aku berhasil menemuimu. Tetapi aku kira, seandainya benar dugaan kami, maka semuanya akan berlangsung dimalam hari.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku sudah minta Sumekar untuk selalu dekat dengan Putera Mahkota dalam keadaan serupa ini. Untunglah bahwa adinda Putera Mahkota, Mahisa Wonga Ateleng sangat dekat dengan kakandanya, dan sedikit banyak sudah mampu untuk membantunya jika keadaan memaksa.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak ia merenung. Maka katanya kemudian, “Aku dapat mengerti. Memang bahaya itu dapat berada disini, karena Sri Rajasa pasti yakin bahwa akulah sumber dari kegagalannya. Jika orang itu harus membinasakan Kesatria Putih, maka Kesatria Putih pasti tidak diikat oleh Sri Rajasa di istana dengan segala macam alasan.”

“Tetapi apakah gunanya? Kenapa Kesatria Putih tidak dibiarkannya saja?”

“Mungkin Kesatria Putih menjumpai orang-orang itu dan mengikutinya. Jika ia sampai keistana ini, maka usaha untuk membinasakan aku akan terganggu karena disini ada kekuatan lain yang dapat membantu aku.”

Mahendra mengangguk-angguk sambil berdesis, “Mungkin kau benar. Jika demikian maka Sri Rajasa akan bertindak selangkah demi selangkah. Kau dahulu, baru Putera Mahkota.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Katanya kemudian, “Jika demikian aku memerlukan kalian. Aku tidak akan dapat mengatasi mereka seorang diri, karena Sri Rajasa yang sudah menjajagi kemampuannya mempercayai orang itu untuk melakukan tugasnya.”

Witantra dan Mahendra menjawab hampir berbareng, “Aku akan bermalam disini. Tidak hanya satu malam tetapi beberapa malam. Bukankah Kesatria Putih tidak dapat berbuat apa-apa untuk

beberapa saat? Pada saatnya aku akan pergi ke Singasari untuk menghubungi Sumekar, apakah ikatan yang dikenakan kepada Putera Mahkota masih ada atau sudah dihapuskan, sehingga Kesatria Putih dapat bertindak kembali.”

“Terima kasih. Mudah-mudahan kita dapat mengatasi setiap kesulitan. Dan mudah-mudahan Putera Mahkota juga tidak terkena bencana apa-pun selama kita berkumpul disini.”

“Aku percaya kepada Sumekar.”

Mahisa Agni-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sejenak kemudian maka ditinggalkannya juru taman dengan kedua tamunya itu duduk dibawah pohon kantil.

Sejenak Mahisa Agni berpaling. Sesuatu bergejolak didalam dadanya. Tiga diantara mereka berempat adalah orang-orang yang pernah tersentuh hatinya oleh seorang gadis Panawijen yang bernama Ken Dedes. Mahendra pernah melakukan perkelahian untuk memperebutkan Ken Dedes melawan Mahisa Agni yang menyebut dirinya Wiraprana. Kemudian Kuda Sempana bahkan menjadi hampir gila karenanya. Dan Mahisa Agni sendiri yang menanam perasaannya dalam-dalam dilubuk hatinya. Kini mereka yang gagal itu telah berbuat sejauh-jauh dapat mereka lakukan untuk anak Ken Dedes itu. Untuk Anusapati.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia harus menemui mereka sekali lagi untuk mengatur diri menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi ia tidak tergesa-gesa. Ia mempunyai waktu menjelang senja nanti.

Demikianlah Mahisa Agni masih sempat merenungi keterangan yang didapatnya dari Witantra dan Mahendra. Namun ia tidak menemukan kesimpulan lain bahwa bahaya memang sedang mengancamnya. Ternyata Sri Rajasa sudah tidak mempunyai jalan lain untuk mengatasi kesulitan, bahwa Mahisa Agni telah dengan hampir berterus-terang menentukan rencana yang telah disusunnya.

Mahisa Asni menarik nafas dalam-dalam. Kini di Singasari seakan-akan sedang dibakar oleh sebuah peperangan yang aneh. Parang

yang tidak diumumkan dan tidak dilihat oleh orang banyak. Perang yang terjadi diantara dua istana tanpa menyeret prajurit-prajurit dan bahkan para perwira dan panglimanya.

Namun perang yang demikian memerlukan kecermatan perhitungan. Dan Mahisa Agni-pun kini telah bertekad untuk melanjutkan perang yang demikian itu sampai ia berhasil memenangkannya. Ia tidak bermaksud membunuh Sri Rajasa. Tujuannya semata-mata agar Mahkota tidak jatuh ketangan keturunan Ken Umang. Jika ia berhasil, maka perjuangan itu telah dimenangkannya. Tetapi ternyata bahwa Sri Rajasa menjadi semakin lama semakin kasar. Dan sampailah kini usahanya untuk melakukan tindakan kekerasan atasnya.

“Tetapi semuanya baru sekedar dugaan,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “namun demikian aku harus berhati-hati.”

Menjelang malam Mahisa Agni sempat menemui Witantra dan kedua orang kawannya yang lain. Mereka telah menyusun rencana untuk menghadapi setiap kemungkinan jika benar-benar ada bahaya yang memasuki istana ini.

“Aku akan mengawasi dinding-dinding dibelakang,“ berkata Kuda Sempana, “karena hanya akulah yang dapat melakukannya diluar kecurigaan para prajurit yang bertugas.”

“Ya, dan orang-orang itu-pun pasti tidak akan memasuki halaman ini dari depan. Meski-pun mereka mendapat tugas dari Sri Rajasa, tetapi tugas yang mereka lakukan adalah tugas rahasia. Tugas yang tidak diketahui oleh pimpinan pemerintahan Singasari yang lain. Karena itu, mereka pasti akan memasuki halaman ini tidak melalui pintu yang sewajarnya.”

“Witantra dan Mahendra akan berada didalam bilikku,” berkata Kuda Sampana, “jika mereka benar-benar datang, aku akan memberikan isyarat.“

Witantra tersenyum. Katanya, “Ada juga gunanya kau bekerja menjadi juru taman. Aku juga ingin menempatkan diriku semakin dekat dengan istana ini, dan bahkan kelak istana Singasari.”

Demikianlah, maka ketika malam datang, Mahisa Agni sudah bersiaga didalam biliknya. Ia sadar, bahwa yang dihadapinya kini adalah orang-orang pilihan, yang telah dijajagi sendiri langsung oleh Sri Rajasa.

Di kebun belakang Kuda Sempana masih sibuk dengan beberapa macam tanaman. Ketika seorang prajurit lewat, dilihatnya juru taman itu masih sibuk, maka ia-pun bertanya, “Apa yang kau kerjakan disitu?”

Kuda Sempana mengangkat wajahnya. Kemudian jawabnya, “Aku harus menanam bibit baru ini.”

“Kenapa tidak besok?“

“O, bibit ini hanya dapat ditanam dimalam hari,” jawab Kuda Sempana, “jika ditanam dipagi apalagi siang hari, bibit ini tidak akan tumbuh.”

Prajurit itu tidak menghiraukannya lagi. Ia-pun segera kembali kegardunya.

Demikianlah malam semakin lama menjadi semakin dalam. Karena didaerah Kediri pada umumnya jarang sekali tenjadi keributan, maka para prajurit menganggapnya bahwa daerah ini adalah daerah yang aman. Dengan demikian maka mereka-pun tidak terlalu tegang menjalankan tugas mereka. Apalagi di halaman istana ini. Selama mereka bertugas, tidak pernah terjadi sesuatu. Bukan saja sepekan ini, tetapi setiap kali mereka mendapat giliran bertugas di istana ini, tidak pernah terjadi apa-pun juga.

Malam hari-pun para prajurit sama sekali tidak menjadi curiga, Mahisa Agni dengan sengaja ingin menyelesaikan persoalannya sendiri tanpa menyeret prajurit Singasari dalam pertempuran. Itulah sebabnya ia sama sekali tidak memberitahukan kemungkinan yang dapat terjadi. Ia percaya kepada diri sendiri dan kawan-kawannya yang kebetulan ada didalam halaman istana itu pula.

Kuda Sempana yang berada dikebun belakang ternyata tidak meninggalkan tempatnya. Ia bahkan mencari tempat yang

terlindung dan duduk didalam kegelapan. Namun dari tempatnya ia dapat mengawasi sebagian besar dari pagar batu dibagian belakang. Menurut perhitungannya, jalan itulah yang akan dilalui oleh para penjahat itu, karena bagian belakanglah yang agaknya paling sepi dari penjagaan. Disisi halaman, kemungkinan pengamatan masih cukup banyak dari para peronda. Tetapi dibagian belakang, hampir tidak pernah disentuhnya.

Sampai tengah malam Kuda Sempana tidak melihat sesuatu. Karena itu, hampir saja ia menjadi jemu. Hampir saja ia berdiri dan meninggalkan tempatnya.

“Mereka tidak datang malam ini,“ ia bergumam, “lebih baik tidur dibilik daripada dikeroyok nyamuk disini.“ Namun baru saja ia bergeser, terasa dadanya berdesir. Ia mendengar sesuatu yang meski-pun sangat lembut, namun telah menumbuhkan kecurigaan padanya.

“Mereka pasti sudah berada diluar dinding ini,“ berkata Kuda Sempana kepada diri sendiri.

Karena itu, maka Kuda Sempana-pun segera mempersiapkan dirinya menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Jika mereka benar-benar datang, maka ia-pun harus segera memberikan isyarat kepada Witantra dan Mahendra yang berada didalam biliknya.

Sejenak Kuda Sempana masih harus menunggu untuk menyaksikan dirinya, bahwa yang datang itu adalah yang ditunggunya.

Sesaat kemudian, dada Kuda Sempana menjadi berdebar-debar. Ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak diatas dinding batu yang tinggi. Dan ketajaman matanya segera mengetahui, bahwa yang bergerak-gerak itu adalah sesosok tubuh manusia yang berbaring menelungkup pada permukaan pagar batu.

“Tentu orang yang berpengalaman,“ berkata Kuda Sempana.

Tetapi Kuda Sempana tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia masih menunggu apa yang akan dilakukan oleh orang diatas dinding batu itu.

Ternyata orang itu untuk beberapa lamanya tidak bergerak sama sekali. Hanya orang yang memperhatikan dengan saksama sajalah yang dapat melihat, bahwa diatas dinding batu itu ada seseorang yang berbaring menelungkup, hampir serata dinding batu itu sendiri.

“Orang itu tentu sedang mengamati keadaan,“ berkata Kuda Sempana pula didalam hatinya. Namun ia-pun kini sudah yakin bahwa orang itu adalah salah seorang dari yang dikatakan oleh Witantra.

“Mereka benar-benar tidak membuang waktu,“ berkata Kuda Sempana didalam hatinya, “baru siang tadi ia memasuki kota, dan malam ini mereka sudah bertindak.”

Karena itu, maka Kuda Sempana-pun segera menarik seutas tali yang dihubungkannya dengan biliknya. Agar tidak mengejutkan orang-orang lain yang tinggal disekitar gubuknya, maka Kuda Sempana mengikatkan tali itu pada daun pintu biliknya, sehingga suara derit yang timbul adalah derit pintu itu, seperti derit yang sudah biasa mereka dengar.

Witantra dan Mahendra-pun ternyata hampir menjadi jemu menunggu. Namun mereka masih juga belum tertidur. Meski-pun Mahendra sudah berbaring diamben bambu satu-satunya milik Kuda Sempana namun ia masih juga mendengar pintu berderit.

“Ha, isyarat itu,“ desisnya.

Witantra-pun segera mendekati pintu dan menarik tali itu pula, untuk memberikan isyarat kepada Kuda Sempana, bahwa Witantra telah menerima pemberitahuan tentang kedatangan orang itu.

Ketika tali yang digenggamnya bergerak, Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Witantra pasti akan segera datang, dan pasti dengan sangat berhati-hati.

“Mudah-mudahan tali ini benar-benar digerakkan oleh Witantra,“ berkata Kuda Sempana didalam hati, “bukan sekedar dilanggar kucing atau kaki tetangga yang kebetulan pergi kepakiwan tanpa mengetahui bahwa ada tali yang terentang ini.”

Dalam pada itu, Witantra dan Mahendra-pun segera mengemasi dirinya. Mereka tidak akan sekedar mengintip seorang pencuri ayam dikebun belakang. Tetapi yang akan mereka intai malam itu adalah orang-orang yang pernah dijajagi kemampuannya oleh Sri Rajasa sendiri.

Karena itu, maka mereka-pun telah mengenakan pakaiannya sebaik-baiknya, dengan senjata dilambung dan kesiapan yang mantap.

Setelah menutup pintu biliknya kembali, maka mereka berdua-pun segera merayap meninggalkan bilik itu, pergi ketempat yang sudah dijanjikan. Hati-hati sekali, karena mereka yakin, bahwa Kuda Sempana sudah melihat orang yang mereka tunggu.

Tanpa menimbulkan suara, Witantra berhasil mencapai Kuda Sempana. Dan mereka bertiga-pun kemudian menyaksikan orang yang berbaring menelungkup itu mulai bergerak-gerak.

Kuda Sempana memperhatikan orang itu semakin tajam. Kini orang itu memberikan isyarat kepada kawan-kawannya yang masih ada diluar.

Sejenak kemudian orang itu sendiri telah melayang turun. Tubuhnya seakan-akan terlalu ringan sehingga ketika kakinya menyentuh tanah, sama sekali tidak menimbulkan suara apapun. Hanya karena Kuda Sempana sempat melihat mereka dahulu sajalah, maka ia dapat mengikuti gerak-geriknya.

Demikian orang itu berjejak ditanah, ia-pun segera beringsut kedalam gelap yang pekat, dibawah bayangan rimbunnya petamanan dan pohon-pohon perdu.

Namun sejenak kemudian, orang kedua-pun telah meloncat masuk pula. Dengan sebuah isyarat desis yang lembut, orang kedua itu-pun segera bersembunyi pula.

Demikianlah yang mereka lakukan berturut-turut. Seperti yang dikatakan oleh Witantra semula, orang itu sejumlah lima atau enam orang. Dan yang malam itu benar-benar memasuki halaman adalah sejumlah lima orang.

Kuda Sempana, Witantra dan Mahendra sama sekali tidak sempat berbicara agar suaranya tidak didengar oleh salah seorang dari mereka, karena Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana menyadari bahwa mereka pasti orang-orang yang berilmu tinggi. Pasti juga pendengaran dan pengamatannya tajam pula.

Karena itu ketiganya sama sekali tidak berbicara apapun. Mereka hanya mengikuti saja dengan tatapan matanya kemana kelima orang itu pergi.

Ketiga orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya melihat arah yang tepat yang dilalui oleh orang-orang itu. Mereka langsung melintasi kebun belakang yang gelap menuju keserambi istana.

“Tentu ada yang memberikan beberapa petunjuk tentang halaman istana ini,“ baru kemudian Kuda Sempana berani berdesis perlahan sekali.

Witantra menganggukkan kepalanya, “Mungkin penasehat Sri Rajasa itu sendiri. Mereka tentu sudah mempunyai gambaran yang lengkap dari istana ini. Juga tentang bilik-bilik didalam istana, dan dimana Mahisa Agni tidur.”

“Marilah kita ikuti,“ desis Mahendra, “mereka sudah agak jauh.”

Ketiganya-pun kemudian merayap pula mengikuti orang-orang yang mencurigakan itu. Dari jarak yang agak jauh, mereki sempat menghitung, berapa orang jumlah mereka yang memasuki istana itu.

“Lima orang,“ desis Mahendra.

“Sst,“ sahut Witantra, “mereka mempunyai ketajaman panca indera.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ketika kelima orang yang diikuti itu merayap maju, mereka bertiga-pun maju pula.

Ternyata bahwa kelima orang itu masih harus berunding sejenak sebelum mereka mendekati serambi belakang. Agaknya mereka sedang membagi pekerjaan. Diantara mereka harus ada yang menunggu diluar istana, sedang yang lain akan memasukinya dan mencari bilik Mahisa Agni.

“Ternyata Sri Rajasa benar-benar sudah mulai,“ desis Mahendra yang agaknya paling banyak berbicara.

“Sst,“ sekali lagi Witantra berdesis.

Mahendra mengerutkan keningnya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu. Ia ingin segera meloncat menerkam orang-orang yang tidak dikenalnya itu. Namun ia masih harus menahan diri.

“Jadi kita harus berkelahi tanpa dilihat orang,“ Mahendra bertanya.

“Sst,“ Witantra harus berdesis pula, “kau terlalu banyak bicara. Tunggu sajalah.”

Mahendra terdiam. Kepalanya terangguk-angguk meski-pun ia masih bertanya, “Bagaimana dengan kedua orang yang mengawasi diluar itu?”

Witantra mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

Sejenak kemudian mereka melihat orang-orang yang memasuki halaman istana itu telah melekat dinding serambi. Dengan sangat hati-hati mereka memperhatikan keadaan disekelilingnya. Namun bagi mereka, halaman itu terlampau sepi. Tidak ada prajurit yang kebetulan meronda di halaman belakang.

Dengan isyarat mereka-pun kemudian saling mendekat dan dengan penuh kewaspadaan mereka mulai berusaha membuka pintu.

Witantra dan kawan-kawannya menjadi tegang. Tiga orang dari mereka sibuk dengan pintu serambi belakang, sedang dua orang lainnya mengawasi keadaan disekitarnya.

Ternyata orang-orang itu adalah orang-orang yang berpengalaman. Hampir tanpa menimbulkan suara, mereka berhasil membuka pintu kayu serambi belakang.

“Mereka memutuskan tali-tali papan disebelah menyebelah pintu,“ desis Mahendra pula.

Witantra tidak menyahut. Namun dengan tajamnya ia mengawasi, apa yang dilakukan oleh orang-orang itu.

Sejenak kemudian, maka pintu-pun sudah terbuka. Ternyata ruangan di serambi itu hanya samar-samar saja diterangi oleh lampu minyak yang seakan-akan hampir padam.

Dengan hati-hati tiga diantara kelima orang itu memasuki ruangan itu. Langkah mereka benar-benar tidak menimbulkan desir sama sekali, seakan-akan mereka tidak berpijak diatas tanah.

Demikianlah keadaan menjadi hening sejenak. Ketiga orang yang ada didalam itu sedang mencari jalan untuk menuju kebilik Mahisa Agni.

“Mereka menutup pintu itu kembali,“ bisik Mahendra. Witantra tidak menyahut. Ia-pun melihat pintu itu tertutup kembali dan dua orang yang ada diluar berjongkok dibelakang tanaman perdu disebelah menyebelah pintu itu.

“Apa yang kita lakukan?“ bertanya Mahendra, “menyerbu masuk saja?”

“Tunggu,“ desis Witantra, “Mahisa Agni akan memberikan Isyarat.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun yakin, bahwa Mahisa Agni yang sudah bersiaga itu pasti sudah mengetahui kehadiran orang-orang itu. Namun demikian Mahendra masih juga berbisik, “Mudah-mudahan Mahisa Agni tidak tertidur.”

“Sst,“ Witantra berdesis pula.

Kuda Sempanalah yang sama sekali tidak berbicara. Tetapi dengan tajamnya ia mengamati setiap gerak dari orang-orang yang tidak mereka kenal, tetapi sudah mereka ketahui maksudnya itu.

Untuk beberapa saat mereka tidak mendengar apa-apa. Agaknya orang-orang yang mencari bilik Mahisa Agni itu masih belum dapat menemukannya.

Tetapi orang yang sedang mengintai itu terkejut ketika ia melihat seseorang melangkah perlahan-lahan dari sudut istana, seakan-akan tidak menghiraukan apa-pun juga. Sambil menyilangkan tangannya didada, ia berjalan dengan kepala tunduk.

“He, bukankah itu Mahisa Agni,“ bisik Mahendra.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Mahisa Agni tidak berada didalam istana itu.

“Apakah ia tidak tahu bahwa ada dua orang yang bersembunyi dibalik batang perdu itu.”

Witantra tidak menyahut. Namun mereka bertiga menahan nafas ketika mereka melihat Mahisa Agni berhenti beberapa langkah didepan pintu.

Adalah mengejutkan sekali bahwa tiba-tiba saja Mahisa Agni membungkukkan badannya sambil berkata, “Aku persilahkan kalian masuk. Bukankah udara sangat dingin diluar?”

Witantra dan kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Sambil tersenyum Mahendra berbisik, “Gila, juga Mahisa Agni itu.”

Ternyata sapa Mahisa Agni itu telah menghentakkan jantung kedua orang yang bersembunyi dibalik perdu itu. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa ada orang yang telah melihatnya.

Karena itu, maka untuk beberapa saat keduanya justru bagaikan membeku. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Karena keduanya sama sekali tidak menyahut, maka Mahisa Agni-pun mengulanginya, “Ki Sanak, marilah, jangan duduk disitu. Apakah yang sedang kalian tunggu?”

Kedua orang yang bersembunyi itu-pun segera menyadari keadaan mereka. Mereka harus mengawasi keadaan diluar selama ketiga kawan-kawannya berada didalam. Hanya atas isyarat mereka sajalah keduanya akan masuk.

Dengan demikian maka kedatangan orang yang tidak mereka sangka-sangka telah melihat mereka berdua itu, menimbulkan persoalan yang tiba-tiba. Karena itulah, mereka menjadi kebingungan sejenak.

Namun adalah tugas mereka untuk mengamankan keadaan ketiga kawannya yang ada didalam. Siapa-pun orang itu, namun orang itu tidak boleh mengetahui atau mencurigai bahwa telah hadir orang-orang yang tidak dikenal di halaman istana itu.

Setelah merenungi Mahisa Agni sejenak, maka barulah salah seorang dari mereka bertanya, “Siapa kau?”

“Aku hamba istana ini. Siapakah yang kalian tunggu?“ sahut Mahisa Agni yang kemudian bertanya kembali kepada, kedua orang itu.

“Tidak ada yang aku tunggu.”

“O,“ Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “tetapi siapakah kalian berdua? Agaknya aku belum pernah melihat meski-pun aku sudah lama bekerja di istana ini.”

“Kami adalah prajurit peronda.”

“O,“ Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “tetapi kenapa berada disitu? Biasanya para peronda berada digardunya. Karena istana ini selamanya tidak pernah diganggu oleh kejahatan macam apapun, maka biasanya mereka

tetap berada digardunya. Kecuali jika ada isyarat dari para hamba yang tinggal dibagian belakang halaman ini. Kentongan misalnya. Atau teriakan yang mencurigakan.”

Keduanya terdiam sejenak. Namun kemudian salah seorang menjawab, “Kami harus tetap berwaspada. Kami harus berhati-hati setiap saat.“

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Tetapi aku belum pernah melihat kalian.”

“Baru saja aku ditugaskan di istana ini. Baru hari ini aku tiba dari Singasari.”

“Jadi kalian prajurit-prajurit Singasari?”

“Ya.”

“Tetapi pakaian kalian bukan pakaian prajurit Singasari yang bertugas di Kediri. Aku mengenal pakaian mereka dengan baik, karena aku setiap hari bergaul dengan mereka.”

Jawaban itu membuat keduanya menjadi semakin bingung. Namu mereka tetap menyadari, bahwa mereka harus bertindak jika orang itu membahayakan kawan-kawannya yang ada didalam istana. Karena itu, maka salah seorang dari keduanya berkata, “Marilah. Aku tunjukkan kepadamu bahwa aku benar-benar seorang prajurit Singasari. Marilah, kita masuk kedalam, supaya terang bagimu siapa sebenarnya kami berdua.”

Mahisa Agni memandang keduanya berganti-ganti lalu, “Aku sudah mengenal dengan baik. Tidak didalam, disini-pun aku melihat.”

“Didalam lebih jelas bagimu ciri-ciri keprajuritan.“

“Aku tidak berani. Tanpa ijin tuanku Mahisa Agni, aku tidak berani masuk, karena istana ini adalah istana wakil Mahkota di Kediri.”

“Aku yang membawamu masuk. Jika ada orang yang marah kepadamu meski-pun itu Mahisa Agni, akulah yang bertanggung

jawab. Bahkan aku ingin kau menunjukkan dimana tuanku Mahisa Agni itu tidur.”

“Ah, aku tidak tahu dan aku tidak berani.”

“Jangan membantah. Cepat, masuk.”

Tetapi Mahisa Agni surut selangkah sambil berkata, “Aku tidak mau.”

“Cepat, sebelum aku bertindak.”

“Aku akan berteriak.”

“Jika kau berani berteriak, kau akan mati.”

“Kenapa? Aku tidak bersalah. Baiklah aku pergi saja jika kalian tidak senang melihat kehadiranku disini.”

“Tidak, tidak.”

Mahisa Agni masih melangkah beberapa langkah surut, sementara itu Mahendra berkali-kali berdesis, “Mahisa Agni memang gila. Ia mempunyai kebiasaan aneh. Ia sangat pandai berpura-pura. Bukankah aku pernah ditipunya ketika ia mengaku bernama Wiraprana. Kenangan itu pahit, tetapi menggelikan. Kadang-kadang aku tertawa sendiri. Bahkan orang seganas Kebo Sindet-pun dapat ditipunya.”

“Sst,“ desis Witantra.

Mahendra mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun terdiam.

Dalam pada itu, ketiga orang yang berada didalam istana Mahisa Agni, mendengar juga ribut-ribut diluar. Dengan marahnya salah seorang dari mereka menjengukkan kepalanya sambil bertanya, “He, kenapa ribut?”

“Orang itu.”

“Siapa?”

“Abdi istana ini. Ia melihat kami berdua. Aku Ingin membawanya masuk agar ia tidak mengganggu.”

“Bunuh sajalah. Cepat, agar tidak menimbulkan keributan lagi.”

“Jangan, jangan bunuh aku,“ desis Mahisa Agni.

Tetapi kedua orang itu tidak menghiraukannya lagi. Mereka harus membunuh orang itu sebelum sempat berteriak.

Karena itu, maka salah seorang dari mereka segera menerkam Mahisa Agni. Ia ingin mencekiknya sampai mati tanpa mempergunakan senjata apa-pun juga.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang sudah mendengar dari Witantra bahwa Sri Rajasa sendiri telah memerlukan melakukan penjajagan atas salah satu dari orang-orang itu, tidak dapat menanggapi serangan itu dengan seenaknya. Karena itu, ketika tangan orang-orang itu terjulur kelehernya, tiba-tiba saja Mahisa Agni mencoba menangkapnya.

Ternyata tangkapan tangan Mahisa Agni pada pergelangan tangan orang itu sangat mengejutkannya. Dengan serta merta ia menghentakkan diri dan merenggut tangannya yang digenggam oleh Mahisa Agni itu.

Sejenak Mahisa Agni mencoba menahan tangan itu, namun sejenak kemudian tangan itu dilepaskannya. Ia tidak ingin mematahkan tangan orang itu, karena ia masih harus memancing ketiga orang yang sudah ada didalam istana itu keluar. Namun dengan demikian ia telah berhasil menjajagi kekuatan dan kemampuan orang itu, meski-pun ia sadar, bahwa orang itu sama sekali tidak bersikap menghadapi kemungkinan seperti yang bakal terjadi.

Yang terjadi itu memang tidak terduga sama sekali. Orang itu tidak menyangka bahwa yang menyebut dirinya abdi dari istana wakil Mahkota di Kediri itu dapat berbuat secepat yang dilakukannya itu, bahkan berhasil menangkap tangannya meski-pun tangan itu dapat direnggutnya.

Karena itu, maka orang yang tidak berhasil mencekik leher Mahisa Agni itu segera menyadari, bahwa ia tidak berhadapan

dengan orang yang terlalu lemah, seperti juga Mahisa Agni yang menduga, bahwa orang itu pasti bukan orang yang telah dijajagi kemampuannya oleh Sri Rajasa.

“He, kenapa kau berbuat gila? “ orang yang menjengukkan kepalanya berdesis, “bunuh saja. Kenapa kau masih sempat berbuat gila dalam keadaan seperti ini.”

Kawannya yang gagal mencekik Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Tetapi ia masih yakin bahwa ia akan dapat membunuh abdi istana itu. Beberapa langkah ia maju mendekati Mahisi Agni, dan sejenak kemudian dengan tiba-tiba saja ia menyerang langsung kearah dada Mahisa Agni.

Sekali lagi Mahisa Agni menghindar. Kali ini ia menangkap lengan orang itu dan memilinnya. Kemudian dengan cepatnya Mahisa Agni menangkap pula kakinya dan mengangkat orang itu diatas kepalanya. Hampir tidak masuk akal, bahwa Mahisa Agni telah melemparkan orang itu kearah kawannya yang masih menjengukkan kepalanya.

Namun ternyata orang itu cukup cekatan, sehingga sambil menggeliat ia dapat mengatur dirinya dan jatuh diatas kedua kakinya tepat sejengkal didepan pintu.

Tetapi apa yang terjadi itu benar-benar telah membangunkan orang-orang yang memasuki istana dari halaman belakang itu. Kini mereka benar-benar menyadari dengan siapa ia berhadapan. Karena itu, maka ketiga orang yang melihat Mahisa Agni berdiri tegak didalam kegelapan itu-pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Orang itu pasti bukan sekedar seorang abdi dari istana ini.

Orang yang semula hanya menjengukkan kepalanya saja itulah yang kemudian berdiri dihadapan Mahisa Agni sambil menggeram, “Siapa sebenarnya kau he?”

“Aku abdi dari istana ini. Akulah yang harus bertanya kepadamu, siapakah kau dan kawan-kawanmu itu. Dan kenapa kau memasuki

halaman istana dibagian belakang ini dimalam hari? Kau pasti bukan salah seorang dari prajurit Singasari yang sedang bertugas disini.”

“Persetan. Aku tidak peduli siapa kau dan aku-pun tidak akan menyebutkan siapa aku dan kepentinganku. Tetapi kau harus mati.“

“Tidak seorang-pun yang akan dengan suka rela menyerahkan dirinya untuk mati. Aku juga. Karena itu, kalau kau tidak mau mengurungkan niatmu, kita pasti akan berkelahi. Kau tentu tahu akibatnya jika aku memberikan isyarat kepada para prajurit yang sedang bertugas diregol depan.”

“Persetan,“ orang itu tidak menyahut lagi. Dengan serta merta ia menarik pedangnya langsung menahas leher Mahisa Agni.

Tetapi Mahisa Agni benar-benar sudah bersiaga. Karena itu, maka dengan tangkasnya menghindarkan dirinya dari sambaran pedang itu.

Sekali lagi lawannya terkejut. Gerakan itu terlampau cepat. Namun ternyata bahwa ia sama sekali tidak berhasil mengenai lawannya. Tetapi ia tidak membiarkan lawarnya itu lolos. Dengan tangkasnya ia memburu dan sekali lagi mengayunkan pedangnya kearah lambung. Namun, sekali lagi lawannya itu berhasil menghindar dan meloncat beberapa langkah, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenai sasarannya.

Orang itu menjadi gelisah. Jika ia tidak berhasil dengan cepat membinasakan orang yang menyebut dirinya abdi istana wakil Mahkota, dan orang itu sempat memberikan isyarat, maka pekerjaannya akan bertambah sulit, meski-pun mereka berlima tidak akan gentar menghadapi sepuluh orang penjaga sekalipun. Tetapi jika diantara yang sepuluh itu terdapat seorang Mahisa Agni, maka mereka harus memperhitungkan keadaan itu sebaiknya.

Dengan demikian, maka yang harus dikerjakannya adalah membunuh orang itu bagaimana-pun juga caranya. Maka sejenak kemudian terdengar aba-abanya, “Kepung orang ini.”

Demikianlah maka ketiga orang itu-pun segera berloncatan mengepung Mahisa Agni. Kini mereka bertiga telah bersenjata telanjang dan siap menyergap orang yang menyebut dirinya abdi istana wakil Mahkota itu.

Namun keributan itu agaknya telah mengganggu orang yang ada didalam istana. Sejenak kemudian keduanya telah berloncatan keluar. Salah seorang dari mereka berkata, “Apa yang kalian kerjakan.”

“Membunuh orang ini,“ sahut orang yang pertama-tama keluar.

“Siapakah orang itu.”

“Aku tidak tahu. Tetapi agaknya ia orang gila.”

“Biarkan kedua anak-anak itu membunuhnya. Cepat dan jangan ribut.”

“Mereka tidak akan berhasil. Aku-pun tidak.”

“He,“ keduanya terkejut. “Apakah kau mengigau.“

“Orang ini seperti setan.”

“Kau gagal membunuhnya?”

“Ya.”

Tiba-tiba orang yang keluar paling akhir itu menggeram. Dengan marahnya ia berkata, “Minggir. Aku ingin melihat, siapakah orang itu sebenarnya.”

Beberapa langkah orang itu maju mendekati Mahisa Agni. Diamat-amatinya Mahisa Agni dari ujung kaki sampai keujung rambutnya. Dan sejenak kemudian terdengar suara tertawanya lirih, “Tentu. Tentu tikus-tikus ini tidak akan dapat membunuhmu. Tenyata kami bagimu adalah orang-orang yang paling bodoh yang pernah kau temui. Kami mencarimu didalam istanamu yang megah. Ternyata kau berada diluar. Nah, bagiku adalah kebetulan sekali. Kita mendapat kesempatan untuk mengenal satu sama lain.”

Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi diamatinya orang itu dengan tajamnya. Agaknya orang itu sudah mendapat pesan tentang ciri-ciri orang yang bernama Mahisa Agni.

“Kenapa kau diam saja? Bukankah kau yang bernama Mahisa Agni?”

“Mahisa Agni,“ ketiga orang yang telah mengepungnya itu terkejut. “Jadi orang ini Mahisa Agni?”

“Apakah ia tidak mengaku bahwa dirinyalah Mahisa Agni?”

“Ia menyebut dirinya abdi istana wakil Mahkota ini.”

“Nah, aku menjadi semakin yakin. Menurut ceritera Sri Rajasa, orang yang bernama Kebo Sindet-pun pernah ditipunya, dan kemudian dibunuhnya. Tetapi ia tidak dapat menipu aku dan tidak dapat membunuh aku, karena aku bukan Kebo Sindet dan aku tidak sedungu Kebo itu. Aku memiliki beberapa kelebihan dari padanya, sehingga seandainya Kebo Sindet itu masih hidup, ia tidak akan dapat mengalahkan aku pula.“

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia bertanya, “Kenapa kau menyebut nama Sri Rajasa.”

“Jangan terkejut. Aku adalah utusannya. Aku datang kemari atas namanya untuk membunuhmu.”

“Kakang,“ desis kawan orang itu.

“Aku tidak usah ragu-ragu mengatakannya, karena sebentar lagi ia akan mati. Aku tidak gentar meski-pun ia mampu membinasakan Gubar Baleman.”

Mahisa Agni merenung sejenak. Agaknya orang inilah pemimpin kelompok orang-orang yang ingin membinasakannya itu. Dan agaknya orang ini pulalah yang telah berkelahi melawan Sri Rajasa untuk dijajagi kemampuannya.

“Aku harus berhati-hati,“ desis Mahisa Agni didalam hatinya. Namun ia percaya bahwa disekitarnya pasti telah bersembunyi

Witantra dan kawan-kawannya untuk membantunya jika ia harus menghadapi beberapa orang lawan yang terlalu berat baginya.

“Jadi kau mendapat perintah Sri Rajasa untuk membunuhku?“ bertanya Mahisa Agni.

“Ya.”

“Bohong. Sri Rajasa tidak akan melakukannya. Aku adalah pembantunya yang paling dipercaya, dan itu ternyata atas tugas yang diberikannya kepadaku sekarang ini. Aku adalah wakil Mahkota di Kediri.”

“Tetapi kau adalah orang yang paling malang di muka bumi. Ternyata bahwa orang yang memberikan kepercayaan kepadamu itulah yang memerintahkan membunuhmu. Terimalah nasibmu dengan tabah.”

“Tetapi kau tidak akan berhasil. Aku memang Mahisa Agni. Tetapi akulah yang membunuh Gubar Baleman itu dengan tanganku. Aku pulalah yang membunuh Kebo Sindet seperti ceritera Sri Rajasa. Dan sekarang datang giliranmu.”

Orang itu tertawa.

Namun Mahisa Agni melanjutkan, “Kita akan berperang tanding. Siapakah yang ternyata lebih kuat diantara kita.”

“He, kau memang licik. Tidak, kita tidak akan berperang tanding. Kami akan menyelesaikan kau secepat mungkin. Kami berlima akan bersama-sama membunuhmu. Jangan mencoba menggugah harga diriku. Aku memang bukan laki-laki jantan. Aku sekedar melakukan pekerjaan ini meski-pun dengan licik, agar aku mendapat upah yang banyak sekali.”

“Apakah kau tidak menyadari bahwa ada prajurit yang bertugas di istana ini.”

“Satu orang diantara kami akan dapat menahan mereka, sementara kami yang lain membunuhmu. Setelah itu, kami akan bersama-sama membunuh semua orang di halaman istana ini. Kau

mengerti. Dan rahasia perintah Sri Rajasa tidak akan terdengar oleh siapapun.”

Namun tiba-tiba jantung mereka terasa seperti dihentikan ketika tiba-tiba mereka mendengar suara, “Aku mendengarnya. Aku mendengar rahasia perintah Sri Rajasa. Akulah yang akan mengumumkannya kepada setiap orang di Kediri dan Singasari.”

Pemimpin penjahat itu menggeram. Sejenak kemudian dilihatnya seseorang berdiri sambil menggeliat. Orang itu adalah Mahendra. Ia adalah orang yang paling gelisah dan tidak sabar. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berdesis menjawab kata-kata pemimpin perampok itu.

Sejenak perampok-perampok itu memandanginya. Kemudian salah seorang bertanya dengan nada yang berat, “Siapa kau?”

Mahendra yang sudah berdiri tegak itu tidak segera menjawab. Beberapa langkah ia maju mendekati orang-orang yang sedang kebingungan itu.

“Siapa kau? “ pemimpin garombolan penjahat itu bertanya lagi dengan suara bergetar.

Mahendra kini berdiri tegak beberapa langkah dari mereka. Sejenak ia masih berdiam diri, namun kemudian ia berkata, “Aku adalah pekatik dari istana ini. Aku sedang menyabit rumput di halaman belakang ketika aku mendengar kalian masuk meloncati dinding belakang sehingga aku dan kedua kawanku yang seorang juru taman dan seorang lagi juru masak, mengikuti kalian sampai ketempat ini. Aku melihat bagaimana kalian kebingungan. Tiga orang masuk dan yang dua orang berada diluar, sehingga akhirnya yang dua orang terlihat oleh abdi istana yang kau sangka tuanku Mahaisa Agni.”

Pemimpin perampok itu termangu-mangu sejenak. Namun ia-pun kemudian sadar, bahwa orang itu pasti bukan seorang pekatik dan orang itu tentu kawan-kawan Mahisa Agni. Namun menilik sikap dan kata-katanya, maka orang itu agaknya yakin akan dirinya dan

memiliki kemampuan yang setidak-tidaknya dapat membantu kesulitan Mahisa Agni menghadapi mereka berlima.

Karena Mahendra sudah menyebut dua orang kawannya yang lain, maka Witantra dan Kuda Sempana-pun tidak bersembunyi lebih lama lagi. Hampir berbareng mereka-pun muncul sambil berkata, “Baiklah. Kami tidak akan bersembunyi lagi.”

Terasa dada para perampok itu berdesir. Ternyata kedatangan mereka telah diketahui lebih dahulu oleh Mahisa Agni dan kawan-kawannya yang pasti dipercayanya untuk membantu menghadapi mereka.

“Gila,” pemimpin perampok itu menggeram, “siapakah yang sudah berkhianat? Sri Rajasa atau penasehatnya atau salah seorang kepercayaan Sri Rajasa tanpa diketahuinya?”

“Tidak ada seorang-pun yang berkhianat,“ sahut Mahisa Agni, “kebetulan saja kami mengetahui kedatanganmu.”

“Bohong,“ pemimpin perampok itu memotong, “jangan mengganggu lebih lama lagi. Tentu di halaman ini telah dipersiapkan prajurit segelar sepapan. Suruh mereka segera keluar. Kami akan menghancurkan mereka dan membunuh mereka bersama kalian termasuk Mahisa Agni.”

“Sayang,“ jawab Mahisa Agni, “kami tidak menyiapkan penyambutan serupa itu. Justru aku sudah mengatakan kepada para prajurit, bahwa malam ini mereka tidak usah meronda. Istana ini tidak pernah diganggu oleh kejahatan. Tetapi sudah tentu bahwa kami harus menyiapkan penyambutan bagi kalian yang apalagi salah seorang dari kalian telah langsung melakukan penjajagan kemampuan melawan Sri Rajasa sendiri.”

“Gila,“ pemimpin perampok itu hampir berteriak, “siapa pengkhianat itu he? Katakan, katakan! Darimana kau ketahui semuanya itu?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak ada gunanya. Tetapi nasibmu tidak akan lebih baik dari Kiai Kisi yang

diumpankan langsung kepada Putera Mahkota, sehingga Putera Mahkota sendirilah yang telah membunuhnya.”

“Persetan,“ kemarahan yang memuncak telah mendidihkan darah pemimpin perampok itu, “ternyata istana Singasari telah dipenuhi oleh pengkhianat-pengkhianat. Dan sekarang kalian mencoba menjebak aku dan kawan-kawanku.“ ia berhenti sejenak. Lalu, “tetapi kalian kali ini akan gagal. Meski-pun Mahisa Agni memiliki kemampuan setinggi langit, tetapi tidak semua kalian memiliki kemampuan seperti Mahisa Agni. Karena itu, seorang demi seorang kalian akan mati, bahkan seandainya kalian memanggil prajurit segelar sepapan.”

“Kami tidak akan memanggil seorang prajuritpun. Kami akan bertempur langsung,“ jawab Mahendra, “kami berempat, dan kalian berlima. Setuju?”

Pemimpin perampok itu tidak menyahut. Namun ketika ia menggeram seperti seekor harimau kelaparan kawan-kawannya agaknya menerima suatu isyarat untuk segera mempersiapkan dirinya.

Mahisa Agni dan ketiga kawannya-pun kemudian menebar. Mereka segera mempersiapkan diri untuk melawan setiap orang yang akan menyerang mereka. Keempatnya menyerahkan kepada lawan-lawannya untuk memilih salah seorang dari mereka.

Melihat sikap keempat orang itu para perampok itu-pun menjadi semakin berdebar-debar. Keempatnya seolah-olah begitu yakin akan dirinya dan kemampuannya. Umur-umur mereka agaknya sebaya kecuali Witantra yang tampak agak lebih tua dari yang lain-lain, meski-pun tidak begitu banyak.

Para perampok itu tidak dapat memilih siapakah yang lebih kuat dan siapakah yang paling lemah. Namun menurut perhitungan mereka, pasti Mahisa Agnilah yang paling kuat diantara mereka, sehingga pemimpin perampok itu berkeputusan untuk melawan Mahisa Agni. Karena itu maka katanya, “Pilihlah lawanmu sendiri. Aku akan membuktikan, bagaimana mungkin orang yang bernama

Mahisa Agni ini mampu membunuh Kebo Sindet dan kemudian Senapati Agung dari Kediri. Dan bagaimana mungkin ia dapat membuat Putera Mahkota menjadi seorang yang dikagumi oleh seluruh rakyat Singasari dan menamakan dirinya Kesatria Putih.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun ia beringsut selangkah. Kini ia benar-benar telah mempersiapkan diri untuk melawan orang yang pernah langsung mencoba kekuatannya dengan Sri Rajasa itu. Karena menurut perhitungannya, orang itulah yang merasa dirinya mempunyai kemampuan melampaui kawannya.

Mahendra, Kuda Sempana dan Witantra-pun telah bersiap pula. Namun mereka masih tetap menunggu, siapakah yang akan datang kepada mereka masing-masing sebagai lawannya. Menurut jumlahnya, maka salah seorang dari mereka harus melawan dua orang bersama-sama. Dan yang dua itu pastilah dua orang yang tidak ikut masuk kedalam istana itu.

Untuk sesaat lamanya tidak seorang-pun yang segera mulai. Baik para perampok mau-pun kawan-kawan Mahisa Agni agaknya saling menunggu, siapakah yang harus dilawannya, selain Mahisa Agni sendiri yang sudah pasti menemukan lawannya.

Ternyata Mahendralah yang tidak sabar menunggu. Karena itu ia-pun maju selangkah sambil berkata, “He, apakah kita harus mengundi, siapakah yang akan bertemu sebagai lawan?”

“Persetan,“ pemimpin perampok itu menggeram, “cepat, bunuh mereka.”

“O, jadi kalian tidak setuju? Baik. Aku akan tetap berdiri disini sampai ada seseorang yang menyerangku,“ sahut Mahendra kemudian, “jika tidak, maka sampai besok pagi aku tidak akan beranjak.”

“Bunuh anak itu lebih dahulu,“ pemimpin perampok yang sudah siap melawan Mahisa Agni itu menggeram.

“Ah, jangan panggil aku anak. Aku sudah hampir mempunyai cucu,“ berkata Mahendra.

Namun demikian mulutnya terkatup, maka salah seorang perampok itu telah meloncat menyerangnya, sehingga Mahendra harus meloncat menghindar. Serangan itu ternyata cukup berbahaya baginya, karena lontaran kekuatan yang sepenuhnya itu benar-benar ingin menghancurkannya.

Mahendra yang meloncat menghindar itu ternyata menjadi berdebar-debar juga. Ternyata serangan itu datang begitu cepat dan tiba-tiba. Dengan demikian Mahendra dapat menilai, bahwa lawannya itu memang bukan orang kebanyakan.

Karena serangannya yang pertama gagal, maka lawan Mahendra-pun segera memburunya dan mengulangi serangannya beruntun. Ia benar-benar ingin segera membinasakannya, seperti yang dipermtahkan oleh pemimpinnya.

Tetapi ternyata pekerjaan itu tidak begitu mudah. Mahendra yang masih berloncatan menghindar itu, masih mencoba untuk mengetahui lebih banyak tentang kemampuan lawannya, sehingga apabila datang saatnya ia tidak akan terjebak karena kesalahannya sendiri.

Dalam pada itu, ternyata pemimpin perampok yang memasuki halaman istana wakil Mahkota di Kediri itu masih belum mulai menyerang Mahisa Agni. Ia masih ingin mengetahui, apakah kawannya mampu mengimbangi orang-orang yang telah mengganggu tugas mereka itu.

Namun untuk beberapa lamanya, Mahendra sengaja masih belum melakukan perlawanan sepenuhnya. Ia masih saja berloncatan meski-pun kadang-kadang ia menahan serangan lawannya pula apabila ia sudah sangat terdesak.

Witantra dan Kuda Sempana-pun berdiri termangu-mangu melihat Mahendra bertempur. Namun Witantra-pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Sebagai seorang yang memiliki ketajaman tanggapan tentang olah kanuragan, maka ia-pun segera mendapat kepastian, bahwa keadaan Mahendra tidak akan begitu jelek melawan orang yang menyerangnya.

Dan yang harus dilakukannya kemudian adalah menunggu, siapakah dari antara para penjahat itu yang akan menyerangnya.

Tetapi ternyata bahwa Kuda Sempanalah yang mendapat serangan lebih dahulu. Seperti orang yang pertama maka serangannya datang dengan cepat dan tiba-tiba. Tetapi juga seperti Mahendra maka Kuda Sempana-pun mampu menghindari serangan-serangan yang datang beruntun seperti banjir. Orang itu sudah mencoba memperbaiki kesalahan kawannya yang tidak berhasil langsung mengalahkan Mahendra, tetapi meski-pun demikian, ia-pun tidak segera berhasil menjatuhkan Kuda Sempana.

Yang kemudian masih berdiri bebas adalah Witantra. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia harus berkelahi melawan dua orang yang masih belum menemukan lawannya. Namun ia-pun sadar, bahwa yang dua orang itu pasti orang-orang yang paling lemah dari kelompok penyerang itu.

“Nah, kitalah yang belum mendapatkan lawan,“ berkata Witantra, “dengan demikian maka kita tidak akan dapat memilih lagi. Kita harus berhadapan. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan bertempur bersama-sama atau seorang demi seorang.”

Kedua orang perampok yang masih belum mendapat lawannya itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian terdengar pemimpinnya berkata, “Cepat, bunuh orang itu.”

Keduanya-pun segera berloncatan menyerang Witantra langsung dengan senjata-senjata mereka yang sudah berada ditangan. Tetapi Witantra-pun berhasil menghindar dan bahkan melayani keduanya dengan tangkasnya.

Di halaman belakang istana wakil Mahkota itu telah terjadi tiga lingkaran perkelahian. Namun dalam pada itu sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni telah memberikan kesan, seakan-akan para prajurit yang berjaga-jaga di istana itu tidak perlu lagi meronda kehalaman belakang. Dengan tidak langsung Mahisa Agni mengatakan kepada mereka, bahwa kadang-kadang hanya mengejutkannya saja, dan

bahkan karena badan Mahisa Agni yang agak kurang segar, maka biarlah mereka tidak usah meronda kehalaman dalam dan belakang.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni dapat menghadapi lawan-lawannya tanpa para prajurit. Menurut perhitungannya para prajurit itu hanya akan membuatnya bingung dan bahkan mungkin akan dapat menimbulkan korban. Selain korban yang mungkm jatuh, maka persoalan itu akan menjadi berkepanjangan sampai kesetiap telinga dengan tafsiran mereka masing-masing.

Mahisa Agni masih sempat menyaksikan perkelahian itu. Ternyata bahwa para perampok itu benar-benar orang pilihan. Karena itulah maka Mahisa Agni-pun harus berhati-hati, karena pemimpinnya pastilah orang yang lebih baik dari mereka yang sudah terlibat didalam perkelahian itu, dan apalagi Sri Rajasa sendiri sudah menjajaginya dan menganggapnya cukup mampu untuk melakukan tugas ini.

Ternyata orang itu-pun masih memerlukan waktu sedikit untuk melihat anak buahnya yang bertempur. Sambil mengerutkan keningnya ia mengangguk-angguk. Menurut pengamatannya, orang-orangnya tidak mengecewakannya, meski-pun ia tidak yakin bahwa mereka akan segera menang.

“Aku harus bertindak cepat. Mahisa Agni harus segera terbunuh, lalu yang lain-lain akan dengan mudah selesai,“ berkata orang itu didalam hatinya.

Sejenak kemudian maka ia-pun melangkah maju mendekati Mahisa Agni. Namun setelah keduanya berdiri berhadapan, sepercik kesangsian membayang di wajah pemimpin perampok itu. Mata Mahisa Agni yang seakan-akan menyala didalam gelapnya malam itu membuatnya sedikit berdebar-debar.

“Persetan,“ ia menggeram. Dicobanya untuk mengusir kesangsian dihatinya itu. Ia tidak pernah ragu-ragu menghadapi siapa-pun juga, karena ia terlalu percaya kepada kemampuan diri sendiri.

“Belum pernah aku gagal. Meski-pun aku mengakui bahwa ada juga orang yang melampaui kemampuanku. Tetapi satu-satunya orang adalah Sri Rajasa.“ katanya didalam hati.

Karena itu, maka sejenak kemudian ia-pun melangkah semakin mendekati Mahisa Agni sambil berkata. “Mahisa Agni. Aku hanya sekedar menjalankan perintah. Kau sudah tidak akan dipakai lagi oleh Sri Rajasa. Karena itu kau harus dibunuh. Setelah kau pasti akan datang giliran Anusapati anak Tunggul Ametung itu.”

“Rencana yang bagus sekali. Jika aku dan Anusapati tidak ada, maka Singasari akan menjadi murni. Begitu?“

“Ya. Darah Tunggul Ametung akan lenyap sama sekali dari muka bumi, terutama dari kekuasaan Singasari.”

“Sayang sekali. Rencana itu tidak terlampau mudah dilakukan. Baik aku sendiri mau-pun Anusapati yang ternyata adalah Kesatria Putih, bukan orang-orang yang mudah menyerahkan lehernya. Seperti seharusnya kodrat manusia, ia pasti akan mempertahankan hidupnya sejauh dapat dilakukan.”

“Tetapi kau tidak akan dapat melakukannya, karena disini akulah yang mendapat tugas untuk membunuhmu.”

“Sayang. Aku akan bertahan. Dan aku memang ingin melihat Anusapati menjadi raja di Singasari. Yang penting bagiku bukannya siapakah yang menjadi ayah raja Singasari itu. Tetapi ia harus keturunan Ken Dedes. Itulah sebabnya aku berjuang dengan caraku untuk mempertahankan Anusapati diatas kedudukannya sekarang, sebagai Putera Mahkota. Jika Sri Rajasa ingin menurunkan raja di Singasari, dan memadu Mahisa Wonga Teleng untuk menjadi Putera Mahkota, aku tidak akan berkeberatan, dan Anusapati-pun pasti akan dengan sukarela minggir dari kedudukannya. Tetapi sudah tentu, bukan Tohjaya, anak Ken Umang itu.”

“Persetan, itu adalah hak Sri Rajasa untuk menentukan, siapakah yang akan ditunjuk untuk menggantikannya.”

“Tidak. Sri Rajasa tidak berhak atas tahta. Tetapi Ken Dedeslah yang mewarisi kekuasaan Tunggul Ametung karena Tunggul Ametung telah melimpahkan kekuasaannya atas kehendaknya sendiri kepada Ken Dedes, ketika Ken Dedes mula-mula memasuki istana dan kehidupan Tunggul Ametung.”

“Bohong.”

“Jangan kau sangka aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Karena kau atau aku yang akan mati, baiklah aku berterus terang, bahwa aku sudah mengetahui bahwa Sri Rajasalah yang membunuh Tunggul Ametung dan pamanku mPu Gandring. Barangkali kau belum mendengarnya. Karena itu, ketahuilah, bahwa Sri Rajasa tidak berhak memindahkan aliran keturunan Ken Dedes dan memberikannya kepada Ken Umang, meski-pun sebagian besar adalah karena jasa Ken Arok, bahwa Singasari menjadi besar seperti sekarang.”

“Omong kosong,“ geram pemimpin perampok itu, “aku tidak memerlukan ceritera mimpi itu. Sekarang aku akan membunuhmu.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi ia mempersiapkan dirinya baik-baik untuk menghadapi lawanya itu.

“Bersiaplah untuk mati, atau kau ingin mati dengan tenang tanpa kelelahan?”

Mahisa Agni sudah segan untuk berbicara berkepanjangan. Karena itu ia tidak menjawab.

“Baik. Kau memang ingin mati setelah menitikkan keringat dan darah. Dan aku akan membantumu.”

Tiba-tiba saja orang itu telah menarik sebuah pedang panjang. Oleh cahaya obor dikejauhan, mata pedang itu tampak berkilat-kilat memantulkan sinarnya yang kemerah-merahan.

Mahisa Agni memandang pedang itu sejenak. Ia tidak dapat melawan pedang itu tanpa senjata apapun, karena ia menganggap bahwa lawannya adalah lawan yang cukup berat. Karena itu, maka

ia-pun segera mencabut belati panjangnya yang terselip dibawah kain panjang. Sepasang pisau belati panjang dikedua tangannya.

Sejenak mereka masih berdiri berhadapan. Namun sejenak kemudian pedang ditangan pemimpin perampok itu sudah berputar. Dengan sigapnya ia mulai menyerang Mahisa Agni yang dengan tangkas berhasil menghindarkan diri.

Ternyata dugaan Mahisa Agni tidak meleset. Orang itu benar-benar mampu bergerak cepat dan kuat. Pedangnya menyambar-nyambar seperti seekor burung sriti yang berterbangan di udara.

Namun Mahisa Agni bukan sekedar seekor capung yang tidak mampu menghindarkan diri dari ujung paruh burung sriti yang menyambarnya. Tetapi Mahisa Agni-pun mampu bergerak secepat lawannya, sehingga karena itu, maka serangan-serangan itu sama sekali tidak berhasil menyentuh sasarannya.

Apalagi ketika Mahisa Agni-pun mulai menyerang lawannya itu pula, maka barulah lawannya menyadari, sebenarnyalah Mahisa Agni seorang yang disegani oleh Sri Rajasa.

Demikianlah maka perkelahian antara Mahisa Agni dengan lawannya itu segera menjadi pertempuran yang sangat sengit karena keduanya adalah orang-orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

Didalam perkelahian itu Mahisa Agni masih juga sempat berkata didalam hati, “Ada juga orang yang memiliki kemampuan tinggi diantara mereka yang tersesat. Orang ini ternyata adalah orang yang berbahaya sekali. Untunglah bahwa ia tidak memancing Kesatria Putih dan membinasakan. Jika kebetulan ia bertemu sendiri dengan Anusapati, maka Anusapati akan sulit sekali untuk mengatasinya dalam keadaan yang sekarang. Masih untunglah bahwa orang itu telah dikirimkan kepadanya oleh Sri Rajasa. Namun demikian Mahisa Agni berterima kasih tidak terhingga didalam hatinya kepada Sumekar. Kehadiran Sumekar di istana Singasari ternyata mempunyai arti yang besar sekali. Baik bagi Putera Mahkota mau-pun bagi Mahisa Agni sendiri, karena tanpa Sumekar,

maka Mahisa Agni dan kawan-kawannya itu tidak akan dapat mempersiapkan diri menghadapi kelima orang itu.

“Tanpa orang lain aku tidak akan dapat mengatasi kesulitan. Jika tidak ada persiapan yang baik menghadapi mereka, dan ketiga orang yang memasuki istana itu berhasil menyergap aku didalam bilikku, maka aku kira aku benar-benar terbunuh,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya.

Namun gambaran-gambaran itu ternyata membuat Mahisa Agni menjadi semakin marah. Bayangan yang tampak dirongga matanya, seakan-akan dirinya sendiri terkapar didalam pembaringannya sebelum sempat bangkit, membuatnya menjadi semakin marah.

“Sri Rajasa benar-benar ingin merenggut nyawaku. Dan orang-orang ini pasti orang-orang yang tamak, yang menyewakan diri mereka untuk membunuh sesama. Dan itu berarti kejahatan yang tidak dapat diampuni.“ Mahisa Agni berkata pula didalam hatinya.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni-pun telah mengambil sikap seperti orang itu pula. Membunuh atau dibunuh. Mahisa Agni sama sekali tidak memerlukan orang itu hidup karena ia tidak memerlukan keterangan apa-pun daripadanya. Ia sudah tahu pasti bahwa orang itu harus membunuhnya atas perintah Sri Rajasa. Hanya itu. Alasan-alasan yang lain tidak akan dapat dikoreknya dari orang itu, tetapi harus dicarinya di istana Singasari.

Demikianlah perkelahian itu adalah lambang dari perang yang sebenarnya memang sudah mulai. Perang tanpa menyeret prajurit-prajurit Singasari. Karena baik Sri Rajasa mau-pun Mahisa Agni menyadari, bahwa Singasari yang sudah mencapai kebesarannya itu tidak boleh dikorbankan. Apa-pun yang akan terjadi atas mereka, dan apa-pun yang akan mengakhiri perang diantara dua raksasa yang berdiri dibalik takbir asap yang samar-samar.

Tidak seorang-pun di Singasari, selain yang langsung berkepentingan, mengerti bahwa perang sudah dimulai. Jika kedua raksasa itu bertemu satu dengan yang lain, maka keduanya masih juga tersenyum-senyum dan tertawa-tawa. Keduanya masih dapat

berkelakar dan berbicara tentang perkembangan pemerintahan Singasari. Bahkan mereka masih dapat dengan jujur membicarakan tugas-tugas yang harus mereka lakukan masing-masing. Sri Rajasa sebagai Maharaja yang memerintah seluruh Singasari, dan Mahisa Agni yang mendapat tugas untuk mewakili Mahkota Singasari di daerah Kediri.

Tetapi dibalik sikap yang ramah, dibalik pembicaraan-pembicaraan dan rencana-rencana mereka bagi Singasari, tersembunyi pertentangan yang tidak terelakkan, yang akan menentukan Mahkota Singasari dihari depan.

Dalam pada itu perkelahian yang terjadi itu-pun menjadi semakin lama semakin dahsyat. Namun dilingkaran3 perkelehai-an yang lain, Kuda Sempana segera dapat mengatasi kemampuan lawannya, meski-pun ia tidak akan dapat menyelesaikannya dengan segera. Dan bahkan Kuda Sempana-pun tidak bernafsu untuk dengan cepat memenangkan perkelahian itu, karena ia mempunyai perhitungan tersendiri. Menurut pengamatannya, Mahisa Agni berada dalam keadaan yang gawat. Lawannya bukan orang yang dapat diabaikan, sehingga Mahisa Agni benar-benar harus bertempur. Supaya Mahisa Agni mendapat kesempatan sebaik-baiknya menyelesaikan rencananya, maka Kuda Sempana ingin menunggu apakah yang harus dilakukan atas lawannya itu. Jika Mahisa Agni nanti berhasil menyelesaikan tugasnya, apakah ia akan mempunyai sikap tertentu terhadap orang-orang yang memasuki halaman istana itu, karena setiap kali didalam melakukan tugas-tugas Kesatria Putih, Mahisa Agni sering kali menegurnya, bahwa ia terlampau cepat mengambil keputusan untuk membunuh lawannya.

Demikian juga agaknya Mahendra dan Witantra. Keduanya-pun segera dapat merasa bahwa mereka dapat menentukan akhir dari perkelahian itu menurut keinginan mereka, jika mereka tidak berbuat kesalahan yang berpengaruh.

Witantra yang memiliki kemampuan yang hampir sempurna, sempat menyaksikan perkelahian antara Mahisa Agni dan lawannya. Dan ia-pun sempat menilai, apa yang sedang terjadi.

“Lawan Mahisa Agni memang lawan yang berat,“ berkata Witantra didalam hati, “untunglah orang itu datang kemari. Jika tidak, maka ia akan menjadi racun didalam peradaban manusia. Itulah agaknya didaerah sebelah Timur dan Utara, kadang-kadang terjadi sesuatu yang menggemparkan, yang masih belum terjangkau oleh tangan Kesatria Putih. Agaknya orang itulah pelakunya bersama kawan-kawannya ini.”

Namun dalam pada itu, Mahisa Agni yang bertempur melawan pemimpin perampok itu segera mengenal, bahwa ilmu orang itu adalah ilmu yang pada dasarnya sudah dikenal di istana Singasari, sehingga dengan demikian ilmu itu didalam perkembangannya pasti bersumber dari guru yang memiliki cabang ilmu yang sama. Dan arus ilmu itu telah mengalir kedalam diri Tohjaya lewat gurunya, penasehat Sri Rajasa. Dengan demikian Mahisa Agni-pun segera tahu pula, siapakah yang membawa orang itu keistana beserta rencana-rencana dan pamrihnya sama sekali. Dengan demikian Mahisa Agni-pun yakin, bahwa penasehat Sri Rajasa itu ikut serta menentukan jalannya peperangan diam-diam antara Sri Rajasa untuk kepentingan Tohjaya dan Mahisa Agni untuk kepentingan Anusapati.

“Jadi guru Tohjaya itu tidak sekedar menjemput dan membawanya masuk keistana atas perintah Sri Rajasa,“ berkata Mahisa Agni yang memang sudah mendengar dari Witantra yang mendapat keterangan dari Sumekar bahwa telah datang orang asing di istana dan bahkan mengadakan penjajagan ilmu dengan Sri Rajasa. “Agaknya guru Tohjaya itulah yang mengusulkan orang ini untuk mengemban tugas didalam peperangan yang diam-diam ini.”

Sambil bertempur Mahisa Agni sempat membayangkan bagaimana keadaan yang bakal terjadi tanpa dirinya dan orang-orang yang sekarang sedang membantunya. Yang dicemaskan oleh Mahisa Agni adalah sikap yang kasar dari Sri Rajasa. Dalam keadaan tertentu, Sri Rajasa kehilangan sifat-sifatnya sebagai seorang Maharaja. Ia dapat bertindak kasar seperti ketika ia masih seorang

yang berkeliaran di padang Karautan. Ketika ia masih disebut Hantu Karautan.

“Apakah hal ini akan semakin berlarut-larut atau akan dapat memberikan kesadaran baru bagi Sri Rajasa?“ pertanyaan itu selalu mengganggunya. Namun dalam pada itu, Mahisa Agni justru menjadi semakin kehilangan kepercayaannya kepada Sri Rajasa.

“Orang itu adalah orang besar,“ berkata Mahisa Agni didalam hati, “tetapi ia terperosok kedalam suatu kubangan yang dapat mencelakakannya. Ia kehilangan kebesarannya dan justru berjuang untuk kepentingan yang terlalu kecil bila dibandingkan dengan usahanya mempersatukan Singasari.”

Mahisa Agni terkejut ketika senjata lawannya hampir saja menyentuh pelipisnya.

Kini Mahisa Agni mencoba memusatkan perhatiannya kepada senjata lawannya yang bergerak semakin cepat. Namun semakin lama semakin jelas, bahwa Mahisa Agni akan berhasil menguasainya.

Meski-pun demikian bila Mahisa Agni lengah dan membuat sedikit kesalahan, mungkin keadaan akan menjadi jauh berbeda. Karena itu, Mahisa Agni berusaha untuk tidak hanyut lagi dalam arus angan-angannya.

“Orang ini terlalu berbahaya,“ katanya didalam hati, ”berbahaya bagiku dan berbahaya bagi rakyat Singasari. Ia dapat memeras siapa-pun yang dikehendaki tanpa perlindungan, karena ia sudah berhubungan dengan Sri Rajasa. Jika ia bebas sekarang, apalagi memenangkan perkelahian ini, maka Sri Rajasa tidak akan dapat bertindak apa-pun kepadanya, karena orang ini menggenggam rahasia terbesar dari Sri Rajasa atas kematian seorang wakil Mahkota. Dengan demikian maka orang ini akan dapat memeras Sri Rajasa sampai kering, sebelum Sri Rajasa berhasil membunuhnya. Dan orang ini adalah orang yang licik, sehingga ia akan dapat bersembunyi rapat sekali, sementara orang-orangnya yang akan

memainkan peranan yang akan membuat Sri Rajasa kehilangan akal.

“Orang ini harus disingkirkan,“ tiba-tiba saja Mahisa Agni menggeram, “jika tidak, maka persoalannya pasti akan berkepanjangan. Apalagi aku tidak memerlukan apa-pun daripadanya. Keterangan yang dapat dikatakannya tidak akan berarti apa-apa bagiku.”

Ternyata Mahisa Agni benar-benar akan melakukan keputusannya. Dengan demikian mata tandangnya menjadi semakin mantap. Kakinya seolah-olah tidak lagi berjejak diatas tanah, sedang tangannya menyambar-nyambar seperti sayap burung garuda yang terbang diudara.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin lama semakin sengit. Masing-masing tidak lagi mengekang dirinya. Bahkan masing-masing telah melepaskan semua kemampuan yang dimilikinya.

Lawan Mahisa Agni itu terkejut mengalami sikap yang tiba-tiba saja menjadi semakin garang. Tekanan Mahisa Agni menjadi semakin tajam, sehingga pemimpin gerombolan perampok itu menjadi cemas karenanya.

Tetapi ia tidak dapat mengharap bantuan dari siapapun. Ketika sempat melihat perkelahian yang terjadi disekitarnya, ia mengumpat habis-habisan. Ternyata Witantra hampir tidak berbuat apa-apa selain berputar-putar. Kedua orang lawannya sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa, meski-pun seakan-akan Witantra hanya sekedar bermain-main saja.

“Setan alas,“ pemimpinnya berteriak, “bunuh orang itu.”

Kedua orang yang berkelahi melawan Witantra itu berusaha memusatkan segenap kemampuannya. Namun Witantra masih saja bersikap acuh tidak acuh.

Pemimpinnya tidak lagi sempat menghiraukannya. Mahisa Agni semakin lama semakin mendesaknya. Tidak ada cara yang dapat

dipergunakan untuk mengatasi serangan-serangan Mahisa Agni yang semakin ganas.

Apalagi tiba-tiba saja Mahisa Agni itu berkata, “Orang-orang ini harus dibinasakan, karena mereka telah mengetahui rahasia yang paling besar bagi Singasari. Pertentangan diilingkungan pemerintahan yang tidak boleh didengar dan apalagi dihayati oleh orang lain. Karena itu, adalah nasibnya yang kurang baik, apabila dengan demikian mereka harus bercanda dengan maut.”

Kata-kata Mahisa Agni itu benar-benar telah menggetarkan dada mereka. Bahkan pemimpin perampok itu-pun menjadi berdebar-debar. Namun demikian ia masih sempat berteriak, “Mahisa Agni, sebutkan siapakah yang telah berkhianat? Siapakah yang telah menjebak aku kedalam sarang serigala lapar ini?”

Mahisa Agni mendesak lawannya sambil menjawab, “Tidak ada yang berkhianat. Tetapi kejahatan memang harus dimusnakan. Jangan menyesal jika nasibmu sama seperti Kiai Kisi yang dibinasakan langsung oleh Putera Mahkota, tidak dalam kerudung putih, tetapi dalam bentuknya dibawah kerudung hitam.”

Kata-kata Mahisa Agni itu rasa-rasanya telah membakar telinga lawannya. Namun kemampuannya ternyata terbatas, sehingga betapa-pun juga ia berusaha, namun ia tidak mampu mengatasi ilmu Mahisa Agni. Senapati Agung kerajaan Singasari, yang pernah mengalahkan Senapati Agung pada masa Kediri.

Demikianlah, maka akhir dari perkelahian itu menjadi semakin dekat. Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana hanya menunggu saat yang sebaik-baiknya. Mereka menyesuaikan diri dengan perkelahian yang berat sebelah, setelah lawan Mahisa Agni kehabisan tenaga yang diperasnya untuk mempertahankan diri.

“Jika saat itu tiba,“ berkata kawan-kawan Mahisa Agni didalam hatinya, “maka yang lain-pun akan terbunuh.”

Demikianlah, akhirnya Mahisa Agni mendapatkan kesempatan itu. Dengan belati panjang ditangan kirinya ia menangkis serangan lawannya yang menjadi terhuyung-huyung karena

keseimbangannya yang hampir hilang. Namun saat yang paling pahit dari perjuangan untuk mendapat harta benda yang tertimbun didalam istana wakil Mahkota itu segera tiba. Sebelum ia sempat memperbaiki keseimbangannya, maka pisau belati di tangan kanan Mahisa Agni telah menghunjam didadanya, langsung menyobek jantung.

Pemimpin perampok itu tidak sempat menggeliat. Demikian ujung pisau Mahisa Agni ditarik dari dadanya, maka ia-pun segera rebah menelungkup ditanah.

Dan sesaat kemudian, nasib yang sama telah hinggap pula pada kawannya. Hampir bersamaan senjata kawan-kawan Mahisa Agni telah menyambar lawan-lawannya yang seakan-akan tinggal sekedar menunggu. Senjata Mahisa Agni yang menembus jantung itu bagaikan perintah bagi kawan-kawannya untuk berbuat serupa. Sehingga hampir bersamaan pula lawan-lawan Mahendra dan Kuda Sempana mengeluh pendek. Kemudian disusul dengan dua orang yang sedang bertempur melawan Witantra.

Mahisa Agni yang berdiri tegak disebelah mayat lawannya mengusap keringat didahinya dengan lengannya. Ternyata lawannya adalah lawan yang cukup berat baginya.

Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana-pun kemudian mendekatinya. Mereka tidak menemukan lawan seberat pemimpin perampok itu. Namun meski-pun demikian, nafas mereka-pun menjadi terengah-engah dan keringat mereka-pun mengalir juga di seluruh tubuhnya.

“Bagaimana dengan mayat-mayat ini?“ bertanya Witantra kepada Mahisa Agni.

“Kita harus menghilangkan jejaknya. Kita harus menyimpan rahasia ini sebaik-baiknya, supaya tidak ada ccritera yang bersimpang siur dari peristiwa ini.“

“Jadi, apakah kita akan mengubur mereka?”

“Ya, sebelum dketahui orang lain.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Jika demikian, kita akan membawanya ketempat yang tersembunyi.”

“Ya, sebelum ada orang yang melihat. Untunglah bahwa para prajurit itu benar-benar tidak meronda. Aku sudah mencegahnya sore tadi.”

Demikianlah maka mereka-pun segera membawa mayat-mayat itu menyingkir. Dibawah rimbunnya perdu disudut kebun belakang, mereka telah menggali sebuah lubang yang besar dan dalam. Bagi Witantra menggali lubang itu ternyata jauh lebih melelahkan dari saat-saat ia harus berkelahi melawan dua orang lawannya.

Namun akhirnya mereka telah berhasil membuat lubang yang cukup dalam, untuk mengubur mayat-mayat itu sekaligus dan kemudian berusaha menghilangkan segala macam bekas perkelahian.

“Sekarang kita tinggal membersihkan diri kita masing-masing,“ berkata Mahendra, “lalu aku kembali tidur digubug Kuda Sempana.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

Demikianlah setelah semuanya selesai, maka mereka-pun segera kembali ketempat masing-masing. Kuda Sempana masih sempat menggulung tali isyarat yang direntangkannya di halaman belakang.

Ketika tidak lama kemudian fajar membayang dilangit, mereka yang baru saja bertempur di halaman belakang itu telah berbaring dipembaringan masing-masing. Namun bagaimana-pun juga mereka berusaha, mereka sama sekali tidak dapat melepaskan ingatan tentang usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Sri Rajasa itu.

Dalam pada itu, di Singasari, ternyata Sri Rajasa-pun sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ia-pun memperhitungkan bahwa semuanya akan terjadi malam ini. Bahkan dengan gelisahnya ia berjalan hilir mudik didalam biliknya. Sekali-sekali ia duduk ditepi pembaringannya, namun kemudian berdiri dan berjalan beberapa langkah.

Demikian juga agaknya penasehat Sri Rajasa itu. Ia-pun menduga bahwa semuanya sudah terjadi. Bahkan sudah terbayang di angan-angannya, besok pagi akan berpacu utusan dari Kediri mengabarkan bahwa telah terjadi bencana di istana wakil Mahkota. Para abdi di istana itu menemukan wakil Mahkota mati berlumuran darah, sedang isi istana itu habis dibawa oleh sekelompok perampok.

Singasari pasti akan gempar. Senapati Agung yang telah mengalahkan Senapati dari Kediri, diketemukan mati didalam biliknya.

“Betapa tinggi ilmu Mahisa Agni, ia tidak akan dapat melawan lima orang sekaligus. Ia pasti akan binasa, karena selisih kemampuannya dengan saudara tertua mereka itu tidak terpaut banyak. Apalagi Sri Rajasa sendiri telah menjajagi kemampuannya dan menganggapnya bahwa ia akan mampu melakukan tugasnya bersama dua orang saudara seperguruannya,“ berkata penasehat Sri Rajasa itu didalam hatinya.

Karena itu, semakin dekat dengan datangnya pagi, rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu. Ia mulai membayangkan, seorang pelayan yang akan memasuki bilik Mahisa Agni terkejut dan menjerit. Kemudian beberapa orang prajurit datang berlari-larian. Tetapi yang mereka ketemukan hanyalah mayat Mahisa Agni dan barang-barang yang ada didalam istana itu hilang.

“Benar-benar suatu perampokan yang gila, yang baru terjadi untuk pertama kalinya disepanjang sejarah,“ desisnya.

Ketika kemudian matahari terbit, Penasehat Sri Rajasa itu-pun segera menyiapkan diri untuk menghadap. Rasa-rasanya ia tidak betah lagi menahan gejolah perasaannya. Ia ingin mendapat penyaluran dan lawan berbicara mengenai peristiwa yang pasti telah terjadi di Kediri.

Sumekar yang membersihkan halaman istana diluar petamanan menjadi heran melihat Sri Rajasa itu pergi ke paseban jauh lebih

pagi dari kebiasaannya. Dan karena paseban masih sepi, maka ia-pun langsung pergi kebangsal Sri Rajasa.

Ternyata Sri Rajasa yang gelisah-pun telah berada di serambi belakang bangsalnya. Seperti kebiasaannya, di saat-saat senggang ia duduk di serambi belakang memandang tanaman yang sedang berbunga. Sebuah longkangan dengan batang-batang perdu yang hijau.

“O,“ desis Sri Rajasa ketika ia melihat penasehatnya datang pagi-pagi.

“Ampun tuanku, hamba menghadap terlampau pagi karena hamba tidak dapat menahan diri untuk membicarakan apakah yang kira-kira terjadi semalam di Kediri,“ berkata penasehat itu.

Sri Rajasa menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku-pun menjadi gelisah. Tetapi perjalanan dari Kediri memerlukan waktu. Jika pagi ini utusan itu berangkat, maka ia akan datang malam nanti.”

Penasehatnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan waktu yang sehari itu pasti akan menyiksanya.

“Tetapi, aku kira mereka tidak akan mengecewakan,“ desis Penasehat itu.

“Aku percaya akan kemampuannya. Meski-pun barangkali orang itu tidak dapat mengimbangi kemampuan Mahisa Agni, tetapi berlima Mahisa Agni tidak akan dapat berbuat banyak. Aku menganggap bahwa kemampuan orang itu cukup tinggi.”

Penasehat Sri Rajasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya kepada kata-kata itu, karena Sri Rajasa sendiri sudah langsung menjajaginya.

Demikianlah sehari itu penasehat Sri Rajasa menjadi gelisah. Rasa-rasanya ia tidak sabar menunggu, bahwa akan ada utuskan datang dari Kediri mengabarkan peristiwa yang sudah terjadi.

Sumekar diam-diam memperhatikan Penasehat Sri Rajasa yang gelisah itu. Karena Sri Rajasa hari itu tidak hadir dipaseban, karena badannya yang kurang sehat, maka di siang hari sekali lagi Penasehatnya datang menghadap di bangsalnya.

“Bukankah Anusapati tetap berada di istana?“ bertanya Sri Rajasa.

“Ya tuan. Putera Mahkota tetap berada di istana. Ia mematuhi perintah yang tuanku berikan.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika Anusapati meninggalkan istana, maka ada kemungkinan sebagai Kesatria Putih ia mengikuti para perampok itu ke Kediri dan jika kekuatannya bergabung dengan kekuatan Mahisa Agni, maka rencana itu memang dapat gagal.

Demikianlah Penasehat Sri Rajasa yang kemudian meninggalkan bangsal itu-pun pergi keregol depan. Dipandanginya jalan yang membelah kota Singasari membujur kearah yang jauh sekali. Tetapi ia masih belum melihat seseorang yang datang dari Kediri.

“Memang tidak mungkin. Nanti malam ia akan datang.“

Ketika ia berjalan memasuki halaman dalam istana, Sumekar yang berjongkok di pinggir lorong diantara tetanaman memberanikan diri bertanya, “Tuan, tampaknya tuan menjadi gelisah sekali. Aku yang tidak mengetahui persoalan apa-pun menjadi ikut gelisah. Apakah ada musuh yang mengancam Singasari.”

“Bodoh kau. Tidak ada satu negeri-pun yang akan memusuhi Singasari. Sri Rajasa sudah berhasil menyatukan bagian-bagian yang semula terpecah belah,“ jawab Penasehat Sri Rajasa itu.

Sumekar yang masih berjongkok mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia bertanya pula, “Jika demikian, apakah tuan melihat sesuatu yang tidak wajar terjadi di istana ini, atau barangkali keluarga tuan akan datang.”

Penasehat itu memandang Sumekar dengan tajamnya, lalu bertanya, “Kenapa kau bertanya begitu?”

“Tuan nampaknya gelisah sekali. Tuan berjalan hilir mudik antara bangsal dan paseban serta regol depan istana.”

“O,“ Penasehat Sri Rajasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “aku sedang menunggu isteriku. Aku sudah menyampaikannya kepada tuanku Sri Rajasa. Sedang isteriku itu agak sakit-sakitan.”

“O,“ Sumekar mengangguk-angguk, “kenapa tuan tidak memerintahkan beberapa orang menjemput dengan sebuah tandu.”

“Isteriku akan datang diatas tandu.”

“O,“ Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.

Penasehat itu tidak menghiraukan Sumekar lagi. Juru taman itu ditinggalkannya pada kerjanya di pinggir lorong didalam halaman istana. Namun pertanyaan-pertanyaan Sumekar itu memberikan pertimbangan kepada Penasehat Sri Rajasa, bahwa kegelisahannya itu dapat dibaca oleh orang lain.

Betapa lama mereka menunggu, namun akhirnya malam datang juga menyelimuti Singasari. Lampu minyak mulai menyala dan jalan-jalan menjadi sepi. Pintu-pintu telah tertutup rapat, karena udara yang dingin bertiup bersama angin dari Selatan.

Kegelisahan dihati Penasehat Sri Rajasa menjadi semakin memuncak. Demikian juga Sri Rajasa sendiri, sehingga ketika Penasehatnya datang kebangsalnya ia berkata, “Kau tetap disini. Jika ada laporan yang datang, maka orang itu akan dibawa langsung menghadap.”

“Hamba tuanku,“ jawab Penasehat itu.

Namun meski-pun mereka mencoba mengisi waktu yang menegangkan itu dengan berbagai macam persoalan, mereka ternyata menjadi tidak sabar menunggu.

“Malam menjadi semakin larut. Jika pagi-pagi benar utusan itu berangkat dari Kediri, maka sekarang ia pasti sudah datang, atau memasuki kota. Kita akan menunggu sejenak lagi.“ berkata Sri Rajasa.

Tetapi yang mereka tunggu tidak juga segera datang. Betapa kegelisahan telah memuncak dihati keduanya, namun tidak seorang-pun yang menghadap dan memberitahukan bahwa ada utusan datang dari Kediri.

“Mungkin mereka belum mendapat kesempatan malam kemarin tuanku,“ berkata Penasehat Sri Rajasa, “jika demikian, maka mereka baru dapat melakukannya malam ini. Karena itu, maka kita masih harus bersabar sehari besok. Besok malam pasti akan datang berita yang menggembirakan itu.”

Sri Rajasa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Namun matanya tetap terpancang dikejauhan. Bahkan sejenak kemudian ia berkata, “Tinggalkan aku sendiri.“

Penasehat Sri Rajasa itu membungkukkan badannya dalam-dalam. Kemudian dengan hati yang berdebar-debar ia meninggalkan Sri Rajasa yang duduk dengan murung.

Namun dalam pada itu, bukan saja Sri Rajasa dan Penasehatnya sajalah yang menjadi gelisah. Sumekar-pun menjadi gelisah seperti juga Sri Rajasa.

Oleh kegelisahan yang memuncak, maka Sumekar-pun tidak dapat duduk diam didalam biliknya. Dengan hati-hati ia-pun merayap keluar dan ditempat yang terlindung oleh bayangan dedaunan ia melocati dinding keluar istana.

“Mungkin aku dapat menemui salah seorang dari mereka,” berkata Sumekar didalam hatinya.

Meski-pun Sumekar tidak pasti, tetapi ia pergi juga ketempat yang ditentukan untuk menemui salah seorang dari kawan-kawan Mahisa Agni.

Sumekar menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Mahendra seorang diri menunggunya dengan gelisah pula.

“Hampir saja aku pergi,“ berkata Mahendra.

“Apakah yang terjadi?”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. “Perang memang sudah mulai,” katanya. Lalu, “Ternyata bahwa Ken Arok itu mulai dengan cara-cara Hantu di Padang Karautan.”

“Apa yang dilakukan?”

“Ia menjadi kasar.“ Dan Mahendra-pun kemudian menceriterakan apa yang sudah terjadi.”

“Jadi benar dugaanku. Untunglah bahwa Mahisa Agni sempat menyelamatkan diri karena kalian ada disana.”

“Kaulah yang paling berjasa. Tanpa keteranganmu, kami tidak cukup bersiaga.”

“Itu-pun suatu kebetulan.”

“Baiklah, katakanlah itu suatu kebetulan. Tetapi Mahisa Agni sangat berterima kasih kepadamu.”

Sumekar tersenyum. Ia-pun merasa bersyukur, bahwa Mahisa Agni telah terlepas dari bahaya maut. Betapa besar kemampuannya, namun menghadapi orang-orang yang mempunyai ilmu yang cukup tinggi itu bersama-sama, Mahisa Agni pasti akan mengalami kesulitan.

“Tetapi kemudian, Mahisa Agni sangat mencemaskan nasib Putera Mahkota,“ berkata Mahendra kemudian, “karena itu aku membawa pesan dari kakang Mahisa Agni, kau harus mengawasinya baik-baik. Meski-pun kemampuan Putera Mahkota semakin meningkat di saat-saat terakhir dan bahkan hampir menjadi matang pula, namun apabila ia dihadapkan pada keadaan yang kasar, seperti yang dihadapi oleh kakang Mahisa Agni, maka ia akan benar-benar mengalami kesulitan. Adalah sulit sekali untuk memberikan

bantuan kepadanya meski-pun kami mengetahui bahaya yang mengancamnya. Kau adalah satu-satunya orang yang ada didalam.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam.

“Bagaimana dengan tuanku Mahisa Wonga Teleng?“

“Kemampuannya meningkat juga.”

Mahendra merenung sejenak. Lalu, “Memang sulit bagimu untuk mengikuti serta membinanya. Mungkin tanpa disadarinya ia menyebut namamu. Dengan demikian semuanya akan menjadi rusak.“

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Memang semakin banyak orang yang mengetahui persoalannya akan menjadi semakin gawat.”

“Tetapi kau dapat mendesak kepada Putera Mahkota, agar usahanya menuntun adiknya agak dipercepat. Didalam keadaan yang paling sulit, ia akan dapat membantunya betapa-pun kecil artinya.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, hati-hatilah. Besok aku akan kembali ke Kediri.”

“Sampaikanlah kepada kakang Mahisa Agni. Penasehat Sri Rajasa menjadi sangat gelisah. Mungkin ia menunggu berita yang datang dari Kediri. Agaknya ia tidak sabar lagi menunggu berita kematian Mahisa Agni.”

Mahendra tersenyum. Jawabnya, “Itu adalah suatu berita yang menyenangkan. Ia akan tetap gelisah sehingga pada suatu batas tertentu ia akan mengambil sikap. Aku akan minta agar untuk beberapa hari Mahisa Agni tidak menampakkan diri.”

Keduanya-pun kemudian berpisah. Sumekar kembali masuk kehalaman istana dengan meloncati dinding. Dengan hati-hati ia menuju kebiliknya dan duduk beberapa saat didepan pintu.

Angin malam yang sejuk mengusap wajahnya yang tegang. Terbayang peristiwa yang terjadi di Kediri. Untunglah bahwa Mahisa Agni masih tetap mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung, sehingga ia berhasil menyelamatkan diri.

Sumekar tetap duduk ditempatnya ketika ia melihat dua orang prajurit peronda yang lewat. Ketika keduanya melihat Sumekar duduk didepan pintu, salah seorang dari mereka bertanya, “He, kenapa kau duduk disitu?”

“Aku tidak dapat tidur. Panasnya bukan main didalam gubugku.“

Kedua prajurit itu tidak menyahut. Ditinggalkannya Sumekar yang masih tetap duduk ditempatnya memandang jauh menembus gelapnya malam.

Pada saat itu, ternyata Sri Rajasa sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ternyata tidak ada seorang utusan-pun yang datang dari Kediri, yang dengan nafas terengah-engah melaporkan bahwa wakil Mahkota itu telah terbunuh didalam suatu perampokan yang paling besar yang pernah terjadi.

“Mungkin malam ini,“ demikianlah setiap kali Sri Rajasa menenterampan dirinya sendiri. Tetapi setiap kali timbul pertanyaan, “Bagaimana jika gagal dan bahkan Mahisa Agni berhasil menangkap mereka dan memaksa mereka berbicara?”

Kegelisahan yang sangat telah mencengkam hati Sri Rajasa. Namun sambil menggeram ia berkata, “Tidak ada yang dapat membuktikan bahwa aku pernah memerintahkannya. Aku dapat menganggapnya sebagai suatu fitnah yang keji.“ Meski-pun demikian Sri Rajasa masih tetap tidak dapat memejamkan matanya. Kegelisahan yang sangat selalu mengganggunya.

Demikian jugalah Penasehat yang berjalan hilir mudik didalam biliknya. Sama sekali tidak dapat dibayangkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi seperti Sri Rajasa ia berkata kepada diri sendiri, “Malam ini. Semuanya akan terjadi malam ini.”

Namun ketika hari berikutnya menjadi semakin pudar, dan kegelisahan yang sangat telah mencekam hati Sri Rajasa dan Penasehatnya, namun tidak ada juga seorang-pun yang datang dari Kediri untuk melaporkan sesuatu yang telah terjadi.

“Gila,“ Sri Rajasa bergumam kepada diri sendiri, “apakah mereka tidak berani melakukannya?”

Penasehatnya yang menghadap, sama sekali tidak dapat memberikan jawaban.

“Atau barangkali Mahisa Agni sempat memanggil pada prajurit dan menangkap mereka?”

“Jika demikian tuanku, agaknya pasti akan datang juga laporan tentang perampokan yang gagal itu,“ berkata Penasehatnya.

Penasehatnya menundukkan kepalanya.

“Jika sekali ini gagal, aku harus mempergunakan kekerasan. Aku akan menjatuhkan perintah menangkap Mahisa Agni tanpa bersembunyi.”

“Jangan tuanku. Alasan apakah yang akan tuanku pergunakan untuk melakukannya? Tuanku hanya diburu oleh perasaan, tetapi tuanku harus tetap mempertahankan keseimbangan. Tuanku telah memberikan petunjuk kepada hamba, bagaimana gagal mempergunakan Kiai Kisi. Dan tuanku telah berusaha melakukannya dengan cara yang jauh lebih halus. Jika sekarang tuanku berbuat sebaliknya, maka yang terjadi-pun akan sebaliknya.”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Ya. Aku tidak boleh kehilangan akal. Aku harus menyusun rencana sebaik-baiknya.”

Sekilas terbayang hasil yang pernah dicapai dengan permainannya yang tidak dapat diketahui oleh orang lain. Jika ia kini berbuat kasar, maka seakan-akan sia-sialah apa yang pernah dicapainya itu. Bahkan mungkin akan dapat timbul pertentangan diantara para prajurit di Singasari, sehingga kebesaran Singasari

yang sudah dapat dicapainya selama ini akan menjadi pudar karenanya.

Meski-pun demikian ia harus mencari jawab, bagaimanakah jika Mahisa Agni dapat mengetahui apa yang sudah dilakukannya. Bukan saja kini, tetapi dengan demikian Mahisa Agni pasti menelusur masa lampaunya. Kematian pamannya, seorang mPu yang mumpuni, mPu Gandring.

Demikianlah pada hari berikutnya dan hari berikutnya tidak juga ada seorang-pun yang datang menghadap, sehingga kegelisahan Sri Rajasa telah sampai ke puncaknya.

“Akulah yang akan memerintahkan seseorang pergi ke Kediri untuk melihat apa yang sudah terjadi disana,“ berkata Sri Rajasa.

“Benar tuanku. Tetapi hamba mohon agar kepergiannya bukan merupakan seorang, utusan resmi tuanku,“ berkata penasehatnya.

“Maksudmu?”

“Hamba akan mengirimkan seorang petugas sandi yang dapat hamba percaya untuk mengetahui keadaan sebenarnya.”

Sri Rajasa mengangguk-angguk. Jawabnya, “Lakukanlah.“

Penasehat itu mengerutkan keningnya. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada Sri Rajasa. Seakan-akan gairah perjuangan yang selama ini menyala didadanya menjadi semakin pudar. Nafsu yang membakar hasratnya untuk menjadikan Singasari sebuah negara yang besar, rasa-rasanya kini sedang mengalami masa surut yang dapat membahayakan Sri Rajasa sendiri, sehubungan dengan keinginannya mewariskan tahta kepada Tohjaya, bukan kepada Putera Mahkota.

Tetapi penasehat itu tidak bertanya lagi. Ia masih harus mengumpulkan kenyataan-kenyataan yang telah terjadi di Kediri. Jika masih ada tanda-tanda yang dapat membangkitkan gairah perjuangan Sri Rajasa, maka agaknya kesempatan masih belum lewat seluruhnya.

Namun Penasehat Sri Rajasa itu masih berusaha, agar Tohjaya tidak melihat kekecewaan yang hampir-hampir telah mematahkan semua usaha ayahandanya. Penasehat Sri Rajasa itu masih berusaha, agar bayangan-angan yang suram mulai menghantui ayahandanya, tidak berpengaruh atas Tohjaya.

Tetapi dalam pada itu, Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu sendiri, seakan-akan selalu saja dibayangi oleh masa lampaunya. Jalan yang dilalui sampai ke Singgasana sekarang ini bukannya jalan yang bersih dan rata. Tetapi jalan yang berlumuran dengan darah dan noda-noda kejahatan. Meski-pun Singasari sekarang diakui sebagai suatu hasil perjuangan yang gemilang, namun noda-noda darah itu rasa-rasanya masih tetap melekat ditangan Sri Rajasa.

Dalam pada itu, Penasehat Sri Rajasa itu benar-benar telah mengirimkan seorang kepercayaannya dalam tugas sandi. Ia harus melihat apa yang terjadi di istana wakil Mahkota di Kediri.

Tetapi yang dilihat oleh petugas sandi itu benar-benar mendebarkan jantung. Ia tetap melihat Mahisa Agni pada tugasnya tanpa cidera seujung rambutpun. Ia sama sekali tidak mendengar berita dari orang-orang yang dekat dengan keluarga istana atau-pun tentang perampokan yang pernah terjadi. Sebagai seorang petugas sandi ia mempunyai kemahiran mengorek keterangan dari orang-orang yang dianggapnya berkepentingan. Namun para prajurit yang bertugas di istana itu-pun tidak pernah mendengar bahwa pernah terjadi keributan di istana itu.

“Aku harus dapat berhubungan dengan pelayan-pelayan di istana ini. Bukan sekedar dengan para prajurit yang setiap kali berganti tugas,“ katanya.

Tetapi untuk menghubungi pada abdi di istana itu memang agak sulit. Tidak banyak jalan yang dapat ditempuh. Jarang sekali para abdi pergi keluar regol istana.

Setelah melakukan pengamatan beberapa lamanya, petugas sandi itu melihat, bahwa seorang daripada para abdi itu agaknya mempunyai keleluasan yang lebih besar dari abdi yang lain. Setiap

kali ia melihat abdi yang seorang itu di regol. Abdi itu pulalah yang kadang-kadang menyongsong kedatangan Mahisa Agni apabila ia datang dari istana Kediri yang sampai saat terakhir masih dipergunakan oleh keluarga terdekat dari Maharaja Kediri yang terkalahkan.

“Orang itu agaknya mempunyai kedudukan yang agak baik didalam istana itu,“ berkata petugas itu didalam hatinya.

Akhirnya petugas itu berhasil menemui abdi yang dianggapnya mempunyai kedudukan baik itu. Ternyata orang itu adalah juru taman, tetapi juga seorang pekatik dan juru pemelihara kuda khususnya kuda kesayangan Mahisa Agni.

Dan orang itu adalah Kuda Sempana meski-pun ketika petugas sandi itu berhasil memperkenalkan dirinya. Kuda Sempana menyebut dirinya bernama Ki Jalu.

“Apakah kau sudah lama mengabdikan diri kepada tuanku wakil Mahkota,“ bertanya petugas sandi itu.

“Sudah. Aku berada di istana ini sejak tuanku Mahisa Agni memasuki istana ini. Pamanku adalah abdi istana ini sejak muda. Pamanku itulah yang membawa aku masuk keistana itu.”

“Ki Sanak,“ berkata petugas sandi itu, “apakah kau dapat menolong aku mengusahakan pekerjaan di istana itu?”

Kuda Sempana memandanginya dengan saksama. Lalu, “Aku kira tidak ada yang menarik bekerja di istana itu. Mahisa Agni adalah orang yang paling kikir dari setiap pemimpin yang pernah aku jumpai.”

“Benar begitu?”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Namun sejak semula Kuda Sempana sudah menaruh curiga, bahwa orang itu pasti mempunyai kepentingan yang khusus dengan abdi yang mungkin dapat dikenalnya.

“Terlalu kikir. Kadang-kadang timbul suatu keinginan yang jahat dihati ini.”

“Kenapa?”

“Kadang-kadang aku ingin mencuri atau kalau aku memiliki kemampuan, ingin juga rasa-rasanya merampok isi istana ini.“

Petugas sandi itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah memang pernah terjadi perampokan.“

“Hanya orang gila yang membunuh diri yang berani melakukannya. Setiap orang tahu, bahwa tuanku Mahisa Agni tidak ada duanya di Kediri.”

“Bagaimana jika empat atau lima orang bersama-sama.”

“Bodoh sekali. Ada sepuluh orang prajurit yang setiap malam berjaga-jaga di halaman ini. Jika dihitung dengan semua laki-laki yang tinggal dibagian belakang, ada lebih dari dua-puluh orang.”

“Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit biasa. Bagaimana jika yang datang itu lima orang pilihan seperti tuanku Wakil Mahkota.”

Kuda Sempana tertawa. Katanya, “Itu suatu mimpi buruk. Sudahlah, jangan mencoba menjadi hamba di istana itu. Aku yang sudah terlanjur bekerja pada Wakil Mahkota, rasa-rasanya ingin mendapatkan pekerjaan lain yang lebih bebas.”

Petugas sandi itu mengerutkan keningnya. Ia harus mendapat keterangan, apakah pernah terjadi sesuatu di istana itu. Apakah orang-orang yang ditugaskan oleh Sri Rajasa untuk membunuh Mahisa Agni sudah melakukan usahanya.

Tetapi ternyata menurut juru taman, di istana ini tidak pernah terjadi sesuatu. Tidak pernah terjadi perampokan, apalagi usaha pembunuhan. Jika hal itu terjadi, maka juru taman ini pasti akan menceriterakan kepadanya.

“Jadi,“ berkata petugas sandi itu, “tidak ada seorang perampok-pun yang pernah mencoba melakukan perampokan di istana ini?”

Kuda Sempana menggeleng. Tetapi kecurigaannya kepada orang ini-pun menjadi kian bertambah.

“Atau barangkali kau sedang tidak ada di istana?“

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku tidak pernah pergi untuk waktu yang lama. Memang aku kadang-kadang menengok keluargaku jauh dari kota. Tetapi tidak lebih dari semalam, aku sudah kembali lagi.”

“Jika yang semalam itu.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Katanya, “Tentu ada juga orang lain yang mengatakannya. Mereka pasti akan berceritera tentang perampokan itu. Tetapi aku tidak pernah mendengarnya. Dan aku juga tidak pernah melihat perampok-perampok yang tertawan atau terbunuh. Jika mereka tertangkap, mereka pasti ada ditangan para prajurit, sedang jika mereka terbunuh, mereka pasti akan dikuburkan.“

Petugas sandi itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata para perampok yang mendapat tugas untuk membunuh Mahisa Agni itu tidak pernah melakukan tugasnya sebagaimana yang pernah disanggupinya.

Tetapi petugas sandi itu tidak langsung mempercayai keterangan Kuda Sempana. Ia masih mengharap keterangan dari orang-orang lain, karena mungkin juru taman itu tidak mengetahui persoalan itu atau mungkin ia sengaja menyembunyikannya.

Namun hampir setiap orang yang dihubunginya, mengatakan bahwa mereka tidak pernah mendengar tentang sebuah perampokan yang terjadi di istana, sehingga akhirnya petugas itu yakin bahwa memang perampok itu tidak pernah terjadi.

Dengan hati yang berdebar-debar petugas itu-pun kembali ke Singasari. Jika penasehat Sri Rajasa itu tidak mempercayainya, maka ia akan dapat dituduh melakukan tugasnya sebaiknya. Namun menurut penilaiannya, sesuai dengan keterangan-angan yang didengarnya, maka laporan yang dibawanya itu adalah suatu

kebenaran. Penasehat Sri Rjasa dapat mengirimkan petugas yang lain yang pasti akan mendapat keterangan yang sama pula.

Sebenarnya, bahwa keterangan itu tidak langsung dapat dipercaya. Meski-pun penasehat Sri Rajasa itu tidak mempersoalkannya, namun diam-diam ia mengirimkan orang lain untuk tidak mempersoalkan tugas yang sama. Tetapi keterangan yang diterimanya tidak berbeda. Di istana wakil Mahkota di Kediri, tidak pernah terjadi sesuatu. Apalagi pembunuhan. Mahisa Agni masih tetap berada di istana itu dan melakukan tugasnya seperti biasa.

“Gila,“ Sri Rajasa menggeram, “apakah sebenarnya yang mereka lakukan? Apakah keuntungan mereka dengan melakukan penipuan serupa itu. Ia tidak akan dapat memeras aku dengan rahasia yang didengarnya atas usaha pembunuhan terhadap Mahisa Agni. Tidak akan ada seorang-pun yang mempercayainya dan ia akan segera aku binasakan atas dukungan para panglima.”

“Tentu bukan itu maksudnya tuanku.“

“Jadi apa?”

“Itulah yang hamba tidak tahu.”

Sri Rajasa menjadi termangu-mangu sejenak. Namun tampak pada sorot matanya, bahwa seakan-akan ia telah dicengkam oleh kelelahan yang amat sangat. Wajahnya seakan-akan sudah tidak memancarkan kebesaran pribadinya sebagai seorang Maharaja yang telah berhasil mempersatukan seluruh Singasari.

“Tuanku,“ berkata Penasehat Sri Rajasa, “perkenankanlah hamba pergi kepadepokan mereka. Perkenankanlah hamba melihat, apakah mereka ada disarangnya. Dengan demikian, tuanku akan mendapat gambaran yang sebenarnya dari orang-orang itu.“

Sri Rajasa mengangguk-angguk kosong. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Pergilah.”

Dihari berikutnya Penasehat Sri Rajasa itu-pun benar-benar pergi menyelusuri jejak para perampok yang mendapat tugas untuk membinasakan Mahisa Agni.

Namun yang dijumpainya dipadepokan itu benar-benar telah menggoncangkan perasaannya. Dari para murid yang masih tinggal, penasehat Sri Rajasa itu mendengar, bahwa guru mereka bersama saudara-saudara seperguruan mereka, telah pergi beberapa lama, dan sampai sekarang masih belum kembali.

Ternyata kedatangannya adalah sia-sia. Ia sama sekali tidak mendapat gambaran dari apa yang sudah terjadi. Ia sama sekali tidak dapat menduga, kemanakah mereka pergi dari apakah yang sudah terjadi atas mereka.

Karena itu, sambil menundukkan kepada dalam-dalam, penasehat Sri Rajasa kembali ke Singasari dan menyampaikan hasil perjalanannya.

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Sambil menatap ke kejauhan ia berkata, “Mendung yang tebal sedang memayungi Singasari.“

“Tetapi matahari akan segera bersinar kembali tuanku. Hamba akan tetap berusaha, apa-pun yang akan mungkin terjadi atas hamba. Tetapi putera tuanku dan tuan puteri Ken Umang itu memang sepantasnya menggantikan kedudukan tuanku.”

Sri Rajasa tidak menyahut. Tetapi ia masih tetap memandang ke kejauhan.

“Tuanku, bagaimanakah jika hamba mengatakan rahasia yang sebenarnya kepada tuanku Anusapati, agar ia menyadari dirinya sendiri?”

“Maksudmu?“

“Putera Mahkota itu harus menyadari, bahwa sebenarnya ia tidak berhak menggantikan kedudukan tuanku menjadi Maharaja di Singasari, karena tuanku Anusapati sama sekali bukan putera tuanku.”

“Gila.“ Sri Rajasa menggeram, “kau sudah gila. Itu tidak akan bermanfaat. Ia akan bertanya siapakah ayahnya, dan ia akan bertanya, siapakah yang membunuh ayahnya.”

“Tidak seorang-pun yang tahu, dan tidak seorangpun, yang akan dapat memberitahukan kepadanya. Apalagi ayahnya hanyalah seorang Akuwu Tumapel, sama sekali tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan Singasari sekarang.“

“Tetapi Tumapel adalah sumber kekuasaan Singasari sekarang. Dan ia akan tetap merasa berhak atas tahta Tumapel yang mendapatkan bentuknya yang sekarang.”

“Tuanku Anusapati tidak akan berani berbuat demikian tuanku. Ia tidak melihat apa yang sudah terjadi. Meski-pun seandainya ibunda tuanku Anusapati berceritera tentang masa lampau, namun ia dapat tidak akan terlalu banyak menyinggung tentang Akuwu Tumapel.”

Tetapi Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kau melupakan seseorang yang mengetahui terlampau banyak apa yang telah terjadi.”

Penasehatnya mengerutkan keningnya.

“Mahisa Agni. Ia memang sumber dari awan gelap yang membayangi tahta Singasari sekarang, sehingga rasa-rasanya aku telah duduk diatas bara yang menyala.”

Penasehat Sri Rajasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Mahisa Agni adalah seorang manusia yang seakan-akan memiliki keajaiban. Sri Rajasa adalah seorang yang ajaib, tetapi ia tidak mampu melenyapkan Mahisa Agni dengan berbagai macam cara.

Bahkan orang-orang yang paling dipercaya yang dikirim ke Kediri itu bagaikan telah hilang tanpa bekas. Tidak seorang-pun di Kediri yang pernah menceriterakan tentang kehadiran mereka, tetapi ternyata mereka telah hilang begitu saja.

“Sesuatu peristiwa yang hampir tidak dapat aku mengerti,“ berkata Sri Rajasa kemudian. “kemanakah sebenarnya orang-orang itu pergi. Apakah mereka mengurungkan niatnya, atau mereka telah disergap oleh petugas-tugas sandi Mahisa Agni sebelum mereka sampai keistana.”

“Dimana Mahisa Agni dapat mengetahuinya tuanku. Hanya kita sajalah yang mengetahui bahwa orang-orang itu akan membunuh Mahisa Agni di istananya dan merampoknya sekali.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam. Bayangan-angan yang semakin suram tampak di angan-angannya. Bahkan kadang-kadang ia merasa bahwa Dewa-dewa yang selama ini melindunginya, sejak ia masih berkeliaran di padang Karautan, telah meninggalkannya sama sekali.

Setiap kali terbayang usahanya menyeberangi sebuah sungai dengan daun tal karena petunjuk sebuah suara dari langit. Terbayang kembali ceritera tentang kelelawar yang seakan-akan keluar dari kepalanya dimalam hari ketika ia menginginkan buah jambu yang bergantungan dibatangnya.

Banyak ceritera-ceritera ajaib tentang dirinya yang sama sekali tidak diketahuinya sendiri bagaimana hal itu dapat terjadi. Yang kemudian dianggapnya bahwa semua itu adalah tuntunan dewa-dewa yang mengasihinya seperti yang dikatakan oleh mPu Purwa. Pertama kali ia bersentuhan dan mengenal Yang Maha Agung adalah karena ia bertemu dengan seorang pendeta dan muridnya yang bernama Mahisa Agni itu.

Tiba-tiba saja Sri Rajasa menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya, seakan-akan cahaya yang silau telah memancar dan menyorot wajahnya. Cahaya sebuah trisula kecil yang dimiliki oleh mPu Purwa.

Semuanya seakan-akan telah terjadi sekali lagi didalam angan-angannya. Dan semuanya itu rasa-rasanya telah membuatnya semakin berkecil hati.

“Memang Mahisa Agni bukan manusia kebanyakan.“ tiba-tiba ia berdesis.

“Apakah maksud tuanku?“

Sri Rajasa mengangkat wajahnya.

“Tuanku tidak boleh berputus-asa. Ingatlah, bahwa tuanku Tohjaya sudah mulai. Jika kerja ini terhenti ditengah jalan, alangkah pedihnya hati putera tuanku itu. Ia pasti tidak akan memiliki hari depan yang terang.“

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Ternyata kata-kata penasehatnya itu dapat menyentuh hatinya. Meski-pun ia berputus asa dan kehilangan gairah perjuangannya, namun ia tidak dapat membiarkan Tohjaya korban keputus-asaannya itu, sehingga apabila ia masih tetap berbuat sesuatu, maka segalanya itu hanyalah untuk Tohjaya.

Namun dalam pada itu, Mahisa Agni-pun menyadari pula, bahwa banyak hal dapat terjadi. Bukan saja atas dirinya, tetapi juga atas Putera Mahkota.

Itulah sebabnya hampir setiap saat ia memikirkan apakah yang sebaiknya dilakukan untuk keselamatan Anusapati.

Waktu masih tetap beredar terus. Demikian juga Singasari yang tampak megah itu masih juga memerintah daerah-daerah yang telah dipersatukan oleh Sri Rajasa menjadi suatu daerah lingkup yang luas. Sedang Mahisa Agni masih juga tetap berada di Kediri. Namun waktu yang berkisar terus itu-pun ternyata telah melibatkan bumi seisinya. Yang tua menjadi semakin tua, dan yang telah tidak dapat bertahan lagi, kemudian dipanggil kembali keasalnya.

Tidak seorang-pun lagi yang tahu, kemanakah perginya orang-orang seperti mPu Purwa, mPu Sada, Panji Bojong Santi dan yang lain lagi yang sebaya dengan mereka. Setiap orang menganggap bahwa mereka telah menemukan jalannya kembali. Juga ibu Mahisa Agni yang ada di istana Singasari, sebagai seorang emban, telah berlalu diiringi oleh tangis Ken Dedes yang merasa menjadi

momongannya sampai saat terakhir. Namun yang sampai saat terakhir masih juga tidak mengenal siapakah sebenarnya perempuan itu, dan apa hubungannya dengan Mahisa Agni.

Tetapi ternyata bahwa beban itu tidak dapat disimpannya sampai akhir hayatnya. Di saat maut menyentuhnya, ada orang yang menjadi ajang untuk menumpahkan perasaannya yang selama ini menjadi rahasia baginya.

“Tidak seorang-pun yang boleh mengetahuinya," berkata emban tua itu. “Apalagi tuanku Permaisuri sendiri.”

Dan perempuan yang mendapat kepercayaan itu adalah emban Anusapati, yang semula adalah perempuan yang dipasang oleh Ken Umang justru untuk menyesatkan Putera Mahkota, namun yang akhirnya justru mengenal dirinya sebagai manusia yang beradab dan tanpa menghiraukan yang dapat terjadi telah benar-benar mengasuh Anusapati sebagai anaknya sendiri. Dengan demikian, maka hubungan ibu dan anak telah mendekatkan hubungan kedua emban pemomong itu.

Dikala saat-saat terakhir sudah mulai menyentuhnya, semua rahasia tentang dirinya dikatakannya kepada emban itu, sekedar untuk mengosongkan dirinya, agar maut tidak dibebani oleh rahasia yang belum terungkapkan.

Karena itulah maka emban itu tidak menjadi heran, melihat Mahisa Agni, seorang Senapati Agung yang pernah mengalami peperangan yang paling dahsyat menitikkan air matanya di saat-saat terakhir dari hidup emban itu.

Demikianlah yang berlalu telah berlalu. Dan emban itu-pun semakin lama menjadi semakin tua. Namun seperti emban pemomong Ken Dedes yang kemudian menjadi permaisuri, rahasia itu tetap merupakan rahasia baginya.

Namun setiap kali timbul pula pertanyaan dihati emban Putera Mahkota yang menjadi semakin tua pula, apakah di saat-saat akhir hayatnya ia juga akan tetap membawa rahasia itu?

“Ibunda tuanku Mahisa Agni yang menjadi wakil Mahkota di Kediri itu tidak dapat menahan rahasia itu di dalam dirinya sendiri pada saat-saat terakhir. Jika tiba saatnya, aku nanti akan mengalaminya, apakah aku harus mencari tempat yang paling baik untuk meninggalkan pesan itu, seperti juga ibunda tuanku Mahisa Agni itu?“ pertanyaan serupa itu selalu membayangi hati emban pemomong Anusapati yang semakin hari menjadi semakin tua pula.

Dalam pada itu, untuk beberapa lamanya istana Singasari seolah-olah menjadi tenang. Sri Rajasa yang selalu kecewa itu seakan-akan telah kehilangan gairah perjuangannya untuk menempatkan Tohjaya diatas tahta Singasari. Hanya karena dorongan penasehatnya sajalah ia masih tetap memikirkan cara yang sebaik-baiknya untuk melakukannya. Tetapi setiap kali, jalan yang disusunnya selalu sampai pada kesulitan yang tidak teratasi. Apalagi semakin lama kedudukan Anusapati rasa-rasanya semakin mapan.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Tohjaya-pun tidak tinggal diam. Atas sepengetahuan ayahandanya, ia mendekati para panglima prajurit Singasari dan segala kesatuan. Dengan berbabagai cara, ia berusaha untuk dengan perlahan-lahan menguasainya seorang demi seorang. Dengan berbagai macam pemberian dan janji yang mengawang mengharap dukungan dari para Panglima apabila terjadi sesuatu kelak.

“Kekuatan Singasari terletak ditangan kalian,“ berkata Tohjaya setiap kali.

Bukan saja Tohjaya, tetapi juga Sri Rajasa mengharap mereka pada suatu saat menentukan sikap apabila mereka berdiri dipersimpangan jalan.

“Apakah yang sebenarnya akan terjadi tuanku?“ bertanya salah seorang Panglima.

“Tidak ada apa-apa,“ sahut Sri Rajasa, “Singasari akan tetap menjadi Singasari yang besar. Keturunan Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi harus tetap diatas tahta.”

Para Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka masih belum tahu apakah sebenarnya yang telah melibat Singasari sehingga Sri Rajasa tampaknya membayangkan kecemasan menghadapi masa depannya.

Dalam pada itu, Anusapati mencoba untuk menempatkan diri pada tempat yang sewajarnya. Kadang-kadang tanpa ijin ayahanda Sri Rajasa ia telah melakukan tindakan-akan yang memang sewajarnya dilakukan oleh seorang Putera Mahkota.

Selain tugasnya didalam pemerintahan, maka didalam lingkungan keluarganya-pun Anusapati nampaknya tidak terlalu kecewa. Anaknya, seorang laki-laki semakin lama nampak menjadi semakin besar. Wajahnya yang tampan serta badannya yang kokoh membayangkan harapan dimasa mendatang baginya.

Emban pemomong Anusapati itulah yang selalu merawatnya dengan penuh kasih sayang seperti merawat cucunya sendiri. Hampir setiap saat anak itu tidak terpisah daripadanya, kecuali apabila anak itu sedang tidur didalam pelukan ibundanya.

Hampir sebaya dengan putera Anusapati itu, putera Mahisa Wonga Teleng-pun tumbuh dengan suburnya pula. Sehingga setiap kali kedua anak-anak yang segar itu menghadap Permaisuri, maka keduanya adalah penawar duka dan keprihatinan yang hampir dialami sepanjang umurnya. Kedua cucu laki-laki itu bagaikan permainan yang tidak akan pernah menjemukannya.

Namun dalam pada itu, kecemasan Mahisa Agni atas keselamatan Anusapati semakin lama justru menjadi semakin dalam menghunjam dihatinya. Ada semacam firasat didalam dirinya, bahwa usaha Tohjaya untuk menyingkirkan Anusapati pasti akan selalu dilakukannya. Kapan dan bagaimana-pun cara yang akan ditempuhnya.

Karena itu, ketika kecemasannya memuncak, maka diambilnya suatu kesempatan untuk menemui Putera Mahkota itu tanpa diketahui oleh siapa-pun juga.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “kau harus mengetahui bahwa bahaya yang ada disekelilingmu bukannya sekedar bahaya yang mengancam kedudukanmu. Tetapi juga keselamatan jiwamu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Memang hampir tidak masuk akal, bahwa kau-pun harus mempersiapkan diri menghadapi siapa-pun juga didalam istana ini. Bahkan ayahandamu Sri Rajasa.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Dengan suara yang dalam ia bertanya, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi paman?”

“Memang hampir tidak masuk akal. Tetapi kau harus menyadari bahwa pengaruh Ken Umang sangat mencengkam hampir segenap segi kehidupan Sri Rajasa,“ jawab Mahisa Agni. Namun untuk sesaat suaranya terputus. Hampir saja ia mengatakan bahwa sebenarnyalah bahwa Anusapati bukan putera Sri Rajasa. Namun kata-kata yang seakan-akan sudah berada ditenggorokannya itu ditelannya kembali.

“Sudah barang tentu bahwa kau tidak boleh berprasangka terlalu buruk terhadap ayah sendiri, tetapi kau harus bertolak dari sikap Ken Umang. Ialah yang sebenarnya sangat bernafsu untuk menyingkirkan kau dan menempatkan Tohjaya pada tempatmu yang sekarang. Masalah sama sekali bukan mempertahankan kedudukan, tetapi bagiku, kau harus membela kehormatan ibumu sebagai seorang Permaisuri. Kedudukan Putera Mahkota harus berada ditangan putera laki-laki seorang Permaisuri. Bukan pada putera laki-laki yang lain. Dan kau adalah orang yang paling berwenang untuk menjadi Putera Mahkota, juga atas kehormatan ibundamu, Pemaisuri. Jika kau tersisih, maka alangkah malunya ibundamu sebagai seorang Permaisuri.”

Anusapati mendengarkan keterangan Mahisa Agni itu kata demi kata. Namun demikian ia tidak dapat mengerti, bahwa begitu besar pengaruh Ken Umang, seorang isteri muda sehingga seorang ayah akan sampai hati menyingkirkan, meski-pun tidak dalam arti yang

sangat jauh, namun hal itu pasti akan menghancurkan hari depan anaknya sendiri yang lahir dari isterinya yang lain.

Namun Anusapati menyimpan pertanyaan itu didalam hatinya.

Meski-pun demikian Anusapati tidak dapat mengabaikan peringatan Mahisa Agni. Jika hal itu benar-benar terjadi, maka ia pasti harus berbuat sesuatu. Sedang didalam istana itu hanya ada seorang saja yang dapat dipercaya untuk membantunya jika ia berada dalam kesulitan. Mahisa Wonga Teleng, meski-pun dengan kesungguhan hati berlatih hampir siang dan malam, namun ia tidak dapat segera melonjak ketempat yang lebih tinggi dari yang dapat dicapainya setingkat demi setingkat.

Tetapi menurut tanggapan Anusapati, tentu ada tangan lain yang akan dipinjam seandainya ada niat yang buruk terhadapnya dari siapa-pun juga. Mungkin dari Tohjaya sendiri atau mungkin dari Ken Umang dengan atau tidak dengan ijin ayahanda Sri Rajasa.

“Tentu tidak akan ada tindakan yang dapat langsung dikenakan atas diriku sebagai seorang Putera Mahkota,“ berkata Anusapati didalam hatinya, “apalagi sebagai orang yang dikenal dengan gelar Kesatria Putih. Meski-pun kini Kesatria Putih sudah tidak begitu banyak bertindak di daerah-daerah yang jauh dari istana, namun orang-orang Singasari masih tetap menghargainya. Jika ada tindakan terhadapku, pasti dengan cara-cara yang seperti pernah dilakukan. Langsung ditujukan kepada Kesatria Putih seperti yang pernah terjadi atas paman Kuda Sempana.”

Namun ternyata Mahisa Agni berpendapat lain. Meski-pun tidak secara langsung, namun ia berkata kepada Anusapati, “Anusapati, tanpa mengurangi hormat dan bakti seorang anak kepada orang tuanya, maka setiap orang berhak membela diri dan hidupnya.“

“Paman,“ wajah Anusapati menjadi tegang.

“Aku berbicara dengan jujur Anusapati. Aku sama sekali tidak bermaksud memisahkan kau dari ayahandamu, atau kau dengan saudara-saudaramu. Tetapi aku hanya menuruti kata hati yang

barangkali dapat keliru, dan aku memang mengharap agar aku salah raba.”

Anusapati menjadi semakin tegang.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “aku ingin memberikan suatu ceritera kepadamu. Ceritera tentang seorang yang memiliki kelebihan dari orang lain. Bahkan hampir suatu keajaiban. Orang yang memiliki ilmu tanpa berguru, dan bahkan ilmunya telah menyamai orang yang paling mumpuni sekalipun. Orang itu ternyata adalah kekasih dewa-dewa. Ada banyak ceritera tentang orang itu, namun ciri yang dapat ditangkap oleh indera yang mendekati sempurna adalah pertanda diatas ubun-ubunnya apabila orang itu sedang memusatkan kehendak dan perasaannya untuk sesuatu sasaran. Apabila ia sedang marah, berpikir tentang sesuatu hal dengan segenap perhatiannya, atau mengerahkan tenaga jasmaniah sampai kedasar kekuatannya. Dan segala macam pemusatan pikiran dan kehendak didalam segala macam bentuknya.”

Anusapati mendengarkan ceritera itu dengan penuh minat, meski-pun ia masih belum tahu kemanakah arah pembicaraan itu.

“Apakah ujud dari tanda itu paman?” Anusapati bertanya.

“Cahaya yang kemerah-merahan diatas ubun-ubun itu.”

“Cahaya kemerah-merahan. Maksud paman, ubun-ubunnya bercahaya?“

“Bukan Anusapati. Tetapi diatas ubun-ubun itu seakan-akan ada lingkaran cahaya yang kemerah-merahan. Tetapi cahaya itu tidak jelas dan tidak dapat disentuh dengan indera biasa. Mata wadag kita tidak akan dapat melihatnya begitu saja tanpa dilambari oleh ketajaman mata hati.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dan tanda itu adalah tanda yang diberikan oleh dewa yang melindungi orang itu. Dan tanda yang kemerah-merahan itu adalah tanda dari kelebihan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.“

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah orang yang demikian itu masih ada paman?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi dalam kesatuan kehendak dewa-dewa menurunkan kelebihan lain pada orang lain, agar tidak ada kelebihan yang mutlak di dunia ini. Atas kesatuan dari yang berujud dan yang tidak, satu itulah seakan-akan telah diatur, bahwa yang satu selalu diimbangi oleh yang lain. Karena itu, maka didunia ini-pun ada sebuah benda yang memiliki kelebihan dan katakanlah keajaiban”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam.

“Benda itu berbentuk sebuah trisula. Tetapi terlalu kecil untuk dijadikan senjata wadag didalam perkelahian.“

“Jadi?”

“Anusapati. Kelebihan yang satu dapat diimbangi dan bahkan seakan-akan dapat dihapuskan dari kelebihan yang lain. Trisula itu mempunyai cahaya yang dapat menyilaukan. Orang yang menjadi kekasih-kekasih dewa-dewa dengan cahaya yang kemerahan di ubun-ubun itu, tidak dapat menghindarkan diri dari silaunya trisula yang juga diberikan oleh dewa-dewa. Dan imbangan yang demikian hendaknya memang selalu ada di muka bumi.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mulai sadar, bahwa ceritera itu pasti ada hubungannya dengan dirinya sendiri.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian. “adalah berbahagia sekali bagi mereka yang mendapat kepercayaan dari Yang Maha Agung.”

“Ya. Berbahagialah yang mendapat kepercayaan dari Yang Maha Agung dalam Ke-Esaan itu.”

“Tetapi itu menjadi suatu tanggung jawab yang maha berat pula, yang tidak dapat dipikul oleh setiap orang.”

“Ya paman,“ gumam Anusapati seolah-olah kepada diri sendiri.

Mahisa Agni-pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan perlahan-lahan ia mencoba mempersiapkan hati Anusapati untuk menerima kenyataan keadilan dari Yang Maha Agung.

Karena itu, maka katanya kemudian, “Anusapati, di masa Singasari mengalami pergolakan yang dahsyat di dalam, meski-pun dari luar tidak nampak sama sekali, orang-orang yang menjadi kekasih dewa-dewa itu masih berperan. Kau masih akan dapat mengenal seseorang yang memiliki tanda ajaib diatas ubun-ubunnya, dan kau masih juga dapat mengenal trisula kecil yang menyilaukan itu. Tetapi selagi ia masih bernama manusia dengan segala macam sifat-sifatnya, maka ia tidak akan dapat mengemban kepercyaan yang melimpah kepadanya dengan sempurna. Ia masih dapat menyalahgunakan kelebihan yang ada padanya itu. Dan ia masih dapat dipengaruhi oleh nafsu-nafsu manusia yang lain.”

Anusapati masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia ingin sekali mendengar, ujung dari ceritera pamannya itu. Tetapi Anusapati tidak berani memotong. Ia mendengarkan dengan penuh minat dan dengan dada yang berdebaran, seperti ia harus menunggu saat-saat yang menegangkan di saat-saat kelahiran anaknya.

Mahisa Agni memandang wajah Anusapati yang menegang. Sejenak kemudian ia-pun berkata pula, “Anusapati, apakah kau ingin mengetahui orang-orang itu?”

“Ya paman. Hampir aku tidak dapat menahan hati untuk tidak bertanya. Tetapi aku berusaha menunggu agar aku tidak bersikap keliru.“

-ooo0dw0ooo-

(bersambung jilid 73)

Jilid 73

“BAIKLAH,“ BERKATA MAHISA AGNI, “orang yang memiliki tanda ajaib diatas ubun-ubunnya itu adalah ayahandamu. Sri Rajasa yang

pada masa mudanya bernama Ken Arok, dan yang setelah menempatkan dirinya sebagai raja Singasari. Ia bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

“O,“ Anusapati mengerutkan keningnya.

“Tidak ada seorang-pun yang mengetahui darimana Sri Rajasa menemukan kelebihan yang bersumber dari kekuasaan Yang Maha Agung itu. Namun dapat dipercaya bahwa ia menerima suatu anugerah yang jarang diterima oleh orang lain sejak kanak-anaknya. Karena itulah maka Ken Arok memiliki kemampuan melampaui kemampuan manusia biasa tanpa berguru kepada siapa-pun juga, karena kemampuan itu langsung berasal dari sumbernya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi seperti yang aku katakan, bahwa ayahandamu adalah manusia biasa. Manusia dengan segala macam nafsu kemanusiaannya. Yang dapat kau lihat dengan jelas, bagaimana ia jatuh dibawah pengaruh Ken Umang, karena Ken Umang adalah seorang perempuan yang cantik menurut ukuran manusia. Dan ayahandamu Sri Rajasa tidak mampu memisahkan kelebihannya sebagai manusia biasa dan kehadirannya dengan sifat-sifat manusiawi yang wajar.”

Anusapati menjadi tegang sejenak.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “kau sekarang sudah dewasa sepenuhnya. Kau sudah menjadi seorang ayah, sehingga kau harus juga berpikir dewasa. Karena itu, kau harus menanggapi setiap persoalan dengan dewasa pula.”

Anusapati menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak menyahut.

“Berbanggalah bahwa kau adalah seorang patera dari Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa.”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Siapakah yang harus berbangga paman. Aku atau adinda Tohjaya?”

“Kau dan adindamu Tohjaya. Juga Mahisa Wbnga Teleng dan adik-adikmu yang lain yang lahir dari ibunda Ken Dedes dan yang lahir dari ibunda Ken Umang.”

“Ya paman. Kami memang harus berbangga. Tetapi apakah arti dari kebanggaan kami bahwa kami hidup dalam keadaan yang tidak sejalan. Aku sendiri selalu berada di dalam keadaan yang pahit dan hampir setiap tarikan nafas, aku harus berhati-hati, waspada dan menjaga diri karena setiap tarikan nafas, aku selalu dibayangi oleh bahaya seperti yang paman katakan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Itu adalah segi-segi kehidupan yang penuh dengan rahasia, yang hampir tidak dapat dimengerti oleh seseorang. Tetapi bukankah kau sampai saat ini berhasil menghadapinya dengan tabah.”

Anusapati mengangguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi aku hampir tidak dapat mempercayainya bahwa aku akan dapat bertahan terus dalam keadaan seperti ini. Seperti pesan paman, aku bukan sekedar mempertahankan kedudukan. Tetapi juga nama ibunda Permaisuri. Tetapi aku tidak yakin bahwa aku akan mampu melakukannya. Aku berada di istana Singasari, sedang istana ini bagaikan perapian yang setiap saat dapat membakar aku. Aku tidak mengerti paman. Hampir-hampir aku tidak percaya bahwa aku adalah putera ayahanda Sri Rajasa seperti adinda Tohjaya.”

“Anusapati,“ desis Mahisa Agni.

“Tetapi tidak seorang-pun yang dapat mendengar pertanyaan yang selalu bergejolak didalam hati ini. Semakin aku mendalami kehidupan ini dalam segala segi dan bentuknya, semakin aku menjadi ragu-ragu.”

“Jangan berpikir demikian Anusapati.”

“Pamanda Mahisa Agni,“ berkata Anusapati kemudian, “jika aku tidak takut menyinggung perasaan ibunda Permaisuri, aku ingin bertanya, apatah ada sesuatu yang mendahului peristiwa kelahiranku sehingga ayahanda Sri Rajasa menganggap aku sebagai

seorang asing saja disini, bahkan kadang-kadang tampak sekali sikapnya yang memusuhi aku.“

“Jangan Anusapati. Jangan kau tanyakan hal itu kepada ibunda Permaisuri. Hal itu tentu akan menyinggung perasaannya, seolah-olah kau tidak percaya kepada ibunda bahwa ibunda telah tersentuh oleh persoalan yang membuat ayahandamu bersikap lain kepadamu.”

Anusapati menundukkan kepalanya. Tetapi sebenarnyalah bahwa hatinya sedang diusik oleh pertanyaan tentang masa kelahirannya atau bahkan sebelumnya. Sebagai seorang yang telah dewasa sepenuhnya. Anusapati mengetahui, bahwa hubungan seorang suami dengan isterinya dipengaruhi oleh banyak sekali persoalan-persoalan yang kadang-kadang diluar sadar, tumbuh semakin mekar. Demikian juga agaknya persoalan dirinya sendiri yang telah membuat jurang yang semakin dalam didalam hubungan ayah dan ibunya.

Namun Anusapati-pun mengerti, pertanyaan itu pasti akan sangat menyinggung perasaan ibunya, sebagai seorang Permaisuri dan sebagai seorang isteri.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “persoalan yang kau hadapi harus kau tumpukan kepada dirimu sendiri. Kau harus bertahan. Kau harus tetap pada kedudukanmu. Jika sesuatu keadaan masih juga ingin memaksamu, maka kau wajib membela diri. Disini ada seorang pengalaman yang dapat membantumu.”

“Paman Sumekar?”

“Ya. Orang dari Batil itu akan merupakan seorang pembantu yang baik. Ia akan selalu mendampingi kau dalam segala keadaan. Ketahuilah, bahwa kematangan ilmunya dapat kau yakini meski-pun ia masih belum berhasil menyamai kakak seperguruannya Kuda Sempana. Namun didalam saat-saat yang gawat, ia akan dapat berbuat banyak untukmu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Juru taman itu adalah orang yang sangat baik baginya.

“Namun demikian Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “jika pada suatu saat semuanya tidak dapat kau atasi dengan kemampuanmu, maka kau mempunyai sarana yang barangkali dapat melindungimu.”

Anusapati mengerutkan keningnya.

“Bukankah aku sudah berbicara tentang sebuah Trisula yang sampai saat ini turun temurun dari tangan ke tangan. Dari seorang guru kepada muridnya yang paling dipercaya?”

“Maksud paman?”

“Anusapati. Aku adalah murid satu-satunya dari guruku. Dan guruku adalah kakekmu, ayah dari ibunda Permaisuri. Kau tahu, bahwa ibundamu adalah adik angkatku?”

“Ya paman.”

“Ia sudah seperti adikku sendiri karena selain anak angkat aku juga sebagai murid satu-satunya. Itulah sebabnya aku menerima warisan yang turun temurun itu.”

“Trisula yang paman katakan?”

“Ya. Aku sudah menerima sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh kemampuan manusia. Tidak ada mPu yang bagaimana-pun saktinya dapat membuat senjata serupa itu. mPu Gandring yang terbunuh, pamanku itu-pun tidak akan dapat membuatnya.”

“Karena trisula itu berasal bukan dari kemampuan manusia wantah,“ desis Anusapati.

“Ya. Dan trisula itu ada padaku sekarang.“

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Dan ia masih mendengar pamannya berkata, “Ada dua keajaiban dipadepokan Panawijen saat itu.”

“Dua keajaiban?“

“Ya. Selain kelebihan pandangan mPu Purwa, kakekmu, di Panawijen ada dua keajaiban yang tidak terdapat di manapun. Yang pertama, saat itu, adalah seorang gadis yang cantik yang memiliki

cahaya yang aneh dari dalam dirinya. Cahaya yang memberikan pertanda bahwa gadis itu adalah gadis yang lain dari gadis-gadis sebayanya.”

“Maksud paman memiliki cahaya kemerah-merahan seperti yang pamanda katakan? Seperti yang terdapat pada ayahanda Sri Rajasa?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak Anusapati. Cahaya ini agak berlainan. Cahaya ini adalah cahaya yang bening yang memancar dari tubuh gadis itu. Bahkan kadang-kadang oleh mata hati yang waspada, cahaya itu tampak bagaikan api yang menyala.”

Anusapati menganggukkan kepalanya.

“Dan yang kedua adalah trisula yang sekarang ada padaku.“

“Tetapi siapakah gadis itu paman?”

“Gadis itu sekarang sudah mempunyai cucu. Ia adalah ibundamu, Ken Dedes.”

Terasa tengkuk Anusapati meremang.

“Disinilah pertanda itu seakan-akan bertemu. Pertanda yang ada diatas ubun-ubun Sri Rajasa, dan pertanda yang aneh pada ibundamu. Namun yang aku dengar, seorang perempuan yang memiliki tanda-tanda ajaib semacam itu adalah perempuan yang akan menurunkan raja-raja besar dikemudian hari.”

“O,“ Anusapati semakin terikat kepada ceritera pamannya.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “keturunan dari perempuan itu adalah kau. Kau adalah anak laki-lakinya yang tertua. Sedang Tohjaya tidak dilahirkan oleh seorang perempuan yang memiliki ciri-ciri keajaiban seperti ibumu. Karena itu, apabila Singasari ingin meneruskan ikatan persatuan diseluruh tanah ini, keturunan Ken Dedeslah yang harus memegang pemerintahan.“

Anusapati tidak menyahut.

“Itulah sebabnya aku ingin kau bertahan. Bukan karena nafsu kekuasaan yang menyala didalam hatimu, tetapi justru untuk kepentingan Singasari ini.”

Anusapati masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat membayangkan maksud pamannya yang sebenarnya. Dan ia-pun sadar, apa yang sebaiknya dilakukan.

Untuk beberapa saat lamanya keduanya berdiam diri. Meski-pun nampak keragu-raguan di wajah Anusapati, namun ia mempercayai ceritera pamannya. Ia ragu-ragu bahwa apakah ia mampu melakukan tanggung jawab yang akan dibebankan dipundaknya.

“Yang ada adalah pertanda itu lebih dahulu. Barulah tanggung jawab itu ada padaku,“ berkata Anusapati kepada diri sendiri, “ibundalah yang akan menurunkan raja-raja yang akan memerintah dinegeri ini. Bukan akulah yang tampil untuk mengangkat ibunda Permaisuri sebagai seorang perempuan yang akan menurunkan raja-raja ditanah ini.”

Namun demikian Anusapati sadar, bahwa segalanya tidak akan berlangsung dengan sendirinya. Meski-pun pertanda itu memancar seterang matahari, namun tanpa usaha apa-pun juga, semua itu tidak akan berlaku.

“Dan aku adalah seorang yang dibebani tanggung jawab bahwa pertanda itu akan berlaku,“ berkata Anusapati pula didalam hatinya.

Mahisa Agni yang duduk sambil menundukkan kepalanya itu tiba-tiba mengangguk-angguk. Apa-pun yang terjadi, maka tidak akan ada jalan lain baginya untuk menyerahkan keselamatan Anusapati terutama pada diri sendiri.

Karena itu, meski-pun ia dicengkam oleh keragu-raguan maka akhirnya ia-pun berkata kepada Anusapati, “Anusapati. Aku akan menyerahkan trisula itu kepadamu. Kau adalah satu-satunya muridku. Dan aku percaya kepadamu, bahwa kau mengerti arti dari penyerahan ini, kau harus melanjutkan pengabdian perguruan yang temurun kepadaku dari mPu Purwa itu. Pengabdian bagi sesama manusia. Kau harus mencoba berbuat sejauh-jauh dapat kau

lakukan untuk menyerahkan pengabdianmu tanpa pamrih. Tentu saja tidak ada pengabdian yang mutlak. Tetapi keseimbangan antara pamrih dan pengabdian itu jangan sampai berat sebelah. Kau harus mampu menimbang baik dan buruk berlandaskan pada kehadiran diri dengan kepercayaan sepenuhnya kepada Penciptanya.”

Dada Anusapati menjadi berdebar-debar. Dengan suara gemetar ia bertanya, “Apakah arti dari penyerahan itu sebenarnya paman. Paman sudah mengatakan, bahwa trisula itu merupakan ujung keseimbangan yang lain dari kelebihan ayahanda Sri Rajasa. Ayahanda Sri Rajasa yang tidak terkalahkan itu akan menjadi silau memandang trisula itu. Dan apakah artinya, jika trisula itu akan jatuh ketanganku?”

Pertanyaan itu tidak terduga-duga sebelumnya. Namun sangat wajar diucapkan oleh Anusapati yang mempunyai perasaan cukup peka. Ia sadar, bahwa dengan demikian, ia telah dihadapkan sebagai ujung keseimbangan antara cahaya yang kemerah-merahan di ubun-ubun ken Arok itu dengan cahaya trisula yang menyilaukannya.

Sejenak Mahisa Agni memandang wajah Anusapati yang suram. Kemudian dengan sangat hati-hati ia berkata, “Anusapati. Memang banyak arti dapat diambil dari keadaan itu. Namun sama sekali tidak mustahil bahwa apa yang terjadi itu-pun sekedar arus yang memang sudah dipersiapkan oleh keharusan yang akan berlaku. Aku tidak tahu apa yang .akan terjadi Anusapati. Tetapi gejala-gejala yang tampak adalah kemungkinan dari tanda-tanda yang diberikan kepada seorang gadis yang bernama Ken Dedes. Pertanda bahwa ia akan menurunkan seorang Maharaja yang paling besar dalam sejarah negeri ini semakin lama menjadi semakin kabur. Aku juga tidak tahu, apakah pertanda yang pernah ada itu kini telah pudar pula, dan tidak berlaku abadi. Namun pertanda kembar yang ada dipadepokan Panawijen yang satu lagi adalah trisula ini. Apakah kedua Pertanda keajaiban kembar itu harus berkumpul agar yang akan terjadi itu terjadi.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Paman Mahisa Agni. Apakah aku akan sanggup menerimanya justru aku adalah putera Sri Rajasa? Jika aku orang lain sama sekali, maka persoalannya-pun akan berbeda. Jika aku putera ibunda Ken Dedes yang memiliki tanda keagungan itu dan sekaligus memiliki sebuah trisula yang memiliki ujung keseimbangan bagi cahaya yang kemerah-merahan di atas ubun-ubun Ken Arok, tetapi aku bukan putera Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabumi itu, maka tidak akan ada persoalan bagiku. Aku tahu pasti, apa yang harus aku kerjakan, jika Sri Rajasa itu berusaha memotong keharusan yang berlaku sesuai dengan pertanda yang ada pada ibunda. Aku tahu pasti, bahwa aku harus melenyapkan orang itu, meski-pun jika dengan demikian akan lenyap pula ujung-ujung keseimbangan yang lain itu. Tetapi keturunan Ken Dedes yang lain akan bangkit dan berlakulah yang seharusnya berlaku. Ken Dedes menurunkan seorang Maharaja yang besar. Tetapi yang ada sekarang adalah, Ken Dedes itu adalah Permaisuri Sri Rajasa, sedang aku adalah putera yang lahir dari perkawinan itu, yang seharusnya padaku ada kesempatan rangkap untuk kedudukan yang tidak ada bandingnya itu. Tetapi kini aku-pun sadar, bahwa putera ibunda Ken Dedes bukan hanya Anusapati pula.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Sekilas terbayang wajah Tunggul Ametung. Ayah Anusapati yang sebenarnya. Tetapi jika ia mengatakannya, maka mungkin anak muda itu akan mengalami kejutan yang luar biasa, sehingga menimbulkan goncangan-angan yang dapat mengganggu keseimbangannya.

Karena untuk beberapa lamanya Mahisa Agni hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia tidak lagi berbicara dengan anak-anak, tetapi dengan seorang yang telah dewasa sepenuhnya, dan yang menghadapi hidupnya dengan sikap dewasa pula.

Namun dengan demikian terbersit pikiran pada Mahisa Agni, justru karena ia menganggap Anusapati sudah dewasa. “Apakah aku dapat mengatakan yang sebenarnya? Jika untuk seterusnya ada

sesuatu yang masih harus disembunyikan, maka apakah hal itu tidak justru merupakan bayangan hitam yang selalu menghantuinya?”

Tetapi setelah mempertimbangkan untung ruginya, maka Mahisa Agni mengambil kesimpulan, bahwa ia masih akan tetap berdiam diri.

“Mungkin pada suatu saat aku harus mengatakannya,“ katanya didalam hati, “tetapi aku masih belum sanggup untuk melakukannya sekarang.”

Dengan demikian, maka Mahisa Agni-pun berkata kepada Anusapati, “Anusapati. Sebaiknya kau tidak berpikir terlampau jauh. Jika kau memiliki trisula sebagai ujung keseimbangan dari kelebihan kodrati yang ada pada ayahandamu, itu bukan berarti bahwa keduanya harus saling berbenturan. Jika keseimbangan yang sudah ada ini tidak terguncang, maka tidak diperlukan keseimbangan lain yang akan berakibat sebaliknya dari keseimbangan yang ada sekarang; Satu hal yang harus kau ingat, bahwa sebagai pemegang ujung keseimbangan, yang lain kau tidak boleh mulai lebih dahulu menggoncang keseimbangan yang sudah ada. Kau tahu maksudku? Hanya dalam keadaan yang memang memaksa saja kau boleh berusaha mempergunakan benda itu. Hanya dalam keadaan yang memaksa.”

Anusapati masih menundukkan kepalanya sambil merenung. Bahkan ia berkata, “Aku mengerti paman. Menurut perhitungan paman akan sampai saatnya bahwa ayahanda Sri Rajasa benar-benar kehilangan kendali. Karena itu, pada suatu saat dapat terjadi ayahanda akan melakukan kekerasan untuk memaksakan keinginannya menyingkirkan aku dan menempatkan Tohjaya dialas kedudukanku.”

Mahisa Agni ragu-ragu sebentar. Tetapi ia tidak dapat ingkar, sehingga karena itu ia menganggukkan kepalanya.

“Paman,“ berkata Anusapati kemudian, “kenapa paman tidak berkata kepadaku, bahwa apa-pun yang terjadi atasku aku harus tunduk kepada ayahanda? Kenapa paman tidak mengajari aku sekali

ini untuk pasrah? Paman, manakah yang lebih baik. Aku pergi dari kedudukanku sekarang atau aku harus berani melawan orang tua? Apakah kira-kira ibunda Ken Dedes akan memilih, agar aku bertahan sebagai Putera Mahkota untuk kebesaran nama ibunda Permaisuri atau aku harus tunduk dan tidak melawan ayahanda sendiri? Bukankah paman dan ibunda dan orang-orang tua mengajarkan agar aku takut dan bakti kepada orang tua. Dan apakah arti dari perlawanan dan memantapkan keseimbangan yang goyah?”

Pertanyaan yang mengalir beruntun itu benar-benar telah membuat Mahisa Agni menjadi bingung. Sehingga kembali ia tersudut pada suatu hasrat untuk mengatakan keadaannya yang sebenarnya.

Namun sekali lagi berusaha mengurungkannya. Bahkan kemudian katanya, “Anusapati. Memang sulit untuk mengatakannya. Tetapi baiklah. Simpan sajalah trisula itu. Jika kau merasa perlu mempergunakan, pergunakanlah. Jika tidak, maka aku pesan kepadamu, jangan sampai trisula itu jatuh ketangan orang lain.”

“Tetapi pesan itu sangat membingungkan aku paman,“ bertanya Anusapati, “aku masih memerlukan bantuan paman untuk mendapatkan ketegasan. Dengan secara kasar dapat aku tanyakan kepada paman, mana yang sebaiknya aku lakukan, jika pada suatu saat benar-benar ayahanda Sri Rajasa mengusir aku? Apakah aku akan bertahan dengan kekerasan, atau aku harus menunjukkan baktiku kepada ayahanda Sri Rajasa? Bahkan lebih jauh lagi aku menangkap arti, bagaimanakah jika ayahanda ingin membunuh aku? Jika ayahanda tidak mempergunakan tangan sendiri, maka aku akan dapat membela diri dan membunuh orang yang diperintahkan oleh ayahanda itu, misalnya Kiai Kisi atau orang-orang lain nanti. Tetapi jika pada suatu saat, ayahanda sendiri datang kepadaku, dan minta hidup matiku, apakah yang sebaiknya aku lakukan?”

“Anusapati, aku telah menyerahkan trisula itu kepadamu. Aku kira kau tahu artinya.”

“Jadi, menurut paman aku harus berani melawan orang tua dan bahkan membunuhnya?”

“Aku tidak mengatakan begitu Anusapati. Yang aku persoalkan adalah Anusapati dengan Sri Rajasa. Bukan anak terhadap orang tuanya.”

“Paman membuat aku bertambah bingung. Apakah bedanya Anusapati dengan Sri Rajasa dan seorang anak dengan ayahnya?”

“Seorang ayah tidak akan berbuat demikian terhadap anaknya.”

“Maksud paman Sri Rajasa bukan ayahku?”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. Namun ia masih menjawab, “Anusapati. Memang mungkin ada hubungan jasmaniah antara seorang anak dengan ayahandanya. Memang mungkin seseorang lahir karena adanya orang lain yang menitikkan keturunannya. Tetapi anak dan ayah bukan sekedar tetesan darah yang mengalir dari seseorang keorang lain. Itu adalah sekedar lahir karena nafsu semata-mata. bukan karena kasih yang pasti akan temurun.”

“O, aku menjadi pening paman. Aku tahu kelahiranku bukan karena kasih antara ayahanda Sri Rajasa dan ibunda Permaisuri seperti tercermin sekarang ini. Ayahanda lebih banyak berada disisi ibunda Ken Umang. Mungkin ibunda waktu itu masih muda.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Hampir ia kehilangan jalan untuk menghindari pengakuan bahwa memang Anusapati bukan putera Sri Rajasa. Tetapi untuk sementara, biarlah Anusapati menganggap hal itulah yang terjadi. Bagaimana-pun juga hal itu masih merupakan pengendalian sikap dari Anusapati, sehingga keseganan dan baktinya kepada orang tuanya masih mempengaruhi nuraninya.

Jika Anusapati terlepas sama sekali dari pengaruh itu dan ia mengerti dengan pasti bahwa Sri Rajasa bukan ayahandanya, maka ia akan dapat bersikap lain. Ia akan dapat berbuat jauh lebih kasar dari apa yang akan dilakukannya.

“Anusaplati,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “yang terjadi biarlah terjadi. Tetapi yang akan datang adalah hari-hari yang

penuh dengan harapan bagi anak-anak muda seperti kau. Bukalah hatimu untuk menerima pusaka peninggalan kakekmu itu. Namun seperti pesan yang aku terima, pusaka itu bukan senjata. Jangan dipergunakan apabila tidak terpaksa sekali.“

“Baiklah paman,“ berkata Anusapati, “aku akan mencoba menerima pusaka itu dan aku akan mencoba mengetrapkan semua pesan paman, sekaligus aku ingin mencoba menjadi seorang anak yang baik.“

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menaruh harapan, bahwa Anusapati tidak akan menyalah artikan pesan-pesannya itu.

Demikianlah maka pusaka kecil itu kemudian berada di tangan Anusapati. Seperti pada saat Mahisa Agni menerimanya, maka terasa sesuatu telah membebani perasaannya. Namun lambat laun perasaan itu menjadi pudar, dan hampir tidak ada persoalan lagi yang bergejolak didalam hatinya.

“Pusaka itu dapat dianggap tidak ada padaku,“ berkata Anusapati, “aku hanya sekedar menyimpannya.”

Namun kadang-kadang timbul juga perasaan yang lain, “dengan pusaka itu aku dapat mengimbangi kelebihan ayahanda Sri Rajasa. Kenapa paman Mahisa Agni menyerahkan pusaka itu padaku dalam keadaan seperti ini? Apakah ini suatu pertanda bahwa aku diperintahkannya untuk membunuh-ayahanda?”

Tetapi setiap kali Anusapati berkesempatan bertemu dengan Mahisa Agni, maka pesan Mahisa Agni sama sekali-tidak sejalan dengan dugaannya itu. Bahkan lambat laun terasa betapa lunaknya sikap Mahisa Agni terhadap ayahanda Sri Rajasa itu.

"Memang kadang-kadang Mahisa Agni masih selalu diganggu oleh pusaka itu. Kadang-kadang timbul juga penyesalan dihatinya. Apakah pusaka itu tidak berarti suatu dorongan pada Anusapati untuk melakukan suatu tindakan yang tidak diharapkannya. Mahisa Agni memberikan pusaka itu semata-mata agar Anusapati dapat melindungi dirinya. Bukan untuk menghancurkan.”

Meskipiun Anusapati tidak menampakkan perubahan pada sikapnya sehari-hari, namun sebenarnya ia masih juga selalu dibebani oleh perasaannya yang gelisah.

Bahkan pada suatu saat, Anusapati tidak lagi dapat menahan diri. Ia tidak akan mendapat penyelesaian jika ia masih harus selalu bertanya-tanya pada diri sendiri.

Karena itu, maka betapa-pun beratnya, ia telah memaksa dirinya menghadap ibunda permaisuri yang tampaknya menjadi semakin tua.

“Kenapa wajahmu tampak begitu suram Anusapati?“ bertanya Ken Dedes.

Anusapati menundukkan kepalanya. Sekali-sekali ia mencoba memandang ibunya, ia tidak pernah melihat cahaya yang dikatakan oleh Mahisa Agni. Ia sama sekali tidak melihat nyala pada tubuh ibunya, sebagai pertanda bahwa Ken Dedes akan menurunkan Maharaja yang akan berkuasa ditanah ini.

Melihat kerut merut dikening ibunya, Anusapati menjadi ragu-ragu. Ia tidak sampai hati menambah kerut-merut itu, karena pertanyaan-pertanyaannya. Karena itu, maka untuk beberapa lamanya ia hanya berdiam diri saja.

Ternyata bahwa ibunya, Ken Dedes, adalah seorang ibu yang memiliki ketajaman pandangan atas puteranya. Meski-pun Anusapati tidak mengatakan apa-pun juga, namun ibunyalah yang bertanya, “Anusapati, apakah kau masih juga selalu dibelit oleh kegelisahan tentang dirimu sendiri?”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam.

“Aku melihat pada sorot matamu yang buram.”

Akhirnya Anusapati menganggukkan kepalanya. Katanya, “Memang kadang-kadang hati ini menjadi kalut ibunda. Hamba tidak tahu apakah sebenarnya yang telah terjadi atas diri hamba ini.”

“Kau masih dipengaruhi oleh perasaan anak-anak. Kau bukan anak-anak lagi Anusapati. Kau sudah menjadi seorang ayah. Anakmu sudah menjadi semakin besar, dan karena itu. Kau-pun harus semakin masak menghadapi kenyataan ini.”

“Hamba berusaha ibu. Tetapi hamba adalah seorang manusia yang lemah, yang tidak memiliki kelebihan apa-pun dari manusia yang lain kecuali sedikit olah kanuragan. Itulah agaknya hamba kadang-kadang selalu diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan tentang diri hamba sendiri dan tentang adinda Tohjaya. Bahkan kemudian tentang diri ibunda Permaisuri dengan ibunda Ken Umang.”

“Ah,“ Ken Dedes berdesis, “itu adalah perasaan yang harus kau sisihkan. Aku juga mendengar bahwa Tohjaya mengeluh, bahwa kaulah yang mendapat perhatian terlampau besar dari ayahandamu Sri Rajasa. Kenapa bukan Tohjaya.“

Anusapati menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia pernah mendengar jawaban ibunya serupa itu pula dahulu ketika ia masih belum dewasa sepenuhnya. Dan kini ia sudah bukan anak muda lagi yang tentu dapat menimbang lebih cermat jawaban ibunya.

Meski-pun Anusapati tahu, bahwa jawaban ibunya itu sekedar untuk menenteramkan hatinya, namun Anusapati tidak membantah. Bahkan ia-pun kemudian mengangguk-anggukan kepalanya.

Namun ia terkejut ketika ia mendengar ibunya terisak. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya ibunda Permaisuri itu mengusap matanya yang basah.

“Maaf ibu,“ berkata Anusapati dengan suara bergetar, “bukan maksud hamba membuat ibu bersedih.”

“Tidak Anusapati. Kau tidak bersalah. Dan aku-pun tidak menjadi bersedih karenanya. Memang kadang-kadang sebuah kenangan masa lampau membuat hati ini sedikit bergetar. Tetapi aku akan segera dapat melupakan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu.

Meski-pun demikian air mata yg membasahi pelupuk Ken Dedes itu menumbuhkan persoalan pula didalam hatinya, seperti yang memang telah membelit hatinya. Apakah, yang pernah terjadi atas ibunya menjelang kehadirannya di muka bumi ini? Apakah ada persoalan yang sampai saat ini masih menjadi rahasia baginya?

Tetapi untuk tidak menambah beban perasaan ibunya Anusapati tidak bertanya lebih lanjut. Bahkan ketika air mata ibunya telah kering, ia mohon diri meninggalkan bangsal Permaisuri itu.

“Anusapati,“ berkata ibundanya, “bawalah anakmu sering kemari. Biarlah ia bermain dengan paman-pamannya disini.”

“Hamba ibunda. Biarlah anak itu sering menghadap ibunda kemari.“

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Namun matanya yang kemudian menjadi basah lagi telah memaksa Anusapati bergegas-gegas meninggalkannya agar tidak tumbuh berbagai persoalan yang lain.

Sepeninggal Anusapati, Ken Dedes masuk kedalam biliknya. Sambil menelungkup dipembaringan, Permaisuri itu menangis. Kini ia merasa sendiri didalam biliknya itu. Emban tua yang mengawaninya dari Panawijen telah tidak ada lagi. Sri Rajasa hampir tidak pernah lagi menjenguknya sehingga istana Singasari yang megah itu kini menjadi sangat sepi baginya.

Hidup Permaisuri itu kini semata-mata diperuntukkan bagi putera-puteranya. Ken Dedes sudah tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Yang menjadi persoalan baginya adalah keturunannya. Terutama Anusapati.

“Apakah Anusapati benar-benar akan dapat menggantikan kedudukan Sri Rajasa? “ masalah itulah yang setiap kait menggetarkan hatinya.

Namun agaknya Sri Rajasa tidak bersungguh-sungguh dengan kehormatan yang diberikan kepada Anusapati untuk menduduki jabatannya yang sekarang. Ternyata setiap kali kedudukan itu telah diguncang-guncang. Meski-pun kadang-kadang Anusapati sendiri berusaha menutupi apa yang pernah terjadi atasnya, namun Ken Dedes dapat juga mendengar, bahwa Anusapati telah terancam, bukan saja kedudukannya, tetapi juga jiwanya.

Sekilas terbayang ayah Anusapati yang sudah terbunuh. Yang akhirnya diketahuinya, bahwa Ken Arok yang sekarang bergelar Sri Rajasa itulah yang telah membunuhnya, karena kadang-kadang diluar sadarnya, kata-kata Ken Arok sendiri memberikan kesan yang demikian.

“Aku telah kena kutuk dari Yang Maha Agung,“ berkata Ken Dedes kemudian. Ia merasa bersalah, bahwa sejak Akuwu Tunggul Ametung masih hidup, betapa-pun ia menyembunyikan didalam hatinya, tetapi ia sendiri mengetahuinya, bahwa ia sudah tertarik pada seorang anak muda yang bernama Ken Arok, yang telah berhasil membuat sebuah telaga buatan di padang Karautan. Telaga yang sekarang hampir tidak pernah dilihatnya lagi.

Dan kutuk itu agaknya telah membuatnya berprihatin sampai hari tuanya. Bahkan anak-anaknya.

Tiba-tiba terbersit sesuatu didalam hatinya, “Apakah pada suatu saat aku tidak akan mengatakannya kepada Anusapati?”

Tiba-tiba Ken Dedes menggelengkan kepalanya. “Itu tidak baik. Anak itu akan mengalami kejutan perasaan. Dan anak itu akan kehilangan kepercayaan kepada siapa-pun juga.”

Namun setiap kali Ken Dedes tidak dapat menghalau kenyataan yang berlaku, bahwa Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa itu sama sekali tidak menghiraukan lagi kepada Anusapati. Bahkan dengan segala daya upaya berusaha untuk menyingkirkannya. Tetapi tidak semata-mata agar namanya tetap terpelihara sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana.

“Dahulu ia berhasil menyingkirkan Akuwu Tunggul Ametung, menjerumuskan Kebo Ijo dan bahkan sudah pasti, membunuh mPu Gandring pula,“ berkata Ken Dedes didalam hatinya, “tentu pada suatu saat ia akan dapat menyingkirkan Anusapati dengan cara itu pula.”

Ken Dedes hampir menjerit untuk melepaskan himpitan perasaannya ketika ia sampai disimpang jalan. Seakan-akan ia harus memilih salah satu dari jalan yang bercabang itu. Yang satu adalah anaknya, Anusapati, sedang yang lain adalah suaminya, Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, Maharaja yang berkuasa di Singasari.

Tetapi pilihan itu adalah pilihan yang paling rumit didalam hidupnya, justru setelah Ken Dedes menemukan nilai-nilai dari hubungan yang dalam antara dirinya dengan keduanya. Dan karena itulah maka Ken Dedes tidak akan dapat segera menemukan pilihan yang sebaik-baiknya.

Dan untuk beberapa lama Anusapati-pun masih berhasil menahan perasaannya. Betapa berat himpitan yang seakan-akan menekan isi dadanya, namun sekali-sekali dapat juga dilepaskannya dalam pakaian putihnya diatas kuda putih. Kadang-kadang ia berpacu ditengah malam menembus gelap menyusur dari desa yang satu kedesa yang lain, dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain. Bukan saja untuk menemukan kejahatan yang harus dibasminya, namun kadang-kadang ia ingin mendapatkan tempat yang paling mapan untuk mesu diri dan mematangkan ilmunya. Kadang-kadang ia dikawani oleh Witantra, Kuda Sempana atau Mahendra. Tetapi kadang-kadang Mahisa Agni sendirilah yang pergi bersamanya. Diam-diam ia keluar dari istananya di Kediri pada hari-hari tertentu dan berusaha menjumpai Anusapati. Mahisa Agni dapat saja berpesan kepada hambanya, bahwa dihari berikutnya ia akan samadi di sanggarnya. Tidak boleh seorang-pun yang mengganggunya sebelum ia keluar atas kehendaknya sendiri, sedang diluar istana Witantra atau Mahendra telah menyediakan seekor kuda baginya.

Namun hal itu semakin lama semakin jarang dilakukannya. Kejahatan-pun semakin lama menjadi semakin menurun, sehingga akhirnya Singasari benar-benar menjadi sesuatu negeri yang aman dan tenteram. Semuanya berkembang seperti yang diharapkan. Pertanian yang semakin luas, perguruan dalam olah kejiwan dan kanuragan. Bidang kerpajuritan yang semakin sempurna dan pemerintahan yang berjalan lancar.

Meski-pun demikian, didalam kedamaian itulah, bahaya justru semakin mengancam Anusapati. Tohjaya yang mewarisi cara-cara ayahandanya, berusaha mempengaruhi setiap Panglima pasukan yang ada. Dengan segala cara yang semakin lama menjadi semakin kencang.

“Tuanku tidak akan dapat menunggu lebih lama lagi,“ berkata penasehat Sri Rajasa kepada Tohjaya, “semakin lama pengaruh tuanku Anusapati rasanya menjadi semakin kuat sehingga pengaruh itu harus segera dihentikan.”

“Ya,“ Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya, “tetapi ayahanda tidak dapat secepat rencana kita. Bagiku tidak ada keberatannya, jika tiba-tiba saja kakanda Anusapati dibunuh. Apakah salahnya? Agaknya ayahanda, masih sayang juga kepadanya. Meski-pun seakan-akan ayahanda tidak berkeberatan pula untuk menyingkirkannya, namun jika hal itu benar-benar akan kita lakukan, ada-ada saja keberatan ayahanda.”

“Tetapi ternyata bukan karena ayahanda masih sayang kepada tuanku Putera Mahkota, tetapi ayahanda belum melihat kesempatan yang sebaik-baiknya. Rakyat Singasari ternyata menganggap bahwa Anusapati adalah seorang kesatria yang paling berjasa bagi mereka.”

“Omong kosong. Jika ia sudah mati, tidak akan ada lagi yang mengharap perlindungannya. Mereka pasti akan mengharap perlindungan kita yang masih hidup.”

“Tetapi, jika cara yang kita tempuh terlampau kasar, sehingga diketahui oleh rakyat Singasari, maka kita akan mengalami

kesulitan. Itulah yang menjadi perhitungan terutama bagi ayahanda Sri Rajasa.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebenarnya ia tidak sabar menunggu dan menunggu. Jika akhirnya gagal, maka kekecewaan yang mencengkam hatinya pasti akan berlipat ganda.

Dalam pada itu, Anusapati sendiri telah menenggelamkan waktunya untuk menempa diri. Setiap saat yang terluang dipergunakannya untuk mematangkan ilmunya. Kadang-kadang dibawanya adiknya Mahisa Wonga Teleng. Dan kadang-kadang mereka-pun pergi dengan anak-anak mereka, yang semakin lama tumbuh menjadi semakin besar. Mereka tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampaknya memiliki kelebihan dari anak-anak kebanyakan.

Bagaimana-pun juga, darah Ken Dedes, yang memiliki tanda-tanda keajaiban sebagai seorang perempuan yang akan menurunkan raja-raja besar, nampak pada kedua anak laki-laki itu.

Demikianlah kehidupan keluarga Sri Rajasa, meski-pun di saat-saat tertentu tampak utuh, namun sebenarnya sama sekali tidak lagi bertaut yang satu dengan yang lain. Didalam kebesaran Singasari yang tampak bulat itu, terdapat sebuah rongga yang semakin lama menjadi semakin besar. Sehingga pada suatu saat akan memecahkan kulitnya.

Dalam pada itu, Sumekar yang sudah terlanjur terlibat didalam persoalan itu, terlebih-lebih lagi tidak pernah dapat melepaskan diri lagi. Semakin lama ia-pun sebenarnya menjadi semakin cemas. Seakan-akan ia melihat lingkaran yang semakin lama menjadi semakin sempit, sehingga pada suatu saat, lingkaran itu akan membelit dileher Putera Mahkota itu.

Dan Sumekar-pun tidak pula tinggal diam. Setiap kali ia selalu memperingatkan kepada Putera Mahkota agar ia berhati-hati.

Namun akhirnya, Sumekar semakin terpukau lagi oleh persoalan itu ketika tanpa disengaja, dimalam hari ia melihat sebuah bayangan hitam yang bergerak-gerak didekat bangsal Putera Mahkota, justru selagi Putera Mahkota keluar dari istana diatas kuda putihnya.

“Licik,“ desis Sumekar, “mereka akan mulai dari orang-orang yang sama sekali tidak tahu menahu. Bukankah isteri tuanku Anusapati dan puteranya itu tidak dapat dilibatkan dalam persoalan ini?”

Karena itu, maka Sumekar-pun dengan diam-diam pula telah mencoba membayangi orang yang mencurigakan itu. Namun ia berusaha untuk menghilangkan kemungkinan dirinya dapat dikenal. Karena itu maka ia-pun telah mengenakan pakaian dan kerudung hitam seperti yang pernah dipakainya.

Tetapi ternyata tidak terlalu mudah untuk membayangi orang itu. Ia sudah kehilangan jejak disaat pertama kali ia mencoba mengikutinya. Karena selagi ia mengenakan pakaian hitamnya, dan kembali kebangsal itu, bayangan yang dicarinya sudah lenyap seakan-akan begitu saja menguap seperti asap.

Namun Sumekar tidak segera berputus asa. Bahkan hampir setiap malam ia mengawasi rumah itu, terutama jika Putera Mahkota tidak ada dirumah.

“Aku harus meyakinkan penglihatanku lebih dahulu sebelum aku mengatakannya kepada tuanku Putera Mahkota,“ berkata Sumekar didalam hatinya.

Akhirnya usahanya itu-pun berhasil. Ketika Putera Mahkota sedang tidak ada dirumah, maka Sumekar yang mengawasi bangsal itu dari kejauhan melihat sebuah bayangan yang mendekati bangsal itu dengan hati-hati.

“Apakah yang akan dilakukannya?“ pertanyaan itulah yang mencengkamnya.

Dengan hati-hati sekali Sumekar mencoba mendekat. Namun ia tidak berani terlalu dekat dengan bayangan itu. Sumekar masih belum mengetahui kemampuan dan ketajaman indera orang itu. Sehingga karena itulah maka Sumekar hanya dapat mengawasinya dari kejauhan.

Sumekar menjadi terpukau ketika ia melihat orang itu mendekati lampu minyak yang tergantung di serambi belakang.

Setelah orang itu menunggu sejenak, dan menganggap bahwa tidak ada orang yang melihatnya, maka orang itu-pun segera menghampiri lampu itu dengan membakar sesuatu.

Sejenak Sumekar dicengkam oleh ketegangan. Apalagi ketika sejenak kemudian ia mencium bau yang sangat wangi menusuk hidungnya.

“Tentu bau yang ditaburkan oleh benda yang baru saja dibakar itu,“ berkata Sumekar kepada diri sendiri.

Ternyata benda yang sudah terbakar itu-pun kemudian dibawa melingkari bangsal dan diletakkannya disudut sebelah kanan, tepat pada bilik isteri Putera Mahkota.

“Apakah maksudnya?“ Sumekar bertanya-tanya didalam hati.

Tetapi ia masih belum berbuat sesuatu. Dibiarkannya orang yang membakar benda itu pergi meninggalkan bangsal.

Untuk beberapa saat lamanya, Sumekar masih bersembunyi sambil mengawasi benda yang sudah menjadi abu. Namun baunya masih tetap menusuk hidung untuk waktu yang agak lama.

“Apakah ada akibat yang dapat timbul dari bau yang tajam ini?“ bertanya Sumekar kepada diri sendiri.

Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Ia justru ingin mengetahui perubahan yang dapat terjadi atas dirinya sendiri meski-pun dengan sadar ia selalu mengikuti segenap perasaan yang tumbuh pada dirinya.

Tetapi ternyata Sumekar tidak merasakan akibat apapun, selain kepalanya menjadi agak pening justru karena bau wangi yang sangat tajam. Selebihnya ia tetap sadar, dan dapat mengikuti setiap perkembangan persoalan yang dihadapinya.

“Besok pagi aku harus mengetahui, mungkin ada sesuatu yang terjadi didalam bangsal itu,“ berkata Sumekar didalam hatinya.

Dihari berikutnya, maka Sumekar-pun menghadap kepada Putera Mahkota. Dengan tidak langsung ia memancing ceritera tentang bangsalnya semalam ketika Putera Mahkota sedang tidak ada.

“Paman,“ berkata Putera Mahkota kemudian, “ada sesuatu yang aneh diluar nalar.”

“Apa tuanku?“ bertanya Sumekar.

“Sudah beberapa kali jika aku pergi keluar, bangsal itu dipenuhi oleh bau wangi yang menusuk hidung sehingga isteriku menjadi pening dan hampir muntah-muntah karenanya.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia-pun mencoba bertanya, “Apakah ada akibat lain yang terjadi tuanku?”

Anusapati menggeleng. Jawabnya, “Tidak paman. Tetapi akibat yang tidak langsung, isteriku menjadi takut. Semakin lama semakin takut. Bahkan bau yang harum sekali itu kadang-kadang disertai bunyi-bunyi yang aneh diatas atap, didinding atau bahkan kadang-kadang dibawah pembaringan.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia mengerti, bahwa maksud orang itu semata-mata mencoba mempengaruhi jiwa isteri Anusapati agar ia menjadi ketakutan. Dengan demikian maka Anusapati tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk pergi diatas kuda putihnya.

“Para penjaga di bangsal itu harus diperingatkan, agar mereka lebih cermat sedikit. Selama ini mereka hanya duduk saja digardu didepan bangsal, karena menurut mereka Singasari adalah negeri yang aman dan damai. Apalagi didalam halaman istana.”

Ketika pada suatu saat, Sumekar mendapat kesempatan berbicara dengan seorang prajurit yang pernah bertugas di bangsal Putera Mahkota, ia berhasil memancing kata-katanya, “Bulu-bulu kudukku meremang jika aku mencium bau itu.”

“Macam kau,“ gerutu Sumekar didalam hati, “jika kau mau berdiri dan mengelilingi bangsal itu, kau akan tahu apakah yang telah menimbulkan bau semacam itu.”

Tetapi Sumekar tidak dapat mengatakannya. Ia hanya mendengarkan saja. Bahkan sekali-sekali ia mengerutkan lehernya dan berkata, “Menakutkan sekali. Tetapi apakah bau itu bukan sekedar bau bunga arum dalu.”

“Huh, mentang-mentang kau menjadi juru taman. Yang kau kenal hanyalah bau bunga saja. Meski-pun aku seorang prajurit, tetapi aku mengenal bau bunga arum dalu.“ jawab prajurit itu.

“Jadi bukan bau bunga arum dalu?”

“Bukan.”

“Kantil barangkali? Bunga kantil baunya tajam sekali.”

“Tetapi tidak setajam bunga arum dalu,“ jawab prajurit itu, lalu “Bodoh kau. Pokoknya sama sekali bukan bau bunga. Bau itu belum pernah aku kenal sebelumnya.”

“Darimanakah sumber bau itu?”

“O, aku ingin memukul kepalamu barang dua kali. Jika aku tahu, aku tidak akan ribut begini.”

“Maksudku, apakah para prajurit yang saat itu meronda telah mencoba mencari?”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Katanya dengan jujur, “Belum. Kami belum pernah berusaha mencari. Tetapi jika tiba-tiba saja kami berhadapan dengan bentuk yang lain dari bentuk manusia wajar ini, apakah kira-kira aku tidak akan pingsan?”

“Bukankah kalain prajurit? Prajurit tidak mengenal takut.”

“Omong kosong,“ sahut prajurit itu, “barangkali prajurit tidak mengenal takut dimedan perang. Tetapi terhadap hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal, kadang-kadang bulu-kudukku meremang juga.”

“Jika kau bertugas, aku akan datang kegardu. Aku ingin ikut meiihat apakah yang menimbulkan bau itu.”

“Kau memang sombong. Barangkali kau mati beku kalau barangkali kau hanya ingin ikut makan rangsum?”

Sumekar tersenyum. Jawabnya, “Rangsum malam bagi para prajurit selalu dihitung sesuai dengan jumlah orangnya. Bagaimana mungkin aku akan mendapat bagian?”

“Tentu kau akan pergi kedapur dan makan pula disana.”

Sumekar hanya tertawa saja. Tetapi kemudian ia berkata, “Aku ingin ikut berjaga-jaga. Setidak-tidaknya aku ingin ikut tidur digardu itu.”

Dalam pada itu, untuk beberapa saat lamanya, Anusapati tidak keluar dari bangsalnya dimalam hari. Tetapi selama Anusapati ada didalam bangsal itu, maka tidak pernah timbul sesuatu yang mencurigakan. Tidak juga tercium bau wangi yang membuat kepala menjadi pening.

“Tuanku,“ berkata Sumekar pada suatu saat, “apakah tuanku masih tidak dapat meninggalkan tuan puteri?”

Anusapati termangu-mangu sejenak.

“Maksudku, biarlah terjadi seperti pada saat tuanku pergi. Bila bau wangi itu timbul, hambalah yang akan menuntun para prajurit untuk berusaha mencari sumbernya. Karena menurut dugaan hamba, sumber bau itu akan dapat diketemukan.”

“Kau yakin paman?”

“Sekedar suatu usaha tuanku.”

“Tetapi bau itu menimbulkan ketegangan dan ketakutan pada isteri dan anakku.“

“Tuanku harus meyakinkan mereka, bahwa para prajurit akan menjaga mereka sebaik-baiknya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jika tuanku bertemu dengan pamanda tuanku Mahisa Agni atau salah seorang dari mereka, harus tuanku mengatakan apa yang

sudah terjadi di bangsal tuanku dan bahwa hamba sedang berusaha untuk menemukan sesuatu disini.”

Anusapati menganggukkan kepalanya.

Demikianlah, pada suatu malam Anusapati meninggalkan bangsalnya diatas kuda putihnya. Sementara itu ia sudah berpesan, perlindungan dari para prajurit yang bertugas didepan bangsal.

Seperti yang dikatakannya, maka pada malam itu, Sumekar pergi kegardu penjagaan. Prajurit yang pernah dijumpainya itulah yang malam itu sedang bertugas kembali seperti yang dikatakannya.

“He, juru taman. Kau benar-benar datang?“

Sumekar tertawa. Jawabnya, “Aku sudah berjanji. Dan aku tidak pernah ingkar janji.”

“Kau memang sombong,“ berkata prajurit itu, lalu diceriterakannya kepada kawan-kawannya bahwa Sumekar ingin mengajak para prajurit mencari sumber bau itu.“

“Uh,“ desis salah seorang prajurit, “macam kau ini memang macamnya seorang yang sombong. Apa yang dapat kau lakukan jika kau menemukannya?”

Sumekar tertawa. Katanya, “Tidak apa-apa. Tetapi setidak-tidaknya kita dapat menduga, apakah yang menimbulkan bau yang sangat sedap. Aku pernah mendengar ceritera, bahwa ada sebangsa burung malam yang bulu-bulunya berbau sedap sekali. Atau sebangsa kucing yang matanya bercahaya. Jika kita berhasil menangkapnya, maka kita akan dapat menjualnya dengan harga lima kali lipat harga kuda yang paling baik sekalipun.”

“Omong kosong,“ sahut prajurit yang lain, “ceritera itu adalah ceritera bagi anak-anak menjelang tidur.”

“Siapa tahu,“ sahut Sumekar, “aku akan ikut bersama satu dua orang dari antara para prajurit ini. Jika aku mendapatkannya, aku hanya minta seekor dari lima ekor kuda itu.”

Prajurit yang ada digardu itu tertawa serentak. Salah seorang berkata, “Kau memang seorang pemimpin yang baik.”

Ternyata kehadiran Sumekar telah menimbulkan kelakar dan gurau yang tidak berkeputusan. Dengan sengaja Sumekar membuat mereka terpukau oleh berbagai macam persoalan. Namun selagi mereka tertawa-tawa tiba-tiba salah seorang dari mereka mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau sudah mulai mencium bau itu.”

Yang lain-pun serentak terdiam. Dengan saksama mereka memperhatikan suasana. Dan tiba-tiba saja malam terasa menjadi sangat sepi.

“Ya. Aku sudah mencium bau itu,“ desis yang lain.

Yang lain-pun menjadi tegang. Dan hampir bersamaan beberapa orang berkata, “Ya. Aku sudah mencium bau ini pula.”

Tetapi tiba-tiba wajah Sumekar menjadi cerah. Seperti kanak-anak yang mendapat permainan yang mengasikkan ia tertawa sambil berkata, “Aku akan menangkap burung itu.“

“Gila kau.“ Bentak seorang prajurit, “jangan main-main. Kau akan dicekiknya.”

“Kenapa?”

“Apakah burung dan sebangsa kucing dapat mengerti, kapan Putera Mahkota tidak ada dirumahnya? Bau semacam ini hanya kita dapati selagi Putera Mahkota sedang pergi di malam hari.“

“Mungkin. Mungkin saja secara kebetulan.”

“O, kau benar-benar akan dicekik hantu.“

“Nah, siapakah yang mau pergi bersamaku mencari burung atau kucing itu. Jika kelak mendapatkannya, aku tidak akan minta lebih dari seekor kuda yang tegar.”

“Gila, kau memang sudah gila.”

“Tidak, aku tidak gila. Aku percaya kepada ceritera itu. Dan aku akan membuktikannya, bahwa aku akan dapat menangkap burung atau kucing itu.”

“Kalalu kau mau mendengarkah nasehat kami, tinggallah digardu ini bersama kami.”

Tetapi Sumekar menggeleng. Katanya, “Aku akan mencarinya. Dengan atau tidak dengan kalian.”

Para prajurit itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka melihat Sumekar benar-benar turun dari gardu dan bersikap untuk pergi.

“Apakah kau benar-benar gila?”

“Mungkin. Siapakah diantara kalian yang gila seperti aku ikutlah aku.”

Tidak seorang-pun dari para prajurit itu yang menjawab.

Namun ketika Sumekar melangkah dua tiga langkah, pemimpin peronda itu memanggilnya, “He, juru taman. Tunggu. Aku akan pergi bersamamu. Mungkin kau memang pantas dicurigai. Mungkin kau tidak hanya akan mencari sebangsa burung atau kucing.”

Sumekar mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Marilah kita pergi bersama-sama.”

Pemimpin peronda itu-pun kemudian menunjuk seorang prajurit yang lain untuk mengawaninya.

Meski-pun agak takut-takut juga, namun prajurit itu-pun terpaksa berangkat pula bersama dengan pemimpinnya dan Sumekar.

Demikianlah mereka meninggalkan gardu peronda dengan hati yang berdebar-debar. Pemimpin peronda itu telah memerintahkan dua orang dari mereka untuk berdiri di muka gardu dengan senjata telanjang. Sedang yang lain harus siap menghadapi setiap kemungkinan.

Namun demikian ada juga yang bergumam diantara mereka, “Apakah kami harus berperang melawan hantu?”

Dalam pada itu, Sumekar yang sudah pernah melihat, apa yang sabenarnya terjadi, mengangkat wajahnya sambil berkata, “Aku mencoba menemukan sumber dari bau ini.”

“Kau memang gila?”

“Aku dapat menemukan bau bunga soka diantara sepuluh macam bau bunga yang lain. Dan sekarang aku-pun akan dapat menemukan sumber bau ini. Jika ia seekor burung, maka kita harus mencari sebuah anak panah dengan busurnya. Tetapi anak panah yang ujungnya tumpul agar burung itu tidak terbunuh. Tetapi jika kita menemukan sebangsa kucing, kita harus mengejarnya bersama-sama.”

“Persetan. Apakah kau sudah mengigau he? Apakah kau sudah kepanjingan demit yang berbau wangi ini?”

Sumekar tersenyum. Jawabnya, “Aku masih sadar. Dans aku masih tetap mengharapkan kuda yang tegar.”

“He, kemana kau akan pergi?“ bertanya pemimpin peronda itu ketika Sumekar pergi kebagian belakang bangsal Putera Mahkota.

“Aku mencium bau dari tempat itu. Dibelakang bangsal.“

“Gila. Kau benar-benar sudah gila.”

Sumekar tidak menyahut. Tetapi ia berjalan terus.

“Cukup,“ perintah pemimpin peronda itu, “kita kembali kegardu. Aku tidak mau mengikuti seorang yang gila dan kesurupan demit.“

“Beberapa langkah lagi. Bau ini sudah menjadi semakin tajam. Aku yakin akan menemukan sumber bau ini.“

“Cukup.”

“Beberapa langkah lagi, kita sampai kebelakang bangsal ini tanpa menemukan sesuatu, kita akan kembali kegardu.“

“Kita kembali sekarang. Jangan-angan kami akan kepanjingan pula seperti kau.“

“Aku berani bertaruh.“ jawab Sumekar, “jika aku tidak menemukan sumber bau ini, entah burung, entah kucing, entah sebangsa bunga yang mekar dimalam hari, atau apapun, aku akan membayar seekor kuda yang tegar buat kalian.”

“Gila, darimana kau akan mendapat kuda itu?“

Sumekar mengerutkan keningnya. Dari mana ia akan mendapat seekor kuda. Namun ia menjawab juga, “Jika aku kalah aku akan berusaha. Aku sudah menabung sejak aku bekerja di istana ini.”

Para prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun salah seorang daripadanya berkata, “Orang ini memang sedang mengigau. Marilah kita tinggal saja disini.”

“Sst,“ desis Sumekar, “kita memang sudah dekat. Aku mohon kita maju sedikit lagi. Akulah yang akan berdiri dipaling depan.”

“Sumekar bau ini ada didepan kita. Tetapi aku tidak yakin bahwa yang kita hadapi sekarang ini sebangsa binatang, karena sumber bau ini tidak bergerak.”

“Aku justru jadi ngeri,“ desis prajurit itu, “marilah kita kembali.“

“Jangan,“ berkata Sumekar, “aku yakin. Beberapa langkah lagi.“

Akhirnya pemimpin prajurit itu berkata. “Baiklah. Kita maju beberapa langkah lagi.”

Sumekarlah yang kemudian berdiri dipaling depan. Dari jarak beberapa langkah ia sebenarnya sudah melihat seonggok kecil abu yang melontarkan bau yang sangat harum seperti yang pernah dilihatnya. Karena itu, maka ia-pun dapat langsung menuju ketempat itu, meski-pun ia harus berpura-pura mengangkat wajahnya dan menggerak-gerakkan hidungnya, seolah-olah sedang mencari arah dari sumber bau itu.

“Disini,“ tiba-tiba Sumekar berhenti.

“Kenapa disini?“ bertanya kedua prajurit itu hampir bersamaan. Sedang bau yang menusuk hidung itu membuat mereka menjadi pening.

Sumekar berhenti sejenak. Diangkatnya wajahnya sambil menghirup udara sedalam-dalamnya. Perlahan-lahan ia mengarahkan hidungnya pada sumber bau itu yang sebenarnya.

“Ini, ini,“ tiba-tiba Sumekar berdesis.

“Apa?“ kedua prajurit itu mengerutkan keningnya.

“Kemarilah. Inilah sumber bau itu.“

“Apakah itu?“

“Kemarilah.”

Dengan ragu-ragu kedua orang prajurit itu mendekat.

“Inilah sumber bau itu. Ternyata bukan burung, bukan kucing atau sejenis binatang lain. Inilah sumber itu.”

Kedua prajurit itu memandang seonggok abu yang berada dibawah bebatur bangsal itu. Hanya samar-samar saja cahaya lampu minyak yang kemerah-merahan.

“Jika kalian tidak percaya, cobalah mencium bau abu itu,“ berkata Sumekar.

Pemimpin prajurit itu-pun mendekati. Dengan ragu-ragu ia membungkukkan badannya.

“Ya,“ katanya menyentak, “kau benar juru taman. Disinilah sumber bau itu. Tetapi kenapa seonggok abu?”

Sumekar menggelengkan kepalanya.

Prajurit yang lain-pun kemudian mendekat pula. Dengan saksama diperhatikannya abu yang kehitam-hitaman itu. Namun baunya benar-benar membuat mereka menjadi pening.

Sumekar tidak memberikan tanggapan apapun. Dibiarkannya kedua prajurit itu mencoba mencari, apakah yang sedang mereka hadapi.

Dengan seksama keduanya memeriksa keadaan disekitarnya. Beberapa langkah daripadanya mereka menemukan sebuah galah yang ujungnya juga terbakar sedikit. Galah itulah yang dipergunakan untuk menjepit benda yang telah dibakar dan menimbulkan bau yang sangat wangi itu.

“Sebangsa getah,“ berkata pemimpin prajurit itu.

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah ada sebangsa demit yang membakar getah atau apa-pun ditempat itu?“ bertanya Sumekar, “atau bulu burung atau kulit sebangsa kucing itu?”

“Bukan, tentu sebangsa getah yang mudah terbakar. Baunya ini memang dapat membuat kepala pening. Apalagi ketika getah ini baru saja terbakar,“ jawab pemimpin prajurit itu.

“Jadi kenapa ada getah terbakar disitu?“ bertanya Sumekar, “aku sudah tertipu karenanya. Aku kira bau ini berasal dari seekor binatang yang mahal sekali harganya.“

“Macam kau. Mungkin kau tertipu oleh bau ini. Tetapi bagi kami penemuan ini cukup penting. Tentu ada orang orang yang membakarnya disini. Tentu tidak dengan begitu saja terbakar dan berada ditempat ini.”

Sumekar mengangguk-angguk. Tetapi ia tersenyum didalam hati. Ia sudah berhasil menunjukkan kepada para prajurit itu, bahwa yang mereka hadapi sama sekali bukannya hantu-hantu yang mengerikan. Tetapi adalah suatu usaha pengkhianatan terhadap Putera Mahkota dari siapa-pun datangnya.

“Carilah sehelai daun,“ berkata pemimpin peronda itu kepada Sumekar.

“Untuk apa?“

“Aku akan mengambil dan membawa abu itu.“

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dicarinya sehelai daun yang cukup lebar untuk membawa abu yang berbau sangat wangi itu.

Kedatangan mereka digardu peronda disambut dengan gurau yang meriah. Salah seorang prajurit berkata, “Nah, bukankah juru taman itu menemukannya dan besok akan menukarkannya dengan sepuluh ekor kuda yang paling tegar?”

Tetapi prajurit-prajurit yang bergurau itu mengerutkan keningnya ketika mereka melihat wajah pemimpin yang bersungguh-sungguh.

“Kami memang menemukannya,“ berkata pemimpin itu.

Para prajurit yang berada digardu itu terkejut. Hampir berbareng mereka bergeser mendekat. Dan mata mereka-pun segera melihat pada tangan pemimpin mereka yang memegang sesuatu.

“Inilah,“ berkata pemimpin kelompok peronda itu, “ciumlah.”

Beberapa prajurit yang berdiri dihadapannya mendekatkan hidungnya. Salah seorang berdesis, “Ya. Memang inilah sumber bau itu.”

“Ini tinggal abunya,“ berkata pemimpin peronda itu.

“Abu?”

“Ya. Tentu seseorang sengaja membakarnya untuk menimbulkan bau yang menusuk hidung ini. Aku kira benda yang dibakar ini sebangsa getah tumbuh-tumbuhan.”

“Getah?”

“Ya. Sama sekali bukan binatang. Bukan sebangsa burung apalagi kucing.”

“Tetapi ada sebangsa burung atau kucing yang mempunyai bau sangat wangi,“ sela Sumekar.

“Tetapi tentu bukan ini.”

Beberapa orang prajurit mengerumui benda yang kehitaman itu sambil mengerutkan keningnya. Mereka sepakat bahwa sesuatu telah dibakar. Asapnya telah menyebarkan bau wangi sampai jarak cukup jauh.

“Kita sekarang yakin, memang bukan hantu.“ pemimpin peronda itu berkata selanjutnya, “ternyata selama ini kita telah dihantui oleh perasaan sendiri. Kekerdilan dan lebih dari itu, kita adalah pengecut.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala. Mereka merasa malu juga bahwa yang selama ini telah membuat mereka ketakutan, ternyata hanyalah seonggok kecil abu yang menyebarkan bau wangi.

“Kita akan melaporkan penemuan ini,“ berkata pemimpin peronda itu, “untuk seterusnya kita akan mencoba mengetahui, siapakah yang telah membakar getah ini.”

Sumekar mengerutkan keningnya melihat prajurit-prajurit mengangguk-angguk. Ia mengharap ada satu dua orang yang berpendirian lain. Yang menganggap bahwa lebih baik mengintip orang yang membakar getah itu daripada langsung melaporkannya.

Tetapi ternyata tidak ada yang berpendirian demikian.

Karena itu maka Sumekar-pun bertanya, “Apakah para prajurit tidak dapat menangkap orang yang dengan bau getah itu, sadar atau tidak sadar, sudah menyebarkan perasaan takut dikalangan prajurit?”

“Tentu dengan sadar,“ jawab pemimpin peronda itu, “tetapi kau jangan menyombongkan diri justru karena kau tidak menjadi ketakutan. Itu bukan karena kau pemberani, tetapi secara kebetulan kau menganggap bahwa bau itu berasal dari seekor binatang.”

Sumekar hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Kami tentu akan berusaha menangkapnya,“ berkata prajurit itu, “karena perbuatan ini telah menimbulkan persoalan bagi kami meski-pun maksud orang itu hanya sekedar bergurau.“

“Apakah kalian akan menangkap malam ini?”

“Bodoh kau. Siapakah yang akan kita tangkap?”

“O.”

“Kita harus menyelediki dahulu, siapakah yang telah melakukannya.”

Sumekar mengerutkan keningnya. Lalu ia bertanya, “Siapakah yang akan diselidiki?”

“Ah, kau memang bodoh. Kembali saja kebilikmu. Besok pagi kau harus menyiangi taman itu. Kamilah yang bertugas untuk mencari siapakah yang telah membakar getah itu disana.”

“Orang itu tentu tidak akan kembali,“ berkata Sumekar.

“Jika ia tahu bahwa kami menyelidikinya.“ pemimpin peronda itu berhenti sejenak, lalu “Juru taman. Kau adalah satu-satunya orang yang mengetahui bahwa kami sedang berusaha menangkap orang yang membakar getah itu. Jika ia tidak datang lagi besok atau lusa, maka pasti kaulah yang sudah berkhianat.”

“He, kenapa aku?”

“Tidak ada orang lain yang mengetahuinya selain kau.”

“Tentu ada.”

“Siapa?”

“Orang yang akan menerima laporan kalian.”

“Gila. Mereka adalah atasan kami.”

“Siapa tahu, bahwa ada diantara mereka yang berkhianat. Maksudku, pelayannya atau embannya atau siapa-pun yang berhasil mendengar pembicaraan kalian. Kecuali jika kalian tidak mengatakan kepada siapa-pun juga, sebelum kalian berusaha menyelidikinya.”

Pemimpin peronda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kau mampu juga berpikir. Barangkali secara kebetulan

pula kau mengatakannya seperti ketika kau menyebut bahwa bau ini berasal dari seekor binatang.”

Sumekar tidak menyahut.

“Baiklah. Datanglah besok kemari. Kau harus ada digardu ini. Jika kami gagal, kaulah yang berkhianat. Tidak ada orang lain yang mengetahui.”

“Bagaimana jika orang itu sendiri melihat kalian datang menyelidiki tempat itu?”

“Memang mungkin. Tetapi kaulah taruhan kami yang pertama.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkeberatan. Ia benar-benar akan datang besok malam. Dan untuk itu ia akan minta kepada Putera Mahkota, agar besok malam meninggalkannya pula.

Demikianlah atas usaha Sumekar, para prajurit telah meyakini bahwa bau yang tajam itu sama sekali bukan berasal dari sebangsa hantu dan atas hal tersebut, para prajurit sengaja tidak melaporkannya lebih dahulu. Baik kepada atasannya mau-pun kepada Putera Mahkota. Mereka ingin meyakinkan laporan mereka dengan bukti yang lebih jelas apabila mereka berhasil menangkap orang yang telah membakar sebangsa getah dan menyebarkan bau yang harum itu.

Namun tidak setahu para Prajurit itu, Sumekar telah menceriterakan apa yang mereka temukan. Karena itu ia memohon kepada Putera Mahkota agar meninggalkan bangsal itu pula untuk kepentingan penyeledikan.

“Apakah kau berkeberatan jika aku sendiri yang menangkapnya?“ bertanya Anusapati.

“Tuanku, hamba berharap bahwa para prajuritlah yang akan menangkapnya dan kemudian melaporkan semuanya kepada atasan mereka. Jika tuanku sendiri yang menangkapnya, maka dapat terjadi bahwa yang terjadi itu dianggap sebagai sesuatu salah paham saja. Dan bahkan seandainya hal itu tidak dihiraukan oleh

ayahanda tuanku, tidak ada seorang-pun yang ikut merasa heran, bahwa hal itu tidak mendapat perhatian dengan tanggapan mereka masing-masing. Tetapi jika yang menangkap orang itu para prajurit, maka akan ada saluran yang membawa orang itu sampai kepemimpin pemerintahan. Seluruh saluran itu akan menunggu dan mengharap, hasil pemeriksaan atas orang itu. Selain dari pada itu, maka pertanggungan jawab atas kejadian itu harus diberikan juga kepada para prajurit yang menangkapnya, meski-pun seandainya ada perlindungan kepada orang yang melakukan itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti rencana Sumekar. Persoalan itu akan menjadi persoalan yang meluas sehingga tidak akan dengan mudah dapat ditiadakan atau dibekukan.

Demikianlah maka rencana yang telah disusun dengan para prajurit itu akan dapat dijalankan, meski-pun Anusapati mengalami sedikit kesulitan ketika ia akan meninggalkan istana. Ternyata bahwa isterinya benar-benar menjadi ketakutan dan minta agar Anusapati malam itu tidak pergi meninggalkannya.

“Sayang sekali adinda, bahwa tugas ini tidak dapat aku tunda lagi. Aku akan pergi malam ini saja. Besok aku akan tinggal di bangsal ini.”

“Hamba takut kakanda. Semalam hamba hampir menjadi pingsan oleh bau yang sangat wangi. Tetapi bau itu datang dan pergi begitu saja. Tentu bukan bau bunga atau wangi-wangian yang datang dari taman.”

“Mungkin semacam bunga sedap malam. Baunya juga menusuk sekali.”

“Bukan kakanda. Hamba mengenal bau bunga apa-pun juga.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah, aku akan berpesan kepada para prajurit agar menjaga bangsal ini baik-baik. Bukankah sampai saat ini bau itu sama sekali tidak mengganggu selain menimbulkan perasaan pening?”

Isteri Anusapati itu menganggukkan kepalanya.

“Nah, tinggal sajalah didalam bangsal. Tunggui dan jaga anak kita baik-baik. Ia sudah mulai nakal dan kadang-kadang berkeliaran sendiri. Ia sudah mulai bekelahi dan melempar-lempar batu.“

Isterinya menganggukkan kepalanya. Anak laki-lakinya memang nakal. Apalagi kini ia sudah tumbuh semakin besar dan kuat. Kadang-kadang ibunya tidak lagi dapat menguasainya. Bahkan embannya tidak berhasil mengejarnya jika ia berlari-larian di halaman. Untunglah para prajurit yang bertugas didepan bangsal itu sangat senang kepada anak laki-laki yang nakal ini. Merekalah kadang-kadang yang membawanya bermain, jika kebetulan sedang beristirahat.

Karena Anusapati tidak lagi dapat dicegah, maka dengan hati yang berat, dilepaskannya juga ia pergi diatas kuda putihnya. Anak laki-lakinya masih sempat melihat kepergiannya sambil melambaikan tangannya.

“Aku minta kuda putih,“ katanya kepada ibunya.

“Ya. Kelak kau akan mendapatkan seekor kuda putih.”

“Sekarang.”

“Kenapa sekarang? Kau masih terlampau kecil.”

“Aku sudah besar. Aku sudah dapat memanjat pohon sawo itu sampai keatas atap.“

“He, kau memanjat sampai keatas atap?“ ibunya terkejut.

Anaknya menganggukkan kepalanya. “Kenapa?“

Dengan tergesa-gesa embannya menyela, “Ampun tuan Puteri, hamba tidak sempat mencegahnya. Karena itu hamba minta tolong kepada prajurit yang bertugas diregol untuk mengambilnya.”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau tidak boleh memanjat. Besok kalau sudah sebesar ayahanda kau boleh

memanjat sampai keatas atap, dan kau akan mendapatkan kuda putih pula seperti ayahanda.”

Putera yang nakal itu tidak menjawab, tetapi tampaknya ia sedang berpikir.

“Marilah, masuklah,“ ajak ibunya ketika Anusapati sudah tidak tampak lagi.

Sejenak anak laki-laki itu berdiri saja mematung, namun ketika ibundanya menarik tangannya, ia-pun kemudian berjalan diiringi oleh embannya.

“Bawalah kepembaringan,“ berkata ibundanya kepada emban pengasuhnya.

“Hamba tuan puteri.“

Putera Anusapati yang bernama Ranggawuni itu-pun kemudian dibawa oleh pengasuhnya kepembaringannya. Tetapi anak yang nakal itu-pun tidak juga segera memejamkan matanya. Ada saja yang ditanyakannya kepada embannya. Tentang ibunya dan tentang istana ini seluruhnya.

“Tidurlah tuan,“ embannya mencoba menidurkannya.

Tetapi anak itu masih saja tidak memejamkan matanya.

“Hamba mempunyai sebuah dongeng tuan,“ berkata embannya.

“Apa?”

“Tentang burung kepodang yang setiap hari bersiul dipelepah pisang.”

“Kenapa?”

“Dan tentang kancil yang cerdik.”

Emban itu-pun kemudian berceritera tentang binatang-binatang yang cerdik dan lucu, sehingga Ranggawuni itu-pun jatuh tertidur.

Namun agaknya embannya yang menjadi kantuk pula telah tertidur pula diatas sehelai tikar disisi pembaringan Ranggawuni.

Ketika ibu Ranggawuni menengoknya, maka ia-pun tersenyum. Dibiarkannya saja embannya itu tertidur pula. Di malam hari Ranggawuni memang sering mencarinya. Kadang-kadang ia memerlukan minum atau apapun.

Namun ketika malam menjadi sepi, isteri Anusapati itu menjadi semakin berdebar-debar. Seperti malam kemarin, rumah itu dipenuhi oleh bau wangi yang menusuk hidung. Dan bau wangi itu agaknya bukan bau wangi sewajarnya.

“Mudah-mudahan malam ini bau wangi itu tidak mengganggu lagi.”

Namun tiba-tiba terasa tengkuknya meremang. Karena itu, maka ia-pun tidak segera pergi kebiliknya, tetapi ia menyusul Ranggawuni dan berbaring disebelahnya.

Dan sejenak kemudian yang dicemaskan itu-pun terjadilah. Perlahan-lahan bau wangi itu mulai mengambar didalam bangsal itu. Semakin lama menjadi semakin tajam menusuk hidung.

Tanpa sesadarnya, tubuh isteri Anusapati itu menjadi gemetar. Bau semakin lama menjadi semakin menyolok hidung.

“Kakanda Anusapati tidak dapat dicegah,“ desisnya, “mudah-mudahan tidak lebih dari bau ini saja. Jika terjadi sesuatu, maka aku tidak akan dapat berbuat apa-apa”

Namun tiba-tiba teringatlah kata-kata Anusapati, “Prajurit-prajurit yang meronda digardu depan akan menjaga bangsal ini.”

“Mudah-mudahan prajurit-prajurit itu tidak tertidur,“ berkata isteri Anusapati itu didalam hatinya.

Karena itu, dicobanya untuk tetap bersikap tenang. Namun tanpa disadarinya, maka dipeluknya puteranya yang mulai tumbuh dan menjadi anak laki-laki yang nakal itu.

Dalam pada itu, para prajurit yang bertugas diregol depan-pun telah mulai menjalankan tugasnya. Sumekar yang sejak malam turun berada digardu depan, telah ditahan oleh para prajurit.

“Kau tidak boleh pergi,“ berkata pemimpin peronda.

“Kau sangka aku yang membakar getah itu.”

“Tidak. Tetapi jika kau berkhianat, kau akan kami gantung.”

“Uh, apakah kau berhak menggantung seseorang?”

“Kenapa tidak?”

Sumekar tidak menjawab. Tetapi ia-pun kemudian duduk saja digardu bersama beberapa orang prajurit yang lain, sedang pemimpin peronda itu bersama dua orang yang lain telah mengendap-endap dibawah rimbunnya dedaunan untuk melihat apakah yang akan terjadi.

Disaat itulah para prajurit yang sedang mengintai itu menjadi berdebar-debar. Dilihatnya seseorang yang berkerudung hitam membawa sebatang galah yang panjang. Ujung galah itu-pun kemudian dibakarnya pada nyala lampu minyak di serambi belakang.

Sejenak kemudian bau wangi itu-pun mulai tersebar. Perlahan-lahan, semakin lama semakin tajam menusuk hidung.

Pemimpin peronda tu menggamit kedua kawannya. Mereka-pun kemudian bersiap untuk menyergapnya. Orang itu harus ditangkap, dan dipaksa untuk mengatakan, apakah maksudnya menimbulkan bau yang wangi itu.

Perlahan-lahan prajurit-prajurit itu merangkak maju. Semakin lama semakin dekat. Mereka-pun kemudian menunggu orang berkerudung hitam itu berjongkok dan meletakkan abu getahnya dibawah bebatur.

Pada saat itulah pemimpin peronda itu memberi isyarat. Dengan serta-merta ketiga prajurit itu meloncat menerkam orang yang sedang berjongkok itu.

Namun ternyata bahwa orang itu-pun lincah bukan buatkan. Ternyata mereka sama sekali tidak berhasil menyentuhnya, karena orang itu-pun segera melenting.

Tetapi para prajurit itu tidak melepaskannya. Mereka-pun segera mengepung orang itu.

“Menyerahlah,“ desis pemimpin peronda itu.

“Persetan,“ terdengar suara parau.

“Apakah maksudmu dengan permainanmu yang meluakkan itu.“

Orang itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja ia berusaha untuk menembus kepungan itu.

Dengan demikian maka segera terjadi perkelahian diantara mereka. Semakin lama semakin sengit. Ternyata orang yang berkerudung hitam itu memiliki ilmu yang jauh melampaui lawan-lawannya, sehingga karena itu, maka ketiga prajurit itu sama sekali tidak berhasil menguasainya.

“Panggil kawan-kawan kita, berilah isyarat,“ perintah pemimpin peronda itu.

Sejenak kemudian terdengar salah seorang dari para prajurit itu bersiul. Suaranya nyaring membelah sepinya malam, sehingga terdengar dari gardu peronda didepan bangsal.

“He, kau dengar isyarat itu?”

“Ya. Tentu sesuatu telah terjadi.“

“Cepat, kita pergi kesana.”

Para prajurit yang ada didalam bangsal itu-pun segera berlari-lari kecuali dua orang harus mengawasi bangsal itu dari depan. Tidak seorang-pun lagi yang menghiraukan Sumekar, sehingga Sumekar dapat pergi menurut keinginannya sendiri. Tetapi ia-pun harus menyesuaikan dirinya, agar ia tidak diketahui oleh para prajurit itu bahwa ia mempunyai kelebihan, dari mereka.

Ketika para prajurit itu sampai dibelakang bangsal mereka masih melihat kawan-kawannya berkelahi melawan seseorang yang berkerudung hitam. Namun ketika mereka sampai ke arena, dua orang dari kawannya itu telah terlempar jatuh.

Tetapi agaknya orang berkerudung hitam itu tidak ingin bertempur terus. Demikian para prajurit yang lain terjun ke gelanggang, ia-pun segera meloncat dan berlari meninggalkan mereka.

Beberapa orang prajurit masih mencoba memburunya. Tetapi mereka sama sekali tidak berhasil, karena bayangan itu seakan-akan begitu saja lenyap dari pandangan mata mereka.

Pemimpin peronda itu-pun segera menolong kedua orang kawannya yang pingsan. Keduanya-pun segera digotong ke gardu dan pada bibirnya dititikkan air yang dingin.

“Dadanya telah dihantam dengan tumit oleh bayangan hitam itu,“ berkata pemimpin peronda itu kepada kawan-kawannya.

“Yang seorang?“

“Sebuah pukulan tepat mengenai tengkuknya. Aku-pun agaknya hampir juga dijatuhkannya, bahkan mungkin dibunuhnya. Untunglah kalian segera datang.”

Para prajurit itu masih berdebar-debar. Orang itu memiliki kemampuan yang tidak terkirakan.

“Apakah orang itu pula yang dahulu pernah memasuki halaman istana ini?“ bertanya seseorang.

“Aku tidak tahu,“ jawab pemimpin peronda itu.

Sejenak kemudian maka kedua kawan-kawan mereka yang pingsan itu-pun mulai bergerak-gerak. Mereka merintih oleh rasa sakit yang hampir tidak tertahankan. Apalagi prajurit yang dadanya telah terkena tumit orang berkerudung hitam itu. Setitik darah telah melekat dibibirnya.

“Dadanya terluka,“ berkata pemimpin peronda itu, “ia harus segera mendapat pengobatan.”

“Ya, kita akan menghubungi dukun yang baik bagi para prajurit, agar orang ini cepat tertolong.”

“Cepat,“ berkata pemimpin peronda itu, “aku akan pergi kegardu induk untuk melaporkan peristiwa ini.“

“Baiklah. Aku akan memanggil dukun itu.“

Pemimpin peronda itu-pun berdiri pula bersama prajurit yang akan memanggil dukun itu. Namun merasa ada sesuatu yang kurang. Diamatinya keadaan disekelilingnya. Lalu tiba-tiba ia berkata, “Dimana juru taman itu?“

“He,“ prajurit-prajurit yang lain mulai sadar, bahwa juru taman itu tidak ada diantara mereka.

“Siapa yang melihatnya terakhir.”

“Ketika kami mendengar isyarat dari kalian yang berkelahi melawan orang berkerudung itu, ia masih ada digardu ini. Tetapi kami telah melupakannya karena kami tergesa-gesa pergi membantu kalian yang sedang berkelahi itu.”

“Bukankah ada yang tinggal disini?”

“Ya,“ jawab prajurit yang tinggal, “tetapi kami telah lupa pula mengurusnya. Ia menggigil ketakutan. Dan aku tidak tahu lagi kemana larinya.”

“Cari. Mungkin ia mati membeku.“ perintah pemimpin peronda itu, tetapi “kecuali yang akan memanggil dukun. Pergilah. Orang itu segera memerlukan pertolongan.”

Ketika seorang prajurit pergi memanggil dukun, maka prajurit yang lain-pun menyebar untuk mencari Sumekar.

Tiba-tiba saja seorang prajurit melonjak karena terkejut ketika ia hampir saja menginjak seseorang yang melingkar dibawah segerumbul pohon bunga.

“He, juru taman. Kenapa kau disitu?”

Sumekar mengangkat wajahnya yang pucat. Sambil tergagap ia berkata, “Apakah sudah tidak ada perang lagi?”

“Gila kau. Tidak ada perang. Kami sedang berusaha menangkap orang yang membakar getah itu. Marilah, kembali kegardu. Ternyata kau penakut yang paling licik.”

Sumekar tidak menjawab ketika tangannya dibimbing oleh prajurit itu. Sambil tertawa prajurit itu mengatakan di mana ia menemukan Sumekar.

“Aku sangka kau seorang pemberani ketika kau mengajak kami mencari sumber bau itu. Ternyata ketika kau sudah mengetahuinya, justru kau menjadi ketakutan setengah mati.”

“Tetapi, tetapi apakah yang telah terjadi?”

“Tidak apa-apa.”

Sumekar menjadi ketakutan ketika ia melihat dua orang yang terbaring digardu. Sambil menunjuk keduanya ia bertanya, “Kena apakah mereka?”

“Tidak apa-apa. Duduklah. Minumlah. Mereka agak sakit. Tetapi tidak apa-apa.”

Sumekar-pun duduk diantara para prajurit. Meski-pun ia masih menggigil namun ia meneguk beberapa teguk air.

Baru setelah Sumekar agak tenang, pemimpin prajurit itu meninggalkannya untuk memberikan laporan kegardu induk, bahwa mereka telah menemukan suatu persoalan yang menarik.

Dalam pada itu Sumekar masih duduk membeku disudut gardu. Namun demikian, sebenarnyalah ia sempat memperhatikan perkelahian yang tidak begitu lama terjadi itu. Dan dalam waktu yang sempit itu ia dapat mengenal, dari tata geraknya yang tidak sempat disembunyikan, karena serangan prajurit itu begitu tiba-tiba.

“Guru tuanku Tohjaya,“ desis Sumekar didalam hatinya.

Sementara itu, didalam bangsal, isteri Anusapati menjadi sangat cemas. Tetapi ia sadar, bahwa agaknya para prajurit sudah bertindak.

“Tetapi apakah yang dapat dilakukan oleh para prajurit terhadap sesuatu yang halus?“ bertanya isteri Anusapati itu kepada diri sendiri.

Tetapi ternyata bahwa sejenak kemudian ia mendengar seakan-akan orang-orang yang sedang berkelahi. Kemudian beberapa orang lagi berlari-lari dari gardu didepan melingkar menuju ke belakang.

“Mudah-mudahan para prajurit itu dapat mengatasi persoalannya,“ berkata isteri Anusapati itu.

Debar jantungnya menjadi mereka juga ketika suara-suara hiruk pikuk itu-pun mereda. Ia masih mendengar prajurit-prajurit itu berbicara dan berjalan hilir mudik.

“Agaknya para prajurit dapat mengusirnya,“ berkata isteri Anusapati itu pula didalam hatinya.

Demikianlah maka dipeluknya puteranya semakin erat, seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi.

Sejenak kemudian gardu induk di halaman istana Singasari itu-pun menjadi gempar. Seorang perwira yang sudah ubanan memilin kumisnya sambil berkata, “Ada juga demit yang mau mengganggu halaman istana ini?”

“Kami tidak berhasil menangkapnya.”

“Berapa orang yang kau lihat?”

“Satu orang berkerudung hitam.”

“Satu orang, dan kalian tidak dapat menangkapnya?”

“Ia lari kedalam gelap, dan seakan-akan ia dapat menghilang begitu saja.”

“Apakah kau percaya kepada hantu itu?”

“Tidak. Ketika kami berkelahi, aku berhasil menyentuhnya. Ia sama sekali bukan hantu. Tetapi kemampuannya jauh melampaui prajurit kebanyakan.”

“Gila. Kalian memang gila. Kenapa kalian tidak dapat menangkap hanya satu orang?”

Pemimpin peronda itu tidak menjawab. Tetapi perwira itu tidak bertanya lagi. Terkenang olehnya peristiwa yang serupa beberapa waktu yang lalu. Orang berkerudung hitam. Dan tidak seorang-pun yang dapat menangkapnya. Tetapi ketika kemudian ada kesatria Putih, mereka menyangka bahwa orang berkerudung hitam itu adalah Kesatria Putih juga yang sedang berbuat sesuatu untuk tujuan tertentu.

“Tetapi tentu tidak. Tentu bukan Kesatria Putih. Sejak pertama kali orang-orang berkerudung hitam itu mempunyai ciri-ciri berbeda,“ berkata perwira itu, namun kemudian, “tetapi ceritera tentang Kiai Kisi yang kemudian dapat diketahui, bahwa yang berkerudung hitam adalah Putera Makota.”

Perwira itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menjadi pening memikirkan persoalan-persoalan itu. Namun kesimpulannya adalah, “Tidak hanya ada seorang berkerudung hitam di istana ini. Apalagi ketika Putera Mahkota tidak ada di istana.”

Kemudian bersama beberapa orang prajurit perwira yang sudah ubanan itu-pun segera pergi kebangsal Putera Mahkota. Sejenak ia mengamati gardu peronda. Kemudian dilihatnya dua orang prajurit yang terbujur.

“Kenapa?”

“Terluka,“ jawab pemimpin peronda.

“Kau diamkan saja?”

“Kami sudah memanggil seorang dukun bagi para prajurit.”

“Bawa kegardu induk. Disana suasananya jauh lebih baik dari tempat ini.“

Demikianlah kedua orang yang terluka itu-pun segera dibawa kegardu induk. Gardu induk memang lebih luas dan terang daripada gardu di muka bangsal Putera Mahkota itu.

Sejenak kemudian perwira itu-pun telah mengelilingi bangsal itu. Dilihatnya bekas abu getah yang berbau harum itu.

“Jadi kalian berhasil melihat orang itu datang dan membakar getah ini.”

“Ya.“ jawab pemimpin peronda.

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Laporan itu akan menjadi bahan pembicaraan dengan para perwira dan sudah tentu dicari sebab dan tujuannya.

“Jika bau ini sekedar untuk menakut-nakuti, apakah keuntungan yang diperolehnya?“ bertanya perwira itu kepada diri sendiri.

Tetapi perwira itu tidak dapat ingkar, bahwa sebenarnya ia-pun telah mengetahui persaingan antara Anusapati dan Tohjaya yang semakin lama agaknya menjadi semakin tajam. Meski-pun nampaknya Anusapati lebih banyak diam. tetapi ternyata bahwa ia telah berhasil membetengi diri dengan kemampuan yang luar biasa dan kesetiaan rakyat Singasari kepadanya, justru karena ia adalah Kesatria Putih.

Meski-pun demikian perwira yang sudah berambut rangkap itu tidak mengambil sikap sendiri. Sebagai seorang prajurit, maka ia-pun akan membawa persoalan itu kepada atasannya. Kepada para perwira yang lebih tinggi, dan karena persoalannya menyangkut ketenteraman hidup keluarga Putera Mahkota, maka persoalannya pasti akan dibicarakan oleh para Panglima Pasukan Pengawal dan Panglima Pelayan Dalam.

Setelah barang-barang yang dapat dijadikan bukti atas peristiwa itu dikumpulkan, maka perwira itu-pun kemudian meninggalkan bangsal itu dengan pesan, “Hati-hatilah. Mungkin ada persoalan-persoalan baru yang menyusul. Jika kalian tidak mampu mengatasi persoalan berikutnya itu sendiri, berilah tanda.”

“Baiklah. Kami akan selalu bersiap menghadapi apa-pun yang akan terjadi.”

Tetapi salah seorang prajurit yang berdiri dibelakang gardu berdesis, “bersiap untuk membunyikan tanda.”

“Sst,“ desis kawannya.

“Kawan kita sudah berkurang dua orang. Apa yang dapat kita lakukan? Sedang menghadapi satu orang saja, kita semuanya tidak dapat berbuat banyak. Bagaimana jika orang itu nanti kembali bersama dua atau tiga orang kawannya?”

“Ternyata kau pengecut seperti juru taman itu.”

Kawannya tidak menjawab lagi. Tetapi ia mendengar perwira itu bertanya, “Siapa yang ada digardu itu?”

Pemimpin peronda itu berpaling. Dilihatnya seseorang duduk meringkuk disudut gardu.

“O, seorang juru taman,“ jawab pemimpin prajurit peronda itu. “Kenapa ia ada disini. Didalam gardu peronda hanya boleh ada prajurit-prajurit dari pasukan Pengawal yang sedang bertugas. Bukankah kalian mengetahui?”

“Ia baru saja ada didalam gardu ketika kami ketemukan ia hampir mati ketakutan.“

“Kenapa?”

“Karena orang berkerudung hitam itu.”

“Apakah ia juga melihat?”

“Tidak. Ia hanya mendengar kami bertempur.”

“Sebelum itu.”

“Ia sekedar bercakap-cakap dengan para peronda yang sedang beristirahat digardu.”

Perwira yang berambut ubanan itu memandang Sumekar dengan tatapan mata yang tajam. Lalu katanya, “Apakah bukan orang itu yang membakar getah.”

“O, tidak. Ia berada digardu ketika aku menemukan orang berkerudung hitam itu.”

“Atau ia sengaja memancing perhatian karena orang berkerudung itu adalah kawannya?”

Pemimpin peronda itu mengerutkan keningnya.

Dan perwira itu berkata selanjutnya, “Ia sengaja membawa kalian berbicara, berkelakar dan barangkali dengan cara-cara yang lain agar kedatangan kawannya itu tidak kalian ketahui. Sehingga dengan demikian ia akan dapat berbuat leluasa.”

Tiba-tiba saja beberapa orang prajurit telah mengerumuni mulut gardu itu, sehingga juru taman yang ada didalamnya menjadi semakin berkeriput.

Hampir saja beberapa orang prajurit mengikuti jalan pikiran itu. Namun tiba-tiba pemimpin peronda itu berkata, “Tidak. Bukan orang ini, jika ada yang berusaha berbuat demikian. Justru orang inilah yang tanpa disengaja telah memberikan jalan kepada kami, sehingga kami sempat mengetahui bahwa sebenarnya bau yang telah beberapa kali tercium ini adalah bau semacam getah yang terbakar.”

“He? “ perwira itu menjadi heran, “bagaimana mungkin hal itu terjadi?”

Pemimpin peronda itu memandang Sumekar yang ketakutan. Kemudian katanya, “Ia adalah seorang yang merasa dirinya mengerti tentang berbagai macam bunga dan baunya. Juga tentang binatang.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Pemimpin prajurit peronda itu-pun kemudian menceriterakan serba sedikit tentang Sumekar, dan tentang taruhan seekor kuda yang tegar. Tetapi yang mereka jumpai bukan sebangsa burung dan bukan sebangsa kucing, tetapi getah yang terbakar itulah.

Perwira itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Maaf, bahwa aku telah membuatmu ketakutan. Bukan maksudku. Aku wajib mencurigai setiap orang dalam keadaan serupa ini. Sekarang pergilah. Tidak boleh ada orang lain didalam gardu peronda selain prajurit-prajurit dari pasukan Pengawal. Untunglah bahwa tidak timbul salah paham karena kebetulan kau dapat menunjukkan kebodohanmu. Jika tidak, maka kau dapat menjadi korban.”

“Tetapi, tetapi … “ Sumekar tergagap.

“Tetapi kenapa?“ bertanya perwira itu.

Sumekar tidak segera menjawab, sehingga pemimpin peronda itulah yang berkata, “Kau takut kembali kegubugmu?“

Sumekar mengangguk.

“Kau benar-benar pengecut yang dungu,“ berkata pemimpin peronda itu, lalu katanya kepada seorang prajurit. “antarkan orang ini.”

Prajurit itu menganggukkan kepalanya. Tetapi terbayang juga keragu-raguan dimatanya, sehingga pemimpinnya berkata pula, “Bawalah, seorang kawan.”

Prajurit itu mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa ia ingin mendapat seorang kawan. Bagaimana-pun juga ada sesuatu yang masih menggetarkan hatinya. Jika ia bertemu dengan orang berkerudung hitam itu, ada juga seorang saksi yang akan dapat melihat dan membantunyarmeski-pun dengan seorang kawannya mereka tidak akan dapat berbuat banyak. Namun pasti masih ada kesempatan untuk memberikan isyarat.

Didalam perjalanan mengantarkan Sumekar, salah seorang prajurit itu berdesis, “Apakah orang berkerudung itu bukan Putera Mahkota sendiri?”

“Kenapa Putera Mahkota sendiri?“ bertanya kawannya.

“Bukan maksudku berniat jelek. Tetapi seandainya ada persoalan diantara keluarga mereka dan mungkin dengan sengaja Putera Mahkota membuat isterinya tidak tenang dan tidak kerasan di istana ini.”

“Hus,“ desis yang seorang, “aku tahu betul bahwa keduanya sangat mengasihi yang satu dengan yang lain meski-pun seakan-akan mereka baru saling mengenal setelah mereka duduk bersama di hari perkawinan itu. Ternyata bahwa orang tua mereka yang berusaha menjodohkan putera dan puterinya tidak salah pilih.“ ia berhenti sejenak, lalu “karena itu menurut penilaianku, tentu bukan Putera Mahkota.“

“Tetapi siapa tahu keadaan isi hati Putera Mahkota jawab yang lain, mungkin didalam petualangannya sebagai Kesatria Putih ia menjumpai seorang gadis lain yang cantik dan mempunyai gairah yang lebih panas.”

“Ah,“ yang lain berdesah, “meski-pun hal itu berlaku pula bagi Sri Rajasa, tetapi agaknya lain bagi Putera Mahkota. Ternyata bahwa pengenalanmu atas Putera Mahkota terlampau sempit.”

Kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sementara Sumekar menyambung, “Yang aku ketahui keduanya mempunyai kesukaan pada jenis bunga yang sama.”

“Apa?”

“Soka ungu.”

“O, itu sudah pertanda bahwa cinta mereka akan abadi.”

“Bagaimana kau tahu.”

“Bunga soka yang ungu memang mempunyai pengaruh yang sangat baik bagi sepasang suami iseteri. Dan apalagi keduanya sama-sama menyukainya.”

Sumekar mengangguk-anggukkan. Lalu, “Selain itu juga sebatang kantil yang kerdil, yang tidak dapat tumbuh terlalu tinggi meski-pun bunganya lebat sekali. Akulah yang dahulu mendapatkan

benihnya justru dari padepokan jauh dari istana. Aku membawanya masuk kedalam istana ini dan akulah yang menanamnya dipetamanan. Ternyata aku berhasil menyenangkan hati Putera Mahkota, dan ....”

Sebelum Sumekar melanjutkan, salah seorang prajurit telah memotongnya, “Kaulah yang membuat Putera Mahkota dan isterinya menyukainya, dan kau pulalah yang telah memperkembangkan bunga kerdil itu, dan kau pulalah yang ini dan itu, dan kau dan kau ... “ Suaranya menjadi serak parau, lalu “macam kau. Kami sedang mempercakapkan Putera Mahkota dan isterinya, bukan berbicara tentang kau. Kenapa kau berceritera tentang dirimu sendiri jauh lebih banyak dari tentang Putera Mahkota itu sendiri.”

“O, begitulah?”

“He,“ sahut prajurit yang lain, “kau masih bertanya?“

Sumekar hanya tersenyum saja. Tetapi ditundukkannya kepalanya.

Sejenak kemudian langkah mereka-pun berhenti. Agaknya mereka sudah sampai pada deretan rumah-rumah kecil bagi para hamba istana Singasari.

“Terima kasih,“ berkata Sumekar, “aku mengucap diperbanyak terima kasih.”

“Kau tinggal masuk dan berguling-guling dipembaringan. Kami masih harus kembali kegardu dan bertugas sampai pagi dan siang hari besok sebelum pengganti kami datang. Mudah-mudahan kau nanti malam diterkam oleh orang berkerudung itu.“

“Ah tentu tidak. Kenapa aku?”

“Kaulah yang menyebabkan para prajurit menemukannya.“

“Tidak, tidak.”

Kedua prajurit itu tersenyum. Ditinggalkannya Sumekar yang dengan tergesa-gesa masuk kedalam biliknya dan menutup pintunya rapat-rapat.

Namun ketika langkah kedua prajurit itu menjauh Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia duduk dipembaringannya sambil berdesah. Agaknya Anusapati hampir terdesak oleh Tohjaya untuk tidak dapat ingkar lagi dari perselisihan yang terbuka.

“Mahisa Agni-pun sudah menyadarinya,“ berkata Sumekar didalam hati. “Tetapi bahwa orang itu telah mengganggu isteri dan putera Anusapati itu sama sekali kurang dapat dimengerti. Dan itu adalah tindakan yang sangat licik.”

Sekali lagi Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Memang ia tidak dapat berpendapat lain, bahwa guru Tohjaya itu adalah orang yang licik sekali. Kegagalannya membunuh Mahisa Agni tanpa diketahui sebab-sebabnya itu telah membuatnya semakin bingung. Sampai saat ini guru Tohjaya itu tidak tahu, kenapa Mahisa Agni masih hidup dan kenapa saudara-saudara seperguruannya yang diandalkan itu tidak berbuat sesuatu atau akibat-akibat lain yang telah timbul.

Sehingga baik bagi guru Tohjaya mau-pun bagi Sri Rajasa, akhir dari ceritera orang-orang yang mereka perintahkan untuk membunuh Mahisa Agni itu masih merupakan teka-teki yang belum terjawab, karena mereka tidak dapat bertanya kepada siapa-pun apa yang sebenarnya telah terjadi di istana wakil Mahkota di Kediri.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kini satu peristiwa telah terjadi lagi. Tentu bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Hal ini pasti hanya merupakan suatu rangkaian dari rencana yang lebih besar dan panjang.

Ternyata peristiwa malam itu telah menggemparkan isi istana Singasari. Laporan berjalan bersimpang siur menuju kesaluran masing-masing. Namun pada hari itu juga hampir semua Senapati

dan Panglima sudah mendengar, apa yang telah terjadi di bangsal Putera Mahkota.

Anusapati sendiri tidak dapat menentukan apakah yang sebenarnya sedang berlangsung di bangsalnya karena ia malam itu sedang tidak berada di istana.

“Tetapi hal ini telah menjadi pembicaraan para Senapati tuanku,“ berkata Sumekar ketika ia sempat menemui Anusapati disudut halaman bangsalnya.

“Ya. Tetapi sampai dimana akibat dari laporan-laporan mereka itulah yang masih harus ditunggu.”

“Namun yang penting adalah persoalan ini menjadi persoalan yang terbuka. Hampir semua orang mendengar peristiwanya, sehingga mereka-pun akan menunggu hasil penyelidikan para prajurit.”

“Jawabnya akan sangat mudah,“ berkata Putera Mahkota, “seperti yang sudah. Para prajurit dari pasukan pengawal belum menemukan jejaknya. Apakah orang-orang di istana, bahwa para prajurit dan Senapati pernah mempersoalkan, kenapa orang berkerudung hitam yang pernah langsung berhadapan dengan Sri Rajasa sendiri, dan orang berkerudung yang lain-lain? Semuanya itu berlaku dengan diam-diam.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia menjawab, “Tetapi yang penting bagi tuanku, rakyat mengetahui bahwa tuanku sedang mengalami gangguan. Bukan saja secara pribadi tetapi juga keluarga tuanku.”

Anusapati menganggukkan kepalanya.

“Apabila pada suatu saat dapat diketemukan, maka kebencian orang terhadap mereka yang berusaha mengganggu tuanku akan memuncak dan mematangkan sikap yang dapat tuanku ambil terhadap mereka itu.”

Sekali lagi Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kau benar paman. Tetapi kapan aku dapat mengambil sikap itu?”

Sumekar menggeleng-gelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tuanku masih harus menunggu isyarat dari pamanda Mahisa Agni. Tetapi sebaiknya tuanku segera mempersiapkan suatu sikap terakhir yang dapat tuanku ambil segera. Kegagalan orang-orang yang tidak menyukai tuanku tentu tidak hanya akan terhenti pada membakar semacam getah untuk menakut-nakuti tuan puteri dan putera tuanku itu.”

Putera Mahkota mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi wajahnya justru menjadi semakin murung. Apakah pada suatu saat ia akan benar-benar dihadapkan pada ayahanda Sri Rajasa? Apakah pantas bahwa seorang anak harus bermusuhan dengan ayah sendiri?

Anusapati masih dapat mengerti, jika ia harus bertengkar dan bahkan sampai pada puncak perselisihan dengan adiknya Tohjaya, karena tidak seibu. Dan seandainya setiap orang menilai bahwa perselisihan itu timbul karena Singgasana Singasari, itu-pun masih cukup berharga, karena ia sudah diangkat menjadi Putera Mahkota, sehingga setiap perselisihan ia berada pada keadaan mempertahankan diri.

Tetapi alangkah tidak pantasnya apabila ia pada suatu saat harus membela diri sekali-pun atas ayahnya sendiri. Tidak banyak orang yang dapat mengerti persoalan yang sebenarnya. Tidak banyak orang yang akan mengatakan bahwa Sri Rajasa telah berpihak kepada Tohjaya didalam perselisihan antara putera-puteranya. Sebagian rakyat Singasari pasti akan menuduhnya berusaha mempercepat penyerahan Mahkota kepadanya atas keinginannya. Dan itu sangat tidak pantas.

Meski-pun demikian, apakah ia tidak berhak membela dirinya sendiri meski-pun terhadap ayahandanya? Dan apakah benar-benar akan terjadi, bahwa ayahandanya akan tenggelam dalam perselisihan ini dan langsung berpihak kepada Tohjaya?

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Seperti yang dikatakan oleh Sumekar, ia harus mematangkan sikap. Apa yang harus dilakukannya, jika keadaan memang memaksa.

Sekilas terbayang wajah ibunya yang selalu muram. Kecantikan ibunya tinggal merupakan bayangan yang kabur di wajahnya yang terlampau cepat menjadi tua. Sedang ibunya yang lain, Ken Umang masih tetap tampak muda dan segar, meski-pun puteranya, Tohjaya telah menjadi dewasa pula.

Semakin tua ibunda permaisuri, semakin besar dorongan ibunda Ken Umang atas ayahanda Sri Rajasa untuk menyingkirkan aku dan menempatkan Tohjaya pada kedudukan ini.

Namun tiba-tiba saja Anusapati menggeram. “Hanya keturunan Ken Dedes sajalah yang dapat menduduki Singasari. Apa-pun yang harus aku lakukan untuk mempertahankannya.”

Dalam pada itu, sekali lagi guru Tohjaya itu mengumpat-umpat. Ia gagal lagi untuk membuat suatu kesan tersendiri pada keluarga Anusapati dengan menakut-nakutinya.

“Prajurit-prajurit itu bodoh sekali. Kenapa mereka ribut dengan bau wangi itu juga, sehingga usahaku untuk menakut-nakuti isteri Anusapati itu gagal? Jika ada bau wangi lagi disekitar bangsal itu, tidak akan ada lagi orang yang berpikir tentang hantu. Semua orang sekarang tahu, bahwa usaha itu adalah usaha seseorang,“ guru Tohjaya itu mengumpat-umpat tidak ada habis-habisnya.

“Setiap orang kini mempersoalkannya,“ katanya kepada diri sendiri, “untunglah bahwa aku sempat melarikan diri malam itu. Jika tidak, maka aku akan menyeret diriku sendiri ketiang gantungan tanpa perlindungan. Sri Rajasa tidak akan mengaku dan memberikan ampunan untuk membersihkan namanya sendiri.”

Dan kegagalan ini agaknya membuat penasehat Sri Rajasa itu benar-benar kebingungan. Apalagi yang dapat dilakukan untuk mengecilkan Anusapati dari segala segi. Ia berharap bahwa dengan demikian isteri Anusapati akan menuntut suaminya untuk tetap

tinggal dirumah seperti anggapan rakyat Singasari dahulu terhadapnya, sebelum ia menemukan jalan lain yang lebih baik.

Namun akhirnya Tohjaya berkata kepada gurunya, “Guru, tidak ada jalan yang lebih baik daripada membunuh kakanda Anusapati itu sendiri.“

Gurunya mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi pekerjaan itu bukan pekerjaan yang mudah tuanku. Seperti tuanku ketahui, ternyata tuanku Putera Mahkota memiliki kemampuan yang tiada taranya.”

“Guru harus dapat membujuk ayahanda. Kakanda Anusapati tidak akan tersingkir dari kedudukannya selain mati.“

“Kita sudah menjebaknya dengan bermacam-macam cara. Tetapi usaha itu selalu gagal. Ia adalah Putera Mahkota yang berhak mendapatkan pengawalan setiap saat ia kehendaki. Selebihnya ia sendiri mampu mengimbangi kekuatan seseorang yang paling kuat sekali-pun di Singasari, selain Sri Rajasa sendiri dan Mahisa Agni.”

“Aku belum meyakini,“ berkata Tohjaya, “namanya terlalu dibesar-besarkan. Tidak ada kekuatan sebesar itu padanya.”

Gurunya menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi mungkin kita lebih baik berhati-hati. Karena itu alangkah baiknya jika ayahanda sendiri melakukannya dengan cara dan alasan apa-pun juga.”

Penasehat Sri Rajasa itu menelan ludahnya. Wajahnya menjadi tegang dan untuk sejenak ia tidak berkata sepatah katapun.

Tohjaya-pun mengerti betapa beratnya seorang yang harus memusuhi anaknya sendiri, apalagi membunuhnya. Tetapi ayahnya memang harus memilih. Anusapati atau Tohjaya. Jika ayahnya memang ingin menyingkirkan Anusapati dan memberi kesempatan kepada Tohjaya, maka jalan satu-satunya adalah membunuh Anusapati.

“Baiklah tuanku,“ berkata gurunya, “hamba akan mencoba membujuk ayahanda Sri Rajasa jika memang tidak ada jalan lain. Tetapi setiap kali kita masih harus memperhitungkan peranan Mahisa Agni. Jika terjadi perselisihan terbuka antara ayahanda Sri Rajasa dengan Mahisa Agni yang kini berada di Kediri, maka kemungkinan yang luas dapat terjadi. Mahisa Agni bukan tidak mempunyai pengikut. Apalagi jika ia berusaha menyusun kekuatan, maka itu akan sangat membahayakan Singasari sendiri.“

“Terserah kepada kebijaksanaanmu,“ berkata Tohjaya, “kau harus memperhitungkan segala kemungkinan dari segala segi. Tetapi tujuan terakhir adalah membinasakan kakanda Anusapati. Akan lebih baik lagi jika paman Mahisa Agni-pun telah terbunuh pula.”

“Ya, ya. Tetapi kita harus sadar, bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang berat sekali.”

Namun ternyata bahwa penasehat Sri Rajasa itu menyampaikannya pula kepada Sri Rajasa meski-pun tidak langsung. Dengan hati-hati dan penuh dengan perumpamaan dan sindiran. Apalagi penasehat Sri Rajasa itu sudah mengetahui pula, bahwa sebenarnyalah bahwa Anusapati bukan putera Sri Rajasa.

“Apakah Tohjaya mengetahuinya?“ bertanya Sri Rajasa.

“Aku kira belum tuanku.”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Ia pernah merasa prihatin karena sikap Tohjaya itu. Tanpa mengetahui bahwa Anusapati itu bukan saudaranya, ia sampai hati mengajukan tuntutan sejauh itu seperti yang pernah didengarnya, meski-pun samar-samar. Dan kini sekali lagi ia disentuh oleh perasaan itu.

“Apakah jika sampai saatnya, Tohjaya yang sampai hati melepaskan kakaknya itu akan sampai hati pula melepaskan ayahnya?“ pertanyaan itu timbul juga dihati Sri Rajasa.

Tetapi Sri Rajasa sudah menuntun anak laki-lakinya itu sampai ketengah sungai yang banjir. Bagaimana-pun juga ia sudah menjadi

basah. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain kecuali melanjutkan perjalanan sampai keseberang. Dan didalam hati Sri Rajasa itu-pun berkata, “Baiklah. Anusapati memang harus mati.”

Demikianlah meski-pun belum terucapkan, janji itu sudah terpateri didalam hati Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa. Ia mulai menginjakkan kakinya di istana Tumapel dengan, mencuci tangannya dengan darah. Kini ia akan melangsungkannya dengan tetesan darah pula.

Memang bagi Ken Arok tugas yang paling akhir harus dilakukan didalam kedudukannya, adalah berusaha menyingkirkan semua bekas-bekas kekuasaan Tunggul Ametung. Anusapati apabila sempat duduk diatas tahta, akan berarti kembalinya kekuasaan Tunggul Ametung itu. Dan habislah darah keturunan Sri Rajasa yang hanya berkuasa satu keturunan saja. Dirinya sendiri.

Kadang-kadang terbersit pula suatu pertanyaan, kenapa ia tidak berusaha untuk mengangkat keturunannya yang lahir dari Ken Dedes, karena mau tidak mau ia harus mengakui, kekuasaan yang ada padanya, bersumber kepada kekuasaan yang diwarisi oleh Ken Dedes dari Tunggul Ametung, yang sadar atau tidak sadar, telah menyerahkan semua yang ada padanya, kepada permaisurinya itu.

“Jika aku mengangkat Mahisa Wonga Teleng, maka keadaannya akan berbeda. Mungkin Anusapati tidak akan banyak menentang keputusan itu, karena ia amat cinta kepada ibunya. Apalagi jika berterus terang kepadanya, bahwa ia adalah keturunan Tunggul Ametung,“ berkata Ken Arok didalam hati, “kenapa aku tergesa-gesa mengangkatnya menjadi Putera Mahkota sekedar untuk mendapat kesempatan memanjakan Tohjaya dan ibunya?”

Tetapi Ken Arok-pun tidak dapat ingkar, bahwa maksudnya bukan saja sekedar menyenangkan hati Ken Dedes karena ia lebih banyak berhubungan dengan Ken Umang, tetapi juga karena waktu itu masih ada kekuatan yang tidak dapat melupakan kekuasaan Tunggul Ametung. Pengangkatan Anusapati membuat mereka diam dan tidak berbuat banyak, sehingga akhirnya kedudukan Sri Rajasa menjadi kuat. Namun dalam pada itu diluar perhitungannya,

Anusapati telah berhasil mengangkat namanya sendiri atas dukungan Mahisa Agni, sehingga bagi rakyat Singasari Kesatria Putih adalah lambang perlindungan mereka.

“Tetapi Kesatria Putih tidak berhasil melindungi bangsalnya sendiri,“ tiba-tiba saja pada suatu saat Ken Arok justru memanggil Anusapati dan menuduhkannya berbuat lengah, sehingga menimbulkan sedikit gangguan keamanan di halaman istana.

“Kau terlalu banyak meninggalkan keluarga dan bangsalmu dimalam hari sehingga menjadi sasaran gangguan orang jahat. Akibatnya seluruh istana mengalami kejutan.”

“Hamba akan menegur para prajurit yang bertugas waktu itu ayahanda,“ berkata Anusapati, “mereka seharusnya tidak membiarkan hal itu terjadi.”

“Apakah yang dapat dilakukan oleh Kesatria Putih dirumahnya sendiri?”

Pertanyaan ini sangat mengherankan bagi Anusapati. Ia tidak menyangka bahwa ayahandanya dapat melemparkan kesalahan itu kepadanya.

“Anusapati,“ berkata Sri Rajasa, “kau harus ikut bertanggung jawab atas keamanan istana ini. Kau jangan sekedar mendapat pujian saja dengan usahamu itu, dengan nama yang besar, Kesatria Putih, tetapi justru karena itu kau sudah melepaskan tanggung jawabmu sendiri didalam istana ini.”

Benar-benar suatu keadaan yang tidak diduganya.

“Sejak sekarang, kau tidak boleh lagi memberikan peluang kepada siapa-pun untuk mengguncangkan keamanan istana. Aku tidak menghalangi usahamu untuk memupuk nama baikmu, tetapi kau tidak boleh melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang Putera Mahkota.”

Anusapati benar-benar tidak tahu, apakah tugas itu tugas seorang Putera Mahkota. Seharusnya ayahandanya marah dan

meletakkan tanggung jawab kepada Senapati yang bertugas waktu itu. Bukan kepadanya.

Tetapi Anusapati tidak menghiraukannya lagi. Ia justru sudah menemukan dirinya sendiri, sehingga tiba-tiba saja ia merasa bahwa ia harus tetap berdiri pada garis perjuangannya.

Tetapi ketika ia keluar dari bangsal, ia masih harus menelan kata-kata Tohjaya yang seolah-olah memang sengaja menunggunya, “Kakanda Anusapati, siapakah sebenarnya orang yang membuat seisi istana ini merasa terhina?”

“Kenapa kau bertanya kepadaku?”

“Orang itu hadir setiap saat kakanda Anusapati sedang pergi.”

“Aku tidak tahu. Aku akan bertanya kepada para penjaga.”

Tetapi Tohjaya tertawa berkepanjangan. Katanya, “Kakanda masih saja suka bermain-main dengan kerudung hitam.”

“He,“ Anusapati terkejut.

“Bukankah kadang-kadang kakanda mengenakan kerudung putih tetapi kadang-kadang mengenakan kerudung hitam? Apakah kakanda sebenarnya sudah jemu terhadap isteri dan anak kakanda yang mungil itu?”

“Adinda Tohjaya. Kenapa kau berpikir sampai kesitu? Aku sama sekali bukan pengecut seperti yang kau bayangkan. Jika aku akan mengusir mereka, aku tidak perlu menakut-nakuti seperti permainan anak-anak cengeng. Apakah pada saat aku harus datang kepadamu dan membawa orang yang kau cari itu?“

Wajah Tohjaya menjadi merah. Apalagi gurunya yang ada didekatnya pula. Meski-pun Anusapati hanya berkata asal saja melepaskan kejengkelannya, namun tumbuh pertanyaan dihati mereka, apakah sebenarnya Anusapati sudah mengetahui siapakah yang melakukannya?

Anusapati tidak menunggu Tohjaya menjawab lagi. Dengan tanpa berpaling ditinggalkannya adiknya berdiri termangu-mangu.

Namun pertemuan yang sepintas itu telah membuat jarak antara kedua kakak beradik itu menjadi semakin jauh. Anusapati menjadi semakin yakin, bahwa adiknya sama sekali tidak lagi dapat mendekatkan diri kepadanya, bahkan tampaknya semakin lama menjadi semakin jauh.

“Suasana di istana ini bagaikan gunung Kelut yang dengan perlahan-lahan menjadi semakin panas. Pada saatnya pasti akan terdengar ledakan yang dahsyat, yang akan mengguncangkan sendiri kehidupan diseluruh Singasari,“ berkata Anusapati didalam hatinya.

Dan Anusapati-pun tidak dapat tinggal diam menunggu apa yang akan terjadi. Ia harus siap menyongsong keadaan jika benar-benar istana Singasari akan meledak.

“Aku harus menghubungi paman Mahisa Agni,“ berkata Anusapati kepada Sumekar, “semuanya sekarang rasa-rasanya menjadi lain. Aku tidak mengerti, kenapa ayahanda semakin menjauhi aku, dan adinda Tohjaya tampaknya semakin membenciku. Aku sudah berusaha sejauh mungkin tidak menimbulkan persoalan apa-pun dengan adinda Tohjaya. Tetapi ada saja persoalan-persoalan yang dipakainya sebagai alasan.”

“Tuanku memang harus berhati-hati,“ berkata Sumekar. “baiklah hamba akan menghubungi orang-orang yang akan dapat menyampaikannya kepada pamanda tuanku di Kediri. Mungkin Witantra, mungkin kakang Kuda Sempana.”

“Terima kasih paman. Baik dalam hubungan sehari-hari, mau-pun firasat didalam hati, rasa-rasanya sesuatu akan segera terjadi.”

Sumekar tidak menyahut. Tetapi ia-pun sependapat. Namun yang lebih memberati perasaan Anusapati adalah justru keadaan diri sendiri. Bahkan ledakan itu seakan-akan akan terlontar dari dirinya.

Dan sikap Sri Rajasa di hari-hari berikutnya memang tidak menyenangkan sama sekali. Bahkan hampir tidak masuk akal, bahwa pada suatu saat Anusapati dipanggil oleh Sri Rajasa, bukan pada saatnya ia harus menghadap. Adalah diluar nalarnya, bahwa ia

sebagai Putera Mahkota telah dimarahi oleh ayahanda Sri Rajasa dihadapan beberapa orang Panglima, hanya karena ia dianggap menghina Tohjaya.

“Kau harus menjadi contoh yang sebaik-baiknya bagi rakyat Singasari,“ berkata Sri Rajasa, “jika kau masih bersikap cengeng, kau akan mengalami perlakuan yang cengeng pula.”

Anusapati hanya dapat menundukkan kepalanya. Ia mengharap Sri Rajasa mengambil suatu sikap atas peristiwa yang pernah terjadi di bangsalnya, namun yang dihadapinya justru adalah persoalan lain, persoalan yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan itu.

“Jika kau masih menganggap Tohjaya sebagai sainganmu,“ berkata Sri Rajasa pula, “hanya karena ia berbeda ibu, maka kau adalah orang yang berpikiran sangat sempit. Kau jangan menganggap dirimu mempunyai kelebihan daripadanya. Hanya karena kau lahir lebih dahulu sajalah maka kau diangkat menjadi Putera Mahkota. Tetapi itu bukan hak mutlak bagimu. Jika aku menganggap kau tidak mampu menunaikan tugas itu, apalagi kelak menjadi Maharaja Singasari, aku dapat mengambil keputusan lain.”

Rasa-rasanya Anusapati hampir tidak tahan lagi duduk bersimpuh dihadapan ayahanda dan para Panglima. Ingin agaknya ia meloncat berlari kembali kebangsalnya. Tetapi ia masih tetap sadar, bahwa ia sedang menghadap ayahanda Sri Rajasa.

“Nah, kembalilah ke rumahmu. Renungkan kata-kataku. Ternyata kau sangat mengecewakan aku.”

Serasa dada Anusapati akan pecah. Namun ia masih tetap berhasil menguasai dirinya dan meninggalkan bangsal itu. Tetapi tanpa disadarinya terasa matanya menjadi basah.

Dengan langkah yang berat ia berjalan di lorong-lorong di halaman istana Singasari. Kepalanya tertunduk dalam-dalam memandang batu-batu kerikil dibawah kakinya. Dan kaki itu seakan-akan bergerak sendiri diluar kemauannya.

Anusapati berhenti termangu-mangu ketika ia sadar, bahwa ia berada didepan bangsal Permaisuri. Dengan hati yang berdebar-debar ia melangkah naik. Ibunda Permaisuri sudah lama tidak lagi nampak pada paseban agung. Agaknya ia justru telah mengasingkan dirinya sendiri.

Ketika Ken Dedes melihat kehadiran anaknya, hatinya menjadi berdebar-debar. Dilihatnya wajah Anusapati yang pucat dan dadanya yang bergetar.

“Kemarilah anakku,“ suara Ken Dedes parau.

Memang rasa-rasanya ada getaran yang telah lebih dahulu menyentuh dinding jantung ibunda Ken Dedes.

Dengan wajah yang tunduk Anusapati duduk dihadapan ibunya.

“Kau datang dengan wajah yang terlampau muram Anusapati?“ bertanya ibunya.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Kebimbangan yang dalam telah membayangi perasaannya.

“Apakah ada sesuatu yang merisaukan hatimu?“

Anusapati menjadi semakin tunduk. Dan tiba-tiba seperti kanak-anak Anusapati menitikkan air matanya.

“He, Anusapati,“ berkata ibunya, “kau adalah seorang laki-laki. Kau adalah seorang Kesatria, dan apalagi kau telah dinamai Kesatria Putih. Kenapa kau menitikkan air mata seperti seorang perempuan? Jangan anakku. Jangan menjadi cengeng. Kau adalah seorang laki-laki jantan yang mengagumkan.“

Kata-kata ibunya itu telah menyentuh hati Anusapati. Dengan tergesa-gesa ia mengusap air mata yang membasahi pelupuknya dan menahan gejolak perasaan didalam dadanya.

“Anusapati,“ suara ibunya menjadi serak, “kenapa kau tidak lagi dapat menahan perasaanmu. Aku sudah terlampau sering melihat wajahmu yang muram. Tetapi kali ini kau telah menitikkan air mata. Tentu ada sesuatu yang telah menyayat hatimu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah kau datang untuk mengatakan kepadaku, bahwa hatimu telah tersentuh oleh sikap atau kata-kata seseorang?”

Perlahan-lahan Anusapati menganggukkan kepalanya.

“Ayahandamu Sri Rajasa?”

Sekali lagi Anusapati mengangguk.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan Ken Dedes bergeser mendekati puteranya. Diusapnya kepala Putera Mahkota itu sambil berkata, “Anusapati. Kau harus tetap sadar, bahwa kau adalah seorang laki-laki. Seorang Kesatria. Apa-pun yang terjadi atasmu, sentuhan lahiriah atau sentuhan batiniah harus kau tanggapi dengan sikap kesatria. Kau tidak boleh lekas tersinggung karenanya. Kau harus memandang jauh kedepan, tetapi juga kebelakang. Kau harus mencoba mencari pada dirimu sendiri, apakah kau memang bersalah.”

“Ibunda,“ berkata Anusapati, “hamba selalu mencoba mencari, apakah hamba bersalah. Setiap, kali ayahanda Sri Rajasa marah kepada hamba, hamba selalu mencoba mencari kesalahan hamba seperti yang dituduhkan ayahanda Sri Rajasa kepada hamba. Dan persoalannya selalu serupa, yaitu bahwa adinda Tohjaya telah mengadu kepada ayahanda.“ Anusapati berhenti sejenak. Terasa tenggorokannya menjadi panas. Tetapi ia mencoba bertahan sebagai seorang laki-laki seperti yang dikatakan oleh ibunya.

“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian, “hamba sekarang sudah bukan kanak-anak lagi. Tetapi persoalan itu masih saja berulang. Ayahanda telah marah kepada hamba dihadapan beberapa orang pemimpin tertinggi di Singasari, dan menuduh hamba bahkan diancam oleh ayahanda, bahwa kedudukan hamba itu akan dapat diambilnya. Apabila ayahanda menghendaki, maka ayahanda dapat menunjuk adinda Tohjaya untuk menggantikan hamba.“

“Tidak. Tidak mungkin.“ ibunya menyahut dengan serta merta. Namun kemudian suaranya menurun, “Tidak Anusapati. Seharusnya ayahandamu tidak mengatakan demikian.”

“Kenapa tidak ibunda. Ayahanda adalah seorang Maharaja yang paling berkuasa didaerah Singasari. Ayahanda telah berhasil menjadikan Singasari ini suatu negara yang besar. Ayahanda mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas. Kenapa ayahanda tidak dapat berbuat demikian?”

“Kau adalah putera tertua yang lahir dari Permaisuri. Kaulah paling berhak atas tahta Singasari. Bukan orang lain. Bahkan seandainya kau tidak dapat melakukan tugasmu karena suatu sebab yang sah, maka adindamu Mahisa Wonga Telenglah yang berhak menggantikan kedudukanmu. Bukan Tohjaya.”

Anusapati menundukkan kepalanya semakin dalam, lalu katanya, “Ibunda. Ayahanda lebih berkuasa dari ketetapan-ketetapan yang berlaku. Ayahanda dapat membuat ketetapan-ketetapan baru. Janganlah atas tahta Singasari. Bahkan tahta Kediri-pun telah diputusnya sama sekali dan direnggutnya dari hak yang sewajarnya. Apakah arti hak atas tahta Singasari itu bagiku, ibunda?“

Ken Dedes tidak segera menjawab. Ia mengerti kata-kata anaknya, bahwa Sri Rajasa dapat saja memindahkan hak kepada siapa-pun yang dikehendakinya, karena kekuasaannya.

Namun demikian ia berkata, “Jangan risau anakku. Aku adalah Permaisuri di Singasari. Aku tidak pernah mempersoalkan hak atas diriku sendiri. Aku tidak pernah mempersoalkan hadirnya seorang perempuan lain didalam istana ini. Tetapi aku akan mempersoalkan hakmu, hak atas tahta di Singasari, sebagai kelanjutan hak tahta Tumapel.”

“Apa hubungannya dengan hak atas tahta Tumapel ibunda. Tumapel adalah suatu daerah Akuwu yang kecil, yang kemudian menurut sejarahnya, oleh ayahanda telah dijadikan suatu negara Singasari yang sekarang. Apakah artinya Tumapel itu bagi ayahanda Sri Rajasa?”

Ken Dedes terdiam sejenak. Terasa sesuatu menghentak-hentak didadanya. Sekilas terkenang olehnya kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung yang kecil yang berada dibawah kekuasaan Kediri. Yang kemudian oleh Sri Rajasa berhasil dikembangkan, dan berhasil mengikat Kediri dalam suatu daerah kekuasaan yang disebutnya Singasari.

“Tetapi aku tidak dapat mengatakan, apa yang telah terjadi sebenarnya,“ berkata Ken Dedes didalam hatinya.

Namun serasa hatinya tergores duri ketika ia mendengar Anusapati bertanya, “Ibunda, apakah sebenarnya latar belakang dari tindakan-akan ayahanda yang hamba rasa kurang adil, karena selama ini hamba tidak pernah menemukan kesalahan pada diri hamba, sehingga kadang-kadang terpikir oleh hamba, bahwa sebenarnya kesalahan yang dituduhkannya itu adalah kesalahan yang sekedar dicari-cari.”

“Anusapati,“ potong Ken Dedes, “jangan berpikir begitu. Jangan menyiksa diri dengan dugaan-dugaan dan khayalan-khayalan yang menakutkan itu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Apakah ibu masih menganggap aku berkhayal?”

Ken Dedes terkejut mendengar pertanyaan itu, sehingga karena itu maka sejenak ia menjadi bingung dan tidak mengerti bagaimana harus menjawab.

Anusapati memandang wajah ibunya yang tiba-tiba menjadi pucat. Karena itu, maka Ia-pun segera menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mata ibunya yang suram.

-ooo0dw0ooo-

(bersambung jilid 74)

Jilid 74

“ANUSAPATI,“ BERKATA IBUNYA kemudian dengan suara serak, “jangan bertanya begitu. Aku tidak dapat memberikan penjelasan yang dapat kau terima dengan akal. Tetapi sebenarnyalah bahwa kadang-kadang kau sudah dipengaruhi oleh angan-anganmu sendiri, sehingga yang terjadi itu seakan-akan menjadi kian tajam didalam angan-anganmu. Mungkin memang ada perbuatan yang dapat melukai hatimu. Tetapi kau sendiri mengorek luka itu sehingga menjadi semakin parah.”

“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian, “hamba adalah seorang yang sudah harus mengekang perasaan sejak hamba menyadari keadaan hamba. Hamba sudah terbiasa dengan bentakan-akan dan sindirian-sindirian tajam dari ayahanda Sri Rajasa dan dari adinda Tohjaya, bahkan dari ibunda Ken Umang. Tetapi hamba tidak pernah memperdalam luka di hati. Hamba selalu berusaha melupakannya, dan kadang-kadang hamba berhasil apabila hamba bermain-main bersama paman Mahisa Agni. Dan bahkan permainan itu berkembang menjadi permainan yang bermanfaat bagi diri hamba, sampai hamba menjadi dewasa. Dengan demikian ibunda, hamba menganggap bahwa diri hamba tidak berkhayal lagi, atau sengaja mengorek luka dihati. Hamba sudah cukup mengalami tekanan lahir dan batin tanpa menambah dan memperdalamnya.”

“Anusapati,“ suara Ken Dedes menjadi sangat dalam.

“Ibunda,“ berkata Anusapati, “bukan maksud hamba melukai hati ibunda. Tetapi hamba sekarang sudah dewasa. Barangkali ada hal-hal yang tidak boleh didengar oleh anak-anak tentang diri hamba. Tetapi sekarang, barangkali hamba sudah bukan kanak-anak lagi, sehingga hamba pasti akan boleh mendengarnya.”

“Tidak ada apa-apa Anusapati. Tidak ada apa-apa. Kau adalah seperti kau yang kau mengerti dan kau hayati sekarang. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dan tidak ada sesuatu yang rahasia.”

“Ibunda,“ berkata Anusapati, “jika demikian, kenapa sikap ayahanda jauh berbeda dari sikap ayahanda terhadap adik-adik hamba. Mungkin ada juga kelebihan pada Tohjaya dari adik-adik hamba yang lain, tetapi sikap ayahanda Sri Rajasa adalah sangat

berbeda atas diri hamba dari adik-adik hamba yang lain, baik yang lahir dari ibunda Permaisuri, apalagi dari ibunda Ken Umang, sehingga kadang-kadang timbul pertanyaan dihati hamba, apakah bedanya hamba ini dengan adik-adik hamba yang lain?”

Ken Dedes menjadi semakin pucat. Pertanyaan-pertanyaan itu bagaikan bayangan yang sangat menakutkan, siap untuk menerkamnya.

Sejak Anusapati masih kanak-anak, Ken Dedes sudah mencemaskan pertanyaan serupa itu. Bahkan ia pernah mendengarnya selagi Anusapati masih terlalu muda. Namun pada saat itu ia masih berhasil membujuknya dan mencoba menenangkan hatinya. Namun kini Anusapati yang sudah dewasa itu pasti mempunyai tanggapan yang lain dari tanggapannya dimasa ia masih terlalu muda.

Karena itu Ken Dedes terdiam sejenak. Dipandanginya saja wajah anaknya yang semakin lama menjadi semakin tunduk.

“Ibu,“ suara Anusapati menjadi bergetar, “kenapa ibunda tidak mau memberi jawaban atas pertanyaan hamba?”

“Aku tidak mengerti, bagaimana aku harus menjawab Anusapati,” berkata ibunya kemudian, “aku sudah mencoba memberikan penjelasan kepadamu. Tetapi kau merasa bahwa ada sesuatu yang aku sembunyikan. Namun aku sendiri tidak mengerti, apa yang kau anggap aku sembunyikan itu.”

“Ibunda,“ desis Anusapati kemudian, “apakah yang dapat hamba katakan tentang diri hamba sendiri. Tetapi hamba tidak dapat menyembunyikan kenyataan yang berlaku atas diri hamba. Mungkin hamba tidak lagi dapat membedakan, manakah yang sebenarnya terjadi, dan manakah yang sebenarnya sekedar khayalan hamba sendiri.”

“Anusapati,“ suara Ken Dedes menjadi parau. Terasa kerongkongannya menjadi terlampau kering.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerutkan keningnya ketika ia sadar, bahwa ibunya mulai menangis.

“Maafkan ibunda,“ berkata Anusapati kemudian, “bukan maksud hamba menyakiti hati ibunda. Hamba merasa bahwa setiap kali hamba mohon penjelasan atas diri hamba, ibunda selalu menitikkan air mata, sehingga bahkan pertanyaan dihati hamba itu rasa-rasanya menjadi semakin lama semakin dalam. Tetapi jika ibunda tidak berkenan, maka biarlah hamba tidak bertanya lagi untuk sementara, selagi hamba masih dapat bertahan.”

“Anusapati,“ suara Ken Dedes hampir hilang ditelan oleh sedu sedannya.

Anusapati tidak menjawab.

Sejenak keduanya saling berdiam diri. Yang terdengar hanyalah sedu sedan Permaisuri dari Maharaja yang Agung di Singasari, karena pertanyaan puteranya tentang dirinya sendiri.

Tetapi Anusapati tidak mendesaknya lagi. Ia sadar, bahwa hati ibunya menjadi pedih karenanya. Dan ia tidak sampai hati untuk semakin menyakiti hati yang memang sedang luka itu.

Karena itu untuk beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Anusapati duduk dengan kepala tunduk, sedang ibunya sibuk mengusap air matanya. Ia sadar, bahwa baru saja ia menegur anaknya yang menangis, tetapi ia sendiri kini tidak dapat lagi mempertahankan air matanya.

“Ibu,“ berkata Anusapati sejenak kemudian, “hamba ingin mohon diri. Hamba minta maaf bahwa hamba telah mengganggu ketenangan ibunda. Mungkin hamba memang terlaiu banyak berkhayal, sehingga hamba seakan-akan hidup dalam dua dunia yang bercampur baur.”

Ken Dedes tidak menyahut. Bahkan diraihnya lengan anaknya dan ditariknya mendekat. Seperti Anusapati masih kanak-anak dipeluknya kepala anak itu didadanya. Setitik-titik air matanya menetes membasahi rambut anak muda itu.

Baru sejenak kemudian Permaisuri itu melepaskannya dan berkata, “Hati-hatilah Anusapati. Mungkin kau benar-benar berada dalam kesulitan lahir dan batin. Tetapi sampai saat ini aku tidak dapat menolongmu, karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadamu dan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu.”

“Sudahlah ibu. Hamba akan menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu kembali. Hamba akan mencoba mencari, apakah hamba memang seorang pemimpi yang murung.”

Demikianlah Anusapati-pun kemudian meninggalkan ibunya. Langkah serasa ringan dan bahkan seakan-akan tidak berjejak diatas tanah, sehingga tubuhnya menjadi goyah.

Dalam keadaan yang demikian, terasa hatinya yang pahit menjadi semakin pahit. Karena itu maka ia tidak langsung kembali kebangsalnya. Ia tidak mau memberikan kesan yang suram kepada isterinya, yang masih saja merasa orang asing di istana Singasari.

Hampir tidak disadarinya, maka Anusapati-pun menjumpai Sumekar yang duduk diregol taman seorang diri. Tanpa menarik perhatian orang lain, maka keduanya-pun berbicara tentang luka yang rasa-rasanya semakin parah didalam dada Anusapati.

“Tuanku,“ berkata Sumekar, “apakah yang dapat hamba lakukan saat ini? Apakah hamba harus pergi ke Kediri dan mengatakannya kepada kakang Mahisa Agni.”

“Apakah kau sudah dapat menemui paman Witantra atau paman Kuda Sempana?”

“Hamba sudah berpesan,“ sahut Sumekar, “tetapi jika perlu, untuk meyakinkan diri, hamba bersedia pergi ke Kediri.”

Tetapi Anusapati menggelengkan kepalanya. Katanya, “Jika paman Witantra, Kuda Sempana atau Mahendra sudah mendengar, maka paman Mahisa Agni tentu akan memikirkan. Mungkin ia baru sibuk sehingga paman Mahisa Agni belum dapat datang ke Singasari.”

“Tetapi persoalan tuanku tidak boleh tertunda-tunda lagi. Pamanda tuanku harus segera mengetahui dengan pasti. Agaknya ayahanda Sri Rajasa telah terpengaruh untuk melakukan tindakan yang segera pula terhadap tuanku. Hamba tentu tidak tahu, tindakan apakah yang akan dilakukannya. Mudah-mudahan tidak akan melepaskan tuanku dari kedudukan tuanku yang sekarang hanya karena tuanku Sri Rajasa ingin menyerahkannya kepada tuanku Tohjaya.”

“Jadi apakah yang sebaiknya aku lakukan paman? Menemui pamanda Mahisa Agni?”

“Secepatnya. Tetapi dalam keadaan seperti ini, kedatangan pamanda Mahisa Agni dapat menimbulkan tafsiran yang berbahaya.”

“Jadi bagaimana menurut paman?”

“Pertemuan itu dapat diatur. Tidak perlu di istana ini, agar Sri Rajasa tidak mengambil langkah-langkah untuk mengatasi rencana yang tentu disangkanya tuanku susun bersama pamanda tuanku itu.”

“Baiklah paman, aku serahkan paman Sumekar untuk mengaturnya. Mungkin paman dapat menjumpai salah seorang kawan-kawan paman Mahisa Agni itu.”

Demikian Sumekar berusaha untuk menghubungi Mahisa Agni lewat kawan-kawan Mahisa Agni, sehingga akhirnya, mereka-pun telah menentukan hari-hari yang dapat mempertemukan Mahisa Agni dan Anusapati diluar istana, agar tidak menimbulkan kecurigaan Sri Rajasa.

Seperti Ken Dedes, Mahisa Agni-pun menjadi bingung. Tetapi sudah tentu ia tidak berani mendahului ibu Anusapati itu sendiri sebelum ia mendapat ijinnya. Bahkan, yang sebaik-baiknya hal itu diucapkan oleh Ken Dedes sendiri, dengan permintaan, agar Anusapati dapat mengekang dirinya.

Tetapi keadaan itu agaknya sudah menjadi terlalu parah. Jika Anusapati mengetahui, bahwa Sri Rajasa itu bukan ayahnya sendiri, maka sikapnya-pun pasti akan segera berbeda dan bahkan mungkin akan dapat menimbulkan tindakan-akan yang lebih langsung.

Sekilas Mahisa Agni terkenang akan trisulanya yang telah diberikannya kepada Anusapati. Jika perlu trisula itu akan dapat dipergunakannya.

“Jika perlu,“ desis Mahisa Agni didalam hatinya, namun sebenarnyalah ia tidak ingin suatu tindakan kekerasan dilakukan. Kecuali untuk mempertahankan diri, Mahisa Agni tidak sependapat bahwa trisula itu dipergunakan. Tetapi mempertahankan diri bagi Anusapati adalah suatu tindakan yang memang mungkin sekali harus dilakukan.

“Jadi apakah yang dapat aku lakukan paman?“

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Aku ingin mendapat kesempatan berjumpa dengan ibundamu.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Namun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Pamanda memang sebaiknya bertemu dengan ibunda. Jika aku menghadap ibunda, maka ibunda selalu menangis dan akhirnya aku tidak pernah mendapat keterangan apa-pun tentang diriku, karena aku tidak akan dapat memaksanya untuk berbicara. Aku tidak sampai hati melihat ibunda bersedih, meski-pun aku sendiri selalu bersedih.”

“Baiklah Anusapati. Aku akan segera mencari kesempatan. Sebaiknya ibundamulah yang memanggil aku, karena sesuatu alasan. Jika badannya kurang enak, maka ia dapat mengatakan kepada Sri Rajasa, bahwa ia sedang sakit. Tetapi jika ibundamu berkeberatan, maka biarlah ia memakai alasan yang lain.”

“Aku akan menyampaikannya kepada ibunda.“ jawab Anusapati, “tetapi dalam keadaan serupa saat ini, kehadiran pamanda Mahisa Agni tentu akan menimbulkan kecurigaan pada ayahanda Sri Rajasa.”

“Karena itu, sebaiknya ada alasan yang kuat dari ibundamu untuk memanggil aku.”

“Baiklah paman. Hamba akan berusaha.”

“Nah, kembalilah segera ke istana. Jika usaha membakar getah itu gagal, mungkin ada usaha yang lain. Karena itu, kau harus sering tinggal didalam bangsal untuk menenteramkan hati isterimu.”

“Baiklah paman. Aku menunggu pembicaraan paman dengan ibunda. Mudah-mudahan ada sesuatu yang dapat paman katakan kepadaku, atau dari ibunda sendiri. Aku seakan-akan melihat sesuatu yang tersembunyi didalam hati pamanda dan ibunda, yang sampai saat ini masih belum dapat aku dengar. Aku tahu, tentu suatu rahasia yang besar. Tetapi adalah suatu sifat manusiawi, bahwa semakin disembunyikan, maka semakin besar dorongan untuk mengetahuinya.”

Mahisa Agni menepuk pundak Anusapati. Sesuatu terasa bergejolak didalam hati. Tetapi ia tidak dapat mengatakan sesuatu sebelum ia bertemu dengan Ken Dedes sendiri.

Demikianlah, maka sekali lagi Anusapati menghadap ibunda yang dengan termangu-mangu menerimanya.

“Ampun ibunda. Kali ini hamba tidak akan membuat ibu berduka. Hamba hanya sekedar ingin menyampaikan sebuah pesan dari paman Mahisa Agni.”

“Pesan dari pamanmu?”

“Hamba ibunda.”

“Apa katanya?“

Anusapati menjadi ragu-ragu. Sejenak ditebarkan pandangan matanya kesekelilingnya. Dikejauhan dilihatnya seorang emban duduk tepekur.

“Apakah pesan itu bersifat rahasia?“ bisik Ken Dedes.

“Hamba ibu. Pesan itu memang bersifat rahasia.“

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipanggilnya emban itu mendekat, lalu disuruhnya membersihkan bilik pembaringan Permaisuri.

“Ada sesuatu yang terjatuh dilantai,“ berkata Permaisuri, “aku mendengar suaranya, tetapi ketika aku mencarinya, aku tidak dapat menemukan. Cobalah lihat, barangkali sesuatu yang kecil telah terjatuh.”

“Hamba tuanku,“ sembah emban itu, yang kemudian bergeser surut.

“Katakan,“ desis Ken Dedes.

“Ampun ibunda. Pamanda Mahisa Agni berpesan, bahwa pamanda ingin bertemu dengan ibunda barang sejenak.”

“Kenapa ia tidak datang saja kemari?”

“Paman menjadi ragu-ragu. Jika ia datang tanpa alasan, maka ayahanda Sri Rajasa akan menjadi curiga.”

“Kenapa curiga?”

“Ayahanda Sri Rajasa baru marah kepada hamba. Selalu. Hampir setiap perjumpaan.“ jawab Anusapati, “jika dalam keadaan demikian pamanda tiba-tiba saja datang, maka ayahanda akan menganggap bahwa kedatangan pamanda itu karena hamba.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.

“Jadi apakah ia akan datang secara rahasia?”

“Tentu tidak mungkin ibunda. Setiap orang sudah mengenal pamanda Mahisa Agni. Memang mungkin pamanda Mahisa Agni meloncat dinding tanpa diketahui oleh para prajurit. Tetapi jika ia masuk kebangsal ini dan berbicara dengan ibunda, maka suaranya mungkin sekali akan didengar orang. Atau mungkin satu dua orang emban akan melihatnya.”

“Jadi bagaimana?”

“Ibundalah harus memanggilnya.”

“Apakah alasanku memanggil kakang Mahisa Agni?”

“Memang sulit. Tetapi jika ibunda memang kurang enak badan.”

“Maksudmu, katakanlah aku sedang sakit dan aku memanggil kakang Mahisa Agni?”

“Jika ibunda tidak berkeberatan.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia memang memerlukan seseorang untuk dibawanya berbincang. Selama ini semua beban seakan-akan telah dipikulnya sendiri. Keragu-raguan, kebingungan dan kadang ketakutan dan kecemasan harus dirasakannya sendiri.

“Ada baiknya pula pamanmu datang kemari,“ tiba-tiba ia berdesis.

“Ibunda dapat mempergunakan alasan apa-pun yang baik menurut ibunda.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya wajah anaknya yang muram. Tampak pada sorot matanya, bahwa ia sedang menahan gejolak yang dahsyat didadanya.

“Kasihan anak ini,“ berkata Ken Dedes didalam hatinya. Ia harus segera menemukan jalan untuk menyelamatkan anaknya. Bukan saja dari kedudukannya, tetapi lebih daripada itu, tekanan jiwa yang semakin hari menjadi kian menghimpit hati itu, akan dapat membuatnya kehilangan keseimbangan. Anusapati dapat menjadi liar dan tidak terkendali. Namun ia akan dapat juga menjadi patah dan kehilangan segenap gairah hidupnya.

Karena itu, maka kedatangan Mahisa Agni memang sangat penting baginya. Ia adalah satu-satunya orang yang masih dapat dipercaya sepenuhnya.

“Anusapati,“ berkata Ken Dedes kemudian, “baiklah. Aku akan berusaha. Mungkin aku harus berpura-pura atau berbohong. Aku tidak pernah dengan sengaja melakukan hal semacam itu. Tetapi kali ini aku menganggap perlu. Bukan saja karena kau menghendaki demikian, tetapi akulah yang ingin berbuat.”

“Baiklah ibunda,“ sahut Anusapati, “aku harus segera menemukan jalan untuk melepaskan diri dari keadaan ini. Mungkin ayahanda sengaja membuat aku kehilangan pegangan dan menjadi gila. Gila adalah alasan yang paling baik untuk menyingkirkan aku dari kedudukanku. Tetapi gila adalah suatu keadaan yang paling tidak menyenangkan dalam kemungkinan apa-pun juga.”

Terasa sesuatu tergores dihati Ken Dedes. Luka dihati Anusapati memang sudah menjadi semakin parah.

Sepeninggal Anusapati, maka Ken Dedes-pun duduk termenung. Berbagai persoalan lewat dihatinya. Namun akhirnya ia berdesah, “Aku terpaksa melakukannya.”

Maka Ken Dedes-pun memutuskan untuk memohon kepada Sri Rajasa agar Mahisa Agni diperkenankan menengoknya, karena ia sedang sakit. Pura-pura sakit.

“Apa katamu?“ bertanya Sri Rajasa kepada seorang emban yang menghadap atas perintah Permaisuri.

“Ampun tuanku,“ jawab emban itu, “hamba mendapat perintah dari tuanku Permaisuri untuk menyampaikan pesan Tuan Puteri, bahwa Tuan Puteri sekarang sedang sakit.”

“Sakit?“ bertanya Sri Rajasa dengan heran.

“Hamba tuanku. Sudah dua hari Tuan Puteri tidak bangkit dari pembaringan.”

Sri Rajasa termenung sejenak. Sudah beberapa hari ia tidak datang kebangsal Permaisuri. Memang itu adalah kekhilafannya. Ternyata sudah dua hari Ken Dedes menderita sakit.

“Biarlah ia mati,“ terdengar suara dihatinya yang paling dalam. Tanpa disadarinya maka bagi Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu, Ken Dedes memang sudah tidak ada lagi. Jika masih juga ia kadang-kadang datang ke bangsal Permaisuri itu, maka bagi Sri Rajasa, hal itu merupakan kuwajiban yang paling menjemukan.

Namun tiba-tiba saja terbayang kembali saat-saat ia melihat Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu di taman yang sedang dibuatnya di padang Karautan. Dengan indera halusnya, ia melihat cahaya pada tubuh Permaisuri itu.

“Ia akan melahirkan raja-raja besar ditanah ini,“ tergiang suara seorang brahmana.

Seakan-akan terbayang dengan jelas penglihatannya pada waktu itu. Seorang perempuan yang cantik tiada taranya dan cahaya memancar dari tubuhnya.

Perempuan itu telah membuat gila pada waktu itu, sehingga ia telah membunuh mPu Gandring dan Akuwu Tunggul Ametung. Mengumpankan Kebo Ijo dan bahkan karena perbuatannya pula, maka Mahisa Agni telah naik ke arena melawan Panglima Pasukan Pengawal pada waktu itu, Witantra.

“Banyak peristiwa telah terjadi,“ berkala Ken Arok didalam hatinya, “apakah sekarang aku tidak menghiraukannya lagi karena sudah ada Ken Umang yang seolah-olah masih tetap muda?”

Tetapi tiba-tiba Ken Arok menggeram didalam dirinya, “Bukan. Bukan Ken Dedes yang akan melahirkan raja-raja besar di tanah ini. Akulah yang berhak menentukan, siapakah yang akan mewarisi tahta Singasari kelak.”

Sesaat Ken Arok masih digulat oleh pergolakan didalam dirinya, sehingga emban yang menghadapnya sama sekali tidak berani berbuat apa-pun juga, selain duduk tepekur sehingga kepalanya menjadi pening karenanya.

Namun akhirnya ia berkata kepada emban itu, “Kembalilah. Aku akan datang menengoknya nanti.”

“Hamba tuanku. Hamba akan menyampaikannya kepada tuanku Permaisuri.”

Sepeninggal emban itu, Ken Arok masih saja merenung. Kadang-kadang timbullah niatnya untuk mengusahakan penyembuhan bagi Permaisuri jika sakitnya memang agak berat. Tetapi kadang-kadang

ia justru melihat bahwa hal ini akan semakin menekan perasaan Anusapati dan membuatnya semakin bingung.

“Anusapati benar-benar sudah tidak aku perlukan.“ desis Sri Rajasa, “sebenarnya aku masih mengharapkan agar Ken Dedes tetap baik. Hidupnya yang prihatin selama ini membuat dirinya menjadi lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. Tetapi aku sama sekali tidak senang kepada anak Tunggul Ametung itu.“ tiba-tiba Sri Rajasa menggeram, “kenapa aku tidak berterus terang kepada rakyat Singasari sejak semula, meski-pun aku yakin, sebagian dari mereka sudah mengetahuinya.”

Tetapi Sri Rajasa tidak dapat mengulangi apa yang sudah lalu. Yang sekarang ada, adalah Anusapati, putera Tunggul Ametung yang lahir dari permaisurinya, sebagai seorang Putera Mahkota yang telah diangkatnya sendiri, dan diakui oleh rakyat Singasari, bahkan bukan saja sebagai Putera Mahkota tetapi juga sebagai pelindung dalam pakaian Kesatria Putih.

Sejenak Sri Rajasa masih merenung. Namun kemudian ia-pun segera berdiri dan berkata kepada diri sendiri, “Aku akan menengoknya. Jika keadaannya memungkinkan, aku justru akan mendapat kesempatan untuk menyampaikan niatku. Dalam keadaan sakit ia akan dapat menahan gelora hati Anusapati, karena agaknya Anusapati sangat mengasihi ibunya. Aku akan minta Ken Dedeslah yang menyatakan keadaan anaknya itu yang sebenarnya. Dengan demikian, maka akan ada suatu kemungkinan, bahwa Anusapati yang merasa dirinya tidak berhak atas tahta itu mengundurkan dirinya atas permintaan sendiri. Sesudah itu, untuk melenyapkan pengaruhnya, maka jalan yang mana-pun akan lebih mudah ditempuh, karena apabila ia bukan lagi seorang Putera Mahkota, maka hidupnya tidak akan lagi menjadi pusat perhatian rakyat Singasari. Meski-pun tidak dengan serta-merta, dan dalam waktu yang pendek, namun akhirnya Anusapati pasti akan tersingkir dari hati rakyat Singasari, dan bahkan tersingkir untuk selama-lamanya.”

Sri Rajasa kemudian mengangguk-anggukkan kepalanva. Rencananya ini dapat dijadikannya salah satu jalan dari jalan yang lain yang masih direncanakannya.

“Baru sesudah Anusapati menyadari dirinya, aku akan berusaha menyembuhkan Ken Dedes,“ berkata Sn Rajasa didalam hatinya.

Demikianlah maka Sri Rajasa-pun menyampaikan maksudnya itu kepada penasehatnya untuk mendapat penimbangan. Ternyata bahwa hal itu benar-benar telah menarik perhatiannya dan dengan serta-merta ia berkata, “Bagus sekali tuanku. Hamba kira kali ini tuanku akan berhasil. Selagi tuanku Permaisuri sakit, tuanku Anusapati tentu tidak akan berbuat apa-pun juga. Ia akan menekan perasaannya dan bahkan akan melihat kedalam dirinya sendiri, bahwa sebenarnyalah ia tidak berhak atas kedudukannya.”

“Tetapi apakah menurut pertimbanganmu Ken Dedes akan bersedia mengatakannya?“

“Hamba berharap bahwa tuanku dapat membujuknya selagi ia sakit.”

“Tetapi apakah ia tidak akan sampai kepada rahasia yang paling dalam pernah terjadi di Singasari?“

“Rahasia yang mana tuanku? Maksud tuanku bukankah tuanku Permaisuri harus mengatakan rahasia itu kepada puteranya itu? Bahwa tuanku Anusapati memang bukan putera tuanku Sri Rajasa?”

Sri Raiasa menarik nafas dalam-dalam. Selain rahasia itu masih ada rahasia lain yang tidak kalah besarnya. Meski-pun tidak pasti, tetapi Permaisurinya tentu pernah menangkap suatu siratan kata-katanya, bahwa ia telah menyingkirkan Akuwu Tunggul Ametung dengan sengaja.

“Perempuan itu kadang-kadang masih memuji suaminya yang telah mati itu,“ berkata Ken Arok didalam hatinya, sehingga karena itu, kadang-kadang ia terdorong untuk mengatakan sesuatu yang dapat memberikan kesan tentang pembunuhan yang pernah dilakukan.

“Tetapi ia tidak akan mengatakannya,“ berkata Sri Rajasa didalam hatinya pula, “ia akan kehilangan aku, dan ia akan kehilangan pegangan hidupnya. Jika Anusapati tahu bahwa aku yang telah membunuh ayahnya, maka hal ini akan menghadapkan Ken Dedes pada persoalan yang paling sulit didalam hidupnya, ia harus memilih, anaknya atau suaminya. Dan Ken Dedes tentu tidak akan berani kehilangan suaminya yang kini berkuasa di Singasari.”

Demikianlah maka akhirnya Sri Rajasa mengambil keputusan, bahwa ia benar-benar akan minta kepada Ken Dedes yang sedang dalam keadaan sakit itu untuk mengatakan saja kepada anak laki-lakinya, bahwa sebenarnya ia memang bukan putera Sri Rajasa. Sri Rajasa-pun yakin pula, bahwa Ken Dedes tidak akan berani membuka rahasia yang lebih besar lagi, karena ia justru tidak mau kehilangan salah seorang dari dua orang laki-laki yang sama-sama penting baginya. Suaminya dan anaknya. Jika ia diam dalam hubungan dengan terbunuhnya Tunggal Ametung, maka ia tidak akan melihat alasan apa-pun yang dapat membahayakan jiwa anaknya selain kehilangan gelarnya sebagai Putera Mahkota.

“Persoalan selanjutnya akan menjadi lebih mudah,“ berkata Ken Arok kepada diri sendiri.

Maka ketika ia benar-benar pergi kebangsal Permaisurinya, ia sudah menyiapkan kalimat-kalimat yang paling baik dikatakan untuk mendesak agar Ken Dedes yang dianggapnya sakit itu tidak berkeberatan untuk mengatakannya.

Ketika ia memasuki bilik Permaisuri, dilihatnya Permaisuri yang pucat berbaring dipembaringannya berselimut kain panjang berwarna kelam. Dengan demikian seakan-akan Permaisuri itu benar-benar dalam keadaan sakit yang agak berat.

“Ampun tuanku, hamba tidak dapat menyambut kedatangan tuanku sebagaimana seharusnya.”

“Berbaringlah,“ berkata Sri Rajasa, “jika kau masih merasa sakit, kau dapat mengesampingkan tata cara yang seharusnya berlaku.”

“Terima kasih tuanku,“ jawab Ken Dedes.

Ken Aroklah yang kemudian berdiri disisi pembaringan Permaisurinya. Dengan dada yang berdebar-debar dipandanginya wajah yang suram dan pucat itu.

Bagaimana-pun juga, ketika ia sudah berdiri disamping Ken Dedes yang terbaring itu, terasa sesuatu telah menyentuh hatinya. Sekilas terbayang kembali bagaimana ia menjadi tergila-gila disaat-saat ia melihatnya untuk pertama kali. Kecantikan perempuan padepokan Panawijen itu benar-benar telah mencengkamnya, sehingga ia telah berbuat gila karenanya. Namun kegilaannya saat itu telah mendorongnya sehingga ia kini berada diatas tahta Singasari.

Ken Arok itu-pun menarik nafas dalam-dalam. Kecantikan Ken Dedes masih tampak pada wajahnya yang berkerut-merut. Bahkan semakin tajam Sri Rajasa memandanginya, tampaklah olehnya bahwa perempuan ini lebih cantik dari Ken Umang. Namun Ken Umang adalah perempuan yang segar dan kadang-kadang tubuhnya panas membara, sehingga Sri Rajasa telah dicengkamnya lahir dan batinnya.

Tetapi dihadapan Ken Dedes yang sedang sakit, hati Sri Rajasa seakan-akan menjadi luluh. Ia tidak dapat melupakan apa yang pernah terjadi disaat-saat mereka masih cukup muda untuk memadu hati. Tetapi kini anak-anak mereka seorang demi seorang telah lahir dan menjadi dewasa. Bahkan cucu-cucunya-pun telah lahir pula, sehingga masa-masa yang indah itu hanyalah tinggal merupakan suatu kenangan. Namun kenangan masa lampau itu kadang-kadang memang menumbuhkan kerinduan.

“Apakah yang kau rasakan?“ Sri Rajasa-pun kemudian bertanya dengan suara yang dalam.

“Ampun tuanku, hamba tidak tahu apakah sebenarnya sakit hamba. Tetapi rasa-rasanya badan hamba menjadi terlalu lemah dan kepala hamba menjadi pening.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “biarlah aku mengundang dukun yang paling pandai dinegeri ini. Kau akan segera disembuhkan.“

“Tidak perlu tuanku. Biarlah hamba minum obat yang setiap hari disediakan oleh seorang emban. Hamba merasa, bahwa keadaan hamba menjadi bertambah baik.”

Sri Rajasa terdiam sejenak. Ada semacam benturan perasaan didalam dirinya. Kadang-kadang ia masih juga teringat, rencana yang sudah dipikirannya masak-masak. Namun jika ditatapnya wajah Ken Dedes yang membayangkan masa-masa mudanya, ia menjadi ragu-ragu.

Namun sejenak kemudian ia berkata, “Apakah kau yakin bahwa kau akan sembuh karena obat itu?”

“Ya tuanku.”

“Obat apakah itu?”

“Pipisan tela grandel selengkapnya. Akar, kulit, pelepah, daun dan buahnya yang masih sangat muda, serta beberapa lembar bunga dan daunnya.”

“Hanya itu?“

“Hamba tuanku.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia-pun kemudian berjalan mondar mandir didalam bilik itu. Sejenak ia berdiri di muka geledeg kayu berukir melihat-lihat beberapa buah benda yang terletak didalamnya.

Dalam pada itu, dari beberapa benda itu Sri Rajasa melihat bayangan masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung. Diantara beberapa macam benda-benda itu adalah peninggalan Akuwu Tumapel yang sudah terbunuh. Diantaranya adalah sebuah gading gajah yang panjang berukir dibungai dengan ukiran emas pada pangkal dan ujungnya. Sebuah tempurung tempat minum berukir

emas pula dan sebuah selongsong tombak disamping beberapa macam benda-benda yang lain.

Ada sesuatu yang aneh melonjak didalam hatinya. Tiba-tiba saja kebenciannya pada masa lampau itu tumbuh dengan serta merta, merenggut kerinduannya yang mulai kabur. Ia sama sekali tidak lagi melihat masa lampau yang indah selagi ia masih muda.

Perlahan-lahan Sri Rajasa berpaling. Dilihatnya wajah Ken Dedes yang sudah mulai berkerut dilukisi garis-garis umur.

“Ia memang cantik. Tetapi aku tidak mengambilnya selagi ia masih gadis. Aku mengambilnya setelah ia mengandung. Akuwu Tunggal Ametunglah yang memiliki kagadisannya. Bukan aku. Dan sekarang dari padanya lahir seorang anak laki-laki yang selalu menimbulkan persoalan bagiku.”

Tiba-tiba saja Sri Rajasa mengatupkan giginya. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati Ken Dedes yang masih berbaring diam. Kini ia mendapat dorongan untuk mengatakan niatnya, agar Ken Dedes mengatakan saja kepada anaknya, siapakah ia sebenarnya, agar Anusapati tidak merasa dirinya terlampau besar dan menganggap bahwa ia menduduki jabatannya dengan sah.

Sejenak Sri Rajasa termangu-mangu ditepi pembaringan. Namun hatinya telah pasti bahwa ia harus mengatakannya.

“Tetapi aku tidak boleh hanyut oleh arus perasaanku,“ katanya didalam hati.

Karena itulah, maka wajahnya-pun menjadi cerah kembali. Bahkan perlahan-lahan ia duduk dipembaringan itu sambil meraba dahi Permaisurinya.

“Kau panas sekali,“ berkata Sri Rajasa.

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Tetapi ia menyahut, “Ya tuanku. Hamba memang merasa panas sekali.”

Sri Rajasa menarik nafat dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kau harus beristirahat sebaik-baiknya. Jangan kau hiraukan lagi apa-pun

yang terjadi. Kau harus pula mengosongkan rahasia yang ada didalam dirimu, agar kau tidak selalu dikejar-kejarnya siang dan malam.”

Dada Ken Dedes menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu maksud Ken Arok. Justru ketika ia tampaknya dalam keadaan sakit Sri Rajasa minta ia mengosongkan dirinya.

“Apakah itu berarti bahwa Sri Rajasa menganggap bahwa aku sudah akan mati, atau justru Sri Rajasa mengharap aku mati?“ bertanya Ken Dedes kepada diri sendiri, “seseorang yang akan mati memang sebaiknya mengosongkan dirinya sendiri dari segala rahasia dan endapan perasaan, agar terbukalah jalan yang licin dihadapannya apabila ia memang sudah iklas.”

Dalam pada itu sebelum Ken Dedes bertanya, Ken Arok sudah mendahuluinya, “Maksudku, kau tidak lagi dibebani oleh berbagai macam perasaan yang dapat mempengaruhi dirimu, mempengaruhi kesehatanmu. Tampaknya kau memang sudah mulai dijamah oleh berbagai macam penyakit. Karena itu, supaya kau tidak terlalu dibebani oleh berbagai macam persoalan, maka kau dapat mengurangi tekanan-tekanan yang menghimpit jantung. Dengan demikian hatimu menjadi agak terbuka, dan badanmu akan menjadi sedikit terlepas dari tekanan itu. Mudahnan kau berangsur-angsur menjadi baik.”

Permaisuri itu menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia salah sangka. Ternyata bahwa Sri Rajasa tidak mengharap ia segera mati, meski-pun ia tidak tahu pasti apa yang terpikir didalam hatinya.

“Tuanku,“ berkata Ken Dedes dengan suara gemetar, “apakah yang dapat hamba lakukan untuk mengurangi beban perasaan hamba?”

“Ken Dedes,“ berkata Sri Rajasa, “aku tahu, bahwa hampir sepanjang hidupmu sebagai permaisuri di Singasari, kau terpaksa menyimpan suatu rahasia untuk melindungi namaku. Aku sangat berterima kasih. Jika rahasia itu adalah rahasia kecil yang harus kau sembunyikan dari tangkapan rakyat Singasari, mungkin kau tidak

akan menjadi begitu perasa dan bahkan menjadi sakit-sakitan. Tetapi aku tahu, bahwa rahasia ini adalah rahasia anak laki-lakimu. Dan aku tahu, bahwa pada suatu saat ia pasti akan bertanya tentang dirinya. Ada lebih dari separo penghuni istana, terutama yang tua-tua yang sebenarnya mengetahui siapakah Anusapati itu. Aku menjadi kasihan kepadanya, bahwa pada suatu ketika ia mendengarnya justru dari orang lain, sehingga mudah sekali akan timbul salah paham. Dan aku juga kasihan kepadamu, bahwa kau harus menahan hatimu untuk tetap menyimpan rahasia itu.“ Sri Rajasa berhenti berhenti sejenak. Lalu, “Sekarang Anusapati sudah dewasa. Ia sudah dapat menimbang baik dan buruk. Ia sudah dapat mengetahui mana yang boleh dan yang tidak boleh dikerjakan.”

Kini dada Ken Dedes yang mulai tenang itu menjadi berdebar-debar kembali. Sejenak ditatapnya wajah Sri Rajasa, namun ia tidak mengucapkan kata-kata.

Sri Rajasa yang kemudian berdiri dan berjalan mondar-mandir diruangan itu berkata, “Apakah kau mengerti maksudku Ken Dedes?”

Dada Ken Dedes menjadi semakin berdebaran. Namun ia mengangguk kecil sambil menjawab, “Hamba mengerti tuanku.”

“Kau jangan salah paham. Aku tidak akan berbuat sesuatu atas dasar pengakuanmu terhadap anakmu. Ia akan tetap aku anggap sebagai anakku sendiri.”

Dada Ken Dedes terasa menjadi semakin sesak. Dan tiba-tiba ia merasa bahwa tubuhnya benar-benar menjadi panas.

“Ken Dedes,“ berkata Sri Rajasa, “sudah lama kau menjaga namaku baik-baik. Sudah cukup lama, selagi Anusapati masih belum cukup masak untuk mengetahui dirinya sendiri, sehingga dicemaskan ia akan berbuat sesuatu. Tetapi sekarang aku kira ia akan dapat melihat bahwa yang terjadi itu sudah terjadi. Dan aku berharap bahwa hal itu tidak akan membuatnya berkecil hati, asal kau dapat memberinya hati dan mengatakan bahwa Akuwu Tunggul

Ametung adalah seorang yang besar pada masanya ia masih berkuasa.“

Dada Ken Dedes bagaikan tidak lagi dapat memuat gejolak perasaannya yang melonjak-lonjak. Namun ia masih tetap bertahan dan mencoba untuk tidak menangis karena kata-kata Sri Rajasa itu.

Ternyata bahwa Ken Dedes, bukannya seorang perempuan yang bernalar tumpul, ia adalah seorang yang cukup cerdas karena ayahnya-pun adalah seorang yang memiliki kelebihan dari sesamanya. Karena itu, meski-pun tidak begitu jelas, tetapi ia dapat meraba, apakah sebabnya maka Sri Rajasa menganjurkannya untuk membuka rahasia itu.

Karena itu, karena luapan perasaan, tiba-tiba hampir diluar sadarnya Ken Dedes bertanya, “Sampai dimanakah hamba dapat mengatakan rahasia tentang diri anakku itu tuanku? Apakah pengetahuanku tentang rahasia itu harus aku katakan tanpa batas?“

Pertanyaan itu tiba-tiba telah mengguncang hati Sri Rajasa. Ia sadar, bahwa Ken Dedes pasti sudah mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Mungkin dengan tidak langsung lidahnya sendiri pernah mengatakan, bahwa ia telah berbuat sesuatu untuk mencapai kedudukannya sekarang. Mungkin karena ia menganggap bahwa Ken Dedes sepenuhnya telah menggantungkan dirinya, hidup dan matinya, kepadanya, maka ia dapat berbuat dan berkata apa saja tanpa mencemaskan bahwa Ken Dedes akan berbuat sesuatu.

Namun kini ternyata Ken Dedes bertanya kepadanya apakah rahasia itu seluruhnya dapat dikatakan kepada anaknya.

Sri Rajasa yang kemudian berdiri tegak dengan tatapan mata yang tegang itu mencoba menahan gejolak hatinya yang meronta-ronta.

Sri Rajasa tidak menyangka, bahwa pada suatu saat ia dihadapan pada pertanyaan serupa itu, yang tumbuh karena kehendaknya sendiri agar Ken Dedes tidak lagi menyimpan rahasia tentang anaknya.

“Tetapi sampai dimana batas dari rahasia yang dapat dikatakan kepada Anusapati itu? “ pertanyaan itu justru kini melengking-lengking dihatinya.

Ketika tampak wajah Ken Dedes yang pucat dan berkerut merut itu, tiba-tiba saja segala macam perasaan dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami seolah-olah telah lenyap. Ken Dedes kini sudah bukan Ken Dedes yang muda dan cantik itu lagi. Ken Dedes janda Tunggul Ametung itu adalah seorang perempuan yang menjadi semakin tua.

“Apalagi gunanya aku menyelamatkan orang ini,“ berkata Sri Rajasa didalam hatinya.

Dengan demikian maka segala hasrat yang mulai merayapi hatinya untuk mengusahakan penyembuhan bagi Ken Dedes itu seakan-akan telah lenyap sama sekali.

Namun demikian Ken Arok sadar, bahwa ia harus menjawab pertanyaan Ken Dedes itu. Karena itu, maka terdengar suaranya yang dalam tertahan-tahan, “Kau sudah cukup tua Ken Dedes. Seharusnya kau tidak bertanya kepadaku. Terserahlah kepadamu apa yang kau anggap baik kau katakan kepada anakmu itu. Kalau kau ingin mengajarinya menjadi manusia yang baik, kau tahu, batas-batas yang sebaiknya kau katakan. Tetapi jika kau ingin melihat anakmu menjadi seorang yang dapat dianggap oleh rakyat Singasari sebagai seorang yang biadab, kau dapat mengatakan apa saja yang kau ketahui tentang anak itu, tentang Tunggul Ametung yang sudah mati itu dan tentang aku sendiri.”

“Tuanku.”

“Ya, itulah jawabanku. Ingat, bahwa setiap usaha untuk mengacaukan Singasari dapat berakibat kematian. Meski-pun ia putera Mahkota sekalipun.”

“Tuanku, apakah maksud tuanku hendak mengancam agar aku mengatakan kepada Anusapati bahwa ia bukan putera Tuanku dan agar aku membuatnya hatinya susut sekecil butiran pasir yang paling lembut? Kemudian dengan demikian kita semuanya berharap

agar ia merasa terlampau besar untuk menjadi seorang Putera Mahkota sehingga Anusapati kemudiai lari dari kedudukannya atas kehendak sendiri? Dengan demikian maka terbukalah kesempatan bagi tuan untuk menunjuk seorang penggantinya.”

“Cukup, cukup,“ Sri Rajasa hampir berteriak.

Namun Ken Dedes sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan tiba-tiba ia bangkit dari pembaringannya dan berkata lantang, “Tuanku, aku tidak rela jika kedudukan ini jatuh ketangan orang lain yang bukan keturunan Ken Dedes. Jika tuan tidak senang kepada Anusapati, karena Anusapati bukan putera tuanku, aku akan mengatakannya kepadanya. Tetapi tahta Singasari tidak boleh lepas dari keturunan Ken Dedes. Apalagi hamba juga mempunyai anak laki-laki yang lahir dari tuanku.”

Tubuh Sri Rajasa tiba-tiba menjadi gemetar. Ia belum pernah melihat Ken Dedes berani menentang kehendaknya. Apalagi membantah kehendaknya. Namun tiba-tiba ia melihat wajah Ken Dedes yang pucat itu menjadi merah padam.

Tetapi Sri Rajasa tidak mau surut selangkah. Ia-pun kemudian berkata, “Apa hakmu mengatur tahta Singasari? Kau sangka warisan yang kau dapat dari Tunggul Ametung itu cukup berharga dibandingkan dengan kebesaran Singasari sekarang? Aku tahu, bahwa Tunggul Ametung pernah menyerahkan semua haknya kepadamu. Tetapi Tunggul Ametung adalah Akuwu dari Tumapel yang kecil. Sedang kini aku adalah Maharaja dari Singasari yang besar dan perkasa. Tidak seorang-pun yang dapat memerintah aku. Tidak seorang-pun yang dapat menahan kehendakku.”

Ternyata kata-kata itu telah memanaskan hati Ken Dedes. Ken Dedes yang pendiam dan penurut itu tiba-tiba saja telak menunjukkan sikap yang sama sekali berbeda. Tiba-tiba saja ia berdiri dan berkata, “Tuanku. Jika tuanku memang berkuasa dan tidak seorang-pun dapat menahan kehendak dan keinginan tuanku, kenapa tuanku tidak bertindak sendiri. Kenapa tuanku harus mempergunakan jalan yang panjang untuk mengusir Anusapati? Sebaiknya tuanku bertindak tegas terhadap anak itu. Tuanku tidak

usah memakai cara seperti yang tuanku tempuh untuk merebut kedudukan Tunggul Ametung dan mengawini jandanya. Aku tidak menyesal karena waktu itu, aku yang merasa hidupku kering, menemukan cinta pada tatapan mata tuan. Aku-pun tidak menyesal ketika aku mengetahui cara yang tuan tempuh. Tetapi sekarang tuanku tidak usah memakai cara yang berselubung dan mengorbankan orang lain untuk kepentingan tuan. Tuan dapat menentukan keinginan tuan karena tuan adalah seorang Maharaja. Tuan-pun tidak pernah mempergunakan cara yang terselubung untuk menghancurkan Kediri dan tuanku berhasil.”

“Cukup, cukup.”

“Belum tuanku. Hamba masih ingin mengatakan, bahwa sebaiknya tuanku bertindak sendiri. Apakah tuanku ingin anak itu pergi dari Singasari atau tuanku ingin membunuhnya sama sekali.“

“Kau sudah gila. Kau sudah gila.“ Sri Rajasa menggeram. Wajahnya menjadi merah padam karena kemarahan yang meluap-luap. Hampir saja ia kehilangan pengamatan diri dan bertindak kasar terhadap Permaisurinya yang dianggapnya sedang sakit itu. Tetapi niatnya segera luluh ketika tiba-tiba saja ia melihat sesuatu yang sudah lama sekali tidak dilihatnya. Ketika Ken Dedes menggeretakkan giginya karena marah, tiba-tiba Ken Arok melihat cahaya yang dahulu pernah dilihatnya. Cahaya yang menyilaukan memancar dari tubuh perempuan yang lemah itu.

Dengan dada yang berdebar-debar Ken Arok mengusap matanya. Semula ia tidak begitu yakin akan penglihatannya. Namun semakin lama cahaya itu seakan-akan menjadi semakin terang.

Sejenak Ken Arok terpaku diam. Tetapi cahaya yang menyilaukan itu seakan-akan berkata kepadanya, “Akulah yang berhak menurunkan raja diatas tanah ini. Bukan orang lain.”

Tiba-tiba Ken Ariok menutup kedua belah matanya dengan tangannya. Tetapi cahaya yang silau itu tidak dapat dihindarinya. Meski-pun matanya terpejam dan kedua belah telapak tangannya menutup matanya, tetapi rasa-rasanya ia masih tetap tersilau oleh

cahaya yang pernah dikenalnya. Cahaya yang telah membuatnya semakin gila disaat mudanya.

Ken Dedes yang sedang marah itu sempat juga menyaksikan apa yang dilakukan oleh Ken Arok. Dengan terheran-heran ia melihat sikap yang tidak dimengertinya itu. Kenapa tiba-saja Ken Arok seakana menjadi silau memandangnya. Sedang Ken Dedes sendiri sama sekali tidak menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi atasnya. Ken Dedes tidak menyadari bahwa dari dirinya telah memancar cahaya yang menyilaukan kedua mata Sri Rajasa itu.

Apalagi ketika kemudian Ken Arok itu berkata dengan suara yang terputus-putus sambil memalingkan kepalanya, “Baiklah Ken Dedes. Aku akan memperhatikan pendapatmu. Aku akan mempertimbangkannya.”

Ken Dedes yang menjadi semakin heran itu-pun kemudian menjadi cair. Kemarahannya perlahan-lahan menjadi pudar. Terkenang olehnya apa yang perah terjadi atas Akuwu Tunggul Ametung. Didalam suatu keadaan yang serupa, selagi Akuwu Tunggul Ametung marah kepadanya, tiba-tiba saja Akuwu yang berkuasa pada waktu itu-pun menjadi seakan-akan silau memandangnya.

“Aku tidak mengerti, apakah sebenarnya yang telah terjadi atasku didalam keadaan ini,“ berkata Ken Dedes didalam hatinya.

Dalam pada itu Sri Rajasa-pun berkata pula, “Sudahlah Ken Dedes. Aku tidak akan mempersoalkannya lagi. Semua yang kau katakan akan aku pertimbangkan.”

“Hamba tidak mengerti tuanku,“ berkata Ken Dedes kemudian. Suaranya sudah jauh berbeda dengan nada suaranya ketika ia menjadi sangat marah.

Perlahan-lahan Ken Arok-pun berpaling pula. Ketika ia memandang Permaisuri itu, sinar yang silau itu sudah tidak dilihatnya lagi.

Sejenak kemudian sadarlah Ken Arok, bahwa cahaya itu adalah cahaya yang tidak kasat mata wadagnya. Tetapi sinar itu langsung menembus dinding hatinya dan menyilaukan mata batinnya. Karena itu, maka ia-pun harus mengakui, bahwa yang dihadapinya kini adalah masih Ken Dedes yang dahulu, Ken Dedes yang pernah disebut oleh seorang Brahmana, bahwa ia akan melahirkan raja-raja yang akan berkuasa diatas tanah ini.

Sejenak kemudian, Ken Arok yang bergerlar Sri Rajasa itu-pun telah berhasil menguasai dirinya kembali. Karena itu maka ia-pun segera melangkah maju dan berkata, “Ken Dedes jangan kau biarkan hatimu terbakar. Aku minta maaf, barangkali kata-kataku terdorong oleh gejolak perasaan yang tidak terkandali.”

“Ampun tuanku. Hamba tidak menganggap demikian, Hamba-pun mohon maaf, bahwa hamba sudah bertindak diluar keharusan hamba sebagai seorang isteri dan seorang Permaisuri.”

“Berbaringlah. Bukankah kau sedang sakit?”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia-pun kemudian duduk kembali dipembaringannya. Katanya, “Ya tuanku. Hamba memang sedang sakit. Dan itulah sebabnya kadang-kadang hamba kehilangan pengamatan diri karena badan hamba terlampau panas.”

“Berbaringlah.”

“Hamba tuanku.”

“Berbaringlah. Kau perlu beristirahat.”

Ken Dedes termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun membaringkan dirinya diatas pembaringannya. Kemudian ditariknya selimutnya yang berwarna kelam. Dan sesaat kemudian. Ken Dedes telah kembali kedalam keadaannya, seakan-akan seseorang yang benar-benar sakit.

“Ken Dedes,“ berkata Sri Rajasa kemudian, “kau jangan gelisah. Dan berbuatlah apa yang akan kau lakukan.”

“Terima kasih tuanku. Dalam keadaan hamba ini, perkenankanlah hamba memohon kepada tuanku.”

Sri Rajasa menjadi berdebar-debar. Sejenak ia termangu-mangu. Jika permohonan itu langsung menyangkut kedudukan Anusapati, maka hal itu akan sangat membingungkannya. Meski-pun ia sadar bahwa Ken Dedes adalah seseorang yang memang ditakdirkan untuk melahirkan keturunan raja-raja, tetapi kenapa harus Anusapati, Putera Akuwu Tunggul Ametung? Bukan keturunan Sri Rajasa Batara Sang Amurwabmni?

Dalam keragu-raguan itu, terdengar Ken Dedes berkata, “Ampun tuanku. Hamba tidak akan memohon sesuatu diluar kemauan tuanku. Hamba hanya memohon agar kakak hamba, Mahisa Agni diperkenankan menengok hamba didalam keadaan ini.”

“O,“ Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah. Baiklah, jika itu yang kau kehendaki. Aku akan memerintahkan seorang utusan pergi ke Kediri untuk memanggil Mahisa Agni dan mengatakan kepadanya bahwa kau sedang sakit dan menunggu kedatangannya, agar ia benar-benar segera datang kemari.”

Ken Dedes masih juga terheran-heran melihat sikap Sri Rajasa. Tetapi kemudian ia mencoba untuk menyingkirkan teka-teki itu. Karena itu maka ia-pun menyahut, “Terima kasih tuanku. Hamba mengharap sekali kedatangan kakang Mahisa Agni.”

“Baik, baik. Aku akan memerintahkannya sekarang juga.”

Sebelum Ken Dedes menjawab, maka Sri Rajasa itu-pun dengan tergesa-gesa meninggalkan bilik itu, sehingga Ken Dedes menjadi semakin heran karenanya. Apakah yang sudah terjadi atas Sri Rajlasa itu, dan apakah hal itu menguntungkannya atau justru sebaliknya.

“Sri Rajasa seakan-akan dalam ketidak sadaran,“ berkata Ken Dedes didalam hatinya, “jika ia kemudian menyadari apakah yang dilakukannya, apakah ia akan kembali menjadi marah dan bertindak kasar terhadap Anusapati?”

Tetapi Ken Dedes mencoba untuk tidak mencemaskan anaknya. Ia tahu bahwa anaknya mempunyai kemampuan membela dirinya. Didalam keadaan yang terpaksa ia tentu tidak akan menyerahkan nyawanya begitu saja.

“Mudah-mudahan ia dapat menjaga dirinya sendiri sampai kakang Mahisa Agni datang,“ desis Permaisuri itu.

Dalam pada itu, ketika Ken Arok sampai diluar pintu bangsal permaisuri dan disambut oleh pengawalnya, seakan-akan ia merasa terlempar dari sebuah mimpi yang dahsyat. Sejenak ia berdiri termangu-mangu, dan bahkan sekali-sekali berpaling. Dilihatnya pintu bangsal itu masih tetap seperti semula. Namun agaknya didalam bangsal itu terdapat sesuatu yang sudah tidak dikenalnya. namun tiba-tiba saja hadir disaat-saat yang menentukan.

“Apakah yang mempengaruhi keadaan ini, dan apakah Ken Dedes menyadari keadaan dirinya?“ bertanya Sri Rajasa kepada diri sendiri.

Namun Sri Rajasa tidak menemukan jawabnya. Sekali-sekali timbullah niatnya untuk meyakinkan sekali lagi, apakah dalam keadaan marah cahaya itu menampakkan dirinya atau dalam keadaan yang gawat bagi Ken Dedes atau dalam keadaan yang mana yang dapat mempengaruhi sehingga cahaya itu timbul?

Tetapi niat itu diurungkannya. Dengan tergesa-gesa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu-pun kemudian meninggalkan tangga bangsal Permaisuri itu.

Beberapa orang emban yang melihatnya menjadi terheran-heran. Mereka tidak mengerti sikap Sri Rajasa yang aneh. mereka mendengar suara Sri Rajasa yang agak keras didalam bilik Permaisuri, bahkan kemudian suara Permaisuri keras pula sehingga mereka menjadi gemetar dan ketakutan. Jika Sri Rajasa marah dan Permaisuri marah pula, mereka tentu akan bertengkar. Hal yang hampir tidak pernah terjadi, karena Permaisuri tidak pernah membantah atau mengelakkan kata-kata Sri Rajasa.

Namun tidak seorang-pun yang berani mempercakapkan hal itu. Mereka hanya menyimpannya didalam hati masing-masing.

Dalam pada itu, Sri Rajasa-pun langsung memanggil beberapa orang perwira. Diperintahkannya untuk mengutus seorang gandek pergi ke Kediri untuk memanggil Mahisa Agni atas namanya.

“Beritahukan bahwa adiknya Ken Dedes sedang sakit dan mengharap kedatangannya segera.”

“Hamba tuanku. Hamba akan memerintahkan seseorang untuk berangkat hari ini.”

Demikianlah, perwira itu-pun segera pergi menemui seorang utusan yang diperintahkannya saat itu juga berangkat untuk menyampaikan perintah Sri Rajasa, memanggil Mahisa Agni.

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni sudah menunggu, kapan Sri Rajasa memanggilnya. Bahkan hampir tidak bersabar ia menanti hari-hari berikutnya.

Demikianlah ketika utusan Sri Rajasa menghadapnya, Mahasa Agni-pun menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah tuan Puteri sedang sakit panas atau pening atau sakit apa?”

“Hamba tidak mengetahuinya.”

“Baiklah. Aku akan segera pergi ke Singasari. Sampaikan kepada Sri Rajasa, bahwa setelah aku mempersiapkan diri dan meninggalkan pesan-pesan di Kediri, aku akan segera pergi ke Singasari.”

Sepeninggal utusan itu, maka Mahisa Agni-pun segera mempersiapkan diri. Setelah berpesan kepada para pemimpin Kediri dan juru tamannya, maka ia-pun segera mempersiapkan kudanya.

“Apakah kau akan pergi sendiri?“ bertanya Kuda Sempana yang menjadi juru taman pula di istana Kediri.

“Ya. Aku akan pergi sendiri. Tetapi aku berharap dapat menemui kakang Witantra atau Mahendra. Jika aku tidak bertemu dengan keduanya, sampaikan kepada mereka, bahwa aku pergi ke Singasari. Agaknya aku harus mengambil sikap yang pasti menghadapi Sri Rajasa dan Tohjaya. Aku tidak mengerti, apa yang sekarang telah mereka rencanakan.”

“Baiklah. Mudah-mudahan kau berhasil. Jika keturunan Panawijen berhasil mempertahankan gelarnya, aku akan berbangga.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sesuatu telah terbersit dihatinya. Seperti dirinya sendiri, Kuda Sempana-pun pernah tergila-gila kepada Ken Dedes. Namun ia tidak berhasil mendapatkannya karena Akuwu Tunggul Ametung. Namun kini ia tidak dapat mendendam anak Akuwu itu. Bahkan sebaliknya. Ia merasa wajib melindunginya, karena ia adalah anak Ken Dedes.

Demikianlah dihari berikutnya Mahisa Agni bersiap untuk pergi ke Singasari. Ternyata ia masih sempat bertemu dengan Witantra karena setiap kali baik Witantra mau-pun Mahendra selalu datang menghubunginya. Kadang mereka datang bersama-sama, kadang-kadang mereka datang berganti-gantian.

“Agaknya kita akan sampai pada batas terakhir dari ceritera yang sangat menarik ini. Perang yang diam-diam terjadi diantara para penjabat tinggi di Singasari. Antara putera Sri Rajasa dan antara Sri Rajasa dengan Permaisuri. Kekalutan ini memang harus segera diakhiri. Tetapi kita harus menemukan akhir yang paling baik.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berdesis, “Yang paling baik itu-pun masih mempunyai beberapa kemungkinan. Paling baik bagi Sri Rajasa akan berbeda, dengan yang paing baik bagi Anusapati.”

“Ya,“ Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “itulah kelemahan kita sebagai manusia. Kita masih didasari penilaian dari sudut pandangan dan kepentingan diri sendiri. Didalam keadaan

yang gawat, kadang-kadang kita hanya mengenal suara hati sendiri.”

“Baiklah Agni. Pergilah. Kehadiranmu akan sangat bermanfaat bagi Anusapati yang memerlukan pertimbangan. Sudah tentu bahwa Sumekar tidak akan dapat memberikan pertimbangan sebanyak yang dapat kau berikan.”

“Terima kasih. Mungkin didalam suatu saat yang berbahaya, aku memerlukan kau, Mahendra dan Kuda Sempana. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tetapi gambaran yang sekarang terbayang adalah kekerasan. Namun sampai dimana batasnya itulah yang tidak aku ketahui.”

Demikianlah maka Mahisa Agni-pun segera pergi ke Singasari. Seperti biasanya, ia hampir tidak pernah membawa seorang pengawalpun. Namun kali ini Witantra merasa curiga. Jika utusan itu sekedar memancing perjalanan Mahisa Agni dan mencegatnya diperjalanan seperti yang pernah dilakukan didalam istananya di Kediri, maka kekalutan-pun pasti akan bertambah. Karena itu, maka ia-pun mengikutinya dari kejauhan bersama Kuda Sempana, meski-pun mereka berangkat tidak dalam waktu yang bersamaan. Namun mereka-pun bertemu pada suatu sidatan jalan memintas dan langsung mengikuti dan mengawasi perjalanan Mahisa Agni dari kejauhan. Mahisa Agni-pun menyadari bahwa Witantra dan Kuda Sempana sedang membayanginya. Sekali-sekali ia berpaling, namun ia tidak memberikan isyarat apa-pun kepada kedua orang itu.

Disepanjang perjalanan Mahisa Agni tidak menjumpai kesulitan apa-pun juga. Ternyata tidak ada seorang-pun yang menunggunya dikelokan-kelokan jalan. Juga ketika hari menjadi malam. Meski-pun demikian Mahisa Agni tetap berhati-hati agar tidak seorang-pun yang dapat menyergapnya dengan tiba-tiba.

Ketika Mahisa Agni mulai memasuki kota Singasari, maka barulah Witantra dan Kuda Sempana melepaskan pengawasannya dan mereka-pun segera kembali ke Kediri meski-pun mereka harus berhenti dan beristirahat di tengah-engah padang rumput karena kudanya yang payah. Diberinya kudanya kesempatan minum air dari

belik di pinggir sungai dan makan rerumputan yang hijau sementara keduanya duduk bersandar batu yang besar. Ternyata keduanya-pun sempat terkantuk-kantuk, dan bahkan kadang-kadang terlena sejenak.

Ketika kuda-kuda mereka sudah beristirahat, maka mereka-pun segera kembali ke Kedi'ri, meski-pun mereka tidak lagi berpacu cepat-cepat.

Ketika mereka sampai ke Kediri, maka Kuda Sempana-pun harus membuat ceritera kepada kawan-kawannya, kemana selama ini ia pergi, karena ketika ia berangkat, ia hanya minta ijin sejenak. Tetapi ternyata ia pergi selama dua hari.

“Jika hal ini didengar oleh tuan Mahisa Agni, maka kau akan dimarahinya,“ berkata pemimpin juru taman, “bahkan mungkin kau akan dipecat.”

“Aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Adalah suatu halangan yang tidak dapat aku atasi, bahwa aku kali ini tidak menepati janjiku untuk kembali disiang hari.”

“Kau dapat mengarang seribu alasan. Tetapi yang penting kau tidak akan mengulangi kesalahan ini.“

“Ya, ya. Aku tidak akan mengulanginya.“ Namun demikian Kuda Sempana mengumpat didalam hatinya karena pemimpin juru taman itu memarahinya.

Dalam pada itu, Mahisa Agni-pun telah berada didalam lingkungan istana Singasari. Tetapi ia tidak langsung menemui Ken Dedes. Lebih dahulu, ia harus menghadap Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi untuk melaporkan kehadirannya.

“Adikmu itu sedang sakit,“ berkata Sri Rajasa kepada Mahisa Agni. “ia mohon kepadaku, agar kau menemuinya.”

“Apakah sakit tuan Puteri cukup parah tuanku?”

“Aku tidak tahu. Tetapi ia sudah mencoba mengobati dirinya sendiri dengan dedaunan yang dibuat oleh emban. Ia masih belum

bersedia untai berobat pada seorang tabib yang paling pandai. Mudah-mudahan ia segera sembuh.”

“Hamba tuanku, jika berkenan dihati tuanku, hamba akan pergi menemui tuan Puteri itu tuanku.”

“Pergilah. Tetapi jagalah agar ia tidak mengigau dan berbicara tentang sesuatu yang tidak disadarinya sendiri.”

“Hamba tuanku. Hamba akan berusaha menyaring pembicaraannya.”

“Baiklah. Panas tubuhnya telah membuatnya kadang-kadang tidak sadar atas apa yang dikatakannya sendiri.”

Mahisa Agni-pun kemudian mohon diri untuk pergi ke bangsal Permaisuri yang dikatakan oleh Sri Rajasa sedang sakit itu.

Permohonan Mahisa Agni untuk menghadap, segera diberitahukan oleh seorang emban kepada Permaisuri. Karena Permaisuri ternyata tidak berkeberatan meski-pun sedang sakit, maka Mahisa Agni-pun segera menghadap pula.

“Duduklah,“ berkata Ken Dedes kepada Mahisa Agni.

“Terima kasih tuan Puteri,“ sahut Mahisa Agni yang kemudian duduk diatas sebuah dingklik kayu disebelah pembaringan Ken Dedes.

Tetapi Ken Dedes-pun lalu bangkit. Bahkan ia-pun berdiri dan menutup pintu biliknya.

“Kadang-kadang satu dua orang emban lewat diluar,“ berkata Ken Dedes.

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.

“Sudah lama aku ingin bertemu dengan kakang Mahisa Agni,“ berkata Ken Dedes, “sehingga akhirnya Anusapati-pun menganjurkannya.”

“Ya tuan Puteri.”

“Hatiku sudah menjadi semakin terpecah belah mendengar keluhan-keluhan Anusapati disaat-saat terakhir. Agaknya anak itu hampir tidak tahan lagi mengalami tekanan jiwa yang semakin parah.”

“Hamba tuan Puteri.”

“Karena itu kakang, aku ingin mendengar pendapatmu. Apakah yang sebaiknya aku lakukan dan apakah yang sebaiknya dilakukan oleh Anusapati.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Keluhan apakah yang terakhir dikatakan oleh Putera Mahkota itu?“ bertanya Mahisa Agni.

“Sri Rajasa kini selalu marah kepadanya justru di muka banyak orang, di muka para pemimpin tertinggi Singasari dan para Panglima. Bahkan pernah Sri Rajasa mengancam untuk menyingkirkan Putera Mahkota dan sebagaimana dikatakan, Sri Rajasa berhak untuk menentukan sikap atas hal itu.“

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sri Rajasa dengan sengaja menyakiti hati Anusapati.”

“Ya kakang. Dan yang terakhir ketika Sri Rajasa datang menengok aku karena aku mengatakan bahwa aku memang sakit, menasehatkan agar aku tidak dibebani oleh rahasia yang mungkin dapat memperberat sakitku.”

“Maksudnya?”

“Sri Rajasa menasehatkan agar aku mengatakan saja kepada Anusapati, bahwa sebenarnya ia bukan putera Sri Rajsa.”

“He,“ Mahisa Agni terkejut, “kenapa begitu? Dan mengatakan bahwa Sri Rajasa pulalah yang membunuh Akuwu Tunggul Ametung?”

Ken Dedeslah yang kemudian terkejut mendengar kata-kata Mahisa Agni itu. Dengan wajah yang tegang ia bertanya, “Kau mengetahuinya?”

Mahisa Agni memandang wajah Ken Dedes yang suram betapa-pun tegangnya. Tetapi ia menjadi ragu-ragu dan bahkan menyesal bahwa tiba-tiba saja ia mengatakan hal itu diluar sadarnya.

“Kakang Mahisa Agni, kau mengetahui bahwa yang membunuh Akuwu Tunggul Ametung itu adalah Sri Rajasa sendiri?”

Mahisa Agni akhirnya menganggukkan kepalanya. Katanya, “Kita sudah sama-sama tahu. Langsung tidak langsung kita pernah memperkatakan hal itu.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.

“Jika demikian, apakah maksud Sri Rajasa sebenarnya? Apakah Sri Rajasa ingin mempercepat penyelesaian?”

“Tidak kakang. Menurut tangkapanku. Sri Rajasa tidak menghendaki aku mengatakan hal itu. Bahkan Sri Rajasa mengatakan kemungkinan yang paling buruk jika Anusapati mengetahui hal itu, karena pada dasarnya ada semacam perasaan benci yang disembunyikan didalam hati Anusapati.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Semakin dalam.

“Tuan Puteri,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “jika demikian kita dapat menduga maksudnya. Anusapati pasti akan merasa tidak berhak atas tahta Singasari dan dengan sendirinya mengundurkan diri.“

“Tetapi kakang Mahisa Agni, jika aku mengatakan hal itu kepada Anusapati, maka aku-pun akan mengatakan, bahwa sebenarnya akulah yang berhak atas tahta, meski-pun semula adalah tahta Tumapel. Sri Rajasa dapat mencapai puncak kekuasaannya sekarang karena beralaskan kekuatan Tumapel. Tanpa Tumapel yang kecil itu, Singasari tidak akan berdiri. Bukankah istana ini juga istana Tumapel meski-pun diperluas dan diperbaiki?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tetapi aku kira lebih baik tidak tuan Puteri. Jangan dikatakan lebih dahulu kepada Putera Mahkota sebelum Putera Mahkota mempersiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan.”

“Maksud kakang?”

“Jangan berbuat tanggung-tanggung tuan Puteri. Anusapati-pun jangan menyeberang sampai ditengah. Jika ia benar-benar ingin menyeberang, ia harus sampai ketepi. Jika tidak, jangan menyentuh air sama sekali.”

Ken Dedes memandang Mahisa Agni dengan sorot mata yang aneh. Namun ia masih tetap berdiam diri. Meski-pun demikian, didalam dadanya sedang mengamuk badai yang maha-dahsyat, yang mengguncang-guncang perasaannya.

Untuk sejenak Mahisa Agni-pun hanya berdiam diri sambil merenung. Memang jalan yang terbentang dihadapan Putera Mahkota adalah jalan yang terjal dan berbatu padas. Tetapi sebaiknya Anusapati tidak berhenti ditengah-engah.

Narnun tiba-tiba Ken Dedes bertanya, “Kakang Mahisa Agni, apakah menurut pendapatmu sekarang Anusapati masih belum siap menghadapi kemungkinan yang paling sulit bagi dirinya?”

Pertanyaan itu telah mendebarkan dada Mahisa Agni. Dan tiba-tiba saja pertanyaan itu telah bergejolak semakin dahsyat didalam dadanya. Terbayang olehnya sebuah trisula kecil yang pernah diberikannya kepada Anusapati sebagai alat untuk mempertahankan dirinya dalam keadaan yang paling sulit. Dan trisula itu sama sekali tidak dipersiapkannya untuk melawan siapapun, selain untuk melawan manusia yag memiliki kemampuan yang ajaib sejak ia berkeliaran di padang Karautan. Tanpa guru dan tanpa mempelajari dengan cara yang teratur serta susunan yang mapan hantu padang Karautan itu memiliki kemampuan jasmaniah dan daya tempur yang luar biasa. Tetapi dihadapan trisula kecil itu, hantu Karautan sama sekali tidak berdaya. Trisula itu telah menyilaukannya sehingga tidak mungkin baginya untuk melawan.

Mahisa Agni menarik nafas ketika sekali lagi Ken Dedes bertanya, “Apakah Anusapati sekarang masih belum siap?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hamba masih harus menemuinya dan mengetahui tentang dirinya

sepenuhnya. Tetapi jika hal ini benar-benar telah dimulai, maka tuanku akan dapat membayangkan akhir dari kelanjutan yang akan terjadi. Adalah sulit sekali untuk menekan gejolak perasaan seorang anak muda seumur Anusapati. Tentu juga sulit sekali menahan gejolak perasaan Tohjaya dan bahkan menilik tabiatnya, Sri Rajasa-pun tidak akan mampu berbuat lain dari pada berpihak kepada Tohjaya.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Terngiang kata-kata Ken Arok bahwa jika ia mengatakan semua rahasia yang diketahuinya kepada Anusapati, maka mungkin sekali terjadi bahwa Anusapati akan berbuat sesuatu yang dapat dianggap biadab oleh rakyat Singasari, dan Sri Rajasa-pun berkata bahwa siapa saja yang berani mengacaukan Singasari akan berakibat kematian, meski-pun Putera Mahkota.

Sebenarnya semua itu sudah jelas baginya. Dan ia kini harus memilih. Apakah ia akan menyerahkan Anusapati sebagai korban ketamakan Ken Umang yang telah berhasil memperalat Sri Rajasa, atau ia harus mempertahankan martabatnya sebagai seorang Permaisuri dan sebagai seseorang yang merasa berhak atas tahta Singasari.

Tetapi pilihan yang pahit itu jelasnya akan menempatkan dua orang yang sama-sama penting baginya untuk dikorbankan salah seorang daripada mereka itu dari hatinya. Ia harus rela apabila salah seorang dari keduanya itu akan hilang dalam arti yang sangat luas.

Dan pilihan yang demikian adalah pilihan yang paling pedih menyayat hatinya.

Tiba-tiba saja Ken Dedes tidak dapat menahan gejolak perasaannya, sehingga tanpa disadarinya dari kedua matanya yang suram menitik air matanya yang bening.

“Kakang Mahisa Agi,“ berkata Permaisuri, “aku dihadapkan pada keadaan yang hampir tidak tertanggungkan. Kau tahu apa yang akan terjadi atasku. Aku harus membenturkan dua pihak yang

sama-sama aku cintai. Adalah menyedihkan sekali bahwa hal ini harus terjadi. Seandainya Sri Rajasa tidak jatuh dibawah pengaruh perempuan itu, maka semuanya pasti akan sampai pada akhir yang berbeda. Tetapi kita tidak dapat membebankan kesalahan itu seluruhnya kepada Ken Umang. Ia berhak berusaha untuk mencapai titik kepuasan yang setinggi-tingginya. Namun sayang, bahwa ia tidak memilih alas. Ia tidak segan-segan mengorbankan orang lain untuk memenuhi keinginannya yang melambung setinggi bintang dilangit.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tuan Puteri benar menurut pikiran hamba. Perempuan itu memang perempuan yang memiliki nafsu ketamakan yang berlebih-lebihan. Ia sudah mengajar anaknya untuk mengikuti jejaknya. Dan Sri Rajasa-pun sudah terbenam didalam arus ketamakannya itu, sehingga ia sama sekali tidak segan-segan untuk mengambil langkah yang sesat menurut penilaianku.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata, “Tetapi kita-pun dapat mengerti kakang, tentu Sri Rajasa lebih mantap jika puteranya sendirilah yang akan menduduki tahta yang selama ini telah dibinanya.”

“Tetapi ia-pun harus mengenal kebijaksanaan. Ia harus merasa bahwa dirinya adalah pengemban kekuasaan Tumapel waktu itu. Jika ia kemudian dapat mengembangkan kekuasaan Tumapel menjadi kerajaan Singasari yang sekarang, itu bukan berarti ia berhak dan karena kekuasaannya dapat menyerahkan tahta kepada siapa-pun yang dikehendaki. Apalagi, jika ia memang ingin menyerahkan tahta kepada keturunannya semata-mata. kenapa ia tidak membicarakan anak-anaknya yang lahir justru dari Permaisurinya?”

“Itulah yang aku prihatinkan kakang.”

“Tuan Puteri,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “memang mungkin harus jatuh korban. Tetapi semakin kecil korban yang jatuh pasti akan lebih baik. Aku memang dapat mengambil jalan lain, karena aku merasa mampu untuk mengguncang kerajaan ini dari

luar dinding istana. Aku mempunyai kekuatan untuk menumbangkan kekuasaan Sri Rajasa dengan kekerasan.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Mahisa Agni. sehingga dengan serta-merta Mahisa Agni meneruskannya, “Tetapi aku tidak akan melakukannya.”

Ken Dedes tidak segera menyahut, sedang Mahisa Agni menjadi termangu-mangu. Bagaimana-pun juga Sri Rajasa adalah suami Ken Dedes. Mereka telah mendapatkan beberapa orang anak laki-laki dan perempuan. Mereka-pun tentu tidak akan dapat melupakan masa-masa mereka memasuki hari-perkawinan yang dimulai dengan saat-saat yang berbahagia. Tetapi kehadiran Ken Umang ternyata semakin lama semakin menjauhkan Sri Rajasa dari Ken Dedes.

Sebenarnyalah bahwa dada Permaisuri itu memang sedang bergejolak. Air matanya-pun menjadi semakin deras mengalir dari pelupuknya.

“Kenapa aku harus mengalami hal serupa ini di hari-hari tuaku,“ keluh Ken Dedes, “agaknya aku banyak berbuat dosa dimasa mudaku.”

“Tidak tuan Puteri,“ berkata Mahisa Agni, “belum tentu hal ini terjadi karena kesalahan tuan Puteri.”

“Jadi siapakah yang bersalah.”

“Mungkin tidak ada yang bersalah.”

“Tetapi kenapa aku harus mengalami hukuman ini.”

“Juga belum tentu bahwa yang sedang tuanku alami ini suatu hukuman dari Yang Maha Agung. Justru karena Yang Maha Agung mengagumi ketabahan hati tuan Puteri, maka tuan Puteri telah mendapatkan kehormatan untuk mengalami pendadaran yang hebat. Jadi yang terjadi bukannya hukuman atau siksa, tetapi justru kesempatan untuk membuktikan bahwa tuan Puteri benar-benar seorang yang mampu dan kuat memegang tahta Singasari turun temurun.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.

Mahisa Agni-pun terdiam pula sejenak. Ia mencoba untuk mendalami perasaan Permaisuri itu sepenuhnya dan mencari celah-celah yang dapat ditempuhnya untuk menyelesaikan persoalan Putera Mahkota. Tetapi agaknya semua jalan sudah tertutup. Yang ada tinggallah dua pilihan. Putera Mahkota atau Sri Rajasa.

Dalam kediamannya Mahisa Agni kadang-kadang berangan-angan tentang kemudian yang lain sama sekali. Apakah ia harus mempergunakan kekuatan diluar istana Singasari? Jika demikian apakah ada kemungkinan lain bahwa tidak seorang-pun dari keduanya harus dikorbankan.

“Tidak mungkin,“ berkata Mahisa Agni didalam hati, “jika aku memberontak terhadap Sri Rajasa, maka aku atau Sri Rajasa harus mati. Jika akulah yang mati, maka pemberontakan yang makan banyak korban itu tidak akan berarti apa-apa bagi Singasari, karena jalan akan terbuka bagi Sri Rajasa untuk memusnakan semua orang yang tidak disukainya termasuk Putera Mahkota. Ia dapat membuat seribu alasan yang tampaknya memang masuk akal.”

“Tetapi seandainya jalan ini dapat ditempuh, aku yakin bahwa aku dan Putera Mahkota akan mempunyai harapan yang besar untuk merebut Singasari,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya pula. Ia masih percaya akan kemampuan yang ada pada dirinya serta kemungkinan yang dapat terjadi dengan trisula kecil pemberian gurunya yang kini ada pada Anusapati. Tetapi dengan demikian maka ratusan dan bahkan ribuan orang akan menjadi korban.”

“Memang lebih baik hanya seorang korban. Sri Rajasa atau Anusapati,“ Mahisa Agni akhirnya mengambil keputusan didalam hatinya. Namun ia tidak segera dapat mengatakannya kepada Ken Dedes.

Ken Dedes masih mengusap matanya yang basah. Namun ia-pun kemudian berkata dengan hati yang pedih, “Tetapi kakang Mahisa Agni. Aku tidak dapat hidup berpijak pada dua buah alas yang sama

goyah. Bahkan berpijak pada dua buah perahu yang berjalan berbeda arah. Aku harus memilih meski-pun yang satu adalah alas kaki kiriku dan yang lain adalah alas kaki kananku.“ suara Ken Dedes terputus oleh tangisnya. Lalu, “aku mencintai Anusapati tetapi aku juga mencintai Sri Rajasa. Dan inilah agaknya dosa itu kakang Mahisa Agni. jangan menghibur hatiku dengan sikap yang pura-pura itu. Jangan mencoba melepaskan aku dari perasaan ini. Aku telah tidak setia kepada Akuwu Tunggul Ametung meski-pun didalam hati. Jika aku tidak tertarik kepada seorang hamba yang bernama Ken Arok, maka semuanya ini tidak akan pernah terjadi. Dan aku-pun tentu tidak akan mengalami keadaan ini. Hukuman yang maha berat.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sudahlah tuan Puteri. Jika tuan Puteri melarang hamba mencoba memberikan ketenangan dihati tuan Puteri, hamba-pun tidak akan menolak pengakuan tuan Puteri. Tetapi bahwa tuan Puteri harus memilih itulah yang harus dilakukan. Dan pilihan tuan Puteri tidak boleh salah. Itulah persoalan yang maha sulit untuk dipecahkan.”

Ken Dedes menganggukan kepalanya.

“Tetapi sebaiknya hamba memberikan sedikit pertanyaan kepada tuan Puteri. Bukan maksud mempersulit perasaan tuan Puteri, tetapi jika mungkin hamba akan mencoba memberikan arah berpikir bagi tuan Puteri.“ Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “tuan Puteri memang harus memilih. Katakanlah bahwa yang seorang adalah lambang kebahagiaan masa silam tuanku, sedang yang seorang adalah harapan dimasa datang. Yang manakah yang lebih penting bagi tuanku. Masa silam yang tinggal kenangan atau masa depan yang sangat panjang.”

Pertanyaan itu telah mengguncangkan hati Ken Dedes yang memang sedang goyah. Tiba-tiba ia tidak dapat menahan isaknya yang meledak. Sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya Ken Dedes mencoba menahan tangisnya. Tetapi ia tidak berhasil.

Mahisa Agni-pun tidak segera berkata apa-pun lagi. Ia-pun duduk termenung dengan kepala tunduk. Ia sadar, persoalan itu adalah persoalan yang sangat sulit dipecahkan oleh seorang ibu yang juga seorang isteri, yang menghadapi jalan simpang yang terbentang dihadapannya. Apakah ia akan mengikuti jalan anak laki-lakinya, atau jalan suaminya yang berbeda. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, yang satu mengarah ke dunia kenangan yang indah dan cemerlang, sedang yang lain adalah jalan yang menuju ke dunia mendatang yang penuh dengan harapan. Baik bagi keturunannya, mau-pun bagi Singasari, Namun tiba-saja Ken Dedes seakan-akan menggeretakkan giginya. Ia sadar, bahwa ia harus bertelekan kepada suatu tumpuan yang kuat. Ia tidak boleh terkatung-katung lebih lama lagi.

Dalam pada itu, selagi Ken Dedes memusatkan segegap hati dan nalarnya, maka terasa sesuatu telah bergetar didalam dadanya. Seakan-akan ia mendengar suara jauh dari dasar hati, “Ken Dedes, tinggalkanlah dunia mimpi indahmu. Berilah harapan bagi masa datang.”

Ken Dedes menggeretakkan giginya. Ia telah menemukan sesuatu didalam dirinya.

Namun dalam pada itu, permaisuri itu terperanjat ketika ia melihat Mahisa Agni tiba-tiba menutup kedua matanya dengan tangannya. Sambil berpaling Mahisa Agni berkata, “Aku melihat, aku melihat kebenaran itu.”

“Kakang,“ Ken Dedes berdesis, “apa yang telah kau lihat?“

Mahisa Agni tidak menyahut. Untuk beberapa lamanya Ia masih memalingkan wajahnya. Namun kemudian perlahan-lahan ia memutar kepalanya dan memandang Ken Dedes dalam bentuknya yang wajar.

“Kakang, apakah yang kau lihat?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya. Ternyata mata hatinya telah menyaksikan kebenaran yang

baginya meyakinkan bahwa Ken Dedeslah yang harus menurunkan raja Singasari.

“Kakang,“ desak Ken Dedes yang justru menjadi terheran-heran, “apakah yang kau lihat?”

“Sebuah isyarat tuan Puteri.”

“Apakah isyarat itu?”

“Bahwa tuan Puteri telah memilih.”

“Darimana kakang tahu bahwa aku telah memilih?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Kini ia mengerti bahwa apa yang dilihatnya oleh mata hatinya itu justru tidak disadari oleh Ken Dedes sendiri, sehingga ia-pun kemudian berkata, “Aku melihat pada cahaya wajah tuan Puteri.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Beberapa kali ia melihat keanehan yang serupa. Tunggul Ametung, Ken Arok kemudian Mahisa Agni. Mereka seakan-akan menjadi silau melihat sesuatu pada dirinya.

Tetapi Ken Dedes-pun kemudian tidak peduli. Ia merasa bahwa ia telah berhasil mematahkan palang yang merentang dihadapannya, dan melemparkan beban yang sangat berat di punggungnya.

“Kakang telah melihat isyarat itu,“ berkata Ken Dedes, “dan kakang benar. Aku sudah memilih.”

“Apakah pilihan tuan Puteri?”

Ken Dedes masih ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia-pun berkata, “Kakang, aku telah menentukan pilihan itu. Kakanglah yang memberikan jalan bagiku. Aku memilih harapan dihari depan bagi keturunanku dan bagi Singasari. Jelasnya, Singasari harus berada ditangan Anusapati. Mudah-mudahan ia da pat memelihara kerajaan yang sedang berkembang ini. Tetapi aku yakin bahwa ia akan lebih baik dari Tohjaya yang tamak itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa hatinya tiba-tiba menjadi lapang. Jika Ken Dedes sudah menentukan sikap, maka jalan selanjutnya sudah terbuka baginya.

“Tetapi kakang,“ bertanya Ken Dedes kemudian, “jika demikian, apakah yang harus aku kerjakan selanjutnya?”

“Jika demikian tuan Puteri, tuan Puteri dapat memenuhi permintaan Sri Rajasa.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya, “Permintaan yang mana?”

“Bahwa tuanku harus mengatakan kepadanya, bahwa ia bukan putera Sri Rajasa. Tetapi ia adalah putera Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel, yang mati terbunuh oleh tangan Sri Rajasa sendiri.”

“O,“ suara Ken Dedes terputus.

“Bukankah tuan Puteri sudah memutuskan. Hamba berharap bahwa dengan demikian Sri Rajasa akan mengambil sikap yang lebih keras, dan hamba berharap bahwa Putera Mahkota harus mempertahankan dirinya.”

Wajah Ken Dedes yang mantap itu tiba-tiba telah terguncang lagi.

“Apakah tuan Puteri masih ragu-ragu.”

“Tidak kakang. Aku sudah memutuskan. Tetapi apa yang akan dikatakan oleh Anusapati, bahwa ibunya telah kawin dengan pembunuh ayahnya?”

Pertanyaan Ken Dedes itu telah menyentuh perasaan Mahisa Agni. Jika benar-benar Anusapati bertanya serupa itu, tentu Ken Dedes akan mendapat kesulitan untuk menjawabnya.

Karena itu, maka Mahisa Agni-pun tidak segera dapat menjawab. Sejenak ia mencoba berpikir, untuk mencari kemungkinan bagaimana menanggapi pertanyaan itu.

Tetapi tidak ada jawaban yang dapat diketemukan, sehingga akhirnya Mahisa Agni berkata, “Memang sulit tuan Puteri. Karena

itu, sebaiknya tuan Puteri melemparkan hal ini kepada hamba saja. Tuan Puteri dapat mengatakan kepada Anusapati, bahwa tuan Puteri baru saja mengetahui bahwa Akuwu Tunggul Ametung terbunuh oleh Sri Rajasa baru saja. Tuan Puteri dapat mengatakan bahwa hambalah yang telah memberi tahukan hal itu, sehingga akhirnya tuan Puteri mengambil keputusan untuk berterus terang kepada Putera Mahkota. Baik tentang orang yang menurunkannya, mau-pun tentang pembunuhan yang pernah terjadi itu.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah kakang. Aku akan melemparkan persoalan ini kepada kakang Mahisa Agni. Tetapi tentu Anusapati akan datang kepada kakang Mahisa Agni dan bertanya, kenapa kakang baru sekarang memberi tahukan hal ini kepadaku.”

“Biarlah hamba menjawabnya tuan Puteri. Mudah-mudahan jawaban hamba dapat memberinya kepuasan.”

Ken Dedes mengangguk-angguk meski-pun masih terbayang berbagai perasaan membayang di wajahnya. Kecemasan, keragu-raguan dan kadang-kadang takut yang amat sangat. Namun Mahisa Agni menanggap bahwa keputusan itu jangan sampai terlepas lagi. Ken Dedes jangan sampai mencabut kembali niatnya yang sudah bulat itu. Karena itu, maka Mahisa Agni-pun berkata, “Sudahlah tuan Puteri. Hamba mohon diri. Mungkin dalam waktu yang singkat Putera Mahkota akan menghadap tuan Puteri. Hamba mengharap bahwa perasaan Putera Mahkota tidak melonjak dan tidak kehilangan pengamatan diri.”

“Aku akan berusaha kakang. Tetapi aku kira, dari bangsal ini ia akan mencari kakang Mahisa Agni, karena aku tahu, bahwa kakang telah mengasuhnya dan membuatnya menjadi Anusapati yang sekarang. Bukan Anusapati yang ingin diciptakan oleh Sri Rajasa.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah maksud tuan Puteri?”

“Keputusanku ini juga didorong oleh kenyataan bahwa Sri Rajasa dengan sengaja ingin membuat Anusapati kehilangan pribadinya, sehingga ia akan menjadi seorang anak muda yang sama sekali tidak berarti apa-apa bagi Singasari.”

“Dari siapa tuan Puteri mengetahuinya?“ bertanya Mahisa Agni meski-pun ia sudah mengetahuinya dari cara pendidikan yang sangat timbang bagi Anusapati dan bagi Tohjaya.

“Dari emban Anusapati yang sampai sekarang masih menungguinya dan yang sebagian waktunya dipergunakannya untuk berada disini. Emban itu-pun berada didalam kecemasan setiap saat, karena Sri Rajasa dan Ken Umang dapat mengambil tindakan atasnya.”

“Kenapa?”

“Karena ia tidak berhasil membentuk Anusapati yang cengeng, yang pengecut, penakut dan segala macam sifat yang jelek.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sepantasnya ia mengucapkan terima kasih kepada emban itu. Katanya, “Emban itu pantas mendapat perlindungan tuan Puteri.”

“Karena itulah aku tidak pernah berkeberatan ia berada disini.”

“Baiklah tuan Puteri, perkenankanlah hamba mohon diri. Hamba akan menunggu Putera Mahkota yang pasti akan mencari hamba. Dan hamba akan mencoba memberikan jawaban yang dapat diterimanya, kenapa hamba baru sekarang memberitahukan kematian Akuwu Tunggul Ametung kepada tuan Puteri.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu jawabnya dengan suara yang berat, “terima kasih kakang. Tetapi sudah terasa dihatiku bahwa akan ada badai yang bertiup di Singasari.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya tuan Puteri. Mudah-mudahan hanya batang-batang yang rapuh sajalah yang akan patah, sedang tunas-tunas yang masih muda akan berkembang semakin subur.”

Demikianlah maka Mahisa Agni-pun segera meninggalkan bangsal Ken Dedes. Dengan kepala tunduk ia berjalan menyusur petamanan. Ketika terlihat olehnya Sumekar, maka ia-pun segera berhenti dan mendekatinya.

Sumekar yang sedang berjongkok tidak segera berdiri. Bahkan seolah-olah ia menundukkan kepalanya dalam-dalam menghormati kedatangan wakil Mahkota di Kediri itu.

“Kediri memerlukan petamanan yang beraneka seperti di Singasari,“ katanya lantang. Beberapa juru taman-pun mendekat sambil berkata, “Tuan. apakah di Kediri tidak ada petamanan seperti disini?”

“Ada tetapi tidak selengkap Singasari. Aku akan memilih beberapa batang, dan aku akan membawanya jika aku kembali ke Kediri.”

“O. tentu tidak. Biarlah seorang hamba membawa untuk tuan.”

Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Bekerjalah. Aku tidak ingin mengganggu kalian.”

Para juru taman itu-pun segera kembali kepekerjaan masing-masing. Hanya Sumekar sajalah yang tinggal, karena ia sedang menyiangi sebatang pohon bunga.

Sejenak keduanya tidak mengatakan sesuatu. Mahisa Agni berdiri saja memperhatikan Sumekar yang sedang sibuk dengan kerjanya. Jika satu dua orang juru taman yang lain berpaling kepadanya, maka mereka sama sekali tidak bercuriga, bahwa kedua orang itu kemudian telah memperbincangkan masalah yang sangat penting bagi Singasari.

“Jadi tuan Puteri sudah sampai pada batas kesabarannya?“ bertanya Sumekar.

“Ya. Sebagian adalah karena desakan Sri Rajasa sendiri, ia ingin memaksa Anusapati untuk lari atas kemauan sendiri dari jabatannya. Namun akhirnya Ken Dedes harus memilih. Ia sadar, bahwa salah seorang dari keduanya harus menyingkir. Dan ternyata

Ken Dedes memilih yang benar menurut penilaianku. Sri Rajasa sudah cukup berjasa bagi Singasari. Berbekal Tumapel yang kecil ia sudah berhasil menyatukan seluruh daerah Singasari yang sekarang. Karena itu, ia tidak boleh berbuat kesalahan dengan menyerahkan kerajaan yang dengan susah payah disusun ini kepada orang yang samasekali tidak akan mampu mempertahankan kehadirannya. Jika Singasari ini benar-benar jatuh ketangan Tohjaya, maka sia-sialah seluruh perjuangan Sri Rajasa. Aku sudah ikut serta menyabung nyawa mempersatukan Kediri yang goyah itu kedalam lingkungan Singasari. Karena itu, aku adalah orang yang paling berkeberatan jika kemudian Tohjaya akan menduduki tahta, bukan karena Sri Rajasa yakin bahwa ia akan dapat memimpin pemerintahan. Tetapi semata-mata karena Ken Umang berpendapat demikian.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah menyangka bahwa pada suatu saat akan tiba waktunya hal itu terjadi.

“Karena itu Sumekar,“ berkata Mahisa Agni, “hati-hatilah. Kau harus mengamat-amati Putera Mahkota. Jika sampai saatnya, maka kau harus bertindak tepat. Jika salah satu dari keduanya tersingkir, sudah tentu bahwa yang sudah hampir terbenamlah yang harus segera terbenam. Bukan karena kita tidak tahu menghargai jasa-jasanya, tetapi justru karena kita tidak mau kehilangan hasil kerjanya yang besar. Aku kira tidak akan ada orang lain yang dapat berbuat seperti Sri Rajasa pada waktu itu. Tetapi aku kira juga tidak ada seorang Maharaja lain yang akan melakukan kesalahan seperti yang sedang dilakukannya.”

“Baiklah,“ jawab Sumekar, “aku akan mencoba.“

“Selama ini, aku akan minta bantuan Witantra dan Mahendra, agar ia berada tidak jauh dari istana. Setiap saat kau akan dapat menghubunginya dengan bermacama cara. Mungkin kau dapat membuat panah sendaren atau semacam apa-pun yang dapat kau kirimkan sebagai isyarat apabila kau menghadapi keadaan yang memaksa dan tiba-tiba.”

“Baiklah. Tetapi aku harap mereka memberitahukan, dimana mereka berada.“

“Aku akan berusaha bertemu dengan mereka. Pada saat aku kembali ke Kediri, mereka akan sudah berada ditempat yang akan diberitahukan kepadamu.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebagai orang yang setiap saat menunggui Putera Mahkota, sebenarnya Sumekar sudah tidak telaten lagi. Bahkan ia ingin mendorong agar Putera Mahkota segera berbuat sesuatu.

“Putera Mahkota kurang cepat bertindak,“ katanya, “meski-pun ia memiliki kemampuan yang cukup, namun hatinya yang selalu ragu-ragu dan bimbang telah menahan semua tindakannya.”

“Tetapi jika ia tersudut, maka ia-pun akan mengambil sikap,“ berkata Mahisa Agni sambil melangkah hilir mudik. Sejenak kemudian, “Sudahlah Sumekar. Sampai nanti. Aku masih akan tinggal untuk beberapa hari disini.”

Sepeninggal Mahisa Agni, Sumekar-pun merenung diluar sadarnya. Ia sudah mulai membayangkan peristiwa yang penting itu akan terjadi. Namun jika Putera Mahkota mampu melakukan dengan baik, maka tidak akan ada persoalan yang dapat mengguncang Singasari. Bahkan ia berkata didalam hati, “Seperti pada saat Sri Rajasa membunuh Tunggul Ametung menurut ceritera mereka yang menyaksikan. Tidak ada keributan yang timbul kecuali kematian Kebo Ijo.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia tersentak seakan-akan menyadari sesuatu, “Kebo Ijo telah menjadi korban. Tetapi korbannya itu tidak sia-sia bagi Tumapel yang menjadi besar, meski-pun bukan semata-mata hal itulah yang dipertautkan. Kebo Ijo sama sekali tidak menyadari bahwa kematiannya itu telah memberi kesempatan Sri Rajasa bertahta dan kemudian rnembuat Tumapel menjadi Singasari yang besar sekarang ini.”

Sumekar termenung sejenak. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir oleh deru yang berkecamuk didalam dadanya. Seperti sebuah mimpi ia membayangkan, bahwa jika ada orang yang bersedia berkorban untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi Singasari, alangkah baiknya. Jika ada orang yang berhasil menyingkirkan Sri Rajasa sekarang ini, selagi Putera Mahkota masih seorang yang bernama Anusapati, maka tidak akan ada pilihan lain, bahwa Anusapatilah yang berhak menggantikan kedudukan Sri Rajasa. Sedang apabila usaha itu gagal, maka sama sekali nama Anusapati tidak akan tersangkut didalamnya. Tetapi jika usaha itu berhasil, maka keributan, yang lebih besar akan dapat dihindarkan.

Ternyata bahwa pikiran itu telah membuat Sumekar menjadi gemetar. Keringatnya mengalir diseluruh tubuhnya. Apalagi ketika ia bertanya kepada diri sendiri, “Siapakah yang dapat membunuh Sri Rajasa?”

Sejenak Sumekar membeku ditempatnya. Namun kemudian keringat dinginnya mengalir diseluruh tubuhnya. Pergolakan didalam hatinya membuatnya bagaikan dibakar diatas bara.

Tiba-tiba terasa kepala Sumekar menjadi pening, dan pepohonan disekitarnya bagaikan berputar-putar. Dalam amukan gejolak perasaan itu seakan-akan ia mendengar suara, “Kenapa bukan kau Sumekar, kenapa bukan kau? Kau sudah berguru bertahun-tahun pada seorang mPu yang mumpuni, bahkan kau sudah berhasil mengembangkan ilmumu dengan caramu.”

“O,“ terdengar Sumekar berdesah. Tubuhnya serasa menjadi terlalu berat dibebani oleh deru perasaannya.

Dalam keadaannya, Sumekar tidak lagi dapat berjongkok. Karena itu, maka ia-pun segera terduduk dengan lemahnya bertelekan kedua tangannya.

Seorang juru taman yang melihatnya menjadi heran. Baru saja ia melihat Sumekar berbicara dengan Mahisa Agni dalam keadaan sehat. Tetapi tiba-tiba kini ia seakan-akan menjadi kehilangan kekuatannya sama sekali.

“He, kau lihat orang itu?“ desis kawannya.

Beberapa orang-pun kemudian mendekatinya. Mereka terkejut melihat Sumekar pucat dan berkeringat diseluruh tubuhnya.

“Kenapa kau he?“ bertanya salah seorang dari mereka sambil mengguncang-guncang tubuhnya.

“Kenapa he,“ sambung yang lain.

Sumekar mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Dengan sepenuh kekuatan ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dicobanya untuk menghayati keadaannya dengan sepenuh kesadaran.

Perlahan-lahan ia berhasil menguasai gejolak didalam dadanya dan karena itu, maka perlahan-lahan semuanya menjadi terang. Dirinya sendiri dan keadaan disekelilingnya.

“Kenapa kau?”

Sumekar membuka matanya. Ia sudah berhasil menghentikan putaran yang melingkari dirinya. Karena itu, maka ia-pun dapat menjawab, “Aku tiba-tiba saja menjadi pening.”

“Ha, semalam kau pasti tidak tidur lagi. Kau terlalu sering tidak tidur menurut penghuni disebelahmu.”

“Aku tidur sejak sore.”

“Jika demikian kau terlalu banyak tidur,“ sahut yang lain.

“Mungkin,“ berkata Sumekar sambil memijit-mijit kepalanya.

“Kembalilah kebilikmu. Berhentilah bekerja supaya kau tidak terlanjur pingsan.”

Sumekar mengangguk.

“Marilah, aku antar kau.”

Demikianlah maka Sumekar-pun dipapah oleh dua orang kawannya kembali ke rumah, sedang beberapa orang abdi yang lain

memandangnya dari kejauhan. Seorang pekatik mendekatinya sambil bertanya, “Kenapa?”

“Tiba-tiba saja ia menjadi pening.”

“O.”

Beberapa emban, juru pengangsu saling berbisik, “Orang itu orang aneh. Ia hampir tidak pernah tidur.”

Demikianlah Sumekar-pun kemudian dibaringkannya didalam biliknya.

“Tidurlah. Jangan kau pikirkan pekerjaanmu.“ Sumekar mengangguk.

Sejenak kemudian maka kawannya itu-pun meninggalkannya. Tetapi demikian pintu ditutup, Sumekar-pun bangkit dan duduk dibibir pembaringannya. Dipandanginya pintu gubugnya yang tertutup itu. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam.

Seakan-akan suara yang didengarnya itu masih saja bergulung-gulung didalam hatinya. Tetapi kini ia dapat menanggapinya dengan sadar dan tenang, sehingga ia tidak lagi dijerat oleh perasan pening dan bingung.

“Aku akan memikirkannya masak-masak,“ berkata Sumekar, “apa salahnya jika aku mencoba. Mungkin aku menjadi seorang pembunuh, tetapi aku mempunyai suatu tujuan yang baik. Baik bagi Singasari yang dibina oleh Sri Rajasa, dan baik bagi Putera Mahkota. Jika seandainya didalam matinya Sri Rajasa melihat hasil yang aku peroleh dari perbuatanku, maka ia tidak akan mengutukku.”

Namun yang menjadi persoalan kemudian adalah Anusapati. Apakah Anusapati sependapat dengan rencananya.

“Apakah aku harus mengatakan kepadanya tentang rencana ini?”

Sumekar menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya kepada diri sendiri, “Aku menjadi bingung.”

Namun Sumekar masih mempunyai waktu untuk mengendapkan perasaannya. Mahisa Agni masih ada di Singasari untuk beberapa lamanya. Bahkan mungkin ia akan dapat minta pertimbangannya.

Sekali lagi Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ia-pun kemudian kembali membaringkan dirinya. Meski-pun ia tidak dapat tertidur, namun ia sempat beristirahat badani. Namun perasaan dan nalarnya masih juga selalu berbenturan tiada hentinya.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang berada di bangsal yang khusus disediakan untuknya, berjalan hilir mudik di dalam biliknya. Puncak pergolakan yang selama ini membakar Singasari akan segera terjadi. Dan Mahisa Agni masih belum dapat memastikan, yang manakah yang akan berhasil keluar dari lingkaran api ini.

Dipuncak pimpinan Singasari kini benar-benar berhadapan dua pihak. Tohjaya dan Anusapati.

Sekilas terbayang wajah kedua anak muda itu. Keduanya memang memiliki kelebihannya masing-masing. Tetapi bahwa Tohjaya dipengaruhi oleh sifat-sifat tamak dan angkuh adalah karena tetesan sifat ibunya.

“Seandainya Ken Arok tidak berhasil dijebak oleh perempuan itu,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya. Terbayang sejenak, bagaimana Ken Umang berusaha untuk menyeretnya kedalam pengaruhnya. Tetapi untunglah bahwa ia masih cukup sadar untuk mempertahankan dirinya. Bahkan setelah Ken Umang itu berada di istana, ia masih saja berusaha menjebaknya.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Yang terjadi atas dirinya ternyata telah menjauhkannya dari setiap perempuan. Ken Dedes yang kemudian dengan Tunggul Ametung dan kemudian Ken Umang yang memuakkan itu, membuatnya seakan-akan tidak lagi dapat disentuh oleh perasaan yang wajar bagi seorang laki-laki. Pernah ia tergerak melihat seorang perempuan Kediri yang dijumpainya ketika ia sedang dikejar-kejar oleh pemburu-pemburu manusia yang tidak mengenal perikemanusiaan. Tetapi ketika beberapa lamanya ia tidak melihat, maka ia sama sekali tidak lagi

dapat membayangkan wajah itu, yang seakan-akan menjadi beku sebeku hatinya.

Dan kini ternyata bahwa laki-laki yang berhasil ditundukkan oleh Ken Umang itu telah kehilangan pegangan hidupnya, meski-pun ia seorang Maharaja yang telah berhasil menyatukan seluruh daerah Singasari yang luas ini.

“Sebenarnya Sri Rajasa adalah orang yang paling berjasa mempersatukan Singasari. Tetapi agaknya ia hampir terjerumus untuk menghancurkannya sendiri. Jika ia berhasil mengangkat Tohjaya sebagai penggantinya, maka Singasari yang dengan susah payah diikatnya menjadi satu ini, pasti akan pecah berserakkan,“ berkata Mahisa Agni didalam hati.

Namun ia masih belum berhasil menguasai kegelisahan dihatinya. Karena itu, maka ia-pun kemudian melangkah keluar dan berdiri di muka pintu bangsalnya memandang kekajuhan. Desir angin yang lembut mengusap keningnya dan membuat tubuhnya menjadi agak segar.

Ketika terpandang olehnya daun-daun kuning yang berguguran ditanah maka ia-pun bergumam didalam hati, “Memang yang sudah tidak berguna lagi harus diruntuhkan seperti daun-daun yang kuning itu.”

Sekilas Mahisa Agni melihat dua orang prajurit dari pasukan pengawal lewat didepan bangsalnya. Keduanya menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Ia sadar, bahwa sebagai wakil Mahkota di Kediri, maka ia-pun mendapat pengawalan yang cukup selama ia berada di Singasari.

Dalam pada itu, Ken Dedes yang masih berbaring dipembaringannya menjadi berdebar-debar. Anusapati pasti akan segera datang kepadanya setelah ia mengetahui bahwa Mahisa Agni telah datang kepadanya.

Tetapi ternyata bahwa Anusapati telah datang lebih dahulu kepada Mahisa Agni. Tanpa ragu-ragu ia langsung datang kebangsal pamannya itu.

“Kau datang kemari?“ bertanya Mahisa Agni.

“Aku tidak peduli lagi paman,“ berkata Anusapati, “apa-pun tanggapan orang terhadapku. Dan aku harap paman-pun bersikap demikian sekarang ini. Agaknya semuanya menjadi semakin buruk.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Masuklah.”

Keduanya-pun kemudian duduk diruang dalam. Dengan wajah yang tegang Anusapati berkata, “Apakah paman sudah bertemu dengan ibunda?”

“Aku sudah menengok tuan Puteri.”

“Apakah yang paman katakan dengan ibunda.“

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, ”Ibundamu mengatakan bahwa sekarang cucunya sudah besar. Sudah mulai berlatih naik kuda dan berkelahi. Bukankah puteramu dengan putera Mahisa Wonga Teleng tidak terpaut banyak sehingga keduanya dapat bermain bersama-sama. Dan yang terpenting berlatih bersama jika keduanya mulai tertarik?”

Anusapati-pun menarik nafas panjang pula. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Ya paman. Anak itu nakal sekali. Keduanya sudah mulai berlatih naik kuda. Aku tidak tahu, kenapa hal itulah yang pertama-tama mereka minta sejak mereka menjadi semakin besar.”

“Asal keduanya mendapat pelatih yang baik dan dapat dipercaya, karena keduanya masih terlampau muda. Bahkan mereka masih kanak-kanak untuk menanggapi keadaan yang kini sedang berkecamuk di istana ini.“

Anusapati menganggukkan kepalanya. Katanya, “Kadang-kadang aku sendirilah yang mengajari mereka. Tetapi kini rasa-rasanya aku tidak sempat melakukan meski-pun aku tidak berbuat apa-apa. Pekatikku yang baiklah yang kini aku serahi mengawasi keduanya. Dan adalah kebetulan sekali, aku mendapatkan dua ekor kuda yang tidak terlampau besar.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebelum ia melanjutkan kata-katanya, Anusapati sudah mendahuluinya, “Apakah paman sudah bertemu dengan ibunda dan mempersoalkan keadaanku sekarang?”

“Aku sudah bertemu dengan ibumu. Tetapi baru sejenak.”

“Apakah yang paman katakan kepada ibunda tentang aku?”

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “sebaiknya ibumulah yang mengatakan kepadamu. Tetapi jangan membuatnya gelisah dan cemas. Berbuadah seperti biasa. Seakan-akan tidak terjadi sesuatu, agar hati ibumu menjadi tenang.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Dalam keadaan yang demikian parah, bagaimana mungkin ia dapat berbuat seolah-olah tidak terjadi sesuatu.

Karena itu sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Paman, aku sudah mengutarakan semua isi hatiku kepada ibunda. Bahkan aku telah kehilangan pribadiku sebagai seorang laki-laki dan apalagi sebagai seorang Putera Mahkota, ketika aku tiba-tiba saja menjadi cengeng dan menangis dihadapan ibunda Permaisuri. Apakah jika aku sekarang menghadap aku dapat menghapuskan semua kesan yang pernah terlahir dari sikapku sebelumnya?”

Mahisa Agni meangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menjawab, “Tentu Anusapati. Kau tidak dapat berbuat lain dari pada mengulangi keluhanmu. Tetapi jika kemudian ibundamu mengatakan sesuatu kepadamu, menasihatimu atau memberikan petunjuk-petunjuk kepadamu, janganlah kau tanggapi semata-mata dengan perasaanmu. Kau harus bersikap sebagai seorang laki-laki. Kau harus mencoba mencapai keseimbangan antara perasaan dan nalar sehingga kau tidak terjerumus kedalam sikap yang tergesa-gesa dan apalagi menyusahkan ibundamu.”

Anusapati yang menundukkan kepalanya menangkap sesuatu yang tersirat didalam kata-kata Mahisa Agni. Seakan-akan sudah terngiang ditelinganya sesuatu yang sangat penting dan

menentukan. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berkata, “Baiklah paman, aku akan pergi menghadap ibunda.”

“Nah, bukankah kau sudah mulai dirayapi oleh perasaanmu tanpa menghiraukan nalar. Seharusnya kau mendengarkan aku sampai selesai.”

“Apakah paman belum selesai?”

“Aku belum mengatakan selesai.”

“Duduklah dengan tenang. Aku ingin melanjutkan keteranganku,“ Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “ibundamu sudah menjadi semakin tua. Kau harus mengingat akan hal itu, sehingga setiap tindakanmu pasti akan kau pertimbangkan baik-baik dengan keadaan ibumu. Selain dari itu, anakmu menjadi semakin meningkat umurnya. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang anak remaja yang gagah dan nakal. Ia memerlukan tuntunan dan perlindunganmu.”

Terasa detak jantung Anusapati menjadi semakin keras. Ia sadar, bahwa jika ia salah langkah, maka akibatnya akan sangat pahit baginya dan bagi keluarganya.

Karena itu maka katanya kemudian, “Baiklah paman. Aku akan mencoba mengendalikan diriku. Aku akan mencoba bersikap sebaik-baiknya agar aku tidak tenggelam dalam arus perasaanku semata-mata.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Anusapati sejenak. Lalu, “Jika demikian, maka bersiaplah. Pergilah menghadap ibundamu dengan hati yang tenang dan penuh pengertian. Ibundamu bukan tempat untuk menumpahkan segala kesalahan. Mungkin kata-kataku agak aneh bagimu. Dan mungkin membuat kau semakin berdebar-debar. Tetapi ingatlah. Kau harus berusaha membuat ibundamu berbahagia dihari tuanya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku mengerti paman. Sebenarnyalah bahwa aku menjadi berdebar-debar. Aku merasa

seakan-akan aku akan dihadapkan pada suatu persoalan yang tidak pernah aku duga-duga sebelumnya. Tetapi aku berjanji, aku berjanji bahwa aku akan bersikap baik dan menjaga perasaan ibunda agar ibunda tidak menjadi gelisah dan bingung.“ Namun didalam hati Anusapati berkata terus, “Biar aku sajalah yang menjadi bingung sepanjang umurku.”

Demikianlah Anusapati-pun kemudian meninggalkan bangsal tempat tinggal Mahisa Agni jika ia berada di Singasari. Dengan kepala tunduk Anusapati berjalan perlahan-lahan. Ia tidak melihat ketika dua orang prajurit yang berpapasan dengannya menganggukkan kepalanya dalam-dalam.

“Tampaknya Putera Mahkota selalu bersedih akhir-akhir ini.“ gumam salah seorang dari kedua prajurit itu.

“Ya. Tampaknya memang ada sesuatu yang mengganggu perasaannya,“ jawab yang lain.

“Adiknya itu selalu mengadu kepada Sri Rajasa. Dan Sri Rajasa semakin nampak berpihak kepadanya. Bahkan pernah Sri Rajasa marah kepada Putera Mahkota didalam sidang para pemimpin Singasari dan yang tidak dapat dimengerti, Sri Rajasa telah mengancam Putera Mahkota, bahwa kedudukannya bukan kedudukan mati.”

“Aku juga mendengar,“ sahut yang lain, “dan kami yang tua-tua ini tentu tahu apakah sebabnya, setidak-tidaknya pernah mendengar desas-desus tentang Putera Mahkota.”

“Tentang apa?”

“Siapakah Putera Mahkota yang sebenarnya.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Tetapi hal itu seharusnya sudah dilupakan. Apalagi Sri Rajasa sudah mengangkatnya menjadi Putera Mahkota.“

“Seharusnya. Tetapi kadang-kadang orang berbuat diluar keharusan, atau karena kekuasaan maka tidak ada keharusan yang dapat mengikatnya. Kekuasaannya itulah suatu bentuk keharusan

yang dikehendakinya sendiri dan bahkan dapat dipaksakannya kepada orang lain.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Katanya, “Jika kau yang berkuasa, maka kau dapat berbuat apa saja yang kau kehendaki. Dan orang lain harus tunduk kepada kemauanmu. Begitu?”

Yang lain memandanginya sejenak. Namun kemudian ia bersungut-sungut, “Jika aku berkuasa, aku gantung kau diregol depan dengan kakimu diatas. Setiap orang harus memukul perutmu seperti memukul kentongan.”

Kawannya berbicara tertawa. Lalu, “Belum lagi berkuasa kau sudah menjadi seorang pemarah.”

Keduanya-pun kemudian terdiam. Ketika mereka berhenti sejenak disudut bangsal, mereka masih melihat Anusapati berdiri termangu-mangu. Namun Putera Mahkota yang tidak pernah merasa perlu membawa seorang pengawal-pun itu melangkah lagi menuju kebangsal Permaisuri.

Ketika Anusapati sampai di halaman bangsal itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Serasa ia akan memasuki rumah seorang Panglima perang yang akan memberikan perintah kepadanya untuk maju kemedan perang.

Karena itu, maka sekilas teringat anak laki-laki yang menjadi semakin besar. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang remaja yang tampan.

“Kalau terjadi sesuatu, taruhanku adalah seluruh keluarga,“ berkata Anusapati didalam hatinya. “Aku, isteriku dan anakku pasti akan menjadi korban. Mungkin menjadi pangewan-ewan di alun-alun. Mungkin dihukum picis disimpang empat atau digantung berjajar didepan regol istana. Bahkan mungkin ibunda Permaisuri akan diikut sertakan dalam kesalahan ini.”

Namun sekilas terbayang wajah Mahisa Agni yang perkasa. Dan timbullah pertanyaan didalam hatinya, “Apakah paman Mahisa Agni akan tetap berdiam diri. Bukankah di istana ini ada juga paman

Sumekar? Jika terjadi sesuatu, paman Mahisa Agni tentu akan melibatkan paman Witantra, paman Mahendra dan paman Kuda Sempana. Tentu tidak hanya empat orang itu, tetapi pasti ada pengikut-pengikut yang dapat bergerak sekedar mengguncang kekuasaan Sri Rajasa. Apalagi paman Mahisa Agni pernah menjadi panglima pasukan yang terdiri dari orang-orang Kediri itu sendiri ketika ia memecah Kediri waktu itu. Dalam keadaan yang tersudut, ia pasti masih mampu menggerakkan orang-orang itu dan bekas-bekas prajurit Kediri yang menyimpan dendam meski-pun umur mereka menjadi semakin tua seperti paman Mahisa Agni. Bahkan para bangsawan di Kediri yang sampai sekarang masih diberi wewenang memerintah dibawah pengawasan paman Mahisa Agni pasti merasa lebih dekat dengan paman Mahisa Agni daripada kepada ayahanda Sri Rajasa, dan apalagi adinda Tohjaya.”

Memang sering terpercik didalam hati Anusapati suatu angan-angan, apakah kira-kira yang dapat terjadi jika ia minta kepada pamannya Mahisa Agni untuk merubah kekuasaan yang ada di Singasari dengan kekerasan. Tetapi ia tidak pernah dapat mengatakannya meski-pun ia yakin bahwa Mahisa Agni mempunyai cukup kekuatan untuk itu. Namun sebagai seorang yang mencintai kesatuan Singasari yang sudah bulat itu, Anusapati tidak dapat berbuat demikian. Jika ia memaksa pamannya untuk melawan Sri Rajasa, berarti di Singasari akan pecah perang besar yang akan memecah belah kesatuan yang dengan susah payah sudah dihim-pun oleh Sri Rajasa.

“Aku harus membedakan antara ayahanda yang sekarang terlampau memanjakan Tohjaya dengan hasil kerja yang besar dari ayahanda itu,“ berkata Anusapati didalam hatinya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia menyadari bahwa pengertian itu diperolehnya dari tuntunan pamannya Mahisa Agni.

Anusapati menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melangkah kepintu bangsal ibunda yang terbuka. Sekali ia berpaling kearah prajurit yang bertugas mengawal bangsal itu. Tampaknya prajurit itu tidak begitu menghiraukannya. Setelah membungkukkan

kepalanya, maka prajurit itu-pun kemudian memandang lagi kejauhan dengan tatapan mata yang kosong.

Sejenak kemudian maka Anusapati-pun melangkah kembali masuk kcdalani bilik ibunya. Ternyata ibunya berbaring seorang diri. Adik-adiknya tidak berada didalam bilik itu.

“O, kau Anusapati,“ sapa Ken Dedes yang kemudian segera bangkit dari pembaringannya. “Duduklah.”

Anusapati-pun kemudian duduk diatas sebuah dingklik kayu yang rendah disamping pembaringan ibunya itu.

“Baru saja Mahisa Wonga Teleng meninggalkan bangsal ini,“ berkata Ken Dedes kemudian, “adik-adikmu yang lain ikut bersamanya.”

“O,“ Anusapati mengangguk.

“Aku sudah menyangka bahwa kau akan kemari.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Dan ibundanya berkata pula, “Apakah kau sudah menemui pamanmu?”

Anusapati mengangguk, “Ya ibunda, hamba baru saja menghadap pamanda Mahisa Agni.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Semuanya memang harus berakhir. Dan kedatangan Anusapati kini adalah permulaan dari akhir yang bagaimana-pun bentuk ujudnya.

Dengan dada yang berdebar-debar ia bertanya, “Apakah pamanmu mengatakan sesuatu kepadamu?”

Anusapati menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak ibu. Pamanda Mahisa Agni tidak mengatakan apa-apa kepada hamba, selain beberapa macam nasehat.”

“O,“ Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dan pamanda Mahisa Agni mengharap hamba untuk dengan tenang menghadapi segala macam masalah. Hamba tidak boleh kehilangan akal dan bertindak tergesa-gesa.”

Ken Dedes mengangguk-angguk pula. Katanya, “Memang semuanya harus segera menjadi jelas. Ibulah yang berkewajibau untuk mengatakan kepadamu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia berdiri dihadapan sebuah ruang yang gelap pekat. Seseorang siap untuk menyalakan obor didalamnya. Dan ia akan melihat isi dari ruang yang akan segera menjadi terang. Mungkin didalam ruang itu ada seekor harimau yang siap menerkamnya, atau seekor ular raksasa, atau seekor banteng dengan tanduknya yang runcing. Ia sama sekali tidak dapat membayangkan bahwa didalam ruang yang gelap itu terdapat seekor burung merak yang indah atau seekor kijang yang jinak.

Karena itulah maka Anusapati menjadi berdebar-debar. Jantungnya semakin lama semakin keras berdetak dan rasa-rasanya darahnya menjadi semakin cepat mengalir.

Tetapi justru karena itu ia ingin segera melihat, rahasia apakah yang sebenarnya tersimpan dirongga dada ibundanya.

“Mungkin perasaan ibunda akan menjadi ringan setelah ibunda melepaskan rahasia yang agaknya sudah lama tersimpan itu,“ berkata Anusapati didalam hatinya, “apa-pun akibatnya buat aku dan adik-adikku.”

Sejenak kemudian Anusapati mengangkat wajahnya ketika ibunya berkata, “Kemarilah Anusapati, mendekatlah.”

Anusapati memandang ibunya sejenak. Nafasnya terasa semakin berdesakan dilubang hidungnya.

“Sudah sepantasnya kau mendengar,“ berkata ibunya, “kau sudah cukup dewasa sekarang. Bukan saja dewasa, tetapi kau sudah mempunyai seorang anak yang menjadi semakin besar pula. Dan sebaliknya, jika kalian masih akan berkembang terus, maka ibumu akan menjadi semakin layu. Seperti matahari, ibumu sudah akan tenggelam diujung Barat.”

Anusapati menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Ibunya yang kemudian berdiri dan berjalan hilir mudik itu-pun kemudian melanjutkannya, “Anusapati. Kau dapat melemparkan kesalahan kepadaku, kepada ibumu, bahwa semuanya telah terjadi dan membuat kau sangat berprihatin.”

Anusapati sama sekali tidak menjawab.

“Setiap kali kau datang kepadaku, setiap kali hatiku menangis lebih parah dari titik air mataku yang kau lihat mengalir dari pelupukku, karena aku tahu jauh lebih banyak dari apa yang aku katakan.”

Anusapati menggigit bibirnya. Ia memang sudah merasa jahwa ibunya tentu menyembunyikan sesuatu.

“Dan sekarang rahasia ini tidak dapat aku simpan lebih lama lagi justru mengingat kedudukanmu yang semakin goyah. Jika hal ini aku lakukan, sama sekali bukan karena aku inginkan untuk tetap berada pada kedudukanku yang sekarang, tetapi adalah karena suatu perbandingan, apakah yang sebaiknya terjadi di Singasari.“

Anusapati yang untuk beberapa saat hanya berdiam diri itu-pun kemudian menjawab, “Ya ibunda.”

Namun demikian, hatinya seakan-akan tidak lagi dapat malahan kesabaran untuk segera mengetahui apakah yang akan likatakan oleh ibunya itu. Tetapi ia tidak dapat menanyakannya dan memaksa ibunya untuk segera mengatakannya.

“Anusapati,“ berkata ibunya, “setiap kali kau selalu bertanya, kenapa sikap ayahanda Sri Rajasa kepadamu dan kepada adik-adikmu, terutama Tohjaya terasa tidak adil.”

Anusapati menganggukkan kepalanya.

“Anakku. Yang sudah kau lihat, kau adalah anakku, sedang Tohjaya adalah anak Ken Umang. Aku adalah seorang perempuan yang lain dari Ken Umang. Aku tidak dapat membuat Sri Rajasa mengasihi anak-anakku seperti Sri Rajasa mengasihi anak-anak Ken Umang. Dan ini adalah kesalahanku.”

Anusapati menundukkan kepalanya. Jika ibunya bersikap demikian, dan mencari kesalahan pada diri sendiri, maka persoalannya tidak akan dapat diselesaikan. Dan agaknya ia sama sekali tidak menjumpai harimau, atau seekor ular raksasa, atau seekor banteng liar bertanduk runcing didalam ruang yang gelap itu. Tetapi ia akan melihat ibunya sedang mencekik dirinya sendiri. Dan itu tidak boleh terjadi.

“Karena itu Anusapati,“ ibunya melanjutkan.

“Aku tidak ingin mendengar ibu mengutuk diri sendiri. Jika memang hal itu yang akan ibu katakan, maka agaknya lebih baik hamba tidak mendengarnya, karena hal itu justru akan menambah hati hamba menjadi semakin parah. Lebih baik ibu marah kepada hamba, atau ibu memberikan perintah untuk suatu tugas yang berat dalam usaha membebaskan diri dari ikatan yang selama ini membelenggu hati.”

Ken Dedes memandang anak laki-lakinya itu dengan hati yang pedih.

“Aku akan mengatakannya Anusapati,“ berkata Ken Dedes dengan suara parau.

Anusapati mengangkat wajahnya sejenak, namun wajah itu-pun segera tertunduk kembali.

Sejenak Anusapati menunggu, tetapi ia tidak mendengar kata-kata ibunya. Bahkan ia-pun terperanjat ketika ia merasa ibunya memeluknya dari belakang dan membelai kepalanya seperti ia membelai anaknya yang masih terlalu muda. “Anusapati,“ berkata ibunya, “dengarlah. Adalah wajar jika Sri Rajasa tidak mengasihmu seperti adik-adikmu, terutama Tohjaya. Bukan saja karena aku tidak dapat melayani Sri Rajasa seperti Ken Umang, tetapi ada sebab lain yang jauh lebih dalam dari perbedaan ibu itu.”

Dada Anusapati terasa berdesir mendengar kata-kata ibunya itu. Dengan penuh minat ia menatap wajah ibunya yang melanjutkan kata-katanya, “Anusapati, apakah kau sudah siap mendengar penjelasanku lebih lanjut?”

Anusapati mengangguk. Dengan suara yang dalam ia menjawab, “Hamba sudah terbiasa mendengar persoalan-persoalan yang pahit bagiku ibu. Apa-pun yang akan hamba dengar, tidak akan menggetarkan dadaku lagi.”

Tetapi ibunya menggeleng. Jawabnya, “Kau justru pernah menitikkan air mata Anusapati.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut.

“Dengarlah,“ berkata ibunya sambil membelai rambut naknya, “mungkin kata-kataku akan terdengar aneh ditelingamu dan akan membuat hatimu sakit. Tetapi kau harus mengetahuinya.“ suara abunya menjadi sendat. Tetapi diteruskannya, “Sebenarnyalah bahwa kau bukan putera Sri Rajasa.”

“Ibu,“ Anusapati hampir terpekik. Tetapi ibunya memeluknya erat-erat.

“Ya Anusapati. Kau lahir bukan karena tetesan darah Ken Arok yang sekarang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

Kata-kata ibunya itu cukup jelas terdengar ditelinga Anusapati. Betapa-pun ia menjaga keseimbangan perasaannya, namun tiba-tiba saja ia terlonjak berdiri sambil mengibaskan pelukan ibunya. Dengan sorot mata yang seakan-akan menyala ia memandang Permaisuri dengan tajamnya.

“Jadi, jadi,“ suara Anusapati tergagap.

Namun dalam pada itu, setelah melepaskan kata-kata yang selama ini membebani perasaannya, justru Ken Dedes menjadi tenang. Didekatinya anaknya sambil berkata, “Anusapati. Itulah kenyataanmu anakku.”

“Jadi-jadi, jadi, siapakah hamba sebenarnya? Apakah hamba juga bukan putera ibunda Permaisuri?“

“Kau anakku Anusapati. Aku adalah ibumu. Ibu kandungmu.”

“Tetapi kenapa aku bukan putera Sri Rajasa? Apakah, apakah pernah terjadi sesuatu .... “ Anusapati tidak dapat meneruskan kata-katanya.

Namun agaknya ibunya mengerti apa yang tersirat dihati anaknya sehingga ia menyahut, “Tidak Anusapati. Tidak ada pelanggaran pagar ayu dan tidak ada perbuatan terkutuk dimasa kegadisanku. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku kawin dengan Sri Rajasa setelah aku menjadi janda.”

“Ibu,“ mata Anusapati terbelalak karenanya.

“Kau adalah Putera Akuwu Tunggul Ametung yang dahulu berkuasa di Tumapel. Sri Rajasa yang kemudaan menggantikan kedudukannya, berhasil mempersatukan Tumapel dan Kediri serta daerah-daerah lainnya sehingga disebutnya kemudian Singasari. Sebagian dari perjuangan Sri Rajasa mempersatukan Singasari pasti masih ada yang kau ingatnya.”

Anusapati berdiri tegak seperti patung. Meski-pun benar seperti apa yang dikatakannya, bahwa ia sudah terbiasa mendengar kata-kata keras, kasar dan sindiran-sindiran tajam yang menyakiti hatinya, namun pengakuan ibunya itu benar-benar telah membuatnya bagaikan kehilangan perasaan. Bahkan bagaikan kehilangan dirinya sendiri.

“Anusapati,“ berkata ibunya kemudian, “cobalah kau menanggapi hal ini dengan sikap dewasa. Bukankah kau sudah siap mendengar keteranganku yang bagaimana-pun pahitnya bagimu.”

Anusapati masih belum menjawab. Namun tiba-tiba saja tangannya menjadi gemetar. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia menggeram, “Ibu, jika demikian, maka Tohjaya sama sekali tidak ada hubungan darah dengan hamba.”

Ibunya termangu-mangu sejenak. Namun ia-pun kemudian mengangguk.

“Jika demikian apa gunanya hamba selama ini merendahkan diri dan membiarkan diriku dihinakannya.“ tiba-tiba wajah Anusapati

menjadi tegang, “Hamba tidak peduli lagi akan anak itu. Hamba harus membuat perhitungan.”

“Anusapati.”

Anusapati tidak menghiraukannya. Wajahnya sudah menjadi semerah nyala dimatanya. Namun sesaat sebelum ia meloncat, ibunya sudah berlari memeluknya. Dengan nada yang dalam ibunya berkata, “Anusapati. Kau sudah berjanji untuk mendengar keteranganku dengan hati yang tenang. Jangan tergesa-gesa berbuat sesuatu.”

“Lepaskan hamba ibu. Lepaskan. Buat apa hamba membiarkan diriku terhina jika aku sama sekali tidak mempunyai hubungan apa-pun dengan Tohjaya? Hanya karena hamba hormat kepada Sri Rajasa yang hamba anggap ayah kandung, itulah hamba tidak berbuat apa-apa atasnya. Tetapi ternyata bahwa hamba bukan anak Sri Rajasa.”

“Tenanglah Anusapati. Semua tindakan yang tergesa-gesa tidak akan menguntungkan. Tentu Sri Rajasa tidak akan membiarkan anaknya mengalami bencana.”

“Biarlah hamba dibunuhnya. Tetapi hamba mendendamnya.”

“Jangan memanjakan dendam didalam hati. Tenanglah.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Pelukan ibunya terasa semakin erat ditubuhnya. Bahkan kemudian setitik air yang hangat meleleh ditangannya.

“Anusapati, aku adalah ibumu. Apakah kau masih mau mendengarkan kata-kataku.”

Anusapati tidak menjawab. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya.

“Anusapati, apakah kau masih mau mendengar keteranganku?”

-ooo0dw0ooo-

(bersambung jilid 75)

Jilid 75

ANUSAPATI tidak menjawab. Tetapi ia tidak lagi berusaha untuk melepaskan tangan ibunya yang memeluknya erat-erat seperti memeluk anak-anak yang sedang menangis meronta-ronta.

“Anusapati,“ suara ibunya lirih tetapi serasa meresap sampai kepusat jantung, “endapkan perasaanmu. Jangan kau biarkan hatimu melonjak-lonjak. Aku mengerti perasaanmu anakku. Bahwa kau seakan-telah melihat wajahmu sendiri di wajah air yang bening tenang. Seolah-olah kau melihat bahwa wajahmu bukan lagi wajah keturunan dewa-dewa, tetapi kau melihat dirimu sebagai manusia biasa. Tetapi jangan menyesali diri. Bahwa apa yang kita terima dari yang Maha Agung adalah yang paling baik buat kita.”

Anusapati tidak menjawab. Kepalanya perlahan-lahan tertunduk dalam-dalam. Terasa didada ibunya, nafas anaknya yang seakan-akan mengalir seperti banjir.

“Duduklah Anusapati.”

Anusapati tidak dapat menilai sikapnya sendiri. Perlahan-lahan ia duduk diatas dingklik kayu dan ibunya-pun melepaskannya dari pelukannya.

“Jangan terbakar oleh kenyataan yang memang harus kau hadapi.”

Anusapati mengangguk. Dengan suara yang parau ia berkata, “Ibu, jika demikian, maka siapakah sebenarnya hamba? Siapakah Akuwu Tunggul Ametung dan siapakah ibunda sendiri dihadapan Akuwu dan Sri Rajasa.”

“Anusapati,“ berkata ibunya kemudian, “seperti yang aku katakan, aku adalah Permaisuri Akuwu Tunggal Ametung di Tumapel. Tetapi ketika aku sedang mulai mengandung, maka Akuwu Tunggul Ametung meninggal dunia. Dalam kesepian yang pedih, hadirlah seorang anak muda bernama Ken Arok, sehingga akhirnya aku dikawininya. Karena itulah maka kau lahir setelah aku

menjadi Permaisuri Ken Arok yang menggantikan kedudukan Akuwu Tunggul Ametung.”

Wajah Anusapati yang tunduk menjadi semakin tanduk. Namun dalam pada itu, didalam dadanya bergolak berbagai macam perasaan. Kadang-kadang ia dapat mengerti apa yang telah terjadi. Tetapi keagungan cintanya kepada ibunya, rasa-rasanya melonjak ketika ia mendengar, bahwa ibundanya kawin dengan Ken Arok begitu cepat setelah ayahnya meninggal, sehingga ketika ia lahir ibundanya telah menjadi Permaisuri Ken Arok, yang menggantikan kedudukan Akuwu Tunggul Ametung.

Demikianlah maka rasa-rasanya ibundanya sama sekali tidak menjadi berduka cita atas kematian ayahandanya. Bahkan dengan segera ia telah berhasil menggantungkan cintanya kepada orang lain.

Dan tiba-tiba saja, diluar sadar bibirnya telah bergetar dan melontarkan kata-kata, “Apakah ibunda tidak mencintai Akuwu Tunggul Ametung?”

Ken Dedes terkejut mendengar pertanyaan itu. Sehingga ia-pun bertanya, “Kenapa kau bertanya begitu?”

“Ibu, jika ibu mencintai ayahanda Akuwu Tunggul Ametung seperti yang ibu katakan, apakah ibu dapat melakukannya? Belum lagi api pembakaran mayat ayahanda padam, ibunda telah melangsungkan perkawinan dengan orang yang ibunda sebut bernama Ken Arok dan yang kemudian menjadi Akuwu di Tumapel, dan yang sekarang ini bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi?”

“Kau salah mengerti anakku. Aku mencintai ayahandamu Akuwu Tunggul Ametung. Kematiannya membuat aku kesepian dan kehilangan pegangan. Pada saat itu hadir orang yang dapat memberi aku jalan pelepasan.”

“Dan ibu segera melupakan ayahanda dan kawin dengan laki-laki itu. Bukan saja ibunda dikawininya, tetapi hak atas Tumapel itu-pun sekaligus ibunda serahkan kepadanya.”

“Anusapati.”

Dan tiba-tiba saja Anusapati menjadi kehilangan pengamatan dirinya. Tekanan perasaan yang tidak tertahankan membuatnya bagaikan terbakar. Karena itu maka katanya kemudian dengan suara parau, “Jika ibunda mencintai ayahanda Akuwu Tunggul Ametung, maka tidak begitu mudahnya ibunda mencintai orang lain. Dan jika ibunda tidak mencintai Sri Rajasa, ternyata ibunda adalah seorang yang mendambakan nafsu semata-mata.”

“Anusapati.”

“Ibunda. Bukankah yang terjadi sekarang ini akibat dari perbuatan dosa ibunda itu? Hambalah yang sekarang harus menanggung akibatnya. Dihinakan dan disisihkan dari hubungan kasih keluarga tanpa mengetahui sebab musababnya. Baru sekarang hamba tahu, bahwa bukan salah Sri Rajasa, bukan salah Tohjaya dan bukan salah siapa-pun juga. Sebenarnyalah bahwa hamba memang bukan keluarga mereka. Dan hamba memang pantas untuk dihinakan dan dijauhkan dari kasih keluargaku.”

“Cukup Anusapati, cukup. Aku sudah mengatakan, bahwa akulah yang bersalah. Akulah yang telah berbuat dosa. Tetapi bukan maksudku untuk membuat kau menderita karenanya. Meski-pun kau bukan putera Sri Rajasa, tetapi kau tetap mendapatkan hakmu sebagai Putera Mahkota.”

“Apakah artinya kedudukan itu sekarang ibunda. Hamba pasti sudah menjadi sampah di halaman istana ini jika tidak ada paman Mahisa Agni. Hamba pasti tidak akan bernilai lebih baik dari seorang juru taman jika paman Mahisa Agni tidak berbuat sesuatu yang mengagumkan atas hamba. Paman Mahisa Agnilah yang membuat hamba diterima oleh rakyat Singasari karena mereka menganggap bahwa hambalah Kesatria Putih itu seutuhnya. Dan itu adalah hasil perbuatan paman Mahisa Agni, seperti juga kemampuan yang hamba miliki sekarang, sehingga hamba selamat dari kematian oleh tangan Kiai Kisi.”

Ken Dedes terhenyak dipembaringannya. Dengan kedua belah tangannya ia menutup wajahnya yang basah karena air mata. Namun agaknya dada Anusapati masih juga pepat, sehingga ia masih juga berkata, “Dan sekarang hamba harus melihat bahwa diri hamba sebenarnya tidak lebih dari seorang anak yang sudah tidak berbapa. Hamba adalah seorang yang memang sebenarnya tidak berharga bagi Sri Rajasa, karena hamba adalah anak orang lain. Anak yang ditinggalkan didalam perut ibunda oleh orang yang sama sekali tidak ada hubungan dan sangkut pautnya dengan Ken Arok. Bahkan hamba adalah manusia yang paling terkutuk dimata Ken Arok itu karena setiap kali Sri Rajasa melihat hamba, maka pasti ia akan teringat kepada Akuwu Tunggul Ametung. Betapa bencinya Ken Arok terhadap Akuwu Tunggul Ametung karena Akuwu itu telah merampas kegadisan Ibunda dimasa muda dan meninggalkan seorang anak laki-laki yang akan tetap membuatnya terkenang atas kekecewaannya itu. Dan apalagi anak laki-laki itu sekarang merasa dirinya berhak untuk menyebut dirinya Putera Mahkota,“ suara Anusapati terputus sejenak. Lalu, “alangkah malunya hamba kepada diri sendiri. Jika aku tahu tentang diri hamba, maka hamba tidak akan menerima kedudukan itu. Hamba akan manyingkir dari istana ini dan mengikuti paman Mahisa Agni dipadepokan yang terpencil itu. Paman Mahisa Agni pasti akan rela melepaskan kedudukan yang betapa-pun tingginya, karena sebenarnya paman Mahisa Agni sama sekali tidak menginginkannya, ia ada didalam istana pada waktu itu hanya semata-mata karena hamba. Dan ia kini berada di Kediri sebagai wakil Mahkota, adalah karena paman ingin tetap mempunyai pengaruh dalam pemerintahan Singasari juga semata-mata karena hamba.”

“Kau salah Anusapati,“ sahut ibunya disela-sela isaknya yang tertahan, “pamanmu Mahisa Agni mengasihimu. Tetapi jangan disangka bahwa pamanmu tidak mencintai Singasari. Semua yang diperbuatnya adalah untuk Singasari.”

“Hamba tahu ibu. Tetapi Singasari bagi paman Mahisa Agni bukan sekedar kekuasaan Sri Rajasa. Singasari adalah keseluruhan wadah dan isinya. Dan Singasari adalah suatu kesatuan yang utuh

sekarang ini. Tetapi paman Mahisa Agni-pun tahu, bahwa Singasari sedang diancam oleh ketamakan seorang isteri dan anak dari yang berkuasa sekarang. Jika hamba mengatakan bahwa paman Mahisa Agni telah berbuat banyak sekali untuk hamba sakarang ini, hamba yang sudah terlanjur menjadi Putera Mahkota itu-pun adalah karena pamanda Mahisa Agni mencintai Singasari dan mengasihi hamba. Jika tidak, maka paman Mahisa Agni tidak akan membina hamba menjadi seorang yang mampu berbuat sesuatu seperti sekarang ini, dan paman Mahisa Agni tentu tidak akan berusaha membendung kekuasaan yang akan melimpah kepada tangan yang menurut paman Mahisa Agni tidak akan dapat mempertahankan dan apalagi mengembangkan Singasari yang sekarang ini. Jika paman Mahisa Agni tidak mempedulikan hamba, tetapi semata-mata mempedulikan Singasari, maka ia akan dapat berbuat lain dari yang dilakukannya sekarang. Tetapi jika paman Mahisa Agni hanya mengasihi hamba dan tidak mengingat Singasari, maka alangkah baiknya jika hamba pergi kepada paman Mahisa Agni di Kediri dan bersama-sama memberontak. Maka pasti Singasari akan pecah dan kemungkinan terbesar kami akan menang. Tetapi Singasari akan digenangi darah rakyatnya yang sedang berusaha mengembangkan negeri ini.”

Ken Dedes tidak lagi dapat membendung air matanya yang mengalir semakin banyak. Bahkan kemudian terdengar isaknya semakin lama menjadi semakin keras. Dan tiba-tiba saja diantara tangisnya ia berkata, “Sudah aku katakan Anusapati. Aku memang bersalah. Jika aku tidak bertemu dan tidak menerima orang itu disaat aku kehilangan Akuwu Tunggal Ametung, maka keadaannya akan jauh berbeda. Sebenarnyalah bahwa aku akan memilih hidup dipadepokan jika aku mendapat kesempatan. Tetapi tidak. Aku tidak dapat memilih selain harus pasrah diri di istana Tumapel.”

“Tentu tidak. Ibunda tentu akan dapat memilih. Jika ibunda tetap berbakti kepada ayahanda Tunggul Ametung, dan jika ibunda benar-benar mencintainya, maka ibunda tidak akan melakukannya meski-pun orang yang bernama Ken Arok itu setiap hari duduk berimpuh dibawah kaki ibunda, namun yang kini akhirnya telah menginjak tengkuk keturunan ibunda. Tentu pada saat ibunda

menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung, ibunda merasa sangat berbahagia, tetapi bukan karena mencintai Akuwu Tunggul Ametung. Ibunda saat itu hanya memandang bahwa ibunda menerima lamaran seorang Akuwu, sedangkan ibunda adalah seorang gadis padepokan. Tetapi karena itulah, maka sepeninggal Akuwu Tunggul Ametung, maka seketika itu pula ibunda sudah barhasil melupakannya.”

“Anusapati.”

“Kenapa ibu tidak berani melihat wajah sendiri betapa-pun buruknya.”

“Tidak. Tidak,“ tiba-tiba Ken Dedes berdiri. Dipandanginya wajah anaknya dengan tajamnya. Dan tiba-tiba saja diluar sadarnya ia berkata, “Kau salah. Sama sekali salah. Akuwu Tunggul Ametung tidak datang kepada ayahku untuk melamar sebagai lazimnya seorang laki-laki meminang seorang gadis. Tetapi aku telah dirampas dan dilarikannya dengan paksa. Aku telah diambilnya tanpa setahu ayahku, seorang pendeta dipadepokan Panawijen. Kakekmu telah kehilangan aku bukan karena lamaran seorang Akuwu.”

Jawaban ibunya itu telah membuat dada Anusapati berdentangan. Semula ia ragu-ragu mendengar keterangan itu, seakan-akan bahwa ayahnya yang baru dikenalnya itu telah menculik ibunya yang bernama Ken Dedes itu dari padepokan, sehingga oleh hentakan berbagai perasaan didadanya, ia bahkan tidak mempercayainya. Kebenciannya kepada Sri Rajasa, yang tertahan-tahan dan yang tiba-tiba saja meledak setelah mengetahui bahwa Sri Rajasa sama sekali bukan ayahnya, meluap tanpa dapat dikendalikannya. Dan itulah sebabnya maka ia tidak dapat menelan kenyataan yang dihadapkan ibunya kepadanya, bahwa ayahnya yang sebenarnya itu-pun telah melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan.

Karena itu maka katanya, “Ibunda. Ternyata bahwa ibunda telah memutar balikkan kenyataan. Hamba tidak dapat mengerti yang manakah yang benar. Ibunda mula-mula mengatakan bahwa ibunda

mencintai ayahanda Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian ibunda mengatakan bahwa ayahanda Akuwu Tunggul Ametung telah berbuat kesalahan. Ibunda tidak diambil dari padepokan dengan upacara kebesaran lamaran seorang Akuwu, tetapi ibunda telah dilarikannya. Yang manakah yang harus hamba percaya. Tetapi bahwa ibunda telah mencintai Sri Rajasa itulah yang benar. Bahkan mungkin kematian ayahanda Tunggul Ametung adalah suatu hal yang menyenangkan sekali bagi ibunda, karena ibunda telah terlepas dari sangkar yang telah dibuat oleh Akuwu Tunggul Ametung.”

“Anusapati,“ wajah ibunnya menjadi merah padam, “kau adalah anakku. Aku melahirkan kau dengan bertaruh nyawa. Sekarang kau berani menghinaku. Anusapati, apa-pun yang telah aku lakukan, tetapi aku mencintaimu. Kau adalah anakku yang selalu membuat aku prihatin. Aku mengharap kau kelak tidak mengalami masa-masa yang paling pahit didalam hidupmu. Dan kini selagi aku berusaha dengan segenap hati, kau ... kau ... “ suara Ken Dedes terputus dikerongkongan.

Namun agaknya hati Anusapati telah tertutup. Kepahitan hidup dan kenyataan yang bercampur baur itu membuatnya kehilangan pegangan.

Karena itu maka katanya, “Ibunda. Kenapa ibunda masih juga mengatakan bahwa ibunda mencintai hamba, mencintai ayah? Jika ibunda mempertahankan kedudukanku sekarang sebagai Putera Mahkota, sebenarnya sama sekali bukan untuk kepentingan hamba, tetapi semata-mata karena ibunda ingin tetap duduk di atas kedudukan ibunda, seorang Permaisuri. Alangkah nistanya martabat seorang Permaisuri yang harus turun dari kedudukannya karena ada perempuan lain yang mendesaknya.”

“Anusapati, Anusapati,“ Ken Dedes membentak hampir menjerit sehingga seorang emban yang mendengarnya diluar menjadi termangu-mangu. Tetapi justru karena ia mengetahui bahwa agaknya Permaisuri marah dan bahkan bertengkar dengan Putera

Mahkota, ia sama sekali tidak berani berbuat apa-apa. Bahkan rasa-rasanya tubuhnya menjadi gemetar dan dadanya berdebar-debar.

Dalam pada itu, Ken Dedes yang menjadi marah pula, justru kehilangan kemampuan untuk mengucapkan kata-kata. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia harus bertengkar dengan Anusapati. Anak yang selama ini membuatnya sangat berprihatin. Namun yang kemudian menjadi salah paham ketika ia mendengar kenyataan tentang dirinya itu.

Namun karena Ken Dedes seakan-akan menjadi terbungkam itulah, maka ternyata dadanya telah menggeletar. Yang tidak dapat diucapkannya itulah yang seakan-akan telah mengambang didalam dirinya, sehingga karena itulah maka tanpa disadarinya, dari dalam dirinya telah memancar cahaya yang hanya tampak oleh mata hati yang telah terbuka.

Ternyata bahwa selama ini, selama Anusapati mengalami pembajaan diri, serta dasar-dasar ilmu Gundala Sasra dan bahkan sekaligus kemampuan menyerapan dari kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya, ternyata bahwa Anusapati yang muda itu-pun telah mampu mempergunakan mata hatinya diluar sadarnya. Dan itulah sebabnya, maka tiba-tiba saja ia melihat cahaya yang menyilaukan dari tubuh ibunya. Tubuh yang disaat-saat tertentu seakan-akan telah memancar dalam bentuk yang berlainan.

Anusapati sejenak membeku ditempatnya. Namun cahaya yang silau itu rasa-rasanya langsung menusuk tubuhnya dan menghunjam jauh kepusat jantungnya, sehingga tiba-tiba saja ia menutup wajahnya sambil berkata, “Ibu, jangan ibu ...”

Sejenak Ken Dedes termangu-mangu. Ia tidak mengerti apakah yang sebenarnya telah terjadi.

Namun dalam pada itu, meski-pun Anusapati telah menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tetapi cahaya itu bagaikan menembus pelupuk matanya yang terpejam.

“Ibunda,“ tiba-tiba Anusapati berlutut, “ampun ibunda. Ampun.“

Ken Dedes yang sedang marah itu tiba-tiba tergugah pula hatinya ketika ia melihat anaknya berlutut. Seakan-akan ia telah dihadapkan kembali kepada Anusapati dalam keadaan sehari-hari. Anak laki-lakinya yang selalu dirundung oleh kepahitan dan tekanan perasaan. Karena itulah maka hatinya-pun manjadi cair. Perlahan-lahan ia mendekati anaknya dan sekali lagi dipeluknya kepala anaknya yang sedang berjongkok itu. Katanya, “Anusapati. Bangkitlah. Ibu tidak marah lagi.”

Tetapi Anusapati masih memejamkan matanya dan menutup wajahnya meski-pun terasa pelukan ibunya yang hangat.

“Anusapati, kenapa kau seakan-akan menjadi silau dan menutup wajahmu dengan tanganmu. Pandanglah, inilah ibumu.“

Anusapati mendengar suara ibunya itu. Suara yang lembut. Karena itu, maka perlahan-lahan ia membuka matanya dan mengangkat tangannya yang menutup wajahnya itu.

Kini ia tidak melihat apa-pun lagi. Perlahan-lahan ia memandang ibunya yang masih memeluknya. Tetapi ibunya itu adalah ibunya yang dilihatnya setiap hari.

Karena itu, maka sadarlah Anusapati, bahwa sebenarnyalah bahwa ibunya bukannya orang kebanyakan. Bukannya gadis padepokan seperti gadis-gadis padepokan yang lain. Tetapi ibunya tentu mempunyai kelebihan. Meski-pun Anusapati tidak tahu apakah arti dari cahaya yang seakan-akan memancar dari jantung ibunya itu, namun bagi Anusapati, cahaya itu pasti mempunyai arti yang dalam.

Dengan demikian maka sambil memeluk ibunya ia tidak dapat lagi menahan air matanya yang mengambang dipelupuknya. Katanya dalam nada yang berat terputus-putus, “Ampunkan hamba ibunda. Hamba ternyata telah berbuat kasar terhadap ibunda. Sama sekali bukan maksud hamba. Mungkin didorong oleh gejolak perasaan yang tidak dapat hamba kuasai lagi.”

“Sudahlah Anusapati,“ sahut Ken Dedes sambil membelai rambut anaknya yang masih berjongkok sambil memeluknya, “jangan

hiraukan lagi dan lupakanlah apa yang sudah terjadi. Terimalah kenyataan tentang dirimu dengan sikap dewasa. Alangkah beratnya bagi ibunda untuk menunjukkan kenyataan ini kepadamu. Mungkin karena ibunda tidak mempunyai keberanian, tetapi juga mungkin karena ibunda menunggu sampai ibunda yakin bahwa kau sudah cukup kuat menerima kenyataan ini, maka barulah sekarang ibunda mengatakannya.”

“Ibunda,“ berkata Anusapati, “lalu apakah yang seharusnya hamba perbuat. Kini hamba telah dapat melihat kenyataan tentang diri hamba.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Cobalah, cernakan dahulu apa yang kau ketahui. Barulah kau berpikir dengan bening, apakah yang sebaiknya kau lakukan.”

Anusapati mengangguk. Perlahan-lahan dilepaskannya ibunya. Dan dengan kepala tunduk ia-pun kemudian duduk diatas dingklik kayu sambil merenung.

“Ibu,“ tiba-tiba ia bertanya, “apakah sebabnya maka ayahanda Tunggul Ametung yang saat itu menjadi Akuwu Tumapel meninggal? Apakah ayahanda Tunggul Ametung memang sudah tua atau karena penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh para dukun yang paling pandai dari seluruh Tumapel?”

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang mendebarkan. Jika Ken Dedes menjawab yang sebenarnya, maka ia cemaskan bahwa Anusapati akan mengalami kejutan lagi dan kehilangan pengamatan diri. Tetapi jika ia tidak berkata sebenarnya, maka niatnya untuk mengungkapkan kenyataan tentang anaknya itu sama sekali belum tuntas. Dengan demikian maka anaknya tidak akan dapat mengambil sikap yang telah didasari oleh pengertian yang bulat tentang dirinya. Mungkin ia justru menjadi putus asa dan kehilangan segenap gairah untuk hidup dan kehilangan cita-cita buat masa depannya. Tetapi mungkin dendam telah membakar jiwanya namun dengan sasaran yang tidak seharusnya. Jika dendam Anusapati semata-mata ditujukan kepada Tohjaya dan ia bertindak terhadap putera Sri Rajasa itu, maka ia akan mengalami nasib yang tidak

menguntungkan. Ia dapat ditangkap dan dihukum seberat-eratnya. Padahal Tohjaya bukannya sasaran dendam yang sebenarnya.

“Tetapi apakah aku akan membiarkan anakku mendendam?“ Ken Dedes bertanya kepada diri sendiri.

Sebuah persoalan cepat berkecamuk didalam hati Ken Dedes. Jika masalahnya tidak akan menyangkut masa depan anaknya, maka Ken Dedes sama sekali tidak akan membiarkan anaknya terjerumus kedalam dendam yang tidak ada ujungnya. Jika sekiranya Ken Arok tidak berusaha menyambut hari depan Anusapati, maka persoalannya pasti akan sudah dlupakan oleh Ken Dedes, meski-pun ia sendiri mengalami kepahitan perasaan karena hadirnya Ken Umang. Hal itu adalah karena kesalahan yang telah dilakukannya sendiri. Tetapi bagi Anusapati, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata persoalan dendam karena ayahnya telah terbunuh, tetapi yang lebih penting baginya adalah persoalan masa depannya. Karena itu jika Anusapati berbuat sesuatu, alasannya harus condong kepada kepentingan hari depan. Bukan semata-mata karena ia mendendam.

Karena ibunya tidak segera menjawab, maka Anusapati-pun mendesak, “Ibunda, bukan maksud hamba untuk menggubah persoalan yang sudah lama berlaku. Tetapi apakah ibunda dapat mengatakan, apakah sebabnya ayahanda Tunggal Ametung meninggal dunia, selagi hamba belum lahir?"

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Anakku. Persoalan ini bagaikan hantu yang selalu membayangi hati ibu. Tetapi karena aku sudah mengatakan sebagian dari kenyataanmu maka aku tidak akan menyembunyikannya lagi.”

Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi kini ia berusaha sekuat-kuatnya untuk tidak diguncang oleh perasaannya dan kehilangan kendali. Apa-pun yang akan dikatakan oleh ibunya akan diterimanya dan dicernakannya baik-baik tanpa kehilangan akal dan berbuat kasar terhadap ibunya yang hampir seperti dirinya sendiri, selalu dicengkam oleh keprihatinan.

Dengan demikian, wajah Anusapati-pun menjadi tenang dan tidak lagi membayangkan kegelisahan yang melonjak-lonjak seperti ketika ia mendengar tentang ayahnya.

Melihat ketenangan Anusapati, hati Ken Dedes menjadi agak tatag. Sejenak dipandanginya anaknya yang duduk diam. Kemudian diaturnya perasaannya yang mulai bergejolak. Persoalan yang akan dikatakannya sebenarnya adalah persoalan yang lebih penting dari persoalan siapakah ayah Anusapati itu.

“Anusapati,“ berkata ibunya, “Akuwu Tunggul Ametung meninggal bukan karena ia sudah terlalu tua. Bukan pula karena Akuwu sakit dan tidak dapat diobati lagi.”

“Jadi,“ terasa hati Anusapati melonjak. Tetapi ia-pun segera berusaha menguasainya kembali. “Apakah ayahanda gugur dipeperangan?”

Ken Dedes menggelengkan kepalanya.

“Apakah maksud ibu, ayahanda meninggal dengan tiba-tiba?”

“Ya Anusapati. Ayahanda itu meninggal dengan tiba-tiba.”

“Kenapa ibunda?”

“Anusapati. Alangkah sedihnya jika aku terpaksa mengatakan kepadamu. Ayahandamu meninggal karena pembunuhan.”

“Ayahku dibunuh orang?”

“Ya Anusapati.”

Wajah Anusapati menjadi merah padam. Tetapi dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai perasaannya. Bagaimana-pun juga ia masih juga bertanya, “Bagaimana hal itu dapat terjadi ibu. Jika ayahanda mati dibunuh orang, ibunda dapat juga melupakannya dalam waktu yang singkat. Masih belum seumur hamba didalam kandungan.”

Mata Ken Dedes menjadi basah. Jawabnya, “Itu adalah dosaku Anusapati. Jangan kau ulang lagi. Aku sudah merasa bahwa hal itu

adalah dosa yang beranak pinak, sehingga diriku seakan-akan tidak lagi dapat menempatkan diri dihadapan Yang Maha Agung. Sekali aku berbuat dosa, maka aku harus melindungi dosa itu dengan dosa-dosa yang lain terhadap sesama manusia. Tetapi aku sadar, bahwa aku tidak akan dapat menyembunyikannya terhadap Yang Maha Agung.”

Wajah Anusapati tertunduk lesu. Jika ia menyebut dosa itu lagi, maka hati ibunya pasti akan semakin remuk. Karena itu maka ia-pun bertanya, “Apakah orang-orang Tumapel waktu itu, pasukan-pasukan pengawal dan para prajurit tidak dapat menemukan siapakah yang membunuh ayahanda Tunggal Ametung, yang pada waktu itu menjabat sebagai Akuwu di Tumapel?”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam untuk mengendapkan perasaannya yang bergejolak. Dengan sisa keberanian, ketenangan dan pasrah diri yang tulus, maka ia-pun kemudian bertata, “Pada waktu itu tidak ada orang yang dapat mengetahui siapakah yang telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Tuduhan yang utama ditujukan kepada seorang pelayan dalam yang memiliki sebilah keris yang masih tertancap ditubuh Tunggul Ametung.”

“Siapakah orang itu?”

“Orang itu bernama Kebo Ijo. Dan ia sudah menjalani, hukumannya. Ia dibunuh karena kesalahan itu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hukuman yang setimpal baginya. Tetapi apakah pamrih Kebo Ijo dengan membunuh ayahanda Tunggal Ametung?”

Sejenak Ken Dedes tidak menyahut. Ia masih harus mengatasi gejolak didalam dirinya untuk dapat sampai pada keterangan yang sebenarnya tentang kematian Akuwu Tunggul Ametung.

“Anusapati,“ berkata Ken Dedes kemudian, “tetapi ternyata bahwa tuduhan itu keliru. Akhirnya, setelah pembunuhan itu terjadi beberapa lama, dapat diketahui bahwa pembunuhnya sama sekali bukan Kebo Ijo.”

“O, dan Kebo Ijo sudah terlanjur dibunuh?”

“Ya. Kebo Ijo telah terbunuh.”

“Tetapi apakah pembunuh yang sebenarnya akhirnya dapat diketahui?”

Terasa debar didada Ken Dedes menjadi semakin cepat. Tetapi ia sudah bertekad untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya kepada anaknya seutuhnya.

“Anusapati,“ berkata Ken Dedes kemudian, “memang akhirnya pembunuh yang sebenarnya itu-pun diketahui pula. Ia tidak saja membunuh Akuwu Tunggal Ametung. Tetapi ia juga membunuh mPu Gandring, seorang mPu yang telah membuat keris untuknya dan keris itu pulalah yang telah mengakhiri hidup Akuwu Tunggul Ametung.”

“Alangkah terkutuknya. Tetapi apakah ibu mengetahui siapakah orang itu?”

Ken Dedes mengangguk dengan ragu-ragu.

“Siapakah orang itu ibunda?”

Sesaat Ken Dedes tidak dapat mengucapkan kata-kata. Sekali lagi ia merasa disimpang jalan yang panjang.

“Ibunda,“ desak Anusapati.

Namun Ken Dedes-pun kemudian mengumpulkan semua kekuatan batin yang ada padanya untuk mengatakannya apa yang sebenarnya sudah terjadi. Karena itu dengan suara yang serak ia berkata, “Anusapati. Yang terjadi kemudian hampir diluar kemampuanku untuk mengatasinya. Selagi aku mengagumi usaha Ken Arok untuk menyatukan seluruh daerah Singasari, maka tahulah aku siapakah sebenarnya yang telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung.“ Ken Dedes berhenti sejenak. Lalu, “orang itu adalah orang yang kini berkuasa di Singasari.”

“Sri Rajasa,“ suara Anusapati terputus.

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Namun untuk mengucapkan kata-katanya yang terakhir ternyata Ken Dedes telah memaksa diri dengan segenap kekuatannya. Karena itulah, maka setelah kata-kata itu terucapkan, ia-pun menjadi seolah-olah lemas tidak bertenaga lagi.

Betapa hati Anusapati bergejolak. Tetapi betapa ia berrusaha untuk menahan diri. Apalagi ketika ia melihat ibunya seakan-akan hendak menjadi pingsan karenanya.

Dengan sigapnya ia menangkap tubuh ibunya dan membawanya kepembaringan. Perlahan-lahan dibaringkannya tubuh itu. Ketika Anusapati memandang wajahnya, alangkah pucatnya.

Tetapi Ken Dedes tidak pingsan. Bahkan ia masih dapat tersenyum betapa pahitnya. Katanya hampir tidak terdengar, “Anusapati. Aku sudah memaksa diri untuk mengatakannya. Aku mengharap bahwa kau benar-benar dapat bersikap dewasa.”

Anusapati yang gemetar itu tidak segera menjawab. Dengan tegangnya ia berdiri di pinggir pembaringan ibunya.

“Anusapati,“ desis ibunya, “duduklah.”

Seperti dipukau oleh pesona yang tidak dimengertinya. Anusapati-pun kemudian duduk disebuah dingklik kayu sambil menunduk dalam-dalam. Namun dari sela-sela bibirnya ia berkata, “Pembunuh itu kini duduk diatas tahta Singasari.”

“Ya Anusapati. Pembunuh itu kini berkuasa di Singasari dan berkuasa pula atas diri kita.”

“Tidak,“ Anusapati menghentak, “aku akan melepaskan kekuasaan ini. Aku menarik keputusanku untuk membunuh Tohjaya dan mengasingkan diri apabila aku tidak terbunuh oleh Sri Rajasa. Tetapi sekarang aku berkeputusan lain. Aku akan tetap berada di istana. Bukan Tohjayalah yang harus dibunuh.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Meski-pun Anusapati tidak mengucapkan, tetapi ia mengerti makna dari kata-kata yang terpotong itu.

Meski-pun demikian Ken Dedes sudah menyadari, bahwa hal itu memang mungkin sekali terjadi. Ia sudah menjatuhkan pilihan. Bukan lagi kenangan yang indah dimasa mudanya, yang penting baginya kini, tetapi adalah hari depan yang panjang bagi anaknya, bagi Singasari dan bagi keturunannya.

Tatapi Ken Dedes-pun sadar, bahwa Sri Rajasa bukannya seorang yang hanya pandai merayunya dimasa muda. Tetapi ia adalah seorang prajurit yang pilih tanding. Bahkan ia telah berhasil mengalahkan Maharaja di Kediri yang mempunyai kesaktian tiada taranya.

Karena itulah maka Ken Dedes-pun kemudian berkata dengan suara yang lemah, “Anusapati. Datanglah kembali kepada pamanmu. Katakan apa yang kau dengar dari mulutku. Kau harus menurut segala nasehatnya. Hanya pamanmulah orang yang memiliki kemampuan seimbang dengan Sri Rajasa, meski-pun pamanmu seorang yang besar dan lahir dipadepokan yang terpencil.“ Suara Ken Dedes terputus sejenak. Lalu, “Sri Rajasa-pun bukan seorang keturunan raja dimana-pun juga. Tetapi ia adalah kekasih dewa-dewa.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang tidak akan dapat meninggalkan Mahisa Agni yang selama ini telah menempatkannya pada tempat yang wajar dimata rakyat Singasari, bahwa sebenarnyalah ia Putera Mahkota. Dihadapan rakyat Singasari ia dapat menunjukkan, bahwa ia tidak kalah dari putera kebanggaan Sri Rajasa, Tohjaya. Dan dimalam hari ia dikenal sebagai Kesatria Putih yang memberikan kedamaian hati bagi rakyatnya.

Karena itu, maka sejenak kemudian Anusapati-pun minta diri kepada ibunya. Katanya, “Ibunda, hamba akan menghadap paman Mahisa Agni. Agaknya paman Mahisa Agni-pun mengetahui semua persoalan yang ibunda katakan. Tetapi paman mengharap bahwa ibunda sendirilah yang menyampaikannya kepada hamba.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Pamanmu mengetahui semuanya. Tetapi akulah yang memang seharusnya mengatakan kepadamu.”

Dengan dada yang bergelora maka Anusapati-pun kemudian meninggalkan ibunya dan pergi mendapatkan pamannya. Ia tidak dapat menunggu sampai besok. Ia ingin segera mendengar apakah yang akan dikatakan oleh pamannya itu kepadanya.

Tetapi ternyata bahwa kesibukan Anusapati yang berjalan hilir mudik dari bangsal pamannya kebangsal ibunya kemudian kembali lagi itu mendapat perhatian dari seorang prajurit yang sangat dekat dengan Tohjaya. Bahkan kadang-kadang ia ikut mengawalnya, apabila Tohjaya memerlukan pengawal lebih dari pengawalnya sendiri jika ia keluar istana.

“Tentu ada sesuatu yang penting,“ berkata prajurit itu didalam hati.

Tiba-tiba saja prajurit itu terkejut ketika seseorang menggamitnya. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang juru taman berdiri dibelakangnya.

“Apakah yang kau perhatikan? Apakah kau sedang mengintip seseorang.”

“Persetan dengan kau.”

“Aku tahu pasti. Kau sedang mengintip Putera Mahkota.”

“Apakah kau gila?”

Juru taman itu menggeleng. Jawabnya sambil tersenyum, “Aku tidak gila. Tetapi aku tahu pasti. Kau mencurigainya dan kau akan mengatakannya kepada tuanku Tohjaya.”

“Aku sumbat mulutmu dengan tumitku jika kau mengigau.”

“Sst, aku tidak mengigau. Jika kau perlukan keterangan, aku dapat memberimu banyak sekali.”

“He,“ prajurit itu ternyata tertarik pada keterangan juru taman itu.

“Kau dapat menemui aku nanti malam. Aku mempunyai banyak ceritera tentang Putera Mahkota. Kau mau? Aku menunggalmu disudut taman yang gelap itu.”

Sumekar tidak menunggu jawaban prajurit itu. Dengan tenangnya ia melangkah pergi dan hilang dibalik dinding taman istana Singasari.

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Putera Mahkota sudah tidak tampak lagi. Tetapi kesanggupan juru taman itu untuk berceritera tentang Putera Mahkota sangat menarik perhatiannya, sehingga karena itu maka ia-pun berhasrat untuk datang malam nanti disudut taman seperti yang dikatakan oleh juru taman itu.

Dalam pada itu, Anusapati-pun sudah menghadap pamannya dengan wajah yang gelisah. Tetapi agaknya Mahisa Agai sudah dapat mengerti, bahwa Anusapati sudah mendengar kenyataan tentang dirinya dari ibunya.

“Duduklah Anusapati,“ pamannya mempersilahkan.

Anusapati-pun kemudian duduk dengan wajah yang tunduk.

“Kau tampak letih sekali.”

Anusapati mengangguk. Katanya dengan nada datar, “Ibunda sudah mengatakan semuanya tentang diriku dan tentang kematian ayahandaku yang sebenarnya. Akuwu Tunggul Ametung.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian ia-pun menganggukkan kepalanya. Katanya, “Kau sekarang sudah cukup matang. Anakmu sudah semakin besar. Karena itu, pertimbanganmu sekarang bukan pertimbangan anak muda, tetapi pertimbangan orang tua.”

Anusapati menganggukkan kepalanya.

“Apakah kata ibumu tentang kematian Akuwu Tunggal Ametung?”

“Yang membunuh ayahanda Tunggal Ametung itulah yang sekarang duduk diatas tahta Singasari.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ibumu benar. Ialah yang telah membunuh ayahandamu yang sebenarnya. Tetapi apakah kau telah dicengkam oleh dendam karena kematian ayahandamu itu?”

Anusapati tidak menyahut.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “memang lain rasanya orang yang langsung mengalaminya dan orang yang berdiri diluar. Tetapi justru karena aku tidak langsung terlibat didalamnya, maka aku sempat berpikir apakah yang sebaiknya kau lakukan.”

“Ya paman. Aku memerlukan sekali petunjuk disaat serupa ini.”

“Aku yakin bahwa Sri Rajasa benar-benar berhasrat menyingkirkan kau.”

“Ya paman. Aku-pun yakin.”

“Karena itu Anusapati, jalan yang harus kau tempuh sama sekali bukan pembalasan dendam itu. Kau harus melupakan apa yang sudah terjadi. Sri Rajasa telah menebus kesalahan yang besar itu dengan perbuatan yang besar.”

Anusapati mengangkat wajahnya. Dipandanginya Mahisa Agni dengan penuh pertanyaan. Dan bibirnya-pun mengucapkannya pula, “Apakah maksud paman?”

“Kau harus memandang kedepan. Kau sekarang adalah Putera Mahkota. Yang harus kau lakukan adalah menyiapkan dirimu untuk menjadi seorang Maharaja di Singasari.”

“Tetapi ayahanda Sri Rajasa akan menggusir aku. Bukankah baru saja paman mengatakan demikian?”

“Itulah soalnya yang kau hadapi. Jika kau terpaksa mempertahankan diri, adalah karena kau Putera Mahkota yang akan disingkirkan. Maksudku, kau tidak usah mempersoalkan yang sudah terjadi. Tetapi kau tidak harus menyerahkan masa depanmu kepada

orang yang pernah membunuh ayahmu itu. Apakah kau mengerti maksudku?”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah ada perbedaan diantara keduanya paman? Apakah hal itu bukan sekedar untuk menenteramkan hati sendiri, agar kita tidak salalu dicengkam oleh dendam, dan seolah-olah nafsu kita telah dikuasai oleh dendam semata-mata. Tetapi yang pada hakekatnya akan melahirkan tindakan yang sama?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak Anusapati. Persoalannya tidak sama, dan yang akan kau lakukan-pun tidak akan sama. Jika kau digerakkan oleh dendam dihati, maka kau akan menjadi garang. Kau akan mencari kesempatan untuk melepaskan dendammu. Dan kaulah yang mengambil tindakan kapan saja yang kau anggap baik. Tetapi jika bukan itu soalnya, maka kau tidak akan mengambil tindakan apapun. Tetapi kau akan tetap berhati-hati. Kau akan melindungi dirimu sendiri. Aku yakin bahwa Sri Rajasa tidak akan mempergunakan para prajurit dan Senapati untuk memaksakan kehendaknya. Aku yakin bahwa jika demikian maka Singasari akan benar-benar terpecah, karena Sri Rajasa-pun tahu benar, bahwa aku mempunyai pengaruh yang kuat pula pada para Senapati di Singasari. Lebih daripada itu, aku telah minta agar kakang Witantra-pun berbuat sesuatu untuk menekankan pengaruh para Senapati dari Pasukan Pengawal, agar mereka tidak mudah diperalat oleh Sri Rajasa dan Tohjaya didalam persoalan ini.”

“Apa yang dapat dilakukan oleh paman Witantra?”

“Mudah-mudahan ia berhasil meski-pun hanya sekedar membantu rencana kita yang besar.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti maksud pamannya. Ia tidak boleh mengambil sikap yang kasar terlebih dahulu. Ia harus menunggu. Tetapi berapa lama ia harus menunggu dalam kegelisahan dan kecemasan, karena setiap saat bahaya dapat menerkamnya dari segala penjuru.

Karena itulah maka Anusapati merasa bahwa dirinya benar-benar berdiri diatas titian yang telalu sempit diatas sebuah jurang yang dalam. Jika ia salah langkah, maka ia pasti akan terjerumus dan hancur berkeping-keping.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian yang seakan-akan dapat mengetahui perasaan Pangeran Pati itu, “memang kau seolah-olah berada didalam pendadaran yang sangat berat. Tetapi aku yakin bahwa kau akan dapat mengatasinya.”

“Semoga paman,“ jawab Anusapati, “aku akan berusaha.”

“Hati-hatilah Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku akan berusaha berada di Singasari untuk waktu yang agak panjang. Tetapi jika perintah Sri Rajasa datang setiap saat agar aku kembali ke Kediri, maka aku-pun harus segera melakukannya.“

Anusapati mengangguk.

“Aku akan berbicara dengan Sumekar. Ternyata ia merupakan seorang kawan yang sangat setia bagimu. Jangan lupa, bahwa kau harus selalu berhubungan dengan juru taman itu. Suasana pasti akan meningkat terus. Apalagi karena kau selalu mondar mandir antara bangsal ibundamu dan bangsal ini. Jika ada seseorang yang memperhatikan, maka itu berarti pertada bahwa yang akan terjadi akan cepat terjadi. Sri Rajasa tentu memperhitungkan apa yang kau lakukan sekarang ini.”

“Baiklah paman,“ berkata Anusapati kemudian, “kini aku mohon diri. Aku sekarang sudah jelas dimana aku berdiri. Dengan demikian aku akan dapat mempertimbangkan sikap yang paling baik yang dapat aku lakukan.”

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian dengan ragu-ragu, “aku masih ingin mengingatkan kau kepada pemberianku itu. Dalam keadaan seperti sekarang ini apa salahnya jika benda itu tidak terpisah daripadamu.”

“O,“ Anusapati mengangguk-angguk, “terima kasih paman. Aku akan selalu membawanya. Aku tahu bahwa benda itu sangat berguna dalam suatu saat yang paling gawat.”

“Benda itu berpengaruh siang dan malam. Tetapi sekali lagi aku peringatkan, bahwa benda itu sama sekali bukan sebuah senjata.”

“Ya paman.”

“Jika kau manginginkan senjata Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “kau dapat bertanya kepada ibumu. Sebenarnya yang penting bagimu bukan untuk mempergunakan senjata itu, tetapi agar senjata itu tidak dipergunakan oleh orang lain terutama Sri Rajasa sendiri atau Tohjaya.”

“Senjata apakah yang paman maksud?”

“Sebilah keris yang keramat.”

“Keris?“ Anusapati mengerutkan keningnya.

“Ya. sebilah keris. Keris itulah yang dipergunakan oleh Sri Rajasa untuk membunuh korbannya. Yang pertama adalah pembuat keris itu sendiri.”

“Siapa paman?”

“mPu Gandring.”

“O,“ Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“mPu Gandringlah yang membuat keris itu, dan mPu Gandring pulalah korban yang pertama. Keris itu adalah keris yang sangat keramat.”

Anusapati mendengarkan ceritera Mahisa Agni dengan cermatnya sebagai pelengkap ceritera ibundanya.

“Dimanakah keris itu sekarang disimpan paman?“ bertanya Anusapati.

“Keris itu disimpan oleh ibundamu.”

“Ibunda? Kenapa bukan oleh ayahanda Sri Rajasa?”

“Aku tidak tahu pasti, kenapa begitu. Tetapi aku kira ayahandamu pada saat itu ingin melupakan apa yang sudah dilakukannya. mPu Gandring itu adalah pamanku, dan kemudian Akuwu Tunggul Ametung, setelah dengan cermatnya ia menjerumuskan sahabatnya kedalam bencana.”

“Ibunda juga menyebutnya,“ berkata Anusapati kemudian.

“Nah, cobalah. Usahakanlah agar keris itu jatuh kedalam tanganmu. Tetapi tanpa niat yang buruk, sakedar menghindarkan kemungkinan yang paling pahit bagimu sendiri, apabila dalam keadaan yang gawat ini Sri Rajasa teringat kepada senjata yang telah bernoda darah itu dan timbul keinginannya untuk mempergunakannya lagi.”

Anusapati menjadi tegang sejenak.

“Anusapati, ciri yang paling jelas dari keris itu adalah tangkainya. Hulu keris itu bukannya sebuah ukiran yang rumit dan bertahtakan permata, tetapi hulu keris itu adalah sepotong dahan cangkring yang kasar dan belum dibentuk sama sekali.”

“Dahan cangkring yang kasar,“ Anusapati mengulangi.

“Ya. Itulah keris yang telah mengakhiri hidup pamanku dan ayahandamu.”

“Baiklah paman. Aku akan menghadap ibunda. Aku akan memohon agar keris itu diperkenankan aku simpan.“

“Tetapi kau tidak usah menghadap sekarang. Jarak antara bangsal ini dan bangsal ibumu akan menjadi lekuk bekas kakimu. Besok sajalah kau menghadap.”

“Satu malam adalah waktu yang panjang paman. Dimalam nanti semuanya akan dapat tarjadi.”

“Aku masih ada disini. Aku akan memberitahukan kepada Sumekar dan kau memiliki trisula yang dapat membantumu khusus menghadapi kejahatan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang ia sudah hilir mudik antara kedua bangsal itu. Karena itu maka katanya, “Baiklah paman. Besok pagi-pagi jika aku masih berkesempatan melihat matahari terbit, aku akan menghadap ibunda untuk memohon agar keris itu dapat aku simpan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, katanya kemudian, “Kau harus mencoba untuk menenangkan hatimu jika kau kembali kepada isterimu. Baginya kau adalah sandaran yang tidak boleh goyah, agar keluargamu tidak menjadi lebih gelisah dari kau sendiri.”

Anusapati menganggukkan kepalanya, “Ya paman. Aku akan mencoba.”

“Nah, jika demikian, pulanglah kebangsalmu. Temuilah isteri dan anakmu yang barangkali sudah menunggu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kecemasan didadanya masih saja bergejolak. Bahkan terbayang di angan-angannya bahwa jalan dari bangsal pamannya itu sampai kebangsalnya, telah penuh oleh prajurit-prajurit yang dipasang oleh Tohjaya untuk menjebaknya.

Tetapi Anusapati-pun kemudian mohon diri juga dengan hati yang tegang.

Langkahnya kemudian menjadi sangat hati-hati. Diperhatikannya setiap gerumbul petamanan dan pohon bunga disebelah menyebelah lorong di halaman istana itu.

Anusapati mengerutkan keningnya ketika ia melihat Sumekar berdiri sambil memotong daun-daun bunga yang kuning. Ketika ia lewat disampingnya, maka ia-pun berhenti sejenak sambil berkata, “Paman Mahisa Agni ingin berbicara.”

Sumekar mengangguk. Katanya, “Hamba sudah bertemu.”

“Ada lagi yang akan dikatakannya.”

“Ya tuanku. Hamba akan menunggu.“ Sumekar berhenti sejenak lalu, “Hamba sudah mendengar langkah yang semakin dekat dengan puncak dari persoalan tuanku. Tetapi hamba tidak tahu apa yang harus hamba lakukan. Barangkali perintah itulah yang akan hamba terima dari pamanda tuanku.”

Anusapati tidak menyahut. Ia-pun kemudian melanjutkan langkahnya sambil berdesis, “berhati-hatilah paman.”

Sumekar mengangguk dalam-dalam. Tetapi ia berdiam diri sambil memandang langkah Putera Mahkota yang sedang dibelit oleh perasaan prihatin yang dalam.

“Aku harus membantunya. Mungkin aku dapat terbuat sesuatu meski-pun aku harus siap mengorbankan apa-pun yang aku miliki. Tetapi Singasari memang harus dipertahankan agar tidak jatuh ketangan seseorang seperti tuanku Tohjaya,“ berkata Sumekar didalam hati.

Ternyata bahwa Sumekar yang sudah lama berada di istana, dan yang sudah lama merasa hidup dalam tugas yang dibebankan kepadanya oleh Mahisa Agni menjadi pemomong Anusapati, merasa bahwa ia wajib untuk berbuat sesuatu sehingga jiwanya-pun setiap kali menjadi semakin tegang. Ialah yang mendahului rencana Anusapati sendiri, bahwa Sri Rajasa memang harus disingkirkan agar ia tidak mengambil sikap terlebih dahulu untuk mengusir Anusapati dan menempatkan Tohjaya dalam kedudukan yang tertinggi kelak.

Ketegangan itu agaknya menjadi semakin memuncak didalam jiwanya. Namun ia masih selalu berusaha untuk menahan diri, agar tindakannya justru tidak merugikan usaha Mahisa Agni untuk membentengi kedudukan Pangeran Pati.

Dalam pada itu, Mahisa Agni-pun sebenarnya menjadi gelisah pula. Memang malam itu sesuatu dapat terjadi atas Anusapati. Karena itu maka ia-pun berusaha untuk menemui Sumekar dan berbicara dengan juru taman itu.

“Bayangilah bangsal itu. Barangkali kau mempunyai kesempatan yang lebih baik dari aku,“ berkata Mahisa Agni.

Sumekar menganggukkan kepalanya.

“Semuanya sudah menjadi jelas bagi Putera Mahkota,“ berkata Mahisa Agni lebih lanjut, “ia sudah mengenal dirinya dan Sri Rajasa.”

Sumekar mengerutkan keningnya. Lalu ia-pun bertanya, “Apakah hal itu membuat Pangeran Pati menentukan sikap?”

“Aku mencegahnya. Ia tidak boleh berbuat sesuatu. Yang penting baginya adalah mempertahankan diri dari tahta Singasari agar Singasari tidak terbenam karena ketamakan seorang perempuan yang bernama Ken Umang.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya kemudian, “Satu-satunya jalan sekarang adalah menyingkirkan Sri Rajasa itu sendiri untuk menyelamatkan hasil usahanya yang besar dengan mempersatukan Singasari.”

“Tentu memerlukan pertimbangan yang matang,“ sahut Mahisa Agni.

“Aku kira tidak ada jalan lain. Jika kita sekedar menyingkirkan Tohjaya maka Sri Rajasa masih mungkin untuk berbuat sesuatu yang lain, karena Ken Umang mempunyai anak laki-laki yang lain. Tindakan yang pahit dari Sri Rajasa dapat dialami pula oleh tuanku Anusapati.”

“Baiklah kita pertimbangkan. Tetapi kita tidak boleh tergesa-gesa. Sementara ini Anusapati sudah memiliki senjata untuk mempertahankan dirinya, jika Sri Rajasa sendiri akan bertindak atasnya. Sedangkan jika ia memerintahkan orang lain, maka Anusapati cukup masak untuk melawannya.”

“Tetapi Sri Rajasa dapat berbuat sesuatu yang tidak kita duga lebih dahulu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang tidak ingkar bahwa Sri Rajasa dapat berbuat apa saja, seperti ketika ia sedang berusaha memanjat keatas tahta Tumapel saat itu. Dan kini, ia-pun sedang berusaha menempatkan anaknya yang lahir dari perempuan yang tamak itu untuk menggantikannya. Tentu usaha Sri Rajasa tidak akan kalah kerasnya dengan usahanya untuk kepentingannya sendiri saat itu.

Namun demikian Mahisa Agni masih mengekang persoalan itu agar tidak berkembang dengan tergesa-gesa sehingga mungkin justru akan salah jalan.

“Sumekar,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “jika terjadi sesuatu, dan kau merasa sulit untuk memecahkannya, berilah tanda agar aku dapat membantumu.”

“Apakah tanda itu?”

“Apakah yang dapat kau berikan sebagai isyarat. Suara burung, suara ayam atau suara apa?”

Sumekar merenung sejenak, namun ia-pun tertawa, “Yang paling mudah bagiku adalah suara seekor katak.”

“Tanpa ada hutan? “ Mahisa Agni-pun bersenyum.

“Apa boleh buat.”

Mahisa Agni-pun menyahut, “Baiklah. Jika aku mendengar suara katak yang berkepanjangan maka aku akan keluar dari bangsal dan pergi kearah suara itu.”

Demikianlah maka Mahisa Agni-pun menjadi agak tenang. Sumekar adalah orang yang selama ini dapat dipercaya.

Sebelum mereka berpisah maka Sumekar-pun menceriterakan tentang seorang prajurit yang selalu mengawasi Anusapati ketika ia berjalan hilir mudik.

“Orang itu berbahaya,“ berkata Sumekar.

“Biarlah. Ia tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

“Prajurit itu adalah pengawal Tohjaya.“

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Aku sudah memanggilnya nanti malam. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku mempunyai ceritera yang menarik, tentang Putera Mahkota.”

“Apa yang akan kau oeriterakan?”

“Aku tidak ingin menceriterakan apa-apa. Aku ingin membungkamnya untuk selama-lamanya.”

“Ah,“ desah Mahisa Agni, “jangan mulai dengan korban pertama justru orang yang tidak berkepentingan. Kita menghindari korban sejauh-jauhnya.”

“Tetapi orang itu berbahaya. Berbahaya bagi Pangeran Pati dan berbahaya bagimu kakang.”

“Aku mengerti, tetapi kenapa orang itu harus dibunuh?”

“Lalu apakah yang harus aku lakukan terhadapnya untuk mengamankan Pangeran Pati.”

“Belokkan perhatiannya.”

“Aku sudah terlanjur mengatakan kepadanya, bahwa aku akan mengatakan sesuatu yang penting padanya.”

“Apa saja dapat kau katakan. Justru yang tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan ini.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Baiklah kakang Mahisa Agni. Aku akan mengekang diri, tetapi agaknya aku menjadi lebih bernafsu untuk segera bertindak daripada Putera Mahkota sendiri.”

Mahisa Agni menepuk pundak Sumekar. Lalu katanya, “Jagalah dirimu, terutama perasaanmu.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kepalanya terangguk kecil.

Demikianlah maka Mahisa Agni menjadi agak tenang. Isi percaya bahwa Sumekar pasti akan mengawasi Anusapati. Tetapi ia-pun cemas bahwa Sumekar yang telah lama bergaul dengan Anusapati, bahkan lebih rapat dari dirinya sendiri itu menjadi terlampau setia, dan bahkan karena perasaan iba yang mendalam, Sumekar dapat bertindak lebih keras dari Anusapati mendiri apabila batas kesabaran dan kekangan perasaannya telah lewat.

Dalam pada itu, malam yang hitam perlahan-lahan menyelubungi istana Singasari. Seakan-akan seperti perasaan beberapa pemimpin Singasari sendiri yang menjadi kelam pula karenanya.

Di belakang bangsal, Sri Rajasa duduk termenung seorang diri, seakan-akan merenungi masa-masa yang telah lama lampau, masa kini dan masa mendatang.

Dalam kebimbangan ia mencoba untuk mencari jalan keluar agar ia tidak merusakkan usahanya sendiri selama ia memegang pemerintahan. Seperti Mahisa Agni yang menyadari kekuatannya dan para Senapati yang akan berpihak padanya keperselisihan yang terjadi itu menjadi perselisihan yang keras dalam benturan senjata, maka Sri Rajasa-pun menyadarinya pula. Setiap keadaan yang berkembang di Singasari, ia harus memperhitungkan kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Mahisa Agni. Sedang menurut perhitungannya, Mahisa Agni pasti akan melindungi Anusapati. Bukan saja karena Anusapati itu adalah kemanakannya, tetapi Mahisa Agni tentu sudah dapat menduga siapakah yang telah membunuh pamannya, mPu Gandring.

Dalam pada itu, tiba-tiba Sri Rajasa itu seakan-akan dihadapkan pada masa lampaunya dipadang Karautan. Di saat-saat ia pertama kali bertemu dengan Mahisa Agni.

Sebagai orang yang ditakuti dipadang Karautan, maka ia merasa heran, bahwa ada anak muda yang mampu dan berani melawannya. Hanya karena keajaiban yang ada pada dirinya, maka ia tidak dapat dikalahkan oleh Mahisa Agni itu. Tetapi ketika kemudian Mahisa Agni memegang sebuah trisula, maka ia-pun menjadi cemas karena silau yang tajam.

Trisula yang kecil itu seakan-akan memancarkan sinar yang tidak terkira memancar menyilaukan matanya, sahingga ia tidak lagi dapat melihat lawannya. Dengan demikian Mahisa Agni pada waktu itu dapat menyerangnya tanpa perlawanan sama sekali. Betapa-pun kuat daya tahan tubuhnya, namun karena Mahisa Agni-pun memiliki kekuatan yang melampaui kekuatan manusia kebanyakan, maka akhirnya ia-pun menjadi semakin lama semakin lemah.

Dan sekarang Mahisa Agni tumbuh menjadi raksasa yang tiada terkira kemampuannya. Ia sudah berhasil membunuh Senapati besar dari Kediri. Gabungan antara kemampuan yang tiada taranya dengan trisula kecil itu, bagi Sri Rajasa adalah kekuatan yang mencemaskan jantungnya.

Adalah dapat dimengerti bahwa Mahisa Agni membencinya karena ia telah membunuh pamannya dan kini seakan-akan telah menyia-nyiakan adik perempuannya meski-pun masih tetap dalam kedudukannya sebagai seorang Permaisuri. Kemudian usahanya untuk mengusir kedudukan Anusapati tentu sangat menyakitkan hatinya pula.

Berbagai macam pikiran dan perasaan bercampur baur dihati Sri Rajasa. Bahkan kadang-kadang ia mengenang dengan jelas, apa yang pernah dilakukannya terhadap mPu Gandring dan Akuwu Tunggul Ametung.

Terbayang bagaimana mPu Gandring menunjukkan kepadanya keris yang masih belum siap itu. Bagaimana kecewa yang saat itu mencengkamnya. Namun kemudian bagaimana hatinya bergolak tidak terkendali lagi dan hampir diluar sadarnya tangannya telah terjulur dan keris mPu Gandring itu menghunjam ditubuhnya sendiri.

Terbayang bagaimana orang tua itu menahan rasa sakit dan berkata kepadanya, agar keris itu dihancurkan saja, karena keris itu untuk selanjutnya akan menelan korban demi korban.

Tiba-tiba Sri Rajasa memejamkan matanya. Bayangan itu serasa menjadi semakin jelas dan seakan-akan didalam kesiapan di halaman dalam bangsalnya, sebuah bayangan berdiri

memandanginya. Bayangan seorang tua yang baik, yang tersenyum ramah kepadanya dan meski-pun dadanya telah terluka namun ia masih juga memberinya peringatan agar keris itu dihancurkan.

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menjadi berdebar-debar. Bayangan itu bagaikan bergerak mendatangnya. Sambil tersenyum mPu Gandring berkata kepadanya, “Keris itu akan menelan korban demi korban.”

“Tidak, tidak,“ suara Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa, “keris itu tidak akan menelan korban lagi.”

Tetapi bayangan yang tersenyum kepadanya itu berkata, “Aku tidak ingin melihat korban itu berjatuhan lagi. Terutama kau sendiri angger.”

“Tidak, tidak,“ Ken Arok memejamkan matanya. Meski-pun ia seorang yang tidak terkalahkan, namun dihadapan mpu Gandring ia merasa terlampau kecil. Bukan karena mPu Gandring memiliki kemampuan melebihi dirinya, tetapi justru karena senyumnya yang sama sekali tidak membayangkan dendam itulah yang tidak dapat diatasinya.

Namun ketika ia membuka matanya, bayangan itu telah tidak ada dihadapannya lagi. Yang tampak olehnya adalah kegelapan halaman dalam bangsalnya. Sinar lampu yang melontar menyentuh dedaunan membuat gambaran yang aneh didalam penglihatan Ken Arok.

Tidak. Bayangan itu masih ada. Bayangan itu berdiri diantara dedaunan. Tetapi bayangan itu bukan lagi bayangan mPu Gandring yang tersenyum.

Bayangan itu adalah bayangan wajah yang marah dengan soror mata yang menyala. Bayang Akuwu Tunggul Ametung.

Dengan ujung jarinya ia menunjuk ke wajah Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa, “Kau. Kau.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa menjadi semakin berdebar-debar. Dan bayangan itu melangkah semakin dekat. Ditelinganya

Ken Arok mendengar Akuwu itu berkata, “Kau sudah membunuh aku dan merampas isteriku. Sekarang kau akan menyia-nyiakan anakku. Aku tidak rela Ken Arok. Aku tidak mendendam kematianku, apalagi karena kau sudah berhasil menjadikan Tumapel sebuah negara yang besar yang dinamai Singasari.“ suara yang terdengar ditelinga Ken Arok itu berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi ternyata kau akan mengusir anakku, Ken Arok. Kau akan mengusir Anusapati dari kedudukan yang memang menjadi haknya. Kau akan memberikan hak itu kepada anakmu yang lahir dari perempuan yang tamak dan dibakar oleh nafsu yang tidak terkendali itu. Aku tidak rela. Aku akan membunuhmu bukan karena dendam karena kematianku, tetapi semata-mata karena aku berusaha melindungi anakku.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu mematung ditempatnya. Wajah Akuwu Tunggul Ametung itu tampaknya bagaikan membara.

Tetapi ketika Ken Arok menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menggugah kesadarannya sepenuhnya, maka bayangan itu-pun menjadi kabur dan perlahan-lahan hilang sama sekali. Yang tampak kemudian adalah cahaya lampu didedaunan yang bergerak-gerak disentuh angin malam.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Kini ialah yang sengaja membayangkan wajah Anusapati yang suram dan tunduk dalam-dalam. Alangkah jauh bedanya antara pancaran wajah Akuwu Tunggul Ametung dan puteranya Anusapati.

Tetapi Ken Arok mengerutkan keningnya. Perbedaan itu bukan perbedaan yang mendalam. Perbedaan itu hanyalah perbedaan kecil karena pengaruh lingkungannya. Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang Akuwu yang berkuasa, ditakuti oleh bawahannya dan memiliki kemampuan yang mengagumkan, sedang Anusapati hidup dalam tekanan batin yang tiada taranya, sehingga karena itulah maka wajahnya seakan-akan selalu tampak muram.

Namun dalam pada itu keduanya memiliki cahaya mata yang mendebarkan. Cahaya mata yang menatap jauh kedepan.

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam. Bayangan-angan yang dilihatnya itu ternyata telah menggetarkan hatinya. Seakan-akan orang-orang yang telah dibunuhnya itu datang, kepadanya untuk memberinya peringatan, bahwa Singasari benar-benar akan dilanda oleh goncangan yang dahsyat.

Namun dalam pada itu, selagi Ken Arok mulai mengenang kembali masa-masa lampau itu, tiba-tiba saja seseorang berdiri dihadapannya sambil bertolak pinggang. Berbeda dengan mPu Gandring yang berwajah tenang, dan berbeda pula dengan Akuwu Tunggul Ametung yang meski-pun tidak mendendamnya tetapi ia tidak rela bahwa anaknya akan disia-siakan, maka yang dilihatnya kini adalah seorang yang memandangnya dengan penuh kebencian. Dengan suara lantang ia berkata, “Aku memang mendendammu Ken Arok. Aku akan berusaha untuk melepaskan dendamku dengan cara apa-pun juga. Aku tidak ikhlas mengenang kematianku yang sia-sia karena perbuatanmu. Kau memang licik seperti iblis. Kau pergunakan sifat-sifatku yang kurang baik untuk kepentinganmu yang jauh lebih jahat dari sifat-sifatku sendiri. Apalagi kau sudah menjerumuskan aku kedalam kematian yang rendah. Tunggulah bahwa saat itu akan datang. Kau-pun akan mati dengan luka didadamu. Kau tidak usah menyesal Ken Arok. Hantu Karautan tidak pantas untuk berlama-lama duduk diatas tahta.”

“O,“ Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu mengeluh. Ia sadar, bahwa sebenarnya tidak ada seorang-pun dihadapannya. Ia sadar, bahwa Kebo Ijo itu hanya ada didalam angan-angannya. Tetapi seakan-akan ia melihatnya dengan pasti seperti wadahnya yang luka oleh senjata dan mengantarkan kematiannya.

“Sekarang semuanya bangkit kembali didalam kenangan,“ desah Ken Arok. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa ia memang telah membunuh ketiganya dengan licik sekali. Ia .dapat menepuk dada tanpa kegelisahan apa-pun juga meski-pun ia mengenang juga kematian Maharaja Kediri, karena kematian itu terjadi dimedan

perang. Tetapi tidak demikian dengan mPu Gandring, Akuwu Tunggul Ametung dan Kebo Ijo.

Namun tiba-tiba Sri Rajasa itu menggeretakkan giginya. Katanya, “Persetan dengan mereka. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa lagi atasku. Sekarang aku berkuasa, dan sekarang aku dapat berbuat apa saja. Apalagi mereka yang sudah mati, sedangkan yang masih hidup-pun tidak dapat berbuat apa-apa lagi atasku.”

Tetapi belum lagi ia selesai, mulai membayang wajah Mahisa Agni yang tenang dan dalam. Sebuah trisula yang silau dan Permaisurinya yang dapat memancarkan cahaya yang aneh.

“Gila, semuanya menjadi gila.”

Su Rajasa menghentakkan dirinya. Kemudian sambil mengatupkan giginya rapat-rapat ia meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam biliknya. Dengan hati yang bergejolak, ia-pun membanting dirinya diatas pembaringannya. Namun Sri Rajasa tidak segera dapat memejamkan matanya. Setiap kali hilir mudik berganti-ganti bayangan yang mengganggunya. Yang sudah mati mau-pun yang masih hidup kini.

Dalam pada itu, selagi malam menjadi gelap, Sumekar segera melakukan pesan Mahisa Agni. Meski-pun sambil bersembunyi, ia dapat mengawasi bangsal Putera Mahkota. Tetapi ketika ia teringat pesannya kepada prajurit yang ditemuinya sedang mengawasi Pangeran Pati itu, ia menjadi bimbang.

“Aku akan menunggu prajurit itu sejenak. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”

Tetapi hatinya tetap risau, sedang para prajurit yang bertugas semuanya berkumpul dibagian depan bangsal.

Tiba-tiba saja Sumekar mendapat akal. Dilontarkannya sebuah batu yang besar kesisi bangsal itu sehingga mengejutkan para penjaga. Beberapa orang datang dengan tergesa-gesa, dan mereka menemukan sebongkah batu.

“Aneh,“ desis salah seorang dari mereka.

“Aneh. Batu sebesar ini,“ sahut yang lain.

Mereka-pun segera bersibak ketika Anusapati yang mendengar suara itu pula datang mendekat. Diamat-amatinya batu itu dengan saksama. Dan ia-pun sependapat, bahwa bukan kekuatan orang kebanyakan yang dapat melemparkan batu sebesar itu.

“Hatilah berjaga-jaga,“ pesan Anusapati kepada para prajurit, “jika ada sesuatu yang mencurigakan, berilah aku isyarat. Aku sendiri yang akan menyelesaikan jika kalian menemui kesulitan.”

“Hamba tuanku,“ jawab pemimpin peronda itu. Ia percaya bahwa Anusapati akan mampu menyelesaikan jika benar-benar ada kekuatan yang melanpaui kekuatan manusia kebanyakan datang kebangsal itu. Karena itu, mereka hanya bertugas untuk mengawasinya dengan baik.

Karena itulah maka para prajurit yang bertugas itu-pun segera berpencar. Disetiap sudut terdapat dua orang dengan senjata telanjang berdiri dan berjalan hilir mudik, Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa ada kekhawatiran untuk mencari siapakah yang melemparkan batu itu. Dan Anusapati tidak mau meninggalkan isteri dan anaknya dalam keadaan itu.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Usahanya untuk memencar para prajurit itu telah berhasil. Dan ternyata bahwa Anusapati tidak memerintahkan seorang-pun untuk mencarinya. Agaknya Anusapati berpendapat, tidak akan ada gunanya untuk mencari orang yang melemparkan batu itu. Jika orang itu masih belum pergi, maka orang itu tentu orang yang mapan untuk bertempur, sedangkan Anusapati sendiri tidak akan sampai hati meninggalkan bangsalnya, karena hal itu dapat sekedar merupakan pancingan saja agar ia meninggalkan isteri dan anaknya.

Dengan demikian, maka bangsal Putera Mahkota itu kini diliputi oleh kesiagaan yang tinggi, sehingga karena italah maka Sumekar-pun kemudian dengan tenang meninggalkannya sejenak.

Ditempat yang sudah dijanjikan, maka Sumekar-pun menunggu kedatangan prajurit itu sejenak. Namun ia kini harus menyiapkan

ceritera apakah yang akan dikatakannya kepada prajurit itu. Semula ia hanya akan menjebaknya dan melepaskan jejak pengintaian prajurit itu. Namun ternyata Mahisa Agni tidak menyetujuinya dan ia harus mendapatkan ceritera yang akan dikatakannya.

Sejenak kemudian, maka prajurit itu-pun dilihatnya merunduk-runduk menuju kesudut taman yang gelap seperti yang dikatakannya. Namun ternyata bahwa prajurit itu-pun telah bersiap jika ia hanya sekedar dijiebak oleh Sumekar.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa ia merasa aneh terhadap dirinya sendiri. Ketika ia memandang prajurit itu, rasa-rasanya ia menyadari betapa dirinya sekarang dicengkam oleh perasaannya saja. Jika Mahisa Agni tidak memperingatkannya, maka prajurit itu-pun pasti akan segera menemui ajalnya.

“Pengaruh pertentangan antara Sri Rajasa dan Tohjaya disatu pihak dengan Pangeran Pati dilain pihak membuat aku kadang-kadang terbenam didalamnya. Sebenarnya aku dapat berdiri diluar, tetapi karena Pangeran Pati itu seakan-akan sudah menjadi momonganku, maka rasa-rasanya akulah yang justru bertanggung jawab. Bagi Singasari, lebih baik akulah yang harus tenggelam daripada tuanku Anusapati apabila memang seharusnya demikian. Jika kakang Mahisa Agni setuju, barangkali aku dapat segera melakukannya.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ketika prajurit itu-pun kemudian sampai ditempat yang dikatakannya, maka Sumekar-pun segera berdesis.

Prajurit itu terkejut. Namun Sumekar berkata, “Jangan terkejut. Aku menunggumu disini.”

Prajurit itu memandang Sumekar yang duduk didalam kegelapan, lalu katanya, “Apa yang kau kerjakan disitu?”

“Menunggumu. Bukankah aku berjanji menunggumu disini?”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia-pun duduk disebelah Sumekar sambil berkata, “Cepat katakan. Apakah yang kau ketahui tentang Pangeran Pati itu.“

“Jangan tergesa-gesa, duduklah. Barangkali kau masih lelah bertugas sehari-harian.“

“Jangan merajuk seperti anak-anak. Cepat katakan.”

“Apakah kau masih akan bertugas lagi?”

“Jangan banyak bicara. Aku tampar mulutmu. Cepat katakan apa yang kau ketahui. Jika aku katakan semuanya nanti kepada tuanku Tohjaya, maka kita pasti akan mendapat hadiah.”

“Ah, Kaulah yang akan mendapat hadiah. Bukan aku.”

“Kita berdua.”

“Dan kau benar-benar akan memberi aku hadiah itu?”

“Tentu. Kau akan mendapat bagian. Tetapi cepat, sebelum aku kehabisan kesabaran.”

Sumekar mengerutkan keningnya. Katanya, “Baiklah.”

Prajurit itu menunggu, tetapi Sumekar tidak segera mengatakan sesuatu sehingga sekali lagi prajurit itu membentaknya meski-pun tidak cukup keras, “Cepat. Jangan berbuat gila terhadapku. Apakah kau memerlukan uang untuk keteranganmu itu.”

“Ya,“ sahut Sumekar, “sekedarnya. Aku kemarin kalah bermain kemiri. Aku mempunyai hutang kepada kawan-kawanku juru taman juga.“

“Gila, aku patahkan tulang rahangmu. Peduli dengan hutangmu. Cepat katakan.“

Prajurit itu-pun segera meraih lengan Sumekar dan mengguncangnya. Dan Sumekar-pun sama sekali tidak melawannya. Sambil mendorong Sumekar sehingga ia terjatuh prajurit itu berkata, “Aku injak lehermu jika kau memperlambat keteranganmu. Biar saja aku tidak mendengar keterangan apapun,

tetapi aku puas jika aku dapat membunuhmu. Tidak ada seorang-pun yang akan mengetahui siapakah yang membunuhmu juru taman gila.“

“Jangan terlampau kasar,” sahut Sumekar, “aku menjadi takut dan semua ingatanku akan hilang.”

“Cepat, cepat.”

“Baiklah,“ Sumekar-pun kemudian memperbaiki duduknya. Sejenak ia merenung. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Ki Sanak. Jika kau ingin tahu dan barangkali dengan demikian kau dapat memberi petunjuk kepada tuanku Tohjaya bahwa tuanku Anusapati tidak berhak atas tahta, adalah bahwa ibu Anusapati itu sebenarnya bukan seorang puteri bangsawan. Ia adalah seorang gadis desa. Ia datang dari padukuhan Panawijen.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Ya, terus?“

“Itulah keteranganku. Kau dapat menceriterakannya kepada tuanku Tohjaya.”

“He,“ prajurit itu membelalakkan matanya, “hanya itu?”

Sumekar memandang prajurit itu dengan heran. Selangkah ia bergeser surut dan berkata, “Ya itu. Bukankah hal itu penting sekali bagi tuanku Tohjaya?”

“Gila, aku sebek mulutmu. Aku tidak perlu igauan semacam itu. Cepat katakan apa yang kau ketahui tentang tuanku Anusapati?”

“Itulah, itulah yang aku ketahui. Apakah hal itu bukan suatu keterangan yang penting.”

“Kau gila. Setiap hidung di Singasari tahu bahwa tuanku Permaisuri berasal dari Panawijen. Bahwa tuan Puteri Ken Dedes seorang gadis padepokan. Itu bukan keterangan yang aneh lagi bagi tuanku Tohjaya.”

“O,“ Sumekar mengerutkan keningnya, “apakah tuanku Tohjaya sudah, mengetahuinya? Dan bagaimana dengan tuanku Sri Rajasa?“

“Semua orang sudah tahu bodoh. Semua orang?”

“Akulah yang tidak tahu bahwa semua orang sudah mengetahuinya. Aku kira kabar ini merupakan kabar yang baik bagimu.”

Prajurit yang marah itu tiba-tiba mencengkam leher Sumekar sambil menggeram, “Kau harus aku bunuh sekarang. Aku baru menyadari kebodohanku sekarang. Jika demikian kau siang tadi sekedar menghindarkan Putera Mahkota dari pengawasanku. Ternyata setelah aku mendengarkan bicaramu. Putera Mahkota tidak aku lihat lagi. Dan barangkali kau sengaja melenyapkan jejaknya dihadapan tuanku Tohjaya dan Sri Rajasa,“ prajurit itu berhenti sejenak. Lalu, “He, jika demikian kau pasti seorang pengikut Pangeran Pati.”

Dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Dan prajurit itu berkata seterusnya, “jangan ingkar. Dan sekarang kau mencoba mempermainkan aku ya? Aku tidak dapat kau kelabui. Dan itulah sebabnya kau menebak tempat ketika kau lihat aku memperhatikan Pangeran Pati itu hilir mudik dari bangsal tuanku Permaisuri kebangsal yang dipergunakan oleh kakanda tuanku Permaisuri, Mahisa Agni.”

Sumekar masih belum menjawab. Dan wajahnya masih kelihatan ketakutan dan bergeser semakin surut, “Maaf, aku sama sekali tidak berniat demikian.”

“Bohong,“ tiba-tiba saja cengkaman tangan orang itu menjadi semakin kuat, “ayo katakan. Apakah kau pengikut Putera Mahkota? Siapa saja pengikut yang lain?”

“Aku tidak tahu, aku tidak.”

“Jangan berbohong. Aku dapat membunuhmu sekarang dan melemparkan mayatmu kedalam gerumbul pertamanan yang kau pelihara itu. Setiap orang besok akan terkejut mendengar bahwa seorang juru taman telah terbunuh. Tetapi mereka tidak tahu siapa yang telah membunuh.”

“Kau akan membunuhku?“ bertanya Sumekar.

“Ya.”

“Apakah cukup alasan bagimu untuk membunuh seseorang? Bukankah aku hanya berbuat kesalahan kecil, karena aku tidak tahu bahwa seluruh rakyat Singasari sudah mengetahui bahwa tuanku Permaisuri adalah seorang yang berasal dari padesan.”

“Kesalahanmu bukan sekedar mempermainkan aku dengan pura-pura tidak mengetahui hal itu. Tetapi bahwa kau sudah menggagalkan pengawasanku terhadap Putera Mahkota yang akan dapat aku pergunakan sebagai bahan laporanku kepada tuanku Tohjaya. Lebih dari itu, kau sudah mengetahui bahwa didalam udara Singasari yang panas ini, aku sudah menentukan sikap dan berpihak.”

“Aku juga berpihak kepadamu, kepada tuanku Tohjaya,“ berkata Sumekar.

“Aku tidak peduli,“ prajurit itu mengguncang leher Sumekar yang masih dicengkamnya, “aku tidak mempercayaimu.”

“Tetapi, tentu ada yang akan menemukan mayatku.”

“Tentu. Meski-pun demikian tidak seorang-pun yang akan mengetahui siapa yang telah melakukan. Tidak ada seorang-pun yang tahu aku datang kemari, dan tidak ada seorang-pun yang tahu bahwa kita pernah berhubungan.”

“Tetapi jangan kau bunuh aku.”

“Persetan,“ tangan prajurit yang mencengkam leher Sumekar menjadi semaki kuat menekan, sehingga napas Sumekar menjadi terengah-engah.

“Aku dapat berteriak,“ berkata Sumekar tersendat-sendat.

“Kau tidak akan mempunyai kesempatan berteriak. Coba berteriaklah,“ prajurit itu-pun kemudian menyentakkan tangannya sehingga ia mencengkam leher Sumekar dengan sekuat tenaganya.

Sumekar benar-benar merasa tercekik sehingga nafasnya hampir terputus karenanya. Sudah barang tentu ia tidak akan membiarkan dirinya mati dengan cara itu.

Karena itu, maka ia-pun kemudian mencoba menghentakkan dirinya. Seakan-akan tidak disadarinya, kakinya telah menghantam perut prajurit yang mencekiknya. Demikianlah kerasnya, sehingga prajurit itu-pun telah terlempar selangkah surut dan cekikannya-pun terlepas. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Sumekar masih akan berani meronta dan bahkan mendorongnya dengan kakinya.

“Gila,“ prajurit itu menggeram.

“Aku akan berteriak,“ berkata Sumekar, “jika kau menyerang sekali lagi, aku akan berteriak sekuat-tenagaku. Tentu ada prajurit yang dapat mendengarnya.”

Prajurit itu menggeram. Namun ia sudah terlanjur bertindak. Jika Juru taman itu tidak dibunuhnya, maka ia akan dapat menjadi orang yang sangat berbahaya baginya, dan bahkan jika ia sempat mengatakannya kepada Anusapati. maka Anusapati dapat mengambil tindakan atasnya sebelum ia berbuat apa-apa.

Karena itu, maka sejenak ia berdiri tegak. Ia tidak boleh memberikan kesan bahwa ia masih akan menyerang agar Sumekar tidak berteriak dan mengejutkan para prajurit.

“Jangan ganggu aku lagi,“ berkata Sumekar sambil melangkah surut.

Tetapi prajurit itu ternyata tidak membiarkannya. Selagi Sumekar bergeser, itu-pun segera meloncat menerkam. Menurut perhitungannya, Sumekar tidak akan berkesempatan mengelak. Tangannya pasti akan langsung berhasil mencengkam leher juru taman itu.

Namun dugaannya ternyata keliru. Prajurit itu sama sekali tidak menyentuh tubuh juru taman itu. Diluar dugaannya, maka juru taman itu mengelak kesamping, sehingga justru karena itu, maka

prajurit itu-pun jatuh tertelungkup di atas tanah yang mulai basah oleh embun.

Dengan cepatnya prajurit itu meloncat berdiri. Matanya menjadi semakin merah dan nafasnya tiba-tiba terengah-engah oleh kemarahan yang menyesak dadanya.

“Kau gila. Kau masih juga sekarat sebelum kau mati. Jangan membuat aku marah sekali, sehingga aku mengambil keputusan yang mengerikan. Cepat menyerah dan beri kesempatan aku mencekikmu sampai mati.”

“Ki Sanak,“ berkata juru taman itu, “jangan berbuat kasar. Aku akan benar-benar berteriak. Bukankah aku tidak bersalah sama sekali. Kaulah yang bersalah karena kau berusaha mengadu domba antara kedua putera Sri Rajasa. Kau mencari kelemahan dan mungkin kesalahan tuanku Pangeran Pati, lalu kau ceriterakan kepada tuanku Tohjaya. Tetapi sebaliknya kau-pun akan menceriterakan kelemahan-kelemahan tuanku Tohjaya kepada tuanku Putera Mahkota. Nah, apakah sebenarnya keuntungan yang kau dapat dengan perbuatanmu yang licik itu?”

“Persetan,“ geram prajurit itu, “aku tidak peduli. Aku memang akan membunuhmu. Apa-pun yang aku lakukan, kau tidak usah mempersoalkannya. Aku sekarang akan membunuhmu, dan habis perkara.”

“Tetapi tidak bagiku. Tentu aku tidak senang kau membunuhku karena aku masih ingin tetap hidup meski-pun aku menjadi semakin tua. Aku masih senang menjadi juru taman di Singasari. Aku masih senang memelihara taman-tamanan. Karena itu, jika kau masih tetap menyerang aku, aku akan berteriak.”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia menjadi semakin bernafsu untuk membunuhnya. Karena itu, maka sekali lagi ia bersiap untuk meloncat menerkam juru taman itu.

Sumekar melihat kedua kaki prajurit yang sudah siap untuk meluncur itu. Sejenak ia termangu-mangu. Sebenarnya kesabarannya sudah sampai pada batasnya.

“Jika saja kakang Mahisa Agni tidak berpesan mawanti-mawanti,“ katanya didalam hatinya.

Dalam keragu-raguan itu ia melihat prajurit itu mulai bergerak. Karena ia masih belum dapat menemukan keputusan, maka tiba-tiba saja mulutnya benar-benar telah berteriak, “Tolong, tolong.”

Suaranya terputus ketika kedua tangan prajurit itu menerkam lehernya. Tangan itu bagaikan hendak mematahkan tulangnya sehingga karena itu Sumekar berusaha untuk melepaskannya.

Dalam saat yang pendek dan tiba-tiba itu ia tidak mempunyai kesempatan berpikir. Karena itu yang dapat dilakukannya justru menjatuhkan dirinya sehingga keduanya-pun berguling-guling beberapa kali.

Dalam keadaan itu, prajurit itu-pun tidak segera dapat memusatkan kekuatan pada kedua tangannya untuk mencekik juru taman itu, bahkan tangannya mengendor sejenak dan prajurit itu masih harus menahan dirinya yang sedang berguling itu. Tetapi rasa-rasanya dorongan loncatannya terlalu keras sehingga untuk beberapa lamanya ia tidak berhasil menahan dirinya dan karena itu maka keduanya masih saja berguling beberapa kali.

Dalam pada itu, ternyata suara juru taman itu dapat didengar oleh beberapa prajurit yang sedang bertugas. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun suara itu jelas mereka dengar sehingga sejenak kemudian pemimpin peronda digardu yang terdekat dengan taman itu-pun bersama dengan dua orang prajurit pengawal yang lain, berlari-lari memasuki taman yang gelap.

Sejenak mereka berdiri termangu-mangu karena mereka tidak segera melihat sesuatu. Namun sejenak kemudian mereka mendengar suara disudut yang gelap seseorang yang mengaduh tertahan.

Dengan sigapnya ketiganya berlari-lari kearah suara itu. Beberapa langkah mereka berhenti dan dengan isyarat pemimpinnya memberikan perintah untuk memencar.

Dengan senjata telanjang ketiganya melangkah mendekati arah suara itu. Namun mereka terkejut ketika mereka mendengar langkah orang berlari-lari menjauh. Tetapi sejenak kemudian suara itu-pun hilang dari telinga mereka.

Namun demikian, mereka masih mendengar dengus nafas dan keluhan tertahan-tahan itu.

Pemimpin peronda itu termangu-mangu sejenak. Namun sejenak kemudian ia meloncat ke balik gerumbul pohon bunga-bunga an sambil mengacungkan senjata.

“Siapa?”

Yang terdengar adalah suara keluhan pendek.

“Kenapa kau he? Siapa kau?”

Kedua prajurit yang lain-pun segera mendekat. Mereka melihat seseorang terbaring ditanah dengan nafas yang hampir terputus.

“Kau juru taman he?”

Yang terbaring itu adalah Sumekar. Ia-pun kemudian duduk dengan pertolongan para prajurit peronda itu. Namun nafasnya masih tetap terengah-engah.

“Kenapa kau he?“

“Itu, itu,“ suara Sumekar terputus-putus.

“Apa yang terjadi?”

“Leherku,“ jawab Sumekar sambil memegangi lehernya sendiri.

“Kau dicekik. He?”

Sumekar menganggukkan kepalanya beberapa kali. Tetapi tangannya masih tetap memegang lehernya.

“Siapakah yang mencekikmu?“

Sumekar menggelengkan sambil menjawab, “Aku tidak tahu. Seseorang tiba-tiba saja mencekik leherku sehingga aku hampir mati. Aku hanya mendapat kesempatan berteriak sekali.”

“Ya, kami mendengar. Dan kami mendengar langkah orang berlari. Untunglah bahwa kau masih hidup.”

“Hampir saja aku mati,“ berkata Sumekar.

“Marilah,“ berkata pemimpin prajurit pengawal yang sedang meronda itu, “tetapi kenapa kau berada disini malam-malam begini?”

“Aku sedang mencoba menanam sebatang manggis putih. Setiap saat aku menitikkan air pada batang yang sedang mulai tumbuh itu. Adalah jarang sekali terdapat sebatang pohon manggis putih di Singasari. Aku mendapat benihnya dari seorang kawanku di Batil.”

“Kau tanam ditaman ini?”

“Ya. Aku tanam ditaman ini.”

“Lalu, kenapa kau dicekik orang?”

“Orang itu telah mencuri batang manggis putih itu. Aku mencoba mempertahankannya. Tetapi aku dicekiknya sampai hampir saja aku mati.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah tuah pohon manggis putih sehingga seseorang telah mencurinya?”

“Ketenteraman dan derajat. Kawanku di Batil menemukan benihnya dihutan belantara. Ia mendapatkan beberapa batang ditengah hutan, dan sebuah manggis putih yang masak. Diambilnya buah masak itu bijinya-pun ditanamnya dirumah. Ternyata hanya dua batang pohon manggis putih yang dapat tumbuh. Satu ditanamnya sendiri dan yang satu lagi dibawanya kemari.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya seakan-akan kepada diri sendiri, “Ketenteraman dan derajad.“ Lalu tiba-tiba, “Tetapi siapakah orang itu? Dari mana ia tahu bahwa kau mempunyai sebatang pohon manggis putih?”

“Aku tidak tahu. Dan aku belum pernah melihat orang itu.”

Prajurit itu berpikir sejenak. Kemudian katanya kepada prajurit yang lain, “Kita cari di halaman istana ini. Jika ada orang yang tidak dikenal atau siapa-pun yang membawa sebatang pohon manggis orang itu harus ditangkap.”

“Apakah aku harus pergi ke gardu induk.”

“Ya.”

Prajurit itu-pun segera meninggalkan taman dan pergi ke gardu induk untuk melaporkan peristiwa yang terjadi didalam taman dan seperti yang dikatakan oleh pemimpinnya, sebaiknya dicari diseluruh taman dan halaman, seseorang yang telah mencuri batang manggis putih itu.

Dalam pada itu, maka pemimpin peronda itu-pun memapah Sumekar dibawa kegardunya. Tetapi Sumekar minta agar ia dibawa saja keponooknya.

Aku akan mencoba untuk beristirahat sebaik-baiknya. Jika pernafasanku berjalan baik, aku kira aku sudah tidak apa-apa lagi.”

“Apakah orang itu tidak mengancammu lagi?”

“Aku kira ia tidak akan berani datang lagi, apalagi karena orang itu mengetahui bahwa suaraku telah didengar oleh para prajurit.”

Pemimpin peronda itu berpikir sejenak. Lalu, “Baiklah, Aku bawa saja kau kegubugmu.”

Sejenak kemudian maka Sumekar-pun telah berbaring didalam biliknya, setelah ia menyelarak pintu, “Apakah kau dapat berjalan kepembaringanmu?“ bertanya prajurit-prajurit itu dari luar pintu.

“Ya, aku sudah berbaring sekarang.”

“Baiklah. Hati-hatilah.”

“Sepeninggal prajurit itu, Sumekar-pun segera duduk dibibir pembaringannya sambil menarik nafas dalam-dalam. Ternyata nafasnya benar-benar menjadi sesak. Bukan karena cekikan prajurit

yang akan membunuhnya, tetapi justru karena ia harus menahan nafas beberapa saat dan berpura-pura kesakitan.

“Kenapa aku tidak membunuhnya saja,“ tiba-tiba ia menggeram. Tetapi kemudian terngiang ditelinganya suara Mahisa Agni yang melarangnya melakukan pembunuhan-pembunuhan serupa itu apa-pun alasannya.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia kehilangan pengendalian diri. Prajurit itu hampir saja memaksanya untuk melawan dan membunuhnya sama sekali.

Untunglah bahwa ia masih sempat mengendalikan dirinya. Meski-pun demikian lehernya terasa juga agak sakit oleh cengkaman prajurit yang mencekiknya itu.

Dalam pada itu, prajurit pengawal yang meronda dan menjumpai seorang juru taman yang hampir mati dikebun itu-pun telah melaporkannya ke gardu induk. Karena itulah maka beberapa prajurit-pun segera berpencaran mencari orang yang telah berusaha membunuh juru taman itu.

Tetapi mereka tidak menemukan seseorang didalam halaman istana Singasari itu. Mereka tidak menemukan orang lain kecuali para prajurit yang sedang bertugas. Dan sudah barang tentu bukan salah seorang dari para prajurit itulah yang telah melakukannya. Jika yang melakukannya salah seorang dari mereka maka juru taman itu akan dapat mengenalnya. Setidak-tidaknya dari pakaian dan kelengkapannya. Tetapi juru taman itu mengatakan bahwa yang melakukannya itu bukan seorang prajurit Singasari.

Sementara itu, prajurit yang telah berusaha membunuh juru taman itu menjadi berdebar-debar. Kegelisahan yang sangat mencengkam hatinya. Tentu juru taman itu dapat mengenalnya dan apabila ia dibawa oleh para peronda untuk menemukan orang yang telah berusaha membunuhnya, maka ia akan dapat mengenalnya.

Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada menunggu. Jika juru taman itu datang dan menunjuk hidungnya, maka ia akan ingkar. Tidak ada bukti-bukti yang dapat memberatkan tuduhan itu.

Namun ternyata bahwa juru taman itu tidak ikut dengan para peronda yang sedang mencarinya. Juru taman itu tidak datang menunjuk hidungnya dengan tuduhan itu. Dengan demikian maka para prajurit itu-pun tidak menemukan seorang-pun yang pantas mereka curigai melakukan percobaan pembunuhan itu.

“Beberapa hal serupa ini terjadi,“ desis seorang prajurit, “setiap kali terjadi sesuatu, maka setiap kali kita tidak dapat menemukan seorang-pun yang dapat dituduh melakukannya. Apalagi benar-benar berhasil menangkap mereka selagi mereka sedang berbuat.“

Kawannya menganggukkan kepalanya. Katanya, “Suatu pertanda buruk. Sejak di halaman ini muncul bayangan yang berkerudung hitam dan bahkan yang telah dikejar sendiri oleh Sri Rajasa. Kemudian berturut-turut peristiwa yang aneh, dan yang terakhir adalah bau yang menusuk hidung itu, rasa-rasanya Singasari telah diraba oleh suatu peristiwa yang menggetarkan isi dada.

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Hampir setiap orang didalam istana Singasari sebenarnya telah merasakan nafas yang agaknya semakin menyesakkan isi istana. Tetapi mereka tidak mengerti dan sama sekali tidak mempunyai gambaran apakan yang sebenarnya akan terjadi.

“Kita tidak usah melaporkan hal ini kepada Panglima Pasukan Pengawal,“ berkata perwira yang malam itu bertugas memimpin penjagaan diseluruh istana dan lingkungannya. Hal ini hanya akan menambah persoalan yang semakin bertumpuk di istana ini. Bagaikan rasa-rasanya langit menjadi semakin buram. Setiap saat hujan dapat turun dengan lebatnya. Bahkan dengan petir dan guruh.”

Para prajurit yang ada disekitarnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti, bahwa laporan yang disampaikan tentang hal itu hanya akan menambah kemarahan Panglima yang sudah menjadi semakin pening memikirkan keamanan didalam lingkungan istana yang menjadi semakin memburuk.

Demikianlah, malam itu Sumekar benar-benar telah menghindari suatu pembunuhan. Bahkan justru dirinya sendirilah yang telah dibiarkannya menjadi sasaran kemarahan prajurit itu, sehingga mencengkam lehernya dan mencekiknya. Jika juru taman itu bukan Sumekar maka di taman itu tentu sudah terjadi pembunuhan. Tetapi juru tamannyalah yang mati terbunuh oleh prajurit itu, bukan sebaliknya.

Di pagi-pagi benar, Mahisa Agni telah bangun dan membersihkan dirinya. Tanpa menimbulkan kecurigaan ia berjalan-jalan di taman di halaman istana itu. Dilihatnya beberapa orang juru taman sudah mulai melakukan tugas mereka dan terpencar di halaman yang luas. Seorang berjalan hilir mudik membawa air untuk menyiram tetamanan. Yang lain menyapu halaman dan membersihkan tanaman disekitar bangsal-bangsal. Yang lain membersihkan daun-daun kuning yang gugur dibawah pohon-pohon besar dan pohon bunga-bungaan.

Sumekar-pun telah sibuk pula diantara mereka. Dengan tekun dan sungguh-sungguh ia menyiangi pohon-pohon bunga yang sedang tumbuh.

Perlahan-lahan Mahisa Agni yang berjalan-jalan menghirup udara dipagi yang cerah itu mendekatinya. Lalu berdiri di sampingnya sambil bertanya, “Apakah yang terjadi?”

Sumekar-pun menceriterakannya apa yang telah terjadi semalam ditaman itu.

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Aku juga mendengar derap kaki para prajurit. Tetapi aku tetap diam di pembaringanku. Agaknya mereka sedang mencari prajurit yang siap membunuhmu.”

“Ya, demikianlah agaknya.”

Mahisa Agni masih tersenyum. Ia dapat membayangkan bagaimana Sumekar harus menahan diri. Jika ia tidak berhasil mengendalikan dirinya, maka ia tidak akan menemui kesulitan apa-pun untuk membunuh prajurit itu.

“Kau telah berhasil adi Sumekar,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “jika kau tidak berhasil, maka suasana pagi ini di istana Singasari akan menjadi sangat keruh. Prajurit Singasari akan berlari-larian dari sebuah gardu kegardu yang lain, mengabarkan bahwa seorang prajurit telah terbunuh di taman. Tetapi karena kau berhasil mempertahankan kesabaranmu, maka pagi ini kita tidak melihat keributan apapun. Mungkin beberapa orang prajurit pengawal sedang membicarakan peristiwa yang mereka lihat semalam tentang dirimu, tetapi pembicaraan itu akan segera berakhir. Tetapi jika sesosok mayat prajurit pengawal terbujur mati, persoalannya pasti akan menjadi berkepanjangan. Bagaimana-pun juga prajurit pengawal di istana Singasari memiliki kesetia-kawanan yang mendalam.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Karena mereka tidak menemukan pembunuhnya, maka setiap orang di istana ini akan dicurigai. Bahkan mungkin mereka akan mencuriga aku, mencurigai Putera Mahkota dan beberapa orang lain. Kecurigaan itu tentu akan menyulitkan gerak kita selanjutnya, dan apabila akhirnya mereka mengetahui bahwa orang itu termasuk salah seorang pengawal Tohjaya, maka mereka pasti akan segera mencari sasaran kecurigaan mereka pada pihak yang lain. Hal itu akan dapat menimbulkan kesan yang kurang dan tidak menguntungkan bagi Pangeran Pati.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun merasa beruntung juga bahwa ia tidak membiarkan luapan perasaannyalah yang berbicara.

“Lebih dari itu Sumekar,“ berkata Mahisa Agni, pagi ini Anusapati akan menghadap ibunda Permaisuri untuk membicarakan sesuatu yang penting sebagai kelanjutan pembicaraannya kemarin. Jika suasana pagi ini suram, maka pembicaraan itu tidak akan membawa hasil seperti yang diharapkan oleh anak itu.”

“Aku mengerti kakang. Aku akan tetap berusaha mempertahankan keseimbangan perasaanku untuk waktu-waktu mendatang.”

“Terima kasih,“ jawab Mahisa Agni, “mungkin aku tidak dapat terlalu lama tinggal di Singasari. Jika Sri Rajasa menganggap kehadiranku disini mengganggu, maka aku pasti akan segera diperintahkannya untuk kembali ke Kediri. Namun sementara ini aku berusaha untuk lebih lama lagi tinggal dan minta agar Permaisuri masih tetap berpura-pura sakit.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Mudah-mudahan Mahisa Agni masih dapat memperpanjang kehadirannya di istana Singasari dalam keadaan yang gawat ini. Jika demikian maka ia tidak akan dibebani oleh perasaan tanggung jawab yang terlampau berat atas Putera Mahkota, karena tanpa Mahisa Agni, maka ialah orang yang paling tua yang dapat dianggap menjadi pelindung Anusapati.

Sejenak kemudian, pembicaraan itu-pun mulai berkisar dari keadaan yang semakin meruncing itu kepembicaran lain yang tidak berarti. Ketika seorang juru taman yang lain mendekati mereka, maka Mahisa Agni sedang bertanya kepada Sumekar tentang manggis putihnya yang hilang.

“Aku tidak melihat batang manggis putih yang kau tanam dan kau katakan hilang itu,“ bertanya seorang kawannya.

“Aku menanamnya disudut itu,“ jawab Sumekar, “pohon manggis putih itu tidak dapat tumbuh sebesar pohon manggis biasa. Batangnya lebih kecil, tetapi daunnya lebih rimbun dan lebih kecil sedikit.“

“Aku belum pernah melihatnya,“ berkata kawannya.

“Aku juga belum,“ sahut Sumekar kemudian, “aku baru mendengar dari kawanku yang melihat pohon itu tumbuh di tengah hutan dan berhasil menanam bijinya meski-pun, hanya dua batang.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “sayang. Jika benar yang hilang itu sebatang pohon manggis putih.”

“Tentu benar. Kawanku itu tidak pernah berbohong.“

“Mungkin kawanmu itu memang tidak pernah berbohong, tetapi kaulah yang berbohong.”

Sumekar mengerutkan keningnya. Terasa dadanya berdebaran. Hampir saja ia menyangka bahwa juru taman itu telah mengetahui bahwa sebenarnya ia tidak menanam sebatang pohon manggis putih.

Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Mahisa Agni tertawa pendek sambil berkata, “Apakah juru taman yang seorang ini sering berbohong.”

“Tidak, tidak tuan,“ jawab juru taman kawan Sumekar itu, “aku tidak bermaksud mengatakan demikian.”

Sumekar-pun tertawa pula. Katanya, “Hampir saja aku marah. Aku kira kau bersungguh-sungguh.”

“Tentu tidak. Kau adalah seseorang yang paling baik ditaman ini. Kau membiarkan rangsum makananmu diterima oleh siapa-pun yang memerlukannya, dan bahkan kau kadang-kadang membawa makanan jika kau bekerja.”

“Ada-ada saja kau,“ sahut Sumekar, “hanya apabila aku sedang mutih sajalah aku tidak menerima rangsumku karena aku sedang tidak makan nasi.“

Mahisa Agni tersenyum, sedang juru taman itu-pun tertawa.

Dan sejenak kemudian maka Mahisa Agni-pun berkata, “Kerjalah. Agaknya aku disini mengganggu kalian karena kalian telah berhenti bekerja. Atau kalian memang memanfaatkan kehadiranku ini untuk bermalas-malas?“

Kedua juru taman itu tertawa semakin keras, sehingga beberapa orang yang mendengarnya memandanginya dengan heran. Seorang juru taman yang lain yang kebetulan sedang melintas sambil membawa seonggok sampah, telah berhenti termangu-mangu.

“Berjalanlah terus,“ berkata juru taman yang sedang tertawa itu. Lalu, “Aku telah menerima hadiah dari tuanku Mahisa Agni.”

Orang itu tidak berjalan terus, justru ia berhenti sambil mengerutkan keningnya. Bahkan kemudian diletakkannya sampah itu dan berjalan mendekat, “Apakah aku juga akan menerima hadiah.”

“Mintalah kepada kawanmu itu,“ sahut Mahisa Agni, “ialah yang membagi hadiah hari ini, karena hari ini adalah hari yang baik baginya.“

Juru taman itu bersungut-sungut. Tetapi ia tidak berani berbuat apa. Sambil berjongkok ia memandang Mahisa Agni yang melangkah pergi meninggalkan taman itu.

“Gila kau,“ juru taman itu menggerutu, sedang kawannya masih saja tertawa berkepanjangan, sedang Sumekar hanya tersenyum-senyum saja memandang kawannya yang kecewa.

Dalam pada itu, selagi para juru taman itu berkelakar, Anusapati telah meninggalkan bangsalnya menuju kebangsal ibundanya. Meski-pun kadang-kadang ia menjadi ragu-ragu tetapi akhirnya ia menetapkan bahwa ia harus melangkah terus menjumpai ibunda Permaisuri.

“Mudah-mudahan ibunda tidak salah sangka,“ berkata Anusapati.

Kedatangannya ternyata telah mengejutkan tuan Puteri. Selagi hari masih pagi. Putera Mahkota sudah datang menghadapnya.

“Ampun ibunda,“ berkata Anusapati. “hamba datang terlampau pagi.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Anusapati, aku menjadi berdebar-debar. Dalam keadaan ini kau tentu mempunyai kepentingan yang mendesak.”

Tetapi Anusapati menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak ibunda, sebenarnya hamba tidak mempunyai kepentingan yang memaksa hamba untuk datang terlampau pagi. Tetapi, agaknya karena hamba tidak mempunyai tugas hari ini, maka daripada hamba tidak berbuat sesuatu di bangsal hamba, maka hamba telah

berjalan tanpa tujuan di halaman. Tetapi akhirnya hamba telah memasuki bangsal ibunda.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebagai seorang ibu, Ken Dedes seakan-akan dapat membaca perasaan puteranya, sehingga karena itu maka dengan lembut ia berkata, “Anusapati, kemarilah. Adik-adikmu tidak ada di bangsal ini. Karena itu, jika kau memang mempunyai kepentingan, katakanlah! Aku masih tetap ibumu.”

Anusapati mengangkat wajahnya sejenak, namun kemudian kepalanya itu-pun ditundukkannya.

“Kemarilah, mendekatlah.”

Anusapati bergeser maju. Tetapi ia masih belum mengatakan sesuatu. Sikap ibunya yang lembut justru membuatnya menjadi ragu-ragu.

“Anusapati,“ berkata Ken Dedes, “jangan menyimpan sesuatu lagi didalam hatimu. Jika kau ingin mengatakan sesuatu itu, katakanlah. Kau sudah tahu siapakah sebenarnya dirimu dan kau-pun bukan lagi anak-anak yang belum pandai membuat pertimbangan-angan.”

Anusapati masih dicengkam oleh kebimbangan.

“Katakanlah. Jika kau tidak mengatakan sesuatu, hatiku akan menjadi risau, karena aku tahu, bahwa kau masih menyimpan sesuatu yang tidak kau ucapkan.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Baiklah ibunda. Jika ibunda dapat membaca hati hamba, maka sebenarnyalah masih ada sesuatu yang menyangkut didalam dada ini. Tetapi sebelumnya hamba minta maaf yang sebesar-besarnya, apabila hamba akan menyinggung perasaan ibunda.”

Ibunya tersenyum betapa pahitnya. Katanya, “Katakanlah Anusapati. Hatiku telah menjadi kebal. Maksudku, aku sudah terlampau sering berjuang melawan perasaanku. Kini lebih baik kau berterus terang.“

“Ibunda,“ berkata Anusapati, “bukankah menuruti ibunda, ayahanda telah mati terbunuh oleh Sri Rajasa?”

Ibunya mengerutkan keningnya. Namun ia-pun menganggukkan kepalanya.

“Ibunda,“ sambung Putera Mahkota, “bukankah ayahanda terbunuh oleh sebilah keris?”

Wajah Ken Dedes menegang sejenak. Tetapi sekali lagi ia menganggukkan kepalanya.

“Dan bukankah keris itu kini masih tetap didalam simpanan.”

“Ya anakku,“ sahut Ken Dedes, “ayahandamu Sri Rajasa telah menyimpan keris itu.“

Sejenak Anusapati terdiam. Dipandanginya wajah ibundanya dengan sorot mata yang mengandung beribu macam pertanyaan.

Tetapi bagi Ken Dedes meski-pun Anusapati tidak mengucapkan sepatah katapun, namun tatapan mata Anusapati itu rasa-rasanya bagaikan sikap yang langsung tidak mempercayainya, sehingga Permaisuri itu berkata, “Anusapati, apakah kau tidak percaya kepadaku?”

“Tidak, ibunda. Tentu aku percaya kepada ibunda. Apalagi sekarang. Ibunda sudah mengatakan tentang hamba berterus terang. Jika ibunda ingin mengatakan yang tidak benar kepada hamba, maka tentu ibunda tidak akan mengatakan kepada diri hamba, dan tentang ayahanda yang sebenarnya.”

Sesuatu berdesir didada Ken Dedes.

“Sekarang hamba sudah mengetahui bahwa ayahanda Tunggal Ametung terbunuh. Dan pembunuhnya adalah Sri Rajasa yang telah mengangkat hamba menjadi seorang Putera Mahkota, tetapi yang telah mengancam hamba pula untuk melepas jabatan hamba itu,“ sambung Anusapati kemudian. “Dan lebih dari itu hamba mengetahui bahwa keris yang telah mengambil jiwa ayahanda yang

sebenarnya, yaitu Akuwu Tunggul Ametung ada pada Sri Rajasa Batara Sang Ainurwabumi.“

Ken Dedes tidak segera menyahut.

“Ibunda,“ berkata Anusapati lebih lanjut, “menurut pendengaran hamba, Sri Rajasa memang seseorang yang luar biasa sejak mudanya. Meski-pun ayahanda Akuwu Tunggul Ametung-pun seseorang yang memiliki kelebihan, tetapi suatu kenyataan, bahwa ayahanda Akuwu Tunggul Ametung telah terbunuh oleh Sri Rajasa, sehingga dengan demikian dapat ditarik kesimpulan, bahwa Sri Rajasa memang orang linuwih.”

Ken Dedes menundukkan kepalanya.

“Jika demikian ibunda,” berkata Anusapati, “maka nasib hamba-pun sudah dapat dibayangkan. Dengan keris itu ayahanda Sri Rajasa yang sakti dapat berbuat apa saja yang diingininya. Itulah sebabnya maka hamba datang kepada ibunda. Jika keris itu ada pada ibunda, karena keris itu diketemukan pada tubuh ayahanda Akuwu Tunggul Ametung, yang saat itu adalah suami ibunda, maka hamba ingin agar keris itu diberikan kepada hamba, semata-mata untuk keselamatan hamba. Dari pada hambalah yang bersembunyi, maka lebih baik hamba menyembunyikan saja keris itu.”

Tetapi sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam Ken Dedes menggelengkan kepalanya. Katanya, “Sayang Anusapati. Keris itu tidak ada padaku.“

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudan dengan suara yang dalam ia berkata, “Baiklah ibunda. Jika demikian, maka hamba-pun akan pasrah. Meski-pun barangkali hamba masih akan berusaha menyembunyikan diri, terutama pada malam hari, namun barangkali usaha itu tidak akan banyak bermanfaat.”

“Maksudmu,“ bertanya Ken Dedes.

“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian, “selagi pamanda Mahisa Agni ada di Singasari, biarlah hamba akan mohon diri kepada pamanda.”

“Apa maksudmu Anusapati? Apa?”

“Ampun ibunda. Sebenarnya bukan maksud hamba. Tetapi seakan-akan hamba melihat sesuatu yang tidak akan dapat hamba hindari. Seolah-olah hamba berjalan disepanjang jalan yang amat panjang dan sempit. Jalan lurus tanpa jalan simpang sama sekali. Didepan dan dibelakang hamba adalah api yang semakin lama menjadi semakin besar menjalar disepanjang jalan, sedang disebelah menyebelah jalan adalah jurang yang sangat dalam.“ Anusapati berhenti sejenak, lalu. “O, itulah mimpi hamba ibunda. Dan mimpi itu berkata kepada hamba, bahwa hamba harus mohon diri kepada pamanda Mahisa Agni yang sudah memimpin hamba dan mengasuh hamba dengan diam-diam sehingga hamba berhasil menamakan diri hamba sebagai Kesatria Putih. Tetapi betapa dikagumi dan dipuji oleh rakyat Singasari, namun Kesatria Putih tidak akan dapat melepaskan diri dari tangan Sri Rajasa yang masih menyimpan Keris sakti buatan mPu Gandring. Keris yang bertangkai kayu cangkring dan mempunyai kemampuan yang tidak terkirakan, sehingga baik Tunggul Ametung mau-pun siapa saja, tidak akan dapat bertahan sampai fajar, jika dimalam hari ia tergores oleh ujung keris itu meski-pun lukanya hanya seujung rambut.”

“Anusapati, anakku,“ suara Ken Dedes menjadi serak.

“Hamba akan mohon diri ibunda. Hamba-pun akan mohon diri kepada pamanda, kepada siapa-pun yang hamba kenal dengan baik. Kepada, isteri hamba dan terlebih-lebih lagi kepada anak hamba yang sedang tumbuh. Hamba tahu pasti, bahwa pada suatu saat, keris itu-pun akan menggores tubuh hamba meski-pun hanya seujung rambut. Tanda-tanda itu sudah hamba lihat. Bau wangi yang tidak terkirakan di sekitar bangsal hamba. Kemudian batu yang besar terjatuh tanpa sangkan. Keributan ditaman dan berbagai tanda-tanda yang lain. Yang terakhir mimpi hamba yang buruk dan keris yang tidak ada pada ibunda itu.“ Anusapati berhenti sejenak. Lalu, “sudahlah ibunda, hamba mohon diri. Hamba mohon agar segala kesalahan hamba dimaafkan. Dan hamba titipkan anak isteri hamba kepada ibunda.”

“Anusapati. Anusapati,“ Ken Dedes tidak dapat menahan air matanya yang dibendungnya dipelupuk. Perlahan-lahan air yang bening itu-pun meleleh di pipinya.

Anusapati hanya menundukkan kepalanya. Tetapi ia-pun terharu mendengar sedu-sedan ibundanya.

“Anusapati,“ berkata ibunda, “kenapa kau minta diri kepadaku, kepada pamanmu dan kepada semua orang yang kau kenal dengan baik? Kenapa kau begitu yakin bahwa ayahandamu yang sekarang akan melakukannya atasmu, seperti yang pernah dilakukannya atas ayahandamu yang sebenarnya Tunggul Ametung?”

“Ibunda,“ berkata Anusapati, “jika ayahanda Sri Rajasa membunuh ayahanda Akuwu Tunggul Ametung tentu bukannya dilakukan dengan tanpa maksud. Tentu ada sesuatu yang mendorongnya berbuat demikian. Tentu Sri Rajasa ingin duduk diatas Singgasana Tumapel waktu itu atau keinginan yang lain yang bagi Sri Rajasa yang bernama Ken Arok itu tidak kalah nilainya, yaitu ibunda Ken Dedes. Dan bagi Sri Rajasa, hamba adalah semacam noda yang mengotori keinginannya itu. Hamba juga menodai keinginan Sri Rajasa untuk tetap berada diatas tahta Tumapel yang telah berhasil dikembangkannya menjadi Singasari sekarang. Dan hamba-pun akan merupakan noda dalam hubungan keluarga antara Sri Rajasa dan ibunda Ken Dedes, karena hamba lahir bukan karena hubungan tersebut.“

“Anusapati,“ potong Ken Dedes, “sudahlah. Tetapi itu bukan berarti bahwa jiwamu selalu terancam.”

“Tentu ibunda,“ sahut Anusapati, “betapa tidak, jika Sri Rajasa ingin tetap mempertahankan apa yang sudah dicapainya, maka aku harus disingkirkan. Jika Sri Rajasa telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung dan berhasil menguasai tahta Singasari sekarang, maka ia tidak akan melepaskan tahta itu kepada orang lain. Dan hamba adalah orang lain bagi Sri Rajasa. Juga setelah Sri Rajasa berhasil memperisteri ibunda Ken Dedes, maka bagi Sri Rajasa aku telah mengotori hubungan itu karena hamba lahir bukan atas kehendaknya.”

“Anusapati, sudahlah. Sudahlah.”

“O. maaf ibunda. Hamba telah berbicara terlampau jauh. Tetapi maksud hamba adalah semata-mata untuk menekankan keyakinan hamba, dan kenapa hamba telah memohon diri.“ Anusapati berhenti sejenak. Lalu, “jika hamba masih sempat memandang matahari terbit, maka hamba pasti masih akan menghadap ibunda di hari-hari mendatang. Tetapi jika tidak, hamba sudah mohon diri dan mohon maaf atas semua kesalahan hamba, sehingga kematian hamba tidak lagi dibebani oleh rasa bersalah kepada ibunda. Sedangkan kepada ayahanda Sri Rajasa, hamba tidak akan mohon maaf, karena hamba tidak merasa pernah bersalah kepadanya, karena hamba tidak berbuat sesuatu selain mengalami kepahitan perasaan yang tiada taranya.”

“Anusapati,“ suara Ken Dedes terputus.

“Sudahlah ibunda. Hamba mohon diri. Hamba mohon diri dari hadapan ibunda dan hamba mohon diri untuk seterusnya jika hamba sudah tidak sempat menghadap ibunda lagi. Mudah-mudahan hamba dapat sampai kehadapan Yang Maha Agung tanpa membawa setitik dosapun.”

“Tidak. Tidak,“ suara Ken Dedes terputus oleh isaknya, “kau tidak boleh pergi Anusapati. Aku memerlukanmu. Isteri dan anakmu memerlukanmu dan terlebih-lebih lagi Singasari memerlukanmu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya ibunda. Yang jelas bagi hamba adalah isteri dan anak hamba memerlukan hamba. Tetapi apakah Singasari memerlukan hamba?”

“Ya. Ya. Kau adalah keturunan Akuwu Tunggul Ametung dan keturunan Ken Dedes. Jalur itulah sebenarnya yang memegang hak atas tahta Tumapel yang kemudian menjadi Singasari sekarang.“

“Tetapi Tumapel bukan Singasari ibunda. Tumapel lebih kecil dari Singasari yang meliputi daerah Kediri lama.”

“Tetapi alas berpijak Sri Rajasa waktu itu adalah Tumapel dengan segala isi dan kekuatan yang terkandung di dalamnya.”

“Ya,“ Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “mungkin jalur itu benar. Tetapi yang berkuasa sekarang sama sekali tidak menghendaki hal itu. Dan apalagi keris yang bertuah itu ada ditangannya. Maka segores kecil itu akan melukai tubuh hamba yang tidak berguna ini, dan hamba akan segera terkapar mati seperti ayahanda Tunggul Ametung, seperti mPu Gandring dan seperti, Kebo Ijo yang tidak pernah mengetahui kesalahannya yang sebenarnya sampai akhir hayatnya karena fitnah.”

“Tidak. Kau tidak akan mati karena keris itu Anusapati.”

“Kenapa? Kenapa ayahanda Tunggul Ametung mengalami? Kenapa justru mPu Gandring sendiri mengalami dan kenapa orang yang sama sekali tidak bersalah seperti Kebo Ijo juga harus mati?“ suara Anusapati menurun, “dan kini akan segera datang giliran hamba. Singasari akan memiliki Pangeran Pati yang lain. Tohjaya, putera Sri Rajasa yang lahir dari isteri yang dicintainya sampai sekarang, Ken Umang.”

“Tidak. Tidak. Itu tidak mungkin,“ Ken Dedes yang tidak dapat menahan gejolak perasaannya itu-pun kemudian meletakkan dirinya dipembaringan sambil menangis tersedu-sedu.

“Sudahlah ibunda. Jangan menangis. Sudah ada yang akan menyambung umur hamba. Yaitu anak hamba. Biarlah anak hamba itu tetap hidup.”

Kata-kata Anusapati itu justru membuat tangis ibundanya semakin pedih. Di sela-sela tangisnya itu ia masih akan berkata sesuatu. Tetapi yang terdengar adalah kata-kata yang tidak begitu jelas.

Anusapati-pun kemudian berdiri termangu-mangu. Tetapi isak ibunya yang menyesakkan dada itu membuatnya menjadi iba. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan berjongkok disisi pembaringan.

“Sudahlah ibunda. Jangan menangis. Biarlah adinda Mahisa Wonga Teleng menemani ibunda untuk menenteramkan hati ibunda. Biarlah hamba menyuruh seseorang memanggilnya.”

“Jangan, jangan Anusapati.”

“Atau adinda yang lain, adinda yang lebih muda lagi.”

“Tidak. Semuanya jangan melihat aku menangis seperti ini. Biarlah mereka tidak mengetahui betapa hatiku menjadi sangat pedih mengenangkan semuanya yang pernah terjadi, justru semakin dekat aku dengan hari-hari tua, dan saat-saat aku akan menghadap kembali kehadapan Yang Maha Agung. Dan ini adalah hukuman yang berat yang harus aku tanggungkan karena dosa-dosaku diwaktu aku masih muda. Diwaktu aku tidak pernah merasakan kepuasan hidup, sehingga aku telah bertualang tanpa meninggalkan istana Tumapel dan yang sekarang menjadi Singasari ini.”

“Jangan menyalahkan diri sendiri ibu.”

“Bukankah kau juga melihat kesalahan itu? Kadang-kadang kita memang perlu melihat kesalahan sendiri Anusapati. Dan aku sudah melihatnya.“

“Tetapi ibu tidak perlu menangis lagi.”

Ken Dedes mencoba menahan isak tangisnya. Namun terasa dadanya seakan-akan menjadi retak karenanya. Sehingga karena itulah ia masih saja berbaring dipembaringannya. Bahkan kini terasa seluruh tubuhnya gemetar dan matanya berkunang-kunang.

“Anusapati, Anusapati,“ desisnya.

Anusapati bergeser mendekat, “Ibu, ibunda.”

“Dengarlah Anusapati,“ berkata Ken Dedes kemudian, “aku tidak dapat melepaskan kau. Aku tidak dapat membiarkan kau terbunuh seperti ayahanda Akuwu Tunggul Ametung.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah kau tidak mempunyai suatu cara untuk menyelamatkan diri? Misalnya kau ikut bersama pamanmu ke Kediri atau daerah lain diluar istana ini?”

“Aku adalah Putera Mahkota ibu. Putera Mahkota harus berada di istana. Memang mungkin seorang Pangeran Pati keluar dari istana. Tetapi hanya untuk waktu yang pendek. Selanjutnya ia harus segera kembali keistana.“

“Tetapi untuk keselamatanmu Anusapati. Kau dapat pergi untuk waktu yang cukup lama meski-pun pada suatu saat kau akan kembali lagi keistana ini.”

“Ibunda,“ berkata Anusapati selanjutnya, “yang berkuasa di Singasari adalah ayahanda Sri Rajasa. Jika ayahanda Sri Rajasa memanggil, kapan-pun hamba harus datang menghadap. Hamba tidak dapat dengan alasan apa-pun memperpanjang waktu kepergian hamba. Apalagi apabila ayahanda mengetahui bahwa hamba sedang bersembunyi.”

“Ah,“ Ken Dedes berdesah, “jadi apakah kau tidak melihat jalan apa-pun untuk menghindarkan diri?”

Ken Dedes menjadi heran ketika ia melihat Anusapati tersenyum. Agaknya anaknya itu sudah demikian ihlas menyerahkan jiwanya. Katanya, “Ibunda, hamba tidak ingin bersembunyi. Biarlah apa yang akan terjadi atas hamba itu terjadi. Jika hamba bersembunyi dimana-pun dengan alasan apapun, maka hamba adalah seorang pengecut. Apalagi Sri Rajasa akan dapat mengambil suatu keputusan untuk menetapkan orang lain menjadi Pangeran Pati. Dan Sri Rajasa dapat mengambil keputusan dan mengumumkan bahwa hamba adalah seorang buruan karena kesalahan apa-pun yang dapat dibuatnya. Jika demikian maka keadaan hamba akan menjadi sangat sulit. Jika prajurit-prajurit menemukan hamba, maka hamba akan mati diujung berpuluh-puluh tombak dan pedang. Tombak yang tumpul dan sama sekali tidak bertuah. Tetapi jika hamba tetap berada di istana, maka hamba akan mati tergores keris yang telah membunuh ayahanda Tungul Ametung. Keris bertuah yang telah diciptakan seorang mPu yang sakti pada jaman Tumapel itu. Bukanlah dengan demikian hamba akan menjadi lebih berbangga hati? Apalagi tuah keris itu akan dapat mengantarkan

sukma hamba kepada Yang Maha Agung. Tetapi tidak demikian dengan tombak-tombak dan pedang-pedang besi karatan itu.”  

(bersambung jilid 76)

 

Jilid 76

“ANUSAPATI.”

“Anggaplah bahwa yang terjadi adalah karma. Bukankah

ayahanda Tunggul Ametung mengambil ibunda dengan cara yang

tidak ibunda sukai? Dan bukankah ayahanda Tunggul Ametumg

telah melakukan kesalahan yang merusak kehidup ibunda

selanjutnya? Ibunda, dalam hal ini ibunda jangan menyalahkan diri

sendiri. Karma akan berlaku dimana-pun hamba bersembunyi. Kutuk

seorang pendeta di Panawijen pasti akan berlaku. Dan hamba-pun

akan memanggul karma itu sebagai seorang putera dari Akuwu

Tunggul Ametung.“

“Tidak, tidak anakku. Kau tidak bersalah. Kau adalah anakku.

Aku mencintaimu seperti aku mencintai adik-adikmu. Karena itu, aku

tidak rela akan kematianmu itu.”

Tangis Ken Dedes yang tertahan-tahan membuat hati Anusapati

bagaikan tergores duri. Pedih. Tetapi ia masih bertahan dan

berkata, “Hamba tahu ibunda mencintai hamba. Tetapi karma

adalah diluar jangkauan kemampuan manusia. Dan keris yang ada

ditangan Sri Rajasa itu-pun hanya sekedar sebagai lantaran.

Sudahlah ibu. Jangan hiraukan hamba. Anak hambalah yang akan

menggantikan hamba dihadapan ibunda. Jika hamba telah

memanggul karma, maka akan bersihlah anak hamba dari

kemungkinan-kemungkinan yang pahit. Dan biarlah keris itu kini

tetap ditangan Sri Rajasa.”

“Tidak, tidak,“ Ken Dedes berdesis diantara sedu sedannya.

“Sudahlah ibunda, hamba mohon diri. Hamba mohon diri untuk

selama-lamanya.”

“Anusapati, Anusapati,“ tiba-tiba ibundanya bangkit dan

memeluknya erat-erat. Katanya, “Kau jangan membuat hatiku

semakin parah Anusapati.”

Anusapati menarik nafas. Jawabnya. “Tidak ibunda. Hamba akan

tersenyum apa-pun yang akan terjadi. Hamba akan menerimanya

dengan ikhlas sehingga kepergian hamba tidak akan membuat hati

ibunda terluka.”

“Tidak. Kau tidak boleh pergi,“ suara Ken Dedes lemah, “anakku,

maafkan ibumu. Aku. aku telah membohongimu.”

Anusapati mengangkat wajahnya. Pelukan ibunya-pun terlepas

perlahan.

“Kenapa ibunda membohongi hamba? Apakah ternyata ayah

hamba bukan Akuwu Tunggul Ametung, atau apakah, ayahanda

Tunggul Ametung tidak mati terbunuh oleh ayahanda Sri Rajasa?”

“Bukan, bukan itu.”

“Lalu?”

“Aku membohongimu. Keris itu tidak ada pada ayahandamu Sri

Rajasa. Keris itu ada padaku.”

“O,“ Anusapati menarik nafas dalam-dalam, “jadi keris itu ada

pada ibunda?”

Ken Dedes mengangguk-angguk. Betapa-pun ia menahan hati,

tetapi air matanya meleleh semakin deras, “Ya Anusapati. Keris itu

ada padaku.“

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, Tetapi ia

bertanya, “Kenapa ibunda membohongi hamba? Apakah ibunda

tidak menganggap penting bahwa keris itu tidak boleh berada

disembarang tangan?”

“O, justru karena aku menganggap keris itu akan dapat

menentukan kelanjutan sejarah Singasari, maka aku telah

menyimpannya baik-baik.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya,

“Ibunda. Jika keris itu memang ada pada ibunda, apakah hamba

dapat memohon agar keris itu ibunda berikan kepada hamba?“

“Itulah yang aku cemaskan Anusapati.“ jawab ibundanya,

“Karena itulah, maka aku berbohong kepadamu. Tetapi ternyata kau

menjadi berputus-asa dan seakan-akan kau membiarkan dirimu

sendiri mengalami kematian, tanpa berbuat sesuatu.”

“Bukan ibunda. Jika memang keris itu ada pada ayahanda Sri

Rajasa, hamba memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Tetapi

ternyata keris itu ada pada ibunda. Karena itu, maka hamba mohon

agar keris itu diserahkan kepada hamba. Hamba akan

menyimpannya baik-baik.”

Ken Dedes menggelengkan kepalanya. “jangan anakku. Biarlah

ibunda menyimpannya.“

“Apakah sebabnya ibunda tidak mengijinkan hamba menyimpan

keris itu, karena justru jiwa hambalah yang kini paling terancam

karenanya?“

“Tidak Anusapati. Aku akan menyimpannya baik-baik. Aku

mengerti bahwa jiwamu terancam karenanya. Dengan demikian aku

tidak akan menyerahkan keris itu kepada siapa-pun juga. Aku akan

menyimpannya baik-baik sehingga dengan demikian jiwamu-pun

akan selamat. Aku adalah ibumu Anusapari, dan aku akan selalu

berusaha agar kau tidak terancam oleh bencana yang sama seperti

ayahandamu Tunggul Ametung.“

“Mungkin ibunda berniat demikian,“ jawab Anusapati, “tetapi

apakah ibunda dapat bertahan jika pada suatu saat ayahanda Sri

Rajasa datang kepada ibunda dan minta agar keris itu diserahkan?

Mungkin ibunda berkeberatan. Tetapi Sri Rajasa dapat memaksa

Ibunda dengan cara apa-pun juga sehingga akhirnya keris itu jatuh

ketangannya.”

Ken Dedes menggeleng. Katanya, “Anusapati, keris ini tidak

boleh berpindah tangan. Aku akan mempertahankannya.”

“Tentu ayahanda Sri Rajasa akan dapat mengambilnya.

Jangankan ibunda seorang perempuan, sedangkan keris itu dapat

dicurinya dari tangan Kebo Ijo, seorang perwira prajurit Tumapel

yang memiliki kelebihan karena Kebo Ijo adalah saudara

seperguruan pamanda Witantra.“

“O,“ Ken Dedes menundukkan kepalanya.

“Apakah ibunda pernah mengenal paman Witantra? Seorang

Panglima yang tidak ada duanya di Tumapel waktu itu. Panglima

pasukan pengawal yang justru tersingkir karena Ia ingin

membersihkan nama Kebo Ijo dan dikalahkan oleh pamanda Mahisa

Agni di arena? Ternyata semuanya telah terjebak. Semua orang

telah berhasil dikelabui oleh seorang yang bernama Ken Arok.”

Ken Dedes menundukkan kepalanya sambil memegangi

keningnya. Kini semuanya terbayang dengan jelas. Semuanya

seakan-akan baru kemarin terjadi. Bagaimana rakyat Tumapel

berkabung karena Akuwu Tunggul Ametung terbunuh. Kemudian

dengan penuh kemarahan mereka menuduh Kebo Ijo telah

membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Yang belum lagi air mata

rakyat Tumapel yang menangisi kematian Tunggul Ametung itu

kering, ia sudah memasuki jenjang perkawinan bersama seorang

anak muda yang tampan pada waktu itu, dan seorang prajurit yang

perkasa, yang bernama Ken Arok.

“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian seakan-akan

membangunkan ibundanya dari lamunan, “hamba menunggu

keputusan ibunda. Jika ibunda memperbolehkan biarlah keris itu

hamba saja yang menyimpannya. Mungkin paman Mahisa Agni

berpendirian lain dan menganggap perlu untuk menyimpannya.

Hamba percaya bahwa jika keris itu ada pada pamanda Mahisa

Agni, ayahanda Sri Rajasa tidak akan berani mengambilnya. Dengan

terang-terangan atau dengan sembunyi-sembunyi, karena di

Singasari, orang yang paling disegani oleh ayahanda Sri Rajasa

adalah pamanda Mahisa Agni.“

Ken Dedes masih belum menjawab.

Dan Anusapati-pun berkata seterusnya, “Tetapi jika ibunda tidak

berkenan menyerahkan keris itu kepada hamba, maka biarlah

hamba sekali lagi mohon diri. Tidak ada harapan lagi bagi hamba

untuk membebaskan diri.”

“O, Anusapati.“ desis Ken Dedes, “kau berhasil memaksa aku

untuk menyerahkan keris itu. Ternyata aku tidak dapat berbuat

lain.“

Dada Anusapati menjadi berdebar-debar.

“Tetapi ingat anakku. Keris itu bukan alat untuk menyebarkan

dendam. Jika kau dikejar oleh dendam dihatimu, dan kau

mempergunakan keris itu, maka akan tumbuh dendam yang lain

diantara keturunan Sri Rajasa. Dan dendam itu akan selalu

menghantuimu setiap saat.“

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hamba tidak

mendendam ibunda. Hamba telah mendengar pesan pamanda

Mahisa Agni, bahwa hamba tidak diperkenankan berbuat apa-apa,

selain berusaha menghindarkan diri dari bencana. Salah satu cara

yang dapat hamba tempuh adalah menyembunyikan keris ini. Bukan

untuk dipergunakan.“

Ken Dedes memandang puteranya sejenak. Di wajah itu memang

terbayang wajah ayahandanya, Tunggul Ametung. Wajah yang

semula sangat ditakutinya ketika Akuwu itu datang mengambilnya

ke Panawijen dengan sorot mata yang merah.

“Kuda Sempanalah sumber dari bencana ini,“ desisnya didalam

hati.

Tetapi semuanya itu sudah lama lampau. Semuanya itu sudah

terjadi. Jika ia sendiri tidak ikut mengembangkan peristiwa-peristiwa

berikutnya, maka akibatnya-pun tidak akan separah ini.

Ken Dedes mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Anusapati

kemudian berkata, “Ibunda. Jika memang berkenan dihati ibunda,

hamba mohon keris itu dapat hamba terima dan hamba simpan

sebaik-baiknya. Mumpung kini pamanda Mahisa Agni masih berada

di Singasari. Biarlah hamba mohon pertimbangan, apakah yang

sebaiknya hamba lakukan dengan keris itu, dan barangkali pamanda

Mahisa Agni mempunyai cara yang baik yang dapat hamba

lakukan.”

Ken Dedes masih ragu-ragu. Terbayang ditatapan matanya

kecemasan yang mencengkam.

“Apakah ibunda ragu-ragu?“ bertanya Anusapati.

Dengan jujur Ken Dedes menganggukkan kepalanya sambil

menjawab, “Ya Anusapati. Sebenarnyalah aku ragu-ragu. Tetapi aku

kira tidak ada yang lebih baik bagimu daripada menyimpan keris itu.

Tetapi sekali lagi, keris itu hanya dapat aku serahkan padamu untuk

disimpan. Jika dengan demikian kau akan terhindar dari bencana.”

“Tentu ibunda. Hamba hanya sekedar akan menyimpan keris itu.

Hamba tidak akan mempergunakannya.“

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian ia-pun

berdiri dan melangkah perlahan-lahan masuk kedalam ruangan

sempit disebelah biliknya.

Anusapati menunggu ibundanya dengan hati yang berdebardebar.

Ia belum pernah melihat keris buatan mPu Gandring itu.

Seandainya ibundanya memberikan keris yang mana-pun juga,

maka ia-pun akan mempercayainya.

Ketika ibundanya Ken Dedes keluar dari ruang sempit itu dengan

membawa sebuah peti, maka hatinya kian bergejolak. Jika benar

keris itu keris mPu Gandring, maka keris itulah yang sudah

menghabisi jiwa ayahandanya.

“Inilah keris itu Anusapati,“ berkata Permaisuri itu dengan suara

bergetar. Bukan hanya suaranya, tetapi tangannya yang memegang

peti itu-pun bergetar.

Perlahan-lahan Ken Dedes meletakkan peti itu dipembaringan.

Kemudian dengan hati-hati sekali ia merabanya sambil berkata,

“Bukan maksudku untuk memperluas dendam disetiap hati,

Anusapati, apakah kau mengerti maksudku?”

“Hamba mengerti ibunda.”

“Simpanlah keris ini baik-baik. Dan lupakanlah bahwa kau

menyimpan keris ini, keris yang mempunyai sangkut paut dengan

ayahandamu. Jika kau berhasil melupakannya, kau akan

mendapatkan ketenteraman.”

“Hamba akan berusaha ibunda. Mudah-mudahan hamba dapat

melupakannya bahwa hamba telah menyimpan dan

menyembunyikan keris ini demi keselamatan hamba.”

Ken Dedes tidak menjawab. Tetapi hatinya bagaikan terpecah

karenanya. Ia benar-benar harus memilih, Sri Rajasa atau Anusapati

anaknya yang lahir dari tetesan darah Akuwu Tunggul Ametung.

“Inilah Anusapati,“ desis Ken Dedes sambil menyerahkan peti itu

kepada Anusapati.

Ternyata bahwa tangan Anusapati-pun menjadi gemetar pula.

Dengan dada yang berdebar-debar tangannya yang gemetar itu-pun

kemudian membuka peti itu.

Dadanya berdesir ketika ia melihat keris yang ada didalam peti

itu. Keris yang tidak seperti dibayangkannya, keris dengan sarung

emas bertatahkan intan berlian. Bukan pula dengan ukiran yang

indah. Tetapi keris itu disarungkan dalam wrangka yang sederhana

dan ukirannya adalah sebatang kayu cangkring yang belum

dibentuk.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memang pernah

mendengar bahwa keris itu sebenarnya masih belum siap sama

sekali ketika Ken Arok mengambilnya dan kemudian membunuh

mPu Gandring agar mPu itu tidak dapat mengatakan, bahwa yang

memesan keris itu kepadanya adalah Ken Arok yang kini bergelar Sri

Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Sesaat kemudian maka peti itu-pun ditutupnya kembali.

Anusapati tidak sampai hati untuk menarik keris itu dari wrangkanya

dihadapan ibunya. Ia yakin bahwa keris itu pasti masih bernoda

darah yang membeku karena sepengetahuannya keris buatan mPu

Gandring itu tidak pernah dimandikan.

Sejenak kemudian, setelah getar didadanya agak mereda, maka

Anusapati-pun mohon diri kepada ibunya untuk membawa keris itu

dan menyimpannya.

“Bagaimana jika seseorang melihat kau membawa peti itu

Anusapati? Mungkin seseorang akan menjadi curiga dan

mengatakan kepada orang lain bahwa kau membawa sebuah peti

dari bilik ini.”

“Apakah ada orang yang mengetahui bahwa peti ini berisi keris

mPu Gandring itu ibunda?”

“Tidak. Tetapi bahwa kau membawa sesuatu dari bilik ini

memang dapat dicurigai. Mungkin aku sekedar berprasangka. Tetapi

jika benar-benar demikian, dan kecurigaan itu sampai ditelinga

Tohjaya dan ayahanda Sri Rajasa, maka ia pasti akan bertanya

kepadamu atau kepadaku, apakah yang ada didalam peti itu.“

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya,

“Baiklah ibunda, jika demikian aku akan membawa kerisnya saja.

Petinya biarlah aku tinggalkan disini.“

“Apalagi keris itu Anusapati,“ jawab ibunda, “ciri keris itu mudah

sekali dikenal.”

Anusapati mengamati keris itu sekali lagi. Memang keris itu

mudah sekali dikenal. Tetapi sepintas lalu, keris itu tidak berbeda

dengan keris-keris yang lain. justru sederhana sekali bentuk dan

warnanya.

“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian. “hamba akan

membawanya tanpa peti ini. Keris hamba akan hamba tinggal

didalam peti ini, dan hamba akan menggantinya dengan keris mPu

Gandring ini.”

“Sudah aku katakan Anusapati,“ keris itu mempunyai ciri yang

mudah dikenal oleh siapapun. Meski-pun orang itu tidak

mengenalnya bahwa keris ini adalah keris mPu Gandring, tetapi

mereka pasti akan segera tertarik melihat, kesederhanaan keris ini,

apalagi ukirannya yang terbuat dari kayu cangkring.“

“Hamba akan membawanya dengan hati-hati ibunda. Hamba

akan berusaha menyembunyikannya dibawah tangan hamba. Dari

bangsal ini hamba akan langsung pergi ke bangsal hamba dan

kemudian menemui paman Mahisa Agni untuk mengatakan

kepadanya bahwa keris mPu Gandring itu ada ditangan hamba.

Apakah sebaiknya yang pantas hamba lakukan menurut

pertimbangan pamanda Mahisa Agni.”

Ken Dedes termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia-pun

berkata, “Hati-hatilah. Rasa-rasanya keris itu sendiri masih

menuntut karena kematian mPu yang membuatnya.”

“Itulah sebabnya keris ini harus disembunyikan. Dan seperti kata

ibunda, aku akan berusaha melupakan, bahwa akulah yang telah

menyembunyikan keris ini.”

“Terserahlah kepadamu Anusapati.”

Anusapati kemudian mengambil kerisnya yang terselip

dilambung. Kemudian keris itu-pun diletakkannya didalant peti,

setelah ia mengambil keris mPu Gandring.

Dengan hati-hati keris itulah yang kemudian disisipkan di

pinggangnya. Ukirannya tepat berada dibawah tangan Anusapati

yang tergantung disisi tubuhnya.

“Mudah-mudahan tidak ada orang yang melihatnya ibunda, agar

tidak timbul persoalan-persoalan baru yang dapat mengguncangkan

istana ini.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Namun ia masih berkata,

“Anusapati, aku masih harus mencari jawab jika pada suatu saat

Ken Arok datang kepadaku dan menanyakan keris itu seperti

kedatanganmu kini.“

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi terbayang

kecemasan di wajah ibunya meski-pun Ken Dedes itu kemudian

berkata, “Tetapi biarlah jangan kau hiraukan. Aku akan berusaha

untuk menjawabnya meski-pun saat ini aku belum menemukan

alasan yang sebaik-baiknya.”

Anusapati masih termangu-mangu. Karena itu ia-pun tidak

segera berbuat sesuatu.

“Kenapa kau bimbang?“ bertanya ibunya, “bagiku ternyata keris

itu memang lebih baik ada padamu daripada ada pada Sri Rajasa.”

“Terima kasih ibu,“ berkata Anusapati kemudian, “sekarang

hamba mohon diri.”

“Hati-hatilah Anusapati.”

Anusapati kemudian meninggalkan ibunya sendiri di dalam

biliknya. Sejenak ia berdiri dipintu bangsal sambil memandang

berkeliling. Ternyata tidak banyak orang yang berkeliaran di

halaman. Seorang juru taman dan dua orang prajurit yang melintas.

Anusapati-pun kemudian melangkah menuruni tangga. Disebelah

pintu duduk dua orang emban sambil menunduk dalam-dalam.

Dengan hati-hati Anusapatiptun melangkah meninggalkan

bangsal itu. Tangannya hampir tidak melenggang sama sekali

karena ia berusaha untuk menyembunyikan ciri-ciri keris yang aneh

itu.

Sepeninggal Anusapati, kedua emban yang duduk disebelah pintu

itu-pun saling berpandangan. Tetapi mereka masih tetap ragu-ragu

untuk mendekati bilik Permaisuri. Menurut dugaan mereka,

Permaisuri yang sedang sakit itu selalu saja marah-marah kepada

puteranya laki-laki yang sulung itu.

Barulah ketika mereka mendengar Permaisuri memanggil,

mereka-pun datang mendekat dan dengan hati yang berdebardebar

mereka memasuki pintu bilik. Ketika mereka melampaui pintu

bilik mereka melihat Permaisuri itu berbaring dipembaringannya

sambil berselimut kain berwarna kelam menutupi seluruh tubuhnya,

kecuali wajahnya.

“Ambilkan air panas emban,“ suara Ken Dedes lambat dan

parau.

Kedua emban itu-pun saling berpandangan sejenak. Namun

kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Hamba tuan Puteri.

Tetapi apakah hamba harus mengambil air panas untuk minum atau

untuk keperluan yang lain?”

“Aku ingin minum air yang panas sekali. Taruhlah sedikit pangkal

jahe dan gula kelapa.“

“O, hamba tuan Puteri.”

Salah seorang dari kedua emban itu-pun kemudian dengan

tergesa-gesa meninggalkan bilik itu untuk membuat air jahe bagi

tuan Puteri Ken Dedes.

Dalam pada itu, Anusapati yang berjalan dengan hati-hati telah

sampai di halaman bangsalnya. Langkahnya menjadi semakin cepat,

meski-pun ia berusaha agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi

siapa-pun juga.

Demikian Anusapati sampai di bangsalnya, maka ia-pun menarik

nafas dalam-dalam. Keringatnya terasa terperas dari dalama

tubuhnya oleh ketegangan meski-pun jarak yang dilewatinya sudah

terlampau sering dilaluinya. Namun kali ini, dengan keris mPu

Gandring dilambung, maka jarak itu rasa-rasanya menjadi sepuluh

kali lipat. Setelah hatinya agak tenang, dan keringatnya berkurang,

barulah ia masuk ke ruang dalam menemui isterinya yang sedang

duduk bersama anak laki-lakinya.

“O, dari manakah ayahanda dalang?“ bertanya anak laki-lakinya,

“tampaklah ayahanda lelah sekali. Keringat ayahanda membasahi

seluruh tubuh.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Namun ia-pun kemudian

tersenyum sambi berkata, “Udara panasnya bukan main. Ayahanda

tidak pergi kemana-mana. Ayahanda baru datang dari regol depan,

melihat-lihat kegiatan para prajurit.“

Anak laki-lakinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

ia-pun telah asyik lagi dengan permainannya.

Tetapi ternyata bahwa isteri Anusapati itu tidak secepat anaknya

menerima keterangan itu. Dari sorot matanya masih tampak

berbagai macam pertanyaan yang tidak terucapkan.

Sejenak kemudian maka Anusapati-pun segera masuk kedalam

biliknya. Tetapi ia tidak mau membuat isterinya menjadi gelisah.

Karena ia tidak bermaksud mengatakan apa-pun juga tentang keris

itu dan tentang dirinya sendiri.

Sebelum isterinya menyusul masuk kedalam bilik itu, maka

Anusapati-pun segera menyimpan keris mPu Gandring dan

meletakkannya diantara beberapa pusakanya yang lain, sebelum ia

dapat menyimpannya secara khusus.

“Aku harus menemui paman Mahisa Agni lebih dahulu,“ berkata

Anusapati didalam hatinya, “aku harus mendapat petunjuk tentang

keris itu.”

Karena itu, maka ia-pun segera minta diri kepada isterinya untuk

pergi kebangsal pamannya.

“Kakanda akan pergi lagi?“ bertanya isterinya.

Anusapati tersenyum. Ia sadar, bahwa isterinya-pun melihat

kesibukannya yang meningkat pada saat-saat terakhir. Tetapi ia

masih belum mengatakan sesuatu.

“Aku akan menemui pamanda Mahisa Agni. Mungkin pamanda

akan segera meninggalkan Singasari.”

Isterinya tidak menyahut. Tetapi dimatanya membayang

kecemasan dan kegelisahan.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mencoba

tersenyum dan berkata, “Jika kau memerlukan aku, perintahkanlah

seorang prajurit pengawal memanggil aku di bangsal pamanda

Mahisa Agni.”

Isterinya menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berani

mendesak lebih jauh lagi meski-pun sebenarnya hatinya sudah

bergejolak. Sebagai seorang puteri dari keturunan Maharaja di

Kediri, ia merasa asing di Singasari. Bahkan ia merasa bahwa ia

berada dalam lingkungan yang sangat mencemaskan. Apalagi akhirakhir

ini Anusapati tampaknya sedang terlibat dalam suatu

kesibukan yang sangat penting.

Beberapa keanehan yang dialaminya membuatnya semakin

kecut. Bau yang sangat wangi, bunyi yang tidak dikenal dan wajahwajah

yang kadang-kadang memandanginya dengan tajamnya,

seakan-akan sengaja menunjukkan kebencian dan dendam yang

tertahan didalam hati.

Untunglah bahwa Ken Dedes bersikap sangat baik kepadanya.

Dan bahkan Permaisuri itu rasa-rasanya bagaikan ibunya sendiri.

Setiap kali ia selalu menghiburnya dan menenteramkan

kegelisahannya. Adik-adiknya-pun sangat baik kepadanya. Adik-adik

Anusapati yang lahir dari Ken Dedes. Tetapi adik-adik Anusapati

yang lahir dari Ken Umang sama sekali acuh tidak acuh saja

kepadanya.

“Tenangkan hatimu,“ berkata Anusapati, “bukankah disiang hari

kita tidak pernah mengalami apa-pun juga.“

Isterinya menganggukkan kepalanya pula.

“Nah, baiklah. Hati-hatilah mengawasi anak kita. Ia menjadi

semakin nakal. Jika ia keluar bangsal, suruhlah pemomongnya

mengikutinya kemana ia pergi.”

“Baiklah kakanda,“ jawab isterinya, meski-pun kata-katanya itu

bagaikan meloncat begitu saja dari bibirnya tetapi tidak dari hatinya.

Anusapati-pun kemudian mengambil kerisnya yang lain dan

keluar pula dari biliknya. Dengan susah payah ia menahan

perasaannya yang bergejolak, agar orang-orang yang melihatnya

tidak menjadi curiga melihat sikapnya.

Perlahan-lahan Anusapati melangkah menuruni tangga. Di

halaman bangsalnya yang ditanami berbagai macam pohon bunga

ia berhenti sejenak. Dipetiknya setangkai bunga menur yang putih.

Kemudian diselipkannya bunga itu diatas telinganya.

Langkahnya terhenti pula didepan gardu penjaga. Sambil

tersenyum ia bertanya, “Berapa orang yang bertugas disini hari ini?”

Prajurit pengawal yang bertugas menganggukkan kepalanya

dalam-dalam sambil menjawab, “Dua orang tuanku. Seperti

biasanya.”

“O, Dan dimalam hari?“

Prajurit itu menjadi heran. Selama ini masih belum ada

perubahan apa-apa. Namun demikian ia menjawab juga, “Lima

orang tuanku dan dua orang penghubung. Tetapi pada saat-saat

yang dianggap gawat, kadang-kadang ditambah lagi dengan dua

orang pengawal.“

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, meski-pun ia

hampir tidak mendengar jawaban itu. Apalagi ketika pengawal itu

menambahkan, “Bahkan kadang-kadang masih ditambah lagi

apabila perlu.”

Anusapati masih mengangguk-angguk. Bahkan masih tersenyumsenyum

meski-pun angan-angannya sama sekali tidak melekat pada

jawaban prajurit-prajurit itu.

“Jagalah baik-baik,“ katanya kemudian, “aku akan pergi

sebentar.”

Sekali lagi prajurit itu menjadi heran. Pangeran Pati itu hampir

tidak pernah memberikan pesan seperti itu disiangi hari. Jika ia

pergi, maka ia-pun pergi sajalah. Jika ia datang, ia-pun hanya

sekedar berpaling dan tersenyum sedikit. Memang kadang-kadang

Putera Mahkota itu menghampiri mereka dan bercakap-cakap.

Tetapi hampir tidak pernah berpesan seperti itu disiang hari, selain

apabila memang sedang timbul persoalan. Itu-pun dimalam hari,

seperti pada saat-saat terjadi hal-hal yang aneh disekitar bangsal

ini.

Tetapi prajurit itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dalamdalam.

Demikian juga seorang kawannya. Dengan wajah yang aneh

keduanya memandang Anusapati yang melangkah perlahan-lahan

meninggalkan mereka. “Tampaknya Pangeran Pati itu sedang

gelisah,“ berkata seorang prajurit.

“Ya. Akhir-akhir ini tampaknya sibuk sekali. Hilir mudik setiap

kali.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak

menjawab lagi.

Dalam pada itu, Anusapati berjalan melintasi halaman istana

Singasari menuju ke bangsal pamannya Anusapati selama ia berada

di Singasari. Betapa-pun ia tergesa-gesa untuk segera

menyampaikan ceritera tentang keris yang kini sudah ada

ditangannya, namun langkah Pangeran Pati itu tampaknya tenangtenang

saja, dan bahkan seakan-akan tanpa maksud sama sekali.

Sementara itu, sepasang mata memandanginya dengan tajamnya

dari balik gerumbul perdu agak jauh dari bangsal Mahisa Agni.

Ketika ia melihat Anusapati dari kejauhan, ia-pun segera berlindung

dibalik segerumbul pohon bunga soka merah.

Tetapi orang itu terkejut ketika tiba-tiba saja seorang juru Jaman

yang membawa sebuah cangkul telah berdiri di sebelahnya sambil

menggamitnya.

“Gila, kau lagi,“ ia menggeram.

Juru taman itu adalah Sumekar. Katanya sambil tersenyum, “Kau

harus berterima kasih kepadaku, karena aku tidak menyebutmu

akan membunuhku malam itu.”

Orang itu memandang Sumekar dengan tajamnya. Betapa

dendam memancar dari sorot matanya itu.

“Jangan memandang aku begitu,“ berkata Sumekar, “aku dapat

mati kaku disini.”

“Persetan. Kau memang harus mati.“

“Tidak. Kau sudah gagal membunuh aku. Seharusnya, kau tidak

boleh berusaha mengulanginya.“

“Apa katamu? Nanti malam aku akan membunuhmu.”

“Benar?”

“Ya, pasti.”

Sumekar tidak segera menyahut. Dilontarkannya pandangan

matanya kehalaman, dan ternyata Anusapati sudah tidak tampak

lagi.

Prajurit itu-pun kemudian berpaling juga. Dan ia-pun kehilangan

Anusapati pula.

“Kau memang gila,“ bentak prajurit itu, “nanti malam aku akan

benar-benar membunuhmu.”

“Jangan.”

“Aku tidak peduli.”

“Jika demikian, sekarang aku akan melaporkan kepada para

prajurit pengawal, bahwa kaulah yang akan membunuhku malam

itu.”

“Gila,“ prajurit itu membelalakkan matanya.

“Jangan, nanti aku akan berteriak.”

Prajurit itu menjadi ragu-ragu. Jika juru taman itu benar-benar

berteriak, maka para pengawal akan mendengarnya. Mereka akan

berlari-larian datang dan ia kehilangan kesempatan untuk ingkar.

“Apakah aku harus berteriak.”

Tiba-tiba prajurit itu tersenyum, “Aku tidak bersungguh-sungguh.

Sebenarnya malam itu-pun aku tidak ingin membunuhmu. Aku

hanya ingin membuatmu jera, agar kau tidak menipuku lagi. Tetapi

kau sudah berteriak. Seandainya kau tidak berteriak, aku-pun tidak

akan benar-benar mencekikmu. Aku bukan pembunuh seperti yang

kau sangka.”

“Benar begitu?”

“Ya. Bukanlah aku seorang prajurit. Prajurit pengawal? Tugasku

adalah melindungi setiap orang didalam istana ini dan tentu bukan

untuk membunuhmu.”

Tatapan Sumekar memancarkan keragu-raguan.

“Kau ragu-ragu,“ prajurit itu tertawa pendek, “tentu kau raguragu.

Tetapi tidak apa, pada saatnya kau akan mengetahui bahwa

aku berkata sebenarnya. Aku benar-benar tidak akan membunuh.

Selama aku menjadi seorang prajurit, aku belum pernah

membunuh. Apalagi membunuh seorang juru taman, sedang

dipeperangan-pun aku tidak membunuh.”

Sumekar memandang orang itu sejenak. Namun ia-pun ikut

tertawa pula. Katanya, “Apa benar yang kau katakan?”

“Tentu, apakah kau masih belum percaya.“

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Baiklah. Aku

percaya. Dan sekarang, apakah yang akan kau lakukan disini?”

“Dan kau?“ prajurit itu-pun bertanya.

Sumekar mengerutkan keningnya. Katanya, “Bukankah aku

seorang juru taman yang bertugas di halaman ini. Aku mengurusi

semua tanaman bersama beberapa orang kawanku. Tanaman

perdu, pohon-pohon bunga, sampai pohon sawo kecik dan pohon

beringin. Itu semua adalah tugas kami.”

Prajurit itu mengangguk-angguk.

“Nah, aku 'minta diri. Aku akan bekerja lagi.“

Prajurit itu tersenyum meski-pun didalam hati ia mengumpatumpat.

Ia tidak melihat kemana Anusapati menghilang. Tetapi ia

hampir pasti, bahwa Anusapati masuk kedalam bangsal Mahisa

Agni.

Sejenak kemudian Sumekar-pun meninggalkan prajurit itu

seorang diri. Namun langkahnya tertegun ketika Sumekar

mendengar prajurit itu berkata, “He, nanti malam aku pergi

kepondokmu. Aku akan membawa makanan yang paling enak

buatmu.”

“Benar?“ bertanya Sumekar.

“Ya. Apakah kau tinggal dibelakang diantara para kamba Istana

ini?”

“Ya, aku tinggal digubug paling ujung.“

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tunggulah, aku

pasti datang.”

“Kau sangat baik. Aku minta maaf bahwa aku pernah

berprasangka buruk terhadapmu.“

“Aku nanti malam bertugas. Tetapi lewat tengah malam, aku

sudah beristirahat. Aku akan datang saat itu.”

“Lewat tengah malam?“ bertanya Sumekar, “kenapa lewat

tengah malam? Tetangga-tetangga kadang-kadang marah jika

mereka terganggu dimalam hari. Mereka bekerja sehari penuh,

sehingga dimalam hari mereka ingin beristirahat.”

“Apakah kau sangka aku akan berteriak-teriak?”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Lalu jawabnya, “Baiklah

jika demikian. Aku akan menunggu.“

“Baiklah, pergilah kepekerjaanmu.”

Sepeninggal Sumekarj prajurit itu menggeram. Katanya kepada

diri sendiri, “Nanti malam aku harus dapat membunuhnya dengan

cara apapun. Tanpa mengeluarkan tenaga aku akan dapat

membunuhnya. Tetapi ia tidak boleh mendapat kesempatan untuk

berteriak. Ia harus terdiam pada serangan yang pertama.”

Sambil menggeretakkan giginya prajurit itu-pun kemudian

berlalu. Ia tidak mendapatkan bahan apa-pun juga tentang

Anusapati. Juru taman itu telah mengganggunya lagi.

Namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa apabila benarbenar

ia berusaha untuk membunuh juru taman itu, maka pada

suatu ketika juru taman itu akan kehilangan kesabarannya dan

bahkan juru taman itu akan dapat membunuhnya tanpa

mengadakan perlawanan apapun.

Dalam pada itu, Anusapati-pun telah sampai kebangsal

pamannya. Dengan ragu-ragu Anusapati menceriterakan, apa yang

sudah terjadi.

“Keris itu sekarang sudah aku simpan baik-baik paman.“

Mahisa Agni-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Dengan demikian, kau sudah mengurangi kemungkinan pahit yang

dapat terjadi atasmu Anusapati. Keris mPu Gandring adalah keris

yang sangat tajam. Bukan saja tajam ujungnya, tetapi juga tuahnya.

Setiap goresan betapa-pun kecilnya, akan berarti maut.”

“Ya paman,“ jawab Anusapati. Lalu, “tetapi yang sekarang

menjadi pikiranku, apakah yang dapat dikatakan oleh ibunda

Permaisuri apabila ayahanda bertanya kepadanya tentang keris itu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Mungkin ayahanda Sri Rajasa dapat menjadi sangat marah dan

menimpakan kesalahannya kepada ibunda.”

Mahisa Agni merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku

kira ia tidak akan berani berbuat begitu terhadap ibundamu

Anusapati. Selain Sri Rajasa harus mengingat asal usul

kekuasaannya yang besar itu sekarang, juga karena ibundamu

mempunyai seorang anak laki-laki yang digelari oleh rakyat

Singasari sebagai Kesatria Putih. Disamping Kesatria Putih,

ibundamu adalah adikku, yang ikut serta dalam perjuangan

mempersatukan tanah Singasari. Setiap prajurit Singasari

mengetahuinya dan setiap prajurit Singasari mengakuinya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia-pun

kemudian bertanya, “Jadi apakah tidak mungkin ayahanda

mengambil suatu tindakan mendahului peristiwa-peristiwa yang

dapat terjadi menurut perhitungannya?”

“Maksudmu, Sri Rajasa mengambil tindakan terhadap ibundamu

dan lebih daripada itu, berusaha untuk mendapatkan keris itu

kembali?”

“Demikianlah paman.“

“Memang mungkin Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “namun jika

demikian, maka persoalannya akan menjadi terbuka. Setiap prajurit

di halaman istana ini harus memilih. Dan Sri Rajasa tidak akan

berani menghadapi akibat itu pada saat ini.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Namun ia masih tetap

dibayangi oleh kegelisahan tentang ibunya, “Paman, jika ayahanda

Sri Rajasa tidak dapat mengendalikan kemarahannya, maka yang

pertama-tama akan mengalami akibatnya adalah ibunda. Apakah

aku dapat berdiam diri jika ayahanda Sri Rajasa berbuat sesuatu

atas ibunda Ken Dedes meski-pun ibunda seorang Permaisuri, yang

didalam persoalan keris itu pasti akan mempunyai pertimbangan

tersendiri?“

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Kalanya, “Tentu kita

tidak dapat membiarkan ibundamu menjadi sasaran kemarahan Sri

Rajasa. Tetapi bukankah itu baru merupakan dugaan? Meski-pun

demikian Anusapati, aku akan pergi kebangsal Permaisuri. Aku akan

pura-pura menengoknya dan menungguinya. Jika pada saat itu Sri

Rajasa datang, aku akan dapat membantu ibundamu didalam

persoalan keris yang kau bawa itu.“ Mahisa Agni berhenti sejenak.

Lalu, “tetapi bukankah keris itu sudah bertahun-tahun ada ditangan

ibundamu dan Sri Rajasa tidak pernah bertanya sesuatu tentang

keris itu? Tentu tidak dengan tiba-tiba saja ia datang hari ini dan

mempersoalkannya. Kecuali jika ada seseorang yang melihat keris

itu ditanganmu.”

“Aku kira tidak ada seorang-pun yang melihatnya paman.”

“Jika demikian tentu tidak ada pula yang menyampaikannya

kepada Sri Rajasa, dan ia-pun tidak akan berbuat apa-apa hari ini.”

“Mudah-mudahan. Tetapi aku berharap agar paman dapat

menengok ibunda barang sejenak. Mungkin ada orang yang

melihatnya diluar pengetahuanku. Aku akan segera kembali

kebangsal. Jika ayahanda langsung mencari keris itu kebangsal.

maka isteriku akan mati ketakutan.”

“Dan jika kau ada di bangsalmu?”

“Tentu aku akan mempertahankan keris itu. Jika ayahanda

memaksa apaboleh buat. Seperti kata paman Mahisa Agni,

persoalannya akan menjadi persoalan terbuka. Dan aku akan

kehilangan baktiku kepada ayahanda Sri Rajasa. Aku berharap

bahwa orang-orang Singasari akan mengetahui bahwa aku berbuat

dengan wajar. Bukan berbuat sebagai seorang anak yang durhaka.“

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Itulah tekad yang

sebenarnya yang tersimpan didada Anusapati. Tetapi Mahisa Agni

masih berharap bahwa hal itu tidak akan segera terjadi. Meski-pun

demikian, Anusapati memang harus berhati-hati menanggapi

keadaan yang berkembang dengan pesatnya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Agni ingin melihat

keris itu. Apakah benar keris yang diberikan kepada Anusapati itu

keris mPu Gandring. Mungkin ibunya hanya sekedar menenangkan

hatinya, sementara keris itu masih tetap disimpannya sendiri.

Karena itu, maka Mahisa Agni-pun kemudian berkata, “Anusapati,

apakah aku dapat melihat keris itu.”

“Tentu paman. Apabila paman berkenan melihat keris itu, aku

persilahkan setiap saat paman datang kebangsalku.”

“Aku akan datang sore nanti Anusapati. Setelah aku menengok

ibundamu, maka aku akan singgah di bangsalmu.”

“Silahkan paman. Aku akan menerima paman dengan senang

nati, bahkan aku ingin mendapat keterangan dari paman Mahisa

Agni, apakah benar keris itu keris mPu Gandring yang telah

mengambil nyawa ayahanda Akuwu Tunggul Ametung.“

Dada Mahisa Agni berdesir. Ternyata Anusapati-pun mempunyai

keragu-raguan meski-pun tidak terlampau besar.

Demikianlah maka Anusapati-pun kemudian minta diri.

Sementara Mahisa Agni-pun kemudian berkemas untuk pergi

menghadap Permaisuri.

Dengan dada yang berdebar-debar Mahisa Agni memasuki bilik

Ken Dedes. Dilihatnya adik angkatnya itu terbaring di pembaringan

berselimut kain panjang yang berwarna kelam. Sementara dua

orang emban duduk disebelah pintu bilik yang tidak tertutup rapat,

“Kau kakang,“ desis Ken Dedes.

“Berbaringlah,” berkata Mahisa Agni sambil melangkah masuk.

Ken Dedes-pun kemudian menyuruh kedua embannya itu

meninggalkannya.

“Rasa-rasanya aku benar-benar menjadi sakit kakang,“ desis

Permaisuri itu, “kepalaku menjadi pening dan badanku menjadi

dingin.“

Mahisa Agni-pun kemudian duduk diatas sebuah dingklik kayu

yang dialasi dengan kulit domba yang lunak. Sambil memandang

wajah Ken Dedes yang buram Mahisa Agni berkata, “Tuan Puteri

terlampau memikirkan keadaan yang berkembang dengan cepatnya

saat ini. Sebaiknya tuan Puteri mencoba melupakannya.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata dengan

nada yang dalam dan perlahan-lahan seakan-akan hanya ingin

didengarnya sendiri, “Tetapi bagaimana aku akan melupakannya.

Baru saja Anusapati datang kepadaku dan minta keris mPu Gandring

itu. Aku sudah mencoba untuk mengingkarinya, bahwa akulah yang

membawa keris itu. Tetapi aku tidak berhasil.“

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin itu

bukan kesalahan Pangeran Pati, tetapi hambalah yang bersalah.

Namun bukan maksud hamba untuk mendorong Pangeran Pati

berbuat sesuatu. Tetapi sebenarnyalah bahwa hamba ingin

pengamanan yang lebih jauh lagi, karena keris itu akan dapat

menjadi bahaya yang sebenarnya bagi Pangeran Pati.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Mahisa

Agni berkata selanjutnya, “Tetapi hamba masih belum memikirkan

bahwa hal itu memang dapat menimbulkan kepedihan pada tuan

Puteri. Kegelisahan dan mungkin juga kecemasan, jika kemudian

tuanku Sri Rajasa datang untuk mengambil keris itu.“

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.

“Itulah yang ingin hamba tanyakan kepada tuan Puteri apakah

hal itu yang membuat tuan Puteri gelisah dan bahkan merasa

benar-benar menjadi sakit.”

Ken Dedes menggelengkan kepalanya. Katanya, “Bukan kakang.

Aku sudah pasrah kepada Yang Maha Agung. Aku akan mengatakan

bahwa keris itu hilang. Aku tidak tahu lagi dimana aku

menyimpannya karena sudah bertahun-tahun tidak aku hiraukan

lagi.”

“Apakah tuanku Sri Rajasa akan mempercayainya?“

“Mungkin tidak. Tetapi aku bertekad untuk tidak mengatakan

yang sebenarnya apa-pun yang akan terjadi atasku.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pada suatu saat, Ken

Dedes memang sampai pada suatu pilihan, bahwa ia harus

menyelamatkan anaknya.

“Apakah tuan Puteri benar-benar sudah mengambil keputusan

demikian?”

“Ya. Aku sudah mengambil keputusan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tuan Puteri.

Hamba rasa seandainya tuan Puteri berkata demikian, Sri Rajasa

tidak akan dapat memaksa. Selama hamba berada di Singasari,

sudah tentu hamba akan ikut bertanggung jawab. Jika pada suatu

saat Sri Rajasa mengambil sikap yang keras, maka apaboleh buat.

Tentu hamba tidak akan membiarkan tuan Puteri mengalami

sesuatu akibat keris itu.”

Tiba-tiba saja Ken Dedes bangkit duduk dibibir pembaringan.

“Apa yang akan kau lakukan kakang?“

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hamba tidak

ingin berbuat apa-apa tuan Puteri. Tetapi adalah kuwajiban hamba

melindungi tuan Puteri, karena hamba adalah saudara tua tuan

Puteri. Memang yang paling berhak melindungi tuan Puteri adalah

suami tuan Puteri, didalam hal ini adalah tuanku Sri Rajasa. Tetapi

jika bahaya itu datang justru dari Sri Rajasa, maka aku masih

berhak untuk berbuat sesuatu jika tuan Puteri menghendakinya.“

Ken Dedes memandang Mahisa Agni sejenak. Namun kemudian

wajahnya segera tertunduk. Terbayang didalam rongga matanya

Mahisa Agni itu dimasa mudanya. Ketika ia hampir saja menjadi

korban nafsu Kuda Sempana yang ingin melarikannya dari

Panawijen dan mengambilnya langsung dari bendungan ketika ia

sedang mencuci. Mahisa Agni yang tiba-tiba muncul dari balik

tanggul telah menyelamatkannya, setelah Wiraprana tidak berdaya

berbuat sesuatu atas Kuda Sempana, yang saat itu menjadi prajurit

Tumapel.

Kemudian dengan penuh tanggung jawab, Mahisa Agni selalu

melindunginya. Bahkan kemudian ia mendengar pula, bahwa Mahisa

Agni pernah berperang tanding melawan Mahendra dengan

menyebut dirinya sebagai Wiraprana, sehingga ia berhasil

mengalahkannya. Dan pada saat ia diambil dengan kekerasan dari

Panawijen, Mahisa Agni hampir saja terbunuh oleh sebuah keris

justru ia berusaha mempertahankannya.

Dan kini, ketika umurnya telah bertambah dengan puluhan

tahun, Mahisa Agni masih tetap melindunginya sebagai seorang

kakak yang bertanggung jawab, meski-pun sebenarnya ia hanyalah

seorang saudara angkat.

Namun Ken Dedes tidak dapat melihat tembus kepusat jantung

Mahisa Agni. Betapa hati anak muda yang bernama Mahisa Agni itu

terguncang ketika ia mendengar dengan telinganya sendiri, bahwa

Ken Dedes, gadis padepokan Panawijen itu mencintai seorang anak

muda bernama Wiraprana. Pada saat itu Mahisa Agni hampir

menjadi gila karenanya, dan bahkan ia serdirilah yang hampir saja

membinasakan Wiraprana karena hatinya yang gelap.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Masa muda yang penuh

dengan khayalan-khayalan yang manis itu kini telah lalu. Panawijen

yang hijau subur itu tinggallah kenangan, karena daerah itu kini

menjadi kering kerontang. Panawijen telah menjadi kering karena

kutuk ayahnya yang tidak dapat menahan luapan kemarahan dan

memecahkan bendungan yang sanggup mengairi tanah

persawahan. Meski-pun kini ada padukuhan baru yang hijau di

pinggir padang Karautan, namun padukuhan yang baru ini tidak

dapat memberikan kenangan semanis Panawijen yang lama,

Panawijen tempat ia dibesarkan sampai saatnya ia menjadi seorang

gadis remaja.

Dalam pada itu selagi Ken Dedes tenggelam didalam dunia

kenangan, Mahisa Agni-pun duduk sambil menundukkan kepalanya

pula. Dalam keheningan itu-pun ia telah dibayangi oleh berbagai

persoalan. Tetapi berbeda dengan Ken Dedes yang mengenangkan

masa lalunya, Mahisa Agni sedang mereka-reka apakah yang dapat

dilakukan seandainya Sri Rajasa tiba-tiba saja mengambil sikap yang

keras dan terbuka.

“Mungkin Sri Rajasa telah mempersiapkan diri,“ berkata Mahisa

Agni didalam hatinya, “lewat beberapa orang Senapati yang dapat

dipengaruhinya untuk menyingkirkan Anusapati, ia sudah

menyiapkan sepasukan prajurit untuk bertindak dengan cepat

didalam istana ini. Jika persoalannya telah dapat dikuasainya

didalam istana, maka ia akan dapat menyebarkan keterangan

sekehendak hatinya, dan memberikan kepercayaan kepada prajurit

yang tersebar di seluruh Singasari. Bahkan para Panglima yang ada

dipusat pemerintahan ini-pun akan dapat kelabuinya. Sri Rajasa

dapat saja menuduh Anusapati melawan kehendaknya dan tidak lagi

tunduk kepadanya. Dan ia masih dapat membuat alasan-alasan

yang bagaimana-pun juga.”

Namun dalam pada itu, selagi Ken Dedes mengenangkan masamasa

remajanya yang indah, dan yang menjadi semakin indah

didalam bayangan masa lampau, dan selagi Mahisa Agni sibuk

dengan perhitungan yang mendebarkan, Sri Rajasa sendiri sedang

duduk merenung. Semua orang yang mendekatinya diusirnya,

seakan-akan ia ingin duduk dalam kesepian. Dalam dunianya yang

terasing.

Seperti Ken Dedes dan Mahisa Agni, maka yang bermain didalam

diri Sri Rajasa-pun adalah angan-angannya. Angan-angan yang

bergeser dari waktu kewaktu. Dari masa lampau kemasa kini dan

kemasa yang mendatang.

Dengan nafas yang berat, Sri Rajasa duduk bersandar tiang di

serambi belakang bangsalnya yang sepi. Dilihatnya dedaunan yang

bergerak ditiup angin. Rasa-rasanya angin yang bertiup perlahanlahan

itu telah mengusap keningnya pula, seperti usapan tangan

yang lembut.

Ken Arok, yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu

belum pernah merasakan kelembutan tangan ibunya di masa kanakanak.

Sejak bayi ia sudah tersisih dari keluarganya dan hidup dalam

lingkungan yang tidak terpuji.

Dalam suatu dunia yang gelap. Ia hidup dari rumah seorang

pencuri, berpindah ke rumah seorang penjudi dan perampok.

Kemudian hidup dipandang Karautan dan menghantui sesamanya.

Sehingga pada suatu saat ia terlempar kedalam istana yang megah

ini.

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menarik nafas dalamdalam.

Adalah jauh berbeda dengan angan-angan Mahisa Agni dan

Anusapati, bahkan Ken Dedes. Pada saat terakhir, Sri Rajasa

seakan-akan mulai mampu melihat kedalam dirinya sendiri. Seakanakan

ia dihadapkan pada sebuah bayangan yang jelas tentang

dirinya dan segala perbuatannya.

“Sudah cukup,” tiba-tiba saja ia berdesah, “aku sudah cukup

lama menerima kurnia Yang Maha Agung. Mungkin aku memang

kekasih dewa-dewa. Tetapi aku tidak dapat ingkar melihat

kenyataan pada diri Ken Dedes. Ia adalah perempuan pinunjul yang

pantas melahirkan seorang besar di tanah ini.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menarik nafas dalamdalam.

Ketika ia memandang kedalam semak-semak yang rimbun,

ia tidak melihat lagi warna bunga-bungaan yang beraneka. Tetapi

yang membayang adalah semak-semak di padang Karautan. Semak

yang bahkan kadang-kadang berduri. Tetapi ia sama sekali tidak

menghiraukan. Apabila ia ingin bersembunyi, maka ia-pun

menyusup saja kedalamnya tanpa menghiraukan kulitnya yang

berjalur-jalur merah tersangkut duri.

“Betapa hidup ini bagaikan mimpi di malam-malam yang

panjang dan terputus-putus,“ berkata Ken Arok didalam hatinya.

“Seperti hidupnya sendiri bagaikan mimpi yang patah-patah hampir

tidak dapat dipercaya. Sebagai seorang anak liar di padang

Karautan, kini ia cepat duduk dengan megahnya di atas tahta

Singasari.”

“Aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada padaku.

Didalam kamukten ini aku tidak berusaha membersihkan diriku,

tetapi aku justru lebih banyak menodai diriku sendiri dengan

berbagai macam kesenangan dan cita-cita yang menyimpang dari

keinginan Yang Maha Agung,” desisnya ketika terbayang di

wajahnya seorang gadis yang ditemuinya dihutan perburuan dan

berhasil menjebaknya. Seperti kehidupan liar yang ditempuhnya

dimasa mudanya, dengan memperkosa gadis-gadis, maka ia-pun

terjebak dalam kehidupan yang liar bukan atas kehendaknya. Maka

ia-pun terjebak untuk mengambil Ken Umang menjadi isterinya,

sehingga lahirlah anak demi anak. Namun kini ia melihat, bahwa ia

tidak dapat lagi mengelakkan pengaruh perempuan itu yang justru

semakin lama terasa semakin kuat.

Ken Arok bergeser setapak. Angan-angannya menjadi semakin

tajam menyoroti dirinya sendiri. Dan ia-pun melihat dirinya sendiri

kini telah berdiri di tengah-engah arus sungai yang deras. Berhenti

atau terus, ia sudah terlanjur basah. “Jika aku harus berjalan terus,

aku tidak lagi berbuat karena suatu keyakinan.“ ia berkata kepada

diri sendiri, “yang aku lakukan hanyalah karena semuanya sudah

terlanjur. Dan didalam saat yang paling sulit, tentu aku tidak akan

dapat melepaskan Tohjaya yang tamak itu.”

Namun Ken Arok tidak juga dapat menyalahkan Tohjaya. Ia telah

ikut membentuk Tohjaya menjadi seorang pemimpin. Seorang yang

bercita-cita terlampau tinggi tanpa mengingat alas yang diinjaknya.

Jika perlu, ia akan berdiri diatas alas mayat Anusapati dan siapa-pun

juga untuk mencapai singgasana Singasari.

Bayangan-angan itulah agaknya yang selalu menghantui Ken

Arok. Bayangan-angan yang saling berbenturan antara warna-warna

yang bertentangan didalam hatinya.

Namun dalam pada itu, selagi Ken Arok itu merenung, terdengar

desir perlahan-lahan mendekatinya. Ketika ia berpaling dilihatnya

dikejauhan, Tohjaya berdiri termangu-mangu. Agaknya ia sudah

mendengar dari para prajurit yang bertugas, bahwa Sri Rajasa

sedang tidak mau dikunjungi oleh siapapun. Tetapi agaknya Tohjaya

masih ingin juga mencobanya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Justru pergolakan di dalam

hatinya itulah yang telah mendorongnya untuk memanggil Tohjaya

menghadap, karena ia tidak mau dengan tiba-tiba saja bersikap lain.

Dengan dada yang berdebar-debar Tohjaya mendekati Ken Arok.

Beberapa langkah daripadanya ia berhenti termangu-mangu. Baru

ketika Ken Arok mengangguk, ia maju lagi beberapa langkah.

“Kenapa kau ragu-ragu?“ bertanya Ken Arok.

“Ampun ayahanda,“ sahut Tohjaya, “para prajurit mengatakan

bahwa ayahanda sedang ingin duduk sendiri.”

“Ya, aku tidak ingin diganggu oleh masalah-masalah yang

membuat kepalaku bertambah pening. Aku ingin beristirahat barang

sejenak, karena badanku-pun terasa kurang enak.“

“Ampun ayahanda. Hamba tidak ingin membicarakan sesuatu.

Hamba hanya ingin datang menghadap.”

Sri Rajasa mengangguk-angguk. “Baiklah. Jika demikian,

duduklah sebaik-baiknya. Aku agak segan berbicara tentang

persoalan-persoalan yang dapat memberati pikiranku hari ini.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Namun ia-pun berkata, “Ampun

ayahanda. Hamba memang tidak ingin mempersoalkan sesuatu.

Tetapi hamba hanya ingin sekedar bertanya.”

“Apa?”

“Apakah sakit ibunda Permaisuri masih cukup parah ayahanda?”

“O,“ Ken Arok merenung sejenak. Lalu, “aku tidak tahu. Mudahmudahan

sakitnya sudah sembuh sama sekali.“

“Sebenarnya ibunda Ken Umang ingin menghadap ibunda

Permaisuri untuk sekedar menengoknya. Tetapi ibunda Ken Umang

agak merasa takut kalau-kalau ibunda Permaisuri tidak

menerimanya.”

“Kenapa tidak menerima?”

“Mungkin karena ibunda Permaisuri ingin beristirahat, tetapi

mungkin juga karena ibunda tidak ingin bertemu dan berbicara

didalam keadaan itu dengan ibunda Ken Umang.”

“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu,“ sahut Sri Rajasa.

“Itulah sebabnya maka ibunda mohon pertimbangan ayahanda.”

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Sebenarnya ia tidak senang

mendengar pertanyaan itu. Ia sedang menenteramkan hatinya dan

menerawang hidupnya sendiri. Namun demikian ia tidak sampai hati

untuk menolak pertanyaan itu.

Karena itu, maka Sri Rajasa kemudian menjawab, meski-pun

seakan-akan asal saja terlontar dari mulutnya, “jangan pergi

sekarang.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Tetapi menilik sikap Sri Rajasa,

Tohjaya-pun sadar, bahwa ayahandanya itu sedang dirisaukan oleh

sesuatu yang tidak dimengertinya.

“Mungkin kakanda Anusapati,“ berkata Tohjaya didalam hatinya.

Baginya setiap persoalan yang tidak menyenangkan bagi

ayahandanya, adalah persoalan yang ditumbuhkan oleh Anusapati.

Namun jawaban itu sebenarnya bagi Sri Rajasa adalah jawaban

yang dapat diucapkannya waktu itu. Dengan demikian maka

Tohjaya pasti tidak akan bertanya apa-pun lagi.

Tetapi ternyata bahwa Tohjaya masih tetap tidak beranjak.

Bahkan sejengkal ia bergerak maju sambil bertanya, “Ayahanda.

Tampaknya ayahanda sedang memikirkan sesuatu. Jika berkenan

dihati ayahanda, apakah hamba dapat mengetahuinya dan apakah

hamba dapat ikut membantu memecahkannya?“

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun kemudian

mencoba tersenyum dan menjawab, “Tidak Tohjaya. Tidak ada apaapa

yang sedang aku pikirkan. Aku hanya ingin beristisahat karena

aku terlampau lelah.“

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dihatinya ia

masih saja diganggu oleh sikap dan kerut-merut di wajah

ayahandanya.

“Tohjaya,“ berkata Sri Rajasa, “tinggalkan aku seorang diri.

Sebentar lagi aku akan beristirahat dipembaringan. Rasa-rasanya

badanku terlampau letih beberapa hari ini.”

Tohjaya memandang ayahanda dengan heran. Biasanya ayahnya

tidak pernah tampak begitu letih dan lesu. Sri Rajasa adalah

seorang yang penuh gairah menanggapi kehidupan ini. Wajahnya

selalu memancarkan luapan perasaan dan matanya bagaikan

menyala. Sri Rajasa tidak pernah menjadi tampak terlalu murung

dan merasa seperti saat itu.

“Ayahanda,“ tiba-tiba saja Tohjaya bertanya, “apakah ayahanda

merasa bahwa badan ayahanda tidak enak?”

“Tidak Tohjaya, aku tidak apa-apa. Aku hanya letih. Akhir-akhir

ini aku menghadapi banyak persoalan yang menyangkut

kelangsungan hidup Singasari.”

“Tetapi ayahanda tidak memberitahukan kepada hamba. Jika

hamba mengetahuinya, maka biarlah hamba ikut memikirkannya.

Selama ini ayahanda selalu mempersoalkan keadaan Singasari

dengan hamba. Dan ayahanda menganggap bahwa pikiran hamba

baik juga dipertimbangkan oleh ayahanda.”

“Ya. Aku memang memerlukan bantuan pikiranmu. Aku-pun

akan mendengarkan pendapatmu. Tetapi tidak sekarang. Aku ingin

beristirahat. Aku ingin tidur senyenyak-nyenyaknya.”

Tohjaya menjadi semakin heran. Tetapi ia tidak mau

menimbulkan kegelisahan yang semakin mengganggu ayahandanya,

sehingga karena itu ia tidak mendesaknya lagi. Bahkan ia mencoba

untuk mengalihkan pembicaraan. Katanya, “Ayahanda. Mungkin

ayahanda memang terlampau lelah. Sudah lama ayahanda tidak

pergi berburu.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak menyahut.

“Apakah ayahanda tidak ingin berburu? Dengan demikian

ayahanda dapat melupakan kelelahan yang agaknya mulai

mengganggu.“

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam.

“Jika ayahanda berkenan, hamba akan ikut serta berburu untuk

mendapatkan kesegaran baru.”

Sri Rajasa memandang Tohjaya sejenak. Lalu katanya, “Dalam

keadaan serupa ini, aku tidak dapat meninggalkan Istana.”

“Bukankah ada para Panglima yang dapat ayahanda serahi

pemerintahan?”

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Namun tanpa disangkanya

Tohjaya berkata, “O, apakah ayahanda berpikir tentang pamanda

Mahisa Agni yang kini sedang berada di istana ini. Ayahanda dapat

mengusirnya. Biarlah ia segera pergi dan kembali ke Kediri.”

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Dan karena itu Tohjaya

berkaca terus, “Ayahanda, kehadiran pamanda Mahisa Agni

memang memberikan pengaruh yang buruk di istana ini. Kakanda

Anusapati selalu saja hilir mudik dari bangsalnya sendiri kebangsal

ibunda Permaisuri, kemudian ke bangsal pamanda Mahisa Agni.

Bukan hanya sekali dua kali sehari, tetapi berulang kali. Kemudian

pamanda Mahisa Agni pergi mengunjunginya dan kemudian pergi ke

bangsal ibunda Permaisuri.”

“Ken Dedes sedang sakit Tohjaya. Adalah wajar sekali jika

pamanmu Mahisa Agni menungguinya. Ia adalah saudara tua

ibundamu Permaisuri. Kegelisahan Anusapati-pun dapat dimengerti.

Bukankah ibunya sedang sakit. Mungkin ia memang diminta oleh

ibundanya untuk menghubungi pamannya. Tidak hanya sekali,

mungkin sekali dua kali sehari.”

“Tetapi tentu bukan karena sakit ibunda Permaisuri saja

ayahanda.”

“Jangan berprasangka terlalu jauh Tohjaya.”

“Tetapi sikap kakanda Anusapati sudah menjadi semakin

memuakkan. Bukankah kita sudah berkeputusan untuk mengusirnya

dari kedudukannya dan dari istana ini? Ayahanda, jika ayahanda

tidak cepat bertindak didalam keadaan ini, maka ia akan sempat

memperbaiki kedudukannya.“

Dada Sri Rajasa berdesir. Ia memang pernah mengatakan,

bahwa sebenarnya Anusapati tidak diperlukannya lagi. Tetapi ketika

ia mendengarnya hal itu sekali lagi, rasa-rasanya sesuatu bergetar

dihatinya. Sekilas terbayang cahaya yang silau pada diri Ken Dedes.

Dan Ken Arok pernah mendengar bahwa cahaya yang demikian

adalah pertanda bahwa orang itu akan meneteskan keturunan

agung.

Tohjaya memandang wajah ayahnya yang berubah-rubah itu.

Kadang-kadang tegang, namun kadang-kadang seolah-olah Sri

Rajasa sudah pasrah pada keadaan yang terjadi. Bahkan sekalisekali

ia memejamkan matanya dan melihat didalam kekelaman,

dunia yang tidak dapat dimengertinya membentang dihadapannya.

“Ayahanda,“ Tohjaya menjadi cemas.

“Aku memang lelah sekali Tohjaya,“ jawab Sri Rajasa, “aku ingin

beristirahat sejenak. Apakah keperluanmu sudah selesai?”

“Hamba tidak mempunyai keperluan yang khusus ayahanda.

Hamba hanya ingin menghadap ayahanda. Barangkali ada titah

ayahanda yang harus hamba lakukan.“ Tohjaya berhenti sejenak.

Lalu, “atau, jatuhkanlah perintah atas namba ayahanda. Hamba

akan melakukannya. Dengan, beberapa orang prajurit, hamba dapat

menyelesaikan tugas ini.”

“Maksudmu membunuh Anusapati?”

Dada Tohjaya berdesir. Tetapi ia mengangguk sambil menyahut,

“Hamba ayahanda.”

“Ah, kau. Apakah kau masih saja berusaha menyembunyikan

kenyataan. Beberapa kali usaha itu dilakukan, tetapi selalu gagal.

Kiai Kisi bahkan telah terbunuh. Tidak mustahil bahwa sebenarnya

Anusapati telah menciun rencana itu.”

“Aku memang pernah mendengar tentang Kiai Kisi meski-pun

tidak begitu jelas. Tetapi itu tentu karena kebodohannya.”

“Kemudian sepasukan prajurit yang berusaha membinasakan

Kesatria Putih. Namun justru senjata prajurit-prajurit yang

menyamar itu tertumpuk dipintu gerbang pada pagi harinya. Apakah

kau masih mempunyai rencana lain?”

“Ayahanda, hamba tidak ingin berpura-pura. Jika hamba harus

membunuhnya, maka hamba akan datang dengan dada tengadah

dan membunuhnya. Melawan atau tidak melawan.”

“Kau akan menjadikan persoalan ini terbuka?”

Tohjaya ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk.

“Ya. Apaboleh buat.“

“Kau memang bodoh sekali Tohjaya.”

Tohjaya terkejut mendengar kata-kata yang keras itu. Hampir

tidak pernah Sri Rajasa mengatakan demikian tentang dirinya.

Karena itu untuk beberapa saat lamanya ia tidak dapat berkata apapun

juga.

“Tohjaya,“ berkata Sri Rajasa, “saat ini Mahisa Agni berada di

Singasari. Ia dapat berbuat banyak apabila kita terlibat dalam

benturan terbuka.”

“Tentu tidak ayahanda. Jika ayahanda menjatuhkan perintah

kepada para Panglima untuk menangkapnya. Betapa-pun kuatnya

pamanda Mahisa Agni, namun para Panglima adalah bukan orang

kebanyakan pula.”

“Tohjaya,“ tiba-tiba suara Sri Rajasa merendah, “tinggalkan aku

seorang diri. Aku lelah sekali. Aku sedang segan sekali memikirkan

apa-pun juga, termasuk Anusapati dan Mahisa Agni. Bahkan tentang

Singasari sekalipun.”

Tohjaya menjadi semakin termangu-mangu. Ia tidak dapat

mengerti sikap ayahandanya yang belum pernah dijumpainya itu.

Namun kesimpulan dihatinya adalah, bahwa ayahandanya

memang benar-benar sedang terlalu lelah dan benar-benar ingin

beristirahat.

Karena itu, maka ia-pun kemudian berkata, “Sudahlah ayahanda.

Agaknya ayahanda memang benar-benar harus beristirahat.

Perkenankan hamba mohon diri.”

Sri Rajasa mengangguk. “Ya. Aku memang akan beristirahat

sama sekali tanpa persoalan apapun.”

“Baiklah ayahanda. Dan hamba akan mengatakannya kepada

ibunda Ken Umang, bahwa untuk saat ini ibunda Ken Umang tidak

sebaiknya pergi kebangsal ibunda Permaisuri.”

“Ya,“ jawab Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu agar Tohjaya

tidak mempersoalkannya lagi.

Tohjaya-pun segera minta diri. Di halaman bangsal Sri Rajasa ia

berhenti sejenak. Dilihatnya seorang prajurit berdiri termangumangu

dikejauhan.

“He,“ katanya kepada pengawalnya, “apakah prajurit itu ingin

menghadap aku?”

“Hamba akan bertanya kepadanya tuanku,“ jawab prajurit itu.

Sejenak kemudian seorang pengawal Tohjaya mendekati prajurit

yang termangu-mangu itu. Ketika ia bertanya kepadanya, maka

prajurit itu menjawab, “Aku akan menyampaikan sesuatu kepada

tuanku Tohjaya.”

“Marilah. Tuanku Tohjaya melihat kau termangu-mangu. Karena

itu aku diperintahkannya bertanya kepadamu.”

Prajurit yang termangu-mangu itu-pun kemudian dibawa

menghadap. Dengan dahi yang berkerut merut Tohjaya bertanya,

“Apa yang akan kau katakan?”

“Ampun tuanku,“ berkata prajurit itu dengan ragu-ragu.

“Jangan ragu-ragu. Katakan yang ingin kau katakan. Bahkan

seandainya kau mempunyai permintaan sekalipun.”

“Hamba tuanku. Memang ada yang ingin hamba katakan.“ ia

berhenti sejenak. Lalu, “apakah hamba diperkenankan

mengucapkannya.”

“Katakan. Mungkin tentang kuda atau tentang senjata atau kau

prajurit yang sering ikut bersamaku berburu?”

“Ya tuanku. Hamba kadang-kadang mengawal tuanku didalam

dan diluar istana.”

“Aku tahu.”

“Hamba, tuanku, sebenarnyalah hamba ingin mengatakan

sesuatu tentang Putera Mahkota.”

“He?“ Tohjaya terbelalak.

“Tentang kakanda tuanku itu. Kesibukannya luar biasa setelah

pamanda Mahisa Agni ada di halaman istana.”

Tohjaya tidak menyahut. Dibiarkannya orang itu berbicara terus.

Katanya, “Apakah tuanku tidak menaruh perhatian terhadap

kesibukan kakanda tuanku itu?”

Tohjaya menganguk dan berkata, “Tentu, tentu.“

“Nah, hamba menyaksikan sendiri, tuanku Pangeran Pati itu

selalu mondar mandir dari bangsal tuan puteri Ken Dedes kebangsal

pamanda tuanku Mahisa Agni.”

“Aku sudah tahu. Tetapi apa yang akan kau katakan

selanjutnya?”

“O,“ orang itu menjadi kecewa, “jadi tuanku sudah

mengetahuinya.”

“Aku sudah tahu. Sekarang katakan yang ingin kau katakan

tentang kakanda Anusapati,“ geram Tohjaya.

“Itulah yang akan hamba katakan tuanku.“

“Hanya itu?”

“Hamba tuanku.”

Wajah Tohjaya menegang sesaat. Namun kemudian sambil

mendorong orang itu dengan kakinya sehingga orang itu terjatuh

berguling ditanah.

“Pergi kau penjilat bodoh,“ bentak Tohjaya yang hatinya

memang sedang gelap, “aku tidak perlu keteranganmu itu.”

Orang itu dengan takutnya bangkit dan duduk ditanah. Tetapi ia

sama sekali tidak berani memandang lagi wajah Tohjaya yang

sedang marah.”

Tohjaya-pun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Dengan

tergesa-gesa ia-pun pergi meninggalkan prajurit yang duduk dengan

kepala tunduk itu diiringi oleh para pengawalnya.

Ketika Tohjaya sudah tidak tampak lagi, maka orang tu-pun

segera berdiri sambil mengumpat perlahan-lahan. Tetapi ia tidak

berani menunjukkan kemarahannya itu kepada orang lain. Sekali ia

berpaling memandang para prajurit yang bertugas di bangsal Sri

Rajasa. Ketika ia melihat prajurit-prajurit itu tersenyum, sekali lagi ia

mengumpat.

Dengan tergesa-gesa ia-pun kemudian meninggalkan halaman

bangsal itu. Mulutnya tidak hentinya mengumpat, meski-pun tidak

ada seorang-pun yang mendengarnya.

Prajurit itu tertegun ketika ia mendengar suara seseorang yang

tertawa dibalik gerumbul. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang juru

taman yang berjongkok sambil menyiangi sebatang pohon. Namun

prajurit itu tahu pasti bahwa orang itulah yang sedang tertawa.

“Kenapa kau tertawa he?“ prajurit itu membentak.

Juru taman itu berpaling sambil menjawab, “Aku tidak bermaksud

tertawa. Tetapi aku tidak dapat menahannya.”

“Gila. Aku bunuh kau,“ orang itu membelalakkan matanya, “kau

juru taman yang gila itu. Seharusnya kau benar-benar sudah mati.”

Wajah juru taman itu menjadi pucat.

“Jangan menyesal. Aku memang akan membunuhmu.“

“jangan.”

“Apa peduliku. Aku akan mencekikmu.“

“Aku akan berteriak.”

“Persetan.”

“Prajurit-prajurit itu akan datang kemari. Dan aku akan

berceritera bahwa pada malam hari itu, kau pulalah yang akan

membunuhku. Sekarang kau berusaha memfitnah Pangeran Pati

dengan mengatakan ceritera-ceritera bohong kepada tuanku

Tohjaya. Kau dapat dituduh mengadu domba.”

“Gila, gila kau.”

“Nah, aku akan berteriak sekarang. Matamu menjadi liar. Kau

benar-benar akan membunuhku.“

Mata prajurit itu memang menjadi liar. Dipandanginya prajuritprajurit

yang bertugas didepan bangsal. Belum begitu jauh.

Jika juru taman itu berteriak, diantara mereka pasti akan datang

dan mengusut persoalannya.

“Aku akan berteriak,“ juru taman itu mengulang.

“Jangan, jangan.”

“Apa peduliku. Aku akan berteriak.”

“Jangan, jangan. Aku tidak benar-benar akan membunuhmu.

Bukankah aku sudah mengatakan. Aku akan berkunjung ke

rumahmu membawa oleh-oleh buat anak binimu.”

“Aku tidak mempunyai anak bini. Aku hidup sendiri.”

“O, jika demikian aku akan membawa oleh-oleh buatmu.”

“Bawalah uang sebanyak-banyaknya. Aku lebih senang kau

membawa uang.”

Prajurit itu membelalakkan matanya. Tetapi ia-pun segera

memaksa dirinya untuk tersenyum.

“Baik, baik. Aku akan membawa uang buatmu. Aku benar-benar

akan datang malam nanti. O, malam nanti adalah malam yang baik

untuk berkunjung ke rumahmu.”

“Terima kasih. Aku akan menunggumu.“

Prajurit itu tidak menyahut lagi. Sambil mengkibas-kibaskan

pakaiannya yang kotor oleh debu maka ia-pun kemudian

meninggalkan juru taman itu sendiri.

Sepeninggal prajurit itu, Sumekar-pun menarik nafas dalamdalam.

Katanya didalam hati, “Tentu bukan ia sendiri penjilat

didalam istana ini. Tentu masih banyak orang-orang yang berusaha

mengambil keuntungan dari setiap perkembangan persoalan. Jika

penjilat-penjilat semacam itu masih juga mendapat kesempatan,

maka istana ini pasti akan segera terbakar.“

Sejenak Sumekar berdiri termangu-mangu. Kemudian ia-pun

meninggalkan pohon yang sedang disianginya. Ia tiba-tiba saja ingin

berbicara dengan Anusapati atau Mahisa Agni.

“Mungkin ada perkembangan yang belum aku mengerti,“

berkata Sumekar didalam hati.

Sumekar-pun kemudian meninggalkan tempat itu. Sambil

membawa alat-alat seorang juru taman, maka ia-pun pergi ketaman

di halaman bangsal Mahisa Agni. Ternyata seorang juru taman yang

lain sedang membersihkau daun-daun kuning yang berguguran

karena angin yang agak kencang.

“He, dimana kau?“ bertanya juru taman itu kepada Sumekar.

“Aku sedang menyiangi pohon ceplok piring itu.”

“Halaman ini menjadi sangat kotor. Bukankah ini tugasmu?”

“Ya,“ jawab Sumekar, “baiklah, aku selesaikan.“

Juru taman itu-pun kemudian menyerahkan sapu lidinya kepada

Sumekar sambil berkata, “Pekerjaanku sendiri sudah selesai. Jika

masih sibuk biarlah aku selesaikan pekerjaan ini.”

“Kenapa kau serahkan sapu ini kepadaku?”

Juru taman itu tersenyum. Katanya, “Jadi bagaimana? Apakah

aku harus melanjutkannya.”

“Tidak,“ jawab Sumekar, “aku akan membersihkannya. Jika

bukan aku, tentu tuanku Mahisa Agni akan marah karena tidak akan

dapat sebersih bekas tanganku.”

“Macam kau. Coba biarlah aku yang menyelesaikan. Nanti, kita

tunggu, apakah tuanku Mahisa Agni akan marah atau tidak. Kita

bertaruh. Rangsum makan kita tiga hari.”

Sumekar merenung sejenak, lalu menggelengkan kepalanya,

“Tidak mau. Aku tidak tahan untuk tidak makan tiga hari.”

“Nah, jika demikian jangan sombong.”

“Baik. Aku tidak akan sombong.”

Juru taman itu memandang Sumekar dengan kerut-merut

dikeningnya. Lalu ia-pun meninggalkannya sambil menggerutu, “Kau

sudah mulai kambuh lagi.”

Sumekar tertawa. Dipandanginya saja kawannya itu sampai

hilang dibalik gerumbul-gerumbul pohon bunga di sudut halaman, ia

memang menghendaki agar orang itu pergi meninggalkan bangsal

itu.

Sambil membersihkan halaman Sumekar mendekati dua orang

prajurit yang bertugas di regol. Sejenak ia termangu-mangu. Namun

kemudian ia-pun bertanya, “Ki Sanak, apakah tuanku Mahisa Agni

ada didalam bangsal?”

“Kenapa?“ bertanya prajurit itu.

“Tidak apa-apa. Aku hanya akan membersihkan pohon-pohon

bunga sampai ke longkangan samping. Jika tuanku Mahisa Agni

sedang beristirahat, aku takut, kalau aku mengejutkannya. Tuanku

Mahisa Agni menurut pendengaranku adalah seorang Senapati yang

keras hati. Jika sekali aku dipukulnya, maka kepalaku akan dapat

lepas karenanya.”

“Tidak,“ jawab prajurit itu, “tuanku Mahisa Agni sedang keluar.”

“Kemana?”

“Aku tidak tahu. Tuanku Mahisa Agni tidak pernah membawa

seorang pengawalpun. Bukan saja di halaman istana, tetapi juga

jika ia pergi keluar. Mirip sekali dengan tuanku Pangeran Pati.”

Sumekar menganggukakan kepalanya. Lalu katanya, “Jika

demikian, mumpung tuanku Senapati itu tidak ada, aku akan

menyiangi tanaman dilongkangan. Selama tuanku Mahisa Agni ada

di Singasari, aku hampir tidak pernah mendapat kesempatan

melakukannya, sehingga pohon bunga-bunga di longkangan itu

menjadi kurus dan layu.”

“ Lakukanlah.“

Sumekar-pun kemudian pergi kelongkangan samping. Dilihatnya

pintu butulan bangsal itu tertutup. Dan ia-pun sama sekali tidak

mendekati pintu yang tertutup itu.

Demikianlah untuk beberapa saat lamanya Sumekar berada

dilongkangan. Ia memang menunggu sampai Mahisa Agni datang.

Ia ingin mendengar sesuatu tentang perkembangan terakhir dari

hubungan yang kalut antara Sri Rajasa, Permaisurinya dan Putera

Mahkota.

Ternyata dalam pada itu, Mahisa Agni masih duduk merenung di

bangsal Permaisuri. Tetapi tidak lama kemudian berkata, “Sudahlah

tuan Puteri, hamba akan kembali ke bangsal hamba. Untuk waktu

yang sejauh dapat hamba usahakan, hamba akan tetap berada di

Singasari. Kecuali jika hamba tidak mempunyai kesempatan lagi

karena perintah Sri Rajasa. Tetapi sebelum perintah itu mendesak,

hamba masih akan tetap disini.“

“Terima kasih kakang. Awasilah Anusapati. Hatiku selalu cemas

bagaikan melepaskan anak yang baru pandai merangkak di pinggir

jurang.”

“Baiklah tuan Puteri, hamba akan selalu mencoba

mengawasinya. Hamba akan mencoba mengendalikannya agar

Putera Mahkota itu tidak bertindak tergesa-gesa.“

“Terima kasih.“ suaranya-pun kemudian merendah, “tidak ada

orang lain yang kini dapat aku percaya selain kau kakang.”

Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Kata-kata itu diucapkan oleh

Ken Dedes. Tetapi kini setelah rambutnya hampir berwarna

rangkap.

“Tuan Puteri,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku menjunjung

tinggi kepercayaan itu. Baik sebagai seorang saudara laki-laki, maupun

sebagai seorang Senapati Agung di Smgasari.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya,

“Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk pula. Namun terasa betapa

kecemasan yang sangat selalu membayangi Permaisuri itu.

Sejenak kemudian maka Mahisa Agni-pun mohon diri sambil

berpesan perlahan-lahan sekali, “Tuan Puteri. Tuan Puteri harus

tetap menyadari, bahwa sesungguhnya tuan Puteri tidak sedang

sakit. Jika tuan Puteri tidak menyadarinya, maka akan dapat terjadi,

tuan Puteri benar-benar menjadi sakit, atau rasa-rasanya seakanakan

tuan Puteri benar-benar sakit.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sambil mencoba tersenyum

ia menjawab, “Ya kakang. Kadang-kadang aku lupa bahwa

sebenarnya aku hanya berpura-pura saja sakit, sehingga rasarasanya

aku benar-benar menjadi sakit.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia

melihat bahwa sebenarnyalah Ken Dedes sedang menderita sakit.

Bukan badannya, tetapi hatinya yang kemudian mempengaruhi

jasmaniahnya.

Sejenak kemudian Mahisa Agni-pun meninggalkan bangsal Ken

Dedes. Namun agaknya masih terlampau siang untuk singgah di

bangsal Anusapati. Karena itu, maka ia-pun berjalan-jalan saja di

halaman tanpa tujuan sekedar untuk mengisi waktu.

Tanpa disadarinya ia-pun menyusuri dinding yang membatasi

halaman istana Singasari yang lama dengan istana yang dibangun

oleh Ken Arok untuk isterinya yang muda Ken Umang. Dan tanpa

sesadarnya pula Mahisa Agni melangkah didepan regol yang

terbuka.

Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar seseorangmenyapanya,

“Kakang Mahisa Agni.”

Mahisa Agni berpaling. Hatinya bagaikan berguncang ketika

dilihatnya Ken Umang berdiri diseberang regol yang terbuka itu

sambil tersenyum.

“O, ampun tuan Puteri,“ sahut Mahisa Agni dengan suara

gemetar. “Hamba tidak tahu bahwa tuan Puteri berdiri disitu.”

“Ah, kenapa kau masih saja mempergunakan basa-basi itu? Kita

sama-sama berasal dari keturunan orang kecil. Panggil saja aku Ken

Umang.”

“Tentu tidak tuan Puteri,“ jawab Mahisa Agni, “keturunan kita

tidak mempengaruhi kedudukan kita sekarang. Tuan Puteri adalah

isteri Maharaja di Singasari.”

“Dan kau adalah Senapati Agung dan sekaligus wakil Mahkota di

Kediri. Selisih kedudukanmu dengan Sri Rajasa sendiri hanya

selapis.”

“Ampun tuan Puteri Hamba sangat berterima kasih atas

kemurahan Sri Rajasa itu. Dan karena itulah>hamba merasa betapa

kecilnya diri hamba.”

Ken Umang tertawa. Katanya, “Sikapmu belum berubah kakang.

Kau masih saja takut kepadaku. Bukan karena kedudukanku. Aku

tahu, bahwa kau menganggapi aku seorang wanita yang sangat

rendah. Meski-pun aku berkedudukan tinggi, yang kini menjadi

perempuan kedua sesudah Permaisuri, tetapi sikapmu dan tatapan

matamu tetap tidak ingkar, bahwa setelah aku tinggal di istana ini,

aku masih juga mencoba menyeretmu kedalam perbuatan yang

tercela itu. Tetapi itu dahulu kakang.”

“Ampun tuan Puteri. Hamba sekali-kali tidak pernah

menganggap tuanku sebagai seorang perempuan yang rendah.

Sama sekali tidak.”

Ken Umang tertawa. Sekali ia berpaling memandang beberapa

orang emban yang duduk agak jauh daripadanya.

Mahisa Agni yang masih berdiri diseberang regol menjadi

semakin berdebar-debar. Meski-pun umur mereka sudah menjadi

semakin tua, tetapi kesan yang ada didalam hatinya tentang Ken

Umang-pun masih belum dapat dilupakannya. Agaknya Ken Umang

menyadarinya sehingga seakan-akan ia dapat membaca isi hati

Mahisa Agni.

“Kakang,“ berkata Ken Umang. “sekarang kita sudah merayapi

tahun demi tahun. Meski-pun tampaknya kau masih lebih muda dari

umurmu yang sebenarnya, dan barangkali aku masih juga pantas

untuk mengganggumu, tetapi aku kira sekarang aku mempunyai

kepentingan yang lain.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Katanya, “Sebenarnyalah

kata tuan Puteri. Hamba memang sudah tua.”

“Itu tidak penting,“ sahut Ken Umang. Lalu, “Kakang Mahisa

Agni. Kakang tentu sudah melihat perkembangan istana Singasari

sekarang ini.”

“Ya tuan Puteri, perkembangan Singasari benar-benar

menggembirakan.”

“Bukan itu yang aku maksud. Tetapi penghuni-penghuni istana

ini. Tegasnya keluarga kita, keluarga Sri Rajasa.”

“O,“ Mahisa Agni memandang wajah Ken Umang sejenak. Tetapi

kepalanya-pun segera tertunduk kembali.

“Kakang Mahisa Agni,“ berkata Ken Umang, “bukankah kau

adalah paman dari Anusapati?”

“Hamba tuan Puteri,“ jawab Mahisa Agni dengam jantung yang

berdebaran.

“Sebagai seorang ibu aku senang melihat anak-anak hidup

dalam kegembiraan. Apalagi Anusapati sudah mempunyai seorang

anak laki-laki yang menjadi semakin besar.“ Ken Umang berhenti

sejenak. Lalu, “Tetapi alangkah sedih hati seorang ibu bila melihat

anak-anaknya bertengkar. Bagiku, Tohjaya dan Anusapati adalah

anak-anakku. Aku tidak membeda-bedakannya. Tetapi Anusapati

bersikap aneh terhadapku dan terhadap adiknya Tohjaya. Seakanakan

kami berdua adalah musuhnya. Nah, tolong, sampaikan

kepada Anusapati, bahwa kami menganggapnya sebagai keluarga

yang tidak terpisah. Anusapati adalah anakku dan Tohjaya-pun

putera kakanda Permaisuri, dan sebaliknya. Apakah kau mengerti

maksudku?”

“Hamba tuan Puteri.”

“Nah, jika demikian, nasehatkan kepada Anusapati, agar ia

dapat bersikap lebih baik. Agar ia dapat sedikit mendekatkan diri

kepada adiknya.”

Mahisa Agni menarik nafas, tetapi ia menyahut, “Hamba tuan

Puteri. Hamba akan memperingatkannya. Anusapati memang harus

bersikap baik terhadap tuanku Tohjaya.”

Jawaban itu sama sekali tidak diharapkan oleh Ken Umang. Ia

ingin mendengar Mahisa Agni membantahnya agar timbul persoalan

untuk memancing pendapat Mahisa Agni yang sebenarnya terhadap

keadaan yang sedang berkembang itu.

Dan justru karena itu maka untuk sesaat Ken Umang terdiam.

Dipandanginya Mahisa Agni dengan sorot mata yang aneh.

Sebenarnyalah Ken Umang menjadi heran, kenapa Mahisa Agni

begitu saja mengiakan kata-katanya tentang Anusapati.

Karena Ken Umang tidak segera menyahut, maka Mahisa Agni

melanjutkannya, “Tuan Puteri. Perkenankanlah hamba mohon maaf

atas segala kelakuan dan tingkah laku Anusapati sampai saat ini

apabila tidak berkenan dihati tuan Puteri Ken Umang.”

Ken Umang masih tetap berdiam diri. Sekali-sekali wajahnya

menjadi tegang. Namun sejenak kemudian tampaklah ia menjadi

kebingungan.

Baru sejenak kemudian Ken Umang berkata patah-patah, “jadi,

jadi kau membenarkan kata-kataku bahwa Anusapati memang anak

muda yang tidak tahu diri?”

“Karena hamba tidak berada di Singasari tuanku, maka hamba

tidak dapat menyebutkannya. Tetapi karena menurut tuanku,

Anusapati telah berbuat kurang baik, maka biarlah hamba

memperingatkannya.“

Justru Ken Umanglah yang menjadi jengkel karenanya. Ia tidak

berhasil memancing pertengkaran. Jika Mahisa Agni menjadi marah,

dan mereka berbantah, maka ada alasan untuk segera minta

kepada Sri Rajasa, agar Mahisa Agni segera diperintahkan kembali

ke Kediri, karena Mahisa Agni sudah menghinakan isteri Sri Rajasa.

Tetapi usaha itu ternyata belum berhasil. Namun demikian Ken

Umang masih juga berusaha. Katanya, “Kakang Mahisa Agni.

Siapakah yang bertanggung jawab atas segala perbuatan Anusapati

itu?”

“Ampun tuan Puteri. Tentu tanggung jawab Anusapati sendiri.

Apalagi Anusapati kini sudah bukan anak-anak lagi. Ia sudah

seorang dewasa, bahkan ia sudah seorang ayah. Itulah sebabnya

maka ia harus sudah bertanggung jawab atas segala perbuatannya.

Sadar atau tidak sadar.”

“Tetapi ia tidak tiba-tiba saja menjadi dewasa. Tentu ada yang

mendidiknya sejak kanak-anak. Orang itulah yang bertanggung

jawab atas segala macam tingkah laku Anusapati.“

“Maksud tuanku, apakah yang bertanggung jawab tuanku

Permaisuri?”

Ken Umang menjadi ragu-ragu sejenak. Namun untuk

memancing pertengkaran ia menjawab, “Ya. kanda Permaisuri dan

kau.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang

sekilas kesudut halaman itu, dilihatnya beberapa orang prajurit

bertugas. Demikian juga didepan regol bangsal Ken Umang.

Karena itu Mahisa Agni harus berhati-hati. Bukan karena ia takut

menghadapi tindakan kekerasan, tetapi ia sadar sepenuhnya bahwa

Ken Umang memang sedang memancing perselisihan. Jika ia

bersikap keras dan berbantah, tentu prajurit-prajurit itu akan

menjadi saksi. Demikian juga beberapa orang emban yang duduk

tidak begitu jauh dari Ken Umang.

Jika demikian, maka akan timbul berbagai macam akibat yang

barangkali terlalu jauh baginya.

Karena kesadaran itulah maka Mahisa Agni tetap pada sikapnya.

Ia sekali-sekali membungkukkan kepala dengan tangan bersilang.

Sama sekali tidak ada sikap menentang dan melawan setiap katakata

Ken Umang.

“Apa katamu Mahisa Agni,“ Ken Umanglah yang mulai

membentaknya.

Sekali lagi Mahisa Agni membungkukkan kepalanya. Jawabnya,

“Ampun tuan Puteri. Jika menurut pendapat tuan Puteri hamba ikut

bertanggung jawab, maka baiklah hamba akan mencoba

membetulkan kesalahan hamba. Sudah hamba katakan, bahwa

hamba akan mencegah Anusapati, agar ia kemudian bersikap baik

dan tidak memusuhi tuanku Tohjaya. Tetapi tentang sikap dan

tanggung jawab tuanku Permaisuri, itu ada diluar kekuasaan

hamba. Hamba tidak berhak menegurnya meski-pun ia adalah adik

hamba.”

“Kenapa kau tidak berhak? Kau adalah saudara tuanya. Meskipun

ia seorang Permaisuri, ia tetap adikmu.”

“Hamba tidak berani melakukannya. Hamba takut kepada

tuanku Sri Rajasa. Tuanku Permaisuri kini bukan menjadi

tanggungan hamba lagi sejak ia bersuami. Segala tingkah laku dan

perbuatannya telah menjadi tanggung jawab suaminya.”

“O. jadi kau menyalahkan tuanku Sri Rajasa?”

“Bukan maksud hamba. Tetapi sebaiknya tuanku Sri Rajasalah

yang memberinya peringatan. Hamba justru takut kepada Sri

Rajasa.”

“Pengecut? Kenapa kau takut? Tentu Sri Rajasa tidak sempat

berbuat seperti itu. Tuanku Sri Rajasa adalah Maharaja yang

berkuasa di Singasari. Ia tidak sempat mengurusi isterinya saja.

Apalagi kakanda Permaisuri yang hampir tidak pernah menarik

perhatian Sri Rajasa.“

Terasa dada Mahisa Agni berguncang. Tetapi ia masih harus

menahan hati. Sambil membungkukkan kepalanya ia berkata.

“Sebenarnyalah hamba akan menjalankan semua perintah karena

hamba hanyalah seorang abdi di istana ini. Meski-pun hal itu

bertentangan dengan kemauan hamba sendiri misalnya, tetapi

apabila hal itu harus hamba kerjakan, hamba akan mengerjakannya.

Jika memang tuanku Sri Rajasa memerintahkan kepada hamba

untuk memberikan peringatan kepada tuanku Permaisuri.”

“Kau memang bodoh sekali,“ Ken Umang menjadi marah, “Jika

tuanku Sri Rajasa sempat memerintahkan kepadamu, ia tidak

memerlukan kau lagi. Mengerti?”

Mahisa Agni menahan nafasnya sejenak. Lalu, “Hamba mengerti

tuanku.”

“Jadi kaulah yang bertanggung jawab seluruhnya atas kelakuan

Anusapati itu. Mengaku atau tidak mengaku.”

Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia masih

tetap sadar. Jika ia bersikap seperti Ken Umang pula, maka orangorang

yang melihatnya akan dapat menjadi saksi, bahwa ia telah

berani menentang isteri Sri Rajasa.

Karena itu, sambil membungkuk dalam-dalam ia berkata betapapun

ia menahan hati, “Hamba tuan Puteri. Hamba memang bersalah

karena hamba tidak dapat mengajar anak itu bersikap baik. Tetapi

hamba berjanji untuk memperbaiki kesalahan itu.”

“O, gila, gila. Kau memang bukan laki-laki jantan. Kau hanya

berani merunduk seperti budak yang paling hina. Apakah kau sadar,

bahwa sikapmu sama sekali bukan sikap seorang Senapati besar?”

“Mungkin tuan Puteri benar,“ jawab Mahisa Agni, “hamba

memang tidak dapat bersikap lain kali ini, karena hamba

berhadapan dengan junjungan hamba. Memang sangat berbeda

dengan sikap seorang Senapati dipeperangan.”

Kemarahan Ken Umang sudah sampai ke puncaknya sehingga ia

berteriak, “Apakah kau dapat bersikap yang lebih baik dari sikap

seorang penjilat.”

Sebenarnya kesabaran Mahisa Agni-pun sudah sampai diujung

ubun-ubun. Tetapi ia masih memaksa diri untuk tetap bersabar.

Sementara itu beberapa orang prajurit yang melihat dari

kejauhan-pun menjadi heran. Semula mereka memang menjadi

berdebar-debar. Jika Mahisa Agni berbantah dengan Ken Umang,

meski-pun Mahisa Agni adalah seorang Senapati, tetapi ia dapat

dianggap bersalah dan ia dapat dengan serta-merta diperintahkan

untuk meninggalkan istana Singasari ke Kediri. Tetapi ternyata sikap

Mahisa Agni itu diluar dugaan mereka. Mahisa Agni sama sekali

tidak menunjukkan sikap menentang. Bahkan sikap hormatnya agak

berlebih-lebihan.

“Apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh tuan Puteri,“ berkata

para prajurit itu didalam hati. Namun sebenarnyalah mereka dengan

mudah dapat menduga, bahwa Ken Umang sengaja memancing

persoalan agar Mahisa Agni segera diperintahkan meninggalkan

Singasari. Tetapi para prajurit itu tidak mengetahui persoalan yang

sebenarnya telah terjadi. Mereka hanya menganggap bahwa

kehadiran Mahisa Agni itu menguntungkan Anusapati, karena setiap

orang-pun mengetahui bahwa Anusapati dan Tohjaya agaknya

sukar dirukunkan, dan setiap orang tahu bahwa Sri Rajasa agak

berpihak kepada Tohjaya. Bukan kepada Anusapati. Bagi mereka

yang mengetahui keadaan Anusapati yang sebenarnya-pun

mengerti, bahwa Sri Rajasa ternyata tidak dapat menerima

kehadiran anak Tunggul Ametung itu dengan sepenuh hati.

Sedang prajurit yang lain, yang mengetahui persoalan yang

sedang dihadapinya itu-pun berkata, “Mahisa Agni memang seorang

yang bijaksana. Sebagai seorang Senapati Agung di Singasari ia

membiarkan dirinya dicaci maki oleh isteri muda Sri Rajasa.

Tampaknya itu suatu kekalahan baginya, tetapi sebenarnyalah

bahwa Mahisa Agnilah yang menang, jika ia tetap dapat bertahan.

Prajurit itu terkejut ketika ia melihat tiba-tiba saja Ken Umang

menghentak-hentakkan tangannya sambil berteriak, “Pengecut yang

paling buruk diseluruh Singasari. Aku akan mengatakannya kepada

Sri Rajasa, bahwa kau tidak pantas menjadi seorang Senapati Agung

di Singasari. Kau hanya pantas menjadi seorang penjilat yang

rendah dan hina. Ternyata kau tidak dapat mempertahankan

sikapmu dan mempertanggung jawabkan segala macam

perbuatanmu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia masih harus

berlahan sedikit lagi. Ternyata bahwa Ken Umang sendiri sudah

kehilangan kesabarannya meski-pun ia telah dengan sengaja

memancing persoalan.

“Pergi, pergi dari hadapanku penjilat yang rendah,“ berkata Ken

Umang, “aku tidak mau berhubungan lagi dengan orang semacam

kau. Kau hanya pantas berhubungan dengan budak-budakku,

dengan hamba-hambaku yang paling rendah.”

Dada Mahisa Agni bagaikan retak karenanya. Tetapi ia masih

tetap bertahan dengan segenap kemampuan perasaannya. Rasanya

lebih mudah untuk bertahan melawan sepuluh orang prajurit dalam

benturan jasmaniah daripada harus bertahan membiarkan dirinya

dihinakan.

“Pergi, pergi,“ teriak Ken Umang kemudian.

“Hamba tuanku, hamba akan pergi jika memang tuanku

kehendaki.”

“Aku tidak mau melihat wajahmu lagi.”

Mahisa Agni membungkuk dalam-dalam. Namun ia-pun kemudian

terkejut ketika ia mendengar seseorang berkata, ”Paman, kita tetap

disini. Aku adalah Putera Mahkota. Paman harus mendengarkan

segala perintahku.”

Semua orang yang mendengar suara itu-pun berpaling. Mereka

melihat Anusapati berdiri bertolak pinggang dengan wajah yang

merah padam.

Ternyata bukan Mahisa Agnilah yang kehabisan kesabaran, tetapi

justru Anusapati yang justru sedang mencarinya.

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Perlahan-lahan ia

mendekatinya dan berbisik, “Tahankan perasaanmu Anusapati.

Ingat, kau mempunyai kepentingan yang lebih besar daripada harga

dirimu. Aku sudah membiarkan diriku dihinakan dihadapan banyak

orang karena kepentingan yang lebih besar itu.”

Anusapati menggeretakkan giginya. Bahkan ia masih juga

berkata, “Hanya perintah ayahanda Sri Rajasa sajalah yang berada

diatas perintahku, karena aku adalah Pangeran Pati. Bahkan ibunda

Permaisuri-pun tidak dapat mengubah keputusanku.”

Semua orang yang menyaksikan hal itu menjadi berdebar-debar.

Para prajurit yang sedang bertugas menjadi termangu-mangu.

Prajurit yang bertugas di halaman bagian istana yang lama dan

bagian istana yang baru. Kedua pihak tidak tahu apa yang harus

mereka lakukan. Yang mereka cemaskan adalah apabila Tohjaya

mengetahui persoalan itu. Ia pasti tidak akan tinggal diam.

Sementara itu, wajah Ken Umang menjadi bagaikan menyala

mendengar kata-kata Anusapati orang yang paling dibencinya itu.

Sehingga justru karena itu, maka mulutnya bagaikan terbungkam

karenanya.

Anusapati yang sudah sampai pada batas kesabarannya itu masih

juga berkata, “Paman Mahisa Agni. Aku perintahkan paman tetap

tinggal disini. Paman harus mengawasi setiap orang yang ada di

halaman ini. Seluruh halaman istana Singasari. Yang lama mau-pun

yang baru adalah wewenang ayahanda Sri Rajasa. Dan limpahan

kekuasaan Putera Mahkota adalah sama dengan kekuasaan

Maharaja.”

“Omong kosong,“ teriak Ken Umang. “kau sudah gila. Kau

sangka Sri Rajasa senang melihat tampangmu?“

Anusapati sama sekali tidak menjawab kata-kata Ken Umang.

Bahkan kemudian dibelakanginya perempuan itu sambil berkata

lantang, “Aku akan merobah halaman istana ini. Aku akan menutup

regol ini dengan dinding batu.”

Kemarahan Ken Umang bagaikan memecahkan dadanya. Hampir

diluar sadarnya ia berteriak, “Emban, panggil Tohjaya. Ada orang

gila masuk kedalam istana.”

Emban itu tidak menunggu lebih lama. Berlari-lari ia pergi ke

bangsal Ken Umang untuk memanggil Tohjaya yang ada

didalamnya.

“Anusapati,“ desis Mahisa Agni kemudian, “kau lihat, akibat dari

peristiwa ini akan berkepanjangan.”

“Aku sudah siap paman. Apa-pun yang akan terjadi, aku akan

menghadapinya. Meski-pun seandainya harus ada pertentangan

terbuka dengan Sri Rajasa. Aku akan menyatakan diriku di depan

setiap orang, bahwa akulah yang berhak atas tahta ini.”

“Anusapati,“ potong Mahisa Agni, “kendalikan perasaanmu.”

“Maaf paman. Aku akan mengendalikan persaanku. Tetapi tidak

sekarang.”

Mahisa Agni masih akan menjawab. Tetapi ia terkejut ketika ia

mendengar suara Ken Umang, “Nah, itulah orang gila itu Tohjaya.

Kau harus mengusirnya. Bukan saja mengusir dari regol itu, tetapi

kau harus mengusirnya dari istana dan bahkan dari Singasari.”

Tohjaya tidak menghiraukan apa-pun lagi. Ia tidak rela

menyaksikan ibunya yang dihinakan oleh siapa-pun juga, meski-pun

ia seorang Pangeran Pati. Apalagi ia sadar, bahwa Pangeran Pati ini

memang harus disingkirkan.

Karena itu maka ia-pun segera mendekati Anusapati sambil

berkata lantang, “Apakah kau memang sudah mulai gila kakanda

Anusapati?”

Anusapati memandang Tohjaya sejenak. Namun kemudian

terdengar ia tertawa, “Ha, aku memang menunggu kau adinda. Aku

ingin memberitahukan kepadamu, bahwa aku punya hak untuk

berbuat apa saja di istana ini, karena aku adalah Pangeran Pati. Jika

sampai saat ayahanda Sri Rajasa tidak lagi memegang

pemerintahan, entah karena atas kehendak sendiri, atau karena

umurnya yang pendek.”

“Tutup mulutmu,“ teriak Tohjaya.

“Anusapati,“ Mahisa Agni masih ingin mencegah, “kenapa kau

kehilangan akal he? Apakah kau memang benar-benar gila?”

Tetapi Anusapati benar-benar tidak menghiraukannya lagi.

Bahkan katanya, “Kau mau apa Tohjaya. Coba berbuatlah sesuatu

kalau kau berani.”

Tohjaya benar-benar terbakar mendengar tantangan itu. Karena

itu, makan tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan garangnya.

Tetapi Anusapati sudah memperhitungkannya. Karena itu, ia sama

sekali tidak terkejut. Bahkan serangan membabi buta itulah yang

ditunggu-tunggunya.

Dengan gerak yang lebih cepat dari gerak Tohjaya, maka

Anusapati-pun menghindar. Tetapi ia tidak sekedar menghindari

serangan Tohjaya. Bahkan sekaligus ia menyerangnya pula.

Serangan itu benar-benar tidak diduga oleh Tohjaya. Apalagi

kecepatan bergerak Anusapati jauh melampaui kemampuannya,

sehingga karena itu, maka Tohjaya-pun kemudian terlempar dan

jatuh terguling ditanah.

Ternyata Anusapati yang sudah kehabisan akal itu tidak dapat

mengendalikan dirinya lagi. Ia masih ingin meloncat membunuhnya.

Namun ia tidak dapat menghindarkan diri dan sebuah benturan

yang dahsyat sehingga Anusapati itulah yang kemudian terlempar

dan jatuh terguling.

Dengan serta-merta Anusapati meloncat bangkit. Namun ia

tertegun ketika ia melihat, pamannya Mahisa Agnilah yang berdiri

dihadapannya.

Sejenak Anusapati melihat Tohjaya tertatih-tatih bangun. Namun

kemudian dipandanginya wajah pamannya yang tegang.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni. Betapa tegang wajahnya,

namun kata-katanya tetap sareh dan tenang, “Apakah kau memang

sengaja ingin membuat tontonan di halaman Istana ini atau kau

ingin memamerkan kemampuanmu. Aku berterima kasih bahwa kau

mempertahankan martabatku. Tetapi aku kurang senang melihat

darahmu yang masih terlampau mudah menyala. Cobalah,

tenanglah sedikit. Lihatlah banyak orang yang menonton peristiwa

ini, seperti orang melihat ayam bersabung. Padahal kalian adalah

bangsawan tertinggi di Singasari saat ini. Apakah kau mengerti?”

Anusapati tidak segera menjawab. Dengan wajah yang tegang

dipandanginya pamannya yang berdiri tegak seperti batu karang.

Alangkah garangnya. Tentu dipeperangan Mahisa Agni akan tampak

lebih garang lagi. Dengan senjata di tangan dan wajah yang tegang.

Ternyata perbawa itu meresap kedalam dada Anusapati.

Perlahan-lahan kepalanya tertunduk lesu. Sebuah penyesalan telah

merayapi hatinya. Tetapi semuanya sudah terjadi. Dan rasa-rasanya

semakin lama semakin banyak mata yang memandanginya.

Perlahan-lahan terdengar suaranya bergumam didalam mulutnya,

“maafkan aku paman. Ternyata aku telah kehilangan pengamatan

diri. Penghinaan yang tiada batasnya itu membuat dadaku bagaikan

terbelah.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi berlega hati

ketika dilihatnya bahwa Anusapati sudah mulai berhasil menguasai

perasaannya.

Namun selagi Mahisa Agni mulai merasa tenang, setelah

ketegangan yang sangat mencengkam hatinya, tiba-tiba ia

dikejutkan oleh suara Tohjaya lantang, “Ayahanda, inilah orang gila

yang ingin mengacaukan istana itu.”

Dengan serta-merta Mahisa Agni berpaling. Dadanya berdesir

ketika dilihatnya Sri Rajasa berdiri tegak diiringi oleh beberapa

orang pengawal. Dengan sorot mata yang menyala dipandangnya

Mahisa Agni dan Anusapati berganti-ganti.

“Sudah tiba saatnya bagi ayahanda untuk bertindak.“

Tetapi Sri Rajasa masih tetap berdiri diam seperti patung.

Tohjaya menjadi heran sejenak. Demikian ibunya Ken Umang.

Perlahan-lahan isteri muda Sri Rajasa itu melangkah maju sambil

berkata, “Kakanda Sri Rajasa. Alangkah cemasnya hati hamba

melihat ananda Anusapati berbuat diluar sadarnya. Hamba tidak

tahu apa yang seharusnya hamba lakukan. Sedangkan kakang

Mahisa Agni sama sekali tidak berbuat apa-pun juga untuk

menenangkan keadaan. Bahkan ia sama sekali tidak bersikap seperti

orang tua.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia melangkah

maju mendekati Anusapati yang berdiri termangu-mangu disebelah

Mahisa Agni. Beberapa langkah daripadanya berdiri Tohjaya dengan

wajah yang tengadah.

“Kakanda,” berkata Ken Umang, “sebaiknya kakanda menimbang

dengan adil. Hamba lihat pakaian Tohjaya yang kotor dan kusut itu?

Ananda Anusapatilah yang telah melakukannya tanpa disangkasangka.”

Sri Rajasa menjadi semakin dekat, sehingga dada Mahisa Agnipun

menjadi semakin berdebar-debar.

“Jika semuanya harus terjadi saat ini, apaboleh buat,“ berkata

Mahisa Agni didalam hatinya, “meski-pun aku tidak dapat

memperhitungkan, bagaimana akhir dari setiap persoalkan yang

dapat timbul karenanya.”

Agaknya Anusapati-pun mencemaskannya pula. Jika

ayahandanya tidak dapat mengekang dirinya pula, maka yang

terjadi adalah bencana yang maha dahsyat. Bukan saja bagi

pimpinan tertinggi Singasari, tetapi bagi Singasari dan rakyatnya.

Gejolak hati Anusapati itu telah mendorongnya berbisik ditelinga

Mahisa Agni, “Paman, Trisula itu aku bawa sekarang.”

“Ah,“ Mahisa Agni berdesah. Tetapi ada semacam air yang

menitik di jantungnya yang sedang membara. Sadar atau tidak

sadar, Mahisa Agni harus mengakui, bahwa Sri Rajasa adalah bukan

manusia kebanyakan. Ia memiliki kelebihannya. Ia memiliki

kelebihan yang tidak dapat dimengerti oleh sesamanya.

Sejenak Sri Rajasa berdiri dengan tegang. Namun kemudian ia

berkata, “Aku mengerti apa yang telah terjadi. Seorang perwira

yang melihat peristiwa ini langsung menyampaikannya kepadaku.

Dengan tergesa-gesa aku datang kemari, karena yang terjadi adalah

sepercik noda yang paling kotor pada keluarga Maharaja di

Singasari. Dan aku melihait bagian terakhir dari tontonan yang

mengasyikkan ini.”

Semua orang yang mendengar kata-kata itu menjadi gemetar.

Suara Sri Rajasa sudah menjadi agak gemetar oleh perasaaan yang

tertahan didalam dadanya.

Ken Umang memandang Sri Rajasa tanpa mengedipkan matanya.

Seakan-akan ia menunggu, keputusan apakah yang akan diambilnya

didalam keadaan itu.

Sementara itu Tohjaya bergeser selangkah mendekati

ayahandanya. Dalam ketegangan itu ia berkata, “Ayahanda dapat

bertindak sekarang.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, aku

memang dapat bertindak. Dan aku memang akan bertindak sebaikbaiknya.”

“Tentu ayah,“ sahut Tohjaya.

Anusapati membeku ditempatnya, sedang wajah Mahisa Agni

tidak lagi disaput ketegangan yang dalam membayang di wajah itu.

Sekilas ia memandang berkeliling. Dilihatnya beberapa orang

Senapati berdiri tegang. Bahkan Panglima pasukan pengawalnyapun

telah ada di halaman itu pula.

“Benar seperti sabungan ayam,“ berkata Mahisa Agni didalam

hatinya, “Tetapi apaboleh buat. Aku tidak dapat menduga, apa saja

yang akan dilakukan oleh para prajurit ini.”

Sejenak Mahisa Agni memandang ke kejauhan menembus

kesuraman senja yang mulai turun. Seorang juru taman berdiri

disebelah gerumbul yang lebat. Sekali-sekali ia berlindung dibalik

gerumbul itu, dan sekali ia menampakkan dirinya jika kebetulan

Mahisa Agni memandangnya. Juru taman itu adalah Sumekar.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Juru taman itu akan

dapat ikut menentukan akhir dari peristiwa yang tidak diinginkannya

apabila hal itu terpaksa terjadi di halaman ini, dibatas antara istana

yang lama dan yang baru.

Sejenak orang-orang yang berdiri berpencaran itu termangumangu.

Mereka memandang Sri Rajasa dan Mahisa Agni bergantiganti.

Tanpa mereka sadari, nafas mereka-pun seakan-akan

berkejaran. Yang berdiri dengan tegang itu adalah dua orang

Raksasa yang tidak ada bandingnya di Singasari.

Sri Rajasa adalah seorang yang bagi Mahisa Agni adalah orang

yang aneh. Orang yang memiliki kelebihan tanpa dicarinya. Karena

itulah maka orang mengatakan bahwa Ken Arok yang bergelar Sri

Rajasa itu adalah kekasih dewa-dewa.

Tetapi bagi Sri Rajasa, Mahisa Agni adalah orang yang aneh.

Satu-satunya anak muda yang mampu mengimbanginya selagi ia

masih berkeliaran di Padang Karautan. Dan Ken Arok vang bergelar

Sri Rajasa itu mengetahui, bahwa Mahisa Agni pada waktu itu,

memiliki sebuah pusaka yang baginya sangat mengerikan. Jauh

lebih mengerikan dari pusaka yang selama ini dianggapnya pusaka

yang paling keramat, Keris mPu Gandring. Dan pusaka itu hanyalah

sebuah trisula yang tidak seberapa besarnya. Tetapi dapat

bercahaya seperti matahari yang menyilaukan.

Namun Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu memang tidak akan

berbuat apa-apa. Setelah beberapa kali ia menarik nafas dalamdalam,

maka ia-pun berkata, “Aku minta kalian kembali kebangsal

masing-masing.”

Tohjaya terkejut mendengar perintah itu. Bahkan yang lain-pun

tidak kalah terkejut pula. Mahisa Agni yang tegang dan Anusapati

yang berdebar-debar saling berpandangan sejenak.

“Aku tidak senang melihat pertengkaran itu,“ berkata Sri Rajasa

lebih lanjut, “sejak lama aku selalu memperingatkan, sikap

bermusuhan itu sangat memalukan. Apalagi kalian adalah Putera

seorang Maharaja yang sangat dihormati. Tindakan kalian itu tentu

merendahkan martabatku sebagai seorang Raja yang memerintah

seluruh Singasari sekarang ini.”

Ken Umang memandang ken Arok dengan sorot mata yang aneh.

Memang ia tidak mengerti akan perintah itu. Ia berharap agar Sri

Rajasa mengambil tindakan yang paling keras terhadap Anusapati.

Hukuman yang dapat merendahkan nilainya sebagai seorang Putera

Mahkota. Menghinakannya, dan akan lebih baik lagi jika kemudian

mengusirnya dari Istana.

Ken Umang menjadi lebih heran lagi ketika ia mendengar Sri

Rajasa itu berkata, “Aku mengucapkan terima kasih kepadamu

Mahisa Agni.”

Tohjaya menjadi tegang sejenak. Dan ia mendengar Sri Rajasa

melanjutkan, “Aku melihat dari kejauhan apa yang kau lakukan.

Ternyata bahwa kau berdiri diatas ikatan keluarga yang ada pada

dirimu. Meski-pun kau paman Anusapati dari saluran darah ibunya,

retapi kau sudah berusaha sebaik-baiknya mencegah pertengkaran

ini. jika kau tidak menghalangi Anusapati, maka aku kira Tohjaya

akan mengalami cidera yang dapat membahayakan jiwanya. Jika

demikian maka tidak akan ada gunanya lagi aku membina daerah ini

dengan mempertaruhkan semua yang ada padaku.”

Tidak seorang-pun yang menyahut. Bahkan tidak seorang-pun

yang bergerak meski-pun hanya sekedar ujung jari kakinya.

“Jika Tohjaya mengalami cedera, apalagi sampai membahayakan

jiwanya, maka Anusapati harus dihukum. Dengan demikian aku

akan kehilangan kedua-duanya sekaligus. Kehilangan Pangeran Pati

yang akan menggantikan kedudukanku, dan kehilangan Tohjaya

satu-satunya orang akan dapat menggantikan kedudukan Anusapati

apabila terjadi sesuatu dengannya. Memang aku masih mempunyai

beberapa orang anak laki-laki. tetapi aku harus membinanya dari

permulaan sekali.“ Sri Rajasa berhenti sejenak. Lalu, “karena itu

tindakan Mahisa Agni memang pantas dipuji.”

Betapa mereka yang mendengar kata-kata Sri Rajasa itu tidak

dapat mengartikannya dengan segera. Ada yang heran, ada yang

tidak percaya kepada pendengarannya, tetapi ada yang

menganggap, bahwa itu adalah sikap yang bijaksana.

“Nah,“ sekali lagi Sri Rajasa berkata, “Sekarang kembalilah

kebangsal masing-masing. Jangan menjadi tontonan di sini.

Semakin cepat semakin baik.”

“Kakanda,“ Ken Umanglah yang akan memotong kata-kata Sri

Rajasa. Tetapi Sri Rajasa mendahuluinya, “Kau-pun sebaiknya

meninggalkan tempat ini. Adalah kurang baik jika kau berada

diantara wajah-wajah yang tegang dan sikap bermusuhan.”

Ken Umang menahan gejolak didalam dadanya. Tetapi ia tidak

berani membantahnya. Digamitnya Tohjaya dan dengan isyarat

diajaknya Tohjaya meninggalkan tempat itu.

Dalam pada itu Mahisa Agni-pun kemudian menggandeng

Anusapati meninggalkan tempat itu sambil berkata kepada Sri

Rajasa, “Sikap Tuanku sangat bijaksana. Hamba mengucapkan

terima kasih.”

“Apakah mungkin aku berbuat lain?“ bertanya Sri Rajasa.

Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia-pun

menjawab, “Memang tidak ada sikap lain bagi seorang yang

bijaksana.“

“Bagi yang tidak bijaksana?”

“Tuanku, hamba tidak dapat mengatakannya, karena ternyata

yang ada adalah seorang yang sangat bijaksana.”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata

apa-pun lagi. Dipandanginya langkah Anusapati disamping Mahisa

Agni, dan diarah yang lain Tohjaya berjalan dibelakang ibunya, Ken

Umang.

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya ketika perasaannya mulai

menilai kedua anak muda itu. Ia tidak mau melihat kenyataan

bahwa ternyata anak Tunggul Ametung itu mempunyai banyak

kelebihan dari anaknya.

“Ibunyalah yang memiliki kelebihan. Adalah bodoh sekali bahwa

aku tidak pernah memikirkan dengan sungguh-sungguh

kemungkinan yang ada pada Mahisa Wonga Teleng.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu merenung sejenak. Ia

mulai membayangkan kemungkinan yang ada pada Mahisa Wonga

Teleng. Ia adalah anaknya dan anak Ken Dedes. Jika benar Ken

Dedes memiliki kemungkinan yang besar pada keturunannya, maka

Mahisa Wonga Teleng-pun pasti memiliki kelebihan dari orang

kebanyakan.

“Tetapi sudah terlambat,“ ia berkata didalam hatinya, “Anusapati

sudah mulai meloncati pagar yang selama ini berhasil aku lingkarkan

mengelilingi. Tetapi ternyata pada suatu saat anak itu telah

melepaskan dirinya dari semua kungkungan. Sebelumnya ia tidak

pernah berani berbuat apa-apa-pun jangankan seperti yang

dilakukannya saat ini.”

Tiba-tiba terlintas didalam angan-angannya. Ken Dedes yang

sedang terbaring dipembaringannya. Tentu Ken Dedes sudah

mengatakan semuanya tentang Anusapati. Tentu Ken Dedes juga

mengatakan saat-saat kematian Tunggul Ametung, dan tentu

sekarang Anusapati sedang didalam gejolak yang paling dahsyat

yang pernah dialaminya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia sudah

dihadapkan pada suatu keadaan yang sama-sama. Seakan-akan ia

sedang memandang cahaya matahari yang kemerah-merahan, yang

sebentar lagi akan turun dan hinggap dipunggung pegunungan.

Kesempatan itu adalah kesempatan terakhir untuk memandang

wajah bumi karena sebentar lagi matahari itu akan tenggelam.

“Tentu tidak akan mungkin lagi dapat terbit di Timur,“ katanya

didalam hati, “aku memang bukan matahari. Jika saat tenggelam itu

datang, maka biarlah namaku tenggelam pula bersamanya. Tetapi

jangan Singasari.”

Ken Arok itu-pun kemudian perlahan-lahan melangkahkan

kakinya kembali kebangsalnya. Pengawal-pengawalnya-pun

mengikutinya dari kejauhan. Ketika Ken Arok kemudian masuk

kedalam bangsalnya, maka para prajurit itu-pun tinggal di gardu

penjagaan mereka.

Dalam pada itu, Mahisa Agni membawa Anusapati kebangsalnya.

Ketika mereka berjalan lewat didepan seorang juru taman yang

sedang berjongkok, maka Mahisa Agni-pun memberikan isyarat

kepadanya sambil berbisik, “Nanti malam aku datang kegubugmu.”

Sumekar sama sekali tidak menyahut. Justru ia menundukkan

kepalanya dalam-dalam. Baru ketika keduanya sudah menjadi

semakin jauh. Sumekar itu baru berdiri dan berjalan tergesa-gesa

meninggalkan tempat itu.

Dalam pada itu, cahaya matahari memang sudah mulai pudar.

Semakin lama semakin suram. Dan sebentar lagi, maka seluruh

Singasari itu-pun ditelan oleh kegelapan malam.

Di bangsal Anusapati, Mahisa Agni duduk tepekur dihadap oleh

Anusapati. Agak sulit baginya untuk memberikan beberapa nasehat

kepada Putera Mahkota itu. Karena ia tahu, bahwa selama ini

Anusapati selalu menjaga perasaan isterinya. Ia selalu berusaha

untuk menghindarkan semua pembicaraan yang dapat membuat

isterinya menjadi semakin berkecil hati. Sebagai seorang perempuan

yang hidup dilingkungan yang asing, maka ia memerlukan

ketenangan didalam lingkungannya yang baru itu.

Karena itu, maka Mahisa Agni-pun menunggu hingga pada suatu

kesempatan ia dapat mengatakannya.

Ketika Mahisa Agni yakin bahwa isteri Anusapati itu tidak berada

didalam bilik sebelah yang mungkin dapat mendengar suaranya,

barulah ia berkata, “Anusapati. Ternyata keadaan sudah menjadi

semakin panas dan gawat. Tetapi aku melihat perkembangan lain

pada Sri Rajasa itu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya hampir berbisik,

“Aku masih belum yakin paman. Tetapi mudah-mudahan ayahanda

Sri Rajasa dapat melihat kebenaran tentang hubunganku dengan

adinda Tohjaya. Tetapi seandainya demikian, hal itu tentu sudah

terjadi beberapa saat lamanya.”

“Pikiran dan perasaan seseorang dapat berkembang Anusapati,“

berkata Mahisa Agni kemudian, “dan aku berharap, bahwa Sri

Rajasa akan mengalaminya.”

“Mungkin pada suatu saat paman. Tetapi jika ibunda Ken Umang

mendapat kesempatan berbicara maka ayahanda tentu akan

bersikap lain pula.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Memang sulit bagi Ken

Arok untuk berjalan surut. Dan jika ia tetap maju, maka jarak

perjalanan itu menjadi semakin dekat.

“Hati-hatilah Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku

berharap keadaan bertambah baik. Tetapi aku juga berharap agar

kau tidak lengah. Sudah sepantasnya kau membawa trisula kecil itu

kemana-pun kau pergi. Tetapi ingat, jangan kau pergunakan jika

kau tidak dalam keadaan terpaksa. Terpaksa sekali.

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku berjanji akan menemui Sumekar. Malam sudah menjadi

semakin gelap. Besok aku kembali melihat keris itu. Sekarang

waktunya agaknya kurang baik bagiku untuk melihat keris itu. Jika

ada satu dua orang yang sempat melihatnya, maka udara yang

panas ini tentu akan mendidih. Besok aku akan kembali untuk

melihat keris itu.”

“Apakah aku harus membawanya kebangsal paman?“

Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak mengatakan demikian

sekarang. Aku tidak tahu, jika keadaan besok akan berkembang.”

Anusapati menundukkan kepalanya.

“Sekarang, biarlah aku pergi ke gubug Sumekar. Aku perlu

berbicara sedikit dengan juru taman itu.”

“Silahkanlah paman.”

“Ingat, dalam keadaan serupa ini, trisula kecil itu jangan terpisah

dari dirimu. Bukanlah trisula itu tidak mengganggumu jika kau

sembunyikan didalam lapisan ikat pinggangmu.”

Anusapati menganggukkan kepalanva. Pesan itu menyatakan

bahwa Mahisa Agni-pun menjadi sangat cemas terhadap

perkembangan keadaan.

Namun Mahisa Agni itu-pun kemudian berpesan, “Tetapi ingat

pula Anusapati, bahwa trisula itu bukan senjata dan yang

dipergunakan jika itu bukan cara terakhir satu-satunya jalan yang

dapat kau tempuh.”

Sekali lagi Anusapati mengangguk sambil menjawab, “Ya paman,

aku mengerti.”

“Nah, tinggal sajalah di bangsalmu. Kau dapat sedikit

memberikan pesan, meski-pun tidak berterus-terang terhadap para

pengawal di halaman, agar mereka-pun berhati-hati pula.”

“Ya paman.”

“Nah, biarlah aku pergi sekarang. Bukankah anakmu sudah

tidur?”

“Sudah paman.“

“Besok saja aku menemuinya.”

Demikianlah maka Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan

bangsal itu. Ia tidak segera pergi kegubug Sumekar tetapi ia

berjalan kebangsalnya sendiri. Perlahan-lahan seperti seorang jejaka

berjalan dibawah cahaya bulan yang sedang purnama.

Mahisa Agni harus yakin bahwa tidak ada orang yang mengetahui

sedap pertemuannya dengan Sumekar, mau-pun Anusapati dengan

Sumekar agar Sumekar tidak segera terlibat dalam keadaan yang

panas itu. Dengan demikian ada seorang yang kuat, yang masih

dapat diharapkan berbuat sesuatu diluar perhitungan Sri Rajasa.

Tetapi jika pertentangan yang tampaknya akan menjadi terbuka

itu berkembang, Mahisa Agni memerlukan kekuatan diluar istana itu.

Jika kemudian terjadi bentrokan-bentrokan senjata dengan terbuka,

dan Sri Rajasa mempergunakan kekuasaan dan haknya sebagai

seorang Maharaja, maka dengan sangat terpaksa Mahisa Agni-pun

harus menghadapinya dengan cara serupa. Tetapi karena ia tidak

berhak memberikan perintah langsung kepada para prajurit yang

ada di Singasari, maka ia harus mendapatkan kekuatan lain yang

dapat melindungi Anusapati bersamanya. Bukan sekedar

melindunginya karena ia takut mati, tetapi melindungi dirinya dan

Anusapati bersama segala macam cita-cita dan kemungkinannya.

Setelah malam menjadi semakin gelap, maka Mahisa Agni-pun

keluar lagi dari bangsalnya. Kepada prajurit yang mengawal

bangsalnya ia berkata, “Udara sangat panas didalam. Aku akan

keluar sebentar.”

Prajurit-prajurit itu memandanginya sejenak. Seakan-akan ingin

bertanya, kemanakah ia akan pergi didalam keadaan yang bagi para

prajurit, agak kalut itu? Meski-pun mereka tidak melihat

pertentangan sampai keakar hati Mahisa Agni, Anusapati, Tohjaya

dan orang-orang yang terlibat lainnya termasuk Sri Rajasa sendiri,

namun mereka melihat pertengkaran antara Anusapati dan Tohjaya

sebagai anak-anak muda yang kian tidak mau hidup dalam suasana

persaingan. Sayang persaingan diantara mereka itu sama sekali

tidak mendorong mereka kearah yang lebih baik dari pertengkaran

yang kasar. Seperti pertengkaran anak-anak seorang rakyat

kebanyakan saja. Bahkan hampir saja mereka berkelahi dalam arti

yang sebenarnya di hadapan banyak orang.

Mahisa Agni dapat menangkap dari sorot mata para prajurit itu,

pertanyaan-pertanyaan yang bergulat didalam hati mereka. Karena

itu ia-pun tersenyum sambil berkata, “jangan cemas. Anak-anak itu

tidak akan berkelahi lagi, apalagi memperluas pertengkaran mereka,

meski-pun orang-orang tua terpaksa ikut campur.“

Para prajurit itu-pun tersenyum pula. Bahkan tersipu-sipu karena

Mahisa Agni dapat menebak pertanyaan didalam hatinya dengan

tepat.

-ooo0dw0ooo(

bersambung jilid 77)

Jilid 77

“MEMANG MEMALUKAN,“ berkata Mahisa Agni lebih lanjut,

“tetapi mereka adalah anak-anak muda. Seperti anak muda

kebanyakan. Hanya karena mereka tinggal diistana ini maka sorotan

bagi mereka menjadi lebih tajam karenanya. Setiap orang

memperhatikannya dan menilainya. Tetapi sebagai manusia biasa

mereka sebenarnya tidak ada bedanya dengan anak-anak muda

yang tinggal di padukuhan yang paling terpencil. Darahnya masih

terlampau mudah mendidih dan kurang pengendalian diri. Tetapi

jika mereka meningkat semakin tua, maka keadaannya pasti akan

jauh berbeda. Anusapati yang kini sudah mempunyai seorang anak

itu ternyata sudah jauh berkurang, sudah jauh mengendap

dibandingkan beberapa saat yang lampau.”

Para prajurit yang mendengarkan kata-kata Mahisa Agni itu

menganggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak mengatakan suatu

apa.

“Sudahlah, bertugaslah dengan baik. Aku akan menghirup udara

malam dihalaman dan dipertamanan. Mudah-mudahan badanku

menjadi segar dan pikiranku menjadi bening.”

Prajurit-prajurit itu menganggukkan kepalanya dalam-dalam.

Ketika Mahisa Agni melangkah meninggalkan halaman bangsalnya,

dua orang prajurit mengiringinya sebagai yang seharusnya mereka

lakukan. Tetapi seperti biasa pula Mahisa Agni tersenyum sambil

berkata, “Biarlah aku berjalan sendiri. Bukankah demikian

kebiasaanku? Didalam halaman istana ini tidak akan ada gangguan

apapun. Meski-pun kadang-kadang terjadi hal-hal yang tidak dapat

dimengerti, orang-orang berkerudung, orang yang tidak dikenal

yang hampir saja membunuh juru taman itu, dan bermacam-macam

lagi, tetapi mereka tidak akan mengganggu aku.”

Prajurit-prajurit itu saling berpandangan sejenak, namun merekapun

menganggukkan kepalanya dalam-dalam sekali lagi. Salah

seorang dari mereka berkata, “jika itu perintah tuan.”

“Ya,“ jawab Mahisa Agni, “itu perintahku.”

“Baik tuan. Kami akan menunggu disini,“ sahut salah, seorang

dari keduanya. Didalam hati mereka berkata, “Sebenarnyalah

pengawalan itu tidak perlu bagi Mahisa Agni.”

Prajurit-prajurit itu-pun kemudian hanya dapat memandang

Mahisa Agni yang berjalan menjauhi regol dan hilang didalam gelap.

Sambil manarik nafas dalam-dalam seorang prajurit berkata,

“Bagaimana mungkin orang dapat memiliki ilmu seperti Senapati

besar itu?”

“Ilmunya adalah kurnia Yang Maha Agung. Tidak semua orang

dapat memilikinya meski-pun ia berlatih setiap hari sepanjang

umurnya.“

Yang lain hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan

salah seorang berdesis, “Seperti juga Sri Rajasa, ia-pun seorang

manusia yang aneh.”

“Tidak banyak manusia seperti mereka itu. Dan kini tampaknya

Putera Mahkota itu-pun akan tumbuh seperti ayahanda dan

pamannya.“

Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu Mahisa Agni yang sudah berada dikegelapan itu

berjalan menyusuri tempat-tempat yang sepi dipetamanan. Sejenak

ia berdiri ditempat yang terlindung. Bagaimana-pun juga ia memang

harus berhati-hati. Apalagi dihalaman istana ini sering terjadi

sesuatu yang tidak dapat diperhitungkannya lebih dahulu.

Tetapi ternyata bahwa taman itu benar-benar sepi. Tidak ada

seorang-pun yang berada disekitarnya dengan alasan apapun.

Karena itu, maka Mahisa Agni-pun bergeser pula mendekati

gubug Sumekar.

Dengan hati-hati Mahisa Agni-pun kemudian mengetuk pintu

gubug itu.

“Siapa?“ Sumekar berbisik dibalik pintu.

“Agni.”

Mahisa Agni tidak perlu mengulanginya. Pintu gubug itu-pun

kemudian terbuka dan Sumekar-pun melangkah keluar.

“Ikuti aku,“ desis Mahisa Agni.

Keduanya-pun kemudian menyusup kedalam taman. Beberapa

langkah dibalik rimbunnya pohon bunga-bungaan, kedua berhenti

sejenak.

“Sumekar,“ berkata Mahisa Agni, “aku ingin minta pertolongan

lebih lanjut setelah sampai saat ini kau mengawasi dan melindungi

Anusapati. Agaknya keadaan menjadi semakin gawat, sehingga aku

perlu mempersiapkan diri lebih baik lagi dari saat-saat yang lewat.”

“Apakah yang harus aku lakukan?”

“Aku tidak sempat membuat hubungan dengan Witantra. Aku

tidak sampai hati meninggalkan Anusapati dalam keadaan seperti

sekarang. Apakah kau bersedia?”

“Apakah aku harus pergi ke Kediri menghubungi kakang Kuda

Sempana.”

“Tidak. Aku kira, Witantra atau Mahendra masih juga sering

berkeliaran disekitar istana ini. Mereka-pun tentu ingin mengetahui

perkembangan keadaan ini lebih lanjut.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku kira

demikianlah. Apalagi dengan perkembangan terakhir. Ceritera

tentang pertengkaran langsung yang terjadi ini, tentu akan sampiai

ketelinga mereka, karena hal itu pasti akan segera tersebar.“

“Ya. yang bertengkar adalah putera Sri Rajasa. Tentu ceritera itu

tersebar luas dalam waktu yang singkat. Akibatnya, maka rakyat

Singasari pasti akan terbelah. Sebagian akan berpihak kepada

Anusapati dan sebagian akan berpihak kepada Tohjaya, karena mau

tidak mau mereka akan langsung menghubungkan pertengkaran itu

dengan sikap Sri Rajasa yang tampak dengan jelas, agak kurang adil

terhadap kedua puteranya.”

“Orang-orang tua akan tahu sebabnya. Tetapi bagi yang muda

tanggapannya pasti akan agak berbeda.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun

kemudian berkata, “Sumekar, apakah kau bersedia mencari

Witantra atau Mahendra disekitar istana ini? Tentu saja kau harus

keluar dari istana ini tidak lewat regol depan atau regol butulan.”

“Aku sudah mempunyai jalan sendiri,“ Sumekar tersenyum.

“Terima kasih. Sampaikan pesanku kepada mereka, bahwa aku

memerlukan mereka setiap saat, apabila keadaan benar-benar tidak

terkendali. Jika kau dapat mengusahakan, bawalah salah seorang

dari mereka masuk kedalam taman, dan berilah aku isyarat apabila

kau berhasil.”

“Apakah isyarat itu?”

“Kau dapat menirukan suara burung tertentu?”

Sumekar mengerutkan keningnya.

“Kalau tidak, lemparlah atap bangsalku dengan kerikil kecil. Aku

akan segera keluar dan pergi ketaman ini. Jika bukan malam ini,

tentu malam-malam berikutnya. Tetapi aku berharap kau berhasil

malam ini. Bukankah tempat kau sering menemui mereka itu masih

dapat dijadikan ancer-ancer, kemana kau pertama-tama harus

pergi?”

“Baiklah. Aku akan mencobanya. Mereka-pun tentu akan

menyadari keadaan.”

“Selagi aku masih ada di Singasari. Perintah dari Sri Rajasa

dapat datang setiap saat.”

“Aku mengerti.”

“Baiklah. Cobalah malam ini. Aku menunggu isyaratmu.”

“Aku akan memberikan isyarat. Jika aku melempar atap

rumahmu, atau menirukan suara burung kedasih beberapa kali,

tandanya aku berhasil. Tetapi jika aku memberi isyarat hanya tiga

kali, maka malam ini aku belum dapat menemuinya. Dan kau tidak

usah menunggu semalam suntuk.“

“Terima kasih. Di hari-hari terakhir, Sri Rajasa-pun tentu telah

berbuat sesuatu. Dan kita-pun harus mengimbanginya.”

Demikianlah maka Sumekar-pun mempersiapkan dirinya untuk

keluar halaman istana mencari hubungan dengan Witantra atau

Kuda Sempana. Ia masih berharap bahwa kedua orang itu belum

jemu menunggu kesempatan untuk mendapat hubungan dengan

Mahisa Agni.

Mahisa Agni-pun kemudian kembali ke bangsalnya. Tetapi ia

tidak langsung masuk kedalam bangsal itu. Sejenak ia masih sempat

berbincang dengan para prajurit, “Aku ingin beristirahat,“ berkata

Mahisa Agni kemudian, “sudah terlalu malam. Jika aku tidak tidur

malam nanti, maka kalian tidak mempunyai tugas lagi.“

Para prajurit itu tertawa. Mereka memang menyadari, bahwa

tugas mereka hanyalah mengawasi bangsal itu, karena jika terjadi

sesuatu, akhirnya Mahisa Agni sendirilah yang harus melindungi

dirinya sendiri.

Namun yang menarik perhatian para prajurit itu adalah sikap

Mahisa Agni. Ia adalah Senapati Agung yang kedudukannya diatas

para Panglima. Apalagi bagi Kediri. Tetapi sikapnya masih tetap

seperti Mahisa Agni yang dahulu, Mahisa Agni anak Panawijen.

Jarang sekali seorang Panglima sempat bercakap-cakap dengan

para prajurit. Jika ada satu dua prajurit yang mengawalnya, maka

sikapnya adalah sikap seorang Panglima terhadap seorang prajurit

bawahan. Bahkan satu dua orang perwira yang lain-pun sudah

bersikap demikian.

“Ia adalah seorang Senapati besar. Bukan saja kedudukannya

sebagai Senapati Agung dan wakil Mahkota di Kediri, tetapi jiwanyapun

ternyata cukup besar.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Pengaruh itu tampak pula pada Putera Mahkota. Selain sikapnya,

maka keduanya tidak menaruh prasangka buruk terhadap

sesamanya. Ternyata keduanya tidak memerlukan pengawalan

seperti tuanku Tohjaya dan putera-putera Sri Rajasa yang lain.”

“Ya, selain mereka tidak berprasangka, mereka-pun terlalu

percaya kepada diri sendiri. Coba katakan, siapakah yang dapat

melampaui kemampuan tuanku Mahisa Agni, dan tuanku Pangeran

Pati selain Sri Rajasa. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan berbuat apaapa

atas mereka.”

“Orang berkerudung yang sempat masuk kehalaman itu?”

“Seandainya mereka sempat bertemu dengan keduanya atau

salah seorang dari pada mereka, maka sejauh-jauh dapat dilakukan

adalah seimbang saja.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala. Mereka

memang sependapat bahwa Mahisa Agni adalah seorang yang

berjiwa besar, ramah dan rendah hati.

Dalam pada itu, Sumekar yang telah berhasil meloncati dinding

tanpa diketahui oleh para peronda itu-pun segera menyelusuri jalan

kota Singasari. Yang pertama-tama didatanginya adalah tempat

yang biasa dipergunakan oleh Witantra atau Mahendra menunggu

hubungan dari dalam istana.

Tetapi Sumekar tidak melihat seorangpun, sehingga karena itu

ia-pun mengambil keputusan untuk pergi saja mengelilingi kota.

Mungkin disatu tempat ia bertemu dengan salah seorang dari

keduanya.

Namun belum lagi ia beringsut, terdengar suara seseorang

memanggilnya. Dan suara itu bukan suara Witantra dan bukan pula

suara Mahendra.

Sumekar berhenti sejenak. Dari dalam kegelapan dibalik

bayangan dedaunan Sumekar melihat sesosok bayangan yang

muncul.

“Bukankah kau Sumekar?“ bertanya bayangan itu.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kakang Kuda

Sempana. Justru kakang yang ada disini?”

“Ya, Beberapa hari ini giliranku. Keduanya hampir jemu

menunggu. Tetapi tidak seorang-pun yang datang. Lalu akulah yang

mendapat giliran tidur disini. Aku sudah empat malam selalu

menungu salah seorang dari kalian di istana Singasari.”

Sumekar-pun kemudian mendekati Kuda Sempana, dan

keduanya-pun duduk dibalik gerumbul sambil membicarakan

masalah yang sedang dihadapinya.

“Jadi persoalan itu seakan-akan menjadi panas?“

“Ya. Bahkan hampir terjadi dengan terbuka.”

“Lalu apakah pesan Mahisa Agni.“

“Sekedar persiapan. Jika setiap saat meledak. Dan rasa-rasanya

kita memang berada diatas ujung tanduk. Setiap saat, jika kita

kurang berhati-hati, maka perut kita dapat berlubang.”

“Apakah aku harus menyampaikannya kepada Witantra.”

“Ya. Dan Mahendra.”

“Baiklah. Tentu bukan sekedar kami bertiga yang diharap oleh

Mahisa Agni. Dan aku akan menyampaikannya kepada Witantra.

Mungkin ia mengerti, apa yang sebaiknya harus aku kerjakan.”

“Tetapi agaknya Mahisa Agni-pun ingin bertemu.”

“Jangan sekarang,“ berkata Kuda Sempana, “aku harus

menemui Witantra, kita bersama-sama akan bertemu dengan

Mahisa Agni besok malam disini.”

“Barangkali ia perlu pesan kepadamu. Aku dimintanya untuk

memberikan isyarat apabila aku dapat menemui kalian salah

seorang atau semuanya.”

Kuda Sempana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia

berkata, “Kenapa tidak besok?”

“Malam ini, dan sehari besok, bermacam-macam persoalan

dapat terjadi.”

“Tetapi tidak mungkin malam ini aku mencari Witantra.”

“Mungkin tidak perlu. Tetapi sekedar bahan yang akan kalian

bicarakan perlu kau dapat malam ini.”

“Baiklah. Aku menunggu disini.”

“Terima kasih. Aku akan membawa Mahisa Agni keluar halaman

istana malam ini.”

Demikianlah Sumekar-pun segera berusaha untuk dapat

memberikan isyarat kepada Mahisa Agni. Ia sama sekali tidak

menemui kesulitan untuk memasuki halaman istana, seperti pada

saat ia keluar.

Dan ia-pun tidak mendapat banyak kesulitan untuk mendekati

bangsal Mahisa Agni. Tetapi Sumekar tidak dapat segera

memberikan isyarat dengan melemparkan kerikil keatas atap

bangsal itu, karena pengawasan yang ketat. Karena itu Sumekar

mempergunakan cara yang lain. Dari sudut halaman ia menirukan

bunyi seekor burung kedasih beberapa kali. Ia berharap bahwa

Mahisa Agni akan dapat mendengarnya dan menangkap isyaratnya.

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni dapat menangkap isyarat itu.

Ia mendengar bunyi kedasih itu dan mengerti maknanya. Karena

itu, maka Mahisa Agni-pun sagera berusaha untuk dapat keluar dari

bangsalnya tanpa diketahui oleh siapa-pun juga.

Itu-pun bukan suatu kesulitan bagi Mahisa Agni. Dan dengan

demikian, maka ia-pun segera bersama-sama dengan Sumekar

keluar dari halaman istana menemui Kuda Sempana.

“Kuda Sempana,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku

memerlukan Witantra saat ini. Aku masih menganggap bahwa nama

Witantra belum terhapus sama sekali dari hati para prajurit dan

perwira pasukan pengawal, terutama yang sudah berusia

pertengahan.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Ya. Aku kira demikian.”

“Karena itu, aku mengharap kedatangannya. Mungkin pada

suatu saat, kita memerlukan pengaruhnya didalam lingkungan para

pengawal Aku tidak tahu, apakah yang akan dilakukan oleh

Panglimanya yang sekarang seandainya terjadi persoalan yang

terbuka antara Tohjaya dan Anusapati.“

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tentu Witantra tidak akan dapat berterus terang berada

diistana Singasari.”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. “Aku mengerti,“

jawabnya, “aku kira Witantra-pun tidak akan berkeberatan.”

Demikianlah maka, Kuda Sempana-pun segera pergi

meninggalkan Singasari. Ia harus menghubungi Witantra dan

membawanya menemui Mahisa Agni besok malam. Dalam keadaan

yang panas itu, perubahan dapat terjadi setiap saat itu merupakan

waktu yang sangat berharga. Sepeninggal Kuda Sempana maka

Mahisa Agni-pun segera kembali kebangsalnya dan Sumekar masuk

kedalam gubugnya yang kecil tanpa mengganggu tetanggatetangganya

yang tinggal disebelah menyebelah gubugnya.

Namun ia tidak dapat segera tidur. Persoalan-persoalan itu masih

tetap tersangkut dikepalanya. Dan bahkan dorongan didalam

dadanya untuk berbuat sesuatu rasa-rasanya tidak dapat

dikendalikan lagi.

Tetapi Sumekar masih harus menghormati usaha Mahisa Agni. Ia

tidak dapat merusak rencana Mahisa Agni itu. “Tetapi apabila

datang saatnya, aku benar-benar harus bertindak. Lebih baik aku

menjadi tumbal daripada harus terjadi persoalan dan pertentangan

yang lebih luas lagi. Jika dengan alas pengorbananku, persoalan ini

dapat selesai tanpa melibatkan prajurit dan rakyat Singasari, maka

alangkah baiknya. Singasari yang selama ini dipupuk dan disirami

tidak akan segera layu dan bagaikan daun yang kering, menguning

dan berguguran ditanah,“ berkata Sumekar didalam hatinya.

Dalam pada itu, seperti Sumekar. Mahisa Agni-pun tidak segera

dapat tidur nyenyak malam itu. Ia selalu dipengaruhi oleh berbagai

macam angan-angan. Memang mungkin terjadi sesuatu dengan

Anusapati didalam sepinya malam. Tetapi Anusapati bukannya

orang yang mudah menyerah pada keadaan. Apalagi ia memiliki

kemampuan yang dapat melindunginya. Bahkan seandainya Sri

Rajasa sendiri datang ke bangsal itu. Anusapati pasti akan dapat

bertahan beberapa lama. Dengan trisula kecilnya, Anusapati akan

dapat berusaha mempertahankan dirinya. Sementara itu tentu

terjadi keributan di halaman ini, sehingga ia akan sempat

mendengarnya dan ikut campur secara langsung.

“Tetapi bagaimana jika Sri Rajasa berhasil memasuki bangsal itu

dengan diam-diam, dan dengan diam-diam pula bertindak atas

Anusapati?“ ia bertanya kepada diri sendiri.

Mahisa Agni tidak dapat melepaskan kemungkinan itu, karena

yang pernah dilakukan oleh Sri Rajasa adalah tindakan licik serupa

itu. Ia telah membunuh mPu Gandring, Tunggul Ametung dan

dengan licik sekali menjerumuskan Kebo Ijo ke dalam jebakannya.

“Tentu ia dapat berbuat licik pula terhadap Anusapati,“ berkata

Mahisa Agni didalam hatinya.

Namun ia percaya bahwa Anusapati tentu tidak akan lengah.

Meski-pun Sri Rajasa dapat meremas dinding kayu yang secengkang

tebalnya, tetapi Anusapati-pun tentu dapat mendengar gemerisik

yang betapa-pun lembutnya. Dan bahkan mungkin sekali Anusapati

sama sekali tidak dapat tidur dimalam hari.

Karena itulah, maka di pagi-pagi benar. Mahisa Agni telah telah

terbangun. Ia hanya sekejap saja dapat memejamkan matanya.

Tetapi bagi Mahisa Agni, yang sekejap itu telah cukup untuk

menyegarkan tubuhnya.

Ketika ia kemudian keluar dari bangsalnya, dilihatnya suasana

yang wajar di halaman istana. Para prajurit masih tetap bertugas

dan yang lain bahkan masih berbaring didalam gardu. Dengan

tergesa-gesa mereka-pun berloncatan bangun ketika tiba-tiba saja

mereka melihat Mahisa Agni sudah berada didepan gardu itu.

“Kami sedang beristirahat,“ salah seorang dengan tergesa-gesa

berkata, “kami bertugas dipermulaan malam ini.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tidurlah. Hari

memang masih sangat pagi. Kau masih mempunyai waktu sedikit.”

Tetapi para prajurit itu justru berlompatan bangkit dan

membenahi pakaian mereka.

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Aku akan berjalan-jalan. Aku

tidak ingin mengganggu kalian. Apalagi yang baru saja sempat

berbaring karena habis tugasnya.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-angguk.

Dan begitu Mahisa Agni pergi, maka mereka-pun berebut

melingkar kembali didalam gardu. Tetapi langit menjadi semakin

cerah dan sambil menggeliat mereka-pun terpaksa bangkit kembali

dan pergi ke pakiwan untuk berbenah diri.

Mahisa Agni yang kemudian berjalan menyelusuri halaman istana

sama sekali tidak melihat kemungkinan yang tidak dikehendakinya.

Bahkan ketika ia berjalan tidak jauh dari bangsal Anusapati, ia

melihat prajurit yang bertugas di halaman bangsal itu masih berada

ditempatnya.

“Tentu tidak ada sesuatu terjadi,“ berkata Mahisa Agni didalam

hatinya. Dengan demikian maka ia-pun melanjutkan langkahnya

berjalan-jalan dipagi yang menjadi semakin cerah.

Namun dengan tergesa-gesa ia berbelok ketika dilihatnya regol

yang menyekat halaman istana ini dengan perluasannya, tempat

Ken Umang dan putera-puteranya tinggal. Mahisa Agni tidak mau

mengalami perlakuan seperti yang pernah terjadi, sehingga hampir

terjadi pertentangan terbuka antara Anusapati dan Tohjaya.

Ketika kemudian matahari menjadi semakin terang di Timur,

maka Mahisa Agni-pun melangkah kembali ke bangsalnya.

Dilihatnya gardu-gardu penjagaan sudah mulai ramai, dan para

prajurit sudah mulai mengemasi diri. Bahkan sebagian telah datang

para penggantinya yang akan bertugas untuk satu hari satu malam

pula digardu itu.

Pada waktu berikutnya dihari itu, ternyata tidak terjadi sesuatu

pula. Anusapati memerlukan datang kebangsal Mahisa Agni dan

berbicara seperlunya. Namun ia-pun segera kembali kepada anak

dan isterinya dibangsalnya.

Bagaimana-pun juga Anusapati mencoba menyembunyikan

perasaannya, namun sebagai seorang isteri, akhirnya ia merasa

bahwa sesuatu telah terjadi atas suaminya. Wajah yang kadangkadang

murung dan sikap yang tidak dimengertinya. Namun

isterinya itu-pun tidak ingin membebani suaminya dengan kesulitan

baru, maka ia tidak pernah berusaha untuk memaksa Anusapati

mengatakan tentang persoalannya. Meski-pun demikian, perlahanlahan

ia berusaha tanpa terasa oleh Anusapati untuk menangkap,

apakah yang sebenarnya telah terjadi di Singasari dan atas

suaminya yang sangat dicintainya itu. Tetapi yang pada hari itu

berdebar-debar adalah Mahisa Agni. Ketika ada paseban kecil di

bangsal istana Singasari, maka Mahisa Agni-pun datang menghadap

diantara para pemimpin Singasari. Di hadapan banyak orang, Sri

Rajasa sudah bertanya kepadanya tentang penyakit Permaisuri.

“Apakah ia masih belum sembuh benar?“ bertanya Sri Rajasa.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sadar akan arti

pertanyaan itu. Tetapi ia masih juga menjawab, “Am-pun tuanku,

menilik pengamatan hamba, tuanku Permaisuri masih juga sakit

agak berat. Tetapi sebenarnyalah bahwa hambalah yang seharusnya

bertanya kepada tuanku, bagaimanakah penyakit Tuanku Permaisuri

itu, agar hamba dapat menentukan, apakah hamba dapat segera

kembali ke Kediri. Jika terlalu lama hamba berada disini, maka tugas

hamba akan dapat terbengkelai karenanya, dan hamba yang disini

hampir tidak berbuat apa-apa itu akan menjadi jemu pula.”

Wajah Sri Rajasa menegang sesaat. Namun kesan itu-pun segera

terhapus dari wajahnya. Sambil tersenyum Sri Rajasa berkata,

“Bukankah kau yang hampir setiap hari menunggui dan mengikuti

perkembangannya?”

“Hamba tuanku. Tetapi yang tahu pasti tentang penyakit tuanku

Permaisuri tentu tuanku Sri Rajasa.”

“Baiklah,“ berkata Sri Rajasa, “akulah yang akan menentukan

apakah kau sudah dapat meninggalkan Singasari atau belum. Aku

akan segera memberitahukan kepadamu, jika Permaisuri itu sudah

dapat kau tinggalkan.“

“Hamba tuanku. Hamba akan melakukan segala titah.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun

bagaimana-pun juga ia menyembunyikan perasaannya, tetapi terasa

dalam sidang itu, bahwa memang ada sesuatu yang terentang

diantara kedua tokoh tertinggi di Singasari itu, seperti juga ada

sesuatu yang membentang diantara Ken Umang dan Ken Dedes,

dan antara Anusapati dan Tohjaya.

Sejenak Mahisa Agni masih mengikuti pembicaraan-pembicaraan

tentang perkembangan Singasari pada saat-saat terakhir. Tetapi ia

sudah kurang berminat untuk mendengarkannya. Yang didengarnya

saat ini masih saja hampir sama dengan yang didengarnya beberapa

hari dan beberapa bulan yang lalu. Semuanya baik. Tidak ada

kesulitan dan rakyat berkembang maju.

“Jika demikian, dan Sri Rajasa puas dengan laporan-laporan itu,

akan menjadi pertanda bahwa Singasari akan berhenti disini. Sri

Rajasa sudah kehilangan gairah perjuangannya membuat Singasari

menjadi semakin besar dan memberi kesejahteraan yang lebih

tinggi bagi rakyatnya,“ berkata Mahisa Agni didalam hati. Namun iapun

menjadi cemas bahwa beberapa orang pemimpin Singasari

yang lain tidak lagi menghiraukan keadaan yang sebenarnya terjadi.

Tetapi mereka sekedar ingin mendapat pujian dari Sri Rajasa

dengan mengatakan laporan-laporan yang tidak berdasarkan pada

kenyataan.

Tetapi Mahisa Agni tidak menanggapi laporan-laporan itu. Ia

tidak ingin menyakitkan hati pemimpin-pemimpin Singasari yang lain

agar persoalan yang langsung menyangkut Anusapati tidak

terganggu pula karenanya.

Meski-pun demikian, Mahisa Agni dapat menilai, bahwa saat-saat

terakhir Singasari benar-benar mengalami kemunduran. Para

pemimpinnya tidak lagi dengan penuh cita-cita membina Singasari.

Mareka sudah dihinggapi oleh penyakit yang berbahaya bagi

Singasari.

“Tentu karena Sri Rajasa tidak sempat lagi melihat

perkembangan Singasari dengan mata kepala sendiri,“ berkata

Mahisa Agni didalam hatinya. “kesibukannya telah menenggelamkan

kedalam suatu keadaan yang kurang menguntungkan bagi tanah

yang selama ini dibinanya dengan susah payah.”

Laporan-laporan berikutnya Mahisa Agni sudah hampir tidak

mendengarnya lagi seperti didalam paseban-paseban yang lalu.

Semuanya rasa-rasanya menjemukan baginya.

Tetapi kali ini Mahisa Agni terkejut ketika Sri Rajasa kemudian

berkata kepadanya, “Setelah paseban ini selesai Mahisa Agni,

tinggallah disini sebentar.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak ia memandang

berkeliling. Dilihatnya didalam paseban itu para Panglima dan para

piemimpin Singasari yang lain.

“Apakah Sri Rajasa berhasrat menjebakku sekarang?“ ia

bertanya kepada diri sendiri.

Tetapi Mahisa Agni adalah seorang yang berhati tabah. Itulah

sebabnya ia kemudian menjawab, “Hamba tuanku. Segala perintah

tuanku hamba junjung tinggi.”

Demikianlah ketika semua pembicaraan itu selesai maka Sri

Rajasa-pun segera mengakhiri sidang. Sedang Mahisa Agni yang

masih harus tinggal menjadi berdebar-debar.

“Apakah para Panglima itu sudah mendapat pesan-pesan

tertentu dari Sri Rajasa untuk menangkap aku sekarang?“ bertanya

Mahisa Agni didalam hati, “demikian para pemimpin pemerintahan

yang lain pergi, maka para Panglima itu akan menarik keris mereka

dan menahan aku disini.“

Tetapi dugaan Mahisa Agni itu ternyata keliru. Dengan suara

yang lantang maka Sri Rajasa berkata, “Tinggalkan paseban ini.

Semuanya, selain Mahisa Agni.”

Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi mereka-pun

kemudian beringsut meninggalkan sidang itu seorang demi seorang,

sehingga hanya Mahisa Agni sajalah yang tinggal.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hati

kemudian, “Sri Rajasa memang bukan seorang pengecut. Jika ia

ingin menyelesaikan dengan cara itu, ia akan menghadapi aku

seorang lawan seorang.“

Demikianlah, maka paseban itu akhirnya menjadi kosong. Yang

ada tinggallah Sri Rajasa dan Mahisa Agni. Bahkan para penasehat

Sri Rajasa-pun diperintahkannya untuk meninggalkan paseban itu.

Ketika tidak ada orang lain dipaseban itu, sekali lagi terasa

ketegangan mencengkam dada Mahisa Agni. Namun sekali lagi ia

keliru. Sri Rajasa sama sekali tidak memandangnya dengan sorot

mata yang menyala. Tetapi matanya bahkan menjadi redup dan

kosong.

“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa kemudian dengan nada yang

rendah, “kau mendengar semua laporan-laporan didalam paseban

ini?”

Mahisa Agni menjadi heran atas pertanyaan itu. Karena itu ia

tidak segera menjawab.

“Bagaimana menurut pendapatmu?”

Mahisa Agni masih belum mengerti maksud Sri Rajasa. Namun

menangkap siratan wajahnya. Mahisa Agni mulai menyesali dirinya

sendiri. Ternyata bahwa ia sendirilah yang terlampau berprasangka.

Sejak terjadi persoalan yang hampir menyeret Anusapati dan

Tohjaya dalam pertentangan terbuka, ia selalu saja berprasangka

buruk terhadap Sri Rajasa yang dikenalnya sangat aneh namun juga

licik.

“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa kemudian, “aku ingin

mendengar pendapatmu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih tetap

ragu-ragu. Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya, atau ia

harus bersikap seperti para pemimpin Singasari yang lain, yang

hanya sekedar mengemukakan persoalan-persoalan yang mereka

anggap dapat menyenangkan hati Sri Rajasa saja.

“Aku tidak boleh bersikap seperti itu,“ berkata Mahisa Agni

didalam hatinya, “jika demikian aku sudah membohongi diriku

sendiri, dan tidak mau lagi mengakui kenyataan yang berlaku di

Singasari.”

Karena itu dengan penuh tanggung jawab Mahisa Agni berkata

meski-pun dengan sangat hati-hati, “Tuanku. Sebenarnyalah

memang seperti yang dikatakan oleh para pemimpin Singasari itu.

Meski-pun masih harus ada beberapa keterangan.”

“Apakah yang kau maksud dengan keterangan itu?”

“Memang dalam pandangan sepintas keterangan itu sangat

menarik dan seakan-akan Singasari tidak lagi menghadapi

persoalan-persoalan lagi.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya.

“Tetapi tuanku,“ berkata Mahisa Agni lebih lanjut, “jika hamba

boleh mengatakannya dengan jujur, sebenarnya masih banyak yang

perlu dilaporkan didalam paseban seperti ini, apalagi didalam

paseban agung.”

“Misalnya?”

“Tuanku, seharusnya tuanku mendapat gambaran seluruhnya

tentang Singasari. Tuanku harus mendengar bahaya kering yang

mengancam daerah Selatan, yang perlu mendapat penyelesaian.

Kemudian kesulitan yang timbul karena binatang yang buas yang

tidak terkendalikan, berkembang biak dengan cepatnya di hutan

tidak begitu jauh dari kota ini. Selain daripada itu, masih ada

perampok-perampok yang mengganggu dan selebihnya memang

memberikan gambaran yang cerah buat masa depan Singasari.”

“Itulah yang ingin aku dengar Mahisa Agni.“

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Sri

Rajasa sejenak. Namun dilihatnya wajah itu bagaikan air telaga

yang bening, yang dapat dilihat sampai ke dasarnya. Menurut

tangkapan Mahisa Agni, apa yang dikatakan oleh Sri Rajasa itu

adalah apa yang dipikirkannya.

“Kali ini ia berkata dengan jujur,“ desis Mahisa Agni didalam

hatinya.

“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa, “sebenarnya aku sudah muak

mendengar laporan-laporan yang tidak sewajarnya itu. Mereka

adalah orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri,

mementingkan kedudukan dan kebanggaan mereka kepada dirinya

sendiri. Dan ini sangat memuakkan sekali. Tetapi aku masih belum

sempat untuk menghentikannya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata

sesuatu telah tumbuh didalam hatinya.

“Sri Rajasa tidak sejahat yang aku duga.“ katanya didalam hati,

namun, “atau barangkali ia mulai melihat kesalahan yang sudah

dibuatnya?”

“Mahisa Agni,“ berkati Sri Rajasa kemudian, “ternyata kau masih

Mahisa Agni yang dahulu. Kau adalah salah satu dari orang-orang

Singasari yang jumlahnya tidak banyak, yang berani mengatakan

kekurangan Singasari kepadaku. Meski-pun mungkin aku akan

menjadi marah atau menghukummu. Tetapi sekarang aku sadar,

bahwa yang penting bagiku adalah kebenaran. Bukan sekedar

kebanggaan yang semu.“

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk

kecil, ia menjadi berpengharapan lagi, bahwa jika Sri Rajasa berkata

dengan jujur, ia akan menanggapi persoalan Anusapati dan Tohjaya

dengan cara yang lebih baik dari cara yang pernah dilakukan

sebelumnya.

Dalam pada itu Sri Rajasa berkata selanjutnya, “Mahisa Agni.

Pada saatnya kau akan kembali ke Kediri. Aku mengharap bahwa

pada suatu saat, kau datang kepaseban agung, kau akan

mengatakan keadaan Kediri yang sebenarnya. Dengan demikian

akan membuka kemungkinan, para pemimpin Singasari yang lain

menyadari kekeliruannya. Bahkan yang aku harapkan adalah

keterangan yang sebenarnya. Bukan sekedar usaha untuk

mempertahankan pangkat dan jabatan.”

“Baiklah tuanku,“ jawab Mahisa Agni, “jika hal itu memang

tuanku kehendaki.”

“Sekarang tinggalkan bangsal ini. Kemudian aku akan

memberitahukan kepadamu, apakah Permaisuri sudah dapat kau

tinggalkan. Kediri akan kesepian jika kau tidak segera kembali.“

Mahisa Agni mengangguk dalam-dalam. Kemudian katanya,

“Baiklah hamba mohon diri tuanku.”

“Ya. Aku sudah selesai.“

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan bangsal paseban.

Hatinya masih saja tersangkut kepada sikap Sri Rajasa. Namun ia

tidak dapat melupakan apa yang pernah dilakukan oleh Sri Rajasa

itu. Bahkan sekilas didalam dadanya dugaan bahwa sebenarnyalah

Sri Rajasa sedang merencanakan sesuatu yang tidak diketahuinya.

“Aku dihadapkan pada persoalan yang sangat rumit. Aku

seakan-akan melihat perubahan pada diri Sri Rajasa. Tetapi aku

tidak dapat mempercayainya sepenuhnya,“ berkata Mahisa Agni

kepada diri sendiri.

Namun bagaimana-pun juga apa yang dilihat dan dirasakannya

telah mempengaruhi perasaannya.

Meski-pun demikian, Mahisa Agni ingin memanfaatkan waktunya

yang tentu tidak akan terlalu lama lagi untuk mengarahkan

persoalan itu menjadi terang. Tetapi ia akan tetap gelisah jika tidak

ada pemecahan yang dapat menjernihkan keadaan.

Persoalan itulah yang membebani Mahisa Agni sehari penuh.

Persoalan yang justru bertambah rumit karena sikap Sri Rajasa yang

dirasakannya berubah.

Dimalam hari, Mahisa Agni tidak melupakan pesannya kepada

Kuda Sempana, bahwa ia ingin bertemu dengan Witantra. Karena

itulah maka ia-pun kemudian pergi keluar istana seperti yang

dilakukan semalam sebelumnya bersama Sumekar.

“Jika kakang Kuda Sempana belum berhasil menemuinya, maka

kita harus menunggu sampai besok,“ berkata Sumekar.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan Witantra sudah hadir malam ini.“ Keduanyapun

kemudian pergi ketempat yang sudah mereka tentukan. Tetapi

Mahisa Agni dan Sumekar masih belum menjumpai siapapun.

“Kita tunggu sebentar,“ berkata Sumekar, “mungkin kita datang

terlampau cepat.”

“Bukankah, kita tidak tergesa-gesa?“ berkata Mahisa Agni,

“mudah-mudahan Sri Rajasa tidak memanggil aku malam ini,

sehingga kepergianku tidak segera diketahuinya.”

Ternyata mereka tidak sia-sia menunggu. Meski-pun agak lama,

namun akhirnya Witantra-pun datang juga. Bahkan sekaligus

bersama Mahendra dan Kuda Sempana.

“Kalian datang bertiga?“ bertanya Mahisa Agni.

“Ya. Kami sudah terlalu lama menunggu. Setiap malam salah

seorang dari kami pasti datang ketempat ini. Selambat-lambatnya

dua malam sekali. Baru kemarin Kuda Sempana sempat bertemu

dengan kalian.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya,

“Marilah, silahkan duduk. Aku mempunyai ceritera yang cukup

menarik buat kalian.”

Mereka-pun kemudian duduk melingkar dibalik sebuah gerumbul

yang lebat, sehingga tidak seorang-pun yang akan segera dapat

melihatnya. Apalagi pertemuan itu adalah pertemuan lima orang

yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan, sehingga

mereka akan segera mengetahui jika ada orang yang mengintai.

Sementara itu Mahisa Agni-pun menceriterakan semuanya yang

telah terjadi diistana Singasari. Persoalan Permaisuri yang rasarasanya

benar-benar menjadi sakit, persoalan Anusapati yang

hampir saja terlibat dalam perselisihan terbuka dengan Tohjaya dan

kemudian sikap Sri Rajasa yang membuatnya ragu-ragu.

Witantra, Mahendra dan kuda Sempana mendengarkannya

dengan penuh minat. Yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu adalah

apa yang akan dapat membakar Singasari.

Ketika Mahisa Agni selesai dengan ceriteranya, maka mereka

yang mendengarkannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak mereka mencernakan ceritera itu, seakan-akan mereka

ingin menimbang persoalannya dari segala segi.

“Mahisa Agni,“ berkata Witantra kemudian, “kita semuanya

sudah mengenal Sri Rajasa. Kita mengenal apa saja yang sudah

dilakukannya untuk mendapatkan tahta itu. Karena itu, alangkah

sulitnya untuk melupakannya. Aku sudah kehilangan adik

seperguruanku karena pokalnya. Bahkan aku telah dihinakan

diarena, meski-pun waktu itu kaulah yang naik melawan aku, tetapi

sudah tentu bahwa kau semata-mata telah dibakar oleh kemarahan

yang meluap-luap, karena kau-pun telah tertipu pula oleh Ken Arok

yang kini bergelar Sri Rajasa. Kau tentu menyangka bahwa yang

membunuh pamanmu, mPu Gandring itu, adalah Kebo Ijo pula.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau tentu dapat membayangkan, betapa liciknya Ken Arok yang

bergelar Sri Rajasa itu, sehingga ia berhasil memperistri Ken Dedes

yang baru saja ditinggalkan oleh suaminya, Tunggul Ametung.“

Witantra berhenti sejenak. Lalu, “tetapi memang tidak mustahil

bahwa seseorang pada suatu saat akan sampai pada suatu keadaan

yang dapat menyudutkannya dalam kesulitan batin. Dalam keadaan

yang demikian, memang kadang-kadang semuanya yang telah

dilakukan itu tercermin kembali didalam angan-angannya. Dan

seandainya hal itu terjadi maka tidak mustahil pula bahwa Ken Arok

itu menyesali semua perbuatannya. Tetapi apakah artinya

penyesalan itu sekarang? Kita hormati Ken Arok, karena ia sudah

membuat Tumapel menjadi Singasari yang besar sekarang ini.

Tetapi jika kelanjutan dari Singasari ini menjadi kabur, dan bahkan

akan menjadi padam sama sekali, kita harus berpikir kembali.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apalagi jika Sri Rajasa berusaha untuk menyerahkan kerajaan

ini kepada keturunan Ken Umang,“ berkata Witantra lebih lanjut.

Lalu, “aku kenal Ken Umang sejak ia masih seorang gadis remaja

karena ia tinggal bersama kakak perempuannya. Aku tahu

bagaimana sifat-sifatnya dan aku tahu bahwa hatinya bukannya hati

yang bersih. Kemudian aku juga mendengar banyak tentang

Tohjaya yang tidak berbeda dari sifat-sifat ibunya. Dengan

demikian, maka kita sudah dapat membayangkan, bagaimana

dengan Singasari dimasa mendatang, jika Singasari jatuh ditangan

Tohjaya itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Meski-pun tidak

seorang-pun yang dapat memastikan bahwa Anusapati akan dapat

berbuat lebih baik dari Tohjaya, tetapi mereka dapat

memperhitungkan kemungkinan itu.

“Karena itu Mahisa Agni,“ berkata Witantra itu pula, “kau jangan

sekali lagi terjerumus kedalam perangkap Ken Arok. Aku tahu

bahwa justru karena hatimu terlalu bersih, maka kau tidak dapat

membayangkan, betapa liciknya seseorang. Meski-pun kita tidak

menutup kemungkinan, bahwa pada suatu saat seseorang seperti

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu dapat menyesali semua

perbuatannya.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi bibirnya bergerak,

“Sebenarnya aku berharap bahwa Ken Arok menjadi baik ketika

kami sedang membuat bendungan dan membangun Panawijen

dipadang Karautan, setelah Panawijen yang lama menjadi kering.

Tetapi tiba-tiba saja penyakit padang Karautanmya berjangkit

kembali.”

“Itulah yang dapat kita lihat padanya. Sebagai seorang Maharaja

ia berbuat sebaik-baiknya. Tetapi di saat-saat terakhir, maka pamrih

pribadinya pulalah yang kemudian justru menonjol,“ sahut Witantra.

Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk. Namun dalam pada itu

terdengar Sumekar berkata dengan nada yang dalam tetapi seakanakan

bergetar dari dasar hatinya, “Kakang Mahisa Agni. Bagaimanapun

juga, aku yang melihat kehidupan Ken Arok yang bergelar Sri

Rajasa sehari-hari dan puteranya tuanku Tohjaya, tidak akan dapat

mempercayainya lagi. Mungkin disaat-saat tertentu ia dapat

bersikap baik. Tetapi itu sekedar suatu usaha untuk membayangi

sikapnya yang sebenarnya. Bagiku tugas Sri Rajasa sudah selesai.

Kita bersama-sama menaruh hormat atas usahanya mempersatukan

seluruh Singasari. Tetapi jika ia masih berkesempatan mengatur

saluran kekuasaan sampai ke putera-puteranya, maka akan terjadi

suatu saat Singasari akan hancur. Marilah kita tidak sekedar

terpancang pada kepentingan tuanku Anusapati yang kebetulan

adalah putera tuan Puteri Ken Dedes, dan tidak pula terikat kepada

kebencian kita kepada tuanku Tohjaya, putera tuan Puteri Ken

Umang, tetapi adalah kebetulan sekali bahwa menurut perhitungan

kita, jika kekuasaan Singasari jatuh ke tangan tuanku Tohjaya,

maka Singasari tidak akan lestari. Itulah sebabnya maka kita harus

memotong jalur yang memungkinkan hal ini terjadi.”

“Maksudmu?“ bertanya Mahisa Agni.

“Sri Rajasa dilenyapkan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “jangan

tergesa-gesa Sumekar. Persoalannya tidak begitu sederhana. Meskipun

seandainya kita akan sampai juga kepada jalan itu, tetapi

semuanya harus yakin dan masak.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Mahisa

Agni tentu tidak menyetujuinya untuk saat ini. Tetapi Sumekar sama

sekali tidak melihat jalan lain.

Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana hanya dapat

mengerutkan keningnya. Bagi mereka, banyak pertimbangan yang

harus diperhitungkan.

“Kakang Mahisa Agni,“ berkata Sumekar, “aku dapat mengerti

perasaanmu. Kau adalah seorang yang menurut tangapanku, sangat

dipengaruhi oleh pertimbangan-angan perikemanusiaan. Karena itu,

maka kau adalah seseorang yang sangat baik. Tetapi menghadapi

Sri Rajasa kau harus mempunyai pertimbangan yang lain.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Seperti yang aku katakan Sumekar, apabila sampai saatnya,

apaboleh buat. Tetapi kita harus mendapatkan saat yang tepat dan

alasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Bukan sekedar

prasangka dan alasan-alasan yang sangat kabur.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya,

“Banyak soal yang ingin aku ketahui. Namun yang terpenting adalah

perkembangan hubungan antara Anusapati dan Tohjaya.”

“Hubungan yang sangat dipengaruhi oleh sikap Sri Rajasa

sendiri,“ sahut Sumekar.

“Ya.“

Witantra berpikir sejenak, lalu “dimana keris buatan mPu

Gandring itu sekarang?”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak, namun katanya kemudian, “Ada

pada Anusapati.”

Witantra dan orang-orang lain yang mendengarnya mengerutkan

keningnya. Dan Sumekar-pun menyahut, “jalan sudah terbuka.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Bagaimana mungkin keris itu ada ditangan Anusapati?“

bertanya Witantra.

“Ken Dedes memberikan kepadanya.”

“Apakah Permaisuri sudah memilih?“ desak Mahendra.

“Bukan maksudnya, Anusapati menyimpan keris itu untuk

pengamanan dirinya. Jika keris itu tidak berada di tanganya, maka

ada kemungkinan keris itu menikam jantungnya.”

“Dan Sri Rajasa tidak memintanya?“ bertanya Kuda Sempana.

“Sampai sekarang tidak,“ jawab Mahisa Agni, “aku tidak tahu

apakah Sri Rajasa sudah mengetahuinya.”

Mereka yang mendengarnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kesan yang aneh telah merambat dihati mereka. Seakan-akan

mereka mempunyai gambaran yang sama bagi masa mendatang.

“Hanya ada dua kemungkinan,“ berkata Witantra didalam

hatinya, “Anusapati dilenyapkan atau melenyapkan. Suatu pilihan

yang maha sulit. Agaknya Anusapati tidak cukup kuat secara batin

untuk menjatuhkan pilihan itu. Seperti juga Mahisa Agni sendiri yang

terlalu banyak dipengaruhi oleh pertimbangan peri kemanusiaan

seperti yang dikatakan oleh Sumekar.”

Tetapi Witantra tidak mengucapkannya.

Yang kemudian berbicara adalah Mahendra, “Jadi menurut

pertimbanganmu Agni, apakah yang sebaik-baiknya kita lakukan

sekarang?“

“Aku ingin mendapat bantuan pengaruh Witantra pada para

Senapati, terutama yang berusia sebaya dengan kita atau lebih

muda sedikit. Mereka tentu mengenal siapakah Witantra itu. Bagi

Senapati yang muda, mungkin Witantra hanyalah nama saja. Tetapi

bagi yang lebih tua, mereka mengenal jauh lebih banyak.”

“Maksudmu?“ bertanya Witantra.

“Witantra. Sekali-sekali aku ingin kau menampakkan dirimu.

Dengan demikian maka nama Witantra akan disebut-sebut lagi. Dan

aku yakin bahwa nama itu akan berpengaruh pada Sri Rajasa.”

“Pengaruh apakah yang kau kehendaki?”

“Ia akan semakin disudutkan oleh kenangan masa lampaunya.

Mudah-mudahan ia dapat melihat segala kesalahan yang pernah

dilakukannya.”

“Kau berharap bahwa Sri Rajasa akan melangkah surut?“

Mahisa Agni tidak menjawab. Kepalanya perlahan-lahan

menunduk lesu. Namun demikian, kepalanya itu bergerak sedikit,

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Suatu keajaiban.

Seandainya ada penyesalan dihati Sri Rajasa. tetapi ia sudah

terperosok terlampau jauh. Tohjaya sudah menjadi dewasa serta

dibekali dengan segala macam angan-angan yang hitam. Tentu

Tohjaya akan selalu memaksa Sri Rajasa untuk berjalan terus,

betapa-pun hatinya sendiri dirambati oleh kesadaran, namun sudah

terlambat.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata,

“Aku kira dapat juga dicoba Mahisa Agni. Aku besok akan menemui

satu dua orang Senapati terutama dari pasukan Pengawal yang aku

duga masih dapat mengenal aku dan mengingat apa yang pernah

mereka kenal itu dahulu.”

“Kita masih akan mempertaruhkan beberapa hari untuk itu?“

bertanya Sumekar.

“Hanya beberapa hari,“ jawab Mahisa Agni, “sampai saat ini aku

masih belum diusir oleh Sri Rajasa meski-pun sudah ada beberapa

kesan agar aku segera kembali ke Kediri.”

“Jadi, apakah kita tidak lebih baik bertindak langsung dan

cepat?“ bertanya Sumekar kemudian.

“Kita masih akan mencoba Sumekar.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah.

Kita melihat apakah dibeberapa hari ini ada perubahan pada Sri

Rujasa dan terutama pada tuanku Tohjaya. Jika hubungan

keduanya tidak terputus, menurut dugaanku, akan sulitlah kiranya

mendapatkan perubahan suasana diistana Singasari yang menjadi

semakin panas ini.”

Mahisa Agni memandang Sumekar sejenak. Namun kepalanyapun

terangguk-angguk kecil. Katanya, “Kita berdoa, mudahkan ada

perbaikan yang terjadi di istana Singasari.”

“Tetapi kita jangan membiarkan diri kita terjebak oleh kebaikan

hati kita,“ berkata Mahendra kemudian, “aku setuju untuk

menunggu satu dua hari. Tetapi seperti yang dikatakan oleh

Sumekar, dalam satu dua hari dapat terjadi apapun, karena

perubahan dapat berlangsung dengan cepatnya. Sri Rajasa

mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas. Itulah sebabnya

semuanya dapat terjadi.”

“Aku menyadari,“ jawab Mahisa Agni, “karena itu, selain setiap

usaha harus dialasi dengan sikap hati-hati, juga harus dilambari

dengan kesiagaan untuk menghadapi segala kemungkinan.”

“Baik. Aku sependapat,“ berkata Witantra, “marilah kita coba.

Aku akan segera menghubungi beberapa orang perwira didalam

pasukan pengawal istana.”

Demikianlah mereka kemudian menemukan kesepakatan. Meskipun

Sumekar dan Mahendra menyangsikan hasilnya. Namun mereka

ingin melihat juga, apakah yang kira-kira akan terjadi.

Sejenak kemudian maka Mahisa Agni dan Sumekar-pun segera

kembali ke istana, sedang Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana

kembali kepersembunyian mereka dipinggir kota. Mereka telah

berusaha untuk mendapatkan sebuah pondokan bagi mereka yang

menyebut dirinya pedagang-keliling, karena sebenarnyalah bahwa

Mahendra adalah seorang saudagar.

Tanpa meninggalkan kewaspadaan Mahisa Agni masih dapat

bersabar beberapa saat. Perkembangan perasaan yang dibacanya

pada tingkah laku Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa menimbulkan

harapan dihatinya, bahwa masalahnya tidak harus diselesaikan

dengan kekerasan.

Dengan lembut ia berusaha menenteramkan hati Anusapati.

Meski-pun ia tidak mengatakannya, bahwa ia melihat perubahan

pada Sri Rajasa, namun ia mengharap bahwa Anusapati tidak

merubah cara hidupnya sehari-hari.

“Berbuatlah seperti tidak terjadi sesuatu atasmu dan atas

perasaanmu Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “mudah-mudahan

kita menemukan jalan yang sebaik-baiknya.”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Mudahmudahan

kita tidak terlambat paman. Menurut perasaanku, kini

sedang terjadi perang yang tiada kasat mata antara kita dengan

ayahanda Sri Rajasa bersama adinda Tohjaya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak 'dapat

ingkar. Yang dikatakan oleh Anusapati itu memang sebenarnya telah

terjadi.

Meski-pun di saat terakhir terpercik harapan dihati Mahisa Agni,

namun ia selalu memperingatkan kepada Anusapati, bahwa ia tidak

boleh melupakan trisula kecilnya.

“Aku selalu membawanya paman. Disetiap saat trisula itu ada

padaku. Bahkan dimalam hari bukan saja trisula itu, tetapi juga keris

mPu Gandring selalu berada dipembaringan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia bergumam,

“Mudah-mudahan aku dapat menyaksikan, bahwa tidak akan terjadi

sesuatu yang tajam sampai saatnya aku kembali ke Kediri.“

“Tetapi bagaimana sepeninggal paman?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya,

“Sepeninggalku-pun keyakinan itu harus aku dapatkan. Jika tidak,

aku masih akan tetap berada di istana ini, meski-pun jatuh perintah

Sri Rajasa agar aku kembali ke Kediri. Atau ...” Mahisa Agni tidak

melanjutkan kata-katanya.

“Atau? Apakah maksud paman?“ bertanya Anusapati.

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Tetapi didalami hati ia

berkata, “Atau perang ini sudah berakhir, siapa-pun yang akan

menjadi korban.”

Demikianlah, maka Anusapati yang muda itu masih harus

menahan diri. Kadang-kadang terasa dadanya menjadi pepat dan

kehilangan pengendalian diri. Tetapi setiap kali ia menyadari pesan

pamannya, maka ia-pun segera mengurungkan niatnya untuk

berbuat sesuatu.

Bahkan ia selalu berusaha untuk berbuat seakan-akan tidak

terjadi sesuatu. Ia berkeliaran dihalaman istana tanpa pengawalan.

Bahkan ia berkunjung dari satu gardu yang lain seperti yang sering

dilakukannya. Namun demikian ia tidak berpisah dengan trisula

kecilnya, yang dapat memberikan perlindungan kepadanya, apabila

pada suatu saat Sri Rajasa telah sampai pada titik akhir dari

kesabarannya.

Dalam pada itu, Witantra benar-benar telah menepati janjinya.

Dalam pakaian seorang pedagang ia berjalan hilir mudik didalam

kota Singasari yang menjadi semakin besar. Dan ternyata seperti

dugaannya, tidak ada orang lagi yang dapat mengenalnya. Selain

wajahnya yang bertambah tua, Witantra sebagai Panglima tidak

pernah berpakaian seperti yang dipakainya itu.

Tetapi Witantra masih dapat mengenali beberapa orang prajurit

yang tidak sedang bertugas. Namun demikian Witantra tidak

menemui setiap orang yang dijumpainya. Ia masih juga memilih

orang-orang yang menurut dugaannya dapal dipercayainya.

Witantra tertarik kepada seorang prajurit dan Pasukan Pengawal

yang sedang berdiri dimuka regol rumahnya, Rumah yang agaknya

belum terlalu lama dibangun. Rumah yang dibangun sesuai dengan

kedudukannya sebagai seorang perwira.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Rumah itu jauh lebih baik

dari rumah orang itu selagi ia masih menjadi seorang perwira di

Tumapel.

“Apa salahnya,“ berkata Witantra, “itu adalah haknya. Mudahmudahan

ia masih mengenal aku dan mudah-mudahan ia dapat

diajak berbicara serba sedikit seperti dahulu. Jika ia berubah, maka

persoalannya akan menjadi lain.”

Meski-pun dengan agak berdebar-debar juga Witantra mendekati

regol itu. Tetapi dalam ujud seorang pedagang yang berkecukupan,

maka perwira yang berdiri diregol itu-pun menaruh perhatian

kepadanya.

Karena ternyata Witantra mendekatinya, maka perwira itu-pun

kemudian menganggukkan kepalanya sambil menyapanya, “Apakah

Ki Sanak mempunyai keperluan?”

Witantra-pun mengangguk hormat. Jawabnya, “Ya, ki Sanak. Aku

ingin bertemu sejenak.”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Dan Witantra bertanya pula,

“Apakah aku boleh minta sekedar keterangan?”

“Tentu,“ jawab perwira itu.

“Aku ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Kebo

Pamungkas.”

“Kebo Pamungkas?“ orang itu mengulangi.

Witantra menganggukkan kepalanya. Tetapi ia melihat sesuatu

yang menyentuh perasaannya.

“Kenapa Ki Sanak mencari Kebo Pamungkas?“ bertanya orang

itu.

Witantra mulai curiga. Ia sadar, bahwa orang itu tidak akan

segera mengaku tentang dirinya. Apalagi agaknya orang itu sama

sekali sudah tidak mengenalinya.

“Aku adalah seorang utusan dari kawan Kebo Pamungkas,“

jawab Witantra.

“Siapakah yang mengutusmu?”

“Seorang pertapa dipuncak gunung.”

“Aneh,“ jawab orang itu, “menilik bentuk lahiriah, saudara

adalah seorang pedagang, atau seorang pemilik tanah yang kaya.

Bukan seorang cantrik, atau putut yang tinggal dipuncak gunung

pada seorang pertapa.”

“Sebenarnya aku seorang Putut.”

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia

bertanya, “Siapakah pertapa dipuncak gunung yang mengutusmu

menemui Kebo Pamungkas.”

Witantra menjadi ragu-ragu. Namun katanya kemudian. “Ia

adalah seorang bekas prajurit, yang tersisih. Tetapi sampai saat ini

ia masih yakin akan kebenaran pendiriannya itu.”

Perwira itu mengerutkan keningnya.

“Kenapa kau sama sekali tidak mengesankan bahwa kau seorang

Putut dari padepokan dipuncak gunung? Apatah perjalananmu

mengandung suatu maksud sandi?”

“Tidak,“ berkata Witantra, “tidak ada maksud sandi.”

“Sebut namanya,“ perwira itu tidak sabar.

“Witantra, Witantra,“ orang itu merenungi nama itu sejenak.

Lalu, “dimana padepokan itu?“

“Jauh, dipuncak gunung.”

“Witantra,” sekali lagi orang itu menyebut namanya, lalu

katanya, “apakah sekarang Witantra menjadi seorang bertapa

dipuncak gunung yang jauh?”

“Ya.”

Perwira itu memandang Witantra itu sejenak. Lalu, “Silahkan.

Silahkan masuk.”

Witantra menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak tahu

tanggapan yang sebenarnya dari perwira itu. Namun ia-pun tidak

menolak dan mengikuti perwira itu masuk kedalam rumahnya.

Witantra-pun kemudian duduk dipendapa. Sejenak ia mengamati

perabot rumah itu. Dilihatnya lewat pintu pringgitan yang terbuka,

beberapa jenis senjata tergantung pada dinding rumah itu.

“Aku tertarik sekali jika Ki Sanak dapat berceritera tentang

Witantra,“ berkata perwira itu kemudian, “sudah lama sekali aku

tidak melihatnya sejak ia meninggalkan Tumapel.“

“Ya. Sejak itu,“ sahut Witantra. Lalu, “ia merasa bahwa ia sudah

tidak terpakai lagi.”

“Sejak ia dikalahkan oleh Mahisa Agni di arena karena ingin

membela nama baik Kebo Ijo.”

“Ya. Dan sekarang Mahisa Agni menjadi wakil Mahkota di

Kediri.”

“Tetapi hubungan antara keduanya tidak seperti yang kita

harapkan. Apakah banyak yang kau ketahui tentang isi istana?

Tentang Sri Rajasa, puteranda Pangeran Pati dan putera-putera Ken

Umang?”

Witantra menggelengkan kepalanya. “Apakah ada sesuatu yang

menarik?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa,“ jawab perwira itu.

Witantra memandanginya sejenak. Lalu, “Bagaimana jika para

perwira, terutama yang telah bertugas didalam pasukan pengawal

sejak Tumapel, bertemu kembali dengan Witantra.”

“Kami tidak mempunyai persoalan apa-apa dengan Witantra.

Witantra adalah seorang pemimpin yang baik bagi kami.“ Perwira itu

berhenti sejenak. Lalu, “tetapi kami yang sudah ada didalam

pasukan Pengawal sejak Tumapel, jumlahnya tidak lebih dari jari

tangan.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tentu diantara

mereka ada yang sudah terlalu tua. Tetapi tentu ada yang dengan

sengaja disisihkan karena tidak disukai.

“Ki Sanak,“ berkata Witantra kemudian, “bagaimanakah jika

Witantra itu pada suatu saat mengunjungi sahabat-sahabatnya di

Singasari?”

“Tentu tidak apa-apa,“ jawab perwira itu, namun kemudian,

“Tetapi saat ini Mahisa Agni berada di Singasari. Jika hubungan

diantara mereka dapat pulih kembali, maka tidak akan ada

persoalan yang lain. Aku kira Sri Rajasa-pun tidak akan menaruh

banyak perhatian.”

“Benar begitu?”

Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak. Sambil menarik nafas

dalam-dalam ia berdesis, “Entahlah bagi Sri Rajasa itu.”

Witantra mengerutkan keningnya. Namun ia tidak segera

mengatakan sesuatu tentang dirinya. Agaknya ia masih ingin

meyakinkan tanggapan perwira itu sendiri.

“Bagiku,“ berkata perwira itu, “perhatian Sri Rajasa kini

tertumpah pada persoalan putera-puteranya itu. Agaknya Putera

Mahkota dan putera tertua dari isteri Sri Rajasa yang muda, tidak

dapat dirukunkan.”

“Apakah Sri Rajasa tidak berpihak?”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak

dapat mengatakannya.“

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia masih

dicengkam oleh keragu-raguan. Dan ia-pun bertanya, “Apakah itu

berarti bahwa kedatangan Witantra di Singasari tidak menambah

persoalan bagi Sri Rajasa?”

“Memang mungkin sekali. Karena menurut pendapat kami,

kepergian Witantra adalah karena adik seperguruannya yang

terbunuh oleh Ken Arok, langsung atau tidak langsung sebelum Ken

Arok bergelar Sri Rajasa.”

“Maksudmu?“ bertanya Witantra, “apakah sebenarnya Kebo Ijo

tidak bersalah?“

“Tentu Kebo Ijo bersalah. Tetapi ia belum sampai di arena

hukuman yang sebenarnya. Bukankah Witantra mengetahui bahwa

kematian Kebo Ijo justru sebelum jatuh keputusan tentang dirinya,

sedang saat itu tujuh pimpiaan di Tumapel masih meragukan

kesalahannya?”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun

bertanya, “jadi bagaimana menurut pendapatmu? Jika seandainya

sekarang Witantra itu hadir di Singasari?”

“Tidak apa-apa bagiku,“ berkata perwira itu. “tetapi, aku kira

pengaruhnya masih juga menggelisahkan Sri Rajasa dan barangkali

juga Mahisa Agni. Kita tidak tahu, jika Witantra ada di Singasari,

bagaimanakah tanggapannya atas peristiwa yang kini terjadi di

istana ini. Mungkin ia tidak sependapat dengan Sri Rajasa dan tidak

pula berpihak kepada Mahisa Agnj sekaligus. Mungkin ia ingin

menanamkan pengaruhnya sendiri sehingga pada suatu saat akan

ada tiga kekuatan yang terpisah di Singasari.”

“Tentu tidak,“ berkata Witantra, “Witantra tidak akan

mempunyai keinginan untuk berbuat apa-apa lagi. Jika ia hadir di

Singasari hanyalah sekedar melepaskan kerinduannya kepada

beberapa orang sahabatnya termasuk Mahisi Agni.”

Witantra menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ia tidak

mendendam kepada siapa pun. Tidak kepada Mahisa Agni dan tidak

kepada Sri Rajasa.”

Perwira itu mengangguk-anggukkkan kepalanya. Katanya,

“Mungkin Witantra yang sudah menjadi seorang pertapa itu tidak

mendendam dan bahkan tidak lagi menganggap ada persoalan apapun

di Singasari ini. Tetapi aku tidak tahu apakah tanggapan Sri

Rajasa atas kehadirannya.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dan ia-pun kemudian

bertanya, “Ki Sanak, apakah Ki Sanak tidak dapat menunjukkan

seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas?”

“Jika Witantra sendiri datang, aku akan mengatakan kepadanya,

tentang seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas.”

Witantra merenung sejenak, lalu gumamnya. “Jika demikian

tempat yang ditunjukkan kepadaku itu ternyata keliru. Aku

mendapat keterangan, bahwa dirumah ini aku akan dapat dapat

menjumpai seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas.”

“Kebo Pamungkas adalah seorang perwira prajurit Tumapel,

bukan seorang prajurit Singasari.“

“O.” Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “jadi,

jika demikian aku telah salah. Atau barangkali Witantralah yang

salah.“

“Aku akan menunjukkan kepada Witantra jika ia datang sendiri

kepadaku,“ berkata perwira itu.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Ki

Sanak sudah mengenal Witantra?“

“Tentu sudah. Aku mengenalnya dengan baik sejak kami

bersama-sama menjadi prajurit di Tumapel.”

“O, jadi Ki Sanak juga seorang prajurit Tumapel?“

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Dan Witantra

mendesaknya, “Jika demikian Ki Sanak sebenarnya juga mengenal

orang yang bernama Kebo Pamungkas yang Ki Sanak sebut sebagai

seorang prajurit Tumapel itu.”

Sejenak perwira itu terdiam. Namun kemudian ia berkata, “Sudah

aku katakan, jika Witantra itu datang, aku akan menjelaskannya.”

“Baiklah Ki Sanak,“ berkata Witantra, “aku akan mengatakan

agar Witantra datang sendiri kepada Ki Sanak. Tetapi Ki Sanak tentu

sudah tidak mengenalnya, karena ia menjadi semakin tua, tidak lagi

berpakaian seperti seorang Panglima dan tidak lagi mempunyai

pengaruh apa-pun pada lingkungannya.”

“Dan Kebo Pamungkas?”

“jangan bertanya lagi sebelum Witantra datang.“

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya perwira itu

sejenak. Namun benar tidak ada kesan bahwa perwira itu masih

mengenalnya.

Sejenak Witantra termangu-mangu. Apakah ia akan

menunjukkan dirinya sendiri, atau ia akan mengambil keputusan lain

sebelum terlanjur, karena akibatnya masih sangat diragukannya.

Apalagi orang itu yang menurut pengenalannya bernama Kebo

Pamungkas, selalu mencoba mengingkar; nama itu karena ia kini

seorang perwira prajurit Singasari.

“Apakah ada keberatannya ia menyebut nama itu?“ bertanya

Witantra kepada diri sendiri.

Sejenak kedua orang itu dicengkam oleh keragu-raguan. Namun

karena kehadiran Witantra itu memang dengan sengaja untuk

membangunkan nama Witantra kembali, maka ia-pun kemudian

menetapkan bahwa ia akan menyatakan dirinya sendiri dihadapan

perwira itu.

Maka dengan hati-hati Witantra-pun kemudian bertanya, “Ki

Sanak. Jika Witantra itu datang, apakah Ki Sanak tidak akan

melupakannya?”

“Pertanyaanmu sudah beberapa kali aku jawab, aku tidak akan

dapat melupakan Witantra.”

Witantra itu tertawa. Katanya, “Ternyata kau keliru Ki Sanak. Kau

ternyata sudah tidak akan dapat mengenal Witantra lagi.”

“Akh. Kenapa kau mendahului menebak? Kau belum mengetahui

bagaimana aku mengenalnya dahulu dan bagaimana ia mengenal

aku.”

“Bagaimana jika aku membawa dua atau tiga orang sekaligus

datang kemari? Apakah kau dapat memilih, yang mana diantara

mereka yang bernama Witantra?”

“Tentu, bawalah mereka kemari. Tiga, empat atau sepuluh

orang sekaligus.“

Witantra justru tertawa karenanya. Katanya, “Tidak lebih dari

seorang, dan Ki Sanak sudah tidak mengenalnya.”

“He,“ orang itu mengerutkan keningnya.

“Tidak lebih dari satu orang,“ ulang Witantra, “apakah Ki Sanak

benar-benar masih mengenal Witantra he?”

Orang itu termangu-mangu sejenak.

Dan Witantrapnn tertawa semakin lebar, “Kau kenal aku?”

“Witantra, Witantra,“ orang itu menyebut namanya. Diamatamatinya

Witantra yang masih saja tertawa itu.

“Apakah maksudmu?“ perwira itu bertanya.

“Akulah Witantra,“ jawab Witantra itu.

Kerut merut dikening perwira itu menjadi semakin dalam. Namun

dengan ragu-ragu ia berkata, “Mustahil aku tidak mengenalnya lagi.

Mustahil.”

“Apakah yang aneh menurut pendapatmu? Pakaian saudagar

kaya ini?”

Orang itu tidak menjawab.

“Maaf,“ berkata Witantra, “sebenarnya akulah Witantra itu.

Itulah sebabnya aku mengetahui namamu. Dan itulah sebabnya aku

menjadi agak bimbang ketika kau agaknya mengingkari nama itu.“

Orang itu masih memandang Witantra dengan tajamnya. Keraguraguan

yang dalam tampak pada sorot matanya. Namun sejenak

kemudian ia berdesis, “Witantra, Witantra.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Rambutku sudah

berubah warnanya. Keningku sudah menjadi berkerut merut, dan

barangkali pipiku sudah mulai melipat.”

“Ah,“ orang itu berdesah. Namun perlahan-lahan ia mulai dapat

mengingat kembali wajah Witantra. Wajah Panglima pasukan

Pengawal istana pada masa kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung.

Wajah yang tenang, dan seakan-akan permukaan air yang dalam.

Diam, namun mengandung perbawa yang mencengkam.

Sejenak perwira itu memandang wajah Witantra. Dan dengan

suara yang ragu ia bertanya, “Apakah benar aku berhadapan

dengan Witantra.”

“Ya Ki Sanak. Aku berkata sebenarnya bahwa kau memang

sedang berhadapan dengan Witantra. Karena itu jangan ingkar lagi

bahwa kau adalah Kebo Pamungkas.”

Perlahan-lahan perwira itu menganggukskan kepalanya. Dan

perlahan-lahan pula ia berkata, “Ya. aku semakin mempercayaimu,

bahwa aku memang berhadapan dengan Witantra. Dan karena itu

aku tidak akan dapat mengingkari nama itu lagi, meski-pun sejak

aku menjadi perwira dari pasukan Pengawal di Singasari, namaku

sudah berubah.

“O,“ Witantra menganggukkan kepalanya, “tetapi aku sadar

bahwa kau ingin meyakinkan, apakah aku benar-benar Witantra.

Nah, sekarang kau masih mendapat kesempatan. Apakah yang ingin

kau ketahui, dan apakah yang dapat aku katakan, agar kau benarbenar

percaya bahwa aku adalah Witantra.”

Perwira itu memandang Witantra sejenak. Hampir di luar

sadarnya ia bertanya, “Apakah yang kau ketahui tentang Putera

Mahkota?”

Witantra tersenyum. Katanya, “Kau tidak mau mengatakannya.

Tetapi baiklah, akulah yang akan mengatakannya bahwa Putera

Mahkota itu bukan putera Sri Rajasa. Sebagai seorang Panglima

Pasukan Pengawal aku tahu pasti, bahwa pada saat Akuwu Tunggul

Ametung terbunuh, Ken Dedes sedang mengandung muda. Aku

tahu pasti, bagaimana tuan puteri itu selalu diganggu oleh pening

dikepala dan kadang-kadang muntah-muntah. Bagaimana tuan

puteri selalu ingin makan mentah-mentahan yang asam. Dalam

keadaan itulah tuan puteri kemudian kawin dengan Ken Arok yang

dengan sendirinya melaksanakan tugas pemegang kekuasaan atas

Tumapel. Dan ternyata ia adalah seorang yang memiliki kelebihan

dari sesamanya. Itulah sebabnya, dengan bekal yang ada ia

akhirnya dapat mempersatukan seluruh Singasari. Sehingga ia

akhirnya bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Nah, apakah

kau percaya bahwa aku Witantra. Tentu bukan sekedar

keteranganku itulah yang memastikan jika aku Witantra, tetapi

terlebih-lebih adalah ingatanmu tentang aku.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku

yakin sekarang, bahwa kau memang Witantra. Tetapi Witantra

memiliki kekuatan yang luar biasa. Kemampuannya hampir tidak

ada duanya di Tumapel waktu itu, kecuali Mahisa Agni dan

barangkali Sri Rajasa sendiri.”

Witantra tersenyum. Katanya, “Itu adalah pada masa mudaku,

selagi olah kanuragan seakan-akan merupakan keputusan terakhir

bagi setiap persoalan.”

Perwira itu memandang Witantra sejenak. Meski-pun ia menjadi

semakin yakin bahwa yang dihadapinya memang Witantra,

sebenarnyalah ia mengharapkan agar Witantra dapat membuktikan

dirinya dengan kemampuannya yang luar biasa.

Tetapi tidak ada tanda-tandanya bahwa Witantra akan berbuat

sesuatu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia masih saja

duduk ditempatnya sehingga perwira Singasari itu tidak lagi

mengharap bahwa ia dapat melihat Witantra menunjukkan sesuatu

kepadanya.

Sejenak keduanya berdiam diri. Sejenak perwira itu masih

mengharap. Namun kemudian ia mengerutkan keningnya dan

berkata seakan-akan diluar kehendaknya, “Aku sekarang yakin,

bahwa kau memang Witantra. Justeru bahwa kau tidak berbuat apaapa

itulah, yang menunjukkan kepadaku, sebenarnyalah kau

seorang yang matang dan memiliki ilmu tinggi. Kau tidak dengan

tergesa-gesa turun kehalaman dan meremas sebongkah batu

menjadi debu. Itulah yang mengagumkan. Aku jadi yakin sekarang.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sukurlah, jika

kau mempercayaiku. Justru aku tidak berbuat apa-apa.”

“Karena kau tidak berbuat apa-apa itulah aku jadi yakin.“ sahut

perwira itu, “jika kau dengan bangga menunjukkan kemampuanmu

dan membuat pengeram-eram, maka kau tentu bukan Witantra

yang aku kenal dahulu. “

Witantra tertawa. Katanya, “Tanggapanmu-pun adalah

tanggapan seorang perwira yang matang. Jarang sekali seseorang

memiliki tanggapan serupa itu. Jika bukan Ki Kebo Pamungkas, ia

tentu ingin melihat aku meremas batu menjadi debu.”

Keduanya tertawa. Dan perwira itu berkata, “Ternyata kita masih

sempat bertemu lagi. Aku senang sekali dapat bertemu dengan Kau

Witantra. Selama aku menjadi prajurit sejak di Tumapel, aku belum

pernah mempunyai Panglima seperti kau. Bukan saja Panglima

Pasukan Pengawal, tetapi Panglima pasukan yang manapun.”

“Kau memuji. Tentu aku jauh ketinggalan dari Panglima yang

ada sekarang. Mereka tentu memiliki kecakapan dan kemampuan

melampaui setiap Panglima yang pernah ada.”

Perwira itu mengangkat bahunya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak

ingin mengatakan sesuatu tentang para Panglima yang ada

sekarang.

“Baiklah,“ berkata Witantra, “kita tidak berbicara terlalu banyak

tentang diri kita sendiri. Aku ingin bertanya secara keseluruhan,

apakah terdapat banyak kemajuan sejak Singasari berdiri sampai

sekarang?”

Kebo Pamungkas mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Secara keseluruhan kita memang banyak mengalami kemajuan.

Tumapel memang terlampau kecil dibanding dengan Singasari

sekarang.“ ia berhenti sejenak. Lalu, “aku berkata sebenarnya

Witantra.”

“Ya, aku mengerti. Demikian juga menurut pengamatanku dari

luar dinding istana Singasari. Bahkan sampai ke puncak bukit yang

jauh masih terasa kekuasaan tetapi juga perlindungan dari

Singasari. Memang agak berbeda dengan Tumapel yang seakanakan

hanya berkuasa di kota-kota besar saja sekitar Tumapel.

Meski-pun pada saat itu masih ada kekuasaan yang lebih tinggi.

Kediri.”

“Tetapi,“ tiba-tiba suara perwira itu merendah, “ternyata

kemudian telah timbul persoalan didalam istana Singasari sendiri.

Didalam keluarga Ken A rok yang bergelar Sri Rajasa. Sebagai

seorang Maharaja ia berhasil membina Singasari menjadi suatu

negara besar. Tetapi sebagai seorang ayah ia benar-benar gagal.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apalagi lahir Anusapati yang bukan anaknya yang sebenarnya.

Ternyata Sri Rajasa yang berjiwa besar menghadapi persoalan

Kediri, bukan Ken Arok yang berjiwa besar menghadapi kelahiran

anak tiri yang sudah diketahui sejak Ia kawin, bahwa pada saatnya

anak itu tentu akan lahir.”

Witantra masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dan ternyata anak itu sampai saat ini masih juga membawa

persoalan. Ternyata kematian Tunggul Ametung bukan suatu

penyelesaian yang tuntas bagi Ken Arok yang kemudian bergelar Sri

Rajasa.”

Witantra memandang wajah Perwira itu sejenak. Ia melihat

sesuatu melintas diwajah itu, dan dengan serta-merta ia bertanya,

“Bagaimanakah tanggapan para prajurit, terutama para Pelayan

Dalam, Pasukan Pengawal dan pemimpin pemerintahan?”

“Maksudmu?”

“Tentang hubungan Sri Rajasa dengan putera Tunggul Ametung

yang sekarang justru menjadi Putera Mahkota.”

“Kurang baik. Tidak ada yang dapat disalahkan pada keduanya.

Keadaanlah yang memang menghadapkan mereka pada suatu sikap

yang hampir dapat dikatakan bertentangan. Alangkah mudahnya

melenyapkan Putera Mahkota itu sebenarnya seandainya tidak ada

Mahisa Agni yang kebetulan adalah kakak tuan Puteri Ken Dedes

yang pengaruhnya ternyata cukup besar di Singasari dan Kediri.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Seakan-akan

ia baru mendengar semuanya itu untuk pertama kalinya.

“Persoalan ini sebenarnya tumbuh sejak Ken Arok mengambil

keputusan untuk kawin dengan Ken Dedes yang sedang

mengandung. Itulah soalnya.”

“Dan siapakah yang paling baik bagi Singasari? Seharusnya kita

tidak berbicara tentang siapakah orangnya. Tetapi apakah yang

dilakukannya bagi Singasari yang sudah memiliki bentuknya ini.”

Perwira Singasari yang semula bernama Kebo Pamungkas itu

mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Witantra sejenak,

lalu dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Bagiku Ken Arok yang

bergelar Sri Rajasa itu adalah orang yang paling baik bagi Singasari.

Baru kemudian Anusapati yang memang sudah menunjukkan

darmanya bagi rakyat. Ia adalah orang yang terkenal dengan

sebutan Kesatria Putih. Tetapi justru ketika rakyat Singasari dan

juga kalangan istana mengetahui bahwa Kesatria Putih adalah

Putera Mahkota, maka geraknya menjadi terbatas sekali.”

Witantra mengerutkan keningnya. Bahkan hampir di luar

sadarnya ia berkata. “Jika demikian, maka yang terbaik sekarang

adalah mempertahankan kekuasaan Sri Rajasa seandainya timbul

persoalan, karena seperti yang kau katakan hubungan antara Sri

Rajasa dan Anusapati agak kurang baik.”

“Jika persoalannya terbatas sampai disitu, maka kau benar.

Tetapi persoalannya tidak berhenti sampai disitu.“

“Masih, akan timbul persoalan apa lagi?”

“Tentu umur Sri Rajasa betapa-pun ia manusia yang ajaib, tidak

akan abadi. Pada suatu saat ia akan mati apa-pun sebabnya. Nah,

jika ia meninggal, timbullah persoalan yang berat bagi Singasari.“

“Persoalan yang mana yang masih harus dinilai lagi?”

“Tentu Sri Rajasa ingin tahta Singasari jatuh pada keturunannya.

Bukan kepada anak Tunggul Ametung. Karena ia tidak dapat ingkar

bahwa anak Tunggul Ametung itu yang dianggap oleh rakyat

Singasari sebagai puteranya yang sulung, maka ia adalah Putera

Mahkota. Namun Sri Rajasa tidak ingin Putera Mahkota itu akan

menggantikannya sebagai Maharaja, karena ia agaknya memilih

tuanku Tohjaya.”

Witantra mengerutkan keningnya. Ia kagum atas penilaian Kebo

Pamungkas. Agaknya Kebo Pamungkas tidak dipengaruhi oleh

kepentingan pribadinya, sehingga ia dapat melibat setiap orang di

dalam istana Singasari dengan tepat.

“Jadi apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh Sri Rajasa?”

bertanya Witantra.

“Tidak seorang-pun yang mengetahuinya,“ jawab Kebo

Pamungkas, “mungkin ia berusaha menyingkirkan Anusapati.

Mungkin pula ia berusaha agar Anusapati menarik diri atas

kehendaknya sendiri.“

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu. “Tetapi yang

manakah tanda-tanda yang dapat kau lihat akan terjadi?“

Perwira itu menggelengkan kepalanya, “Tidak seorang-pun yang

tahu. Semuanya dapat terjadi. Tetapi mungkin juga tidak terjadi

sesuatu.“

Witantra mengangguk-angguk sambil tersenyum. Memang sulit

untuk mengatakannya. Hanya orang-orang yang terlibat langsung

sajalah yang dapat melihat kemungkinan yang lebih jelas akan

terjadi di Singasari. Bahkan Mahisa Agni yang terlibat-pun masih

juga mengharap bahwa yang mungkin terjadi itu tidak terjadi.

Demikianlah Witantra berada dirumah perwira itu untuk beberapa

saat, sehingga akhirnya ia-pun minta diri. Tetapi ia masih bertanya,

siapa sajakah kawan-kawan lamanya yang dapat dikunjunginya,

sekedar untuk melepaskan perasaan sepi karena, untuk beberapa

tahun lamanya ia tinggal dipadepokan yang terpencil.

“Kau benar-benar tinggal dipadepokan terpencil?”

“Benar. Untuk itu aku berkata sebenarnya.”

“Atau barangkali kau justru menjadi seorang pedagang yang

kaya raya, tetapi tidak bernama Witantra?“

“Tidak. Aku tidak melakukannya. Aku hanya meminjam

perlengkapan adikku yang memang menjadi seorang pedagang,

agar kehadiranku dikota yang besar ini agak pantas dipandang

orang.“

“Terutama kau yang dengan sengaja melepaskan semua bekas

yang masih tertinggal pada seorang Panglima Pasukan Pengawal.”

“Bekas saja,“ sahut Witantra.

Kebo Pamungkas tertawa. Katanya, “Baiklah Witantra jika kau

mempunyai kesempatan, maka kawan-kawan lama yang kau

kunjungi pasti akan menerimamu dengan senang hati. Tetapi

jangan terkejut jika orang Singasari akan menyebut namamu lagi,

karena masih banyak orang-orang tua yang ingat akan namamu.”

“Tentu tidak. Meski-pun masih ada juga orang yang ingat akan

namaku, tetapi mereka tidak akan menyebutnya lagi. Karena

namaku sekarang tidak mempunyai arti apa-apa lagi.”

“Apa salahnya. Kadang-kadang sebuah kenangan mempunyai

arti tersendiri didalam hidup ini. Juga kenangan atas seorang

prajurit yang bernama Witantra, yang pada waktu itu menjabat

sebagai seorang Panglima Pasukan Pengawal.”

Witantra tertawa. Katanya, “Terima kasih. Mudah-mudahan

kawan-kawan lama mempunyai tanggapan seperti kau.“

Demikianlah maka Witantra-pun kemudian minta diri kepada

perwira yang pernah mempergunakan nama Kebo Pamungkas itu.

Seperti yang ditunjukkan kepadanya, maka ia-pun berjalan menuju

kerumah seorang perwira yang lain, yang seperti juga Kebo

Pamungkas, kini menjabat didalam keprajuritan Singasari, juga

dalam Pasukan Pengawal, Tanggapan beberapa orang kawan yang

dikunjunginya hampir tidak ada bedanya. Juga tanggapan mereka

atas keadaan Singasari seutuhnya. Namun dari pembicaraan yang

dilakukan, meski-pun seakan-akan hanya sepintas lalu, ternyata

bahwa para perwira menilai Anusapati lebih baik dari Tohjaya.

Namun seorang perwira berkata kepadanya. “Tetapi hati-hati

kakang Witantra. Diantara para prajurit, bahkan para Panglima yang

sekarang, ada yang dengan membabi buta berpihak kepada

Tohjaya, meski-pun hal itu telah dipengaruhi oleh pamrih pribadi.“

Pembicaraan-pembicaraan itu ternyata memberikan gambaran

yang hampir lengkap bagi Witantra atas keadaan Singasari.

Bagaimana-pun juga Sri Rajasa dan Mahisa Agni menyimpan

perasaan masing-masing dan sejauh-jauhnya menimbulkan kesan

pertentangan yang ada didalam dada mereka, namun ternyata

bahwa hal itu terasa pula bagi para perwira di Singasari.

Perang yang berlangsung dengan diam-diam itu tidak dapat

disembunyikan seutuhnya, sehingga dengan diam-diam pula hampir

setiap perwira telah mencoba menilai keduanya, dan bahkan telah

berusaha untuk menempatkan dirinya.

Namun lebih daripada itu, seperti yang memang dimaksudkan

oleh Mahisa Agni, maka nama Witantra-pun mulai disebut-sebut

lagi. Dari bibir kebibir, beberapa orang dari lingkungan Pasukan

Pengawal mulai membicarakannya.

“Witantra, aku pernah mendengar nama itu,“ berkata seorang

prajurit muda.

“Tentu,“ jawab yang lain, yang umurnya sudah jauh lebih tua.

“Witantra adalah Panglima Pasukan Pengawal pada jaman Akuwu

Tunggul Ametung bertahta di Tumapel.“

Prajurit yang masih muda itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Aku

memang pernah mendengar. Ia terusir oleh Mahisa Agni dalam

perang tanding diarena, karena Witantra mencoba mempertahankan

nama baik, kebo Ijo, yang mati terbunuh, setelah ia membunuh

Akuwu Tunggul Ametung.”

“Nah, kau banyak mengetahui tentang Witantra,“ berkata yang

sudah lebih tua, “begitulah ceriteranya.”

“Tetapi kenapa ia sekarang datang lagi ke Singasari?”

Prajurit yang tua itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.

Mungkin ia sekedar ingin melihat Singasari sekarang. Tetapi

mungkin ia ingin menemui beberapa orang kawan-kawannya.”

Prajurit yang muda itu hanya sekedar mengangguk-anggukkan

kepalanya saja. Sedang prajurit yang tua itu berkata pula, “Jika

kehadirannya ini didengar oleh Mahisa Agni mau-pun oleh Sri

Rajasa, pasti akan menimbulkan persoalan baru, Mahisa Agni yang

pernah bermusuhan diarena itu, tentu tidak akan segera dapat

melupakan. Bahkan mungkin Witantra sekarang ingin melihat

persoalan yang terjadi di Singasari dan siapa tahu, ia masih mampu

menentukan sikap dan berbuat sesuatu, karena bagaimana-pun

juga ia adalah seorang Panglima yang besar pada waktu itu.

Agaknya tidak ada orang lain kecuali Mahisa Agni sajalah yang

dapat mengalahkannya, yang kebetulan karena kematian mPu

Gandring, maka Mahisa Agni merasa berkepentingan untuk

menghukum Kebo Ijo dan tetap menempatkannya pada

kedudukannya sebagai seorang pembunuh.”

Prajurit yang muda itu hanya dapat mengangguk-anggukkan

kepalanya saja. Ceritera semacam itu pernah didengarnya meskipun

tidak lengkap. Namun bagaimana-pun juga kehadiran Witantra

menjadi bahan pembicaraan disetiap kalangan, terutama

keprajuritan, bukan saja dari lingkungan pasukan Pengawal.

Ternyata bahwa ceritera tentang Witantra itu menjalar terus

sehingga suatu ketika sampai juga ketelinga Tohjaya. Seperti

hampir setiap prajurit dan orang-orang didalam lingkungan istana

pernah mendengar nama itu, maka Tohjaya-pun pernah

mendengarnya pula. Tohjaya mengetahui bahwa Witantra pernah

melakukuan perang tanding melawan Mahisa Agni, sehingga

Witantra dengan menderita malu meninggalkan Tumapel pada

waktu itu.

“Tentu Witantra itu masih tetap mendendam Mahisa Agni,”

berkata Tohjaya didalam hatinya, “mudah-mudahan dendamnya itu

kini semakin menyala didalam hatinya.”

Dengan harapan yang melonjak didalam hatinya, maka Tohjayapun

kemudian menyampaikan ceritera yang didengarnya itu kepada

ayahanda Sri Rajasa.

“Siapakah yang mengatakan kepadamu?“ bertanya Sri Rajasa.

“Beberapa orang menceriterakan bahwa mereka mendengar

tentang kehadiran Witantra di Singasari.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun ia-pun

menggelengkan kepalanya, “Aku tidak memerlukannya lagi.“

“Ayahanda,“ berkata Tohjaya kemudian, “jika Witantra itu

dahulu pernah bermusuhan dengan pamanda Mahisa Agni, apakah

salahnya jika sekarang Witantra itu berada istana ini dan

dihadapkan kepada kemungkinan yang dapat ditimbulkan oleh

pamanda Mahisa Agni? Atau barangkali ayahanda dapat mengambil

kebijaksanaan, agar Kediri tidak terpengaruh terlampau dalam oleh

pamanda Mahisa Agni, ayahanda dapat mengangkat Witantra itu

menggantikannya.”

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Katanya. “Tentu tidak

semudah itu Tohjaya. Inilah salah satu tugas yang harus dilakukan

oleh seorang raja. Tidak sekedar menuruti gejolak perasaannya

saja. Kita harus mempertimbangkan, akibat yang dapat ditimbulkan

oleh keputusan-keputusan yang kita ambil. Memang terlampau

mudah untuk mengambil keputusan itu. Tetapi akibat dari

keputusan itulah nanti yang akan menimbulkan persoalan-persoalan

yang membuat kita bertambah pening.”

“Baiklah ayahanda. Tetapi apa-pun yang dapat kita berikan

kepadanya, sebaiknya Witantra itu kita undang untuk masuk

kembali kedalam istana.”

Sri Rajasa tidak segera menyahut. Kini setiap kali ia selalu

diganggu oleh kenangan masa lampaunya. Bagaimanakah kiranya

jika Witantra itu mengetahui, siapakah sebenarnya yang telah

membunuh Tunggul Ametung, mPu Gandring dan kemudian

siapakah yang telah mendorong Kebo Ijo dengan licik, sehingga ia

terbunuh sebagai seorang pembunuh.

Bahkan tiba-tiba saja timbul pertanyaan didalam hatinya,

“Apakah Witantra sudah mengetahuinya dan kehadirannya itu

didorong oleh sakit hatinya? Jika demikian tentu bukan Mahisa Agni

yang dicarinya untuk melepaskan dendam dan sakit hatinya.”

Tetapi Sri Rajasa tidak dapat mengatakannya kepada Tohjaya.

Tohjaya masih belum tahu apakah yang dilakukan oleh

ayahandanya untuk mencapai kedudukannya yang sekarang. Dan

tentu Sri Rajasa tidak akan membiarkan anaknya mengetahui bahwa

ia adalah seorang pembunuh. Pembunuh yang licik meski-pun kini

setiap orang mengakuinya sebagai seorang Maharaja yang berani

dan bijaksana. Tetapi sekali ini ia dibelit oleh persoalan keluarga

yang kadang-kadang mengaburkan kebijaksanaannya.

Sri Rajasa terkejut ketika Tohjaya bertanya kepadanya, “Apakah

ayahanda sependapat?”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku

akan mempertimbangkannya Tohjaya. Tetapi tentu dengan segala

macam perhitungan. Sebagai seorang raja yang mengemudikan

Singasari dalam keseluruhan, bukan hanya sekedar didalam istana

ini, atau lebih sempit lagi hanya mengurusi kau dan Anusapati,

mungkin juga Mahisa Agni. maka aku harus membuat

pertimbangan-angan yang masak.”

“Ayahanda,“ Tohjaya mencoba mendesak, “apakah persoalan ini

akan ada sangkut pautnya dengan kebijaksanaan ayahanda bagi

Singasari?”

“Tentu Tohjaya. Anusapati adalah seorang Pangeran Pati.

Semua persoalan yang menyangkut Anusapati, tentu akan

menyangkut Singasari.”

“Maksudku, jika kemudian pamanda Mahisa Agni dan kakanda

tersingkir dan ayahanda mengangkat penggantinya, maka

persoalannya tentu akan selesai. Agar mereka tidak akan dapat

berbuat apa-pun lagi untuk seterusnya, maka sebaiknya mereka itu

harus disingkirkan untuk selama-lamanya.”

“Aku mengerti maksudmu. Dan aku akan memikirkannya.”

Tohjaya tidak berani mendesaknya lagi. Sejenak ia masih duduk

sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia-pun

mohon diri meninggalkan bangsal ayahandanya Sri Rajasa.

Bersama dua orang pengawalnya ia berjalan dihalaman istana

Singasari. Dengan sengaja ia berjalan melalui lorong yang

menyilang halaman bangsal Anusapati.

Ternyata seperti yang diharapkannya Anusapati berada didepan

bangsalnya bersama anak laki-lakinya. Sejenak Tohjaya berhenti.

Kemudian perlahan-lahan ia mendekatinya.

“Putera kakanda sudah pandai berkelahi,“ berkata Tohjaya

sambil tersenyum.

Anusapati-pun tersenyum pula. Sambil mengusap kepala anaknya

ia berkata, “Sebentar lagi ia sudah pandai memacu seekor kuda.”

Tohjaya menganggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tentu

seperti ayahandanya. Sebagai Kesatria Putih kakanda adalah

penunggang kuda yang baik.”

“Terima kasih,“ sahut Anusapati mendengar pujian itu, lalu iapun

mencoba mempersilahkan Tohjaya meski-pun ia tahu pasti

bahwa Tohjaya tidak akan bersedia melakukannya.

“Ah, aku hanya singgah sebentar kakanda Anusapati, Aku baru

saja menghadap ayahanda Sri Rajasa.”

“O,“ Anusapati mengangguk-angguk.

“Apakah kakanda Anusapati sudah mendengar berita yang baru

saja tersiar diseluruh kota Singasari ini?“

“Maksudmu?“ bertanya Anusapati.

“Kakanda, apakah kakanda pernah mendengar nama Witantra?”

“Witantra,“ Anusapati mengulangi.

“Ya. Witantra.”

Anusapati menjadi berdebar-debar. Tentu ia mengenal Witantra

dengan baik. Tetapi kenapa Tohjaya bertanya kepadanya?

“Aku memang pernah mendengar,“ jawab Anusapati ragu-ragu.

“Tentu sudah. Witantra pernah menjabat sebagai seorang

Panglima pada jaman pemerintahan Tumapel yang dipimpin hanya

oleh seorang Akuwu bernama Tunggul Ametung.”

Dengan kaku Anusapati menganggukkan kepalanya. Tunggul

Ametung adalah nama yang dikenalnya dengan baik sejak ia

mengetahui siapakah dirinya itu sebenarnya.

“Sudah lama Witantra menghilang. Kau tahu sebabnya

kakanda?“ bertanya Tohjaya pula.

Anusapati tidak menyahut.

“Tentu kau pernah mendengar. Witantra ternyata dikalahkan

oleh pamanda Mahisa Agni diarena, dalam usahanya membersihkan

nama baik seorang prajurit bernama Kebo Ijo. Kau tentu pernah

mendengar.”

Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Dan ia masih harus

mendengarkan beberapa keterangan lagi mengenai Witantra itu,

yang semuanya telah diketahuinya dengan baik.

“Yang penting kakanda,“ berkata Tohjaya kemudian, “bahwa

Witantra dan pamanda Mahisa Agni adalah musuh bebuyutan,“ ia

berhenti sejenak. Lalu, “ternyata sekarang nama Witantra itu timbul

kembali. Dihari terakhir Witantra telah menampakkan dirinya

diantara rakyat Singasari. Kita tidak tahu maksudnya. Namun yang

terdengar, setelah Witantra bertapa diatas bukit yang sangat jauh,

ia kini memiliki kemampuan jasmaniah yang tiada terkira. Juga ilmu

kejiwaan dan kekuatan rokhaniahnya. Pokoknya kini ia menjadi

seorang yang mumpuni.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kini

dadanya justru menjadi sedikit lapang. Ternyata tanggapan Tohjaya

tentang Witantra tidak tepat seperti yang sebenarnya.

“Karena itu kakanda,“ berkata Tohjaya kemudian, “aku ingin

berpesan. Bukan maksudku merendahkan pamanda Mahisa Agni,

tetapi jika masih ada kesempatan, sebaiknya pamanda Mahisa Agni

segera meninggalkan Singasari sebelum Witantra berbuat sesuatu

untuk melepaskan dendamnya terhadap paman Mahisa Agni.

Kekalahannya diarena tidak akan pernah dapat dilupakan seumur

hidupnya justru karena ia seorang kesatria.”

Terasa dada Anusapati terguncang pula mendengar kata-kata

Tohjaya. Meski-pun Anusapati mengerti, bahwa yang dikatakan oleh

Tohjaya itu tidak akan terjadi, karena justru Witantra sudah

terlampau sering, bukan saja bertemu, tetapi sudah bekerja sama

untuk waktu yang lama, namun cara mengucapkan kata-katanya

benar-benar menyakitkan hati.

“Jangan tersinggung kakanda,“ berkata Tohjaya kemudian, “aku

tahu bahwa pamanda Mahisa Agni adalah pamanmu karena ia

adalah kakak ibunda Permaisuri, namun sebenarnyalah aku memang

bermaksud baik.”

Sejenak Anusapati terdiam. Dengan susah payah ia mencoba

menahan perasaannya. Setelah gejolak dihatinya mereda, maka iapun

menjawab, “Terima kasih atas pesanmu adinda Tohjaya. Jika

aku bertemu dengan pamanda Mahisa Agni, biarlah aku

memberitahukannya.”

“Bukan sekedar memberitahukan kakanda. Tetapi kakanda harus

mohon kepada pamanda Mahisa Agni, agar ia menyingkir. Mungkin

ia sekarang merasa dirinya tidak terkalahkan selain oleh ayahanda

Sri Rajasa. Ia merasa menang pula atas prajurit Singasari dan Kediri

secara pribadi. Namun mungkin ia harus berpikir lain terhadap

orang yang bernama Witantra itu. Setelah bertahun-tahun Witantra

hilang dari Tumapel, maka ia tentu bukan Witantra yang dahulu.

Sedang apakah sebenarnya yang dimiliki oleh pamanda Mahisa

Agni?”

“Memang tidak ada,“ berkata Anusapati, “karena itu aku

memang akan menyampaikannya. Seperti katamu, aku akan minta

pamanda Mahisa Agni kembali saja ke Kediri.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Ia mengharap Anusapati

menjadi sakit hati. Tetapi ternyata Anusapati kemudian sama sekali

tidak memberi kesan bahwa ia telah tersinggung karenanya.

“Kakanda Anusapati,“ berkata Tohjaya kemudian, yang memang

berusaha membuat Anusapati marah, “jika pamanda Mahisa Agni

tidak ingin segera kembali ke Kediri karena ibunda Permaisuri

sedang sakit, maka sebaiknya pamanda Mahisa Agni bersembunyi

saja didalam istana. Di sini pamanda Mahisa Agni akan mendapat

perlindungan dari ayahanda Sri Rajasa, jika Witantra mencarinya.“

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Terlintas dikepalanya,

pertengkaran yang hampir saja menyeretnya kedalam suatu

pertentangan yang terbuka. Karena itu, maka betapa-pun juga.

Anusapati masih mencoba menahan hatinya. Bahkan ia-pun

mencoba untuk segera mengakhiri pembicaraan yang membosankan

itu, katanya, “Adinda Tohjaya. Apakah adinda sudah melihat

kehadiran Witantra?”

Tohjaya termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Apakah aku

perlu melihat sendiri? Aku dan ayahanda mempunyai beberapa

orang petugas sandi. Mereka benar-benar sudah meyakini, bahwa

Witantra kini ada di Singasari.”

“Maksudku,“ berkata Anusapati. “adinda Tohjaya sudah

mendapat keterangan langsung dari mereka yang memang bertugas

mengawasinya, atau orang-orang yang secara kebetulan

menjumpainya?”

Tohjaya tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Anusapati

sejenak, lalu katanya. “Aku sudah mendengarnya langsung dari

petugas sandi.”

“Jika demikian, alangkah akan berterima kasihnya pamanda

Mahisa Agni, tentu tidak akan melupakan budi baik adinda Tohjaya,

karena dengan demikian adinda Tohjaya sudah menyelamatkan

nyawanya.“

Sepercik warna semburat merah membayang diwajah Tohjaya.

Meski-pun demikian ia masih juga menjawab, “Itu tidak perlu.

Bagiku, tidak banyak kepentingannya apakah pamanda Mahisa Agni

terjebak oleh Witantra atau tidak. Terserahlah kepada kakanda.

Apakah kakanda menganggap perlu menyampaikannya atau tidak.”

“O.“ Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “baiklah, aku

akan memberitahukan. Tetapi aku justru menjadi sangat cemas.”

“Karena itu, kakanda harus segera menemuinya.”

“Bukan karena pamanda Mahisa Agni akan mengalami

pembalasan dendam. Tetapi yang aku cemaskan, jika aku salah

memberikan keterangan, justru pamanda Mahisa Agnilah yang akan

mencari Witantra itu.”

Dada Tohjaya berdesir. Cepat-cepat ia berkata, “Apakah

pamanda Mahisa Agni sudah jemu hidup? Witantra bukan lagi

Witantra yang dikalahkan.”

“Perkembangan waktu yang berjalan dalam kehidupan Witantra

akan dialami juga oleh pamanda Mahisa Agni. Ingat, bahwa

pamanda Mahisa Agni telah berhasil mengalahkan Senapati Agung

Kediri pada waktu itu. Bukan sekedar peorang Panglima Pasukan

Pengawal istana Tumapel.“

Dada Tohjaya telah terguncang. Ia tidak dapat membantah,

bahwa sebenarnyalah Mahisa Agni pernah mengalahkan Senapati

Agung Kediri, pada saat Sri Rajasa berhasil memecah

pertahanannya dan membunuh Maharaja Kediri pula.

Meski-pun demikian Tohjaya masih berkata, “Terserahlah

kepadamu. Cobalah sekali-sekali melihat kenyataan. Jika pamanda

Mahisa Agni ingin mencari Witantra, sebaiknya di persilahkan saja.”

“Baiklah adinda Tohjaya,“ berkata Anusapati kemudian, “aku

akan menyampaikannya. Sikap yang akan diambil kemudian

terserah kepada pamanda Mahisa Agni. Apakah pamanda Mahisa

Agni akan mengulangi perang tanding diarena, atau pamanda ingin

menemuinya dan langsung membunuhnya.”

“Pamanda Mahisa Agni yang akan dibunuhnya.”

“O begitu?“ Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ternyata sikap Anusapati itu sama sekali tidak menyenangkan

hati Tohjaya. Bahkan hampir saja ia tidak dapat mengendalikan

dirinya lagi. Untunglah bahwa kedua prajurit pengawalnya itu

kemudian mendekatinya dan berkata, “Tuanku, marilah. Ibunda

tentu menunggu.”

Tohjaya memandang kedua pengawalnya yang juga menjadi

penasehatnya sejenak. Tetapi ketika ia melihat prajurit yang ada

didepan regol halaman bangsal Anusapati timbul kecurigaannya,

bahwa pengawal-pengawalnya itu telah menjadi ketakutan.

Namun Tohjaya tidak berbuat apa-apa. Dipandanginya sekali lagi

Anusapati sambil berkata, “berhati-hatilah. Mungkin Witantra tidak

hanya sekedar menuntut balas kepada pamanda Mahisa Agni saja.”

“Terima kasih atas peringatan ini. Tetapi kesatria Putih akan

mencarinya sampai ketemu, apa-pun yang akan terjadi.”

Wajah Tohjaya menjadi merah padam. Ternyata hati Anusapati

sama sekali tidak menjadi kecut. Bahkan sebaliknya. Namun

Tohjaya masih juga berkata, “Jangan terlalu sombong. Kesatria

Putih tidak ada harganya dihadapan Witantra.”

“Tetapi Kesatria Putih pernah membinasakan penjahat yang

paling berbahaya di Singasari. Jika demikian, maka Kesatria Putih

akan mencobanya jika ia gagal, biarlah ia terkubur bersama

kesombongannya.”

Kemarahan Tohjaya sudah sampai diubun-ubunnya. Tetapi ia

tidak berbuat apa-apa, karena ia masih tetap sadar, bahwa ia

berada di halaman bangsal Anusapati.

“Baiklah kakanda,“ berkata Tohjaya, “aku minta diri. Aku sudah

mengatakannya. Terserahlah kepada kakanda. Jika terjadi sesuatu

dengan Mahisa Agni dan Kesatria Putih, sama sekali kakanda tidak

dapat menyalahkan aku lagi.”

“Terima kasih adinda.”

Tohjaya-pun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah

meninggalkan bangsal Anusapati. Ia tidak berhasil menakut-nakuti

Pangeran Pati itu, tetapi justru sebaliknya. Hatinya sendiri serasa

terbakar. Namun untuk menyenangkan hatinya sendiri ia berkata

kepada kedua pengawalnya, “Kakanda Anusapati memang sombong

sekali. Tetapi ia tentu menjadi ketakutan. Mungkin ia akan berlarilari

kepada pamanda Mahisa Agni dan mengatakan bahwa

sebaiknya pamanda Mahisa Agni pergi saja dari Singasari dan

bahkan mungkin kakanda Anusapati ingin ikut serta bersamanya.

Tentu ia tidak akan dapat berbuat apa-apa dihadapan Witantra

meski-pun ia menamakan dirinya Kesatria Putih atau Kesatria hijau

atau hitam sama sekali.”

Kedua pengawalnya sama sekali tidak menyahut. Mereka sudah

mengenal Tohjaya dengan baik. Jika mereka berani membantahnya

barang satu patah kata, maka Tohjaya itu tentu akan membentakbentaknya.

Sebenarnyalah bahwa Anusapati-pun kemudian memang pergi

kepada Mahisa Agni. Diceriterakannya apa saja yang dikatakan oleh

Tohjaya kepadanya.

Mahisa Agni justru tersenyum mendengar ceritera Anusapati

tentang Tohjaya tersebut. Katanya, “Tentu ia tidak mengetahui

bagaimana perasaan ayahandanya. Jika ayahandanya menduga

bahwa Witantra mengerti apa yang sudah terjadi, maka Ken Arok

yang bergelar Sri Rajasa itu tentu akan berpikir lain dari Tohjaya.

Tetapi tentu ia tidak akan mengatakannya kepada puteranya itu.”

“Aku kira adinda Tohjaya akan menunggu, apakah pamanda

akan segera pergi ke Kediri atau tidak. Jika pamanda kemudian

ternyata pergi ke Kediri, maka adinda Tohjaya tentu menganggap

bahwa pamanda menjadi ketakutan dan dengan tergesa-gesa

meninggalkan Singasari.”

“Kasihan anak itu,“ berkata Mahisa Agni kemudian.

“Jadi, apakah yang akan paman lakukan setelah paman Witantra

sekarang mulai disebut-sebut orang lagi.”

“Aku menunggu perintah Sri Rajasa. Mungkin Sri Rajasa akan

memanggilku dan mempersoalkan Witantra itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apakah

pendapat adinda Tohjaya itu juga pendapat ayahanda Sri Rajasa?”

“Belum dapat ditentukan,“ jawab Mahisa Agni.

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya,

ayahanda tentu akan memanggil pamanda Mahisa Agni, karena

menurut ayahanda Sri Rajasa, pamanda berkepentingan karena

pamanda pernah melakukan perang tanding melawan Witantra. Dan

agaknya hal itu semua orang mengetahuinya.”

“Terutama yang umurnya sudah cukup tua. Mungkin banyak

diantara prajurit Singasari sekarang yang menyaksikan perang

tanding pada waktu itu. Namun yang aku tidak mengerti, dari mana

Tohjaya dapat mengatakan bahwa Witantra sekarang bukan

Witantra yang dahulu.”

“Kesan setiap orang tentu demikian pamanda, karena paman

Witantra seakan-akan baru saja turun dari pertapaannya. Tentu ia

sudah membekali dirinya dengan ilmu yang paling sakti. Jika ia

datang ke Singasari, maka tentu orang akan menghubungkannya

dengan pamanda Mahisa Agni.”

Makisa Agni tersenyum pula. Lalu katanya, “Anusapati. Aku akan

menunggu. Tentu tidak akan lama lagi Sri Rajasa memanggil aku

untuk membicarakan Witantra. Dan tentu tidak dalam sidang di

paseban, meski-pun aku telah dipanggil pula mengikuti sidang di

paseban.”

“O, jadi paman akan mengikuti sidang di paseban?”

“Ya.”

“Dan aku, seorang Pangeran Pati tidak dipanggil untuk mengikuti

sidang ini?”

“Bukan yang pertama kali terjadi Anusapati.“

Anusapati menggeretakkan giginya. Tetapi sambil

menganggukkan kepalanya ia berkata, “Silahkan paman.”

Mahisa Agni-pun kemudian minta diri untuk pergi ke paseban,

sedang Anusapati-pun meninggalkan bangsal pamannya itu dan

berjalan tanpa tujuan dihalaman. Rasa-rasanya ia sudah jemu untuk

bermain-main dengan diam-diam seperti itu. Tetapi apa boleh buat.

Seperti kata pamannya, bahwa apabila mungkin biarlah

persoalannya selesai dengan baik.

“Paman terlampau dipengaruhi oleh kelembutan hatinya.

Sebagai seorang prajurit, paman pasti bersikap lain. Sebab dengan

demikian, ia akan mengalami kesulitan,“ berkata Anusapati didalam

hatinya.

Namun tiba-tiba saja ia tidak dapat ingkar mengingat

kemenangan pamandanya itu di Kediri melawan Senapati Agung

Kediri saat itu. Tanpa disadarinya maka langkah Anusapati-pun

membawanya kedalam taman. Ketika ia melihat beberapa orang

juru taman sedang beristirahat dibawah pohon yang rindang, ia-pun

mendekatinya.

Juru taman yang sedang duduk-duduk itu-pun segera bangkit,

seakan-akan mereka sedang bermalas-malasan dan tidak melakukan

pekerjaannya. Kedatangan Anusapati membuat mereka terkejut dan

justru merasa bersalah.

Tetapi Anusapati segera berkata, “Duduklah. Duduklah. Aku tidak

sedang mengamat-amati kerja kalian. Jika kalian bermalas-malasan,

biarlah aku pura-pura tidak melihat. Tetapi jika memang waktunya

kalian beristirahat, itu adalah hak kalian.”

Para juru taman itu termangu-mangu sejenak. Namun

Sumekarlah yang mula-mula duduk kembali ditempatnya, sedang

kawan-kawannya-pun mengikutinya meski-pun ragu-ragu.

Anusapati-pun kemudian mendekati mereka, dan bahkan duduk

diantara mereka.

Juru taman yang ada disekitarnya menjadi segan-segan juga

sehingga mereka berkisar menjauh.

“Duduklah. Kenapa kalian menjadi bingung? Aku sekali-sekali

ingin duduk bersama kalian disini. Tidak dipaseban.”

Para juru taman itu menarik nafas dalam-dalam.

“Nah, berbicaralah tentang persoalan yang sedang kalian

bicarakan sebelum aku datang.”

Sejenak para juru taman itu saling berpandangan. Lalu

Sumekarlah yang menyahut, “Kami tidak membicarakan sesuatu

tuanku.“

“jadi apa yang kalian perbuat?”

“Kami berbicara tentang isteri Ki Ruwe ini,“ sahut salah seorang

dari mereka.

“Kenapa dengan isterinya?”

“Isterinya adalah seorang juru masak yang paling pandai

menurut penilaiannya. Ia sangat pandai membuat segala macam

masakan. Masakan dari segala macam bahan. Daging, telur, ikan

air, udang, yuyu, cengkerik dan bilalang.”

“Ah,“ potong juru taman yang bernama Ki Ruwe, “siapa yang

mengatakan cengkerik dan bilalang. Tentu isterimu sendiri.”

Kawan-kawannya tertawa. Salah seorang berkata. “O, jadi kau

tidak menyebut cengkerik dan bilalang?”

Ki Ruwe memandang kawannya itu dengan mata terbelalak.

Sedang kawan-kawannya yang lain tidak dapat menahan

tertawanya.

Kemudian beberapa lamanya mereka berbicara tentang taman

dan bunga-bungaan. Tentang pepohonan didalam dan diluar istana.

Pohon beringin dan pohon preh yang hidup disekitar istana. Pohon

sawo kecik dan pohon tanjung.

Akhirnya, Anusapati-pun bertanya kepada para juru taman itu,

“He, apakah kalian mendengar berita tentang sesuatu yang agak

lain dari ceritera tentang pepohonan dan pohon buah-buahan?”

Juru taman itu saling berpandangan sejenak. Beberapa diantara

mereka menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak tuanku.

Kami tidak mendengar berita tentang apa-pun juga. Mungkin karena

kami hanya juru taman saja di istana ini.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia

bertanya, “Misalnya ceritera tentang seseorang yang sudah lama

sekali hilang dari pembicaraan dan tiba-tiba saja sekarang muncul

kembali.”

“O,“ tiba-tiba juru taman yang bernama Ki Ruwe itu menyahut,

“Aku mendengar.”

“Apa?“ bertanya kawan-kawannya, “tidak tentang masakan.”

“Tidak. Aku baru saja mendengar para prajurit membicarakan

seorang yang bernama Witantra.”

“Witantra,“ sahut yang lain, “aku juga mendegar.”

“Ya, aku juga mendengar,“ berkata juru taman yang sudah tua.

“Aku mendengar kehadiran kembali Witantra di Singasari setelah

bertahun-tahun lamanya ia menghilang dari Tumapel. Tentu tidak

dari Singasari, sebab pada waktu itu pemerintahan didaerah ini

dipimpin oleh seorang Akuwu yang terbunuh.”

“Akuwu Tunggul Ametung maksudmu?“ bertanya Anusapati.

Ki Ruwe mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya,

Akuwu Tunggul Ametung. Aku juga pernah mendengar.”

“Ah kau,“ potong kawannya yang lain.

Dan juru taman yang sudah tua itu melanjutkan, “Sekarang

Witantra itu kembali lagi.“

“Apakah kau pernah mengalami pemerintahan Akuwu Tunggul

Ametung?“ bertanya Anusapati.

“Ya, aku mengalaminya,“ sahut juru taman yang tua itu.

“Bagaimana menurut penilaianmu?”

Juru taman itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia teringat,

bahwa selagi Permaisuri yang melahirkan Anusapati itu kawin

dengan Ken Arok, ia sudah mengandung muda. Karena itu maka iapun

menjadi ragu-ragu untuk mengatakannya.

“Bagaimana?“ desak Anusapati.

Juru taman itu menjadi semakin bingung. Bahkan timbul

pertanyaan didalam hatinya, “Apakah Putera Mahkota ini sudah

mengetahui tentang dirinya?”

Sejenak Anusapati menunggu. Tetapi juru taman itu tidak

mengatakan apa-pun juga.

“Bagaimana?“ desak Anusapati, “bagaimanakah menurut

penilaianmu?”

Juru taman itu menjadi bingung. Keringatnya mengalir diseluruh

tubuhnya.

“Baiklah,“ berkata Anusupati, “kau tidak mau mengatakannya?”

“Bukan tidak mau,“ jawab juru taman itu, “tetapi hamba waktu

itu belum menjadi seorang juru taman.”

“Meski-pun kau belum seorang juru taman, tetapi kau tentu

dapat mengingat, apa yang sudah terjadi di Tumapel waktu itu.”

“Ya, ya tuanku. Hamba memang mengingat serba sedikit. Tetapi

yang hamba ingat, Tumapel adalah kota yang tenang.”

“Tenang sekali?“ bertanya Anusapati.

Juru taman itu menjadi bingung. Karena itu maka jawabnya,

“Yang tenang sekali.”

Anusapati tersenyum. Ia mengerti bahwa juru taman itu tidak

dapat mengatakan apa yang sesungguhnya ada didalam hatinya.

Baik atau jelek. Namun tiba-tiba saja sesuatu berdesir dihati

Anusapati. Agaknya banyak orang-orang Tumapel yang pada waktu

itu pernah mengenal ibunda Permaisuri, bahwa sebenarnya

ibundanya itu sudah mengandung pada saat ia kawin dengan Ken

Arok.

“Tentu semua orang mengetahuinya waktu itu,“ berkata

Anusapati didalam hatinya, “jika mereka tidak mengetahuinya dari

bentuk jasmaniah ibunda, mereka-pun dapat menghitung waktu.

Belum genap sembilan bulan ibunda kawin dengan Sri Rajasa, aku

tentu sudah dilahirkan.”

Tiba-tiba saja Anusapati menjadi semburat merah. Namun ia

berusaha untuk menyembunyikan gejolak perasannya itu. Bahkan

kemudian ia-pun tertawa sambil berkata, “Suatu ukuran yang dapat

kau pergunakan, apakah kau menjadi semakin kaya atau miskin.

Jika kau menjadi semakin kaya, maka Singasari tentu lebih baik bagi

rakyat kecil seperti kau. Tetapi jika kau menjadi semakin miskin

tentu ada kesalahan. Apakah Singasari yang bersalah sehingga

rakyatnya miskin, atau kaulah yang kemudian dihinggapi penyakit

kemaksiatan. Judi barangkali?“

Juru taman yang gelisah itu menarik nafas dalam-dalam melihat

Anusapati tertawa. Demikian juga juru taman yang lain, yang ikut

menjadi tegang pula.

“Hamba, hamba tidak menjadi lebih kaya dan tidak menjadi lebih

miskin, tuanku. Rasa-rasanya hamba dahulu dapat makan

sekeluarga, dan sekarang juga hamba dapat makan sekeluarga.”

“Apakah jumlah keluargamu sama?”

“Tidak tuanku. Dahulu hamba seorang pengantin baru disaat

Akuwu Tunggul Ametung meninggal. Sekarang hamba sudah

mempunyai sembilan belas anak.”

“Sembilan belas?“ Anusapati menjadi terheran-heran.

“Hamba tuanku.”

“Bagaimana mungkin kau mempunyai sembilan belas orang

anak?”

“Hamba beristeri tiga orang, tuanku.”

“O,“ Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah

sebabnya hidupmu sejak dahulu sampai sekarang tetap saja seperti

itu. Sembilan belas orang anak.”

“Tetapi mereka semuanya mendapat bagiannya tuanku.”

Anusapati tersenyum. Lalu, “Dan kau tinggal juga didalam

halaman istana?”

“Tidak tuanku, hamba tinggal diluar. Hamba mempunyai

sebidang tanah yang sempit, sebuah rumah yang besar meski-pun

buruk untuk menampung tiga orang isteri dan sembilan belas anak

hamba itu.”

Anusapati menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu katanya,

“Pantas jika isterimulah yang pandai memasak ikan air, yuyu,

cengkerik dan bilalang.”

“Bukan tuanku, bukan isteri hamba.”

Anusapati hanya tersenyum saja. Namun kemudian ia berkata,

“Aku akan berjalan-jalan. Dipaseban sedang ada sidang. Tetapi aku

tidak ikut serta.”

-ooo0dw0ooo-

(bersambung jilid 79)

Jilid 78

JURU TAMAN yang ada ditempai itu hampir tidak ada yang

menaruh perhatian, apakah Anusapati ikut serta didalam sidang di

paseban atau tidak. Tetapi bagi Sumekar pemberitaan itu

merupakan pertanda, bahwa jarak antara Sri Rajasa dan Anusapati

masih belum menjadi semakin dekat seperti yang diharapkan oleh

Mahisa Agni. Keduanya pasti tetap didalam pendirian dan sikap

masing2.

“Jika demikian, perang dengan diam2 ini tidak akan segera

berakhir. Jika Mahisa Agni keluar dari bangsalnya, aku harus

menegaskan sekali lagi.”

Namun kemudian Sumekar mendengar Anusapati berkata, yang

agaknya memang ditujukan kepada dirinya, “Aku akan menunggu

paman Mahisa Agni setelah sidang dipaseban.”

Sumekar mengangguk2kan kepalanya. Ternyata bahwa Mahisa

Agni justru dipanggil menghadap Sri Rajasa didalam sidang di

paseban.

Sepeninggal Anusapati, maka para juru taman itupun segera

kembali pada kerja masing2. Sumekarpun kemudian mengambi

cangkul kecil bertangkai panjang. Dengan hati2 iapun kemudian

menyiangi sebatang pohon soka putih disudut taman itu.

Anusapati yang merasa semakin tersisih itu mengisi waktunya

dengan berjalan2 disepanjang halaman. Kadang2 ia berhenti pada

sebuah gardu peronda. Prajurit Pengawal yang berada di gardu2 itu

ternyata telah mendengar pula dan bahkan membicarakan tentang

Witantra.

“Nama itu masih mempunyai pengaruh,“ berkata Anusapati

didalam hatinya.

Dalam pada itu, dipaseban, Sri Rajasa dan para pemimpin

Singasari sedang membicarakan beberapa masalah tentang

Singasari. Tentang beberapa gerombolan penjahat yang sudah

berhasil diusir dari tempat2 yang ramai dan tersudut dihutan-hutan,

daerah yang selalu diserang banjir, dan beberapa persoalan lainnya

yang penting.

Para Panglima yang ikut didalam sidang itupun melaporkan

kegiatan pasukan masing2 dari tingkat yang tertinggi sampai

dengan tingkat yang terendah.

Seperti yang didengar oleh Mahisa Agni pada paseban yang

lewat, pada umumnya semua laporan adalah ceritera tentang

kebaikan, kemenangan, kemakmuran dan kedamaian. Meskipun

atas pertanyaan Sri Rajasa disinggung2 pula tentang bahaya banjir

tentang kejahatan, tentang hama tanaman yang meluas, namun

pada umumnya para pemimpin itu mengatakan, bahwa semuanya

sudah dapat diatasi.

Sri Rajasa mengangguk2kan kepalanya seperti pada sidang

dipaseban yang lewat. Karena itu, bagi Mahisa Agni, sidang itu

hampir tidak dapat menarik perhatiannya sama sekali. Hanya karena

keharusan ia memperhatikan setiap keterangan dan laporan. Hanya

karena orang lain mengangguk-anggukkan kepalanya, maka Mahisa

Agnipun mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Namun berbeda dengan sidang yang lewat, maka kali ini Mahisa

Agni diminta oleh Sri Rajasa untuk memberikan keterangan tentang

Kediri dan daerahnya. Hal yang serupa hampir tidak pernah

dilakukan dipaseban. Biasanya Mahisa Agni dipanggil menghadap

langsung kepada Sri Rajasa dan satu dua orang penasehatnya saja,

termasuk guru Tohjaya. Tetapi kini ia harus berbicara dimuka

sidang.

Sejenak Mahisa Agni menjadi ragu2, jika ia berkata sebenarnya

maka nada laporan adalah jauh berbeda dengan nada kidung yang

mengalun dalam himbauan angin pegunungan. Jika ia berkata

sebenarnya, maka nadanya bagaikan guruh yang meledak dilangit

yang bersih jernih.

Tetapi seperti yang ada didalam nuraninya, maka Mahisa Agni

tidak dapat berkata lain. Bahkan kemudian ia menganggap dirinya

telah dipaksa oleh Sri Rajasa untuk membenturkan kepalanya

sendiri pada dinding batu.

“Apakah aku akan dapat mengatakan keadaan yang benar2

terjadi dengan jujur, sedang setiap orang didalam paseban ini

mengatakan bahwa mereka berhasil melakukan tugas masing2

dengan baik,“ bertanya Mahisa Agni kepada diri sendiri. Namun

ternyata bahwa pertanyaan itu justru telah mendorongnya untuk

menyatakan dirinya, pribadinya, meskipun akibatnya beberapa

orang akan menyebutnya sebagai seorang Senapati Agung yang

kurang mampu melaksanakan tugasnya karena didalam laporannya

masih terdapat cacat2 yang cukup besar.“

Sri Rajasa yang duduk diatas singgasananya yang beralaskan

kulit harimau yang belum sama berhasil ditangkapnya di hutan

selagi ia berburu, menunggu dengan berdebar2. Sebenarnyalah

bahwa ia ingin mengetahui, apakah Mahisa Agni dapat mengatakan

seperti yang dikatakannya langsung kepadanya tentang

kekurangan2 yang terjadi di Singasari. Apakah ia tidak termasuk

salah seorang dari para pemimpin Singasari yang selalu

menyembunyikan kenyataan dihadapan banyak orang sekedar untuk

mengangkat martabatnya sendiri.

Sejenak Mahisa Agni masih berdiam diri. Ketika ia memandang

wajah Sri Rajasa yang tegang, maka iapun segera bergeser sejenak

sambil berkata, “Baiklah tuanku. Hamba akan mengatakan apa yang

sebenarnya terjadi didaerah pengawasan Hamba sebagai orang

yang mendapat pelimpahan kekuasaan dari tuanku, Sri Rajasa

Batara Sang Amurwabumi. Maharaja di Singasari.“ Mahisa Agni

berhenti sejenak. Lalu, “yang mendapat anugerah kewajiban atas

Kediri yang telah dipersatukan dengan Singasari.”

Sri Rajasa mengangguk2kan kepalanya, sedang para pemimpin

yang lainpun menjadi berdebar2. Namun mereka merasa bahwa

yang akan didengarnya adalah senada dengan setiap laporan yang

disampaikan didalam sidang di paseban itu.

“Ampun tuanku,“ berkata Mahisa Agni, “bahwa hamba akan

mengatakan yang benar kepada tuanku, bukan sekedar berkata

untuk menyatakan Kebenaran diri sendiri. Sebenarnyalah bahwa

Kediri masih belum memenuhi keinginan hamba sepenuhnya.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya, dan para pemimpin yang

lainpun mulai merasakan kelainan didalam nada laporan Mahisa

Agni.

Demikianlah maka Mahisa Agnipun sagera melaporkan apa yang

sebenarnya terjadi di Kediri. Yang baik, yang bahkan kadang2

melampaui batas keinginannya sendiri, namun juga yang jauh dari

memuaskan. Bahaya kering disamping bahaya banjir, sehingga akan

mengancam Kediri dengan paceklik yang panjang. Tetapi juga

beberapa daerah yang mengalami panen berlimpah2.

“Masih juga ada kejahatan,“ berkata Mahisa Agni, “meskipun

tangan Kasatria Putih terasa juga didaerah Kediri.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Ternyata Mahisa Agni adalah

Mahisa Agni. Ketika Sri Rajasa memandang wajah-wajah para

pemimpin di paseban itu, tampaklah wajah2 yang tegang dan

kemerah2an. Laporan Mahisa Agni tentang daerah kekuasaannya

bagaikan suatu sindiran yang tajam atas mereka yang tidak pernah

mengakui kekurangan masing2.

Namun tanggapan Sri Rajasa ternyata sangat mengejutkannya.

Ia tidak menyangka bahwa sebenarnyalah ia masuk kedalam

jebakan rangkap. Apapun yang dikatakannya, maka ia tentu akan

terperosok didalam tanggapan yang pahit.

“Itulah katanya,“ berkata Sri Rajasa, “tampaknya Mahisa Agni

adalah seorang yang rendah hati. Yang mengakui kekurangan dan

kebodohannya.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar2. Sejenak ia diam

mematung. Ketika ia sempat memandang para pemimpin Singasari

yang ada dipaseban itu termasuk para Panglima, hatinya menjadi

berdebar2.

“Para pemimpin Singasari yang bijaksana,“ berkata Sri Rajasa,

“apakah kita akan dapat memberikan gelar kepadanya sebagai

seorang pahlawan? Pahlawan yang membela kepentingan rakyat

yang menurut penilaiannya didalam kesulitan? Itulah Mahisa Agni

yang sebenarnya. Sombong dan kurang bijaksana. Ia mencoba

menyindir dan mencemoohkan laporan para pemimpin Singasari

yang lain, yang seolah2 sekedar menjilat kepadaku. ”

Wajah Mahisa Agni menjadi merah padam. Sekilas ia melihat

para pemimpin itu bergeser dan hampir setiap mata

memandanginya dengan tajamnya.

“Apa katamu Mahisa Agni?“ bertanya Sri Rajasa kepada Mahisa

Agni kemudian.

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Ia dicengkam oleh

kebingungan menghadapi Sri Rajasa. Ia tidak mengerti,

bagaimanakah sebenarnya sikap Sri Rajasa atasnya akhir2 ini.

Namun akhirnya Mahisa Agni mencoba menganggap bahwa

sebenarnya Sri Rajasalah yang sedang berada dipuncak

kebingungannya menghadapi persoalannya. Ia kadang2 bersikap

seakan2 manyesali dirinya. Tetapi kadang2 ia dikejar olen kengerian

atas segala dosa yang telah diperbuatnya, sehingga ia berusaha

untuk mempertahankan dirinya.

“Ini adalah salah satu bentuk dari kebingungan itu,“ berkata

Mahisa Agni didalam hatinya, “sehingga kebingungan itu telah

merambat didalam diriku pula.”

“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa, “coba katakan dihadapan

sidang ini, apakah maksudmu sebenarnya mengucapkan sindiran

yang tajam itu kepada para pemimpin yang lain sehingga kau

korbankan dirimu sendiri sebagai contoh dari kebodohan seorang

pemimpin?”

“Tuanku,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “hamba tidak

bermaksud apapun dengan laporan yang hamba katakan.“ Mahisa

Agni berhenti sejenak. Dipandanginya wajah Sri Rajasa dengan

saksama. Namun kemudian, seolah2 tidak ada pilihan lain baginya

dari pada mempertahankan ucapannya dengan segala akibatnya,

“sebenarnyalah bahwa hamba tidak mempunyai prasangka dan

maksud buruk. Hamba mengatakan tentang diri hamba. Bukan

sebagai taruhan untuk mencemoohkan para pemimpin yang lain.

Hamba tidak tahu apa yang telah terjadi didaerah2 lain dibawah

pengamatan dan pimpinan pemimpin Singasari yang lain.”

“Jangan ingkar,“ berkata Sri Rajasa, “kau pernah mengatakan

kepadaku diluar sidang, bahwa daerah2 lain itu sebenarnya adalah

daerah2 yang paling buruk. Laporan2 palsu itu sengaja dikatakan

sekedar untuk mendapat pujian daripadaku.”

Terasa sesuatu bergejolak didada Mahisa Agni. Namun ia masih

juga menjawab, betapapun hatinya menjadi berdebar-debar,

“Tuanku, memang ada kalanya seseorang mengatakan sesuatu

tidak dihadapan orang lain. Jika hamba pernah mengatakan sesuatu

tentang daerah2 lain tidak dihadapan orang lain tentu ada

maksudnya. Tetapi jika tuanku menganggap, bahwa sebaiknya

hamba mengatakan tentang daerah2 lain di luar harapan hamba,

maka hambapun tidak akan berkeberatan. Hamba akan mengatakan

seperti yang hamba katakan, dengan harapan penilaian yang wajar

dari para pemimpin Singasari, karena hamba yakin apa yang hamba

katakan itu benar, dan tentu akan dibenarkan, jika kita semuanya

adalah pemimpin2 Singasari yang sebenarnya, yang ingin melihat

Singasari maju dan berkembang.“ Mahisa Agni berhenti sejenak.

Lalu, “tetapi jika hamba sudah mengatakannya tuanku, hamba

mengharap agar tuankupun mengucapkan tanggapan tuanku seperti

yang pernah tuanku ucapkan kepada hamba itu terhadap para

pemimpin Singasari yang lain. Ucapan dan tanggapan tuanku itupun

adalah tanggapan yang wajar dari seorang Maharaja yang

berpandangan jauh kedepan bagi negerinya.”

“Cukup, cukup,“ Sri Rajasa memotong kata2 Mahisa Agni dengan

suara yang bergetar. Wajahnya menjadi merah padam dan sorot

matanya bagaikan menyala.

Namun demikian masih tampak padanya suatu usaha untuk

menahan diri dan mengendalikan perasaannya. Karena itulah maka

iapun berkata tertahan2, “Baiklah Mahisa Agni. Kau memang

seorang pemimpin Singasari yang lengkap. Kau pandai bermain

dengan pedang dipeperangan, tetapi kau juga pandai bermain lidah

didalam paseban. Tetapi akupun tidak akan ingkar. Aku menghargai

sikapmu yang terbuka itu, tetapi akupun menilai sikapmu itu sebagai

sikap yang sangat sombong, seakan2 kau tidak terpengaruh oleh

kehadiranku dan tanpa menghargai kuasaku sama sekali.“

“Ampun tuanku,“ jawab Mahisa Agni, “sama sekali bukan

maksud hamba berbuat demikian.”

Sri Rajasa terdiam sejenak. Tampak betapa ia berusaha menahan

hatinya yang bergejolak.

Sementara itu, para pemimpin yang lain, yang mula2 perasaan

mereka yang tersinggung bagaikan disentuh api, tiba2 mempunyai

tanggapan yang lain. Pembicaraan itu mengingatkan mereka, bahwa

sebenarnya Mahisa Agni adalah seorang Senapati Agung yang

memiliki kekhususan. Bukan karena ia saudara tuan Permaisuri,

tetapi Senapati Agung itu adalah Senapati perang yang pilih tanding.

Dalam pada itu, selagi para pemimpin terombang-ambing

didalam suasana yang tegang, maka Mahisa Agnipun berkata,

“Ampun tuanku, masih ada yang ketinggalan didalam laporan

hamba agar hamba tidak ingkar atas segala masalah yang hamba

ketahui. Bahwa telah hadir di dalam kota Singasari tanpa

menyatakan diri kepada yang berkuasa, seorang yang bernama

Witantra. Belum ada seorangpun yang menyebutnya didalam

paseban ini, atau barangkali ada kesengajaan untuk

menyembunyikannya.”

Sri Rajasa sebenarnya sudah mengetahui bahwa Witantra telah

menampakkan dirinya didalam kota Singasari, sehingga laporan

tentang kehadiran Witantra itu tidak meagejutkannya. Tetapi yang

mengejutkan adalah bahwa Mahisa Agni menganggap perlu

membicarakan orang itu secara khusus.

Karena itu, maka Sri Rajasapun kemudian berkata, “Kehadiran itu

memang tidak perlu dilaporkan dipaseban ini. Aku sudah mengerti

bahwa Witantra telah menampakkan dirinya setelah ia hilang

bertahun2. Aku kira pada pemimpin yang lainpun telah

mengetahuinya pula. Mereka sama sekali tidak tertarik pada berita

itu. Dan apakah gunanya kehadiran seseorang dibicarakan didalam

paseban? Apakah para pemimpin Singasari tidak mempunyai

persoalan lain yang penting selain membicarakan orang2 yang

sudah lama sekali tidak kita lihat dan tiba-tiba muncul dikota ini.”

“Tidak tuanku, jika orang itu bukan Witantra,“ sahut Mahisa

Agni, “apakah tuanku tidak ingat lagi, bagaimana Witantra itu

menghilang dari Tumapel?”

“Tentu,“ jawab Sri Rajasa.

“Hamba telah mengalahkannya didalam perang tanding. Karena

itu maka hamba sangat berkepentingan dengan orang yang

bernama Witantra itu.”

“Kau takut pembalasan dendam?”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Lalu katanya, “Tentu tidak

tuanku. Hamba tidak berkeberatan jika saat ini Witantra datang

keistana dan menuntut perang tanding untuk menebus

kekalahannya. Tetapi yang penting bagi kita, apakah kedatangannya

itu membawa persoalan baru baginya dan bagi kita.”

“Cukup.“ wajah Sri Rajasa menegang sejenak, namun kemudian

sekali lagi ia menguasai dirinya dan melanjutkannya, “baiklah kita

tidak membicarakannya. Jika ia datang keistana, aku akan

menemuinya dan jika ia masih mendendam karena kekalahannya,

kini bukan tanggung jawabmu lagi. Jika saat itu kau bertempur tidak

atas namamu sendiri, maka tanggung jawabnya tentu kini ada

padaku.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam2. Katanya, “Terima kasih

tuanku. Jika demikian, maka persoalannya hamba serahkan kepada

tuanku Sri Rajasa.”

“Kenapa kau menyerahkan persoalannya kepadaku? Seharusnya

kau tidak mengatakan demikian. Tanggung jawab itu sudah ada

padaku. Kau serahkan atau tidak kau serahkan.”

“Ampun tuanku, demikianlah kiranya maksud hamba.”

“Nah, sekarang, apakah masih ada persoalan2 yang penting bagi

Singasari. Aku hanya ingin berbicara tentang persoalan-persoalan

yang penting, bukan persoalan seorang demi seorang yang hanya

akan menghabiskan waktu saja.”

Tidak seorangpun yang menjawab. Sidang dipaseban itu

rasa2nya menjadi tegang. Pusat perhatian para pemimpin Singasari

kini tertuju kepada Sri Rajasa dan Mahisa Agni. Dua orang yang

seakan2 menjadi puncak pimpinan pemerintahan yang langsung

tidak langsung telah mereka hubungkan dengan kedua putera laki2

Sri Rajasa yang lahir dari dua orang ibu. Bahkan para pemimpin

Singasari yang mengetahui dengan pasti bahwa Anusapati sama

sekali bukan putera Sri Rajasa melihat seakan2 pertentangan antara

Sri Rajasa dan Tunggul Ametung kini berkobar lagi dalam bentuknya

yang berbeda, yang seakan2 telah diwarisi oleh Anusapati dan

Tohjaya.

“jika tidak ada persoalan lagi, sidang ini aku bubarkan. Aku tidak

akan mengadakan pembicaraan khusus dengan si apapun.”

Sejenak kemudian maka para pemimpin Singasari itupun segera

meninggalkan paseban dengan hati yang berdebar2. Sebagian dari

mereka masih merasa betapa jantungnya tergores oleh pengakuan

Mahisa Agni terhadap kekurangan didalam daerah kuasa yang

dilimpahkan kepadanya oleh Sri Rajasa. Seperti yang dikatakan oleh

Sri Rajasa, bahwa sebenarnyalah Mahisa Agni sama sekali bukan

seorang yang rendah hati, yang mengakui kekurangannya, tetapi

yang dengan sengaja telah menganggap bahwa para pemimpin

adalah penjilat yang bodoh.

Tetapi beberapa orang yang lain merasa bahwa sebenarnyalah

bahwa mereka telah melakukan suatu kesalahan. Mereka seakan2

dengan sengaja berusaha menyembunyikan kekurangan yang ada

pada diri mereka. Dengan sadar mereka berbangga bahwa masih

ada juga orang yang dengan berani menyatakan kebenaran

dihadapan Sri Rajasa dan dihadapan paseban.

Namun pada umumnya mereka merasa cemas, bahwa

perkembangan keadaan di Singasari tidak begitu menggembirakan

hati. Apalagi kehadiran Witantra seperti yang dikatakan oleh Mahisa

Agni, tentu bukan sekedar persoalan kecil karena sejak semula

Witantra menyimpan persoalan yang tentu dianggapnya belum

selesai.

“Kehadirannya tentu akan menentukan suatu peristiwa yang

penting di Singasari,“ beberapa orang pemimpin Singasari saling

berbisik. Seorang perwira yang sudah lanjut usia berkata, “Ia adalah

seorang Senapati yang mapan.”

Namun dalam pada itu Panglima Pasukan Pengawal Singasari

ternyata mempunyai perhatian khusus terhadap kehadiran Witantra.

Meskipun Singasari sekarang jauh lebih besar dari Tumapel, namun

nama Witantra sebagai seorang Senapati pasukan Pengawal adalah

cukup besar dibandingkan dengan namanya sendiri.

Dengan demikian, maka berbagai kesan telah melibat hati para

pemimpin Singasari yang baru saja meninggalkan sidang di paseban

itu.

Ketika itu Sri Rajasapun telah kembali pula kebangsalnya diiringi

oleh para pengawal. Dengan wajah muram ia masuk kedalam

biliknya. Dibantingnya dirinya di atas sebuah tempat duduk kayu

yang dialasi dengan kulit menjangan berwarna coklat.

Sambil menarik nafas dalam2 ia berkata didalam hatinya.

“Peristiwa apa saja yang akan terjadi di Singasari. Justru pada saat2

terakhir timbul berbagai persoalan yang tidak aku kehendaki. Gila

juga Mahisa Agni itu.”

Ketika diluar pintu seseorang berdiri termangu2, maka Sri

Rajasapun berteriak, “Siapa itu?”

“Hamba tuanku,“ jawab seorang pelayan, “hamba menyiapkan

pakaian tuanku.”

“Pergi, pergi.“ bentak Sri Rajasa.

Pelayan itu menjadi ketakutan. Dengan ragu2 ditinggalkannya

pintu bilik Sri Rajasa dengan berbagai pertanyaan didalam hati.

Tidak pernah terjadi bahwa Sri Rajasa tidak memerintahkannya

menyediakan pakaian setelah ia selesai melakukan kuwajiban

resminya sebagai seorang Maharaja di Singasari.

Didalam bilik, pikiran Sri Rajasa masih tetap kusut.

Sebenarnyalah seperti yang diduga oleh Mahisa Agni, dalam

keadaan yang kisruh hati Sri Rajasa tidak dapat tetap. Pikirannya

selalu berubah setiap saat didorong oleh kegelisahan yang semakin

dalam. Kehadiran Witantra sebenarnya sama sekali tidak dapat

diabaikannya.

Dalam kekeruhan hati itulah tiba2 ia berteriak memanggil

seorang Pelayan Dalam yang bertugas didalam bangsal itu.

Sambil berlari2 kecil. Pelayan Dalam itu menghampiri pintu bilik

Sri Rajasa. Kemudian dengan ragu2 ia bergumam, “Hamba

menghadap tuanku.”

“Panggil Tohjaya,“ teriak Sri Rajasa masih didalam biliknya.

“Hamba tuanku,“ perintah Sri Rajasa itu tidak perlu diulangi.

Dengan tergesa2 Pelayan Dalam itupun berlari2 ke bangsal dibagian

yang lain dari istana Singasari itu.

“Tuanku,“ berkata Pelayan Dalam itu dengan nafas yang

terengah2, “tuanku Sri Rajasa memanggil tuanku.”

“Ayahanda memanggil aku?“ bertanya Tohjaya.

“Hamba tuanku.”

Tohjaya menjadi berdebar2. Tentu ada persoalan yang penting

yang akan dikatakan oleh ayahandanya setelah sidang dipaseban.

Karena itu, maka dengan tergesa2 Tohjaya menghadap ibundanya

yang mengatakan perintah ayahandanya itu.

“Memang sudah sampai waktunya Tohjaya. Semakin lama

Anusapati menjadi semakin sombong. Jika semula ia sudah hampir

kehilangan semua kesempatan dan kemungkinan untuk merebut

hati rakyat Singasari, lambat laun ia sudah memperolehnya. Karena

itu, jika ayahandamu memang memerintahkan lakukanlah dengan

segera. Gurumu dan beberapa orang Senapati yang sudah kau

hubungi akan dapat disiapkan segera, apalagi langsung dibawah

perintah ayahandamu sendiri. Anusapati memang harus segera

disingkirkan. Agar tidak timbul persoalan dikemudian hari, maka

Mahisa Agni yang mumpung berada diistana inipun harus

dibinasakan pula.”

“Hamba akan mengatakannya kepada ayahanda. Jika ayahanda

mengucapkan perintah itu kepada para Panglima, maka semuanya

akan terjadi.”

“Kau harus berhati2. Mahisa Agni mempunyai cukup pengaruh,

terutama diluar istana. Karena itu, maka yang dilakukan haruslah

didalam istana dan dalam waktu yang singkat. Jika kau ingin

menangkap seekor ular berbisa, tangkaplah kepalanya. Jika kau

gagal, maka kau sendirilah yang akan binasa karena racunnya.”

“Baik ibunda. Hamba akan segera menghadap ayahanda, sudah

tentu bahwa dalam waktu yang singkat, kita akan melakukannya.”

“Dan beberapa hari kemudian, kau adalah putera Mahkota.”

“Ya. Aku akan menjadi Putera Mahkota di Singasari yang besar.

Aku akan berbuat sebaik2nya sebagai Putera Mahkota. Tidak seperti

kakanda Anusapati.”

“Sekarang menghadaplah. Usahakan agar ayahandamu

merintahkan aku menghadap pula.”

“Baiklah ibunda, hamba akan berusaha.”

Dengan tergesa2 Tohjayapun kemudian pergi menghadap

ayahandanya di bangsalnya. Dengan hati yang berjebar2 ia menaiki

tangga bangsal itu, sedang kedua pengawalnya tinggal dibawah

tangga, bersama pengawal bangsal itu sendiri.

Perlahan2 Tohjaya membuka pintu bangsal itu. Kemudian dengan

degup jantung yang keras ia melangkah masuk.

Tetapi Tohjaya tidak segera melihat ayahandanya.

Ketika ia melihat seorang Pelayan Dalam dipintu samping bangsal

itu, maka iapun kemudian bertanya, “Dimana Ayahanda Sri Rajasa.”

“Ampun tuanku,“ Pelayan Dalam itu mengangguk. “Ayahanda

tuanku ada didalam biliknya.”

Tohjaya menarik nafas dalam2. Tetapi iapun kemudian

melangkah kepintu bilik.

“Hanya untuk persoalan yang sangat penting dan sangat rahasia

ayahanda memanggil kedalam biliknya,“ berkata Tohjaya didalam

hatinya.

Dengan ragu2 akhirnya Tohjaya berdiri didepan pintu bilik Sri

Rajasa. Sejenak ia termangu2, namun kemudia ia berkata lirih,

“Ampun ayahanda. Hamba sudah menghadap.”

Sejenak Sri Rajasa menunggu. Kemudian didengarnya jawab,

“Masuklah Tohjaya.”

Dada Tohjaya menjadi semakin berdebar2. Perlahan2

didorongnya daun pintu itu kesamping. Dengan langkah yang terasa

berat iapun kemudian melangkah masuk.

Dilihatnya ayahandanya, Sri Rajasa duduk diatas tempat duduk

kayu yang beralaskan kulit menjangan.

“Duduklah,“ berkata Sri Rajasa kemudian.

Tohjaya termangu2 sejenak. Dan iapun kemudian duduk diatas

tempat duduk kayu disudut bilik itu.

“Apakah seorang prajurit telah memanggilmu?”

“Hamba ayahanda. Bukankah ayahanda memanggil hamba

menghadap?”

“Ya.”

“Hamba siap menerima perintah apapun, ayahanda. Agaknya

memang sudah waktunya ayahanda memerintahkan kepada hamba

untuk berbuat sesuatu.“

Sri Rajasa menarik nafas dalam2.

Dan Tohjayapun kemudian bertanya, “Dan apakah perintah itu

ayahanda?”

Sri Rajasa memandang puteranya itu sejenak. Namun kemudian

terdengar ia berdesah. Katanya, “Tidak ada perintah apapun saat ini

Tohjaya.“

Bukan main terperanjatnya Tohjaya. Bahkan kemudian ia tidak

percaya kepada pendengarannya sehingga ia bertanya, “Apakah

yang ayahanda maksudkan?”

“Dengarlah sekali lagi Tohjaya,“ jawab ayahandanya, “aku tidak

akan memberikan perintah apapun juga.”

Dada Tohjaya terguncang karenanya. Dengan terbata2 ia

bertanya, “Tetapi, bukankah ayahanda memanggil hamba setelah

sidang di paseban? Menurut dugaan hamba, ayahanda mendapat

bahan2 yang cukup lengkap selama sidang sehingga Ayahanda

memutuskan untuk menjatuhkan perintah terakhir. Bukankah

ayahanda perlu mengambil tindakan tertentu untuk mengakhiri

keadaan yang tidak ada ujung pangkalnya?”

Tetapi Sri Rajasa itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku

tidak dapat menentukan sekarang. Aku masih harus

memikirkannya.”

Tohjaya benar2 menjadi bingung. Ia tidak mengerti, kenapa

ayahandanya memanggilnya dengan tergesa2. Namun kemudian ia

sama sekali tidak memberikan perintah apapun juga. Sebenarnyalah

bahwa Sri Rajasa sendiri sedang dilibat oleh kebingungan yang

hampir tidak dapat dipecahkannya. Setiap kali sikapnya selalu

dibayangi oleh keragu2an sehingga terombang-ambing tidak

menentu.

Dengan demikian maka bilik itupun sejenak dicengkam oleh

kesepian. Sri Rajasa duduk sambil menundukkan kepalanya, sedang

Tohjaya menjadi sangat gelisah menghadapi keadaan itu. Namun ia

tidak berani lagi bertanya sesuatu kepada ayahandanya, karena

Tohjayapun kemudian menyadari bahwa agaknya ada sesuatu yang

sedang bergejolak dihati ayahandanya.

“Tohjaya,“ berkata Sri Rajasa kemudian memecahkan kebekuan

suasana, “tinggalkan bilik ini.”

Tohjaya menjadi semakin bingung. Tetapi ia tidak dapat berbuat

lain. Perlahan2 ia berdiri dan berkata, “Hamba ayahanda. Hamba

mohon diri.”

Sri Rajasa hanya mengangguk kecil. Kemudian wajahnya itupun

tertunduk lagi. Bahkan kemudian disandarkannya dagunya pada

kedua belah tangannya yang sikunya bertelekan pada lututnya.

Tohjayapun kemudian melangkah keluar perlahan2. Hatinya

diamuk oleh kebingungan yang dahsyat, karena dengan demikian

iapun menyadari bahwa ayahandanya sendiripun masih juga

dikuasai oleh keragu2an.

“Kenapa ayahanda masih selalu ragu2. Mungkin ayahanda masih

saja terpengaruh oleh ibunda Permaisuri, justru karena ibunda

Permaisurilah maka ayahanda tidak dapat berbuat tegas atas

kakanda Anusapati. Seharusnya ayahanda tidak lagi menghiraukan

ibunda Permaisuri itu. Jika ayahanda masih saja terlampau banyak

pertimbangan, maka ahkirnya ayahanda akan terlambat.”

Namun dengan demikian langkahnya pun menjadi tergesa2.

Kedua pengawalnya berlari2 kecil mengikutinya dibelakang.

Sementara itu, Ken Umang sudah dicengkam oleh angan2

tentang tahta kerajaan Singasari sepeninggal Sri Rajasa. Jika

Anusapati sudah disingkirkan, maka tentu Tohjaya akan segera

diangkat menjadi Pangeran Pati menggantikan kedudukannya.

“Tentu tidak akan ada persoalan apapun juga jika Sri Rajasa sudah

memutuskan. Pengaruhnya terlampau besar, dan kekuasaannya

adalah mutlak.“ namun kemudian, “tetapi Mahisa Agni itupun harus

disingkirkan. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan mengalami kesulitan.

Betapapun saktinya Mahisa Agni, namun sudah barang tentu tidak

akan dapat mengimbangi kesaktian Sri Rajasa sendiri.”

Ken Umang itupun terloncat berdiri ketika ia melihat Tohjaya

datang kedalam biliknya dengan wajah yang tegang. Dengan

tergesa2 ia menyongsongnya dan bertanya, “Perintah apakah yang

telah kau terima Tohjaya?”

Tohjayapun kemudian duduk dengan lesunya. Sejenak ia

termangu2 sehingga ibunyapun menjadi heran.

“Tohjaya, apakah kau terima perintah itu?”

Tohjaya menggelengkan kepalanya. Dengan nada yang aneh ia

menjawab, “Hamba tidak menerima perintah apapun juga ibu.”

“He,“ Ken Umang terperanjat. Sejenak ia memandangi anaknya

dengan wajah yang tegang. Kemudian perlahan2 didekatinya

anaknya yang duduk sambil menundukkan kepalanya.

Diguncang2nya pundak anaknya sambil berkata, “Apakah aku sudah

pikun? Coba katakan sekali lagi Tohjaya.”

“Hamba tidak menerima perintah apapun ibunda. Ketika hamba

menghadap, ayahanda berkata, “Kembalilah, tinggalkan aku.“

“Tohjaya, apakah kau sedang mengigau?”

“Sebenarnya ibunda, ayahanda memerintahkan hamba untuk

meninggalkan bilik itu. Itulah perintah satunya yang hamba terima.”

Ken Umang memandang anaknya dengan wajah yang tegang,

sehingga pelupuk matanya hampir tidak berkedip. Ia tidak dapat

mengerti apakah yang sebenarnya dikatakan oleh anaknya itu.

“Ibunda,“ berkata Tohjaya kemudian, “hambapun tidak

mengerti, kenapa ayahanda tidak memberikan perintah apapun

kecuali memerintahkan hamba meninggalkan ayahanda itu seorang

diri.”

“O,“ Ken Umangpun kemudian terduduk pula, “aku tidak

mengerti. Aku tidak mengerti.”

Tohjaya memandang wajah ibunya sejenak. Namun

kepalanyapun segera tertunduk pula. Memang yang baru saja

terjadi sama sekali tidak dapat dimengertinya, dan ibunyapun

menjadi bingung karenanya.

Sejenak keduanya terdiam. Seakan2 kabut yang kelam telah

menyelubungi angan2 dan pikiran mereka, sehingga mereka sama

sekali tidak mengerti, apa yang harus mereka lakukan.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang masih juga dibayangi oleh

pembicaraan2 didalam sidang, mencoba untuk menemukan suatu

gambaran, apakah yang sebenarnya bergolak didalam hati Sri

Rajasa. Namun setiap kali yang diketemukannya, adalah sekedar

menganggap bahwa Sri Rajasa memang sedang kebingungan.

“Tetapi kebingungan itu dapat membahayakan keadaan,“

berkata Mahisa Agni didalam hati, “setiap saat pikirannya dapat

berubah dan setiap saat Singasari dapat bergejolak. Satu langkah

yang salah dari Sri Rajasa, dan membuat Singasari menjadi

berantakan. Sedangkan persoalan yang sebenarnya adalah

persoalan ketamakan Ken Umang semata2. Namun apabila hati Sri

Rajasa tidak goyah, maka hal yang seperti sekarang ini tidak perlu

terjadi.”

Demikianlah ketika Mahisa Agni kemudian bertemu dengan

Anusapati dan Sumekar, maka diceriterakannya apa yang terjadi di

paseban.

“Sebenarnyalah bahwa ancaman itu sudah langsung ditujukan

kepadamu,“ berkata Sumekar kepada Mahisa Agni, “tetapi karena

sikap para pemimpin Singasari yang tidak jelas, maka Sri Rajasa

masih harus berpikir sekali lagi. Jika didalam paseban itu tanggapan

atas tuduhan Sri Rajasa terhadapmu, terhadap yang disebutkan

kesombonganmu itu cukup baik baginya, maka ia tidak akan

menunggu lebih lama lagi. Tetapi karena ia melihat keragu2an pada

pemimpin Singasari, maka iapun tidak segera memerintahkan saat

itu juga untuk menangkapmu.”

Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Memang dapat juga

terjadi seperti yang dikatakan oleh Sumekar itu. Tetapi Mahisa

Agnipun tahu, bahwa sebenarnya Sumekar telah dipenuhi oleh

prasangka dan bahkan sikap yang pasti, yaitu Sri Rajasalah yang

harus disingkirkan, justru untuk menyelamatkan hasil yang pernah

dicapai oleh Sri Rajasa sendiri. Singasari yang besar dan kuat.

Namun bagi Mahisa Agni sendiri, masih harus ditempuh

pertimbangan2 yang semasak2nya meskipun kadang2 orang lain

menganggapnya tidak berbuat apa-apa.

Dalam pada itu, Anusapatipun sebenarnya mempunyai

tanggapan persoalan yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu sejalan

dengan pendapat Sumekar. Namun Anusapati menyerahkan

persoalannya kepada Mahisa Agni, karena ia percaya, bahwa

pertimbangan pamannya didasari oleh pengalaman dan

pengetahuannya yang luas.

Namun mendung yang semula membayang diatas istana

Singasari itu kini bagaikan mekar meliputi seluruh kota dan bahkan

menjalar keseluruh negeri. Terasa bahwa ada sesuatu yang kurang

pada tempatnya telah terjadi didalam lingkungan keluarga Sri

Rajasa. Jika semula persoalan itu hampir tidak mendapat perhatian

karena yang berkepentingan masih mampu membatasi diri masing2,

maka semakin lama persoalannya menjadi semakin jelas dapat

dilihat oleh para pemimpin Singasari.

Dalam keadaan yang demikian itulah, Singasari mulai menyebut2

nama Witantra.

Namun sebenarnyalah bahwa nama Witantra itu telah

mengganggu hati Sri Rajasa pula. Ia tidak mengerti dengan pasti

apakah sebenarnya yang dikehendakinya. Sehingga karena itulah

maka dengan diam2 Sri Rajasapun berusaha untuk mencari

hubungan dengan Witantra, meskipun ia berpesan dengan

sungguh2, agar Witantra tidak mengetahuinya, bahwa Sri Rajasa

yang memberikan perintah itu kepada beberapa orang petugas

sandi yang dipercayainya.

Ternyata sangat sulitlah untuk mencari hubungan dengan

Witantra itu, karena Witantra tidak pernah lagi kelihatan di kota

Singasari. Hanya namanya dan beberapa ceritera sajalah yang dapat

ditangkap oleh para petugas sandi itu.

“Ya, ia datang kepadaku,“ berkata seorang perwira yang

menghubungi orang2 yang diduga dapat bertemu langsung dengan

Witantra.

“Apa saja yang dilakukannya?”

“Tidak apa2. Ia hanya bertanya tentang keselamatanku

sekeluarga, dan sedikit tentang padepokannya dipuncak gunung.”

“Gunung yang mana?“ bertanya petugas sandi itu.

“Witantra tidak mau menyebutkannya.”

“Apakah ia sering datang kemari?”

“Hanya satu kali. Hanya satu kali. Tetapi ia berkata kepadaku,

bahwa pada suatu saat ia akan datang kembali mengunjungi

sahabat2 lamanya.”

“Apakah benar ia tidak mempersoalkan apapun juga yang dapat

menjadi petunjuk arah perhatiannya selama ini?”

“Tidak. Ia tidak mengatakan apapun juga. Tetapi ia menyatakan

kegembiraannya melihat perkembangan Singasari sekarang ini.

Singasari yang jauh lebih besar dari Tumapel dijaman Akuwu

Tunggui Ametung.”

Petugas sandi itu hanya dapat mengangguk2kan kepalanya.

Bahan yang didapatkannya untuk mengetahui keadaan Witantra

ternyata terlampau sedikit. Para petugas itu sama sekali tidak dapat

menyimpulkan, apakah sebenarnya maksud Witantra datang ke

Singasari. Bahkan setelah mereka menghubungi beberapa orang

yang pernah dikunjungi oleh Witantra itu.

“Baiklah,“ berkata seorang petugas sandi kepada seorang

perwira yang pernah mendapat kunjungan Witantra, “jika ia datang

sekali lagi, tolong, beritahukan aku.”

Perwira itu mengangguk2kan kepalanya. Perwira itupun

mengetahui bahwa orang yang datang itu adalah seorang prajurit

sandi. Dan perwira itupun tahu pasti, kepada siapa ia harus

melaporkan jika Witantra datang sekali lagi.

“Ternyata pihak istana menaruh perhatian besar sekali,“ berkata

perwira itu. Namun demikian, merekapun menjadi gelisah, karena

jika timbul sesuatu karena perbuatan Witantra, maka mereka yang

diketahui telah mendapat kunjungan Witantra itu pasti akan menjadi

sumber keterangan.

Tetapi bukan saja para perwira itu yang mengetahui bahwa pihak

istana menaruh perhatian yang besar sekali. Dari pembicaraan

beberapa orang prajurit, Sumekarpun mengetahui, bahwa ada

beberapa petugas sandi yang mendapat tugas mencari jejak tentang

Witantra itu.

Dalam pada itu, semua laporan tentang Witantra itu sudah

sampai ditelinga Sri Rajasa. Seperti apa yang dapat ditangkap oleh

para petugas sandi, maka tidak ada keterangan yang pasti yang

dapat dijadikan bahan untuk menentukan apakah yang sebenarnya

akan dilakukan oleh Witantra.

Namun demikian ada seorang petugas sandi yang mempunyai

keterangan yang agak lain dari kawan2nya.

“Witantra menyebut2 nama Mahisa Agni tuanku,“ berkata

petugas sandi itu ketika ia dipanggil menghadap.

“Apa katanya?”

“Ia hanya bertanya, dimanakah sekarang Mahisa Agni itu.

Apakah ia masih tetap berada di Kediri, karena menurut

pendengarannya Mahisa Agni menjadi seorang Senapati Agung yang

bertugas di Kediri sebagai wakil Mahkota. Atau sudah mendapatkan

jabatan lain.”

“Apa lagi?”

“Hanya itu tuanku. Hamba tidak mendapatkan bahan yang lain.

Sedang yang dibicarakan Witantra itu pada umumnya adalah

persoalan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintahan.

Kadang2 ia berbicara tentang jalan2 yang ramai, sawah yang hijau

dan rumah kawan2nya yang menjadi perwira di Singasari.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun dari keterangan itu

Sri Rajasa mendapatkan suatu arah betapapun samarnya, bahwa

Witantra masih menaruh perhatian terhadap Mahisa Agni.

“Mudah2an Witantra masih mendendamnya.”

Naman ternyata setelah itu, Sri Rajasa tidak pernah mendapat

keterangan apapun lagi tentang Witantra. Meskipun ada juga

seorang dua orang yang melaporkan bahwa Witantra tampak

berada didalam kota, namun sama sekali tidak menarik perhatian

orang, karena ia tidak berbuat apa2.

“Aku dapat menjadi gila,“ berkata Ken Arok kemudian ketika ia

berada didalam bilik Ken Umang.

Ken Umang yang masih nampak jauh lebih muda dari Permaisuri

yang sakit2an itu, mendekatinya sambil berkata, “Tuanku,

persoalannya sudah jelas bagi tuanku. Sebenarnya hamba ingin

mengajukan suatu sikap yang akan dapat menolong keadaan.

Tetapi justru karena hamba adalah ibu Tohjaya, maka hamba

berada didalam kesulitan.”

“Kenapa?”

“Orang dapat menuduh hamba, semata2 sikap hamba itu

didorong oleh ketamakan dan kebencian.”

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Ken

Umang sejenak.

Sambil tersenyum Ken Umang beringsut mendekat, ia duduk

diatas sebuah kulit harimau hasil buruan Sri Rajasa di samping

tempat duduk Sri Rajasa sendiri yang beralaskan kulit seekor ular

raksasa.

“Tuanku,“ Ken Umang bergesar mendekatinya. Kemudian sambil

bersandar pada kaki Sri Rajasa Ken Umang berkata, “Memang

tuanku harus segera mengakhiri keadaan yang tidak menentu

sekarang ini. Hamba tahu bahwa tuanku menjadi ragu2. Tetapi

hambapun tahu, siapakah sebenarnya puteranda Anusapati itu,

karena hamba tahu saat2 perkawinan tuanku.”

“Banyak orang yang mengetahui siapakah sebenarnya

Anusapati, karena setiap orang yang umumnya berkisar diantara

kita dapat menghitung saat perkawinanku dan saat kelahiran

Anusapati.”

“Nah,“ berkata Ken Umang, “sebenarnya tidak ada persoalan

lagi. Kasar atau halus, tuanku dapat melakukannya. Sedang tuanku

sendiri mempunyai putera laki2 yang akan dapat menggantikan

kedudukan tuanku. Jika tuanku membiarkan keadaan ini

berlangsung terus, maka sebenarnyalah tuanku dapat terganggu.

Lahir dan batin.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak menyahut.

“Tuanku, jika hamba bukan ibu Tohjaya, hamba akan dapat

dengan leluasa menyampaikan pendapat hamba. Tetapi justru

karena itulah, maka hamba menjadi ragu2. Tuankulah yang akan

dapat menentukan, apakah yang sebaiknya tuanku lakukan. Tetapi

segera. Tidak dengan ragu2 dan condong kepada kebingungan.

Ternyata seperti sikap tuanku. Tuanku memanggil Tohjaya, namun

kemudian tuanku tidak menjatuhkan perintah. Hamba tahu bahwa

perintah itu sudah siap. Tetapi tuanku ragu2, sehingga tuanku

mengurungkannya.”

Sri Rajasa tidak segera menyahut. Tetapi setiap kali ia bertemu

dengan Ken Umang, rasa2nya sudah jatuhlah keputusannya untuk

menyingkirkan Anusapati dan Mahisa Agni. apapun akibatnya.

Baginya Permaisurinya Ken Dedes sudah tidak begitu banyak

diperlukan lagi. Ken Dedes itu menjadi semakin cepat tua dan

sakit2an.

Namun setiap saat ia teringat, bahwa ada sesuatu yang lain pada

Ken Dedes, hatinya menjadi berdebar2. Ken Dedes nemiliki sesuatu

kurnia dari Yang Maha Agung yang tidak dimiliki oleh Ken Umang.

Cahaya yang tidak dapat dimengertinya itu setiap kali dapat

dilihatnya.

“Tuanku,“ berkata Ken Umang kemudian, “apakah sebenarnya

yang membuat tuanku ragu2? Mungkin kemampuan Mahisa Agni

dan pengaruhnya? Tentu tuanku akan dapat mengatasinya karena

Mahisa Agni tidak akan sekuat Sri Baginda di Kediri yang dapat

tuanku kalahkan itu. Sedang pengaruhnyapun tidak akan sebesar

para Panglima dan Senapati yang lain, karena sudah lama ia berada

di Kediri. Jika tuanku memperhitungkan pengaruhnya di Kediri,

maka dapat diperhitungkan bahwa Kediri sekarang tentu tidak akan

mampu berbuat apa2.“ Ken Umang berhenti sejenak. Lalu, “Tuanku,

hambapun mendengar apa saja yang dikatakan oleh Mahisa Agni

dipaseban itu. Bukankah itu sudah suatu sikap yang pasti untuk

menantang tuanku, merendahkan kekuasaan tuanku dan seakan2

suatu pameran kekuatan bahwa Mahisa Agni sama sekali tidak takut

terhadap kuasa tuanku, selain dengan sengaja menghinakan para

pemimpin yang lain.”

Ken Arok masih tetap berdiam diri.

“Nah, hamba persilahkan tuanku mempertimbangkan semuanya

itu, karena hamba tidak berhak berbuat apapun selain memberikan

sedikit pertimbangan yang barangkali tidak berarti apa2 bagi

tuanku.”

Sri Rajasa masih tetap tidak menyahut sepatah katapun.

Dipandanginya bintik2 dikejauhan seolah2 dicarinya sesuatu

diantara kekosongan dikejauhan.

Ken Umang tidak mendesaknya lagi. Dibiarkannya Sri Rajasa

merenungi kata2nya. Ken Umang itu masih tetap yakin bahwa Sri

Rajasa akan lebih percaya kepadanya daripada kepada Ken Dedes,

apalagi kelemahan yang ada pada keturunan Ken Dedes itu ialah

bahwa Anusapati adalah anak Tunggul Ametung.

Sejenak kemudian, setelah bergolak dengan dahsyatnya, dada

Ken Arok seakan2 mulai terbuka. Seakan2 Ken Arok melihat sebuah

jalan lurus yang harus ditempuhnya. Satu2nya jalan, karena tidak

ada pintu lain yang terbuka baginya.

Betapapun jalan itu lewat celah2 lorong yang mengerikan, namun

setapak demi setapak rasa2nya Ken Arok sudah memasuki pintu itu,

didorong oleh tangan2 halus Ken Umang dan puteranya yang penuh

dengan nafsu.

“Aku harus mengadakan persiapan sebaik2nya,“ berkata Ken

Arok didalam hatinya, “aku harus bertemu dengan orang2 yang

dapat aku percaya.”

Namun Ken Arok itupun menarik nafas dalam2 sambil berdesah

didalam dirinya, “Apakah aku akan berhasil tanpa mengganggu

keutuhan Singasari. Sekian lama aku bekerja untuk mempersatukan

Singasari. Dan kini aku sendiri akan menimbulkan perpecahan

didalamnya.”

Tetapi Ken Arok memang tidak melihat jalan lain. Yang harus

dilakukan adalah menyingkirkan Anusapati dan Mahisa Agni dengan

akibat yang sekecil2nya.

Itulah sebenarnya yang diharapkan oleh Ken Umang. Dan ia

yakin bahwa yang diharapkan itu akan terjadi.

Demikianlah, dihari berikutnya, Ken Arok memanggil beberapa

orang Senapati. Untuk tidak memberikan kesan yang mencurigakan,

maka beberapa orang itu menghadap tidak berdasarkan waktunya.

Bahkan juga Panglima pasukan pengawal yang menurut

pendapatnya, akan dapat dipergunakannya sebagai perisai jika

terjadi sesuatu.

“Kita tidak dapat menunda lagi,“ berkata Sri Rajasa kepada

penasehatnya, yang sekaligus guru Tohjaya didalam olah

kanuragan, “Anusapati harus disingkirkan. Beberapa orang Senapati

sudah siap untuk melakukannya. Dan cara yang akan aku tempuh

adalah cara yang paling kecil akibatnya.”

Para Senapati harus dengan diam2 mengambil Anusapati dan

membawanya keluar istana untuk diselesaikan. Tentu dimalam hari.

Pasukan Pengawal akan diatur oleh Panglimanya, sehingga ketika

terjadi hal itu, para pengawal tidak akan berada di tempatnya

kecuali yang memang dapat dipercaya dan dapat dibawa bekerja

bersama.”

“Tetapi pekerjaan itu akan sangat sulit tuanku. Tuanku

Anusapati memiliki kemampuan secara pribadi.”

“Tentu, jika kalian harus bertempur seorang lawan seorang.

Tetapi kalian akan menghadapinya dengan beberapa orang

Senapati.”

“Disaat yang ditentukan aku akan memanggilnya. Jika ia

mengetahuinya dan tentu akan berbuat sesuatu, diseluruh Singasari

tidak ada orang lain yang dapat dihadapkan kepadanya selain aku

sendiri. Untuk sementara kita dapat, melupakan Witantra. Aku kira

ia tidak akan berbuat sesuatu. Sokurlah jika ia justru sedang

mencari Mahisa Agni untuk membuat perhitungan atas

kekalahannya diarena disaat kematian Akuwu Tunggul Ametung

waktu itu.”

“Baiklah tuanku. Hamba akan melaksanakannya. Memang tidak

ada jalan lain dari jalan kekerasan. Tentu kami akan

memperhitungkan semua pihak yang dapat mengganggu usaha ini.

Tetapi jika tuanku menghendaki kami bertindak langsung didalam

istana ini, maka soalnya akan menjadi lebih mudah.”

“Kami akan memaksakan keadaan ini kepada para Panglima dan

rakyat Singasari sebagai suatu keharusan. Anusapati adalah orang

lain bagiku.”

Penasehat Sri Rajasa itupun merasa, bahwa telah datang

waktunya ia menunjukkan jasa yang paling besar bagi Sri Rajasa

dan Tohjaya. Ia harus dapat menyingkirkan Anusapati kasar atau

halus. Bahkan jika terpaksa dengan pertempuran terbuka.

“Tentu tidak akan banyak yang berpihak kepadanya. Panglima

Pasukan Pengawal akan mengatur, bahwa disaat yang ditentukan

itu, para petugas dilstana ini adalah orang2 yang dapat dipercaya.”

Demikianlah penasehat Sri Rajasa itu telah melakukan tugasnya

dengan cermat. Dihubunginya Panglima Pasukan Pengawal. Ia tahu

benar, bahwa Panglima itu terlalu setia kepada Sri Rajasa. Demikian

pula beberapa orang Senapati dan prajurit yang akan dapat

diajaknya bekerja bersama.

“Baiklah,“ berkata seorang Senapati, “tentukan, kapan kita akan

melakukannya.”

“Secepatnya. Kita akan segera bertindak sebelum Anusapati dan

Mahisa Agni mengetahuinya.”

“Mereka tidak akan tahu rencana ini.”

“Diistana ini ada sejumlah pengkhianat.”

Sebenarnyalah bahwa Sumekar telah tertarik kepada perubahan2

yang terjadi diistana. Beberapa orang prajurit yang dikenalnya mulai

membicarakan kebijaksanaan yang baru. Perubahan yang tidak

pada tempatnya telah terjadi didalam tugas2 para prajurit, didalam

dan diluar istana. Prajurit2 yang bertugas sehari2, tiba2 saja telah

ditarik dari istana dan orang2 barulah yang menggantikannya di

tempat2 terpenting.

Sumekar yang mempunyai penglihatan yang tajam tidak dapat

membiarkan semuanya terjadi diluar pengetahuan Mahisa Agni.

Karena itu, maka iapun segera menemuinya dan mengatakan apa

yang dilihatnya sejak hari ini.

Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Sebenarnya

perubahan2 semacam itu adalah perubahan yang wajar didalam

tugas keprajuritan.”

“Mungkin. Tetapi aku mempunyai firasat yang lain kali ini. Tentu

dalam waktu yang singkat akan terjadi sesuatu. Jika tidak hari ini,

tentu malam nanti.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam2. Katanya kepada Sumekar,

“Mungkin kau benar Sumekar. Karena itu bersiaplah. Adalah lebih

baik jika kau dapat mengambil Witantra dan kau bawa masuk

kedalam istana ini.”

“Sekarang?”

“Jika malam gelap. Tetapi jika terjadi sesuatu sebelum gelap,

tentu kita tidak sempat memberitahukan kepadanya.”

“Baiklah. Aku akan berada ditaman sehari penuh. Jika terjadi

sesuatu, aku berada didalam taman itu.”

“Baiklah. Aku akan menemui Anusapati.”

Dengan dada yang berdebar2 Mahisa Agnipun kemudian

menemui Anusapati dibangsalnya. Ketika ia melihat para penjaga

bangsal itu, hatinya menjadi berdebar2. Prajurit2 itu sama sekali

bukan prajurit yang biasanya bertugas dibangsal itu.

“Semuanya cepat berubah,“ berkata Mahisa Agni didalam

hatinya, “dibeberapa hari terakhir, agaknya Sri Rajasa dan

orang2nya sudah siap untuk melakukan rencana terakhirnya. Sudah

tentu, bahwa Sri Rajasa terpaksa melakukannya dengan kekerasan

untuk menempatkan Tohjaya menjadi searang Putera Mahkota.”

Tetapi ternyata dihari itu, tidak terjadi sesuatu. Anusapati yang

sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan, masih saja tinggal

didalam bangsalnya. Mahisa Agni masih belum memberikan isyarat

apapun juga. Sedang Sumekar yang berada didalam taman dan

kadang2 hilir mudik dihalaman membawa lodong bambu masih juga

belum melihat perkembangan keadaan yang memuncak.

Karena itulah, maka ketika senja turun, ia berusaha untuk pergi

kerumah persembunyian Witantra didalam kota Singasari.

Sumekar ternyata hanya memerlukan waktu yang pendek.

Keduanya kemudian dengan hati2 meloncat masuk kedalam

halaman istana.

“Bersembunyilah didalam taman,“ berkata Sumekar kepada

Witantra, “aku akan berusaha menemui Mahisa Agni.”

“Apa kau tidak akan dicurigai?”

“Aku akan membawa bibit pohon soka, yang dapat aku pakai

sebagai alasan. Menanam pohon soka memang sebaiknya dimalam

hari.”

“Baiklah, tetapi hati2lah.”

Sumekarpun kemudian pergi untuk menemui Mahisa Agni.

Dengan berdebar2 ia melihat beberapa orang prajurit yang

tampaknya mulai bersiap2. Bahkan dilihatnya penasehat Sri Rajasa

berjalan tergesa2 didepan bangsal Mahisa Agni. Hati Sumekar

menjadi berdebar juga ketika dilihatnya Panglima Pasukan pengawal

ada pula diantara beberapa orang prajurit yang sedang bertugas.

“Apakah sesuatu bakal terjadi malam ini?“ bertanya Sumekar

kepada diri sendiri, “jika demikian, apakah kekuatan yang dapat

dipergunakan oleh Anusapati untuk menyelamatkan dirinya dan

keluarganya. Sejauh2 yang dapat dilakukan adalah melontarkan,

isyarat itu kepada Kuda Sempana dan Mahendra. Tetapi dihalaman

ini adalah berpuluh2 prajurit pilihan, termasuk Sri Rajasa sendiri.”

Sumekar menarik nafas dalam2. Katanya, “Akhirnya kelembutan

hati Mahisa Agni telah menempatkan Anusapati dalam kesulitan.

Akhirnya bahwa Sri Rajasalah yang telah, bersiap lebih dahulu

menghadapi Putera Mahkota itu, yang sebenarnya adalah bukan

puteranya sendiri.”

Dalam kecemasan itu, akhirnya Sumekar menemukan jalan lain

yang justru akan dilakukan. Jalan yang sama sekali tidak diketahui

oleh Mahisa Agni dan bahkan oleh Anusapati sendiri.

“Aku akan bertindak atas tanggung jawabku sendiri. Sebelum

terjadi pembunuhan atas tuanku Anusapati, aku harus segera

bertindak.”

Meskipun demikian, ia melanjutkan langkahnya membawa

sebatang bibit pohon soka mendekati bangsal Mahisa Agni.

Dihalaman bangsal itu Sumekar telah dicegat oleh dua orang

prajurit. Dengan kasar salah seorang dari mereka menyapa, “Siapa

kau?”

“Apakah kau tidak dapat mengenal aku?“ bertanya Sumekar.

Prajurit itu termangu2. Lalu, “Sebut siapa namamu.”

“Aku Pangalasan dari Batil.”

“O. juru taman. Tetapi apa kerjamu malam2 begini?”

“Aku akan menanam pohoa soka seperti yang dipesan oleh

tuanku Mahisa Agni.”

“Kenapa tidak besok siang?”

“Menanam pohon noka hanya dapat dilakukan malam hari.“

“Bohong, kau sangka aku tidak mengerti tentang tanaman? Aku

adalah bekas seorang juru taman pada jaman pemerintahan Akuwu

Tunggul Ametung. Tetapi kemudian aku mendapatkan warisan ilmu

sehingga aku berhasil mengikuti pendadaran untuk menjadi seorang

prajurit.”

“O, jika demikian seharusnya kau tahu, bahwa menanam pohon

soka sebaiknya pada malam hari. Mungkin dapat dilakukan disiang

hari, tetapi hasilnya tidak akan memberi kepuasan.“

Prajurit itu termenung. Tanpa disadarinya dicobanya untuk

mengingat kembali, apa yang pernah dilakukan pada saat ia

menjadi juru taman. Namua ia sudah tidak dapat mengingat apapun

lagi.

Karena itu, maka katanya, “Cepat, lakukan.”

Sumekarpun dengan tergesa2 memasuki halaman bangsal itu.

Namun ia masih berpura2 bertanya, “Dimana aku harus menanam

pohon ini?”

“Aku tidak tahu.”

“Jika demikian, apakah kau dapat bertanya kepada tuanku

Mahisa Agni.”

“Kenapa aku?”

“Aku tidak berani. Tolong katakan kepadanya.“

“Aku tidak peduli. Itu bukan urusanku.”

Sumekar berdiri termangu2 sejenak. Namun ia tersenyum

didalam hati. Kesempatan itulah yang memang ditunggunya.

Demikianlah akhirnya ia berhasil bertemu dengan Mahisa Agni,

dan mengatakan apa yang telah dilihatnya.

“Kaupun sudah diawasi,“ berkata Sumekar.

Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya.

“Nah, kita agaknya sudah terlambat.”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku masih

mempunyai jalan. Apakah kau bertemu dengan Witantra?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan Kuda Sempana dan Mahendra?”

“Aku hanya memanggil Witantra. Ia sudah berada di dalam

taman.”

“Baiklah. Tetapi usahakan agar mereka semuanya berada

didalam istana ini. Mereka harus berada dibangsalku. Aku akan

membicarakan sesuatu yang penting dengan mereka dan kau.”

“Sekarang?”

“Ya. Panggil mereka.”

Sumekar menjadi termangu2 sejenak. Lalu katanya. “Tetapi

bagaimana jika semuanya, ini akan segera terjadi?”

“Jika begitu, minta Witantra memanggil keduanya. Kau

mengawasi keadaan sebaik2nya.”

“Tetapi, apakah yang dapat kita kerjakan hanya bersama

dengan mereka bertiga.”

“Kita sudah bertiga dengan Anusapati.”

“Tetapi dihalaman ini ada berpuluh2 prajurit yang agaknya

sudah mendapat petunjuk2 yang pasti.”

“Karena itu, panggil mereka. Aku masih mempunyai jalan.”

Sumekar mengangguk2kan kepalanya. Lalu katanya, “Baiklah,

aku akan menghubungi Witantra. Biarlah ia datang kebangsal ini,

akulah yang akan menjemput Kuda Sempana dan Mahendra yang

ada dirumah itu juga.”

“Cepat. Sebelum semuanya terjadi. Sementara itu aku akan

mempersiapkan semua rencana. Jangan beri tahu Anusapati lebih

dahulu. Aku akan berada di halaman, supaya aku dapat melihat

kesiagaan mereka yang semakin meningkat. Suruhlah Witantra

langsung memasuki lewat pintu belakang. Hati2lah. Para prajurit

agaknya benar2 bersiap.”

Sumekar melangkah meninggalkan Mahisa Agni. Namun tiba2 ia

teringat, “Tetapi, aku mengatakan kepada para penjaga, bahwa aku

akan menanam pohon soka.”

“Tinggalkan. Jika kau kembali bersama Kuda Sempana dan

Mahendra, kau tidak usah melalui halaman bangsal ini.”

Sumekarpun mengetahui apa yang harus dikerjakan. Karena

itulah maka iapun segera pergi meninggalkan Mahisa Agni. Di

halaman depan para prajurit menegurnya, katanya, “Sudah selesai?”

“Tuanku Mahisa Agni marah bukan main.”

“Kenapa?”

“Kau memang gila. Aku sudah memperingatkan bahwa

sebaiknya besok pagi saja.“

“Ya, aku menyesal. Tetapi menanam pohon soka hanya dapat

dilakukan dimalam hari, maksudku, yang paling baik dilakukan

dimalam hari.”

“Dimana pohon sokamu itu?”

“Diinjak2 sampai lumat. Tetapi anehnya, aku harus mencari lagi.

Justru Kembang Soka Kuning, jenis yang paling sulit dicari.”

Para prajurit itu tertawa. Dipandanginya juru taman itu dengan

ibanya. Namun mereka tidak dapat menolongnya, karena mereka

sendiri belum pernah melihat jenis Kembang Soka yang berwarna

kuning.

Sepeninggal Sumekar, maka Mahisa Agnipun kemudian

membenahi dirinya. Tetapi betapapun ia mencemaskan keadaan,

tetapi Mahisa Agni tidak menganggap perlu membawa senjata.

Tangannya yang dapat dialiri dengan aji Gundala Sasra dan

sekaligus Kala Bama dalam bentuknya yang sesuai, adalah semata

yang tidak kalah dahsyatnya dari segala macam jenis semata tajam

maupun senjata2 yang lain.

Ketika ia keluar dari bangsalnya dilihatnya beberapa orang

prajurit berada dihalaman. Seperti biasanya Mahisa Agnipun

menyapa mereka dengan ramahnya. Namun kali ini para prajurit itu

menjawabnya dengan ragu2.

“He, apakah kalian tidak pernah bertugas di bangsal ini?“

bertanya Mahisa Agni kepada prajurit2 itu.

Pemimpin peronda itupun menjawab dengan termangu-mangu,

“Belum. Eh, maksud kami, kami memang belum pernah bertugas

diregol ini, tetapi sudah sering bertugas dibagian lain.”

“Dimana?”

Pemimpin peronda itu menjadi semakin bingung, sehingga ia

menjawab penuh kebimbangan, “Di Istana bagian dalam.”

“He, bagian dalam yang mana? Apakah ada bagian luar dan

bagian dalam.”

Prajurit itu menjadi semakin bingung. Katanya, “Maksudku, istana

yang baru.”

“O, maksudmu kau sering bertugas dibagian yang baru dari

istana ini. Jelasnya di bangsal yang didiami oleh tuan puteri Ken

Umang dan yang lain yang didiami oleh tuanku Tohjaya.”

“Ya. ya.”

Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Dan kau

sekarang mendapat tugas baru disini.”

“Ya. menurut panglima, sudah saatnya kita saling bertukar

tempat didalam tugas kami, agar kami tidak selalu berada ditempat

yang sama sepanjang kami menjadi prajurit.”

“Bagus. Itu adalah usaha yang bagus sekali,“ berkata Mahisa

Agni, “nah, bertugaslah dengan baik. Aku akan berjalan2 sebentar.”

“Berjalan2?“ prajurit itu menjadi heran, “sudah terlampau malam

tuan masih akan berjalan2.”

“Malam?“ bertanya Mahisa Agni, “kau ini seperti seekor ayam

saja,“ berkata Mahisa Agni sambil tertawa, “baru saja senja

tenggelam. Biasanya aku keluar hampir sampai tengah malam.

Bahkan kadang2 lebih.”

Prajurit itu mengangguk2kan kepalanya. Sudah barang tentu

bahwa mereka tidak akan dapat mencegahnya.

Demikianlah para prajurit itu hanya dapat memandangi langkah

Mahisa Agni yang menyusup kedalam gelap. Namun demikian

rasa2nya mereka telah mengabaikan tugas mereka jika mereka

tidak tahu, kemana Mahisa Agni itu pergi.

Karena itu, maka pemimpin peronda itupun memerintahkan

seseorang untuk mengawasi kemana Mahisa Agni itu pergi.

Namun ternyata bahwa orang itu kurang dapat menguasai

keadaan. Ia tidak memperhitungkan kemampuan Mahisa Agni

sehingga dengan mudah Mahisa Agni dapat, mengetahui bahwa

seseorang telah mengikutinya.

Prajurit yang mengikuti itu menjadi bingung ketika tiba-tiba saja

orang yang harus diawasinya itu hilang. Mahisa Agni yang berjalan

perlahan2 didalam kegelapan itu tiba2 saja seperti dapat lenyap

menembus bumi.

“Gila,“ desis prajurit itu, “dimanakah orang itu bersembunyi?”

Dengan hati2 ia melangkah mendekati gerumbul yang ada

didekat tempat Mahisa Agni menghilang. Namun ketika ia sampai

ditempat itu, ternyata ia tidak menjumpai seorang-pun.

“Aneh,“ desisnya, “apakah aku sedang mengikuti sesosok

hantu?”

Namun dengan demikian hatinya menjadi berdebar-debar.

Seakan2 ia benar2 berhadapan dengan hantu yang dapat

menghilang dan kemudian menampakkan diri.

Ketika ia sudah yakin bahwa ia tidak akan dapat menemukan

Mahisa Agni, maka dengan kesal iapun meninggalkan tempat itu.

Dengan tergesa2 ia berjalan kembali ketempat tugasnya dengan

berbagai macam perasaan yang kisruh.

Tetapi hampir terlonjak prajurit itu ketika ia melihat seseorang

berjalan sambil menyilangkan tangannya dipunggung. Selangkah

demi selangkah, seakan2 tidak menghiraukan apa pun lagi.

“Tuan,“ prajurit itu menyapanya.

“O, siapa kau?”

“Bukankah tuan Mahisa Agni?”

“Ya, kenapa? Aku ingin berjalan2. He, apakah kau prajurit yang

bertugas di regol bangsalku?”

“Ya tuan.”

“Kenapa kau disini? Bukankah kau masih ada diregol ketika aku

berangkat berjalan2? Dan kenapa tiba2 saja kau sudah berada

disini?”

Orang itu menjadi bingung. Seharusnya ialah yang bertanya

kepada Mahisa Agni. Namun justru kini Mahisa Agnilah yang

bertanya kepadanya.

“He, kenapa kau diam saja?“ desak Mahisa Agni.

“Tidak, maksudku aku memang berjalan2.”

“Akulah yang berjalan2 bukan kau.”

“O,” orang itu menjadi semakin bingung, “maksudku tuan, aku

juga berjalan2 untuk mengendorkan ketegangan.”

Mahisa Agni memandangi prajurit itu sejenak. Namun iapun

kemudian tertawa sambil berkata, “Aku memang sudah ketinggalan.

Agaknya memang sudah menjadi peraturan, bahwa setiap prajurit

yang sedang bertugas diperkenankan berjalan2 untuk

mengendorkan ketegangan, sekaligus dengan membawa senjatanya

sekali.”

Terasa dada prajurit itu berdesir. Ia merasa sindiran yang halus

tetapi tepat mengenai sasarannya. Meskipun begitu prajurit itu tidak

dapat berbuat apapun juga. Sehingga karena itu, maka jawabnya,

“Hanya suatu kesempatan tuan. Bukan peraturan.”

Mahisa Agni menepuk bahu prajurit itu sambil berkata, “Cepat,

kembali kepada tugasmu. Itu jika kau sudah selesai mengendorkan

ketegangan?”

“Ah.”

“Tetapi ketegangan apakah sebenarnya yang mencengkammu.”

Prajurit itu tidak menjawab. Karena itu, maka Mahisa Agnipun

berkata, “Baiklah, cepat kembali. Mungkin kawan2mu memerlukan

kau.”

Prajurit itupun kemudian dengan tergesa2 kembali kedalam

biliknya. Namun disepanjang langkahnya, ia tidak henti2nya

bertanya2 kepada diri sendiri, bagaimana dapat terjadi, bahwa

Mabisa Agni yang diikutinya itu begitu saja telah hilang dan yang

tanpa diduga2nya ditemuinya dijalan kembali kegardunya.

“Benar2 anak iblis,“ katanya didalam hati, “tentu bukan manusia

biasa yang dapat melakukannya.”

Ketika prajurit itu sampai diregol halaman bangsal Mahisa Agni,

maka iapun segera menceriterakan pengalamanya itu kepada

kawan2nya. Sebagian dari mereka menjadi terheran2 dan berkata,

“Itulah sebabnya, ia diangkat menjadi Senapati Agung di Kediri.“

Namun pemimpin peronda itu berkata, “Kau tentu dibayangi oleh

ketakutan saja.”

“Omong kosong. Selagi ia masih berdiri diatas tanah ia tidak

akan dapat melenyapkan dirinya. Percayalah bahwa iu tidak lebih

dari seorang prajurit biasa. Hanya kesempatan sajalah yang

membuatnya menjadi orang terkemuka di Singasari. Jangan kau

sangka bahwa tidak ada orang lain yang memiliki kelebihan tetapi

belum mendapat kesempatan. Sebenarnya aku ingin melihat dan

bahkan mengalami, betapa tingginya ilmu orang yang bernama

Mahisa Agni dan juga orang yang bergelar Kesatria Putih itu.”

“Putera Mahkota?“ bertanya seorang kawannya.

“Ya, Putera Mahkota. Ceritera tentang mereka sama dahsyatnya.

Tetapi aku belum pernah melihat kebenaran dari ceritera itu.”

“Semua orang pernah mendengar bahwa Mahisa Agni pernah

membunuh Senapati Agung dari Kediri.”

“Dan siapakah yang mengetahui sebenarnya, betapa tinggi ilmu

Senapati Agung Kediri itu? Mungkin yang disebut Senapati Agung

Kediri itu tidak lebih tangguh dari kau atau salah seorang prajurit

yang memiliki sedikit kelebihan. Nah, bukankah dengan demikian

kemenangannya itu bukan ukuran dari keperwiraannya.”

“Ah,“ berkata prajurit yang lain, “kau jangan mencoba ingkar.

Kau tentu mengetahui bahwa Kesatria Putih pernah membunuh

beberapa orang yang ternyata adalah prajurit2 Singasari dan

melemparkan senjata mereka dimuka pintu gerbang?”

“Aku berkata tentang Mahisa Agni,“ sahut pemimpin peronda itu.

“Tetapi bukankah kau juga menyebut Kesatria Putih.“

Pemimpin prajurit yang sedang berjaga2 itu tidak menyahut.

“Dan kau tentu juga mengetahui, bahwa Putera Mahkota itu

adalah anak kemenakan Mahisa Agni. Ilmu yang dimilikinyapun

tentu keturunan ilmu Mahisa Agni.”

Pemimpin peronda itu masih tetap berdiam diri.

Kawannyapun tidak berkata lebih lanjut. Mereka untuk beberapa

lamanya saling berdiam diri dan duduk berserakan, selain yang

bertugas didepan tangga bangsal.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang berjalan2 dihalaman melintasi

gerumbul2 bunga mendekati bangsal Anusapati. Namun ia tidak

ingin menimbulkan kecurigaan pada para prajurit yang bertugas.

Karena itu, ia berusaha untuk berlindung dibalik dedaunan.

Seperti yang dikatakan oleh Sumekar, memang dihalaman istana

malam itu ada beberapa kesibukan. Tetapi menurut perhitungan

Mahisa Agni tentu belum akan dilakukan malam ini. Ia melihat

prajurit yang terpencar2, dan sama sekali tidak ada pemusatan yang

lebih besar didalam maupun diluar istana.

Meskipun demikian, Mahisa Agni memang tidak boleh lengah.

Itulah sebabnya, maka ia ingin dapat bertemu dengan Witantra,

Kuda Sempana dan Mahendra. Karena mereka tidak mempunyai

pasukan yang cukup apabila diperlukan, dan memang hal itu sama

sekali bukan menjadi tujuan Mahisa Agni, maka ia masih berusaha

untuk menemukan jalan lain yang lebih baik.

Setelah beberapa lama ia mengamat2i bangsal Anusapati, maka

Mahisa Agni itupun segera meninggalkan tempatnya dan kembali

kebangsalnya sebelum para penjaganya menjadi curiga pula.

“Siapa lagi yang sedang berjalan2?“ bertanya Mahisa Agni ketika

ia sampai dimuka regol bangsalnya.

Beberapa orang prajurit menjadi termangu2. Tetapi prajurit yang

mengetahui sindirian itupun menjadi tersipu2. Tetapi ia tidak

menjawab sama sekali.

Karena tidak ada seorangpun dari mereka yang menjawab, maka

Mahisa Agni itupun kemudian berkata, “Baik2lah didalam tugas

kalian. Aku selalu berterima kasih kepada kalian, karena

keselamatanku tergantung kepada kalian malam ini. Selamat

malam.”

Pemimpin peronda itu mengerutkan keningnya. Ternyata bahwa

Mahisa Agni adalah seorang pemimpin yang ramah.

Hampar diluar sadarnya ia menjawab seperti kepada seorang

sahabatnya yang karip, tidak seperti terhadap seorang Senapati

Agung, “Baiklah, selamat malam.”

Pemimpin peronda itu terkejut sendiri atas jawabannya itu.

Tetapi ia tidak sempat mengulanginya karena Mahisa Agnipun telah

melangkah meninggalkannya.

Pemimpin peronda itu mengangguk2kan kepalanya. Katanya,

“jarang sekali terdapat Senapati besar seramah Mahisa Agni.“

Namun tiba-tiba ia menyambung dengan serta-merta, “Tetapi itu

bukan karena kebaikan hati. Itu adalah karena ia merasa bahwa ia

tidak lebih dari seorang anak Padepokan di Panawijen.”

Para prajurit itu mengangguk2kan kepalanya. Seperti terbangun

dari mimpi mereka. Mereka menyadari sesungguhnya, sehingga

setiap anggapan bahwa Mahisa Agni adalah seorang yang baik akan

dapat mengurangi kesungguhan mereka menjalankan tugas itu.

Ternyata belum lagi Mahisa Agni menutup pintu bangsalnya

rapat, ternyata seorang Senapati yang lain telah mendatangi regol

itu. Kepada pemimpm prajurit yang bertugas ia berkata, “Aku

mengemban tugas Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

Pemimpin peronda itu mengangguk dalam2 sambil berkata,

“Silahkan. Baru saja tuan Mahisa Agni masuk kedalam bangsal.”

“Baru saja?“ bertanya perwira itu.

“Ya.”

“Darimana?”

“Sekedar berjalan2 didalam halaman ini.“

Perwira itu mengangguk2kan kepalanya. Lalu, “Apakah tidak ada

seorangpun yang mengikutinya?”

“Hanya dihalaman ini.”

“Ya, tetapi setidak2nya kalian tahu apa yang dilakukan

dihalaman ini.”

“Seorang dari kami mengikutinya dari kejauhan. Tetapi ia tidak

berbuat apa2,“ jawab pemimpin peronda itu sambit memandang

kepada prajurit yang mengikuti Mahisa Agni tetapi gagal.

Prajurit itu tidak membantah, meskipun dadanya terasa

bergetaran.

“Baiklah,“ berkata perwira itu, “aku akan bertemu dengan

Mahisa Agni atas perintah Sri Rajasa.”

“Silahkan. Tentu tuan Mahisa Agni masih belum masuk kedalam

biliknya.”

Perwira itupun kemudian naik tangga bangsal Mahisa Agni.

Perlahan-lahan ia mengetuk pintu bangsal itu.

“Siapa?“ bertanya Mahisa Agni yang ternyata masih duduk

diruang dalam.

“Aku, utusan Sri Rajasa.”

Mahisa Agni terkejut. Jarang sekali terjadi, utusan Sri Rajasa

datang dimalam hari. Hanya apabila ada persoalan yang sangat

penting sajalah, maka ia dipanggil menghadap dimalam hari.”

Namun demikian, Mahisa Agni harus melakukan apapun bunyi

perintah itu. Meskipun demikian ia menjadi berdebar2, karena ia

sudah terlanjur menyuruh Sumekar membawa Witantra dan

kawan2nya masuk kedalam bangsalnya lewat pintu butulan

dibelakang.

Dengan ragu2 Mahisa Agni melangkah mendekati pintu. Ada juga

kecurigaan yang bergejolak didalam hatinya. Karena itu, maka iapun

harus berhati2. Ia tidak tahu pasti, berapa orangkah yang datang

pada saat itu. Dan apakah hal itu ada hubungannya dengan sikap

para prajurit2 di regol yang mencoba mengkutinya?

Perlahan2 Mahisa Agni meraba pintu bangsalnya. Kemudian

dengan hati2 dan penuh kewaspadaan ia membuka pintu itu.

Mahisa Agni menarik nafas ketika ia melihat seorang perwira

berdiri dimuka pintu, dan yang kemudian menganggukkan

kepalanya.

“O, kau,“ sapa Mahisa Agni, “silahkan masuk.”

Perwira itu melangkah masuk kedalam. Kemudian merekapun

duduk diatas dingklik kayu yang dialasi dengan kulit domba

berwarna hitam.

“Kakang Mahisa Agni,“ berkata perwira itu, “kedatanganku

kemari sekedar menjalankan perintah Sri Rajasa.”

“Ya. Apakah perintah itu.”

“Kakang Mahisa Agni,“ berkata perwira itu, “besok dibangsal

paseban dalam akan diadakan sidang terbatas. Kakang diharap

hadir didalam sidang itu.”

“O, sidang terbatas?”

“Ya, ada sesuatu yang harus segera diselesaikan. Karena itu

kakang diharap hadir didalam sidang itu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Firasatnya tiba2 saja telah

menyentuh perasaannya. Karena itu, maka ia mengambil

kesimpulan didalam hatinya, “Tentu ada sesuatu yang benar2

penting. Bukan saja bagi Singasari, tetapi juga bagi Anusapati.”

Tetapi Mahisa Agni tidak dapat memperhitungkan sikap apakah

yang akan diambil oleh Sri Rajasa. Karena itu, maka ia tidak segera

melihat kemungkinan yang dapat dilakukan. Agar perwira itu segera

pergi meninggalkan bangsalnya maka iapun kemudian menjawab,

“Perintah Sri Rajasa aku junjung-tinggi. Besok aku akan menghadap

dipaseban dalam.”

“Baiklah kakang. Aku hanya menyampaikan perintah.”

“Dan perintah itu sudah aku terima.”

Perwira itu mengangguk2kan kepalanya. Memang ia hanya

mendapat tugas untuk menyampaikan perintah, dan perintah itu

memang sudah diterima.

Karena itu maka perwira itupun segera minta diri. Dan itulah

memang yang dikehendaki oleh Mahisa Agni. Semakin cepat

menjadi semakin baik.

Sepeninggal perwira itu, maka Mahisa Agnipun menarik nafas

dalam2. Sebentar lagi beberapa orang akan memasuki bangsalnya.

Karena itu, maka tidak boleh ada orang lain lagi yang akan

memasuki bangsalnya.

Mahisa Agnipun kemudian pergi keruang depan. Meskipun pintu

bangsal itu sudah tertutup, tetapi dari luar masih tampak di sela2

dinding, bahwa lampunya masih menyala dengan terangnya. Karena

itu, maka Mahisa Agnipun kemudian memadamkan lampu itu sama

sekali.

Beberapa orang prajurit yang bertugas didepan bangsal itupun

segera melihat, bahwa ruang depan bangsal Mahisa Agni itu sudah

menjadi gelap.

“Mahisa Agni itu sudah akan pergi tidur,“ berkata salah seorang

prajurit.

“Ya, ternyata ia sendirilah yang seperti ayam,“ jawab prajurit

yang lain.

“Kenapa seperti ayam?”

“Bukankah ketika kita bertanya, apakah ia akan berjalan malam2

begini ia menjawab, bahwa kita ini seperti ayam saja, yang sudah

pergi tidur sejak senja turun.”

Kawan2nyapun tertawa. Katanya, “Memang sudah cukup malam

untuk pergi tidur.”

Yang lainpun terdiam. Mereka memang menyangka bahwa

Mahisa Agni akan segera pergi tidur.

Namun tidak scorangpun dari mereka yang mengetahui, apa

yang akan dilakukan oleh Mahisa Agni itu. Mereka tidak menyangka

bahwa akan ada beberapa orang yang dengan diam2 memasuki

halaman bangsal itu dan kemudian memasuki bangsal Mahisa Agni

dari belakang.

Sejenak Mahisa Agni masih menunggu. Tetapi ia yakin bahwa

orang2 itu pasti akan datang menemuinya.

Ternyata Mahisa Agni tidak perlu menunggu terlampau lama.

Sejenak kemudian ia mendengar pintu butulan dibelakang berderit,

dan muncullah beberapa orang memasuki bangsalnya.

“O,“ bisik Mahisa Agni, “aku sudah menduga bahwa kalian pasti

akan datang.”

Witantra tertawa. Katanya, “Kami merasa wajib datang malam ini

seperti yang kau kehendaki. Jika tidak perlu sekali maka kau tentu

tidak akan memanggil kami bersama2.”

“Sebenarnya tidak perlu sekali. Tetapi memang aku memerlukan

kalian didalam keadaan seperti ini. Aku kira kita memang sudah

mulai memanjat kepuncak persoalannya sehingga semuanya akan

segera berakhir. Karena itu, maka kita inipun harus segera

mengambil sikap.”

Witantra mengangguk2kan kepalanya. Jawabnya, “Kami sadar

akan hal itu.”

“Tetapi dimana Sumekar?“ bertanya Mahisa Agni.

“Ia mengantar sampai kebelakang bangsal ini. Tetapi ia berkata

bahwa ia ingin pergi untuk suatu keperluan sebentar.”

“He?“ Mahisa Agni menjadi heran, “kemana?”

“Kami tidak tahu. Tetapi katanya hanya sebentar saja.”

Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Baiklah

sambil menunggu Sumekar, aku ingin berbicara sedikit. Ternyata

bahwa Sri Rajasa sudah menyiapkan sebuah kekuatan untuk

melaksanakan niatnya yang barangkali dengan kekerasan. Ia tidak

dapat menghindar lagi dari tuntutan Ken Umang dan Tohjaya.”

“Memang Sri Rajasa didorong oleh keadaan yang sulit yang

hampir tidak dapat dihindari. Namun bagaimana mungkin ia dengan

tergesa2 mengangkat Anusapati menjadi Pangeran Pati, dan

kemudian ingin melemparkannya?”

“Ada beberapa kemungkinan. Ia ingin menghilangkan golongan

yang bagaimanapun juga masih mengagumi Tunggul Ametung.

Karena sebagian dari mereka mengetahui bahwa Anusapati adalah

putera Tunggal Ametung, maka dengan diangkatnya Anusapati

maka pengikutnya tidak akan berbuat terlampau banyak. Termasuk

kau Witantra.”

Witantra tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Dan Mahisa Agnipun meneruskan, “Agaknya kini Sri Rajasa yakin

bahwa pengikut Tunggul Ametung sudah lenyap sama sekali.

Kehadiranmu dikota ini memang banyak menimbulkan persoalan.

Tetapi diantaranya mereka menganggap bahwa dendammu tertuju

kepadaku. Apalagi karena kau hanya sekali dua kali muncul dan

tidak menimbulkan kesan yang lain, maka untuk sementara Sri

Rajasa mengabaikanmu.”

Witantra mengangguk2kan kepalanya. Lalu katanya, “Jika

demikian aku dapat mengambil sikap yang lain. Aku akan

menumbuhkan kesan, bahwa aku adalah pengikut Tunggul Ametung

yang setia. Nah, bukankah dengan demikian sikap Sri Rajasa

terhadap Anusapati akan berubah?”

“Ya. Tetapi kesempatan kita agaknya terlampau sempit. Malam

ini kalian harus tetap berada disini.”

“Untuk apa?”

“Jika kekerasan itu benar2 terjadi.”

“Dan kami akan melawan segenap prajurit yang ada

dihalaman?”

“Tidak. Aku mempunyai cara lain. Bukan melawan segenap

prajurit yang ada dihalaman ini, tetapi kita berusaha berbuat

sebaik2nya tanpa menimbulkan pertempuran yang hanya akan

menmbulkan korban jiwa saja.”

Witantra mengerutkan keningnya. Dipandanginya Mahisa Agni

dengan pertanyaan yang memenuhi dadanya.

Mahisa Agni seakan2 menyadari, apa yang dipikirkan oleh

Witantra. Karena itu maka katanya kemudian, “Tentu kita tidak akan

mungkin bertempur melawan segenap prajurit dan Senapati yang

ada dihalaman ini dan yang telah diatur pula oleh Sri Rajasa dan

orang2nya. Tetapi kita dapat menemukan cara lain. Kita langsung

berhubungan dengan Sri Rajasa.“

Witantra memandang Mahisa Agni dengan tajamnya, lalu

bertanya, “Kita akan memotong langsung kepalanya?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada

jalan lain. Kita tidak akan berbuat apa2. Kita akan menemuinya dan

menjelaskan persoalannya. Mungkin kita dapat dianggap

memaksanya. Tetapi itu adalah jalan yang terbaik.”

“Sri Rajasa bukan seorang yang mudah menyerah kepada

keadaan Agni,“ berkata Kuda Sempana, “mungkin ia akan

mengtakan pendapat kita, tetapi kita tidak tahu apa yang akan

dilakukan besok.”

“Sabda seorang Maharaja tidak akan berubah. Jika ia menolak,

tentu ia akan menolak seketika itu apapun akibatnya, tetapi jika ia

mengiakannya, maka ia akan melakukannya.”

Kuda Sempana mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Jika kau

yang menjadi Maharaja, maka mungkin sekali kau akan berbuat

demikian. Dan mungkin juga raja2 yang lain. Tetapi apakah

demikian pula yang akan dilakukan oleh Ken Arok yang sekarang

bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu?”

“Aku tidak tahu Kuda Sempana. Mudah2an ia seorang Kesatria

sepenuhnya meskipun masa lampaunya adalah masa lampau yang

kelam.”

“Kita dapat mencoba,“ berkata Mahendra, “sementara kita

menyiapkan diri. Setidak2nya kita mendapat kesempatan untuk

menyelamatkan Putera Mahkota, dan membawa kesuatu tempat

yang terpencil dan aman. Tentu Sri Rajasa tidak dapat menutup

mata, bahwa Putera Mahkota Sebagai Kesatria Putih akan dengan

mudah mendapat pengikut apabila Sri Rajasa benar2 ingkar akan

janjinya.”

Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Itu adalah

pendapat yang baik. Demikian Sri Rajasa menyanggupi untuk

mengambil sikap yang pasti bagi Putera Mahkota, maka kita akan

menyingkirkan Putera Mahkota itu sejauh2nya sementara kita

menunggu perkembangan. Putera Mahkota akan kembali keistana

tanpa melanggar haknya dan hak orang lain, sementara Sri Rajasa

tidak akan dapat berbuat apapun lagi, karena persiapan Putera

Mahkotapun telah matang.”

“Ya. Kita akan mencobanya. Mudah2an kita hanya sekedar

berprasangka.”

“Kau terlampau lembut. Tetapi mudah2an kau benar. Namun

seandainya harus terjadi, kita sudah siap. Kita akan langsung

mendapatkan Sri Rajasa, dan jika perlu menembus barisan

pengawalnya.”

“Apaboleh buat,“ sahut Mahisa Agni. Lalu, “Sekarang, kalian

dapat beristirahat disini. Aku menjamin bahwa tidak akan ada orang

lain yang mengetahuinya. Biarlah kita menunggu Sumekar. Mungkin

ia sedang mengamat2i perkembangan baru dihalaman istana ini.”

“Aku ingin juga keluar sebentar. Aku akan berhati2,“ berkata

Witantra.

“Kita menunggu Sumekar sejenak.”

Witantra mengangguk2kan kepalanya, dan Mahisa Agni berkata

seterusnya, “Aku besok dipanggil dibangsal paseban.”

Witantra memandang Mahisa Agni sejenak. Lalu, “Tidak ada

penjelasan lagi?”

“Tidak.”

“Dan dihalaman ini terjadi kesibukan malam ini?”

“Sedikit. Aku tidak melihat bahaya yang menentukan. Namun

aku tidak tahu, bahwa timbul firasatku bahwa justra paseban besok

akan menentukan sesuatu sehubungan dengan kegiatan malam ini.“

“Kita memang harus mengamati keadaan. Mungkin sekali terjadi.

Justru ketika kau berada dipaseban, para prajurit mengambil

tindakan terhadap Putera Mahkota. Tentu tidak mengetahuinya.”

“Akupuu menduga demikian. Jika tidak, tentu tidak akan ada

kegiatan yang melampaui kebiasaan dan sehubungan dengan sikap

dan penglihatan Sumekar, bahwa yang terjadi halaman ini tidak

pernah dilihatnya sebelumnya.”

“Tentu ada hubungannya.”

“Dan akupun ternyata diikuti oleh seorang prajurit ketika aku

berjalan2 dihalaman.”

Witantra dan kedua kawan2nya saling berpandangan. Seakan2

mereka telah menjadi yakin, bahwa sesuatu memang akan terjadi.

Karena itulah maka Witantrapun berkata, “Baiklah aku mengamati

keadaan. Mungkin kita haras bertindak cepat. Aku akan memberikan

isyarat dari kejauhan dan kalian harus segera pergi kebangsal Sri

Rajasa.”

“Tetapi hati2lah. Akupun akan menengok bangsal Anusapati,”

jawab Mahisa Agni.

“Jika demikian,“ berkata Kuda Sempana kemudian, “kita berada

diluar bangsal ini saja, karena agaknya memang lebih aman. Kita

mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu.”

“Baiklah,“ berkata Mahisa Agni, “tetapi kita menunggu Sumekar

sejenak. Kita mendengar pendapatnya.”

Witantra mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Tetapi

jangan terlalu lama. Hari menjadi semakin malam.”

“Tentu tidak lama,“ Kuda Sempanalah yang menyahut, “ia hanya

akan singgah sejenak. Dan iapun akan segera menyusul kemari.”

Sejenak mereka saling berdiam diri. Mereka menunggu

kedatangan Sumekar yang memisahkan dirinya ketika mereka

memasuki halaman istana.

“Lama sekali,“ desis Mahendra.

“Mungkin ia singgah kegubugnya.“

Mahendra menarik nafas dalam2.

Namun tiba2 saja mereka dikejutkan oleh guruh yang seakan2

meledak diatas istana. Begitu kerasnya dan mengejutkan segenap

bangunan yang ada dilingkungan halaman istana serasa bergetar

karenanya.

“Mengejutkan,“ desis Kuda Sempana.

Witantra mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Bukankah

ketika kita memasuki halaman ini, langit nampaknya bersih?”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Namun merekapun

kemudian mendengar angin yang menderu, seakan2 semakin lama

menjadi semakin keras.

“Angin,“ desis Mahendra, “agaknya hujan memang akan turun.”

Mahisa Agni hanya mengangguk2kan kepalanya saja. Tetapi

tiba2 saja terasa dadanya berdesir ketika ia melihat kain2 selintru

bergetar oleh angin yang menyusup dinding. Bahkan terasa pada

kulit tubuh mereka, angin yang basah berhembus melintasi

ruangan.

Sekali lagi mereka mendengar guruh dilangit. Suaranya

menggelegar berkepanjangan, seperti sebuah pedati raksasa yang

lewat dijalan langit yang berbatu2. Panjang sekali.

Orang2 yang ada didalam bangsal itu menaiik nafas dalam2.

Terasa udara malam menjadi asing. Angin yang berhembus

rasa2nya semakin lama menjadi semakin kencang.

“Musim hujan memang sudah tiba,“ berkata Mahendra.

“Tetapi belum waktunya angin dan guntur bersahut2an dilangit,“

sahut Witantra.

“Memang kadang2 terjadi kelainan seperti ini,“ berkata Mahisa

Agni, “ketika Akuwu Tunggul Ametung masih memerintah pernah

juga terjadi hujan dikelainan musim. Tiga hari tiga malam. Kemudan

pada masa pemerintahan Sri Rajasapun pernah juga terjadi.”

“Ingatanmu baik sekali Mahisa Agni.”

“Kebetulan saja bersamaan waktunya dengan kejadian besar

yang tidak dapat aku lupakan. Mungkin masih banyak terjadi

kelainan musim. Tetapi aku sudah tidak ingat lagi.”

“Kejadian besar yang manakah yang kau maksudkan?“ bertanya

Witantra.

“Yang pertama menurut ingatanku, yaitu pada saat

pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung adalah saat2 menjelang

akhir pemerintahannya. Hujan turun beberapa hari. Tetapi waktu itu

kita tidak menghiraukannya, karena musim hujan memang sudah

diambang pintu.”

“Seperti saat ini.”

“Ya, seperti saat ini.”

“Dan pada masa pemerintahan Sri Rajasa?“

“Tiba2 saja hujan turun seperti dicurahkan dari langit.“

“Ya. Bersamaan waktunya dengan peristiwa yang mana?”

“Menjelang gugurnya Sri Kertajaya Maharaja di Kediri.”

Witantra menarik nafas dalam2. Katanya, “Pantas kau dapat

mengingatnya. Sebenarnya yang kau ingat bukan hujan dan angin,

tetapi peristiwa2 besar itulah agaknya.“

“Sudah aku katakan. Mungkin musim yang salah itu sering

terjadi. Tetapi tentu aku tidak dapat mengingatnya lagi.”

Merekapun terdiam ketika mereka mendengar guruh sekali lagi

mengumandang dilangit. Seleret cahaya yang terang benderang

telah membelah kegelapan malam, disambut oleh suara angin yang

gemerasak didedaunan.

“Anginpun ikut berbicara bersama kita. Kau dengar?” bertanya

Mahendra.

Yang lain mengangguk2kan kepalanya. Namun tampaklah wajah

Witantra menjadi bersungguh2. Sambil menganggukkan kepalanya

ia berkata, “Kadang2 kejadian2 besar memang ditandai oleh

peristiwa alam yang agak lain dari urutan musimnya.”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah

Witantra sejenak. Lalu, “Apakah ada sesuatu terasa dihatinya.”

“Semacam firasat buruk,“ Kuda Sempanalah yang menyahut.

“Ya,“ berkata Mahendra pula. “Ada sesuatu yang lain dihati ini.“

Mahisa Agni menarik nafas dalam2. Katanya, “Inikah pertanda

itu?“ ia terdiam sejenak, lalu, “jika demikian tinggallah kalian disini.

Aku akan pergi kebangsal Anusapati.“

Witantra termenung sejenak. Lalu, “Kenapa kau? Kenapa bukan

aku?”

“Aku lebih leluasa bergerak dihalaman istana ini.”

Witantra tidak segera menyahut. Tetapi sepercik cahaya telah

memancar lagi. Terang sekali, diiringi suara guruh yang

menggelegar dilangit.

Belum lagi suara guruh itu lenyap, terdengar sesuatu yang

mendebarkan jantung. Perlahan2 pintu butulan telah diketuk orang.

“Sumekar,“ desis Mahisa Agni.

Mahendrapun kemudian berdiri. Dengan hati2 ia menarik selarak.

Ketika pintu terbuka sedikit, mereka yang ada didalam ruangan

itupun terkejut bukan kepalang. Ternyata yang datang sama sekali

bukan Sumekar, tetapi Anusapati.

“Kau Anusapati?“ bertanya Mahisa Agni perlahan2.

Anusapati tidak menjawab, Iapun kemudian melangkah masuk

dengan ragu2. Dilihatnya beberapa orang yang sudah ada

diruangan itu.

“Duduklah.“

Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya,

“Dimanakah paman Sumekar?”

Pertanyaan itu mengejutkan Mahisa Agni dan orang2 yang ada

didalam bilik bangsal itu.

“Pamanmu Sumekar tidak ada disini,“ jawab Mahisa Agni, “kami

memang sedang menunggunya.”

“Baru saja paman Sumekar datang kepadaku.”

“O,“ kata2 itu sangat menarik perhatian. Lalu, “dimana ia

sekarang?“ bertanya Mahisa Agni.

“Aku sedang mencarinya kemari. Menurut paman Sumekar, ia

akan pergi kebangsal ini.”

“Ia belum datang. Mungkin ia singgah ditempat tinggalnya atau

keperluan lain. Sebentar lagi ia akan datang. Karena iapun

menyatakan kepada kami, bahwa ia akan segera datang.”

Anusapati memandang Mahisa Agni dengan heran. Katanya,

“Paman Sumekar mengatakan kepadaku, bahwa paman

menyuruhnya pergi kepadaku.”

“Aku?”

“Ya paman.”

“Kenapa aku? Dan apa katanya?”

“Paman menyuruh paman Sumekar kebangsalku dan dengan

diam2 menemui aku, karena paman ingin melihat keris mPu

Gandring itu.”

“Keris mPu Gandring?”

“Ya. Paman Sumekar telah membawa keris itu, yang menurut

paman Sumekar akan diserahkannya kepada paman Mahisa Agni.”

Jawaban itu telah mengguncangkan dada Mahisa Agni dan

orang2 yang ada diruangan itu, sehingga Witantra bergeser

setapak. “Jadi, keris itu sekarang dibawa oleh Sumekar.”

“Ya.”

Terasa sesuatu bergejolak disetiap dada.

“Bagaimana paman,” bertanya Anusapati, “apakah tidak

demikian?”

“Katakan Anusapati, bagaimana hal itu terjadi.”

Anusapati menjadi gelisah. Katanya, “Paman Sumekar datang

kepadaku dengan diam2. Paman Sumekar membawa pesan paman

Mahisa Agni untuk membawa keris itu. Karena paman Mahisa Agni

ingin melihatnya.”

“Bukankah aku pernah melihat keris itu?”

“Ya, tetapi menurut paman Sumekar, paman Mahisa Agni ingin

melihat lebih cermat lagi, apakah keris itu benar2 keris mPu

Gandring.“

“Ah,“ Mahisa Agni berdesah.

“Jadi, apakah tidak demikian?“ bertanya Anusapati.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. “Ia sama sekali menduga

bahwa tiba2 terjadi suatu hal yang tidak dapat dimengertinya.

Sumekar selama ini tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali.

Namun tiba-tiba ia telah berbuat sesuatu yang tentu mendebarkan

jantung.”

“Tetapi tentu bukan maksudnya untuk mencelakakan Anusapati,

Justru selama ini ia menunjukkan betapa ia ingin berbuat sesuatu

untuk Anusapati.”

Ternyata pikiran itu justru telah mengejutkan Mahisa Agni

sendiri. Sekali lagi diulanginya didalam hatinya, “Sumekar ingin

berbuat sesuatu untuk Anusapati.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam2.

“Jadi, bagaimanakah sebenarnya paman?“ desak Anusapati.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian. Dengan hati2 ia

ingin menjelaskan masalahnya, “Aku tidak memberikan pesan itu

kepada pamanmu Sumekar.”

“Jadi apakah maksud paman Sumekar?”

Mahisa Agni memandang wajah Witantra, Kuda Sempana dan

Mahendra berganti2. Sebelum ia berkata sesuatu, Kuda Sempana

telah berdesis, “Memang mengherankan. Tetapi juga

mencemaskan.“

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “selama ini Sumekar telah

berbuat sebaik2nya bagimu. Selama ini ia berusaha untuk

membantumu jika kau berada didalam kesulitan. Karena itu, jika ia

membawa keris itu, tentu maksudnya sama sekali tidak diarahkan

kepadamu. Namun demikian, kita masih juga tetap meraba2.

Karena itu, marilah kita mencarinya. Mungkin kau dapat mencarinya

kesekitar bangsal ayahandamu. Tetapi ingat, dengan diam2. Aku

akan mencarinya ditempai lain yang lebih berbahaya, didaerah

seberang dinding. Siapa tahu, Sumekar pergi kebangsal Ken Umang

dan Tohjaya dengan keris itu ditangan. Jika kita bertemu dengan

Sumekar, maka cobalah membujuknya. Bawalah ia kebangsal ini.

Katakan bahwa pamanmu Kuda Sempana menunggunya, karena

pamanmu Kuda Sempana adalah saudara tua seperguruan dari

pamanmu Sumekar.”

“Baiklah paman. Aku akan mencoba mencarinya.”

“Hati2lah. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak kita

kehendaki, meskipun agaknya persiapan didalam istana ini menjadi

semakin meningkat.”

“Itulah yang akan aku katakan kepada paman Sumekar, agar ia

menjadi berhati2, karena menurut pengamatanku, ada beberapa

kelainan dihalaman istana ini.”

“jika demikian, apakah aku juga dapat ikut mencarinya?“

bertanya Witantra.

“Ada juga baiknya. Tetapi aku harap Kuda Sempan dan

Mahendra tetap berada dibangsal ini. Aku kira tidak akan ada orang

yang akan memasukinya. Jika ada, tentu orang itu membawa tugas

rahasia.“

“Baiklah paman. Aku akan mencarinya.”

“Marilah kita pergi. Berhati2lah. Aku juga harus berhati2, karena

di bangsal Tohjaya itu kini mendapat penjagaan yang sangat kuat.“

“Aku akan mencarinya ditempat lain dari kedua tempat itu.”

Demikian, seorang demi seorang, Mahisa Agni, Witantra dan

Anusapati meninggalkan bangsal itu. Sebelum Anusapati mengikuti

pamannya keluar dari pintu butulan, Kuda Sempana masih sempat

berpesan. “Tuanku Putera Mahkota, Sumekar sebenarnya adalah

seorang yang keras hati. Karena itu, jika tuanku bertemu, katakan

bahwa tuanku mendapat pesan daripadaku, bahwa aku akan

menemuinya sejenak tanpa merubah rencananya.”

“Baiklah paman. Mudah2an aku dapat menemuinya.”

“Silahkan. Tetapi seperti pesan paman tuanku, berhati2lah.

Agaknya persiapan yang meningkat ini diarahkan kepada tuanku.”

“Sebenarnya aku memang sudah menduga paman. Tetapi

agaknya pamanda Mahisa Agni terlampau mempercayai kelembutan

hati manusia yang lain seperti dirinya sendiri. Seakan2 didunia ini

memang tidak ada kedengkian dan kepalsuan.“

“Sukurlah jika tuanku sudah menyadarinya.”

“Tetapi jika mereka benar2 bertindak malam ini, agaknya aku

sudah terlambat. Kecuali meninggalkan istana ini, hanya seorang

diri, tanpa anak dan isteriku.”

“Sekarang, silahkan angger mencari Sumekar. Memang agaknya

lebih aman disekitar bangsal Sri Rajasa, justru karena Sri Rajasa

memiliki kelebihan dari orang lain, sehingga tidak memerlukan

penjagaan sekuat bangsal ibunda Ken Umang dan adinda tuanku

Tohjaya.”

“Terima kasih paman. Aku minta diri.”

Anusapatipun kemudian dengan hati2 meninggalkan bangsal itu

lewat halaman belakang yang sepi. Dengan lincahnya ia meloncat

keatas dinding batu yang tinggi dan kemudian hilang dibalik dinding

itu.

Dalam pada itu, maka tiga orang yang tanpa diketahui oleh para

penjaga, telah menyusup diantara gerumbul2 pohon bunga

dihalaman. Yang seorang menuju kebangsal Sri Rajasa, yang

memang tidak begitu banyak mendapat penjagaan, justru karena

setiap orang yakin, bahwa Sri Rajasa memiliki kelebihan yang tidak

dimiliki oleh orang lain, serta atas perhitungan bahwa tentu tidak

akan ada seorangpun yang berani mengganggunya, sedang yang

seorang lagi pergi kebangsal di bagian lain dari istana Singasari,

yaitu bangsal Ken Umang dan Tohjaya serta adik2nya. Kemudian

Witantra mencoba mencari dibagian lain dihalaman istana itu.

Mungkin justru Sumekar menjumpai bahaya diperjalanannya

menuju kebangsal Mahisa Agni.

Sementara itu guntur dilangit masih juga terdengar sekali2

meledak memekakkan telinga. Angin yang kencing bertiup diantara

dedaunan, sehingga lampu yang sudah dinyalakan dihalaman dan di

gardu2 bagaikan diguncang2, sehingga kadang2 sinarnya menjadi

amat redup dan bahkan hampir padam.

“Suasananya terasa aneh sekali,“ gumam seorang prajurit,

“guntur dan guruh tiba2 saja berkejar2an dilangit yang sehari ini

tampak cerah.”

“Tiba2 saja. Aku menjadi bertanya2 didalam hati, apakah ini

suatu pertanda.”

“Pertanda apa?”

“Aku tidak mengerti, kenapa kita harus bertugas malam ini.

Inipun suatu perintah tiba2 seperti guruh yang tiba2 saja meledak

dilangit.”

“Apakah kau sama sekali tidak mengerti persoalan yang sedang

berkecamuk dihalaman istana ini?”

“Aku memang mendengarnya, tetapi aku ragu2 untuk

mempercayainya.”

“Apa?”

“Besok pagi dipaseban akan ada sidang para pemimpin yang

akan membicarakan kenaikan upah bagi para prajurit.”

“Ah,“ prajurit yang lain berdesah.

“Apakah bukan itu yang kau maksud?”

“Tentu bukan.”

“Jadi?”

“Pertentangan yang semakin lama menjadi semakin tajam

antara kedua putera Sri Rajasa.”

“Lalu, apakah hubungannya dengan kita sekarang ini?”

“Kita harus berjaga2, agar tidak terjadi bentrokan terbuka antara

keduanya dan para pengikutnya.“

Kawannya mengangguk2kan kepalanya. Tetapi ia tidak berbicara

lagi.

Namun dalam pada itu, kedua prajurit itu tidak mengerti bahwa

seorang perwira sedang memperhatikan mereka. Perwira itu

kadang2 mengerutkan keningnya, kadang2 wajahnya menjadi

tegang. Tetapi kemudian sebuah senyum menghiasi bibirnya.

Katanya didalam hati, “Tentu kalian tidak mengerti apa yang harus

kalian lakukan. Besok kalian harus menguasai keadaan jika

beberapa orang Senapati menangkap Anusapati dan Mahisa Agni di

paseban. Perintah itu baru akan datang besok pagi jika paseban

sudah penuh dengan mereka yang akan mengikuti Sidang. Dan

bahkan ketika Sri Rajasa sudah duduk di paseban itu pula.”

Tetapi Senapati yang tersenyum itupun tidak mengetahui bahwa

dihalaman itu merayap beberapa orang yang sedang melakukan

tugas masing2. Dan merekapun tidak tahu, bahwa seseorang yang

lebih dahulu dari ketiga orang yang lainpun sedang merayap pula

diantara rimbunnya pepohonan. Bukan saja sedang mengendap2

mencari seseorang, tetapi ternyata bahwa ia telah menggenggam

keris telanjang ditangannya.

Keris bukan sembarang keris, tetapi keris itu pusaka yang dibuat

oleh mPu Gandring. Keris yang sudah dibasahi dengan darah mPu

Gandring sendiri dan darah Akuwu Tunggul Ametung. Sehingga

dengan demikian keris yang sudah bernoda darah itu agaknya justru

telah menjadi haus. Seperti yang dipesankan oleh mPu Gandring

menjelang tarikan nafasnya yang terakhir, agar keris itu

dihancurkan saja, karena keris itu tentu akan menuntut darah orang

berikutnya.

Demikianlah dengan berdebar2 Anusapati, Mahisa Agni dan

Witantra berusaha menemukan Sumekar sebelum terjadi apapun

juga, karena dugaan mereka semakin lama menjadi semakin kuat

bahwa Sumekar akan mengambil tindakan tersendiri. Sudah sejak

beberapa lamanya, Sumekar merasa bahwa keadaan yang

terkatung2 itu harus diakhiri dengan caranya. Dan cara itulah yang

mendebarkan hati Anusapati, Mahisa Agni dan kawan2nya.

Dalam pada itu Anusapatipun menjadi semakin dekat dengan

bangsal Sri Rajasa. Tetapi ia harus sangat berhati2. Jika seseorang

melihatnya, persoalannya tentu akan menjadi berbeda. Dan ia tidak

akan dapat ingkar lagi, seandainya para prajurit dan kemudian Sri

Rajasa sendiri menuduhnya untuk melakukan perlawanan terhadap

ayahanda Sri Rajasa bahwa tuduhan yang lebih berat lagi, usaha

membunuh Sri Rajasa.

Atas kesadaran itu, maka Anusapatipun menjadi semakin hati2.

Ia sama sekali tidak berani mendekati bangsal itu dari depan. Tetapi

ia menyusur dinding batu dibelakang bangsal itu dan mendekat

lewat longkangan belakang.

“Ayahanda sering menghirup udara di longkangan itu,“ berkata

Anusapati.

Namun ia menjadi ragu2. Sri Rajasa adalah seorang yang

memiliki kemampuan tiada taranya. Jika ia berani mendekat, maka

Sri Rajasa itu tentu dapat mengetahuinya.

Karena itulah, maka untuk beberapa saat Anusapati menjadi

termangu2. Namun ada semacam dorongan yang memaksanya

untuk bergerak lebih dekat lagi.

“Aku akan melihat dari kejauhan lebih dahulu,“ berkata

Anusapati didalam hatinya, “agar seandainya ayahanda benar2 ada

didalam aku tidak terjebak oleh incerannya yang sangat tajam.”

Demikianlah, maka Anusapatipun telah memanjat sebatang

pohon preh yang rimbun. Didalam gelapnya malam dan angin yang

rasa2nya bertiup semakin kencang, tidak seorangpun yang

memperhatikan pohon preh yang bagaikan diguncang2 itu.

Hanya setiap kali tatit memancar dilangit, Anusapati harus

melekat pada batang pohon preh itu agar tidak menimbulkan

kecurigaan.

Ketika Anusapati sudah berada ditempat yang cukup tinggi, maka

iapun segera menyelusur sebatang cabang yang besar, agar ia

dapat melihat kedalam longkangan dalam.

Terasa jantung Anusapati bagaikan berhenti berdenyut. Dari

tempatnya, ia melihat seseorang telah berada didalam longkangan

belakang bangsal Sri Rajasa. Didalam keremangan cahaya lampu

dilongkangan itu. Anusapati melihat, orang itu membawa sebilah

keris telanjang.

“Paman Sumekar,“ ia berdesis.

Sejenak Anusapati justru terpukau oleh pemandangan itu. Ia

merasa sesuatu menyentuh hatinya. Sumekar berbuat hal itu justru

untuk kepertingannya, karena Sumekar sudah jemu melihat

perkembangan yang tidak menentu diistana Singasari ini.

Tetapi apakah ia akan berdiam diri saja melihat tindakan

Sumekar itu?

Tiba2 sesuatu terbersit di dalam hatinya. Sebagai manusia biasa

Anusapati tidak terlepas dari gangguan kepentingan diri. Itulah

sebabnya telah terjadi semacam benturan didalam dirinya. Seperti

yang dipesankan oleh pamannya, bahwa sebaiknya ia berusaha

membujuk Sumekar untuk kembali ke bangsal Mahisa Agni, namun

didalam hatinya yang paling dalam ia berkata kepada diri sendiri.

“Apakah aku sudah melanggar pesan paman Mahisa Agni jika aku

membiarkan paman Sumekar melakukan usahanya untuk

menyingkirkan ayahanda Sri Rajasa? Bukankah aku bukan sanak

dan bukan kadangnya.”

Anusapati justru menjadi ragu2.

Namun sesuatu yang mendesak didalam hatinya justru pengaruh

pertentangannya dengan ayahanda Sri Rajasa. Persiapan-persiapan

yang menjadi semakin ketat didalam istana Singasari. Dan apalagi

ketika terbersit tanggapannya, “Ayahanda mempersiapkan

semuanya ini untuk menyingkirkan aku. Tentu bukan sekedar

menyingkirkan saja dari istana Singasari ini, tetapi tentu juga

mengancam jiwanku.“ lalu tiba2 ia bergumam, “selagi ayahanda Sri

Rajasa masih ada, maka ancaman maut itu tidak akan dapat aku

hindarkan. Tetapi apakah aku tidak berhak membela diriku? Dan jika

perbuatan paman Sumekar itu merupakan perlindungan bagi jiwaku

tanpa berbuat langsung, itu aku dapat dipersalahkan?”

Dalam keragu2an itu, terasa darah Anusapati seakan2 terhenti.

Ternyata dari dalam bangsal itu, Sri Rajasa mengetahui bahwa

seseorang ada dilongkangan dalam.

“sangat berbahaya bagi paman Sumekar.” berkata Anusapati

kepada diri sendiri. Tanpa disadarinya ia mencoba memperhatikan

para prajurit yang ada didepan bangsal itu.

“Apakah mereka tidak akan mendengar jika terjadi perkelahian.“

Dalam pada itu, angin seakan2 menjadi semakin kencang, dan

guruh meledak2 dilangit. Memang suatu kelainan musim yang aneh.

“Angin yang keras ini akan melindungi paman Sumekar,“ berkata

Anusapati didalam hatinya. “Namun jika ayahanda Sri Rajasa

memberikan isyarat kepada para prajurit, maka paman Sumekar

akan menjadi sayatan daging di longkangan itu.“

Hati Anusapati menjadi semakin berdebar2. Ia sadar, betapa

marahnya Sri Rajasa. Tetapi agaknya Sumekarpun sudah bertekad

bulat.

“Aku harus mendekat. Aku harus melihat akhir dari peristiwa

ini.”

Dengan tergesa2 Anusapatipun segera turun dari pohon preh itu.

Namun ia masih tetap sadar, bahwan ia memang harus berhati2.“

Demikianlah, selagi Anusapati meluncur turun dari pohon preh

yang besar itu. Sri Rajasa telah berada dilongkangan belakang.

Sebagai seorang yang memiliki kelebihan, maka iapun segera

mengetahui bahwan ada seseorang yang mencurigakan

dilongkangan. Apalagi Sumekar, yang memang dengan hati yang

bulat dan sikap yang pasti, ingin berbuat sesuatu bagi Singasari

menurut caranya.

Itulah sebabnya ia dengan sengaja telah memancing Sri Rajasa

untuk keluar dari bangsalnya kelongkangan belakang.

Didalam gemuruhnya angin kencang dan guntur yang sekali2

meledak dilangit, maka terdengarlah suara Sumekar lamat2 dan

yang hanya didengar oleh Sri Rajasa sendiri, “Tuanku, ternyata

perbuatan tuanku sudah tidak dapat dihentikan dengan cara yang

ditempuh oleh Mahisa Agni. Justru pada saat Mahisa Agni berusaha

dengan segala kelemahan yang ada padanya, tuanku

mempergunakan kesempatan ini sebaik2nya. Persiapan yang tuanku

lakukan bukannya sekedar sebuah permainan yang dapat dianggap

sebagai angin lalu. Tentu ada maksud tuanku yang tidak akan dapat

tuanku ingkari lagi, memusnahkan Putera Mahkota dan Mahisa Agni

sekaligus.“

Sri Rajasa menjadi marah bukan buatan mendengar kata2

Sumekar. Namun ia masih sempat bertanya, “Siapa kau?”

“Apakah tuanku belum pernah melihat hamba? Hamba adalah

seorang Pengatasan dari Batil.”

“Apa perlumu datang kemari?”

“Hamba ingin memberikan sedikit darma bakti bagi Singasari.

Hamba adalah orang yang kagum kepada tuanku yang telah

berhasil menyatukan Singasari yang besar dengan segala macam

kelebihan tuanku dibidang pemerintahan dan keprajuritan. Namun

menyesal sekali bahwa hamba tidak sampai hati melihat apa yang

akan tuanku lakukan disaat2 menjelang hari tua tuanku. Hamba

tidak rela melihat usaha tuanku menyerahkan Singasari kepada

seseorang yang tidak akan dapat meneruskan keagungan

pemerintahan tuanku.”

“Aku tidak tahu maksudmu.“

“Tuanku, sebenarnyalah hamba berharap agar tuanku tidak

menarik keputusan tuanku untuk menyerahkan kekuasaan Singasari

dari tangan Anusapati, karena menurut pengamatan hamba, Putera

Mahkota Anusapati akan dapat mengendalikan kekuasaan Singasari

dan memperkembangkannya seperti yang tuanku kehendaki. Tetapi

tentu tidak demikian dengan tuanku Tohjaya. Tuanku Tohjaya

seperti ibundanya, adalah seorang yang paling tamak diseluruh

Singasari.“

“Cukup,“ bentak Sri Rajasa.

Meskipun suaranya cukup keras namun para prajurit didepan

bangsal itu tidak dapat mendengarnya karena angin yang keras

diseling dengan suara guntur yang menggelegar.

“Apakah kau ada hubungan keluarga dengan Anusapati?“

bertanya Sri Rajasa.

“Tidak. Aku tidak mempunyai hubungan keluarga dengan tuanku

Anusapati, juga tidak dengan tuanku Tohjaya.“

“Kau adalah pengikut Tunggul Ametung yang setia.”

“Pada jaman Akuwu Tunggul Ametung, aku tidak tahu apa2

sama sekali.”

“Jadi, apa sebenarnya yang kau kehendaki?“

“Kelangsungan hasil kerja tuanku Sri Rajasa yang besar.”

“Gila, kau ingin kelangsungan hidup Singasari yang besar atas

usahaku sekarang kau datang dengan cara yang gila ini.”

“Tuanku, hamba mohon agar tuanku mengurungkan niat tuanku

untuk menggeser tuanku Anusapati. Tuanku tidak usah ingkar. Dan

hamba mengharap agar tuanku Tohjaya dibatasi kekuasaannya

sehingga bukan tuanku Tohjayalah yang seakan2 menjabat sebagai

seorang Pangeran Pati. Tetapi tuanku Anusapati.”

“Jangan gila pengalasan dari Batil. Aku berhak menentukan apa

saja. Bukan kau. Aku mempunyai kekuasaan tidak terbatas di

Singasari.”

-ooo00ooo-

JILID 79

“ ITULAH kesalahan tuanku, Justru karena tuanku merasa

memiliki kekuasaan yang tidak terbatas. “

“ Lalu apa maumu sebenarnya. “

“ Sudah hamba katakan. “

“ Gila, aku tidak mau mendengar kata2mu itu. Aku berhak

mengatakan apa saja yang ingin aku katakan. Dan aku berhak

memutuskan apa yang ingin aku putuskan. “

“ Tuanku “ berkata Sumekar yang bagaikan orang kehilangan,

nalar “ hamba tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Hamba

mohon tuanku berjanji. “

“ Tidak. “

“ Kenapa tidak? “

” Kau gila. “

“ Tidak tuanku, hamba tidak gila. Hamba ingin hal itu terjadi.

Tuanku harus berjanji. “

“ Aku tidak mau. “

“ Jika tidak, hamba terpaksa melakukan kekerasan. Untuk

kepentingan kabesaran hasil usaha tuanku atas Singasari, maka

hamba terpaksa menyingkirkan tuanku. ”

“ Kau gila. Kau benar2 sudah menjadi gila. “

“ Tinggal ada dua pilihan. Memenuhi permohonan hamba,

atau hamba terpaksa membunuh tuanku. Lihat, hamba sudah

membawa pusaka yang pasti tuanku kenal. “

Sri Rajasa memandang keris ditangan Sumekar itu dengan dada

yang ber-debar2. Ia tahu bahwa keris itu tentu jatuh ketangan

Anusapati lewat ibundanya. Maka katanya

“ Kau tentu mendapat perintah dari Anusapati, atau Mahisa? Agni

atau bahkan dari Ken Dedes sendiri. “

“ Tidak. Tidak seorangpun memerintahkan kepada-hamba.

Hamba justru telah menipu tuanku Anusapati, sehingga hamba

mendapatkan keris buatan mPu Gandring ini.. Keris yang sudah

pernah menjilat darah. „

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menjadi ber-debar2.

Dipandanginya keris buatan mPu Gandring itu. Keris yang pernah

dipergunakannya untuk membunuh beberapa orang. Diantaranya

adalah mPu Gandring sendiri.

Sri Rajasa menarik nafas dalam2. Katanya “ Apakah kau sudah

gila? Kau tentu tahu bahwa aku adalah Sri Rajasa. Seseorang yang

pernah mengalahkan dan membinasakan Maharaja di Kediri.

Sekarang, kau seorang pengalasan yang bodoh mencoba untuk

membunuh aku. Apapun yang kau genggam, namun tentu

nyawamu sendirilah yang akan direnggut oleh ujung senjata itu.

Karena itu, urungkan niatmu. Aku tidak akan menuntut hukuman

apapun karena aku tahu, bahwa kau sedang terganggu syarafmu.

Aku akan melupakannya. Dan kau dapat bekerja seperti biasa

ditaman istana Singasari ini. Tetapi, serahkan keris itu kepadaku. “

“ Maaf tuanku. Hamba mohon jawaban tuanku. Apakah tuanku

mengurungkan niat tuanku untuk menyingkirkan tuanku Anusapati

apa tidak. Jawaban tuanku adalah jawaban seorang Maharaja yang

tentu tidak akan dijilat kembali meskipun musim berubah sehari

tujuh kali. “

Sri Rajasa menjadi tegang. Kemarahan yang menyala di-dadanya

bagaikan membakar jantung. Namun ia masih tetap berusaha

menjaga diri sebagai seorang Maharaja. Tentu tidak pantas bahwa

seorang Maharaja yang besar harus berkelahi melawan seorang juru

taman meskipun didalam beberapa saat saja juru taman itu akan

terbunuh. Dan apakah kata para prajurit yang bertugas diregol,

bahwa dilongkangan ini terdapat mayat seorang pengalasan?

Namun tiba2 Sri Rajasa menggeretakkan giginya. Katanya

“ Para prajurit memang terlampau malas. Kenapa mereka tidak

melihat seorang pengalasan yang tiba2 saja sudah berada di

longkangan ini? “

“ Tuanku “ berkata Sumekar kemudian “ tuanku belum

memberikan jawab. “

” Pangalasan yang dungu “ berkata Sri Rajasa kemudian

“ seharusnya kau dapat mengerti, bahwa usahamu ini akan sia2.

Mungkin kau memang memiliki beberapa kelebihan karena ternyata

kau dapat sampai dilongkangan ini tanpa diketahui oleh

seorangpun. Tetapi kau seharusnya mengerti, siapakah yang sedang

kau hadapi sekarang. Karena itu, serahkan keris itu dan tinggalkan

longkangan ini. Aku akan mengampunimu, karena seperti yang aku

katakan, bahwa aku menganggap kau sekarang sedang dihinggapi

setan, atau katakanlah bahwa kau memang mempunyai penyakit

gila. “

Sumekar memang tidak melihat bahwa Sri Rajasa akan mengerti

maksudnya. Karena itu maka katanya, “ Ampun tuanfcu. Untuk

kepentingan Singasari yang besar, dan sebagai timbangan yang

tidak berarti bagi kesatuan Singasari yang telah tuanku bina hamba

terpaksa membunuh tuanku, agar tuanku Tohjaya tidak akan

mendapat kesempatan untuk menduduki tahta Singasari.

Sebenarnya bukan niat hamba untuk membunuh. Tetapi apa boleh

buat, karena ternyata tuanku tidak bersedia berjanji untuk tidak

memberi kesempatan kepada tuanku Tohjaya yang manja dan

tamak itu.”

“ Pangalasan dari Batil “ berkata Sri Rajasa “ jangan membunuh

diri disini. Jika kau memang terganggu oleh pikiran gila sehingga

kau ingin membunuh diri, lakukanlah. Tetapi jangan disini. “

Sumekar memandang Sri Rajasa dari ujung rambut sampai

keujung kakinya. Dan tiba2 saja matanya menjadi liar, sehingga

sambil menggeram ia melangkah maju “ Kesempatan terakhir bagi

tuanku. “

Ketika kilat menyambar dilangit, Sri Rajasa melihat wajah

Sumekar semakin jelas. Matanya menjadi merah dan wajah itu

menegang. Tangan yang menggenggam keris itu menjadi gemetar.

Sri Rajasa ter-mangu2 sejenak. Se-akan2 ia melihat dirinya

sendiri ketika ia mengambil keputusan untuk membunuh mPu

Gandring untuk menghilangkan jejak pembunuhan yang akan

dilakukannya. Juga se-akan2 dilihatnya bayangan dirinya sendiri

pada saat ia membunuh Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel

“ Apakah memang sudah waktunya aku menebus kesalahan itu

setelah aku berhasil dengan cita2ku mempersatukan Smgasari? “ ia

bertanya kepada diri sendiri.

“ Tetapi tidak lantaran seorang pangalasan. Tidak lantaran

seorang budak yang rendah. Seandainya aku akan mati juga, maka

biarlah orang yang pantas telah membunuhku. “

Tetapi sekali lagi terbayang, bahwa Akuwu Tunggul Ametungpun

mati dibunuh oleh seorang prajurit rendahan, Ken Arok yang pernah

menjadi penghuni padang Karautan, berkawan Malang, berselimut

awan dan beralaskan bumi jika malam telah datang.

“ Tuanku “ berkata Sumekar “ tuanku jangan mengulur waktu

untuk mendapat kesempatan memanggil para prajurit yang

bertugas didepan bangsal ini. Langit yang berawan gelap dan angin

yang kencang serta guruh yang ber-sahut2an adalah pertanda

bahwa niatku telah mendapat restu dari Yang Maha Agung. Tuanku

tidak akan dapat memanggil siapapun. juga, karena mereka tidak

akan mendengar suara tuanku. “

“ Pangalasan dari Batil. Aku tidak perlu memanggil siapapun juga.

Aku dapat membunuhmu seperti aku membunuh seekor lalat. Yang

aku pikirkan justru bagaimana aku menyelamatkanmu dari kegilaan

ini. “

“ Tuanku jangan berpikir tentang hamba. Lihatlah langit yang

gelap untuk yang terakhir kalinya. Hamba sudah kehabisan

kesabaran dan waktu. “

Sebenarnyalah Sri Rajasapun sudah jemu pula dengan permainan

yang memuakkan itu. Karena itu, maka iapun ingin segera

mengakhirinya. Apapun yang dikatakan oleh para prajurit, bahwa

didalam longkangan itu terdapat seorang pengalasan yang mati, ia

tidak peduli. Biarlah mereka membuang mayat itu seperti

membuang mayat pengenrs yang paling rendah derajadnya karena

pengkhianatan yang gila itu.

Karena itu, maka Sri Rajasa tidak menjawab lagi. Tak menunggu

Sumekar menyerangnya. Kemudian dengan sebuah pukulan ia ingin

membunuhnya.

Namun melihat sikap Sumekar, Sri Rajasa menjadi heran. Sikap

itu bukan sekedar sikap seorang juru taman yang bodoh, bahkan

yang telah terganggu urat syarafnya. Ia melihat sikap yang lain

pada juru taman itu, sehingga karena itu, maka Sri Rajasapun

menjadi curiga.

Ternyata dugaan itu benar. Untunglah bahwa ia sudah bersiap

menghadapi segala kemungkinan, karena ternyata serangan

Sumekar kemudian adalah bagaikan tatit yang sedang berloncatan

dilangit.

Sri Rajasa masih sempat mengelak. Dan dengan kemarahan yang

rasa2nya membakar jantungnya, maka iapun menyerang kembali

dengan dahsyatnya pula.

Demikianlah maka keduanyapun segera terlihat dalam

perkelahian yang sengit. Ternyata bahwa kemampuan Sumekar

diluar dugaan Sri Rajasa. Ia mampu me-loncat2 dengan lincahnya

seperti anak kijang dipadang yang luas.

Tetapi lawannya adalah Sri Rajasa. Seorang yang memiliki

kemampuan yang ajaib. Yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun

juga, bahkan oleh Sri Rajasa sendiri.

Dengan demikian maka perkelahian itopun semak'n lama menjadi

semakin dahsyat. Di-sela2 deru guruh dilangit dan desah angin yang

keras, keduanya telah mempertaruhkan jiwa masing2 dalam

perkelahian yang tiada taranya. Bahkan Sumekar tidak ragu lagi

mempergunakan ilmunya yang paling menakjubkan.

Meskipun demikian, ternyata bahwa ia tidak segera dapat

menguasai lawannya. Bahkan kemudian, ketika semakin lama

kemampuan aji puncaknya berhasil mendesak Sri Rajasa,

tampaklah, betapa kemarahan yang menyala didalam dada Sri

Rajasa itu telah mempengaruhi tata geraknya, yang semakin lama

menjadi semakin kasar. Tangannya yang terayun kesegala arah,

beserta kakinya yang berloncatan, membuat Sumekar kadang2

menjadi bingung. Namun karena Sumekar cukup memiliki bekal,

maka iapun tetap berhasil menguasai dirinya.

Namun tiba2 dada Sumekar menjadi ber-debar2 semakin

dahsyat. Tiba2 ia melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang hanya

pernah didengarnya. Kini ia benar2 melihat.

Dalam perkelahian yang semakin sengit itu, tampaklah sesuatu

diatas ubun2 Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa itu.

Cahaya yang samar2, yang semakin lama menjadi semakin jelas.

Warna merah bara yang tampak antara ada dan tidak ada.

“ Inilah pertanda kebesarannya “ bertanya Sumekar kepada diri

sendiri.

Namun ia sudah bertekad untuk membunuh Ken Arok itu dengan

keris mPu Gandring. Keris yang pernah dibasahi dengan darah

orang yang menciptakannya, mPu Gandring oleh Ken Arok itu

sendiri. Sekarang keris itu menuntut imbalan yang seimbang. Darah

Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Tetapi tidak mudah untuk membunuh Sri Rajasa. Betapapun juga

Sumekar mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya,

namun ia tidak segera berhasil menyentuh kulit

Sri Rajasa dengan ujung kerisnya, Segorespun tidak. Betapa ia

menghentakkan aji pamungkasnya, yang mendorong setiap tata

geraknya menjadi senakin cepat dan semakin kuat, berlipat ganda,

namun ternyata Sri Rajasa dapat mengimbanginya Bahkan

tandangnya semakin lama menjadi semakin kasar, dan adalah diluar

dugaan Sumekar, bahwa cara Ken Arok bertempur benar2

mencerminkan tata perkelahian sesosok Hantu di padang Karautan.

Agaknya cahaya yang ke-merah2an itulah yang menuntun segala

gerak Ken Arok yang tidak dimengertinya sendiri itu. Kempnararn

uiuna keris Sumekar hereerak dan menyambar, tubuh Ken Arok itu

se-akan2 memiliki mata disetiap jengkal, sehingga ia masih juga

mampu menghindarinya.

Bahkan kadang2 kecepatan gerak Ken Arok benar2 diluar

dugaan, sehingga justru Sumekarlah yang sering menjadi bingung

dan kehilangan lawannya.

“ Gila “ Sumekar berdesis “ inilah agaknya yang telah dapat

menolongnya membunuh Maharaja Kediri itu. Kemampuan yang luar

biasa tetapi juga betapa kasar dan liarnya. Kecepatan bergerak dan

menyerang. Kadang2 diluar jangkauan nalar, “

Meskipun demikian Sumekar tidak gentar sama sekali. Selain aji

yang pernah diterimanya dari gurunya, ia juga menggenggam sipat

kandel yang jarang ada duanya dimuka bumi. Keris yang memiliki

kemampuan tiada taranya. Setiap sentuhan, pasti akan berarti

maut.

Maka Sumekar mencoba mempergunakan keris itu sebaiknya.

Diputarnya keris itu bagaikan baling2. Kemudian mematuk seperti

mulut ular yang paling berbisa.

Tetapi ia masih belum berhasil menyentuh lawannya.

Sri Rajasapun menjadi semakin heran melihat kemampuan Sumekar. Karena

itu, maka lapun kemudian bertanya “ Siapakah sebenarnya kau, dan siapakah

yang menyuruhmu datang kemari? “

Sumekar tidak segera menjawab, tetapi ia menyerang semakin dahsyat,

sehingga perkelahian itupun menjadi semakin seru karenanya.

Sri Rajasa yang sudah kehilangan kesabaran itupun

kemudian menggeram “ Persetan. Aku tidak peduli, siapakah yang

menyuruh kau kemari. Tetapi kau memang harus segera

dibinasakan. “

Demikianlah Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa, dan yang pernah

merajai Padang Karautan sejak ia masih sangat muda itu,

mengerahkan segenap kemampuannya oleh kemarahan yang

mendesak. Karena itu, maka cahaya yang ke-merah2an-diubun2nya

itu menjadi semakin terang. Namun dalam pada itu

kemampuannyapun se-akan2 telah berlipat2. Dengan kecepatan

yang liar Sri Rajasa telah menyerang Sumekar se-jadi2-nya,

Sumekar akhirnya benar2 telah terdesak. Ia tidak mempunyai

ruang gerak isama sekali. Namun ia masih percaya kepada kerisnya.

Jika ia masih sempat menggoreskannya pada .tubuh Sri Rajasa,

maka ia tentu akan mati. Cepat atau lambat..

Tetapi yang menjadi benar2 diluar dugaan. Tusukan Sumekar,

yang se-akan2 merupakan kesempatan yang terbuka, ternyata telah

masuk kedalam perangkap tangan Ken Arok. Sesuatu yang tidak disangka2

sama sekali telah menghentikan setiap harapan yang

pernah tumbuh didada Sumekar.

Ketika Sri Rajasa tampaknya lengah, maka Sumekarpun segera

menusuk lambung kanannya. Namun ternyata Ken Arok masih

sempat mengelak. Dan adalah diluar kemampuan Sumekar, bahwa

tangan Ken Arok begitu cepatnya menangkap pergelangan

Sumekar. Yang terjadi kemudian hanyalah sekejap saja ketika justru

keris ditangannya, yang dipertahankan mati2-an meskipun

pergelangan tangannya ditangkap oleh Ken Arok, telah dihentakkan

oleh Ken Arok itu, sehingga justru telah menyentuh lengan kirinya

sendiri.

“ Gila, kau gila “ Sumekar mengumpat se-jadi2nya. Ia sadar apa

yang akan terjadi atas dirinya. Karena itu, dengan membabi buta ia

kemudian mengayunkan kerisnya bagaikan orang gila melanda Ken

Arok, meskipun Ken Arok masih tetap tidak melepaskan

genggamannya.

Ken Arok terkejut melihat sikap itu. Ternyata sentuhan keris mPu

Gandring pada lengan Sumekar membuatnya berputus asa dan

kehilangan segala macam harapan untuk tetap hidup.

Adalah diluar dugaan Ken Arok, maka keputus-asaan itu

membuat Sumekar memiliki kemampuan terakhir yang tidak dapat

dibayangkan. Dengan hentakan yg menyentak Sumekar berhasil

melepaskan tangannya yang memegang keris dari genggaman Ken

Arok. Kemudian seperti serigala lapar ia meloncat menerkam

mangsanya.

Namun sekali lagi Ken Arok berhasil menghindar, sehingga

Sumekar sama sekali tidak berhasil menyentuhnya.

Ternyata bahwa Sumekar telah menghentakkan segenap

kekuatannya yang terakhir. Dengan demikian, ketika ia tidak

berhasil menyentuh Ken Arok dan kemudian jatuh tertehingkup,

maka Sumekar sudah tidak mampu bergerak sama sekali. Ia hanya

dapat menggeliat sambil mengacungkan kerisnya dan berkata “ Ken

Arok, kau sekarang dapat melepaskan diri dari keris ini, tetapi pada

suatu saat, kau akan disentuhnya juga. “

Dalam pada itu, Ken Arok berdiri dengan tegang. Sekali

terdengar guruh meledak dilangit, dan angin bagaikan semakin

keras bertiup. Awan yang hitam ber-gulung2 hanyut dilangit

didorong oleh angin yang kencang.

Tiba2 Ken Arok terkejut ketika ia mendengar desir diatas dinding

longkangan. Dengan gerak naluriah ia meloncat surut dan segera

mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan.

Ternyata bahwa pada saat Sumekar kehilangan semua

kekuatannya, Anusapati yang telah cukup lama mengintai

perkelahian itu, tidak sampai hati membiarkannya terbaring diam.

Sebagai seorang yang merasa dirinya dilindungi, dibantu dan

bahkan yang terakhir, Sumekar telah berjuang untuk dirinya,

Anusapati tidak dapat membiarkan Sumekar mati tanpa, seorangpun

yang memperhatikannya, selain pandangan yang penuh amarah dari

Sri Rajasa.

Karena itulah maka ketika Sumekar telah sampai pada saat2

menjelang akhir hidupnya, maka Anusapati telah mengabaikan

segala macam akibat yang dapat terjadi atas dirinya.

“ Anusapati. kau “ terdengar Ken Arok berdesis.

Anusapati telah berjongkok disamping Sumekar. Dengan tatapan

mata yang sayu ia berkata

“ Paman Sumekar, apakah yang telah terjadi ? “

Sumekar membuka matanya. Dilihatnya Anusapati berjongkok

disampingnya.

“ O, tuanku. Kenapa tuanku kemari ? “

“ Aku sedang mencari paman. Tetapi aku tidak menemukan

paman dibangsal pamanda Mahisa Agni. “

“ Maafkan tuanku. Aku telah menipu tuanku. Aku memang tidak

akan membawa keris itu kepada Mahisa Agni, tetapi aku ingin

segera menyelesaikan persoalan ini dengan Ken Arok. Tetapi aku

ternyata gagal tuanku. Ternyata Ken Arok adalah jelmaan iblis yang

paling laknat dipadang Karaii-tan. “

Anusapati berpaling sejenak. Dipandanginya Ken Arok yang

masih berdiri diam. Namun ketika ia melihat sorot mata Anusapati,

maka iapun berkata penuh kemarahan “ Jadi kau yang

menyuruhnya Anusapati ? “

“ Tidak ayahanda. Seperti yang dikatakan, ia telah menipu aku. “

Ken Arok memandang Anusapati sejenak. Lalu dengan nada yang

datar ia bertanya “ Jadi kau mendengar apa yang dikatakannya ? “

Anusapati menjadi ragu2 sejenak. Lalu jawabnya “ Ya ayahanda.

Hamba mendengar beberapa bagian dari pembicaraan ayahanda

dengan pengalasan dari Batil. “

“ Jika orang ini bukan atas namamu, kau tentu tidak hanya akan

tinggal diam. Jika benar ia telah menipumu, maka kau tentu akan

dengan ter-gesa2 mencegahnya. “ Ken Arok berhenti sejenak, lalu “

dan kau tidak, akan datang dengan diam2 lewat tongkangan

belakang. Kau tentu akan menemui prajurit yang mengawal bangsal

ini didepan. “

“ Ampun ayahanda “ desis Anusapati “ hamba sebenarnya

memang sedang mencarinya. “

“ Kenapa kau tidak mencegahnya ketika kau sudah mengetahui

bahwa ia sudah berada disini? “

Pertanyaan itu benar2 telah membingungkan Anusapati. Karena

itu, maka ia tidak segera dapat menjawabnya.

“ Anusapati “ berkata Ken Arok “ ternyata bahwa kau benar2

telah feeiMiianat. Jika tidak, tentu tidak akan terjadi persoalan

seperti ini. Karena itu, maka seperti kau juga rela atas kematianku,

maka akupun rela jika kau mati dilong kangan ini. “

Ken Arok “ Sumekar masih mencoba berbicara “ sebenarnyalah

tuanku Anusapati tidak bersalah. Aku telah menipunya dan

menguasai keris itu. “

“ Omong kosong. “ potong Sri Rajasa “ tentu kalian sudah

membicarakannya lebih dahulu untuk menghadapi kemungkinan

seperti ini. “

Sumekar yang semakin lemah itu akhirnya tidak dapat lagi

berbicara terlampau keras, sehingga hampir tidak terdengar ia

berkata “ Ken Arok. Aku bukan seorang yang licik seperti kau. Aku

tidak membunuh orang dengan curang, atau meminjam tangan

orang lain. Aku berusaha melakukannya sendiri atas kemauanku

sendiri. “

“ Gila “ bentak Sri Rajasa “ bukan kau yang meminjam tangan

orang lain. Tetapi ternyata Anusapatilah yang berusaha meminjam

tanganmu. Tetapi sayang, bahwa kaulah yang mati, bukan aku. “

Sumekar masih akan menjawab. Tetapi warangan keris mPu

Gandring telah bekerja diseluruh tubuhnya, sehingga Sumekar tidak

dapat lagi mengucapkan sepatah katapun. Namun dengan matanya

yang redup ia masih ingin mohon diri kepada Anusapati. Ketika kilat

memancar dilangit, maka Anusapati melihat Sumekar itu tersenyum.

“ Paman, paman “ panggil Anusapati.

Tetapi Sumekar tidak dapat menjawab lagi. Wajahnya menjadi

pucat, dan akhirnya Sumekar menghembuskan nafasnya yang

terakhir.

“ Ayahanda telah membunuhnya “ desis Anusapati.

“ Ya, aku telah membunuhnya. Bukan saja Pangalasan dari Batil.

Tetapi juga kau harus mati. “

“ Apakah ayahanda akan membunuh aku? “

” Ya, “

“ Hamba memang sudah merasa bahwa ayahanda akan

Melakukannya. Seandainya hamba tidak datang kemari malam mi,

maka ayahanda pasti akan melakukannya besok. Hamba sudah tahu

rencana itu. Pergantian prajurit yang agak mencurigakan, kegiatan

yang diluar kebiasaan, bahwa ayahanda telah memanggil paman

Mahisa Apii bersidang dipaseban besok dan semuanya yang tidak

hamba mengerti, telah menimbulkan kecurigaan hamba. “

“ Dan karena itu, kau telah menyuruh pangalasan ini untuk

membunuhku? “

“ Tentu tidak. Hamba tidak menyuruhnya seperti yang udah.

hamba katakan. “

“ Aku tidak percaya. “

” Terserah kepada ayahanda. “

“ Dan sekarang, jangan menyesal. Aku akan membunuhmu juga.

Aku tidak akan dapat dipersalahkan, karena kaw berada disini

dengan pengalasan itu. Apalagi disini ada kera mPu Gandring yang

telanjang. Setiap orang tentu akan dapat mengerti apa yang telah

terjadi, sehingga semua orangpun. mengerti, bahwa aku sekedar

membela diriku. “

Anusapati menjadi ter-mangu2 sejenak.

“ Jangan menyesal, bahwa kau sudah terperosok keda-lam

kandang serigala. Kau akan mati- Dan jabatanrou akan berpindah

kepada Tohjaya. “

Anusapati tidak segera menyahut. Dipandanginya saja wajah

ayahandanya yang tegang. Namun dalam pada itu, ter-kilas di

dalam kepalanya kata2 ibunya, bahwa Sri Rajasa sebenarnya

memang bukan ayahnya. Dan justru Sri Rajasalah yang telah

membunuh ayahandanya yang sebenarnya, Akuwu Tunggul

Ametung.

“ Nah, apakah sebelum matimu kau akan mengucapkan pesan? “

bertanya Sri Rajasa.

“ Tidak ayahanda “ jawab Anusapati “ hamba tidak akan

berpesan apapun. Tetapi biarlah sebelum hamba mati', apakah

hamba boleh bertanya ? “

“ Apa? ”

“ Apakah benar ayahanda memang akan membunuh hamba ? “

Ken Arok menjadi ragu2. Namun kemudian sambil mengangguk

ia menjawab “ Ya. Aku memang akan menyingkirkan kau yang

selama ini bagiku merupakan sepucuk duri didalam daging. “

Terasa dada Anusapati tersirap. Ternyata bahwa rencana yang

pernah didengarnya itu bukan sekedar isapan jari saja.

Sambil menengadahkan kepalanya ia bertanya pula “ Jadi benar

kata orang bahwa ayahanda memang ingin melimpahkan

kedudukanku kepada adinda Tohjaya? “ .

“ Ya. Dan tentu kau tahu sebabnya. Kau sebenarnya .bukan

anakku. Tetapi kau dengan enaknya ingin merampas bak dari

keturunanku. Akulah yang telah mempersatukan Singasari yang

besar Bukan Akuwu Tunggul Ametung. “

“ Ya ayahanda. Aku memang putera ayahanda Tunggui Ametung

yang mati terbunuh. Tentu tidak salah pula pendengaranku, bahwa

ayahanda Sri Rajasalah yang telah membunuhnya pula. “

“ Ya. Aku yang sudah membunuhnya. Karena itu apa yang akan

aku kerjakan sekarang, tidak berdiri sendiri. Kau adalah rangkaian

dari sekian banyak pembunuhan. Karena itu kau memang harus

mati. Singasari harus benar2 jatuh kedalam tangan keturunan Sri

Rajasa. “

“ Ayahanda “ bertanya Anusapati “ apakah adik-adik hamba yang

lahir dari ibunda Permaisuri bukan keturunan ayahanda Sri Rajasa ?

Pertanyaan itu tidak diduga sama sekali oleh Ken Arok. Karena

itu ia menjadi bingung sejenak. Namun kemudian jawabnya “ Aku

berhak menentukan, siapa saja yang akan aku angkat menjadi

Putera Mahkota. “

“ Tetapi adalah menjadi ketentuan, bahwa yang berhak

menggantikan kedudukan seorang raja per-tama2 adalah putera

Permaisuri. Jika yang dimaksud bagi Singasari bukannya Anusapati,

maka tentu Mahisa – Wonga – Teleng yang berhak menggantikan

ayahanda kelak, bukan Tohjaya ”

“ Diam “ bentak Sri Rajasa “ kau tidak berhak me ngigau

sekarang. Kau memang harus mati. Jika aku memberikan

pengakuan yang berangkah sudah pernah kau dengar dari

ibundamu itu tentu karena kau sudah akan mati, dan kau tidak akan

dapat berbuat apa-apa lagi. “

“ Ayahanda benar. Hamba memang tidak akan dapat berbuat

apa2 lagi. Tetapi apakah ayahanda tidak mengeru bahwa ada pihak

yang tentu tidak akan dapat menyetujui bahwa adinda Tohjaya akan

menggantikan kedudukan ayahanda? Justru karena ayahanda

mempunyai putera laki2 yang lahir dari ibunda Permaisuri? “

“ Aku tidak peduli. Aku mempunyai kekuasaan. “

“ Jika kekuasaan adalah bentuk penindasan atas ketentuan yang

berlaku, maka tentu orang lain tidak akan menghiraukan pula atas

ketentuan2 yang ada. Dan mereka akan cenderung mempergunakan

kekerasan untuk mencapai maksudnya daripada mengikuti

ketentuan2 yang dianggap sah di dalam negeri ini. “

“ Dan agaknya kau sudah memulainya. Kau sudah

mempergunakan kekerasan untuk menyingkirkan aku. Itukah suatu

sikap yang sesuai dengan ketentuan2 yang berlaku ? “

“ Sudah hamba katakan, bahwa hamba sama sekali tidak

menyuruhnya memasuki bangsal ini, apalagi untuk membunuh

ayahanda, karena hamba sama sekali masih belum yakin bali wa

sebenarnyalah ayahanda mempunyai rencana untuk membunuh

hamba. “

“ Jangan membohong. Sekarang, jika ada yang ingin kau

pesankan katakanlah. Aku sudah mulai muak melihat wajahmu. “

“ Hamba menyadari ayahanda. Tetapi seperti yang sudah hamba

katakan, hamba tidak mempunyai pesan apapun karena pesan itu

tidak akan ada artinya sama sekali. “

Wajah Sri Rajasa terbelalak karenanya. Katanya “ Kau memang

sombong seperti ayahmu. Baiklah, jika kau memang tidak

mempunyai pesan yang lain, aku akan segera membunuhmu. Aku

dapat memukul kepalamu sampai hancur, atau dadamu sehingga

seluruh isi tubuhmu akan rontok. Akibatnya sama saja bagimu. Kau

akan mati. “

“ Kenapa ayahanda tidak mempergunakan cara seperti yang

sudah ayahanda lakukan ? Sudah berapa orang yang mati terbunuh

oleh keris mPu Gandring ini ? “

Dada Ken Arok tiba2 berdesir tajam. Dilihatnya keris mPu

Gandring yang terletak ditangan Sumekar yang sudah membeku.

Namun tiba2 terbayang diwajahnya keris yang itu jugalah yang

telah mengakhiri hidup pembuatnya. Tanpa disadarinya ia mulai

ber-angan2. Dan tanpa dikehendakinya tiba2 bayangan mPu

Gandring itu bagaikan hadir dilongkangan itu. Ketika ia memandang

wajah pangalasan yang mati itu, seakan2 ia melihat kembali wajah

mPu Gandring yang menyeringai menahan sakit ketika tiba2 saja ia

menusuk lambungnya dengan keris itu. Dan tiba2 saja terbayang

diwajah Anusapati itu wajah ayahandanya, Akuwu Tunggul

Ametung. “

“ Pergi,-pergi “ Ken Arok tiba2 berteriak. Namun suaranya

tenggelam didalam ledakan guruh yang keras.

Anusapati menjadi termangu2 sejenak. Namun perlahan-lahan

timbul pula gejolak didalam hatinya. Jika ayahandanya terbunuh dan

meninggalkan seorang anak laki2 saja, maka apakah anak laki-laki

itu akan menyerahkan dirinya pula untuk dibunuh ? Dan kemudian

jika Anusapati sudah terbunuh, bagaimanakah nasib anak laki2nya.

Ketika Anusapati teringat kepada anak laki2nya, yang tentu

merupakan duri pula bagi Sri Rajasa, terasa hatinya menjadi berdebar2.

Namun dalam pada itu Sri Rajasa sudah menggeram “ Aku bunuh

kau ular kecil yang berbisa. Aku bunuh kau dengan semua

keturunanmu. “

Anusapati menjadi semakin ber-debar2. Kini jelas baginya, bahwa

,Ken Arok memang berniat untuk memusnakan keturunan Akuwu

Tunggul Ametung. jika tidak, maka keturunan Tunggul Ametung itu

benar2 akan menjadi duri didalam dagingnya. Dan sudah

terucapkan, bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu memang

akan membunuhnya dan keturunannya.

“ Apakah aku akan membiarkan keturunan Tunggul Ametung

punah? “ bertanya Anusapati kepada diri sendiri.

Terbayang wajah isteri dan anaknya yang tidak tahu menahu

sama sekali tentang persoalan yang ada di Singasari itu. Dan

apakah mereka harus juga ikut menanggung akibatnya.

Dalam ke-ragu2an itulah maka ia melihat Ken Arok melangkah

maju. Tatapan matanya bukan lagi tatapan seorang Maharaja.

Tetapi sorot matanya menjadi liar, seperti liarnya Hantu yang haus

akan darah.

Terasa bulu tengkuk Anusapati meremang. Bahkan kemudian ia

berdesis “ Jangan ayahanda. “

Tetapi Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak menghiraukan

kata2 itu. Setapak demi setapak ia maju dengan jari2 tangan yang

mengembang. “ Aku akan mencekik kau sampai mati. Jangan

berbuat sesuatu. Jangan sentuh keris mPu Gandring itu, supaya kau

tidak mati karena racunnya seperti pengalasan yang gila itu. “

“ Tetapi jangan bunuh anak dan isteriku. “

“ Aku akan membunuh mereka semua, termasuk Mahisa Agni. “

“ Tidak, jangan. “

“ Aku tidak peduli. “

Jawaban yang meyakinkan itu membuat darah Anusapati tiba2

saja bergetar. Hampir diluar sadarnya tangannya telah menggapai

hulu keris mPu Gandring.

“ Anusapati, kau akan melawan aku? Kau akan mencoba

menghindarkan diri dari keharusan yang akan berlaku atasmu?. Kau

memang harus mati, dan kau akan kehilangan darah keturunanmu,

sebagai penerus nafas kehidupan Akuwu Tunggul Ametung. “

“ Ayahanda, anak dan isteri hamba tidak mengetahui semua

persoalan ini. Jika ayahanda akan membunuh hamba, ayahanda

tidak akan mengalami kesulitan tetapi jika ayahanda berjanji,

sebagai seorang Maharaja yang tidak pemah ingkar, bahwa

ayahanda tidak akan membunuh anak. dan isteriku. juga paman

Mahisa Agni. “

“ Persetan “ geram Sri Rjasa ” aku tidak peduli. Aku akan

membunuh kau dan semua keluargamu, termasuk Mahisa Agni. “

Wajah Ken Arok menjadi merah, semerah sorot matannya yang

benar2 menjadi liar.

Anusapati yang cemas menjadi semakin cemas. Tetapi hampir

diluar sadarnya ia telah menggenggam keris itu.

Anusapati mundur selangkah. Ia sudah hampir berputus» asa.

Sumekar yang membawa keris itu pula tidak dapat melawan Sri

Rajasa, apalagi dirinya yang masih belum berhasil menyempurnakan

ilmunya sejauh Sumekar.

“ Menyerahlah. Kau dan anak isterimu akan aku bunuh malam ini

juga. “ geram Sri Rajasa.

Ternyata bahwa suara itu bagaikan membangunkan Anusapati

dari mimpinya. Ia sadar, bahwa yang terjadi ini benar2 diluar

rencana siapapun. Juga bukan rencana Sri Rajasa, karena Sumekar

telah mengambil sikap sendiri. Namun demikian tentu ia tidak akan

dapat menyerahkan seluruh keluarganya itu.

“ Aku harus lari dari tempat ini ” berkata Anusapati..”se-tidak2nya

aku berhasil menyelamatkan diri sampai ke-bangsal pamanda

Mahisa Agni. Persoalannya tentu akan menjadi berbeda jika

ayahanda malam ini bertemu dengan salah seorang yang ada

didalam bangsal itu. Apakah ia paman Kuda Sempana yang telah

berhasil menyempurnakan diri dengan ilmunya, atau paman

Mahendra, atau ke-dua2-nya. Atau bahkan paman Witantra. “

“ Kau tidak akan dapat lari “ geram Sri Rajasa “ semuanya sudah

terjadi. Dan yang sudah terjadi tidak akan dapat dicegah lagi. Ken

Arok yang bergelar Sri Rajasa, sudah menentukan, bahwa kau dan

keluargamu harus mati. Tidak ada kekuasaan dan kemampuan yang

dapat mencegah. “

Anusapati terus melangkah surut, sedang Sri Rajasamengikutinya

dengan jari2 tangan yang mengembang.

“ Aku akan mencekikmu. Aku sendiri bukan orang lain. Bukan

para prajurit, dan bukan pula seorang Senapati.

Dada Anusapati bagaikan menjadi pepat. Tetapi tiba2 saja

tangannya yang menggenggam keris itu telah bersilang didepan

dadanya.

“ Kau akari

melawan he, kau akan

melawan? Tidak ada

gunanya. Itu hanya

akan memperpanjang

caramu mati. Dan itu

sangat merugikan kau

sendiri. “

Anusapati tidak

menyambut. Ia telah

berdiri didepan

dinding, sehingga ia

tidak akan dapat

melangkah lagi. Karena

itulah, maka iapun kemudian berdiri diatas kakinya yang

merenggang sambil mengacungkan senjatanya. Keris mPu Gandring

yang sudah berbau darah itu. Darah beberapa orang yang sama

sekali tidak bersalah.

Ken Arok tertegun sejenak memandang Anusapati yang se-akan2

sudah tidak dapat bergeser lagi. Namun sorot matanya yang

bagaikan menusuk langsung kedalam jantung Pu-tera Mahkota itu

membuat Anusapati bergetar.

Kemudian selangkah demi selangkah Ken Arok yang bergelar Sri

Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu melangkah maju dengan jari2

tangan yang mengembang. Anusapati baginya tidak lebih dari anak2

yang tidak berdaya.

Dalam pada itu, Mahisa Agni sedang me-runduk2 di-sekitar

bangsal Ken Umang. Dengan hati2 ia berusaha untuk mendekati

bangsal itu. Ternyata seperti yang diduganya, bangsal itu mendapat

pengawasan yang sangat ketat. Para. prajurit tidak saja berada

didepan bangsal, tetapi juga dibagi-an belakang telah mendapat

pengawasan yang seksama.

“ Tidak mudah mendekati bangsal itu, apalagi memasukinya

tanpa diketahui orang “ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Namun demikian ia mempunyai dugaan yang kuat, bahwa

Sumekar telah datang kebangsal itu. Agaknya kebenciannya kepada

Tohjaya tidak dapat ditahankannya lagi.

“ Jika terjadi pembunuhan dibangsal ini, maka tuduhan yang

pertama tentu akan jatuh kepada Anusapati, siapakah yang telah

melakukannya. Bahkan seandainya pelakunya tertangkap, maka

tentu Anusapatilah yang disangka telah meminjam tangan untuk

membinasakan Tohjaya dan barangkali juga Ken Umang “ berkata

Mahisa Agni didalam hati “ dan itu sangat merugikan perjuangan

Anusapati, 'karena setiap orang akan menyangka, bahwa Anusapati

telah melakukan perbuatan yang terkutuk itu untuk

mempertahankan kedudukannya. “

Karena itulah maka Mahisa Agni mencoba untuk berusaha

menemukan Sumekar disekitar bangsal itu.

Tetapi beberapa lamanya ia berada disekitar bangsal itu, ia sama

sekali tidak melihat sesosok bayanganpun. Ia telah berada dibagian

belakang bangsal itu, yang menurut dugaannya adalah satu2nya

jalan untuk memasuki longkangan.

Namun Mahisa Agni tidak melihat seseorang- Ia tidak melihat

Sumekar memasuki longkangan, atau berada didalam longkangan

itu.

” Apakah ia tidak datang kemari? “ bertanya Mahisa Agni didalam

hatinya.

Tetapi untuk beberapa lamanya Mahisa Agni masih menunggu. Ia

masih mengharap bahwa ia dapat menemukan Sumekar disekitar

tempat itu.

“ Mungkin ia tidak segera memasuki daerah ini “ katanya didalam

hati “ atau barangkali Sumekar belum menemu-can jalan yang

paling baik untuk memasuki daerah ini. “

Untuk beberapa saat mahisa Agni masih tetap bersembunyi

sambil menunggu. Tetapi beberapa saat kemudian hatinya menjadi

cemas. Agaknya Sumekar memang tidak datang ke-tempat itu.

“ Mungkin ia langsung pergi kebangsal Sri Rajasa “ katanya

didalam had.

Dalam pada itu, hatinya menjadi bergetar. Bahkan kemudian ia

hampir pasti, bahwa Sumekar pergi kebangsal Sri Rajasa.

” Aku harus menengoknya. Jika benar ia pergi kesans mudahkan

Anusapati sempat mencegahnya. Ia agaknya dapat dilunakkan oleh

Anusapati yang hampir setiap hari dilayaninya seperti muridnya

yang paling manja.

Sejenak kemudian, maka Mahisa Agnipun berusaha

meninggalkan tempat itu. Seperti pada saat ia datang, maka iapun.

harus sangat ber-hati2 ketika ia melalui beberapa orang prajurit

yang mengawasi bagian balakang dari bangsal itu.

Ketika Mahisa Agni telah berada agak jauh dengan para penjaga

itu, iapun menarik nafas dalam2, se-olah2 ia terlepas dari terkaman

serigala.

Namun iapun segera sadar, bahwa sesuatu yang penting sedang

menunggunya. Sumekar yang masih belum dapat dike-temukamrya.

Dengan hati2 sekali Mahisa Agnipun meninggalkan bagian istana

yang dihuni oleh Ken L'niang dan putera2nya itu. Dengan penuh

kewaspadaan ia meloncati dinding yang memisahkan kedua bagian

dari istana Singasari itu. Ketika kemudian la meloncat turun, maka

Mahisa Agni itupun sudah berada liibagian yang lain dari istana itu.

Setiap kali ia harus memperhatikan setiap gerak dan bunyi. Ia

sadar, bahwa penjagaan halaman istana malam itu niperkuat.

Bahkan seperti yang dikatakan oleh Sumekar, beberapa orang

Senapati telah ikut didalam penjagaan yang kuat diihalaman itu.

Mahisa Agni itupun bergeser semakin maju mendekati pangsa!

Sri Rajasa. Meskipun bangsal ini tidak dijaga sekuat Bangsal

Tohjaya, karena Sri Rajasa sendiri yakin akan dirinya dan

pengaruhnya, namun Mahisa Agni masih juga harus menembus

beberapa bagian yang agak sulit.

Namun tiba2 Mahisa Agni itu tertegun. Telinga yang tajam

mendengar sesuatu berdesir tidak, begitu jauh daripadanya. Karena

itu, maka iapun berhenti. Dengan segenap kemampuannya ia

berusaha menangkap suara yang semakin Lama menjadi semakin

dekat.

Beberapa saat kemudian ternyata desir yang lembut itu berhenti.

Sebagai seorang yang memiliki kemampuan yang me-empaui

kemampuan manusia biasa, maka Mahisa Agnipun mengetahui

bahwa seseorang berada tidak begitu jauh dari padanya.

Karena itu, maka Mahisa Agnipun segera mempersiapkan kiri

untuk menghadapi setiap kemungkinan. Dengan ketajaman

Inderanya, ia tahu dimana orang itu berada, sehingga karena itu ia

tidak mau menunggu lebih lama lagi. Bahkan ialah yang kemudian

bergeser mendekati.

Tetapi ternyata bahwa orang itupun berusaha mendekatinya

pula, sehingga dengan demikian Mahisa Agni dapat menduga bahwa

orang itu bukannya orang kebanyakan karena orang itu dapat pula

mengetahui kehadirannya.

Sejenak kemudian Mahisa Agni berhenti, la sudah dapat

mengetahui dengan tepat, dimana orang itu berada. Karena itu

ketika selembar daun bergetar, tidak sejalan dengan arah angin

bertiup Mahisa Agni segera bersiap menghadapi segala

kemungkinan.

Namun ternyata, ketika sesosok tubuh meloncat dari batik

geruinbul dan bersiap dengan tangan bersilang didada Mahisa Agni

menarik nafas dalam2. Orang itu adalah Witantra.

“ Kau Witantra ” desis Mahisa Agni.

Witantrapun berdesah lembut. Sambil tersenyum ia berkata “

Untunglah, aku belum lari ketakutan. Jika demikian kau tentu akan

mentertawakan. “

“ Juga untung bahwa kau tidak segera menyerang aku. sehingga

aku masih sempat bernafas sekarang. “

Keduanya tertawa tertahan, karena keduanya tetap sadar, bahwa

mereka sedang menghindarkan diri dari .pengamatan para prajurit

Singasari yang sedang bertugas.

Dalam pada itu, maka Mahisa Agnipun kemudian bertanya

tentang Anusapati, apakah Witantra melihatnya.

“ Bukankah ia pergi kebangsal Sri Rajasa. ”

“ Jika ia tidak menemukan Sumekar disana, ia tentu akan

bergeser pula. “

“ Aku belum melihat keduanya. Sumekar tidak, dan tuanku

Putera Mahkota juga tidak. “ jawab Witantra “ bahkan aku

menyangka bahwa kau adalah Sumekar sebelum kau

memperlihatkan diri. “

“ Jika demikian Anusapati tentu masih ada dibangsal Sri Rajasa.

Ada dua kemungkinan. Ia memang menunggu karena Sumekar

belum ada disana, atau ada persoalan lain yang gawat justru karena

Sumekar sudah terlanjur berusaha mendapatkan Sri Rajasa. “

“ Marilah kita lihat. “

Mahisa Agni ragu2 sejenak. Namun kemudian sambil mengangguk2

ia menjawab “ Baiklah Marilah kita lihat. “

Keduanyapun kemudian dengan sangat hari2 mencoba

mendekati bangsal Sri Rajasa. Betapapun sulitnya, namun keduanya

berhasil menembus setiap daerah penjagaan para prajurit pengawal

istana. Mereka menyusup diantara gardu2 penjagaan dan setiap kali

menghindari para peronda yang mengelilingi halaman istana

Singasari itu.

Akhirnya, keduanya berhasil mencapai halaman belakang bangsal

Sri Rajasa. Seperti yang lain, menurut perhitungan mereka, yang

paling mungkin mereka lakukan adalah melihat dan apabila perlu

memasuki longkangan.

Sementara itu, angin masih juga bertiup. Sekali2 terdengar

guntur dan guruh gemuruh dilangit. Namun demikian kedua orang

itu masih dapat juga membedakan desir lembut kaki mereka sendiri

daripada gemuruhnya angin yang keras.

Ketika kemudian mereka berhasil menjengukkan kepala mereka

dari sebatang pohon yang se-olah2 diayun oleh angin, maka hati

mereka berdesir. Mereka melihat orang2 yang sedang mereka cari

itu berada dilongkangan bangsal Sri Rajasa.

Yang mula-mula mereka lihat adalah sesosok tubuh yang tekapar

ditanah. Tubuh itu segera dapat mereka kenal, bahwa orang itu

adalah Sumekar.

” Terlambat “ desis Mahisa Agni tidak seorang-pun yang dapat

menyelamatkannya. Sumekar agaknya sudah, terbunuh. “

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukanggukkan

kepalanya ia berkata “ Ya, kita sudah terlambat. Tetapi

dimanakah tuanku Anusapati? “

“ Mungkin iapun ada dilongkangan itu. Mudah-mudahan kita tidak

terlambat. Mudah-mudahan Anusapati belum terbaring ditanah

seperti Sumekar itu. “

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya “ Kita

harus mendekat. Keadaan sudah benar2 diluar dugaan kita,

sehingga kita harus mengambil sikap dengan segera menghadapi

keadaan yang tiba-tiba ini “

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya tanpa menjawab

separah katapun. Dengan sigapnya keduanyapun segera teran dari

pohon itu dan dengan hati-hati mendekati dinding bagian belakang

longkangan bangsal itu.

“ Satu-satunya jalan “ berbisik Mahisa Agni.

“ Kita memanjat “, sahut Witantra.

Keduanyapun kemudian dengan hati-hati sekali dan hampir tidak

dapat dilihatnya bahwa keduanya sedang merayap naik pada

dinding longkangan itu. Jika mereka kehendaki, mereka dapat

meloncat naik dengan mudahnya, namun dengan demikian tentu

akan menarik perhatian seseorang jika orang itu berada

dilongkangan.

Sejenak kemudian, maka merekapun dengan sangat hati-hati

mencoba untuk menjengukkan kepalanya mereka. Jika ikat kepala

mereka dapat terlihat, maka usaha mereka itupun akan gagal

karenanya.

Namun darah mereka serasa terhenti, ketika pada saat itu

tampak oleh mereka, Anusapati sedang dalam kesulitan.

Yang mereka lihat adalah Sri Rajasa sudah siap untuk menerkam

Anusapati yang tidak mempunyai kesempatan untuk melangkah

surut karena punggungnya sudah melekat dinding.

Tetapi yang terjadi kemudian adalah cepat sekali, sehingga baik

Mahisa Agni, maupun Witantra tidak mempunyai kesempatan untuk

berbuat banyak.

Ketika mereka tanpa menghiraukan lagi Sri Rajasa, meloncat

keatas dinding, mereka melihat, bahwa kedua orang dilongkangan

itu sudah mulai bertempur. Sri Rajasa sudah mulai menyerang.

Hanya karena ditangan Anusapati tergenggam keris-mPu

Gandring sajalah, maka Anusapati masih dapat menghindarkan diri

pada setangan yang pertama,

Namun Anusapatipun sadar, bahwa Sumekar dengan keris mPu

Gandring itu ditangannya, sama sekali tidak berhasil menyelamatkan

dirinya. Dan sudah barang tentu Sumekar memiliki ilmu yang lebih

matang dari ilmunya sendiri

Dalam keragu-raguan atas keadaan yang sedang dihadapinya,

Anusapati tanpa sesadarnya, telah menyentuh sesuatu dibawah ikat

pinggangnya. Ternyata sentuhan itu telah mengejutkannya sendiri.

Tetapi ia tidak mendapat kesempatan banyak untuk

mempertimbangkan keadaan yang sedang dihadapi. Karena itulah

maka ketika Sri Rajasa maju setapak lagi dengan tangan

terkembang, tiba-tiba ditangan Anusapati telah tergenggam sebuah

trisula yang berwarna kekuning-kuningan.

Sri Rajasa terkejut melihat Trisula itu. Meskipun Sri Rajasa sudah

menduga, bahwa akhirnya Trisula itu akan dapat jatuh ketangan

Anusapati, namun ketika tiba2 saja ta harus menghadapinya, maka

iapun masih juga terperanjat, sehingga rasa-rasanya jantungnya

berhenti berdenyut.

Pada saat yang bersamaan, Witantra dan Mahisa Agni telah

meloncat kedalam longkangan. Sentuhan kakinya diatas tanah

masih dapat didengar oleh ketajaman indera Sri Rajasa disela-sela

desah angin yang semakin keras.

Ketika sekali langit seakan-akan menyala, Sri Rajasa -dapat

melihat, dengan jelas, bahwa dua orang yang datang, ini adalah

Mahisa Agni dan Witantra. Namun kemudian ia menjadi silau bukan

oleh kilat yang meloncat diudara, tetapi oleh trisula yang seakanakan

bercahaya kekuning-Jkuningaru

Sri Rajasa mundur beberapa langkah surut. Dengan» suara yang

berat ia berkata “ Mahisa Agni, ternyata bahwa saatnya akan tiba,

kau membalas sakit hatimu karena kematian pamanmu. “

Mahisa Agni memandang Sri Rajasa yang silau itu sejenak.

Kemudian jawabnya “ Tidak Sri Rajasa.. Hamba tidak datang

dengan dendam didalam hati. Sebenarnyalah hamba datang dengan

niat yang baik. Untunglah bahwa belum terjadi sesuatu atas tuanku.

Tetapi sayang, bahwa-Sumekar agaknya telah terbunuh. “

“ Siapakah Sumekar? “ bertanya Sri Rajasa.

” Juru taman itu. “

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Katanya “ Pangalasan dari

Batil “

” Ya, Pangalasan dari Batil itu bernama Sumekar. “

Sri Rajasa memandang tubuh Sumekar yang masih terbaring

diam. Kemudian ditatapnya Anusapati yang hanya dapat dilihatnya

lamat-lamat, diantara silaunya cahaya trisula yang masih saja

diacukan kepadanya.

Dalam keadaan itulah, Sri Rajasa seakan-akan telah dihadapkan

pada suatu pengadilan. Disekitarnya berdiri beberapa orang yang

mempunyai kepentingan terhadap, dirinya. Mahisa Agni telah

kehilangan pamannya mPu Gandring, Witantra telah kehilangan adik

seperguruannya, Kebo Ijo yang telah diumpankan sebagai tertuduh

pada saat terbunuhnya Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian

Anusapati yang agaknya sudah mengetahui pula, apakah yang telah

terjadi atasnya.

“ Tuanku “ berkata Witantra “ barangkali tuanku telah

mendengar bahwa hamba memang sudah berada didalam kota

Singasari. “

“ Apa maksud kedatanganmu Witantra? “ bertanya Sri Rajasa

kemudian meskipun sebenarnya ia telah dapat menduga justru

karena ia datang bersama Mahisa Agni. Namun ia masih juga

melanjutkannya “ Apakah ada hubungannya dengan kekalahanmu

dari Mahisa Agni saat itu? “

“ Benar tuanku. Kedatangan hamba memang mempunyai

hubungan dengan kekalahan hamba waktu itu. Tetapi bukan untuk

melepaskan dendam kepada Mahisa Agni, karena pada waktu itu ia

sedang diliputi oleh kesedihan karena pamannya telah terbunuh. “

“ Jadi siapakah yang kau cari? “

“ Tidak apa-apa tuanku. Hamba hanya ingin melihat Singasari

yang sekarang dibandingkan dengan Tumapel yang kecil. Dan

barangkali setelah sekian tahun hamba dapat menemukan

pembunuh Kebo Ijo yang sebenarnya. Karena sejak semula hamba

yakin bahwa Kebo Ijo tidak bersalah. “

“ Apakah kau sudah menemukannya? “

“ Ampun tuanku. Hamba sudah menemukannya seperti Mahisa

Agni juga sudah menemukan pembunuh pamannya. Selain kami

berdua agaknya Puteran Mahkota-pun telah menemukan pula

pembunuh ayahandanya. “

Ken Arok mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian

mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “ Ya. Kalian telah

menemukan orang yang kalian cari. Dan yang kalian cari itupun

telah melihat, bahwa cahaya yang kuning keputih-putihan itu adalah

cahaya keluhuran yang akan menjemput aku. “

Mahisa Agni, Witantra dan Anusapati menjadi ter-mangu-mangu

sejenak. Dilihatnya Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu dengan

tatapan mata yang mengandung pertanyaan.

Namun Sri Rajasa itupun tersenyum sambil berkata selanjutnya “

Kenapa kalian termangu-mangu. Bukankah sudah datang saatnya?

Dihadapan cahaya itu aku seolah-olah sudah tidak berdaya lagi.

Didalam bayangan yang silau, aku tidak akan dapat melihat

bagaimana ujung keris mPu Gandring itu akan menyentuh kulitku.

Benar-benar suatu gabungan yang tidak terlawan bagiku. Keris mPu

Gandring yang sakti dan cahaya yang kuning silau itu. Apalagi disini

berdiri orang-orang Sakti seperti Mahisa Agni dan Witantra. “

“ Tuanku. Jangan berhayal terlampau jauh. Sebenarnyalah kami

tidak membawa dendam diliati atas kematian-kematian itu. Kami

hanya ingin meyakinkan bahwa sebenarnyalah kami telah

menemukan pembunuh dari orang-orang yang kami cintai. Tetapi

setelah itu, kami tidak akan berbuat apa-apa. “

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Lalu katanya “ Jadi apakah

yang kalian kehendaki? “

Kami memang sedang mencari pangalasan ini dengan harapan

untuk mencegah sesuatu yang dapat terjadi. Tetapi kami terlambat.

Anusapati juga agaknya telah terlambat. “

“ Kalian telah menyuruhnya memasuki bangsal ini. “

“ Tidak tuanku. Hamba berkata sebenarnya. Jika kami memang

menghendakinya, kenapa kami tidak datang sendiri dengan trisula

itu sekaligus? “

Namun Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itupun tersenyum pula.

Kesan diwajahnya telah berubah sama sekali. Matanya tidak lagi liar

dan wajahnya tidak menjadi bengis.

“ Anusapati “ berkata Sri Rajasa “ ternyata bahwa semuanya

memang harus berakhir. Ceritera tentang Sri Rajasa yang berhasil

duduk diatas Singasari beralaskan mayat dan darah inipun memang

harus berakhir. Aku tahu, sejak aku duduk diatas Singasari, aku

sudah menduga bahwa singgasana itu bagaikan bara api yang akan

membakarku dan akan membakar siapa saja yang akan duduk

diatasnya apabila ia memang tidak dilindungi oleh dewa-dewa.

Itulah sebabnya, maka sepeninggalku, berhati-hatilah. Tentu tidak

ada orang lain yang akan diangkat untuk duduk diatas Singgasana

itu selain Anusapati. Mudah-mudahan kau mendapat perlindungan

Anusapati, sehingga kau tidak mengalami nasib seperti nasibku. ?”

“ Hamba tidak ingin berbuat sesuatu saat ini ayahanda. Biarlah

ayahanda tetap duduk diatas Singgasana Singasari. “

“ Jangan berkata begitu Anusapati. Kau ternyata sudah menyiksa

aku dengan sikapmu itu. Aku lebih senang melihat kau marah dan

menghujamkan keris itu didadaku selagi aku silau melihat cahaya

trisula itu. Tetapi kau tidak berbuat demikian. Kau berbuat seperti

seorang yang berhati putih. Kau seakan-akan tidak mendendam

meskipun kau tahu bahwa aku telah membunuh ayahmu yang

sebenarnya seperti Mahisa Agni juga seolah-olah tidak mendendam

karena aku sudah membunuh mPu Gandring dan juga adik

seperguruan Witantra. Kenapa kau tidak bersama-sama dengan

Mahisa Agni dan Witantra membunuhku saja? “

Anusapati tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Namun

sebenarnyalah nafsunya untuk melihat Sri Rajasa binasa seperti

yang menyala sesaat ketika ia melihat Sumekar bertempur melawan

Sri Rajasa itu telah' lenyap.

“ Anusapati, jangan menyiksa dengan pameran kebesaran jiwa

dan keluhuran budi seperti itu. Aku pernah membunuh orang-orang

yang aku anggap dapat menghalangi usaha untuk merebut tahta

Tumapel waktu itu. Kenapa kau tidak berbuat serupa, membunuh

aku, karena selama aku masih ada, aku tidak akan menyerahkan

tahta Singasari kepadamu. “

“ Ayahanda adalah Maharaja Singasari. jika memang itu

keputusan ayahanda, maka aku akan melepaskan kedudukanku

sebagai Putra Mahkota. “

“ Omong kosong. Aku tidak percaya. Didalam keadaan seperti ini

kau memang berusaha menyiksaku, menyakiti hatiku karena aku

akan merasa terlampau kecil berhadapan dengan kau yang berjiwa

samodra, yang menampung segala macam perasaan didalam

hatimu. Tetapi terbuatlah jujur. Kau tentu ingin melihat aku mati. “

Tetapi Anusapati menjawab “ Tidak. Tidak ayahanda. Hamba

tidak ingin membunuh. “

“ Gila, kau gila dan tidak jujur. Orang gila biasanya berbuat

sesuai dengan gerak perasaannya tanpa kendali. Tetapi kau adalah

orang gila yang berpura-pura. “

Anusapati menjadi bingung. Ketika ia memandang Mahisa Agni

sejenak, maka dilihatnya keningnya berkerut-merut dalam sekali,

“ Cepat, lakukan. Aku tidak dapat melihat kau dengan jelas. Aku

tidak dapat melihat keris itu. “ berkata Sri Rajasa.

Tetapi Anusapati masih tetap berdiam diri.

“ Anusapati, jangan berdiri saja seperti patung. Sebentar lagi

para prajurit didepan bangsal ini akan meronda sampai

keiongkangan ini. Lebih baik kau bunufa akiT sekarang, selagi suara

kita tidak didengar oleh mereka karena angin dan guruh yang terusmenerus.

Rupa-rupanya alampun telah siap membawa jiwaku

kembali kepada penciptanya, setelah aku menunaikan tugasku

mempersatukan Singasari. ?”

“ Ah “ terdengar Anusapati berdesis.

“ Cepat “ sekali lagi Sri Rajasa menggeram. Dan tiba-tiba saja Sri

Rajasa itulah yang meloncat menyerang Anusapati.

Yang terjadi itu benar-benar mengejutkan. Mahisa Agni dan

Witantra tidak sempat berbuat apa-apa. Mereka melihat Sri Rajasa

bagaikan tatit yang meloncat dilangit.

Demikian pula Anusapati. Ia sama sekali tidak sempat berpikir.

Ketika ia melihat Sri Rajasa meloncat menyerang nya, maka dengan

gerak-gerak naluriah ia mempertahankan dirinya. Karena ia tidak

dapat bergeser mundur lagi, maka hampir diluar sadarnya ia telah

mempergunakan kerisnya.

Sebenarnyalah bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu

benar-benar telah disilaukan oleh cahaya trisula kecil ditangan

Anusapati itu. Trisula yang pernah pula dilihatnya ketika ia masih

bertualang dipadang Karautan. Seolah-olah Trisula ku telah

memperingatkan kepadanya apa yang pernah terjadi dan apa yang

pernah dilakukan olehnya dipadang Karautan itu. Juga atas seorang

tua yang seakan-akan telah membimbingnya untuk mengenal Yang

Maha Agung meskipun sebelumnya ia pernah merasakan

pertolongan tangan-Nya yang Maha Kuasa.

Itulah sebabnya selain mata wadagnya yang silau oleh trisula

kecil ditangan Anusapati, maka mata hatinyapun telah menjadi silau

pula melihat dosa-dosa yang pernah dilakukannya sendiri.

Dengan demikian, maka Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu

sama sekali tidak melihat, bagaimana Anusapati berbuat diluar

sadarnya, mengacungkan keris buatan mPu Gandring itu untuk

menahan serangannya.

Jika Anusapati berbuat demikian, ia berniat untuk sekedar

mengurungkan serangan Ken Arok yang bagaikan tatit itu. Namun

Anusapati tidak tahu, bahwa sebenarnyalah Ken Arok tidak dapat

melihat ujung keris yang mengerikan itu.

Didalam kesilauannya, tiba-tiba saja terasa oleh Keh Arok ujung

keris ditangan Anusapati itu telah menyentuhnya. Sejenak ia

berdesis dan meloncat surut. Namun kemudian dipandanginya luka

dilengannya itu sejenak sambil berkata “ Ternyata telah datang

saatnya. “

“ Ayahanda “ desis Anusapati.

“ Jangan mendekat Anusapati “ berkata Sri Rajasa ?” aku adalah

ujud dari kekasih Dewa yang melakukan tugasku dibumi, tetapi aku

juga ujud daripada dosa yang paling besar dimuka bumi ini. Jika kau

mendekati aku, maka tanganku yang berlumuran dosa ini tentu

akan meremaskan menjadi debu. Biarlah kebesaran kasih Dewa

yang ada padaku menyelamatkan kau dari kehancuran itu. “

Kata2 Sri Rajasa itu ternyata telah menggetarkan hati setiap

orang yang mendengarkanya. Anusapati menjadi termangu-mangu

sejenak. Sedang Mahisa Agni dan Witantra bagaikan membeku

diternpatnya.

Namun seperti permintaan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa.itu

Anusapati sama sekali tidak mendekat ketika kemudian Sri Rajasa

berlutut sambil bertelekan dengan kedua tangannya. Sekali-Sekali ia

meraba lukanya. Luka karena ujung keris mPu Gandring.

Tubuh Sri Rajasa semakin lama menjadi semakin lemah. Didalam

keremangan cahaya malam dan lampu di-kejauhan, Sri Rajasa

memandang Mahisa Agni, Witantra dan Anusapati yang berdiri

mematung.

“ Jangan bingung “ berkata Sri Rajasa “ memang sudah

waktunya aku mati. Aku tidak akan berteriak memanggil para

prajurit yang sedang bertugas didepan bangsal ini. Mereka tidak

akan tahu apa sebabnya aku mati. “ Ken Arok berhenti sejenak, lalu

“ tetapi bawalah pangalasan itu keluar dari bangsal ini. Apapun

alasannya, kehadiran seseorang dibangsal ini akan menimbulkan

banyak pertanyaan. Dan Anusapati tidak akan dapat

Terbuat banyak disini, karena jika demikian, kehadiran-nyapun

mencurigakan pula. “

“ Jadi apa yang harus hamba lakukan? “ tiba-tiba saja Anusapati

bertanya.''

“ Bawalah pangalasan itu kebangsahnu. Kau dapat mengatakan

kepada siapapun juga, bahwa peristiwa ini Idalah peristiwa yang

tidak ada sangkut pautnya dengan perkembangan keadaan akhir2

ini diLstana Singasari. “

“ Maksud ayahanda? “

“ Pangalasan itu telah membunuh aku karena sakit hati.

Kemudian akan membunuhmu pula. Tetapi kau berhasil

membinasakannya. Itulah ceriteranya. Dan mudah-mudahan orangorang

Singasari mempercayainya dan memberikan hakmu atas

tahta, Anusapati. Sebab jika ada yang mencurigaimu memasuki

bangsal ini, maka akan timbul persoalan yang berkepanjangan,

karena kau tahu, aku mempunyai seorang anak laki-laki yang ingin

aku tempatkan diatas tahta pula. “

“ O “ terasa kerongkongan Anusapati menjadi panas.

Namun tiba-tiba Putc-ra Mahkota itu terkejut ketika ia mendengar

Sri Rajasa mengumpat “ Jahanam, jahanam kau Anusapati. Tentu

kau yang menyuruh pengatasan itu membunuh aku. Agaknya kau

sudah tahu rencana yang aku susun sebiak-baiknya untuk

membinasakan kau dan Mahisa Agni. Dengar, bahwa Tohjaya tidak

akan merelakan pembunuhan ini terjadi. “

“ Tetapi, tetapi hamba tidak pernah berusaha dengan sungguhsungguh

untuk membunuh ayahanda. Memang kadang-kadang

terbersit ingatan untuk melakukannya. Namun hamba selalu berhasil

mengendalikannya. “

“ O “ kepala Ken Arok seakan-akan terkulai. Tubuhnya menjadi

semakin lemah. Katanya “ Ya, kau memang tidak bersalah. Karena

itu, lakukanlah pesanku, agar kau tidak dicurigai oleh siapapun.

Agaknya memang keturunan Ken Dedes yang pantas untuk

menggantikan kedudukanku di Singasari ini.

Anusapati tidak segera menjawab. Dipandanginya saja Sri Rajasa

yang semakin lama menjadi semakin lemah. Namun yang tiba-tiba

telah mengumpat sekali lagi “ O, kau telah berkhianat Anusapati.

Meskipun aku bukan ayahandamu sendiri, tetapi sejak lahir kau

berada dibawahi asuhanku. akulah yang memberikan kedudukan

kepadamu sebagai seorang Putera Mahkota. “

Sri Rajasa yang lemah itu seakan-akan ingin meloncat dan

meremas Anusapati menjadi berkeping-keping.

Tetapi tubuh itu benar-benar sudah sangat lemah oleh racun

yang keras dari keris mPu Gandring itu. Semakin lama Sri Rajasa,

Maharaja di Singasari itu menjadi semakin tidak mampu lagi untuk

tetap duduk. Akhirnya, perlahan-lahan Sri Rajasa seakan-akan telah

membaringkan dirinya sendiri sambil berkata “ Aku minta diri. Tidak

ada yang pantas menunggui kematianku selain kau Anusapati. Kau

yang berjiwa samodra dan berhati seputih kapas. “ namun

kemudian “ tetapi, justru itulah yang menyiksaku, yang membuat

aku ingin membunuhmu sekarang. “ suaranya mulai surut, lalu “

jangan mendekat

Anusapati. Tungguilah aku dari kejauhan. Sarungkan trisulamu

supaya aku dapat menatap wajahmu, karena, trisula itu membuat

mataku bagaikan buta. “

Anusapati ragu-ragu sejenak. Namun ketika Mahisa Agni

mengangguk-anggukkan kepalanya, maka trisula itupun

disarungkannya juga.

“ Hem “ Sri Rajasa bergumam “ terima kasih. Aku minta diri.

Tetapi jangan mendekat. Jangan sampai tersentuh jari-jari

tanganku. “

Anusapati melangkah maju. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan

pesan Sri Rajasa.

Sejenak kemudian Sri Rajasa itu menyilangkan tangan didadanya.

Matanyapun terpejam dan mulutnya terkatub rapat. Bahkan bibirnya

tampak bagaikan tersenyum, seperti juga bibir Sumekar yang

terbaring tidak jauh dari Sri Rajasa itu.

Pada saat terakhir masih terdengar suara Sri Rajasa lamat-lamat.

“ Jahanam kau Anusapati kau telah berhasil merebut tahta yang aku

sediakan buat Tohjaya. “

Namun sejenak kemudian ia berdesah “ Hanya kau yang pantas

menggantikan kedudukanku Anusapati. Hanya kau. Aku serahkan

kekuasaan Singasari sepenuhnya kepadamu, kepada keturunan Ken

Dedes yang memiliki pertanda langsung dari Dewa-dewa bahwa ia

akan menurunkan Maharaja bagi Singasari. Bukan Ken Umang.

Bukan Tohjaya tetapi Anusapati. “

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu sudah berbaring bagaikan

tidak bernyawa lagi. Namun masih terdengar suaranya meskipun

bibir itu sudah tidak bergerak “ Anusapati, kau adalah jahanam yang

pantas menjadi seorang Maharaja. “

Anusapati yang berdiri tegak itu masih termangu-mangu, Hatinya

tersentuh juga mendengar kata-kata Sri Rajasa yang seakan-akan

tidak diucapkan oleh mulutnya. Dan Anusapatipun memang tidak

dapat ingkar, bagi Sri Rajasa, ia adalah jahanam yang akan

menggantikan kedudukannya. Tidak ada orang lain yang lebih

berhak daripada dirinya untuk menggantikan kedudukan Sri Rajasa

pada waktu itu.

Dalam pada itu, longkangan itupun menjadi sepi. Dengan hati

yang tegang mereka memperhatikan Sri Rajasa yang terbaring diam

dengan tangan bersilang didada dan mata terpejam.

Namun tiba-tiba saja tetasa dada ketiga orang itu bergetar.

Mereka dapat melihat dengan jelas, bahwa dari ubun-ubun Ken Arok

itu seakan-akan meluncur perlahan-lahan sebuah cahaya yang

berwarna kemerah-merahan. Bagaikan gumpalan warna yang

sangat ringan, maka cahaya yang kemerah-merahan itupun

terapung diudara-dan sejenak kemudian seolah-olah dihembus oleh

mulut bumi, sehingga cahaya itupun terbang keangkasa. Semakin

lama semakin tinggi dan akhirnya hilang dikebiruan wajah langit.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sudah-pernah ia

melihat cahaya itu diubun-ubun Ken Arok yang; bergelar Sri Rajasa.

Agaknya memang sudah datang saatnya Ken Arok yang kemudian

bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu kembali keasalnya

setelah beberapa lama ia melakukan tugasnya dibumi.

Perlahan-lahan ketiga orang itupun kemudian melangkah

mendekatinya. Yang kemudian ada dihadapan mereka memang

tidak ubahnya sebagai tubuh manusia sewajarnya apabila ajal telah

tiba. Karena Ken Arok yang, tinggal itu adalah Ken Arok dalam

bentuknya yang wadag.

“ Ia memang ujud dari kasih dewa atas Singasari,. tetapi juga

ujud yang paling mengerikan dari iblis yang paling laknat “ berkata

Mahisa Agni kemudian.

“ dan itu pulalah sikapnya atasmu Anusapati. Ia menganggapmu

sebagai penggantinya, sebagai saluran kasih dewa-dewa atas

Singasari, namun ia memandangmu sebagai orang yang paling

mengganggu nafsu ketamakan-nya. Dan tanggapan itulah yang

tampak pada saat akhirnya. Ia ingin menyerahkan Singasari

kepadamu, namun sekaligus ingin meremasmu menjadi debu. “

Anusapati hanya dapat menundukkan kepalanya.

“ Nah, sekarang Anusapati. Kau dapat melakukan pesannya.

Bawalah Sumekar kebangsalmu. Dan tentu saja kita akan minta izin

kepada Kuda Sempana, kakak seperguruannya, bahwa meskipun

Sumekar sudah meninggal, kau masih akan minta bantuannya.

Dengan nama Pangalasan Batil, ia harus mengorbankan bukan saja

jiwanya, tetapi juga nama itu, karena setiap orang akan menyangka,

bahwa ialah pembunuh Sri Rajasa, dan kemudian pergi

kebangsalmu untuk membunuhmu juga, tetapi kau berhasil

membinasakannya lebih dahulu “-

Anusapati masih menundukkan kepalanya. Bahkan kemudian

terasa betapa matanya menjadi panas. Sumekar adalah seorang

yang sangat baik kepadanya. Orang yang seakan-akan telah

mewakili pamannya Mahisa Agni apabila pamannya itu tidak ada di

Singasari. Justru karena itu, maka iapun ikut terlibat didalam

persoalan yang ttumbuh didalam keluarga besar dari Sri Rajasa.

Sumekar seakan-akan terlibat dalam perebutan pengaruh antara.

Anusapati dan Tohjaya. Dan itulah sebabnya, maka Sumekar telah

hanyut pula didalam arus kebencian kepada Sri Rajasa. Bahkan

melampaui dirinya sendiri sehingga ia tidak dapat mengendalikan

perasaannya dan dengan keris mPu Gandring yang sakti itu ia ingin

membinasakan Sri Rajasa. Namun Sri Rajasa bukannya manusia

sewajarnya. Dan itulah sebabnya Sumekar tidak berhasil

menyentuhnya dengan keris itu, justru dirinya sendirilah yang

terbunuh karenanya.

Dan sekarang mayat itu

harus dihinakan sebagai

seorang pembunuh.

Sulit bagi Anusapati untuk

memenuhinya. Terkenang

olehnya ceritera tentang Kebo

Ijo yang sama sekali tidak

bersalah, namun harus

menebus dengan nyawa dan

namanya ketika Akuwu Tunggul Ametung terbunuh.

“ Aku tahu keberatanmu Anusapati “ berkata Mahisa Agni “

karena itu, maka sebaiknya kita menemui Kuda Sempana. Kakak

seperguruan Sumekar. Kita mendengar pendapatnya. “

“ Jadi, bagaimana dengan tubuh paman Sumekar. ini? “ bertanya

Anusapati.

“ Biarlah kita bawa lebih dahulu kelongkang bangsalmu. “

Anusapati menganggukkan kepalanya. Ia memang tidak dapat

tinggal dtbangsal Sri Rajasa terlampau lama. Jika para prajurit

kemudian meronda kebagian belakang bangsal ini, maka mereka

akan menemukannya dan harus bertempur lagi. Jika ia salah

langkah maka ia akan membunuh bukan saja satu dua orang, tetapi

beberapa orang. Apalagi jika kemudian timbul pertentangan

terbuka.

“ Baiklah paman “ berkata Anusapati kemudian “ aku akan

mencoba membawa tubuh paman Sumekar.

Tentu cukup berat. Kami akan membantumu. Jika kita tidak

harus menyusup diantara pengawasan para pra jurit, maka tidak

akan terlampau sulit kiranya Tetapi sekarang kita harus menerobos

pengawasan para prajurit.

Demikianlah maka dengan susah payah, ketiga orang itu berhasil

membawa Sumekar keluar dari dinding bangsal Sri Rajasa. Dengan

susah payah pula mereka berhasil membawa lewat rimbunnya

tumbuh-tumbuhan perdu di halaman istana Singasari dari bangsal

Sri Rajasa, sampai kebangsal Putera Mahkota.

Malam itu juga Kuda Semparta, Mahisa Agni dan Witantra

terpaksa melepaskan Sumekar menjadi seorang pengkhianat

dengan nama Pangalasan Batil. Tetapi ia bagi Anusapati adalah

seorang yang paling baik, yang telah mempertaruhkan nyawanya

untuk kepentingannya, meskipun caranya kurang disetujui. Namun

niat terkandung didalam hati Sumekar adalah menempatkannya

pada kedudukan yang paling tinggi di Singasari.

Setelah semuanya dibicarakan dengan masak, dan setelah

Mahisa Agni, Kuda Sempana dan Witantra dengan dada yang

berdebar-debar menunggu dibangsalnya, apa yang akan terjadi

diistana itu, maka mulailah Anusapati memainkan peranannya.

Lebih dahulu ia berbisik ditelinga Sumekar “ Maafkan aku paman.

Aku sama sekali tidak berniat jelek. Kau bagiku adalah seorang

pahlawan. Bukan saja dikala hidup paman, tetapi juga sesudah

paman meninggal. “

Maka kemudian terjadilah keributan dibangsal itu. Beberapa

orang prajurit yang bertugas itupun berlari-larian dengan senjata

telanjang.

Keributan itupun segera menjalar kesegenap halaman istana

Singasari. Benar-benar diluar rencana yang sudah disusun oleh

beberapa orang Senapati. Tiba tiba saja seorang telah menyusup

kedalam bangsa! Anusapati dan mencoba membunuhnya. Namun

ternyata usaha ini gagal, dan bahkan orang yang dikenal sebagai

pangalasan Batil itu telah mati terbunuh.

“ Cepat, lihat kebangsal ayahanda Sri Rajasa “ Ini kata Anusapati

“ pangalasan ini telah menyebut-nyebut nama ayahanda. Ia akan

membunuh ayahanda pula setelah membunuh aku, atau sebaliknya.

Halaman istana itu menjadi semakin gempar setelah ternyata Sri

Rajasa diketemukan telah meninggal dilong-kangan bangsalnya,

terbujur seperti orang tidur dengan tangan bersilang dan mata

terpejam.

Dalam keributan itulah Mahisa Agni telah muncul pula dihalaman.

Ternyata bahwa ia memiliki wibawa yang cukup bagi para Senapati,

meskipun mereka yang telah disiapkan untuk menangkapnya besok.

“ Tutup semua gerbang. “ perintah Mahisa Agni.

Maka tidak seorangpun yang dapat lolos lagi dari dinding istana.

Namun Kuda Sempana, Witantra dan Mahendra sudah berada diluar

dinding.

Dalam pada itu, Anusapati yang masih menggenggam keris

telanjang memberikan aba-aba pula. Hampir diluar sadarnya para

prajurit yang dipersiapkan untuk membunuh Putera Mahkota itu

justru melakukan segala perintahnya.

“ Periksa setiap orang yang mencurigakan. Aku tidak yakin

bahwa pangalasan ini berdiri sendiri. “

Kegemparan itu benar-benar telah mengguncangkan istana

Singasari. Bahkan dalam sekejap, berita tentang terbunuhnya Sri

Rajasa itu telah menjalar keseluruh kota. Setiap orang yang

mendengar berita itu, segera mengetuk pintu rumah tetangganya

dan menceriterakan apa yang didengarnya, sehingga dengan

demikian maka berita kemati-an Sri Rajasa Batara Sang

Amurwabumi segera menjalar.

Jenazah Sri Rajasa itupun segera diusung masuk ke-dalam

bangsalnya. Permaisuripun segera mendengar apa yang telah

terjadi. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa iapun pergi

kebangsal Maharaja Singasari itu.

Ketika tampak olehnya jenazah itu, terasa kepala Ken Dedes

menjadi pening. Jenazah itu tidak ubahnya seperti jenazah Akuwu

Tunggul Ametung, Dibeberapa tempat tampak noda kebiru-biruan,

meskipun wajah Sri Rajasa itu seakan-akan sama sekali tidak

berubah seperti disaat ia tidur.

Ken Dedespun segera mengetahui, apakah yang sudah terjadi.

Ternyata bahwa keris mPu Gandring telah melukai Sri Rajasa seperti

keris itu telah melukai pula Akuwu Tunggul Ametung.

Bayangan yang bercampur baur itu membuat kepala Ken Dedes

menjadi semakin pening. Pandangannya menjadi berkunangkunang.

Dan sejenak kemudian, Ken Dedes tidak mengetahui

apakah yang telah terjadi.

Permaisuri itupun menjadi pingsan. Beberapa orang emban

menjadi kebingungan. Dengan segala macam cara mereka berusaha

untuk menolong Permaisuri itu.

Dalam pada itu, Ken Umangpun bergegas datang pula kebangsal

itu. Ketika ia datang, ternyata Permaisuri sudah dibawa menyingkir

untuk mendapat pertolongan.

Yang terdengar adalah jerit yang menyayat. Ken Umang

menelungkup dibawah jenazah Sri Rajasa. Tangis nya bagaikan

bendungan yang pecah. Sedang yang ter selip diantara suara

isaknya adalah ratapan yang pedih. ”Tuanku, kenapa Tuanku,

sampai hati meninggal kah hamba dan putera - putera tuanku.

Justru dalam saat-saat perjuangan putera tuanku sedang

memuncak. Dengan demikian, maka lenyaplah segala harapan

hamba, bahwa hamba akan dapat menurunkan seorang Maharaja

yang akan berkuasa di Singasari. “

Tidak ada yang mendengar ratap itu selain seorang emban yang

sedang mencoba menghiburnya. Ratapan itu diucapkannya terlalu

lirih. Orang2 yang sedang menunggui jenazah itupun sama sekali

tidak mendengar dengan pasti kata-kata yang diucapkannya.

Namun emban itu sempat juga mengurut dadanya. Ternyata yang

paling menyedihkan bagi Ken Umang bukan kematian Sri Rajasa.

Tetapi adalah karena cita-citanya untuk menurunkan seorang

Maharaja telah gagal karenanya.

Dalam pada itu, para prajurit dihalaman istana masih sibuk

memeriksa setiap sudut halaman. Mereka mencoba untuk

menemukan orang yang mencurigakan, yang barangkali adalah

kawan dari pangalasan dari Batil itu.

Tetapi tidak seorangpun yang pantas dicurigai. Yang ada didalam

halaman itu adalah prajurit-prajurit yang justru telah dipersiapkan

oleh orang-orang yang ditentukan, untuk tujuan yang sama sekali

berbeda dari apa yang celah terjadi.

Ternyata yang telah terjadi itu menghapuskan semua rencana

dikepala beberapa orang Senapati itu. Dihadapan Mahisa Agni,

seorang Senapati Agung Singasari, mereka itu menjadi bingung.

Apalagi ketika kemudian hadir beberapa orang Panglima dan

Senapati yang tidak tahu me nahu tentang rencana itu.

Akhirnya, ketika matahari kemudian terbit di Timur, sidang di

bangsal paseban telah dipimpin langsung oleh Putera Mahkota

didampingi oleh Senapati Agung yang menjadi wakil Mahkota di

Kediri. Didalam sidang itu telah ditetapkan kesimpulan bahwa

seorang pengalasan telah membunuh Sri Rajasa dan kemudian

berhasil dibunuh oleh Anusapati, Putera Mahkota Singasari. Dan

sidang itupun telah menetapkan upacara yang akan dilakukan untuk

menyempurnakan jenazah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Namun demikian, meskipun sidang itu sependapat, bahwa

pangalasan Batil telah membunuh Sri Rajasa dan kemudian

terbunuh oleh Anusapati, tetapi ternyata bahw«i Tohjaya tidak

dapat menerima keputusan itu didalam hatinya. Dengan beberapa

orang kepercayaannya ia menetapkan, bahwa pangalasan dari Batil

itu telah mendapar perintah dari Anusapati untuk membunuh Sri

Rajasa, te tapi kemudian pangalasan itu telah dibunuh sendiri oleli

Anusapati, agar rahasia pembunuhan itu tidak akan pernah

didengar oleh orang lain.

Tetapi pengaruh Anusapati dan Mahisa Agni ternyata lebih besar

dari pengaruh Tohjaya. Karena itulah kemudian para pimpinan

pemerintahan menetapkan, Anusapati menggantikan kedudukan

ayahanda Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi yang telah gugur

didalam jabatannya.

Dalam pada itu, dengan diam-diam Anusapati berhasil

menyingkirkan tubuh Sumekar yang telah mengorbankan segalanya

untuknya. Sejak hidupnya, masa-masa mudanya, masa-masa

menjelang usia pertengahan dan kemudian bahkan nyawanya dan

bahkan namanya. Atas kehendak Anusapati, maka jenazah

Sumekarpun telah disempurnakan sebaik-baiknya oleh kakak

seperguruannya di padepokannya.

Namun kejutan peristiwa itulah agaknya yang membuat

kesehatan Ken Dedes menjadi semakin mundur. Namun demikian ia

masih sempat menunggui puteranya memerintah Singasari yang

besar.

Tetapi yang terjadi bukannya akhir dari pemerintahan yang

damai di Singasari.

-ooo0dw0ooo-

(TAMAT BAGIAN KE I)

IKUTI CERITERA BERIKUTNYA (Bag. ke II)

SEPASANG ULAR NAGA DALAM SATU SARANG.

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG

KARYA : SH. MINTARDJA

SEPERCIK DARAH telah membasahi tahta Singasari, seperti juga

saat tahta Tumapel jatuh ketangan Ken Arok, yang kemudian

berhasil mempersatukan Singasari dan menjadi seorang raja yang

bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi

Kini Sri Rajasa telah disingkirkan dengan cara yang sama seperti

ia menyingkirkan Akuwu Tunggul Ametung, meskipun dengan

alasan yang agak berbeda, oleh Anusapati.

Maka mulai terbuktilah ucapan mPu Gandring sebelum saat

meninggalnya oleh tangan Ken Arok dengan keris buatannya sendiri

yang minta kepada Ken Arok itu, bahwa sebaiknya keris yang telah

dilumuri dengan darah mPu Gandring itu sendiri, dihancurkan saja,

karena disaat mendatang keris itu akan menjilat darah orang lain

lagi. Dan orang itu adalah Ken Arok sendiri.

“ Apakah keris itu sudah akan berhenti menitikkaus darah? “

Tidak seorangpun yang mengetahuinya bahwa keris seakan

beruntun menghisap darah, karena Ken Arok yang langsung

mendengarnya dari mPu Gandring tidak mengatakannya kepada

Anusapati pada saat terakhir.

Namun agaknya Anusapati sendiri selalu dibayangi olehi

kecemasan dan ke-ragu2an, apakah tidak ada dendam yang

menyala didalam istana Singasari itu. Karena itu, maka keris itu pun

disimpannya baik2.

Sebenarnyalah bahwa Tohjaya putera Ken Arok dari isteri nya

Ken Umang, yang kehilangan ayahandanya benar2 telah di cengkam

oleh dendam yang membara didalam dadanya. Ia memutuskan

didalam hatinya, bahwa pengalasan Batil itu adalah utusan

Anusapati yang kemudian dibinasakan sendiri untuk melenyapkan

jejak pembunuhan itu.

Namun untuk sementara Tohjaya tidak dapat berbuat apa apa. Ia

harus tunduk kepada keadaan. Ternyata bahwa pengaruh Anusapati

cukup kuat untuk menguasai seluruh Singasari, meskipun hidupnya

sendiri selalu dibayangi oleh kecemasan.

Dalam pada itu, Ken Umang yang menjadi sangat bersedih bukan

saja karena kematian Sri Rajasa, tetapi karena dengan demikian

hilangnya semua harapannya untuk mengangkat Toh jaya menjadi

putera Mahkota, masih saja dibakar oleh nafsunya. Ia tidak menjadi

putus asa, bahwa Tohjaya tidak dapat menduduki jabatan Putera

Mahkota. Ken Umang sadar bahwa pada saatnya Anusapati tentu

akan mengangkat anak laki2nya untuk jabatan itu, sehingga apabila

ia lenyap dari merintahan, anak laki2nyalah yang akan menduduki

tahta ngasari. Ia adalah keturunan Ken Dedes. Bukan keturunan

Ken Umang.

Sedangkan anak laki2 Anusapati yang bernama Ranggawuni itu

setiap hari tumbuh dengan suburnya. Ia menjadi se orang anak

laki2 yang tampan dan kuat. Meskipun usianya masih sangat muda,

namun ia mewarisi kelebihan ayahnya. Dengan pesat ia maju

didalam olah kanuragan dan ilmu kejiwaan. Ia cepat menguasai

segala macam tata gerak yang diajarkan, tetapi ia juga dengan

cepat menguasai ilmu kesusasteraan, ilmu cacah dan ilmu

perbintangan.

Demikian juga adik sepupunya, yang meskipun agak lebih muda,

tetapi nakalnya bukan main. Anak laki2 Mahisa Wonga Teleng

itupun tumbuh cepat seperti Ranggawuni.

Sejak masih kanak2 keduanya bagaikan tidak terpisahkan.

Ranggawuni dengan Mahisa Cempaka. Bahkan keduanya seperti

kakak beradik yang lahir berurutan. Bentuk tubuhnya, wajahnya dan

kesenangannya hampir tidak berbeda.

Demikianlah keduanya merupakan isi dari halaman istana

Singasari yang mengasikkan. Setiap prajurit yang bertugas dihalaman

istana, tentu akan tersenyum melihat keduanya berlari2

ber-kejar2an. Para pengasuh dan pengawalnya memandangnya saja

dari kejauhan, jika keduanya menjadi semakin jauh barulah mereka

mengikutinya. Dan rasa2nya halaman Singasari itu adalah suatu

daerah yang paling aman dan damai dipermukaan bumi, sehingga

keduanya tidak usah kuatir bahwa pada suatu saat mereka akan

mengalami bencana.

Tetapi sebenarnyalah tidak demikian. Disebelah dinding yang

memisahkan dua bagian istana Singasari, terdapat timbunan

dendam yang menyala. Tetapi Ken Umang dan anak2nya ternyata

mampu mengendalikan diri. Didalam kehidupannya se-hari2 seakan2

mereka dengan ikhlas menerima kenyataan itu. Se-akan2

mereka sama sekali tidak mempunyai niat apapun juga sepeninggal

Ken Arok. Namun sebenarnyalah bahwa Ken Umang telah

menyusun rencana yang paling berbahaya bagi keseluruhan

Anusapati.

“ Aku harus menempuh jalan lain “ berkata Ken Umang didalam

hati. “ Jika aku tidak dapat lagi mengharap bahwa Tohjaya akan

menduduki jabatan Putera Mahkota, maka jalan yang paling baik

adalah menyingkirkan Anusapati. Tahta Singasari harus jatuh

ketangan Tohjaya dengan cara yang sama pula. Seperti jatuhnya

tahta Tumapel dan Tahta Sri Rajasa. “

Tetapi Ken Umang tidak kehilangan akal dan berbuat ter-gesa2.

Ia cukup sabar menunggu saat2 yang menguntungkan baginya dan

bagi anaknya.

Karena itulah, maka yang tampak didalam kehidupannya sehari2

adalah sifat yang se-akan2 telah berubah sama sekali. Hampir

seluruh penghuni istana dan para juru taman dan hamba yang lain

menganggap bahwa Ken Umang telah berubah sama sekali.

“ Kini ia menjadi seorang yang baik “ desis seorang juru

panebah,

“ Ya. Ia sekarang menumpang kamukten pada anak tirinya yang

sebelumnya sangat dibencinya. Namun agaknya kebaikan hati

Anusapati telah menyentuh perasaannya, dan ia tidak dapat

berbuat lain daripada mengucapkan terima kasih kepadanya. “ sahut

seorang emban.

“ Mudah2an sifat itu tidak segera berubah lagi “ desis yang lain.

Demikianlah untuk beberapa lamanya, se-akan2 istana Singasari

telah menjadi aman dan damai. Se-akan2 tidak ada persoalan lagi

yang dapat membahayakan kesatun dan kedamaian diseluruh

negeri.

Dengan sepenuh hati Rakyat Singasari dapat melakukan kerjanya

se-hari2. Yang bekerja disawah dengan tekun mengerjakan sawah

dan ladangnya. Beberapa orang yang merasa bahwa tanah garapan

mereka menjadi kian sempit karena turun temurun yang lahir

beruntun, segera memperluas tanah mereka dengan menebang

hutan, sehingga dengan demikian maka se-akan2 Singasari menjadi

semakin lama semakin luas.

Hutan belantara yang bertebaran hampir diseluruh negeri

merupakan daerah perluasan yang tanpa merugikan pihak manapun

juga. Usaha perluasan yang demikian bukannya usaha perluasan

daerah dan jajahan. Tetapi perluasan yang benar2 bersih dari

perselisihan dan apalagi bentrokan berdarah kareca hutan masih

sangat luas dan tidak bertuan.

Namun kadang2 dapat juga timbul persoalan. Apabila daerah itu

merupakan sarang dari sekelompok penjahat yang tidak diketahui

lebih dahulu. Namun perselisihan yang demikian biasanya akan

segera dapat diselesaikan, karena apabila laporan tentang hal itu

sampai diistana Singasari, maka Anusa-patipun segera mengirimkan

sepasukan prajurit untuk mengusir para penjahat itu.

Dihalaman istana, kecerahan itu nampak pada kedua anak2 yang

sedang tumbuh dengan suburnya. Ranggawuni dan Mahisa

Cempaka. Seperti Anusapati, maka keduanya dekat dengan Mahisa

Agni. Dan seperti Anusapati, keduanyapun mendapat tuntunan olah

kanuragan dari Mahisa Agni pula.

Sesuai dengan usia mereka berdua, maka Mahisa Agnipun mulai

dengan tata gerak yang nampaknya seperti permainan yang

mengasikkan. Permainan yang merupakan pendahuluan dari tata

gerak yang sangat sederhana sebelum memulai dengan

mempelajari ilmu olah kanuragan yang sebenarnya.

Dan ternyata tuntunan yang dilakukan oleh Mahisa Agni itu

sangat digemari oleh kedua anak2 yang masih sangat muda itu,

sehingga hubungan mereka dengan Mahisa Agni seperti hubungan

mereka dengan orang tua sendiri.

Tetapi Mahisa Agni tidak selalu berada di Singasari. Ia masih

memangku jabatannya yang lama. Setiap kali ia masih harus pergi

ke Kediri. Namun tidak seperti pada jaman pemerintahan Sri Rajasa,

maka ia kini dapat datang ke Singasari setiap saat, dan untuk waktu

yang dikehendakinya. Meskipun demikian ia tidak mengabaikan

tugasnya. Ia tetap melakukannya dengan se-baik2nya seperti yang

dilakukan pada masa pemerintahan Ken Arok. Dan bagi rakyat

Kediripun sama sekali tidak menimbulkan persoalan, apalagi

prasangka karena sikap Mahisa Agni itu.

Meskipun demikian, meskipun tidak setiap hari Mahisa Agni ada

di Singasari, namun Ranggawuni dan Mahisa Cem paka tidak pernah

melupakan latihan2 yang telah diterimanya. Meskipun kebetulan

Mahisa Agni tidak ada di Singasari, mereka berlatih terus dibawah

pengawasan ayahanda mereka Kadang2 Anusapati sendiri didalam

waktu2nya yang senggang. kadang2 Mahisa Wonga Teleng.

Perkembangan kedua anak2 itu dihidang kanuragan sang

memberi kebanggaan kepada orang tua masing2.

Namun dalam pada itu, dalam ketenangan dan kedamaian yang

nampak, Anusapati selalu diliputi oleh kecemasan dan was-was.

Bayangan kematian Ken Arok yang bergelar Sri Ra jasa itu tidak

dapat lenyap dari hatinya. Meskipun ia sama se kali tidak dengan

pasti berusaha membunuh Sri Rajasa, namun ia merasa bahwa

sebenarnyalah hasrat itu memang ada didalam dirinya meskipun

hanya sepercik kecil. Dan yang sepercik kecil itulah yang se-akan2

selalu mengejarnya sampai saat itu..

SEPASANG PEDANG KENCANA

KARYA : WIDI WIDA¥AT

RINI SRININGSIH yang merasa lebih faham akan keadaan

ditempat ini, bergarak cepat tanpa ragu sedikitpun. Ia berlarian

seperti terbang, menuruni pinggang gunung yang dipenuhi oleh1

semak jurang maupun batu-batu besar itu. Bibir Rini Sriningsih

tersenyum ketika melihat, bahwa pemuda itu lari ke-arah jurang

yang lebar dan amat dalam, yang tak mungkin dapat dilompati.

Dengar, terhalang oleh jurang itu, ia merasa pasti bahwa pemuda

itu takkan dapat menghindar lagi, dan mau tak mau harus melawan

dirinya. Rini Sriningsih belum merasa puas sebelum dapat bergebrak

dengan pemuda yang ia anggap jahat itu dan kalau perlu

membunuhnya.

Akan tetapi tiba-tiba, betapa kaget gadis ini, ketika melihat

pemuda yang ia kejar itu malah melompat ke-dalam jurang. Ketika

ia tiba di-tepi jurang, dan kemudian menjenguk ke-bawah, jurang

itu tampak mengapa tanpa dasar, dan terhalang oleh kabut. Ia tidak

melihat pemuda tadi. Agaknya pemuda itu sudah hancur tubuhnya,

diterima oleh batu-batu besar di-dasar jurang. Namun setelah

menduga bahwa pemuda yang melompat ke-jurang itu sekarang

sudah mati, tiba-tiba saja ia menghela napas panjang. Sekarang ia

baru merasa menyesal dan getun. Dirinya yang menyebabkan

pemuda itu nekat membunuh diri melompat ke-dalam jurang.

Kelana Dewa-pun menjenguk ke-dalam jurang. Tetapi yang

tampak hanyalah kabut tebal, dan sayup-sayup di-bawali sana

terdengar suara air gemericik mengalir. Ketika ia meng angkat

mukanya, dan melihat gadis itu menghela napas panjang, ia merasa

aneh. Dengan sikapnya yang hati-hati dan penuh hormat,

kemudian ia bertanya dengan suara yang halus. “. Mengapa nona

menghela napas? Dia sendiri yang memilih mampus dengan

melempar diri ke-dalam jurang, saking takutnya kepada nona. “

“ Hemm ........ tetapi akulah yang menyebabkan dia mati, “ sahut

Rini Sriningsih masih diliputi oleh perasaan getun. “ Kalau saja aku

tidak begitu mendesak dengan mengejar, tentu dia takkan

membuang diri ke-jurang. “

“ Akan tetapi nona tak bersalah, “ Kelana Dewa ber usaha

menghibur dan membujuk.

“ Tidak bersalah katamu? “ Rini Sriningsih mendelik. “ Tidak, aku

bersalah. Orang yang tidak berani melawan, berarti kalah. Dan tidak

seharusnya pula aku mendesak dan menekan nya sedemikian rupa.

Ah, betapa marah guruku kalau men dengar tentang ini. “

“ Tak ada orang lain yang tahu, mengapa nona khawatir? “

Kelana Dewa kembali menghibur. “Percayalah nona bahwa aku

takkan menjadi seorang pengecut. Nona telah menolong saya dari

bahaya, maka sudah sepantasnya pula untuk berusaha membalas

kebaikan nona. Apa yang baru terjadi, hanya saya dan nona sendiri

yang tahu. Manakah mungkin dapat bocor kalau saya dan nona

tidak bicara pula? “

Mendengar kata-kata Kelana Dewa ini, terhiburlah hati Rini

Sriningsih. Katanya kemudian. “ Ya, engkau benar. Dan sekarang

bahaya telah lewat, maka kita berpisah sampai disini. Saudara mau

ke-mana? “ ,

“ Saya sedang melakukan perjalanan jauh tanpa tujuan. “

“ Ihh, mengapa tanpa tujuan? “

“ Panjang ceritanya. Tetapi yang jelas saya ini dalam keadaan

sangat menderita. Guna mengurangi rasa derita itu, hanyalah

dengan cara mengembara tanpa tujuan, seperti yang aku lakukan

sekarang ini. “

“ Kau menderita? Menderita karena apakah? “

Kelana Dewa menggelengkan kepalanya. “ Tak sanggup aku

menceritakan sebabnya penderitaan ini. Oh, nasibku memang amat

buruk......... “

Kelana Dewa mengeluh, kemudian menjatuhkan diri duduk diatas

rumput. Melihat keadaan Kelana Dewa yang tampak pucat

wajahnya, yang agaknya oleh pengaruh derita yang dialami itu, tibatiba

saja menggerakkan hati gadis ini, Timbul rasa iba dan kasihan

dalam hati gadis ini. Dan menurut pendapatnya, memberi

pertolongan kepada seseorang tanpa pamrih itu adalah baik dan

merupakan kewajibannya pula. Berkali-kali ia mendengar nasihat

dari gurunya, bahwa dirinya harus selalu ringan tangan menolong

orang lain yang menderita.

Tiba-tiba Rini Sriningsih sudah menjatuhkan diri, dan duduk didepan

Kelana Dewa. Ia menatap wajah yang pucat itu dengan rasa

iba. Lalu terdengar katanya halus. “ Saudara, anggaplah aku bukan

orang lain. Ceritakan apa yang telah terjadi dan menyebabkan

engkau menderita. “

Kelana Dewa mengangkat mukanya, memandang wajah ayu itu

sekilas. Kemudian kembali menundukkan kepalanya sambil

menghela napas berkali-kali. Tetapi hanya sebentar pula pemuda ini

menundukkan muka. Ia kembali mengangkat mukanya, tetapi

memandang ke-arah lain. Adapun Rini Sriningsih yang merasa iba,

tetap memperhatikan gerak-gerik Kelana Dewa dan dengan sabar

menunggu pemuda itu memulai ceritanya..

Tetapi mendadak Rini Sriningsih merasa aneh, ketika melihat

wajah pemuda ini mendadak seperti dalam keadaan ketakutan.

Wajahnya makin tampak pucat lagi, dan sepasang matanya

berkedip memandang ke-arah belakangnya. Rini Sriningsih menjadi

khawatir dan curiga. Apakah yang nampak di-bela-kangnya dan

kuasa membuat pemuda ini ketakutan?

Dengan geraknya yang sehat, ia sudah meloncat berdiri dan

membalikkan tubuh dalam keadaan sudah siaga. Akan tetapi

ternyata tidak tampak sesuatu, kecuali beberapa batang pohon dan

batu-batu berserakan. Di-saat Rini Sriningsih sedang berusaha untuk

mencari apa sebabnya pemuda itu pucat dan ketakutan, mendadak

ia kaget setengah mati ketika dua kakinya lumpuh tiba-tiba. Ia

menjerit kecil ketika tubuhnya hampir terbanting jatuh. Tetapi

sepasang lengan yang kuat, tiba-tiba sudah menerimanya lalu

memeluk erat sekali.

Untuk sesaat Rini Sriningsih terbelalak, ketika dirinya sudah didalam

pelukan Kelana Dewa. Akan tetapi setelah sadar, ia segera

dapat menduga apa yang baru saja terjadi. Di-saat dirinya berdiri,

membelakangi pemuda itu, secara curang lututnya telah diserang.

Akibatnya dua kakinya menjadi lumpuh dan hampir jatuh. ,

“ Kurang ajar! Kau sudah menipu aku! “ teriak Rini Sriningsih

sambil menggerakkan tangannya untuk memukul.

Akan tetapi Rini Sriningsih sudah terlambat. Tangannya-pun

sudah menjadi lumpuh seperti kakinya oleh serangan kilat Kelana

Dewa.

“ Kau ...... apakan maksudmu ......? “ Rini Sriningsih terbelalak

dan mulai khawatir melihat sinar mata Kelana Dewa dan mulut yang

menyeringai seperti iblis.

“ Heh-heh-heh, engkau masih bertanya lagi? “ ejek Kelana Dewa

diiringi ketawanya yang terkekeh. “ Engkau sudah menjadi

tawananku. Engkau harus menurut apa yang aku kehendaki. Harus!

Berbareng dengan ucapannya yang terakhir ini, tiba-tiba saja

Kelana Dewa telah mendaratkan ujung hidungnya ke-pipi yang

halus. Rini Sriningsih memekik kaget dan ngeri.

“ Aihh ......... curang. Jahanam kau! Cabul ......... huh, awas

kubunuh kau .........! “

“ Heh-hch-heh, kau mau membunuh aku? Hayo, bunuhlah' jika

bisa! “

Ngeri sekali rasa hati Rini Sriningsih sekarang ini. Menghadapi

kenyataan yang tidak terduga macam ini, barulah ia sekarang sadar

tertipu oleh kelicikan Kelana Dewa. Kalau demikian keadaannya,

jelas sekali bahwa Sunu Prabandaru tadi benar. Pemuda inilah yang

sesungguhnya jahat, dan Sunu Prabandaru berkelahi melawan

Kelana Dewa dalam usahanya memusuhi kejahatan. Diam-diam ia

menjadi amat menyesal sekali, mengapa ia tadi kurang teliti, dan

sudah tertipu oleh sikap Kelana Dewa yang pura-pura manis.

Sebaliknya Sunu Prabandaru yang tampaknya kasar itu, adalah

seorang jujur.

Hilangnya Kitab

SUTA SOMA

KARYA: RS. RUDHATAN

MELIHAT munculnya ketiga orang itu, Sanjaya tercekat harinya,

sebab dilihat dari gerak geriknya sekilas saja. ia sudah dapat

menduga bahwa ketiganya adalah orang2 yang berilmu tinggi yang

tidak dapat dibuat main2. Yang membuat Sanjaya khawatir, bukan

memikirkan diri sendiri, tetapi adalah keselamatan Ratu Suhita.

Maka didekatinya Ratu, sambil ia memasang kuda2, siap

menghadapi keempat orang yang menjadi musuh Majapahit

tersebut. Sanjaya berbisik pada Sri Ratu Suhita :

“ Gusti, sementara hamba menghadapi orang2 ini lebih baik gusti

segera meninggalkan tempat ini. “ Dan Ratu Suhita mengangguk

sambil diam2 mengagumi keberanian pemuda itu.

Sementara itu, Wirabumt sudah bangun setelah terjatuh tadi.

Dan si orang kurus jangkung yang memegang rantai panjang tadi

tiba2 menyabetkan senjatanya kearah Sanjaya. Dan karena

hebatnya serangan itu, hingga menimbulkan suara bersiutan dan

me-nyambar3 dengan dahsyatnya. Tetapi Sanjaya cukup gesit dan

lincah. Tubuhnya berloncatan menghindar ke-sana kemari dan

menyusup diantara sambaran2 senjata berbahaya itu. Melihat

Sanjaya belum juga termakan oleh kejaran senjata mautnya si

jangkung. Wirabumi menjadi habis sabar. Maka riba2 ia melompat

kearah Dewi Suhita, dan ditikamnya

Ratu Majapahit itu sepenuh tenaga dengan kerisnya. Namun

sebelum keris itu dapat menyentuh Ratu, se-konyong2 Sanjaya yang

matanya tak pernah lepas memperhatikan Ratu Suhita, meloncat

dengan kecepatan kilat meninggalkan si jangkung dan dengan

amarah yang ber-kobar2 dihantamnya Wirabumi. Dan tepat! dada

Pangeran pemberontak itu kena termakan oleh tangan Sanjaya yang

sedang marah dan kalap melihat sikap pengecut orang. Maka tanpa

ampun lagi dan tanpa dapat dihindarkan, Wirabumi menjerit dengan

suara menggerang panjang dan jatuh berdebug ditanah",

bergulingan sambil masih menggerang kesakitan. Sedang ketiga

kawannya, sangat terkejut melihat kehebatan Sanjaya yang dalam

keadaan sedang bertempur masih sempat menolong orang lain.

Yang paling malu adalah si jangkung sendiri. Maka dengan sangat

ber-napsu, ingin membunuh Sanjaya, ia sabetkan kembali senjata

rantainya pada Sanjaya. Yang disabet berpikir, bahwa ia harus

cepat" menyelesaikan pertempuran ini, sebab khawatir akan

keselamatan Ratu Suhita yang masih belum mau pergi

meninggalkan tempat itu. Tetapi Sanjaya juga menyadari bahwa ia

belum tentu dapat mengalahkan mereka kalau sampai maju

berbareng, tiga2nya. Lalu karena ternyata si kurus jangkung masih

tetap menyerang dengan membabi buta, maka Sanjaya lalu

memungut sebuah ranting kayu yang ada disitu dan dipakainya

menyerang si kurus yang masih kalap. Sekarang, ternyatalah!

bahwa memang Sanjaya tidak bisa dibuat mainan oleh si kurus itu.

Senjata yang dipegang Sanjaya dimata musuhnya tiba2 berubah

seakan2 menjadi ratusan banyaknya oleh karena begitu cepatnya

Sanjaya menggerakkan ranting kayu yang dipegangnya itu. Dari

jauh, dua orang gundul tadi setelah menolong Wirabumi, melihat

gerakan2 Sanjaya yang aneh, serta kelihatan sambaran2 rantai si

kurus yang menimbulkan suara bersiutan itu hanya dipermainkan

oleh gerakan2 ranting kayu yang dipegang Sanjaya. Tetapi yang

membuat kedua orang gundul itu khawatir adalah ranting kecil

ditangan Sanjaya iu selaki mengarah tempat2 ying mematikan

ditubuh si jangkung. Dan benarlah! tiba2 padi suatu kesempatan

ranting Sanjaya dengan telak menyerang pada kelangkangan

musuhnya. Tapi karena ia meloncat menghindarinya kalah cepat

oleh gerakan tangan Sanjaya maka pahanya jadi sasaran ranting

berbahaya tadi. Dan si jangkung me ngeluh, dirasa pahanya sakit

bukan main, sehingga gerakannya menjadi pincang. Tetapi..... “ He,

Srayapati! jangan takut, aku bantu kau! “ terdengar suara si gundul,

dan bersamaan dengan itu dua orang gundul tadi maju berbareng.

Seorang di-antaranya menggocokan tangannya kemuka Sanjaya,

sedang lainnya, menyapu perut Sanjaya dengan sebelah kakinya.

Dan melihat datangnya dua orang berbareng itu. Sanjaya agak

tercekat, sebab ia tahu yang menyerang bukan orang sembarangan.

Jaian saurnya untuk menghindar hanyalah meloncat sejauh

mungkin. Maka dengan sekuat tenaga ia lakukan loncatan mundur

dengan gaya yang mengagumkan, tetapi belum juga kakinya

sempat memijak tanah, tiba1 dirasa kaki si gundul sudah me-nv-sul

dan tepat menghantam betisnya, hingga Sanjaya jatuh ke ia

gempuran kaki itu, ia mau cepat bangun dan loncat menerkam,

namun se-konyong2 pula si gundul satunya mengebut-kan sesuatu

dimuka hidungnya, dan tiba2 Sanjaya mencium bau wangi yang

keras dan membuat kepalanya menjadi pening dengan mendadak.

Sanjaya terhuyung kembali tak mampu bangkit, kesadarannya

hampir2 hilang dirangsang oleh bau wangi yang sangat keras yang

keluar dari kebutan si gundul tadi. Dan si jangkung ketika melihat

lawannya sempoyongan tak mampu bangun, tidak menyia-nyiakan

kesempatan itu. Maka rantainya disabetkan pada Sanjaya, dan

sekalipun Sanjaya masih setengah sadar la masih dapat melihat

datangnya serangan itu, maka ia mencoba menghindar, tetapi

ternyata rantai itu sempat meng hantam pahanya dengan hebat.

Tanpa ampun, Sanjaya jatuh terguling sebab dirasa kakinya lumpuh

dengan tiba2. Si Jangkung yang tadi dipanggil “ Srayapati “ oleh si

gundul, melihat lawannya jatuh terguling, tertawa bergelak, dan

disabetnya kepala Sanjaya sekali lagi. Maksudnya, dengan sekali

pukul itu akan membikin habis nyawa pemuda Sanjaya. Tetapi

sebelum rantai itu menyentuh kepala Sanjaya yang sudah

menggeletak, tiba2 Srayapati menjerit keras, rantainya terlempar

balik kcbelakang lalu menghantam mukanya sendiri hingga muka itu

menjadi robek dan berdarah. Srayapati merasa sakit bukan main

sebab dirasa mukanya tadi seperti kena hantaman palu godam yang

sekwintal beratnya.

Melihat Srayapati berhal demikian itu, kedua kawannya

terperanjat sebab mata mereka yang tajam melihat bahwa sewaktu

Srayapati menyabetkan rantainya, terlihat sebuah batu kerikil

melayang dan menghantam rantai itu hingga berbalik melabrak

muka Srayapati sendiri. Maka keduanya lalu bersiap, karena

mengetahui ada seorang pandai yang datang menolong Sanjaya.

Benarlah, tak lama dkempat itu muncul seorang tua yang berambut

panjang tersenyum memandang kedua orang gundul itu. Kemudian

, dengan tanpa memperdulikan pada Wirabumi dan kawairnya,

orang tua itu lalu mendekati Sanjaya yang sedang menggeletak.

Lalu dengan tangannya yg kelihatan kurus, diangkatnya Sanjaya

dan dipondong. Tetapi kedua kawan Srayapati tidak mau tinggal

diam. Melihat perbuatan orang tua itu, keduanya dengan hampir

berbareng, meloncat dan melancarkan serangan dari kanan kiri

kearah pinggang orang tua itu. Tetapi yang diserang se-akan2 tidak

mengetahui akan datangnya serangan itu. Diam saja. Namun

ternyata kedua kawan Srayapati itu menjadi kaget bukan main.

Sebab ketika kedua kepalan mereka menyentuh pinggang orang tua

itu, dirasa tangannya mereka menghantam kapas yang lunak.

Hingga keduanya merasa tangan mereka melesak kedalam

pinggang si orang tua. Dan belum lagi hilang kaget mereka, tibatiba

orang tua itu menggerakkan tubuh, dan lenyap dari pandangan

Wirabumi dan kerabatnya dengan Sanjaya dalam pondongannya.

Wirabumi dengan Srayapari dan kedua orang gundul itu merasa

sangat kaget melihat kesaktian orang yang menolong Sanjaya.

Dalam hati mereka bertanya-tanya siapa gerangan orang itu yang

belum pernah mereka lihat dan belum sekalipun mendengar

namanya. Tetapi setelah melihat bahwa Sanjaya dibawa kabur oleh

orang tua yang tidak mereka ketahui siapa, maka perhatian mereka

beralih kembali pada Ratu Suhita yang masih ada ditempat itu.

Maka dengan berbareng kedua orang gundul itu meloncat dengan

maksud membunuh Sri Ratu yang sedang terpojok tanpa ada

penolongnya

-ooo00ooo

Jilid 76

“ANUSAPATI.”

“Anggaplah bahwa yang terjadi adalah karma. Bukankah ayahanda Tunggul Ametung mengambil ibunda dengan cara yang tidak ibunda sukai? Dan bukankah ayahanda Tunggul Ametumg telah melakukan kesalahan yang merusak kehidup ibunda selanjutnya? Ibunda, dalam hal ini ibunda jangan menyalahkan diri sendiri. Karma akan berlaku dimana-pun hamba bersembunyi. Kutuk seorang pendeta di Panawijen pasti akan berlaku. Dan hamba-pun akan memanggul karma itu sebagai seorang putera dari Akuwu Tunggul Ametung.“

“Tidak, tidak anakku. Kau tidak bersalah. Kau adalah anakku. Aku mencintaimu seperti aku mencintai adik-adikmu. Karena itu, aku tidak rela akan kematianmu itu.”

Tangis Ken Dedes yang tertahan-tahan membuat hati Anusapati bagaikan tergores duri. Pedih. Tetapi ia masih bertahan dan berkata, “Hamba tahu ibunda mencintai hamba. Tetapi karma adalah diluar jangkauan kemampuan manusia. Dan keris yang ada ditangan Sri Rajasa itu-pun hanya sekedar sebagai lantaran. Sudahlah ibu. Jangan hiraukan hamba. Anak hambalah yang akan menggantikan hamba dihadapan ibunda. Jika hamba telah memanggul karma, maka akan bersihlah anak hamba dari kemungkinan-kemungkinan yang pahit. Dan biarlah keris itu kini tetap ditangan Sri Rajasa.”

“Tidak, tidak,“ Ken Dedes berdesis diantara sedu sedannya.

“Sudahlah ibunda, hamba mohon diri. Hamba mohon diri untuk selama-lamanya.”

“Anusapati, Anusapati,“ tiba-tiba ibundanya bangkit dan memeluknya erat-erat. Katanya, “Kau jangan membuat hatiku semakin parah Anusapati.”

Anusapati menarik nafas. Jawabnya. “Tidak ibunda. Hamba akan tersenyum apa-pun yang akan terjadi. Hamba akan menerimanya dengan ikhlas sehingga kepergian hamba tidak akan membuat hati ibunda terluka.”

“Tidak. Kau tidak boleh pergi,“ suara Ken Dedes lemah, “anakku, maafkan ibumu. Aku. aku telah membohongimu.”

Anusapati mengangkat wajahnya. Pelukan ibunya-pun terlepas perlahan.

“Kenapa ibunda membohongi hamba? Apakah ternyata ayah hamba bukan Akuwu Tunggul Ametung, atau apakah, ayahanda Tunggul Ametung tidak mati terbunuh oleh ayahanda Sri Rajasa?”

“Bukan, bukan itu.”

“Lalu?”

“Aku membohongimu. Keris itu tidak ada pada ayahandamu Sri Rajasa. Keris itu ada padaku.”

“O,“ Anusapati menarik nafas dalam-dalam, “jadi keris itu ada pada ibunda?”

Ken Dedes mengangguk-angguk. Betapa-pun ia menahan hati, tetapi air matanya meleleh semakin deras, “Ya Anusapati. Keris itu ada padaku.“

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, Tetapi ia bertanya, “Kenapa ibunda membohongi hamba? Apakah ibunda tidak menganggap penting bahwa keris itu tidak boleh berada disembarang tangan?”

“O, justru karena aku menganggap keris itu akan dapat menentukan kelanjutan sejarah Singasari, maka aku telah menyimpannya baik-baik.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Ibunda. Jika keris itu memang ada pada ibunda, apakah hamba dapat memohon agar keris itu ibunda berikan kepada hamba?“

“Itulah yang aku cemaskan Anusapati.“ jawab ibundanya, “Karena itulah, maka aku berbohong kepadamu. Tetapi ternyata kau menjadi berputus-asa dan seakan-akan kau membiarkan dirimu sendiri mengalami kematian, tanpa berbuat sesuatu.”

“Bukan ibunda. Jika memang keris itu ada pada ayahanda Sri Rajasa, hamba memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Tetapi ternyata keris itu ada pada ibunda. Karena itu, maka hamba mohon agar keris itu diserahkan kepada hamba. Hamba akan menyimpannya baik-baik.”

Ken Dedes menggelengkan kepalanya. “jangan anakku. Biarlah ibunda menyimpannya.“

“Apakah sebabnya ibunda tidak mengijinkan hamba menyimpan keris itu, karena justru jiwa hambalah yang kini paling terancam karenanya?“

“Tidak Anusapati. Aku akan menyimpannya baik-baik. Aku mengerti bahwa jiwamu terancam karenanya. Dengan demikian aku tidak akan menyerahkan keris itu kepada siapa-pun juga. Aku akan menyimpannya baik-baik sehingga dengan demikian jiwamu-pun akan selamat. Aku adalah ibumu Anusapari, dan aku akan selalu berusaha agar kau tidak terancam oleh bencana yang sama seperti ayahandamu Tunggul Ametung.“

“Mungkin ibunda berniat demikian,“ jawab Anusapati, “tetapi apakah ibunda dapat bertahan jika pada suatu saat ayahanda Sri Rajasa datang kepada ibunda dan minta agar keris itu diserahkan? Mungkin ibunda berkeberatan. Tetapi Sri Rajasa dapat memaksa Ibunda dengan cara apa-pun juga sehingga akhirnya keris itu jatuh ketangannya.”

Ken Dedes menggeleng. Katanya, “Anusapati, keris ini tidak boleh berpindah tangan. Aku akan mempertahankannya.”

“Tentu ayahanda Sri Rajasa akan dapat mengambilnya. Jangankan ibunda seorang perempuan, sedangkan keris itu dapat dicurinya dari tangan Kebo Ijo, seorang perwira prajurit Tumapel

yang memiliki kelebihan karena Kebo Ijo adalah saudara seperguruan pamanda Witantra.“

“O,“ Ken Dedes menundukkan kepalanya.

“Apakah ibunda pernah mengenal paman Witantra? Seorang Panglima yang tidak ada duanya di Tumapel waktu itu. Panglima pasukan pengawal yang justru tersingkir karena Ia ingin membersihkan nama Kebo Ijo dan dikalahkan oleh pamanda Mahisa Agni di arena? Ternyata semuanya telah terjebak. Semua orang telah berhasil dikelabui oleh seorang yang bernama Ken Arok.”

Ken Dedes menundukkan kepalanya sambil memegangi keningnya. Kini semuanya terbayang dengan jelas. Semuanya seakan-akan baru kemarin terjadi. Bagaimana rakyat Tumapel berkabung karena Akuwu Tunggul Ametung terbunuh. Kemudian dengan penuh kemarahan mereka menuduh Kebo Ijo telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Yang belum lagi air mata rakyat Tumapel yang menangisi kematian Tunggul Ametung itu kering, ia sudah memasuki jenjang perkawinan bersama seorang anak muda yang tampan pada waktu itu, dan seorang prajurit yang perkasa, yang bernama Ken Arok.

“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian seakan-akan membangunkan ibundanya dari lamunan, “hamba menunggu keputusan ibunda. Jika ibunda memperbolehkan biarlah keris itu hamba saja yang menyimpannya. Mungkin paman Mahisa Agni berpendirian lain dan menganggap perlu untuk menyimpannya. Hamba percaya bahwa jika keris itu ada pada pamanda Mahisa Agni, ayahanda Sri Rajasa tidak akan berani mengambilnya. Dengan terang-terangan atau dengan sembunyi-sembunyi, karena di Singasari, orang yang paling disegani oleh ayahanda Sri Rajasa adalah pamanda Mahisa Agni.“

Ken Dedes masih belum menjawab.

Dan Anusapati-pun berkata seterusnya, “Tetapi jika ibunda tidak berkenan menyerahkan keris itu kepada hamba, maka biarlah

hamba sekali lagi mohon diri. Tidak ada harapan lagi bagi hamba untuk membebaskan diri.”

“O, Anusapati.“ desis Ken Dedes, “kau berhasil memaksa aku untuk menyerahkan keris itu. Ternyata aku tidak dapat berbuat lain.“

Dada Anusapati menjadi berdebar-debar.

“Tetapi ingat anakku. Keris itu bukan alat untuk menyebarkan dendam. Jika kau dikejar oleh dendam dihatimu, dan kau mempergunakan keris itu, maka akan tumbuh dendam yang lain diantara keturunan Sri Rajasa. Dan dendam itu akan selalu menghantuimu setiap saat.“

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hamba tidak mendendam ibunda. Hamba telah mendengar pesan pamanda Mahisa Agni, bahwa hamba tidak diperkenankan berbuat apa-apa, selain berusaha menghindarkan diri dari bencana. Salah satu cara yang dapat hamba tempuh adalah menyembunyikan keris ini. Bukan untuk dipergunakan.“

Ken Dedes memandang puteranya sejenak. Di wajah itu memang terbayang wajah ayahandanya, Tunggul Ametung. Wajah yang semula sangat ditakutinya ketika Akuwu itu datang mengambilnya ke Panawijen dengan sorot mata yang merah.

“Kuda Sempanalah sumber dari bencana ini,“ desisnya didalam hati.

Tetapi semuanya itu sudah lama lampau. Semuanya itu sudah terjadi. Jika ia sendiri tidak ikut mengembangkan peristiwa-peristiwa berikutnya, maka akibatnya-pun tidak akan separah ini.

Ken Dedes mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Anusapati kemudian berkata, “Ibunda. Jika memang berkenan dihati ibunda, hamba mohon keris itu dapat hamba terima dan hamba simpan sebaik-baiknya. Mumpung kini pamanda Mahisa Agni masih berada di Singasari. Biarlah hamba mohon pertimbangan, apakah yang sebaiknya hamba lakukan dengan keris itu, dan barangkali pamanda

Mahisa Agni mempunyai cara yang baik yang dapat hamba lakukan.”

Ken Dedes masih ragu-ragu. Terbayang ditatapan matanya kecemasan yang mencengkam.

“Apakah ibunda ragu-ragu?“ bertanya Anusapati.

Dengan jujur Ken Dedes menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya Anusapati. Sebenarnyalah aku ragu-ragu. Tetapi aku kira tidak ada yang lebih baik bagimu daripada menyimpan keris itu. Tetapi sekali lagi, keris itu hanya dapat aku serahkan padamu untuk disimpan. Jika dengan demikian kau akan terhindar dari bencana.”

“Tentu ibunda. Hamba hanya sekedar akan menyimpan keris itu. Hamba tidak akan mempergunakannya.“

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian ia-pun berdiri dan melangkah perlahan-lahan masuk kedalam ruangan sempit disebelah biliknya.

Anusapati menunggu ibundanya dengan hati yang berdebar-debar. Ia belum pernah melihat keris buatan mPu Gandring itu. Seandainya ibundanya memberikan keris yang mana-pun juga, maka ia-pun akan mempercayainya.

Ketika ibundanya Ken Dedes keluar dari ruang sempit itu dengan membawa sebuah peti, maka hatinya kian bergejolak. Jika benar keris itu keris mPu Gandring, maka keris itulah yang sudah menghabisi jiwa ayahandanya.

“Inilah keris itu Anusapati,“ berkata Permaisuri itu dengan suara bergetar. Bukan hanya suaranya, tetapi tangannya yang memegang peti itu-pun bergetar.

Perlahan-lahan Ken Dedes meletakkan peti itu dipembaringan. Kemudian dengan hati-hati sekali ia merabanya sambil berkata, “Bukan maksudku untuk memperluas dendam disetiap hati, Anusapati, apakah kau mengerti maksudku?”

“Hamba mengerti ibunda.”

“Simpanlah keris ini baik-baik. Dan lupakanlah bahwa kau menyimpan keris ini, keris yang mempunyai sangkut paut dengan ayahandamu. Jika kau berhasil melupakannya, kau akan mendapatkan ketenteraman.”

“Hamba akan berusaha ibunda. Mudah-mudahan hamba dapat melupakannya bahwa hamba telah menyimpan dan menyembunyikan keris ini demi keselamatan hamba.”

Ken Dedes tidak menjawab. Tetapi hatinya bagaikan terpecah karenanya. Ia benar-benar harus memilih, Sri Rajasa atau Anusapati anaknya yang lahir dari tetesan darah Akuwu Tunggul Ametung.

“Inilah Anusapati,“ desis Ken Dedes sambil menyerahkan peti itu kepada Anusapati.

Ternyata bahwa tangan Anusapati-pun menjadi gemetar pula. Dengan dada yang berdebar-debar tangannya yang gemetar itu-pun kemudian membuka peti itu.

Dadanya berdesir ketika ia melihat keris yang ada didalam peti itu. Keris yang tidak seperti dibayangkannya, keris dengan sarung emas bertatahkan intan berlian. Bukan pula dengan ukiran yang indah. Tetapi keris itu disarungkan dalam wrangka yang sederhana dan ukirannya adalah sebatang kayu cangkring yang belum dibentuk.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memang pernah mendengar bahwa keris itu sebenarnya masih belum siap sama sekali ketika Ken Arok mengambilnya dan kemudian membunuh mPu Gandring agar mPu itu tidak dapat mengatakan, bahwa yang memesan keris itu kepadanya adalah Ken Arok yang kini bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Sesaat kemudian maka peti itu-pun ditutupnya kembali. Anusapati tidak sampai hati untuk menarik keris itu dari wrangkanya dihadapan ibunya. Ia yakin bahwa keris itu pasti masih bernoda darah yang membeku karena sepengetahuannya keris buatan mPu Gandring itu tidak pernah dimandikan.

Sejenak kemudian, setelah getar didadanya agak mereda, maka Anusapati-pun mohon diri kepada ibunya untuk membawa keris itu dan menyimpannya.

“Bagaimana jika seseorang melihat kau membawa peti itu Anusapati? Mungkin seseorang akan menjadi curiga dan mengatakan kepada orang lain bahwa kau membawa sebuah peti dari bilik ini.”

“Apakah ada orang yang mengetahui bahwa peti ini berisi keris mPu Gandring itu ibunda?”

“Tidak. Tetapi bahwa kau membawa sesuatu dari bilik ini memang dapat dicurigai. Mungkin aku sekedar berprasangka. Tetapi jika benar-benar demikian, dan kecurigaan itu sampai ditelinga Tohjaya dan ayahanda Sri Rajasa, maka ia pasti akan bertanya kepadamu atau kepadaku, apakah yang ada didalam peti itu.“

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Baiklah ibunda, jika demikian aku akan membawa kerisnya saja. Petinya biarlah aku tinggalkan disini.“

“Apalagi keris itu Anusapati,“ jawab ibunda, “ciri keris itu mudah sekali dikenal.”

Anusapati mengamati keris itu sekali lagi. Memang keris itu mudah sekali dikenal. Tetapi sepintas lalu, keris itu tidak berbeda dengan keris-keris yang lain. justru sederhana sekali bentuk dan warnanya.

“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian. “hamba akan membawanya tanpa peti ini. Keris hamba akan hamba tinggal didalam peti ini, dan hamba akan menggantinya dengan keris mPu Gandring ini.”

“Sudah aku katakan Anusapati,“ keris itu mempunyai ciri yang mudah dikenal oleh siapapun. Meski-pun orang itu tidak mengenalnya bahwa keris ini adalah keris mPu Gandring, tetapi mereka pasti akan segera tertarik melihat, kesederhanaan keris ini, apalagi ukirannya yang terbuat dari kayu cangkring.“

“Hamba akan membawanya dengan hati-hati ibunda. Hamba akan berusaha menyembunyikannya dibawah tangan hamba. Dari bangsal ini hamba akan langsung pergi ke bangsal hamba dan kemudian menemui paman Mahisa Agni untuk mengatakan kepadanya bahwa keris mPu Gandring itu ada ditangan hamba. Apakah sebaiknya yang pantas hamba lakukan menurut pertimbangan pamanda Mahisa Agni.”

Ken Dedes termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia-pun berkata, “Hati-hatilah. Rasa-rasanya keris itu sendiri masih menuntut karena kematian mPu yang membuatnya.”

“Itulah sebabnya keris ini harus disembunyikan. Dan seperti kata ibunda, aku akan berusaha melupakan, bahwa akulah yang telah menyembunyikan keris ini.”

“Terserahlah kepadamu Anusapati.”

Anusapati kemudian mengambil kerisnya yang terselip dilambung. Kemudian keris itu-pun diletakkannya didalant peti, setelah ia mengambil keris mPu Gandring.

Dengan hati-hati keris itulah yang kemudian disisipkan di pinggangnya. Ukirannya tepat berada dibawah tangan Anusapati yang tergantung disisi tubuhnya.

“Mudah-mudahan tidak ada orang yang melihatnya ibunda, agar tidak timbul persoalan-persoalan baru yang dapat mengguncangkan istana ini.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Namun ia masih berkata, “Anusapati, aku masih harus mencari jawab jika pada suatu saat Ken Arok datang kepadaku dan menanyakan keris itu seperti kedatanganmu kini.“

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi terbayang kecemasan di wajah ibunya meski-pun Ken Dedes itu kemudian berkata, “Tetapi biarlah jangan kau hiraukan. Aku akan berusaha untuk menjawabnya meski-pun saat ini aku belum menemukan alasan yang sebaik-baiknya.”

Anusapati masih termangu-mangu. Karena itu ia-pun tidak segera berbuat sesuatu.

“Kenapa kau bimbang?“ bertanya ibunya, “bagiku ternyata keris itu memang lebih baik ada padamu daripada ada pada Sri Rajasa.”

“Terima kasih ibu,“ berkata Anusapati kemudian, “sekarang hamba mohon diri.”

“Hati-hatilah Anusapati.”

Anusapati kemudian meninggalkan ibunya sendiri di dalam biliknya. Sejenak ia berdiri dipintu bangsal sambil memandang berkeliling. Ternyata tidak banyak orang yang berkeliaran di halaman. Seorang juru taman dan dua orang prajurit yang melintas.

Anusapati-pun kemudian melangkah menuruni tangga. Disebelah pintu duduk dua orang emban sambil menunduk dalam-dalam.

Dengan hati-hati Anusapatiptun melangkah meninggalkan bangsal itu. Tangannya hampir tidak melenggang sama sekali karena ia berusaha untuk menyembunyikan ciri-ciri keris yang aneh itu.

Sepeninggal Anusapati, kedua emban yang duduk disebelah pintu itu-pun saling berpandangan. Tetapi mereka masih tetap ragu-ragu untuk mendekati bilik Permaisuri. Menurut dugaan mereka, Permaisuri yang sedang sakit itu selalu saja marah-marah kepada puteranya laki-laki yang sulung itu.

Barulah ketika mereka mendengar Permaisuri memanggil, mereka-pun datang mendekat dan dengan hati yang berdebar-debar mereka memasuki pintu bilik. Ketika mereka melampaui pintu bilik mereka melihat Permaisuri itu berbaring dipembaringannya sambil berselimut kain berwarna kelam menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajahnya.

“Ambilkan air panas emban,“ suara Ken Dedes lambat dan parau.

Kedua emban itu-pun saling berpandangan sejenak. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Hamba tuan Puteri. Tetapi apakah hamba harus mengambil air panas untuk minum atau untuk keperluan yang lain?”

“Aku ingin minum air yang panas sekali. Taruhlah sedikit pangkal jahe dan gula kelapa.“

“O, hamba tuan Puteri.”

Salah seorang dari kedua emban itu-pun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan bilik itu untuk membuat air jahe bagi tuan Puteri Ken Dedes.

Dalam pada itu, Anusapati yang berjalan dengan hati-hati telah sampai di halaman bangsalnya. Langkahnya menjadi semakin cepat, meski-pun ia berusaha agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi siapa-pun juga.

Demikian Anusapati sampai di bangsalnya, maka ia-pun menarik nafas dalam-dalam. Keringatnya terasa terperas dari dalama tubuhnya oleh ketegangan meski-pun jarak yang dilewatinya sudah terlampau sering dilaluinya. Namun kali ini, dengan keris mPu Gandring dilambung, maka jarak itu rasa-rasanya menjadi sepuluh kali lipat. Setelah hatinya agak tenang, dan keringatnya berkurang, barulah ia masuk ke ruang dalam menemui isterinya yang sedang duduk bersama anak laki-lakinya.

“O, dari manakah ayahanda dalang?“ bertanya anak laki-lakinya, “tampaklah ayahanda lelah sekali. Keringat ayahanda membasahi seluruh tubuh.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Namun ia-pun kemudian tersenyum sambi berkata, “Udara panasnya bukan main. Ayahanda tidak pergi kemana-mana. Ayahanda baru datang dari regol depan, melihat-lihat kegiatan para prajurit.“

Anak laki-lakinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia-pun telah asyik lagi dengan permainannya.

Tetapi ternyata bahwa isteri Anusapati itu tidak secepat anaknya menerima keterangan itu. Dari sorot matanya masih tampak berbagai macam pertanyaan yang tidak terucapkan.

Sejenak kemudian maka Anusapati-pun segera masuk kedalam biliknya. Tetapi ia tidak mau membuat isterinya menjadi gelisah. Karena ia tidak bermaksud mengatakan apa-pun juga tentang keris itu dan tentang dirinya sendiri.

Sebelum isterinya menyusul masuk kedalam bilik itu, maka Anusapati-pun segera menyimpan keris mPu Gandring dan meletakkannya diantara beberapa pusakanya yang lain, sebelum ia dapat menyimpannya secara khusus.

“Aku harus menemui paman Mahisa Agni lebih dahulu,“ berkata Anusapati didalam hatinya, “aku harus mendapat petunjuk tentang keris itu.”

Karena itu, maka ia-pun segera minta diri kepada isterinya untuk pergi kebangsal pamannya.

“Kakanda akan pergi lagi?“ bertanya isterinya.

Anusapati tersenyum. Ia sadar, bahwa isterinya-pun melihat kesibukannya yang meningkat pada saat-saat terakhir. Tetapi ia masih belum mengatakan sesuatu.

“Aku akan menemui pamanda Mahisa Agni. Mungkin pamanda akan segera meninggalkan Singasari.”

Isterinya tidak menyahut. Tetapi dimatanya membayang kecemasan dan kegelisahan.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mencoba tersenyum dan berkata, “Jika kau memerlukan aku, perintahkanlah seorang prajurit pengawal memanggil aku di bangsal pamanda Mahisa Agni.”

Isterinya menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berani mendesak lebih jauh lagi meski-pun sebenarnya hatinya sudah bergejolak. Sebagai seorang puteri dari keturunan Maharaja di

Kediri, ia merasa asing di Singasari. Bahkan ia merasa bahwa ia berada dalam lingkungan yang sangat mencemaskan. Apalagi akhir-akhir ini Anusapati tampaknya sedang terlibat dalam suatu kesibukan yang sangat penting.

Beberapa keanehan yang dialaminya membuatnya semakin kecut. Bau yang sangat wangi, bunyi yang tidak dikenal dan wajah-wajah yang kadang-kadang memandanginya dengan tajamnya, seakan-akan sengaja menunjukkan kebencian dan dendam yang tertahan didalam hati.

Untunglah bahwa Ken Dedes bersikap sangat baik kepadanya. Dan bahkan Permaisuri itu rasa-rasanya bagaikan ibunya sendiri. Setiap kali ia selalu menghiburnya dan menenteramkan kegelisahannya. Adik-adiknya-pun sangat baik kepadanya. Adik-adik Anusapati yang lahir dari Ken Dedes. Tetapi adik-adik Anusapati yang lahir dari Ken Umang sama sekali acuh tidak acuh saja kepadanya.

“Tenangkan hatimu,“ berkata Anusapati, “bukankah disiang hari kita tidak pernah mengalami apa-pun juga.“

Isterinya menganggukkan kepalanya pula.

“Nah, baiklah. Hati-hatilah mengawasi anak kita. Ia menjadi semakin nakal. Jika ia keluar bangsal, suruhlah pemomongnya mengikutinya kemana ia pergi.”

“Baiklah kakanda,“ jawab isterinya, meski-pun kata-katanya itu bagaikan meloncat begitu saja dari bibirnya tetapi tidak dari hatinya.

Anusapati-pun kemudian mengambil kerisnya yang lain dan keluar pula dari biliknya. Dengan susah payah ia menahan perasaannya yang bergejolak, agar orang-orang yang melihatnya tidak menjadi curiga melihat sikapnya.

Perlahan-lahan Anusapati melangkah menuruni tangga. Di halaman bangsalnya yang ditanami berbagai macam pohon bunga ia berhenti sejenak. Dipetiknya setangkai bunga menur yang putih. Kemudian diselipkannya bunga itu diatas telinganya.

Langkahnya terhenti pula didepan gardu penjaga. Sambil tersenyum ia bertanya, “Berapa orang yang bertugas disini hari ini?”

Prajurit pengawal yang bertugas menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil menjawab, “Dua orang tuanku. Seperti biasanya.”

“O, Dan dimalam hari?“

Prajurit itu menjadi heran. Selama ini masih belum ada perubahan apa-apa. Namun demikian ia menjawab juga, “Lima orang tuanku dan dua orang penghubung. Tetapi pada saat-saat yang dianggap gawat, kadang-kadang ditambah lagi dengan dua orang pengawal.“

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, meski-pun ia hampir tidak mendengar jawaban itu. Apalagi ketika pengawal itu menambahkan, “Bahkan kadang-kadang masih ditambah lagi apabila perlu.”

Anusapati masih mengangguk-angguk. Bahkan masih tersenyum-senyum meski-pun angan-angannya sama sekali tidak melekat pada jawaban prajurit-prajurit itu.

“Jagalah baik-baik,“ katanya kemudian, “aku akan pergi sebentar.”

Sekali lagi prajurit itu menjadi heran. Pangeran Pati itu hampir tidak pernah memberikan pesan seperti itu disiangi hari. Jika ia pergi, maka ia-pun pergi sajalah. Jika ia datang, ia-pun hanya sekedar berpaling dan tersenyum sedikit. Memang kadang-kadang Putera Mahkota itu menghampiri mereka dan bercakap-cakap. Tetapi hampir tidak pernah berpesan seperti itu disiang hari, selain apabila memang sedang timbul persoalan. Itu-pun dimalam hari, seperti pada saat-saat terjadi hal-hal yang aneh disekitar bangsal ini.

Tetapi prajurit itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dalam-dalam. Demikian juga seorang kawannya. Dengan wajah yang aneh keduanya memandang Anusapati yang melangkah perlahan-lahan

meninggalkan mereka. “Tampaknya Pangeran Pati itu sedang gelisah,“ berkata seorang prajurit.

“Ya. Akhir-akhir ini tampaknya sibuk sekali. Hilir mudik setiap kali.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Dalam pada itu, Anusapati berjalan melintasi halaman istana Singasari menuju ke bangsal pamannya Anusapati selama ia berada di Singasari. Betapa-pun ia tergesa-gesa untuk segera menyampaikan ceritera tentang keris yang kini sudah ada ditangannya, namun langkah Pangeran Pati itu tampaknya tenang-tenang saja, dan bahkan seakan-akan tanpa maksud sama sekali.

Sementara itu, sepasang mata memandanginya dengan tajamnya dari balik gerumbul perdu agak jauh dari bangsal Mahisa Agni. Ketika ia melihat Anusapati dari kejauhan, ia-pun segera berlindung dibalik segerumbul pohon bunga soka merah.

Tetapi orang itu terkejut ketika tiba-tiba saja seorang juru Jaman yang membawa sebuah cangkul telah berdiri di sebelahnya sambil menggamitnya.

“Gila, kau lagi,“ ia menggeram.

Juru taman itu adalah Sumekar. Katanya sambil tersenyum, “Kau harus berterima kasih kepadaku, karena aku tidak menyebutmu akan membunuhku malam itu.”

Orang itu memandang Sumekar dengan tajamnya. Betapa dendam memancar dari sorot matanya itu.

“Jangan memandang aku begitu,“ berkata Sumekar, “aku dapat mati kaku disini.”

“Persetan. Kau memang harus mati.“

“Tidak. Kau sudah gagal membunuh aku. Seharusnya, kau tidak boleh berusaha mengulanginya.“

“Apa katamu? Nanti malam aku akan membunuhmu.”

“Benar?”

“Ya, pasti.”

Sumekar tidak segera menyahut. Dilontarkannya pandangan matanya kehalaman, dan ternyata Anusapati sudah tidak tampak lagi.

Prajurit itu-pun kemudian berpaling juga. Dan ia-pun kehilangan Anusapati pula.

“Kau memang gila,“ bentak prajurit itu, “nanti malam aku akan benar-benar membunuhmu.”

“Jangan.”

“Aku tidak peduli.”

“Jika demikian, sekarang aku akan melaporkan kepada para prajurit pengawal, bahwa kaulah yang akan membunuhku malam itu.”

“Gila,“ prajurit itu membelalakkan matanya.

“Jangan, nanti aku akan berteriak.”

Prajurit itu menjadi ragu-ragu. Jika juru taman itu benar-benar berteriak, maka para pengawal akan mendengarnya. Mereka akan berlari-larian datang dan ia kehilangan kesempatan untuk ingkar.

“Apakah aku harus berteriak.”

Tiba-tiba prajurit itu tersenyum, “Aku tidak bersungguh-sungguh. Sebenarnya malam itu-pun aku tidak ingin membunuhmu. Aku hanya ingin membuatmu jera, agar kau tidak menipuku lagi. Tetapi kau sudah berteriak. Seandainya kau tidak berteriak, aku-pun tidak akan benar-benar mencekikmu. Aku bukan pembunuh seperti yang kau sangka.”

“Benar begitu?”

“Ya. Bukanlah aku seorang prajurit. Prajurit pengawal? Tugasku adalah melindungi setiap orang didalam istana ini dan tentu bukan untuk membunuhmu.”

Tatapan Sumekar memancarkan keragu-raguan.

“Kau ragu-ragu,“ prajurit itu tertawa pendek, “tentu kau ragu-ragu. Tetapi tidak apa, pada saatnya kau akan mengetahui bahwa aku berkata sebenarnya. Aku benar-benar tidak akan membunuh. Selama aku menjadi seorang prajurit, aku belum pernah membunuh. Apalagi membunuh seorang juru taman, sedang dipeperangan-pun aku tidak membunuh.”

Sumekar memandang orang itu sejenak. Namun ia-pun ikut tertawa pula. Katanya, “Apa benar yang kau katakan?”

“Tentu, apakah kau masih belum percaya.“

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Baiklah. Aku percaya. Dan sekarang, apakah yang akan kau lakukan disini?”

“Dan kau?“ prajurit itu-pun bertanya.

Sumekar mengerutkan keningnya. Katanya, “Bukankah aku seorang juru taman yang bertugas di halaman ini. Aku mengurusi semua tanaman bersama beberapa orang kawanku. Tanaman perdu, pohon-pohon bunga, sampai pohon sawo kecik dan pohon beringin. Itu semua adalah tugas kami.”

Prajurit itu mengangguk-angguk.

“Nah, aku 'minta diri. Aku akan bekerja lagi.“

Prajurit itu tersenyum meski-pun didalam hati ia mengumpat-umpat. Ia tidak melihat kemana Anusapati menghilang. Tetapi ia hampir pasti, bahwa Anusapati masuk kedalam bangsal Mahisa Agni.

Sejenak kemudian Sumekar-pun meninggalkan prajurit itu seorang diri. Namun langkahnya tertegun ketika Sumekar mendengar prajurit itu berkata, “He, nanti malam aku pergi

kepondokmu. Aku akan membawa makanan yang paling enak buatmu.”

“Benar?“ bertanya Sumekar.

“Ya. Apakah kau tinggal dibelakang diantara para kamba Istana ini?”

“Ya, aku tinggal digubug paling ujung.“

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tunggulah, aku pasti datang.”

“Kau sangat baik. Aku minta maaf bahwa aku pernah berprasangka buruk terhadapmu.“

“Aku nanti malam bertugas. Tetapi lewat tengah malam, aku sudah beristirahat. Aku akan datang saat itu.”

“Lewat tengah malam?“ bertanya Sumekar, “kenapa lewat tengah malam? Tetangga-tetangga kadang-kadang marah jika mereka terganggu dimalam hari. Mereka bekerja sehari penuh, sehingga dimalam hari mereka ingin beristirahat.”

“Apakah kau sangka aku akan berteriak-teriak?”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Lalu jawabnya, “Baiklah jika demikian. Aku akan menunggu.“

“Baiklah, pergilah kepekerjaanmu.”

Sepeninggal Sumekarj prajurit itu menggeram. Katanya kepada diri sendiri, “Nanti malam aku harus dapat membunuhnya dengan cara apapun. Tanpa mengeluarkan tenaga aku akan dapat membunuhnya. Tetapi ia tidak boleh mendapat kesempatan untuk berteriak. Ia harus terdiam pada serangan yang pertama.”

Sambil menggeretakkan giginya prajurit itu-pun kemudian berlalu. Ia tidak mendapatkan bahan apa-pun juga tentang Anusapati. Juru taman itu telah mengganggunya lagi.

Namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa apabila benar-benar ia berusaha untuk membunuh juru taman itu, maka pada

suatu ketika juru taman itu akan kehilangan kesabarannya dan bahkan juru taman itu akan dapat membunuhnya tanpa mengadakan perlawanan apapun.

Dalam pada itu, Anusapati-pun telah sampai kebangsal pamannya. Dengan ragu-ragu Anusapati menceriterakan, apa yang sudah terjadi.

“Keris itu sekarang sudah aku simpan baik-baik paman.“

Mahisa Agni-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Dengan demikian, kau sudah mengurangi kemungkinan pahit yang dapat terjadi atasmu Anusapati. Keris mPu Gandring adalah keris yang sangat tajam. Bukan saja tajam ujungnya, tetapi juga tuahnya. Setiap goresan betapa-pun kecilnya, akan berarti maut.”

“Ya paman,“ jawab Anusapati. Lalu, “tetapi yang sekarang menjadi pikiranku, apakah yang dapat dikatakan oleh ibunda Permaisuri apabila ayahanda bertanya kepadanya tentang keris itu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Mungkin ayahanda Sri Rajasa dapat menjadi sangat marah dan menimpakan kesalahannya kepada ibunda.”

Mahisa Agni merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku kira ia tidak akan berani berbuat begitu terhadap ibundamu Anusapati. Selain Sri Rajasa harus mengingat asal usul kekuasaannya yang besar itu sekarang, juga karena ibundamu mempunyai seorang anak laki-laki yang digelari oleh rakyat Singasari sebagai Kesatria Putih. Disamping Kesatria Putih, ibundamu adalah adikku, yang ikut serta dalam perjuangan mempersatukan tanah Singasari. Setiap prajurit Singasari mengetahuinya dan setiap prajurit Singasari mengakuinya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia-pun kemudian bertanya, “Jadi apakah tidak mungkin ayahanda mengambil suatu tindakan mendahului peristiwa-peristiwa yang dapat terjadi menurut perhitungannya?”

“Maksudmu, Sri Rajasa mengambil tindakan terhadap ibundamu dan lebih daripada itu, berusaha untuk mendapatkan keris itu kembali?”

“Demikianlah paman.“

“Memang mungkin Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “namun jika demikian, maka persoalannya akan menjadi terbuka. Setiap prajurit di halaman istana ini harus memilih. Dan Sri Rajasa tidak akan berani menghadapi akibat itu pada saat ini.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Namun ia masih tetap dibayangi oleh kegelisahan tentang ibunya, “Paman, jika ayahanda Sri Rajasa tidak dapat mengendalikan kemarahannya, maka yang pertama-tama akan mengalami akibatnya adalah ibunda. Apakah aku dapat berdiam diri jika ayahanda Sri Rajasa berbuat sesuatu atas ibunda Ken Dedes meski-pun ibunda seorang Permaisuri, yang didalam persoalan keris itu pasti akan mempunyai pertimbangan tersendiri?“

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Kalanya, “Tentu kita tidak dapat membiarkan ibundamu menjadi sasaran kemarahan Sri Rajasa. Tetapi bukankah itu baru merupakan dugaan? Meski-pun demikian Anusapati, aku akan pergi kebangsal Permaisuri. Aku akan pura-pura menengoknya dan menungguinya. Jika pada saat itu Sri Rajasa datang, aku akan dapat membantu ibundamu didalam persoalan keris yang kau bawa itu.“ Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “tetapi bukankah keris itu sudah bertahun-tahun ada ditangan ibundamu dan Sri Rajasa tidak pernah bertanya sesuatu tentang keris itu? Tentu tidak dengan tiba-tiba saja ia datang hari ini dan mempersoalkannya. Kecuali jika ada seseorang yang melihat keris itu ditanganmu.”

“Aku kira tidak ada seorang-pun yang melihatnya paman.”

“Jika demikian tentu tidak ada pula yang menyampaikannya kepada Sri Rajasa, dan ia-pun tidak akan berbuat apa-apa hari ini.”

“Mudah-mudahan. Tetapi aku berharap agar paman dapat menengok ibunda barang sejenak. Mungkin ada orang yang

melihatnya diluar pengetahuanku. Aku akan segera kembali kebangsal. Jika ayahanda langsung mencari keris itu kebangsal. maka isteriku akan mati ketakutan.”

“Dan jika kau ada di bangsalmu?”

“Tentu aku akan mempertahankan keris itu. Jika ayahanda memaksa apaboleh buat. Seperti kata paman Mahisa Agni, persoalannya akan menjadi persoalan terbuka. Dan aku akan kehilangan baktiku kepada ayahanda Sri Rajasa. Aku berharap bahwa orang-orang Singasari akan mengetahui bahwa aku berbuat dengan wajar. Bukan berbuat sebagai seorang anak yang durhaka.“

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Itulah tekad yang sebenarnya yang tersimpan didada Anusapati. Tetapi Mahisa Agni masih berharap bahwa hal itu tidak akan segera terjadi. Meski-pun demikian, Anusapati memang harus berhati-hati menanggapi keadaan yang berkembang dengan pesatnya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Agni ingin melihat keris itu. Apakah benar keris yang diberikan kepada Anusapati itu keris mPu Gandring. Mungkin ibunya hanya sekedar menenangkan hatinya, sementara keris itu masih tetap disimpannya sendiri.

Karena itu, maka Mahisa Agni-pun kemudian berkata, “Anusapati, apakah aku dapat melihat keris itu.”

“Tentu paman. Apabila paman berkenan melihat keris itu, aku persilahkan setiap saat paman datang kebangsalku.”

“Aku akan datang sore nanti Anusapati. Setelah aku menengok ibundamu, maka aku akan singgah di bangsalmu.”

“Silahkan paman. Aku akan menerima paman dengan senang nati, bahkan aku ingin mendapat keterangan dari paman Mahisa Agni, apakah benar keris itu keris mPu Gandring yang telah mengambil nyawa ayahanda Akuwu Tunggul Ametung.“

Dada Mahisa Agni berdesir. Ternyata Anusapati-pun mempunyai keragu-raguan meski-pun tidak terlampau besar.

Demikianlah maka Anusapati-pun kemudian minta diri. Sementara Mahisa Agni-pun kemudian berkemas untuk pergi menghadap Permaisuri.

Dengan dada yang berdebar-debar Mahisa Agni memasuki bilik Ken Dedes. Dilihatnya adik angkatnya itu terbaring di pembaringan berselimut kain panjang yang berwarna kelam. Sementara dua orang emban duduk disebelah pintu bilik yang tidak tertutup rapat, “Kau kakang,“ desis Ken Dedes.

“Berbaringlah,” berkata Mahisa Agni sambil melangkah masuk.

Ken Dedes-pun kemudian menyuruh kedua embannya itu meninggalkannya.

“Rasa-rasanya aku benar-benar menjadi sakit kakang,“ desis Permaisuri itu, “kepalaku menjadi pening dan badanku menjadi dingin.“

Mahisa Agni-pun kemudian duduk diatas sebuah dingklik kayu yang dialasi dengan kulit domba yang lunak. Sambil memandang wajah Ken Dedes yang buram Mahisa Agni berkata, “Tuan Puteri terlampau memikirkan keadaan yang berkembang dengan cepatnya saat ini. Sebaiknya tuan Puteri mencoba melupakannya.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata dengan nada yang dalam dan perlahan-lahan seakan-akan hanya ingin didengarnya sendiri, “Tetapi bagaimana aku akan melupakannya. Baru saja Anusapati datang kepadaku dan minta keris mPu Gandring itu. Aku sudah mencoba untuk mengingkarinya, bahwa akulah yang membawa keris itu. Tetapi aku tidak berhasil.“

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin itu bukan kesalahan Pangeran Pati, tetapi hambalah yang bersalah. Namun bukan maksud hamba untuk mendorong Pangeran Pati berbuat sesuatu. Tetapi sebenarnyalah bahwa hamba ingin pengamanan yang lebih jauh lagi, karena keris itu akan dapat menjadi bahaya yang sebenarnya bagi Pangeran Pati.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Mahisa Agni berkata selanjutnya, “Tetapi hamba masih belum memikirkan bahwa hal itu memang dapat menimbulkan kepedihan pada tuan Puteri. Kegelisahan dan mungkin juga kecemasan, jika kemudian tuanku Sri Rajasa datang untuk mengambil keris itu.“

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.

“Itulah yang ingin hamba tanyakan kepada tuan Puteri apakah hal itu yang membuat tuan Puteri gelisah dan bahkan merasa benar-benar menjadi sakit.”

Ken Dedes menggelengkan kepalanya. Katanya, “Bukan kakang. Aku sudah pasrah kepada Yang Maha Agung. Aku akan mengatakan bahwa keris itu hilang. Aku tidak tahu lagi dimana aku menyimpannya karena sudah bertahun-tahun tidak aku hiraukan lagi.”

“Apakah tuanku Sri Rajasa akan mempercayainya?“

“Mungkin tidak. Tetapi aku bertekad untuk tidak mengatakan yang sebenarnya apa-pun yang akan terjadi atasku.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pada suatu saat, Ken Dedes memang sampai pada suatu pilihan, bahwa ia harus menyelamatkan anaknya.

“Apakah tuan Puteri benar-benar sudah mengambil keputusan demikian?”

“Ya. Aku sudah mengambil keputusan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tuan Puteri. Hamba rasa seandainya tuan Puteri berkata demikian, Sri Rajasa tidak akan dapat memaksa. Selama hamba berada di Singasari, sudah tentu hamba akan ikut bertanggung jawab. Jika pada suatu saat Sri Rajasa mengambil sikap yang keras, maka apaboleh buat. Tentu hamba tidak akan membiarkan tuan Puteri mengalami sesuatu akibat keris itu.”

Tiba-tiba saja Ken Dedes bangkit duduk dibibir pembaringan. “Apa yang akan kau lakukan kakang?“

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hamba tidak ingin berbuat apa-apa tuan Puteri. Tetapi adalah kuwajiban hamba melindungi tuan Puteri, karena hamba adalah saudara tua tuan Puteri. Memang yang paling berhak melindungi tuan Puteri adalah suami tuan Puteri, didalam hal ini adalah tuanku Sri Rajasa. Tetapi jika bahaya itu datang justru dari Sri Rajasa, maka aku masih berhak untuk berbuat sesuatu jika tuan Puteri menghendakinya.“

Ken Dedes memandang Mahisa Agni sejenak. Namun kemudian wajahnya segera tertunduk. Terbayang didalam rongga matanya Mahisa Agni itu dimasa mudanya. Ketika ia hampir saja menjadi korban nafsu Kuda Sempana yang ingin melarikannya dari Panawijen dan mengambilnya langsung dari bendungan ketika ia sedang mencuci. Mahisa Agni yang tiba-tiba muncul dari balik tanggul telah menyelamatkannya, setelah Wiraprana tidak berdaya berbuat sesuatu atas Kuda Sempana, yang saat itu menjadi prajurit Tumapel.

Kemudian dengan penuh tanggung jawab, Mahisa Agni selalu melindunginya. Bahkan kemudian ia mendengar pula, bahwa Mahisa Agni pernah berperang tanding melawan Mahendra dengan menyebut dirinya sebagai Wiraprana, sehingga ia berhasil mengalahkannya. Dan pada saat ia diambil dengan kekerasan dari Panawijen, Mahisa Agni hampir saja terbunuh oleh sebuah keris justru ia berusaha mempertahankannya.

Dan kini, ketika umurnya telah bertambah dengan puluhan tahun, Mahisa Agni masih tetap melindunginya sebagai seorang kakak yang bertanggung jawab, meski-pun sebenarnya ia hanyalah seorang saudara angkat.

Namun Ken Dedes tidak dapat melihat tembus kepusat jantung Mahisa Agni. Betapa hati anak muda yang bernama Mahisa Agni itu terguncang ketika ia mendengar dengan telinganya sendiri, bahwa Ken Dedes, gadis padepokan Panawijen itu mencintai seorang anak muda bernama Wiraprana. Pada saat itu Mahisa Agni hampir

menjadi gila karenanya, dan bahkan ia serdirilah yang hampir saja membinasakan Wiraprana karena hatinya yang gelap.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Masa muda yang penuh dengan khayalan-khayalan yang manis itu kini telah lalu. Panawijen yang hijau subur itu tinggallah kenangan, karena daerah itu kini menjadi kering kerontang. Panawijen telah menjadi kering karena kutuk ayahnya yang tidak dapat menahan luapan kemarahan dan memecahkan bendungan yang sanggup mengairi tanah persawahan. Meski-pun kini ada padukuhan baru yang hijau di pinggir padang Karautan, namun padukuhan yang baru ini tidak dapat memberikan kenangan semanis Panawijen yang lama, Panawijen tempat ia dibesarkan sampai saatnya ia menjadi seorang gadis remaja.

Dalam pada itu selagi Ken Dedes tenggelam didalam dunia kenangan, Mahisa Agni-pun duduk sambil menundukkan kepalanya pula. Dalam keheningan itu-pun ia telah dibayangi oleh berbagai persoalan. Tetapi berbeda dengan Ken Dedes yang mengenangkan masa lalunya, Mahisa Agni sedang mereka-reka apakah yang dapat dilakukan seandainya Sri Rajasa tiba-tiba saja mengambil sikap yang keras dan terbuka.

“Mungkin Sri Rajasa telah mempersiapkan diri,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “lewat beberapa orang Senapati yang dapat dipengaruhinya untuk menyingkirkan Anusapati, ia sudah menyiapkan sepasukan prajurit untuk bertindak dengan cepat didalam istana ini. Jika persoalannya telah dapat dikuasainya didalam istana, maka ia akan dapat menyebarkan keterangan sekehendak hatinya, dan memberikan kepercayaan kepada prajurit yang tersebar di seluruh Singasari. Bahkan para Panglima yang ada dipusat pemerintahan ini-pun akan dapat kelabuinya. Sri Rajasa dapat saja menuduh Anusapati melawan kehendaknya dan tidak lagi tunduk kepadanya. Dan ia masih dapat membuat alasan-alasan yang bagaimana-pun juga.”

Namun dalam pada itu, selagi Ken Dedes mengenangkan masa-masa remajanya yang indah, dan yang menjadi semakin indah

didalam bayangan masa lampau, dan selagi Mahisa Agni sibuk dengan perhitungan yang mendebarkan, Sri Rajasa sendiri sedang duduk merenung. Semua orang yang mendekatinya diusirnya, seakan-akan ia ingin duduk dalam kesepian. Dalam dunianya yang terasing.

Seperti Ken Dedes dan Mahisa Agni, maka yang bermain didalam diri Sri Rajasa-pun adalah angan-angannya. Angan-angan yang bergeser dari waktu kewaktu. Dari masa lampau kemasa kini dan kemasa yang mendatang.

Dengan nafas yang berat, Sri Rajasa duduk bersandar tiang di serambi belakang bangsalnya yang sepi. Dilihatnya dedaunan yang bergerak ditiup angin. Rasa-rasanya angin yang bertiup perlahan-lahan itu telah mengusap keningnya pula, seperti usapan tangan yang lembut.

Ken Arok, yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu belum pernah merasakan kelembutan tangan ibunya di masa kanak-anak. Sejak bayi ia sudah tersisih dari keluarganya dan hidup dalam lingkungan yang tidak terpuji.

Dalam suatu dunia yang gelap. Ia hidup dari rumah seorang pencuri, berpindah ke rumah seorang penjudi dan perampok. Kemudian hidup dipandang Karautan dan menghantui sesamanya. Sehingga pada suatu saat ia terlempar kedalam istana yang megah ini.

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam. Adalah jauh berbeda dengan angan-angan Mahisa Agni dan Anusapati, bahkan Ken Dedes. Pada saat terakhir, Sri Rajasa seakan-akan mulai mampu melihat kedalam dirinya sendiri. Seakan-akan ia dihadapkan pada sebuah bayangan yang jelas tentang dirinya dan segala perbuatannya.

“Sudah cukup,” tiba-tiba saja ia berdesah, “aku sudah cukup lama menerima kurnia Yang Maha Agung. Mungkin aku memang kekasih dewa-dewa. Tetapi aku tidak dapat ingkar melihat

kenyataan pada diri Ken Dedes. Ia adalah perempuan pinunjul yang pantas melahirkan seorang besar di tanah ini.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang kedalam semak-semak yang rimbun, ia tidak melihat lagi warna bunga-bungaan yang beraneka. Tetapi yang membayang adalah semak-semak di padang Karautan. Semak yang bahkan kadang-kadang berduri. Tetapi ia sama sekali tidak menghiraukan. Apabila ia ingin bersembunyi, maka ia-pun menyusup saja kedalamnya tanpa menghiraukan kulitnya yang berjalur-jalur merah tersangkut duri.

“Betapa hidup ini bagaikan mimpi di malam-malam yang panjang dan terputus-putus,“ berkata Ken Arok didalam hatinya. “Seperti hidupnya sendiri bagaikan mimpi yang patah-patah hampir tidak dapat dipercaya. Sebagai seorang anak liar di padang Karautan, kini ia cepat duduk dengan megahnya di atas tahta Singasari.”

“Aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada padaku. Didalam kamukten ini aku tidak berusaha membersihkan diriku, tetapi aku justru lebih banyak menodai diriku sendiri dengan berbagai macam kesenangan dan cita-cita yang menyimpang dari keinginan Yang Maha Agung,” desisnya ketika terbayang di wajahnya seorang gadis yang ditemuinya dihutan perburuan dan berhasil menjebaknya. Seperti kehidupan liar yang ditempuhnya dimasa mudanya, dengan memperkosa gadis-gadis, maka ia-pun terjebak dalam kehidupan yang liar bukan atas kehendaknya. Maka ia-pun terjebak untuk mengambil Ken Umang menjadi isterinya, sehingga lahirlah anak demi anak. Namun kini ia melihat, bahwa ia tidak dapat lagi mengelakkan pengaruh perempuan itu yang justru semakin lama terasa semakin kuat.

Ken Arok bergeser setapak. Angan-angannya menjadi semakin tajam menyoroti dirinya sendiri. Dan ia-pun melihat dirinya sendiri kini telah berdiri di tengah-engah arus sungai yang deras. Berhenti atau terus, ia sudah terlanjur basah. “Jika aku harus berjalan terus, aku tidak lagi berbuat karena suatu keyakinan.“ ia berkata kepada

diri sendiri, “yang aku lakukan hanyalah karena semuanya sudah terlanjur. Dan didalam saat yang paling sulit, tentu aku tidak akan dapat melepaskan Tohjaya yang tamak itu.”

Namun Ken Arok tidak juga dapat menyalahkan Tohjaya. Ia telah ikut membentuk Tohjaya menjadi seorang pemimpin. Seorang yang bercita-cita terlampau tinggi tanpa mengingat alas yang diinjaknya. Jika perlu, ia akan berdiri diatas alas mayat Anusapati dan siapa-pun juga untuk mencapai singgasana Singasari.

Bayangan-angan itulah agaknya yang selalu menghantui Ken Arok. Bayangan-angan yang saling berbenturan antara warna-warna yang bertentangan didalam hatinya.

Namun dalam pada itu, selagi Ken Arok itu merenung, terdengar desir perlahan-lahan mendekatinya. Ketika ia berpaling dilihatnya dikejauhan, Tohjaya berdiri termangu-mangu. Agaknya ia sudah mendengar dari para prajurit yang bertugas, bahwa Sri Rajasa sedang tidak mau dikunjungi oleh siapapun. Tetapi agaknya Tohjaya masih ingin juga mencobanya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Justru pergolakan di dalam hatinya itulah yang telah mendorongnya untuk memanggil Tohjaya menghadap, karena ia tidak mau dengan tiba-tiba saja bersikap lain.

Dengan dada yang berdebar-debar Tohjaya mendekati Ken Arok. Beberapa langkah daripadanya ia berhenti termangu-mangu. Baru ketika Ken Arok mengangguk, ia maju lagi beberapa langkah.

“Kenapa kau ragu-ragu?“ bertanya Ken Arok.

“Ampun ayahanda,“ sahut Tohjaya, “para prajurit mengatakan bahwa ayahanda sedang ingin duduk sendiri.”

“Ya, aku tidak ingin diganggu oleh masalah-masalah yang membuat kepalaku bertambah pening. Aku ingin beristirahat barang sejenak, karena badanku-pun terasa kurang enak.“

“Ampun ayahanda. Hamba tidak ingin membicarakan sesuatu. Hamba hanya ingin datang menghadap.”

Sri Rajasa mengangguk-angguk. “Baiklah. Jika demikian, duduklah sebaik-baiknya. Aku agak segan berbicara tentang persoalan-persoalan yang dapat memberati pikiranku hari ini.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Namun ia-pun berkata, “Ampun ayahanda. Hamba memang tidak ingin mempersoalkan sesuatu. Tetapi hamba hanya ingin sekedar bertanya.”

“Apa?”

“Apakah sakit ibunda Permaisuri masih cukup parah ayahanda?”

“O,“ Ken Arok merenung sejenak. Lalu, “aku tidak tahu. Mudah-mudahan sakitnya sudah sembuh sama sekali.“

“Sebenarnya ibunda Ken Umang ingin menghadap ibunda Permaisuri untuk sekedar menengoknya. Tetapi ibunda Ken Umang agak merasa takut kalau-kalau ibunda Permaisuri tidak menerimanya.”

“Kenapa tidak menerima?”

“Mungkin karena ibunda Permaisuri ingin beristirahat, tetapi mungkin juga karena ibunda tidak ingin bertemu dan berbicara didalam keadaan itu dengan ibunda Ken Umang.”

“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu,“ sahut Sri Rajasa.

“Itulah sebabnya maka ibunda mohon pertimbangan ayahanda.”

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Sebenarnya ia tidak senang mendengar pertanyaan itu. Ia sedang menenteramkan hatinya dan menerawang hidupnya sendiri. Namun demikian ia tidak sampai hati untuk menolak pertanyaan itu.

Karena itu, maka Sri Rajasa kemudian menjawab, meski-pun seakan-akan asal saja terlontar dari mulutnya, “jangan pergi sekarang.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Tetapi menilik sikap Sri Rajasa, Tohjaya-pun sadar, bahwa ayahandanya itu sedang dirisaukan oleh sesuatu yang tidak dimengertinya.

“Mungkin kakanda Anusapati,“ berkata Tohjaya didalam hatinya. Baginya setiap persoalan yang tidak menyenangkan bagi ayahandanya, adalah persoalan yang ditumbuhkan oleh Anusapati.

Namun jawaban itu sebenarnya bagi Sri Rajasa adalah jawaban yang dapat diucapkannya waktu itu. Dengan demikian maka Tohjaya pasti tidak akan bertanya apa-pun lagi.

Tetapi ternyata bahwa Tohjaya masih tetap tidak beranjak. Bahkan sejengkal ia bergerak maju sambil bertanya, “Ayahanda. Tampaknya ayahanda sedang memikirkan sesuatu. Jika berkenan dihati ayahanda, apakah hamba dapat mengetahuinya dan apakah hamba dapat ikut membantu memecahkannya?“

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun kemudian mencoba tersenyum dan menjawab, “Tidak Tohjaya. Tidak ada apa-apa yang sedang aku pikirkan. Aku hanya ingin beristisahat karena aku terlampau lelah.“

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dihatinya ia masih saja diganggu oleh sikap dan kerut-merut di wajah ayahandanya.

“Tohjaya,“ berkata Sri Rajasa, “tinggalkan aku seorang diri. Sebentar lagi aku akan beristirahat dipembaringan. Rasa-rasanya badanku terlampau letih beberapa hari ini.”

Tohjaya memandang ayahanda dengan heran. Biasanya ayahnya tidak pernah tampak begitu letih dan lesu. Sri Rajasa adalah seorang yang penuh gairah menanggapi kehidupan ini. Wajahnya selalu memancarkan luapan perasaan dan matanya bagaikan menyala. Sri Rajasa tidak pernah menjadi tampak terlalu murung dan merasa seperti saat itu.

“Ayahanda,“ tiba-tiba saja Tohjaya bertanya, “apakah ayahanda merasa bahwa badan ayahanda tidak enak?”

“Tidak Tohjaya, aku tidak apa-apa. Aku hanya letih. Akhir-akhir ini aku menghadapi banyak persoalan yang menyangkut kelangsungan hidup Singasari.”

“Tetapi ayahanda tidak memberitahukan kepada hamba. Jika hamba mengetahuinya, maka biarlah hamba ikut memikirkannya. Selama ini ayahanda selalu mempersoalkan keadaan Singasari dengan hamba. Dan ayahanda menganggap bahwa pikiran hamba baik juga dipertimbangkan oleh ayahanda.”

“Ya. Aku memang memerlukan bantuan pikiranmu. Aku-pun akan mendengarkan pendapatmu. Tetapi tidak sekarang. Aku ingin beristirahat. Aku ingin tidur senyenyak-nyenyaknya.”

Tohjaya menjadi semakin heran. Tetapi ia tidak mau menimbulkan kegelisahan yang semakin mengganggu ayahandanya, sehingga karena itu ia tidak mendesaknya lagi. Bahkan ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Katanya, “Ayahanda. Mungkin ayahanda memang terlampau lelah. Sudah lama ayahanda tidak pergi berburu.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak menyahut.

“Apakah ayahanda tidak ingin berburu? Dengan demikian ayahanda dapat melupakan kelelahan yang agaknya mulai mengganggu.“

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam.

“Jika ayahanda berkenan, hamba akan ikut serta berburu untuk mendapatkan kesegaran baru.”

Sri Rajasa memandang Tohjaya sejenak. Lalu katanya, “Dalam keadaan serupa ini, aku tidak dapat meninggalkan Istana.”

“Bukankah ada para Panglima yang dapat ayahanda serahi pemerintahan?”

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Namun tanpa disangkanya Tohjaya berkata, “O, apakah ayahanda berpikir tentang pamanda Mahisa Agni yang kini sedang berada di istana ini. Ayahanda dapat mengusirnya. Biarlah ia segera pergi dan kembali ke Kediri.”

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Dan karena itu Tohjaya berkaca terus, “Ayahanda, kehadiran pamanda Mahisa Agni

memang memberikan pengaruh yang buruk di istana ini. Kakanda Anusapati selalu saja hilir mudik dari bangsalnya sendiri kebangsal ibunda Permaisuri, kemudian ke bangsal pamanda Mahisa Agni. Bukan hanya sekali dua kali sehari, tetapi berulang kali. Kemudian pamanda Mahisa Agni pergi mengunjunginya dan kemudian pergi ke bangsal ibunda Permaisuri.”

“Ken Dedes sedang sakit Tohjaya. Adalah wajar sekali jika pamanmu Mahisa Agni menungguinya. Ia adalah saudara tua ibundamu Permaisuri. Kegelisahan Anusapati-pun dapat dimengerti. Bukankah ibunya sedang sakit. Mungkin ia memang diminta oleh ibundanya untuk menghubungi pamannya. Tidak hanya sekali, mungkin sekali dua kali sehari.”

“Tetapi tentu bukan karena sakit ibunda Permaisuri saja ayahanda.”

“Jangan berprasangka terlalu jauh Tohjaya.”

“Tetapi sikap kakanda Anusapati sudah menjadi semakin memuakkan. Bukankah kita sudah berkeputusan untuk mengusirnya dari kedudukannya dan dari istana ini? Ayahanda, jika ayahanda tidak cepat bertindak didalam keadaan ini, maka ia akan sempat memperbaiki kedudukannya.“

Dada Sri Rajasa berdesir. Ia memang pernah mengatakan, bahwa sebenarnya Anusapati tidak diperlukannya lagi. Tetapi ketika ia mendengarnya hal itu sekali lagi, rasa-rasanya sesuatu bergetar dihatinya. Sekilas terbayang cahaya yang silau pada diri Ken Dedes. Dan Ken Arok pernah mendengar bahwa cahaya yang demikian adalah pertanda bahwa orang itu akan meneteskan keturunan agung.

Tohjaya memandang wajah ayahnya yang berubah-rubah itu. Kadang-kadang tegang, namun kadang-kadang seolah-olah Sri Rajasa sudah pasrah pada keadaan yang terjadi. Bahkan sekali-sekali ia memejamkan matanya dan melihat didalam kekelaman, dunia yang tidak dapat dimengertinya membentang dihadapannya.

“Ayahanda,“ Tohjaya menjadi cemas.

“Aku memang lelah sekali Tohjaya,“ jawab Sri Rajasa, “aku ingin beristirahat sejenak. Apakah keperluanmu sudah selesai?”

“Hamba tidak mempunyai keperluan yang khusus ayahanda. Hamba hanya ingin menghadap ayahanda. Barangkali ada titah ayahanda yang harus hamba lakukan.“ Tohjaya berhenti sejenak. Lalu, “atau, jatuhkanlah perintah atas namba ayahanda. Hamba akan melakukannya. Dengan, beberapa orang prajurit, hamba dapat menyelesaikan tugas ini.”

“Maksudmu membunuh Anusapati?”

Dada Tohjaya berdesir. Tetapi ia mengangguk sambil menyahut, “Hamba ayahanda.”

“Ah, kau. Apakah kau masih saja berusaha menyembunyikan kenyataan. Beberapa kali usaha itu dilakukan, tetapi selalu gagal. Kiai Kisi bahkan telah terbunuh. Tidak mustahil bahwa sebenarnya Anusapati telah menciun rencana itu.”

“Aku memang pernah mendengar tentang Kiai Kisi meski-pun tidak begitu jelas. Tetapi itu tentu karena kebodohannya.”

“Kemudian sepasukan prajurit yang berusaha membinasakan Kesatria Putih. Namun justru senjata prajurit-prajurit yang menyamar itu tertumpuk dipintu gerbang pada pagi harinya. Apakah kau masih mempunyai rencana lain?”

“Ayahanda, hamba tidak ingin berpura-pura. Jika hamba harus membunuhnya, maka hamba akan datang dengan dada tengadah dan membunuhnya. Melawan atau tidak melawan.”

“Kau akan menjadikan persoalan ini terbuka?”

Tohjaya ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk. “Ya. Apaboleh buat.“

“Kau memang bodoh sekali Tohjaya.”

Tohjaya terkejut mendengar kata-kata yang keras itu. Hampir tidak pernah Sri Rajasa mengatakan demikian tentang dirinya.

Karena itu untuk beberapa saat lamanya ia tidak dapat berkata apa-pun juga.

“Tohjaya,“ berkata Sri Rajasa, “saat ini Mahisa Agni berada di Singasari. Ia dapat berbuat banyak apabila kita terlibat dalam benturan terbuka.”

“Tentu tidak ayahanda. Jika ayahanda menjatuhkan perintah kepada para Panglima untuk menangkapnya. Betapa-pun kuatnya pamanda Mahisa Agni, namun para Panglima adalah bukan orang kebanyakan pula.”

“Tohjaya,“ tiba-tiba suara Sri Rajasa merendah, “tinggalkan aku seorang diri. Aku lelah sekali. Aku sedang segan sekali memikirkan apa-pun juga, termasuk Anusapati dan Mahisa Agni. Bahkan tentang Singasari sekalipun.”

Tohjaya menjadi semakin termangu-mangu. Ia tidak dapat mengerti sikap ayahandanya yang belum pernah dijumpainya itu.

Namun kesimpulan dihatinya adalah, bahwa ayahandanya memang benar-benar sedang terlalu lelah dan benar-benar ingin beristirahat.

Karena itu, maka ia-pun kemudian berkata, “Sudahlah ayahanda. Agaknya ayahanda memang benar-benar harus beristirahat. Perkenankan hamba mohon diri.”

Sri Rajasa mengangguk. “Ya. Aku memang akan beristirahat sama sekali tanpa persoalan apapun.”

“Baiklah ayahanda. Dan hamba akan mengatakannya kepada ibunda Ken Umang, bahwa untuk saat ini ibunda Ken Umang tidak sebaiknya pergi kebangsal ibunda Permaisuri.”

“Ya,“ jawab Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu agar Tohjaya tidak mempersoalkannya lagi.

Tohjaya-pun segera minta diri. Di halaman bangsal Sri Rajasa ia berhenti sejenak. Dilihatnya seorang prajurit berdiri termangu-mangu dikejauhan.

“He,“ katanya kepada pengawalnya, “apakah prajurit itu ingin menghadap aku?”

“Hamba akan bertanya kepadanya tuanku,“ jawab prajurit itu.

Sejenak kemudian seorang pengawal Tohjaya mendekati prajurit yang termangu-mangu itu. Ketika ia bertanya kepadanya, maka prajurit itu menjawab, “Aku akan menyampaikan sesuatu kepada tuanku Tohjaya.”

“Marilah. Tuanku Tohjaya melihat kau termangu-mangu. Karena itu aku diperintahkannya bertanya kepadamu.”

Prajurit yang termangu-mangu itu-pun kemudian dibawa menghadap. Dengan dahi yang berkerut merut Tohjaya bertanya, “Apa yang akan kau katakan?”

“Ampun tuanku,“ berkata prajurit itu dengan ragu-ragu.

“Jangan ragu-ragu. Katakan yang ingin kau katakan. Bahkan seandainya kau mempunyai permintaan sekalipun.”

“Hamba tuanku. Memang ada yang ingin hamba katakan.“ ia berhenti sejenak. Lalu, “apakah hamba diperkenankan mengucapkannya.”

“Katakan. Mungkin tentang kuda atau tentang senjata atau kau prajurit yang sering ikut bersamaku berburu?”

“Ya tuanku. Hamba kadang-kadang mengawal tuanku didalam dan diluar istana.”

“Aku tahu.”

“Hamba, tuanku, sebenarnyalah hamba ingin mengatakan sesuatu tentang Putera Mahkota.”

“He?“ Tohjaya terbelalak.

“Tentang kakanda tuanku itu. Kesibukannya luar biasa setelah pamanda Mahisa Agni ada di halaman istana.”

Tohjaya tidak menyahut. Dibiarkannya orang itu berbicara terus. Katanya, “Apakah tuanku tidak menaruh perhatian terhadap kesibukan kakanda tuanku itu?”

Tohjaya menganguk dan berkata, “Tentu, tentu.“

“Nah, hamba menyaksikan sendiri, tuanku Pangeran Pati itu selalu mondar mandir dari bangsal tuan puteri Ken Dedes kebangsal pamanda tuanku Mahisa Agni.”

“Aku sudah tahu. Tetapi apa yang akan kau katakan selanjutnya?”

“O,“ orang itu menjadi kecewa, “jadi tuanku sudah mengetahuinya.”

“Aku sudah tahu. Sekarang katakan yang ingin kau katakan tentang kakanda Anusapati,“ geram Tohjaya.

“Itulah yang akan hamba katakan tuanku.“

“Hanya itu?”

“Hamba tuanku.”

Wajah Tohjaya menegang sesaat. Namun kemudian sambil mendorong orang itu dengan kakinya sehingga orang itu terjatuh berguling ditanah.

“Pergi kau penjilat bodoh,“ bentak Tohjaya yang hatinya memang sedang gelap, “aku tidak perlu keteranganmu itu.”

Orang itu dengan takutnya bangkit dan duduk ditanah. Tetapi ia sama sekali tidak berani memandang lagi wajah Tohjaya yang sedang marah.”

Tohjaya-pun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Dengan tergesa-gesa ia-pun pergi meninggalkan prajurit yang duduk dengan kepala tunduk itu diiringi oleh para pengawalnya.

Ketika Tohjaya sudah tidak tampak lagi, maka orang tu-pun segera berdiri sambil mengumpat perlahan-lahan. Tetapi ia tidak berani menunjukkan kemarahannya itu kepada orang lain. Sekali ia

berpaling memandang para prajurit yang bertugas di bangsal Sri Rajasa. Ketika ia melihat prajurit-prajurit itu tersenyum, sekali lagi ia mengumpat.

Dengan tergesa-gesa ia-pun kemudian meninggalkan halaman bangsal itu. Mulutnya tidak hentinya mengumpat, meski-pun tidak ada seorang-pun yang mendengarnya.

Prajurit itu tertegun ketika ia mendengar suara seseorang yang tertawa dibalik gerumbul. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang juru taman yang berjongkok sambil menyiangi sebatang pohon. Namun prajurit itu tahu pasti bahwa orang itulah yang sedang tertawa.

“Kenapa kau tertawa he?“ prajurit itu membentak.

Juru taman itu berpaling sambil menjawab, “Aku tidak bermaksud tertawa. Tetapi aku tidak dapat menahannya.”

“Gila. Aku bunuh kau,“ orang itu membelalakkan matanya, “kau juru taman yang gila itu. Seharusnya kau benar-benar sudah mati.”

Wajah juru taman itu menjadi pucat.

“Jangan menyesal. Aku memang akan membunuhmu.“

“jangan.”

“Apa peduliku. Aku akan mencekikmu.“

“Aku akan berteriak.”

“Persetan.”

“Prajurit-prajurit itu akan datang kemari. Dan aku akan berceritera bahwa pada malam hari itu, kau pulalah yang akan membunuhku. Sekarang kau berusaha memfitnah Pangeran Pati dengan mengatakan ceritera-ceritera bohong kepada tuanku Tohjaya. Kau dapat dituduh mengadu domba.”

“Gila, gila kau.”

“Nah, aku akan berteriak sekarang. Matamu menjadi liar. Kau benar-benar akan membunuhku.“

Mata prajurit itu memang menjadi liar. Dipandanginya prajurit-prajurit yang bertugas didepan bangsal. Belum begitu jauh.

Jika juru taman itu berteriak, diantara mereka pasti akan datang dan mengusut persoalannya.

“Aku akan berteriak,“ juru taman itu mengulang.

“Jangan, jangan.”

“Apa peduliku. Aku akan berteriak.”

“Jangan, jangan. Aku tidak benar-benar akan membunuhmu. Bukankah aku sudah mengatakan. Aku akan berkunjung ke rumahmu membawa oleh-oleh buat anak binimu.”

“Aku tidak mempunyai anak bini. Aku hidup sendiri.”

“O, jika demikian aku akan membawa oleh-oleh buatmu.”

“Bawalah uang sebanyak-banyaknya. Aku lebih senang kau membawa uang.”

Prajurit itu membelalakkan matanya. Tetapi ia-pun segera memaksa dirinya untuk tersenyum.

“Baik, baik. Aku akan membawa uang buatmu. Aku benar-benar akan datang malam nanti. O, malam nanti adalah malam yang baik untuk berkunjung ke rumahmu.”

“Terima kasih. Aku akan menunggumu.“

Prajurit itu tidak menyahut lagi. Sambil mengkibas-kibaskan pakaiannya yang kotor oleh debu maka ia-pun kemudian meninggalkan juru taman itu sendiri.

Sepeninggal prajurit itu, Sumekar-pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hati, “Tentu bukan ia sendiri penjilat didalam istana ini. Tentu masih banyak orang-orang yang berusaha mengambil keuntungan dari setiap perkembangan persoalan. Jika penjilat-penjilat semacam itu masih juga mendapat kesempatan, maka istana ini pasti akan segera terbakar.“

Sejenak Sumekar berdiri termangu-mangu. Kemudian ia-pun meninggalkan pohon yang sedang disianginya. Ia tiba-tiba saja ingin berbicara dengan Anusapati atau Mahisa Agni.

“Mungkin ada perkembangan yang belum aku mengerti,“ berkata Sumekar didalam hati.

Sumekar-pun kemudian meninggalkan tempat itu. Sambil membawa alat-alat seorang juru taman, maka ia-pun pergi ketaman di halaman bangsal Mahisa Agni. Ternyata seorang juru taman yang lain sedang membersihkau daun-daun kuning yang berguguran karena angin yang agak kencang.

“He, dimana kau?“ bertanya juru taman itu kepada Sumekar.

“Aku sedang menyiangi pohon ceplok piring itu.”

“Halaman ini menjadi sangat kotor. Bukankah ini tugasmu?”

“Ya,“ jawab Sumekar, “baiklah, aku selesaikan.“

Juru taman itu-pun kemudian menyerahkan sapu lidinya kepada Sumekar sambil berkata, “Pekerjaanku sendiri sudah selesai. Jika masih sibuk biarlah aku selesaikan pekerjaan ini.”

“Kenapa kau serahkan sapu ini kepadaku?”

Juru taman itu tersenyum. Katanya, “Jadi bagaimana? Apakah aku harus melanjutkannya.”

“Tidak,“ jawab Sumekar, “aku akan membersihkannya. Jika bukan aku, tentu tuanku Mahisa Agni akan marah karena tidak akan dapat sebersih bekas tanganku.”

“Macam kau. Coba biarlah aku yang menyelesaikan. Nanti, kita tunggu, apakah tuanku Mahisa Agni akan marah atau tidak. Kita bertaruh. Rangsum makan kita tiga hari.”

Sumekar merenung sejenak, lalu menggelengkan kepalanya, “Tidak mau. Aku tidak tahan untuk tidak makan tiga hari.”

“Nah, jika demikian jangan sombong.”

“Baik. Aku tidak akan sombong.”

Juru taman itu memandang Sumekar dengan kerut-merut dikeningnya. Lalu ia-pun meninggalkannya sambil menggerutu, “Kau sudah mulai kambuh lagi.”

Sumekar tertawa. Dipandanginya saja kawannya itu sampai hilang dibalik gerumbul-gerumbul pohon bunga di sudut halaman, ia memang menghendaki agar orang itu pergi meninggalkan bangsal itu.

Sambil membersihkan halaman Sumekar mendekati dua orang prajurit yang bertugas di regol. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia-pun bertanya, “Ki Sanak, apakah tuanku Mahisa Agni ada didalam bangsal?”

“Kenapa?“ bertanya prajurit itu.

“Tidak apa-apa. Aku hanya akan membersihkan pohon-pohon bunga sampai ke longkangan samping. Jika tuanku Mahisa Agni sedang beristirahat, aku takut, kalau aku mengejutkannya. Tuanku Mahisa Agni menurut pendengaranku adalah seorang Senapati yang keras hati. Jika sekali aku dipukulnya, maka kepalaku akan dapat lepas karenanya.”

“Tidak,“ jawab prajurit itu, “tuanku Mahisa Agni sedang keluar.”

“Kemana?”

“Aku tidak tahu. Tuanku Mahisa Agni tidak pernah membawa seorang pengawalpun. Bukan saja di halaman istana, tetapi juga jika ia pergi keluar. Mirip sekali dengan tuanku Pangeran Pati.”

Sumekar menganggukakan kepalanya. Lalu katanya, “Jika demikian, mumpung tuanku Senapati itu tidak ada, aku akan menyiangi tanaman dilongkangan. Selama tuanku Mahisa Agni ada di Singasari, aku hampir tidak pernah mendapat kesempatan melakukannya, sehingga pohon bunga-bunga di longkangan itu menjadi kurus dan layu.”

“ Lakukanlah.“

Sumekar-pun kemudian pergi kelongkangan samping. Dilihatnya pintu butulan bangsal itu tertutup. Dan ia-pun sama sekali tidak mendekati pintu yang tertutup itu.

Demikianlah untuk beberapa saat lamanya Sumekar berada dilongkangan. Ia memang menunggu sampai Mahisa Agni datang. Ia ingin mendengar sesuatu tentang perkembangan terakhir dari hubungan yang kalut antara Sri Rajasa, Permaisurinya dan Putera Mahkota.

Ternyata dalam pada itu, Mahisa Agni masih duduk merenung di bangsal Permaisuri. Tetapi tidak lama kemudian berkata, “Sudahlah tuan Puteri, hamba akan kembali ke bangsal hamba. Untuk waktu yang sejauh dapat hamba usahakan, hamba akan tetap berada di Singasari. Kecuali jika hamba tidak mempunyai kesempatan lagi karena perintah Sri Rajasa. Tetapi sebelum perintah itu mendesak, hamba masih akan tetap disini.“

“Terima kasih kakang. Awasilah Anusapati. Hatiku selalu cemas bagaikan melepaskan anak yang baru pandai merangkak di pinggir jurang.”

“Baiklah tuan Puteri, hamba akan selalu mencoba mengawasinya. Hamba akan mencoba mengendalikannya agar Putera Mahkota itu tidak bertindak tergesa-gesa.“

“Terima kasih.“ suaranya-pun kemudian merendah, “tidak ada orang lain yang kini dapat aku percaya selain kau kakang.”

Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Kata-kata itu diucapkan oleh Ken Dedes. Tetapi kini setelah rambutnya hampir berwarna rangkap.

“Tuan Puteri,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku menjunjung tinggi kepercayaan itu. Baik sebagai seorang saudara laki-laki, mau-pun sebagai seorang Senapati Agung di Smgasari.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk pula. Namun terasa betapa kecemasan yang sangat selalu membayangi Permaisuri itu.

Sejenak kemudian maka Mahisa Agni-pun mohon diri sambil berpesan perlahan-lahan sekali, “Tuan Puteri. Tuan Puteri harus tetap menyadari, bahwa sesungguhnya tuan Puteri tidak sedang sakit. Jika tuan Puteri tidak menyadarinya, maka akan dapat terjadi, tuan Puteri benar-benar menjadi sakit, atau rasa-rasanya seakan-akan tuan Puteri benar-benar sakit.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sambil mencoba tersenyum ia menjawab, “Ya kakang. Kadang-kadang aku lupa bahwa sebenarnya aku hanya berpura-pura saja sakit, sehingga rasa-rasanya aku benar-benar menjadi sakit.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia melihat bahwa sebenarnyalah Ken Dedes sedang menderita sakit. Bukan badannya, tetapi hatinya yang kemudian mempengaruhi jasmaniahnya.

Sejenak kemudian Mahisa Agni-pun meninggalkan bangsal Ken Dedes. Namun agaknya masih terlampau siang untuk singgah di bangsal Anusapati. Karena itu, maka ia-pun berjalan-jalan saja di halaman tanpa tujuan sekedar untuk mengisi waktu.

Tanpa disadarinya ia-pun menyusuri dinding yang membatasi halaman istana Singasari yang lama dengan istana yang dibangun oleh Ken Arok untuk isterinya yang muda Ken Umang. Dan tanpa sesadarnya pula Mahisa Agni melangkah didepan regol yang terbuka.

Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar seseorang-menyapanya, “Kakang Mahisa Agni.”

Mahisa Agni berpaling. Hatinya bagaikan berguncang ketika dilihatnya Ken Umang berdiri diseberang regol yang terbuka itu sambil tersenyum.

“O, ampun tuan Puteri,“ sahut Mahisa Agni dengan suara gemetar. “Hamba tidak tahu bahwa tuan Puteri berdiri disitu.”

“Ah, kenapa kau masih saja mempergunakan basa-basi itu? Kita sama-sama berasal dari keturunan orang kecil. Panggil saja aku Ken Umang.”

“Tentu tidak tuan Puteri,“ jawab Mahisa Agni, “keturunan kita tidak mempengaruhi kedudukan kita sekarang. Tuan Puteri adalah isteri Maharaja di Singasari.”

“Dan kau adalah Senapati Agung dan sekaligus wakil Mahkota di Kediri. Selisih kedudukanmu dengan Sri Rajasa sendiri hanya selapis.”

“Ampun tuan Puteri Hamba sangat berterima kasih atas kemurahan Sri Rajasa itu. Dan karena itulah>hamba merasa betapa kecilnya diri hamba.”

Ken Umang tertawa. Katanya, “Sikapmu belum berubah kakang. Kau masih saja takut kepadaku. Bukan karena kedudukanku. Aku tahu, bahwa kau menganggapi aku seorang wanita yang sangat rendah. Meski-pun aku berkedudukan tinggi, yang kini menjadi perempuan kedua sesudah Permaisuri, tetapi sikapmu dan tatapan matamu tetap tidak ingkar, bahwa setelah aku tinggal di istana ini, aku masih juga mencoba menyeretmu kedalam perbuatan yang tercela itu. Tetapi itu dahulu kakang.”

“Ampun tuan Puteri. Hamba sekali-kali tidak pernah menganggap tuanku sebagai seorang perempuan yang rendah. Sama sekali tidak.”

Ken Umang tertawa. Sekali ia berpaling memandang beberapa orang emban yang duduk agak jauh daripadanya.

Mahisa Agni yang masih berdiri diseberang regol menjadi semakin berdebar-debar. Meski-pun umur mereka sudah menjadi semakin tua, tetapi kesan yang ada didalam hatinya tentang Ken Umang-pun masih belum dapat dilupakannya. Agaknya Ken Umang menyadarinya sehingga seakan-akan ia dapat membaca isi hati Mahisa Agni.

“Kakang,“ berkata Ken Umang. “sekarang kita sudah merayapi tahun demi tahun. Meski-pun tampaknya kau masih lebih muda dari umurmu yang sebenarnya, dan barangkali aku masih juga pantas untuk mengganggumu, tetapi aku kira sekarang aku mempunyai kepentingan yang lain.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Katanya, “Sebenarnyalah kata tuan Puteri. Hamba memang sudah tua.”

“Itu tidak penting,“ sahut Ken Umang. Lalu, “Kakang Mahisa Agni. Kakang tentu sudah melihat perkembangan istana Singasari sekarang ini.”

“Ya tuan Puteri, perkembangan Singasari benar-benar menggembirakan.”

“Bukan itu yang aku maksud. Tetapi penghuni-penghuni istana ini. Tegasnya keluarga kita, keluarga Sri Rajasa.”

“O,“ Mahisa Agni memandang wajah Ken Umang sejenak. Tetapi kepalanya-pun segera tertunduk kembali.

“Kakang Mahisa Agni,“ berkata Ken Umang, “bukankah kau adalah paman dari Anusapati?”

“Hamba tuan Puteri,“ jawab Mahisa Agni dengam jantung yang berdebaran.

“Sebagai seorang ibu aku senang melihat anak-anak hidup dalam kegembiraan. Apalagi Anusapati sudah mempunyai seorang anak laki-laki yang menjadi semakin besar.“ Ken Umang berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi alangkah sedih hati seorang ibu bila melihat anak-anaknya bertengkar. Bagiku, Tohjaya dan Anusapati adalah anak-anakku. Aku tidak membeda-bedakannya. Tetapi Anusapati bersikap aneh terhadapku dan terhadap adiknya Tohjaya. Seakan-akan kami berdua adalah musuhnya. Nah, tolong, sampaikan kepada Anusapati, bahwa kami menganggapnya sebagai keluarga yang tidak terpisah. Anusapati adalah anakku dan Tohjaya-pun putera kakanda Permaisuri, dan sebaliknya. Apakah kau mengerti maksudku?”

“Hamba tuan Puteri.”

“Nah, jika demikian, nasehatkan kepada Anusapati, agar ia dapat bersikap lebih baik. Agar ia dapat sedikit mendekatkan diri kepada adiknya.”

Mahisa Agni menarik nafas, tetapi ia menyahut, “Hamba tuan Puteri. Hamba akan memperingatkannya. Anusapati memang harus bersikap baik terhadap tuanku Tohjaya.”

Jawaban itu sama sekali tidak diharapkan oleh Ken Umang. Ia ingin mendengar Mahisa Agni membantahnya agar timbul persoalan untuk memancing pendapat Mahisa Agni yang sebenarnya terhadap keadaan yang sedang berkembang itu.

Dan justru karena itu maka untuk sesaat Ken Umang terdiam. Dipandanginya Mahisa Agni dengan sorot mata yang aneh. Sebenarnyalah Ken Umang menjadi heran, kenapa Mahisa Agni begitu saja mengiakan kata-katanya tentang Anusapati.

Karena Ken Umang tidak segera menyahut, maka Mahisa Agni melanjutkannya, “Tuan Puteri. Perkenankanlah hamba mohon maaf atas segala kelakuan dan tingkah laku Anusapati sampai saat ini apabila tidak berkenan dihati tuan Puteri Ken Umang.”

Ken Umang masih tetap berdiam diri. Sekali-sekali wajahnya menjadi tegang. Namun sejenak kemudian tampaklah ia menjadi kebingungan.

Baru sejenak kemudian Ken Umang berkata patah-patah, “jadi, jadi kau membenarkan kata-kataku bahwa Anusapati memang anak muda yang tidak tahu diri?”

“Karena hamba tidak berada di Singasari tuanku, maka hamba tidak dapat menyebutkannya. Tetapi karena menurut tuanku, Anusapati telah berbuat kurang baik, maka biarlah hamba memperingatkannya.“

Justru Ken Umanglah yang menjadi jengkel karenanya. Ia tidak berhasil memancing pertengkaran. Jika Mahisa Agni menjadi marah, dan mereka berbantah, maka ada alasan untuk segera minta

kepada Sri Rajasa, agar Mahisa Agni segera diperintahkan kembali ke Kediri, karena Mahisa Agni sudah menghinakan isteri Sri Rajasa.

Tetapi usaha itu ternyata belum berhasil. Namun demikian Ken Umang masih juga berusaha. Katanya, “Kakang Mahisa Agni. Siapakah yang bertanggung jawab atas segala perbuatan Anusapati itu?”

“Ampun tuan Puteri. Tentu tanggung jawab Anusapati sendiri. Apalagi Anusapati kini sudah bukan anak-anak lagi. Ia sudah seorang dewasa, bahkan ia sudah seorang ayah. Itulah sebabnya maka ia harus sudah bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Sadar atau tidak sadar.”

“Tetapi ia tidak tiba-tiba saja menjadi dewasa. Tentu ada yang mendidiknya sejak kanak-anak. Orang itulah yang bertanggung jawab atas segala macam tingkah laku Anusapati.“

“Maksud tuanku, apakah yang bertanggung jawab tuanku Permaisuri?”

Ken Umang menjadi ragu-ragu sejenak. Namun untuk memancing pertengkaran ia menjawab, “Ya. kanda Permaisuri dan kau.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang sekilas kesudut halaman itu, dilihatnya beberapa orang prajurit bertugas. Demikian juga didepan regol bangsal Ken Umang.

Karena itu Mahisa Agni harus berhati-hati. Bukan karena ia takut menghadapi tindakan kekerasan, tetapi ia sadar sepenuhnya bahwa Ken Umang memang sedang memancing perselisihan. Jika ia bersikap keras dan berbantah, tentu prajurit-prajurit itu akan menjadi saksi. Demikian juga beberapa orang emban yang duduk tidak begitu jauh dari Ken Umang.

Jika demikian, maka akan timbul berbagai macam akibat yang barangkali terlalu jauh baginya.

Karena kesadaran itulah maka Mahisa Agni tetap pada sikapnya. Ia sekali-sekali membungkukkan kepala dengan tangan bersilang.

Sama sekali tidak ada sikap menentang dan melawan setiap kata-kata Ken Umang.

“Apa katamu Mahisa Agni,“ Ken Umanglah yang mulai membentaknya.

Sekali lagi Mahisa Agni membungkukkan kepalanya. Jawabnya, “Ampun tuan Puteri. Jika menurut pendapat tuan Puteri hamba ikut bertanggung jawab, maka baiklah hamba akan mencoba membetulkan kesalahan hamba. Sudah hamba katakan, bahwa hamba akan mencegah Anusapati, agar ia kemudian bersikap baik dan tidak memusuhi tuanku Tohjaya. Tetapi tentang sikap dan tanggung jawab tuanku Permaisuri, itu ada diluar kekuasaan hamba. Hamba tidak berhak menegurnya meski-pun ia adalah adik hamba.”

“Kenapa kau tidak berhak? Kau adalah saudara tuanya. Meski-pun ia seorang Permaisuri, ia tetap adikmu.”

“Hamba tidak berani melakukannya. Hamba takut kepada tuanku Sri Rajasa. Tuanku Permaisuri kini bukan menjadi tanggungan hamba lagi sejak ia bersuami. Segala tingkah laku dan perbuatannya telah menjadi tanggung jawab suaminya.”

“O. jadi kau menyalahkan tuanku Sri Rajasa?”

“Bukan maksud hamba. Tetapi sebaiknya tuanku Sri Rajasalah yang memberinya peringatan. Hamba justru takut kepada Sri Rajasa.”

“Pengecut? Kenapa kau takut? Tentu Sri Rajasa tidak sempat berbuat seperti itu. Tuanku Sri Rajasa adalah Maharaja yang berkuasa di Singasari. Ia tidak sempat mengurusi isterinya saja. Apalagi kakanda Permaisuri yang hampir tidak pernah menarik perhatian Sri Rajasa.“

Terasa dada Mahisa Agni berguncang. Tetapi ia masih harus menahan hati. Sambil membungkukkan kepalanya ia berkata. “Sebenarnyalah hamba akan menjalankan semua perintah karena hamba hanyalah seorang abdi di istana ini. Meski-pun hal itu

bertentangan dengan kemauan hamba sendiri misalnya, tetapi apabila hal itu harus hamba kerjakan, hamba akan mengerjakannya. Jika memang tuanku Sri Rajasa memerintahkan kepada hamba untuk memberikan peringatan kepada tuanku Permaisuri.”

“Kau memang bodoh sekali,“ Ken Umang menjadi marah, “Jika tuanku Sri Rajasa sempat memerintahkan kepadamu, ia tidak memerlukan kau lagi. Mengerti?”

Mahisa Agni menahan nafasnya sejenak. Lalu, “Hamba mengerti tuanku.”

“Jadi kaulah yang bertanggung jawab seluruhnya atas kelakuan Anusapati itu. Mengaku atau tidak mengaku.”

Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia masih tetap sadar. Jika ia bersikap seperti Ken Umang pula, maka orang-orang yang melihatnya akan dapat menjadi saksi, bahwa ia telah berani menentang isteri Sri Rajasa.

Karena itu, sambil membungkuk dalam-dalam ia berkata betapa-pun ia menahan hati, “Hamba tuan Puteri. Hamba memang bersalah karena hamba tidak dapat mengajar anak itu bersikap baik. Tetapi hamba berjanji untuk memperbaiki kesalahan itu.”

“O, gila, gila. Kau memang bukan laki-laki jantan. Kau hanya berani merunduk seperti budak yang paling hina. Apakah kau sadar, bahwa sikapmu sama sekali bukan sikap seorang Senapati besar?”

“Mungkin tuan Puteri benar,“ jawab Mahisa Agni, “hamba memang tidak dapat bersikap lain kali ini, karena hamba berhadapan dengan junjungan hamba. Memang sangat berbeda dengan sikap seorang Senapati dipeperangan.”

Kemarahan Ken Umang sudah sampai ke puncaknya sehingga ia berteriak, “Apakah kau dapat bersikap yang lebih baik dari sikap seorang penjilat.”

Sebenarnya kesabaran Mahisa Agni-pun sudah sampai diujung ubun-ubun. Tetapi ia masih memaksa diri untuk tetap bersabar.

Sementara itu beberapa orang prajurit yang melihat dari kejauhan-pun menjadi heran. Semula mereka memang menjadi berdebar-debar. Jika Mahisa Agni berbantah dengan Ken Umang, meski-pun Mahisa Agni adalah seorang Senapati, tetapi ia dapat dianggap bersalah dan ia dapat dengan serta-merta diperintahkan untuk meninggalkan istana Singasari ke Kediri. Tetapi ternyata sikap Mahisa Agni itu diluar dugaan mereka. Mahisa Agni sama sekali tidak menunjukkan sikap menentang. Bahkan sikap hormatnya agak berlebih-lebihan.

“Apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh tuan Puteri,“ berkata para prajurit itu didalam hati. Namun sebenarnyalah mereka dengan mudah dapat menduga, bahwa Ken Umang sengaja memancing persoalan agar Mahisa Agni segera diperintahkan meninggalkan Singasari. Tetapi para prajurit itu tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya telah terjadi. Mereka hanya menganggap bahwa kehadiran Mahisa Agni itu menguntungkan Anusapati, karena setiap orang-pun mengetahui bahwa Anusapati dan Tohjaya agaknya sukar dirukunkan, dan setiap orang tahu bahwa Sri Rajasa agak berpihak kepada Tohjaya. Bukan kepada Anusapati. Bagi mereka yang mengetahui keadaan Anusapati yang sebenarnya-pun mengerti, bahwa Sri Rajasa ternyata tidak dapat menerima kehadiran anak Tunggul Ametung itu dengan sepenuh hati.

Sedang prajurit yang lain, yang mengetahui persoalan yang sedang dihadapinya itu-pun berkata, “Mahisa Agni memang seorang yang bijaksana. Sebagai seorang Senapati Agung di Singasari ia membiarkan dirinya dicaci maki oleh isteri muda Sri Rajasa. Tampaknya itu suatu kekalahan baginya, tetapi sebenarnyalah bahwa Mahisa Agnilah yang menang, jika ia tetap dapat bertahan.

Prajurit itu terkejut ketika ia melihat tiba-tiba saja Ken Umang menghentak-hentakkan tangannya sambil berteriak, “Pengecut yang paling buruk diseluruh Singasari. Aku akan mengatakannya kepada Sri Rajasa, bahwa kau tidak pantas menjadi seorang Senapati Agung di Singasari. Kau hanya pantas menjadi seorang penjilat yang rendah dan hina. Ternyata kau tidak dapat mempertahankan

sikapmu dan mempertanggung jawabkan segala macam perbuatanmu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia masih harus berlahan sedikit lagi. Ternyata bahwa Ken Umang sendiri sudah kehilangan kesabarannya meski-pun ia telah dengan sengaja memancing persoalan.

“Pergi, pergi dari hadapanku penjilat yang rendah,“ berkata Ken Umang, “aku tidak mau berhubungan lagi dengan orang semacam kau. Kau hanya pantas berhubungan dengan budak-budakku, dengan hamba-hambaku yang paling rendah.”

Dada Mahisa Agni bagaikan retak karenanya. Tetapi ia masih tetap bertahan dengan segenap kemampuan perasaannya. Rasanya lebih mudah untuk bertahan melawan sepuluh orang prajurit dalam benturan jasmaniah daripada harus bertahan membiarkan dirinya dihinakan.

“Pergi, pergi,“ teriak Ken Umang kemudian.

“Hamba tuanku, hamba akan pergi jika memang tuanku kehendaki.”

“Aku tidak mau melihat wajahmu lagi.”

Mahisa Agni membungkuk dalam-dalam. Namun ia-pun kemudian terkejut ketika ia mendengar seseorang berkata, ”Paman, kita tetap disini. Aku adalah Putera Mahkota. Paman harus mendengarkan segala perintahku.”

Semua orang yang mendengar suara itu-pun berpaling. Mereka melihat Anusapati berdiri bertolak pinggang dengan wajah yang merah padam.

Ternyata bukan Mahisa Agnilah yang kehabisan kesabaran, tetapi justru Anusapati yang justru sedang mencarinya.

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan berbisik, “Tahankan perasaanmu Anusapati. Ingat, kau mempunyai kepentingan yang lebih besar daripada harga

dirimu. Aku sudah membiarkan diriku dihinakan dihadapan banyak orang karena kepentingan yang lebih besar itu.”

Anusapati menggeretakkan giginya. Bahkan ia masih juga berkata, “Hanya perintah ayahanda Sri Rajasa sajalah yang berada diatas perintahku, karena aku adalah Pangeran Pati. Bahkan ibunda Permaisuri-pun tidak dapat mengubah keputusanku.”

Semua orang yang menyaksikan hal itu menjadi berdebar-debar. Para prajurit yang sedang bertugas menjadi termangu-mangu. Prajurit yang bertugas di halaman bagian istana yang lama dan bagian istana yang baru. Kedua pihak tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Yang mereka cemaskan adalah apabila Tohjaya mengetahui persoalan itu. Ia pasti tidak akan tinggal diam.

Sementara itu, wajah Ken Umang menjadi bagaikan menyala mendengar kata-kata Anusapati orang yang paling dibencinya itu. Sehingga justru karena itu, maka mulutnya bagaikan terbungkam karenanya.

Anusapati yang sudah sampai pada batas kesabarannya itu masih juga berkata, “Paman Mahisa Agni. Aku perintahkan paman tetap tinggal disini. Paman harus mengawasi setiap orang yang ada di halaman ini. Seluruh halaman istana Singasari. Yang lama mau-pun yang baru adalah wewenang ayahanda Sri Rajasa. Dan limpahan kekuasaan Putera Mahkota adalah sama dengan kekuasaan Maharaja.”

“Omong kosong,“ teriak Ken Umang. “kau sudah gila. Kau sangka Sri Rajasa senang melihat tampangmu?“

Anusapati sama sekali tidak menjawab kata-kata Ken Umang. Bahkan kemudian dibelakanginya perempuan itu sambil berkata lantang, “Aku akan merobah halaman istana ini. Aku akan menutup regol ini dengan dinding batu.”

Kemarahan Ken Umang bagaikan memecahkan dadanya. Hampir diluar sadarnya ia berteriak, “Emban, panggil Tohjaya. Ada orang gila masuk kedalam istana.”

Emban itu tidak menunggu lebih lama. Berlari-lari ia pergi ke bangsal Ken Umang untuk memanggil Tohjaya yang ada didalamnya.

“Anusapati,“ desis Mahisa Agni kemudian, “kau lihat, akibat dari peristiwa ini akan berkepanjangan.”

“Aku sudah siap paman. Apa-pun yang akan terjadi, aku akan menghadapinya. Meski-pun seandainya harus ada pertentangan terbuka dengan Sri Rajasa. Aku akan menyatakan diriku di depan setiap orang, bahwa akulah yang berhak atas tahta ini.”

“Anusapati,“ potong Mahisa Agni, “kendalikan perasaanmu.”

“Maaf paman. Aku akan mengendalikan persaanku. Tetapi tidak sekarang.”

Mahisa Agni masih akan menjawab. Tetapi ia terkejut ketika ia mendengar suara Ken Umang, “Nah, itulah orang gila itu Tohjaya. Kau harus mengusirnya. Bukan saja mengusir dari regol itu, tetapi kau harus mengusirnya dari istana dan bahkan dari Singasari.”

Tohjaya tidak menghiraukan apa-pun lagi. Ia tidak rela menyaksikan ibunya yang dihinakan oleh siapa-pun juga, meski-pun ia seorang Pangeran Pati. Apalagi ia sadar, bahwa Pangeran Pati ini memang harus disingkirkan.

Karena itu maka ia-pun segera mendekati Anusapati sambil berkata lantang, “Apakah kau memang sudah mulai gila kakanda Anusapati?”

Anusapati memandang Tohjaya sejenak. Namun kemudian terdengar ia tertawa, “Ha, aku memang menunggu kau adinda. Aku ingin memberitahukan kepadamu, bahwa aku punya hak untuk berbuat apa saja di istana ini, karena aku adalah Pangeran Pati. Jika sampai saat ayahanda Sri Rajasa tidak lagi memegang pemerintahan, entah karena atas kehendak sendiri, atau karena umurnya yang pendek.”

“Tutup mulutmu,“ teriak Tohjaya.

“Anusapati,“ Mahisa Agni masih ingin mencegah, “kenapa kau kehilangan akal he? Apakah kau memang benar-benar gila?”

Tetapi Anusapati benar-benar tidak menghiraukannya lagi. Bahkan katanya, “Kau mau apa Tohjaya. Coba berbuatlah sesuatu kalau kau berani.”

Tohjaya benar-benar terbakar mendengar tantangan itu. Karena itu, makan tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan garangnya. Tetapi Anusapati sudah memperhitungkannya. Karena itu, ia sama sekali tidak terkejut. Bahkan serangan membabi buta itulah yang ditunggu-tunggunya.

Dengan gerak yang lebih cepat dari gerak Tohjaya, maka Anusapati-pun menghindar. Tetapi ia tidak sekedar menghindari serangan Tohjaya. Bahkan sekaligus ia menyerangnya pula.

Serangan itu benar-benar tidak diduga oleh Tohjaya. Apalagi kecepatan bergerak Anusapati jauh melampaui kemampuannya, sehingga karena itu, maka Tohjaya-pun kemudian terlempar dan jatuh terguling ditanah.

Ternyata Anusapati yang sudah kehabisan akal itu tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Ia masih ingin meloncat membunuhnya. Namun ia tidak dapat menghindarkan diri dan sebuah benturan yang dahsyat sehingga Anusapati itulah yang kemudian terlempar dan jatuh terguling.

Dengan serta-merta Anusapati meloncat bangkit. Namun ia tertegun ketika ia melihat, pamannya Mahisa Agnilah yang berdiri dihadapannya.

Sejenak Anusapati melihat Tohjaya tertatih-tatih bangun. Namun kemudian dipandanginya wajah pamannya yang tegang.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni. Betapa tegang wajahnya, namun kata-katanya tetap sareh dan tenang, “Apakah kau memang sengaja ingin membuat tontonan di halaman Istana ini atau kau ingin memamerkan kemampuanmu. Aku berterima kasih bahwa kau mempertahankan martabatku. Tetapi aku kurang senang melihat

darahmu yang masih terlampau mudah menyala. Cobalah, tenanglah sedikit. Lihatlah banyak orang yang menonton peristiwa ini, seperti orang melihat ayam bersabung. Padahal kalian adalah bangsawan tertinggi di Singasari saat ini. Apakah kau mengerti?”

Anusapati tidak segera menjawab. Dengan wajah yang tegang dipandanginya pamannya yang berdiri tegak seperti batu karang. Alangkah garangnya. Tentu dipeperangan Mahisa Agni akan tampak lebih garang lagi. Dengan senjata di tangan dan wajah yang tegang.

Ternyata perbawa itu meresap kedalam dada Anusapati. Perlahan-lahan kepalanya tertunduk lesu. Sebuah penyesalan telah merayapi hatinya. Tetapi semuanya sudah terjadi. Dan rasa-rasanya semakin lama semakin banyak mata yang memandanginya.

Perlahan-lahan terdengar suaranya bergumam didalam mulutnya, “maafkan aku paman. Ternyata aku telah kehilangan pengamatan diri. Penghinaan yang tiada batasnya itu membuat dadaku bagaikan terbelah.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi berlega hati ketika dilihatnya bahwa Anusapati sudah mulai berhasil menguasai perasaannya.

Namun selagi Mahisa Agni mulai merasa tenang, setelah ketegangan yang sangat mencengkam hatinya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara Tohjaya lantang, “Ayahanda, inilah orang gila yang ingin mengacaukan istana itu.”

Dengan serta-merta Mahisa Agni berpaling. Dadanya berdesir ketika dilihatnya Sri Rajasa berdiri tegak diiringi oleh beberapa orang pengawal. Dengan sorot mata yang menyala dipandangnya Mahisa Agni dan Anusapati berganti-ganti.

“Sudah tiba saatnya bagi ayahanda untuk bertindak.“

Tetapi Sri Rajasa masih tetap berdiri diam seperti patung.

Tohjaya menjadi heran sejenak. Demikian ibunya Ken Umang. Perlahan-lahan isteri muda Sri Rajasa itu melangkah maju sambil berkata, “Kakanda Sri Rajasa. Alangkah cemasnya hati hamba

melihat ananda Anusapati berbuat diluar sadarnya. Hamba tidak tahu apa yang seharusnya hamba lakukan. Sedangkan kakang Mahisa Agni sama sekali tidak berbuat apa-pun juga untuk menenangkan keadaan. Bahkan ia sama sekali tidak bersikap seperti orang tua.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia melangkah maju mendekati Anusapati yang berdiri termangu-mangu disebelah Mahisa Agni. Beberapa langkah daripadanya berdiri Tohjaya dengan wajah yang tengadah.

“Kakanda,” berkata Ken Umang, “sebaiknya kakanda menimbang dengan adil. Hamba lihat pakaian Tohjaya yang kotor dan kusut itu? Ananda Anusapatilah yang telah melakukannya tanpa disangka-sangka.”

Sri Rajasa menjadi semakin dekat, sehingga dada Mahisa Agni-pun menjadi semakin berdebar-debar.

“Jika semuanya harus terjadi saat ini, apaboleh buat,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “meski-pun aku tidak dapat memperhitungkan, bagaimana akhir dari setiap persoalkan yang dapat timbul karenanya.”

Agaknya Anusapati-pun mencemaskannya pula. Jika ayahandanya tidak dapat mengekang dirinya pula, maka yang terjadi adalah bencana yang maha dahsyat. Bukan saja bagi pimpinan tertinggi Singasari, tetapi bagi Singasari dan rakyatnya.

Gejolak hati Anusapati itu telah mendorongnya berbisik ditelinga Mahisa Agni, “Paman, Trisula itu aku bawa sekarang.”

“Ah,“ Mahisa Agni berdesah. Tetapi ada semacam air yang menitik di jantungnya yang sedang membara. Sadar atau tidak sadar, Mahisa Agni harus mengakui, bahwa Sri Rajasa adalah bukan manusia kebanyakan. Ia memiliki kelebihannya. Ia memiliki kelebihan yang tidak dapat dimengerti oleh sesamanya.

Sejenak Sri Rajasa berdiri dengan tegang. Namun kemudian ia berkata, “Aku mengerti apa yang telah terjadi. Seorang perwira

yang melihat peristiwa ini langsung menyampaikannya kepadaku. Dengan tergesa-gesa aku datang kemari, karena yang terjadi adalah sepercik noda yang paling kotor pada keluarga Maharaja di Singasari. Dan aku melihait bagian terakhir dari tontonan yang mengasyikkan ini.”

Semua orang yang mendengar kata-kata itu menjadi gemetar. Suara Sri Rajasa sudah menjadi agak gemetar oleh perasaaan yang tertahan didalam dadanya.

Ken Umang memandang Sri Rajasa tanpa mengedipkan matanya. Seakan-akan ia menunggu, keputusan apakah yang akan diambilnya didalam keadaan itu.

Sementara itu Tohjaya bergeser selangkah mendekati ayahandanya. Dalam ketegangan itu ia berkata, “Ayahanda dapat bertindak sekarang.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, aku memang dapat bertindak. Dan aku memang akan bertindak sebaik-baiknya.”

“Tentu ayah,“ sahut Tohjaya.

Anusapati membeku ditempatnya, sedang wajah Mahisa Agni tidak lagi disaput ketegangan yang dalam membayang di wajah itu.

Sekilas ia memandang berkeliling. Dilihatnya beberapa orang Senapati berdiri tegang. Bahkan Panglima pasukan pengawalnya-pun telah ada di halaman itu pula.

“Benar seperti sabungan ayam,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “Tetapi apaboleh buat. Aku tidak dapat menduga, apa saja yang akan dilakukan oleh para prajurit ini.”

Sejenak Mahisa Agni memandang ke kejauhan menembus kesuraman senja yang mulai turun. Seorang juru taman berdiri disebelah gerumbul yang lebat. Sekali-sekali ia berlindung dibalik gerumbul itu, dan sekali ia menampakkan dirinya jika kebetulan Mahisa Agni memandangnya. Juru taman itu adalah Sumekar.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Juru taman itu akan dapat ikut menentukan akhir dari peristiwa yang tidak diinginkannya apabila hal itu terpaksa terjadi di halaman ini, dibatas antara istana yang lama dan yang baru.

Sejenak orang-orang yang berdiri berpencaran itu termangu-mangu. Mereka memandang Sri Rajasa dan Mahisa Agni berganti-ganti. Tanpa mereka sadari, nafas mereka-pun seakan-akan berkejaran. Yang berdiri dengan tegang itu adalah dua orang Raksasa yang tidak ada bandingnya di Singasari.

Sri Rajasa adalah seorang yang bagi Mahisa Agni adalah orang yang aneh. Orang yang memiliki kelebihan tanpa dicarinya. Karena itulah maka orang mengatakan bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu adalah kekasih dewa-dewa.

Tetapi bagi Sri Rajasa, Mahisa Agni adalah orang yang aneh. Satu-satunya anak muda yang mampu mengimbanginya selagi ia masih berkeliaran di Padang Karautan. Dan Ken Arok vang bergelar Sri Rajasa itu mengetahui, bahwa Mahisa Agni pada waktu itu, memiliki sebuah pusaka yang baginya sangat mengerikan. Jauh lebih mengerikan dari pusaka yang selama ini dianggapnya pusaka yang paling keramat, Keris mPu Gandring. Dan pusaka itu hanyalah sebuah trisula yang tidak seberapa besarnya. Tetapi dapat bercahaya seperti matahari yang menyilaukan.

Namun Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu memang tidak akan berbuat apa-apa. Setelah beberapa kali ia menarik nafas dalam-dalam, maka ia-pun berkata, “Aku minta kalian kembali kebangsal masing-masing.”

Tohjaya terkejut mendengar perintah itu. Bahkan yang lain-pun tidak kalah terkejut pula. Mahisa Agni yang tegang dan Anusapati yang berdebar-debar saling berpandangan sejenak.

“Aku tidak senang melihat pertengkaran itu,“ berkata Sri Rajasa lebih lanjut, “sejak lama aku selalu memperingatkan, sikap bermusuhan itu sangat memalukan. Apalagi kalian adalah Putera seorang Maharaja yang sangat dihormati. Tindakan kalian itu tentu

merendahkan martabatku sebagai seorang Raja yang memerintah seluruh Singasari sekarang ini.”

Ken Umang memandang ken Arok dengan sorot mata yang aneh. Memang ia tidak mengerti akan perintah itu. Ia berharap agar Sri Rajasa mengambil tindakan yang paling keras terhadap Anusapati. Hukuman yang dapat merendahkan nilainya sebagai seorang Putera Mahkota. Menghinakannya, dan akan lebih baik lagi jika kemudian mengusirnya dari Istana.

Ken Umang menjadi lebih heran lagi ketika ia mendengar Sri Rajasa itu berkata, “Aku mengucapkan terima kasih kepadamu Mahisa Agni.”

Tohjaya menjadi tegang sejenak. Dan ia mendengar Sri Rajasa melanjutkan, “Aku melihat dari kejauhan apa yang kau lakukan. Ternyata bahwa kau berdiri diatas ikatan keluarga yang ada pada dirimu. Meski-pun kau paman Anusapati dari saluran darah ibunya, retapi kau sudah berusaha sebaik-baiknya mencegah pertengkaran ini. jika kau tidak menghalangi Anusapati, maka aku kira Tohjaya akan mengalami cidera yang dapat membahayakan jiwanya. Jika demikian maka tidak akan ada gunanya lagi aku membina daerah ini dengan mempertaruhkan semua yang ada padaku.”

Tidak seorang-pun yang menyahut. Bahkan tidak seorang-pun yang bergerak meski-pun hanya sekedar ujung jari kakinya.

“Jika Tohjaya mengalami cedera, apalagi sampai membahayakan jiwanya, maka Anusapati harus dihukum. Dengan demikian aku akan kehilangan kedua-duanya sekaligus. Kehilangan Pangeran Pati yang akan menggantikan kedudukanku, dan kehilangan Tohjaya satu-satunya orang akan dapat menggantikan kedudukan Anusapati apabila terjadi sesuatu dengannya. Memang aku masih mempunyai beberapa orang anak laki-laki. tetapi aku harus membinanya dari permulaan sekali.“ Sri Rajasa berhenti sejenak. Lalu, “karena itu tindakan Mahisa Agni memang pantas dipuji.”

Betapa mereka yang mendengar kata-kata Sri Rajasa itu tidak dapat mengartikannya dengan segera. Ada yang heran, ada yang

tidak percaya kepada pendengarannya, tetapi ada yang menganggap, bahwa itu adalah sikap yang bijaksana.

“Nah,“ sekali lagi Sri Rajasa berkata, “Sekarang kembalilah kebangsal masing-masing. Jangan menjadi tontonan di sini. Semakin cepat semakin baik.”

“Kakanda,“ Ken Umanglah yang akan memotong kata-kata Sri Rajasa. Tetapi Sri Rajasa mendahuluinya, “Kau-pun sebaiknya meninggalkan tempat ini. Adalah kurang baik jika kau berada diantara wajah-wajah yang tegang dan sikap bermusuhan.”

Ken Umang menahan gejolak didalam dadanya. Tetapi ia tidak berani membantahnya. Digamitnya Tohjaya dan dengan isyarat diajaknya Tohjaya meninggalkan tempat itu.

Dalam pada itu Mahisa Agni-pun kemudian menggandeng Anusapati meninggalkan tempat itu sambil berkata kepada Sri Rajasa, “Sikap Tuanku sangat bijaksana. Hamba mengucapkan terima kasih.”

“Apakah mungkin aku berbuat lain?“ bertanya Sri Rajasa.

Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia-pun menjawab, “Memang tidak ada sikap lain bagi seorang yang bijaksana.“

“Bagi yang tidak bijaksana?”

“Tuanku, hamba tidak dapat mengatakannya, karena ternyata yang ada adalah seorang yang sangat bijaksana.”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apa-pun lagi. Dipandanginya langkah Anusapati disamping Mahisa Agni, dan diarah yang lain Tohjaya berjalan dibelakang ibunya, Ken Umang.

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya ketika perasaannya mulai menilai kedua anak muda itu. Ia tidak mau melihat kenyataan bahwa ternyata anak Tunggul Ametung itu mempunyai banyak kelebihan dari anaknya.

“Ibunyalah yang memiliki kelebihan. Adalah bodoh sekali bahwa aku tidak pernah memikirkan dengan sungguh-sungguh kemungkinan yang ada pada Mahisa Wonga Teleng.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu merenung sejenak. Ia mulai membayangkan kemungkinan yang ada pada Mahisa Wonga Teleng. Ia adalah anaknya dan anak Ken Dedes. Jika benar Ken Dedes memiliki kemungkinan yang besar pada keturunannya, maka Mahisa Wonga Teleng-pun pasti memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.

“Tetapi sudah terlambat,“ ia berkata didalam hatinya, “Anusapati sudah mulai meloncati pagar yang selama ini berhasil aku lingkarkan mengelilingi. Tetapi ternyata pada suatu saat anak itu telah melepaskan dirinya dari semua kungkungan. Sebelumnya ia tidak pernah berani berbuat apa-apa-pun jangankan seperti yang dilakukannya saat ini.”

Tiba-tiba terlintas didalam angan-angannya. Ken Dedes yang sedang terbaring dipembaringannya. Tentu Ken Dedes sudah mengatakan semuanya tentang Anusapati. Tentu Ken Dedes juga mengatakan saat-saat kematian Tunggul Ametung, dan tentu sekarang Anusapati sedang didalam gejolak yang paling dahsyat yang pernah dialaminya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia sudah dihadapkan pada suatu keadaan yang sama-sama. Seakan-akan ia sedang memandang cahaya matahari yang kemerah-merahan, yang sebentar lagi akan turun dan hinggap dipunggung pegunungan. Kesempatan itu adalah kesempatan terakhir untuk memandang wajah bumi karena sebentar lagi matahari itu akan tenggelam.

“Tentu tidak akan mungkin lagi dapat terbit di Timur,“ katanya didalam hati, “aku memang bukan matahari. Jika saat tenggelam itu datang, maka biarlah namaku tenggelam pula bersamanya. Tetapi jangan Singasari.”

Ken Arok itu-pun kemudian perlahan-lahan melangkahkan kakinya kembali kebangsalnya. Pengawal-pengawalnya-pun

mengikutinya dari kejauhan. Ketika Ken Arok kemudian masuk kedalam bangsalnya, maka para prajurit itu-pun tinggal di gardu penjagaan mereka.

Dalam pada itu, Mahisa Agni membawa Anusapati kebangsalnya. Ketika mereka berjalan lewat didepan seorang juru taman yang sedang berjongkok, maka Mahisa Agni-pun memberikan isyarat kepadanya sambil berbisik, “Nanti malam aku datang kegubugmu.”

Sumekar sama sekali tidak menyahut. Justru ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Baru ketika keduanya sudah menjadi semakin jauh. Sumekar itu baru berdiri dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu.

Dalam pada itu, cahaya matahari memang sudah mulai pudar. Semakin lama semakin suram. Dan sebentar lagi, maka seluruh Singasari itu-pun ditelan oleh kegelapan malam.

Di bangsal Anusapati, Mahisa Agni duduk tepekur dihadap oleh Anusapati. Agak sulit baginya untuk memberikan beberapa nasehat kepada Putera Mahkota itu. Karena ia tahu, bahwa selama ini Anusapati selalu menjaga perasaan isterinya. Ia selalu berusaha untuk menghindarkan semua pembicaraan yang dapat membuat isterinya menjadi semakin berkecil hati. Sebagai seorang perempuan yang hidup dilingkungan yang asing, maka ia memerlukan ketenangan didalam lingkungannya yang baru itu.

Karena itu, maka Mahisa Agni-pun menunggu hingga pada suatu kesempatan ia dapat mengatakannya.

Ketika Mahisa Agni yakin bahwa isteri Anusapati itu tidak berada didalam bilik sebelah yang mungkin dapat mendengar suaranya, barulah ia berkata, “Anusapati. Ternyata keadaan sudah menjadi semakin panas dan gawat. Tetapi aku melihat perkembangan lain pada Sri Rajasa itu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya hampir berbisik, “Aku masih belum yakin paman. Tetapi mudah-mudahan ayahanda Sri Rajasa dapat melihat kebenaran tentang hubunganku dengan

adinda Tohjaya. Tetapi seandainya demikian, hal itu tentu sudah terjadi beberapa saat lamanya.”

“Pikiran dan perasaan seseorang dapat berkembang Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “dan aku berharap, bahwa Sri Rajasa akan mengalaminya.”

“Mungkin pada suatu saat paman. Tetapi jika ibunda Ken Umang mendapat kesempatan berbicara maka ayahanda tentu akan bersikap lain pula.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Memang sulit bagi Ken Arok untuk berjalan surut. Dan jika ia tetap maju, maka jarak perjalanan itu menjadi semakin dekat.

“Hati-hatilah Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku berharap keadaan bertambah baik. Tetapi aku juga berharap agar kau tidak lengah. Sudah sepantasnya kau membawa trisula kecil itu kemana-pun kau pergi. Tetapi ingat, jangan kau pergunakan jika kau tidak dalam keadaan terpaksa. Terpaksa sekali.

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku berjanji akan menemui Sumekar. Malam sudah menjadi semakin gelap. Besok aku kembali melihat keris itu. Sekarang waktunya agaknya kurang baik bagiku untuk melihat keris itu. Jika ada satu dua orang yang sempat melihatnya, maka udara yang panas ini tentu akan mendidih. Besok aku akan kembali untuk melihat keris itu.”

“Apakah aku harus membawanya kebangsal paman?“

Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak mengatakan demikian sekarang. Aku tidak tahu, jika keadaan besok akan berkembang.”

Anusapati menundukkan kepalanya.

“Sekarang, biarlah aku pergi ke gubug Sumekar. Aku perlu berbicara sedikit dengan juru taman itu.”

“Silahkanlah paman.”

“Ingat, dalam keadaan serupa ini, trisula kecil itu jangan terpisah dari dirimu. Bukanlah trisula itu tidak mengganggumu jika kau sembunyikan didalam lapisan ikat pinggangmu.”

Anusapati menganggukkan kepalanva. Pesan itu menyatakan bahwa Mahisa Agni-pun menjadi sangat cemas terhadap perkembangan keadaan.

Namun Mahisa Agni itu-pun kemudian berpesan, “Tetapi ingat pula Anusapati, bahwa trisula itu bukan senjata dan yang dipergunakan jika itu bukan cara terakhir satu-satunya jalan yang dapat kau tempuh.”

Sekali lagi Anusapati mengangguk sambil menjawab, “Ya paman, aku mengerti.”

“Nah, tinggal sajalah di bangsalmu. Kau dapat sedikit memberikan pesan, meski-pun tidak berterus-terang terhadap para pengawal di halaman, agar mereka-pun berhati-hati pula.”

“Ya paman.”

“Nah, biarlah aku pergi sekarang. Bukankah anakmu sudah tidur?”

“Sudah paman.“

“Besok saja aku menemuinya.”

Demikianlah maka Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan bangsal itu. Ia tidak segera pergi kegubug Sumekar tetapi ia berjalan kebangsalnya sendiri. Perlahan-lahan seperti seorang jejaka berjalan dibawah cahaya bulan yang sedang purnama.

Mahisa Agni harus yakin bahwa tidak ada orang yang mengetahui sedap pertemuannya dengan Sumekar, mau-pun Anusapati dengan Sumekar agar Sumekar tidak segera terlibat dalam keadaan yang panas itu. Dengan demikian ada seorang yang kuat, yang masih dapat diharapkan berbuat sesuatu diluar perhitungan Sri Rajasa.

Tetapi jika pertentangan yang tampaknya akan menjadi terbuka itu berkembang, Mahisa Agni memerlukan kekuatan diluar istana itu.

Jika kemudian terjadi bentrokan-bentrokan senjata dengan terbuka, dan Sri Rajasa mempergunakan kekuasaan dan haknya sebagai seorang Maharaja, maka dengan sangat terpaksa Mahisa Agni-pun harus menghadapinya dengan cara serupa. Tetapi karena ia tidak berhak memberikan perintah langsung kepada para prajurit yang ada di Singasari, maka ia harus mendapatkan kekuatan lain yang dapat melindungi Anusapati bersamanya. Bukan sekedar melindunginya karena ia takut mati, tetapi melindungi dirinya dan Anusapati bersama segala macam cita-cita dan kemungkinannya.

Setelah malam menjadi semakin gelap, maka Mahisa Agni-pun keluar lagi dari bangsalnya. Kepada prajurit yang mengawal bangsalnya ia berkata, “Udara sangat panas didalam. Aku akan keluar sebentar.”

Prajurit-prajurit itu memandanginya sejenak. Seakan-akan ingin bertanya, kemanakah ia akan pergi didalam keadaan yang bagi para prajurit, agak kalut itu? Meski-pun mereka tidak melihat pertentangan sampai keakar hati Mahisa Agni, Anusapati, Tohjaya dan orang-orang yang terlibat lainnya termasuk Sri Rajasa sendiri, namun mereka melihat pertengkaran antara Anusapati dan Tohjaya sebagai anak-anak muda yang kian tidak mau hidup dalam suasana persaingan. Sayang persaingan diantara mereka itu sama sekali tidak mendorong mereka kearah yang lebih baik dari pertengkaran yang kasar. Seperti pertengkaran anak-anak seorang rakyat kebanyakan saja. Bahkan hampir saja mereka berkelahi dalam arti yang sebenarnya di hadapan banyak orang.

Mahisa Agni dapat menangkap dari sorot mata para prajurit itu, pertanyaan-pertanyaan yang bergulat didalam hati mereka. Karena itu ia-pun tersenyum sambil berkata, “jangan cemas. Anak-anak itu tidak akan berkelahi lagi, apalagi memperluas pertengkaran mereka, meski-pun orang-orang tua terpaksa ikut campur.“

Para prajurit itu-pun tersenyum pula. Bahkan tersipu-sipu karena Mahisa Agni dapat menebak pertanyaan didalam hatinya dengan tepat.

(bersambung jilid 77)

Jilid 77

“MEMANG MEMALUKAN,“ berkata Mahisa Agni lebih lanjut, “tetapi mereka adalah anak-anak muda. Seperti anak muda kebanyakan. Hanya karena mereka tinggal diistana ini maka sorotan bagi mereka menjadi lebih tajam karenanya. Setiap orang memperhatikannya dan menilainya. Tetapi sebagai manusia biasa mereka sebenarnya tidak ada bedanya dengan anak-anak muda yang tinggal di padukuhan yang paling terpencil. Darahnya masih terlampau mudah mendidih dan kurang pengendalian diri. Tetapi jika mereka meningkat semakin tua, maka keadaannya pasti akan jauh berbeda. Anusapati yang kini sudah mempunyai seorang anak itu ternyata sudah jauh berkurang, sudah jauh mengendap dibandingkan beberapa saat yang lampau.”

Para prajurit yang mendengarkan kata-kata Mahisa Agni itu menganggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak mengatakan suatu apa.

“Sudahlah, bertugaslah dengan baik. Aku akan menghirup udara malam dihalaman dan dipertamanan. Mudah-mudahan badanku menjadi segar dan pikiranku menjadi bening.”

Prajurit-prajurit itu menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Ketika Mahisa Agni melangkah meninggalkan halaman bangsalnya, dua orang prajurit mengiringinya sebagai yang seharusnya mereka lakukan. Tetapi seperti biasa pula Mahisa Agni tersenyum sambil berkata, “Biarlah aku berjalan sendiri. Bukankah demikian kebiasaanku? Didalam halaman istana ini tidak akan ada gangguan apapun. Meski-pun kadang-kadang terjadi hal-hal yang tidak dapat dimengerti, orang-orang berkerudung, orang yang tidak dikenal yang hampir saja membunuh juru taman itu, dan bermacam-macam lagi, tetapi mereka tidak akan mengganggu aku.”

Prajurit-prajurit itu saling berpandangan sejenak, namun mereka-pun menganggukkan kepalanya dalam-dalam sekali lagi. Salah seorang dari mereka berkata, “jika itu perintah tuan.”

“Ya,“ jawab Mahisa Agni, “itu perintahku.”

“Baik tuan. Kami akan menunggu disini,“ sahut salah, seorang dari keduanya. Didalam hati mereka berkata, “Sebenarnyalah pengawalan itu tidak perlu bagi Mahisa Agni.”

Prajurit-prajurit itu-pun kemudian hanya dapat memandang Mahisa Agni yang berjalan menjauhi regol dan hilang didalam gelap.

Sambil manarik nafas dalam-dalam seorang prajurit berkata, “Bagaimana mungkin orang dapat memiliki ilmu seperti Senapati besar itu?”

“Ilmunya adalah kurnia Yang Maha Agung. Tidak semua orang dapat memilikinya meski-pun ia berlatih setiap hari sepanjang umurnya.“

Yang lain hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan salah seorang berdesis, “Seperti juga Sri Rajasa, ia-pun seorang manusia yang aneh.”

“Tidak banyak manusia seperti mereka itu. Dan kini tampaknya Putera Mahkota itu-pun akan tumbuh seperti ayahanda dan pamannya.“

Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu Mahisa Agni yang sudah berada dikegelapan itu berjalan menyusuri tempat-tempat yang sepi dipetamanan. Sejenak ia berdiri ditempat yang terlindung. Bagaimana-pun juga ia memang harus berhati-hati. Apalagi dihalaman istana ini sering terjadi sesuatu yang tidak dapat diperhitungkannya lebih dahulu.

Tetapi ternyata bahwa taman itu benar-benar sepi. Tidak ada seorang-pun yang berada disekitarnya dengan alasan apapun.

Karena itu, maka Mahisa Agni-pun bergeser pula mendekati gubug Sumekar.

Dengan hati-hati Mahisa Agni-pun kemudian mengetuk pintu gubug itu.

“Siapa?“ Sumekar berbisik dibalik pintu.

“Agni.”

Mahisa Agni tidak perlu mengulanginya. Pintu gubug itu-pun kemudian terbuka dan Sumekar-pun melangkah keluar.

“Ikuti aku,“ desis Mahisa Agni.

Keduanya-pun kemudian menyusup kedalam taman. Beberapa langkah dibalik rimbunnya pohon bunga-bungaan, kedua berhenti sejenak.

“Sumekar,“ berkata Mahisa Agni, “aku ingin minta pertolongan lebih lanjut setelah sampai saat ini kau mengawasi dan melindungi Anusapati. Agaknya keadaan menjadi semakin gawat, sehingga aku perlu mempersiapkan diri lebih baik lagi dari saat-saat yang lewat.”

“Apakah yang harus aku lakukan?”

“Aku tidak sempat membuat hubungan dengan Witantra. Aku tidak sampai hati meninggalkan Anusapati dalam keadaan seperti sekarang. Apakah kau bersedia?”

“Apakah aku harus pergi ke Kediri menghubungi kakang Kuda Sempana.”

“Tidak. Aku kira, Witantra atau Mahendra masih juga sering berkeliaran disekitar istana ini. Mereka-pun tentu ingin mengetahui perkembangan keadaan ini lebih lanjut.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku kira demikianlah. Apalagi dengan perkembangan terakhir. Ceritera tentang pertengkaran langsung yang terjadi ini, tentu akan sampiai ketelinga mereka, karena hal itu pasti akan segera tersebar.“

“Ya. yang bertengkar adalah putera Sri Rajasa. Tentu ceritera itu tersebar luas dalam waktu yang singkat. Akibatnya, maka rakyat Singasari pasti akan terbelah. Sebagian akan berpihak kepada

Anusapati dan sebagian akan berpihak kepada Tohjaya, karena mau tidak mau mereka akan langsung menghubungkan pertengkaran itu dengan sikap Sri Rajasa yang tampak dengan jelas, agak kurang adil terhadap kedua puteranya.”

“Orang-orang tua akan tahu sebabnya. Tetapi bagi yang muda tanggapannya pasti akan agak berbeda.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun kemudian berkata, “Sumekar, apakah kau bersedia mencari Witantra atau Mahendra disekitar istana ini? Tentu saja kau harus keluar dari istana ini tidak lewat regol depan atau regol butulan.”

“Aku sudah mempunyai jalan sendiri,“ Sumekar tersenyum.

“Terima kasih. Sampaikan pesanku kepada mereka, bahwa aku memerlukan mereka setiap saat, apabila keadaan benar-benar tidak terkendali. Jika kau dapat mengusahakan, bawalah salah seorang dari mereka masuk kedalam taman, dan berilah aku isyarat apabila kau berhasil.”

“Apakah isyarat itu?”

“Kau dapat menirukan suara burung tertentu?”

Sumekar mengerutkan keningnya.

“Kalau tidak, lemparlah atap bangsalku dengan kerikil kecil. Aku akan segera keluar dan pergi ketaman ini. Jika bukan malam ini, tentu malam-malam berikutnya. Tetapi aku berharap kau berhasil malam ini. Bukankah tempat kau sering menemui mereka itu masih dapat dijadikan ancer-ancer, kemana kau pertama-tama harus pergi?”

“Baiklah. Aku akan mencobanya. Mereka-pun tentu akan menyadari keadaan.”

“Selagi aku masih ada di Singasari. Perintah dari Sri Rajasa dapat datang setiap saat.”

“Aku mengerti.”

“Baiklah. Cobalah malam ini. Aku menunggu isyaratmu.”

“Aku akan memberikan isyarat. Jika aku melempar atap rumahmu, atau menirukan suara burung kedasih beberapa kali, tandanya aku berhasil. Tetapi jika aku memberi isyarat hanya tiga kali, maka malam ini aku belum dapat menemuinya. Dan kau tidak usah menunggu semalam suntuk.“

“Terima kasih. Di hari-hari terakhir, Sri Rajasa-pun tentu telah berbuat sesuatu. Dan kita-pun harus mengimbanginya.”

Demikianlah maka Sumekar-pun mempersiapkan dirinya untuk keluar halaman istana mencari hubungan dengan Witantra atau Kuda Sempana. Ia masih berharap bahwa kedua orang itu belum jemu menunggu kesempatan untuk mendapat hubungan dengan Mahisa Agni.

Mahisa Agni-pun kemudian kembali ke bangsalnya. Tetapi ia tidak langsung masuk kedalam bangsal itu. Sejenak ia masih sempat berbincang dengan para prajurit, “Aku ingin beristirahat,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “sudah terlalu malam. Jika aku tidak tidur malam nanti, maka kalian tidak mempunyai tugas lagi.“

Para prajurit itu tertawa. Mereka memang menyadari, bahwa tugas mereka hanyalah mengawasi bangsal itu, karena jika terjadi sesuatu, akhirnya Mahisa Agni sendirilah yang harus melindungi dirinya sendiri.

Namun yang menarik perhatian para prajurit itu adalah sikap Mahisa Agni. Ia adalah Senapati Agung yang kedudukannya diatas para Panglima. Apalagi bagi Kediri. Tetapi sikapnya masih tetap seperti Mahisa Agni yang dahulu, Mahisa Agni anak Panawijen.

Jarang sekali seorang Panglima sempat bercakap-cakap dengan para prajurit. Jika ada satu dua prajurit yang mengawalnya, maka sikapnya adalah sikap seorang Panglima terhadap seorang prajurit bawahan. Bahkan satu dua orang perwira yang lain-pun sudah bersikap demikian.

“Ia adalah seorang Senapati besar. Bukan saja kedudukannya sebagai Senapati Agung dan wakil Mahkota di Kediri, tetapi jiwanya-pun ternyata cukup besar.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Pengaruh itu tampak pula pada Putera Mahkota. Selain sikapnya, maka keduanya tidak menaruh prasangka buruk terhadap sesamanya. Ternyata keduanya tidak memerlukan pengawalan seperti tuanku Tohjaya dan putera-putera Sri Rajasa yang lain.”

“Ya, selain mereka tidak berprasangka, mereka-pun terlalu percaya kepada diri sendiri. Coba katakan, siapakah yang dapat melampaui kemampuan tuanku Mahisa Agni, dan tuanku Pangeran Pati selain Sri Rajasa. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan berbuat apa-apa atas mereka.”

“Orang berkerudung yang sempat masuk kehalaman itu?”

“Seandainya mereka sempat bertemu dengan keduanya atau salah seorang dari pada mereka, maka sejauh-jauh dapat dilakukan adalah seimbang saja.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala. Mereka memang sependapat bahwa Mahisa Agni adalah seorang yang berjiwa besar, ramah dan rendah hati.

Dalam pada itu, Sumekar yang telah berhasil meloncati dinding tanpa diketahui oleh para peronda itu-pun segera menyelusuri jalan kota Singasari. Yang pertama-tama didatanginya adalah tempat yang biasa dipergunakan oleh Witantra atau Mahendra menunggu hubungan dari dalam istana.

Tetapi Sumekar tidak melihat seorangpun, sehingga karena itu ia-pun mengambil keputusan untuk pergi saja mengelilingi kota. Mungkin disatu tempat ia bertemu dengan salah seorang dari keduanya.

Namun belum lagi ia beringsut, terdengar suara seseorang memanggilnya. Dan suara itu bukan suara Witantra dan bukan pula suara Mahendra.

Sumekar berhenti sejenak. Dari dalam kegelapan dibalik bayangan dedaunan Sumekar melihat sesosok bayangan yang muncul.

“Bukankah kau Sumekar?“ bertanya bayangan itu.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kakang Kuda Sempana. Justru kakang yang ada disini?”

“Ya, Beberapa hari ini giliranku. Keduanya hampir jemu menunggu. Tetapi tidak seorang-pun yang datang. Lalu akulah yang mendapat giliran tidur disini. Aku sudah empat malam selalu menungu salah seorang dari kalian di istana Singasari.”

Sumekar-pun kemudian mendekati Kuda Sempana, dan keduanya-pun duduk dibalik gerumbul sambil membicarakan masalah yang sedang dihadapinya.

“Jadi persoalan itu seakan-akan menjadi panas?“

“Ya. Bahkan hampir terjadi dengan terbuka.”

“Lalu apakah pesan Mahisa Agni.“

“Sekedar persiapan. Jika setiap saat meledak. Dan rasa-rasanya kita memang berada diatas ujung tanduk. Setiap saat, jika kita kurang berhati-hati, maka perut kita dapat berlubang.”

“Apakah aku harus menyampaikannya kepada Witantra.”

“Ya. Dan Mahendra.”

“Baiklah. Tentu bukan sekedar kami bertiga yang diharap oleh Mahisa Agni. Dan aku akan menyampaikannya kepada Witantra. Mungkin ia mengerti, apa yang sebaiknya harus aku kerjakan.”

“Tetapi agaknya Mahisa Agni-pun ingin bertemu.”

“Jangan sekarang,“ berkata Kuda Sempana, “aku harus menemui Witantra, kita bersama-sama akan bertemu dengan Mahisa Agni besok malam disini.”

“Barangkali ia perlu pesan kepadamu. Aku dimintanya untuk memberikan isyarat apabila aku dapat menemui kalian salah seorang atau semuanya.”

Kuda Sempana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Kenapa tidak besok?”

“Malam ini, dan sehari besok, bermacam-macam persoalan dapat terjadi.”

“Tetapi tidak mungkin malam ini aku mencari Witantra.”

“Mungkin tidak perlu. Tetapi sekedar bahan yang akan kalian bicarakan perlu kau dapat malam ini.”

“Baiklah. Aku menunggu disini.”

“Terima kasih. Aku akan membawa Mahisa Agni keluar halaman istana malam ini.”

Demikianlah Sumekar-pun segera berusaha untuk dapat memberikan isyarat kepada Mahisa Agni. Ia sama sekali tidak menemui kesulitan untuk memasuki halaman istana, seperti pada saat ia keluar.

Dan ia-pun tidak mendapat banyak kesulitan untuk mendekati bangsal Mahisa Agni. Tetapi Sumekar tidak dapat segera memberikan isyarat dengan melemparkan kerikil keatas atap bangsal itu, karena pengawasan yang ketat. Karena itu Sumekar mempergunakan cara yang lain. Dari sudut halaman ia menirukan bunyi seekor burung kedasih beberapa kali. Ia berharap bahwa Mahisa Agni akan dapat mendengarnya dan menangkap isyaratnya.

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni dapat menangkap isyarat itu. Ia mendengar bunyi kedasih itu dan mengerti maknanya. Karena itu, maka Mahisa Agni-pun sagera berusaha untuk dapat keluar dari bangsalnya tanpa diketahui oleh siapa-pun juga.

Itu-pun bukan suatu kesulitan bagi Mahisa Agni. Dan dengan demikian, maka ia-pun segera bersama-sama dengan Sumekar keluar dari halaman istana menemui Kuda Sempana.

“Kuda Sempana,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku memerlukan Witantra saat ini. Aku masih menganggap bahwa nama Witantra belum terhapus sama sekali dari hati para prajurit dan perwira pasukan pengawal, terutama yang sudah berusia pertengahan.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Aku kira demikian.”

“Karena itu, aku mengharap kedatangannya. Mungkin pada suatu saat, kita memerlukan pengaruhnya didalam lingkungan para pengawal Aku tidak tahu, apakah yang akan dilakukan oleh Panglimanya yang sekarang seandainya terjadi persoalan yang terbuka antara Tohjaya dan Anusapati.“

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tentu Witantra tidak akan dapat berterus terang berada diistana Singasari.”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. “Aku mengerti,“ jawabnya, “aku kira Witantra-pun tidak akan berkeberatan.”

Demikianlah maka, Kuda Sempana-pun segera pergi meninggalkan Singasari. Ia harus menghubungi Witantra dan membawanya menemui Mahisa Agni besok malam. Dalam keadaan yang panas itu, perubahan dapat terjadi setiap saat itu merupakan waktu yang sangat berharga. Sepeninggal Kuda Sempana maka Mahisa Agni-pun segera kembali kebangsalnya dan Sumekar masuk kedalam gubugnya yang kecil tanpa mengganggu tetangga-tetangganya yang tinggal disebelah menyebelah gubugnya.

Namun ia tidak dapat segera tidur. Persoalan-persoalan itu masih tetap tersangkut dikepalanya. Dan bahkan dorongan didalam dadanya untuk berbuat sesuatu rasa-rasanya tidak dapat dikendalikan lagi.

Tetapi Sumekar masih harus menghormati usaha Mahisa Agni. Ia tidak dapat merusak rencana Mahisa Agni itu. “Tetapi apabila datang saatnya, aku benar-benar harus bertindak. Lebih baik aku

menjadi tumbal daripada harus terjadi persoalan dan pertentangan yang lebih luas lagi. Jika dengan alas pengorbananku, persoalan ini dapat selesai tanpa melibatkan prajurit dan rakyat Singasari, maka alangkah baiknya. Singasari yang selama ini dipupuk dan disirami tidak akan segera layu dan bagaikan daun yang kering, menguning dan berguguran ditanah,“ berkata Sumekar didalam hatinya.

Dalam pada itu, seperti Sumekar. Mahisa Agni-pun tidak segera dapat tidur nyenyak malam itu. Ia selalu dipengaruhi oleh berbagai macam angan-angan. Memang mungkin terjadi sesuatu dengan Anusapati didalam sepinya malam. Tetapi Anusapati bukannya orang yang mudah menyerah pada keadaan. Apalagi ia memiliki kemampuan yang dapat melindunginya. Bahkan seandainya Sri Rajasa sendiri datang ke bangsal itu. Anusapati pasti akan dapat bertahan beberapa lama. Dengan trisula kecilnya, Anusapati akan dapat berusaha mempertahankan dirinya. Sementara itu tentu terjadi keributan di halaman ini, sehingga ia akan sempat mendengarnya dan ikut campur secara langsung.

“Tetapi bagaimana jika Sri Rajasa berhasil memasuki bangsal itu dengan diam-diam, dan dengan diam-diam pula bertindak atas Anusapati?“ ia bertanya kepada diri sendiri.

Mahisa Agni tidak dapat melepaskan kemungkinan itu, karena yang pernah dilakukan oleh Sri Rajasa adalah tindakan licik serupa itu. Ia telah membunuh mPu Gandring, Tunggul Ametung dan dengan licik sekali menjerumuskan Kebo Ijo ke dalam jebakannya.

“Tentu ia dapat berbuat licik pula terhadap Anusapati,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya.

Namun ia percaya bahwa Anusapati tentu tidak akan lengah. Meski-pun Sri Rajasa dapat meremas dinding kayu yang secengkang tebalnya, tetapi Anusapati-pun tentu dapat mendengar gemerisik yang betapa-pun lembutnya. Dan bahkan mungkin sekali Anusapati sama sekali tidak dapat tidur dimalam hari.

Karena itulah, maka di pagi-pagi benar. Mahisa Agni telah telah terbangun. Ia hanya sekejap saja dapat memejamkan matanya.

Tetapi bagi Mahisa Agni, yang sekejap itu telah cukup untuk menyegarkan tubuhnya.

Ketika ia kemudian keluar dari bangsalnya, dilihatnya suasana yang wajar di halaman istana. Para prajurit masih tetap bertugas dan yang lain bahkan masih berbaring didalam gardu. Dengan tergesa-gesa mereka-pun berloncatan bangun ketika tiba-tiba saja mereka melihat Mahisa Agni sudah berada didepan gardu itu.

“Kami sedang beristirahat,“ salah seorang dengan tergesa-gesa berkata, “kami bertugas dipermulaan malam ini.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tidurlah. Hari memang masih sangat pagi. Kau masih mempunyai waktu sedikit.”

Tetapi para prajurit itu justru berlompatan bangkit dan membenahi pakaian mereka.

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Aku akan berjalan-jalan. Aku tidak ingin mengganggu kalian. Apalagi yang baru saja sempat berbaring karena habis tugasnya.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-angguk.

Dan begitu Mahisa Agni pergi, maka mereka-pun berebut melingkar kembali didalam gardu. Tetapi langit menjadi semakin cerah dan sambil menggeliat mereka-pun terpaksa bangkit kembali dan pergi ke pakiwan untuk berbenah diri.

Mahisa Agni yang kemudian berjalan menyelusuri halaman istana sama sekali tidak melihat kemungkinan yang tidak dikehendakinya. Bahkan ketika ia berjalan tidak jauh dari bangsal Anusapati, ia melihat prajurit yang bertugas di halaman bangsal itu masih berada ditempatnya.

“Tentu tidak ada sesuatu terjadi,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya. Dengan demikian maka ia-pun melanjutkan langkahnya berjalan-jalan dipagi yang menjadi semakin cerah.

Namun dengan tergesa-gesa ia berbelok ketika dilihatnya regol yang menyekat halaman istana ini dengan perluasannya, tempat

Ken Umang dan putera-puteranya tinggal. Mahisa Agni tidak mau mengalami perlakuan seperti yang pernah terjadi, sehingga hampir terjadi pertentangan terbuka antara Anusapati dan Tohjaya.

Ketika kemudian matahari menjadi semakin terang di Timur, maka Mahisa Agni-pun melangkah kembali ke bangsalnya. Dilihatnya gardu-gardu penjagaan sudah mulai ramai, dan para prajurit sudah mulai mengemasi diri. Bahkan sebagian telah datang para penggantinya yang akan bertugas untuk satu hari satu malam pula digardu itu.

Pada waktu berikutnya dihari itu, ternyata tidak terjadi sesuatu pula. Anusapati memerlukan datang kebangsal Mahisa Agni dan berbicara seperlunya. Namun ia-pun segera kembali kepada anak dan isterinya dibangsalnya.

Bagaimana-pun juga Anusapati mencoba menyembunyikan perasaannya, namun sebagai seorang isteri, akhirnya ia merasa bahwa sesuatu telah terjadi atas suaminya. Wajah yang kadang-kadang murung dan sikap yang tidak dimengertinya. Namun isterinya itu-pun tidak ingin membebani suaminya dengan kesulitan baru, maka ia tidak pernah berusaha untuk memaksa Anusapati mengatakan tentang persoalannya. Meski-pun demikian, perlahan-lahan ia berusaha tanpa terasa oleh Anusapati untuk menangkap, apakah yang sebenarnya telah terjadi di Singasari dan atas suaminya yang sangat dicintainya itu. Tetapi yang pada hari itu berdebar-debar adalah Mahisa Agni. Ketika ada paseban kecil di bangsal istana Singasari, maka Mahisa Agni-pun datang menghadap diantara para pemimpin Singasari. Di hadapan banyak orang, Sri Rajasa sudah bertanya kepadanya tentang penyakit Permaisuri.

“Apakah ia masih belum sembuh benar?“ bertanya Sri Rajasa.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sadar akan arti pertanyaan itu. Tetapi ia masih juga menjawab, “Am-pun tuanku, menilik pengamatan hamba, tuanku Permaisuri masih juga sakit agak berat. Tetapi sebenarnyalah bahwa hambalah yang seharusnya bertanya kepada tuanku, bagaimanakah penyakit Tuanku Permaisuri itu, agar hamba dapat menentukan, apakah hamba dapat segera

kembali ke Kediri. Jika terlalu lama hamba berada disini, maka tugas hamba akan dapat terbengkelai karenanya, dan hamba yang disini hampir tidak berbuat apa-apa itu akan menjadi jemu pula.”

Wajah Sri Rajasa menegang sesaat. Namun kesan itu-pun segera terhapus dari wajahnya. Sambil tersenyum Sri Rajasa berkata, “Bukankah kau yang hampir setiap hari menunggui dan mengikuti perkembangannya?”

“Hamba tuanku. Tetapi yang tahu pasti tentang penyakit tuanku Permaisuri tentu tuanku Sri Rajasa.”

“Baiklah,“ berkata Sri Rajasa, “akulah yang akan menentukan apakah kau sudah dapat meninggalkan Singasari atau belum. Aku akan segera memberitahukan kepadamu, jika Permaisuri itu sudah dapat kau tinggalkan.“

“Hamba tuanku. Hamba akan melakukan segala titah.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun bagaimana-pun juga ia menyembunyikan perasaannya, tetapi terasa dalam sidang itu, bahwa memang ada sesuatu yang terentang diantara kedua tokoh tertinggi di Singasari itu, seperti juga ada sesuatu yang membentang diantara Ken Umang dan Ken Dedes, dan antara Anusapati dan Tohjaya.

Sejenak Mahisa Agni masih mengikuti pembicaraan-pembicaraan tentang perkembangan Singasari pada saat-saat terakhir. Tetapi ia sudah kurang berminat untuk mendengarkannya. Yang didengarnya saat ini masih saja hampir sama dengan yang didengarnya beberapa hari dan beberapa bulan yang lalu. Semuanya baik. Tidak ada kesulitan dan rakyat berkembang maju.

“Jika demikian, dan Sri Rajasa puas dengan laporan-laporan itu, akan menjadi pertanda bahwa Singasari akan berhenti disini. Sri Rajasa sudah kehilangan gairah perjuangannya membuat Singasari menjadi semakin besar dan memberi kesejahteraan yang lebih tinggi bagi rakyatnya,“ berkata Mahisa Agni didalam hati. Namun ia-pun menjadi cemas bahwa beberapa orang pemimpin Singasari yang lain tidak lagi menghiraukan keadaan yang sebenarnya terjadi.

Tetapi mereka sekedar ingin mendapat pujian dari Sri Rajasa dengan mengatakan laporan-laporan yang tidak berdasarkan pada kenyataan.

Tetapi Mahisa Agni tidak menanggapi laporan-laporan itu. Ia tidak ingin menyakitkan hati pemimpin-pemimpin Singasari yang lain agar persoalan yang langsung menyangkut Anusapati tidak terganggu pula karenanya.

Meski-pun demikian, Mahisa Agni dapat menilai, bahwa saat-saat terakhir Singasari benar-benar mengalami kemunduran. Para pemimpinnya tidak lagi dengan penuh cita-cita membina Singasari. Mareka sudah dihinggapi oleh penyakit yang berbahaya bagi Singasari.

“Tentu karena Sri Rajasa tidak sempat lagi melihat perkembangan Singasari dengan mata kepala sendiri,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya. “kesibukannya telah menenggelamkan kedalam suatu keadaan yang kurang menguntungkan bagi tanah yang selama ini dibinanya dengan susah payah.”

Laporan-laporan berikutnya Mahisa Agni sudah hampir tidak mendengarnya lagi seperti didalam paseban-paseban yang lalu. Semuanya rasa-rasanya menjemukan baginya.

Tetapi kali ini Mahisa Agni terkejut ketika Sri Rajasa kemudian berkata kepadanya, “Setelah paseban ini selesai Mahisa Agni, tinggallah disini sebentar.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak ia memandang berkeliling. Dilihatnya didalam paseban itu para Panglima dan para piemimpin Singasari yang lain.

“Apakah Sri Rajasa berhasrat menjebakku sekarang?“ ia bertanya kepada diri sendiri.

Tetapi Mahisa Agni adalah seorang yang berhati tabah. Itulah sebabnya ia kemudian menjawab, “Hamba tuanku. Segala perintah tuanku hamba junjung tinggi.”

Demikianlah ketika semua pembicaraan itu selesai maka Sri Rajasa-pun segera mengakhiri sidang. Sedang Mahisa Agni yang masih harus tinggal menjadi berdebar-debar.

“Apakah para Panglima itu sudah mendapat pesan-pesan tertentu dari Sri Rajasa untuk menangkap aku sekarang?“ bertanya Mahisa Agni didalam hati, “demikian para pemimpin pemerintahan yang lain pergi, maka para Panglima itu akan menarik keris mereka dan menahan aku disini.“

Tetapi dugaan Mahisa Agni itu ternyata keliru. Dengan suara yang lantang maka Sri Rajasa berkata, “Tinggalkan paseban ini. Semuanya, selain Mahisa Agni.”

Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi mereka-pun kemudian beringsut meninggalkan sidang itu seorang demi seorang, sehingga hanya Mahisa Agni sajalah yang tinggal.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hati kemudian, “Sri Rajasa memang bukan seorang pengecut. Jika ia ingin menyelesaikan dengan cara itu, ia akan menghadapi aku seorang lawan seorang.“

Demikianlah, maka paseban itu akhirnya menjadi kosong. Yang ada tinggallah Sri Rajasa dan Mahisa Agni. Bahkan para penasehat Sri Rajasa-pun diperintahkannya untuk meninggalkan paseban itu.

Ketika tidak ada orang lain dipaseban itu, sekali lagi terasa ketegangan mencengkam dada Mahisa Agni. Namun sekali lagi ia keliru. Sri Rajasa sama sekali tidak memandangnya dengan sorot mata yang menyala. Tetapi matanya bahkan menjadi redup dan kosong.

“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa kemudian dengan nada yang rendah, “kau mendengar semua laporan-laporan didalam paseban ini?”

Mahisa Agni menjadi heran atas pertanyaan itu. Karena itu ia tidak segera menjawab.

“Bagaimana menurut pendapatmu?”

Mahisa Agni masih belum mengerti maksud Sri Rajasa. Namun menangkap siratan wajahnya. Mahisa Agni mulai menyesali dirinya sendiri. Ternyata bahwa ia sendirilah yang terlampau berprasangka. Sejak terjadi persoalan yang hampir menyeret Anusapati dan Tohjaya dalam pertentangan terbuka, ia selalu saja berprasangka buruk terhadap Sri Rajasa yang dikenalnya sangat aneh namun juga licik.

“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa kemudian, “aku ingin mendengar pendapatmu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu. Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya, atau ia harus bersikap seperti para pemimpin Singasari yang lain, yang hanya sekedar mengemukakan persoalan-persoalan yang mereka anggap dapat menyenangkan hati Sri Rajasa saja.

“Aku tidak boleh bersikap seperti itu,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “jika demikian aku sudah membohongi diriku sendiri, dan tidak mau lagi mengakui kenyataan yang berlaku di Singasari.”

Karena itu dengan penuh tanggung jawab Mahisa Agni berkata meski-pun dengan sangat hati-hati, “Tuanku. Sebenarnyalah memang seperti yang dikatakan oleh para pemimpin Singasari itu. Meski-pun masih harus ada beberapa keterangan.”

“Apakah yang kau maksud dengan keterangan itu?”

“Memang dalam pandangan sepintas keterangan itu sangat menarik dan seakan-akan Singasari tidak lagi menghadapi persoalan-persoalan lagi.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya.

“Tetapi tuanku,“ berkata Mahisa Agni lebih lanjut, “jika hamba boleh mengatakannya dengan jujur, sebenarnya masih banyak yang perlu dilaporkan didalam paseban seperti ini, apalagi didalam paseban agung.”

“Misalnya?”

“Tuanku, seharusnya tuanku mendapat gambaran seluruhnya tentang Singasari. Tuanku harus mendengar bahaya kering yang mengancam daerah Selatan, yang perlu mendapat penyelesaian. Kemudian kesulitan yang timbul karena binatang yang buas yang tidak terkendalikan, berkembang biak dengan cepatnya di hutan tidak begitu jauh dari kota ini. Selain daripada itu, masih ada perampok-perampok yang mengganggu dan selebihnya memang memberikan gambaran yang cerah buat masa depan Singasari.”

“Itulah yang ingin aku dengar Mahisa Agni.“

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Sri Rajasa sejenak. Namun dilihatnya wajah itu bagaikan air telaga yang bening, yang dapat dilihat sampai ke dasarnya. Menurut tangkapan Mahisa Agni, apa yang dikatakan oleh Sri Rajasa itu adalah apa yang dipikirkannya.

“Kali ini ia berkata dengan jujur,“ desis Mahisa Agni didalam hatinya.

“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa, “sebenarnya aku sudah muak mendengar laporan-laporan yang tidak sewajarnya itu. Mereka adalah orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri, mementingkan kedudukan dan kebanggaan mereka kepada dirinya sendiri. Dan ini sangat memuakkan sekali. Tetapi aku masih belum sempat untuk menghentikannya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata sesuatu telah tumbuh didalam hatinya.

“Sri Rajasa tidak sejahat yang aku duga.“ katanya didalam hati, namun, “atau barangkali ia mulai melihat kesalahan yang sudah dibuatnya?”

“Mahisa Agni,“ berkati Sri Rajasa kemudian, “ternyata kau masih Mahisa Agni yang dahulu. Kau adalah salah satu dari orang-orang Singasari yang jumlahnya tidak banyak, yang berani mengatakan kekurangan Singasari kepadaku. Meski-pun mungkin aku akan menjadi marah atau menghukummu. Tetapi sekarang aku sadar,

bahwa yang penting bagiku adalah kebenaran. Bukan sekedar kebanggaan yang semu.“

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil, ia menjadi berpengharapan lagi, bahwa jika Sri Rajasa berkata dengan jujur, ia akan menanggapi persoalan Anusapati dan Tohjaya dengan cara yang lebih baik dari cara yang pernah dilakukan sebelumnya.

Dalam pada itu Sri Rajasa berkata selanjutnya, “Mahisa Agni. Pada saatnya kau akan kembali ke Kediri. Aku mengharap bahwa pada suatu saat, kau datang kepaseban agung, kau akan mengatakan keadaan Kediri yang sebenarnya. Dengan demikian akan membuka kemungkinan, para pemimpin Singasari yang lain menyadari kekeliruannya. Bahkan yang aku harapkan adalah keterangan yang sebenarnya. Bukan sekedar usaha untuk mempertahankan pangkat dan jabatan.”

“Baiklah tuanku,“ jawab Mahisa Agni, “jika hal itu memang tuanku kehendaki.”

“Sekarang tinggalkan bangsal ini. Kemudian aku akan memberitahukan kepadamu, apakah Permaisuri sudah dapat kau tinggalkan. Kediri akan kesepian jika kau tidak segera kembali.“

Mahisa Agni mengangguk dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baiklah hamba mohon diri tuanku.”

“Ya. Aku sudah selesai.“

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan bangsal paseban. Hatinya masih saja tersangkut kepada sikap Sri Rajasa. Namun ia tidak dapat melupakan apa yang pernah dilakukan oleh Sri Rajasa itu. Bahkan sekilas didalam dadanya dugaan bahwa sebenarnyalah Sri Rajasa sedang merencanakan sesuatu yang tidak diketahuinya.

“Aku dihadapkan pada persoalan yang sangat rumit. Aku seakan-akan melihat perubahan pada diri Sri Rajasa. Tetapi aku tidak dapat mempercayainya sepenuhnya,“ berkata Mahisa Agni kepada diri sendiri.

Namun bagaimana-pun juga apa yang dilihat dan dirasakannya telah mempengaruhi perasaannya.

Meski-pun demikian, Mahisa Agni ingin memanfaatkan waktunya yang tentu tidak akan terlalu lama lagi untuk mengarahkan persoalan itu menjadi terang. Tetapi ia akan tetap gelisah jika tidak ada pemecahan yang dapat menjernihkan keadaan.

Persoalan itulah yang membebani Mahisa Agni sehari penuh. Persoalan yang justru bertambah rumit karena sikap Sri Rajasa yang dirasakannya berubah.

Dimalam hari, Mahisa Agni tidak melupakan pesannya kepada Kuda Sempana, bahwa ia ingin bertemu dengan Witantra. Karena itulah maka ia-pun kemudian pergi keluar istana seperti yang dilakukan semalam sebelumnya bersama Sumekar.

“Jika kakang Kuda Sempana belum berhasil menemuinya, maka kita harus menunggu sampai besok,“ berkata Sumekar.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan Witantra sudah hadir malam ini.“ Keduanya-pun kemudian pergi ketempat yang sudah mereka tentukan. Tetapi Mahisa Agni dan Sumekar masih belum menjumpai siapapun.

“Kita tunggu sebentar,“ berkata Sumekar, “mungkin kita datang terlampau cepat.”

“Bukankah, kita tidak tergesa-gesa?“ berkata Mahisa Agni, “mudah-mudahan Sri Rajasa tidak memanggil aku malam ini, sehingga kepergianku tidak segera diketahuinya.”

Ternyata mereka tidak sia-sia menunggu. Meski-pun agak lama, namun akhirnya Witantra-pun datang juga. Bahkan sekaligus bersama Mahendra dan Kuda Sempana.

“Kalian datang bertiga?“ bertanya Mahisa Agni.

“Ya. Kami sudah terlalu lama menunggu. Setiap malam salah seorang dari kami pasti datang ketempat ini. Selambat-lambatnya

dua malam sekali. Baru kemarin Kuda Sempana sempat bertemu dengan kalian.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Marilah, silahkan duduk. Aku mempunyai ceritera yang cukup menarik buat kalian.”

Mereka-pun kemudian duduk melingkar dibalik sebuah gerumbul yang lebat, sehingga tidak seorang-pun yang akan segera dapat melihatnya. Apalagi pertemuan itu adalah pertemuan lima orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan, sehingga mereka akan segera mengetahui jika ada orang yang mengintai.

Sementara itu Mahisa Agni-pun menceriterakan semuanya yang telah terjadi diistana Singasari. Persoalan Permaisuri yang rasa-rasanya benar-benar menjadi sakit, persoalan Anusapati yang hampir saja terlibat dalam perselisihan terbuka dengan Tohjaya dan kemudian sikap Sri Rajasa yang membuatnya ragu-ragu.

Witantra, Mahendra dan kuda Sempana mendengarkannya dengan penuh minat. Yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu adalah apa yang akan dapat membakar Singasari.

Ketika Mahisa Agni selesai dengan ceriteranya, maka mereka yang mendengarkannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak mereka mencernakan ceritera itu, seakan-akan mereka ingin menimbang persoalannya dari segala segi.

“Mahisa Agni,“ berkata Witantra kemudian, “kita semuanya sudah mengenal Sri Rajasa. Kita mengenal apa saja yang sudah dilakukannya untuk mendapatkan tahta itu. Karena itu, alangkah sulitnya untuk melupakannya. Aku sudah kehilangan adik seperguruanku karena pokalnya. Bahkan aku telah dihinakan diarena, meski-pun waktu itu kaulah yang naik melawan aku, tetapi sudah tentu bahwa kau semata-mata telah dibakar oleh kemarahan yang meluap-luap, karena kau-pun telah tertipu pula oleh Ken Arok yang kini bergelar Sri Rajasa. Kau tentu menyangka bahwa yang membunuh pamanmu, mPu Gandring itu, adalah Kebo Ijo pula.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau tentu dapat membayangkan, betapa liciknya Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu, sehingga ia berhasil memperistri Ken Dedes yang baru saja ditinggalkan oleh suaminya, Tunggul Ametung.“ Witantra berhenti sejenak. Lalu, “tetapi memang tidak mustahil bahwa seseorang pada suatu saat akan sampai pada suatu keadaan yang dapat menyudutkannya dalam kesulitan batin. Dalam keadaan yang demikian, memang kadang-kadang semuanya yang telah dilakukan itu tercermin kembali didalam angan-angannya. Dan seandainya hal itu terjadi maka tidak mustahil pula bahwa Ken Arok itu menyesali semua perbuatannya. Tetapi apakah artinya penyesalan itu sekarang? Kita hormati Ken Arok, karena ia sudah membuat Tumapel menjadi Singasari yang besar sekarang ini. Tetapi jika kelanjutan dari Singasari ini menjadi kabur, dan bahkan akan menjadi padam sama sekali, kita harus berpikir kembali.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apalagi jika Sri Rajasa berusaha untuk menyerahkan kerajaan ini kepada keturunan Ken Umang,“ berkata Witantra lebih lanjut. Lalu, “aku kenal Ken Umang sejak ia masih seorang gadis remaja karena ia tinggal bersama kakak perempuannya. Aku tahu bagaimana sifat-sifatnya dan aku tahu bahwa hatinya bukannya hati yang bersih. Kemudian aku juga mendengar banyak tentang Tohjaya yang tidak berbeda dari sifat-sifat ibunya. Dengan demikian, maka kita sudah dapat membayangkan, bagaimana dengan Singasari dimasa mendatang, jika Singasari jatuh ditangan Tohjaya itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Meski-pun tidak seorang-pun yang dapat memastikan bahwa Anusapati akan dapat berbuat lebih baik dari Tohjaya, tetapi mereka dapat memperhitungkan kemungkinan itu.

“Karena itu Mahisa Agni,“ berkata Witantra itu pula, “kau jangan sekali lagi terjerumus kedalam perangkap Ken Arok. Aku tahu bahwa justru karena hatimu terlalu bersih, maka kau tidak dapat membayangkan, betapa liciknya seseorang. Meski-pun kita tidak menutup kemungkinan, bahwa pada suatu saat seseorang seperti

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu dapat menyesali semua perbuatannya.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi bibirnya bergerak, “Sebenarnya aku berharap bahwa Ken Arok menjadi baik ketika kami sedang membuat bendungan dan membangun Panawijen dipadang Karautan, setelah Panawijen yang lama menjadi kering. Tetapi tiba-tiba saja penyakit padang Karautanmya berjangkit kembali.”

“Itulah yang dapat kita lihat padanya. Sebagai seorang Maharaja ia berbuat sebaik-baiknya. Tetapi di saat-saat terakhir, maka pamrih pribadinya pulalah yang kemudian justru menonjol,“ sahut Witantra.

Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk. Namun dalam pada itu terdengar Sumekar berkata dengan nada yang dalam tetapi seakan-akan bergetar dari dasar hatinya, “Kakang Mahisa Agni. Bagaimana-pun juga, aku yang melihat kehidupan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa sehari-hari dan puteranya tuanku Tohjaya, tidak akan dapat mempercayainya lagi. Mungkin disaat-saat tertentu ia dapat bersikap baik. Tetapi itu sekedar suatu usaha untuk membayangi sikapnya yang sebenarnya. Bagiku tugas Sri Rajasa sudah selesai. Kita bersama-sama menaruh hormat atas usahanya mempersatukan seluruh Singasari. Tetapi jika ia masih berkesempatan mengatur saluran kekuasaan sampai ke putera-puteranya, maka akan terjadi suatu saat Singasari akan hancur. Marilah kita tidak sekedar terpancang pada kepentingan tuanku Anusapati yang kebetulan adalah putera tuan Puteri Ken Dedes, dan tidak pula terikat kepada kebencian kita kepada tuanku Tohjaya, putera tuan Puteri Ken Umang, tetapi adalah kebetulan sekali bahwa menurut perhitungan kita, jika kekuasaan Singasari jatuh ke tangan tuanku Tohjaya, maka Singasari tidak akan lestari. Itulah sebabnya maka kita harus memotong jalur yang memungkinkan hal ini terjadi.”

“Maksudmu?“ bertanya Mahisa Agni.

“Sri Rajasa dilenyapkan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “jangan tergesa-gesa Sumekar. Persoalannya tidak begitu sederhana. Meski-pun seandainya kita akan sampai juga kepada jalan itu, tetapi semuanya harus yakin dan masak.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Mahisa Agni tentu tidak menyetujuinya untuk saat ini. Tetapi Sumekar sama sekali tidak melihat jalan lain.

Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana hanya dapat mengerutkan keningnya. Bagi mereka, banyak pertimbangan yang harus diperhitungkan.

“Kakang Mahisa Agni,“ berkata Sumekar, “aku dapat mengerti perasaanmu. Kau adalah seorang yang menurut tangapanku, sangat dipengaruhi oleh pertimbangan-angan perikemanusiaan. Karena itu, maka kau adalah seseorang yang sangat baik. Tetapi menghadapi Sri Rajasa kau harus mempunyai pertimbangan yang lain.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Seperti yang aku katakan Sumekar, apabila sampai saatnya, apaboleh buat. Tetapi kita harus mendapatkan saat yang tepat dan alasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Bukan sekedar prasangka dan alasan-alasan yang sangat kabur.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya, “Banyak soal yang ingin aku ketahui. Namun yang terpenting adalah perkembangan hubungan antara Anusapati dan Tohjaya.”

“Hubungan yang sangat dipengaruhi oleh sikap Sri Rajasa sendiri,“ sahut Sumekar.

“Ya.“

Witantra berpikir sejenak, lalu “dimana keris buatan mPu Gandring itu sekarang?”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak, namun katanya kemudian, “Ada pada Anusapati.”

Witantra dan orang-orang lain yang mendengarnya mengerutkan keningnya. Dan Sumekar-pun menyahut, “jalan sudah terbuka.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Bagaimana mungkin keris itu ada ditangan Anusapati?“ bertanya Witantra.

“Ken Dedes memberikan kepadanya.”

“Apakah Permaisuri sudah memilih?“ desak Mahendra.

“Bukan maksudnya, Anusapati menyimpan keris itu untuk pengamanan dirinya. Jika keris itu tidak berada di tanganya, maka ada kemungkinan keris itu menikam jantungnya.”

“Dan Sri Rajasa tidak memintanya?“ bertanya Kuda Sempana.

“Sampai sekarang tidak,“ jawab Mahisa Agni, “aku tidak tahu apakah Sri Rajasa sudah mengetahuinya.”

Mereka yang mendengarnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kesan yang aneh telah merambat dihati mereka. Seakan-akan mereka mempunyai gambaran yang sama bagi masa mendatang.

“Hanya ada dua kemungkinan,“ berkata Witantra didalam hatinya, “Anusapati dilenyapkan atau melenyapkan. Suatu pilihan yang maha sulit. Agaknya Anusapati tidak cukup kuat secara batin untuk menjatuhkan pilihan itu. Seperti juga Mahisa Agni sendiri yang terlalu banyak dipengaruhi oleh pertimbangan peri kemanusiaan seperti yang dikatakan oleh Sumekar.”

Tetapi Witantra tidak mengucapkannya.

Yang kemudian berbicara adalah Mahendra, “Jadi menurut pertimbanganmu Agni, apakah yang sebaik-baiknya kita lakukan sekarang?“

“Aku ingin mendapat bantuan pengaruh Witantra pada para Senapati, terutama yang berusia sebaya dengan kita atau lebih muda sedikit. Mereka tentu mengenal siapakah Witantra itu. Bagi

Senapati yang muda, mungkin Witantra hanyalah nama saja. Tetapi bagi yang lebih tua, mereka mengenal jauh lebih banyak.”

“Maksudmu?“ bertanya Witantra.

“Witantra. Sekali-sekali aku ingin kau menampakkan dirimu. Dengan demikian maka nama Witantra akan disebut-sebut lagi. Dan aku yakin bahwa nama itu akan berpengaruh pada Sri Rajasa.”

“Pengaruh apakah yang kau kehendaki?”

“Ia akan semakin disudutkan oleh kenangan masa lampaunya. Mudah-mudahan ia dapat melihat segala kesalahan yang pernah dilakukannya.”

“Kau berharap bahwa Sri Rajasa akan melangkah surut?“

Mahisa Agni tidak menjawab. Kepalanya perlahan-lahan menunduk lesu. Namun demikian, kepalanya itu bergerak sedikit, Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Suatu keajaiban. Seandainya ada penyesalan dihati Sri Rajasa. tetapi ia sudah terperosok terlampau jauh. Tohjaya sudah menjadi dewasa serta dibekali dengan segala macam angan-angan yang hitam. Tentu Tohjaya akan selalu memaksa Sri Rajasa untuk berjalan terus, betapa-pun hatinya sendiri dirambati oleh kesadaran, namun sudah terlambat.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Aku kira dapat juga dicoba Mahisa Agni. Aku besok akan menemui satu dua orang Senapati terutama dari pasukan Pengawal yang aku duga masih dapat mengenal aku dan mengingat apa yang pernah mereka kenal itu dahulu.”

“Kita masih akan mempertaruhkan beberapa hari untuk itu?“ bertanya Sumekar.

“Hanya beberapa hari,“ jawab Mahisa Agni, “sampai saat ini aku masih belum diusir oleh Sri Rajasa meski-pun sudah ada beberapa kesan agar aku segera kembali ke Kediri.”

“Jadi, apakah kita tidak lebih baik bertindak langsung dan cepat?“ bertanya Sumekar kemudian.

“Kita masih akan mencoba Sumekar.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Kita melihat apakah dibeberapa hari ini ada perubahan pada Sri Rujasa dan terutama pada tuanku Tohjaya. Jika hubungan keduanya tidak terputus, menurut dugaanku, akan sulitlah kiranya mendapatkan perubahan suasana diistana Singasari yang menjadi semakin panas ini.”

Mahisa Agni memandang Sumekar sejenak. Namun kepalanya-pun terangguk-angguk kecil. Katanya, “Kita berdoa, mudahkan ada perbaikan yang terjadi di istana Singasari.”

“Tetapi kita jangan membiarkan diri kita terjebak oleh kebaikan hati kita,“ berkata Mahendra kemudian, “aku setuju untuk menunggu satu dua hari. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Sumekar, dalam satu dua hari dapat terjadi apapun, karena perubahan dapat berlangsung dengan cepatnya. Sri Rajasa mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas. Itulah sebabnya semuanya dapat terjadi.”

“Aku menyadari,“ jawab Mahisa Agni, “karena itu, selain setiap usaha harus dialasi dengan sikap hati-hati, juga harus dilambari dengan kesiagaan untuk menghadapi segala kemungkinan.”

“Baik. Aku sependapat,“ berkata Witantra, “marilah kita coba. Aku akan segera menghubungi beberapa orang perwira didalam pasukan pengawal istana.”

Demikianlah mereka kemudian menemukan kesepakatan. Meski-pun Sumekar dan Mahendra menyangsikan hasilnya. Namun mereka ingin melihat juga, apakah yang kira-kira akan terjadi.

Sejenak kemudian maka Mahisa Agni dan Sumekar-pun segera kembali ke istana, sedang Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana kembali kepersembunyian mereka dipinggir kota. Mereka telah berusaha untuk mendapatkan sebuah pondokan bagi mereka yang

menyebut dirinya pedagang-keliling, karena sebenarnyalah bahwa Mahendra adalah seorang saudagar.

Tanpa meninggalkan kewaspadaan Mahisa Agni masih dapat bersabar beberapa saat. Perkembangan perasaan yang dibacanya pada tingkah laku Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa menimbulkan harapan dihatinya, bahwa masalahnya tidak harus diselesaikan dengan kekerasan.

Dengan lembut ia berusaha menenteramkan hati Anusapati. Meski-pun ia tidak mengatakannya, bahwa ia melihat perubahan pada Sri Rajasa, namun ia mengharap bahwa Anusapati tidak merubah cara hidupnya sehari-hari.

“Berbuatlah seperti tidak terjadi sesuatu atasmu dan atas perasaanmu Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “mudah-mudahan kita menemukan jalan yang sebaik-baiknya.”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Mudah-mudahan kita tidak terlambat paman. Menurut perasaanku, kini sedang terjadi perang yang tiada kasat mata antara kita dengan ayahanda Sri Rajasa bersama adinda Tohjaya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak 'dapat ingkar. Yang dikatakan oleh Anusapati itu memang sebenarnya telah terjadi.

Meski-pun di saat terakhir terpercik harapan dihati Mahisa Agni, namun ia selalu memperingatkan kepada Anusapati, bahwa ia tidak boleh melupakan trisula kecilnya.

“Aku selalu membawanya paman. Disetiap saat trisula itu ada padaku. Bahkan dimalam hari bukan saja trisula itu, tetapi juga keris mPu Gandring selalu berada dipembaringan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia bergumam, “Mudah-mudahan aku dapat menyaksikan, bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang tajam sampai saatnya aku kembali ke Kediri.“

“Tetapi bagaimana sepeninggal paman?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sepeninggalku-pun keyakinan itu harus aku dapatkan. Jika tidak, aku masih akan tetap berada di istana ini, meski-pun jatuh perintah Sri Rajasa agar aku kembali ke Kediri. Atau ...” Mahisa Agni tidak melanjutkan kata-katanya.

“Atau? Apakah maksud paman?“ bertanya Anusapati.

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Tetapi didalami hati ia berkata, “Atau perang ini sudah berakhir, siapa-pun yang akan menjadi korban.”

Demikianlah, maka Anusapati yang muda itu masih harus menahan diri. Kadang-kadang terasa dadanya menjadi pepat dan kehilangan pengendalian diri. Tetapi setiap kali ia menyadari pesan pamannya, maka ia-pun segera mengurungkan niatnya untuk berbuat sesuatu.

Bahkan ia selalu berusaha untuk berbuat seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Ia berkeliaran dihalaman istana tanpa pengawalan. Bahkan ia berkunjung dari satu gardu yang lain seperti yang sering dilakukannya. Namun demikian ia tidak berpisah dengan trisula kecilnya, yang dapat memberikan perlindungan kepadanya, apabila pada suatu saat Sri Rajasa telah sampai pada titik akhir dari kesabarannya.

Dalam pada itu, Witantra benar-benar telah menepati janjinya. Dalam pakaian seorang pedagang ia berjalan hilir mudik didalam kota Singasari yang menjadi semakin besar. Dan ternyata seperti dugaannya, tidak ada orang lagi yang dapat mengenalnya. Selain wajahnya yang bertambah tua, Witantra sebagai Panglima tidak pernah berpakaian seperti yang dipakainya itu.

Tetapi Witantra masih dapat mengenali beberapa orang prajurit yang tidak sedang bertugas. Namun demikian Witantra tidak menemui setiap orang yang dijumpainya. Ia masih juga memilih orang-orang yang menurut dugaannya dapal dipercayainya.

Witantra tertarik kepada seorang prajurit dan Pasukan Pengawal yang sedang berdiri dimuka regol rumahnya, Rumah yang agaknya

belum terlalu lama dibangun. Rumah yang dibangun sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang perwira.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Rumah itu jauh lebih baik dari rumah orang itu selagi ia masih menjadi seorang perwira di Tumapel.

“Apa salahnya,“ berkata Witantra, “itu adalah haknya. Mudah-mudahan ia masih mengenal aku dan mudah-mudahan ia dapat diajak berbicara serba sedikit seperti dahulu. Jika ia berubah, maka persoalannya akan menjadi lain.”

Meski-pun dengan agak berdebar-debar juga Witantra mendekati regol itu. Tetapi dalam ujud seorang pedagang yang berkecukupan, maka perwira yang berdiri diregol itu-pun menaruh perhatian kepadanya.

Karena ternyata Witantra mendekatinya, maka perwira itu-pun kemudian menganggukkan kepalanya sambil menyapanya, “Apakah Ki Sanak mempunyai keperluan?”

Witantra-pun mengangguk hormat. Jawabnya, “Ya, ki Sanak. Aku ingin bertemu sejenak.”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Dan Witantra bertanya pula, “Apakah aku boleh minta sekedar keterangan?”

“Tentu,“ jawab perwira itu.

“Aku ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Kebo Pamungkas.”

“Kebo Pamungkas?“ orang itu mengulangi.

Witantra menganggukkan kepalanya. Tetapi ia melihat sesuatu yang menyentuh perasaannya.

“Kenapa Ki Sanak mencari Kebo Pamungkas?“ bertanya orang itu.

Witantra mulai curiga. Ia sadar, bahwa orang itu tidak akan segera mengaku tentang dirinya. Apalagi agaknya orang itu sama sekali sudah tidak mengenalinya.

“Aku adalah seorang utusan dari kawan Kebo Pamungkas,“ jawab Witantra.

“Siapakah yang mengutusmu?”

“Seorang pertapa dipuncak gunung.”

“Aneh,“ jawab orang itu, “menilik bentuk lahiriah, saudara adalah seorang pedagang, atau seorang pemilik tanah yang kaya. Bukan seorang cantrik, atau putut yang tinggal dipuncak gunung pada seorang pertapa.”

“Sebenarnya aku seorang Putut.”

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya, “Siapakah pertapa dipuncak gunung yang mengutusmu menemui Kebo Pamungkas.”

Witantra menjadi ragu-ragu. Namun katanya kemudian. “Ia adalah seorang bekas prajurit, yang tersisih. Tetapi sampai saat ini ia masih yakin akan kebenaran pendiriannya itu.”

Perwira itu mengerutkan keningnya.

“Kenapa kau sama sekali tidak mengesankan bahwa kau seorang Putut dari padepokan dipuncak gunung? Apatah perjalananmu mengandung suatu maksud sandi?”

“Tidak,“ berkata Witantra, “tidak ada maksud sandi.”

“Sebut namanya,“ perwira itu tidak sabar.

“Witantra, Witantra,“ orang itu merenungi nama itu sejenak. Lalu, “dimana padepokan itu?“

“Jauh, dipuncak gunung.”

“Witantra,” sekali lagi orang itu menyebut namanya, lalu katanya, “apakah sekarang Witantra menjadi seorang bertapa dipuncak gunung yang jauh?”

“Ya.”

Perwira itu memandang Witantra itu sejenak. Lalu, “Silahkan. Silahkan masuk.”

Witantra menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak tahu tanggapan yang sebenarnya dari perwira itu. Namun ia-pun tidak menolak dan mengikuti perwira itu masuk kedalam rumahnya.

Witantra-pun kemudian duduk dipendapa. Sejenak ia mengamati perabot rumah itu. Dilihatnya lewat pintu pringgitan yang terbuka, beberapa jenis senjata tergantung pada dinding rumah itu.

“Aku tertarik sekali jika Ki Sanak dapat berceritera tentang Witantra,“ berkata perwira itu kemudian, “sudah lama sekali aku tidak melihatnya sejak ia meninggalkan Tumapel.“

“Ya. Sejak itu,“ sahut Witantra. Lalu, “ia merasa bahwa ia sudah tidak terpakai lagi.”

“Sejak ia dikalahkan oleh Mahisa Agni di arena karena ingin membela nama baik Kebo Ijo.”

“Ya. Dan sekarang Mahisa Agni menjadi wakil Mahkota di Kediri.”

“Tetapi hubungan antara keduanya tidak seperti yang kita harapkan. Apakah banyak yang kau ketahui tentang isi istana? Tentang Sri Rajasa, puteranda Pangeran Pati dan putera-putera Ken Umang?”

Witantra menggelengkan kepalanya. “Apakah ada sesuatu yang menarik?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa,“ jawab perwira itu.

Witantra memandanginya sejenak. Lalu, “Bagaimana jika para perwira, terutama yang telah bertugas didalam pasukan pengawal sejak Tumapel, bertemu kembali dengan Witantra.”

“Kami tidak mempunyai persoalan apa-apa dengan Witantra. Witantra adalah seorang pemimpin yang baik bagi kami.“ Perwira itu berhenti sejenak. Lalu, “tetapi kami yang sudah ada didalam pasukan Pengawal sejak Tumapel, jumlahnya tidak lebih dari jari tangan.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tentu diantara mereka ada yang sudah terlalu tua. Tetapi tentu ada yang dengan sengaja disisihkan karena tidak disukai.

“Ki Sanak,“ berkata Witantra kemudian, “bagaimanakah jika Witantra itu pada suatu saat mengunjungi sahabat-sahabatnya di Singasari?”

“Tentu tidak apa-apa,“ jawab perwira itu, namun kemudian, “Tetapi saat ini Mahisa Agni berada di Singasari. Jika hubungan diantara mereka dapat pulih kembali, maka tidak akan ada persoalan yang lain. Aku kira Sri Rajasa-pun tidak akan menaruh banyak perhatian.”

“Benar begitu?”

Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berdesis, “Entahlah bagi Sri Rajasa itu.”

Witantra mengerutkan keningnya. Namun ia tidak segera mengatakan sesuatu tentang dirinya. Agaknya ia masih ingin meyakinkan tanggapan perwira itu sendiri.

“Bagiku,“ berkata perwira itu, “perhatian Sri Rajasa kini tertumpah pada persoalan putera-puteranya itu. Agaknya Putera Mahkota dan putera tertua dari isteri Sri Rajasa yang muda, tidak dapat dirukunkan.”

“Apakah Sri Rajasa tidak berpihak?”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak dapat mengatakannya.“

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia masih dicengkam oleh keragu-raguan. Dan ia-pun bertanya, “Apakah itu berarti bahwa kedatangan Witantra di Singasari tidak menambah persoalan bagi Sri Rajasa?”

“Memang mungkin sekali. Karena menurut pendapat kami, kepergian Witantra adalah karena adik seperguruannya yang terbunuh oleh Ken Arok, langsung atau tidak langsung sebelum Ken Arok bergelar Sri Rajasa.”

“Maksudmu?“ bertanya Witantra, “apakah sebenarnya Kebo Ijo tidak bersalah?“

“Tentu Kebo Ijo bersalah. Tetapi ia belum sampai di arena hukuman yang sebenarnya. Bukankah Witantra mengetahui bahwa kematian Kebo Ijo justru sebelum jatuh keputusan tentang dirinya, sedang saat itu tujuh pimpiaan di Tumapel masih meragukan kesalahannya?”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun bertanya, “jadi bagaimana menurut pendapatmu? Jika seandainya sekarang Witantra itu hadir di Singasari?”

“Tidak apa-apa bagiku,“ berkata perwira itu. “tetapi, aku kira pengaruhnya masih juga menggelisahkan Sri Rajasa dan barangkali juga Mahisa Agni. Kita tidak tahu, jika Witantra ada di Singasari, bagaimanakah tanggapannya atas peristiwa yang kini terjadi di istana ini. Mungkin ia tidak sependapat dengan Sri Rajasa dan tidak pula berpihak kepada Mahisa Agnj sekaligus. Mungkin ia ingin menanamkan pengaruhnya sendiri sehingga pada suatu saat akan ada tiga kekuatan yang terpisah di Singasari.”

“Tentu tidak,“ berkata Witantra, “Witantra tidak akan mempunyai keinginan untuk berbuat apa-apa lagi. Jika ia hadir di Singasari hanyalah sekedar melepaskan kerinduannya kepada beberapa orang sahabatnya termasuk Mahisi Agni.”

Witantra menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ia tidak mendendam kepada siapa pun. Tidak kepada Mahisa Agni dan tidak kepada Sri Rajasa.”

Perwira itu mengangguk-anggukkkan kepalanya. Katanya, “Mungkin Witantra yang sudah menjadi seorang pertapa itu tidak mendendam dan bahkan tidak lagi menganggap ada persoalan apa-pun di Singasari ini. Tetapi aku tidak tahu apakah tanggapan Sri Rajasa atas kehadirannya.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dan ia-pun kemudian bertanya, “Ki Sanak, apakah Ki Sanak tidak dapat menunjukkan seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas?”

“Jika Witantra sendiri datang, aku akan mengatakan kepadanya, tentang seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas.”

Witantra merenung sejenak, lalu gumamnya. “Jika demikian tempat yang ditunjukkan kepadaku itu ternyata keliru. Aku mendapat keterangan, bahwa dirumah ini aku akan dapat dapat menjumpai seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas.”

“Kebo Pamungkas adalah seorang perwira prajurit Tumapel, bukan seorang prajurit Singasari.“

“O.” Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “jadi, jika demikian aku telah salah. Atau barangkali Witantralah yang salah.“

“Aku akan menunjukkan kepada Witantra jika ia datang sendiri kepadaku,“ berkata perwira itu.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Ki Sanak sudah mengenal Witantra?“

“Tentu sudah. Aku mengenalnya dengan baik sejak kami bersama-sama menjadi prajurit di Tumapel.”

“O, jadi Ki Sanak juga seorang prajurit Tumapel?“

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Dan Witantra mendesaknya, “Jika demikian Ki Sanak sebenarnya juga mengenal

orang yang bernama Kebo Pamungkas yang Ki Sanak sebut sebagai seorang prajurit Tumapel itu.”

Sejenak perwira itu terdiam. Namun kemudian ia berkata, “Sudah aku katakan, jika Witantra itu datang, aku akan menjelaskannya.”

“Baiklah Ki Sanak,“ berkata Witantra, “aku akan mengatakan agar Witantra datang sendiri kepada Ki Sanak. Tetapi Ki Sanak tentu sudah tidak mengenalnya, karena ia menjadi semakin tua, tidak lagi berpakaian seperti seorang Panglima dan tidak lagi mempunyai pengaruh apa-pun pada lingkungannya.”

“Dan Kebo Pamungkas?”

“jangan bertanya lagi sebelum Witantra datang.“

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya perwira itu sejenak. Namun benar tidak ada kesan bahwa perwira itu masih mengenalnya.

Sejenak Witantra termangu-mangu. Apakah ia akan menunjukkan dirinya sendiri, atau ia akan mengambil keputusan lain sebelum terlanjur, karena akibatnya masih sangat diragukannya. Apalagi orang itu yang menurut pengenalannya bernama Kebo Pamungkas, selalu mencoba mengingkar; nama itu karena ia kini seorang perwira prajurit Singasari.

“Apakah ada keberatannya ia menyebut nama itu?“ bertanya Witantra kepada diri sendiri.

Sejenak kedua orang itu dicengkam oleh keragu-raguan. Namun karena kehadiran Witantra itu memang dengan sengaja untuk membangunkan nama Witantra kembali, maka ia-pun kemudian menetapkan bahwa ia akan menyatakan dirinya sendiri dihadapan perwira itu.

Maka dengan hati-hati Witantra-pun kemudian bertanya, “Ki Sanak. Jika Witantra itu datang, apakah Ki Sanak tidak akan melupakannya?”

“Pertanyaanmu sudah beberapa kali aku jawab, aku tidak akan dapat melupakan Witantra.”

Witantra itu tertawa. Katanya, “Ternyata kau keliru Ki Sanak. Kau ternyata sudah tidak akan dapat mengenal Witantra lagi.”

“Akh. Kenapa kau mendahului menebak? Kau belum mengetahui bagaimana aku mengenalnya dahulu dan bagaimana ia mengenal aku.”

“Bagaimana jika aku membawa dua atau tiga orang sekaligus datang kemari? Apakah kau dapat memilih, yang mana diantara mereka yang bernama Witantra?”

“Tentu, bawalah mereka kemari. Tiga, empat atau sepuluh orang sekaligus.“

Witantra justru tertawa karenanya. Katanya, “Tidak lebih dari seorang, dan Ki Sanak sudah tidak mengenalnya.”

“He,“ orang itu mengerutkan keningnya.

“Tidak lebih dari satu orang,“ ulang Witantra, “apakah Ki Sanak benar-benar masih mengenal Witantra he?”

Orang itu termangu-mangu sejenak.

Dan Witantrapnn tertawa semakin lebar, “Kau kenal aku?”

“Witantra, Witantra,“ orang itu menyebut namanya. Diamat-amatinya Witantra yang masih saja tertawa itu.

“Apakah maksudmu?“ perwira itu bertanya.

“Akulah Witantra,“ jawab Witantra itu.

Kerut merut dikening perwira itu menjadi semakin dalam. Namun dengan ragu-ragu ia berkata, “Mustahil aku tidak mengenalnya lagi. Mustahil.”

“Apakah yang aneh menurut pendapatmu? Pakaian saudagar kaya ini?”

Orang itu tidak menjawab.

“Maaf,“ berkata Witantra, “sebenarnya akulah Witantra itu. Itulah sebabnya aku mengetahui namamu. Dan itulah sebabnya aku menjadi agak bimbang ketika kau agaknya mengingkari nama itu.“

Orang itu masih memandang Witantra dengan tajamnya. Keragu-raguan yang dalam tampak pada sorot matanya. Namun sejenak kemudian ia berdesis, “Witantra, Witantra.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Rambutku sudah berubah warnanya. Keningku sudah menjadi berkerut merut, dan barangkali pipiku sudah mulai melipat.”

“Ah,“ orang itu berdesah. Namun perlahan-lahan ia mulai dapat mengingat kembali wajah Witantra. Wajah Panglima pasukan Pengawal istana pada masa kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung. Wajah yang tenang, dan seakan-akan permukaan air yang dalam. Diam, namun mengandung perbawa yang mencengkam.

Sejenak perwira itu memandang wajah Witantra. Dan dengan suara yang ragu ia bertanya, “Apakah benar aku berhadapan dengan Witantra.”

“Ya Ki Sanak. Aku berkata sebenarnya bahwa kau memang sedang berhadapan dengan Witantra. Karena itu jangan ingkar lagi bahwa kau adalah Kebo Pamungkas.”

Perlahan-lahan perwira itu menganggukskan kepalanya. Dan perlahan-lahan pula ia berkata, “Ya. aku semakin mempercayaimu, bahwa aku memang berhadapan dengan Witantra. Dan karena itu aku tidak akan dapat mengingkari nama itu lagi, meski-pun sejak aku menjadi perwira dari pasukan Pengawal di Singasari, namaku sudah berubah.

“O,“ Witantra menganggukkan kepalanya, “tetapi aku sadar bahwa kau ingin meyakinkan, apakah aku benar-benar Witantra. Nah, sekarang kau masih mendapat kesempatan. Apakah yang ingin kau ketahui, dan apakah yang dapat aku katakan, agar kau benar-benar percaya bahwa aku adalah Witantra.”

Perwira itu memandang Witantra sejenak. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Apakah yang kau ketahui tentang Putera Mahkota?”

Witantra tersenyum. Katanya, “Kau tidak mau mengatakannya. Tetapi baiklah, akulah yang akan mengatakannya bahwa Putera Mahkota itu bukan putera Sri Rajasa. Sebagai seorang Panglima Pasukan Pengawal aku tahu pasti, bahwa pada saat Akuwu Tunggul Ametung terbunuh, Ken Dedes sedang mengandung muda. Aku tahu pasti, bagaimana tuan puteri itu selalu diganggu oleh pening dikepala dan kadang-kadang muntah-muntah. Bagaimana tuan puteri selalu ingin makan mentah-mentahan yang asam. Dalam keadaan itulah tuan puteri kemudian kawin dengan Ken Arok yang dengan sendirinya melaksanakan tugas pemegang kekuasaan atas Tumapel. Dan ternyata ia adalah seorang yang memiliki kelebihan dari sesamanya. Itulah sebabnya, dengan bekal yang ada ia akhirnya dapat mempersatukan seluruh Singasari. Sehingga ia akhirnya bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Nah, apakah kau percaya bahwa aku Witantra. Tentu bukan sekedar keteranganku itulah yang memastikan jika aku Witantra, tetapi terlebih-lebih adalah ingatanmu tentang aku.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku yakin sekarang, bahwa kau memang Witantra. Tetapi Witantra memiliki kekuatan yang luar biasa. Kemampuannya hampir tidak ada duanya di Tumapel waktu itu, kecuali Mahisa Agni dan barangkali Sri Rajasa sendiri.”

Witantra tersenyum. Katanya, “Itu adalah pada masa mudaku, selagi olah kanuragan seakan-akan merupakan keputusan terakhir bagi setiap persoalan.”

Perwira itu memandang Witantra sejenak. Meski-pun ia menjadi semakin yakin bahwa yang dihadapinya memang Witantra, sebenarnyalah ia mengharapkan agar Witantra dapat membuktikan dirinya dengan kemampuannya yang luar biasa.

Tetapi tidak ada tanda-tandanya bahwa Witantra akan berbuat sesuatu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia masih saja

duduk ditempatnya sehingga perwira Singasari itu tidak lagi mengharap bahwa ia dapat melihat Witantra menunjukkan sesuatu kepadanya.

Sejenak keduanya berdiam diri. Sejenak perwira itu masih mengharap. Namun kemudian ia mengerutkan keningnya dan berkata seakan-akan diluar kehendaknya, “Aku sekarang yakin, bahwa kau memang Witantra. Justeru bahwa kau tidak berbuat apa-apa itulah, yang menunjukkan kepadaku, sebenarnyalah kau seorang yang matang dan memiliki ilmu tinggi. Kau tidak dengan tergesa-gesa turun kehalaman dan meremas sebongkah batu menjadi debu. Itulah yang mengagumkan. Aku jadi yakin sekarang.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sukurlah, jika kau mempercayaiku. Justru aku tidak berbuat apa-apa.”

“Karena kau tidak berbuat apa-apa itulah aku jadi yakin.“ sahut perwira itu, “jika kau dengan bangga menunjukkan kemampuanmu dan membuat pengeram-eram, maka kau tentu bukan Witantra yang aku kenal dahulu. “

Witantra tertawa. Katanya, “Tanggapanmu-pun adalah tanggapan seorang perwira yang matang. Jarang sekali seseorang memiliki tanggapan serupa itu. Jika bukan Ki Kebo Pamungkas, ia tentu ingin melihat aku meremas batu menjadi debu.”

Keduanya tertawa. Dan perwira itu berkata, “Ternyata kita masih sempat bertemu lagi. Aku senang sekali dapat bertemu dengan Kau Witantra. Selama aku menjadi prajurit sejak di Tumapel, aku belum pernah mempunyai Panglima seperti kau. Bukan saja Panglima Pasukan Pengawal, tetapi Panglima pasukan yang manapun.”

“Kau memuji. Tentu aku jauh ketinggalan dari Panglima yang ada sekarang. Mereka tentu memiliki kecakapan dan kemampuan melampaui setiap Panglima yang pernah ada.”

Perwira itu mengangkat bahunya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak ingin mengatakan sesuatu tentang para Panglima yang ada sekarang.

“Baiklah,“ berkata Witantra, “kita tidak berbicara terlalu banyak tentang diri kita sendiri. Aku ingin bertanya secara keseluruhan, apakah terdapat banyak kemajuan sejak Singasari berdiri sampai sekarang?”

Kebo Pamungkas mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Secara keseluruhan kita memang banyak mengalami kemajuan. Tumapel memang terlampau kecil dibanding dengan Singasari sekarang.“ ia berhenti sejenak. Lalu, “aku berkata sebenarnya Witantra.”

“Ya, aku mengerti. Demikian juga menurut pengamatanku dari luar dinding istana Singasari. Bahkan sampai ke puncak bukit yang jauh masih terasa kekuasaan tetapi juga perlindungan dari Singasari. Memang agak berbeda dengan Tumapel yang seakan-akan hanya berkuasa di kota-kota besar saja sekitar Tumapel. Meski-pun pada saat itu masih ada kekuasaan yang lebih tinggi. Kediri.”

“Tetapi,“ tiba-tiba suara perwira itu merendah, “ternyata kemudian telah timbul persoalan didalam istana Singasari sendiri. Didalam keluarga Ken A rok yang bergelar Sri Rajasa. Sebagai seorang Maharaja ia berhasil membina Singasari menjadi suatu negara besar. Tetapi sebagai seorang ayah ia benar-benar gagal.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apalagi lahir Anusapati yang bukan anaknya yang sebenarnya. Ternyata Sri Rajasa yang berjiwa besar menghadapi persoalan Kediri, bukan Ken Arok yang berjiwa besar menghadapi kelahiran anak tiri yang sudah diketahui sejak Ia kawin, bahwa pada saatnya anak itu tentu akan lahir.”

Witantra masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dan ternyata anak itu sampai saat ini masih juga membawa persoalan. Ternyata kematian Tunggul Ametung bukan suatu penyelesaian yang tuntas bagi Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa.”

Witantra memandang wajah Perwira itu sejenak. Ia melihat sesuatu melintas diwajah itu, dan dengan serta-merta ia bertanya, “Bagaimanakah tanggapan para prajurit, terutama para Pelayan Dalam, Pasukan Pengawal dan pemimpin pemerintahan?”

“Maksudmu?”

“Tentang hubungan Sri Rajasa dengan putera Tunggul Ametung yang sekarang justru menjadi Putera Mahkota.”

“Kurang baik. Tidak ada yang dapat disalahkan pada keduanya. Keadaanlah yang memang menghadapkan mereka pada suatu sikap yang hampir dapat dikatakan bertentangan. Alangkah mudahnya melenyapkan Putera Mahkota itu sebenarnya seandainya tidak ada Mahisa Agni yang kebetulan adalah kakak tuan Puteri Ken Dedes yang pengaruhnya ternyata cukup besar di Singasari dan Kediri.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Seakan-akan ia baru mendengar semuanya itu untuk pertama kalinya.

“Persoalan ini sebenarnya tumbuh sejak Ken Arok mengambil keputusan untuk kawin dengan Ken Dedes yang sedang mengandung. Itulah soalnya.”

“Dan siapakah yang paling baik bagi Singasari? Seharusnya kita tidak berbicara tentang siapakah orangnya. Tetapi apakah yang dilakukannya bagi Singasari yang sudah memiliki bentuknya ini.”

Perwira Singasari yang semula bernama Kebo Pamungkas itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Witantra sejenak, lalu dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Bagiku Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu adalah orang yang paling baik bagi Singasari. Baru kemudian Anusapati yang memang sudah menunjukkan darmanya bagi rakyat. Ia adalah orang yang terkenal dengan sebutan Kesatria Putih. Tetapi justru ketika rakyat Singasari dan juga kalangan istana mengetahui bahwa Kesatria Putih adalah Putera Mahkota, maka geraknya menjadi terbatas sekali.”

Witantra mengerutkan keningnya. Bahkan hampir di luar sadarnya ia berkata. “Jika demikian, maka yang terbaik sekarang

adalah mempertahankan kekuasaan Sri Rajasa seandainya timbul persoalan, karena seperti yang kau katakan hubungan antara Sri Rajasa dan Anusapati agak kurang baik.”

“Jika persoalannya terbatas sampai disitu, maka kau benar. Tetapi persoalannya tidak berhenti sampai disitu.“

“Masih, akan timbul persoalan apa lagi?”

“Tentu umur Sri Rajasa betapa-pun ia manusia yang ajaib, tidak akan abadi. Pada suatu saat ia akan mati apa-pun sebabnya. Nah, jika ia meninggal, timbullah persoalan yang berat bagi Singasari.“

“Persoalan yang mana yang masih harus dinilai lagi?”

“Tentu Sri Rajasa ingin tahta Singasari jatuh pada keturunannya. Bukan kepada anak Tunggul Ametung. Karena ia tidak dapat ingkar bahwa anak Tunggul Ametung itu yang dianggap oleh rakyat Singasari sebagai puteranya yang sulung, maka ia adalah Putera Mahkota. Namun Sri Rajasa tidak ingin Putera Mahkota itu akan menggantikannya sebagai Maharaja, karena ia agaknya memilih tuanku Tohjaya.”

Witantra mengerutkan keningnya. Ia kagum atas penilaian Kebo Pamungkas. Agaknya Kebo Pamungkas tidak dipengaruhi oleh kepentingan pribadinya, sehingga ia dapat melibat setiap orang di dalam istana Singasari dengan tepat.

“Jadi apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh Sri Rajasa?” bertanya Witantra.

“Tidak seorang-pun yang mengetahuinya,“ jawab Kebo Pamungkas, “mungkin ia berusaha menyingkirkan Anusapati. Mungkin pula ia berusaha agar Anusapati menarik diri atas kehendaknya sendiri.“

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu. “Tetapi yang manakah tanda-tanda yang dapat kau lihat akan terjadi?“

Perwira itu menggelengkan kepalanya, “Tidak seorang-pun yang tahu. Semuanya dapat terjadi. Tetapi mungkin juga tidak terjadi sesuatu.“

Witantra mengangguk-angguk sambil tersenyum. Memang sulit untuk mengatakannya. Hanya orang-orang yang terlibat langsung sajalah yang dapat melihat kemungkinan yang lebih jelas akan terjadi di Singasari. Bahkan Mahisa Agni yang terlibat-pun masih juga mengharap bahwa yang mungkin terjadi itu tidak terjadi.

Demikianlah Witantra berada dirumah perwira itu untuk beberapa saat, sehingga akhirnya ia-pun minta diri. Tetapi ia masih bertanya, siapa sajakah kawan-kawan lamanya yang dapat dikunjunginya, sekedar untuk melepaskan perasaan sepi karena, untuk beberapa tahun lamanya ia tinggal dipadepokan yang terpencil.

“Kau benar-benar tinggal dipadepokan terpencil?”

“Benar. Untuk itu aku berkata sebenarnya.”

“Atau barangkali kau justru menjadi seorang pedagang yang kaya raya, tetapi tidak bernama Witantra?“

“Tidak. Aku tidak melakukannya. Aku hanya meminjam perlengkapan adikku yang memang menjadi seorang pedagang, agar kehadiranku dikota yang besar ini agak pantas dipandang orang.“

“Terutama kau yang dengan sengaja melepaskan semua bekas yang masih tertinggal pada seorang Panglima Pasukan Pengawal.”

“Bekas saja,“ sahut Witantra.

Kebo Pamungkas tertawa. Katanya, “Baiklah Witantra jika kau mempunyai kesempatan, maka kawan-kawan lama yang kau kunjungi pasti akan menerimamu dengan senang hati. Tetapi jangan terkejut jika orang Singasari akan menyebut namamu lagi, karena masih banyak orang-orang tua yang ingat akan namamu.”

“Tentu tidak. Meski-pun masih ada juga orang yang ingat akan namaku, tetapi mereka tidak akan menyebutnya lagi. Karena namaku sekarang tidak mempunyai arti apa-apa lagi.”

“Apa salahnya. Kadang-kadang sebuah kenangan mempunyai arti tersendiri didalam hidup ini. Juga kenangan atas seorang prajurit yang bernama Witantra, yang pada waktu itu menjabat sebagai seorang Panglima Pasukan Pengawal.”

Witantra tertawa. Katanya, “Terima kasih. Mudah-mudahan kawan-kawan lama mempunyai tanggapan seperti kau.“

Demikianlah maka Witantra-pun kemudian minta diri kepada perwira yang pernah mempergunakan nama Kebo Pamungkas itu. Seperti yang ditunjukkan kepadanya, maka ia-pun berjalan menuju kerumah seorang perwira yang lain, yang seperti juga Kebo Pamungkas, kini menjabat didalam keprajuritan Singasari, juga dalam Pasukan Pengawal, Tanggapan beberapa orang kawan yang dikunjunginya hampir tidak ada bedanya. Juga tanggapan mereka atas keadaan Singasari seutuhnya. Namun dari pembicaraan yang dilakukan, meski-pun seakan-akan hanya sepintas lalu, ternyata bahwa para perwira menilai Anusapati lebih baik dari Tohjaya.

Namun seorang perwira berkata kepadanya. “Tetapi hati-hati kakang Witantra. Diantara para prajurit, bahkan para Panglima yang sekarang, ada yang dengan membabi buta berpihak kepada Tohjaya, meski-pun hal itu telah dipengaruhi oleh pamrih pribadi.“

Pembicaraan-pembicaraan itu ternyata memberikan gambaran yang hampir lengkap bagi Witantra atas keadaan Singasari. Bagaimana-pun juga Sri Rajasa dan Mahisa Agni menyimpan perasaan masing-masing dan sejauh-jauhnya menimbulkan kesan pertentangan yang ada didalam dada mereka, namun ternyata bahwa hal itu terasa pula bagi para perwira di Singasari.

Perang yang berlangsung dengan diam-diam itu tidak dapat disembunyikan seutuhnya, sehingga dengan diam-diam pula hampir setiap perwira telah mencoba menilai keduanya, dan bahkan telah berusaha untuk menempatkan dirinya.

Namun lebih daripada itu, seperti yang memang dimaksudkan oleh Mahisa Agni, maka nama Witantra-pun mulai disebut-sebut lagi. Dari bibir kebibir, beberapa orang dari lingkungan Pasukan Pengawal mulai membicarakannya.

“Witantra, aku pernah mendengar nama itu,“ berkata seorang prajurit muda.

“Tentu,“ jawab yang lain, yang umurnya sudah jauh lebih tua. “Witantra adalah Panglima Pasukan Pengawal pada jaman Akuwu Tunggul Ametung bertahta di Tumapel.“

Prajurit yang masih muda itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Aku memang pernah mendengar. Ia terusir oleh Mahisa Agni dalam perang tanding diarena, karena Witantra mencoba mempertahankan nama baik, kebo Ijo, yang mati terbunuh, setelah ia membunuh Akuwu Tunggul Ametung.”

“Nah, kau banyak mengetahui tentang Witantra,“ berkata yang sudah lebih tua, “begitulah ceriteranya.”

“Tetapi kenapa ia sekarang datang lagi ke Singasari?”

Prajurit yang tua itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Mungkin ia sekedar ingin melihat Singasari sekarang. Tetapi mungkin ia ingin menemui beberapa orang kawan-kawannya.”

Prajurit yang muda itu hanya sekedar mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sedang prajurit yang tua itu berkata pula, “Jika kehadirannya ini didengar oleh Mahisa Agni mau-pun oleh Sri Rajasa, pasti akan menimbulkan persoalan baru, Mahisa Agni yang pernah bermusuhan diarena itu, tentu tidak akan segera dapat melupakan. Bahkan mungkin Witantra sekarang ingin melihat persoalan yang terjadi di Singasari dan siapa tahu, ia masih mampu menentukan sikap dan berbuat sesuatu, karena bagaimana-pun juga ia adalah seorang Panglima yang besar pada waktu itu. Agaknya tidak ada orang lain kecuali Mahisa Agni sajalah yang dapat mengalahkannya, yang kebetulan karena kematian mPu Gandring, maka Mahisa Agni merasa berkepentingan untuk

menghukum Kebo Ijo dan tetap menempatkannya pada kedudukannya sebagai seorang pembunuh.”

Prajurit yang muda itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ceritera semacam itu pernah didengarnya meski-pun tidak lengkap. Namun bagaimana-pun juga kehadiran Witantra menjadi bahan pembicaraan disetiap kalangan, terutama keprajuritan, bukan saja dari lingkungan pasukan Pengawal.

Ternyata bahwa ceritera tentang Witantra itu menjalar terus sehingga suatu ketika sampai juga ketelinga Tohjaya. Seperti hampir setiap prajurit dan orang-orang didalam lingkungan istana pernah mendengar nama itu, maka Tohjaya-pun pernah mendengarnya pula. Tohjaya mengetahui bahwa Witantra pernah melakukuan perang tanding melawan Mahisa Agni, sehingga Witantra dengan menderita malu meninggalkan Tumapel pada waktu itu.

“Tentu Witantra itu masih tetap mendendam Mahisa Agni,” berkata Tohjaya didalam hatinya, “mudah-mudahan dendamnya itu kini semakin menyala didalam hatinya.”

Dengan harapan yang melonjak didalam hatinya, maka Tohjaya-pun kemudian menyampaikan ceritera yang didengarnya itu kepada ayahanda Sri Rajasa.

“Siapakah yang mengatakan kepadamu?“ bertanya Sri Rajasa.

“Beberapa orang menceriterakan bahwa mereka mendengar tentang kehadiran Witantra di Singasari.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun ia-pun menggelengkan kepalanya, “Aku tidak memerlukannya lagi.“

“Ayahanda,“ berkata Tohjaya kemudian, “jika Witantra itu dahulu pernah bermusuhan dengan pamanda Mahisa Agni, apakah salahnya jika sekarang Witantra itu berada istana ini dan dihadapkan kepada kemungkinan yang dapat ditimbulkan oleh pamanda Mahisa Agni? Atau barangkali ayahanda dapat mengambil kebijaksanaan, agar Kediri tidak terpengaruh terlampau dalam oleh

pamanda Mahisa Agni, ayahanda dapat mengangkat Witantra itu menggantikannya.”

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Katanya. “Tentu tidak semudah itu Tohjaya. Inilah salah satu tugas yang harus dilakukan oleh seorang raja. Tidak sekedar menuruti gejolak perasaannya saja. Kita harus mempertimbangkan, akibat yang dapat ditimbulkan oleh keputusan-keputusan yang kita ambil. Memang terlampau mudah untuk mengambil keputusan itu. Tetapi akibat dari keputusan itulah nanti yang akan menimbulkan persoalan-persoalan yang membuat kita bertambah pening.”

“Baiklah ayahanda. Tetapi apa-pun yang dapat kita berikan kepadanya, sebaiknya Witantra itu kita undang untuk masuk kembali kedalam istana.”

Sri Rajasa tidak segera menyahut. Kini setiap kali ia selalu diganggu oleh kenangan masa lampaunya. Bagaimanakah kiranya jika Witantra itu mengetahui, siapakah sebenarnya yang telah membunuh Tunggul Ametung, mPu Gandring dan kemudian siapakah yang telah mendorong Kebo Ijo dengan licik, sehingga ia terbunuh sebagai seorang pembunuh.

Bahkan tiba-tiba saja timbul pertanyaan didalam hatinya, “Apakah Witantra sudah mengetahuinya dan kehadirannya itu didorong oleh sakit hatinya? Jika demikian tentu bukan Mahisa Agni yang dicarinya untuk melepaskan dendam dan sakit hatinya.”

Tetapi Sri Rajasa tidak dapat mengatakannya kepada Tohjaya. Tohjaya masih belum tahu apakah yang dilakukan oleh ayahandanya untuk mencapai kedudukannya yang sekarang. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan membiarkan anaknya mengetahui bahwa ia adalah seorang pembunuh. Pembunuh yang licik meski-pun kini setiap orang mengakuinya sebagai seorang Maharaja yang berani dan bijaksana. Tetapi sekali ini ia dibelit oleh persoalan keluarga yang kadang-kadang mengaburkan kebijaksanaannya.

Sri Rajasa terkejut ketika Tohjaya bertanya kepadanya, “Apakah ayahanda sependapat?”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku akan mempertimbangkannya Tohjaya. Tetapi tentu dengan segala macam perhitungan. Sebagai seorang raja yang mengemudikan Singasari dalam keseluruhan, bukan hanya sekedar didalam istana ini, atau lebih sempit lagi hanya mengurusi kau dan Anusapati, mungkin juga Mahisa Agni. maka aku harus membuat pertimbangan-angan yang masak.”

“Ayahanda,“ Tohjaya mencoba mendesak, “apakah persoalan ini akan ada sangkut pautnya dengan kebijaksanaan ayahanda bagi Singasari?”

“Tentu Tohjaya. Anusapati adalah seorang Pangeran Pati. Semua persoalan yang menyangkut Anusapati, tentu akan menyangkut Singasari.”

“Maksudku, jika kemudian pamanda Mahisa Agni dan kakanda tersingkir dan ayahanda mengangkat penggantinya, maka persoalannya tentu akan selesai. Agar mereka tidak akan dapat berbuat apa-pun lagi untuk seterusnya, maka sebaiknya mereka itu harus disingkirkan untuk selama-lamanya.”

“Aku mengerti maksudmu. Dan aku akan memikirkannya.”

Tohjaya tidak berani mendesaknya lagi. Sejenak ia masih duduk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia-pun mohon diri meninggalkan bangsal ayahandanya Sri Rajasa.

Bersama dua orang pengawalnya ia berjalan dihalaman istana Singasari. Dengan sengaja ia berjalan melalui lorong yang menyilang halaman bangsal Anusapati.

Ternyata seperti yang diharapkannya Anusapati berada didepan bangsalnya bersama anak laki-lakinya. Sejenak Tohjaya berhenti. Kemudian perlahan-lahan ia mendekatinya.

“Putera kakanda sudah pandai berkelahi,“ berkata Tohjaya sambil tersenyum.

Anusapati-pun tersenyum pula. Sambil mengusap kepala anaknya ia berkata, “Sebentar lagi ia sudah pandai memacu seekor kuda.”

Tohjaya menganggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tentu seperti ayahandanya. Sebagai Kesatria Putih kakanda adalah penunggang kuda yang baik.”

“Terima kasih,“ sahut Anusapati mendengar pujian itu, lalu ia-pun mencoba mempersilahkan Tohjaya meski-pun ia tahu pasti bahwa Tohjaya tidak akan bersedia melakukannya.

“Ah, aku hanya singgah sebentar kakanda Anusapati, Aku baru saja menghadap ayahanda Sri Rajasa.”

“O,“ Anusapati mengangguk-angguk.

“Apakah kakanda Anusapati sudah mendengar berita yang baru saja tersiar diseluruh kota Singasari ini?“

“Maksudmu?“ bertanya Anusapati.

“Kakanda, apakah kakanda pernah mendengar nama Witantra?”

“Witantra,“ Anusapati mengulangi.

“Ya. Witantra.”

Anusapati menjadi berdebar-debar. Tentu ia mengenal Witantra dengan baik. Tetapi kenapa Tohjaya bertanya kepadanya?

“Aku memang pernah mendengar,“ jawab Anusapati ragu-ragu.

“Tentu sudah. Witantra pernah menjabat sebagai seorang Panglima pada jaman pemerintahan Tumapel yang dipimpin hanya oleh seorang Akuwu bernama Tunggul Ametung.”

Dengan kaku Anusapati menganggukkan kepalanya. Tunggul Ametung adalah nama yang dikenalnya dengan baik sejak ia mengetahui siapakah dirinya itu sebenarnya.

“Sudah lama Witantra menghilang. Kau tahu sebabnya kakanda?“ bertanya Tohjaya pula.

Anusapati tidak menyahut.

“Tentu kau pernah mendengar. Witantra ternyata dikalahkan oleh pamanda Mahisa Agni diarena, dalam usahanya membersihkan

nama baik seorang prajurit bernama Kebo Ijo. Kau tentu pernah mendengar.”

Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Dan ia masih harus mendengarkan beberapa keterangan lagi mengenai Witantra itu, yang semuanya telah diketahuinya dengan baik.

“Yang penting kakanda,“ berkata Tohjaya kemudian, “bahwa Witantra dan pamanda Mahisa Agni adalah musuh bebuyutan,“ ia berhenti sejenak. Lalu, “ternyata sekarang nama Witantra itu timbul kembali. Dihari terakhir Witantra telah menampakkan dirinya diantara rakyat Singasari. Kita tidak tahu maksudnya. Namun yang terdengar, setelah Witantra bertapa diatas bukit yang sangat jauh, ia kini memiliki kemampuan jasmaniah yang tiada terkira. Juga ilmu kejiwaan dan kekuatan rokhaniahnya. Pokoknya kini ia menjadi seorang yang mumpuni.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kini dadanya justru menjadi sedikit lapang. Ternyata tanggapan Tohjaya tentang Witantra tidak tepat seperti yang sebenarnya.

“Karena itu kakanda,“ berkata Tohjaya kemudian, “aku ingin berpesan. Bukan maksudku merendahkan pamanda Mahisa Agni, tetapi jika masih ada kesempatan, sebaiknya pamanda Mahisa Agni segera meninggalkan Singasari sebelum Witantra berbuat sesuatu untuk melepaskan dendamnya terhadap paman Mahisa Agni. Kekalahannya diarena tidak akan pernah dapat dilupakan seumur hidupnya justru karena ia seorang kesatria.”

Terasa dada Anusapati terguncang pula mendengar kata-kata Tohjaya. Meski-pun Anusapati mengerti, bahwa yang dikatakan oleh Tohjaya itu tidak akan terjadi, karena justru Witantra sudah terlampau sering, bukan saja bertemu, tetapi sudah bekerja sama untuk waktu yang lama, namun cara mengucapkan kata-katanya benar-benar menyakitkan hati.

“Jangan tersinggung kakanda,“ berkata Tohjaya kemudian, “aku tahu bahwa pamanda Mahisa Agni adalah pamanmu karena ia

adalah kakak ibunda Permaisuri, namun sebenarnyalah aku memang bermaksud baik.”

Sejenak Anusapati terdiam. Dengan susah payah ia mencoba menahan perasaannya. Setelah gejolak dihatinya mereda, maka ia-pun menjawab, “Terima kasih atas pesanmu adinda Tohjaya. Jika aku bertemu dengan pamanda Mahisa Agni, biarlah aku memberitahukannya.”

“Bukan sekedar memberitahukan kakanda. Tetapi kakanda harus mohon kepada pamanda Mahisa Agni, agar ia menyingkir. Mungkin ia sekarang merasa dirinya tidak terkalahkan selain oleh ayahanda Sri Rajasa. Ia merasa menang pula atas prajurit Singasari dan Kediri secara pribadi. Namun mungkin ia harus berpikir lain terhadap orang yang bernama Witantra itu. Setelah bertahun-tahun Witantra hilang dari Tumapel, maka ia tentu bukan Witantra yang dahulu. Sedang apakah sebenarnya yang dimiliki oleh pamanda Mahisa Agni?”

“Memang tidak ada,“ berkata Anusapati, “karena itu aku memang akan menyampaikannya. Seperti katamu, aku akan minta pamanda Mahisa Agni kembali saja ke Kediri.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Ia mengharap Anusapati menjadi sakit hati. Tetapi ternyata Anusapati kemudian sama sekali tidak memberi kesan bahwa ia telah tersinggung karenanya.

“Kakanda Anusapati,“ berkata Tohjaya kemudian, yang memang berusaha membuat Anusapati marah, “jika pamanda Mahisa Agni tidak ingin segera kembali ke Kediri karena ibunda Permaisuri sedang sakit, maka sebaiknya pamanda Mahisa Agni bersembunyi saja didalam istana. Di sini pamanda Mahisa Agni akan mendapat perlindungan dari ayahanda Sri Rajasa, jika Witantra mencarinya.“

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Terlintas dikepalanya, pertengkaran yang hampir saja menyeretnya kedalam suatu pertentangan yang terbuka. Karena itu, maka betapa-pun juga. Anusapati masih mencoba menahan hatinya. Bahkan ia-pun mencoba untuk segera mengakhiri pembicaraan yang membosankan

itu, katanya, “Adinda Tohjaya. Apakah adinda sudah melihat kehadiran Witantra?”

Tohjaya termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Apakah aku perlu melihat sendiri? Aku dan ayahanda mempunyai beberapa orang petugas sandi. Mereka benar-benar sudah meyakini, bahwa Witantra kini ada di Singasari.”

“Maksudku,“ berkata Anusapati. “adinda Tohjaya sudah mendapat keterangan langsung dari mereka yang memang bertugas mengawasinya, atau orang-orang yang secara kebetulan menjumpainya?”

Tohjaya tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Anusapati sejenak, lalu katanya. “Aku sudah mendengarnya langsung dari petugas sandi.”

“Jika demikian, alangkah akan berterima kasihnya pamanda Mahisa Agni, tentu tidak akan melupakan budi baik adinda Tohjaya, karena dengan demikian adinda Tohjaya sudah menyelamatkan nyawanya.“

Sepercik warna semburat merah membayang diwajah Tohjaya. Meski-pun demikian ia masih juga menjawab, “Itu tidak perlu. Bagiku, tidak banyak kepentingannya apakah pamanda Mahisa Agni terjebak oleh Witantra atau tidak. Terserahlah kepada kakanda. Apakah kakanda menganggap perlu menyampaikannya atau tidak.”

“O.“ Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “baiklah, aku akan memberitahukan. Tetapi aku justru menjadi sangat cemas.”

“Karena itu, kakanda harus segera menemuinya.”

“Bukan karena pamanda Mahisa Agni akan mengalami pembalasan dendam. Tetapi yang aku cemaskan, jika aku salah memberikan keterangan, justru pamanda Mahisa Agnilah yang akan mencari Witantra itu.”

Dada Tohjaya berdesir. Cepat-cepat ia berkata, “Apakah pamanda Mahisa Agni sudah jemu hidup? Witantra bukan lagi Witantra yang dikalahkan.”

“Perkembangan waktu yang berjalan dalam kehidupan Witantra akan dialami juga oleh pamanda Mahisa Agni. Ingat, bahwa pamanda Mahisa Agni telah berhasil mengalahkan Senapati Agung Kediri pada waktu itu. Bukan sekedar peorang Panglima Pasukan Pengawal istana Tumapel.“

Dada Tohjaya telah terguncang. Ia tidak dapat membantah, bahwa sebenarnyalah Mahisa Agni pernah mengalahkan Senapati Agung Kediri, pada saat Sri Rajasa berhasil memecah pertahanannya dan membunuh Maharaja Kediri pula.

Meski-pun demikian Tohjaya masih berkata, “Terserahlah kepadamu. Cobalah sekali-sekali melihat kenyataan. Jika pamanda Mahisa Agni ingin mencari Witantra, sebaiknya di persilahkan saja.”

“Baiklah adinda Tohjaya,“ berkata Anusapati kemudian, “aku akan menyampaikannya. Sikap yang akan diambil kemudian terserah kepada pamanda Mahisa Agni. Apakah pamanda Mahisa Agni akan mengulangi perang tanding diarena, atau pamanda ingin menemuinya dan langsung membunuhnya.”

“Pamanda Mahisa Agni yang akan dibunuhnya.”

“O begitu?“ Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ternyata sikap Anusapati itu sama sekali tidak menyenangkan hati Tohjaya. Bahkan hampir saja ia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Untunglah bahwa kedua prajurit pengawalnya itu kemudian mendekatinya dan berkata, “Tuanku, marilah. Ibunda tentu menunggu.”

Tohjaya memandang kedua pengawalnya yang juga menjadi penasehatnya sejenak. Tetapi ketika ia melihat prajurit yang ada didepan regol halaman bangsal Anusapati timbul kecurigaannya, bahwa pengawal-pengawalnya itu telah menjadi ketakutan.

Namun Tohjaya tidak berbuat apa-apa. Dipandanginya sekali lagi Anusapati sambil berkata, “berhati-hatilah. Mungkin Witantra tidak hanya sekedar menuntut balas kepada pamanda Mahisa Agni saja.”

“Terima kasih atas peringatan ini. Tetapi kesatria Putih akan mencarinya sampai ketemu, apa-pun yang akan terjadi.”

Wajah Tohjaya menjadi merah padam. Ternyata hati Anusapati sama sekali tidak menjadi kecut. Bahkan sebaliknya. Namun Tohjaya masih juga berkata, “Jangan terlalu sombong. Kesatria Putih tidak ada harganya dihadapan Witantra.”

“Tetapi Kesatria Putih pernah membinasakan penjahat yang paling berbahaya di Singasari. Jika demikian, maka Kesatria Putih akan mencobanya jika ia gagal, biarlah ia terkubur bersama kesombongannya.”

Kemarahan Tohjaya sudah sampai diubun-ubunnya. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa, karena ia masih tetap sadar, bahwa ia berada di halaman bangsal Anusapati.

“Baiklah kakanda,“ berkata Tohjaya, “aku minta diri. Aku sudah mengatakannya. Terserahlah kepada kakanda. Jika terjadi sesuatu dengan Mahisa Agni dan Kesatria Putih, sama sekali kakanda tidak dapat menyalahkan aku lagi.”

“Terima kasih adinda.”

Tohjaya-pun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah meninggalkan bangsal Anusapati. Ia tidak berhasil menakut-nakuti Pangeran Pati itu, tetapi justru sebaliknya. Hatinya sendiri serasa terbakar. Namun untuk menyenangkan hatinya sendiri ia berkata kepada kedua pengawalnya, “Kakanda Anusapati memang sombong sekali. Tetapi ia tentu menjadi ketakutan. Mungkin ia akan berlari-lari kepada pamanda Mahisa Agni dan mengatakan bahwa sebaiknya pamanda Mahisa Agni pergi saja dari Singasari dan bahkan mungkin kakanda Anusapati ingin ikut serta bersamanya. Tentu ia tidak akan dapat berbuat apa-apa dihadapan Witantra meski-pun ia menamakan dirinya Kesatria Putih atau Kesatria hijau atau hitam sama sekali.”

Kedua pengawalnya sama sekali tidak menyahut. Mereka sudah mengenal Tohjaya dengan baik. Jika mereka berani membantahnya

barang satu patah kata, maka Tohjaya itu tentu akan membentak-bentaknya.

Sebenarnyalah bahwa Anusapati-pun kemudian memang pergi kepada Mahisa Agni. Diceriterakannya apa saja yang dikatakan oleh Tohjaya kepadanya.

Mahisa Agni justru tersenyum mendengar ceritera Anusapati tentang Tohjaya tersebut. Katanya, “Tentu ia tidak mengetahui bagaimana perasaan ayahandanya. Jika ayahandanya menduga bahwa Witantra mengerti apa yang sudah terjadi, maka Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tentu akan berpikir lain dari Tohjaya. Tetapi tentu ia tidak akan mengatakannya kepada puteranya itu.”

“Aku kira adinda Tohjaya akan menunggu, apakah pamanda akan segera pergi ke Kediri atau tidak. Jika pamanda kemudian ternyata pergi ke Kediri, maka adinda Tohjaya tentu menganggap bahwa pamanda menjadi ketakutan dan dengan tergesa-gesa meninggalkan Singasari.”

“Kasihan anak itu,“ berkata Mahisa Agni kemudian.

“Jadi, apakah yang akan paman lakukan setelah paman Witantra sekarang mulai disebut-sebut orang lagi.”

“Aku menunggu perintah Sri Rajasa. Mungkin Sri Rajasa akan memanggilku dan mempersoalkan Witantra itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apakah pendapat adinda Tohjaya itu juga pendapat ayahanda Sri Rajasa?”

“Belum dapat ditentukan,“ jawab Mahisa Agni.

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, ayahanda tentu akan memanggil pamanda Mahisa Agni, karena menurut ayahanda Sri Rajasa, pamanda berkepentingan karena pamanda pernah melakukan perang tanding melawan Witantra. Dan agaknya hal itu semua orang mengetahuinya.”

“Terutama yang umurnya sudah cukup tua. Mungkin banyak diantara prajurit Singasari sekarang yang menyaksikan perang

tanding pada waktu itu. Namun yang aku tidak mengerti, dari mana Tohjaya dapat mengatakan bahwa Witantra sekarang bukan Witantra yang dahulu.”

“Kesan setiap orang tentu demikian pamanda, karena paman Witantra seakan-akan baru saja turun dari pertapaannya. Tentu ia sudah membekali dirinya dengan ilmu yang paling sakti. Jika ia datang ke Singasari, maka tentu orang akan menghubungkannya dengan pamanda Mahisa Agni.”

Makisa Agni tersenyum pula. Lalu katanya, “Anusapati. Aku akan menunggu. Tentu tidak akan lama lagi Sri Rajasa memanggil aku untuk membicarakan Witantra. Dan tentu tidak dalam sidang di paseban, meski-pun aku telah dipanggil pula mengikuti sidang di paseban.”

“O, jadi paman akan mengikuti sidang di paseban?”

“Ya.”

“Dan aku, seorang Pangeran Pati tidak dipanggil untuk mengikuti sidang ini?”

“Bukan yang pertama kali terjadi Anusapati.“

Anusapati menggeretakkan giginya. Tetapi sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Silahkan paman.”

Mahisa Agni-pun kemudian minta diri untuk pergi ke paseban, sedang Anusapati-pun meninggalkan bangsal pamannya itu dan berjalan tanpa tujuan dihalaman. Rasa-rasanya ia sudah jemu untuk bermain-main dengan diam-diam seperti itu. Tetapi apa boleh buat. Seperti kata pamannya, bahwa apabila mungkin biarlah persoalannya selesai dengan baik.

“Paman terlampau dipengaruhi oleh kelembutan hatinya. Sebagai seorang prajurit, paman pasti bersikap lain. Sebab dengan demikian, ia akan mengalami kesulitan,“ berkata Anusapati didalam hatinya.

Namun tiba-tiba saja ia tidak dapat ingkar mengingat kemenangan pamandanya itu di Kediri melawan Senapati Agung Kediri saat itu. Tanpa disadarinya maka langkah Anusapati-pun membawanya kedalam taman. Ketika ia melihat beberapa orang juru taman sedang beristirahat dibawah pohon yang rindang, ia-pun mendekatinya.

Juru taman yang sedang duduk-duduk itu-pun segera bangkit, seakan-akan mereka sedang bermalas-malasan dan tidak melakukan pekerjaannya. Kedatangan Anusapati membuat mereka terkejut dan justru merasa bersalah.

Tetapi Anusapati segera berkata, “Duduklah. Duduklah. Aku tidak sedang mengamat-amati kerja kalian. Jika kalian bermalas-malasan, biarlah aku pura-pura tidak melihat. Tetapi jika memang waktunya kalian beristirahat, itu adalah hak kalian.”

Para juru taman itu termangu-mangu sejenak. Namun Sumekarlah yang mula-mula duduk kembali ditempatnya, sedang kawan-kawannya-pun mengikutinya meski-pun ragu-ragu.

Anusapati-pun kemudian mendekati mereka, dan bahkan duduk diantara mereka.

Juru taman yang ada disekitarnya menjadi segan-segan juga sehingga mereka berkisar menjauh.

“Duduklah. Kenapa kalian menjadi bingung? Aku sekali-sekali ingin duduk bersama kalian disini. Tidak dipaseban.”

Para juru taman itu menarik nafas dalam-dalam.

“Nah, berbicaralah tentang persoalan yang sedang kalian bicarakan sebelum aku datang.”

Sejenak para juru taman itu saling berpandangan. Lalu Sumekarlah yang menyahut, “Kami tidak membicarakan sesuatu tuanku.“

“jadi apa yang kalian perbuat?”

“Kami berbicara tentang isteri Ki Ruwe ini,“ sahut salah seorang dari mereka.

“Kenapa dengan isterinya?”

“Isterinya adalah seorang juru masak yang paling pandai menurut penilaiannya. Ia sangat pandai membuat segala macam masakan. Masakan dari segala macam bahan. Daging, telur, ikan air, udang, yuyu, cengkerik dan bilalang.”

“Ah,“ potong juru taman yang bernama Ki Ruwe, “siapa yang mengatakan cengkerik dan bilalang. Tentu isterimu sendiri.”

Kawan-kawannya tertawa. Salah seorang berkata. “O, jadi kau tidak menyebut cengkerik dan bilalang?”

Ki Ruwe memandang kawannya itu dengan mata terbelalak. Sedang kawan-kawannya yang lain tidak dapat menahan tertawanya.

Kemudian beberapa lamanya mereka berbicara tentang taman dan bunga-bungaan. Tentang pepohonan didalam dan diluar istana. Pohon beringin dan pohon preh yang hidup disekitar istana. Pohon sawo kecik dan pohon tanjung.

Akhirnya, Anusapati-pun bertanya kepada para juru taman itu, “He, apakah kalian mendengar berita tentang sesuatu yang agak lain dari ceritera tentang pepohonan dan pohon buah-buahan?”

Juru taman itu saling berpandangan sejenak. Beberapa diantara mereka menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak tuanku. Kami tidak mendengar berita tentang apa-pun juga. Mungkin karena kami hanya juru taman saja di istana ini.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Misalnya ceritera tentang seseorang yang sudah lama sekali hilang dari pembicaraan dan tiba-tiba saja sekarang muncul kembali.”

“O,“ tiba-tiba juru taman yang bernama Ki Ruwe itu menyahut, “Aku mendengar.”

“Apa?“ bertanya kawan-kawannya, “tidak tentang masakan.”

“Tidak. Aku baru saja mendengar para prajurit membicarakan seorang yang bernama Witantra.”

“Witantra,“ sahut yang lain, “aku juga mendegar.”

“Ya, aku juga mendengar,“ berkata juru taman yang sudah tua. “Aku mendengar kehadiran kembali Witantra di Singasari setelah bertahun-tahun lamanya ia menghilang dari Tumapel. Tentu tidak dari Singasari, sebab pada waktu itu pemerintahan didaerah ini dipimpin oleh seorang Akuwu yang terbunuh.”

“Akuwu Tunggul Ametung maksudmu?“ bertanya Anusapati.

Ki Ruwe mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, Akuwu Tunggul Ametung. Aku juga pernah mendengar.”

“Ah kau,“ potong kawannya yang lain.

Dan juru taman yang sudah tua itu melanjutkan, “Sekarang Witantra itu kembali lagi.“

“Apakah kau pernah mengalami pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung?“ bertanya Anusapati.

“Ya, aku mengalaminya,“ sahut juru taman yang tua itu.

“Bagaimana menurut penilaianmu?”

Juru taman itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia teringat, bahwa selagi Permaisuri yang melahirkan Anusapati itu kawin dengan Ken Arok, ia sudah mengandung muda. Karena itu maka ia-pun menjadi ragu-ragu untuk mengatakannya.

“Bagaimana?“ desak Anusapati.

Juru taman itu menjadi semakin bingung. Bahkan timbul pertanyaan didalam hatinya, “Apakah Putera Mahkota ini sudah mengetahui tentang dirinya?”

Sejenak Anusapati menunggu. Tetapi juru taman itu tidak mengatakan apa-pun juga.

“Bagaimana?“ desak Anusapati, “bagaimanakah menurut penilaianmu?”

Juru taman itu menjadi bingung. Keringatnya mengalir diseluruh tubuhnya.

“Baiklah,“ berkata Anusupati, “kau tidak mau mengatakannya?”

“Bukan tidak mau,“ jawab juru taman itu, “tetapi hamba waktu itu belum menjadi seorang juru taman.”

“Meski-pun kau belum seorang juru taman, tetapi kau tentu dapat mengingat, apa yang sudah terjadi di Tumapel waktu itu.”

“Ya, ya tuanku. Hamba memang mengingat serba sedikit. Tetapi yang hamba ingat, Tumapel adalah kota yang tenang.”

“Tenang sekali?“ bertanya Anusapati.

Juru taman itu menjadi bingung. Karena itu maka jawabnya, “Yang tenang sekali.”

Anusapati tersenyum. Ia mengerti bahwa juru taman itu tidak dapat mengatakan apa yang sesungguhnya ada didalam hatinya. Baik atau jelek. Namun tiba-tiba saja sesuatu berdesir dihati Anusapati. Agaknya banyak orang-orang Tumapel yang pada waktu itu pernah mengenal ibunda Permaisuri, bahwa sebenarnya ibundanya itu sudah mengandung pada saat ia kawin dengan Ken Arok.

“Tentu semua orang mengetahuinya waktu itu,“ berkata Anusapati didalam hatinya, “jika mereka tidak mengetahuinya dari bentuk jasmaniah ibunda, mereka-pun dapat menghitung waktu. Belum genap sembilan bulan ibunda kawin dengan Sri Rajasa, aku tentu sudah dilahirkan.”

Tiba-tiba saja Anusapati menjadi semburat merah. Namun ia berusaha untuk menyembunyikan gejolak perasannya itu. Bahkan kemudian ia-pun tertawa sambil berkata, “Suatu ukuran yang dapat kau pergunakan, apakah kau menjadi semakin kaya atau miskin. Jika kau menjadi semakin kaya, maka Singasari tentu lebih baik bagi

rakyat kecil seperti kau. Tetapi jika kau menjadi semakin miskin tentu ada kesalahan. Apakah Singasari yang bersalah sehingga rakyatnya miskin, atau kaulah yang kemudian dihinggapi penyakit kemaksiatan. Judi barangkali?“

Juru taman yang gelisah itu menarik nafas dalam-dalam melihat Anusapati tertawa. Demikian juga juru taman yang lain, yang ikut menjadi tegang pula.

“Hamba, hamba tidak menjadi lebih kaya dan tidak menjadi lebih miskin, tuanku. Rasa-rasanya hamba dahulu dapat makan sekeluarga, dan sekarang juga hamba dapat makan sekeluarga.”

“Apakah jumlah keluargamu sama?”

“Tidak tuanku. Dahulu hamba seorang pengantin baru disaat Akuwu Tunggul Ametung meninggal. Sekarang hamba sudah mempunyai sembilan belas anak.”

“Sembilan belas?“ Anusapati menjadi terheran-heran.

“Hamba tuanku.”

“Bagaimana mungkin kau mempunyai sembilan belas orang anak?”

“Hamba beristeri tiga orang, tuanku.”

“O,“ Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah sebabnya hidupmu sejak dahulu sampai sekarang tetap saja seperti itu. Sembilan belas orang anak.”

“Tetapi mereka semuanya mendapat bagiannya tuanku.”

Anusapati tersenyum. Lalu, “Dan kau tinggal juga didalam halaman istana?”

“Tidak tuanku, hamba tinggal diluar. Hamba mempunyai sebidang tanah yang sempit, sebuah rumah yang besar meski-pun buruk untuk menampung tiga orang isteri dan sembilan belas anak hamba itu.”

Anusapati menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu katanya, “Pantas jika isterimulah yang pandai memasak ikan air, yuyu, cengkerik dan bilalang.”

“Bukan tuanku, bukan isteri hamba.”

Anusapati hanya tersenyum saja. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan berjalan-jalan. Dipaseban sedang ada sidang. Tetapi aku tidak ikut serta.”

(bersambung jilid 78)

Jilid 78

JURU TAMAN yang ada ditempai itu hampir tidak ada yang menaruh perhatian, apakah Anusapati ikut serta didalam sidang di paseban atau tidak. Tetapi bagi Sumekar pemberitaan itu merupakan pertanda, bahwa jarak antara Sri Rajasa dan Anusapati masih belum menjadi semakin dekat seperti yang diharapkan oleh Mahisa Agni. Keduanya pasti tetap didalam pendirian dan sikap masing2.

“Jika demikian, perang dengan diam2 ini tidak akan segera berakhir. Jika Mahisa Agni keluar dari bangsalnya, aku harus menegaskan sekali lagi.”

Namun kemudian Sumekar mendengar Anusapati berkata, yang agaknya memang ditujukan kepada dirinya, “Aku akan menunggu paman Mahisa Agni setelah sidang dipaseban.”

Sumekar mengangguk2kan kepalanya. Ternyata bahwa Mahisa Agni justru dipanggil menghadap Sri Rajasa didalam sidang di paseban.

Sepeninggal Anusapati, maka para juru taman itupun segera kembali pada kerja masing2. Sumekarpun kemudian mengambi cangkul kecil bertangkai panjang. Dengan hati2 iapun kemudian menyiangi sebatang pohon soka putih disudut taman itu.

Anusapati yang merasa semakin tersisih itu mengisi waktunya dengan berjalan2 disepanjang halaman. Kadang2 ia berhenti pada sebuah gardu peronda. Prajurit Pengawal yang berada di gardu2 itu ternyata telah mendengar pula dan bahkan membicarakan tentang Witantra.

“Nama itu masih mempunyai pengaruh,“ berkata Anusapati didalam hatinya.

Dalam pada itu, dipaseban, Sri Rajasa dan para pemimpin Singasari sedang membicarakan beberapa masalah tentang Singasari. Tentang beberapa gerombolan penjahat yang sudah berhasil diusir dari tempat2 yang ramai dan tersudut dihutan-hutan, daerah yang selalu diserang banjir, dan beberapa persoalan lainnya yang penting.

Para Panglima yang ikut didalam sidang itupun melaporkan kegiatan pasukan masing2 dari tingkat yang tertinggi sampai dengan tingkat yang terendah.

Seperti yang didengar oleh Mahisa Agni pada paseban yang lewat, pada umumnya semua laporan adalah ceritera tentang kebaikan, kemenangan, kemakmuran dan kedamaian. Meskipun atas pertanyaan Sri Rajasa disinggung2 pula tentang bahaya banjir tentang kejahatan, tentang hama tanaman yang meluas, namun pada umumnya para pemimpin itu mengatakan, bahwa semuanya sudah dapat diatasi.

Sri Rajasa mengangguk2kan kepalanya seperti pada sidang dipaseban yang lewat. Karena itu, bagi Mahisa Agni, sidang itu hampir tidak dapat menarik perhatiannya sama sekali. Hanya karena keharusan ia memperhatikan setiap keterangan dan laporan. Hanya karena orang lain mengangguk-anggukkan kepalanya, maka Mahisa Agnipun mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Namun berbeda dengan sidang yang lewat, maka kali ini Mahisa Agni diminta oleh Sri Rajasa untuk memberikan keterangan tentang Kediri dan daerahnya. Hal yang serupa hampir tidak pernah dilakukan dipaseban. Biasanya Mahisa Agni dipanggil menghadap

langsung kepada Sri Rajasa dan satu dua orang penasehatnya saja, termasuk guru Tohjaya. Tetapi kini ia harus berbicara dimuka sidang.

Sejenak Mahisa Agni menjadi ragu2, jika ia berkata sebenarnya maka nada laporan adalah jauh berbeda dengan nada kidung yang mengalun dalam himbauan angin pegunungan. Jika ia berkata sebenarnya, maka nadanya bagaikan guruh yang meledak dilangit yang bersih jernih.

Tetapi seperti yang ada didalam nuraninya, maka Mahisa Agni tidak dapat berkata lain. Bahkan kemudian ia menganggap dirinya telah dipaksa oleh Sri Rajasa untuk membenturkan kepalanya sendiri pada dinding batu.

“Apakah aku akan dapat mengatakan keadaan yang benar2 terjadi dengan jujur, sedang setiap orang didalam paseban ini mengatakan bahwa mereka berhasil melakukan tugas masing2 dengan baik,“ bertanya Mahisa Agni kepada diri sendiri. Namun ternyata bahwa pertanyaan itu justru telah mendorongnya untuk menyatakan dirinya, pribadinya, meskipun akibatnya beberapa orang akan menyebutnya sebagai seorang Senapati Agung yang kurang mampu melaksanakan tugasnya karena didalam laporannya masih terdapat cacat2 yang cukup besar.“

Sri Rajasa yang duduk diatas singgasananya yang beralaskan kulit harimau yang belum sama berhasil ditangkapnya di hutan selagi ia berburu, menunggu dengan berdebar2. Sebenarnyalah bahwa ia ingin mengetahui, apakah Mahisa Agni dapat mengatakan seperti yang dikatakannya langsung kepadanya tentang kekurangan2 yang terjadi di Singasari. Apakah ia tidak termasuk salah seorang dari para pemimpin Singasari yang selalu menyembunyikan kenyataan dihadapan banyak orang sekedar untuk mengangkat martabatnya sendiri.

Sejenak Mahisa Agni masih berdiam diri. Ketika ia memandang wajah Sri Rajasa yang tegang, maka iapun segera bergeser sejenak sambil berkata, “Baiklah tuanku. Hamba akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi didaerah pengawasan Hamba sebagai orang

yang mendapat pelimpahan kekuasaan dari tuanku, Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Maharaja di Singasari.“ Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “yang mendapat anugerah kewajiban atas Kediri yang telah dipersatukan dengan Singasari.”

Sri Rajasa mengangguk2kan kepalanya, sedang para pemimpin yang lainpun menjadi berdebar2. Namun mereka merasa bahwa yang akan didengarnya adalah senada dengan setiap laporan yang disampaikan didalam sidang di paseban itu.

“Ampun tuanku,“ berkata Mahisa Agni, “bahwa hamba akan mengatakan yang benar kepada tuanku, bukan sekedar berkata untuk menyatakan Kebenaran diri sendiri. Sebenarnyalah bahwa Kediri masih belum memenuhi keinginan hamba sepenuhnya.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya, dan para pemimpin yang lainpun mulai merasakan kelainan didalam nada laporan Mahisa Agni.

Demikianlah maka Mahisa Agnipun sagera melaporkan apa yang sebenarnya terjadi di Kediri. Yang baik, yang bahkan kadang2 melampaui batas keinginannya sendiri, namun juga yang jauh dari memuaskan. Bahaya kering disamping bahaya banjir, sehingga akan mengancam Kediri dengan paceklik yang panjang. Tetapi juga beberapa daerah yang mengalami panen berlimpah2.

“Masih juga ada kejahatan,“ berkata Mahisa Agni, “meskipun tangan Kasatria Putih terasa juga didaerah Kediri.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Ternyata Mahisa Agni adalah Mahisa Agni. Ketika Sri Rajasa memandang wajah-wajah para pemimpin di paseban itu, tampaklah wajah2 yang tegang dan kemerah2an. Laporan Mahisa Agni tentang daerah kekuasaannya bagaikan suatu sindiran yang tajam atas mereka yang tidak pernah mengakui kekurangan masing2.

Namun tanggapan Sri Rajasa ternyata sangat mengejutkannya. Ia tidak menyangka bahwa sebenarnyalah ia masuk kedalam jebakan rangkap. Apapun yang dikatakannya, maka ia tentu akan terperosok didalam tanggapan yang pahit.

“Itulah katanya,“ berkata Sri Rajasa, “tampaknya Mahisa Agni adalah seorang yang rendah hati. Yang mengakui kekurangan dan kebodohannya.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar2. Sejenak ia diam mematung. Ketika ia sempat memandang para pemimpin Singasari yang ada dipaseban itu termasuk para Panglima, hatinya menjadi berdebar2.

“Para pemimpin Singasari yang bijaksana,“ berkata Sri Rajasa, “apakah kita akan dapat memberikan gelar kepadanya sebagai seorang pahlawan? Pahlawan yang membela kepentingan rakyat yang menurut penilaiannya didalam kesulitan? Itulah Mahisa Agni yang sebenarnya. Sombong dan kurang bijaksana. Ia mencoba menyindir dan mencemoohkan laporan para pemimpin Singasari yang lain, yang seolah2 sekedar menjilat kepadaku. ”

Wajah Mahisa Agni menjadi merah padam. Sekilas ia melihat para pemimpin itu bergeser dan hampir setiap mata memandanginya dengan tajamnya.

“Apa katamu Mahisa Agni?“ bertanya Sri Rajasa kepada Mahisa Agni kemudian.

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Ia dicengkam oleh kebingungan menghadapi Sri Rajasa. Ia tidak mengerti, bagaimanakah sebenarnya sikap Sri Rajasa atasnya akhir2 ini.

Namun akhirnya Mahisa Agni mencoba menganggap bahwa sebenarnya Sri Rajasalah yang sedang berada dipuncak kebingungannya menghadapi persoalannya. Ia kadang2 bersikap seakan2 manyesali dirinya. Tetapi kadang2 ia dikejar olen kengerian atas segala dosa yang telah diperbuatnya, sehingga ia berusaha untuk mempertahankan dirinya.

“Ini adalah salah satu bentuk dari kebingungan itu,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “sehingga kebingungan itu telah merambat didalam diriku pula.”

“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa, “coba katakan dihadapan sidang ini, apakah maksudmu sebenarnya mengucapkan sindiran yang tajam itu kepada para pemimpin yang lain sehingga kau korbankan dirimu sendiri sebagai contoh dari kebodohan seorang pemimpin?”

“Tuanku,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “hamba tidak bermaksud apapun dengan laporan yang hamba katakan.“ Mahisa Agni berhenti sejenak. Dipandanginya wajah Sri Rajasa dengan saksama. Namun kemudian, seolah2 tidak ada pilihan lain baginya dari pada mempertahankan ucapannya dengan segala akibatnya, “sebenarnyalah bahwa hamba tidak mempunyai prasangka dan maksud buruk. Hamba mengatakan tentang diri hamba. Bukan sebagai taruhan untuk mencemoohkan para pemimpin yang lain. Hamba tidak tahu apa yang telah terjadi didaerah2 lain dibawah pengamatan dan pimpinan pemimpin Singasari yang lain.”

“Jangan ingkar,“ berkata Sri Rajasa, “kau pernah mengatakan kepadaku diluar sidang, bahwa daerah2 lain itu sebenarnya adalah daerah2 yang paling buruk. Laporan2 palsu itu sengaja dikatakan sekedar untuk mendapat pujian daripadaku.”

Terasa sesuatu bergejolak didada Mahisa Agni. Namun ia masih juga menjawab, betapapun hatinya menjadi berdebar-debar, “Tuanku, memang ada kalanya seseorang mengatakan sesuatu tidak dihadapan orang lain. Jika hamba pernah mengatakan sesuatu tentang daerah2 lain tidak dihadapan orang lain tentu ada maksudnya. Tetapi jika tuanku menganggap, bahwa sebaiknya hamba mengatakan tentang daerah2 lain di luar harapan hamba, maka hambapun tidak akan berkeberatan. Hamba akan mengatakan seperti yang hamba katakan, dengan harapan penilaian yang wajar dari para pemimpin Singasari, karena hamba yakin apa yang hamba katakan itu benar, dan tentu akan dibenarkan, jika kita semuanya adalah pemimpin2 Singasari yang sebenarnya, yang ingin melihat Singasari maju dan berkembang.“ Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “tetapi jika hamba sudah mengatakannya tuanku, hamba mengharap agar tuankupun mengucapkan tanggapan tuanku seperti

yang pernah tuanku ucapkan kepada hamba itu terhadap para pemimpin Singasari yang lain. Ucapan dan tanggapan tuanku itupun adalah tanggapan yang wajar dari seorang Maharaja yang berpandangan jauh kedepan bagi negerinya.”

“Cukup, cukup,“ Sri Rajasa memotong kata2 Mahisa Agni dengan suara yang bergetar. Wajahnya menjadi merah padam dan sorot matanya bagaikan menyala.

Namun demikian masih tampak padanya suatu usaha untuk menahan diri dan mengendalikan perasaannya. Karena itulah maka iapun berkata tertahan2, “Baiklah Mahisa Agni. Kau memang seorang pemimpin Singasari yang lengkap. Kau pandai bermain dengan pedang dipeperangan, tetapi kau juga pandai bermain lidah didalam paseban. Tetapi akupun tidak akan ingkar. Aku menghargai sikapmu yang terbuka itu, tetapi akupun menilai sikapmu itu sebagai sikap yang sangat sombong, seakan2 kau tidak terpengaruh oleh kehadiranku dan tanpa menghargai kuasaku sama sekali.“

“Ampun tuanku,“ jawab Mahisa Agni, “sama sekali bukan maksud hamba berbuat demikian.”

Sri Rajasa terdiam sejenak. Tampak betapa ia berusaha menahan hatinya yang bergejolak.

Sementara itu, para pemimpin yang lain, yang mula2 perasaan mereka yang tersinggung bagaikan disentuh api, tiba2 mempunyai tanggapan yang lain. Pembicaraan itu mengingatkan mereka, bahwa sebenarnya Mahisa Agni adalah seorang Senapati Agung yang memiliki kekhususan. Bukan karena ia saudara tuan Permaisuri, tetapi Senapati Agung itu adalah Senapati perang yang pilih tanding.

Dalam pada itu, selagi para pemimpin terombang-ambing didalam suasana yang tegang, maka Mahisa Agnipun berkata, “Ampun tuanku, masih ada yang ketinggalan didalam laporan hamba agar hamba tidak ingkar atas segala masalah yang hamba ketahui. Bahwa telah hadir di dalam kota Singasari tanpa menyatakan diri kepada yang berkuasa, seorang yang bernama Witantra. Belum ada seorangpun yang menyebutnya didalam

paseban ini, atau barangkali ada kesengajaan untuk menyembunyikannya.”

Sri Rajasa sebenarnya sudah mengetahui bahwa Witantra telah menampakkan dirinya didalam kota Singasari, sehingga laporan tentang kehadiran Witantra itu tidak meagejutkannya. Tetapi yang mengejutkan adalah bahwa Mahisa Agni menganggap perlu membicarakan orang itu secara khusus.

Karena itu, maka Sri Rajasapun kemudian berkata, “Kehadiran itu memang tidak perlu dilaporkan dipaseban ini. Aku sudah mengerti bahwa Witantra telah menampakkan dirinya setelah ia hilang bertahun2. Aku kira pada pemimpin yang lainpun telah mengetahuinya pula. Mereka sama sekali tidak tertarik pada berita itu. Dan apakah gunanya kehadiran seseorang dibicarakan didalam paseban? Apakah para pemimpin Singasari tidak mempunyai persoalan lain yang penting selain membicarakan orang2 yang sudah lama sekali tidak kita lihat dan tiba-tiba muncul dikota ini.”

“Tidak tuanku, jika orang itu bukan Witantra,“ sahut Mahisa Agni, “apakah tuanku tidak ingat lagi, bagaimana Witantra itu menghilang dari Tumapel?”

“Tentu,“ jawab Sri Rajasa.

“Hamba telah mengalahkannya didalam perang tanding. Karena itu maka hamba sangat berkepentingan dengan orang yang bernama Witantra itu.”

“Kau takut pembalasan dendam?”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Lalu katanya, “Tentu tidak tuanku. Hamba tidak berkeberatan jika saat ini Witantra datang keistana dan menuntut perang tanding untuk menebus kekalahannya. Tetapi yang penting bagi kita, apakah kedatangannya itu membawa persoalan baru baginya dan bagi kita.”

“Cukup.“ wajah Sri Rajasa menegang sejenak, namun kemudian sekali lagi ia menguasai dirinya dan melanjutkannya, “baiklah kita tidak membicarakannya. Jika ia datang keistana, aku akan

menemuinya dan jika ia masih mendendam karena kekalahannya, kini bukan tanggung jawabmu lagi. Jika saat itu kau bertempur tidak atas namamu sendiri, maka tanggung jawabnya tentu kini ada padaku.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam2. Katanya, “Terima kasih tuanku. Jika demikian, maka persoalannya hamba serahkan kepada tuanku Sri Rajasa.”

“Kenapa kau menyerahkan persoalannya kepadaku? Seharusnya kau tidak mengatakan demikian. Tanggung jawab itu sudah ada padaku. Kau serahkan atau tidak kau serahkan.”

“Ampun tuanku, demikianlah kiranya maksud hamba.”

“Nah, sekarang, apakah masih ada persoalan2 yang penting bagi Singasari. Aku hanya ingin berbicara tentang persoalan-persoalan yang penting, bukan persoalan seorang demi seorang yang hanya akan menghabiskan waktu saja.”

Tidak seorangpun yang menjawab. Sidang dipaseban itu rasa2nya menjadi tegang. Pusat perhatian para pemimpin Singasari kini tertuju kepada Sri Rajasa dan Mahisa Agni. Dua orang yang seakan2 menjadi puncak pimpinan pemerintahan yang langsung tidak langsung telah mereka hubungkan dengan kedua putera laki2 Sri Rajasa yang lahir dari dua orang ibu. Bahkan para pemimpin Singasari yang mengetahui dengan pasti bahwa Anusapati sama sekali bukan putera Sri Rajasa melihat seakan2 pertentangan antara Sri Rajasa dan Tunggul Ametung kini berkobar lagi dalam bentuknya yang berbeda, yang seakan2 telah diwarisi oleh Anusapati dan Tohjaya.

“jika tidak ada persoalan lagi, sidang ini aku bubarkan. Aku tidak akan mengadakan pembicaraan khusus dengan si apapun.”

Sejenak kemudian maka para pemimpin Singasari itupun segera meninggalkan paseban dengan hati yang berdebar2. Sebagian dari mereka masih merasa betapa jantungnya tergores oleh pengakuan Mahisa Agni terhadap kekurangan didalam daerah kuasa yang dilimpahkan kepadanya oleh Sri Rajasa. Seperti yang dikatakan oleh

Sri Rajasa, bahwa sebenarnyalah Mahisa Agni sama sekali bukan seorang yang rendah hati, yang mengakui kekurangannya, tetapi yang dengan sengaja telah menganggap bahwa para pemimpin adalah penjilat yang bodoh.

Tetapi beberapa orang yang lain merasa bahwa sebenarnyalah bahwa mereka telah melakukan suatu kesalahan. Mereka seakan2 dengan sengaja berusaha menyembunyikan kekurangan yang ada pada diri mereka. Dengan sadar mereka berbangga bahwa masih ada juga orang yang dengan berani menyatakan kebenaran dihadapan Sri Rajasa dan dihadapan paseban.

Namun pada umumnya mereka merasa cemas, bahwa perkembangan keadaan di Singasari tidak begitu menggembirakan hati. Apalagi kehadiran Witantra seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, tentu bukan sekedar persoalan kecil karena sejak semula Witantra menyimpan persoalan yang tentu dianggapnya belum selesai.

“Kehadirannya tentu akan menentukan suatu peristiwa yang penting di Singasari,“ beberapa orang pemimpin Singasari saling berbisik. Seorang perwira yang sudah lanjut usia berkata, “Ia adalah seorang Senapati yang mapan.”

Namun dalam pada itu Panglima Pasukan Pengawal Singasari ternyata mempunyai perhatian khusus terhadap kehadiran Witantra. Meskipun Singasari sekarang jauh lebih besar dari Tumapel, namun nama Witantra sebagai seorang Senapati pasukan Pengawal adalah cukup besar dibandingkan dengan namanya sendiri.

Dengan demikian, maka berbagai kesan telah melibat hati para pemimpin Singasari yang baru saja meninggalkan sidang di paseban itu.

Ketika itu Sri Rajasapun telah kembali pula kebangsalnya diiringi oleh para pengawal. Dengan wajah muram ia masuk kedalam biliknya. Dibantingnya dirinya di atas sebuah tempat duduk kayu yang dialasi dengan kulit menjangan berwarna coklat.

Sambil menarik nafas dalam2 ia berkata didalam hatinya. “Peristiwa apa saja yang akan terjadi di Singasari. Justru pada saat2 terakhir timbul berbagai persoalan yang tidak aku kehendaki. Gila juga Mahisa Agni itu.”

Ketika diluar pintu seseorang berdiri termangu2, maka Sri Rajasapun berteriak, “Siapa itu?”

“Hamba tuanku,“ jawab seorang pelayan, “hamba menyiapkan pakaian tuanku.”

“Pergi, pergi.“ bentak Sri Rajasa.

Pelayan itu menjadi ketakutan. Dengan ragu2 ditinggalkannya pintu bilik Sri Rajasa dengan berbagai pertanyaan didalam hati. Tidak pernah terjadi bahwa Sri Rajasa tidak memerintahkannya menyediakan pakaian setelah ia selesai melakukan kuwajiban resminya sebagai seorang Maharaja di Singasari.

Didalam bilik, pikiran Sri Rajasa masih tetap kusut. Sebenarnyalah seperti yang diduga oleh Mahisa Agni, dalam keadaan yang kisruh hati Sri Rajasa tidak dapat tetap. Pikirannya selalu berubah setiap saat didorong oleh kegelisahan yang semakin dalam. Kehadiran Witantra sebenarnya sama sekali tidak dapat diabaikannya.

Dalam kekeruhan hati itulah tiba2 ia berteriak memanggil seorang Pelayan Dalam yang bertugas didalam bangsal itu.

Sambil berlari2 kecil. Pelayan Dalam itu menghampiri pintu bilik Sri Rajasa. Kemudian dengan ragu2 ia bergumam, “Hamba menghadap tuanku.”

“Panggil Tohjaya,“ teriak Sri Rajasa masih didalam biliknya.

“Hamba tuanku,“ perintah Sri Rajasa itu tidak perlu diulangi. Dengan tergesa2 Pelayan Dalam itupun berlari2 ke bangsal dibagian yang lain dari istana Singasari itu.

“Tuanku,“ berkata Pelayan Dalam itu dengan nafas yang terengah2, “tuanku Sri Rajasa memanggil tuanku.”

“Ayahanda memanggil aku?“ bertanya Tohjaya.

“Hamba tuanku.”

Tohjaya menjadi berdebar2. Tentu ada persoalan yang penting yang akan dikatakan oleh ayahandanya setelah sidang dipaseban. Karena itu, maka dengan tergesa2 Tohjaya menghadap ibundanya yang mengatakan perintah ayahandanya itu.

“Memang sudah sampai waktunya Tohjaya. Semakin lama Anusapati menjadi semakin sombong. Jika semula ia sudah hampir kehilangan semua kesempatan dan kemungkinan untuk merebut hati rakyat Singasari, lambat laun ia sudah memperolehnya. Karena itu, jika ayahandamu memang memerintahkan lakukanlah dengan segera. Gurumu dan beberapa orang Senapati yang sudah kau hubungi akan dapat disiapkan segera, apalagi langsung dibawah perintah ayahandamu sendiri. Anusapati memang harus segera disingkirkan. Agar tidak timbul persoalan dikemudian hari, maka Mahisa Agni yang mumpung berada diistana inipun harus dibinasakan pula.”

“Hamba akan mengatakannya kepada ayahanda. Jika ayahanda mengucapkan perintah itu kepada para Panglima, maka semuanya akan terjadi.”

“Kau harus berhati2. Mahisa Agni mempunyai cukup pengaruh, terutama diluar istana. Karena itu, maka yang dilakukan haruslah didalam istana dan dalam waktu yang singkat. Jika kau ingin menangkap seekor ular berbisa, tangkaplah kepalanya. Jika kau gagal, maka kau sendirilah yang akan binasa karena racunnya.”

“Baik ibunda. Hamba akan segera menghadap ayahanda, sudah tentu bahwa dalam waktu yang singkat, kita akan melakukannya.”

“Dan beberapa hari kemudian, kau adalah putera Mahkota.”

“Ya. Aku akan menjadi Putera Mahkota di Singasari yang besar. Aku akan berbuat sebaik2nya sebagai Putera Mahkota. Tidak seperti kakanda Anusapati.”

“Sekarang menghadaplah. Usahakan agar ayahandamu merintahkan aku menghadap pula.”

“Baiklah ibunda, hamba akan berusaha.”

Dengan tergesa2 Tohjayapun kemudian pergi menghadap ayahandanya di bangsalnya. Dengan hati yang berjebar2 ia menaiki tangga bangsal itu, sedang kedua pengawalnya tinggal dibawah tangga, bersama pengawal bangsal itu sendiri.

Perlahan2 Tohjaya membuka pintu bangsal itu. Kemudian dengan degup jantung yang keras ia melangkah masuk.

Tetapi Tohjaya tidak segera melihat ayahandanya.

Ketika ia melihat seorang Pelayan Dalam dipintu samping bangsal itu, maka iapun kemudian bertanya, “Dimana Ayahanda Sri Rajasa.”

“Ampun tuanku,“ Pelayan Dalam itu mengangguk. “Ayahanda tuanku ada didalam biliknya.”

Tohjaya menarik nafas dalam2. Tetapi iapun kemudian melangkah kepintu bilik.

“Hanya untuk persoalan yang sangat penting dan sangat rahasia ayahanda memanggil kedalam biliknya,“ berkata Tohjaya didalam hatinya.

Dengan ragu2 akhirnya Tohjaya berdiri didepan pintu bilik Sri Rajasa. Sejenak ia termangu2, namun kemudia ia berkata lirih, “Ampun ayahanda. Hamba sudah menghadap.”

Sejenak Sri Rajasa menunggu. Kemudian didengarnya jawab, “Masuklah Tohjaya.”

Dada Tohjaya menjadi semakin berdebar2. Perlahan2 didorongnya daun pintu itu kesamping. Dengan langkah yang terasa berat iapun kemudian melangkah masuk.

Dilihatnya ayahandanya, Sri Rajasa duduk diatas tempat duduk kayu yang beralaskan kulit menjangan.

“Duduklah,“ berkata Sri Rajasa kemudian.

Tohjaya termangu2 sejenak. Dan iapun kemudian duduk diatas tempat duduk kayu disudut bilik itu.

“Apakah seorang prajurit telah memanggilmu?”

“Hamba ayahanda. Bukankah ayahanda memanggil hamba menghadap?”

“Ya.”

“Hamba siap menerima perintah apapun, ayahanda. Agaknya memang sudah waktunya ayahanda memerintahkan kepada hamba untuk berbuat sesuatu.“

Sri Rajasa menarik nafas dalam2.

Dan Tohjayapun kemudian bertanya, “Dan apakah perintah itu ayahanda?”

Sri Rajasa memandang puteranya itu sejenak. Namun kemudian terdengar ia berdesah. Katanya, “Tidak ada perintah apapun saat ini Tohjaya.“

Bukan main terperanjatnya Tohjaya. Bahkan kemudian ia tidak percaya kepada pendengarannya sehingga ia bertanya, “Apakah yang ayahanda maksudkan?”

“Dengarlah sekali lagi Tohjaya,“ jawab ayahandanya, “aku tidak akan memberikan perintah apapun juga.”

Dada Tohjaya terguncang karenanya. Dengan terbata2 ia bertanya, “Tetapi, bukankah ayahanda memanggil hamba setelah sidang di paseban? Menurut dugaan hamba, ayahanda mendapat bahan2 yang cukup lengkap selama sidang sehingga Ayahanda memutuskan untuk menjatuhkan perintah terakhir. Bukankah ayahanda perlu mengambil tindakan tertentu untuk mengakhiri keadaan yang tidak ada ujung pangkalnya?”

Tetapi Sri Rajasa itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak dapat menentukan sekarang. Aku masih harus memikirkannya.”

Tohjaya benar2 menjadi bingung. Ia tidak mengerti, kenapa ayahandanya memanggilnya dengan tergesa2. Namun kemudian ia sama sekali tidak memberikan perintah apapun juga. Sebenarnyalah bahwa Sri Rajasa sendiri sedang dilibat oleh kebingungan yang hampir tidak dapat dipecahkannya. Setiap kali sikapnya selalu dibayangi oleh keragu2an sehingga terombang-ambing tidak menentu.

Dengan demikian maka bilik itupun sejenak dicengkam oleh kesepian. Sri Rajasa duduk sambil menundukkan kepalanya, sedang Tohjaya menjadi sangat gelisah menghadapi keadaan itu. Namun ia tidak berani lagi bertanya sesuatu kepada ayahandanya, karena Tohjayapun kemudian menyadari bahwa agaknya ada sesuatu yang sedang bergejolak dihati ayahandanya.

“Tohjaya,“ berkata Sri Rajasa kemudian memecahkan kebekuan suasana, “tinggalkan bilik ini.”

Tohjaya menjadi semakin bingung. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Perlahan2 ia berdiri dan berkata, “Hamba ayahanda. Hamba mohon diri.”

Sri Rajasa hanya mengangguk kecil. Kemudian wajahnya itupun tertunduk lagi. Bahkan kemudian disandarkannya dagunya pada kedua belah tangannya yang sikunya bertelekan pada lututnya.

Tohjayapun kemudian melangkah keluar perlahan2. Hatinya diamuk oleh kebingungan yang dahsyat, karena dengan demikian iapun menyadari bahwa ayahandanya sendiripun masih juga dikuasai oleh keragu2an.

“Kenapa ayahanda masih selalu ragu2. Mungkin ayahanda masih saja terpengaruh oleh ibunda Permaisuri, justru karena ibunda Permaisurilah maka ayahanda tidak dapat berbuat tegas atas kakanda Anusapati. Seharusnya ayahanda tidak lagi menghiraukan ibunda Permaisuri itu. Jika ayahanda masih saja terlampau banyak pertimbangan, maka ahkirnya ayahanda akan terlambat.”

Namun dengan demikian langkahnya pun menjadi tergesa2. Kedua pengawalnya berlari2 kecil mengikutinya dibelakang.

Sementara itu, Ken Umang sudah dicengkam oleh angan2 tentang tahta kerajaan Singasari sepeninggal Sri Rajasa. Jika Anusapati sudah disingkirkan, maka tentu Tohjaya akan segera diangkat menjadi Pangeran Pati menggantikan kedudukannya. “Tentu tidak akan ada persoalan apapun juga jika Sri Rajasa sudah memutuskan. Pengaruhnya terlampau besar, dan kekuasaannya adalah mutlak.“ namun kemudian, “tetapi Mahisa Agni itupun harus disingkirkan. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan mengalami kesulitan. Betapapun saktinya Mahisa Agni, namun sudah barang tentu tidak akan dapat mengimbangi kesaktian Sri Rajasa sendiri.”

Ken Umang itupun terloncat berdiri ketika ia melihat Tohjaya datang kedalam biliknya dengan wajah yang tegang. Dengan tergesa2 ia menyongsongnya dan bertanya, “Perintah apakah yang telah kau terima Tohjaya?”

Tohjayapun kemudian duduk dengan lesunya. Sejenak ia termangu2 sehingga ibunyapun menjadi heran.

“Tohjaya, apakah kau terima perintah itu?”

Tohjaya menggelengkan kepalanya. Dengan nada yang aneh ia menjawab, “Hamba tidak menerima perintah apapun juga ibu.”

“He,“ Ken Umang terperanjat. Sejenak ia memandangi anaknya dengan wajah yang tegang. Kemudian perlahan2 didekatinya anaknya yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Diguncang2nya pundak anaknya sambil berkata, “Apakah aku sudah pikun? Coba katakan sekali lagi Tohjaya.”

“Hamba tidak menerima perintah apapun ibunda. Ketika hamba menghadap, ayahanda berkata, “Kembalilah, tinggalkan aku.“

“Tohjaya, apakah kau sedang mengigau?”

“Sebenarnya ibunda, ayahanda memerintahkan hamba untuk meninggalkan bilik itu. Itulah perintah satunya yang hamba terima.”

Ken Umang memandang anaknya dengan wajah yang tegang, sehingga pelupuk matanya hampir tidak berkedip. Ia tidak dapat mengerti apakah yang sebenarnya dikatakan oleh anaknya itu.

“Ibunda,“ berkata Tohjaya kemudian, “hambapun tidak mengerti, kenapa ayahanda tidak memberikan perintah apapun kecuali memerintahkan hamba meninggalkan ayahanda itu seorang diri.”

“O,“ Ken Umangpun kemudian terduduk pula, “aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti.”

Tohjaya memandang wajah ibunya sejenak. Namun kepalanyapun segera tertunduk pula. Memang yang baru saja terjadi sama sekali tidak dapat dimengertinya, dan ibunyapun menjadi bingung karenanya.

Sejenak keduanya terdiam. Seakan2 kabut yang kelam telah menyelubungi angan2 dan pikiran mereka, sehingga mereka sama sekali tidak mengerti, apa yang harus mereka lakukan.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang masih juga dibayangi oleh pembicaraan2 didalam sidang, mencoba untuk menemukan suatu gambaran, apakah yang sebenarnya bergolak didalam hati Sri Rajasa. Namun setiap kali yang diketemukannya, adalah sekedar menganggap bahwa Sri Rajasa memang sedang kebingungan.

“Tetapi kebingungan itu dapat membahayakan keadaan,“ berkata Mahisa Agni didalam hati, “setiap saat pikirannya dapat berubah dan setiap saat Singasari dapat bergejolak. Satu langkah yang salah dari Sri Rajasa, dan membuat Singasari menjadi berantakan. Sedangkan persoalan yang sebenarnya adalah persoalan ketamakan Ken Umang semata2. Namun apabila hati Sri Rajasa tidak goyah, maka hal yang seperti sekarang ini tidak perlu terjadi.”

Demikianlah ketika Mahisa Agni kemudian bertemu dengan Anusapati dan Sumekar, maka diceriterakannya apa yang terjadi di paseban.

“Sebenarnyalah bahwa ancaman itu sudah langsung ditujukan kepadamu,“ berkata Sumekar kepada Mahisa Agni, “tetapi karena sikap para pemimpin Singasari yang tidak jelas, maka Sri Rajasa masih harus berpikir sekali lagi. Jika didalam paseban itu tanggapan

atas tuduhan Sri Rajasa terhadapmu, terhadap yang disebutkan kesombonganmu itu cukup baik baginya, maka ia tidak akan menunggu lebih lama lagi. Tetapi karena ia melihat keragu2an pada pemimpin Singasari, maka iapun tidak segera memerintahkan saat itu juga untuk menangkapmu.”

Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Memang dapat juga terjadi seperti yang dikatakan oleh Sumekar itu. Tetapi Mahisa Agnipun tahu, bahwa sebenarnya Sumekar telah dipenuhi oleh prasangka dan bahkan sikap yang pasti, yaitu Sri Rajasalah yang harus disingkirkan, justru untuk menyelamatkan hasil yang pernah dicapai oleh Sri Rajasa sendiri. Singasari yang besar dan kuat. Namun bagi Mahisa Agni sendiri, masih harus ditempuh pertimbangan2 yang semasak2nya meskipun kadang2 orang lain menganggapnya tidak berbuat apa-apa.

Dalam pada itu, Anusapatipun sebenarnya mempunyai tanggapan persoalan yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu sejalan dengan pendapat Sumekar. Namun Anusapati menyerahkan persoalannya kepada Mahisa Agni, karena ia percaya, bahwa pertimbangan pamannya didasari oleh pengalaman dan pengetahuannya yang luas.

Namun mendung yang semula membayang diatas istana Singasari itu kini bagaikan mekar meliputi seluruh kota dan bahkan menjalar keseluruh negeri. Terasa bahwa ada sesuatu yang kurang pada tempatnya telah terjadi didalam lingkungan keluarga Sri Rajasa. Jika semula persoalan itu hampir tidak mendapat perhatian karena yang berkepentingan masih mampu membatasi diri masing2, maka semakin lama persoalannya menjadi semakin jelas dapat dilihat oleh para pemimpin Singasari.

Dalam keadaan yang demikian itulah, Singasari mulai menyebut2 nama Witantra.

Namun sebenarnyalah bahwa nama Witantra itu telah mengganggu hati Sri Rajasa pula. Ia tidak mengerti dengan pasti apakah sebenarnya yang dikehendakinya. Sehingga karena itulah maka dengan diam2 Sri Rajasapun berusaha untuk mencari

hubungan dengan Witantra, meskipun ia berpesan dengan sungguh2, agar Witantra tidak mengetahuinya, bahwa Sri Rajasa yang memberikan perintah itu kepada beberapa orang petugas sandi yang dipercayainya.

Ternyata sangat sulitlah untuk mencari hubungan dengan Witantra itu, karena Witantra tidak pernah lagi kelihatan di kota Singasari. Hanya namanya dan beberapa ceritera sajalah yang dapat ditangkap oleh para petugas sandi itu.

“Ya, ia datang kepadaku,“ berkata seorang perwira yang menghubungi orang2 yang diduga dapat bertemu langsung dengan Witantra.

“Apa saja yang dilakukannya?”

“Tidak apa2. Ia hanya bertanya tentang keselamatanku sekeluarga, dan sedikit tentang padepokannya dipuncak gunung.”

“Gunung yang mana?“ bertanya petugas sandi itu.

“Witantra tidak mau menyebutkannya.”

“Apakah ia sering datang kemari?”

“Hanya satu kali. Hanya satu kali. Tetapi ia berkata kepadaku, bahwa pada suatu saat ia akan datang kembali mengunjungi sahabat2 lamanya.”

“Apakah benar ia tidak mempersoalkan apapun juga yang dapat menjadi petunjuk arah perhatiannya selama ini?”

“Tidak. Ia tidak mengatakan apapun juga. Tetapi ia menyatakan kegembiraannya melihat perkembangan Singasari sekarang ini. Singasari yang jauh lebih besar dari Tumapel dijaman Akuwu Tunggui Ametung.”

Petugas sandi itu hanya dapat mengangguk2kan kepalanya. Bahan yang didapatkannya untuk mengetahui keadaan Witantra ternyata terlampau sedikit. Para petugas itu sama sekali tidak dapat menyimpulkan, apakah sebenarnya maksud Witantra datang ke

Singasari. Bahkan setelah mereka menghubungi beberapa orang yang pernah dikunjungi oleh Witantra itu.

“Baiklah,“ berkata seorang petugas sandi kepada seorang perwira yang pernah mendapat kunjungan Witantra, “jika ia datang sekali lagi, tolong, beritahukan aku.”

Perwira itu mengangguk2kan kepalanya. Perwira itupun mengetahui bahwa orang yang datang itu adalah seorang prajurit sandi. Dan perwira itupun tahu pasti, kepada siapa ia harus melaporkan jika Witantra datang sekali lagi.

“Ternyata pihak istana menaruh perhatian besar sekali,“ berkata perwira itu. Namun demikian, merekapun menjadi gelisah, karena jika timbul sesuatu karena perbuatan Witantra, maka mereka yang diketahui telah mendapat kunjungan Witantra itu pasti akan menjadi sumber keterangan.

Tetapi bukan saja para perwira itu yang mengetahui bahwa pihak istana menaruh perhatian yang besar sekali. Dari pembicaraan beberapa orang prajurit, Sumekarpun mengetahui, bahwa ada beberapa petugas sandi yang mendapat tugas mencari jejak tentang Witantra itu.

Dalam pada itu, semua laporan tentang Witantra itu sudah sampai ditelinga Sri Rajasa. Seperti apa yang dapat ditangkap oleh para petugas sandi, maka tidak ada keterangan yang pasti yang dapat dijadikan bahan untuk menentukan apakah yang sebenarnya akan dilakukan oleh Witantra.

Namun demikian ada seorang petugas sandi yang mempunyai keterangan yang agak lain dari kawan2nya.

“Witantra menyebut2 nama Mahisa Agni tuanku,“ berkata petugas sandi itu ketika ia dipanggil menghadap.

“Apa katanya?”

“Ia hanya bertanya, dimanakah sekarang Mahisa Agni itu. Apakah ia masih tetap berada di Kediri, karena menurut pendengarannya Mahisa Agni menjadi seorang Senapati Agung yang

bertugas di Kediri sebagai wakil Mahkota. Atau sudah mendapatkan jabatan lain.”

“Apa lagi?”

“Hanya itu tuanku. Hamba tidak mendapatkan bahan yang lain. Sedang yang dibicarakan Witantra itu pada umumnya adalah persoalan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintahan. Kadang2 ia berbicara tentang jalan2 yang ramai, sawah yang hijau dan rumah kawan2nya yang menjadi perwira di Singasari.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun dari keterangan itu Sri Rajasa mendapatkan suatu arah betapapun samarnya, bahwa Witantra masih menaruh perhatian terhadap Mahisa Agni.

“Mudah2an Witantra masih mendendamnya.”

Naman ternyata setelah itu, Sri Rajasa tidak pernah mendapat keterangan apapun lagi tentang Witantra. Meskipun ada juga seorang dua orang yang melaporkan bahwa Witantra tampak berada didalam kota, namun sama sekali tidak menarik perhatian orang, karena ia tidak berbuat apa2.

“Aku dapat menjadi gila,“ berkata Ken Arok kemudian ketika ia berada didalam bilik Ken Umang.

Ken Umang yang masih nampak jauh lebih muda dari Permaisuri yang sakit2an itu, mendekatinya sambil berkata, “Tuanku, persoalannya sudah jelas bagi tuanku. Sebenarnya hamba ingin mengajukan suatu sikap yang akan dapat menolong keadaan. Tetapi justru karena hamba adalah ibu Tohjaya, maka hamba berada didalam kesulitan.”

“Kenapa?”

“Orang dapat menuduh hamba, semata2 sikap hamba itu didorong oleh ketamakan dan kebencian.”

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Ken Umang sejenak.

Sambil tersenyum Ken Umang beringsut mendekat, ia duduk diatas sebuah kulit harimau hasil buruan Sri Rajasa di samping tempat duduk Sri Rajasa sendiri yang beralaskan kulit seekor ular raksasa.

“Tuanku,“ Ken Umang bergesar mendekatinya. Kemudian sambil bersandar pada kaki Sri Rajasa Ken Umang berkata, “Memang tuanku harus segera mengakhiri keadaan yang tidak menentu sekarang ini. Hamba tahu bahwa tuanku menjadi ragu2. Tetapi hambapun tahu, siapakah sebenarnya puteranda Anusapati itu, karena hamba tahu saat2 perkawinan tuanku.”

“Banyak orang yang mengetahui siapakah sebenarnya Anusapati, karena setiap orang yang umumnya berkisar diantara kita dapat menghitung saat perkawinanku dan saat kelahiran Anusapati.”

“Nah,“ berkata Ken Umang, “sebenarnya tidak ada persoalan lagi. Kasar atau halus, tuanku dapat melakukannya. Sedang tuanku sendiri mempunyai putera laki2 yang akan dapat menggantikan kedudukan tuanku. Jika tuanku membiarkan keadaan ini berlangsung terus, maka sebenarnyalah tuanku dapat terganggu. Lahir dan batin.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak menyahut.

“Tuanku, jika hamba bukan ibu Tohjaya, hamba akan dapat dengan leluasa menyampaikan pendapat hamba. Tetapi justru karena itulah, maka hamba menjadi ragu2. Tuankulah yang akan dapat menentukan, apakah yang sebaiknya tuanku lakukan. Tetapi segera. Tidak dengan ragu2 dan condong kepada kebingungan. Ternyata seperti sikap tuanku. Tuanku memanggil Tohjaya, namun kemudian tuanku tidak menjatuhkan perintah. Hamba tahu bahwa perintah itu sudah siap. Tetapi tuanku ragu2, sehingga tuanku mengurungkannya.”

Sri Rajasa tidak segera menyahut. Tetapi setiap kali ia bertemu dengan Ken Umang, rasa2nya sudah jatuhlah keputusannya untuk menyingkirkan Anusapati dan Mahisa Agni. apapun akibatnya.

Baginya Permaisurinya Ken Dedes sudah tidak begitu banyak diperlukan lagi. Ken Dedes itu menjadi semakin cepat tua dan sakit2an.

Namun setiap saat ia teringat, bahwa ada sesuatu yang lain pada Ken Dedes, hatinya menjadi berdebar2. Ken Dedes nemiliki sesuatu kurnia dari Yang Maha Agung yang tidak dimiliki oleh Ken Umang. Cahaya yang tidak dapat dimengertinya itu setiap kali dapat dilihatnya.

“Tuanku,“ berkata Ken Umang kemudian, “apakah sebenarnya yang membuat tuanku ragu2? Mungkin kemampuan Mahisa Agni dan pengaruhnya? Tentu tuanku akan dapat mengatasinya karena Mahisa Agni tidak akan sekuat Sri Baginda di Kediri yang dapat tuanku kalahkan itu. Sedang pengaruhnyapun tidak akan sebesar para Panglima dan Senapati yang lain, karena sudah lama ia berada di Kediri. Jika tuanku memperhitungkan pengaruhnya di Kediri, maka dapat diperhitungkan bahwa Kediri sekarang tentu tidak akan mampu berbuat apa2.“ Ken Umang berhenti sejenak. Lalu, “Tuanku, hambapun mendengar apa saja yang dikatakan oleh Mahisa Agni dipaseban itu. Bukankah itu sudah suatu sikap yang pasti untuk menantang tuanku, merendahkan kekuasaan tuanku dan seakan2 suatu pameran kekuatan bahwa Mahisa Agni sama sekali tidak takut terhadap kuasa tuanku, selain dengan sengaja menghinakan para pemimpin yang lain.”

Ken Arok masih tetap berdiam diri.

“Nah, hamba persilahkan tuanku mempertimbangkan semuanya itu, karena hamba tidak berhak berbuat apapun selain memberikan sedikit pertimbangan yang barangkali tidak berarti apa2 bagi tuanku.”

Sri Rajasa masih tetap tidak menyahut sepatah katapun. Dipandanginya bintik2 dikejauhan seolah2 dicarinya sesuatu diantara kekosongan dikejauhan.

Ken Umang tidak mendesaknya lagi. Dibiarkannya Sri Rajasa merenungi kata2nya. Ken Umang itu masih tetap yakin bahwa Sri

Rajasa akan lebih percaya kepadanya daripada kepada Ken Dedes, apalagi kelemahan yang ada pada keturunan Ken Dedes itu ialah bahwa Anusapati adalah anak Tunggul Ametung.

Sejenak kemudian, setelah bergolak dengan dahsyatnya, dada Ken Arok seakan2 mulai terbuka. Seakan2 Ken Arok melihat sebuah jalan lurus yang harus ditempuhnya. Satu2nya jalan, karena tidak ada pintu lain yang terbuka baginya.

Betapapun jalan itu lewat celah2 lorong yang mengerikan, namun setapak demi setapak rasa2nya Ken Arok sudah memasuki pintu itu, didorong oleh tangan2 halus Ken Umang dan puteranya yang penuh dengan nafsu.

“Aku harus mengadakan persiapan sebaik2nya,“ berkata Ken Arok didalam hatinya, “aku harus bertemu dengan orang2 yang dapat aku percaya.”

Namun Ken Arok itupun menarik nafas dalam2 sambil berdesah didalam dirinya, “Apakah aku akan berhasil tanpa mengganggu keutuhan Singasari. Sekian lama aku bekerja untuk mempersatukan Singasari. Dan kini aku sendiri akan menimbulkan perpecahan didalamnya.”

Tetapi Ken Arok memang tidak melihat jalan lain. Yang harus dilakukan adalah menyingkirkan Anusapati dan Mahisa Agni dengan akibat yang sekecil2nya.

Itulah sebenarnya yang diharapkan oleh Ken Umang. Dan ia yakin bahwa yang diharapkan itu akan terjadi.

Demikianlah, dihari berikutnya, Ken Arok memanggil beberapa orang Senapati. Untuk tidak memberikan kesan yang mencurigakan, maka beberapa orang itu menghadap tidak berdasarkan waktunya. Bahkan juga Panglima pasukan pengawal yang menurut pendapatnya, akan dapat dipergunakannya sebagai perisai jika terjadi sesuatu.

“Kita tidak dapat menunda lagi,“ berkata Sri Rajasa kepada penasehatnya, yang sekaligus guru Tohjaya didalam olah

kanuragan, “Anusapati harus disingkirkan. Beberapa orang Senapati sudah siap untuk melakukannya. Dan cara yang akan aku tempuh adalah cara yang paling kecil akibatnya.”

Para Senapati harus dengan diam2 mengambil Anusapati dan membawanya keluar istana untuk diselesaikan. Tentu dimalam hari. Pasukan Pengawal akan diatur oleh Panglimanya, sehingga ketika terjadi hal itu, para pengawal tidak akan berada di tempatnya kecuali yang memang dapat dipercaya dan dapat dibawa bekerja bersama.”

“Tetapi pekerjaan itu akan sangat sulit tuanku. Tuanku Anusapati memiliki kemampuan secara pribadi.”

“Tentu, jika kalian harus bertempur seorang lawan seorang. Tetapi kalian akan menghadapinya dengan beberapa orang Senapati.”

“Disaat yang ditentukan aku akan memanggilnya. Jika ia mengetahuinya dan tentu akan berbuat sesuatu, diseluruh Singasari tidak ada orang lain yang dapat dihadapkan kepadanya selain aku sendiri. Untuk sementara kita dapat, melupakan Witantra. Aku kira ia tidak akan berbuat sesuatu. Sokurlah jika ia justru sedang mencari Mahisa Agni untuk membuat perhitungan atas kekalahannya diarena disaat kematian Akuwu Tunggul Ametung waktu itu.”

“Baiklah tuanku. Hamba akan melaksanakannya. Memang tidak ada jalan lain dari jalan kekerasan. Tentu kami akan memperhitungkan semua pihak yang dapat mengganggu usaha ini. Tetapi jika tuanku menghendaki kami bertindak langsung didalam istana ini, maka soalnya akan menjadi lebih mudah.”

“Kami akan memaksakan keadaan ini kepada para Panglima dan rakyat Singasari sebagai suatu keharusan. Anusapati adalah orang lain bagiku.”

Penasehat Sri Rajasa itupun merasa, bahwa telah datang waktunya ia menunjukkan jasa yang paling besar bagi Sri Rajasa

dan Tohjaya. Ia harus dapat menyingkirkan Anusapati kasar atau halus. Bahkan jika terpaksa dengan pertempuran terbuka.

“Tentu tidak akan banyak yang berpihak kepadanya. Panglima Pasukan Pengawal akan mengatur, bahwa disaat yang ditentukan itu, para petugas dilstana ini adalah orang2 yang dapat dipercaya.”

Demikianlah penasehat Sri Rajasa itu telah melakukan tugasnya dengan cermat. Dihubunginya Panglima Pasukan Pengawal. Ia tahu benar, bahwa Panglima itu terlalu setia kepada Sri Rajasa. Demikian pula beberapa orang Senapati dan prajurit yang akan dapat diajaknya bekerja bersama.

“Baiklah,“ berkata seorang Senapati, “tentukan, kapan kita akan melakukannya.”

“Secepatnya. Kita akan segera bertindak sebelum Anusapati dan Mahisa Agni mengetahuinya.”

“Mereka tidak akan tahu rencana ini.”

“Diistana ini ada sejumlah pengkhianat.”

Sebenarnyalah bahwa Sumekar telah tertarik kepada perubahan2 yang terjadi diistana. Beberapa orang prajurit yang dikenalnya mulai membicarakan kebijaksanaan yang baru. Perubahan yang tidak pada tempatnya telah terjadi didalam tugas2 para prajurit, didalam dan diluar istana. Prajurit2 yang bertugas sehari2, tiba2 saja telah ditarik dari istana dan orang2 barulah yang menggantikannya di tempat2 terpenting.

Sumekar yang mempunyai penglihatan yang tajam tidak dapat membiarkan semuanya terjadi diluar pengetahuan Mahisa Agni. Karena itu, maka iapun segera menemuinya dan mengatakan apa yang dilihatnya sejak hari ini.

Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Sebenarnya perubahan2 semacam itu adalah perubahan yang wajar didalam tugas keprajuritan.”

“Mungkin. Tetapi aku mempunyai firasat yang lain kali ini. Tentu dalam waktu yang singkat akan terjadi sesuatu. Jika tidak hari ini, tentu malam nanti.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam2. Katanya kepada Sumekar, “Mungkin kau benar Sumekar. Karena itu bersiaplah. Adalah lebih baik jika kau dapat mengambil Witantra dan kau bawa masuk kedalam istana ini.”

“Sekarang?”

“Jika malam gelap. Tetapi jika terjadi sesuatu sebelum gelap, tentu kita tidak sempat memberitahukan kepadanya.”

“Baiklah. Aku akan berada ditaman sehari penuh. Jika terjadi sesuatu, aku berada didalam taman itu.”

“Baiklah. Aku akan menemui Anusapati.”

Dengan dada yang berdebar2 Mahisa Agnipun kemudian menemui Anusapati dibangsalnya. Ketika ia melihat para penjaga bangsal itu, hatinya menjadi berdebar2. Prajurit2 itu sama sekali bukan prajurit yang biasanya bertugas dibangsal itu.

“Semuanya cepat berubah,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “dibeberapa hari terakhir, agaknya Sri Rajasa dan orang2nya sudah siap untuk melakukan rencana terakhirnya. Sudah tentu, bahwa Sri Rajasa terpaksa melakukannya dengan kekerasan untuk menempatkan Tohjaya menjadi searang Putera Mahkota.”

Tetapi ternyata dihari itu, tidak terjadi sesuatu. Anusapati yang sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan, masih saja tinggal didalam bangsalnya. Mahisa Agni masih belum memberikan isyarat apapun juga. Sedang Sumekar yang berada didalam taman dan kadang2 hilir mudik dihalaman membawa lodong bambu masih juga belum melihat perkembangan keadaan yang memuncak.

Karena itulah, maka ketika senja turun, ia berusaha untuk pergi kerumah persembunyian Witantra didalam kota Singasari.

Sumekar ternyata hanya memerlukan waktu yang pendek. Keduanya kemudian dengan hati2 meloncat masuk kedalam halaman istana.

“Bersembunyilah didalam taman,“ berkata Sumekar kepada Witantra, “aku akan berusaha menemui Mahisa Agni.”

“Apa kau tidak akan dicurigai?”

“Aku akan membawa bibit pohon soka, yang dapat aku pakai sebagai alasan. Menanam pohon soka memang sebaiknya dimalam hari.”

“Baiklah, tetapi hati2lah.”

Sumekarpun kemudian pergi untuk menemui Mahisa Agni. Dengan berdebar2 ia melihat beberapa orang prajurit yang tampaknya mulai bersiap2. Bahkan dilihatnya penasehat Sri Rajasa berjalan tergesa2 didepan bangsal Mahisa Agni. Hati Sumekar menjadi berdebar juga ketika dilihatnya Panglima Pasukan pengawal ada pula diantara beberapa orang prajurit yang sedang bertugas.

“Apakah sesuatu bakal terjadi malam ini?“ bertanya Sumekar kepada diri sendiri, “jika demikian, apakah kekuatan yang dapat dipergunakan oleh Anusapati untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya. Sejauh2 yang dapat dilakukan adalah melontarkan, isyarat itu kepada Kuda Sempana dan Mahendra. Tetapi dihalaman ini adalah berpuluh2 prajurit pilihan, termasuk Sri Rajasa sendiri.”

Sumekar menarik nafas dalam2. Katanya, “Akhirnya kelembutan hati Mahisa Agni telah menempatkan Anusapati dalam kesulitan. Akhirnya bahwa Sri Rajasalah yang telah, bersiap lebih dahulu menghadapi Putera Mahkota itu, yang sebenarnya adalah bukan puteranya sendiri.”

Dalam kecemasan itu, akhirnya Sumekar menemukan jalan lain yang justru akan dilakukan. Jalan yang sama sekali tidak diketahui oleh Mahisa Agni dan bahkan oleh Anusapati sendiri.

“Aku akan bertindak atas tanggung jawabku sendiri. Sebelum terjadi pembunuhan atas tuanku Anusapati, aku harus segera bertindak.”

Meskipun demikian, ia melanjutkan langkahnya membawa sebatang bibit pohon soka mendekati bangsal Mahisa Agni.

Dihalaman bangsal itu Sumekar telah dicegat oleh dua orang prajurit. Dengan kasar salah seorang dari mereka menyapa, “Siapa kau?”

“Apakah kau tidak dapat mengenal aku?“ bertanya Sumekar.

Prajurit itu termangu2. Lalu, “Sebut siapa namamu.”

“Aku Pangalasan dari Batil.”

“O. juru taman. Tetapi apa kerjamu malam2 begini?”

“Aku akan menanam pohoa soka seperti yang dipesan oleh tuanku Mahisa Agni.”

“Kenapa tidak besok siang?”

“Menanam pohon noka hanya dapat dilakukan malam hari.“

“Bohong, kau sangka aku tidak mengerti tentang tanaman? Aku adalah bekas seorang juru taman pada jaman pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi kemudian aku mendapatkan warisan ilmu sehingga aku berhasil mengikuti pendadaran untuk menjadi seorang prajurit.”

“O, jika demikian seharusnya kau tahu, bahwa menanam pohon soka sebaiknya pada malam hari. Mungkin dapat dilakukan disiang hari, tetapi hasilnya tidak akan memberi kepuasan.“

Prajurit itu termenung. Tanpa disadarinya dicobanya untuk mengingat kembali, apa yang pernah dilakukan pada saat ia menjadi juru taman. Namua ia sudah tidak dapat mengingat apapun lagi.

Karena itu, maka katanya, “Cepat, lakukan.”

Sumekarpun dengan tergesa2 memasuki halaman bangsal itu. Namun ia masih berpura2 bertanya, “Dimana aku harus menanam pohon ini?”

“Aku tidak tahu.”

“Jika demikian, apakah kau dapat bertanya kepada tuanku Mahisa Agni.”

“Kenapa aku?”

“Aku tidak berani. Tolong katakan kepadanya.“

“Aku tidak peduli. Itu bukan urusanku.”

Sumekar berdiri termangu2 sejenak. Namun ia tersenyum didalam hati. Kesempatan itulah yang memang ditunggunya.

Demikianlah akhirnya ia berhasil bertemu dengan Mahisa Agni, dan mengatakan apa yang telah dilihatnya.

“Kaupun sudah diawasi,“ berkata Sumekar.

Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya.

“Nah, kita agaknya sudah terlambat.”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku masih mempunyai jalan. Apakah kau bertemu dengan Witantra?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan Kuda Sempana dan Mahendra?”

“Aku hanya memanggil Witantra. Ia sudah berada di dalam taman.”

“Baiklah. Tetapi usahakan agar mereka semuanya berada didalam istana ini. Mereka harus berada dibangsalku. Aku akan membicarakan sesuatu yang penting dengan mereka dan kau.”

“Sekarang?”

“Ya. Panggil mereka.”

Sumekar menjadi termangu2 sejenak. Lalu katanya. “Tetapi bagaimana jika semuanya, ini akan segera terjadi?”

“Jika begitu, minta Witantra memanggil keduanya. Kau mengawasi keadaan sebaik2nya.”

“Tetapi, apakah yang dapat kita kerjakan hanya bersama dengan mereka bertiga.”

“Kita sudah bertiga dengan Anusapati.”

“Tetapi dihalaman ini ada berpuluh2 prajurit yang agaknya sudah mendapat petunjuk2 yang pasti.”

“Karena itu, panggil mereka. Aku masih mempunyai jalan.”

Sumekar mengangguk2kan kepalanya. Lalu katanya, “Baiklah, aku akan menghubungi Witantra. Biarlah ia datang kebangsal ini, akulah yang akan menjemput Kuda Sempana dan Mahendra yang ada dirumah itu juga.”

“Cepat. Sebelum semuanya terjadi. Sementara itu aku akan mempersiapkan semua rencana. Jangan beri tahu Anusapati lebih dahulu. Aku akan berada di halaman, supaya aku dapat melihat kesiagaan mereka yang semakin meningkat. Suruhlah Witantra langsung memasuki lewat pintu belakang. Hati2lah. Para prajurit agaknya benar2 bersiap.”

Sumekar melangkah meninggalkan Mahisa Agni. Namun tiba2 ia teringat, “Tetapi, aku mengatakan kepada para penjaga, bahwa aku akan menanam pohon soka.”

“Tinggalkan. Jika kau kembali bersama Kuda Sempana dan Mahendra, kau tidak usah melalui halaman bangsal ini.”

Sumekarpun mengetahui apa yang harus dikerjakan. Karena itulah maka iapun segera pergi meninggalkan Mahisa Agni. Di halaman depan para prajurit menegurnya, katanya, “Sudah selesai?”

“Tuanku Mahisa Agni marah bukan main.”

“Kenapa?”

“Kau memang gila. Aku sudah memperingatkan bahwa sebaiknya besok pagi saja.“

“Ya, aku menyesal. Tetapi menanam pohon soka hanya dapat dilakukan dimalam hari, maksudku, yang paling baik dilakukan dimalam hari.”

“Dimana pohon sokamu itu?”

“Diinjak2 sampai lumat. Tetapi anehnya, aku harus mencari lagi. Justru Kembang Soka Kuning, jenis yang paling sulit dicari.”

Para prajurit itu tertawa. Dipandanginya juru taman itu dengan ibanya. Namun mereka tidak dapat menolongnya, karena mereka sendiri belum pernah melihat jenis Kembang Soka yang berwarna kuning.

Sepeninggal Sumekar, maka Mahisa Agnipun kemudian membenahi dirinya. Tetapi betapapun ia mencemaskan keadaan, tetapi Mahisa Agni tidak menganggap perlu membawa senjata. Tangannya yang dapat dialiri dengan aji Gundala Sasra dan sekaligus Kala Bama dalam bentuknya yang sesuai, adalah semata yang tidak kalah dahsyatnya dari segala macam jenis semata tajam maupun senjata2 yang lain.

Ketika ia keluar dari bangsalnya dilihatnya beberapa orang prajurit berada dihalaman. Seperti biasanya Mahisa Agnipun menyapa mereka dengan ramahnya. Namun kali ini para prajurit itu menjawabnya dengan ragu2.

“He, apakah kalian tidak pernah bertugas di bangsal ini?“ bertanya Mahisa Agni kepada prajurit2 itu.

Pemimpin peronda itupun menjawab dengan termangu-mangu, “Belum. Eh, maksud kami, kami memang belum pernah bertugas diregol ini, tetapi sudah sering bertugas dibagian lain.”

“Dimana?”

Pemimpin peronda itu menjadi semakin bingung, sehingga ia menjawab penuh kebimbangan, “Di Istana bagian dalam.”

“He, bagian dalam yang mana? Apakah ada bagian luar dan bagian dalam.”

Prajurit itu menjadi semakin bingung. Katanya, “Maksudku, istana yang baru.”

“O, maksudmu kau sering bertugas dibagian yang baru dari istana ini. Jelasnya di bangsal yang didiami oleh tuan puteri Ken Umang dan yang lain yang didiami oleh tuanku Tohjaya.”

“Ya. ya.”

Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Dan kau sekarang mendapat tugas baru disini.”

“Ya. menurut panglima, sudah saatnya kita saling bertukar tempat didalam tugas kami, agar kami tidak selalu berada ditempat yang sama sepanjang kami menjadi prajurit.”

“Bagus. Itu adalah usaha yang bagus sekali,“ berkata Mahisa Agni, “nah, bertugaslah dengan baik. Aku akan berjalan2 sebentar.”

“Berjalan2?“ prajurit itu menjadi heran, “sudah terlampau malam tuan masih akan berjalan2.”

“Malam?“ bertanya Mahisa Agni, “kau ini seperti seekor ayam saja,“ berkata Mahisa Agni sambil tertawa, “baru saja senja tenggelam. Biasanya aku keluar hampir sampai tengah malam. Bahkan kadang2 lebih.”

Prajurit itu mengangguk2kan kepalanya. Sudah barang tentu bahwa mereka tidak akan dapat mencegahnya.

Demikianlah para prajurit itu hanya dapat memandangi langkah Mahisa Agni yang menyusup kedalam gelap. Namun demikian rasa2nya mereka telah mengabaikan tugas mereka jika mereka tidak tahu, kemana Mahisa Agni itu pergi.

Karena itu, maka pemimpin peronda itupun memerintahkan seseorang untuk mengawasi kemana Mahisa Agni itu pergi.

Namun ternyata bahwa orang itu kurang dapat menguasai keadaan. Ia tidak memperhitungkan kemampuan Mahisa Agni sehingga dengan mudah Mahisa Agni dapat, mengetahui bahwa seseorang telah mengikutinya.

Prajurit yang mengikuti itu menjadi bingung ketika tiba-tiba saja orang yang harus diawasinya itu hilang. Mahisa Agni yang berjalan perlahan2 didalam kegelapan itu tiba2 saja seperti dapat lenyap menembus bumi.

“Gila,“ desis prajurit itu, “dimanakah orang itu bersembunyi?”

Dengan hati2 ia melangkah mendekati gerumbul yang ada didekat tempat Mahisa Agni menghilang. Namun ketika ia sampai ditempat itu, ternyata ia tidak menjumpai seorang-pun.

“Aneh,“ desisnya, “apakah aku sedang mengikuti sesosok hantu?”

Namun dengan demikian hatinya menjadi berdebar-debar. Seakan2 ia benar2 berhadapan dengan hantu yang dapat menghilang dan kemudian menampakkan diri.

Ketika ia sudah yakin bahwa ia tidak akan dapat menemukan Mahisa Agni, maka dengan kesal iapun meninggalkan tempat itu. Dengan tergesa2 ia berjalan kembali ketempat tugasnya dengan berbagai macam perasaan yang kisruh.

Tetapi hampir terlonjak prajurit itu ketika ia melihat seseorang berjalan sambil menyilangkan tangannya dipunggung. Selangkah demi selangkah, seakan2 tidak menghiraukan apa pun lagi.

“Tuan,“ prajurit itu menyapanya.

“O, siapa kau?”

“Bukankah tuan Mahisa Agni?”

“Ya, kenapa? Aku ingin berjalan2. He, apakah kau prajurit yang bertugas di regol bangsalku?”

“Ya tuan.”

“Kenapa kau disini? Bukankah kau masih ada diregol ketika aku berangkat berjalan2? Dan kenapa tiba2 saja kau sudah berada disini?”

Orang itu menjadi bingung. Seharusnya ialah yang bertanya kepada Mahisa Agni. Namun justru kini Mahisa Agnilah yang bertanya kepadanya.

“He, kenapa kau diam saja?“ desak Mahisa Agni.

“Tidak, maksudku aku memang berjalan2.”

“Akulah yang berjalan2 bukan kau.”

“O,” orang itu menjadi semakin bingung, “maksudku tuan, aku juga berjalan2 untuk mengendorkan ketegangan.”

Mahisa Agni memandangi prajurit itu sejenak. Namun iapun kemudian tertawa sambil berkata, “Aku memang sudah ketinggalan. Agaknya memang sudah menjadi peraturan, bahwa setiap prajurit yang sedang bertugas diperkenankan berjalan2 untuk mengendorkan ketegangan, sekaligus dengan membawa senjatanya sekali.”

Terasa dada prajurit itu berdesir. Ia merasa sindiran yang halus tetapi tepat mengenai sasarannya. Meskipun begitu prajurit itu tidak dapat berbuat apapun juga. Sehingga karena itu, maka jawabnya, “Hanya suatu kesempatan tuan. Bukan peraturan.”

Mahisa Agni menepuk bahu prajurit itu sambil berkata, “Cepat, kembali kepada tugasmu. Itu jika kau sudah selesai mengendorkan ketegangan?”

“Ah.”

“Tetapi ketegangan apakah sebenarnya yang mencengkammu.”

Prajurit itu tidak menjawab. Karena itu, maka Mahisa Agnipun berkata, “Baiklah, cepat kembali. Mungkin kawan2mu memerlukan kau.”

Prajurit itupun kemudian dengan tergesa2 kembali kedalam biliknya. Namun disepanjang langkahnya, ia tidak henti2nya bertanya2 kepada diri sendiri, bagaimana dapat terjadi, bahwa Mabisa Agni yang diikutinya itu begitu saja telah hilang dan yang tanpa diduga2nya ditemuinya dijalan kembali kegardunya.

“Benar2 anak iblis,“ katanya didalam hati, “tentu bukan manusia biasa yang dapat melakukannya.”

Ketika prajurit itu sampai diregol halaman bangsal Mahisa Agni, maka iapun segera menceriterakan pengalamanya itu kepada kawan2nya. Sebagian dari mereka menjadi terheran2 dan berkata, “Itulah sebabnya, ia diangkat menjadi Senapati Agung di Kediri.“

Namun pemimpin peronda itu berkata, “Kau tentu dibayangi oleh ketakutan saja.”

“Omong kosong. Selagi ia masih berdiri diatas tanah ia tidak akan dapat melenyapkan dirinya. Percayalah bahwa iu tidak lebih dari seorang prajurit biasa. Hanya kesempatan sajalah yang membuatnya menjadi orang terkemuka di Singasari. Jangan kau sangka bahwa tidak ada orang lain yang memiliki kelebihan tetapi belum mendapat kesempatan. Sebenarnya aku ingin melihat dan bahkan mengalami, betapa tingginya ilmu orang yang bernama Mahisa Agni dan juga orang yang bergelar Kesatria Putih itu.”

“Putera Mahkota?“ bertanya seorang kawannya.

“Ya, Putera Mahkota. Ceritera tentang mereka sama dahsyatnya. Tetapi aku belum pernah melihat kebenaran dari ceritera itu.”

“Semua orang pernah mendengar bahwa Mahisa Agni pernah membunuh Senapati Agung dari Kediri.”

“Dan siapakah yang mengetahui sebenarnya, betapa tinggi ilmu Senapati Agung Kediri itu? Mungkin yang disebut Senapati Agung Kediri itu tidak lebih tangguh dari kau atau salah seorang prajurit yang memiliki sedikit kelebihan. Nah, bukankah dengan demikian kemenangannya itu bukan ukuran dari keperwiraannya.”

“Ah,“ berkata prajurit yang lain, “kau jangan mencoba ingkar. Kau tentu mengetahui bahwa Kesatria Putih pernah membunuh beberapa orang yang ternyata adalah prajurit2 Singasari dan melemparkan senjata mereka dimuka pintu gerbang?”

“Aku berkata tentang Mahisa Agni,“ sahut pemimpin peronda itu.

“Tetapi bukankah kau juga menyebut Kesatria Putih.“

Pemimpin prajurit yang sedang berjaga2 itu tidak menyahut.

“Dan kau tentu juga mengetahui, bahwa Putera Mahkota itu adalah anak kemenakan Mahisa Agni. Ilmu yang dimilikinyapun tentu keturunan ilmu Mahisa Agni.”

Pemimpin peronda itu masih tetap berdiam diri.

Kawannyapun tidak berkata lebih lanjut. Mereka untuk beberapa lamanya saling berdiam diri dan duduk berserakan, selain yang bertugas didepan tangga bangsal.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang berjalan2 dihalaman melintasi gerumbul2 bunga mendekati bangsal Anusapati. Namun ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada para prajurit yang bertugas. Karena itu, ia berusaha untuk berlindung dibalik dedaunan.

Seperti yang dikatakan oleh Sumekar, memang dihalaman istana malam itu ada beberapa kesibukan. Tetapi menurut perhitungan Mahisa Agni tentu belum akan dilakukan malam ini. Ia melihat prajurit yang terpencar2, dan sama sekali tidak ada pemusatan yang lebih besar didalam maupun diluar istana.

Meskipun demikian, Mahisa Agni memang tidak boleh lengah. Itulah sebabnya, maka ia ingin dapat bertemu dengan Witantra, Kuda Sempana dan Mahendra. Karena mereka tidak mempunyai pasukan yang cukup apabila diperlukan, dan memang hal itu sama sekali bukan menjadi tujuan Mahisa Agni, maka ia masih berusaha untuk menemukan jalan lain yang lebih baik.

Setelah beberapa lama ia mengamat2i bangsal Anusapati, maka Mahisa Agni itupun segera meninggalkan tempatnya dan kembali kebangsalnya sebelum para penjaganya menjadi curiga pula.

“Siapa lagi yang sedang berjalan2?“ bertanya Mahisa Agni ketika ia sampai dimuka regol bangsalnya.

Beberapa orang prajurit menjadi termangu2. Tetapi prajurit yang mengetahui sindirian itupun menjadi tersipu2. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali.

Karena tidak ada seorangpun dari mereka yang menjawab, maka Mahisa Agni itupun kemudian berkata, “Baik2lah didalam tugas kalian. Aku selalu berterima kasih kepada kalian, karena keselamatanku tergantung kepada kalian malam ini. Selamat malam.”

Pemimpin peronda itu mengerutkan keningnya. Ternyata bahwa Mahisa Agni adalah seorang pemimpin yang ramah.

Hampar diluar sadarnya ia menjawab seperti kepada seorang sahabatnya yang karip, tidak seperti terhadap seorang Senapati Agung, “Baiklah, selamat malam.”

Pemimpin peronda itu terkejut sendiri atas jawabannya itu. Tetapi ia tidak sempat mengulanginya karena Mahisa Agnipun telah melangkah meninggalkannya.

Pemimpin peronda itu mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “jarang sekali terdapat Senapati besar seramah Mahisa Agni.“ Namun tiba-tiba ia menyambung dengan serta-merta, “Tetapi itu bukan karena kebaikan hati. Itu adalah karena ia merasa bahwa ia tidak lebih dari seorang anak Padepokan di Panawijen.”

Para prajurit itu mengangguk2kan kepalanya. Seperti terbangun dari mimpi mereka. Mereka menyadari sesungguhnya, sehingga setiap anggapan bahwa Mahisa Agni adalah seorang yang baik akan dapat mengurangi kesungguhan mereka menjalankan tugas itu.

Ternyata belum lagi Mahisa Agni menutup pintu bangsalnya rapat, ternyata seorang Senapati yang lain telah mendatangi regol

itu. Kepada pemimpm prajurit yang bertugas ia berkata, “Aku mengemban tugas Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

Pemimpin peronda itu mengangguk dalam2 sambil berkata, “Silahkan. Baru saja tuan Mahisa Agni masuk kedalam bangsal.”

“Baru saja?“ bertanya perwira itu.

“Ya.”

“Darimana?”

“Sekedar berjalan2 didalam halaman ini.“

Perwira itu mengangguk2kan kepalanya. Lalu, “Apakah tidak ada seorangpun yang mengikutinya?”

“Hanya dihalaman ini.”

“Ya, tetapi setidak2nya kalian tahu apa yang dilakukan dihalaman ini.”

“Seorang dari kami mengikutinya dari kejauhan. Tetapi ia tidak berbuat apa2,“ jawab pemimpin peronda itu sambit memandang kepada prajurit yang mengikuti Mahisa Agni tetapi gagal.

Prajurit itu tidak membantah, meskipun dadanya terasa bergetaran.

“Baiklah,“ berkata perwira itu, “aku akan bertemu dengan Mahisa Agni atas perintah Sri Rajasa.”

“Silahkan. Tentu tuan Mahisa Agni masih belum masuk kedalam biliknya.”

Perwira itupun kemudian naik tangga bangsal Mahisa Agni. Perlahan-lahan ia mengetuk pintu bangsal itu.

“Siapa?“ bertanya Mahisa Agni yang ternyata masih duduk diruang dalam.

“Aku, utusan Sri Rajasa.”

Mahisa Agni terkejut. Jarang sekali terjadi, utusan Sri Rajasa datang dimalam hari. Hanya apabila ada persoalan yang sangat penting sajalah, maka ia dipanggil menghadap dimalam hari.”

Namun demikian, Mahisa Agni harus melakukan apapun bunyi perintah itu. Meskipun demikian ia menjadi berdebar2, karena ia sudah terlanjur menyuruh Sumekar membawa Witantra dan kawan2nya masuk kedalam bangsalnya lewat pintu butulan dibelakang.

Dengan ragu2 Mahisa Agni melangkah mendekati pintu. Ada juga kecurigaan yang bergejolak didalam hatinya. Karena itu, maka iapun harus berhati2. Ia tidak tahu pasti, berapa orangkah yang datang pada saat itu. Dan apakah hal itu ada hubungannya dengan sikap para prajurit2 di regol yang mencoba mengkutinya?

Perlahan2 Mahisa Agni meraba pintu bangsalnya. Kemudian dengan hati2 dan penuh kewaspadaan ia membuka pintu itu.

Mahisa Agni menarik nafas ketika ia melihat seorang perwira berdiri dimuka pintu, dan yang kemudian menganggukkan kepalanya.

“O, kau,“ sapa Mahisa Agni, “silahkan masuk.”

Perwira itu melangkah masuk kedalam. Kemudian merekapun duduk diatas dingklik kayu yang dialasi dengan kulit domba berwarna hitam.

“Kakang Mahisa Agni,“ berkata perwira itu, “kedatanganku kemari sekedar menjalankan perintah Sri Rajasa.”

“Ya. Apakah perintah itu.”

“Kakang Mahisa Agni,“ berkata perwira itu, “besok dibangsal paseban dalam akan diadakan sidang terbatas. Kakang diharap hadir didalam sidang itu.”

“O, sidang terbatas?”

“Ya, ada sesuatu yang harus segera diselesaikan. Karena itu kakang diharap hadir didalam sidang itu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Firasatnya tiba2 saja telah menyentuh perasaannya. Karena itu, maka ia mengambil kesimpulan didalam hatinya, “Tentu ada sesuatu yang benar2 penting. Bukan saja bagi Singasari, tetapi juga bagi Anusapati.”

Tetapi Mahisa Agni tidak dapat memperhitungkan sikap apakah yang akan diambil oleh Sri Rajasa. Karena itu, maka ia tidak segera melihat kemungkinan yang dapat dilakukan. Agar perwira itu segera pergi meninggalkan bangsalnya maka iapun kemudian menjawab, “Perintah Sri Rajasa aku junjung-tinggi. Besok aku akan menghadap dipaseban dalam.”

“Baiklah kakang. Aku hanya menyampaikan perintah.”

“Dan perintah itu sudah aku terima.”

Perwira itu mengangguk2kan kepalanya. Memang ia hanya mendapat tugas untuk menyampaikan perintah, dan perintah itu memang sudah diterima.

Karena itu maka perwira itupun segera minta diri. Dan itulah memang yang dikehendaki oleh Mahisa Agni. Semakin cepat menjadi semakin baik.

Sepeninggal perwira itu, maka Mahisa Agnipun menarik nafas dalam2. Sebentar lagi beberapa orang akan memasuki bangsalnya. Karena itu, maka tidak boleh ada orang lain lagi yang akan memasuki bangsalnya.

Mahisa Agnipun kemudian pergi keruang depan. Meskipun pintu bangsal itu sudah tertutup, tetapi dari luar masih tampak di sela2 dinding, bahwa lampunya masih menyala dengan terangnya. Karena itu, maka Mahisa Agnipun kemudian memadamkan lampu itu sama sekali.

Beberapa orang prajurit yang bertugas didepan bangsal itupun segera melihat, bahwa ruang depan bangsal Mahisa Agni itu sudah menjadi gelap.

“Mahisa Agni itu sudah akan pergi tidur,“ berkata salah seorang prajurit.

“Ya, ternyata ia sendirilah yang seperti ayam,“ jawab prajurit yang lain.

“Kenapa seperti ayam?”

“Bukankah ketika kita bertanya, apakah ia akan berjalan malam2 begini ia menjawab, bahwa kita ini seperti ayam saja, yang sudah pergi tidur sejak senja turun.”

Kawan2nyapun tertawa. Katanya, “Memang sudah cukup malam untuk pergi tidur.”

Yang lainpun terdiam. Mereka memang menyangka bahwa Mahisa Agni akan segera pergi tidur.

Namun tidak scorangpun dari mereka yang mengetahui, apa yang akan dilakukan oleh Mahisa Agni itu. Mereka tidak menyangka bahwa akan ada beberapa orang yang dengan diam2 memasuki halaman bangsal itu dan kemudian memasuki bangsal Mahisa Agni dari belakang.

Sejenak Mahisa Agni masih menunggu. Tetapi ia yakin bahwa orang2 itu pasti akan datang menemuinya.

Ternyata Mahisa Agni tidak perlu menunggu terlampau lama. Sejenak kemudian ia mendengar pintu butulan dibelakang berderit, dan muncullah beberapa orang memasuki bangsalnya.

“O,“ bisik Mahisa Agni, “aku sudah menduga bahwa kalian pasti akan datang.”

Witantra tertawa. Katanya, “Kami merasa wajib datang malam ini seperti yang kau kehendaki. Jika tidak perlu sekali maka kau tentu tidak akan memanggil kami bersama2.”

“Sebenarnya tidak perlu sekali. Tetapi memang aku memerlukan kalian didalam keadaan seperti ini. Aku kira kita memang sudah mulai memanjat kepuncak persoalannya sehingga semuanya akan segera berakhir. Karena itu, maka kita inipun harus segera mengambil sikap.”

Witantra mengangguk2kan kepalanya. Jawabnya, “Kami sadar akan hal itu.”

“Tetapi dimana Sumekar?“ bertanya Mahisa Agni.

“Ia mengantar sampai kebelakang bangsal ini. Tetapi ia berkata bahwa ia ingin pergi untuk suatu keperluan sebentar.”

“He?“ Mahisa Agni menjadi heran, “kemana?”

“Kami tidak tahu. Tetapi katanya hanya sebentar saja.”

Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Baiklah sambil menunggu Sumekar, aku ingin berbicara sedikit. Ternyata bahwa Sri Rajasa sudah menyiapkan sebuah kekuatan untuk melaksanakan niatnya yang barangkali dengan kekerasan. Ia tidak dapat menghindar lagi dari tuntutan Ken Umang dan Tohjaya.”

“Memang Sri Rajasa didorong oleh keadaan yang sulit yang hampir tidak dapat dihindari. Namun bagaimana mungkin ia dengan tergesa2 mengangkat Anusapati menjadi Pangeran Pati, dan kemudian ingin melemparkannya?”

“Ada beberapa kemungkinan. Ia ingin menghilangkan golongan yang bagaimanapun juga masih mengagumi Tunggul Ametung. Karena sebagian dari mereka mengetahui bahwa Anusapati adalah putera Tunggal Ametung, maka dengan diangkatnya Anusapati maka pengikutnya tidak akan berbuat terlampau banyak. Termasuk kau Witantra.”

Witantra tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Dan Mahisa Agnipun meneruskan, “Agaknya kini Sri Rajasa yakin bahwa pengikut Tunggul Ametung sudah lenyap sama sekali. Kehadiranmu dikota ini memang banyak menimbulkan persoalan. Tetapi diantaranya mereka menganggap bahwa dendammu tertuju kepadaku. Apalagi karena kau hanya sekali dua kali muncul dan tidak menimbulkan kesan yang lain, maka untuk sementara Sri Rajasa mengabaikanmu.”

Witantra mengangguk2kan kepalanya. Lalu katanya, “Jika demikian aku dapat mengambil sikap yang lain. Aku akan menumbuhkan kesan, bahwa aku adalah pengikut Tunggul Ametung yang setia. Nah, bukankah dengan demikian sikap Sri Rajasa terhadap Anusapati akan berubah?”

“Ya. Tetapi kesempatan kita agaknya terlampau sempit. Malam ini kalian harus tetap berada disini.”

“Untuk apa?”

“Jika kekerasan itu benar2 terjadi.”

“Dan kami akan melawan segenap prajurit yang ada dihalaman?”

“Tidak. Aku mempunyai cara lain. Bukan melawan segenap prajurit yang ada dihalaman ini, tetapi kita berusaha berbuat sebaik2nya tanpa menimbulkan pertempuran yang hanya akan menmbulkan korban jiwa saja.”

Witantra mengerutkan keningnya. Dipandanginya Mahisa Agni dengan pertanyaan yang memenuhi dadanya.

Mahisa Agni seakan2 menyadari, apa yang dipikirkan oleh Witantra. Karena itu maka katanya kemudian, “Tentu kita tidak akan mungkin bertempur melawan segenap prajurit dan Senapati yang ada dihalaman ini dan yang telah diatur pula oleh Sri Rajasa dan orang2nya. Tetapi kita dapat menemukan cara lain. Kita langsung berhubungan dengan Sri Rajasa.“

Witantra memandang Mahisa Agni dengan tajamnya, lalu bertanya, “Kita akan memotong langsung kepalanya?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada jalan lain. Kita tidak akan berbuat apa2. Kita akan menemuinya dan menjelaskan persoalannya. Mungkin kita dapat dianggap memaksanya. Tetapi itu adalah jalan yang terbaik.”

“Sri Rajasa bukan seorang yang mudah menyerah kepada keadaan Agni,“ berkata Kuda Sempana, “mungkin ia akan

mengtakan pendapat kita, tetapi kita tidak tahu apa yang akan dilakukan besok.”

“Sabda seorang Maharaja tidak akan berubah. Jika ia menolak, tentu ia akan menolak seketika itu apapun akibatnya, tetapi jika ia mengiakannya, maka ia akan melakukannya.”

Kuda Sempana mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Jika kau yang menjadi Maharaja, maka mungkin sekali kau akan berbuat demikian. Dan mungkin juga raja2 yang lain. Tetapi apakah demikian pula yang akan dilakukan oleh Ken Arok yang sekarang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu?”

“Aku tidak tahu Kuda Sempana. Mudah2an ia seorang Kesatria sepenuhnya meskipun masa lampaunya adalah masa lampau yang kelam.”

“Kita dapat mencoba,“ berkata Mahendra, “sementara kita menyiapkan diri. Setidak2nya kita mendapat kesempatan untuk menyelamatkan Putera Mahkota, dan membawa kesuatu tempat yang terpencil dan aman. Tentu Sri Rajasa tidak dapat menutup mata, bahwa Putera Mahkota Sebagai Kesatria Putih akan dengan mudah mendapat pengikut apabila Sri Rajasa benar2 ingkar akan janjinya.”

Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Itu adalah pendapat yang baik. Demikian Sri Rajasa menyanggupi untuk mengambil sikap yang pasti bagi Putera Mahkota, maka kita akan menyingkirkan Putera Mahkota itu sejauh2nya sementara kita menunggu perkembangan. Putera Mahkota akan kembali keistana tanpa melanggar haknya dan hak orang lain, sementara Sri Rajasa tidak akan dapat berbuat apapun lagi, karena persiapan Putera Mahkotapun telah matang.”

“Ya. Kita akan mencobanya. Mudah2an kita hanya sekedar berprasangka.”

“Kau terlampau lembut. Tetapi mudah2an kau benar. Namun seandainya harus terjadi, kita sudah siap. Kita akan langsung

mendapatkan Sri Rajasa, dan jika perlu menembus barisan pengawalnya.”

“Apaboleh buat,“ sahut Mahisa Agni. Lalu, “Sekarang, kalian dapat beristirahat disini. Aku menjamin bahwa tidak akan ada orang lain yang mengetahuinya. Biarlah kita menunggu Sumekar. Mungkin ia sedang mengamat2i perkembangan baru dihalaman istana ini.”

“Aku ingin juga keluar sebentar. Aku akan berhati2,“ berkata Witantra.

“Kita menunggu Sumekar sejenak.”

Witantra mengangguk2kan kepalanya, dan Mahisa Agni berkata seterusnya, “Aku besok dipanggil dibangsal paseban.”

Witantra memandang Mahisa Agni sejenak. Lalu, “Tidak ada penjelasan lagi?”

“Tidak.”

“Dan dihalaman ini terjadi kesibukan malam ini?”

“Sedikit. Aku tidak melihat bahaya yang menentukan. Namun aku tidak tahu, bahwa timbul firasatku bahwa justra paseban besok akan menentukan sesuatu sehubungan dengan kegiatan malam ini.“

“Kita memang harus mengamati keadaan. Mungkin sekali terjadi. Justru ketika kau berada dipaseban, para prajurit mengambil tindakan terhadap Putera Mahkota. Tentu tidak mengetahuinya.”

“Akupuu menduga demikian. Jika tidak, tentu tidak akan ada kegiatan yang melampaui kebiasaan dan sehubungan dengan sikap dan penglihatan Sumekar, bahwa yang terjadi halaman ini tidak pernah dilihatnya sebelumnya.”

“Tentu ada hubungannya.”

“Dan akupun ternyata diikuti oleh seorang prajurit ketika aku berjalan2 dihalaman.”

Witantra dan kedua kawan2nya saling berpandangan. Seakan2 mereka telah menjadi yakin, bahwa sesuatu memang akan terjadi.

Karena itulah maka Witantrapun berkata, “Baiklah aku mengamati keadaan. Mungkin kita haras bertindak cepat. Aku akan memberikan isyarat dari kejauhan dan kalian harus segera pergi kebangsal Sri Rajasa.”

“Tetapi hati2lah. Akupun akan menengok bangsal Anusapati,” jawab Mahisa Agni.

“Jika demikian,“ berkata Kuda Sempana kemudian, “kita berada diluar bangsal ini saja, karena agaknya memang lebih aman. Kita mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu.”

“Baiklah,“ berkata Mahisa Agni, “tetapi kita menunggu Sumekar sejenak. Kita mendengar pendapatnya.”

Witantra mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Tetapi jangan terlalu lama. Hari menjadi semakin malam.”

“Tentu tidak lama,“ Kuda Sempanalah yang menyahut, “ia hanya akan singgah sejenak. Dan iapun akan segera menyusul kemari.”

Sejenak mereka saling berdiam diri. Mereka menunggu kedatangan Sumekar yang memisahkan dirinya ketika mereka memasuki halaman istana.

“Lama sekali,“ desis Mahendra.

“Mungkin ia singgah kegubugnya.“

Mahendra menarik nafas dalam2.

Namun tiba2 saja mereka dikejutkan oleh guruh yang seakan2 meledak diatas istana. Begitu kerasnya dan mengejutkan segenap bangunan yang ada dilingkungan halaman istana serasa bergetar karenanya.

“Mengejutkan,“ desis Kuda Sempana.

Witantra mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Bukankah ketika kita memasuki halaman ini, langit nampaknya bersih?”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Namun merekapun kemudian mendengar angin yang menderu, seakan2 semakin lama menjadi semakin keras.

“Angin,“ desis Mahendra, “agaknya hujan memang akan turun.”

Mahisa Agni hanya mengangguk2kan kepalanya saja. Tetapi tiba2 saja terasa dadanya berdesir ketika ia melihat kain2 selintru bergetar oleh angin yang menyusup dinding. Bahkan terasa pada kulit tubuh mereka, angin yang basah berhembus melintasi ruangan.

Sekali lagi mereka mendengar guruh dilangit. Suaranya menggelegar berkepanjangan, seperti sebuah pedati raksasa yang lewat dijalan langit yang berbatu2. Panjang sekali.

Orang2 yang ada didalam bangsal itu menaiik nafas dalam2. Terasa udara malam menjadi asing. Angin yang berhembus rasa2nya semakin lama menjadi semakin kencang.

“Musim hujan memang sudah tiba,“ berkata Mahendra.

“Tetapi belum waktunya angin dan guntur bersahut2an dilangit,“ sahut Witantra.

“Memang kadang2 terjadi kelainan seperti ini,“ berkata Mahisa Agni, “ketika Akuwu Tunggul Ametung masih memerintah pernah juga terjadi hujan dikelainan musim. Tiga hari tiga malam. Kemudan pada masa pemerintahan Sri Rajasapun pernah juga terjadi.”

“Ingatanmu baik sekali Mahisa Agni.”

“Kebetulan saja bersamaan waktunya dengan kejadian besar yang tidak dapat aku lupakan. Mungkin masih banyak terjadi kelainan musim. Tetapi aku sudah tidak ingat lagi.”

“Kejadian besar yang manakah yang kau maksudkan?“ bertanya Witantra.

“Yang pertama menurut ingatanku, yaitu pada saat pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung adalah saat2 menjelang akhir pemerintahannya. Hujan turun beberapa hari. Tetapi waktu itu

kita tidak menghiraukannya, karena musim hujan memang sudah diambang pintu.”

“Seperti saat ini.”

“Ya, seperti saat ini.”

“Dan pada masa pemerintahan Sri Rajasa?“

“Tiba2 saja hujan turun seperti dicurahkan dari langit.“

“Ya. Bersamaan waktunya dengan peristiwa yang mana?”

“Menjelang gugurnya Sri Kertajaya Maharaja di Kediri.”

Witantra menarik nafas dalam2. Katanya, “Pantas kau dapat mengingatnya. Sebenarnya yang kau ingat bukan hujan dan angin, tetapi peristiwa2 besar itulah agaknya.“

“Sudah aku katakan. Mungkin musim yang salah itu sering terjadi. Tetapi tentu aku tidak dapat mengingatnya lagi.”

Merekapun terdiam ketika mereka mendengar guruh sekali lagi mengumandang dilangit. Seleret cahaya yang terang benderang telah membelah kegelapan malam, disambut oleh suara angin yang gemerasak didedaunan.

“Anginpun ikut berbicara bersama kita. Kau dengar?” bertanya Mahendra.

Yang lain mengangguk2kan kepalanya. Namun tampaklah wajah Witantra menjadi bersungguh2. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Kadang2 kejadian2 besar memang ditandai oleh peristiwa alam yang agak lain dari urutan musimnya.”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah Witantra sejenak. Lalu, “Apakah ada sesuatu terasa dihatinya.”

“Semacam firasat buruk,“ Kuda Sempanalah yang menyahut.

“Ya,“ berkata Mahendra pula. “Ada sesuatu yang lain dihati ini.“

Mahisa Agni menarik nafas dalam2. Katanya, “Inikah pertanda itu?“ ia terdiam sejenak, lalu, “jika demikian tinggallah kalian disini. Aku akan pergi kebangsal Anusapati.“

Witantra termenung sejenak. Lalu, “Kenapa kau? Kenapa bukan aku?”

“Aku lebih leluasa bergerak dihalaman istana ini.”

Witantra tidak segera menyahut. Tetapi sepercik cahaya telah memancar lagi. Terang sekali, diiringi suara guruh yang menggelegar dilangit.

Belum lagi suara guruh itu lenyap, terdengar sesuatu yang mendebarkan jantung. Perlahan2 pintu butulan telah diketuk orang.

“Sumekar,“ desis Mahisa Agni.

Mahendrapun kemudian berdiri. Dengan hati2 ia menarik selarak. Ketika pintu terbuka sedikit, mereka yang ada didalam ruangan itupun terkejut bukan kepalang. Ternyata yang datang sama sekali bukan Sumekar, tetapi Anusapati.

“Kau Anusapati?“ bertanya Mahisa Agni perlahan2.

Anusapati tidak menjawab, Iapun kemudian melangkah masuk dengan ragu2. Dilihatnya beberapa orang yang sudah ada diruangan itu.

“Duduklah.“

Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Dimanakah paman Sumekar?”

Pertanyaan itu mengejutkan Mahisa Agni dan orang2 yang ada didalam bilik bangsal itu.

“Pamanmu Sumekar tidak ada disini,“ jawab Mahisa Agni, “kami memang sedang menunggunya.”

“Baru saja paman Sumekar datang kepadaku.”

“O,“ kata2 itu sangat menarik perhatian. Lalu, “dimana ia sekarang?“ bertanya Mahisa Agni.

“Aku sedang mencarinya kemari. Menurut paman Sumekar, ia akan pergi kebangsal ini.”

“Ia belum datang. Mungkin ia singgah ditempat tinggalnya atau keperluan lain. Sebentar lagi ia akan datang. Karena iapun menyatakan kepada kami, bahwa ia akan segera datang.”

Anusapati memandang Mahisa Agni dengan heran. Katanya, “Paman Sumekar mengatakan kepadaku, bahwa paman menyuruhnya pergi kepadaku.”

“Aku?”

“Ya paman.”

“Kenapa aku? Dan apa katanya?”

“Paman menyuruh paman Sumekar kebangsalku dan dengan diam2 menemui aku, karena paman ingin melihat keris mPu Gandring itu.”

“Keris mPu Gandring?”

“Ya. Paman Sumekar telah membawa keris itu, yang menurut paman Sumekar akan diserahkannya kepada paman Mahisa Agni.”

Jawaban itu telah mengguncangkan dada Mahisa Agni dan orang2 yang ada diruangan itu, sehingga Witantra bergeser setapak. “Jadi, keris itu sekarang dibawa oleh Sumekar.”

“Ya.”

Terasa sesuatu bergejolak disetiap dada.

“Bagaimana paman,” bertanya Anusapati, “apakah tidak demikian?”

“Katakan Anusapati, bagaimana hal itu terjadi.”

Anusapati menjadi gelisah. Katanya, “Paman Sumekar datang kepadaku dengan diam2. Paman Sumekar membawa pesan paman

Mahisa Agni untuk membawa keris itu. Karena paman Mahisa Agni ingin melihatnya.”

“Bukankah aku pernah melihat keris itu?”

“Ya, tetapi menurut paman Sumekar, paman Mahisa Agni ingin melihat lebih cermat lagi, apakah keris itu benar2 keris mPu Gandring.“

“Ah,“ Mahisa Agni berdesah.

“Jadi, apakah tidak demikian?“ bertanya Anusapati.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. “Ia sama sekali menduga bahwa tiba2 terjadi suatu hal yang tidak dapat dimengertinya. Sumekar selama ini tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali. Namun tiba-tiba ia telah berbuat sesuatu yang tentu mendebarkan jantung.”

“Tetapi tentu bukan maksudnya untuk mencelakakan Anusapati, Justru selama ini ia menunjukkan betapa ia ingin berbuat sesuatu untuk Anusapati.”

Ternyata pikiran itu justru telah mengejutkan Mahisa Agni sendiri. Sekali lagi diulanginya didalam hatinya, “Sumekar ingin berbuat sesuatu untuk Anusapati.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam2.

“Jadi, bagaimanakah sebenarnya paman?“ desak Anusapati.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian. Dengan hati2 ia ingin menjelaskan masalahnya, “Aku tidak memberikan pesan itu kepada pamanmu Sumekar.”

“Jadi apakah maksud paman Sumekar?”

Mahisa Agni memandang wajah Witantra, Kuda Sempana dan Mahendra berganti2. Sebelum ia berkata sesuatu, Kuda Sempana telah berdesis, “Memang mengherankan. Tetapi juga mencemaskan.“

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “selama ini Sumekar telah berbuat sebaik2nya bagimu. Selama ini ia berusaha untuk membantumu jika kau berada didalam kesulitan. Karena itu, jika ia membawa keris itu, tentu maksudnya sama sekali tidak diarahkan kepadamu. Namun demikian, kita masih juga tetap meraba2. Karena itu, marilah kita mencarinya. Mungkin kau dapat mencarinya kesekitar bangsal ayahandamu. Tetapi ingat, dengan diam2. Aku akan mencarinya ditempai lain yang lebih berbahaya, didaerah seberang dinding. Siapa tahu, Sumekar pergi kebangsal Ken Umang dan Tohjaya dengan keris itu ditangan. Jika kita bertemu dengan Sumekar, maka cobalah membujuknya. Bawalah ia kebangsal ini. Katakan bahwa pamanmu Kuda Sempana menunggunya, karena pamanmu Kuda Sempana adalah saudara tua seperguruan dari pamanmu Sumekar.”

“Baiklah paman. Aku akan mencoba mencarinya.”

“Hati2lah. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki, meskipun agaknya persiapan didalam istana ini menjadi semakin meningkat.”

“Itulah yang akan aku katakan kepada paman Sumekar, agar ia menjadi berhati2, karena menurut pengamatanku, ada beberapa kelainan dihalaman istana ini.”

“jika demikian, apakah aku juga dapat ikut mencarinya?“ bertanya Witantra.

“Ada juga baiknya. Tetapi aku harap Kuda Sempan dan Mahendra tetap berada dibangsal ini. Aku kira tidak akan ada orang yang akan memasukinya. Jika ada, tentu orang itu membawa tugas rahasia.“

“Baiklah paman. Aku akan mencarinya.”

“Marilah kita pergi. Berhati2lah. Aku juga harus berhati2, karena di bangsal Tohjaya itu kini mendapat penjagaan yang sangat kuat.“

“Aku akan mencarinya ditempat lain dari kedua tempat itu.”

Demikian, seorang demi seorang, Mahisa Agni, Witantra dan Anusapati meninggalkan bangsal itu. Sebelum Anusapati mengikuti pamannya keluar dari pintu butulan, Kuda Sempana masih sempat berpesan. “Tuanku Putera Mahkota, Sumekar sebenarnya adalah seorang yang keras hati. Karena itu, jika tuanku bertemu, katakan bahwa tuanku mendapat pesan daripadaku, bahwa aku akan menemuinya sejenak tanpa merubah rencananya.”

“Baiklah paman. Mudah2an aku dapat menemuinya.”

“Silahkan. Tetapi seperti pesan paman tuanku, berhati2lah. Agaknya persiapan yang meningkat ini diarahkan kepada tuanku.”

“Sebenarnya aku memang sudah menduga paman. Tetapi agaknya pamanda Mahisa Agni terlampau mempercayai kelembutan hati manusia yang lain seperti dirinya sendiri. Seakan2 didunia ini memang tidak ada kedengkian dan kepalsuan.“

“Sukurlah jika tuanku sudah menyadarinya.”

“Tetapi jika mereka benar2 bertindak malam ini, agaknya aku sudah terlambat. Kecuali meninggalkan istana ini, hanya seorang diri, tanpa anak dan isteriku.”

“Sekarang, silahkan angger mencari Sumekar. Memang agaknya lebih aman disekitar bangsal Sri Rajasa, justru karena Sri Rajasa memiliki kelebihan dari orang lain, sehingga tidak memerlukan penjagaan sekuat bangsal ibunda Ken Umang dan adinda tuanku Tohjaya.”

“Terima kasih paman. Aku minta diri.”

Anusapatipun kemudian dengan hati2 meninggalkan bangsal itu lewat halaman belakang yang sepi. Dengan lincahnya ia meloncat keatas dinding batu yang tinggi dan kemudian hilang dibalik dinding itu.

Dalam pada itu, maka tiga orang yang tanpa diketahui oleh para penjaga, telah menyusup diantara gerumbul2 pohon bunga dihalaman. Yang seorang menuju kebangsal Sri Rajasa, yang memang tidak begitu banyak mendapat penjagaan, justru karena

setiap orang yakin, bahwa Sri Rajasa memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain, serta atas perhitungan bahwa tentu tidak akan ada seorangpun yang berani mengganggunya, sedang yang seorang lagi pergi kebangsal di bagian lain dari istana Singasari, yaitu bangsal Ken Umang dan Tohjaya serta adik2nya. Kemudian Witantra mencoba mencari dibagian lain dihalaman istana itu. Mungkin justru Sumekar menjumpai bahaya diperjalanannya menuju kebangsal Mahisa Agni.

Sementara itu guntur dilangit masih juga terdengar sekali2 meledak memekakkan telinga. Angin yang kencing bertiup diantara dedaunan, sehingga lampu yang sudah dinyalakan dihalaman dan di gardu2 bagaikan diguncang2, sehingga kadang2 sinarnya menjadi amat redup dan bahkan hampir padam.

“Suasananya terasa aneh sekali,“ gumam seorang prajurit, “guntur dan guruh tiba2 saja berkejar2an dilangit yang sehari ini tampak cerah.”

“Tiba2 saja. Aku menjadi bertanya2 didalam hati, apakah ini suatu pertanda.”

“Pertanda apa?”

“Aku tidak mengerti, kenapa kita harus bertugas malam ini. Inipun suatu perintah tiba2 seperti guruh yang tiba2 saja meledak dilangit.”

“Apakah kau sama sekali tidak mengerti persoalan yang sedang berkecamuk dihalaman istana ini?”

“Aku memang mendengarnya, tetapi aku ragu2 untuk mempercayainya.”

“Apa?”

“Besok pagi dipaseban akan ada sidang para pemimpin yang akan membicarakan kenaikan upah bagi para prajurit.”

“Ah,“ prajurit yang lain berdesah.

“Apakah bukan itu yang kau maksud?”

“Tentu bukan.”

“Jadi?”

“Pertentangan yang semakin lama menjadi semakin tajam antara kedua putera Sri Rajasa.”

“Lalu, apakah hubungannya dengan kita sekarang ini?”

“Kita harus berjaga2, agar tidak terjadi bentrokan terbuka antara keduanya dan para pengikutnya.“

Kawannya mengangguk2kan kepalanya. Tetapi ia tidak berbicara lagi.

Namun dalam pada itu, kedua prajurit itu tidak mengerti bahwa seorang perwira sedang memperhatikan mereka. Perwira itu kadang2 mengerutkan keningnya, kadang2 wajahnya menjadi tegang. Tetapi kemudian sebuah senyum menghiasi bibirnya. Katanya didalam hati, “Tentu kalian tidak mengerti apa yang harus kalian lakukan. Besok kalian harus menguasai keadaan jika beberapa orang Senapati menangkap Anusapati dan Mahisa Agni di paseban. Perintah itu baru akan datang besok pagi jika paseban sudah penuh dengan mereka yang akan mengikuti Sidang. Dan bahkan ketika Sri Rajasa sudah duduk di paseban itu pula.”

Tetapi Senapati yang tersenyum itupun tidak mengetahui bahwa dihalaman itu merayap beberapa orang yang sedang melakukan tugas masing2. Dan merekapun tidak tahu, bahwa seseorang yang lebih dahulu dari ketiga orang yang lainpun sedang merayap pula diantara rimbunnya pepohonan. Bukan saja sedang mengendap2 mencari seseorang, tetapi ternyata bahwa ia telah menggenggam keris telanjang ditangannya.

Keris bukan sembarang keris, tetapi keris itu pusaka yang dibuat oleh mPu Gandring. Keris yang sudah dibasahi dengan darah mPu Gandring sendiri dan darah Akuwu Tunggul Ametung. Sehingga dengan demikian keris yang sudah bernoda darah itu agaknya justru telah menjadi haus. Seperti yang dipesankan oleh mPu Gandring menjelang tarikan nafasnya yang terakhir, agar keris itu

dihancurkan saja, karena keris itu tentu akan menuntut darah orang berikutnya.

Demikianlah dengan berdebar2 Anusapati, Mahisa Agni dan Witantra berusaha menemukan Sumekar sebelum terjadi apapun juga, karena dugaan mereka semakin lama menjadi semakin kuat bahwa Sumekar akan mengambil tindakan tersendiri. Sudah sejak beberapa lamanya, Sumekar merasa bahwa keadaan yang terkatung2 itu harus diakhiri dengan caranya. Dan cara itulah yang mendebarkan hati Anusapati, Mahisa Agni dan kawan2nya.

Dalam pada itu Anusapatipun menjadi semakin dekat dengan bangsal Sri Rajasa. Tetapi ia harus sangat berhati2. Jika seseorang melihatnya, persoalannya tentu akan menjadi berbeda. Dan ia tidak akan dapat ingkar lagi, seandainya para prajurit dan kemudian Sri Rajasa sendiri menuduhnya untuk melakukan perlawanan terhadap ayahanda Sri Rajasa bahwa tuduhan yang lebih berat lagi, usaha membunuh Sri Rajasa.

Atas kesadaran itu, maka Anusapatipun menjadi semakin hati2. Ia sama sekali tidak berani mendekati bangsal itu dari depan. Tetapi ia menyusur dinding batu dibelakang bangsal itu dan mendekat lewat longkangan belakang.

“Ayahanda sering menghirup udara di longkangan itu,“ berkata Anusapati.

Namun ia menjadi ragu2. Sri Rajasa adalah seorang yang memiliki kemampuan tiada taranya. Jika ia berani mendekat, maka Sri Rajasa itu tentu dapat mengetahuinya.

Karena itulah, maka untuk beberapa saat Anusapati menjadi termangu2. Namun ada semacam dorongan yang memaksanya untuk bergerak lebih dekat lagi.

“Aku akan melihat dari kejauhan lebih dahulu,“ berkata Anusapati didalam hatinya, “agar seandainya ayahanda benar2 ada didalam aku tidak terjebak oleh incerannya yang sangat tajam.”

Demikianlah, maka Anusapatipun telah memanjat sebatang pohon preh yang rimbun. Didalam gelapnya malam dan angin yang rasa2nya bertiup semakin kencang, tidak seorangpun yang memperhatikan pohon preh yang bagaikan diguncang2 itu.

Hanya setiap kali tatit memancar dilangit, Anusapati harus melekat pada batang pohon preh itu agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Ketika Anusapati sudah berada ditempat yang cukup tinggi, maka iapun segera menyelusur sebatang cabang yang besar, agar ia dapat melihat kedalam longkangan dalam.

Terasa jantung Anusapati bagaikan berhenti berdenyut. Dari tempatnya, ia melihat seseorang telah berada didalam longkangan belakang bangsal Sri Rajasa. Didalam keremangan cahaya lampu dilongkangan itu. Anusapati melihat, orang itu membawa sebilah keris telanjang.

“Paman Sumekar,“ ia berdesis.

Sejenak Anusapati justru terpukau oleh pemandangan itu. Ia merasa sesuatu menyentuh hatinya. Sumekar berbuat hal itu justru untuk kepertingannya, karena Sumekar sudah jemu melihat perkembangan yang tidak menentu diistana Singasari ini.

Tetapi apakah ia akan berdiam diri saja melihat tindakan Sumekar itu?

Tiba2 sesuatu terbersit di dalam hatinya. Sebagai manusia biasa Anusapati tidak terlepas dari gangguan kepentingan diri. Itulah sebabnya telah terjadi semacam benturan didalam dirinya. Seperti yang dipesankan oleh pamannya, bahwa sebaiknya ia berusaha membujuk Sumekar untuk kembali ke bangsal Mahisa Agni, namun didalam hatinya yang paling dalam ia berkata kepada diri sendiri. “Apakah aku sudah melanggar pesan paman Mahisa Agni jika aku membiarkan paman Sumekar melakukan usahanya untuk menyingkirkan ayahanda Sri Rajasa? Bukankah aku bukan sanak dan bukan kadangnya.”

Anusapati justru menjadi ragu2.

Namun sesuatu yang mendesak didalam hatinya justru pengaruh pertentangannya dengan ayahanda Sri Rajasa. Persiapan-persiapan yang menjadi semakin ketat didalam istana Singasari. Dan apalagi ketika terbersit tanggapannya, “Ayahanda mempersiapkan semuanya ini untuk menyingkirkan aku. Tentu bukan sekedar menyingkirkan saja dari istana Singasari ini, tetapi tentu juga mengancam jiwanku.“ lalu tiba2 ia bergumam, “selagi ayahanda Sri Rajasa masih ada, maka ancaman maut itu tidak akan dapat aku hindarkan. Tetapi apakah aku tidak berhak membela diriku? Dan jika perbuatan paman Sumekar itu merupakan perlindungan bagi jiwaku tanpa berbuat langsung, itu aku dapat dipersalahkan?”

Dalam keragu2an itu, terasa darah Anusapati seakan2 terhenti. Ternyata dari dalam bangsal itu, Sri Rajasa mengetahui bahwa seseorang ada dilongkangan dalam.

“sangat berbahaya bagi paman Sumekar.” berkata Anusapati kepada diri sendiri. Tanpa disadarinya ia mencoba memperhatikan para prajurit yang ada didepan bangsal itu.

“Apakah mereka tidak akan mendengar jika terjadi perkelahian.“

Dalam pada itu, angin seakan2 menjadi semakin kencang, dan guruh meledak2 dilangit. Memang suatu kelainan musim yang aneh.

“Angin yang keras ini akan melindungi paman Sumekar,“ berkata Anusapati didalam hatinya. “Namun jika ayahanda Sri Rajasa memberikan isyarat kepada para prajurit, maka paman Sumekar akan menjadi sayatan daging di longkangan itu.“

Hati Anusapati menjadi semakin berdebar2. Ia sadar, betapa marahnya Sri Rajasa. Tetapi agaknya Sumekarpun sudah bertekad bulat.

“Aku harus mendekat. Aku harus melihat akhir dari peristiwa ini.”

Dengan tergesa2 Anusapatipun segera turun dari pohon preh itu. Namun ia masih tetap sadar, bahwan ia memang harus berhati2.“

Demikianlah, selagi Anusapati meluncur turun dari pohon preh yang besar itu. Sri Rajasa telah berada dilongkangan belakang. Sebagai seorang yang memiliki kelebihan, maka iapun segera mengetahui bahwan ada seseorang yang mencurigakan dilongkangan. Apalagi Sumekar, yang memang dengan hati yang bulat dan sikap yang pasti, ingin berbuat sesuatu bagi Singasari menurut caranya.

Itulah sebabnya ia dengan sengaja telah memancing Sri Rajasa untuk keluar dari bangsalnya kelongkangan belakang.

Didalam gemuruhnya angin kencang dan guntur yang sekali2 meledak dilangit, maka terdengarlah suara Sumekar lamat2 dan yang hanya didengar oleh Sri Rajasa sendiri, “Tuanku, ternyata perbuatan tuanku sudah tidak dapat dihentikan dengan cara yang ditempuh oleh Mahisa Agni. Justru pada saat Mahisa Agni berusaha dengan segala kelemahan yang ada padanya, tuanku mempergunakan kesempatan ini sebaik2nya. Persiapan yang tuanku lakukan bukannya sekedar sebuah permainan yang dapat dianggap sebagai angin lalu. Tentu ada maksud tuanku yang tidak akan dapat tuanku ingkari lagi, memusnahkan Putera Mahkota dan Mahisa Agni sekaligus.“

Sri Rajasa menjadi marah bukan buatan mendengar kata2 Sumekar. Namun ia masih sempat bertanya, “Siapa kau?”

“Apakah tuanku belum pernah melihat hamba? Hamba adalah seorang Pengatasan dari Batil.”

“Apa perlumu datang kemari?”

“Hamba ingin memberikan sedikit darma bakti bagi Singasari. Hamba adalah orang yang kagum kepada tuanku yang telah berhasil menyatukan Singasari yang besar dengan segala macam kelebihan tuanku dibidang pemerintahan dan keprajuritan. Namun menyesal sekali bahwa hamba tidak sampai hati melihat apa yang akan tuanku lakukan disaat2 menjelang hari tua tuanku. Hamba tidak rela melihat usaha tuanku menyerahkan Singasari kepada

seseorang yang tidak akan dapat meneruskan keagungan pemerintahan tuanku.”

“Aku tidak tahu maksudmu.“

“Tuanku, sebenarnyalah hamba berharap agar tuanku tidak menarik keputusan tuanku untuk menyerahkan kekuasaan Singasari dari tangan Anusapati, karena menurut pengamatan hamba, Putera Mahkota Anusapati akan dapat mengendalikan kekuasaan Singasari dan memperkembangkannya seperti yang tuanku kehendaki. Tetapi tentu tidak demikian dengan tuanku Tohjaya. Tuanku Tohjaya seperti ibundanya, adalah seorang yang paling tamak diseluruh Singasari.“

“Cukup,“ bentak Sri Rajasa.

Meskipun suaranya cukup keras namun para prajurit didepan bangsal itu tidak dapat mendengarnya karena angin yang keras diseling dengan suara guntur yang menggelegar.

“Apakah kau ada hubungan keluarga dengan Anusapati?“ bertanya Sri Rajasa.

“Tidak. Aku tidak mempunyai hubungan keluarga dengan tuanku Anusapati, juga tidak dengan tuanku Tohjaya.“

“Kau adalah pengikut Tunggul Ametung yang setia.”

“Pada jaman Akuwu Tunggul Ametung, aku tidak tahu apa2 sama sekali.”

“Jadi, apa sebenarnya yang kau kehendaki?“

“Kelangsungan hasil kerja tuanku Sri Rajasa yang besar.”

“Gila, kau ingin kelangsungan hidup Singasari yang besar atas usahaku sekarang kau datang dengan cara yang gila ini.”

“Tuanku, hamba mohon agar tuanku mengurungkan niat tuanku untuk menggeser tuanku Anusapati. Tuanku tidak usah ingkar. Dan hamba mengharap agar tuanku Tohjaya dibatasi kekuasaannya

sehingga bukan tuanku Tohjayalah yang seakan2 menjabat sebagai seorang Pangeran Pati. Tetapi tuanku Anusapati.”

“Jangan gila pengalasan dari Batil. Aku berhak menentukan apa saja. Bukan kau. Aku mempunyai kekuasaan tidak terbatas di Singasari.”

-ooo0dw0ooo-

JILID 79

“ ITULAH kesalahan tuanku, Justru karena tuanku merasa memiliki kekuasaan yang tidak terbatas. “

“ Lalu apa maumu sebenarnya. “

“ Sudah hamba katakan. “

“ Gila, aku tidak mau mendengar kata2mu itu. Aku berhak mengatakan apa saja yang ingin aku katakan. Dan aku berhak memutuskan apa yang ingin aku putuskan. “

“ Tuanku “ berkata Sumekar yang bagaikan orang kehilangan, nalar “ hamba tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Hamba mohon tuanku berjanji. “

“ Tidak. “

“ Kenapa tidak? “

” Kau gila. “

“ Tidak tuanku, hamba tidak gila. Hamba ingin hal itu terjadi. Tuanku harus berjanji. “

“ Aku tidak mau. “

“ Jika tidak, hamba terpaksa melakukan kekerasan. Untuk kepentingan kabesaran hasil usaha tuanku atas Singasari, maka hamba terpaksa menyingkirkan tuanku. ”

“ Kau gila. Kau benar2 sudah menjadi gila. “

“ Tinggal ada dua pilihan. Memenuhi permohonan hamba, atau hamba terpaksa membunuh tuanku. Lihat, hamba sudah membawa pusaka yang pasti tuanku kenal. “

Sri Rajasa memandang keris ditangan Sumekar itu dengan dada yang ber-debar2. Ia tahu bahwa keris itu tentu jatuh ketangan Anusapati lewat ibundanya. Maka katanya

“ Kau tentu mendapat perintah dari Anusapati, atau Mahisa? Agni atau bahkan dari Ken Dedes sendiri. “

“ Tidak. Tidak seorangpun memerintahkan kepada-hamba. Hamba justru telah menipu tuanku Anusapati, sehingga hamba mendapatkan keris buatan mPu Gandring ini.. Keris yang sudah pernah menjilat darah. „

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menjadi ber-debar2. Dipandanginya keris buatan mPu Gandring itu. Keris yang pernah dipergunakannya untuk membunuh beberapa orang. Diantaranya adalah mPu Gandring sendiri.

Sri Rajasa menarik nafas dalam2. Katanya “ Apakah kau sudah gila? Kau tentu tahu bahwa aku adalah Sri Rajasa. Seseorang yang pernah mengalahkan dan membinasakan Maharaja di Kediri. Sekarang, kau seorang pengalasan yang bodoh mencoba untuk membunuh aku. Apapun yang kau genggam, namun tentu nyawamu sendirilah yang akan direnggut oleh ujung senjata itu. Karena itu, urungkan niatmu. Aku tidak akan menuntut hukuman apapun karena aku tahu, bahwa kau sedang terganggu syarafmu. Aku akan melupakannya. Dan kau dapat bekerja seperti biasa ditaman istana Singasari ini. Tetapi, serahkan keris itu kepadaku. “

“ Maaf tuanku. Hamba mohon jawaban tuanku. Apakah tuanku mengurungkan niat tuanku untuk menyingkirkan tuanku Anusapati apa tidak. Jawaban tuanku adalah jawaban seorang Maharaja yang tentu tidak akan dijilat kembali meskipun musim berubah sehari tujuh kali. “

Sri Rajasa menjadi tegang. Kemarahan yang menyala di-dadanya bagaikan membakar jantung. Namun ia masih tetap berusaha

menjaga diri sebagai seorang Maharaja. Tentu tidak pantas bahwa seorang Maharaja yang besar harus berkelahi melawan seorang juru taman meskipun didalam beberapa saat saja juru taman itu akan terbunuh. Dan apakah kata para prajurit yang bertugas diregol, bahwa dilongkangan ini terdapat mayat seorang pengalasan?

Namun tiba2 Sri Rajasa menggeretakkan giginya. Katanya

“ Para prajurit memang terlampau malas. Kenapa mereka tidak melihat seorang pengalasan yang tiba2 saja sudah berada di longkangan ini? “

“ Tuanku “ berkata Sumekar kemudian “ tuanku belum memberikan jawab. “

” Pangalasan yang dungu “ berkata Sri Rajasa kemudian

“ seharusnya kau dapat mengerti, bahwa usahamu ini akan sia2. Mungkin kau memang memiliki beberapa kelebihan karena ternyata kau dapat sampai dilongkangan ini tanpa diketahui oleh seorangpun. Tetapi kau seharusnya mengerti, siapakah yang sedang kau hadapi sekarang. Karena itu, serahkan keris itu dan tinggalkan longkangan ini. Aku akan mengampunimu, karena seperti yang aku katakan, bahwa aku menganggap kau sekarang sedang dihinggapi setan, atau katakanlah bahwa kau memang mempunyai penyakit gila. “

Sumekar memang tidak melihat bahwa Sri Rajasa akan mengerti maksudnya. Karena itu maka katanya, “ Ampun tuanfcu. Untuk kepentingan Singasari yang besar, dan sebagai timbangan yang tidak berarti bagi kesatuan Singasari yang telah tuanku bina hamba terpaksa membunuh tuanku, agar tuanku Tohjaya tidak akan mendapat kesempatan untuk menduduki tahta Singasari. Sebenarnya bukan niat hamba untuk membunuh. Tetapi apa boleh buat, karena ternyata tuanku tidak bersedia berjanji untuk tidak memberi kesempatan kepada tuanku Tohjaya yang manja dan tamak itu.”

“ Pangalasan dari Batil “ berkata Sri Rajasa “ jangan membunuh diri disini. Jika kau memang terganggu oleh pikiran gila sehingga kau ingin membunuh diri, lakukanlah. Tetapi jangan disini. “

Sumekar memandang Sri Rajasa dari ujung rambut sampai keujung kakinya. Dan tiba2 saja matanya menjadi liar, sehingga sambil menggeram ia melangkah maju “ Kesempatan terakhir bagi tuanku. “

Ketika kilat menyambar dilangit, Sri Rajasa melihat wajah Sumekar semakin jelas. Matanya menjadi merah dan wajah itu menegang. Tangan yang menggenggam keris itu menjadi gemetar.

Sri Rajasa ter-mangu2 sejenak. Se-akan2 ia melihat dirinya sendiri ketika ia mengambil keputusan untuk membunuh mPu Gandring untuk menghilangkan jejak pembunuhan yang akan dilakukannya. Juga se-akan2 dilihatnya bayangan dirinya sendiri pada saat ia membunuh Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel

“ Apakah memang sudah waktunya aku menebus kesalahan itu setelah aku berhasil dengan cita2ku mempersatukan Smgasari? “ ia bertanya kepada diri sendiri.

“ Tetapi tidak lantaran seorang pangalasan. Tidak lantaran seorang budak yang rendah. Seandainya aku akan mati juga, maka biarlah orang yang pantas telah membunuhku. “

Tetapi sekali lagi terbayang, bahwa Akuwu Tunggul Ametungpun mati dibunuh oleh seorang prajurit rendahan, Ken Arok yang pernah menjadi penghuni padang Karautan, berkawan Malang, berselimut awan dan beralaskan bumi jika malam telah datang.

“ Tuanku “ berkata Sumekar “ tuanku jangan mengulur waktu untuk mendapat kesempatan memanggil para prajurit yang bertugas didepan bangsal ini. Langit yang berawan gelap dan angin yang kencang serta guruh yang ber-sahut2an adalah pertanda bahwa niatku telah mendapat restu dari Yang Maha Agung. Tuanku tidak akan dapat memanggil siapapun. juga, karena mereka tidak akan mendengar suara tuanku. “

“ Pangalasan dari Batil. Aku tidak perlu memanggil siapapun juga. Aku dapat membunuhmu seperti aku membunuh seekor lalat. Yang aku pikirkan justru bagaimana aku menyelamatkanmu dari kegilaan ini. “

“ Tuanku jangan berpikir tentang hamba. Lihatlah langit yang gelap untuk yang terakhir kalinya. Hamba sudah kehabisan kesabaran dan waktu. “

Sebenarnyalah Sri Rajasapun sudah jemu pula dengan permainan yang memuakkan itu. Karena itu, maka iapun ingin segera mengakhirinya. Apapun yang dikatakan oleh para prajurit, bahwa didalam longkangan itu terdapat seorang pengalasan yang mati, ia tidak peduli. Biarlah mereka membuang mayat itu seperti membuang mayat pengenrs yang paling rendah derajadnya karena pengkhianatan yang gila itu.

Karena itu, maka Sri Rajasa tidak menjawab lagi. Tak menunggu Sumekar menyerangnya. Kemudian dengan sebuah pukulan ia ingin membunuhnya.

Namun melihat sikap Sumekar, Sri Rajasa menjadi heran. Sikap itu bukan sekedar sikap seorang juru taman yang bodoh, bahkan yang telah terganggu urat syarafnya. Ia melihat sikap yang lain pada juru taman itu, sehingga karena itu, maka Sri Rajasapun menjadi curiga.

Ternyata dugaan itu benar. Untunglah bahwa ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan, karena ternyata serangan Sumekar kemudian adalah bagaikan tatit yang sedang berloncatan dilangit.

Sri Rajasa masih sempat mengelak. Dan dengan kemarahan yang rasa2nya membakar jantungnya, maka iapun menyerang kembali dengan dahsyatnya pula.

Demikianlah maka keduanyapun segera terlihat dalam perkelahian yang sengit. Ternyata bahwa kemampuan Sumekar diluar dugaan Sri Rajasa. Ia mampu me-loncat2 dengan lincahnya seperti anak kijang dipadang yang luas.

Tetapi lawannya adalah Sri Rajasa. Seorang yang memiliki kemampuan yang ajaib. Yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun juga, bahkan oleh Sri Rajasa sendiri.

Dengan demikian maka perkelahian itopun semak'n lama menjadi semakin dahsyat. Di-sela2 deru guruh dilangit dan desah angin yang keras, keduanya telah mempertaruhkan jiwa masing2 dalam perkelahian yang tiada taranya. Bahkan Sumekar tidak ragu lagi mempergunakan ilmunya yang paling menakjubkan.

Meskipun demikian, ternyata bahwa ia tidak segera dapat menguasai lawannya. Bahkan kemudian, ketika semakin lama kemampuan aji puncaknya berhasil mendesak Sri Rajasa, tampaklah, betapa kemarahan yang menyala didalam dada Sri Rajasa itu telah mempengaruhi tata geraknya, yang semakin lama menjadi semakin kasar. Tangannya yang terayun kesegala arah, beserta kakinya yang berloncatan, membuat Sumekar kadang2 menjadi bingung. Namun karena Sumekar cukup memiliki bekal, maka iapun tetap berhasil menguasai dirinya.

Namun tiba2 dada Sumekar menjadi ber-debar2 semakin dahsyat. Tiba2 ia melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang hanya pernah didengarnya. Kini ia benar2 melihat.

Dalam perkelahian yang semakin sengit itu, tampaklah sesuatu diatas ubun2 Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa itu. Cahaya yang samar2, yang semakin lama menjadi semakin jelas. Warna merah bara yang tampak antara ada dan tidak ada.

“ Inilah pertanda kebesarannya “ bertanya Sumekar kepada diri sendiri.

Namun ia sudah bertekad untuk membunuh Ken Arok itu dengan keris mPu Gandring. Keris yang pernah dibasahi dengan darah orang yang menciptakannya, mPu Gandring oleh Ken Arok itu sendiri. Sekarang keris itu menuntut imbalan yang seimbang. Darah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Tetapi tidak mudah untuk membunuh Sri Rajasa. Betapapun juga Sumekar mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, namun ia tidak segera berhasil menyentuh kulit

Sri Rajasa dengan ujung kerisnya, Segorespun tidak. Betapa ia menghentakkan aji pamungkasnya, yang mendorong setiap tata geraknya menjadi senakin cepat dan semakin kuat, berlipat ganda, namun ternyata Sri Rajasa dapat mengimbanginya Bahkan tandangnya semakin lama menjadi semakin kasar, dan adalah diluar dugaan Sumekar, bahwa cara Ken Arok bertempur benar2 mencerminkan tata perkelahian sesosok Hantu di padang Karautan.

Agaknya cahaya yang ke-merah2an itulah yang menuntun segala gerak Ken Arok yang tidak dimengertinya sendiri itu. Kempnararn uiuna keris Sumekar hereerak dan menyambar, tubuh Ken Arok itu se-akan2 memiliki mata disetiap jengkal, sehingga ia masih juga mampu menghindarinya.

Bahkan kadang2 kecepatan gerak Ken Arok benar2 diluar dugaan, sehingga justru Sumekarlah yang sering menjadi bingung dan kehilangan lawannya.

“ Gila “ Sumekar berdesis “ inilah agaknya yang telah dapat menolongnya membunuh Maharaja Kediri itu. Kemampuan yang luar biasa tetapi juga betapa kasar dan liarnya. Kecepatan bergerak dan menyerang. Kadang2 diluar jangkauan nalar, “

Meskipun demikian Sumekar tidak gentar sama sekali. Selain aji yang pernah diterimanya dari gurunya, ia juga menggenggam sipat kandel yang jarang ada duanya dimuka bumi. Keris yang memiliki kemampuan tiada taranya. Setiap sentuhan, pasti akan berarti maut.

Maka Sumekar mencoba mempergunakan keris itu sebaiknya. Diputarnya keris itu bagaikan baling2. Kemudian mematuk seperti mulut ular yang paling berbisa.

Tetapi ia masih belum berhasil menyentuh lawannya.

Sri Rajasapun menjadi semakin heran melihat kemampuan Sumekar. Karena itu, maka lapun kemudian bertanya “ Siapakah sebenarnya kau, dan siapakah yang menyuruhmu datang kemari? “

Sumekar tidak segera menjawab, tetapi ia menyerang semakin dahsyat, sehingga perkelahian itupun menjadi semakin seru karenanya.

Sri Rajasa yang sudah kehilangan kesabaran itupun kemudian menggeram “ Persetan. Aku tidak peduli, siapakah yang menyuruh kau kemari. Tetapi kau memang harus segera dibinasakan. “

Demikianlah Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa, dan yang pernah merajai Padang Karautan sejak ia masih sangat muda itu, mengerahkan segenap kemampuannya oleh kemarahan yang mendesak. Karena itu, maka cahaya yang ke-merah2an-di-ubun2nya itu menjadi semakin terang. Namun dalam pada itu kemampuannyapun se-akan2 telah berlipat2. Dengan kecepatan yang liar Sri Rajasa telah menyerang Sumekar se-jadi2-nya,

Sumekar akhirnya benar2 telah terdesak. Ia tidak mempunyai ruang gerak isama sekali. Namun ia masih percaya kepada kerisnya. Jika ia masih sempat menggoreskannya pada .tubuh Sri Rajasa, maka ia tentu akan mati. Cepat atau lambat..

Tetapi yang menjadi benar2 diluar dugaan. Tusukan Sumekar, yang se-akan2 merupakan kesempatan yang terbuka, ternyata telah masuk kedalam perangkap tangan Ken Arok. Sesuatu yang tidak di-

sangka2 sama sekali telah menghentikan setiap harapan yang pernah tumbuh didada Sumekar.

Ketika Sri Rajasa tampaknya lengah, maka Sumekarpun segera menusuk lambung kanannya. Namun ternyata Ken Arok masih sempat mengelak. Dan adalah diluar kemampuan Sumekar, bahwa tangan Ken Arok begitu cepatnya menangkap pergelangan Sumekar. Yang terjadi kemudian hanyalah sekejap saja ketika justru keris ditangannya, yang dipertahankan mati2-an meskipun pergelangan tangannya ditangkap oleh Ken Arok, telah dihentakkan oleh Ken Arok itu, sehingga justru telah menyentuh lengan kirinya sendiri.

“ Gila, kau gila “ Sumekar mengumpat se-jadi2nya. Ia sadar apa yang akan terjadi atas dirinya. Karena itu, dengan membabi buta ia kemudian mengayunkan kerisnya bagaikan orang gila melanda Ken Arok, meskipun Ken Arok masih tetap tidak melepaskan genggamannya.

Ken Arok terkejut melihat sikap itu. Ternyata sentuhan keris mPu Gandring pada lengan Sumekar membuatnya berputus asa dan kehilangan segala macam harapan untuk tetap hidup.

Adalah diluar dugaan Ken Arok, maka keputus-asaan itu membuat Sumekar memiliki kemampuan terakhir yang tidak dapat dibayangkan. Dengan hentakan yg menyentak Sumekar berhasil melepaskan tangannya yang memegang keris dari genggaman Ken Arok. Kemudian seperti serigala lapar ia meloncat menerkam mangsanya.

Namun sekali lagi Ken Arok berhasil menghindar, sehingga Sumekar sama sekali tidak berhasil menyentuhnya.

Ternyata bahwa Sumekar telah menghentakkan segenap kekuatannya yang terakhir. Dengan demikian, ketika ia tidak berhasil menyentuh Ken Arok dan kemudian jatuh tertehingkup, maka Sumekar sudah tidak mampu bergerak sama sekali. Ia hanya dapat menggeliat sambil mengacungkan kerisnya dan berkata “ Ken

Arok, kau sekarang dapat melepaskan diri dari keris ini, tetapi pada suatu saat, kau akan disentuhnya juga. “

Dalam pada itu, Ken Arok berdiri dengan tegang. Sekali terdengar guruh meledak dilangit, dan angin bagaikan semakin keras bertiup. Awan yang hitam ber-gulung2 hanyut dilangit didorong oleh angin yang kencang.

Tiba2 Ken Arok terkejut ketika ia mendengar desir diatas dinding longkangan. Dengan gerak naluriah ia meloncat surut dan segera mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan.

Ternyata bahwa pada saat Sumekar kehilangan semua kekuatannya, Anusapati yang telah cukup lama mengintai perkelahian itu, tidak sampai hati membiarkannya terbaring diam. Sebagai seorang yang merasa dirinya dilindungi, dibantu dan bahkan yang terakhir, Sumekar telah berjuang untuk dirinya, Anusapati tidak dapat membiarkan Sumekar mati tanpa, seorangpun yang memperhatikannya, selain pandangan yang penuh amarah dari Sri Rajasa.

Karena itulah maka ketika Sumekar telah sampai pada saat2 menjelang akhir hidupnya, maka Anusapati telah mengabaikan segala macam akibat yang dapat terjadi atas dirinya.

“ Anusapati. kau “ terdengar Ken Arok berdesis.

Anusapati telah berjongkok disamping Sumekar. Dengan tatapan mata yang sayu ia berkata

“ Paman Sumekar, apakah yang telah terjadi ? “

Sumekar membuka matanya. Dilihatnya Anusapati berjongkok disampingnya.

“ O, tuanku. Kenapa tuanku kemari ? “

“ Aku sedang mencari paman. Tetapi aku tidak menemukan paman dibangsal pamanda Mahisa Agni. “

“ Maafkan tuanku. Aku telah menipu tuanku. Aku memang tidak akan membawa keris itu kepada Mahisa Agni, tetapi aku ingin

segera menyelesaikan persoalan ini dengan Ken Arok. Tetapi aku ternyata gagal tuanku. Ternyata Ken Arok adalah jelmaan iblis yang paling laknat dipadang Karaii-tan. “

Anusapati berpaling sejenak. Dipandanginya Ken Arok yang masih berdiri diam. Namun ketika ia melihat sorot mata Anusapati, maka iapun berkata penuh kemarahan “ Jadi kau yang menyuruhnya Anusapati ? “

“ Tidak ayahanda. Seperti yang dikatakan, ia telah menipu aku. “

Ken Arok memandang Anusapati sejenak. Lalu dengan nada yang datar ia bertanya “ Jadi kau mendengar apa yang dikatakannya ? “

Anusapati menjadi ragu2 sejenak. Lalu jawabnya “ Ya ayahanda. Hamba mendengar beberapa bagian dari pembicaraan ayahanda dengan pengalasan dari Batil. “

“ Jika orang ini bukan atas namamu, kau tentu tidak hanya akan tinggal diam. Jika benar ia telah menipumu, maka kau tentu akan dengan ter-gesa2 mencegahnya. “ Ken Arok berhenti sejenak, lalu “ dan kau tidak, akan datang dengan diam2 lewat tongkangan belakang. Kau tentu akan menemui prajurit yang mengawal bangsal ini didepan. “

“ Ampun ayahanda “ desis Anusapati “ hamba sebenarnya memang sedang mencarinya. “

“ Kenapa kau tidak mencegahnya ketika kau sudah mengetahui bahwa ia sudah berada disini? “

Pertanyaan itu benar2 telah membingungkan Anusapati. Karena itu, maka ia tidak segera dapat menjawabnya.

“ Anusapati “ berkata Ken Arok “ ternyata bahwa kau benar2 telah feeiMiianat. Jika tidak, tentu tidak akan terjadi persoalan seperti ini. Karena itu, maka seperti kau juga rela atas kematianku, maka akupun rela jika kau mati dilong kangan ini. “

Ken Arok “ Sumekar masih mencoba berbicara “ sebenarnyalah tuanku Anusapati tidak bersalah. Aku telah menipunya dan menguasai keris itu. “

“ Omong kosong. “ potong Sri Rajasa “ tentu kalian sudah membicarakannya lebih dahulu untuk menghadapi kemungkinan seperti ini. “

Sumekar yang semakin lemah itu akhirnya tidak dapat lagi berbicara terlampau keras, sehingga hampir tidak terdengar ia berkata “ Ken Arok. Aku bukan seorang yang licik seperti kau. Aku tidak membunuh orang dengan curang, atau meminjam tangan orang lain. Aku berusaha melakukannya sendiri atas kemauanku sendiri. “

“ Gila “ bentak Sri Rajasa “ bukan kau yang meminjam tangan orang lain. Tetapi ternyata Anusapatilah yang berusaha meminjam tanganmu. Tetapi sayang, bahwa kaulah yang mati, bukan aku. “

Sumekar masih akan menjawab. Tetapi warangan keris mPu Gandring telah bekerja diseluruh tubuhnya, sehingga Sumekar tidak dapat lagi mengucapkan sepatah katapun. Namun dengan matanya yang redup ia masih ingin mohon diri kepada Anusapati. Ketika kilat memancar dilangit, maka Anusapati melihat Sumekar itu tersenyum.

“ Paman, paman “ panggil Anusapati.

Tetapi Sumekar tidak dapat menjawab lagi. Wajahnya menjadi pucat, dan akhirnya Sumekar menghembuskan nafasnya yang terakhir.

“ Ayahanda telah membunuhnya “ desis Anusapati.

“ Ya, aku telah membunuhnya. Bukan saja Pangalasan dari Batil. Tetapi juga kau harus mati. “

“ Apakah ayahanda akan membunuh aku? “

” Ya, “

“ Hamba memang sudah merasa bahwa ayahanda akan Melakukannya. Seandainya hamba tidak datang kemari malam mi,

maka ayahanda pasti akan melakukannya besok. Hamba sudah tahu rencana itu. Pergantian prajurit yang agak mencurigakan, kegiatan yang diluar kebiasaan, bahwa ayahanda telah memanggil paman Mahisa Apii bersidang dipaseban besok dan semuanya yang tidak hamba mengerti, telah menimbulkan kecurigaan hamba. “

“ Dan karena itu, kau telah menyuruh pangalasan ini untuk membunuhku? “

“ Tentu tidak. Hamba tidak menyuruhnya seperti yang udah. hamba katakan. “

“ Aku tidak percaya. “

” Terserah kepada ayahanda. “

“ Dan sekarang, jangan menyesal. Aku akan membunuhmu juga. Aku tidak akan dapat dipersalahkan, karena kaw berada disini dengan pengalasan itu. Apalagi disini ada kera mPu Gandring yang telanjang. Setiap orang tentu akan dapat mengerti apa yang telah terjadi, sehingga semua orangpun. mengerti, bahwa aku sekedar membela diriku. “

Anusapati menjadi ter-mangu2 sejenak.

“ Jangan menyesal, bahwa kau sudah terperosok keda-lam kandang serigala. Kau akan mati- Dan jabatanrou akan berpindah kepada Tohjaya. “

Anusapati tidak segera menyahut. Dipandanginya saja wajah ayahandanya yang tegang. Namun dalam pada itu, ter-kilas di dalam kepalanya kata2 ibunya, bahwa Sri Rajasa sebenarnya memang bukan ayahnya. Dan justru Sri Rajasalah yang telah membunuh ayahandanya yang sebenarnya, Akuwu Tunggul Ametung.

“ Nah, apakah sebelum matimu kau akan mengucapkan pesan? “ bertanya Sri Rajasa.

“ Tidak ayahanda “ jawab Anusapati “ hamba tidak akan berpesan apapun. Tetapi biarlah sebelum hamba mati', apakah hamba boleh bertanya ? “

“ Apa? ”

“ Apakah benar ayahanda memang akan membunuh hamba ? “

Ken Arok menjadi ragu2. Namun kemudian sambil mengangguk ia menjawab “ Ya. Aku memang akan menyingkirkan kau yang selama ini bagiku merupakan sepucuk duri didalam daging. “

Terasa dada Anusapati tersirap. Ternyata bahwa rencana yang pernah didengarnya itu bukan sekedar isapan jari saja.

Sambil menengadahkan kepalanya ia bertanya pula “ Jadi benar kata orang bahwa ayahanda memang ingin melimpahkan kedudukanku kepada adinda Tohjaya? “ .

“ Ya. Dan tentu kau tahu sebabnya. Kau sebenarnya .bukan anakku. Tetapi kau dengan enaknya ingin merampas bak dari keturunanku. Akulah yang telah mempersatukan Singasari yang besar Bukan Akuwu Tunggul Ametung. “

“ Ya ayahanda. Aku memang putera ayahanda Tunggui Ametung yang mati terbunuh. Tentu tidak salah pula pendengaranku, bahwa ayahanda Sri Rajasalah yang telah membunuhnya pula. “

“ Ya. Aku yang sudah membunuhnya. Karena itu apa yang akan aku kerjakan sekarang, tidak berdiri sendiri. Kau adalah rangkaian dari sekian banyak pembunuhan. Karena itu kau memang harus mati. Singasari harus benar2 jatuh kedalam tangan keturunan Sri Rajasa. “

“ Ayahanda “ bertanya Anusapati “ apakah adik-adik hamba yang lahir dari ibunda Permaisuri bukan keturunan ayahanda Sri Rajasa ? “

Pertanyaan itu tidak diduga sama sekali oleh Ken Arok. Karena itu ia menjadi bingung sejenak. Namun kemudian jawabnya “ Aku

berhak menentukan, siapa saja yang akan aku angkat menjadi Putera Mahkota. “

“ Tetapi adalah menjadi ketentuan, bahwa yang berhak menggantikan kedudukan seorang raja per-tama2 adalah putera Permaisuri. Jika yang dimaksud bagi Singasari bukannya Anusapati, maka tentu Mahisa – Wonga – Teleng yang berhak menggantikan ayahanda kelak, bukan Tohjaya ”

“ Diam “ bentak Sri Rajasa “ kau tidak berhak me ngigau sekarang. Kau memang harus mati. Jika aku memberikan pengakuan yang berangkah sudah pernah kau dengar dari ibundamu itu tentu karena kau sudah akan mati, dan kau tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. “

“ Ayahanda benar. Hamba memang tidak akan dapat berbuat apa2 lagi. Tetapi apakah ayahanda tidak mengeru bahwa ada pihak yang tentu tidak akan dapat menyetujui bahwa adinda Tohjaya akan menggantikan kedudukan ayahanda? Justru karena ayahanda mempunyai putera laki2 yang lahir dari ibunda Permaisuri? “

“ Aku tidak peduli. Aku mempunyai kekuasaan. “

“ Jika kekuasaan adalah bentuk penindasan atas ketentuan yang berlaku, maka tentu orang lain tidak akan menghiraukan pula atas ketentuan2 yang ada. Dan mereka akan cenderung mempergunakan kekerasan untuk mencapai maksudnya daripada mengikuti ketentuan2 yang dianggap sah di dalam negeri ini. “

“ Dan agaknya kau sudah memulainya. Kau sudah mempergunakan kekerasan untuk menyingkirkan aku. Itukah suatu sikap yang sesuai dengan ketentuan2 yang berlaku ? “

“ Sudah hamba katakan, bahwa hamba sama sekali tidak menyuruhnya memasuki bangsal ini, apalagi untuk membunuh ayahanda, karena hamba sama sekali masih belum yakin bali wa sebenarnyalah ayahanda mempunyai rencana untuk membunuh hamba. “

“ Jangan membohong. Sekarang, jika ada yang ingin kau pesankan katakanlah. Aku sudah mulai muak melihat wajahmu. “

“ Hamba menyadari ayahanda. Tetapi seperti yang sudah hamba katakan, hamba tidak mempunyai pesan apapun karena pesan itu tidak akan ada artinya sama sekali. “

Wajah Sri Rajasa terbelalak karenanya. Katanya “ Kau memang sombong seperti ayahmu. Baiklah, jika kau memang tidak mempunyai pesan yang lain, aku akan segera membunuhmu. Aku dapat memukul kepalamu sampai hancur, atau dadamu sehingga seluruh isi tubuhmu akan rontok. Akibatnya sama saja bagimu. Kau akan mati. “

“ Kenapa ayahanda tidak mempergunakan cara seperti yang sudah ayahanda lakukan ? Sudah berapa orang yang mati terbunuh oleh keris mPu Gandring ini ? “

Dada Ken Arok tiba2 berdesir tajam. Dilihatnya keris mPu Gandring yang terletak ditangan Sumekar yang sudah membeku.

Namun tiba2 terbayang diwajahnya keris yang itu jugalah yang telah mengakhiri hidup pembuatnya. Tanpa disadarinya ia mulai ber-angan2. Dan tanpa dikehendakinya tiba2 bayangan mPu Gandring itu bagaikan hadir dilongkangan itu. Ketika ia memandang wajah pangalasan yang mati itu, seakan2 ia melihat kembali wajah mPu Gandring yang menyeringai menahan sakit ketika tiba2 saja ia menusuk lambungnya dengan keris itu. Dan tiba2 saja terbayang diwajah Anusapati itu wajah ayahandanya, Akuwu Tunggul Ametung. “

“ Pergi,-pergi “ Ken Arok tiba2 berteriak. Namun suaranya tenggelam didalam ledakan guruh yang keras.

Anusapati menjadi termangu2 sejenak. Namun perlahan-lahan timbul pula gejolak didalam hatinya. Jika ayahandanya terbunuh dan meninggalkan seorang anak laki2 saja, maka apakah anak laki-laki itu akan menyerahkan dirinya pula untuk dibunuh ? Dan kemudian jika Anusapati sudah terbunuh, bagaimanakah nasib anak laki2nya.

Ketika Anusapati teringat kepada anak laki2nya, yang tentu merupakan duri pula bagi Sri Rajasa, terasa hatinya menjadi ber-debar2.

Namun dalam pada itu Sri Rajasa sudah menggeram “ Aku bunuh kau ular kecil yang berbisa. Aku bunuh kau dengan semua keturunanmu. “

Anusapati menjadi semakin ber-debar2. Kini jelas baginya, bahwa ,Ken Arok memang berniat untuk memusnakan keturunan Akuwu Tunggul Ametung. jika tidak, maka keturunan Tunggul Ametung itu benar2 akan menjadi duri didalam dagingnya. Dan sudah terucapkan, bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu memang akan membunuhnya dan keturunannya.

“ Apakah aku akan membiarkan keturunan Tunggul Ametung punah? “ bertanya Anusapati kepada diri sendiri.

Terbayang wajah isteri dan anaknya yang tidak tahu menahu sama sekali tentang persoalan yang ada di Singasari itu. Dan apakah mereka harus juga ikut menanggung akibatnya.

Dalam ke-ragu2an itulah maka ia melihat Ken Arok melangkah maju. Tatapan matanya bukan lagi tatapan seorang Maharaja. Tetapi sorot matanya menjadi liar, seperti liarnya Hantu yang haus akan darah.

Terasa bulu tengkuk Anusapati meremang. Bahkan kemudian ia berdesis “ Jangan ayahanda. “

Tetapi Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak menghiraukan kata2 itu. Setapak demi setapak ia maju dengan jari2 tangan yang mengembang. “ Aku akan mencekik kau sampai mati. Jangan berbuat sesuatu. Jangan sentuh keris mPu Gandring itu, supaya kau tidak mati karena racunnya seperti pengalasan yang gila itu. “

“ Tetapi jangan bunuh anak dan isteriku. “

“ Aku akan membunuh mereka semua, termasuk Mahisa Agni. “

“ Tidak, jangan. “

“ Aku tidak peduli. “

Jawaban yang meyakinkan itu membuat darah Anusapati tiba2 saja bergetar. Hampir diluar sadarnya tangannya telah menggapai hulu keris mPu Gandring.

“ Anusapati, kau akan melawan aku? Kau akan mencoba menghindarkan diri dari keharusan yang akan berlaku atasmu?. Kau memang harus mati, dan kau akan kehilangan darah keturunanmu, sebagai penerus nafas kehidupan Akuwu Tunggul Ametung. “

“ Ayahanda, anak dan isteri hamba tidak mengetahui semua persoalan ini. Jika ayahanda akan membunuh hamba, ayahanda tidak akan mengalami kesulitan tetapi jika ayahanda berjanji, sebagai seorang Maharaja yang tidak pemah ingkar, bahwa ayahanda tidak akan membunuh anak. dan isteriku. juga paman Mahisa Agni. “

“ Persetan “ geram Sri Rjasa ” aku tidak peduli. Aku akan membunuh kau dan semua keluargamu, termasuk Mahisa Agni. “

Wajah Ken Arok menjadi merah, semerah sorot matannya yang benar2 menjadi liar.

Anusapati yang cemas menjadi semakin cemas. Tetapi hampir diluar sadarnya ia telah menggenggam keris itu.

Anusapati mundur selangkah. Ia sudah hampir berputus» asa. Sumekar yang membawa keris itu pula tidak dapat melawan Sri Rajasa, apalagi dirinya yang masih belum berhasil menyempurnakan ilmunya sejauh Sumekar.

“ Menyerahlah. Kau dan anak isterimu akan aku bunuh malam ini juga. “ geram Sri Rajasa.

Ternyata bahwa suara itu bagaikan membangunkan Anusapati dari mimpinya. Ia sadar, bahwa yang terjadi ini benar2 diluar rencana siapapun. Juga bukan rencana Sri Rajasa, karena Sumekar telah mengambil sikap sendiri. Namun demikian tentu ia tidak akan dapat menyerahkan seluruh keluarganya itu.

“ Aku harus lari dari tempat ini ” berkata Anusapati..”se-tidak2nya aku berhasil menyelamatkan diri sampai ke-bangsal pamanda Mahisa Agni. Persoalannya tentu akan menjadi berbeda jika ayahanda malam ini bertemu dengan salah seorang yang ada didalam bangsal itu. Apakah ia paman Kuda Sempana yang telah berhasil menyempurnakan diri dengan ilmunya, atau paman Mahendra, atau ke-dua2-nya. Atau bahkan paman Witantra. “

“ Kau tidak akan dapat lari “ geram Sri Rajasa “ semuanya sudah terjadi. Dan yang sudah terjadi tidak akan dapat dicegah lagi. Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa, sudah menentukan, bahwa kau dan keluargamu harus mati. Tidak ada kekuasaan dan kemampuan yang dapat mencegah. “

Anusapati terus melangkah surut, sedang Sri Rajasa-mengikutinya dengan jari2 tangan yang mengembang.

“ Aku akan mencekikmu. Aku sendiri bukan orang lain. Bukan para prajurit, dan bukan pula seorang Senapati.

Dada Anusapati bagaikan menjadi pepat. Tetapi tiba2 saja tangannya yang menggenggam keris itu telah bersilang didepan dadanya.

“ Kau akari melawan he, kau akan melawan? Tidak ada gunanya. Itu hanya akan memperpanjang caramu mati. Dan itu sangat merugikan kau sendiri. “

Anusapati tidak menyambut. Ia telah berdiri didepan dinding, sehingga ia tidak akan dapat melangkah lagi. Ka-

rena itulah, maka iapun kemudian berdiri diatas kakinya yang merenggang sambil mengacungkan senjatanya. Keris mPu Gandring yang sudah berbau darah itu. Darah beberapa orang yang sama sekali tidak bersalah.

Ken Arok tertegun sejenak memandang Anusapati yang se-akan2 sudah tidak dapat bergeser lagi. Namun sorot matanya yang bagaikan menusuk langsung kedalam jantung Pu-tera Mahkota itu membuat Anusapati bergetar.

Kemudian selangkah demi selangkah Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu melangkah maju dengan jari2 tangan yang mengembang. Anusapati baginya tidak lebih dari anak2 yang tidak berdaya.

Dalam pada itu, Mahisa Agni sedang me-runduk2 di-sekitar bangsal Ken Umang. Dengan hati2 ia berusaha untuk mendekati bangsal itu. Ternyata seperti yang diduganya, bangsal itu mendapat pengawasan yang sangat ketat. Para. prajurit tidak saja berada didepan bangsal, tetapi juga dibagi-an belakang telah mendapat pengawasan yang seksama.

“ Tidak mudah mendekati bangsal itu, apalagi memasukinya tanpa diketahui orang “ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Namun demikian ia mempunyai dugaan yang kuat, bahwa Sumekar telah datang kebangsal itu. Agaknya kebenciannya kepada Tohjaya tidak dapat ditahankannya lagi.

“ Jika terjadi pembunuhan dibangsal ini, maka tuduhan yang pertama tentu akan jatuh kepada Anusapati, siapakah yang telah melakukannya. Bahkan seandainya pelakunya tertangkap, maka tentu Anusapatilah yang disangka telah meminjam tangan untuk membinasakan Tohjaya dan barangkali juga Ken Umang “ berkata Mahisa Agni didalam hati “ dan itu sangat merugikan perjuangan Anusapati, 'karena setiap orang akan menyangka, bahwa Anusapati telah melakukan perbuatan yang terkutuk itu untuk mempertahankan kedudukannya. “

Karena itulah maka Mahisa Agni mencoba untuk berusaha menemukan Sumekar disekitar bangsal itu.

Tetapi beberapa lamanya ia berada disekitar bangsal itu, ia sama sekali tidak melihat sesosok bayanganpun. Ia telah berada dibagian belakang bangsal itu, yang menurut dugaannya adalah satu2nya jalan untuk memasuki longkangan.

Namun Mahisa Agni tidak melihat seseorang- Ia tidak melihat Sumekar memasuki longkangan, atau berada didalam longkangan itu.

” Apakah ia tidak datang kemari? “ bertanya Mahisa Agni didalam hatinya.

Tetapi untuk beberapa lamanya Mahisa Agni masih menunggu. Ia masih mengharap bahwa ia dapat menemukan Sumekar disekitar tempat itu.

“ Mungkin ia tidak segera memasuki daerah ini “ katanya didalam hati “ atau barangkali Sumekar belum menemu-can jalan yang paling baik untuk memasuki daerah ini. “

Untuk beberapa saat mahisa Agni masih tetap bersembunyi sambil menunggu. Tetapi beberapa saat kemudian hatinya menjadi cemas. Agaknya Sumekar memang tidak datang ke-tempat itu.

“ Mungkin ia langsung pergi kebangsal Sri Rajasa “ katanya didalam had.

Dalam pada itu, hatinya menjadi bergetar. Bahkan kemudian ia hampir pasti, bahwa Sumekar pergi kebangsal Sri Rajasa.

” Aku harus menengoknya. Jika benar ia pergi kesans mudahkan Anusapati sempat mencegahnya. Ia agaknya dapat dilunakkan oleh Anusapati yang hampir setiap hari dilayaninya seperti muridnya yang paling manja.

Sejenak kemudian, maka Mahisa Agnipun berusaha meninggalkan tempat itu. Seperti pada saat ia datang, maka iapun.

harus sangat ber-hati2 ketika ia melalui beberapa orang prajurit yang mengawasi bagian balakang dari bangsal itu.

Ketika Mahisa Agni telah berada agak jauh dengan para penjaga itu, iapun menarik nafas dalam2, se-olah2 ia terlepas dari terkaman serigala.

Namun iapun segera sadar, bahwa sesuatu yang penting sedang menunggunya. Sumekar yang masih belum dapat dike-temukamrya.

Dengan hati2 sekali Mahisa Agnipun meninggalkan bagian istana yang dihuni oleh Ken L'niang dan putera2nya itu. Dengan penuh kewaspadaan ia meloncati dinding yang memisahkan kedua bagian dari istana Singasari itu. Ketika kemudian la meloncat turun, maka Mahisa Agni itupun sudah berada liibagian yang lain dari istana itu.

Setiap kali ia harus memperhatikan setiap gerak dan bunyi. Ia sadar, bahwa penjagaan halaman istana malam itu niperkuat. Bahkan seperti yang dikatakan oleh Sumekar, beberapa orang Senapati telah ikut didalam penjagaan yang kuat diihalaman itu.

Mahisa Agni itupun bergeser semakin maju mendekati pangsa! Sri Rajasa. Meskipun bangsal ini tidak dijaga sekuat Bangsal Tohjaya, karena Sri Rajasa sendiri yakin akan dirinya dan pengaruhnya, namun Mahisa Agni masih juga harus menembus beberapa bagian yang agak sulit.

Namun tiba2 Mahisa Agni itu tertegun. Telinga yang tajam mendengar sesuatu berdesir tidak, begitu jauh daripadanya. Karena itu, maka iapun berhenti. Dengan segenap kemampuannya ia berusaha menangkap suara yang semakin Lama menjadi semakin dekat.

Beberapa saat kemudian ternyata desir yang lembut itu berhenti. Sebagai seorang yang memiliki kemampuan yang me-empaui kemampuan manusia biasa, maka Mahisa Agnipun mengetahui bahwa seseorang berada tidak begitu jauh dari padanya.

Karena itu, maka Mahisa Agnipun segera mempersiapkan kiri untuk menghadapi setiap kemungkinan. Dengan ketajaman

Inderanya, ia tahu dimana orang itu berada, sehingga karena itu ia tidak mau menunggu lebih lama lagi. Bahkan ialah yang kemudian bergeser mendekati.

Tetapi ternyata bahwa orang itupun berusaha mendekatinya pula, sehingga dengan demikian Mahisa Agni dapat menduga bahwa orang itu bukannya orang kebanyakan karena orang itu dapat pula mengetahui kehadirannya.

Sejenak kemudian Mahisa Agni berhenti, la sudah dapat mengetahui dengan tepat, dimana orang itu berada. Karena itu ketika selembar daun bergetar, tidak sejalan dengan arah angin bertiup Mahisa Agni segera bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun ternyata, ketika sesosok tubuh meloncat dari batik geruinbul dan bersiap dengan tangan bersilang didada Mahisa Agni menarik nafas dalam2. Orang itu adalah Witantra.

“ Kau Witantra ” desis Mahisa Agni.

Witantrapun berdesah lembut. Sambil tersenyum ia berkata “ Untunglah, aku belum lari ketakutan. Jika demikian kau tentu akan mentertawakan. “

“ Juga untung bahwa kau tidak segera menyerang aku. sehingga aku masih sempat bernafas sekarang. “

Keduanya tertawa tertahan, karena keduanya tetap sadar, bahwa mereka sedang menghindarkan diri dari .pengamatan para prajurit Singasari yang sedang bertugas.

Dalam pada itu, maka Mahisa Agnipun kemudian bertanya tentang Anusapati, apakah Witantra melihatnya.

“ Bukankah ia pergi kebangsal Sri Rajasa. ”

“ Jika ia tidak menemukan Sumekar disana, ia tentu akan bergeser pula. “

“ Aku belum melihat keduanya. Sumekar tidak, dan tuanku Putera Mahkota juga tidak. “ jawab Witantra “ bahkan aku

menyangka bahwa kau adalah Sumekar sebelum kau memperlihatkan diri. “

“ Jika demikian Anusapati tentu masih ada dibangsal Sri Rajasa. Ada dua kemungkinan. Ia memang menunggu karena Sumekar belum ada disana, atau ada persoalan lain yang gawat justru karena Sumekar sudah terlanjur berusaha mendapatkan Sri Rajasa. “

“ Marilah kita lihat. “

Mahisa Agni ragu2 sejenak. Namun kemudian sambil meng-angguk2 ia menjawab “ Baiklah Marilah kita lihat. “

Keduanyapun kemudian dengan sangat hari2 mencoba mendekati bangsal Sri Rajasa. Betapapun sulitnya, namun keduanya berhasil menembus setiap daerah penjagaan para prajurit pengawal istana. Mereka menyusup diantara gardu2 penjagaan dan setiap kali menghindari para peronda yang mengelilingi halaman istana Singasari itu.

Akhirnya, keduanya berhasil mencapai halaman belakang bangsal Sri Rajasa. Seperti yang lain, menurut perhitungan mereka, yang paling mungkin mereka lakukan adalah melihat dan apabila perlu memasuki longkangan.

Sementara itu, angin masih juga bertiup. Sekali2 terdengar guntur dan guruh gemuruh dilangit. Namun demikian kedua orang itu masih dapat juga membedakan desir lembut kaki mereka sendiri daripada gemuruhnya angin yang keras.

Ketika kemudian mereka berhasil menjengukkan kepala mereka dari sebatang pohon yang se-olah2 diayun oleh angin, maka hati mereka berdesir. Mereka melihat orang2 yang sedang mereka cari itu berada dilongkangan bangsal Sri Rajasa.

Yang mula-mula mereka lihat adalah sesosok tubuh yang tekapar ditanah. Tubuh itu segera dapat mereka kenal, bahwa orang itu adalah Sumekar.

” Terlambat “ desis Mahisa Agni tidak seorang-pun yang dapat menyelamatkannya. Sumekar agaknya sudah, terbunuh. “

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “ Ya, kita sudah terlambat. Tetapi dimanakah tuanku Anusapati? “

“ Mungkin iapun ada dilongkangan itu. Mudah-mudahan kita tidak terlambat. Mudah-mudahan Anusapati belum terbaring ditanah seperti Sumekar itu. “

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya “ Kita harus mendekat. Keadaan sudah benar2 diluar dugaan kita, sehingga kita harus mengambil sikap dengan segera menghadapi keadaan yang tiba-tiba ini “

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya tanpa menjawab separah katapun. Dengan sigapnya keduanyapun segera teran dari pohon itu dan dengan hati-hati mendekati dinding bagian belakang longkangan bangsal itu.

“ Satu-satunya jalan “ berbisik Mahisa Agni.

“ Kita memanjat “, sahut Witantra.

Keduanyapun kemudian dengan hati-hati sekali dan hampir tidak dapat dilihatnya bahwa keduanya sedang merayap naik pada dinding longkangan itu. Jika mereka kehendaki, mereka dapat meloncat naik dengan mudahnya, namun dengan demikian tentu akan menarik perhatian seseorang jika orang itu berada dilongkangan.

Sejenak kemudian, maka merekapun dengan sangat hati-hati mencoba untuk menjengukkan kepalanya mereka. Jika ikat kepala mereka dapat terlihat, maka usaha mereka itupun akan gagal karenanya.

Namun darah mereka serasa terhenti, ketika pada saat itu tampak oleh mereka, Anusapati sedang dalam kesulitan.

Yang mereka lihat adalah Sri Rajasa sudah siap untuk menerkam Anusapati yang tidak mempunyai kesempatan untuk melangkah surut karena punggungnya sudah melekat dinding.

Tetapi yang terjadi kemudian adalah cepat sekali, sehingga baik Mahisa Agni, maupun Witantra tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat banyak.

Ketika mereka tanpa menghiraukan lagi Sri Rajasa, meloncat keatas dinding, mereka melihat, bahwa kedua orang dilongkangan itu sudah mulai bertempur. Sri Rajasa sudah mulai menyerang.

Hanya karena ditangan Anusapati tergenggam keris-mPu Gandring sajalah, maka Anusapati masih dapat menghindarkan diri pada setangan yang pertama,

Namun Anusapatipun sadar, bahwa Sumekar dengan keris mPu Gandring itu ditangannya, sama sekali tidak berhasil menyelamatkan dirinya. Dan sudah barang tentu Sumekar memiliki ilmu yang lebih matang dari ilmunya sendiri

Dalam keragu-raguan atas keadaan yang sedang dihadapinya, Anusapati tanpa sesadarnya, telah menyentuh sesuatu dibawah ikat pinggangnya. Ternyata sentuhan itu telah mengejutkannya sendiri. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan banyak untuk mempertimbangkan keadaan yang sedang dihadapi. Karena itulah maka ketika Sri Rajasa maju setapak lagi dengan tangan terkembang, tiba-tiba ditangan Anusapati telah tergenggam sebuah trisula yang berwarna kekuning-kuningan.

Sri Rajasa terkejut melihat Trisula itu. Meskipun Sri Rajasa sudah menduga, bahwa akhirnya Trisula itu akan dapat jatuh ketangan Anusapati, namun ketika tiba2 saja ta harus menghadapinya, maka iapun masih juga terperanjat, sehingga rasa-rasanya jantungnya berhenti berdenyut.

Pada saat yang bersamaan, Witantra dan Mahisa Agni telah meloncat kedalam longkangan. Sentuhan kakinya diatas tanah masih dapat didengar oleh ketajaman indera Sri Rajasa disela-sela desah angin yang semakin keras.

Ketika sekali langit seakan-akan menyala, Sri Rajasa -dapat melihat, dengan jelas, bahwa dua orang yang datang, ini adalah Mahisa Agni dan Witantra. Namun kemudian ia menjadi silau bukan

oleh kilat yang meloncat diudara, tetapi oleh trisula yang seakan-akan bercahaya kekuning-Jkuningaru

Sri Rajasa mundur beberapa langkah surut. Dengan» suara yang berat ia berkata “ Mahisa Agni, ternyata bahwa saatnya akan tiba, kau membalas sakit hatimu karena kematian pamanmu. “

Mahisa Agni memandang Sri Rajasa yang silau itu sejenak. Kemudian jawabnya “ Tidak Sri Rajasa.. Hamba tidak datang dengan dendam didalam hati. Sebenarnyalah hamba datang dengan niat yang baik. Untunglah bahwa belum terjadi sesuatu atas tuanku. Tetapi sayang, bahwa-Sumekar agaknya telah terbunuh. “

“ Siapakah Sumekar? “ bertanya Sri Rajasa.

” Juru taman itu. “

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Katanya “ Pangalasan dari Batil “

” Ya, Pangalasan dari Batil itu bernama Sumekar. “

Sri Rajasa memandang tubuh Sumekar yang masih terbaring diam. Kemudian ditatapnya Anusapati yang hanya dapat dilihatnya lamat-lamat, diantara silaunya cahaya trisula yang masih saja diacukan kepadanya.

Dalam keadaan itulah, Sri Rajasa seakan-akan telah dihadapkan pada suatu pengadilan. Disekitarnya berdiri beberapa orang yang mempunyai kepentingan terhadap, dirinya. Mahisa Agni telah kehilangan pamannya mPu Gandring, Witantra telah kehilangan adik seperguruannya, Kebo Ijo yang telah diumpankan sebagai tertuduh pada saat terbunuhnya Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian Anusapati yang agaknya sudah mengetahui pula, apakah yang telah terjadi atasnya.

“ Tuanku “ berkata Witantra “ barangkali tuanku telah mendengar bahwa hamba memang sudah berada didalam kota Singasari. “

“ Apa maksud kedatanganmu Witantra? “ bertanya Sri Rajasa kemudian meskipun sebenarnya ia telah dapat menduga justru karena ia datang bersama Mahisa Agni. Namun ia masih juga melanjutkannya “ Apakah ada hubungannya dengan kekalahanmu dari Mahisa Agni saat itu? “

“ Benar tuanku. Kedatangan hamba memang mempunyai hubungan dengan kekalahan hamba waktu itu. Tetapi bukan untuk melepaskan dendam kepada Mahisa Agni, karena pada waktu itu ia sedang diliputi oleh kesedihan karena pamannya telah terbunuh. “

“ Jadi siapakah yang kau cari? “

“ Tidak apa-apa tuanku. Hamba hanya ingin melihat Singasari yang sekarang dibandingkan dengan Tumapel yang kecil. Dan barangkali setelah sekian tahun hamba dapat menemukan pembunuh Kebo Ijo yang sebenarnya. Karena sejak semula hamba yakin bahwa Kebo Ijo tidak bersalah. “

“ Apakah kau sudah menemukannya? “

“ Ampun tuanku. Hamba sudah menemukannya seperti Mahisa Agni juga sudah menemukan pembunuh pamannya. Selain kami berdua agaknya Puteran Mahkota-pun telah menemukan pula pembunuh ayahandanya. “

Ken Arok mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “ Ya. Kalian telah menemukan orang yang kalian cari. Dan yang kalian cari itupun telah melihat, bahwa cahaya yang kuning keputih-putihan itu adalah cahaya keluhuran yang akan menjemput aku. “

Mahisa Agni, Witantra dan Anusapati menjadi ter-mangu-mangu sejenak. Dilihatnya Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu dengan tatapan mata yang mengandung pertanyaan.

Namun Sri Rajasa itupun tersenyum sambil berkata selanjutnya “ Kenapa kalian termangu-mangu. Bukankah sudah datang saatnya? Dihadapan cahaya itu aku seolah-olah sudah tidak berdaya lagi. Didalam bayangan yang silau, aku tidak akan dapat melihat

bagaimana ujung keris mPu Gandring itu akan menyentuh kulitku. Benar-benar suatu gabungan yang tidak terlawan bagiku. Keris mPu Gandring yang sakti dan cahaya yang kuning silau itu. Apalagi disini berdiri orang-orang Sakti seperti Mahisa Agni dan Witantra. “

“ Tuanku. Jangan berhayal terlampau jauh. Sebenarnyalah kami tidak membawa dendam diliati atas kematian-kematian itu. Kami hanya ingin meyakinkan bahwa sebenarnyalah kami telah menemukan pembunuh dari orang-orang yang kami cintai. Tetapi setelah itu, kami tidak akan berbuat apa-apa. “

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Lalu katanya “ Jadi apakah yang kalian kehendaki? “

Kami memang sedang mencari pangalasan ini dengan harapan untuk mencegah sesuatu yang dapat terjadi. Tetapi kami terlambat. Anusapati juga agaknya telah terlambat. “

“ Kalian telah menyuruhnya memasuki bangsal ini. “

“ Tidak tuanku. Hamba berkata sebenarnya. Jika kami memang menghendakinya, kenapa kami tidak datang sendiri dengan trisula itu sekaligus? “

Namun Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itupun tersenyum pula. Kesan diwajahnya telah berubah sama sekali. Matanya tidak lagi liar dan wajahnya tidak menjadi bengis.

“ Anusapati “ berkata Sri Rajasa “ ternyata bahwa semuanya memang harus berakhir. Ceritera tentang Sri Rajasa yang berhasil duduk diatas Singasari beralaskan mayat dan darah inipun memang harus berakhir. Aku tahu, sejak aku duduk diatas Singasari, aku sudah menduga bahwa singgasana itu bagaikan bara api yang akan membakarku dan akan membakar siapa saja yang akan duduk diatasnya apabila ia memang tidak dilindungi oleh dewa-dewa. Itulah sebabnya, maka sepeninggalku, berhati-hatilah. Tentu tidak ada orang lain yang akan diangkat untuk duduk diatas Singgasana itu selain Anusapati. Mudah-mudahan kau mendapat perlindungan Anusapati, sehingga kau tidak mengalami nasib seperti nasibku. ?”

“ Hamba tidak ingin berbuat sesuatu saat ini ayahanda. Biarlah ayahanda tetap duduk diatas Singgasana Singasari. “

“ Jangan berkata begitu Anusapati. Kau ternyata sudah menyiksa aku dengan sikapmu itu. Aku lebih senang melihat kau marah dan menghujamkan keris itu didadaku selagi aku silau melihat cahaya trisula itu. Tetapi kau tidak berbuat demikian. Kau berbuat seperti seorang yang berhati putih. Kau seakan-akan tidak mendendam meskipun kau tahu bahwa aku telah membunuh ayahmu yang sebenarnya seperti Mahisa Agni juga seolah-olah tidak mendendam karena aku sudah membunuh mPu Gandring dan juga adik seperguruan Witantra. Kenapa kau tidak bersama-sama dengan Mahisa Agni dan Witantra membunuhku saja? “

Anusapati tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Namun sebenarnyalah nafsunya untuk melihat Sri Rajasa binasa seperti yang menyala sesaat ketika ia melihat Sumekar bertempur melawan Sri Rajasa itu telah' lenyap.

“ Anusapati, jangan menyiksa dengan pameran kebesaran jiwa dan keluhuran budi seperti itu. Aku pernah membunuh orang-orang yang aku anggap dapat menghalangi usaha untuk merebut tahta Tumapel waktu itu. Kenapa kau tidak berbuat serupa, membunuh aku, karena selama aku masih ada, aku tidak akan menyerahkan tahta Singasari kepadamu. “

“ Ayahanda adalah Maharaja Singasari. jika memang itu keputusan ayahanda, maka aku akan melepaskan kedudukanku sebagai Putra Mahkota. “

“ Omong kosong. Aku tidak percaya. Didalam keadaan seperti ini kau memang berusaha menyiksaku, menyakiti hatiku karena aku akan merasa terlampau kecil berhadapan dengan kau yang berjiwa samodra, yang menampung segala macam perasaan didalam hatimu. Tetapi terbuatlah jujur. Kau tentu ingin melihat aku mati. “

Tetapi Anusapati menjawab “ Tidak. Tidak ayahanda. Hamba tidak ingin membunuh. “

“ Gila, kau gila dan tidak jujur. Orang gila biasanya berbuat sesuai dengan gerak perasaannya tanpa kendali. Tetapi kau adalah orang gila yang berpura-pura. “

Anusapati menjadi bingung. Ketika ia memandang Mahisa Agni sejenak, maka dilihatnya keningnya berkerut-merut dalam sekali,

“ Cepat, lakukan. Aku tidak dapat melihat kau dengan jelas. Aku tidak dapat melihat keris itu. “ berkata Sri Rajasa.

Tetapi Anusapati masih tetap berdiam diri.

“ Anusapati, jangan berdiri saja seperti patung. Sebentar lagi para prajurit didepan bangsal ini akan meronda sampai keiongkangan ini. Lebih baik kau bunufa akiT sekarang, selagi suara kita tidak didengar oleh mereka karena angin dan guruh yang terus-menerus. Rupa-rupanya alampun telah siap membawa jiwaku kembali kepada penciptanya, setelah aku menunaikan tugasku mempersatukan Singasari. ?”

“ Ah “ terdengar Anusapati berdesis.

“ Cepat “ sekali lagi Sri Rajasa menggeram. Dan tiba-tiba saja Sri Rajasa itulah yang meloncat menyerang Anusapati.

Yang terjadi itu benar-benar mengejutkan. Mahisa Agni dan Witantra tidak sempat berbuat apa-apa. Mereka melihat Sri Rajasa bagaikan tatit yang meloncat dilangit.

Demikian pula Anusapati. Ia sama sekali tidak sempat berpikir. Ketika ia melihat Sri Rajasa meloncat menyerang nya, maka dengan gerak-gerak naluriah ia mempertahankan dirinya. Karena ia tidak dapat bergeser mundur lagi, maka hampir diluar sadarnya ia telah mempergunakan kerisnya.

Sebenarnyalah bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu benar-benar telah disilaukan oleh cahaya trisula kecil ditangan Anusapati itu. Trisula yang pernah pula dilihatnya ketika ia masih bertualang dipadang Karautan. Seolah-olah Trisula ku telah memperingatkan kepadanya apa yang pernah terjadi dan apa yang pernah dilakukan olehnya dipadang Karautan itu. Juga atas seorang

tua yang seakan-akan telah membimbingnya untuk mengenal Yang Maha Agung meskipun sebelumnya ia pernah merasakan pertolongan tangan-Nya yang Maha Kuasa.

Itulah sebabnya selain mata wadagnya yang silau oleh trisula kecil ditangan Anusapati, maka mata hatinyapun telah menjadi silau pula melihat dosa-dosa yang pernah dilakukannya sendiri.

Dengan demikian, maka Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu sama sekali tidak melihat, bagaimana Anusapati berbuat diluar sadarnya, mengacungkan keris buatan mPu Gandring itu untuk menahan serangannya.

Jika Anusapati berbuat demikian, ia berniat untuk sekedar mengurungkan serangan Ken Arok yang bagaikan tatit itu. Namun Anusapati tidak tahu, bahwa sebenarnyalah Ken Arok tidak dapat melihat ujung keris yang mengerikan itu.

Didalam kesilauannya, tiba-tiba saja terasa oleh Keh Arok ujung keris ditangan Anusapati itu telah menyentuhnya. Sejenak ia berdesis dan meloncat surut. Namun kemudian dipandanginya luka dilengannya itu sejenak sambil berkata “ Ternyata telah datang saatnya. “

“ Ayahanda “ desis Anusapati.

“ Jangan mendekat Anusapati “ berkata Sri Rajasa ?” aku adalah ujud dari kekasih Dewa yang melakukan tugasku dibumi, tetapi aku juga ujud daripada dosa yang paling besar dimuka bumi ini. Jika kau mendekati aku, maka tanganku yang berlumuran dosa ini tentu akan meremaskan menjadi debu. Biarlah kebesaran kasih Dewa yang ada padaku menyelamatkan kau dari kehancuran itu. “

Kata2 Sri Rajasa itu ternyata telah menggetarkan hati setiap orang yang mendengarkanya. Anusapati menjadi termangu-mangu sejenak. Sedang Mahisa Agni dan Witantra bagaikan membeku diternpatnya.

Namun seperti permintaan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa.itu Anusapati sama sekali tidak mendekat ketika kemudian Sri Rajasa

berlutut sambil bertelekan dengan kedua tangannya. Sekali-Sekali ia meraba lukanya. Luka karena ujung keris mPu Gandring.

Tubuh Sri Rajasa semakin lama menjadi semakin lemah. Didalam keremangan cahaya malam dan lampu di-kejauhan, Sri Rajasa memandang Mahisa Agni, Witantra dan Anusapati yang berdiri mematung.

“ Jangan bingung “ berkata Sri Rajasa “ memang sudah waktunya aku mati. Aku tidak akan berteriak memanggil para prajurit yang sedang bertugas didepan bangsal ini. Mereka tidak akan tahu apa sebabnya aku mati. “ Ken Arok berhenti sejenak, lalu “ tetapi bawalah pangalasan itu keluar dari bangsal ini. Apapun alasannya, kehadiran seseorang dibangsal ini akan menimbulkan banyak pertanyaan. Dan Anusapati tidak akan dapat

Terbuat banyak disini, karena jika demikian, kehadiran-nyapun mencurigakan pula. “

“ Jadi apa yang harus hamba lakukan? “ tiba-tiba saja Anusapati bertanya.''

“ Bawalah pangalasan itu kebangsahnu. Kau dapat mengatakan kepada siapapun juga, bahwa peristiwa ini Idalah peristiwa yang tidak ada sangkut pautnya dengan perkembangan keadaan akhir2 ini diLstana Singasari. “

“ Maksud ayahanda? “

“ Pangalasan itu telah membunuh aku karena sakit hati. Kemudian akan membunuhmu pula. Tetapi kau berhasil membinasakannya. Itulah ceriteranya. Dan mudah-mudahan orang-orang Singasari mempercayainya dan memberikan hakmu atas tahta, Anusapati. Sebab jika ada yang mencurigaimu memasuki bangsal ini, maka akan timbul persoalan yang berkepanjangan, karena kau tahu, aku mempunyai seorang anak laki-laki yang ingin aku tempatkan diatas tahta pula. “

“ O “ terasa kerongkongan Anusapati menjadi panas.

Namun tiba-tiba Putc-ra Mahkota itu terkejut ketika ia mendengar Sri Rajasa mengumpat “ Jahanam, jahanam kau Anusapati. Tentu kau yang menyuruh pengatasan itu membunuh aku. Agaknya kau sudah tahu rencana yang aku susun sebiak-baiknya untuk membinasakan kau dan Mahisa Agni. Dengar, bahwa Tohjaya tidak akan merelakan pembunuhan ini terjadi. “

“ Tetapi, tetapi hamba tidak pernah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membunuh ayahanda. Memang kadang-kadang terbersit ingatan untuk melakukannya. Namun hamba selalu berhasil mengendalikannya. “

“ O “ kepala Ken Arok seakan-akan terkulai. Tubuhnya menjadi semakin lemah. Katanya “ Ya, kau memang tidak bersalah. Karena itu, lakukanlah pesanku, agar kau tidak dicurigai oleh siapapun. Agaknya memang keturunan Ken Dedes yang pantas untuk menggantikan kedudukanku di Singasari ini.

Anusapati tidak segera menjawab. Dipandanginya saja Sri Rajasa yang semakin lama menjadi semakin lemah. Namun yang tiba-tiba telah mengumpat sekali lagi “ O, kau telah berkhianat Anusapati. Meskipun aku bukan ayahandamu sendiri, tetapi sejak lahir kau berada dibawahi asuhanku. akulah yang memberikan kedudukan kepadamu sebagai seorang Putera Mahkota. “

Sri Rajasa yang lemah itu seakan-akan ingin meloncat dan meremas Anusapati menjadi berkeping-keping.

Tetapi tubuh itu benar-benar sudah sangat lemah oleh racun yang keras dari keris mPu Gandring itu. Semakin lama Sri Rajasa, Maharaja di Singasari itu menjadi semakin tidak mampu lagi untuk tetap duduk. Akhirnya, perlahan-lahan Sri Rajasa seakan-akan telah membaringkan dirinya sendiri sambil berkata “ Aku minta diri. Tidak ada yang pantas menunggui kematianku selain kau Anusapati. Kau yang berjiwa samodra dan berhati seputih kapas. “ namun kemudian “ tetapi, justru itulah yang menyiksaku, yang membuat aku ingin membunuhmu sekarang. “ suaranya mulai surut, lalu “ jangan mendekat

Anusapati. Tungguilah aku dari kejauhan. Sarungkan trisulamu supaya aku dapat menatap wajahmu, karena, trisula itu membuat mataku bagaikan buta. “

Anusapati ragu-ragu sejenak. Namun ketika Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, maka trisula itupun disarungkannya juga.

“ Hem “ Sri Rajasa bergumam “ terima kasih. Aku minta diri. Tetapi jangan mendekat. Jangan sampai tersentuh jari-jari tanganku. “

Anusapati melangkah maju. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan pesan Sri Rajasa.

Sejenak kemudian Sri Rajasa itu menyilangkan tangan didadanya. Matanyapun terpejam dan mulutnya terkatub rapat. Bahkan bibirnya tampak bagaikan tersenyum, seperti juga bibir Sumekar yang terbaring tidak jauh dari Sri Rajasa itu.

Pada saat terakhir masih terdengar suara Sri Rajasa lamat-lamat. “ Jahanam kau Anusapati kau telah berhasil merebut tahta yang aku sediakan buat Tohjaya. “

Namun sejenak kemudian ia berdesah “ Hanya kau yang pantas menggantikan kedudukanku Anusapati. Hanya kau. Aku serahkan kekuasaan Singasari sepenuhnya kepadamu, kepada keturunan Ken Dedes yang memiliki pertanda langsung dari Dewa-dewa bahwa ia akan menurunkan Maharaja bagi Singasari. Bukan Ken Umang. Bukan Tohjaya tetapi Anusapati. “

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu sudah berbaring bagaikan tidak bernyawa lagi. Namun masih terdengar suaranya meskipun bibir itu sudah tidak bergerak “ Anusapati, kau adalah jahanam yang pantas menjadi seorang Maharaja. “

Anusapati yang berdiri tegak itu masih termangu-mangu, Hatinya tersentuh juga mendengar kata-kata Sri Rajasa yang seakan-akan tidak diucapkan oleh mulutnya. Dan Anusapatipun memang tidak dapat ingkar, bagi Sri Rajasa, ia adalah jahanam yang akan

menggantikan kedudukannya. Tidak ada orang lain yang lebih berhak daripada dirinya untuk menggantikan kedudukan Sri Rajasa pada waktu itu.

Dalam pada itu, longkangan itupun menjadi sepi. Dengan hati yang tegang mereka memperhatikan Sri Rajasa yang terbaring diam dengan tangan bersilang didada dan mata terpejam.

Namun tiba-tiba saja tetasa dada ketiga orang itu bergetar. Mereka dapat melihat dengan jelas, bahwa dari ubun-ubun Ken Arok itu seakan-akan meluncur perlahan-lahan sebuah cahaya yang berwarna kemerah-merahan. Bagaikan gumpalan warna yang sangat ringan, maka cahaya yang kemerah-merahan itupun terapung diudara-dan sejenak kemudian seolah-olah dihembus oleh mulut bumi, sehingga cahaya itupun terbang keangkasa. Semakin lama semakin tinggi dan akhirnya hilang dikebiruan wajah langit.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sudah-pernah ia melihat cahaya itu diubun-ubun Ken Arok yang; bergelar Sri Rajasa. Agaknya memang sudah datang saatnya Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu kembali keasalnya setelah beberapa lama ia melakukan tugasnya dibumi.

Perlahan-lahan ketiga orang itupun kemudian melangkah mendekatinya. Yang kemudian ada dihadapan mereka memang tidak ubahnya sebagai tubuh manusia sewajarnya apabila ajal telah tiba. Karena Ken Arok yang, tinggal itu adalah Ken Arok dalam bentuknya yang wadag.

“ Ia memang ujud dari kasih dewa atas Singasari,. tetapi juga ujud yang paling mengerikan dari iblis yang paling laknat “ berkata Mahisa Agni kemudian.

“ dan itu pulalah sikapnya atasmu Anusapati. Ia menganggapmu sebagai penggantinya, sebagai saluran kasih dewa-dewa atas Singasari, namun ia memandangmu sebagai orang yang paling mengganggu nafsu ketamakan-nya. Dan tanggapan itulah yang tampak pada saat akhirnya. Ia ingin menyerahkan Singasari kepadamu, namun sekaligus ingin meremasmu menjadi debu. “

Anusapati hanya dapat menundukkan kepalanya.

“ Nah, sekarang Anusapati. Kau dapat melakukan pesannya. Bawalah Sumekar kebangsalmu. Dan tentu saja kita akan minta izin kepada Kuda Sempana, kakak seperguruannya, bahwa meskipun Sumekar sudah meninggal, kau masih akan minta bantuannya. Dengan nama Pangalasan Batil, ia harus mengorbankan bukan saja jiwanya, tetapi juga nama itu, karena setiap orang akan menyangka, bahwa ialah pembunuh Sri Rajasa, dan kemudian pergi kebangsalmu untuk membunuhmu juga, tetapi kau berhasil membinasakannya lebih dahulu “-

Anusapati masih menundukkan kepalanya. Bahkan kemudian terasa betapa matanya menjadi panas. Sumekar adalah seorang yang sangat baik kepadanya. Orang yang seakan-akan telah mewakili pamannya Mahisa Agni apabila pamannya itu tidak ada di Singasari. Justru karena itu, maka iapun ikut terlibat didalam persoalan yang ttumbuh didalam keluarga besar dari Sri Rajasa. Sumekar seakan-akan terlibat dalam perebutan pengaruh antara. Anusapati dan Tohjaya. Dan itulah sebabnya, maka Sumekar telah hanyut pula didalam arus kebencian kepada Sri Rajasa. Bahkan melampaui dirinya sendiri sehingga ia tidak dapat mengendalikan perasaannya dan dengan keris mPu Gandring yang sakti itu ia ingin membinasakan Sri Rajasa. Namun Sri Rajasa bukannya manusia sewajarnya. Dan itulah sebabnya Sumekar tidak berhasil menyentuhnya dengan keris itu, justru dirinya sendirilah yang terbunuh karenanya.

Dan sekarang mayat itu harus dihinakan sebagai seorang pembunuh.

Sulit bagi Anusapati untuk memenuhinya. Terkenang olehnya ceritera tentang Kebo Ijo yang sama sekali tidak bersalah, namun harus menebus dengan nyawa dan

namanya ketika Akuwu Tunggul Ametung terbunuh.

“ Aku tahu keberatanmu Anusapati “ berkata Mahisa Agni “ karena itu, maka sebaiknya kita menemui Kuda Sempana. Kakak seperguruan Sumekar. Kita mendengar pendapatnya. “

“ Jadi, bagaimana dengan tubuh paman Sumekar. ini? “ bertanya Anusapati.

“ Biarlah kita bawa lebih dahulu kelongkang bangsalmu. “

Anusapati menganggukkan kepalanya. Ia memang tidak dapat tinggal dtbangsal Sri Rajasa terlampau lama. Jika para prajurit kemudian meronda kebagian belakang bangsal ini, maka mereka akan menemukannya dan harus bertempur lagi. Jika ia salah langkah maka ia akan membunuh bukan saja satu dua orang, tetapi beberapa orang. Apalagi jika kemudian timbul pertentangan terbuka.

“ Baiklah paman “ berkata Anusapati kemudian “ aku akan mencoba membawa tubuh paman Sumekar.

Tentu cukup berat. Kami akan membantumu. Jika kita tidak harus menyusup diantara pengawasan para pra jurit, maka tidak akan terlampau sulit kiranya Tetapi sekarang kita harus menerobos pengawasan para prajurit.

Demikianlah maka dengan susah payah, ketiga orang itu berhasil membawa Sumekar keluar dari dinding bangsal Sri Rajasa. Dengan susah payah pula mereka berhasil membawa lewat rimbunnya tumbuh-tumbuhan perdu di halaman istana Singasari dari bangsal Sri Rajasa, sampai kebangsal Putera Mahkota.

Malam itu juga Kuda Semparta, Mahisa Agni dan Witantra terpaksa melepaskan Sumekar menjadi seorang pengkhianat dengan nama Pangalasan Batil. Tetapi ia bagi Anusapati adalah seorang yang paling baik, yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk kepentingannya, meskipun caranya kurang disetujui. Namun niat terkandung didalam hati Sumekar adalah menempatkannya pada kedudukan yang paling tinggi di Singasari.

Setelah semuanya dibicarakan dengan masak, dan setelah Mahisa Agni, Kuda Sempana dan Witantra dengan dada yang berdebar-debar menunggu dibangsalnya, apa yang akan terjadi diistana itu, maka mulailah Anusapati memainkan peranannya.

Lebih dahulu ia berbisik ditelinga Sumekar “ Maafkan aku paman. Aku sama sekali tidak berniat jelek. Kau bagiku adalah seorang pahlawan. Bukan saja dikala hidup paman, tetapi juga sesudah paman meninggal. “

Maka kemudian terjadilah keributan dibangsal itu. Beberapa orang prajurit yang bertugas itupun berlari-larian dengan senjata telanjang.

Keributan itupun segera menjalar kesegenap halaman istana Singasari. Benar-benar diluar rencana yang sudah disusun oleh beberapa orang Senapati. Tiba tiba saja seorang telah menyusup kedalam bangsa! Anusapati dan mencoba membunuhnya. Namun ternyata usaha ini gagal, dan bahkan orang yang dikenal sebagai pangalasan Batil itu telah mati terbunuh.

“ Cepat, lihat kebangsal ayahanda Sri Rajasa “ Ini kata Anusapati “ pangalasan ini telah menyebut-nyebut nama ayahanda. Ia akan membunuh ayahanda pula setelah membunuh aku, atau sebaliknya. “

Halaman istana itu menjadi semakin gempar setelah ternyata Sri Rajasa diketemukan telah meninggal dilong-kangan bangsalnya, terbujur seperti orang tidur dengan tangan bersilang dan mata terpejam.

Dalam keributan itulah Mahisa Agni telah muncul pula dihalaman. Ternyata bahwa ia memiliki wibawa yang cukup bagi para Senapati, meskipun mereka yang telah disiapkan untuk menangkapnya besok.

“ Tutup semua gerbang. “ perintah Mahisa Agni.

Maka tidak seorangpun yang dapat lolos lagi dari dinding istana. Namun Kuda Sempana, Witantra dan Mahendra sudah berada diluar dinding.

Dalam pada itu, Anusapati yang masih menggenggam keris telanjang memberikan aba-aba pula. Hampir diluar sadarnya para prajurit yang dipersiapkan untuk membunuh Putera Mahkota itu justru melakukan segala perintahnya.

“ Periksa setiap orang yang mencurigakan. Aku tidak yakin bahwa pangalasan ini berdiri sendiri. “

Kegemparan itu benar-benar telah mengguncangkan istana Singasari. Bahkan dalam sekejap, berita tentang terbunuhnya Sri Rajasa itu telah menjalar keseluruh kota. Setiap orang yang mendengar berita itu, segera mengetuk pintu rumah tetangganya dan menceriterakan apa yang didengarnya, sehingga dengan demikian maka berita kemati-an Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi segera menjalar.

Jenazah Sri Rajasa itupun segera diusung masuk ke-dalam bangsalnya. Permaisuripun segera mendengar apa yang telah terjadi. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa iapun pergi kebangsal Maharaja Singasari itu.

Ketika tampak olehnya jenazah itu, terasa kepala Ken Dedes menjadi pening. Jenazah itu tidak ubahnya seperti jenazah Akuwu Tunggul Ametung, Dibeberapa tempat tampak noda kebiru-biruan, meskipun wajah Sri Rajasa itu seakan-akan sama sekali tidak berubah seperti disaat ia tidur.

Ken Dedespun segera mengetahui, apakah yang sudah terjadi. Ternyata bahwa keris mPu Gandring telah melukai Sri Rajasa seperti keris itu telah melukai pula Akuwu Tunggul Ametung.

Bayangan yang bercampur baur itu membuat kepala Ken Dedes menjadi semakin pening. Pandangannya menjadi berkunang-kunang. Dan sejenak kemudian, Ken Dedes tidak mengetahui apakah yang telah terjadi.

Permaisuri itupun menjadi pingsan. Beberapa orang emban menjadi kebingungan. Dengan segala macam cara mereka berusaha untuk menolong Permaisuri itu.

Dalam pada itu, Ken Umangpun bergegas datang pula kebangsal itu. Ketika ia datang, ternyata Permaisuri sudah dibawa menyingkir untuk mendapat pertolongan.

Yang terdengar adalah jerit yang menyayat. Ken Umang menelungkup dibawah jenazah Sri Rajasa. Tangis nya bagaikan bendungan yang pecah. Sedang yang ter selip diantara suara isaknya adalah ratapan yang pedih. ”Tuanku, kenapa Tuanku, sampai hati meninggal kah hamba dan putera - putera tuanku. Justru dalam saat-saat perjuangan putera tuanku sedang memuncak. Dengan demikian, maka lenyaplah segala harapan hamba, bahwa hamba akan dapat menurunkan seorang Maharaja yang akan berkuasa di Singasari. “

Tidak ada yang mendengar ratap itu selain seorang emban yang sedang mencoba menghiburnya. Ratapan itu diucapkannya terlalu lirih. Orang2 yang sedang menunggui jenazah itupun sama sekali tidak mendengar dengan pasti kata-kata yang diucapkannya. Namun emban itu sempat juga mengurut dadanya. Ternyata yang paling menyedihkan bagi Ken Umang bukan kematian Sri Rajasa. Tetapi adalah karena cita-citanya untuk menurunkan seorang Maharaja telah gagal karenanya.

Dalam pada itu, para prajurit dihalaman istana masih sibuk memeriksa setiap sudut halaman. Mereka mencoba untuk menemukan orang yang mencurigakan, yang barangkali adalah kawan dari pangalasan dari Batil itu.

Tetapi tidak seorangpun yang pantas dicurigai. Yang ada didalam halaman itu adalah prajurit-prajurit yang justru telah dipersiapkan oleh orang-orang yang ditentukan, untuk tujuan yang sama sekali berbeda dari apa yang celah terjadi.

Ternyata yang telah terjadi itu menghapuskan semua rencana dikepala beberapa orang Senapati itu. Dihadapan Mahisa Agni, seorang Senapati Agung Singasari, mereka itu menjadi bingung. Apalagi ketika kemudian hadir beberapa orang Panglima dan Senapati yang tidak tahu me nahu tentang rencana itu.

Akhirnya, ketika matahari kemudian terbit di Timur, sidang di bangsal paseban telah dipimpin langsung oleh Putera Mahkota didampingi oleh Senapati Agung yang menjadi wakil Mahkota di Kediri. Didalam sidang itu telah ditetapkan kesimpulan bahwa seorang pengalasan telah membunuh Sri Rajasa dan kemudian berhasil dibunuh oleh Anusapati, Putera Mahkota Singasari. Dan sidang itupun telah menetapkan upacara yang akan dilakukan untuk menyempurnakan jenazah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Namun demikian, meskipun sidang itu sependapat, bahwa pangalasan Batil telah membunuh Sri Rajasa dan kemudian terbunuh oleh Anusapati, tetapi ternyata bahw«i Tohjaya tidak dapat menerima keputusan itu didalam hatinya. Dengan beberapa orang kepercayaannya ia menetapkan, bahwa pangalasan dari Batil itu telah mendapar perintah dari Anusapati untuk membunuh Sri Rajasa, te tapi kemudian pangalasan itu telah dibunuh sendiri oleh Anusapati, agar rahasia pembunuhan itu tidak akan pernah didengar oleh orang lain.

Tetapi pengaruh Anusapati dan Mahisa Agni ternyata lebih besar dari pengaruh Tohjaya. Karena itulah kemudian para pimpinan pemerintahan menetapkan, Anusapati menggantikan kedudukan ayahanda Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi yang telah gugur didalam jabatannya.

Dalam pada itu, dengan diam-diam Anusapati berhasil menyingkirkan tubuh Sumekar yang telah mengorbankan segalanya untuknya. Sejak hidupnya, masa-masa mudanya, masa-masa menjelang usia pertengahan dan kemudian bahkan nyawanya dan bahkan namanya. Atas kehendak Anusapati, maka jenazah Sumekarpun telah disempurnakan sebaik-baiknya oleh kakak seperguruannya di padepokannya.

Namun kejutan peristiwa itulah agaknya yang membuat kesehatan Ken Dedes menjadi semakin mundur. Namun demikian ia masih sempat menunggui puteranya memerintah Singasari yang besar.

Tetapi yang terjadi bukannya akhir dari pemerintahan yang damai di Singasari.

-ooo00ooo-

 [ thanks to www.kangzusi.com ]