Jilid 71
SEJENAK KEMUDIAN keduanya telah menjadi
semakin dekat. Darah rakyat Singasari yang mengelilingi arena seakan-akan
berhenti mengalir ketika kedua orang diarena itu saling berbenturan.
Mulut mereka terbungkam ketika mereka
melihat Tohjaya terdorong oleh ujung tongkat lawannya. Tetapi ternyata bahwa ia
benar-benar memiliki ketangkasan berkuda. Meski-pun ia sudah menjadi miring,
namun ia berhasil memperbaiki, kemudian Tohjaya-pun telah tegak kembali diatas
punggung kuda.
Sri Rajasa terkejut juga melihat kedudukan
Tohjaya yang goyah itu, sehingga ia bergeser setapak. Namun kemudian ia menarik
nafas dalam-dalam, ketika puteranya terkasih itu ternyata berhasil memperbaiki
keseimbangannya.
Namun demikian, pada benturan yang pertama
Sri Rajasa melihat, bahwa agaknya Kesatria Putih memang memiliki kemampuan yang
lebih besar dari Tohjaya.
“Mudah-mudahan Tohjaya mampu bertahan,
sehingga ia mendapat kesempatan untuk bertanding pada jarak yang pendek.“ Sri
Rajasa berharap, bahwa kepandaian Tohjaya mengendalikan kudanya akan berpengaruh
didalam pertandingan itu.
Ketika kedua orang yang berada diarena itu
harus mengulangi benturan dengan ancang-ancang itu, Sri Rajasa telah menahan
nafasnya. Demikian juga para penonton disekeliling arena. Tidak seorang-pun yang
bergerak dan tidak seorang-pun yang mengucapkan sepatah kata. Semuanya
seakan-akan membeku karenanya.
Yang terdengar hanyalah derap kaki-kaki
kuda, diikuti oleh tatapan mata yang tegang.
Sejenak kemudian, sekali lagi setiap orang
harus menahan nafasnya ketika benturan kedua itu terjadi.
Sri Rajasa hampir meloncat berdiri.
Untunglah ia sadar, bahwa ia adalah seorang Maharaja yang besar. Karena itu maka
ia tetap saja duduk ditempatnya.
Ternyata benturan yang kedua menguntungkan
Tohjaya ketika Kesatria Putih agak terlambat mengangkat tongkatnya. Sentuhan
tongkat Tohjaya telah menggerakkan ujung tongkat Kesatria Putih sehingga sama
sekali tidak mengenai sasarannya. Namun dalam pada itu, Tohjaya dengan cepat
berhasil menggerakkan ujung tongkatnya sehingga menyentuh pundak Kesatria Putih.
Kesatria Putih mencoba untuk menghindar.
Tetapi geraknya sangat terbatas, karena kudanya berlari terus. Meski-pun ia
berusaha memutar tubuhnya, namun ujung tongkat Tohjaya masih mengenainya
sehingga hampir saja Kesatria Putih terlempar dari kudanya. Tetapi seperti
Tohjaya, Kesatria Putih masih berhasil mempertahankan dirinya. Kakinya masih
berpegangan dengan kuat, sedang sebelah tangannya memeluk kudanya sementara
tangannya yang lain memegangi, tongkatnya erat-erat.
Untunglah bahwa kudanya adalah kuda yang
baik, sehingga meski-pun kendalinya lepas sama sekali, tetapi kuda putih itu
tidak melonjak dan melemparkan penunggangnya yang sedang dalam kesulitan.
Tohjaya melihat kedudukan Kesatria Putih
yang lemah itu. Karena itu, setelah kedua benturan itu tidak berhasil
menjatuhkan salah seorang daripada mereka yang bertanding, mereka akan
meneruskan pertandingan pada jarak pendek tanpa ancang-ancang.
Dalam pada itu Tohjaya ingin mempergunakan
kesempatan selagi Kesatria Putih masih berusaha memperbaiki keseimbangannya.
Dengan serta-merta ia menarik kendali kudanya berputar. Dengan tergesa-gesa
Tohjaya memacu kudanya kembali
mengejar kuda Kesatria Putih. Namun
sementara itu, Kesatria Putih sudah sempat duduk kembali diatas punggung
kudanya. Ia sudah berhasil menguasai keadaan sepenuhnya. Karena itu ketika ia
sadar bahwa Tohjaya menyerangnya, maka ia-pun segera memutar kudanya menghadap
lawannya.
Sejenak kemudian keduanya-pun telah
terlihat dalam pertandingan yang seru. Masing-masing menggerakkan tongkatnya
dengan cepatnya. Sekali-sekali terdengar kedua tongkat panjang itu berbenturan.
Namun kemudian tongkat-tongkat itu terayun mengenai tubuh-tubuh mereka
berganti-ganti. Bahkan kadang-kadang tongkat itu berhasil mendorong lawannya.
Tetapi keduanya adalah orang-orang yang trampil dan seakan-akan mumpuni
mempergunakan senjata panjang dan naik diatas punggung kuda.
Mereka yang berada diatas panggung
kehormatan-pun menjadi tegang. Sri Rajasa hampir tidak berkedip menyaksikan
pergulatan yang sengit itu. Mahisa Agni bagaikan patung batu. Bahkan seakan-akan
bernafas-pun tidak.
Apalagi Ken Umang yang menyaksikan putranya
bertempur dengan orang yang penuh rahasia, yang oleh rakyat Singasari dianggap
sebagai seorang Pahlawan.
Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin
dahsyat. Bahkan kemudian mereka seakan-akan telah menjadi bersungguh-sungguh.
Hanya karena ujung tongkat-tongkat itu dilapisi dengan sabut, serta daya tahan
tubuh-tubuh itu sangat kuat, maka mereka berdua masih tetap berada dipunggung
kuda.
Anak-anak muda Singasari menyaksikan
pertandingan itu dengan dada yang berdebaran. Kini mereka merasa, betapa
kecilnya diri mereka sendiri dibandingkan dengan kedua kesatria yang tengah
beradu ketrampilan ditengah-engah arena.
Tetapi lambat laun., ternyata bahwa
Kesatria Putih memiliki ketahanan tubuh dan kelebihan setingkat didalam olah
ketrampilan. Bahkan semakin lama, mereka yang memiliki ilmu yang cukup dapat
melihat, bahwa sebenarnyalah Kesatria Putih berusaha untuk
mengekang diri. Mereka yang berilmu matang,
seperti para Panglima dan para Senapati pilihan, Mahisa Agni dan Sri Rajasa
sendiri merasa bahwa Kesatria Putih berusaha menghormati Tohjaya sebaik-baiknya,
sehingga meski-pun Tohjaya akan kalah juga, namun ia kalah dengan hormat,
setelah berjuang habis-habisan serta melayani lawannya hampir seimbang.
Kekalahan itu seakan-akan hanyalah sekedar kekalahan kecil atau justru karena
Tohjaya sudah lelah, karena ia sudah dua kali bertanding melawan orang-orang
yang memiliki kemampuan tinggi.
Dengan demikian Sri Rajasa menjadi semakin
cemas. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat menghentikan
pertandingan. Ia tidak akan dapat berbuat sesuatu atas Kesatria Putih, karena ia
adalah seorang pahlawan.
“Kesatria Putih akan mewenangkan
pertandingan ini,“ ia berdesah, “jika demikian, maka ia harus dilenyapkan, agar
di Singasari hanya ada seorang pahlawan saja, Tohjaya.”
Tanpa sesadarnya Sri Rajasa berpaling
kepada Mahisa Agni sambil berkata didalam hati, “Ia harus menyelesaikannya
nanti”
Dalam pada itu Mahisa Agni sendiri duduk
dengan tegangnya menyaksikan pertandingan itu. Karena itu ia sama sekali tidak
menyadari bahwa Sri Rajasa sedang memandanginya dan bahkan berkata didalam
hatinya, bahwa Mahisa Agni akan mendapat tugas yang sangat berat. Membinasakan
Kesatria Putih tanpa diketahui oleh orang lain, agar tidak menimbulkan kesan,
bahwa Singasari telah berkhianat terhadap kesatria yang selama ini telah
mengabdi kepada rakyat tanpa pamrih.
Demikianlah pertandingan di arena itu
berlangsung terus.
Tetapi agaknya Tohjaya sudah menjadi
semakin letih. Serangan-serangannya sama sekali sudah tidak mapan lagi. Bahkan
sekali dua kali apabila Kesatria Putih berhasil menghindar, maka ayunan
tongkatnya hampir-hampir saja menyeretnya jatuh dari atas punggung kuda.
Dalam pada itu Kesatria Putih nampaknya
masih segar, sesegar ketika ia datang. Dengan sentuhan kecil, Tohjaya pasti
sudah akan terlempar dari kudanya. Namun ternyata Kesatria Putih tidak
melakukannya. Seperti pada saat Tohjaya bertanding melawan anak muda yang
terakhir. Kesatria Putih banyak memberi kesempatan kepada lawannya untuk
bertahan duduk diatas punggung kudanya.
Demikianlah sebenarnya tampak oleh mereka
yang berdiri disekitar arena, apalagi bagi yang duduk diatas panggung
kehormatan, bahwa Tohjaya sudah kehilangan kemampuan karena kelelahan meski-pun
ia masih tetap duduk diatas punggung kuda. Ternyata bahwa Kesatria Putih tidak
berhasrat sama sekali menjatuhkannya dari atas punggung kuda itu. Bagi
orang-orang yang berada dipanggung kehormatan, tampak jelas, bagaimana Kesatria
Putih masih berpura-pura menyerang Tohjaya. Namun serangan-serangan itu sama
sekali bukan serangan sebenarnya yang dapat menjatuhkannya.
Sri Rajasa tidak mengerti, apa sebabnya
Kesatria Putih berbuat demikian. Tohjaya-pun tidak mengerti, kenapa Kesatria
Putih itu tidak menyentuh saja tubuhnya, dan ia akan segera terpelanting jatuh.
Adalah diluar dugaan, ketika Kesatria Putih
itu kemudian mendekati Senapati yang menjadi saksi utama didalam pertandingan
itu sambil berkata. “Apakah ketentuan dari pertandingan ini, jika tidak
seorang-pun terjatuh dari kudanya, dapat dianggap bahwa pertandingan ini
berakhir tanpa ada yang menang dan kalah?”
Senapati itu mengerutkan keningnya. Ia sama
sekali tidak membuat ketentuan itu. Pertandingan akan berlangsung terus,
sehingga salah seorang dapat dikalahkan. Bahkan meski-pun tidak dengan sengaja,
ada juga salah seorang peserta yang jatuh dan pingsan.
“Bagaimana?” Kesatria Putih mendesak.
Sebelum ia menjawab, Tohjayalah yang
menyahut, “Aku tahu, kau memenangkan pertandingan ini. Kenapa kau tidak mau
mendorong aku jatuh?”
“Tidak. Kau, eh, maksud hamba, tuanku
adalah seorang yang memiliki kemampuan yang mengagumkan. Tuanku bukan seorang
yang dengan mudah dapat dikalahkan. Dan hamba kira, hamba tidak akan dapat
menjatuhkan tuanku, meski-pun tampaknya tuanku sudah lelah. Hamba-pun sadar,
bahwa hal ini juga disebabkan bahwa tuanku sudah bertempur dua kali
berturut-turut.”
“Jangan mengigau, ayo, selesaikan tugasmu,
kau akan dielu-elukan oleh rakyat Singasari sebagai pahlawan terbesar melampaui
kebesaranku.”
Kesatria Putih tidak menyahut. Namun
tiba-tiba saja ia mengangkat wajahnya memandang Sri Rajasa yang kemudian berdiri
di panggung kehormatan, “Tohjaya. Kau harus mengakui kelebihan Kesatria Putih
kali ini, meski-pun kau dapat bertahan sampai saat terakhir. Kau sudah bertempur
dua kali melawan orang-orang terkuat di Singasari. Namun itu bukan alasan yang
dapat kau pergunakan untuk membela diri. Sudahlah, turunlah dari kudamu sebagai
pertanda kemenangan lawanmu.“
Tohjaya memandang Sri Rajasa dengan
tegangnya. Tetapi ia-pun kemudian turun dari kudanya didepan panggung
kehormatan. Dengan tergesa-gesa ia-pun naik keatas panggung itu, lalu bersimpuh
dihadapan Sri Rajasa sambil berkata, “Ampun ayahanda, hamba tidak dapat
mempertahankan kebesaran nama ayahanda diarena ini karena kehadiran Kesatria
Putih.”
“Kau sudah berbuat sebaiknya. Marilah
sekarang kita menuntut janji Kesatria Putih. Jika ia memenangkan pertandingan
ini, ia akan membuka kerudung putihnya dihadapan kita disini, sehingga rakyat
Singasari akan mengenalnya, siapakah sebenarnya pahlawan yang besar ini, yang
selama ini sudah menyelamatkan puluhan, bahkan ratusan rakyat yang mengalami
bencana.“
Tohjaya mengangkat wajahnya. Kini ia
memandang Kesatria Putih yang masih duduk diatas punggung kudanya dengan tongkat
panjang ditangan kanannya.
“Kesatria Putih,“ panggil Sri Rajasa,
“kemarilah.”
Kesatria Putih tampak ragu-ragu sejenak.
“Buat apa kakanda memanggil setan itu,“
desis Ken Umang, “biarlah ia segera pergi. Ia sudah melepaskan harapan Tohjaya
untuk menjadi anak muda terkuat diseluruh negeri.”
Ketika Sri Rajasa berpaling, dilihatnya
wajah Ken Umang yang merah padam. Setitik air matanya mengambang disudut matanya
yang basah itu.
“Aku memerlukannya. Aku ingin tahu, apakah
Kesatria Putih memenuhi ketentuan yang ada didalam pertandingan ini. Jika tidak,
ia sudah menipu kita semua, dan hukumannya adalah hukuman pancung disini juga.”
Ken Umang tidak menjawab lagi. Kini
dilihatnya Kesatria Putih yang masih duduk diatas punggung kudanya
perlahan-lahan mendekati panggung kehormatan.
“Mendekatlah,“ berkata Sri Rajasa, “aku
ingin melihat, apakah kau masih berhak ikut didalam pertandingan ini.”
Kesatria Putih itu menjadi termangu-mangu
sejenak. Dipandanginya Sri Rajasa yang berdiri diatas panggung kehormatan.
Kemudian Senapati yang menjadi saksi utama dari pertandingan terbuka itu, serta
beberapa orang Senapati dan prajurit yang berada disekitar arena.
“Mendekatlah.“ panggil Sri Rajasa sekali
lagi, “bukalah kerudung wajahmu seperti yang kau janjikan.”
Ken Umang yang kehilangan harapan atas
puteranya untuk mendapat gelar pahlawan terbesar itu mulai terisak. Dengan
tangannya ia mengusap air mata yang jatuh satu-satu
dipangkuannya. Air mata yang mencerminkan
betapa tamaknya hati perempuan itu.
Sedang disebelah lain, mata Ken Dedes-pun
berlinang-linang pula. Ia mulai membayangkan wajah Anusapati yang seakan-akan
semakin lama semakin tersisih. Didalam kesempatan serupa ini, Anusapati sama
sekali tidak terucapkan. Hampir saja Tohjaya berhasil merebut hati rakjat
Singasari. Jika Tohjaya memenangkan pertandingan terakhir, maka sempurnalah
permainan Sri Rajasa.
Lamat-lamat terbayang kembali bagaimana
Tunggul Ametung tersingkir dari kedudukannya. Bagaimana-pun juga akhirnya Ken
Dedes-pun mengerti, bahwa sebenarnya Ken Arok saat itu telah berhasil melakukan
peranannya dengan baik sekali.
Hanya karena hatinya yang disaput oleh
gejolak naluri seorang perempuan, serta kemudian diikuti oleh kenyataan bahwa
Ken Arok berhasil memerintah Singasari lebih baik dari Tunggul Ametung, Ken
Dedes tidak pernah mempersoalkan kematian Tunggul Ametung. Tetapi kini, dengan
cara yang selembut itu pula Sri Rajasa berusaha menyingkirkan keturunan Tunggul
Ametung, meski-pun anak itu sendiri sama sekali tidak mengetahuinya.
Seperti Ken Umang, Ken Dedes-pun mengusap
air matanya. Tetapi seakan-akan cahaya yang terpantul dari butiran-butiran air
mata dari kedua risteri Sri Rajasa itu berwarna lain.
Demikianlah kuda Kesatria Putih kini sudah
berdiri di depan panggung kehormatan. Perlahan-lahan Kesatria Putih itu-pun
meloncat turun dari kudanya. Katanya kemudian, “Ampun tuanku Sri Rajasa Batara
Sang Amurwabumi. Apakah tuanku benar-benar berkeinginan melihat wajah hamba yang
jelek ini.”
“Aku tidak peduli. Namun aku ingin
mengetahui, apakah kau masih pantas untuk ikut bermain-main bersama anak-anak di
arena ini.“
Kesatria Putih membungkukkan badanya
dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera membuka kerudung putihnya. Perlahan-lahan ia
mendekati tangga panggung kehormatan itu.
Dan tanpa diduga-duga oleh siapa-pun ia mulai naik setapak demi setapak.
Langkahnya ternyata telah mempesona setiap
orang. Mereka bagaikan membeku melihat Kesatria Putih naik ke atas panggung.
Bahkan Sri Rajasa-pun bagaikan kehilangan nalar sejenak, melihat Kesatria Putih
itu semakin lama semakin mendekat.
Yang mendebarkan jantung setiap orang
adalah, tiba-tiba saja Kesatria Putih itu-pun berlutut. Tidak dihadapan Sri
Rajasa tetapi yang mula-mula adalah dihadapan Permaisuri.
Semua orang terkejut karenanya. Ken
Dedes-pun terkejut bukan kepalang, sehingga ia hanya diam mematung, tidak tahu
apa yang akan dilakukan.
Baru setelah berlutut dihadapan Permaisuri,
Kesatria Putih bersimpuh dihadapan Sri Rajasa sambil berkata, “Perkenankanlah
hamba membuka kerudung putih hamba betapa-pun jeleknya wajah ini.”
“Berdirilah,“ berkata Sri Rajasa yang
serasa masih terpesona oleh peristiwa-peristiwa yang tidak mereka perhitungkan
sebelumnya, “dan bukalah kerudung putihmu menghadap rakyat Singasari yang akan
menilai, siapakah Kesatria Putih sebenarnya, dan apakah ia masih dapat disebut
kanak-anak.”
Kesatria Putih termangu-mangu sejenak.
Namun seperti perintah Sri Rajasa, maka Kesatria Putih itu-pun kemudian berdiri.
Sekali ia berpaling memandang Tohjaya dan Ken Umang, barulah kemudian tangannya
bergerak menggapai kerudung putihnya.
Darah Tohjaya serasa berhenti mengalir. Ia
menjadi sangat tegang menunggu. Demikian juga rakyat Singasari.
Nafas mereka tertahan-tahan. Mereka tidak
sabar lagi menunggu, siapakah sebenarnya Kesatria Putih itu.
Tiba-tiba hati mereka terjerat oleh
kata-kata Kesatria Putih yang lantang, “Rakyat Singasari. Inilah kenyataanku,
Kesatria Putih yang selama ini menumbuhkan teka-teki bagi kalian.”
Bersamaan dengan terkatubnya bibir Kesatria
Putih itu, maka direnggutnya tirai yang selama ini menutup wajahnya. Tirai putih
yang membuatnya disebut Kesatria Putih selain kudanya yang putih pula.
Ketika tirai di wajah itu terbuka, setiap
dada telah dihentakkan oleh kenyataan yang tidak mereka duga-duga sama sekali.
Demikian wajah itu terbuka, setiap mulut telah menyebut namanya dengan wajah
tegang penuh keheranan dan bahkan pertanyaan yang ragu-ragu, “Anusapati Putera
Mahkota.”
Mereka menjadi yakin ketika Kesatria Putih
yang sudah tidak berkerudung lagi itu berkata, “Akulah Anusapati, Putera Mahkota
Kerajaan Singasari yang besar, Putera Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi yang
lahir dari ibunda Permaisuri Ken Dedes.”
Arena itu menjadi gegap gempita. Lebih
dahsyat dari ledakan seribu guntur bersama-sama. Langit rasa-rasanya akan runtuh
dan demikian pula hati Tohjaya dan Ken Umang. Seperti belanga yang terbanting
dibatu pualam, maka hati mereka-pun pecah berkeping-keping.
Dalam pada itu Sri Rajasa berdiri dengan
wajah yang merah padam. Sejenak dipandanginya Anusapati, namun kemudian
dipandanginya wajah Mahisa Agni tenang. Tetapi wajah yang tenang itu bagaikan
air pusaran yang dahsyat yang menghisapnya kedalam kehancuran yang mutlak.
Mahisa Agni sendiri masih tetap berada
ditempatnya. Ia sama sekali tidak berbuat sesuatu. Dibiarkannya semuanya terjadi
menurut perkembangan yang wajar dari peristiwa yang sudah diperhitungkannya
masak-masak. Sri Rajasa pasti tidak akan berani berbuat apa-pun juga dihadapan
rakyat Singasari yang selama ini menganggap Kesatria Putih sebagai pelindung
mereka. Apalagi kini mereka mengetahui, bahwa Kesatria Putih itu tidak lain
adalah Putera Mahkota. Putera Mahkota yang selama ini mereka anggap sebagai
seorang laki-laki yang hanya mampu menunggui isterinya, tanpa menghiraukan
keadaan pemerintah sama sekali, tanpa berbuat apa-pun juga untuk kesejahteraan
rakyatnya. Ternyata
bahwa dugaan itu keliru. Yang mereka anggap
sebagai pahlawan selama ini ternyata adalah orang yang tepat, orang yang dapat
mereka pergunakan sebagai tempat berpegangan yang kokoh dimasa mendatang.
Rakyat Singasari sama sekali tidak
menghiraukan, perasaan apakah yang sedang bergejolak didalam hati Sri Rajasa.
Bahkan sebagian dari mereka menganggap, bahwa Sri Rajasa-pun akan menjadi
gembira sekali menghadapi kenyataan itu.
Namun dalam pada itu Sri Rajasa terpaksa
mengakui didalam hati, bahwa kini ia menghadapi permainan Mahisa Agni yang
ternyata berhasil mengatasi permainannya. Ketika ia berhasil menyingkirkan
Tunggui Ametung, Mahisa Agni hanyalah seorang anak muda Panawijen yang sedang
sibuk membuat bendungan, ia sama sekali tidak berbuat sesuatu, selain justru
membantunya, mengalahkan Witantra ketika ia berusaha membersihkan nama Kebo Ijo
yang telah dibunuhnya pula.
Tetapi kini, ia menghadapi permainan Mahisa
Agni. Dan Sri Rajasa-pun sadar, bahwa Anusapati adalah kemenakan Mahisa Agni.
Meski-pun kecurigaan itu timbul sejak lama, dan menyingkirkan Mahisa Agni ke
Kediri, namun ternyata bahwa Mahisa Agni masih sempat membentuk Anusapati
menjadi seorang anak muda yang pilih tanding, yang melampaui kemampuan Tohjaya.
Meski-pun demikian, Sri Rajasa bukannya
seorang yang terlampau bodoh. Ia adalah seorang pemikir yang masak. Yang mampu
menyingkirkan Tunggul Ametung dan sekaligus memperisteri Ken Dedes, kemudian
menggunakan gejolak perasaan orang-orang Kediri sendiri untuk menjatuhkan
Maharaja Kediri yang termashur.
Karena itu, setelah ia berhasil menguasai
gejolak perasaannya, maka tiba-tiba Sri Rajasa itu-pun melangkah maju mendekati
Anusapati. Sambil menepuk bahunya ia berkata kepada rakyat Kediri. “Rakyatku
yang baik. Sekarang kalian sudah melihat kenyataan ini. Yang kalian elu-elukan
sebagai pahlawan dan kalian sebut Kesatria Putih itu adalah seorang yang memang
seharusnya
menjadi seorang pahlawan. Ia adalah Putera
Mahkota. Itulah sebabnya aku ikut berbangga, bahwa pilihanku tidak salah. Anak
sulungku, yang selama ini aku bentuk untuk menjadi seorang pahlawan dimasa
datang, telah menunjukkan kemampuannya. Selama ini aku simpan ia didalam istana
dalam penempaan yang tidak mengenal jemu bersama Tohjaya. Dan harapanku atas
keduanya ternyata tidak sia-sia. Tohjaya telah mencoba berbuat sejauh dapat
dilakukan, sedang Anusapati telah menunjukkan baktinya pula kepada rakyat
Singasari dengan caranya, karena ia tidak mau menyanjung diri. Dan adalah wajar
sekali bila Tohjaya tidak dapat mengalahkan Kesatria Putih, karena ternyata
bahwa Kesatria Putih bukan saja saudara tuanya, tetapi juga saudara tua
seperguruan. Kini terimalah kedua Puteraku ditengah-engah kalian.”
Rakyat Singasari itu menyambut kata-kata
Sri Rajasa dengan tepuk tangan dan sorak mawurahan.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ternyata
Sri Rajasa masih mempunyai cara untuk meneruskan permainan. Tetapi bagaimana-pun
juga, Mahisaa Agni sudah memiliki separo kemenangan. Sedang separo lagi masih
diperebutkan. Jika Mahisa Agni mendapat sebagiadan yang separo, maka bagiannya
sudah lebih banyak dari yang akan didapat oleh Sri Rajasa.
Tetapi Mahisa Agni-pun mempertimbangkan
semuanya dengan saksama. Kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang didalam
istana. Tetapi kesempatan untuk merebut hati rakyat dihadapan rakyat itu adalah
kesempatan yang hampir mustahil didapatkannya jika bukan karena tingkah Tohjaya
sendiri.
Dalam pada itu, kedua isteri Sri Rajasa
ternyata tengah menekuni perasaan masing-masing yang bergejolak didalam dada.
Ternyata mereka telah menjumpai persoalan yang sama sekali tidak diduga-duga.
Begitu besar hati Ken Dedes menyaksikan putranya yang tanpa disangkanya, bahkan
mimpi-pun tidak, tiba-tiba saja menjadi seorang pahlawan yang paling besar di
kalangan anak-anak muda Singasari sesuai dengan kedudukannya sebagai Putera
Mahkota. Sebagai seorang yang berpikir cerah, Ken Dedes-pun segera dapat
menyelusuri, apakah yang sebenarnya telah
terjadi dibalik dinding istana yang tinggi itu. Tentu Mahisa Agni memegang
peranan yang penting didalam permainan ini. Tanpa Mahisa Agni, Anusapati
hanyalah sekedar abu didalam kobaran api ketamakan istana Singasari.
Tanpa disadarinya, maka air mata Permaisuri
itu mengalir dengan derasnya. Setiap kali tangannya mengusap maka air itu telah
tumbuh pula dipelupuk.
Ken Umang-pun telah menangis pula. Betapa
ia mencoba bertahan menghadapi kenyataan. Betapa ia mencoba menghibur diri
dengan keterangan Sri Rajasa. Namun ternyata bahwa dendam telah menyala tanpa
terkendali didalam hati. Kekalahan Tohjaya dari Anusapati, dan kenyataan bahwa
pahlawan besar yang selama ini dielu-elukan rakyat Singasari melampaui
puteranya, dan yang mereka sebut Kesatria Putih itu adalah Anusapati.
“Kenapa ia tidak dibunuh saja,“ geram Ken
Umang didalam hatinya, sedang Tohjaya berkata didalam hati pula, “Pantas Mahisa
Agni dan Anusapati begitu mudahnya menyingkirkan Kesatria Putih seperti yang
dikatakan ayahanda itu.”
Tetapi sekarang tidak mudah bagi siapa-pun
juga untuk menyingkirkan Kesatria Putih yang ternyata adalah Anusapati. Tentu
Anusapati kini merupakan pahlawan besar pula bagi rakyat Singasari, yang dengan
demikian tidak akan dapat dengan begitu saja disingkirkan dari hati rakyat itu.
Ternyata bahwa latihan dan pertandingan
terbuka yang diminta oleh Tohjaya itu telah menimbulkan kecut dihati Sri Rajasa
dan Ken Umang beserta puteranya terkasih, yang diharapkan akan dapat menjadi
anak muda yang paling perkasa diseluruh Singasari. Namun mereka tidak dapat
menghindarkan diri dari kenyataan, bahwa Anusapati adalah anak muda yang lebih
besar dari padanya.
Dengan demikian, bukan saja Anusapati yang
harus menengadahkan dadanya, bahwa ia bukan seorang anak muda yang dungu seperti
yang diduga oleh para prajurit dan Senapati,
juga oleh Tohjaya dan gurunya, namun setiap
orang-pun akan menilai Mahisa Agni, orang terdekat disisi Anusapati. Tidak
seorang-pun yang tidak menyorotkan pandangan matanya atas ilmu Anusapati pada
kemampuan Mahisa Agni.
“Aku-pun tidak dapat menyembunyikan diri
lagi,“ berkata Mahisa Agni, “kini kita bermain dengan pintu terbuka.”
Anusapati yang dengan patuh menjalankan
semua petunjuk Mahisa Agni ternyata mendapat cara untuk tampil langsung didepan
mata rakyat Singasari.
Setelah pertandingan itu dinyatakan selesai
dan rakyat Singasari yang ada di sekitar arena pergi meninggalkan alun-alun,
maka yang mereka percakapkan tidak ada lain kecuali Putera Mahkota.
“Ternyata aku telah sesat,“ berkata salah
seorang dari mereka. “selama ini aku menganggap bahwa Putera Mahkota itu adalah
seorang laki-laki yang tidak mampu menunjukkan kejantanan diri. Berbeda dengan
adindanya Tohjaya, yang dengan penuh tanggung jawab telah berusaha menyelamatkan
rakyatnya dari kesusahan. Tetapi ternyata bahwa bukan demikian yang sebenarnya.
Tuanku Putera Mahkota-pun adalah seorang pahlawan yang besar.”
“Ia tidak mendapat kesempatan itu,“
seseorang berbisik.
“Kenapa?”
Seorang yang berjanggut putih berkata
diantara kedua telapak tangannya, “Apakah kau lupa, bahwa tuanku Permaisuri
melahirkan puteranda Anusapati hanya enam bulan setelah perkawinannya dengan Ken
Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi?”
“Ah, jangan menyinggung itu lagi. Mungkin
itu memang suatu dosa, bahwa tuanku Permaisuri mengandung sebelum perkawinannya.
Tetapi Ken Arok tidak ingkar.”
“Bodoh sekali. Putera yang dikandung itu
bukan hadir dari dosa. Ia ada didalam kandungan dari suaminya yang dahulu.”
“O, ya. Ia adalah putera Tunggul Ametung.”
“Sst.”
Kawannya terdiam. Namun mereka sadar, bahwa
bukan hanya mereka sajalah yang mengerti bahwa Anusapati lahir terlampau cepat,
setelah perkawinan Ken Dedes dengan Ken Arok, sehingga sebenarnya hampir setiap
orang tua-tua di Singasari mengerti, bahwa Anusapati adalah Putera Tunggul
Ametung.
Demikian pula akhirnya para Senapati
mengambil kesimpulan yang sama. Tetapi susunan keprajuritan yang lahir setelah
Sri Rajasa memegang pemerintahan, mencerminkan kesetiaan mereka kepada Sri
Rajasa. Terlebih-lebih adalah Senapati-Senapati muda yang diangkat di saat-saat
Sri Rajasa sudah berkuasa.
Namun Mahisa Agni sudah memperhitungkannya
juga.
Dalam pada itu, Sri Rajasa yang kemudian
duduk termangu-mangu menerima keluh kesah puteranya yang lahir dari Ken Umang.
Bukan saja Tohjaya, tetapi Ken Umang sendiri menangis berkata. “Memalukan sekali
tuanku, Tohjaya sudah turun kearena dan dikalahkan oleh anak sakit-sakitan itu.”
“Jangan berkata begitu, ia adalah Putera
Mahkota.”
“Tetapi ia tidak berhak menghancurkan nama
Tohjaya dihadapan rakyat Singasari.”
“Tidak seorang-pun yang tahu bahwa akan
terjadi demikian.”
“Tentu pokal Mahisa Agni. Kenapa tuanku
masih juga mempergunakan orang yang jelas tidak setia kepada tuanku?“
“Tidak mudah untuk menuduh demikian, Mahisa
Agnilah yang datang bersama aku ke Kediri dan menundukkan Gubar Baleman. Tidak
ada seorang-pun yang dapat melakukan hal itu.“
“Tentu tuanku sendiri dapat melakukannya.”
“Aku tidak yakin, setelah aku memeras
tenaga melawan Maharaja dari Kediri itu.“ sahut Sri Rajasa, “apalagi jika tanpa
Mahisa Agni saat itu, kedua kekuatan itu
pasti akan bergabung. Dan aku tidak akan pernah kembali ke Singasari. Tidak ada
kekuatan yang dapat melawan Gubar Baleman dan Maharaja Kediri bersama-sama.”
Ken Umang tidak menyahut lagi. Ia memang
tidak dapat ingkar, tanpa Mahisa Agni, Singasari tidak akan dapat sebesar saat
ini. Bahkan mungkin Kediri akan mampu mematahkannya sebelum tumbuh dan
berkembang. Namun kini ternyata Mahisa Agni menjadi penghalang baginya, bagi
puteranya Tohjaya, karena Mahisa Agni adalah paman Anusapati.
“Jangan kau risaukan,“ berkata Sri Rajasa,
“aku mempunyai seribu jalan. Tetapi aku tidak dapat berbuat kasar. Aku harus
berhati-hati. Sekarang aku tahu, bahwa pasti Anusapati sendirilah yang telah
berhasil membunuh Kiai Kisi ketika ia pergi menumpas penjahat itu. Dan aku-pun
harus memperhitungkannya sebagai orang berkerudung hitam yang berkeliaran di
istana ini. Jika demikian, maka aku harus menjadi semakin berhati-hati permainan
Mahisa Agni cukup matang.”
Ken Umang dan Tohjaya tidak menyahut.
Mereka harus mengerti, bahwa tidak menguntungkan apabila mereka berbuat dengan
tergesa-gesa. Ternyata orang Panawijen itu bukannya seorang yang tidak mampu
menanggap permainan Sri Rajasa.
“Mahisa Agni sudah dapat membaca
rencanaku,“ berkata Sri Rajasa didalam hatinya. Dan Sri Rajasa-pun agaknya sudah
menduga bahwa Mahisa Agni sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi atas
Tunggul Ametung.
“Tidak mustahil ia akan mengambil sikap
yang menentukan.“ katanya didalam hati. Tetapi Sri Rajasa tidak pernah
menyatakan kecemasannya kepada , ken Umang, mau-pun kapada Tohjaya.
Dalam pada itu, Permaisuri sedang menangisi
kenyataan yang tidak terduga-duga. Dihadap oleh putera-puteranya. ia mengucapkan
syukur kepada Yang Tunggal, bahwa ternyata
Anusapati bukan seekor domba yang lemah
dipadang rumput yang penuh dengan serigala.
“Dimana kau mendapat kemungkinan untuk
mengalahkan Tohjaya?“ bertanya ibunya.
Anusapati tidak menyahut. Ia hanya
menundukkan kepalanya saja disamping isteri dan anaknya yang mulai nakal.
“Aku benar-benar iri hati kanda,“ berkata
Mahisa Wonga Teleng, “kanda tentu tidak berkeberatan mengajari aku.”
Anusapati tersenyum. Jawabnya, “Tentu.
Tetapi kau akan banyak kehilangan waktu.”
“Kenapa? Lebih baik terlambat daripada
tidak sama sekali.”
“Baiklah, pada saatnya, kau dapat saja
belajar ilmu tata bela diri. Mungkin bersama dengan anak-anak kita.”
Mahisa Wonga Teleng tertawa. Anak-anak
mereka memang telah tumbuh semakin besar. Mereka adalah laki-laki yang kuat dan
nakal.
“Tetapi dengan demikian kau harus
berhati-hati Anusapati,“ berkata ibunya.
“Kenapa ibu?”
Ken Dedes tidak segera menyahut.
Dipandanginya wajah Anusapati sejenak. Masih tampak kegembiraan disorot matanya
meski-pun mata itu basah. Namun lambat laun, mata itu menjadi suram. Terbayang
dimata Ken Dedes itu, kenyataan tentang Anusapati. Wajah puteranya itu mirip
benar dengan wajah Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel yang telah disingkirkan oleh
Ken Arok.
Sebagai seorang ibu, maka Ken Dedes justru
mulai dirayapi oleh kecemasan tentang puteranya itu. Ia sadar, bahwa Ken Arok
tidak bersikap jujur. Gelar Putera Mahkota diberikan kepada Anusapati bukan
karena hatinya berkata demikian. Tetapi sekedar untuk mengelabui kata hatinya
yang sebenarnya. Beberapa orang tua-tua di Tumapel mengetahui, bahwa sumber
kekuasaan atas Tumapel ada ditangan Tunggul Ametung yang melimpah kepada Ken
Dedes,
sehingga kekuasaan itu sudah sewajarnya
diwarisi oleh Anusapati. Tetapi tentu Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
tidak ikhlas membiarkan Anusapati kelak benar-benar bertahta di Singasari.
Betapa perasaan itu menghentak-hentak
didadanya, sehingga pada suatu saat, ia tidak dapat bertahan lagi. Dipanggilnya
Anusapati menghadap seorang diri, dan terloncat dibibirnya pesan, “kau memang
harus berhati-hati Anusapati.”
Anusapati yang memang sudah menyimpan
berbagai pertanyaan didalam hati, seolah-olah mendapat jalan untuk bertanya
kepada ibunya. “Kenapa ibu setiap kali berpesan kepada hamba untuk berhati-hati.
Dan kenapa hamba merasa bahwa memang hamba selalu dibayangi oleh pengawasan yang
tidak sewajarnya didalam istana ini?”
Ken Dedes yang dadanya sudah dipenuhi oleh
berbagai macam perasaan itu hampir saja menuangkan segala sesuatu kepada
Anusapati. Namun tiba-tiba ia merasa sesuatu telah menahannya.
Karena itu yang terlontar dari bibirnya
hanyalah sebagian saja, “Kau mempunyai ibu tiri Anusapati. Dan ibu tirimu juga
mempunyai seorang anak laki-laki, hampir sebaya dengan kau.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya kemudian, “Tetapi ibu, apakah hamba harus mencurigai saudaraku sendiri
meski-pun bukan lahir dari ibu yang sama?“
Pertanyaan itu menyentuh hati Ken Dedes.
Maka sejenak ia merenung. Ada sesuatu yang memberati hatinya untuk berkata
berterus terang. Apalagi setelah ia tahu bahwa anaknya bukan seorang laki-laki
dungu yang hanya dapat mengeluh dan meratap. Kini baginya Anusapati adalah
seorang laki-laki, seorang jantan sepenuhnya, sehingga ia-pun pasti akan dapat
mengambil sikap jika hatinya tersinggung.
Karena itu, Ken Dedes hanyalah dapat
menarik nafas dalam-dalam.
Namun desakan perasaan didada Anusapatilah
yang kemudian mendorongnya bertanya, “Bunda, hamba tidak mengerti, apakah hanya
sekedar perasaan hamba, bahwa sebenarnyalah ayahanda tidak bersikap adil
terhadap hamba dan adinda Tohjaya. Sejak hamba kanak-anak, hamba merasakan
perbedaan sikap itu. Didalam banyak hal ayahanda Sri Rajasa tidak membantu
hamba. Juga didalam olah kanuragan. Hamba seakan-akan selalu tersisih. Hanya
adinda Tohjayalah yang mendapat kesempatan sebaik-baiknya. Baginya, sebelum
hamba muncul sebagai Kesatria Putih di arena, hamba adalah seorang yang tidak
berharga. Dengan demikian hamba harus menempuh jalan lain untuk dapat
mengimbanginya.“
“Jalan apakah yang sudah kau tempuh
Anusapati?”
“Untunglah ada pamanda Mahisa Agni. Pamanda
Mahisa Agnilah yang telah membentuk hamba menjadi seorang yang mampu mengimbangi
Tohjaya tanpa diketahui olehnya dan oleh ayahanda Sri Rajasa. Jika hamba tidak
mendapat kesempatan atas permainan pamanda Mahisa Agni, sebagai Kesatria Putih
yang sudah dikenal Rakyat Singasari, mungkin hamba akan mengalami akibat lain,
jika diketahui bahwa hamba mempunyai ilmu yang cukup.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi tanpa disadarinya air matanya mengalir semakin deras. Terbayang keadaan
Anusapati yang seakan-akan selalu terdorong menjauh dari setiap kesempatan.
Tetapi Ken Dedes tidak dapat mengatakannya.
Ken Dedes tidak dapat mengemukakan perasaan yang sebenarnya bergejolak didalam
hatinya.
“Ibu,“ bertanya Anusapati lebih lanjut,
“kenapa ayahanda Sri Rajasa bersikap demikian? Apakah sesuatu yang membuatnya
membenci hamba?”
“Tidak Anusapati, tidak. Itu hanya sekedar
perasaanmu saja. Sikap ayahandamu kepadamu tidak ubahnya dengan sikap Sri Rajasa
kepada putera-puteranya yang lain. Aku juga pernah mendengar Tohjaya mengeluh
kepada ibunya, menanyakan sikap
ayahanda Sri Rajasa. Kenapa ia selalu
tersisih dan dengan tergesa-gesa menyerahkan gelar Putera Mahkota kepadamu,
seakan-akan ayahanda Sri Rajasa cemas, bahwa Tohjaya ingin merebutnya.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Jika benar
demikian, maka adalah bayangan yang tumbuh dari mimpi buruk sajalah yang
menyebabkannya merasa tersisih.
Tetapi Anusapati yang sudah dewasa itu
menangkap sesuatu yang tersirat di wajah dan titik air mata ibunya. Meski-pun
ibunya mencoba menyembunyikan perasaannya, namun Anusapati berhasil
menangkapnya, dan merasa bahwa apa yang dikatakan oleh ibunya itu bukannya yang
sebenarnya dirasakannya.
Namun Anusapati tidak mendesaknya. Ia
sadar, dengan demikian ia akan membuat ibunya menjadi semakin sakit hati. Karena
itu untuk sementara Anusapati terpaksa menyimpannya didalam hati.
Tetapi demikian ia mundur dari hadapan
ibunya, maka dicarinya pamannya yang masih berada di istana Singasari.
Ia kini tidak perlu mencari kesempatan
tersembunyi. Setiap orang didalam istana itu tanpa mendapat penjelasan dari
siapapun, mulai meraba-raba, bahwa kemampuan Anusapati pasti diturunkan oleh
Mahisa Agni, karena mereka tahu. bahwa latihan-latihan yang dilakukan bersama
Tohjaya hampir tidak berarti sama sekali. Terlebih-lebih adalah Tohjaya sendiri
dan gurunya, yang tidak segan-segan berbicara tentang kemungkinan itu dengan
siapa-pun juga.
“Curang,“ katanya, “kakanda Anusapati
merahasiakan kemampuannya selama ini. Tentu maksudnya tidak baik. Hanya
orang-orang yang licik sajalah yang merahasiakan ilmunya. Tentu untuk
tujuan-tujuan yang kurang baik.”
Tetapi hampir setiap orang berkata,
“Ternyata bahwa Anusapati mampu mendapatkan ilmu dengan caranya sendiri dan
mengamalkannya sebagai Kesatria Putih.”
Meski-pun demikian, beberapa orang perwira
yang mempunyai kepentingan tersendiri berkata diantara mereka, “Licik. Tuanku
Tohjaya harus berhati-hati menghadapinya.”
Dan untuk sikap itu para perwira itu-pun
mendapat janji yang baik dihari mendatang.
“Ayahanda ada dipihakku,“ berkata Tohjaya.
Tetapi semuanya itu disadari oleh Mahisa Agni. Ia sudah membuka daun pintu yang
selama ini ditutupnya, dan semua orang sudah melihat apa yang terdapat
didalamnya. Ternyata bahwa rakyat Singasari menerima kehadiran Anusapati yang
tiba-tiba itu.
“Kau harus meneruskan amalmu sebagai
Kesatria Putih,“ berkata Mahisa Agni ketika Anusapati menghadapnya.
“Ya paman. Aku akan melakukannya. Tetapi
disamping tugas itu, aku harus memperhatikan sikap Tohjaya. Aku yakin bahwa ada
suatu yang tidak wajar pada ayahanda. Aku sudah mencoba bertanya kepada ibunda
Permaisuri. Tetapi setiap kali ibunda Ken Dedes hanya menangis. Dan aku-pun
yakin, ada sesuatu yang disembunyikan. Agaknya ibunda berusaha melindungi pula
sikap ayahanda.”
“Jangan salah mengerti Anusapati,“ berkata
Mahisa Agni, “bukan maksud ibundamu melindungi sikap yang tidak wajar dari
ayahandamu Sri Rajasa. Tetapi sebagai seorang ibu ia harus bijaksana. Ibundamu
memang tidak boleh membakar perasaanmu. Dan kau-pun harus menyadari, jangan
memaksa ibumu mengatakan sesuatu, agar hatinya tidak semakin sakit.“
Anusapati menundukkan kepalanya. Namun
perlahan-lahan ia berkata, “Kenapa ibunda Permaisuri masih harus menyimpan
perasaannya itu. Hampir setiap orang didalam istana ini mengetahui, bahwa sikap
ayahanda tidak adil, bukan saja terhadap putera-puteranya, tetapi juga terhadap
ibunda berdua, Ayahanda Sri Rajasa lebih mementingkan ibunda Ken Umang. Mungkin
ibunda Ken Umang adalah seseorang yang lebih terbuka dari ibunda Ken Dedes yang
lebih dalam menyimpan perasaannya.”
“Sudahlah Anusapati,“ potong Mahisa Agni,
“tidak baik bagimu untuk selalu menyesali diri. Kau sudah mendapat kesempatan.
Pergunakan sebaik-baiknya. Bentuklah hari depanmu sendiri tanpa
menggantungkannya kepada orang lain, meski-pun kepada ayahanda Sri Rajasa
sendiri.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Baiklah paman.“
Demikianlah maka Anusapati-pun mulai keluar
lagi dari istana dimalam hari dengan kuda putihnya. Tetapi ia masih merasa perlu
menyembunyikan wajahnya meski-pun kadang-kadang dibukanya. Tetapi rakyat yang
jauh dari kota, meski-pun mereka sudah mendengar pula bahwa Kesatria Putih itu
adalah Putera Mahkota, namun mereka masih sering menjumpai Kesatria Putih
lengkap dalam pakaiannya yang semula. Kuda Putih dan kerudung putih.
Demikianlah bagi rakyat Kesatria Putih
masih tetap merupakan teka-teki. Ia berada disegala tempat dan disegala waktu.
Seolah-olah Kesatria Putih dapat mengelilingi seluruh Singasari dalam waktu
sekejap.
Namun dalam pakaian Kesatria Putih,
Anusapati dapat keluar masuk pintu gerbang istana dengan leluasa. Kini tidak
seorang-pun yang berani menegurnya. Bahkan setiap Kesatria Putih lewat pintu
gerbang istana, maka hati para prajurit menjadi tenang, karena para penjahat
pasti akan menjauh dan Singasari menjadi makin tenteram.
Dalam pada itu kebesaran nama Kesatria
Putih semakin hari menjadi semakin menambat hati rakyat Singasari. Hampir tidak
masuk akal, bahwa Anusapati dalam waktu hampir berbareng telah menangani dan
menghancurkan dua kelompok penjahat ditempat yang berbeda-beda.
Tetapi tidak seorang-pun yang
memperhatikan, bekas tangan Kesatria Putih. Hanya Mahisa Agnilah yang dengan
teliti mengikutinya. Didalam hati ia masih menyebut perbedaan akibat dari
tindakan Kesatria Putih.
“Dibagian Utara kota Singasari. Kesatria
Putih jarang sekali membinasakan lawannya, tetapi dibagian Barat, hampir setiap
penjahat tidak lolos dari ujung pedangnya.”
Dengan demikian, Mahisa Agni merasa perlu
untuk menertibkan tindakan Kesatria Putih sebelum orang lain mencurigainya juga,
karena sebenarnya bukan saja Anusapati, tetapi ia masih juga dibantu oleh
orang-orang yang sebelumnya telah mengenakan pakaian Kesatria Putih diatas
kudanya yang putih.
“Untunglah, bahwa Anusapati sudah pantas
dilepaskan dalam bentuk Kesatria Putih,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya
pula, “meski-pun Anusapati masih belum menyamai Witantra. Kuda Sempana dan
Mahendra, tetapi dengan bekal yang ada, ia cukup mampu menghadapi kejahatan
didaerah padesan.”
Sejalan dengan memanjatnya nama Kesatria
Putih yang dikenal sebagai Putera Mahkota, maka hati Sri Rajasa-pun menjadi
semakin kecut. Kadang-kadang ia menjadi hampir berputus asa. Ia mengakui, betapa
cerahnya hati Mahisa Agni melawan permainannya.
“Aku lengah menghadapinya karena ia berada
jauh dari istana. Ternyata ditempat yang jauh itu, ia masih mampu melakukan
permainan yang matang,“ katanya setiap kali kepada diri sendiri.
Apalagi semakin lama nama Tohjaya semakin
tidak pernah diucapkan lagi oleh rakyat Singasari diluar istana, karena Tohjaya
hampir tidak pernah mendapat kesempatan apapun. Setelah mereka mengetahui bahwa
Kesatria Putih itu adalah Anusapati, maka mereka mulai ragu-ragu mempergunakan
prajurit-prajurit sebagai umpan yang akan dipergunakan untuk memanjatkan nama
Tohjaya.
Meski-pun demikian, beberapa orang perwira
dipuncak pimpinan prajurit Singasari, masih berhasil dikuasainya dengan berbagai
macam janji dan kesempatan.
Namun bagi Sri Rajasa, semuanya itu tidak
akan banyak memberi harapan.
Bahkan di saat-saat ia duduk sendiri
dibelakang bangsalnya, jika matahari sudah tenggelam, kadang-kadang Sri Rajasa
tidak dapat menghindarkan diri dari kenangan masa lampaunya. Bahkan
kadang-kadang kenangan itu bagaikan hantu yang merayap mengintainya dan
menerkamnya setiap saat.
“Apakah dewa-dewa sudah mulai melepaskan
aku sendiri?“ katanya kepada diri sendiri.
Sekilas terkenang kata-kata mPu Purwa
dipadang Karautan, “Kembalilah kepada Yang Maha Agung.”
Dan Ken Arok yang saat itu menghantui
padang Karautan bertanya kepada diri sendiri, “Siapakah Yang Maha Agung itu?”
Terkenanglah olehnya bagaimana ia
dikejar-kejar oleh orang-orang padesan didaerah Kemundungan. Karena kebingungan
ia segera memanjat pohon tal. Tetapi orang-orang itu berusaha menebang pohon tal
tempat ia memanjat. Di saat yang gawat itulah ia mendengar suara di angkasa,
“Ambil daun tal, pakailah sebagai sayapmu kiri dan kanan.”
Dan Ken Arok selamatlah menyeberangi sungai
dengan sayap daun tal.
“Itu adalah suara Yang Maha Agung,“
desisnya.
Saat itu, ia ternyata dekat sekali dengan
Yang Maha Agung. Beberapa kali ia menjumpai keajaiban yang tidak dimengertinya
sendiri, sehingga sampai saat ini ia masih bertanya, “Ilmu apakah yang
sebenarnya aku miliki sekarang, sehingga aku dapat mengalahkan Maharaja di
Kediri?”
“Tetapi apakah kini Yang Maha Agung itu
masih dekat dengan aku?“ pertanyaan itu mulai mengganggunya.
Bahkan kadang-kadang didalam kegelapan. Sri
Rajasa melihat bayangan seseorang yang duduk bersimpuh sambil memegang dadanya
yang terluka. Namun kadang-kadang bayangan itu mengangkat tangannya yang
menuding wajahnya, “Kau membunuh aku Ken Arok.”
“Tidak, tidak,“ Ken Arok yang bergelar Sri
Rajasa itu berdesis sambil menutup wajahnya. Bayangan itu adalah bayangan mPu
Gandring yang telah dibunuhnya dengan keris yang dibuat oleh mPu Gandring itu
sendiri.
Ketika bayangan itu lenyap, hadirlah
bayangan yang lain, seorang anak muda yang berwajah riang. Tetapi wajah itu
rasa-rasanya bagaikan menyala, “Kau memperdaya aku Ken Arok. Aku tidak pernah
bersalah. Aku tidak pernah membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Dan ketika bayangan
yang kemudian hadir, hatinya menjadi semakin kecut. Dilihatnya Akuwu Tunggul
Ametung dalang sambil menggeram, “Akan datang saatnya aku menuntut balas Ken
Arok.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
menjadi semakin kecut. Bayangan Tunggul Amelung itu semakin lama menjadi semakin
jelas.
Bukan, bukan wajah Tunggul Ametung, tetapi
wajah itu adalah wajah Anusapati. Wajah Kesatria Putih yang lahir dari Ken Dedes
oleh tetesan darah Akuwu yang telah dibunuhnya itu.
Terasa kengerian yang sangat mencekam hati
Sri Rajasa. Wajah demi wajah dari orang yang telah dibunuhnya silih berganti
membayanginya, bercampur baur dengan wajah Anusapati, bahkan kemudian wajah
Mahisa Agni.
“Mahisa Agni,“ tiba-tiba Sri Rajasa
menggeram.
Bagi Sri Rajasa ternyata Mahisa Agnilah
kini orang yang paling berbahaya. Tanpa Mahisa Agni, Anusapati sama sekali tidak
berarti baginya.
Tetapi Sri Rajasa untuk sementara tidak
akan dapat berbuat banyak terhadap Mahisa Agni, meski-pun Sri Rajasa yakin bahwa
Mahisa Agni tidak akan berhenti sampai sekian. Kemenangan yang pernah dicapainya
akan mendorongnya untuk berbuat lebih banyak lagi.
Bagi Mahisa Agni perjuangan itu pasti
dianggapnya sebagai kewajiban. Ia telah kehilangan pamannya, mPu Gandring, suami
Ken Dedes, dan bahkan terjerumus kedalam perang tanding melawan Witantra untuk
menetapkan kekalahan Kebo Ijo.
“Mahisa Agni pasti sudah menemukan
kebenaran dari segala peristiwa yang terjadi,“ berkata Sri Rajasa kepada diri
sendiri.
Dan tiba-tiba saja Sri Rajasa-pun teringat
pula kepada Witantra dan saudara seperguruannya, Mahendra.
Ingatan yang tumbuh dihati Sri Rajasa itu
membuatnya semakin gelisah. Terapi ia sudah melangkah. Tingkat demi tingkat dari
suatu perjuangan yang berat sudah dilaluinya. Yang. kini ia sudah sampai pada
titik perjuangan yang terakhir, mewariskan kekuasaan yang dibangunnya selama ini
kepada keturunannya, bukan keturunannya Tunggul Ametung. Meski-pun ada juga
putra-putranya yang lahir dari Ken Dedes, tapi Sri Rajasa menganggapnya bahwa
Ken Dedes pernah melahirkan anak Tunggul Ametung. Tapi kegagalannya menampilkan
Tohjaya menjadi pahlawan terbesar diantara putra-putranya membuatnya kehilangan
arah. Semua rencananya pecah bersama dengan kekalahan Tohjaya diarena melawan
Kesatria Putih yang ternyata adalah Anusapati.
“Aku harus mulai dari permulaan lagi,“
berkata Sri Rajasa di dalam hatinya. Tapi ia belum tahu apa yang sebaiknya
dilakukan. Namun yang terlintas didalam angan-angannya, Mahisa Agni harus segera
kembali ke Kediri sehingga kesempatannya bertemu dan berbincang dengan Anusapati
menjadi sangat terbatas.
Demikianlah maka dihari berikutnya jatuhlah
perintah bahwa Mahisa Agni harus segera meninggalkan istana Singasari.
Mahisa Agni-pun sebenarnya telah menduga
bahwa ia harus segera meninggalkan Singasari untuk dijauhkan dari putra Mahkota.
Tetapi jalan sudah terbuka meski-pun justru bahaya menjadi semakin besar bagi
Anusapati. Namun bertindak sesuatu atas Anusapati yang dikenal oleh rakyat
Singasari sebagai kesatria Putih memerlukan pertanggungan yang besar.
Meski-pun demikian Mahisa Agni tidak boleh
lengah sebelum ia berangkat meninggalkan istana ia banyak sekali memberikan
pesan kepada Anusapati.
Tetapi satu hal yang tidak dikatakannya,
bahwa Anusapati sebenarnya bukan putera Sri Rajasa.
“Paman,“ Anusapati mendesak, “apakah
sebabnya, aku harus menempuh jalan yang aneh untuk mendapatkan tempat dihati
rakyat Singasari. Dan kenapa aku rasa-rasanya menjadi semakin jauh dari ayahanda
Sri Rajasa?”
“Tidak ada persoalan apa-pun yang dapat
menjadi alasan itu Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “jika sekarang kau
menghadapi kenyataan itu, barangkali, karena ibumu seorang yang lebih banyak
menyimpan perasaan. Seorang yang tidak ingin melontarkan diri keatas
awang-awang, melampaui dan bahkan jika perlu beralaskan orang lain. Tetapi
sifat-sifat Ken Umang memang tidak terpuji. Itulah agaknya yang menyebabkan ada
perbedaan antara kau dan Tohjaya dihadapan Sri Rajasa. Tetapi percayalah bahwa
hal itu tidak akan langgeng. Akhirnya akan tampak dan terbukti, mana yang baik
dan mana yang tidak.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
“Jalanmu sudah terbuka. Teruskan amalmu
sebagai Kesatria Putih. Kau harus lebih banyak keluar dari istana. Jangan sampai
terjadi, Kesatria Putih melakukan tindakan disuatu tempat tetapi kau berada
didalam istana. Jika demikian pasti akan menimbulkan pertanyaan. Satu kali dua
kali mungkin tidak akan diketahui, tetapi perasaan Sri Rajasa yang tajam, dan
usaha Tohjaya untuk mencari kelemahanmu, akan memaksa mereka mencari setiap
kesalahan yang mungkin terjadi.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Pada suatu saat Anusapati, untuk tidak
menimbulkan kesalahan, sebaiknya kau sendirilah yang akan menjadi Kesatria
Putih. Kau seorang diri tanpa orang lain. Meski-pun kegiatan
Kesatria Putih akan berkurang, tetapi
lubang-lubang yang dapat membuat kau terperosok kedalamnya menjadi semakin
kecil.”
“Ya, paman.”
“Sementara itu, untuk keselamatanmu, setiap
kali salah seorang dari orang-orang tua itu akan mengawasimu dari kejauhan
seperti yang juga sering terjadi. Menghadapi kejahatan yang besar dan dilakukan
oleh penjahat-penjahat yang kuat, kau tidak boleh berjuang seorang diri. Satu
atau dua orang akan membantumu. Tetapi hanya seorang sajalah yang boleh berperan
sebagai Kesatria Putih.”
“Tetapi bagaimana aku dapat berhubungan
dengan mereka paman.”
“Merekalah yang akan menghubungi kau setiap
kali. Sumekar dapat menjadi penghubung yang baik pula.“
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, jagalah dirimu baik-baik. Tetapi
jangan sekedar tenggelam dalam tugas Kesatria Putih. Kau harus menyempurnakan
ilmumu sebaik-baiknya. Jika pada suatu saat kau menjumpai bahaya dari mana-pun
datangnya, kau benar-benar sudah menjadi sempurna dan mampu mempertahankan
dirimu. Orang-orang seperti Kiai Kisi masih akan berkeliaran mencarimu. Suatu
saat akan datang orang yang jauh lebih dari kiai Kisi, karena ternyata Sri
Rajasa kini pasti sudah memperhitungkan, bahwa kau sendirilah yang telah
membunuh Kiai Kisi itu.”
Demikianlah, maka pesan Mahisa Agni itu
selalu diingat oleh Anusapati. Ia harus berhati-hati. Baik didalam lingkungan
hidupnya sehari-hari, mau-pun apabila ia pergi keluar istana sebagai Kesatria
Putih. Namun seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, Anusapati masih selalu
memerlukan waktu untuk menyempurnakan ilmunya. Setiap hari ia singgah di tempat
yang terasing untuk mematangkan ilmu yang sudah dimilikinya.
Namun ternyata ada beban baru yang harus
dilakukannya. Mahisa Wonga Teleng berkeras untuk mempelajari ilmu daripadanya.
“Aku jauh ketinggalan dari
saudara-saudaraku,“ berkata Mahisa Wonga Teleng. “Tentu ada kesengajaan ayahanda
Sri Rajasa untuk membedakan aku dengan saudara-saudaraku yang lahir dari ibunda
Ken Umang.”
“Tidak Mahisa Wonga Teleng,“ jawab
Anusapati, “tidak ada perbedaan apa-apa. Itu hanyalah perasaan kita.“ Anusapati
mencoba menirukan Mahisa Agni setiap kali ia mengeluh. Dan kini ia mencoba
menenteramkan hati adiknya itu.
Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan
kepalanya. Meski-pun Anusapati sendiri melihat kenyataan itu. Adalah tidak
mustahil, terdorong oleh sikap Tohjaya maka adik-adiknya yang lahir dari Ken
Umang telah membenci Mahisa Wonga Teleng karena ia adalah adik Anusapati.
“Kakanda Tohjaya juga mengajari
adik-adiknya yang lahir dari ibunda Ken Umang. Apa salahnya aku minta kakanda
Anusapati melatih aku?”
“Baiklah.“ berkata Anusapati, “kita mencari
tempat yang baik. Di pagi-pagi benar kita mulai berlatih sampai matahari
terbit.”
“Waktunya hanya pendek sekali.“ sahut
Mahisa Wonga Teleng, “bagaimana kalau sampai matahari sepenggalah?”
Anusapati tersenyum. Katanya, “Bukankah kau
sudah mempunyai seorang guru yang mengajarimu bersama-sama dengan adinda yang
lain.“
“Tetapi tidak lagi bagiku setelah aku
kawin. Seperti juga kakanda Anusapati tidak mendapat kesempatan berguru lagi.
Untunglah ada pamanda Mahisa Agni. Jika aku tahu sebelumnya, aku pasti ikut
berlatih pada paman Mahisa Agni. Akulah yang barangkali bernasib jelek. Aku
tidak mendapat perhatian dari
pamanda Mahisa Agni, dan tidak terhitung
oleh Ramanda Sri Rajasa.“
“Jangan begitu. Tidak ada perbedaan. Baik
pada paman Mahisa Agni, mau-pun pada ayahanda Sri Rajasa.”
“Entahlah,“ sahut Mahisa Wonga Teleng,
“tetapi sekarang aku minta kepada kakanda Anusapati, ajari aku meski-pun
terlambat. Aku menjadi semakin tua, dan anakku menjadi semakin besar.“
Anusapati tidak dapat menolak permintaan
adiknya. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Wonga Teleng belum menjadi tua. Ia masih
sangat muda. Meski-pun anaknya bertambah besar, tetapi saat perkawinannyalah
yang terlampau maju. Anusapati tidak mengerti, kenapa ayahanda Sri Rajasa
berlaku demikian. Apakah tujuannya, karena ternyata sikap ayahanda Sri
Rajasa-pun jauh lebih baik pada Mahisa Wonga Teleng daripada kepada, dirinya
sendiri.
Tidak seperti pada saat Anusapati
mempelajari olah kanuragan dari pamannya, Mahisa Wonga Teleng tidak perlu
bersembunyi-sembunyi. Ternyata ia berani menghadapi tantangan disekitarnya. Dan
ternyata tidak ada seorang-pun yang berani merintanginya, apalagi gurunya adalah
Kesatria Putih.
Namun dalam pada itu, sebenarnya Tohjaya
sama sekali masih belum mengakui kemenangan Anusapati daripadanya. Memang
Anusapati dapat mengalahkannya dalam permainan sodoran di arena. Tetapi itu
tidak berarti bahwa Anusapati dapat mengalahkannya apabila benar-benar mereka
harus berperang tanding.
Tetapi Tohjaya tidak berani mencobanya. Ia
masih belum mengetahui dengan pasti, kemampuan yang sebenarnya dimiliki oleh
Anusapati.
“Tuanku,“ guru Tohjaya yang siang dan malam
memikirkan cara untuk melenyapkan Kesatria Putih, sejak ia masih belum
mengenakan bentuknya itu, berkata kepada muridnya, “adalah suatu keharusan untuk
melenyapkan Kesatria Putih. Aku rasa kita
tidak akan dapat bertindak atasnya. Jika
kita memberikan beban ini kepada salah seorang diantara kita, atau
setidak-tidaknya orang yang ada dilingkungan kita, jika orang itu tidak
berhasil, maka akan sangat berbahaya akibatnya bagi kita. Untunglah bahwa sampai
saat ini, usaha kita belum dapat diketahuinya dengan pasti.”
Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi gurunya menjadi ragu-ragu sendiri. Terbayang didalam angan-angannya,
seseorang berkerudung hitam telah memancingnya dan melibatnya dalam perkalahian.
Ketika ia merasa, bahwa ia akan berhasil membunuh orang itu, rahasia yang
disimpannya terlanjur dikatakannya.
“Apakah orang itu juga Anusapati?“ katanya
didalam hati, “Jika orang itu Putera Mahkota, kenapa ia masih tetap berdiam diri
sampai sekarang?”
Hal itu ternyata sangat membingungkan
sekali. Menurut pengamatannya, bentuk tubuhnya dan sikap terjangnya, orang itu
bukan Putera Mahkota. Tetapi siapa?
Orang itu sama sekali tidak menduga, bahwa
di halaman istana itu ada seorang juru taman yang memiliki kemampuan seperti
Kesatria Putih dan seperti orang-orang berkerudung yang pernah dikenal di istana
Singasari.
“Jadi bagaimana maksudmu?“ bertanya Tohjaya
kemudian.
“Kita minta pertolongan seseorang diluar
lingkungan kita.”
Tohjaya mengerutkan keningnya, namun
kemudian ia berkata lemah, “Kau pernah gagal. Kiai Kisi tidak dapat berbuat
apa-apa. Bukankah kau pernah mengatakannya meski-pun kau tidak mengajak aku
berbicara ketika kau merencanakan? Dan bukankah ayah pernah marah kepadamu?”
“Tetapi keadaannya sekarang berbeda. Kita
tidak membenturkan orang itu langsung kepada Putera Mahkota, tetapi kepada
Kesatria Putih.“
“Apa bedanya? Setiap orang tahu bahwa
Kesatria Putih adalah kakanda Anusapati.”
“Tuanku,“ berkata Penasehat Sri Rajasa itu,
“hamba mempunyai seorang sahabat. Seorang sakti yang bertapa dilereng Gunung
Semeru.”
“Jangan mengigau. Kita tidak tahu kekuatan
yang sebenarnya tersimpan didalam diri kakanda Anusapati.“ potong Tohjaya,
“sedangkan jika pertapa itu orang yang putih, ia pasti tidak akan bersedia
memenuhi keinginan itu.”
“Orang itu adalah kakak seperguruan Kiai
Kisi.”
“Tidak ada gunanya. Ilmunya tidak akan jauh
lebih tinggi dari Kiai Kisi.”
“Tentu dengan cara yang khusus. Ia
mempunyai beberapa orang murid.”
“Kesatria Putih dijebak, kemudian dikerubut
bersama-sama?”
“Ya.”
“Kakanda Anusapati bukan seorang yang
bodoh. Ia pasti mempunyai perhitungan tersendiri.”
“Biarlah mereka menjadikan dirinya penjahat
kecil yang mengotori daerah Singasari. Kesatria Putih pasti akan datang
mencarinya.”
“Seperti beberapa orang prajurit itu?
Mereka dimusnakan oleh Kesatria Putih.”
“Cecurut-cecurut yang tidak berarti itu.
Kita telah salah hitung. Tetapi kali ini hamba akan berhati-hati. Jebakan ini
harus mengena. Kalau tidak, kita memang akan menjumpai kesulitan. Tetapi
betapa-pun kuatnya Kesatria Putih, tetapi seorang diri ia tidak akan dapat
mengalahkan orang itu beserta beberapa orang muridnya. Apalagi dendam yang ada
didalam dirinya kita hembus semakin besar.”
Tohjaya merenung sejenak. Namun kemudian ia
berkata, “Terserah kepada ayahanda. Aku tidak dapat mengambil kesimpulan.”
Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
“Aku tidak yakin kalau ayahanda memperkenankan.”
“Mungkin ayahanda tidak menghendaki
kematian Kesatria Putih. Meski-pun ayah hendak menyingkirkannya, tetapi bukan
membunuhnya.”
Penasehat Sri Rajasa itu menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia masih belum mengatakan, bahwa Anusapati bukan saudara
Tohjaya. Sama sekali bukan, karena mereka tidak seayah dan tidak seibu.”
Sejenak keduanya saling berdiam diri.
Sebenarnya bagi Tohjaya, Anusapati memang lebih baik disingkirkan sama sekali,
bukan saja dari kedudukannya sebagai Putera Mahkota, tetapi untuk seterusnya,
sehingga ia tidak akan dapat mengganggunya lagi kapan-pun juga.
“Tetapi aku kira ayahanda bersikap lain,“
berkata Tohjaya didalam hatinya, “apalagi setelah ayahanda tahu, bahwa Kesatria
Putih adalah kakanda Anusapati. Bagaimana-pun juga kematian kakanda Kesatria
Putih akan sangat berpengaruh pada pemerintahan Singasari kelak. Ayahanda pasti
akan terpaksa ikut berduka karena ibunda Permaisuri berduka, meski-pun
seandainya kematian Kesatria Putih itu dikehendaki oleh ayahanda. Setelah itu
maka untuk mengangkat seorang Putera Mahkota pasti akan menimbulkan persoalan
tersendiri pula. Aku yakin bahwa ayahanda akan memilih aku. Tetapi adalah sulit
sekali untuk menembus ketentuan yang berlaku, bahwa Putera Mahkota adalah putera
seorang Permaisuri.”
Tohjaya menarik nafas dalam-dalam.
“Kematian itu dapat ditempuh,“ berkata
Tohjaya pula didalam hatinya, “ayahanda adalah seorang Maharaja yang berkuasa.
Kata-katanya adalah ketentuan yang tidak dapat dibantah mengatasi
segala ketentuan yang sudah ada. Selagi
ayahanda masih ada, tidak akan ada seorang-pun yang berani menentang
keputusannya.”
Namun segera terlintas dikepalanya, wajah
seorang Senapati Singasari yang tidak ada duanya, yang bersama-sama Sri Rajasa
telah mengalahkan Kediri. Mahisa Agni.
“Orang itulah yang seharusnya
disingkirkan,“ geram Tohjaya tiba-tiba.
“Siapa tuanku? “ gurunya itu bertanya.
“O,“ Tohjaya baru sadar, bahwa ia sedang
dihanyutkan oleh angan-angannya.
“Siapakah yang seharusnya disingkirkan
tuanku?”
Tohjaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya
kemudian, “Semua rencana rusak oleh pamanda Mahisa Agni.“
“Ya tuanku. Ternyata Mahisa Agni adalah
seorang yang bukan saja memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni, tetapi ia memiliki
kemampuan berpikir yang tidak terduga-duga. Anak padesan itu hampir berhasil
merusakkan seluruh rencana tuanku Sri Rajasa. Karena itu, kita harus bersikap
lebih keras lagi. Ayahanda tuan memilih jalan yang paling lembut untuk mencapai
maksudnya. Namun ternyata Mahisa Agni adalah seorang yang sangat licik.”
“Kau nasehatkan kepada ayahanda. Jika
mungkin mengambil jalan kekerasan meski-pun ayahanda pernah tidak menyetujuinya.
Tetapi saat itu, jalan masih terbuka dan ayahanda masih belum mengetahui betapa
licik lawannya.”
“Hamba akan mencoba. Tetapi sebelum
ayahanda memutuskan, kita memang tidak akan dapat berbuat apa-apa,“ berkata
gurunya.
“Aku menunggu, meski-pun aku hampir tidak
sabar.”
Demikianlah guru Tohjaya yang juga menjadi
penasehat Sri Rajasa itu mencoba untuk mendorong Sri Rajasa mempergunakan
kekarasan didalam usahanya menyingkirkan Kesatria Putih.
“Kau memang bodoh sekali,“ berkata Sri
Rajasa, “apakah kau masih belum jera atas kegagalanmu itu?”
“Tetapi kali ini jalan kita lebih lapang
tuanku. Kesatria Putih adalah musuh setiap penjahat. Jika terjadi sesuatu atas
Kesatria Putih, maka tidak seorang-pun yang dapat dituntut. Berbeda dengan
Putera Mahkota didalam sebuah pasukan. Hamba memang terlampau tergesa-gesa waktu
itu.“
“Bagaimana dengan Tohjaya?“
“Tuanku Tohjaya hampir tidak sabar
menunggu.“
“Apakah kau mengatakan kepadanya, siapakah
Anusapati sebenarnya dan hubungan antara kedua anak-anak itu.”
“Tidak tuanku.“
“Kau tidak berdusta?“
“Tidak tuanku.”
Sri Rajasa justru terdiam. Tiba-tiba saja
ia merenung. “Bagaimanakah pendapat tuanku?“ bertanya penasehatnya.
Sri Rajasa tidak segera menjawab. Tetapi
yang terlintas di angan-angannya justru persoalan yang sama sekali menyimpang
dari pertanyaan penasehatnya.
Tohjaya sampai hati menjatuhkan pilihan,
menyingkirkan Anusapati. Bukan karena Sri Rajasa terlampau sayang kepada
Anusapati tetapi ia sedang merenungi watak puteranya. Apalagi karena Tohjaya
tidak tahu, hubungan yang sebenarnya antara ia dan Anusapati itu.
“Seharusnya ia menganggap Anusapati sebagai
kakaknya. Dan ia sampai hati untuk melenyapkan kakaknya itu,“ berkata Sri Rajasa
diadalam hatinya. Sekilas terbayang segala macam tingkah lakunya semasa ia masih
muda. Petualangan, kejahatan, bahkan pembunuhan dan perkosaan telah
dilakukannya. Apakah sifat dan watak itu menurun kepada puteranya? Ditambah
dengan sifat-sifat Ken Umang yang tamak dan sombong.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
memejamkan matanya. Dan bayangan-angan itu justru menjadi semakin jelas.
Terlintas dalam angan-angannya itu, bagaimana ia menemukan Ken Umang dihutan
perburuan. Bagaimana gadis itu menjeratnya dengan menyerahkan dirinya sendiri.
Gabungan dari sifat-sifat yang hitam itu
kini tampak pada puteranya.
“Apakah anak-anakku yang lain juga bersifat
seperti itu?“ ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi suatu kenyataan bahwa
Mahisa Wonga Teleng, memiliki sifat-sifat yang lain dari Tohjaya, justru karena
ia lahir dari ibu yang lain.
“Apakah sifat itu menurun ataukah justru
karena tuntunan yang diterimanya dari ibunyalah yang salah?“ bertanya Ken Arok
kepada dirinya sendiri pula.
Ternyata pertanyaan-pertanyaan itu telah
membuat Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menjadi termangu-mangu. Kesadaran
tentang tingkah lakunya dimasa mudanya, membuat ia kini bersedih atas kelakuan
puteranya.
Namun tiba-tiba terbayang dendam yang
membara di wajah Anusapati. Seakan-akan wajah itu memancarkan sorot mata Tunggal
Ametung. Karena itu maka sambil menggeretakkan giginya Sri Rajasa menggeram
didalam dadanya, “Ia harus dibunuh.”
Saat-saat yang demikian menegangkan,
membuat Sri Rajasa bagaikan kehilangan akal. Rasa-rasanya ia berada didalam
suatu keadaan sesaat sebelum ia menghunjamkan kerisnya didada mPu Gandring dan
juga didada Akuwu Tunggul Ametung. Ragu-ragu, bimbang dan segala macam perasaan
bercampur-baur.
“Semuanya sudah terlanjur. Aku sudah
mengorbankan, beberapa nyawa dan orang-orang yang terlalu baik kepadaku.
Sekarang korban yang jatuh itu tidak boleh sia-sia, keturunan Ken Arok yang
bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumilah yang harus berkuasa di Singasari,“
katanya kepada diri sendiri.
Penasehatnya masih duduk sambil menundukkan
kepalanya dihadapannya ia menunggu dengan sabar, keptutusan yang akan diambil
oleh Ssi Rajasa tentang Anusapati.
Namun tiba-tiba saja Sri Rajasa itu
berkata, “kita selesaikan dahulu Mahisa Agni. Itu adalah sumber
kegagalan-kegagalanku menghadapi Anusapati. Setelah Mahisa Agni lenyap, kita
akan dapat berbuat apa saja.”
Penasehat menjadi tegang sejenak. Ia tidak
menduga bahwa Mahisa Agni yang menjadi pusat perhatian Sri Rajasa.
“Kematian Mahisa Agni tidak akan banyak
menimbulkan persoalan padaku. Aku tidak akan dibingungkan tentang jabatan Putera
Mahkota untuk sementara, sebelum aku menemukan jalan. Dan kesalahan atas
kematian Mahisa Agni dapat aku bebankan kepada orang-orang Kediri. Ternyata
mereka telah membunuh wakil Mahkota di Kediri.”
Penasehat Sri Rajasa itu menarik nafas
dalam-dalam, “Soalnya, apakah orang yang kau katakan mempunyai kemampuan untuk
melakukannya? Aku kira Mahisa Agni tidak akan menduga bahwa hal serupa itu dapat
terjadi atasnya. Orang-orang itu harus memasuki istananya tanpa diketahui oleh
para penjaga. Mereka harus menyerang Mahisa Agni dengan serta merta. Jangan
hanya satu dua orang. Ambillah tiga atau empat orang yang setingkat. Aku dapat
memberikan apa saja yang diminta. Hanya dengan demikian Mahisa Agni akan dapat
terbunuh.”
“Hamba tidak dapat mengatakannya tuanku.
Apakah orang itu mampu mengalahkan Mahisa Agni.”
“Jangan sendiri.“
“Hamba juga belum tahu. apakah ada
kawan-kawannya atau saudara-saudara seperguruannya yang dapat melakukannya.”
“Cobalah, hubungi orang itu. Tetapi
hati-hati supaya kau tidak terjerumus ketiang gantungan karena kesalahanmu.”
Terasa sesuatu bergetar didada penasehat
itu. Namun ia berkata, “Hamba tuanku. Hamba akan sangat berhati-hati.”
“Jika kau temukan tiga atau empat orang,
bawalah mereka kemari. Mereka harus menunjukkan kemampuan mereka. Aku akan
menjajagi ilmu mereka langsung.”
“Maksud tuanku.”
“Aku akan mencoba melawan mereka seorang
demi seorang. Baru aku dapat menentukan apakah mereka mampu melakukan tugas itu
atau tidak, karena Mahisa Agni adalah seorang yang pilih tanding, hampir tidak
ada duanya didunia ini.”
“Hamba tuanku. Hamba mengerti.”
“Nah, lakukanlah. Setelah itu baru aku akan
menentukan sikap terhadap Anusapati. Kematian Anusapati pasti akan mempengaruhi
perasaan Permaisuri dan pengaruhnya yang lain akan terasa sekali pada
pemerintahan yang sedang berjalan di Singasari. Tetapi tidak demikian dengan
Mahisa Agni. Meski-pun ia akan diserahkan kembali kepada asalnya dengan upacara
kebesaran salah seorang pemimpin tertinggi di Singasari, namun persoalannya akan
segera selesai dan orang-orang Singasari dan Kediri akan segera melupakannya.”
“Baiklah tuanku. Hamba mengerti tugas yang
harus hamba lakukan.”
“Kerjakan baik-baik. Jangan kau katakan
lebih dahulu kepada Tohjaya. Aku sendirilah yang akan mengatakan kepadanya.”
“Hamba tuanku. Hamba mengerti. Hamba
mengerti,“ penasehat itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, lakukanlah baik-baik. Jika kau sudah
menemukan, bawalah mereka kemari. Didalam saat yang tepat, mereka akan pergi ke
Kediri, sementara Anusapati harus diusahakan tetap berada di istana saat itu.
Jika tidak, dan kebetulan sekali ia berada di Kediri, maka gabungan kekuatan
keduanya benar-benar mencemaskan meski-pun harus melawan tiga atau empat orang
sekaligus.”
“Hamba tuanku. Hamba mohon waktu sepekan.
Hamba akan segera memberikan laporan tentang orang yang hamba katakan.”
“Aku menunggu waktu yang kau katakan.
Segala sesuatu harus kau bicarakah dahulu dengan aku. Kau mengerti? Jangan
membuat rencana sendiri yang justru akan dapat menggagalkan semua rencana yang
sudah tersusun.“
“Hamba tuanku.“ penasehat itu
mengangguk-angguk.
Sejenak kemudian maka ia-pun mohon diri.
Bukan saja dari hadapan Sri Rajasa, tetapi ia mohon kesempatan sepekan untuk
melakukan tugas itu, sehingga dalam waktu itu ia tidak akan berada di istana.
Demikianlah dengan gelisah Sri Rajasa
menunggu kesempatan itu. Penasehat itu masih mohon diri pula, ketika ia siap
meninggalkan istana dengan kudanya yang tegar.
Ketika kuda itu berlari keluar dari regol
istana, sepasang mata mengikutinya dengan tajamnya. Mata seorang juru taman.
Sumekar menjadi curiga melihat kepergian
orang itu. Menilik bekal yang dibawanya, yang tersangkut dipunggung kudanya
pula, ia tidak hanya sekedar pergi keluar istana untuk beberapa saat. Tetapi ia
pasti meninggalkan istana untuk beberapa hari.
“Kemana orang itu?“ ia bertanya kepada diri
sendiri. Tetapi tidak ada orang yang dapat menjadi tempat ia bertanya.
Namun karena ia mengetahui apa yang pernah
dilakukan oleh orang itu atas Putera Mahkota, maka ia tidak dapat melepaskan
perhatiannya kepada kepergiannya itu. Mungkin ia sedang merencanakan sesuatu
untuk mencelakakan Putera Mahkota pula.
Karena itu, mau tidak mau, Sumekar harus
menghubungi Anusapati dan memberi tahukan kepergian penasehat Sri Rajasa itu.
“Tuanku harus berhati-hati. Selama tuanku
menjalankan tugas tuanku sebagai Kesatria Putih. Mungkin pada suatu saat orang
itu sengaja menjebak tuanku.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Teringat pula olehnya bagaimana ia telah dijebak oleh seorang yang menyebut
dirinya bernama Kiai Kisi, sehingga kemungkinan yang serupa memang akan dapat
terjadi. Teringat pula olehnya, sekelompok prajurit yang menyamar menjadi
perampok untuk menjebak Kesatria Putih. Tetapi mereka dapat dihancurkan dan
bahkan pedang-pedangnya telah dilemparkan kedepan regol istana.
Dengan demikian Anusapati semakin
menyadari, bahwa bahaya menjadi semakin besar mengancamnya dari segala arah.
Baik sebagai Putera Mahkota, apalagi sebagai Kesatria yang berkeliaran disegala
tempat dan disegala waktu.
“Jadi bagaimana menurut pertimbangan paman
Sumekar?”
“Tuanku harus menyampaikan hal ini kepada
orang-orang lain yang menyatakan dirinya dalam pakaian Kesatria Putih itu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Mereka memang harus lebih berhati-hati.”
“Bukan sekedar berhati-hati tuanku. Mereka
harus memperhitungkan segala kemungkinan. Jika salah seorang Kesatria Putih itu
dapat dijebak oleh sekelompok orang-orang itu, dan Kesatria Putih itu ternyata
bukan tuanku, maka persoalannya akan menggemparkan seluruh Singasari. Nama
tuanku akan terguncang pula karenanya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Aku mengerti paman. Aku akan menghubungi mereka. Biasanya salah
seorang dari mereka menunggu aku dibatas kota. Tentu saja tidak sebagai Kesatria
Putih.”
“Sebaiknya tuanku cepat menyampaikan kabar
ini sebelum terlambat.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ia menyadari kesulitan yang dapat timbul apabila sekelompok orang yang berilmu
tinggi sengaja menjebak salah seorang dari Kesatria Putih itu.
Demikianlah, dimalam harinya, Anusapati-pun
seperti biasanya keluar dari regol istana dalam pakaian Kesatria Putih. Para
prajurit yang sedang bertugas menganggukkan kepalanya dengan hormatnya. Mereka
sadar betapa beratnya tugas yang telah dibebankan dipundaknya sendiri oleh
Putera Mahkota itu. Tugas yang dilakukan seorang diri sebagai Kesatria Putih itu
ternyata melampaui kemampuan sepasukan prajurit pilihan.
Namun malam itu Anusapati telah membawa
pesan yang mendebarkan bagi Kesatria Putih yang lain. Orang yang malam itu
menghubungi Anusapati dibatas kota adalah Witantra sendiri.
“Paman, menurut paman Sumekar, kemungkinan
yang buruk itu dapat terjadi.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya kemudian, “Memang tuanku. Jika terjadi demikian, maka semuanya akan
rusak.”
“Jadi bagaimana menurut pertimbangan
paman?”
“Aku akan menarik mereka malam ini.”
“Tetapi dimanakah mereka itu?”
“Hanya seorang yang berpakaian Kesatria
Putih malam ini. Kuda Sempana. Aku tahu kemana ia pergi.”
“Jadi maksud paman, Kesatria Putih harus
menghentikan kegiatannya untuk sementara?“
“Sampai aku menghubungi tuanku lewat
Sumekar.“
Anusapati mengangguk-anggukan kepalanya.
Lalu kainnya, “Jadi bagaimana aku malam ini?”
“Marilah tuanku pergi bersama aku.
Sebaiknya tuanku melepaskan pakaian Kesatria Putih itu supaya jika bertamu
dengan Kuda Sempana dalam pakaian Kesatria Putih, tidak akan ada dua Kesatria
Putih dalam waktu bersamaan, jika kebetulan ada seseorang yang melihatnya, maka
akibatnya dapat mengganggu pula.
“Tetapi bagaimana dengan kudaku?“ bertanya
Anusapati, “kuda putih adalah salah satu ciri Kesatria Putih.”
“Banyak kuda putih di Singasari. Tetapi
asal tuanku tidak mempergunakan pakaian dan kerudung putih, maka orang tidak
segera mengambil kesimpulan, bahwa yang lewat adalah Kesatria Putih.”
Anusapati ragu-ragu sejenak. Tetapi ia-pun
segera melepaskan tirai putih yang tersangkut dilehernya. Bahkan kemudian ia
melepas kain pancingnya dan dikerudungkannya dipunggungnya, agar orang tidak
mudah mengenalnya sebagai Putera Mahkota.
“Tuanku seperti seekor burung yang besar
sekali di atas seekor kuda,“ berkata Witantra.
Anusapati tersenyum. Tetapi katanya, “Kita
menempuh jalan paling aman, kita menghindari seseorang sejauh mungkin agar tidak
timbul pertanyaan tentang kuda putih ini.”
“Yang penting tuanku, asal tidak ada dua
orang Kesatria Putih bersama-sama. Yang berbahaya adalah saat kita bertemu
dengan Kuda Sempana. Dan kita akan berusaha menemuinya tanpa dilihat oleh orang
lain, meski-pun tuanku tidak dalam pakaian Kesatria Putih. Sampai saat ini
Kesatria Putih masih dianggap sebagai seseorang yang ajaib. Yang ada disembarang
tempat dan waktu meski-pun sudah mengalami pengekangan yang agak jauh.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ia menyadari bahwa pamannya sudah berusaha mengatur serapi mungkin agar tidak
menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengurangi nilai dari perbuatan
Kesatria Putih.
Demikianlah maka Witantra telah membawa
Anusapati berpacu didalam kegelapan. Untunglah bahwa keduanya telah terbiasa
berkuda didalam gelap menyusuri jalan-jalan di daerah yang paling sulit
sekalipun. Malam itu mereka harus menemukan Kuda Sempana dan menariknya sebelum
ia bertemu dengan jebakan yang belum dimengerti.
Untunglah bahwa disetiap malam mereka yang
menamakan diri Kesatria Putih itu selalu saling berbicara tentang daerah yang
akan mereka datangi, sehingga dalam keadaan yang gawat, mereka akan segera dapat
dihubungi. Demikianlah menjelang tengah malam, mereka telah sampai ditempat yang
disebutkan oleh Kuda Sempana. Sesuai dengan ciri-ciri yang diberikannya, maka
Witantra-pun berhasil mengikuti jejak perjalanan Kesatria Putih sehingga pada
suatu tempat, mereka menemukan Kesatria Putih yang sedang menunggu dibawah
sebatang pohon cangkring.
“He, ternyata tuanku Putera Mahkota,“
berkata Kuda Sempana.
“Ya, aku dibawa oleh paman Witantra
kemari.”
“Apakah ada sesuatu yang penting tuanku?
Bukankah malam ini hamba diperbolehkan bergerak setelah tengah malam, karena
diseparo malam pertama, tuanku sendiri akan mengelilingi kota Singasari.”
“Ya. Tetapi ada sesuatu yang penting aku
sampaikan,“ sahut Anusapati, “sehingga paman Witantra memandang perlu untuk
membawa aku kemari.”
“Apakah yang penting itu tuanku? Apakah ada
kejahatan dilewat tengah malam yang akan tuanku tangani sendiri, sehingga hamba
harus membatalkan tugas hamba malam ini.“
“Tidak, tetapi ada sesuatu yang berbahaya
bagi kita,“ jawab Anusapati.
Kuda Sempana menganggukan kepalanya. Tetapi
ia tidak bertanya lagi, dan Anusapatilah yang kemudian berceritera tentang
Penasehat Sri Rajasa dan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ia mengerti bahwa dengan demikian tugas Kesatria Putih ada dalam
bahaya. Seperti yang dikatakan oleh Anusapati, apabila seseorang atdn
segerombolan orang berhasil menangkap Kesatria Putih, dan Kesatria Putih itu
bukan Putera Mahkota, maka nama Putera
Mahkota memang dapat terancam. Tohjaya akan
memanfaatkan hal itu untuk kepentingannya.
Karena itu, maka Kuda Sempana-pun
sependapat, bahwa untuk sementara semua rencana akan dibatalkan sehingga
mendapatkan suatu penyelesaian yang dapat dipertanggung jawabkan.
“Tetapi kita tidak boleh berhenti,“ berkata
Witantra, “Kesatria Putih masih harus tetap berjuang melawan kejahatan sebelum
kejahatan itu berakhir.”
“Hampir tidak mungkin,“ sahut Kuda Sempana,
“umur kejahatan sama dengan umur manusia, karena pada dasarnya manusia dikuasai
oleh sifat-sifat yang jahat. Hanya mereka yang berhasil menguasai diri sendiri
dan berjuang merebut dirinya dari tangan setan sajalah yang mampu menghindari
kejahatan.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Jika demikian kita masih akan berbuat banyak sekali. Dengan pakkaian
Kesatria kita langsung menghadapi kejahatan dimedan. Tetapi lewat cara lain kita
harus berusaha membawa setiap orang berusaha merebut dirinya sendiri dari
kekuasaan setan itu. Jika kita berhasil, maka tugas kita dimedan akan jauh
berkurang.”
Kuda Sempana mengangguk-angguk. Lalu ia-pun
bertanya, “Jadi apa yang akan kita lakukan?”
Kita akan berhubungan dengan Mahisa Agni.
Tetapi aku kira kita akan menentukan, bahwa biarlah Putera Mahkota sajalah yang
berpakaian Kesatria Putih. Kita akan selalu membayangi. Jika Putera Mahkota
masuk kedalam suatu jebakan, kita akan membantunya. Bukan sebagai Kesatria
Putih.”
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“Malam ini semua rencana kita batalkan,“
berkata Witantra, “Siapa tahu, bahwa guru Tohjaya itu sudah mulai bergerak
dengan kekuatan yang besar.”
Demikianlah maka malam itu. Kuda Sempana
membatalkan niatnya untuk membelah daerah itu yang didengarnya sedang
diambah oleh kejahatan. Untunglah bahwa
malam itu tidak terjadi apa-pun sehingga seandainya Kuda Sempana tetap berada
didaerah itu-pun tidak akan dijumpainya seseorang.
Malam itu sebelum Anusapati masuk kembali
keregol istana, dikenakannya kembali ciri pakaian Kesatria Putih, supaya
kehadirannya tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan.
Dalam pada itu, guru Tohjaya sudah menempuh
jarak yang jauh untuk menemui orang yang dikatakannya. Ia memutuskan untuk
menemui kakak seperguruannya yang tertua. Juga segaris perguruan dengan Kiai
Kisi.
Kedatangannya telah menimbulkan berbagai
pertanyaan didalam sebuah padepokan yang terpencil. Padepokan yang dihiasi
dengan berbagai macam kemuraman karena mereka yang tinggal dipadepokan itu
bukanlah sekelompok orang-orang yang berhati putih.
“Kau masih ingat kepadaku?“ berkata saudara
tua seperguruan itu. “Sudah lama sekali kau tidak datang kepadepokan ini.”
“Aku tidak pernah melupakan kau kakang.
Kesempatankulah yang masih belum ada. Tetapi sekarang aku memerlukan datang
menemui kakang.”
“Tentu ada suatu kepentingan yang mendesak.
Aku sudah mendengar kematian Kiai Kisi yang malang itu. Kedatanganmu tentu ada
hubungan kelanjutan dari kematiannya.”
“Sebenarnya aku tidak akan segera
mengatakannya, tetapi kakang sudah menebak tepat sehingga aku tidak akan
ingkar.”
Kakak seperguruan yang tertua dari guru
Tohjaya itu tertawa, katanya, “Aku tidak memaksa kau mengatakannya jika kau
berkeberatan.”
“Bukan begitu. Maksudku, setelah aku berada
disini sehari dua hari, barulah aku akan menyampaikannya.”
“Buat apa aku harus menebak-nebak selama
sehari dua hari. Meski-pun kau akan tinggal disini beberapa hari, tetapi
masalahnya sudah aku ketahui.”
Guru Tohjaya itu mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“Aku kira kau tidak lagi memerlukan aku
setelah kau menjadi orang istana. Menjadi penasehat Hantu Karautan dan menjadi
guru dari anaknya yang lahir dari Ken Umang itu.“
“Tidak kakang. Aku tidak lupa kepada
siapapun.“
“Dalam kesulitan kau ingat kepada kami. Dan
justru karena itu Kiai Kisi sudah menjadi korban perhitunganmu yang tidak
cermat. Apakah kau sudah tahu siapakah yang telah membunuh Kiai Kisi itu?”
“Ya kakang. Aku sudah mengetahuinya kini,
meski-pun tidak dapat aku buktikan.”
“Hanya dugaan?”
“Dugaan yang didasarkan atas perhitungan.”
“Siapa yang telah membunuhnya?“
“Putera Mahkota sendiri.”
“Anusapati?“ kakak seperguruannya terkejut.
“Apakah kakang belum mendengar hasil
permainan sodoran di alun-alun Singasari?”
“Singasari sangat jauh dari tempat ini.
Tetapi aku sudah mendengarnya, bahwa orang yang menyebut dirinya Kesatria Putih
ternyata adalah Putera Mahkota.”
“Nah, ternyata Kiai Kisi tidak berhasil
membunuh Putera Mahkota saat itu. Justru ia sendiri telah terbunuh.”
“Kiai Kisi memang belum cukup masak untuk
menghadapi lawan yang kuat. Tetapi bagaimana dengan kau sendiri?”
“Tentu tidak mungkin. Aku orang istana.”
“Kau juga takut?”
Tentu tidak kakang. Aku merasa bahwa aku
tidak lebih jelek dari Kiai Kisi. Tentu aku dapat membinasakan Kesatria Putih.
Tetapi sudah aku katakan, jika ada yang berhasil mengetahui persoalannya akan
menjadi sangat buruk, karena aku adalah guru tuanku Tohjaya dan kadang-kadang
juga diajaknya berbicara tentang keprajuritan disamping para Panglima.”
Kakak seperguruannya itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Jadi kau bermaksud agar aku
membunuh Kesatria Putih, begitu?”
Kakak seperguruannya mengerutkan keningnya
ketika guru Tohjaya itu menggeleng, “Bukan Kesatria Putih.”
“He. Bukan Kesatria Putih? Jadi siapa?”
“Orang yang sebenarnya berdiri sebagai
lawan Sri Rajasa.”
“Siapa?”
“Mahisa Agni yang justru menjadi wakil
Mahkota di Kediri, mengawasi pemerintahan yang diserahkan kepada keluarga dan
keturunan Maharaja di Kediri itu sendiri.”
“Mahisa Agni,“ kakak seperguruannya itu
menganggukkan kepalanya, “dari perguruan manakah orang itu?”
“Aku tidak tahu. Tetapi orang menyebutnya
berasal dari Panawijen.”
Kakak seperguruannya mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya, “Aku pernah mendengar perguruan dipadepokan Panawijen
bertahun-tahun yang lalu. Tetapi aku tidak peduli, ia berhenti sejenak. Lalu,
“Apa yang harus kita kerjakan?”
“Membunuhnya.“
"Dimanakah ia tinggal?”
“Di Kediri. Kakang harus pergi ke Kediri.
Kakang harus memasuki istananya dan membunuhnya didalam istana itu.”
“Aku belum mengenal orangnya. Apakah aku
harus pergi sendiri?”
“Tidak kakang. Menurut Sri Rajasa, kakang
harus pergi bersama tiga atau empat orang yang akan didadar oleh Sri Rajasa
sendiri.”
“He, jadi Sri Rajasa tidak percaya akan
kemampuanku.”
“Bukan tidak percaya. Tetapi Sri Rajasa
ingin berhati-hati menghadapi persoalan ini. Sudah beberapa kali rencananya
gagal, sehingga karena itu, ia tidak mau gagal untuk kesekian kalinya.”
“Jadi maksudmu, kami harus menghadap ke
istana dan berkelahi dengan Sri Rajasa?”
“Bukan begitu. Sri Rajasa hanya ingin
mengetahui, betapa kekuatanmu bersama tiga atau empat orang yang lain agar Sri
Rajasa mempunyai kepastian, rencananya kali ini tidak gagal.”
“Terserah saja. Aku tidak berkeberatan.
Tetapi apa yang akan aku terima setelah aku berhasil membunuhnya?”
Penasehat Sri Rajasa itu menggelengkan
kepalanya. Katanya, “Kau dapat berbicara sendiri dengan Sri Rajasa.”
Kakak seperguruannya itu mengerutkan
keningnya. Ia pernah mendengar kemenangan Sri Rajasa atas Kediri. Dan ia juga
mendengar seorang Senapatinya yang berhasil membunuh Senapati tertinggi dari
Kediri yang hampir tidak terkalahkan. Orang itu agaknya yang bernama Mahisa
Agni.
Ketika ia bertanya kepada guru Tohjaya,
maka orang itu-pun mengiakannya.
“Memang tugas yang berat. Aku memang
memerlukan kawan. Tetapi Sri Rajasa tidak usah kuwatir. Betapa tinggi
kemampuannya, selagi kakinya masih berjejak diatas tanah, aku akan dapat
membinasakannya meski-pun tidak sendiri.” ia berhenti sejenak, lalu sekali lagi,
“Apa yang akan aku terima dari Sri Rajasa?”
“Kelak kau akan mendengarnya sendiri.”
Kakak seperguruan penasehat Sri Rajasa itu
mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia
berkata, “Baiklah. Aku percaya kepadamu meski-pun sebenarnya aku tidak percaya
kepada Sri Rajasa.”
“Kenapa kau tidak percaya kepada Sri
Rajasa?”
“Aku bukan seorang yang bersih. Aku adalah
seorang yang licik dan barangkali pengecut. Karena itu aku mangerti. Sri Rajasa
sudah sampai hati berusaha membinasakan seorang Senapatinya yang telah berjasa
besar kepadanya. Bahkan juga Putera Mahkota. Apakah masih ada orang yang dapat
percaya kepadanya? Jika orang yang bernama Mahisa Agni itu dibunuhnya, apakah
hal yang serupa tidak dapat terjadi atasku, atasmu dan siapapun? Karena itu, aku
harus berhati-hati. Kau juga harus berhati-hati.”
Penasehat Sri Rajasa itu
mengangguk-anggukkan. Katanya, “Kau benar. Tetapi sampai saat ini aku masih
dipercayanya meski-pun kadang-kadang dibentak-bentaknya.”
“Baiklah. Aku akan menghadap keistana.
Berhadapan dengan orang selicik dan sejahat Sri Rajasa, aku-pun harus
hati-hati.”
“Apakah Sri Rajasa termasuk seorang yang
jahat?”
“Tentu. Tetapi ia mempunyai kelebihan dari
aku. Ia berhasil membuat Singasari besar. Itu adalah jasa yang telah diberikan
kepada tanah ini dan tidak akan dilupakan orang. Tetapi aku tidak berbuat
apa-apa. Meski-pun demikian, dihadapan kebenaran Sri Rajasa adalah orang yang
pernah ingkar daripadanya.”
Penasehat Sri Rajasa itu menganggukakan
kepalanya. Katanya, “Baiklah kakang datang ke istana. Terserah, apa yang akan
kakang bicarakan.”
“Aku akan membawa dua orang saudara
seperguruan kita yang tersisa dan dua orang muridku tertua dan yang sudah
memiliki kemampuan penuh.”
Penasehat itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya, “Terserahlah. Tetapi Mahisa Agni pernah membinasakan
Senapati tertinggi dari Kediri.“
Demikianlah, maka pada hari yang ditetapkan
setelah beberapa lama penasehat Sri Rajasa tinggal dipadepokan saudara
seperguruannya itu, mereka berangkat ke istana Singasari. Untuk menyesuaikan
diri dengan keadaannya, maka saudara tua panasehat Sri Rajasa itu mengenakan
pakaian yang pantas bagi seorang tamu istana, sedang yang lain, untuk
menghindarkan kecurigaan akan ditempatkan diluar istana, pada seorang
kepercayaan penasehat Sri Rajasa itu.
Ternyata kehadiran tamu yang tidak dikenal
bersama penasehat Sri Rajasa itu telah menarik perhatian Sumekar yang
mengetahui, apa yang pernah dilakukan oleh penasehat itu atas Putera Mahkota.
Karena itu, maka kehadiran orang yang tidak dikenal bersamanya, telah
menumbuhkan kecurigaannya.
“Menilik bentuk wajahnya dan sorot yang
tersirat dari tatapan matanya, ia bukan orang yang baik,“ berkata Sumekar
didalam hatinya.
Karena itulah, maka timbullah niatnya untuk
selalu mengawasinya. Mungkin ada sesuatu yang pantas dilakukan untuk keselamatan
Putera Mahkota. Karena bagaimana-pun juga, seolah-olah Sumekar merasa dirinya
telah terlibat didalam pertentangan tertutup antara Putera Mahkota dan Tohjaya.
Sumekar tidak dapat mengetahui, apa yang
telah dibicarakan antara tamu yang aneh itu dengan Sri Rajasa. Tetapi ia tidak
dapat mencegah keinginannya untuk mengetahui lebih dekat atas tamu itu.
Ketika istana Singasari kemudian disaput
oleh gelapnya malam, maka Sumekar segera mengenakan pakaian hitamnya dan dengan
hati-hati mendekati bangsal Sri Rajasa. Mungkin ia dapat melihat sesuatu yang
dijadikannya bahan pertimbangan.
Dengan hati-hati pula ia memanjat sebatang
pohon sawo sehingga ia dapat langsung melihat longkangan dibelakang bangsal itu.
Longkangan yang tertutup.
Namun dada Sumekar menjadi berdebar-debar.
Ia melihat Sri Rajasa, penasehatnya dan tamunya berada dilongkangan itu, bahkan
seakan-akan mereka akan bertempur.
“Apakah yang akan mereka lakukan?“ bertanya
Sumekar didalam hati.
Dari kejauhan ia melihat, Sri Rajasa telah
bersiap berhadapan dengan tamunya.
“Apakah mataku tidak beres lagi malam ini,“
Sumekar menggosok-gosok matanya.
Namun ia benar-benar melihat sejenak
kemudian keduanya terlibat dalam suatu perkelahian. Semakin lama semakin seru
disaksikan oleh penasehat Sri Rajasa yang juga menjadi guru Tohjaya, Sumekar
menahan nafasnya. Meski-pun ia berada agak jauh, tetapi ia mampu juga menilai
keduanya.
“Sri Rajasa memang orang yang pilih
tanding,“ berkata Sumekar didalam hatinya, meski-pun ia tidak dapat mengatakan
cara yang telah dipergunakan oleh Maharaja Si ngasari itu. Tandangnya kasar dan
keras, namun kemampuannya benar-benar tidak ada duanya.
Lawannya adalah seorang yang bertempur
dengan kasar dan keras pula. Tetapi lambat laun tampak, bahwa Sri Rajasa
memiliki kelebihan yang tidak teratasi oleh lawannya.
Meski-pun demikian, menurut penilaian
Sumekar, orang yang berkelahi melawan Sri Rajasa itu-pun adalah seorang yang
mempunyai ilmu yang cukup tinggi.
“Apakah akan terjadi sesuatu dengan Putera
Mahkota?“ pertanyaan itulah yang pertama-tama membelit dada Sumekar, sehingga ia
mulai menilai kemampuan orang itu dengan kemampuan yang dimiliki oleh Anusapati.
“Tuanku Putera Mahkota masih terlalu muda
menghadapinya apabila dipaksakan suatu tindakan kekerasan berhadapan oleh orang
itu,“ katanya didalam hali.
Sejenak kemudian maka perkelahian itu-pun
berakhir. Meski-pun Sri Rajasa belum mengalahkan lawannya dengan mutlak, tetapi
pastilah demikian jika mereka berkelahi terus.
Sumekar tidak tahu apa yang mereka
bicarakan kemudian. Yang terlintas dikepalanya adalah cara-cara yang akan
dipergunakan oleh Sri Rajasa untuk menjebak Kesatria Putih seperti yang pernah
dilakukan oleh Kiai Kisi terhadap Putera Mahkota.
Karena itu, maka ia-pun segera menyingkir
dan mencoba mencari Putera Mahkota. Tetapi malam itu Sumekar tidak sempat
menemukannya dan sudah tentu ia tidak akan dapat pergi kebangsal Anusapati yang
selalu mendapat pengawasan oleh para prajurit.
Meski-pun prajurit yang bertugas disekitar
rumah Putera Mahkota adalah prajurit-prajurit yang baik terhadap Putera Mahkota,
namun kehadirannya pasti akan menjadi buah bibir yang akan sampai ketelinga
mereka yang tidak menyukainya.
Dalam pada itu, setelah Sri Rajasa selesai
dengan perkelahiannya melawan kakak seperguruan penasehatnya itu, ia-pun
kemudian berkata, “Kau cukup baik untuk melawan Mahisa Agni meski-pun kalau kau
bertempur sendiri, kau pasti akan dikalahkannya.“
“Apakah Mahisa Agni memiliki kemampuan
setingkat dengan tuanku?”
“Aku tidak tahu pasti. Tetapi demikianlah
kira-kira. Karena itu kau harus menyiapkan dirimu baik-baik. Jangan hanya berdua
meski-pun kawanmu setingkat dengan kemampuanmu.”
“Kami akan datang berlima,“ jawab orang
itu.
“Siapakah mereka?”
“Hamba sendiri dan dua orang saudara
seperguruan hamba yang memiliki kemampuan tidak terpaut banyak dari hamba.
Kemudian dua orang murid hamba yang tertua, yang memiliki kemampuan sepenuhnya
dari ilmu hamba, meski-pun masih belum masak benar. Tetapi keduanya sudah dapat
dilepaskan berbuat sendiri didalam saat-saat tertentu.“
“Baiklah. Hati-hatilah. Kau harus memasuki
istana itu tanpa diketahui orang. Kau langsung masuk kedalam dan mencari
biliknya. Jangan memberi kesempatan kepadanya untuk melawan meski-pun kalian
berlima. Meski-pun barangkali Mahisa Agni tidak dapat mengimbangi kekuatan
kalian berlima bersama-sama, tetapi ia mempunyai kemampuan memperhitungkan
keadaan hampir sempurna. Dan itu sangat berbahaya, ia tidak saja berkelahi
dengan tenaganya, tetapi terutama dengan otaknya.
“Hamba tuanku. Hamba akan melakukannya
sebaik-baiknya. Tetapi tuanku tidak usah cemas. Mahisa Agni pasti akan binasa.
Ia tidak akan mengira bahwa hamba akan memasuki istananya.”
“Jaga, agar para petugas yang menjaga
istana itu tidak melihat kalian. Mereka pasti akan sangat berbahaya apabila
mereka sempat membunyikan tanda bahaya. Bersama-sama dengan Mahisa Agni, mereka
tidak akan dapat kalian kalahkan, karena para prajurit pengawal itu berjumlah
cukup banyak.”
“Hamba tuanku. Hamba akan berhati-hati. Dan
hamba akan menjaga diri hamba sebaik-baiknya karena hamba masih ingin menikmati
hadiah yang akan hamba terima dari tuanku.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Lalu
katanya, “Aku akan memberi hadiah sebanyak-banyaknya jika kau berhasil.”
“Jika hamba berhasil, apakah yang akan
hamba terima tuanku.”
“Aku akan memberikan beberapa potong emas
kepadamu.”
“Apakah hamba dapat menerima hadiah itu
lebih dahulu? Hamba berniat untuk tidak kembali lagi ke istana ini setelah hamba
menyelesaikan tugas hamba untuk
menghindarkan kecurigaan orang. Hamba akan terus kembali kepadepokan hamba.”
Kerut merut yang dalam membayang di wajah
Sri Rajasa. Namun kakak seperguruan penasehatnya itu segera menyambung, “Ampun
tuanku, bukan maksud hamba, bahwa hamba akan mendahului titah tuanku. Tetapi
hamba hanya sekedar ingin menjauhkan diri dari kecurigaan orang sepeninggal
Mahisa Agni itu.”
Wajah Sri Rajasa perlahan-lahan menjadi
tegang. Penasehatnya melihat perubahan itu sehingga dadanya menjadi
berdebar-debar. Ternyata hal itu tidak berkenan dihati Sri Rajasa. Karena itu,
maka dengan tergesa-gesa ia menengahi, “Tuanku. Sebenarnya tuanku tidak usah
memberikan hadiah apa-pun juga kepada kakak seperguruanku. Jika tuanku berkenan
dihati, biarlah ia mencari hadiahnya sendiri di istana Kediri itu. Berapa banyak
yang dapat dibawa oleh lima orang itu, disana disediakan barang-barang perak dan
emas.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya sejenak.
Ia tahu, bahwa di istana wakil Mahkota itu memang terdapat beberapa potong
perhiasan dari emas yang melekat ditiang pusat ruangan tengah. Sebuah tongkat
kerajaan yang tergantung didinding dan berkepala emas pula. Sebuah patung kecil
diatas bancik kayu yang tinggi terbuat dari tembaga berlapis emas.
Sejenak Sri Rajasa termenung. Namun
kemudian ia berkata, “Baiklah. Kau dapat mengambil semua perhiasan emas dan
perak didalam istana itu sebagai hadiahmu, kacuali tongkat kerajaan peninggalan
Ratu Angabaya dari jaman kerajaan Kediri, dan sebuah patung yang berlapis emas,
diatas bancik di bangsal dalam apabila belum dipindahkan oleh Mahisa Agni dan
para pembantu rumah tangga di istana itu. Tetapi kau akan mengenal patung itu
dengan segera, dan kau tidak boleh mambawanya.”
Kakak seperguruan Penasehat Sri Rajasa itu
termenung sejenak. Ia tidak dapat membayangkan, apakah barang-barang yang ada
itu memadai. Namun adik seperguruannya berkata, “Aku yakin, bahwa kalian merasa
hadiah itu cukup banyak. Dan pembunuhan itu sendiri
tidak akan terlalu lama dipersoalkan,
karena masalahnya adalah masalah parampokan biasa. Perampok yang paling gila
yang pernah ada sepanjang umur Kerajaan Kediri dan Singasari. Hal itu akan
merupakan tantangan bagi Kesatria Putih. Kau mengerti kakang?”
Kakak seperguruan penasehat Sri Rajasa itu
menganggukkan kepalanya. Namun ia masih ragu-ragu. Apa saja yang dapat dibawanya
dari istana yang kini dihuni oleh Mahisa Agni, anak Panawijen itu. Apakah jika
ada benda-benda itu masih ada ditempatnya.
Selagi ia ragu-ragu itu, penasehat Sri
Rajasa berkata, “Kakang, sebagian barang-barang dari istana Kediri telah
dipindahkan ke istana wakil Mahkota itu. Tetapi ingat, jangan kau bawa serta
tongkat kerajaan serta patung emas itu, seperti yang dipesankan oleh Sri Rajasa,
peninggalan dari Ratu Angabaya dari jaman kerajaan Kediri itu.”
Akhirnya kakak seperguruannya
menganggukkan. Tetapi ia masih berkata, “Hamba terima perjanjian ini untuk
sementara. Tetapi jika yang ada hanya barang-barang perak semata-mata, maka
hamba akan mohon kebijaksanaan tuanku Sri Rajasa.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Jangan takut. Aku bukan seorang yang sangat kikir. Semuanya yang aku
janjikan akan aku penuhi jika kau sudah berhasil.”
“Baiklah tuanku. Hamba mohon diri. Hamba
akan menyiapkan segala sesuatu yang perlu bagi hamba itu.”
“Kapan kau berangkat?”
“Besok pagi tuanku. Besok hamba akan
berkumpul dengan kawan-kawan hamba, dan hamba akan segera pergi ke Kediri.”
Demikianlah, di pagi-pagi benar Sumekar
sudah berada di halaman bangsal Putera Mahkota. Ketika seorang prajurit bertanya
kepadanya maka jawabnya, “Aku harus memindah kembang kantil bajang di halaman
ini. Untuk itu hanya dapat aku lakukan sebelum
matahari terbit. Jika matahari sudah
terbit, maka pohon kantil bajang yang sulit dicari ini akan mati.“
“Apakah Putera Mahkota sudah
memerintahkan.“
“Kemarin Putera Mahkota sudah
menyebut-nyebutnya. Tetapi aku sebenarnya ingin ketegasan. Apakah Putera Mahkota
sudah bangun.”
“Sst, jangan berteriak-teriak,“ potong
prajurit itu, “kau berbicara terlalu keras.”
Namun usaha Sumekar memanggil Anusapati
dengan caranya itu berhasil. Ternyata Putera Mahkota sudah duduk di serambi
ketika Sumekar masuk kehalaman bangsalnya. Karena itu, maka ia-pun segera turun
kehalaman sambil bertanya, “Ada apa juru taman?”
“Ha,“ bisik prajurit yang bertugas, “kau
sudah membangunkannya.”
“Memang itulah yang kuharapkan.”
“He, ada apa juru taman,“ Anusapati
mengulanginya.
“Ampun tuanku, hamba ingin bertanya tentang
kantil bajang ini.”
“Bagaimana dengan kantil bajang itu.”
“Apakah yang tuanku perintahkan kemarin,
harus kami lalakukan sekarang, mumpung matahari belum terbit.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Tetapi ia
sadar, bahwa sesuatu yang penting telah terjadi. Karena itu, maka ia-pun segera
mendekat lagi sambil berkata, “Marilah kita lihat.”
Prajurit yang merasa tidak berkepentingan
dengan pemindahan batang kantil bajang itu-pun tidak mengikutinya lagi. Ketika
juru taman dan Putera Mahkota itu kemudian berjongkok disebelah sebatang kantil
bajang, maka prajurit itu-pun justru menjauh.
Dalam kesempatan itu, Sumekar-pun segera
menceriterakan apa yang dilihatnya, bahwa Sri Rajasa semalam telah mencoba
kemampuan seseorang dibelakang bangsal.
Anusapati mengerutkan keningnya. Katanya,
“Aku tidak tahu apa yang hendak dilakukan oleh ayahanda Sri Rajasa. Apakah orang
itu calon hamba istana yang akan menjadi pengawal adinda Tohjaya atau petugas
yang lain?”
“Hamba tidak tahu tuanku. Tetapi
bagaimana-pun juga, tuanku wajib berhati-hati. Bukan maksud hamba berprasangka
terhadap ayahanda tuanku. Tetapi penasehat ayahanda tuanku dan guru tuanku
Tohjaya itu mempunyai banyak akal. Mungkin ia menghadapkan seorang hamba yang
dapat menjadi pelindung atau guru atau apa-pun bagi tuanku Tohjaya, tetapi
disamping itu ia dapat berbahaya bagi tuanku diluar pengetahuan ayahanda Sri
Rajasa atau .... “ Sumekar tidak meneruskan kata-katanya.
“Atau?“ desak Anusapati.
“Atau setahu ayahanda.”
“Maksudmu?”
“Tidak apa-apa tuanku, tatapi ayahanda
hanya sekedar mengangkat tuanku Tohjaya yang telah tuanku kalahkan di arena.
Hanya itu. Tetapi yang hanya sekedar usaha menebus kekalahan itu dapat disalah
gunakan oleh orang lain.“
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Jika orang itu berada di istana ini,
tuanku harus berhati-hati terhadapnya.”
“Terima kasih paman Sumekar. Aku akan
memperhatikan.”
“Hamba mohon diri tuanku. Biarlah kantil
bajang itu ditempatnya.”
Sumekar-pun kemudian meninggalkan Putera
Mahkota Prajurit yang mengamatinya dari jauh itu-pun bertanya, “Bagaimana dengan
pohon kantil bajang itu?”
“Tidak jadi. Putera Mahkota masih
ragu-ragu. Biarlah pohon kantil itu disana.”
Prajurit itu tidak menghiraukan lagi.
Dibiarkannya Sumekar meninggalkan bangsal Putera Mahkota, langsung menuju
ketaman meski-pun hari masih pagi. Tetapi langit sudah mulai cerah dan bayangan
sinar matahari mulai membayang dilangit.
Sumekar terkejut ketika ia melihat halaman
depan. Ia melihat orang yang semalam berkelahi dengan Sri Rajasa itu
meninggalkan istana, diantar oleh penasehat Sri Rajasa sampai keregol.
Sumekar memperhatikan orang itu sampai
hilang dibalik dinding. Namun ia tidak dapat mendapat penjelasan lebih banyak
lagi. Ketika Penasehat Sri Rajasa kembali masuk istana, Sumekar berjalan
menyilangnya sambil menjinjing lodong bambu berisi air.
Dihadapan penasehat Sri Rajasa Sumekar
membungkuk hormat. Namun tiba-tiba saja lodongnya terlepas dari tangannya,
sehingga isinya tumpah dan terpercik kepakaian penasehat itu.
“O, ampun tuan,“ berkata Sumekar, “aku
tidak sengaja.”
Sorot mata penasehat itu menjadi merah.
Katanya, “Untung bukan tamuku yang kau kotori dengan air itu.”
“Aku tidak sengaja. Apalagi mengotori.”
“Sekali lagi kau lakukan, aku putuskan
lehermu.”
“Ampun tuan. Aku tidak tahu bahwa tuan akan
lewat atau aku sangka bukan tuanlah yang sedang lewat sepagi ini, sehingga aku
terkejut dan tergopoh-gopoh memberikan hormat, sehingga lodong bambuku
terlepas.”
“Pergi. Jangan ganggu lagi.“
Sumekar-pun kemudian memungut lodong
bambunya. Namun ia masih juga mencoba bertanya, “Ampun tuan, siapakah tamu tuan
sepagi ini.”
“Apa pedulimu he?“ tiba-tiba matanya
menjadi tajam menembus dada Sumekar.
“Tidak apa-apa tuan,“ jawab Sumekar dengan
serta merta sambil berjongkok, “aku hanya kagum melihat wajahnya yang keras dan
berwibawa. Apakah tamu itu masih keluarga tuanku Sri Rajasa atau keluarga tuanku
puteri Ken Umang?”
“Bukan keluarga Sri Rajasa dan bukan pula
keluarga tuan Puteri Ken Umang, orang itu adalah saudaraku,“ jawab penasehat
itu.
“O, maksud tuan, kakak atau adik tuan?”
“Kakakku.”
“Pantas sekali. Memang tuan mirip sekali
dengan tamu yang baru saja pulang. Tetapi kenapa pagi-pagi benar tamu itu sudah
meninggalkan istana? Sejak kapan ia berada disini?”
“Hanya satu malam.”
“O, kenapa hanya satu malam? Bukankah
disini ia berada dirumah saudara mudanya sendiri?”
“Ada keperluan yang mendesak.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi ia tidak dapat bertanya lebih lanjut. Penasehat Sri Rajasa itu segera
meninggalkannya sambil mengibas-ngibaskan pakaiannya yang basah. Sumekar-pun
kemudian meninggalkan tempat itu. Ia mencoba untuk mencari alasan, kenapa orang
itu datang, menjajagi kemampuannya melawan Sri Rajasa, kemudian pergi dengan
tergesa-gesa.
“Tentu untuk membinasakan Kesatria Putih.“
kesimpulan itulah yang untuk sementara dapat diambilnya.
Ketika matahari naik, Sumekar berusaha
untuk menjumpai Putera Mahkota lagi. Sambil membawa beberapa bibit pohon bunga
ia datang kehalaman bangsal Putera Mahkota di istana. Sejenak ia berjongkok
disudut sambil menanam pohon-pohon bunga itu. Tetapi
ia tidak melihat Putera Mahkota didalam
bangsalnya. Yang dilihatnya hanyalah isteri Putera Mahkota beserta puteranya.
Namun sejenak kemudian Sumekar justru
melihat Anusapati baru datang memasuki halaman bangsalnya.
“O,“ berkata Anusapati, “kau sudah ada
disitu?”
“Inilah batang-batang pohon bunga yang
tuanku pesan dari hamba.”
“Terima kasih,“ Anusapati-pun segera
mendekatinya. Namun yang mereka bicarakan kemudian bukanlah tentang pohon-pohon
bunga itu.
“Orang yang hamba katakan kemarin telah
meninggalkan istana tuanku. Agaknya ia akan melakukan tugasnya di luar istana,
menghadapi tuanku selaku Kesatria Putih.”
“Tentu tidak paman,“ jawab Anusapati, “baru
saja aku dipanggil menghadap oleh ayahanda. Untuk beberapa hari aku
diperlukannya setiap saat, sehingga aku tidak dibenarkannya keluar. Ada
persoalan yang penting yang harus ditangani setiap saat dalam kedudukanku
sebagai Putera Mahkota, justru karena ada tamu yang baru saja menghadap.”
Sumekar mengerutkan keningnya. Sri Rajasa
menyebut tamu itu langsung kepada Anusapati. Apakah Sri Rajasa juga mencurigai
tamunya, bahwa ia akan mengancam Putera Mahkota?
“Barangkali ayahanda juga mencemaskan nasib
tuanku.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Mungkin. Mungkin juga ayahanda
mencurigainya bahwa orang itu akan mencelakai Kesatria Putih, sehingga ayahanda
menahan aku agar aku tidak keluar dari istana.“ Putera Mahkota berhenti sejenak.
Lalu, “tetapi apakah orang itu mampu menandingi paman Witantra, Mahendra atau
paman Kuda Sempana?”
“Kita dihadapkan pada suatu teka-teki
tuanku. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita hadapi. Sebaiknya tuanku memang
tetap tinggal di istana.”
“Tetapi bagaimana dengan paman-yang lain.”
“Apakah mereka tetap menjalankan tugas
Kesatria Putih.”
“Tidak. Untuk beberapa hari. Tetapi mereka
tetap menunggu hubungan. Jika aku tidak dapat keluar, paman aku harap pergi
menemui salah seorang dari mereka.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dari Anusapati ia mendapat petunjuk dimana mereka dapat menjumpai salah seorang
dari ketiganya.
“Baiklah tuanku. Hamba akan mencoba
menghubungi salah seorang yang kebetulan sedang bertugas menunggu tuanku.”
“Hati-hatilah. Kita memang dihadapkan pada
teka-teki yang membingungkan. Kita hanya dapat menduga-duga. Tetapi kita akan
berusaha memecahkan teka-teki ini bersama paman-paman yang berada diluar istana
dan tentu saja paman Mahisa Agni di Kediri.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun tiba-tiba ia berkata, “Tuanku, setelah tuanku tidak lagi menyembunyikan
kenyataan pada diri tuanku, maka yang mendapat sorotan para pemimpin Singasari
tentu bukan saja tuanku. Orang yang tidak senang melihat kemenangan tuanku atas
tuanku Tohjaya didalam arena permainan sodoran itu, akan membuat penilaian yang
cermat. Permainan sodoran itu sendiri barangkali tidak begitu berarti, baik bagi
tuanku mau-pun bagi tuanku Tohjaya. Tetapi akibat daripadanyalah yang
seakan-akan menentukan. Ternyata bahwa tuanku Putera Mahkota bukan orang yang
lemah, yang selalu berada di bangsalnya menunggui isterinya. Dan itulah yang
tidak menyenangkan bagi lawan-lawan tuanku.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Hampir
saja ia bertanya pendapat Sumekar tentang ayahanda Sri Rajasa. Namun pertanyaan
yang sudah ada ditenggorokannya itu ditelannya kembali. Rasa-
rasanya tidak pantas baginya untuk
mencurigai ayah sendiri meski-pun demikianlah yang sebenarnya bergejolak didalam
nuraninya.
“Tuanku,“ berkata Sumekar kemudian, “aku
yakin bahwa pamanda tuanku, Mahisa Agni, pasti sudah memperhitungkan pula, bahwa
yang seakan-akan berada diujung runcingnya duri itu bukannya tuanku saja, tetapi
juga pamanda tuanku.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Ya. Adinda Tohjaya dan gurunya pasti meyakini bahwa aku mendapatkan
ilmuku dari pamanda Mahisa Agni.”
“Nah, karena itu, maka yang harus selalu
berhati-hati saat-saat terakhir adalah tuanku dan pamanda tuanku itu. Meski-pun
aku yakin bahwa pamanda tuanku selalu berhati-hati, tetapi pamanda tuanku tidak
mengetahui apa yang telah terjadi di istana ini. Karena itu, tuanku Putera
Mahkota, hamba harus memberitahukan, bahwa arah pembalasan dendam selain pada
tuanku juga ditujukan pada pamanda Mahisa Agni.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Baiklah,“ berkata Putera Mahkota, “katakan
kepada siapa-pun yang datang, bahwa pamanda harus meningkatkan kesiagaannya. Aku
tidak dapat pergi untuk beberapa hari. Tetapi mungkin juga Tohjaya ingin tahu,
jika terjadi keributan dan perampokan sementara aku berada di istana, apakah ada
seorang Kesatria Putih yang lain yang bertindak.”
“Hamba akan membicarakan semuanya tuanku,
sehingga pamanda tuanku Mahisa Agni akan mendapat gambaran yang jelas.”
Demikianlah ketika hari telah berlalu, dan
malam turun perlahan-lahan, Sumekar sudah siap pergi keluar istana dengan
diam-diam. Kali ini ia tidak keluar lewat regol sambil berlenggang menikmati
waktu istirahatnya, tetapi ia meloncat lewat dinding yang dibayangi oleh
kegelapan supaya tidak menumbuhkan bermacam-macam pertanyaan pada para penjaga
jika ia kembali nanti jauh malam.
Seperti yang ditunjukkan oleh Anusapati,
maka Sumekar-pun segera menuju kepingir kota. Seperti yang sudah diduganya,
bahwa seseorang telah menunggu. Bahkan kali itu bukan hanya seorang, tetapi dua
orang.
“Kalian berdua?“ bertanya Sumekar kepada
keduanya.
“Ya,“ yang menjawab Witantra, “Mahendra
ingin ikut saja malam ini. Kami mencemaskan nasib Putera Mahkota jika
benar-benar ada sebuah jebakan, sehingga kami pergi berdua untuk membayanginya
jika ia benar-benar akan pergi malam ini.”
“Tidak, barangkali sudah dikatakan, bahwa
Putera Mahkota mempertimbangkan suatu teka-teki.”
“Yang dikatakannya tentang guru Tohjaya.”
“Ia datang membawa seorang tamu. Dan tamu
itulah yang membuat teka-teki ini menjadi semakin kalut.“
“Mahisa Agni sudah sependapat, bahwa
Anusapati dapat terus menjalankan tugasnya dibawah perlindungan kami.”
“Aku sependapat,“ berkata Sumekar, “tetapi
soalnya sekarang telah berkembang.”
Witantra dan Mahendra mengerutkan
keningnya.
Dalam pada itu Sumekar-pun segera
menceriterakan apa yang diketahuinya di istana. Bahkan, ia berpendapat bahwa Sri
Rajasa agaknya telah memutuskan untuk menyingkirkan Anusapati. Tetapi dugaan ini
sama sekali tidak dikatakannya kepada Anusapati sendiri.
“Kau bijaksana,“ berkata Witantra, “jika
Anusapati mengerti bahwa ayahanda sendiri berusaha untuk menyingkirkan dalam
arti yang sebenarnya, ia akan kehilangan pegangan.”
“Dan sekarang, Putera Mahkota menunggu,
apakah yang harus dilakukan dalam perkembangan keadaan terakhir. Putera Mahkota
justru tidak diperkenankan keluar istana untuk sementara.”
Witantra adalah seorang yang memiliki
pengalaman yang cukup disepanjang hidupnya yang penuh dengan persoalan. Baik
yang menyangkut dirinya sendiri, mau-pun persoalan di luar dirinya. Karena itu,
maka setelah merenung sejenak, ia berkata, “Kita memang harus berhati-hati. Kau
harus mengawasi Putera Mahkota. Mungkin jebakan itu justru berada di istana.
Sedang kami akan pergi ke Kediri. Kami harus bertemu dengan Mahisa Agni
secepatnya. Kita akan menempuh perjalanan disepanjang malam, agar kita dapat
mencapai Kediri pada waktunya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Bahaya itu mungkin berada di istana Singasari, tetapi juga mungkin di
istana wakil Mahkota di Kediri.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun sebelum ia menjawab, maka ketiganya mengangkat wajahnya hampir bersamaan.
Ternyata Mereka telah dikejutkan oleh derap beberapa ekor kuda yang berlari laju
dijalan yang melaju meninggalkan kota.
Karena itu, maka mereka bertiga-pun segera
menyelinap bersama kuda-kuda mereka masuk kedalam semak-semak. Dengna hati yang
berdebar-debar mereka menunggu, siapakah yang berpacu dimalam hari.
Sejenak kemudian mereka melihat beberapa
orang berkuda dengan cepatnya lewat dijalan yang menjelujur meninggalkan kota
itu.
Namun demikian mereka kuda-kuda itu lewat,
Sumekar berdesis, “Apakah aku tidak salah lihat?”
Witantra dan Mahendra hampir berbareng
bertanya, “Siapa?“
“Orang yang aku katakan itu,“ jawab
Sumekar, “orang yang berada di istana bersama penasehat Sri Rajasa dan yang
bahkan telah mencoba kemampuannya dengan Sri Rajasa sendiri?”
“Apakah kau tidak keliru?”
“Aku memang agak ragu-ragu. Selain malam
yang gelap, kuda itu berjalan cepat. Namun rasa-rasanya orang itulah yang aku
lihat itu.”
Witantra mengerutkan keningnya, sejenak ia
merenung, lalu katanya, “Baiklah aku mencoba mengikutinya kemana mereka pergi,
meski-pun hanya sekedar arahnya. Kami akan langsung pergi ke Kediri untuk
menyampaikan semua persoalan kepada Mahisa Agni.”
“Baiklah. Meski-pun hubungan kami agak
jauh, tetapi aku berharap bahwa kami akan mendapat kabar dari kalian dua tiga
hari mendatang.”
“Ya, kami akan kembali memberikan
keputusan-keputusan yang akan kami ambil bersama Mahisa Agni. Hati-hatilah di
istana Singasari, kau berdua dengan Anusapati kami harap dapat menjaga diri
kalian sebaik-baiknya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya,
“Kami minta diri sebelum mereka menjadi terlalu jauh.”
“Silahkanlah,“ jawab Sumekar.
Witantra dan Mahendra-pun kemudian
menggerakkan kekang kudanya. Sejenak kemudian kuda itu-pun telah berpacu pula
menyusul beberapa ekor kuda yang telah mendahuluinya.
Demikianlah maka kuda-kuda itu-pun segera
berderap diatas jalan berbatu-batu. Witantra dan Mahendra tidak berani mengikuti
mereka terlalu dekat. Dengan demikian orang-orang berkuda itu akan dapat
mencurigai mereka. Karena itu, keduanya mengikuti dari jarak yang agak jauh.
Jika mereka menjadi ragu-ragu dikelokan jalan, maka mereka-pun segera membuat
api dengan dimik-dimik belerang untuk mengetahui jejak kuda-kuda yang
mendahuluinya itu.
Namun semakin lama kecurigaan dihati
Witantra menjadi semakin tajam. Ternyata kuda-kuda itu berpacu kearah kota
Kediri. Karena itu, maka Witantra dan Mahendra-pun berpacu semakin cepat. Jarak
ke Kediri masih sangat jauh. Tetapi arah yang
ditempuh telah menunjukkan kepada mereka,
bahwa kuda yang mereka ikuti itu benar-benar menuju ke Kediri, “Apa yang akan
mereka lakukan?“ bertanya Mahendra.
Witantra mengerutkan keningnya. Meski-pun
ia tidak tahu pasti namun seperti suatu firasat yang tiba-tiba saja melonjak
dikepalanya adalah, “Selain Anusapati, maka Mahisa Agnilah orang yang harus
dilenyapkan dari Singasari.”
Ketika ia mengatakannya kepada Mahendra,
maka Mahendra-pun menyahut, “Sumekar juga mengatakannya. Bukankah begitu?”
-ooo0dw0ooo-
(bersambung jilid 72)
Jilid 72
“YA, SUMEKAR JUGA melihat kemungkinan itu.
Bahaya yang sebenarnya mungkin berada di istana Singasari, tetapi mungkin juga
berada di istana Kediri. Dan itu bagiku cukup jelas. Tentu Mahisa Agni dianggap
sebagai orang yang berdiri dibelakang tabir semua kejadian yang telah
melemparkan Tohjaya dari kedudukannya.”
Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ia-pun sependapat dengan kemungkinan-kemungkinan yang dikatakan oleh Witantra
dan Sumekar, bahwa Mahisa Agni-pun sedang terancam pula. Tanpa Mahisa Agni,
Anusapati sama sekali bukan lawan yang berarti bagi Sri Rajasa.
Karena itu, maka mereka-pun menjadi semakin
gelisah. Kuda mereka dipacunya semakin cepat. Namun Witantra kemudian berkata,
“Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa malam ini. Mereka baru akan mencapai
Kediri lewat pagi hari.”
Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dan ia-pun sadar, bahwa perjalanan ke Kediri bukan jarak yang pendek, meski-pun
hampir setiap pekan ia hilir mudik berganti-ganti dengan Witantra dan Kuda
Sempana.
Oleh kesadaran itu, maka hati mereka-pun
menjadi agak tenteram. Mereka dapat mengikuti jejak kuda-kuda yang mendahuluinya
dengan agak tenang. Bahkan kemudian mereka-pun beristirahat karena kuda-kuda
mereka-pun agaknya menjadi lelah.
Mereka memasuki Kediri dihari berikutnya.
Tidak lagti berpacu secepat-cepatnya. Bahkan mereka berhasil menyelusur jejak
kuda-kuda yang mereka ikuti sampai masuk kedalam pintu gerbang kota, justru
karena mereka menunggu matahari mulai terbit. Derap kaki kuda yang masih tampak
jelas diatas tanah berembun menunjukkan kepada mereka, kemana kuda-kuda itu
pergi.
Witantra tidak memerlukan lagi kelanjutan
jejak itu. Kaki para pejalan dan pedati yang hilir mudik setelah matahari
semakin tinggi telah menghapus jejak kaki kuda itu. Tetapi Witantra sudah
mendapat kepastian, mereka berada didalam kota Kediri.
Dengan demikian maka Witantra menganggap
bahwa bahaya yang sebenarnya, ternyata berada di istana wakil Mahkota di Kediri.
“Apakah yang akan mereka lakukan?“ bertanya
Mahendra.
“Kita belum dapat menebak. Tetapi Mahisa
Agni harus segera mengetahuinya. Aku kira mereka tidak akan menyiapkan waktu
sehingga apabila malam tiba, Mahisa Agni harus siap menghadapi segala
kemungkinan.”
Demikianlah, mereka-pun segera pergi
keistana Mahisa Agni dengan cara yang khusus, agar tidak menimbulkan kecurigaan
pada para pengawal istana itu.
Seperti biasanya mereka menitipkan
kuda-kuda mereka pada orang yang dapat mereka percaya. Kemudian mereka pergi ke
istana wakil Mahkota untuk mencari seorang juru taman yang sebenarnya adalah
Kuda Sempana.
“Kalian siapa?“ bertanya para prajurit yang
bertugas, diregol.
“Kami adalah saudara-saudaranya yang datang
dari desa, dari pedukuhan.“ Witantra menjawab. Lalu, “bukankah kami berdua
pernah berkunjung juga kemari?”
Prajurit-prajurit itu ragu-ragu sejenak,
namun kemudian keduanya-pun dibiarkannya masuk menemui juru taman dipetamanan
belakang.”
“Lebih baik masuk dimalam hari,“ desis
Mahendra.
Witantra tidak menjawab, tetapi ia
mengangguk-anggukkan kepalanya. Dimalam hari mereka memang tidak perlu menjawab
pertanyaan-pertanyaan para penjaga, karena mereka selalu meloncati pagar batu
yang tinggi.
Mahisa Agni yang kebetulan ada dipendapa
melihat kehadiran keduanya. Tetapi ia sama sekali tidak menegurnya, bahkan acuh
tak acuh. Namun sejenak kemudian maka Mahisa Agni-pun segera pergi ke petamanan
di kebun belakang untuk meneliti tanam-tanaman yang dipesannya kepada juru
tamannya. Karena Mahisa Agni adalah orang yang senang sekali pada
tanaman-tanaman, sehingga juru tamannya tidak pernah sempat beringsut dari
petamanan, kecuali jika ia mohon untuk beristirahat dua tiga hari, kembali
kekampung halaman.
“O, kau mempunyai tamu?“ bertanya Mahisa
Agni kepada juru tamannya yang sedang duduk-duduk dibawah sebatang pohon kantil
bersama Witantra dan Mahendra.
“Ya tuan. Keduanya adalah saudaraaku.“
jawab Kuda Sempana.
Beberapa orang pelayan yang melihat mereka
sama sekali tidak menghiraukannya. Mahisa Agni memang sering berada dipetamanan
itu.
Sejenak kemudian, sambil berdiri Mahisa
Agni mendengarkan keterangan yang diberikan oleh Witantra dan Mahendra
berganti-ganti.
Dengan sungguh-sungguh Mahisa Agni
mendengarkan keterangan itu, serta beberapa pendapat Sumekar tentang orang-orang
yang dicurigainya itu.
“Aku sependapat Mahisa Agni, bahwa bahaya
itu dapat berada di istana Singasari, tetapi juga dapat disini. Semalam suntuk
aku sudah
menempuh jarak yang jauh. Baru tengah hari
aku berhasil menemuimu. Tetapi aku kira, seandainya benar dugaan kami, maka
semuanya akan berlangsung dimalam hari.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Aku sudah minta Sumekar untuk selalu dekat
dengan Putera Mahkota dalam keadaan serupa ini. Untunglah bahwa adinda Putera
Mahkota, Mahisa Wonga Ateleng sangat dekat dengan kakandanya, dan sedikit banyak
sudah mampu untuk membantunya jika keadaan memaksa.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak
ia merenung. Maka katanya kemudian, “Aku dapat mengerti. Memang bahaya itu dapat
berada disini, karena Sri Rajasa pasti yakin bahwa akulah sumber dari
kegagalannya. Jika orang itu harus membinasakan Kesatria Putih, maka Kesatria
Putih pasti tidak diikat oleh Sri Rajasa di istana dengan segala macam alasan.”
“Tetapi apakah gunanya? Kenapa Kesatria
Putih tidak dibiarkannya saja?”
“Mungkin Kesatria Putih menjumpai
orang-orang itu dan mengikutinya. Jika ia sampai keistana ini, maka usaha untuk
membinasakan aku akan terganggu karena disini ada kekuatan lain yang dapat
membantu aku.”
Mahendra mengangguk-angguk sambil berdesis,
“Mungkin kau benar. Jika demikian maka Sri Rajasa akan bertindak selangkah demi
selangkah. Kau dahulu, baru Putera Mahkota.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya
pula. Katanya kemudian, “Jika demikian aku memerlukan kalian. Aku tidak akan
dapat mengatasi mereka seorang diri, karena Sri Rajasa yang sudah menjajagi
kemampuannya mempercayai orang itu untuk melakukan tugasnya.”
Witantra dan Mahendra menjawab hampir
berbareng, “Aku akan bermalam disini. Tidak hanya satu malam tetapi beberapa
malam. Bukankah Kesatria Putih tidak dapat berbuat apa-apa untuk
beberapa saat? Pada saatnya aku akan pergi
ke Singasari untuk menghubungi Sumekar, apakah ikatan yang dikenakan kepada
Putera Mahkota masih ada atau sudah dihapuskan, sehingga Kesatria Putih dapat
bertindak kembali.”
“Terima kasih. Mudah-mudahan kita dapat
mengatasi setiap kesulitan. Dan mudah-mudahan Putera Mahkota juga tidak terkena
bencana apa-pun selama kita berkumpul disini.”
“Aku percaya kepada Sumekar.”
Mahisa Agni-pun mengangguk-anggukkan
kepalanya. Dan sejenak kemudian maka ditinggalkannya juru taman dengan kedua
tamunya itu duduk dibawah pohon kantil.
Sejenak Mahisa Agni berpaling. Sesuatu
bergejolak didalam dadanya. Tiga diantara mereka berempat adalah orang-orang
yang pernah tersentuh hatinya oleh seorang gadis Panawijen yang bernama Ken
Dedes. Mahendra pernah melakukan perkelahian untuk memperebutkan Ken Dedes
melawan Mahisa Agni yang menyebut dirinya Wiraprana. Kemudian Kuda Sempana
bahkan menjadi hampir gila karenanya. Dan Mahisa Agni sendiri yang menanam
perasaannya dalam-dalam dilubuk hatinya. Kini mereka yang gagal itu telah
berbuat sejauh-jauh dapat mereka lakukan untuk anak Ken Dedes itu. Untuk
Anusapati.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia
harus menemui mereka sekali lagi untuk mengatur diri menghadapi setiap
kemungkinan. Tetapi ia tidak tergesa-gesa. Ia mempunyai waktu menjelang senja
nanti.
Demikianlah Mahisa Agni masih sempat
merenungi keterangan yang didapatnya dari Witantra dan Mahendra. Namun ia tidak
menemukan kesimpulan lain bahwa bahaya memang sedang mengancamnya. Ternyata Sri
Rajasa sudah tidak mempunyai jalan lain untuk mengatasi kesulitan, bahwa Mahisa
Agni telah dengan hampir berterus-terang menentukan rencana yang telah
disusunnya.
Mahisa Asni menarik nafas dalam-dalam. Kini
di Singasari seakan-akan sedang dibakar oleh sebuah peperangan yang aneh. Parang
yang tidak diumumkan dan tidak dilihat oleh
orang banyak. Perang yang terjadi diantara dua istana tanpa menyeret
prajurit-prajurit dan bahkan para perwira dan panglimanya.
Namun perang yang demikian memerlukan
kecermatan perhitungan. Dan Mahisa Agni-pun kini telah bertekad untuk
melanjutkan perang yang demikian itu sampai ia berhasil memenangkannya. Ia tidak
bermaksud membunuh Sri Rajasa. Tujuannya semata-mata agar Mahkota tidak jatuh
ketangan keturunan Ken Umang. Jika ia berhasil, maka perjuangan itu telah
dimenangkannya. Tetapi ternyata bahwa Sri Rajasa menjadi semakin lama semakin
kasar. Dan sampailah kini usahanya untuk melakukan tindakan kekerasan atasnya.
“Tetapi semuanya baru sekedar dugaan,“
berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “namun demikian aku harus berhati-hati.”
Menjelang malam Mahisa Agni sempat menemui
Witantra dan kedua orang kawannya yang lain. Mereka telah menyusun rencana untuk
menghadapi setiap kemungkinan jika benar-benar ada bahaya yang memasuki istana
ini.
“Aku akan mengawasi dinding-dinding
dibelakang,“ berkata Kuda Sempana, “karena hanya akulah yang dapat melakukannya
diluar kecurigaan para prajurit yang bertugas.”
“Ya, dan orang-orang itu-pun pasti tidak
akan memasuki halaman ini dari depan. Meski-pun mereka mendapat tugas dari Sri
Rajasa, tetapi tugas yang mereka lakukan adalah tugas rahasia. Tugas yang tidak
diketahui oleh pimpinan pemerintahan Singasari yang lain. Karena itu, mereka
pasti akan memasuki halaman ini tidak melalui pintu yang sewajarnya.”
“Witantra dan Mahendra akan berada didalam
bilikku,” berkata Kuda Sampana, “jika mereka benar-benar datang, aku akan
memberikan isyarat.“
Witantra tersenyum. Katanya, “Ada juga
gunanya kau bekerja menjadi juru taman. Aku juga ingin menempatkan diriku
semakin dekat dengan istana ini, dan bahkan kelak istana Singasari.”
Demikianlah, maka ketika malam datang,
Mahisa Agni sudah bersiaga didalam biliknya. Ia sadar, bahwa yang dihadapinya
kini adalah orang-orang pilihan, yang telah dijajagi sendiri langsung oleh Sri
Rajasa.
Di kebun belakang Kuda Sempana masih sibuk
dengan beberapa macam tanaman. Ketika seorang prajurit lewat, dilihatnya juru
taman itu masih sibuk, maka ia-pun bertanya, “Apa yang kau kerjakan disitu?”
Kuda Sempana mengangkat wajahnya. Kemudian
jawabnya, “Aku harus menanam bibit baru ini.”
“Kenapa tidak besok?“
“O, bibit ini hanya dapat ditanam dimalam
hari,” jawab Kuda Sempana, “jika ditanam dipagi apalagi siang hari, bibit ini
tidak akan tumbuh.”
Prajurit itu tidak menghiraukannya lagi.
Ia-pun segera kembali kegardunya.
Demikianlah malam semakin lama menjadi
semakin dalam. Karena didaerah Kediri pada umumnya jarang sekali tenjadi
keributan, maka para prajurit menganggapnya bahwa daerah ini adalah daerah yang
aman. Dengan demikian maka mereka-pun tidak terlalu tegang menjalankan tugas
mereka. Apalagi di halaman istana ini. Selama mereka bertugas, tidak pernah
terjadi sesuatu. Bukan saja sepekan ini, tetapi setiap kali mereka mendapat
giliran bertugas di istana ini, tidak pernah terjadi apa-pun juga.
Malam hari-pun para prajurit sama sekali
tidak menjadi curiga, Mahisa Agni dengan sengaja ingin menyelesaikan
persoalannya sendiri tanpa menyeret prajurit Singasari dalam pertempuran. Itulah
sebabnya ia sama sekali tidak memberitahukan kemungkinan yang dapat terjadi. Ia
percaya kepada diri sendiri dan kawan-kawannya yang kebetulan ada didalam
halaman istana itu pula.
Kuda Sempana yang berada dikebun belakang
ternyata tidak meninggalkan tempatnya. Ia bahkan mencari tempat yang
terlindung dan duduk didalam kegelapan.
Namun dari tempatnya ia dapat mengawasi sebagian besar dari pagar batu dibagian
belakang. Menurut perhitungannya, jalan itulah yang akan dilalui oleh para
penjahat itu, karena bagian belakanglah yang agaknya paling sepi dari penjagaan.
Disisi halaman, kemungkinan pengamatan masih cukup banyak dari para peronda.
Tetapi dibagian belakang, hampir tidak pernah disentuhnya.
Sampai tengah malam Kuda Sempana tidak
melihat sesuatu. Karena itu, hampir saja ia menjadi jemu. Hampir saja ia berdiri
dan meninggalkan tempatnya.
“Mereka tidak datang malam ini,“ ia
bergumam, “lebih baik tidur dibilik daripada dikeroyok nyamuk disini.“ Namun
baru saja ia bergeser, terasa dadanya berdesir. Ia mendengar sesuatu yang
meski-pun sangat lembut, namun telah menumbuhkan kecurigaan padanya.
“Mereka pasti sudah berada diluar dinding
ini,“ berkata Kuda Sempana kepada diri sendiri.
Karena itu, maka Kuda Sempana-pun segera
mempersiapkan dirinya menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Jika
mereka benar-benar datang, maka ia-pun harus segera memberikan isyarat kepada
Witantra dan Mahendra yang berada didalam biliknya.
Sejenak Kuda Sempana masih harus menunggu
untuk menyaksikan dirinya, bahwa yang datang itu adalah yang ditunggunya.
Sesaat kemudian, dada Kuda Sempana menjadi
berdebar-debar. Ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak diatas dinding batu yang
tinggi. Dan ketajaman matanya segera mengetahui, bahwa yang bergerak-gerak itu
adalah sesosok tubuh manusia yang berbaring menelungkup pada permukaan pagar
batu.
“Tentu orang yang berpengalaman,“ berkata
Kuda Sempana.
Tetapi Kuda Sempana tidak segera beranjak
dari tempatnya. Ia masih menunggu apa yang akan dilakukan oleh orang diatas
dinding batu itu.
Ternyata orang itu untuk beberapa lamanya
tidak bergerak sama sekali. Hanya orang yang memperhatikan dengan saksama
sajalah yang dapat melihat, bahwa diatas dinding batu itu ada seseorang yang
berbaring menelungkup, hampir serata dinding batu itu sendiri.
“Orang itu tentu sedang mengamati keadaan,“
berkata Kuda Sempana pula didalam hatinya. Namun ia-pun kini sudah yakin bahwa
orang itu adalah salah seorang dari yang dikatakan oleh Witantra.
“Mereka benar-benar tidak membuang waktu,“
berkata Kuda Sempana didalam hatinya, “baru siang tadi ia memasuki kota, dan
malam ini mereka sudah bertindak.”
Karena itu, maka Kuda Sempana-pun segera
menarik seutas tali yang dihubungkannya dengan biliknya. Agar tidak mengejutkan
orang-orang lain yang tinggal disekitar gubuknya, maka Kuda Sempana mengikatkan
tali itu pada daun pintu biliknya, sehingga suara derit yang timbul adalah derit
pintu itu, seperti derit yang sudah biasa mereka dengar.
Witantra dan Mahendra-pun ternyata hampir
menjadi jemu menunggu. Namun mereka masih juga belum tertidur. Meski-pun
Mahendra sudah berbaring diamben bambu satu-satunya milik Kuda Sempana namun ia
masih juga mendengar pintu berderit.
“Ha, isyarat itu,“ desisnya.
Witantra-pun segera mendekati pintu dan
menarik tali itu pula, untuk memberikan isyarat kepada Kuda Sempana, bahwa
Witantra telah menerima pemberitahuan tentang kedatangan orang itu.
Ketika tali yang digenggamnya bergerak,
Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Witantra pasti akan segera datang, dan
pasti dengan sangat berhati-hati.
“Mudah-mudahan tali ini benar-benar
digerakkan oleh Witantra,“ berkata Kuda Sempana didalam hati, “bukan sekedar
dilanggar kucing atau kaki tetangga yang kebetulan pergi kepakiwan tanpa
mengetahui bahwa ada tali yang terentang ini.”
Dalam pada itu, Witantra dan Mahendra-pun
segera mengemasi dirinya. Mereka tidak akan sekedar mengintip seorang pencuri
ayam dikebun belakang. Tetapi yang akan mereka intai malam itu adalah
orang-orang yang pernah dijajagi kemampuannya oleh Sri Rajasa sendiri.
Karena itu, maka mereka-pun telah
mengenakan pakaiannya sebaik-baiknya, dengan senjata dilambung dan kesiapan yang
mantap.
Setelah menutup pintu biliknya kembali,
maka mereka berdua-pun segera merayap meninggalkan bilik itu, pergi ketempat
yang sudah dijanjikan. Hati-hati sekali, karena mereka yakin, bahwa Kuda Sempana
sudah melihat orang yang mereka tunggu.
Tanpa menimbulkan suara, Witantra berhasil
mencapai Kuda Sempana. Dan mereka bertiga-pun kemudian menyaksikan orang yang
berbaring menelungkup itu mulai bergerak-gerak.
Kuda Sempana memperhatikan orang itu
semakin tajam. Kini orang itu memberikan isyarat kepada kawan-kawannya yang
masih ada diluar.
Sejenak kemudian orang itu sendiri telah
melayang turun. Tubuhnya seakan-akan terlalu ringan sehingga ketika kakinya
menyentuh tanah, sama sekali tidak menimbulkan suara apapun. Hanya karena Kuda
Sempana sempat melihat mereka dahulu sajalah, maka ia dapat mengikuti
gerak-geriknya.
Demikian orang itu berjejak ditanah, ia-pun
segera beringsut kedalam gelap yang pekat, dibawah bayangan rimbunnya petamanan
dan pohon-pohon perdu.
Namun sejenak kemudian, orang kedua-pun
telah meloncat masuk pula. Dengan sebuah isyarat desis yang lembut, orang kedua
itu-pun segera bersembunyi pula.
Demikianlah yang mereka lakukan
berturut-turut. Seperti yang dikatakan oleh Witantra semula, orang itu sejumlah
lima atau enam orang. Dan yang malam itu benar-benar memasuki halaman adalah
sejumlah lima orang.
Kuda Sempana, Witantra dan Mahendra sama
sekali tidak sempat berbicara agar suaranya tidak didengar oleh salah seorang
dari mereka, karena Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana menyadari bahwa mereka
pasti orang-orang yang berilmu tinggi. Pasti juga pendengaran dan pengamatannya
tajam pula.
Karena itu ketiganya sama sekali tidak
berbicara apapun. Mereka hanya mengikuti saja dengan tatapan matanya kemana
kelima orang itu pergi.
Ketiga orang itu mengangguk-anggukkan
kepalanya melihat arah yang tepat yang dilalui oleh orang-orang itu. Mereka
langsung melintasi kebun belakang yang gelap menuju keserambi istana.
“Tentu ada yang memberikan beberapa
petunjuk tentang halaman istana ini,“ baru kemudian Kuda Sempana berani berdesis
perlahan sekali.
Witantra menganggukkan kepalanya, “Mungkin
penasehat Sri Rajasa itu sendiri. Mereka tentu sudah mempunyai gambaran yang
lengkap dari istana ini. Juga tentang bilik-bilik didalam istana, dan dimana
Mahisa Agni tidur.”
“Marilah kita ikuti,“ desis Mahendra,
“mereka sudah agak jauh.”
Ketiganya-pun kemudian merayap pula
mengikuti orang-orang yang mencurigakan itu. Dari jarak yang agak jauh, mereki
sempat menghitung, berapa orang jumlah mereka yang memasuki istana itu.
“Lima orang,“ desis Mahendra.
“Sst,“ sahut Witantra, “mereka mempunyai
ketajaman panca indera.”
Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun ketika kelima orang yang diikuti itu merayap maju, mereka bertiga-pun maju
pula.
Ternyata bahwa kelima orang itu masih harus
berunding sejenak sebelum mereka mendekati serambi belakang. Agaknya mereka
sedang membagi pekerjaan. Diantara mereka harus ada yang menunggu diluar istana,
sedang yang lain akan memasukinya dan mencari bilik Mahisa Agni.
“Ternyata Sri Rajasa benar-benar sudah
mulai,“ desis Mahendra yang agaknya paling banyak berbicara.
“Sst,“ sekali lagi Witantra berdesis.
Mahendra mengerutkan keningnya. Tetapi
rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu. Ia ingin segera meloncat menerkam
orang-orang yang tidak dikenalnya itu. Namun ia masih harus menahan diri.
“Jadi kita harus berkelahi tanpa dilihat
orang,“ Mahendra bertanya.
“Sst,“ Witantra harus berdesis pula, “kau
terlalu banyak bicara. Tunggu sajalah.”
Mahendra terdiam. Kepalanya
terangguk-angguk meski-pun ia masih bertanya, “Bagaimana dengan kedua orang yang
mengawasi diluar itu?”
Witantra mengerutkan keningnya. Tetapi ia
tidak segera menjawab.
Sejenak kemudian mereka melihat orang-orang
yang memasuki halaman istana itu telah melekat dinding serambi. Dengan sangat
hati-hati mereka memperhatikan keadaan disekelilingnya. Namun bagi mereka,
halaman itu terlampau sepi. Tidak ada prajurit yang kebetulan meronda di halaman
belakang.
Dengan isyarat mereka-pun kemudian saling
mendekat dan dengan penuh kewaspadaan mereka mulai berusaha membuka pintu.
Witantra dan kawan-kawannya menjadi tegang.
Tiga orang dari mereka sibuk dengan pintu serambi belakang, sedang dua orang
lainnya mengawasi keadaan disekitarnya.
Ternyata orang-orang itu adalah orang-orang
yang berpengalaman. Hampir tanpa menimbulkan suara, mereka berhasil membuka
pintu kayu serambi belakang.
“Mereka memutuskan tali-tali papan
disebelah menyebelah pintu,“ desis Mahendra pula.
Witantra tidak menyahut. Namun dengan
tajamnya ia mengawasi, apa yang dilakukan oleh orang-orang itu.
Sejenak kemudian, maka pintu-pun sudah
terbuka. Ternyata ruangan di serambi itu hanya samar-samar saja diterangi oleh
lampu minyak yang seakan-akan hampir padam.
Dengan hati-hati tiga diantara kelima orang
itu memasuki ruangan itu. Langkah mereka benar-benar tidak menimbulkan desir
sama sekali, seakan-akan mereka tidak berpijak diatas tanah.
Demikianlah keadaan menjadi hening sejenak.
Ketiga orang yang ada didalam itu sedang mencari jalan untuk menuju kebilik
Mahisa Agni.
“Mereka menutup pintu itu kembali,“ bisik
Mahendra. Witantra tidak menyahut. Ia-pun melihat pintu itu tertutup kembali dan
dua orang yang ada diluar berjongkok dibelakang tanaman perdu disebelah
menyebelah pintu itu.
“Apa yang kita lakukan?“ bertanya Mahendra,
“menyerbu masuk saja?”
“Tunggu,“ desis Witantra, “Mahisa Agni akan
memberikan Isyarat.”
Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dan ia-pun yakin, bahwa Mahisa Agni yang sudah bersiaga itu pasti sudah
mengetahui kehadiran orang-orang itu. Namun demikian Mahendra masih juga
berbisik, “Mudah-mudahan Mahisa Agni tidak tertidur.”
“Sst,“ Witantra berdesis pula.
Kuda Sempanalah yang sama sekali tidak
berbicara. Tetapi dengan tajamnya ia mengamati setiap gerak dari orang-orang
yang tidak mereka kenal, tetapi sudah mereka ketahui maksudnya itu.
Untuk beberapa saat mereka tidak mendengar
apa-apa. Agaknya orang-orang yang mencari bilik Mahisa Agni itu masih belum
dapat menemukannya.
Tetapi orang yang sedang mengintai itu
terkejut ketika ia melihat seseorang melangkah perlahan-lahan dari sudut istana,
seakan-akan tidak menghiraukan apa-pun juga. Sambil menyilangkan tangannya
didada, ia berjalan dengan kepala tunduk.
“He, bukankah itu Mahisa Agni,“ bisik
Mahendra.
Witantra menarik nafas dalam-dalam.
Ternyata Mahisa Agni tidak berada didalam istana itu.
“Apakah ia tidak tahu bahwa ada dua orang
yang bersembunyi dibalik batang perdu itu.”
Witantra tidak menyahut. Namun mereka
bertiga menahan nafas ketika mereka melihat Mahisa Agni berhenti beberapa
langkah didepan pintu.
Adalah mengejutkan sekali bahwa tiba-tiba
saja Mahisa Agni membungkukkan badannya sambil berkata, “Aku persilahkan kalian
masuk. Bukankah udara sangat dingin diluar?”
Witantra dan kawan-kawannya saling
berpandangan sejenak. Sambil tersenyum Mahendra berbisik, “Gila, juga Mahisa
Agni itu.”
Ternyata sapa Mahisa Agni itu telah
menghentakkan jantung kedua orang yang bersembunyi dibalik perdu itu. Mereka
sama sekali tidak menduga, bahwa ada orang yang telah melihatnya.
Karena itu, maka untuk beberapa saat
keduanya justru bagaikan membeku. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka
lakukan.
Karena keduanya sama sekali tidak menyahut,
maka Mahisa Agni-pun mengulanginya, “Ki Sanak, marilah, jangan duduk disitu.
Apakah yang sedang kalian tunggu?”
Kedua orang yang bersembunyi itu-pun segera
menyadari keadaan mereka. Mereka harus mengawasi keadaan diluar selama ketiga
kawan-kawannya berada didalam. Hanya atas isyarat mereka sajalah keduanya akan
masuk.
Dengan demikian maka kedatangan orang yang
tidak mereka sangka-sangka telah melihat mereka berdua itu, menimbulkan
persoalan yang tiba-tiba. Karena itulah, mereka menjadi kebingungan sejenak.
Namun adalah tugas mereka untuk mengamankan
keadaan ketiga kawannya yang ada didalam. Siapa-pun orang itu, namun orang itu
tidak boleh mengetahui atau mencurigai bahwa telah hadir orang-orang yang tidak
dikenal di halaman istana itu.
Setelah merenungi Mahisa Agni sejenak, maka
barulah salah seorang dari mereka bertanya, “Siapa kau?”
“Aku hamba istana ini. Siapakah yang kalian
tunggu?“ sahut Mahisa Agni yang kemudian bertanya kembali kepada, kedua orang
itu.
“Tidak ada yang aku tunggu.”
“O,“ Mahisa Agni mengangguk-anggukkan
kepalanya, “tetapi siapakah kalian berdua? Agaknya aku belum pernah melihat
meski-pun aku sudah lama bekerja di istana ini.”
“Kami adalah prajurit peronda.”
“O,“ Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi
tiba-tiba saja ia bertanya, “tetapi kenapa berada disitu? Biasanya para peronda
berada digardunya. Karena istana ini selamanya tidak pernah diganggu oleh
kejahatan macam apapun, maka biasanya mereka
tetap berada digardunya. Kecuali jika ada
isyarat dari para hamba yang tinggal dibagian belakang halaman ini. Kentongan
misalnya. Atau teriakan yang mencurigakan.”
Keduanya terdiam sejenak. Namun kemudian
salah seorang menjawab, “Kami harus tetap berwaspada. Kami harus berhati-hati
setiap saat.“
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu, “Tetapi aku belum pernah melihat kalian.”
“Baru saja aku ditugaskan di istana ini.
Baru hari ini aku tiba dari Singasari.”
“Jadi kalian prajurit-prajurit Singasari?”
“Ya.”
“Tetapi pakaian kalian bukan pakaian
prajurit Singasari yang bertugas di Kediri. Aku mengenal pakaian mereka dengan
baik, karena aku setiap hari bergaul dengan mereka.”
Jawaban itu membuat keduanya menjadi
semakin bingung. Namu mereka tetap menyadari, bahwa mereka harus bertindak jika
orang itu membahayakan kawan-kawannya yang ada didalam istana. Karena itu, maka
salah seorang dari keduanya berkata, “Marilah. Aku tunjukkan kepadamu bahwa aku
benar-benar seorang prajurit Singasari. Marilah, kita masuk kedalam, supaya
terang bagimu siapa sebenarnya kami berdua.”
Mahisa Agni memandang keduanya
berganti-ganti lalu, “Aku sudah mengenal dengan baik. Tidak didalam, disini-pun
aku melihat.”
“Didalam lebih jelas bagimu ciri-ciri
keprajuritan.“
“Aku tidak berani. Tanpa ijin tuanku Mahisa
Agni, aku tidak berani masuk, karena istana ini adalah istana wakil Mahkota di
Kediri.”
“Aku yang membawamu masuk. Jika ada orang
yang marah kepadamu meski-pun itu Mahisa Agni, akulah yang bertanggung
jawab. Bahkan aku ingin kau menunjukkan
dimana tuanku Mahisa Agni itu tidur.”
“Ah, aku tidak tahu dan aku tidak berani.”
“Jangan membantah. Cepat, masuk.”
Tetapi Mahisa Agni surut selangkah sambil
berkata, “Aku tidak mau.”
“Cepat, sebelum aku bertindak.”
“Aku akan berteriak.”
“Jika kau berani berteriak, kau akan mati.”
“Kenapa? Aku tidak bersalah. Baiklah aku
pergi saja jika kalian tidak senang melihat kehadiranku disini.”
“Tidak, tidak.”
Mahisa Agni masih melangkah beberapa
langkah surut, sementara itu Mahendra berkali-kali berdesis, “Mahisa Agni memang
gila. Ia mempunyai kebiasaan aneh. Ia sangat pandai berpura-pura. Bukankah aku
pernah ditipunya ketika ia mengaku bernama Wiraprana. Kenangan itu pahit, tetapi
menggelikan. Kadang-kadang aku tertawa sendiri. Bahkan orang seganas Kebo
Sindet-pun dapat ditipunya.”
“Sst,“ desis Witantra.
Mahendra mengerutkan keningnya. Tetapi
ia-pun terdiam.
Dalam pada itu, ketiga orang yang berada
didalam istana Mahisa Agni, mendengar juga ribut-ribut diluar. Dengan marahnya
salah seorang dari mereka menjengukkan kepalanya sambil bertanya, “He, kenapa
ribut?”
“Orang itu.”
“Siapa?”
“Abdi istana ini. Ia melihat kami berdua.
Aku Ingin membawanya masuk agar ia tidak mengganggu.”
“Bunuh sajalah. Cepat, agar tidak
menimbulkan keributan lagi.”
“Jangan, jangan bunuh aku,“ desis Mahisa
Agni.
Tetapi kedua orang itu tidak
menghiraukannya lagi. Mereka harus membunuh orang itu sebelum sempat berteriak.
Karena itu, maka salah seorang dari mereka
segera menerkam Mahisa Agni. Ia ingin mencekiknya sampai mati tanpa
mempergunakan senjata apa-pun juga.
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang sudah
mendengar dari Witantra bahwa Sri Rajasa sendiri telah memerlukan melakukan
penjajagan atas salah satu dari orang-orang itu, tidak dapat menanggapi serangan
itu dengan seenaknya. Karena itu, ketika tangan orang-orang itu terjulur
kelehernya, tiba-tiba saja Mahisa Agni mencoba menangkapnya.
Ternyata tangkapan tangan Mahisa Agni pada
pergelangan tangan orang itu sangat mengejutkannya. Dengan serta merta ia
menghentakkan diri dan merenggut tangannya yang digenggam oleh Mahisa Agni itu.
Sejenak Mahisa Agni mencoba menahan tangan
itu, namun sejenak kemudian tangan itu dilepaskannya. Ia tidak ingin mematahkan
tangan orang itu, karena ia masih harus memancing ketiga orang yang sudah ada
didalam istana itu keluar. Namun dengan demikian ia telah berhasil menjajagi
kekuatan dan kemampuan orang itu, meski-pun ia sadar, bahwa orang itu sama
sekali tidak bersikap menghadapi kemungkinan seperti yang bakal terjadi.
Yang terjadi itu memang tidak terduga sama
sekali. Orang itu tidak menyangka bahwa yang menyebut dirinya abdi dari istana
wakil Mahkota di Kediri itu dapat berbuat secepat yang dilakukannya itu, bahkan
berhasil menangkap tangannya meski-pun tangan itu dapat direnggutnya.
Karena itu, maka orang yang tidak berhasil
mencekik leher Mahisa Agni itu segera menyadari, bahwa ia tidak berhadapan
dengan orang yang terlalu lemah, seperti
juga Mahisa Agni yang menduga, bahwa orang itu pasti bukan orang yang telah
dijajagi kemampuannya oleh Sri Rajasa.
“He, kenapa kau berbuat gila? “ orang yang
menjengukkan kepalanya berdesis, “bunuh saja. Kenapa kau masih sempat berbuat
gila dalam keadaan seperti ini.”
Kawannya yang gagal mencekik Mahisa Agni
menjadi berdebar-debar. Tetapi ia masih yakin bahwa ia akan dapat membunuh abdi
istana itu. Beberapa langkah ia maju mendekati Mahisi Agni, dan sejenak kemudian
dengan tiba-tiba saja ia menyerang langsung kearah dada Mahisa Agni.
Sekali lagi Mahisa Agni menghindar. Kali
ini ia menangkap lengan orang itu dan memilinnya. Kemudian dengan cepatnya
Mahisa Agni menangkap pula kakinya dan mengangkat orang itu diatas kepalanya.
Hampir tidak masuk akal, bahwa Mahisa Agni telah melemparkan orang itu kearah
kawannya yang masih menjengukkan kepalanya.
Namun ternyata orang itu cukup cekatan,
sehingga sambil menggeliat ia dapat mengatur dirinya dan jatuh diatas kedua
kakinya tepat sejengkal didepan pintu.
Tetapi apa yang terjadi itu benar-benar
telah membangunkan orang-orang yang memasuki istana dari halaman belakang itu.
Kini mereka benar-benar menyadari dengan siapa ia berhadapan. Karena itu, maka
ketiga orang yang melihat Mahisa Agni berdiri tegak didalam kegelapan itu-pun
segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Orang itu pasti bukan sekedar
seorang abdi dari istana ini.
Orang yang semula hanya menjengukkan
kepalanya saja itulah yang kemudian berdiri dihadapan Mahisa Agni sambil
menggeram, “Siapa sebenarnya kau he?”
“Aku abdi dari istana ini. Akulah yang
harus bertanya kepadamu, siapakah kau dan kawan-kawanmu itu. Dan kenapa kau
memasuki
halaman istana dibagian belakang ini
dimalam hari? Kau pasti bukan salah seorang dari prajurit Singasari yang sedang
bertugas disini.”
“Persetan. Aku tidak peduli siapa kau dan
aku-pun tidak akan menyebutkan siapa aku dan kepentinganku. Tetapi kau harus
mati.“
“Tidak seorang-pun yang akan dengan suka
rela menyerahkan dirinya untuk mati. Aku juga. Karena itu, kalau kau tidak mau
mengurungkan niatmu, kita pasti akan berkelahi. Kau tentu tahu akibatnya jika
aku memberikan isyarat kepada para prajurit yang sedang bertugas diregol depan.”
“Persetan,“ orang itu tidak menyahut lagi.
Dengan serta merta ia menarik pedangnya langsung menahas leher Mahisa Agni.
Tetapi Mahisa Agni benar-benar sudah
bersiaga. Karena itu, maka dengan tangkasnya menghindarkan dirinya dari sambaran
pedang itu.
Sekali lagi lawannya terkejut. Gerakan itu
terlampau cepat. Namun ternyata bahwa ia sama sekali tidak berhasil mengenai
lawannya. Tetapi ia tidak membiarkan lawarnya itu lolos. Dengan tangkasnya ia
memburu dan sekali lagi mengayunkan pedangnya kearah lambung. Namun, sekali lagi
lawannya itu berhasil menghindar dan meloncat beberapa langkah, sehingga
serangan itu sama sekali tidak mengenai sasarannya.
Orang itu menjadi gelisah. Jika ia tidak
berhasil dengan cepat membinasakan orang yang menyebut dirinya abdi istana wakil
Mahkota, dan orang itu sempat memberikan isyarat, maka pekerjaannya akan
bertambah sulit, meski-pun mereka berlima tidak akan gentar menghadapi sepuluh
orang penjaga sekalipun. Tetapi jika diantara yang sepuluh itu terdapat seorang
Mahisa Agni, maka mereka harus memperhitungkan keadaan itu sebaiknya.
Dengan demikian, maka yang harus
dikerjakannya adalah membunuh orang itu bagaimana-pun juga caranya. Maka sejenak
kemudian terdengar aba-abanya, “Kepung orang ini.”
Demikianlah maka ketiga orang itu-pun
segera berloncatan mengepung Mahisa Agni. Kini mereka bertiga telah bersenjata
telanjang dan siap menyergap orang yang menyebut dirinya abdi istana wakil
Mahkota itu.
Namun keributan itu agaknya telah
mengganggu orang yang ada didalam istana. Sejenak kemudian keduanya telah
berloncatan keluar. Salah seorang dari mereka berkata, “Apa yang kalian
kerjakan.”
“Membunuh orang ini,“ sahut orang yang
pertama-tama keluar.
“Siapakah orang itu.”
“Aku tidak tahu. Tetapi agaknya ia orang
gila.”
“Biarkan kedua anak-anak itu membunuhnya.
Cepat dan jangan ribut.”
“Mereka tidak akan berhasil. Aku-pun
tidak.”
“He,“ keduanya terkejut. “Apakah kau
mengigau.“
“Orang ini seperti setan.”
“Kau gagal membunuhnya?”
“Ya.”
Tiba-tiba orang yang keluar paling akhir
itu menggeram. Dengan marahnya ia berkata, “Minggir. Aku ingin melihat, siapakah
orang itu sebenarnya.”
Beberapa langkah orang itu maju mendekati
Mahisa Agni. Diamat-amatinya Mahisa Agni dari ujung kaki sampai keujung
rambutnya. Dan sejenak kemudian terdengar suara tertawanya lirih, “Tentu. Tentu
tikus-tikus ini tidak akan dapat membunuhmu. Tenyata kami bagimu adalah
orang-orang yang paling bodoh yang pernah kau temui. Kami mencarimu didalam
istanamu yang megah. Ternyata kau berada diluar. Nah, bagiku adalah kebetulan
sekali. Kita mendapat kesempatan untuk mengenal satu sama lain.”
Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi
diamatinya orang itu dengan tajamnya. Agaknya orang itu sudah mendapat pesan
tentang ciri-ciri orang yang bernama Mahisa Agni.
“Kenapa kau diam saja? Bukankah kau yang
bernama Mahisa Agni?”
“Mahisa Agni,“ ketiga orang yang telah
mengepungnya itu terkejut. “Jadi orang ini Mahisa Agni?”
“Apakah ia tidak mengaku bahwa dirinyalah
Mahisa Agni?”
“Ia menyebut dirinya abdi istana wakil
Mahkota ini.”
“Nah, aku menjadi semakin yakin. Menurut
ceritera Sri Rajasa, orang yang bernama Kebo Sindet-pun pernah ditipunya, dan
kemudian dibunuhnya. Tetapi ia tidak dapat menipu aku dan tidak dapat membunuh
aku, karena aku bukan Kebo Sindet dan aku tidak sedungu Kebo itu. Aku memiliki
beberapa kelebihan dari padanya, sehingga seandainya Kebo Sindet itu masih
hidup, ia tidak akan dapat mengalahkan aku pula.“
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak
kemudian ia bertanya, “Kenapa kau menyebut nama Sri Rajasa.”
“Jangan terkejut. Aku adalah utusannya. Aku
datang kemari atas namanya untuk membunuhmu.”
“Kakang,“ desis kawan orang itu.
“Aku tidak usah ragu-ragu mengatakannya,
karena sebentar lagi ia akan mati. Aku tidak gentar meski-pun ia mampu
membinasakan Gubar Baleman.”
Mahisa Agni merenung sejenak. Agaknya orang
inilah pemimpin kelompok orang-orang yang ingin membinasakannya itu. Dan agaknya
orang ini pulalah yang telah berkelahi melawan Sri Rajasa untuk dijajagi
kemampuannya.
“Aku harus berhati-hati,“ desis Mahisa Agni
didalam hatinya. Namun ia percaya bahwa disekitarnya pasti telah bersembunyi
Witantra dan kawan-kawannya untuk
membantunya jika ia harus menghadapi beberapa orang lawan yang terlalu berat
baginya.
“Jadi kau mendapat perintah Sri Rajasa
untuk membunuhku?“ bertanya Mahisa Agni.
“Ya.”
“Bohong. Sri Rajasa tidak akan
melakukannya. Aku adalah pembantunya yang paling dipercaya, dan itu ternyata
atas tugas yang diberikannya kepadaku sekarang ini. Aku adalah wakil Mahkota di
Kediri.”
“Tetapi kau adalah orang yang paling malang
di muka bumi. Ternyata bahwa orang yang memberikan kepercayaan kepadamu itulah
yang memerintahkan membunuhmu. Terimalah nasibmu dengan tabah.”
“Tetapi kau tidak akan berhasil. Aku memang
Mahisa Agni. Tetapi akulah yang membunuh Gubar Baleman itu dengan tanganku. Aku
pulalah yang membunuh Kebo Sindet seperti ceritera Sri Rajasa. Dan sekarang
datang giliranmu.”
Orang itu tertawa.
Namun Mahisa Agni melanjutkan, “Kita akan
berperang tanding. Siapakah yang ternyata lebih kuat diantara kita.”
“He, kau memang licik. Tidak, kita tidak
akan berperang tanding. Kami akan menyelesaikan kau secepat mungkin. Kami
berlima akan bersama-sama membunuhmu. Jangan mencoba menggugah harga diriku. Aku
memang bukan laki-laki jantan. Aku sekedar melakukan pekerjaan ini meski-pun
dengan licik, agar aku mendapat upah yang banyak sekali.”
“Apakah kau tidak menyadari bahwa ada
prajurit yang bertugas di istana ini.”
“Satu orang diantara kami akan dapat
menahan mereka, sementara kami yang lain membunuhmu. Setelah itu, kami akan
bersama-sama membunuh semua orang di halaman istana ini. Kau
mengerti. Dan rahasia perintah Sri Rajasa
tidak akan terdengar oleh siapapun.”
Namun tiba-tiba jantung mereka terasa
seperti dihentikan ketika tiba-tiba mereka mendengar suara, “Aku mendengarnya.
Aku mendengar rahasia perintah Sri Rajasa. Akulah yang akan mengumumkannya
kepada setiap orang di Kediri dan Singasari.”
Pemimpin penjahat itu menggeram. Sejenak
kemudian dilihatnya seseorang berdiri sambil menggeliat. Orang itu adalah
Mahendra. Ia adalah orang yang paling gelisah dan tidak sabar. Karena itu, maka
tiba-tiba saja ia berdesis menjawab kata-kata pemimpin perampok itu.
Sejenak perampok-perampok itu
memandanginya. Kemudian salah seorang bertanya dengan nada yang berat, “Siapa
kau?”
Mahendra yang sudah berdiri tegak itu tidak
segera menjawab. Beberapa langkah ia maju mendekati orang-orang yang sedang
kebingungan itu.
“Siapa kau? “ pemimpin garombolan penjahat
itu bertanya lagi dengan suara bergetar.
Mahendra kini berdiri tegak beberapa
langkah dari mereka. Sejenak ia masih berdiam diri, namun kemudian ia berkata,
“Aku adalah pekatik dari istana ini. Aku sedang menyabit rumput di halaman
belakang ketika aku mendengar kalian masuk meloncati dinding belakang sehingga
aku dan kedua kawanku yang seorang juru taman dan seorang lagi juru masak,
mengikuti kalian sampai ketempat ini. Aku melihat bagaimana kalian kebingungan.
Tiga orang masuk dan yang dua orang berada diluar, sehingga akhirnya yang dua
orang terlihat oleh abdi istana yang kau sangka tuanku Mahaisa Agni.”
Pemimpin perampok itu termangu-mangu
sejenak. Namun ia-pun kemudian sadar, bahwa orang itu pasti bukan seorang
pekatik dan orang itu tentu kawan-kawan Mahisa Agni. Namun menilik sikap dan
kata-katanya, maka orang itu agaknya yakin akan dirinya dan
memiliki kemampuan yang setidak-tidaknya
dapat membantu kesulitan Mahisa Agni menghadapi mereka berlima.
Karena Mahendra sudah menyebut dua orang
kawannya yang lain, maka Witantra dan Kuda Sempana-pun tidak bersembunyi lebih
lama lagi. Hampir berbareng mereka-pun muncul sambil berkata, “Baiklah. Kami
tidak akan bersembunyi lagi.”
Terasa dada para perampok itu berdesir.
Ternyata kedatangan mereka telah diketahui lebih dahulu oleh Mahisa Agni dan
kawan-kawannya yang pasti dipercayanya untuk membantu menghadapi mereka.
“Gila,” pemimpin perampok itu menggeram,
“siapakah yang sudah berkhianat? Sri Rajasa atau penasehatnya atau salah seorang
kepercayaan Sri Rajasa tanpa diketahuinya?”
“Tidak ada seorang-pun yang berkhianat,“
sahut Mahisa Agni, “kebetulan saja kami mengetahui kedatanganmu.”
“Bohong,“ pemimpin perampok itu memotong,
“jangan mengganggu lebih lama lagi. Tentu di halaman ini telah dipersiapkan
prajurit segelar sepapan. Suruh mereka segera keluar. Kami akan menghancurkan
mereka dan membunuh mereka bersama kalian termasuk Mahisa Agni.”
“Sayang,“ jawab Mahisa Agni, “kami tidak
menyiapkan penyambutan serupa itu. Justru aku sudah mengatakan kepada para
prajurit, bahwa malam ini mereka tidak usah meronda. Istana ini tidak pernah
diganggu oleh kejahatan. Tetapi sudah tentu bahwa kami harus menyiapkan
penyambutan bagi kalian yang apalagi salah seorang dari kalian telah langsung
melakukan penjajagan kemampuan melawan Sri Rajasa sendiri.”
“Gila,“ pemimpin perampok itu hampir
berteriak, “siapa pengkhianat itu he? Katakan, katakan! Darimana kau ketahui
semuanya itu?”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya.
Jawabnya, “Tidak ada gunanya. Tetapi nasibmu tidak akan lebih baik dari Kiai
Kisi yang
diumpankan langsung kepada Putera Mahkota,
sehingga Putera Mahkota sendirilah yang telah membunuhnya.”
“Persetan,“ kemarahan yang memuncak telah
mendidihkan darah pemimpin perampok itu, “ternyata istana Singasari telah
dipenuhi oleh pengkhianat-pengkhianat. Dan sekarang kalian mencoba menjebak aku
dan kawan-kawanku.“ ia berhenti sejenak. Lalu, “tetapi kalian kali ini akan
gagal. Meski-pun Mahisa Agni memiliki kemampuan setinggi langit, tetapi tidak
semua kalian memiliki kemampuan seperti Mahisa Agni. Karena itu, seorang demi
seorang kalian akan mati, bahkan seandainya kalian memanggil prajurit segelar
sepapan.”
“Kami tidak akan memanggil seorang
prajuritpun. Kami akan bertempur langsung,“ jawab Mahendra, “kami berempat, dan
kalian berlima. Setuju?”
Pemimpin perampok itu tidak menyahut. Namun
ketika ia menggeram seperti seekor harimau kelaparan kawan-kawannya agaknya
menerima suatu isyarat untuk segera mempersiapkan dirinya.
Mahisa Agni dan ketiga kawannya-pun
kemudian menebar. Mereka segera mempersiapkan diri untuk melawan setiap orang
yang akan menyerang mereka. Keempatnya menyerahkan kepada lawan-lawannya untuk
memilih salah seorang dari mereka.
Melihat sikap keempat orang itu para
perampok itu-pun menjadi semakin berdebar-debar. Keempatnya seolah-olah begitu
yakin akan dirinya dan kemampuannya. Umur-umur mereka agaknya sebaya kecuali
Witantra yang tampak agak lebih tua dari yang lain-lain, meski-pun tidak begitu
banyak.
Para perampok itu tidak dapat memilih
siapakah yang lebih kuat dan siapakah yang paling lemah. Namun menurut
perhitungan mereka, pasti Mahisa Agnilah yang paling kuat diantara mereka,
sehingga pemimpin perampok itu berkeputusan untuk melawan Mahisa Agni. Karena
itu maka katanya, “Pilihlah lawanmu sendiri. Aku akan membuktikan, bagaimana
mungkin orang yang bernama
Mahisa Agni ini mampu membunuh Kebo Sindet
dan kemudian Senapati Agung dari Kediri. Dan bagaimana mungkin ia dapat membuat
Putera Mahkota menjadi seorang yang dikagumi oleh seluruh rakyat Singasari dan
menamakan dirinya Kesatria Putih.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun ia
beringsut selangkah. Kini ia benar-benar telah mempersiapkan diri untuk melawan
orang yang pernah langsung mencoba kekuatannya dengan Sri Rajasa itu. Karena
menurut perhitungannya, orang itulah yang merasa dirinya mempunyai kemampuan
melampaui kawannya.
Mahendra, Kuda Sempana dan Witantra-pun
telah bersiap pula. Namun mereka masih tetap menunggu, siapakah yang akan datang
kepada mereka masing-masing sebagai lawannya. Menurut jumlahnya, maka salah
seorang dari mereka harus melawan dua orang bersama-sama. Dan yang dua itu
pastilah dua orang yang tidak ikut masuk kedalam istana itu.
Untuk sesaat lamanya tidak seorang-pun yang
segera mulai. Baik para perampok mau-pun kawan-kawan Mahisa Agni agaknya saling
menunggu, siapakah yang harus dilawannya, selain Mahisa Agni sendiri yang sudah
pasti menemukan lawannya.
Ternyata Mahendralah yang tidak sabar
menunggu. Karena itu ia-pun maju selangkah sambil berkata, “He, apakah kita
harus mengundi, siapakah yang akan bertemu sebagai lawan?”
“Persetan,“ pemimpin perampok itu
menggeram, “cepat, bunuh mereka.”
“O, jadi kalian tidak setuju? Baik. Aku
akan tetap berdiri disini sampai ada seseorang yang menyerangku,“ sahut Mahendra
kemudian, “jika tidak, maka sampai besok pagi aku tidak akan beranjak.”
“Bunuh anak itu lebih dahulu,“ pemimpin
perampok yang sudah siap melawan Mahisa Agni itu menggeram.
“Ah, jangan panggil aku anak. Aku sudah
hampir mempunyai cucu,“ berkata Mahendra.
Namun demikian mulutnya terkatup, maka
salah seorang perampok itu telah meloncat menyerangnya, sehingga Mahendra harus
meloncat menghindar. Serangan itu ternyata cukup berbahaya baginya, karena
lontaran kekuatan yang sepenuhnya itu benar-benar ingin menghancurkannya.
Mahendra yang meloncat menghindar itu
ternyata menjadi berdebar-debar juga. Ternyata serangan itu datang begitu cepat
dan tiba-tiba. Dengan demikian Mahendra dapat menilai, bahwa lawannya itu memang
bukan orang kebanyakan.
Karena serangannya yang pertama gagal, maka
lawan Mahendra-pun segera memburunya dan mengulangi serangannya beruntun. Ia
benar-benar ingin segera membinasakannya, seperti yang dipermtahkan oleh
pemimpinnya.
Tetapi ternyata pekerjaan itu tidak begitu
mudah. Mahendra yang masih berloncatan menghindar itu, masih mencoba untuk
mengetahui lebih banyak tentang kemampuan lawannya, sehingga apabila datang
saatnya ia tidak akan terjebak karena kesalahannya sendiri.
Dalam pada itu, ternyata pemimpin perampok
yang memasuki halaman istana wakil Mahkota di Kediri itu masih belum mulai
menyerang Mahisa Agni. Ia masih ingin mengetahui, apakah kawannya mampu
mengimbangi orang-orang yang telah mengganggu tugas mereka itu.
Namun untuk beberapa lamanya, Mahendra
sengaja masih belum melakukan perlawanan sepenuhnya. Ia masih saja berloncatan
meski-pun kadang-kadang ia menahan serangan lawannya pula apabila ia sudah
sangat terdesak.
Witantra dan Kuda Sempana-pun berdiri
termangu-mangu melihat Mahendra bertempur. Namun Witantra-pun kemudian menarik
nafas dalam-dalam. Sebagai seorang yang memiliki ketajaman tanggapan tentang
olah kanuragan, maka ia-pun segera mendapat kepastian, bahwa keadaan Mahendra
tidak akan begitu jelek melawan orang yang menyerangnya.
Dan yang harus dilakukannya kemudian adalah
menunggu, siapakah dari antara para penjahat itu yang akan menyerangnya.
Tetapi ternyata bahwa Kuda Sempanalah yang
mendapat serangan lebih dahulu. Seperti orang yang pertama maka serangannya
datang dengan cepat dan tiba-tiba. Tetapi juga seperti Mahendra maka Kuda
Sempana-pun mampu menghindari serangan-serangan yang datang beruntun seperti
banjir. Orang itu sudah mencoba memperbaiki kesalahan kawannya yang tidak
berhasil langsung mengalahkan Mahendra, tetapi meski-pun demikian, ia-pun tidak
segera berhasil menjatuhkan Kuda Sempana.
Yang kemudian masih berdiri bebas adalah
Witantra. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia harus berkelahi melawan dua orang yang
masih belum menemukan lawannya. Namun ia-pun sadar, bahwa yang dua orang itu
pasti orang-orang yang paling lemah dari kelompok penyerang itu.
“Nah, kitalah yang belum mendapatkan
lawan,“ berkata Witantra, “dengan demikian maka kita tidak akan dapat memilih
lagi. Kita harus berhadapan. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan
bertempur bersama-sama atau seorang demi seorang.”
Kedua orang perampok yang masih belum
mendapat lawannya itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian terdengar
pemimpinnya berkata, “Cepat, bunuh orang itu.”
Keduanya-pun segera berloncatan menyerang
Witantra langsung dengan senjata-senjata mereka yang sudah berada ditangan.
Tetapi Witantra-pun berhasil menghindar dan bahkan melayani keduanya dengan
tangkasnya.
Di halaman belakang istana wakil Mahkota
itu telah terjadi tiga lingkaran perkelahian. Namun dalam pada itu sebenarnyalah
bahwa Mahisa Agni telah memberikan kesan, seakan-akan para prajurit yang
berjaga-jaga di istana itu tidak perlu lagi meronda kehalaman belakang. Dengan
tidak langsung Mahisa Agni mengatakan kepada mereka, bahwa kadang-kadang hanya
mengejutkannya saja, dan
bahkan karena badan Mahisa Agni yang agak
kurang segar, maka biarlah mereka tidak usah meronda kehalaman dalam dan
belakang.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni dapat
menghadapi lawan-lawannya tanpa para prajurit. Menurut perhitungannya para
prajurit itu hanya akan membuatnya bingung dan bahkan mungkin akan dapat
menimbulkan korban. Selain korban yang mungkm jatuh, maka persoalan itu akan
menjadi berkepanjangan sampai kesetiap telinga dengan tafsiran mereka
masing-masing.
Mahisa Agni masih sempat menyaksikan
perkelahian itu. Ternyata bahwa para perampok itu benar-benar orang pilihan.
Karena itulah maka Mahisa Agni-pun harus berhati-hati, karena pemimpinnya
pastilah orang yang lebih baik dari mereka yang sudah terlibat didalam
perkelahian itu, dan apalagi Sri Rajasa sendiri sudah menjajaginya dan
menganggapnya cukup mampu untuk melakukan tugas ini.
Ternyata orang itu-pun masih memerlukan
waktu sedikit untuk melihat anak buahnya yang bertempur. Sambil mengerutkan
keningnya ia mengangguk-angguk. Menurut pengamatannya, orang-orangnya tidak
mengecewakannya, meski-pun ia tidak yakin bahwa mereka akan segera menang.
“Aku harus bertindak cepat. Mahisa Agni
harus segera terbunuh, lalu yang lain-lain akan dengan mudah selesai,“ berkata
orang itu didalam hatinya.
Sejenak kemudian maka ia-pun melangkah maju
mendekati Mahisa Agni. Namun setelah keduanya berdiri berhadapan, sepercik
kesangsian membayang di wajah pemimpin perampok itu. Mata Mahisa Agni yang
seakan-akan menyala didalam gelapnya malam itu membuatnya sedikit
berdebar-debar.
“Persetan,“ ia menggeram. Dicobanya untuk
mengusir kesangsian dihatinya itu. Ia tidak pernah ragu-ragu menghadapi
siapa-pun juga, karena ia terlalu percaya kepada kemampuan diri sendiri.
“Belum pernah aku gagal. Meski-pun aku
mengakui bahwa ada juga orang yang melampaui kemampuanku. Tetapi satu-satunya
orang adalah Sri Rajasa.“ katanya didalam hati.
Karena itu, maka sejenak kemudian ia-pun
melangkah semakin mendekati Mahisa Agni sambil berkata. “Mahisa Agni. Aku hanya
sekedar menjalankan perintah. Kau sudah tidak akan dipakai lagi oleh Sri Rajasa.
Karena itu kau harus dibunuh. Setelah kau pasti akan datang giliran Anusapati
anak Tunggul Ametung itu.”
“Rencana yang bagus sekali. Jika aku dan
Anusapati tidak ada, maka Singasari akan menjadi murni. Begitu?“
“Ya. Darah Tunggul Ametung akan lenyap sama
sekali dari muka bumi, terutama dari kekuasaan Singasari.”
“Sayang sekali. Rencana itu tidak terlampau
mudah dilakukan. Baik aku sendiri mau-pun Anusapati yang ternyata adalah
Kesatria Putih, bukan orang-orang yang mudah menyerahkan lehernya. Seperti
seharusnya kodrat manusia, ia pasti akan mempertahankan hidupnya sejauh dapat
dilakukan.”
“Tetapi kau tidak akan dapat melakukannya,
karena disini akulah yang mendapat tugas untuk membunuhmu.”
“Sayang. Aku akan bertahan. Dan aku memang
ingin melihat Anusapati menjadi raja di Singasari. Yang penting bagiku bukannya
siapakah yang menjadi ayah raja Singasari itu. Tetapi ia harus keturunan Ken
Dedes. Itulah sebabnya aku berjuang dengan caraku untuk mempertahankan Anusapati
diatas kedudukannya sekarang, sebagai Putera Mahkota. Jika Sri Rajasa ingin
menurunkan raja di Singasari, dan memadu Mahisa Wonga Teleng untuk menjadi
Putera Mahkota, aku tidak akan berkeberatan, dan Anusapati-pun pasti akan dengan
sukarela minggir dari kedudukannya. Tetapi sudah tentu, bukan Tohjaya, anak Ken
Umang itu.”
“Persetan, itu adalah hak Sri Rajasa untuk
menentukan, siapakah yang akan ditunjuk untuk menggantikannya.”
“Tidak. Sri Rajasa tidak berhak atas tahta.
Tetapi Ken Dedeslah yang mewarisi kekuasaan Tunggul Ametung karena Tunggul
Ametung telah melimpahkan kekuasaannya atas kehendaknya sendiri kepada Ken
Dedes, ketika Ken Dedes mula-mula memasuki istana dan kehidupan Tunggul
Ametung.”
“Bohong.”
“Jangan kau sangka aku tidak tahu apa yang
sudah terjadi. Karena kau atau aku yang akan mati, baiklah aku berterus terang,
bahwa aku sudah mengetahui bahwa Sri Rajasalah yang membunuh Tunggul Ametung dan
pamanku mPu Gandring. Barangkali kau belum mendengarnya. Karena itu, ketahuilah,
bahwa Sri Rajasa tidak berhak memindahkan aliran keturunan Ken Dedes dan
memberikannya kepada Ken Umang, meski-pun sebagian besar adalah karena jasa Ken
Arok, bahwa Singasari menjadi besar seperti sekarang.”
“Omong kosong,“ geram pemimpin perampok
itu, “aku tidak memerlukan ceritera mimpi itu. Sekarang aku akan membunuhmu.”
Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi ia
mempersiapkan dirinya baik-baik untuk menghadapi lawanya itu.
“Bersiaplah untuk mati, atau kau ingin mati
dengan tenang tanpa kelelahan?”
Mahisa Agni sudah segan untuk berbicara
berkepanjangan. Karena itu ia tidak menjawab.
“Baik. Kau memang ingin mati setelah
menitikkan keringat dan darah. Dan aku akan membantumu.”
Tiba-tiba saja orang itu telah menarik
sebuah pedang panjang. Oleh cahaya obor dikejauhan, mata pedang itu tampak
berkilat-kilat memantulkan sinarnya yang kemerah-merahan.
Mahisa Agni memandang pedang itu sejenak.
Ia tidak dapat melawan pedang itu tanpa senjata apapun, karena ia menganggap
bahwa lawannya adalah lawan yang cukup berat. Karena itu, maka
ia-pun segera mencabut belati panjangnya
yang terselip dibawah kain panjang. Sepasang pisau belati panjang dikedua
tangannya.
Sejenak mereka masih berdiri berhadapan.
Namun sejenak kemudian pedang ditangan pemimpin perampok itu sudah berputar.
Dengan sigapnya ia mulai menyerang Mahisa Agni yang dengan tangkas berhasil
menghindarkan diri.
Ternyata dugaan Mahisa Agni tidak meleset.
Orang itu benar-benar mampu bergerak cepat dan kuat. Pedangnya menyambar-nyambar
seperti seekor burung sriti yang berterbangan di udara.
Namun Mahisa Agni bukan sekedar seekor
capung yang tidak mampu menghindarkan diri dari ujung paruh burung sriti yang
menyambarnya. Tetapi Mahisa Agni-pun mampu bergerak secepat lawannya, sehingga
karena itu, maka serangan-serangan itu sama sekali tidak berhasil menyentuh
sasarannya.
Apalagi ketika Mahisa Agni-pun mulai
menyerang lawannya itu pula, maka barulah lawannya menyadari, sebenarnyalah
Mahisa Agni seorang yang disegani oleh Sri Rajasa.
Demikianlah maka perkelahian antara Mahisa
Agni dengan lawannya itu segera menjadi pertempuran yang sangat sengit karena
keduanya adalah orang-orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan.
Didalam perkelahian itu Mahisa Agni masih
juga sempat berkata didalam hati, “Ada juga orang yang memiliki kemampuan tinggi
diantara mereka yang tersesat. Orang ini ternyata adalah orang yang berbahaya
sekali. Untunglah bahwa ia tidak memancing Kesatria Putih dan membinasakan. Jika
kebetulan ia bertemu sendiri dengan Anusapati, maka Anusapati akan sulit sekali
untuk mengatasinya dalam keadaan yang sekarang. Masih untunglah bahwa orang itu
telah dikirimkan kepadanya oleh Sri Rajasa. Namun demikian Mahisa Agni berterima
kasih tidak terhingga didalam hatinya kepada Sumekar. Kehadiran Sumekar di
istana Singasari ternyata mempunyai arti yang besar sekali. Baik bagi Putera
Mahkota mau-pun bagi Mahisa Agni sendiri, karena tanpa Sumekar,
maka Mahisa Agni dan kawan-kawannya itu
tidak akan dapat mempersiapkan diri menghadapi kelima orang itu.
“Tanpa orang lain aku tidak akan dapat
mengatasi kesulitan. Jika tidak ada persiapan yang baik menghadapi mereka, dan
ketiga orang yang memasuki istana itu berhasil menyergap aku didalam bilikku,
maka aku kira aku benar-benar terbunuh,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya.
Namun gambaran-gambaran itu ternyata
membuat Mahisa Agni menjadi semakin marah. Bayangan yang tampak dirongga
matanya, seakan-akan dirinya sendiri terkapar didalam pembaringannya sebelum
sempat bangkit, membuatnya menjadi semakin marah.
“Sri Rajasa benar-benar ingin merenggut
nyawaku. Dan orang-orang ini pasti orang-orang yang tamak, yang menyewakan diri
mereka untuk membunuh sesama. Dan itu berarti kejahatan yang tidak dapat
diampuni.“ Mahisa Agni berkata pula didalam hatinya.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni-pun telah
mengambil sikap seperti orang itu pula. Membunuh atau dibunuh. Mahisa Agni sama
sekali tidak memerlukan orang itu hidup karena ia tidak memerlukan keterangan
apa-pun daripadanya. Ia sudah tahu pasti bahwa orang itu harus membunuhnya atas
perintah Sri Rajasa. Hanya itu. Alasan-alasan yang lain tidak akan dapat
dikoreknya dari orang itu, tetapi harus dicarinya di istana Singasari.
Demikianlah perkelahian itu adalah lambang
dari perang yang sebenarnya memang sudah mulai. Perang tanpa menyeret
prajurit-prajurit Singasari. Karena baik Sri Rajasa mau-pun Mahisa Agni
menyadari, bahwa Singasari yang sudah mencapai kebesarannya itu tidak boleh
dikorbankan. Apa-pun yang akan terjadi atas mereka, dan apa-pun yang akan
mengakhiri perang diantara dua raksasa yang berdiri dibalik takbir asap yang
samar-samar.
Tidak seorang-pun di Singasari, selain yang
langsung berkepentingan, mengerti bahwa perang sudah dimulai. Jika kedua raksasa
itu bertemu satu dengan yang lain, maka keduanya masih juga tersenyum-senyum dan
tertawa-tawa. Keduanya masih dapat
berkelakar dan berbicara tentang
perkembangan pemerintahan Singasari. Bahkan mereka masih dapat dengan jujur
membicarakan tugas-tugas yang harus mereka lakukan masing-masing. Sri Rajasa
sebagai Maharaja yang memerintah seluruh Singasari, dan Mahisa Agni yang
mendapat tugas untuk mewakili Mahkota Singasari di daerah Kediri.
Tetapi dibalik sikap yang ramah, dibalik
pembicaraan-pembicaraan dan rencana-rencana mereka bagi Singasari, tersembunyi
pertentangan yang tidak terelakkan, yang akan menentukan Mahkota Singasari
dihari depan.
Dalam pada itu perkelahian yang terjadi
itu-pun menjadi semakin lama semakin dahsyat. Namun dilingkaran3 perkelehai-an
yang lain, Kuda Sempana segera dapat mengatasi kemampuan lawannya, meski-pun ia
tidak akan dapat menyelesaikannya dengan segera. Dan bahkan Kuda Sempana-pun
tidak bernafsu untuk dengan cepat memenangkan perkelahian itu, karena ia
mempunyai perhitungan tersendiri. Menurut pengamatannya, Mahisa Agni berada
dalam keadaan yang gawat. Lawannya bukan orang yang dapat diabaikan, sehingga
Mahisa Agni benar-benar harus bertempur. Supaya Mahisa Agni mendapat kesempatan
sebaik-baiknya menyelesaikan rencananya, maka Kuda Sempana ingin menunggu apakah
yang harus dilakukan atas lawannya itu. Jika Mahisa Agni nanti berhasil
menyelesaikan tugasnya, apakah ia akan mempunyai sikap tertentu terhadap
orang-orang yang memasuki halaman istana itu, karena setiap kali didalam
melakukan tugas-tugas Kesatria Putih, Mahisa Agni sering kali menegurnya, bahwa
ia terlampau cepat mengambil keputusan untuk membunuh lawannya.
Demikian juga agaknya Mahendra dan
Witantra. Keduanya-pun segera dapat merasa bahwa mereka dapat menentukan akhir
dari perkelahian itu menurut keinginan mereka, jika mereka tidak berbuat
kesalahan yang berpengaruh.
Witantra yang memiliki kemampuan yang
hampir sempurna, sempat menyaksikan perkelahian antara Mahisa Agni dan lawannya.
Dan ia-pun sempat menilai, apa yang sedang terjadi.
“Lawan Mahisa Agni memang lawan yang
berat,“ berkata Witantra didalam hati, “untunglah orang itu datang kemari. Jika
tidak, maka ia akan menjadi racun didalam peradaban manusia. Itulah agaknya
didaerah sebelah Timur dan Utara, kadang-kadang terjadi sesuatu yang
menggemparkan, yang masih belum terjangkau oleh tangan Kesatria Putih. Agaknya
orang itulah pelakunya bersama kawan-kawannya ini.”
Namun dalam pada itu, Mahisa Agni yang
bertempur melawan pemimpin perampok itu segera mengenal, bahwa ilmu orang itu
adalah ilmu yang pada dasarnya sudah dikenal di istana Singasari, sehingga
dengan demikian ilmu itu didalam perkembangannya pasti bersumber dari guru yang
memiliki cabang ilmu yang sama. Dan arus ilmu itu telah mengalir kedalam diri
Tohjaya lewat gurunya, penasehat Sri Rajasa. Dengan demikian Mahisa Agni-pun
segera tahu pula, siapakah yang membawa orang itu keistana beserta
rencana-rencana dan pamrihnya sama sekali. Dengan demikian Mahisa Agni-pun
yakin, bahwa penasehat Sri Rajasa itu ikut serta menentukan jalannya peperangan
diam-diam antara Sri Rajasa untuk kepentingan Tohjaya dan Mahisa Agni untuk
kepentingan Anusapati.
“Jadi guru Tohjaya itu tidak sekedar
menjemput dan membawanya masuk keistana atas perintah Sri Rajasa,“ berkata
Mahisa Agni yang memang sudah mendengar dari Witantra yang mendapat keterangan
dari Sumekar bahwa telah datang orang asing di istana dan bahkan mengadakan
penjajagan ilmu dengan Sri Rajasa. “Agaknya guru Tohjaya itulah yang mengusulkan
orang ini untuk mengemban tugas didalam peperangan yang diam-diam ini.”
Sambil bertempur Mahisa Agni sempat
membayangkan bagaimana keadaan yang bakal terjadi tanpa dirinya dan orang-orang
yang sekarang sedang membantunya. Yang dicemaskan oleh Mahisa Agni adalah sikap
yang kasar dari Sri Rajasa. Dalam keadaan tertentu, Sri Rajasa kehilangan
sifat-sifatnya sebagai seorang Maharaja. Ia dapat bertindak kasar seperti ketika
ia masih seorang
yang berkeliaran di padang Karautan. Ketika
ia masih disebut Hantu Karautan.
“Apakah hal ini akan semakin berlarut-larut
atau akan dapat memberikan kesadaran baru bagi Sri Rajasa?“ pertanyaan itu
selalu mengganggunya. Namun dalam pada itu, Mahisa Agni justru menjadi semakin
kehilangan kepercayaannya kepada Sri Rajasa.
“Orang itu adalah orang besar,“ berkata
Mahisa Agni didalam hati, “tetapi ia terperosok kedalam suatu kubangan yang
dapat mencelakakannya. Ia kehilangan kebesarannya dan justru berjuang untuk
kepentingan yang terlalu kecil bila dibandingkan dengan usahanya mempersatukan
Singasari.”
Mahisa Agni terkejut ketika senjata
lawannya hampir saja menyentuh pelipisnya.
Kini Mahisa Agni mencoba memusatkan
perhatiannya kepada senjata lawannya yang bergerak semakin cepat. Namun semakin
lama semakin jelas, bahwa Mahisa Agni akan berhasil menguasainya.
Meski-pun demikian bila Mahisa Agni lengah
dan membuat sedikit kesalahan, mungkin keadaan akan menjadi jauh berbeda. Karena
itu, Mahisa Agni berusaha untuk tidak hanyut lagi dalam arus angan-angannya.
“Orang ini terlalu berbahaya,“ katanya
didalam hati, ”berbahaya bagiku dan berbahaya bagi rakyat Singasari. Ia dapat
memeras siapa-pun yang dikehendaki tanpa perlindungan, karena ia sudah
berhubungan dengan Sri Rajasa. Jika ia bebas sekarang, apalagi memenangkan
perkelahian ini, maka Sri Rajasa tidak akan dapat bertindak apa-pun kepadanya,
karena orang ini menggenggam rahasia terbesar dari Sri Rajasa atas kematian
seorang wakil Mahkota. Dengan demikian maka orang ini akan dapat memeras Sri
Rajasa sampai kering, sebelum Sri Rajasa berhasil membunuhnya. Dan orang ini
adalah orang yang licik, sehingga ia akan dapat bersembunyi rapat sekali,
sementara orang-orangnya yang akan
memainkan peranan yang akan membuat Sri
Rajasa kehilangan akal.
“Orang ini harus disingkirkan,“ tiba-tiba
saja Mahisa Agni menggeram, “jika tidak, maka persoalannya pasti akan
berkepanjangan. Apalagi aku tidak memerlukan apa-pun daripadanya. Keterangan
yang dapat dikatakannya tidak akan berarti apa-apa bagiku.”
Ternyata Mahisa Agni benar-benar akan
melakukan keputusannya. Dengan demikian mata tandangnya menjadi semakin mantap.
Kakinya seolah-olah tidak lagi berjejak diatas tanah, sedang tangannya
menyambar-nyambar seperti sayap burung garuda yang terbang diudara.
Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin
lama semakin sengit. Masing-masing tidak lagi mengekang dirinya. Bahkan
masing-masing telah melepaskan semua kemampuan yang dimilikinya.
Lawan Mahisa Agni itu terkejut mengalami
sikap yang tiba-tiba saja menjadi semakin garang. Tekanan Mahisa Agni menjadi
semakin tajam, sehingga pemimpin gerombolan perampok itu menjadi cemas
karenanya.
Tetapi ia tidak dapat mengharap bantuan
dari siapapun. Ketika sempat melihat perkelahian yang terjadi disekitarnya, ia
mengumpat habis-habisan. Ternyata Witantra hampir tidak berbuat apa-apa selain
berputar-putar. Kedua orang lawannya sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa,
meski-pun seakan-akan Witantra hanya sekedar bermain-main saja.
“Setan alas,“ pemimpinnya berteriak, “bunuh
orang itu.”
Kedua orang yang berkelahi melawan Witantra
itu berusaha memusatkan segenap kemampuannya. Namun Witantra masih saja bersikap
acuh tidak acuh.
Pemimpinnya tidak lagi sempat
menghiraukannya. Mahisa Agni semakin lama semakin mendesaknya. Tidak ada cara
yang dapat
dipergunakan untuk mengatasi
serangan-serangan Mahisa Agni yang semakin ganas.
Apalagi tiba-tiba saja Mahisa Agni itu
berkata, “Orang-orang ini harus dibinasakan, karena mereka telah mengetahui
rahasia yang paling besar bagi Singasari. Pertentangan diilingkungan
pemerintahan yang tidak boleh didengar dan apalagi dihayati oleh orang lain.
Karena itu, adalah nasibnya yang kurang baik, apabila dengan demikian mereka
harus bercanda dengan maut.”
Kata-kata Mahisa Agni itu benar-benar telah
menggetarkan dada mereka. Bahkan pemimpin perampok itu-pun menjadi
berdebar-debar. Namun demikian ia masih sempat berteriak, “Mahisa Agni, sebutkan
siapakah yang telah berkhianat? Siapakah yang telah menjebak aku kedalam sarang
serigala lapar ini?”
Mahisa Agni mendesak lawannya sambil
menjawab, “Tidak ada yang berkhianat. Tetapi kejahatan memang harus dimusnakan.
Jangan menyesal jika nasibmu sama seperti Kiai Kisi yang dibinasakan langsung
oleh Putera Mahkota, tidak dalam kerudung putih, tetapi dalam bentuknya dibawah
kerudung hitam.”
Kata-kata Mahisa Agni itu rasa-rasanya
telah membakar telinga lawannya. Namun kemampuannya ternyata terbatas, sehingga
betapa-pun juga ia berusaha, namun ia tidak mampu mengatasi ilmu Mahisa Agni.
Senapati Agung kerajaan Singasari, yang pernah mengalahkan Senapati Agung pada
masa Kediri.
Demikianlah, maka akhir dari perkelahian
itu menjadi semakin dekat. Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana hanya menunggu
saat yang sebaik-baiknya. Mereka menyesuaikan diri dengan perkelahian yang berat
sebelah, setelah lawan Mahisa Agni kehabisan tenaga yang diperasnya untuk
mempertahankan diri.
“Jika saat itu tiba,“ berkata kawan-kawan
Mahisa Agni didalam hatinya, “maka yang lain-pun akan terbunuh.”
Demikianlah, akhirnya Mahisa Agni
mendapatkan kesempatan itu. Dengan belati panjang ditangan kirinya ia menangkis
serangan lawannya yang menjadi terhuyung-huyung karena
keseimbangannya yang hampir hilang. Namun
saat yang paling pahit dari perjuangan untuk mendapat harta benda yang tertimbun
didalam istana wakil Mahkota itu segera tiba. Sebelum ia sempat memperbaiki
keseimbangannya, maka pisau belati di tangan kanan Mahisa Agni telah menghunjam
didadanya, langsung menyobek jantung.
Pemimpin perampok itu tidak sempat
menggeliat. Demikian ujung pisau Mahisa Agni ditarik dari dadanya, maka ia-pun
segera rebah menelungkup ditanah.
Dan sesaat kemudian, nasib yang sama telah
hinggap pula pada kawannya. Hampir bersamaan senjata kawan-kawan Mahisa Agni
telah menyambar lawan-lawannya yang seakan-akan tinggal sekedar menunggu.
Senjata Mahisa Agni yang menembus jantung itu bagaikan perintah bagi
kawan-kawannya untuk berbuat serupa. Sehingga hampir bersamaan pula lawan-lawan
Mahendra dan Kuda Sempana mengeluh pendek. Kemudian disusul dengan dua orang
yang sedang bertempur melawan Witantra.
Mahisa Agni yang berdiri tegak disebelah
mayat lawannya mengusap keringat didahinya dengan lengannya. Ternyata lawannya
adalah lawan yang cukup berat baginya.
Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana-pun
kemudian mendekatinya. Mereka tidak menemukan lawan seberat pemimpin perampok
itu. Namun meski-pun demikian, nafas mereka-pun menjadi terengah-engah dan
keringat mereka-pun mengalir juga di seluruh tubuhnya.
“Bagaimana dengan mayat-mayat ini?“
bertanya Witantra kepada Mahisa Agni.
“Kita harus menghilangkan jejaknya. Kita
harus menyimpan rahasia ini sebaik-baiknya, supaya tidak ada ccritera yang
bersimpang siur dari peristiwa ini.“
“Jadi, apakah kita akan mengubur mereka?”
“Ya, sebelum dketahui orang lain.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya kemudian, “Jika demikian, kita akan membawanya ketempat yang
tersembunyi.”
“Ya, sebelum ada orang yang melihat.
Untunglah bahwa para prajurit itu benar-benar tidak meronda. Aku sudah
mencegahnya sore tadi.”
Demikianlah maka mereka-pun segera membawa
mayat-mayat itu menyingkir. Dibawah rimbunnya perdu disudut kebun belakang,
mereka telah menggali sebuah lubang yang besar dan dalam. Bagi Witantra menggali
lubang itu ternyata jauh lebih melelahkan dari saat-saat ia harus berkelahi
melawan dua orang lawannya.
Namun akhirnya mereka telah berhasil
membuat lubang yang cukup dalam, untuk mengubur mayat-mayat itu sekaligus dan
kemudian berusaha menghilangkan segala macam bekas perkelahian.
“Sekarang kita tinggal membersihkan diri
kita masing-masing,“ berkata Mahendra, “lalu aku kembali tidur digubug Kuda
Sempana.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Demikianlah setelah semuanya selesai, maka
mereka-pun segera kembali ketempat masing-masing. Kuda Sempana masih sempat
menggulung tali isyarat yang direntangkannya di halaman belakang.
Ketika tidak lama kemudian fajar membayang
dilangit, mereka yang baru saja bertempur di halaman belakang itu telah
berbaring dipembaringan masing-masing. Namun bagaimana-pun juga mereka berusaha,
mereka sama sekali tidak dapat melepaskan ingatan tentang usaha pembunuhan yang
dilakukan oleh Sri Rajasa itu.
Dalam pada itu, di Singasari, ternyata Sri
Rajasa-pun sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ia-pun memperhitungkan
bahwa semuanya akan terjadi malam ini. Bahkan dengan gelisahnya ia berjalan
hilir mudik didalam biliknya. Sekali-sekali ia duduk ditepi pembaringannya,
namun kemudian berdiri dan berjalan beberapa langkah.
Demikian juga agaknya penasehat Sri Rajasa
itu. Ia-pun menduga bahwa semuanya sudah terjadi. Bahkan sudah terbayang di
angan-angannya, besok pagi akan berpacu utusan dari Kediri mengabarkan bahwa
telah terjadi bencana di istana wakil Mahkota. Para abdi di istana itu menemukan
wakil Mahkota mati berlumuran darah, sedang isi istana itu habis dibawa oleh
sekelompok perampok.
Singasari pasti akan gempar. Senapati Agung
yang telah mengalahkan Senapati dari Kediri, diketemukan mati didalam biliknya.
“Betapa tinggi ilmu Mahisa Agni, ia tidak
akan dapat melawan lima orang sekaligus. Ia pasti akan binasa, karena selisih
kemampuannya dengan saudara tertua mereka itu tidak terpaut banyak. Apalagi Sri
Rajasa sendiri telah menjajagi kemampuannya dan menganggapnya bahwa ia akan
mampu melakukan tugasnya bersama dua orang saudara seperguruannya,“ berkata
penasehat Sri Rajasa itu didalam hatinya.
Karena itu, semakin dekat dengan datangnya
pagi, rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu. Ia mulai membayangkan, seorang
pelayan yang akan memasuki bilik Mahisa Agni terkejut dan menjerit. Kemudian
beberapa orang prajurit datang berlari-larian. Tetapi yang mereka ketemukan
hanyalah mayat Mahisa Agni dan barang-barang yang ada didalam istana itu hilang.
“Benar-benar suatu perampokan yang gila,
yang baru terjadi untuk pertama kalinya disepanjang sejarah,“ desisnya.
Ketika kemudian matahari terbit, Penasehat
Sri Rajasa itu-pun segera menyiapkan diri untuk menghadap. Rasa-rasanya ia tidak
betah lagi menahan gejolah perasaannya. Ia ingin mendapat penyaluran dan lawan
berbicara mengenai peristiwa yang pasti telah terjadi di Kediri.
Sumekar yang membersihkan halaman istana
diluar petamanan menjadi heran melihat Sri Rajasa itu pergi ke paseban jauh
lebih
pagi dari kebiasaannya. Dan karena paseban
masih sepi, maka ia-pun langsung pergi kebangsal Sri Rajasa.
Ternyata Sri Rajasa yang gelisah-pun telah
berada di serambi belakang bangsalnya. Seperti kebiasaannya, di saat-saat
senggang ia duduk di serambi belakang memandang tanaman yang sedang berbunga.
Sebuah longkangan dengan batang-batang perdu yang hijau.
“O,“ desis Sri Rajasa ketika ia melihat
penasehatnya datang pagi-pagi.
“Ampun tuanku, hamba menghadap terlampau
pagi karena hamba tidak dapat menahan diri untuk membicarakan apakah yang
kira-kira terjadi semalam di Kediri,“ berkata penasehat itu.
Sri Rajasa menganggukkan kepalanya.
Katanya, “Aku-pun menjadi gelisah. Tetapi perjalanan dari Kediri memerlukan
waktu. Jika pagi ini utusan itu berangkat, maka ia akan datang malam nanti.”
Penasehatnya mengangguk-anggukkan
kepalanya. Dan waktu yang sehari itu pasti akan menyiksanya.
“Tetapi, aku kira mereka tidak akan
mengecewakan,“ desis Penasehat itu.
“Aku percaya akan kemampuannya. Meski-pun
barangkali orang itu tidak dapat mengimbangi kemampuan Mahisa Agni, tetapi
berlima Mahisa Agni tidak akan dapat berbuat banyak. Aku menganggap bahwa
kemampuan orang itu cukup tinggi.”
Penasehat Sri Rajasa itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya kepada kata-kata itu, karena Sri
Rajasa sendiri sudah langsung menjajaginya.
Demikianlah sehari itu penasehat Sri Rajasa
menjadi gelisah. Rasa-rasanya ia tidak sabar menunggu, bahwa akan ada utuskan
datang dari Kediri mengabarkan peristiwa yang sudah terjadi.
Sumekar diam-diam memperhatikan Penasehat
Sri Rajasa yang gelisah itu. Karena Sri Rajasa hari itu tidak hadir dipaseban,
karena badannya yang kurang sehat, maka di siang hari sekali lagi Penasehatnya
datang menghadap di bangsalnya.
“Bukankah Anusapati tetap berada di
istana?“ bertanya Sri Rajasa.
“Ya tuan. Putera Mahkota tetap berada di
istana. Ia mematuhi perintah yang tuanku berikan.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya.
Jika Anusapati meninggalkan istana, maka ada kemungkinan sebagai Kesatria Putih
ia mengikuti para perampok itu ke Kediri dan jika kekuatannya bergabung dengan
kekuatan Mahisa Agni, maka rencana itu memang dapat gagal.
Demikianlah Penasehat Sri Rajasa yang
kemudian meninggalkan bangsal itu-pun pergi keregol depan. Dipandanginya jalan
yang membelah kota Singasari membujur kearah yang jauh sekali. Tetapi ia masih
belum melihat seseorang yang datang dari Kediri.
“Memang tidak mungkin. Nanti malam ia akan
datang.“
Ketika ia berjalan memasuki halaman dalam
istana, Sumekar yang berjongkok di pinggir lorong diantara tetanaman
memberanikan diri bertanya, “Tuan, tampaknya tuan menjadi gelisah sekali. Aku
yang tidak mengetahui persoalan apa-pun menjadi ikut gelisah. Apakah ada musuh
yang mengancam Singasari.”
“Bodoh kau. Tidak ada satu negeri-pun yang
akan memusuhi Singasari. Sri Rajasa sudah berhasil menyatukan bagian-bagian yang
semula terpecah belah,“ jawab Penasehat Sri Rajasa itu.
Sumekar yang masih berjongkok
mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia bertanya pula, “Jika demikian, apakah
tuan melihat sesuatu yang tidak wajar terjadi di istana ini, atau barangkali
keluarga tuan akan datang.”
Penasehat itu memandang Sumekar dengan
tajamnya, lalu bertanya, “Kenapa kau bertanya begitu?”
“Tuan nampaknya gelisah sekali. Tuan
berjalan hilir mudik antara bangsal dan paseban serta regol depan istana.”
“O,“ Penasehat Sri Rajasa itu
mengangguk-anggukkan kepalanya, “aku sedang menunggu isteriku. Aku sudah
menyampaikannya kepada tuanku Sri Rajasa. Sedang isteriku itu agak
sakit-sakitan.”
“O,“ Sumekar mengangguk-angguk, “kenapa
tuan tidak memerintahkan beberapa orang menjemput dengan sebuah tandu.”
“Isteriku akan datang diatas tandu.”
“O,“ Sumekar mengangguk-anggukkan
kepalanya.
Penasehat itu tidak menghiraukan Sumekar
lagi. Juru taman itu ditinggalkannya pada kerjanya di pinggir lorong didalam
halaman istana. Namun pertanyaan-pertanyaan Sumekar itu memberikan pertimbangan
kepada Penasehat Sri Rajasa, bahwa kegelisahannya itu dapat dibaca oleh orang
lain.
Betapa lama mereka menunggu, namun akhirnya
malam datang juga menyelimuti Singasari. Lampu minyak mulai menyala dan
jalan-jalan menjadi sepi. Pintu-pintu telah tertutup rapat, karena udara yang
dingin bertiup bersama angin dari Selatan.
Kegelisahan dihati Penasehat Sri Rajasa
menjadi semakin memuncak. Demikian juga Sri Rajasa sendiri, sehingga ketika
Penasehatnya datang kebangsalnya ia berkata, “Kau tetap disini. Jika ada laporan
yang datang, maka orang itu akan dibawa langsung menghadap.”
“Hamba tuanku,“ jawab Penasehat itu.
Namun meski-pun mereka mencoba mengisi
waktu yang menegangkan itu dengan berbagai macam persoalan, mereka ternyata
menjadi tidak sabar menunggu.
“Malam menjadi semakin larut. Jika
pagi-pagi benar utusan itu berangkat dari Kediri, maka sekarang ia pasti sudah
datang, atau memasuki kota. Kita akan menunggu sejenak lagi.“ berkata Sri
Rajasa.
Tetapi yang mereka tunggu tidak juga segera
datang. Betapa kegelisahan telah memuncak dihati keduanya, namun tidak
seorang-pun yang menghadap dan memberitahukan bahwa ada utusan datang dari
Kediri.
“Mungkin mereka belum mendapat kesempatan
malam kemarin tuanku,“ berkata Penasehat Sri Rajasa, “jika demikian, maka mereka
baru dapat melakukannya malam ini. Karena itu, maka kita masih harus bersabar
sehari besok. Besok malam pasti akan datang berita yang menggembirakan itu.”
Sri Rajasa hanya mengangguk-anggukkan
kepalanya saja. Namun matanya tetap terpancang dikejauhan. Bahkan sejenak
kemudian ia berkata, “Tinggalkan aku sendiri.“
Penasehat Sri Rajasa itu membungkukkan
badannya dalam-dalam. Kemudian dengan hati yang berdebar-debar ia meninggalkan
Sri Rajasa yang duduk dengan murung.
Namun dalam pada itu, bukan saja Sri Rajasa
dan Penasehatnya sajalah yang menjadi gelisah. Sumekar-pun menjadi gelisah
seperti juga Sri Rajasa.
Oleh kegelisahan yang memuncak, maka
Sumekar-pun tidak dapat duduk diam didalam biliknya. Dengan hati-hati ia-pun
merayap keluar dan ditempat yang terlindung oleh bayangan dedaunan ia melocati
dinding keluar istana.
“Mungkin aku dapat menemui salah seorang
dari mereka,” berkata Sumekar didalam hatinya.
Meski-pun Sumekar tidak pasti, tetapi ia
pergi juga ketempat yang ditentukan untuk menemui salah seorang dari kawan-kawan
Mahisa Agni.
Sumekar menjadi berdebar-debar ketika ia
melihat Mahendra seorang diri menunggunya dengan gelisah pula.
“Hampir saja aku pergi,“ berkata Mahendra.
“Apakah yang terjadi?”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. “Perang
memang sudah mulai,” katanya. Lalu, “Ternyata bahwa Ken Arok itu mulai dengan
cara-cara Hantu di Padang Karautan.”
“Apa yang dilakukan?”
“Ia menjadi kasar.“ Dan Mahendra-pun
kemudian menceriterakan apa yang sudah terjadi.”
“Jadi benar dugaanku. Untunglah bahwa
Mahisa Agni sempat menyelamatkan diri karena kalian ada disana.”
“Kaulah yang paling berjasa. Tanpa
keteranganmu, kami tidak cukup bersiaga.”
“Itu-pun suatu kebetulan.”
“Baiklah, katakanlah itu suatu kebetulan.
Tetapi Mahisa Agni sangat berterima kasih kepadamu.”
Sumekar tersenyum. Ia-pun merasa bersyukur,
bahwa Mahisa Agni telah terlepas dari bahaya maut. Betapa besar kemampuannya,
namun menghadapi orang-orang yang mempunyai ilmu yang cukup tinggi itu
bersama-sama, Mahisa Agni pasti akan mengalami kesulitan.
“Tetapi kemudian, Mahisa Agni sangat
mencemaskan nasib Putera Mahkota,“ berkata Mahendra kemudian, “karena itu aku
membawa pesan dari kakang Mahisa Agni, kau harus mengawasinya baik-baik.
Meski-pun kemampuan Putera Mahkota semakin meningkat di saat-saat terakhir dan
bahkan hampir menjadi matang pula, namun apabila ia dihadapkan pada keadaan yang
kasar, seperti yang dihadapi oleh kakang Mahisa Agni, maka ia akan benar-benar
mengalami kesulitan. Adalah sulit sekali untuk memberikan
bantuan kepadanya meski-pun kami mengetahui
bahaya yang mengancamnya. Kau adalah satu-satunya orang yang ada didalam.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam.
“Bagaimana dengan tuanku Mahisa Wonga
Teleng?“
“Kemampuannya meningkat juga.”
Mahendra merenung sejenak. Lalu, “Memang
sulit bagimu untuk mengikuti serta membinanya. Mungkin tanpa disadarinya ia
menyebut namamu. Dengan demikian semuanya akan menjadi rusak.“
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya,
katanya, “Memang semakin banyak orang yang mengetahui persoalannya akan menjadi
semakin gawat.”
“Tetapi kau dapat mendesak kepada Putera
Mahkota, agar usahanya menuntun adiknya agak dipercepat. Didalam keadaan yang
paling sulit, ia akan dapat membantunya betapa-pun kecil artinya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, hati-hatilah. Besok aku akan kembali
ke Kediri.”
“Sampaikanlah kepada kakang Mahisa Agni.
Penasehat Sri Rajasa menjadi sangat gelisah. Mungkin ia menunggu berita yang
datang dari Kediri. Agaknya ia tidak sabar lagi menunggu berita kematian Mahisa
Agni.”
Mahendra tersenyum. Jawabnya, “Itu adalah
suatu berita yang menyenangkan. Ia akan tetap gelisah sehingga pada suatu batas
tertentu ia akan mengambil sikap. Aku akan minta agar untuk beberapa hari Mahisa
Agni tidak menampakkan diri.”
Keduanya-pun kemudian berpisah. Sumekar
kembali masuk kehalaman istana dengan meloncati dinding. Dengan hati-hati ia
menuju kebiliknya dan duduk beberapa saat didepan pintu.
Angin malam yang sejuk mengusap wajahnya
yang tegang. Terbayang peristiwa yang terjadi di Kediri. Untunglah bahwa Mahisa
Agni masih tetap mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung, sehingga ia
berhasil menyelamatkan diri.
Sumekar tetap duduk ditempatnya ketika ia
melihat dua orang prajurit peronda yang lewat. Ketika keduanya melihat Sumekar
duduk didepan pintu, salah seorang dari mereka bertanya, “He, kenapa kau duduk
disitu?”
“Aku tidak dapat tidur. Panasnya bukan main
didalam gubugku.“
Kedua prajurit itu tidak menyahut.
Ditinggalkannya Sumekar yang masih tetap duduk ditempatnya memandang jauh
menembus gelapnya malam.
Pada saat itu, ternyata Sri Rajasa sama
sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ternyata tidak ada seorang utusan-pun
yang datang dari Kediri, yang dengan nafas terengah-engah melaporkan bahwa wakil
Mahkota itu telah terbunuh didalam suatu perampokan yang paling besar yang
pernah terjadi.
“Mungkin malam ini,“ demikianlah setiap
kali Sri Rajasa menenterampan dirinya sendiri. Tetapi setiap kali timbul
pertanyaan, “Bagaimana jika gagal dan bahkan Mahisa Agni berhasil menangkap
mereka dan memaksa mereka berbicara?”
Kegelisahan yang sangat telah mencengkam
hati Sri Rajasa. Namun sambil menggeram ia berkata, “Tidak ada yang dapat
membuktikan bahwa aku pernah memerintahkannya. Aku dapat menganggapnya sebagai
suatu fitnah yang keji.“ Meski-pun demikian Sri Rajasa masih tetap tidak dapat
memejamkan matanya. Kegelisahan yang sangat selalu mengganggunya.
Demikian jugalah Penasehat yang berjalan
hilir mudik didalam biliknya. Sama sekali tidak dapat dibayangkan apa yang
sebenarnya telah terjadi. Tetapi seperti Sri Rajasa ia berkata kepada diri
sendiri, “Malam ini. Semuanya akan terjadi malam ini.”
Namun ketika hari berikutnya menjadi
semakin pudar, dan kegelisahan yang sangat telah mencekam hati Sri Rajasa dan
Penasehatnya, namun tidak ada juga seorang-pun yang datang dari Kediri untuk
melaporkan sesuatu yang telah terjadi.
“Gila,“ Sri Rajasa bergumam kepada diri
sendiri, “apakah mereka tidak berani melakukannya?”
Penasehatnya yang menghadap, sama sekali
tidak dapat memberikan jawaban.
“Atau barangkali Mahisa Agni sempat
memanggil pada prajurit dan menangkap mereka?”
“Jika demikian tuanku, agaknya pasti akan
datang juga laporan tentang perampokan yang gagal itu,“ berkata Penasehatnya.
Penasehatnya menundukkan kepalanya.
“Jika sekali ini gagal, aku harus
mempergunakan kekerasan. Aku akan menjatuhkan perintah menangkap Mahisa Agni
tanpa bersembunyi.”
“Jangan tuanku. Alasan apakah yang akan
tuanku pergunakan untuk melakukannya? Tuanku hanya diburu oleh perasaan, tetapi
tuanku harus tetap mempertahankan keseimbangan. Tuanku telah memberikan petunjuk
kepada hamba, bagaimana gagal mempergunakan Kiai Kisi. Dan tuanku telah berusaha
melakukannya dengan cara yang jauh lebih halus. Jika sekarang tuanku berbuat
sebaliknya, maka yang terjadi-pun akan sebaliknya.”
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Ya. Aku tidak boleh
kehilangan akal. Aku harus menyusun rencana sebaik-baiknya.”
Sekilas terbayang hasil yang pernah dicapai
dengan permainannya yang tidak dapat diketahui oleh orang lain. Jika ia kini
berbuat kasar, maka seakan-akan sia-sialah apa yang pernah dicapainya itu.
Bahkan mungkin akan dapat timbul pertentangan diantara para prajurit di
Singasari, sehingga kebesaran Singasari
yang sudah dapat dicapainya selama ini akan
menjadi pudar karenanya.
Meski-pun demikian ia harus mencari jawab,
bagaimanakah jika Mahisa Agni dapat mengetahui apa yang sudah dilakukannya.
Bukan saja kini, tetapi dengan demikian Mahisa Agni pasti menelusur masa
lampaunya. Kematian pamannya, seorang mPu yang mumpuni, mPu Gandring.
Demikianlah pada hari berikutnya dan hari
berikutnya tidak juga ada seorang-pun yang datang menghadap, sehingga
kegelisahan Sri Rajasa telah sampai ke puncaknya.
“Akulah yang akan memerintahkan seseorang
pergi ke Kediri untuk melihat apa yang sudah terjadi disana,“ berkata Sri
Rajasa.
“Benar tuanku. Tetapi hamba mohon agar
kepergiannya bukan merupakan seorang, utusan resmi tuanku,“ berkata
penasehatnya.
“Maksudmu?”
“Hamba akan mengirimkan seorang petugas
sandi yang dapat hamba percaya untuk mengetahui keadaan sebenarnya.”
Sri Rajasa mengangguk-angguk. Jawabnya,
“Lakukanlah.“
Penasehat itu mengerutkan keningnya. Ia
merasakan sesuatu yang aneh pada Sri Rajasa. Seakan-akan gairah perjuangan yang
selama ini menyala didadanya menjadi semakin pudar. Nafsu yang membakar
hasratnya untuk menjadikan Singasari sebuah negara yang besar, rasa-rasanya kini
sedang mengalami masa surut yang dapat membahayakan Sri Rajasa sendiri,
sehubungan dengan keinginannya mewariskan tahta kepada Tohjaya, bukan kepada
Putera Mahkota.
Tetapi penasehat itu tidak bertanya lagi.
Ia masih harus mengumpulkan kenyataan-kenyataan yang telah terjadi di Kediri.
Jika masih ada tanda-tanda yang dapat membangkitkan gairah perjuangan Sri
Rajasa, maka agaknya kesempatan masih belum lewat seluruhnya.
Namun Penasehat Sri Rajasa itu masih
berusaha, agar Tohjaya tidak melihat kekecewaan yang hampir-hampir telah
mematahkan semua usaha ayahandanya. Penasehat Sri Rajasa itu masih berusaha,
agar bayangan-angan yang suram mulai menghantui ayahandanya, tidak berpengaruh
atas Tohjaya.
Tetapi dalam pada itu, Ken Arok yang
bergelar Sri Rajasa itu sendiri, seakan-akan selalu saja dibayangi oleh masa
lampaunya. Jalan yang dilalui sampai ke Singgasana sekarang ini bukannya jalan
yang bersih dan rata. Tetapi jalan yang berlumuran dengan darah dan noda-noda
kejahatan. Meski-pun Singasari sekarang diakui sebagai suatu hasil perjuangan
yang gemilang, namun noda-noda darah itu rasa-rasanya masih tetap melekat
ditangan Sri Rajasa.
Dalam pada itu, Penasehat Sri Rajasa itu
benar-benar telah mengirimkan seorang kepercayaannya dalam tugas sandi. Ia harus
melihat apa yang terjadi di istana wakil Mahkota di Kediri.
Tetapi yang dilihat oleh petugas sandi itu
benar-benar mendebarkan jantung. Ia tetap melihat Mahisa Agni pada tugasnya
tanpa cidera seujung rambutpun. Ia sama sekali tidak mendengar berita dari
orang-orang yang dekat dengan keluarga istana atau-pun tentang perampokan yang
pernah terjadi. Sebagai seorang petugas sandi ia mempunyai kemahiran mengorek
keterangan dari orang-orang yang dianggapnya berkepentingan. Namun para prajurit
yang bertugas di istana itu-pun tidak pernah mendengar bahwa pernah terjadi
keributan di istana itu.
“Aku harus dapat berhubungan dengan
pelayan-pelayan di istana ini. Bukan sekedar dengan para prajurit yang setiap
kali berganti tugas,“ katanya.
Tetapi untuk menghubungi pada abdi di
istana itu memang agak sulit. Tidak banyak jalan yang dapat ditempuh. Jarang
sekali para abdi pergi keluar regol istana.
Setelah melakukan pengamatan beberapa
lamanya, petugas sandi itu melihat, bahwa seorang daripada para abdi itu agaknya
mempunyai keleluasan yang lebih besar dari abdi yang lain. Setiap
kali ia melihat abdi yang seorang itu di
regol. Abdi itu pulalah yang kadang-kadang menyongsong kedatangan Mahisa Agni
apabila ia datang dari istana Kediri yang sampai saat terakhir masih
dipergunakan oleh keluarga terdekat dari Maharaja Kediri yang terkalahkan.
“Orang itu agaknya mempunyai kedudukan yang
agak baik didalam istana itu,“ berkata petugas itu didalam hatinya.
Akhirnya petugas itu berhasil menemui abdi
yang dianggapnya mempunyai kedudukan baik itu. Ternyata orang itu adalah juru
taman, tetapi juga seorang pekatik dan juru pemelihara kuda khususnya kuda
kesayangan Mahisa Agni.
Dan orang itu adalah Kuda Sempana meski-pun
ketika petugas sandi itu berhasil memperkenalkan dirinya. Kuda Sempana menyebut
dirinya bernama Ki Jalu.
“Apakah kau sudah lama mengabdikan diri
kepada tuanku wakil Mahkota,“ bertanya petugas sandi itu.
“Sudah. Aku berada di istana ini sejak
tuanku Mahisa Agni memasuki istana ini. Pamanku adalah abdi istana ini sejak
muda. Pamanku itulah yang membawa aku masuk keistana itu.”
“Ki Sanak,“ berkata petugas sandi itu,
“apakah kau dapat menolong aku mengusahakan pekerjaan di istana itu?”
Kuda Sempana memandanginya dengan saksama.
Lalu, “Aku kira tidak ada yang menarik bekerja di istana itu. Mahisa Agni adalah
orang yang paling kikir dari setiap pemimpin yang pernah aku jumpai.”
“Benar begitu?”
Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Namun
sejak semula Kuda Sempana sudah menaruh curiga, bahwa orang itu pasti mempunyai
kepentingan yang khusus dengan abdi yang mungkin dapat dikenalnya.
“Terlalu kikir. Kadang-kadang timbul suatu
keinginan yang jahat dihati ini.”
“Kenapa?”
“Kadang-kadang aku ingin mencuri atau kalau
aku memiliki kemampuan, ingin juga rasa-rasanya merampok isi istana ini.“
Petugas sandi itu mengerutkan keningnya.
Katanya, “Apakah memang pernah terjadi perampokan.“
“Hanya orang gila yang membunuh diri yang
berani melakukannya. Setiap orang tahu, bahwa tuanku Mahisa Agni tidak ada
duanya di Kediri.”
“Bagaimana jika empat atau lima orang
bersama-sama.”
“Bodoh sekali. Ada sepuluh orang prajurit
yang setiap malam berjaga-jaga di halaman ini. Jika dihitung dengan semua
laki-laki yang tinggal dibagian belakang, ada lebih dari dua-puluh orang.”
“Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit
biasa. Bagaimana jika yang datang itu lima orang pilihan seperti tuanku Wakil
Mahkota.”
Kuda Sempana tertawa. Katanya, “Itu suatu
mimpi buruk. Sudahlah, jangan mencoba menjadi hamba di istana itu. Aku yang
sudah terlanjur bekerja pada Wakil Mahkota, rasa-rasanya ingin mendapatkan
pekerjaan lain yang lebih bebas.”
Petugas sandi itu mengerutkan keningnya. Ia
harus mendapat keterangan, apakah pernah terjadi sesuatu di istana itu. Apakah
orang-orang yang ditugaskan oleh Sri Rajasa untuk membunuh Mahisa Agni sudah
melakukan usahanya.
Tetapi ternyata menurut juru taman, di
istana ini tidak pernah terjadi sesuatu. Tidak pernah terjadi perampokan,
apalagi usaha pembunuhan. Jika hal itu terjadi, maka juru taman ini pasti akan
menceriterakan kepadanya.
“Jadi,“ berkata petugas sandi itu, “tidak
ada seorang perampok-pun yang pernah mencoba melakukan perampokan di istana
ini?”
Kuda Sempana menggeleng. Tetapi
kecurigaannya kepada orang ini-pun menjadi kian bertambah.
“Atau barangkali kau sedang tidak ada di
istana?“
Kuda Sempana mengerutkan keningnya.
Jawabnya, “Aku tidak pernah pergi untuk waktu yang lama. Memang aku
kadang-kadang menengok keluargaku jauh dari kota. Tetapi tidak lebih dari
semalam, aku sudah kembali lagi.”
“Jika yang semalam itu.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya.
Katanya, “Tentu ada juga orang lain yang mengatakannya. Mereka pasti akan
berceritera tentang perampokan itu. Tetapi aku tidak pernah mendengarnya. Dan
aku juga tidak pernah melihat perampok-perampok yang tertawan atau terbunuh.
Jika mereka tertangkap, mereka pasti ada ditangan para prajurit, sedang jika
mereka terbunuh, mereka pasti akan dikuburkan.“
Petugas sandi itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ternyata para perampok yang mendapat tugas untuk membunuh Mahisa Agni
itu tidak pernah melakukan tugasnya sebagaimana yang pernah disanggupinya.
Tetapi petugas sandi itu tidak langsung
mempercayai keterangan Kuda Sempana. Ia masih mengharap keterangan dari
orang-orang lain, karena mungkin juru taman itu tidak mengetahui persoalan itu
atau mungkin ia sengaja menyembunyikannya.
Namun hampir setiap orang yang
dihubunginya, mengatakan bahwa mereka tidak pernah mendengar tentang sebuah
perampokan yang terjadi di istana, sehingga akhirnya petugas itu yakin bahwa
memang perampok itu tidak pernah terjadi.
Dengan hati yang berdebar-debar petugas
itu-pun kembali ke Singasari. Jika penasehat Sri Rajasa itu tidak
mempercayainya, maka ia akan dapat dituduh melakukan tugasnya sebaiknya. Namun
menurut penilaiannya, sesuai dengan keterangan-angan yang didengarnya, maka
laporan yang dibawanya itu adalah suatu
kebenaran. Penasehat Sri Rjasa dapat
mengirimkan petugas yang lain yang pasti akan mendapat keterangan yang sama
pula.
Sebenarnya, bahwa keterangan itu tidak
langsung dapat dipercaya. Meski-pun penasehat Sri Rajasa itu tidak
mempersoalkannya, namun diam-diam ia mengirimkan orang lain untuk tidak
mempersoalkan tugas yang sama. Tetapi keterangan yang diterimanya tidak berbeda.
Di istana wakil Mahkota di Kediri, tidak pernah terjadi sesuatu. Apalagi
pembunuhan. Mahisa Agni masih tetap berada di istana itu dan melakukan tugasnya
seperti biasa.
“Gila,“ Sri Rajasa menggeram, “apakah
sebenarnya yang mereka lakukan? Apakah keuntungan mereka dengan melakukan
penipuan serupa itu. Ia tidak akan dapat memeras aku dengan rahasia yang
didengarnya atas usaha pembunuhan terhadap Mahisa Agni. Tidak akan ada
seorang-pun yang mempercayainya dan ia akan segera aku binasakan atas dukungan
para panglima.”
“Tentu bukan itu maksudnya tuanku.“
“Jadi apa?”
“Itulah yang hamba tidak tahu.”
Sri Rajasa menjadi termangu-mangu sejenak.
Namun tampak pada sorot matanya, bahwa seakan-akan ia telah dicengkam oleh
kelelahan yang amat sangat. Wajahnya seakan-akan sudah tidak memancarkan
kebesaran pribadinya sebagai seorang Maharaja yang telah berhasil mempersatukan
seluruh Singasari.
“Tuanku,“ berkata Penasehat Sri Rajasa,
“perkenankanlah hamba pergi kepadepokan mereka. Perkenankanlah hamba melihat,
apakah mereka ada disarangnya. Dengan demikian, tuanku akan mendapat gambaran
yang sebenarnya dari orang-orang itu.“
Sri Rajasa mengangguk-angguk kosong. Hampir
diluar sadarnya ia berkata, “Pergilah.”
Dihari berikutnya Penasehat Sri Rajasa
itu-pun benar-benar pergi menyelusuri jejak para perampok yang mendapat tugas
untuk membinasakan Mahisa Agni.
Namun yang dijumpainya dipadepokan itu
benar-benar telah menggoncangkan perasaannya. Dari para murid yang masih
tinggal, penasehat Sri Rajasa itu mendengar, bahwa guru mereka bersama
saudara-saudara seperguruan mereka, telah pergi beberapa lama, dan sampai
sekarang masih belum kembali.
Ternyata kedatangannya adalah sia-sia. Ia
sama sekali tidak mendapat gambaran dari apa yang sudah terjadi. Ia sama sekali
tidak dapat menduga, kemanakah mereka pergi dari apakah yang sudah terjadi atas
mereka.
Karena itu, sambil menundukkan kepada
dalam-dalam, penasehat Sri Rajasa kembali ke Singasari dan menyampaikan hasil
perjalanannya.
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam.
Sambil menatap ke kejauhan ia berkata, “Mendung yang tebal sedang memayungi
Singasari.“
“Tetapi matahari akan segera bersinar
kembali tuanku. Hamba akan tetap berusaha, apa-pun yang akan mungkin terjadi
atas hamba. Tetapi putera tuanku dan tuan puteri Ken Umang itu memang
sepantasnya menggantikan kedudukan tuanku.”
Sri Rajasa tidak menyahut. Tetapi ia masih
tetap memandang ke kejauhan.
“Tuanku, bagaimanakah jika hamba mengatakan
rahasia yang sebenarnya kepada tuanku Anusapati, agar ia menyadari dirinya
sendiri?”
“Maksudmu?“
“Putera Mahkota itu harus menyadari, bahwa
sebenarnya ia tidak berhak menggantikan kedudukan tuanku menjadi Maharaja di
Singasari, karena tuanku Anusapati sama sekali bukan putera tuanku.”
“Gila.“ Sri Rajasa menggeram, “kau sudah
gila. Itu tidak akan bermanfaat. Ia akan bertanya siapakah ayahnya, dan ia akan
bertanya, siapakah yang membunuh ayahnya.”
“Tidak seorang-pun yang tahu, dan tidak
seorangpun, yang akan dapat memberitahukan kepadanya. Apalagi ayahnya hanyalah
seorang Akuwu Tumapel, sama sekali tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan
Singasari sekarang.“
“Tetapi Tumapel adalah sumber kekuasaan
Singasari sekarang. Dan ia akan tetap merasa berhak atas tahta Tumapel yang
mendapatkan bentuknya yang sekarang.”
“Tuanku Anusapati tidak akan berani berbuat
demikian tuanku. Ia tidak melihat apa yang sudah terjadi. Meski-pun seandainya
ibunda tuanku Anusapati berceritera tentang masa lampau, namun ia dapat tidak
akan terlalu banyak menyinggung tentang Akuwu Tumapel.”
Tetapi Sri Rajasa menggelengkan kepalanya.
Katanya, “Kau melupakan seseorang yang mengetahui terlampau banyak apa yang
telah terjadi.”
Penasehatnya mengerutkan keningnya.
“Mahisa Agni. Ia memang sumber dari awan
gelap yang membayangi tahta Singasari sekarang, sehingga rasa-rasanya aku telah
duduk diatas bara yang menyala.”
Penasehat Sri Rajasa itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Mahisa Agni adalah seorang manusia yang
seakan-akan memiliki keajaiban. Sri Rajasa adalah seorang yang ajaib, tetapi ia
tidak mampu melenyapkan Mahisa Agni dengan berbagai macam cara.
Bahkan orang-orang yang paling dipercaya
yang dikirim ke Kediri itu bagaikan telah hilang tanpa bekas. Tidak seorang-pun
di Kediri yang pernah menceriterakan tentang kehadiran mereka, tetapi ternyata
mereka telah hilang begitu saja.
“Sesuatu peristiwa yang hampir tidak dapat
aku mengerti,“ berkata Sri Rajasa kemudian. “kemanakah sebenarnya orang-orang
itu pergi. Apakah mereka mengurungkan niatnya, atau mereka telah disergap oleh
petugas-tugas sandi Mahisa Agni sebelum mereka sampai keistana.”
“Dimana Mahisa Agni dapat mengetahuinya
tuanku. Hanya kita sajalah yang mengetahui bahwa orang-orang itu akan membunuh
Mahisa Agni di istananya dan merampoknya sekali.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
menarik nafas dalam-dalam. Bayangan-angan yang semakin suram tampak di
angan-angannya. Bahkan kadang-kadang ia merasa bahwa Dewa-dewa yang selama ini
melindunginya, sejak ia masih berkeliaran di padang Karautan, telah
meninggalkannya sama sekali.
Setiap kali terbayang usahanya menyeberangi
sebuah sungai dengan daun tal karena petunjuk sebuah suara dari langit.
Terbayang kembali ceritera tentang kelelawar yang seakan-akan keluar dari
kepalanya dimalam hari ketika ia menginginkan buah jambu yang bergantungan
dibatangnya.
Banyak ceritera-ceritera ajaib tentang
dirinya yang sama sekali tidak diketahuinya sendiri bagaimana hal itu dapat
terjadi. Yang kemudian dianggapnya bahwa semua itu adalah tuntunan dewa-dewa
yang mengasihinya seperti yang dikatakan oleh mPu Purwa. Pertama kali ia
bersentuhan dan mengenal Yang Maha Agung adalah karena ia bertemu dengan seorang
pendeta dan muridnya yang bernama Mahisa Agni itu.
Tiba-tiba saja Sri Rajasa menutup wajahnya
dengan kedua belah telapak tangannya, seakan-akan cahaya yang silau telah
memancar dan menyorot wajahnya. Cahaya sebuah trisula kecil yang dimiliki oleh
mPu Purwa.
Semuanya seakan-akan telah terjadi sekali
lagi didalam angan-angannya. Dan semuanya itu rasa-rasanya telah membuatnya
semakin berkecil hati.
“Memang Mahisa Agni bukan manusia
kebanyakan.“ tiba-tiba ia berdesis.
“Apakah maksud tuanku?“
Sri Rajasa mengangkat wajahnya.
“Tuanku tidak boleh berputus-asa. Ingatlah,
bahwa tuanku Tohjaya sudah mulai. Jika kerja ini terhenti ditengah jalan,
alangkah pedihnya hati putera tuanku itu. Ia pasti tidak akan memiliki hari
depan yang terang.“
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Ternyata
kata-kata penasehatnya itu dapat menyentuh hatinya. Meski-pun ia berputus asa
dan kehilangan gairah perjuangannya, namun ia tidak dapat membiarkan Tohjaya
korban keputus-asaannya itu, sehingga apabila ia masih tetap berbuat sesuatu,
maka segalanya itu hanyalah untuk Tohjaya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Agni-pun
menyadari pula, bahwa banyak hal dapat terjadi. Bukan saja atas dirinya, tetapi
juga atas Putera Mahkota.
Itulah sebabnya hampir setiap saat ia
memikirkan apakah yang sebaiknya dilakukan untuk keselamatan Anusapati.
Waktu masih tetap beredar terus. Demikian
juga Singasari yang tampak megah itu masih juga memerintah daerah-daerah yang
telah dipersatukan oleh Sri Rajasa menjadi suatu daerah lingkup yang luas.
Sedang Mahisa Agni masih juga tetap berada di Kediri. Namun waktu yang berkisar
terus itu-pun ternyata telah melibatkan bumi seisinya. Yang tua menjadi semakin
tua, dan yang telah tidak dapat bertahan lagi, kemudian dipanggil kembali
keasalnya.
Tidak seorang-pun lagi yang tahu, kemanakah
perginya orang-orang seperti mPu Purwa, mPu Sada, Panji Bojong Santi dan yang
lain lagi yang sebaya dengan mereka. Setiap orang menganggap bahwa mereka telah
menemukan jalannya kembali. Juga ibu Mahisa Agni yang ada di istana Singasari,
sebagai seorang emban, telah berlalu diiringi oleh tangis Ken Dedes yang merasa
menjadi
momongannya sampai saat terakhir. Namun
yang sampai saat terakhir masih juga tidak mengenal siapakah sebenarnya
perempuan itu, dan apa hubungannya dengan Mahisa Agni.
Tetapi ternyata bahwa beban itu tidak dapat
disimpannya sampai akhir hayatnya. Di saat maut menyentuhnya, ada orang yang
menjadi ajang untuk menumpahkan perasaannya yang selama ini menjadi rahasia
baginya.
“Tidak seorang-pun yang boleh
mengetahuinya," berkata emban tua itu. “Apalagi tuanku Permaisuri sendiri.”
Dan perempuan yang mendapat kepercayaan itu
adalah emban Anusapati, yang semula adalah perempuan yang dipasang oleh Ken
Umang justru untuk menyesatkan Putera Mahkota, namun yang akhirnya justru
mengenal dirinya sebagai manusia yang beradab dan tanpa menghiraukan yang dapat
terjadi telah benar-benar mengasuh Anusapati sebagai anaknya sendiri. Dengan
demikian, maka hubungan ibu dan anak telah mendekatkan hubungan kedua emban
pemomong itu.
Dikala saat-saat terakhir sudah mulai
menyentuhnya, semua rahasia tentang dirinya dikatakannya kepada emban itu,
sekedar untuk mengosongkan dirinya, agar maut tidak dibebani oleh rahasia yang
belum terungkapkan.
Karena itulah maka emban itu tidak menjadi
heran, melihat Mahisa Agni, seorang Senapati Agung yang pernah mengalami
peperangan yang paling dahsyat menitikkan air matanya di saat-saat terakhir dari
hidup emban itu.
Demikianlah yang berlalu telah berlalu. Dan
emban itu-pun semakin lama menjadi semakin tua. Namun seperti emban pemomong Ken
Dedes yang kemudian menjadi permaisuri, rahasia itu tetap merupakan rahasia
baginya.
Namun setiap kali timbul pula pertanyaan
dihati emban Putera Mahkota yang menjadi semakin tua pula, apakah di saat-saat
akhir hayatnya ia juga akan tetap membawa rahasia itu?
“Ibunda tuanku Mahisa Agni yang menjadi
wakil Mahkota di Kediri itu tidak dapat menahan rahasia itu di dalam dirinya
sendiri pada saat-saat terakhir. Jika tiba saatnya, aku nanti akan mengalaminya,
apakah aku harus mencari tempat yang paling baik untuk meninggalkan pesan itu,
seperti juga ibunda tuanku Mahisa Agni itu?“ pertanyaan serupa itu selalu
membayangi hati emban pemomong Anusapati yang semakin hari menjadi semakin tua
pula.
Dalam pada itu, untuk beberapa lamanya
istana Singasari seolah-olah menjadi tenang. Sri Rajasa yang selalu kecewa itu
seakan-akan telah kehilangan gairah perjuangannya untuk menempatkan Tohjaya
diatas tahta Singasari. Hanya karena dorongan penasehatnya sajalah ia masih
tetap memikirkan cara yang sebaik-baiknya untuk melakukannya. Tetapi setiap
kali, jalan yang disusunnya selalu sampai pada kesulitan yang tidak teratasi.
Apalagi semakin lama kedudukan Anusapati rasa-rasanya semakin mapan.
Namun dalam pada itu, ternyata bahwa
Tohjaya-pun tidak tinggal diam. Atas sepengetahuan ayahandanya, ia mendekati
para panglima prajurit Singasari dan segala kesatuan. Dengan berbabagai cara, ia
berusaha untuk dengan perlahan-lahan menguasainya seorang demi seorang. Dengan
berbagai macam pemberian dan janji yang mengawang mengharap dukungan dari para
Panglima apabila terjadi sesuatu kelak.
“Kekuatan Singasari terletak ditangan
kalian,“ berkata Tohjaya setiap kali.
Bukan saja Tohjaya, tetapi juga Sri Rajasa
mengharap mereka pada suatu saat menentukan sikap apabila mereka berdiri
dipersimpangan jalan.
“Apakah yang sebenarnya akan terjadi
tuanku?“ bertanya salah seorang Panglima.
“Tidak ada apa-apa,“ sahut Sri Rajasa,
“Singasari akan tetap menjadi Singasari yang besar. Keturunan Sri Rajasa Batara
Sang Amurwabumi harus tetap diatas tahta.”
Para Panglima itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Tetapi mereka masih belum tahu apakah sebenarnya yang telah melibat
Singasari sehingga Sri Rajasa tampaknya membayangkan kecemasan menghadapi masa
depannya.
Dalam pada itu, Anusapati mencoba untuk
menempatkan diri pada tempat yang sewajarnya. Kadang-kadang tanpa ijin ayahanda
Sri Rajasa ia telah melakukan tindakan-akan yang memang sewajarnya dilakukan
oleh seorang Putera Mahkota.
Selain tugasnya didalam pemerintahan, maka
didalam lingkungan keluarganya-pun Anusapati nampaknya tidak terlalu kecewa.
Anaknya, seorang laki-laki semakin lama nampak menjadi semakin besar. Wajahnya
yang tampan serta badannya yang kokoh membayangkan harapan dimasa mendatang
baginya.
Emban pemomong Anusapati itulah yang selalu
merawatnya dengan penuh kasih sayang seperti merawat cucunya sendiri. Hampir
setiap saat anak itu tidak terpisah daripadanya, kecuali apabila anak itu sedang
tidur didalam pelukan ibundanya.
Hampir sebaya dengan putera Anusapati itu,
putera Mahisa Wonga Teleng-pun tumbuh dengan suburnya pula. Sehingga setiap kali
kedua anak-anak yang segar itu menghadap Permaisuri, maka keduanya adalah
penawar duka dan keprihatinan yang hampir dialami sepanjang umurnya. Kedua cucu
laki-laki itu bagaikan permainan yang tidak akan pernah menjemukannya.
Namun dalam pada itu, kecemasan Mahisa Agni
atas keselamatan Anusapati semakin lama justru menjadi semakin dalam menghunjam
dihatinya. Ada semacam firasat didalam dirinya, bahwa usaha Tohjaya untuk
menyingkirkan Anusapati pasti akan selalu dilakukannya. Kapan dan bagaimana-pun
cara yang akan ditempuhnya.
Karena itu, ketika kecemasannya memuncak,
maka diambilnya suatu kesempatan untuk menemui Putera Mahkota itu tanpa
diketahui oleh siapa-pun juga.
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “kau
harus mengetahui bahwa bahaya yang ada disekelilingmu bukannya sekedar bahaya
yang mengancam kedudukanmu. Tetapi juga keselamatan jiwamu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Memang hampir tidak masuk akal, bahwa
kau-pun harus mempersiapkan diri menghadapi siapa-pun juga didalam istana ini.
Bahkan ayahandamu Sri Rajasa.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Dengan
suara yang dalam ia bertanya, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi paman?”
“Memang hampir tidak masuk akal. Tetapi kau
harus menyadari bahwa pengaruh Ken Umang sangat mencengkam hampir segenap segi
kehidupan Sri Rajasa,“ jawab Mahisa Agni. Namun untuk sesaat suaranya terputus.
Hampir saja ia mengatakan bahwa sebenarnyalah bahwa Anusapati bukan putera Sri
Rajasa. Namun kata-kata yang seakan-akan sudah berada ditenggorokannya itu
ditelannya kembali.
“Sudah barang tentu bahwa kau tidak boleh
berprasangka terlalu buruk terhadap ayah sendiri, tetapi kau harus bertolak dari
sikap Ken Umang. Ialah yang sebenarnya sangat bernafsu untuk menyingkirkan kau
dan menempatkan Tohjaya pada tempatmu yang sekarang. Masalah sama sekali bukan
mempertahankan kedudukan, tetapi bagiku, kau harus membela kehormatan ibumu
sebagai seorang Permaisuri. Kedudukan Putera Mahkota harus berada ditangan
putera laki-laki seorang Permaisuri. Bukan pada putera laki-laki yang lain. Dan
kau adalah orang yang paling berwenang untuk menjadi Putera Mahkota, juga atas
kehormatan ibundamu, Pemaisuri. Jika kau tersisih, maka alangkah malunya
ibundamu sebagai seorang Permaisuri.”
Anusapati mendengarkan keterangan Mahisa
Agni itu kata demi kata. Namun demikian ia tidak dapat mengerti, bahwa begitu
besar pengaruh Ken Umang, seorang isteri muda sehingga seorang ayah akan sampai
hati menyingkirkan, meski-pun tidak dalam arti yang
sangat jauh, namun hal itu pasti akan
menghancurkan hari depan anaknya sendiri yang lahir dari isterinya yang lain.
Namun Anusapati menyimpan pertanyaan itu
didalam hatinya.
Meski-pun demikian Anusapati tidak dapat
mengabaikan peringatan Mahisa Agni. Jika hal itu benar-benar terjadi, maka ia
pasti harus berbuat sesuatu. Sedang didalam istana itu hanya ada seorang saja
yang dapat dipercaya untuk membantunya jika ia berada dalam kesulitan. Mahisa
Wonga Teleng, meski-pun dengan kesungguhan hati berlatih hampir siang dan malam,
namun ia tidak dapat segera melonjak ketempat yang lebih tinggi dari yang dapat
dicapainya setingkat demi setingkat.
Tetapi menurut tanggapan Anusapati, tentu
ada tangan lain yang akan dipinjam seandainya ada niat yang buruk terhadapnya
dari siapa-pun juga. Mungkin dari Tohjaya sendiri atau mungkin dari Ken Umang
dengan atau tidak dengan ijin ayahanda Sri Rajasa.
“Tentu tidak akan ada tindakan yang dapat
langsung dikenakan atas diriku sebagai seorang Putera Mahkota,“ berkata
Anusapati didalam hatinya, “apalagi sebagai orang yang dikenal dengan gelar
Kesatria Putih. Meski-pun kini Kesatria Putih sudah tidak begitu banyak
bertindak di daerah-daerah yang jauh dari istana, namun orang-orang Singasari
masih tetap menghargainya. Jika ada tindakan terhadapku, pasti dengan cara-cara
yang seperti pernah dilakukan. Langsung ditujukan kepada Kesatria Putih seperti
yang pernah terjadi atas paman Kuda Sempana.”
Namun ternyata Mahisa Agni berpendapat
lain. Meski-pun tidak secara langsung, namun ia berkata kepada Anusapati,
“Anusapati, tanpa mengurangi hormat dan bakti seorang anak kepada orang tuanya,
maka setiap orang berhak membela diri dan hidupnya.“
“Paman,“ wajah Anusapati menjadi tegang.
“Aku berbicara dengan jujur Anusapati. Aku
sama sekali tidak bermaksud memisahkan kau dari ayahandamu, atau kau dengan
saudara-saudaramu. Tetapi aku hanya menuruti kata hati yang
barangkali dapat keliru, dan aku memang
mengharap agar aku salah raba.”
Anusapati menjadi semakin tegang.
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “aku
ingin memberikan suatu ceritera kepadamu. Ceritera tentang seorang yang memiliki
kelebihan dari orang lain. Bahkan hampir suatu keajaiban. Orang yang memiliki
ilmu tanpa berguru, dan bahkan ilmunya telah menyamai orang yang paling mumpuni
sekalipun. Orang itu ternyata adalah kekasih dewa-dewa. Ada banyak ceritera
tentang orang itu, namun ciri yang dapat ditangkap oleh indera yang mendekati
sempurna adalah pertanda diatas ubun-ubunnya apabila orang itu sedang memusatkan
kehendak dan perasaannya untuk sesuatu sasaran. Apabila ia sedang marah,
berpikir tentang sesuatu hal dengan segenap perhatiannya, atau mengerahkan
tenaga jasmaniah sampai kedasar kekuatannya. Dan segala macam pemusatan pikiran
dan kehendak didalam segala macam bentuknya.”
Anusapati mendengarkan ceritera itu dengan
penuh minat, meski-pun ia masih belum tahu kemanakah arah pembicaraan itu.
“Apakah ujud dari tanda itu paman?”
Anusapati bertanya.
“Cahaya yang kemerah-merahan diatas
ubun-ubun itu.”
“Cahaya kemerah-merahan. Maksud paman,
ubun-ubunnya bercahaya?“
“Bukan Anusapati. Tetapi diatas ubun-ubun
itu seakan-akan ada lingkaran cahaya yang kemerah-merahan. Tetapi cahaya itu
tidak jelas dan tidak dapat disentuh dengan indera biasa. Mata wadag kita tidak
akan dapat melihatnya begitu saja tanpa dilambari oleh ketajaman mata hati.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dan tanda itu adalah tanda yang diberikan
oleh dewa yang melindungi orang itu. Dan tanda yang kemerah-merahan itu adalah
tanda dari kelebihan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.“
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah orang yang demikian itu masih ada
paman?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Tetapi dalam kesatuan kehendak dewa-dewa menurunkan kelebihan lain
pada orang lain, agar tidak ada kelebihan yang mutlak di dunia ini. Atas
kesatuan dari yang berujud dan yang tidak, satu itulah seakan-akan telah diatur,
bahwa yang satu selalu diimbangi oleh yang lain. Karena itu, maka didunia
ini-pun ada sebuah benda yang memiliki kelebihan dan katakanlah keajaiban”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
“Benda itu berbentuk sebuah trisula. Tetapi
terlalu kecil untuk dijadikan senjata wadag didalam perkelahian.“
“Jadi?”
“Anusapati. Kelebihan yang satu dapat
diimbangi dan bahkan seakan-akan dapat dihapuskan dari kelebihan yang lain.
Trisula itu mempunyai cahaya yang dapat menyilaukan. Orang yang menjadi
kekasih-kekasih dewa-dewa dengan cahaya yang kemerahan di ubun-ubun itu, tidak
dapat menghindarkan diri dari silaunya trisula yang juga diberikan oleh
dewa-dewa. Dan imbangan yang demikian hendaknya memang selalu ada di muka bumi.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
ia mulai sadar, bahwa ceritera itu pasti ada hubungannya dengan dirinya sendiri.
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian.
“adalah berbahagia sekali bagi mereka yang mendapat kepercayaan dari Yang Maha
Agung.”
“Ya. Berbahagialah yang mendapat
kepercayaan dari Yang Maha Agung dalam Ke-Esaan itu.”
“Tetapi itu menjadi suatu tanggung jawab
yang maha berat pula, yang tidak dapat dipikul oleh setiap orang.”
“Ya paman,“ gumam Anusapati seolah-olah
kepada diri sendiri.
Mahisa Agni-pun menarik nafas dalam-dalam.
Dengan perlahan-lahan ia mencoba mempersiapkan hati Anusapati untuk menerima
kenyataan keadilan dari Yang Maha Agung.
Karena itu, maka katanya kemudian,
“Anusapati, di masa Singasari mengalami pergolakan yang dahsyat di dalam,
meski-pun dari luar tidak nampak sama sekali, orang-orang yang menjadi kekasih
dewa-dewa itu masih berperan. Kau masih akan dapat mengenal seseorang yang
memiliki tanda ajaib diatas ubun-ubunnya, dan kau masih juga dapat mengenal
trisula kecil yang menyilaukan itu. Tetapi selagi ia masih bernama manusia
dengan segala macam sifat-sifatnya, maka ia tidak akan dapat mengemban
kepercyaan yang melimpah kepadanya dengan sempurna. Ia masih dapat
menyalahgunakan kelebihan yang ada padanya itu. Dan ia masih dapat dipengaruhi
oleh nafsu-nafsu manusia yang lain.”
Anusapati masih mengangguk-anggukkan
kepalanya. Sebenarnya ia ingin sekali mendengar, ujung dari ceritera pamannya
itu. Tetapi Anusapati tidak berani memotong. Ia mendengarkan dengan penuh minat
dan dengan dada yang berdebaran, seperti ia harus menunggu saat-saat yang
menegangkan di saat-saat kelahiran anaknya.
Mahisa Agni memandang wajah Anusapati yang
menegang. Sejenak kemudian ia-pun berkata pula, “Anusapati, apakah kau ingin
mengetahui orang-orang itu?”
“Ya paman. Hampir aku tidak dapat menahan
hati untuk tidak bertanya. Tetapi aku berusaha menunggu agar aku tidak bersikap
keliru.“
-ooo0dw0ooo-
(bersambung jilid 73)
Jilid 73
“BAIKLAH,“ BERKATA MAHISA AGNI, “orang yang
memiliki tanda ajaib diatas ubun-ubunnya itu adalah ayahandamu. Sri Rajasa yang
pada masa mudanya bernama Ken Arok, dan
yang setelah menempatkan dirinya sebagai raja Singasari. Ia bergelar Sri Rajasa
Batara Sang Amurwabumi.”
“O,“ Anusapati mengerutkan keningnya.
“Tidak ada seorang-pun yang mengetahui
darimana Sri Rajasa menemukan kelebihan yang bersumber dari kekuasaan Yang Maha
Agung itu. Namun dapat dipercaya bahwa ia menerima suatu anugerah yang jarang
diterima oleh orang lain sejak kanak-anaknya. Karena itulah maka Ken Arok
memiliki kemampuan melampaui kemampuan manusia biasa tanpa berguru kepada
siapa-pun juga, karena kemampuan itu langsung berasal dari sumbernya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tetapi seperti yang aku katakan, bahwa
ayahandamu adalah manusia biasa. Manusia dengan segala macam nafsu
kemanusiaannya. Yang dapat kau lihat dengan jelas, bagaimana ia jatuh dibawah
pengaruh Ken Umang, karena Ken Umang adalah seorang perempuan yang cantik
menurut ukuran manusia. Dan ayahandamu Sri Rajasa tidak mampu memisahkan
kelebihannya sebagai manusia biasa dan kehadirannya dengan sifat-sifat manusiawi
yang wajar.”
Anusapati menjadi tegang sejenak.
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian,
“kau sekarang sudah dewasa sepenuhnya. Kau sudah menjadi seorang ayah, sehingga
kau harus juga berpikir dewasa. Karena itu, kau harus menanggapi setiap
persoalan dengan dewasa pula.”
Anusapati menundukkan wajahnya. Tetapi ia
tidak menyahut.
“Berbanggalah bahwa kau adalah seorang
patera dari Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa.”
Anusapati menganggukkan kepalanya. Namun
tiba-tiba ia bertanya, “Siapakah yang harus berbangga paman. Aku atau adinda
Tohjaya?”
“Kau dan adindamu Tohjaya. Juga Mahisa
Wbnga Teleng dan adik-adikmu yang lain yang lahir dari ibunda Ken Dedes dan yang
lahir dari ibunda Ken Umang.”
“Ya paman. Kami memang harus berbangga.
Tetapi apakah arti dari kebanggaan kami bahwa kami hidup dalam keadaan yang
tidak sejalan. Aku sendiri selalu berada di dalam keadaan yang pahit dan hampir
setiap tarikan nafas, aku harus berhati-hati, waspada dan menjaga diri karena
setiap tarikan nafas, aku selalu dibayangi oleh bahaya seperti yang paman
katakan.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Itu adalah segi-segi kehidupan yang penuh dengan rahasia, yang hampir
tidak dapat dimengerti oleh seseorang. Tetapi bukankah kau sampai saat ini
berhasil menghadapinya dengan tabah.”
Anusapati mengangguk. Namun katanya
kemudian, “Tetapi aku hampir tidak dapat mempercayainya bahwa aku akan dapat
bertahan terus dalam keadaan seperti ini. Seperti pesan paman, aku bukan sekedar
mempertahankan kedudukan. Tetapi juga nama ibunda Permaisuri. Tetapi aku tidak
yakin bahwa aku akan mampu melakukannya. Aku berada di istana Singasari, sedang
istana ini bagaikan perapian yang setiap saat dapat membakar aku. Aku tidak
mengerti paman. Hampir-hampir aku tidak percaya bahwa aku adalah putera ayahanda
Sri Rajasa seperti adinda Tohjaya.”
“Anusapati,“ desis Mahisa Agni.
“Tetapi tidak seorang-pun yang dapat
mendengar pertanyaan yang selalu bergejolak didalam hati ini. Semakin aku
mendalami kehidupan ini dalam segala segi dan bentuknya, semakin aku menjadi
ragu-ragu.”
“Jangan berpikir demikian Anusapati.”
“Pamanda Mahisa Agni,“ berkata Anusapati
kemudian, “jika aku tidak takut menyinggung perasaan ibunda Permaisuri, aku
ingin bertanya, apatah ada sesuatu yang mendahului peristiwa kelahiranku
sehingga ayahanda Sri Rajasa menganggap aku sebagai
seorang asing saja disini, bahkan
kadang-kadang tampak sekali sikapnya yang memusuhi aku.“
“Jangan Anusapati. Jangan kau tanyakan hal
itu kepada ibunda Permaisuri. Hal itu tentu akan menyinggung perasaannya,
seolah-olah kau tidak percaya kepada ibunda bahwa ibunda telah tersentuh oleh
persoalan yang membuat ayahandamu bersikap lain kepadamu.”
Anusapati menundukkan kepalanya. Tetapi
sebenarnyalah bahwa hatinya sedang diusik oleh pertanyaan tentang masa
kelahirannya atau bahkan sebelumnya. Sebagai seorang yang telah dewasa
sepenuhnya. Anusapati mengetahui, bahwa hubungan seorang suami dengan isterinya
dipengaruhi oleh banyak sekali persoalan-persoalan yang kadang-kadang diluar
sadar, tumbuh semakin mekar. Demikian juga agaknya persoalan dirinya sendiri
yang telah membuat jurang yang semakin dalam didalam hubungan ayah dan ibunya.
Namun Anusapati-pun mengerti, pertanyaan
itu pasti akan sangat menyinggung perasaan ibunya, sebagai seorang Permaisuri
dan sebagai seorang isteri.
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni,
“persoalan yang kau hadapi harus kau tumpukan kepada dirimu sendiri. Kau harus
bertahan. Kau harus tetap pada kedudukanmu. Jika sesuatu keadaan masih juga
ingin memaksamu, maka kau wajib membela diri. Disini ada seorang pengalaman yang
dapat membantumu.”
“Paman Sumekar?”
“Ya. Orang dari Batil itu akan merupakan
seorang pembantu yang baik. Ia akan selalu mendampingi kau dalam segala keadaan.
Ketahuilah, bahwa kematangan ilmunya dapat kau yakini meski-pun ia masih belum
berhasil menyamai kakak seperguruannya Kuda Sempana. Namun didalam saat-saat
yang gawat, ia akan dapat berbuat banyak untukmu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Juru
taman itu adalah orang yang sangat baik baginya.
“Namun demikian Anusapati,“ berkata Mahisa
Agni, “jika pada suatu saat semuanya tidak dapat kau atasi dengan kemampuanmu,
maka kau mempunyai sarana yang barangkali dapat melindungimu.”
Anusapati mengerutkan keningnya.
“Bukankah aku sudah berbicara tentang
sebuah Trisula yang sampai saat ini turun temurun dari tangan ke tangan. Dari
seorang guru kepada muridnya yang paling dipercaya?”
“Maksud paman?”
“Anusapati. Aku adalah murid satu-satunya
dari guruku. Dan guruku adalah kakekmu, ayah dari ibunda Permaisuri. Kau tahu,
bahwa ibundamu adalah adik angkatku?”
“Ya paman.”
“Ia sudah seperti adikku sendiri karena
selain anak angkat aku juga sebagai murid satu-satunya. Itulah sebabnya aku
menerima warisan yang turun temurun itu.”
“Trisula yang paman katakan?”
“Ya. Aku sudah menerima sesuatu yang tidak
dapat dilakukan oleh kemampuan manusia. Tidak ada mPu yang bagaimana-pun
saktinya dapat membuat senjata serupa itu. mPu Gandring yang terbunuh, pamanku
itu-pun tidak akan dapat membuatnya.”
“Karena trisula itu berasal bukan dari
kemampuan manusia wantah,“ desis Anusapati.
“Ya. Dan trisula itu ada padaku sekarang.“
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Dan ia
masih mendengar pamannya berkata, “Ada dua keajaiban dipadepokan Panawijen saat
itu.”
“Dua keajaiban?“
“Ya. Selain kelebihan pandangan mPu Purwa,
kakekmu, di Panawijen ada dua keajaiban yang tidak terdapat di manapun. Yang
pertama, saat itu, adalah seorang gadis yang cantik yang memiliki
cahaya yang aneh dari dalam dirinya. Cahaya
yang memberikan pertanda bahwa gadis itu adalah gadis yang lain dari gadis-gadis
sebayanya.”
“Maksud paman memiliki cahaya
kemerah-merahan seperti yang pamanda katakan? Seperti yang terdapat pada
ayahanda Sri Rajasa?”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya.
Katanya, “Tidak Anusapati. Cahaya ini agak berlainan. Cahaya ini adalah cahaya
yang bening yang memancar dari tubuh gadis itu. Bahkan kadang-kadang oleh mata
hati yang waspada, cahaya itu tampak bagaikan api yang menyala.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Dan yang kedua adalah trisula yang
sekarang ada padaku.“
“Tetapi siapakah gadis itu paman?”
“Gadis itu sekarang sudah mempunyai cucu.
Ia adalah ibundamu, Ken Dedes.”
Terasa tengkuk Anusapati meremang.
“Disinilah pertanda itu seakan-akan
bertemu. Pertanda yang ada diatas ubun-ubun Sri Rajasa, dan pertanda yang aneh
pada ibundamu. Namun yang aku dengar, seorang perempuan yang memiliki
tanda-tanda ajaib semacam itu adalah perempuan yang akan menurunkan raja-raja
besar dikemudian hari.”
“O,“ Anusapati semakin terikat kepada
ceritera pamannya.
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian,
“keturunan dari perempuan itu adalah kau. Kau adalah anak laki-lakinya yang
tertua. Sedang Tohjaya tidak dilahirkan oleh seorang perempuan yang memiliki
ciri-ciri keajaiban seperti ibumu. Karena itu, apabila Singasari ingin
meneruskan ikatan persatuan diseluruh tanah ini, keturunan Ken Dedeslah yang
harus memegang pemerintahan.“
Anusapati tidak menyahut.
“Itulah sebabnya aku ingin kau bertahan.
Bukan karena nafsu kekuasaan yang menyala didalam hatimu, tetapi justru untuk
kepentingan Singasari ini.”
Anusapati masih mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ia dapat membayangkan maksud pamannya yang sebenarnya. Dan ia-pun
sadar, apa yang sebaiknya dilakukan.
Untuk beberapa saat lamanya keduanya
berdiam diri. Meski-pun nampak keragu-raguan di wajah Anusapati, namun ia
mempercayai ceritera pamannya. Ia ragu-ragu bahwa apakah ia mampu melakukan
tanggung jawab yang akan dibebankan dipundaknya.
“Yang ada adalah pertanda itu lebih dahulu.
Barulah tanggung jawab itu ada padaku,“ berkata Anusapati kepada diri sendiri,
“ibundalah yang akan menurunkan raja-raja yang akan memerintah dinegeri ini.
Bukan akulah yang tampil untuk mengangkat ibunda Permaisuri sebagai seorang
perempuan yang akan menurunkan raja-raja ditanah ini.”
Namun demikian Anusapati sadar, bahwa
segalanya tidak akan berlangsung dengan sendirinya. Meski-pun pertanda itu
memancar seterang matahari, namun tanpa usaha apa-pun juga, semua itu tidak akan
berlaku.
“Dan aku adalah seorang yang dibebani
tanggung jawab bahwa pertanda itu akan berlaku,“ berkata Anusapati pula didalam
hatinya.
Mahisa Agni yang duduk sambil menundukkan
kepalanya itu tiba-tiba mengangguk-angguk. Apa-pun yang terjadi, maka tidak akan
ada jalan lain baginya untuk menyerahkan keselamatan Anusapati terutama pada
diri sendiri.
Karena itu, meski-pun ia dicengkam oleh
keragu-raguan maka akhirnya ia-pun berkata kepada Anusapati, “Anusapati. Aku
akan menyerahkan trisula itu kepadamu. Kau adalah satu-satunya muridku. Dan aku
percaya kepadamu, bahwa kau mengerti arti dari penyerahan ini, kau harus
melanjutkan pengabdian perguruan yang temurun kepadaku dari mPu Purwa itu.
Pengabdian bagi sesama manusia. Kau harus mencoba berbuat sejauh-jauh dapat kau
lakukan untuk menyerahkan pengabdianmu
tanpa pamrih. Tentu saja tidak ada pengabdian yang mutlak. Tetapi keseimbangan
antara pamrih dan pengabdian itu jangan sampai berat sebelah. Kau harus mampu
menimbang baik dan buruk berlandaskan pada kehadiran diri dengan kepercayaan
sepenuhnya kepada Penciptanya.”
Dada Anusapati menjadi berdebar-debar.
Dengan suara gemetar ia bertanya, “Apakah arti dari penyerahan itu sebenarnya
paman. Paman sudah mengatakan, bahwa trisula itu merupakan ujung keseimbangan
yang lain dari kelebihan ayahanda Sri Rajasa. Ayahanda Sri Rajasa yang tidak
terkalahkan itu akan menjadi silau memandang trisula itu. Dan apakah artinya,
jika trisula itu akan jatuh ketanganku?”
Pertanyaan itu tidak terduga-duga
sebelumnya. Namun sangat wajar diucapkan oleh Anusapati yang mempunyai perasaan
cukup peka. Ia sadar, bahwa dengan demikian, ia telah dihadapkan sebagai ujung
keseimbangan antara cahaya yang kemerah-merahan di ubun-ubun ken Arok itu dengan
cahaya trisula yang menyilaukannya.
Sejenak Mahisa Agni memandang wajah
Anusapati yang suram. Kemudian dengan sangat hati-hati ia berkata, “Anusapati.
Memang banyak arti dapat diambil dari keadaan itu. Namun sama sekali tidak
mustahil bahwa apa yang terjadi itu-pun sekedar arus yang memang sudah
dipersiapkan oleh keharusan yang akan berlaku. Aku tidak tahu apa yang .akan
terjadi Anusapati. Tetapi gejala-gejala yang tampak adalah kemungkinan dari
tanda-tanda yang diberikan kepada seorang gadis yang bernama Ken Dedes. Pertanda
bahwa ia akan menurunkan seorang Maharaja yang paling besar dalam sejarah negeri
ini semakin lama menjadi semakin kabur. Aku juga tidak tahu, apakah pertanda
yang pernah ada itu kini telah pudar pula, dan tidak berlaku abadi. Namun
pertanda kembar yang ada dipadepokan Panawijen yang satu lagi adalah trisula
ini. Apakah kedua Pertanda keajaiban kembar itu harus berkumpul agar yang akan
terjadi itu terjadi.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Namun
kemudian ia berkata, “Paman Mahisa Agni. Apakah aku akan sanggup menerimanya
justru aku adalah putera Sri Rajasa? Jika aku orang lain sama sekali, maka
persoalannya-pun akan berbeda. Jika aku putera ibunda Ken Dedes yang memiliki
tanda keagungan itu dan sekaligus memiliki sebuah trisula yang memiliki ujung
keseimbangan bagi cahaya yang kemerah-merahan di atas ubun-ubun Ken Arok, tetapi
aku bukan putera Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabumi itu, maka
tidak akan ada persoalan bagiku. Aku tahu pasti, apa yang harus aku kerjakan,
jika Sri Rajasa itu berusaha memotong keharusan yang berlaku sesuai dengan
pertanda yang ada pada ibunda. Aku tahu pasti, bahwa aku harus melenyapkan orang
itu, meski-pun jika dengan demikian akan lenyap pula ujung-ujung keseimbangan
yang lain itu. Tetapi keturunan Ken Dedes yang lain akan bangkit dan berlakulah
yang seharusnya berlaku. Ken Dedes menurunkan seorang Maharaja yang besar.
Tetapi yang ada sekarang adalah, Ken Dedes itu adalah Permaisuri Sri Rajasa,
sedang aku adalah putera yang lahir dari perkawinan itu, yang seharusnya padaku
ada kesempatan rangkap untuk kedudukan yang tidak ada bandingnya itu. Tetapi
kini aku-pun sadar, bahwa putera ibunda Ken Dedes bukan hanya Anusapati pula.”
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Sekilas
terbayang wajah Tunggul Ametung. Ayah Anusapati yang sebenarnya. Tetapi jika ia
mengatakannya, maka mungkin anak muda itu akan mengalami kejutan yang luar
biasa, sehingga menimbulkan goncangan-angan yang dapat mengganggu
keseimbangannya.
Karena untuk beberapa lamanya Mahisa Agni
hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia tidak
lagi berbicara dengan anak-anak, tetapi dengan seorang yang telah dewasa
sepenuhnya, dan yang menghadapi hidupnya dengan sikap dewasa pula.
Namun dengan demikian terbersit pikiran
pada Mahisa Agni, justru karena ia menganggap Anusapati sudah dewasa. “Apakah
aku dapat mengatakan yang sebenarnya? Jika untuk seterusnya ada
sesuatu yang masih harus disembunyikan,
maka apakah hal itu tidak justru merupakan bayangan hitam yang selalu
menghantuinya?”
Tetapi setelah mempertimbangkan untung
ruginya, maka Mahisa Agni mengambil kesimpulan, bahwa ia masih akan tetap
berdiam diri.
“Mungkin pada suatu saat aku harus
mengatakannya,“ katanya didalam hati, “tetapi aku masih belum sanggup untuk
melakukannya sekarang.”
Dengan demikian, maka Mahisa Agni-pun
berkata kepada Anusapati, “Anusapati. Sebaiknya kau tidak berpikir terlampau
jauh. Jika kau memiliki trisula sebagai ujung keseimbangan dari kelebihan
kodrati yang ada pada ayahandamu, itu bukan berarti bahwa keduanya harus saling
berbenturan. Jika keseimbangan yang sudah ada ini tidak terguncang, maka tidak
diperlukan keseimbangan lain yang akan berakibat sebaliknya dari keseimbangan
yang ada sekarang; Satu hal yang harus kau ingat, bahwa sebagai pemegang ujung
keseimbangan, yang lain kau tidak boleh mulai lebih dahulu menggoncang
keseimbangan yang sudah ada. Kau tahu maksudku? Hanya dalam keadaan yang memang
memaksa saja kau boleh berusaha mempergunakan benda itu. Hanya dalam keadaan
yang memaksa.”
Anusapati masih menundukkan kepalanya
sambil merenung. Bahkan ia berkata, “Aku mengerti paman. Menurut perhitungan
paman akan sampai saatnya bahwa ayahanda Sri Rajasa benar-benar kehilangan
kendali. Karena itu, pada suatu saat dapat terjadi ayahanda akan melakukan
kekerasan untuk memaksakan keinginannya menyingkirkan aku dan menempatkan
Tohjaya dialas kedudukanku.”
Mahisa Agni ragu-ragu sebentar. Tetapi ia
tidak dapat ingkar, sehingga karena itu ia menganggukkan kepalanya.
“Paman,“ berkata Anusapati kemudian,
“kenapa paman tidak berkata kepadaku, bahwa apa-pun yang terjadi atasku aku
harus tunduk kepada ayahanda? Kenapa paman tidak mengajari aku sekali
ini untuk pasrah? Paman, manakah yang lebih
baik. Aku pergi dari kedudukanku sekarang atau aku harus berani melawan orang
tua? Apakah kira-kira ibunda Ken Dedes akan memilih, agar aku bertahan sebagai
Putera Mahkota untuk kebesaran nama ibunda Permaisuri atau aku harus tunduk dan
tidak melawan ayahanda sendiri? Bukankah paman dan ibunda dan orang-orang tua
mengajarkan agar aku takut dan bakti kepada orang tua. Dan apakah arti dari
perlawanan dan memantapkan keseimbangan yang goyah?”
Pertanyaan yang mengalir beruntun itu
benar-benar telah membuat Mahisa Agni menjadi bingung. Sehingga kembali ia
tersudut pada suatu hasrat untuk mengatakan keadaannya yang sebenarnya.
Namun sekali lagi berusaha mengurungkannya.
Bahkan kemudian katanya, “Anusapati. Memang sulit untuk mengatakannya. Tetapi
baiklah. Simpan sajalah trisula itu. Jika kau merasa perlu mempergunakan,
pergunakanlah. Jika tidak, maka aku pesan kepadamu, jangan sampai trisula itu
jatuh ketangan orang lain.”
“Tetapi pesan itu sangat membingungkan aku
paman,“ bertanya Anusapati, “aku masih memerlukan bantuan paman untuk
mendapatkan ketegasan. Dengan secara kasar dapat aku tanyakan kepada paman, mana
yang sebaiknya aku lakukan, jika pada suatu saat benar-benar ayahanda Sri Rajasa
mengusir aku? Apakah aku akan bertahan dengan kekerasan, atau aku harus
menunjukkan baktiku kepada ayahanda Sri Rajasa? Bahkan lebih jauh lagi aku
menangkap arti, bagaimanakah jika ayahanda ingin membunuh aku? Jika ayahanda
tidak mempergunakan tangan sendiri, maka aku akan dapat membela diri dan
membunuh orang yang diperintahkan oleh ayahanda itu, misalnya Kiai Kisi atau
orang-orang lain nanti. Tetapi jika pada suatu saat, ayahanda sendiri datang
kepadaku, dan minta hidup matiku, apakah yang sebaiknya aku lakukan?”
“Anusapati, aku telah menyerahkan trisula
itu kepadamu. Aku kira kau tahu artinya.”
“Jadi, menurut paman aku harus berani
melawan orang tua dan bahkan membunuhnya?”
“Aku tidak mengatakan begitu Anusapati.
Yang aku persoalkan adalah Anusapati dengan Sri Rajasa. Bukan anak terhadap
orang tuanya.”
“Paman membuat aku bertambah bingung.
Apakah bedanya Anusapati dengan Sri Rajasa dan seorang anak dengan ayahnya?”
“Seorang ayah tidak akan berbuat demikian
terhadap anaknya.”
“Maksud paman Sri Rajasa bukan ayahku?”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar
pertanyaan yang tiba-tiba itu. Namun ia masih menjawab, “Anusapati. Memang
mungkin ada hubungan jasmaniah antara seorang anak dengan ayahandanya. Memang
mungkin seseorang lahir karena adanya orang lain yang menitikkan keturunannya.
Tetapi anak dan ayah bukan sekedar tetesan darah yang mengalir dari seseorang
keorang lain. Itu adalah sekedar lahir karena nafsu semata-mata. bukan karena
kasih yang pasti akan temurun.”
“O, aku menjadi pening paman. Aku tahu
kelahiranku bukan karena kasih antara ayahanda Sri Rajasa dan ibunda Permaisuri
seperti tercermin sekarang ini. Ayahanda lebih banyak berada disisi ibunda Ken
Umang. Mungkin ibunda waktu itu masih muda.”
Dada Mahisa Agni menjadi semakin
berdebar-debar. Hampir ia kehilangan jalan untuk menghindari pengakuan bahwa
memang Anusapati bukan putera Sri Rajasa. Tetapi untuk sementara, biarlah
Anusapati menganggap hal itulah yang terjadi. Bagaimana-pun juga hal itu masih
merupakan pengendalian sikap dari Anusapati, sehingga keseganan dan baktinya
kepada orang tuanya masih mempengaruhi nuraninya.
Jika Anusapati terlepas sama sekali dari
pengaruh itu dan ia mengerti dengan pasti bahwa Sri Rajasa bukan ayahandanya,
maka ia akan dapat bersikap lain. Ia akan dapat berbuat jauh lebih kasar dari
apa yang akan dilakukannya.
“Anusaplati,“ berkata Mahisa Agni kemudian,
“yang terjadi biarlah terjadi. Tetapi yang akan datang adalah hari-hari yang
penuh dengan harapan bagi anak-anak muda
seperti kau. Bukalah hatimu untuk menerima pusaka peninggalan kakekmu itu. Namun
seperti pesan yang aku terima, pusaka itu bukan senjata. Jangan dipergunakan
apabila tidak terpaksa sekali.“
“Baiklah paman,“ berkata Anusapati, “aku
akan mencoba menerima pusaka itu dan aku akan mencoba mengetrapkan semua pesan
paman, sekaligus aku ingin mencoba menjadi seorang anak yang baik.“
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Namun ia menaruh harapan, bahwa Anusapati tidak akan menyalah artikan
pesan-pesannya itu.
Demikianlah maka pusaka kecil itu kemudian
berada di tangan Anusapati. Seperti pada saat Mahisa Agni menerimanya, maka
terasa sesuatu telah membebani perasaannya. Namun lambat laun perasaan itu
menjadi pudar, dan hampir tidak ada persoalan lagi yang bergejolak didalam
hatinya.
“Pusaka itu dapat dianggap tidak ada
padaku,“ berkata Anusapati, “aku hanya sekedar menyimpannya.”
Namun kadang-kadang timbul juga perasaan
yang lain, “dengan pusaka itu aku dapat mengimbangi kelebihan ayahanda Sri
Rajasa. Kenapa paman Mahisa Agni menyerahkan pusaka itu padaku dalam keadaan
seperti ini? Apakah ini suatu pertanda bahwa aku diperintahkannya untuk
membunuh-ayahanda?”
Tetapi setiap kali Anusapati berkesempatan
bertemu dengan Mahisa Agni, maka pesan Mahisa Agni sama sekali-tidak sejalan
dengan dugaannya itu. Bahkan lambat laun terasa betapa lunaknya sikap Mahisa
Agni terhadap ayahanda Sri Rajasa itu.
"Memang kadang-kadang Mahisa Agni masih
selalu diganggu oleh pusaka itu. Kadang-kadang timbul juga penyesalan dihatinya.
Apakah pusaka itu tidak berarti suatu dorongan pada Anusapati untuk melakukan
suatu tindakan yang tidak diharapkannya. Mahisa Agni memberikan pusaka itu
semata-mata agar Anusapati dapat melindungi dirinya. Bukan untuk menghancurkan.”
Meskipiun Anusapati tidak menampakkan
perubahan pada sikapnya sehari-hari, namun sebenarnya ia masih juga selalu
dibebani oleh perasaannya yang gelisah.
Bahkan pada suatu saat, Anusapati tidak
lagi dapat menahan diri. Ia tidak akan mendapat penyelesaian jika ia masih harus
selalu bertanya-tanya pada diri sendiri.
Karena itu, maka betapa-pun beratnya, ia
telah memaksa dirinya menghadap ibunda permaisuri yang tampaknya menjadi semakin
tua.
“Kenapa wajahmu tampak begitu suram
Anusapati?“ bertanya Ken Dedes.
Anusapati menundukkan kepalanya.
Sekali-sekali ia mencoba memandang ibunya, ia tidak pernah melihat cahaya yang
dikatakan oleh Mahisa Agni. Ia sama sekali tidak melihat nyala pada tubuh
ibunya, sebagai pertanda bahwa Ken Dedes akan menurunkan Maharaja yang akan
berkuasa ditanah ini.
Melihat kerut merut dikening ibunya,
Anusapati menjadi ragu-ragu. Ia tidak sampai hati menambah kerut-merut itu,
karena pertanyaan-pertanyaannya. Karena itu, maka untuk beberapa lamanya ia
hanya berdiam diri saja.
Ternyata bahwa ibunya, Ken Dedes, adalah
seorang ibu yang memiliki ketajaman pandangan atas puteranya. Meski-pun
Anusapati tidak mengatakan apa-pun juga, namun ibunyalah yang bertanya,
“Anusapati, apakah kau masih juga selalu dibelit oleh kegelisahan tentang dirimu
sendiri?”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
“Aku melihat pada sorot matamu yang buram.”
Akhirnya Anusapati menganggukkan kepalanya.
Katanya, “Memang kadang-kadang hati ini menjadi kalut ibunda. Hamba tidak tahu
apakah sebenarnya yang telah terjadi atas diri hamba ini.”
“Kau masih dipengaruhi oleh perasaan
anak-anak. Kau bukan anak-anak lagi Anusapati. Kau sudah menjadi seorang ayah.
Anakmu sudah menjadi semakin besar, dan karena itu. Kau-pun harus semakin masak
menghadapi kenyataan ini.”
“Hamba berusaha ibu. Tetapi hamba adalah
seorang manusia yang lemah, yang tidak memiliki kelebihan apa-pun dari manusia
yang lain kecuali sedikit olah kanuragan. Itulah agaknya hamba kadang-kadang
selalu diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan tentang diri hamba sendiri dan
tentang adinda Tohjaya. Bahkan kemudian tentang diri ibunda Permaisuri dengan
ibunda Ken Umang.”
“Ah,“ Ken Dedes berdesis, “itu adalah
perasaan yang harus kau sisihkan. Aku juga mendengar bahwa Tohjaya mengeluh,
bahwa kaulah yang mendapat perhatian terlampau besar dari ayahandamu Sri Rajasa.
Kenapa bukan Tohjaya.“
Anusapati menundukkan kepalanya
dalam-dalam. Ia pernah mendengar jawaban ibunya serupa itu pula dahulu ketika ia
masih belum dewasa sepenuhnya. Dan kini ia sudah bukan anak muda lagi yang tentu
dapat menimbang lebih cermat jawaban ibunya.
Meski-pun Anusapati tahu, bahwa jawaban
ibunya itu sekedar untuk menenteramkan hatinya, namun Anusapati tidak membantah.
Bahkan ia-pun kemudian mengangguk-anggukan kepalanya.
Namun ia terkejut ketika ia mendengar
ibunya terisak. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya ibunda Permaisuri
itu mengusap matanya yang basah.
“Maaf ibu,“ berkata Anusapati dengan suara
bergetar, “bukan maksud hamba membuat ibu bersedih.”
“Tidak Anusapati. Kau tidak bersalah. Dan
aku-pun tidak menjadi bersedih karenanya. Memang kadang-kadang sebuah kenangan
masa lampau membuat hati ini sedikit bergetar. Tetapi aku akan segera dapat
melupakan.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi ia tidak bertanya sesuatu.
Meski-pun demikian air mata yg membasahi
pelupuk Ken Dedes itu menumbuhkan persoalan pula didalam hatinya, seperti yang
memang telah membelit hatinya. Apakah, yang pernah terjadi atas ibunya menjelang
kehadirannya di muka bumi ini? Apakah ada persoalan yang sampai saat ini masih
menjadi rahasia baginya?
Tetapi untuk tidak menambah beban perasaan
ibunya Anusapati tidak bertanya lebih lanjut. Bahkan ketika air mata ibunya
telah kering, ia mohon diri meninggalkan bangsal Permaisuri itu.
“Anusapati,“ berkata ibundanya, “bawalah
anakmu sering kemari. Biarlah ia bermain dengan paman-pamannya disini.”
“Hamba ibunda. Biarlah anak itu sering
menghadap ibunda kemari.“
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Namun
matanya yang kemudian menjadi basah lagi telah memaksa Anusapati bergegas-gegas
meninggalkannya agar tidak tumbuh berbagai persoalan yang lain.
Sepeninggal Anusapati, Ken Dedes masuk
kedalam biliknya. Sambil menelungkup dipembaringan, Permaisuri itu menangis.
Kini ia merasa sendiri didalam biliknya itu. Emban tua yang mengawaninya dari
Panawijen telah tidak ada lagi. Sri Rajasa hampir tidak pernah lagi menjenguknya
sehingga istana Singasari yang megah itu kini menjadi sangat sepi baginya.
Hidup Permaisuri itu kini semata-mata
diperuntukkan bagi putera-puteranya. Ken Dedes sudah tidak pernah memikirkan
dirinya sendiri. Yang menjadi persoalan baginya adalah keturunannya. Terutama
Anusapati.
“Apakah Anusapati benar-benar akan dapat
menggantikan kedudukan Sri Rajasa? “ masalah itulah yang setiap kait
menggetarkan hatinya.
Namun agaknya Sri Rajasa tidak
bersungguh-sungguh dengan kehormatan yang diberikan kepada Anusapati untuk
menduduki jabatannya yang sekarang. Ternyata setiap kali kedudukan itu telah
diguncang-guncang. Meski-pun kadang-kadang Anusapati sendiri berusaha menutupi
apa yang pernah terjadi atasnya, namun Ken Dedes dapat juga mendengar, bahwa
Anusapati telah terancam, bukan saja kedudukannya, tetapi juga jiwanya.
Sekilas terbayang ayah Anusapati yang sudah
terbunuh. Yang akhirnya diketahuinya, bahwa Ken Arok yang sekarang bergelar Sri
Rajasa itulah yang telah membunuhnya, karena kadang-kadang diluar sadarnya,
kata-kata Ken Arok sendiri memberikan kesan yang demikian.
“Aku telah kena kutuk dari Yang Maha
Agung,“ berkata Ken Dedes kemudian. Ia merasa bersalah, bahwa sejak Akuwu
Tunggul Ametung masih hidup, betapa-pun ia menyembunyikan didalam hatinya,
tetapi ia sendiri mengetahuinya, bahwa ia sudah tertarik pada seorang anak muda
yang bernama Ken Arok, yang telah berhasil membuat sebuah telaga buatan di
padang Karautan. Telaga yang sekarang hampir tidak pernah dilihatnya lagi.
Dan kutuk itu agaknya telah membuatnya
berprihatin sampai hari tuanya. Bahkan anak-anaknya.
Tiba-tiba terbersit sesuatu didalam
hatinya, “Apakah pada suatu saat aku tidak akan mengatakannya kepada Anusapati?”
Tiba-tiba Ken Dedes menggelengkan
kepalanya. “Itu tidak baik. Anak itu akan mengalami kejutan perasaan. Dan anak
itu akan kehilangan kepercayaan kepada siapa-pun juga.”
Namun setiap kali Ken Dedes tidak dapat
menghalau kenyataan yang berlaku, bahwa Ken Arok yang kemudian bergelar Sri
Rajasa itu sama sekali tidak menghiraukan lagi kepada Anusapati. Bahkan dengan
segala daya upaya berusaha untuk menyingkirkannya. Tetapi tidak semata-mata agar
namanya tetap terpelihara sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana.
“Dahulu ia berhasil menyingkirkan Akuwu
Tunggul Ametung, menjerumuskan Kebo Ijo dan bahkan sudah pasti, membunuh mPu
Gandring pula,“ berkata Ken Dedes didalam hatinya, “tentu pada suatu saat ia
akan dapat menyingkirkan Anusapati dengan cara itu pula.”
Ken Dedes hampir menjerit untuk melepaskan
himpitan perasaannya ketika ia sampai disimpang jalan. Seakan-akan ia harus
memilih salah satu dari jalan yang bercabang itu. Yang satu adalah anaknya,
Anusapati, sedang yang lain adalah suaminya, Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa
Batara Sang Amurwabumi, Maharaja yang berkuasa di Singasari.
Tetapi pilihan itu adalah pilihan yang
paling rumit didalam hidupnya, justru setelah Ken Dedes menemukan nilai-nilai
dari hubungan yang dalam antara dirinya dengan keduanya. Dan karena itulah maka
Ken Dedes tidak akan dapat segera menemukan pilihan yang sebaik-baiknya.
Dan untuk beberapa lama Anusapati-pun masih
berhasil menahan perasaannya. Betapa berat himpitan yang seakan-akan menekan isi
dadanya, namun sekali-sekali dapat juga dilepaskannya dalam pakaian putihnya
diatas kuda putih. Kadang-kadang ia berpacu ditengah malam menembus gelap
menyusur dari desa yang satu kedesa yang lain, dari padukuhan yang satu
kepadukuhan yang lain. Bukan saja untuk menemukan kejahatan yang harus
dibasminya, namun kadang-kadang ia ingin mendapatkan tempat yang paling mapan
untuk mesu diri dan mematangkan ilmunya. Kadang-kadang ia dikawani oleh
Witantra, Kuda Sempana atau Mahendra. Tetapi kadang-kadang Mahisa Agni
sendirilah yang pergi bersamanya. Diam-diam ia keluar dari istananya di Kediri
pada hari-hari tertentu dan berusaha menjumpai Anusapati. Mahisa Agni dapat saja
berpesan kepada hambanya, bahwa dihari berikutnya ia akan samadi di sanggarnya.
Tidak boleh seorang-pun yang mengganggunya sebelum ia keluar atas kehendaknya
sendiri, sedang diluar istana Witantra atau Mahendra telah menyediakan seekor
kuda baginya.
Namun hal itu semakin lama semakin jarang
dilakukannya. Kejahatan-pun semakin lama menjadi semakin menurun, sehingga
akhirnya Singasari benar-benar menjadi sesuatu negeri yang aman dan tenteram.
Semuanya berkembang seperti yang diharapkan. Pertanian yang semakin luas,
perguruan dalam olah kejiwan dan kanuragan. Bidang kerpajuritan yang semakin
sempurna dan pemerintahan yang berjalan lancar.
Meski-pun demikian, didalam kedamaian
itulah, bahaya justru semakin mengancam Anusapati. Tohjaya yang mewarisi
cara-cara ayahandanya, berusaha mempengaruhi setiap Panglima pasukan yang ada.
Dengan segala cara yang semakin lama menjadi semakin kencang.
“Tuanku tidak akan dapat menunggu lebih
lama lagi,“ berkata penasehat Sri Rajasa kepada Tohjaya, “semakin lama pengaruh
tuanku Anusapati rasanya menjadi semakin kuat sehingga pengaruh itu harus segera
dihentikan.”
“Ya,“ Tohjaya mengangguk-anggukkan
kepalanya, “tetapi ayahanda tidak dapat secepat rencana kita. Bagiku tidak ada
keberatannya, jika tiba-tiba saja kakanda Anusapati dibunuh. Apakah salahnya?
Agaknya ayahanda, masih sayang juga kepadanya. Meski-pun seakan-akan ayahanda
tidak berkeberatan pula untuk menyingkirkannya, namun jika hal itu benar-benar
akan kita lakukan, ada-ada saja keberatan ayahanda.”
“Tetapi ternyata bukan karena ayahanda
masih sayang kepada tuanku Putera Mahkota, tetapi ayahanda belum melihat
kesempatan yang sebaik-baiknya. Rakyat Singasari ternyata menganggap bahwa
Anusapati adalah seorang kesatria yang paling berjasa bagi mereka.”
“Omong kosong. Jika ia sudah mati, tidak
akan ada lagi yang mengharap perlindungannya. Mereka pasti akan mengharap
perlindungan kita yang masih hidup.”
“Tetapi, jika cara yang kita tempuh
terlampau kasar, sehingga diketahui oleh rakyat Singasari, maka kita akan
mengalami
kesulitan. Itulah yang menjadi perhitungan
terutama bagi ayahanda Sri Rajasa.”
Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi sebenarnya ia tidak sabar menunggu dan menunggu. Jika akhirnya gagal,
maka kekecewaan yang mencengkam hatinya pasti akan berlipat ganda.
Dalam pada itu, Anusapati sendiri telah
menenggelamkan waktunya untuk menempa diri. Setiap saat yang terluang
dipergunakannya untuk mematangkan ilmunya. Kadang-kadang dibawanya adiknya
Mahisa Wonga Teleng. Dan kadang-kadang mereka-pun pergi dengan anak-anak mereka,
yang semakin lama tumbuh menjadi semakin besar. Mereka tumbuh menjadi anak
laki-laki yang tampaknya memiliki kelebihan dari anak-anak kebanyakan.
Bagaimana-pun juga, darah Ken Dedes, yang
memiliki tanda-tanda keajaiban sebagai seorang perempuan yang akan menurunkan
raja-raja besar, nampak pada kedua anak laki-laki itu.
Demikianlah kehidupan keluarga Sri Rajasa,
meski-pun di saat-saat tertentu tampak utuh, namun sebenarnya sama sekali tidak
lagi bertaut yang satu dengan yang lain. Didalam kebesaran Singasari yang tampak
bulat itu, terdapat sebuah rongga yang semakin lama menjadi semakin besar.
Sehingga pada suatu saat akan memecahkan kulitnya.
Dalam pada itu, Sumekar yang sudah
terlanjur terlibat didalam persoalan itu, terlebih-lebih lagi tidak pernah dapat
melepaskan diri lagi. Semakin lama ia-pun sebenarnya menjadi semakin cemas.
Seakan-akan ia melihat lingkaran yang semakin lama menjadi semakin sempit,
sehingga pada suatu saat, lingkaran itu akan membelit dileher Putera Mahkota
itu.
Dan Sumekar-pun tidak pula tinggal diam.
Setiap kali ia selalu memperingatkan kepada Putera Mahkota agar ia berhati-hati.
Namun akhirnya, Sumekar semakin terpukau
lagi oleh persoalan itu ketika tanpa disengaja, dimalam hari ia melihat sebuah
bayangan hitam yang bergerak-gerak didekat bangsal Putera Mahkota, justru selagi
Putera Mahkota keluar dari istana diatas kuda putihnya.
“Licik,“ desis Sumekar, “mereka akan mulai
dari orang-orang yang sama sekali tidak tahu menahu. Bukankah isteri tuanku
Anusapati dan puteranya itu tidak dapat dilibatkan dalam persoalan ini?”
Karena itu, maka Sumekar-pun dengan
diam-diam pula telah mencoba membayangi orang yang mencurigakan itu. Namun ia
berusaha untuk menghilangkan kemungkinan dirinya dapat dikenal. Karena itu maka
ia-pun telah mengenakan pakaian dan kerudung hitam seperti yang pernah
dipakainya.
Tetapi ternyata tidak terlalu mudah untuk
membayangi orang itu. Ia sudah kehilangan jejak disaat pertama kali ia mencoba
mengikutinya. Karena selagi ia mengenakan pakaian hitamnya, dan kembali
kebangsal itu, bayangan yang dicarinya sudah lenyap seakan-akan begitu saja
menguap seperti asap.
Namun Sumekar tidak segera berputus asa.
Bahkan hampir setiap malam ia mengawasi rumah itu, terutama jika Putera Mahkota
tidak ada dirumah.
“Aku harus meyakinkan penglihatanku lebih
dahulu sebelum aku mengatakannya kepada tuanku Putera Mahkota,“ berkata Sumekar
didalam hatinya.
Akhirnya usahanya itu-pun berhasil. Ketika
Putera Mahkota sedang tidak ada dirumah, maka Sumekar yang mengawasi bangsal itu
dari kejauhan melihat sebuah bayangan yang mendekati bangsal itu dengan
hati-hati.
“Apakah yang akan dilakukannya?“ pertanyaan
itulah yang mencengkamnya.
Dengan hati-hati sekali Sumekar mencoba
mendekat. Namun ia tidak berani terlalu dekat dengan bayangan itu. Sumekar masih
belum mengetahui kemampuan dan ketajaman indera orang itu. Sehingga karena
itulah maka Sumekar hanya dapat mengawasinya dari kejauhan.
Sumekar menjadi terpukau ketika ia melihat
orang itu mendekati lampu minyak yang tergantung di serambi belakang.
Setelah orang itu menunggu sejenak, dan
menganggap bahwa tidak ada orang yang melihatnya, maka orang itu-pun segera
menghampiri lampu itu dengan membakar sesuatu.
Sejenak Sumekar dicengkam oleh ketegangan.
Apalagi ketika sejenak kemudian ia mencium bau yang sangat wangi menusuk
hidungnya.
“Tentu bau yang ditaburkan oleh benda yang
baru saja dibakar itu,“ berkata Sumekar kepada diri sendiri.
Ternyata benda yang sudah terbakar itu-pun
kemudian dibawa melingkari bangsal dan diletakkannya disudut sebelah kanan,
tepat pada bilik isteri Putera Mahkota.
“Apakah maksudnya?“ Sumekar bertanya-tanya
didalam hati.
Tetapi ia masih belum berbuat sesuatu.
Dibiarkannya orang yang membakar benda itu pergi meninggalkan bangsal.
Untuk beberapa saat lamanya, Sumekar masih
bersembunyi sambil mengawasi benda yang sudah menjadi abu. Namun baunya masih
tetap menusuk hidung untuk waktu yang agak lama.
“Apakah ada akibat yang dapat timbul dari
bau yang tajam ini?“ bertanya Sumekar kepada diri sendiri.
Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Ia
justru ingin mengetahui perubahan yang dapat terjadi atas dirinya sendiri
meski-pun dengan sadar ia selalu mengikuti segenap perasaan yang tumbuh pada
dirinya.
Tetapi ternyata Sumekar tidak merasakan
akibat apapun, selain kepalanya menjadi agak pening justru karena bau wangi yang
sangat tajam. Selebihnya ia tetap sadar, dan dapat mengikuti setiap perkembangan
persoalan yang dihadapinya.
“Besok pagi aku harus mengetahui, mungkin
ada sesuatu yang terjadi didalam bangsal itu,“ berkata Sumekar didalam hatinya.
Dihari berikutnya, maka Sumekar-pun
menghadap kepada Putera Mahkota. Dengan tidak langsung ia memancing ceritera
tentang bangsalnya semalam ketika Putera Mahkota sedang tidak ada.
“Paman,“ berkata Putera Mahkota kemudian,
“ada sesuatu yang aneh diluar nalar.”
“Apa tuanku?“ bertanya Sumekar.
“Sudah beberapa kali jika aku pergi keluar,
bangsal itu dipenuhi oleh bau wangi yang menusuk hidung sehingga isteriku
menjadi pening dan hampir muntah-muntah karenanya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu ia-pun mencoba bertanya, “Apakah ada akibat lain yang terjadi tuanku?”
Anusapati menggeleng. Jawabnya, “Tidak
paman. Tetapi akibat yang tidak langsung, isteriku menjadi takut. Semakin lama
semakin takut. Bahkan bau yang harum sekali itu kadang-kadang disertai
bunyi-bunyi yang aneh diatas atap, didinding atau bahkan kadang-kadang dibawah
pembaringan.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kini ia mengerti, bahwa maksud orang itu semata-mata mencoba mempengaruhi jiwa
isteri Anusapati agar ia menjadi ketakutan. Dengan demikian maka Anusapati tidak
akan pernah mendapat kesempatan untuk pergi diatas kuda putihnya.
“Para penjaga di bangsal itu harus
diperingatkan, agar mereka lebih cermat sedikit. Selama ini mereka hanya duduk
saja digardu didepan bangsal, karena menurut mereka Singasari adalah negeri yang
aman dan damai. Apalagi didalam halaman istana.”
Ketika pada suatu saat, Sumekar mendapat
kesempatan berbicara dengan seorang prajurit yang pernah bertugas di bangsal
Putera Mahkota, ia berhasil memancing kata-katanya, “Bulu-bulu kudukku meremang
jika aku mencium bau itu.”
“Macam kau,“ gerutu Sumekar didalam hati,
“jika kau mau berdiri dan mengelilingi bangsal itu, kau akan tahu apakah yang
telah menimbulkan bau semacam itu.”
Tetapi Sumekar tidak dapat mengatakannya.
Ia hanya mendengarkan saja. Bahkan sekali-sekali ia mengerutkan lehernya dan
berkata, “Menakutkan sekali. Tetapi apakah bau itu bukan sekedar bau bunga arum
dalu.”
“Huh, mentang-mentang kau menjadi juru
taman. Yang kau kenal hanyalah bau bunga saja. Meski-pun aku seorang prajurit,
tetapi aku mengenal bau bunga arum dalu.“ jawab prajurit itu.
“Jadi bukan bau bunga arum dalu?”
“Bukan.”
“Kantil barangkali? Bunga kantil baunya
tajam sekali.”
“Tetapi tidak setajam bunga arum dalu,“
jawab prajurit itu, lalu “Bodoh kau. Pokoknya sama sekali bukan bau bunga. Bau
itu belum pernah aku kenal sebelumnya.”
“Darimanakah sumber bau itu?”
“O, aku ingin memukul kepalamu barang dua
kali. Jika aku tahu, aku tidak akan ribut begini.”
“Maksudku, apakah para prajurit yang saat
itu meronda telah mencoba mencari?”
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Katanya
dengan jujur, “Belum. Kami belum pernah berusaha mencari. Tetapi jika tiba-tiba
saja kami berhadapan dengan bentuk yang lain dari bentuk manusia wajar ini,
apakah kira-kira aku tidak akan pingsan?”
“Bukankah kalain prajurit? Prajurit tidak
mengenal takut.”
“Omong kosong,“ sahut prajurit itu,
“barangkali prajurit tidak mengenal takut dimedan perang. Tetapi terhadap
hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal, kadang-kadang bulu-kudukku meremang
juga.”
“Jika kau bertugas, aku akan datang
kegardu. Aku ingin ikut meiihat apakah yang menimbulkan bau itu.”
“Kau memang sombong. Barangkali kau mati
beku kalau barangkali kau hanya ingin ikut makan rangsum?”
Sumekar tersenyum. Jawabnya, “Rangsum malam
bagi para prajurit selalu dihitung sesuai dengan jumlah orangnya. Bagaimana
mungkin aku akan mendapat bagian?”
“Tentu kau akan pergi kedapur dan makan
pula disana.”
Sumekar hanya tertawa saja. Tetapi kemudian
ia berkata, “Aku ingin ikut berjaga-jaga. Setidak-tidaknya aku ingin ikut tidur
digardu itu.”
Dalam pada itu, untuk beberapa saat
lamanya, Anusapati tidak keluar dari bangsalnya dimalam hari. Tetapi selama
Anusapati ada didalam bangsal itu, maka tidak pernah timbul sesuatu yang
mencurigakan. Tidak juga tercium bau wangi yang membuat kepala menjadi pening.
“Tuanku,“ berkata Sumekar pada suatu saat,
“apakah tuanku masih tidak dapat meninggalkan tuan puteri?”
Anusapati termangu-mangu sejenak.
“Maksudku, biarlah terjadi seperti pada
saat tuanku pergi. Bila bau wangi itu timbul, hambalah yang akan menuntun para
prajurit untuk berusaha mencari sumbernya. Karena menurut dugaan hamba, sumber
bau itu akan dapat diketemukan.”
“Kau yakin paman?”
“Sekedar suatu usaha tuanku.”
“Tetapi bau itu menimbulkan ketegangan dan
ketakutan pada isteri dan anakku.“
“Tuanku harus meyakinkan mereka, bahwa para
prajurit akan menjaga mereka sebaik-baiknya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Jika tuanku bertemu dengan pamanda tuanku
Mahisa Agni atau salah seorang dari mereka, harus tuanku mengatakan apa yang
sudah terjadi di bangsal tuanku dan bahwa
hamba sedang berusaha untuk menemukan sesuatu disini.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
Demikianlah, pada suatu malam Anusapati
meninggalkan bangsalnya diatas kuda putihnya. Sementara itu ia sudah berpesan,
perlindungan dari para prajurit yang bertugas didepan bangsal.
Seperti yang dikatakannya, maka pada malam
itu, Sumekar pergi kegardu penjagaan. Prajurit yang pernah dijumpainya itulah
yang malam itu sedang bertugas kembali seperti yang dikatakannya.
“He, juru taman. Kau benar-benar datang?“
Sumekar tertawa. Jawabnya, “Aku sudah
berjanji. Dan aku tidak pernah ingkar janji.”
“Kau memang sombong,“ berkata prajurit itu,
lalu diceriterakannya kepada kawan-kawannya bahwa Sumekar ingin mengajak para
prajurit mencari sumber bau itu.“
“Uh,“ desis salah seorang prajurit, “macam
kau ini memang macamnya seorang yang sombong. Apa yang dapat kau lakukan jika
kau menemukannya?”
Sumekar tertawa. Katanya, “Tidak apa-apa.
Tetapi setidak-tidaknya kita dapat menduga, apakah yang menimbulkan bau yang
sangat sedap. Aku pernah mendengar ceritera, bahwa ada sebangsa burung malam
yang bulu-bulunya berbau sedap sekali. Atau sebangsa kucing yang matanya
bercahaya. Jika kita berhasil menangkapnya, maka kita akan dapat menjualnya
dengan harga lima kali lipat harga kuda yang paling baik sekalipun.”
“Omong kosong,“ sahut prajurit yang lain,
“ceritera itu adalah ceritera bagi anak-anak menjelang tidur.”
“Siapa tahu,“ sahut Sumekar, “aku akan ikut
bersama satu dua orang dari antara para prajurit ini. Jika aku mendapatkannya,
aku hanya minta seekor dari lima ekor kuda itu.”
Prajurit yang ada digardu itu tertawa
serentak. Salah seorang berkata, “Kau memang seorang pemimpin yang baik.”
Ternyata kehadiran Sumekar telah
menimbulkan kelakar dan gurau yang tidak berkeputusan. Dengan sengaja Sumekar
membuat mereka terpukau oleh berbagai macam persoalan. Namun selagi mereka
tertawa-tawa tiba-tiba salah seorang dari mereka mengerutkan keningnya. Katanya,
“Kau sudah mulai mencium bau itu.”
Yang lain-pun serentak terdiam. Dengan
saksama mereka memperhatikan suasana. Dan tiba-tiba saja malam terasa menjadi
sangat sepi.
“Ya. Aku sudah mencium bau itu,“ desis yang
lain.
Yang lain-pun menjadi tegang. Dan hampir
bersamaan beberapa orang berkata, “Ya. Aku sudah mencium bau ini pula.”
Tetapi tiba-tiba wajah Sumekar menjadi
cerah. Seperti kanak-anak yang mendapat permainan yang mengasikkan ia tertawa
sambil berkata, “Aku akan menangkap burung itu.“
“Gila kau.“ Bentak seorang prajurit,
“jangan main-main. Kau akan dicekiknya.”
“Kenapa?”
“Apakah burung dan sebangsa kucing dapat
mengerti, kapan Putera Mahkota tidak ada dirumahnya? Bau semacam ini hanya kita
dapati selagi Putera Mahkota sedang pergi di malam hari.“
“Mungkin. Mungkin saja secara kebetulan.”
“O, kau benar-benar akan dicekik hantu.“
“Nah, siapakah yang mau pergi bersamaku
mencari burung atau kucing itu. Jika kelak mendapatkannya, aku tidak akan minta
lebih dari seekor kuda yang tegar.”
“Gila, kau memang sudah gila.”
“Tidak, aku tidak gila. Aku percaya kepada
ceritera itu. Dan aku akan membuktikannya, bahwa aku akan dapat menangkap burung
atau kucing itu.”
“Kalalu kau mau mendengarkah nasehat kami,
tinggallah digardu ini bersama kami.”
Tetapi Sumekar menggeleng. Katanya, “Aku
akan mencarinya. Dengan atau tidak dengan kalian.”
Para prajurit itu saling berpandangan
sejenak. Namun mereka melihat Sumekar benar-benar turun dari gardu dan bersikap
untuk pergi.
“Apakah kau benar-benar gila?”
“Mungkin. Siapakah diantara kalian yang
gila seperti aku ikutlah aku.”
Tidak seorang-pun dari para prajurit itu
yang menjawab.
Namun ketika Sumekar melangkah dua tiga
langkah, pemimpin peronda itu memanggilnya, “He, juru taman. Tunggu. Aku akan
pergi bersamamu. Mungkin kau memang pantas dicurigai. Mungkin kau tidak hanya
akan mencari sebangsa burung atau kucing.”
Sumekar mengangguk-angguk. Katanya,
“Baiklah. Marilah kita pergi bersama-sama.”
Pemimpin peronda itu-pun kemudian menunjuk
seorang prajurit yang lain untuk mengawaninya.
Meski-pun agak takut-takut juga, namun
prajurit itu-pun terpaksa berangkat pula bersama dengan pemimpinnya dan Sumekar.
Demikianlah mereka meninggalkan gardu
peronda dengan hati yang berdebar-debar. Pemimpin peronda itu telah
memerintahkan dua orang dari mereka untuk berdiri di muka gardu dengan senjata
telanjang. Sedang yang lain harus siap menghadapi setiap kemungkinan.
Namun demikian ada juga yang bergumam
diantara mereka, “Apakah kami harus berperang melawan hantu?”
Dalam pada itu, Sumekar yang sudah pernah
melihat, apa yang sabenarnya terjadi, mengangkat wajahnya sambil berkata, “Aku
mencoba menemukan sumber dari bau ini.”
“Kau memang gila?”
“Aku dapat menemukan bau bunga soka
diantara sepuluh macam bau bunga yang lain. Dan sekarang aku-pun akan dapat
menemukan sumber bau ini. Jika ia seekor burung, maka kita harus mencari sebuah
anak panah dengan busurnya. Tetapi anak panah yang ujungnya tumpul agar burung
itu tidak terbunuh. Tetapi jika kita menemukan sebangsa kucing, kita harus
mengejarnya bersama-sama.”
“Persetan. Apakah kau sudah mengigau he?
Apakah kau sudah kepanjingan demit yang berbau wangi ini?”
Sumekar tersenyum. Jawabnya, “Aku masih
sadar. Dans aku masih tetap mengharapkan kuda yang tegar.”
“He, kemana kau akan pergi?“ bertanya
pemimpin peronda itu ketika Sumekar pergi kebagian belakang bangsal Putera
Mahkota.
“Aku mencium bau dari tempat itu.
Dibelakang bangsal.“
“Gila. Kau benar-benar sudah gila.”
Sumekar tidak menyahut. Tetapi ia berjalan
terus.
“Cukup,“ perintah pemimpin peronda itu,
“kita kembali kegardu. Aku tidak mau mengikuti seorang yang gila dan kesurupan
demit.“
“Beberapa langkah lagi. Bau ini sudah
menjadi semakin tajam. Aku yakin akan menemukan sumber bau ini.“
“Cukup.”
“Beberapa langkah lagi, kita sampai
kebelakang bangsal ini tanpa menemukan sesuatu, kita akan kembali kegardu.“
“Kita kembali sekarang. Jangan-angan kami
akan kepanjingan pula seperti kau.“
“Aku berani bertaruh.“ jawab Sumekar, “jika
aku tidak menemukan sumber bau ini, entah burung, entah kucing, entah sebangsa
bunga yang mekar dimalam hari, atau apapun, aku akan membayar seekor kuda yang
tegar buat kalian.”
“Gila, darimana kau akan mendapat kuda
itu?“
Sumekar mengerutkan keningnya. Dari mana ia
akan mendapat seekor kuda. Namun ia menjawab juga, “Jika aku kalah aku akan
berusaha. Aku sudah menabung sejak aku bekerja di istana ini.”
Para prajurit itu termangu-mangu sejenak.
Namun salah seorang daripadanya berkata, “Orang ini memang sedang mengigau.
Marilah kita tinggal saja disini.”
“Sst,“ desis Sumekar, “kita memang sudah
dekat. Aku mohon kita maju sedikit lagi. Akulah yang akan berdiri dipaling
depan.”
“Sumekar bau ini ada didepan kita. Tetapi
aku tidak yakin bahwa yang kita hadapi sekarang ini sebangsa binatang, karena
sumber bau ini tidak bergerak.”
“Aku justru jadi ngeri,“ desis prajurit
itu, “marilah kita kembali.“
“Jangan,“ berkata Sumekar, “aku yakin.
Beberapa langkah lagi.“
Akhirnya pemimpin prajurit itu berkata.
“Baiklah. Kita maju beberapa langkah lagi.”
Sumekarlah yang kemudian berdiri dipaling
depan. Dari jarak beberapa langkah ia sebenarnya sudah melihat seonggok kecil
abu yang melontarkan bau yang sangat harum seperti yang pernah dilihatnya.
Karena itu, maka ia-pun dapat langsung menuju ketempat itu, meski-pun ia harus
berpura-pura mengangkat wajahnya dan menggerak-gerakkan hidungnya, seolah-olah
sedang mencari arah dari sumber bau itu.
“Disini,“ tiba-tiba Sumekar berhenti.
“Kenapa disini?“ bertanya kedua prajurit
itu hampir bersamaan. Sedang bau yang menusuk hidung itu membuat mereka menjadi
pening.
Sumekar berhenti sejenak. Diangkatnya
wajahnya sambil menghirup udara sedalam-dalamnya. Perlahan-lahan ia mengarahkan
hidungnya pada sumber bau itu yang sebenarnya.
“Ini, ini,“ tiba-tiba Sumekar berdesis.
“Apa?“ kedua prajurit itu mengerutkan
keningnya.
“Kemarilah. Inilah sumber bau itu.“
“Apakah itu?“
“Kemarilah.”
Dengan ragu-ragu kedua orang prajurit itu
mendekat.
“Inilah sumber bau itu. Ternyata bukan
burung, bukan kucing atau sejenis binatang lain. Inilah sumber itu.”
Kedua prajurit itu memandang seonggok abu
yang berada dibawah bebatur bangsal itu. Hanya samar-samar saja cahaya lampu
minyak yang kemerah-merahan.
“Jika kalian tidak percaya, cobalah mencium
bau abu itu,“ berkata Sumekar.
Pemimpin prajurit itu-pun mendekati. Dengan
ragu-ragu ia membungkukkan badannya.
“Ya,“ katanya menyentak, “kau benar juru
taman. Disinilah sumber bau itu. Tetapi kenapa seonggok abu?”
Sumekar menggelengkan kepalanya.
Prajurit yang lain-pun kemudian mendekat
pula. Dengan saksama diperhatikannya abu yang kehitam-hitaman itu. Namun baunya
benar-benar membuat mereka menjadi pening.
Sumekar tidak memberikan tanggapan apapun.
Dibiarkannya kedua prajurit itu mencoba mencari, apakah yang sedang mereka
hadapi.
Dengan seksama keduanya memeriksa keadaan
disekitarnya. Beberapa langkah daripadanya mereka menemukan sebuah galah yang
ujungnya juga terbakar sedikit. Galah itulah yang dipergunakan untuk menjepit
benda yang telah dibakar dan menimbulkan bau yang sangat wangi itu.
“Sebangsa getah,“ berkata pemimpin prajurit
itu.
Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apakah ada sebangsa demit yang membakar
getah atau apa-pun ditempat itu?“ bertanya Sumekar, “atau bulu burung atau kulit
sebangsa kucing itu?”
“Bukan, tentu sebangsa getah yang mudah
terbakar. Baunya ini memang dapat membuat kepala pening. Apalagi ketika getah
ini baru saja terbakar,“ jawab pemimpin prajurit itu.
“Jadi kenapa ada getah terbakar disitu?“
bertanya Sumekar, “aku sudah tertipu karenanya. Aku kira bau ini berasal dari
seekor binatang yang mahal sekali harganya.“
“Macam kau. Mungkin kau tertipu oleh bau
ini. Tetapi bagi kami penemuan ini cukup penting. Tentu ada orang orang yang
membakarnya disini. Tentu tidak dengan begitu saja terbakar dan berada ditempat
ini.”
Sumekar mengangguk-angguk. Tetapi ia
tersenyum didalam hati. Ia sudah berhasil menunjukkan kepada para prajurit itu,
bahwa yang mereka hadapi sama sekali bukannya hantu-hantu yang mengerikan.
Tetapi adalah suatu usaha pengkhianatan terhadap Putera Mahkota dari siapa-pun
datangnya.
“Carilah sehelai daun,“ berkata pemimpin
peronda itu kepada Sumekar.
“Untuk apa?“
“Aku akan mengambil dan membawa abu itu.“
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian dicarinya sehelai daun yang cukup lebar untuk membawa abu yang berbau
sangat wangi itu.
Kedatangan mereka digardu peronda disambut
dengan gurau yang meriah. Salah seorang prajurit berkata, “Nah, bukankah juru
taman itu menemukannya dan besok akan menukarkannya dengan sepuluh ekor kuda
yang paling tegar?”
Tetapi prajurit-prajurit yang bergurau itu
mengerutkan keningnya ketika mereka melihat wajah pemimpin yang
bersungguh-sungguh.
“Kami memang menemukannya,“ berkata
pemimpin itu.
Para prajurit yang berada digardu itu
terkejut. Hampir berbareng mereka bergeser mendekat. Dan mata mereka-pun segera
melihat pada tangan pemimpin mereka yang memegang sesuatu.
“Inilah,“ berkata pemimpin kelompok peronda
itu, “ciumlah.”
Beberapa prajurit yang berdiri dihadapannya
mendekatkan hidungnya. Salah seorang berdesis, “Ya. Memang inilah sumber bau
itu.”
“Ini tinggal abunya,“ berkata pemimpin
peronda itu.
“Abu?”
“Ya. Tentu seseorang sengaja membakarnya
untuk menimbulkan bau yang menusuk hidung ini. Aku kira benda yang dibakar ini
sebangsa getah tumbuh-tumbuhan.”
“Getah?”
“Ya. Sama sekali bukan binatang. Bukan
sebangsa burung apalagi kucing.”
“Tetapi ada sebangsa burung atau kucing
yang mempunyai bau sangat wangi,“ sela Sumekar.
“Tetapi tentu bukan ini.”
Beberapa orang prajurit mengerumui benda
yang kehitaman itu sambil mengerutkan keningnya. Mereka sepakat bahwa sesuatu
telah dibakar. Asapnya telah menyebarkan bau wangi sampai jarak cukup jauh.
“Kita sekarang yakin, memang bukan hantu.“
pemimpin peronda itu berkata selanjutnya, “ternyata selama ini kita telah
dihantui oleh perasaan sendiri. Kekerdilan dan lebih dari itu, kita adalah
pengecut.”
Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala.
Mereka merasa malu juga bahwa yang selama ini telah membuat mereka ketakutan,
ternyata hanyalah seonggok kecil abu yang menyebarkan bau wangi.
“Kita akan melaporkan penemuan ini,“
berkata pemimpin peronda itu, “untuk seterusnya kita akan mencoba mengetahui,
siapakah yang telah membakar getah ini.”
Sumekar mengerutkan keningnya melihat
prajurit-prajurit mengangguk-angguk. Ia mengharap ada satu dua orang yang
berpendirian lain. Yang menganggap bahwa lebih baik mengintip orang yang
membakar getah itu daripada langsung melaporkannya.
Tetapi ternyata tidak ada yang berpendirian
demikian.
Karena itu maka Sumekar-pun bertanya,
“Apakah para prajurit tidak dapat menangkap orang yang dengan bau getah itu,
sadar atau tidak sadar, sudah menyebarkan perasaan takut dikalangan prajurit?”
“Tentu dengan sadar,“ jawab pemimpin
peronda itu, “tetapi kau jangan menyombongkan diri justru karena kau tidak
menjadi ketakutan. Itu bukan karena kau pemberani, tetapi secara kebetulan kau
menganggap bahwa bau itu berasal dari seekor binatang.”
Sumekar hanya mengangguk-anggukkan
kepalanya saja.
“Kami tentu akan berusaha menangkapnya,“
berkata prajurit itu, “karena perbuatan ini telah menimbulkan persoalan bagi
kami meski-pun maksud orang itu hanya sekedar bergurau.“
“Apakah kalian akan menangkap malam ini?”
“Bodoh kau. Siapakah yang akan kita
tangkap?”
“O.”
“Kita harus menyelediki dahulu, siapakah
yang telah melakukannya.”
Sumekar mengerutkan keningnya. Lalu ia
bertanya, “Siapakah yang akan diselidiki?”
“Ah, kau memang bodoh. Kembali saja
kebilikmu. Besok pagi kau harus menyiangi taman itu. Kamilah yang bertugas untuk
mencari siapakah yang telah membakar getah itu disana.”
“Orang itu tentu tidak akan kembali,“
berkata Sumekar.
“Jika ia tahu bahwa kami menyelidikinya.“
pemimpin peronda itu berhenti sejenak, lalu “Juru taman. Kau adalah satu-satunya
orang yang mengetahui bahwa kami sedang berusaha menangkap orang yang membakar
getah itu. Jika ia tidak datang lagi besok atau lusa, maka pasti kaulah yang
sudah berkhianat.”
“He, kenapa aku?”
“Tidak ada orang lain yang mengetahuinya
selain kau.”
“Tentu ada.”
“Siapa?”
“Orang yang akan menerima laporan kalian.”
“Gila. Mereka adalah atasan kami.”
“Siapa tahu, bahwa ada diantara mereka yang
berkhianat. Maksudku, pelayannya atau embannya atau siapa-pun yang berhasil
mendengar pembicaraan kalian. Kecuali jika kalian tidak mengatakan kepada
siapa-pun juga, sebelum kalian berusaha menyelidikinya.”
Pemimpin peronda itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya, “Kau mampu juga berpikir. Barangkali secara kebetulan
pula kau mengatakannya seperti ketika kau
menyebut bahwa bau ini berasal dari seekor binatang.”
Sumekar tidak menyahut.
“Baiklah. Datanglah besok kemari. Kau harus
ada digardu ini. Jika kami gagal, kaulah yang berkhianat. Tidak ada orang lain
yang mengetahui.”
“Bagaimana jika orang itu sendiri melihat
kalian datang menyelidiki tempat itu?”
“Memang mungkin. Tetapi kaulah taruhan kami
yang pertama.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
ia tidak berkeberatan. Ia benar-benar akan datang besok malam. Dan untuk itu ia
akan minta kepada Putera Mahkota, agar besok malam meninggalkannya pula.
Demikianlah atas usaha Sumekar, para
prajurit telah meyakini bahwa bau yang tajam itu sama sekali bukan berasal dari
sebangsa hantu dan atas hal tersebut, para prajurit sengaja tidak melaporkannya
lebih dahulu. Baik kepada atasannya mau-pun kepada Putera Mahkota. Mereka ingin
meyakinkan laporan mereka dengan bukti yang lebih jelas apabila mereka berhasil
menangkap orang yang telah membakar sebangsa getah dan menyebarkan bau yang
harum itu.
Namun tidak setahu para Prajurit itu,
Sumekar telah menceriterakan apa yang mereka temukan. Karena itu ia memohon
kepada Putera Mahkota agar meninggalkan bangsal itu pula untuk kepentingan
penyeledikan.
“Apakah kau berkeberatan jika aku sendiri
yang menangkapnya?“ bertanya Anusapati.
“Tuanku, hamba berharap bahwa para
prajuritlah yang akan menangkapnya dan kemudian melaporkan semuanya kepada
atasan mereka. Jika tuanku sendiri yang menangkapnya, maka dapat terjadi bahwa
yang terjadi itu dianggap sebagai sesuatu salah paham saja. Dan bahkan
seandainya hal itu tidak dihiraukan oleh
ayahanda tuanku, tidak ada seorang-pun yang
ikut merasa heran, bahwa hal itu tidak mendapat perhatian dengan tanggapan
mereka masing-masing. Tetapi jika yang menangkap orang itu para prajurit, maka
akan ada saluran yang membawa orang itu sampai kepemimpin pemerintahan. Seluruh
saluran itu akan menunggu dan mengharap, hasil pemeriksaan atas orang itu.
Selain dari pada itu, maka pertanggungan jawab atas kejadian itu harus diberikan
juga kepada para prajurit yang menangkapnya, meski-pun seandainya ada
perlindungan kepada orang yang melakukan itu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ia dapat mengerti rencana Sumekar. Persoalan itu akan menjadi persoalan yang
meluas sehingga tidak akan dengan mudah dapat ditiadakan atau dibekukan.
Demikianlah maka rencana yang telah disusun
dengan para prajurit itu akan dapat dijalankan, meski-pun Anusapati mengalami
sedikit kesulitan ketika ia akan meninggalkan istana. Ternyata bahwa isterinya
benar-benar menjadi ketakutan dan minta agar Anusapati malam itu tidak pergi
meninggalkannya.
“Sayang sekali adinda, bahwa tugas ini
tidak dapat aku tunda lagi. Aku akan pergi malam ini saja. Besok aku akan
tinggal di bangsal ini.”
“Hamba takut kakanda. Semalam hamba hampir
menjadi pingsan oleh bau yang sangat wangi. Tetapi bau itu datang dan pergi
begitu saja. Tentu bukan bau bunga atau wangi-wangian yang datang dari taman.”
“Mungkin semacam bunga sedap malam. Baunya
juga menusuk sekali.”
“Bukan kakanda. Hamba mengenal bau bunga
apa-pun juga.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian katanya, “Baiklah, aku akan berpesan kepada para prajurit agar menjaga
bangsal ini baik-baik. Bukankah sampai saat ini bau itu sama sekali tidak
mengganggu selain menimbulkan perasaan pening?”
Isteri Anusapati itu menganggukkan
kepalanya.
“Nah, tinggal sajalah didalam bangsal.
Tunggui dan jaga anak kita baik-baik. Ia sudah mulai nakal dan kadang-kadang
berkeliaran sendiri. Ia sudah mulai bekelahi dan melempar-lempar batu.“
Isterinya menganggukkan kepalanya. Anak
laki-lakinya memang nakal. Apalagi kini ia sudah tumbuh semakin besar dan kuat.
Kadang-kadang ibunya tidak lagi dapat menguasainya. Bahkan embannya tidak
berhasil mengejarnya jika ia berlari-larian di halaman. Untunglah para prajurit
yang bertugas didepan bangsal itu sangat senang kepada anak laki-laki yang nakal
ini. Merekalah kadang-kadang yang membawanya bermain, jika kebetulan sedang
beristirahat.
Karena Anusapati tidak lagi dapat dicegah,
maka dengan hati yang berat, dilepaskannya juga ia pergi diatas kuda putihnya.
Anak laki-lakinya masih sempat melihat kepergiannya sambil melambaikan
tangannya.
“Aku minta kuda putih,“ katanya kepada
ibunya.
“Ya. Kelak kau akan mendapatkan seekor kuda
putih.”
“Sekarang.”
“Kenapa sekarang? Kau masih terlampau
kecil.”
“Aku sudah besar. Aku sudah dapat memanjat
pohon sawo itu sampai keatas atap.“
“He, kau memanjat sampai keatas atap?“
ibunya terkejut.
Anaknya menganggukkan kepalanya. “Kenapa?“
Dengan tergesa-gesa embannya menyela,
“Ampun tuan Puteri, hamba tidak sempat mencegahnya. Karena itu hamba minta
tolong kepada prajurit yang bertugas diregol untuk mengambilnya.”
Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
“Kau tidak boleh memanjat. Besok kalau sudah sebesar ayahanda kau boleh
memanjat sampai keatas atap, dan kau akan
mendapatkan kuda putih pula seperti ayahanda.”
Putera yang nakal itu tidak menjawab,
tetapi tampaknya ia sedang berpikir.
“Marilah, masuklah,“ ajak ibunya ketika
Anusapati sudah tidak tampak lagi.
Sejenak anak laki-laki itu berdiri saja
mematung, namun ketika ibundanya menarik tangannya, ia-pun kemudian berjalan
diiringi oleh embannya.
“Bawalah kepembaringan,“ berkata ibundanya
kepada emban pengasuhnya.
“Hamba tuan puteri.“
Putera Anusapati yang bernama Ranggawuni
itu-pun kemudian dibawa oleh pengasuhnya kepembaringannya. Tetapi anak yang
nakal itu-pun tidak juga segera memejamkan matanya. Ada saja yang ditanyakannya
kepada embannya. Tentang ibunya dan tentang istana ini seluruhnya.
“Tidurlah tuan,“ embannya mencoba
menidurkannya.
Tetapi anak itu masih saja tidak memejamkan
matanya.
“Hamba mempunyai sebuah dongeng tuan,“
berkata embannya.
“Apa?”
“Tentang burung kepodang yang setiap hari
bersiul dipelepah pisang.”
“Kenapa?”
“Dan tentang kancil yang cerdik.”
Emban itu-pun kemudian berceritera tentang
binatang-binatang yang cerdik dan lucu, sehingga Ranggawuni itu-pun jatuh
tertidur.
Namun agaknya embannya yang menjadi kantuk
pula telah tertidur pula diatas sehelai tikar disisi pembaringan Ranggawuni.
Ketika ibu Ranggawuni menengoknya, maka
ia-pun tersenyum. Dibiarkannya saja embannya itu tertidur pula. Di malam hari
Ranggawuni memang sering mencarinya. Kadang-kadang ia memerlukan minum atau
apapun.
Namun ketika malam menjadi sepi, isteri
Anusapati itu menjadi semakin berdebar-debar. Seperti malam kemarin, rumah itu
dipenuhi oleh bau wangi yang menusuk hidung. Dan bau wangi itu agaknya bukan bau
wangi sewajarnya.
“Mudah-mudahan malam ini bau wangi itu
tidak mengganggu lagi.”
Namun tiba-tiba terasa tengkuknya meremang.
Karena itu, maka ia-pun tidak segera pergi kebiliknya, tetapi ia menyusul
Ranggawuni dan berbaring disebelahnya.
Dan sejenak kemudian yang dicemaskan
itu-pun terjadilah. Perlahan-lahan bau wangi itu mulai mengambar didalam bangsal
itu. Semakin lama menjadi semakin tajam menusuk hidung.
Tanpa sesadarnya, tubuh isteri Anusapati
itu menjadi gemetar. Bau semakin lama menjadi semakin menyolok hidung.
“Kakanda Anusapati tidak dapat dicegah,“
desisnya, “mudah-mudahan tidak lebih dari bau ini saja. Jika terjadi sesuatu,
maka aku tidak akan dapat berbuat apa-apa”
Namun tiba-tiba teringatlah kata-kata
Anusapati, “Prajurit-prajurit yang meronda digardu depan akan menjaga bangsal
ini.”
“Mudah-mudahan prajurit-prajurit itu tidak
tertidur,“ berkata isteri Anusapati itu didalam hatinya.
Karena itu, dicobanya untuk tetap bersikap
tenang. Namun tanpa disadarinya, maka dipeluknya puteranya yang mulai tumbuh dan
menjadi anak laki-laki yang nakal itu.
Dalam pada itu, para prajurit yang bertugas
diregol depan-pun telah mulai menjalankan tugasnya. Sumekar yang sejak malam
turun berada digardu depan, telah ditahan oleh para prajurit.
“Kau tidak boleh pergi,“ berkata pemimpin
peronda.
“Kau sangka aku yang membakar getah itu.”
“Tidak. Tetapi jika kau berkhianat, kau
akan kami gantung.”
“Uh, apakah kau berhak menggantung
seseorang?”
“Kenapa tidak?”
Sumekar tidak menjawab. Tetapi ia-pun
kemudian duduk saja digardu bersama beberapa orang prajurit yang lain, sedang
pemimpin peronda itu bersama dua orang yang lain telah mengendap-endap dibawah
rimbunnya dedaunan untuk melihat apakah yang akan terjadi.
Disaat itulah para prajurit yang sedang
mengintai itu menjadi berdebar-debar. Dilihatnya seseorang yang berkerudung
hitam membawa sebatang galah yang panjang. Ujung galah itu-pun kemudian
dibakarnya pada nyala lampu minyak di serambi belakang.
Sejenak kemudian bau wangi itu-pun mulai
tersebar. Perlahan-lahan, semakin lama semakin tajam menusuk hidung.
Pemimpin peronda tu menggamit kedua
kawannya. Mereka-pun kemudian bersiap untuk menyergapnya. Orang itu harus
ditangkap, dan dipaksa untuk mengatakan, apakah maksudnya menimbulkan bau yang
wangi itu.
Perlahan-lahan prajurit-prajurit itu
merangkak maju. Semakin lama semakin dekat. Mereka-pun kemudian menunggu orang
berkerudung hitam itu berjongkok dan meletakkan abu getahnya dibawah bebatur.
Pada saat itulah pemimpin peronda itu
memberi isyarat. Dengan serta-merta ketiga prajurit itu meloncat menerkam orang
yang sedang berjongkok itu.
Namun ternyata bahwa orang itu-pun lincah
bukan buatkan. Ternyata mereka sama sekali tidak berhasil menyentuhnya, karena
orang itu-pun segera melenting.
Tetapi para prajurit itu tidak
melepaskannya. Mereka-pun segera mengepung orang itu.
“Menyerahlah,“ desis pemimpin peronda itu.
“Persetan,“ terdengar suara parau.
“Apakah maksudmu dengan permainanmu yang
meluakkan itu.“
Orang itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba
saja ia berusaha untuk menembus kepungan itu.
Dengan demikian maka segera terjadi
perkelahian diantara mereka. Semakin lama semakin sengit. Ternyata orang yang
berkerudung hitam itu memiliki ilmu yang jauh melampaui lawan-lawannya, sehingga
karena itu, maka ketiga prajurit itu sama sekali tidak berhasil menguasainya.
“Panggil kawan-kawan kita, berilah
isyarat,“ perintah pemimpin peronda itu.
Sejenak kemudian terdengar salah seorang
dari para prajurit itu bersiul. Suaranya nyaring membelah sepinya malam,
sehingga terdengar dari gardu peronda didepan bangsal.
“He, kau dengar isyarat itu?”
“Ya. Tentu sesuatu telah terjadi.“
“Cepat, kita pergi kesana.”
Para prajurit yang ada didalam bangsal
itu-pun segera berlari-lari kecuali dua orang harus mengawasi bangsal itu dari
depan. Tidak seorang-pun lagi yang menghiraukan Sumekar, sehingga Sumekar dapat
pergi menurut keinginannya sendiri. Tetapi ia-pun harus menyesuaikan dirinya,
agar ia tidak diketahui oleh para prajurit itu bahwa ia mempunyai kelebihan,
dari mereka.
Ketika para prajurit itu sampai dibelakang
bangsal mereka masih melihat kawan-kawannya berkelahi melawan seseorang yang
berkerudung hitam. Namun ketika mereka sampai ke arena, dua orang dari kawannya
itu telah terlempar jatuh.
Tetapi agaknya orang berkerudung hitam itu
tidak ingin bertempur terus. Demikian para prajurit yang lain terjun ke
gelanggang, ia-pun segera meloncat dan berlari meninggalkan mereka.
Beberapa orang prajurit masih mencoba
memburunya. Tetapi mereka sama sekali tidak berhasil, karena bayangan itu
seakan-akan begitu saja lenyap dari pandangan mata mereka.
Pemimpin peronda itu-pun segera menolong
kedua orang kawannya yang pingsan. Keduanya-pun segera digotong ke gardu dan
pada bibirnya dititikkan air yang dingin.
“Dadanya telah dihantam dengan tumit oleh
bayangan hitam itu,“ berkata pemimpin peronda itu kepada kawan-kawannya.
“Yang seorang?“
“Sebuah pukulan tepat mengenai tengkuknya.
Aku-pun agaknya hampir juga dijatuhkannya, bahkan mungkin dibunuhnya. Untunglah
kalian segera datang.”
Para prajurit itu masih berdebar-debar.
Orang itu memiliki kemampuan yang tidak terkirakan.
“Apakah orang itu pula yang dahulu pernah
memasuki halaman istana ini?“ bertanya seseorang.
“Aku tidak tahu,“ jawab pemimpin peronda
itu.
Sejenak kemudian maka kedua kawan-kawan
mereka yang pingsan itu-pun mulai bergerak-gerak. Mereka merintih oleh rasa
sakit yang hampir tidak tertahankan. Apalagi prajurit yang dadanya telah terkena
tumit orang berkerudung hitam itu. Setitik darah telah melekat dibibirnya.
“Dadanya terluka,“ berkata pemimpin peronda
itu, “ia harus segera mendapat pengobatan.”
“Ya, kita akan menghubungi dukun yang baik
bagi para prajurit, agar orang ini cepat tertolong.”
“Cepat,“ berkata pemimpin peronda itu, “aku
akan pergi kegardu induk untuk melaporkan peristiwa ini.“
“Baiklah. Aku akan memanggil dukun itu.“
Pemimpin peronda itu-pun berdiri pula
bersama prajurit yang akan memanggil dukun itu. Namun merasa ada sesuatu yang
kurang. Diamatinya keadaan disekelilingnya. Lalu tiba-tiba ia berkata, “Dimana
juru taman itu?“
“He,“ prajurit-prajurit yang lain mulai
sadar, bahwa juru taman itu tidak ada diantara mereka.
“Siapa yang melihatnya terakhir.”
“Ketika kami mendengar isyarat dari kalian
yang berkelahi melawan orang berkerudung itu, ia masih ada digardu ini. Tetapi
kami telah melupakannya karena kami tergesa-gesa pergi membantu kalian yang
sedang berkelahi itu.”
“Bukankah ada yang tinggal disini?”
“Ya,“ jawab prajurit yang tinggal, “tetapi
kami telah lupa pula mengurusnya. Ia menggigil ketakutan. Dan aku tidak tahu
lagi kemana larinya.”
“Cari. Mungkin ia mati membeku.“ perintah
pemimpin peronda itu, tetapi “kecuali yang akan memanggil dukun. Pergilah. Orang
itu segera memerlukan pertolongan.”
Ketika seorang prajurit pergi memanggil
dukun, maka prajurit yang lain-pun menyebar untuk mencari Sumekar.
Tiba-tiba saja seorang prajurit melonjak
karena terkejut ketika ia hampir saja menginjak seseorang yang melingkar dibawah
segerumbul pohon bunga.
“He, juru taman. Kenapa kau disitu?”
Sumekar mengangkat wajahnya yang pucat.
Sambil tergagap ia berkata, “Apakah sudah tidak ada perang lagi?”
“Gila kau. Tidak ada perang. Kami sedang
berusaha menangkap orang yang membakar getah itu. Marilah, kembali kegardu.
Ternyata kau penakut yang paling licik.”
Sumekar tidak menjawab ketika tangannya
dibimbing oleh prajurit itu. Sambil tertawa prajurit itu mengatakan di mana ia
menemukan Sumekar.
“Aku sangka kau seorang pemberani ketika
kau mengajak kami mencari sumber bau itu. Ternyata ketika kau sudah
mengetahuinya, justru kau menjadi ketakutan setengah mati.”
“Tetapi, tetapi apakah yang telah terjadi?”
“Tidak apa-apa.”
Sumekar menjadi ketakutan ketika ia melihat
dua orang yang terbaring digardu. Sambil menunjuk keduanya ia bertanya, “Kena
apakah mereka?”
“Tidak apa-apa. Duduklah. Minumlah. Mereka
agak sakit. Tetapi tidak apa-apa.”
Sumekar-pun duduk diantara para prajurit.
Meski-pun ia masih menggigil namun ia meneguk beberapa teguk air.
Baru setelah Sumekar agak tenang, pemimpin
prajurit itu meninggalkannya untuk memberikan laporan kegardu induk, bahwa
mereka telah menemukan suatu persoalan yang menarik.
Dalam pada itu Sumekar masih duduk membeku
disudut gardu. Namun demikian, sebenarnyalah ia sempat memperhatikan perkelahian
yang tidak begitu lama terjadi itu. Dan dalam waktu yang sempit itu ia dapat
mengenal, dari tata geraknya yang tidak sempat disembunyikan, karena serangan
prajurit itu begitu tiba-tiba.
“Guru tuanku Tohjaya,“ desis Sumekar
didalam hatinya.
Sementara itu, didalam bangsal, isteri
Anusapati menjadi sangat cemas. Tetapi ia sadar, bahwa agaknya para prajurit
sudah bertindak.
“Tetapi apakah yang dapat dilakukan oleh
para prajurit terhadap sesuatu yang halus?“ bertanya isteri Anusapati itu kepada
diri sendiri.
Tetapi ternyata bahwa sejenak kemudian ia
mendengar seakan-akan orang-orang yang sedang berkelahi. Kemudian beberapa orang
lagi berlari-lari dari gardu didepan melingkar menuju ke belakang.
“Mudah-mudahan para prajurit itu dapat
mengatasi persoalannya,“ berkata isteri Anusapati itu.
Debar jantungnya menjadi mereka juga ketika
suara-suara hiruk pikuk itu-pun mereda. Ia masih mendengar prajurit-prajurit itu
berbicara dan berjalan hilir mudik.
“Agaknya para prajurit dapat mengusirnya,“
berkata isteri Anusapati itu pula didalam hatinya.
Demikianlah maka dipeluknya puteranya
semakin erat, seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi.
Sejenak kemudian gardu induk di halaman
istana Singasari itu-pun menjadi gempar. Seorang perwira yang sudah ubanan
memilin kumisnya sambil berkata, “Ada juga demit yang mau mengganggu halaman
istana ini?”
“Kami tidak berhasil menangkapnya.”
“Berapa orang yang kau lihat?”
“Satu orang berkerudung hitam.”
“Satu orang, dan kalian tidak dapat
menangkapnya?”
“Ia lari kedalam gelap, dan seakan-akan ia
dapat menghilang begitu saja.”
“Apakah kau percaya kepada hantu itu?”
“Tidak. Ketika kami berkelahi, aku berhasil
menyentuhnya. Ia sama sekali bukan hantu. Tetapi kemampuannya jauh melampaui
prajurit kebanyakan.”
“Gila. Kalian memang gila. Kenapa kalian
tidak dapat menangkap hanya satu orang?”
Pemimpin peronda itu tidak menjawab. Tetapi
perwira itu tidak bertanya lagi. Terkenang olehnya peristiwa yang serupa
beberapa waktu yang lalu. Orang berkerudung hitam. Dan tidak seorang-pun yang
dapat menangkapnya. Tetapi ketika kemudian ada kesatria Putih, mereka menyangka
bahwa orang berkerudung hitam itu adalah Kesatria Putih juga yang sedang berbuat
sesuatu untuk tujuan tertentu.
“Tetapi tentu tidak. Tentu bukan Kesatria
Putih. Sejak pertama kali orang-orang berkerudung hitam itu mempunyai ciri-ciri
berbeda,“ berkata perwira itu, namun kemudian, “tetapi ceritera tentang Kiai
Kisi yang kemudian dapat diketahui, bahwa yang berkerudung hitam adalah Putera
Makota.”
Perwira itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia menjadi pening memikirkan persoalan-persoalan itu. Namun kesimpulannya
adalah, “Tidak hanya ada seorang berkerudung hitam di istana ini. Apalagi ketika
Putera Mahkota tidak ada di istana.”
Kemudian bersama beberapa orang prajurit
perwira yang sudah ubanan itu-pun segera pergi kebangsal Putera Mahkota. Sejenak
ia mengamati gardu peronda. Kemudian dilihatnya dua orang prajurit yang
terbujur.
“Kenapa?”
“Terluka,“ jawab pemimpin peronda.
“Kau diamkan saja?”
“Kami sudah memanggil seorang dukun bagi
para prajurit.”
“Bawa kegardu induk. Disana suasananya jauh
lebih baik dari tempat ini.“
Demikianlah kedua orang yang terluka
itu-pun segera dibawa kegardu induk. Gardu induk memang lebih luas dan terang
daripada gardu di muka bangsal Putera Mahkota itu.
Sejenak kemudian perwira itu-pun telah
mengelilingi bangsal itu. Dilihatnya bekas abu getah yang berbau harum itu.
“Jadi kalian berhasil melihat orang itu
datang dan membakar getah ini.”
“Ya.“ jawab pemimpin peronda.
Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Laporan itu akan menjadi bahan pembicaraan dengan para perwira dan sudah tentu
dicari sebab dan tujuannya.
“Jika bau ini sekedar untuk menakut-nakuti,
apakah keuntungan yang diperolehnya?“ bertanya perwira itu kepada diri sendiri.
Tetapi perwira itu tidak dapat ingkar,
bahwa sebenarnya ia-pun telah mengetahui persaingan antara Anusapati dan Tohjaya
yang semakin lama agaknya menjadi semakin tajam. Meski-pun nampaknya Anusapati
lebih banyak diam. tetapi ternyata bahwa ia telah berhasil membetengi diri
dengan kemampuan yang luar biasa dan kesetiaan rakyat Singasari kepadanya,
justru karena ia adalah Kesatria Putih.
Meski-pun demikian perwira yang sudah
berambut rangkap itu tidak mengambil sikap sendiri. Sebagai seorang prajurit,
maka ia-pun akan membawa persoalan itu kepada atasannya. Kepada para perwira
yang lebih tinggi, dan karena persoalannya menyangkut ketenteraman hidup
keluarga Putera Mahkota, maka persoalannya pasti akan dibicarakan oleh para
Panglima Pasukan Pengawal dan Panglima Pelayan Dalam.
Setelah barang-barang yang dapat dijadikan
bukti atas peristiwa itu dikumpulkan, maka perwira itu-pun kemudian meninggalkan
bangsal itu dengan pesan, “Hati-hatilah. Mungkin ada persoalan-persoalan baru
yang menyusul. Jika kalian tidak mampu mengatasi persoalan berikutnya itu
sendiri, berilah tanda.”
“Baiklah. Kami akan selalu bersiap
menghadapi apa-pun yang akan terjadi.”
Tetapi salah seorang prajurit yang berdiri
dibelakang gardu berdesis, “bersiap untuk membunyikan tanda.”
“Sst,“ desis kawannya.
“Kawan kita sudah berkurang dua orang. Apa
yang dapat kita lakukan? Sedang menghadapi satu orang saja, kita semuanya tidak
dapat berbuat banyak. Bagaimana jika orang itu nanti kembali bersama dua atau
tiga orang kawannya?”
“Ternyata kau pengecut seperti juru taman
itu.”
Kawannya tidak menjawab lagi. Tetapi ia
mendengar perwira itu bertanya, “Siapa yang ada digardu itu?”
Pemimpin peronda itu berpaling. Dilihatnya
seseorang duduk meringkuk disudut gardu.
“O, seorang juru taman,“ jawab pemimpin
prajurit peronda itu. “Kenapa ia ada disini. Didalam gardu peronda hanya boleh
ada prajurit-prajurit dari pasukan Pengawal yang sedang bertugas. Bukankah
kalian mengetahui?”
“Ia baru saja ada didalam gardu ketika kami
ketemukan ia hampir mati ketakutan.“
“Kenapa?”
“Karena orang berkerudung hitam itu.”
“Apakah ia juga melihat?”
“Tidak. Ia hanya mendengar kami bertempur.”
“Sebelum itu.”
“Ia sekedar bercakap-cakap dengan para
peronda yang sedang beristirahat digardu.”
Perwira yang berambut ubanan itu memandang
Sumekar dengan tatapan mata yang tajam. Lalu katanya, “Apakah bukan orang itu
yang membakar getah.”
“O, tidak. Ia berada digardu ketika aku
menemukan orang berkerudung hitam itu.”
“Atau ia sengaja memancing perhatian karena
orang berkerudung itu adalah kawannya?”
Pemimpin peronda itu mengerutkan keningnya.
Dan perwira itu berkata selanjutnya, “Ia
sengaja membawa kalian berbicara, berkelakar dan barangkali dengan cara-cara
yang lain agar kedatangan kawannya itu tidak kalian ketahui. Sehingga dengan
demikian ia akan dapat berbuat leluasa.”
Tiba-tiba saja beberapa orang prajurit
telah mengerumuni mulut gardu itu, sehingga juru taman yang ada didalamnya
menjadi semakin berkeriput.
Hampir saja beberapa orang prajurit
mengikuti jalan pikiran itu. Namun tiba-tiba pemimpin peronda itu berkata,
“Tidak. Bukan orang ini, jika ada yang berusaha berbuat demikian. Justru orang
inilah yang tanpa disengaja telah memberikan jalan kepada kami, sehingga kami
sempat mengetahui bahwa sebenarnya bau yang telah beberapa kali tercium ini
adalah bau semacam getah yang terbakar.”
“He? “ perwira itu menjadi heran,
“bagaimana mungkin hal itu terjadi?”
Pemimpin peronda itu memandang Sumekar yang
ketakutan. Kemudian katanya, “Ia adalah seorang yang merasa dirinya mengerti
tentang berbagai macam bunga dan baunya. Juga tentang binatang.”
Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pemimpin prajurit peronda itu-pun kemudian
menceriterakan serba sedikit tentang Sumekar, dan tentang taruhan seekor kuda
yang tegar. Tetapi yang mereka jumpai bukan sebangsa burung dan bukan sebangsa
kucing, tetapi getah yang terbakar itulah.
Perwira itu kemudian mengangguk-anggukkan
kepalanya. Lalu katanya, “Maaf, bahwa aku telah membuatmu ketakutan. Bukan
maksudku. Aku wajib mencurigai setiap orang dalam keadaan serupa ini. Sekarang
pergilah. Tidak boleh ada orang lain didalam gardu peronda selain
prajurit-prajurit dari pasukan Pengawal. Untunglah bahwa tidak timbul salah
paham karena kebetulan kau dapat menunjukkan kebodohanmu. Jika tidak, maka kau
dapat menjadi korban.”
“Tetapi, tetapi … “ Sumekar tergagap.
“Tetapi kenapa?“ bertanya perwira itu.
Sumekar tidak segera menjawab, sehingga
pemimpin peronda itulah yang berkata, “Kau takut kembali kegubugmu?“
Sumekar mengangguk.
“Kau benar-benar pengecut yang dungu,“
berkata pemimpin peronda itu, lalu katanya kepada seorang prajurit. “antarkan
orang ini.”
Prajurit itu menganggukkan kepalanya.
Tetapi terbayang juga keragu-raguan dimatanya, sehingga pemimpinnya berkata
pula, “Bawalah, seorang kawan.”
Prajurit itu mengangguk-angguk.
Sebenarnyalah bahwa ia ingin mendapat seorang kawan. Bagaimana-pun juga ada
sesuatu yang masih menggetarkan hatinya. Jika ia bertemu dengan orang
berkerudung hitam itu, ada juga seorang saksi yang akan dapat melihat dan
membantunyarmeski-pun dengan seorang kawannya mereka tidak akan dapat berbuat
banyak. Namun pasti masih ada kesempatan untuk memberikan isyarat.
Didalam perjalanan mengantarkan Sumekar,
salah seorang prajurit itu berdesis, “Apakah orang berkerudung itu bukan Putera
Mahkota sendiri?”
“Kenapa Putera Mahkota sendiri?“ bertanya
kawannya.
“Bukan maksudku berniat jelek. Tetapi
seandainya ada persoalan diantara keluarga mereka dan mungkin dengan sengaja
Putera Mahkota membuat isterinya tidak tenang dan tidak kerasan di istana ini.”
“Hus,“ desis yang seorang, “aku tahu betul
bahwa keduanya sangat mengasihi yang satu dengan yang lain meski-pun seakan-akan
mereka baru saling mengenal setelah mereka duduk bersama di hari perkawinan itu.
Ternyata bahwa orang tua mereka yang berusaha menjodohkan putera dan puterinya
tidak salah pilih.“ ia berhenti sejenak, lalu “karena itu menurut penilaianku,
tentu bukan Putera Mahkota.“
“Tetapi siapa tahu keadaan isi hati Putera
Mahkota jawab yang lain, mungkin didalam petualangannya sebagai Kesatria Putih
ia menjumpai seorang gadis lain yang cantik dan mempunyai gairah yang lebih
panas.”
“Ah,“ yang lain berdesah, “meski-pun hal
itu berlaku pula bagi Sri Rajasa, tetapi agaknya lain bagi Putera Mahkota.
Ternyata bahwa pengenalanmu atas Putera Mahkota terlampau sempit.”
Kawannya hanya mengangguk-anggukkan
kepalanya saja. Sementara Sumekar menyambung, “Yang aku ketahui keduanya
mempunyai kesukaan pada jenis bunga yang sama.”
“Apa?”
“Soka ungu.”
“O, itu sudah pertanda bahwa cinta mereka
akan abadi.”
“Bagaimana kau tahu.”
“Bunga soka yang ungu memang mempunyai
pengaruh yang sangat baik bagi sepasang suami iseteri. Dan apalagi keduanya
sama-sama menyukainya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan. Lalu, “Selain
itu juga sebatang kantil yang kerdil, yang tidak dapat tumbuh terlalu tinggi
meski-pun bunganya lebat sekali. Akulah yang dahulu mendapatkan
benihnya justru dari padepokan jauh dari
istana. Aku membawanya masuk kedalam istana ini dan akulah yang menanamnya
dipetamanan. Ternyata aku berhasil menyenangkan hati Putera Mahkota, dan ....”
Sebelum Sumekar melanjutkan, salah seorang
prajurit telah memotongnya, “Kaulah yang membuat Putera Mahkota dan isterinya
menyukainya, dan kau pulalah yang telah memperkembangkan bunga kerdil itu, dan
kau pulalah yang ini dan itu, dan kau dan kau ... “ Suaranya menjadi serak
parau, lalu “macam kau. Kami sedang mempercakapkan Putera Mahkota dan isterinya,
bukan berbicara tentang kau. Kenapa kau berceritera tentang dirimu sendiri jauh
lebih banyak dari tentang Putera Mahkota itu sendiri.”
“O, begitulah?”
“He,“ sahut prajurit yang lain, “kau masih
bertanya?“
Sumekar hanya tersenyum saja. Tetapi
ditundukkannya kepalanya.
Sejenak kemudian langkah mereka-pun
berhenti. Agaknya mereka sudah sampai pada deretan rumah-rumah kecil bagi para
hamba istana Singasari.
“Terima kasih,“ berkata Sumekar, “aku
mengucap diperbanyak terima kasih.”
“Kau tinggal masuk dan berguling-guling
dipembaringan. Kami masih harus kembali kegardu dan bertugas sampai pagi dan
siang hari besok sebelum pengganti kami datang. Mudah-mudahan kau nanti malam
diterkam oleh orang berkerudung itu.“
“Ah tentu tidak. Kenapa aku?”
“Kaulah yang menyebabkan para prajurit
menemukannya.“
“Tidak, tidak.”
Kedua prajurit itu tersenyum.
Ditinggalkannya Sumekar yang dengan tergesa-gesa masuk kedalam biliknya dan
menutup pintunya rapat-rapat.
Namun ketika langkah kedua prajurit itu
menjauh Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia duduk
dipembaringannya sambil berdesah. Agaknya Anusapati hampir terdesak oleh Tohjaya
untuk tidak dapat ingkar lagi dari perselisihan yang terbuka.
“Mahisa Agni-pun sudah menyadarinya,“
berkata Sumekar didalam hati. “Tetapi bahwa orang itu telah mengganggu isteri
dan putera Anusapati itu sama sekali kurang dapat dimengerti. Dan itu adalah
tindakan yang sangat licik.”
Sekali lagi Sumekar menarik nafas
dalam-dalam. Memang ia tidak dapat berpendapat lain, bahwa guru Tohjaya itu
adalah orang yang licik sekali. Kegagalannya membunuh Mahisa Agni tanpa
diketahui sebab-sebabnya itu telah membuatnya semakin bingung. Sampai saat ini
guru Tohjaya itu tidak tahu, kenapa Mahisa Agni masih hidup dan kenapa
saudara-saudara seperguruannya yang diandalkan itu tidak berbuat sesuatu atau
akibat-akibat lain yang telah timbul.
Sehingga baik bagi guru Tohjaya mau-pun
bagi Sri Rajasa, akhir dari ceritera orang-orang yang mereka perintahkan untuk
membunuh Mahisa Agni itu masih merupakan teka-teki yang belum terjawab, karena
mereka tidak dapat bertanya kepada siapa-pun apa yang sebenarnya telah terjadi
di istana wakil Mahkota di Kediri.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kini
satu peristiwa telah terjadi lagi. Tentu bukan peristiwa yang berdiri sendiri.
Hal ini pasti hanya merupakan suatu rangkaian dari rencana yang lebih besar dan
panjang.
Ternyata peristiwa malam itu telah
menggemparkan isi istana Singasari. Laporan berjalan bersimpang siur menuju
kesaluran masing-masing. Namun pada hari itu juga hampir semua Senapati
dan Panglima sudah mendengar, apa yang
telah terjadi di bangsal Putera Mahkota.
Anusapati sendiri tidak dapat menentukan
apakah yang sebenarnya sedang berlangsung di bangsalnya karena ia malam itu
sedang tidak berada di istana.
“Tetapi hal ini telah menjadi pembicaraan
para Senapati tuanku,“ berkata Sumekar ketika ia sempat menemui Anusapati
disudut halaman bangsalnya.
“Ya. Tetapi sampai dimana akibat dari
laporan-laporan mereka itulah yang masih harus ditunggu.”
“Namun yang penting adalah persoalan ini
menjadi persoalan yang terbuka. Hampir semua orang mendengar peristiwanya,
sehingga mereka-pun akan menunggu hasil penyelidikan para prajurit.”
“Jawabnya akan sangat mudah,“ berkata
Putera Mahkota, “seperti yang sudah. Para prajurit dari pasukan pengawal belum
menemukan jejaknya. Apakah orang-orang di istana, bahwa para prajurit dan
Senapati pernah mempersoalkan, kenapa orang berkerudung hitam yang pernah
langsung berhadapan dengan Sri Rajasa sendiri, dan orang berkerudung yang
lain-lain? Semuanya itu berlaku dengan diam-diam.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun ia menjawab, “Tetapi yang penting bagi tuanku, rakyat mengetahui bahwa
tuanku sedang mengalami gangguan. Bukan saja secara pribadi tetapi juga keluarga
tuanku.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Apabila pada suatu saat dapat diketemukan,
maka kebencian orang terhadap mereka yang berusaha mengganggu tuanku akan
memuncak dan mematangkan sikap yang dapat tuanku ambil terhadap mereka itu.”
Sekali lagi Anusapati mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya, “Kau benar paman. Tetapi kapan aku dapat mengambil sikap
itu?”
Sumekar menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jawabnya, “Tuanku masih harus menunggu isyarat dari pamanda Mahisa Agni. Tetapi
sebaiknya tuanku segera mempersiapkan suatu sikap terakhir yang dapat tuanku
ambil segera. Kegagalan orang-orang yang tidak menyukai tuanku tentu tidak hanya
akan terhenti pada membakar semacam getah untuk menakut-nakuti tuan puteri dan
putera tuanku itu.”
Putera Mahkota mengangguk-anggukkan
kepalanya. Tetapi wajahnya justru menjadi semakin murung. Apakah pada suatu saat
ia akan benar-benar dihadapkan pada ayahanda Sri Rajasa? Apakah pantas bahwa
seorang anak harus bermusuhan dengan ayah sendiri?
Anusapati masih dapat mengerti, jika ia
harus bertengkar dan bahkan sampai pada puncak perselisihan dengan adiknya
Tohjaya, karena tidak seibu. Dan seandainya setiap orang menilai bahwa
perselisihan itu timbul karena Singgasana Singasari, itu-pun masih cukup
berharga, karena ia sudah diangkat menjadi Putera Mahkota, sehingga setiap
perselisihan ia berada pada keadaan mempertahankan diri.
Tetapi alangkah tidak pantasnya apabila ia
pada suatu saat harus membela diri sekali-pun atas ayahnya sendiri. Tidak banyak
orang yang dapat mengerti persoalan yang sebenarnya. Tidak banyak orang yang
akan mengatakan bahwa Sri Rajasa telah berpihak kepada Tohjaya didalam
perselisihan antara putera-puteranya. Sebagian rakyat Singasari pasti akan
menuduhnya berusaha mempercepat penyerahan Mahkota kepadanya atas keinginannya.
Dan itu sangat tidak pantas.
Meski-pun demikian, apakah ia tidak berhak
membela dirinya sendiri meski-pun terhadap ayahandanya? Dan apakah benar-benar
akan terjadi, bahwa ayahandanya akan tenggelam dalam perselisihan ini dan
langsung berpihak kepada Tohjaya?
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
Seperti yang dikatakan oleh Sumekar, ia harus mematangkan sikap. Apa yang harus
dilakukannya, jika keadaan memang memaksa.
Sekilas terbayang wajah ibunya yang selalu
muram. Kecantikan ibunya tinggal merupakan bayangan yang kabur di wajahnya yang
terlampau cepat menjadi tua. Sedang ibunya yang lain, Ken Umang masih tetap
tampak muda dan segar, meski-pun puteranya, Tohjaya telah menjadi dewasa pula.
Semakin tua ibunda permaisuri, semakin
besar dorongan ibunda Ken Umang atas ayahanda Sri Rajasa untuk menyingkirkan aku
dan menempatkan Tohjaya pada kedudukan ini.
Namun tiba-tiba saja Anusapati menggeram.
“Hanya keturunan Ken Dedes sajalah yang dapat menduduki Singasari. Apa-pun yang
harus aku lakukan untuk mempertahankannya.”
Dalam pada itu, sekali lagi guru Tohjaya
itu mengumpat-umpat. Ia gagal lagi untuk membuat suatu kesan tersendiri pada
keluarga Anusapati dengan menakut-nakutinya.
“Prajurit-prajurit itu bodoh sekali. Kenapa
mereka ribut dengan bau wangi itu juga, sehingga usahaku untuk menakut-nakuti
isteri Anusapati itu gagal? Jika ada bau wangi lagi disekitar bangsal itu, tidak
akan ada lagi orang yang berpikir tentang hantu. Semua orang sekarang tahu,
bahwa usaha itu adalah usaha seseorang,“ guru Tohjaya itu mengumpat-umpat tidak
ada habis-habisnya.
“Setiap orang kini mempersoalkannya,“
katanya kepada diri sendiri, “untunglah bahwa aku sempat melarikan diri malam
itu. Jika tidak, maka aku akan menyeret diriku sendiri ketiang gantungan tanpa
perlindungan. Sri Rajasa tidak akan mengaku dan memberikan ampunan untuk
membersihkan namanya sendiri.”
Dan kegagalan ini agaknya membuat penasehat
Sri Rajasa itu benar-benar kebingungan. Apalagi yang dapat dilakukan untuk
mengecilkan Anusapati dari segala segi. Ia berharap bahwa dengan demikian isteri
Anusapati akan menuntut suaminya untuk tetap
tinggal dirumah seperti anggapan rakyat
Singasari dahulu terhadapnya, sebelum ia menemukan jalan lain yang lebih baik.
Namun akhirnya Tohjaya berkata kepada
gurunya, “Guru, tidak ada jalan yang lebih baik daripada membunuh kakanda
Anusapati itu sendiri.“
Gurunya mengerutkan keningnya. Katanya,
“Tetapi pekerjaan itu bukan pekerjaan yang mudah tuanku. Seperti tuanku ketahui,
ternyata tuanku Putera Mahkota memiliki kemampuan yang tiada taranya.”
“Guru harus dapat membujuk ayahanda.
Kakanda Anusapati tidak akan tersingkir dari kedudukannya selain mati.“
“Kita sudah menjebaknya dengan
bermacam-macam cara. Tetapi usaha itu selalu gagal. Ia adalah Putera Mahkota
yang berhak mendapatkan pengawalan setiap saat ia kehendaki. Selebihnya ia
sendiri mampu mengimbangi kekuatan seseorang yang paling kuat sekali-pun di
Singasari, selain Sri Rajasa sendiri dan Mahisa Agni.”
“Aku belum meyakini,“ berkata Tohjaya,
“namanya terlalu dibesar-besarkan. Tidak ada kekuatan sebesar itu padanya.”
Gurunya menarik nafas dalam-dalam.
“Tetapi mungkin kita lebih baik
berhati-hati. Karena itu alangkah baiknya jika ayahanda sendiri melakukannya
dengan cara dan alasan apa-pun juga.”
Penasehat Sri Rajasa itu menelan ludahnya.
Wajahnya menjadi tegang dan untuk sejenak ia tidak berkata sepatah katapun.
Tohjaya-pun mengerti betapa beratnya
seorang yang harus memusuhi anaknya sendiri, apalagi membunuhnya. Tetapi ayahnya
memang harus memilih. Anusapati atau Tohjaya. Jika ayahnya memang ingin
menyingkirkan Anusapati dan memberi kesempatan kepada Tohjaya, maka jalan
satu-satunya adalah membunuh Anusapati.
“Baiklah tuanku,“ berkata gurunya, “hamba
akan mencoba membujuk ayahanda Sri Rajasa jika memang tidak ada jalan lain.
Tetapi setiap kali kita masih harus memperhitungkan peranan Mahisa Agni. Jika
terjadi perselisihan terbuka antara ayahanda Sri Rajasa dengan Mahisa Agni yang
kini berada di Kediri, maka kemungkinan yang luas dapat terjadi. Mahisa Agni
bukan tidak mempunyai pengikut. Apalagi jika ia berusaha menyusun kekuatan, maka
itu akan sangat membahayakan Singasari sendiri.“
“Terserah kepada kebijaksanaanmu,“ berkata
Tohjaya, “kau harus memperhitungkan segala kemungkinan dari segala segi. Tetapi
tujuan terakhir adalah membinasakan kakanda Anusapati. Akan lebih baik lagi jika
paman Mahisa Agni-pun telah terbunuh pula.”
“Ya, ya. Tetapi kita harus sadar, bahwa
pekerjaan itu adalah pekerjaan yang berat sekali.”
Namun ternyata bahwa penasehat Sri Rajasa
itu menyampaikannya pula kepada Sri Rajasa meski-pun tidak langsung. Dengan
hati-hati dan penuh dengan perumpamaan dan sindiran. Apalagi penasehat Sri
Rajasa itu sudah mengetahui pula, bahwa sebenarnyalah bahwa Anusapati bukan
putera Sri Rajasa.
“Apakah Tohjaya mengetahuinya?“ bertanya
Sri Rajasa.
“Aku kira belum tuanku.”
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Ia
pernah merasa prihatin karena sikap Tohjaya itu. Tanpa mengetahui bahwa
Anusapati itu bukan saudaranya, ia sampai hati mengajukan tuntutan sejauh itu
seperti yang pernah didengarnya, meski-pun samar-samar. Dan kini sekali lagi ia
disentuh oleh perasaan itu.
“Apakah jika sampai saatnya, Tohjaya yang
sampai hati melepaskan kakaknya itu akan sampai hati pula melepaskan ayahnya?“
pertanyaan itu timbul juga dihati Sri Rajasa.
Tetapi Sri Rajasa sudah menuntun anak
laki-lakinya itu sampai ketengah sungai yang banjir. Bagaimana-pun juga ia sudah
menjadi
basah. Karena itu, maka tidak ada pilihan
lain kecuali melanjutkan perjalanan sampai keseberang. Dan didalam hati Sri
Rajasa itu-pun berkata, “Baiklah. Anusapati memang harus mati.”
Demikianlah meski-pun belum terucapkan,
janji itu sudah terpateri didalam hati Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa. Ia
mulai menginjakkan kakinya di istana Tumapel dengan, mencuci tangannya dengan
darah. Kini ia akan melangsungkannya dengan tetesan darah pula.
Memang bagi Ken Arok tugas yang paling
akhir harus dilakukan didalam kedudukannya, adalah berusaha menyingkirkan semua
bekas-bekas kekuasaan Tunggul Ametung. Anusapati apabila sempat duduk diatas
tahta, akan berarti kembalinya kekuasaan Tunggul Ametung itu. Dan habislah darah
keturunan Sri Rajasa yang hanya berkuasa satu keturunan saja. Dirinya sendiri.
Kadang-kadang terbersit pula suatu
pertanyaan, kenapa ia tidak berusaha untuk mengangkat keturunannya yang lahir
dari Ken Dedes, karena mau tidak mau ia harus mengakui, kekuasaan yang ada
padanya, bersumber kepada kekuasaan yang diwarisi oleh Ken Dedes dari Tunggul
Ametung, yang sadar atau tidak sadar, telah menyerahkan semua yang ada padanya,
kepada permaisurinya itu.
“Jika aku mengangkat Mahisa Wonga Teleng,
maka keadaannya akan berbeda. Mungkin Anusapati tidak akan banyak menentang
keputusan itu, karena ia amat cinta kepada ibunya. Apalagi jika berterus terang
kepadanya, bahwa ia adalah keturunan Tunggul Ametung,“ berkata Ken Arok didalam
hati, “kenapa aku tergesa-gesa mengangkatnya menjadi Putera Mahkota sekedar
untuk mendapat kesempatan memanjakan Tohjaya dan ibunya?”
Tetapi Ken Arok-pun tidak dapat ingkar,
bahwa maksudnya bukan saja sekedar menyenangkan hati Ken Dedes karena ia lebih
banyak berhubungan dengan Ken Umang, tetapi juga karena waktu itu masih ada
kekuatan yang tidak dapat melupakan kekuasaan Tunggul Ametung. Pengangkatan
Anusapati membuat mereka diam dan tidak berbuat banyak, sehingga akhirnya
kedudukan Sri Rajasa menjadi kuat. Namun dalam pada itu diluar perhitungannya,
Anusapati telah berhasil mengangkat namanya
sendiri atas dukungan Mahisa Agni, sehingga bagi rakyat Singasari Kesatria Putih
adalah lambang perlindungan mereka.
“Tetapi Kesatria Putih tidak berhasil
melindungi bangsalnya sendiri,“ tiba-tiba saja pada suatu saat Ken Arok justru
memanggil Anusapati dan menuduhkannya berbuat lengah, sehingga menimbulkan
sedikit gangguan keamanan di halaman istana.
“Kau terlalu banyak meninggalkan keluarga
dan bangsalmu dimalam hari sehingga menjadi sasaran gangguan orang jahat.
Akibatnya seluruh istana mengalami kejutan.”
“Hamba akan menegur para prajurit yang
bertugas waktu itu ayahanda,“ berkata Anusapati, “mereka seharusnya tidak
membiarkan hal itu terjadi.”
“Apakah yang dapat dilakukan oleh Kesatria
Putih dirumahnya sendiri?”
Pertanyaan ini sangat mengherankan bagi
Anusapati. Ia tidak menyangka bahwa ayahandanya dapat melemparkan kesalahan itu
kepadanya.
“Anusapati,“ berkata Sri Rajasa, “kau harus
ikut bertanggung jawab atas keamanan istana ini. Kau jangan sekedar mendapat
pujian saja dengan usahamu itu, dengan nama yang besar, Kesatria Putih, tetapi
justru karena itu kau sudah melepaskan tanggung jawabmu sendiri didalam istana
ini.”
Benar-benar suatu keadaan yang tidak
diduganya.
“Sejak sekarang, kau tidak boleh lagi
memberikan peluang kepada siapa-pun untuk mengguncangkan keamanan istana. Aku
tidak menghalangi usahamu untuk memupuk nama baikmu, tetapi kau tidak boleh
melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang Putera Mahkota.”
Anusapati benar-benar tidak tahu, apakah
tugas itu tugas seorang Putera Mahkota. Seharusnya ayahandanya marah dan
meletakkan tanggung jawab kepada Senapati
yang bertugas waktu itu. Bukan kepadanya.
Tetapi Anusapati tidak menghiraukannya
lagi. Ia justru sudah menemukan dirinya sendiri, sehingga tiba-tiba saja ia
merasa bahwa ia harus tetap berdiri pada garis perjuangannya.
Tetapi ketika ia keluar dari bangsal, ia
masih harus menelan kata-kata Tohjaya yang seolah-olah memang sengaja
menunggunya, “Kakanda Anusapati, siapakah sebenarnya orang yang membuat seisi
istana ini merasa terhina?”
“Kenapa kau bertanya kepadaku?”
“Orang itu hadir setiap saat kakanda
Anusapati sedang pergi.”
“Aku tidak tahu. Aku akan bertanya kepada
para penjaga.”
Tetapi Tohjaya tertawa berkepanjangan.
Katanya, “Kakanda masih saja suka bermain-main dengan kerudung hitam.”
“He,“ Anusapati terkejut.
“Bukankah kadang-kadang kakanda mengenakan
kerudung putih tetapi kadang-kadang mengenakan kerudung hitam? Apakah kakanda
sebenarnya sudah jemu terhadap isteri dan anak kakanda yang mungil itu?”
“Adinda Tohjaya. Kenapa kau berpikir sampai
kesitu? Aku sama sekali bukan pengecut seperti yang kau bayangkan. Jika aku akan
mengusir mereka, aku tidak perlu menakut-nakuti seperti permainan anak-anak
cengeng. Apakah pada saat aku harus datang kepadamu dan membawa orang yang kau
cari itu?“
Wajah Tohjaya menjadi merah. Apalagi
gurunya yang ada didekatnya pula. Meski-pun Anusapati hanya berkata asal saja
melepaskan kejengkelannya, namun tumbuh pertanyaan dihati mereka, apakah
sebenarnya Anusapati sudah mengetahui siapakah yang melakukannya?
Anusapati tidak menunggu Tohjaya menjawab
lagi. Dengan tanpa berpaling ditinggalkannya adiknya berdiri termangu-mangu.
Namun pertemuan yang sepintas itu telah
membuat jarak antara kedua kakak beradik itu menjadi semakin jauh. Anusapati
menjadi semakin yakin, bahwa adiknya sama sekali tidak lagi dapat mendekatkan
diri kepadanya, bahkan tampaknya semakin lama menjadi semakin jauh.
“Suasana di istana ini bagaikan gunung
Kelut yang dengan perlahan-lahan menjadi semakin panas. Pada saatnya pasti akan
terdengar ledakan yang dahsyat, yang akan mengguncangkan sendiri kehidupan
diseluruh Singasari,“ berkata Anusapati didalam hatinya.
Dan Anusapati-pun tidak dapat tinggal diam
menunggu apa yang akan terjadi. Ia harus siap menyongsong keadaan jika
benar-benar istana Singasari akan meledak.
“Aku harus menghubungi paman Mahisa Agni,“
berkata Anusapati kepada Sumekar, “semuanya sekarang rasa-rasanya menjadi lain.
Aku tidak mengerti, kenapa ayahanda semakin menjauhi aku, dan adinda Tohjaya
tampaknya semakin membenciku. Aku sudah berusaha sejauh mungkin tidak
menimbulkan persoalan apa-pun dengan adinda Tohjaya. Tetapi ada saja
persoalan-persoalan yang dipakainya sebagai alasan.”
“Tuanku memang harus berhati-hati,“ berkata
Sumekar. “baiklah hamba akan menghubungi orang-orang yang akan dapat
menyampaikannya kepada pamanda tuanku di Kediri. Mungkin Witantra, mungkin
kakang Kuda Sempana.”
“Terima kasih paman. Baik dalam hubungan
sehari-hari, mau-pun firasat didalam hati, rasa-rasanya sesuatu akan segera
terjadi.”
Sumekar tidak menyahut. Tetapi ia-pun
sependapat. Namun yang lebih memberati perasaan Anusapati adalah justru keadaan
diri sendiri. Bahkan ledakan itu seakan-akan akan terlontar dari dirinya.
Dan sikap Sri Rajasa di hari-hari
berikutnya memang tidak menyenangkan sama sekali. Bahkan hampir tidak masuk
akal, bahwa pada suatu saat Anusapati dipanggil oleh Sri Rajasa, bukan pada
saatnya ia harus menghadap. Adalah diluar nalarnya, bahwa ia
sebagai Putera Mahkota telah dimarahi oleh
ayahanda Sri Rajasa dihadapan beberapa orang Panglima, hanya karena ia dianggap
menghina Tohjaya.
“Kau harus menjadi contoh yang
sebaik-baiknya bagi rakyat Singasari,“ berkata Sri Rajasa, “jika kau masih
bersikap cengeng, kau akan mengalami perlakuan yang cengeng pula.”
Anusapati hanya dapat menundukkan
kepalanya. Ia mengharap Sri Rajasa mengambil suatu sikap atas peristiwa yang
pernah terjadi di bangsalnya, namun yang dihadapinya justru adalah persoalan
lain, persoalan yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan itu.
“Jika kau masih menganggap Tohjaya sebagai
sainganmu,“ berkata Sri Rajasa pula, “hanya karena ia berbeda ibu, maka kau
adalah orang yang berpikiran sangat sempit. Kau jangan menganggap dirimu
mempunyai kelebihan daripadanya. Hanya karena kau lahir lebih dahulu sajalah
maka kau diangkat menjadi Putera Mahkota. Tetapi itu bukan hak mutlak bagimu.
Jika aku menganggap kau tidak mampu menunaikan tugas itu, apalagi kelak menjadi
Maharaja Singasari, aku dapat mengambil keputusan lain.”
Rasa-rasanya Anusapati hampir tidak tahan
lagi duduk bersimpuh dihadapan ayahanda dan para Panglima. Ingin agaknya ia
meloncat berlari kembali kebangsalnya. Tetapi ia masih tetap sadar, bahwa ia
sedang menghadap ayahanda Sri Rajasa.
“Nah, kembalilah ke rumahmu. Renungkan
kata-kataku. Ternyata kau sangat mengecewakan aku.”
Serasa dada Anusapati akan pecah. Namun ia
masih tetap berhasil menguasai dirinya dan meninggalkan bangsal itu. Tetapi
tanpa disadarinya terasa matanya menjadi basah.
Dengan langkah yang berat ia berjalan di
lorong-lorong di halaman istana Singasari. Kepalanya tertunduk dalam-dalam
memandang batu-batu kerikil dibawah kakinya. Dan kaki itu seakan-akan bergerak
sendiri diluar kemauannya.
Anusapati berhenti termangu-mangu ketika ia
sadar, bahwa ia berada didepan bangsal Permaisuri. Dengan hati yang
berdebar-debar ia melangkah naik. Ibunda Permaisuri sudah lama tidak lagi nampak
pada paseban agung. Agaknya ia justru telah mengasingkan dirinya sendiri.
Ketika Ken Dedes melihat kehadiran anaknya,
hatinya menjadi berdebar-debar. Dilihatnya wajah Anusapati yang pucat dan
dadanya yang bergetar.
“Kemarilah anakku,“ suara Ken Dedes parau.
Memang rasa-rasanya ada getaran yang telah
lebih dahulu menyentuh dinding jantung ibunda Ken Dedes.
Dengan wajah yang tunduk Anusapati duduk
dihadapan ibunya.
“Kau datang dengan wajah yang terlampau
muram Anusapati?“ bertanya ibunya.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
Kebimbangan yang dalam telah membayangi perasaannya.
“Apakah ada sesuatu yang merisaukan
hatimu?“
Anusapati menjadi semakin tunduk. Dan
tiba-tiba seperti kanak-anak Anusapati menitikkan air matanya.
“He, Anusapati,“ berkata ibunya, “kau
adalah seorang laki-laki. Kau adalah seorang Kesatria, dan apalagi kau telah
dinamai Kesatria Putih. Kenapa kau menitikkan air mata seperti seorang
perempuan? Jangan anakku. Jangan menjadi cengeng. Kau adalah seorang laki-laki
jantan yang mengagumkan.“
Kata-kata ibunya itu telah menyentuh hati
Anusapati. Dengan tergesa-gesa ia mengusap air mata yang membasahi pelupuknya
dan menahan gejolak perasaan didalam dadanya.
“Anusapati,“ suara ibunya menjadi serak,
“kenapa kau tidak lagi dapat menahan perasaanmu. Aku sudah terlampau sering
melihat wajahmu yang muram. Tetapi kali ini kau telah menitikkan air mata. Tentu
ada sesuatu yang telah menyayat hatimu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
“Apakah kau datang untuk mengatakan
kepadaku, bahwa hatimu telah tersentuh oleh sikap atau kata-kata seseorang?”
Perlahan-lahan Anusapati menganggukkan
kepalanya.
“Ayahandamu Sri Rajasa?”
Sekali lagi Anusapati mengangguk.
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
Perlahan-lahan Ken Dedes bergeser mendekati puteranya. Diusapnya kepala Putera
Mahkota itu sambil berkata, “Anusapati. Kau harus tetap sadar, bahwa kau adalah
seorang laki-laki. Seorang Kesatria. Apa-pun yang terjadi atasmu, sentuhan
lahiriah atau sentuhan batiniah harus kau tanggapi dengan sikap kesatria. Kau
tidak boleh lekas tersinggung karenanya. Kau harus memandang jauh kedepan,
tetapi juga kebelakang. Kau harus mencoba mencari pada dirimu sendiri, apakah
kau memang bersalah.”
“Ibunda,“ berkata Anusapati, “hamba selalu
mencoba mencari, apakah hamba bersalah. Setiap, kali ayahanda Sri Rajasa marah
kepada hamba, hamba selalu mencoba mencari kesalahan hamba seperti yang
dituduhkan ayahanda Sri Rajasa kepada hamba. Dan persoalannya selalu serupa,
yaitu bahwa adinda Tohjaya telah mengadu kepada ayahanda.“ Anusapati berhenti
sejenak. Terasa tenggorokannya menjadi panas. Tetapi ia mencoba bertahan sebagai
seorang laki-laki seperti yang dikatakan oleh ibunya.
“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian,
“hamba sekarang sudah bukan kanak-anak lagi. Tetapi persoalan itu masih saja
berulang. Ayahanda telah marah kepada hamba dihadapan beberapa orang pemimpin
tertinggi di Singasari, dan menuduh hamba bahkan diancam oleh ayahanda, bahwa
kedudukan hamba itu akan dapat diambilnya. Apabila ayahanda menghendaki, maka
ayahanda dapat menunjuk adinda Tohjaya untuk menggantikan hamba.“
“Tidak. Tidak mungkin.“ ibunya menyahut
dengan serta merta. Namun kemudian suaranya menurun, “Tidak Anusapati.
Seharusnya ayahandamu tidak mengatakan demikian.”
“Kenapa tidak ibunda. Ayahanda adalah
seorang Maharaja yang paling berkuasa didaerah Singasari. Ayahanda telah
berhasil menjadikan Singasari ini suatu negara yang besar. Ayahanda mempunyai
kekuasaan yang tidak terbatas. Kenapa ayahanda tidak dapat berbuat demikian?”
“Kau adalah putera tertua yang lahir dari
Permaisuri. Kaulah paling berhak atas tahta Singasari. Bukan orang lain. Bahkan
seandainya kau tidak dapat melakukan tugasmu karena suatu sebab yang sah, maka
adindamu Mahisa Wonga Telenglah yang berhak menggantikan kedudukanmu. Bukan
Tohjaya.”
Anusapati menundukkan kepalanya semakin
dalam, lalu katanya, “Ibunda. Ayahanda lebih berkuasa dari ketetapan-ketetapan
yang berlaku. Ayahanda dapat membuat ketetapan-ketetapan baru. Janganlah atas
tahta Singasari. Bahkan tahta Kediri-pun telah diputusnya sama sekali dan
direnggutnya dari hak yang sewajarnya. Apakah arti hak atas tahta Singasari itu
bagiku, ibunda?“
Ken Dedes tidak segera menjawab. Ia
mengerti kata-kata anaknya, bahwa Sri Rajasa dapat saja memindahkan hak kepada
siapa-pun yang dikehendakinya, karena kekuasaannya.
Namun demikian ia berkata, “Jangan risau
anakku. Aku adalah Permaisuri di Singasari. Aku tidak pernah mempersoalkan hak
atas diriku sendiri. Aku tidak pernah mempersoalkan hadirnya seorang perempuan
lain didalam istana ini. Tetapi aku akan mempersoalkan hakmu, hak atas tahta di
Singasari, sebagai kelanjutan hak tahta Tumapel.”
“Apa hubungannya dengan hak atas tahta
Tumapel ibunda. Tumapel adalah suatu daerah Akuwu yang kecil, yang kemudian
menurut sejarahnya, oleh ayahanda telah dijadikan suatu negara Singasari yang
sekarang. Apakah artinya Tumapel itu bagi ayahanda Sri Rajasa?”
Ken Dedes terdiam sejenak. Terasa sesuatu
menghentak-hentak didadanya. Sekilas terkenang olehnya kekuasaan Akuwu Tunggul
Ametung yang kecil yang berada dibawah kekuasaan Kediri. Yang kemudian oleh Sri
Rajasa berhasil dikembangkan, dan berhasil mengikat Kediri dalam suatu daerah
kekuasaan yang disebutnya Singasari.
“Tetapi aku tidak dapat mengatakan, apa
yang telah terjadi sebenarnya,“ berkata Ken Dedes didalam hatinya.
Namun serasa hatinya tergores duri ketika
ia mendengar Anusapati bertanya, “Ibunda, apakah sebenarnya latar belakang dari
tindakan-akan ayahanda yang hamba rasa kurang adil, karena selama ini hamba
tidak pernah menemukan kesalahan pada diri hamba, sehingga kadang-kadang
terpikir oleh hamba, bahwa sebenarnya kesalahan yang dituduhkannya itu adalah
kesalahan yang sekedar dicari-cari.”
“Anusapati,“ potong Ken Dedes, “jangan
berpikir begitu. Jangan menyiksa diri dengan dugaan-dugaan dan khayalan-khayalan
yang menakutkan itu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Lalu,
“Apakah ibu masih menganggap aku berkhayal?”
Ken Dedes terkejut mendengar pertanyaan
itu, sehingga karena itu maka sejenak ia menjadi bingung dan tidak mengerti
bagaimana harus menjawab.
Anusapati memandang wajah ibunya yang
tiba-tiba menjadi pucat. Karena itu, maka Ia-pun segera menundukkan kepalanya,
menghindari tatapan mata ibunya yang suram.
-ooo0dw0ooo-
(bersambung jilid 74)
Jilid 74
“ANUSAPATI,“ BERKATA IBUNYA kemudian dengan
suara serak, “jangan bertanya begitu. Aku tidak dapat memberikan penjelasan yang
dapat kau terima dengan akal. Tetapi sebenarnyalah bahwa kadang-kadang kau sudah
dipengaruhi oleh angan-anganmu sendiri, sehingga yang terjadi itu seakan-akan
menjadi kian tajam didalam angan-anganmu. Mungkin memang ada perbuatan yang
dapat melukai hatimu. Tetapi kau sendiri mengorek luka itu sehingga menjadi
semakin parah.”
“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian,
“hamba adalah seorang yang sudah harus mengekang perasaan sejak hamba menyadari
keadaan hamba. Hamba sudah terbiasa dengan bentakan-akan dan sindirian-sindirian
tajam dari ayahanda Sri Rajasa dan dari adinda Tohjaya, bahkan dari ibunda Ken
Umang. Tetapi hamba tidak pernah memperdalam luka di hati. Hamba selalu berusaha
melupakannya, dan kadang-kadang hamba berhasil apabila hamba bermain-main
bersama paman Mahisa Agni. Dan bahkan permainan itu berkembang menjadi permainan
yang bermanfaat bagi diri hamba, sampai hamba menjadi dewasa. Dengan demikian
ibunda, hamba menganggap bahwa diri hamba tidak berkhayal lagi, atau sengaja
mengorek luka dihati. Hamba sudah cukup mengalami tekanan lahir dan batin tanpa
menambah dan memperdalamnya.”
“Anusapati,“ suara Ken Dedes menjadi sangat
dalam.
“Ibunda,“ berkata Anusapati, “bukan maksud
hamba melukai hati ibunda. Tetapi hamba sekarang sudah dewasa. Barangkali ada
hal-hal yang tidak boleh didengar oleh anak-anak tentang diri hamba. Tetapi
sekarang, barangkali hamba sudah bukan kanak-anak lagi, sehingga hamba pasti
akan boleh mendengarnya.”
“Tidak ada apa-apa Anusapati. Tidak ada
apa-apa. Kau adalah seperti kau yang kau mengerti dan kau hayati sekarang. Tidak
ada sesuatu yang tersembunyi dan tidak ada sesuatu yang rahasia.”
“Ibunda,“ berkata Anusapati, “jika
demikian, kenapa sikap ayahanda jauh berbeda dari sikap ayahanda terhadap
adik-adik hamba. Mungkin ada juga kelebihan pada Tohjaya dari adik-adik hamba
yang lain, tetapi sikap ayahanda Sri Rajasa adalah sangat
berbeda atas diri hamba dari adik-adik
hamba yang lain, baik yang lahir dari ibunda Permaisuri, apalagi dari ibunda Ken
Umang, sehingga kadang-kadang timbul pertanyaan dihati hamba, apakah bedanya
hamba ini dengan adik-adik hamba yang lain?”
Ken Dedes menjadi semakin pucat.
Pertanyaan-pertanyaan itu bagaikan bayangan yang sangat menakutkan, siap untuk
menerkamnya.
Sejak Anusapati masih kanak-anak, Ken Dedes
sudah mencemaskan pertanyaan serupa itu. Bahkan ia pernah mendengarnya selagi
Anusapati masih terlalu muda. Namun pada saat itu ia masih berhasil membujuknya
dan mencoba menenangkan hatinya. Namun kini Anusapati yang sudah dewasa itu
pasti mempunyai tanggapan yang lain dari tanggapannya dimasa ia masih terlalu
muda.
Karena itu Ken Dedes terdiam sejenak.
Dipandanginya saja wajah anaknya yang semakin lama menjadi semakin tunduk.
“Ibu,“ suara Anusapati menjadi bergetar,
“kenapa ibunda tidak mau memberi jawaban atas pertanyaan hamba?”
“Aku tidak mengerti, bagaimana aku harus
menjawab Anusapati,” berkata ibunya kemudian, “aku sudah mencoba memberikan
penjelasan kepadamu. Tetapi kau merasa bahwa ada sesuatu yang aku sembunyikan.
Namun aku sendiri tidak mengerti, apa yang kau anggap aku sembunyikan itu.”
“Ibunda,“ desis Anusapati kemudian, “apakah
yang dapat hamba katakan tentang diri hamba sendiri. Tetapi hamba tidak dapat
menyembunyikan kenyataan yang berlaku atas diri hamba. Mungkin hamba tidak lagi
dapat membedakan, manakah yang sebenarnya terjadi, dan manakah yang sebenarnya
sekedar khayalan hamba sendiri.”
“Anusapati,“ suara Ken Dedes menjadi parau.
Terasa kerongkongannya menjadi terlampau kering.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Ia
mengerutkan keningnya ketika ia sadar, bahwa ibunya mulai menangis.
“Maafkan ibunda,“ berkata Anusapati
kemudian, “bukan maksud hamba menyakiti hati ibunda. Hamba merasa bahwa setiap
kali hamba mohon penjelasan atas diri hamba, ibunda selalu menitikkan air mata,
sehingga bahkan pertanyaan dihati hamba itu rasa-rasanya menjadi semakin lama
semakin dalam. Tetapi jika ibunda tidak berkenan, maka biarlah hamba tidak
bertanya lagi untuk sementara, selagi hamba masih dapat bertahan.”
“Anusapati,“ suara Ken Dedes hampir hilang
ditelan oleh sedu sedannya.
Anusapati tidak menjawab.
Sejenak keduanya saling berdiam diri. Yang
terdengar hanyalah sedu sedan Permaisuri dari Maharaja yang Agung di Singasari,
karena pertanyaan puteranya tentang dirinya sendiri.
Tetapi Anusapati tidak mendesaknya lagi. Ia
sadar, bahwa hati ibunya menjadi pedih karenanya. Dan ia tidak sampai hati untuk
semakin menyakiti hati yang memang sedang luka itu.
Karena itu untuk beberapa saat keduanya
saling berdiam diri. Anusapati duduk dengan kepala tunduk, sedang ibunya sibuk
mengusap air matanya. Ia sadar, bahwa baru saja ia menegur anaknya yang
menangis, tetapi ia sendiri kini tidak dapat lagi mempertahankan air matanya.
“Ibu,“ berkata Anusapati sejenak kemudian,
“hamba ingin mohon diri. Hamba minta maaf bahwa hamba telah mengganggu
ketenangan ibunda. Mungkin hamba memang terlaiu banyak berkhayal, sehingga hamba
seakan-akan hidup dalam dua dunia yang bercampur baur.”
Ken Dedes tidak menyahut. Bahkan diraihnya
lengan anaknya dan ditariknya mendekat. Seperti Anusapati masih kanak-anak
dipeluknya kepala anak itu didadanya. Setitik-titik air matanya menetes
membasahi rambut anak muda itu.
Baru sejenak kemudian Permaisuri itu
melepaskannya dan berkata, “Hati-hatilah Anusapati. Mungkin kau benar-benar
berada dalam kesulitan lahir dan batin. Tetapi sampai saat ini aku tidak dapat
menolongmu, karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadamu dan
menjawab pertanyaan-pertanyaanmu.”
“Sudahlah ibu. Hamba akan menyimpan
pertanyaan-pertanyaan itu kembali. Hamba akan mencoba mencari, apakah hamba
memang seorang pemimpi yang murung.”
Demikianlah Anusapati-pun kemudian
meninggalkan ibunya. Langkah serasa ringan dan bahkan seakan-akan tidak berjejak
diatas tanah, sehingga tubuhnya menjadi goyah.
Dalam keadaan yang demikian, terasa hatinya
yang pahit menjadi semakin pahit. Karena itu maka ia tidak langsung kembali
kebangsalnya. Ia tidak mau memberikan kesan yang suram kepada isterinya, yang
masih saja merasa orang asing di istana Singasari.
Hampir tidak disadarinya, maka
Anusapati-pun menjumpai Sumekar yang duduk diregol taman seorang diri. Tanpa
menarik perhatian orang lain, maka keduanya-pun berbicara tentang luka yang
rasa-rasanya semakin parah didalam dada Anusapati.
“Tuanku,“ berkata Sumekar, “apakah yang
dapat hamba lakukan saat ini? Apakah hamba harus pergi ke Kediri dan
mengatakannya kepada kakang Mahisa Agni.”
“Apakah kau sudah dapat menemui paman
Witantra atau paman Kuda Sempana?”
“Hamba sudah berpesan,“ sahut Sumekar,
“tetapi jika perlu, untuk meyakinkan diri, hamba bersedia pergi ke Kediri.”
Tetapi Anusapati menggelengkan kepalanya.
Katanya, “Jika paman Witantra, Kuda Sempana atau Mahendra sudah mendengar, maka
paman Mahisa Agni tentu akan memikirkan. Mungkin ia baru sibuk sehingga paman
Mahisa Agni belum dapat datang ke Singasari.”
“Tetapi persoalan tuanku tidak boleh
tertunda-tunda lagi. Pamanda tuanku harus segera mengetahui dengan pasti.
Agaknya ayahanda Sri Rajasa telah terpengaruh untuk melakukan tindakan yang
segera pula terhadap tuanku. Hamba tentu tidak tahu, tindakan apakah yang akan
dilakukannya. Mudah-mudahan tidak akan melepaskan tuanku dari kedudukan tuanku
yang sekarang hanya karena tuanku Sri Rajasa ingin menyerahkannya kepada tuanku
Tohjaya.”
“Jadi apakah yang sebaiknya aku lakukan
paman? Menemui pamanda Mahisa Agni?”
“Secepatnya. Tetapi dalam keadaan seperti
ini, kedatangan pamanda Mahisa Agni dapat menimbulkan tafsiran yang berbahaya.”
“Jadi bagaimana menurut paman?”
“Pertemuan itu dapat diatur. Tidak perlu di
istana ini, agar Sri Rajasa tidak mengambil langkah-langkah untuk mengatasi
rencana yang tentu disangkanya tuanku susun bersama pamanda tuanku itu.”
“Baiklah paman, aku serahkan paman Sumekar
untuk mengaturnya. Mungkin paman dapat menjumpai salah seorang kawan-kawan paman
Mahisa Agni itu.”
Demikian Sumekar berusaha untuk menghubungi
Mahisa Agni lewat kawan-kawan Mahisa Agni, sehingga akhirnya, mereka-pun telah
menentukan hari-hari yang dapat mempertemukan Mahisa Agni dan Anusapati diluar
istana, agar tidak menimbulkan kecurigaan Sri Rajasa.
Seperti Ken Dedes, Mahisa Agni-pun menjadi
bingung. Tetapi sudah tentu ia tidak berani mendahului ibu Anusapati itu sendiri
sebelum ia mendapat ijinnya. Bahkan, yang sebaik-baiknya hal itu diucapkan oleh
Ken Dedes sendiri, dengan permintaan, agar Anusapati dapat mengekang dirinya.
Tetapi keadaan itu agaknya sudah menjadi
terlalu parah. Jika Anusapati mengetahui, bahwa Sri Rajasa itu bukan ayahnya
sendiri, maka sikapnya-pun pasti akan segera berbeda dan bahkan mungkin akan
dapat menimbulkan tindakan-akan yang lebih langsung.
Sekilas Mahisa Agni terkenang akan
trisulanya yang telah diberikannya kepada Anusapati. Jika perlu trisula itu akan
dapat dipergunakannya.
“Jika perlu,“ desis Mahisa Agni didalam
hatinya, namun sebenarnyalah ia tidak ingin suatu tindakan kekerasan dilakukan.
Kecuali untuk mempertahankan diri, Mahisa Agni tidak sependapat bahwa trisula
itu dipergunakan. Tetapi mempertahankan diri bagi Anusapati adalah suatu
tindakan yang memang mungkin sekali harus dilakukan.
“Jadi apakah yang dapat aku lakukan paman?“
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Katanya kemudian, “Aku ingin mendapat kesempatan berjumpa dengan ibundamu.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Namun
kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Pamanda memang
sebaiknya bertemu dengan ibunda. Jika aku menghadap ibunda, maka ibunda selalu
menangis dan akhirnya aku tidak pernah mendapat keterangan apa-pun tentang
diriku, karena aku tidak akan dapat memaksanya untuk berbicara. Aku tidak sampai
hati melihat ibunda bersedih, meski-pun aku sendiri selalu bersedih.”
“Baiklah Anusapati. Aku akan segera mencari
kesempatan. Sebaiknya ibundamulah yang memanggil aku, karena sesuatu alasan.
Jika badannya kurang enak, maka ia dapat mengatakan kepada Sri Rajasa, bahwa ia
sedang sakit. Tetapi jika ibundamu berkeberatan, maka biarlah ia memakai alasan
yang lain.”
“Aku akan menyampaikannya kepada ibunda.“
jawab Anusapati, “tetapi dalam keadaan serupa saat ini, kehadiran pamanda Mahisa
Agni tentu akan menimbulkan kecurigaan pada ayahanda Sri Rajasa.”
“Karena itu, sebaiknya ada alasan yang kuat
dari ibundamu untuk memanggil aku.”
“Baiklah paman. Hamba akan berusaha.”
“Nah, kembalilah segera ke istana. Jika
usaha membakar getah itu gagal, mungkin ada usaha yang lain. Karena itu, kau
harus sering tinggal didalam bangsal untuk menenteramkan hati isterimu.”
“Baiklah paman. Aku menunggu pembicaraan
paman dengan ibunda. Mudah-mudahan ada sesuatu yang dapat paman katakan
kepadaku, atau dari ibunda sendiri. Aku seakan-akan melihat sesuatu yang
tersembunyi didalam hati pamanda dan ibunda, yang sampai saat ini masih belum
dapat aku dengar. Aku tahu, tentu suatu rahasia yang besar. Tetapi adalah suatu
sifat manusiawi, bahwa semakin disembunyikan, maka semakin besar dorongan untuk
mengetahuinya.”
Mahisa Agni menepuk pundak Anusapati.
Sesuatu terasa bergejolak didalam hati. Tetapi ia tidak dapat mengatakan sesuatu
sebelum ia bertemu dengan Ken Dedes sendiri.
Demikianlah, maka sekali lagi Anusapati
menghadap ibunda yang dengan termangu-mangu menerimanya.
“Ampun ibunda. Kali ini hamba tidak akan
membuat ibu berduka. Hamba hanya sekedar ingin menyampaikan sebuah pesan dari
paman Mahisa Agni.”
“Pesan dari pamanmu?”
“Hamba ibunda.”
“Apa katanya?“
Anusapati menjadi ragu-ragu. Sejenak
ditebarkan pandangan matanya kesekelilingnya. Dikejauhan dilihatnya seorang
emban duduk tepekur.
“Apakah pesan itu bersifat rahasia?“ bisik
Ken Dedes.
“Hamba ibu. Pesan itu memang bersifat
rahasia.“
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian dipanggilnya emban itu mendekat, lalu disuruhnya membersihkan bilik
pembaringan Permaisuri.
“Ada sesuatu yang terjatuh dilantai,“
berkata Permaisuri, “aku mendengar suaranya, tetapi ketika aku mencarinya, aku
tidak dapat menemukan. Cobalah lihat, barangkali sesuatu yang kecil telah
terjatuh.”
“Hamba tuanku,“ sembah emban itu, yang
kemudian bergeser surut.
“Katakan,“ desis Ken Dedes.
“Ampun ibunda. Pamanda Mahisa Agni
berpesan, bahwa pamanda ingin bertemu dengan ibunda barang sejenak.”
“Kenapa ia tidak datang saja kemari?”
“Paman menjadi ragu-ragu. Jika ia datang
tanpa alasan, maka ayahanda Sri Rajasa akan menjadi curiga.”
“Kenapa curiga?”
“Ayahanda Sri Rajasa baru marah kepada
hamba. Selalu. Hampir setiap perjumpaan.“ jawab Anusapati, “jika dalam keadaan
demikian pamanda tiba-tiba saja datang, maka ayahanda akan menganggap bahwa
kedatangan pamanda itu karena hamba.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
“Jadi apakah ia akan datang secara
rahasia?”
“Tentu tidak mungkin ibunda. Setiap orang
sudah mengenal pamanda Mahisa Agni. Memang mungkin pamanda Mahisa Agni meloncat
dinding tanpa diketahui oleh para prajurit. Tetapi jika ia masuk kebangsal ini
dan berbicara dengan ibunda, maka suaranya mungkin sekali akan didengar orang.
Atau mungkin satu dua orang emban akan melihatnya.”
“Jadi bagaimana?”
“Ibundalah harus memanggilnya.”
“Apakah alasanku memanggil kakang Mahisa
Agni?”
“Memang sulit. Tetapi jika ibunda memang
kurang enak badan.”
“Maksudmu, katakanlah aku sedang sakit dan
aku memanggil kakang Mahisa Agni?”
“Jika ibunda tidak berkeberatan.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia
memang memerlukan seseorang untuk dibawanya berbincang. Selama ini semua beban
seakan-akan telah dipikulnya sendiri. Keragu-raguan, kebingungan dan kadang
ketakutan dan kecemasan harus dirasakannya sendiri.
“Ada baiknya pula pamanmu datang kemari,“
tiba-tiba ia berdesis.
“Ibunda dapat mempergunakan alasan apa-pun
yang baik menurut ibunda.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dipandanginya wajah anaknya yang muram. Tampak pada sorot matanya, bahwa ia
sedang menahan gejolak yang dahsyat didadanya.
“Kasihan anak ini,“ berkata Ken Dedes
didalam hatinya. Ia harus segera menemukan jalan untuk menyelamatkan anaknya.
Bukan saja dari kedudukannya, tetapi lebih daripada itu, tekanan jiwa yang
semakin hari menjadi kian menghimpit hati itu, akan dapat membuatnya kehilangan
keseimbangan. Anusapati dapat menjadi liar dan tidak terkendali. Namun ia akan
dapat juga menjadi patah dan kehilangan segenap gairah hidupnya.
Karena itu, maka kedatangan Mahisa Agni
memang sangat penting baginya. Ia adalah satu-satunya orang yang masih dapat
dipercaya sepenuhnya.
“Anusapati,“ berkata Ken Dedes kemudian,
“baiklah. Aku akan berusaha. Mungkin aku harus berpura-pura atau berbohong. Aku
tidak pernah dengan sengaja melakukan hal semacam itu. Tetapi kali ini aku
menganggap perlu. Bukan saja karena kau menghendaki demikian, tetapi akulah yang
ingin berbuat.”
“Baiklah ibunda,“ sahut Anusapati, “aku
harus segera menemukan jalan untuk melepaskan diri dari keadaan ini. Mungkin
ayahanda sengaja membuat aku kehilangan pegangan dan menjadi gila. Gila adalah
alasan yang paling baik untuk menyingkirkan aku dari kedudukanku. Tetapi gila
adalah suatu keadaan yang paling tidak menyenangkan dalam kemungkinan apa-pun
juga.”
Terasa sesuatu tergores dihati Ken Dedes.
Luka dihati Anusapati memang sudah menjadi semakin parah.
Sepeninggal Anusapati, maka Ken Dedes-pun
duduk termenung. Berbagai persoalan lewat dihatinya. Namun akhirnya ia berdesah,
“Aku terpaksa melakukannya.”
Maka Ken Dedes-pun memutuskan untuk memohon
kepada Sri Rajasa agar Mahisa Agni diperkenankan menengoknya, karena ia sedang
sakit. Pura-pura sakit.
“Apa katamu?“ bertanya Sri Rajasa kepada
seorang emban yang menghadap atas perintah Permaisuri.
“Ampun tuanku,“ jawab emban itu, “hamba
mendapat perintah dari tuanku Permaisuri untuk menyampaikan pesan Tuan Puteri,
bahwa Tuan Puteri sekarang sedang sakit.”
“Sakit?“ bertanya Sri Rajasa dengan heran.
“Hamba tuanku. Sudah dua hari Tuan Puteri
tidak bangkit dari pembaringan.”
Sri Rajasa termenung sejenak. Sudah
beberapa hari ia tidak datang kebangsal Permaisuri. Memang itu adalah
kekhilafannya. Ternyata sudah dua hari Ken Dedes menderita sakit.
“Biarlah ia mati,“ terdengar suara
dihatinya yang paling dalam. Tanpa disadarinya maka bagi Ken Arok yang bergelar
Sri Rajasa itu, Ken Dedes memang sudah tidak ada lagi. Jika masih juga ia
kadang-kadang datang ke bangsal Permaisuri itu, maka bagi Sri Rajasa, hal itu
merupakan kuwajiban yang paling menjemukan.
Namun tiba-tiba saja terbayang kembali
saat-saat ia melihat Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu di taman yang sedang
dibuatnya di padang Karautan. Dengan indera halusnya, ia melihat cahaya pada
tubuh Permaisuri itu.
“Ia akan melahirkan raja-raja besar ditanah
ini,“ tergiang suara seorang brahmana.
Seakan-akan terbayang dengan jelas
penglihatannya pada waktu itu. Seorang perempuan yang cantik tiada taranya dan
cahaya memancar dari tubuhnya.
Perempuan itu telah membuat gila pada waktu
itu, sehingga ia telah membunuh mPu Gandring dan Akuwu Tunggul Ametung.
Mengumpankan Kebo Ijo dan bahkan karena perbuatannya pula, maka Mahisa Agni
telah naik ke arena melawan Panglima Pasukan Pengawal pada waktu itu, Witantra.
“Banyak peristiwa telah terjadi,“ berkala
Ken Arok didalam hatinya, “apakah sekarang aku tidak menghiraukannya lagi karena
sudah ada Ken Umang yang seolah-olah masih tetap muda?”
Tetapi tiba-tiba Ken Arok menggeram didalam
dirinya, “Bukan. Bukan Ken Dedes yang akan melahirkan raja-raja besar di tanah
ini. Akulah yang berhak menentukan, siapakah yang akan mewarisi tahta Singasari
kelak.”
Sesaat Ken Arok masih digulat oleh
pergolakan didalam dirinya, sehingga emban yang menghadapnya sama sekali tidak
berani berbuat apa-pun juga, selain duduk tepekur sehingga kepalanya menjadi
pening karenanya.
Namun akhirnya ia berkata kepada emban itu,
“Kembalilah. Aku akan datang menengoknya nanti.”
“Hamba tuanku. Hamba akan menyampaikannya
kepada tuanku Permaisuri.”
Sepeninggal emban itu, Ken Arok masih saja
merenung. Kadang-kadang timbullah niatnya untuk mengusahakan penyembuhan bagi
Permaisuri jika sakitnya memang agak berat. Tetapi kadang-kadang
ia justru melihat bahwa hal ini akan
semakin menekan perasaan Anusapati dan membuatnya semakin bingung.
“Anusapati benar-benar sudah tidak aku
perlukan.“ desis Sri Rajasa, “sebenarnya aku masih mengharapkan agar Ken Dedes
tetap baik. Hidupnya yang prihatin selama ini membuat dirinya menjadi lebih tua
dari umurnya yang sebenarnya. Tetapi aku sama sekali tidak senang kepada anak
Tunggul Ametung itu.“ tiba-tiba Sri Rajasa menggeram, “kenapa aku tidak berterus
terang kepada rakyat Singasari sejak semula, meski-pun aku yakin, sebagian dari
mereka sudah mengetahuinya.”
Tetapi Sri Rajasa tidak dapat mengulangi
apa yang sudah lalu. Yang sekarang ada, adalah Anusapati, putera Tunggul Ametung
yang lahir dari permaisurinya, sebagai seorang Putera Mahkota yang telah
diangkatnya sendiri, dan diakui oleh rakyat Singasari, bahkan bukan saja sebagai
Putera Mahkota tetapi juga sebagai pelindung dalam pakaian Kesatria Putih.
Sejenak Sri Rajasa masih merenung. Namun
kemudian ia-pun segera berdiri dan berkata kepada diri sendiri, “Aku akan
menengoknya. Jika keadaannya memungkinkan, aku justru akan mendapat kesempatan
untuk menyampaikan niatku. Dalam keadaan sakit ia akan dapat menahan gelora hati
Anusapati, karena agaknya Anusapati sangat mengasihi ibunya. Aku akan minta Ken
Dedeslah yang menyatakan keadaan anaknya itu yang sebenarnya. Dengan demikian,
maka akan ada suatu kemungkinan, bahwa Anusapati yang merasa dirinya tidak
berhak atas tahta itu mengundurkan dirinya atas permintaan sendiri. Sesudah itu,
untuk melenyapkan pengaruhnya, maka jalan yang mana-pun akan lebih mudah
ditempuh, karena apabila ia bukan lagi seorang Putera Mahkota, maka hidupnya
tidak akan lagi menjadi pusat perhatian rakyat Singasari. Meski-pun tidak dengan
serta-merta, dan dalam waktu yang pendek, namun akhirnya Anusapati pasti akan
tersingkir dari hati rakyat Singasari, dan bahkan tersingkir untuk
selama-lamanya.”
Sri Rajasa kemudian mengangguk-anggukkan
kepalanva. Rencananya ini dapat dijadikannya salah satu jalan dari jalan yang
lain yang masih direncanakannya.
“Baru sesudah Anusapati menyadari dirinya,
aku akan berusaha menyembuhkan Ken Dedes,“ berkata Sn Rajasa didalam hatinya.
Demikianlah maka Sri Rajasa-pun
menyampaikan maksudnya itu kepada penasehatnya untuk mendapat penimbangan.
Ternyata bahwa hal itu benar-benar telah menarik perhatiannya dan dengan
serta-merta ia berkata, “Bagus sekali tuanku. Hamba kira kali ini tuanku akan
berhasil. Selagi tuanku Permaisuri sakit, tuanku Anusapati tentu tidak akan
berbuat apa-pun juga. Ia akan menekan perasaannya dan bahkan akan melihat
kedalam dirinya sendiri, bahwa sebenarnyalah ia tidak berhak atas kedudukannya.”
“Tetapi apakah menurut pertimbanganmu Ken
Dedes akan bersedia mengatakannya?“
“Hamba berharap bahwa tuanku dapat
membujuknya selagi ia sakit.”
“Tetapi apakah ia tidak akan sampai kepada
rahasia yang paling dalam pernah terjadi di Singasari?“
“Rahasia yang mana tuanku? Maksud tuanku
bukankah tuanku Permaisuri harus mengatakan rahasia itu kepada puteranya itu?
Bahwa tuanku Anusapati memang bukan putera tuanku Sri Rajasa?”
Sri Raiasa menarik nafas dalam-dalam.
Selain rahasia itu masih ada rahasia lain yang tidak kalah besarnya. Meski-pun
tidak pasti, tetapi Permaisurinya tentu pernah menangkap suatu siratan
kata-katanya, bahwa ia telah menyingkirkan Akuwu Tunggul Ametung dengan sengaja.
“Perempuan itu kadang-kadang masih memuji
suaminya yang telah mati itu,“ berkata Ken Arok didalam hatinya, sehingga karena
itu, kadang-kadang ia terdorong untuk mengatakan sesuatu yang dapat memberikan
kesan tentang pembunuhan yang pernah dilakukan.
“Tetapi ia tidak akan mengatakannya,“
berkata Sri Rajasa didalam hatinya pula, “ia akan kehilangan aku, dan ia akan
kehilangan pegangan hidupnya. Jika Anusapati tahu bahwa aku yang telah membunuh
ayahnya, maka hal ini akan menghadapkan Ken Dedes pada persoalan yang paling
sulit didalam hidupnya, ia harus memilih, anaknya atau suaminya. Dan Ken Dedes
tentu tidak akan berani kehilangan suaminya yang kini berkuasa di Singasari.”
Demikianlah maka akhirnya Sri Rajasa
mengambil keputusan, bahwa ia benar-benar akan minta kepada Ken Dedes yang
sedang dalam keadaan sakit itu untuk mengatakan saja kepada anak laki-lakinya,
bahwa sebenarnya ia memang bukan putera Sri Rajasa. Sri Rajasa-pun yakin pula,
bahwa Ken Dedes tidak akan berani membuka rahasia yang lebih besar lagi, karena
ia justru tidak mau kehilangan salah seorang dari dua orang laki-laki yang
sama-sama penting baginya. Suaminya dan anaknya. Jika ia diam dalam hubungan
dengan terbunuhnya Tunggal Ametung, maka ia tidak akan melihat alasan apa-pun
yang dapat membahayakan jiwa anaknya selain kehilangan gelarnya sebagai Putera
Mahkota.
“Persoalan selanjutnya akan menjadi lebih
mudah,“ berkata Ken Arok kepada diri sendiri.
Maka ketika ia benar-benar pergi kebangsal
Permaisurinya, ia sudah menyiapkan kalimat-kalimat yang paling baik dikatakan
untuk mendesak agar Ken Dedes yang dianggapnya sakit itu tidak berkeberatan
untuk mengatakannya.
Ketika ia memasuki bilik Permaisuri,
dilihatnya Permaisuri yang pucat berbaring dipembaringannya berselimut kain
panjang berwarna kelam. Dengan demikian seakan-akan Permaisuri itu benar-benar
dalam keadaan sakit yang agak berat.
“Ampun tuanku, hamba tidak dapat menyambut
kedatangan tuanku sebagaimana seharusnya.”
“Berbaringlah,“ berkata Sri Rajasa, “jika
kau masih merasa sakit, kau dapat mengesampingkan tata cara yang seharusnya
berlaku.”
“Terima kasih tuanku,“ jawab Ken Dedes.
Ken Aroklah yang kemudian berdiri disisi
pembaringan Permaisurinya. Dengan dada yang berdebar-debar dipandanginya wajah
yang suram dan pucat itu.
Bagaimana-pun juga, ketika ia sudah berdiri
disamping Ken Dedes yang terbaring itu, terasa sesuatu telah menyentuh hatinya.
Sekilas terbayang kembali bagaimana ia menjadi tergila-gila disaat-saat ia
melihatnya untuk pertama kali. Kecantikan perempuan padepokan Panawijen itu
benar-benar telah mencengkamnya, sehingga ia telah berbuat gila karenanya. Namun
kegilaannya saat itu telah mendorongnya sehingga ia kini berada diatas tahta
Singasari.
Ken Arok itu-pun menarik nafas dalam-dalam.
Kecantikan Ken Dedes masih tampak pada wajahnya yang berkerut-merut. Bahkan
semakin tajam Sri Rajasa memandanginya, tampaklah olehnya bahwa perempuan ini
lebih cantik dari Ken Umang. Namun Ken Umang adalah perempuan yang segar dan
kadang-kadang tubuhnya panas membara, sehingga Sri Rajasa telah dicengkamnya
lahir dan batinnya.
Tetapi dihadapan Ken Dedes yang sedang
sakit, hati Sri Rajasa seakan-akan menjadi luluh. Ia tidak dapat melupakan apa
yang pernah terjadi disaat-saat mereka masih cukup muda untuk memadu hati.
Tetapi kini anak-anak mereka seorang demi seorang telah lahir dan menjadi
dewasa. Bahkan cucu-cucunya-pun telah lahir pula, sehingga masa-masa yang indah
itu hanyalah tinggal merupakan suatu kenangan. Namun kenangan masa lampau itu
kadang-kadang memang menumbuhkan kerinduan.
“Apakah yang kau rasakan?“ Sri Rajasa-pun
kemudian bertanya dengan suara yang dalam.
“Ampun tuanku, hamba tidak tahu apakah
sebenarnya sakit hamba. Tetapi rasa-rasanya badan hamba menjadi terlalu lemah
dan kepala hamba menjadi pening.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “biarlah aku mengundang dukun yang paling pandai dinegeri ini. Kau akan
segera disembuhkan.“
“Tidak perlu tuanku. Biarlah hamba minum
obat yang setiap hari disediakan oleh seorang emban. Hamba merasa, bahwa keadaan
hamba menjadi bertambah baik.”
Sri Rajasa terdiam sejenak. Ada semacam
benturan perasaan didalam dirinya. Kadang-kadang ia masih juga teringat, rencana
yang sudah dipikirannya masak-masak. Namun jika ditatapnya wajah Ken Dedes yang
membayangkan masa-masa mudanya, ia menjadi ragu-ragu.
Namun sejenak kemudian ia berkata, “Apakah
kau yakin bahwa kau akan sembuh karena obat itu?”
“Ya tuanku.”
“Obat apakah itu?”
“Pipisan tela grandel selengkapnya. Akar,
kulit, pelepah, daun dan buahnya yang masih sangat muda, serta beberapa lembar
bunga dan daunnya.”
“Hanya itu?“
“Hamba tuanku.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ia-pun kemudian berjalan mondar mandir didalam bilik itu. Sejenak ia berdiri di
muka geledeg kayu berukir melihat-lihat beberapa buah benda yang terletak
didalamnya.
Dalam pada itu, dari beberapa benda itu Sri
Rajasa melihat bayangan masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung. Diantara
beberapa macam benda-benda itu adalah peninggalan Akuwu Tumapel yang sudah
terbunuh. Diantaranya adalah sebuah gading gajah yang panjang berukir dibungai
dengan ukiran emas pada pangkal dan ujungnya. Sebuah tempurung tempat minum
berukir
emas pula dan sebuah selongsong tombak
disamping beberapa macam benda-benda yang lain.
Ada sesuatu yang aneh melonjak didalam
hatinya. Tiba-tiba saja kebenciannya pada masa lampau itu tumbuh dengan serta
merta, merenggut kerinduannya yang mulai kabur. Ia sama sekali tidak lagi
melihat masa lampau yang indah selagi ia masih muda.
Perlahan-lahan Sri Rajasa berpaling.
Dilihatnya wajah Ken Dedes yang sudah mulai berkerut dilukisi garis-garis umur.
“Ia memang cantik. Tetapi aku tidak
mengambilnya selagi ia masih gadis. Aku mengambilnya setelah ia mengandung.
Akuwu Tunggal Ametunglah yang memiliki kagadisannya. Bukan aku. Dan sekarang
dari padanya lahir seorang anak laki-laki yang selalu menimbulkan persoalan
bagiku.”
Tiba-tiba saja Sri Rajasa mengatupkan
giginya. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati Ken Dedes yang masih berbaring
diam. Kini ia mendapat dorongan untuk mengatakan niatnya, agar Ken Dedes
mengatakan saja kepada anaknya, siapakah ia sebenarnya, agar Anusapati tidak
merasa dirinya terlampau besar dan menganggap bahwa ia menduduki jabatannya
dengan sah.
Sejenak Sri Rajasa termangu-mangu ditepi
pembaringan. Namun hatinya telah pasti bahwa ia harus mengatakannya.
“Tetapi aku tidak boleh hanyut oleh arus
perasaanku,“ katanya didalam hati.
Karena itulah, maka wajahnya-pun menjadi
cerah kembali. Bahkan perlahan-lahan ia duduk dipembaringan itu sambil meraba
dahi Permaisurinya.
“Kau panas sekali,“ berkata Sri Rajasa.
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Tetapi ia
menyahut, “Ya tuanku. Hamba memang merasa panas sekali.”
Sri Rajasa menarik nafat dalam-dalam.
Kemudian katanya, “Kau harus beristirahat sebaik-baiknya. Jangan kau hiraukan
lagi apa-pun
yang terjadi. Kau harus pula mengosongkan
rahasia yang ada didalam dirimu, agar kau tidak selalu dikejar-kejarnya siang
dan malam.”
Dada Ken Dedes menjadi berdebar-debar. Ia
tidak tahu maksud Ken Arok. Justru ketika ia tampaknya dalam keadaan sakit Sri
Rajasa minta ia mengosongkan dirinya.
“Apakah itu berarti bahwa Sri Rajasa
menganggap bahwa aku sudah akan mati, atau justru Sri Rajasa mengharap aku
mati?“ bertanya Ken Dedes kepada diri sendiri, “seseorang yang akan mati memang
sebaiknya mengosongkan dirinya sendiri dari segala rahasia dan endapan perasaan,
agar terbukalah jalan yang licin dihadapannya apabila ia memang sudah iklas.”
Dalam pada itu sebelum Ken Dedes bertanya,
Ken Arok sudah mendahuluinya, “Maksudku, kau tidak lagi dibebani oleh berbagai
macam perasaan yang dapat mempengaruhi dirimu, mempengaruhi kesehatanmu.
Tampaknya kau memang sudah mulai dijamah oleh berbagai macam penyakit. Karena
itu, supaya kau tidak terlalu dibebani oleh berbagai macam persoalan, maka kau
dapat mengurangi tekanan-tekanan yang menghimpit jantung. Dengan demikian hatimu
menjadi agak terbuka, dan badanmu akan menjadi sedikit terlepas dari tekanan
itu. Mudahnan kau berangsur-angsur menjadi baik.”
Permaisuri itu menarik nafas dalam-dalam.
Hampir saja ia salah sangka. Ternyata bahwa Sri Rajasa tidak mengharap ia segera
mati, meski-pun ia tidak tahu pasti apa yang terpikir didalam hatinya.
“Tuanku,“ berkata Ken Dedes dengan suara
gemetar, “apakah yang dapat hamba lakukan untuk mengurangi beban perasaan
hamba?”
“Ken Dedes,“ berkata Sri Rajasa, “aku tahu,
bahwa hampir sepanjang hidupmu sebagai permaisuri di Singasari, kau terpaksa
menyimpan suatu rahasia untuk melindungi namaku. Aku sangat berterima kasih.
Jika rahasia itu adalah rahasia kecil yang harus kau sembunyikan dari tangkapan
rakyat Singasari, mungkin kau tidak
akan menjadi begitu perasa dan bahkan
menjadi sakit-sakitan. Tetapi aku tahu, bahwa rahasia ini adalah rahasia anak
laki-lakimu. Dan aku tahu, bahwa pada suatu saat ia pasti akan bertanya tentang
dirinya. Ada lebih dari separo penghuni istana, terutama yang tua-tua yang
sebenarnya mengetahui siapakah Anusapati itu. Aku menjadi kasihan kepadanya,
bahwa pada suatu ketika ia mendengarnya justru dari orang lain, sehingga mudah
sekali akan timbul salah paham. Dan aku juga kasihan kepadamu, bahwa kau harus
menahan hatimu untuk tetap menyimpan rahasia itu.“ Sri Rajasa berhenti berhenti
sejenak. Lalu, “Sekarang Anusapati sudah dewasa. Ia sudah dapat menimbang baik
dan buruk. Ia sudah dapat mengetahui mana yang boleh dan yang tidak boleh
dikerjakan.”
Kini dada Ken Dedes yang mulai tenang itu
menjadi berdebar-debar kembali. Sejenak ditatapnya wajah Sri Rajasa, namun ia
tidak mengucapkan kata-kata.
Sri Rajasa yang kemudian berdiri dan
berjalan mondar-mandir diruangan itu berkata, “Apakah kau mengerti maksudku Ken
Dedes?”
Dada Ken Dedes menjadi semakin berdebaran.
Namun ia mengangguk kecil sambil menjawab, “Hamba mengerti tuanku.”
“Kau jangan salah paham. Aku tidak akan
berbuat sesuatu atas dasar pengakuanmu terhadap anakmu. Ia akan tetap aku anggap
sebagai anakku sendiri.”
Dada Ken Dedes terasa menjadi semakin
sesak. Dan tiba-tiba ia merasa bahwa tubuhnya benar-benar menjadi panas.
“Ken Dedes,“ berkata Sri Rajasa, “sudah
lama kau menjaga namaku baik-baik. Sudah cukup lama, selagi Anusapati masih
belum cukup masak untuk mengetahui dirinya sendiri, sehingga dicemaskan ia akan
berbuat sesuatu. Tetapi sekarang aku kira ia akan dapat melihat bahwa yang
terjadi itu sudah terjadi. Dan aku berharap bahwa hal itu tidak akan membuatnya
berkecil hati, asal kau dapat memberinya hati dan mengatakan bahwa Akuwu Tunggul
Ametung adalah seorang yang besar pada
masanya ia masih berkuasa.“
Dada Ken Dedes bagaikan tidak lagi dapat
memuat gejolak perasaannya yang melonjak-lonjak. Namun ia masih tetap bertahan
dan mencoba untuk tidak menangis karena kata-kata Sri Rajasa itu.
Ternyata bahwa Ken Dedes, bukannya seorang
perempuan yang bernalar tumpul, ia adalah seorang yang cukup cerdas karena
ayahnya-pun adalah seorang yang memiliki kelebihan dari sesamanya. Karena itu,
meski-pun tidak begitu jelas, tetapi ia dapat meraba, apakah sebabnya maka Sri
Rajasa menganjurkannya untuk membuka rahasia itu.
Karena itu, karena luapan perasaan,
tiba-tiba hampir diluar sadarnya Ken Dedes bertanya, “Sampai dimanakah hamba
dapat mengatakan rahasia tentang diri anakku itu tuanku? Apakah pengetahuanku
tentang rahasia itu harus aku katakan tanpa batas?“
Pertanyaan itu tiba-tiba telah mengguncang
hati Sri Rajasa. Ia sadar, bahwa Ken Dedes pasti sudah mengetahui apa yang
sebenarnya telah terjadi. Mungkin dengan tidak langsung lidahnya sendiri pernah
mengatakan, bahwa ia telah berbuat sesuatu untuk mencapai kedudukannya sekarang.
Mungkin karena ia menganggap bahwa Ken Dedes sepenuhnya telah menggantungkan
dirinya, hidup dan matinya, kepadanya, maka ia dapat berbuat dan berkata apa
saja tanpa mencemaskan bahwa Ken Dedes akan berbuat sesuatu.
Namun kini ternyata Ken Dedes bertanya
kepadanya apakah rahasia itu seluruhnya dapat dikatakan kepada anaknya.
Sri Rajasa yang kemudian berdiri tegak
dengan tatapan mata yang tegang itu mencoba menahan gejolak hatinya yang
meronta-ronta.
Sri Rajasa tidak menyangka, bahwa pada
suatu saat ia dihadapan pada pertanyaan serupa itu, yang tumbuh karena
kehendaknya sendiri agar Ken Dedes tidak lagi menyimpan rahasia tentang anaknya.
“Tetapi sampai dimana batas dari rahasia
yang dapat dikatakan kepada Anusapati itu? “ pertanyaan itu justru kini
melengking-lengking dihatinya.
Ketika tampak wajah Ken Dedes yang pucat
dan berkerut merut itu, tiba-tiba saja segala macam perasaan dan tanggung
jawabnya sebagai seorang suami seolah-olah telah lenyap. Ken Dedes kini sudah
bukan Ken Dedes yang muda dan cantik itu lagi. Ken Dedes janda Tunggul Ametung
itu adalah seorang perempuan yang menjadi semakin tua.
“Apalagi gunanya aku menyelamatkan orang
ini,“ berkata Sri Rajasa didalam hatinya.
Dengan demikian maka segala hasrat yang
mulai merayapi hatinya untuk mengusahakan penyembuhan bagi Ken Dedes itu
seakan-akan telah lenyap sama sekali.
Namun demikian Ken Arok sadar, bahwa ia
harus menjawab pertanyaan Ken Dedes itu. Karena itu, maka terdengar suaranya
yang dalam tertahan-tahan, “Kau sudah cukup tua Ken Dedes. Seharusnya kau tidak
bertanya kepadaku. Terserahlah kepadamu apa yang kau anggap baik kau katakan
kepada anakmu itu. Kalau kau ingin mengajarinya menjadi manusia yang baik, kau
tahu, batas-batas yang sebaiknya kau katakan. Tetapi jika kau ingin melihat
anakmu menjadi seorang yang dapat dianggap oleh rakyat Singasari sebagai seorang
yang biadab, kau dapat mengatakan apa saja yang kau ketahui tentang anak itu,
tentang Tunggul Ametung yang sudah mati itu dan tentang aku sendiri.”
“Tuanku.”
“Ya, itulah jawabanku. Ingat, bahwa setiap
usaha untuk mengacaukan Singasari dapat berakibat kematian. Meski-pun ia putera
Mahkota sekalipun.”
“Tuanku, apakah maksud tuanku hendak
mengancam agar aku mengatakan kepada Anusapati bahwa ia bukan putera Tuanku dan
agar aku membuatnya hatinya susut sekecil butiran pasir yang paling lembut?
Kemudian dengan demikian kita semuanya berharap
agar ia merasa terlampau besar untuk
menjadi seorang Putera Mahkota sehingga Anusapati kemudiai lari dari
kedudukannya atas kehendak sendiri? Dengan demikian maka terbukalah kesempatan
bagi tuan untuk menunjuk seorang penggantinya.”
“Cukup, cukup,“ Sri Rajasa hampir
berteriak.
Namun Ken Dedes sama sekali tidak
menghiraukannya. Bahkan tiba-tiba ia bangkit dari pembaringannya dan berkata
lantang, “Tuanku, aku tidak rela jika kedudukan ini jatuh ketangan orang lain
yang bukan keturunan Ken Dedes. Jika tuan tidak senang kepada Anusapati, karena
Anusapati bukan putera tuanku, aku akan mengatakannya kepadanya. Tetapi tahta
Singasari tidak boleh lepas dari keturunan Ken Dedes. Apalagi hamba juga
mempunyai anak laki-laki yang lahir dari tuanku.”
Tubuh Sri Rajasa tiba-tiba menjadi gemetar.
Ia belum pernah melihat Ken Dedes berani menentang kehendaknya. Apalagi
membantah kehendaknya. Namun tiba-tiba ia melihat wajah Ken Dedes yang pucat itu
menjadi merah padam.
Tetapi Sri Rajasa tidak mau surut
selangkah. Ia-pun kemudian berkata, “Apa hakmu mengatur tahta Singasari? Kau
sangka warisan yang kau dapat dari Tunggul Ametung itu cukup berharga
dibandingkan dengan kebesaran Singasari sekarang? Aku tahu, bahwa Tunggul
Ametung pernah menyerahkan semua haknya kepadamu. Tetapi Tunggul Ametung adalah
Akuwu dari Tumapel yang kecil. Sedang kini aku adalah Maharaja dari Singasari
yang besar dan perkasa. Tidak seorang-pun yang dapat memerintah aku. Tidak
seorang-pun yang dapat menahan kehendakku.”
Ternyata kata-kata itu telah memanaskan
hati Ken Dedes. Ken Dedes yang pendiam dan penurut itu tiba-tiba saja telak
menunjukkan sikap yang sama sekali berbeda. Tiba-tiba saja ia berdiri dan
berkata, “Tuanku. Jika tuanku memang berkuasa dan tidak seorang-pun dapat
menahan kehendak dan keinginan tuanku, kenapa tuanku tidak bertindak sendiri.
Kenapa tuanku harus mempergunakan jalan yang panjang untuk mengusir Anusapati?
Sebaiknya tuanku bertindak tegas terhadap anak itu. Tuanku tidak
usah memakai cara seperti yang tuanku
tempuh untuk merebut kedudukan Tunggul Ametung dan mengawini jandanya. Aku tidak
menyesal karena waktu itu, aku yang merasa hidupku kering, menemukan cinta pada
tatapan mata tuan. Aku-pun tidak menyesal ketika aku mengetahui cara yang tuan
tempuh. Tetapi sekarang tuanku tidak usah memakai cara yang berselubung dan
mengorbankan orang lain untuk kepentingan tuan. Tuan dapat menentukan keinginan
tuan karena tuan adalah seorang Maharaja. Tuan-pun tidak pernah mempergunakan
cara yang terselubung untuk menghancurkan Kediri dan tuanku berhasil.”
“Cukup, cukup.”
“Belum tuanku. Hamba masih ingin
mengatakan, bahwa sebaiknya tuanku bertindak sendiri. Apakah tuanku ingin anak
itu pergi dari Singasari atau tuanku ingin membunuhnya sama sekali.“
“Kau sudah gila. Kau sudah gila.“ Sri
Rajasa menggeram. Wajahnya menjadi merah padam karena kemarahan yang
meluap-luap. Hampir saja ia kehilangan pengamatan diri dan bertindak kasar
terhadap Permaisurinya yang dianggapnya sedang sakit itu. Tetapi niatnya segera
luluh ketika tiba-tiba saja ia melihat sesuatu yang sudah lama sekali tidak
dilihatnya. Ketika Ken Dedes menggeretakkan giginya karena marah, tiba-tiba Ken
Arok melihat cahaya yang dahulu pernah dilihatnya. Cahaya yang menyilaukan
memancar dari tubuh perempuan yang lemah itu.
Dengan dada yang berdebar-debar Ken Arok
mengusap matanya. Semula ia tidak begitu yakin akan penglihatannya. Namun
semakin lama cahaya itu seakan-akan menjadi semakin terang.
Sejenak Ken Arok terpaku diam. Tetapi
cahaya yang menyilaukan itu seakan-akan berkata kepadanya, “Akulah yang berhak
menurunkan raja diatas tanah ini. Bukan orang lain.”
Tiba-tiba Ken Ariok menutup kedua belah
matanya dengan tangannya. Tetapi cahaya yang silau itu tidak dapat dihindarinya.
Meski-pun matanya terpejam dan kedua belah telapak tangannya menutup matanya,
tetapi rasa-rasanya ia masih tetap tersilau oleh
cahaya yang pernah dikenalnya. Cahaya yang
telah membuatnya semakin gila disaat mudanya.
Ken Dedes yang sedang marah itu sempat juga
menyaksikan apa yang dilakukan oleh Ken Arok. Dengan terheran-heran ia melihat
sikap yang tidak dimengertinya itu. Kenapa tiba-saja Ken Arok seakana menjadi
silau memandangnya. Sedang Ken Dedes sendiri sama sekali tidak menyadari apa
yang sebenarnya telah terjadi atasnya. Ken Dedes tidak menyadari bahwa dari
dirinya telah memancar cahaya yang menyilaukan kedua mata Sri Rajasa itu.
Apalagi ketika kemudian Ken Arok itu
berkata dengan suara yang terputus-putus sambil memalingkan kepalanya, “Baiklah
Ken Dedes. Aku akan memperhatikan pendapatmu. Aku akan mempertimbangkannya.”
Ken Dedes yang menjadi semakin heran
itu-pun kemudian menjadi cair. Kemarahannya perlahan-lahan menjadi pudar.
Terkenang olehnya apa yang perah terjadi atas Akuwu Tunggul Ametung. Didalam
suatu keadaan yang serupa, selagi Akuwu Tunggul Ametung marah kepadanya,
tiba-tiba saja Akuwu yang berkuasa pada waktu itu-pun menjadi seakan-akan silau
memandangnya.
“Aku tidak mengerti, apakah sebenarnya yang
telah terjadi atasku didalam keadaan ini,“ berkata Ken Dedes didalam hatinya.
Dalam pada itu Sri Rajasa-pun berkata pula,
“Sudahlah Ken Dedes. Aku tidak akan mempersoalkannya lagi. Semua yang kau
katakan akan aku pertimbangkan.”
“Hamba tidak mengerti tuanku,“ berkata Ken
Dedes kemudian. Suaranya sudah jauh berbeda dengan nada suaranya ketika ia
menjadi sangat marah.
Perlahan-lahan Ken Arok-pun berpaling pula.
Ketika ia memandang Permaisuri itu, sinar yang silau itu sudah tidak dilihatnya
lagi.
Sejenak kemudian sadarlah Ken Arok, bahwa
cahaya itu adalah cahaya yang tidak kasat mata wadagnya. Tetapi sinar itu
langsung menembus dinding hatinya dan menyilaukan mata batinnya. Karena itu,
maka ia-pun harus mengakui, bahwa yang dihadapinya kini adalah masih Ken Dedes
yang dahulu, Ken Dedes yang pernah disebut oleh seorang Brahmana, bahwa ia akan
melahirkan raja-raja yang akan berkuasa diatas tanah ini.
Sejenak kemudian, Ken Arok yang bergerlar
Sri Rajasa itu-pun telah berhasil menguasai dirinya kembali. Karena itu maka
ia-pun segera melangkah maju dan berkata, “Ken Dedes jangan kau biarkan hatimu
terbakar. Aku minta maaf, barangkali kata-kataku terdorong oleh gejolak perasaan
yang tidak terkandali.”
“Ampun tuanku. Hamba tidak menganggap
demikian, Hamba-pun mohon maaf, bahwa hamba sudah bertindak diluar keharusan
hamba sebagai seorang isteri dan seorang Permaisuri.”
“Berbaringlah. Bukankah kau sedang sakit?”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia-pun
kemudian duduk kembali dipembaringannya. Katanya, “Ya tuanku. Hamba memang
sedang sakit. Dan itulah sebabnya kadang-kadang hamba kehilangan pengamatan diri
karena badan hamba terlampau panas.”
“Berbaringlah.”
“Hamba tuanku.”
“Berbaringlah. Kau perlu beristirahat.”
Ken Dedes termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian ia-pun membaringkan dirinya diatas pembaringannya. Kemudian ditariknya
selimutnya yang berwarna kelam. Dan sesaat kemudian. Ken Dedes telah kembali
kedalam keadaannya, seakan-akan seseorang yang benar-benar sakit.
“Ken Dedes,“ berkata Sri Rajasa kemudian,
“kau jangan gelisah. Dan berbuatlah apa yang akan kau lakukan.”
“Terima kasih tuanku. Dalam keadaan hamba
ini, perkenankanlah hamba memohon kepada tuanku.”
Sri Rajasa menjadi berdebar-debar. Sejenak
ia termangu-mangu. Jika permohonan itu langsung menyangkut kedudukan Anusapati,
maka hal itu akan sangat membingungkannya. Meski-pun ia sadar bahwa Ken Dedes
adalah seseorang yang memang ditakdirkan untuk melahirkan keturunan raja-raja,
tetapi kenapa harus Anusapati, Putera Akuwu Tunggul Ametung? Bukan keturunan Sri
Rajasa Batara Sang Amurwabmni?
Dalam keragu-raguan itu, terdengar Ken
Dedes berkata, “Ampun tuanku. Hamba tidak akan memohon sesuatu diluar kemauan
tuanku. Hamba hanya memohon agar kakak hamba, Mahisa Agni diperkenankan menengok
hamba didalam keadaan ini.”
“O,“ Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam.
Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah. Baiklah, jika itu yang kau
kehendaki. Aku akan memerintahkan seorang utusan pergi ke Kediri untuk memanggil
Mahisa Agni dan mengatakan kepadanya bahwa kau sedang sakit dan menunggu
kedatangannya, agar ia benar-benar segera datang kemari.”
Ken Dedes masih juga terheran-heran melihat
sikap Sri Rajasa. Tetapi kemudian ia mencoba untuk menyingkirkan teka-teki itu.
Karena itu maka ia-pun menyahut, “Terima kasih tuanku. Hamba mengharap sekali
kedatangan kakang Mahisa Agni.”
“Baik, baik. Aku akan memerintahkannya
sekarang juga.”
Sebelum Ken Dedes menjawab, maka Sri Rajasa
itu-pun dengan tergesa-gesa meninggalkan bilik itu, sehingga Ken Dedes menjadi
semakin heran karenanya. Apakah yang sudah terjadi atas Sri Rajlasa itu, dan
apakah hal itu menguntungkannya atau justru sebaliknya.
“Sri Rajasa seakan-akan dalam ketidak
sadaran,“ berkata Ken Dedes didalam hatinya, “jika ia kemudian menyadari apakah
yang dilakukannya, apakah ia akan kembali menjadi marah dan bertindak kasar
terhadap Anusapati?”
Tetapi Ken Dedes mencoba untuk tidak
mencemaskan anaknya. Ia tahu bahwa anaknya mempunyai kemampuan membela dirinya.
Didalam keadaan yang terpaksa ia tentu tidak akan menyerahkan nyawanya begitu
saja.
“Mudah-mudahan ia dapat menjaga dirinya
sendiri sampai kakang Mahisa Agni datang,“ desis Permaisuri itu.
Dalam pada itu, ketika Ken Arok sampai
diluar pintu bangsal permaisuri dan disambut oleh pengawalnya, seakan-akan ia
merasa terlempar dari sebuah mimpi yang dahsyat. Sejenak ia berdiri
termangu-mangu, dan bahkan sekali-sekali berpaling. Dilihatnya pintu bangsal itu
masih tetap seperti semula. Namun agaknya didalam bangsal itu terdapat sesuatu
yang sudah tidak dikenalnya. namun tiba-tiba saja hadir disaat-saat yang
menentukan.
“Apakah yang mempengaruhi keadaan ini, dan
apakah Ken Dedes menyadari keadaan dirinya?“ bertanya Sri Rajasa kepada diri
sendiri.
Namun Sri Rajasa tidak menemukan jawabnya.
Sekali-sekali timbullah niatnya untuk meyakinkan sekali lagi, apakah dalam
keadaan marah cahaya itu menampakkan dirinya atau dalam keadaan yang gawat bagi
Ken Dedes atau dalam keadaan yang mana yang dapat mempengaruhi sehingga cahaya
itu timbul?
Tetapi niat itu diurungkannya. Dengan
tergesa-gesa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu-pun kemudian meninggalkan
tangga bangsal Permaisuri itu.
Beberapa orang emban yang melihatnya
menjadi terheran-heran. Mereka tidak mengerti sikap Sri Rajasa yang aneh. mereka
mendengar suara Sri Rajasa yang agak keras didalam bilik Permaisuri, bahkan
kemudian suara Permaisuri keras pula sehingga mereka menjadi gemetar dan
ketakutan. Jika Sri Rajasa marah dan Permaisuri marah pula, mereka tentu akan
bertengkar. Hal yang hampir tidak pernah terjadi, karena Permaisuri tidak pernah
membantah atau mengelakkan kata-kata Sri Rajasa.
Namun tidak seorang-pun yang berani
mempercakapkan hal itu. Mereka hanya menyimpannya didalam hati masing-masing.
Dalam pada itu, Sri Rajasa-pun langsung
memanggil beberapa orang perwira. Diperintahkannya untuk mengutus seorang gandek
pergi ke Kediri untuk memanggil Mahisa Agni atas namanya.
“Beritahukan bahwa adiknya Ken Dedes sedang
sakit dan mengharap kedatangannya segera.”
“Hamba tuanku. Hamba akan memerintahkan
seseorang untuk berangkat hari ini.”
Demikianlah, perwira itu-pun segera pergi
menemui seorang utusan yang diperintahkannya saat itu juga berangkat untuk
menyampaikan perintah Sri Rajasa, memanggil Mahisa Agni.
Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Mahisa
Agni sudah menunggu, kapan Sri Rajasa memanggilnya. Bahkan hampir tidak bersabar
ia menanti hari-hari berikutnya.
Demikianlah ketika utusan Sri Rajasa
menghadapnya, Mahasa Agni-pun menarik nafas dalam-dalam.
“Apakah tuan Puteri sedang sakit panas atau
pening atau sakit apa?”
“Hamba tidak mengetahuinya.”
“Baiklah. Aku akan segera pergi ke
Singasari. Sampaikan kepada Sri Rajasa, bahwa setelah aku mempersiapkan diri dan
meninggalkan pesan-pesan di Kediri, aku akan segera pergi ke Singasari.”
Sepeninggal utusan itu, maka Mahisa
Agni-pun segera mempersiapkan diri. Setelah berpesan kepada para pemimpin Kediri
dan juru tamannya, maka ia-pun segera mempersiapkan kudanya.
“Apakah kau akan pergi sendiri?“ bertanya
Kuda Sempana yang menjadi juru taman pula di istana Kediri.
“Ya. Aku akan pergi sendiri. Tetapi aku
berharap dapat menemui kakang Witantra atau Mahendra. Jika aku tidak bertemu
dengan keduanya, sampaikan kepada mereka, bahwa aku pergi ke Singasari. Agaknya
aku harus mengambil sikap yang pasti menghadapi Sri Rajasa dan Tohjaya. Aku
tidak mengerti, apa yang sekarang telah mereka rencanakan.”
“Baiklah. Mudah-mudahan kau berhasil. Jika
keturunan Panawijen berhasil mempertahankan gelarnya, aku akan berbangga.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi sesuatu telah terbersit dihatinya. Seperti dirinya sendiri, Kuda
Sempana-pun pernah tergila-gila kepada Ken Dedes. Namun ia tidak berhasil
mendapatkannya karena Akuwu Tunggul Ametung. Namun kini ia tidak dapat mendendam
anak Akuwu itu. Bahkan sebaliknya. Ia merasa wajib melindunginya, karena ia
adalah anak Ken Dedes.
Demikianlah dihari berikutnya Mahisa Agni
bersiap untuk pergi ke Singasari. Ternyata ia masih sempat bertemu dengan
Witantra karena setiap kali baik Witantra mau-pun Mahendra selalu datang
menghubunginya. Kadang mereka datang bersama-sama, kadang-kadang mereka datang
berganti-gantian.
“Agaknya kita akan sampai pada batas
terakhir dari ceritera yang sangat menarik ini. Perang yang diam-diam terjadi
diantara para penjabat tinggi di Singasari. Antara putera Sri Rajasa dan antara
Sri Rajasa dengan Permaisuri. Kekalutan ini memang harus segera diakhiri. Tetapi
kita harus menemukan akhir yang paling baik.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun kemudian ia berdesis, “Yang paling baik itu-pun masih mempunyai beberapa
kemungkinan. Paling baik bagi Sri Rajasa akan berbeda, dengan yang paing baik
bagi Anusapati.”
“Ya,“ Mahisa Agni mengangguk-anggukkan
kepalanya, “itulah kelemahan kita sebagai manusia. Kita masih didasari penilaian
dari sudut pandangan dan kepentingan diri sendiri. Didalam keadaan
yang gawat, kadang-kadang kita hanya
mengenal suara hati sendiri.”
“Baiklah Agni. Pergilah. Kehadiranmu akan
sangat bermanfaat bagi Anusapati yang memerlukan pertimbangan. Sudah tentu bahwa
Sumekar tidak akan dapat memberikan pertimbangan sebanyak yang dapat kau
berikan.”
“Terima kasih. Mungkin didalam suatu saat
yang berbahaya, aku memerlukan kau, Mahendra dan Kuda Sempana. Aku tidak tahu
apa yang akan terjadi nanti. Tetapi gambaran yang sekarang terbayang adalah
kekerasan. Namun sampai dimana batasnya itulah yang tidak aku ketahui.”
Demikianlah maka Mahisa Agni-pun segera
pergi ke Singasari. Seperti biasanya, ia hampir tidak pernah membawa seorang
pengawalpun. Namun kali ini Witantra merasa curiga. Jika utusan itu sekedar
memancing perjalanan Mahisa Agni dan mencegatnya diperjalanan seperti yang
pernah dilakukan didalam istananya di Kediri, maka kekalutan-pun pasti akan
bertambah. Karena itu, maka ia-pun mengikutinya dari kejauhan bersama Kuda
Sempana, meski-pun mereka berangkat tidak dalam waktu yang bersamaan. Namun
mereka-pun bertemu pada suatu sidatan jalan memintas dan langsung mengikuti dan
mengawasi perjalanan Mahisa Agni dari kejauhan. Mahisa Agni-pun menyadari bahwa
Witantra dan Kuda Sempana sedang membayanginya. Sekali-sekali ia berpaling,
namun ia tidak memberikan isyarat apa-pun kepada kedua orang itu.
Disepanjang perjalanan Mahisa Agni tidak
menjumpai kesulitan apa-pun juga. Ternyata tidak ada seorang-pun yang
menunggunya dikelokan-kelokan jalan. Juga ketika hari menjadi malam. Meski-pun
demikian Mahisa Agni tetap berhati-hati agar tidak seorang-pun yang dapat
menyergapnya dengan tiba-tiba.
Ketika Mahisa Agni mulai memasuki kota
Singasari, maka barulah Witantra dan Kuda Sempana melepaskan pengawasannya dan
mereka-pun segera kembali ke Kediri meski-pun mereka harus berhenti dan
beristirahat di tengah-engah padang rumput karena kudanya yang payah. Diberinya
kudanya kesempatan minum air dari
belik di pinggir sungai dan makan
rerumputan yang hijau sementara keduanya duduk bersandar batu yang besar.
Ternyata keduanya-pun sempat terkantuk-kantuk, dan bahkan kadang-kadang terlena
sejenak.
Ketika kuda-kuda mereka sudah beristirahat,
maka mereka-pun segera kembali ke Kedi'ri, meski-pun mereka tidak lagi berpacu
cepat-cepat.
Ketika mereka sampai ke Kediri, maka Kuda
Sempana-pun harus membuat ceritera kepada kawan-kawannya, kemana selama ini ia
pergi, karena ketika ia berangkat, ia hanya minta ijin sejenak. Tetapi ternyata
ia pergi selama dua hari.
“Jika hal ini didengar oleh tuan Mahisa
Agni, maka kau akan dimarahinya,“ berkata pemimpin juru taman, “bahkan mungkin
kau akan dipecat.”
“Aku minta maaf. Aku tidak akan
mengulanginya lagi. Adalah suatu halangan yang tidak dapat aku atasi, bahwa aku
kali ini tidak menepati janjiku untuk kembali disiang hari.”
“Kau dapat mengarang seribu alasan. Tetapi
yang penting kau tidak akan mengulangi kesalahan ini.“
“Ya, ya. Aku tidak akan mengulanginya.“
Namun demikian Kuda Sempana mengumpat didalam hatinya karena pemimpin juru taman
itu memarahinya.
Dalam pada itu, Mahisa Agni-pun telah
berada didalam lingkungan istana Singasari. Tetapi ia tidak langsung menemui Ken
Dedes. Lebih dahulu, ia harus menghadap Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi untuk
melaporkan kehadirannya.
“Adikmu itu sedang sakit,“ berkata Sri
Rajasa kepada Mahisa Agni. “ia mohon kepadaku, agar kau menemuinya.”
“Apakah sakit tuan Puteri cukup parah
tuanku?”
“Aku tidak tahu. Tetapi ia sudah mencoba
mengobati dirinya sendiri dengan dedaunan yang dibuat oleh emban. Ia masih belum
bersedia untai berobat pada seorang tabib
yang paling pandai. Mudah-mudahan ia segera sembuh.”
“Hamba tuanku, jika berkenan dihati tuanku,
hamba akan pergi menemui tuan Puteri itu tuanku.”
“Pergilah. Tetapi jagalah agar ia tidak
mengigau dan berbicara tentang sesuatu yang tidak disadarinya sendiri.”
“Hamba tuanku. Hamba akan berusaha
menyaring pembicaraannya.”
“Baiklah. Panas tubuhnya telah membuatnya
kadang-kadang tidak sadar atas apa yang dikatakannya sendiri.”
Mahisa Agni-pun kemudian mohon diri untuk
pergi ke bangsal Permaisuri yang dikatakan oleh Sri Rajasa sedang sakit itu.
Permohonan Mahisa Agni untuk menghadap,
segera diberitahukan oleh seorang emban kepada Permaisuri. Karena Permaisuri
ternyata tidak berkeberatan meski-pun sedang sakit, maka Mahisa Agni-pun segera
menghadap pula.
“Duduklah,“ berkata Ken Dedes kepada Mahisa
Agni.
“Terima kasih tuan Puteri,“ sahut Mahisa
Agni yang kemudian duduk diatas sebuah dingklik kayu disebelah pembaringan Ken
Dedes.
Tetapi Ken Dedes-pun lalu bangkit. Bahkan
ia-pun berdiri dan menutup pintu biliknya.
“Kadang-kadang satu dua orang emban lewat
diluar,“ berkata Ken Dedes.
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.
“Sudah lama aku ingin bertemu dengan kakang
Mahisa Agni,“ berkata Ken Dedes, “sehingga akhirnya Anusapati-pun
menganjurkannya.”
“Ya tuan Puteri.”
“Hatiku sudah menjadi semakin terpecah
belah mendengar keluhan-keluhan Anusapati disaat-saat terakhir. Agaknya anak itu
hampir tidak tahan lagi mengalami tekanan jiwa yang semakin parah.”
“Hamba tuan Puteri.”
“Karena itu kakang, aku ingin mendengar
pendapatmu. Apakah yang sebaiknya aku lakukan dan apakah yang sebaiknya
dilakukan oleh Anusapati.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
“Keluhan apakah yang terakhir dikatakan
oleh Putera Mahkota itu?“ bertanya Mahisa Agni.
“Sri Rajasa kini selalu marah kepadanya
justru di muka banyak orang, di muka para pemimpin tertinggi Singasari dan para
Panglima. Bahkan pernah Sri Rajasa mengancam untuk menyingkirkan Putera Mahkota
dan sebagaimana dikatakan, Sri Rajasa berhak untuk menentukan sikap atas hal
itu.“
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Sri Rajasa dengan sengaja menyakiti hati Anusapati.”
“Ya kakang. Dan yang terakhir ketika Sri
Rajasa datang menengok aku karena aku mengatakan bahwa aku memang sakit,
menasehatkan agar aku tidak dibebani oleh rahasia yang mungkin dapat memperberat
sakitku.”
“Maksudnya?”
“Sri Rajasa menasehatkan agar aku
mengatakan saja kepada Anusapati, bahwa sebenarnya ia bukan putera Sri Rajsa.”
“He,“ Mahisa Agni terkejut, “kenapa begitu?
Dan mengatakan bahwa Sri Rajasa pulalah yang membunuh Akuwu Tunggul Ametung?”
Ken Dedeslah yang kemudian terkejut
mendengar kata-kata Mahisa Agni itu. Dengan wajah yang tegang ia bertanya, “Kau
mengetahuinya?”
Mahisa Agni memandang wajah Ken Dedes yang
suram betapa-pun tegangnya. Tetapi ia menjadi ragu-ragu dan bahkan menyesal
bahwa tiba-tiba saja ia mengatakan hal itu diluar sadarnya.
“Kakang Mahisa Agni, kau mengetahui bahwa
yang membunuh Akuwu Tunggul Ametung itu adalah Sri Rajasa sendiri?”
Mahisa Agni akhirnya menganggukkan
kepalanya. Katanya, “Kita sudah sama-sama tahu. Langsung tidak langsung kita
pernah memperkatakan hal itu.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
“Jika demikian, apakah maksud Sri Rajasa
sebenarnya? Apakah Sri Rajasa ingin mempercepat penyelesaian?”
“Tidak kakang. Menurut tangkapanku. Sri
Rajasa tidak menghendaki aku mengatakan hal itu. Bahkan Sri Rajasa mengatakan
kemungkinan yang paling buruk jika Anusapati mengetahui hal itu, karena pada
dasarnya ada semacam perasaan benci yang disembunyikan didalam hati Anusapati.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Semakin dalam.
“Tuan Puteri,“ berkata Mahisa Agni
kemudian, “jika demikian kita dapat menduga maksudnya. Anusapati pasti akan
merasa tidak berhak atas tahta Singasari dan dengan sendirinya mengundurkan
diri.“
“Tetapi kakang Mahisa Agni, jika aku
mengatakan hal itu kepada Anusapati, maka aku-pun akan mengatakan, bahwa
sebenarnya akulah yang berhak atas tahta, meski-pun semula adalah tahta Tumapel.
Sri Rajasa dapat mencapai puncak kekuasaannya sekarang karena beralaskan
kekuatan Tumapel. Tanpa Tumapel yang kecil itu, Singasari tidak akan berdiri.
Bukankah istana ini juga istana Tumapel meski-pun diperluas dan diperbaiki?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya kemudian, “Tetapi aku kira lebih baik tidak tuan Puteri. Jangan
dikatakan lebih dahulu kepada Putera Mahkota sebelum Putera Mahkota
mempersiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan.”
“Maksud kakang?”
“Jangan berbuat tanggung-tanggung tuan
Puteri. Anusapati-pun jangan menyeberang sampai ditengah. Jika ia benar-benar
ingin menyeberang, ia harus sampai ketepi. Jika tidak, jangan menyentuh air sama
sekali.”
Ken Dedes memandang Mahisa Agni dengan
sorot mata yang aneh. Namun ia masih tetap berdiam diri. Meski-pun demikian,
didalam dadanya sedang mengamuk badai yang maha-dahsyat, yang
mengguncang-guncang perasaannya.
Untuk sejenak Mahisa Agni-pun hanya berdiam
diri sambil merenung. Memang jalan yang terbentang dihadapan Putera Mahkota
adalah jalan yang terjal dan berbatu padas. Tetapi sebaiknya Anusapati tidak
berhenti ditengah-engah.
Narnun tiba-tiba Ken Dedes bertanya,
“Kakang Mahisa Agni, apakah menurut pendapatmu sekarang Anusapati masih belum
siap menghadapi kemungkinan yang paling sulit bagi dirinya?”
Pertanyaan itu telah mendebarkan dada
Mahisa Agni. Dan tiba-tiba saja pertanyaan itu telah bergejolak semakin dahsyat
didalam dadanya. Terbayang olehnya sebuah trisula kecil yang pernah diberikannya
kepada Anusapati sebagai alat untuk mempertahankan dirinya dalam keadaan yang
paling sulit. Dan trisula itu sama sekali tidak dipersiapkannya untuk melawan
siapapun, selain untuk melawan manusia yag memiliki kemampuan yang ajaib sejak
ia berkeliaran di padang Karautan. Tanpa guru dan tanpa mempelajari dengan cara
yang teratur serta susunan yang mapan hantu padang Karautan itu memiliki
kemampuan jasmaniah dan daya tempur yang luar biasa. Tetapi dihadapan trisula
kecil itu, hantu Karautan sama sekali tidak berdaya. Trisula itu telah
menyilaukannya sehingga tidak mungkin baginya untuk melawan.
Mahisa Agni menarik nafas ketika sekali
lagi Ken Dedes bertanya, “Apakah Anusapati sekarang masih belum siap?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Hamba masih harus menemuinya dan mengetahui tentang dirinya
sepenuhnya. Tetapi jika hal ini benar-benar
telah dimulai, maka tuanku akan dapat membayangkan akhir dari kelanjutan yang
akan terjadi. Adalah sulit sekali untuk menekan gejolak perasaan seorang anak
muda seumur Anusapati. Tentu juga sulit sekali menahan gejolak perasaan Tohjaya
dan bahkan menilik tabiatnya, Sri Rajasa-pun tidak akan mampu berbuat lain dari
pada berpihak kepada Tohjaya.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
Terngiang kata-kata Ken Arok bahwa jika ia mengatakan semua rahasia yang
diketahuinya kepada Anusapati, maka mungkin sekali terjadi bahwa Anusapati akan
berbuat sesuatu yang dapat dianggap biadab oleh rakyat Singasari, dan Sri
Rajasa-pun berkata bahwa siapa saja yang berani mengacaukan Singasari akan
berakibat kematian, meski-pun Putera Mahkota.
Sebenarnya semua itu sudah jelas baginya.
Dan ia kini harus memilih. Apakah ia akan menyerahkan Anusapati sebagai korban
ketamakan Ken Umang yang telah berhasil memperalat Sri Rajasa, atau ia harus
mempertahankan martabatnya sebagai seorang Permaisuri dan sebagai seseorang yang
merasa berhak atas tahta Singasari.
Tetapi pilihan yang pahit itu jelasnya akan
menempatkan dua orang yang sama-sama penting baginya untuk dikorbankan salah
seorang daripada mereka itu dari hatinya. Ia harus rela apabila salah seorang
dari keduanya itu akan hilang dalam arti yang sangat luas.
Dan pilihan yang demikian adalah pilihan
yang paling pedih menyayat hatinya.
Tiba-tiba saja Ken Dedes tidak dapat
menahan gejolak perasaannya, sehingga tanpa disadarinya dari kedua matanya yang
suram menitik air matanya yang bening.
“Kakang Mahisa Agi,“ berkata Permaisuri,
“aku dihadapkan pada keadaan yang hampir tidak tertanggungkan. Kau tahu apa yang
akan terjadi atasku. Aku harus membenturkan dua pihak yang
sama-sama aku cintai. Adalah menyedihkan
sekali bahwa hal ini harus terjadi. Seandainya Sri Rajasa tidak jatuh dibawah
pengaruh perempuan itu, maka semuanya pasti akan sampai pada akhir yang berbeda.
Tetapi kita tidak dapat membebankan kesalahan itu seluruhnya kepada Ken Umang.
Ia berhak berusaha untuk mencapai titik kepuasan yang setinggi-tingginya. Namun
sayang, bahwa ia tidak memilih alas. Ia tidak segan-segan mengorbankan orang
lain untuk memenuhi keinginannya yang melambung setinggi bintang dilangit.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Tuan Puteri benar menurut pikiran hamba. Perempuan itu memang
perempuan yang memiliki nafsu ketamakan yang berlebih-lebihan. Ia sudah mengajar
anaknya untuk mengikuti jejaknya. Dan Sri Rajasa-pun sudah terbenam didalam arus
ketamakannya itu, sehingga ia sama sekali tidak segan-segan untuk mengambil
langkah yang sesat menurut penilaianku.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun kemudian ia berkata, “Tetapi kita-pun dapat mengerti kakang, tentu Sri
Rajasa lebih mantap jika puteranya sendirilah yang akan menduduki tahta yang
selama ini telah dibinanya.”
“Tetapi ia-pun harus mengenal
kebijaksanaan. Ia harus merasa bahwa dirinya adalah pengemban kekuasaan Tumapel
waktu itu. Jika ia kemudian dapat mengembangkan kekuasaan Tumapel menjadi
kerajaan Singasari yang sekarang, itu bukan berarti ia berhak dan karena
kekuasaannya dapat menyerahkan tahta kepada siapa-pun yang dikehendaki. Apalagi,
jika ia memang ingin menyerahkan tahta kepada keturunannya semata-mata. kenapa
ia tidak membicarakan anak-anaknya yang lahir justru dari Permaisurinya?”
“Itulah yang aku prihatinkan kakang.”
“Tuan Puteri,“ berkata Mahisa Agni
kemudian, “memang mungkin harus jatuh korban. Tetapi semakin kecil korban yang
jatuh pasti akan lebih baik. Aku memang dapat mengambil jalan lain, karena aku
merasa mampu untuk mengguncang kerajaan ini dari
luar dinding istana. Aku mempunyai kekuatan
untuk menumbangkan kekuasaan Sri Rajasa dengan kekerasan.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya mendengar
kata-kata Mahisa Agni. sehingga dengan serta-merta Mahisa Agni meneruskannya,
“Tetapi aku tidak akan melakukannya.”
Ken Dedes tidak segera menyahut, sedang
Mahisa Agni menjadi termangu-mangu. Bagaimana-pun juga Sri Rajasa adalah suami
Ken Dedes. Mereka telah mendapatkan beberapa orang anak laki-laki dan perempuan.
Mereka-pun tentu tidak akan dapat melupakan masa-masa mereka memasuki
hari-perkawinan yang dimulai dengan saat-saat yang berbahagia. Tetapi kehadiran
Ken Umang ternyata semakin lama semakin menjauhkan Sri Rajasa dari Ken Dedes.
Sebenarnyalah bahwa dada Permaisuri itu
memang sedang bergejolak. Air matanya-pun menjadi semakin deras mengalir dari
pelupuknya.
“Kenapa aku harus mengalami hal serupa ini
di hari-hari tuaku,“ keluh Ken Dedes, “agaknya aku banyak berbuat dosa dimasa
mudaku.”
“Tidak tuan Puteri,“ berkata Mahisa Agni,
“belum tentu hal ini terjadi karena kesalahan tuan Puteri.”
“Jadi siapakah yang bersalah.”
“Mungkin tidak ada yang bersalah.”
“Tetapi kenapa aku harus mengalami hukuman
ini.”
“Juga belum tentu bahwa yang sedang tuanku
alami ini suatu hukuman dari Yang Maha Agung. Justru karena Yang Maha Agung
mengagumi ketabahan hati tuan Puteri, maka tuan Puteri telah mendapatkan
kehormatan untuk mengalami pendadaran yang hebat. Jadi yang terjadi bukannya
hukuman atau siksa, tetapi justru kesempatan untuk membuktikan bahwa tuan Puteri
benar-benar seorang yang mampu dan kuat memegang tahta Singasari turun temurun.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
Mahisa Agni-pun terdiam pula sejenak. Ia
mencoba untuk mendalami perasaan Permaisuri itu sepenuhnya dan mencari
celah-celah yang dapat ditempuhnya untuk menyelesaikan persoalan Putera Mahkota.
Tetapi agaknya semua jalan sudah tertutup. Yang ada tinggallah dua pilihan.
Putera Mahkota atau Sri Rajasa.
Dalam kediamannya Mahisa Agni kadang-kadang
berangan-angan tentang kemudian yang lain sama sekali. Apakah ia harus
mempergunakan kekuatan diluar istana Singasari? Jika demikian apakah ada
kemungkinan lain bahwa tidak seorang-pun dari keduanya harus dikorbankan.
“Tidak mungkin,“ berkata Mahisa Agni
didalam hati, “jika aku memberontak terhadap Sri Rajasa, maka aku atau Sri
Rajasa harus mati. Jika akulah yang mati, maka pemberontakan yang makan banyak
korban itu tidak akan berarti apa-apa bagi Singasari, karena jalan akan terbuka
bagi Sri Rajasa untuk memusnakan semua orang yang tidak disukainya termasuk
Putera Mahkota. Ia dapat membuat seribu alasan yang tampaknya memang masuk
akal.”
“Tetapi seandainya jalan ini dapat
ditempuh, aku yakin bahwa aku dan Putera Mahkota akan mempunyai harapan yang
besar untuk merebut Singasari,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya pula. Ia
masih percaya akan kemampuan yang ada pada dirinya serta kemungkinan yang dapat
terjadi dengan trisula kecil pemberian gurunya yang kini ada pada Anusapati.
Tetapi dengan demikian maka ratusan dan bahkan ribuan orang akan menjadi
korban.”
“Memang lebih baik hanya seorang korban.
Sri Rajasa atau Anusapati,“ Mahisa Agni akhirnya mengambil keputusan didalam
hatinya. Namun ia tidak segera dapat mengatakannya kepada Ken Dedes.
Ken Dedes masih mengusap matanya yang
basah. Namun ia-pun kemudian berkata dengan hati yang pedih, “Tetapi kakang
Mahisa Agni. Aku tidak dapat hidup berpijak pada dua buah alas yang sama
goyah. Bahkan berpijak pada dua buah perahu
yang berjalan berbeda arah. Aku harus memilih meski-pun yang satu adalah alas
kaki kiriku dan yang lain adalah alas kaki kananku.“ suara Ken Dedes terputus
oleh tangisnya. Lalu, “aku mencintai Anusapati tetapi aku juga mencintai Sri
Rajasa. Dan inilah agaknya dosa itu kakang Mahisa Agni. jangan menghibur hatiku
dengan sikap yang pura-pura itu. Jangan mencoba melepaskan aku dari perasaan
ini. Aku telah tidak setia kepada Akuwu Tunggul Ametung meski-pun didalam hati.
Jika aku tidak tertarik kepada seorang hamba yang bernama Ken Arok, maka
semuanya ini tidak akan pernah terjadi. Dan aku-pun tentu tidak akan mengalami
keadaan ini. Hukuman yang maha berat.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Sudahlah tuan Puteri. Jika tuan Puteri melarang hamba mencoba
memberikan ketenangan dihati tuan Puteri, hamba-pun tidak akan menolak pengakuan
tuan Puteri. Tetapi bahwa tuan Puteri harus memilih itulah yang harus dilakukan.
Dan pilihan tuan Puteri tidak boleh salah. Itulah persoalan yang maha sulit
untuk dipecahkan.”
Ken Dedes menganggukan kepalanya.
“Tetapi sebaiknya hamba memberikan sedikit
pertanyaan kepada tuan Puteri. Bukan maksud mempersulit perasaan tuan Puteri,
tetapi jika mungkin hamba akan mencoba memberikan arah berpikir bagi tuan
Puteri.“ Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “tuan Puteri memang harus memilih.
Katakanlah bahwa yang seorang adalah lambang kebahagiaan masa silam tuanku,
sedang yang seorang adalah harapan dimasa datang. Yang manakah yang lebih
penting bagi tuanku. Masa silam yang tinggal kenangan atau masa depan yang
sangat panjang.”
Pertanyaan itu telah mengguncangkan hati
Ken Dedes yang memang sedang goyah. Tiba-tiba ia tidak dapat menahan isaknya
yang meledak. Sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya Ken Dedes
mencoba menahan tangisnya. Tetapi ia tidak berhasil.
Mahisa Agni-pun tidak segera berkata
apa-pun lagi. Ia-pun duduk termenung dengan kepala tunduk. Ia sadar, persoalan
itu adalah persoalan yang sangat sulit dipecahkan oleh seorang ibu yang juga
seorang isteri, yang menghadapi jalan simpang yang terbentang dihadapannya.
Apakah ia akan mengikuti jalan anak laki-lakinya, atau jalan suaminya yang
berbeda. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, yang satu mengarah ke
dunia kenangan yang indah dan cemerlang, sedang yang lain adalah jalan yang
menuju ke dunia mendatang yang penuh dengan harapan. Baik bagi keturunannya,
mau-pun bagi Singasari, Namun tiba-saja Ken Dedes seakan-akan menggeretakkan
giginya. Ia sadar, bahwa ia harus bertelekan kepada suatu tumpuan yang kuat. Ia
tidak boleh terkatung-katung lebih lama lagi.
Dalam pada itu, selagi Ken Dedes memusatkan
segegap hati dan nalarnya, maka terasa sesuatu telah bergetar didalam dadanya.
Seakan-akan ia mendengar suara jauh dari dasar hati, “Ken Dedes, tinggalkanlah
dunia mimpi indahmu. Berilah harapan bagi masa datang.”
Ken Dedes menggeretakkan giginya. Ia telah
menemukan sesuatu didalam dirinya.
Namun dalam pada itu, permaisuri itu
terperanjat ketika ia melihat Mahisa Agni tiba-tiba menutup kedua matanya dengan
tangannya. Sambil berpaling Mahisa Agni berkata, “Aku melihat, aku melihat
kebenaran itu.”
“Kakang,“ Ken Dedes berdesis, “apa yang
telah kau lihat?“
Mahisa Agni tidak menyahut. Untuk beberapa
lamanya Ia masih memalingkan wajahnya. Namun kemudian perlahan-lahan ia memutar
kepalanya dan memandang Ken Dedes dalam bentuknya yang wajar.
“Kakang, apakah yang kau lihat?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk
menenangkan hatinya. Ternyata mata hatinya telah menyaksikan kebenaran yang
baginya meyakinkan bahwa Ken Dedeslah yang
harus menurunkan raja Singasari.
“Kakang,“ desak Ken Dedes yang justru
menjadi terheran-heran, “apakah yang kau lihat?”
“Sebuah isyarat tuan Puteri.”
“Apakah isyarat itu?”
“Bahwa tuan Puteri telah memilih.”
“Darimana kakang tahu bahwa aku telah
memilih?”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Kini ia
mengerti bahwa apa yang dilihatnya oleh mata hatinya itu justru tidak disadari
oleh Ken Dedes sendiri, sehingga ia-pun kemudian berkata, “Aku melihat pada
cahaya wajah tuan Puteri.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
Beberapa kali ia melihat keanehan yang serupa. Tunggul Ametung, Ken Arok
kemudian Mahisa Agni. Mereka seakan-akan menjadi silau melihat sesuatu pada
dirinya.
Tetapi Ken Dedes-pun kemudian tidak peduli.
Ia merasa bahwa ia telah berhasil mematahkan palang yang merentang dihadapannya,
dan melemparkan beban yang sangat berat di punggungnya.
“Kakang telah melihat isyarat itu,“ berkata
Ken Dedes, “dan kakang benar. Aku sudah memilih.”
“Apakah pilihan tuan Puteri?”
Ken Dedes masih ragu-ragu sejenak, namun
kemudian ia-pun berkata, “Kakang, aku telah menentukan pilihan itu. Kakanglah
yang memberikan jalan bagiku. Aku memilih harapan dihari depan bagi keturunanku
dan bagi Singasari. Jelasnya, Singasari harus berada ditangan Anusapati.
Mudah-mudahan ia da pat memelihara kerajaan yang sedang berkembang ini. Tetapi
aku yakin bahwa ia akan lebih baik dari Tohjaya yang tamak itu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Terasa hatinya tiba-tiba menjadi lapang. Jika Ken Dedes sudah menentukan sikap,
maka jalan selanjutnya sudah terbuka baginya.
“Tetapi kakang,“ bertanya Ken Dedes
kemudian, “jika demikian, apakah yang harus aku kerjakan selanjutnya?”
“Jika demikian tuan Puteri, tuan Puteri
dapat memenuhi permintaan Sri Rajasa.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya,
“Permintaan yang mana?”
“Bahwa tuanku harus mengatakan kepadanya,
bahwa ia bukan putera Sri Rajasa. Tetapi ia adalah putera Akuwu Tunggul Ametung
di Tumapel, yang mati terbunuh oleh tangan Sri Rajasa sendiri.”
“O,“ suara Ken Dedes terputus.
“Bukankah tuan Puteri sudah memutuskan.
Hamba berharap bahwa dengan demikian Sri Rajasa akan mengambil sikap yang lebih
keras, dan hamba berharap bahwa Putera Mahkota harus mempertahankan dirinya.”
Wajah Ken Dedes yang mantap itu tiba-tiba
telah terguncang lagi.
“Apakah tuan Puteri masih ragu-ragu.”
“Tidak kakang. Aku sudah memutuskan. Tetapi
apa yang akan dikatakan oleh Anusapati, bahwa ibunya telah kawin dengan pembunuh
ayahnya?”
Pertanyaan Ken Dedes itu telah menyentuh
perasaan Mahisa Agni. Jika benar-benar Anusapati bertanya serupa itu, tentu Ken
Dedes akan mendapat kesulitan untuk menjawabnya.
Karena itu, maka Mahisa Agni-pun tidak
segera dapat menjawab. Sejenak ia mencoba berpikir, untuk mencari kemungkinan
bagaimana menanggapi pertanyaan itu.
Tetapi tidak ada jawaban yang dapat
diketemukan, sehingga akhirnya Mahisa Agni berkata, “Memang sulit tuan Puteri.
Karena
itu, sebaiknya tuan Puteri melemparkan hal
ini kepada hamba saja. Tuan Puteri dapat mengatakan kepada Anusapati, bahwa tuan
Puteri baru saja mengetahui bahwa Akuwu Tunggul Ametung terbunuh oleh Sri Rajasa
baru saja. Tuan Puteri dapat mengatakan bahwa hambalah yang telah memberi
tahukan hal itu, sehingga akhirnya tuan Puteri mengambil keputusan untuk
berterus terang kepada Putera Mahkota. Baik tentang orang yang menurunkannya,
mau-pun tentang pembunuhan yang pernah terjadi itu.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah kakang. Aku akan melemparkan
persoalan ini kepada kakang Mahisa Agni. Tetapi tentu Anusapati akan datang
kepada kakang Mahisa Agni dan bertanya, kenapa kakang baru sekarang memberi
tahukan hal ini kepadaku.”
“Biarlah hamba menjawabnya tuan Puteri.
Mudah-mudahan jawaban hamba dapat memberinya kepuasan.”
Ken Dedes mengangguk-angguk meski-pun masih
terbayang berbagai perasaan membayang di wajahnya. Kecemasan, keragu-raguan dan
kadang-kadang takut yang amat sangat. Namun Mahisa Agni menanggap bahwa
keputusan itu jangan sampai terlepas lagi. Ken Dedes jangan sampai mencabut
kembali niatnya yang sudah bulat itu. Karena itu, maka Mahisa Agni-pun berkata,
“Sudahlah tuan Puteri. Hamba mohon diri. Mungkin dalam waktu yang singkat Putera
Mahkota akan menghadap tuan Puteri. Hamba mengharap bahwa perasaan Putera
Mahkota tidak melonjak dan tidak kehilangan pengamatan diri.”
“Aku akan berusaha kakang. Tetapi aku kira,
dari bangsal ini ia akan mencari kakang Mahisa Agni, karena aku tahu, bahwa
kakang telah mengasuhnya dan membuatnya menjadi Anusapati yang sekarang. Bukan
Anusapati yang ingin diciptakan oleh Sri Rajasa.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Lalu,
“Apakah maksud tuan Puteri?”
“Keputusanku ini juga didorong oleh
kenyataan bahwa Sri Rajasa dengan sengaja ingin membuat Anusapati kehilangan
pribadinya, sehingga ia akan menjadi seorang anak muda yang sama sekali tidak
berarti apa-apa bagi Singasari.”
“Dari siapa tuan Puteri mengetahuinya?“
bertanya Mahisa Agni meski-pun ia sudah mengetahuinya dari cara pendidikan yang
sangat timbang bagi Anusapati dan bagi Tohjaya.
“Dari emban Anusapati yang sampai sekarang
masih menungguinya dan yang sebagian waktunya dipergunakannya untuk berada
disini. Emban itu-pun berada didalam kecemasan setiap saat, karena Sri Rajasa
dan Ken Umang dapat mengambil tindakan atasnya.”
“Kenapa?”
“Karena ia tidak berhasil membentuk
Anusapati yang cengeng, yang pengecut, penakut dan segala macam sifat yang
jelek.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Sepantasnya ia mengucapkan terima kasih kepada emban itu. Katanya, “Emban itu
pantas mendapat perlindungan tuan Puteri.”
“Karena itulah aku tidak pernah
berkeberatan ia berada disini.”
“Baiklah tuan Puteri, perkenankanlah hamba
mohon diri. Hamba akan menunggu Putera Mahkota yang pasti akan mencari hamba.
Dan hamba akan mencoba memberikan jawaban yang dapat diterimanya, kenapa hamba
baru sekarang memberitahukan kematian Akuwu Tunggul Ametung kepada tuan Puteri.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya,
lalu jawabnya dengan suara yang berat, “terima kasih kakang. Tetapi sudah terasa
dihatiku bahwa akan ada badai yang bertiup di Singasari.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Jawabnya,
“Ya tuan Puteri. Mudah-mudahan hanya batang-batang yang rapuh sajalah yang akan
patah, sedang tunas-tunas yang masih muda akan berkembang semakin subur.”
Demikianlah maka Mahisa Agni-pun segera
meninggalkan bangsal Ken Dedes. Dengan kepala tunduk ia berjalan menyusur
petamanan. Ketika terlihat olehnya Sumekar, maka ia-pun segera berhenti dan
mendekatinya.
Sumekar yang sedang berjongkok tidak segera
berdiri. Bahkan seolah-olah ia menundukkan kepalanya dalam-dalam menghormati
kedatangan wakil Mahkota di Kediri itu.
“Kediri memerlukan petamanan yang beraneka
seperti di Singasari,“ katanya lantang. Beberapa juru taman-pun mendekat sambil
berkata, “Tuan. apakah di Kediri tidak ada petamanan seperti disini?”
“Ada tetapi tidak selengkap Singasari. Aku
akan memilih beberapa batang, dan aku akan membawanya jika aku kembali ke
Kediri.”
“O. tentu tidak. Biarlah seorang hamba
membawa untuk tuan.”
Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Bekerjalah.
Aku tidak ingin mengganggu kalian.”
Para juru taman itu-pun segera kembali
kepekerjaan masing-masing. Hanya Sumekar sajalah yang tinggal, karena ia sedang
menyiangi sebatang pohon bunga.
Sejenak keduanya tidak mengatakan sesuatu.
Mahisa Agni berdiri saja memperhatikan Sumekar yang sedang sibuk dengan
kerjanya. Jika satu dua orang juru taman yang lain berpaling kepadanya, maka
mereka sama sekali tidak bercuriga, bahwa kedua orang itu kemudian telah
memperbincangkan masalah yang sangat penting bagi Singasari.
“Jadi tuan Puteri sudah sampai pada batas
kesabarannya?“ bertanya Sumekar.
“Ya. Sebagian adalah karena desakan Sri
Rajasa sendiri, ia ingin memaksa Anusapati untuk lari atas kemauan sendiri dari
jabatannya. Namun akhirnya Ken Dedes harus memilih. Ia sadar, bahwa salah
seorang dari keduanya harus menyingkir. Dan ternyata
Ken Dedes memilih yang benar menurut
penilaianku. Sri Rajasa sudah cukup berjasa bagi Singasari. Berbekal Tumapel
yang kecil ia sudah berhasil menyatukan seluruh daerah Singasari yang sekarang.
Karena itu, ia tidak boleh berbuat kesalahan dengan menyerahkan kerajaan yang
dengan susah payah disusun ini kepada orang yang samasekali tidak akan mampu
mempertahankan kehadirannya. Jika Singasari ini benar-benar jatuh ketangan
Tohjaya, maka sia-sialah seluruh perjuangan Sri Rajasa. Aku sudah ikut serta
menyabung nyawa mempersatukan Kediri yang goyah itu kedalam lingkungan
Singasari. Karena itu, aku adalah orang yang paling berkeberatan jika kemudian
Tohjaya akan menduduki tahta, bukan karena Sri Rajasa yakin bahwa ia akan dapat
memimpin pemerintahan. Tetapi semata-mata karena Ken Umang berpendapat
demikian.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
sudah menyangka bahwa pada suatu saat akan tiba waktunya hal itu terjadi.
“Karena itu Sumekar,“ berkata Mahisa Agni,
“hati-hatilah. Kau harus mengamat-amati Putera Mahkota. Jika sampai saatnya,
maka kau harus bertindak tepat. Jika salah satu dari keduanya tersingkir, sudah
tentu bahwa yang sudah hampir terbenamlah yang harus segera terbenam. Bukan
karena kita tidak tahu menghargai jasa-jasanya, tetapi justru karena kita tidak
mau kehilangan hasil kerjanya yang besar. Aku kira tidak akan ada orang lain
yang dapat berbuat seperti Sri Rajasa pada waktu itu. Tetapi aku kira juga tidak
ada seorang Maharaja lain yang akan melakukan kesalahan seperti yang sedang
dilakukannya.”
“Baiklah,“ jawab Sumekar, “aku akan
mencoba.“
“Selama ini, aku akan minta bantuan
Witantra dan Mahendra, agar ia berada tidak jauh dari istana. Setiap saat kau
akan dapat menghubunginya dengan bermacama cara. Mungkin kau dapat membuat panah
sendaren atau semacam apa-pun yang dapat kau kirimkan sebagai isyarat apabila
kau menghadapi keadaan yang memaksa dan tiba-tiba.”
“Baiklah. Tetapi aku harap mereka
memberitahukan, dimana mereka berada.“
“Aku akan berusaha bertemu dengan mereka.
Pada saat aku kembali ke Kediri, mereka akan sudah berada ditempat yang akan
diberitahukan kepadamu.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sebagai orang yang setiap saat menunggui Putera Mahkota, sebenarnya Sumekar
sudah tidak telaten lagi. Bahkan ia ingin mendorong agar Putera Mahkota segera
berbuat sesuatu.
“Putera Mahkota kurang cepat bertindak,“
katanya, “meski-pun ia memiliki kemampuan yang cukup, namun hatinya yang selalu
ragu-ragu dan bimbang telah menahan semua tindakannya.”
“Tetapi jika ia tersudut, maka ia-pun akan
mengambil sikap,“ berkata Mahisa Agni sambil melangkah hilir mudik. Sejenak
kemudian, “Sudahlah Sumekar. Sampai nanti. Aku masih akan tinggal untuk beberapa
hari disini.”
Sepeninggal Mahisa Agni, Sumekar-pun
merenung diluar sadarnya. Ia sudah mulai membayangkan peristiwa yang penting itu
akan terjadi. Namun jika Putera Mahkota mampu melakukan dengan baik, maka tidak
akan ada persoalan yang dapat mengguncang Singasari. Bahkan ia berkata didalam
hati, “Seperti pada saat Sri Rajasa membunuh Tunggul Ametung menurut ceritera
mereka yang menyaksikan. Tidak ada keributan yang timbul kecuali kematian Kebo
Ijo.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Namun
tiba-tiba ia tersentak seakan-akan menyadari sesuatu, “Kebo Ijo telah menjadi
korban. Tetapi korbannya itu tidak sia-sia bagi Tumapel yang menjadi besar,
meski-pun bukan semata-mata hal itulah yang dipertautkan. Kebo Ijo sama sekali
tidak menyadari bahwa kematiannya itu telah memberi kesempatan Sri Rajasa
bertahta dan kemudian rnembuat Tumapel menjadi Singasari yang besar sekarang
ini.”
Sumekar termenung sejenak. Nafasnya menjadi
semakin cepat mengalir oleh deru yang berkecamuk didalam dadanya. Seperti sebuah
mimpi ia membayangkan, bahwa jika ada orang yang bersedia berkorban untuk
berbuat sesuatu yang berguna bagi Singasari, alangkah baiknya. Jika ada orang
yang berhasil menyingkirkan Sri Rajasa sekarang ini, selagi Putera Mahkota masih
seorang yang bernama Anusapati, maka tidak akan ada pilihan lain, bahwa
Anusapatilah yang berhak menggantikan kedudukan Sri Rajasa. Sedang apabila usaha
itu gagal, maka sama sekali nama Anusapati tidak akan tersangkut didalamnya.
Tetapi jika usaha itu berhasil, maka keributan, yang lebih besar akan dapat
dihindarkan.
Ternyata bahwa pikiran itu telah membuat
Sumekar menjadi gemetar. Keringatnya mengalir diseluruh tubuhnya. Apalagi ketika
ia bertanya kepada diri sendiri, “Siapakah yang dapat membunuh Sri Rajasa?”
Sejenak Sumekar membeku ditempatnya. Namun
kemudian keringat dinginnya mengalir diseluruh tubuhnya. Pergolakan didalam
hatinya membuatnya bagaikan dibakar diatas bara.
Tiba-tiba terasa kepala Sumekar menjadi
pening, dan pepohonan disekitarnya bagaikan berputar-putar. Dalam amukan gejolak
perasaan itu seakan-akan ia mendengar suara, “Kenapa bukan kau Sumekar, kenapa
bukan kau? Kau sudah berguru bertahun-tahun pada seorang mPu yang mumpuni,
bahkan kau sudah berhasil mengembangkan ilmumu dengan caramu.”
“O,“ terdengar Sumekar berdesah. Tubuhnya
serasa menjadi terlalu berat dibebani oleh deru perasaannya.
Dalam keadaannya, Sumekar tidak lagi dapat
berjongkok. Karena itu, maka ia-pun segera terduduk dengan lemahnya bertelekan
kedua tangannya.
Seorang juru taman yang melihatnya menjadi
heran. Baru saja ia melihat Sumekar berbicara dengan Mahisa Agni dalam keadaan
sehat. Tetapi tiba-tiba kini ia seakan-akan menjadi kehilangan kekuatannya sama
sekali.
“He, kau lihat orang itu?“ desis kawannya.
Beberapa orang-pun kemudian mendekatinya.
Mereka terkejut melihat Sumekar pucat dan berkeringat diseluruh tubuhnya.
“Kenapa kau he?“ bertanya salah seorang
dari mereka sambil mengguncang-guncang tubuhnya.
“Kenapa he,“ sambung yang lain.
Sumekar mendengar pertanyaan-pertanyaan
itu. Dengan sepenuh kekuatan ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dicobanya
untuk menghayati keadaannya dengan sepenuh kesadaran.
Perlahan-lahan ia berhasil menguasai
gejolak didalam dadanya dan karena itu, maka perlahan-lahan semuanya menjadi
terang. Dirinya sendiri dan keadaan disekelilingnya.
“Kenapa kau?”
Sumekar membuka matanya. Ia sudah berhasil
menghentikan putaran yang melingkari dirinya. Karena itu, maka ia-pun dapat
menjawab, “Aku tiba-tiba saja menjadi pening.”
“Ha, semalam kau pasti tidak tidur lagi.
Kau terlalu sering tidak tidur menurut penghuni disebelahmu.”
“Aku tidur sejak sore.”
“Jika demikian kau terlalu banyak tidur,“
sahut yang lain.
“Mungkin,“ berkata Sumekar sambil
memijit-mijit kepalanya.
“Kembalilah kebilikmu. Berhentilah bekerja
supaya kau tidak terlanjur pingsan.”
Sumekar mengangguk.
“Marilah, aku antar kau.”
Demikianlah maka Sumekar-pun dipapah oleh
dua orang kawannya kembali ke rumah, sedang beberapa orang abdi yang lain
memandangnya dari kejauhan. Seorang pekatik
mendekatinya sambil bertanya, “Kenapa?”
“Tiba-tiba saja ia menjadi pening.”
“O.”
Beberapa emban, juru pengangsu saling
berbisik, “Orang itu orang aneh. Ia hampir tidak pernah tidur.”
Demikianlah Sumekar-pun kemudian
dibaringkannya didalam biliknya.
“Tidurlah. Jangan kau pikirkan
pekerjaanmu.“ Sumekar mengangguk.
Sejenak kemudian maka kawannya itu-pun
meninggalkannya. Tetapi demikian pintu ditutup, Sumekar-pun bangkit dan duduk
dibibir pembaringannya. Dipandanginya pintu gubugnya yang tertutup itu. Sekali
ia menarik nafas dalam-dalam.
Seakan-akan suara yang didengarnya itu
masih saja bergulung-gulung didalam hatinya. Tetapi kini ia dapat menanggapinya
dengan sadar dan tenang, sehingga ia tidak lagi dijerat oleh perasan pening dan
bingung.
“Aku akan memikirkannya masak-masak,“
berkata Sumekar, “apa salahnya jika aku mencoba. Mungkin aku menjadi seorang
pembunuh, tetapi aku mempunyai suatu tujuan yang baik. Baik bagi Singasari yang
dibina oleh Sri Rajasa, dan baik bagi Putera Mahkota. Jika seandainya didalam
matinya Sri Rajasa melihat hasil yang aku peroleh dari perbuatanku, maka ia
tidak akan mengutukku.”
Namun yang menjadi persoalan kemudian
adalah Anusapati. Apakah Anusapati sependapat dengan rencananya.
“Apakah aku harus mengatakan kepadanya
tentang rencana ini?”
Sumekar menggeleng-gelengkan kepalanya.
Katanya kepada diri sendiri, “Aku menjadi bingung.”
Namun Sumekar masih mempunyai waktu untuk
mengendapkan perasaannya. Mahisa Agni masih ada di Singasari untuk beberapa
lamanya. Bahkan mungkin ia akan dapat minta pertimbangannya.
Sekali lagi Sumekar menarik nafas
dalam-dalam. Ia-pun kemudian kembali membaringkan dirinya. Meski-pun ia tidak
dapat tertidur, namun ia sempat beristirahat badani. Namun perasaan dan nalarnya
masih juga selalu berbenturan tiada hentinya.
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang berada di
bangsal yang khusus disediakan untuknya, berjalan hilir mudik di dalam biliknya.
Puncak pergolakan yang selama ini membakar Singasari akan segera terjadi. Dan
Mahisa Agni masih belum dapat memastikan, yang manakah yang akan berhasil keluar
dari lingkaran api ini.
Dipuncak pimpinan Singasari kini
benar-benar berhadapan dua pihak. Tohjaya dan Anusapati.
Sekilas terbayang wajah kedua anak muda
itu. Keduanya memang memiliki kelebihannya masing-masing. Tetapi bahwa Tohjaya
dipengaruhi oleh sifat-sifat tamak dan angkuh adalah karena tetesan sifat
ibunya.
“Seandainya Ken Arok tidak berhasil dijebak
oleh perempuan itu,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya. Terbayang sejenak,
bagaimana Ken Umang berusaha untuk menyeretnya kedalam pengaruhnya. Tetapi
untunglah bahwa ia masih cukup sadar untuk mempertahankan dirinya. Bahkan
setelah Ken Umang itu berada di istana, ia masih saja berusaha menjebaknya.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Yang
terjadi atas dirinya ternyata telah menjauhkannya dari setiap perempuan. Ken
Dedes yang kemudian dengan Tunggul Ametung dan kemudian Ken Umang yang memuakkan
itu, membuatnya seakan-akan tidak lagi dapat disentuh oleh perasaan yang wajar
bagi seorang laki-laki. Pernah ia tergerak melihat seorang perempuan Kediri yang
dijumpainya ketika ia sedang dikejar-kejar oleh pemburu-pemburu manusia yang
tidak mengenal perikemanusiaan. Tetapi ketika beberapa lamanya ia tidak melihat,
maka ia sama sekali tidak lagi
dapat membayangkan wajah itu, yang
seakan-akan menjadi beku sebeku hatinya.
Dan kini ternyata bahwa laki-laki yang
berhasil ditundukkan oleh Ken Umang itu telah kehilangan pegangan hidupnya,
meski-pun ia seorang Maharaja yang telah berhasil menyatukan seluruh daerah
Singasari yang luas ini.
“Sebenarnya Sri Rajasa adalah orang yang
paling berjasa mempersatukan Singasari. Tetapi agaknya ia hampir terjerumus
untuk menghancurkannya sendiri. Jika ia berhasil mengangkat Tohjaya sebagai
penggantinya, maka Singasari yang dengan susah payah diikatnya menjadi satu ini,
pasti akan pecah berserakkan,“ berkata Mahisa Agni didalam hati.
Namun ia masih belum berhasil menguasai
kegelisahan dihatinya. Karena itu, maka ia-pun kemudian melangkah keluar dan
berdiri di muka pintu bangsalnya memandang kekajuhan. Desir angin yang lembut
mengusap keningnya dan membuat tubuhnya menjadi agak segar.
Ketika terpandang olehnya daun-daun kuning
yang berguguran ditanah maka ia-pun bergumam didalam hati, “Memang yang sudah
tidak berguna lagi harus diruntuhkan seperti daun-daun yang kuning itu.”
Sekilas Mahisa Agni melihat dua orang
prajurit dari pasukan pengawal lewat didepan bangsalnya. Keduanya menganggukkan
kepalanya dalam-dalam. Ia sadar, bahwa sebagai wakil Mahkota di Kediri, maka
ia-pun mendapat pengawalan yang cukup selama ia berada di Singasari.
Dalam pada itu, Ken Dedes yang masih
berbaring dipembaringannya menjadi berdebar-debar. Anusapati pasti akan segera
datang kepadanya setelah ia mengetahui bahwa Mahisa Agni telah datang kepadanya.
Tetapi ternyata bahwa Anusapati telah
datang lebih dahulu kepada Mahisa Agni. Tanpa ragu-ragu ia langsung datang
kebangsal pamannya itu.
“Kau datang kemari?“ bertanya Mahisa Agni.
“Aku tidak peduli lagi paman,“ berkata
Anusapati, “apa-pun tanggapan orang terhadapku. Dan aku harap paman-pun bersikap
demikian sekarang ini. Agaknya semuanya menjadi semakin buruk.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya, “Masuklah.”
Keduanya-pun kemudian duduk diruang dalam.
Dengan wajah yang tegang Anusapati berkata, “Apakah paman sudah bertemu dengan
ibunda?”
“Aku sudah menengok tuan Puteri.”
“Apakah yang paman katakan dengan ibunda.“
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya, ”Ibundamu mengatakan bahwa sekarang cucunya sudah besar. Sudah mulai
berlatih naik kuda dan berkelahi. Bukankah puteramu dengan putera Mahisa Wonga
Teleng tidak terpaut banyak sehingga keduanya dapat bermain bersama-sama. Dan
yang terpenting berlatih bersama jika keduanya mulai tertarik?”
Anusapati-pun menarik nafas panjang pula.
Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Ya paman. Anak itu nakal sekali.
Keduanya sudah mulai berlatih naik kuda. Aku tidak tahu, kenapa hal itulah yang
pertama-tama mereka minta sejak mereka menjadi semakin besar.”
“Asal keduanya mendapat pelatih yang baik
dan dapat dipercaya, karena keduanya masih terlampau muda. Bahkan mereka masih
kanak-kanak untuk menanggapi keadaan yang kini sedang berkecamuk di istana ini.“
Anusapati menganggukkan kepalanya. Katanya,
“Kadang-kadang aku sendirilah yang mengajari mereka. Tetapi kini rasa-rasanya
aku tidak sempat melakukan meski-pun aku tidak berbuat apa-apa. Pekatikku yang
baiklah yang kini aku serahi mengawasi keduanya. Dan adalah kebetulan sekali,
aku mendapatkan dua ekor kuda yang tidak terlampau besar.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun sebelum ia melanjutkan kata-katanya, Anusapati sudah mendahuluinya,
“Apakah paman sudah bertemu dengan ibunda dan mempersoalkan keadaanku sekarang?”
“Aku sudah bertemu dengan ibumu. Tetapi
baru sejenak.”
“Apakah yang paman katakan kepada ibunda
tentang aku?”
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni,
“sebaiknya ibumulah yang mengatakan kepadamu. Tetapi jangan membuatnya gelisah
dan cemas. Berbuadah seperti biasa. Seakan-akan tidak terjadi sesuatu, agar hati
ibumu menjadi tenang.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Dalam
keadaan yang demikian parah, bagaimana mungkin ia dapat berbuat seolah-olah
tidak terjadi sesuatu.
Karena itu sambil menarik nafas dalam-dalam
ia berkata, “Paman, aku sudah mengutarakan semua isi hatiku kepada ibunda.
Bahkan aku telah kehilangan pribadiku sebagai seorang laki-laki dan apalagi
sebagai seorang Putera Mahkota, ketika aku tiba-tiba saja menjadi cengeng dan
menangis dihadapan ibunda Permaisuri. Apakah jika aku sekarang menghadap aku
dapat menghapuskan semua kesan yang pernah terlahir dari sikapku sebelumnya?”
Mahisa Agni meangguk-anggukkan kepalanya.
Namun kemudian ia menjawab, “Tentu Anusapati. Kau tidak dapat berbuat lain dari
pada mengulangi keluhanmu. Tetapi jika kemudian ibundamu mengatakan sesuatu
kepadamu, menasihatimu atau memberikan petunjuk-petunjuk kepadamu, janganlah kau
tanggapi semata-mata dengan perasaanmu. Kau harus bersikap sebagai seorang
laki-laki. Kau harus mencoba mencapai keseimbangan antara perasaan dan nalar
sehingga kau tidak terjerumus kedalam sikap yang tergesa-gesa dan apalagi
menyusahkan ibundamu.”
Anusapati yang menundukkan kepalanya
menangkap sesuatu yang tersirat didalam kata-kata Mahisa Agni. Seakan-akan sudah
terngiang ditelinganya sesuatu yang sangat penting dan
menentukan. Karena itu, maka tiba-tiba saja
ia berkata, “Baiklah paman, aku akan pergi menghadap ibunda.”
“Nah, bukankah kau sudah mulai dirayapi
oleh perasaanmu tanpa menghiraukan nalar. Seharusnya kau mendengarkan aku sampai
selesai.”
“Apakah paman belum selesai?”
“Aku belum mengatakan selesai.”
“Duduklah dengan tenang. Aku ingin
melanjutkan keteranganku,“ Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “ibundamu sudah
menjadi semakin tua. Kau harus mengingat akan hal itu, sehingga setiap
tindakanmu pasti akan kau pertimbangkan baik-baik dengan keadaan ibumu. Selain
dari itu, anakmu menjadi semakin meningkat umurnya. Sebentar lagi ia akan
menjadi seorang anak remaja yang gagah dan nakal. Ia memerlukan tuntunan dan
perlindunganmu.”
Terasa detak jantung Anusapati menjadi
semakin keras. Ia sadar, bahwa jika ia salah langkah, maka akibatnya akan sangat
pahit baginya dan bagi keluarganya.
Karena itu maka katanya kemudian, “Baiklah
paman. Aku akan mencoba mengendalikan diriku. Aku akan mencoba bersikap
sebaik-baiknya agar aku tidak tenggelam dalam arus perasaanku semata-mata.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dipandanginya Anusapati sejenak. Lalu, “Jika demikian, maka bersiaplah. Pergilah
menghadap ibundamu dengan hati yang tenang dan penuh pengertian. Ibundamu bukan
tempat untuk menumpahkan segala kesalahan. Mungkin kata-kataku agak aneh bagimu.
Dan mungkin membuat kau semakin berdebar-debar. Tetapi ingatlah. Kau harus
berusaha membuat ibundamu berbahagia dihari tuanya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku mengerti paman. Sebenarnyalah
bahwa aku menjadi berdebar-debar. Aku merasa
seakan-akan aku akan dihadapkan pada suatu
persoalan yang tidak pernah aku duga-duga sebelumnya. Tetapi aku berjanji, aku
berjanji bahwa aku akan bersikap baik dan menjaga perasaan ibunda agar ibunda
tidak menjadi gelisah dan bingung.“ Namun didalam hati Anusapati berkata terus,
“Biar aku sajalah yang menjadi bingung sepanjang umurku.”
Demikianlah Anusapati-pun kemudian
meninggalkan bangsal tempat tinggal Mahisa Agni jika ia berada di Singasari.
Dengan kepala tunduk Anusapati berjalan perlahan-lahan. Ia tidak melihat ketika
dua orang prajurit yang berpapasan dengannya menganggukkan kepalanya
dalam-dalam.
“Tampaknya Putera Mahkota selalu bersedih
akhir-akhir ini.“ gumam salah seorang dari kedua prajurit itu.
“Ya. Tampaknya memang ada sesuatu yang
mengganggu perasaannya,“ jawab yang lain.
“Adiknya itu selalu mengadu kepada Sri
Rajasa. Dan Sri Rajasa semakin nampak berpihak kepadanya. Bahkan pernah Sri
Rajasa marah kepada Putera Mahkota didalam sidang para pemimpin Singasari dan
yang tidak dapat dimengerti, Sri Rajasa telah mengancam Putera Mahkota, bahwa
kedudukannya bukan kedudukan mati.”
“Aku juga mendengar,“ sahut yang lain, “dan
kami yang tua-tua ini tentu tahu apakah sebabnya, setidak-tidaknya pernah
mendengar desas-desus tentang Putera Mahkota.”
“Tentang apa?”
“Siapakah Putera Mahkota yang sebenarnya.”
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Lalu,
“Tetapi hal itu seharusnya sudah dilupakan. Apalagi Sri Rajasa sudah
mengangkatnya menjadi Putera Mahkota.“
“Seharusnya. Tetapi kadang-kadang orang
berbuat diluar keharusan, atau karena kekuasaan maka tidak ada keharusan yang
dapat mengikatnya. Kekuasaannya itulah suatu bentuk keharusan
yang dikehendakinya sendiri dan bahkan
dapat dipaksakannya kepada orang lain.”
Kawannya mengerutkan keningnya. Katanya,
“Jika kau yang berkuasa, maka kau dapat berbuat apa saja yang kau kehendaki. Dan
orang lain harus tunduk kepada kemauanmu. Begitu?”
Yang lain memandanginya sejenak. Namun
kemudian ia bersungut-sungut, “Jika aku berkuasa, aku gantung kau diregol depan
dengan kakimu diatas. Setiap orang harus memukul perutmu seperti memukul
kentongan.”
Kawannya berbicara tertawa. Lalu, “Belum
lagi berkuasa kau sudah menjadi seorang pemarah.”
Keduanya-pun kemudian terdiam. Ketika
mereka berhenti sejenak disudut bangsal, mereka masih melihat Anusapati berdiri
termangu-mangu. Namun Putera Mahkota yang tidak pernah merasa perlu membawa
seorang pengawal-pun itu melangkah lagi menuju kebangsal Permaisuri.
Ketika Anusapati sampai di halaman bangsal
itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Serasa ia akan memasuki rumah seorang
Panglima perang yang akan memberikan perintah kepadanya untuk maju kemedan
perang.
Karena itu, maka sekilas teringat anak
laki-laki yang menjadi semakin besar. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang
remaja yang tampan.
“Kalau terjadi sesuatu, taruhanku adalah
seluruh keluarga,“ berkata Anusapati didalam hatinya. “Aku, isteriku dan anakku
pasti akan menjadi korban. Mungkin menjadi pangewan-ewan di alun-alun. Mungkin
dihukum picis disimpang empat atau digantung berjajar didepan regol istana.
Bahkan mungkin ibunda Permaisuri akan diikut sertakan dalam kesalahan ini.”
Namun sekilas terbayang wajah Mahisa Agni
yang perkasa. Dan timbullah pertanyaan didalam hatinya, “Apakah paman Mahisa
Agni akan tetap berdiam diri. Bukankah di istana ini ada juga paman
Sumekar? Jika terjadi sesuatu, paman Mahisa
Agni tentu akan melibatkan paman Witantra, paman Mahendra dan paman Kuda
Sempana. Tentu tidak hanya empat orang itu, tetapi pasti ada pengikut-pengikut
yang dapat bergerak sekedar mengguncang kekuasaan Sri Rajasa. Apalagi paman
Mahisa Agni pernah menjadi panglima pasukan yang terdiri dari orang-orang Kediri
itu sendiri ketika ia memecah Kediri waktu itu. Dalam keadaan yang tersudut, ia
pasti masih mampu menggerakkan orang-orang itu dan bekas-bekas prajurit Kediri
yang menyimpan dendam meski-pun umur mereka menjadi semakin tua seperti paman
Mahisa Agni. Bahkan para bangsawan di Kediri yang sampai sekarang masih diberi
wewenang memerintah dibawah pengawasan paman Mahisa Agni pasti merasa lebih
dekat dengan paman Mahisa Agni daripada kepada ayahanda Sri Rajasa, dan apalagi
adinda Tohjaya.”
Memang sering terpercik didalam hati
Anusapati suatu angan-angan, apakah kira-kira yang dapat terjadi jika ia minta
kepada pamannya Mahisa Agni untuk merubah kekuasaan yang ada di Singasari dengan
kekerasan. Tetapi ia tidak pernah dapat mengatakannya meski-pun ia yakin bahwa
Mahisa Agni mempunyai cukup kekuatan untuk itu. Namun sebagai seorang yang
mencintai kesatuan Singasari yang sudah bulat itu, Anusapati tidak dapat berbuat
demikian. Jika ia memaksa pamannya untuk melawan Sri Rajasa, berarti di
Singasari akan pecah perang besar yang akan memecah belah kesatuan yang dengan
susah payah sudah dihim-pun oleh Sri Rajasa.
“Aku harus membedakan antara ayahanda yang
sekarang terlampau memanjakan Tohjaya dengan hasil kerja yang besar dari
ayahanda itu,“ berkata Anusapati didalam hatinya. Sambil menarik nafas
dalam-dalam ia menyadari bahwa pengertian itu diperolehnya dari tuntunan
pamannya Mahisa Agni.
Anusapati menjadi semakin berdebar-debar
ketika ia melangkah kepintu bangsal ibunda yang terbuka. Sekali ia berpaling
kearah prajurit yang bertugas mengawal bangsal itu. Tampaknya prajurit itu tidak
begitu menghiraukannya. Setelah membungkukkan
kepalanya, maka prajurit itu-pun kemudian
memandang lagi kejauhan dengan tatapan mata yang kosong.
Sejenak kemudian maka Anusapati-pun
melangkah kembali masuk kcdalani bilik ibunya. Ternyata ibunya berbaring seorang
diri. Adik-adiknya tidak berada didalam bilik itu.
“O, kau Anusapati,“ sapa Ken Dedes yang
kemudian segera bangkit dari pembaringannya. “Duduklah.”
Anusapati-pun kemudian duduk diatas sebuah
dingklik kayu yang rendah disamping pembaringan ibunya itu.
“Baru saja Mahisa Wonga Teleng meninggalkan
bangsal ini,“ berkata Ken Dedes kemudian, “adik-adikmu yang lain ikut
bersamanya.”
“O,“ Anusapati mengangguk.
“Aku sudah menyangka bahwa kau akan
kemari.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Dan
ibundanya berkata pula, “Apakah kau sudah menemui pamanmu?”
Anusapati mengangguk, “Ya ibunda, hamba
baru saja menghadap pamanda Mahisa Agni.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
Semuanya memang harus berakhir. Dan kedatangan Anusapati kini adalah permulaan
dari akhir yang bagaimana-pun bentuk ujudnya.
Dengan dada yang berdebar-debar ia
bertanya, “Apakah pamanmu mengatakan sesuatu kepadamu?”
Anusapati menggelengkan kepalanya.
Jawabnya, “Tidak ibu. Pamanda Mahisa Agni tidak mengatakan apa-apa kepada hamba,
selain beberapa macam nasehat.”
“O,“ Ken Dedes mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“Dan pamanda Mahisa Agni mengharap hamba
untuk dengan tenang menghadapi segala macam masalah. Hamba tidak boleh
kehilangan akal dan bertindak tergesa-gesa.”
Ken Dedes mengangguk-angguk pula. Katanya,
“Memang semuanya harus segera menjadi jelas. Ibulah yang berkewajibau untuk
mengatakan kepadamu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
Rasa-rasanya ia berdiri dihadapan sebuah ruang yang gelap pekat. Seseorang siap
untuk menyalakan obor didalamnya. Dan ia akan melihat isi dari ruang yang akan
segera menjadi terang. Mungkin didalam ruang itu ada seekor harimau yang siap
menerkamnya, atau seekor ular raksasa, atau seekor banteng dengan tanduknya yang
runcing. Ia sama sekali tidak dapat membayangkan bahwa didalam ruang yang gelap
itu terdapat seekor burung merak yang indah atau seekor kijang yang jinak.
Karena itulah maka Anusapati menjadi
berdebar-debar. Jantungnya semakin lama semakin keras berdetak dan rasa-rasanya
darahnya menjadi semakin cepat mengalir.
Tetapi justru karena itu ia ingin segera
melihat, rahasia apakah yang sebenarnya tersimpan dirongga dada ibundanya.
“Mungkin perasaan ibunda akan menjadi
ringan setelah ibunda melepaskan rahasia yang agaknya sudah lama tersimpan itu,“
berkata Anusapati didalam hatinya, “apa-pun akibatnya buat aku dan adik-adikku.”
Sejenak kemudian Anusapati mengangkat
wajahnya ketika ibunya berkata, “Kemarilah Anusapati, mendekatlah.”
Anusapati memandang ibunya sejenak.
Nafasnya terasa semakin berdesakan dilubang hidungnya.
“Sudah sepantasnya kau mendengar,“ berkata
ibunya, “kau sudah cukup dewasa sekarang. Bukan saja dewasa, tetapi kau sudah
mempunyai seorang anak yang menjadi semakin besar pula. Dan sebaliknya, jika
kalian masih akan berkembang terus, maka ibumu akan menjadi semakin layu.
Seperti matahari, ibumu sudah akan tenggelam diujung Barat.”
Anusapati menundukkan kepalanya
dalam-dalam.
Ibunya yang kemudian berdiri dan berjalan
hilir mudik itu-pun kemudian melanjutkannya, “Anusapati. Kau dapat melemparkan
kesalahan kepadaku, kepada ibumu, bahwa semuanya telah terjadi dan membuat kau
sangat berprihatin.”
Anusapati sama sekali tidak menjawab.
“Setiap kali kau datang kepadaku, setiap
kali hatiku menangis lebih parah dari titik air mataku yang kau lihat mengalir
dari pelupukku, karena aku tahu jauh lebih banyak dari apa yang aku katakan.”
Anusapati menggigit bibirnya. Ia memang
sudah merasa jahwa ibunya tentu menyembunyikan sesuatu.
“Dan sekarang rahasia ini tidak dapat aku
simpan lebih lama lagi justru mengingat kedudukanmu yang semakin goyah. Jika hal
ini aku lakukan, sama sekali bukan karena aku inginkan untuk tetap berada pada
kedudukanku yang sekarang, tetapi adalah karena suatu perbandingan, apakah yang
sebaiknya terjadi di Singasari.“
Anusapati yang untuk beberapa saat hanya
berdiam diri itu-pun kemudian menjawab, “Ya ibunda.”
Namun demikian, hatinya seakan-akan tidak
lagi dapat malahan kesabaran untuk segera mengetahui apakah yang akan likatakan
oleh ibunya itu. Tetapi ia tidak dapat menanyakannya dan memaksa ibunya untuk
segera mengatakannya.
“Anusapati,“ berkata ibunya, “setiap kali
kau selalu bertanya, kenapa sikap ayahanda Sri Rajasa kepadamu dan kepada
adik-adikmu, terutama Tohjaya terasa tidak adil.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Anakku. Yang sudah kau lihat, kau adalah
anakku, sedang Tohjaya adalah anak Ken Umang. Aku adalah seorang perempuan yang
lain dari Ken Umang. Aku tidak dapat membuat Sri Rajasa mengasihi anak-anakku
seperti Sri Rajasa mengasihi anak-anak Ken Umang. Dan ini adalah kesalahanku.”
Anusapati menundukkan kepalanya. Jika
ibunya bersikap demikian, dan mencari kesalahan pada diri sendiri, maka
persoalannya tidak akan dapat diselesaikan. Dan agaknya ia sama sekali tidak
menjumpai harimau, atau seekor ular raksasa, atau seekor banteng liar bertanduk
runcing didalam ruang yang gelap itu. Tetapi ia akan melihat ibunya sedang
mencekik dirinya sendiri. Dan itu tidak boleh terjadi.
“Karena itu Anusapati,“ ibunya melanjutkan.
“Aku tidak ingin mendengar ibu mengutuk
diri sendiri. Jika memang hal itu yang akan ibu katakan, maka agaknya lebih baik
hamba tidak mendengarnya, karena hal itu justru akan menambah hati hamba menjadi
semakin parah. Lebih baik ibu marah kepada hamba, atau ibu memberikan perintah
untuk suatu tugas yang berat dalam usaha membebaskan diri dari ikatan yang
selama ini membelenggu hati.”
Ken Dedes memandang anak laki-lakinya itu
dengan hati yang pedih.
“Aku akan mengatakannya Anusapati,“ berkata
Ken Dedes dengan suara parau.
Anusapati mengangkat wajahnya sejenak,
namun wajah itu-pun segera tertunduk kembali.
Sejenak Anusapati menunggu, tetapi ia tidak
mendengar kata-kata ibunya. Bahkan ia-pun terperanjat ketika ia merasa ibunya
memeluknya dari belakang dan membelai kepalanya seperti ia membelai anaknya yang
masih terlalu muda. “Anusapati,“ berkata ibunya, “dengarlah. Adalah wajar jika
Sri Rajasa tidak mengasihmu seperti adik-adikmu, terutama Tohjaya. Bukan saja
karena aku tidak dapat melayani Sri Rajasa seperti Ken Umang, tetapi ada sebab
lain yang jauh lebih dalam dari perbedaan ibu itu.”
Dada Anusapati terasa berdesir mendengar
kata-kata ibunya itu. Dengan penuh minat ia menatap wajah ibunya yang
melanjutkan kata-katanya, “Anusapati, apakah kau sudah siap mendengar
penjelasanku lebih lanjut?”
Anusapati mengangguk. Dengan suara yang
dalam ia menjawab, “Hamba sudah terbiasa mendengar persoalan-persoalan yang
pahit bagiku ibu. Apa-pun yang akan hamba dengar, tidak akan menggetarkan dadaku
lagi.”
Tetapi ibunya menggeleng. Jawabnya, “Kau
justru pernah menitikkan air mata Anusapati.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
ia tidak menyahut.
“Dengarlah,“ berkata ibunya sambil membelai
rambut naknya, “mungkin kata-kataku akan terdengar aneh ditelingamu dan akan
membuat hatimu sakit. Tetapi kau harus mengetahuinya.“ suara abunya menjadi
sendat. Tetapi diteruskannya, “Sebenarnyalah bahwa kau bukan putera Sri Rajasa.”
“Ibu,“ Anusapati hampir terpekik. Tetapi
ibunya memeluknya erat-erat.
“Ya Anusapati. Kau lahir bukan karena
tetesan darah Ken Arok yang sekarang bergelar Sri Rajasa Batara Sang
Amurwabumi.”
Kata-kata ibunya itu cukup jelas terdengar
ditelinga Anusapati. Betapa-pun ia menjaga keseimbangan perasaannya, namun
tiba-tiba saja ia terlonjak berdiri sambil mengibaskan pelukan ibunya. Dengan
sorot mata yang seakan-akan menyala ia memandang Permaisuri dengan tajamnya.
“Jadi, jadi,“ suara Anusapati tergagap.
Namun dalam pada itu, setelah melepaskan
kata-kata yang selama ini membebani perasaannya, justru Ken Dedes menjadi
tenang. Didekatinya anaknya sambil berkata, “Anusapati. Itulah kenyataanmu
anakku.”
“Jadi-jadi, jadi, siapakah hamba
sebenarnya? Apakah hamba juga bukan putera ibunda Permaisuri?“
“Kau anakku Anusapati. Aku adalah ibumu.
Ibu kandungmu.”
“Tetapi kenapa aku bukan putera Sri Rajasa?
Apakah, apakah pernah terjadi sesuatu .... “ Anusapati tidak dapat meneruskan
kata-katanya.
Namun agaknya ibunya mengerti apa yang
tersirat dihati anaknya sehingga ia menyahut, “Tidak Anusapati. Tidak ada
pelanggaran pagar ayu dan tidak ada perbuatan terkutuk dimasa kegadisanku.
Tetapi sebenarnyalah bahwa aku kawin dengan Sri Rajasa setelah aku menjadi
janda.”
“Ibu,“ mata Anusapati terbelalak karenanya.
“Kau adalah Putera Akuwu Tunggul Ametung
yang dahulu berkuasa di Tumapel. Sri Rajasa yang kemudaan menggantikan
kedudukannya, berhasil mempersatukan Tumapel dan Kediri serta daerah-daerah
lainnya sehingga disebutnya kemudian Singasari. Sebagian dari perjuangan Sri
Rajasa mempersatukan Singasari pasti masih ada yang kau ingatnya.”
Anusapati berdiri tegak seperti patung.
Meski-pun benar seperti apa yang dikatakannya, bahwa ia sudah terbiasa mendengar
kata-kata keras, kasar dan sindiran-sindiran tajam yang menyakiti hatinya, namun
pengakuan ibunya itu benar-benar telah membuatnya bagaikan kehilangan perasaan.
Bahkan bagaikan kehilangan dirinya sendiri.
“Anusapati,“ berkata ibunya kemudian,
“cobalah kau menanggapi hal ini dengan sikap dewasa. Bukankah kau sudah siap
mendengar keteranganku yang bagaimana-pun pahitnya bagimu.”
Anusapati masih belum menjawab. Namun
tiba-tiba saja tangannya menjadi gemetar. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia
menggeram, “Ibu, jika demikian, maka Tohjaya sama sekali tidak ada hubungan
darah dengan hamba.”
Ibunya termangu-mangu sejenak. Namun ia-pun
kemudian mengangguk.
“Jika demikian apa gunanya hamba selama ini
merendahkan diri dan membiarkan diriku dihinakannya.“ tiba-tiba wajah Anusapati
menjadi tegang, “Hamba tidak peduli lagi
akan anak itu. Hamba harus membuat perhitungan.”
“Anusapati.”
Anusapati tidak menghiraukannya. Wajahnya
sudah menjadi semerah nyala dimatanya. Namun sesaat sebelum ia meloncat, ibunya
sudah berlari memeluknya. Dengan nada yang dalam ibunya berkata, “Anusapati. Kau
sudah berjanji untuk mendengar keteranganku dengan hati yang tenang. Jangan
tergesa-gesa berbuat sesuatu.”
“Lepaskan hamba ibu. Lepaskan. Buat apa
hamba membiarkan diriku terhina jika aku sama sekali tidak mempunyai hubungan
apa-pun dengan Tohjaya? Hanya karena hamba hormat kepada Sri Rajasa yang hamba
anggap ayah kandung, itulah hamba tidak berbuat apa-apa atasnya. Tetapi ternyata
bahwa hamba bukan anak Sri Rajasa.”
“Tenanglah Anusapati. Semua tindakan yang
tergesa-gesa tidak akan menguntungkan. Tentu Sri Rajasa tidak akan membiarkan
anaknya mengalami bencana.”
“Biarlah hamba dibunuhnya. Tetapi hamba
mendendamnya.”
“Jangan memanjakan dendam didalam hati.
Tenanglah.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
Pelukan ibunya terasa semakin erat ditubuhnya. Bahkan kemudian setitik air yang
hangat meleleh ditangannya.
“Anusapati, aku adalah ibumu. Apakah kau
masih mau mendengarkan kata-kataku.”
Anusapati tidak menjawab. Tetapi ia tidak
beranjak dari tempatnya.
“Anusapati, apakah kau masih mau mendengar
keteranganku?”
-ooo0dw0ooo-
(bersambung jilid 75)
Jilid 75
ANUSAPATI tidak menjawab. Tetapi ia tidak
lagi berusaha untuk melepaskan tangan ibunya yang memeluknya erat-erat seperti
memeluk anak-anak yang sedang menangis meronta-ronta.
“Anusapati,“ suara ibunya lirih tetapi
serasa meresap sampai kepusat jantung, “endapkan perasaanmu. Jangan kau biarkan
hatimu melonjak-lonjak. Aku mengerti perasaanmu anakku. Bahwa kau seakan-telah
melihat wajahmu sendiri di wajah air yang bening tenang. Seolah-olah kau melihat
bahwa wajahmu bukan lagi wajah keturunan dewa-dewa, tetapi kau melihat dirimu
sebagai manusia biasa. Tetapi jangan menyesali diri. Bahwa apa yang kita terima
dari yang Maha Agung adalah yang paling baik buat kita.”
Anusapati tidak menjawab. Kepalanya
perlahan-lahan tertunduk dalam-dalam. Terasa didada ibunya, nafas anaknya yang
seakan-akan mengalir seperti banjir.
“Duduklah Anusapati.”
Anusapati tidak dapat menilai sikapnya
sendiri. Perlahan-lahan ia duduk diatas dingklik kayu dan ibunya-pun
melepaskannya dari pelukannya.
“Jangan terbakar oleh kenyataan yang memang
harus kau hadapi.”
Anusapati mengangguk. Dengan suara yang
parau ia berkata, “Ibu, jika demikian, maka siapakah sebenarnya hamba? Siapakah
Akuwu Tunggul Ametung dan siapakah ibunda sendiri dihadapan Akuwu dan Sri
Rajasa.”
“Anusapati,“ berkata ibunya kemudian,
“seperti yang aku katakan, aku adalah Permaisuri Akuwu Tunggal Ametung di
Tumapel. Tetapi ketika aku sedang mulai mengandung, maka Akuwu Tunggul Ametung
meninggal dunia. Dalam kesepian yang pedih, hadirlah seorang anak muda bernama
Ken Arok, sehingga akhirnya aku dikawininya. Karena itulah maka kau lahir
setelah aku
menjadi Permaisuri Ken Arok yang
menggantikan kedudukan Akuwu Tunggul Ametung.”
Wajah Anusapati yang tunduk menjadi semakin
tanduk. Namun dalam pada itu, didalam dadanya bergolak berbagai macam perasaan.
Kadang-kadang ia dapat mengerti apa yang telah terjadi. Tetapi keagungan
cintanya kepada ibunya, rasa-rasanya melonjak ketika ia mendengar, bahwa
ibundanya kawin dengan Ken Arok begitu cepat setelah ayahnya meninggal, sehingga
ketika ia lahir ibundanya telah menjadi Permaisuri Ken Arok, yang menggantikan
kedudukan Akuwu Tunggul Ametung.
Demikianlah maka rasa-rasanya ibundanya
sama sekali tidak menjadi berduka cita atas kematian ayahandanya. Bahkan dengan
segera ia telah berhasil menggantungkan cintanya kepada orang lain.
Dan tiba-tiba saja, diluar sadar bibirnya
telah bergetar dan melontarkan kata-kata, “Apakah ibunda tidak mencintai Akuwu
Tunggul Ametung?”
Ken Dedes terkejut mendengar pertanyaan
itu. Sehingga ia-pun bertanya, “Kenapa kau bertanya begitu?”
“Ibu, jika ibu mencintai ayahanda Akuwu
Tunggul Ametung seperti yang ibu katakan, apakah ibu dapat melakukannya? Belum
lagi api pembakaran mayat ayahanda padam, ibunda telah melangsungkan perkawinan
dengan orang yang ibunda sebut bernama Ken Arok dan yang kemudian menjadi Akuwu
di Tumapel, dan yang sekarang ini bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi?”
“Kau salah mengerti anakku. Aku mencintai
ayahandamu Akuwu Tunggul Ametung. Kematiannya membuat aku kesepian dan
kehilangan pegangan. Pada saat itu hadir orang yang dapat memberi aku jalan
pelepasan.”
“Dan ibu segera melupakan ayahanda dan
kawin dengan laki-laki itu. Bukan saja ibunda dikawininya, tetapi hak atas
Tumapel itu-pun sekaligus ibunda serahkan kepadanya.”
“Anusapati.”
Dan tiba-tiba saja Anusapati menjadi
kehilangan pengamatan dirinya. Tekanan perasaan yang tidak tertahankan
membuatnya bagaikan terbakar. Karena itu maka katanya kemudian dengan suara
parau, “Jika ibunda mencintai ayahanda Akuwu Tunggul Ametung, maka tidak begitu
mudahnya ibunda mencintai orang lain. Dan jika ibunda tidak mencintai Sri
Rajasa, ternyata ibunda adalah seorang yang mendambakan nafsu semata-mata.”
“Anusapati.”
“Ibunda. Bukankah yang terjadi sekarang ini
akibat dari perbuatan dosa ibunda itu? Hambalah yang sekarang harus menanggung
akibatnya. Dihinakan dan disisihkan dari hubungan kasih keluarga tanpa
mengetahui sebab musababnya. Baru sekarang hamba tahu, bahwa bukan salah Sri
Rajasa, bukan salah Tohjaya dan bukan salah siapa-pun juga. Sebenarnyalah bahwa
hamba memang bukan keluarga mereka. Dan hamba memang pantas untuk dihinakan dan
dijauhkan dari kasih keluargaku.”
“Cukup Anusapati, cukup. Aku sudah
mengatakan, bahwa akulah yang bersalah. Akulah yang telah berbuat dosa. Tetapi
bukan maksudku untuk membuat kau menderita karenanya. Meski-pun kau bukan putera
Sri Rajasa, tetapi kau tetap mendapatkan hakmu sebagai Putera Mahkota.”
“Apakah artinya kedudukan itu sekarang
ibunda. Hamba pasti sudah menjadi sampah di halaman istana ini jika tidak ada
paman Mahisa Agni. Hamba pasti tidak akan bernilai lebih baik dari seorang juru
taman jika paman Mahisa Agni tidak berbuat sesuatu yang mengagumkan atas hamba.
Paman Mahisa Agnilah yang membuat hamba diterima oleh rakyat Singasari karena
mereka menganggap bahwa hambalah Kesatria Putih itu seutuhnya. Dan itu adalah
hasil perbuatan paman Mahisa Agni, seperti juga kemampuan yang hamba miliki
sekarang, sehingga hamba selamat dari kematian oleh tangan Kiai Kisi.”
Ken Dedes terhenyak dipembaringannya.
Dengan kedua belah tangannya ia menutup wajahnya yang basah karena air mata.
Namun agaknya dada Anusapati masih juga pepat, sehingga ia masih juga berkata,
“Dan sekarang hamba harus melihat bahwa diri hamba sebenarnya tidak lebih dari
seorang anak yang sudah tidak berbapa. Hamba adalah seorang yang memang
sebenarnya tidak berharga bagi Sri Rajasa, karena hamba adalah anak orang lain.
Anak yang ditinggalkan didalam perut ibunda oleh orang yang sama sekali tidak
ada hubungan dan sangkut pautnya dengan Ken Arok. Bahkan hamba adalah manusia
yang paling terkutuk dimata Ken Arok itu karena setiap kali Sri Rajasa melihat
hamba, maka pasti ia akan teringat kepada Akuwu Tunggul Ametung. Betapa bencinya
Ken Arok terhadap Akuwu Tunggul Ametung karena Akuwu itu telah merampas
kegadisan Ibunda dimasa muda dan meninggalkan seorang anak laki-laki yang akan
tetap membuatnya terkenang atas kekecewaannya itu. Dan apalagi anak laki-laki
itu sekarang merasa dirinya berhak untuk menyebut dirinya Putera Mahkota,“ suara
Anusapati terputus sejenak. Lalu, “alangkah malunya hamba kepada diri sendiri.
Jika aku tahu tentang diri hamba, maka hamba tidak akan menerima kedudukan itu.
Hamba akan manyingkir dari istana ini dan mengikuti paman Mahisa Agni
dipadepokan yang terpencil itu. Paman Mahisa Agni pasti akan rela melepaskan
kedudukan yang betapa-pun tingginya, karena sebenarnya paman Mahisa Agni sama
sekali tidak menginginkannya, ia ada didalam istana pada waktu itu hanya
semata-mata karena hamba. Dan ia kini berada di Kediri sebagai wakil Mahkota,
adalah karena paman ingin tetap mempunyai pengaruh dalam pemerintahan Singasari
juga semata-mata karena hamba.”
“Kau salah Anusapati,“ sahut ibunya
disela-sela isaknya yang tertahan, “pamanmu Mahisa Agni mengasihimu. Tetapi
jangan disangka bahwa pamanmu tidak mencintai Singasari. Semua yang diperbuatnya
adalah untuk Singasari.”
“Hamba tahu ibu. Tetapi Singasari bagi
paman Mahisa Agni bukan sekedar kekuasaan Sri Rajasa. Singasari adalah
keseluruhan wadah dan isinya. Dan Singasari adalah suatu kesatuan yang utuh
sekarang ini. Tetapi paman Mahisa Agni-pun
tahu, bahwa Singasari sedang diancam oleh ketamakan seorang isteri dan anak dari
yang berkuasa sekarang. Jika hamba mengatakan bahwa paman Mahisa Agni telah
berbuat banyak sekali untuk hamba sakarang ini, hamba yang sudah terlanjur
menjadi Putera Mahkota itu-pun adalah karena pamanda Mahisa Agni mencintai
Singasari dan mengasihi hamba. Jika tidak, maka paman Mahisa Agni tidak akan
membina hamba menjadi seorang yang mampu berbuat sesuatu seperti sekarang ini,
dan paman Mahisa Agni tentu tidak akan berusaha membendung kekuasaan yang akan
melimpah kepada tangan yang menurut paman Mahisa Agni tidak akan dapat
mempertahankan dan apalagi mengembangkan Singasari yang sekarang ini. Jika paman
Mahisa Agni tidak mempedulikan hamba, tetapi semata-mata mempedulikan Singasari,
maka ia akan dapat berbuat lain dari yang dilakukannya sekarang. Tetapi jika
paman Mahisa Agni hanya mengasihi hamba dan tidak mengingat Singasari, maka
alangkah baiknya jika hamba pergi kepada paman Mahisa Agni di Kediri dan
bersama-sama memberontak. Maka pasti Singasari akan pecah dan kemungkinan
terbesar kami akan menang. Tetapi Singasari akan digenangi darah rakyatnya yang
sedang berusaha mengembangkan negeri ini.”
Ken Dedes tidak lagi dapat membendung air
matanya yang mengalir semakin banyak. Bahkan kemudian terdengar isaknya semakin
lama menjadi semakin keras. Dan tiba-tiba saja diantara tangisnya ia berkata,
“Sudah aku katakan Anusapati. Aku memang bersalah. Jika aku tidak bertemu dan
tidak menerima orang itu disaat aku kehilangan Akuwu Tunggal Ametung, maka
keadaannya akan jauh berbeda. Sebenarnyalah bahwa aku akan memilih hidup
dipadepokan jika aku mendapat kesempatan. Tetapi tidak. Aku tidak dapat memilih
selain harus pasrah diri di istana Tumapel.”
“Tentu tidak. Ibunda tentu akan dapat
memilih. Jika ibunda tetap berbakti kepada ayahanda Tunggul Ametung, dan jika
ibunda benar-benar mencintainya, maka ibunda tidak akan melakukannya meski-pun
orang yang bernama Ken Arok itu setiap hari duduk berimpuh dibawah kaki ibunda,
namun yang kini akhirnya telah menginjak tengkuk keturunan ibunda. Tentu pada
saat ibunda
menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung,
ibunda merasa sangat berbahagia, tetapi bukan karena mencintai Akuwu Tunggul
Ametung. Ibunda saat itu hanya memandang bahwa ibunda menerima lamaran seorang
Akuwu, sedangkan ibunda adalah seorang gadis padepokan. Tetapi karena itulah,
maka sepeninggal Akuwu Tunggul Ametung, maka seketika itu pula ibunda sudah
barhasil melupakannya.”
“Anusapati.”
“Kenapa ibu tidak berani melihat wajah
sendiri betapa-pun buruknya.”
“Tidak. Tidak,“ tiba-tiba Ken Dedes
berdiri. Dipandanginya wajah anaknya dengan tajamnya. Dan tiba-tiba saja diluar
sadarnya ia berkata, “Kau salah. Sama sekali salah. Akuwu Tunggul Ametung tidak
datang kepada ayahku untuk melamar sebagai lazimnya seorang laki-laki meminang
seorang gadis. Tetapi aku telah dirampas dan dilarikannya dengan paksa. Aku
telah diambilnya tanpa setahu ayahku, seorang pendeta dipadepokan Panawijen.
Kakekmu telah kehilangan aku bukan karena lamaran seorang Akuwu.”
Jawaban ibunya itu telah membuat dada
Anusapati berdentangan. Semula ia ragu-ragu mendengar keterangan itu,
seakan-akan bahwa ayahnya yang baru dikenalnya itu telah menculik ibunya yang
bernama Ken Dedes itu dari padepokan, sehingga oleh hentakan berbagai perasaan
didadanya, ia bahkan tidak mempercayainya. Kebenciannya kepada Sri Rajasa, yang
tertahan-tahan dan yang tiba-tiba saja meledak setelah mengetahui bahwa Sri
Rajasa sama sekali bukan ayahnya, meluap tanpa dapat dikendalikannya. Dan itulah
sebabnya maka ia tidak dapat menelan kenyataan yang dihadapkan ibunya kepadanya,
bahwa ayahnya yang sebenarnya itu-pun telah melakukan kesalahan yang tidak dapat
dimaafkan.
Karena itu maka katanya, “Ibunda. Ternyata
bahwa ibunda telah memutar balikkan kenyataan. Hamba tidak dapat mengerti yang
manakah yang benar. Ibunda mula-mula mengatakan bahwa ibunda
mencintai ayahanda Akuwu Tunggul Ametung.
Kemudian ibunda mengatakan bahwa ayahanda Akuwu Tunggul Ametung telah berbuat
kesalahan. Ibunda tidak diambil dari padepokan dengan upacara kebesaran lamaran
seorang Akuwu, tetapi ibunda telah dilarikannya. Yang manakah yang harus hamba
percaya. Tetapi bahwa ibunda telah mencintai Sri Rajasa itulah yang benar.
Bahkan mungkin kematian ayahanda Tunggul Ametung adalah suatu hal yang
menyenangkan sekali bagi ibunda, karena ibunda telah terlepas dari sangkar yang
telah dibuat oleh Akuwu Tunggul Ametung.”
“Anusapati,“ wajah ibunnya menjadi merah
padam, “kau adalah anakku. Aku melahirkan kau dengan bertaruh nyawa. Sekarang
kau berani menghinaku. Anusapati, apa-pun yang telah aku lakukan, tetapi aku
mencintaimu. Kau adalah anakku yang selalu membuat aku prihatin. Aku mengharap
kau kelak tidak mengalami masa-masa yang paling pahit didalam hidupmu. Dan kini
selagi aku berusaha dengan segenap hati, kau ... kau ... “ suara Ken Dedes
terputus dikerongkongan.
Namun agaknya hati Anusapati telah
tertutup. Kepahitan hidup dan kenyataan yang bercampur baur itu membuatnya
kehilangan pegangan.
Karena itu maka katanya, “Ibunda. Kenapa
ibunda masih juga mengatakan bahwa ibunda mencintai hamba, mencintai ayah? Jika
ibunda mempertahankan kedudukanku sekarang sebagai Putera Mahkota, sebenarnya
sama sekali bukan untuk kepentingan hamba, tetapi semata-mata karena ibunda
ingin tetap duduk di atas kedudukan ibunda, seorang Permaisuri. Alangkah
nistanya martabat seorang Permaisuri yang harus turun dari kedudukannya karena
ada perempuan lain yang mendesaknya.”
“Anusapati, Anusapati,“ Ken Dedes membentak
hampir menjerit sehingga seorang emban yang mendengarnya diluar menjadi
termangu-mangu. Tetapi justru karena ia mengetahui bahwa agaknya Permaisuri
marah dan bahkan bertengkar dengan Putera
Mahkota, ia sama sekali tidak berani
berbuat apa-apa. Bahkan rasa-rasanya tubuhnya menjadi gemetar dan dadanya
berdebar-debar.
Dalam pada itu, Ken Dedes yang menjadi
marah pula, justru kehilangan kemampuan untuk mengucapkan kata-kata. Ia tidak
pernah menyangka bahwa ia harus bertengkar dengan Anusapati. Anak yang selama
ini membuatnya sangat berprihatin. Namun yang kemudian menjadi salah paham
ketika ia mendengar kenyataan tentang dirinya itu.
Namun karena Ken Dedes seakan-akan menjadi
terbungkam itulah, maka ternyata dadanya telah menggeletar. Yang tidak dapat
diucapkannya itulah yang seakan-akan telah mengambang didalam dirinya, sehingga
karena itulah maka tanpa disadarinya, dari dalam dirinya telah memancar cahaya
yang hanya tampak oleh mata hati yang telah terbuka.
Ternyata bahwa selama ini, selama Anusapati
mengalami pembajaan diri, serta dasar-dasar ilmu Gundala Sasra dan bahkan
sekaligus kemampuan menyerapan dari kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya,
ternyata bahwa Anusapati yang muda itu-pun telah mampu mempergunakan mata
hatinya diluar sadarnya. Dan itulah sebabnya, maka tiba-tiba saja ia melihat
cahaya yang menyilaukan dari tubuh ibunya. Tubuh yang disaat-saat tertentu
seakan-akan telah memancar dalam bentuk yang berlainan.
Anusapati sejenak membeku ditempatnya.
Namun cahaya yang silau itu rasa-rasanya langsung menusuk tubuhnya dan
menghunjam jauh kepusat jantungnya, sehingga tiba-tiba saja ia menutup wajahnya
sambil berkata, “Ibu, jangan ibu ...”
Sejenak Ken Dedes termangu-mangu. Ia tidak
mengerti apakah yang sebenarnya telah terjadi.
Namun dalam pada itu, meski-pun Anusapati
telah menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tetapi cahaya itu bagaikan
menembus pelupuk matanya yang terpejam.
“Ibunda,“ tiba-tiba Anusapati berlutut,
“ampun ibunda. Ampun.“
Ken Dedes yang sedang marah itu tiba-tiba
tergugah pula hatinya ketika ia melihat anaknya berlutut. Seakan-akan ia telah
dihadapkan kembali kepada Anusapati dalam keadaan sehari-hari. Anak laki-lakinya
yang selalu dirundung oleh kepahitan dan tekanan perasaan. Karena itulah maka
hatinya-pun manjadi cair. Perlahan-lahan ia mendekati anaknya dan sekali lagi
dipeluknya kepala anaknya yang sedang berjongkok itu. Katanya, “Anusapati.
Bangkitlah. Ibu tidak marah lagi.”
Tetapi Anusapati masih memejamkan matanya
dan menutup wajahnya meski-pun terasa pelukan ibunya yang hangat.
“Anusapati, kenapa kau seakan-akan menjadi
silau dan menutup wajahmu dengan tanganmu. Pandanglah, inilah ibumu.“
Anusapati mendengar suara ibunya itu. Suara
yang lembut. Karena itu, maka perlahan-lahan ia membuka matanya dan mengangkat
tangannya yang menutup wajahnya itu.
Kini ia tidak melihat apa-pun lagi.
Perlahan-lahan ia memandang ibunya yang masih memeluknya. Tetapi ibunya itu
adalah ibunya yang dilihatnya setiap hari.
Karena itu, maka sadarlah Anusapati, bahwa
sebenarnyalah bahwa ibunya bukannya orang kebanyakan. Bukannya gadis padepokan
seperti gadis-gadis padepokan yang lain. Tetapi ibunya tentu mempunyai
kelebihan. Meski-pun Anusapati tidak tahu apakah arti dari cahaya yang
seakan-akan memancar dari jantung ibunya itu, namun bagi Anusapati, cahaya itu
pasti mempunyai arti yang dalam.
Dengan demikian maka sambil memeluk ibunya
ia tidak dapat lagi menahan air matanya yang mengambang dipelupuknya. Katanya
dalam nada yang berat terputus-putus, “Ampunkan hamba ibunda. Hamba ternyata
telah berbuat kasar terhadap ibunda. Sama sekali bukan maksud hamba. Mungkin
didorong oleh gejolak perasaan yang tidak dapat hamba kuasai lagi.”
“Sudahlah Anusapati,“ sahut Ken Dedes
sambil membelai rambut anaknya yang masih berjongkok sambil memeluknya, “jangan
hiraukan lagi dan lupakanlah apa yang sudah
terjadi. Terimalah kenyataan tentang dirimu dengan sikap dewasa. Alangkah
beratnya bagi ibunda untuk menunjukkan kenyataan ini kepadamu. Mungkin karena
ibunda tidak mempunyai keberanian, tetapi juga mungkin karena ibunda menunggu
sampai ibunda yakin bahwa kau sudah cukup kuat menerima kenyataan ini, maka
barulah sekarang ibunda mengatakannya.”
“Ibunda,“ berkata Anusapati, “lalu apakah
yang seharusnya hamba perbuat. Kini hamba telah dapat melihat kenyataan tentang
diri hamba.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya, “Cobalah, cernakan dahulu apa yang kau ketahui. Barulah kau berpikir
dengan bening, apakah yang sebaiknya kau lakukan.”
Anusapati mengangguk. Perlahan-lahan
dilepaskannya ibunya. Dan dengan kepala tunduk ia-pun kemudian duduk diatas
dingklik kayu sambil merenung.
“Ibu,“ tiba-tiba ia bertanya, “apakah
sebabnya maka ayahanda Tunggul Ametung yang saat itu menjadi Akuwu Tumapel
meninggal? Apakah ayahanda Tunggul Ametung memang sudah tua atau karena penyakit
yang tidak dapat disembuhkan oleh para dukun yang paling pandai dari seluruh
Tumapel?”
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang
mendebarkan. Jika Ken Dedes menjawab yang sebenarnya, maka ia cemaskan bahwa
Anusapati akan mengalami kejutan lagi dan kehilangan pengamatan diri. Tetapi
jika ia tidak berkata sebenarnya, maka niatnya untuk mengungkapkan kenyataan
tentang anaknya itu sama sekali belum tuntas. Dengan demikian maka anaknya tidak
akan dapat mengambil sikap yang telah didasari oleh pengertian yang bulat
tentang dirinya. Mungkin ia justru menjadi putus asa dan kehilangan segenap
gairah untuk hidup dan kehilangan cita-cita buat masa depannya. Tetapi mungkin
dendam telah membakar jiwanya namun dengan sasaran yang tidak seharusnya. Jika
dendam Anusapati semata-mata ditujukan kepada Tohjaya dan ia bertindak terhadap
putera Sri Rajasa itu, maka ia akan mengalami nasib yang tidak
menguntungkan. Ia dapat ditangkap dan
dihukum seberat-eratnya. Padahal Tohjaya bukannya sasaran dendam yang
sebenarnya.
“Tetapi apakah aku akan membiarkan anakku
mendendam?“ Ken Dedes bertanya kepada diri sendiri.
Sebuah persoalan cepat berkecamuk didalam
hati Ken Dedes. Jika masalahnya tidak akan menyangkut masa depan anaknya, maka
Ken Dedes sama sekali tidak akan membiarkan anaknya terjerumus kedalam dendam
yang tidak ada ujungnya. Jika sekiranya Ken Arok tidak berusaha menyambut hari
depan Anusapati, maka persoalannya pasti akan sudah dlupakan oleh Ken Dedes,
meski-pun ia sendiri mengalami kepahitan perasaan karena hadirnya Ken Umang. Hal
itu adalah karena kesalahan yang telah dilakukannya sendiri. Tetapi bagi
Anusapati, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata persoalan dendam karena
ayahnya telah terbunuh, tetapi yang lebih penting baginya adalah persoalan masa
depannya. Karena itu jika Anusapati berbuat sesuatu, alasannya harus condong
kepada kepentingan hari depan. Bukan semata-mata karena ia mendendam.
Karena ibunya tidak segera menjawab, maka
Anusapati-pun mendesak, “Ibunda, bukan maksud hamba untuk menggubah persoalan
yang sudah lama berlaku. Tetapi apakah ibunda dapat mengatakan, apakah sebabnya
ayahanda Tunggal Ametung meninggal dunia, selagi hamba belum lahir?"
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Anakku. Persoalan ini bagaikan hantu yang selalu membayangi hati ibu.
Tetapi karena aku sudah mengatakan sebagian dari kenyataanmu maka aku tidak akan
menyembunyikannya lagi.”
Anusapati menjadi semakin berdebar-debar.
Tetapi kini ia berusaha sekuat-kuatnya untuk tidak diguncang oleh perasaannya
dan kehilangan kendali. Apa-pun yang akan dikatakan oleh ibunya akan diterimanya
dan dicernakannya baik-baik tanpa kehilangan akal dan berbuat kasar terhadap
ibunya yang hampir seperti dirinya sendiri, selalu dicengkam oleh keprihatinan.
Dengan demikian, wajah Anusapati-pun
menjadi tenang dan tidak lagi membayangkan kegelisahan yang melonjak-lonjak
seperti ketika ia mendengar tentang ayahnya.
Melihat ketenangan Anusapati, hati Ken
Dedes menjadi agak tatag. Sejenak dipandanginya anaknya yang duduk diam.
Kemudian diaturnya perasaannya yang mulai bergejolak. Persoalan yang akan
dikatakannya sebenarnya adalah persoalan yang lebih penting dari persoalan
siapakah ayah Anusapati itu.
“Anusapati,“ berkata ibunya, “Akuwu Tunggul
Ametung meninggal bukan karena ia sudah terlalu tua. Bukan pula karena Akuwu
sakit dan tidak dapat diobati lagi.”
“Jadi,“ terasa hati Anusapati melonjak.
Tetapi ia-pun segera berusaha menguasainya kembali. “Apakah ayahanda gugur
dipeperangan?”
Ken Dedes menggelengkan kepalanya.
“Apakah maksud ibu, ayahanda meninggal
dengan tiba-tiba?”
“Ya Anusapati. Ayahanda itu meninggal
dengan tiba-tiba.”
“Kenapa ibunda?”
“Anusapati. Alangkah sedihnya jika aku
terpaksa mengatakan kepadamu. Ayahandamu meninggal karena pembunuhan.”
“Ayahku dibunuh orang?”
“Ya Anusapati.”
Wajah Anusapati menjadi merah padam. Tetapi
dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai perasaannya. Bagaimana-pun juga ia
masih juga bertanya, “Bagaimana hal itu dapat terjadi ibu. Jika ayahanda mati
dibunuh orang, ibunda dapat juga melupakannya dalam waktu yang singkat. Masih
belum seumur hamba didalam kandungan.”
Mata Ken Dedes menjadi basah. Jawabnya,
“Itu adalah dosaku Anusapati. Jangan kau ulang lagi. Aku sudah merasa bahwa hal
itu
adalah dosa yang beranak pinak, sehingga
diriku seakan-akan tidak lagi dapat menempatkan diri dihadapan Yang Maha Agung.
Sekali aku berbuat dosa, maka aku harus melindungi dosa itu dengan dosa-dosa
yang lain terhadap sesama manusia. Tetapi aku sadar, bahwa aku tidak akan dapat
menyembunyikannya terhadap Yang Maha Agung.”
Wajah Anusapati tertunduk lesu. Jika ia
menyebut dosa itu lagi, maka hati ibunya pasti akan semakin remuk. Karena itu
maka ia-pun bertanya, “Apakah orang-orang Tumapel waktu itu, pasukan-pasukan
pengawal dan para prajurit tidak dapat menemukan siapakah yang membunuh ayahanda
Tunggal Ametung, yang pada waktu itu menjabat sebagai Akuwu di Tumapel?”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam untuk
mengendapkan perasaannya yang bergejolak. Dengan sisa keberanian, ketenangan dan
pasrah diri yang tulus, maka ia-pun kemudian bertata, “Pada waktu itu tidak ada
orang yang dapat mengetahui siapakah yang telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung.
Tuduhan yang utama ditujukan kepada seorang pelayan dalam yang memiliki sebilah
keris yang masih tertancap ditubuh Tunggul Ametung.”
“Siapakah orang itu?”
“Orang itu bernama Kebo Ijo. Dan ia sudah
menjalani, hukumannya. Ia dibunuh karena kesalahan itu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Hukuman yang setimpal baginya. Tetapi apakah pamrih Kebo Ijo dengan
membunuh ayahanda Tunggal Ametung?”
Sejenak Ken Dedes tidak menyahut. Ia masih
harus mengatasi gejolak didalam dirinya untuk dapat sampai pada keterangan yang
sebenarnya tentang kematian Akuwu Tunggul Ametung.
“Anusapati,“ berkata Ken Dedes kemudian,
“tetapi ternyata bahwa tuduhan itu keliru. Akhirnya, setelah pembunuhan itu
terjadi beberapa lama, dapat diketahui bahwa pembunuhnya sama sekali bukan Kebo
Ijo.”
“O, dan Kebo Ijo sudah terlanjur dibunuh?”
“Ya. Kebo Ijo telah terbunuh.”
“Tetapi apakah pembunuh yang sebenarnya
akhirnya dapat diketahui?”
Terasa debar didada Ken Dedes menjadi
semakin cepat. Tetapi ia sudah bertekad untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya
kepada anaknya seutuhnya.
“Anusapati,“ berkata Ken Dedes kemudian,
“memang akhirnya pembunuh yang sebenarnya itu-pun diketahui pula. Ia tidak saja
membunuh Akuwu Tunggal Ametung. Tetapi ia juga membunuh mPu Gandring, seorang
mPu yang telah membuat keris untuknya dan keris itu pulalah yang telah
mengakhiri hidup Akuwu Tunggul Ametung.”
“Alangkah terkutuknya. Tetapi apakah ibu
mengetahui siapakah orang itu?”
Ken Dedes mengangguk dengan ragu-ragu.
“Siapakah orang itu ibunda?”
Sesaat Ken Dedes tidak dapat mengucapkan
kata-kata. Sekali lagi ia merasa disimpang jalan yang panjang.
“Ibunda,“ desak Anusapati.
Namun Ken Dedes-pun kemudian mengumpulkan
semua kekuatan batin yang ada padanya untuk mengatakannya apa yang sebenarnya
sudah terjadi. Karena itu dengan suara yang serak ia berkata, “Anusapati. Yang
terjadi kemudian hampir diluar kemampuanku untuk mengatasinya. Selagi aku
mengagumi usaha Ken Arok untuk menyatukan seluruh daerah Singasari, maka tahulah
aku siapakah sebenarnya yang telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung.“ Ken Dedes
berhenti sejenak. Lalu, “orang itu adalah orang yang kini berkuasa di
Singasari.”
“Sri Rajasa,“ suara Anusapati terputus.
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Namun
untuk mengucapkan kata-katanya yang terakhir ternyata Ken Dedes telah memaksa
diri dengan segenap kekuatannya. Karena itulah, maka setelah kata-kata itu
terucapkan, ia-pun menjadi seolah-olah lemas tidak bertenaga lagi.
Betapa hati Anusapati bergejolak. Tetapi
betapa ia berrusaha untuk menahan diri. Apalagi ketika ia melihat ibunya
seakan-akan hendak menjadi pingsan karenanya.
Dengan sigapnya ia menangkap tubuh ibunya
dan membawanya kepembaringan. Perlahan-lahan dibaringkannya tubuh itu. Ketika
Anusapati memandang wajahnya, alangkah pucatnya.
Tetapi Ken Dedes tidak pingsan. Bahkan ia
masih dapat tersenyum betapa pahitnya. Katanya hampir tidak terdengar,
“Anusapati. Aku sudah memaksa diri untuk mengatakannya. Aku mengharap bahwa kau
benar-benar dapat bersikap dewasa.”
Anusapati yang gemetar itu tidak segera
menjawab. Dengan tegangnya ia berdiri di pinggir pembaringan ibunya.
“Anusapati,“ desis ibunya, “duduklah.”
Seperti dipukau oleh pesona yang tidak
dimengertinya. Anusapati-pun kemudian duduk disebuah dingklik kayu sambil
menunduk dalam-dalam. Namun dari sela-sela bibirnya ia berkata, “Pembunuh itu
kini duduk diatas tahta Singasari.”
“Ya Anusapati. Pembunuh itu kini berkuasa
di Singasari dan berkuasa pula atas diri kita.”
“Tidak,“ Anusapati menghentak, “aku akan
melepaskan kekuasaan ini. Aku menarik keputusanku untuk membunuh Tohjaya dan
mengasingkan diri apabila aku tidak terbunuh oleh Sri Rajasa. Tetapi sekarang
aku berkeputusan lain. Aku akan tetap berada di istana. Bukan Tohjayalah yang
harus dibunuh.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
Meski-pun Anusapati tidak mengucapkan, tetapi ia mengerti makna dari kata-kata
yang terpotong itu.
Meski-pun demikian Ken Dedes sudah
menyadari, bahwa hal itu memang mungkin sekali terjadi. Ia sudah menjatuhkan
pilihan. Bukan lagi kenangan yang indah dimasa mudanya, yang penting baginya
kini, tetapi adalah hari depan yang panjang bagi anaknya, bagi Singasari dan
bagi keturunannya.
Tatapi Ken Dedes-pun sadar, bahwa Sri
Rajasa bukannya seorang yang hanya pandai merayunya dimasa muda. Tetapi ia
adalah seorang prajurit yang pilih tanding. Bahkan ia telah berhasil mengalahkan
Maharaja di Kediri yang mempunyai kesaktian tiada taranya.
Karena itulah maka Ken Dedes-pun kemudian
berkata dengan suara yang lemah, “Anusapati. Datanglah kembali kepada pamanmu.
Katakan apa yang kau dengar dari mulutku. Kau harus menurut segala nasehatnya.
Hanya pamanmulah orang yang memiliki kemampuan seimbang dengan Sri Rajasa,
meski-pun pamanmu seorang yang besar dan lahir dipadepokan yang terpencil.“
Suara Ken Dedes terputus sejenak. Lalu, “Sri Rajasa-pun bukan seorang keturunan
raja dimana-pun juga. Tetapi ia adalah kekasih dewa-dewa.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ia memang tidak akan dapat meninggalkan Mahisa Agni yang selama ini telah
menempatkannya pada tempat yang wajar dimata rakyat Singasari, bahwa
sebenarnyalah ia Putera Mahkota. Dihadapan rakyat Singasari ia dapat
menunjukkan, bahwa ia tidak kalah dari putera kebanggaan Sri Rajasa, Tohjaya.
Dan dimalam hari ia dikenal sebagai Kesatria Putih yang memberikan kedamaian
hati bagi rakyatnya.
Karena itu, maka sejenak kemudian
Anusapati-pun minta diri kepada ibunya. Katanya, “Ibunda, hamba akan menghadap
paman Mahisa Agni. Agaknya paman Mahisa Agni-pun mengetahui semua persoalan yang
ibunda katakan. Tetapi paman mengharap bahwa ibunda sendirilah yang
menyampaikannya kepada hamba.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya.
Jawabnya, “Ya. Pamanmu mengetahui semuanya. Tetapi akulah yang memang seharusnya
mengatakan kepadamu.”
Dengan dada yang bergelora maka
Anusapati-pun kemudian meninggalkan ibunya dan pergi mendapatkan pamannya. Ia
tidak dapat menunggu sampai besok. Ia ingin segera mendengar apakah yang akan
dikatakan oleh pamannya itu kepadanya.
Tetapi ternyata bahwa kesibukan Anusapati
yang berjalan hilir mudik dari bangsal pamannya kebangsal ibunya kemudian
kembali lagi itu mendapat perhatian dari seorang prajurit yang sangat dekat
dengan Tohjaya. Bahkan kadang-kadang ia ikut mengawalnya, apabila Tohjaya
memerlukan pengawal lebih dari pengawalnya sendiri jika ia keluar istana.
“Tentu ada sesuatu yang penting,“ berkata
prajurit itu didalam hati.
Tiba-tiba saja prajurit itu terkejut ketika
seseorang menggamitnya. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang juru taman
berdiri dibelakangnya.
“Apakah yang kau perhatikan? Apakah kau
sedang mengintip seseorang.”
“Persetan dengan kau.”
“Aku tahu pasti. Kau sedang mengintip
Putera Mahkota.”
“Apakah kau gila?”
Juru taman itu menggeleng. Jawabnya sambil
tersenyum, “Aku tidak gila. Tetapi aku tahu pasti. Kau mencurigainya dan kau
akan mengatakannya kepada tuanku Tohjaya.”
“Aku sumbat mulutmu dengan tumitku jika kau
mengigau.”
“Sst, aku tidak mengigau. Jika kau perlukan
keterangan, aku dapat memberimu banyak sekali.”
“He,“ prajurit itu ternyata tertarik pada
keterangan juru taman itu.
“Kau dapat menemui aku nanti malam. Aku
mempunyai banyak ceritera tentang Putera Mahkota. Kau mau? Aku menunggalmu
disudut taman yang gelap itu.”
Sumekar tidak menunggu jawaban prajurit
itu. Dengan tenangnya ia melangkah pergi dan hilang dibalik dinding taman istana
Singasari.
Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Putera
Mahkota sudah tidak tampak lagi. Tetapi kesanggupan juru taman itu untuk
berceritera tentang Putera Mahkota sangat menarik perhatiannya, sehingga karena
itu maka ia-pun berhasrat untuk datang malam nanti disudut taman seperti yang
dikatakan oleh juru taman itu.
Dalam pada itu, Anusapati-pun sudah
menghadap pamannya dengan wajah yang gelisah. Tetapi agaknya Mahisa Agai sudah
dapat mengerti, bahwa Anusapati sudah mendengar kenyataan tentang dirinya dari
ibunya.
“Duduklah Anusapati,“ pamannya
mempersilahkan.
Anusapati-pun kemudian duduk dengan wajah
yang tunduk.
“Kau tampak letih sekali.”
Anusapati mengangguk. Katanya dengan nada
datar, “Ibunda sudah mengatakan semuanya tentang diriku dan tentang kematian
ayahandaku yang sebenarnya. Akuwu Tunggul Ametung.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian
ia-pun menganggukkan kepalanya. Katanya, “Kau sekarang sudah cukup matang.
Anakmu sudah semakin besar. Karena itu, pertimbanganmu sekarang bukan
pertimbangan anak muda, tetapi pertimbangan orang tua.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Apakah kata ibumu tentang kematian Akuwu
Tunggal Ametung?”
“Yang membunuh ayahanda Tunggal Ametung
itulah yang sekarang duduk diatas tahta Singasari.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Ibumu benar. Ialah yang telah membunuh ayahandamu yang sebenarnya.
Tetapi apakah kau telah dicengkam oleh dendam karena kematian ayahandamu itu?”
Anusapati tidak menyahut.
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “memang
lain rasanya orang yang langsung mengalaminya dan orang yang berdiri diluar.
Tetapi justru karena aku tidak langsung terlibat didalamnya, maka aku sempat
berpikir apakah yang sebaiknya kau lakukan.”
“Ya paman. Aku memerlukan sekali petunjuk
disaat serupa ini.”
“Aku yakin bahwa Sri Rajasa benar-benar
berhasrat menyingkirkan kau.”
“Ya paman. Aku-pun yakin.”
“Karena itu Anusapati, jalan yang harus kau
tempuh sama sekali bukan pembalasan dendam itu. Kau harus melupakan apa yang
sudah terjadi. Sri Rajasa telah menebus kesalahan yang besar itu dengan
perbuatan yang besar.”
Anusapati mengangkat wajahnya.
Dipandanginya Mahisa Agni dengan penuh pertanyaan. Dan bibirnya-pun
mengucapkannya pula, “Apakah maksud paman?”
“Kau harus memandang kedepan. Kau sekarang
adalah Putera Mahkota. Yang harus kau lakukan adalah menyiapkan dirimu untuk
menjadi seorang Maharaja di Singasari.”
“Tetapi ayahanda Sri Rajasa akan menggusir
aku. Bukankah baru saja paman mengatakan demikian?”
“Itulah soalnya yang kau hadapi. Jika kau
terpaksa mempertahankan diri, adalah karena kau Putera Mahkota yang akan
disingkirkan. Maksudku, kau tidak usah mempersoalkan yang sudah terjadi. Tetapi
kau tidak harus menyerahkan masa depanmu kepada
orang yang pernah membunuh ayahmu itu.
Apakah kau mengerti maksudku?”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Apakah ada perbedaan diantara keduanya paman? Apakah hal itu bukan
sekedar untuk menenteramkan hati sendiri, agar kita tidak salalu dicengkam oleh
dendam, dan seolah-olah nafsu kita telah dikuasai oleh dendam semata-mata.
Tetapi yang pada hakekatnya akan melahirkan tindakan yang sama?”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya.
Katanya, “Tidak Anusapati. Persoalannya tidak sama, dan yang akan kau
lakukan-pun tidak akan sama. Jika kau digerakkan oleh dendam dihati, maka kau
akan menjadi garang. Kau akan mencari kesempatan untuk melepaskan dendammu. Dan
kaulah yang mengambil tindakan kapan saja yang kau anggap baik. Tetapi jika
bukan itu soalnya, maka kau tidak akan mengambil tindakan apapun. Tetapi kau
akan tetap berhati-hati. Kau akan melindungi dirimu sendiri. Aku yakin bahwa Sri
Rajasa tidak akan mempergunakan para prajurit dan Senapati untuk memaksakan
kehendaknya. Aku yakin bahwa jika demikian maka Singasari akan benar-benar
terpecah, karena Sri Rajasa-pun tahu benar, bahwa aku mempunyai pengaruh yang
kuat pula pada para Senapati di Singasari. Lebih daripada itu, aku telah minta
agar kakang Witantra-pun berbuat sesuatu untuk menekankan pengaruh para Senapati
dari Pasukan Pengawal, agar mereka tidak mudah diperalat oleh Sri Rajasa dan
Tohjaya didalam persoalan ini.”
“Apa yang dapat dilakukan oleh paman
Witantra?”
“Mudah-mudahan ia berhasil meski-pun hanya
sekedar membantu rencana kita yang besar.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ia mengerti maksud pamannya. Ia tidak boleh mengambil sikap yang kasar terlebih
dahulu. Ia harus menunggu. Tetapi berapa lama ia harus menunggu dalam
kegelisahan dan kecemasan, karena setiap saat bahaya dapat menerkamnya dari
segala penjuru.
Karena itulah maka Anusapati merasa bahwa
dirinya benar-benar berdiri diatas titian yang telalu sempit diatas sebuah
jurang yang dalam. Jika ia salah langkah, maka ia pasti akan terjerumus dan
hancur berkeping-keping.
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian
yang seakan-akan dapat mengetahui perasaan Pangeran Pati itu, “memang kau
seolah-olah berada didalam pendadaran yang sangat berat. Tetapi aku yakin bahwa
kau akan dapat mengatasinya.”
“Semoga paman,“ jawab Anusapati, “aku akan
berusaha.”
“Hati-hatilah Anusapati,“ berkata Mahisa
Agni kemudian, “aku akan berusaha berada di Singasari untuk waktu yang agak
panjang. Tetapi jika perintah Sri Rajasa datang setiap saat agar aku kembali ke
Kediri, maka aku-pun harus segera melakukannya.“
Anusapati mengangguk.
“Aku akan berbicara dengan Sumekar.
Ternyata ia merupakan seorang kawan yang sangat setia bagimu. Jangan lupa, bahwa
kau harus selalu berhubungan dengan juru taman itu. Suasana pasti akan meningkat
terus. Apalagi karena kau selalu mondar mandir antara bangsal ibundamu dan
bangsal ini. Jika ada seseorang yang memperhatikan, maka itu berarti pertada
bahwa yang akan terjadi akan cepat terjadi. Sri Rajasa tentu memperhitungkan apa
yang kau lakukan sekarang ini.”
“Baiklah paman,“ berkata Anusapati
kemudian, “kini aku mohon diri. Aku sekarang sudah jelas dimana aku berdiri.
Dengan demikian aku akan dapat mempertimbangkan sikap yang paling baik yang
dapat aku lakukan.”
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian
dengan ragu-ragu, “aku masih ingin mengingatkan kau kepada pemberianku itu.
Dalam keadaan seperti sekarang ini apa salahnya jika benda itu tidak terpisah
daripadamu.”
“O,“ Anusapati mengangguk-angguk, “terima
kasih paman. Aku akan selalu membawanya. Aku tahu bahwa benda itu sangat berguna
dalam suatu saat yang paling gawat.”
“Benda itu berpengaruh siang dan malam.
Tetapi sekali lagi aku peringatkan, bahwa benda itu sama sekali bukan sebuah
senjata.”
“Ya paman.”
“Jika kau manginginkan senjata Anusapati,“
berkata Mahisa Agni kemudian, “kau dapat bertanya kepada ibumu. Sebenarnya yang
penting bagimu bukan untuk mempergunakan senjata itu, tetapi agar senjata itu
tidak dipergunakan oleh orang lain terutama Sri Rajasa sendiri atau Tohjaya.”
“Senjata apakah yang paman maksud?”
“Sebilah keris yang keramat.”
“Keris?“ Anusapati mengerutkan keningnya.
“Ya. sebilah keris. Keris itulah yang
dipergunakan oleh Sri Rajasa untuk membunuh korbannya. Yang pertama adalah
pembuat keris itu sendiri.”
“Siapa paman?”
“mPu Gandring.”
“O,“ Anusapati mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“mPu Gandringlah yang membuat keris itu,
dan mPu Gandring pulalah korban yang pertama. Keris itu adalah keris yang sangat
keramat.”
Anusapati mendengarkan ceritera Mahisa Agni
dengan cermatnya sebagai pelengkap ceritera ibundanya.
“Dimanakah keris itu sekarang disimpan
paman?“ bertanya Anusapati.
“Keris itu disimpan oleh ibundamu.”
“Ibunda? Kenapa bukan oleh ayahanda Sri
Rajasa?”
“Aku tidak tahu pasti, kenapa begitu.
Tetapi aku kira ayahandamu pada saat itu ingin melupakan apa yang sudah
dilakukannya. mPu Gandring itu adalah pamanku, dan kemudian Akuwu Tunggul
Ametung, setelah dengan cermatnya ia menjerumuskan sahabatnya kedalam bencana.”
“Ibunda juga menyebutnya,“ berkata
Anusapati kemudian.
“Nah, cobalah. Usahakanlah agar keris itu
jatuh kedalam tanganmu. Tetapi tanpa niat yang buruk, sakedar menghindarkan
kemungkinan yang paling pahit bagimu sendiri, apabila dalam keadaan yang gawat
ini Sri Rajasa teringat kepada senjata yang telah bernoda darah itu dan timbul
keinginannya untuk mempergunakannya lagi.”
Anusapati menjadi tegang sejenak.
“Anusapati, ciri yang paling jelas dari
keris itu adalah tangkainya. Hulu keris itu bukannya sebuah ukiran yang rumit
dan bertahtakan permata, tetapi hulu keris itu adalah sepotong dahan cangkring
yang kasar dan belum dibentuk sama sekali.”
“Dahan cangkring yang kasar,“ Anusapati
mengulangi.
“Ya. Itulah keris yang telah mengakhiri
hidup pamanku dan ayahandamu.”
“Baiklah paman. Aku akan menghadap ibunda.
Aku akan memohon agar keris itu diperkenankan aku simpan.“
“Tetapi kau tidak usah menghadap sekarang.
Jarak antara bangsal ini dan bangsal ibumu akan menjadi lekuk bekas kakimu.
Besok sajalah kau menghadap.”
“Satu malam adalah waktu yang panjang
paman. Dimalam nanti semuanya akan dapat tarjadi.”
“Aku masih ada disini. Aku akan
memberitahukan kepada Sumekar dan kau memiliki trisula yang dapat membantumu
khusus menghadapi kejahatan.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Memang ia sudah hilir mudik antara kedua bangsal itu. Karena itu maka katanya,
“Baiklah paman. Besok pagi-pagi jika aku masih berkesempatan melihat matahari
terbit, aku akan menghadap ibunda untuk memohon agar keris itu dapat aku
simpan.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya, katanya
kemudian, “Kau harus mencoba untuk menenangkan hatimu jika kau kembali kepada
isterimu. Baginya kau adalah sandaran yang tidak boleh goyah, agar keluargamu
tidak menjadi lebih gelisah dari kau sendiri.”
Anusapati menganggukkan kepalanya, “Ya
paman. Aku akan mencoba.”
“Nah, jika demikian, pulanglah kebangsalmu.
Temuilah isteri dan anakmu yang barangkali sudah menunggu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi kecemasan didadanya masih saja bergejolak. Bahkan terbayang di
angan-angannya bahwa jalan dari bangsal pamannya itu sampai kebangsalnya, telah
penuh oleh prajurit-prajurit yang dipasang oleh Tohjaya untuk menjebaknya.
Tetapi Anusapati-pun kemudian mohon diri
juga dengan hati yang tegang.
Langkahnya kemudian menjadi sangat
hati-hati. Diperhatikannya setiap gerumbul petamanan dan pohon bunga disebelah
menyebelah lorong di halaman istana itu.
Anusapati mengerutkan keningnya ketika ia
melihat Sumekar berdiri sambil memotong daun-daun bunga yang kuning. Ketika ia
lewat disampingnya, maka ia-pun berhenti sejenak sambil berkata, “Paman Mahisa
Agni ingin berbicara.”
Sumekar mengangguk. Katanya, “Hamba sudah
bertemu.”
“Ada lagi yang akan dikatakannya.”
“Ya tuanku. Hamba akan menunggu.“ Sumekar
berhenti sejenak lalu, “Hamba sudah mendengar langkah yang semakin dekat dengan
puncak dari persoalan tuanku. Tetapi hamba tidak tahu apa yang harus hamba
lakukan. Barangkali perintah itulah yang akan hamba terima dari pamanda tuanku.”
Anusapati tidak menyahut. Ia-pun kemudian
melanjutkan langkahnya sambil berdesis, “berhati-hatilah paman.”
Sumekar mengangguk dalam-dalam. Tetapi ia
berdiam diri sambil memandang langkah Putera Mahkota yang sedang dibelit oleh
perasaan prihatin yang dalam.
“Aku harus membantunya. Mungkin aku dapat
terbuat sesuatu meski-pun aku harus siap mengorbankan apa-pun yang aku miliki.
Tetapi Singasari memang harus dipertahankan agar tidak jatuh ketangan seseorang
seperti tuanku Tohjaya,“ berkata Sumekar didalam hati.
Ternyata bahwa Sumekar yang sudah lama
berada di istana, dan yang sudah lama merasa hidup dalam tugas yang dibebankan
kepadanya oleh Mahisa Agni menjadi pemomong Anusapati, merasa bahwa ia wajib
untuk berbuat sesuatu sehingga jiwanya-pun setiap kali menjadi semakin tegang.
Ialah yang mendahului rencana Anusapati sendiri, bahwa Sri Rajasa memang harus
disingkirkan agar ia tidak mengambil sikap terlebih dahulu untuk mengusir
Anusapati dan menempatkan Tohjaya dalam kedudukan yang tertinggi kelak.
Ketegangan itu agaknya menjadi semakin
memuncak didalam jiwanya. Namun ia masih selalu berusaha untuk menahan diri,
agar tindakannya justru tidak merugikan usaha Mahisa Agni untuk membentengi
kedudukan Pangeran Pati.
Dalam pada itu, Mahisa Agni-pun sebenarnya
menjadi gelisah pula. Memang malam itu sesuatu dapat terjadi atas Anusapati.
Karena itu maka ia-pun berusaha untuk menemui Sumekar dan berbicara dengan juru
taman itu.
“Bayangilah bangsal itu. Barangkali kau
mempunyai kesempatan yang lebih baik dari aku,“ berkata Mahisa Agni.
Sumekar menganggukkan kepalanya.
“Semuanya sudah menjadi jelas bagi Putera
Mahkota,“ berkata Mahisa Agni lebih lanjut, “ia sudah mengenal dirinya dan Sri
Rajasa.”
Sumekar mengerutkan keningnya. Lalu ia-pun
bertanya, “Apakah hal itu membuat Pangeran Pati menentukan sikap?”
“Aku mencegahnya. Ia tidak boleh berbuat
sesuatu. Yang penting baginya adalah mempertahankan diri dari tahta Singasari
agar Singasari tidak terbenam karena ketamakan seorang perempuan yang bernama
Ken Umang.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Desisnya kemudian, “Satu-satunya jalan sekarang adalah menyingkirkan Sri Rajasa
itu sendiri untuk menyelamatkan hasil usahanya yang besar dengan mempersatukan
Singasari.”
“Tentu memerlukan pertimbangan yang
matang,“ sahut Mahisa Agni.
“Aku kira tidak ada jalan lain. Jika kita
sekedar menyingkirkan Tohjaya maka Sri Rajasa masih mungkin untuk berbuat
sesuatu yang lain, karena Ken Umang mempunyai anak laki-laki yang lain. Tindakan
yang pahit dari Sri Rajasa dapat dialami pula oleh tuanku Anusapati.”
“Baiklah kita pertimbangkan. Tetapi kita
tidak boleh tergesa-gesa. Sementara ini Anusapati sudah memiliki senjata untuk
mempertahankan dirinya, jika Sri Rajasa sendiri akan bertindak atasnya.
Sedangkan jika ia memerintahkan orang lain, maka Anusapati cukup masak untuk
melawannya.”
“Tetapi Sri Rajasa dapat berbuat sesuatu
yang tidak kita duga lebih dahulu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ia memang tidak ingkar bahwa Sri Rajasa dapat berbuat apa saja, seperti ketika
ia sedang berusaha memanjat keatas tahta Tumapel saat itu. Dan kini, ia-pun
sedang berusaha menempatkan anaknya yang lahir dari perempuan yang tamak itu
untuk menggantikannya. Tentu usaha Sri Rajasa tidak akan kalah kerasnya dengan
usahanya untuk kepentingannya sendiri saat itu.
Namun demikian Mahisa Agni masih mengekang
persoalan itu agar tidak berkembang dengan tergesa-gesa sehingga mungkin justru
akan salah jalan.
“Sumekar,“ berkata Mahisa Agni kemudian,
“jika terjadi sesuatu, dan kau merasa sulit untuk memecahkannya, berilah tanda
agar aku dapat membantumu.”
“Apakah tanda itu?”
“Apakah yang dapat kau berikan sebagai
isyarat. Suara burung, suara ayam atau suara apa?”
Sumekar merenung sejenak, namun ia-pun
tertawa, “Yang paling mudah bagiku adalah suara seekor katak.”
“Tanpa ada hutan? “ Mahisa Agni-pun
bersenyum.
“Apa boleh buat.”
Mahisa Agni-pun menyahut, “Baiklah. Jika
aku mendengar suara katak yang berkepanjangan maka aku akan keluar dari bangsal
dan pergi kearah suara itu.”
Demikianlah maka Mahisa Agni-pun menjadi
agak tenang. Sumekar adalah orang yang selama ini dapat dipercaya.
Sebelum mereka berpisah maka Sumekar-pun
menceriterakan tentang seorang prajurit yang selalu mengawasi Anusapati ketika
ia berjalan hilir mudik.
“Orang itu berbahaya,“ berkata Sumekar.
“Biarlah. Ia tidak akan dapat berbuat
apa-apa.”
“Prajurit itu adalah pengawal Tohjaya.“
Mahisa Agni mengerutkan keningnya.
“Aku sudah memanggilnya nanti malam. Aku
mengatakan kepadanya bahwa aku mempunyai ceritera yang menarik, tentang Putera
Mahkota.”
“Apa yang akan kau oeriterakan?”
“Aku tidak ingin menceriterakan apa-apa.
Aku ingin membungkamnya untuk selama-lamanya.”
“Ah,“ desah Mahisa Agni, “jangan mulai
dengan korban pertama justru orang yang tidak berkepentingan. Kita menghindari
korban sejauh-jauhnya.”
“Tetapi orang itu berbahaya. Berbahaya bagi
Pangeran Pati dan berbahaya bagimu kakang.”
“Aku mengerti, tetapi kenapa orang itu
harus dibunuh?”
“Lalu apakah yang harus aku lakukan
terhadapnya untuk mengamankan Pangeran Pati.”
“Belokkan perhatiannya.”
“Aku sudah terlanjur mengatakan kepadanya,
bahwa aku akan mengatakan sesuatu yang penting padanya.”
“Apa saja dapat kau katakan. Justru yang
tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan ini.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya
kemudian, “Baiklah kakang Mahisa Agni. Aku akan mengekang diri, tetapi agaknya
aku menjadi lebih bernafsu untuk segera bertindak daripada Putera Mahkota
sendiri.”
Mahisa Agni menepuk pundak Sumekar. Lalu
katanya, “Jagalah dirimu, terutama perasaanmu.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
kepalanya terangguk kecil.
Demikianlah maka Mahisa Agni menjadi agak
tenang. Isi percaya bahwa Sumekar pasti akan mengawasi Anusapati. Tetapi ia-pun
cemas bahwa Sumekar yang telah lama bergaul dengan Anusapati, bahkan lebih rapat
dari dirinya sendiri itu menjadi terlampau setia, dan bahkan karena perasaan iba
yang mendalam, Sumekar dapat bertindak lebih keras dari Anusapati mendiri
apabila batas kesabaran dan kekangan perasaannya telah lewat.
Dalam pada itu, malam yang hitam
perlahan-lahan menyelubungi istana Singasari. Seakan-akan seperti perasaan
beberapa pemimpin Singasari sendiri yang menjadi kelam pula karenanya.
Di belakang bangsal, Sri Rajasa duduk
termenung seorang diri, seakan-akan merenungi masa-masa yang telah lama lampau,
masa kini dan masa mendatang.
Dalam kebimbangan ia mencoba untuk mencari
jalan keluar agar ia tidak merusakkan usahanya sendiri selama ia memegang
pemerintahan. Seperti Mahisa Agni yang menyadari kekuatannya dan para Senapati
yang akan berpihak padanya keperselisihan yang terjadi itu menjadi perselisihan
yang keras dalam benturan senjata, maka Sri Rajasa-pun menyadarinya pula. Setiap
keadaan yang berkembang di Singasari, ia harus memperhitungkan kemungkinan yang
dapat dilakukan oleh Mahisa Agni. Sedang menurut perhitungannya, Mahisa Agni
pasti akan melindungi Anusapati. Bukan saja karena Anusapati itu adalah
kemanakannya, tetapi Mahisa Agni tentu sudah dapat menduga siapakah yang telah
membunuh pamannya, mPu Gandring.
Dalam pada itu, tiba-tiba Sri Rajasa itu
seakan-akan dihadapkan pada masa lampaunya dipadang Karautan. Di saat-saat ia
pertama kali bertemu dengan Mahisa Agni.
Sebagai orang yang ditakuti dipadang
Karautan, maka ia merasa heran, bahwa ada anak muda yang mampu dan berani
melawannya. Hanya karena keajaiban yang ada pada dirinya, maka ia tidak dapat
dikalahkan oleh Mahisa Agni itu. Tetapi ketika kemudian Mahisa Agni memegang
sebuah trisula, maka ia-pun menjadi cemas karena silau yang tajam.
Trisula yang kecil itu seakan-akan
memancarkan sinar yang tidak terkira memancar menyilaukan matanya, sahingga ia
tidak lagi dapat melihat lawannya. Dengan demikian Mahisa Agni pada waktu itu
dapat menyerangnya tanpa perlawanan sama sekali. Betapa-pun kuat daya tahan
tubuhnya, namun karena Mahisa Agni-pun memiliki kekuatan yang melampaui kekuatan
manusia kebanyakan, maka akhirnya ia-pun menjadi semakin lama semakin lemah.
Dan sekarang Mahisa Agni tumbuh menjadi
raksasa yang tiada terkira kemampuannya. Ia sudah berhasil membunuh Senapati
besar dari Kediri. Gabungan antara kemampuan yang tiada taranya dengan trisula
kecil itu, bagi Sri Rajasa adalah kekuatan yang mencemaskan jantungnya.
Adalah dapat dimengerti bahwa Mahisa Agni
membencinya karena ia telah membunuh pamannya dan kini seakan-akan telah
menyia-nyiakan adik perempuannya meski-pun masih tetap dalam kedudukannya
sebagai seorang Permaisuri. Kemudian usahanya untuk mengusir kedudukan Anusapati
tentu sangat menyakitkan hatinya pula.
Berbagai macam pikiran dan perasaan
bercampur baur dihati Sri Rajasa. Bahkan kadang-kadang ia mengenang dengan
jelas, apa yang pernah dilakukannya terhadap mPu Gandring dan Akuwu Tunggul
Ametung.
Terbayang bagaimana mPu Gandring
menunjukkan kepadanya keris yang masih belum siap itu. Bagaimana kecewa yang
saat itu mencengkamnya. Namun kemudian bagaimana hatinya bergolak tidak
terkendali lagi dan hampir diluar sadarnya tangannya telah terjulur dan keris
mPu Gandring itu menghunjam ditubuhnya sendiri.
Terbayang bagaimana orang tua itu menahan
rasa sakit dan berkata kepadanya, agar keris itu dihancurkan saja, karena keris
itu untuk selanjutnya akan menelan korban demi korban.
Tiba-tiba Sri Rajasa memejamkan matanya.
Bayangan itu serasa menjadi semakin jelas dan seakan-akan didalam kesiapan di
halaman dalam bangsalnya, sebuah bayangan berdiri
memandanginya. Bayangan seorang tua yang
baik, yang tersenyum ramah kepadanya dan meski-pun dadanya telah terluka namun
ia masih juga memberinya peringatan agar keris itu dihancurkan.
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
menjadi berdebar-debar. Bayangan itu bagaikan bergerak mendatangnya. Sambil
tersenyum mPu Gandring berkata kepadanya, “Keris itu akan menelan korban demi
korban.”
“Tidak, tidak,“ suara Ken Arok yang
bergelar Sri Rajasa, “keris itu tidak akan menelan korban lagi.”
Tetapi bayangan yang tersenyum kepadanya
itu berkata, “Aku tidak ingin melihat korban itu berjatuhan lagi. Terutama kau
sendiri angger.”
“Tidak, tidak,“ Ken Arok memejamkan
matanya. Meski-pun ia seorang yang tidak terkalahkan, namun dihadapan mpu
Gandring ia merasa terlampau kecil. Bukan karena mPu Gandring memiliki kemampuan
melebihi dirinya, tetapi justru karena senyumnya yang sama sekali tidak
membayangkan dendam itulah yang tidak dapat diatasinya.
Namun ketika ia membuka matanya, bayangan
itu telah tidak ada dihadapannya lagi. Yang tampak olehnya adalah kegelapan
halaman dalam bangsalnya. Sinar lampu yang melontar menyentuh dedaunan membuat
gambaran yang aneh didalam penglihatan Ken Arok.
Tidak. Bayangan itu masih ada. Bayangan itu
berdiri diantara dedaunan. Tetapi bayangan itu bukan lagi bayangan mPu Gandring
yang tersenyum.
Bayangan itu adalah bayangan wajah yang
marah dengan soror mata yang menyala. Bayang Akuwu Tunggul Ametung.
Dengan ujung jarinya ia menunjuk ke wajah
Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa, “Kau. Kau.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa menjadi
semakin berdebar-debar. Dan bayangan itu melangkah semakin dekat. Ditelinganya
Ken Arok mendengar Akuwu itu berkata, “Kau
sudah membunuh aku dan merampas isteriku. Sekarang kau akan menyia-nyiakan
anakku. Aku tidak rela Ken Arok. Aku tidak mendendam kematianku, apalagi karena
kau sudah berhasil menjadikan Tumapel sebuah negara yang besar yang dinamai
Singasari.“ suara yang terdengar ditelinga Ken Arok itu berhenti sejenak. Lalu,
“Tetapi ternyata kau akan mengusir anakku, Ken Arok. Kau akan mengusir Anusapati
dari kedudukan yang memang menjadi haknya. Kau akan memberikan hak itu kepada
anakmu yang lahir dari perempuan yang tamak dan dibakar oleh nafsu yang tidak
terkendali itu. Aku tidak rela. Aku akan membunuhmu bukan karena dendam karena
kematianku, tetapi semata-mata karena aku berusaha melindungi anakku.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
mematung ditempatnya. Wajah Akuwu Tunggul Ametung itu tampaknya bagaikan
membara.
Tetapi ketika Ken Arok menarik nafas
dalam-dalam dan berusaha menggugah kesadarannya sepenuhnya, maka bayangan
itu-pun menjadi kabur dan perlahan-lahan hilang sama sekali. Yang tampak
kemudian adalah cahaya lampu didedaunan yang bergerak-gerak disentuh angin
malam.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Kini
ialah yang sengaja membayangkan wajah Anusapati yang suram dan tunduk
dalam-dalam. Alangkah jauh bedanya antara pancaran wajah Akuwu Tunggul Ametung
dan puteranya Anusapati.
Tetapi Ken Arok mengerutkan keningnya.
Perbedaan itu bukan perbedaan yang mendalam. Perbedaan itu hanyalah perbedaan
kecil karena pengaruh lingkungannya. Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang Akuwu
yang berkuasa, ditakuti oleh bawahannya dan memiliki kemampuan yang mengagumkan,
sedang Anusapati hidup dalam tekanan batin yang tiada taranya, sehingga karena
itulah maka wajahnya seakan-akan selalu tampak muram.
Namun dalam pada itu keduanya memiliki
cahaya mata yang mendebarkan. Cahaya mata yang menatap jauh kedepan.
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
menarik nafas dalam-dalam. Bayangan-angan yang dilihatnya itu ternyata telah
menggetarkan hatinya. Seakan-akan orang-orang yang telah dibunuhnya itu datang,
kepadanya untuk memberinya peringatan, bahwa Singasari benar-benar akan dilanda
oleh goncangan yang dahsyat.
Namun dalam pada itu, selagi Ken Arok mulai
mengenang kembali masa-masa lampau itu, tiba-tiba saja seseorang berdiri
dihadapannya sambil bertolak pinggang. Berbeda dengan mPu Gandring yang berwajah
tenang, dan berbeda pula dengan Akuwu Tunggul Ametung yang meski-pun tidak
mendendamnya tetapi ia tidak rela bahwa anaknya akan disia-siakan, maka yang
dilihatnya kini adalah seorang yang memandangnya dengan penuh kebencian. Dengan
suara lantang ia berkata, “Aku memang mendendammu Ken Arok. Aku akan berusaha
untuk melepaskan dendamku dengan cara apa-pun juga. Aku tidak ikhlas mengenang
kematianku yang sia-sia karena perbuatanmu. Kau memang licik seperti iblis. Kau
pergunakan sifat-sifatku yang kurang baik untuk kepentinganmu yang jauh lebih
jahat dari sifat-sifatku sendiri. Apalagi kau sudah menjerumuskan aku kedalam
kematian yang rendah. Tunggulah bahwa saat itu akan datang. Kau-pun akan mati
dengan luka didadamu. Kau tidak usah menyesal Ken Arok. Hantu Karautan tidak
pantas untuk berlama-lama duduk diatas tahta.”
“O,“ Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
mengeluh. Ia sadar, bahwa sebenarnya tidak ada seorang-pun dihadapannya. Ia
sadar, bahwa Kebo Ijo itu hanya ada didalam angan-angannya. Tetapi seakan-akan
ia melihatnya dengan pasti seperti wadahnya yang luka oleh senjata dan
mengantarkan kematiannya.
“Sekarang semuanya bangkit kembali didalam
kenangan,“ desah Ken Arok. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa ia memang telah
membunuh ketiganya dengan licik sekali. Ia .dapat menepuk dada tanpa kegelisahan
apa-pun juga meski-pun ia mengenang juga kematian Maharaja Kediri, karena
kematian itu terjadi dimedan
perang. Tetapi tidak demikian dengan mPu
Gandring, Akuwu Tunggul Ametung dan Kebo Ijo.
Namun tiba-tiba Sri Rajasa itu
menggeretakkan giginya. Katanya, “Persetan dengan mereka. Mereka tidak dapat
berbuat apa-apa lagi atasku. Sekarang aku berkuasa, dan sekarang aku dapat
berbuat apa saja. Apalagi mereka yang sudah mati, sedangkan yang masih hidup-pun
tidak dapat berbuat apa-apa lagi atasku.”
Tetapi belum lagi ia selesai, mulai
membayang wajah Mahisa Agni yang tenang dan dalam. Sebuah trisula yang silau dan
Permaisurinya yang dapat memancarkan cahaya yang aneh.
“Gila, semuanya menjadi gila.”
Su Rajasa menghentakkan dirinya. Kemudian
sambil mengatupkan giginya rapat-rapat ia meninggalkan tempat itu dan masuk
kedalam biliknya. Dengan hati yang bergejolak, ia-pun membanting dirinya diatas
pembaringannya. Namun Sri Rajasa tidak segera dapat memejamkan matanya. Setiap
kali hilir mudik berganti-ganti bayangan yang mengganggunya. Yang sudah mati
mau-pun yang masih hidup kini.
Dalam pada itu, selagi malam menjadi gelap,
Sumekar segera melakukan pesan Mahisa Agni. Meski-pun sambil bersembunyi, ia
dapat mengawasi bangsal Putera Mahkota. Tetapi ketika ia teringat pesannya
kepada prajurit yang ditemuinya sedang mengawasi Pangeran Pati itu, ia menjadi
bimbang.
“Aku akan menunggu prajurit itu sejenak.
Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”
Tetapi hatinya tetap risau, sedang para
prajurit yang bertugas semuanya berkumpul dibagian depan bangsal.
Tiba-tiba saja Sumekar mendapat akal.
Dilontarkannya sebuah batu yang besar kesisi bangsal itu sehingga mengejutkan
para penjaga. Beberapa orang datang dengan tergesa-gesa, dan mereka menemukan
sebongkah batu.
“Aneh,“ desis salah seorang dari mereka.
“Aneh. Batu sebesar ini,“ sahut yang lain.
Mereka-pun segera bersibak ketika Anusapati
yang mendengar suara itu pula datang mendekat. Diamat-amatinya batu itu dengan
saksama. Dan ia-pun sependapat, bahwa bukan kekuatan orang kebanyakan yang dapat
melemparkan batu sebesar itu.
“Hatilah berjaga-jaga,“ pesan Anusapati
kepada para prajurit, “jika ada sesuatu yang mencurigakan, berilah aku isyarat.
Aku sendiri yang akan menyelesaikan jika kalian menemui kesulitan.”
“Hamba tuanku,“ jawab pemimpin peronda itu.
Ia percaya bahwa Anusapati akan mampu menyelesaikan jika benar-benar ada
kekuatan yang melanpaui kekuatan manusia kebanyakan datang kebangsal itu. Karena
itu, mereka hanya bertugas untuk mengawasinya dengan baik.
Karena itulah maka para prajurit yang
bertugas itu-pun segera berpencar. Disetiap sudut terdapat dua orang dengan
senjata telanjang berdiri dan berjalan hilir mudik, Sumekar menarik nafas
dalam-dalam. Ia mengerti bahwa ada kekhawatiran untuk mencari siapakah yang
melemparkan batu itu. Dan Anusapati tidak mau meninggalkan isteri dan anaknya
dalam keadaan itu.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Usahanya
untuk memencar para prajurit itu telah berhasil. Dan ternyata bahwa Anusapati
tidak memerintahkan seorang-pun untuk mencarinya. Agaknya Anusapati berpendapat,
tidak akan ada gunanya untuk mencari orang yang melemparkan batu itu. Jika orang
itu masih belum pergi, maka orang itu tentu orang yang mapan untuk bertempur,
sedangkan Anusapati sendiri tidak akan sampai hati meninggalkan bangsalnya,
karena hal itu dapat sekedar merupakan pancingan saja agar ia meninggalkan
isteri dan anaknya.
Dengan demikian, maka bangsal Putera
Mahkota itu kini diliputi oleh kesiagaan yang tinggi, sehingga karena italah
maka Sumekar-pun kemudian dengan tenang meninggalkannya sejenak.
Ditempat yang sudah dijanjikan, maka
Sumekar-pun menunggu kedatangan prajurit itu sejenak. Namun ia kini harus
menyiapkan
ceritera apakah yang akan dikatakannya
kepada prajurit itu. Semula ia hanya akan menjebaknya dan melepaskan jejak
pengintaian prajurit itu. Namun ternyata Mahisa Agni tidak menyetujuinya dan ia
harus mendapatkan ceritera yang akan dikatakannya.
Sejenak kemudian, maka prajurit itu-pun
dilihatnya merunduk-runduk menuju kesudut taman yang gelap seperti yang
dikatakannya. Namun ternyata bahwa prajurit itu-pun telah bersiap jika ia hanya
sekedar dijiebak oleh Sumekar.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata
bahwa ia merasa aneh terhadap dirinya sendiri. Ketika ia memandang prajurit itu,
rasa-rasanya ia menyadari betapa dirinya sekarang dicengkam oleh perasaannya
saja. Jika Mahisa Agni tidak memperingatkannya, maka prajurit itu-pun pasti akan
segera menemui ajalnya.
“Pengaruh pertentangan antara Sri Rajasa
dan Tohjaya disatu pihak dengan Pangeran Pati dilain pihak membuat aku
kadang-kadang terbenam didalamnya. Sebenarnya aku dapat berdiri diluar, tetapi
karena Pangeran Pati itu seakan-akan sudah menjadi momonganku, maka rasa-rasanya
akulah yang justru bertanggung jawab. Bagi Singasari, lebih baik akulah yang
harus tenggelam daripada tuanku Anusapati apabila memang seharusnya demikian.
Jika kakang Mahisa Agni setuju, barangkali aku dapat segera melakukannya.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ketika
prajurit itu-pun kemudian sampai ditempat yang dikatakannya, maka Sumekar-pun
segera berdesis.
Prajurit itu terkejut. Namun Sumekar
berkata, “Jangan terkejut. Aku menunggumu disini.”
Prajurit itu memandang Sumekar yang duduk
didalam kegelapan, lalu katanya, “Apa yang kau kerjakan disitu?”
“Menunggumu. Bukankah aku berjanji
menunggumu disini?”
Prajurit itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Lalu ia-pun duduk disebelah Sumekar sambil berkata, “Cepat katakan.
Apakah yang kau ketahui tentang Pangeran Pati itu.“
“Jangan tergesa-gesa, duduklah. Barangkali
kau masih lelah bertugas sehari-harian.“
“Jangan merajuk seperti anak-anak. Cepat
katakan.”
“Apakah kau masih akan bertugas lagi?”
“Jangan banyak bicara. Aku tampar mulutmu.
Cepat katakan apa yang kau ketahui. Jika aku katakan semuanya nanti kepada
tuanku Tohjaya, maka kita pasti akan mendapat hadiah.”
“Ah, Kaulah yang akan mendapat hadiah.
Bukan aku.”
“Kita berdua.”
“Dan kau benar-benar akan memberi aku
hadiah itu?”
“Tentu. Kau akan mendapat bagian. Tetapi
cepat, sebelum aku kehabisan kesabaran.”
Sumekar mengerutkan keningnya. Katanya,
“Baiklah.”
Prajurit itu menunggu, tetapi Sumekar tidak
segera mengatakan sesuatu sehingga sekali lagi prajurit itu membentaknya
meski-pun tidak cukup keras, “Cepat. Jangan berbuat gila terhadapku. Apakah kau
memerlukan uang untuk keteranganmu itu.”
“Ya,“ sahut Sumekar, “sekedarnya. Aku
kemarin kalah bermain kemiri. Aku mempunyai hutang kepada kawan-kawanku juru
taman juga.“
“Gila, aku patahkan tulang rahangmu. Peduli
dengan hutangmu. Cepat katakan.“
Prajurit itu-pun segera meraih lengan
Sumekar dan mengguncangnya. Dan Sumekar-pun sama sekali tidak melawannya. Sambil
mendorong Sumekar sehingga ia terjatuh prajurit itu berkata, “Aku injak lehermu
jika kau memperlambat keteranganmu. Biar saja aku tidak mendengar keterangan
apapun,
tetapi aku puas jika aku dapat membunuhmu.
Tidak ada seorang-pun yang akan mengetahui siapakah yang membunuhmu juru taman
gila.“
“Jangan terlampau kasar,” sahut Sumekar,
“aku menjadi takut dan semua ingatanku akan hilang.”
“Cepat, cepat.”
“Baiklah,“ Sumekar-pun kemudian memperbaiki
duduknya. Sejenak ia merenung. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Ki Sanak.
Jika kau ingin tahu dan barangkali dengan demikian kau dapat memberi petunjuk
kepada tuanku Tohjaya bahwa tuanku Anusapati tidak berhak atas tahta, adalah
bahwa ibu Anusapati itu sebenarnya bukan seorang puteri bangsawan. Ia adalah
seorang gadis desa. Ia datang dari padukuhan Panawijen.”
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Lalu,
“Ya, terus?“
“Itulah keteranganku. Kau dapat
menceriterakannya kepada tuanku Tohjaya.”
“He,“ prajurit itu membelalakkan matanya,
“hanya itu?”
Sumekar memandang prajurit itu dengan
heran. Selangkah ia bergeser surut dan berkata, “Ya itu. Bukankah hal itu
penting sekali bagi tuanku Tohjaya?”
“Gila, aku sebek mulutmu. Aku tidak perlu
igauan semacam itu. Cepat katakan apa yang kau ketahui tentang tuanku
Anusapati?”
“Itulah, itulah yang aku ketahui. Apakah
hal itu bukan suatu keterangan yang penting.”
“Kau gila. Setiap hidung di Singasari tahu
bahwa tuanku Permaisuri berasal dari Panawijen. Bahwa tuan Puteri Ken Dedes
seorang gadis padepokan. Itu bukan keterangan yang aneh lagi bagi tuanku
Tohjaya.”
“O,“ Sumekar mengerutkan keningnya, “apakah
tuanku Tohjaya sudah, mengetahuinya? Dan bagaimana dengan tuanku Sri Rajasa?“
“Semua orang sudah tahu bodoh. Semua
orang?”
“Akulah yang tidak tahu bahwa semua orang
sudah mengetahuinya. Aku kira kabar ini merupakan kabar yang baik bagimu.”
Prajurit yang marah itu tiba-tiba
mencengkam leher Sumekar sambil menggeram, “Kau harus aku bunuh sekarang. Aku
baru menyadari kebodohanku sekarang. Jika demikian kau siang tadi sekedar
menghindarkan Putera Mahkota dari pengawasanku. Ternyata setelah aku
mendengarkan bicaramu. Putera Mahkota tidak aku lihat lagi. Dan barangkali kau
sengaja melenyapkan jejaknya dihadapan tuanku Tohjaya dan Sri Rajasa,“ prajurit
itu berhenti sejenak. Lalu, “He, jika demikian kau pasti seorang pengikut
Pangeran Pati.”
Dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Dan
prajurit itu berkata seterusnya, “jangan ingkar. Dan sekarang kau mencoba
mempermainkan aku ya? Aku tidak dapat kau kelabui. Dan itulah sebabnya kau
menebak tempat ketika kau lihat aku memperhatikan Pangeran Pati itu hilir mudik
dari bangsal tuanku Permaisuri kebangsal yang dipergunakan oleh kakanda tuanku
Permaisuri, Mahisa Agni.”
Sumekar masih belum menjawab. Dan wajahnya
masih kelihatan ketakutan dan bergeser semakin surut, “Maaf, aku sama sekali
tidak berniat demikian.”
“Bohong,“ tiba-tiba saja cengkaman tangan
orang itu menjadi semakin kuat, “ayo katakan. Apakah kau pengikut Putera
Mahkota? Siapa saja pengikut yang lain?”
“Aku tidak tahu, aku tidak.”
“Jangan berbohong. Aku dapat membunuhmu
sekarang dan melemparkan mayatmu kedalam gerumbul pertamanan yang kau pelihara
itu. Setiap orang besok akan terkejut mendengar bahwa seorang juru taman telah
terbunuh. Tetapi mereka tidak tahu siapa yang telah membunuh.”
“Kau akan membunuhku?“ bertanya Sumekar.
“Ya.”
“Apakah cukup alasan bagimu untuk membunuh
seseorang? Bukankah aku hanya berbuat kesalahan kecil, karena aku tidak tahu
bahwa seluruh rakyat Singasari sudah mengetahui bahwa tuanku Permaisuri adalah
seorang yang berasal dari padesan.”
“Kesalahanmu bukan sekedar mempermainkan
aku dengan pura-pura tidak mengetahui hal itu. Tetapi bahwa kau sudah
menggagalkan pengawasanku terhadap Putera Mahkota yang akan dapat aku pergunakan
sebagai bahan laporanku kepada tuanku Tohjaya. Lebih dari itu, kau sudah
mengetahui bahwa didalam udara Singasari yang panas ini, aku sudah menentukan
sikap dan berpihak.”
“Aku juga berpihak kepadamu, kepada tuanku
Tohjaya,“ berkata Sumekar.
“Aku tidak peduli,“ prajurit itu
mengguncang leher Sumekar yang masih dicengkamnya, “aku tidak mempercayaimu.”
“Tetapi, tentu ada yang akan menemukan
mayatku.”
“Tentu. Meski-pun demikian tidak
seorang-pun yang akan mengetahui siapa yang telah melakukan. Tidak ada
seorang-pun yang tahu aku datang kemari, dan tidak ada seorang-pun yang tahu
bahwa kita pernah berhubungan.”
“Tetapi jangan kau bunuh aku.”
“Persetan,“ tangan prajurit yang mencengkam
leher Sumekar menjadi semaki kuat menekan, sehingga napas Sumekar menjadi
terengah-engah.
“Aku dapat berteriak,“ berkata Sumekar
tersendat-sendat.
“Kau tidak akan mempunyai kesempatan
berteriak. Coba berteriaklah,“ prajurit itu-pun kemudian menyentakkan tangannya
sehingga ia mencengkam leher Sumekar dengan sekuat tenaganya.
Sumekar benar-benar merasa tercekik
sehingga nafasnya hampir terputus karenanya. Sudah barang tentu ia tidak akan
membiarkan dirinya mati dengan cara itu.
Karena itu, maka ia-pun kemudian mencoba
menghentakkan dirinya. Seakan-akan tidak disadarinya, kakinya telah menghantam
perut prajurit yang mencekiknya. Demikianlah kerasnya, sehingga prajurit itu-pun
telah terlempar selangkah surut dan cekikannya-pun terlepas. Ia sama sekali
tidak menduga bahwa Sumekar masih akan berani meronta dan bahkan mendorongnya
dengan kakinya.
“Gila,“ prajurit itu menggeram.
“Aku akan berteriak,“ berkata Sumekar,
“jika kau menyerang sekali lagi, aku akan berteriak sekuat-tenagaku. Tentu ada
prajurit yang dapat mendengarnya.”
Prajurit itu menggeram. Namun ia sudah
terlanjur bertindak. Jika Juru taman itu tidak dibunuhnya, maka ia akan dapat
menjadi orang yang sangat berbahaya baginya, dan bahkan jika ia sempat
mengatakannya kepada Anusapati. maka Anusapati dapat mengambil tindakan atasnya
sebelum ia berbuat apa-apa.
Karena itu, maka sejenak ia berdiri tegak.
Ia tidak boleh memberikan kesan bahwa ia masih akan menyerang agar Sumekar tidak
berteriak dan mengejutkan para prajurit.
“Jangan ganggu aku lagi,“ berkata Sumekar
sambil melangkah surut.
Tetapi prajurit itu ternyata tidak
membiarkannya. Selagi Sumekar bergeser, itu-pun segera meloncat menerkam.
Menurut perhitungannya, Sumekar tidak akan berkesempatan mengelak. Tangannya
pasti akan langsung berhasil mencengkam leher juru taman itu.
Namun dugaannya ternyata keliru. Prajurit
itu sama sekali tidak menyentuh tubuh juru taman itu. Diluar dugaannya, maka
juru taman itu mengelak kesamping, sehingga justru karena itu, maka
prajurit itu-pun jatuh tertelungkup di atas
tanah yang mulai basah oleh embun.
Dengan cepatnya prajurit itu meloncat
berdiri. Matanya menjadi semakin merah dan nafasnya tiba-tiba terengah-engah
oleh kemarahan yang menyesak dadanya.
“Kau gila. Kau masih juga sekarat sebelum
kau mati. Jangan membuat aku marah sekali, sehingga aku mengambil keputusan yang
mengerikan. Cepat menyerah dan beri kesempatan aku mencekikmu sampai mati.”
“Ki Sanak,“ berkata juru taman itu, “jangan
berbuat kasar. Aku akan benar-benar berteriak. Bukankah aku tidak bersalah sama
sekali. Kaulah yang bersalah karena kau berusaha mengadu domba antara kedua
putera Sri Rajasa. Kau mencari kelemahan dan mungkin kesalahan tuanku Pangeran
Pati, lalu kau ceriterakan kepada tuanku Tohjaya. Tetapi sebaliknya kau-pun akan
menceriterakan kelemahan-kelemahan tuanku Tohjaya kepada tuanku Putera Mahkota.
Nah, apakah sebenarnya keuntungan yang kau dapat dengan perbuatanmu yang licik
itu?”
“Persetan,“ geram prajurit itu, “aku tidak
peduli. Aku memang akan membunuhmu. Apa-pun yang aku lakukan, kau tidak usah
mempersoalkannya. Aku sekarang akan membunuhmu, dan habis perkara.”
“Tetapi tidak bagiku. Tentu aku tidak
senang kau membunuhku karena aku masih ingin tetap hidup meski-pun aku menjadi
semakin tua. Aku masih senang menjadi juru taman di Singasari. Aku masih senang
memelihara taman-tamanan. Karena itu, jika kau masih tetap menyerang aku, aku
akan berteriak.”
Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Tetapi
ia menjadi semakin bernafsu untuk membunuhnya. Karena itu, maka sekali lagi ia
bersiap untuk meloncat menerkam juru taman itu.
Sumekar melihat kedua kaki prajurit yang
sudah siap untuk meluncur itu. Sejenak ia termangu-mangu. Sebenarnya
kesabarannya sudah sampai pada batasnya.
“Jika saja kakang Mahisa Agni tidak
berpesan mawanti-mawanti,“ katanya didalam hatinya.
Dalam keragu-raguan itu ia melihat prajurit
itu mulai bergerak. Karena ia masih belum dapat menemukan keputusan, maka
tiba-tiba saja mulutnya benar-benar telah berteriak, “Tolong, tolong.”
Suaranya terputus ketika kedua tangan
prajurit itu menerkam lehernya. Tangan itu bagaikan hendak mematahkan tulangnya
sehingga karena itu Sumekar berusaha untuk melepaskannya.
Dalam saat yang pendek dan tiba-tiba itu ia
tidak mempunyai kesempatan berpikir. Karena itu yang dapat dilakukannya justru
menjatuhkan dirinya sehingga keduanya-pun berguling-guling beberapa kali.
Dalam keadaan itu, prajurit itu-pun tidak
segera dapat memusatkan kekuatan pada kedua tangannya untuk mencekik juru taman
itu, bahkan tangannya mengendor sejenak dan prajurit itu masih harus menahan
dirinya yang sedang berguling itu. Tetapi rasa-rasanya dorongan loncatannya
terlalu keras sehingga untuk beberapa lamanya ia tidak berhasil menahan dirinya
dan karena itu maka keduanya masih saja berguling beberapa kali.
Dalam pada itu, ternyata suara juru taman
itu dapat didengar oleh beberapa prajurit yang sedang bertugas. Sejenak mereka
termangu-mangu. Namun suara itu jelas mereka dengar sehingga sejenak kemudian
pemimpin peronda digardu yang terdekat dengan taman itu-pun bersama dengan dua
orang prajurit pengawal yang lain, berlari-lari memasuki taman yang gelap.
Sejenak mereka berdiri termangu-mangu
karena mereka tidak segera melihat sesuatu. Namun sejenak kemudian mereka
mendengar suara disudut yang gelap seseorang yang mengaduh tertahan.
Dengan sigapnya ketiganya berlari-lari
kearah suara itu. Beberapa langkah mereka berhenti dan dengan isyarat
pemimpinnya memberikan perintah untuk memencar.
Dengan senjata telanjang ketiganya
melangkah mendekati arah suara itu. Namun mereka terkejut ketika mereka
mendengar langkah orang berlari-lari menjauh. Tetapi sejenak kemudian suara
itu-pun hilang dari telinga mereka.
Namun demikian, mereka masih mendengar
dengus nafas dan keluhan tertahan-tahan itu.
Pemimpin peronda itu termangu-mangu
sejenak. Namun sejenak kemudian ia meloncat ke balik gerumbul pohon bunga-bunga
an sambil mengacungkan senjata.
“Siapa?”
Yang terdengar adalah suara keluhan pendek.
“Kenapa kau he? Siapa kau?”
Kedua prajurit yang lain-pun segera
mendekat. Mereka melihat seseorang terbaring ditanah dengan nafas yang hampir
terputus.
“Kau juru taman he?”
Yang terbaring itu adalah Sumekar. Ia-pun
kemudian duduk dengan pertolongan para prajurit peronda itu. Namun nafasnya
masih tetap terengah-engah.
“Kenapa kau he?“
“Itu, itu,“ suara Sumekar terputus-putus.
“Apa yang terjadi?”
“Leherku,“ jawab Sumekar sambil memegangi
lehernya sendiri.
“Kau dicekik. He?”
Sumekar menganggukkan kepalanya beberapa
kali. Tetapi tangannya masih tetap memegang lehernya.
“Siapakah yang mencekikmu?“
Sumekar menggelengkan sambil menjawab, “Aku
tidak tahu. Seseorang tiba-tiba saja mencekik leherku sehingga aku hampir mati.
Aku hanya mendapat kesempatan berteriak sekali.”
“Ya, kami mendengar. Dan kami mendengar
langkah orang berlari. Untunglah bahwa kau masih hidup.”
“Hampir saja aku mati,“ berkata Sumekar.
“Marilah,“ berkata pemimpin prajurit
pengawal yang sedang meronda itu, “tetapi kenapa kau berada disini malam-malam
begini?”
“Aku sedang mencoba menanam sebatang
manggis putih. Setiap saat aku menitikkan air pada batang yang sedang mulai
tumbuh itu. Adalah jarang sekali terdapat sebatang pohon manggis putih di
Singasari. Aku mendapat benihnya dari seorang kawanku di Batil.”
“Kau tanam ditaman ini?”
“Ya. Aku tanam ditaman ini.”
“Lalu, kenapa kau dicekik orang?”
“Orang itu telah mencuri batang manggis
putih itu. Aku mencoba mempertahankannya. Tetapi aku dicekiknya sampai hampir
saja aku mati.”
Prajurit itu mengerutkan keningnya.
Kemudian katanya, “Apakah tuah pohon manggis putih sehingga seseorang telah
mencurinya?”
“Ketenteraman dan derajat. Kawanku di Batil
menemukan benihnya dihutan belantara. Ia mendapatkan beberapa batang ditengah
hutan, dan sebuah manggis putih yang masak. Diambilnya buah masak itu
bijinya-pun ditanamnya dirumah. Ternyata hanya dua batang pohon manggis putih
yang dapat tumbuh. Satu ditanamnya sendiri dan yang satu lagi dibawanya kemari.”
Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Lalu katanya seakan-akan kepada diri sendiri, “Ketenteraman dan
derajad.“ Lalu tiba-tiba, “Tetapi siapakah orang itu? Dari mana ia tahu bahwa
kau mempunyai sebatang pohon manggis putih?”
“Aku tidak tahu. Dan aku belum pernah
melihat orang itu.”
Prajurit itu berpikir sejenak. Kemudian
katanya kepada prajurit yang lain, “Kita cari di halaman istana ini. Jika ada
orang yang tidak dikenal atau siapa-pun yang membawa sebatang pohon manggis
orang itu harus ditangkap.”
“Apakah aku harus pergi ke gardu induk.”
“Ya.”
Prajurit itu-pun segera meninggalkan taman
dan pergi ke gardu induk untuk melaporkan peristiwa yang terjadi didalam taman
dan seperti yang dikatakan oleh pemimpinnya, sebaiknya dicari diseluruh taman
dan halaman, seseorang yang telah mencuri batang manggis putih itu.
Dalam pada itu, maka pemimpin peronda
itu-pun memapah Sumekar dibawa kegardunya. Tetapi Sumekar minta agar ia dibawa
saja keponooknya.
Aku akan mencoba untuk beristirahat
sebaik-baiknya. Jika pernafasanku berjalan baik, aku kira aku sudah tidak
apa-apa lagi.”
“Apakah orang itu tidak mengancammu lagi?”
“Aku kira ia tidak akan berani datang lagi,
apalagi karena orang itu mengetahui bahwa suaraku telah didengar oleh para
prajurit.”
Pemimpin peronda itu berpikir sejenak.
Lalu, “Baiklah, Aku bawa saja kau kegubugmu.”
Sejenak kemudian maka Sumekar-pun telah
berbaring didalam biliknya, setelah ia menyelarak pintu, “Apakah kau dapat
berjalan kepembaringanmu?“ bertanya prajurit-prajurit itu dari luar pintu.
“Ya, aku sudah berbaring sekarang.”
“Baiklah. Hati-hatilah.”
“Sepeninggal prajurit itu, Sumekar-pun
segera duduk dibibir pembaringannya sambil menarik nafas dalam-dalam. Ternyata
nafasnya benar-benar menjadi sesak. Bukan karena cekikan prajurit
yang akan membunuhnya, tetapi justru karena
ia harus menahan nafas beberapa saat dan berpura-pura kesakitan.
“Kenapa aku tidak membunuhnya saja,“
tiba-tiba ia menggeram. Tetapi kemudian terngiang ditelinganya suara Mahisa Agni
yang melarangnya melakukan pembunuhan-pembunuhan serupa itu apa-pun alasannya.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Hampir
saja ia kehilangan pengendalian diri. Prajurit itu hampir saja memaksanya untuk
melawan dan membunuhnya sama sekali.
Untunglah bahwa ia masih sempat
mengendalikan dirinya. Meski-pun demikian lehernya terasa juga agak sakit oleh
cengkaman prajurit yang mencekiknya itu.
Dalam pada itu, prajurit pengawal yang
meronda dan menjumpai seorang juru taman yang hampir mati dikebun itu-pun telah
melaporkannya ke gardu induk. Karena itulah maka beberapa prajurit-pun segera
berpencaran mencari orang yang telah berusaha membunuh juru taman itu.
Tetapi mereka tidak menemukan seseorang
didalam halaman istana Singasari itu. Mereka tidak menemukan orang lain kecuali
para prajurit yang sedang bertugas. Dan sudah barang tentu bukan salah seorang
dari para prajurit itulah yang telah melakukannya. Jika yang melakukannya salah
seorang dari mereka maka juru taman itu akan dapat mengenalnya. Setidak-tidaknya
dari pakaian dan kelengkapannya. Tetapi juru taman itu mengatakan bahwa yang
melakukannya itu bukan seorang prajurit Singasari.
Sementara itu, prajurit yang telah berusaha
membunuh juru taman itu menjadi berdebar-debar. Kegelisahan yang sangat
mencengkam hatinya. Tentu juru taman itu dapat mengenalnya dan apabila ia dibawa
oleh para peronda untuk menemukan orang yang telah berusaha membunuhnya, maka ia
akan dapat mengenalnya.
Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada
menunggu. Jika juru taman itu datang dan menunjuk hidungnya, maka ia akan
ingkar. Tidak ada bukti-bukti yang dapat memberatkan tuduhan itu.
Namun ternyata bahwa juru taman itu tidak
ikut dengan para peronda yang sedang mencarinya. Juru taman itu tidak datang
menunjuk hidungnya dengan tuduhan itu. Dengan demikian maka para prajurit
itu-pun tidak menemukan seorang-pun yang pantas mereka curigai melakukan
percobaan pembunuhan itu.
“Beberapa hal serupa ini terjadi,“ desis
seorang prajurit, “setiap kali terjadi sesuatu, maka setiap kali kita tidak
dapat menemukan seorang-pun yang dapat dituduh melakukannya. Apalagi benar-benar
berhasil menangkap mereka selagi mereka sedang berbuat.“
Kawannya menganggukkan kepalanya. Katanya,
“Suatu pertanda buruk. Sejak di halaman ini muncul bayangan yang berkerudung
hitam dan bahkan yang telah dikejar sendiri oleh Sri Rajasa. Kemudian
berturut-turut peristiwa yang aneh, dan yang terakhir adalah bau yang menusuk
hidung itu, rasa-rasanya Singasari telah diraba oleh suatu peristiwa yang
menggetarkan isi dada.
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Hampir
setiap orang didalam istana Singasari sebenarnya telah merasakan nafas yang
agaknya semakin menyesakkan isi istana. Tetapi mereka tidak mengerti dan sama
sekali tidak mempunyai gambaran apakan yang sebenarnya akan terjadi.
“Kita tidak usah melaporkan hal ini kepada
Panglima Pasukan Pengawal,“ berkata perwira yang malam itu bertugas memimpin
penjagaan diseluruh istana dan lingkungannya. Hal ini hanya akan menambah
persoalan yang semakin bertumpuk di istana ini. Bagaikan rasa-rasanya langit
menjadi semakin buram. Setiap saat hujan dapat turun dengan lebatnya. Bahkan
dengan petir dan guruh.”
Para prajurit yang ada disekitarnya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti, bahwa laporan yang disampaikan
tentang hal itu hanya akan menambah kemarahan Panglima yang sudah menjadi
semakin pening memikirkan keamanan didalam lingkungan istana yang menjadi
semakin memburuk.
Demikianlah, malam itu Sumekar benar-benar
telah menghindari suatu pembunuhan. Bahkan justru dirinya sendirilah yang telah
dibiarkannya menjadi sasaran kemarahan prajurit itu, sehingga mencengkam
lehernya dan mencekiknya. Jika juru taman itu bukan Sumekar maka di taman itu
tentu sudah terjadi pembunuhan. Tetapi juru tamannyalah yang mati terbunuh oleh
prajurit itu, bukan sebaliknya.
Di pagi-pagi benar, Mahisa Agni telah
bangun dan membersihkan dirinya. Tanpa menimbulkan kecurigaan ia berjalan-jalan
di taman di halaman istana itu. Dilihatnya beberapa orang juru taman sudah mulai
melakukan tugas mereka dan terpencar di halaman yang luas. Seorang berjalan
hilir mudik membawa air untuk menyiram tetamanan. Yang lain menyapu halaman dan
membersihkan tanaman disekitar bangsal-bangsal. Yang lain membersihkan daun-daun
kuning yang gugur dibawah pohon-pohon besar dan pohon bunga-bungaan.
Sumekar-pun telah sibuk pula diantara
mereka. Dengan tekun dan sungguh-sungguh ia menyiangi pohon-pohon bunga yang
sedang tumbuh.
Perlahan-lahan Mahisa Agni yang
berjalan-jalan menghirup udara dipagi yang cerah itu mendekatinya. Lalu berdiri
di sampingnya sambil bertanya, “Apakah yang terjadi?”
Sumekar-pun menceriterakannya apa yang
telah terjadi semalam ditaman itu.
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Aku juga
mendengar derap kaki para prajurit. Tetapi aku tetap diam di pembaringanku.
Agaknya mereka sedang mencari prajurit yang siap membunuhmu.”
“Ya, demikianlah agaknya.”
Mahisa Agni masih tersenyum. Ia dapat
membayangkan bagaimana Sumekar harus menahan diri. Jika ia tidak berhasil
mengendalikan dirinya, maka ia tidak akan menemui kesulitan apa-pun untuk
membunuh prajurit itu.
“Kau telah berhasil adi Sumekar,“ berkata
Mahisa Agni kemudian, “jika kau tidak berhasil, maka suasana pagi ini di istana
Singasari akan menjadi sangat keruh. Prajurit Singasari akan berlari-larian dari
sebuah gardu kegardu yang lain, mengabarkan bahwa seorang prajurit telah
terbunuh di taman. Tetapi karena kau berhasil mempertahankan kesabaranmu, maka
pagi ini kita tidak melihat keributan apapun. Mungkin beberapa orang prajurit
pengawal sedang membicarakan peristiwa yang mereka lihat semalam tentang dirimu,
tetapi pembicaraan itu akan segera berakhir. Tetapi jika sesosok mayat prajurit
pengawal terbujur mati, persoalannya pasti akan menjadi berkepanjangan.
Bagaimana-pun juga prajurit pengawal di istana Singasari memiliki
kesetia-kawanan yang mendalam.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Karena mereka tidak menemukan pembunuhnya,
maka setiap orang di istana ini akan dicurigai. Bahkan mungkin mereka akan
mencuriga aku, mencurigai Putera Mahkota dan beberapa orang lain. Kecurigaan itu
tentu akan menyulitkan gerak kita selanjutnya, dan apabila akhirnya mereka
mengetahui bahwa orang itu termasuk salah seorang pengawal Tohjaya, maka mereka
pasti akan segera mencari sasaran kecurigaan mereka pada pihak yang lain. Hal
itu akan dapat menimbulkan kesan yang kurang dan tidak menguntungkan bagi
Pangeran Pati.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan
ia-pun merasa beruntung juga bahwa ia tidak membiarkan luapan perasaannyalah
yang berbicara.
“Lebih dari itu Sumekar,“ berkata Mahisa
Agni, pagi ini Anusapati akan menghadap ibunda Permaisuri untuk membicarakan
sesuatu yang penting sebagai kelanjutan pembicaraannya kemarin. Jika suasana
pagi ini suram, maka pembicaraan itu tidak akan membawa hasil seperti yang
diharapkan oleh anak itu.”
“Aku mengerti kakang. Aku akan tetap
berusaha mempertahankan keseimbangan perasaanku untuk waktu-waktu mendatang.”
“Terima kasih,“ jawab Mahisa Agni, “mungkin
aku tidak dapat terlalu lama tinggal di Singasari. Jika Sri Rajasa menganggap
kehadiranku disini mengganggu, maka aku pasti akan segera diperintahkannya untuk
kembali ke Kediri. Namun sementara ini aku berusaha untuk lebih lama lagi
tinggal dan minta agar Permaisuri masih tetap berpura-pura sakit.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mudah-mudahan Mahisa Agni masih dapat memperpanjang kehadirannya di istana
Singasari dalam keadaan yang gawat ini. Jika demikian maka ia tidak akan
dibebani oleh perasaan tanggung jawab yang terlampau berat atas Putera Mahkota,
karena tanpa Mahisa Agni, maka ialah orang yang paling tua yang dapat dianggap
menjadi pelindung Anusapati.
Sejenak kemudian, pembicaraan itu-pun mulai
berkisar dari keadaan yang semakin meruncing itu kepembicaran lain yang tidak
berarti. Ketika seorang juru taman yang lain mendekati mereka, maka Mahisa Agni
sedang bertanya kepada Sumekar tentang manggis putihnya yang hilang.
“Aku tidak melihat batang manggis putih
yang kau tanam dan kau katakan hilang itu,“ bertanya seorang kawannya.
“Aku menanamnya disudut itu,“ jawab
Sumekar, “pohon manggis putih itu tidak dapat tumbuh sebesar pohon manggis
biasa. Batangnya lebih kecil, tetapi daunnya lebih rimbun dan lebih kecil
sedikit.“
“Aku belum pernah melihatnya,“ berkata
kawannya.
“Aku juga belum,“ sahut Sumekar kemudian,
“aku baru mendengar dari kawanku yang melihat pohon itu tumbuh di tengah hutan
dan berhasil menanam bijinya meski-pun, hanya dua batang.”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu katanya, “sayang. Jika benar yang hilang itu sebatang pohon manggis putih.”
“Tentu benar. Kawanku itu tidak pernah
berbohong.“
“Mungkin kawanmu itu memang tidak pernah
berbohong, tetapi kaulah yang berbohong.”
Sumekar mengerutkan keningnya. Terasa
dadanya berdebaran. Hampir saja ia menyangka bahwa juru taman itu telah
mengetahui bahwa sebenarnya ia tidak menanam sebatang pohon manggis putih.
Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam
ketika ia mendengar Mahisa Agni tertawa pendek sambil berkata, “Apakah juru
taman yang seorang ini sering berbohong.”
“Tidak, tidak tuan,“ jawab juru taman kawan
Sumekar itu, “aku tidak bermaksud mengatakan demikian.”
Sumekar-pun tertawa pula. Katanya, “Hampir
saja aku marah. Aku kira kau bersungguh-sungguh.”
“Tentu tidak. Kau adalah seseorang yang
paling baik ditaman ini. Kau membiarkan rangsum makananmu diterima oleh
siapa-pun yang memerlukannya, dan bahkan kau kadang-kadang membawa makanan jika
kau bekerja.”
“Ada-ada saja kau,“ sahut Sumekar, “hanya
apabila aku sedang mutih sajalah aku tidak menerima rangsumku karena aku sedang
tidak makan nasi.“
Mahisa Agni tersenyum, sedang juru taman
itu-pun tertawa.
Dan sejenak kemudian maka Mahisa Agni-pun
berkata, “Kerjalah. Agaknya aku disini mengganggu kalian karena kalian telah
berhenti bekerja. Atau kalian memang memanfaatkan kehadiranku ini untuk
bermalas-malas?“
Kedua juru taman itu tertawa semakin keras,
sehingga beberapa orang yang mendengarnya memandanginya dengan heran. Seorang
juru taman yang lain yang kebetulan sedang melintas sambil membawa seonggok
sampah, telah berhenti termangu-mangu.
“Berjalanlah terus,“ berkata juru taman
yang sedang tertawa itu. Lalu, “Aku telah menerima hadiah dari tuanku Mahisa
Agni.”
Orang itu tidak berjalan terus, justru ia
berhenti sambil mengerutkan keningnya. Bahkan kemudian diletakkannya sampah itu
dan berjalan mendekat, “Apakah aku juga akan menerima hadiah.”
“Mintalah kepada kawanmu itu,“ sahut Mahisa
Agni, “ialah yang membagi hadiah hari ini, karena hari ini adalah hari yang baik
baginya.“
Juru taman itu bersungut-sungut. Tetapi ia
tidak berani berbuat apa. Sambil berjongkok ia memandang Mahisa Agni yang
melangkah pergi meninggalkan taman itu.
“Gila kau,“ juru taman itu menggerutu,
sedang kawannya masih saja tertawa berkepanjangan, sedang Sumekar hanya
tersenyum-senyum saja memandang kawannya yang kecewa.
Dalam pada itu, selagi para juru taman itu
berkelakar, Anusapati telah meninggalkan bangsalnya menuju kebangsal ibundanya.
Meski-pun kadang-kadang ia menjadi ragu-ragu tetapi akhirnya ia menetapkan bahwa
ia harus melangkah terus menjumpai ibunda Permaisuri.
“Mudah-mudahan ibunda tidak salah sangka,“
berkata Anusapati.
Kedatangannya ternyata telah mengejutkan
tuan Puteri. Selagi hari masih pagi. Putera Mahkota sudah datang menghadapnya.
“Ampun ibunda,“ berkata Anusapati. “hamba
datang terlampau pagi.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Lalu
katanya, “Anusapati, aku menjadi berdebar-debar. Dalam keadaan ini kau tentu
mempunyai kepentingan yang mendesak.”
Tetapi Anusapati menggelengkan kepalanya.
Jawabnya, “Tidak ibunda, sebenarnya hamba tidak mempunyai kepentingan yang
memaksa hamba untuk datang terlampau pagi. Tetapi, agaknya karena hamba tidak
mempunyai tugas hari ini, maka daripada hamba tidak berbuat sesuatu di bangsal
hamba, maka hamba telah
berjalan tanpa tujuan di halaman. Tetapi
akhirnya hamba telah memasuki bangsal ibunda.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi sebagai seorang ibu, Ken Dedes seakan-akan dapat membaca perasaan
puteranya, sehingga karena itu maka dengan lembut ia berkata, “Anusapati,
kemarilah. Adik-adikmu tidak ada di bangsal ini. Karena itu, jika kau memang
mempunyai kepentingan, katakanlah! Aku masih tetap ibumu.”
Anusapati mengangkat wajahnya sejenak,
namun kemudian kepalanya itu-pun ditundukkannya.
“Kemarilah, mendekatlah.”
Anusapati bergeser maju. Tetapi ia masih
belum mengatakan sesuatu. Sikap ibunya yang lembut justru membuatnya menjadi
ragu-ragu.
“Anusapati,“ berkata Ken Dedes, “jangan
menyimpan sesuatu lagi didalam hatimu. Jika kau ingin mengatakan sesuatu itu,
katakanlah. Kau sudah tahu siapakah sebenarnya dirimu dan kau-pun bukan lagi
anak-anak yang belum pandai membuat pertimbangan-angan.”
Anusapati masih dicengkam oleh kebimbangan.
“Katakanlah. Jika kau tidak mengatakan
sesuatu, hatiku akan menjadi risau, karena aku tahu, bahwa kau masih menyimpan
sesuatu yang tidak kau ucapkan.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya, “Baiklah ibunda. Jika ibunda dapat membaca hati hamba, maka
sebenarnyalah masih ada sesuatu yang menyangkut didalam dada ini. Tetapi
sebelumnya hamba minta maaf yang sebesar-besarnya, apabila hamba akan
menyinggung perasaan ibunda.”
Ibunya tersenyum betapa pahitnya. Katanya,
“Katakanlah Anusapati. Hatiku telah menjadi kebal. Maksudku, aku sudah terlampau
sering berjuang melawan perasaanku. Kini lebih baik kau berterus terang.“
“Ibunda,“ berkata Anusapati, “bukankah
menuruti ibunda, ayahanda telah mati terbunuh oleh Sri Rajasa?”
Ibunya mengerutkan keningnya. Namun ia-pun
menganggukkan kepalanya.
“Ibunda,“ sambung Putera Mahkota, “bukankah
ayahanda terbunuh oleh sebilah keris?”
Wajah Ken Dedes menegang sejenak. Tetapi
sekali lagi ia menganggukkan kepalanya.
“Dan bukankah keris itu kini masih tetap
didalam simpanan.”
“Ya anakku,“ sahut Ken Dedes, “ayahandamu
Sri Rajasa telah menyimpan keris itu.“
Sejenak Anusapati terdiam. Dipandanginya
wajah ibundanya dengan sorot mata yang mengandung beribu macam pertanyaan.
Tetapi bagi Ken Dedes meski-pun Anusapati
tidak mengucapkan sepatah katapun, namun tatapan mata Anusapati itu rasa-rasanya
bagaikan sikap yang langsung tidak mempercayainya, sehingga Permaisuri itu
berkata, “Anusapati, apakah kau tidak percaya kepadaku?”
“Tidak, ibunda. Tentu aku percaya kepada
ibunda. Apalagi sekarang. Ibunda sudah mengatakan tentang hamba berterus terang.
Jika ibunda ingin mengatakan yang tidak benar kepada hamba, maka tentu ibunda
tidak akan mengatakan kepada diri hamba, dan tentang ayahanda yang sebenarnya.”
Sesuatu berdesir didada Ken Dedes.
“Sekarang hamba sudah mengetahui bahwa
ayahanda Tunggal Ametung terbunuh. Dan pembunuhnya adalah Sri Rajasa yang telah
mengangkat hamba menjadi seorang Putera Mahkota, tetapi yang telah mengancam
hamba pula untuk melepas jabatan hamba itu,“ sambung Anusapati kemudian. “Dan
lebih dari itu hamba mengetahui bahwa keris yang telah mengambil jiwa ayahanda
yang
sebenarnya, yaitu Akuwu Tunggul Ametung ada
pada Sri Rajasa Batara Sang Ainurwabumi.“
Ken Dedes tidak segera menyahut.
“Ibunda,“ berkata Anusapati lebih lanjut,
“menurut pendengaran hamba, Sri Rajasa memang seseorang yang luar biasa sejak
mudanya. Meski-pun ayahanda Akuwu Tunggul Ametung-pun seseorang yang memiliki
kelebihan, tetapi suatu kenyataan, bahwa ayahanda Akuwu Tunggul Ametung telah
terbunuh oleh Sri Rajasa, sehingga dengan demikian dapat ditarik kesimpulan,
bahwa Sri Rajasa memang orang linuwih.”
Ken Dedes menundukkan kepalanya.
“Jika demikian ibunda,” berkata Anusapati,
“maka nasib hamba-pun sudah dapat dibayangkan. Dengan keris itu ayahanda Sri
Rajasa yang sakti dapat berbuat apa saja yang diingininya. Itulah sebabnya maka
hamba datang kepada ibunda. Jika keris itu ada pada ibunda, karena keris itu
diketemukan pada tubuh ayahanda Akuwu Tunggul Ametung, yang saat itu adalah
suami ibunda, maka hamba ingin agar keris itu diberikan kepada hamba,
semata-mata untuk keselamatan hamba. Dari pada hambalah yang bersembunyi, maka
lebih baik hamba menyembunyikan saja keris itu.”
Tetapi sambil menundukkan kepalanya
dalam-dalam Ken Dedes menggelengkan kepalanya. Katanya, “Sayang Anusapati. Keris
itu tidak ada padaku.“
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudan dengan suara yang dalam ia berkata, “Baiklah ibunda. Jika demikian, maka
hamba-pun akan pasrah. Meski-pun barangkali hamba masih akan berusaha
menyembunyikan diri, terutama pada malam hari, namun barangkali usaha itu tidak
akan banyak bermanfaat.”
“Maksudmu,“ bertanya Ken Dedes.
“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian,
“selagi pamanda Mahisa Agni ada di Singasari, biarlah hamba akan mohon diri
kepada pamanda.”
“Apa maksudmu Anusapati? Apa?”
“Ampun ibunda. Sebenarnya bukan maksud
hamba. Tetapi seakan-akan hamba melihat sesuatu yang tidak akan dapat hamba
hindari. Seolah-olah hamba berjalan disepanjang jalan yang amat panjang dan
sempit. Jalan lurus tanpa jalan simpang sama sekali. Didepan dan dibelakang
hamba adalah api yang semakin lama menjadi semakin besar menjalar disepanjang
jalan, sedang disebelah menyebelah jalan adalah jurang yang sangat dalam.“
Anusapati berhenti sejenak, lalu. “O, itulah mimpi hamba ibunda. Dan mimpi itu
berkata kepada hamba, bahwa hamba harus mohon diri kepada pamanda Mahisa Agni
yang sudah memimpin hamba dan mengasuh hamba dengan diam-diam sehingga hamba
berhasil menamakan diri hamba sebagai Kesatria Putih. Tetapi betapa dikagumi dan
dipuji oleh rakyat Singasari, namun Kesatria Putih tidak akan dapat melepaskan
diri dari tangan Sri Rajasa yang masih menyimpan Keris sakti buatan mPu
Gandring. Keris yang bertangkai kayu cangkring dan mempunyai kemampuan yang
tidak terkirakan, sehingga baik Tunggul Ametung mau-pun siapa saja, tidak akan
dapat bertahan sampai fajar, jika dimalam hari ia tergores oleh ujung keris itu
meski-pun lukanya hanya seujung rambut.”
“Anusapati, anakku,“ suara Ken Dedes
menjadi serak.
“Hamba akan mohon diri ibunda. Hamba-pun
akan mohon diri kepada pamanda, kepada siapa-pun yang hamba kenal dengan baik.
Kepada, isteri hamba dan terlebih-lebih lagi kepada anak hamba yang sedang
tumbuh. Hamba tahu pasti, bahwa pada suatu saat, keris itu-pun akan menggores
tubuh hamba meski-pun hanya seujung rambut. Tanda-tanda itu sudah hamba lihat.
Bau wangi yang tidak terkirakan di sekitar bangsal hamba. Kemudian batu yang
besar terjatuh tanpa sangkan. Keributan ditaman dan berbagai tanda-tanda yang
lain. Yang terakhir mimpi hamba yang buruk dan keris yang tidak ada pada ibunda
itu.“ Anusapati berhenti sejenak. Lalu, “sudahlah ibunda, hamba mohon diri.
Hamba mohon agar segala kesalahan hamba dimaafkan. Dan hamba titipkan anak
isteri hamba kepada ibunda.”
“Anusapati. Anusapati,“ Ken Dedes tidak
dapat menahan air matanya yang dibendungnya dipelupuk. Perlahan-lahan air yang
bening itu-pun meleleh di pipinya.
Anusapati hanya menundukkan kepalanya.
Tetapi ia-pun terharu mendengar sedu-sedan ibundanya.
“Anusapati,“ berkata ibunda, “kenapa kau
minta diri kepadaku, kepada pamanmu dan kepada semua orang yang kau kenal dengan
baik? Kenapa kau begitu yakin bahwa ayahandamu yang sekarang akan melakukannya
atasmu, seperti yang pernah dilakukannya atas ayahandamu yang sebenarnya Tunggul
Ametung?”
“Ibunda,“ berkata Anusapati, “jika ayahanda
Sri Rajasa membunuh ayahanda Akuwu Tunggul Ametung tentu bukannya dilakukan
dengan tanpa maksud. Tentu ada sesuatu yang mendorongnya berbuat demikian. Tentu
Sri Rajasa ingin duduk diatas Singgasana Tumapel waktu itu atau keinginan yang
lain yang bagi Sri Rajasa yang bernama Ken Arok itu tidak kalah nilainya, yaitu
ibunda Ken Dedes. Dan bagi Sri Rajasa, hamba adalah semacam noda yang mengotori
keinginannya itu. Hamba juga menodai keinginan Sri Rajasa untuk tetap berada
diatas tahta Tumapel yang telah berhasil dikembangkannya menjadi Singasari
sekarang. Dan hamba-pun akan merupakan noda dalam hubungan keluarga antara Sri
Rajasa dan ibunda Ken Dedes, karena hamba lahir bukan karena hubungan tersebut.“
“Anusapati,“ potong Ken Dedes, “sudahlah.
Tetapi itu bukan berarti bahwa jiwamu selalu terancam.”
“Tentu ibunda,“ sahut Anusapati, “betapa
tidak, jika Sri Rajasa ingin tetap mempertahankan apa yang sudah dicapainya,
maka aku harus disingkirkan. Jika Sri Rajasa telah membunuh Akuwu Tunggul
Ametung dan berhasil menguasai tahta Singasari sekarang, maka ia tidak akan
melepaskan tahta itu kepada orang lain. Dan hamba adalah orang lain bagi Sri
Rajasa. Juga setelah Sri Rajasa berhasil memperisteri ibunda Ken Dedes, maka
bagi Sri Rajasa aku telah mengotori hubungan itu karena hamba lahir bukan atas
kehendaknya.”
“Anusapati, sudahlah. Sudahlah.”
“O. maaf ibunda. Hamba telah berbicara
terlampau jauh. Tetapi maksud hamba adalah semata-mata untuk menekankan
keyakinan hamba, dan kenapa hamba telah memohon diri.“ Anusapati berhenti
sejenak. Lalu, “jika hamba masih sempat memandang matahari terbit, maka hamba
pasti masih akan menghadap ibunda di hari-hari mendatang. Tetapi jika tidak,
hamba sudah mohon diri dan mohon maaf atas semua kesalahan hamba, sehingga
kematian hamba tidak lagi dibebani oleh rasa bersalah kepada ibunda. Sedangkan
kepada ayahanda Sri Rajasa, hamba tidak akan mohon maaf, karena hamba tidak
merasa pernah bersalah kepadanya, karena hamba tidak berbuat sesuatu selain
mengalami kepahitan perasaan yang tiada taranya.”
“Anusapati,“ suara Ken Dedes terputus.
“Sudahlah ibunda. Hamba mohon diri. Hamba
mohon diri dari hadapan ibunda dan hamba mohon diri untuk seterusnya jika hamba
sudah tidak sempat menghadap ibunda lagi. Mudah-mudahan hamba dapat sampai
kehadapan Yang Maha Agung tanpa membawa setitik dosapun.”
“Tidak. Tidak,“ suara Ken Dedes terputus
oleh isaknya, “kau tidak boleh pergi Anusapati. Aku memerlukanmu. Isteri dan
anakmu memerlukanmu dan terlebih-lebih lagi Singasari memerlukanmu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Ya ibunda. Yang jelas bagi hamba adalah isteri dan anak hamba
memerlukan hamba. Tetapi apakah Singasari memerlukan hamba?”
“Ya. Ya. Kau adalah keturunan Akuwu Tunggul
Ametung dan keturunan Ken Dedes. Jalur itulah sebenarnya yang memegang hak atas
tahta Tumapel yang kemudian menjadi Singasari sekarang.“
“Tetapi Tumapel bukan Singasari ibunda.
Tumapel lebih kecil dari Singasari yang meliputi daerah Kediri lama.”
“Tetapi alas berpijak Sri Rajasa waktu itu
adalah Tumapel dengan segala isi dan kekuatan yang terkandung di dalamnya.”
“Ya,“ Anusapati mengangguk-anggukkan
kepalanya, “mungkin jalur itu benar. Tetapi yang berkuasa sekarang sama sekali
tidak menghendaki hal itu. Dan apalagi keris yang bertuah itu ada ditangannya.
Maka segores kecil itu akan melukai tubuh hamba yang tidak berguna ini, dan
hamba akan segera terkapar mati seperti ayahanda Tunggul Ametung, seperti mPu
Gandring dan seperti, Kebo Ijo yang tidak pernah mengetahui kesalahannya yang
sebenarnya sampai akhir hayatnya karena fitnah.”
“Tidak. Kau tidak akan mati karena keris
itu Anusapati.”
“Kenapa? Kenapa ayahanda Tunggul Ametung
mengalami? Kenapa justru mPu Gandring sendiri mengalami dan kenapa orang yang
sama sekali tidak bersalah seperti Kebo Ijo juga harus mati?“ suara Anusapati
menurun, “dan kini akan segera datang giliran hamba. Singasari akan memiliki
Pangeran Pati yang lain. Tohjaya, putera Sri Rajasa yang lahir dari isteri yang
dicintainya sampai sekarang, Ken Umang.”
“Tidak. Tidak. Itu tidak mungkin,“ Ken
Dedes yang tidak dapat menahan gejolak perasaannya itu-pun kemudian meletakkan
dirinya dipembaringan sambil menangis tersedu-sedu.
“Sudahlah ibunda. Jangan menangis. Sudah
ada yang akan menyambung umur hamba. Yaitu anak hamba. Biarlah anak hamba itu
tetap hidup.”
Kata-kata Anusapati itu justru membuat
tangis ibundanya semakin pedih. Di sela-sela tangisnya itu ia masih akan berkata
sesuatu. Tetapi yang terdengar adalah kata-kata yang tidak begitu jelas.
Anusapati-pun kemudian berdiri
termangu-mangu. Tetapi isak ibunya yang menyesakkan dada itu membuatnya menjadi
iba. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan berjongkok disisi pembaringan.
“Sudahlah ibunda. Jangan menangis. Biarlah
adinda Mahisa Wonga Teleng menemani ibunda untuk menenteramkan hati ibunda.
Biarlah hamba menyuruh seseorang memanggilnya.”
“Jangan, jangan Anusapati.”
“Atau adinda yang lain, adinda yang lebih
muda lagi.”
“Tidak. Semuanya jangan melihat aku
menangis seperti ini. Biarlah mereka tidak mengetahui betapa hatiku menjadi
sangat pedih mengenangkan semuanya yang pernah terjadi, justru semakin dekat aku
dengan hari-hari tua, dan saat-saat aku akan menghadap kembali kehadapan Yang
Maha Agung. Dan ini adalah hukuman yang berat yang harus aku tanggungkan karena
dosa-dosaku diwaktu aku masih muda. Diwaktu aku tidak pernah merasakan kepuasan
hidup, sehingga aku telah bertualang tanpa meninggalkan istana Tumapel dan yang
sekarang menjadi Singasari ini.”
“Jangan menyalahkan diri sendiri ibu.”
“Bukankah kau juga melihat kesalahan itu?
Kadang-kadang kita memang perlu melihat kesalahan sendiri Anusapati. Dan aku
sudah melihatnya.“
“Tetapi ibu tidak perlu menangis lagi.”
Ken Dedes mencoba menahan isak tangisnya.
Namun terasa dadanya seakan-akan menjadi retak karenanya. Sehingga karena itulah
ia masih saja berbaring dipembaringannya. Bahkan kini terasa seluruh tubuhnya
gemetar dan matanya berkunang-kunang.
“Anusapati, Anusapati,“ desisnya.
Anusapati bergeser mendekat, “Ibu, ibunda.”
“Dengarlah Anusapati,“ berkata Ken Dedes
kemudian, “aku tidak dapat melepaskan kau. Aku tidak dapat membiarkan kau
terbunuh seperti ayahanda Akuwu Tunggul Ametung.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
“Apakah kau tidak mempunyai suatu cara
untuk menyelamatkan diri? Misalnya kau ikut bersama pamanmu ke Kediri atau
daerah lain diluar istana ini?”
“Aku adalah Putera Mahkota ibu. Putera
Mahkota harus berada di istana. Memang mungkin seorang Pangeran Pati keluar dari
istana. Tetapi hanya untuk waktu yang pendek. Selanjutnya ia harus segera
kembali keistana.“
“Tetapi untuk keselamatanmu Anusapati. Kau
dapat pergi untuk waktu yang cukup lama meski-pun pada suatu saat kau akan
kembali lagi keistana ini.”
“Ibunda,“ berkata Anusapati selanjutnya,
“yang berkuasa di Singasari adalah ayahanda Sri Rajasa. Jika ayahanda Sri Rajasa
memanggil, kapan-pun hamba harus datang menghadap. Hamba tidak dapat dengan
alasan apa-pun memperpanjang waktu kepergian hamba. Apalagi apabila ayahanda
mengetahui bahwa hamba sedang bersembunyi.”
“Ah,“ Ken Dedes berdesah, “jadi apakah kau
tidak melihat jalan apa-pun untuk menghindarkan diri?”
Ken Dedes menjadi heran ketika ia melihat
Anusapati tersenyum. Agaknya anaknya itu sudah demikian ihlas menyerahkan
jiwanya. Katanya, “Ibunda, hamba tidak ingin bersembunyi. Biarlah apa yang akan
terjadi atas hamba itu terjadi. Jika hamba bersembunyi dimana-pun dengan alasan
apapun, maka hamba adalah seorang pengecut. Apalagi Sri Rajasa akan dapat
mengambil suatu keputusan untuk menetapkan orang lain menjadi Pangeran Pati. Dan
Sri Rajasa dapat mengambil keputusan dan mengumumkan bahwa hamba adalah seorang
buruan karena kesalahan apa-pun yang dapat dibuatnya. Jika demikian maka keadaan
hamba akan menjadi sangat sulit. Jika prajurit-prajurit menemukan hamba, maka
hamba akan mati diujung berpuluh-puluh tombak dan pedang. Tombak yang tumpul dan
sama sekali tidak bertuah. Tetapi jika hamba tetap berada di istana, maka hamba
akan mati tergores keris yang telah membunuh ayahanda Tungul Ametung. Keris
bertuah yang telah diciptakan seorang mPu yang sakti pada jaman Tumapel itu.
Bukanlah dengan demikian hamba akan menjadi lebih berbangga hati? Apalagi tuah
keris itu akan dapat mengantarkan
sukma hamba kepada Yang Maha Agung. Tetapi
tidak demikian dengan tombak-tombak dan pedang-pedang besi karatan itu.”
(bersambung jilid 76)
Jilid 76
“ANUSAPATI.”
“Anggaplah bahwa yang terjadi adalah karma. Bukankah
ayahanda Tunggul Ametung mengambil ibunda dengan cara yang
tidak ibunda sukai? Dan bukankah ayahanda Tunggul Ametumg
telah melakukan kesalahan yang merusak kehidup ibunda
selanjutnya? Ibunda, dalam hal ini ibunda jangan menyalahkan diri
sendiri. Karma akan berlaku dimana-pun hamba bersembunyi. Kutuk
seorang pendeta di Panawijen pasti akan berlaku. Dan hamba-pun
akan memanggul karma itu sebagai seorang putera dari Akuwu
Tunggul Ametung.“
“Tidak, tidak anakku. Kau tidak bersalah. Kau adalah anakku.
Aku mencintaimu seperti aku mencintai adik-adikmu. Karena itu, aku
tidak rela akan kematianmu itu.”
Tangis Ken Dedes yang tertahan-tahan membuat hati Anusapati
bagaikan tergores duri. Pedih. Tetapi ia masih bertahan dan
berkata, “Hamba tahu ibunda mencintai hamba. Tetapi karma
adalah diluar jangkauan kemampuan manusia. Dan keris yang ada
ditangan Sri Rajasa itu-pun hanya sekedar sebagai lantaran.
Sudahlah ibu. Jangan hiraukan hamba. Anak hambalah yang akan
menggantikan hamba dihadapan ibunda. Jika hamba telah
memanggul karma, maka akan bersihlah anak hamba dari
kemungkinan-kemungkinan yang pahit. Dan biarlah keris itu kini
tetap ditangan Sri Rajasa.”
“Tidak, tidak,“ Ken Dedes berdesis diantara sedu sedannya.
“Sudahlah ibunda, hamba mohon diri. Hamba mohon diri untuk
selama-lamanya.”
“Anusapati, Anusapati,“ tiba-tiba ibundanya bangkit dan
memeluknya erat-erat. Katanya, “Kau jangan membuat hatiku
semakin parah Anusapati.”
Anusapati menarik nafas. Jawabnya. “Tidak ibunda. Hamba akan
tersenyum apa-pun yang akan terjadi. Hamba akan menerimanya
dengan ikhlas sehingga kepergian hamba tidak akan membuat hati
ibunda terluka.”
“Tidak. Kau tidak boleh pergi,“ suara Ken Dedes lemah, “anakku,
maafkan ibumu. Aku. aku telah membohongimu.”
Anusapati mengangkat wajahnya. Pelukan ibunya-pun terlepas
perlahan.
“Kenapa ibunda membohongi hamba? Apakah ternyata ayah
hamba bukan Akuwu Tunggul Ametung, atau apakah, ayahanda
Tunggul Ametung tidak mati terbunuh oleh ayahanda Sri Rajasa?”
“Bukan, bukan itu.”
“Lalu?”
“Aku membohongimu. Keris itu tidak ada pada ayahandamu Sri
Rajasa. Keris itu ada padaku.”
“O,“ Anusapati menarik nafas dalam-dalam, “jadi keris itu ada
pada ibunda?”
Ken Dedes mengangguk-angguk. Betapa-pun ia menahan hati,
tetapi air matanya meleleh semakin deras, “Ya Anusapati. Keris itu
ada padaku.“
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, Tetapi ia
bertanya, “Kenapa ibunda membohongi hamba? Apakah ibunda
tidak menganggap penting bahwa keris itu tidak boleh berada
disembarang tangan?”
“O, justru karena aku menganggap keris itu akan dapat
menentukan kelanjutan sejarah Singasari, maka aku telah
menyimpannya baik-baik.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya,
“Ibunda. Jika keris itu memang ada pada ibunda, apakah hamba
dapat memohon agar keris itu ibunda berikan kepada hamba?“
“Itulah yang aku cemaskan Anusapati.“ jawab ibundanya,
“Karena itulah, maka aku berbohong kepadamu. Tetapi ternyata kau
menjadi berputus-asa dan seakan-akan kau membiarkan dirimu
sendiri mengalami kematian, tanpa berbuat sesuatu.”
“Bukan ibunda. Jika memang keris itu ada pada ayahanda Sri
Rajasa, hamba memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Tetapi
ternyata keris itu ada pada ibunda. Karena itu, maka hamba mohon
agar keris itu diserahkan kepada hamba. Hamba akan
menyimpannya baik-baik.”
Ken Dedes menggelengkan kepalanya. “jangan anakku. Biarlah
ibunda menyimpannya.“
“Apakah sebabnya ibunda tidak mengijinkan hamba menyimpan
keris itu, karena justru jiwa hambalah yang kini paling terancam
karenanya?“
“Tidak Anusapati. Aku akan menyimpannya baik-baik. Aku
mengerti bahwa jiwamu terancam karenanya. Dengan demikian aku
tidak akan menyerahkan keris itu kepada siapa-pun juga. Aku akan
menyimpannya baik-baik sehingga dengan demikian jiwamu-pun
akan selamat. Aku adalah ibumu Anusapari, dan aku akan selalu
berusaha agar kau tidak terancam oleh bencana yang sama seperti
ayahandamu Tunggul Ametung.“
“Mungkin ibunda berniat demikian,“ jawab Anusapati, “tetapi
apakah ibunda dapat bertahan jika pada suatu saat ayahanda Sri
Rajasa datang kepada ibunda dan minta agar keris itu diserahkan?
Mungkin ibunda berkeberatan. Tetapi Sri Rajasa dapat memaksa
Ibunda dengan cara apa-pun juga sehingga akhirnya keris itu jatuh
ketangannya.”
Ken Dedes menggeleng. Katanya, “Anusapati, keris ini tidak
boleh berpindah tangan. Aku akan mempertahankannya.”
“Tentu ayahanda Sri Rajasa akan dapat mengambilnya.
Jangankan ibunda seorang perempuan, sedangkan keris itu dapat
dicurinya dari tangan Kebo Ijo, seorang perwira prajurit Tumapel
yang memiliki kelebihan karena Kebo Ijo adalah saudara
seperguruan pamanda Witantra.“
“O,“ Ken Dedes menundukkan kepalanya.
“Apakah ibunda pernah mengenal paman Witantra? Seorang
Panglima yang tidak ada duanya di Tumapel waktu itu. Panglima
pasukan pengawal yang justru tersingkir karena Ia ingin
membersihkan nama Kebo Ijo dan dikalahkan oleh pamanda Mahisa
Agni di arena? Ternyata semuanya telah terjebak. Semua orang
telah berhasil dikelabui oleh seorang yang bernama Ken Arok.”
Ken Dedes menundukkan kepalanya sambil memegangi
keningnya. Kini semuanya terbayang dengan jelas. Semuanya
seakan-akan baru kemarin terjadi. Bagaimana rakyat Tumapel
berkabung karena Akuwu Tunggul Ametung terbunuh. Kemudian
dengan penuh kemarahan mereka menuduh Kebo Ijo telah
membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Yang belum lagi air mata
rakyat Tumapel yang menangisi kematian Tunggul Ametung itu
kering, ia sudah memasuki jenjang perkawinan bersama seorang
anak muda yang tampan pada waktu itu, dan seorang prajurit yang
perkasa, yang bernama Ken Arok.
“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian seakan-akan
membangunkan ibundanya dari lamunan, “hamba menunggu
keputusan ibunda. Jika ibunda memperbolehkan biarlah keris itu
hamba saja yang menyimpannya. Mungkin paman Mahisa Agni
berpendirian lain dan menganggap perlu untuk menyimpannya.
Hamba percaya bahwa jika keris itu ada pada pamanda Mahisa
Agni, ayahanda Sri Rajasa tidak akan berani mengambilnya. Dengan
terang-terangan atau dengan sembunyi-sembunyi, karena di
Singasari, orang yang paling disegani oleh ayahanda Sri Rajasa
adalah pamanda Mahisa Agni.“
Ken Dedes masih belum menjawab.
Dan Anusapati-pun berkata seterusnya, “Tetapi jika ibunda tidak
berkenan menyerahkan keris itu kepada hamba, maka biarlah
hamba sekali lagi mohon diri. Tidak ada harapan lagi bagi hamba
untuk membebaskan diri.”
“O, Anusapati.“ desis Ken Dedes, “kau berhasil memaksa aku
untuk menyerahkan keris itu. Ternyata aku tidak dapat berbuat
lain.“
Dada Anusapati menjadi berdebar-debar.
“Tetapi ingat anakku. Keris itu bukan alat untuk menyebarkan
dendam. Jika kau dikejar oleh dendam dihatimu, dan kau
mempergunakan keris itu, maka akan tumbuh dendam yang lain
diantara keturunan Sri Rajasa. Dan dendam itu akan selalu
menghantuimu setiap saat.“
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hamba tidak
mendendam ibunda. Hamba telah mendengar pesan pamanda
Mahisa Agni, bahwa hamba tidak diperkenankan berbuat apa-apa,
selain berusaha menghindarkan diri dari bencana. Salah satu cara
yang dapat hamba tempuh adalah menyembunyikan keris ini. Bukan
untuk dipergunakan.“
Ken Dedes memandang puteranya sejenak. Di wajah itu memang
terbayang wajah ayahandanya, Tunggul Ametung. Wajah yang
semula sangat ditakutinya ketika Akuwu itu datang mengambilnya
ke Panawijen dengan sorot mata yang merah.
“Kuda Sempanalah sumber dari bencana ini,“ desisnya didalam
hati.
Tetapi semuanya itu sudah lama lampau. Semuanya itu sudah
terjadi. Jika ia sendiri tidak ikut mengembangkan
peristiwa-peristiwa
berikutnya, maka akibatnya-pun tidak akan separah ini.
Ken Dedes mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Anusapati
kemudian berkata, “Ibunda. Jika memang berkenan dihati ibunda,
hamba mohon keris itu dapat hamba terima dan hamba simpan
sebaik-baiknya. Mumpung kini pamanda Mahisa Agni masih berada
di Singasari. Biarlah hamba mohon pertimbangan, apakah yang
sebaiknya hamba lakukan dengan keris itu, dan barangkali pamanda
Mahisa Agni mempunyai cara yang baik yang dapat hamba
lakukan.”
Ken Dedes masih ragu-ragu. Terbayang ditatapan matanya
kecemasan yang mencengkam.
“Apakah ibunda ragu-ragu?“ bertanya Anusapati.
Dengan jujur Ken Dedes menganggukkan kepalanya sambil
menjawab, “Ya Anusapati. Sebenarnyalah aku ragu-ragu. Tetapi aku
kira tidak ada yang lebih baik bagimu daripada menyimpan keris itu.
Tetapi sekali lagi, keris itu hanya dapat aku serahkan padamu untuk
disimpan. Jika dengan demikian kau akan terhindar dari bencana.”
“Tentu ibunda. Hamba hanya sekedar akan menyimpan keris itu.
Hamba tidak akan mempergunakannya.“
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian ia-pun
berdiri dan melangkah perlahan-lahan masuk kedalam ruangan
sempit disebelah biliknya.
Anusapati menunggu ibundanya dengan hati yang berdebardebar.
Ia belum pernah melihat keris buatan mPu Gandring itu.
Seandainya ibundanya memberikan keris yang mana-pun juga,
maka ia-pun akan mempercayainya.
Ketika ibundanya Ken Dedes keluar dari ruang sempit itu dengan
membawa sebuah peti, maka hatinya kian bergejolak. Jika benar
keris itu keris mPu Gandring, maka keris itulah yang sudah
menghabisi jiwa ayahandanya.
“Inilah keris itu Anusapati,“ berkata Permaisuri itu dengan suara
bergetar. Bukan hanya suaranya, tetapi tangannya yang memegang
peti itu-pun bergetar.
Perlahan-lahan Ken Dedes meletakkan peti itu dipembaringan.
Kemudian dengan hati-hati sekali ia merabanya sambil berkata,
“Bukan maksudku untuk memperluas dendam disetiap hati,
Anusapati, apakah kau mengerti maksudku?”
“Hamba mengerti ibunda.”
“Simpanlah keris ini baik-baik. Dan lupakanlah bahwa kau
menyimpan keris ini, keris yang mempunyai sangkut paut dengan
ayahandamu. Jika kau berhasil melupakannya, kau akan
mendapatkan ketenteraman.”
“Hamba akan berusaha ibunda. Mudah-mudahan hamba dapat
melupakannya bahwa hamba telah menyimpan dan
menyembunyikan keris ini demi keselamatan hamba.”
Ken Dedes tidak menjawab. Tetapi hatinya bagaikan terpecah
karenanya. Ia benar-benar harus memilih, Sri Rajasa atau Anusapati
anaknya yang lahir dari tetesan darah Akuwu Tunggul Ametung.
“Inilah Anusapati,“ desis Ken Dedes sambil menyerahkan peti itu
kepada Anusapati.
Ternyata bahwa tangan Anusapati-pun menjadi gemetar pula.
Dengan dada yang berdebar-debar tangannya yang gemetar itu-pun
kemudian membuka peti itu.
Dadanya berdesir ketika ia melihat keris yang ada didalam peti
itu. Keris yang tidak seperti dibayangkannya, keris dengan sarung
emas bertatahkan intan berlian. Bukan pula dengan ukiran yang
indah. Tetapi keris itu disarungkan dalam wrangka yang sederhana
dan ukirannya adalah sebatang kayu cangkring yang belum
dibentuk.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memang pernah
mendengar bahwa keris itu sebenarnya masih belum siap sama
sekali ketika Ken Arok mengambilnya dan kemudian membunuh
mPu Gandring agar mPu itu tidak dapat mengatakan, bahwa yang
memesan keris itu kepadanya adalah Ken Arok yang kini bergelar Sri
Rajasa Batara Sang Amurwabumi.
Sesaat kemudian maka peti itu-pun ditutupnya kembali.
Anusapati tidak sampai hati untuk menarik keris itu dari wrangkanya
dihadapan ibunya. Ia yakin bahwa keris itu pasti masih bernoda
darah yang membeku karena sepengetahuannya keris buatan mPu
Gandring itu tidak pernah dimandikan.
Sejenak kemudian, setelah getar didadanya agak mereda, maka
Anusapati-pun mohon diri kepada ibunya untuk membawa keris itu
dan menyimpannya.
“Bagaimana jika seseorang melihat kau membawa peti itu
Anusapati? Mungkin seseorang akan menjadi curiga dan
mengatakan kepada orang lain bahwa kau membawa sebuah peti
dari bilik ini.”
“Apakah ada orang yang mengetahui bahwa peti ini berisi keris
mPu Gandring itu ibunda?”
“Tidak. Tetapi bahwa kau membawa sesuatu dari bilik ini
memang dapat dicurigai. Mungkin aku sekedar berprasangka. Tetapi
jika benar-benar demikian, dan kecurigaan itu sampai ditelinga
Tohjaya dan ayahanda Sri Rajasa, maka ia pasti akan bertanya
kepadamu atau kepadaku, apakah yang ada didalam peti itu.“
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya,
“Baiklah ibunda, jika demikian aku akan membawa kerisnya saja.
Petinya biarlah aku tinggalkan disini.“
“Apalagi keris itu Anusapati,“ jawab ibunda, “ciri keris itu mudah
sekali dikenal.”
Anusapati mengamati keris itu sekali lagi. Memang keris itu
mudah sekali dikenal. Tetapi sepintas lalu, keris itu tidak berbeda
dengan keris-keris yang lain. justru sederhana sekali bentuk dan
warnanya.
“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian. “hamba akan
membawanya tanpa peti ini. Keris hamba akan hamba tinggal
didalam peti ini, dan hamba akan menggantinya dengan keris mPu
Gandring ini.”
“Sudah aku katakan Anusapati,“ keris itu mempunyai ciri yang
mudah dikenal oleh siapapun. Meski-pun orang itu tidak
mengenalnya bahwa keris ini adalah keris mPu Gandring, tetapi
mereka pasti akan segera tertarik melihat, kesederhanaan keris ini,
apalagi ukirannya yang terbuat dari kayu cangkring.“
“Hamba akan membawanya dengan hati-hati ibunda. Hamba
akan berusaha menyembunyikannya dibawah tangan hamba. Dari
bangsal ini hamba akan langsung pergi ke bangsal hamba dan
kemudian menemui paman Mahisa Agni untuk mengatakan
kepadanya bahwa keris mPu Gandring itu ada ditangan hamba.
Apakah sebaiknya yang pantas hamba lakukan menurut
pertimbangan pamanda Mahisa Agni.”
Ken Dedes termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia-pun
berkata, “Hati-hatilah. Rasa-rasanya keris itu sendiri masih
menuntut karena kematian mPu yang membuatnya.”
“Itulah sebabnya keris ini harus disembunyikan. Dan seperti kata
ibunda, aku akan berusaha melupakan, bahwa akulah yang telah
menyembunyikan keris ini.”
“Terserahlah kepadamu Anusapati.”
Anusapati kemudian mengambil kerisnya yang terselip
dilambung. Kemudian keris itu-pun diletakkannya didalant peti,
setelah ia mengambil keris mPu Gandring.
Dengan hati-hati keris itulah yang kemudian disisipkan di
pinggangnya. Ukirannya tepat berada dibawah tangan Anusapati
yang tergantung disisi tubuhnya.
“Mudah-mudahan tidak ada orang yang melihatnya ibunda, agar
tidak timbul persoalan-persoalan baru yang dapat mengguncangkan
istana ini.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Namun ia masih berkata,
“Anusapati, aku masih harus mencari jawab jika pada suatu saat
Ken Arok datang kepadaku dan menanyakan keris itu seperti
kedatanganmu kini.“
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi terbayang
kecemasan di wajah ibunya meski-pun Ken Dedes itu kemudian
berkata, “Tetapi biarlah jangan kau hiraukan. Aku akan berusaha
untuk menjawabnya meski-pun saat ini aku belum menemukan
alasan yang sebaik-baiknya.”
Anusapati masih termangu-mangu. Karena itu ia-pun tidak
segera berbuat sesuatu.
“Kenapa kau bimbang?“ bertanya ibunya, “bagiku ternyata keris
itu memang lebih baik ada padamu daripada ada pada Sri Rajasa.”
“Terima kasih ibu,“ berkata Anusapati kemudian, “sekarang
hamba mohon diri.”
“Hati-hatilah Anusapati.”
Anusapati kemudian meninggalkan ibunya sendiri di dalam
biliknya. Sejenak ia berdiri dipintu bangsal sambil memandang
berkeliling. Ternyata tidak banyak orang yang berkeliaran di
halaman. Seorang juru taman dan dua orang prajurit yang melintas.
Anusapati-pun kemudian melangkah menuruni tangga. Disebelah
pintu duduk dua orang emban sambil menunduk dalam-dalam.
Dengan hati-hati Anusapatiptun melangkah meninggalkan
bangsal itu. Tangannya hampir tidak melenggang sama sekali
karena ia berusaha untuk menyembunyikan ciri-ciri keris yang aneh
itu.
Sepeninggal Anusapati, kedua emban yang duduk disebelah pintu
itu-pun saling berpandangan. Tetapi mereka masih tetap ragu-ragu
untuk mendekati bilik Permaisuri. Menurut dugaan mereka,
Permaisuri yang sedang sakit itu selalu saja marah-marah kepada
puteranya laki-laki yang sulung itu.
Barulah ketika mereka mendengar Permaisuri memanggil,
mereka-pun datang mendekat dan dengan hati yang berdebardebar
mereka memasuki pintu bilik. Ketika mereka melampaui pintu
bilik mereka melihat Permaisuri itu berbaring dipembaringannya
sambil berselimut kain berwarna kelam menutupi seluruh tubuhnya,
kecuali wajahnya.
“Ambilkan air panas emban,“ suara Ken Dedes lambat dan
parau.
Kedua emban itu-pun saling berpandangan sejenak. Namun
kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Hamba tuan Puteri.
Tetapi apakah hamba harus mengambil air panas untuk minum atau
untuk keperluan yang lain?”
“Aku ingin minum air yang panas sekali. Taruhlah sedikit pangkal
jahe dan gula kelapa.“
“O, hamba tuan Puteri.”
Salah seorang dari kedua emban itu-pun kemudian dengan
tergesa-gesa meninggalkan bilik itu untuk membuat air jahe bagi
tuan Puteri Ken Dedes.
Dalam pada itu, Anusapati yang berjalan dengan hati-hati telah
sampai di halaman bangsalnya. Langkahnya menjadi semakin cepat,
meski-pun ia berusaha agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi
siapa-pun juga.
Demikian Anusapati sampai di bangsalnya, maka ia-pun menarik
nafas dalam-dalam. Keringatnya terasa terperas dari dalama
tubuhnya oleh ketegangan meski-pun jarak yang dilewatinya sudah
terlampau sering dilaluinya. Namun kali ini, dengan keris mPu
Gandring dilambung, maka jarak itu rasa-rasanya menjadi sepuluh
kali lipat. Setelah hatinya agak tenang, dan keringatnya berkurang,
barulah ia masuk ke ruang dalam menemui isterinya yang sedang
duduk bersama anak laki-lakinya.
“O, dari manakah ayahanda dalang?“ bertanya anak laki-lakinya,
“tampaklah ayahanda lelah sekali. Keringat ayahanda membasahi
seluruh tubuh.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Namun ia-pun kemudian
tersenyum sambi berkata, “Udara panasnya bukan main. Ayahanda
tidak pergi kemana-mana. Ayahanda baru datang dari regol depan,
melihat-lihat kegiatan para prajurit.“
Anak laki-lakinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
ia-pun telah asyik lagi dengan permainannya.
Tetapi ternyata bahwa isteri Anusapati itu tidak secepat anaknya
menerima keterangan itu. Dari sorot matanya masih tampak
berbagai macam pertanyaan yang tidak terucapkan.
Sejenak kemudian maka Anusapati-pun segera masuk kedalam
biliknya. Tetapi ia tidak mau membuat isterinya menjadi gelisah.
Karena ia tidak bermaksud mengatakan apa-pun juga tentang keris
itu dan tentang dirinya sendiri.
Sebelum isterinya menyusul masuk kedalam bilik itu, maka
Anusapati-pun segera menyimpan keris mPu Gandring dan
meletakkannya diantara beberapa pusakanya yang lain, sebelum ia
dapat menyimpannya secara khusus.
“Aku harus menemui paman Mahisa Agni lebih dahulu,“ berkata
Anusapati didalam hatinya, “aku harus mendapat petunjuk tentang
keris itu.”
Karena itu, maka ia-pun segera minta diri kepada isterinya untuk
pergi kebangsal pamannya.
“Kakanda akan pergi lagi?“ bertanya isterinya.
Anusapati tersenyum. Ia sadar, bahwa isterinya-pun melihat
kesibukannya yang meningkat pada saat-saat terakhir. Tetapi ia
masih belum mengatakan sesuatu.
“Aku akan menemui pamanda Mahisa Agni. Mungkin pamanda
akan segera meninggalkan Singasari.”
Isterinya tidak menyahut. Tetapi dimatanya membayang
kecemasan dan kegelisahan.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mencoba
tersenyum dan berkata, “Jika kau memerlukan aku, perintahkanlah
seorang prajurit pengawal memanggil aku di bangsal pamanda
Mahisa Agni.”
Isterinya menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berani
mendesak lebih jauh lagi meski-pun sebenarnya hatinya sudah
bergejolak. Sebagai seorang puteri dari keturunan Maharaja di
Kediri, ia merasa asing di Singasari. Bahkan ia merasa bahwa ia
berada dalam lingkungan yang sangat mencemaskan. Apalagi akhirakhir
ini Anusapati tampaknya sedang terlibat dalam suatu
kesibukan yang sangat penting.
Beberapa keanehan yang dialaminya membuatnya semakin
kecut. Bau yang sangat wangi, bunyi yang tidak dikenal dan
wajahwajah
yang kadang-kadang memandanginya dengan tajamnya,
seakan-akan sengaja menunjukkan kebencian dan dendam yang
tertahan didalam hati.
Untunglah bahwa Ken Dedes bersikap sangat baik kepadanya.
Dan bahkan Permaisuri itu rasa-rasanya bagaikan ibunya sendiri.
Setiap kali ia selalu menghiburnya dan menenteramkan
kegelisahannya. Adik-adiknya-pun sangat baik kepadanya. Adik-adik
Anusapati yang lahir dari Ken Dedes. Tetapi adik-adik Anusapati
yang lahir dari Ken Umang sama sekali acuh tidak acuh saja
kepadanya.
“Tenangkan hatimu,“ berkata Anusapati, “bukankah disiang hari
kita tidak pernah mengalami apa-pun juga.“
Isterinya menganggukkan kepalanya pula.
“Nah, baiklah. Hati-hatilah mengawasi anak kita. Ia menjadi
semakin nakal. Jika ia keluar bangsal, suruhlah pemomongnya
mengikutinya kemana ia pergi.”
“Baiklah kakanda,“ jawab isterinya, meski-pun kata-katanya itu
bagaikan meloncat begitu saja dari bibirnya tetapi tidak dari
hatinya.
Anusapati-pun kemudian mengambil kerisnya yang lain dan
keluar pula dari biliknya. Dengan susah payah ia menahan
perasaannya yang bergejolak, agar orang-orang yang melihatnya
tidak menjadi curiga melihat sikapnya.
Perlahan-lahan Anusapati melangkah menuruni tangga. Di
halaman bangsalnya yang ditanami berbagai macam pohon bunga
ia berhenti sejenak. Dipetiknya setangkai bunga menur yang putih.
Kemudian diselipkannya bunga itu diatas telinganya.
Langkahnya terhenti pula didepan gardu penjaga. Sambil
tersenyum ia bertanya, “Berapa orang yang bertugas disini hari
ini?”
Prajurit pengawal yang bertugas menganggukkan kepalanya
dalam-dalam sambil menjawab, “Dua orang tuanku. Seperti
biasanya.”
“O, Dan dimalam hari?“
Prajurit itu menjadi heran. Selama ini masih belum ada
perubahan apa-apa. Namun demikian ia menjawab juga, “Lima
orang tuanku dan dua orang penghubung. Tetapi pada saat-saat
yang dianggap gawat, kadang-kadang ditambah lagi dengan dua
orang pengawal.“
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, meski-pun ia
hampir tidak mendengar jawaban itu. Apalagi ketika pengawal itu
menambahkan, “Bahkan kadang-kadang masih ditambah lagi
apabila perlu.”
Anusapati masih mengangguk-angguk. Bahkan masih tersenyumsenyum
meski-pun angan-angannya sama sekali tidak melekat pada
jawaban prajurit-prajurit itu.
“Jagalah baik-baik,“ katanya kemudian, “aku akan pergi
sebentar.”
Sekali lagi prajurit itu menjadi heran. Pangeran Pati itu hampir
tidak pernah memberikan pesan seperti itu disiangi hari. Jika ia
pergi, maka ia-pun pergi sajalah. Jika ia datang, ia-pun hanya
sekedar berpaling dan tersenyum sedikit. Memang kadang-kadang
Putera Mahkota itu menghampiri mereka dan bercakap-cakap.
Tetapi hampir tidak pernah berpesan seperti itu disiang hari,
selain
apabila memang sedang timbul persoalan. Itu-pun dimalam hari,
seperti pada saat-saat terjadi hal-hal yang aneh disekitar bangsal
ini.
Tetapi prajurit itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dalamdalam.
Demikian juga seorang kawannya. Dengan wajah yang aneh
keduanya memandang Anusapati yang melangkah perlahan-lahan
meninggalkan mereka. “Tampaknya Pangeran Pati itu sedang
gelisah,“ berkata seorang prajurit.
“Ya. Akhir-akhir ini tampaknya sibuk sekali. Hilir mudik setiap
kali.”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak
menjawab lagi.
Dalam pada itu, Anusapati berjalan melintasi halaman istana
Singasari menuju ke bangsal pamannya Anusapati selama ia berada
di Singasari. Betapa-pun ia tergesa-gesa untuk segera
menyampaikan ceritera tentang keris yang kini sudah ada
ditangannya, namun langkah Pangeran Pati itu tampaknya tenangtenang
saja, dan bahkan seakan-akan tanpa maksud sama sekali.
Sementara itu, sepasang mata memandanginya dengan tajamnya
dari balik gerumbul perdu agak jauh dari bangsal Mahisa Agni.
Ketika ia melihat Anusapati dari kejauhan, ia-pun segera berlindung
dibalik segerumbul pohon bunga soka merah.
Tetapi orang itu terkejut ketika tiba-tiba saja seorang juru Jaman
yang membawa sebuah cangkul telah berdiri di sebelahnya sambil
menggamitnya.
“Gila, kau lagi,“ ia menggeram.
Juru taman itu adalah Sumekar. Katanya sambil tersenyum, “Kau
harus berterima kasih kepadaku, karena aku tidak menyebutmu
akan membunuhku malam itu.”
Orang itu memandang Sumekar dengan tajamnya. Betapa
dendam memancar dari sorot matanya itu.
“Jangan memandang aku begitu,“ berkata Sumekar, “aku dapat
mati kaku disini.”
“Persetan. Kau memang harus mati.“
“Tidak. Kau sudah gagal membunuh aku. Seharusnya, kau tidak
boleh berusaha mengulanginya.“
“Apa katamu? Nanti malam aku akan membunuhmu.”
“Benar?”
“Ya, pasti.”
Sumekar tidak segera menyahut. Dilontarkannya pandangan
matanya kehalaman, dan ternyata Anusapati sudah tidak tampak
lagi.
Prajurit itu-pun kemudian berpaling juga. Dan ia-pun kehilangan
Anusapati pula.
“Kau memang gila,“ bentak prajurit itu, “nanti malam aku akan
benar-benar membunuhmu.”
“Jangan.”
“Aku tidak peduli.”
“Jika demikian, sekarang aku akan melaporkan kepada para
prajurit pengawal, bahwa kaulah yang akan membunuhku malam
itu.”
“Gila,“ prajurit itu membelalakkan matanya.
“Jangan, nanti aku akan berteriak.”
Prajurit itu menjadi ragu-ragu. Jika juru taman itu benar-benar
berteriak, maka para pengawal akan mendengarnya. Mereka akan
berlari-larian datang dan ia kehilangan kesempatan untuk ingkar.
“Apakah aku harus berteriak.”
Tiba-tiba prajurit itu tersenyum, “Aku tidak bersungguh-sungguh.
Sebenarnya malam itu-pun aku tidak ingin membunuhmu. Aku
hanya ingin membuatmu jera, agar kau tidak menipuku lagi. Tetapi
kau sudah berteriak. Seandainya kau tidak berteriak, aku-pun tidak
akan benar-benar mencekikmu. Aku bukan pembunuh seperti yang
kau sangka.”
“Benar begitu?”
“Ya. Bukanlah aku seorang prajurit. Prajurit pengawal? Tugasku
adalah melindungi setiap orang didalam istana ini dan tentu bukan
untuk membunuhmu.”
Tatapan Sumekar memancarkan keragu-raguan.
“Kau ragu-ragu,“ prajurit itu tertawa pendek, “tentu kau raguragu.
Tetapi tidak apa, pada saatnya kau akan mengetahui bahwa
aku berkata sebenarnya. Aku benar-benar tidak akan membunuh.
Selama aku menjadi seorang prajurit, aku belum pernah
membunuh. Apalagi membunuh seorang juru taman, sedang
dipeperangan-pun aku tidak membunuh.”
Sumekar memandang orang itu sejenak. Namun ia-pun ikut
tertawa pula. Katanya, “Apa benar yang kau katakan?”
“Tentu, apakah kau masih belum percaya.“
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Baiklah. Aku
percaya. Dan sekarang, apakah yang akan kau lakukan disini?”
“Dan kau?“ prajurit itu-pun bertanya.
Sumekar mengerutkan keningnya. Katanya, “Bukankah aku
seorang juru taman yang bertugas di halaman ini. Aku mengurusi
semua tanaman bersama beberapa orang kawanku. Tanaman
perdu, pohon-pohon bunga, sampai pohon sawo kecik dan pohon
beringin. Itu semua adalah tugas kami.”
Prajurit itu mengangguk-angguk.
“Nah, aku 'minta diri. Aku akan bekerja lagi.“
Prajurit itu tersenyum meski-pun didalam hati ia mengumpatumpat.
Ia tidak melihat kemana Anusapati menghilang. Tetapi ia
hampir pasti, bahwa Anusapati masuk kedalam bangsal Mahisa
Agni.
Sejenak kemudian Sumekar-pun meninggalkan prajurit itu
seorang diri. Namun langkahnya tertegun ketika Sumekar
mendengar prajurit itu berkata, “He, nanti malam aku pergi
kepondokmu. Aku akan membawa makanan yang paling enak
buatmu.”
“Benar?“ bertanya Sumekar.
“Ya. Apakah kau tinggal dibelakang diantara para kamba Istana
ini?”
“Ya, aku tinggal digubug paling ujung.“
Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tunggulah, aku
pasti datang.”
“Kau sangat baik. Aku minta maaf bahwa aku pernah
berprasangka buruk terhadapmu.“
“Aku nanti malam bertugas. Tetapi lewat tengah malam, aku
sudah beristirahat. Aku akan datang saat itu.”
“Lewat tengah malam?“ bertanya Sumekar, “kenapa lewat
tengah malam? Tetangga-tetangga kadang-kadang marah jika
mereka terganggu dimalam hari. Mereka bekerja sehari penuh,
sehingga dimalam hari mereka ingin beristirahat.”
“Apakah kau sangka aku akan berteriak-teriak?”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Lalu jawabnya, “Baiklah
jika demikian. Aku akan menunggu.“
“Baiklah, pergilah kepekerjaanmu.”
Sepeninggal Sumekarj prajurit itu menggeram. Katanya kepada
diri sendiri, “Nanti malam aku harus dapat membunuhnya dengan
cara apapun. Tanpa mengeluarkan tenaga aku akan dapat
membunuhnya. Tetapi ia tidak boleh mendapat kesempatan untuk
berteriak. Ia harus terdiam pada serangan yang pertama.”
Sambil menggeretakkan giginya prajurit itu-pun kemudian
berlalu. Ia tidak mendapatkan bahan apa-pun juga tentang
Anusapati. Juru taman itu telah mengganggunya lagi.
Namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa apabila benarbenar
ia berusaha untuk membunuh juru taman itu, maka pada
suatu ketika juru taman itu akan kehilangan kesabarannya dan
bahkan juru taman itu akan dapat membunuhnya tanpa
mengadakan perlawanan apapun.
Dalam pada itu, Anusapati-pun telah sampai kebangsal
pamannya. Dengan ragu-ragu Anusapati menceriterakan, apa yang
sudah terjadi.
“Keris itu sekarang sudah aku simpan baik-baik paman.“
Mahisa Agni-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Dengan demikian, kau sudah mengurangi kemungkinan pahit yang
dapat terjadi atasmu Anusapati. Keris mPu Gandring adalah keris
yang sangat tajam. Bukan saja tajam ujungnya, tetapi juga tuahnya.
Setiap goresan betapa-pun kecilnya, akan berarti maut.”
“Ya paman,“ jawab Anusapati. Lalu, “tetapi yang sekarang
menjadi pikiranku, apakah yang dapat dikatakan oleh ibunda
Permaisuri apabila ayahanda bertanya kepadanya tentang keris itu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
“Mungkin ayahanda Sri Rajasa dapat menjadi sangat marah dan
menimpakan kesalahannya kepada ibunda.”
Mahisa Agni merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku
kira ia tidak akan berani berbuat begitu terhadap ibundamu
Anusapati. Selain Sri Rajasa harus mengingat asal usul
kekuasaannya yang besar itu sekarang, juga karena ibundamu
mempunyai seorang anak laki-laki yang digelari oleh rakyat
Singasari sebagai Kesatria Putih. Disamping Kesatria Putih,
ibundamu adalah adikku, yang ikut serta dalam perjuangan
mempersatukan tanah Singasari. Setiap prajurit Singasari
mengetahuinya dan setiap prajurit Singasari mengakuinya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia-pun
kemudian bertanya, “Jadi apakah tidak mungkin ayahanda
mengambil suatu tindakan mendahului peristiwa-peristiwa yang
dapat terjadi menurut perhitungannya?”
“Maksudmu, Sri Rajasa mengambil tindakan terhadap ibundamu
dan lebih daripada itu, berusaha untuk mendapatkan keris itu
kembali?”
“Demikianlah paman.“
“Memang mungkin Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “namun jika
demikian, maka persoalannya akan menjadi terbuka. Setiap prajurit
di halaman istana ini harus memilih. Dan Sri Rajasa tidak akan
berani menghadapi akibat itu pada saat ini.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Namun ia masih tetap
dibayangi oleh kegelisahan tentang ibunya, “Paman, jika ayahanda
Sri Rajasa tidak dapat mengendalikan kemarahannya, maka yang
pertama-tama akan mengalami akibatnya adalah ibunda. Apakah
aku dapat berdiam diri jika ayahanda Sri Rajasa berbuat sesuatu
atas ibunda Ken Dedes meski-pun ibunda seorang Permaisuri, yang
didalam persoalan keris itu pasti akan mempunyai pertimbangan
tersendiri?“
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Kalanya, “Tentu kita
tidak dapat membiarkan ibundamu menjadi sasaran kemarahan Sri
Rajasa. Tetapi bukankah itu baru merupakan dugaan? Meski-pun
demikian Anusapati, aku akan pergi kebangsal Permaisuri. Aku akan
pura-pura menengoknya dan menungguinya. Jika pada saat itu Sri
Rajasa datang, aku akan dapat membantu ibundamu didalam
persoalan keris yang kau bawa itu.“ Mahisa Agni berhenti sejenak.
Lalu, “tetapi bukankah keris itu sudah bertahun-tahun ada ditangan
ibundamu dan Sri Rajasa tidak pernah bertanya sesuatu tentang
keris itu? Tentu tidak dengan tiba-tiba saja ia datang hari ini dan
mempersoalkannya. Kecuali jika ada seseorang yang melihat keris
itu ditanganmu.”
“Aku kira tidak ada seorang-pun yang melihatnya paman.”
“Jika demikian tentu tidak ada pula yang menyampaikannya
kepada Sri Rajasa, dan ia-pun tidak akan berbuat apa-apa hari ini.”
“Mudah-mudahan. Tetapi aku berharap agar paman dapat
menengok ibunda barang sejenak. Mungkin ada orang yang
melihatnya diluar pengetahuanku. Aku akan segera kembali
kebangsal. Jika ayahanda langsung mencari keris itu kebangsal.
maka isteriku akan mati ketakutan.”
“Dan jika kau ada di bangsalmu?”
“Tentu aku akan mempertahankan keris itu. Jika ayahanda
memaksa apaboleh buat. Seperti kata paman Mahisa Agni,
persoalannya akan menjadi persoalan terbuka. Dan aku akan
kehilangan baktiku kepada ayahanda Sri Rajasa. Aku berharap
bahwa orang-orang Singasari akan mengetahui bahwa aku berbuat
dengan wajar. Bukan berbuat sebagai seorang anak yang durhaka.“
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Itulah tekad yang
sebenarnya yang tersimpan didada Anusapati. Tetapi Mahisa Agni
masih berharap bahwa hal itu tidak akan segera terjadi. Meski-pun
demikian, Anusapati memang harus berhati-hati menanggapi
keadaan yang berkembang dengan pesatnya.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Agni ingin melihat
keris itu. Apakah benar keris yang diberikan kepada Anusapati itu
keris mPu Gandring. Mungkin ibunya hanya sekedar menenangkan
hatinya, sementara keris itu masih tetap disimpannya sendiri.
Karena itu, maka Mahisa Agni-pun kemudian berkata, “Anusapati,
apakah aku dapat melihat keris itu.”
“Tentu paman. Apabila paman berkenan melihat keris itu, aku
persilahkan setiap saat paman datang kebangsalku.”
“Aku akan datang sore nanti Anusapati. Setelah aku menengok
ibundamu, maka aku akan singgah di bangsalmu.”
“Silahkan paman. Aku akan menerima paman dengan senang
nati, bahkan aku ingin mendapat keterangan dari paman Mahisa
Agni, apakah benar keris itu keris mPu Gandring yang telah
mengambil nyawa ayahanda Akuwu Tunggul Ametung.“
Dada Mahisa Agni berdesir. Ternyata Anusapati-pun mempunyai
keragu-raguan meski-pun tidak terlampau besar.
Demikianlah maka Anusapati-pun kemudian minta diri.
Sementara Mahisa Agni-pun kemudian berkemas untuk pergi
menghadap Permaisuri.
Dengan dada yang berdebar-debar Mahisa Agni memasuki bilik
Ken Dedes. Dilihatnya adik angkatnya itu terbaring di pembaringan
berselimut kain panjang yang berwarna kelam. Sementara dua
orang emban duduk disebelah pintu bilik yang tidak tertutup rapat,
“Kau kakang,“ desis Ken Dedes.
“Berbaringlah,” berkata Mahisa Agni sambil melangkah masuk.
Ken Dedes-pun kemudian menyuruh kedua embannya itu
meninggalkannya.
“Rasa-rasanya aku benar-benar menjadi sakit kakang,“ desis
Permaisuri itu, “kepalaku menjadi pening dan badanku menjadi
dingin.“
Mahisa Agni-pun kemudian duduk diatas sebuah dingklik kayu
yang dialasi dengan kulit domba yang lunak. Sambil memandang
wajah Ken Dedes yang buram Mahisa Agni berkata, “Tuan Puteri
terlampau memikirkan keadaan yang berkembang dengan cepatnya
saat ini. Sebaiknya tuan Puteri mencoba melupakannya.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata dengan
nada yang dalam dan perlahan-lahan seakan-akan hanya ingin
didengarnya sendiri, “Tetapi bagaimana aku akan melupakannya.
Baru saja Anusapati datang kepadaku dan minta keris mPu Gandring
itu. Aku sudah mencoba untuk mengingkarinya, bahwa akulah yang
membawa keris itu. Tetapi aku tidak berhasil.“
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin itu
bukan kesalahan Pangeran Pati, tetapi hambalah yang bersalah.
Namun bukan maksud hamba untuk mendorong Pangeran Pati
berbuat sesuatu. Tetapi sebenarnyalah bahwa hamba ingin
pengamanan yang lebih jauh lagi, karena keris itu akan dapat
menjadi bahaya yang sebenarnya bagi Pangeran Pati.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Mahisa
Agni berkata selanjutnya, “Tetapi hamba masih belum memikirkan
bahwa hal itu memang dapat menimbulkan kepedihan pada tuan
Puteri. Kegelisahan dan mungkin juga kecemasan, jika kemudian
tuanku Sri Rajasa datang untuk mengambil keris itu.“
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
“Itulah yang ingin hamba tanyakan kepada tuan Puteri apakah
hal itu yang membuat tuan Puteri gelisah dan bahkan merasa
benar-benar menjadi sakit.”
Ken Dedes menggelengkan kepalanya. Katanya, “Bukan kakang.
Aku sudah pasrah kepada Yang Maha Agung. Aku akan mengatakan
bahwa keris itu hilang. Aku tidak tahu lagi dimana aku
menyimpannya karena sudah bertahun-tahun tidak aku hiraukan
lagi.”
“Apakah tuanku Sri Rajasa akan mempercayainya?“
“Mungkin tidak. Tetapi aku bertekad untuk tidak mengatakan
yang sebenarnya apa-pun yang akan terjadi atasku.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pada suatu saat, Ken
Dedes memang sampai pada suatu pilihan, bahwa ia harus
menyelamatkan anaknya.
“Apakah tuan Puteri benar-benar sudah mengambil keputusan
demikian?”
“Ya. Aku sudah mengambil keputusan.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tuan Puteri.
Hamba rasa seandainya tuan Puteri berkata demikian, Sri Rajasa
tidak akan dapat memaksa. Selama hamba berada di Singasari,
sudah tentu hamba akan ikut bertanggung jawab. Jika pada suatu
saat Sri Rajasa mengambil sikap yang keras, maka apaboleh buat.
Tentu hamba tidak akan membiarkan tuan Puteri mengalami
sesuatu akibat keris itu.”
Tiba-tiba saja Ken Dedes bangkit duduk dibibir pembaringan.
“Apa yang akan kau lakukan kakang?“
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hamba tidak
ingin berbuat apa-apa tuan Puteri. Tetapi adalah kuwajiban hamba
melindungi tuan Puteri, karena hamba adalah saudara tua tuan
Puteri. Memang yang paling berhak melindungi tuan Puteri adalah
suami tuan Puteri, didalam hal ini adalah tuanku Sri Rajasa. Tetapi
jika bahaya itu datang justru dari Sri Rajasa, maka aku masih
berhak untuk berbuat sesuatu jika tuan Puteri menghendakinya.“
Ken Dedes memandang Mahisa Agni sejenak. Namun kemudian
wajahnya segera tertunduk. Terbayang didalam rongga matanya
Mahisa Agni itu dimasa mudanya. Ketika ia hampir saja menjadi
korban nafsu Kuda Sempana yang ingin melarikannya dari
Panawijen dan mengambilnya langsung dari bendungan ketika ia
sedang mencuci. Mahisa Agni yang tiba-tiba muncul dari balik
tanggul telah menyelamatkannya, setelah Wiraprana tidak berdaya
berbuat sesuatu atas Kuda Sempana, yang saat itu menjadi prajurit
Tumapel.
Kemudian dengan penuh tanggung jawab, Mahisa Agni selalu
melindunginya. Bahkan kemudian ia mendengar pula, bahwa Mahisa
Agni pernah berperang tanding melawan Mahendra dengan
menyebut dirinya sebagai Wiraprana, sehingga ia berhasil
mengalahkannya. Dan pada saat ia diambil dengan kekerasan dari
Panawijen, Mahisa Agni hampir saja terbunuh oleh sebuah keris
justru ia berusaha mempertahankannya.
Dan kini, ketika umurnya telah bertambah dengan puluhan
tahun, Mahisa Agni masih tetap melindunginya sebagai seorang
kakak yang bertanggung jawab, meski-pun sebenarnya ia hanyalah
seorang saudara angkat.
Namun Ken Dedes tidak dapat melihat tembus kepusat jantung
Mahisa Agni. Betapa hati anak muda yang bernama Mahisa Agni itu
terguncang ketika ia mendengar dengan telinganya sendiri, bahwa
Ken Dedes, gadis padepokan Panawijen itu mencintai seorang anak
muda bernama Wiraprana. Pada saat itu Mahisa Agni hampir
menjadi gila karenanya, dan bahkan ia serdirilah yang hampir saja
membinasakan Wiraprana karena hatinya yang gelap.
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Masa muda yang penuh
dengan khayalan-khayalan yang manis itu kini telah lalu. Panawijen
yang hijau subur itu tinggallah kenangan, karena daerah itu kini
menjadi kering kerontang. Panawijen telah menjadi kering karena
kutuk ayahnya yang tidak dapat menahan luapan kemarahan dan
memecahkan bendungan yang sanggup mengairi tanah
persawahan. Meski-pun kini ada padukuhan baru yang hijau di
pinggir padang Karautan, namun padukuhan yang baru ini tidak
dapat memberikan kenangan semanis Panawijen yang lama,
Panawijen tempat ia dibesarkan sampai saatnya ia menjadi seorang
gadis remaja.
Dalam pada itu selagi Ken Dedes tenggelam didalam dunia
kenangan, Mahisa Agni-pun duduk sambil menundukkan kepalanya
pula. Dalam keheningan itu-pun ia telah dibayangi oleh berbagai
persoalan. Tetapi berbeda dengan Ken Dedes yang mengenangkan
masa lalunya, Mahisa Agni sedang mereka-reka apakah yang dapat
dilakukan seandainya Sri Rajasa tiba-tiba saja mengambil sikap yang
keras dan terbuka.
“Mungkin Sri Rajasa telah mempersiapkan diri,“ berkata Mahisa
Agni didalam hatinya, “lewat beberapa orang Senapati yang dapat
dipengaruhinya untuk menyingkirkan Anusapati, ia sudah
menyiapkan sepasukan prajurit untuk bertindak dengan cepat
didalam istana ini. Jika persoalannya telah dapat dikuasainya
didalam istana, maka ia akan dapat menyebarkan keterangan
sekehendak hatinya, dan memberikan kepercayaan kepada prajurit
yang tersebar di seluruh Singasari. Bahkan para Panglima yang ada
dipusat pemerintahan ini-pun akan dapat kelabuinya. Sri Rajasa
dapat saja menuduh Anusapati melawan kehendaknya dan tidak lagi
tunduk kepadanya. Dan ia masih dapat membuat alasan-alasan
yang bagaimana-pun juga.”
Namun dalam pada itu, selagi Ken Dedes mengenangkan masamasa
remajanya yang indah, dan yang menjadi semakin indah
didalam bayangan masa lampau, dan selagi Mahisa Agni sibuk
dengan perhitungan yang mendebarkan, Sri Rajasa sendiri sedang
duduk merenung. Semua orang yang mendekatinya diusirnya,
seakan-akan ia ingin duduk dalam kesepian. Dalam dunianya yang
terasing.
Seperti Ken Dedes dan Mahisa Agni, maka yang bermain didalam
diri Sri Rajasa-pun adalah angan-angannya. Angan-angan yang
bergeser dari waktu kewaktu. Dari masa lampau kemasa kini dan
kemasa yang mendatang.
Dengan nafas yang berat, Sri Rajasa duduk bersandar tiang di
serambi belakang bangsalnya yang sepi. Dilihatnya dedaunan yang
bergerak ditiup angin. Rasa-rasanya angin yang bertiup
perlahanlahan
itu telah mengusap keningnya pula, seperti usapan tangan
yang lembut.
Ken Arok, yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu
belum pernah merasakan kelembutan tangan ibunya di masa kanakanak.
Sejak bayi ia sudah tersisih dari keluarganya dan hidup dalam
lingkungan yang tidak terpuji.
Dalam suatu dunia yang gelap. Ia hidup dari rumah seorang
pencuri, berpindah ke rumah seorang penjudi dan perampok.
Kemudian hidup dipandang Karautan dan menghantui sesamanya.
Sehingga pada suatu saat ia terlempar kedalam istana yang megah
ini.
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menarik nafas dalamdalam.
Adalah jauh berbeda dengan angan-angan Mahisa Agni dan
Anusapati, bahkan Ken Dedes. Pada saat terakhir, Sri Rajasa
seakan-akan mulai mampu melihat kedalam dirinya sendiri. Seakanakan
ia dihadapkan pada sebuah bayangan yang jelas tentang
dirinya dan segala perbuatannya.
“Sudah cukup,” tiba-tiba saja ia berdesah, “aku sudah cukup
lama menerima kurnia Yang Maha Agung. Mungkin aku memang
kekasih dewa-dewa. Tetapi aku tidak dapat ingkar melihat
kenyataan pada diri Ken Dedes. Ia adalah perempuan pinunjul yang
pantas melahirkan seorang besar di tanah ini.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menarik nafas dalamdalam.
Ketika ia memandang kedalam semak-semak yang rimbun,
ia tidak melihat lagi warna bunga-bungaan yang beraneka. Tetapi
yang membayang adalah semak-semak di padang Karautan. Semak
yang bahkan kadang-kadang berduri. Tetapi ia sama sekali tidak
menghiraukan. Apabila ia ingin bersembunyi, maka ia-pun
menyusup saja kedalamnya tanpa menghiraukan kulitnya yang
berjalur-jalur merah tersangkut duri.
“Betapa hidup ini bagaikan mimpi di malam-malam yang
panjang dan terputus-putus,“ berkata Ken Arok didalam hatinya.
“Seperti hidupnya sendiri bagaikan mimpi yang patah-patah hampir
tidak dapat dipercaya. Sebagai seorang anak liar di padang
Karautan, kini ia cepat duduk dengan megahnya di atas tahta
Singasari.”
“Aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada padaku.
Didalam kamukten ini aku tidak berusaha membersihkan diriku,
tetapi aku justru lebih banyak menodai diriku sendiri dengan
berbagai macam kesenangan dan cita-cita yang menyimpang dari
keinginan Yang Maha Agung,” desisnya ketika terbayang di
wajahnya seorang gadis yang ditemuinya dihutan perburuan dan
berhasil menjebaknya. Seperti kehidupan liar yang ditempuhnya
dimasa mudanya, dengan memperkosa gadis-gadis, maka ia-pun
terjebak dalam kehidupan yang liar bukan atas kehendaknya. Maka
ia-pun terjebak untuk mengambil Ken Umang menjadi isterinya,
sehingga lahirlah anak demi anak. Namun kini ia melihat, bahwa ia
tidak dapat lagi mengelakkan pengaruh perempuan itu yang justru
semakin lama terasa semakin kuat.
Ken Arok bergeser setapak. Angan-angannya menjadi semakin
tajam menyoroti dirinya sendiri. Dan ia-pun melihat dirinya sendiri
kini telah berdiri di tengah-engah arus sungai yang deras. Berhenti
atau terus, ia sudah terlanjur basah. “Jika aku harus berjalan
terus,
aku tidak lagi berbuat karena suatu keyakinan.“ ia berkata kepada
diri sendiri, “yang aku lakukan hanyalah karena semuanya sudah
terlanjur. Dan didalam saat yang paling sulit, tentu aku tidak akan
dapat melepaskan Tohjaya yang tamak itu.”
Namun Ken Arok tidak juga dapat menyalahkan Tohjaya. Ia telah
ikut membentuk Tohjaya menjadi seorang pemimpin. Seorang yang
bercita-cita terlampau tinggi tanpa mengingat alas yang diinjaknya.
Jika perlu, ia akan berdiri diatas alas mayat Anusapati dan
siapa-pun
juga untuk mencapai singgasana Singasari.
Bayangan-angan itulah agaknya yang selalu menghantui Ken
Arok. Bayangan-angan yang saling berbenturan antara warna-warna
yang bertentangan didalam hatinya.
Namun dalam pada itu, selagi Ken Arok itu merenung, terdengar
desir perlahan-lahan mendekatinya. Ketika ia berpaling dilihatnya
dikejauhan, Tohjaya berdiri termangu-mangu. Agaknya ia sudah
mendengar dari para prajurit yang bertugas, bahwa Sri Rajasa
sedang tidak mau dikunjungi oleh siapapun. Tetapi agaknya Tohjaya
masih ingin juga mencobanya.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Justru pergolakan di dalam
hatinya itulah yang telah mendorongnya untuk memanggil Tohjaya
menghadap, karena ia tidak mau dengan tiba-tiba saja bersikap lain.
Dengan dada yang berdebar-debar Tohjaya mendekati Ken Arok.
Beberapa langkah daripadanya ia berhenti termangu-mangu. Baru
ketika Ken Arok mengangguk, ia maju lagi beberapa langkah.
“Kenapa kau ragu-ragu?“ bertanya Ken Arok.
“Ampun ayahanda,“ sahut Tohjaya, “para prajurit mengatakan
bahwa ayahanda sedang ingin duduk sendiri.”
“Ya, aku tidak ingin diganggu oleh masalah-masalah yang
membuat kepalaku bertambah pening. Aku ingin beristirahat barang
sejenak, karena badanku-pun terasa kurang enak.“
“Ampun ayahanda. Hamba tidak ingin membicarakan sesuatu.
Hamba hanya ingin datang menghadap.”
Sri Rajasa mengangguk-angguk. “Baiklah. Jika demikian,
duduklah sebaik-baiknya. Aku agak segan berbicara tentang
persoalan-persoalan yang dapat memberati pikiranku hari ini.”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Namun ia-pun berkata, “Ampun
ayahanda. Hamba memang tidak ingin mempersoalkan sesuatu.
Tetapi hamba hanya ingin sekedar bertanya.”
“Apa?”
“Apakah sakit ibunda Permaisuri masih cukup parah ayahanda?”
“O,“ Ken Arok merenung sejenak. Lalu, “aku tidak tahu. Mudahmudahan
sakitnya sudah sembuh sama sekali.“
“Sebenarnya ibunda Ken Umang ingin menghadap ibunda
Permaisuri untuk sekedar menengoknya. Tetapi ibunda Ken Umang
agak merasa takut kalau-kalau ibunda Permaisuri tidak
menerimanya.”
“Kenapa tidak menerima?”
“Mungkin karena ibunda Permaisuri ingin beristirahat, tetapi
mungkin juga karena ibunda tidak ingin bertemu dan berbicara
didalam keadaan itu dengan ibunda Ken Umang.”
“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu,“ sahut Sri Rajasa.
“Itulah sebabnya maka ibunda mohon pertimbangan ayahanda.”
Sri Rajasa tidak segera menjawab. Sebenarnya ia tidak senang
mendengar pertanyaan itu. Ia sedang menenteramkan hatinya dan
menerawang hidupnya sendiri. Namun demikian ia tidak sampai hati
untuk menolak pertanyaan itu.
Karena itu, maka Sri Rajasa kemudian menjawab, meski-pun
seakan-akan asal saja terlontar dari mulutnya, “jangan pergi
sekarang.”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Tetapi menilik sikap Sri Rajasa,
Tohjaya-pun sadar, bahwa ayahandanya itu sedang dirisaukan oleh
sesuatu yang tidak dimengertinya.
“Mungkin kakanda Anusapati,“ berkata Tohjaya didalam hatinya.
Baginya setiap persoalan yang tidak menyenangkan bagi
ayahandanya, adalah persoalan yang ditumbuhkan oleh Anusapati.
Namun jawaban itu sebenarnya bagi Sri Rajasa adalah jawaban
yang dapat diucapkannya waktu itu. Dengan demikian maka
Tohjaya pasti tidak akan bertanya apa-pun lagi.
Tetapi ternyata bahwa Tohjaya masih tetap tidak beranjak.
Bahkan sejengkal ia bergerak maju sambil bertanya, “Ayahanda.
Tampaknya ayahanda sedang memikirkan sesuatu. Jika berkenan
dihati ayahanda, apakah hamba dapat mengetahuinya dan apakah
hamba dapat ikut membantu memecahkannya?“
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun kemudian
mencoba tersenyum dan menjawab, “Tidak Tohjaya. Tidak ada apaapa
yang sedang aku pikirkan. Aku hanya ingin beristisahat karena
aku terlampau lelah.“
Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dihatinya ia
masih saja diganggu oleh sikap dan kerut-merut di wajah
ayahandanya.
“Tohjaya,“ berkata Sri Rajasa, “tinggalkan aku seorang diri.
Sebentar lagi aku akan beristirahat dipembaringan. Rasa-rasanya
badanku terlampau letih beberapa hari ini.”
Tohjaya memandang ayahanda dengan heran. Biasanya ayahnya
tidak pernah tampak begitu letih dan lesu. Sri Rajasa adalah
seorang yang penuh gairah menanggapi kehidupan ini. Wajahnya
selalu memancarkan luapan perasaan dan matanya bagaikan
menyala. Sri Rajasa tidak pernah menjadi tampak terlalu murung
dan merasa seperti saat itu.
“Ayahanda,“ tiba-tiba saja Tohjaya bertanya, “apakah ayahanda
merasa bahwa badan ayahanda tidak enak?”
“Tidak Tohjaya, aku tidak apa-apa. Aku hanya letih. Akhir-akhir
ini aku menghadapi banyak persoalan yang menyangkut
kelangsungan hidup Singasari.”
“Tetapi ayahanda tidak memberitahukan kepada hamba. Jika
hamba mengetahuinya, maka biarlah hamba ikut memikirkannya.
Selama ini ayahanda selalu mempersoalkan keadaan Singasari
dengan hamba. Dan ayahanda menganggap bahwa pikiran hamba
baik juga dipertimbangkan oleh ayahanda.”
“Ya. Aku memang memerlukan bantuan pikiranmu. Aku-pun
akan mendengarkan pendapatmu. Tetapi tidak sekarang. Aku ingin
beristirahat. Aku ingin tidur senyenyak-nyenyaknya.”
Tohjaya menjadi semakin heran. Tetapi ia tidak mau
menimbulkan kegelisahan yang semakin mengganggu ayahandanya,
sehingga karena itu ia tidak mendesaknya lagi. Bahkan ia mencoba
untuk mengalihkan pembicaraan. Katanya, “Ayahanda. Mungkin
ayahanda memang terlampau lelah. Sudah lama ayahanda tidak
pergi berburu.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak menyahut.
“Apakah ayahanda tidak ingin berburu? Dengan demikian
ayahanda dapat melupakan kelelahan yang agaknya mulai
mengganggu.“
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam.
“Jika ayahanda berkenan, hamba akan ikut serta berburu untuk
mendapatkan kesegaran baru.”
Sri Rajasa memandang Tohjaya sejenak. Lalu katanya, “Dalam
keadaan serupa ini, aku tidak dapat meninggalkan Istana.”
“Bukankah ada para Panglima yang dapat ayahanda serahi
pemerintahan?”
Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Namun tanpa disangkanya
Tohjaya berkata, “O, apakah ayahanda berpikir tentang pamanda
Mahisa Agni yang kini sedang berada di istana ini. Ayahanda dapat
mengusirnya. Biarlah ia segera pergi dan kembali ke Kediri.”
Sri Rajasa tidak segera menjawab. Dan karena itu Tohjaya
berkaca terus, “Ayahanda, kehadiran pamanda Mahisa Agni
memang memberikan pengaruh yang buruk di istana ini. Kakanda
Anusapati selalu saja hilir mudik dari bangsalnya sendiri kebangsal
ibunda Permaisuri, kemudian ke bangsal pamanda Mahisa Agni.
Bukan hanya sekali dua kali sehari, tetapi berulang kali. Kemudian
pamanda Mahisa Agni pergi mengunjunginya dan kemudian pergi ke
bangsal ibunda Permaisuri.”
“Ken Dedes sedang sakit Tohjaya. Adalah wajar sekali jika
pamanmu Mahisa Agni menungguinya. Ia adalah saudara tua
ibundamu Permaisuri. Kegelisahan Anusapati-pun dapat dimengerti.
Bukankah ibunya sedang sakit. Mungkin ia memang diminta oleh
ibundanya untuk menghubungi pamannya. Tidak hanya sekali,
mungkin sekali dua kali sehari.”
“Tetapi tentu bukan karena sakit ibunda Permaisuri saja
ayahanda.”
“Jangan berprasangka terlalu jauh Tohjaya.”
“Tetapi sikap kakanda Anusapati sudah menjadi semakin
memuakkan. Bukankah kita sudah berkeputusan untuk mengusirnya
dari kedudukannya dan dari istana ini? Ayahanda, jika ayahanda
tidak cepat bertindak didalam keadaan ini, maka ia akan sempat
memperbaiki kedudukannya.“
Dada Sri Rajasa berdesir. Ia memang pernah mengatakan,
bahwa sebenarnya Anusapati tidak diperlukannya lagi. Tetapi ketika
ia mendengarnya hal itu sekali lagi, rasa-rasanya sesuatu bergetar
dihatinya. Sekilas terbayang cahaya yang silau pada diri Ken Dedes.
Dan Ken Arok pernah mendengar bahwa cahaya yang demikian
adalah pertanda bahwa orang itu akan meneteskan keturunan
agung.
Tohjaya memandang wajah ayahnya yang berubah-rubah itu.
Kadang-kadang tegang, namun kadang-kadang seolah-olah Sri
Rajasa sudah pasrah pada keadaan yang terjadi. Bahkan sekalisekali
ia memejamkan matanya dan melihat didalam kekelaman,
dunia yang tidak dapat dimengertinya membentang dihadapannya.
“Ayahanda,“ Tohjaya menjadi cemas.
“Aku memang lelah sekali Tohjaya,“ jawab Sri Rajasa, “aku ingin
beristirahat sejenak. Apakah keperluanmu sudah selesai?”
“Hamba tidak mempunyai keperluan yang khusus ayahanda.
Hamba hanya ingin menghadap ayahanda. Barangkali ada titah
ayahanda yang harus hamba lakukan.“ Tohjaya berhenti sejenak.
Lalu, “atau, jatuhkanlah perintah atas namba ayahanda. Hamba
akan melakukannya. Dengan, beberapa orang prajurit, hamba dapat
menyelesaikan tugas ini.”
“Maksudmu membunuh Anusapati?”
Dada Tohjaya berdesir. Tetapi ia mengangguk sambil menyahut,
“Hamba ayahanda.”
“Ah, kau. Apakah kau masih saja berusaha menyembunyikan
kenyataan. Beberapa kali usaha itu dilakukan, tetapi selalu gagal.
Kiai Kisi bahkan telah terbunuh. Tidak mustahil bahwa sebenarnya
Anusapati telah menciun rencana itu.”
“Aku memang pernah mendengar tentang Kiai Kisi meski-pun
tidak begitu jelas. Tetapi itu tentu karena kebodohannya.”
“Kemudian sepasukan prajurit yang berusaha membinasakan
Kesatria Putih. Namun justru senjata prajurit-prajurit yang
menyamar itu tertumpuk dipintu gerbang pada pagi harinya. Apakah
kau masih mempunyai rencana lain?”
“Ayahanda, hamba tidak ingin berpura-pura. Jika hamba harus
membunuhnya, maka hamba akan datang dengan dada tengadah
dan membunuhnya. Melawan atau tidak melawan.”
“Kau akan menjadikan persoalan ini terbuka?”
Tohjaya ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk.
“Ya. Apaboleh buat.“
“Kau memang bodoh sekali Tohjaya.”
Tohjaya terkejut mendengar kata-kata yang keras itu. Hampir
tidak pernah Sri Rajasa mengatakan demikian tentang dirinya.
Karena itu untuk beberapa saat lamanya ia tidak dapat berkata
apapun
juga.
“Tohjaya,“ berkata Sri Rajasa, “saat ini Mahisa Agni berada di
Singasari. Ia dapat berbuat banyak apabila kita terlibat dalam
benturan terbuka.”
“Tentu tidak ayahanda. Jika ayahanda menjatuhkan perintah
kepada para Panglima untuk menangkapnya. Betapa-pun kuatnya
pamanda Mahisa Agni, namun para Panglima adalah bukan orang
kebanyakan pula.”
“Tohjaya,“ tiba-tiba suara Sri Rajasa merendah, “tinggalkan aku
seorang diri. Aku lelah sekali. Aku sedang segan sekali memikirkan
apa-pun juga, termasuk Anusapati dan Mahisa Agni. Bahkan tentang
Singasari sekalipun.”
Tohjaya menjadi semakin termangu-mangu. Ia tidak dapat
mengerti sikap ayahandanya yang belum pernah dijumpainya itu.
Namun kesimpulan dihatinya adalah, bahwa ayahandanya
memang benar-benar sedang terlalu lelah dan benar-benar ingin
beristirahat.
Karena itu, maka ia-pun kemudian berkata, “Sudahlah ayahanda.
Agaknya ayahanda memang benar-benar harus beristirahat.
Perkenankan hamba mohon diri.”
Sri Rajasa mengangguk. “Ya. Aku memang akan beristirahat
sama sekali tanpa persoalan apapun.”
“Baiklah ayahanda. Dan hamba akan mengatakannya kepada
ibunda Ken Umang, bahwa untuk saat ini ibunda Ken Umang tidak
sebaiknya pergi kebangsal ibunda Permaisuri.”
“Ya,“ jawab Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu agar Tohjaya
tidak mempersoalkannya lagi.
Tohjaya-pun segera minta diri. Di halaman bangsal Sri Rajasa ia
berhenti sejenak. Dilihatnya seorang prajurit berdiri termangumangu
dikejauhan.
“He,“ katanya kepada pengawalnya, “apakah prajurit itu ingin
menghadap aku?”
“Hamba akan bertanya kepadanya tuanku,“ jawab prajurit itu.
Sejenak kemudian seorang pengawal Tohjaya mendekati prajurit
yang termangu-mangu itu. Ketika ia bertanya kepadanya, maka
prajurit itu menjawab, “Aku akan menyampaikan sesuatu kepada
tuanku Tohjaya.”
“Marilah. Tuanku Tohjaya melihat kau termangu-mangu. Karena
itu aku diperintahkannya bertanya kepadamu.”
Prajurit yang termangu-mangu itu-pun kemudian dibawa
menghadap. Dengan dahi yang berkerut merut Tohjaya bertanya,
“Apa yang akan kau katakan?”
“Ampun tuanku,“ berkata prajurit itu dengan ragu-ragu.
“Jangan ragu-ragu. Katakan yang ingin kau katakan. Bahkan
seandainya kau mempunyai permintaan sekalipun.”
“Hamba tuanku. Memang ada yang ingin hamba katakan.“ ia
berhenti sejenak. Lalu, “apakah hamba diperkenankan
mengucapkannya.”
“Katakan. Mungkin tentang kuda atau tentang senjata atau kau
prajurit yang sering ikut bersamaku berburu?”
“Ya tuanku. Hamba kadang-kadang mengawal tuanku didalam
dan diluar istana.”
“Aku tahu.”
“Hamba, tuanku, sebenarnyalah hamba ingin mengatakan
sesuatu tentang Putera Mahkota.”
“He?“ Tohjaya terbelalak.
“Tentang kakanda tuanku itu. Kesibukannya luar biasa setelah
pamanda Mahisa Agni ada di halaman istana.”
Tohjaya tidak menyahut. Dibiarkannya orang itu berbicara terus.
Katanya, “Apakah tuanku tidak menaruh perhatian terhadap
kesibukan kakanda tuanku itu?”
Tohjaya menganguk dan berkata, “Tentu, tentu.“
“Nah, hamba menyaksikan sendiri, tuanku Pangeran Pati itu
selalu mondar mandir dari bangsal tuan puteri Ken Dedes kebangsal
pamanda tuanku Mahisa Agni.”
“Aku sudah tahu. Tetapi apa yang akan kau katakan
selanjutnya?”
“O,“ orang itu menjadi kecewa, “jadi tuanku sudah
mengetahuinya.”
“Aku sudah tahu. Sekarang katakan yang ingin kau katakan
tentang kakanda Anusapati,“ geram Tohjaya.
“Itulah yang akan hamba katakan tuanku.“
“Hanya itu?”
“Hamba tuanku.”
Wajah Tohjaya menegang sesaat. Namun kemudian sambil
mendorong orang itu dengan kakinya sehingga orang itu terjatuh
berguling ditanah.
“Pergi kau penjilat bodoh,“ bentak Tohjaya yang hatinya
memang sedang gelap, “aku tidak perlu keteranganmu itu.”
Orang itu dengan takutnya bangkit dan duduk ditanah. Tetapi ia
sama sekali tidak berani memandang lagi wajah Tohjaya yang
sedang marah.”
Tohjaya-pun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Dengan
tergesa-gesa ia-pun pergi meninggalkan prajurit yang duduk dengan
kepala tunduk itu diiringi oleh para pengawalnya.
Ketika Tohjaya sudah tidak tampak lagi, maka orang tu-pun
segera berdiri sambil mengumpat perlahan-lahan. Tetapi ia tidak
berani menunjukkan kemarahannya itu kepada orang lain. Sekali ia
berpaling memandang para prajurit yang bertugas di bangsal Sri
Rajasa. Ketika ia melihat prajurit-prajurit itu tersenyum, sekali
lagi ia
mengumpat.
Dengan tergesa-gesa ia-pun kemudian meninggalkan halaman
bangsal itu. Mulutnya tidak hentinya mengumpat, meski-pun tidak
ada seorang-pun yang mendengarnya.
Prajurit itu tertegun ketika ia mendengar suara seseorang yang
tertawa dibalik gerumbul. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang
juru
taman yang berjongkok sambil menyiangi sebatang pohon. Namun
prajurit itu tahu pasti bahwa orang itulah yang sedang tertawa.
“Kenapa kau tertawa he?“ prajurit itu membentak.
Juru taman itu berpaling sambil menjawab, “Aku tidak bermaksud
tertawa. Tetapi aku tidak dapat menahannya.”
“Gila. Aku bunuh kau,“ orang itu membelalakkan matanya, “kau
juru taman yang gila itu. Seharusnya kau benar-benar sudah mati.”
Wajah juru taman itu menjadi pucat.
“Jangan menyesal. Aku memang akan membunuhmu.“
“jangan.”
“Apa peduliku. Aku akan mencekikmu.“
“Aku akan berteriak.”
“Persetan.”
“Prajurit-prajurit itu akan datang kemari. Dan aku akan
berceritera bahwa pada malam hari itu, kau pulalah yang akan
membunuhku. Sekarang kau berusaha memfitnah Pangeran Pati
dengan mengatakan ceritera-ceritera bohong kepada tuanku
Tohjaya. Kau dapat dituduh mengadu domba.”
“Gila, gila kau.”
“Nah, aku akan berteriak sekarang. Matamu menjadi liar. Kau
benar-benar akan membunuhku.“
Mata prajurit itu memang menjadi liar. Dipandanginya
prajuritprajurit
yang bertugas didepan bangsal. Belum begitu jauh.
Jika juru taman itu berteriak, diantara mereka pasti akan datang
dan mengusut persoalannya.
“Aku akan berteriak,“ juru taman itu mengulang.
“Jangan, jangan.”
“Apa peduliku. Aku akan berteriak.”
“Jangan, jangan. Aku tidak benar-benar akan membunuhmu.
Bukankah aku sudah mengatakan. Aku akan berkunjung ke
rumahmu membawa oleh-oleh buat anak binimu.”
“Aku tidak mempunyai anak bini. Aku hidup sendiri.”
“O, jika demikian aku akan membawa oleh-oleh buatmu.”
“Bawalah uang sebanyak-banyaknya. Aku lebih senang kau
membawa uang.”
Prajurit itu membelalakkan matanya. Tetapi ia-pun segera
memaksa dirinya untuk tersenyum.
“Baik, baik. Aku akan membawa uang buatmu. Aku benar-benar
akan datang malam nanti. O, malam nanti adalah malam yang baik
untuk berkunjung ke rumahmu.”
“Terima kasih. Aku akan menunggumu.“
Prajurit itu tidak menyahut lagi. Sambil mengkibas-kibaskan
pakaiannya yang kotor oleh debu maka ia-pun kemudian
meninggalkan juru taman itu sendiri.
Sepeninggal prajurit itu, Sumekar-pun menarik nafas dalamdalam.
Katanya didalam hati, “Tentu bukan ia sendiri penjilat
didalam istana ini. Tentu masih banyak orang-orang yang berusaha
mengambil keuntungan dari setiap perkembangan persoalan. Jika
penjilat-penjilat semacam itu masih juga mendapat kesempatan,
maka istana ini pasti akan segera terbakar.“
Sejenak Sumekar berdiri termangu-mangu. Kemudian ia-pun
meninggalkan pohon yang sedang disianginya. Ia tiba-tiba saja ingin
berbicara dengan Anusapati atau Mahisa Agni.
“Mungkin ada perkembangan yang belum aku mengerti,“
berkata Sumekar didalam hati.
Sumekar-pun kemudian meninggalkan tempat itu. Sambil
membawa alat-alat seorang juru taman, maka ia-pun pergi ketaman
di halaman bangsal Mahisa Agni. Ternyata seorang juru taman yang
lain sedang membersihkau daun-daun kuning yang berguguran
karena angin yang agak kencang.
“He, dimana kau?“ bertanya juru taman itu kepada Sumekar.
“Aku sedang menyiangi pohon ceplok piring itu.”
“Halaman ini menjadi sangat kotor. Bukankah ini tugasmu?”
“Ya,“ jawab Sumekar, “baiklah, aku selesaikan.“
Juru taman itu-pun kemudian menyerahkan sapu lidinya kepada
Sumekar sambil berkata, “Pekerjaanku sendiri sudah selesai. Jika
masih sibuk biarlah aku selesaikan pekerjaan ini.”
“Kenapa kau serahkan sapu ini kepadaku?”
Juru taman itu tersenyum. Katanya, “Jadi bagaimana? Apakah
aku harus melanjutkannya.”
“Tidak,“ jawab Sumekar, “aku akan membersihkannya. Jika
bukan aku, tentu tuanku Mahisa Agni akan marah karena tidak akan
dapat sebersih bekas tanganku.”
“Macam kau. Coba biarlah aku yang menyelesaikan. Nanti, kita
tunggu, apakah tuanku Mahisa Agni akan marah atau tidak. Kita
bertaruh. Rangsum makan kita tiga hari.”
Sumekar merenung sejenak, lalu menggelengkan kepalanya,
“Tidak mau. Aku tidak tahan untuk tidak makan tiga hari.”
“Nah, jika demikian jangan sombong.”
“Baik. Aku tidak akan sombong.”
Juru taman itu memandang Sumekar dengan kerut-merut
dikeningnya. Lalu ia-pun meninggalkannya sambil menggerutu, “Kau
sudah mulai kambuh lagi.”
Sumekar tertawa. Dipandanginya saja kawannya itu sampai
hilang dibalik gerumbul-gerumbul pohon bunga di sudut halaman, ia
memang menghendaki agar orang itu pergi meninggalkan bangsal
itu.
Sambil membersihkan halaman Sumekar mendekati dua orang
prajurit yang bertugas di regol. Sejenak ia termangu-mangu. Namun
kemudian ia-pun bertanya, “Ki Sanak, apakah tuanku Mahisa Agni
ada didalam bangsal?”
“Kenapa?“ bertanya prajurit itu.
“Tidak apa-apa. Aku hanya akan membersihkan pohon-pohon
bunga sampai ke longkangan samping. Jika tuanku Mahisa Agni
sedang beristirahat, aku takut, kalau aku mengejutkannya. Tuanku
Mahisa Agni menurut pendengaranku adalah seorang Senapati yang
keras hati. Jika sekali aku dipukulnya, maka kepalaku akan dapat
lepas karenanya.”
“Tidak,“ jawab prajurit itu, “tuanku Mahisa Agni sedang keluar.”
“Kemana?”
“Aku tidak tahu. Tuanku Mahisa Agni tidak pernah membawa
seorang pengawalpun. Bukan saja di halaman istana, tetapi juga
jika ia pergi keluar. Mirip sekali dengan tuanku Pangeran Pati.”
Sumekar menganggukakan kepalanya. Lalu katanya, “Jika
demikian, mumpung tuanku Senapati itu tidak ada, aku akan
menyiangi tanaman dilongkangan. Selama tuanku Mahisa Agni ada
di Singasari, aku hampir tidak pernah mendapat kesempatan
melakukannya, sehingga pohon bunga-bunga di longkangan itu
menjadi kurus dan layu.”
“ Lakukanlah.“
Sumekar-pun kemudian pergi kelongkangan samping. Dilihatnya
pintu butulan bangsal itu tertutup. Dan ia-pun sama sekali tidak
mendekati pintu yang tertutup itu.
Demikianlah untuk beberapa saat lamanya Sumekar berada
dilongkangan. Ia memang menunggu sampai Mahisa Agni datang.
Ia ingin mendengar sesuatu tentang perkembangan terakhir dari
hubungan yang kalut antara Sri Rajasa, Permaisurinya dan Putera
Mahkota.
Ternyata dalam pada itu, Mahisa Agni masih duduk merenung di
bangsal Permaisuri. Tetapi tidak lama kemudian berkata, “Sudahlah
tuan Puteri, hamba akan kembali ke bangsal hamba. Untuk waktu
yang sejauh dapat hamba usahakan, hamba akan tetap berada di
Singasari. Kecuali jika hamba tidak mempunyai kesempatan lagi
karena perintah Sri Rajasa. Tetapi sebelum perintah itu mendesak,
hamba masih akan tetap disini.“
“Terima kasih kakang. Awasilah Anusapati. Hatiku selalu cemas
bagaikan melepaskan anak yang baru pandai merangkak di pinggir
jurang.”
“Baiklah tuan Puteri, hamba akan selalu mencoba
mengawasinya. Hamba akan mencoba mengendalikannya agar
Putera Mahkota itu tidak bertindak tergesa-gesa.“
“Terima kasih.“ suaranya-pun kemudian merendah, “tidak ada
orang lain yang kini dapat aku percaya selain kau kakang.”
Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Kata-kata itu diucapkan oleh
Ken Dedes. Tetapi kini setelah rambutnya hampir berwarna
rangkap.
“Tuan Puteri,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku menjunjung
tinggi kepercayaan itu. Baik sebagai seorang saudara laki-laki,
maupun
sebagai seorang Senapati Agung di Smgasari.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya,
“Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk pula. Namun terasa betapa
kecemasan yang sangat selalu membayangi Permaisuri itu.
Sejenak kemudian maka Mahisa Agni-pun mohon diri sambil
berpesan perlahan-lahan sekali, “Tuan Puteri. Tuan Puteri harus
tetap menyadari, bahwa sesungguhnya tuan Puteri tidak sedang
sakit. Jika tuan Puteri tidak menyadarinya, maka akan dapat
terjadi,
tuan Puteri benar-benar menjadi sakit, atau rasa-rasanya seakanakan
tuan Puteri benar-benar sakit.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sambil mencoba tersenyum
ia menjawab, “Ya kakang. Kadang-kadang aku lupa bahwa
sebenarnya aku hanya berpura-pura saja sakit, sehingga rasarasanya
aku benar-benar menjadi sakit.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia
melihat bahwa sebenarnyalah Ken Dedes sedang menderita sakit.
Bukan badannya, tetapi hatinya yang kemudian mempengaruhi
jasmaniahnya.
Sejenak kemudian Mahisa Agni-pun meninggalkan bangsal Ken
Dedes. Namun agaknya masih terlampau siang untuk singgah di
bangsal Anusapati. Karena itu, maka ia-pun berjalan-jalan saja di
halaman tanpa tujuan sekedar untuk mengisi waktu.
Tanpa disadarinya ia-pun menyusuri dinding yang membatasi
halaman istana Singasari yang lama dengan istana yang dibangun
oleh Ken Arok untuk isterinya yang muda Ken Umang. Dan tanpa
sesadarnya pula Mahisa Agni melangkah didepan regol yang
terbuka.
Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar seseorangmenyapanya,
“Kakang Mahisa Agni.”
Mahisa Agni berpaling. Hatinya bagaikan berguncang ketika
dilihatnya Ken Umang berdiri diseberang regol yang terbuka itu
sambil tersenyum.
“O, ampun tuan Puteri,“ sahut Mahisa Agni dengan suara
gemetar. “Hamba tidak tahu bahwa tuan Puteri berdiri disitu.”
“Ah, kenapa kau masih saja mempergunakan basa-basi itu? Kita
sama-sama berasal dari keturunan orang kecil. Panggil saja aku Ken
Umang.”
“Tentu tidak tuan Puteri,“ jawab Mahisa Agni, “keturunan kita
tidak mempengaruhi kedudukan kita sekarang. Tuan Puteri adalah
isteri Maharaja di Singasari.”
“Dan kau adalah Senapati Agung dan sekaligus wakil Mahkota di
Kediri. Selisih kedudukanmu dengan Sri Rajasa sendiri hanya
selapis.”
“Ampun tuan Puteri Hamba sangat berterima kasih atas
kemurahan Sri Rajasa itu. Dan karena itulah>hamba merasa betapa
kecilnya diri hamba.”
Ken Umang tertawa. Katanya, “Sikapmu belum berubah kakang.
Kau masih saja takut kepadaku. Bukan karena kedudukanku. Aku
tahu, bahwa kau menganggapi aku seorang wanita yang sangat
rendah. Meski-pun aku berkedudukan tinggi, yang kini menjadi
perempuan kedua sesudah Permaisuri, tetapi sikapmu dan tatapan
matamu tetap tidak ingkar, bahwa setelah aku tinggal di istana ini,
aku masih juga mencoba menyeretmu kedalam perbuatan yang
tercela itu. Tetapi itu dahulu kakang.”
“Ampun tuan Puteri. Hamba sekali-kali tidak pernah
menganggap tuanku sebagai seorang perempuan yang rendah.
Sama sekali tidak.”
Ken Umang tertawa. Sekali ia berpaling memandang beberapa
orang emban yang duduk agak jauh daripadanya.
Mahisa Agni yang masih berdiri diseberang regol menjadi
semakin berdebar-debar. Meski-pun umur mereka sudah menjadi
semakin tua, tetapi kesan yang ada didalam hatinya tentang Ken
Umang-pun masih belum dapat dilupakannya. Agaknya Ken Umang
menyadarinya sehingga seakan-akan ia dapat membaca isi hati
Mahisa Agni.
“Kakang,“ berkata Ken Umang. “sekarang kita sudah merayapi
tahun demi tahun. Meski-pun tampaknya kau masih lebih muda dari
umurmu yang sebenarnya, dan barangkali aku masih juga pantas
untuk mengganggumu, tetapi aku kira sekarang aku mempunyai
kepentingan yang lain.”
Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Katanya, “Sebenarnyalah
kata tuan Puteri. Hamba memang sudah tua.”
“Itu tidak penting,“ sahut Ken Umang. Lalu, “Kakang Mahisa
Agni. Kakang tentu sudah melihat perkembangan istana Singasari
sekarang ini.”
“Ya tuan Puteri, perkembangan Singasari benar-benar
menggembirakan.”
“Bukan itu yang aku maksud. Tetapi penghuni-penghuni istana
ini. Tegasnya keluarga kita, keluarga Sri Rajasa.”
“O,“ Mahisa Agni memandang wajah Ken Umang sejenak. Tetapi
kepalanya-pun segera tertunduk kembali.
“Kakang Mahisa Agni,“ berkata Ken Umang, “bukankah kau
adalah paman dari Anusapati?”
“Hamba tuan Puteri,“ jawab Mahisa Agni dengam jantung yang
berdebaran.
“Sebagai seorang ibu aku senang melihat anak-anak hidup
dalam kegembiraan. Apalagi Anusapati sudah mempunyai seorang
anak laki-laki yang menjadi semakin besar.“ Ken Umang berhenti
sejenak. Lalu, “Tetapi alangkah sedih hati seorang ibu bila melihat
anak-anaknya bertengkar. Bagiku, Tohjaya dan Anusapati adalah
anak-anakku. Aku tidak membeda-bedakannya. Tetapi Anusapati
bersikap aneh terhadapku dan terhadap adiknya Tohjaya. Seakanakan
kami berdua adalah musuhnya. Nah, tolong, sampaikan
kepada Anusapati, bahwa kami menganggapnya sebagai keluarga
yang tidak terpisah. Anusapati adalah anakku dan Tohjaya-pun
putera kakanda Permaisuri, dan sebaliknya. Apakah kau mengerti
maksudku?”
“Hamba tuan Puteri.”
“Nah, jika demikian, nasehatkan kepada Anusapati, agar ia
dapat bersikap lebih baik. Agar ia dapat sedikit mendekatkan diri
kepada adiknya.”
Mahisa Agni menarik nafas, tetapi ia menyahut, “Hamba tuan
Puteri. Hamba akan memperingatkannya. Anusapati memang harus
bersikap baik terhadap tuanku Tohjaya.”
Jawaban itu sama sekali tidak diharapkan oleh Ken Umang. Ia
ingin mendengar Mahisa Agni membantahnya agar timbul persoalan
untuk memancing pendapat Mahisa Agni yang sebenarnya terhadap
keadaan yang sedang berkembang itu.
Dan justru karena itu maka untuk sesaat Ken Umang terdiam.
Dipandanginya Mahisa Agni dengan sorot mata yang aneh.
Sebenarnyalah Ken Umang menjadi heran, kenapa Mahisa Agni
begitu saja mengiakan kata-katanya tentang Anusapati.
Karena Ken Umang tidak segera menyahut, maka Mahisa Agni
melanjutkannya, “Tuan Puteri. Perkenankanlah hamba mohon maaf
atas segala kelakuan dan tingkah laku Anusapati sampai saat ini
apabila tidak berkenan dihati tuan Puteri Ken Umang.”
Ken Umang masih tetap berdiam diri. Sekali-sekali wajahnya
menjadi tegang. Namun sejenak kemudian tampaklah ia menjadi
kebingungan.
Baru sejenak kemudian Ken Umang berkata patah-patah, “jadi,
jadi kau membenarkan kata-kataku bahwa Anusapati memang anak
muda yang tidak tahu diri?”
“Karena hamba tidak berada di Singasari tuanku, maka hamba
tidak dapat menyebutkannya. Tetapi karena menurut tuanku,
Anusapati telah berbuat kurang baik, maka biarlah hamba
memperingatkannya.“
Justru Ken Umanglah yang menjadi jengkel karenanya. Ia tidak
berhasil memancing pertengkaran. Jika Mahisa Agni menjadi marah,
dan mereka berbantah, maka ada alasan untuk segera minta
kepada Sri Rajasa, agar Mahisa Agni segera diperintahkan kembali
ke Kediri, karena Mahisa Agni sudah menghinakan isteri Sri Rajasa.
Tetapi usaha itu ternyata belum berhasil. Namun demikian Ken
Umang masih juga berusaha. Katanya, “Kakang Mahisa Agni.
Siapakah yang bertanggung jawab atas segala perbuatan Anusapati
itu?”
“Ampun tuan Puteri. Tentu tanggung jawab Anusapati sendiri.
Apalagi Anusapati kini sudah bukan anak-anak lagi. Ia sudah
seorang dewasa, bahkan ia sudah seorang ayah. Itulah sebabnya
maka ia harus sudah bertanggung jawab atas segala perbuatannya.
Sadar atau tidak sadar.”
“Tetapi ia tidak tiba-tiba saja menjadi dewasa. Tentu ada yang
mendidiknya sejak kanak-anak. Orang itulah yang bertanggung
jawab atas segala macam tingkah laku Anusapati.“
“Maksud tuanku, apakah yang bertanggung jawab tuanku
Permaisuri?”
Ken Umang menjadi ragu-ragu sejenak. Namun untuk
memancing pertengkaran ia menjawab, “Ya. kanda Permaisuri dan
kau.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang
sekilas kesudut halaman itu, dilihatnya beberapa orang prajurit
bertugas. Demikian juga didepan regol bangsal Ken Umang.
Karena itu Mahisa Agni harus berhati-hati. Bukan karena ia takut
menghadapi tindakan kekerasan, tetapi ia sadar sepenuhnya bahwa
Ken Umang memang sedang memancing perselisihan. Jika ia
bersikap keras dan berbantah, tentu prajurit-prajurit itu akan
menjadi saksi. Demikian juga beberapa orang emban yang duduk
tidak begitu jauh dari Ken Umang.
Jika demikian, maka akan timbul berbagai macam akibat yang
barangkali terlalu jauh baginya.
Karena kesadaran itulah maka Mahisa Agni tetap pada sikapnya.
Ia sekali-sekali membungkukkan kepala dengan tangan bersilang.
Sama sekali tidak ada sikap menentang dan melawan setiap katakata
Ken Umang.
“Apa katamu Mahisa Agni,“ Ken Umanglah yang mulai
membentaknya.
Sekali lagi Mahisa Agni membungkukkan kepalanya. Jawabnya,
“Ampun tuan Puteri. Jika menurut pendapat tuan Puteri hamba ikut
bertanggung jawab, maka baiklah hamba akan mencoba
membetulkan kesalahan hamba. Sudah hamba katakan, bahwa
hamba akan mencegah Anusapati, agar ia kemudian bersikap baik
dan tidak memusuhi tuanku Tohjaya. Tetapi tentang sikap dan
tanggung jawab tuanku Permaisuri, itu ada diluar kekuasaan
hamba. Hamba tidak berhak menegurnya meski-pun ia adalah adik
hamba.”
“Kenapa kau tidak berhak? Kau adalah saudara tuanya. Meskipun
ia seorang Permaisuri, ia tetap adikmu.”
“Hamba tidak berani melakukannya. Hamba takut kepada
tuanku Sri Rajasa. Tuanku Permaisuri kini bukan menjadi
tanggungan hamba lagi sejak ia bersuami. Segala tingkah laku dan
perbuatannya telah menjadi tanggung jawab suaminya.”
“O. jadi kau menyalahkan tuanku Sri Rajasa?”
“Bukan maksud hamba. Tetapi sebaiknya tuanku Sri Rajasalah
yang memberinya peringatan. Hamba justru takut kepada Sri
Rajasa.”
“Pengecut? Kenapa kau takut? Tentu Sri Rajasa tidak sempat
berbuat seperti itu. Tuanku Sri Rajasa adalah Maharaja yang
berkuasa di Singasari. Ia tidak sempat mengurusi isterinya saja.
Apalagi kakanda Permaisuri yang hampir tidak pernah menarik
perhatian Sri Rajasa.“
Terasa dada Mahisa Agni berguncang. Tetapi ia masih harus
menahan hati. Sambil membungkukkan kepalanya ia berkata.
“Sebenarnyalah hamba akan menjalankan semua perintah karena
hamba hanyalah seorang abdi di istana ini. Meski-pun hal itu
bertentangan dengan kemauan hamba sendiri misalnya, tetapi
apabila hal itu harus hamba kerjakan, hamba akan mengerjakannya.
Jika memang tuanku Sri Rajasa memerintahkan kepada hamba
untuk memberikan peringatan kepada tuanku Permaisuri.”
“Kau memang bodoh sekali,“ Ken Umang menjadi marah, “Jika
tuanku Sri Rajasa sempat memerintahkan kepadamu, ia tidak
memerlukan kau lagi. Mengerti?”
Mahisa Agni menahan nafasnya sejenak. Lalu, “Hamba mengerti
tuanku.”
“Jadi kaulah yang bertanggung jawab seluruhnya atas kelakuan
Anusapati itu. Mengaku atau tidak mengaku.”
Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia masih
tetap sadar. Jika ia bersikap seperti Ken Umang pula, maka
orangorang
yang melihatnya akan dapat menjadi saksi, bahwa ia telah
berani menentang isteri Sri Rajasa.
Karena itu, sambil membungkuk dalam-dalam ia berkata betapapun
ia menahan hati, “Hamba tuan Puteri. Hamba memang bersalah
karena hamba tidak dapat mengajar anak itu bersikap baik. Tetapi
hamba berjanji untuk memperbaiki kesalahan itu.”
“O, gila, gila. Kau memang bukan laki-laki jantan. Kau hanya
berani merunduk seperti budak yang paling hina. Apakah kau sadar,
bahwa sikapmu sama sekali bukan sikap seorang Senapati besar?”
“Mungkin tuan Puteri benar,“ jawab Mahisa Agni, “hamba
memang tidak dapat bersikap lain kali ini, karena hamba
berhadapan dengan junjungan hamba. Memang sangat berbeda
dengan sikap seorang Senapati dipeperangan.”
Kemarahan Ken Umang sudah sampai ke puncaknya sehingga ia
berteriak, “Apakah kau dapat bersikap yang lebih baik dari sikap
seorang penjilat.”
Sebenarnya kesabaran Mahisa Agni-pun sudah sampai diujung
ubun-ubun. Tetapi ia masih memaksa diri untuk tetap bersabar.
Sementara itu beberapa orang prajurit yang melihat dari
kejauhan-pun menjadi heran. Semula mereka memang menjadi
berdebar-debar. Jika Mahisa Agni berbantah dengan Ken Umang,
meski-pun Mahisa Agni adalah seorang Senapati, tetapi ia dapat
dianggap bersalah dan ia dapat dengan serta-merta diperintahkan
untuk meninggalkan istana Singasari ke Kediri. Tetapi ternyata
sikap
Mahisa Agni itu diluar dugaan mereka. Mahisa Agni sama sekali
tidak menunjukkan sikap menentang. Bahkan sikap hormatnya agak
berlebih-lebihan.
“Apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh tuan Puteri,“ berkata
para prajurit itu didalam hati. Namun sebenarnyalah mereka dengan
mudah dapat menduga, bahwa Ken Umang sengaja memancing
persoalan agar Mahisa Agni segera diperintahkan meninggalkan
Singasari. Tetapi para prajurit itu tidak mengetahui persoalan yang
sebenarnya telah terjadi. Mereka hanya menganggap bahwa
kehadiran Mahisa Agni itu menguntungkan Anusapati, karena setiap
orang-pun mengetahui bahwa Anusapati dan Tohjaya agaknya
sukar dirukunkan, dan setiap orang tahu bahwa Sri Rajasa agak
berpihak kepada Tohjaya. Bukan kepada Anusapati. Bagi mereka
yang mengetahui keadaan Anusapati yang sebenarnya-pun
mengerti, bahwa Sri Rajasa ternyata tidak dapat menerima
kehadiran anak Tunggul Ametung itu dengan sepenuh hati.
Sedang prajurit yang lain, yang mengetahui persoalan yang
sedang dihadapinya itu-pun berkata, “Mahisa Agni memang seorang
yang bijaksana. Sebagai seorang Senapati Agung di Singasari ia
membiarkan dirinya dicaci maki oleh isteri muda Sri Rajasa.
Tampaknya itu suatu kekalahan baginya, tetapi sebenarnyalah
bahwa Mahisa Agnilah yang menang, jika ia tetap dapat bertahan.
Prajurit itu terkejut ketika ia melihat tiba-tiba saja Ken Umang
menghentak-hentakkan tangannya sambil berteriak, “Pengecut yang
paling buruk diseluruh Singasari. Aku akan mengatakannya kepada
Sri Rajasa, bahwa kau tidak pantas menjadi seorang Senapati Agung
di Singasari. Kau hanya pantas menjadi seorang penjilat yang
rendah dan hina. Ternyata kau tidak dapat mempertahankan
sikapmu dan mempertanggung jawabkan segala macam
perbuatanmu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia masih harus
berlahan sedikit lagi. Ternyata bahwa Ken Umang sendiri sudah
kehilangan kesabarannya meski-pun ia telah dengan sengaja
memancing persoalan.
“Pergi, pergi dari hadapanku penjilat yang rendah,“ berkata Ken
Umang, “aku tidak mau berhubungan lagi dengan orang semacam
kau. Kau hanya pantas berhubungan dengan budak-budakku,
dengan hamba-hambaku yang paling rendah.”
Dada Mahisa Agni bagaikan retak karenanya. Tetapi ia masih
tetap bertahan dengan segenap kemampuan perasaannya. Rasanya
lebih mudah untuk bertahan melawan sepuluh orang prajurit dalam
benturan jasmaniah daripada harus bertahan membiarkan dirinya
dihinakan.
“Pergi, pergi,“ teriak Ken Umang kemudian.
“Hamba tuanku, hamba akan pergi jika memang tuanku
kehendaki.”
“Aku tidak mau melihat wajahmu lagi.”
Mahisa Agni membungkuk dalam-dalam. Namun ia-pun kemudian
terkejut ketika ia mendengar seseorang berkata, ”Paman, kita tetap
disini. Aku adalah Putera Mahkota. Paman harus mendengarkan
segala perintahku.”
Semua orang yang mendengar suara itu-pun berpaling. Mereka
melihat Anusapati berdiri bertolak pinggang dengan wajah yang
merah padam.
Ternyata bukan Mahisa Agnilah yang kehabisan kesabaran, tetapi
justru Anusapati yang justru sedang mencarinya.
Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Perlahan-lahan ia
mendekatinya dan berbisik, “Tahankan perasaanmu Anusapati.
Ingat, kau mempunyai kepentingan yang lebih besar daripada harga
dirimu. Aku sudah membiarkan diriku dihinakan dihadapan banyak
orang karena kepentingan yang lebih besar itu.”
Anusapati menggeretakkan giginya. Bahkan ia masih juga
berkata, “Hanya perintah ayahanda Sri Rajasa sajalah yang berada
diatas perintahku, karena aku adalah Pangeran Pati. Bahkan ibunda
Permaisuri-pun tidak dapat mengubah keputusanku.”
Semua orang yang menyaksikan hal itu menjadi berdebar-debar.
Para prajurit yang sedang bertugas menjadi termangu-mangu.
Prajurit yang bertugas di halaman bagian istana yang lama dan
bagian istana yang baru. Kedua pihak tidak tahu apa yang harus
mereka lakukan. Yang mereka cemaskan adalah apabila Tohjaya
mengetahui persoalan itu. Ia pasti tidak akan tinggal diam.
Sementara itu, wajah Ken Umang menjadi bagaikan menyala
mendengar kata-kata Anusapati orang yang paling dibencinya itu.
Sehingga justru karena itu, maka mulutnya bagaikan terbungkam
karenanya.
Anusapati yang sudah sampai pada batas kesabarannya itu masih
juga berkata, “Paman Mahisa Agni. Aku perintahkan paman tetap
tinggal disini. Paman harus mengawasi setiap orang yang ada di
halaman ini. Seluruh halaman istana Singasari. Yang lama mau-pun
yang baru adalah wewenang ayahanda Sri Rajasa. Dan limpahan
kekuasaan Putera Mahkota adalah sama dengan kekuasaan
Maharaja.”
“Omong kosong,“ teriak Ken Umang. “kau sudah gila. Kau
sangka Sri Rajasa senang melihat tampangmu?“
Anusapati sama sekali tidak menjawab kata-kata Ken Umang.
Bahkan kemudian dibelakanginya perempuan itu sambil berkata
lantang, “Aku akan merobah halaman istana ini. Aku akan menutup
regol ini dengan dinding batu.”
Kemarahan Ken Umang bagaikan memecahkan dadanya. Hampir
diluar sadarnya ia berteriak, “Emban, panggil Tohjaya. Ada orang
gila masuk kedalam istana.”
Emban itu tidak menunggu lebih lama. Berlari-lari ia pergi ke
bangsal Ken Umang untuk memanggil Tohjaya yang ada
didalamnya.
“Anusapati,“ desis Mahisa Agni kemudian, “kau lihat, akibat dari
peristiwa ini akan berkepanjangan.”
“Aku sudah siap paman. Apa-pun yang akan terjadi, aku akan
menghadapinya. Meski-pun seandainya harus ada pertentangan
terbuka dengan Sri Rajasa. Aku akan menyatakan diriku di depan
setiap orang, bahwa akulah yang berhak atas tahta ini.”
“Anusapati,“ potong Mahisa Agni, “kendalikan perasaanmu.”
“Maaf paman. Aku akan mengendalikan persaanku. Tetapi tidak
sekarang.”
Mahisa Agni masih akan menjawab. Tetapi ia terkejut ketika ia
mendengar suara Ken Umang, “Nah, itulah orang gila itu Tohjaya.
Kau harus mengusirnya. Bukan saja mengusir dari regol itu, tetapi
kau harus mengusirnya dari istana dan bahkan dari Singasari.”
Tohjaya tidak menghiraukan apa-pun lagi. Ia tidak rela
menyaksikan ibunya yang dihinakan oleh siapa-pun juga, meski-pun
ia seorang Pangeran Pati. Apalagi ia sadar, bahwa Pangeran Pati ini
memang harus disingkirkan.
Karena itu maka ia-pun segera mendekati Anusapati sambil
berkata lantang, “Apakah kau memang sudah mulai gila kakanda
Anusapati?”
Anusapati memandang Tohjaya sejenak. Namun kemudian
terdengar ia tertawa, “Ha, aku memang menunggu kau adinda. Aku
ingin memberitahukan kepadamu, bahwa aku punya hak untuk
berbuat apa saja di istana ini, karena aku adalah Pangeran Pati.
Jika
sampai saat ayahanda Sri Rajasa tidak lagi memegang
pemerintahan, entah karena atas kehendak sendiri, atau karena
umurnya yang pendek.”
“Tutup mulutmu,“ teriak Tohjaya.
“Anusapati,“ Mahisa Agni masih ingin mencegah, “kenapa kau
kehilangan akal he? Apakah kau memang benar-benar gila?”
Tetapi Anusapati benar-benar tidak menghiraukannya lagi.
Bahkan katanya, “Kau mau apa Tohjaya. Coba berbuatlah sesuatu
kalau kau berani.”
Tohjaya benar-benar terbakar mendengar tantangan itu. Karena
itu, makan tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan garangnya.
Tetapi Anusapati sudah memperhitungkannya. Karena itu, ia sama
sekali tidak terkejut. Bahkan serangan membabi buta itulah yang
ditunggu-tunggunya.
Dengan gerak yang lebih cepat dari gerak Tohjaya, maka
Anusapati-pun menghindar. Tetapi ia tidak sekedar menghindari
serangan Tohjaya. Bahkan sekaligus ia menyerangnya pula.
Serangan itu benar-benar tidak diduga oleh Tohjaya. Apalagi
kecepatan bergerak Anusapati jauh melampaui kemampuannya,
sehingga karena itu, maka Tohjaya-pun kemudian terlempar dan
jatuh terguling ditanah.
Ternyata Anusapati yang sudah kehabisan akal itu tidak dapat
mengendalikan dirinya lagi. Ia masih ingin meloncat membunuhnya.
Namun ia tidak dapat menghindarkan diri dan sebuah benturan
yang dahsyat sehingga Anusapati itulah yang kemudian terlempar
dan jatuh terguling.
Dengan serta-merta Anusapati meloncat bangkit. Namun ia
tertegun ketika ia melihat, pamannya Mahisa Agnilah yang berdiri
dihadapannya.
Sejenak Anusapati melihat Tohjaya tertatih-tatih bangun. Namun
kemudian dipandanginya wajah pamannya yang tegang.
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni. Betapa tegang wajahnya,
namun kata-katanya tetap sareh dan tenang, “Apakah kau memang
sengaja ingin membuat tontonan di halaman Istana ini atau kau
ingin memamerkan kemampuanmu. Aku berterima kasih bahwa kau
mempertahankan martabatku. Tetapi aku kurang senang melihat
darahmu yang masih terlampau mudah menyala. Cobalah,
tenanglah sedikit. Lihatlah banyak orang yang menonton peristiwa
ini, seperti orang melihat ayam bersabung. Padahal kalian adalah
bangsawan tertinggi di Singasari saat ini. Apakah kau mengerti?”
Anusapati tidak segera menjawab. Dengan wajah yang tegang
dipandanginya pamannya yang berdiri tegak seperti batu karang.
Alangkah garangnya. Tentu dipeperangan Mahisa Agni akan tampak
lebih garang lagi. Dengan senjata di tangan dan wajah yang tegang.
Ternyata perbawa itu meresap kedalam dada Anusapati.
Perlahan-lahan kepalanya tertunduk lesu. Sebuah penyesalan telah
merayapi hatinya. Tetapi semuanya sudah terjadi. Dan rasa-rasanya
semakin lama semakin banyak mata yang memandanginya.
Perlahan-lahan terdengar suaranya bergumam didalam mulutnya,
“maafkan aku paman. Ternyata aku telah kehilangan pengamatan
diri. Penghinaan yang tiada batasnya itu membuat dadaku bagaikan
terbelah.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi berlega hati
ketika dilihatnya bahwa Anusapati sudah mulai berhasil menguasai
perasaannya.
Namun selagi Mahisa Agni mulai merasa tenang, setelah
ketegangan yang sangat mencengkam hatinya, tiba-tiba ia
dikejutkan oleh suara Tohjaya lantang, “Ayahanda, inilah orang gila
yang ingin mengacaukan istana itu.”
Dengan serta-merta Mahisa Agni berpaling. Dadanya berdesir
ketika dilihatnya Sri Rajasa berdiri tegak diiringi oleh beberapa
orang pengawal. Dengan sorot mata yang menyala dipandangnya
Mahisa Agni dan Anusapati berganti-ganti.
“Sudah tiba saatnya bagi ayahanda untuk bertindak.“
Tetapi Sri Rajasa masih tetap berdiri diam seperti patung.
Tohjaya menjadi heran sejenak. Demikian ibunya Ken Umang.
Perlahan-lahan isteri muda Sri Rajasa itu melangkah maju sambil
berkata, “Kakanda Sri Rajasa. Alangkah cemasnya hati hamba
melihat ananda Anusapati berbuat diluar sadarnya. Hamba tidak
tahu apa yang seharusnya hamba lakukan. Sedangkan kakang
Mahisa Agni sama sekali tidak berbuat apa-pun juga untuk
menenangkan keadaan. Bahkan ia sama sekali tidak bersikap seperti
orang tua.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia melangkah
maju mendekati Anusapati yang berdiri termangu-mangu disebelah
Mahisa Agni. Beberapa langkah daripadanya berdiri Tohjaya dengan
wajah yang tengadah.
“Kakanda,” berkata Ken Umang, “sebaiknya kakanda menimbang
dengan adil. Hamba lihat pakaian Tohjaya yang kotor dan kusut itu?
Ananda Anusapatilah yang telah melakukannya tanpa disangkasangka.”
Sri Rajasa menjadi semakin dekat, sehingga dada Mahisa Agnipun
menjadi semakin berdebar-debar.
“Jika semuanya harus terjadi saat ini, apaboleh buat,“ berkata
Mahisa Agni didalam hatinya, “meski-pun aku tidak dapat
memperhitungkan, bagaimana akhir dari setiap persoalkan yang
dapat timbul karenanya.”
Agaknya Anusapati-pun mencemaskannya pula. Jika
ayahandanya tidak dapat mengekang dirinya pula, maka yang
terjadi adalah bencana yang maha dahsyat. Bukan saja bagi
pimpinan tertinggi Singasari, tetapi bagi Singasari dan rakyatnya.
Gejolak hati Anusapati itu telah mendorongnya berbisik ditelinga
Mahisa Agni, “Paman, Trisula itu aku bawa sekarang.”
“Ah,“ Mahisa Agni berdesah. Tetapi ada semacam air yang
menitik di jantungnya yang sedang membara. Sadar atau tidak
sadar, Mahisa Agni harus mengakui, bahwa Sri Rajasa adalah bukan
manusia kebanyakan. Ia memiliki kelebihannya. Ia memiliki
kelebihan yang tidak dapat dimengerti oleh sesamanya.
Sejenak Sri Rajasa berdiri dengan tegang. Namun kemudian ia
berkata, “Aku mengerti apa yang telah terjadi. Seorang perwira
yang melihat peristiwa ini langsung menyampaikannya kepadaku.
Dengan tergesa-gesa aku datang kemari, karena yang terjadi adalah
sepercik noda yang paling kotor pada keluarga Maharaja di
Singasari. Dan aku melihait bagian terakhir dari tontonan yang
mengasyikkan ini.”
Semua orang yang mendengar kata-kata itu menjadi gemetar.
Suara Sri Rajasa sudah menjadi agak gemetar oleh perasaaan yang
tertahan didalam dadanya.
Ken Umang memandang Sri Rajasa tanpa mengedipkan matanya.
Seakan-akan ia menunggu, keputusan apakah yang akan diambilnya
didalam keadaan itu.
Sementara itu Tohjaya bergeser selangkah mendekati
ayahandanya. Dalam ketegangan itu ia berkata, “Ayahanda dapat
bertindak sekarang.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, aku
memang dapat bertindak. Dan aku memang akan bertindak
sebaikbaiknya.”
“Tentu ayah,“ sahut Tohjaya.
Anusapati membeku ditempatnya, sedang wajah Mahisa Agni
tidak lagi disaput ketegangan yang dalam membayang di wajah itu.
Sekilas ia memandang berkeliling. Dilihatnya beberapa orang
Senapati berdiri tegang. Bahkan Panglima pasukan pengawalnyapun
telah ada di halaman itu pula.
“Benar seperti sabungan ayam,“ berkata Mahisa Agni didalam
hatinya, “Tetapi apaboleh buat. Aku tidak dapat menduga, apa saja
yang akan dilakukan oleh para prajurit ini.”
Sejenak Mahisa Agni memandang ke kejauhan menembus
kesuraman senja yang mulai turun. Seorang juru taman berdiri
disebelah gerumbul yang lebat. Sekali-sekali ia berlindung dibalik
gerumbul itu, dan sekali ia menampakkan dirinya jika kebetulan
Mahisa Agni memandangnya. Juru taman itu adalah Sumekar.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Juru taman itu akan
dapat ikut menentukan akhir dari peristiwa yang tidak diinginkannya
apabila hal itu terpaksa terjadi di halaman ini, dibatas antara
istana
yang lama dan yang baru.
Sejenak orang-orang yang berdiri berpencaran itu termangumangu.
Mereka memandang Sri Rajasa dan Mahisa Agni bergantiganti.
Tanpa mereka sadari, nafas mereka-pun seakan-akan
berkejaran. Yang berdiri dengan tegang itu adalah dua orang
Raksasa yang tidak ada bandingnya di Singasari.
Sri Rajasa adalah seorang yang bagi Mahisa Agni adalah orang
yang aneh. Orang yang memiliki kelebihan tanpa dicarinya. Karena
itulah maka orang mengatakan bahwa Ken Arok yang bergelar Sri
Rajasa itu adalah kekasih dewa-dewa.
Tetapi bagi Sri Rajasa, Mahisa Agni adalah orang yang aneh.
Satu-satunya anak muda yang mampu mengimbanginya selagi ia
masih berkeliaran di Padang Karautan. Dan Ken Arok vang bergelar
Sri Rajasa itu mengetahui, bahwa Mahisa Agni pada waktu itu,
memiliki sebuah pusaka yang baginya sangat mengerikan. Jauh
lebih mengerikan dari pusaka yang selama ini dianggapnya pusaka
yang paling keramat, Keris mPu Gandring. Dan pusaka itu hanyalah
sebuah trisula yang tidak seberapa besarnya. Tetapi dapat
bercahaya seperti matahari yang menyilaukan.
Namun Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu memang tidak akan
berbuat apa-apa. Setelah beberapa kali ia menarik nafas dalamdalam,
maka ia-pun berkata, “Aku minta kalian kembali kebangsal
masing-masing.”
Tohjaya terkejut mendengar perintah itu. Bahkan yang lain-pun
tidak kalah terkejut pula. Mahisa Agni yang tegang dan Anusapati
yang berdebar-debar saling berpandangan sejenak.
“Aku tidak senang melihat pertengkaran itu,“ berkata Sri Rajasa
lebih lanjut, “sejak lama aku selalu memperingatkan, sikap
bermusuhan itu sangat memalukan. Apalagi kalian adalah Putera
seorang Maharaja yang sangat dihormati. Tindakan kalian itu tentu
merendahkan martabatku sebagai seorang Raja yang memerintah
seluruh Singasari sekarang ini.”
Ken Umang memandang ken Arok dengan sorot mata yang aneh.
Memang ia tidak mengerti akan perintah itu. Ia berharap agar Sri
Rajasa mengambil tindakan yang paling keras terhadap Anusapati.
Hukuman yang dapat merendahkan nilainya sebagai seorang Putera
Mahkota. Menghinakannya, dan akan lebih baik lagi jika kemudian
mengusirnya dari Istana.
Ken Umang menjadi lebih heran lagi ketika ia mendengar Sri
Rajasa itu berkata, “Aku mengucapkan terima kasih kepadamu
Mahisa Agni.”
Tohjaya menjadi tegang sejenak. Dan ia mendengar Sri Rajasa
melanjutkan, “Aku melihat dari kejauhan apa yang kau lakukan.
Ternyata bahwa kau berdiri diatas ikatan keluarga yang ada pada
dirimu. Meski-pun kau paman Anusapati dari saluran darah ibunya,
retapi kau sudah berusaha sebaik-baiknya mencegah pertengkaran
ini. jika kau tidak menghalangi Anusapati, maka aku kira Tohjaya
akan mengalami cidera yang dapat membahayakan jiwanya. Jika
demikian maka tidak akan ada gunanya lagi aku membina daerah ini
dengan mempertaruhkan semua yang ada padaku.”
Tidak seorang-pun yang menyahut. Bahkan tidak seorang-pun
yang bergerak meski-pun hanya sekedar ujung jari kakinya.
“Jika Tohjaya mengalami cedera, apalagi sampai membahayakan
jiwanya, maka Anusapati harus dihukum. Dengan demikian aku
akan kehilangan kedua-duanya sekaligus. Kehilangan Pangeran Pati
yang akan menggantikan kedudukanku, dan kehilangan Tohjaya
satu-satunya orang akan dapat menggantikan kedudukan Anusapati
apabila terjadi sesuatu dengannya. Memang aku masih mempunyai
beberapa orang anak laki-laki. tetapi aku harus membinanya dari
permulaan sekali.“ Sri Rajasa berhenti sejenak. Lalu, “karena itu
tindakan Mahisa Agni memang pantas dipuji.”
Betapa mereka yang mendengar kata-kata Sri Rajasa itu tidak
dapat mengartikannya dengan segera. Ada yang heran, ada yang
tidak percaya kepada pendengarannya, tetapi ada yang
menganggap, bahwa itu adalah sikap yang bijaksana.
“Nah,“ sekali lagi Sri Rajasa berkata, “Sekarang kembalilah
kebangsal masing-masing. Jangan menjadi tontonan di sini.
Semakin cepat semakin baik.”
“Kakanda,“ Ken Umanglah yang akan memotong kata-kata Sri
Rajasa. Tetapi Sri Rajasa mendahuluinya, “Kau-pun sebaiknya
meninggalkan tempat ini. Adalah kurang baik jika kau berada
diantara wajah-wajah yang tegang dan sikap bermusuhan.”
Ken Umang menahan gejolak didalam dadanya. Tetapi ia tidak
berani membantahnya. Digamitnya Tohjaya dan dengan isyarat
diajaknya Tohjaya meninggalkan tempat itu.
Dalam pada itu Mahisa Agni-pun kemudian menggandeng
Anusapati meninggalkan tempat itu sambil berkata kepada Sri
Rajasa, “Sikap Tuanku sangat bijaksana. Hamba mengucapkan
terima kasih.”
“Apakah mungkin aku berbuat lain?“ bertanya Sri Rajasa.
Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia-pun
menjawab, “Memang tidak ada sikap lain bagi seorang yang
bijaksana.“
“Bagi yang tidak bijaksana?”
“Tuanku, hamba tidak dapat mengatakannya, karena ternyata
yang ada adalah seorang yang sangat bijaksana.”
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata
apa-pun lagi. Dipandanginya langkah Anusapati disamping Mahisa
Agni, dan diarah yang lain Tohjaya berjalan dibelakang ibunya, Ken
Umang.
Sri Rajasa menggelengkan kepalanya ketika perasaannya mulai
menilai kedua anak muda itu. Ia tidak mau melihat kenyataan
bahwa ternyata anak Tunggul Ametung itu mempunyai banyak
kelebihan dari anaknya.
“Ibunyalah yang memiliki kelebihan. Adalah bodoh sekali bahwa
aku tidak pernah memikirkan dengan sungguh-sungguh
kemungkinan yang ada pada Mahisa Wonga Teleng.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu merenung sejenak. Ia
mulai membayangkan kemungkinan yang ada pada Mahisa Wonga
Teleng. Ia adalah anaknya dan anak Ken Dedes. Jika benar Ken
Dedes memiliki kemungkinan yang besar pada keturunannya, maka
Mahisa Wonga Teleng-pun pasti memiliki kelebihan dari orang
kebanyakan.
“Tetapi sudah terlambat,“ ia berkata didalam hatinya, “Anusapati
sudah mulai meloncati pagar yang selama ini berhasil aku lingkarkan
mengelilingi. Tetapi ternyata pada suatu saat anak itu telah
melepaskan dirinya dari semua kungkungan. Sebelumnya ia tidak
pernah berani berbuat apa-apa-pun jangankan seperti yang
dilakukannya saat ini.”
Tiba-tiba terlintas didalam angan-angannya. Ken Dedes yang
sedang terbaring dipembaringannya. Tentu Ken Dedes sudah
mengatakan semuanya tentang Anusapati. Tentu Ken Dedes juga
mengatakan saat-saat kematian Tunggul Ametung, dan tentu
sekarang Anusapati sedang didalam gejolak yang paling dahsyat
yang pernah dialaminya.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia sudah
dihadapkan pada suatu keadaan yang sama-sama. Seakan-akan ia
sedang memandang cahaya matahari yang kemerah-merahan, yang
sebentar lagi akan turun dan hinggap dipunggung pegunungan.
Kesempatan itu adalah kesempatan terakhir untuk memandang
wajah bumi karena sebentar lagi matahari itu akan tenggelam.
“Tentu tidak akan mungkin lagi dapat terbit di Timur,“ katanya
didalam hati, “aku memang bukan matahari. Jika saat tenggelam itu
datang, maka biarlah namaku tenggelam pula bersamanya. Tetapi
jangan Singasari.”
Ken Arok itu-pun kemudian perlahan-lahan melangkahkan
kakinya kembali kebangsalnya. Pengawal-pengawalnya-pun
mengikutinya dari kejauhan. Ketika Ken Arok kemudian masuk
kedalam bangsalnya, maka para prajurit itu-pun tinggal di gardu
penjagaan mereka.
Dalam pada itu, Mahisa Agni membawa Anusapati kebangsalnya.
Ketika mereka berjalan lewat didepan seorang juru taman yang
sedang berjongkok, maka Mahisa Agni-pun memberikan isyarat
kepadanya sambil berbisik, “Nanti malam aku datang kegubugmu.”
Sumekar sama sekali tidak menyahut. Justru ia menundukkan
kepalanya dalam-dalam. Baru ketika keduanya sudah menjadi
semakin jauh. Sumekar itu baru berdiri dan berjalan tergesa-gesa
meninggalkan tempat itu.
Dalam pada itu, cahaya matahari memang sudah mulai pudar.
Semakin lama semakin suram. Dan sebentar lagi, maka seluruh
Singasari itu-pun ditelan oleh kegelapan malam.
Di bangsal Anusapati, Mahisa Agni duduk tepekur dihadap oleh
Anusapati. Agak sulit baginya untuk memberikan beberapa nasehat
kepada Putera Mahkota itu. Karena ia tahu, bahwa selama ini
Anusapati selalu menjaga perasaan isterinya. Ia selalu berusaha
untuk menghindarkan semua pembicaraan yang dapat membuat
isterinya menjadi semakin berkecil hati. Sebagai seorang perempuan
yang hidup dilingkungan yang asing, maka ia memerlukan
ketenangan didalam lingkungannya yang baru itu.
Karena itu, maka Mahisa Agni-pun menunggu hingga pada suatu
kesempatan ia dapat mengatakannya.
Ketika Mahisa Agni yakin bahwa isteri Anusapati itu tidak berada
didalam bilik sebelah yang mungkin dapat mendengar suaranya,
barulah ia berkata, “Anusapati. Ternyata keadaan sudah menjadi
semakin panas dan gawat. Tetapi aku melihat perkembangan lain
pada Sri Rajasa itu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya hampir berbisik,
“Aku masih belum yakin paman. Tetapi mudah-mudahan ayahanda
Sri Rajasa dapat melihat kebenaran tentang hubunganku dengan
adinda Tohjaya. Tetapi seandainya demikian, hal itu tentu sudah
terjadi beberapa saat lamanya.”
“Pikiran dan perasaan seseorang dapat berkembang Anusapati,“
berkata Mahisa Agni kemudian, “dan aku berharap, bahwa Sri
Rajasa akan mengalaminya.”
“Mungkin pada suatu saat paman. Tetapi jika ibunda Ken Umang
mendapat kesempatan berbicara maka ayahanda tentu akan
bersikap lain pula.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Memang sulit bagi Ken
Arok untuk berjalan surut. Dan jika ia tetap maju, maka jarak
perjalanan itu menjadi semakin dekat.
“Hati-hatilah Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku
berharap keadaan bertambah baik. Tetapi aku juga berharap agar
kau tidak lengah. Sudah sepantasnya kau membawa trisula kecil itu
kemana-pun kau pergi. Tetapi ingat, jangan kau pergunakan jika
kau tidak dalam keadaan terpaksa. Terpaksa sekali.
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Aku berjanji akan menemui Sumekar. Malam sudah menjadi
semakin gelap. Besok aku kembali melihat keris itu. Sekarang
waktunya agaknya kurang baik bagiku untuk melihat keris itu. Jika
ada satu dua orang yang sempat melihatnya, maka udara yang
panas ini tentu akan mendidih. Besok aku akan kembali untuk
melihat keris itu.”
“Apakah aku harus membawanya kebangsal paman?“
Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak mengatakan demikian
sekarang. Aku tidak tahu, jika keadaan besok akan berkembang.”
Anusapati menundukkan kepalanya.
“Sekarang, biarlah aku pergi ke gubug Sumekar. Aku perlu
berbicara sedikit dengan juru taman itu.”
“Silahkanlah paman.”
“Ingat, dalam keadaan serupa ini, trisula kecil itu jangan terpisah
dari dirimu. Bukanlah trisula itu tidak mengganggumu jika kau
sembunyikan didalam lapisan ikat pinggangmu.”
Anusapati menganggukkan kepalanva. Pesan itu menyatakan
bahwa Mahisa Agni-pun menjadi sangat cemas terhadap
perkembangan keadaan.
Namun Mahisa Agni itu-pun kemudian berpesan, “Tetapi ingat
pula Anusapati, bahwa trisula itu bukan senjata dan yang
dipergunakan jika itu bukan cara terakhir satu-satunya jalan yang
dapat kau tempuh.”
Sekali lagi Anusapati mengangguk sambil menjawab, “Ya paman,
aku mengerti.”
“Nah, tinggal sajalah di bangsalmu. Kau dapat sedikit
memberikan pesan, meski-pun tidak berterus-terang terhadap para
pengawal di halaman, agar mereka-pun berhati-hati pula.”
“Ya paman.”
“Nah, biarlah aku pergi sekarang. Bukankah anakmu sudah
tidur?”
“Sudah paman.“
“Besok saja aku menemuinya.”
Demikianlah maka Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan
bangsal itu. Ia tidak segera pergi kegubug Sumekar tetapi ia
berjalan kebangsalnya sendiri. Perlahan-lahan seperti seorang
jejaka
berjalan dibawah cahaya bulan yang sedang purnama.
Mahisa Agni harus yakin bahwa tidak ada orang yang mengetahui
sedap pertemuannya dengan Sumekar, mau-pun Anusapati dengan
Sumekar agar Sumekar tidak segera terlibat dalam keadaan yang
panas itu. Dengan demikian ada seorang yang kuat, yang masih
dapat diharapkan berbuat sesuatu diluar perhitungan Sri Rajasa.
Tetapi jika pertentangan yang tampaknya akan menjadi terbuka
itu berkembang, Mahisa Agni memerlukan kekuatan diluar istana itu.
Jika kemudian terjadi bentrokan-bentrokan senjata dengan terbuka,
dan Sri Rajasa mempergunakan kekuasaan dan haknya sebagai
seorang Maharaja, maka dengan sangat terpaksa Mahisa Agni-pun
harus menghadapinya dengan cara serupa. Tetapi karena ia tidak
berhak memberikan perintah langsung kepada para prajurit yang
ada di Singasari, maka ia harus mendapatkan kekuatan lain yang
dapat melindungi Anusapati bersamanya. Bukan sekedar
melindunginya karena ia takut mati, tetapi melindungi dirinya dan
Anusapati bersama segala macam cita-cita dan kemungkinannya.
Setelah malam menjadi semakin gelap, maka Mahisa Agni-pun
keluar lagi dari bangsalnya. Kepada prajurit yang mengawal
bangsalnya ia berkata, “Udara sangat panas didalam. Aku akan
keluar sebentar.”
Prajurit-prajurit itu memandanginya sejenak. Seakan-akan ingin
bertanya, kemanakah ia akan pergi didalam keadaan yang bagi para
prajurit, agak kalut itu? Meski-pun mereka tidak melihat
pertentangan sampai keakar hati Mahisa Agni, Anusapati, Tohjaya
dan orang-orang yang terlibat lainnya termasuk Sri Rajasa sendiri,
namun mereka melihat pertengkaran antara Anusapati dan Tohjaya
sebagai anak-anak muda yang kian tidak mau hidup dalam suasana
persaingan. Sayang persaingan diantara mereka itu sama sekali
tidak mendorong mereka kearah yang lebih baik dari pertengkaran
yang kasar. Seperti pertengkaran anak-anak seorang rakyat
kebanyakan saja. Bahkan hampir saja mereka berkelahi dalam arti
yang sebenarnya di hadapan banyak orang.
Mahisa Agni dapat menangkap dari sorot mata para prajurit itu,
pertanyaan-pertanyaan yang bergulat didalam hati mereka. Karena
itu ia-pun tersenyum sambil berkata, “jangan cemas. Anak-anak itu
tidak akan berkelahi lagi, apalagi memperluas pertengkaran mereka,
meski-pun orang-orang tua terpaksa ikut campur.“
Para prajurit itu-pun tersenyum pula. Bahkan tersipu-sipu karena
Mahisa Agni dapat menebak pertanyaan didalam hatinya dengan
tepat.
-ooo0dw0ooo(
bersambung jilid 77)
Jilid 77
“MEMANG MEMALUKAN,“ berkata Mahisa Agni lebih lanjut,
“tetapi mereka adalah anak-anak muda. Seperti anak muda
kebanyakan. Hanya karena mereka tinggal diistana ini maka sorotan
bagi mereka menjadi lebih tajam karenanya. Setiap orang
memperhatikannya dan menilainya. Tetapi sebagai manusia biasa
mereka sebenarnya tidak ada bedanya dengan anak-anak muda
yang tinggal di padukuhan yang paling terpencil. Darahnya masih
terlampau mudah mendidih dan kurang pengendalian diri. Tetapi
jika mereka meningkat semakin tua, maka keadaannya pasti akan
jauh berbeda. Anusapati yang kini sudah mempunyai seorang anak
itu ternyata sudah jauh berkurang, sudah jauh mengendap
dibandingkan beberapa saat yang lampau.”
Para prajurit yang mendengarkan kata-kata Mahisa Agni itu
menganggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak mengatakan suatu
apa.
“Sudahlah, bertugaslah dengan baik. Aku akan menghirup udara
malam dihalaman dan dipertamanan. Mudah-mudahan badanku
menjadi segar dan pikiranku menjadi bening.”
Prajurit-prajurit itu menganggukkan kepalanya dalam-dalam.
Ketika Mahisa Agni melangkah meninggalkan halaman bangsalnya,
dua orang prajurit mengiringinya sebagai yang seharusnya mereka
lakukan. Tetapi seperti biasa pula Mahisa Agni tersenyum sambil
berkata, “Biarlah aku berjalan sendiri. Bukankah demikian
kebiasaanku? Didalam halaman istana ini tidak akan ada gangguan
apapun. Meski-pun kadang-kadang terjadi hal-hal yang tidak dapat
dimengerti, orang-orang berkerudung, orang yang tidak dikenal
yang hampir saja membunuh juru taman itu, dan bermacam-macam
lagi, tetapi mereka tidak akan mengganggu aku.”
Prajurit-prajurit itu saling berpandangan sejenak, namun merekapun
menganggukkan kepalanya dalam-dalam sekali lagi. Salah
seorang dari mereka berkata, “jika itu perintah tuan.”
“Ya,“ jawab Mahisa Agni, “itu perintahku.”
“Baik tuan. Kami akan menunggu disini,“ sahut salah, seorang
dari keduanya. Didalam hati mereka berkata, “Sebenarnyalah
pengawalan itu tidak perlu bagi Mahisa Agni.”
Prajurit-prajurit itu-pun kemudian hanya dapat memandang
Mahisa Agni yang berjalan menjauhi regol dan hilang didalam gelap.
Sambil manarik nafas dalam-dalam seorang prajurit berkata,
“Bagaimana mungkin orang dapat memiliki ilmu seperti Senapati
besar itu?”
“Ilmunya adalah kurnia Yang Maha Agung. Tidak semua orang
dapat memilikinya meski-pun ia berlatih setiap hari sepanjang
umurnya.“
Yang lain hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan
salah seorang berdesis, “Seperti juga Sri Rajasa, ia-pun seorang
manusia yang aneh.”
“Tidak banyak manusia seperti mereka itu. Dan kini tampaknya
Putera Mahkota itu-pun akan tumbuh seperti ayahanda dan
pamannya.“
Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dalam pada itu Mahisa Agni yang sudah berada dikegelapan itu
berjalan menyusuri tempat-tempat yang sepi dipetamanan. Sejenak
ia berdiri ditempat yang terlindung. Bagaimana-pun juga ia memang
harus berhati-hati. Apalagi dihalaman istana ini sering terjadi
sesuatu yang tidak dapat diperhitungkannya lebih dahulu.
Tetapi ternyata bahwa taman itu benar-benar sepi. Tidak ada
seorang-pun yang berada disekitarnya dengan alasan apapun.
Karena itu, maka Mahisa Agni-pun bergeser pula mendekati
gubug Sumekar.
Dengan hati-hati Mahisa Agni-pun kemudian mengetuk pintu
gubug itu.
“Siapa?“ Sumekar berbisik dibalik pintu.
“Agni.”
Mahisa Agni tidak perlu mengulanginya. Pintu gubug itu-pun
kemudian terbuka dan Sumekar-pun melangkah keluar.
“Ikuti aku,“ desis Mahisa Agni.
Keduanya-pun kemudian menyusup kedalam taman. Beberapa
langkah dibalik rimbunnya pohon bunga-bungaan, kedua berhenti
sejenak.
“Sumekar,“ berkata Mahisa Agni, “aku ingin minta pertolongan
lebih lanjut setelah sampai saat ini kau mengawasi dan melindungi
Anusapati. Agaknya keadaan menjadi semakin gawat, sehingga aku
perlu mempersiapkan diri lebih baik lagi dari saat-saat yang
lewat.”
“Apakah yang harus aku lakukan?”
“Aku tidak sempat membuat hubungan dengan Witantra. Aku
tidak sampai hati meninggalkan Anusapati dalam keadaan seperti
sekarang. Apakah kau bersedia?”
“Apakah aku harus pergi ke Kediri menghubungi kakang Kuda
Sempana.”
“Tidak. Aku kira, Witantra atau Mahendra masih juga sering
berkeliaran disekitar istana ini. Mereka-pun tentu ingin mengetahui
perkembangan keadaan ini lebih lanjut.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku kira
demikianlah. Apalagi dengan perkembangan terakhir. Ceritera
tentang pertengkaran langsung yang terjadi ini, tentu akan sampiai
ketelinga mereka, karena hal itu pasti akan segera tersebar.“
“Ya. yang bertengkar adalah putera Sri Rajasa. Tentu ceritera itu
tersebar luas dalam waktu yang singkat. Akibatnya, maka rakyat
Singasari pasti akan terbelah. Sebagian akan berpihak kepada
Anusapati dan sebagian akan berpihak kepada Tohjaya, karena mau
tidak mau mereka akan langsung menghubungkan pertengkaran itu
dengan sikap Sri Rajasa yang tampak dengan jelas, agak kurang adil
terhadap kedua puteranya.”
“Orang-orang tua akan tahu sebabnya. Tetapi bagi yang muda
tanggapannya pasti akan agak berbeda.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun
kemudian berkata, “Sumekar, apakah kau bersedia mencari
Witantra atau Mahendra disekitar istana ini? Tentu saja kau harus
keluar dari istana ini tidak lewat regol depan atau regol butulan.”
“Aku sudah mempunyai jalan sendiri,“ Sumekar tersenyum.
“Terima kasih. Sampaikan pesanku kepada mereka, bahwa aku
memerlukan mereka setiap saat, apabila keadaan benar-benar tidak
terkendali. Jika kau dapat mengusahakan, bawalah salah seorang
dari mereka masuk kedalam taman, dan berilah aku isyarat apabila
kau berhasil.”
“Apakah isyarat itu?”
“Kau dapat menirukan suara burung tertentu?”
Sumekar mengerutkan keningnya.
“Kalau tidak, lemparlah atap bangsalku dengan kerikil kecil. Aku
akan segera keluar dan pergi ketaman ini. Jika bukan malam ini,
tentu malam-malam berikutnya. Tetapi aku berharap kau berhasil
malam ini. Bukankah tempat kau sering menemui mereka itu masih
dapat dijadikan ancer-ancer, kemana kau pertama-tama harus
pergi?”
“Baiklah. Aku akan mencobanya. Mereka-pun tentu akan
menyadari keadaan.”
“Selagi aku masih ada di Singasari. Perintah dari Sri Rajasa
dapat datang setiap saat.”
“Aku mengerti.”
“Baiklah. Cobalah malam ini. Aku menunggu isyaratmu.”
“Aku akan memberikan isyarat. Jika aku melempar atap
rumahmu, atau menirukan suara burung kedasih beberapa kali,
tandanya aku berhasil. Tetapi jika aku memberi isyarat hanya tiga
kali, maka malam ini aku belum dapat menemuinya. Dan kau tidak
usah menunggu semalam suntuk.“
“Terima kasih. Di hari-hari terakhir, Sri Rajasa-pun tentu telah
berbuat sesuatu. Dan kita-pun harus mengimbanginya.”
Demikianlah maka Sumekar-pun mempersiapkan dirinya untuk
keluar halaman istana mencari hubungan dengan Witantra atau
Kuda Sempana. Ia masih berharap bahwa kedua orang itu belum
jemu menunggu kesempatan untuk mendapat hubungan dengan
Mahisa Agni.
Mahisa Agni-pun kemudian kembali ke bangsalnya. Tetapi ia
tidak langsung masuk kedalam bangsal itu. Sejenak ia masih sempat
berbincang dengan para prajurit, “Aku ingin beristirahat,“ berkata
Mahisa Agni kemudian, “sudah terlalu malam. Jika aku tidak tidur
malam nanti, maka kalian tidak mempunyai tugas lagi.“
Para prajurit itu tertawa. Mereka memang menyadari, bahwa
tugas mereka hanyalah mengawasi bangsal itu, karena jika terjadi
sesuatu, akhirnya Mahisa Agni sendirilah yang harus melindungi
dirinya sendiri.
Namun yang menarik perhatian para prajurit itu adalah sikap
Mahisa Agni. Ia adalah Senapati Agung yang kedudukannya diatas
para Panglima. Apalagi bagi Kediri. Tetapi sikapnya masih tetap
seperti Mahisa Agni yang dahulu, Mahisa Agni anak Panawijen.
Jarang sekali seorang Panglima sempat bercakap-cakap dengan
para prajurit. Jika ada satu dua prajurit yang mengawalnya, maka
sikapnya adalah sikap seorang Panglima terhadap seorang prajurit
bawahan. Bahkan satu dua orang perwira yang lain-pun sudah
bersikap demikian.
“Ia adalah seorang Senapati besar. Bukan saja kedudukannya
sebagai Senapati Agung dan wakil Mahkota di Kediri, tetapi
jiwanyapun
ternyata cukup besar.”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Pengaruh itu tampak pula pada Putera Mahkota. Selain sikapnya,
maka keduanya tidak menaruh prasangka buruk terhadap
sesamanya. Ternyata keduanya tidak memerlukan pengawalan
seperti tuanku Tohjaya dan putera-putera Sri Rajasa yang lain.”
“Ya, selain mereka tidak berprasangka, mereka-pun terlalu
percaya kepada diri sendiri. Coba katakan, siapakah yang dapat
melampaui kemampuan tuanku Mahisa Agni, dan tuanku Pangeran
Pati selain Sri Rajasa. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan berbuat
apaapa
atas mereka.”
“Orang berkerudung yang sempat masuk kehalaman itu?”
“Seandainya mereka sempat bertemu dengan keduanya atau
salah seorang dari pada mereka, maka sejauh-jauh dapat dilakukan
adalah seimbang saja.”
Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala. Mereka
memang sependapat bahwa Mahisa Agni adalah seorang yang
berjiwa besar, ramah dan rendah hati.
Dalam pada itu, Sumekar yang telah berhasil meloncati dinding
tanpa diketahui oleh para peronda itu-pun segera menyelusuri jalan
kota Singasari. Yang pertama-tama didatanginya adalah tempat
yang biasa dipergunakan oleh Witantra atau Mahendra menunggu
hubungan dari dalam istana.
Tetapi Sumekar tidak melihat seorangpun, sehingga karena itu
ia-pun mengambil keputusan untuk pergi saja mengelilingi kota.
Mungkin disatu tempat ia bertemu dengan salah seorang dari
keduanya.
Namun belum lagi ia beringsut, terdengar suara seseorang
memanggilnya. Dan suara itu bukan suara Witantra dan bukan pula
suara Mahendra.
Sumekar berhenti sejenak. Dari dalam kegelapan dibalik
bayangan dedaunan Sumekar melihat sesosok bayangan yang
muncul.
“Bukankah kau Sumekar?“ bertanya bayangan itu.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kakang Kuda
Sempana. Justru kakang yang ada disini?”
“Ya, Beberapa hari ini giliranku. Keduanya hampir jemu
menunggu. Tetapi tidak seorang-pun yang datang. Lalu akulah yang
mendapat giliran tidur disini. Aku sudah empat malam selalu
menungu salah seorang dari kalian di istana Singasari.”
Sumekar-pun kemudian mendekati Kuda Sempana, dan
keduanya-pun duduk dibalik gerumbul sambil membicarakan
masalah yang sedang dihadapinya.
“Jadi persoalan itu seakan-akan menjadi panas?“
“Ya. Bahkan hampir terjadi dengan terbuka.”
“Lalu apakah pesan Mahisa Agni.“
“Sekedar persiapan. Jika setiap saat meledak. Dan rasa-rasanya
kita memang berada diatas ujung tanduk. Setiap saat, jika kita
kurang berhati-hati, maka perut kita dapat berlubang.”
“Apakah aku harus menyampaikannya kepada Witantra.”
“Ya. Dan Mahendra.”
“Baiklah. Tentu bukan sekedar kami bertiga yang diharap oleh
Mahisa Agni. Dan aku akan menyampaikannya kepada Witantra.
Mungkin ia mengerti, apa yang sebaiknya harus aku kerjakan.”
“Tetapi agaknya Mahisa Agni-pun ingin bertemu.”
“Jangan sekarang,“ berkata Kuda Sempana, “aku harus
menemui Witantra, kita bersama-sama akan bertemu dengan
Mahisa Agni besok malam disini.”
“Barangkali ia perlu pesan kepadamu. Aku dimintanya untuk
memberikan isyarat apabila aku dapat menemui kalian salah
seorang atau semuanya.”
Kuda Sempana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia
berkata, “Kenapa tidak besok?”
“Malam ini, dan sehari besok, bermacam-macam persoalan
dapat terjadi.”
“Tetapi tidak mungkin malam ini aku mencari Witantra.”
“Mungkin tidak perlu. Tetapi sekedar bahan yang akan kalian
bicarakan perlu kau dapat malam ini.”
“Baiklah. Aku menunggu disini.”
“Terima kasih. Aku akan membawa Mahisa Agni keluar halaman
istana malam ini.”
Demikianlah Sumekar-pun segera berusaha untuk dapat
memberikan isyarat kepada Mahisa Agni. Ia sama sekali tidak
menemui kesulitan untuk memasuki halaman istana, seperti pada
saat ia keluar.
Dan ia-pun tidak mendapat banyak kesulitan untuk mendekati
bangsal Mahisa Agni. Tetapi Sumekar tidak dapat segera
memberikan isyarat dengan melemparkan kerikil keatas atap
bangsal itu, karena pengawasan yang ketat. Karena itu Sumekar
mempergunakan cara yang lain. Dari sudut halaman ia menirukan
bunyi seekor burung kedasih beberapa kali. Ia berharap bahwa
Mahisa Agni akan dapat mendengarnya dan menangkap isyaratnya.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni dapat menangkap isyarat itu.
Ia mendengar bunyi kedasih itu dan mengerti maknanya. Karena
itu, maka Mahisa Agni-pun sagera berusaha untuk dapat keluar dari
bangsalnya tanpa diketahui oleh siapa-pun juga.
Itu-pun bukan suatu kesulitan bagi Mahisa Agni. Dan dengan
demikian, maka ia-pun segera bersama-sama dengan Sumekar
keluar dari halaman istana menemui Kuda Sempana.
“Kuda Sempana,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku
memerlukan Witantra saat ini. Aku masih menganggap bahwa nama
Witantra belum terhapus sama sekali dari hati para prajurit dan
perwira pasukan pengawal, terutama yang sudah berusia
pertengahan.”
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Ya. Aku kira demikian.”
“Karena itu, aku mengharap kedatangannya. Mungkin pada
suatu saat, kita memerlukan pengaruhnya didalam lingkungan para
pengawal Aku tidak tahu, apakah yang akan dilakukan oleh
Panglimanya yang sekarang seandainya terjadi persoalan yang
terbuka antara Tohjaya dan Anusapati.“
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tentu Witantra tidak akan dapat berterus terang berada
diistana Singasari.”
Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. “Aku mengerti,“
jawabnya, “aku kira Witantra-pun tidak akan berkeberatan.”
Demikianlah maka, Kuda Sempana-pun segera pergi
meninggalkan Singasari. Ia harus menghubungi Witantra dan
membawanya menemui Mahisa Agni besok malam. Dalam keadaan
yang panas itu, perubahan dapat terjadi setiap saat itu merupakan
waktu yang sangat berharga. Sepeninggal Kuda Sempana maka
Mahisa Agni-pun segera kembali kebangsalnya dan Sumekar masuk
kedalam gubugnya yang kecil tanpa mengganggu tetanggatetangganya
yang tinggal disebelah menyebelah gubugnya.
Namun ia tidak dapat segera tidur. Persoalan-persoalan itu masih
tetap tersangkut dikepalanya. Dan bahkan dorongan didalam
dadanya untuk berbuat sesuatu rasa-rasanya tidak dapat
dikendalikan lagi.
Tetapi Sumekar masih harus menghormati usaha Mahisa Agni. Ia
tidak dapat merusak rencana Mahisa Agni itu. “Tetapi apabila
datang saatnya, aku benar-benar harus bertindak. Lebih baik aku
menjadi tumbal daripada harus terjadi persoalan dan pertentangan
yang lebih luas lagi. Jika dengan alas pengorbananku, persoalan ini
dapat selesai tanpa melibatkan prajurit dan rakyat Singasari, maka
alangkah baiknya. Singasari yang selama ini dipupuk dan disirami
tidak akan segera layu dan bagaikan daun yang kering, menguning
dan berguguran ditanah,“ berkata Sumekar didalam hatinya.
Dalam pada itu, seperti Sumekar. Mahisa Agni-pun tidak segera
dapat tidur nyenyak malam itu. Ia selalu dipengaruhi oleh berbagai
macam angan-angan. Memang mungkin terjadi sesuatu dengan
Anusapati didalam sepinya malam. Tetapi Anusapati bukannya
orang yang mudah menyerah pada keadaan. Apalagi ia memiliki
kemampuan yang dapat melindunginya. Bahkan seandainya Sri
Rajasa sendiri datang ke bangsal itu. Anusapati pasti akan dapat
bertahan beberapa lama. Dengan trisula kecilnya, Anusapati akan
dapat berusaha mempertahankan dirinya. Sementara itu tentu
terjadi keributan di halaman ini, sehingga ia akan sempat
mendengarnya dan ikut campur secara langsung.
“Tetapi bagaimana jika Sri Rajasa berhasil memasuki bangsal itu
dengan diam-diam, dan dengan diam-diam pula bertindak atas
Anusapati?“ ia bertanya kepada diri sendiri.
Mahisa Agni tidak dapat melepaskan kemungkinan itu, karena
yang pernah dilakukan oleh Sri Rajasa adalah tindakan licik serupa
itu. Ia telah membunuh mPu Gandring, Tunggul Ametung dan
dengan licik sekali menjerumuskan Kebo Ijo ke dalam jebakannya.
“Tentu ia dapat berbuat licik pula terhadap Anusapati,“ berkata
Mahisa Agni didalam hatinya.
Namun ia percaya bahwa Anusapati tentu tidak akan lengah.
Meski-pun Sri Rajasa dapat meremas dinding kayu yang secengkang
tebalnya, tetapi Anusapati-pun tentu dapat mendengar gemerisik
yang betapa-pun lembutnya. Dan bahkan mungkin sekali Anusapati
sama sekali tidak dapat tidur dimalam hari.
Karena itulah, maka di pagi-pagi benar. Mahisa Agni telah telah
terbangun. Ia hanya sekejap saja dapat memejamkan matanya.
Tetapi bagi Mahisa Agni, yang sekejap itu telah cukup untuk
menyegarkan tubuhnya.
Ketika ia kemudian keluar dari bangsalnya, dilihatnya suasana
yang wajar di halaman istana. Para prajurit masih tetap bertugas
dan yang lain bahkan masih berbaring didalam gardu. Dengan
tergesa-gesa mereka-pun berloncatan bangun ketika tiba-tiba saja
mereka melihat Mahisa Agni sudah berada didepan gardu itu.
“Kami sedang beristirahat,“ salah seorang dengan tergesa-gesa
berkata, “kami bertugas dipermulaan malam ini.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tidurlah. Hari
memang masih sangat pagi. Kau masih mempunyai waktu sedikit.”
Tetapi para prajurit itu justru berlompatan bangkit dan
membenahi pakaian mereka.
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Aku akan berjalan-jalan. Aku
tidak ingin mengganggu kalian. Apalagi yang baru saja sempat
berbaring karena habis tugasnya.”
Prajurit-prajurit itu mengangguk-angguk.
Dan begitu Mahisa Agni pergi, maka mereka-pun berebut
melingkar kembali didalam gardu. Tetapi langit menjadi semakin
cerah dan sambil menggeliat mereka-pun terpaksa bangkit kembali
dan pergi ke pakiwan untuk berbenah diri.
Mahisa Agni yang kemudian berjalan menyelusuri halaman istana
sama sekali tidak melihat kemungkinan yang tidak dikehendakinya.
Bahkan ketika ia berjalan tidak jauh dari bangsal Anusapati, ia
melihat prajurit yang bertugas di halaman bangsal itu masih berada
ditempatnya.
“Tentu tidak ada sesuatu terjadi,“ berkata Mahisa Agni didalam
hatinya. Dengan demikian maka ia-pun melanjutkan langkahnya
berjalan-jalan dipagi yang menjadi semakin cerah.
Namun dengan tergesa-gesa ia berbelok ketika dilihatnya regol
yang menyekat halaman istana ini dengan perluasannya, tempat
Ken Umang dan putera-puteranya tinggal. Mahisa Agni tidak mau
mengalami perlakuan seperti yang pernah terjadi, sehingga hampir
terjadi pertentangan terbuka antara Anusapati dan Tohjaya.
Ketika kemudian matahari menjadi semakin terang di Timur,
maka Mahisa Agni-pun melangkah kembali ke bangsalnya.
Dilihatnya gardu-gardu penjagaan sudah mulai ramai, dan para
prajurit sudah mulai mengemasi diri. Bahkan sebagian telah datang
para penggantinya yang akan bertugas untuk satu hari satu malam
pula digardu itu.
Pada waktu berikutnya dihari itu, ternyata tidak terjadi sesuatu
pula. Anusapati memerlukan datang kebangsal Mahisa Agni dan
berbicara seperlunya. Namun ia-pun segera kembali kepada anak
dan isterinya dibangsalnya.
Bagaimana-pun juga Anusapati mencoba menyembunyikan
perasaannya, namun sebagai seorang isteri, akhirnya ia merasa
bahwa sesuatu telah terjadi atas suaminya. Wajah yang kadangkadang
murung dan sikap yang tidak dimengertinya. Namun
isterinya itu-pun tidak ingin membebani suaminya dengan kesulitan
baru, maka ia tidak pernah berusaha untuk memaksa Anusapati
mengatakan tentang persoalannya. Meski-pun demikian, perlahanlahan
ia berusaha tanpa terasa oleh Anusapati untuk menangkap,
apakah yang sebenarnya telah terjadi di Singasari dan atas
suaminya yang sangat dicintainya itu. Tetapi yang pada hari itu
berdebar-debar adalah Mahisa Agni. Ketika ada paseban kecil di
bangsal istana Singasari, maka Mahisa Agni-pun datang menghadap
diantara para pemimpin Singasari. Di hadapan banyak orang, Sri
Rajasa sudah bertanya kepadanya tentang penyakit Permaisuri.
“Apakah ia masih belum sembuh benar?“ bertanya Sri Rajasa.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sadar akan arti
pertanyaan itu. Tetapi ia masih juga menjawab, “Am-pun tuanku,
menilik pengamatan hamba, tuanku Permaisuri masih juga sakit
agak berat. Tetapi sebenarnyalah bahwa hambalah yang seharusnya
bertanya kepada tuanku, bagaimanakah penyakit Tuanku Permaisuri
itu, agar hamba dapat menentukan, apakah hamba dapat segera
kembali ke Kediri. Jika terlalu lama hamba berada disini, maka
tugas
hamba akan dapat terbengkelai karenanya, dan hamba yang disini
hampir tidak berbuat apa-apa itu akan menjadi jemu pula.”
Wajah Sri Rajasa menegang sesaat. Namun kesan itu-pun segera
terhapus dari wajahnya. Sambil tersenyum Sri Rajasa berkata,
“Bukankah kau yang hampir setiap hari menunggui dan mengikuti
perkembangannya?”
“Hamba tuanku. Tetapi yang tahu pasti tentang penyakit tuanku
Permaisuri tentu tuanku Sri Rajasa.”
“Baiklah,“ berkata Sri Rajasa, “akulah yang akan menentukan
apakah kau sudah dapat meninggalkan Singasari atau belum. Aku
akan segera memberitahukan kepadamu, jika Permaisuri itu sudah
dapat kau tinggalkan.“
“Hamba tuanku. Hamba akan melakukan segala titah.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
bagaimana-pun juga ia menyembunyikan perasaannya, tetapi terasa
dalam sidang itu, bahwa memang ada sesuatu yang terentang
diantara kedua tokoh tertinggi di Singasari itu, seperti juga ada
sesuatu yang membentang diantara Ken Umang dan Ken Dedes,
dan antara Anusapati dan Tohjaya.
Sejenak Mahisa Agni masih mengikuti pembicaraan-pembicaraan
tentang perkembangan Singasari pada saat-saat terakhir. Tetapi ia
sudah kurang berminat untuk mendengarkannya. Yang didengarnya
saat ini masih saja hampir sama dengan yang didengarnya beberapa
hari dan beberapa bulan yang lalu. Semuanya baik. Tidak ada
kesulitan dan rakyat berkembang maju.
“Jika demikian, dan Sri Rajasa puas dengan laporan-laporan itu,
akan menjadi pertanda bahwa Singasari akan berhenti disini. Sri
Rajasa sudah kehilangan gairah perjuangannya membuat Singasari
menjadi semakin besar dan memberi kesejahteraan yang lebih
tinggi bagi rakyatnya,“ berkata Mahisa Agni didalam hati. Namun
iapun
menjadi cemas bahwa beberapa orang pemimpin Singasari
yang lain tidak lagi menghiraukan keadaan yang sebenarnya terjadi.
Tetapi mereka sekedar ingin mendapat pujian dari Sri Rajasa
dengan mengatakan laporan-laporan yang tidak berdasarkan pada
kenyataan.
Tetapi Mahisa Agni tidak menanggapi laporan-laporan itu. Ia
tidak ingin menyakitkan hati pemimpin-pemimpin Singasari yang lain
agar persoalan yang langsung menyangkut Anusapati tidak
terganggu pula karenanya.
Meski-pun demikian, Mahisa Agni dapat menilai, bahwa saat-saat
terakhir Singasari benar-benar mengalami kemunduran. Para
pemimpinnya tidak lagi dengan penuh cita-cita membina Singasari.
Mareka sudah dihinggapi oleh penyakit yang berbahaya bagi
Singasari.
“Tentu karena Sri Rajasa tidak sempat lagi melihat
perkembangan Singasari dengan mata kepala sendiri,“ berkata
Mahisa Agni didalam hatinya. “kesibukannya telah menenggelamkan
kedalam suatu keadaan yang kurang menguntungkan bagi tanah
yang selama ini dibinanya dengan susah payah.”
Laporan-laporan berikutnya Mahisa Agni sudah hampir tidak
mendengarnya lagi seperti didalam paseban-paseban yang lalu.
Semuanya rasa-rasanya menjemukan baginya.
Tetapi kali ini Mahisa Agni terkejut ketika Sri Rajasa kemudian
berkata kepadanya, “Setelah paseban ini selesai Mahisa Agni,
tinggallah disini sebentar.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak ia memandang
berkeliling. Dilihatnya didalam paseban itu para Panglima dan para
piemimpin Singasari yang lain.
“Apakah Sri Rajasa berhasrat menjebakku sekarang?“ ia
bertanya kepada diri sendiri.
Tetapi Mahisa Agni adalah seorang yang berhati tabah. Itulah
sebabnya ia kemudian menjawab, “Hamba tuanku. Segala perintah
tuanku hamba junjung tinggi.”
Demikianlah ketika semua pembicaraan itu selesai maka Sri
Rajasa-pun segera mengakhiri sidang. Sedang Mahisa Agni yang
masih harus tinggal menjadi berdebar-debar.
“Apakah para Panglima itu sudah mendapat pesan-pesan
tertentu dari Sri Rajasa untuk menangkap aku sekarang?“ bertanya
Mahisa Agni didalam hati, “demikian para pemimpin pemerintahan
yang lain pergi, maka para Panglima itu akan menarik keris mereka
dan menahan aku disini.“
Tetapi dugaan Mahisa Agni itu ternyata keliru. Dengan suara
yang lantang maka Sri Rajasa berkata, “Tinggalkan paseban ini.
Semuanya, selain Mahisa Agni.”
Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi mereka-pun
kemudian beringsut meninggalkan sidang itu seorang demi seorang,
sehingga hanya Mahisa Agni sajalah yang tinggal.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hati
kemudian, “Sri Rajasa memang bukan seorang pengecut. Jika ia
ingin menyelesaikan dengan cara itu, ia akan menghadapi aku
seorang lawan seorang.“
Demikianlah, maka paseban itu akhirnya menjadi kosong. Yang
ada tinggallah Sri Rajasa dan Mahisa Agni. Bahkan para penasehat
Sri Rajasa-pun diperintahkannya untuk meninggalkan paseban itu.
Ketika tidak ada orang lain dipaseban itu, sekali lagi terasa
ketegangan mencengkam dada Mahisa Agni. Namun sekali lagi ia
keliru. Sri Rajasa sama sekali tidak memandangnya dengan sorot
mata yang menyala. Tetapi matanya bahkan menjadi redup dan
kosong.
“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa kemudian dengan nada yang
rendah, “kau mendengar semua laporan-laporan didalam paseban
ini?”
Mahisa Agni menjadi heran atas pertanyaan itu. Karena itu ia
tidak segera menjawab.
“Bagaimana menurut pendapatmu?”
Mahisa Agni masih belum mengerti maksud Sri Rajasa. Namun
menangkap siratan wajahnya. Mahisa Agni mulai menyesali dirinya
sendiri. Ternyata bahwa ia sendirilah yang terlampau berprasangka.
Sejak terjadi persoalan yang hampir menyeret Anusapati dan
Tohjaya dalam pertentangan terbuka, ia selalu saja berprasangka
buruk terhadap Sri Rajasa yang dikenalnya sangat aneh namun juga
licik.
“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa kemudian, “aku ingin
mendengar pendapatmu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih tetap
ragu-ragu. Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya, atau ia
harus bersikap seperti para pemimpin Singasari yang lain, yang
hanya sekedar mengemukakan persoalan-persoalan yang mereka
anggap dapat menyenangkan hati Sri Rajasa saja.
“Aku tidak boleh bersikap seperti itu,“ berkata Mahisa Agni
didalam hatinya, “jika demikian aku sudah membohongi diriku
sendiri, dan tidak mau lagi mengakui kenyataan yang berlaku di
Singasari.”
Karena itu dengan penuh tanggung jawab Mahisa Agni berkata
meski-pun dengan sangat hati-hati, “Tuanku. Sebenarnyalah
memang seperti yang dikatakan oleh para pemimpin Singasari itu.
Meski-pun masih harus ada beberapa keterangan.”
“Apakah yang kau maksud dengan keterangan itu?”
“Memang dalam pandangan sepintas keterangan itu sangat
menarik dan seakan-akan Singasari tidak lagi menghadapi
persoalan-persoalan lagi.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya.
“Tetapi tuanku,“ berkata Mahisa Agni lebih lanjut, “jika hamba
boleh mengatakannya dengan jujur, sebenarnya masih banyak yang
perlu dilaporkan didalam paseban seperti ini, apalagi didalam
paseban agung.”
“Misalnya?”
“Tuanku, seharusnya tuanku mendapat gambaran seluruhnya
tentang Singasari. Tuanku harus mendengar bahaya kering yang
mengancam daerah Selatan, yang perlu mendapat penyelesaian.
Kemudian kesulitan yang timbul karena binatang yang buas yang
tidak terkendalikan, berkembang biak dengan cepatnya di hutan
tidak begitu jauh dari kota ini. Selain daripada itu, masih ada
perampok-perampok yang mengganggu dan selebihnya memang
memberikan gambaran yang cerah buat masa depan Singasari.”
“Itulah yang ingin aku dengar Mahisa Agni.“
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Sri
Rajasa sejenak. Namun dilihatnya wajah itu bagaikan air telaga
yang bening, yang dapat dilihat sampai ke dasarnya. Menurut
tangkapan Mahisa Agni, apa yang dikatakan oleh Sri Rajasa itu
adalah apa yang dipikirkannya.
“Kali ini ia berkata dengan jujur,“ desis Mahisa Agni didalam
hatinya.
“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa, “sebenarnya aku sudah muak
mendengar laporan-laporan yang tidak sewajarnya itu. Mereka
adalah orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri,
mementingkan kedudukan dan kebanggaan mereka kepada dirinya
sendiri. Dan ini sangat memuakkan sekali. Tetapi aku masih belum
sempat untuk menghentikannya.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata
sesuatu telah tumbuh didalam hatinya.
“Sri Rajasa tidak sejahat yang aku duga.“ katanya didalam hati,
namun, “atau barangkali ia mulai melihat kesalahan yang sudah
dibuatnya?”
“Mahisa Agni,“ berkati Sri Rajasa kemudian, “ternyata kau masih
Mahisa Agni yang dahulu. Kau adalah salah satu dari orang-orang
Singasari yang jumlahnya tidak banyak, yang berani mengatakan
kekurangan Singasari kepadaku. Meski-pun mungkin aku akan
menjadi marah atau menghukummu. Tetapi sekarang aku sadar,
bahwa yang penting bagiku adalah kebenaran. Bukan sekedar
kebanggaan yang semu.“
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk
kecil, ia menjadi berpengharapan lagi, bahwa jika Sri Rajasa
berkata
dengan jujur, ia akan menanggapi persoalan Anusapati dan Tohjaya
dengan cara yang lebih baik dari cara yang pernah dilakukan
sebelumnya.
Dalam pada itu Sri Rajasa berkata selanjutnya, “Mahisa Agni.
Pada saatnya kau akan kembali ke Kediri. Aku mengharap bahwa
pada suatu saat, kau datang kepaseban agung, kau akan
mengatakan keadaan Kediri yang sebenarnya. Dengan demikian
akan membuka kemungkinan, para pemimpin Singasari yang lain
menyadari kekeliruannya. Bahkan yang aku harapkan adalah
keterangan yang sebenarnya. Bukan sekedar usaha untuk
mempertahankan pangkat dan jabatan.”
“Baiklah tuanku,“ jawab Mahisa Agni, “jika hal itu memang
tuanku kehendaki.”
“Sekarang tinggalkan bangsal ini. Kemudian aku akan
memberitahukan kepadamu, apakah Permaisuri sudah dapat kau
tinggalkan. Kediri akan kesepian jika kau tidak segera kembali.“
Mahisa Agni mengangguk dalam-dalam. Kemudian katanya,
“Baiklah hamba mohon diri tuanku.”
“Ya. Aku sudah selesai.“
Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan bangsal paseban.
Hatinya masih saja tersangkut kepada sikap Sri Rajasa. Namun ia
tidak dapat melupakan apa yang pernah dilakukan oleh Sri Rajasa
itu. Bahkan sekilas didalam dadanya dugaan bahwa sebenarnyalah
Sri Rajasa sedang merencanakan sesuatu yang tidak diketahuinya.
“Aku dihadapkan pada persoalan yang sangat rumit. Aku
seakan-akan melihat perubahan pada diri Sri Rajasa. Tetapi aku
tidak dapat mempercayainya sepenuhnya,“ berkata Mahisa Agni
kepada diri sendiri.
Namun bagaimana-pun juga apa yang dilihat dan dirasakannya
telah mempengaruhi perasaannya.
Meski-pun demikian, Mahisa Agni ingin memanfaatkan waktunya
yang tentu tidak akan terlalu lama lagi untuk mengarahkan
persoalan itu menjadi terang. Tetapi ia akan tetap gelisah jika
tidak
ada pemecahan yang dapat menjernihkan keadaan.
Persoalan itulah yang membebani Mahisa Agni sehari penuh.
Persoalan yang justru bertambah rumit karena sikap Sri Rajasa yang
dirasakannya berubah.
Dimalam hari, Mahisa Agni tidak melupakan pesannya kepada
Kuda Sempana, bahwa ia ingin bertemu dengan Witantra. Karena
itulah maka ia-pun kemudian pergi keluar istana seperti yang
dilakukan semalam sebelumnya bersama Sumekar.
“Jika kakang Kuda Sempana belum berhasil menemuinya, maka
kita harus menunggu sampai besok,“ berkata Sumekar.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Mudah-mudahan Witantra sudah hadir malam ini.“ Keduanyapun
kemudian pergi ketempat yang sudah mereka tentukan. Tetapi
Mahisa Agni dan Sumekar masih belum menjumpai siapapun.
“Kita tunggu sebentar,“ berkata Sumekar, “mungkin kita datang
terlampau cepat.”
“Bukankah, kita tidak tergesa-gesa?“ berkata Mahisa Agni,
“mudah-mudahan Sri Rajasa tidak memanggil aku malam ini,
sehingga kepergianku tidak segera diketahuinya.”
Ternyata mereka tidak sia-sia menunggu. Meski-pun agak lama,
namun akhirnya Witantra-pun datang juga. Bahkan sekaligus
bersama Mahendra dan Kuda Sempana.
“Kalian datang bertiga?“ bertanya Mahisa Agni.
“Ya. Kami sudah terlalu lama menunggu. Setiap malam salah
seorang dari kami pasti datang ketempat ini. Selambat-lambatnya
dua malam sekali. Baru kemarin Kuda Sempana sempat bertemu
dengan kalian.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya,
“Marilah, silahkan duduk. Aku mempunyai ceritera yang cukup
menarik buat kalian.”
Mereka-pun kemudian duduk melingkar dibalik sebuah gerumbul
yang lebat, sehingga tidak seorang-pun yang akan segera dapat
melihatnya. Apalagi pertemuan itu adalah pertemuan lima orang
yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan, sehingga
mereka akan segera mengetahui jika ada orang yang mengintai.
Sementara itu Mahisa Agni-pun menceriterakan semuanya yang
telah terjadi diistana Singasari. Persoalan Permaisuri yang
rasarasanya
benar-benar menjadi sakit, persoalan Anusapati yang
hampir saja terlibat dalam perselisihan terbuka dengan Tohjaya dan
kemudian sikap Sri Rajasa yang membuatnya ragu-ragu.
Witantra, Mahendra dan kuda Sempana mendengarkannya
dengan penuh minat. Yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu adalah
apa yang akan dapat membakar Singasari.
Ketika Mahisa Agni selesai dengan ceriteranya, maka mereka
yang mendengarkannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sejenak mereka mencernakan ceritera itu, seakan-akan mereka
ingin menimbang persoalannya dari segala segi.
“Mahisa Agni,“ berkata Witantra kemudian, “kita semuanya
sudah mengenal Sri Rajasa. Kita mengenal apa saja yang sudah
dilakukannya untuk mendapatkan tahta itu. Karena itu, alangkah
sulitnya untuk melupakannya. Aku sudah kehilangan adik
seperguruanku karena pokalnya. Bahkan aku telah dihinakan
diarena, meski-pun waktu itu kaulah yang naik melawan aku, tetapi
sudah tentu bahwa kau semata-mata telah dibakar oleh kemarahan
yang meluap-luap, karena kau-pun telah tertipu pula oleh Ken Arok
yang kini bergelar Sri Rajasa. Kau tentu menyangka bahwa yang
membunuh pamanmu, mPu Gandring itu, adalah Kebo Ijo pula.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kau tentu dapat membayangkan, betapa liciknya Ken Arok yang
bergelar Sri Rajasa itu, sehingga ia berhasil memperistri Ken Dedes
yang baru saja ditinggalkan oleh suaminya, Tunggul Ametung.“
Witantra berhenti sejenak. Lalu, “tetapi memang tidak mustahil
bahwa seseorang pada suatu saat akan sampai pada suatu keadaan
yang dapat menyudutkannya dalam kesulitan batin. Dalam keadaan
yang demikian, memang kadang-kadang semuanya yang telah
dilakukan itu tercermin kembali didalam angan-angannya. Dan
seandainya hal itu terjadi maka tidak mustahil pula bahwa Ken Arok
itu menyesali semua perbuatannya. Tetapi apakah artinya
penyesalan itu sekarang? Kita hormati Ken Arok, karena ia sudah
membuat Tumapel menjadi Singasari yang besar sekarang ini.
Tetapi jika kelanjutan dari Singasari ini menjadi kabur, dan bahkan
akan menjadi padam sama sekali, kita harus berpikir kembali.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apalagi jika Sri Rajasa berusaha untuk menyerahkan kerajaan
ini kepada keturunan Ken Umang,“ berkata Witantra lebih lanjut.
Lalu, “aku kenal Ken Umang sejak ia masih seorang gadis remaja
karena ia tinggal bersama kakak perempuannya. Aku tahu
bagaimana sifat-sifatnya dan aku tahu bahwa hatinya bukannya hati
yang bersih. Kemudian aku juga mendengar banyak tentang
Tohjaya yang tidak berbeda dari sifat-sifat ibunya. Dengan
demikian, maka kita sudah dapat membayangkan, bagaimana
dengan Singasari dimasa mendatang, jika Singasari jatuh ditangan
Tohjaya itu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Meski-pun tidak
seorang-pun yang dapat memastikan bahwa Anusapati akan dapat
berbuat lebih baik dari Tohjaya, tetapi mereka dapat
memperhitungkan kemungkinan itu.
“Karena itu Mahisa Agni,“ berkata Witantra itu pula, “kau jangan
sekali lagi terjerumus kedalam perangkap Ken Arok. Aku tahu
bahwa justru karena hatimu terlalu bersih, maka kau tidak dapat
membayangkan, betapa liciknya seseorang. Meski-pun kita tidak
menutup kemungkinan, bahwa pada suatu saat seseorang seperti
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu dapat menyesali semua
perbuatannya.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi bibirnya bergerak,
“Sebenarnya aku berharap bahwa Ken Arok menjadi baik ketika
kami sedang membuat bendungan dan membangun Panawijen
dipadang Karautan, setelah Panawijen yang lama menjadi kering.
Tetapi tiba-tiba saja penyakit padang Karautanmya berjangkit
kembali.”
“Itulah yang dapat kita lihat padanya. Sebagai seorang Maharaja
ia berbuat sebaik-baiknya. Tetapi di saat-saat terakhir, maka
pamrih
pribadinya pulalah yang kemudian justru menonjol,“ sahut Witantra.
Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk. Namun dalam pada itu
terdengar Sumekar berkata dengan nada yang dalam tetapi seakanakan
bergetar dari dasar hatinya, “Kakang Mahisa Agni. Bagaimanapun
juga, aku yang melihat kehidupan Ken Arok yang bergelar Sri
Rajasa sehari-hari dan puteranya tuanku Tohjaya, tidak akan dapat
mempercayainya lagi. Mungkin disaat-saat tertentu ia dapat
bersikap baik. Tetapi itu sekedar suatu usaha untuk membayangi
sikapnya yang sebenarnya. Bagiku tugas Sri Rajasa sudah selesai.
Kita bersama-sama menaruh hormat atas usahanya mempersatukan
seluruh Singasari. Tetapi jika ia masih berkesempatan mengatur
saluran kekuasaan sampai ke putera-puteranya, maka akan terjadi
suatu saat Singasari akan hancur. Marilah kita tidak sekedar
terpancang pada kepentingan tuanku Anusapati yang kebetulan
adalah putera tuan Puteri Ken Dedes, dan tidak pula terikat kepada
kebencian kita kepada tuanku Tohjaya, putera tuan Puteri Ken
Umang, tetapi adalah kebetulan sekali bahwa menurut perhitungan
kita, jika kekuasaan Singasari jatuh ke tangan tuanku Tohjaya,
maka Singasari tidak akan lestari. Itulah sebabnya maka kita harus
memotong jalur yang memungkinkan hal ini terjadi.”
“Maksudmu?“ bertanya Mahisa Agni.
“Sri Rajasa dilenyapkan.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “jangan
tergesa-gesa Sumekar. Persoalannya tidak begitu sederhana. Meskipun
seandainya kita akan sampai juga kepada jalan itu, tetapi
semuanya harus yakin dan masak.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Mahisa
Agni tentu tidak menyetujuinya untuk saat ini. Tetapi Sumekar sama
sekali tidak melihat jalan lain.
Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana hanya dapat
mengerutkan keningnya. Bagi mereka, banyak pertimbangan yang
harus diperhitungkan.
“Kakang Mahisa Agni,“ berkata Sumekar, “aku dapat mengerti
perasaanmu. Kau adalah seorang yang menurut tangapanku, sangat
dipengaruhi oleh pertimbangan-angan perikemanusiaan. Karena itu,
maka kau adalah seseorang yang sangat baik. Tetapi menghadapi
Sri Rajasa kau harus mempunyai pertimbangan yang lain.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Seperti yang aku katakan Sumekar, apabila sampai saatnya,
apaboleh buat. Tetapi kita harus mendapatkan saat yang tepat dan
alasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Bukan sekedar
prasangka dan alasan-alasan yang sangat kabur.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya,
“Banyak soal yang ingin aku ketahui. Namun yang terpenting adalah
perkembangan hubungan antara Anusapati dan Tohjaya.”
“Hubungan yang sangat dipengaruhi oleh sikap Sri Rajasa
sendiri,“ sahut Sumekar.
“Ya.“
Witantra berpikir sejenak, lalu “dimana keris buatan mPu
Gandring itu sekarang?”
Mahisa Agni ragu-ragu sejenak, namun katanya kemudian, “Ada
pada Anusapati.”
Witantra dan orang-orang lain yang mendengarnya mengerutkan
keningnya. Dan Sumekar-pun menyahut, “jalan sudah terbuka.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
“Bagaimana mungkin keris itu ada ditangan Anusapati?“
bertanya Witantra.
“Ken Dedes memberikan kepadanya.”
“Apakah Permaisuri sudah memilih?“ desak Mahendra.
“Bukan maksudnya, Anusapati menyimpan keris itu untuk
pengamanan dirinya. Jika keris itu tidak berada di tanganya, maka
ada kemungkinan keris itu menikam jantungnya.”
“Dan Sri Rajasa tidak memintanya?“ bertanya Kuda Sempana.
“Sampai sekarang tidak,“ jawab Mahisa Agni, “aku tidak tahu
apakah Sri Rajasa sudah mengetahuinya.”
Mereka yang mendengarnya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kesan yang aneh telah merambat dihati mereka. Seakan-akan
mereka mempunyai gambaran yang sama bagi masa mendatang.
“Hanya ada dua kemungkinan,“ berkata Witantra didalam
hatinya, “Anusapati dilenyapkan atau melenyapkan. Suatu pilihan
yang maha sulit. Agaknya Anusapati tidak cukup kuat secara batin
untuk menjatuhkan pilihan itu. Seperti juga Mahisa Agni sendiri
yang
terlalu banyak dipengaruhi oleh pertimbangan peri kemanusiaan
seperti yang dikatakan oleh Sumekar.”
Tetapi Witantra tidak mengucapkannya.
Yang kemudian berbicara adalah Mahendra, “Jadi menurut
pertimbanganmu Agni, apakah yang sebaik-baiknya kita lakukan
sekarang?“
“Aku ingin mendapat bantuan pengaruh Witantra pada para
Senapati, terutama yang berusia sebaya dengan kita atau lebih
muda sedikit. Mereka tentu mengenal siapakah Witantra itu. Bagi
Senapati yang muda, mungkin Witantra hanyalah nama saja. Tetapi
bagi yang lebih tua, mereka mengenal jauh lebih banyak.”
“Maksudmu?“ bertanya Witantra.
“Witantra. Sekali-sekali aku ingin kau menampakkan dirimu.
Dengan demikian maka nama Witantra akan disebut-sebut lagi. Dan
aku yakin bahwa nama itu akan berpengaruh pada Sri Rajasa.”
“Pengaruh apakah yang kau kehendaki?”
“Ia akan semakin disudutkan oleh kenangan masa lampaunya.
Mudah-mudahan ia dapat melihat segala kesalahan yang pernah
dilakukannya.”
“Kau berharap bahwa Sri Rajasa akan melangkah surut?“
Mahisa Agni tidak menjawab. Kepalanya perlahan-lahan
menunduk lesu. Namun demikian, kepalanya itu bergerak sedikit,
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Suatu keajaiban.
Seandainya ada penyesalan dihati Sri Rajasa. tetapi ia sudah
terperosok terlampau jauh. Tohjaya sudah menjadi dewasa serta
dibekali dengan segala macam angan-angan yang hitam. Tentu
Tohjaya akan selalu memaksa Sri Rajasa untuk berjalan terus,
betapa-pun hatinya sendiri dirambati oleh kesadaran, namun sudah
terlambat.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata,
“Aku kira dapat juga dicoba Mahisa Agni. Aku besok akan menemui
satu dua orang Senapati terutama dari pasukan Pengawal yang aku
duga masih dapat mengenal aku dan mengingat apa yang pernah
mereka kenal itu dahulu.”
“Kita masih akan mempertaruhkan beberapa hari untuk itu?“
bertanya Sumekar.
“Hanya beberapa hari,“ jawab Mahisa Agni, “sampai saat ini aku
masih belum diusir oleh Sri Rajasa meski-pun sudah ada beberapa
kesan agar aku segera kembali ke Kediri.”
“Jadi, apakah kita tidak lebih baik bertindak langsung dan
cepat?“ bertanya Sumekar kemudian.
“Kita masih akan mencoba Sumekar.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah.
Kita melihat apakah dibeberapa hari ini ada perubahan pada Sri
Rujasa dan terutama pada tuanku Tohjaya. Jika hubungan
keduanya tidak terputus, menurut dugaanku, akan sulitlah kiranya
mendapatkan perubahan suasana diistana Singasari yang menjadi
semakin panas ini.”
Mahisa Agni memandang Sumekar sejenak. Namun kepalanyapun
terangguk-angguk kecil. Katanya, “Kita berdoa, mudahkan ada
perbaikan yang terjadi di istana Singasari.”
“Tetapi kita jangan membiarkan diri kita terjebak oleh kebaikan
hati kita,“ berkata Mahendra kemudian, “aku setuju untuk
menunggu satu dua hari. Tetapi seperti yang dikatakan oleh
Sumekar, dalam satu dua hari dapat terjadi apapun, karena
perubahan dapat berlangsung dengan cepatnya. Sri Rajasa
mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas. Itulah sebabnya
semuanya dapat terjadi.”
“Aku menyadari,“ jawab Mahisa Agni, “karena itu, selain setiap
usaha harus dialasi dengan sikap hati-hati, juga harus dilambari
dengan kesiagaan untuk menghadapi segala kemungkinan.”
“Baik. Aku sependapat,“ berkata Witantra, “marilah kita coba.
Aku akan segera menghubungi beberapa orang perwira didalam
pasukan pengawal istana.”
Demikianlah mereka kemudian menemukan kesepakatan. Meskipun
Sumekar dan Mahendra menyangsikan hasilnya. Namun mereka
ingin melihat juga, apakah yang kira-kira akan terjadi.
Sejenak kemudian maka Mahisa Agni dan Sumekar-pun segera
kembali ke istana, sedang Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana
kembali kepersembunyian mereka dipinggir kota. Mereka telah
berusaha untuk mendapatkan sebuah pondokan bagi mereka yang
menyebut dirinya pedagang-keliling, karena sebenarnyalah bahwa
Mahendra adalah seorang saudagar.
Tanpa meninggalkan kewaspadaan Mahisa Agni masih dapat
bersabar beberapa saat. Perkembangan perasaan yang dibacanya
pada tingkah laku Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa menimbulkan
harapan dihatinya, bahwa masalahnya tidak harus diselesaikan
dengan kekerasan.
Dengan lembut ia berusaha menenteramkan hati Anusapati.
Meski-pun ia tidak mengatakannya, bahwa ia melihat perubahan
pada Sri Rajasa, namun ia mengharap bahwa Anusapati tidak
merubah cara hidupnya sehari-hari.
“Berbuatlah seperti tidak terjadi sesuatu atasmu dan atas
perasaanmu Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “mudah-mudahan
kita menemukan jalan yang sebaik-baiknya.”
Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Mudahmudahan
kita tidak terlambat paman. Menurut perasaanku, kini
sedang terjadi perang yang tiada kasat mata antara kita dengan
ayahanda Sri Rajasa bersama adinda Tohjaya.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak 'dapat
ingkar. Yang dikatakan oleh Anusapati itu memang sebenarnya telah
terjadi.
Meski-pun di saat terakhir terpercik harapan dihati Mahisa Agni,
namun ia selalu memperingatkan kepada Anusapati, bahwa ia tidak
boleh melupakan trisula kecilnya.
“Aku selalu membawanya paman. Disetiap saat trisula itu ada
padaku. Bahkan dimalam hari bukan saja trisula itu, tetapi juga
keris
mPu Gandring selalu berada dipembaringan.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia bergumam,
“Mudah-mudahan aku dapat menyaksikan, bahwa tidak akan terjadi
sesuatu yang tajam sampai saatnya aku kembali ke Kediri.“
“Tetapi bagaimana sepeninggal paman?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
“Sepeninggalku-pun keyakinan itu harus aku dapatkan. Jika tidak,
aku masih akan tetap berada di istana ini, meski-pun jatuh perintah
Sri Rajasa agar aku kembali ke Kediri. Atau ...” Mahisa Agni tidak
melanjutkan kata-katanya.
“Atau? Apakah maksud paman?“ bertanya Anusapati.
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Tetapi didalami hati ia
berkata, “Atau perang ini sudah berakhir, siapa-pun yang akan
menjadi korban.”
Demikianlah, maka Anusapati yang muda itu masih harus
menahan diri. Kadang-kadang terasa dadanya menjadi pepat dan
kehilangan pengendalian diri. Tetapi setiap kali ia menyadari pesan
pamannya, maka ia-pun segera mengurungkan niatnya untuk
berbuat sesuatu.
Bahkan ia selalu berusaha untuk berbuat seakan-akan tidak
terjadi sesuatu. Ia berkeliaran dihalaman istana tanpa pengawalan.
Bahkan ia berkunjung dari satu gardu yang lain seperti yang sering
dilakukannya. Namun demikian ia tidak berpisah dengan trisula
kecilnya, yang dapat memberikan perlindungan kepadanya, apabila
pada suatu saat Sri Rajasa telah sampai pada titik akhir dari
kesabarannya.
Dalam pada itu, Witantra benar-benar telah menepati janjinya.
Dalam pakaian seorang pedagang ia berjalan hilir mudik didalam
kota Singasari yang menjadi semakin besar. Dan ternyata seperti
dugaannya, tidak ada orang lagi yang dapat mengenalnya. Selain
wajahnya yang bertambah tua, Witantra sebagai Panglima tidak
pernah berpakaian seperti yang dipakainya itu.
Tetapi Witantra masih dapat mengenali beberapa orang prajurit
yang tidak sedang bertugas. Namun demikian Witantra tidak
menemui setiap orang yang dijumpainya. Ia masih juga memilih
orang-orang yang menurut dugaannya dapal dipercayainya.
Witantra tertarik kepada seorang prajurit dan Pasukan Pengawal
yang sedang berdiri dimuka regol rumahnya, Rumah yang agaknya
belum terlalu lama dibangun. Rumah yang dibangun sesuai dengan
kedudukannya sebagai seorang perwira.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Rumah itu jauh lebih baik
dari rumah orang itu selagi ia masih menjadi seorang perwira di
Tumapel.
“Apa salahnya,“ berkata Witantra, “itu adalah haknya. Mudahmudahan
ia masih mengenal aku dan mudah-mudahan ia dapat
diajak berbicara serba sedikit seperti dahulu. Jika ia berubah,
maka
persoalannya akan menjadi lain.”
Meski-pun dengan agak berdebar-debar juga Witantra mendekati
regol itu. Tetapi dalam ujud seorang pedagang yang berkecukupan,
maka perwira yang berdiri diregol itu-pun menaruh perhatian
kepadanya.
Karena ternyata Witantra mendekatinya, maka perwira itu-pun
kemudian menganggukkan kepalanya sambil menyapanya, “Apakah
Ki Sanak mempunyai keperluan?”
Witantra-pun mengangguk hormat. Jawabnya, “Ya, ki Sanak. Aku
ingin bertemu sejenak.”
Perwira itu mengerutkan keningnya. Dan Witantra bertanya pula,
“Apakah aku boleh minta sekedar keterangan?”
“Tentu,“ jawab perwira itu.
“Aku ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Kebo
Pamungkas.”
“Kebo Pamungkas?“ orang itu mengulangi.
Witantra menganggukkan kepalanya. Tetapi ia melihat sesuatu
yang menyentuh perasaannya.
“Kenapa Ki Sanak mencari Kebo Pamungkas?“ bertanya orang
itu.
Witantra mulai curiga. Ia sadar, bahwa orang itu tidak akan
segera mengaku tentang dirinya. Apalagi agaknya orang itu sama
sekali sudah tidak mengenalinya.
“Aku adalah seorang utusan dari kawan Kebo Pamungkas,“
jawab Witantra.
“Siapakah yang mengutusmu?”
“Seorang pertapa dipuncak gunung.”
“Aneh,“ jawab orang itu, “menilik bentuk lahiriah, saudara
adalah seorang pedagang, atau seorang pemilik tanah yang kaya.
Bukan seorang cantrik, atau putut yang tinggal dipuncak gunung
pada seorang pertapa.”
“Sebenarnya aku seorang Putut.”
Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia
bertanya, “Siapakah pertapa dipuncak gunung yang mengutusmu
menemui Kebo Pamungkas.”
Witantra menjadi ragu-ragu. Namun katanya kemudian. “Ia
adalah seorang bekas prajurit, yang tersisih. Tetapi sampai saat
ini
ia masih yakin akan kebenaran pendiriannya itu.”
Perwira itu mengerutkan keningnya.
“Kenapa kau sama sekali tidak mengesankan bahwa kau seorang
Putut dari padepokan dipuncak gunung? Apatah perjalananmu
mengandung suatu maksud sandi?”
“Tidak,“ berkata Witantra, “tidak ada maksud sandi.”
“Sebut namanya,“ perwira itu tidak sabar.
“Witantra, Witantra,“ orang itu merenungi nama itu sejenak.
Lalu, “dimana padepokan itu?“
“Jauh, dipuncak gunung.”
“Witantra,” sekali lagi orang itu menyebut namanya, lalu
katanya, “apakah sekarang Witantra menjadi seorang bertapa
dipuncak gunung yang jauh?”
“Ya.”
Perwira itu memandang Witantra itu sejenak. Lalu, “Silahkan.
Silahkan masuk.”
Witantra menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak tahu
tanggapan yang sebenarnya dari perwira itu. Namun ia-pun tidak
menolak dan mengikuti perwira itu masuk kedalam rumahnya.
Witantra-pun kemudian duduk dipendapa. Sejenak ia mengamati
perabot rumah itu. Dilihatnya lewat pintu pringgitan yang terbuka,
beberapa jenis senjata tergantung pada dinding rumah itu.
“Aku tertarik sekali jika Ki Sanak dapat berceritera tentang
Witantra,“ berkata perwira itu kemudian, “sudah lama sekali aku
tidak melihatnya sejak ia meninggalkan Tumapel.“
“Ya. Sejak itu,“ sahut Witantra. Lalu, “ia merasa bahwa ia sudah
tidak terpakai lagi.”
“Sejak ia dikalahkan oleh Mahisa Agni di arena karena ingin
membela nama baik Kebo Ijo.”
“Ya. Dan sekarang Mahisa Agni menjadi wakil Mahkota di
Kediri.”
“Tetapi hubungan antara keduanya tidak seperti yang kita
harapkan. Apakah banyak yang kau ketahui tentang isi istana?
Tentang Sri Rajasa, puteranda Pangeran Pati dan putera-putera Ken
Umang?”
Witantra menggelengkan kepalanya. “Apakah ada sesuatu yang
menarik?”
“Tidak. Tidak ada apa-apa,“ jawab perwira itu.
Witantra memandanginya sejenak. Lalu, “Bagaimana jika para
perwira, terutama yang telah bertugas didalam pasukan pengawal
sejak Tumapel, bertemu kembali dengan Witantra.”
“Kami tidak mempunyai persoalan apa-apa dengan Witantra.
Witantra adalah seorang pemimpin yang baik bagi kami.“ Perwira itu
berhenti sejenak. Lalu, “tetapi kami yang sudah ada didalam
pasukan Pengawal sejak Tumapel, jumlahnya tidak lebih dari jari
tangan.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tentu diantara
mereka ada yang sudah terlalu tua. Tetapi tentu ada yang dengan
sengaja disisihkan karena tidak disukai.
“Ki Sanak,“ berkata Witantra kemudian, “bagaimanakah jika
Witantra itu pada suatu saat mengunjungi sahabat-sahabatnya di
Singasari?”
“Tentu tidak apa-apa,“ jawab perwira itu, namun kemudian,
“Tetapi saat ini Mahisa Agni berada di Singasari. Jika hubungan
diantara mereka dapat pulih kembali, maka tidak akan ada
persoalan yang lain. Aku kira Sri Rajasa-pun tidak akan menaruh
banyak perhatian.”
“Benar begitu?”
Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak. Sambil menarik nafas
dalam-dalam ia berdesis, “Entahlah bagi Sri Rajasa itu.”
Witantra mengerutkan keningnya. Namun ia tidak segera
mengatakan sesuatu tentang dirinya. Agaknya ia masih ingin
meyakinkan tanggapan perwira itu sendiri.
“Bagiku,“ berkata perwira itu, “perhatian Sri Rajasa kini
tertumpah pada persoalan putera-puteranya itu. Agaknya Putera
Mahkota dan putera tertua dari isteri Sri Rajasa yang muda, tidak
dapat dirukunkan.”
“Apakah Sri Rajasa tidak berpihak?”
Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak
dapat mengatakannya.“
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia masih
dicengkam oleh keragu-raguan. Dan ia-pun bertanya, “Apakah itu
berarti bahwa kedatangan Witantra di Singasari tidak menambah
persoalan bagi Sri Rajasa?”
“Memang mungkin sekali. Karena menurut pendapat kami,
kepergian Witantra adalah karena adik seperguruannya yang
terbunuh oleh Ken Arok, langsung atau tidak langsung sebelum Ken
Arok bergelar Sri Rajasa.”
“Maksudmu?“ bertanya Witantra, “apakah sebenarnya Kebo Ijo
tidak bersalah?“
“Tentu Kebo Ijo bersalah. Tetapi ia belum sampai di arena
hukuman yang sebenarnya. Bukankah Witantra mengetahui bahwa
kematian Kebo Ijo justru sebelum jatuh keputusan tentang dirinya,
sedang saat itu tujuh pimpiaan di Tumapel masih meragukan
kesalahannya?”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun
bertanya, “jadi bagaimana menurut pendapatmu? Jika seandainya
sekarang Witantra itu hadir di Singasari?”
“Tidak apa-apa bagiku,“ berkata perwira itu. “tetapi, aku kira
pengaruhnya masih juga menggelisahkan Sri Rajasa dan barangkali
juga Mahisa Agni. Kita tidak tahu, jika Witantra ada di Singasari,
bagaimanakah tanggapannya atas peristiwa yang kini terjadi di
istana ini. Mungkin ia tidak sependapat dengan Sri Rajasa dan tidak
pula berpihak kepada Mahisa Agnj sekaligus. Mungkin ia ingin
menanamkan pengaruhnya sendiri sehingga pada suatu saat akan
ada tiga kekuatan yang terpisah di Singasari.”
“Tentu tidak,“ berkata Witantra, “Witantra tidak akan
mempunyai keinginan untuk berbuat apa-apa lagi. Jika ia hadir di
Singasari hanyalah sekedar melepaskan kerinduannya kepada
beberapa orang sahabatnya termasuk Mahisi Agni.”
Witantra menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ia tidak
mendendam kepada siapa pun. Tidak kepada Mahisa Agni dan tidak
kepada Sri Rajasa.”
Perwira itu mengangguk-anggukkkan kepalanya. Katanya,
“Mungkin Witantra yang sudah menjadi seorang pertapa itu tidak
mendendam dan bahkan tidak lagi menganggap ada persoalan apapun
di Singasari ini. Tetapi aku tidak tahu apakah tanggapan Sri
Rajasa atas kehadirannya.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dan ia-pun kemudian
bertanya, “Ki Sanak, apakah Ki Sanak tidak dapat menunjukkan
seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas?”
“Jika Witantra sendiri datang, aku akan mengatakan kepadanya,
tentang seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas.”
Witantra merenung sejenak, lalu gumamnya. “Jika demikian
tempat yang ditunjukkan kepadaku itu ternyata keliru. Aku
mendapat keterangan, bahwa dirumah ini aku akan dapat dapat
menjumpai seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas.”
“Kebo Pamungkas adalah seorang perwira prajurit Tumapel,
bukan seorang prajurit Singasari.“
“O.” Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “jadi,
jika demikian aku telah salah. Atau barangkali Witantralah yang
salah.“
“Aku akan menunjukkan kepada Witantra jika ia datang sendiri
kepadaku,“ berkata perwira itu.
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Ki
Sanak sudah mengenal Witantra?“
“Tentu sudah. Aku mengenalnya dengan baik sejak kami
bersama-sama menjadi prajurit di Tumapel.”
“O, jadi Ki Sanak juga seorang prajurit Tumapel?“
Perwira itu termangu-mangu sejenak. Dan Witantra
mendesaknya, “Jika demikian Ki Sanak sebenarnya juga mengenal
orang yang bernama Kebo Pamungkas yang Ki Sanak sebut sebagai
seorang prajurit Tumapel itu.”
Sejenak perwira itu terdiam. Namun kemudian ia berkata, “Sudah
aku katakan, jika Witantra itu datang, aku akan menjelaskannya.”
“Baiklah Ki Sanak,“ berkata Witantra, “aku akan mengatakan
agar Witantra datang sendiri kepada Ki Sanak. Tetapi Ki Sanak tentu
sudah tidak mengenalnya, karena ia menjadi semakin tua, tidak lagi
berpakaian seperti seorang Panglima dan tidak lagi mempunyai
pengaruh apa-pun pada lingkungannya.”
“Dan Kebo Pamungkas?”
“jangan bertanya lagi sebelum Witantra datang.“
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya perwira itu
sejenak. Namun benar tidak ada kesan bahwa perwira itu masih
mengenalnya.
Sejenak Witantra termangu-mangu. Apakah ia akan
menunjukkan dirinya sendiri, atau ia akan mengambil keputusan lain
sebelum terlanjur, karena akibatnya masih sangat diragukannya.
Apalagi orang itu yang menurut pengenalannya bernama Kebo
Pamungkas, selalu mencoba mengingkar; nama itu karena ia kini
seorang perwira prajurit Singasari.
“Apakah ada keberatannya ia menyebut nama itu?“ bertanya
Witantra kepada diri sendiri.
Sejenak kedua orang itu dicengkam oleh keragu-raguan. Namun
karena kehadiran Witantra itu memang dengan sengaja untuk
membangunkan nama Witantra kembali, maka ia-pun kemudian
menetapkan bahwa ia akan menyatakan dirinya sendiri dihadapan
perwira itu.
Maka dengan hati-hati Witantra-pun kemudian bertanya, “Ki
Sanak. Jika Witantra itu datang, apakah Ki Sanak tidak akan
melupakannya?”
“Pertanyaanmu sudah beberapa kali aku jawab, aku tidak akan
dapat melupakan Witantra.”
Witantra itu tertawa. Katanya, “Ternyata kau keliru Ki Sanak. Kau
ternyata sudah tidak akan dapat mengenal Witantra lagi.”
“Akh. Kenapa kau mendahului menebak? Kau belum mengetahui
bagaimana aku mengenalnya dahulu dan bagaimana ia mengenal
aku.”
“Bagaimana jika aku membawa dua atau tiga orang sekaligus
datang kemari? Apakah kau dapat memilih, yang mana diantara
mereka yang bernama Witantra?”
“Tentu, bawalah mereka kemari. Tiga, empat atau sepuluh
orang sekaligus.“
Witantra justru tertawa karenanya. Katanya, “Tidak lebih dari
seorang, dan Ki Sanak sudah tidak mengenalnya.”
“He,“ orang itu mengerutkan keningnya.
“Tidak lebih dari satu orang,“ ulang Witantra, “apakah Ki Sanak
benar-benar masih mengenal Witantra he?”
Orang itu termangu-mangu sejenak.
Dan Witantrapnn tertawa semakin lebar, “Kau kenal aku?”
“Witantra, Witantra,“ orang itu menyebut namanya. Diamatamatinya
Witantra yang masih saja tertawa itu.
“Apakah maksudmu?“ perwira itu bertanya.
“Akulah Witantra,“ jawab Witantra itu.
Kerut merut dikening perwira itu menjadi semakin dalam. Namun
dengan ragu-ragu ia berkata, “Mustahil aku tidak mengenalnya lagi.
Mustahil.”
“Apakah yang aneh menurut pendapatmu? Pakaian saudagar
kaya ini?”
Orang itu tidak menjawab.
“Maaf,“ berkata Witantra, “sebenarnya akulah Witantra itu.
Itulah sebabnya aku mengetahui namamu. Dan itulah sebabnya aku
menjadi agak bimbang ketika kau agaknya mengingkari nama itu.“
Orang itu masih memandang Witantra dengan tajamnya. Keraguraguan
yang dalam tampak pada sorot matanya. Namun sejenak
kemudian ia berdesis, “Witantra, Witantra.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Rambutku sudah
berubah warnanya. Keningku sudah menjadi berkerut merut, dan
barangkali pipiku sudah mulai melipat.”
“Ah,“ orang itu berdesah. Namun perlahan-lahan ia mulai dapat
mengingat kembali wajah Witantra. Wajah Panglima pasukan
Pengawal istana pada masa kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung.
Wajah yang tenang, dan seakan-akan permukaan air yang dalam.
Diam, namun mengandung perbawa yang mencengkam.
Sejenak perwira itu memandang wajah Witantra. Dan dengan
suara yang ragu ia bertanya, “Apakah benar aku berhadapan
dengan Witantra.”
“Ya Ki Sanak. Aku berkata sebenarnya bahwa kau memang
sedang berhadapan dengan Witantra. Karena itu jangan ingkar lagi
bahwa kau adalah Kebo Pamungkas.”
Perlahan-lahan perwira itu menganggukskan kepalanya. Dan
perlahan-lahan pula ia berkata, “Ya. aku semakin mempercayaimu,
bahwa aku memang berhadapan dengan Witantra. Dan karena itu
aku tidak akan dapat mengingkari nama itu lagi, meski-pun sejak
aku menjadi perwira dari pasukan Pengawal di Singasari, namaku
sudah berubah.
“O,“ Witantra menganggukkan kepalanya, “tetapi aku sadar
bahwa kau ingin meyakinkan, apakah aku benar-benar Witantra.
Nah, sekarang kau masih mendapat kesempatan. Apakah yang ingin
kau ketahui, dan apakah yang dapat aku katakan, agar kau benarbenar
percaya bahwa aku adalah Witantra.”
Perwira itu memandang Witantra sejenak. Hampir di luar
sadarnya ia bertanya, “Apakah yang kau ketahui tentang Putera
Mahkota?”
Witantra tersenyum. Katanya, “Kau tidak mau mengatakannya.
Tetapi baiklah, akulah yang akan mengatakannya bahwa Putera
Mahkota itu bukan putera Sri Rajasa. Sebagai seorang Panglima
Pasukan Pengawal aku tahu pasti, bahwa pada saat Akuwu Tunggul
Ametung terbunuh, Ken Dedes sedang mengandung muda. Aku
tahu pasti, bagaimana tuan puteri itu selalu diganggu oleh pening
dikepala dan kadang-kadang muntah-muntah. Bagaimana tuan
puteri selalu ingin makan mentah-mentahan yang asam. Dalam
keadaan itulah tuan puteri kemudian kawin dengan Ken Arok yang
dengan sendirinya melaksanakan tugas pemegang kekuasaan atas
Tumapel. Dan ternyata ia adalah seorang yang memiliki kelebihan
dari sesamanya. Itulah sebabnya, dengan bekal yang ada ia
akhirnya dapat mempersatukan seluruh Singasari. Sehingga ia
akhirnya bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Nah, apakah
kau percaya bahwa aku Witantra. Tentu bukan sekedar
keteranganku itulah yang memastikan jika aku Witantra, tetapi
terlebih-lebih adalah ingatanmu tentang aku.”
Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku
yakin sekarang, bahwa kau memang Witantra. Tetapi Witantra
memiliki kekuatan yang luar biasa. Kemampuannya hampir tidak
ada duanya di Tumapel waktu itu, kecuali Mahisa Agni dan
barangkali Sri Rajasa sendiri.”
Witantra tersenyum. Katanya, “Itu adalah pada masa mudaku,
selagi olah kanuragan seakan-akan merupakan keputusan terakhir
bagi setiap persoalan.”
Perwira itu memandang Witantra sejenak. Meski-pun ia menjadi
semakin yakin bahwa yang dihadapinya memang Witantra,
sebenarnyalah ia mengharapkan agar Witantra dapat membuktikan
dirinya dengan kemampuannya yang luar biasa.
Tetapi tidak ada tanda-tandanya bahwa Witantra akan berbuat
sesuatu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia masih saja
duduk ditempatnya sehingga perwira Singasari itu tidak lagi
mengharap bahwa ia dapat melihat Witantra menunjukkan sesuatu
kepadanya.
Sejenak keduanya berdiam diri. Sejenak perwira itu masih
mengharap. Namun kemudian ia mengerutkan keningnya dan
berkata seakan-akan diluar kehendaknya, “Aku sekarang yakin,
bahwa kau memang Witantra. Justeru bahwa kau tidak berbuat apaapa
itulah, yang menunjukkan kepadaku, sebenarnyalah kau
seorang yang matang dan memiliki ilmu tinggi. Kau tidak dengan
tergesa-gesa turun kehalaman dan meremas sebongkah batu
menjadi debu. Itulah yang mengagumkan. Aku jadi yakin sekarang.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sukurlah, jika
kau mempercayaiku. Justru aku tidak berbuat apa-apa.”
“Karena kau tidak berbuat apa-apa itulah aku jadi yakin.“ sahut
perwira itu, “jika kau dengan bangga menunjukkan kemampuanmu
dan membuat pengeram-eram, maka kau tentu bukan Witantra
yang aku kenal dahulu. “
Witantra tertawa. Katanya, “Tanggapanmu-pun adalah
tanggapan seorang perwira yang matang. Jarang sekali seseorang
memiliki tanggapan serupa itu. Jika bukan Ki Kebo Pamungkas, ia
tentu ingin melihat aku meremas batu menjadi debu.”
Keduanya tertawa. Dan perwira itu berkata, “Ternyata kita masih
sempat bertemu lagi. Aku senang sekali dapat bertemu dengan Kau
Witantra. Selama aku menjadi prajurit sejak di Tumapel, aku belum
pernah mempunyai Panglima seperti kau. Bukan saja Panglima
Pasukan Pengawal, tetapi Panglima pasukan yang manapun.”
“Kau memuji. Tentu aku jauh ketinggalan dari Panglima yang
ada sekarang. Mereka tentu memiliki kecakapan dan kemampuan
melampaui setiap Panglima yang pernah ada.”
Perwira itu mengangkat bahunya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak
ingin mengatakan sesuatu tentang para Panglima yang ada
sekarang.
“Baiklah,“ berkata Witantra, “kita tidak berbicara terlalu banyak
tentang diri kita sendiri. Aku ingin bertanya secara keseluruhan,
apakah terdapat banyak kemajuan sejak Singasari berdiri sampai
sekarang?”
Kebo Pamungkas mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Secara keseluruhan kita memang banyak mengalami kemajuan.
Tumapel memang terlampau kecil dibanding dengan Singasari
sekarang.“ ia berhenti sejenak. Lalu, “aku berkata sebenarnya
Witantra.”
“Ya, aku mengerti. Demikian juga menurut pengamatanku dari
luar dinding istana Singasari. Bahkan sampai ke puncak bukit yang
jauh masih terasa kekuasaan tetapi juga perlindungan dari
Singasari. Memang agak berbeda dengan Tumapel yang seakanakan
hanya berkuasa di kota-kota besar saja sekitar Tumapel.
Meski-pun pada saat itu masih ada kekuasaan yang lebih tinggi.
Kediri.”
“Tetapi,“ tiba-tiba suara perwira itu merendah, “ternyata
kemudian telah timbul persoalan didalam istana Singasari sendiri.
Didalam keluarga Ken A rok yang bergelar Sri Rajasa. Sebagai
seorang Maharaja ia berhasil membina Singasari menjadi suatu
negara besar. Tetapi sebagai seorang ayah ia benar-benar gagal.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apalagi lahir Anusapati yang bukan anaknya yang sebenarnya.
Ternyata Sri Rajasa yang berjiwa besar menghadapi persoalan
Kediri, bukan Ken Arok yang berjiwa besar menghadapi kelahiran
anak tiri yang sudah diketahui sejak Ia kawin, bahwa pada saatnya
anak itu tentu akan lahir.”
Witantra masih mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dan ternyata anak itu sampai saat ini masih juga membawa
persoalan. Ternyata kematian Tunggul Ametung bukan suatu
penyelesaian yang tuntas bagi Ken Arok yang kemudian bergelar Sri
Rajasa.”
Witantra memandang wajah Perwira itu sejenak. Ia melihat
sesuatu melintas diwajah itu, dan dengan serta-merta ia bertanya,
“Bagaimanakah tanggapan para prajurit, terutama para Pelayan
Dalam, Pasukan Pengawal dan pemimpin pemerintahan?”
“Maksudmu?”
“Tentang hubungan Sri Rajasa dengan putera Tunggul Ametung
yang sekarang justru menjadi Putera Mahkota.”
“Kurang baik. Tidak ada yang dapat disalahkan pada keduanya.
Keadaanlah yang memang menghadapkan mereka pada suatu sikap
yang hampir dapat dikatakan bertentangan. Alangkah mudahnya
melenyapkan Putera Mahkota itu sebenarnya seandainya tidak ada
Mahisa Agni yang kebetulan adalah kakak tuan Puteri Ken Dedes
yang pengaruhnya ternyata cukup besar di Singasari dan Kediri.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Seakan-akan
ia baru mendengar semuanya itu untuk pertama kalinya.
“Persoalan ini sebenarnya tumbuh sejak Ken Arok mengambil
keputusan untuk kawin dengan Ken Dedes yang sedang
mengandung. Itulah soalnya.”
“Dan siapakah yang paling baik bagi Singasari? Seharusnya kita
tidak berbicara tentang siapakah orangnya. Tetapi apakah yang
dilakukannya bagi Singasari yang sudah memiliki bentuknya ini.”
Perwira Singasari yang semula bernama Kebo Pamungkas itu
mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Witantra sejenak,
lalu dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Bagiku Ken Arok yang
bergelar Sri Rajasa itu adalah orang yang paling baik bagi
Singasari.
Baru kemudian Anusapati yang memang sudah menunjukkan
darmanya bagi rakyat. Ia adalah orang yang terkenal dengan
sebutan Kesatria Putih. Tetapi justru ketika rakyat Singasari dan
juga kalangan istana mengetahui bahwa Kesatria Putih adalah
Putera Mahkota, maka geraknya menjadi terbatas sekali.”
Witantra mengerutkan keningnya. Bahkan hampir di luar
sadarnya ia berkata. “Jika demikian, maka yang terbaik sekarang
adalah mempertahankan kekuasaan Sri Rajasa seandainya timbul
persoalan, karena seperti yang kau katakan hubungan antara Sri
Rajasa dan Anusapati agak kurang baik.”
“Jika persoalannya terbatas sampai disitu, maka kau benar.
Tetapi persoalannya tidak berhenti sampai disitu.“
“Masih, akan timbul persoalan apa lagi?”
“Tentu umur Sri Rajasa betapa-pun ia manusia yang ajaib, tidak
akan abadi. Pada suatu saat ia akan mati apa-pun sebabnya. Nah,
jika ia meninggal, timbullah persoalan yang berat bagi Singasari.“
“Persoalan yang mana yang masih harus dinilai lagi?”
“Tentu Sri Rajasa ingin tahta Singasari jatuh pada keturunannya.
Bukan kepada anak Tunggul Ametung. Karena ia tidak dapat ingkar
bahwa anak Tunggul Ametung itu yang dianggap oleh rakyat
Singasari sebagai puteranya yang sulung, maka ia adalah Putera
Mahkota. Namun Sri Rajasa tidak ingin Putera Mahkota itu akan
menggantikannya sebagai Maharaja, karena ia agaknya memilih
tuanku Tohjaya.”
Witantra mengerutkan keningnya. Ia kagum atas penilaian Kebo
Pamungkas. Agaknya Kebo Pamungkas tidak dipengaruhi oleh
kepentingan pribadinya, sehingga ia dapat melibat setiap orang di
dalam istana Singasari dengan tepat.
“Jadi apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh Sri Rajasa?”
bertanya Witantra.
“Tidak seorang-pun yang mengetahuinya,“ jawab Kebo
Pamungkas, “mungkin ia berusaha menyingkirkan Anusapati.
Mungkin pula ia berusaha agar Anusapati menarik diri atas
kehendaknya sendiri.“
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu. “Tetapi yang
manakah tanda-tanda yang dapat kau lihat akan terjadi?“
Perwira itu menggelengkan kepalanya, “Tidak seorang-pun yang
tahu. Semuanya dapat terjadi. Tetapi mungkin juga tidak terjadi
sesuatu.“
Witantra mengangguk-angguk sambil tersenyum. Memang sulit
untuk mengatakannya. Hanya orang-orang yang terlibat langsung
sajalah yang dapat melihat kemungkinan yang lebih jelas akan
terjadi di Singasari. Bahkan Mahisa Agni yang terlibat-pun masih
juga mengharap bahwa yang mungkin terjadi itu tidak terjadi.
Demikianlah Witantra berada dirumah perwira itu untuk beberapa
saat, sehingga akhirnya ia-pun minta diri. Tetapi ia masih
bertanya,
siapa sajakah kawan-kawan lamanya yang dapat dikunjunginya,
sekedar untuk melepaskan perasaan sepi karena, untuk beberapa
tahun lamanya ia tinggal dipadepokan yang terpencil.
“Kau benar-benar tinggal dipadepokan terpencil?”
“Benar. Untuk itu aku berkata sebenarnya.”
“Atau barangkali kau justru menjadi seorang pedagang yang
kaya raya, tetapi tidak bernama Witantra?“
“Tidak. Aku tidak melakukannya. Aku hanya meminjam
perlengkapan adikku yang memang menjadi seorang pedagang,
agar kehadiranku dikota yang besar ini agak pantas dipandang
orang.“
“Terutama kau yang dengan sengaja melepaskan semua bekas
yang masih tertinggal pada seorang Panglima Pasukan Pengawal.”
“Bekas saja,“ sahut Witantra.
Kebo Pamungkas tertawa. Katanya, “Baiklah Witantra jika kau
mempunyai kesempatan, maka kawan-kawan lama yang kau
kunjungi pasti akan menerimamu dengan senang hati. Tetapi
jangan terkejut jika orang Singasari akan menyebut namamu lagi,
karena masih banyak orang-orang tua yang ingat akan namamu.”
“Tentu tidak. Meski-pun masih ada juga orang yang ingat akan
namaku, tetapi mereka tidak akan menyebutnya lagi. Karena
namaku sekarang tidak mempunyai arti apa-apa lagi.”
“Apa salahnya. Kadang-kadang sebuah kenangan mempunyai
arti tersendiri didalam hidup ini. Juga kenangan atas seorang
prajurit yang bernama Witantra, yang pada waktu itu menjabat
sebagai seorang Panglima Pasukan Pengawal.”
Witantra tertawa. Katanya, “Terima kasih. Mudah-mudahan
kawan-kawan lama mempunyai tanggapan seperti kau.“
Demikianlah maka Witantra-pun kemudian minta diri kepada
perwira yang pernah mempergunakan nama Kebo Pamungkas itu.
Seperti yang ditunjukkan kepadanya, maka ia-pun berjalan menuju
kerumah seorang perwira yang lain, yang seperti juga Kebo
Pamungkas, kini menjabat didalam keprajuritan Singasari, juga
dalam Pasukan Pengawal, Tanggapan beberapa orang kawan yang
dikunjunginya hampir tidak ada bedanya. Juga tanggapan mereka
atas keadaan Singasari seutuhnya. Namun dari pembicaraan yang
dilakukan, meski-pun seakan-akan hanya sepintas lalu, ternyata
bahwa para perwira menilai Anusapati lebih baik dari Tohjaya.
Namun seorang perwira berkata kepadanya. “Tetapi hati-hati
kakang Witantra. Diantara para prajurit, bahkan para Panglima yang
sekarang, ada yang dengan membabi buta berpihak kepada
Tohjaya, meski-pun hal itu telah dipengaruhi oleh pamrih pribadi.“
Pembicaraan-pembicaraan itu ternyata memberikan gambaran
yang hampir lengkap bagi Witantra atas keadaan Singasari.
Bagaimana-pun juga Sri Rajasa dan Mahisa Agni menyimpan
perasaan masing-masing dan sejauh-jauhnya menimbulkan kesan
pertentangan yang ada didalam dada mereka, namun ternyata
bahwa hal itu terasa pula bagi para perwira di Singasari.
Perang yang berlangsung dengan diam-diam itu tidak dapat
disembunyikan seutuhnya, sehingga dengan diam-diam pula hampir
setiap perwira telah mencoba menilai keduanya, dan bahkan telah
berusaha untuk menempatkan dirinya.
Namun lebih daripada itu, seperti yang memang dimaksudkan
oleh Mahisa Agni, maka nama Witantra-pun mulai disebut-sebut
lagi. Dari bibir kebibir, beberapa orang dari lingkungan Pasukan
Pengawal mulai membicarakannya.
“Witantra, aku pernah mendengar nama itu,“ berkata seorang
prajurit muda.
“Tentu,“ jawab yang lain, yang umurnya sudah jauh lebih tua.
“Witantra adalah Panglima Pasukan Pengawal pada jaman Akuwu
Tunggul Ametung bertahta di Tumapel.“
Prajurit yang masih muda itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Aku
memang pernah mendengar. Ia terusir oleh Mahisa Agni dalam
perang tanding diarena, karena Witantra mencoba mempertahankan
nama baik, kebo Ijo, yang mati terbunuh, setelah ia membunuh
Akuwu Tunggul Ametung.”
“Nah, kau banyak mengetahui tentang Witantra,“ berkata yang
sudah lebih tua, “begitulah ceriteranya.”
“Tetapi kenapa ia sekarang datang lagi ke Singasari?”
Prajurit yang tua itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.
Mungkin ia sekedar ingin melihat Singasari sekarang. Tetapi
mungkin ia ingin menemui beberapa orang kawan-kawannya.”
Prajurit yang muda itu hanya sekedar mengangguk-anggukkan
kepalanya saja. Sedang prajurit yang tua itu berkata pula, “Jika
kehadirannya ini didengar oleh Mahisa Agni mau-pun oleh Sri
Rajasa, pasti akan menimbulkan persoalan baru, Mahisa Agni yang
pernah bermusuhan diarena itu, tentu tidak akan segera dapat
melupakan. Bahkan mungkin Witantra sekarang ingin melihat
persoalan yang terjadi di Singasari dan siapa tahu, ia masih mampu
menentukan sikap dan berbuat sesuatu, karena bagaimana-pun
juga ia adalah seorang Panglima yang besar pada waktu itu.
Agaknya tidak ada orang lain kecuali Mahisa Agni sajalah yang
dapat mengalahkannya, yang kebetulan karena kematian mPu
Gandring, maka Mahisa Agni merasa berkepentingan untuk
menghukum Kebo Ijo dan tetap menempatkannya pada
kedudukannya sebagai seorang pembunuh.”
Prajurit yang muda itu hanya dapat mengangguk-anggukkan
kepalanya saja. Ceritera semacam itu pernah didengarnya meskipun
tidak lengkap. Namun bagaimana-pun juga kehadiran Witantra
menjadi bahan pembicaraan disetiap kalangan, terutama
keprajuritan, bukan saja dari lingkungan pasukan Pengawal.
Ternyata bahwa ceritera tentang Witantra itu menjalar terus
sehingga suatu ketika sampai juga ketelinga Tohjaya. Seperti
hampir setiap prajurit dan orang-orang didalam lingkungan istana
pernah mendengar nama itu, maka Tohjaya-pun pernah
mendengarnya pula. Tohjaya mengetahui bahwa Witantra pernah
melakukuan perang tanding melawan Mahisa Agni, sehingga
Witantra dengan menderita malu meninggalkan Tumapel pada
waktu itu.
“Tentu Witantra itu masih tetap mendendam Mahisa Agni,”
berkata Tohjaya didalam hatinya, “mudah-mudahan dendamnya itu
kini semakin menyala didalam hatinya.”
Dengan harapan yang melonjak didalam hatinya, maka Tohjayapun
kemudian menyampaikan ceritera yang didengarnya itu kepada
ayahanda Sri Rajasa.
“Siapakah yang mengatakan kepadamu?“ bertanya Sri Rajasa.
“Beberapa orang menceriterakan bahwa mereka mendengar
tentang kehadiran Witantra di Singasari.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun ia-pun
menggelengkan kepalanya, “Aku tidak memerlukannya lagi.“
“Ayahanda,“ berkata Tohjaya kemudian, “jika Witantra itu
dahulu pernah bermusuhan dengan pamanda Mahisa Agni, apakah
salahnya jika sekarang Witantra itu berada istana ini dan
dihadapkan kepada kemungkinan yang dapat ditimbulkan oleh
pamanda Mahisa Agni? Atau barangkali ayahanda dapat mengambil
kebijaksanaan, agar Kediri tidak terpengaruh terlampau dalam oleh
pamanda Mahisa Agni, ayahanda dapat mengangkat Witantra itu
menggantikannya.”
Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Katanya. “Tentu tidak
semudah itu Tohjaya. Inilah salah satu tugas yang harus dilakukan
oleh seorang raja. Tidak sekedar menuruti gejolak perasaannya
saja. Kita harus mempertimbangkan, akibat yang dapat ditimbulkan
oleh keputusan-keputusan yang kita ambil. Memang terlampau
mudah untuk mengambil keputusan itu. Tetapi akibat dari
keputusan itulah nanti yang akan menimbulkan persoalan-persoalan
yang membuat kita bertambah pening.”
“Baiklah ayahanda. Tetapi apa-pun yang dapat kita berikan
kepadanya, sebaiknya Witantra itu kita undang untuk masuk
kembali kedalam istana.”
Sri Rajasa tidak segera menyahut. Kini setiap kali ia selalu
diganggu oleh kenangan masa lampaunya. Bagaimanakah kiranya
jika Witantra itu mengetahui, siapakah sebenarnya yang telah
membunuh Tunggul Ametung, mPu Gandring dan kemudian
siapakah yang telah mendorong Kebo Ijo dengan licik, sehingga ia
terbunuh sebagai seorang pembunuh.
Bahkan tiba-tiba saja timbul pertanyaan didalam hatinya,
“Apakah Witantra sudah mengetahuinya dan kehadirannya itu
didorong oleh sakit hatinya? Jika demikian tentu bukan Mahisa Agni
yang dicarinya untuk melepaskan dendam dan sakit hatinya.”
Tetapi Sri Rajasa tidak dapat mengatakannya kepada Tohjaya.
Tohjaya masih belum tahu apakah yang dilakukan oleh
ayahandanya untuk mencapai kedudukannya yang sekarang. Dan
tentu Sri Rajasa tidak akan membiarkan anaknya mengetahui bahwa
ia adalah seorang pembunuh. Pembunuh yang licik meski-pun kini
setiap orang mengakuinya sebagai seorang Maharaja yang berani
dan bijaksana. Tetapi sekali ini ia dibelit oleh persoalan keluarga
yang kadang-kadang mengaburkan kebijaksanaannya.
Sri Rajasa terkejut ketika Tohjaya bertanya kepadanya, “Apakah
ayahanda sependapat?”
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku
akan mempertimbangkannya Tohjaya. Tetapi tentu dengan segala
macam perhitungan. Sebagai seorang raja yang mengemudikan
Singasari dalam keseluruhan, bukan hanya sekedar didalam istana
ini, atau lebih sempit lagi hanya mengurusi kau dan Anusapati,
mungkin juga Mahisa Agni. maka aku harus membuat
pertimbangan-angan yang masak.”
“Ayahanda,“ Tohjaya mencoba mendesak, “apakah persoalan ini
akan ada sangkut pautnya dengan kebijaksanaan ayahanda bagi
Singasari?”
“Tentu Tohjaya. Anusapati adalah seorang Pangeran Pati.
Semua persoalan yang menyangkut Anusapati, tentu akan
menyangkut Singasari.”
“Maksudku, jika kemudian pamanda Mahisa Agni dan kakanda
tersingkir dan ayahanda mengangkat penggantinya, maka
persoalannya tentu akan selesai. Agar mereka tidak akan dapat
berbuat apa-pun lagi untuk seterusnya, maka sebaiknya mereka itu
harus disingkirkan untuk selama-lamanya.”
“Aku mengerti maksudmu. Dan aku akan memikirkannya.”
Tohjaya tidak berani mendesaknya lagi. Sejenak ia masih duduk
sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia-pun
mohon diri meninggalkan bangsal ayahandanya Sri Rajasa.
Bersama dua orang pengawalnya ia berjalan dihalaman istana
Singasari. Dengan sengaja ia berjalan melalui lorong yang
menyilang halaman bangsal Anusapati.
Ternyata seperti yang diharapkannya Anusapati berada didepan
bangsalnya bersama anak laki-lakinya. Sejenak Tohjaya berhenti.
Kemudian perlahan-lahan ia mendekatinya.
“Putera kakanda sudah pandai berkelahi,“ berkata Tohjaya
sambil tersenyum.
Anusapati-pun tersenyum pula. Sambil mengusap kepala anaknya
ia berkata, “Sebentar lagi ia sudah pandai memacu seekor kuda.”
Tohjaya menganggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tentu
seperti ayahandanya. Sebagai Kesatria Putih kakanda adalah
penunggang kuda yang baik.”
“Terima kasih,“ sahut Anusapati mendengar pujian itu, lalu iapun
mencoba mempersilahkan Tohjaya meski-pun ia tahu pasti
bahwa Tohjaya tidak akan bersedia melakukannya.
“Ah, aku hanya singgah sebentar kakanda Anusapati, Aku baru
saja menghadap ayahanda Sri Rajasa.”
“O,“ Anusapati mengangguk-angguk.
“Apakah kakanda Anusapati sudah mendengar berita yang baru
saja tersiar diseluruh kota Singasari ini?“
“Maksudmu?“ bertanya Anusapati.
“Kakanda, apakah kakanda pernah mendengar nama Witantra?”
“Witantra,“ Anusapati mengulangi.
“Ya. Witantra.”
Anusapati menjadi berdebar-debar. Tentu ia mengenal Witantra
dengan baik. Tetapi kenapa Tohjaya bertanya kepadanya?
“Aku memang pernah mendengar,“ jawab Anusapati ragu-ragu.
“Tentu sudah. Witantra pernah menjabat sebagai seorang
Panglima pada jaman pemerintahan Tumapel yang dipimpin hanya
oleh seorang Akuwu bernama Tunggul Ametung.”
Dengan kaku Anusapati menganggukkan kepalanya. Tunggul
Ametung adalah nama yang dikenalnya dengan baik sejak ia
mengetahui siapakah dirinya itu sebenarnya.
“Sudah lama Witantra menghilang. Kau tahu sebabnya
kakanda?“ bertanya Tohjaya pula.
Anusapati tidak menyahut.
“Tentu kau pernah mendengar. Witantra ternyata dikalahkan
oleh pamanda Mahisa Agni diarena, dalam usahanya membersihkan
nama baik seorang prajurit bernama Kebo Ijo. Kau tentu pernah
mendengar.”
Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Dan ia masih harus
mendengarkan beberapa keterangan lagi mengenai Witantra itu,
yang semuanya telah diketahuinya dengan baik.
“Yang penting kakanda,“ berkata Tohjaya kemudian, “bahwa
Witantra dan pamanda Mahisa Agni adalah musuh bebuyutan,“ ia
berhenti sejenak. Lalu, “ternyata sekarang nama Witantra itu timbul
kembali. Dihari terakhir Witantra telah menampakkan dirinya
diantara rakyat Singasari. Kita tidak tahu maksudnya. Namun yang
terdengar, setelah Witantra bertapa diatas bukit yang sangat jauh,
ia kini memiliki kemampuan jasmaniah yang tiada terkira. Juga ilmu
kejiwaan dan kekuatan rokhaniahnya. Pokoknya kini ia menjadi
seorang yang mumpuni.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kini
dadanya justru menjadi sedikit lapang. Ternyata tanggapan Tohjaya
tentang Witantra tidak tepat seperti yang sebenarnya.
“Karena itu kakanda,“ berkata Tohjaya kemudian, “aku ingin
berpesan. Bukan maksudku merendahkan pamanda Mahisa Agni,
tetapi jika masih ada kesempatan, sebaiknya pamanda Mahisa Agni
segera meninggalkan Singasari sebelum Witantra berbuat sesuatu
untuk melepaskan dendamnya terhadap paman Mahisa Agni.
Kekalahannya diarena tidak akan pernah dapat dilupakan seumur
hidupnya justru karena ia seorang kesatria.”
Terasa dada Anusapati terguncang pula mendengar kata-kata
Tohjaya. Meski-pun Anusapati mengerti, bahwa yang dikatakan oleh
Tohjaya itu tidak akan terjadi, karena justru Witantra sudah
terlampau sering, bukan saja bertemu, tetapi sudah bekerja sama
untuk waktu yang lama, namun cara mengucapkan kata-katanya
benar-benar menyakitkan hati.
“Jangan tersinggung kakanda,“ berkata Tohjaya kemudian, “aku
tahu bahwa pamanda Mahisa Agni adalah pamanmu karena ia
adalah kakak ibunda Permaisuri, namun sebenarnyalah aku memang
bermaksud baik.”
Sejenak Anusapati terdiam. Dengan susah payah ia mencoba
menahan perasaannya. Setelah gejolak dihatinya mereda, maka iapun
menjawab, “Terima kasih atas pesanmu adinda Tohjaya. Jika
aku bertemu dengan pamanda Mahisa Agni, biarlah aku
memberitahukannya.”
“Bukan sekedar memberitahukan kakanda. Tetapi kakanda harus
mohon kepada pamanda Mahisa Agni, agar ia menyingkir. Mungkin
ia sekarang merasa dirinya tidak terkalahkan selain oleh ayahanda
Sri Rajasa. Ia merasa menang pula atas prajurit Singasari dan
Kediri
secara pribadi. Namun mungkin ia harus berpikir lain terhadap
orang yang bernama Witantra itu. Setelah bertahun-tahun Witantra
hilang dari Tumapel, maka ia tentu bukan Witantra yang dahulu.
Sedang apakah sebenarnya yang dimiliki oleh pamanda Mahisa
Agni?”
“Memang tidak ada,“ berkata Anusapati, “karena itu aku
memang akan menyampaikannya. Seperti katamu, aku akan minta
pamanda Mahisa Agni kembali saja ke Kediri.”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Ia mengharap Anusapati
menjadi sakit hati. Tetapi ternyata Anusapati kemudian sama sekali
tidak memberi kesan bahwa ia telah tersinggung karenanya.
“Kakanda Anusapati,“ berkata Tohjaya kemudian, yang memang
berusaha membuat Anusapati marah, “jika pamanda Mahisa Agni
tidak ingin segera kembali ke Kediri karena ibunda Permaisuri
sedang sakit, maka sebaiknya pamanda Mahisa Agni bersembunyi
saja didalam istana. Di sini pamanda Mahisa Agni akan mendapat
perlindungan dari ayahanda Sri Rajasa, jika Witantra mencarinya.“
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Terlintas dikepalanya,
pertengkaran yang hampir saja menyeretnya kedalam suatu
pertentangan yang terbuka. Karena itu, maka betapa-pun juga.
Anusapati masih mencoba menahan hatinya. Bahkan ia-pun
mencoba untuk segera mengakhiri pembicaraan yang membosankan
itu, katanya, “Adinda Tohjaya. Apakah adinda sudah melihat
kehadiran Witantra?”
Tohjaya termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Apakah aku
perlu melihat sendiri? Aku dan ayahanda mempunyai beberapa
orang petugas sandi. Mereka benar-benar sudah meyakini, bahwa
Witantra kini ada di Singasari.”
“Maksudku,“ berkata Anusapati. “adinda Tohjaya sudah
mendapat keterangan langsung dari mereka yang memang bertugas
mengawasinya, atau orang-orang yang secara kebetulan
menjumpainya?”
Tohjaya tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Anusapati
sejenak, lalu katanya. “Aku sudah mendengarnya langsung dari
petugas sandi.”
“Jika demikian, alangkah akan berterima kasihnya pamanda
Mahisa Agni, tentu tidak akan melupakan budi baik adinda Tohjaya,
karena dengan demikian adinda Tohjaya sudah menyelamatkan
nyawanya.“
Sepercik warna semburat merah membayang diwajah Tohjaya.
Meski-pun demikian ia masih juga menjawab, “Itu tidak perlu.
Bagiku, tidak banyak kepentingannya apakah pamanda Mahisa Agni
terjebak oleh Witantra atau tidak. Terserahlah kepada kakanda.
Apakah kakanda menganggap perlu menyampaikannya atau tidak.”
“O.“ Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “baiklah, aku
akan memberitahukan. Tetapi aku justru menjadi sangat cemas.”
“Karena itu, kakanda harus segera menemuinya.”
“Bukan karena pamanda Mahisa Agni akan mengalami
pembalasan dendam. Tetapi yang aku cemaskan, jika aku salah
memberikan keterangan, justru pamanda Mahisa Agnilah yang akan
mencari Witantra itu.”
Dada Tohjaya berdesir. Cepat-cepat ia berkata, “Apakah
pamanda Mahisa Agni sudah jemu hidup? Witantra bukan lagi
Witantra yang dikalahkan.”
“Perkembangan waktu yang berjalan dalam kehidupan Witantra
akan dialami juga oleh pamanda Mahisa Agni. Ingat, bahwa
pamanda Mahisa Agni telah berhasil mengalahkan Senapati Agung
Kediri pada waktu itu. Bukan sekedar peorang Panglima Pasukan
Pengawal istana Tumapel.“
Dada Tohjaya telah terguncang. Ia tidak dapat membantah,
bahwa sebenarnyalah Mahisa Agni pernah mengalahkan Senapati
Agung Kediri, pada saat Sri Rajasa berhasil memecah
pertahanannya dan membunuh Maharaja Kediri pula.
Meski-pun demikian Tohjaya masih berkata, “Terserahlah
kepadamu. Cobalah sekali-sekali melihat kenyataan. Jika pamanda
Mahisa Agni ingin mencari Witantra, sebaiknya di persilahkan saja.”
“Baiklah adinda Tohjaya,“ berkata Anusapati kemudian, “aku
akan menyampaikannya. Sikap yang akan diambil kemudian
terserah kepada pamanda Mahisa Agni. Apakah pamanda Mahisa
Agni akan mengulangi perang tanding diarena, atau pamanda ingin
menemuinya dan langsung membunuhnya.”
“Pamanda Mahisa Agni yang akan dibunuhnya.”
“O begitu?“ Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ternyata sikap Anusapati itu sama sekali tidak menyenangkan
hati Tohjaya. Bahkan hampir saja ia tidak dapat mengendalikan
dirinya lagi. Untunglah bahwa kedua prajurit pengawalnya itu
kemudian mendekatinya dan berkata, “Tuanku, marilah. Ibunda
tentu menunggu.”
Tohjaya memandang kedua pengawalnya yang juga menjadi
penasehatnya sejenak. Tetapi ketika ia melihat prajurit yang ada
didepan regol halaman bangsal Anusapati timbul kecurigaannya,
bahwa pengawal-pengawalnya itu telah menjadi ketakutan.
Namun Tohjaya tidak berbuat apa-apa. Dipandanginya sekali lagi
Anusapati sambil berkata, “berhati-hatilah. Mungkin Witantra tidak
hanya sekedar menuntut balas kepada pamanda Mahisa Agni saja.”
“Terima kasih atas peringatan ini. Tetapi kesatria Putih akan
mencarinya sampai ketemu, apa-pun yang akan terjadi.”
Wajah Tohjaya menjadi merah padam. Ternyata hati Anusapati
sama sekali tidak menjadi kecut. Bahkan sebaliknya. Namun
Tohjaya masih juga berkata, “Jangan terlalu sombong. Kesatria
Putih tidak ada harganya dihadapan Witantra.”
“Tetapi Kesatria Putih pernah membinasakan penjahat yang
paling berbahaya di Singasari. Jika demikian, maka Kesatria Putih
akan mencobanya jika ia gagal, biarlah ia terkubur bersama
kesombongannya.”
Kemarahan Tohjaya sudah sampai diubun-ubunnya. Tetapi ia
tidak berbuat apa-apa, karena ia masih tetap sadar, bahwa ia
berada di halaman bangsal Anusapati.
“Baiklah kakanda,“ berkata Tohjaya, “aku minta diri. Aku sudah
mengatakannya. Terserahlah kepada kakanda. Jika terjadi sesuatu
dengan Mahisa Agni dan Kesatria Putih, sama sekali kakanda tidak
dapat menyalahkan aku lagi.”
“Terima kasih adinda.”
Tohjaya-pun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah
meninggalkan bangsal Anusapati. Ia tidak berhasil menakut-nakuti
Pangeran Pati itu, tetapi justru sebaliknya. Hatinya sendiri serasa
terbakar. Namun untuk menyenangkan hatinya sendiri ia berkata
kepada kedua pengawalnya, “Kakanda Anusapati memang sombong
sekali. Tetapi ia tentu menjadi ketakutan. Mungkin ia akan
berlarilari
kepada pamanda Mahisa Agni dan mengatakan bahwa
sebaiknya pamanda Mahisa Agni pergi saja dari Singasari dan
bahkan mungkin kakanda Anusapati ingin ikut serta bersamanya.
Tentu ia tidak akan dapat berbuat apa-apa dihadapan Witantra
meski-pun ia menamakan dirinya Kesatria Putih atau Kesatria hijau
atau hitam sama sekali.”
Kedua pengawalnya sama sekali tidak menyahut. Mereka sudah
mengenal Tohjaya dengan baik. Jika mereka berani membantahnya
barang satu patah kata, maka Tohjaya itu tentu akan
membentakbentaknya.
Sebenarnyalah bahwa Anusapati-pun kemudian memang pergi
kepada Mahisa Agni. Diceriterakannya apa saja yang dikatakan oleh
Tohjaya kepadanya.
Mahisa Agni justru tersenyum mendengar ceritera Anusapati
tentang Tohjaya tersebut. Katanya, “Tentu ia tidak mengetahui
bagaimana perasaan ayahandanya. Jika ayahandanya menduga
bahwa Witantra mengerti apa yang sudah terjadi, maka Ken Arok
yang bergelar Sri Rajasa itu tentu akan berpikir lain dari Tohjaya.
Tetapi tentu ia tidak akan mengatakannya kepada puteranya itu.”
“Aku kira adinda Tohjaya akan menunggu, apakah pamanda
akan segera pergi ke Kediri atau tidak. Jika pamanda kemudian
ternyata pergi ke Kediri, maka adinda Tohjaya tentu menganggap
bahwa pamanda menjadi ketakutan dan dengan tergesa-gesa
meninggalkan Singasari.”
“Kasihan anak itu,“ berkata Mahisa Agni kemudian.
“Jadi, apakah yang akan paman lakukan setelah paman Witantra
sekarang mulai disebut-sebut orang lagi.”
“Aku menunggu perintah Sri Rajasa. Mungkin Sri Rajasa akan
memanggilku dan mempersoalkan Witantra itu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apakah
pendapat adinda Tohjaya itu juga pendapat ayahanda Sri Rajasa?”
“Belum dapat ditentukan,“ jawab Mahisa Agni.
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya,
ayahanda tentu akan memanggil pamanda Mahisa Agni, karena
menurut ayahanda Sri Rajasa, pamanda berkepentingan karena
pamanda pernah melakukan perang tanding melawan Witantra. Dan
agaknya hal itu semua orang mengetahuinya.”
“Terutama yang umurnya sudah cukup tua. Mungkin banyak
diantara prajurit Singasari sekarang yang menyaksikan perang
tanding pada waktu itu. Namun yang aku tidak mengerti, dari mana
Tohjaya dapat mengatakan bahwa Witantra sekarang bukan
Witantra yang dahulu.”
“Kesan setiap orang tentu demikian pamanda, karena paman
Witantra seakan-akan baru saja turun dari pertapaannya. Tentu ia
sudah membekali dirinya dengan ilmu yang paling sakti. Jika ia
datang ke Singasari, maka tentu orang akan menghubungkannya
dengan pamanda Mahisa Agni.”
Makisa Agni tersenyum pula. Lalu katanya, “Anusapati. Aku akan
menunggu. Tentu tidak akan lama lagi Sri Rajasa memanggil aku
untuk membicarakan Witantra. Dan tentu tidak dalam sidang di
paseban, meski-pun aku telah dipanggil pula mengikuti sidang di
paseban.”
“O, jadi paman akan mengikuti sidang di paseban?”
“Ya.”
“Dan aku, seorang Pangeran Pati tidak dipanggil untuk mengikuti
sidang ini?”
“Bukan yang pertama kali terjadi Anusapati.“
Anusapati menggeretakkan giginya. Tetapi sambil
menganggukkan kepalanya ia berkata, “Silahkan paman.”
Mahisa Agni-pun kemudian minta diri untuk pergi ke paseban,
sedang Anusapati-pun meninggalkan bangsal pamannya itu dan
berjalan tanpa tujuan dihalaman. Rasa-rasanya ia sudah jemu untuk
bermain-main dengan diam-diam seperti itu. Tetapi apa boleh buat.
Seperti kata pamannya, bahwa apabila mungkin biarlah
persoalannya selesai dengan baik.
“Paman terlampau dipengaruhi oleh kelembutan hatinya.
Sebagai seorang prajurit, paman pasti bersikap lain. Sebab dengan
demikian, ia akan mengalami kesulitan,“ berkata Anusapati didalam
hatinya.
Namun tiba-tiba saja ia tidak dapat ingkar mengingat
kemenangan pamandanya itu di Kediri melawan Senapati Agung
Kediri saat itu. Tanpa disadarinya maka langkah Anusapati-pun
membawanya kedalam taman. Ketika ia melihat beberapa orang
juru taman sedang beristirahat dibawah pohon yang rindang, ia-pun
mendekatinya.
Juru taman yang sedang duduk-duduk itu-pun segera bangkit,
seakan-akan mereka sedang bermalas-malasan dan tidak melakukan
pekerjaannya. Kedatangan Anusapati membuat mereka terkejut dan
justru merasa bersalah.
Tetapi Anusapati segera berkata, “Duduklah. Duduklah. Aku tidak
sedang mengamat-amati kerja kalian. Jika kalian bermalas-malasan,
biarlah aku pura-pura tidak melihat. Tetapi jika memang waktunya
kalian beristirahat, itu adalah hak kalian.”
Para juru taman itu termangu-mangu sejenak. Namun
Sumekarlah yang mula-mula duduk kembali ditempatnya, sedang
kawan-kawannya-pun mengikutinya meski-pun ragu-ragu.
Anusapati-pun kemudian mendekati mereka, dan bahkan duduk
diantara mereka.
Juru taman yang ada disekitarnya menjadi segan-segan juga
sehingga mereka berkisar menjauh.
“Duduklah. Kenapa kalian menjadi bingung? Aku sekali-sekali
ingin duduk bersama kalian disini. Tidak dipaseban.”
Para juru taman itu menarik nafas dalam-dalam.
“Nah, berbicaralah tentang persoalan yang sedang kalian
bicarakan sebelum aku datang.”
Sejenak para juru taman itu saling berpandangan. Lalu
Sumekarlah yang menyahut, “Kami tidak membicarakan sesuatu
tuanku.“
“jadi apa yang kalian perbuat?”
“Kami berbicara tentang isteri Ki Ruwe ini,“ sahut salah seorang
dari mereka.
“Kenapa dengan isterinya?”
“Isterinya adalah seorang juru masak yang paling pandai
menurut penilaiannya. Ia sangat pandai membuat segala macam
masakan. Masakan dari segala macam bahan. Daging, telur, ikan
air, udang, yuyu, cengkerik dan bilalang.”
“Ah,“ potong juru taman yang bernama Ki Ruwe, “siapa yang
mengatakan cengkerik dan bilalang. Tentu isterimu sendiri.”
Kawan-kawannya tertawa. Salah seorang berkata. “O, jadi kau
tidak menyebut cengkerik dan bilalang?”
Ki Ruwe memandang kawannya itu dengan mata terbelalak.
Sedang kawan-kawannya yang lain tidak dapat menahan
tertawanya.
Kemudian beberapa lamanya mereka berbicara tentang taman
dan bunga-bungaan. Tentang pepohonan didalam dan diluar istana.
Pohon beringin dan pohon preh yang hidup disekitar istana. Pohon
sawo kecik dan pohon tanjung.
Akhirnya, Anusapati-pun bertanya kepada para juru taman itu,
“He, apakah kalian mendengar berita tentang sesuatu yang agak
lain dari ceritera tentang pepohonan dan pohon buah-buahan?”
Juru taman itu saling berpandangan sejenak. Beberapa diantara
mereka menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak tuanku.
Kami tidak mendengar berita tentang apa-pun juga. Mungkin karena
kami hanya juru taman saja di istana ini.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia
bertanya, “Misalnya ceritera tentang seseorang yang sudah lama
sekali hilang dari pembicaraan dan tiba-tiba saja sekarang muncul
kembali.”
“O,“ tiba-tiba juru taman yang bernama Ki Ruwe itu menyahut,
“Aku mendengar.”
“Apa?“ bertanya kawan-kawannya, “tidak tentang masakan.”
“Tidak. Aku baru saja mendengar para prajurit membicarakan
seorang yang bernama Witantra.”
“Witantra,“ sahut yang lain, “aku juga mendegar.”
“Ya, aku juga mendengar,“ berkata juru taman yang sudah tua.
“Aku mendengar kehadiran kembali Witantra di Singasari setelah
bertahun-tahun lamanya ia menghilang dari Tumapel. Tentu tidak
dari Singasari, sebab pada waktu itu pemerintahan didaerah ini
dipimpin oleh seorang Akuwu yang terbunuh.”
“Akuwu Tunggul Ametung maksudmu?“ bertanya Anusapati.
Ki Ruwe mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya,
Akuwu Tunggul Ametung. Aku juga pernah mendengar.”
“Ah kau,“ potong kawannya yang lain.
Dan juru taman yang sudah tua itu melanjutkan, “Sekarang
Witantra itu kembali lagi.“
“Apakah kau pernah mengalami pemerintahan Akuwu Tunggul
Ametung?“ bertanya Anusapati.
“Ya, aku mengalaminya,“ sahut juru taman yang tua itu.
“Bagaimana menurut penilaianmu?”
Juru taman itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia teringat,
bahwa selagi Permaisuri yang melahirkan Anusapati itu kawin
dengan Ken Arok, ia sudah mengandung muda. Karena itu maka iapun
menjadi ragu-ragu untuk mengatakannya.
“Bagaimana?“ desak Anusapati.
Juru taman itu menjadi semakin bingung. Bahkan timbul
pertanyaan didalam hatinya, “Apakah Putera Mahkota ini sudah
mengetahui tentang dirinya?”
Sejenak Anusapati menunggu. Tetapi juru taman itu tidak
mengatakan apa-pun juga.
“Bagaimana?“ desak Anusapati, “bagaimanakah menurut
penilaianmu?”
Juru taman itu menjadi bingung. Keringatnya mengalir diseluruh
tubuhnya.
“Baiklah,“ berkata Anusupati, “kau tidak mau mengatakannya?”
“Bukan tidak mau,“ jawab juru taman itu, “tetapi hamba waktu
itu belum menjadi seorang juru taman.”
“Meski-pun kau belum seorang juru taman, tetapi kau tentu
dapat mengingat, apa yang sudah terjadi di Tumapel waktu itu.”
“Ya, ya tuanku. Hamba memang mengingat serba sedikit. Tetapi
yang hamba ingat, Tumapel adalah kota yang tenang.”
“Tenang sekali?“ bertanya Anusapati.
Juru taman itu menjadi bingung. Karena itu maka jawabnya,
“Yang tenang sekali.”
Anusapati tersenyum. Ia mengerti bahwa juru taman itu tidak
dapat mengatakan apa yang sesungguhnya ada didalam hatinya.
Baik atau jelek. Namun tiba-tiba saja sesuatu berdesir dihati
Anusapati. Agaknya banyak orang-orang Tumapel yang pada waktu
itu pernah mengenal ibunda Permaisuri, bahwa sebenarnya
ibundanya itu sudah mengandung pada saat ia kawin dengan Ken
Arok.
“Tentu semua orang mengetahuinya waktu itu,“ berkata
Anusapati didalam hatinya, “jika mereka tidak mengetahuinya dari
bentuk jasmaniah ibunda, mereka-pun dapat menghitung waktu.
Belum genap sembilan bulan ibunda kawin dengan Sri Rajasa, aku
tentu sudah dilahirkan.”
Tiba-tiba saja Anusapati menjadi semburat merah. Namun ia
berusaha untuk menyembunyikan gejolak perasannya itu. Bahkan
kemudian ia-pun tertawa sambil berkata, “Suatu ukuran yang dapat
kau pergunakan, apakah kau menjadi semakin kaya atau miskin.
Jika kau menjadi semakin kaya, maka Singasari tentu lebih baik bagi
rakyat kecil seperti kau. Tetapi jika kau menjadi semakin miskin
tentu ada kesalahan. Apakah Singasari yang bersalah sehingga
rakyatnya miskin, atau kaulah yang kemudian dihinggapi penyakit
kemaksiatan. Judi barangkali?“
Juru taman yang gelisah itu menarik nafas dalam-dalam melihat
Anusapati tertawa. Demikian juga juru taman yang lain, yang ikut
menjadi tegang pula.
“Hamba, hamba tidak menjadi lebih kaya dan tidak menjadi lebih
miskin, tuanku. Rasa-rasanya hamba dahulu dapat makan
sekeluarga, dan sekarang juga hamba dapat makan sekeluarga.”
“Apakah jumlah keluargamu sama?”
“Tidak tuanku. Dahulu hamba seorang pengantin baru disaat
Akuwu Tunggul Ametung meninggal. Sekarang hamba sudah
mempunyai sembilan belas anak.”
“Sembilan belas?“ Anusapati menjadi terheran-heran.
“Hamba tuanku.”
“Bagaimana mungkin kau mempunyai sembilan belas orang
anak?”
“Hamba beristeri tiga orang, tuanku.”
“O,“ Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah
sebabnya hidupmu sejak dahulu sampai sekarang tetap saja seperti
itu. Sembilan belas orang anak.”
“Tetapi mereka semuanya mendapat bagiannya tuanku.”
Anusapati tersenyum. Lalu, “Dan kau tinggal juga didalam
halaman istana?”
“Tidak tuanku, hamba tinggal diluar. Hamba mempunyai
sebidang tanah yang sempit, sebuah rumah yang besar meski-pun
buruk untuk menampung tiga orang isteri dan sembilan belas anak
hamba itu.”
Anusapati menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu katanya,
“Pantas jika isterimulah yang pandai memasak ikan air, yuyu,
cengkerik dan bilalang.”
“Bukan tuanku, bukan isteri hamba.”
Anusapati hanya tersenyum saja. Namun kemudian ia berkata,
“Aku akan berjalan-jalan. Dipaseban sedang ada sidang. Tetapi aku
tidak ikut serta.”
-ooo0dw0ooo-
(bersambung jilid 79)
Jilid 78
JURU TAMAN yang ada ditempai itu hampir tidak ada yang
menaruh perhatian, apakah Anusapati ikut serta didalam sidang di
paseban atau tidak. Tetapi bagi Sumekar pemberitaan itu
merupakan pertanda, bahwa jarak antara Sri Rajasa dan Anusapati
masih belum menjadi semakin dekat seperti yang diharapkan oleh
Mahisa Agni. Keduanya pasti tetap didalam pendirian dan sikap
masing2.
“Jika demikian, perang dengan diam2 ini tidak akan segera
berakhir. Jika Mahisa Agni keluar dari bangsalnya, aku harus
menegaskan sekali lagi.”
Namun kemudian Sumekar mendengar Anusapati berkata, yang
agaknya memang ditujukan kepada dirinya, “Aku akan menunggu
paman Mahisa Agni setelah sidang dipaseban.”
Sumekar mengangguk2kan kepalanya. Ternyata bahwa Mahisa
Agni justru dipanggil menghadap Sri Rajasa didalam sidang di
paseban.
Sepeninggal Anusapati, maka para juru taman itupun segera
kembali pada kerja masing2. Sumekarpun kemudian mengambi
cangkul kecil bertangkai panjang. Dengan hati2 iapun kemudian
menyiangi sebatang pohon soka putih disudut taman itu.
Anusapati yang merasa semakin tersisih itu mengisi waktunya
dengan berjalan2 disepanjang halaman. Kadang2 ia berhenti pada
sebuah gardu peronda. Prajurit Pengawal yang berada di gardu2 itu
ternyata telah mendengar pula dan bahkan membicarakan tentang
Witantra.
“Nama itu masih mempunyai pengaruh,“ berkata Anusapati
didalam hatinya.
Dalam pada itu, dipaseban, Sri Rajasa dan para pemimpin
Singasari sedang membicarakan beberapa masalah tentang
Singasari. Tentang beberapa gerombolan penjahat yang sudah
berhasil diusir dari tempat2 yang ramai dan tersudut dihutan-hutan,
daerah yang selalu diserang banjir, dan beberapa persoalan lainnya
yang penting.
Para Panglima yang ikut didalam sidang itupun melaporkan
kegiatan pasukan masing2 dari tingkat yang tertinggi sampai
dengan tingkat yang terendah.
Seperti yang didengar oleh Mahisa Agni pada paseban yang
lewat, pada umumnya semua laporan adalah ceritera tentang
kebaikan, kemenangan, kemakmuran dan kedamaian. Meskipun
atas pertanyaan Sri Rajasa disinggung2 pula tentang bahaya banjir
tentang kejahatan, tentang hama tanaman yang meluas, namun
pada umumnya para pemimpin itu mengatakan, bahwa semuanya
sudah dapat diatasi.
Sri Rajasa mengangguk2kan kepalanya seperti pada sidang
dipaseban yang lewat. Karena itu, bagi Mahisa Agni, sidang itu
hampir tidak dapat menarik perhatiannya sama sekali. Hanya karena
keharusan ia memperhatikan setiap keterangan dan laporan. Hanya
karena orang lain mengangguk-anggukkan kepalanya, maka Mahisa
Agnipun mengangguk-anggukkan kepalanya pula.
Namun berbeda dengan sidang yang lewat, maka kali ini Mahisa
Agni diminta oleh Sri Rajasa untuk memberikan keterangan tentang
Kediri dan daerahnya. Hal yang serupa hampir tidak pernah
dilakukan dipaseban. Biasanya Mahisa Agni dipanggil menghadap
langsung kepada Sri Rajasa dan satu dua orang penasehatnya saja,
termasuk guru Tohjaya. Tetapi kini ia harus berbicara dimuka
sidang.
Sejenak Mahisa Agni menjadi ragu2, jika ia berkata sebenarnya
maka nada laporan adalah jauh berbeda dengan nada kidung yang
mengalun dalam himbauan angin pegunungan. Jika ia berkata
sebenarnya, maka nadanya bagaikan guruh yang meledak dilangit
yang bersih jernih.
Tetapi seperti yang ada didalam nuraninya, maka Mahisa Agni
tidak dapat berkata lain. Bahkan kemudian ia menganggap dirinya
telah dipaksa oleh Sri Rajasa untuk membenturkan kepalanya
sendiri pada dinding batu.
“Apakah aku akan dapat mengatakan keadaan yang benar2
terjadi dengan jujur, sedang setiap orang didalam paseban ini
mengatakan bahwa mereka berhasil melakukan tugas masing2
dengan baik,“ bertanya Mahisa Agni kepada diri sendiri. Namun
ternyata bahwa pertanyaan itu justru telah mendorongnya untuk
menyatakan dirinya, pribadinya, meskipun akibatnya beberapa
orang akan menyebutnya sebagai seorang Senapati Agung yang
kurang mampu melaksanakan tugasnya karena didalam laporannya
masih terdapat cacat2 yang cukup besar.“
Sri Rajasa yang duduk diatas singgasananya yang beralaskan
kulit harimau yang belum sama berhasil ditangkapnya di hutan
selagi ia berburu, menunggu dengan berdebar2. Sebenarnyalah
bahwa ia ingin mengetahui, apakah Mahisa Agni dapat mengatakan
seperti yang dikatakannya langsung kepadanya tentang
kekurangan2 yang terjadi di Singasari. Apakah ia tidak termasuk
salah seorang dari para pemimpin Singasari yang selalu
menyembunyikan kenyataan dihadapan banyak orang sekedar untuk
mengangkat martabatnya sendiri.
Sejenak Mahisa Agni masih berdiam diri. Ketika ia memandang
wajah Sri Rajasa yang tegang, maka iapun segera bergeser sejenak
sambil berkata, “Baiklah tuanku. Hamba akan mengatakan apa yang
sebenarnya terjadi didaerah pengawasan Hamba sebagai orang
yang mendapat pelimpahan kekuasaan dari tuanku, Sri Rajasa
Batara Sang Amurwabumi. Maharaja di Singasari.“ Mahisa Agni
berhenti sejenak. Lalu, “yang mendapat anugerah kewajiban atas
Kediri yang telah dipersatukan dengan Singasari.”
Sri Rajasa mengangguk2kan kepalanya, sedang para pemimpin
yang lainpun menjadi berdebar2. Namun mereka merasa bahwa
yang akan didengarnya adalah senada dengan setiap laporan yang
disampaikan didalam sidang di paseban itu.
“Ampun tuanku,“ berkata Mahisa Agni, “bahwa hamba akan
mengatakan yang benar kepada tuanku, bukan sekedar berkata
untuk menyatakan Kebenaran diri sendiri. Sebenarnyalah bahwa
Kediri masih belum memenuhi keinginan hamba sepenuhnya.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya, dan para pemimpin yang
lainpun mulai merasakan kelainan didalam nada laporan Mahisa
Agni.
Demikianlah maka Mahisa Agnipun sagera melaporkan apa yang
sebenarnya terjadi di Kediri. Yang baik, yang bahkan kadang2
melampaui batas keinginannya sendiri, namun juga yang jauh dari
memuaskan. Bahaya kering disamping bahaya banjir, sehingga akan
mengancam Kediri dengan paceklik yang panjang. Tetapi juga
beberapa daerah yang mengalami panen berlimpah2.
“Masih juga ada kejahatan,“ berkata Mahisa Agni, “meskipun
tangan Kasatria Putih terasa juga didaerah Kediri.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Ternyata Mahisa Agni adalah
Mahisa Agni. Ketika Sri Rajasa memandang wajah-wajah para
pemimpin di paseban itu, tampaklah wajah2 yang tegang dan
kemerah2an. Laporan Mahisa Agni tentang daerah kekuasaannya
bagaikan suatu sindiran yang tajam atas mereka yang tidak pernah
mengakui kekurangan masing2.
Namun tanggapan Sri Rajasa ternyata sangat mengejutkannya.
Ia tidak menyangka bahwa sebenarnyalah ia masuk kedalam
jebakan rangkap. Apapun yang dikatakannya, maka ia tentu akan
terperosok didalam tanggapan yang pahit.
“Itulah katanya,“ berkata Sri Rajasa, “tampaknya Mahisa Agni
adalah seorang yang rendah hati. Yang mengakui kekurangan dan
kebodohannya.”
Dada Mahisa Agni menjadi berdebar2. Sejenak ia diam
mematung. Ketika ia sempat memandang para pemimpin Singasari
yang ada dipaseban itu termasuk para Panglima, hatinya menjadi
berdebar2.
“Para pemimpin Singasari yang bijaksana,“ berkata Sri Rajasa,
“apakah kita akan dapat memberikan gelar kepadanya sebagai
seorang pahlawan? Pahlawan yang membela kepentingan rakyat
yang menurut penilaiannya didalam kesulitan? Itulah Mahisa Agni
yang sebenarnya. Sombong dan kurang bijaksana. Ia mencoba
menyindir dan mencemoohkan laporan para pemimpin Singasari
yang lain, yang seolah2 sekedar menjilat kepadaku. ”
Wajah Mahisa Agni menjadi merah padam. Sekilas ia melihat
para pemimpin itu bergeser dan hampir setiap mata
memandanginya dengan tajamnya.
“Apa katamu Mahisa Agni?“ bertanya Sri Rajasa kepada Mahisa
Agni kemudian.
Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Ia dicengkam oleh
kebingungan menghadapi Sri Rajasa. Ia tidak mengerti,
bagaimanakah sebenarnya sikap Sri Rajasa atasnya akhir2 ini.
Namun akhirnya Mahisa Agni mencoba menganggap bahwa
sebenarnya Sri Rajasalah yang sedang berada dipuncak
kebingungannya menghadapi persoalannya. Ia kadang2 bersikap
seakan2 manyesali dirinya. Tetapi kadang2 ia dikejar olen kengerian
atas segala dosa yang telah diperbuatnya, sehingga ia berusaha
untuk mempertahankan dirinya.
“Ini adalah salah satu bentuk dari kebingungan itu,“ berkata
Mahisa Agni didalam hatinya, “sehingga kebingungan itu telah
merambat didalam diriku pula.”
“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa, “coba katakan dihadapan
sidang ini, apakah maksudmu sebenarnya mengucapkan sindiran
yang tajam itu kepada para pemimpin yang lain sehingga kau
korbankan dirimu sendiri sebagai contoh dari kebodohan seorang
pemimpin?”
“Tuanku,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “hamba tidak
bermaksud apapun dengan laporan yang hamba katakan.“ Mahisa
Agni berhenti sejenak. Dipandanginya wajah Sri Rajasa dengan
saksama. Namun kemudian, seolah2 tidak ada pilihan lain baginya
dari pada mempertahankan ucapannya dengan segala akibatnya,
“sebenarnyalah bahwa hamba tidak mempunyai prasangka dan
maksud buruk. Hamba mengatakan tentang diri hamba. Bukan
sebagai taruhan untuk mencemoohkan para pemimpin yang lain.
Hamba tidak tahu apa yang telah terjadi didaerah2 lain dibawah
pengamatan dan pimpinan pemimpin Singasari yang lain.”
“Jangan ingkar,“ berkata Sri Rajasa, “kau pernah mengatakan
kepadaku diluar sidang, bahwa daerah2 lain itu sebenarnya adalah
daerah2 yang paling buruk. Laporan2 palsu itu sengaja dikatakan
sekedar untuk mendapat pujian daripadaku.”
Terasa sesuatu bergejolak didada Mahisa Agni. Namun ia masih
juga menjawab, betapapun hatinya menjadi berdebar-debar,
“Tuanku, memang ada kalanya seseorang mengatakan sesuatu
tidak dihadapan orang lain. Jika hamba pernah mengatakan sesuatu
tentang daerah2 lain tidak dihadapan orang lain tentu ada
maksudnya. Tetapi jika tuanku menganggap, bahwa sebaiknya
hamba mengatakan tentang daerah2 lain di luar harapan hamba,
maka hambapun tidak akan berkeberatan. Hamba akan mengatakan
seperti yang hamba katakan, dengan harapan penilaian yang wajar
dari para pemimpin Singasari, karena hamba yakin apa yang hamba
katakan itu benar, dan tentu akan dibenarkan, jika kita semuanya
adalah pemimpin2 Singasari yang sebenarnya, yang ingin melihat
Singasari maju dan berkembang.“ Mahisa Agni berhenti sejenak.
Lalu, “tetapi jika hamba sudah mengatakannya tuanku, hamba
mengharap agar tuankupun mengucapkan tanggapan tuanku seperti
yang pernah tuanku ucapkan kepada hamba itu terhadap para
pemimpin Singasari yang lain. Ucapan dan tanggapan tuanku itupun
adalah tanggapan yang wajar dari seorang Maharaja yang
berpandangan jauh kedepan bagi negerinya.”
“Cukup, cukup,“ Sri Rajasa memotong kata2 Mahisa Agni dengan
suara yang bergetar. Wajahnya menjadi merah padam dan sorot
matanya bagaikan menyala.
Namun demikian masih tampak padanya suatu usaha untuk
menahan diri dan mengendalikan perasaannya. Karena itulah maka
iapun berkata tertahan2, “Baiklah Mahisa Agni. Kau memang
seorang pemimpin Singasari yang lengkap. Kau pandai bermain
dengan pedang dipeperangan, tetapi kau juga pandai bermain lidah
didalam paseban. Tetapi akupun tidak akan ingkar. Aku menghargai
sikapmu yang terbuka itu, tetapi akupun menilai sikapmu itu sebagai
sikap yang sangat sombong, seakan2 kau tidak terpengaruh oleh
kehadiranku dan tanpa menghargai kuasaku sama sekali.“
“Ampun tuanku,“ jawab Mahisa Agni, “sama sekali bukan
maksud hamba berbuat demikian.”
Sri Rajasa terdiam sejenak. Tampak betapa ia berusaha menahan
hatinya yang bergejolak.
Sementara itu, para pemimpin yang lain, yang mula2 perasaan
mereka yang tersinggung bagaikan disentuh api, tiba2 mempunyai
tanggapan yang lain. Pembicaraan itu mengingatkan mereka, bahwa
sebenarnya Mahisa Agni adalah seorang Senapati Agung yang
memiliki kekhususan. Bukan karena ia saudara tuan Permaisuri,
tetapi Senapati Agung itu adalah Senapati perang yang pilih
tanding.
Dalam pada itu, selagi para pemimpin terombang-ambing
didalam suasana yang tegang, maka Mahisa Agnipun berkata,
“Ampun tuanku, masih ada yang ketinggalan didalam laporan
hamba agar hamba tidak ingkar atas segala masalah yang hamba
ketahui. Bahwa telah hadir di dalam kota Singasari tanpa
menyatakan diri kepada yang berkuasa, seorang yang bernama
Witantra. Belum ada seorangpun yang menyebutnya didalam
paseban ini, atau barangkali ada kesengajaan untuk
menyembunyikannya.”
Sri Rajasa sebenarnya sudah mengetahui bahwa Witantra telah
menampakkan dirinya didalam kota Singasari, sehingga laporan
tentang kehadiran Witantra itu tidak meagejutkannya. Tetapi yang
mengejutkan adalah bahwa Mahisa Agni menganggap perlu
membicarakan orang itu secara khusus.
Karena itu, maka Sri Rajasapun kemudian berkata, “Kehadiran itu
memang tidak perlu dilaporkan dipaseban ini. Aku sudah mengerti
bahwa Witantra telah menampakkan dirinya setelah ia hilang
bertahun2. Aku kira pada pemimpin yang lainpun telah
mengetahuinya pula. Mereka sama sekali tidak tertarik pada berita
itu. Dan apakah gunanya kehadiran seseorang dibicarakan didalam
paseban? Apakah para pemimpin Singasari tidak mempunyai
persoalan lain yang penting selain membicarakan orang2 yang
sudah lama sekali tidak kita lihat dan tiba-tiba muncul dikota
ini.”
“Tidak tuanku, jika orang itu bukan Witantra,“ sahut Mahisa
Agni, “apakah tuanku tidak ingat lagi, bagaimana Witantra itu
menghilang dari Tumapel?”
“Tentu,“ jawab Sri Rajasa.
“Hamba telah mengalahkannya didalam perang tanding. Karena
itu maka hamba sangat berkepentingan dengan orang yang
bernama Witantra itu.”
“Kau takut pembalasan dendam?”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Lalu katanya, “Tentu tidak
tuanku. Hamba tidak berkeberatan jika saat ini Witantra datang
keistana dan menuntut perang tanding untuk menebus
kekalahannya. Tetapi yang penting bagi kita, apakah kedatangannya
itu membawa persoalan baru baginya dan bagi kita.”
“Cukup.“ wajah Sri Rajasa menegang sejenak, namun kemudian
sekali lagi ia menguasai dirinya dan melanjutkannya, “baiklah kita
tidak membicarakannya. Jika ia datang keistana, aku akan
menemuinya dan jika ia masih mendendam karena kekalahannya,
kini bukan tanggung jawabmu lagi. Jika saat itu kau bertempur tidak
atas namamu sendiri, maka tanggung jawabnya tentu kini ada
padaku.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam2. Katanya, “Terima kasih
tuanku. Jika demikian, maka persoalannya hamba serahkan kepada
tuanku Sri Rajasa.”
“Kenapa kau menyerahkan persoalannya kepadaku? Seharusnya
kau tidak mengatakan demikian. Tanggung jawab itu sudah ada
padaku. Kau serahkan atau tidak kau serahkan.”
“Ampun tuanku, demikianlah kiranya maksud hamba.”
“Nah, sekarang, apakah masih ada persoalan2 yang penting bagi
Singasari. Aku hanya ingin berbicara tentang persoalan-persoalan
yang penting, bukan persoalan seorang demi seorang yang hanya
akan menghabiskan waktu saja.”
Tidak seorangpun yang menjawab. Sidang dipaseban itu
rasa2nya menjadi tegang. Pusat perhatian para pemimpin Singasari
kini tertuju kepada Sri Rajasa dan Mahisa Agni. Dua orang yang
seakan2 menjadi puncak pimpinan pemerintahan yang langsung
tidak langsung telah mereka hubungkan dengan kedua putera laki2
Sri Rajasa yang lahir dari dua orang ibu. Bahkan para pemimpin
Singasari yang mengetahui dengan pasti bahwa Anusapati sama
sekali bukan putera Sri Rajasa melihat seakan2 pertentangan antara
Sri Rajasa dan Tunggul Ametung kini berkobar lagi dalam bentuknya
yang berbeda, yang seakan2 telah diwarisi oleh Anusapati dan
Tohjaya.
“jika tidak ada persoalan lagi, sidang ini aku bubarkan. Aku tidak
akan mengadakan pembicaraan khusus dengan si apapun.”
Sejenak kemudian maka para pemimpin Singasari itupun segera
meninggalkan paseban dengan hati yang berdebar2. Sebagian dari
mereka masih merasa betapa jantungnya tergores oleh pengakuan
Mahisa Agni terhadap kekurangan didalam daerah kuasa yang
dilimpahkan kepadanya oleh Sri Rajasa. Seperti yang dikatakan oleh
Sri Rajasa, bahwa sebenarnyalah Mahisa Agni sama sekali bukan
seorang yang rendah hati, yang mengakui kekurangannya, tetapi
yang dengan sengaja telah menganggap bahwa para pemimpin
adalah penjilat yang bodoh.
Tetapi beberapa orang yang lain merasa bahwa sebenarnyalah
bahwa mereka telah melakukan suatu kesalahan. Mereka seakan2
dengan sengaja berusaha menyembunyikan kekurangan yang ada
pada diri mereka. Dengan sadar mereka berbangga bahwa masih
ada juga orang yang dengan berani menyatakan kebenaran
dihadapan Sri Rajasa dan dihadapan paseban.
Namun pada umumnya mereka merasa cemas, bahwa
perkembangan keadaan di Singasari tidak begitu menggembirakan
hati. Apalagi kehadiran Witantra seperti yang dikatakan oleh Mahisa
Agni, tentu bukan sekedar persoalan kecil karena sejak semula
Witantra menyimpan persoalan yang tentu dianggapnya belum
selesai.
“Kehadirannya tentu akan menentukan suatu peristiwa yang
penting di Singasari,“ beberapa orang pemimpin Singasari saling
berbisik. Seorang perwira yang sudah lanjut usia berkata, “Ia
adalah
seorang Senapati yang mapan.”
Namun dalam pada itu Panglima Pasukan Pengawal Singasari
ternyata mempunyai perhatian khusus terhadap kehadiran Witantra.
Meskipun Singasari sekarang jauh lebih besar dari Tumapel, namun
nama Witantra sebagai seorang Senapati pasukan Pengawal adalah
cukup besar dibandingkan dengan namanya sendiri.
Dengan demikian, maka berbagai kesan telah melibat hati para
pemimpin Singasari yang baru saja meninggalkan sidang di paseban
itu.
Ketika itu Sri Rajasapun telah kembali pula kebangsalnya diiringi
oleh para pengawal. Dengan wajah muram ia masuk kedalam
biliknya. Dibantingnya dirinya di atas sebuah tempat duduk kayu
yang dialasi dengan kulit menjangan berwarna coklat.
Sambil menarik nafas dalam2 ia berkata didalam hatinya.
“Peristiwa apa saja yang akan terjadi di Singasari. Justru pada
saat2
terakhir timbul berbagai persoalan yang tidak aku kehendaki. Gila
juga Mahisa Agni itu.”
Ketika diluar pintu seseorang berdiri termangu2, maka Sri
Rajasapun berteriak, “Siapa itu?”
“Hamba tuanku,“ jawab seorang pelayan, “hamba menyiapkan
pakaian tuanku.”
“Pergi, pergi.“ bentak Sri Rajasa.
Pelayan itu menjadi ketakutan. Dengan ragu2 ditinggalkannya
pintu bilik Sri Rajasa dengan berbagai pertanyaan didalam hati.
Tidak pernah terjadi bahwa Sri Rajasa tidak memerintahkannya
menyediakan pakaian setelah ia selesai melakukan kuwajiban
resminya sebagai seorang Maharaja di Singasari.
Didalam bilik, pikiran Sri Rajasa masih tetap kusut.
Sebenarnyalah seperti yang diduga oleh Mahisa Agni, dalam
keadaan yang kisruh hati Sri Rajasa tidak dapat tetap. Pikirannya
selalu berubah setiap saat didorong oleh kegelisahan yang semakin
dalam. Kehadiran Witantra sebenarnya sama sekali tidak dapat
diabaikannya.
Dalam kekeruhan hati itulah tiba2 ia berteriak memanggil
seorang Pelayan Dalam yang bertugas didalam bangsal itu.
Sambil berlari2 kecil. Pelayan Dalam itu menghampiri pintu bilik
Sri Rajasa. Kemudian dengan ragu2 ia bergumam, “Hamba
menghadap tuanku.”
“Panggil Tohjaya,“ teriak Sri Rajasa masih didalam biliknya.
“Hamba tuanku,“ perintah Sri Rajasa itu tidak perlu diulangi.
Dengan tergesa2 Pelayan Dalam itupun berlari2 ke bangsal dibagian
yang lain dari istana Singasari itu.
“Tuanku,“ berkata Pelayan Dalam itu dengan nafas yang
terengah2, “tuanku Sri Rajasa memanggil tuanku.”
“Ayahanda memanggil aku?“ bertanya Tohjaya.
“Hamba tuanku.”
Tohjaya menjadi berdebar2. Tentu ada persoalan yang penting
yang akan dikatakan oleh ayahandanya setelah sidang dipaseban.
Karena itu, maka dengan tergesa2 Tohjaya menghadap ibundanya
yang mengatakan perintah ayahandanya itu.
“Memang sudah sampai waktunya Tohjaya. Semakin lama
Anusapati menjadi semakin sombong. Jika semula ia sudah hampir
kehilangan semua kesempatan dan kemungkinan untuk merebut
hati rakyat Singasari, lambat laun ia sudah memperolehnya. Karena
itu, jika ayahandamu memang memerintahkan lakukanlah dengan
segera. Gurumu dan beberapa orang Senapati yang sudah kau
hubungi akan dapat disiapkan segera, apalagi langsung dibawah
perintah ayahandamu sendiri. Anusapati memang harus segera
disingkirkan. Agar tidak timbul persoalan dikemudian hari, maka
Mahisa Agni yang mumpung berada diistana inipun harus
dibinasakan pula.”
“Hamba akan mengatakannya kepada ayahanda. Jika ayahanda
mengucapkan perintah itu kepada para Panglima, maka semuanya
akan terjadi.”
“Kau harus berhati2. Mahisa Agni mempunyai cukup pengaruh,
terutama diluar istana. Karena itu, maka yang dilakukan haruslah
didalam istana dan dalam waktu yang singkat. Jika kau ingin
menangkap seekor ular berbisa, tangkaplah kepalanya. Jika kau
gagal, maka kau sendirilah yang akan binasa karena racunnya.”
“Baik ibunda. Hamba akan segera menghadap ayahanda, sudah
tentu bahwa dalam waktu yang singkat, kita akan melakukannya.”
“Dan beberapa hari kemudian, kau adalah putera Mahkota.”
“Ya. Aku akan menjadi Putera Mahkota di Singasari yang besar.
Aku akan berbuat sebaik2nya sebagai Putera Mahkota. Tidak seperti
kakanda Anusapati.”
“Sekarang menghadaplah. Usahakan agar ayahandamu
merintahkan aku menghadap pula.”
“Baiklah ibunda, hamba akan berusaha.”
Dengan tergesa2 Tohjayapun kemudian pergi menghadap
ayahandanya di bangsalnya. Dengan hati yang berjebar2 ia menaiki
tangga bangsal itu, sedang kedua pengawalnya tinggal dibawah
tangga, bersama pengawal bangsal itu sendiri.
Perlahan2 Tohjaya membuka pintu bangsal itu. Kemudian dengan
degup jantung yang keras ia melangkah masuk.
Tetapi Tohjaya tidak segera melihat ayahandanya.
Ketika ia melihat seorang Pelayan Dalam dipintu samping bangsal
itu, maka iapun kemudian bertanya, “Dimana Ayahanda Sri Rajasa.”
“Ampun tuanku,“ Pelayan Dalam itu mengangguk. “Ayahanda
tuanku ada didalam biliknya.”
Tohjaya menarik nafas dalam2. Tetapi iapun kemudian
melangkah kepintu bilik.
“Hanya untuk persoalan yang sangat penting dan sangat rahasia
ayahanda memanggil kedalam biliknya,“ berkata Tohjaya didalam
hatinya.
Dengan ragu2 akhirnya Tohjaya berdiri didepan pintu bilik Sri
Rajasa. Sejenak ia termangu2, namun kemudia ia berkata lirih,
“Ampun ayahanda. Hamba sudah menghadap.”
Sejenak Sri Rajasa menunggu. Kemudian didengarnya jawab,
“Masuklah Tohjaya.”
Dada Tohjaya menjadi semakin berdebar2. Perlahan2
didorongnya daun pintu itu kesamping. Dengan langkah yang terasa
berat iapun kemudian melangkah masuk.
Dilihatnya ayahandanya, Sri Rajasa duduk diatas tempat duduk
kayu yang beralaskan kulit menjangan.
“Duduklah,“ berkata Sri Rajasa kemudian.
Tohjaya termangu2 sejenak. Dan iapun kemudian duduk diatas
tempat duduk kayu disudut bilik itu.
“Apakah seorang prajurit telah memanggilmu?”
“Hamba ayahanda. Bukankah ayahanda memanggil hamba
menghadap?”
“Ya.”
“Hamba siap menerima perintah apapun, ayahanda. Agaknya
memang sudah waktunya ayahanda memerintahkan kepada hamba
untuk berbuat sesuatu.“
Sri Rajasa menarik nafas dalam2.
Dan Tohjayapun kemudian bertanya, “Dan apakah perintah itu
ayahanda?”
Sri Rajasa memandang puteranya itu sejenak. Namun kemudian
terdengar ia berdesah. Katanya, “Tidak ada perintah apapun saat ini
Tohjaya.“
Bukan main terperanjatnya Tohjaya. Bahkan kemudian ia tidak
percaya kepada pendengarannya sehingga ia bertanya, “Apakah
yang ayahanda maksudkan?”
“Dengarlah sekali lagi Tohjaya,“ jawab ayahandanya, “aku tidak
akan memberikan perintah apapun juga.”
Dada Tohjaya terguncang karenanya. Dengan terbata2 ia
bertanya, “Tetapi, bukankah ayahanda memanggil hamba setelah
sidang di paseban? Menurut dugaan hamba, ayahanda mendapat
bahan2 yang cukup lengkap selama sidang sehingga Ayahanda
memutuskan untuk menjatuhkan perintah terakhir. Bukankah
ayahanda perlu mengambil tindakan tertentu untuk mengakhiri
keadaan yang tidak ada ujung pangkalnya?”
Tetapi Sri Rajasa itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku
tidak dapat menentukan sekarang. Aku masih harus
memikirkannya.”
Tohjaya benar2 menjadi bingung. Ia tidak mengerti, kenapa
ayahandanya memanggilnya dengan tergesa2. Namun kemudian ia
sama sekali tidak memberikan perintah apapun juga. Sebenarnyalah
bahwa Sri Rajasa sendiri sedang dilibat oleh kebingungan yang
hampir tidak dapat dipecahkannya. Setiap kali sikapnya selalu
dibayangi oleh keragu2an sehingga terombang-ambing tidak
menentu.
Dengan demikian maka bilik itupun sejenak dicengkam oleh
kesepian. Sri Rajasa duduk sambil menundukkan kepalanya, sedang
Tohjaya menjadi sangat gelisah menghadapi keadaan itu. Namun ia
tidak berani lagi bertanya sesuatu kepada ayahandanya, karena
Tohjayapun kemudian menyadari bahwa agaknya ada sesuatu yang
sedang bergejolak dihati ayahandanya.
“Tohjaya,“ berkata Sri Rajasa kemudian memecahkan kebekuan
suasana, “tinggalkan bilik ini.”
Tohjaya menjadi semakin bingung. Tetapi ia tidak dapat berbuat
lain. Perlahan2 ia berdiri dan berkata, “Hamba ayahanda. Hamba
mohon diri.”
Sri Rajasa hanya mengangguk kecil. Kemudian wajahnya itupun
tertunduk lagi. Bahkan kemudian disandarkannya dagunya pada
kedua belah tangannya yang sikunya bertelekan pada lututnya.
Tohjayapun kemudian melangkah keluar perlahan2. Hatinya
diamuk oleh kebingungan yang dahsyat, karena dengan demikian
iapun menyadari bahwa ayahandanya sendiripun masih juga
dikuasai oleh keragu2an.
“Kenapa ayahanda masih selalu ragu2. Mungkin ayahanda masih
saja terpengaruh oleh ibunda Permaisuri, justru karena ibunda
Permaisurilah maka ayahanda tidak dapat berbuat tegas atas
kakanda Anusapati. Seharusnya ayahanda tidak lagi menghiraukan
ibunda Permaisuri itu. Jika ayahanda masih saja terlampau banyak
pertimbangan, maka ahkirnya ayahanda akan terlambat.”
Namun dengan demikian langkahnya pun menjadi tergesa2.
Kedua pengawalnya berlari2 kecil mengikutinya dibelakang.
Sementara itu, Ken Umang sudah dicengkam oleh angan2
tentang tahta kerajaan Singasari sepeninggal Sri Rajasa. Jika
Anusapati sudah disingkirkan, maka tentu Tohjaya akan segera
diangkat menjadi Pangeran Pati menggantikan kedudukannya.
“Tentu tidak akan ada persoalan apapun juga jika Sri Rajasa sudah
memutuskan. Pengaruhnya terlampau besar, dan kekuasaannya
adalah mutlak.“ namun kemudian, “tetapi Mahisa Agni itupun harus
disingkirkan. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan mengalami kesulitan.
Betapapun saktinya Mahisa Agni, namun sudah barang tentu tidak
akan dapat mengimbangi kesaktian Sri Rajasa sendiri.”
Ken Umang itupun terloncat berdiri ketika ia melihat Tohjaya
datang kedalam biliknya dengan wajah yang tegang. Dengan
tergesa2 ia menyongsongnya dan bertanya, “Perintah apakah yang
telah kau terima Tohjaya?”
Tohjayapun kemudian duduk dengan lesunya. Sejenak ia
termangu2 sehingga ibunyapun menjadi heran.
“Tohjaya, apakah kau terima perintah itu?”
Tohjaya menggelengkan kepalanya. Dengan nada yang aneh ia
menjawab, “Hamba tidak menerima perintah apapun juga ibu.”
“He,“ Ken Umang terperanjat. Sejenak ia memandangi anaknya
dengan wajah yang tegang. Kemudian perlahan2 didekatinya
anaknya yang duduk sambil menundukkan kepalanya.
Diguncang2nya pundak anaknya sambil berkata, “Apakah aku sudah
pikun? Coba katakan sekali lagi Tohjaya.”
“Hamba tidak menerima perintah apapun ibunda. Ketika hamba
menghadap, ayahanda berkata, “Kembalilah, tinggalkan aku.“
“Tohjaya, apakah kau sedang mengigau?”
“Sebenarnya ibunda, ayahanda memerintahkan hamba untuk
meninggalkan bilik itu. Itulah perintah satunya yang hamba terima.”
Ken Umang memandang anaknya dengan wajah yang tegang,
sehingga pelupuk matanya hampir tidak berkedip. Ia tidak dapat
mengerti apakah yang sebenarnya dikatakan oleh anaknya itu.
“Ibunda,“ berkata Tohjaya kemudian, “hambapun tidak
mengerti, kenapa ayahanda tidak memberikan perintah apapun
kecuali memerintahkan hamba meninggalkan ayahanda itu seorang
diri.”
“O,“ Ken Umangpun kemudian terduduk pula, “aku tidak
mengerti. Aku tidak mengerti.”
Tohjaya memandang wajah ibunya sejenak. Namun
kepalanyapun segera tertunduk pula. Memang yang baru saja
terjadi sama sekali tidak dapat dimengertinya, dan ibunyapun
menjadi bingung karenanya.
Sejenak keduanya terdiam. Seakan2 kabut yang kelam telah
menyelubungi angan2 dan pikiran mereka, sehingga mereka sama
sekali tidak mengerti, apa yang harus mereka lakukan.
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang masih juga dibayangi oleh
pembicaraan2 didalam sidang, mencoba untuk menemukan suatu
gambaran, apakah yang sebenarnya bergolak didalam hati Sri
Rajasa. Namun setiap kali yang diketemukannya, adalah sekedar
menganggap bahwa Sri Rajasa memang sedang kebingungan.
“Tetapi kebingungan itu dapat membahayakan keadaan,“
berkata Mahisa Agni didalam hati, “setiap saat pikirannya dapat
berubah dan setiap saat Singasari dapat bergejolak. Satu langkah
yang salah dari Sri Rajasa, dan membuat Singasari menjadi
berantakan. Sedangkan persoalan yang sebenarnya adalah
persoalan ketamakan Ken Umang semata2. Namun apabila hati Sri
Rajasa tidak goyah, maka hal yang seperti sekarang ini tidak perlu
terjadi.”
Demikianlah ketika Mahisa Agni kemudian bertemu dengan
Anusapati dan Sumekar, maka diceriterakannya apa yang terjadi di
paseban.
“Sebenarnyalah bahwa ancaman itu sudah langsung ditujukan
kepadamu,“ berkata Sumekar kepada Mahisa Agni, “tetapi karena
sikap para pemimpin Singasari yang tidak jelas, maka Sri Rajasa
masih harus berpikir sekali lagi. Jika didalam paseban itu
tanggapan
atas tuduhan Sri Rajasa terhadapmu, terhadap yang disebutkan
kesombonganmu itu cukup baik baginya, maka ia tidak akan
menunggu lebih lama lagi. Tetapi karena ia melihat keragu2an pada
pemimpin Singasari, maka iapun tidak segera memerintahkan saat
itu juga untuk menangkapmu.”
Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Memang dapat juga
terjadi seperti yang dikatakan oleh Sumekar itu. Tetapi Mahisa
Agnipun tahu, bahwa sebenarnya Sumekar telah dipenuhi oleh
prasangka dan bahkan sikap yang pasti, yaitu Sri Rajasalah yang
harus disingkirkan, justru untuk menyelamatkan hasil yang pernah
dicapai oleh Sri Rajasa sendiri. Singasari yang besar dan kuat.
Namun bagi Mahisa Agni sendiri, masih harus ditempuh
pertimbangan2 yang semasak2nya meskipun kadang2 orang lain
menganggapnya tidak berbuat apa-apa.
Dalam pada itu, Anusapatipun sebenarnya mempunyai
tanggapan persoalan yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu sejalan
dengan pendapat Sumekar. Namun Anusapati menyerahkan
persoalannya kepada Mahisa Agni, karena ia percaya, bahwa
pertimbangan pamannya didasari oleh pengalaman dan
pengetahuannya yang luas.
Namun mendung yang semula membayang diatas istana
Singasari itu kini bagaikan mekar meliputi seluruh kota dan bahkan
menjalar keseluruh negeri. Terasa bahwa ada sesuatu yang kurang
pada tempatnya telah terjadi didalam lingkungan keluarga Sri
Rajasa. Jika semula persoalan itu hampir tidak mendapat perhatian
karena yang berkepentingan masih mampu membatasi diri masing2,
maka semakin lama persoalannya menjadi semakin jelas dapat
dilihat oleh para pemimpin Singasari.
Dalam keadaan yang demikian itulah, Singasari mulai menyebut2
nama Witantra.
Namun sebenarnyalah bahwa nama Witantra itu telah
mengganggu hati Sri Rajasa pula. Ia tidak mengerti dengan pasti
apakah sebenarnya yang dikehendakinya. Sehingga karena itulah
maka dengan diam2 Sri Rajasapun berusaha untuk mencari
hubungan dengan Witantra, meskipun ia berpesan dengan
sungguh2, agar Witantra tidak mengetahuinya, bahwa Sri Rajasa
yang memberikan perintah itu kepada beberapa orang petugas
sandi yang dipercayainya.
Ternyata sangat sulitlah untuk mencari hubungan dengan
Witantra itu, karena Witantra tidak pernah lagi kelihatan di kota
Singasari. Hanya namanya dan beberapa ceritera sajalah yang dapat
ditangkap oleh para petugas sandi itu.
“Ya, ia datang kepadaku,“ berkata seorang perwira yang
menghubungi orang2 yang diduga dapat bertemu langsung dengan
Witantra.
“Apa saja yang dilakukannya?”
“Tidak apa2. Ia hanya bertanya tentang keselamatanku
sekeluarga, dan sedikit tentang padepokannya dipuncak gunung.”
“Gunung yang mana?“ bertanya petugas sandi itu.
“Witantra tidak mau menyebutkannya.”
“Apakah ia sering datang kemari?”
“Hanya satu kali. Hanya satu kali. Tetapi ia berkata kepadaku,
bahwa pada suatu saat ia akan datang kembali mengunjungi
sahabat2 lamanya.”
“Apakah benar ia tidak mempersoalkan apapun juga yang dapat
menjadi petunjuk arah perhatiannya selama ini?”
“Tidak. Ia tidak mengatakan apapun juga. Tetapi ia menyatakan
kegembiraannya melihat perkembangan Singasari sekarang ini.
Singasari yang jauh lebih besar dari Tumapel dijaman Akuwu
Tunggui Ametung.”
Petugas sandi itu hanya dapat mengangguk2kan kepalanya.
Bahan yang didapatkannya untuk mengetahui keadaan Witantra
ternyata terlampau sedikit. Para petugas itu sama sekali tidak
dapat
menyimpulkan, apakah sebenarnya maksud Witantra datang ke
Singasari. Bahkan setelah mereka menghubungi beberapa orang
yang pernah dikunjungi oleh Witantra itu.
“Baiklah,“ berkata seorang petugas sandi kepada seorang
perwira yang pernah mendapat kunjungan Witantra, “jika ia datang
sekali lagi, tolong, beritahukan aku.”
Perwira itu mengangguk2kan kepalanya. Perwira itupun
mengetahui bahwa orang yang datang itu adalah seorang prajurit
sandi. Dan perwira itupun tahu pasti, kepada siapa ia harus
melaporkan jika Witantra datang sekali lagi.
“Ternyata pihak istana menaruh perhatian besar sekali,“ berkata
perwira itu. Namun demikian, merekapun menjadi gelisah, karena
jika timbul sesuatu karena perbuatan Witantra, maka mereka yang
diketahui telah mendapat kunjungan Witantra itu pasti akan menjadi
sumber keterangan.
Tetapi bukan saja para perwira itu yang mengetahui bahwa pihak
istana menaruh perhatian yang besar sekali. Dari pembicaraan
beberapa orang prajurit, Sumekarpun mengetahui, bahwa ada
beberapa petugas sandi yang mendapat tugas mencari jejak tentang
Witantra itu.
Dalam pada itu, semua laporan tentang Witantra itu sudah
sampai ditelinga Sri Rajasa. Seperti apa yang dapat ditangkap oleh
para petugas sandi, maka tidak ada keterangan yang pasti yang
dapat dijadikan bahan untuk menentukan apakah yang sebenarnya
akan dilakukan oleh Witantra.
Namun demikian ada seorang petugas sandi yang mempunyai
keterangan yang agak lain dari kawan2nya.
“Witantra menyebut2 nama Mahisa Agni tuanku,“ berkata
petugas sandi itu ketika ia dipanggil menghadap.
“Apa katanya?”
“Ia hanya bertanya, dimanakah sekarang Mahisa Agni itu.
Apakah ia masih tetap berada di Kediri, karena menurut
pendengarannya Mahisa Agni menjadi seorang Senapati Agung yang
bertugas di Kediri sebagai wakil Mahkota. Atau sudah mendapatkan
jabatan lain.”
“Apa lagi?”
“Hanya itu tuanku. Hamba tidak mendapatkan bahan yang lain.
Sedang yang dibicarakan Witantra itu pada umumnya adalah
persoalan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintahan.
Kadang2 ia berbicara tentang jalan2 yang ramai, sawah yang hijau
dan rumah kawan2nya yang menjadi perwira di Singasari.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun dari keterangan itu
Sri Rajasa mendapatkan suatu arah betapapun samarnya, bahwa
Witantra masih menaruh perhatian terhadap Mahisa Agni.
“Mudah2an Witantra masih mendendamnya.”
Naman ternyata setelah itu, Sri Rajasa tidak pernah mendapat
keterangan apapun lagi tentang Witantra. Meskipun ada juga
seorang dua orang yang melaporkan bahwa Witantra tampak
berada didalam kota, namun sama sekali tidak menarik perhatian
orang, karena ia tidak berbuat apa2.
“Aku dapat menjadi gila,“ berkata Ken Arok kemudian ketika ia
berada didalam bilik Ken Umang.
Ken Umang yang masih nampak jauh lebih muda dari Permaisuri
yang sakit2an itu, mendekatinya sambil berkata, “Tuanku,
persoalannya sudah jelas bagi tuanku. Sebenarnya hamba ingin
mengajukan suatu sikap yang akan dapat menolong keadaan.
Tetapi justru karena hamba adalah ibu Tohjaya, maka hamba
berada didalam kesulitan.”
“Kenapa?”
“Orang dapat menuduh hamba, semata2 sikap hamba itu
didorong oleh ketamakan dan kebencian.”
Sri Rajasa tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Ken
Umang sejenak.
Sambil tersenyum Ken Umang beringsut mendekat, ia duduk
diatas sebuah kulit harimau hasil buruan Sri Rajasa di samping
tempat duduk Sri Rajasa sendiri yang beralaskan kulit seekor ular
raksasa.
“Tuanku,“ Ken Umang bergesar mendekatinya. Kemudian sambil
bersandar pada kaki Sri Rajasa Ken Umang berkata, “Memang
tuanku harus segera mengakhiri keadaan yang tidak menentu
sekarang ini. Hamba tahu bahwa tuanku menjadi ragu2. Tetapi
hambapun tahu, siapakah sebenarnya puteranda Anusapati itu,
karena hamba tahu saat2 perkawinan tuanku.”
“Banyak orang yang mengetahui siapakah sebenarnya
Anusapati, karena setiap orang yang umumnya berkisar diantara
kita dapat menghitung saat perkawinanku dan saat kelahiran
Anusapati.”
“Nah,“ berkata Ken Umang, “sebenarnya tidak ada persoalan
lagi. Kasar atau halus, tuanku dapat melakukannya. Sedang tuanku
sendiri mempunyai putera laki2 yang akan dapat menggantikan
kedudukan tuanku. Jika tuanku membiarkan keadaan ini
berlangsung terus, maka sebenarnyalah tuanku dapat terganggu.
Lahir dan batin.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak menyahut.
“Tuanku, jika hamba bukan ibu Tohjaya, hamba akan dapat
dengan leluasa menyampaikan pendapat hamba. Tetapi justru
karena itulah, maka hamba menjadi ragu2. Tuankulah yang akan
dapat menentukan, apakah yang sebaiknya tuanku lakukan. Tetapi
segera. Tidak dengan ragu2 dan condong kepada kebingungan.
Ternyata seperti sikap tuanku. Tuanku memanggil Tohjaya, namun
kemudian tuanku tidak menjatuhkan perintah. Hamba tahu bahwa
perintah itu sudah siap. Tetapi tuanku ragu2, sehingga tuanku
mengurungkannya.”
Sri Rajasa tidak segera menyahut. Tetapi setiap kali ia bertemu
dengan Ken Umang, rasa2nya sudah jatuhlah keputusannya untuk
menyingkirkan Anusapati dan Mahisa Agni. apapun akibatnya.
Baginya Permaisurinya Ken Dedes sudah tidak begitu banyak
diperlukan lagi. Ken Dedes itu menjadi semakin cepat tua dan
sakit2an.
Namun setiap saat ia teringat, bahwa ada sesuatu yang lain pada
Ken Dedes, hatinya menjadi berdebar2. Ken Dedes nemiliki sesuatu
kurnia dari Yang Maha Agung yang tidak dimiliki oleh Ken Umang.
Cahaya yang tidak dapat dimengertinya itu setiap kali dapat
dilihatnya.
“Tuanku,“ berkata Ken Umang kemudian, “apakah sebenarnya
yang membuat tuanku ragu2? Mungkin kemampuan Mahisa Agni
dan pengaruhnya? Tentu tuanku akan dapat mengatasinya karena
Mahisa Agni tidak akan sekuat Sri Baginda di Kediri yang dapat
tuanku kalahkan itu. Sedang pengaruhnyapun tidak akan sebesar
para Panglima dan Senapati yang lain, karena sudah lama ia berada
di Kediri. Jika tuanku memperhitungkan pengaruhnya di Kediri,
maka dapat diperhitungkan bahwa Kediri sekarang tentu tidak akan
mampu berbuat apa2.“ Ken Umang berhenti sejenak. Lalu, “Tuanku,
hambapun mendengar apa saja yang dikatakan oleh Mahisa Agni
dipaseban itu. Bukankah itu sudah suatu sikap yang pasti untuk
menantang tuanku, merendahkan kekuasaan tuanku dan seakan2
suatu pameran kekuatan bahwa Mahisa Agni sama sekali tidak takut
terhadap kuasa tuanku, selain dengan sengaja menghinakan para
pemimpin yang lain.”
Ken Arok masih tetap berdiam diri.
“Nah, hamba persilahkan tuanku mempertimbangkan semuanya
itu, karena hamba tidak berhak berbuat apapun selain memberikan
sedikit pertimbangan yang barangkali tidak berarti apa2 bagi
tuanku.”
Sri Rajasa masih tetap tidak menyahut sepatah katapun.
Dipandanginya bintik2 dikejauhan seolah2 dicarinya sesuatu
diantara kekosongan dikejauhan.
Ken Umang tidak mendesaknya lagi. Dibiarkannya Sri Rajasa
merenungi kata2nya. Ken Umang itu masih tetap yakin bahwa Sri
Rajasa akan lebih percaya kepadanya daripada kepada Ken Dedes,
apalagi kelemahan yang ada pada keturunan Ken Dedes itu ialah
bahwa Anusapati adalah anak Tunggul Ametung.
Sejenak kemudian, setelah bergolak dengan dahsyatnya, dada
Ken Arok seakan2 mulai terbuka. Seakan2 Ken Arok melihat sebuah
jalan lurus yang harus ditempuhnya. Satu2nya jalan, karena tidak
ada pintu lain yang terbuka baginya.
Betapapun jalan itu lewat celah2 lorong yang mengerikan, namun
setapak demi setapak rasa2nya Ken Arok sudah memasuki pintu itu,
didorong oleh tangan2 halus Ken Umang dan puteranya yang penuh
dengan nafsu.
“Aku harus mengadakan persiapan sebaik2nya,“ berkata Ken
Arok didalam hatinya, “aku harus bertemu dengan orang2 yang
dapat aku percaya.”
Namun Ken Arok itupun menarik nafas dalam2 sambil berdesah
didalam dirinya, “Apakah aku akan berhasil tanpa mengganggu
keutuhan Singasari. Sekian lama aku bekerja untuk mempersatukan
Singasari. Dan kini aku sendiri akan menimbulkan perpecahan
didalamnya.”
Tetapi Ken Arok memang tidak melihat jalan lain. Yang harus
dilakukan adalah menyingkirkan Anusapati dan Mahisa Agni dengan
akibat yang sekecil2nya.
Itulah sebenarnya yang diharapkan oleh Ken Umang. Dan ia
yakin bahwa yang diharapkan itu akan terjadi.
Demikianlah, dihari berikutnya, Ken Arok memanggil beberapa
orang Senapati. Untuk tidak memberikan kesan yang mencurigakan,
maka beberapa orang itu menghadap tidak berdasarkan waktunya.
Bahkan juga Panglima pasukan pengawal yang menurut
pendapatnya, akan dapat dipergunakannya sebagai perisai jika
terjadi sesuatu.
“Kita tidak dapat menunda lagi,“ berkata Sri Rajasa kepada
penasehatnya, yang sekaligus guru Tohjaya didalam olah
kanuragan, “Anusapati harus disingkirkan. Beberapa orang Senapati
sudah siap untuk melakukannya. Dan cara yang akan aku tempuh
adalah cara yang paling kecil akibatnya.”
Para Senapati harus dengan diam2 mengambil Anusapati dan
membawanya keluar istana untuk diselesaikan. Tentu dimalam hari.
Pasukan Pengawal akan diatur oleh Panglimanya, sehingga ketika
terjadi hal itu, para pengawal tidak akan berada di tempatnya
kecuali yang memang dapat dipercaya dan dapat dibawa bekerja
bersama.”
“Tetapi pekerjaan itu akan sangat sulit tuanku. Tuanku
Anusapati memiliki kemampuan secara pribadi.”
“Tentu, jika kalian harus bertempur seorang lawan seorang.
Tetapi kalian akan menghadapinya dengan beberapa orang
Senapati.”
“Disaat yang ditentukan aku akan memanggilnya. Jika ia
mengetahuinya dan tentu akan berbuat sesuatu, diseluruh Singasari
tidak ada orang lain yang dapat dihadapkan kepadanya selain aku
sendiri. Untuk sementara kita dapat, melupakan Witantra. Aku kira
ia tidak akan berbuat sesuatu. Sokurlah jika ia justru sedang
mencari Mahisa Agni untuk membuat perhitungan atas
kekalahannya diarena disaat kematian Akuwu Tunggul Ametung
waktu itu.”
“Baiklah tuanku. Hamba akan melaksanakannya. Memang tidak
ada jalan lain dari jalan kekerasan. Tentu kami akan
memperhitungkan semua pihak yang dapat mengganggu usaha ini.
Tetapi jika tuanku menghendaki kami bertindak langsung didalam
istana ini, maka soalnya akan menjadi lebih mudah.”
“Kami akan memaksakan keadaan ini kepada para Panglima dan
rakyat Singasari sebagai suatu keharusan. Anusapati adalah orang
lain bagiku.”
Penasehat Sri Rajasa itupun merasa, bahwa telah datang
waktunya ia menunjukkan jasa yang paling besar bagi Sri Rajasa
dan Tohjaya. Ia harus dapat menyingkirkan Anusapati kasar atau
halus. Bahkan jika terpaksa dengan pertempuran terbuka.
“Tentu tidak akan banyak yang berpihak kepadanya. Panglima
Pasukan Pengawal akan mengatur, bahwa disaat yang ditentukan
itu, para petugas dilstana ini adalah orang2 yang dapat dipercaya.”
Demikianlah penasehat Sri Rajasa itu telah melakukan tugasnya
dengan cermat. Dihubunginya Panglima Pasukan Pengawal. Ia tahu
benar, bahwa Panglima itu terlalu setia kepada Sri Rajasa. Demikian
pula beberapa orang Senapati dan prajurit yang akan dapat
diajaknya bekerja bersama.
“Baiklah,“ berkata seorang Senapati, “tentukan, kapan kita akan
melakukannya.”
“Secepatnya. Kita akan segera bertindak sebelum Anusapati dan
Mahisa Agni mengetahuinya.”
“Mereka tidak akan tahu rencana ini.”
“Diistana ini ada sejumlah pengkhianat.”
Sebenarnyalah bahwa Sumekar telah tertarik kepada perubahan2
yang terjadi diistana. Beberapa orang prajurit yang dikenalnya
mulai
membicarakan kebijaksanaan yang baru. Perubahan yang tidak
pada tempatnya telah terjadi didalam tugas2 para prajurit, didalam
dan diluar istana. Prajurit2 yang bertugas sehari2, tiba2 saja
telah
ditarik dari istana dan orang2 barulah yang menggantikannya di
tempat2 terpenting.
Sumekar yang mempunyai penglihatan yang tajam tidak dapat
membiarkan semuanya terjadi diluar pengetahuan Mahisa Agni.
Karena itu, maka iapun segera menemuinya dan mengatakan apa
yang dilihatnya sejak hari ini.
Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Sebenarnya
perubahan2 semacam itu adalah perubahan yang wajar didalam
tugas keprajuritan.”
“Mungkin. Tetapi aku mempunyai firasat yang lain kali ini. Tentu
dalam waktu yang singkat akan terjadi sesuatu. Jika tidak hari ini,
tentu malam nanti.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam2. Katanya kepada Sumekar,
“Mungkin kau benar Sumekar. Karena itu bersiaplah. Adalah lebih
baik jika kau dapat mengambil Witantra dan kau bawa masuk
kedalam istana ini.”
“Sekarang?”
“Jika malam gelap. Tetapi jika terjadi sesuatu sebelum gelap,
tentu kita tidak sempat memberitahukan kepadanya.”
“Baiklah. Aku akan berada ditaman sehari penuh. Jika terjadi
sesuatu, aku berada didalam taman itu.”
“Baiklah. Aku akan menemui Anusapati.”
Dengan dada yang berdebar2 Mahisa Agnipun kemudian
menemui Anusapati dibangsalnya. Ketika ia melihat para penjaga
bangsal itu, hatinya menjadi berdebar2. Prajurit2 itu sama sekali
bukan prajurit yang biasanya bertugas dibangsal itu.
“Semuanya cepat berubah,“ berkata Mahisa Agni didalam
hatinya, “dibeberapa hari terakhir, agaknya Sri Rajasa dan
orang2nya sudah siap untuk melakukan rencana terakhirnya. Sudah
tentu, bahwa Sri Rajasa terpaksa melakukannya dengan kekerasan
untuk menempatkan Tohjaya menjadi searang Putera Mahkota.”
Tetapi ternyata dihari itu, tidak terjadi sesuatu. Anusapati yang
sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan, masih saja tinggal
didalam bangsalnya. Mahisa Agni masih belum memberikan isyarat
apapun juga. Sedang Sumekar yang berada didalam taman dan
kadang2 hilir mudik dihalaman membawa lodong bambu masih juga
belum melihat perkembangan keadaan yang memuncak.
Karena itulah, maka ketika senja turun, ia berusaha untuk pergi
kerumah persembunyian Witantra didalam kota Singasari.
Sumekar ternyata hanya memerlukan waktu yang pendek.
Keduanya kemudian dengan hati2 meloncat masuk kedalam
halaman istana.
“Bersembunyilah didalam taman,“ berkata Sumekar kepada
Witantra, “aku akan berusaha menemui Mahisa Agni.”
“Apa kau tidak akan dicurigai?”
“Aku akan membawa bibit pohon soka, yang dapat aku pakai
sebagai alasan. Menanam pohon soka memang sebaiknya dimalam
hari.”
“Baiklah, tetapi hati2lah.”
Sumekarpun kemudian pergi untuk menemui Mahisa Agni.
Dengan berdebar2 ia melihat beberapa orang prajurit yang
tampaknya mulai bersiap2. Bahkan dilihatnya penasehat Sri Rajasa
berjalan tergesa2 didepan bangsal Mahisa Agni. Hati Sumekar
menjadi berdebar juga ketika dilihatnya Panglima Pasukan pengawal
ada pula diantara beberapa orang prajurit yang sedang bertugas.
“Apakah sesuatu bakal terjadi malam ini?“ bertanya Sumekar
kepada diri sendiri, “jika demikian, apakah kekuatan yang dapat
dipergunakan oleh Anusapati untuk menyelamatkan dirinya dan
keluarganya. Sejauh2 yang dapat dilakukan adalah melontarkan,
isyarat itu kepada Kuda Sempana dan Mahendra. Tetapi dihalaman
ini adalah berpuluh2 prajurit pilihan, termasuk Sri Rajasa
sendiri.”
Sumekar menarik nafas dalam2. Katanya, “Akhirnya kelembutan
hati Mahisa Agni telah menempatkan Anusapati dalam kesulitan.
Akhirnya bahwa Sri Rajasalah yang telah, bersiap lebih dahulu
menghadapi Putera Mahkota itu, yang sebenarnya adalah bukan
puteranya sendiri.”
Dalam kecemasan itu, akhirnya Sumekar menemukan jalan lain
yang justru akan dilakukan. Jalan yang sama sekali tidak diketahui
oleh Mahisa Agni dan bahkan oleh Anusapati sendiri.
“Aku akan bertindak atas tanggung jawabku sendiri. Sebelum
terjadi pembunuhan atas tuanku Anusapati, aku harus segera
bertindak.”
Meskipun demikian, ia melanjutkan langkahnya membawa
sebatang bibit pohon soka mendekati bangsal Mahisa Agni.
Dihalaman bangsal itu Sumekar telah dicegat oleh dua orang
prajurit. Dengan kasar salah seorang dari mereka menyapa, “Siapa
kau?”
“Apakah kau tidak dapat mengenal aku?“ bertanya Sumekar.
Prajurit itu termangu2. Lalu, “Sebut siapa namamu.”
“Aku Pangalasan dari Batil.”
“O. juru taman. Tetapi apa kerjamu malam2 begini?”
“Aku akan menanam pohoa soka seperti yang dipesan oleh
tuanku Mahisa Agni.”
“Kenapa tidak besok siang?”
“Menanam pohon noka hanya dapat dilakukan malam hari.“
“Bohong, kau sangka aku tidak mengerti tentang tanaman? Aku
adalah bekas seorang juru taman pada jaman pemerintahan Akuwu
Tunggul Ametung. Tetapi kemudian aku mendapatkan warisan ilmu
sehingga aku berhasil mengikuti pendadaran untuk menjadi seorang
prajurit.”
“O, jika demikian seharusnya kau tahu, bahwa menanam pohon
soka sebaiknya pada malam hari. Mungkin dapat dilakukan disiang
hari, tetapi hasilnya tidak akan memberi kepuasan.“
Prajurit itu termenung. Tanpa disadarinya dicobanya untuk
mengingat kembali, apa yang pernah dilakukan pada saat ia
menjadi juru taman. Namua ia sudah tidak dapat mengingat apapun
lagi.
Karena itu, maka katanya, “Cepat, lakukan.”
Sumekarpun dengan tergesa2 memasuki halaman bangsal itu.
Namun ia masih berpura2 bertanya, “Dimana aku harus menanam
pohon ini?”
“Aku tidak tahu.”
“Jika demikian, apakah kau dapat bertanya kepada tuanku
Mahisa Agni.”
“Kenapa aku?”
“Aku tidak berani. Tolong katakan kepadanya.“
“Aku tidak peduli. Itu bukan urusanku.”
Sumekar berdiri termangu2 sejenak. Namun ia tersenyum
didalam hati. Kesempatan itulah yang memang ditunggunya.
Demikianlah akhirnya ia berhasil bertemu dengan Mahisa Agni,
dan mengatakan apa yang telah dilihatnya.
“Kaupun sudah diawasi,“ berkata Sumekar.
Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya.
“Nah, kita agaknya sudah terlambat.”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku masih
mempunyai jalan. Apakah kau bertemu dengan Witantra?”
“Ya.”
“Bagaimana dengan Kuda Sempana dan Mahendra?”
“Aku hanya memanggil Witantra. Ia sudah berada di dalam
taman.”
“Baiklah. Tetapi usahakan agar mereka semuanya berada
didalam istana ini. Mereka harus berada dibangsalku. Aku akan
membicarakan sesuatu yang penting dengan mereka dan kau.”
“Sekarang?”
“Ya. Panggil mereka.”
Sumekar menjadi termangu2 sejenak. Lalu katanya. “Tetapi
bagaimana jika semuanya, ini akan segera terjadi?”
“Jika begitu, minta Witantra memanggil keduanya. Kau
mengawasi keadaan sebaik2nya.”
“Tetapi, apakah yang dapat kita kerjakan hanya bersama
dengan mereka bertiga.”
“Kita sudah bertiga dengan Anusapati.”
“Tetapi dihalaman ini ada berpuluh2 prajurit yang agaknya
sudah mendapat petunjuk2 yang pasti.”
“Karena itu, panggil mereka. Aku masih mempunyai jalan.”
Sumekar mengangguk2kan kepalanya. Lalu katanya, “Baiklah,
aku akan menghubungi Witantra. Biarlah ia datang kebangsal ini,
akulah yang akan menjemput Kuda Sempana dan Mahendra yang
ada dirumah itu juga.”
“Cepat. Sebelum semuanya terjadi. Sementara itu aku akan
mempersiapkan semua rencana. Jangan beri tahu Anusapati lebih
dahulu. Aku akan berada di halaman, supaya aku dapat melihat
kesiagaan mereka yang semakin meningkat. Suruhlah Witantra
langsung memasuki lewat pintu belakang. Hati2lah. Para prajurit
agaknya benar2 bersiap.”
Sumekar melangkah meninggalkan Mahisa Agni. Namun tiba2 ia
teringat, “Tetapi, aku mengatakan kepada para penjaga, bahwa aku
akan menanam pohon soka.”
“Tinggalkan. Jika kau kembali bersama Kuda Sempana dan
Mahendra, kau tidak usah melalui halaman bangsal ini.”
Sumekarpun mengetahui apa yang harus dikerjakan. Karena
itulah maka iapun segera pergi meninggalkan Mahisa Agni. Di
halaman depan para prajurit menegurnya, katanya, “Sudah selesai?”
“Tuanku Mahisa Agni marah bukan main.”
“Kenapa?”
“Kau memang gila. Aku sudah memperingatkan bahwa
sebaiknya besok pagi saja.“
“Ya, aku menyesal. Tetapi menanam pohon soka hanya dapat
dilakukan dimalam hari, maksudku, yang paling baik dilakukan
dimalam hari.”
“Dimana pohon sokamu itu?”
“Diinjak2 sampai lumat. Tetapi anehnya, aku harus mencari lagi.
Justru Kembang Soka Kuning, jenis yang paling sulit dicari.”
Para prajurit itu tertawa. Dipandanginya juru taman itu dengan
ibanya. Namun mereka tidak dapat menolongnya, karena mereka
sendiri belum pernah melihat jenis Kembang Soka yang berwarna
kuning.
Sepeninggal Sumekar, maka Mahisa Agnipun kemudian
membenahi dirinya. Tetapi betapapun ia mencemaskan keadaan,
tetapi Mahisa Agni tidak menganggap perlu membawa senjata.
Tangannya yang dapat dialiri dengan aji Gundala Sasra dan
sekaligus Kala Bama dalam bentuknya yang sesuai, adalah semata
yang tidak kalah dahsyatnya dari segala macam jenis semata tajam
maupun senjata2 yang lain.
Ketika ia keluar dari bangsalnya dilihatnya beberapa orang
prajurit berada dihalaman. Seperti biasanya Mahisa Agnipun
menyapa mereka dengan ramahnya. Namun kali ini para prajurit itu
menjawabnya dengan ragu2.
“He, apakah kalian tidak pernah bertugas di bangsal ini?“
bertanya Mahisa Agni kepada prajurit2 itu.
Pemimpin peronda itupun menjawab dengan termangu-mangu,
“Belum. Eh, maksud kami, kami memang belum pernah bertugas
diregol ini, tetapi sudah sering bertugas dibagian lain.”
“Dimana?”
Pemimpin peronda itu menjadi semakin bingung, sehingga ia
menjawab penuh kebimbangan, “Di Istana bagian dalam.”
“He, bagian dalam yang mana? Apakah ada bagian luar dan
bagian dalam.”
Prajurit itu menjadi semakin bingung. Katanya, “Maksudku, istana
yang baru.”
“O, maksudmu kau sering bertugas dibagian yang baru dari
istana ini. Jelasnya di bangsal yang didiami oleh tuan puteri Ken
Umang dan yang lain yang didiami oleh tuanku Tohjaya.”
“Ya. ya.”
Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Dan kau
sekarang mendapat tugas baru disini.”
“Ya. menurut panglima, sudah saatnya kita saling bertukar
tempat didalam tugas kami, agar kami tidak selalu berada ditempat
yang sama sepanjang kami menjadi prajurit.”
“Bagus. Itu adalah usaha yang bagus sekali,“ berkata Mahisa
Agni, “nah, bertugaslah dengan baik. Aku akan berjalan2 sebentar.”
“Berjalan2?“ prajurit itu menjadi heran, “sudah terlampau malam
tuan masih akan berjalan2.”
“Malam?“ bertanya Mahisa Agni, “kau ini seperti seekor ayam
saja,“ berkata Mahisa Agni sambil tertawa, “baru saja senja
tenggelam. Biasanya aku keluar hampir sampai tengah malam.
Bahkan kadang2 lebih.”
Prajurit itu mengangguk2kan kepalanya. Sudah barang tentu
bahwa mereka tidak akan dapat mencegahnya.
Demikianlah para prajurit itu hanya dapat memandangi langkah
Mahisa Agni yang menyusup kedalam gelap. Namun demikian
rasa2nya mereka telah mengabaikan tugas mereka jika mereka
tidak tahu, kemana Mahisa Agni itu pergi.
Karena itu, maka pemimpin peronda itupun memerintahkan
seseorang untuk mengawasi kemana Mahisa Agni itu pergi.
Namun ternyata bahwa orang itu kurang dapat menguasai
keadaan. Ia tidak memperhitungkan kemampuan Mahisa Agni
sehingga dengan mudah Mahisa Agni dapat, mengetahui bahwa
seseorang telah mengikutinya.
Prajurit yang mengikuti itu menjadi bingung ketika tiba-tiba saja
orang yang harus diawasinya itu hilang. Mahisa Agni yang berjalan
perlahan2 didalam kegelapan itu tiba2 saja seperti dapat lenyap
menembus bumi.
“Gila,“ desis prajurit itu, “dimanakah orang itu bersembunyi?”
Dengan hati2 ia melangkah mendekati gerumbul yang ada
didekat tempat Mahisa Agni menghilang. Namun ketika ia sampai
ditempat itu, ternyata ia tidak menjumpai seorang-pun.
“Aneh,“ desisnya, “apakah aku sedang mengikuti sesosok
hantu?”
Namun dengan demikian hatinya menjadi berdebar-debar.
Seakan2 ia benar2 berhadapan dengan hantu yang dapat
menghilang dan kemudian menampakkan diri.
Ketika ia sudah yakin bahwa ia tidak akan dapat menemukan
Mahisa Agni, maka dengan kesal iapun meninggalkan tempat itu.
Dengan tergesa2 ia berjalan kembali ketempat tugasnya dengan
berbagai macam perasaan yang kisruh.
Tetapi hampir terlonjak prajurit itu ketika ia melihat seseorang
berjalan sambil menyilangkan tangannya dipunggung. Selangkah
demi selangkah, seakan2 tidak menghiraukan apa pun lagi.
“Tuan,“ prajurit itu menyapanya.
“O, siapa kau?”
“Bukankah tuan Mahisa Agni?”
“Ya, kenapa? Aku ingin berjalan2. He, apakah kau prajurit yang
bertugas di regol bangsalku?”
“Ya tuan.”
“Kenapa kau disini? Bukankah kau masih ada diregol ketika aku
berangkat berjalan2? Dan kenapa tiba2 saja kau sudah berada
disini?”
Orang itu menjadi bingung. Seharusnya ialah yang bertanya
kepada Mahisa Agni. Namun justru kini Mahisa Agnilah yang
bertanya kepadanya.
“He, kenapa kau diam saja?“ desak Mahisa Agni.
“Tidak, maksudku aku memang berjalan2.”
“Akulah yang berjalan2 bukan kau.”
“O,” orang itu menjadi semakin bingung, “maksudku tuan, aku
juga berjalan2 untuk mengendorkan ketegangan.”
Mahisa Agni memandangi prajurit itu sejenak. Namun iapun
kemudian tertawa sambil berkata, “Aku memang sudah ketinggalan.
Agaknya memang sudah menjadi peraturan, bahwa setiap prajurit
yang sedang bertugas diperkenankan berjalan2 untuk
mengendorkan ketegangan, sekaligus dengan membawa senjatanya
sekali.”
Terasa dada prajurit itu berdesir. Ia merasa sindiran yang halus
tetapi tepat mengenai sasarannya. Meskipun begitu prajurit itu
tidak
dapat berbuat apapun juga. Sehingga karena itu, maka jawabnya,
“Hanya suatu kesempatan tuan. Bukan peraturan.”
Mahisa Agni menepuk bahu prajurit itu sambil berkata, “Cepat,
kembali kepada tugasmu. Itu jika kau sudah selesai mengendorkan
ketegangan?”
“Ah.”
“Tetapi ketegangan apakah sebenarnya yang mencengkammu.”
Prajurit itu tidak menjawab. Karena itu, maka Mahisa Agnipun
berkata, “Baiklah, cepat kembali. Mungkin kawan2mu memerlukan
kau.”
Prajurit itupun kemudian dengan tergesa2 kembali kedalam
biliknya. Namun disepanjang langkahnya, ia tidak henti2nya
bertanya2 kepada diri sendiri, bagaimana dapat terjadi, bahwa
Mabisa Agni yang diikutinya itu begitu saja telah hilang dan yang
tanpa diduga2nya ditemuinya dijalan kembali kegardunya.
“Benar2 anak iblis,“ katanya didalam hati, “tentu bukan manusia
biasa yang dapat melakukannya.”
Ketika prajurit itu sampai diregol halaman bangsal Mahisa Agni,
maka iapun segera menceriterakan pengalamanya itu kepada
kawan2nya. Sebagian dari mereka menjadi terheran2 dan berkata,
“Itulah sebabnya, ia diangkat menjadi Senapati Agung di Kediri.“
Namun pemimpin peronda itu berkata, “Kau tentu dibayangi oleh
ketakutan saja.”
“Omong kosong. Selagi ia masih berdiri diatas tanah ia tidak
akan dapat melenyapkan dirinya. Percayalah bahwa iu tidak lebih
dari seorang prajurit biasa. Hanya kesempatan sajalah yang
membuatnya menjadi orang terkemuka di Singasari. Jangan kau
sangka bahwa tidak ada orang lain yang memiliki kelebihan tetapi
belum mendapat kesempatan. Sebenarnya aku ingin melihat dan
bahkan mengalami, betapa tingginya ilmu orang yang bernama
Mahisa Agni dan juga orang yang bergelar Kesatria Putih itu.”
“Putera Mahkota?“ bertanya seorang kawannya.
“Ya, Putera Mahkota. Ceritera tentang mereka sama dahsyatnya.
Tetapi aku belum pernah melihat kebenaran dari ceritera itu.”
“Semua orang pernah mendengar bahwa Mahisa Agni pernah
membunuh Senapati Agung dari Kediri.”
“Dan siapakah yang mengetahui sebenarnya, betapa tinggi ilmu
Senapati Agung Kediri itu? Mungkin yang disebut Senapati Agung
Kediri itu tidak lebih tangguh dari kau atau salah seorang prajurit
yang memiliki sedikit kelebihan. Nah, bukankah dengan demikian
kemenangannya itu bukan ukuran dari keperwiraannya.”
“Ah,“ berkata prajurit yang lain, “kau jangan mencoba ingkar.
Kau tentu mengetahui bahwa Kesatria Putih pernah membunuh
beberapa orang yang ternyata adalah prajurit2 Singasari dan
melemparkan senjata mereka dimuka pintu gerbang?”
“Aku berkata tentang Mahisa Agni,“ sahut pemimpin peronda itu.
“Tetapi bukankah kau juga menyebut Kesatria Putih.“
Pemimpin prajurit yang sedang berjaga2 itu tidak menyahut.
“Dan kau tentu juga mengetahui, bahwa Putera Mahkota itu
adalah anak kemenakan Mahisa Agni. Ilmu yang dimilikinyapun
tentu keturunan ilmu Mahisa Agni.”
Pemimpin peronda itu masih tetap berdiam diri.
Kawannyapun tidak berkata lebih lanjut. Mereka untuk beberapa
lamanya saling berdiam diri dan duduk berserakan, selain yang
bertugas didepan tangga bangsal.
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang berjalan2 dihalaman melintasi
gerumbul2 bunga mendekati bangsal Anusapati. Namun ia tidak
ingin menimbulkan kecurigaan pada para prajurit yang bertugas.
Karena itu, ia berusaha untuk berlindung dibalik dedaunan.
Seperti yang dikatakan oleh Sumekar, memang dihalaman istana
malam itu ada beberapa kesibukan. Tetapi menurut perhitungan
Mahisa Agni tentu belum akan dilakukan malam ini. Ia melihat
prajurit yang terpencar2, dan sama sekali tidak ada pemusatan yang
lebih besar didalam maupun diluar istana.
Meskipun demikian, Mahisa Agni memang tidak boleh lengah.
Itulah sebabnya, maka ia ingin dapat bertemu dengan Witantra,
Kuda Sempana dan Mahendra. Karena mereka tidak mempunyai
pasukan yang cukup apabila diperlukan, dan memang hal itu sama
sekali bukan menjadi tujuan Mahisa Agni, maka ia masih berusaha
untuk menemukan jalan lain yang lebih baik.
Setelah beberapa lama ia mengamat2i bangsal Anusapati, maka
Mahisa Agni itupun segera meninggalkan tempatnya dan kembali
kebangsalnya sebelum para penjaganya menjadi curiga pula.
“Siapa lagi yang sedang berjalan2?“ bertanya Mahisa Agni ketika
ia sampai dimuka regol bangsalnya.
Beberapa orang prajurit menjadi termangu2. Tetapi prajurit yang
mengetahui sindirian itupun menjadi tersipu2. Tetapi ia tidak
menjawab sama sekali.
Karena tidak ada seorangpun dari mereka yang menjawab, maka
Mahisa Agni itupun kemudian berkata, “Baik2lah didalam tugas
kalian. Aku selalu berterima kasih kepada kalian, karena
keselamatanku tergantung kepada kalian malam ini. Selamat
malam.”
Pemimpin peronda itu mengerutkan keningnya. Ternyata bahwa
Mahisa Agni adalah seorang pemimpin yang ramah.
Hampar diluar sadarnya ia menjawab seperti kepada seorang
sahabatnya yang karip, tidak seperti terhadap seorang Senapati
Agung, “Baiklah, selamat malam.”
Pemimpin peronda itu terkejut sendiri atas jawabannya itu.
Tetapi ia tidak sempat mengulanginya karena Mahisa Agnipun telah
melangkah meninggalkannya.
Pemimpin peronda itu mengangguk2kan kepalanya. Katanya,
“jarang sekali terdapat Senapati besar seramah Mahisa Agni.“
Namun tiba-tiba ia menyambung dengan serta-merta, “Tetapi itu
bukan karena kebaikan hati. Itu adalah karena ia merasa bahwa ia
tidak lebih dari seorang anak Padepokan di Panawijen.”
Para prajurit itu mengangguk2kan kepalanya. Seperti terbangun
dari mimpi mereka. Mereka menyadari sesungguhnya, sehingga
setiap anggapan bahwa Mahisa Agni adalah seorang yang baik akan
dapat mengurangi kesungguhan mereka menjalankan tugas itu.
Ternyata belum lagi Mahisa Agni menutup pintu bangsalnya
rapat, ternyata seorang Senapati yang lain telah mendatangi regol
itu. Kepada pemimpm prajurit yang bertugas ia berkata, “Aku
mengemban tugas Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”
Pemimpin peronda itu mengangguk dalam2 sambil berkata,
“Silahkan. Baru saja tuan Mahisa Agni masuk kedalam bangsal.”
“Baru saja?“ bertanya perwira itu.
“Ya.”
“Darimana?”
“Sekedar berjalan2 didalam halaman ini.“
Perwira itu mengangguk2kan kepalanya. Lalu, “Apakah tidak ada
seorangpun yang mengikutinya?”
“Hanya dihalaman ini.”
“Ya, tetapi setidak2nya kalian tahu apa yang dilakukan
dihalaman ini.”
“Seorang dari kami mengikutinya dari kejauhan. Tetapi ia tidak
berbuat apa2,“ jawab pemimpin peronda itu sambit memandang
kepada prajurit yang mengikuti Mahisa Agni tetapi gagal.
Prajurit itu tidak membantah, meskipun dadanya terasa
bergetaran.
“Baiklah,“ berkata perwira itu, “aku akan bertemu dengan
Mahisa Agni atas perintah Sri Rajasa.”
“Silahkan. Tentu tuan Mahisa Agni masih belum masuk kedalam
biliknya.”
Perwira itupun kemudian naik tangga bangsal Mahisa Agni.
Perlahan-lahan ia mengetuk pintu bangsal itu.
“Siapa?“ bertanya Mahisa Agni yang ternyata masih duduk
diruang dalam.
“Aku, utusan Sri Rajasa.”
Mahisa Agni terkejut. Jarang sekali terjadi, utusan Sri Rajasa
datang dimalam hari. Hanya apabila ada persoalan yang sangat
penting sajalah, maka ia dipanggil menghadap dimalam hari.”
Namun demikian, Mahisa Agni harus melakukan apapun bunyi
perintah itu. Meskipun demikian ia menjadi berdebar2, karena ia
sudah terlanjur menyuruh Sumekar membawa Witantra dan
kawan2nya masuk kedalam bangsalnya lewat pintu butulan
dibelakang.
Dengan ragu2 Mahisa Agni melangkah mendekati pintu. Ada juga
kecurigaan yang bergejolak didalam hatinya. Karena itu, maka iapun
harus berhati2. Ia tidak tahu pasti, berapa orangkah yang datang
pada saat itu. Dan apakah hal itu ada hubungannya dengan sikap
para prajurit2 di regol yang mencoba mengkutinya?
Perlahan2 Mahisa Agni meraba pintu bangsalnya. Kemudian
dengan hati2 dan penuh kewaspadaan ia membuka pintu itu.
Mahisa Agni menarik nafas ketika ia melihat seorang perwira
berdiri dimuka pintu, dan yang kemudian menganggukkan
kepalanya.
“O, kau,“ sapa Mahisa Agni, “silahkan masuk.”
Perwira itu melangkah masuk kedalam. Kemudian merekapun
duduk diatas dingklik kayu yang dialasi dengan kulit domba
berwarna hitam.
“Kakang Mahisa Agni,“ berkata perwira itu, “kedatanganku
kemari sekedar menjalankan perintah Sri Rajasa.”
“Ya. Apakah perintah itu.”
“Kakang Mahisa Agni,“ berkata perwira itu, “besok dibangsal
paseban dalam akan diadakan sidang terbatas. Kakang diharap
hadir didalam sidang itu.”
“O, sidang terbatas?”
“Ya, ada sesuatu yang harus segera diselesaikan. Karena itu
kakang diharap hadir didalam sidang itu.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Firasatnya tiba2 saja telah
menyentuh perasaannya. Karena itu, maka ia mengambil
kesimpulan didalam hatinya, “Tentu ada sesuatu yang benar2
penting. Bukan saja bagi Singasari, tetapi juga bagi Anusapati.”
Tetapi Mahisa Agni tidak dapat memperhitungkan sikap apakah
yang akan diambil oleh Sri Rajasa. Karena itu, maka ia tidak segera
melihat kemungkinan yang dapat dilakukan. Agar perwira itu segera
pergi meninggalkan bangsalnya maka iapun kemudian menjawab,
“Perintah Sri Rajasa aku junjung-tinggi. Besok aku akan menghadap
dipaseban dalam.”
“Baiklah kakang. Aku hanya menyampaikan perintah.”
“Dan perintah itu sudah aku terima.”
Perwira itu mengangguk2kan kepalanya. Memang ia hanya
mendapat tugas untuk menyampaikan perintah, dan perintah itu
memang sudah diterima.
Karena itu maka perwira itupun segera minta diri. Dan itulah
memang yang dikehendaki oleh Mahisa Agni. Semakin cepat
menjadi semakin baik.
Sepeninggal perwira itu, maka Mahisa Agnipun menarik nafas
dalam2. Sebentar lagi beberapa orang akan memasuki bangsalnya.
Karena itu, maka tidak boleh ada orang lain lagi yang akan
memasuki bangsalnya.
Mahisa Agnipun kemudian pergi keruang depan. Meskipun pintu
bangsal itu sudah tertutup, tetapi dari luar masih tampak di sela2
dinding, bahwa lampunya masih menyala dengan terangnya. Karena
itu, maka Mahisa Agnipun kemudian memadamkan lampu itu sama
sekali.
Beberapa orang prajurit yang bertugas didepan bangsal itupun
segera melihat, bahwa ruang depan bangsal Mahisa Agni itu sudah
menjadi gelap.
“Mahisa Agni itu sudah akan pergi tidur,“ berkata salah seorang
prajurit.
“Ya, ternyata ia sendirilah yang seperti ayam,“ jawab prajurit
yang lain.
“Kenapa seperti ayam?”
“Bukankah ketika kita bertanya, apakah ia akan berjalan malam2
begini ia menjawab, bahwa kita ini seperti ayam saja, yang sudah
pergi tidur sejak senja turun.”
Kawan2nyapun tertawa. Katanya, “Memang sudah cukup malam
untuk pergi tidur.”
Yang lainpun terdiam. Mereka memang menyangka bahwa
Mahisa Agni akan segera pergi tidur.
Namun tidak scorangpun dari mereka yang mengetahui, apa
yang akan dilakukan oleh Mahisa Agni itu. Mereka tidak menyangka
bahwa akan ada beberapa orang yang dengan diam2 memasuki
halaman bangsal itu dan kemudian memasuki bangsal Mahisa Agni
dari belakang.
Sejenak Mahisa Agni masih menunggu. Tetapi ia yakin bahwa
orang2 itu pasti akan datang menemuinya.
Ternyata Mahisa Agni tidak perlu menunggu terlampau lama.
Sejenak kemudian ia mendengar pintu butulan dibelakang berderit,
dan muncullah beberapa orang memasuki bangsalnya.
“O,“ bisik Mahisa Agni, “aku sudah menduga bahwa kalian pasti
akan datang.”
Witantra tertawa. Katanya, “Kami merasa wajib datang malam ini
seperti yang kau kehendaki. Jika tidak perlu sekali maka kau tentu
tidak akan memanggil kami bersama2.”
“Sebenarnya tidak perlu sekali. Tetapi memang aku memerlukan
kalian didalam keadaan seperti ini. Aku kira kita memang sudah
mulai memanjat kepuncak persoalannya sehingga semuanya akan
segera berakhir. Karena itu, maka kita inipun harus segera
mengambil sikap.”
Witantra mengangguk2kan kepalanya. Jawabnya, “Kami sadar
akan hal itu.”
“Tetapi dimana Sumekar?“ bertanya Mahisa Agni.
“Ia mengantar sampai kebelakang bangsal ini. Tetapi ia berkata
bahwa ia ingin pergi untuk suatu keperluan sebentar.”
“He?“ Mahisa Agni menjadi heran, “kemana?”
“Kami tidak tahu. Tetapi katanya hanya sebentar saja.”
Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Baiklah
sambil menunggu Sumekar, aku ingin berbicara sedikit. Ternyata
bahwa Sri Rajasa sudah menyiapkan sebuah kekuatan untuk
melaksanakan niatnya yang barangkali dengan kekerasan. Ia tidak
dapat menghindar lagi dari tuntutan Ken Umang dan Tohjaya.”
“Memang Sri Rajasa didorong oleh keadaan yang sulit yang
hampir tidak dapat dihindari. Namun bagaimana mungkin ia dengan
tergesa2 mengangkat Anusapati menjadi Pangeran Pati, dan
kemudian ingin melemparkannya?”
“Ada beberapa kemungkinan. Ia ingin menghilangkan golongan
yang bagaimanapun juga masih mengagumi Tunggul Ametung.
Karena sebagian dari mereka mengetahui bahwa Anusapati adalah
putera Tunggal Ametung, maka dengan diangkatnya Anusapati
maka pengikutnya tidak akan berbuat terlampau banyak. Termasuk
kau Witantra.”
Witantra tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.
Dan Mahisa Agnipun meneruskan, “Agaknya kini Sri Rajasa yakin
bahwa pengikut Tunggul Ametung sudah lenyap sama sekali.
Kehadiranmu dikota ini memang banyak menimbulkan persoalan.
Tetapi diantaranya mereka menganggap bahwa dendammu tertuju
kepadaku. Apalagi karena kau hanya sekali dua kali muncul dan
tidak menimbulkan kesan yang lain, maka untuk sementara Sri
Rajasa mengabaikanmu.”
Witantra mengangguk2kan kepalanya. Lalu katanya, “Jika
demikian aku dapat mengambil sikap yang lain. Aku akan
menumbuhkan kesan, bahwa aku adalah pengikut Tunggul Ametung
yang setia. Nah, bukankah dengan demikian sikap Sri Rajasa
terhadap Anusapati akan berubah?”
“Ya. Tetapi kesempatan kita agaknya terlampau sempit. Malam
ini kalian harus tetap berada disini.”
“Untuk apa?”
“Jika kekerasan itu benar2 terjadi.”
“Dan kami akan melawan segenap prajurit yang ada
dihalaman?”
“Tidak. Aku mempunyai cara lain. Bukan melawan segenap
prajurit yang ada dihalaman ini, tetapi kita berusaha berbuat
sebaik2nya tanpa menimbulkan pertempuran yang hanya akan
menmbulkan korban jiwa saja.”
Witantra mengerutkan keningnya. Dipandanginya Mahisa Agni
dengan pertanyaan yang memenuhi dadanya.
Mahisa Agni seakan2 menyadari, apa yang dipikirkan oleh
Witantra. Karena itu maka katanya kemudian, “Tentu kita tidak akan
mungkin bertempur melawan segenap prajurit dan Senapati yang
ada dihalaman ini dan yang telah diatur pula oleh Sri Rajasa dan
orang2nya. Tetapi kita dapat menemukan cara lain. Kita langsung
berhubungan dengan Sri Rajasa.“
Witantra memandang Mahisa Agni dengan tajamnya, lalu
bertanya, “Kita akan memotong langsung kepalanya?”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada
jalan lain. Kita tidak akan berbuat apa2. Kita akan menemuinya dan
menjelaskan persoalannya. Mungkin kita dapat dianggap
memaksanya. Tetapi itu adalah jalan yang terbaik.”
“Sri Rajasa bukan seorang yang mudah menyerah kepada
keadaan Agni,“ berkata Kuda Sempana, “mungkin ia akan
mengtakan pendapat kita, tetapi kita tidak tahu apa yang akan
dilakukan besok.”
“Sabda seorang Maharaja tidak akan berubah. Jika ia menolak,
tentu ia akan menolak seketika itu apapun akibatnya, tetapi jika ia
mengiakannya, maka ia akan melakukannya.”
Kuda Sempana mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Jika kau
yang menjadi Maharaja, maka mungkin sekali kau akan berbuat
demikian. Dan mungkin juga raja2 yang lain. Tetapi apakah
demikian pula yang akan dilakukan oleh Ken Arok yang sekarang
bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu?”
“Aku tidak tahu Kuda Sempana. Mudah2an ia seorang Kesatria
sepenuhnya meskipun masa lampaunya adalah masa lampau yang
kelam.”
“Kita dapat mencoba,“ berkata Mahendra, “sementara kita
menyiapkan diri. Setidak2nya kita mendapat kesempatan untuk
menyelamatkan Putera Mahkota, dan membawa kesuatu tempat
yang terpencil dan aman. Tentu Sri Rajasa tidak dapat menutup
mata, bahwa Putera Mahkota Sebagai Kesatria Putih akan dengan
mudah mendapat pengikut apabila Sri Rajasa benar2 ingkar akan
janjinya.”
Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Itu adalah
pendapat yang baik. Demikian Sri Rajasa menyanggupi untuk
mengambil sikap yang pasti bagi Putera Mahkota, maka kita akan
menyingkirkan Putera Mahkota itu sejauh2nya sementara kita
menunggu perkembangan. Putera Mahkota akan kembali keistana
tanpa melanggar haknya dan hak orang lain, sementara Sri Rajasa
tidak akan dapat berbuat apapun lagi, karena persiapan Putera
Mahkotapun telah matang.”
“Ya. Kita akan mencobanya. Mudah2an kita hanya sekedar
berprasangka.”
“Kau terlampau lembut. Tetapi mudah2an kau benar. Namun
seandainya harus terjadi, kita sudah siap. Kita akan langsung
mendapatkan Sri Rajasa, dan jika perlu menembus barisan
pengawalnya.”
“Apaboleh buat,“ sahut Mahisa Agni. Lalu, “Sekarang, kalian
dapat beristirahat disini. Aku menjamin bahwa tidak akan ada orang
lain yang mengetahuinya. Biarlah kita menunggu Sumekar. Mungkin
ia sedang mengamat2i perkembangan baru dihalaman istana ini.”
“Aku ingin juga keluar sebentar. Aku akan berhati2,“ berkata
Witantra.
“Kita menunggu Sumekar sejenak.”
Witantra mengangguk2kan kepalanya, dan Mahisa Agni berkata
seterusnya, “Aku besok dipanggil dibangsal paseban.”
Witantra memandang Mahisa Agni sejenak. Lalu, “Tidak ada
penjelasan lagi?”
“Tidak.”
“Dan dihalaman ini terjadi kesibukan malam ini?”
“Sedikit. Aku tidak melihat bahaya yang menentukan. Namun
aku tidak tahu, bahwa timbul firasatku bahwa justra paseban besok
akan menentukan sesuatu sehubungan dengan kegiatan malam ini.“
“Kita memang harus mengamati keadaan. Mungkin sekali terjadi.
Justru ketika kau berada dipaseban, para prajurit mengambil
tindakan terhadap Putera Mahkota. Tentu tidak mengetahuinya.”
“Akupuu menduga demikian. Jika tidak, tentu tidak akan ada
kegiatan yang melampaui kebiasaan dan sehubungan dengan sikap
dan penglihatan Sumekar, bahwa yang terjadi halaman ini tidak
pernah dilihatnya sebelumnya.”
“Tentu ada hubungannya.”
“Dan akupun ternyata diikuti oleh seorang prajurit ketika aku
berjalan2 dihalaman.”
Witantra dan kedua kawan2nya saling berpandangan. Seakan2
mereka telah menjadi yakin, bahwa sesuatu memang akan terjadi.
Karena itulah maka Witantrapun berkata, “Baiklah aku mengamati
keadaan. Mungkin kita haras bertindak cepat. Aku akan memberikan
isyarat dari kejauhan dan kalian harus segera pergi kebangsal Sri
Rajasa.”
“Tetapi hati2lah. Akupun akan menengok bangsal Anusapati,”
jawab Mahisa Agni.
“Jika demikian,“ berkata Kuda Sempana kemudian, “kita berada
diluar bangsal ini saja, karena agaknya memang lebih aman. Kita
mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu.”
“Baiklah,“ berkata Mahisa Agni, “tetapi kita menunggu Sumekar
sejenak. Kita mendengar pendapatnya.”
Witantra mengangguk2kan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Tetapi
jangan terlalu lama. Hari menjadi semakin malam.”
“Tentu tidak lama,“ Kuda Sempanalah yang menyahut, “ia hanya
akan singgah sejenak. Dan iapun akan segera menyusul kemari.”
Sejenak mereka saling berdiam diri. Mereka menunggu
kedatangan Sumekar yang memisahkan dirinya ketika mereka
memasuki halaman istana.
“Lama sekali,“ desis Mahendra.
“Mungkin ia singgah kegubugnya.“
Mahendra menarik nafas dalam2.
Namun tiba2 saja mereka dikejutkan oleh guruh yang seakan2
meledak diatas istana. Begitu kerasnya dan mengejutkan segenap
bangunan yang ada dilingkungan halaman istana serasa bergetar
karenanya.
“Mengejutkan,“ desis Kuda Sempana.
Witantra mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Bukankah
ketika kita memasuki halaman ini, langit nampaknya bersih?”
Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Namun merekapun
kemudian mendengar angin yang menderu, seakan2 semakin lama
menjadi semakin keras.
“Angin,“ desis Mahendra, “agaknya hujan memang akan turun.”
Mahisa Agni hanya mengangguk2kan kepalanya saja. Tetapi
tiba2 saja terasa dadanya berdesir ketika ia melihat kain2 selintru
bergetar oleh angin yang menyusup dinding. Bahkan terasa pada
kulit tubuh mereka, angin yang basah berhembus melintasi
ruangan.
Sekali lagi mereka mendengar guruh dilangit. Suaranya
menggelegar berkepanjangan, seperti sebuah pedati raksasa yang
lewat dijalan langit yang berbatu2. Panjang sekali.
Orang2 yang ada didalam bangsal itu menaiik nafas dalam2.
Terasa udara malam menjadi asing. Angin yang berhembus
rasa2nya semakin lama menjadi semakin kencang.
“Musim hujan memang sudah tiba,“ berkata Mahendra.
“Tetapi belum waktunya angin dan guntur bersahut2an dilangit,“
sahut Witantra.
“Memang kadang2 terjadi kelainan seperti ini,“ berkata Mahisa
Agni, “ketika Akuwu Tunggul Ametung masih memerintah pernah
juga terjadi hujan dikelainan musim. Tiga hari tiga malam. Kemudan
pada masa pemerintahan Sri Rajasapun pernah juga terjadi.”
“Ingatanmu baik sekali Mahisa Agni.”
“Kebetulan saja bersamaan waktunya dengan kejadian besar
yang tidak dapat aku lupakan. Mungkin masih banyak terjadi
kelainan musim. Tetapi aku sudah tidak ingat lagi.”
“Kejadian besar yang manakah yang kau maksudkan?“ bertanya
Witantra.
“Yang pertama menurut ingatanku, yaitu pada saat
pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung adalah saat2 menjelang
akhir pemerintahannya. Hujan turun beberapa hari. Tetapi waktu itu
kita tidak menghiraukannya, karena musim hujan memang sudah
diambang pintu.”
“Seperti saat ini.”
“Ya, seperti saat ini.”
“Dan pada masa pemerintahan Sri Rajasa?“
“Tiba2 saja hujan turun seperti dicurahkan dari langit.“
“Ya. Bersamaan waktunya dengan peristiwa yang mana?”
“Menjelang gugurnya Sri Kertajaya Maharaja di Kediri.”
Witantra menarik nafas dalam2. Katanya, “Pantas kau dapat
mengingatnya. Sebenarnya yang kau ingat bukan hujan dan angin,
tetapi peristiwa2 besar itulah agaknya.“
“Sudah aku katakan. Mungkin musim yang salah itu sering
terjadi. Tetapi tentu aku tidak dapat mengingatnya lagi.”
Merekapun terdiam ketika mereka mendengar guruh sekali lagi
mengumandang dilangit. Seleret cahaya yang terang benderang
telah membelah kegelapan malam, disambut oleh suara angin yang
gemerasak didedaunan.
“Anginpun ikut berbicara bersama kita. Kau dengar?” bertanya
Mahendra.
Yang lain mengangguk2kan kepalanya. Namun tampaklah wajah
Witantra menjadi bersungguh2. Sambil menganggukkan kepalanya
ia berkata, “Kadang2 kejadian2 besar memang ditandai oleh
peristiwa alam yang agak lain dari urutan musimnya.”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah
Witantra sejenak. Lalu, “Apakah ada sesuatu terasa dihatinya.”
“Semacam firasat buruk,“ Kuda Sempanalah yang menyahut.
“Ya,“ berkata Mahendra pula. “Ada sesuatu yang lain dihati ini.“
Mahisa Agni menarik nafas dalam2. Katanya, “Inikah pertanda
itu?“ ia terdiam sejenak, lalu, “jika demikian tinggallah kalian
disini.
Aku akan pergi kebangsal Anusapati.“
Witantra termenung sejenak. Lalu, “Kenapa kau? Kenapa bukan
aku?”
“Aku lebih leluasa bergerak dihalaman istana ini.”
Witantra tidak segera menyahut. Tetapi sepercik cahaya telah
memancar lagi. Terang sekali, diiringi suara guruh yang
menggelegar dilangit.
Belum lagi suara guruh itu lenyap, terdengar sesuatu yang
mendebarkan jantung. Perlahan2 pintu butulan telah diketuk orang.
“Sumekar,“ desis Mahisa Agni.
Mahendrapun kemudian berdiri. Dengan hati2 ia menarik selarak.
Ketika pintu terbuka sedikit, mereka yang ada didalam ruangan
itupun terkejut bukan kepalang. Ternyata yang datang sama sekali
bukan Sumekar, tetapi Anusapati.
“Kau Anusapati?“ bertanya Mahisa Agni perlahan2.
Anusapati tidak menjawab, Iapun kemudian melangkah masuk
dengan ragu2. Dilihatnya beberapa orang yang sudah ada
diruangan itu.
“Duduklah.“
Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya,
“Dimanakah paman Sumekar?”
Pertanyaan itu mengejutkan Mahisa Agni dan orang2 yang ada
didalam bilik bangsal itu.
“Pamanmu Sumekar tidak ada disini,“ jawab Mahisa Agni, “kami
memang sedang menunggunya.”
“Baru saja paman Sumekar datang kepadaku.”
“O,“ kata2 itu sangat menarik perhatian. Lalu, “dimana ia
sekarang?“ bertanya Mahisa Agni.
“Aku sedang mencarinya kemari. Menurut paman Sumekar, ia
akan pergi kebangsal ini.”
“Ia belum datang. Mungkin ia singgah ditempat tinggalnya atau
keperluan lain. Sebentar lagi ia akan datang. Karena iapun
menyatakan kepada kami, bahwa ia akan segera datang.”
Anusapati memandang Mahisa Agni dengan heran. Katanya,
“Paman Sumekar mengatakan kepadaku, bahwa paman
menyuruhnya pergi kepadaku.”
“Aku?”
“Ya paman.”
“Kenapa aku? Dan apa katanya?”
“Paman menyuruh paman Sumekar kebangsalku dan dengan
diam2 menemui aku, karena paman ingin melihat keris mPu
Gandring itu.”
“Keris mPu Gandring?”
“Ya. Paman Sumekar telah membawa keris itu, yang menurut
paman Sumekar akan diserahkannya kepada paman Mahisa Agni.”
Jawaban itu telah mengguncangkan dada Mahisa Agni dan
orang2 yang ada diruangan itu, sehingga Witantra bergeser
setapak. “Jadi, keris itu sekarang dibawa oleh Sumekar.”
“Ya.”
Terasa sesuatu bergejolak disetiap dada.
“Bagaimana paman,” bertanya Anusapati, “apakah tidak
demikian?”
“Katakan Anusapati, bagaimana hal itu terjadi.”
Anusapati menjadi gelisah. Katanya, “Paman Sumekar datang
kepadaku dengan diam2. Paman Sumekar membawa pesan paman
Mahisa Agni untuk membawa keris itu. Karena paman Mahisa Agni
ingin melihatnya.”
“Bukankah aku pernah melihat keris itu?”
“Ya, tetapi menurut paman Sumekar, paman Mahisa Agni ingin
melihat lebih cermat lagi, apakah keris itu benar2 keris mPu
Gandring.“
“Ah,“ Mahisa Agni berdesah.
“Jadi, apakah tidak demikian?“ bertanya Anusapati.
Mahisa Agni tidak segera menjawab. “Ia sama sekali menduga
bahwa tiba2 terjadi suatu hal yang tidak dapat dimengertinya.
Sumekar selama ini tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali.
Namun tiba-tiba ia telah berbuat sesuatu yang tentu mendebarkan
jantung.”
“Tetapi tentu bukan maksudnya untuk mencelakakan Anusapati,
Justru selama ini ia menunjukkan betapa ia ingin berbuat sesuatu
untuk Anusapati.”
Ternyata pikiran itu justru telah mengejutkan Mahisa Agni
sendiri. Sekali lagi diulanginya didalam hatinya, “Sumekar ingin
berbuat sesuatu untuk Anusapati.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam2.
“Jadi, bagaimanakah sebenarnya paman?“ desak Anusapati.
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian. Dengan hati2 ia
ingin menjelaskan masalahnya, “Aku tidak memberikan pesan itu
kepada pamanmu Sumekar.”
“Jadi apakah maksud paman Sumekar?”
Mahisa Agni memandang wajah Witantra, Kuda Sempana dan
Mahendra berganti2. Sebelum ia berkata sesuatu, Kuda Sempana
telah berdesis, “Memang mengherankan. Tetapi juga
mencemaskan.“
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “selama ini Sumekar telah
berbuat sebaik2nya bagimu. Selama ini ia berusaha untuk
membantumu jika kau berada didalam kesulitan. Karena itu, jika ia
membawa keris itu, tentu maksudnya sama sekali tidak diarahkan
kepadamu. Namun demikian, kita masih juga tetap meraba2.
Karena itu, marilah kita mencarinya. Mungkin kau dapat mencarinya
kesekitar bangsal ayahandamu. Tetapi ingat, dengan diam2. Aku
akan mencarinya ditempai lain yang lebih berbahaya, didaerah
seberang dinding. Siapa tahu, Sumekar pergi kebangsal Ken Umang
dan Tohjaya dengan keris itu ditangan. Jika kita bertemu dengan
Sumekar, maka cobalah membujuknya. Bawalah ia kebangsal ini.
Katakan bahwa pamanmu Kuda Sempana menunggunya, karena
pamanmu Kuda Sempana adalah saudara tua seperguruan dari
pamanmu Sumekar.”
“Baiklah paman. Aku akan mencoba mencarinya.”
“Hati2lah. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak kita
kehendaki, meskipun agaknya persiapan didalam istana ini menjadi
semakin meningkat.”
“Itulah yang akan aku katakan kepada paman Sumekar, agar ia
menjadi berhati2, karena menurut pengamatanku, ada beberapa
kelainan dihalaman istana ini.”
“jika demikian, apakah aku juga dapat ikut mencarinya?“
bertanya Witantra.
“Ada juga baiknya. Tetapi aku harap Kuda Sempan dan
Mahendra tetap berada dibangsal ini. Aku kira tidak akan ada orang
yang akan memasukinya. Jika ada, tentu orang itu membawa tugas
rahasia.“
“Baiklah paman. Aku akan mencarinya.”
“Marilah kita pergi. Berhati2lah. Aku juga harus berhati2, karena
di bangsal Tohjaya itu kini mendapat penjagaan yang sangat kuat.“
“Aku akan mencarinya ditempat lain dari kedua tempat itu.”
Demikian, seorang demi seorang, Mahisa Agni, Witantra dan
Anusapati meninggalkan bangsal itu. Sebelum Anusapati mengikuti
pamannya keluar dari pintu butulan, Kuda Sempana masih sempat
berpesan. “Tuanku Putera Mahkota, Sumekar sebenarnya adalah
seorang yang keras hati. Karena itu, jika tuanku bertemu, katakan
bahwa tuanku mendapat pesan daripadaku, bahwa aku akan
menemuinya sejenak tanpa merubah rencananya.”
“Baiklah paman. Mudah2an aku dapat menemuinya.”
“Silahkan. Tetapi seperti pesan paman tuanku, berhati2lah.
Agaknya persiapan yang meningkat ini diarahkan kepada tuanku.”
“Sebenarnya aku memang sudah menduga paman. Tetapi
agaknya pamanda Mahisa Agni terlampau mempercayai kelembutan
hati manusia yang lain seperti dirinya sendiri. Seakan2 didunia ini
memang tidak ada kedengkian dan kepalsuan.“
“Sukurlah jika tuanku sudah menyadarinya.”
“Tetapi jika mereka benar2 bertindak malam ini, agaknya aku
sudah terlambat. Kecuali meninggalkan istana ini, hanya seorang
diri, tanpa anak dan isteriku.”
“Sekarang, silahkan angger mencari Sumekar. Memang agaknya
lebih aman disekitar bangsal Sri Rajasa, justru karena Sri Rajasa
memiliki kelebihan dari orang lain, sehingga tidak memerlukan
penjagaan sekuat bangsal ibunda Ken Umang dan adinda tuanku
Tohjaya.”
“Terima kasih paman. Aku minta diri.”
Anusapatipun kemudian dengan hati2 meninggalkan bangsal itu
lewat halaman belakang yang sepi. Dengan lincahnya ia meloncat
keatas dinding batu yang tinggi dan kemudian hilang dibalik dinding
itu.
Dalam pada itu, maka tiga orang yang tanpa diketahui oleh para
penjaga, telah menyusup diantara gerumbul2 pohon bunga
dihalaman. Yang seorang menuju kebangsal Sri Rajasa, yang
memang tidak begitu banyak mendapat penjagaan, justru karena
setiap orang yakin, bahwa Sri Rajasa memiliki kelebihan yang tidak
dimiliki oleh orang lain, serta atas perhitungan bahwa tentu tidak
akan ada seorangpun yang berani mengganggunya, sedang yang
seorang lagi pergi kebangsal di bagian lain dari istana Singasari,
yaitu bangsal Ken Umang dan Tohjaya serta adik2nya. Kemudian
Witantra mencoba mencari dibagian lain dihalaman istana itu.
Mungkin justru Sumekar menjumpai bahaya diperjalanannya
menuju kebangsal Mahisa Agni.
Sementara itu guntur dilangit masih juga terdengar sekali2
meledak memekakkan telinga. Angin yang kencing bertiup diantara
dedaunan, sehingga lampu yang sudah dinyalakan dihalaman dan di
gardu2 bagaikan diguncang2, sehingga kadang2 sinarnya menjadi
amat redup dan bahkan hampir padam.
“Suasananya terasa aneh sekali,“ gumam seorang prajurit,
“guntur dan guruh tiba2 saja berkejar2an dilangit yang sehari ini
tampak cerah.”
“Tiba2 saja. Aku menjadi bertanya2 didalam hati, apakah ini
suatu pertanda.”
“Pertanda apa?”
“Aku tidak mengerti, kenapa kita harus bertugas malam ini.
Inipun suatu perintah tiba2 seperti guruh yang tiba2 saja meledak
dilangit.”
“Apakah kau sama sekali tidak mengerti persoalan yang sedang
berkecamuk dihalaman istana ini?”
“Aku memang mendengarnya, tetapi aku ragu2 untuk
mempercayainya.”
“Apa?”
“Besok pagi dipaseban akan ada sidang para pemimpin yang
akan membicarakan kenaikan upah bagi para prajurit.”
“Ah,“ prajurit yang lain berdesah.
“Apakah bukan itu yang kau maksud?”
“Tentu bukan.”
“Jadi?”
“Pertentangan yang semakin lama menjadi semakin tajam
antara kedua putera Sri Rajasa.”
“Lalu, apakah hubungannya dengan kita sekarang ini?”
“Kita harus berjaga2, agar tidak terjadi bentrokan terbuka antara
keduanya dan para pengikutnya.“
Kawannya mengangguk2kan kepalanya. Tetapi ia tidak berbicara
lagi.
Namun dalam pada itu, kedua prajurit itu tidak mengerti bahwa
seorang perwira sedang memperhatikan mereka. Perwira itu
kadang2 mengerutkan keningnya, kadang2 wajahnya menjadi
tegang. Tetapi kemudian sebuah senyum menghiasi bibirnya.
Katanya didalam hati, “Tentu kalian tidak mengerti apa yang harus
kalian lakukan. Besok kalian harus menguasai keadaan jika
beberapa orang Senapati menangkap Anusapati dan Mahisa Agni di
paseban. Perintah itu baru akan datang besok pagi jika paseban
sudah penuh dengan mereka yang akan mengikuti Sidang. Dan
bahkan ketika Sri Rajasa sudah duduk di paseban itu pula.”
Tetapi Senapati yang tersenyum itupun tidak mengetahui bahwa
dihalaman itu merayap beberapa orang yang sedang melakukan
tugas masing2. Dan merekapun tidak tahu, bahwa seseorang yang
lebih dahulu dari ketiga orang yang lainpun sedang merayap pula
diantara rimbunnya pepohonan. Bukan saja sedang mengendap2
mencari seseorang, tetapi ternyata bahwa ia telah menggenggam
keris telanjang ditangannya.
Keris bukan sembarang keris, tetapi keris itu pusaka yang dibuat
oleh mPu Gandring. Keris yang sudah dibasahi dengan darah mPu
Gandring sendiri dan darah Akuwu Tunggul Ametung. Sehingga
dengan demikian keris yang sudah bernoda darah itu agaknya justru
telah menjadi haus. Seperti yang dipesankan oleh mPu Gandring
menjelang tarikan nafasnya yang terakhir, agar keris itu
dihancurkan saja, karena keris itu tentu akan menuntut darah orang
berikutnya.
Demikianlah dengan berdebar2 Anusapati, Mahisa Agni dan
Witantra berusaha menemukan Sumekar sebelum terjadi apapun
juga, karena dugaan mereka semakin lama menjadi semakin kuat
bahwa Sumekar akan mengambil tindakan tersendiri. Sudah sejak
beberapa lamanya, Sumekar merasa bahwa keadaan yang
terkatung2 itu harus diakhiri dengan caranya. Dan cara itulah yang
mendebarkan hati Anusapati, Mahisa Agni dan kawan2nya.
Dalam pada itu Anusapatipun menjadi semakin dekat dengan
bangsal Sri Rajasa. Tetapi ia harus sangat berhati2. Jika seseorang
melihatnya, persoalannya tentu akan menjadi berbeda. Dan ia tidak
akan dapat ingkar lagi, seandainya para prajurit dan kemudian Sri
Rajasa sendiri menuduhnya untuk melakukan perlawanan terhadap
ayahanda Sri Rajasa bahwa tuduhan yang lebih berat lagi, usaha
membunuh Sri Rajasa.
Atas kesadaran itu, maka Anusapatipun menjadi semakin hati2.
Ia sama sekali tidak berani mendekati bangsal itu dari depan.
Tetapi
ia menyusur dinding batu dibelakang bangsal itu dan mendekat
lewat longkangan belakang.
“Ayahanda sering menghirup udara di longkangan itu,“ berkata
Anusapati.
Namun ia menjadi ragu2. Sri Rajasa adalah seorang yang
memiliki kemampuan tiada taranya. Jika ia berani mendekat, maka
Sri Rajasa itu tentu dapat mengetahuinya.
Karena itulah, maka untuk beberapa saat Anusapati menjadi
termangu2. Namun ada semacam dorongan yang memaksanya
untuk bergerak lebih dekat lagi.
“Aku akan melihat dari kejauhan lebih dahulu,“ berkata
Anusapati didalam hatinya, “agar seandainya ayahanda benar2 ada
didalam aku tidak terjebak oleh incerannya yang sangat tajam.”
Demikianlah, maka Anusapatipun telah memanjat sebatang
pohon preh yang rimbun. Didalam gelapnya malam dan angin yang
rasa2nya bertiup semakin kencang, tidak seorangpun yang
memperhatikan pohon preh yang bagaikan diguncang2 itu.
Hanya setiap kali tatit memancar dilangit, Anusapati harus
melekat pada batang pohon preh itu agar tidak menimbulkan
kecurigaan.
Ketika Anusapati sudah berada ditempat yang cukup tinggi, maka
iapun segera menyelusur sebatang cabang yang besar, agar ia
dapat melihat kedalam longkangan dalam.
Terasa jantung Anusapati bagaikan berhenti berdenyut. Dari
tempatnya, ia melihat seseorang telah berada didalam longkangan
belakang bangsal Sri Rajasa. Didalam keremangan cahaya lampu
dilongkangan itu. Anusapati melihat, orang itu membawa sebilah
keris telanjang.
“Paman Sumekar,“ ia berdesis.
Sejenak Anusapati justru terpukau oleh pemandangan itu. Ia
merasa sesuatu menyentuh hatinya. Sumekar berbuat hal itu justru
untuk kepertingannya, karena Sumekar sudah jemu melihat
perkembangan yang tidak menentu diistana Singasari ini.
Tetapi apakah ia akan berdiam diri saja melihat tindakan
Sumekar itu?
Tiba2 sesuatu terbersit di dalam hatinya. Sebagai manusia biasa
Anusapati tidak terlepas dari gangguan kepentingan diri. Itulah
sebabnya telah terjadi semacam benturan didalam dirinya. Seperti
yang dipesankan oleh pamannya, bahwa sebaiknya ia berusaha
membujuk Sumekar untuk kembali ke bangsal Mahisa Agni, namun
didalam hatinya yang paling dalam ia berkata kepada diri sendiri.
“Apakah aku sudah melanggar pesan paman Mahisa Agni jika aku
membiarkan paman Sumekar melakukan usahanya untuk
menyingkirkan ayahanda Sri Rajasa? Bukankah aku bukan sanak
dan bukan kadangnya.”
Anusapati justru menjadi ragu2.
Namun sesuatu yang mendesak didalam hatinya justru pengaruh
pertentangannya dengan ayahanda Sri Rajasa. Persiapan-persiapan
yang menjadi semakin ketat didalam istana Singasari. Dan apalagi
ketika terbersit tanggapannya, “Ayahanda mempersiapkan
semuanya ini untuk menyingkirkan aku. Tentu bukan sekedar
menyingkirkan saja dari istana Singasari ini, tetapi tentu juga
mengancam jiwanku.“ lalu tiba2 ia bergumam, “selagi ayahanda Sri
Rajasa masih ada, maka ancaman maut itu tidak akan dapat aku
hindarkan. Tetapi apakah aku tidak berhak membela diriku? Dan jika
perbuatan paman Sumekar itu merupakan perlindungan bagi jiwaku
tanpa berbuat langsung, itu aku dapat dipersalahkan?”
Dalam keragu2an itu, terasa darah Anusapati seakan2 terhenti.
Ternyata dari dalam bangsal itu, Sri Rajasa mengetahui bahwa
seseorang ada dilongkangan dalam.
“sangat berbahaya bagi paman Sumekar.” berkata Anusapati
kepada diri sendiri. Tanpa disadarinya ia mencoba memperhatikan
para prajurit yang ada didepan bangsal itu.
“Apakah mereka tidak akan mendengar jika terjadi perkelahian.“
Dalam pada itu, angin seakan2 menjadi semakin kencang, dan
guruh meledak2 dilangit. Memang suatu kelainan musim yang aneh.
“Angin yang keras ini akan melindungi paman Sumekar,“ berkata
Anusapati didalam hatinya. “Namun jika ayahanda Sri Rajasa
memberikan isyarat kepada para prajurit, maka paman Sumekar
akan menjadi sayatan daging di longkangan itu.“
Hati Anusapati menjadi semakin berdebar2. Ia sadar, betapa
marahnya Sri Rajasa. Tetapi agaknya Sumekarpun sudah bertekad
bulat.
“Aku harus mendekat. Aku harus melihat akhir dari peristiwa
ini.”
Dengan tergesa2 Anusapatipun segera turun dari pohon preh itu.
Namun ia masih tetap sadar, bahwan ia memang harus berhati2.“
Demikianlah, selagi Anusapati meluncur turun dari pohon preh
yang besar itu. Sri Rajasa telah berada dilongkangan belakang.
Sebagai seorang yang memiliki kelebihan, maka iapun segera
mengetahui bahwan ada seseorang yang mencurigakan
dilongkangan. Apalagi Sumekar, yang memang dengan hati yang
bulat dan sikap yang pasti, ingin berbuat sesuatu bagi Singasari
menurut caranya.
Itulah sebabnya ia dengan sengaja telah memancing Sri Rajasa
untuk keluar dari bangsalnya kelongkangan belakang.
Didalam gemuruhnya angin kencang dan guntur yang sekali2
meledak dilangit, maka terdengarlah suara Sumekar lamat2 dan
yang hanya didengar oleh Sri Rajasa sendiri, “Tuanku, ternyata
perbuatan tuanku sudah tidak dapat dihentikan dengan cara yang
ditempuh oleh Mahisa Agni. Justru pada saat Mahisa Agni berusaha
dengan segala kelemahan yang ada padanya, tuanku
mempergunakan kesempatan ini sebaik2nya. Persiapan yang tuanku
lakukan bukannya sekedar sebuah permainan yang dapat dianggap
sebagai angin lalu. Tentu ada maksud tuanku yang tidak akan dapat
tuanku ingkari lagi, memusnahkan Putera Mahkota dan Mahisa Agni
sekaligus.“
Sri Rajasa menjadi marah bukan buatan mendengar kata2
Sumekar. Namun ia masih sempat bertanya, “Siapa kau?”
“Apakah tuanku belum pernah melihat hamba? Hamba adalah
seorang Pengatasan dari Batil.”
“Apa perlumu datang kemari?”
“Hamba ingin memberikan sedikit darma bakti bagi Singasari.
Hamba adalah orang yang kagum kepada tuanku yang telah
berhasil menyatukan Singasari yang besar dengan segala macam
kelebihan tuanku dibidang pemerintahan dan keprajuritan. Namun
menyesal sekali bahwa hamba tidak sampai hati melihat apa yang
akan tuanku lakukan disaat2 menjelang hari tua tuanku. Hamba
tidak rela melihat usaha tuanku menyerahkan Singasari kepada
seseorang yang tidak akan dapat meneruskan keagungan
pemerintahan tuanku.”
“Aku tidak tahu maksudmu.“
“Tuanku, sebenarnyalah hamba berharap agar tuanku tidak
menarik keputusan tuanku untuk menyerahkan kekuasaan Singasari
dari tangan Anusapati, karena menurut pengamatan hamba, Putera
Mahkota Anusapati akan dapat mengendalikan kekuasaan Singasari
dan memperkembangkannya seperti yang tuanku kehendaki. Tetapi
tentu tidak demikian dengan tuanku Tohjaya. Tuanku Tohjaya
seperti ibundanya, adalah seorang yang paling tamak diseluruh
Singasari.“
“Cukup,“ bentak Sri Rajasa.
Meskipun suaranya cukup keras namun para prajurit didepan
bangsal itu tidak dapat mendengarnya karena angin yang keras
diseling dengan suara guntur yang menggelegar.
“Apakah kau ada hubungan keluarga dengan Anusapati?“
bertanya Sri Rajasa.
“Tidak. Aku tidak mempunyai hubungan keluarga dengan tuanku
Anusapati, juga tidak dengan tuanku Tohjaya.“
“Kau adalah pengikut Tunggul Ametung yang setia.”
“Pada jaman Akuwu Tunggul Ametung, aku tidak tahu apa2
sama sekali.”
“Jadi, apa sebenarnya yang kau kehendaki?“
“Kelangsungan hasil kerja tuanku Sri Rajasa yang besar.”
“Gila, kau ingin kelangsungan hidup Singasari yang besar atas
usahaku sekarang kau datang dengan cara yang gila ini.”
“Tuanku, hamba mohon agar tuanku mengurungkan niat tuanku
untuk menggeser tuanku Anusapati. Tuanku tidak usah ingkar. Dan
hamba mengharap agar tuanku Tohjaya dibatasi kekuasaannya
sehingga bukan tuanku Tohjayalah yang seakan2 menjabat sebagai
seorang Pangeran Pati. Tetapi tuanku Anusapati.”
“Jangan gila pengalasan dari Batil. Aku berhak menentukan apa
saja. Bukan kau. Aku mempunyai kekuasaan tidak terbatas di
Singasari.”
-ooo00ooo-
JILID 79
“ ITULAH kesalahan tuanku, Justru karena tuanku merasa
memiliki kekuasaan yang tidak terbatas. “
“ Lalu apa maumu sebenarnya. “
“ Sudah hamba katakan. “
“ Gila, aku tidak mau mendengar kata2mu itu. Aku berhak
mengatakan apa saja yang ingin aku katakan. Dan aku berhak
memutuskan apa yang ingin aku putuskan. “
“ Tuanku “ berkata Sumekar yang bagaikan orang kehilangan,
nalar “ hamba tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Hamba
mohon tuanku berjanji. “
“ Tidak. “
“ Kenapa tidak? “
” Kau gila. “
“ Tidak tuanku, hamba tidak gila. Hamba ingin hal itu terjadi.
Tuanku harus berjanji. “
“ Aku tidak mau. “
“ Jika tidak, hamba terpaksa melakukan kekerasan. Untuk
kepentingan kabesaran hasil usaha tuanku atas Singasari, maka
hamba terpaksa menyingkirkan tuanku. ”
“ Kau gila. Kau benar2 sudah menjadi gila. “
“ Tinggal ada dua pilihan. Memenuhi permohonan hamba,
atau hamba terpaksa membunuh tuanku. Lihat, hamba sudah
membawa pusaka yang pasti tuanku kenal. “
Sri Rajasa memandang keris ditangan Sumekar itu dengan dada
yang ber-debar2. Ia tahu bahwa keris itu tentu jatuh ketangan
Anusapati lewat ibundanya. Maka katanya
“ Kau tentu mendapat perintah dari Anusapati, atau Mahisa? Agni
atau bahkan dari Ken Dedes sendiri. “
“ Tidak. Tidak seorangpun memerintahkan kepada-hamba.
Hamba justru telah menipu tuanku Anusapati, sehingga hamba
mendapatkan keris buatan mPu Gandring ini.. Keris yang sudah
pernah menjilat darah. „
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menjadi ber-debar2.
Dipandanginya keris buatan mPu Gandring itu. Keris yang pernah
dipergunakannya untuk membunuh beberapa orang. Diantaranya
adalah mPu Gandring sendiri.
Sri Rajasa menarik nafas dalam2. Katanya “ Apakah kau sudah
gila? Kau tentu tahu bahwa aku adalah Sri Rajasa. Seseorang yang
pernah mengalahkan dan membinasakan Maharaja di Kediri.
Sekarang, kau seorang pengalasan yang bodoh mencoba untuk
membunuh aku. Apapun yang kau genggam, namun tentu
nyawamu sendirilah yang akan direnggut oleh ujung senjata itu.
Karena itu, urungkan niatmu. Aku tidak akan menuntut hukuman
apapun karena aku tahu, bahwa kau sedang terganggu syarafmu.
Aku akan melupakannya. Dan kau dapat bekerja seperti biasa
ditaman istana Singasari ini. Tetapi, serahkan keris itu kepadaku.
“
“ Maaf tuanku. Hamba mohon jawaban tuanku. Apakah tuanku
mengurungkan niat tuanku untuk menyingkirkan tuanku Anusapati
apa tidak. Jawaban tuanku adalah jawaban seorang Maharaja yang
tentu tidak akan dijilat kembali meskipun musim berubah sehari
tujuh kali. “
Sri Rajasa menjadi tegang. Kemarahan yang menyala di-dadanya
bagaikan membakar jantung. Namun ia masih tetap berusaha
menjaga diri sebagai seorang Maharaja. Tentu tidak pantas bahwa
seorang Maharaja yang besar harus berkelahi melawan seorang juru
taman meskipun didalam beberapa saat saja juru taman itu akan
terbunuh. Dan apakah kata para prajurit yang bertugas diregol,
bahwa dilongkangan ini terdapat mayat seorang pengalasan?
Namun tiba2 Sri Rajasa menggeretakkan giginya. Katanya
“ Para prajurit memang terlampau malas. Kenapa mereka tidak
melihat seorang pengalasan yang tiba2 saja sudah berada di
longkangan ini? “
“ Tuanku “ berkata Sumekar kemudian “ tuanku belum
memberikan jawab. “
” Pangalasan yang dungu “ berkata Sri Rajasa kemudian
“ seharusnya kau dapat mengerti, bahwa usahamu ini akan sia2.
Mungkin kau memang memiliki beberapa kelebihan karena ternyata
kau dapat sampai dilongkangan ini tanpa diketahui oleh
seorangpun. Tetapi kau seharusnya mengerti, siapakah yang sedang
kau hadapi sekarang. Karena itu, serahkan keris itu dan tinggalkan
longkangan ini. Aku akan mengampunimu, karena seperti yang aku
katakan, bahwa aku menganggap kau sekarang sedang dihinggapi
setan, atau katakanlah bahwa kau memang mempunyai penyakit
gila. “
Sumekar memang tidak melihat bahwa Sri Rajasa akan mengerti
maksudnya. Karena itu maka katanya, “ Ampun tuanfcu. Untuk
kepentingan Singasari yang besar, dan sebagai timbangan yang
tidak berarti bagi kesatuan Singasari yang telah tuanku bina hamba
terpaksa membunuh tuanku, agar tuanku Tohjaya tidak akan
mendapat kesempatan untuk menduduki tahta Singasari.
Sebenarnya bukan niat hamba untuk membunuh. Tetapi apa boleh
buat, karena ternyata tuanku tidak bersedia berjanji untuk tidak
memberi kesempatan kepada tuanku Tohjaya yang manja dan
tamak itu.”
“ Pangalasan dari Batil “ berkata Sri Rajasa “ jangan membunuh
diri disini. Jika kau memang terganggu oleh pikiran gila sehingga
kau ingin membunuh diri, lakukanlah. Tetapi jangan disini. “
Sumekar memandang Sri Rajasa dari ujung rambut sampai
keujung kakinya. Dan tiba2 saja matanya menjadi liar, sehingga
sambil menggeram ia melangkah maju “ Kesempatan terakhir bagi
tuanku. “
Ketika kilat menyambar dilangit, Sri Rajasa melihat wajah
Sumekar semakin jelas. Matanya menjadi merah dan wajah itu
menegang. Tangan yang menggenggam keris itu menjadi gemetar.
Sri Rajasa ter-mangu2 sejenak. Se-akan2 ia melihat dirinya
sendiri ketika ia mengambil keputusan untuk membunuh mPu
Gandring untuk menghilangkan jejak pembunuhan yang akan
dilakukannya. Juga se-akan2 dilihatnya bayangan dirinya sendiri
pada saat ia membunuh Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel
“ Apakah memang sudah waktunya aku menebus kesalahan itu
setelah aku berhasil dengan cita2ku mempersatukan Smgasari? “ ia
bertanya kepada diri sendiri.
“ Tetapi tidak lantaran seorang pangalasan. Tidak lantaran
seorang budak yang rendah. Seandainya aku akan mati juga, maka
biarlah orang yang pantas telah membunuhku. “
Tetapi sekali lagi terbayang, bahwa Akuwu Tunggul Ametungpun
mati dibunuh oleh seorang prajurit rendahan, Ken Arok yang pernah
menjadi penghuni padang Karautan, berkawan Malang, berselimut
awan dan beralaskan bumi jika malam telah datang.
“ Tuanku “ berkata Sumekar “ tuanku jangan mengulur waktu
untuk mendapat kesempatan memanggil para prajurit yang
bertugas didepan bangsal ini. Langit yang berawan gelap dan angin
yang kencang serta guruh yang ber-sahut2an adalah pertanda
bahwa niatku telah mendapat restu dari Yang Maha Agung. Tuanku
tidak akan dapat memanggil siapapun. juga, karena mereka tidak
akan mendengar suara tuanku. “
“ Pangalasan dari Batil. Aku tidak perlu memanggil siapapun juga.
Aku dapat membunuhmu seperti aku membunuh seekor lalat. Yang
aku pikirkan justru bagaimana aku menyelamatkanmu dari kegilaan
ini. “
“ Tuanku jangan berpikir tentang hamba. Lihatlah langit yang
gelap untuk yang terakhir kalinya. Hamba sudah kehabisan
kesabaran dan waktu. “
Sebenarnyalah Sri Rajasapun sudah jemu pula dengan permainan
yang memuakkan itu. Karena itu, maka iapun ingin segera
mengakhirinya. Apapun yang dikatakan oleh para prajurit, bahwa
didalam longkangan itu terdapat seorang pengalasan yang mati, ia
tidak peduli. Biarlah mereka membuang mayat itu seperti
membuang mayat pengenrs yang paling rendah derajadnya karena
pengkhianatan yang gila itu.
Karena itu, maka Sri Rajasa tidak menjawab lagi. Tak menunggu
Sumekar menyerangnya. Kemudian dengan sebuah pukulan ia ingin
membunuhnya.
Namun melihat sikap Sumekar, Sri Rajasa menjadi heran. Sikap
itu bukan sekedar sikap seorang juru taman yang bodoh, bahkan
yang telah terganggu urat syarafnya. Ia melihat sikap yang lain
pada juru taman itu, sehingga karena itu, maka Sri Rajasapun
menjadi curiga.
Ternyata dugaan itu benar. Untunglah bahwa ia sudah bersiap
menghadapi segala kemungkinan, karena ternyata serangan
Sumekar kemudian adalah bagaikan tatit yang sedang berloncatan
dilangit.
Sri Rajasa masih sempat mengelak. Dan dengan kemarahan yang
rasa2nya membakar jantungnya, maka iapun menyerang kembali
dengan dahsyatnya pula.
Demikianlah maka keduanyapun segera terlihat dalam
perkelahian yang sengit. Ternyata bahwa kemampuan Sumekar
diluar dugaan Sri Rajasa. Ia mampu me-loncat2 dengan lincahnya
seperti anak kijang dipadang yang luas.
Tetapi lawannya adalah Sri Rajasa. Seorang yang memiliki
kemampuan yang ajaib. Yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun
juga, bahkan oleh Sri Rajasa sendiri.
Dengan demikian maka perkelahian itopun semak'n lama menjadi
semakin dahsyat. Di-sela2 deru guruh dilangit dan desah angin yang
keras, keduanya telah mempertaruhkan jiwa masing2 dalam
perkelahian yang tiada taranya. Bahkan Sumekar tidak ragu lagi
mempergunakan ilmunya yang paling menakjubkan.
Meskipun demikian, ternyata bahwa ia tidak segera dapat
menguasai lawannya. Bahkan kemudian, ketika semakin lama
kemampuan aji puncaknya berhasil mendesak Sri Rajasa,
tampaklah, betapa kemarahan yang menyala didalam dada Sri
Rajasa itu telah mempengaruhi tata geraknya, yang semakin lama
menjadi semakin kasar. Tangannya yang terayun kesegala arah,
beserta kakinya yang berloncatan, membuat Sumekar kadang2
menjadi bingung. Namun karena Sumekar cukup memiliki bekal,
maka iapun tetap berhasil menguasai dirinya.
Namun tiba2 dada Sumekar menjadi ber-debar2 semakin
dahsyat. Tiba2 ia melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang hanya
pernah didengarnya. Kini ia benar2 melihat.
Dalam perkelahian yang semakin sengit itu, tampaklah sesuatu
diatas ubun2 Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa itu.
Cahaya yang samar2, yang semakin lama menjadi semakin jelas.
Warna merah bara yang tampak antara ada dan tidak ada.
“ Inilah pertanda kebesarannya “ bertanya Sumekar kepada diri
sendiri.
Namun ia sudah bertekad untuk membunuh Ken Arok itu dengan
keris mPu Gandring. Keris yang pernah dibasahi dengan darah
orang yang menciptakannya, mPu Gandring oleh Ken Arok itu
sendiri. Sekarang keris itu menuntut imbalan yang seimbang. Darah
Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.
Tetapi tidak mudah untuk membunuh Sri Rajasa. Betapapun juga
Sumekar mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya,
namun ia tidak segera berhasil menyentuh kulit
Sri Rajasa dengan ujung kerisnya, Segorespun tidak. Betapa ia
menghentakkan aji pamungkasnya, yang mendorong setiap tata
geraknya menjadi senakin cepat dan semakin kuat, berlipat ganda,
namun ternyata Sri Rajasa dapat mengimbanginya Bahkan
tandangnya semakin lama menjadi semakin kasar, dan adalah diluar
dugaan Sumekar, bahwa cara Ken Arok bertempur benar2
mencerminkan tata perkelahian sesosok Hantu di padang Karautan.
Agaknya cahaya yang ke-merah2an itulah yang menuntun segala
gerak Ken Arok yang tidak dimengertinya sendiri itu. Kempnararn
uiuna keris Sumekar hereerak dan menyambar, tubuh Ken Arok itu
se-akan2 memiliki mata disetiap jengkal, sehingga ia masih juga
mampu menghindarinya.
Bahkan kadang2 kecepatan gerak Ken Arok benar2 diluar
dugaan, sehingga justru Sumekarlah yang sering menjadi bingung
dan kehilangan lawannya.
“ Gila “ Sumekar berdesis “ inilah agaknya yang telah dapat
menolongnya membunuh Maharaja Kediri itu. Kemampuan yang luar
biasa tetapi juga betapa kasar dan liarnya. Kecepatan bergerak dan
menyerang. Kadang2 diluar jangkauan nalar, “
Meskipun demikian Sumekar tidak gentar sama sekali. Selain aji
yang pernah diterimanya dari gurunya, ia juga menggenggam sipat
kandel yang jarang ada duanya dimuka bumi. Keris yang memiliki
kemampuan tiada taranya. Setiap sentuhan, pasti akan berarti
maut.
Maka Sumekar mencoba mempergunakan keris itu sebaiknya.
Diputarnya keris itu bagaikan baling2. Kemudian mematuk seperti
mulut ular yang paling berbisa.
Tetapi ia masih belum berhasil menyentuh lawannya.
Sri Rajasapun menjadi semakin heran melihat kemampuan Sumekar.
Karena
itu, maka lapun kemudian bertanya “ Siapakah sebenarnya kau, dan
siapakah
yang menyuruhmu datang kemari? “
Sumekar tidak segera menjawab, tetapi ia menyerang semakin dahsyat,
sehingga perkelahian itupun menjadi semakin seru karenanya.
Sri Rajasa yang sudah kehilangan kesabaran itupun
kemudian menggeram “ Persetan. Aku tidak peduli, siapakah yang
menyuruh kau kemari. Tetapi kau memang harus segera
dibinasakan. “
Demikianlah Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa, dan yang pernah
merajai Padang Karautan sejak ia masih sangat muda itu,
mengerahkan segenap kemampuannya oleh kemarahan yang
mendesak. Karena itu, maka cahaya yang ke-merah2an-diubun2nya
itu menjadi semakin terang. Namun dalam pada itu
kemampuannyapun se-akan2 telah berlipat2. Dengan kecepatan
yang liar Sri Rajasa telah menyerang Sumekar se-jadi2-nya,
Sumekar akhirnya benar2 telah terdesak. Ia tidak mempunyai
ruang gerak isama sekali. Namun ia masih percaya kepada kerisnya.
Jika ia masih sempat menggoreskannya pada .tubuh Sri Rajasa,
maka ia tentu akan mati. Cepat atau lambat..
Tetapi yang menjadi benar2 diluar dugaan. Tusukan Sumekar,
yang se-akan2 merupakan kesempatan yang terbuka, ternyata telah
masuk kedalam perangkap tangan Ken Arok. Sesuatu yang tidak
disangka2
sama sekali telah menghentikan setiap harapan yang
pernah tumbuh didada Sumekar.
Ketika Sri Rajasa tampaknya lengah, maka Sumekarpun segera
menusuk lambung kanannya. Namun ternyata Ken Arok masih
sempat mengelak. Dan adalah diluar kemampuan Sumekar, bahwa
tangan Ken Arok begitu cepatnya menangkap pergelangan
Sumekar. Yang terjadi kemudian hanyalah sekejap saja ketika justru
keris ditangannya, yang dipertahankan mati2-an meskipun
pergelangan tangannya ditangkap oleh Ken Arok, telah dihentakkan
oleh Ken Arok itu, sehingga justru telah menyentuh lengan kirinya
sendiri.
“ Gila, kau gila “ Sumekar mengumpat se-jadi2nya. Ia sadar apa
yang akan terjadi atas dirinya. Karena itu, dengan membabi buta ia
kemudian mengayunkan kerisnya bagaikan orang gila melanda Ken
Arok, meskipun Ken Arok masih tetap tidak melepaskan
genggamannya.
Ken Arok terkejut melihat sikap itu. Ternyata sentuhan keris mPu
Gandring pada lengan Sumekar membuatnya berputus asa dan
kehilangan segala macam harapan untuk tetap hidup.
Adalah diluar dugaan Ken Arok, maka keputus-asaan itu
membuat Sumekar memiliki kemampuan terakhir yang tidak dapat
dibayangkan. Dengan hentakan yg menyentak Sumekar berhasil
melepaskan tangannya yang memegang keris dari genggaman Ken
Arok. Kemudian seperti serigala lapar ia meloncat menerkam
mangsanya.
Namun sekali lagi Ken Arok berhasil menghindar, sehingga
Sumekar sama sekali tidak berhasil menyentuhnya.
Ternyata bahwa Sumekar telah menghentakkan segenap
kekuatannya yang terakhir. Dengan demikian, ketika ia tidak
berhasil menyentuh Ken Arok dan kemudian jatuh tertehingkup,
maka Sumekar sudah tidak mampu bergerak sama sekali. Ia hanya
dapat menggeliat sambil mengacungkan kerisnya dan berkata “ Ken
Arok, kau sekarang dapat melepaskan diri dari keris ini, tetapi
pada
suatu saat, kau akan disentuhnya juga. “
Dalam pada itu, Ken Arok berdiri dengan tegang. Sekali
terdengar guruh meledak dilangit, dan angin bagaikan semakin
keras bertiup. Awan yang hitam ber-gulung2 hanyut dilangit
didorong oleh angin yang kencang.
Tiba2 Ken Arok terkejut ketika ia mendengar desir diatas dinding
longkangan. Dengan gerak naluriah ia meloncat surut dan segera
mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan.
Ternyata bahwa pada saat Sumekar kehilangan semua
kekuatannya, Anusapati yang telah cukup lama mengintai
perkelahian itu, tidak sampai hati membiarkannya terbaring diam.
Sebagai seorang yang merasa dirinya dilindungi, dibantu dan
bahkan yang terakhir, Sumekar telah berjuang untuk dirinya,
Anusapati tidak dapat membiarkan Sumekar mati tanpa, seorangpun
yang memperhatikannya, selain pandangan yang penuh amarah dari
Sri Rajasa.
Karena itulah maka ketika Sumekar telah sampai pada saat2
menjelang akhir hidupnya, maka Anusapati telah mengabaikan
segala macam akibat yang dapat terjadi atas dirinya.
“ Anusapati. kau “ terdengar Ken Arok berdesis.
Anusapati telah berjongkok disamping Sumekar. Dengan tatapan
mata yang sayu ia berkata
“ Paman Sumekar, apakah yang telah terjadi ? “
Sumekar membuka matanya. Dilihatnya Anusapati berjongkok
disampingnya.
“ O, tuanku. Kenapa tuanku kemari ? “
“ Aku sedang mencari paman. Tetapi aku tidak menemukan
paman dibangsal pamanda Mahisa Agni. “
“ Maafkan tuanku. Aku telah menipu tuanku. Aku memang tidak
akan membawa keris itu kepada Mahisa Agni, tetapi aku ingin
segera menyelesaikan persoalan ini dengan Ken Arok. Tetapi aku
ternyata gagal tuanku. Ternyata Ken Arok adalah jelmaan iblis yang
paling laknat dipadang Karaii-tan. “
Anusapati berpaling sejenak. Dipandanginya Ken Arok yang
masih berdiri diam. Namun ketika ia melihat sorot mata Anusapati,
maka iapun berkata penuh kemarahan “ Jadi kau yang
menyuruhnya Anusapati ? “
“ Tidak ayahanda. Seperti yang dikatakan, ia telah menipu aku. “
Ken Arok memandang Anusapati sejenak. Lalu dengan nada yang
datar ia bertanya “ Jadi kau mendengar apa yang dikatakannya ? “
Anusapati menjadi ragu2 sejenak. Lalu jawabnya “ Ya ayahanda.
Hamba mendengar beberapa bagian dari pembicaraan ayahanda
dengan pengalasan dari Batil. “
“ Jika orang ini bukan atas namamu, kau tentu tidak hanya akan
tinggal diam. Jika benar ia telah menipumu, maka kau tentu akan
dengan ter-gesa2 mencegahnya. “ Ken Arok berhenti sejenak, lalu “
dan kau tidak, akan datang dengan diam2 lewat tongkangan
belakang. Kau tentu akan menemui prajurit yang mengawal bangsal
ini didepan. “
“ Ampun ayahanda “ desis Anusapati “ hamba sebenarnya
memang sedang mencarinya. “
“ Kenapa kau tidak mencegahnya ketika kau sudah mengetahui
bahwa ia sudah berada disini? “
Pertanyaan itu benar2 telah membingungkan Anusapati. Karena
itu, maka ia tidak segera dapat menjawabnya.
“ Anusapati “ berkata Ken Arok “ ternyata bahwa kau benar2
telah feeiMiianat. Jika tidak, tentu tidak akan terjadi persoalan
seperti ini. Karena itu, maka seperti kau juga rela atas
kematianku,
maka akupun rela jika kau mati dilong kangan ini. “
Ken Arok “ Sumekar masih mencoba berbicara “ sebenarnyalah
tuanku Anusapati tidak bersalah. Aku telah menipunya dan
menguasai keris itu. “
“ Omong kosong. “ potong Sri Rajasa “ tentu kalian sudah
membicarakannya lebih dahulu untuk menghadapi kemungkinan
seperti ini. “
Sumekar yang semakin lemah itu akhirnya tidak dapat lagi
berbicara terlampau keras, sehingga hampir tidak terdengar ia
berkata “ Ken Arok. Aku bukan seorang yang licik seperti kau. Aku
tidak membunuh orang dengan curang, atau meminjam tangan
orang lain. Aku berusaha melakukannya sendiri atas kemauanku
sendiri. “
“ Gila “ bentak Sri Rajasa “ bukan kau yang meminjam tangan
orang lain. Tetapi ternyata Anusapatilah yang berusaha meminjam
tanganmu. Tetapi sayang, bahwa kaulah yang mati, bukan aku. “
Sumekar masih akan menjawab. Tetapi warangan keris mPu
Gandring telah bekerja diseluruh tubuhnya, sehingga Sumekar tidak
dapat lagi mengucapkan sepatah katapun. Namun dengan matanya
yang redup ia masih ingin mohon diri kepada Anusapati. Ketika kilat
memancar dilangit, maka Anusapati melihat Sumekar itu tersenyum.
“ Paman, paman “ panggil Anusapati.
Tetapi Sumekar tidak dapat menjawab lagi. Wajahnya menjadi
pucat, dan akhirnya Sumekar menghembuskan nafasnya yang
terakhir.
“ Ayahanda telah membunuhnya “ desis Anusapati.
“ Ya, aku telah membunuhnya. Bukan saja Pangalasan dari Batil.
Tetapi juga kau harus mati. “
“ Apakah ayahanda akan membunuh aku? “
” Ya, “
“ Hamba memang sudah merasa bahwa ayahanda akan
Melakukannya. Seandainya hamba tidak datang kemari malam mi,
maka ayahanda pasti akan melakukannya besok. Hamba sudah tahu
rencana itu. Pergantian prajurit yang agak mencurigakan, kegiatan
yang diluar kebiasaan, bahwa ayahanda telah memanggil paman
Mahisa Apii bersidang dipaseban besok dan semuanya yang tidak
hamba mengerti, telah menimbulkan kecurigaan hamba. “
“ Dan karena itu, kau telah menyuruh pangalasan ini untuk
membunuhku? “
“ Tentu tidak. Hamba tidak menyuruhnya seperti yang udah.
hamba katakan. “
“ Aku tidak percaya. “
” Terserah kepada ayahanda. “
“ Dan sekarang, jangan menyesal. Aku akan membunuhmu juga.
Aku tidak akan dapat dipersalahkan, karena kaw berada disini
dengan pengalasan itu. Apalagi disini ada kera mPu Gandring yang
telanjang. Setiap orang tentu akan dapat mengerti apa yang telah
terjadi, sehingga semua orangpun. mengerti, bahwa aku sekedar
membela diriku. “
Anusapati menjadi ter-mangu2 sejenak.
“ Jangan menyesal, bahwa kau sudah terperosok keda-lam
kandang serigala. Kau akan mati- Dan jabatanrou akan berpindah
kepada Tohjaya. “
Anusapati tidak segera menyahut. Dipandanginya saja wajah
ayahandanya yang tegang. Namun dalam pada itu, ter-kilas di
dalam kepalanya kata2 ibunya, bahwa Sri Rajasa sebenarnya
memang bukan ayahnya. Dan justru Sri Rajasalah yang telah
membunuh ayahandanya yang sebenarnya, Akuwu Tunggul
Ametung.
“ Nah, apakah sebelum matimu kau akan mengucapkan pesan? “
bertanya Sri Rajasa.
“ Tidak ayahanda “ jawab Anusapati “ hamba tidak akan
berpesan apapun. Tetapi biarlah sebelum hamba mati', apakah
hamba boleh bertanya ? “
“ Apa? ”
“ Apakah benar ayahanda memang akan membunuh hamba ? “
Ken Arok menjadi ragu2. Namun kemudian sambil mengangguk
ia menjawab “ Ya. Aku memang akan menyingkirkan kau yang
selama ini bagiku merupakan sepucuk duri didalam daging. “
Terasa dada Anusapati tersirap. Ternyata bahwa rencana yang
pernah didengarnya itu bukan sekedar isapan jari saja.
Sambil menengadahkan kepalanya ia bertanya pula “ Jadi benar
kata orang bahwa ayahanda memang ingin melimpahkan
kedudukanku kepada adinda Tohjaya? “ .
“ Ya. Dan tentu kau tahu sebabnya. Kau sebenarnya .bukan
anakku. Tetapi kau dengan enaknya ingin merampas bak dari
keturunanku. Akulah yang telah mempersatukan Singasari yang
besar Bukan Akuwu Tunggul Ametung. “
“ Ya ayahanda. Aku memang putera ayahanda Tunggui Ametung
yang mati terbunuh. Tentu tidak salah pula pendengaranku, bahwa
ayahanda Sri Rajasalah yang telah membunuhnya pula. “
“ Ya. Aku yang sudah membunuhnya. Karena itu apa yang akan
aku kerjakan sekarang, tidak berdiri sendiri. Kau adalah rangkaian
dari sekian banyak pembunuhan. Karena itu kau memang harus
mati. Singasari harus benar2 jatuh kedalam tangan keturunan Sri
Rajasa. “
“ Ayahanda “ bertanya Anusapati “ apakah adik-adik hamba yang
lahir dari ibunda Permaisuri bukan keturunan ayahanda Sri Rajasa ?
“
Pertanyaan itu tidak diduga sama sekali oleh Ken Arok. Karena
itu ia menjadi bingung sejenak. Namun kemudian jawabnya “ Aku
berhak menentukan, siapa saja yang akan aku angkat menjadi
Putera Mahkota. “
“ Tetapi adalah menjadi ketentuan, bahwa yang berhak
menggantikan kedudukan seorang raja per-tama2 adalah putera
Permaisuri. Jika yang dimaksud bagi Singasari bukannya Anusapati,
maka tentu Mahisa – Wonga – Teleng yang berhak menggantikan
ayahanda kelak, bukan Tohjaya ”
“ Diam “ bentak Sri Rajasa “ kau tidak berhak me ngigau
sekarang. Kau memang harus mati. Jika aku memberikan
pengakuan yang berangkah sudah pernah kau dengar dari
ibundamu itu tentu karena kau sudah akan mati, dan kau tidak akan
dapat berbuat apa-apa lagi. “
“ Ayahanda benar. Hamba memang tidak akan dapat berbuat
apa2 lagi. Tetapi apakah ayahanda tidak mengeru bahwa ada pihak
yang tentu tidak akan dapat menyetujui bahwa adinda Tohjaya akan
menggantikan kedudukan ayahanda? Justru karena ayahanda
mempunyai putera laki2 yang lahir dari ibunda Permaisuri? “
“ Aku tidak peduli. Aku mempunyai kekuasaan. “
“ Jika kekuasaan adalah bentuk penindasan atas ketentuan yang
berlaku, maka tentu orang lain tidak akan menghiraukan pula atas
ketentuan2 yang ada. Dan mereka akan cenderung mempergunakan
kekerasan untuk mencapai maksudnya daripada mengikuti
ketentuan2 yang dianggap sah di dalam negeri ini. “
“ Dan agaknya kau sudah memulainya. Kau sudah
mempergunakan kekerasan untuk menyingkirkan aku. Itukah suatu
sikap yang sesuai dengan ketentuan2 yang berlaku ? “
“ Sudah hamba katakan, bahwa hamba sama sekali tidak
menyuruhnya memasuki bangsal ini, apalagi untuk membunuh
ayahanda, karena hamba sama sekali masih belum yakin bali wa
sebenarnyalah ayahanda mempunyai rencana untuk membunuh
hamba. “
“ Jangan membohong. Sekarang, jika ada yang ingin kau
pesankan katakanlah. Aku sudah mulai muak melihat wajahmu. “
“ Hamba menyadari ayahanda. Tetapi seperti yang sudah hamba
katakan, hamba tidak mempunyai pesan apapun karena pesan itu
tidak akan ada artinya sama sekali. “
Wajah Sri Rajasa terbelalak karenanya. Katanya “ Kau memang
sombong seperti ayahmu. Baiklah, jika kau memang tidak
mempunyai pesan yang lain, aku akan segera membunuhmu. Aku
dapat memukul kepalamu sampai hancur, atau dadamu sehingga
seluruh isi tubuhmu akan rontok. Akibatnya sama saja bagimu. Kau
akan mati. “
“ Kenapa ayahanda tidak mempergunakan cara seperti yang
sudah ayahanda lakukan ? Sudah berapa orang yang mati terbunuh
oleh keris mPu Gandring ini ? “
Dada Ken Arok tiba2 berdesir tajam. Dilihatnya keris mPu
Gandring yang terletak ditangan Sumekar yang sudah membeku.
Namun tiba2 terbayang diwajahnya keris yang itu jugalah yang
telah mengakhiri hidup pembuatnya. Tanpa disadarinya ia mulai
ber-angan2. Dan tanpa dikehendakinya tiba2 bayangan mPu
Gandring itu bagaikan hadir dilongkangan itu. Ketika ia memandang
wajah pangalasan yang mati itu, seakan2 ia melihat kembali wajah
mPu Gandring yang menyeringai menahan sakit ketika tiba2 saja ia
menusuk lambungnya dengan keris itu. Dan tiba2 saja terbayang
diwajah Anusapati itu wajah ayahandanya, Akuwu Tunggul
Ametung. “
“ Pergi,-pergi “ Ken Arok tiba2 berteriak. Namun suaranya
tenggelam didalam ledakan guruh yang keras.
Anusapati menjadi termangu2 sejenak. Namun perlahan-lahan
timbul pula gejolak didalam hatinya. Jika ayahandanya terbunuh dan
meninggalkan seorang anak laki2 saja, maka apakah anak laki-laki
itu akan menyerahkan dirinya pula untuk dibunuh ? Dan kemudian
jika Anusapati sudah terbunuh, bagaimanakah nasib anak laki2nya.
Ketika Anusapati teringat kepada anak laki2nya, yang tentu
merupakan duri pula bagi Sri Rajasa, terasa hatinya menjadi
berdebar2.
Namun dalam pada itu Sri Rajasa sudah menggeram “ Aku bunuh
kau ular kecil yang berbisa. Aku bunuh kau dengan semua
keturunanmu. “
Anusapati menjadi semakin ber-debar2. Kini jelas baginya, bahwa
,Ken Arok memang berniat untuk memusnakan keturunan Akuwu
Tunggul Ametung. jika tidak, maka keturunan Tunggul Ametung itu
benar2 akan menjadi duri didalam dagingnya. Dan sudah
terucapkan, bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu memang
akan membunuhnya dan keturunannya.
“ Apakah aku akan membiarkan keturunan Tunggul Ametung
punah? “ bertanya Anusapati kepada diri sendiri.
Terbayang wajah isteri dan anaknya yang tidak tahu menahu
sama sekali tentang persoalan yang ada di Singasari itu. Dan
apakah mereka harus juga ikut menanggung akibatnya.
Dalam ke-ragu2an itulah maka ia melihat Ken Arok melangkah
maju. Tatapan matanya bukan lagi tatapan seorang Maharaja.
Tetapi sorot matanya menjadi liar, seperti liarnya Hantu yang haus
akan darah.
Terasa bulu tengkuk Anusapati meremang. Bahkan kemudian ia
berdesis “ Jangan ayahanda. “
Tetapi Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak menghiraukan
kata2 itu. Setapak demi setapak ia maju dengan jari2 tangan yang
mengembang. “ Aku akan mencekik kau sampai mati. Jangan
berbuat sesuatu. Jangan sentuh keris mPu Gandring itu, supaya kau
tidak mati karena racunnya seperti pengalasan yang gila itu. “
“ Tetapi jangan bunuh anak dan isteriku. “
“ Aku akan membunuh mereka semua, termasuk Mahisa Agni. “
“ Tidak, jangan. “
“ Aku tidak peduli. “
Jawaban yang meyakinkan itu membuat darah Anusapati tiba2
saja bergetar. Hampir diluar sadarnya tangannya telah menggapai
hulu keris mPu Gandring.
“ Anusapati, kau akan melawan aku? Kau akan mencoba
menghindarkan diri dari keharusan yang akan berlaku atasmu?. Kau
memang harus mati, dan kau akan kehilangan darah keturunanmu,
sebagai penerus nafas kehidupan Akuwu Tunggul Ametung. “
“ Ayahanda, anak dan isteri hamba tidak mengetahui semua
persoalan ini. Jika ayahanda akan membunuh hamba, ayahanda
tidak akan mengalami kesulitan tetapi jika ayahanda berjanji,
sebagai seorang Maharaja yang tidak pemah ingkar, bahwa
ayahanda tidak akan membunuh anak. dan isteriku. juga paman
Mahisa Agni. “
“ Persetan “ geram Sri Rjasa ” aku tidak peduli. Aku akan
membunuh kau dan semua keluargamu, termasuk Mahisa Agni. “
Wajah Ken Arok menjadi merah, semerah sorot matannya yang
benar2 menjadi liar.
Anusapati yang cemas menjadi semakin cemas. Tetapi hampir
diluar sadarnya ia telah menggenggam keris itu.
Anusapati mundur selangkah. Ia sudah hampir berputus» asa.
Sumekar yang membawa keris itu pula tidak dapat melawan Sri
Rajasa, apalagi dirinya yang masih belum berhasil menyempurnakan
ilmunya sejauh Sumekar.
“ Menyerahlah. Kau dan anak isterimu akan aku bunuh malam ini
juga. “ geram Sri Rajasa.
Ternyata bahwa suara itu bagaikan membangunkan Anusapati
dari mimpinya. Ia sadar, bahwa yang terjadi ini benar2 diluar
rencana siapapun. Juga bukan rencana Sri Rajasa, karena Sumekar
telah mengambil sikap sendiri. Namun demikian tentu ia tidak akan
dapat menyerahkan seluruh keluarganya itu.
“ Aku harus lari dari tempat ini ” berkata Anusapati..”se-tidak2nya
aku berhasil menyelamatkan diri sampai ke-bangsal pamanda
Mahisa Agni. Persoalannya tentu akan menjadi berbeda jika
ayahanda malam ini bertemu dengan salah seorang yang ada
didalam bangsal itu. Apakah ia paman Kuda Sempana yang telah
berhasil menyempurnakan diri dengan ilmunya, atau paman
Mahendra, atau ke-dua2-nya. Atau bahkan paman Witantra. “
“ Kau tidak akan dapat lari “ geram Sri Rajasa “ semuanya sudah
terjadi. Dan yang sudah terjadi tidak akan dapat dicegah lagi. Ken
Arok yang bergelar Sri Rajasa, sudah menentukan, bahwa kau dan
keluargamu harus mati. Tidak ada kekuasaan dan kemampuan yang
dapat mencegah. “
Anusapati terus melangkah surut, sedang Sri Rajasamengikutinya
dengan jari2 tangan yang mengembang.
“ Aku akan mencekikmu. Aku sendiri bukan orang lain. Bukan
para prajurit, dan bukan pula seorang Senapati.
Dada Anusapati bagaikan menjadi pepat. Tetapi tiba2 saja
tangannya yang menggenggam keris itu telah bersilang didepan
dadanya.
“ Kau akari
melawan he, kau akan
melawan? Tidak ada
gunanya. Itu hanya
akan memperpanjang
caramu mati. Dan itu
sangat merugikan kau
sendiri. “
Anusapati tidak
menyambut. Ia telah
berdiri didepan
dinding, sehingga ia
tidak akan dapat
melangkah lagi. Karena
itulah, maka iapun kemudian berdiri diatas kakinya yang
merenggang sambil mengacungkan senjatanya. Keris mPu Gandring
yang sudah berbau darah itu. Darah beberapa orang yang sama
sekali tidak bersalah.
Ken Arok tertegun sejenak memandang Anusapati yang se-akan2
sudah tidak dapat bergeser lagi. Namun sorot matanya yang
bagaikan menusuk langsung kedalam jantung Pu-tera Mahkota itu
membuat Anusapati bergetar.
Kemudian selangkah demi selangkah Ken Arok yang bergelar Sri
Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu melangkah maju dengan jari2
tangan yang mengembang. Anusapati baginya tidak lebih dari anak2
yang tidak berdaya.
Dalam pada itu, Mahisa Agni sedang me-runduk2 di-sekitar
bangsal Ken Umang. Dengan hati2 ia berusaha untuk mendekati
bangsal itu. Ternyata seperti yang diduganya, bangsal itu mendapat
pengawasan yang sangat ketat. Para. prajurit tidak saja berada
didepan bangsal, tetapi juga dibagi-an belakang telah mendapat
pengawasan yang seksama.
“ Tidak mudah mendekati bangsal itu, apalagi memasukinya
tanpa diketahui orang “ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.
Namun demikian ia mempunyai dugaan yang kuat, bahwa
Sumekar telah datang kebangsal itu. Agaknya kebenciannya kepada
Tohjaya tidak dapat ditahankannya lagi.
“ Jika terjadi pembunuhan dibangsal ini, maka tuduhan yang
pertama tentu akan jatuh kepada Anusapati, siapakah yang telah
melakukannya. Bahkan seandainya pelakunya tertangkap, maka
tentu Anusapatilah yang disangka telah meminjam tangan untuk
membinasakan Tohjaya dan barangkali juga Ken Umang “ berkata
Mahisa Agni didalam hati “ dan itu sangat merugikan perjuangan
Anusapati, 'karena setiap orang akan menyangka, bahwa Anusapati
telah melakukan perbuatan yang terkutuk itu untuk
mempertahankan kedudukannya. “
Karena itulah maka Mahisa Agni mencoba untuk berusaha
menemukan Sumekar disekitar bangsal itu.
Tetapi beberapa lamanya ia berada disekitar bangsal itu, ia sama
sekali tidak melihat sesosok bayanganpun. Ia telah berada dibagian
belakang bangsal itu, yang menurut dugaannya adalah satu2nya
jalan untuk memasuki longkangan.
Namun Mahisa Agni tidak melihat seseorang- Ia tidak melihat
Sumekar memasuki longkangan, atau berada didalam longkangan
itu.
” Apakah ia tidak datang kemari? “ bertanya Mahisa Agni didalam
hatinya.
Tetapi untuk beberapa lamanya Mahisa Agni masih menunggu. Ia
masih mengharap bahwa ia dapat menemukan Sumekar disekitar
tempat itu.
“ Mungkin ia tidak segera memasuki daerah ini “ katanya didalam
hati “ atau barangkali Sumekar belum menemu-can jalan yang
paling baik untuk memasuki daerah ini. “
Untuk beberapa saat mahisa Agni masih tetap bersembunyi
sambil menunggu. Tetapi beberapa saat kemudian hatinya menjadi
cemas. Agaknya Sumekar memang tidak datang ke-tempat itu.
“ Mungkin ia langsung pergi kebangsal Sri Rajasa “ katanya
didalam had.
Dalam pada itu, hatinya menjadi bergetar. Bahkan kemudian ia
hampir pasti, bahwa Sumekar pergi kebangsal Sri Rajasa.
” Aku harus menengoknya. Jika benar ia pergi kesans mudahkan
Anusapati sempat mencegahnya. Ia agaknya dapat dilunakkan oleh
Anusapati yang hampir setiap hari dilayaninya seperti muridnya
yang paling manja.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Agnipun berusaha
meninggalkan tempat itu. Seperti pada saat ia datang, maka iapun.
harus sangat ber-hati2 ketika ia melalui beberapa orang prajurit
yang mengawasi bagian balakang dari bangsal itu.
Ketika Mahisa Agni telah berada agak jauh dengan para penjaga
itu, iapun menarik nafas dalam2, se-olah2 ia terlepas dari terkaman
serigala.
Namun iapun segera sadar, bahwa sesuatu yang penting sedang
menunggunya. Sumekar yang masih belum dapat dike-temukamrya.
Dengan hati2 sekali Mahisa Agnipun meninggalkan bagian istana
yang dihuni oleh Ken L'niang dan putera2nya itu. Dengan penuh
kewaspadaan ia meloncati dinding yang memisahkan kedua bagian
dari istana Singasari itu. Ketika kemudian la meloncat turun, maka
Mahisa Agni itupun sudah berada liibagian yang lain dari istana
itu.
Setiap kali ia harus memperhatikan setiap gerak dan bunyi. Ia
sadar, bahwa penjagaan halaman istana malam itu niperkuat.
Bahkan seperti yang dikatakan oleh Sumekar, beberapa orang
Senapati telah ikut didalam penjagaan yang kuat diihalaman itu.
Mahisa Agni itupun bergeser semakin maju mendekati pangsa!
Sri Rajasa. Meskipun bangsal ini tidak dijaga sekuat Bangsal
Tohjaya, karena Sri Rajasa sendiri yakin akan dirinya dan
pengaruhnya, namun Mahisa Agni masih juga harus menembus
beberapa bagian yang agak sulit.
Namun tiba2 Mahisa Agni itu tertegun. Telinga yang tajam
mendengar sesuatu berdesir tidak, begitu jauh daripadanya. Karena
itu, maka iapun berhenti. Dengan segenap kemampuannya ia
berusaha menangkap suara yang semakin Lama menjadi semakin
dekat.
Beberapa saat kemudian ternyata desir yang lembut itu berhenti.
Sebagai seorang yang memiliki kemampuan yang me-empaui
kemampuan manusia biasa, maka Mahisa Agnipun mengetahui
bahwa seseorang berada tidak begitu jauh dari padanya.
Karena itu, maka Mahisa Agnipun segera mempersiapkan kiri
untuk menghadapi setiap kemungkinan. Dengan ketajaman
Inderanya, ia tahu dimana orang itu berada, sehingga karena itu ia
tidak mau menunggu lebih lama lagi. Bahkan ialah yang kemudian
bergeser mendekati.
Tetapi ternyata bahwa orang itupun berusaha mendekatinya
pula, sehingga dengan demikian Mahisa Agni dapat menduga bahwa
orang itu bukannya orang kebanyakan karena orang itu dapat pula
mengetahui kehadirannya.
Sejenak kemudian Mahisa Agni berhenti, la sudah dapat
mengetahui dengan tepat, dimana orang itu berada. Karena itu
ketika selembar daun bergetar, tidak sejalan dengan arah angin
bertiup Mahisa Agni segera bersiap menghadapi segala
kemungkinan.
Namun ternyata, ketika sesosok tubuh meloncat dari batik
geruinbul dan bersiap dengan tangan bersilang didada Mahisa Agni
menarik nafas dalam2. Orang itu adalah Witantra.
“ Kau Witantra ” desis Mahisa Agni.
Witantrapun berdesah lembut. Sambil tersenyum ia berkata “
Untunglah, aku belum lari ketakutan. Jika demikian kau tentu akan
mentertawakan. “
“ Juga untung bahwa kau tidak segera menyerang aku. sehingga
aku masih sempat bernafas sekarang. “
Keduanya tertawa tertahan, karena keduanya tetap sadar, bahwa
mereka sedang menghindarkan diri dari .pengamatan para prajurit
Singasari yang sedang bertugas.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agnipun kemudian bertanya
tentang Anusapati, apakah Witantra melihatnya.
“ Bukankah ia pergi kebangsal Sri Rajasa. ”
“ Jika ia tidak menemukan Sumekar disana, ia tentu akan
bergeser pula. “
“ Aku belum melihat keduanya. Sumekar tidak, dan tuanku
Putera Mahkota juga tidak. “ jawab Witantra “ bahkan aku
menyangka bahwa kau adalah Sumekar sebelum kau
memperlihatkan diri. “
“ Jika demikian Anusapati tentu masih ada dibangsal Sri Rajasa.
Ada dua kemungkinan. Ia memang menunggu karena Sumekar
belum ada disana, atau ada persoalan lain yang gawat justru karena
Sumekar sudah terlanjur berusaha mendapatkan Sri Rajasa. “
“ Marilah kita lihat. “
Mahisa Agni ragu2 sejenak. Namun kemudian sambil mengangguk2
ia menjawab “ Baiklah Marilah kita lihat. “
Keduanyapun kemudian dengan sangat hari2 mencoba
mendekati bangsal Sri Rajasa. Betapapun sulitnya, namun keduanya
berhasil menembus setiap daerah penjagaan para prajurit pengawal
istana. Mereka menyusup diantara gardu2 penjagaan dan setiap kali
menghindari para peronda yang mengelilingi halaman istana
Singasari itu.
Akhirnya, keduanya berhasil mencapai halaman belakang bangsal
Sri Rajasa. Seperti yang lain, menurut perhitungan mereka, yang
paling mungkin mereka lakukan adalah melihat dan apabila perlu
memasuki longkangan.
Sementara itu, angin masih juga bertiup. Sekali2 terdengar
guntur dan guruh gemuruh dilangit. Namun demikian kedua orang
itu masih dapat juga membedakan desir lembut kaki mereka sendiri
daripada gemuruhnya angin yang keras.
Ketika kemudian mereka berhasil menjengukkan kepala mereka
dari sebatang pohon yang se-olah2 diayun oleh angin, maka hati
mereka berdesir. Mereka melihat orang2 yang sedang mereka cari
itu berada dilongkangan bangsal Sri Rajasa.
Yang mula-mula mereka lihat adalah sesosok tubuh yang tekapar
ditanah. Tubuh itu segera dapat mereka kenal, bahwa orang itu
adalah Sumekar.
” Terlambat “ desis Mahisa Agni tidak seorang-pun yang dapat
menyelamatkannya. Sumekar agaknya sudah, terbunuh. “
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukanggukkan
kepalanya ia berkata “ Ya, kita sudah terlambat. Tetapi
dimanakah tuanku Anusapati? “
“ Mungkin iapun ada dilongkangan itu. Mudah-mudahan kita tidak
terlambat. Mudah-mudahan Anusapati belum terbaring ditanah
seperti Sumekar itu. “
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya “ Kita
harus mendekat. Keadaan sudah benar2 diluar dugaan kita,
sehingga kita harus mengambil sikap dengan segera menghadapi
keadaan yang tiba-tiba ini “
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya tanpa menjawab
separah katapun. Dengan sigapnya keduanyapun segera teran dari
pohon itu dan dengan hati-hati mendekati dinding bagian belakang
longkangan bangsal itu.
“ Satu-satunya jalan “ berbisik Mahisa Agni.
“ Kita memanjat “, sahut Witantra.
Keduanyapun kemudian dengan hati-hati sekali dan hampir tidak
dapat dilihatnya bahwa keduanya sedang merayap naik pada
dinding longkangan itu. Jika mereka kehendaki, mereka dapat
meloncat naik dengan mudahnya, namun dengan demikian tentu
akan menarik perhatian seseorang jika orang itu berada
dilongkangan.
Sejenak kemudian, maka merekapun dengan sangat hati-hati
mencoba untuk menjengukkan kepalanya mereka. Jika ikat kepala
mereka dapat terlihat, maka usaha mereka itupun akan gagal
karenanya.
Namun darah mereka serasa terhenti, ketika pada saat itu
tampak oleh mereka, Anusapati sedang dalam kesulitan.
Yang mereka lihat adalah Sri Rajasa sudah siap untuk menerkam
Anusapati yang tidak mempunyai kesempatan untuk melangkah
surut karena punggungnya sudah melekat dinding.
Tetapi yang terjadi kemudian adalah cepat sekali, sehingga baik
Mahisa Agni, maupun Witantra tidak mempunyai kesempatan untuk
berbuat banyak.
Ketika mereka tanpa menghiraukan lagi Sri Rajasa, meloncat
keatas dinding, mereka melihat, bahwa kedua orang dilongkangan
itu sudah mulai bertempur. Sri Rajasa sudah mulai menyerang.
Hanya karena ditangan Anusapati tergenggam keris-mPu
Gandring sajalah, maka Anusapati masih dapat menghindarkan diri
pada setangan yang pertama,
Namun Anusapatipun sadar, bahwa Sumekar dengan keris mPu
Gandring itu ditangannya, sama sekali tidak berhasil menyelamatkan
dirinya. Dan sudah barang tentu Sumekar memiliki ilmu yang lebih
matang dari ilmunya sendiri
Dalam keragu-raguan atas keadaan yang sedang dihadapinya,
Anusapati tanpa sesadarnya, telah menyentuh sesuatu dibawah ikat
pinggangnya. Ternyata sentuhan itu telah mengejutkannya sendiri.
Tetapi ia tidak mendapat kesempatan banyak untuk
mempertimbangkan keadaan yang sedang dihadapi. Karena itulah
maka ketika Sri Rajasa maju setapak lagi dengan tangan
terkembang, tiba-tiba ditangan Anusapati telah tergenggam sebuah
trisula yang berwarna kekuning-kuningan.
Sri Rajasa terkejut melihat Trisula itu. Meskipun Sri Rajasa sudah
menduga, bahwa akhirnya Trisula itu akan dapat jatuh ketangan
Anusapati, namun ketika tiba2 saja ta harus menghadapinya, maka
iapun masih juga terperanjat, sehingga rasa-rasanya jantungnya
berhenti berdenyut.
Pada saat yang bersamaan, Witantra dan Mahisa Agni telah
meloncat kedalam longkangan. Sentuhan kakinya diatas tanah
masih dapat didengar oleh ketajaman indera Sri Rajasa disela-sela
desah angin yang semakin keras.
Ketika sekali langit seakan-akan menyala, Sri Rajasa -dapat
melihat, dengan jelas, bahwa dua orang yang datang, ini adalah
Mahisa Agni dan Witantra. Namun kemudian ia menjadi silau bukan
oleh kilat yang meloncat diudara, tetapi oleh trisula yang
seakanakan
bercahaya kekuning-Jkuningaru
Sri Rajasa mundur beberapa langkah surut. Dengan» suara yang
berat ia berkata “ Mahisa Agni, ternyata bahwa saatnya akan tiba,
kau membalas sakit hatimu karena kematian pamanmu. “
Mahisa Agni memandang Sri Rajasa yang silau itu sejenak.
Kemudian jawabnya “ Tidak Sri Rajasa.. Hamba tidak datang
dengan dendam didalam hati. Sebenarnyalah hamba datang dengan
niat yang baik. Untunglah bahwa belum terjadi sesuatu atas tuanku.
Tetapi sayang, bahwa-Sumekar agaknya telah terbunuh. “
“ Siapakah Sumekar? “ bertanya Sri Rajasa.
” Juru taman itu. “
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Katanya “ Pangalasan dari
Batil “
” Ya, Pangalasan dari Batil itu bernama Sumekar. “
Sri Rajasa memandang tubuh Sumekar yang masih terbaring
diam. Kemudian ditatapnya Anusapati yang hanya dapat dilihatnya
lamat-lamat, diantara silaunya cahaya trisula yang masih saja
diacukan kepadanya.
Dalam keadaan itulah, Sri Rajasa seakan-akan telah dihadapkan
pada suatu pengadilan. Disekitarnya berdiri beberapa orang yang
mempunyai kepentingan terhadap, dirinya. Mahisa Agni telah
kehilangan pamannya mPu Gandring, Witantra telah kehilangan adik
seperguruannya, Kebo Ijo yang telah diumpankan sebagai tertuduh
pada saat terbunuhnya Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian
Anusapati yang agaknya sudah mengetahui pula, apakah yang telah
terjadi atasnya.
“ Tuanku “ berkata Witantra “ barangkali tuanku telah
mendengar bahwa hamba memang sudah berada didalam kota
Singasari. “
“ Apa maksud kedatanganmu Witantra? “ bertanya Sri Rajasa
kemudian meskipun sebenarnya ia telah dapat menduga justru
karena ia datang bersama Mahisa Agni. Namun ia masih juga
melanjutkannya “ Apakah ada hubungannya dengan kekalahanmu
dari Mahisa Agni saat itu? “
“ Benar tuanku. Kedatangan hamba memang mempunyai
hubungan dengan kekalahan hamba waktu itu. Tetapi bukan untuk
melepaskan dendam kepada Mahisa Agni, karena pada waktu itu ia
sedang diliputi oleh kesedihan karena pamannya telah terbunuh. “
“ Jadi siapakah yang kau cari? “
“ Tidak apa-apa tuanku. Hamba hanya ingin melihat Singasari
yang sekarang dibandingkan dengan Tumapel yang kecil. Dan
barangkali setelah sekian tahun hamba dapat menemukan
pembunuh Kebo Ijo yang sebenarnya. Karena sejak semula hamba
yakin bahwa Kebo Ijo tidak bersalah. “
“ Apakah kau sudah menemukannya? “
“ Ampun tuanku. Hamba sudah menemukannya seperti Mahisa
Agni juga sudah menemukan pembunuh pamannya. Selain kami
berdua agaknya Puteran Mahkota-pun telah menemukan pula
pembunuh ayahandanya. “
Ken Arok mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “ Ya. Kalian telah
menemukan orang yang kalian cari. Dan yang kalian cari itupun
telah melihat, bahwa cahaya yang kuning keputih-putihan itu adalah
cahaya keluhuran yang akan menjemput aku. “
Mahisa Agni, Witantra dan Anusapati menjadi ter-mangu-mangu
sejenak. Dilihatnya Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu dengan
tatapan mata yang mengandung pertanyaan.
Namun Sri Rajasa itupun tersenyum sambil berkata selanjutnya “
Kenapa kalian termangu-mangu. Bukankah sudah datang saatnya?
Dihadapan cahaya itu aku seolah-olah sudah tidak berdaya lagi.
Didalam bayangan yang silau, aku tidak akan dapat melihat
bagaimana ujung keris mPu Gandring itu akan menyentuh kulitku.
Benar-benar suatu gabungan yang tidak terlawan bagiku. Keris mPu
Gandring yang sakti dan cahaya yang kuning silau itu. Apalagi
disini
berdiri orang-orang Sakti seperti Mahisa Agni dan Witantra. “
“ Tuanku. Jangan berhayal terlampau jauh. Sebenarnyalah kami
tidak membawa dendam diliati atas kematian-kematian itu. Kami
hanya ingin meyakinkan bahwa sebenarnyalah kami telah
menemukan pembunuh dari orang-orang yang kami cintai. Tetapi
setelah itu, kami tidak akan berbuat apa-apa. “
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Lalu katanya “ Jadi apakah
yang kalian kehendaki? “
Kami memang sedang mencari pangalasan ini dengan harapan
untuk mencegah sesuatu yang dapat terjadi. Tetapi kami terlambat.
Anusapati juga agaknya telah terlambat. “
“ Kalian telah menyuruhnya memasuki bangsal ini. “
“ Tidak tuanku. Hamba berkata sebenarnya. Jika kami memang
menghendakinya, kenapa kami tidak datang sendiri dengan trisula
itu sekaligus? “
Namun Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itupun tersenyum pula.
Kesan diwajahnya telah berubah sama sekali. Matanya tidak lagi liar
dan wajahnya tidak menjadi bengis.
“ Anusapati “ berkata Sri Rajasa “ ternyata bahwa semuanya
memang harus berakhir. Ceritera tentang Sri Rajasa yang berhasil
duduk diatas Singasari beralaskan mayat dan darah inipun memang
harus berakhir. Aku tahu, sejak aku duduk diatas Singasari, aku
sudah menduga bahwa singgasana itu bagaikan bara api yang akan
membakarku dan akan membakar siapa saja yang akan duduk
diatasnya apabila ia memang tidak dilindungi oleh dewa-dewa.
Itulah sebabnya, maka sepeninggalku, berhati-hatilah. Tentu tidak
ada orang lain yang akan diangkat untuk duduk diatas Singgasana
itu selain Anusapati. Mudah-mudahan kau mendapat perlindungan
Anusapati, sehingga kau tidak mengalami nasib seperti nasibku. ?”
“ Hamba tidak ingin berbuat sesuatu saat ini ayahanda. Biarlah
ayahanda tetap duduk diatas Singgasana Singasari. “
“ Jangan berkata begitu Anusapati. Kau ternyata sudah menyiksa
aku dengan sikapmu itu. Aku lebih senang melihat kau marah dan
menghujamkan keris itu didadaku selagi aku silau melihat cahaya
trisula itu. Tetapi kau tidak berbuat demikian. Kau berbuat seperti
seorang yang berhati putih. Kau seakan-akan tidak mendendam
meskipun kau tahu bahwa aku telah membunuh ayahmu yang
sebenarnya seperti Mahisa Agni juga seolah-olah tidak mendendam
karena aku sudah membunuh mPu Gandring dan juga adik
seperguruan Witantra. Kenapa kau tidak bersama-sama dengan
Mahisa Agni dan Witantra membunuhku saja? “
Anusapati tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Namun
sebenarnyalah nafsunya untuk melihat Sri Rajasa binasa seperti
yang menyala sesaat ketika ia melihat Sumekar bertempur melawan
Sri Rajasa itu telah' lenyap.
“ Anusapati, jangan menyiksa dengan pameran kebesaran jiwa
dan keluhuran budi seperti itu. Aku pernah membunuh orang-orang
yang aku anggap dapat menghalangi usaha untuk merebut tahta
Tumapel waktu itu. Kenapa kau tidak berbuat serupa, membunuh
aku, karena selama aku masih ada, aku tidak akan menyerahkan
tahta Singasari kepadamu. “
“ Ayahanda adalah Maharaja Singasari. jika memang itu
keputusan ayahanda, maka aku akan melepaskan kedudukanku
sebagai Putra Mahkota. “
“ Omong kosong. Aku tidak percaya. Didalam keadaan seperti ini
kau memang berusaha menyiksaku, menyakiti hatiku karena aku
akan merasa terlampau kecil berhadapan dengan kau yang berjiwa
samodra, yang menampung segala macam perasaan didalam
hatimu. Tetapi terbuatlah jujur. Kau tentu ingin melihat aku mati.
“
Tetapi Anusapati menjawab “ Tidak. Tidak ayahanda. Hamba
tidak ingin membunuh. “
“ Gila, kau gila dan tidak jujur. Orang gila biasanya berbuat
sesuai dengan gerak perasaannya tanpa kendali. Tetapi kau adalah
orang gila yang berpura-pura. “
Anusapati menjadi bingung. Ketika ia memandang Mahisa Agni
sejenak, maka dilihatnya keningnya berkerut-merut dalam sekali,
“ Cepat, lakukan. Aku tidak dapat melihat kau dengan jelas. Aku
tidak dapat melihat keris itu. “ berkata Sri Rajasa.
Tetapi Anusapati masih tetap berdiam diri.
“ Anusapati, jangan berdiri saja seperti patung. Sebentar lagi
para prajurit didepan bangsal ini akan meronda sampai
keiongkangan ini. Lebih baik kau bunufa akiT sekarang, selagi suara
kita tidak didengar oleh mereka karena angin dan guruh yang
terusmenerus.
Rupa-rupanya alampun telah siap membawa jiwaku
kembali kepada penciptanya, setelah aku menunaikan tugasku
mempersatukan Singasari. ?”
“ Ah “ terdengar Anusapati berdesis.
“ Cepat “ sekali lagi Sri Rajasa menggeram. Dan tiba-tiba saja Sri
Rajasa itulah yang meloncat menyerang Anusapati.
Yang terjadi itu benar-benar mengejutkan. Mahisa Agni dan
Witantra tidak sempat berbuat apa-apa. Mereka melihat Sri Rajasa
bagaikan tatit yang meloncat dilangit.
Demikian pula Anusapati. Ia sama sekali tidak sempat berpikir.
Ketika ia melihat Sri Rajasa meloncat menyerang nya, maka dengan
gerak-gerak naluriah ia mempertahankan dirinya. Karena ia tidak
dapat bergeser mundur lagi, maka hampir diluar sadarnya ia telah
mempergunakan kerisnya.
Sebenarnyalah bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
benar-benar telah disilaukan oleh cahaya trisula kecil ditangan
Anusapati itu. Trisula yang pernah pula dilihatnya ketika ia masih
bertualang dipadang Karautan. Seolah-olah Trisula ku telah
memperingatkan kepadanya apa yang pernah terjadi dan apa yang
pernah dilakukan olehnya dipadang Karautan itu. Juga atas seorang
tua yang seakan-akan telah membimbingnya untuk mengenal Yang
Maha Agung meskipun sebelumnya ia pernah merasakan
pertolongan tangan-Nya yang Maha Kuasa.
Itulah sebabnya selain mata wadagnya yang silau oleh trisula
kecil ditangan Anusapati, maka mata hatinyapun telah menjadi silau
pula melihat dosa-dosa yang pernah dilakukannya sendiri.
Dengan demikian, maka Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
sama sekali tidak melihat, bagaimana Anusapati berbuat diluar
sadarnya, mengacungkan keris buatan mPu Gandring itu untuk
menahan serangannya.
Jika Anusapati berbuat demikian, ia berniat untuk sekedar
mengurungkan serangan Ken Arok yang bagaikan tatit itu. Namun
Anusapati tidak tahu, bahwa sebenarnyalah Ken Arok tidak dapat
melihat ujung keris yang mengerikan itu.
Didalam kesilauannya, tiba-tiba saja terasa oleh Keh Arok ujung
keris ditangan Anusapati itu telah menyentuhnya. Sejenak ia
berdesis dan meloncat surut. Namun kemudian dipandanginya luka
dilengannya itu sejenak sambil berkata “ Ternyata telah datang
saatnya. “
“ Ayahanda “ desis Anusapati.
“ Jangan mendekat Anusapati “ berkata Sri Rajasa ?” aku adalah
ujud dari kekasih Dewa yang melakukan tugasku dibumi, tetapi aku
juga ujud daripada dosa yang paling besar dimuka bumi ini. Jika kau
mendekati aku, maka tanganku yang berlumuran dosa ini tentu
akan meremaskan menjadi debu. Biarlah kebesaran kasih Dewa
yang ada padaku menyelamatkan kau dari kehancuran itu. “
Kata2 Sri Rajasa itu ternyata telah menggetarkan hati setiap
orang yang mendengarkanya. Anusapati menjadi termangu-mangu
sejenak. Sedang Mahisa Agni dan Witantra bagaikan membeku
diternpatnya.
Namun seperti permintaan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa.itu
Anusapati sama sekali tidak mendekat ketika kemudian Sri Rajasa
berlutut sambil bertelekan dengan kedua tangannya. Sekali-Sekali ia
meraba lukanya. Luka karena ujung keris mPu Gandring.
Tubuh Sri Rajasa semakin lama menjadi semakin lemah. Didalam
keremangan cahaya malam dan lampu di-kejauhan, Sri Rajasa
memandang Mahisa Agni, Witantra dan Anusapati yang berdiri
mematung.
“ Jangan bingung “ berkata Sri Rajasa “ memang sudah
waktunya aku mati. Aku tidak akan berteriak memanggil para
prajurit yang sedang bertugas didepan bangsal ini. Mereka tidak
akan tahu apa sebabnya aku mati. “ Ken Arok berhenti sejenak, lalu
“ tetapi bawalah pangalasan itu keluar dari bangsal ini. Apapun
alasannya, kehadiran seseorang dibangsal ini akan menimbulkan
banyak pertanyaan. Dan Anusapati tidak akan dapat
Terbuat banyak disini, karena jika demikian, kehadiran-nyapun
mencurigakan pula. “
“ Jadi apa yang harus hamba lakukan? “ tiba-tiba saja Anusapati
bertanya.''
“ Bawalah pangalasan itu kebangsahnu. Kau dapat mengatakan
kepada siapapun juga, bahwa peristiwa ini Idalah peristiwa yang
tidak ada sangkut pautnya dengan perkembangan keadaan akhir2
ini diLstana Singasari. “
“ Maksud ayahanda? “
“ Pangalasan itu telah membunuh aku karena sakit hati.
Kemudian akan membunuhmu pula. Tetapi kau berhasil
membinasakannya. Itulah ceriteranya. Dan mudah-mudahan orangorang
Singasari mempercayainya dan memberikan hakmu atas
tahta, Anusapati. Sebab jika ada yang mencurigaimu memasuki
bangsal ini, maka akan timbul persoalan yang berkepanjangan,
karena kau tahu, aku mempunyai seorang anak laki-laki yang ingin
aku tempatkan diatas tahta pula. “
“ O “ terasa kerongkongan Anusapati menjadi panas.
Namun tiba-tiba Putc-ra Mahkota itu terkejut ketika ia mendengar
Sri Rajasa mengumpat “ Jahanam, jahanam kau Anusapati. Tentu
kau yang menyuruh pengatasan itu membunuh aku. Agaknya kau
sudah tahu rencana yang aku susun sebiak-baiknya untuk
membinasakan kau dan Mahisa Agni. Dengar, bahwa Tohjaya tidak
akan merelakan pembunuhan ini terjadi. “
“ Tetapi, tetapi hamba tidak pernah berusaha dengan sungguhsungguh
untuk membunuh ayahanda. Memang kadang-kadang
terbersit ingatan untuk melakukannya. Namun hamba selalu berhasil
mengendalikannya. “
“ O “ kepala Ken Arok seakan-akan terkulai. Tubuhnya menjadi
semakin lemah. Katanya “ Ya, kau memang tidak bersalah. Karena
itu, lakukanlah pesanku, agar kau tidak dicurigai oleh siapapun.
Agaknya memang keturunan Ken Dedes yang pantas untuk
menggantikan kedudukanku di Singasari ini.
Anusapati tidak segera menjawab. Dipandanginya saja Sri Rajasa
yang semakin lama menjadi semakin lemah. Namun yang tiba-tiba
telah mengumpat sekali lagi “ O, kau telah berkhianat Anusapati.
Meskipun aku bukan ayahandamu sendiri, tetapi sejak lahir kau
berada dibawahi asuhanku. akulah yang memberikan kedudukan
kepadamu sebagai seorang Putera Mahkota. “
Sri Rajasa yang lemah itu seakan-akan ingin meloncat dan
meremas Anusapati menjadi berkeping-keping.
Tetapi tubuh itu benar-benar sudah sangat lemah oleh racun
yang keras dari keris mPu Gandring itu. Semakin lama Sri Rajasa,
Maharaja di Singasari itu menjadi semakin tidak mampu lagi untuk
tetap duduk. Akhirnya, perlahan-lahan Sri Rajasa seakan-akan telah
membaringkan dirinya sendiri sambil berkata “ Aku minta diri. Tidak
ada yang pantas menunggui kematianku selain kau Anusapati. Kau
yang berjiwa samodra dan berhati seputih kapas. “ namun
kemudian “ tetapi, justru itulah yang menyiksaku, yang membuat
aku ingin membunuhmu sekarang. “ suaranya mulai surut, lalu “
jangan mendekat
Anusapati. Tungguilah aku dari kejauhan. Sarungkan trisulamu
supaya aku dapat menatap wajahmu, karena, trisula itu membuat
mataku bagaikan buta. “
Anusapati ragu-ragu sejenak. Namun ketika Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya, maka trisula itupun
disarungkannya juga.
“ Hem “ Sri Rajasa bergumam “ terima kasih. Aku minta diri.
Tetapi jangan mendekat. Jangan sampai tersentuh jari-jari
tanganku. “
Anusapati melangkah maju. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan
pesan Sri Rajasa.
Sejenak kemudian Sri Rajasa itu menyilangkan tangan didadanya.
Matanyapun terpejam dan mulutnya terkatub rapat. Bahkan bibirnya
tampak bagaikan tersenyum, seperti juga bibir Sumekar yang
terbaring tidak jauh dari Sri Rajasa itu.
Pada saat terakhir masih terdengar suara Sri Rajasa lamat-lamat.
“ Jahanam kau Anusapati kau telah berhasil merebut tahta yang aku
sediakan buat Tohjaya. “
Namun sejenak kemudian ia berdesah “ Hanya kau yang pantas
menggantikan kedudukanku Anusapati. Hanya kau. Aku serahkan
kekuasaan Singasari sepenuhnya kepadamu, kepada keturunan Ken
Dedes yang memiliki pertanda langsung dari Dewa-dewa bahwa ia
akan menurunkan Maharaja bagi Singasari. Bukan Ken Umang.
Bukan Tohjaya tetapi Anusapati. “
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu sudah berbaring bagaikan
tidak bernyawa lagi. Namun masih terdengar suaranya meskipun
bibir itu sudah tidak bergerak “ Anusapati, kau adalah jahanam yang
pantas menjadi seorang Maharaja. “
Anusapati yang berdiri tegak itu masih termangu-mangu, Hatinya
tersentuh juga mendengar kata-kata Sri Rajasa yang seakan-akan
tidak diucapkan oleh mulutnya. Dan Anusapatipun memang tidak
dapat ingkar, bagi Sri Rajasa, ia adalah jahanam yang akan
menggantikan kedudukannya. Tidak ada orang lain yang lebih
berhak daripada dirinya untuk menggantikan kedudukan Sri Rajasa
pada waktu itu.
Dalam pada itu, longkangan itupun menjadi sepi. Dengan hati
yang tegang mereka memperhatikan Sri Rajasa yang terbaring diam
dengan tangan bersilang didada dan mata terpejam.
Namun tiba-tiba saja tetasa dada ketiga orang itu bergetar.
Mereka dapat melihat dengan jelas, bahwa dari ubun-ubun Ken Arok
itu seakan-akan meluncur perlahan-lahan sebuah cahaya yang
berwarna kemerah-merahan. Bagaikan gumpalan warna yang
sangat ringan, maka cahaya yang kemerah-merahan itupun
terapung diudara-dan sejenak kemudian seolah-olah dihembus oleh
mulut bumi, sehingga cahaya itupun terbang keangkasa. Semakin
lama semakin tinggi dan akhirnya hilang dikebiruan wajah langit.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sudah-pernah ia
melihat cahaya itu diubun-ubun Ken Arok yang; bergelar Sri Rajasa.
Agaknya memang sudah datang saatnya Ken Arok yang kemudian
bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu kembali keasalnya
setelah beberapa lama ia melakukan tugasnya dibumi.
Perlahan-lahan ketiga orang itupun kemudian melangkah
mendekatinya. Yang kemudian ada dihadapan mereka memang
tidak ubahnya sebagai tubuh manusia sewajarnya apabila ajal telah
tiba. Karena Ken Arok yang, tinggal itu adalah Ken Arok dalam
bentuknya yang wadag.
“ Ia memang ujud dari kasih dewa atas Singasari,. tetapi juga
ujud yang paling mengerikan dari iblis yang paling laknat “ berkata
Mahisa Agni kemudian.
“ dan itu pulalah sikapnya atasmu Anusapati. Ia menganggapmu
sebagai penggantinya, sebagai saluran kasih dewa-dewa atas
Singasari, namun ia memandangmu sebagai orang yang paling
mengganggu nafsu ketamakan-nya. Dan tanggapan itulah yang
tampak pada saat akhirnya. Ia ingin menyerahkan Singasari
kepadamu, namun sekaligus ingin meremasmu menjadi debu. “
Anusapati hanya dapat menundukkan kepalanya.
“ Nah, sekarang Anusapati. Kau dapat melakukan pesannya.
Bawalah Sumekar kebangsalmu. Dan tentu saja kita akan minta izin
kepada Kuda Sempana, kakak seperguruannya, bahwa meskipun
Sumekar sudah meninggal, kau masih akan minta bantuannya.
Dengan nama Pangalasan Batil, ia harus mengorbankan bukan saja
jiwanya, tetapi juga nama itu, karena setiap orang akan menyangka,
bahwa ialah pembunuh Sri Rajasa, dan kemudian pergi
kebangsalmu untuk membunuhmu juga, tetapi kau berhasil
membinasakannya lebih dahulu “-
Anusapati masih menundukkan kepalanya. Bahkan kemudian
terasa betapa matanya menjadi panas. Sumekar adalah seorang
yang sangat baik kepadanya. Orang yang seakan-akan telah
mewakili pamannya Mahisa Agni apabila pamannya itu tidak ada di
Singasari. Justru karena itu, maka iapun ikut terlibat didalam
persoalan yang ttumbuh didalam keluarga besar dari Sri Rajasa.
Sumekar seakan-akan terlibat dalam perebutan pengaruh antara.
Anusapati dan Tohjaya. Dan itulah sebabnya, maka Sumekar telah
hanyut pula didalam arus kebencian kepada Sri Rajasa. Bahkan
melampaui dirinya sendiri sehingga ia tidak dapat mengendalikan
perasaannya dan dengan keris mPu Gandring yang sakti itu ia ingin
membinasakan Sri Rajasa. Namun Sri Rajasa bukannya manusia
sewajarnya. Dan itulah sebabnya Sumekar tidak berhasil
menyentuhnya dengan keris itu, justru dirinya sendirilah yang
terbunuh karenanya.
Dan sekarang mayat itu
harus dihinakan sebagai
seorang pembunuh.
Sulit bagi Anusapati untuk
memenuhinya. Terkenang
olehnya ceritera tentang Kebo
Ijo yang sama sekali tidak
bersalah, namun harus
menebus dengan nyawa dan
namanya ketika Akuwu Tunggul Ametung terbunuh.
“ Aku tahu keberatanmu Anusapati “ berkata Mahisa Agni “
karena itu, maka sebaiknya kita menemui Kuda Sempana. Kakak
seperguruan Sumekar. Kita mendengar pendapatnya. “
“ Jadi, bagaimana dengan tubuh paman Sumekar. ini? “ bertanya
Anusapati.
“ Biarlah kita bawa lebih dahulu kelongkang bangsalmu. “
Anusapati menganggukkan kepalanya. Ia memang tidak dapat
tinggal dtbangsal Sri Rajasa terlampau lama. Jika para prajurit
kemudian meronda kebagian belakang bangsal ini, maka mereka
akan menemukannya dan harus bertempur lagi. Jika ia salah
langkah maka ia akan membunuh bukan saja satu dua orang, tetapi
beberapa orang. Apalagi jika kemudian timbul pertentangan
terbuka.
“ Baiklah paman “ berkata Anusapati kemudian “ aku akan
mencoba membawa tubuh paman Sumekar.
Tentu cukup berat. Kami akan membantumu. Jika kita tidak
harus menyusup diantara pengawasan para pra jurit, maka tidak
akan terlampau sulit kiranya Tetapi sekarang kita harus menerobos
pengawasan para prajurit.
Demikianlah maka dengan susah payah, ketiga orang itu berhasil
membawa Sumekar keluar dari dinding bangsal Sri Rajasa. Dengan
susah payah pula mereka berhasil membawa lewat rimbunnya
tumbuh-tumbuhan perdu di halaman istana Singasari dari bangsal
Sri Rajasa, sampai kebangsal Putera Mahkota.
Malam itu juga Kuda Semparta, Mahisa Agni dan Witantra
terpaksa melepaskan Sumekar menjadi seorang pengkhianat
dengan nama Pangalasan Batil. Tetapi ia bagi Anusapati adalah
seorang yang paling baik, yang telah mempertaruhkan nyawanya
untuk kepentingannya, meskipun caranya kurang disetujui. Namun
niat terkandung didalam hati Sumekar adalah menempatkannya
pada kedudukan yang paling tinggi di Singasari.
Setelah semuanya dibicarakan dengan masak, dan setelah
Mahisa Agni, Kuda Sempana dan Witantra dengan dada yang
berdebar-debar menunggu dibangsalnya, apa yang akan terjadi
diistana itu, maka mulailah Anusapati memainkan peranannya.
Lebih dahulu ia berbisik ditelinga Sumekar “ Maafkan aku paman.
Aku sama sekali tidak berniat jelek. Kau bagiku adalah seorang
pahlawan. Bukan saja dikala hidup paman, tetapi juga sesudah
paman meninggal. “
Maka kemudian terjadilah keributan dibangsal itu. Beberapa
orang prajurit yang bertugas itupun berlari-larian dengan senjata
telanjang.
Keributan itupun segera menjalar kesegenap halaman istana
Singasari. Benar-benar diluar rencana yang sudah disusun oleh
beberapa orang Senapati. Tiba tiba saja seorang telah menyusup
kedalam bangsa! Anusapati dan mencoba membunuhnya. Namun
ternyata usaha ini gagal, dan bahkan orang yang dikenal sebagai
pangalasan Batil itu telah mati terbunuh.
“ Cepat, lihat kebangsal ayahanda Sri Rajasa “ Ini kata Anusapati
“ pangalasan ini telah menyebut-nyebut nama ayahanda. Ia akan
membunuh ayahanda pula setelah membunuh aku, atau sebaliknya.
“
Halaman istana itu menjadi semakin gempar setelah ternyata Sri
Rajasa diketemukan telah meninggal dilong-kangan bangsalnya,
terbujur seperti orang tidur dengan tangan bersilang dan mata
terpejam.
Dalam keributan itulah Mahisa Agni telah muncul pula dihalaman.
Ternyata bahwa ia memiliki wibawa yang cukup bagi para Senapati,
meskipun mereka yang telah disiapkan untuk menangkapnya besok.
“ Tutup semua gerbang. “ perintah Mahisa Agni.
Maka tidak seorangpun yang dapat lolos lagi dari dinding istana.
Namun Kuda Sempana, Witantra dan Mahendra sudah berada diluar
dinding.
Dalam pada itu, Anusapati yang masih menggenggam keris
telanjang memberikan aba-aba pula. Hampir diluar sadarnya para
prajurit yang dipersiapkan untuk membunuh Putera Mahkota itu
justru melakukan segala perintahnya.
“ Periksa setiap orang yang mencurigakan. Aku tidak yakin
bahwa pangalasan ini berdiri sendiri. “
Kegemparan itu benar-benar telah mengguncangkan istana
Singasari. Bahkan dalam sekejap, berita tentang terbunuhnya Sri
Rajasa itu telah menjalar keseluruh kota. Setiap orang yang
mendengar berita itu, segera mengetuk pintu rumah tetangganya
dan menceriterakan apa yang didengarnya, sehingga dengan
demikian maka berita kemati-an Sri Rajasa Batara Sang
Amurwabumi segera menjalar.
Jenazah Sri Rajasa itupun segera diusung masuk ke-dalam
bangsalnya. Permaisuripun segera mendengar apa yang telah
terjadi. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa iapun pergi
kebangsal Maharaja Singasari itu.
Ketika tampak olehnya jenazah itu, terasa kepala Ken Dedes
menjadi pening. Jenazah itu tidak ubahnya seperti jenazah Akuwu
Tunggul Ametung, Dibeberapa tempat tampak noda kebiru-biruan,
meskipun wajah Sri Rajasa itu seakan-akan sama sekali tidak
berubah seperti disaat ia tidur.
Ken Dedespun segera mengetahui, apakah yang sudah terjadi.
Ternyata bahwa keris mPu Gandring telah melukai Sri Rajasa seperti
keris itu telah melukai pula Akuwu Tunggul Ametung.
Bayangan yang bercampur baur itu membuat kepala Ken Dedes
menjadi semakin pening. Pandangannya menjadi berkunangkunang.
Dan sejenak kemudian, Ken Dedes tidak mengetahui
apakah yang telah terjadi.
Permaisuri itupun menjadi pingsan. Beberapa orang emban
menjadi kebingungan. Dengan segala macam cara mereka berusaha
untuk menolong Permaisuri itu.
Dalam pada itu, Ken Umangpun bergegas datang pula kebangsal
itu. Ketika ia datang, ternyata Permaisuri sudah dibawa menyingkir
untuk mendapat pertolongan.
Yang terdengar adalah jerit yang menyayat. Ken Umang
menelungkup dibawah jenazah Sri Rajasa. Tangis nya bagaikan
bendungan yang pecah. Sedang yang ter selip diantara suara
isaknya adalah ratapan yang pedih. ”Tuanku, kenapa Tuanku,
sampai hati meninggal kah hamba dan putera - putera tuanku.
Justru dalam saat-saat perjuangan putera tuanku sedang
memuncak. Dengan demikian, maka lenyaplah segala harapan
hamba, bahwa hamba akan dapat menurunkan seorang Maharaja
yang akan berkuasa di Singasari. “
Tidak ada yang mendengar ratap itu selain seorang emban yang
sedang mencoba menghiburnya. Ratapan itu diucapkannya terlalu
lirih. Orang2 yang sedang menunggui jenazah itupun sama sekali
tidak mendengar dengan pasti kata-kata yang diucapkannya.
Namun emban itu sempat juga mengurut dadanya. Ternyata yang
paling menyedihkan bagi Ken Umang bukan kematian Sri Rajasa.
Tetapi adalah karena cita-citanya untuk menurunkan seorang
Maharaja telah gagal karenanya.
Dalam pada itu, para prajurit dihalaman istana masih sibuk
memeriksa setiap sudut halaman. Mereka mencoba untuk
menemukan orang yang mencurigakan, yang barangkali adalah
kawan dari pangalasan dari Batil itu.
Tetapi tidak seorangpun yang pantas dicurigai. Yang ada didalam
halaman itu adalah prajurit-prajurit yang justru telah dipersiapkan
oleh orang-orang yang ditentukan, untuk tujuan yang sama sekali
berbeda dari apa yang celah terjadi.
Ternyata yang telah terjadi itu menghapuskan semua rencana
dikepala beberapa orang Senapati itu. Dihadapan Mahisa Agni,
seorang Senapati Agung Singasari, mereka itu menjadi bingung.
Apalagi ketika kemudian hadir beberapa orang Panglima dan
Senapati yang tidak tahu me nahu tentang rencana itu.
Akhirnya, ketika matahari kemudian terbit di Timur, sidang di
bangsal paseban telah dipimpin langsung oleh Putera Mahkota
didampingi oleh Senapati Agung yang menjadi wakil Mahkota di
Kediri. Didalam sidang itu telah ditetapkan kesimpulan bahwa
seorang pengalasan telah membunuh Sri Rajasa dan kemudian
berhasil dibunuh oleh Anusapati, Putera Mahkota Singasari. Dan
sidang itupun telah menetapkan upacara yang akan dilakukan untuk
menyempurnakan jenazah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.
Namun demikian, meskipun sidang itu sependapat, bahwa
pangalasan Batil telah membunuh Sri Rajasa dan kemudian
terbunuh oleh Anusapati, tetapi ternyata bahw«i Tohjaya tidak
dapat menerima keputusan itu didalam hatinya. Dengan beberapa
orang kepercayaannya ia menetapkan, bahwa pangalasan dari Batil
itu telah mendapar perintah dari Anusapati untuk membunuh Sri
Rajasa, te tapi kemudian pangalasan itu telah dibunuh sendiri oleli
Anusapati, agar rahasia pembunuhan itu tidak akan pernah
didengar oleh orang lain.
Tetapi pengaruh Anusapati dan Mahisa Agni ternyata lebih besar
dari pengaruh Tohjaya. Karena itulah kemudian para pimpinan
pemerintahan menetapkan, Anusapati menggantikan kedudukan
ayahanda Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi yang telah gugur
didalam jabatannya.
Dalam pada itu, dengan diam-diam Anusapati berhasil
menyingkirkan tubuh Sumekar yang telah mengorbankan segalanya
untuknya. Sejak hidupnya, masa-masa mudanya, masa-masa
menjelang usia pertengahan dan kemudian bahkan nyawanya dan
bahkan namanya. Atas kehendak Anusapati, maka jenazah
Sumekarpun telah disempurnakan sebaik-baiknya oleh kakak
seperguruannya di padepokannya.
Namun kejutan peristiwa itulah agaknya yang membuat
kesehatan Ken Dedes menjadi semakin mundur. Namun demikian ia
masih sempat menunggui puteranya memerintah Singasari yang
besar.
Tetapi yang terjadi bukannya akhir dari pemerintahan yang
damai di Singasari.
-ooo0dw0ooo-
(TAMAT BAGIAN KE I)
IKUTI CERITERA BERIKUTNYA (Bag. ke II)
SEPASANG ULAR NAGA DALAM SATU SARANG.
SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG
KARYA : SH. MINTARDJA
SEPERCIK DARAH telah membasahi tahta Singasari, seperti juga
saat tahta Tumapel jatuh ketangan Ken Arok, yang kemudian
berhasil mempersatukan Singasari dan menjadi seorang raja yang
bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi
Kini Sri Rajasa telah disingkirkan dengan cara yang sama seperti
ia menyingkirkan Akuwu Tunggul Ametung, meskipun dengan
alasan yang agak berbeda, oleh Anusapati.
Maka mulai terbuktilah ucapan mPu Gandring sebelum saat
meninggalnya oleh tangan Ken Arok dengan keris buatannya sendiri
yang minta kepada Ken Arok itu, bahwa sebaiknya keris yang telah
dilumuri dengan darah mPu Gandring itu sendiri, dihancurkan saja,
karena disaat mendatang keris itu akan menjilat darah orang lain
lagi. Dan orang itu adalah Ken Arok sendiri.
“ Apakah keris itu sudah akan berhenti menitikkaus darah? “
Tidak seorangpun yang mengetahuinya bahwa keris seakan
beruntun menghisap darah, karena Ken Arok yang langsung
mendengarnya dari mPu Gandring tidak mengatakannya kepada
Anusapati pada saat terakhir.
Namun agaknya Anusapati sendiri selalu dibayangi olehi
kecemasan dan ke-ragu2an, apakah tidak ada dendam yang
menyala didalam istana Singasari itu. Karena itu, maka keris itu
pun
disimpannya baik2.
Sebenarnyalah bahwa Tohjaya putera Ken Arok dari isteri nya
Ken Umang, yang kehilangan ayahandanya benar2 telah di cengkam
oleh dendam yang membara didalam dadanya. Ia memutuskan
didalam hatinya, bahwa pengalasan Batil itu adalah utusan
Anusapati yang kemudian dibinasakan sendiri untuk melenyapkan
jejak pembunuhan itu.
Namun untuk sementara Tohjaya tidak dapat berbuat apa apa. Ia
harus tunduk kepada keadaan. Ternyata bahwa pengaruh Anusapati
cukup kuat untuk menguasai seluruh Singasari, meskipun hidupnya
sendiri selalu dibayangi oleh kecemasan.
Dalam pada itu, Ken Umang yang menjadi sangat bersedih bukan
saja karena kematian Sri Rajasa, tetapi karena dengan demikian
hilangnya semua harapannya untuk mengangkat Toh jaya menjadi
putera Mahkota, masih saja dibakar oleh nafsunya. Ia tidak menjadi
putus asa, bahwa Tohjaya tidak dapat menduduki jabatan Putera
Mahkota. Ken Umang sadar bahwa pada saatnya Anusapati tentu
akan mengangkat anak laki2nya untuk jabatan itu, sehingga apabila
ia lenyap dari merintahan, anak laki2nyalah yang akan menduduki
tahta ngasari. Ia adalah keturunan Ken Dedes. Bukan keturunan
Ken Umang.
Sedangkan anak laki2 Anusapati yang bernama Ranggawuni itu
setiap hari tumbuh dengan suburnya. Ia menjadi se orang anak
laki2 yang tampan dan kuat. Meskipun usianya masih sangat muda,
namun ia mewarisi kelebihan ayahnya. Dengan pesat ia maju
didalam olah kanuragan dan ilmu kejiwaan. Ia cepat menguasai
segala macam tata gerak yang diajarkan, tetapi ia juga dengan
cepat menguasai ilmu kesusasteraan, ilmu cacah dan ilmu
perbintangan.
Demikian juga adik sepupunya, yang meskipun agak lebih muda,
tetapi nakalnya bukan main. Anak laki2 Mahisa Wonga Teleng
itupun tumbuh cepat seperti Ranggawuni.
Sejak masih kanak2 keduanya bagaikan tidak terpisahkan.
Ranggawuni dengan Mahisa Cempaka. Bahkan keduanya seperti
kakak beradik yang lahir berurutan. Bentuk tubuhnya, wajahnya dan
kesenangannya hampir tidak berbeda.
Demikianlah keduanya merupakan isi dari halaman istana
Singasari yang mengasikkan. Setiap prajurit yang bertugas dihalaman
istana, tentu akan tersenyum melihat keduanya berlari2
ber-kejar2an. Para pengasuh dan pengawalnya memandangnya saja
dari kejauhan, jika keduanya menjadi semakin jauh barulah mereka
mengikutinya. Dan rasa2nya halaman Singasari itu adalah suatu
daerah yang paling aman dan damai dipermukaan bumi, sehingga
keduanya tidak usah kuatir bahwa pada suatu saat mereka akan
mengalami bencana.
Tetapi sebenarnyalah tidak demikian. Disebelah dinding yang
memisahkan dua bagian istana Singasari, terdapat timbunan
dendam yang menyala. Tetapi Ken Umang dan anak2nya ternyata
mampu mengendalikan diri. Didalam kehidupannya se-hari2 seakan2
mereka dengan ikhlas menerima kenyataan itu. Se-akan2
mereka sama sekali tidak mempunyai niat apapun juga sepeninggal
Ken Arok. Namun sebenarnyalah bahwa Ken Umang telah
menyusun rencana yang paling berbahaya bagi keseluruhan
Anusapati.
“ Aku harus menempuh jalan lain “ berkata Ken Umang didalam
hati. “ Jika aku tidak dapat lagi mengharap bahwa Tohjaya akan
menduduki jabatan Putera Mahkota, maka jalan yang paling baik
adalah menyingkirkan Anusapati. Tahta Singasari harus jatuh
ketangan Tohjaya dengan cara yang sama pula. Seperti jatuhnya
tahta Tumapel dan Tahta Sri Rajasa. “
Tetapi Ken Umang tidak kehilangan akal dan berbuat ter-gesa2.
Ia cukup sabar menunggu saat2 yang menguntungkan baginya dan
bagi anaknya.
Karena itulah, maka yang tampak didalam kehidupannya sehari2
adalah sifat yang se-akan2 telah berubah sama sekali. Hampir
seluruh penghuni istana dan para juru taman dan hamba yang lain
menganggap bahwa Ken Umang telah berubah sama sekali.
“ Kini ia menjadi seorang yang baik “ desis seorang juru
panebah,
“ Ya. Ia sekarang menumpang kamukten pada anak tirinya yang
sebelumnya sangat dibencinya. Namun agaknya kebaikan hati
Anusapati telah menyentuh perasaannya, dan ia tidak dapat
berbuat lain daripada mengucapkan terima kasih kepadanya. “ sahut
seorang emban.
“ Mudah2an sifat itu tidak segera berubah lagi “ desis yang lain.
Demikianlah untuk beberapa lamanya, se-akan2 istana Singasari
telah menjadi aman dan damai. Se-akan2 tidak ada persoalan lagi
yang dapat membahayakan kesatun dan kedamaian diseluruh
negeri.
Dengan sepenuh hati Rakyat Singasari dapat melakukan kerjanya
se-hari2. Yang bekerja disawah dengan tekun mengerjakan sawah
dan ladangnya. Beberapa orang yang merasa bahwa tanah garapan
mereka menjadi kian sempit karena turun temurun yang lahir
beruntun, segera memperluas tanah mereka dengan menebang
hutan, sehingga dengan demikian maka se-akan2 Singasari menjadi
semakin lama semakin luas.
Hutan belantara yang bertebaran hampir diseluruh negeri
merupakan daerah perluasan yang tanpa merugikan pihak manapun
juga. Usaha perluasan yang demikian bukannya usaha perluasan
daerah dan jajahan. Tetapi perluasan yang benar2 bersih dari
perselisihan dan apalagi bentrokan berdarah kareca hutan masih
sangat luas dan tidak bertuan.
Namun kadang2 dapat juga timbul persoalan. Apabila daerah itu
merupakan sarang dari sekelompok penjahat yang tidak diketahui
lebih dahulu. Namun perselisihan yang demikian biasanya akan
segera dapat diselesaikan, karena apabila laporan tentang hal itu
sampai diistana Singasari, maka Anusa-patipun segera mengirimkan
sepasukan prajurit untuk mengusir para penjahat itu.
Dihalaman istana, kecerahan itu nampak pada kedua anak2 yang
sedang tumbuh dengan suburnya. Ranggawuni dan Mahisa
Cempaka. Seperti Anusapati, maka keduanya dekat dengan Mahisa
Agni. Dan seperti Anusapati, keduanyapun mendapat tuntunan olah
kanuragan dari Mahisa Agni pula.
Sesuai dengan usia mereka berdua, maka Mahisa Agnipun mulai
dengan tata gerak yang nampaknya seperti permainan yang
mengasikkan. Permainan yang merupakan pendahuluan dari tata
gerak yang sangat sederhana sebelum memulai dengan
mempelajari ilmu olah kanuragan yang sebenarnya.
Dan ternyata tuntunan yang dilakukan oleh Mahisa Agni itu
sangat digemari oleh kedua anak2 yang masih sangat muda itu,
sehingga hubungan mereka dengan Mahisa Agni seperti hubungan
mereka dengan orang tua sendiri.
Tetapi Mahisa Agni tidak selalu berada di Singasari. Ia masih
memangku jabatannya yang lama. Setiap kali ia masih harus pergi
ke Kediri. Namun tidak seperti pada jaman pemerintahan Sri Rajasa,
maka ia kini dapat datang ke Singasari setiap saat, dan untuk waktu
yang dikehendakinya. Meskipun demikian ia tidak mengabaikan
tugasnya. Ia tetap melakukannya dengan se-baik2nya seperti yang
dilakukan pada masa pemerintahan Ken Arok. Dan bagi rakyat
Kediripun sama sekali tidak menimbulkan persoalan, apalagi
prasangka karena sikap Mahisa Agni itu.
Meskipun demikian, meskipun tidak setiap hari Mahisa Agni ada
di Singasari, namun Ranggawuni dan Mahisa Cem paka tidak pernah
melupakan latihan2 yang telah diterimanya. Meskipun kebetulan
Mahisa Agni tidak ada di Singasari, mereka berlatih terus dibawah
pengawasan ayahanda mereka Kadang2 Anusapati sendiri didalam
waktu2nya yang senggang. kadang2 Mahisa Wonga Teleng.
Perkembangan kedua anak2 itu dihidang kanuragan sang
memberi kebanggaan kepada orang tua masing2.
Namun dalam pada itu, dalam ketenangan dan kedamaian yang
nampak, Anusapati selalu diliputi oleh kecemasan dan was-was.
Bayangan kematian Ken Arok yang bergelar Sri Ra jasa itu tidak
dapat lenyap dari hatinya. Meskipun ia sama se kali tidak dengan
pasti berusaha membunuh Sri Rajasa, namun ia merasa bahwa
sebenarnyalah hasrat itu memang ada didalam dirinya meskipun
hanya sepercik kecil. Dan yang sepercik kecil itulah yang se-akan2
selalu mengejarnya sampai saat itu..
SEPASANG PEDANG KENCANA
KARYA : WIDI WIDA¥AT
RINI SRININGSIH yang merasa lebih faham akan keadaan
ditempat ini, bergarak cepat tanpa ragu sedikitpun. Ia berlarian
seperti terbang, menuruni pinggang gunung yang dipenuhi oleh1
semak jurang maupun batu-batu besar itu. Bibir Rini Sriningsih
tersenyum ketika melihat, bahwa pemuda itu lari ke-arah jurang
yang lebar dan amat dalam, yang tak mungkin dapat dilompati.
Dengar, terhalang oleh jurang itu, ia merasa pasti bahwa pemuda
itu takkan dapat menghindar lagi, dan mau tak mau harus melawan
dirinya. Rini Sriningsih belum merasa puas sebelum dapat bergebrak
dengan pemuda yang ia anggap jahat itu dan kalau perlu
membunuhnya.
Akan tetapi tiba-tiba, betapa kaget gadis ini, ketika melihat
pemuda yang ia kejar itu malah melompat ke-dalam jurang. Ketika
ia tiba di-tepi jurang, dan kemudian menjenguk ke-bawah, jurang
itu tampak mengapa tanpa dasar, dan terhalang oleh kabut. Ia tidak
melihat pemuda tadi. Agaknya pemuda itu sudah hancur tubuhnya,
diterima oleh batu-batu besar di-dasar jurang. Namun setelah
menduga bahwa pemuda yang melompat ke-jurang itu sekarang
sudah mati, tiba-tiba saja ia menghela napas panjang. Sekarang ia
baru merasa menyesal dan getun. Dirinya yang menyebabkan
pemuda itu nekat membunuh diri melompat ke-dalam jurang.
Kelana Dewa-pun menjenguk ke-dalam jurang. Tetapi yang
tampak hanyalah kabut tebal, dan sayup-sayup di-bawali sana
terdengar suara air gemericik mengalir. Ketika ia meng angkat
mukanya, dan melihat gadis itu menghela napas panjang, ia merasa
aneh. Dengan sikapnya yang hati-hati dan penuh hormat,
kemudian ia bertanya dengan suara yang halus. “. Mengapa nona
menghela napas? Dia sendiri yang memilih mampus dengan
melempar diri ke-dalam jurang, saking takutnya kepada nona. “
“ Hemm ........ tetapi akulah yang menyebabkan dia mati, “ sahut
Rini Sriningsih masih diliputi oleh perasaan getun. “ Kalau saja
aku
tidak begitu mendesak dengan mengejar, tentu dia takkan
membuang diri ke-jurang. “
“ Akan tetapi nona tak bersalah, “ Kelana Dewa ber usaha
menghibur dan membujuk.
“ Tidak bersalah katamu? “ Rini Sriningsih mendelik. “ Tidak, aku
bersalah. Orang yang tidak berani melawan, berarti kalah. Dan tidak
seharusnya pula aku mendesak dan menekan nya sedemikian rupa.
Ah, betapa marah guruku kalau men dengar tentang ini. “
“ Tak ada orang lain yang tahu, mengapa nona khawatir? “
Kelana Dewa kembali menghibur. “Percayalah nona bahwa aku
takkan menjadi seorang pengecut. Nona telah menolong saya dari
bahaya, maka sudah sepantasnya pula untuk berusaha membalas
kebaikan nona. Apa yang baru terjadi, hanya saya dan nona sendiri
yang tahu. Manakah mungkin dapat bocor kalau saya dan nona
tidak bicara pula? “
Mendengar kata-kata Kelana Dewa ini, terhiburlah hati Rini
Sriningsih. Katanya kemudian. “ Ya, engkau benar. Dan sekarang
bahaya telah lewat, maka kita berpisah sampai disini. Saudara mau
ke-mana? “ ,
“ Saya sedang melakukan perjalanan jauh tanpa tujuan. “
“ Ihh, mengapa tanpa tujuan? “
“ Panjang ceritanya. Tetapi yang jelas saya ini dalam keadaan
sangat menderita. Guna mengurangi rasa derita itu, hanyalah
dengan cara mengembara tanpa tujuan, seperti yang aku lakukan
sekarang ini. “
“ Kau menderita? Menderita karena apakah? “
Kelana Dewa menggelengkan kepalanya. “ Tak sanggup aku
menceritakan sebabnya penderitaan ini. Oh, nasibku memang amat
buruk......... “
Kelana Dewa mengeluh, kemudian menjatuhkan diri duduk diatas
rumput. Melihat keadaan Kelana Dewa yang tampak pucat
wajahnya, yang agaknya oleh pengaruh derita yang dialami itu,
tibatiba
saja menggerakkan hati gadis ini, Timbul rasa iba dan kasihan
dalam hati gadis ini. Dan menurut pendapatnya, memberi
pertolongan kepada seseorang tanpa pamrih itu adalah baik dan
merupakan kewajibannya pula. Berkali-kali ia mendengar nasihat
dari gurunya, bahwa dirinya harus selalu ringan tangan menolong
orang lain yang menderita.
Tiba-tiba Rini Sriningsih sudah menjatuhkan diri, dan duduk didepan
Kelana Dewa. Ia menatap wajah yang pucat itu dengan rasa
iba. Lalu terdengar katanya halus. “ Saudara, anggaplah aku bukan
orang lain. Ceritakan apa yang telah terjadi dan menyebabkan
engkau menderita. “
Kelana Dewa mengangkat mukanya, memandang wajah ayu itu
sekilas. Kemudian kembali menundukkan kepalanya sambil
menghela napas berkali-kali. Tetapi hanya sebentar pula pemuda ini
menundukkan muka. Ia kembali mengangkat mukanya, tetapi
memandang ke-arah lain. Adapun Rini Sriningsih yang merasa iba,
tetap memperhatikan gerak-gerik Kelana Dewa dan dengan sabar
menunggu pemuda itu memulai ceritanya..
Tetapi mendadak Rini Sriningsih merasa aneh, ketika melihat
wajah pemuda ini mendadak seperti dalam keadaan ketakutan.
Wajahnya makin tampak pucat lagi, dan sepasang matanya
berkedip memandang ke-arah belakangnya. Rini Sriningsih menjadi
khawatir dan curiga. Apakah yang nampak di-bela-kangnya dan
kuasa membuat pemuda ini ketakutan?
Dengan geraknya yang sehat, ia sudah meloncat berdiri dan
membalikkan tubuh dalam keadaan sudah siaga. Akan tetapi
ternyata tidak tampak sesuatu, kecuali beberapa batang pohon dan
batu-batu berserakan. Di-saat Rini Sriningsih sedang berusaha untuk
mencari apa sebabnya pemuda itu pucat dan ketakutan, mendadak
ia kaget setengah mati ketika dua kakinya lumpuh tiba-tiba. Ia
menjerit kecil ketika tubuhnya hampir terbanting jatuh. Tetapi
sepasang lengan yang kuat, tiba-tiba sudah menerimanya lalu
memeluk erat sekali.
Untuk sesaat Rini Sriningsih terbelalak, ketika dirinya sudah
didalam
pelukan Kelana Dewa. Akan tetapi setelah sadar, ia segera
dapat menduga apa yang baru saja terjadi. Di-saat dirinya berdiri,
membelakangi pemuda itu, secara curang lututnya telah diserang.
Akibatnya dua kakinya menjadi lumpuh dan hampir jatuh. ,
“ Kurang ajar! Kau sudah menipu aku! “ teriak Rini Sriningsih
sambil menggerakkan tangannya untuk memukul.
Akan tetapi Rini Sriningsih sudah terlambat. Tangannya-pun
sudah menjadi lumpuh seperti kakinya oleh serangan kilat Kelana
Dewa.
“ Kau ...... apakan maksudmu ......? “ Rini Sriningsih terbelalak
dan mulai khawatir melihat sinar mata Kelana Dewa dan mulut yang
menyeringai seperti iblis.
“ Heh-heh-heh, engkau masih bertanya lagi? “ ejek Kelana Dewa
diiringi ketawanya yang terkekeh. “ Engkau sudah menjadi
tawananku. Engkau harus menurut apa yang aku kehendaki. Harus!
“
Berbareng dengan ucapannya yang terakhir ini, tiba-tiba saja
Kelana Dewa telah mendaratkan ujung hidungnya ke-pipi yang
halus. Rini Sriningsih memekik kaget dan ngeri.
“ Aihh ......... curang. Jahanam kau! Cabul ......... huh, awas
kubunuh kau .........! “
“ Heh-hch-heh, kau mau membunuh aku? Hayo, bunuhlah' jika
bisa! “
Ngeri sekali rasa hati Rini Sriningsih sekarang ini. Menghadapi
kenyataan yang tidak terduga macam ini, barulah ia sekarang sadar
tertipu oleh kelicikan Kelana Dewa. Kalau demikian keadaannya,
jelas sekali bahwa Sunu Prabandaru tadi benar. Pemuda inilah yang
sesungguhnya jahat, dan Sunu Prabandaru berkelahi melawan
Kelana Dewa dalam usahanya memusuhi kejahatan. Diam-diam ia
menjadi amat menyesal sekali, mengapa ia tadi kurang teliti, dan
sudah tertipu oleh sikap Kelana Dewa yang pura-pura manis.
Sebaliknya Sunu Prabandaru yang tampaknya kasar itu, adalah
seorang jujur.
Hilangnya Kitab
SUTA SOMA
KARYA: RS. RUDHATAN
MELIHAT munculnya ketiga orang itu, Sanjaya tercekat harinya,
sebab dilihat dari gerak geriknya sekilas saja. ia sudah dapat
menduga bahwa ketiganya adalah orang2 yang berilmu tinggi yang
tidak dapat dibuat main2. Yang membuat Sanjaya khawatir, bukan
memikirkan diri sendiri, tetapi adalah keselamatan Ratu Suhita.
Maka didekatinya Ratu, sambil ia memasang kuda2, siap
menghadapi keempat orang yang menjadi musuh Majapahit
tersebut. Sanjaya berbisik pada Sri Ratu Suhita :
“ Gusti, sementara hamba menghadapi orang2 ini lebih baik gusti
segera meninggalkan tempat ini. “ Dan Ratu Suhita mengangguk
sambil diam2 mengagumi keberanian pemuda itu.
Sementara itu, Wirabumt sudah bangun setelah terjatuh tadi.
Dan si orang kurus jangkung yang memegang rantai panjang tadi
tiba2 menyabetkan senjatanya kearah Sanjaya. Dan karena
hebatnya serangan itu, hingga menimbulkan suara bersiutan dan
me-nyambar3 dengan dahsyatnya. Tetapi Sanjaya cukup gesit dan
lincah. Tubuhnya berloncatan menghindar ke-sana kemari dan
menyusup diantara sambaran2 senjata berbahaya itu. Melihat
Sanjaya belum juga termakan oleh kejaran senjata mautnya si
jangkung. Wirabumi menjadi habis sabar. Maka riba2 ia melompat
kearah Dewi Suhita, dan ditikamnya
Ratu Majapahit itu sepenuh tenaga dengan kerisnya. Namun
sebelum keris itu dapat menyentuh Ratu, se-konyong2 Sanjaya yang
matanya tak pernah lepas memperhatikan Ratu Suhita, meloncat
dengan kecepatan kilat meninggalkan si jangkung dan dengan
amarah yang ber-kobar2 dihantamnya Wirabumi. Dan tepat! dada
Pangeran pemberontak itu kena termakan oleh tangan Sanjaya yang
sedang marah dan kalap melihat sikap pengecut orang. Maka tanpa
ampun lagi dan tanpa dapat dihindarkan, Wirabumi menjerit dengan
suara menggerang panjang dan jatuh berdebug ditanah",
bergulingan sambil masih menggerang kesakitan. Sedang ketiga
kawannya, sangat terkejut melihat kehebatan Sanjaya yang dalam
keadaan sedang bertempur masih sempat menolong orang lain.
Yang paling malu adalah si jangkung sendiri. Maka dengan sangat
ber-napsu, ingin membunuh Sanjaya, ia sabetkan kembali senjata
rantainya pada Sanjaya. Yang disabet berpikir, bahwa ia harus
cepat" menyelesaikan pertempuran ini, sebab khawatir akan
keselamatan Ratu Suhita yang masih belum mau pergi
meninggalkan tempat itu. Tetapi Sanjaya juga menyadari bahwa ia
belum tentu dapat mengalahkan mereka kalau sampai maju
berbareng, tiga2nya. Lalu karena ternyata si kurus jangkung masih
tetap menyerang dengan membabi buta, maka Sanjaya lalu
memungut sebuah ranting kayu yang ada disitu dan dipakainya
menyerang si kurus yang masih kalap. Sekarang, ternyatalah!
bahwa memang Sanjaya tidak bisa dibuat mainan oleh si kurus itu.
Senjata yang dipegang Sanjaya dimata musuhnya tiba2 berubah
seakan2 menjadi ratusan banyaknya oleh karena begitu cepatnya
Sanjaya menggerakkan ranting kayu yang dipegangnya itu. Dari
jauh, dua orang gundul tadi setelah menolong Wirabumi, melihat
gerakan2 Sanjaya yang aneh, serta kelihatan sambaran2 rantai si
kurus yang menimbulkan suara bersiutan itu hanya dipermainkan
oleh gerakan2 ranting kayu yang dipegang Sanjaya. Tetapi yang
membuat kedua orang gundul itu khawatir adalah ranting kecil
ditangan Sanjaya iu selaki mengarah tempat2 ying mematikan
ditubuh si jangkung. Dan benarlah! tiba2 padi suatu kesempatan
ranting Sanjaya dengan telak menyerang pada kelangkangan
musuhnya. Tapi karena ia meloncat menghindarinya kalah cepat
oleh gerakan tangan Sanjaya maka pahanya jadi sasaran ranting
berbahaya tadi. Dan si jangkung me ngeluh, dirasa pahanya sakit
bukan main, sehingga gerakannya menjadi pincang. Tetapi..... “ He,
Srayapati! jangan takut, aku bantu kau! “ terdengar suara si
gundul,
dan bersamaan dengan itu dua orang gundul tadi maju berbareng.
Seorang di-antaranya menggocokan tangannya kemuka Sanjaya,
sedang lainnya, menyapu perut Sanjaya dengan sebelah kakinya.
Dan melihat datangnya dua orang berbareng itu. Sanjaya agak
tercekat, sebab ia tahu yang menyerang bukan orang sembarangan.
Jaian saurnya untuk menghindar hanyalah meloncat sejauh
mungkin. Maka dengan sekuat tenaga ia lakukan loncatan mundur
dengan gaya yang mengagumkan, tetapi belum juga kakinya
sempat memijak tanah, tiba1 dirasa kaki si gundul sudah me-nv-sul
dan tepat menghantam betisnya, hingga Sanjaya jatuh ke ia
gempuran kaki itu, ia mau cepat bangun dan loncat menerkam,
namun se-konyong2 pula si gundul satunya mengebut-kan sesuatu
dimuka hidungnya, dan tiba2 Sanjaya mencium bau wangi yang
keras dan membuat kepalanya menjadi pening dengan mendadak.
Sanjaya terhuyung kembali tak mampu bangkit, kesadarannya
hampir2 hilang dirangsang oleh bau wangi yang sangat keras yang
keluar dari kebutan si gundul tadi. Dan si jangkung ketika melihat
lawannya sempoyongan tak mampu bangun, tidak menyia-nyiakan
kesempatan itu. Maka rantainya disabetkan pada Sanjaya, dan
sekalipun Sanjaya masih setengah sadar la masih dapat melihat
datangnya serangan itu, maka ia mencoba menghindar, tetapi
ternyata rantai itu sempat meng hantam pahanya dengan hebat.
Tanpa ampun, Sanjaya jatuh terguling sebab dirasa kakinya lumpuh
dengan tiba2. Si Jangkung yang tadi dipanggil “ Srayapati “ oleh si
gundul, melihat lawannya jatuh terguling, tertawa bergelak, dan
disabetnya kepala Sanjaya sekali lagi. Maksudnya, dengan sekali
pukul itu akan membikin habis nyawa pemuda Sanjaya. Tetapi
sebelum rantai itu menyentuh kepala Sanjaya yang sudah
menggeletak, tiba2 Srayapati menjerit keras, rantainya terlempar
balik kcbelakang lalu menghantam mukanya sendiri hingga muka itu
menjadi robek dan berdarah. Srayapati merasa sakit bukan main
sebab dirasa mukanya tadi seperti kena hantaman palu godam yang
sekwintal beratnya.
Melihat Srayapati berhal demikian itu, kedua kawannya
terperanjat sebab mata mereka yang tajam melihat bahwa sewaktu
Srayapati menyabetkan rantainya, terlihat sebuah batu kerikil
melayang dan menghantam rantai itu hingga berbalik melabrak
muka Srayapati sendiri. Maka keduanya lalu bersiap, karena
mengetahui ada seorang pandai yang datang menolong Sanjaya.
Benarlah, tak lama dkempat itu muncul seorang tua yang berambut
panjang tersenyum memandang kedua orang gundul itu. Kemudian
, dengan tanpa memperdulikan pada Wirabumi dan kawairnya,
orang tua itu lalu mendekati Sanjaya yang sedang menggeletak.
Lalu dengan tangannya yg kelihatan kurus, diangkatnya Sanjaya
dan dipondong. Tetapi kedua kawan Srayapati tidak mau tinggal
diam. Melihat perbuatan orang tua itu, keduanya dengan hampir
berbareng, meloncat dan melancarkan serangan dari kanan kiri
kearah pinggang orang tua itu. Tetapi yang diserang se-akan2 tidak
mengetahui akan datangnya serangan itu. Diam saja. Namun
ternyata kedua kawan Srayapati itu menjadi kaget bukan main.
Sebab ketika kedua kepalan mereka menyentuh pinggang orang tua
itu, dirasa tangannya mereka menghantam kapas yang lunak.
Hingga keduanya merasa tangan mereka melesak kedalam
pinggang si orang tua. Dan belum lagi hilang kaget mereka, tibatiba
orang tua itu menggerakkan tubuh, dan lenyap dari pandangan
Wirabumi dan kerabatnya dengan Sanjaya dalam pondongannya.
Wirabumi dengan Srayapari dan kedua orang gundul itu merasa
sangat kaget melihat kesaktian orang yang menolong Sanjaya.
Dalam hati mereka bertanya-tanya siapa gerangan orang itu yang
belum pernah mereka lihat dan belum sekalipun mendengar
namanya. Tetapi setelah melihat bahwa Sanjaya dibawa kabur oleh
orang tua yang tidak mereka ketahui siapa, maka perhatian mereka
beralih kembali pada Ratu Suhita yang masih ada ditempat itu.
Maka dengan berbareng kedua orang gundul itu meloncat dengan
maksud membunuh Sri Ratu yang sedang terpojok tanpa ada
penolongnya
-ooo00ooo
Jilid 76
“ANUSAPATI.”
“Anggaplah bahwa yang terjadi adalah karma.
Bukankah ayahanda Tunggul Ametung mengambil ibunda dengan cara yang tidak ibunda
sukai? Dan bukankah ayahanda Tunggul Ametumg telah melakukan kesalahan yang
merusak kehidup ibunda selanjutnya? Ibunda, dalam hal ini ibunda jangan
menyalahkan diri sendiri. Karma akan berlaku dimana-pun hamba bersembunyi. Kutuk
seorang pendeta di Panawijen pasti akan berlaku. Dan hamba-pun akan memanggul
karma itu sebagai seorang putera dari Akuwu Tunggul Ametung.“
“Tidak, tidak anakku. Kau tidak bersalah.
Kau adalah anakku. Aku mencintaimu seperti aku mencintai adik-adikmu. Karena
itu, aku tidak rela akan kematianmu itu.”
Tangis Ken Dedes yang tertahan-tahan
membuat hati Anusapati bagaikan tergores duri. Pedih. Tetapi ia masih bertahan
dan berkata, “Hamba tahu ibunda mencintai hamba. Tetapi karma adalah diluar
jangkauan kemampuan manusia. Dan keris yang ada ditangan Sri Rajasa itu-pun
hanya sekedar sebagai lantaran. Sudahlah ibu. Jangan hiraukan hamba. Anak
hambalah yang akan menggantikan hamba dihadapan ibunda. Jika hamba telah
memanggul karma, maka akan bersihlah anak hamba dari kemungkinan-kemungkinan
yang pahit. Dan biarlah keris itu kini tetap ditangan Sri Rajasa.”
“Tidak, tidak,“ Ken Dedes berdesis diantara
sedu sedannya.
“Sudahlah ibunda, hamba mohon diri. Hamba
mohon diri untuk selama-lamanya.”
“Anusapati, Anusapati,“ tiba-tiba ibundanya
bangkit dan memeluknya erat-erat. Katanya, “Kau jangan membuat hatiku semakin
parah Anusapati.”
Anusapati menarik nafas. Jawabnya. “Tidak
ibunda. Hamba akan tersenyum apa-pun yang akan terjadi. Hamba akan menerimanya
dengan ikhlas sehingga kepergian hamba tidak akan membuat hati ibunda terluka.”
“Tidak. Kau tidak boleh pergi,“ suara Ken
Dedes lemah, “anakku, maafkan ibumu. Aku. aku telah membohongimu.”
Anusapati mengangkat wajahnya. Pelukan
ibunya-pun terlepas perlahan.
“Kenapa ibunda membohongi hamba? Apakah
ternyata ayah hamba bukan Akuwu Tunggul Ametung, atau apakah, ayahanda Tunggul
Ametung tidak mati terbunuh oleh ayahanda Sri Rajasa?”
“Bukan, bukan itu.”
“Lalu?”
“Aku membohongimu. Keris itu tidak ada pada
ayahandamu Sri Rajasa. Keris itu ada padaku.”
“O,“ Anusapati menarik nafas dalam-dalam,
“jadi keris itu ada pada ibunda?”
Ken Dedes mengangguk-angguk. Betapa-pun ia
menahan hati, tetapi air matanya meleleh semakin deras, “Ya Anusapati. Keris itu
ada padaku.“
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya,
Tetapi ia bertanya, “Kenapa ibunda membohongi hamba? Apakah ibunda tidak
menganggap penting bahwa keris itu tidak boleh berada disembarang tangan?”
“O, justru karena aku menganggap keris itu
akan dapat menentukan kelanjutan sejarah Singasari, maka aku telah menyimpannya
baik-baik.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu katanya, “Ibunda. Jika keris itu memang ada pada ibunda, apakah hamba dapat
memohon agar keris itu ibunda berikan kepada hamba?“
“Itulah yang aku cemaskan Anusapati.“ jawab
ibundanya, “Karena itulah, maka aku berbohong kepadamu. Tetapi ternyata kau
menjadi berputus-asa dan seakan-akan kau membiarkan dirimu sendiri mengalami
kematian, tanpa berbuat sesuatu.”
“Bukan ibunda. Jika memang keris itu ada
pada ayahanda Sri Rajasa, hamba memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Tetapi
ternyata keris itu ada pada ibunda. Karena itu, maka hamba mohon agar keris itu
diserahkan kepada hamba. Hamba akan menyimpannya baik-baik.”
Ken Dedes menggelengkan kepalanya. “jangan
anakku. Biarlah ibunda menyimpannya.“
“Apakah sebabnya ibunda tidak mengijinkan
hamba menyimpan keris itu, karena justru jiwa hambalah yang kini paling terancam
karenanya?“
“Tidak Anusapati. Aku akan menyimpannya
baik-baik. Aku mengerti bahwa jiwamu terancam karenanya. Dengan demikian aku
tidak akan menyerahkan keris itu kepada siapa-pun juga. Aku akan menyimpannya
baik-baik sehingga dengan demikian jiwamu-pun akan selamat. Aku adalah ibumu
Anusapari, dan aku akan selalu berusaha agar kau tidak terancam oleh bencana
yang sama seperti ayahandamu Tunggul Ametung.“
“Mungkin ibunda berniat demikian,“ jawab
Anusapati, “tetapi apakah ibunda dapat bertahan jika pada suatu saat ayahanda
Sri Rajasa datang kepada ibunda dan minta agar keris itu diserahkan? Mungkin
ibunda berkeberatan. Tetapi Sri Rajasa dapat memaksa Ibunda dengan cara apa-pun
juga sehingga akhirnya keris itu jatuh ketangannya.”
Ken Dedes menggeleng. Katanya, “Anusapati,
keris ini tidak boleh berpindah tangan. Aku akan mempertahankannya.”
“Tentu ayahanda Sri Rajasa akan dapat
mengambilnya. Jangankan ibunda seorang perempuan, sedangkan keris itu dapat
dicurinya dari tangan Kebo Ijo, seorang perwira prajurit Tumapel
yang memiliki kelebihan karena Kebo Ijo
adalah saudara seperguruan pamanda Witantra.“
“O,“ Ken Dedes menundukkan kepalanya.
“Apakah ibunda pernah mengenal paman
Witantra? Seorang Panglima yang tidak ada duanya di Tumapel waktu itu. Panglima
pasukan pengawal yang justru tersingkir karena Ia ingin membersihkan nama Kebo
Ijo dan dikalahkan oleh pamanda Mahisa Agni di arena? Ternyata semuanya telah
terjebak. Semua orang telah berhasil dikelabui oleh seorang yang bernama Ken
Arok.”
Ken Dedes menundukkan kepalanya sambil
memegangi keningnya. Kini semuanya terbayang dengan jelas. Semuanya seakan-akan
baru kemarin terjadi. Bagaimana rakyat Tumapel berkabung karena Akuwu Tunggul
Ametung terbunuh. Kemudian dengan penuh kemarahan mereka menuduh Kebo Ijo telah
membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Yang belum lagi air mata rakyat Tumapel yang
menangisi kematian Tunggul Ametung itu kering, ia sudah memasuki jenjang
perkawinan bersama seorang anak muda yang tampan pada waktu itu, dan seorang
prajurit yang perkasa, yang bernama Ken Arok.
“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian
seakan-akan membangunkan ibundanya dari lamunan, “hamba menunggu keputusan
ibunda. Jika ibunda memperbolehkan biarlah keris itu hamba saja yang
menyimpannya. Mungkin paman Mahisa Agni berpendirian lain dan menganggap perlu
untuk menyimpannya. Hamba percaya bahwa jika keris itu ada pada pamanda Mahisa
Agni, ayahanda Sri Rajasa tidak akan berani mengambilnya. Dengan terang-terangan
atau dengan sembunyi-sembunyi, karena di Singasari, orang yang paling disegani
oleh ayahanda Sri Rajasa adalah pamanda Mahisa Agni.“
Ken Dedes masih belum menjawab.
Dan Anusapati-pun berkata seterusnya,
“Tetapi jika ibunda tidak berkenan menyerahkan keris itu kepada hamba, maka
biarlah
hamba sekali lagi mohon diri. Tidak ada
harapan lagi bagi hamba untuk membebaskan diri.”
“O, Anusapati.“ desis Ken Dedes, “kau
berhasil memaksa aku untuk menyerahkan keris itu. Ternyata aku tidak dapat
berbuat lain.“
Dada Anusapati menjadi berdebar-debar.
“Tetapi ingat anakku. Keris itu bukan alat
untuk menyebarkan dendam. Jika kau dikejar oleh dendam dihatimu, dan kau
mempergunakan keris itu, maka akan tumbuh dendam yang lain diantara keturunan
Sri Rajasa. Dan dendam itu akan selalu menghantuimu setiap saat.“
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Hamba tidak mendendam ibunda. Hamba telah mendengar pesan pamanda
Mahisa Agni, bahwa hamba tidak diperkenankan berbuat apa-apa, selain berusaha
menghindarkan diri dari bencana. Salah satu cara yang dapat hamba tempuh adalah
menyembunyikan keris ini. Bukan untuk dipergunakan.“
Ken Dedes memandang puteranya sejenak. Di
wajah itu memang terbayang wajah ayahandanya, Tunggul Ametung. Wajah yang semula
sangat ditakutinya ketika Akuwu itu datang mengambilnya ke Panawijen dengan
sorot mata yang merah.
“Kuda Sempanalah sumber dari bencana ini,“
desisnya didalam hati.
Tetapi semuanya itu sudah lama lampau.
Semuanya itu sudah terjadi. Jika ia sendiri tidak ikut mengembangkan
peristiwa-peristiwa berikutnya, maka akibatnya-pun tidak akan separah ini.
Ken Dedes mengangkat wajahnya ketika ia
mendengar Anusapati kemudian berkata, “Ibunda. Jika memang berkenan dihati
ibunda, hamba mohon keris itu dapat hamba terima dan hamba simpan
sebaik-baiknya. Mumpung kini pamanda Mahisa Agni masih berada di Singasari.
Biarlah hamba mohon pertimbangan, apakah yang sebaiknya hamba lakukan dengan
keris itu, dan barangkali pamanda
Mahisa Agni mempunyai cara yang baik yang
dapat hamba lakukan.”
Ken Dedes masih ragu-ragu. Terbayang
ditatapan matanya kecemasan yang mencengkam.
“Apakah ibunda ragu-ragu?“ bertanya
Anusapati.
Dengan jujur Ken Dedes menganggukkan
kepalanya sambil menjawab, “Ya Anusapati. Sebenarnyalah aku ragu-ragu. Tetapi
aku kira tidak ada yang lebih baik bagimu daripada menyimpan keris itu. Tetapi
sekali lagi, keris itu hanya dapat aku serahkan padamu untuk disimpan. Jika
dengan demikian kau akan terhindar dari bencana.”
“Tentu ibunda. Hamba hanya sekedar akan
menyimpan keris itu. Hamba tidak akan mempergunakannya.“
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
Sejenak kemudian ia-pun berdiri dan melangkah perlahan-lahan masuk kedalam
ruangan sempit disebelah biliknya.
Anusapati menunggu ibundanya dengan hati
yang berdebar-debar. Ia belum pernah melihat keris buatan mPu Gandring itu.
Seandainya ibundanya memberikan keris yang mana-pun juga, maka ia-pun akan
mempercayainya.
Ketika ibundanya Ken Dedes keluar dari
ruang sempit itu dengan membawa sebuah peti, maka hatinya kian bergejolak. Jika
benar keris itu keris mPu Gandring, maka keris itulah yang sudah menghabisi jiwa
ayahandanya.
“Inilah keris itu Anusapati,“ berkata
Permaisuri itu dengan suara bergetar. Bukan hanya suaranya, tetapi tangannya
yang memegang peti itu-pun bergetar.
Perlahan-lahan Ken Dedes meletakkan peti
itu dipembaringan. Kemudian dengan hati-hati sekali ia merabanya sambil berkata,
“Bukan maksudku untuk memperluas dendam disetiap hati, Anusapati, apakah kau
mengerti maksudku?”
“Hamba mengerti ibunda.”
“Simpanlah keris ini baik-baik. Dan
lupakanlah bahwa kau menyimpan keris ini, keris yang mempunyai sangkut paut
dengan ayahandamu. Jika kau berhasil melupakannya, kau akan mendapatkan
ketenteraman.”
“Hamba akan berusaha ibunda. Mudah-mudahan
hamba dapat melupakannya bahwa hamba telah menyimpan dan menyembunyikan keris
ini demi keselamatan hamba.”
Ken Dedes tidak menjawab. Tetapi hatinya
bagaikan terpecah karenanya. Ia benar-benar harus memilih, Sri Rajasa atau
Anusapati anaknya yang lahir dari tetesan darah Akuwu Tunggul Ametung.
“Inilah Anusapati,“ desis Ken Dedes sambil
menyerahkan peti itu kepada Anusapati.
Ternyata bahwa tangan Anusapati-pun menjadi
gemetar pula. Dengan dada yang berdebar-debar tangannya yang gemetar itu-pun
kemudian membuka peti itu.
Dadanya berdesir ketika ia melihat keris
yang ada didalam peti itu. Keris yang tidak seperti dibayangkannya, keris dengan
sarung emas bertatahkan intan berlian. Bukan pula dengan ukiran yang indah.
Tetapi keris itu disarungkan dalam wrangka yang sederhana dan ukirannya adalah
sebatang kayu cangkring yang belum dibentuk.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
ia memang pernah mendengar bahwa keris itu sebenarnya masih belum siap sama
sekali ketika Ken Arok mengambilnya dan kemudian membunuh mPu Gandring agar mPu
itu tidak dapat mengatakan, bahwa yang memesan keris itu kepadanya adalah Ken
Arok yang kini bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.
Sesaat kemudian maka peti itu-pun
ditutupnya kembali. Anusapati tidak sampai hati untuk menarik keris itu dari
wrangkanya dihadapan ibunya. Ia yakin bahwa keris itu pasti masih bernoda darah
yang membeku karena sepengetahuannya keris buatan mPu Gandring itu tidak pernah
dimandikan.
Sejenak kemudian, setelah getar didadanya
agak mereda, maka Anusapati-pun mohon diri kepada ibunya untuk membawa keris itu
dan menyimpannya.
“Bagaimana jika seseorang melihat kau
membawa peti itu Anusapati? Mungkin seseorang akan menjadi curiga dan mengatakan
kepada orang lain bahwa kau membawa sebuah peti dari bilik ini.”
“Apakah ada orang yang mengetahui bahwa
peti ini berisi keris mPu Gandring itu ibunda?”
“Tidak. Tetapi bahwa kau membawa sesuatu
dari bilik ini memang dapat dicurigai. Mungkin aku sekedar berprasangka. Tetapi
jika benar-benar demikian, dan kecurigaan itu sampai ditelinga Tohjaya dan
ayahanda Sri Rajasa, maka ia pasti akan bertanya kepadamu atau kepadaku, apakah
yang ada didalam peti itu.“
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu katanya, “Baiklah ibunda, jika demikian aku akan membawa kerisnya saja.
Petinya biarlah aku tinggalkan disini.“
“Apalagi keris itu Anusapati,“ jawab
ibunda, “ciri keris itu mudah sekali dikenal.”
Anusapati mengamati keris itu sekali lagi.
Memang keris itu mudah sekali dikenal. Tetapi sepintas lalu, keris itu tidak
berbeda dengan keris-keris yang lain. justru sederhana sekali bentuk dan
warnanya.
“Ibunda,“ berkata Anusapati kemudian.
“hamba akan membawanya tanpa peti ini. Keris hamba akan hamba tinggal didalam
peti ini, dan hamba akan menggantinya dengan keris mPu Gandring ini.”
“Sudah aku katakan Anusapati,“ keris itu
mempunyai ciri yang mudah dikenal oleh siapapun. Meski-pun orang itu tidak
mengenalnya bahwa keris ini adalah keris mPu Gandring, tetapi mereka pasti akan
segera tertarik melihat, kesederhanaan keris ini, apalagi ukirannya yang terbuat
dari kayu cangkring.“
“Hamba akan membawanya dengan hati-hati
ibunda. Hamba akan berusaha menyembunyikannya dibawah tangan hamba. Dari bangsal
ini hamba akan langsung pergi ke bangsal hamba dan kemudian menemui paman Mahisa
Agni untuk mengatakan kepadanya bahwa keris mPu Gandring itu ada ditangan hamba.
Apakah sebaiknya yang pantas hamba lakukan menurut pertimbangan pamanda Mahisa
Agni.”
Ken Dedes termangu-mangu sejenak. Tetapi
kemudian ia-pun berkata, “Hati-hatilah. Rasa-rasanya keris itu sendiri masih
menuntut karena kematian mPu yang membuatnya.”
“Itulah sebabnya keris ini harus
disembunyikan. Dan seperti kata ibunda, aku akan berusaha melupakan, bahwa
akulah yang telah menyembunyikan keris ini.”
“Terserahlah kepadamu Anusapati.”
Anusapati kemudian mengambil kerisnya yang
terselip dilambung. Kemudian keris itu-pun diletakkannya didalant peti, setelah
ia mengambil keris mPu Gandring.
Dengan hati-hati keris itulah yang kemudian
disisipkan di pinggangnya. Ukirannya tepat berada dibawah tangan Anusapati yang
tergantung disisi tubuhnya.
“Mudah-mudahan tidak ada orang yang
melihatnya ibunda, agar tidak timbul persoalan-persoalan baru yang dapat
mengguncangkan istana ini.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Namun ia
masih berkata, “Anusapati, aku masih harus mencari jawab jika pada suatu saat
Ken Arok datang kepadaku dan menanyakan keris itu seperti kedatanganmu kini.“
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
terbayang kecemasan di wajah ibunya meski-pun Ken Dedes itu kemudian berkata,
“Tetapi biarlah jangan kau hiraukan. Aku akan berusaha untuk menjawabnya
meski-pun saat ini aku belum menemukan alasan yang sebaik-baiknya.”
Anusapati masih termangu-mangu. Karena itu
ia-pun tidak segera berbuat sesuatu.
“Kenapa kau bimbang?“ bertanya ibunya,
“bagiku ternyata keris itu memang lebih baik ada padamu daripada ada pada Sri
Rajasa.”
“Terima kasih ibu,“ berkata Anusapati
kemudian, “sekarang hamba mohon diri.”
“Hati-hatilah Anusapati.”
Anusapati kemudian meninggalkan ibunya
sendiri di dalam biliknya. Sejenak ia berdiri dipintu bangsal sambil memandang
berkeliling. Ternyata tidak banyak orang yang berkeliaran di halaman. Seorang
juru taman dan dua orang prajurit yang melintas.
Anusapati-pun kemudian melangkah menuruni
tangga. Disebelah pintu duduk dua orang emban sambil menunduk dalam-dalam.
Dengan hati-hati Anusapatiptun melangkah
meninggalkan bangsal itu. Tangannya hampir tidak melenggang sama sekali karena
ia berusaha untuk menyembunyikan ciri-ciri keris yang aneh itu.
Sepeninggal Anusapati, kedua emban yang
duduk disebelah pintu itu-pun saling berpandangan. Tetapi mereka masih tetap
ragu-ragu untuk mendekati bilik Permaisuri. Menurut dugaan mereka, Permaisuri
yang sedang sakit itu selalu saja marah-marah kepada puteranya laki-laki yang
sulung itu.
Barulah ketika mereka mendengar Permaisuri
memanggil, mereka-pun datang mendekat dan dengan hati yang berdebar-debar mereka
memasuki pintu bilik. Ketika mereka melampaui pintu bilik mereka melihat
Permaisuri itu berbaring dipembaringannya sambil berselimut kain berwarna kelam
menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajahnya.
“Ambilkan air panas emban,“ suara Ken Dedes
lambat dan parau.
Kedua emban itu-pun saling berpandangan
sejenak. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Hamba tuan Puteri.
Tetapi apakah hamba harus mengambil air panas untuk minum atau untuk keperluan
yang lain?”
“Aku ingin minum air yang panas sekali.
Taruhlah sedikit pangkal jahe dan gula kelapa.“
“O, hamba tuan Puteri.”
Salah seorang dari kedua emban itu-pun
kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan bilik itu untuk membuat air jahe bagi
tuan Puteri Ken Dedes.
Dalam pada itu, Anusapati yang berjalan
dengan hati-hati telah sampai di halaman bangsalnya. Langkahnya menjadi semakin
cepat, meski-pun ia berusaha agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi siapa-pun
juga.
Demikian Anusapati sampai di bangsalnya,
maka ia-pun menarik nafas dalam-dalam. Keringatnya terasa terperas dari dalama
tubuhnya oleh ketegangan meski-pun jarak yang dilewatinya sudah terlampau sering
dilaluinya. Namun kali ini, dengan keris mPu Gandring dilambung, maka jarak itu
rasa-rasanya menjadi sepuluh kali lipat. Setelah hatinya agak tenang, dan
keringatnya berkurang, barulah ia masuk ke ruang dalam menemui isterinya yang
sedang duduk bersama anak laki-lakinya.
“O, dari manakah ayahanda dalang?“ bertanya
anak laki-lakinya, “tampaklah ayahanda lelah sekali. Keringat ayahanda membasahi
seluruh tubuh.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Namun
ia-pun kemudian tersenyum sambi berkata, “Udara panasnya bukan main. Ayahanda
tidak pergi kemana-mana. Ayahanda baru datang dari regol depan, melihat-lihat
kegiatan para prajurit.“
Anak laki-lakinya mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kemudian ia-pun telah asyik lagi dengan permainannya.
Tetapi ternyata bahwa isteri Anusapati itu
tidak secepat anaknya menerima keterangan itu. Dari sorot matanya masih tampak
berbagai macam pertanyaan yang tidak terucapkan.
Sejenak kemudian maka Anusapati-pun segera
masuk kedalam biliknya. Tetapi ia tidak mau membuat isterinya menjadi gelisah.
Karena ia tidak bermaksud mengatakan apa-pun juga tentang keris itu dan tentang
dirinya sendiri.
Sebelum isterinya menyusul masuk kedalam
bilik itu, maka Anusapati-pun segera menyimpan keris mPu Gandring dan
meletakkannya diantara beberapa pusakanya yang lain, sebelum ia dapat
menyimpannya secara khusus.
“Aku harus menemui paman Mahisa Agni lebih
dahulu,“ berkata Anusapati didalam hatinya, “aku harus mendapat petunjuk tentang
keris itu.”
Karena itu, maka ia-pun segera minta diri
kepada isterinya untuk pergi kebangsal pamannya.
“Kakanda akan pergi lagi?“ bertanya
isterinya.
Anusapati tersenyum. Ia sadar, bahwa
isterinya-pun melihat kesibukannya yang meningkat pada saat-saat terakhir.
Tetapi ia masih belum mengatakan sesuatu.
“Aku akan menemui pamanda Mahisa Agni.
Mungkin pamanda akan segera meninggalkan Singasari.”
Isterinya tidak menyahut. Tetapi dimatanya
membayang kecemasan dan kegelisahan.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
ia mencoba tersenyum dan berkata, “Jika kau memerlukan aku, perintahkanlah
seorang prajurit pengawal memanggil aku di bangsal pamanda Mahisa Agni.”
Isterinya menganggukkan kepalanya. Tetapi
ia tidak berani mendesak lebih jauh lagi meski-pun sebenarnya hatinya sudah
bergejolak. Sebagai seorang puteri dari keturunan Maharaja di
Kediri, ia merasa asing di Singasari.
Bahkan ia merasa bahwa ia berada dalam lingkungan yang sangat mencemaskan.
Apalagi akhir-akhir ini Anusapati tampaknya sedang terlibat dalam suatu
kesibukan yang sangat penting.
Beberapa keanehan yang dialaminya
membuatnya semakin kecut. Bau yang sangat wangi, bunyi yang tidak dikenal dan
wajah-wajah yang kadang-kadang memandanginya dengan tajamnya, seakan-akan
sengaja menunjukkan kebencian dan dendam yang tertahan didalam hati.
Untunglah bahwa Ken Dedes bersikap sangat
baik kepadanya. Dan bahkan Permaisuri itu rasa-rasanya bagaikan ibunya sendiri.
Setiap kali ia selalu menghiburnya dan menenteramkan kegelisahannya.
Adik-adiknya-pun sangat baik kepadanya. Adik-adik Anusapati yang lahir dari Ken
Dedes. Tetapi adik-adik Anusapati yang lahir dari Ken Umang sama sekali acuh
tidak acuh saja kepadanya.
“Tenangkan hatimu,“ berkata Anusapati,
“bukankah disiang hari kita tidak pernah mengalami apa-pun juga.“
Isterinya menganggukkan kepalanya pula.
“Nah, baiklah. Hati-hatilah mengawasi anak
kita. Ia menjadi semakin nakal. Jika ia keluar bangsal, suruhlah pemomongnya
mengikutinya kemana ia pergi.”
“Baiklah kakanda,“ jawab isterinya,
meski-pun kata-katanya itu bagaikan meloncat begitu saja dari bibirnya tetapi
tidak dari hatinya.
Anusapati-pun kemudian mengambil kerisnya
yang lain dan keluar pula dari biliknya. Dengan susah payah ia menahan
perasaannya yang bergejolak, agar orang-orang yang melihatnya tidak menjadi
curiga melihat sikapnya.
Perlahan-lahan Anusapati melangkah menuruni
tangga. Di halaman bangsalnya yang ditanami berbagai macam pohon bunga ia
berhenti sejenak. Dipetiknya setangkai bunga menur yang putih. Kemudian
diselipkannya bunga itu diatas telinganya.
Langkahnya terhenti pula didepan gardu
penjaga. Sambil tersenyum ia bertanya, “Berapa orang yang bertugas disini hari
ini?”
Prajurit pengawal yang bertugas
menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil menjawab, “Dua orang tuanku. Seperti
biasanya.”
“O, Dan dimalam hari?“
Prajurit itu menjadi heran. Selama ini
masih belum ada perubahan apa-apa. Namun demikian ia menjawab juga, “Lima orang
tuanku dan dua orang penghubung. Tetapi pada saat-saat yang dianggap gawat,
kadang-kadang ditambah lagi dengan dua orang pengawal.“
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya,
meski-pun ia hampir tidak mendengar jawaban itu. Apalagi ketika pengawal itu
menambahkan, “Bahkan kadang-kadang masih ditambah lagi apabila perlu.”
Anusapati masih mengangguk-angguk. Bahkan
masih tersenyum-senyum meski-pun angan-angannya sama sekali tidak melekat pada
jawaban prajurit-prajurit itu.
“Jagalah baik-baik,“ katanya kemudian, “aku
akan pergi sebentar.”
Sekali lagi prajurit itu menjadi heran.
Pangeran Pati itu hampir tidak pernah memberikan pesan seperti itu disiangi
hari. Jika ia pergi, maka ia-pun pergi sajalah. Jika ia datang, ia-pun hanya
sekedar berpaling dan tersenyum sedikit. Memang kadang-kadang Putera Mahkota itu
menghampiri mereka dan bercakap-cakap. Tetapi hampir tidak pernah berpesan
seperti itu disiang hari, selain apabila memang sedang timbul persoalan. Itu-pun
dimalam hari, seperti pada saat-saat terjadi hal-hal yang aneh disekitar bangsal
ini.
Tetapi prajurit itu tidak menjawab. Ia
hanya mengangguk dalam-dalam. Demikian juga seorang kawannya. Dengan wajah yang
aneh keduanya memandang Anusapati yang melangkah perlahan-lahan
meninggalkan mereka. “Tampaknya Pangeran
Pati itu sedang gelisah,“ berkata seorang prajurit.
“Ya. Akhir-akhir ini tampaknya sibuk
sekali. Hilir mudik setiap kali.”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi ia tidak menjawab lagi.
Dalam pada itu, Anusapati berjalan
melintasi halaman istana Singasari menuju ke bangsal pamannya Anusapati selama
ia berada di Singasari. Betapa-pun ia tergesa-gesa untuk segera menyampaikan
ceritera tentang keris yang kini sudah ada ditangannya, namun langkah Pangeran
Pati itu tampaknya tenang-tenang saja, dan bahkan seakan-akan tanpa maksud sama
sekali.
Sementara itu, sepasang mata memandanginya
dengan tajamnya dari balik gerumbul perdu agak jauh dari bangsal Mahisa Agni.
Ketika ia melihat Anusapati dari kejauhan, ia-pun segera berlindung dibalik
segerumbul pohon bunga soka merah.
Tetapi orang itu terkejut ketika tiba-tiba
saja seorang juru Jaman yang membawa sebuah cangkul telah berdiri di sebelahnya
sambil menggamitnya.
“Gila, kau lagi,“ ia menggeram.
Juru taman itu adalah Sumekar. Katanya
sambil tersenyum, “Kau harus berterima kasih kepadaku, karena aku tidak
menyebutmu akan membunuhku malam itu.”
Orang itu memandang Sumekar dengan
tajamnya. Betapa dendam memancar dari sorot matanya itu.
“Jangan memandang aku begitu,“ berkata
Sumekar, “aku dapat mati kaku disini.”
“Persetan. Kau memang harus mati.“
“Tidak. Kau sudah gagal membunuh aku.
Seharusnya, kau tidak boleh berusaha mengulanginya.“
“Apa katamu? Nanti malam aku akan
membunuhmu.”
“Benar?”
“Ya, pasti.”
Sumekar tidak segera menyahut.
Dilontarkannya pandangan matanya kehalaman, dan ternyata Anusapati sudah tidak
tampak lagi.
Prajurit itu-pun kemudian berpaling juga.
Dan ia-pun kehilangan Anusapati pula.
“Kau memang gila,“ bentak prajurit itu,
“nanti malam aku akan benar-benar membunuhmu.”
“Jangan.”
“Aku tidak peduli.”
“Jika demikian, sekarang aku akan
melaporkan kepada para prajurit pengawal, bahwa kaulah yang akan membunuhku
malam itu.”
“Gila,“ prajurit itu membelalakkan matanya.
“Jangan, nanti aku akan berteriak.”
Prajurit itu menjadi ragu-ragu. Jika juru
taman itu benar-benar berteriak, maka para pengawal akan mendengarnya. Mereka
akan berlari-larian datang dan ia kehilangan kesempatan untuk ingkar.
“Apakah aku harus berteriak.”
Tiba-tiba prajurit itu tersenyum, “Aku
tidak bersungguh-sungguh. Sebenarnya malam itu-pun aku tidak ingin membunuhmu.
Aku hanya ingin membuatmu jera, agar kau tidak menipuku lagi. Tetapi kau sudah
berteriak. Seandainya kau tidak berteriak, aku-pun tidak akan benar-benar
mencekikmu. Aku bukan pembunuh seperti yang kau sangka.”
“Benar begitu?”
“Ya. Bukanlah aku seorang prajurit.
Prajurit pengawal? Tugasku adalah melindungi setiap orang didalam istana ini dan
tentu bukan untuk membunuhmu.”
Tatapan Sumekar memancarkan keragu-raguan.
“Kau ragu-ragu,“ prajurit itu tertawa
pendek, “tentu kau ragu-ragu. Tetapi tidak apa, pada saatnya kau akan mengetahui
bahwa aku berkata sebenarnya. Aku benar-benar tidak akan membunuh. Selama aku
menjadi seorang prajurit, aku belum pernah membunuh. Apalagi membunuh seorang
juru taman, sedang dipeperangan-pun aku tidak membunuh.”
Sumekar memandang orang itu sejenak. Namun
ia-pun ikut tertawa pula. Katanya, “Apa benar yang kau katakan?”
“Tentu, apakah kau masih belum percaya.“
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu, “Baiklah. Aku percaya. Dan sekarang, apakah yang akan kau lakukan disini?”
“Dan kau?“ prajurit itu-pun bertanya.
Sumekar mengerutkan keningnya. Katanya,
“Bukankah aku seorang juru taman yang bertugas di halaman ini. Aku mengurusi
semua tanaman bersama beberapa orang kawanku. Tanaman perdu, pohon-pohon bunga,
sampai pohon sawo kecik dan pohon beringin. Itu semua adalah tugas kami.”
Prajurit itu mengangguk-angguk.
“Nah, aku 'minta diri. Aku akan bekerja
lagi.“
Prajurit itu tersenyum meski-pun didalam
hati ia mengumpat-umpat. Ia tidak melihat kemana Anusapati menghilang. Tetapi ia
hampir pasti, bahwa Anusapati masuk kedalam bangsal Mahisa Agni.
Sejenak kemudian Sumekar-pun meninggalkan
prajurit itu seorang diri. Namun langkahnya tertegun ketika Sumekar mendengar
prajurit itu berkata, “He, nanti malam aku pergi
kepondokmu. Aku akan membawa makanan yang
paling enak buatmu.”
“Benar?“ bertanya Sumekar.
“Ya. Apakah kau tinggal dibelakang diantara
para kamba Istana ini?”
“Ya, aku tinggal digubug paling ujung.“
Prajurit itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Tunggulah, aku pasti datang.”
“Kau sangat baik. Aku minta maaf bahwa aku
pernah berprasangka buruk terhadapmu.“
“Aku nanti malam bertugas. Tetapi lewat
tengah malam, aku sudah beristirahat. Aku akan datang saat itu.”
“Lewat tengah malam?“ bertanya Sumekar,
“kenapa lewat tengah malam? Tetangga-tetangga kadang-kadang marah jika mereka
terganggu dimalam hari. Mereka bekerja sehari penuh, sehingga dimalam hari
mereka ingin beristirahat.”
“Apakah kau sangka aku akan
berteriak-teriak?”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Lalu
jawabnya, “Baiklah jika demikian. Aku akan menunggu.“
“Baiklah, pergilah kepekerjaanmu.”
Sepeninggal Sumekarj prajurit itu
menggeram. Katanya kepada diri sendiri, “Nanti malam aku harus dapat membunuhnya
dengan cara apapun. Tanpa mengeluarkan tenaga aku akan dapat membunuhnya. Tetapi
ia tidak boleh mendapat kesempatan untuk berteriak. Ia harus terdiam pada
serangan yang pertama.”
Sambil menggeretakkan giginya prajurit
itu-pun kemudian berlalu. Ia tidak mendapatkan bahan apa-pun juga tentang
Anusapati. Juru taman itu telah mengganggunya lagi.
Namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa
apabila benar-benar ia berusaha untuk membunuh juru taman itu, maka pada
suatu ketika juru taman itu akan kehilangan
kesabarannya dan bahkan juru taman itu akan dapat membunuhnya tanpa mengadakan
perlawanan apapun.
Dalam pada itu, Anusapati-pun telah sampai
kebangsal pamannya. Dengan ragu-ragu Anusapati menceriterakan, apa yang sudah
terjadi.
“Keris itu sekarang sudah aku simpan
baik-baik paman.“
Mahisa Agni-pun mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya, “Dengan demikian, kau sudah mengurangi kemungkinan pahit
yang dapat terjadi atasmu Anusapati. Keris mPu Gandring adalah keris yang sangat
tajam. Bukan saja tajam ujungnya, tetapi juga tuahnya. Setiap goresan betapa-pun
kecilnya, akan berarti maut.”
“Ya paman,“ jawab Anusapati. Lalu, “tetapi
yang sekarang menjadi pikiranku, apakah yang dapat dikatakan oleh ibunda
Permaisuri apabila ayahanda bertanya kepadanya tentang keris itu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
“Mungkin ayahanda Sri Rajasa dapat menjadi
sangat marah dan menimpakan kesalahannya kepada ibunda.”
Mahisa Agni merenung sejenak. Namun
kemudian katanya, “Aku kira ia tidak akan berani berbuat begitu terhadap
ibundamu Anusapati. Selain Sri Rajasa harus mengingat asal usul kekuasaannya
yang besar itu sekarang, juga karena ibundamu mempunyai seorang anak laki-laki
yang digelari oleh rakyat Singasari sebagai Kesatria Putih. Disamping Kesatria
Putih, ibundamu adalah adikku, yang ikut serta dalam perjuangan mempersatukan
tanah Singasari. Setiap prajurit Singasari mengetahuinya dan setiap prajurit
Singasari mengakuinya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi ia-pun kemudian bertanya, “Jadi apakah tidak mungkin ayahanda mengambil
suatu tindakan mendahului peristiwa-peristiwa yang dapat terjadi menurut
perhitungannya?”
“Maksudmu, Sri Rajasa mengambil tindakan
terhadap ibundamu dan lebih daripada itu, berusaha untuk mendapatkan keris itu
kembali?”
“Demikianlah paman.“
“Memang mungkin Anusapati,“ berkata Mahisa
Agni, “namun jika demikian, maka persoalannya akan menjadi terbuka. Setiap
prajurit di halaman istana ini harus memilih. Dan Sri Rajasa tidak akan berani
menghadapi akibat itu pada saat ini.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Namun ia
masih tetap dibayangi oleh kegelisahan tentang ibunya, “Paman, jika ayahanda Sri
Rajasa tidak dapat mengendalikan kemarahannya, maka yang pertama-tama akan
mengalami akibatnya adalah ibunda. Apakah aku dapat berdiam diri jika ayahanda
Sri Rajasa berbuat sesuatu atas ibunda Ken Dedes meski-pun ibunda seorang
Permaisuri, yang didalam persoalan keris itu pasti akan mempunyai pertimbangan
tersendiri?“
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.
Kalanya, “Tentu kita tidak dapat membiarkan ibundamu menjadi sasaran kemarahan
Sri Rajasa. Tetapi bukankah itu baru merupakan dugaan? Meski-pun demikian
Anusapati, aku akan pergi kebangsal Permaisuri. Aku akan pura-pura menengoknya
dan menungguinya. Jika pada saat itu Sri Rajasa datang, aku akan dapat membantu
ibundamu didalam persoalan keris yang kau bawa itu.“ Mahisa Agni berhenti
sejenak. Lalu, “tetapi bukankah keris itu sudah bertahun-tahun ada ditangan
ibundamu dan Sri Rajasa tidak pernah bertanya sesuatu tentang keris itu? Tentu
tidak dengan tiba-tiba saja ia datang hari ini dan mempersoalkannya. Kecuali
jika ada seseorang yang melihat keris itu ditanganmu.”
“Aku kira tidak ada seorang-pun yang
melihatnya paman.”
“Jika demikian tentu tidak ada pula yang
menyampaikannya kepada Sri Rajasa, dan ia-pun tidak akan berbuat apa-apa hari
ini.”
“Mudah-mudahan. Tetapi aku berharap agar
paman dapat menengok ibunda barang sejenak. Mungkin ada orang yang
melihatnya diluar pengetahuanku. Aku akan
segera kembali kebangsal. Jika ayahanda langsung mencari keris itu kebangsal.
maka isteriku akan mati ketakutan.”
“Dan jika kau ada di bangsalmu?”
“Tentu aku akan mempertahankan keris itu.
Jika ayahanda memaksa apaboleh buat. Seperti kata paman Mahisa Agni,
persoalannya akan menjadi persoalan terbuka. Dan aku akan kehilangan baktiku
kepada ayahanda Sri Rajasa. Aku berharap bahwa orang-orang Singasari akan
mengetahui bahwa aku berbuat dengan wajar. Bukan berbuat sebagai seorang anak
yang durhaka.“
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Itulah tekad yang sebenarnya yang tersimpan didada Anusapati. Tetapi Mahisa Agni
masih berharap bahwa hal itu tidak akan segera terjadi. Meski-pun demikian,
Anusapati memang harus berhati-hati menanggapi keadaan yang berkembang dengan
pesatnya.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa
Agni ingin melihat keris itu. Apakah benar keris yang diberikan kepada Anusapati
itu keris mPu Gandring. Mungkin ibunya hanya sekedar menenangkan hatinya,
sementara keris itu masih tetap disimpannya sendiri.
Karena itu, maka Mahisa Agni-pun kemudian
berkata, “Anusapati, apakah aku dapat melihat keris itu.”
“Tentu paman. Apabila paman berkenan
melihat keris itu, aku persilahkan setiap saat paman datang kebangsalku.”
“Aku akan datang sore nanti Anusapati.
Setelah aku menengok ibundamu, maka aku akan singgah di bangsalmu.”
“Silahkan paman. Aku akan menerima paman
dengan senang nati, bahkan aku ingin mendapat keterangan dari paman Mahisa Agni,
apakah benar keris itu keris mPu Gandring yang telah mengambil nyawa ayahanda
Akuwu Tunggul Ametung.“
Dada Mahisa Agni berdesir. Ternyata
Anusapati-pun mempunyai keragu-raguan meski-pun tidak terlampau besar.
Demikianlah maka Anusapati-pun kemudian
minta diri. Sementara Mahisa Agni-pun kemudian berkemas untuk pergi menghadap
Permaisuri.
Dengan dada yang berdebar-debar Mahisa Agni
memasuki bilik Ken Dedes. Dilihatnya adik angkatnya itu terbaring di pembaringan
berselimut kain panjang yang berwarna kelam. Sementara dua orang emban duduk
disebelah pintu bilik yang tidak tertutup rapat, “Kau kakang,“ desis Ken Dedes.
“Berbaringlah,” berkata Mahisa Agni sambil
melangkah masuk.
Ken Dedes-pun kemudian menyuruh kedua
embannya itu meninggalkannya.
“Rasa-rasanya aku benar-benar menjadi sakit
kakang,“ desis Permaisuri itu, “kepalaku menjadi pening dan badanku menjadi
dingin.“
Mahisa Agni-pun kemudian duduk diatas
sebuah dingklik kayu yang dialasi dengan kulit domba yang lunak. Sambil
memandang wajah Ken Dedes yang buram Mahisa Agni berkata, “Tuan Puteri terlampau
memikirkan keadaan yang berkembang dengan cepatnya saat ini. Sebaiknya tuan
Puteri mencoba melupakannya.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi
ia berkata dengan nada yang dalam dan perlahan-lahan seakan-akan hanya ingin
didengarnya sendiri, “Tetapi bagaimana aku akan melupakannya. Baru saja
Anusapati datang kepadaku dan minta keris mPu Gandring itu. Aku sudah mencoba
untuk mengingkarinya, bahwa akulah yang membawa keris itu. Tetapi aku tidak
berhasil.“
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Mungkin itu bukan kesalahan Pangeran Pati, tetapi hambalah yang
bersalah. Namun bukan maksud hamba untuk mendorong Pangeran Pati berbuat
sesuatu. Tetapi sebenarnyalah bahwa hamba ingin pengamanan yang lebih jauh lagi,
karena keris itu akan dapat menjadi bahaya yang sebenarnya bagi Pangeran Pati.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sedang Mahisa Agni berkata selanjutnya, “Tetapi hamba masih belum memikirkan
bahwa hal itu memang dapat menimbulkan kepedihan pada tuan Puteri. Kegelisahan
dan mungkin juga kecemasan, jika kemudian tuanku Sri Rajasa datang untuk
mengambil keris itu.“
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
“Itulah yang ingin hamba tanyakan kepada
tuan Puteri apakah hal itu yang membuat tuan Puteri gelisah dan bahkan merasa
benar-benar menjadi sakit.”
Ken Dedes menggelengkan kepalanya. Katanya,
“Bukan kakang. Aku sudah pasrah kepada Yang Maha Agung. Aku akan mengatakan
bahwa keris itu hilang. Aku tidak tahu lagi dimana aku menyimpannya karena sudah
bertahun-tahun tidak aku hiraukan lagi.”
“Apakah tuanku Sri Rajasa akan
mempercayainya?“
“Mungkin tidak. Tetapi aku bertekad untuk
tidak mengatakan yang sebenarnya apa-pun yang akan terjadi atasku.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pada
suatu saat, Ken Dedes memang sampai pada suatu pilihan, bahwa ia harus
menyelamatkan anaknya.
“Apakah tuan Puteri benar-benar sudah
mengambil keputusan demikian?”
“Ya. Aku sudah mengambil keputusan.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Tuan Puteri. Hamba rasa seandainya tuan Puteri berkata demikian, Sri
Rajasa tidak akan dapat memaksa. Selama hamba berada di Singasari, sudah tentu
hamba akan ikut bertanggung jawab. Jika pada suatu saat Sri Rajasa mengambil
sikap yang keras, maka apaboleh buat. Tentu hamba tidak akan membiarkan tuan
Puteri mengalami sesuatu akibat keris itu.”
Tiba-tiba saja Ken Dedes bangkit duduk
dibibir pembaringan. “Apa yang akan kau lakukan kakang?“
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Hamba tidak ingin berbuat apa-apa tuan Puteri. Tetapi adalah kuwajiban
hamba melindungi tuan Puteri, karena hamba adalah saudara tua tuan Puteri.
Memang yang paling berhak melindungi tuan Puteri adalah suami tuan Puteri,
didalam hal ini adalah tuanku Sri Rajasa. Tetapi jika bahaya itu datang justru
dari Sri Rajasa, maka aku masih berhak untuk berbuat sesuatu jika tuan Puteri
menghendakinya.“
Ken Dedes memandang Mahisa Agni sejenak.
Namun kemudian wajahnya segera tertunduk. Terbayang didalam rongga matanya
Mahisa Agni itu dimasa mudanya. Ketika ia hampir saja menjadi korban nafsu Kuda
Sempana yang ingin melarikannya dari Panawijen dan mengambilnya langsung dari
bendungan ketika ia sedang mencuci. Mahisa Agni yang tiba-tiba muncul dari balik
tanggul telah menyelamatkannya, setelah Wiraprana tidak berdaya berbuat sesuatu
atas Kuda Sempana, yang saat itu menjadi prajurit Tumapel.
Kemudian dengan penuh tanggung jawab,
Mahisa Agni selalu melindunginya. Bahkan kemudian ia mendengar pula, bahwa
Mahisa Agni pernah berperang tanding melawan Mahendra dengan menyebut dirinya
sebagai Wiraprana, sehingga ia berhasil mengalahkannya. Dan pada saat ia diambil
dengan kekerasan dari Panawijen, Mahisa Agni hampir saja terbunuh oleh sebuah
keris justru ia berusaha mempertahankannya.
Dan kini, ketika umurnya telah bertambah
dengan puluhan tahun, Mahisa Agni masih tetap melindunginya sebagai seorang
kakak yang bertanggung jawab, meski-pun sebenarnya ia hanyalah seorang saudara
angkat.
Namun Ken Dedes tidak dapat melihat tembus
kepusat jantung Mahisa Agni. Betapa hati anak muda yang bernama Mahisa Agni itu
terguncang ketika ia mendengar dengan telinganya sendiri, bahwa Ken Dedes, gadis
padepokan Panawijen itu mencintai seorang anak muda bernama Wiraprana. Pada saat
itu Mahisa Agni hampir
menjadi gila karenanya, dan bahkan ia
serdirilah yang hampir saja membinasakan Wiraprana karena hatinya yang gelap.
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Masa
muda yang penuh dengan khayalan-khayalan yang manis itu kini telah lalu.
Panawijen yang hijau subur itu tinggallah kenangan, karena daerah itu kini
menjadi kering kerontang. Panawijen telah menjadi kering karena kutuk ayahnya
yang tidak dapat menahan luapan kemarahan dan memecahkan bendungan yang sanggup
mengairi tanah persawahan. Meski-pun kini ada padukuhan baru yang hijau di
pinggir padang Karautan, namun padukuhan yang baru ini tidak dapat memberikan
kenangan semanis Panawijen yang lama, Panawijen tempat ia dibesarkan sampai
saatnya ia menjadi seorang gadis remaja.
Dalam pada itu selagi Ken Dedes tenggelam
didalam dunia kenangan, Mahisa Agni-pun duduk sambil menundukkan kepalanya pula.
Dalam keheningan itu-pun ia telah dibayangi oleh berbagai persoalan. Tetapi
berbeda dengan Ken Dedes yang mengenangkan masa lalunya, Mahisa Agni sedang
mereka-reka apakah yang dapat dilakukan seandainya Sri Rajasa tiba-tiba saja
mengambil sikap yang keras dan terbuka.
“Mungkin Sri Rajasa telah mempersiapkan
diri,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “lewat beberapa orang Senapati yang
dapat dipengaruhinya untuk menyingkirkan Anusapati, ia sudah menyiapkan
sepasukan prajurit untuk bertindak dengan cepat didalam istana ini. Jika
persoalannya telah dapat dikuasainya didalam istana, maka ia akan dapat
menyebarkan keterangan sekehendak hatinya, dan memberikan kepercayaan kepada
prajurit yang tersebar di seluruh Singasari. Bahkan para Panglima yang ada
dipusat pemerintahan ini-pun akan dapat kelabuinya. Sri Rajasa dapat saja
menuduh Anusapati melawan kehendaknya dan tidak lagi tunduk kepadanya. Dan ia
masih dapat membuat alasan-alasan yang bagaimana-pun juga.”
Namun dalam pada itu, selagi Ken Dedes
mengenangkan masa-masa remajanya yang indah, dan yang menjadi semakin indah
didalam bayangan masa lampau, dan selagi
Mahisa Agni sibuk dengan perhitungan yang mendebarkan, Sri Rajasa sendiri sedang
duduk merenung. Semua orang yang mendekatinya diusirnya, seakan-akan ia ingin
duduk dalam kesepian. Dalam dunianya yang terasing.
Seperti Ken Dedes dan Mahisa Agni, maka
yang bermain didalam diri Sri Rajasa-pun adalah angan-angannya. Angan-angan yang
bergeser dari waktu kewaktu. Dari masa lampau kemasa kini dan kemasa yang
mendatang.
Dengan nafas yang berat, Sri Rajasa duduk
bersandar tiang di serambi belakang bangsalnya yang sepi. Dilihatnya dedaunan
yang bergerak ditiup angin. Rasa-rasanya angin yang bertiup perlahan-lahan itu
telah mengusap keningnya pula, seperti usapan tangan yang lembut.
Ken Arok, yang bergelar Sri Rajasa Batara
Sang Amurwabumi itu belum pernah merasakan kelembutan tangan ibunya di masa
kanak-anak. Sejak bayi ia sudah tersisih dari keluarganya dan hidup dalam
lingkungan yang tidak terpuji.
Dalam suatu dunia yang gelap. Ia hidup dari
rumah seorang pencuri, berpindah ke rumah seorang penjudi dan perampok. Kemudian
hidup dipandang Karautan dan menghantui sesamanya. Sehingga pada suatu saat ia
terlempar kedalam istana yang megah ini.
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
menarik nafas dalam-dalam. Adalah jauh berbeda dengan angan-angan Mahisa Agni
dan Anusapati, bahkan Ken Dedes. Pada saat terakhir, Sri Rajasa seakan-akan
mulai mampu melihat kedalam dirinya sendiri. Seakan-akan ia dihadapkan pada
sebuah bayangan yang jelas tentang dirinya dan segala perbuatannya.
“Sudah cukup,” tiba-tiba saja ia berdesah,
“aku sudah cukup lama menerima kurnia Yang Maha Agung. Mungkin aku memang
kekasih dewa-dewa. Tetapi aku tidak dapat ingkar melihat
kenyataan pada diri Ken Dedes. Ia adalah
perempuan pinunjul yang pantas melahirkan seorang besar di tanah ini.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang kedalam semak-semak yang rimbun,
ia tidak melihat lagi warna bunga-bungaan yang beraneka. Tetapi yang membayang
adalah semak-semak di padang Karautan. Semak yang bahkan kadang-kadang berduri.
Tetapi ia sama sekali tidak menghiraukan. Apabila ia ingin bersembunyi, maka
ia-pun menyusup saja kedalamnya tanpa menghiraukan kulitnya yang berjalur-jalur
merah tersangkut duri.
“Betapa hidup ini bagaikan mimpi di
malam-malam yang panjang dan terputus-putus,“ berkata Ken Arok didalam hatinya.
“Seperti hidupnya sendiri bagaikan mimpi yang patah-patah hampir tidak dapat
dipercaya. Sebagai seorang anak liar di padang Karautan, kini ia cepat duduk
dengan megahnya di atas tahta Singasari.”
“Aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang
ada padaku. Didalam kamukten ini aku tidak berusaha membersihkan diriku, tetapi
aku justru lebih banyak menodai diriku sendiri dengan berbagai macam kesenangan
dan cita-cita yang menyimpang dari keinginan Yang Maha Agung,” desisnya ketika
terbayang di wajahnya seorang gadis yang ditemuinya dihutan perburuan dan
berhasil menjebaknya. Seperti kehidupan liar yang ditempuhnya dimasa mudanya,
dengan memperkosa gadis-gadis, maka ia-pun terjebak dalam kehidupan yang liar
bukan atas kehendaknya. Maka ia-pun terjebak untuk mengambil Ken Umang menjadi
isterinya, sehingga lahirlah anak demi anak. Namun kini ia melihat, bahwa ia
tidak dapat lagi mengelakkan pengaruh perempuan itu yang justru semakin lama
terasa semakin kuat.
Ken Arok bergeser setapak. Angan-angannya
menjadi semakin tajam menyoroti dirinya sendiri. Dan ia-pun melihat dirinya
sendiri kini telah berdiri di tengah-engah arus sungai yang deras. Berhenti atau
terus, ia sudah terlanjur basah. “Jika aku harus berjalan terus, aku tidak lagi
berbuat karena suatu keyakinan.“ ia berkata kepada
diri sendiri, “yang aku lakukan hanyalah
karena semuanya sudah terlanjur. Dan didalam saat yang paling sulit, tentu aku
tidak akan dapat melepaskan Tohjaya yang tamak itu.”
Namun Ken Arok tidak juga dapat menyalahkan
Tohjaya. Ia telah ikut membentuk Tohjaya menjadi seorang pemimpin. Seorang yang
bercita-cita terlampau tinggi tanpa mengingat alas yang diinjaknya. Jika perlu,
ia akan berdiri diatas alas mayat Anusapati dan siapa-pun juga untuk mencapai
singgasana Singasari.
Bayangan-angan itulah agaknya yang selalu
menghantui Ken Arok. Bayangan-angan yang saling berbenturan antara warna-warna
yang bertentangan didalam hatinya.
Namun dalam pada itu, selagi Ken Arok itu
merenung, terdengar desir perlahan-lahan mendekatinya. Ketika ia berpaling
dilihatnya dikejauhan, Tohjaya berdiri termangu-mangu. Agaknya ia sudah
mendengar dari para prajurit yang bertugas, bahwa Sri Rajasa sedang tidak mau
dikunjungi oleh siapapun. Tetapi agaknya Tohjaya masih ingin juga mencobanya.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Justru
pergolakan di dalam hatinya itulah yang telah mendorongnya untuk memanggil
Tohjaya menghadap, karena ia tidak mau dengan tiba-tiba saja bersikap lain.
Dengan dada yang berdebar-debar Tohjaya
mendekati Ken Arok. Beberapa langkah daripadanya ia berhenti termangu-mangu.
Baru ketika Ken Arok mengangguk, ia maju lagi beberapa langkah.
“Kenapa kau ragu-ragu?“ bertanya Ken Arok.
“Ampun ayahanda,“ sahut Tohjaya, “para
prajurit mengatakan bahwa ayahanda sedang ingin duduk sendiri.”
“Ya, aku tidak ingin diganggu oleh
masalah-masalah yang membuat kepalaku bertambah pening. Aku ingin beristirahat
barang sejenak, karena badanku-pun terasa kurang enak.“
“Ampun ayahanda. Hamba tidak ingin
membicarakan sesuatu. Hamba hanya ingin datang menghadap.”
Sri Rajasa mengangguk-angguk. “Baiklah.
Jika demikian, duduklah sebaik-baiknya. Aku agak segan berbicara tentang
persoalan-persoalan yang dapat memberati pikiranku hari ini.”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Namun ia-pun
berkata, “Ampun ayahanda. Hamba memang tidak ingin mempersoalkan sesuatu. Tetapi
hamba hanya ingin sekedar bertanya.”
“Apa?”
“Apakah sakit ibunda Permaisuri masih cukup
parah ayahanda?”
“O,“ Ken Arok merenung sejenak. Lalu, “aku
tidak tahu. Mudah-mudahan sakitnya sudah sembuh sama sekali.“
“Sebenarnya ibunda Ken Umang ingin
menghadap ibunda Permaisuri untuk sekedar menengoknya. Tetapi ibunda Ken Umang
agak merasa takut kalau-kalau ibunda Permaisuri tidak menerimanya.”
“Kenapa tidak menerima?”
“Mungkin karena ibunda Permaisuri ingin
beristirahat, tetapi mungkin juga karena ibunda tidak ingin bertemu dan
berbicara didalam keadaan itu dengan ibunda Ken Umang.”
“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu,“ sahut Sri
Rajasa.
“Itulah sebabnya maka ibunda mohon
pertimbangan ayahanda.”
Sri Rajasa tidak segera menjawab.
Sebenarnya ia tidak senang mendengar pertanyaan itu. Ia sedang menenteramkan
hatinya dan menerawang hidupnya sendiri. Namun demikian ia tidak sampai hati
untuk menolak pertanyaan itu.
Karena itu, maka Sri Rajasa kemudian
menjawab, meski-pun seakan-akan asal saja terlontar dari mulutnya, “jangan pergi
sekarang.”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Tetapi
menilik sikap Sri Rajasa, Tohjaya-pun sadar, bahwa ayahandanya itu sedang
dirisaukan oleh sesuatu yang tidak dimengertinya.
“Mungkin kakanda Anusapati,“ berkata
Tohjaya didalam hatinya. Baginya setiap persoalan yang tidak menyenangkan bagi
ayahandanya, adalah persoalan yang ditumbuhkan oleh Anusapati.
Namun jawaban itu sebenarnya bagi Sri
Rajasa adalah jawaban yang dapat diucapkannya waktu itu. Dengan demikian maka
Tohjaya pasti tidak akan bertanya apa-pun lagi.
Tetapi ternyata bahwa Tohjaya masih tetap
tidak beranjak. Bahkan sejengkal ia bergerak maju sambil bertanya, “Ayahanda.
Tampaknya ayahanda sedang memikirkan sesuatu. Jika berkenan dihati ayahanda,
apakah hamba dapat mengetahuinya dan apakah hamba dapat ikut membantu
memecahkannya?“
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Tetapi
ia-pun kemudian mencoba tersenyum dan menjawab, “Tidak Tohjaya. Tidak ada
apa-apa yang sedang aku pikirkan. Aku hanya ingin beristisahat karena aku
terlampau lelah.“
Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun dihatinya ia masih saja diganggu oleh sikap dan kerut-merut di wajah
ayahandanya.
“Tohjaya,“ berkata Sri Rajasa, “tinggalkan
aku seorang diri. Sebentar lagi aku akan beristirahat dipembaringan.
Rasa-rasanya badanku terlampau letih beberapa hari ini.”
Tohjaya memandang ayahanda dengan heran.
Biasanya ayahnya tidak pernah tampak begitu letih dan lesu. Sri Rajasa adalah
seorang yang penuh gairah menanggapi kehidupan ini. Wajahnya selalu memancarkan
luapan perasaan dan matanya bagaikan menyala. Sri Rajasa tidak pernah menjadi
tampak terlalu murung dan merasa seperti saat itu.
“Ayahanda,“ tiba-tiba saja Tohjaya
bertanya, “apakah ayahanda merasa bahwa badan ayahanda tidak enak?”
“Tidak Tohjaya, aku tidak apa-apa. Aku
hanya letih. Akhir-akhir ini aku menghadapi banyak persoalan yang menyangkut
kelangsungan hidup Singasari.”
“Tetapi ayahanda tidak memberitahukan
kepada hamba. Jika hamba mengetahuinya, maka biarlah hamba ikut memikirkannya.
Selama ini ayahanda selalu mempersoalkan keadaan Singasari dengan hamba. Dan
ayahanda menganggap bahwa pikiran hamba baik juga dipertimbangkan oleh
ayahanda.”
“Ya. Aku memang memerlukan bantuan
pikiranmu. Aku-pun akan mendengarkan pendapatmu. Tetapi tidak sekarang. Aku
ingin beristirahat. Aku ingin tidur senyenyak-nyenyaknya.”
Tohjaya menjadi semakin heran. Tetapi ia
tidak mau menimbulkan kegelisahan yang semakin mengganggu ayahandanya, sehingga
karena itu ia tidak mendesaknya lagi. Bahkan ia mencoba untuk mengalihkan
pembicaraan. Katanya, “Ayahanda. Mungkin ayahanda memang terlampau lelah. Sudah
lama ayahanda tidak pergi berburu.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak
menyahut.
“Apakah ayahanda tidak ingin berburu?
Dengan demikian ayahanda dapat melupakan kelelahan yang agaknya mulai
mengganggu.“
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam.
“Jika ayahanda berkenan, hamba akan ikut
serta berburu untuk mendapatkan kesegaran baru.”
Sri Rajasa memandang Tohjaya sejenak. Lalu
katanya, “Dalam keadaan serupa ini, aku tidak dapat meninggalkan Istana.”
“Bukankah ada para Panglima yang dapat
ayahanda serahi pemerintahan?”
Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Namun
tanpa disangkanya Tohjaya berkata, “O, apakah ayahanda berpikir tentang pamanda
Mahisa Agni yang kini sedang berada di istana ini. Ayahanda dapat mengusirnya.
Biarlah ia segera pergi dan kembali ke Kediri.”
Sri Rajasa tidak segera menjawab. Dan
karena itu Tohjaya berkaca terus, “Ayahanda, kehadiran pamanda Mahisa Agni
memang memberikan pengaruh yang buruk di
istana ini. Kakanda Anusapati selalu saja hilir mudik dari bangsalnya sendiri
kebangsal ibunda Permaisuri, kemudian ke bangsal pamanda Mahisa Agni. Bukan
hanya sekali dua kali sehari, tetapi berulang kali. Kemudian pamanda Mahisa Agni
pergi mengunjunginya dan kemudian pergi ke bangsal ibunda Permaisuri.”
“Ken Dedes sedang sakit Tohjaya. Adalah
wajar sekali jika pamanmu Mahisa Agni menungguinya. Ia adalah saudara tua
ibundamu Permaisuri. Kegelisahan Anusapati-pun dapat dimengerti. Bukankah ibunya
sedang sakit. Mungkin ia memang diminta oleh ibundanya untuk menghubungi
pamannya. Tidak hanya sekali, mungkin sekali dua kali sehari.”
“Tetapi tentu bukan karena sakit ibunda
Permaisuri saja ayahanda.”
“Jangan berprasangka terlalu jauh Tohjaya.”
“Tetapi sikap kakanda Anusapati sudah
menjadi semakin memuakkan. Bukankah kita sudah berkeputusan untuk mengusirnya
dari kedudukannya dan dari istana ini? Ayahanda, jika ayahanda tidak cepat
bertindak didalam keadaan ini, maka ia akan sempat memperbaiki kedudukannya.“
Dada Sri Rajasa berdesir. Ia memang pernah
mengatakan, bahwa sebenarnya Anusapati tidak diperlukannya lagi. Tetapi ketika
ia mendengarnya hal itu sekali lagi, rasa-rasanya sesuatu bergetar dihatinya.
Sekilas terbayang cahaya yang silau pada diri Ken Dedes. Dan Ken Arok pernah
mendengar bahwa cahaya yang demikian adalah pertanda bahwa orang itu akan
meneteskan keturunan agung.
Tohjaya memandang wajah ayahnya yang
berubah-rubah itu. Kadang-kadang tegang, namun kadang-kadang seolah-olah Sri
Rajasa sudah pasrah pada keadaan yang terjadi. Bahkan sekali-sekali ia
memejamkan matanya dan melihat didalam kekelaman, dunia yang tidak dapat
dimengertinya membentang dihadapannya.
“Ayahanda,“ Tohjaya menjadi cemas.
“Aku memang lelah sekali Tohjaya,“ jawab
Sri Rajasa, “aku ingin beristirahat sejenak. Apakah keperluanmu sudah selesai?”
“Hamba tidak mempunyai keperluan yang
khusus ayahanda. Hamba hanya ingin menghadap ayahanda. Barangkali ada titah
ayahanda yang harus hamba lakukan.“ Tohjaya berhenti sejenak. Lalu, “atau,
jatuhkanlah perintah atas namba ayahanda. Hamba akan melakukannya. Dengan,
beberapa orang prajurit, hamba dapat menyelesaikan tugas ini.”
“Maksudmu membunuh Anusapati?”
Dada Tohjaya berdesir. Tetapi ia mengangguk
sambil menyahut, “Hamba ayahanda.”
“Ah, kau. Apakah kau masih saja berusaha
menyembunyikan kenyataan. Beberapa kali usaha itu dilakukan, tetapi selalu
gagal. Kiai Kisi bahkan telah terbunuh. Tidak mustahil bahwa sebenarnya
Anusapati telah menciun rencana itu.”
“Aku memang pernah mendengar tentang Kiai
Kisi meski-pun tidak begitu jelas. Tetapi itu tentu karena kebodohannya.”
“Kemudian sepasukan prajurit yang berusaha
membinasakan Kesatria Putih. Namun justru senjata prajurit-prajurit yang
menyamar itu tertumpuk dipintu gerbang pada pagi harinya. Apakah kau masih
mempunyai rencana lain?”
“Ayahanda, hamba tidak ingin berpura-pura.
Jika hamba harus membunuhnya, maka hamba akan datang dengan dada tengadah dan
membunuhnya. Melawan atau tidak melawan.”
“Kau akan menjadikan persoalan ini
terbuka?”
Tohjaya ragu-ragu sejenak. Namun kemudian
ia mengangguk. “Ya. Apaboleh buat.“
“Kau memang bodoh sekali Tohjaya.”
Tohjaya terkejut mendengar kata-kata yang
keras itu. Hampir tidak pernah Sri Rajasa mengatakan demikian tentang dirinya.
Karena itu untuk beberapa saat lamanya ia
tidak dapat berkata apa-pun juga.
“Tohjaya,“ berkata Sri Rajasa, “saat ini
Mahisa Agni berada di Singasari. Ia dapat berbuat banyak apabila kita terlibat
dalam benturan terbuka.”
“Tentu tidak ayahanda. Jika ayahanda
menjatuhkan perintah kepada para Panglima untuk menangkapnya. Betapa-pun kuatnya
pamanda Mahisa Agni, namun para Panglima adalah bukan orang kebanyakan pula.”
“Tohjaya,“ tiba-tiba suara Sri Rajasa
merendah, “tinggalkan aku seorang diri. Aku lelah sekali. Aku sedang segan
sekali memikirkan apa-pun juga, termasuk Anusapati dan Mahisa Agni. Bahkan
tentang Singasari sekalipun.”
Tohjaya menjadi semakin termangu-mangu. Ia
tidak dapat mengerti sikap ayahandanya yang belum pernah dijumpainya itu.
Namun kesimpulan dihatinya adalah, bahwa
ayahandanya memang benar-benar sedang terlalu lelah dan benar-benar ingin
beristirahat.
Karena itu, maka ia-pun kemudian berkata,
“Sudahlah ayahanda. Agaknya ayahanda memang benar-benar harus beristirahat.
Perkenankan hamba mohon diri.”
Sri Rajasa mengangguk. “Ya. Aku memang akan
beristirahat sama sekali tanpa persoalan apapun.”
“Baiklah ayahanda. Dan hamba akan
mengatakannya kepada ibunda Ken Umang, bahwa untuk saat ini ibunda Ken Umang
tidak sebaiknya pergi kebangsal ibunda Permaisuri.”
“Ya,“ jawab Ken Arok yang bergelar Sri
Rajasa itu agar Tohjaya tidak mempersoalkannya lagi.
Tohjaya-pun segera minta diri. Di halaman
bangsal Sri Rajasa ia berhenti sejenak. Dilihatnya seorang prajurit berdiri
termangu-mangu dikejauhan.
“He,“ katanya kepada pengawalnya, “apakah
prajurit itu ingin menghadap aku?”
“Hamba akan bertanya kepadanya tuanku,“
jawab prajurit itu.
Sejenak kemudian seorang pengawal Tohjaya
mendekati prajurit yang termangu-mangu itu. Ketika ia bertanya kepadanya, maka
prajurit itu menjawab, “Aku akan menyampaikan sesuatu kepada tuanku Tohjaya.”
“Marilah. Tuanku Tohjaya melihat kau
termangu-mangu. Karena itu aku diperintahkannya bertanya kepadamu.”
Prajurit yang termangu-mangu itu-pun
kemudian dibawa menghadap. Dengan dahi yang berkerut merut Tohjaya bertanya,
“Apa yang akan kau katakan?”
“Ampun tuanku,“ berkata prajurit itu dengan
ragu-ragu.
“Jangan ragu-ragu. Katakan yang ingin kau
katakan. Bahkan seandainya kau mempunyai permintaan sekalipun.”
“Hamba tuanku. Memang ada yang ingin hamba
katakan.“ ia berhenti sejenak. Lalu, “apakah hamba diperkenankan
mengucapkannya.”
“Katakan. Mungkin tentang kuda atau tentang
senjata atau kau prajurit yang sering ikut bersamaku berburu?”
“Ya tuanku. Hamba kadang-kadang mengawal
tuanku didalam dan diluar istana.”
“Aku tahu.”
“Hamba, tuanku, sebenarnyalah hamba ingin
mengatakan sesuatu tentang Putera Mahkota.”
“He?“ Tohjaya terbelalak.
“Tentang kakanda tuanku itu. Kesibukannya
luar biasa setelah pamanda Mahisa Agni ada di halaman istana.”
Tohjaya tidak menyahut. Dibiarkannya orang
itu berbicara terus. Katanya, “Apakah tuanku tidak menaruh perhatian terhadap
kesibukan kakanda tuanku itu?”
Tohjaya menganguk dan berkata, “Tentu,
tentu.“
“Nah, hamba menyaksikan sendiri, tuanku
Pangeran Pati itu selalu mondar mandir dari bangsal tuan puteri Ken Dedes
kebangsal pamanda tuanku Mahisa Agni.”
“Aku sudah tahu. Tetapi apa yang akan kau
katakan selanjutnya?”
“O,“ orang itu menjadi kecewa, “jadi tuanku
sudah mengetahuinya.”
“Aku sudah tahu. Sekarang katakan yang
ingin kau katakan tentang kakanda Anusapati,“ geram Tohjaya.
“Itulah yang akan hamba katakan tuanku.“
“Hanya itu?”
“Hamba tuanku.”
Wajah Tohjaya menegang sesaat. Namun
kemudian sambil mendorong orang itu dengan kakinya sehingga orang itu terjatuh
berguling ditanah.
“Pergi kau penjilat bodoh,“ bentak Tohjaya
yang hatinya memang sedang gelap, “aku tidak perlu keteranganmu itu.”
Orang itu dengan takutnya bangkit dan duduk
ditanah. Tetapi ia sama sekali tidak berani memandang lagi wajah Tohjaya yang
sedang marah.”
Tohjaya-pun kemudian tidak menghiraukannya
lagi. Dengan tergesa-gesa ia-pun pergi meninggalkan prajurit yang duduk dengan
kepala tunduk itu diiringi oleh para pengawalnya.
Ketika Tohjaya sudah tidak tampak lagi,
maka orang tu-pun segera berdiri sambil mengumpat perlahan-lahan. Tetapi ia
tidak berani menunjukkan kemarahannya itu kepada orang lain. Sekali ia
berpaling memandang para prajurit yang
bertugas di bangsal Sri Rajasa. Ketika ia melihat prajurit-prajurit itu
tersenyum, sekali lagi ia mengumpat.
Dengan tergesa-gesa ia-pun kemudian
meninggalkan halaman bangsal itu. Mulutnya tidak hentinya mengumpat, meski-pun
tidak ada seorang-pun yang mendengarnya.
Prajurit itu tertegun ketika ia mendengar
suara seseorang yang tertawa dibalik gerumbul. Ketika ia berpaling dilihatnya
seorang juru taman yang berjongkok sambil menyiangi sebatang pohon. Namun
prajurit itu tahu pasti bahwa orang itulah yang sedang tertawa.
“Kenapa kau tertawa he?“ prajurit itu
membentak.
Juru taman itu berpaling sambil menjawab,
“Aku tidak bermaksud tertawa. Tetapi aku tidak dapat menahannya.”
“Gila. Aku bunuh kau,“ orang itu
membelalakkan matanya, “kau juru taman yang gila itu. Seharusnya kau benar-benar
sudah mati.”
Wajah juru taman itu menjadi pucat.
“Jangan menyesal. Aku memang akan
membunuhmu.“
“jangan.”
“Apa peduliku. Aku akan mencekikmu.“
“Aku akan berteriak.”
“Persetan.”
“Prajurit-prajurit itu akan datang kemari.
Dan aku akan berceritera bahwa pada malam hari itu, kau pulalah yang akan
membunuhku. Sekarang kau berusaha memfitnah Pangeran Pati dengan mengatakan
ceritera-ceritera bohong kepada tuanku Tohjaya. Kau dapat dituduh mengadu
domba.”
“Gila, gila kau.”
“Nah, aku akan berteriak sekarang. Matamu
menjadi liar. Kau benar-benar akan membunuhku.“
Mata prajurit itu memang menjadi liar.
Dipandanginya prajurit-prajurit yang bertugas didepan bangsal. Belum begitu
jauh.
Jika juru taman itu berteriak, diantara
mereka pasti akan datang dan mengusut persoalannya.
“Aku akan berteriak,“ juru taman itu
mengulang.
“Jangan, jangan.”
“Apa peduliku. Aku akan berteriak.”
“Jangan, jangan. Aku tidak benar-benar akan
membunuhmu. Bukankah aku sudah mengatakan. Aku akan berkunjung ke rumahmu
membawa oleh-oleh buat anak binimu.”
“Aku tidak mempunyai anak bini. Aku hidup
sendiri.”
“O, jika demikian aku akan membawa
oleh-oleh buatmu.”
“Bawalah uang sebanyak-banyaknya. Aku lebih
senang kau membawa uang.”
Prajurit itu membelalakkan matanya. Tetapi
ia-pun segera memaksa dirinya untuk tersenyum.
“Baik, baik. Aku akan membawa uang buatmu.
Aku benar-benar akan datang malam nanti. O, malam nanti adalah malam yang baik
untuk berkunjung ke rumahmu.”
“Terima kasih. Aku akan menunggumu.“
Prajurit itu tidak menyahut lagi. Sambil
mengkibas-kibaskan pakaiannya yang kotor oleh debu maka ia-pun kemudian
meninggalkan juru taman itu sendiri.
Sepeninggal prajurit itu, Sumekar-pun
menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hati, “Tentu bukan ia sendiri
penjilat didalam istana ini. Tentu masih banyak orang-orang yang berusaha
mengambil keuntungan dari setiap perkembangan persoalan. Jika penjilat-penjilat
semacam itu masih juga mendapat kesempatan, maka istana ini pasti akan segera
terbakar.“
Sejenak Sumekar berdiri termangu-mangu.
Kemudian ia-pun meninggalkan pohon yang sedang disianginya. Ia tiba-tiba saja
ingin berbicara dengan Anusapati atau Mahisa Agni.
“Mungkin ada perkembangan yang belum aku
mengerti,“ berkata Sumekar didalam hati.
Sumekar-pun kemudian meninggalkan tempat
itu. Sambil membawa alat-alat seorang juru taman, maka ia-pun pergi ketaman di
halaman bangsal Mahisa Agni. Ternyata seorang juru taman yang lain sedang
membersihkau daun-daun kuning yang berguguran karena angin yang agak kencang.
“He, dimana kau?“ bertanya juru taman itu
kepada Sumekar.
“Aku sedang menyiangi pohon ceplok piring
itu.”
“Halaman ini menjadi sangat kotor. Bukankah
ini tugasmu?”
“Ya,“ jawab Sumekar, “baiklah, aku
selesaikan.“
Juru taman itu-pun kemudian menyerahkan
sapu lidinya kepada Sumekar sambil berkata, “Pekerjaanku sendiri sudah selesai.
Jika masih sibuk biarlah aku selesaikan pekerjaan ini.”
“Kenapa kau serahkan sapu ini kepadaku?”
Juru taman itu tersenyum. Katanya, “Jadi
bagaimana? Apakah aku harus melanjutkannya.”
“Tidak,“ jawab Sumekar, “aku akan
membersihkannya. Jika bukan aku, tentu tuanku Mahisa Agni akan marah karena
tidak akan dapat sebersih bekas tanganku.”
“Macam kau. Coba biarlah aku yang
menyelesaikan. Nanti, kita tunggu, apakah tuanku Mahisa Agni akan marah atau
tidak. Kita bertaruh. Rangsum makan kita tiga hari.”
Sumekar merenung sejenak, lalu
menggelengkan kepalanya, “Tidak mau. Aku tidak tahan untuk tidak makan tiga
hari.”
“Nah, jika demikian jangan sombong.”
“Baik. Aku tidak akan sombong.”
Juru taman itu memandang Sumekar dengan
kerut-merut dikeningnya. Lalu ia-pun meninggalkannya sambil menggerutu, “Kau
sudah mulai kambuh lagi.”
Sumekar tertawa. Dipandanginya saja
kawannya itu sampai hilang dibalik gerumbul-gerumbul pohon bunga di sudut
halaman, ia memang menghendaki agar orang itu pergi meninggalkan bangsal itu.
Sambil membersihkan halaman Sumekar
mendekati dua orang prajurit yang bertugas di regol. Sejenak ia termangu-mangu.
Namun kemudian ia-pun bertanya, “Ki Sanak, apakah tuanku Mahisa Agni ada didalam
bangsal?”
“Kenapa?“ bertanya prajurit itu.
“Tidak apa-apa. Aku hanya akan membersihkan
pohon-pohon bunga sampai ke longkangan samping. Jika tuanku Mahisa Agni sedang
beristirahat, aku takut, kalau aku mengejutkannya. Tuanku Mahisa Agni menurut
pendengaranku adalah seorang Senapati yang keras hati. Jika sekali aku
dipukulnya, maka kepalaku akan dapat lepas karenanya.”
“Tidak,“ jawab prajurit itu, “tuanku Mahisa
Agni sedang keluar.”
“Kemana?”
“Aku tidak tahu. Tuanku Mahisa Agni tidak
pernah membawa seorang pengawalpun. Bukan saja di halaman istana, tetapi juga
jika ia pergi keluar. Mirip sekali dengan tuanku Pangeran Pati.”
Sumekar menganggukakan kepalanya. Lalu
katanya, “Jika demikian, mumpung tuanku Senapati itu tidak ada, aku akan
menyiangi tanaman dilongkangan. Selama tuanku Mahisa Agni ada di Singasari, aku
hampir tidak pernah mendapat kesempatan melakukannya, sehingga pohon bunga-bunga
di longkangan itu menjadi kurus dan layu.”
“ Lakukanlah.“
Sumekar-pun kemudian pergi kelongkangan
samping. Dilihatnya pintu butulan bangsal itu tertutup. Dan ia-pun sama sekali
tidak mendekati pintu yang tertutup itu.
Demikianlah untuk beberapa saat lamanya
Sumekar berada dilongkangan. Ia memang menunggu sampai Mahisa Agni datang. Ia
ingin mendengar sesuatu tentang perkembangan terakhir dari hubungan yang kalut
antara Sri Rajasa, Permaisurinya dan Putera Mahkota.
Ternyata dalam pada itu, Mahisa Agni masih
duduk merenung di bangsal Permaisuri. Tetapi tidak lama kemudian berkata,
“Sudahlah tuan Puteri, hamba akan kembali ke bangsal hamba. Untuk waktu yang
sejauh dapat hamba usahakan, hamba akan tetap berada di Singasari. Kecuali jika
hamba tidak mempunyai kesempatan lagi karena perintah Sri Rajasa. Tetapi sebelum
perintah itu mendesak, hamba masih akan tetap disini.“
“Terima kasih kakang. Awasilah Anusapati.
Hatiku selalu cemas bagaikan melepaskan anak yang baru pandai merangkak di
pinggir jurang.”
“Baiklah tuan Puteri, hamba akan selalu
mencoba mengawasinya. Hamba akan mencoba mengendalikannya agar Putera Mahkota
itu tidak bertindak tergesa-gesa.“
“Terima kasih.“ suaranya-pun kemudian
merendah, “tidak ada orang lain yang kini dapat aku percaya selain kau kakang.”
Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Kata-kata
itu diucapkan oleh Ken Dedes. Tetapi kini setelah rambutnya hampir berwarna
rangkap.
“Tuan Puteri,“ berkata Mahisa Agni
kemudian, “aku menjunjung tinggi kepercayaan itu. Baik sebagai seorang saudara
laki-laki, mau-pun sebagai seorang Senapati Agung di Smgasari.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu katanya, “Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk pula. Namun
terasa betapa kecemasan yang sangat selalu membayangi Permaisuri itu.
Sejenak kemudian maka Mahisa Agni-pun mohon
diri sambil berpesan perlahan-lahan sekali, “Tuan Puteri. Tuan Puteri harus
tetap menyadari, bahwa sesungguhnya tuan Puteri tidak sedang sakit. Jika tuan
Puteri tidak menyadarinya, maka akan dapat terjadi, tuan Puteri benar-benar
menjadi sakit, atau rasa-rasanya seakan-akan tuan Puteri benar-benar sakit.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sambil
mencoba tersenyum ia menjawab, “Ya kakang. Kadang-kadang aku lupa bahwa
sebenarnya aku hanya berpura-pura saja sakit, sehingga rasa-rasanya aku
benar-benar menjadi sakit.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi ia melihat bahwa sebenarnyalah Ken Dedes sedang menderita sakit. Bukan
badannya, tetapi hatinya yang kemudian mempengaruhi jasmaniahnya.
Sejenak kemudian Mahisa Agni-pun
meninggalkan bangsal Ken Dedes. Namun agaknya masih terlampau siang untuk
singgah di bangsal Anusapati. Karena itu, maka ia-pun berjalan-jalan saja di
halaman tanpa tujuan sekedar untuk mengisi waktu.
Tanpa disadarinya ia-pun menyusuri dinding
yang membatasi halaman istana Singasari yang lama dengan istana yang dibangun
oleh Ken Arok untuk isterinya yang muda Ken Umang. Dan tanpa sesadarnya pula
Mahisa Agni melangkah didepan regol yang terbuka.
Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar
seseorang-menyapanya, “Kakang Mahisa Agni.”
Mahisa Agni berpaling. Hatinya bagaikan
berguncang ketika dilihatnya Ken Umang berdiri diseberang regol yang terbuka itu
sambil tersenyum.
“O, ampun tuan Puteri,“ sahut Mahisa Agni
dengan suara gemetar. “Hamba tidak tahu bahwa tuan Puteri berdiri disitu.”
“Ah, kenapa kau masih saja mempergunakan
basa-basi itu? Kita sama-sama berasal dari keturunan orang kecil. Panggil saja
aku Ken Umang.”
“Tentu tidak tuan Puteri,“ jawab Mahisa
Agni, “keturunan kita tidak mempengaruhi kedudukan kita sekarang. Tuan Puteri
adalah isteri Maharaja di Singasari.”
“Dan kau adalah Senapati Agung dan
sekaligus wakil Mahkota di Kediri. Selisih kedudukanmu dengan Sri Rajasa sendiri
hanya selapis.”
“Ampun tuan Puteri Hamba sangat berterima
kasih atas kemurahan Sri Rajasa itu. Dan karena itulah>hamba merasa betapa
kecilnya diri hamba.”
Ken Umang tertawa. Katanya, “Sikapmu belum
berubah kakang. Kau masih saja takut kepadaku. Bukan karena kedudukanku. Aku
tahu, bahwa kau menganggapi aku seorang wanita yang sangat rendah. Meski-pun aku
berkedudukan tinggi, yang kini menjadi perempuan kedua sesudah Permaisuri,
tetapi sikapmu dan tatapan matamu tetap tidak ingkar, bahwa setelah aku tinggal
di istana ini, aku masih juga mencoba menyeretmu kedalam perbuatan yang tercela
itu. Tetapi itu dahulu kakang.”
“Ampun tuan Puteri. Hamba sekali-kali tidak
pernah menganggap tuanku sebagai seorang perempuan yang rendah. Sama sekali
tidak.”
Ken Umang tertawa. Sekali ia berpaling
memandang beberapa orang emban yang duduk agak jauh daripadanya.
Mahisa Agni yang masih berdiri diseberang
regol menjadi semakin berdebar-debar. Meski-pun umur mereka sudah menjadi
semakin tua, tetapi kesan yang ada didalam hatinya tentang Ken Umang-pun masih
belum dapat dilupakannya. Agaknya Ken Umang menyadarinya sehingga seakan-akan ia
dapat membaca isi hati Mahisa Agni.
“Kakang,“ berkata Ken Umang. “sekarang kita
sudah merayapi tahun demi tahun. Meski-pun tampaknya kau masih lebih muda dari
umurmu yang sebenarnya, dan barangkali aku masih juga pantas untuk mengganggumu,
tetapi aku kira sekarang aku mempunyai kepentingan yang lain.”
Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Katanya,
“Sebenarnyalah kata tuan Puteri. Hamba memang sudah tua.”
“Itu tidak penting,“ sahut Ken Umang. Lalu,
“Kakang Mahisa Agni. Kakang tentu sudah melihat perkembangan istana Singasari
sekarang ini.”
“Ya tuan Puteri, perkembangan Singasari
benar-benar menggembirakan.”
“Bukan itu yang aku maksud. Tetapi
penghuni-penghuni istana ini. Tegasnya keluarga kita, keluarga Sri Rajasa.”
“O,“ Mahisa Agni memandang wajah Ken Umang
sejenak. Tetapi kepalanya-pun segera tertunduk kembali.
“Kakang Mahisa Agni,“ berkata Ken Umang,
“bukankah kau adalah paman dari Anusapati?”
“Hamba tuan Puteri,“ jawab Mahisa Agni
dengam jantung yang berdebaran.
“Sebagai seorang ibu aku senang melihat
anak-anak hidup dalam kegembiraan. Apalagi Anusapati sudah mempunyai seorang
anak laki-laki yang menjadi semakin besar.“ Ken Umang berhenti sejenak. Lalu,
“Tetapi alangkah sedih hati seorang ibu bila melihat anak-anaknya bertengkar.
Bagiku, Tohjaya dan Anusapati adalah anak-anakku. Aku tidak membeda-bedakannya.
Tetapi Anusapati bersikap aneh terhadapku dan terhadap adiknya Tohjaya.
Seakan-akan kami berdua adalah musuhnya. Nah, tolong, sampaikan kepada
Anusapati, bahwa kami menganggapnya sebagai keluarga yang tidak terpisah.
Anusapati adalah anakku dan Tohjaya-pun putera kakanda Permaisuri, dan
sebaliknya. Apakah kau mengerti maksudku?”
“Hamba tuan Puteri.”
“Nah, jika demikian, nasehatkan kepada
Anusapati, agar ia dapat bersikap lebih baik. Agar ia dapat sedikit mendekatkan
diri kepada adiknya.”
Mahisa Agni menarik nafas, tetapi ia
menyahut, “Hamba tuan Puteri. Hamba akan memperingatkannya. Anusapati memang
harus bersikap baik terhadap tuanku Tohjaya.”
Jawaban itu sama sekali tidak diharapkan
oleh Ken Umang. Ia ingin mendengar Mahisa Agni membantahnya agar timbul
persoalan untuk memancing pendapat Mahisa Agni yang sebenarnya terhadap keadaan
yang sedang berkembang itu.
Dan justru karena itu maka untuk sesaat Ken
Umang terdiam. Dipandanginya Mahisa Agni dengan sorot mata yang aneh.
Sebenarnyalah Ken Umang menjadi heran, kenapa Mahisa Agni begitu saja mengiakan
kata-katanya tentang Anusapati.
Karena Ken Umang tidak segera menyahut,
maka Mahisa Agni melanjutkannya, “Tuan Puteri. Perkenankanlah hamba mohon maaf
atas segala kelakuan dan tingkah laku Anusapati sampai saat ini apabila tidak
berkenan dihati tuan Puteri Ken Umang.”
Ken Umang masih tetap berdiam diri.
Sekali-sekali wajahnya menjadi tegang. Namun sejenak kemudian tampaklah ia
menjadi kebingungan.
Baru sejenak kemudian Ken Umang berkata
patah-patah, “jadi, jadi kau membenarkan kata-kataku bahwa Anusapati memang anak
muda yang tidak tahu diri?”
“Karena hamba tidak berada di Singasari
tuanku, maka hamba tidak dapat menyebutkannya. Tetapi karena menurut tuanku,
Anusapati telah berbuat kurang baik, maka biarlah hamba memperingatkannya.“
Justru Ken Umanglah yang menjadi jengkel
karenanya. Ia tidak berhasil memancing pertengkaran. Jika Mahisa Agni menjadi
marah, dan mereka berbantah, maka ada alasan untuk segera minta
kepada Sri Rajasa, agar Mahisa Agni segera
diperintahkan kembali ke Kediri, karena Mahisa Agni sudah menghinakan isteri Sri
Rajasa.
Tetapi usaha itu ternyata belum berhasil.
Namun demikian Ken Umang masih juga berusaha. Katanya, “Kakang Mahisa Agni.
Siapakah yang bertanggung jawab atas segala perbuatan Anusapati itu?”
“Ampun tuan Puteri. Tentu tanggung jawab
Anusapati sendiri. Apalagi Anusapati kini sudah bukan anak-anak lagi. Ia sudah
seorang dewasa, bahkan ia sudah seorang ayah. Itulah sebabnya maka ia harus
sudah bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Sadar atau tidak sadar.”
“Tetapi ia tidak tiba-tiba saja menjadi
dewasa. Tentu ada yang mendidiknya sejak kanak-anak. Orang itulah yang
bertanggung jawab atas segala macam tingkah laku Anusapati.“
“Maksud tuanku, apakah yang bertanggung
jawab tuanku Permaisuri?”
Ken Umang menjadi ragu-ragu sejenak. Namun
untuk memancing pertengkaran ia menjawab, “Ya. kanda Permaisuri dan kau.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Ketika ia memandang sekilas kesudut halaman itu, dilihatnya beberapa orang
prajurit bertugas. Demikian juga didepan regol bangsal Ken Umang.
Karena itu Mahisa Agni harus berhati-hati.
Bukan karena ia takut menghadapi tindakan kekerasan, tetapi ia sadar sepenuhnya
bahwa Ken Umang memang sedang memancing perselisihan. Jika ia bersikap keras dan
berbantah, tentu prajurit-prajurit itu akan menjadi saksi. Demikian juga
beberapa orang emban yang duduk tidak begitu jauh dari Ken Umang.
Jika demikian, maka akan timbul berbagai
macam akibat yang barangkali terlalu jauh baginya.
Karena kesadaran itulah maka Mahisa Agni
tetap pada sikapnya. Ia sekali-sekali membungkukkan kepala dengan tangan
bersilang.
Sama sekali tidak ada sikap menentang dan
melawan setiap kata-kata Ken Umang.
“Apa katamu Mahisa Agni,“ Ken Umanglah yang
mulai membentaknya.
Sekali lagi Mahisa Agni membungkukkan
kepalanya. Jawabnya, “Ampun tuan Puteri. Jika menurut pendapat tuan Puteri hamba
ikut bertanggung jawab, maka baiklah hamba akan mencoba membetulkan kesalahan
hamba. Sudah hamba katakan, bahwa hamba akan mencegah Anusapati, agar ia
kemudian bersikap baik dan tidak memusuhi tuanku Tohjaya. Tetapi tentang sikap
dan tanggung jawab tuanku Permaisuri, itu ada diluar kekuasaan hamba. Hamba
tidak berhak menegurnya meski-pun ia adalah adik hamba.”
“Kenapa kau tidak berhak? Kau adalah
saudara tuanya. Meski-pun ia seorang Permaisuri, ia tetap adikmu.”
“Hamba tidak berani melakukannya. Hamba
takut kepada tuanku Sri Rajasa. Tuanku Permaisuri kini bukan menjadi tanggungan
hamba lagi sejak ia bersuami. Segala tingkah laku dan perbuatannya telah menjadi
tanggung jawab suaminya.”
“O. jadi kau menyalahkan tuanku Sri
Rajasa?”
“Bukan maksud hamba. Tetapi sebaiknya
tuanku Sri Rajasalah yang memberinya peringatan. Hamba justru takut kepada Sri
Rajasa.”
“Pengecut? Kenapa kau takut? Tentu Sri
Rajasa tidak sempat berbuat seperti itu. Tuanku Sri Rajasa adalah Maharaja yang
berkuasa di Singasari. Ia tidak sempat mengurusi isterinya saja. Apalagi kakanda
Permaisuri yang hampir tidak pernah menarik perhatian Sri Rajasa.“
Terasa dada Mahisa Agni berguncang. Tetapi
ia masih harus menahan hati. Sambil membungkukkan kepalanya ia berkata.
“Sebenarnyalah hamba akan menjalankan semua perintah karena hamba hanyalah
seorang abdi di istana ini. Meski-pun hal itu
bertentangan dengan kemauan hamba sendiri
misalnya, tetapi apabila hal itu harus hamba kerjakan, hamba akan
mengerjakannya. Jika memang tuanku Sri Rajasa memerintahkan kepada hamba untuk
memberikan peringatan kepada tuanku Permaisuri.”
“Kau memang bodoh sekali,“ Ken Umang
menjadi marah, “Jika tuanku Sri Rajasa sempat memerintahkan kepadamu, ia tidak
memerlukan kau lagi. Mengerti?”
Mahisa Agni menahan nafasnya sejenak. Lalu,
“Hamba mengerti tuanku.”
“Jadi kaulah yang bertanggung jawab
seluruhnya atas kelakuan Anusapati itu. Mengaku atau tidak mengaku.”
Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar.
Tetapi ia masih tetap sadar. Jika ia bersikap seperti Ken Umang pula, maka
orang-orang yang melihatnya akan dapat menjadi saksi, bahwa ia telah berani
menentang isteri Sri Rajasa.
Karena itu, sambil membungkuk dalam-dalam
ia berkata betapa-pun ia menahan hati, “Hamba tuan Puteri. Hamba memang bersalah
karena hamba tidak dapat mengajar anak itu bersikap baik. Tetapi hamba berjanji
untuk memperbaiki kesalahan itu.”
“O, gila, gila. Kau memang bukan laki-laki
jantan. Kau hanya berani merunduk seperti budak yang paling hina. Apakah kau
sadar, bahwa sikapmu sama sekali bukan sikap seorang Senapati besar?”
“Mungkin tuan Puteri benar,“ jawab Mahisa
Agni, “hamba memang tidak dapat bersikap lain kali ini, karena hamba berhadapan
dengan junjungan hamba. Memang sangat berbeda dengan sikap seorang Senapati
dipeperangan.”
Kemarahan Ken Umang sudah sampai ke
puncaknya sehingga ia berteriak, “Apakah kau dapat bersikap yang lebih baik dari
sikap seorang penjilat.”
Sebenarnya kesabaran Mahisa Agni-pun sudah
sampai diujung ubun-ubun. Tetapi ia masih memaksa diri untuk tetap bersabar.
Sementara itu beberapa orang prajurit yang
melihat dari kejauhan-pun menjadi heran. Semula mereka memang menjadi
berdebar-debar. Jika Mahisa Agni berbantah dengan Ken Umang, meski-pun Mahisa
Agni adalah seorang Senapati, tetapi ia dapat dianggap bersalah dan ia dapat
dengan serta-merta diperintahkan untuk meninggalkan istana Singasari ke Kediri.
Tetapi ternyata sikap Mahisa Agni itu diluar dugaan mereka. Mahisa Agni sama
sekali tidak menunjukkan sikap menentang. Bahkan sikap hormatnya agak
berlebih-lebihan.
“Apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh
tuan Puteri,“ berkata para prajurit itu didalam hati. Namun sebenarnyalah mereka
dengan mudah dapat menduga, bahwa Ken Umang sengaja memancing persoalan agar
Mahisa Agni segera diperintahkan meninggalkan Singasari. Tetapi para prajurit
itu tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya telah terjadi. Mereka hanya
menganggap bahwa kehadiran Mahisa Agni itu menguntungkan Anusapati, karena
setiap orang-pun mengetahui bahwa Anusapati dan Tohjaya agaknya sukar
dirukunkan, dan setiap orang tahu bahwa Sri Rajasa agak berpihak kepada Tohjaya.
Bukan kepada Anusapati. Bagi mereka yang mengetahui keadaan Anusapati yang
sebenarnya-pun mengerti, bahwa Sri Rajasa ternyata tidak dapat menerima
kehadiran anak Tunggul Ametung itu dengan sepenuh hati.
Sedang prajurit yang lain, yang mengetahui
persoalan yang sedang dihadapinya itu-pun berkata, “Mahisa Agni memang seorang
yang bijaksana. Sebagai seorang Senapati Agung di Singasari ia membiarkan
dirinya dicaci maki oleh isteri muda Sri Rajasa. Tampaknya itu suatu kekalahan
baginya, tetapi sebenarnyalah bahwa Mahisa Agnilah yang menang, jika ia tetap
dapat bertahan.
Prajurit itu terkejut ketika ia melihat
tiba-tiba saja Ken Umang menghentak-hentakkan tangannya sambil berteriak,
“Pengecut yang paling buruk diseluruh Singasari. Aku akan mengatakannya kepada
Sri Rajasa, bahwa kau tidak pantas menjadi seorang Senapati Agung di Singasari.
Kau hanya pantas menjadi seorang penjilat yang rendah dan hina. Ternyata kau
tidak dapat mempertahankan
sikapmu dan mempertanggung jawabkan segala
macam perbuatanmu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia
masih harus berlahan sedikit lagi. Ternyata bahwa Ken Umang sendiri sudah
kehilangan kesabarannya meski-pun ia telah dengan sengaja memancing persoalan.
“Pergi, pergi dari hadapanku penjilat yang
rendah,“ berkata Ken Umang, “aku tidak mau berhubungan lagi dengan orang semacam
kau. Kau hanya pantas berhubungan dengan budak-budakku, dengan hamba-hambaku
yang paling rendah.”
Dada Mahisa Agni bagaikan retak karenanya.
Tetapi ia masih tetap bertahan dengan segenap kemampuan perasaannya. Rasanya
lebih mudah untuk bertahan melawan sepuluh orang prajurit dalam benturan
jasmaniah daripada harus bertahan membiarkan dirinya dihinakan.
“Pergi, pergi,“ teriak Ken Umang kemudian.
“Hamba tuanku, hamba akan pergi jika memang
tuanku kehendaki.”
“Aku tidak mau melihat wajahmu lagi.”
Mahisa Agni membungkuk dalam-dalam. Namun
ia-pun kemudian terkejut ketika ia mendengar seseorang berkata, ”Paman, kita
tetap disini. Aku adalah Putera Mahkota. Paman harus mendengarkan segala
perintahku.”
Semua orang yang mendengar suara itu-pun
berpaling. Mereka melihat Anusapati berdiri bertolak pinggang dengan wajah yang
merah padam.
Ternyata bukan Mahisa Agnilah yang
kehabisan kesabaran, tetapi justru Anusapati yang justru sedang mencarinya.
Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar.
Perlahan-lahan ia mendekatinya dan berbisik, “Tahankan perasaanmu Anusapati.
Ingat, kau mempunyai kepentingan yang lebih besar daripada harga
dirimu. Aku sudah membiarkan diriku
dihinakan dihadapan banyak orang karena kepentingan yang lebih besar itu.”
Anusapati menggeretakkan giginya. Bahkan ia
masih juga berkata, “Hanya perintah ayahanda Sri Rajasa sajalah yang berada
diatas perintahku, karena aku adalah Pangeran Pati. Bahkan ibunda Permaisuri-pun
tidak dapat mengubah keputusanku.”
Semua orang yang menyaksikan hal itu
menjadi berdebar-debar. Para prajurit yang sedang bertugas menjadi
termangu-mangu. Prajurit yang bertugas di halaman bagian istana yang lama dan
bagian istana yang baru. Kedua pihak tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Yang mereka cemaskan adalah apabila Tohjaya mengetahui persoalan itu. Ia pasti
tidak akan tinggal diam.
Sementara itu, wajah Ken Umang menjadi
bagaikan menyala mendengar kata-kata Anusapati orang yang paling dibencinya itu.
Sehingga justru karena itu, maka mulutnya bagaikan terbungkam karenanya.
Anusapati yang sudah sampai pada batas
kesabarannya itu masih juga berkata, “Paman Mahisa Agni. Aku perintahkan paman
tetap tinggal disini. Paman harus mengawasi setiap orang yang ada di halaman
ini. Seluruh halaman istana Singasari. Yang lama mau-pun yang baru adalah
wewenang ayahanda Sri Rajasa. Dan limpahan kekuasaan Putera Mahkota adalah sama
dengan kekuasaan Maharaja.”
“Omong kosong,“ teriak Ken Umang. “kau
sudah gila. Kau sangka Sri Rajasa senang melihat tampangmu?“
Anusapati sama sekali tidak menjawab
kata-kata Ken Umang. Bahkan kemudian dibelakanginya perempuan itu sambil berkata
lantang, “Aku akan merobah halaman istana ini. Aku akan menutup regol ini dengan
dinding batu.”
Kemarahan Ken Umang bagaikan memecahkan
dadanya. Hampir diluar sadarnya ia berteriak, “Emban, panggil Tohjaya. Ada orang
gila masuk kedalam istana.”
Emban itu tidak menunggu lebih lama.
Berlari-lari ia pergi ke bangsal Ken Umang untuk memanggil Tohjaya yang ada
didalamnya.
“Anusapati,“ desis Mahisa Agni kemudian,
“kau lihat, akibat dari peristiwa ini akan berkepanjangan.”
“Aku sudah siap paman. Apa-pun yang akan
terjadi, aku akan menghadapinya. Meski-pun seandainya harus ada pertentangan
terbuka dengan Sri Rajasa. Aku akan menyatakan diriku di depan setiap orang,
bahwa akulah yang berhak atas tahta ini.”
“Anusapati,“ potong Mahisa Agni,
“kendalikan perasaanmu.”
“Maaf paman. Aku akan mengendalikan
persaanku. Tetapi tidak sekarang.”
Mahisa Agni masih akan menjawab. Tetapi ia
terkejut ketika ia mendengar suara Ken Umang, “Nah, itulah orang gila itu
Tohjaya. Kau harus mengusirnya. Bukan saja mengusir dari regol itu, tetapi kau
harus mengusirnya dari istana dan bahkan dari Singasari.”
Tohjaya tidak menghiraukan apa-pun lagi. Ia
tidak rela menyaksikan ibunya yang dihinakan oleh siapa-pun juga, meski-pun ia
seorang Pangeran Pati. Apalagi ia sadar, bahwa Pangeran Pati ini memang harus
disingkirkan.
Karena itu maka ia-pun segera mendekati
Anusapati sambil berkata lantang, “Apakah kau memang sudah mulai gila kakanda
Anusapati?”
Anusapati memandang Tohjaya sejenak. Namun
kemudian terdengar ia tertawa, “Ha, aku memang menunggu kau adinda. Aku ingin
memberitahukan kepadamu, bahwa aku punya hak untuk berbuat apa saja di istana
ini, karena aku adalah Pangeran Pati. Jika sampai saat ayahanda Sri Rajasa tidak
lagi memegang pemerintahan, entah karena atas kehendak sendiri, atau karena
umurnya yang pendek.”
“Tutup mulutmu,“ teriak Tohjaya.
“Anusapati,“ Mahisa Agni masih ingin
mencegah, “kenapa kau kehilangan akal he? Apakah kau memang benar-benar gila?”
Tetapi Anusapati benar-benar tidak
menghiraukannya lagi. Bahkan katanya, “Kau mau apa Tohjaya. Coba berbuatlah
sesuatu kalau kau berani.”
Tohjaya benar-benar terbakar mendengar
tantangan itu. Karena itu, makan tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan
garangnya. Tetapi Anusapati sudah memperhitungkannya. Karena itu, ia sama sekali
tidak terkejut. Bahkan serangan membabi buta itulah yang ditunggu-tunggunya.
Dengan gerak yang lebih cepat dari gerak
Tohjaya, maka Anusapati-pun menghindar. Tetapi ia tidak sekedar menghindari
serangan Tohjaya. Bahkan sekaligus ia menyerangnya pula.
Serangan itu benar-benar tidak diduga oleh
Tohjaya. Apalagi kecepatan bergerak Anusapati jauh melampaui kemampuannya,
sehingga karena itu, maka Tohjaya-pun kemudian terlempar dan jatuh terguling
ditanah.
Ternyata Anusapati yang sudah kehabisan
akal itu tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Ia masih ingin meloncat
membunuhnya. Namun ia tidak dapat menghindarkan diri dan sebuah benturan yang
dahsyat sehingga Anusapati itulah yang kemudian terlempar dan jatuh terguling.
Dengan serta-merta Anusapati meloncat
bangkit. Namun ia tertegun ketika ia melihat, pamannya Mahisa Agnilah yang
berdiri dihadapannya.
Sejenak Anusapati melihat Tohjaya
tertatih-tatih bangun. Namun kemudian dipandanginya wajah pamannya yang tegang.
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni. Betapa
tegang wajahnya, namun kata-katanya tetap sareh dan tenang, “Apakah kau memang
sengaja ingin membuat tontonan di halaman Istana ini atau kau ingin memamerkan
kemampuanmu. Aku berterima kasih bahwa kau mempertahankan martabatku. Tetapi aku
kurang senang melihat
darahmu yang masih terlampau mudah menyala.
Cobalah, tenanglah sedikit. Lihatlah banyak orang yang menonton peristiwa ini,
seperti orang melihat ayam bersabung. Padahal kalian adalah bangsawan tertinggi
di Singasari saat ini. Apakah kau mengerti?”
Anusapati tidak segera menjawab. Dengan
wajah yang tegang dipandanginya pamannya yang berdiri tegak seperti batu karang.
Alangkah garangnya. Tentu dipeperangan Mahisa Agni akan tampak lebih garang
lagi. Dengan senjata di tangan dan wajah yang tegang.
Ternyata perbawa itu meresap kedalam dada
Anusapati. Perlahan-lahan kepalanya tertunduk lesu. Sebuah penyesalan telah
merayapi hatinya. Tetapi semuanya sudah terjadi. Dan rasa-rasanya semakin lama
semakin banyak mata yang memandanginya.
Perlahan-lahan terdengar suaranya bergumam
didalam mulutnya, “maafkan aku paman. Ternyata aku telah kehilangan pengamatan
diri. Penghinaan yang tiada batasnya itu membuat dadaku bagaikan terbelah.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia
menjadi berlega hati ketika dilihatnya bahwa Anusapati sudah mulai berhasil
menguasai perasaannya.
Namun selagi Mahisa Agni mulai merasa
tenang, setelah ketegangan yang sangat mencengkam hatinya, tiba-tiba ia
dikejutkan oleh suara Tohjaya lantang, “Ayahanda, inilah orang gila yang ingin
mengacaukan istana itu.”
Dengan serta-merta Mahisa Agni berpaling.
Dadanya berdesir ketika dilihatnya Sri Rajasa berdiri tegak diiringi oleh
beberapa orang pengawal. Dengan sorot mata yang menyala dipandangnya Mahisa Agni
dan Anusapati berganti-ganti.
“Sudah tiba saatnya bagi ayahanda untuk
bertindak.“
Tetapi Sri Rajasa masih tetap berdiri diam
seperti patung.
Tohjaya menjadi heran sejenak. Demikian
ibunya Ken Umang. Perlahan-lahan isteri muda Sri Rajasa itu melangkah maju
sambil berkata, “Kakanda Sri Rajasa. Alangkah cemasnya hati hamba
melihat ananda Anusapati berbuat diluar
sadarnya. Hamba tidak tahu apa yang seharusnya hamba lakukan. Sedangkan kakang
Mahisa Agni sama sekali tidak berbuat apa-pun juga untuk menenangkan keadaan.
Bahkan ia sama sekali tidak bersikap seperti orang tua.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya.
Perlahan-lahan ia melangkah maju mendekati Anusapati yang berdiri termangu-mangu
disebelah Mahisa Agni. Beberapa langkah daripadanya berdiri Tohjaya dengan wajah
yang tengadah.
“Kakanda,” berkata Ken Umang, “sebaiknya
kakanda menimbang dengan adil. Hamba lihat pakaian Tohjaya yang kotor dan kusut
itu? Ananda Anusapatilah yang telah melakukannya tanpa disangka-sangka.”
Sri Rajasa menjadi semakin dekat, sehingga
dada Mahisa Agni-pun menjadi semakin berdebar-debar.
“Jika semuanya harus terjadi saat ini,
apaboleh buat,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “meski-pun aku tidak dapat
memperhitungkan, bagaimana akhir dari setiap persoalkan yang dapat timbul
karenanya.”
Agaknya Anusapati-pun mencemaskannya pula.
Jika ayahandanya tidak dapat mengekang dirinya pula, maka yang terjadi adalah
bencana yang maha dahsyat. Bukan saja bagi pimpinan tertinggi Singasari, tetapi
bagi Singasari dan rakyatnya.
Gejolak hati Anusapati itu telah
mendorongnya berbisik ditelinga Mahisa Agni, “Paman, Trisula itu aku bawa
sekarang.”
“Ah,“ Mahisa Agni berdesah. Tetapi ada
semacam air yang menitik di jantungnya yang sedang membara. Sadar atau tidak
sadar, Mahisa Agni harus mengakui, bahwa Sri Rajasa adalah bukan manusia
kebanyakan. Ia memiliki kelebihannya. Ia memiliki kelebihan yang tidak dapat
dimengerti oleh sesamanya.
Sejenak Sri Rajasa berdiri dengan tegang.
Namun kemudian ia berkata, “Aku mengerti apa yang telah terjadi. Seorang perwira
yang melihat peristiwa ini langsung
menyampaikannya kepadaku. Dengan tergesa-gesa aku datang kemari, karena yang
terjadi adalah sepercik noda yang paling kotor pada keluarga Maharaja di
Singasari. Dan aku melihait bagian terakhir dari tontonan yang mengasyikkan
ini.”
Semua orang yang mendengar kata-kata itu
menjadi gemetar. Suara Sri Rajasa sudah menjadi agak gemetar oleh perasaaan yang
tertahan didalam dadanya.
Ken Umang memandang Sri Rajasa tanpa
mengedipkan matanya. Seakan-akan ia menunggu, keputusan apakah yang akan
diambilnya didalam keadaan itu.
Sementara itu Tohjaya bergeser selangkah
mendekati ayahandanya. Dalam ketegangan itu ia berkata, “Ayahanda dapat
bertindak sekarang.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Ya, aku memang dapat bertindak. Dan aku memang akan bertindak
sebaik-baiknya.”
“Tentu ayah,“ sahut Tohjaya.
Anusapati membeku ditempatnya, sedang wajah
Mahisa Agni tidak lagi disaput ketegangan yang dalam membayang di wajah itu.
Sekilas ia memandang berkeliling.
Dilihatnya beberapa orang Senapati berdiri tegang. Bahkan Panglima pasukan
pengawalnya-pun telah ada di halaman itu pula.
“Benar seperti sabungan ayam,“ berkata
Mahisa Agni didalam hatinya, “Tetapi apaboleh buat. Aku tidak dapat menduga, apa
saja yang akan dilakukan oleh para prajurit ini.”
Sejenak Mahisa Agni memandang ke kejauhan
menembus kesuraman senja yang mulai turun. Seorang juru taman berdiri disebelah
gerumbul yang lebat. Sekali-sekali ia berlindung dibalik gerumbul itu, dan
sekali ia menampakkan dirinya jika kebetulan Mahisa Agni memandangnya. Juru
taman itu adalah Sumekar.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Juru
taman itu akan dapat ikut menentukan akhir dari peristiwa yang tidak
diinginkannya apabila hal itu terpaksa terjadi di halaman ini, dibatas antara
istana yang lama dan yang baru.
Sejenak orang-orang yang berdiri
berpencaran itu termangu-mangu. Mereka memandang Sri Rajasa dan Mahisa Agni
berganti-ganti. Tanpa mereka sadari, nafas mereka-pun seakan-akan berkejaran.
Yang berdiri dengan tegang itu adalah dua orang Raksasa yang tidak ada
bandingnya di Singasari.
Sri Rajasa adalah seorang yang bagi Mahisa
Agni adalah orang yang aneh. Orang yang memiliki kelebihan tanpa dicarinya.
Karena itulah maka orang mengatakan bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
adalah kekasih dewa-dewa.
Tetapi bagi Sri Rajasa, Mahisa Agni adalah
orang yang aneh. Satu-satunya anak muda yang mampu mengimbanginya selagi ia
masih berkeliaran di Padang Karautan. Dan Ken Arok vang bergelar Sri Rajasa itu
mengetahui, bahwa Mahisa Agni pada waktu itu, memiliki sebuah pusaka yang
baginya sangat mengerikan. Jauh lebih mengerikan dari pusaka yang selama ini
dianggapnya pusaka yang paling keramat, Keris mPu Gandring. Dan pusaka itu
hanyalah sebuah trisula yang tidak seberapa besarnya. Tetapi dapat bercahaya
seperti matahari yang menyilaukan.
Namun Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
memang tidak akan berbuat apa-apa. Setelah beberapa kali ia menarik nafas
dalam-dalam, maka ia-pun berkata, “Aku minta kalian kembali kebangsal
masing-masing.”
Tohjaya terkejut mendengar perintah itu.
Bahkan yang lain-pun tidak kalah terkejut pula. Mahisa Agni yang tegang dan
Anusapati yang berdebar-debar saling berpandangan sejenak.
“Aku tidak senang melihat pertengkaran
itu,“ berkata Sri Rajasa lebih lanjut, “sejak lama aku selalu memperingatkan,
sikap bermusuhan itu sangat memalukan. Apalagi kalian adalah Putera seorang
Maharaja yang sangat dihormati. Tindakan kalian itu tentu
merendahkan martabatku sebagai seorang Raja
yang memerintah seluruh Singasari sekarang ini.”
Ken Umang memandang ken Arok dengan sorot
mata yang aneh. Memang ia tidak mengerti akan perintah itu. Ia berharap agar Sri
Rajasa mengambil tindakan yang paling keras terhadap Anusapati. Hukuman yang
dapat merendahkan nilainya sebagai seorang Putera Mahkota. Menghinakannya, dan
akan lebih baik lagi jika kemudian mengusirnya dari Istana.
Ken Umang menjadi lebih heran lagi ketika
ia mendengar Sri Rajasa itu berkata, “Aku mengucapkan terima kasih kepadamu
Mahisa Agni.”
Tohjaya menjadi tegang sejenak. Dan ia
mendengar Sri Rajasa melanjutkan, “Aku melihat dari kejauhan apa yang kau
lakukan. Ternyata bahwa kau berdiri diatas ikatan keluarga yang ada pada dirimu.
Meski-pun kau paman Anusapati dari saluran darah ibunya, retapi kau sudah
berusaha sebaik-baiknya mencegah pertengkaran ini. jika kau tidak menghalangi
Anusapati, maka aku kira Tohjaya akan mengalami cidera yang dapat membahayakan
jiwanya. Jika demikian maka tidak akan ada gunanya lagi aku membina daerah ini
dengan mempertaruhkan semua yang ada padaku.”
Tidak seorang-pun yang menyahut. Bahkan
tidak seorang-pun yang bergerak meski-pun hanya sekedar ujung jari kakinya.
“Jika Tohjaya mengalami cedera, apalagi
sampai membahayakan jiwanya, maka Anusapati harus dihukum. Dengan demikian aku
akan kehilangan kedua-duanya sekaligus. Kehilangan Pangeran Pati yang akan
menggantikan kedudukanku, dan kehilangan Tohjaya satu-satunya orang akan dapat
menggantikan kedudukan Anusapati apabila terjadi sesuatu dengannya. Memang aku
masih mempunyai beberapa orang anak laki-laki. tetapi aku harus membinanya dari
permulaan sekali.“ Sri Rajasa berhenti sejenak. Lalu, “karena itu tindakan
Mahisa Agni memang pantas dipuji.”
Betapa mereka yang mendengar kata-kata Sri
Rajasa itu tidak dapat mengartikannya dengan segera. Ada yang heran, ada yang
tidak percaya kepada pendengarannya, tetapi
ada yang menganggap, bahwa itu adalah sikap yang bijaksana.
“Nah,“ sekali lagi Sri Rajasa berkata,
“Sekarang kembalilah kebangsal masing-masing. Jangan menjadi tontonan di sini.
Semakin cepat semakin baik.”
“Kakanda,“ Ken Umanglah yang akan memotong
kata-kata Sri Rajasa. Tetapi Sri Rajasa mendahuluinya, “Kau-pun sebaiknya
meninggalkan tempat ini. Adalah kurang baik jika kau berada diantara wajah-wajah
yang tegang dan sikap bermusuhan.”
Ken Umang menahan gejolak didalam dadanya.
Tetapi ia tidak berani membantahnya. Digamitnya Tohjaya dan dengan isyarat
diajaknya Tohjaya meninggalkan tempat itu.
Dalam pada itu Mahisa Agni-pun kemudian
menggandeng Anusapati meninggalkan tempat itu sambil berkata kepada Sri Rajasa,
“Sikap Tuanku sangat bijaksana. Hamba mengucapkan terima kasih.”
“Apakah mungkin aku berbuat lain?“ bertanya
Sri Rajasa.
Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan
itu. Tetapi ia-pun menjawab, “Memang tidak ada sikap lain bagi seorang yang
bijaksana.“
“Bagi yang tidak bijaksana?”
“Tuanku, hamba tidak dapat mengatakannya,
karena ternyata yang ada adalah seorang yang sangat bijaksana.”
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia tidak berkata apa-pun lagi. Dipandanginya langkah Anusapati disamping
Mahisa Agni, dan diarah yang lain Tohjaya berjalan dibelakang ibunya, Ken Umang.
Sri Rajasa menggelengkan kepalanya ketika
perasaannya mulai menilai kedua anak muda itu. Ia tidak mau melihat kenyataan
bahwa ternyata anak Tunggul Ametung itu mempunyai banyak kelebihan dari anaknya.
“Ibunyalah yang memiliki kelebihan. Adalah
bodoh sekali bahwa aku tidak pernah memikirkan dengan sungguh-sungguh
kemungkinan yang ada pada Mahisa Wonga Teleng.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
merenung sejenak. Ia mulai membayangkan kemungkinan yang ada pada Mahisa Wonga
Teleng. Ia adalah anaknya dan anak Ken Dedes. Jika benar Ken Dedes memiliki
kemungkinan yang besar pada keturunannya, maka Mahisa Wonga Teleng-pun pasti
memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.
“Tetapi sudah terlambat,“ ia berkata
didalam hatinya, “Anusapati sudah mulai meloncati pagar yang selama ini berhasil
aku lingkarkan mengelilingi. Tetapi ternyata pada suatu saat anak itu telah
melepaskan dirinya dari semua kungkungan. Sebelumnya ia tidak pernah berani
berbuat apa-apa-pun jangankan seperti yang dilakukannya saat ini.”
Tiba-tiba terlintas didalam angan-angannya.
Ken Dedes yang sedang terbaring dipembaringannya. Tentu Ken Dedes sudah
mengatakan semuanya tentang Anusapati. Tentu Ken Dedes juga mengatakan saat-saat
kematian Tunggul Ametung, dan tentu sekarang Anusapati sedang didalam gejolak
yang paling dahsyat yang pernah dialaminya.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam.
Seakan-akan ia sudah dihadapkan pada suatu keadaan yang sama-sama. Seakan-akan
ia sedang memandang cahaya matahari yang kemerah-merahan, yang sebentar lagi
akan turun dan hinggap dipunggung pegunungan. Kesempatan itu adalah kesempatan
terakhir untuk memandang wajah bumi karena sebentar lagi matahari itu akan
tenggelam.
“Tentu tidak akan mungkin lagi dapat terbit
di Timur,“ katanya didalam hati, “aku memang bukan matahari. Jika saat tenggelam
itu datang, maka biarlah namaku tenggelam pula bersamanya. Tetapi jangan
Singasari.”
Ken Arok itu-pun kemudian perlahan-lahan
melangkahkan kakinya kembali kebangsalnya. Pengawal-pengawalnya-pun
mengikutinya dari kejauhan. Ketika Ken Arok
kemudian masuk kedalam bangsalnya, maka para prajurit itu-pun tinggal di gardu
penjagaan mereka.
Dalam pada itu, Mahisa Agni membawa
Anusapati kebangsalnya. Ketika mereka berjalan lewat didepan seorang juru taman
yang sedang berjongkok, maka Mahisa Agni-pun memberikan isyarat kepadanya sambil
berbisik, “Nanti malam aku datang kegubugmu.”
Sumekar sama sekali tidak menyahut. Justru
ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Baru ketika keduanya sudah menjadi semakin
jauh. Sumekar itu baru berdiri dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan tempat
itu.
Dalam pada itu, cahaya matahari memang
sudah mulai pudar. Semakin lama semakin suram. Dan sebentar lagi, maka seluruh
Singasari itu-pun ditelan oleh kegelapan malam.
Di bangsal Anusapati, Mahisa Agni duduk
tepekur dihadap oleh Anusapati. Agak sulit baginya untuk memberikan beberapa
nasehat kepada Putera Mahkota itu. Karena ia tahu, bahwa selama ini Anusapati
selalu menjaga perasaan isterinya. Ia selalu berusaha untuk menghindarkan semua
pembicaraan yang dapat membuat isterinya menjadi semakin berkecil hati. Sebagai
seorang perempuan yang hidup dilingkungan yang asing, maka ia memerlukan
ketenangan didalam lingkungannya yang baru itu.
Karena itu, maka Mahisa Agni-pun menunggu
hingga pada suatu kesempatan ia dapat mengatakannya.
Ketika Mahisa Agni yakin bahwa isteri
Anusapati itu tidak berada didalam bilik sebelah yang mungkin dapat mendengar
suaranya, barulah ia berkata, “Anusapati. Ternyata keadaan sudah menjadi semakin
panas dan gawat. Tetapi aku melihat perkembangan lain pada Sri Rajasa itu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
Katanya hampir berbisik, “Aku masih belum yakin paman. Tetapi mudah-mudahan
ayahanda Sri Rajasa dapat melihat kebenaran tentang hubunganku dengan
adinda Tohjaya. Tetapi seandainya demikian,
hal itu tentu sudah terjadi beberapa saat lamanya.”
“Pikiran dan perasaan seseorang dapat
berkembang Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “dan aku berharap, bahwa
Sri Rajasa akan mengalaminya.”
“Mungkin pada suatu saat paman. Tetapi jika
ibunda Ken Umang mendapat kesempatan berbicara maka ayahanda tentu akan bersikap
lain pula.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Memang sulit bagi Ken Arok untuk berjalan surut. Dan jika ia tetap maju, maka
jarak perjalanan itu menjadi semakin dekat.
“Hati-hatilah Anusapati,“ berkata Mahisa
Agni kemudian, “aku berharap keadaan bertambah baik. Tetapi aku juga berharap
agar kau tidak lengah. Sudah sepantasnya kau membawa trisula kecil itu
kemana-pun kau pergi. Tetapi ingat, jangan kau pergunakan jika kau tidak dalam
keadaan terpaksa. Terpaksa sekali.
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Aku berjanji akan menemui Sumekar. Malam
sudah menjadi semakin gelap. Besok aku kembali melihat keris itu. Sekarang
waktunya agaknya kurang baik bagiku untuk melihat keris itu. Jika ada satu dua
orang yang sempat melihatnya, maka udara yang panas ini tentu akan mendidih.
Besok aku akan kembali untuk melihat keris itu.”
“Apakah aku harus membawanya kebangsal
paman?“
Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak
mengatakan demikian sekarang. Aku tidak tahu, jika keadaan besok akan
berkembang.”
Anusapati menundukkan kepalanya.
“Sekarang, biarlah aku pergi ke gubug
Sumekar. Aku perlu berbicara sedikit dengan juru taman itu.”
“Silahkanlah paman.”
“Ingat, dalam keadaan serupa ini, trisula
kecil itu jangan terpisah dari dirimu. Bukanlah trisula itu tidak mengganggumu
jika kau sembunyikan didalam lapisan ikat pinggangmu.”
Anusapati menganggukkan kepalanva. Pesan
itu menyatakan bahwa Mahisa Agni-pun menjadi sangat cemas terhadap perkembangan
keadaan.
Namun Mahisa Agni itu-pun kemudian
berpesan, “Tetapi ingat pula Anusapati, bahwa trisula itu bukan senjata dan yang
dipergunakan jika itu bukan cara terakhir satu-satunya jalan yang dapat kau
tempuh.”
Sekali lagi Anusapati mengangguk sambil
menjawab, “Ya paman, aku mengerti.”
“Nah, tinggal sajalah di bangsalmu. Kau
dapat sedikit memberikan pesan, meski-pun tidak berterus-terang terhadap para
pengawal di halaman, agar mereka-pun berhati-hati pula.”
“Ya paman.”
“Nah, biarlah aku pergi sekarang. Bukankah
anakmu sudah tidur?”
“Sudah paman.“
“Besok saja aku menemuinya.”
Demikianlah maka Mahisa Agni-pun kemudian
meninggalkan bangsal itu. Ia tidak segera pergi kegubug Sumekar tetapi ia
berjalan kebangsalnya sendiri. Perlahan-lahan seperti seorang jejaka berjalan
dibawah cahaya bulan yang sedang purnama.
Mahisa Agni harus yakin bahwa tidak ada
orang yang mengetahui sedap pertemuannya dengan Sumekar, mau-pun Anusapati
dengan Sumekar agar Sumekar tidak segera terlibat dalam keadaan yang panas itu.
Dengan demikian ada seorang yang kuat, yang masih dapat diharapkan berbuat
sesuatu diluar perhitungan Sri Rajasa.
Tetapi jika pertentangan yang tampaknya
akan menjadi terbuka itu berkembang, Mahisa Agni memerlukan kekuatan diluar
istana itu.
Jika kemudian terjadi bentrokan-bentrokan
senjata dengan terbuka, dan Sri Rajasa mempergunakan kekuasaan dan haknya
sebagai seorang Maharaja, maka dengan sangat terpaksa Mahisa Agni-pun harus
menghadapinya dengan cara serupa. Tetapi karena ia tidak berhak memberikan
perintah langsung kepada para prajurit yang ada di Singasari, maka ia harus
mendapatkan kekuatan lain yang dapat melindungi Anusapati bersamanya. Bukan
sekedar melindunginya karena ia takut mati, tetapi melindungi dirinya dan
Anusapati bersama segala macam cita-cita dan kemungkinannya.
Setelah malam menjadi semakin gelap, maka
Mahisa Agni-pun keluar lagi dari bangsalnya. Kepada prajurit yang mengawal
bangsalnya ia berkata, “Udara sangat panas didalam. Aku akan keluar sebentar.”
Prajurit-prajurit itu memandanginya sejenak.
Seakan-akan ingin bertanya, kemanakah ia akan pergi didalam keadaan yang bagi
para prajurit, agak kalut itu? Meski-pun mereka tidak melihat pertentangan
sampai keakar hati Mahisa Agni, Anusapati, Tohjaya dan orang-orang yang terlibat
lainnya termasuk Sri Rajasa sendiri, namun mereka melihat pertengkaran antara
Anusapati dan Tohjaya sebagai anak-anak muda yang kian tidak mau hidup dalam
suasana persaingan. Sayang persaingan diantara mereka itu sama sekali tidak
mendorong mereka kearah yang lebih baik dari pertengkaran yang kasar. Seperti
pertengkaran anak-anak seorang rakyat kebanyakan saja. Bahkan hampir saja mereka
berkelahi dalam arti yang sebenarnya di hadapan banyak orang.
Mahisa Agni dapat menangkap dari sorot mata
para prajurit itu, pertanyaan-pertanyaan yang bergulat didalam hati mereka.
Karena itu ia-pun tersenyum sambil berkata, “jangan cemas. Anak-anak itu tidak
akan berkelahi lagi, apalagi memperluas pertengkaran mereka, meski-pun
orang-orang tua terpaksa ikut campur.“
Para prajurit itu-pun tersenyum pula.
Bahkan tersipu-sipu karena Mahisa Agni dapat menebak pertanyaan didalam hatinya
dengan tepat.
(bersambung jilid 77)
Jilid 77
“MEMANG MEMALUKAN,“ berkata Mahisa Agni
lebih lanjut, “tetapi mereka adalah anak-anak muda. Seperti anak muda
kebanyakan. Hanya karena mereka tinggal diistana ini maka sorotan bagi mereka
menjadi lebih tajam karenanya. Setiap orang memperhatikannya dan menilainya.
Tetapi sebagai manusia biasa mereka sebenarnya tidak ada bedanya dengan
anak-anak muda yang tinggal di padukuhan yang paling terpencil. Darahnya masih
terlampau mudah mendidih dan kurang pengendalian diri. Tetapi jika mereka
meningkat semakin tua, maka keadaannya pasti akan jauh berbeda. Anusapati yang
kini sudah mempunyai seorang anak itu ternyata sudah jauh berkurang, sudah jauh
mengendap dibandingkan beberapa saat yang lampau.”
Para prajurit yang mendengarkan kata-kata
Mahisa Agni itu menganggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak mengatakan suatu
apa.
“Sudahlah, bertugaslah dengan baik. Aku
akan menghirup udara malam dihalaman dan dipertamanan. Mudah-mudahan badanku
menjadi segar dan pikiranku menjadi bening.”
Prajurit-prajurit itu menganggukkan
kepalanya dalam-dalam. Ketika Mahisa Agni melangkah meninggalkan halaman
bangsalnya, dua orang prajurit mengiringinya sebagai yang seharusnya mereka
lakukan. Tetapi seperti biasa pula Mahisa Agni tersenyum sambil berkata,
“Biarlah aku berjalan sendiri. Bukankah demikian kebiasaanku? Didalam halaman
istana ini tidak akan ada gangguan apapun. Meski-pun kadang-kadang terjadi
hal-hal yang tidak dapat dimengerti, orang-orang berkerudung, orang yang tidak
dikenal yang hampir saja membunuh juru taman itu, dan bermacam-macam lagi,
tetapi mereka tidak akan mengganggu aku.”
Prajurit-prajurit itu saling berpandangan
sejenak, namun mereka-pun menganggukkan kepalanya dalam-dalam sekali lagi. Salah
seorang dari mereka berkata, “jika itu perintah tuan.”
“Ya,“ jawab Mahisa Agni, “itu perintahku.”
“Baik tuan. Kami akan menunggu disini,“
sahut salah, seorang dari keduanya. Didalam hati mereka berkata, “Sebenarnyalah
pengawalan itu tidak perlu bagi Mahisa Agni.”
Prajurit-prajurit itu-pun kemudian hanya
dapat memandang Mahisa Agni yang berjalan menjauhi regol dan hilang didalam
gelap.
Sambil manarik nafas dalam-dalam seorang
prajurit berkata, “Bagaimana mungkin orang dapat memiliki ilmu seperti Senapati
besar itu?”
“Ilmunya adalah kurnia Yang Maha Agung.
Tidak semua orang dapat memilikinya meski-pun ia berlatih setiap hari sepanjang
umurnya.“
Yang lain hanya dapat mengangguk-anggukkan
kepalanya. Dan salah seorang berdesis, “Seperti juga Sri Rajasa, ia-pun seorang
manusia yang aneh.”
“Tidak banyak manusia seperti mereka itu.
Dan kini tampaknya Putera Mahkota itu-pun akan tumbuh seperti ayahanda dan
pamannya.“
Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan
kepalanya.
Dalam pada itu Mahisa Agni yang sudah
berada dikegelapan itu berjalan menyusuri tempat-tempat yang sepi dipetamanan.
Sejenak ia berdiri ditempat yang terlindung. Bagaimana-pun juga ia memang harus
berhati-hati. Apalagi dihalaman istana ini sering terjadi sesuatu yang tidak
dapat diperhitungkannya lebih dahulu.
Tetapi ternyata bahwa taman itu benar-benar
sepi. Tidak ada seorang-pun yang berada disekitarnya dengan alasan apapun.
Karena itu, maka Mahisa Agni-pun bergeser
pula mendekati gubug Sumekar.
Dengan hati-hati Mahisa Agni-pun kemudian
mengetuk pintu gubug itu.
“Siapa?“ Sumekar berbisik dibalik pintu.
“Agni.”
Mahisa Agni tidak perlu mengulanginya.
Pintu gubug itu-pun kemudian terbuka dan Sumekar-pun melangkah keluar.
“Ikuti aku,“ desis Mahisa Agni.
Keduanya-pun kemudian menyusup kedalam
taman. Beberapa langkah dibalik rimbunnya pohon bunga-bungaan, kedua berhenti
sejenak.
“Sumekar,“ berkata Mahisa Agni, “aku ingin
minta pertolongan lebih lanjut setelah sampai saat ini kau mengawasi dan
melindungi Anusapati. Agaknya keadaan menjadi semakin gawat, sehingga aku perlu
mempersiapkan diri lebih baik lagi dari saat-saat yang lewat.”
“Apakah yang harus aku lakukan?”
“Aku tidak sempat membuat hubungan dengan
Witantra. Aku tidak sampai hati meninggalkan Anusapati dalam keadaan seperti
sekarang. Apakah kau bersedia?”
“Apakah aku harus pergi ke Kediri
menghubungi kakang Kuda Sempana.”
“Tidak. Aku kira, Witantra atau Mahendra
masih juga sering berkeliaran disekitar istana ini. Mereka-pun tentu ingin
mengetahui perkembangan keadaan ini lebih lanjut.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Aku kira demikianlah. Apalagi dengan perkembangan terakhir. Ceritera
tentang pertengkaran langsung yang terjadi ini, tentu akan sampiai ketelinga
mereka, karena hal itu pasti akan segera tersebar.“
“Ya. yang bertengkar adalah putera Sri
Rajasa. Tentu ceritera itu tersebar luas dalam waktu yang singkat. Akibatnya,
maka rakyat Singasari pasti akan terbelah. Sebagian akan berpihak kepada
Anusapati dan sebagian akan berpihak kepada
Tohjaya, karena mau tidak mau mereka akan langsung menghubungkan pertengkaran
itu dengan sikap Sri Rajasa yang tampak dengan jelas, agak kurang adil terhadap
kedua puteranya.”
“Orang-orang tua akan tahu sebabnya. Tetapi
bagi yang muda tanggapannya pasti akan agak berbeda.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dan ia-pun kemudian berkata, “Sumekar, apakah kau bersedia mencari Witantra atau
Mahendra disekitar istana ini? Tentu saja kau harus keluar dari istana ini tidak
lewat regol depan atau regol butulan.”
“Aku sudah mempunyai jalan sendiri,“
Sumekar tersenyum.
“Terima kasih. Sampaikan pesanku kepada
mereka, bahwa aku memerlukan mereka setiap saat, apabila keadaan benar-benar
tidak terkendali. Jika kau dapat mengusahakan, bawalah salah seorang dari mereka
masuk kedalam taman, dan berilah aku isyarat apabila kau berhasil.”
“Apakah isyarat itu?”
“Kau dapat menirukan suara burung
tertentu?”
Sumekar mengerutkan keningnya.
“Kalau tidak, lemparlah atap bangsalku
dengan kerikil kecil. Aku akan segera keluar dan pergi ketaman ini. Jika bukan
malam ini, tentu malam-malam berikutnya. Tetapi aku berharap kau berhasil malam
ini. Bukankah tempat kau sering menemui mereka itu masih dapat dijadikan
ancer-ancer, kemana kau pertama-tama harus pergi?”
“Baiklah. Aku akan mencobanya. Mereka-pun
tentu akan menyadari keadaan.”
“Selagi aku masih ada di Singasari.
Perintah dari Sri Rajasa dapat datang setiap saat.”
“Aku mengerti.”
“Baiklah. Cobalah malam ini. Aku menunggu
isyaratmu.”
“Aku akan memberikan isyarat. Jika aku
melempar atap rumahmu, atau menirukan suara burung kedasih beberapa kali,
tandanya aku berhasil. Tetapi jika aku memberi isyarat hanya tiga kali, maka
malam ini aku belum dapat menemuinya. Dan kau tidak usah menunggu semalam
suntuk.“
“Terima kasih. Di hari-hari terakhir, Sri
Rajasa-pun tentu telah berbuat sesuatu. Dan kita-pun harus mengimbanginya.”
Demikianlah maka Sumekar-pun mempersiapkan
dirinya untuk keluar halaman istana mencari hubungan dengan Witantra atau Kuda
Sempana. Ia masih berharap bahwa kedua orang itu belum jemu menunggu kesempatan
untuk mendapat hubungan dengan Mahisa Agni.
Mahisa Agni-pun kemudian kembali ke
bangsalnya. Tetapi ia tidak langsung masuk kedalam bangsal itu. Sejenak ia masih
sempat berbincang dengan para prajurit, “Aku ingin beristirahat,“ berkata Mahisa
Agni kemudian, “sudah terlalu malam. Jika aku tidak tidur malam nanti, maka
kalian tidak mempunyai tugas lagi.“
Para prajurit itu tertawa. Mereka memang
menyadari, bahwa tugas mereka hanyalah mengawasi bangsal itu, karena jika
terjadi sesuatu, akhirnya Mahisa Agni sendirilah yang harus melindungi dirinya
sendiri.
Namun yang menarik perhatian para prajurit
itu adalah sikap Mahisa Agni. Ia adalah Senapati Agung yang kedudukannya diatas
para Panglima. Apalagi bagi Kediri. Tetapi sikapnya masih tetap seperti Mahisa
Agni yang dahulu, Mahisa Agni anak Panawijen.
Jarang sekali seorang Panglima sempat
bercakap-cakap dengan para prajurit. Jika ada satu dua prajurit yang
mengawalnya, maka sikapnya adalah sikap seorang Panglima terhadap seorang
prajurit bawahan. Bahkan satu dua orang perwira yang lain-pun sudah bersikap
demikian.
“Ia adalah seorang Senapati besar. Bukan
saja kedudukannya sebagai Senapati Agung dan wakil Mahkota di Kediri, tetapi
jiwanya-pun ternyata cukup besar.”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Pengaruh itu tampak pula pada Putera Mahkota. Selain sikapnya, maka
keduanya tidak menaruh prasangka buruk terhadap sesamanya. Ternyata keduanya
tidak memerlukan pengawalan seperti tuanku Tohjaya dan putera-putera Sri Rajasa
yang lain.”
“Ya, selain mereka tidak berprasangka,
mereka-pun terlalu percaya kepada diri sendiri. Coba katakan, siapakah yang
dapat melampaui kemampuan tuanku Mahisa Agni, dan tuanku Pangeran Pati selain
Sri Rajasa. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan berbuat apa-apa atas mereka.”
“Orang berkerudung yang sempat masuk
kehalaman itu?”
“Seandainya mereka sempat bertemu dengan
keduanya atau salah seorang dari pada mereka, maka sejauh-jauh dapat dilakukan
adalah seimbang saja.”
Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan
kepala. Mereka memang sependapat bahwa Mahisa Agni adalah seorang yang berjiwa
besar, ramah dan rendah hati.
Dalam pada itu, Sumekar yang telah berhasil
meloncati dinding tanpa diketahui oleh para peronda itu-pun segera menyelusuri
jalan kota Singasari. Yang pertama-tama didatanginya adalah tempat yang biasa
dipergunakan oleh Witantra atau Mahendra menunggu hubungan dari dalam istana.
Tetapi Sumekar tidak melihat seorangpun,
sehingga karena itu ia-pun mengambil keputusan untuk pergi saja mengelilingi
kota. Mungkin disatu tempat ia bertemu dengan salah seorang dari keduanya.
Namun belum lagi ia beringsut, terdengar
suara seseorang memanggilnya. Dan suara itu bukan suara Witantra dan bukan pula
suara Mahendra.
Sumekar berhenti sejenak. Dari dalam
kegelapan dibalik bayangan dedaunan Sumekar melihat sesosok bayangan yang
muncul.
“Bukankah kau Sumekar?“ bertanya bayangan
itu.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
“Kakang Kuda Sempana. Justru kakang yang ada disini?”
“Ya, Beberapa hari ini giliranku. Keduanya
hampir jemu menunggu. Tetapi tidak seorang-pun yang datang. Lalu akulah yang
mendapat giliran tidur disini. Aku sudah empat malam selalu menungu salah
seorang dari kalian di istana Singasari.”
Sumekar-pun kemudian mendekati Kuda
Sempana, dan keduanya-pun duduk dibalik gerumbul sambil membicarakan masalah
yang sedang dihadapinya.
“Jadi persoalan itu seakan-akan menjadi
panas?“
“Ya. Bahkan hampir terjadi dengan terbuka.”
“Lalu apakah pesan Mahisa Agni.“
“Sekedar persiapan. Jika setiap saat
meledak. Dan rasa-rasanya kita memang berada diatas ujung tanduk. Setiap saat,
jika kita kurang berhati-hati, maka perut kita dapat berlubang.”
“Apakah aku harus menyampaikannya kepada
Witantra.”
“Ya. Dan Mahendra.”
“Baiklah. Tentu bukan sekedar kami bertiga
yang diharap oleh Mahisa Agni. Dan aku akan menyampaikannya kepada Witantra.
Mungkin ia mengerti, apa yang sebaiknya harus aku kerjakan.”
“Tetapi agaknya Mahisa Agni-pun ingin
bertemu.”
“Jangan sekarang,“ berkata Kuda Sempana,
“aku harus menemui Witantra, kita bersama-sama akan bertemu dengan Mahisa Agni
besok malam disini.”
“Barangkali ia perlu pesan kepadamu. Aku
dimintanya untuk memberikan isyarat apabila aku dapat menemui kalian salah
seorang atau semuanya.”
Kuda Sempana termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian ia berkata, “Kenapa tidak besok?”
“Malam ini, dan sehari besok,
bermacam-macam persoalan dapat terjadi.”
“Tetapi tidak mungkin malam ini aku mencari
Witantra.”
“Mungkin tidak perlu. Tetapi sekedar bahan
yang akan kalian bicarakan perlu kau dapat malam ini.”
“Baiklah. Aku menunggu disini.”
“Terima kasih. Aku akan membawa Mahisa Agni
keluar halaman istana malam ini.”
Demikianlah Sumekar-pun segera berusaha
untuk dapat memberikan isyarat kepada Mahisa Agni. Ia sama sekali tidak menemui
kesulitan untuk memasuki halaman istana, seperti pada saat ia keluar.
Dan ia-pun tidak mendapat banyak kesulitan
untuk mendekati bangsal Mahisa Agni. Tetapi Sumekar tidak dapat segera
memberikan isyarat dengan melemparkan kerikil keatas atap bangsal itu, karena
pengawasan yang ketat. Karena itu Sumekar mempergunakan cara yang lain. Dari
sudut halaman ia menirukan bunyi seekor burung kedasih beberapa kali. Ia
berharap bahwa Mahisa Agni akan dapat mendengarnya dan menangkap isyaratnya.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni dapat
menangkap isyarat itu. Ia mendengar bunyi kedasih itu dan mengerti maknanya.
Karena itu, maka Mahisa Agni-pun sagera berusaha untuk dapat keluar dari
bangsalnya tanpa diketahui oleh siapa-pun juga.
Itu-pun bukan suatu kesulitan bagi Mahisa
Agni. Dan dengan demikian, maka ia-pun segera bersama-sama dengan Sumekar keluar
dari halaman istana menemui Kuda Sempana.
“Kuda Sempana,“ berkata Mahisa Agni
kemudian, “aku memerlukan Witantra saat ini. Aku masih menganggap bahwa nama
Witantra belum terhapus sama sekali dari hati para prajurit dan perwira pasukan
pengawal, terutama yang sudah berusia pertengahan.”
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya, “Ya. Aku kira demikian.”
“Karena itu, aku mengharap kedatangannya.
Mungkin pada suatu saat, kita memerlukan pengaruhnya didalam lingkungan para
pengawal Aku tidak tahu, apakah yang akan dilakukan oleh Panglimanya yang
sekarang seandainya terjadi persoalan yang terbuka antara Tohjaya dan
Anusapati.“
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“Tentu Witantra tidak akan dapat berterus
terang berada diistana Singasari.”
Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. “Aku
mengerti,“ jawabnya, “aku kira Witantra-pun tidak akan berkeberatan.”
Demikianlah maka, Kuda Sempana-pun segera
pergi meninggalkan Singasari. Ia harus menghubungi Witantra dan membawanya
menemui Mahisa Agni besok malam. Dalam keadaan yang panas itu, perubahan dapat
terjadi setiap saat itu merupakan waktu yang sangat berharga. Sepeninggal Kuda
Sempana maka Mahisa Agni-pun segera kembali kebangsalnya dan Sumekar masuk
kedalam gubugnya yang kecil tanpa mengganggu tetangga-tetangganya yang tinggal
disebelah menyebelah gubugnya.
Namun ia tidak dapat segera tidur.
Persoalan-persoalan itu masih tetap tersangkut dikepalanya. Dan bahkan dorongan
didalam dadanya untuk berbuat sesuatu rasa-rasanya tidak dapat dikendalikan
lagi.
Tetapi Sumekar masih harus menghormati
usaha Mahisa Agni. Ia tidak dapat merusak rencana Mahisa Agni itu. “Tetapi
apabila datang saatnya, aku benar-benar harus bertindak. Lebih baik aku
menjadi tumbal daripada harus terjadi
persoalan dan pertentangan yang lebih luas lagi. Jika dengan alas pengorbananku,
persoalan ini dapat selesai tanpa melibatkan prajurit dan rakyat Singasari, maka
alangkah baiknya. Singasari yang selama ini dipupuk dan disirami tidak akan
segera layu dan bagaikan daun yang kering, menguning dan berguguran ditanah,“
berkata Sumekar didalam hatinya.
Dalam pada itu, seperti Sumekar. Mahisa
Agni-pun tidak segera dapat tidur nyenyak malam itu. Ia selalu dipengaruhi oleh
berbagai macam angan-angan. Memang mungkin terjadi sesuatu dengan Anusapati
didalam sepinya malam. Tetapi Anusapati bukannya orang yang mudah menyerah pada
keadaan. Apalagi ia memiliki kemampuan yang dapat melindunginya. Bahkan
seandainya Sri Rajasa sendiri datang ke bangsal itu. Anusapati pasti akan dapat
bertahan beberapa lama. Dengan trisula kecilnya, Anusapati akan dapat berusaha
mempertahankan dirinya. Sementara itu tentu terjadi keributan di halaman ini,
sehingga ia akan sempat mendengarnya dan ikut campur secara langsung.
“Tetapi bagaimana jika Sri Rajasa berhasil
memasuki bangsal itu dengan diam-diam, dan dengan diam-diam pula bertindak atas
Anusapati?“ ia bertanya kepada diri sendiri.
Mahisa Agni tidak dapat melepaskan
kemungkinan itu, karena yang pernah dilakukan oleh Sri Rajasa adalah tindakan
licik serupa itu. Ia telah membunuh mPu Gandring, Tunggul Ametung dan dengan
licik sekali menjerumuskan Kebo Ijo ke dalam jebakannya.
“Tentu ia dapat berbuat licik pula terhadap
Anusapati,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya.
Namun ia percaya bahwa Anusapati tentu
tidak akan lengah. Meski-pun Sri Rajasa dapat meremas dinding kayu yang
secengkang tebalnya, tetapi Anusapati-pun tentu dapat mendengar gemerisik yang
betapa-pun lembutnya. Dan bahkan mungkin sekali Anusapati sama sekali tidak
dapat tidur dimalam hari.
Karena itulah, maka di pagi-pagi benar.
Mahisa Agni telah telah terbangun. Ia hanya sekejap saja dapat memejamkan
matanya.
Tetapi bagi Mahisa Agni, yang sekejap itu
telah cukup untuk menyegarkan tubuhnya.
Ketika ia kemudian keluar dari bangsalnya,
dilihatnya suasana yang wajar di halaman istana. Para prajurit masih tetap
bertugas dan yang lain bahkan masih berbaring didalam gardu. Dengan tergesa-gesa
mereka-pun berloncatan bangun ketika tiba-tiba saja mereka melihat Mahisa Agni
sudah berada didepan gardu itu.
“Kami sedang beristirahat,“ salah seorang
dengan tergesa-gesa berkata, “kami bertugas dipermulaan malam ini.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya,
“Tidurlah. Hari memang masih sangat pagi. Kau masih mempunyai waktu sedikit.”
Tetapi para prajurit itu justru berlompatan
bangkit dan membenahi pakaian mereka.
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Aku akan
berjalan-jalan. Aku tidak ingin mengganggu kalian. Apalagi yang baru saja sempat
berbaring karena habis tugasnya.”
Prajurit-prajurit itu mengangguk-angguk.
Dan begitu Mahisa Agni pergi, maka
mereka-pun berebut melingkar kembali didalam gardu. Tetapi langit menjadi
semakin cerah dan sambil menggeliat mereka-pun terpaksa bangkit kembali dan
pergi ke pakiwan untuk berbenah diri.
Mahisa Agni yang kemudian berjalan
menyelusuri halaman istana sama sekali tidak melihat kemungkinan yang tidak
dikehendakinya. Bahkan ketika ia berjalan tidak jauh dari bangsal Anusapati, ia
melihat prajurit yang bertugas di halaman bangsal itu masih berada ditempatnya.
“Tentu tidak ada sesuatu terjadi,“ berkata
Mahisa Agni didalam hatinya. Dengan demikian maka ia-pun melanjutkan langkahnya
berjalan-jalan dipagi yang menjadi semakin cerah.
Namun dengan tergesa-gesa ia berbelok
ketika dilihatnya regol yang menyekat halaman istana ini dengan perluasannya,
tempat
Ken Umang dan putera-puteranya tinggal.
Mahisa Agni tidak mau mengalami perlakuan seperti yang pernah terjadi, sehingga
hampir terjadi pertentangan terbuka antara Anusapati dan Tohjaya.
Ketika kemudian matahari menjadi semakin
terang di Timur, maka Mahisa Agni-pun melangkah kembali ke bangsalnya.
Dilihatnya gardu-gardu penjagaan sudah mulai ramai, dan para prajurit sudah
mulai mengemasi diri. Bahkan sebagian telah datang para penggantinya yang akan
bertugas untuk satu hari satu malam pula digardu itu.
Pada waktu berikutnya dihari itu, ternyata
tidak terjadi sesuatu pula. Anusapati memerlukan datang kebangsal Mahisa Agni
dan berbicara seperlunya. Namun ia-pun segera kembali kepada anak dan isterinya
dibangsalnya.
Bagaimana-pun juga Anusapati mencoba
menyembunyikan perasaannya, namun sebagai seorang isteri, akhirnya ia merasa
bahwa sesuatu telah terjadi atas suaminya. Wajah yang kadang-kadang murung dan
sikap yang tidak dimengertinya. Namun isterinya itu-pun tidak ingin membebani
suaminya dengan kesulitan baru, maka ia tidak pernah berusaha untuk memaksa
Anusapati mengatakan tentang persoalannya. Meski-pun demikian, perlahan-lahan ia
berusaha tanpa terasa oleh Anusapati untuk menangkap, apakah yang sebenarnya
telah terjadi di Singasari dan atas suaminya yang sangat dicintainya itu. Tetapi
yang pada hari itu berdebar-debar adalah Mahisa Agni. Ketika ada paseban kecil
di bangsal istana Singasari, maka Mahisa Agni-pun datang menghadap diantara para
pemimpin Singasari. Di hadapan banyak orang, Sri Rajasa sudah bertanya kepadanya
tentang penyakit Permaisuri.
“Apakah ia masih belum sembuh benar?“
bertanya Sri Rajasa.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sadar
akan arti pertanyaan itu. Tetapi ia masih juga menjawab, “Am-pun tuanku, menilik
pengamatan hamba, tuanku Permaisuri masih juga sakit agak berat. Tetapi
sebenarnyalah bahwa hambalah yang seharusnya bertanya kepada tuanku,
bagaimanakah penyakit Tuanku Permaisuri itu, agar hamba dapat menentukan, apakah
hamba dapat segera
kembali ke Kediri. Jika terlalu lama hamba
berada disini, maka tugas hamba akan dapat terbengkelai karenanya, dan hamba
yang disini hampir tidak berbuat apa-apa itu akan menjadi jemu pula.”
Wajah Sri Rajasa menegang sesaat. Namun
kesan itu-pun segera terhapus dari wajahnya. Sambil tersenyum Sri Rajasa
berkata, “Bukankah kau yang hampir setiap hari menunggui dan mengikuti
perkembangannya?”
“Hamba tuanku. Tetapi yang tahu pasti
tentang penyakit tuanku Permaisuri tentu tuanku Sri Rajasa.”
“Baiklah,“ berkata Sri Rajasa, “akulah yang
akan menentukan apakah kau sudah dapat meninggalkan Singasari atau belum. Aku
akan segera memberitahukan kepadamu, jika Permaisuri itu sudah dapat kau
tinggalkan.“
“Hamba tuanku. Hamba akan melakukan segala
titah.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun bagaimana-pun juga ia menyembunyikan perasaannya, tetapi terasa dalam
sidang itu, bahwa memang ada sesuatu yang terentang diantara kedua tokoh
tertinggi di Singasari itu, seperti juga ada sesuatu yang membentang diantara
Ken Umang dan Ken Dedes, dan antara Anusapati dan Tohjaya.
Sejenak Mahisa Agni masih mengikuti
pembicaraan-pembicaraan tentang perkembangan Singasari pada saat-saat terakhir.
Tetapi ia sudah kurang berminat untuk mendengarkannya. Yang didengarnya saat ini
masih saja hampir sama dengan yang didengarnya beberapa hari dan beberapa bulan
yang lalu. Semuanya baik. Tidak ada kesulitan dan rakyat berkembang maju.
“Jika demikian, dan Sri Rajasa puas dengan
laporan-laporan itu, akan menjadi pertanda bahwa Singasari akan berhenti disini.
Sri Rajasa sudah kehilangan gairah perjuangannya membuat Singasari menjadi
semakin besar dan memberi kesejahteraan yang lebih tinggi bagi rakyatnya,“
berkata Mahisa Agni didalam hati. Namun ia-pun menjadi cemas bahwa beberapa
orang pemimpin Singasari yang lain tidak lagi menghiraukan keadaan yang
sebenarnya terjadi.
Tetapi mereka sekedar ingin mendapat pujian
dari Sri Rajasa dengan mengatakan laporan-laporan yang tidak berdasarkan pada
kenyataan.
Tetapi Mahisa Agni tidak menanggapi
laporan-laporan itu. Ia tidak ingin menyakitkan hati pemimpin-pemimpin Singasari
yang lain agar persoalan yang langsung menyangkut Anusapati tidak terganggu pula
karenanya.
Meski-pun demikian, Mahisa Agni dapat
menilai, bahwa saat-saat terakhir Singasari benar-benar mengalami kemunduran.
Para pemimpinnya tidak lagi dengan penuh cita-cita membina Singasari. Mareka
sudah dihinggapi oleh penyakit yang berbahaya bagi Singasari.
“Tentu karena Sri Rajasa tidak sempat lagi
melihat perkembangan Singasari dengan mata kepala sendiri,“ berkata Mahisa Agni
didalam hatinya. “kesibukannya telah menenggelamkan kedalam suatu keadaan yang
kurang menguntungkan bagi tanah yang selama ini dibinanya dengan susah payah.”
Laporan-laporan berikutnya Mahisa Agni
sudah hampir tidak mendengarnya lagi seperti didalam paseban-paseban yang lalu.
Semuanya rasa-rasanya menjemukan baginya.
Tetapi kali ini Mahisa Agni terkejut ketika
Sri Rajasa kemudian berkata kepadanya, “Setelah paseban ini selesai Mahisa Agni,
tinggallah disini sebentar.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak
ia memandang berkeliling. Dilihatnya didalam paseban itu para Panglima dan para
piemimpin Singasari yang lain.
“Apakah Sri Rajasa berhasrat menjebakku
sekarang?“ ia bertanya kepada diri sendiri.
Tetapi Mahisa Agni adalah seorang yang
berhati tabah. Itulah sebabnya ia kemudian menjawab, “Hamba tuanku. Segala
perintah tuanku hamba junjung tinggi.”
Demikianlah ketika semua pembicaraan itu
selesai maka Sri Rajasa-pun segera mengakhiri sidang. Sedang Mahisa Agni yang
masih harus tinggal menjadi berdebar-debar.
“Apakah para Panglima itu sudah mendapat
pesan-pesan tertentu dari Sri Rajasa untuk menangkap aku sekarang?“ bertanya
Mahisa Agni didalam hati, “demikian para pemimpin pemerintahan yang lain pergi,
maka para Panglima itu akan menarik keris mereka dan menahan aku disini.“
Tetapi dugaan Mahisa Agni itu ternyata
keliru. Dengan suara yang lantang maka Sri Rajasa berkata, “Tinggalkan paseban
ini. Semuanya, selain Mahisa Agni.”
Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi
mereka-pun kemudian beringsut meninggalkan sidang itu seorang demi seorang,
sehingga hanya Mahisa Agni sajalah yang tinggal.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Katanya didalam hati kemudian, “Sri Rajasa memang bukan seorang pengecut. Jika
ia ingin menyelesaikan dengan cara itu, ia akan menghadapi aku seorang lawan
seorang.“
Demikianlah, maka paseban itu akhirnya
menjadi kosong. Yang ada tinggallah Sri Rajasa dan Mahisa Agni. Bahkan para
penasehat Sri Rajasa-pun diperintahkannya untuk meninggalkan paseban itu.
Ketika tidak ada orang lain dipaseban itu,
sekali lagi terasa ketegangan mencengkam dada Mahisa Agni. Namun sekali lagi ia
keliru. Sri Rajasa sama sekali tidak memandangnya dengan sorot mata yang
menyala. Tetapi matanya bahkan menjadi redup dan kosong.
“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa kemudian
dengan nada yang rendah, “kau mendengar semua laporan-laporan didalam paseban
ini?”
Mahisa Agni menjadi heran atas pertanyaan
itu. Karena itu ia tidak segera menjawab.
“Bagaimana menurut pendapatmu?”
Mahisa Agni masih belum mengerti maksud Sri
Rajasa. Namun menangkap siratan wajahnya. Mahisa Agni mulai menyesali dirinya
sendiri. Ternyata bahwa ia sendirilah yang terlampau berprasangka. Sejak terjadi
persoalan yang hampir menyeret Anusapati dan Tohjaya dalam pertentangan terbuka,
ia selalu saja berprasangka buruk terhadap Sri Rajasa yang dikenalnya sangat
aneh namun juga licik.
“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa kemudian,
“aku ingin mendengar pendapatmu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia masih tetap ragu-ragu. Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya,
atau ia harus bersikap seperti para pemimpin Singasari yang lain, yang hanya
sekedar mengemukakan persoalan-persoalan yang mereka anggap dapat menyenangkan
hati Sri Rajasa saja.
“Aku tidak boleh bersikap seperti itu,“
berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “jika demikian aku sudah membohongi diriku
sendiri, dan tidak mau lagi mengakui kenyataan yang berlaku di Singasari.”
Karena itu dengan penuh tanggung jawab
Mahisa Agni berkata meski-pun dengan sangat hati-hati, “Tuanku. Sebenarnyalah
memang seperti yang dikatakan oleh para pemimpin Singasari itu. Meski-pun masih
harus ada beberapa keterangan.”
“Apakah yang kau maksud dengan keterangan
itu?”
“Memang dalam pandangan sepintas keterangan
itu sangat menarik dan seakan-akan Singasari tidak lagi menghadapi
persoalan-persoalan lagi.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya.
“Tetapi tuanku,“ berkata Mahisa Agni lebih
lanjut, “jika hamba boleh mengatakannya dengan jujur, sebenarnya masih banyak
yang perlu dilaporkan didalam paseban seperti ini, apalagi didalam paseban
agung.”
“Misalnya?”
“Tuanku, seharusnya tuanku mendapat
gambaran seluruhnya tentang Singasari. Tuanku harus mendengar bahaya kering yang
mengancam daerah Selatan, yang perlu mendapat penyelesaian. Kemudian kesulitan
yang timbul karena binatang yang buas yang tidak terkendalikan, berkembang biak
dengan cepatnya di hutan tidak begitu jauh dari kota ini. Selain daripada itu,
masih ada perampok-perampok yang mengganggu dan selebihnya memang memberikan
gambaran yang cerah buat masa depan Singasari.”
“Itulah yang ingin aku dengar Mahisa Agni.“
Mahisa Agni mengerutkan keningnya.
Dipandanginya wajah Sri Rajasa sejenak. Namun dilihatnya wajah itu bagaikan air
telaga yang bening, yang dapat dilihat sampai ke dasarnya. Menurut tangkapan
Mahisa Agni, apa yang dikatakan oleh Sri Rajasa itu adalah apa yang
dipikirkannya.
“Kali ini ia berkata dengan jujur,“ desis
Mahisa Agni didalam hatinya.
“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa,
“sebenarnya aku sudah muak mendengar laporan-laporan yang tidak sewajarnya itu.
Mereka adalah orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri, mementingkan
kedudukan dan kebanggaan mereka kepada dirinya sendiri. Dan ini sangat memuakkan
sekali. Tetapi aku masih belum sempat untuk menghentikannya.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ternyata sesuatu telah tumbuh didalam hatinya.
“Sri Rajasa tidak sejahat yang aku duga.“
katanya didalam hati, namun, “atau barangkali ia mulai melihat kesalahan yang
sudah dibuatnya?”
“Mahisa Agni,“ berkati Sri Rajasa kemudian,
“ternyata kau masih Mahisa Agni yang dahulu. Kau adalah salah satu dari
orang-orang Singasari yang jumlahnya tidak banyak, yang berani mengatakan
kekurangan Singasari kepadaku. Meski-pun mungkin aku akan menjadi marah atau
menghukummu. Tetapi sekarang aku sadar,
bahwa yang penting bagiku adalah kebenaran.
Bukan sekedar kebanggaan yang semu.“
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi
kepalanya terangguk-angguk kecil, ia menjadi berpengharapan lagi, bahwa jika Sri
Rajasa berkata dengan jujur, ia akan menanggapi persoalan Anusapati dan Tohjaya
dengan cara yang lebih baik dari cara yang pernah dilakukan sebelumnya.
Dalam pada itu Sri Rajasa berkata
selanjutnya, “Mahisa Agni. Pada saatnya kau akan kembali ke Kediri. Aku
mengharap bahwa pada suatu saat, kau datang kepaseban agung, kau akan mengatakan
keadaan Kediri yang sebenarnya. Dengan demikian akan membuka kemungkinan, para
pemimpin Singasari yang lain menyadari kekeliruannya. Bahkan yang aku harapkan
adalah keterangan yang sebenarnya. Bukan sekedar usaha untuk mempertahankan
pangkat dan jabatan.”
“Baiklah tuanku,“ jawab Mahisa Agni, “jika
hal itu memang tuanku kehendaki.”
“Sekarang tinggalkan bangsal ini. Kemudian
aku akan memberitahukan kepadamu, apakah Permaisuri sudah dapat kau tinggalkan.
Kediri akan kesepian jika kau tidak segera kembali.“
Mahisa Agni mengangguk dalam-dalam.
Kemudian katanya, “Baiklah hamba mohon diri tuanku.”
“Ya. Aku sudah selesai.“
Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan
bangsal paseban. Hatinya masih saja tersangkut kepada sikap Sri Rajasa. Namun ia
tidak dapat melupakan apa yang pernah dilakukan oleh Sri Rajasa itu. Bahkan
sekilas didalam dadanya dugaan bahwa sebenarnyalah Sri Rajasa sedang
merencanakan sesuatu yang tidak diketahuinya.
“Aku dihadapkan pada persoalan yang sangat
rumit. Aku seakan-akan melihat perubahan pada diri Sri Rajasa. Tetapi aku tidak
dapat mempercayainya sepenuhnya,“ berkata Mahisa Agni kepada diri sendiri.
Namun bagaimana-pun juga apa yang dilihat
dan dirasakannya telah mempengaruhi perasaannya.
Meski-pun demikian, Mahisa Agni ingin
memanfaatkan waktunya yang tentu tidak akan terlalu lama lagi untuk mengarahkan
persoalan itu menjadi terang. Tetapi ia akan tetap gelisah jika tidak ada
pemecahan yang dapat menjernihkan keadaan.
Persoalan itulah yang membebani Mahisa Agni
sehari penuh. Persoalan yang justru bertambah rumit karena sikap Sri Rajasa yang
dirasakannya berubah.
Dimalam hari, Mahisa Agni tidak melupakan
pesannya kepada Kuda Sempana, bahwa ia ingin bertemu dengan Witantra. Karena
itulah maka ia-pun kemudian pergi keluar istana seperti yang dilakukan semalam
sebelumnya bersama Sumekar.
“Jika kakang Kuda Sempana belum berhasil
menemuinya, maka kita harus menunggu sampai besok,“ berkata Sumekar.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Mudah-mudahan Witantra sudah hadir malam
ini.“ Keduanya-pun kemudian pergi ketempat yang sudah mereka tentukan. Tetapi
Mahisa Agni dan Sumekar masih belum menjumpai siapapun.
“Kita tunggu sebentar,“ berkata Sumekar,
“mungkin kita datang terlampau cepat.”
“Bukankah, kita tidak tergesa-gesa?“
berkata Mahisa Agni, “mudah-mudahan Sri Rajasa tidak memanggil aku malam ini,
sehingga kepergianku tidak segera diketahuinya.”
Ternyata mereka tidak sia-sia menunggu.
Meski-pun agak lama, namun akhirnya Witantra-pun datang juga. Bahkan sekaligus
bersama Mahendra dan Kuda Sempana.
“Kalian datang bertiga?“ bertanya Mahisa
Agni.
“Ya. Kami sudah terlalu lama menunggu.
Setiap malam salah seorang dari kami pasti datang ketempat ini.
Selambat-lambatnya
dua malam sekali. Baru kemarin Kuda Sempana
sempat bertemu dengan kalian.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu katanya, “Marilah, silahkan duduk. Aku mempunyai ceritera yang cukup
menarik buat kalian.”
Mereka-pun kemudian duduk melingkar dibalik
sebuah gerumbul yang lebat, sehingga tidak seorang-pun yang akan segera dapat
melihatnya. Apalagi pertemuan itu adalah pertemuan lima orang yang memiliki
kelebihan dari orang-orang kebanyakan, sehingga mereka akan segera mengetahui
jika ada orang yang mengintai.
Sementara itu Mahisa Agni-pun
menceriterakan semuanya yang telah terjadi diistana Singasari. Persoalan
Permaisuri yang rasa-rasanya benar-benar menjadi sakit, persoalan Anusapati yang
hampir saja terlibat dalam perselisihan terbuka dengan Tohjaya dan kemudian
sikap Sri Rajasa yang membuatnya ragu-ragu.
Witantra, Mahendra dan kuda Sempana
mendengarkannya dengan penuh minat. Yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu adalah
apa yang akan dapat membakar Singasari.
Ketika Mahisa Agni selesai dengan
ceriteranya, maka mereka yang mendengarkannya itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Sejenak mereka mencernakan ceritera itu, seakan-akan mereka ingin
menimbang persoalannya dari segala segi.
“Mahisa Agni,“ berkata Witantra kemudian,
“kita semuanya sudah mengenal Sri Rajasa. Kita mengenal apa saja yang sudah
dilakukannya untuk mendapatkan tahta itu. Karena itu, alangkah sulitnya untuk
melupakannya. Aku sudah kehilangan adik seperguruanku karena pokalnya. Bahkan
aku telah dihinakan diarena, meski-pun waktu itu kaulah yang naik melawan aku,
tetapi sudah tentu bahwa kau semata-mata telah dibakar oleh kemarahan yang
meluap-luap, karena kau-pun telah tertipu pula oleh Ken Arok yang kini bergelar
Sri Rajasa. Kau tentu menyangka bahwa yang membunuh pamanmu, mPu Gandring itu,
adalah Kebo Ijo pula.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kau tentu dapat membayangkan, betapa
liciknya Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu, sehingga ia berhasil memperistri
Ken Dedes yang baru saja ditinggalkan oleh suaminya, Tunggul Ametung.“ Witantra
berhenti sejenak. Lalu, “tetapi memang tidak mustahil bahwa seseorang pada suatu
saat akan sampai pada suatu keadaan yang dapat menyudutkannya dalam kesulitan
batin. Dalam keadaan yang demikian, memang kadang-kadang semuanya yang telah
dilakukan itu tercermin kembali didalam angan-angannya. Dan seandainya hal itu
terjadi maka tidak mustahil pula bahwa Ken Arok itu menyesali semua
perbuatannya. Tetapi apakah artinya penyesalan itu sekarang? Kita hormati Ken
Arok, karena ia sudah membuat Tumapel menjadi Singasari yang besar sekarang ini.
Tetapi jika kelanjutan dari Singasari ini menjadi kabur, dan bahkan akan menjadi
padam sama sekali, kita harus berpikir kembali.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apalagi jika Sri Rajasa berusaha untuk
menyerahkan kerajaan ini kepada keturunan Ken Umang,“ berkata Witantra lebih
lanjut. Lalu, “aku kenal Ken Umang sejak ia masih seorang gadis remaja karena ia
tinggal bersama kakak perempuannya. Aku tahu bagaimana sifat-sifatnya dan aku
tahu bahwa hatinya bukannya hati yang bersih. Kemudian aku juga mendengar banyak
tentang Tohjaya yang tidak berbeda dari sifat-sifat ibunya. Dengan demikian,
maka kita sudah dapat membayangkan, bagaimana dengan Singasari dimasa mendatang,
jika Singasari jatuh ditangan Tohjaya itu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Meski-pun tidak seorang-pun yang dapat memastikan bahwa Anusapati akan dapat
berbuat lebih baik dari Tohjaya, tetapi mereka dapat memperhitungkan kemungkinan
itu.
“Karena itu Mahisa Agni,“ berkata Witantra
itu pula, “kau jangan sekali lagi terjerumus kedalam perangkap Ken Arok. Aku
tahu bahwa justru karena hatimu terlalu bersih, maka kau tidak dapat
membayangkan, betapa liciknya seseorang. Meski-pun kita tidak menutup
kemungkinan, bahwa pada suatu saat seseorang seperti
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu dapat
menyesali semua perbuatannya.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi
bibirnya bergerak, “Sebenarnya aku berharap bahwa Ken Arok menjadi baik ketika
kami sedang membuat bendungan dan membangun Panawijen dipadang Karautan, setelah
Panawijen yang lama menjadi kering. Tetapi tiba-tiba saja penyakit padang
Karautanmya berjangkit kembali.”
“Itulah yang dapat kita lihat padanya.
Sebagai seorang Maharaja ia berbuat sebaik-baiknya. Tetapi di saat-saat
terakhir, maka pamrih pribadinya pulalah yang kemudian justru menonjol,“ sahut
Witantra.
Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk. Namun
dalam pada itu terdengar Sumekar berkata dengan nada yang dalam tetapi
seakan-akan bergetar dari dasar hatinya, “Kakang Mahisa Agni. Bagaimana-pun
juga, aku yang melihat kehidupan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa sehari-hari
dan puteranya tuanku Tohjaya, tidak akan dapat mempercayainya lagi. Mungkin
disaat-saat tertentu ia dapat bersikap baik. Tetapi itu sekedar suatu usaha
untuk membayangi sikapnya yang sebenarnya. Bagiku tugas Sri Rajasa sudah
selesai. Kita bersama-sama menaruh hormat atas usahanya mempersatukan seluruh
Singasari. Tetapi jika ia masih berkesempatan mengatur saluran kekuasaan sampai
ke putera-puteranya, maka akan terjadi suatu saat Singasari akan hancur. Marilah
kita tidak sekedar terpancang pada kepentingan tuanku Anusapati yang kebetulan
adalah putera tuan Puteri Ken Dedes, dan tidak pula terikat kepada kebencian
kita kepada tuanku Tohjaya, putera tuan Puteri Ken Umang, tetapi adalah
kebetulan sekali bahwa menurut perhitungan kita, jika kekuasaan Singasari jatuh
ke tangan tuanku Tohjaya, maka Singasari tidak akan lestari. Itulah sebabnya
maka kita harus memotong jalur yang memungkinkan hal ini terjadi.”
“Maksudmu?“ bertanya Mahisa Agni.
“Sri Rajasa dilenyapkan.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “jangan tergesa-gesa Sumekar. Persoalannya tidak begitu sederhana.
Meski-pun seandainya kita akan sampai juga kepada jalan itu, tetapi semuanya
harus yakin dan masak.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ia
sadar, bahwa Mahisa Agni tentu tidak menyetujuinya untuk saat ini. Tetapi
Sumekar sama sekali tidak melihat jalan lain.
Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana hanya
dapat mengerutkan keningnya. Bagi mereka, banyak pertimbangan yang harus
diperhitungkan.
“Kakang Mahisa Agni,“ berkata Sumekar, “aku
dapat mengerti perasaanmu. Kau adalah seorang yang menurut tangapanku, sangat
dipengaruhi oleh pertimbangan-angan perikemanusiaan. Karena itu, maka kau adalah
seseorang yang sangat baik. Tetapi menghadapi Sri Rajasa kau harus mempunyai
pertimbangan yang lain.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Seperti yang aku katakan Sumekar, apabila sampai saatnya, apaboleh
buat. Tetapi kita harus mendapatkan saat yang tepat dan alasan yang dapat
dipertanggung jawabkan. Bukan sekedar prasangka dan alasan-alasan yang sangat
kabur.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya,
lalu katanya, “Banyak soal yang ingin aku ketahui. Namun yang terpenting adalah
perkembangan hubungan antara Anusapati dan Tohjaya.”
“Hubungan yang sangat dipengaruhi oleh
sikap Sri Rajasa sendiri,“ sahut Sumekar.
“Ya.“
Witantra berpikir sejenak, lalu “dimana
keris buatan mPu Gandring itu sekarang?”
Mahisa Agni ragu-ragu sejenak, namun
katanya kemudian, “Ada pada Anusapati.”
Witantra dan orang-orang lain yang
mendengarnya mengerutkan keningnya. Dan Sumekar-pun menyahut, “jalan sudah
terbuka.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
“Bagaimana mungkin keris itu ada ditangan
Anusapati?“ bertanya Witantra.
“Ken Dedes memberikan kepadanya.”
“Apakah Permaisuri sudah memilih?“ desak
Mahendra.
“Bukan maksudnya, Anusapati menyimpan keris
itu untuk pengamanan dirinya. Jika keris itu tidak berada di tanganya, maka ada
kemungkinan keris itu menikam jantungnya.”
“Dan Sri Rajasa tidak memintanya?“ bertanya
Kuda Sempana.
“Sampai sekarang tidak,“ jawab Mahisa Agni,
“aku tidak tahu apakah Sri Rajasa sudah mengetahuinya.”
Mereka yang mendengarnya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kesan yang aneh telah merambat dihati mereka.
Seakan-akan mereka mempunyai gambaran yang sama bagi masa mendatang.
“Hanya ada dua kemungkinan,“ berkata
Witantra didalam hatinya, “Anusapati dilenyapkan atau melenyapkan. Suatu pilihan
yang maha sulit. Agaknya Anusapati tidak cukup kuat secara batin untuk
menjatuhkan pilihan itu. Seperti juga Mahisa Agni sendiri yang terlalu banyak
dipengaruhi oleh pertimbangan peri kemanusiaan seperti yang dikatakan oleh
Sumekar.”
Tetapi Witantra tidak mengucapkannya.
Yang kemudian berbicara adalah Mahendra,
“Jadi menurut pertimbanganmu Agni, apakah yang sebaik-baiknya kita lakukan
sekarang?“
“Aku ingin mendapat bantuan pengaruh
Witantra pada para Senapati, terutama yang berusia sebaya dengan kita atau lebih
muda sedikit. Mereka tentu mengenal siapakah Witantra itu. Bagi
Senapati yang muda, mungkin Witantra
hanyalah nama saja. Tetapi bagi yang lebih tua, mereka mengenal jauh lebih
banyak.”
“Maksudmu?“ bertanya Witantra.
“Witantra. Sekali-sekali aku ingin kau
menampakkan dirimu. Dengan demikian maka nama Witantra akan disebut-sebut lagi.
Dan aku yakin bahwa nama itu akan berpengaruh pada Sri Rajasa.”
“Pengaruh apakah yang kau kehendaki?”
“Ia akan semakin disudutkan oleh kenangan
masa lampaunya. Mudah-mudahan ia dapat melihat segala kesalahan yang pernah
dilakukannya.”
“Kau berharap bahwa Sri Rajasa akan
melangkah surut?“
Mahisa Agni tidak menjawab. Kepalanya
perlahan-lahan menunduk lesu. Namun demikian, kepalanya itu bergerak sedikit,
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Suatu keajaiban. Seandainya ada
penyesalan dihati Sri Rajasa. tetapi ia sudah terperosok terlampau jauh. Tohjaya
sudah menjadi dewasa serta dibekali dengan segala macam angan-angan yang hitam.
Tentu Tohjaya akan selalu memaksa Sri Rajasa untuk berjalan terus, betapa-pun
hatinya sendiri dirambati oleh kesadaran, namun sudah terlambat.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi ia berkata, “Aku kira dapat juga dicoba Mahisa Agni. Aku besok akan
menemui satu dua orang Senapati terutama dari pasukan Pengawal yang aku duga
masih dapat mengenal aku dan mengingat apa yang pernah mereka kenal itu dahulu.”
“Kita masih akan mempertaruhkan beberapa
hari untuk itu?“ bertanya Sumekar.
“Hanya beberapa hari,“ jawab Mahisa Agni,
“sampai saat ini aku masih belum diusir oleh Sri Rajasa meski-pun sudah ada
beberapa kesan agar aku segera kembali ke Kediri.”
“Jadi, apakah kita tidak lebih baik
bertindak langsung dan cepat?“ bertanya Sumekar kemudian.
“Kita masih akan mencoba Sumekar.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Baiklah. Kita melihat apakah dibeberapa hari ini ada perubahan pada
Sri Rujasa dan terutama pada tuanku Tohjaya. Jika hubungan keduanya tidak
terputus, menurut dugaanku, akan sulitlah kiranya mendapatkan perubahan suasana
diistana Singasari yang menjadi semakin panas ini.”
Mahisa Agni memandang Sumekar sejenak.
Namun kepalanya-pun terangguk-angguk kecil. Katanya, “Kita berdoa, mudahkan ada
perbaikan yang terjadi di istana Singasari.”
“Tetapi kita jangan membiarkan diri kita
terjebak oleh kebaikan hati kita,“ berkata Mahendra kemudian, “aku setuju untuk
menunggu satu dua hari. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Sumekar, dalam satu
dua hari dapat terjadi apapun, karena perubahan dapat berlangsung dengan
cepatnya. Sri Rajasa mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas. Itulah sebabnya
semuanya dapat terjadi.”
“Aku menyadari,“ jawab Mahisa Agni, “karena
itu, selain setiap usaha harus dialasi dengan sikap hati-hati, juga harus
dilambari dengan kesiagaan untuk menghadapi segala kemungkinan.”
“Baik. Aku sependapat,“ berkata Witantra,
“marilah kita coba. Aku akan segera menghubungi beberapa orang perwira didalam
pasukan pengawal istana.”
Demikianlah mereka kemudian menemukan
kesepakatan. Meski-pun Sumekar dan Mahendra menyangsikan hasilnya. Namun mereka
ingin melihat juga, apakah yang kira-kira akan terjadi.
Sejenak kemudian maka Mahisa Agni dan
Sumekar-pun segera kembali ke istana, sedang Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana
kembali kepersembunyian mereka dipinggir kota. Mereka telah berusaha untuk
mendapatkan sebuah pondokan bagi mereka yang
menyebut dirinya pedagang-keliling, karena
sebenarnyalah bahwa Mahendra adalah seorang saudagar.
Tanpa meninggalkan kewaspadaan Mahisa Agni
masih dapat bersabar beberapa saat. Perkembangan perasaan yang dibacanya pada
tingkah laku Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa menimbulkan harapan dihatinya,
bahwa masalahnya tidak harus diselesaikan dengan kekerasan.
Dengan lembut ia berusaha menenteramkan
hati Anusapati. Meski-pun ia tidak mengatakannya, bahwa ia melihat perubahan
pada Sri Rajasa, namun ia mengharap bahwa Anusapati tidak merubah cara hidupnya
sehari-hari.
“Berbuatlah seperti tidak terjadi sesuatu
atasmu dan atas perasaanmu Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “mudah-mudahan kita
menemukan jalan yang sebaik-baiknya.”
Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi
ia berkata, “Mudah-mudahan kita tidak terlambat paman. Menurut perasaanku, kini
sedang terjadi perang yang tiada kasat mata antara kita dengan ayahanda Sri
Rajasa bersama adinda Tohjaya.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia tidak 'dapat ingkar. Yang dikatakan oleh Anusapati itu memang
sebenarnya telah terjadi.
Meski-pun di saat terakhir terpercik
harapan dihati Mahisa Agni, namun ia selalu memperingatkan kepada Anusapati,
bahwa ia tidak boleh melupakan trisula kecilnya.
“Aku selalu membawanya paman. Disetiap saat
trisula itu ada padaku. Bahkan dimalam hari bukan saja trisula itu, tetapi juga
keris mPu Gandring selalu berada dipembaringan.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Namun ia bergumam, “Mudah-mudahan aku dapat menyaksikan, bahwa tidak akan
terjadi sesuatu yang tajam sampai saatnya aku kembali ke Kediri.“
“Tetapi bagaimana sepeninggal paman?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Sepeninggalku-pun keyakinan itu harus aku dapatkan. Jika tidak, aku
masih akan tetap berada di istana ini, meski-pun jatuh perintah Sri Rajasa agar
aku kembali ke Kediri. Atau ...” Mahisa Agni tidak melanjutkan kata-katanya.
“Atau? Apakah maksud paman?“ bertanya
Anusapati.
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Tetapi
didalami hati ia berkata, “Atau perang ini sudah berakhir, siapa-pun yang akan
menjadi korban.”
Demikianlah, maka Anusapati yang muda itu
masih harus menahan diri. Kadang-kadang terasa dadanya menjadi pepat dan
kehilangan pengendalian diri. Tetapi setiap kali ia menyadari pesan pamannya,
maka ia-pun segera mengurungkan niatnya untuk berbuat sesuatu.
Bahkan ia selalu berusaha untuk berbuat
seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Ia berkeliaran dihalaman istana tanpa
pengawalan. Bahkan ia berkunjung dari satu gardu yang lain seperti yang sering
dilakukannya. Namun demikian ia tidak berpisah dengan trisula kecilnya, yang
dapat memberikan perlindungan kepadanya, apabila pada suatu saat Sri Rajasa
telah sampai pada titik akhir dari kesabarannya.
Dalam pada itu, Witantra benar-benar telah
menepati janjinya. Dalam pakaian seorang pedagang ia berjalan hilir mudik
didalam kota Singasari yang menjadi semakin besar. Dan ternyata seperti
dugaannya, tidak ada orang lagi yang dapat mengenalnya. Selain wajahnya yang
bertambah tua, Witantra sebagai Panglima tidak pernah berpakaian seperti yang
dipakainya itu.
Tetapi Witantra masih dapat mengenali
beberapa orang prajurit yang tidak sedang bertugas. Namun demikian Witantra
tidak menemui setiap orang yang dijumpainya. Ia masih juga memilih orang-orang
yang menurut dugaannya dapal dipercayainya.
Witantra tertarik kepada seorang prajurit
dan Pasukan Pengawal yang sedang berdiri dimuka regol rumahnya, Rumah yang
agaknya
belum terlalu lama dibangun. Rumah yang
dibangun sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang perwira.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Rumah
itu jauh lebih baik dari rumah orang itu selagi ia masih menjadi seorang perwira
di Tumapel.
“Apa salahnya,“ berkata Witantra, “itu
adalah haknya. Mudah-mudahan ia masih mengenal aku dan mudah-mudahan ia dapat
diajak berbicara serba sedikit seperti dahulu. Jika ia berubah, maka
persoalannya akan menjadi lain.”
Meski-pun dengan agak berdebar-debar juga
Witantra mendekati regol itu. Tetapi dalam ujud seorang pedagang yang
berkecukupan, maka perwira yang berdiri diregol itu-pun menaruh perhatian
kepadanya.
Karena ternyata Witantra mendekatinya, maka
perwira itu-pun kemudian menganggukkan kepalanya sambil menyapanya, “Apakah Ki
Sanak mempunyai keperluan?”
Witantra-pun mengangguk hormat. Jawabnya,
“Ya, ki Sanak. Aku ingin bertemu sejenak.”
Perwira itu mengerutkan keningnya. Dan
Witantra bertanya pula, “Apakah aku boleh minta sekedar keterangan?”
“Tentu,“ jawab perwira itu.
“Aku ingin bertemu dengan seseorang yang
bernama Kebo Pamungkas.”
“Kebo Pamungkas?“ orang itu mengulangi.
Witantra menganggukkan kepalanya. Tetapi ia
melihat sesuatu yang menyentuh perasaannya.
“Kenapa Ki Sanak mencari Kebo Pamungkas?“
bertanya orang itu.
Witantra mulai curiga. Ia sadar, bahwa
orang itu tidak akan segera mengaku tentang dirinya. Apalagi agaknya orang itu
sama sekali sudah tidak mengenalinya.
“Aku adalah seorang utusan dari kawan Kebo
Pamungkas,“ jawab Witantra.
“Siapakah yang mengutusmu?”
“Seorang pertapa dipuncak gunung.”
“Aneh,“ jawab orang itu, “menilik bentuk
lahiriah, saudara adalah seorang pedagang, atau seorang pemilik tanah yang kaya.
Bukan seorang cantrik, atau putut yang tinggal dipuncak gunung pada seorang
pertapa.”
“Sebenarnya aku seorang Putut.”
Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian ia bertanya, “Siapakah pertapa dipuncak gunung yang mengutusmu menemui
Kebo Pamungkas.”
Witantra menjadi ragu-ragu. Namun katanya
kemudian. “Ia adalah seorang bekas prajurit, yang tersisih. Tetapi sampai saat
ini ia masih yakin akan kebenaran pendiriannya itu.”
Perwira itu mengerutkan keningnya.
“Kenapa kau sama sekali tidak mengesankan
bahwa kau seorang Putut dari padepokan dipuncak gunung? Apatah perjalananmu
mengandung suatu maksud sandi?”
“Tidak,“ berkata Witantra, “tidak ada
maksud sandi.”
“Sebut namanya,“ perwira itu tidak sabar.
“Witantra, Witantra,“ orang itu merenungi
nama itu sejenak. Lalu, “dimana padepokan itu?“
“Jauh, dipuncak gunung.”
“Witantra,” sekali lagi orang itu menyebut
namanya, lalu katanya, “apakah sekarang Witantra menjadi seorang bertapa
dipuncak gunung yang jauh?”
“Ya.”
Perwira itu memandang Witantra itu sejenak.
Lalu, “Silahkan. Silahkan masuk.”
Witantra menjadi semakin berdebar-debar. Ia
tidak tahu tanggapan yang sebenarnya dari perwira itu. Namun ia-pun tidak
menolak dan mengikuti perwira itu masuk kedalam rumahnya.
Witantra-pun kemudian duduk dipendapa.
Sejenak ia mengamati perabot rumah itu. Dilihatnya lewat pintu pringgitan yang
terbuka, beberapa jenis senjata tergantung pada dinding rumah itu.
“Aku tertarik sekali jika Ki Sanak dapat
berceritera tentang Witantra,“ berkata perwira itu kemudian, “sudah lama sekali
aku tidak melihatnya sejak ia meninggalkan Tumapel.“
“Ya. Sejak itu,“ sahut Witantra. Lalu, “ia
merasa bahwa ia sudah tidak terpakai lagi.”
“Sejak ia dikalahkan oleh Mahisa Agni di
arena karena ingin membela nama baik Kebo Ijo.”
“Ya. Dan sekarang Mahisa Agni menjadi wakil
Mahkota di Kediri.”
“Tetapi hubungan antara keduanya tidak
seperti yang kita harapkan. Apakah banyak yang kau ketahui tentang isi istana?
Tentang Sri Rajasa, puteranda Pangeran Pati dan putera-putera Ken Umang?”
Witantra menggelengkan kepalanya. “Apakah
ada sesuatu yang menarik?”
“Tidak. Tidak ada apa-apa,“ jawab perwira
itu.
Witantra memandanginya sejenak. Lalu,
“Bagaimana jika para perwira, terutama yang telah bertugas didalam pasukan
pengawal sejak Tumapel, bertemu kembali dengan Witantra.”
“Kami tidak mempunyai persoalan apa-apa
dengan Witantra. Witantra adalah seorang pemimpin yang baik bagi kami.“ Perwira
itu berhenti sejenak. Lalu, “tetapi kami yang sudah ada didalam pasukan Pengawal
sejak Tumapel, jumlahnya tidak lebih dari jari tangan.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tentu diantara mereka ada yang sudah terlalu tua. Tetapi tentu ada yang dengan
sengaja disisihkan karena tidak disukai.
“Ki Sanak,“ berkata Witantra kemudian,
“bagaimanakah jika Witantra itu pada suatu saat mengunjungi sahabat-sahabatnya
di Singasari?”
“Tentu tidak apa-apa,“ jawab perwira itu,
namun kemudian, “Tetapi saat ini Mahisa Agni berada di Singasari. Jika hubungan
diantara mereka dapat pulih kembali, maka tidak akan ada persoalan yang lain.
Aku kira Sri Rajasa-pun tidak akan menaruh banyak perhatian.”
“Benar begitu?”
Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak. Sambil
menarik nafas dalam-dalam ia berdesis, “Entahlah bagi Sri Rajasa itu.”
Witantra mengerutkan keningnya. Namun ia
tidak segera mengatakan sesuatu tentang dirinya. Agaknya ia masih ingin
meyakinkan tanggapan perwira itu sendiri.
“Bagiku,“ berkata perwira itu, “perhatian
Sri Rajasa kini tertumpah pada persoalan putera-puteranya itu. Agaknya Putera
Mahkota dan putera tertua dari isteri Sri Rajasa yang muda, tidak dapat
dirukunkan.”
“Apakah Sri Rajasa tidak berpihak?”
Perwira itu menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Aku tidak dapat mengatakannya.“
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sejenak ia masih dicengkam oleh keragu-raguan. Dan ia-pun bertanya, “Apakah itu
berarti bahwa kedatangan Witantra di Singasari tidak menambah persoalan bagi Sri
Rajasa?”
“Memang mungkin sekali. Karena menurut
pendapat kami, kepergian Witantra adalah karena adik seperguruannya yang
terbunuh oleh Ken Arok, langsung atau tidak langsung sebelum Ken Arok bergelar
Sri Rajasa.”
“Maksudmu?“ bertanya Witantra, “apakah
sebenarnya Kebo Ijo tidak bersalah?“
“Tentu Kebo Ijo bersalah. Tetapi ia belum
sampai di arena hukuman yang sebenarnya. Bukankah Witantra mengetahui bahwa
kematian Kebo Ijo justru sebelum jatuh keputusan tentang dirinya, sedang saat
itu tujuh pimpiaan di Tumapel masih meragukan kesalahannya?”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dan ia-pun bertanya, “jadi bagaimana menurut pendapatmu? Jika seandainya
sekarang Witantra itu hadir di Singasari?”
“Tidak apa-apa bagiku,“ berkata perwira
itu. “tetapi, aku kira pengaruhnya masih juga menggelisahkan Sri Rajasa dan
barangkali juga Mahisa Agni. Kita tidak tahu, jika Witantra ada di Singasari,
bagaimanakah tanggapannya atas peristiwa yang kini terjadi di istana ini.
Mungkin ia tidak sependapat dengan Sri Rajasa dan tidak pula berpihak kepada
Mahisa Agnj sekaligus. Mungkin ia ingin menanamkan pengaruhnya sendiri sehingga
pada suatu saat akan ada tiga kekuatan yang terpisah di Singasari.”
“Tentu tidak,“ berkata Witantra, “Witantra
tidak akan mempunyai keinginan untuk berbuat apa-apa lagi. Jika ia hadir di
Singasari hanyalah sekedar melepaskan kerinduannya kepada beberapa orang
sahabatnya termasuk Mahisi Agni.”
Witantra menggelengkan kepalanya. Katanya,
“Ia tidak mendendam kepada siapa pun. Tidak kepada Mahisa Agni dan tidak kepada
Sri Rajasa.”
Perwira itu mengangguk-anggukkkan
kepalanya. Katanya, “Mungkin Witantra yang sudah menjadi seorang pertapa itu
tidak mendendam dan bahkan tidak lagi menganggap ada persoalan apa-pun di
Singasari ini. Tetapi aku tidak tahu apakah tanggapan Sri Rajasa atas
kehadirannya.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dan
ia-pun kemudian bertanya, “Ki Sanak, apakah Ki Sanak tidak dapat menunjukkan
seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas?”
“Jika Witantra sendiri datang, aku akan
mengatakan kepadanya, tentang seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas.”
Witantra merenung sejenak, lalu gumamnya.
“Jika demikian tempat yang ditunjukkan kepadaku itu ternyata keliru. Aku
mendapat keterangan, bahwa dirumah ini aku akan dapat dapat menjumpai seorang
perwira yang bernama Kebo Pamungkas.”
“Kebo Pamungkas adalah seorang perwira
prajurit Tumapel, bukan seorang prajurit Singasari.“
“O.” Witantra mengangguk-anggukkan
kepalanya. Lalu, “jadi, jika demikian aku telah salah. Atau barangkali
Witantralah yang salah.“
“Aku akan menunjukkan kepada Witantra jika
ia datang sendiri kepadaku,“ berkata perwira itu.
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu katanya, “Ki Sanak sudah mengenal Witantra?“
“Tentu sudah. Aku mengenalnya dengan baik
sejak kami bersama-sama menjadi prajurit di Tumapel.”
“O, jadi Ki Sanak juga seorang prajurit
Tumapel?“
Perwira itu termangu-mangu sejenak. Dan
Witantra mendesaknya, “Jika demikian Ki Sanak sebenarnya juga mengenal
orang yang bernama Kebo Pamungkas yang Ki
Sanak sebut sebagai seorang prajurit Tumapel itu.”
Sejenak perwira itu terdiam. Namun kemudian
ia berkata, “Sudah aku katakan, jika Witantra itu datang, aku akan
menjelaskannya.”
“Baiklah Ki Sanak,“ berkata Witantra, “aku
akan mengatakan agar Witantra datang sendiri kepada Ki Sanak. Tetapi Ki Sanak
tentu sudah tidak mengenalnya, karena ia menjadi semakin tua, tidak lagi
berpakaian seperti seorang Panglima dan tidak lagi mempunyai pengaruh apa-pun
pada lingkungannya.”
“Dan Kebo Pamungkas?”
“jangan bertanya lagi sebelum Witantra
datang.“
Witantra menarik nafas dalam-dalam.
Dipandanginya perwira itu sejenak. Namun benar tidak ada kesan bahwa perwira itu
masih mengenalnya.
Sejenak Witantra termangu-mangu. Apakah ia
akan menunjukkan dirinya sendiri, atau ia akan mengambil keputusan lain sebelum
terlanjur, karena akibatnya masih sangat diragukannya. Apalagi orang itu yang
menurut pengenalannya bernama Kebo Pamungkas, selalu mencoba mengingkar; nama
itu karena ia kini seorang perwira prajurit Singasari.
“Apakah ada keberatannya ia menyebut nama
itu?“ bertanya Witantra kepada diri sendiri.
Sejenak kedua orang itu dicengkam oleh
keragu-raguan. Namun karena kehadiran Witantra itu memang dengan sengaja untuk
membangunkan nama Witantra kembali, maka ia-pun kemudian menetapkan bahwa ia
akan menyatakan dirinya sendiri dihadapan perwira itu.
Maka dengan hati-hati Witantra-pun kemudian
bertanya, “Ki Sanak. Jika Witantra itu datang, apakah Ki Sanak tidak akan
melupakannya?”
“Pertanyaanmu sudah beberapa kali aku
jawab, aku tidak akan dapat melupakan Witantra.”
Witantra itu tertawa. Katanya, “Ternyata
kau keliru Ki Sanak. Kau ternyata sudah tidak akan dapat mengenal Witantra
lagi.”
“Akh. Kenapa kau mendahului menebak? Kau
belum mengetahui bagaimana aku mengenalnya dahulu dan bagaimana ia mengenal
aku.”
“Bagaimana jika aku membawa dua atau tiga
orang sekaligus datang kemari? Apakah kau dapat memilih, yang mana diantara
mereka yang bernama Witantra?”
“Tentu, bawalah mereka kemari. Tiga, empat
atau sepuluh orang sekaligus.“
Witantra justru tertawa karenanya. Katanya,
“Tidak lebih dari seorang, dan Ki Sanak sudah tidak mengenalnya.”
“He,“ orang itu mengerutkan keningnya.
“Tidak lebih dari satu orang,“ ulang
Witantra, “apakah Ki Sanak benar-benar masih mengenal Witantra he?”
Orang itu termangu-mangu sejenak.
Dan Witantrapnn tertawa semakin lebar, “Kau
kenal aku?”
“Witantra, Witantra,“ orang itu menyebut
namanya. Diamat-amatinya Witantra yang masih saja tertawa itu.
“Apakah maksudmu?“ perwira itu bertanya.
“Akulah Witantra,“ jawab Witantra itu.
Kerut merut dikening perwira itu menjadi
semakin dalam. Namun dengan ragu-ragu ia berkata, “Mustahil aku tidak
mengenalnya lagi. Mustahil.”
“Apakah yang aneh menurut pendapatmu?
Pakaian saudagar kaya ini?”
Orang itu tidak menjawab.
“Maaf,“ berkata Witantra, “sebenarnya
akulah Witantra itu. Itulah sebabnya aku mengetahui namamu. Dan itulah sebabnya
aku menjadi agak bimbang ketika kau agaknya mengingkari nama itu.“
Orang itu masih memandang Witantra dengan
tajamnya. Keragu-raguan yang dalam tampak pada sorot matanya. Namun sejenak
kemudian ia berdesis, “Witantra, Witantra.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Rambutku sudah berubah warnanya. Keningku sudah menjadi berkerut
merut, dan barangkali pipiku sudah mulai melipat.”
“Ah,“ orang itu berdesah. Namun
perlahan-lahan ia mulai dapat mengingat kembali wajah Witantra. Wajah Panglima
pasukan Pengawal istana pada masa kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung. Wajah yang
tenang, dan seakan-akan permukaan air yang dalam. Diam, namun mengandung perbawa
yang mencengkam.
Sejenak perwira itu memandang wajah
Witantra. Dan dengan suara yang ragu ia bertanya, “Apakah benar aku berhadapan
dengan Witantra.”
“Ya Ki Sanak. Aku berkata sebenarnya bahwa
kau memang sedang berhadapan dengan Witantra. Karena itu jangan ingkar lagi
bahwa kau adalah Kebo Pamungkas.”
Perlahan-lahan perwira itu menganggukskan
kepalanya. Dan perlahan-lahan pula ia berkata, “Ya. aku semakin mempercayaimu,
bahwa aku memang berhadapan dengan Witantra. Dan karena itu aku tidak akan dapat
mengingkari nama itu lagi, meski-pun sejak aku menjadi perwira dari pasukan
Pengawal di Singasari, namaku sudah berubah.
“O,“ Witantra menganggukkan kepalanya,
“tetapi aku sadar bahwa kau ingin meyakinkan, apakah aku benar-benar Witantra.
Nah, sekarang kau masih mendapat kesempatan. Apakah yang ingin kau ketahui, dan
apakah yang dapat aku katakan, agar kau benar-benar percaya bahwa aku adalah
Witantra.”
Perwira itu memandang Witantra sejenak.
Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Apakah yang kau ketahui tentang Putera
Mahkota?”
Witantra tersenyum. Katanya, “Kau tidak mau
mengatakannya. Tetapi baiklah, akulah yang akan mengatakannya bahwa Putera
Mahkota itu bukan putera Sri Rajasa. Sebagai seorang Panglima Pasukan Pengawal
aku tahu pasti, bahwa pada saat Akuwu Tunggul Ametung terbunuh, Ken Dedes sedang
mengandung muda. Aku tahu pasti, bagaimana tuan puteri itu selalu diganggu oleh
pening dikepala dan kadang-kadang muntah-muntah. Bagaimana tuan puteri selalu
ingin makan mentah-mentahan yang asam. Dalam keadaan itulah tuan puteri kemudian
kawin dengan Ken Arok yang dengan sendirinya melaksanakan tugas pemegang
kekuasaan atas Tumapel. Dan ternyata ia adalah seorang yang memiliki kelebihan
dari sesamanya. Itulah sebabnya, dengan bekal yang ada ia akhirnya dapat
mempersatukan seluruh Singasari. Sehingga ia akhirnya bergelar Sri Rajasa Batara
Sang Amurwabumi. Nah, apakah kau percaya bahwa aku Witantra. Tentu bukan sekedar
keteranganku itulah yang memastikan jika aku Witantra, tetapi terlebih-lebih
adalah ingatanmu tentang aku.”
Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Aku yakin sekarang, bahwa kau memang Witantra. Tetapi Witantra
memiliki kekuatan yang luar biasa. Kemampuannya hampir tidak ada duanya di
Tumapel waktu itu, kecuali Mahisa Agni dan barangkali Sri Rajasa sendiri.”
Witantra tersenyum. Katanya, “Itu adalah
pada masa mudaku, selagi olah kanuragan seakan-akan merupakan keputusan terakhir
bagi setiap persoalan.”
Perwira itu memandang Witantra sejenak.
Meski-pun ia menjadi semakin yakin bahwa yang dihadapinya memang Witantra,
sebenarnyalah ia mengharapkan agar Witantra dapat membuktikan dirinya dengan
kemampuannya yang luar biasa.
Tetapi tidak ada tanda-tandanya bahwa
Witantra akan berbuat sesuatu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia masih
saja
duduk ditempatnya sehingga perwira
Singasari itu tidak lagi mengharap bahwa ia dapat melihat Witantra menunjukkan
sesuatu kepadanya.
Sejenak keduanya berdiam diri. Sejenak
perwira itu masih mengharap. Namun kemudian ia mengerutkan keningnya dan berkata
seakan-akan diluar kehendaknya, “Aku sekarang yakin, bahwa kau memang Witantra.
Justeru bahwa kau tidak berbuat apa-apa itulah, yang menunjukkan kepadaku,
sebenarnyalah kau seorang yang matang dan memiliki ilmu tinggi. Kau tidak dengan
tergesa-gesa turun kehalaman dan meremas sebongkah batu menjadi debu. Itulah
yang mengagumkan. Aku jadi yakin sekarang.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Sukurlah, jika kau mempercayaiku. Justru aku tidak berbuat apa-apa.”
“Karena kau tidak berbuat apa-apa itulah
aku jadi yakin.“ sahut perwira itu, “jika kau dengan bangga menunjukkan
kemampuanmu dan membuat pengeram-eram, maka kau tentu bukan Witantra yang aku
kenal dahulu. “
Witantra tertawa. Katanya, “Tanggapanmu-pun
adalah tanggapan seorang perwira yang matang. Jarang sekali seseorang memiliki
tanggapan serupa itu. Jika bukan Ki Kebo Pamungkas, ia tentu ingin melihat aku
meremas batu menjadi debu.”
Keduanya tertawa. Dan perwira itu berkata,
“Ternyata kita masih sempat bertemu lagi. Aku senang sekali dapat bertemu dengan
Kau Witantra. Selama aku menjadi prajurit sejak di Tumapel, aku belum pernah
mempunyai Panglima seperti kau. Bukan saja Panglima Pasukan Pengawal, tetapi
Panglima pasukan yang manapun.”
“Kau memuji. Tentu aku jauh ketinggalan
dari Panglima yang ada sekarang. Mereka tentu memiliki kecakapan dan kemampuan
melampaui setiap Panglima yang pernah ada.”
Perwira itu mengangkat bahunya. Tetapi
rasa-rasanya ia tidak ingin mengatakan sesuatu tentang para Panglima yang ada
sekarang.
“Baiklah,“ berkata Witantra, “kita tidak
berbicara terlalu banyak tentang diri kita sendiri. Aku ingin bertanya secara
keseluruhan, apakah terdapat banyak kemajuan sejak Singasari berdiri sampai
sekarang?”
Kebo Pamungkas mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya, “Secara keseluruhan kita memang banyak mengalami kemajuan.
Tumapel memang terlampau kecil dibanding dengan Singasari sekarang.“ ia berhenti
sejenak. Lalu, “aku berkata sebenarnya Witantra.”
“Ya, aku mengerti. Demikian juga menurut
pengamatanku dari luar dinding istana Singasari. Bahkan sampai ke puncak bukit
yang jauh masih terasa kekuasaan tetapi juga perlindungan dari Singasari. Memang
agak berbeda dengan Tumapel yang seakan-akan hanya berkuasa di kota-kota besar
saja sekitar Tumapel. Meski-pun pada saat itu masih ada kekuasaan yang lebih
tinggi. Kediri.”
“Tetapi,“ tiba-tiba suara perwira itu
merendah, “ternyata kemudian telah timbul persoalan didalam istana Singasari
sendiri. Didalam keluarga Ken A rok yang bergelar Sri Rajasa. Sebagai seorang
Maharaja ia berhasil membina Singasari menjadi suatu negara besar. Tetapi
sebagai seorang ayah ia benar-benar gagal.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apalagi lahir Anusapati yang bukan anaknya
yang sebenarnya. Ternyata Sri Rajasa yang berjiwa besar menghadapi persoalan
Kediri, bukan Ken Arok yang berjiwa besar menghadapi kelahiran anak tiri yang
sudah diketahui sejak Ia kawin, bahwa pada saatnya anak itu tentu akan lahir.”
Witantra masih mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“Dan ternyata anak itu sampai saat ini
masih juga membawa persoalan. Ternyata kematian Tunggul Ametung bukan suatu
penyelesaian yang tuntas bagi Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa.”
Witantra memandang wajah Perwira itu
sejenak. Ia melihat sesuatu melintas diwajah itu, dan dengan serta-merta ia
bertanya, “Bagaimanakah tanggapan para prajurit, terutama para Pelayan Dalam,
Pasukan Pengawal dan pemimpin pemerintahan?”
“Maksudmu?”
“Tentang hubungan Sri Rajasa dengan putera
Tunggul Ametung yang sekarang justru menjadi Putera Mahkota.”
“Kurang baik. Tidak ada yang dapat
disalahkan pada keduanya. Keadaanlah yang memang menghadapkan mereka pada suatu
sikap yang hampir dapat dikatakan bertentangan. Alangkah mudahnya melenyapkan
Putera Mahkota itu sebenarnya seandainya tidak ada Mahisa Agni yang kebetulan
adalah kakak tuan Puteri Ken Dedes yang pengaruhnya ternyata cukup besar di
Singasari dan Kediri.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya
pula. Seakan-akan ia baru mendengar semuanya itu untuk pertama kalinya.
“Persoalan ini sebenarnya tumbuh sejak Ken
Arok mengambil keputusan untuk kawin dengan Ken Dedes yang sedang mengandung.
Itulah soalnya.”
“Dan siapakah yang paling baik bagi
Singasari? Seharusnya kita tidak berbicara tentang siapakah orangnya. Tetapi
apakah yang dilakukannya bagi Singasari yang sudah memiliki bentuknya ini.”
Perwira Singasari yang semula bernama Kebo
Pamungkas itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Witantra sejenak, lalu
dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Bagiku Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
adalah orang yang paling baik bagi Singasari. Baru kemudian Anusapati yang
memang sudah menunjukkan darmanya bagi rakyat. Ia adalah orang yang terkenal
dengan sebutan Kesatria Putih. Tetapi justru ketika rakyat Singasari dan juga
kalangan istana mengetahui bahwa Kesatria Putih adalah Putera Mahkota, maka
geraknya menjadi terbatas sekali.”
Witantra mengerutkan keningnya. Bahkan
hampir di luar sadarnya ia berkata. “Jika demikian, maka yang terbaik sekarang
adalah mempertahankan kekuasaan Sri Rajasa
seandainya timbul persoalan, karena seperti yang kau katakan hubungan antara Sri
Rajasa dan Anusapati agak kurang baik.”
“Jika persoalannya terbatas sampai disitu,
maka kau benar. Tetapi persoalannya tidak berhenti sampai disitu.“
“Masih, akan timbul persoalan apa lagi?”
“Tentu umur Sri Rajasa betapa-pun ia
manusia yang ajaib, tidak akan abadi. Pada suatu saat ia akan mati apa-pun
sebabnya. Nah, jika ia meninggal, timbullah persoalan yang berat bagi
Singasari.“
“Persoalan yang mana yang masih harus
dinilai lagi?”
“Tentu Sri Rajasa ingin tahta Singasari
jatuh pada keturunannya. Bukan kepada anak Tunggul Ametung. Karena ia tidak
dapat ingkar bahwa anak Tunggul Ametung itu yang dianggap oleh rakyat Singasari
sebagai puteranya yang sulung, maka ia adalah Putera Mahkota. Namun Sri Rajasa
tidak ingin Putera Mahkota itu akan menggantikannya sebagai Maharaja, karena ia
agaknya memilih tuanku Tohjaya.”
Witantra mengerutkan keningnya. Ia kagum
atas penilaian Kebo Pamungkas. Agaknya Kebo Pamungkas tidak dipengaruhi oleh
kepentingan pribadinya, sehingga ia dapat melibat setiap orang di dalam istana
Singasari dengan tepat.
“Jadi apakah yang kira-kira akan dilakukan
oleh Sri Rajasa?” bertanya Witantra.
“Tidak seorang-pun yang mengetahuinya,“
jawab Kebo Pamungkas, “mungkin ia berusaha menyingkirkan Anusapati. Mungkin pula
ia berusaha agar Anusapati menarik diri atas kehendaknya sendiri.“
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu. “Tetapi yang manakah tanda-tanda yang dapat kau lihat akan terjadi?“
Perwira itu menggelengkan kepalanya, “Tidak
seorang-pun yang tahu. Semuanya dapat terjadi. Tetapi mungkin juga tidak terjadi
sesuatu.“
Witantra mengangguk-angguk sambil
tersenyum. Memang sulit untuk mengatakannya. Hanya orang-orang yang terlibat
langsung sajalah yang dapat melihat kemungkinan yang lebih jelas akan terjadi di
Singasari. Bahkan Mahisa Agni yang terlibat-pun masih juga mengharap bahwa yang
mungkin terjadi itu tidak terjadi.
Demikianlah Witantra berada dirumah perwira
itu untuk beberapa saat, sehingga akhirnya ia-pun minta diri. Tetapi ia masih
bertanya, siapa sajakah kawan-kawan lamanya yang dapat dikunjunginya, sekedar
untuk melepaskan perasaan sepi karena, untuk beberapa tahun lamanya ia tinggal
dipadepokan yang terpencil.
“Kau benar-benar tinggal dipadepokan
terpencil?”
“Benar. Untuk itu aku berkata sebenarnya.”
“Atau barangkali kau justru menjadi seorang
pedagang yang kaya raya, tetapi tidak bernama Witantra?“
“Tidak. Aku tidak melakukannya. Aku hanya
meminjam perlengkapan adikku yang memang menjadi seorang pedagang, agar
kehadiranku dikota yang besar ini agak pantas dipandang orang.“
“Terutama kau yang dengan sengaja
melepaskan semua bekas yang masih tertinggal pada seorang Panglima Pasukan
Pengawal.”
“Bekas saja,“ sahut Witantra.
Kebo Pamungkas tertawa. Katanya, “Baiklah
Witantra jika kau mempunyai kesempatan, maka kawan-kawan lama yang kau kunjungi
pasti akan menerimamu dengan senang hati. Tetapi jangan terkejut jika orang
Singasari akan menyebut namamu lagi, karena masih banyak orang-orang tua yang
ingat akan namamu.”
“Tentu tidak. Meski-pun masih ada juga
orang yang ingat akan namaku, tetapi mereka tidak akan menyebutnya lagi. Karena
namaku sekarang tidak mempunyai arti apa-apa lagi.”
“Apa salahnya. Kadang-kadang sebuah
kenangan mempunyai arti tersendiri didalam hidup ini. Juga kenangan atas seorang
prajurit yang bernama Witantra, yang pada waktu itu menjabat sebagai seorang
Panglima Pasukan Pengawal.”
Witantra tertawa. Katanya, “Terima kasih.
Mudah-mudahan kawan-kawan lama mempunyai tanggapan seperti kau.“
Demikianlah maka Witantra-pun kemudian
minta diri kepada perwira yang pernah mempergunakan nama Kebo Pamungkas itu.
Seperti yang ditunjukkan kepadanya, maka ia-pun berjalan menuju kerumah seorang
perwira yang lain, yang seperti juga Kebo Pamungkas, kini menjabat didalam
keprajuritan Singasari, juga dalam Pasukan Pengawal, Tanggapan beberapa orang
kawan yang dikunjunginya hampir tidak ada bedanya. Juga tanggapan mereka atas
keadaan Singasari seutuhnya. Namun dari pembicaraan yang dilakukan, meski-pun
seakan-akan hanya sepintas lalu, ternyata bahwa para perwira menilai Anusapati
lebih baik dari Tohjaya.
Namun seorang perwira berkata kepadanya.
“Tetapi hati-hati kakang Witantra. Diantara para prajurit, bahkan para Panglima
yang sekarang, ada yang dengan membabi buta berpihak kepada Tohjaya, meski-pun
hal itu telah dipengaruhi oleh pamrih pribadi.“
Pembicaraan-pembicaraan itu ternyata
memberikan gambaran yang hampir lengkap bagi Witantra atas keadaan Singasari.
Bagaimana-pun juga Sri Rajasa dan Mahisa Agni menyimpan perasaan masing-masing
dan sejauh-jauhnya menimbulkan kesan pertentangan yang ada didalam dada mereka,
namun ternyata bahwa hal itu terasa pula bagi para perwira di Singasari.
Perang yang berlangsung dengan diam-diam
itu tidak dapat disembunyikan seutuhnya, sehingga dengan diam-diam pula hampir
setiap perwira telah mencoba menilai keduanya, dan bahkan telah berusaha untuk
menempatkan dirinya.
Namun lebih daripada itu, seperti yang
memang dimaksudkan oleh Mahisa Agni, maka nama Witantra-pun mulai disebut-sebut
lagi. Dari bibir kebibir, beberapa orang dari lingkungan Pasukan Pengawal mulai
membicarakannya.
“Witantra, aku pernah mendengar nama itu,“
berkata seorang prajurit muda.
“Tentu,“ jawab yang lain, yang umurnya
sudah jauh lebih tua. “Witantra adalah Panglima Pasukan Pengawal pada jaman
Akuwu Tunggul Ametung bertahta di Tumapel.“
Prajurit yang masih muda itu mengerutkan
keningnya. Lalu, “Aku memang pernah mendengar. Ia terusir oleh Mahisa Agni dalam
perang tanding diarena, karena Witantra mencoba mempertahankan nama baik, kebo
Ijo, yang mati terbunuh, setelah ia membunuh Akuwu Tunggul Ametung.”
“Nah, kau banyak mengetahui tentang
Witantra,“ berkata yang sudah lebih tua, “begitulah ceriteranya.”
“Tetapi kenapa ia sekarang datang lagi ke
Singasari?”
Prajurit yang tua itu menggelengkan
kepalanya, “Aku tidak tahu. Mungkin ia sekedar ingin melihat Singasari sekarang.
Tetapi mungkin ia ingin menemui beberapa orang kawan-kawannya.”
Prajurit yang muda itu hanya sekedar
mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sedang prajurit yang tua itu berkata pula,
“Jika kehadirannya ini didengar oleh Mahisa Agni mau-pun oleh Sri Rajasa, pasti
akan menimbulkan persoalan baru, Mahisa Agni yang pernah bermusuhan diarena itu,
tentu tidak akan segera dapat melupakan. Bahkan mungkin Witantra sekarang ingin
melihat persoalan yang terjadi di Singasari dan siapa tahu, ia masih mampu
menentukan sikap dan berbuat sesuatu, karena bagaimana-pun juga ia adalah
seorang Panglima yang besar pada waktu itu. Agaknya tidak ada orang lain kecuali
Mahisa Agni sajalah yang dapat mengalahkannya, yang kebetulan karena kematian
mPu Gandring, maka Mahisa Agni merasa berkepentingan untuk
menghukum Kebo Ijo dan tetap menempatkannya
pada kedudukannya sebagai seorang pembunuh.”
Prajurit yang muda itu hanya dapat
mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ceritera semacam itu pernah didengarnya
meski-pun tidak lengkap. Namun bagaimana-pun juga kehadiran Witantra menjadi
bahan pembicaraan disetiap kalangan, terutama keprajuritan, bukan saja dari
lingkungan pasukan Pengawal.
Ternyata bahwa ceritera tentang Witantra
itu menjalar terus sehingga suatu ketika sampai juga ketelinga Tohjaya. Seperti
hampir setiap prajurit dan orang-orang didalam lingkungan istana pernah
mendengar nama itu, maka Tohjaya-pun pernah mendengarnya pula. Tohjaya
mengetahui bahwa Witantra pernah melakukuan perang tanding melawan Mahisa Agni,
sehingga Witantra dengan menderita malu meninggalkan Tumapel pada waktu itu.
“Tentu Witantra itu masih tetap mendendam
Mahisa Agni,” berkata Tohjaya didalam hatinya, “mudah-mudahan dendamnya itu kini
semakin menyala didalam hatinya.”
Dengan harapan yang melonjak didalam
hatinya, maka Tohjaya-pun kemudian menyampaikan ceritera yang didengarnya itu
kepada ayahanda Sri Rajasa.
“Siapakah yang mengatakan kepadamu?“
bertanya Sri Rajasa.
“Beberapa orang menceriterakan bahwa mereka
mendengar tentang kehadiran Witantra di Singasari.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun
ia-pun menggelengkan kepalanya, “Aku tidak memerlukannya lagi.“
“Ayahanda,“ berkata Tohjaya kemudian, “jika
Witantra itu dahulu pernah bermusuhan dengan pamanda Mahisa Agni, apakah
salahnya jika sekarang Witantra itu berada istana ini dan dihadapkan kepada
kemungkinan yang dapat ditimbulkan oleh pamanda Mahisa Agni? Atau barangkali
ayahanda dapat mengambil kebijaksanaan, agar Kediri tidak terpengaruh terlampau
dalam oleh
pamanda Mahisa Agni, ayahanda dapat
mengangkat Witantra itu menggantikannya.”
Sri Rajasa menggelengkan kepalanya.
Katanya. “Tentu tidak semudah itu Tohjaya. Inilah salah satu tugas yang harus
dilakukan oleh seorang raja. Tidak sekedar menuruti gejolak perasaannya saja.
Kita harus mempertimbangkan, akibat yang dapat ditimbulkan oleh
keputusan-keputusan yang kita ambil. Memang terlampau mudah untuk mengambil
keputusan itu. Tetapi akibat dari keputusan itulah nanti yang akan menimbulkan
persoalan-persoalan yang membuat kita bertambah pening.”
“Baiklah ayahanda. Tetapi apa-pun yang
dapat kita berikan kepadanya, sebaiknya Witantra itu kita undang untuk masuk
kembali kedalam istana.”
Sri Rajasa tidak segera menyahut. Kini
setiap kali ia selalu diganggu oleh kenangan masa lampaunya. Bagaimanakah
kiranya jika Witantra itu mengetahui, siapakah sebenarnya yang telah membunuh
Tunggul Ametung, mPu Gandring dan kemudian siapakah yang telah mendorong Kebo
Ijo dengan licik, sehingga ia terbunuh sebagai seorang pembunuh.
Bahkan tiba-tiba saja timbul pertanyaan
didalam hatinya, “Apakah Witantra sudah mengetahuinya dan kehadirannya itu
didorong oleh sakit hatinya? Jika demikian tentu bukan Mahisa Agni yang
dicarinya untuk melepaskan dendam dan sakit hatinya.”
Tetapi Sri Rajasa tidak dapat mengatakannya
kepada Tohjaya. Tohjaya masih belum tahu apakah yang dilakukan oleh ayahandanya
untuk mencapai kedudukannya yang sekarang. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan
membiarkan anaknya mengetahui bahwa ia adalah seorang pembunuh. Pembunuh yang
licik meski-pun kini setiap orang mengakuinya sebagai seorang Maharaja yang
berani dan bijaksana. Tetapi sekali ini ia dibelit oleh persoalan keluarga yang
kadang-kadang mengaburkan kebijaksanaannya.
Sri Rajasa terkejut ketika Tohjaya bertanya
kepadanya, “Apakah ayahanda sependapat?”
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian katanya, “Aku akan mempertimbangkannya Tohjaya. Tetapi tentu dengan
segala macam perhitungan. Sebagai seorang raja yang mengemudikan Singasari dalam
keseluruhan, bukan hanya sekedar didalam istana ini, atau lebih sempit lagi
hanya mengurusi kau dan Anusapati, mungkin juga Mahisa Agni. maka aku harus
membuat pertimbangan-angan yang masak.”
“Ayahanda,“ Tohjaya mencoba mendesak,
“apakah persoalan ini akan ada sangkut pautnya dengan kebijaksanaan ayahanda
bagi Singasari?”
“Tentu Tohjaya. Anusapati adalah seorang
Pangeran Pati. Semua persoalan yang menyangkut Anusapati, tentu akan menyangkut
Singasari.”
“Maksudku, jika kemudian pamanda Mahisa
Agni dan kakanda tersingkir dan ayahanda mengangkat penggantinya, maka
persoalannya tentu akan selesai. Agar mereka tidak akan dapat berbuat apa-pun
lagi untuk seterusnya, maka sebaiknya mereka itu harus disingkirkan untuk
selama-lamanya.”
“Aku mengerti maksudmu. Dan aku akan
memikirkannya.”
Tohjaya tidak berani mendesaknya lagi.
Sejenak ia masih duduk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian
ia-pun mohon diri meninggalkan bangsal ayahandanya Sri Rajasa.
Bersama dua orang pengawalnya ia berjalan
dihalaman istana Singasari. Dengan sengaja ia berjalan melalui lorong yang
menyilang halaman bangsal Anusapati.
Ternyata seperti yang diharapkannya
Anusapati berada didepan bangsalnya bersama anak laki-lakinya. Sejenak Tohjaya
berhenti. Kemudian perlahan-lahan ia mendekatinya.
“Putera kakanda sudah pandai berkelahi,“
berkata Tohjaya sambil tersenyum.
Anusapati-pun tersenyum pula. Sambil
mengusap kepala anaknya ia berkata, “Sebentar lagi ia sudah pandai memacu seekor
kuda.”
Tohjaya menganggukkan kepalanya. Katanya
kemudian, “Tentu seperti ayahandanya. Sebagai Kesatria Putih kakanda adalah
penunggang kuda yang baik.”
“Terima kasih,“ sahut Anusapati mendengar
pujian itu, lalu ia-pun mencoba mempersilahkan Tohjaya meski-pun ia tahu pasti
bahwa Tohjaya tidak akan bersedia melakukannya.
“Ah, aku hanya singgah sebentar kakanda
Anusapati, Aku baru saja menghadap ayahanda Sri Rajasa.”
“O,“ Anusapati mengangguk-angguk.
“Apakah kakanda Anusapati sudah mendengar
berita yang baru saja tersiar diseluruh kota Singasari ini?“
“Maksudmu?“ bertanya Anusapati.
“Kakanda, apakah kakanda pernah mendengar
nama Witantra?”
“Witantra,“ Anusapati mengulangi.
“Ya. Witantra.”
Anusapati menjadi berdebar-debar. Tentu ia
mengenal Witantra dengan baik. Tetapi kenapa Tohjaya bertanya kepadanya?
“Aku memang pernah mendengar,“ jawab
Anusapati ragu-ragu.
“Tentu sudah. Witantra pernah menjabat
sebagai seorang Panglima pada jaman pemerintahan Tumapel yang dipimpin hanya
oleh seorang Akuwu bernama Tunggul Ametung.”
Dengan kaku Anusapati menganggukkan
kepalanya. Tunggul Ametung adalah nama yang dikenalnya dengan baik sejak ia
mengetahui siapakah dirinya itu sebenarnya.
“Sudah lama Witantra menghilang. Kau tahu
sebabnya kakanda?“ bertanya Tohjaya pula.
Anusapati tidak menyahut.
“Tentu kau pernah mendengar. Witantra
ternyata dikalahkan oleh pamanda Mahisa Agni diarena, dalam usahanya
membersihkan
nama baik seorang prajurit bernama Kebo
Ijo. Kau tentu pernah mendengar.”
Anusapati menjadi semakin berdebar-debar.
Dan ia masih harus mendengarkan beberapa keterangan lagi mengenai Witantra itu,
yang semuanya telah diketahuinya dengan baik.
“Yang penting kakanda,“ berkata Tohjaya
kemudian, “bahwa Witantra dan pamanda Mahisa Agni adalah musuh bebuyutan,“ ia
berhenti sejenak. Lalu, “ternyata sekarang nama Witantra itu timbul kembali.
Dihari terakhir Witantra telah menampakkan dirinya diantara rakyat Singasari.
Kita tidak tahu maksudnya. Namun yang terdengar, setelah Witantra bertapa diatas
bukit yang sangat jauh, ia kini memiliki kemampuan jasmaniah yang tiada terkira.
Juga ilmu kejiwaan dan kekuatan rokhaniahnya. Pokoknya kini ia menjadi seorang
yang mumpuni.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun kini dadanya justru menjadi sedikit lapang. Ternyata tanggapan Tohjaya
tentang Witantra tidak tepat seperti yang sebenarnya.
“Karena itu kakanda,“ berkata Tohjaya
kemudian, “aku ingin berpesan. Bukan maksudku merendahkan pamanda Mahisa Agni,
tetapi jika masih ada kesempatan, sebaiknya pamanda Mahisa Agni segera
meninggalkan Singasari sebelum Witantra berbuat sesuatu untuk melepaskan
dendamnya terhadap paman Mahisa Agni. Kekalahannya diarena tidak akan pernah
dapat dilupakan seumur hidupnya justru karena ia seorang kesatria.”
Terasa dada Anusapati terguncang pula
mendengar kata-kata Tohjaya. Meski-pun Anusapati mengerti, bahwa yang dikatakan
oleh Tohjaya itu tidak akan terjadi, karena justru Witantra sudah terlampau
sering, bukan saja bertemu, tetapi sudah bekerja sama untuk waktu yang lama,
namun cara mengucapkan kata-katanya benar-benar menyakitkan hati.
“Jangan tersinggung kakanda,“ berkata
Tohjaya kemudian, “aku tahu bahwa pamanda Mahisa Agni adalah pamanmu karena ia
adalah kakak ibunda Permaisuri, namun
sebenarnyalah aku memang bermaksud baik.”
Sejenak Anusapati terdiam. Dengan susah
payah ia mencoba menahan perasaannya. Setelah gejolak dihatinya mereda, maka
ia-pun menjawab, “Terima kasih atas pesanmu adinda Tohjaya. Jika aku bertemu
dengan pamanda Mahisa Agni, biarlah aku memberitahukannya.”
“Bukan sekedar memberitahukan kakanda.
Tetapi kakanda harus mohon kepada pamanda Mahisa Agni, agar ia menyingkir.
Mungkin ia sekarang merasa dirinya tidak terkalahkan selain oleh ayahanda Sri
Rajasa. Ia merasa menang pula atas prajurit Singasari dan Kediri secara pribadi.
Namun mungkin ia harus berpikir lain terhadap orang yang bernama Witantra itu.
Setelah bertahun-tahun Witantra hilang dari Tumapel, maka ia tentu bukan
Witantra yang dahulu. Sedang apakah sebenarnya yang dimiliki oleh pamanda Mahisa
Agni?”
“Memang tidak ada,“ berkata Anusapati,
“karena itu aku memang akan menyampaikannya. Seperti katamu, aku akan minta
pamanda Mahisa Agni kembali saja ke Kediri.”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Ia mengharap
Anusapati menjadi sakit hati. Tetapi ternyata Anusapati kemudian sama sekali
tidak memberi kesan bahwa ia telah tersinggung karenanya.
“Kakanda Anusapati,“ berkata Tohjaya
kemudian, yang memang berusaha membuat Anusapati marah, “jika pamanda Mahisa
Agni tidak ingin segera kembali ke Kediri karena ibunda Permaisuri sedang sakit,
maka sebaiknya pamanda Mahisa Agni bersembunyi saja didalam istana. Di sini
pamanda Mahisa Agni akan mendapat perlindungan dari ayahanda Sri Rajasa, jika
Witantra mencarinya.“
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
Terlintas dikepalanya, pertengkaran yang hampir saja menyeretnya kedalam suatu
pertentangan yang terbuka. Karena itu, maka betapa-pun juga. Anusapati masih
mencoba menahan hatinya. Bahkan ia-pun mencoba untuk segera mengakhiri
pembicaraan yang membosankan
itu, katanya, “Adinda Tohjaya. Apakah
adinda sudah melihat kehadiran Witantra?”
Tohjaya termangu-mangu sejenak. Namun
katanya, “Apakah aku perlu melihat sendiri? Aku dan ayahanda mempunyai beberapa
orang petugas sandi. Mereka benar-benar sudah meyakini, bahwa Witantra kini ada
di Singasari.”
“Maksudku,“ berkata Anusapati. “adinda
Tohjaya sudah mendapat keterangan langsung dari mereka yang memang bertugas
mengawasinya, atau orang-orang yang secara kebetulan menjumpainya?”
Tohjaya tidak segera menjawab.
Dipandanginya wajah Anusapati sejenak, lalu katanya. “Aku sudah mendengarnya
langsung dari petugas sandi.”
“Jika demikian, alangkah akan berterima
kasihnya pamanda Mahisa Agni, tentu tidak akan melupakan budi baik adinda
Tohjaya, karena dengan demikian adinda Tohjaya sudah menyelamatkan nyawanya.“
Sepercik warna semburat merah membayang
diwajah Tohjaya. Meski-pun demikian ia masih juga menjawab, “Itu tidak perlu.
Bagiku, tidak banyak kepentingannya apakah pamanda Mahisa Agni terjebak oleh
Witantra atau tidak. Terserahlah kepada kakanda. Apakah kakanda menganggap perlu
menyampaikannya atau tidak.”
“O.“ Anusapati mengangguk-anggukkan
kepalanya, “baiklah, aku akan memberitahukan. Tetapi aku justru menjadi sangat
cemas.”
“Karena itu, kakanda harus segera
menemuinya.”
“Bukan karena pamanda Mahisa Agni akan
mengalami pembalasan dendam. Tetapi yang aku cemaskan, jika aku salah memberikan
keterangan, justru pamanda Mahisa Agnilah yang akan mencari Witantra itu.”
Dada Tohjaya berdesir. Cepat-cepat ia
berkata, “Apakah pamanda Mahisa Agni sudah jemu hidup? Witantra bukan lagi
Witantra yang dikalahkan.”
“Perkembangan waktu yang berjalan dalam
kehidupan Witantra akan dialami juga oleh pamanda Mahisa Agni. Ingat, bahwa
pamanda Mahisa Agni telah berhasil mengalahkan Senapati Agung Kediri pada waktu
itu. Bukan sekedar peorang Panglima Pasukan Pengawal istana Tumapel.“
Dada Tohjaya telah terguncang. Ia tidak
dapat membantah, bahwa sebenarnyalah Mahisa Agni pernah mengalahkan Senapati
Agung Kediri, pada saat Sri Rajasa berhasil memecah pertahanannya dan membunuh
Maharaja Kediri pula.
Meski-pun demikian Tohjaya masih berkata,
“Terserahlah kepadamu. Cobalah sekali-sekali melihat kenyataan. Jika pamanda
Mahisa Agni ingin mencari Witantra, sebaiknya di persilahkan saja.”
“Baiklah adinda Tohjaya,“ berkata Anusapati
kemudian, “aku akan menyampaikannya. Sikap yang akan diambil kemudian terserah
kepada pamanda Mahisa Agni. Apakah pamanda Mahisa Agni akan mengulangi perang
tanding diarena, atau pamanda ingin menemuinya dan langsung membunuhnya.”
“Pamanda Mahisa Agni yang akan dibunuhnya.”
“O begitu?“ Anusapati mengangguk-anggukkan
kepalanya.
Ternyata sikap Anusapati itu sama sekali
tidak menyenangkan hati Tohjaya. Bahkan hampir saja ia tidak dapat mengendalikan
dirinya lagi. Untunglah bahwa kedua prajurit pengawalnya itu kemudian
mendekatinya dan berkata, “Tuanku, marilah. Ibunda tentu menunggu.”
Tohjaya memandang kedua pengawalnya yang
juga menjadi penasehatnya sejenak. Tetapi ketika ia melihat prajurit yang ada
didepan regol halaman bangsal Anusapati timbul kecurigaannya, bahwa
pengawal-pengawalnya itu telah menjadi ketakutan.
Namun Tohjaya tidak berbuat apa-apa.
Dipandanginya sekali lagi Anusapati sambil berkata, “berhati-hatilah. Mungkin
Witantra tidak hanya sekedar menuntut balas kepada pamanda Mahisa Agni saja.”
“Terima kasih atas peringatan ini. Tetapi
kesatria Putih akan mencarinya sampai ketemu, apa-pun yang akan terjadi.”
Wajah Tohjaya menjadi merah padam. Ternyata
hati Anusapati sama sekali tidak menjadi kecut. Bahkan sebaliknya. Namun Tohjaya
masih juga berkata, “Jangan terlalu sombong. Kesatria Putih tidak ada harganya
dihadapan Witantra.”
“Tetapi Kesatria Putih pernah membinasakan
penjahat yang paling berbahaya di Singasari. Jika demikian, maka Kesatria Putih
akan mencobanya jika ia gagal, biarlah ia terkubur bersama kesombongannya.”
Kemarahan Tohjaya sudah sampai
diubun-ubunnya. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa, karena ia masih tetap sadar,
bahwa ia berada di halaman bangsal Anusapati.
“Baiklah kakanda,“ berkata Tohjaya, “aku
minta diri. Aku sudah mengatakannya. Terserahlah kepada kakanda. Jika terjadi
sesuatu dengan Mahisa Agni dan Kesatria Putih, sama sekali kakanda tidak dapat
menyalahkan aku lagi.”
“Terima kasih adinda.”
Tohjaya-pun kemudian dengan tergesa-gesa
melangkah meninggalkan bangsal Anusapati. Ia tidak berhasil menakut-nakuti
Pangeran Pati itu, tetapi justru sebaliknya. Hatinya sendiri serasa terbakar.
Namun untuk menyenangkan hatinya sendiri ia berkata kepada kedua pengawalnya,
“Kakanda Anusapati memang sombong sekali. Tetapi ia tentu menjadi ketakutan.
Mungkin ia akan berlari-lari kepada pamanda Mahisa Agni dan mengatakan bahwa
sebaiknya pamanda Mahisa Agni pergi saja dari Singasari dan bahkan mungkin
kakanda Anusapati ingin ikut serta bersamanya. Tentu ia tidak akan dapat berbuat
apa-apa dihadapan Witantra meski-pun ia menamakan dirinya Kesatria Putih atau
Kesatria hijau atau hitam sama sekali.”
Kedua pengawalnya sama sekali tidak
menyahut. Mereka sudah mengenal Tohjaya dengan baik. Jika mereka berani
membantahnya
barang satu patah kata, maka Tohjaya itu
tentu akan membentak-bentaknya.
Sebenarnyalah bahwa Anusapati-pun kemudian
memang pergi kepada Mahisa Agni. Diceriterakannya apa saja yang dikatakan oleh
Tohjaya kepadanya.
Mahisa Agni justru tersenyum mendengar
ceritera Anusapati tentang Tohjaya tersebut. Katanya, “Tentu ia tidak mengetahui
bagaimana perasaan ayahandanya. Jika ayahandanya menduga bahwa Witantra mengerti
apa yang sudah terjadi, maka Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tentu akan
berpikir lain dari Tohjaya. Tetapi tentu ia tidak akan mengatakannya kepada
puteranya itu.”
“Aku kira adinda Tohjaya akan menunggu,
apakah pamanda akan segera pergi ke Kediri atau tidak. Jika pamanda kemudian
ternyata pergi ke Kediri, maka adinda Tohjaya tentu menganggap bahwa pamanda
menjadi ketakutan dan dengan tergesa-gesa meninggalkan Singasari.”
“Kasihan anak itu,“ berkata Mahisa Agni
kemudian.
“Jadi, apakah yang akan paman lakukan
setelah paman Witantra sekarang mulai disebut-sebut orang lagi.”
“Aku menunggu perintah Sri Rajasa. Mungkin
Sri Rajasa akan memanggilku dan mempersoalkan Witantra itu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu, “Apakah pendapat adinda Tohjaya itu juga pendapat ayahanda Sri Rajasa?”
“Belum dapat ditentukan,“ jawab Mahisa
Agni.
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Ya, ayahanda tentu akan memanggil pamanda Mahisa Agni, karena menurut
ayahanda Sri Rajasa, pamanda berkepentingan karena pamanda pernah melakukan
perang tanding melawan Witantra. Dan agaknya hal itu semua orang mengetahuinya.”
“Terutama yang umurnya sudah cukup tua.
Mungkin banyak diantara prajurit Singasari sekarang yang menyaksikan perang
tanding pada waktu itu. Namun yang aku
tidak mengerti, dari mana Tohjaya dapat mengatakan bahwa Witantra sekarang bukan
Witantra yang dahulu.”
“Kesan setiap orang tentu demikian pamanda,
karena paman Witantra seakan-akan baru saja turun dari pertapaannya. Tentu ia
sudah membekali dirinya dengan ilmu yang paling sakti. Jika ia datang ke
Singasari, maka tentu orang akan menghubungkannya dengan pamanda Mahisa Agni.”
Makisa Agni tersenyum pula. Lalu katanya,
“Anusapati. Aku akan menunggu. Tentu tidak akan lama lagi Sri Rajasa memanggil
aku untuk membicarakan Witantra. Dan tentu tidak dalam sidang di paseban,
meski-pun aku telah dipanggil pula mengikuti sidang di paseban.”
“O, jadi paman akan mengikuti sidang di
paseban?”
“Ya.”
“Dan aku, seorang Pangeran Pati tidak
dipanggil untuk mengikuti sidang ini?”
“Bukan yang pertama kali terjadi
Anusapati.“
Anusapati menggeretakkan giginya. Tetapi
sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Silahkan paman.”
Mahisa Agni-pun kemudian minta diri untuk
pergi ke paseban, sedang Anusapati-pun meninggalkan bangsal pamannya itu dan
berjalan tanpa tujuan dihalaman. Rasa-rasanya ia sudah jemu untuk bermain-main
dengan diam-diam seperti itu. Tetapi apa boleh buat. Seperti kata pamannya,
bahwa apabila mungkin biarlah persoalannya selesai dengan baik.
“Paman terlampau dipengaruhi oleh
kelembutan hatinya. Sebagai seorang prajurit, paman pasti bersikap lain. Sebab
dengan demikian, ia akan mengalami kesulitan,“ berkata Anusapati didalam
hatinya.
Namun tiba-tiba saja ia tidak dapat ingkar
mengingat kemenangan pamandanya itu di Kediri melawan Senapati Agung Kediri saat
itu. Tanpa disadarinya maka langkah Anusapati-pun membawanya kedalam taman.
Ketika ia melihat beberapa orang juru taman sedang beristirahat dibawah pohon
yang rindang, ia-pun mendekatinya.
Juru taman yang sedang duduk-duduk itu-pun
segera bangkit, seakan-akan mereka sedang bermalas-malasan dan tidak melakukan
pekerjaannya. Kedatangan Anusapati membuat mereka terkejut dan justru merasa
bersalah.
Tetapi Anusapati segera berkata, “Duduklah.
Duduklah. Aku tidak sedang mengamat-amati kerja kalian. Jika kalian
bermalas-malasan, biarlah aku pura-pura tidak melihat. Tetapi jika memang
waktunya kalian beristirahat, itu adalah hak kalian.”
Para juru taman itu termangu-mangu sejenak.
Namun Sumekarlah yang mula-mula duduk kembali ditempatnya, sedang
kawan-kawannya-pun mengikutinya meski-pun ragu-ragu.
Anusapati-pun kemudian mendekati mereka,
dan bahkan duduk diantara mereka.
Juru taman yang ada disekitarnya menjadi
segan-segan juga sehingga mereka berkisar menjauh.
“Duduklah. Kenapa kalian menjadi bingung?
Aku sekali-sekali ingin duduk bersama kalian disini. Tidak dipaseban.”
Para juru taman itu menarik nafas
dalam-dalam.
“Nah, berbicaralah tentang persoalan yang
sedang kalian bicarakan sebelum aku datang.”
Sejenak para juru taman itu saling
berpandangan. Lalu Sumekarlah yang menyahut, “Kami tidak membicarakan sesuatu
tuanku.“
“jadi apa yang kalian perbuat?”
“Kami berbicara tentang isteri Ki Ruwe
ini,“ sahut salah seorang dari mereka.
“Kenapa dengan isterinya?”
“Isterinya adalah seorang juru masak yang
paling pandai menurut penilaiannya. Ia sangat pandai membuat segala macam
masakan. Masakan dari segala macam bahan. Daging, telur, ikan air, udang, yuyu,
cengkerik dan bilalang.”
“Ah,“ potong juru taman yang bernama Ki
Ruwe, “siapa yang mengatakan cengkerik dan bilalang. Tentu isterimu sendiri.”
Kawan-kawannya tertawa. Salah seorang
berkata. “O, jadi kau tidak menyebut cengkerik dan bilalang?”
Ki Ruwe memandang kawannya itu dengan mata
terbelalak. Sedang kawan-kawannya yang lain tidak dapat menahan tertawanya.
Kemudian beberapa lamanya mereka berbicara
tentang taman dan bunga-bungaan. Tentang pepohonan didalam dan diluar istana.
Pohon beringin dan pohon preh yang hidup disekitar istana. Pohon sawo kecik dan
pohon tanjung.
Akhirnya, Anusapati-pun bertanya kepada
para juru taman itu, “He, apakah kalian mendengar berita tentang sesuatu yang
agak lain dari ceritera tentang pepohonan dan pohon buah-buahan?”
Juru taman itu saling berpandangan sejenak.
Beberapa diantara mereka menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak tuanku.
Kami tidak mendengar berita tentang apa-pun juga. Mungkin karena kami hanya juru
taman saja di istana ini.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun tiba-tiba ia bertanya, “Misalnya ceritera tentang seseorang yang sudah
lama sekali hilang dari pembicaraan dan tiba-tiba saja sekarang muncul kembali.”
“O,“ tiba-tiba juru taman yang bernama Ki
Ruwe itu menyahut, “Aku mendengar.”
“Apa?“ bertanya kawan-kawannya, “tidak
tentang masakan.”
“Tidak. Aku baru saja mendengar para
prajurit membicarakan seorang yang bernama Witantra.”
“Witantra,“ sahut yang lain, “aku juga
mendegar.”
“Ya, aku juga mendengar,“ berkata juru
taman yang sudah tua. “Aku mendengar kehadiran kembali Witantra di Singasari
setelah bertahun-tahun lamanya ia menghilang dari Tumapel. Tentu tidak dari
Singasari, sebab pada waktu itu pemerintahan didaerah ini dipimpin oleh seorang
Akuwu yang terbunuh.”
“Akuwu Tunggul Ametung maksudmu?“ bertanya
Anusapati.
Ki Ruwe mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Ya, Akuwu Tunggul Ametung. Aku juga pernah mendengar.”
“Ah kau,“ potong kawannya yang lain.
Dan juru taman yang sudah tua itu
melanjutkan, “Sekarang Witantra itu kembali lagi.“
“Apakah kau pernah mengalami pemerintahan
Akuwu Tunggul Ametung?“ bertanya Anusapati.
“Ya, aku mengalaminya,“ sahut juru taman
yang tua itu.
“Bagaimana menurut penilaianmu?”
Juru taman itu mengerutkan keningnya.
Tiba-tiba saja ia teringat, bahwa selagi Permaisuri yang melahirkan Anusapati
itu kawin dengan Ken Arok, ia sudah mengandung muda. Karena itu maka ia-pun
menjadi ragu-ragu untuk mengatakannya.
“Bagaimana?“ desak Anusapati.
Juru taman itu menjadi semakin bingung.
Bahkan timbul pertanyaan didalam hatinya, “Apakah Putera Mahkota ini sudah
mengetahui tentang dirinya?”
Sejenak Anusapati menunggu. Tetapi juru
taman itu tidak mengatakan apa-pun juga.
“Bagaimana?“ desak Anusapati, “bagaimanakah
menurut penilaianmu?”
Juru taman itu menjadi bingung. Keringatnya
mengalir diseluruh tubuhnya.
“Baiklah,“ berkata Anusupati, “kau tidak
mau mengatakannya?”
“Bukan tidak mau,“ jawab juru taman itu,
“tetapi hamba waktu itu belum menjadi seorang juru taman.”
“Meski-pun kau belum seorang juru taman,
tetapi kau tentu dapat mengingat, apa yang sudah terjadi di Tumapel waktu itu.”
“Ya, ya tuanku. Hamba memang mengingat
serba sedikit. Tetapi yang hamba ingat, Tumapel adalah kota yang tenang.”
“Tenang sekali?“ bertanya Anusapati.
Juru taman itu menjadi bingung. Karena itu
maka jawabnya, “Yang tenang sekali.”
Anusapati tersenyum. Ia mengerti bahwa juru
taman itu tidak dapat mengatakan apa yang sesungguhnya ada didalam hatinya. Baik
atau jelek. Namun tiba-tiba saja sesuatu berdesir dihati Anusapati. Agaknya
banyak orang-orang Tumapel yang pada waktu itu pernah mengenal ibunda Permaisuri,
bahwa sebenarnya ibundanya itu sudah mengandung pada saat ia kawin dengan Ken
Arok.
“Tentu semua orang mengetahuinya waktu itu,“
berkata Anusapati didalam hatinya, “jika mereka tidak mengetahuinya dari bentuk
jasmaniah ibunda, mereka-pun dapat menghitung waktu. Belum genap sembilan bulan
ibunda kawin dengan Sri Rajasa, aku tentu sudah dilahirkan.”
Tiba-tiba saja Anusapati menjadi semburat
merah. Namun ia berusaha untuk menyembunyikan gejolak perasannya itu. Bahkan
kemudian ia-pun tertawa sambil berkata, “Suatu ukuran yang dapat kau pergunakan,
apakah kau menjadi semakin kaya atau miskin. Jika kau menjadi semakin kaya, maka
Singasari tentu lebih baik bagi
rakyat kecil seperti kau. Tetapi jika kau
menjadi semakin miskin tentu ada kesalahan. Apakah Singasari yang bersalah
sehingga rakyatnya miskin, atau kaulah yang kemudian dihinggapi penyakit
kemaksiatan. Judi barangkali?“
Juru taman yang gelisah itu menarik nafas
dalam-dalam melihat Anusapati tertawa. Demikian juga juru taman yang lain, yang
ikut menjadi tegang pula.
“Hamba, hamba tidak menjadi lebih kaya dan
tidak menjadi lebih miskin, tuanku. Rasa-rasanya hamba dahulu dapat makan
sekeluarga, dan sekarang juga hamba dapat makan sekeluarga.”
“Apakah jumlah keluargamu sama?”
“Tidak tuanku. Dahulu hamba seorang
pengantin baru disaat Akuwu Tunggul Ametung meninggal. Sekarang hamba sudah
mempunyai sembilan belas anak.”
“Sembilan belas?“ Anusapati menjadi
terheran-heran.
“Hamba tuanku.”
“Bagaimana mungkin kau mempunyai sembilan
belas orang anak?”
“Hamba beristeri tiga orang, tuanku.”
“O,“ Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Itulah sebabnya hidupmu sejak dahulu sampai sekarang tetap saja
seperti itu. Sembilan belas orang anak.”
“Tetapi mereka semuanya mendapat bagiannya
tuanku.”
Anusapati tersenyum. Lalu, “Dan kau tinggal
juga didalam halaman istana?”
“Tidak tuanku, hamba tinggal diluar. Hamba
mempunyai sebidang tanah yang sempit, sebuah rumah yang besar meski-pun buruk
untuk menampung tiga orang isteri dan sembilan belas anak hamba itu.”
Anusapati menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lalu katanya, “Pantas jika isterimulah yang pandai memasak ikan air, yuyu,
cengkerik dan bilalang.”
“Bukan tuanku, bukan isteri hamba.”
Anusapati hanya tersenyum saja. Namun
kemudian ia berkata, “Aku akan berjalan-jalan. Dipaseban sedang ada sidang.
Tetapi aku tidak ikut serta.”
(bersambung jilid 78)
Jilid 78
JURU TAMAN yang ada ditempai itu hampir
tidak ada yang menaruh perhatian, apakah Anusapati ikut serta didalam sidang di
paseban atau tidak. Tetapi bagi Sumekar pemberitaan itu merupakan pertanda,
bahwa jarak antara Sri Rajasa dan Anusapati masih belum menjadi semakin dekat
seperti yang diharapkan oleh Mahisa Agni. Keduanya pasti tetap didalam pendirian
dan sikap masing2.
“Jika demikian, perang dengan diam2 ini
tidak akan segera berakhir. Jika Mahisa Agni keluar dari bangsalnya, aku harus
menegaskan sekali lagi.”
Namun kemudian Sumekar mendengar Anusapati
berkata, yang agaknya memang ditujukan kepada dirinya, “Aku akan menunggu paman
Mahisa Agni setelah sidang dipaseban.”
Sumekar mengangguk2kan kepalanya. Ternyata
bahwa Mahisa Agni justru dipanggil menghadap Sri Rajasa didalam sidang di
paseban.
Sepeninggal Anusapati, maka para juru taman
itupun segera kembali pada kerja masing2. Sumekarpun kemudian mengambi cangkul
kecil bertangkai panjang. Dengan hati2 iapun kemudian menyiangi sebatang pohon
soka putih disudut taman itu.
Anusapati yang merasa semakin tersisih itu
mengisi waktunya dengan berjalan2 disepanjang halaman. Kadang2 ia berhenti pada
sebuah gardu peronda. Prajurit Pengawal yang berada di gardu2 itu ternyata telah
mendengar pula dan bahkan membicarakan tentang Witantra.
“Nama itu masih mempunyai pengaruh,“
berkata Anusapati didalam hatinya.
Dalam pada itu, dipaseban, Sri Rajasa dan
para pemimpin Singasari sedang membicarakan beberapa masalah tentang Singasari.
Tentang beberapa gerombolan penjahat yang sudah berhasil diusir dari tempat2
yang ramai dan tersudut dihutan-hutan, daerah yang selalu diserang banjir, dan
beberapa persoalan lainnya yang penting.
Para Panglima yang ikut didalam sidang
itupun melaporkan kegiatan pasukan masing2 dari tingkat yang tertinggi sampai
dengan tingkat yang terendah.
Seperti yang didengar oleh Mahisa Agni pada
paseban yang lewat, pada umumnya semua laporan adalah ceritera tentang kebaikan,
kemenangan, kemakmuran dan kedamaian. Meskipun atas pertanyaan Sri Rajasa
disinggung2 pula tentang bahaya banjir tentang kejahatan, tentang hama tanaman
yang meluas, namun pada umumnya para pemimpin itu mengatakan, bahwa semuanya
sudah dapat diatasi.
Sri Rajasa mengangguk2kan kepalanya seperti
pada sidang dipaseban yang lewat. Karena itu, bagi Mahisa Agni, sidang itu
hampir tidak dapat menarik perhatiannya sama sekali. Hanya karena keharusan ia
memperhatikan setiap keterangan dan laporan. Hanya karena orang lain
mengangguk-anggukkan kepalanya, maka Mahisa Agnipun mengangguk-anggukkan
kepalanya pula.
Namun berbeda dengan sidang yang lewat,
maka kali ini Mahisa Agni diminta oleh Sri Rajasa untuk memberikan keterangan
tentang Kediri dan daerahnya. Hal yang serupa hampir tidak pernah dilakukan
dipaseban. Biasanya Mahisa Agni dipanggil menghadap
langsung kepada Sri Rajasa dan satu dua
orang penasehatnya saja, termasuk guru Tohjaya. Tetapi kini ia harus berbicara
dimuka sidang.
Sejenak Mahisa Agni menjadi ragu2, jika ia
berkata sebenarnya maka nada laporan adalah jauh berbeda dengan nada kidung yang
mengalun dalam himbauan angin pegunungan. Jika ia berkata sebenarnya, maka
nadanya bagaikan guruh yang meledak dilangit yang bersih jernih.
Tetapi seperti yang ada didalam nuraninya,
maka Mahisa Agni tidak dapat berkata lain. Bahkan kemudian ia menganggap dirinya
telah dipaksa oleh Sri Rajasa untuk membenturkan kepalanya sendiri pada dinding
batu.
“Apakah aku akan dapat mengatakan keadaan
yang benar2 terjadi dengan jujur, sedang setiap orang didalam paseban ini
mengatakan bahwa mereka berhasil melakukan tugas masing2 dengan baik,“ bertanya
Mahisa Agni kepada diri sendiri. Namun ternyata bahwa pertanyaan itu justru
telah mendorongnya untuk menyatakan dirinya, pribadinya, meskipun akibatnya
beberapa orang akan menyebutnya sebagai seorang Senapati Agung yang kurang mampu
melaksanakan tugasnya karena didalam laporannya masih terdapat cacat2 yang cukup
besar.“
Sri Rajasa yang duduk diatas singgasananya
yang beralaskan kulit harimau yang belum sama berhasil ditangkapnya di hutan
selagi ia berburu, menunggu dengan berdebar2. Sebenarnyalah bahwa ia ingin
mengetahui, apakah Mahisa Agni dapat mengatakan seperti yang dikatakannya
langsung kepadanya tentang kekurangan2 yang terjadi di Singasari. Apakah ia
tidak termasuk salah seorang dari para pemimpin Singasari yang selalu
menyembunyikan kenyataan dihadapan banyak orang sekedar untuk mengangkat
martabatnya sendiri.
Sejenak Mahisa Agni masih berdiam diri.
Ketika ia memandang wajah Sri Rajasa yang tegang, maka iapun segera bergeser
sejenak sambil berkata, “Baiklah tuanku. Hamba akan mengatakan apa yang
sebenarnya terjadi didaerah pengawasan Hamba sebagai orang
yang mendapat pelimpahan kekuasaan dari
tuanku, Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Maharaja di Singasari.“ Mahisa Agni
berhenti sejenak. Lalu, “yang mendapat anugerah kewajiban atas Kediri yang telah
dipersatukan dengan Singasari.”
Sri Rajasa mengangguk2kan kepalanya, sedang
para pemimpin yang lainpun menjadi berdebar2. Namun mereka merasa bahwa yang
akan didengarnya adalah senada dengan setiap laporan yang disampaikan didalam
sidang di paseban itu.
“Ampun tuanku,“ berkata Mahisa Agni, “bahwa
hamba akan mengatakan yang benar kepada tuanku, bukan sekedar berkata untuk
menyatakan Kebenaran diri sendiri. Sebenarnyalah bahwa Kediri masih belum
memenuhi keinginan hamba sepenuhnya.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya, dan para
pemimpin yang lainpun mulai merasakan kelainan didalam nada laporan Mahisa Agni.
Demikianlah maka Mahisa Agnipun sagera
melaporkan apa yang sebenarnya terjadi di Kediri. Yang baik, yang bahkan kadang2
melampaui batas keinginannya sendiri, namun juga yang jauh dari memuaskan.
Bahaya kering disamping bahaya banjir, sehingga akan mengancam Kediri dengan
paceklik yang panjang. Tetapi juga beberapa daerah yang mengalami panen
berlimpah2.
“Masih juga ada kejahatan,“ berkata Mahisa
Agni, “meskipun tangan Kasatria Putih terasa juga didaerah Kediri.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Ternyata
Mahisa Agni adalah Mahisa Agni. Ketika Sri Rajasa memandang wajah-wajah para
pemimpin di paseban itu, tampaklah wajah2 yang tegang dan kemerah2an. Laporan
Mahisa Agni tentang daerah kekuasaannya bagaikan suatu sindiran yang tajam atas
mereka yang tidak pernah mengakui kekurangan masing2.
Namun tanggapan Sri Rajasa ternyata sangat
mengejutkannya. Ia tidak menyangka bahwa sebenarnyalah ia masuk kedalam jebakan
rangkap. Apapun yang dikatakannya, maka ia tentu akan terperosok didalam
tanggapan yang pahit.
“Itulah katanya,“ berkata Sri Rajasa,
“tampaknya Mahisa Agni adalah seorang yang rendah hati. Yang mengakui kekurangan
dan kebodohannya.”
Dada Mahisa Agni menjadi berdebar2. Sejenak
ia diam mematung. Ketika ia sempat memandang para pemimpin Singasari yang ada
dipaseban itu termasuk para Panglima, hatinya menjadi berdebar2.
“Para pemimpin Singasari yang bijaksana,“
berkata Sri Rajasa, “apakah kita akan dapat memberikan gelar kepadanya sebagai
seorang pahlawan? Pahlawan yang membela kepentingan rakyat yang menurut
penilaiannya didalam kesulitan? Itulah Mahisa Agni yang sebenarnya. Sombong dan
kurang bijaksana. Ia mencoba menyindir dan mencemoohkan laporan para pemimpin
Singasari yang lain, yang seolah2 sekedar menjilat kepadaku. ”
Wajah Mahisa Agni menjadi merah padam.
Sekilas ia melihat para pemimpin itu bergeser dan hampir setiap mata
memandanginya dengan tajamnya.
“Apa katamu Mahisa Agni?“ bertanya Sri
Rajasa kepada Mahisa Agni kemudian.
Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Ia
dicengkam oleh kebingungan menghadapi Sri Rajasa. Ia tidak mengerti,
bagaimanakah sebenarnya sikap Sri Rajasa atasnya akhir2 ini.
Namun akhirnya Mahisa Agni mencoba
menganggap bahwa sebenarnya Sri Rajasalah yang sedang berada dipuncak
kebingungannya menghadapi persoalannya. Ia kadang2 bersikap seakan2 manyesali
dirinya. Tetapi kadang2 ia dikejar olen kengerian atas segala dosa yang telah
diperbuatnya, sehingga ia berusaha untuk mempertahankan dirinya.
“Ini adalah salah satu bentuk dari
kebingungan itu,“ berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “sehingga kebingungan itu
telah merambat didalam diriku pula.”
“Mahisa Agni,“ berkata Sri Rajasa, “coba
katakan dihadapan sidang ini, apakah maksudmu sebenarnya mengucapkan sindiran
yang tajam itu kepada para pemimpin yang lain sehingga kau korbankan dirimu
sendiri sebagai contoh dari kebodohan seorang pemimpin?”
“Tuanku,“ berkata Mahisa Agni kemudian,
“hamba tidak bermaksud apapun dengan laporan yang hamba katakan.“ Mahisa Agni
berhenti sejenak. Dipandanginya wajah Sri Rajasa dengan saksama. Namun kemudian,
seolah2 tidak ada pilihan lain baginya dari pada mempertahankan ucapannya dengan
segala akibatnya, “sebenarnyalah bahwa hamba tidak mempunyai prasangka dan
maksud buruk. Hamba mengatakan tentang diri hamba. Bukan sebagai taruhan untuk
mencemoohkan para pemimpin yang lain. Hamba tidak tahu apa yang telah terjadi
didaerah2 lain dibawah pengamatan dan pimpinan pemimpin Singasari yang lain.”
“Jangan ingkar,“ berkata Sri Rajasa, “kau
pernah mengatakan kepadaku diluar sidang, bahwa daerah2 lain itu sebenarnya
adalah daerah2 yang paling buruk. Laporan2 palsu itu sengaja dikatakan sekedar
untuk mendapat pujian daripadaku.”
Terasa sesuatu bergejolak didada Mahisa
Agni. Namun ia masih juga menjawab, betapapun hatinya menjadi berdebar-debar,
“Tuanku, memang ada kalanya seseorang mengatakan sesuatu tidak dihadapan orang
lain. Jika hamba pernah mengatakan sesuatu tentang daerah2 lain tidak dihadapan
orang lain tentu ada maksudnya. Tetapi jika tuanku menganggap, bahwa sebaiknya
hamba mengatakan tentang daerah2 lain di luar harapan hamba, maka hambapun tidak
akan berkeberatan. Hamba akan mengatakan seperti yang hamba katakan, dengan
harapan penilaian yang wajar dari para pemimpin Singasari, karena hamba yakin
apa yang hamba katakan itu benar, dan tentu akan dibenarkan, jika kita semuanya
adalah pemimpin2 Singasari yang sebenarnya, yang ingin melihat Singasari maju
dan berkembang.“ Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “tetapi jika hamba sudah
mengatakannya tuanku, hamba mengharap agar tuankupun mengucapkan tanggapan
tuanku seperti
yang pernah tuanku ucapkan kepada hamba itu
terhadap para pemimpin Singasari yang lain. Ucapan dan tanggapan tuanku itupun
adalah tanggapan yang wajar dari seorang Maharaja yang berpandangan jauh kedepan
bagi negerinya.”
“Cukup, cukup,“ Sri Rajasa memotong kata2
Mahisa Agni dengan suara yang bergetar. Wajahnya menjadi merah padam dan sorot
matanya bagaikan menyala.
Namun demikian masih tampak padanya suatu
usaha untuk menahan diri dan mengendalikan perasaannya. Karena itulah maka iapun
berkata tertahan2, “Baiklah Mahisa Agni. Kau memang seorang pemimpin Singasari
yang lengkap. Kau pandai bermain dengan pedang dipeperangan, tetapi kau juga
pandai bermain lidah didalam paseban. Tetapi akupun tidak akan ingkar. Aku
menghargai sikapmu yang terbuka itu, tetapi akupun menilai sikapmu itu sebagai
sikap yang sangat sombong, seakan2 kau tidak terpengaruh oleh kehadiranku dan
tanpa menghargai kuasaku sama sekali.“
“Ampun tuanku,“ jawab Mahisa Agni, “sama
sekali bukan maksud hamba berbuat demikian.”
Sri Rajasa terdiam sejenak. Tampak betapa
ia berusaha menahan hatinya yang bergejolak.
Sementara itu, para pemimpin yang lain,
yang mula2 perasaan mereka yang tersinggung bagaikan disentuh api, tiba2
mempunyai tanggapan yang lain. Pembicaraan itu mengingatkan mereka, bahwa
sebenarnya Mahisa Agni adalah seorang Senapati Agung yang memiliki kekhususan.
Bukan karena ia saudara tuan Permaisuri, tetapi Senapati Agung itu adalah
Senapati perang yang pilih tanding.
Dalam pada itu, selagi para pemimpin
terombang-ambing didalam suasana yang tegang, maka Mahisa Agnipun berkata,
“Ampun tuanku, masih ada yang ketinggalan didalam laporan hamba agar hamba tidak
ingkar atas segala masalah yang hamba ketahui. Bahwa telah hadir di dalam kota
Singasari tanpa menyatakan diri kepada yang berkuasa, seorang yang bernama
Witantra. Belum ada seorangpun yang menyebutnya didalam
paseban ini, atau barangkali ada
kesengajaan untuk menyembunyikannya.”
Sri Rajasa sebenarnya sudah mengetahui
bahwa Witantra telah menampakkan dirinya didalam kota Singasari, sehingga
laporan tentang kehadiran Witantra itu tidak meagejutkannya. Tetapi yang
mengejutkan adalah bahwa Mahisa Agni menganggap perlu membicarakan orang itu
secara khusus.
Karena itu, maka Sri Rajasapun kemudian
berkata, “Kehadiran itu memang tidak perlu dilaporkan dipaseban ini. Aku sudah
mengerti bahwa Witantra telah menampakkan dirinya setelah ia hilang bertahun2.
Aku kira pada pemimpin yang lainpun telah mengetahuinya pula. Mereka sama sekali
tidak tertarik pada berita itu. Dan apakah gunanya kehadiran seseorang
dibicarakan didalam paseban? Apakah para pemimpin Singasari tidak mempunyai
persoalan lain yang penting selain membicarakan orang2 yang sudah lama sekali
tidak kita lihat dan tiba-tiba muncul dikota ini.”
“Tidak tuanku, jika orang itu bukan
Witantra,“ sahut Mahisa Agni, “apakah tuanku tidak ingat lagi, bagaimana
Witantra itu menghilang dari Tumapel?”
“Tentu,“ jawab Sri Rajasa.
“Hamba telah mengalahkannya didalam perang
tanding. Karena itu maka hamba sangat berkepentingan dengan orang yang bernama
Witantra itu.”
“Kau takut pembalasan dendam?”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Lalu
katanya, “Tentu tidak tuanku. Hamba tidak berkeberatan jika saat ini Witantra
datang keistana dan menuntut perang tanding untuk menebus kekalahannya. Tetapi
yang penting bagi kita, apakah kedatangannya itu membawa persoalan baru baginya
dan bagi kita.”
“Cukup.“ wajah Sri Rajasa menegang sejenak,
namun kemudian sekali lagi ia menguasai dirinya dan melanjutkannya, “baiklah
kita tidak membicarakannya. Jika ia datang keistana, aku akan
menemuinya dan jika ia masih mendendam
karena kekalahannya, kini bukan tanggung jawabmu lagi. Jika saat itu kau
bertempur tidak atas namamu sendiri, maka tanggung jawabnya tentu kini ada
padaku.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam2. Katanya,
“Terima kasih tuanku. Jika demikian, maka persoalannya hamba serahkan kepada
tuanku Sri Rajasa.”
“Kenapa kau menyerahkan persoalannya
kepadaku? Seharusnya kau tidak mengatakan demikian. Tanggung jawab itu sudah ada
padaku. Kau serahkan atau tidak kau serahkan.”
“Ampun tuanku, demikianlah kiranya maksud
hamba.”
“Nah, sekarang, apakah masih ada persoalan2
yang penting bagi Singasari. Aku hanya ingin berbicara tentang
persoalan-persoalan yang penting, bukan persoalan seorang demi seorang yang
hanya akan menghabiskan waktu saja.”
Tidak seorangpun yang menjawab. Sidang
dipaseban itu rasa2nya menjadi tegang. Pusat perhatian para pemimpin Singasari
kini tertuju kepada Sri Rajasa dan Mahisa Agni. Dua orang yang seakan2 menjadi
puncak pimpinan pemerintahan yang langsung tidak langsung telah mereka hubungkan
dengan kedua putera laki2 Sri Rajasa yang lahir dari dua orang ibu. Bahkan para
pemimpin Singasari yang mengetahui dengan pasti bahwa Anusapati sama sekali
bukan putera Sri Rajasa melihat seakan2 pertentangan antara Sri Rajasa dan
Tunggul Ametung kini berkobar lagi dalam bentuknya yang berbeda, yang seakan2
telah diwarisi oleh Anusapati dan Tohjaya.
“jika tidak ada persoalan lagi, sidang ini
aku bubarkan. Aku tidak akan mengadakan pembicaraan khusus dengan si apapun.”
Sejenak kemudian maka para pemimpin
Singasari itupun segera meninggalkan paseban dengan hati yang berdebar2.
Sebagian dari mereka masih merasa betapa jantungnya tergores oleh pengakuan
Mahisa Agni terhadap kekurangan didalam daerah kuasa yang dilimpahkan kepadanya
oleh Sri Rajasa. Seperti yang dikatakan oleh
Sri Rajasa, bahwa sebenarnyalah Mahisa Agni
sama sekali bukan seorang yang rendah hati, yang mengakui kekurangannya, tetapi
yang dengan sengaja telah menganggap bahwa para pemimpin adalah penjilat yang
bodoh.
Tetapi beberapa orang yang lain merasa
bahwa sebenarnyalah bahwa mereka telah melakukan suatu kesalahan. Mereka seakan2
dengan sengaja berusaha menyembunyikan kekurangan yang ada pada diri mereka.
Dengan sadar mereka berbangga bahwa masih ada juga orang yang dengan berani
menyatakan kebenaran dihadapan Sri Rajasa dan dihadapan paseban.
Namun pada umumnya mereka merasa cemas,
bahwa perkembangan keadaan di Singasari tidak begitu menggembirakan hati.
Apalagi kehadiran Witantra seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, tentu bukan
sekedar persoalan kecil karena sejak semula Witantra menyimpan persoalan yang
tentu dianggapnya belum selesai.
“Kehadirannya tentu akan menentukan suatu
peristiwa yang penting di Singasari,“ beberapa orang pemimpin Singasari saling
berbisik. Seorang perwira yang sudah lanjut usia berkata, “Ia adalah seorang
Senapati yang mapan.”
Namun dalam pada itu Panglima Pasukan
Pengawal Singasari ternyata mempunyai perhatian khusus terhadap kehadiran
Witantra. Meskipun Singasari sekarang jauh lebih besar dari Tumapel, namun nama
Witantra sebagai seorang Senapati pasukan Pengawal adalah cukup besar
dibandingkan dengan namanya sendiri.
Dengan demikian, maka berbagai kesan telah
melibat hati para pemimpin Singasari yang baru saja meninggalkan sidang di
paseban itu.
Ketika itu Sri Rajasapun telah kembali pula
kebangsalnya diiringi oleh para pengawal. Dengan wajah muram ia masuk kedalam
biliknya. Dibantingnya dirinya di atas sebuah tempat duduk kayu yang dialasi
dengan kulit menjangan berwarna coklat.
Sambil menarik nafas dalam2 ia berkata
didalam hatinya. “Peristiwa apa saja yang akan terjadi di Singasari. Justru pada
saat2 terakhir timbul berbagai persoalan yang tidak aku kehendaki. Gila juga
Mahisa Agni itu.”
Ketika diluar pintu seseorang berdiri
termangu2, maka Sri Rajasapun berteriak, “Siapa itu?”
“Hamba tuanku,“ jawab seorang pelayan,
“hamba menyiapkan pakaian tuanku.”
“Pergi, pergi.“ bentak Sri Rajasa.
Pelayan itu menjadi ketakutan. Dengan ragu2
ditinggalkannya pintu bilik Sri Rajasa dengan berbagai pertanyaan didalam hati.
Tidak pernah terjadi bahwa Sri Rajasa tidak memerintahkannya menyediakan pakaian
setelah ia selesai melakukan kuwajiban resminya sebagai seorang Maharaja di
Singasari.
Didalam bilik, pikiran Sri Rajasa masih
tetap kusut. Sebenarnyalah seperti yang diduga oleh Mahisa Agni, dalam keadaan
yang kisruh hati Sri Rajasa tidak dapat tetap. Pikirannya selalu berubah setiap
saat didorong oleh kegelisahan yang semakin dalam. Kehadiran Witantra sebenarnya
sama sekali tidak dapat diabaikannya.
Dalam kekeruhan hati itulah tiba2 ia
berteriak memanggil seorang Pelayan Dalam yang bertugas didalam bangsal itu.
Sambil berlari2 kecil. Pelayan Dalam itu
menghampiri pintu bilik Sri Rajasa. Kemudian dengan ragu2 ia bergumam, “Hamba
menghadap tuanku.”
“Panggil Tohjaya,“ teriak Sri Rajasa masih
didalam biliknya.
“Hamba tuanku,“ perintah Sri Rajasa itu
tidak perlu diulangi. Dengan tergesa2 Pelayan Dalam itupun berlari2 ke bangsal
dibagian yang lain dari istana Singasari itu.
“Tuanku,“ berkata Pelayan Dalam itu dengan
nafas yang terengah2, “tuanku Sri Rajasa memanggil tuanku.”
“Ayahanda memanggil aku?“ bertanya Tohjaya.
“Hamba tuanku.”
Tohjaya menjadi berdebar2. Tentu ada
persoalan yang penting yang akan dikatakan oleh ayahandanya setelah sidang
dipaseban. Karena itu, maka dengan tergesa2 Tohjaya menghadap ibundanya yang
mengatakan perintah ayahandanya itu.
“Memang sudah sampai waktunya Tohjaya.
Semakin lama Anusapati menjadi semakin sombong. Jika semula ia sudah hampir
kehilangan semua kesempatan dan kemungkinan untuk merebut hati rakyat Singasari,
lambat laun ia sudah memperolehnya. Karena itu, jika ayahandamu memang
memerintahkan lakukanlah dengan segera. Gurumu dan beberapa orang Senapati yang
sudah kau hubungi akan dapat disiapkan segera, apalagi langsung dibawah perintah
ayahandamu sendiri. Anusapati memang harus segera disingkirkan. Agar tidak
timbul persoalan dikemudian hari, maka Mahisa Agni yang mumpung berada diistana
inipun harus dibinasakan pula.”
“Hamba akan mengatakannya kepada ayahanda.
Jika ayahanda mengucapkan perintah itu kepada para Panglima, maka semuanya akan
terjadi.”
“Kau harus berhati2. Mahisa Agni mempunyai
cukup pengaruh, terutama diluar istana. Karena itu, maka yang dilakukan haruslah
didalam istana dan dalam waktu yang singkat. Jika kau ingin menangkap seekor
ular berbisa, tangkaplah kepalanya. Jika kau gagal, maka kau sendirilah yang
akan binasa karena racunnya.”
“Baik ibunda. Hamba akan segera menghadap
ayahanda, sudah tentu bahwa dalam waktu yang singkat, kita akan melakukannya.”
“Dan beberapa hari kemudian, kau adalah
putera Mahkota.”
“Ya. Aku akan menjadi Putera Mahkota di
Singasari yang besar. Aku akan berbuat sebaik2nya sebagai Putera Mahkota. Tidak
seperti kakanda Anusapati.”
“Sekarang menghadaplah. Usahakan agar
ayahandamu merintahkan aku menghadap pula.”
“Baiklah ibunda, hamba akan berusaha.”
Dengan tergesa2 Tohjayapun kemudian pergi
menghadap ayahandanya di bangsalnya. Dengan hati yang berjebar2 ia menaiki
tangga bangsal itu, sedang kedua pengawalnya tinggal dibawah tangga, bersama
pengawal bangsal itu sendiri.
Perlahan2 Tohjaya membuka pintu bangsal
itu. Kemudian dengan degup jantung yang keras ia melangkah masuk.
Tetapi Tohjaya tidak segera melihat
ayahandanya.
Ketika ia melihat seorang Pelayan Dalam
dipintu samping bangsal itu, maka iapun kemudian bertanya, “Dimana Ayahanda Sri
Rajasa.”
“Ampun tuanku,“ Pelayan Dalam itu
mengangguk. “Ayahanda tuanku ada didalam biliknya.”
Tohjaya menarik nafas dalam2. Tetapi iapun
kemudian melangkah kepintu bilik.
“Hanya untuk persoalan yang sangat penting
dan sangat rahasia ayahanda memanggil kedalam biliknya,“ berkata Tohjaya didalam
hatinya.
Dengan ragu2 akhirnya Tohjaya berdiri
didepan pintu bilik Sri Rajasa. Sejenak ia termangu2, namun kemudia ia berkata
lirih, “Ampun ayahanda. Hamba sudah menghadap.”
Sejenak Sri Rajasa menunggu. Kemudian
didengarnya jawab, “Masuklah Tohjaya.”
Dada Tohjaya menjadi semakin berdebar2.
Perlahan2 didorongnya daun pintu itu kesamping. Dengan langkah yang terasa berat
iapun kemudian melangkah masuk.
Dilihatnya ayahandanya, Sri Rajasa duduk
diatas tempat duduk kayu yang beralaskan kulit menjangan.
“Duduklah,“ berkata Sri Rajasa kemudian.
Tohjaya termangu2 sejenak. Dan iapun
kemudian duduk diatas tempat duduk kayu disudut bilik itu.
“Apakah seorang prajurit telah
memanggilmu?”
“Hamba ayahanda. Bukankah ayahanda
memanggil hamba menghadap?”
“Ya.”
“Hamba siap menerima perintah apapun,
ayahanda. Agaknya memang sudah waktunya ayahanda memerintahkan kepada hamba
untuk berbuat sesuatu.“
Sri Rajasa menarik nafas dalam2.
Dan Tohjayapun kemudian bertanya, “Dan
apakah perintah itu ayahanda?”
Sri Rajasa memandang puteranya itu sejenak.
Namun kemudian terdengar ia berdesah. Katanya, “Tidak ada perintah apapun saat
ini Tohjaya.“
Bukan main terperanjatnya Tohjaya. Bahkan
kemudian ia tidak percaya kepada pendengarannya sehingga ia bertanya, “Apakah
yang ayahanda maksudkan?”
“Dengarlah sekali lagi Tohjaya,“ jawab
ayahandanya, “aku tidak akan memberikan perintah apapun juga.”
Dada Tohjaya terguncang karenanya. Dengan
terbata2 ia bertanya, “Tetapi, bukankah ayahanda memanggil hamba setelah sidang
di paseban? Menurut dugaan hamba, ayahanda mendapat bahan2 yang cukup lengkap
selama sidang sehingga Ayahanda memutuskan untuk menjatuhkan perintah terakhir.
Bukankah ayahanda perlu mengambil tindakan tertentu untuk mengakhiri keadaan
yang tidak ada ujung pangkalnya?”
Tetapi Sri Rajasa itu menggelengkan
kepalanya. Katanya, “Aku tidak dapat menentukan sekarang. Aku masih harus
memikirkannya.”
Tohjaya benar2 menjadi bingung. Ia tidak
mengerti, kenapa ayahandanya memanggilnya dengan tergesa2. Namun kemudian ia
sama sekali tidak memberikan perintah apapun juga. Sebenarnyalah bahwa Sri
Rajasa sendiri sedang dilibat oleh kebingungan yang hampir tidak dapat
dipecahkannya. Setiap kali sikapnya selalu dibayangi oleh keragu2an sehingga
terombang-ambing tidak menentu.
Dengan demikian maka bilik itupun sejenak
dicengkam oleh kesepian. Sri Rajasa duduk sambil menundukkan kepalanya, sedang
Tohjaya menjadi sangat gelisah menghadapi keadaan itu. Namun ia tidak berani
lagi bertanya sesuatu kepada ayahandanya, karena Tohjayapun kemudian menyadari
bahwa agaknya ada sesuatu yang sedang bergejolak dihati ayahandanya.
“Tohjaya,“ berkata Sri Rajasa kemudian
memecahkan kebekuan suasana, “tinggalkan bilik ini.”
Tohjaya menjadi semakin bingung. Tetapi ia
tidak dapat berbuat lain. Perlahan2 ia berdiri dan berkata, “Hamba ayahanda.
Hamba mohon diri.”
Sri Rajasa hanya mengangguk kecil. Kemudian
wajahnya itupun tertunduk lagi. Bahkan kemudian disandarkannya dagunya pada
kedua belah tangannya yang sikunya bertelekan pada lututnya.
Tohjayapun kemudian melangkah keluar
perlahan2. Hatinya diamuk oleh kebingungan yang dahsyat, karena dengan demikian
iapun menyadari bahwa ayahandanya sendiripun masih juga dikuasai oleh keragu2an.
“Kenapa ayahanda masih selalu ragu2.
Mungkin ayahanda masih saja terpengaruh oleh ibunda Permaisuri, justru karena
ibunda Permaisurilah maka ayahanda tidak dapat berbuat tegas atas kakanda
Anusapati. Seharusnya ayahanda tidak lagi menghiraukan ibunda Permaisuri itu.
Jika ayahanda masih saja terlampau banyak pertimbangan, maka ahkirnya ayahanda
akan terlambat.”
Namun dengan demikian langkahnya pun
menjadi tergesa2. Kedua pengawalnya berlari2 kecil mengikutinya dibelakang.
Sementara itu, Ken Umang sudah dicengkam
oleh angan2 tentang tahta kerajaan Singasari sepeninggal Sri Rajasa. Jika
Anusapati sudah disingkirkan, maka tentu Tohjaya akan segera diangkat menjadi
Pangeran Pati menggantikan kedudukannya. “Tentu tidak akan ada persoalan apapun
juga jika Sri Rajasa sudah memutuskan. Pengaruhnya terlampau besar, dan
kekuasaannya adalah mutlak.“ namun kemudian, “tetapi Mahisa Agni itupun harus
disingkirkan. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan mengalami kesulitan. Betapapun
saktinya Mahisa Agni, namun sudah barang tentu tidak akan dapat mengimbangi
kesaktian Sri Rajasa sendiri.”
Ken Umang itupun terloncat berdiri ketika
ia melihat Tohjaya datang kedalam biliknya dengan wajah yang tegang. Dengan
tergesa2 ia menyongsongnya dan bertanya, “Perintah apakah yang telah kau terima
Tohjaya?”
Tohjayapun kemudian duduk dengan lesunya.
Sejenak ia termangu2 sehingga ibunyapun menjadi heran.
“Tohjaya, apakah kau terima perintah itu?”
Tohjaya menggelengkan kepalanya. Dengan
nada yang aneh ia menjawab, “Hamba tidak menerima perintah apapun juga ibu.”
“He,“ Ken Umang terperanjat. Sejenak ia
memandangi anaknya dengan wajah yang tegang. Kemudian perlahan2 didekatinya
anaknya yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Diguncang2nya pundak anaknya
sambil berkata, “Apakah aku sudah pikun? Coba katakan sekali lagi Tohjaya.”
“Hamba tidak menerima perintah apapun
ibunda. Ketika hamba menghadap, ayahanda berkata, “Kembalilah, tinggalkan aku.“
“Tohjaya, apakah kau sedang mengigau?”
“Sebenarnya ibunda, ayahanda memerintahkan
hamba untuk meninggalkan bilik itu. Itulah perintah satunya yang hamba terima.”
Ken Umang memandang anaknya dengan wajah
yang tegang, sehingga pelupuk matanya hampir tidak berkedip. Ia tidak dapat
mengerti apakah yang sebenarnya dikatakan oleh anaknya itu.
“Ibunda,“ berkata Tohjaya kemudian,
“hambapun tidak mengerti, kenapa ayahanda tidak memberikan perintah apapun
kecuali memerintahkan hamba meninggalkan ayahanda itu seorang diri.”
“O,“ Ken Umangpun kemudian terduduk pula,
“aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti.”
Tohjaya memandang wajah ibunya sejenak.
Namun kepalanyapun segera tertunduk pula. Memang yang baru saja terjadi sama
sekali tidak dapat dimengertinya, dan ibunyapun menjadi bingung karenanya.
Sejenak keduanya terdiam. Seakan2 kabut
yang kelam telah menyelubungi angan2 dan pikiran mereka, sehingga mereka sama
sekali tidak mengerti, apa yang harus mereka lakukan.
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang masih juga
dibayangi oleh pembicaraan2 didalam sidang, mencoba untuk menemukan suatu
gambaran, apakah yang sebenarnya bergolak didalam hati Sri Rajasa. Namun setiap
kali yang diketemukannya, adalah sekedar menganggap bahwa Sri Rajasa memang
sedang kebingungan.
“Tetapi kebingungan itu dapat membahayakan
keadaan,“ berkata Mahisa Agni didalam hati, “setiap saat pikirannya dapat
berubah dan setiap saat Singasari dapat bergejolak. Satu langkah yang salah dari
Sri Rajasa, dan membuat Singasari menjadi berantakan. Sedangkan persoalan yang
sebenarnya adalah persoalan ketamakan Ken Umang semata2. Namun apabila hati Sri
Rajasa tidak goyah, maka hal yang seperti sekarang ini tidak perlu terjadi.”
Demikianlah ketika Mahisa Agni kemudian
bertemu dengan Anusapati dan Sumekar, maka diceriterakannya apa yang terjadi di
paseban.
“Sebenarnyalah bahwa ancaman itu sudah
langsung ditujukan kepadamu,“ berkata Sumekar kepada Mahisa Agni, “tetapi karena
sikap para pemimpin Singasari yang tidak jelas, maka Sri Rajasa masih harus
berpikir sekali lagi. Jika didalam paseban itu tanggapan
atas tuduhan Sri Rajasa terhadapmu,
terhadap yang disebutkan kesombonganmu itu cukup baik baginya, maka ia tidak
akan menunggu lebih lama lagi. Tetapi karena ia melihat keragu2an pada pemimpin
Singasari, maka iapun tidak segera memerintahkan saat itu juga untuk
menangkapmu.”
Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya.
Memang dapat juga terjadi seperti yang dikatakan oleh Sumekar itu. Tetapi Mahisa
Agnipun tahu, bahwa sebenarnya Sumekar telah dipenuhi oleh prasangka dan bahkan
sikap yang pasti, yaitu Sri Rajasalah yang harus disingkirkan, justru untuk
menyelamatkan hasil yang pernah dicapai oleh Sri Rajasa sendiri. Singasari yang
besar dan kuat. Namun bagi Mahisa Agni sendiri, masih harus ditempuh
pertimbangan2 yang semasak2nya meskipun kadang2 orang lain menganggapnya tidak
berbuat apa-apa.
Dalam pada itu, Anusapatipun sebenarnya
mempunyai tanggapan persoalan yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu sejalan dengan
pendapat Sumekar. Namun Anusapati menyerahkan persoalannya kepada Mahisa Agni,
karena ia percaya, bahwa pertimbangan pamannya didasari oleh pengalaman dan
pengetahuannya yang luas.
Namun mendung yang semula membayang diatas
istana Singasari itu kini bagaikan mekar meliputi seluruh kota dan bahkan
menjalar keseluruh negeri. Terasa bahwa ada sesuatu yang kurang pada tempatnya
telah terjadi didalam lingkungan keluarga Sri Rajasa. Jika semula persoalan itu
hampir tidak mendapat perhatian karena yang berkepentingan masih mampu membatasi
diri masing2, maka semakin lama persoalannya menjadi semakin jelas dapat dilihat
oleh para pemimpin Singasari.
Dalam keadaan yang demikian itulah,
Singasari mulai menyebut2 nama Witantra.
Namun sebenarnyalah bahwa nama Witantra itu
telah mengganggu hati Sri Rajasa pula. Ia tidak mengerti dengan pasti apakah
sebenarnya yang dikehendakinya. Sehingga karena itulah maka dengan diam2 Sri
Rajasapun berusaha untuk mencari
hubungan dengan Witantra, meskipun ia
berpesan dengan sungguh2, agar Witantra tidak mengetahuinya, bahwa Sri Rajasa
yang memberikan perintah itu kepada beberapa orang petugas sandi yang
dipercayainya.
Ternyata sangat sulitlah untuk mencari
hubungan dengan Witantra itu, karena Witantra tidak pernah lagi kelihatan di
kota Singasari. Hanya namanya dan beberapa ceritera sajalah yang dapat ditangkap
oleh para petugas sandi itu.
“Ya, ia datang kepadaku,“ berkata seorang
perwira yang menghubungi orang2 yang diduga dapat bertemu langsung dengan
Witantra.
“Apa saja yang dilakukannya?”
“Tidak apa2. Ia hanya bertanya tentang
keselamatanku sekeluarga, dan sedikit tentang padepokannya dipuncak gunung.”
“Gunung yang mana?“ bertanya petugas sandi
itu.
“Witantra tidak mau menyebutkannya.”
“Apakah ia sering datang kemari?”
“Hanya satu kali. Hanya satu kali. Tetapi
ia berkata kepadaku, bahwa pada suatu saat ia akan datang kembali mengunjungi
sahabat2 lamanya.”
“Apakah benar ia tidak mempersoalkan apapun
juga yang dapat menjadi petunjuk arah perhatiannya selama ini?”
“Tidak. Ia tidak mengatakan apapun juga.
Tetapi ia menyatakan kegembiraannya melihat perkembangan Singasari sekarang ini.
Singasari yang jauh lebih besar dari Tumapel dijaman Akuwu Tunggui Ametung.”
Petugas sandi itu hanya dapat
mengangguk2kan kepalanya. Bahan yang didapatkannya untuk mengetahui keadaan
Witantra ternyata terlampau sedikit. Para petugas itu sama sekali tidak dapat
menyimpulkan, apakah sebenarnya maksud Witantra datang ke
Singasari. Bahkan setelah mereka
menghubungi beberapa orang yang pernah dikunjungi oleh Witantra itu.
“Baiklah,“ berkata seorang petugas sandi
kepada seorang perwira yang pernah mendapat kunjungan Witantra, “jika ia datang
sekali lagi, tolong, beritahukan aku.”
Perwira itu mengangguk2kan kepalanya.
Perwira itupun mengetahui bahwa orang yang datang itu adalah seorang prajurit
sandi. Dan perwira itupun tahu pasti, kepada siapa ia harus melaporkan jika
Witantra datang sekali lagi.
“Ternyata pihak istana menaruh perhatian
besar sekali,“ berkata perwira itu. Namun demikian, merekapun menjadi gelisah,
karena jika timbul sesuatu karena perbuatan Witantra, maka mereka yang diketahui
telah mendapat kunjungan Witantra itu pasti akan menjadi sumber keterangan.
Tetapi bukan saja para perwira itu yang
mengetahui bahwa pihak istana menaruh perhatian yang besar sekali. Dari
pembicaraan beberapa orang prajurit, Sumekarpun mengetahui, bahwa ada beberapa
petugas sandi yang mendapat tugas mencari jejak tentang Witantra itu.
Dalam pada itu, semua laporan tentang
Witantra itu sudah sampai ditelinga Sri Rajasa. Seperti apa yang dapat ditangkap
oleh para petugas sandi, maka tidak ada keterangan yang pasti yang dapat
dijadikan bahan untuk menentukan apakah yang sebenarnya akan dilakukan oleh
Witantra.
Namun demikian ada seorang petugas sandi
yang mempunyai keterangan yang agak lain dari kawan2nya.
“Witantra menyebut2 nama Mahisa Agni
tuanku,“ berkata petugas sandi itu ketika ia dipanggil menghadap.
“Apa katanya?”
“Ia hanya bertanya, dimanakah sekarang
Mahisa Agni itu. Apakah ia masih tetap berada di Kediri, karena menurut
pendengarannya Mahisa Agni menjadi seorang Senapati Agung yang
bertugas di Kediri sebagai wakil Mahkota.
Atau sudah mendapatkan jabatan lain.”
“Apa lagi?”
“Hanya itu tuanku. Hamba tidak mendapatkan
bahan yang lain. Sedang yang dibicarakan Witantra itu pada umumnya adalah
persoalan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintahan. Kadang2 ia
berbicara tentang jalan2 yang ramai, sawah yang hijau dan rumah kawan2nya yang
menjadi perwira di Singasari.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun
dari keterangan itu Sri Rajasa mendapatkan suatu arah betapapun samarnya, bahwa
Witantra masih menaruh perhatian terhadap Mahisa Agni.
“Mudah2an Witantra masih mendendamnya.”
Naman ternyata setelah itu, Sri Rajasa
tidak pernah mendapat keterangan apapun lagi tentang Witantra. Meskipun ada juga
seorang dua orang yang melaporkan bahwa Witantra tampak berada didalam kota,
namun sama sekali tidak menarik perhatian orang, karena ia tidak berbuat apa2.
“Aku dapat menjadi gila,“ berkata Ken Arok
kemudian ketika ia berada didalam bilik Ken Umang.
Ken Umang yang masih nampak jauh lebih muda
dari Permaisuri yang sakit2an itu, mendekatinya sambil berkata, “Tuanku,
persoalannya sudah jelas bagi tuanku. Sebenarnya hamba ingin mengajukan suatu
sikap yang akan dapat menolong keadaan. Tetapi justru karena hamba adalah ibu
Tohjaya, maka hamba berada didalam kesulitan.”
“Kenapa?”
“Orang dapat menuduh hamba, semata2 sikap
hamba itu didorong oleh ketamakan dan kebencian.”
Sri Rajasa tidak segera menjawab.
Dipandanginya wajah Ken Umang sejenak.
Sambil tersenyum Ken Umang beringsut
mendekat, ia duduk diatas sebuah kulit harimau hasil buruan Sri Rajasa di
samping tempat duduk Sri Rajasa sendiri yang beralaskan kulit seekor ular
raksasa.
“Tuanku,“ Ken Umang bergesar mendekatinya.
Kemudian sambil bersandar pada kaki Sri Rajasa Ken Umang berkata, “Memang tuanku
harus segera mengakhiri keadaan yang tidak menentu sekarang ini. Hamba tahu
bahwa tuanku menjadi ragu2. Tetapi hambapun tahu, siapakah sebenarnya puteranda
Anusapati itu, karena hamba tahu saat2 perkawinan tuanku.”
“Banyak orang yang mengetahui siapakah
sebenarnya Anusapati, karena setiap orang yang umumnya berkisar diantara kita
dapat menghitung saat perkawinanku dan saat kelahiran Anusapati.”
“Nah,“ berkata Ken Umang, “sebenarnya tidak
ada persoalan lagi. Kasar atau halus, tuanku dapat melakukannya. Sedang tuanku
sendiri mempunyai putera laki2 yang akan dapat menggantikan kedudukan tuanku.
Jika tuanku membiarkan keadaan ini berlangsung terus, maka sebenarnyalah tuanku
dapat terganggu. Lahir dan batin.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak
menyahut.
“Tuanku, jika hamba bukan ibu Tohjaya,
hamba akan dapat dengan leluasa menyampaikan pendapat hamba. Tetapi justru
karena itulah, maka hamba menjadi ragu2. Tuankulah yang akan dapat menentukan,
apakah yang sebaiknya tuanku lakukan. Tetapi segera. Tidak dengan ragu2 dan
condong kepada kebingungan. Ternyata seperti sikap tuanku. Tuanku memanggil
Tohjaya, namun kemudian tuanku tidak menjatuhkan perintah. Hamba tahu bahwa
perintah itu sudah siap. Tetapi tuanku ragu2, sehingga tuanku mengurungkannya.”
Sri Rajasa tidak segera menyahut. Tetapi
setiap kali ia bertemu dengan Ken Umang, rasa2nya sudah jatuhlah keputusannya
untuk menyingkirkan Anusapati dan Mahisa Agni. apapun akibatnya.
Baginya Permaisurinya Ken Dedes sudah tidak
begitu banyak diperlukan lagi. Ken Dedes itu menjadi semakin cepat tua dan
sakit2an.
Namun setiap saat ia teringat, bahwa ada
sesuatu yang lain pada Ken Dedes, hatinya menjadi berdebar2. Ken Dedes nemiliki
sesuatu kurnia dari Yang Maha Agung yang tidak dimiliki oleh Ken Umang. Cahaya
yang tidak dapat dimengertinya itu setiap kali dapat dilihatnya.
“Tuanku,“ berkata Ken Umang kemudian,
“apakah sebenarnya yang membuat tuanku ragu2? Mungkin kemampuan Mahisa Agni dan
pengaruhnya? Tentu tuanku akan dapat mengatasinya karena Mahisa Agni tidak akan
sekuat Sri Baginda di Kediri yang dapat tuanku kalahkan itu. Sedang
pengaruhnyapun tidak akan sebesar para Panglima dan Senapati yang lain, karena
sudah lama ia berada di Kediri. Jika tuanku memperhitungkan pengaruhnya di
Kediri, maka dapat diperhitungkan bahwa Kediri sekarang tentu tidak akan mampu
berbuat apa2.“ Ken Umang berhenti sejenak. Lalu, “Tuanku, hambapun mendengar apa
saja yang dikatakan oleh Mahisa Agni dipaseban itu. Bukankah itu sudah suatu
sikap yang pasti untuk menantang tuanku, merendahkan kekuasaan tuanku dan
seakan2 suatu pameran kekuatan bahwa Mahisa Agni sama sekali tidak takut
terhadap kuasa tuanku, selain dengan sengaja menghinakan para pemimpin yang
lain.”
Ken Arok masih tetap berdiam diri.
“Nah, hamba persilahkan tuanku
mempertimbangkan semuanya itu, karena hamba tidak berhak berbuat apapun selain
memberikan sedikit pertimbangan yang barangkali tidak berarti apa2 bagi tuanku.”
Sri Rajasa masih tetap tidak menyahut
sepatah katapun. Dipandanginya bintik2 dikejauhan seolah2 dicarinya sesuatu
diantara kekosongan dikejauhan.
Ken Umang tidak mendesaknya lagi.
Dibiarkannya Sri Rajasa merenungi kata2nya. Ken Umang itu masih tetap yakin
bahwa Sri
Rajasa akan lebih percaya kepadanya
daripada kepada Ken Dedes, apalagi kelemahan yang ada pada keturunan Ken Dedes
itu ialah bahwa Anusapati adalah anak Tunggul Ametung.
Sejenak kemudian, setelah bergolak dengan
dahsyatnya, dada Ken Arok seakan2 mulai terbuka. Seakan2 Ken Arok melihat sebuah
jalan lurus yang harus ditempuhnya. Satu2nya jalan, karena tidak ada pintu lain
yang terbuka baginya.
Betapapun jalan itu lewat celah2 lorong
yang mengerikan, namun setapak demi setapak rasa2nya Ken Arok sudah memasuki
pintu itu, didorong oleh tangan2 halus Ken Umang dan puteranya yang penuh dengan
nafsu.
“Aku harus mengadakan persiapan
sebaik2nya,“ berkata Ken Arok didalam hatinya, “aku harus bertemu dengan orang2
yang dapat aku percaya.”
Namun Ken Arok itupun menarik nafas dalam2
sambil berdesah didalam dirinya, “Apakah aku akan berhasil tanpa mengganggu
keutuhan Singasari. Sekian lama aku bekerja untuk mempersatukan Singasari. Dan
kini aku sendiri akan menimbulkan perpecahan didalamnya.”
Tetapi Ken Arok memang tidak melihat jalan
lain. Yang harus dilakukan adalah menyingkirkan Anusapati dan Mahisa Agni dengan
akibat yang sekecil2nya.
Itulah sebenarnya yang diharapkan oleh Ken
Umang. Dan ia yakin bahwa yang diharapkan itu akan terjadi.
Demikianlah, dihari berikutnya, Ken Arok
memanggil beberapa orang Senapati. Untuk tidak memberikan kesan yang
mencurigakan, maka beberapa orang itu menghadap tidak berdasarkan waktunya.
Bahkan juga Panglima pasukan pengawal yang menurut pendapatnya, akan dapat
dipergunakannya sebagai perisai jika terjadi sesuatu.
“Kita tidak dapat menunda lagi,“ berkata
Sri Rajasa kepada penasehatnya, yang sekaligus guru Tohjaya didalam olah
kanuragan, “Anusapati harus disingkirkan.
Beberapa orang Senapati sudah siap untuk melakukannya. Dan cara yang akan aku
tempuh adalah cara yang paling kecil akibatnya.”
Para Senapati harus dengan diam2 mengambil
Anusapati dan membawanya keluar istana untuk diselesaikan. Tentu dimalam hari.
Pasukan Pengawal akan diatur oleh Panglimanya, sehingga ketika terjadi hal itu,
para pengawal tidak akan berada di tempatnya kecuali yang memang dapat dipercaya
dan dapat dibawa bekerja bersama.”
“Tetapi pekerjaan itu akan sangat sulit
tuanku. Tuanku Anusapati memiliki kemampuan secara pribadi.”
“Tentu, jika kalian harus bertempur seorang
lawan seorang. Tetapi kalian akan menghadapinya dengan beberapa orang Senapati.”
“Disaat yang ditentukan aku akan
memanggilnya. Jika ia mengetahuinya dan tentu akan berbuat sesuatu, diseluruh
Singasari tidak ada orang lain yang dapat dihadapkan kepadanya selain aku
sendiri. Untuk sementara kita dapat, melupakan Witantra. Aku kira ia tidak akan
berbuat sesuatu. Sokurlah jika ia justru sedang mencari Mahisa Agni untuk
membuat perhitungan atas kekalahannya diarena disaat kematian Akuwu Tunggul
Ametung waktu itu.”
“Baiklah tuanku. Hamba akan
melaksanakannya. Memang tidak ada jalan lain dari jalan kekerasan. Tentu kami
akan memperhitungkan semua pihak yang dapat mengganggu usaha ini. Tetapi jika
tuanku menghendaki kami bertindak langsung didalam istana ini, maka soalnya akan
menjadi lebih mudah.”
“Kami akan memaksakan keadaan ini kepada
para Panglima dan rakyat Singasari sebagai suatu keharusan. Anusapati adalah
orang lain bagiku.”
Penasehat Sri Rajasa itupun merasa, bahwa
telah datang waktunya ia menunjukkan jasa yang paling besar bagi Sri Rajasa
dan Tohjaya. Ia harus dapat menyingkirkan
Anusapati kasar atau halus. Bahkan jika terpaksa dengan pertempuran terbuka.
“Tentu tidak akan banyak yang berpihak
kepadanya. Panglima Pasukan Pengawal akan mengatur, bahwa disaat yang ditentukan
itu, para petugas dilstana ini adalah orang2 yang dapat dipercaya.”
Demikianlah penasehat Sri Rajasa itu telah
melakukan tugasnya dengan cermat. Dihubunginya Panglima Pasukan Pengawal. Ia
tahu benar, bahwa Panglima itu terlalu setia kepada Sri Rajasa. Demikian pula
beberapa orang Senapati dan prajurit yang akan dapat diajaknya bekerja bersama.
“Baiklah,“ berkata seorang Senapati,
“tentukan, kapan kita akan melakukannya.”
“Secepatnya. Kita akan segera bertindak
sebelum Anusapati dan Mahisa Agni mengetahuinya.”
“Mereka tidak akan tahu rencana ini.”
“Diistana ini ada sejumlah pengkhianat.”
Sebenarnyalah bahwa Sumekar telah tertarik
kepada perubahan2 yang terjadi diistana. Beberapa orang prajurit yang dikenalnya
mulai membicarakan kebijaksanaan yang baru. Perubahan yang tidak pada tempatnya
telah terjadi didalam tugas2 para prajurit, didalam dan diluar istana. Prajurit2
yang bertugas sehari2, tiba2 saja telah ditarik dari istana dan orang2 barulah
yang menggantikannya di tempat2 terpenting.
Sumekar yang mempunyai penglihatan yang
tajam tidak dapat membiarkan semuanya terjadi diluar pengetahuan Mahisa Agni.
Karena itu, maka iapun segera menemuinya dan mengatakan apa yang dilihatnya
sejak hari ini.
Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya.
Katanya, “Sebenarnya perubahan2 semacam itu adalah perubahan yang wajar didalam
tugas keprajuritan.”
“Mungkin. Tetapi aku mempunyai firasat yang
lain kali ini. Tentu dalam waktu yang singkat akan terjadi sesuatu. Jika tidak
hari ini, tentu malam nanti.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam2. Katanya
kepada Sumekar, “Mungkin kau benar Sumekar. Karena itu bersiaplah. Adalah lebih
baik jika kau dapat mengambil Witantra dan kau bawa masuk kedalam istana ini.”
“Sekarang?”
“Jika malam gelap. Tetapi jika terjadi
sesuatu sebelum gelap, tentu kita tidak sempat memberitahukan kepadanya.”
“Baiklah. Aku akan berada ditaman sehari
penuh. Jika terjadi sesuatu, aku berada didalam taman itu.”
“Baiklah. Aku akan menemui Anusapati.”
Dengan dada yang berdebar2 Mahisa Agnipun
kemudian menemui Anusapati dibangsalnya. Ketika ia melihat para penjaga bangsal
itu, hatinya menjadi berdebar2. Prajurit2 itu sama sekali bukan prajurit yang
biasanya bertugas dibangsal itu.
“Semuanya cepat berubah,“ berkata Mahisa
Agni didalam hatinya, “dibeberapa hari terakhir, agaknya Sri Rajasa dan
orang2nya sudah siap untuk melakukan rencana terakhirnya. Sudah tentu, bahwa Sri
Rajasa terpaksa melakukannya dengan kekerasan untuk menempatkan Tohjaya menjadi
searang Putera Mahkota.”
Tetapi ternyata dihari itu, tidak terjadi
sesuatu. Anusapati yang sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan, masih saja
tinggal didalam bangsalnya. Mahisa Agni masih belum memberikan isyarat apapun
juga. Sedang Sumekar yang berada didalam taman dan kadang2 hilir mudik dihalaman
membawa lodong bambu masih juga belum melihat perkembangan keadaan yang
memuncak.
Karena itulah, maka ketika senja turun, ia
berusaha untuk pergi kerumah persembunyian Witantra didalam kota Singasari.
Sumekar ternyata hanya memerlukan waktu
yang pendek. Keduanya kemudian dengan hati2 meloncat masuk kedalam halaman
istana.
“Bersembunyilah didalam taman,“ berkata
Sumekar kepada Witantra, “aku akan berusaha menemui Mahisa Agni.”
“Apa kau tidak akan dicurigai?”
“Aku akan membawa bibit pohon soka, yang
dapat aku pakai sebagai alasan. Menanam pohon soka memang sebaiknya dimalam
hari.”
“Baiklah, tetapi hati2lah.”
Sumekarpun kemudian pergi untuk menemui
Mahisa Agni. Dengan berdebar2 ia melihat beberapa orang prajurit yang tampaknya
mulai bersiap2. Bahkan dilihatnya penasehat Sri Rajasa berjalan tergesa2 didepan
bangsal Mahisa Agni. Hati Sumekar menjadi berdebar juga ketika dilihatnya
Panglima Pasukan pengawal ada pula diantara beberapa orang prajurit yang sedang
bertugas.
“Apakah sesuatu bakal terjadi malam ini?“
bertanya Sumekar kepada diri sendiri, “jika demikian, apakah kekuatan yang dapat
dipergunakan oleh Anusapati untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya. Sejauh2
yang dapat dilakukan adalah melontarkan, isyarat itu kepada Kuda Sempana dan
Mahendra. Tetapi dihalaman ini adalah berpuluh2 prajurit pilihan, termasuk Sri
Rajasa sendiri.”
Sumekar menarik nafas dalam2. Katanya,
“Akhirnya kelembutan hati Mahisa Agni telah menempatkan Anusapati dalam
kesulitan. Akhirnya bahwa Sri Rajasalah yang telah, bersiap lebih dahulu
menghadapi Putera Mahkota itu, yang sebenarnya adalah bukan puteranya sendiri.”
Dalam kecemasan itu, akhirnya Sumekar
menemukan jalan lain yang justru akan dilakukan. Jalan yang sama sekali tidak
diketahui oleh Mahisa Agni dan bahkan oleh Anusapati sendiri.
“Aku akan bertindak atas tanggung jawabku
sendiri. Sebelum terjadi pembunuhan atas tuanku Anusapati, aku harus segera
bertindak.”
Meskipun demikian, ia melanjutkan
langkahnya membawa sebatang bibit pohon soka mendekati bangsal Mahisa Agni.
Dihalaman bangsal itu Sumekar telah dicegat
oleh dua orang prajurit. Dengan kasar salah seorang dari mereka menyapa, “Siapa
kau?”
“Apakah kau tidak dapat mengenal aku?“
bertanya Sumekar.
Prajurit itu termangu2. Lalu, “Sebut siapa
namamu.”
“Aku Pangalasan dari Batil.”
“O. juru taman. Tetapi apa kerjamu malam2
begini?”
“Aku akan menanam pohoa soka seperti yang
dipesan oleh tuanku Mahisa Agni.”
“Kenapa tidak besok siang?”
“Menanam pohon noka hanya dapat dilakukan
malam hari.“
“Bohong, kau sangka aku tidak mengerti
tentang tanaman? Aku adalah bekas seorang juru taman pada jaman pemerintahan
Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi kemudian aku mendapatkan warisan ilmu sehingga aku
berhasil mengikuti pendadaran untuk menjadi seorang prajurit.”
“O, jika demikian seharusnya kau tahu,
bahwa menanam pohon soka sebaiknya pada malam hari. Mungkin dapat dilakukan
disiang hari, tetapi hasilnya tidak akan memberi kepuasan.“
Prajurit itu termenung. Tanpa disadarinya
dicobanya untuk mengingat kembali, apa yang pernah dilakukan pada saat ia
menjadi juru taman. Namua ia sudah tidak dapat mengingat apapun lagi.
Karena itu, maka katanya, “Cepat, lakukan.”
Sumekarpun dengan tergesa2 memasuki halaman
bangsal itu. Namun ia masih berpura2 bertanya, “Dimana aku harus menanam pohon
ini?”
“Aku tidak tahu.”
“Jika demikian, apakah kau dapat bertanya
kepada tuanku Mahisa Agni.”
“Kenapa aku?”
“Aku tidak berani. Tolong katakan
kepadanya.“
“Aku tidak peduli. Itu bukan urusanku.”
Sumekar berdiri termangu2 sejenak. Namun ia
tersenyum didalam hati. Kesempatan itulah yang memang ditunggunya.
Demikianlah akhirnya ia berhasil bertemu
dengan Mahisa Agni, dan mengatakan apa yang telah dilihatnya.
“Kaupun sudah diawasi,“ berkata Sumekar.
Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya.
“Nah, kita agaknya sudah terlambat.”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya,
“Tidak. Aku masih mempunyai jalan. Apakah kau bertemu dengan Witantra?”
“Ya.”
“Bagaimana dengan Kuda Sempana dan
Mahendra?”
“Aku hanya memanggil Witantra. Ia sudah
berada di dalam taman.”
“Baiklah. Tetapi usahakan agar mereka
semuanya berada didalam istana ini. Mereka harus berada dibangsalku. Aku akan
membicarakan sesuatu yang penting dengan mereka dan kau.”
“Sekarang?”
“Ya. Panggil mereka.”
Sumekar menjadi termangu2 sejenak. Lalu
katanya. “Tetapi bagaimana jika semuanya, ini akan segera terjadi?”
“Jika begitu, minta Witantra memanggil
keduanya. Kau mengawasi keadaan sebaik2nya.”
“Tetapi, apakah yang dapat kita kerjakan
hanya bersama dengan mereka bertiga.”
“Kita sudah bertiga dengan Anusapati.”
“Tetapi dihalaman ini ada berpuluh2
prajurit yang agaknya sudah mendapat petunjuk2 yang pasti.”
“Karena itu, panggil mereka. Aku masih
mempunyai jalan.”
Sumekar mengangguk2kan kepalanya. Lalu
katanya, “Baiklah, aku akan menghubungi Witantra. Biarlah ia datang kebangsal
ini, akulah yang akan menjemput Kuda Sempana dan Mahendra yang ada dirumah itu
juga.”
“Cepat. Sebelum semuanya terjadi. Sementara
itu aku akan mempersiapkan semua rencana. Jangan beri tahu Anusapati lebih
dahulu. Aku akan berada di halaman, supaya aku dapat melihat kesiagaan mereka
yang semakin meningkat. Suruhlah Witantra langsung memasuki lewat pintu
belakang. Hati2lah. Para prajurit agaknya benar2 bersiap.”
Sumekar melangkah meninggalkan Mahisa Agni.
Namun tiba2 ia teringat, “Tetapi, aku mengatakan kepada para penjaga, bahwa aku
akan menanam pohon soka.”
“Tinggalkan. Jika kau kembali bersama Kuda
Sempana dan Mahendra, kau tidak usah melalui halaman bangsal ini.”
Sumekarpun mengetahui apa yang harus
dikerjakan. Karena itulah maka iapun segera pergi meninggalkan Mahisa Agni. Di
halaman depan para prajurit menegurnya, katanya, “Sudah selesai?”
“Tuanku Mahisa Agni marah bukan main.”
“Kenapa?”
“Kau memang gila. Aku sudah memperingatkan
bahwa sebaiknya besok pagi saja.“
“Ya, aku menyesal. Tetapi menanam pohon
soka hanya dapat dilakukan dimalam hari, maksudku, yang paling baik dilakukan
dimalam hari.”
“Dimana pohon sokamu itu?”
“Diinjak2 sampai lumat. Tetapi anehnya, aku
harus mencari lagi. Justru Kembang Soka Kuning, jenis yang paling sulit dicari.”
Para prajurit itu tertawa. Dipandanginya
juru taman itu dengan ibanya. Namun mereka tidak dapat menolongnya, karena
mereka sendiri belum pernah melihat jenis Kembang Soka yang berwarna kuning.
Sepeninggal Sumekar, maka Mahisa Agnipun
kemudian membenahi dirinya. Tetapi betapapun ia mencemaskan keadaan, tetapi
Mahisa Agni tidak menganggap perlu membawa senjata. Tangannya yang dapat dialiri
dengan aji Gundala Sasra dan sekaligus Kala Bama dalam bentuknya yang sesuai,
adalah semata yang tidak kalah dahsyatnya dari segala macam jenis semata tajam
maupun senjata2 yang lain.
Ketika ia keluar dari bangsalnya dilihatnya
beberapa orang prajurit berada dihalaman. Seperti biasanya Mahisa Agnipun
menyapa mereka dengan ramahnya. Namun kali ini para prajurit itu menjawabnya
dengan ragu2.
“He, apakah kalian tidak pernah bertugas di
bangsal ini?“ bertanya Mahisa Agni kepada prajurit2 itu.
Pemimpin peronda itupun menjawab dengan
termangu-mangu, “Belum. Eh, maksud kami, kami memang belum pernah bertugas
diregol ini, tetapi sudah sering bertugas dibagian lain.”
“Dimana?”
Pemimpin peronda itu menjadi semakin
bingung, sehingga ia menjawab penuh kebimbangan, “Di Istana bagian dalam.”
“He, bagian dalam yang mana? Apakah ada
bagian luar dan bagian dalam.”
Prajurit itu menjadi semakin bingung.
Katanya, “Maksudku, istana yang baru.”
“O, maksudmu kau sering bertugas dibagian
yang baru dari istana ini. Jelasnya di bangsal yang didiami oleh tuan puteri Ken
Umang dan yang lain yang didiami oleh tuanku Tohjaya.”
“Ya. ya.”
Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya.
Katanya, “Dan kau sekarang mendapat tugas baru disini.”
“Ya. menurut panglima, sudah saatnya kita
saling bertukar tempat didalam tugas kami, agar kami tidak selalu berada
ditempat yang sama sepanjang kami menjadi prajurit.”
“Bagus. Itu adalah usaha yang bagus
sekali,“ berkata Mahisa Agni, “nah, bertugaslah dengan baik. Aku akan berjalan2
sebentar.”
“Berjalan2?“ prajurit itu menjadi heran,
“sudah terlampau malam tuan masih akan berjalan2.”
“Malam?“ bertanya Mahisa Agni, “kau ini
seperti seekor ayam saja,“ berkata Mahisa Agni sambil tertawa, “baru saja senja
tenggelam. Biasanya aku keluar hampir sampai tengah malam. Bahkan kadang2
lebih.”
Prajurit itu mengangguk2kan kepalanya.
Sudah barang tentu bahwa mereka tidak akan dapat mencegahnya.
Demikianlah para prajurit itu hanya dapat
memandangi langkah Mahisa Agni yang menyusup kedalam gelap. Namun demikian
rasa2nya mereka telah mengabaikan tugas mereka jika mereka tidak tahu, kemana
Mahisa Agni itu pergi.
Karena itu, maka pemimpin peronda itupun
memerintahkan seseorang untuk mengawasi kemana Mahisa Agni itu pergi.
Namun ternyata bahwa orang itu kurang dapat
menguasai keadaan. Ia tidak memperhitungkan kemampuan Mahisa Agni sehingga
dengan mudah Mahisa Agni dapat, mengetahui bahwa seseorang telah mengikutinya.
Prajurit yang mengikuti itu menjadi bingung
ketika tiba-tiba saja orang yang harus diawasinya itu hilang. Mahisa Agni yang
berjalan perlahan2 didalam kegelapan itu tiba2 saja seperti dapat lenyap
menembus bumi.
“Gila,“ desis prajurit itu, “dimanakah
orang itu bersembunyi?”
Dengan hati2 ia melangkah mendekati
gerumbul yang ada didekat tempat Mahisa Agni menghilang. Namun ketika ia sampai
ditempat itu, ternyata ia tidak menjumpai seorang-pun.
“Aneh,“ desisnya, “apakah aku sedang
mengikuti sesosok hantu?”
Namun dengan demikian hatinya menjadi
berdebar-debar. Seakan2 ia benar2 berhadapan dengan hantu yang dapat menghilang
dan kemudian menampakkan diri.
Ketika ia sudah yakin bahwa ia tidak akan
dapat menemukan Mahisa Agni, maka dengan kesal iapun meninggalkan tempat itu.
Dengan tergesa2 ia berjalan kembali ketempat tugasnya dengan berbagai macam
perasaan yang kisruh.
Tetapi hampir terlonjak prajurit itu ketika
ia melihat seseorang berjalan sambil menyilangkan tangannya dipunggung.
Selangkah demi selangkah, seakan2 tidak menghiraukan apa pun lagi.
“Tuan,“ prajurit itu menyapanya.
“O, siapa kau?”
“Bukankah tuan Mahisa Agni?”
“Ya, kenapa? Aku ingin berjalan2. He,
apakah kau prajurit yang bertugas di regol bangsalku?”
“Ya tuan.”
“Kenapa kau disini? Bukankah kau masih ada
diregol ketika aku berangkat berjalan2? Dan kenapa tiba2 saja kau sudah berada
disini?”
Orang itu menjadi bingung. Seharusnya ialah
yang bertanya kepada Mahisa Agni. Namun justru kini Mahisa Agnilah yang bertanya
kepadanya.
“He, kenapa kau diam saja?“ desak Mahisa
Agni.
“Tidak, maksudku aku memang berjalan2.”
“Akulah yang berjalan2 bukan kau.”
“O,” orang itu menjadi semakin bingung,
“maksudku tuan, aku juga berjalan2 untuk mengendorkan ketegangan.”
Mahisa Agni memandangi prajurit itu
sejenak. Namun iapun kemudian tertawa sambil berkata, “Aku memang sudah
ketinggalan. Agaknya memang sudah menjadi peraturan, bahwa setiap prajurit yang
sedang bertugas diperkenankan berjalan2 untuk mengendorkan ketegangan, sekaligus
dengan membawa senjatanya sekali.”
Terasa dada prajurit itu berdesir. Ia
merasa sindiran yang halus tetapi tepat mengenai sasarannya. Meskipun begitu
prajurit itu tidak dapat berbuat apapun juga. Sehingga karena itu, maka
jawabnya, “Hanya suatu kesempatan tuan. Bukan peraturan.”
Mahisa Agni menepuk bahu prajurit itu
sambil berkata, “Cepat, kembali kepada tugasmu. Itu jika kau sudah selesai
mengendorkan ketegangan?”
“Ah.”
“Tetapi ketegangan apakah sebenarnya yang
mencengkammu.”
Prajurit itu tidak menjawab. Karena itu,
maka Mahisa Agnipun berkata, “Baiklah, cepat kembali. Mungkin kawan2mu
memerlukan kau.”
Prajurit itupun kemudian dengan tergesa2
kembali kedalam biliknya. Namun disepanjang langkahnya, ia tidak henti2nya
bertanya2 kepada diri sendiri, bagaimana dapat terjadi, bahwa Mabisa Agni yang
diikutinya itu begitu saja telah hilang dan yang tanpa diduga2nya ditemuinya
dijalan kembali kegardunya.
“Benar2 anak iblis,“ katanya didalam hati,
“tentu bukan manusia biasa yang dapat melakukannya.”
Ketika prajurit itu sampai diregol halaman
bangsal Mahisa Agni, maka iapun segera menceriterakan pengalamanya itu kepada
kawan2nya. Sebagian dari mereka menjadi terheran2 dan berkata, “Itulah sebabnya,
ia diangkat menjadi Senapati Agung di Kediri.“
Namun pemimpin peronda itu berkata, “Kau
tentu dibayangi oleh ketakutan saja.”
“Omong kosong. Selagi ia masih berdiri
diatas tanah ia tidak akan dapat melenyapkan dirinya. Percayalah bahwa iu tidak
lebih dari seorang prajurit biasa. Hanya kesempatan sajalah yang membuatnya
menjadi orang terkemuka di Singasari. Jangan kau sangka bahwa tidak ada orang
lain yang memiliki kelebihan tetapi belum mendapat kesempatan. Sebenarnya aku
ingin melihat dan bahkan mengalami, betapa tingginya ilmu orang yang bernama
Mahisa Agni dan juga orang yang bergelar Kesatria Putih itu.”
“Putera Mahkota?“ bertanya seorang
kawannya.
“Ya, Putera Mahkota. Ceritera tentang
mereka sama dahsyatnya. Tetapi aku belum pernah melihat kebenaran dari ceritera
itu.”
“Semua orang pernah mendengar bahwa Mahisa
Agni pernah membunuh Senapati Agung dari Kediri.”
“Dan siapakah yang mengetahui sebenarnya,
betapa tinggi ilmu Senapati Agung Kediri itu? Mungkin yang disebut Senapati
Agung Kediri itu tidak lebih tangguh dari kau atau salah seorang prajurit yang
memiliki sedikit kelebihan. Nah, bukankah dengan demikian kemenangannya itu
bukan ukuran dari keperwiraannya.”
“Ah,“ berkata prajurit yang lain, “kau
jangan mencoba ingkar. Kau tentu mengetahui bahwa Kesatria Putih pernah membunuh
beberapa orang yang ternyata adalah prajurit2 Singasari dan melemparkan senjata
mereka dimuka pintu gerbang?”
“Aku berkata tentang Mahisa Agni,“ sahut
pemimpin peronda itu.
“Tetapi bukankah kau juga menyebut Kesatria
Putih.“
Pemimpin prajurit yang sedang berjaga2 itu
tidak menyahut.
“Dan kau tentu juga mengetahui, bahwa
Putera Mahkota itu adalah anak kemenakan Mahisa Agni. Ilmu yang dimilikinyapun
tentu keturunan ilmu Mahisa Agni.”
Pemimpin peronda itu masih tetap berdiam
diri.
Kawannyapun tidak berkata lebih lanjut.
Mereka untuk beberapa lamanya saling berdiam diri dan duduk berserakan, selain
yang bertugas didepan tangga bangsal.
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang berjalan2
dihalaman melintasi gerumbul2 bunga mendekati bangsal Anusapati. Namun ia tidak
ingin menimbulkan kecurigaan pada para prajurit yang bertugas. Karena itu, ia
berusaha untuk berlindung dibalik dedaunan.
Seperti yang dikatakan oleh Sumekar, memang
dihalaman istana malam itu ada beberapa kesibukan. Tetapi menurut perhitungan
Mahisa Agni tentu belum akan dilakukan malam ini. Ia melihat prajurit yang
terpencar2, dan sama sekali tidak ada pemusatan yang lebih besar didalam maupun
diluar istana.
Meskipun demikian, Mahisa Agni memang tidak
boleh lengah. Itulah sebabnya, maka ia ingin dapat bertemu dengan Witantra, Kuda
Sempana dan Mahendra. Karena mereka tidak mempunyai pasukan yang cukup apabila
diperlukan, dan memang hal itu sama sekali bukan menjadi tujuan Mahisa Agni,
maka ia masih berusaha untuk menemukan jalan lain yang lebih baik.
Setelah beberapa lama ia mengamat2i bangsal
Anusapati, maka Mahisa Agni itupun segera meninggalkan tempatnya dan kembali
kebangsalnya sebelum para penjaganya menjadi curiga pula.
“Siapa lagi yang sedang berjalan2?“
bertanya Mahisa Agni ketika ia sampai dimuka regol bangsalnya.
Beberapa orang prajurit menjadi termangu2.
Tetapi prajurit yang mengetahui sindirian itupun menjadi tersipu2. Tetapi ia
tidak menjawab sama sekali.
Karena tidak ada seorangpun dari mereka
yang menjawab, maka Mahisa Agni itupun kemudian berkata, “Baik2lah didalam tugas
kalian. Aku selalu berterima kasih kepada kalian, karena keselamatanku
tergantung kepada kalian malam ini. Selamat malam.”
Pemimpin peronda itu mengerutkan keningnya.
Ternyata bahwa Mahisa Agni adalah seorang pemimpin yang ramah.
Hampar diluar sadarnya ia menjawab seperti
kepada seorang sahabatnya yang karip, tidak seperti terhadap seorang Senapati
Agung, “Baiklah, selamat malam.”
Pemimpin peronda itu terkejut sendiri atas
jawabannya itu. Tetapi ia tidak sempat mengulanginya karena Mahisa Agnipun telah
melangkah meninggalkannya.
Pemimpin peronda itu mengangguk2kan
kepalanya. Katanya, “jarang sekali terdapat Senapati besar seramah Mahisa Agni.“
Namun tiba-tiba ia menyambung dengan serta-merta, “Tetapi itu bukan karena
kebaikan hati. Itu adalah karena ia merasa bahwa ia tidak lebih dari seorang
anak Padepokan di Panawijen.”
Para prajurit itu mengangguk2kan kepalanya.
Seperti terbangun dari mimpi mereka. Mereka menyadari sesungguhnya, sehingga
setiap anggapan bahwa Mahisa Agni adalah seorang yang baik akan dapat mengurangi
kesungguhan mereka menjalankan tugas itu.
Ternyata belum lagi Mahisa Agni menutup
pintu bangsalnya rapat, ternyata seorang Senapati yang lain telah mendatangi
regol
itu. Kepada pemimpm prajurit yang bertugas
ia berkata, “Aku mengemban tugas Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”
Pemimpin peronda itu mengangguk dalam2
sambil berkata, “Silahkan. Baru saja tuan Mahisa Agni masuk kedalam bangsal.”
“Baru saja?“ bertanya perwira itu.
“Ya.”
“Darimana?”
“Sekedar berjalan2 didalam halaman ini.“
Perwira itu mengangguk2kan kepalanya. Lalu,
“Apakah tidak ada seorangpun yang mengikutinya?”
“Hanya dihalaman ini.”
“Ya, tetapi setidak2nya kalian tahu apa
yang dilakukan dihalaman ini.”
“Seorang dari kami mengikutinya dari
kejauhan. Tetapi ia tidak berbuat apa2,“ jawab pemimpin peronda itu sambit
memandang kepada prajurit yang mengikuti Mahisa Agni tetapi gagal.
Prajurit itu tidak membantah, meskipun
dadanya terasa bergetaran.
“Baiklah,“ berkata perwira itu, “aku akan
bertemu dengan Mahisa Agni atas perintah Sri Rajasa.”
“Silahkan. Tentu tuan Mahisa Agni masih
belum masuk kedalam biliknya.”
Perwira itupun kemudian naik tangga bangsal
Mahisa Agni. Perlahan-lahan ia mengetuk pintu bangsal itu.
“Siapa?“ bertanya Mahisa Agni yang ternyata
masih duduk diruang dalam.
“Aku, utusan Sri Rajasa.”
Mahisa Agni terkejut. Jarang sekali
terjadi, utusan Sri Rajasa datang dimalam hari. Hanya apabila ada persoalan yang
sangat penting sajalah, maka ia dipanggil menghadap dimalam hari.”
Namun demikian, Mahisa Agni harus melakukan
apapun bunyi perintah itu. Meskipun demikian ia menjadi berdebar2, karena ia
sudah terlanjur menyuruh Sumekar membawa Witantra dan kawan2nya masuk kedalam
bangsalnya lewat pintu butulan dibelakang.
Dengan ragu2 Mahisa Agni melangkah
mendekati pintu. Ada juga kecurigaan yang bergejolak didalam hatinya. Karena
itu, maka iapun harus berhati2. Ia tidak tahu pasti, berapa orangkah yang datang
pada saat itu. Dan apakah hal itu ada hubungannya dengan sikap para prajurit2 di
regol yang mencoba mengkutinya?
Perlahan2 Mahisa Agni meraba pintu
bangsalnya. Kemudian dengan hati2 dan penuh kewaspadaan ia membuka pintu itu.
Mahisa Agni menarik nafas ketika ia melihat
seorang perwira berdiri dimuka pintu, dan yang kemudian menganggukkan kepalanya.
“O, kau,“ sapa Mahisa Agni, “silahkan
masuk.”
Perwira itu melangkah masuk kedalam.
Kemudian merekapun duduk diatas dingklik kayu yang dialasi dengan kulit domba
berwarna hitam.
“Kakang Mahisa Agni,“ berkata perwira itu,
“kedatanganku kemari sekedar menjalankan perintah Sri Rajasa.”
“Ya. Apakah perintah itu.”
“Kakang Mahisa Agni,“ berkata perwira itu,
“besok dibangsal paseban dalam akan diadakan sidang terbatas. Kakang diharap
hadir didalam sidang itu.”
“O, sidang terbatas?”
“Ya, ada sesuatu yang harus segera
diselesaikan. Karena itu kakang diharap hadir didalam sidang itu.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya.
Firasatnya tiba2 saja telah menyentuh perasaannya. Karena itu, maka ia mengambil
kesimpulan didalam hatinya, “Tentu ada sesuatu yang benar2 penting. Bukan saja
bagi Singasari, tetapi juga bagi Anusapati.”
Tetapi Mahisa Agni tidak dapat
memperhitungkan sikap apakah yang akan diambil oleh Sri Rajasa. Karena itu, maka
ia tidak segera melihat kemungkinan yang dapat dilakukan. Agar perwira itu
segera pergi meninggalkan bangsalnya maka iapun kemudian menjawab, “Perintah Sri
Rajasa aku junjung-tinggi. Besok aku akan menghadap dipaseban dalam.”
“Baiklah kakang. Aku hanya menyampaikan
perintah.”
“Dan perintah itu sudah aku terima.”
Perwira itu mengangguk2kan kepalanya.
Memang ia hanya mendapat tugas untuk menyampaikan perintah, dan perintah itu
memang sudah diterima.
Karena itu maka perwira itupun segera minta
diri. Dan itulah memang yang dikehendaki oleh Mahisa Agni. Semakin cepat menjadi
semakin baik.
Sepeninggal perwira itu, maka Mahisa
Agnipun menarik nafas dalam2. Sebentar lagi beberapa orang akan memasuki
bangsalnya. Karena itu, maka tidak boleh ada orang lain lagi yang akan memasuki
bangsalnya.
Mahisa Agnipun kemudian pergi keruang
depan. Meskipun pintu bangsal itu sudah tertutup, tetapi dari luar masih tampak
di sela2 dinding, bahwa lampunya masih menyala dengan terangnya. Karena itu,
maka Mahisa Agnipun kemudian memadamkan lampu itu sama sekali.
Beberapa orang prajurit yang bertugas
didepan bangsal itupun segera melihat, bahwa ruang depan bangsal Mahisa Agni itu
sudah menjadi gelap.
“Mahisa Agni itu sudah akan pergi tidur,“
berkata salah seorang prajurit.
“Ya, ternyata ia sendirilah yang seperti
ayam,“ jawab prajurit yang lain.
“Kenapa seperti ayam?”
“Bukankah ketika kita bertanya, apakah ia
akan berjalan malam2 begini ia menjawab, bahwa kita ini seperti ayam saja, yang
sudah pergi tidur sejak senja turun.”
Kawan2nyapun tertawa. Katanya, “Memang
sudah cukup malam untuk pergi tidur.”
Yang lainpun terdiam. Mereka memang
menyangka bahwa Mahisa Agni akan segera pergi tidur.
Namun tidak scorangpun dari mereka yang
mengetahui, apa yang akan dilakukan oleh Mahisa Agni itu. Mereka tidak menyangka
bahwa akan ada beberapa orang yang dengan diam2 memasuki halaman bangsal itu dan
kemudian memasuki bangsal Mahisa Agni dari belakang.
Sejenak Mahisa Agni masih menunggu. Tetapi
ia yakin bahwa orang2 itu pasti akan datang menemuinya.
Ternyata Mahisa Agni tidak perlu menunggu
terlampau lama. Sejenak kemudian ia mendengar pintu butulan dibelakang berderit,
dan muncullah beberapa orang memasuki bangsalnya.
“O,“ bisik Mahisa Agni, “aku sudah menduga
bahwa kalian pasti akan datang.”
Witantra tertawa. Katanya, “Kami merasa
wajib datang malam ini seperti yang kau kehendaki. Jika tidak perlu sekali maka
kau tentu tidak akan memanggil kami bersama2.”
“Sebenarnya tidak perlu sekali. Tetapi
memang aku memerlukan kalian didalam keadaan seperti ini. Aku kira kita memang
sudah mulai memanjat kepuncak persoalannya sehingga semuanya akan segera
berakhir. Karena itu, maka kita inipun harus segera mengambil sikap.”
Witantra mengangguk2kan kepalanya.
Jawabnya, “Kami sadar akan hal itu.”
“Tetapi dimana Sumekar?“ bertanya Mahisa
Agni.
“Ia mengantar sampai kebelakang bangsal
ini. Tetapi ia berkata bahwa ia ingin pergi untuk suatu keperluan sebentar.”
“He?“ Mahisa Agni menjadi heran, “kemana?”
“Kami tidak tahu. Tetapi katanya hanya
sebentar saja.”
Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya.
Katanya, “Baiklah sambil menunggu Sumekar, aku ingin berbicara sedikit. Ternyata
bahwa Sri Rajasa sudah menyiapkan sebuah kekuatan untuk melaksanakan niatnya
yang barangkali dengan kekerasan. Ia tidak dapat menghindar lagi dari tuntutan
Ken Umang dan Tohjaya.”
“Memang Sri Rajasa didorong oleh keadaan
yang sulit yang hampir tidak dapat dihindari. Namun bagaimana mungkin ia dengan
tergesa2 mengangkat Anusapati menjadi Pangeran Pati, dan kemudian ingin
melemparkannya?”
“Ada beberapa kemungkinan. Ia ingin
menghilangkan golongan yang bagaimanapun juga masih mengagumi Tunggul Ametung.
Karena sebagian dari mereka mengetahui bahwa Anusapati adalah putera Tunggal
Ametung, maka dengan diangkatnya Anusapati maka pengikutnya tidak akan berbuat
terlampau banyak. Termasuk kau Witantra.”
Witantra tersenyum. Tetapi ia tidak
menjawab.
Dan Mahisa Agnipun meneruskan, “Agaknya
kini Sri Rajasa yakin bahwa pengikut Tunggul Ametung sudah lenyap sama sekali.
Kehadiranmu dikota ini memang banyak menimbulkan persoalan. Tetapi diantaranya
mereka menganggap bahwa dendammu tertuju kepadaku. Apalagi karena kau hanya
sekali dua kali muncul dan tidak menimbulkan kesan yang lain, maka untuk
sementara Sri Rajasa mengabaikanmu.”
Witantra mengangguk2kan kepalanya. Lalu
katanya, “Jika demikian aku dapat mengambil sikap yang lain. Aku akan
menumbuhkan kesan, bahwa aku adalah pengikut Tunggul Ametung yang setia. Nah,
bukankah dengan demikian sikap Sri Rajasa terhadap Anusapati akan berubah?”
“Ya. Tetapi kesempatan kita agaknya
terlampau sempit. Malam ini kalian harus tetap berada disini.”
“Untuk apa?”
“Jika kekerasan itu benar2 terjadi.”
“Dan kami akan melawan segenap prajurit
yang ada dihalaman?”
“Tidak. Aku mempunyai cara lain. Bukan
melawan segenap prajurit yang ada dihalaman ini, tetapi kita berusaha berbuat
sebaik2nya tanpa menimbulkan pertempuran yang hanya akan menmbulkan korban jiwa
saja.”
Witantra mengerutkan keningnya.
Dipandanginya Mahisa Agni dengan pertanyaan yang memenuhi dadanya.
Mahisa Agni seakan2 menyadari, apa yang
dipikirkan oleh Witantra. Karena itu maka katanya kemudian, “Tentu kita tidak
akan mungkin bertempur melawan segenap prajurit dan Senapati yang ada dihalaman
ini dan yang telah diatur pula oleh Sri Rajasa dan orang2nya. Tetapi kita dapat
menemukan cara lain. Kita langsung berhubungan dengan Sri Rajasa.“
Witantra memandang Mahisa Agni dengan
tajamnya, lalu bertanya, “Kita akan memotong langsung kepalanya?”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.
Katanya, “Tidak ada jalan lain. Kita tidak akan berbuat apa2. Kita akan
menemuinya dan menjelaskan persoalannya. Mungkin kita dapat dianggap memaksanya.
Tetapi itu adalah jalan yang terbaik.”
“Sri Rajasa bukan seorang yang mudah
menyerah kepada keadaan Agni,“ berkata Kuda Sempana, “mungkin ia akan
mengtakan pendapat kita, tetapi kita tidak
tahu apa yang akan dilakukan besok.”
“Sabda seorang Maharaja tidak akan berubah.
Jika ia menolak, tentu ia akan menolak seketika itu apapun akibatnya, tetapi
jika ia mengiakannya, maka ia akan melakukannya.”
Kuda Sempana mengangguk2kan kepalanya.
Katanya, “Jika kau yang menjadi Maharaja, maka mungkin sekali kau akan berbuat
demikian. Dan mungkin juga raja2 yang lain. Tetapi apakah demikian pula yang
akan dilakukan oleh Ken Arok yang sekarang bergelar Sri Rajasa Batara Sang
Amurwabumi itu?”
“Aku tidak tahu Kuda Sempana. Mudah2an ia
seorang Kesatria sepenuhnya meskipun masa lampaunya adalah masa lampau yang
kelam.”
“Kita dapat mencoba,“ berkata Mahendra,
“sementara kita menyiapkan diri. Setidak2nya kita mendapat kesempatan untuk
menyelamatkan Putera Mahkota, dan membawa kesuatu tempat yang terpencil dan
aman. Tentu Sri Rajasa tidak dapat menutup mata, bahwa Putera Mahkota Sebagai
Kesatria Putih akan dengan mudah mendapat pengikut apabila Sri Rajasa benar2
ingkar akan janjinya.”
Mahisa Agni mengangguk2kan kepalanya.
Katanya, “Itu adalah pendapat yang baik. Demikian Sri Rajasa menyanggupi untuk
mengambil sikap yang pasti bagi Putera Mahkota, maka kita akan menyingkirkan
Putera Mahkota itu sejauh2nya sementara kita menunggu perkembangan. Putera
Mahkota akan kembali keistana tanpa melanggar haknya dan hak orang lain,
sementara Sri Rajasa tidak akan dapat berbuat apapun lagi, karena persiapan
Putera Mahkotapun telah matang.”
“Ya. Kita akan mencobanya. Mudah2an kita
hanya sekedar berprasangka.”
“Kau terlampau lembut. Tetapi mudah2an kau
benar. Namun seandainya harus terjadi, kita sudah siap. Kita akan langsung
mendapatkan Sri Rajasa, dan jika perlu
menembus barisan pengawalnya.”
“Apaboleh buat,“ sahut Mahisa Agni. Lalu,
“Sekarang, kalian dapat beristirahat disini. Aku menjamin bahwa tidak akan ada
orang lain yang mengetahuinya. Biarlah kita menunggu Sumekar. Mungkin ia sedang
mengamat2i perkembangan baru dihalaman istana ini.”
“Aku ingin juga keluar sebentar. Aku akan
berhati2,“ berkata Witantra.
“Kita menunggu Sumekar sejenak.”
Witantra mengangguk2kan kepalanya, dan
Mahisa Agni berkata seterusnya, “Aku besok dipanggil dibangsal paseban.”
Witantra memandang Mahisa Agni sejenak.
Lalu, “Tidak ada penjelasan lagi?”
“Tidak.”
“Dan dihalaman ini terjadi kesibukan malam
ini?”
“Sedikit. Aku tidak melihat bahaya yang
menentukan. Namun aku tidak tahu, bahwa timbul firasatku bahwa justra paseban
besok akan menentukan sesuatu sehubungan dengan kegiatan malam ini.“
“Kita memang harus mengamati keadaan.
Mungkin sekali terjadi. Justru ketika kau berada dipaseban, para prajurit
mengambil tindakan terhadap Putera Mahkota. Tentu tidak mengetahuinya.”
“Akupuu menduga demikian. Jika tidak, tentu
tidak akan ada kegiatan yang melampaui kebiasaan dan sehubungan dengan sikap dan
penglihatan Sumekar, bahwa yang terjadi halaman ini tidak pernah dilihatnya
sebelumnya.”
“Tentu ada hubungannya.”
“Dan akupun ternyata diikuti oleh seorang
prajurit ketika aku berjalan2 dihalaman.”
Witantra dan kedua kawan2nya saling
berpandangan. Seakan2 mereka telah menjadi yakin, bahwa sesuatu memang akan
terjadi.
Karena itulah maka Witantrapun berkata,
“Baiklah aku mengamati keadaan. Mungkin kita haras bertindak cepat. Aku akan
memberikan isyarat dari kejauhan dan kalian harus segera pergi kebangsal Sri
Rajasa.”
“Tetapi hati2lah. Akupun akan menengok
bangsal Anusapati,” jawab Mahisa Agni.
“Jika demikian,“ berkata Kuda Sempana
kemudian, “kita berada diluar bangsal ini saja, karena agaknya memang lebih
aman. Kita mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu.”
“Baiklah,“ berkata Mahisa Agni, “tetapi
kita menunggu Sumekar sejenak. Kita mendengar pendapatnya.”
Witantra mengangguk2kan kepalanya. Katanya,
“Baiklah. Tetapi jangan terlalu lama. Hari menjadi semakin malam.”
“Tentu tidak lama,“ Kuda Sempanalah yang
menyahut, “ia hanya akan singgah sejenak. Dan iapun akan segera menyusul
kemari.”
Sejenak mereka saling berdiam diri. Mereka
menunggu kedatangan Sumekar yang memisahkan dirinya ketika mereka memasuki
halaman istana.
“Lama sekali,“ desis Mahendra.
“Mungkin ia singgah kegubugnya.“
Mahendra menarik nafas dalam2.
Namun tiba2 saja mereka dikejutkan oleh
guruh yang seakan2 meledak diatas istana. Begitu kerasnya dan mengejutkan
segenap bangunan yang ada dilingkungan halaman istana serasa bergetar karenanya.
“Mengejutkan,“ desis Kuda Sempana.
Witantra mengerutkan keningnya. Lalu
katanya, “Bukankah ketika kita memasuki halaman ini, langit nampaknya bersih?”
Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Namun
merekapun kemudian mendengar angin yang menderu, seakan2 semakin lama menjadi
semakin keras.
“Angin,“ desis Mahendra, “agaknya hujan
memang akan turun.”
Mahisa Agni hanya mengangguk2kan kepalanya
saja. Tetapi tiba2 saja terasa dadanya berdesir ketika ia melihat kain2 selintru
bergetar oleh angin yang menyusup dinding. Bahkan terasa pada kulit tubuh
mereka, angin yang basah berhembus melintasi ruangan.
Sekali lagi mereka mendengar guruh
dilangit. Suaranya menggelegar berkepanjangan, seperti sebuah pedati raksasa
yang lewat dijalan langit yang berbatu2. Panjang sekali.
Orang2 yang ada didalam bangsal itu menaiik
nafas dalam2. Terasa udara malam menjadi asing. Angin yang berhembus rasa2nya
semakin lama menjadi semakin kencang.
“Musim hujan memang sudah tiba,“ berkata
Mahendra.
“Tetapi belum waktunya angin dan guntur
bersahut2an dilangit,“ sahut Witantra.
“Memang kadang2 terjadi kelainan seperti
ini,“ berkata Mahisa Agni, “ketika Akuwu Tunggul Ametung masih memerintah pernah
juga terjadi hujan dikelainan musim. Tiga hari tiga malam. Kemudan pada masa
pemerintahan Sri Rajasapun pernah juga terjadi.”
“Ingatanmu baik sekali Mahisa Agni.”
“Kebetulan saja bersamaan waktunya dengan
kejadian besar yang tidak dapat aku lupakan. Mungkin masih banyak terjadi
kelainan musim. Tetapi aku sudah tidak ingat lagi.”
“Kejadian besar yang manakah yang kau
maksudkan?“ bertanya Witantra.
“Yang pertama menurut ingatanku, yaitu pada
saat pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung adalah saat2 menjelang akhir
pemerintahannya. Hujan turun beberapa hari. Tetapi waktu itu
kita tidak menghiraukannya, karena musim
hujan memang sudah diambang pintu.”
“Seperti saat ini.”
“Ya, seperti saat ini.”
“Dan pada masa pemerintahan Sri Rajasa?“
“Tiba2 saja hujan turun seperti dicurahkan
dari langit.“
“Ya. Bersamaan waktunya dengan peristiwa
yang mana?”
“Menjelang gugurnya Sri Kertajaya Maharaja
di Kediri.”
Witantra menarik nafas dalam2. Katanya,
“Pantas kau dapat mengingatnya. Sebenarnya yang kau ingat bukan hujan dan angin,
tetapi peristiwa2 besar itulah agaknya.“
“Sudah aku katakan. Mungkin musim yang
salah itu sering terjadi. Tetapi tentu aku tidak dapat mengingatnya lagi.”
Merekapun terdiam ketika mereka mendengar
guruh sekali lagi mengumandang dilangit. Seleret cahaya yang terang benderang
telah membelah kegelapan malam, disambut oleh suara angin yang gemerasak
didedaunan.
“Anginpun ikut berbicara bersama kita. Kau
dengar?” bertanya Mahendra.
Yang lain mengangguk2kan kepalanya. Namun
tampaklah wajah Witantra menjadi bersungguh2. Sambil menganggukkan kepalanya ia
berkata, “Kadang2 kejadian2 besar memang ditandai oleh peristiwa alam yang agak
lain dari urutan musimnya.”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya.
Dipandanginya wajah Witantra sejenak. Lalu, “Apakah ada sesuatu terasa
dihatinya.”
“Semacam firasat buruk,“ Kuda Sempanalah
yang menyahut.
“Ya,“ berkata Mahendra pula. “Ada sesuatu
yang lain dihati ini.“
Mahisa Agni menarik nafas dalam2. Katanya,
“Inikah pertanda itu?“ ia terdiam sejenak, lalu, “jika demikian tinggallah
kalian disini. Aku akan pergi kebangsal Anusapati.“
Witantra termenung sejenak. Lalu, “Kenapa
kau? Kenapa bukan aku?”
“Aku lebih leluasa bergerak dihalaman
istana ini.”
Witantra tidak segera menyahut. Tetapi
sepercik cahaya telah memancar lagi. Terang sekali, diiringi suara guruh yang
menggelegar dilangit.
Belum lagi suara guruh itu lenyap,
terdengar sesuatu yang mendebarkan jantung. Perlahan2 pintu butulan telah
diketuk orang.
“Sumekar,“ desis Mahisa Agni.
Mahendrapun kemudian berdiri. Dengan hati2
ia menarik selarak. Ketika pintu terbuka sedikit, mereka yang ada didalam
ruangan itupun terkejut bukan kepalang. Ternyata yang datang sama sekali bukan
Sumekar, tetapi Anusapati.
“Kau Anusapati?“ bertanya Mahisa Agni
perlahan2.
Anusapati tidak menjawab, Iapun kemudian
melangkah masuk dengan ragu2. Dilihatnya beberapa orang yang sudah ada diruangan
itu.
“Duduklah.“
Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi
ia bertanya, “Dimanakah paman Sumekar?”
Pertanyaan itu mengejutkan Mahisa Agni dan
orang2 yang ada didalam bilik bangsal itu.
“Pamanmu Sumekar tidak ada disini,“ jawab
Mahisa Agni, “kami memang sedang menunggunya.”
“Baru saja paman Sumekar datang kepadaku.”
“O,“ kata2 itu sangat menarik perhatian.
Lalu, “dimana ia sekarang?“ bertanya Mahisa Agni.
“Aku sedang mencarinya kemari. Menurut
paman Sumekar, ia akan pergi kebangsal ini.”
“Ia belum datang. Mungkin ia singgah
ditempat tinggalnya atau keperluan lain. Sebentar lagi ia akan datang. Karena
iapun menyatakan kepada kami, bahwa ia akan segera datang.”
Anusapati memandang Mahisa Agni dengan
heran. Katanya, “Paman Sumekar mengatakan kepadaku, bahwa paman menyuruhnya
pergi kepadaku.”
“Aku?”
“Ya paman.”
“Kenapa aku? Dan apa katanya?”
“Paman menyuruh paman Sumekar kebangsalku
dan dengan diam2 menemui aku, karena paman ingin melihat keris mPu Gandring
itu.”
“Keris mPu Gandring?”
“Ya. Paman Sumekar telah membawa keris itu,
yang menurut paman Sumekar akan diserahkannya kepada paman Mahisa Agni.”
Jawaban itu telah mengguncangkan dada
Mahisa Agni dan orang2 yang ada diruangan itu, sehingga Witantra bergeser
setapak. “Jadi, keris itu sekarang dibawa oleh Sumekar.”
“Ya.”
Terasa sesuatu bergejolak disetiap dada.
“Bagaimana paman,” bertanya Anusapati,
“apakah tidak demikian?”
“Katakan Anusapati, bagaimana hal itu
terjadi.”
Anusapati menjadi gelisah. Katanya, “Paman
Sumekar datang kepadaku dengan diam2. Paman Sumekar membawa pesan paman
Mahisa Agni untuk membawa keris itu. Karena
paman Mahisa Agni ingin melihatnya.”
“Bukankah aku pernah melihat keris itu?”
“Ya, tetapi menurut paman Sumekar, paman
Mahisa Agni ingin melihat lebih cermat lagi, apakah keris itu benar2 keris mPu
Gandring.“
“Ah,“ Mahisa Agni berdesah.
“Jadi, apakah tidak demikian?“ bertanya
Anusapati.
Mahisa Agni tidak segera menjawab. “Ia sama
sekali menduga bahwa tiba2 terjadi suatu hal yang tidak dapat dimengertinya.
Sumekar selama ini tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali. Namun tiba-tiba ia
telah berbuat sesuatu yang tentu mendebarkan jantung.”
“Tetapi tentu bukan maksudnya untuk
mencelakakan Anusapati, Justru selama ini ia menunjukkan betapa ia ingin berbuat
sesuatu untuk Anusapati.”
Ternyata pikiran itu justru telah
mengejutkan Mahisa Agni sendiri. Sekali lagi diulanginya didalam hatinya,
“Sumekar ingin berbuat sesuatu untuk Anusapati.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam2.
“Jadi, bagaimanakah sebenarnya paman?“
desak Anusapati.
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian.
Dengan hati2 ia ingin menjelaskan masalahnya, “Aku tidak memberikan pesan itu
kepada pamanmu Sumekar.”
“Jadi apakah maksud paman Sumekar?”
Mahisa Agni memandang wajah Witantra, Kuda
Sempana dan Mahendra berganti2. Sebelum ia berkata sesuatu, Kuda Sempana telah
berdesis, “Memang mengherankan. Tetapi juga mencemaskan.“
“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni, “selama
ini Sumekar telah berbuat sebaik2nya bagimu. Selama ini ia berusaha untuk
membantumu jika kau berada didalam kesulitan. Karena itu, jika ia membawa keris
itu, tentu maksudnya sama sekali tidak diarahkan kepadamu. Namun demikian, kita
masih juga tetap meraba2. Karena itu, marilah kita mencarinya. Mungkin kau dapat
mencarinya kesekitar bangsal ayahandamu. Tetapi ingat, dengan diam2. Aku akan
mencarinya ditempai lain yang lebih berbahaya, didaerah seberang dinding. Siapa
tahu, Sumekar pergi kebangsal Ken Umang dan Tohjaya dengan keris itu ditangan.
Jika kita bertemu dengan Sumekar, maka cobalah membujuknya. Bawalah ia kebangsal
ini. Katakan bahwa pamanmu Kuda Sempana menunggunya, karena pamanmu Kuda Sempana
adalah saudara tua seperguruan dari pamanmu Sumekar.”
“Baiklah paman. Aku akan mencoba
mencarinya.”
“Hati2lah. Jangan sampai terjadi sesuatu
yang tidak kita kehendaki, meskipun agaknya persiapan didalam istana ini menjadi
semakin meningkat.”
“Itulah yang akan aku katakan kepada paman
Sumekar, agar ia menjadi berhati2, karena menurut pengamatanku, ada beberapa
kelainan dihalaman istana ini.”
“jika demikian, apakah aku juga dapat ikut
mencarinya?“ bertanya Witantra.
“Ada juga baiknya. Tetapi aku harap Kuda
Sempan dan Mahendra tetap berada dibangsal ini. Aku kira tidak akan ada orang
yang akan memasukinya. Jika ada, tentu orang itu membawa tugas rahasia.“
“Baiklah paman. Aku akan mencarinya.”
“Marilah kita pergi. Berhati2lah. Aku juga
harus berhati2, karena di bangsal Tohjaya itu kini mendapat penjagaan yang
sangat kuat.“
“Aku akan mencarinya ditempat lain dari
kedua tempat itu.”
Demikian, seorang demi seorang, Mahisa
Agni, Witantra dan Anusapati meninggalkan bangsal itu. Sebelum Anusapati
mengikuti pamannya keluar dari pintu butulan, Kuda Sempana masih sempat
berpesan. “Tuanku Putera Mahkota, Sumekar sebenarnya adalah seorang yang keras
hati. Karena itu, jika tuanku bertemu, katakan bahwa tuanku mendapat pesan
daripadaku, bahwa aku akan menemuinya sejenak tanpa merubah rencananya.”
“Baiklah paman. Mudah2an aku dapat
menemuinya.”
“Silahkan. Tetapi seperti pesan paman
tuanku, berhati2lah. Agaknya persiapan yang meningkat ini diarahkan kepada
tuanku.”
“Sebenarnya aku memang sudah menduga paman.
Tetapi agaknya pamanda Mahisa Agni terlampau mempercayai kelembutan hati manusia
yang lain seperti dirinya sendiri. Seakan2 didunia ini memang tidak ada
kedengkian dan kepalsuan.“
“Sukurlah jika tuanku sudah menyadarinya.”
“Tetapi jika mereka benar2 bertindak malam
ini, agaknya aku sudah terlambat. Kecuali meninggalkan istana ini, hanya seorang
diri, tanpa anak dan isteriku.”
“Sekarang, silahkan angger mencari Sumekar.
Memang agaknya lebih aman disekitar bangsal Sri Rajasa, justru karena Sri Rajasa
memiliki kelebihan dari orang lain, sehingga tidak memerlukan penjagaan sekuat
bangsal ibunda Ken Umang dan adinda tuanku Tohjaya.”
“Terima kasih paman. Aku minta diri.”
Anusapatipun kemudian dengan hati2
meninggalkan bangsal itu lewat halaman belakang yang sepi. Dengan lincahnya ia
meloncat keatas dinding batu yang tinggi dan kemudian hilang dibalik dinding
itu.
Dalam pada itu, maka tiga orang yang tanpa
diketahui oleh para penjaga, telah menyusup diantara gerumbul2 pohon bunga
dihalaman. Yang seorang menuju kebangsal Sri Rajasa, yang memang tidak begitu
banyak mendapat penjagaan, justru karena
setiap orang yakin, bahwa Sri Rajasa
memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain, serta atas perhitungan
bahwa tentu tidak akan ada seorangpun yang berani mengganggunya, sedang yang
seorang lagi pergi kebangsal di bagian lain dari istana Singasari, yaitu bangsal
Ken Umang dan Tohjaya serta adik2nya. Kemudian Witantra mencoba mencari dibagian
lain dihalaman istana itu. Mungkin justru Sumekar menjumpai bahaya
diperjalanannya menuju kebangsal Mahisa Agni.
Sementara itu guntur dilangit masih juga
terdengar sekali2 meledak memekakkan telinga. Angin yang kencing bertiup
diantara dedaunan, sehingga lampu yang sudah dinyalakan dihalaman dan di gardu2
bagaikan diguncang2, sehingga kadang2 sinarnya menjadi amat redup dan bahkan
hampir padam.
“Suasananya terasa aneh sekali,“ gumam
seorang prajurit, “guntur dan guruh tiba2 saja berkejar2an dilangit yang sehari
ini tampak cerah.”
“Tiba2 saja. Aku menjadi bertanya2 didalam
hati, apakah ini suatu pertanda.”
“Pertanda apa?”
“Aku tidak mengerti, kenapa kita harus
bertugas malam ini. Inipun suatu perintah tiba2 seperti guruh yang tiba2 saja
meledak dilangit.”
“Apakah kau sama sekali tidak mengerti
persoalan yang sedang berkecamuk dihalaman istana ini?”
“Aku memang mendengarnya, tetapi aku ragu2
untuk mempercayainya.”
“Apa?”
“Besok pagi dipaseban akan ada sidang para
pemimpin yang akan membicarakan kenaikan upah bagi para prajurit.”
“Ah,“ prajurit yang lain berdesah.
“Apakah bukan itu yang kau maksud?”
“Tentu bukan.”
“Jadi?”
“Pertentangan yang semakin lama menjadi
semakin tajam antara kedua putera Sri Rajasa.”
“Lalu, apakah hubungannya dengan kita
sekarang ini?”
“Kita harus berjaga2, agar tidak terjadi
bentrokan terbuka antara keduanya dan para pengikutnya.“
Kawannya mengangguk2kan kepalanya. Tetapi
ia tidak berbicara lagi.
Namun dalam pada itu, kedua prajurit itu
tidak mengerti bahwa seorang perwira sedang memperhatikan mereka. Perwira itu
kadang2 mengerutkan keningnya, kadang2 wajahnya menjadi tegang. Tetapi kemudian
sebuah senyum menghiasi bibirnya. Katanya didalam hati, “Tentu kalian tidak
mengerti apa yang harus kalian lakukan. Besok kalian harus menguasai keadaan
jika beberapa orang Senapati menangkap Anusapati dan Mahisa Agni di paseban.
Perintah itu baru akan datang besok pagi jika paseban sudah penuh dengan mereka
yang akan mengikuti Sidang. Dan bahkan ketika Sri Rajasa sudah duduk di paseban
itu pula.”
Tetapi Senapati yang tersenyum itupun tidak
mengetahui bahwa dihalaman itu merayap beberapa orang yang sedang melakukan
tugas masing2. Dan merekapun tidak tahu, bahwa seseorang yang lebih dahulu dari
ketiga orang yang lainpun sedang merayap pula diantara rimbunnya pepohonan.
Bukan saja sedang mengendap2 mencari seseorang, tetapi ternyata bahwa ia telah
menggenggam keris telanjang ditangannya.
Keris bukan sembarang keris, tetapi keris
itu pusaka yang dibuat oleh mPu Gandring. Keris yang sudah dibasahi dengan darah
mPu Gandring sendiri dan darah Akuwu Tunggul Ametung. Sehingga dengan demikian
keris yang sudah bernoda darah itu agaknya justru telah menjadi haus. Seperti
yang dipesankan oleh mPu Gandring menjelang tarikan nafasnya yang terakhir, agar
keris itu
dihancurkan saja, karena keris itu tentu
akan menuntut darah orang berikutnya.
Demikianlah dengan berdebar2 Anusapati,
Mahisa Agni dan Witantra berusaha menemukan Sumekar sebelum terjadi apapun juga,
karena dugaan mereka semakin lama menjadi semakin kuat bahwa Sumekar akan
mengambil tindakan tersendiri. Sudah sejak beberapa lamanya, Sumekar merasa
bahwa keadaan yang terkatung2 itu harus diakhiri dengan caranya. Dan cara itulah
yang mendebarkan hati Anusapati, Mahisa Agni dan kawan2nya.
Dalam pada itu Anusapatipun menjadi semakin
dekat dengan bangsal Sri Rajasa. Tetapi ia harus sangat berhati2. Jika seseorang
melihatnya, persoalannya tentu akan menjadi berbeda. Dan ia tidak akan dapat
ingkar lagi, seandainya para prajurit dan kemudian Sri Rajasa sendiri menuduhnya
untuk melakukan perlawanan terhadap ayahanda Sri Rajasa bahwa tuduhan yang lebih
berat lagi, usaha membunuh Sri Rajasa.
Atas kesadaran itu, maka Anusapatipun
menjadi semakin hati2. Ia sama sekali tidak berani mendekati bangsal itu dari
depan. Tetapi ia menyusur dinding batu dibelakang bangsal itu dan mendekat lewat
longkangan belakang.
“Ayahanda sering menghirup udara di
longkangan itu,“ berkata Anusapati.
Namun ia menjadi ragu2. Sri Rajasa adalah
seorang yang memiliki kemampuan tiada taranya. Jika ia berani mendekat, maka Sri
Rajasa itu tentu dapat mengetahuinya.
Karena itulah, maka untuk beberapa saat
Anusapati menjadi termangu2. Namun ada semacam dorongan yang memaksanya untuk
bergerak lebih dekat lagi.
“Aku akan melihat dari kejauhan lebih
dahulu,“ berkata Anusapati didalam hatinya, “agar seandainya ayahanda benar2 ada
didalam aku tidak terjebak oleh incerannya yang sangat tajam.”
Demikianlah, maka Anusapatipun telah
memanjat sebatang pohon preh yang rimbun. Didalam gelapnya malam dan angin yang
rasa2nya bertiup semakin kencang, tidak seorangpun yang memperhatikan pohon preh
yang bagaikan diguncang2 itu.
Hanya setiap kali tatit memancar dilangit,
Anusapati harus melekat pada batang pohon preh itu agar tidak menimbulkan
kecurigaan.
Ketika Anusapati sudah berada ditempat yang
cukup tinggi, maka iapun segera menyelusur sebatang cabang yang besar, agar ia
dapat melihat kedalam longkangan dalam.
Terasa jantung Anusapati bagaikan berhenti
berdenyut. Dari tempatnya, ia melihat seseorang telah berada didalam longkangan
belakang bangsal Sri Rajasa. Didalam keremangan cahaya lampu dilongkangan itu.
Anusapati melihat, orang itu membawa sebilah keris telanjang.
“Paman Sumekar,“ ia berdesis.
Sejenak Anusapati justru terpukau oleh
pemandangan itu. Ia merasa sesuatu menyentuh hatinya. Sumekar berbuat hal itu
justru untuk kepertingannya, karena Sumekar sudah jemu melihat perkembangan yang
tidak menentu diistana Singasari ini.
Tetapi apakah ia akan berdiam diri saja
melihat tindakan Sumekar itu?
Tiba2 sesuatu terbersit di dalam hatinya.
Sebagai manusia biasa Anusapati tidak terlepas dari gangguan kepentingan diri.
Itulah sebabnya telah terjadi semacam benturan didalam dirinya. Seperti yang
dipesankan oleh pamannya, bahwa sebaiknya ia berusaha membujuk Sumekar untuk
kembali ke bangsal Mahisa Agni, namun didalam hatinya yang paling dalam ia
berkata kepada diri sendiri. “Apakah aku sudah melanggar pesan paman Mahisa Agni
jika aku membiarkan paman Sumekar melakukan usahanya untuk menyingkirkan
ayahanda Sri Rajasa? Bukankah aku bukan sanak dan bukan kadangnya.”
Anusapati justru menjadi ragu2.
Namun sesuatu yang mendesak didalam hatinya
justru pengaruh pertentangannya dengan ayahanda Sri Rajasa. Persiapan-persiapan
yang menjadi semakin ketat didalam istana Singasari. Dan apalagi ketika
terbersit tanggapannya, “Ayahanda mempersiapkan semuanya ini untuk menyingkirkan
aku. Tentu bukan sekedar menyingkirkan saja dari istana Singasari ini, tetapi
tentu juga mengancam jiwanku.“ lalu tiba2 ia bergumam, “selagi ayahanda Sri
Rajasa masih ada, maka ancaman maut itu tidak akan dapat aku hindarkan. Tetapi
apakah aku tidak berhak membela diriku? Dan jika perbuatan paman Sumekar itu
merupakan perlindungan bagi jiwaku tanpa berbuat langsung, itu aku dapat
dipersalahkan?”
Dalam keragu2an itu, terasa darah Anusapati
seakan2 terhenti. Ternyata dari dalam bangsal itu, Sri Rajasa mengetahui bahwa
seseorang ada dilongkangan dalam.
“sangat berbahaya bagi paman Sumekar.”
berkata Anusapati kepada diri sendiri. Tanpa disadarinya ia mencoba
memperhatikan para prajurit yang ada didepan bangsal itu.
“Apakah mereka tidak akan mendengar jika
terjadi perkelahian.“
Dalam pada itu, angin seakan2 menjadi
semakin kencang, dan guruh meledak2 dilangit. Memang suatu kelainan musim yang
aneh.
“Angin yang keras ini akan melindungi paman
Sumekar,“ berkata Anusapati didalam hatinya. “Namun jika ayahanda Sri Rajasa
memberikan isyarat kepada para prajurit, maka paman Sumekar akan menjadi sayatan
daging di longkangan itu.“
Hati Anusapati menjadi semakin berdebar2.
Ia sadar, betapa marahnya Sri Rajasa. Tetapi agaknya Sumekarpun sudah bertekad
bulat.
“Aku harus mendekat. Aku harus melihat
akhir dari peristiwa ini.”
Dengan tergesa2 Anusapatipun segera turun
dari pohon preh itu. Namun ia masih tetap sadar, bahwan ia memang harus
berhati2.“
Demikianlah, selagi Anusapati meluncur
turun dari pohon preh yang besar itu. Sri Rajasa telah berada dilongkangan
belakang. Sebagai seorang yang memiliki kelebihan, maka iapun segera mengetahui
bahwan ada seseorang yang mencurigakan dilongkangan. Apalagi Sumekar, yang
memang dengan hati yang bulat dan sikap yang pasti, ingin berbuat sesuatu bagi
Singasari menurut caranya.
Itulah sebabnya ia dengan sengaja telah
memancing Sri Rajasa untuk keluar dari bangsalnya kelongkangan belakang.
Didalam gemuruhnya angin kencang dan guntur
yang sekali2 meledak dilangit, maka terdengarlah suara Sumekar lamat2 dan yang
hanya didengar oleh Sri Rajasa sendiri, “Tuanku, ternyata perbuatan tuanku sudah
tidak dapat dihentikan dengan cara yang ditempuh oleh Mahisa Agni. Justru pada
saat Mahisa Agni berusaha dengan segala kelemahan yang ada padanya, tuanku
mempergunakan kesempatan ini sebaik2nya. Persiapan yang tuanku lakukan bukannya
sekedar sebuah permainan yang dapat dianggap sebagai angin lalu. Tentu ada
maksud tuanku yang tidak akan dapat tuanku ingkari lagi, memusnahkan Putera
Mahkota dan Mahisa Agni sekaligus.“
Sri Rajasa menjadi marah bukan buatan
mendengar kata2 Sumekar. Namun ia masih sempat bertanya, “Siapa kau?”
“Apakah tuanku belum pernah melihat hamba?
Hamba adalah seorang Pengatasan dari Batil.”
“Apa perlumu datang kemari?”
“Hamba ingin memberikan sedikit darma bakti
bagi Singasari. Hamba adalah orang yang kagum kepada tuanku yang telah berhasil
menyatukan Singasari yang besar dengan segala macam kelebihan tuanku dibidang
pemerintahan dan keprajuritan. Namun menyesal sekali bahwa hamba tidak sampai
hati melihat apa yang akan tuanku lakukan disaat2 menjelang hari tua tuanku.
Hamba tidak rela melihat usaha tuanku menyerahkan Singasari kepada
seseorang yang tidak akan dapat meneruskan
keagungan pemerintahan tuanku.”
“Aku tidak tahu maksudmu.“
“Tuanku, sebenarnyalah hamba berharap agar
tuanku tidak menarik keputusan tuanku untuk menyerahkan kekuasaan Singasari dari
tangan Anusapati, karena menurut pengamatan hamba, Putera Mahkota Anusapati akan
dapat mengendalikan kekuasaan Singasari dan memperkembangkannya seperti yang
tuanku kehendaki. Tetapi tentu tidak demikian dengan tuanku Tohjaya. Tuanku
Tohjaya seperti ibundanya, adalah seorang yang paling tamak diseluruh
Singasari.“
“Cukup,“ bentak Sri Rajasa.
Meskipun suaranya cukup keras namun para
prajurit didepan bangsal itu tidak dapat mendengarnya karena angin yang keras
diseling dengan suara guntur yang menggelegar.
“Apakah kau ada hubungan keluarga dengan
Anusapati?“ bertanya Sri Rajasa.
“Tidak. Aku tidak mempunyai hubungan
keluarga dengan tuanku Anusapati, juga tidak dengan tuanku Tohjaya.“
“Kau adalah pengikut Tunggul Ametung yang
setia.”
“Pada jaman Akuwu Tunggul Ametung, aku
tidak tahu apa2 sama sekali.”
“Jadi, apa sebenarnya yang kau kehendaki?“
“Kelangsungan hasil kerja tuanku Sri Rajasa
yang besar.”
“Gila, kau ingin kelangsungan hidup
Singasari yang besar atas usahaku sekarang kau datang dengan cara yang gila
ini.”
“Tuanku, hamba mohon agar tuanku
mengurungkan niat tuanku untuk menggeser tuanku Anusapati. Tuanku tidak usah
ingkar. Dan hamba mengharap agar tuanku Tohjaya dibatasi kekuasaannya
sehingga bukan tuanku Tohjayalah yang
seakan2 menjabat sebagai seorang Pangeran Pati. Tetapi tuanku Anusapati.”
“Jangan gila pengalasan dari Batil. Aku
berhak menentukan apa saja. Bukan kau. Aku mempunyai kekuasaan tidak terbatas di
Singasari.”
-ooo0dw0ooo-
JILID 79
“ ITULAH kesalahan tuanku, Justru karena
tuanku merasa memiliki kekuasaan yang tidak terbatas. “
“ Lalu apa maumu sebenarnya. “
“ Sudah hamba katakan. “
“ Gila, aku tidak mau mendengar kata2mu
itu. Aku berhak mengatakan apa saja yang ingin aku katakan. Dan aku berhak
memutuskan apa yang ingin aku putuskan. “
“ Tuanku “ berkata Sumekar yang bagaikan
orang kehilangan, nalar “ hamba tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Hamba
mohon tuanku berjanji. “
“ Tidak. “
“ Kenapa tidak? “
” Kau gila. “
“ Tidak tuanku, hamba tidak gila. Hamba
ingin hal itu terjadi. Tuanku harus berjanji. “
“ Aku tidak mau. “
“ Jika tidak, hamba terpaksa melakukan
kekerasan. Untuk kepentingan kabesaran hasil usaha tuanku atas Singasari, maka
hamba terpaksa menyingkirkan tuanku. ”
“ Kau gila. Kau benar2 sudah menjadi gila.
“
“ Tinggal ada dua pilihan. Memenuhi
permohonan hamba, atau hamba terpaksa membunuh tuanku. Lihat, hamba sudah
membawa pusaka yang pasti tuanku kenal. “
Sri Rajasa memandang keris ditangan Sumekar
itu dengan dada yang ber-debar2. Ia tahu bahwa keris itu tentu jatuh ketangan
Anusapati lewat ibundanya. Maka katanya
“ Kau tentu mendapat perintah dari
Anusapati, atau Mahisa? Agni atau bahkan dari Ken Dedes sendiri. “
“ Tidak. Tidak seorangpun memerintahkan
kepada-hamba. Hamba justru telah menipu tuanku Anusapati, sehingga hamba
mendapatkan keris buatan mPu Gandring ini.. Keris yang sudah pernah menjilat
darah. „
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu
menjadi ber-debar2. Dipandanginya keris buatan mPu Gandring itu. Keris yang
pernah dipergunakannya untuk membunuh beberapa orang. Diantaranya adalah mPu
Gandring sendiri.
Sri Rajasa menarik nafas dalam2. Katanya “
Apakah kau sudah gila? Kau tentu tahu bahwa aku adalah Sri Rajasa. Seseorang
yang pernah mengalahkan dan membinasakan Maharaja di Kediri. Sekarang, kau
seorang pengalasan yang bodoh mencoba untuk membunuh aku. Apapun yang kau
genggam, namun tentu nyawamu sendirilah yang akan direnggut oleh ujung senjata
itu. Karena itu, urungkan niatmu. Aku tidak akan menuntut hukuman apapun karena
aku tahu, bahwa kau sedang terganggu syarafmu. Aku akan melupakannya. Dan kau
dapat bekerja seperti biasa ditaman istana Singasari ini. Tetapi, serahkan keris
itu kepadaku. “
“ Maaf tuanku. Hamba mohon jawaban tuanku.
Apakah tuanku mengurungkan niat tuanku untuk menyingkirkan tuanku Anusapati apa
tidak. Jawaban tuanku adalah jawaban seorang Maharaja yang tentu tidak akan
dijilat kembali meskipun musim berubah sehari tujuh kali. “
Sri Rajasa menjadi tegang. Kemarahan yang
menyala di-dadanya bagaikan membakar jantung. Namun ia masih tetap berusaha
menjaga diri sebagai seorang Maharaja.
Tentu tidak pantas bahwa seorang Maharaja yang besar harus berkelahi melawan
seorang juru taman meskipun didalam beberapa saat saja juru taman itu akan
terbunuh. Dan apakah kata para prajurit yang bertugas diregol, bahwa
dilongkangan ini terdapat mayat seorang pengalasan?
Namun tiba2 Sri Rajasa menggeretakkan
giginya. Katanya
“ Para prajurit memang terlampau malas.
Kenapa mereka tidak melihat seorang pengalasan yang tiba2 saja sudah berada di
longkangan ini? “
“ Tuanku “ berkata Sumekar kemudian “
tuanku belum memberikan jawab. “
” Pangalasan yang dungu “ berkata Sri
Rajasa kemudian
“ seharusnya kau dapat mengerti, bahwa
usahamu ini akan sia2. Mungkin kau memang memiliki beberapa kelebihan karena
ternyata kau dapat sampai dilongkangan ini tanpa diketahui oleh seorangpun.
Tetapi kau seharusnya mengerti, siapakah yang sedang kau hadapi sekarang. Karena
itu, serahkan keris itu dan tinggalkan longkangan ini. Aku akan mengampunimu,
karena seperti yang aku katakan, bahwa aku menganggap kau sekarang sedang
dihinggapi setan, atau katakanlah bahwa kau memang mempunyai penyakit gila. “
Sumekar memang tidak melihat bahwa Sri
Rajasa akan mengerti maksudnya. Karena itu maka katanya, “ Ampun tuanfcu. Untuk
kepentingan Singasari yang besar, dan sebagai timbangan yang tidak berarti bagi
kesatuan Singasari yang telah tuanku bina hamba terpaksa membunuh tuanku, agar
tuanku Tohjaya tidak akan mendapat kesempatan untuk menduduki tahta Singasari.
Sebenarnya bukan niat hamba untuk membunuh. Tetapi apa boleh buat, karena
ternyata tuanku tidak bersedia berjanji untuk tidak memberi kesempatan kepada
tuanku Tohjaya yang manja dan tamak itu.”
“ Pangalasan dari Batil “ berkata Sri
Rajasa “ jangan membunuh diri disini. Jika kau memang terganggu oleh pikiran
gila sehingga kau ingin membunuh diri, lakukanlah. Tetapi jangan disini. “
Sumekar memandang Sri Rajasa dari ujung
rambut sampai keujung kakinya. Dan tiba2 saja matanya menjadi liar, sehingga
sambil menggeram ia melangkah maju “ Kesempatan terakhir bagi tuanku. “
Ketika kilat menyambar dilangit, Sri Rajasa
melihat wajah Sumekar semakin jelas. Matanya menjadi merah dan wajah itu
menegang. Tangan yang menggenggam keris itu menjadi gemetar.
Sri Rajasa ter-mangu2 sejenak. Se-akan2 ia
melihat dirinya sendiri ketika ia mengambil keputusan untuk membunuh mPu
Gandring untuk menghilangkan jejak pembunuhan yang akan dilakukannya. Juga
se-akan2 dilihatnya bayangan dirinya sendiri pada saat ia membunuh Akuwu Tunggul
Ametung di Tumapel
“ Apakah memang sudah waktunya aku menebus
kesalahan itu setelah aku berhasil dengan cita2ku mempersatukan Smgasari? “ ia
bertanya kepada diri sendiri.
“ Tetapi tidak lantaran seorang pangalasan.
Tidak lantaran seorang budak yang rendah. Seandainya aku akan mati juga, maka
biarlah orang yang pantas telah membunuhku. “
Tetapi sekali lagi terbayang, bahwa Akuwu
Tunggul Ametungpun mati dibunuh oleh seorang prajurit rendahan, Ken Arok yang
pernah menjadi penghuni padang Karautan, berkawan Malang, berselimut awan dan
beralaskan bumi jika malam telah datang.
“ Tuanku “ berkata Sumekar “ tuanku jangan
mengulur waktu untuk mendapat kesempatan memanggil para prajurit yang bertugas
didepan bangsal ini. Langit yang berawan gelap dan angin yang kencang serta
guruh yang ber-sahut2an adalah pertanda bahwa niatku telah mendapat restu dari
Yang Maha Agung. Tuanku tidak akan dapat memanggil siapapun. juga, karena mereka
tidak akan mendengar suara tuanku. “
“ Pangalasan dari Batil. Aku tidak perlu
memanggil siapapun juga. Aku dapat membunuhmu seperti aku membunuh seekor lalat.
Yang aku pikirkan justru bagaimana aku menyelamatkanmu dari kegilaan ini. “
“ Tuanku jangan berpikir tentang hamba.
Lihatlah langit yang gelap untuk yang terakhir kalinya. Hamba sudah kehabisan
kesabaran dan waktu. “
Sebenarnyalah Sri Rajasapun sudah jemu pula
dengan permainan yang memuakkan itu. Karena itu, maka iapun ingin segera
mengakhirinya. Apapun yang dikatakan oleh para prajurit, bahwa didalam
longkangan itu terdapat seorang pengalasan yang mati, ia tidak peduli. Biarlah
mereka membuang mayat itu seperti membuang mayat pengenrs yang paling rendah
derajadnya karena pengkhianatan yang gila itu.
Karena itu, maka Sri Rajasa tidak menjawab
lagi. Tak menunggu Sumekar menyerangnya. Kemudian dengan sebuah pukulan ia ingin
membunuhnya.
Namun melihat sikap Sumekar, Sri Rajasa
menjadi heran. Sikap itu bukan sekedar sikap seorang juru taman yang bodoh,
bahkan yang telah terganggu urat syarafnya. Ia melihat sikap yang lain pada juru
taman itu, sehingga karena itu, maka Sri Rajasapun menjadi curiga.
Ternyata dugaan itu benar. Untunglah bahwa
ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan, karena ternyata serangan Sumekar
kemudian adalah bagaikan tatit yang sedang berloncatan dilangit.
Sri Rajasa masih sempat mengelak. Dan
dengan kemarahan yang rasa2nya membakar jantungnya, maka iapun menyerang kembali
dengan dahsyatnya pula.
Demikianlah maka keduanyapun segera
terlihat dalam perkelahian yang sengit. Ternyata bahwa kemampuan Sumekar diluar
dugaan Sri Rajasa. Ia mampu me-loncat2 dengan lincahnya seperti anak kijang
dipadang yang luas.
Tetapi lawannya adalah Sri Rajasa. Seorang
yang memiliki kemampuan yang ajaib. Yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun
juga, bahkan oleh Sri Rajasa sendiri.
Dengan demikian maka perkelahian itopun
semak'n lama menjadi semakin dahsyat. Di-sela2 deru guruh dilangit dan desah
angin yang keras, keduanya telah mempertaruhkan jiwa masing2 dalam perkelahian
yang tiada taranya. Bahkan Sumekar tidak ragu lagi mempergunakan ilmunya yang
paling menakjubkan.
Meskipun demikian, ternyata bahwa ia tidak
segera dapat menguasai lawannya. Bahkan kemudian, ketika semakin lama kemampuan
aji puncaknya berhasil mendesak Sri Rajasa, tampaklah, betapa kemarahan yang
menyala didalam dada Sri Rajasa itu telah mempengaruhi tata geraknya, yang
semakin lama menjadi semakin kasar. Tangannya yang terayun kesegala arah,
beserta kakinya yang berloncatan, membuat Sumekar kadang2 menjadi bingung. Namun
karena Sumekar cukup memiliki bekal, maka iapun tetap berhasil menguasai
dirinya.
Namun tiba2 dada Sumekar menjadi ber-debar2
semakin dahsyat. Tiba2 ia melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang hanya pernah
didengarnya. Kini ia benar2 melihat.
Dalam perkelahian yang semakin sengit itu,
tampaklah sesuatu diatas ubun2 Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa itu.
Cahaya yang samar2, yang semakin lama menjadi semakin jelas. Warna merah bara
yang tampak antara ada dan tidak ada.
“ Inilah pertanda kebesarannya “ bertanya
Sumekar kepada diri sendiri.
Namun ia sudah bertekad untuk membunuh Ken
Arok itu dengan keris mPu Gandring. Keris yang pernah dibasahi dengan darah
orang yang menciptakannya, mPu Gandring oleh Ken Arok itu sendiri. Sekarang
keris itu menuntut imbalan yang seimbang. Darah Sri Rajasa Batara Sang
Amurwabumi.
Tetapi tidak mudah untuk membunuh Sri
Rajasa. Betapapun juga Sumekar mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya,
namun ia tidak segera berhasil menyentuh kulit
Sri Rajasa dengan ujung kerisnya,
Segorespun tidak. Betapa ia menghentakkan aji pamungkasnya, yang mendorong
setiap tata geraknya menjadi senakin cepat dan semakin kuat, berlipat ganda,
namun ternyata Sri Rajasa dapat mengimbanginya Bahkan tandangnya semakin lama
menjadi semakin kasar, dan adalah diluar dugaan Sumekar, bahwa cara Ken Arok
bertempur benar2 mencerminkan tata perkelahian sesosok Hantu di padang Karautan.
Agaknya cahaya yang ke-merah2an itulah yang
menuntun segala gerak Ken Arok yang tidak dimengertinya sendiri itu. Kempnararn
uiuna keris Sumekar hereerak dan menyambar, tubuh Ken Arok itu se-akan2 memiliki
mata disetiap jengkal, sehingga ia masih juga mampu menghindarinya.
Bahkan kadang2 kecepatan gerak Ken Arok
benar2 diluar dugaan, sehingga justru Sumekarlah yang sering menjadi bingung dan
kehilangan lawannya.
“ Gila “ Sumekar berdesis “ inilah agaknya
yang telah dapat menolongnya membunuh Maharaja Kediri itu. Kemampuan yang luar
biasa tetapi juga betapa kasar dan liarnya. Kecepatan bergerak dan menyerang.
Kadang2 diluar jangkauan nalar, “
Meskipun demikian Sumekar tidak gentar sama
sekali. Selain aji yang pernah diterimanya dari gurunya, ia juga menggenggam
sipat kandel yang jarang ada duanya dimuka bumi. Keris yang memiliki kemampuan
tiada taranya. Setiap sentuhan, pasti akan berarti maut.
Maka Sumekar mencoba mempergunakan keris
itu sebaiknya. Diputarnya keris itu bagaikan baling2. Kemudian mematuk seperti
mulut ular yang paling berbisa.
Tetapi ia masih belum berhasil menyentuh
lawannya.
Sri Rajasapun menjadi semakin heran melihat
kemampuan Sumekar. Karena itu, maka lapun kemudian bertanya “ Siapakah
sebenarnya kau, dan siapakah yang menyuruhmu datang kemari? “
Sumekar tidak segera menjawab, tetapi ia
menyerang semakin dahsyat, sehingga perkelahian itupun menjadi semakin seru
karenanya.
Sri Rajasa yang sudah kehilangan kesabaran
itupun kemudian menggeram “ Persetan. Aku tidak peduli, siapakah yang menyuruh
kau kemari. Tetapi kau memang harus segera dibinasakan. “
Demikianlah Ken Arok yang bergelar Sri
Rajasa, dan yang pernah merajai Padang Karautan sejak ia masih sangat muda itu,
mengerahkan segenap kemampuannya oleh kemarahan yang mendesak. Karena itu, maka
cahaya yang ke-merah2an-di-ubun2nya itu menjadi semakin terang. Namun dalam pada
itu kemampuannyapun se-akan2 telah berlipat2. Dengan kecepatan yang liar Sri
Rajasa telah menyerang Sumekar se-jadi2-nya,
Sumekar akhirnya benar2 telah terdesak. Ia
tidak mempunyai ruang gerak isama sekali. Namun ia masih percaya kepada
kerisnya. Jika ia masih sempat menggoreskannya pada .tubuh Sri Rajasa, maka ia
tentu akan mati. Cepat atau lambat..
Tetapi yang menjadi benar2 diluar dugaan.
Tusukan Sumekar, yang se-akan2 merupakan kesempatan yang terbuka, ternyata telah
masuk kedalam perangkap tangan Ken Arok. Sesuatu yang tidak di-
sangka2 sama sekali telah menghentikan
setiap harapan yang pernah tumbuh didada Sumekar.
Ketika Sri Rajasa tampaknya lengah, maka
Sumekarpun segera menusuk lambung kanannya. Namun ternyata Ken Arok masih sempat
mengelak. Dan adalah diluar kemampuan Sumekar, bahwa tangan Ken Arok begitu
cepatnya menangkap pergelangan Sumekar. Yang terjadi kemudian hanyalah sekejap
saja ketika justru keris ditangannya, yang dipertahankan mati2-an meskipun
pergelangan tangannya ditangkap oleh Ken Arok, telah dihentakkan oleh Ken Arok
itu, sehingga justru telah menyentuh lengan kirinya sendiri.
“ Gila, kau gila “ Sumekar mengumpat
se-jadi2nya. Ia sadar apa yang akan terjadi atas dirinya. Karena itu, dengan
membabi buta ia kemudian mengayunkan kerisnya bagaikan orang gila melanda Ken
Arok, meskipun Ken Arok masih tetap tidak melepaskan genggamannya.
Ken Arok terkejut melihat sikap itu.
Ternyata sentuhan keris mPu Gandring pada lengan Sumekar membuatnya berputus asa
dan kehilangan segala macam harapan untuk tetap hidup.
Adalah diluar dugaan Ken Arok, maka
keputus-asaan itu membuat Sumekar memiliki kemampuan terakhir yang tidak dapat
dibayangkan. Dengan hentakan yg menyentak Sumekar berhasil melepaskan tangannya
yang memegang keris dari genggaman Ken Arok. Kemudian seperti serigala lapar ia
meloncat menerkam mangsanya.
Namun sekali lagi Ken Arok berhasil
menghindar, sehingga Sumekar sama sekali tidak berhasil menyentuhnya.
Ternyata bahwa Sumekar telah menghentakkan
segenap kekuatannya yang terakhir. Dengan demikian, ketika ia tidak berhasil
menyentuh Ken Arok dan kemudian jatuh tertehingkup, maka Sumekar sudah tidak
mampu bergerak sama sekali. Ia hanya dapat menggeliat sambil mengacungkan
kerisnya dan berkata “ Ken
Arok, kau sekarang dapat melepaskan diri
dari keris ini, tetapi pada suatu saat, kau akan disentuhnya juga. “
Dalam pada itu, Ken Arok berdiri dengan
tegang. Sekali terdengar guruh meledak dilangit, dan angin bagaikan semakin
keras bertiup. Awan yang hitam ber-gulung2 hanyut dilangit didorong oleh angin
yang kencang.
Tiba2 Ken Arok terkejut ketika ia mendengar
desir diatas dinding longkangan. Dengan gerak naluriah ia meloncat surut dan
segera mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan.
Ternyata bahwa pada saat Sumekar kehilangan
semua kekuatannya, Anusapati yang telah cukup lama mengintai perkelahian itu,
tidak sampai hati membiarkannya terbaring diam. Sebagai seorang yang merasa
dirinya dilindungi, dibantu dan bahkan yang terakhir, Sumekar telah berjuang
untuk dirinya, Anusapati tidak dapat membiarkan Sumekar mati tanpa, seorangpun
yang memperhatikannya, selain pandangan yang penuh amarah dari Sri Rajasa.
Karena itulah maka ketika Sumekar telah
sampai pada saat2 menjelang akhir hidupnya, maka Anusapati telah mengabaikan
segala macam akibat yang dapat terjadi atas dirinya.
“ Anusapati. kau “ terdengar Ken Arok
berdesis.
Anusapati telah berjongkok disamping
Sumekar. Dengan tatapan mata yang sayu ia berkata
“ Paman Sumekar, apakah yang telah terjadi
? “
Sumekar membuka matanya. Dilihatnya
Anusapati berjongkok disampingnya.
“ O, tuanku. Kenapa tuanku kemari ? “
“ Aku sedang mencari paman. Tetapi aku
tidak menemukan paman dibangsal pamanda Mahisa Agni. “
“ Maafkan tuanku. Aku telah menipu tuanku.
Aku memang tidak akan membawa keris itu kepada Mahisa Agni, tetapi aku ingin
segera menyelesaikan persoalan ini dengan
Ken Arok. Tetapi aku ternyata gagal tuanku. Ternyata Ken Arok adalah jelmaan
iblis yang paling laknat dipadang Karaii-tan. “
Anusapati berpaling sejenak. Dipandanginya
Ken Arok yang masih berdiri diam. Namun ketika ia melihat sorot mata Anusapati,
maka iapun berkata penuh kemarahan “ Jadi kau yang menyuruhnya Anusapati ? “
“ Tidak ayahanda. Seperti yang dikatakan,
ia telah menipu aku. “
Ken Arok memandang Anusapati sejenak. Lalu
dengan nada yang datar ia bertanya “ Jadi kau mendengar apa yang dikatakannya ?
“
Anusapati menjadi ragu2 sejenak. Lalu
jawabnya “ Ya ayahanda. Hamba mendengar beberapa bagian dari pembicaraan
ayahanda dengan pengalasan dari Batil. “
“ Jika orang ini bukan atas namamu, kau
tentu tidak hanya akan tinggal diam. Jika benar ia telah menipumu, maka kau
tentu akan dengan ter-gesa2 mencegahnya. “ Ken Arok berhenti sejenak, lalu “ dan
kau tidak, akan datang dengan diam2 lewat tongkangan belakang. Kau tentu akan
menemui prajurit yang mengawal bangsal ini didepan. “
“ Ampun ayahanda “ desis Anusapati “ hamba
sebenarnya memang sedang mencarinya. “
“ Kenapa kau tidak mencegahnya ketika kau
sudah mengetahui bahwa ia sudah berada disini? “
Pertanyaan itu benar2 telah membingungkan
Anusapati. Karena itu, maka ia tidak segera dapat menjawabnya.
“ Anusapati “ berkata Ken Arok “ ternyata
bahwa kau benar2 telah feeiMiianat. Jika tidak, tentu tidak akan terjadi
persoalan seperti ini. Karena itu, maka seperti kau juga rela atas kematianku,
maka akupun rela jika kau mati dilong kangan ini. “
Ken Arok “ Sumekar masih mencoba berbicara
“ sebenarnyalah tuanku Anusapati tidak bersalah. Aku telah menipunya dan
menguasai keris itu. “
“ Omong kosong. “ potong Sri Rajasa “ tentu
kalian sudah membicarakannya lebih dahulu untuk menghadapi kemungkinan seperti
ini. “
Sumekar yang semakin lemah itu akhirnya
tidak dapat lagi berbicara terlampau keras, sehingga hampir tidak terdengar ia
berkata “ Ken Arok. Aku bukan seorang yang licik seperti kau. Aku tidak membunuh
orang dengan curang, atau meminjam tangan orang lain. Aku berusaha melakukannya
sendiri atas kemauanku sendiri. “
“ Gila “ bentak Sri Rajasa “ bukan kau yang
meminjam tangan orang lain. Tetapi ternyata Anusapatilah yang berusaha meminjam
tanganmu. Tetapi sayang, bahwa kaulah yang mati, bukan aku. “
Sumekar masih akan menjawab. Tetapi
warangan keris mPu Gandring telah bekerja diseluruh tubuhnya, sehingga Sumekar
tidak dapat lagi mengucapkan sepatah katapun. Namun dengan matanya yang redup ia
masih ingin mohon diri kepada Anusapati. Ketika kilat memancar dilangit, maka
Anusapati melihat Sumekar itu tersenyum.
“ Paman, paman “ panggil Anusapati.
Tetapi Sumekar tidak dapat menjawab lagi.
Wajahnya menjadi pucat, dan akhirnya Sumekar menghembuskan nafasnya yang
terakhir.
“ Ayahanda telah membunuhnya “ desis
Anusapati.
“ Ya, aku telah membunuhnya. Bukan saja
Pangalasan dari Batil. Tetapi juga kau harus mati. “
“ Apakah ayahanda akan membunuh aku? “
” Ya, “
“ Hamba memang sudah merasa bahwa ayahanda
akan Melakukannya. Seandainya hamba tidak datang kemari malam mi,
maka ayahanda pasti akan melakukannya
besok. Hamba sudah tahu rencana itu. Pergantian prajurit yang agak mencurigakan,
kegiatan yang diluar kebiasaan, bahwa ayahanda telah memanggil paman Mahisa Apii
bersidang dipaseban besok dan semuanya yang tidak hamba mengerti, telah
menimbulkan kecurigaan hamba. “
“ Dan karena itu, kau telah menyuruh
pangalasan ini untuk membunuhku? “
“ Tentu tidak. Hamba tidak menyuruhnya
seperti yang udah. hamba katakan. “
“ Aku tidak percaya. “
” Terserah kepada ayahanda. “
“ Dan sekarang, jangan menyesal. Aku akan
membunuhmu juga. Aku tidak akan dapat dipersalahkan, karena kaw berada disini
dengan pengalasan itu. Apalagi disini ada kera mPu Gandring yang telanjang.
Setiap orang tentu akan dapat mengerti apa yang telah terjadi, sehingga semua
orangpun. mengerti, bahwa aku sekedar membela diriku. “
Anusapati menjadi ter-mangu2 sejenak.
“ Jangan menyesal, bahwa kau sudah
terperosok keda-lam kandang serigala. Kau akan mati- Dan jabatanrou akan
berpindah kepada Tohjaya. “
Anusapati tidak segera menyahut.
Dipandanginya saja wajah ayahandanya yang tegang. Namun dalam pada itu,
ter-kilas di dalam kepalanya kata2 ibunya, bahwa Sri Rajasa sebenarnya memang
bukan ayahnya. Dan justru Sri Rajasalah yang telah membunuh ayahandanya yang
sebenarnya, Akuwu Tunggul Ametung.
“ Nah, apakah sebelum matimu kau akan
mengucapkan pesan? “ bertanya Sri Rajasa.
“ Tidak ayahanda “ jawab Anusapati “ hamba
tidak akan berpesan apapun. Tetapi biarlah sebelum hamba mati', apakah hamba
boleh bertanya ? “
“ Apa? ”
“ Apakah benar ayahanda memang akan
membunuh hamba ? “
Ken Arok menjadi ragu2. Namun kemudian
sambil mengangguk ia menjawab “ Ya. Aku memang akan menyingkirkan kau yang
selama ini bagiku merupakan sepucuk duri didalam daging. “
Terasa dada Anusapati tersirap. Ternyata
bahwa rencana yang pernah didengarnya itu bukan sekedar isapan jari saja.
Sambil menengadahkan kepalanya ia bertanya
pula “ Jadi benar kata orang bahwa ayahanda memang ingin melimpahkan kedudukanku
kepada adinda Tohjaya? “ .
“ Ya. Dan tentu kau tahu sebabnya. Kau
sebenarnya .bukan anakku. Tetapi kau dengan enaknya ingin merampas bak dari
keturunanku. Akulah yang telah mempersatukan Singasari yang besar Bukan Akuwu
Tunggul Ametung. “
“ Ya ayahanda. Aku memang putera ayahanda
Tunggui Ametung yang mati terbunuh. Tentu tidak salah pula pendengaranku, bahwa
ayahanda Sri Rajasalah yang telah membunuhnya pula. “
“ Ya. Aku yang sudah membunuhnya. Karena
itu apa yang akan aku kerjakan sekarang, tidak berdiri sendiri. Kau adalah
rangkaian dari sekian banyak pembunuhan. Karena itu kau memang harus mati.
Singasari harus benar2 jatuh kedalam tangan keturunan Sri Rajasa. “
“ Ayahanda “ bertanya Anusapati “ apakah
adik-adik hamba yang lahir dari ibunda Permaisuri bukan keturunan ayahanda Sri
Rajasa ? “
Pertanyaan itu tidak diduga sama sekali
oleh Ken Arok. Karena itu ia menjadi bingung sejenak. Namun kemudian jawabnya “
Aku
berhak menentukan, siapa saja yang akan aku
angkat menjadi Putera Mahkota. “
“ Tetapi adalah menjadi ketentuan, bahwa
yang berhak menggantikan kedudukan seorang raja per-tama2 adalah putera
Permaisuri. Jika yang dimaksud bagi Singasari bukannya Anusapati, maka tentu
Mahisa – Wonga – Teleng yang berhak menggantikan ayahanda kelak, bukan Tohjaya ”
“ Diam “ bentak Sri Rajasa “ kau tidak
berhak me ngigau sekarang. Kau memang harus mati. Jika aku memberikan pengakuan
yang berangkah sudah pernah kau dengar dari ibundamu itu tentu karena kau sudah
akan mati, dan kau tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. “
“ Ayahanda benar. Hamba memang tidak akan
dapat berbuat apa2 lagi. Tetapi apakah ayahanda tidak mengeru bahwa ada pihak
yang tentu tidak akan dapat menyetujui bahwa adinda Tohjaya akan menggantikan
kedudukan ayahanda? Justru karena ayahanda mempunyai putera laki2 yang lahir
dari ibunda Permaisuri? “
“ Aku tidak peduli. Aku mempunyai
kekuasaan. “
“ Jika kekuasaan adalah bentuk penindasan
atas ketentuan yang berlaku, maka tentu orang lain tidak akan menghiraukan pula
atas ketentuan2 yang ada. Dan mereka akan cenderung mempergunakan kekerasan
untuk mencapai maksudnya daripada mengikuti ketentuan2 yang dianggap sah di
dalam negeri ini. “
“ Dan agaknya kau sudah memulainya. Kau
sudah mempergunakan kekerasan untuk menyingkirkan aku. Itukah suatu sikap yang
sesuai dengan ketentuan2 yang berlaku ? “
“ Sudah hamba katakan, bahwa hamba sama
sekali tidak menyuruhnya memasuki bangsal ini, apalagi untuk membunuh ayahanda,
karena hamba sama sekali masih belum yakin bali wa sebenarnyalah ayahanda
mempunyai rencana untuk membunuh hamba. “
“ Jangan membohong. Sekarang, jika ada yang
ingin kau pesankan katakanlah. Aku sudah mulai muak melihat wajahmu. “
“ Hamba menyadari ayahanda. Tetapi seperti
yang sudah hamba katakan, hamba tidak mempunyai pesan apapun karena pesan itu
tidak akan ada artinya sama sekali. “
Wajah Sri Rajasa terbelalak karenanya.
Katanya “ Kau memang sombong seperti ayahmu. Baiklah, jika kau memang tidak
mempunyai pesan yang lain, aku akan segera membunuhmu. Aku dapat memukul
kepalamu sampai hancur, atau dadamu sehingga seluruh isi tubuhmu akan rontok.
Akibatnya sama saja bagimu. Kau akan mati. “
“ Kenapa ayahanda tidak mempergunakan cara
seperti yang sudah ayahanda lakukan ? Sudah berapa orang yang mati terbunuh oleh
keris mPu Gandring ini ? “
Dada Ken Arok tiba2 berdesir tajam.
Dilihatnya keris mPu Gandring yang terletak ditangan Sumekar yang sudah membeku.
Namun tiba2 terbayang diwajahnya keris yang
itu jugalah yang telah mengakhiri hidup pembuatnya. Tanpa disadarinya ia mulai
ber-angan2. Dan tanpa dikehendakinya tiba2 bayangan mPu Gandring itu bagaikan
hadir dilongkangan itu. Ketika ia memandang wajah pangalasan yang mati itu,
seakan2 ia melihat kembali wajah mPu Gandring yang menyeringai menahan sakit
ketika tiba2 saja ia menusuk lambungnya dengan keris itu. Dan tiba2 saja
terbayang diwajah Anusapati itu wajah ayahandanya, Akuwu Tunggul Ametung. “
“ Pergi,-pergi “ Ken Arok tiba2 berteriak.
Namun suaranya tenggelam didalam ledakan guruh yang keras.
Anusapati menjadi termangu2 sejenak. Namun
perlahan-lahan timbul pula gejolak didalam hatinya. Jika ayahandanya terbunuh
dan meninggalkan seorang anak laki2 saja, maka apakah anak laki-laki itu akan
menyerahkan dirinya pula untuk dibunuh ? Dan kemudian jika Anusapati sudah
terbunuh, bagaimanakah nasib anak laki2nya.
Ketika Anusapati teringat kepada anak
laki2nya, yang tentu merupakan duri pula bagi Sri Rajasa, terasa hatinya menjadi
ber-debar2.
Namun dalam pada itu Sri Rajasa sudah
menggeram “ Aku bunuh kau ular kecil yang berbisa. Aku bunuh kau dengan semua
keturunanmu. “
Anusapati menjadi semakin ber-debar2. Kini
jelas baginya, bahwa ,Ken Arok memang berniat untuk memusnakan keturunan Akuwu
Tunggul Ametung. jika tidak, maka keturunan Tunggul Ametung itu benar2 akan
menjadi duri didalam dagingnya. Dan sudah terucapkan, bahwa Ken Arok yang
bergelar Sri Rajasa itu memang akan membunuhnya dan keturunannya.
“ Apakah aku akan membiarkan keturunan
Tunggul Ametung punah? “ bertanya Anusapati kepada diri sendiri.
Terbayang wajah isteri dan anaknya yang
tidak tahu menahu sama sekali tentang persoalan yang ada di Singasari itu. Dan
apakah mereka harus juga ikut menanggung akibatnya.
Dalam ke-ragu2an itulah maka ia melihat Ken
Arok melangkah maju. Tatapan matanya bukan lagi tatapan seorang Maharaja. Tetapi
sorot matanya menjadi liar, seperti liarnya Hantu yang haus akan darah.
Terasa bulu tengkuk Anusapati meremang.
Bahkan kemudian ia berdesis “ Jangan ayahanda. “
Tetapi Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa
itu tidak menghiraukan kata2 itu. Setapak demi setapak ia maju dengan jari2
tangan yang mengembang. “ Aku akan mencekik kau sampai mati. Jangan berbuat
sesuatu. Jangan sentuh keris mPu Gandring itu, supaya kau tidak mati karena
racunnya seperti pengalasan yang gila itu. “
“ Tetapi jangan bunuh anak dan isteriku. “
“ Aku akan membunuh mereka semua, termasuk
Mahisa Agni. “
“ Tidak, jangan. “
“ Aku tidak peduli. “
Jawaban yang meyakinkan itu membuat darah
Anusapati tiba2 saja bergetar. Hampir diluar sadarnya tangannya telah menggapai
hulu keris mPu Gandring.
“ Anusapati, kau akan melawan aku? Kau akan
mencoba menghindarkan diri dari keharusan yang akan berlaku atasmu?. Kau memang
harus mati, dan kau akan kehilangan darah keturunanmu, sebagai penerus nafas
kehidupan Akuwu Tunggul Ametung. “
“ Ayahanda, anak dan isteri hamba tidak
mengetahui semua persoalan ini. Jika ayahanda akan membunuh hamba, ayahanda
tidak akan mengalami kesulitan tetapi jika ayahanda berjanji, sebagai seorang
Maharaja yang tidak pemah ingkar, bahwa ayahanda tidak akan membunuh anak. dan
isteriku. juga paman Mahisa Agni. “
“ Persetan “ geram Sri Rjasa ” aku tidak
peduli. Aku akan membunuh kau dan semua keluargamu, termasuk Mahisa Agni. “
Wajah Ken Arok menjadi merah, semerah sorot
matannya yang benar2 menjadi liar.
Anusapati yang cemas menjadi semakin cemas.
Tetapi hampir diluar sadarnya ia telah menggenggam keris itu.
Anusapati mundur selangkah. Ia sudah hampir
berputus» asa. Sumekar yang membawa keris itu pula tidak dapat melawan Sri
Rajasa, apalagi dirinya yang masih belum berhasil menyempurnakan ilmunya sejauh
Sumekar.
“ Menyerahlah. Kau dan anak isterimu akan
aku bunuh malam ini juga. “ geram Sri Rajasa.
Ternyata bahwa suara itu bagaikan
membangunkan Anusapati dari mimpinya. Ia sadar, bahwa yang terjadi ini benar2
diluar rencana siapapun. Juga bukan rencana Sri Rajasa, karena Sumekar telah
mengambil sikap sendiri. Namun demikian tentu ia tidak akan dapat menyerahkan
seluruh keluarganya itu.
“ Aku harus lari dari tempat ini ” berkata
Anusapati..”se-tidak2nya aku berhasil menyelamatkan diri sampai ke-bangsal
pamanda Mahisa Agni. Persoalannya tentu akan menjadi berbeda jika ayahanda malam
ini bertemu dengan salah seorang yang ada didalam bangsal itu. Apakah ia paman
Kuda Sempana yang telah berhasil menyempurnakan diri dengan ilmunya, atau paman
Mahendra, atau ke-dua2-nya. Atau bahkan paman Witantra. “
“ Kau tidak akan dapat lari “ geram Sri
Rajasa “ semuanya sudah terjadi. Dan yang sudah terjadi tidak akan dapat dicegah
lagi. Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa, sudah menentukan, bahwa kau dan
keluargamu harus mati. Tidak ada kekuasaan dan kemampuan yang dapat mencegah. “
Anusapati terus melangkah surut, sedang Sri
Rajasa-mengikutinya dengan jari2 tangan yang mengembang.
“ Aku akan mencekikmu. Aku sendiri bukan
orang lain. Bukan para prajurit, dan bukan pula seorang Senapati.
Dada Anusapati bagaikan menjadi pepat.
Tetapi tiba2 saja tangannya yang menggenggam keris itu telah bersilang didepan
dadanya.
“ Kau akari melawan he, kau akan melawan?
Tidak ada gunanya. Itu hanya akan memperpanjang caramu mati. Dan itu sangat
merugikan kau sendiri. “
Anusapati tidak menyambut. Ia telah berdiri
didepan dinding, sehingga ia tidak akan dapat melangkah lagi. Ka-
rena itulah, maka iapun kemudian berdiri
diatas kakinya yang merenggang sambil mengacungkan senjatanya. Keris mPu
Gandring yang sudah berbau darah itu. Darah beberapa orang yang sama sekali
tidak bersalah.
Ken Arok tertegun sejenak memandang
Anusapati yang se-akan2 sudah tidak dapat bergeser lagi. Namun sorot matanya
yang bagaikan menusuk langsung kedalam jantung Pu-tera Mahkota itu membuat
Anusapati bergetar.
Kemudian selangkah demi selangkah Ken Arok
yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu melangkah maju dengan jari2
tangan yang mengembang. Anusapati baginya tidak lebih dari anak2 yang tidak
berdaya.
Dalam pada itu, Mahisa Agni sedang
me-runduk2 di-sekitar bangsal Ken Umang. Dengan hati2 ia berusaha untuk
mendekati bangsal itu. Ternyata seperti yang diduganya, bangsal itu mendapat
pengawasan yang sangat ketat. Para. prajurit tidak saja berada didepan bangsal,
tetapi juga dibagi-an belakang telah mendapat pengawasan yang seksama.
“ Tidak mudah mendekati bangsal itu,
apalagi memasukinya tanpa diketahui orang “ berkata Mahisa Agni di dalam
hatinya.
Namun demikian ia mempunyai dugaan yang
kuat, bahwa Sumekar telah datang kebangsal itu. Agaknya kebenciannya kepada
Tohjaya tidak dapat ditahankannya lagi.
“ Jika terjadi pembunuhan dibangsal ini,
maka tuduhan yang pertama tentu akan jatuh kepada Anusapati, siapakah yang telah
melakukannya. Bahkan seandainya pelakunya tertangkap, maka tentu Anusapatilah
yang disangka telah meminjam tangan untuk membinasakan Tohjaya dan barangkali
juga Ken Umang “ berkata Mahisa Agni didalam hati “ dan itu sangat merugikan
perjuangan Anusapati, 'karena setiap orang akan menyangka, bahwa Anusapati telah
melakukan perbuatan yang terkutuk itu untuk mempertahankan kedudukannya. “
Karena itulah maka Mahisa Agni mencoba
untuk berusaha menemukan Sumekar disekitar bangsal itu.
Tetapi beberapa lamanya ia berada disekitar
bangsal itu, ia sama sekali tidak melihat sesosok bayanganpun. Ia telah berada
dibagian belakang bangsal itu, yang menurut dugaannya adalah satu2nya jalan
untuk memasuki longkangan.
Namun Mahisa Agni tidak melihat seseorang-
Ia tidak melihat Sumekar memasuki longkangan, atau berada didalam longkangan
itu.
” Apakah ia tidak datang kemari? “ bertanya
Mahisa Agni didalam hatinya.
Tetapi untuk beberapa lamanya Mahisa Agni
masih menunggu. Ia masih mengharap bahwa ia dapat menemukan Sumekar disekitar
tempat itu.
“ Mungkin ia tidak segera memasuki daerah
ini “ katanya didalam hati “ atau barangkali Sumekar belum menemu-can jalan yang
paling baik untuk memasuki daerah ini. “
Untuk beberapa saat mahisa Agni masih tetap
bersembunyi sambil menunggu. Tetapi beberapa saat kemudian hatinya menjadi
cemas. Agaknya Sumekar memang tidak datang ke-tempat itu.
“ Mungkin ia langsung pergi kebangsal Sri
Rajasa “ katanya didalam had.
Dalam pada itu, hatinya menjadi bergetar.
Bahkan kemudian ia hampir pasti, bahwa Sumekar pergi kebangsal Sri Rajasa.
” Aku harus menengoknya. Jika benar ia
pergi kesans mudahkan Anusapati sempat mencegahnya. Ia agaknya dapat dilunakkan
oleh Anusapati yang hampir setiap hari dilayaninya seperti muridnya yang paling
manja.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Agnipun
berusaha meninggalkan tempat itu. Seperti pada saat ia datang, maka iapun.
harus sangat ber-hati2 ketika ia melalui
beberapa orang prajurit yang mengawasi bagian balakang dari bangsal itu.
Ketika Mahisa Agni telah berada agak jauh
dengan para penjaga itu, iapun menarik nafas dalam2, se-olah2 ia terlepas dari
terkaman serigala.
Namun iapun segera sadar, bahwa sesuatu
yang penting sedang menunggunya. Sumekar yang masih belum dapat dike-temukamrya.
Dengan hati2 sekali Mahisa Agnipun
meninggalkan bagian istana yang dihuni oleh Ken L'niang dan putera2nya itu.
Dengan penuh kewaspadaan ia meloncati dinding yang memisahkan kedua bagian dari
istana Singasari itu. Ketika kemudian la meloncat turun, maka Mahisa Agni itupun
sudah berada liibagian yang lain dari istana itu.
Setiap kali ia harus memperhatikan setiap
gerak dan bunyi. Ia sadar, bahwa penjagaan halaman istana malam itu niperkuat.
Bahkan seperti yang dikatakan oleh Sumekar, beberapa orang Senapati telah ikut
didalam penjagaan yang kuat diihalaman itu.
Mahisa Agni itupun bergeser semakin maju
mendekati pangsa! Sri Rajasa. Meskipun bangsal ini tidak dijaga sekuat Bangsal
Tohjaya, karena Sri Rajasa sendiri yakin akan dirinya dan pengaruhnya, namun
Mahisa Agni masih juga harus menembus beberapa bagian yang agak sulit.
Namun tiba2 Mahisa Agni itu tertegun.
Telinga yang tajam mendengar sesuatu berdesir tidak, begitu jauh daripadanya.
Karena itu, maka iapun berhenti. Dengan segenap kemampuannya ia berusaha
menangkap suara yang semakin Lama menjadi semakin dekat.
Beberapa saat kemudian ternyata desir yang
lembut itu berhenti. Sebagai seorang yang memiliki kemampuan yang me-empaui
kemampuan manusia biasa, maka Mahisa Agnipun mengetahui bahwa seseorang berada
tidak begitu jauh dari padanya.
Karena itu, maka Mahisa Agnipun segera
mempersiapkan kiri untuk menghadapi setiap kemungkinan. Dengan ketajaman
Inderanya, ia tahu dimana orang itu berada,
sehingga karena itu ia tidak mau menunggu lebih lama lagi. Bahkan ialah yang
kemudian bergeser mendekati.
Tetapi ternyata bahwa orang itupun berusaha
mendekatinya pula, sehingga dengan demikian Mahisa Agni dapat menduga bahwa
orang itu bukannya orang kebanyakan karena orang itu dapat pula mengetahui
kehadirannya.
Sejenak kemudian Mahisa Agni berhenti, la
sudah dapat mengetahui dengan tepat, dimana orang itu berada. Karena itu ketika
selembar daun bergetar, tidak sejalan dengan arah angin bertiup Mahisa Agni
segera bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Namun ternyata, ketika sesosok tubuh
meloncat dari batik geruinbul dan bersiap dengan tangan bersilang didada Mahisa
Agni menarik nafas dalam2. Orang itu adalah Witantra.
“ Kau Witantra ” desis Mahisa Agni.
Witantrapun berdesah lembut. Sambil
tersenyum ia berkata “ Untunglah, aku belum lari ketakutan. Jika demikian kau
tentu akan mentertawakan. “
“ Juga untung bahwa kau tidak segera
menyerang aku. sehingga aku masih sempat bernafas sekarang. “
Keduanya tertawa tertahan, karena keduanya
tetap sadar, bahwa mereka sedang menghindarkan diri dari .pengamatan para
prajurit Singasari yang sedang bertugas.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agnipun
kemudian bertanya tentang Anusapati, apakah Witantra melihatnya.
“ Bukankah ia pergi kebangsal Sri Rajasa. ”
“ Jika ia tidak menemukan Sumekar disana,
ia tentu akan bergeser pula. “
“ Aku belum melihat keduanya. Sumekar
tidak, dan tuanku Putera Mahkota juga tidak. “ jawab Witantra “ bahkan aku
menyangka bahwa kau adalah Sumekar sebelum
kau memperlihatkan diri. “
“ Jika demikian Anusapati tentu masih ada
dibangsal Sri Rajasa. Ada dua kemungkinan. Ia memang menunggu karena Sumekar
belum ada disana, atau ada persoalan lain yang gawat justru karena Sumekar sudah
terlanjur berusaha mendapatkan Sri Rajasa. “
“ Marilah kita lihat. “
Mahisa Agni ragu2 sejenak. Namun kemudian
sambil meng-angguk2 ia menjawab “ Baiklah Marilah kita lihat. “
Keduanyapun kemudian dengan sangat hari2
mencoba mendekati bangsal Sri Rajasa. Betapapun sulitnya, namun keduanya
berhasil menembus setiap daerah penjagaan para prajurit pengawal istana. Mereka
menyusup diantara gardu2 penjagaan dan setiap kali menghindari para peronda yang
mengelilingi halaman istana Singasari itu.
Akhirnya, keduanya berhasil mencapai
halaman belakang bangsal Sri Rajasa. Seperti yang lain, menurut perhitungan
mereka, yang paling mungkin mereka lakukan adalah melihat dan apabila perlu
memasuki longkangan.
Sementara itu, angin masih juga bertiup.
Sekali2 terdengar guntur dan guruh gemuruh dilangit. Namun demikian kedua orang
itu masih dapat juga membedakan desir lembut kaki mereka sendiri daripada
gemuruhnya angin yang keras.
Ketika kemudian mereka berhasil
menjengukkan kepala mereka dari sebatang pohon yang se-olah2 diayun oleh angin,
maka hati mereka berdesir. Mereka melihat orang2 yang sedang mereka cari itu
berada dilongkangan bangsal Sri Rajasa.
Yang mula-mula mereka lihat adalah sesosok
tubuh yang tekapar ditanah. Tubuh itu segera dapat mereka kenal, bahwa orang itu
adalah Sumekar.
” Terlambat “ desis Mahisa Agni tidak
seorang-pun yang dapat menyelamatkannya. Sumekar agaknya sudah, terbunuh. “
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “ Ya, kita sudah terlambat. Tetapi
dimanakah tuanku Anusapati? “
“ Mungkin iapun ada dilongkangan itu.
Mudah-mudahan kita tidak terlambat. Mudah-mudahan Anusapati belum terbaring
ditanah seperti Sumekar itu. “
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu katanya “ Kita harus mendekat. Keadaan sudah benar2 diluar dugaan kita,
sehingga kita harus mengambil sikap dengan segera menghadapi keadaan yang
tiba-tiba ini “
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya tanpa
menjawab separah katapun. Dengan sigapnya keduanyapun segera teran dari pohon
itu dan dengan hati-hati mendekati dinding bagian belakang longkangan bangsal
itu.
“ Satu-satunya jalan “ berbisik Mahisa
Agni.
“ Kita memanjat “, sahut Witantra.
Keduanyapun kemudian dengan hati-hati
sekali dan hampir tidak dapat dilihatnya bahwa keduanya sedang merayap naik pada
dinding longkangan itu. Jika mereka kehendaki, mereka dapat meloncat naik dengan
mudahnya, namun dengan demikian tentu akan menarik perhatian seseorang jika
orang itu berada dilongkangan.
Sejenak kemudian, maka merekapun dengan
sangat hati-hati mencoba untuk menjengukkan kepalanya mereka. Jika ikat kepala
mereka dapat terlihat, maka usaha mereka itupun akan gagal karenanya.
Namun darah mereka serasa terhenti, ketika
pada saat itu tampak oleh mereka, Anusapati sedang dalam kesulitan.
Yang mereka lihat adalah Sri Rajasa sudah
siap untuk menerkam Anusapati yang tidak mempunyai kesempatan untuk melangkah
surut karena punggungnya sudah melekat dinding.
Tetapi yang terjadi kemudian adalah cepat
sekali, sehingga baik Mahisa Agni, maupun Witantra tidak mempunyai kesempatan
untuk berbuat banyak.
Ketika mereka tanpa menghiraukan lagi Sri
Rajasa, meloncat keatas dinding, mereka melihat, bahwa kedua orang dilongkangan
itu sudah mulai bertempur. Sri Rajasa sudah mulai menyerang.
Hanya karena ditangan Anusapati tergenggam
keris-mPu Gandring sajalah, maka Anusapati masih dapat menghindarkan diri pada
setangan yang pertama,
Namun Anusapatipun sadar, bahwa Sumekar
dengan keris mPu Gandring itu ditangannya, sama sekali tidak berhasil
menyelamatkan dirinya. Dan sudah barang tentu Sumekar memiliki ilmu yang lebih
matang dari ilmunya sendiri
Dalam keragu-raguan atas keadaan yang
sedang dihadapinya, Anusapati tanpa sesadarnya, telah menyentuh sesuatu dibawah
ikat pinggangnya. Ternyata sentuhan itu telah mengejutkannya sendiri. Tetapi ia
tidak mendapat kesempatan banyak untuk mempertimbangkan keadaan yang sedang
dihadapi. Karena itulah maka ketika Sri Rajasa maju setapak lagi dengan tangan
terkembang, tiba-tiba ditangan Anusapati telah tergenggam sebuah trisula yang
berwarna kekuning-kuningan.
Sri Rajasa terkejut melihat Trisula itu.
Meskipun Sri Rajasa sudah menduga, bahwa akhirnya Trisula itu akan dapat jatuh
ketangan Anusapati, namun ketika tiba2 saja ta harus menghadapinya, maka iapun
masih juga terperanjat, sehingga rasa-rasanya jantungnya berhenti berdenyut.
Pada saat yang bersamaan, Witantra dan
Mahisa Agni telah meloncat kedalam longkangan. Sentuhan kakinya diatas tanah
masih dapat didengar oleh ketajaman indera Sri Rajasa disela-sela desah angin
yang semakin keras.
Ketika sekali langit seakan-akan menyala,
Sri Rajasa -dapat melihat, dengan jelas, bahwa dua orang yang datang, ini adalah
Mahisa Agni dan Witantra. Namun kemudian ia menjadi silau bukan
oleh kilat yang meloncat diudara, tetapi
oleh trisula yang seakan-akan bercahaya kekuning-Jkuningaru
Sri Rajasa mundur beberapa langkah surut.
Dengan» suara yang berat ia berkata “ Mahisa Agni, ternyata bahwa saatnya akan
tiba, kau membalas sakit hatimu karena kematian pamanmu. “
Mahisa Agni memandang Sri Rajasa yang silau
itu sejenak. Kemudian jawabnya “ Tidak Sri Rajasa.. Hamba tidak datang dengan
dendam didalam hati. Sebenarnyalah hamba datang dengan niat yang baik. Untunglah
bahwa belum terjadi sesuatu atas tuanku. Tetapi sayang, bahwa-Sumekar agaknya
telah terbunuh. “
“ Siapakah Sumekar? “ bertanya Sri Rajasa.
” Juru taman itu. “
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Katanya “
Pangalasan dari Batil “
” Ya, Pangalasan dari Batil itu bernama
Sumekar. “
Sri Rajasa memandang tubuh Sumekar yang
masih terbaring diam. Kemudian ditatapnya Anusapati yang hanya dapat dilihatnya
lamat-lamat, diantara silaunya cahaya trisula yang masih saja diacukan
kepadanya.
Dalam keadaan itulah, Sri Rajasa
seakan-akan telah dihadapkan pada suatu pengadilan. Disekitarnya berdiri
beberapa orang yang mempunyai kepentingan terhadap, dirinya. Mahisa Agni telah
kehilangan pamannya mPu Gandring, Witantra telah kehilangan adik seperguruannya,
Kebo Ijo yang telah diumpankan sebagai tertuduh pada saat terbunuhnya Akuwu
Tunggul Ametung. Kemudian Anusapati yang agaknya sudah mengetahui pula, apakah
yang telah terjadi atasnya.
“ Tuanku “ berkata Witantra “ barangkali
tuanku telah mendengar bahwa hamba memang sudah berada didalam kota Singasari. “
“ Apa maksud kedatanganmu Witantra? “
bertanya Sri Rajasa kemudian meskipun sebenarnya ia telah dapat menduga justru
karena ia datang bersama Mahisa Agni. Namun ia masih juga melanjutkannya “
Apakah ada hubungannya dengan kekalahanmu dari Mahisa Agni saat itu? “
“ Benar tuanku. Kedatangan hamba memang
mempunyai hubungan dengan kekalahan hamba waktu itu. Tetapi bukan untuk
melepaskan dendam kepada Mahisa Agni, karena pada waktu itu ia sedang diliputi
oleh kesedihan karena pamannya telah terbunuh. “
“ Jadi siapakah yang kau cari? “
“ Tidak apa-apa tuanku. Hamba hanya ingin
melihat Singasari yang sekarang dibandingkan dengan Tumapel yang kecil. Dan
barangkali setelah sekian tahun hamba dapat menemukan pembunuh Kebo Ijo yang
sebenarnya. Karena sejak semula hamba yakin bahwa Kebo Ijo tidak bersalah. “
“ Apakah kau sudah menemukannya? “
“ Ampun tuanku. Hamba sudah menemukannya
seperti Mahisa Agni juga sudah menemukan pembunuh pamannya. Selain kami berdua
agaknya Puteran Mahkota-pun telah menemukan pula pembunuh ayahandanya. “
Ken Arok mengerutkan keningnya. Namun iapun
kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “ Ya. Kalian telah menemukan
orang yang kalian cari. Dan yang kalian cari itupun telah melihat, bahwa cahaya
yang kuning keputih-putihan itu adalah cahaya keluhuran yang akan menjemput aku.
“
Mahisa Agni, Witantra dan Anusapati menjadi
ter-mangu-mangu sejenak. Dilihatnya Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu dengan
tatapan mata yang mengandung pertanyaan.
Namun Sri Rajasa itupun tersenyum sambil
berkata selanjutnya “ Kenapa kalian termangu-mangu. Bukankah sudah datang
saatnya? Dihadapan cahaya itu aku seolah-olah sudah tidak berdaya lagi. Didalam
bayangan yang silau, aku tidak akan dapat melihat
bagaimana ujung keris mPu Gandring itu akan
menyentuh kulitku. Benar-benar suatu gabungan yang tidak terlawan bagiku. Keris
mPu Gandring yang sakti dan cahaya yang kuning silau itu. Apalagi disini berdiri
orang-orang Sakti seperti Mahisa Agni dan Witantra. “
“ Tuanku. Jangan berhayal terlampau jauh.
Sebenarnyalah kami tidak membawa dendam diliati atas kematian-kematian itu. Kami
hanya ingin meyakinkan bahwa sebenarnyalah kami telah menemukan pembunuh dari
orang-orang yang kami cintai. Tetapi setelah itu, kami tidak akan berbuat
apa-apa. “
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Lalu
katanya “ Jadi apakah yang kalian kehendaki? “
Kami memang sedang mencari pangalasan ini
dengan harapan untuk mencegah sesuatu yang dapat terjadi. Tetapi kami terlambat.
Anusapati juga agaknya telah terlambat. “
“ Kalian telah menyuruhnya memasuki bangsal
ini. “
“ Tidak tuanku. Hamba berkata sebenarnya.
Jika kami memang menghendakinya, kenapa kami tidak datang sendiri dengan trisula
itu sekaligus? “
Namun Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa
itupun tersenyum pula. Kesan diwajahnya telah berubah sama sekali. Matanya tidak
lagi liar dan wajahnya tidak menjadi bengis.
“ Anusapati “ berkata Sri Rajasa “ ternyata
bahwa semuanya memang harus berakhir. Ceritera tentang Sri Rajasa yang berhasil
duduk diatas Singasari beralaskan mayat dan darah inipun memang harus berakhir.
Aku tahu, sejak aku duduk diatas Singasari, aku sudah menduga bahwa singgasana
itu bagaikan bara api yang akan membakarku dan akan membakar siapa saja yang
akan duduk diatasnya apabila ia memang tidak dilindungi oleh dewa-dewa. Itulah
sebabnya, maka sepeninggalku, berhati-hatilah. Tentu tidak ada orang lain yang
akan diangkat untuk duduk diatas Singgasana itu selain Anusapati. Mudah-mudahan
kau mendapat perlindungan Anusapati, sehingga kau tidak mengalami nasib seperti
nasibku. ?”
“ Hamba tidak ingin berbuat sesuatu saat
ini ayahanda. Biarlah ayahanda tetap duduk diatas Singgasana Singasari. “
“ Jangan berkata begitu Anusapati. Kau
ternyata sudah menyiksa aku dengan sikapmu itu. Aku lebih senang melihat kau
marah dan menghujamkan keris itu didadaku selagi aku silau melihat cahaya
trisula itu. Tetapi kau tidak berbuat demikian. Kau berbuat seperti seorang yang
berhati putih. Kau seakan-akan tidak mendendam meskipun kau tahu bahwa aku telah
membunuh ayahmu yang sebenarnya seperti Mahisa Agni juga seolah-olah tidak
mendendam karena aku sudah membunuh mPu Gandring dan juga adik seperguruan
Witantra. Kenapa kau tidak bersama-sama dengan Mahisa Agni dan Witantra
membunuhku saja? “
Anusapati tidak dapat menjawab pertanyaan
itu. Namun sebenarnyalah nafsunya untuk melihat Sri Rajasa binasa seperti yang
menyala sesaat ketika ia melihat Sumekar bertempur melawan Sri Rajasa itu telah'
lenyap.
“ Anusapati, jangan menyiksa dengan pameran
kebesaran jiwa dan keluhuran budi seperti itu. Aku pernah membunuh orang-orang
yang aku anggap dapat menghalangi usaha untuk merebut tahta Tumapel waktu itu.
Kenapa kau tidak berbuat serupa, membunuh aku, karena selama aku masih ada, aku
tidak akan menyerahkan tahta Singasari kepadamu. “
“ Ayahanda adalah Maharaja Singasari. jika
memang itu keputusan ayahanda, maka aku akan melepaskan kedudukanku sebagai
Putra Mahkota. “
“ Omong kosong. Aku tidak percaya. Didalam
keadaan seperti ini kau memang berusaha menyiksaku, menyakiti hatiku karena aku
akan merasa terlampau kecil berhadapan dengan kau yang berjiwa samodra, yang
menampung segala macam perasaan didalam hatimu. Tetapi terbuatlah jujur. Kau
tentu ingin melihat aku mati. “
Tetapi Anusapati menjawab “ Tidak. Tidak
ayahanda. Hamba tidak ingin membunuh. “
“ Gila, kau gila dan tidak jujur. Orang
gila biasanya berbuat sesuai dengan gerak perasaannya tanpa kendali. Tetapi kau
adalah orang gila yang berpura-pura. “
Anusapati menjadi bingung. Ketika ia
memandang Mahisa Agni sejenak, maka dilihatnya keningnya berkerut-merut dalam
sekali,
“ Cepat, lakukan. Aku tidak dapat melihat
kau dengan jelas. Aku tidak dapat melihat keris itu. “ berkata Sri Rajasa.
Tetapi Anusapati masih tetap berdiam diri.
“ Anusapati, jangan berdiri saja seperti
patung. Sebentar lagi para prajurit didepan bangsal ini akan meronda sampai
keiongkangan ini. Lebih baik kau bunufa akiT sekarang, selagi suara kita tidak
didengar oleh mereka karena angin dan guruh yang terus-menerus. Rupa-rupanya
alampun telah siap membawa jiwaku kembali kepada penciptanya, setelah aku
menunaikan tugasku mempersatukan Singasari. ?”
“ Ah “ terdengar Anusapati berdesis.
“ Cepat “ sekali lagi Sri Rajasa menggeram.
Dan tiba-tiba saja Sri Rajasa itulah yang meloncat menyerang Anusapati.
Yang terjadi itu benar-benar mengejutkan.
Mahisa Agni dan Witantra tidak sempat berbuat apa-apa. Mereka melihat Sri Rajasa
bagaikan tatit yang meloncat dilangit.
Demikian pula Anusapati. Ia sama sekali
tidak sempat berpikir. Ketika ia melihat Sri Rajasa meloncat menyerang nya, maka
dengan gerak-gerak naluriah ia mempertahankan dirinya. Karena ia tidak dapat
bergeser mundur lagi, maka hampir diluar sadarnya ia telah mempergunakan
kerisnya.
Sebenarnyalah bahwa Ken Arok yang bergelar
Sri Rajasa itu benar-benar telah disilaukan oleh cahaya trisula kecil ditangan
Anusapati itu. Trisula yang pernah pula dilihatnya ketika ia masih bertualang
dipadang Karautan. Seolah-olah Trisula ku telah memperingatkan kepadanya apa
yang pernah terjadi dan apa yang pernah dilakukan olehnya dipadang Karautan itu.
Juga atas seorang
tua yang seakan-akan telah membimbingnya
untuk mengenal Yang Maha Agung meskipun sebelumnya ia pernah merasakan
pertolongan tangan-Nya yang Maha Kuasa.
Itulah sebabnya selain mata wadagnya yang
silau oleh trisula kecil ditangan Anusapati, maka mata hatinyapun telah menjadi
silau pula melihat dosa-dosa yang pernah dilakukannya sendiri.
Dengan demikian, maka Ken Arok yang
bergelar Sri Rajasa itu sama sekali tidak melihat, bagaimana Anusapati berbuat
diluar sadarnya, mengacungkan keris buatan mPu Gandring itu untuk menahan
serangannya.
Jika Anusapati berbuat demikian, ia berniat
untuk sekedar mengurungkan serangan Ken Arok yang bagaikan tatit itu. Namun
Anusapati tidak tahu, bahwa sebenarnyalah Ken Arok tidak dapat melihat ujung
keris yang mengerikan itu.
Didalam kesilauannya, tiba-tiba saja terasa
oleh Keh Arok ujung keris ditangan Anusapati itu telah menyentuhnya. Sejenak ia
berdesis dan meloncat surut. Namun kemudian dipandanginya luka dilengannya itu
sejenak sambil berkata “ Ternyata telah datang saatnya. “
“ Ayahanda “ desis Anusapati.
“ Jangan mendekat Anusapati “ berkata Sri
Rajasa ?” aku adalah ujud dari kekasih Dewa yang melakukan tugasku dibumi,
tetapi aku juga ujud daripada dosa yang paling besar dimuka bumi ini. Jika kau
mendekati aku, maka tanganku yang berlumuran dosa ini tentu akan meremaskan
menjadi debu. Biarlah kebesaran kasih Dewa yang ada padaku menyelamatkan kau
dari kehancuran itu. “
Kata2 Sri Rajasa itu ternyata telah
menggetarkan hati setiap orang yang mendengarkanya. Anusapati menjadi
termangu-mangu sejenak. Sedang Mahisa Agni dan Witantra bagaikan membeku
diternpatnya.
Namun seperti permintaan Ken Arok yang
bergelar Sri Rajasa.itu Anusapati sama sekali tidak mendekat ketika kemudian Sri
Rajasa
berlutut sambil bertelekan dengan kedua
tangannya. Sekali-Sekali ia meraba lukanya. Luka karena ujung keris mPu
Gandring.
Tubuh Sri Rajasa semakin lama menjadi
semakin lemah. Didalam keremangan cahaya malam dan lampu di-kejauhan, Sri Rajasa
memandang Mahisa Agni, Witantra dan Anusapati yang berdiri mematung.
“ Jangan bingung “ berkata Sri Rajasa “
memang sudah waktunya aku mati. Aku tidak akan berteriak memanggil para prajurit
yang sedang bertugas didepan bangsal ini. Mereka tidak akan tahu apa sebabnya
aku mati. “ Ken Arok berhenti sejenak, lalu “ tetapi bawalah pangalasan itu
keluar dari bangsal ini. Apapun alasannya, kehadiran seseorang dibangsal ini
akan menimbulkan banyak pertanyaan. Dan Anusapati tidak akan dapat
Terbuat banyak disini, karena jika
demikian, kehadiran-nyapun mencurigakan pula. “
“ Jadi apa yang harus hamba lakukan? “
tiba-tiba saja Anusapati bertanya.''
“ Bawalah pangalasan itu kebangsahnu. Kau
dapat mengatakan kepada siapapun juga, bahwa peristiwa ini Idalah peristiwa yang
tidak ada sangkut pautnya dengan perkembangan keadaan akhir2 ini diLstana
Singasari. “
“ Maksud ayahanda? “
“ Pangalasan itu telah membunuh aku karena
sakit hati. Kemudian akan membunuhmu pula. Tetapi kau berhasil membinasakannya.
Itulah ceriteranya. Dan mudah-mudahan orang-orang Singasari mempercayainya dan
memberikan hakmu atas tahta, Anusapati. Sebab jika ada yang mencurigaimu
memasuki bangsal ini, maka akan timbul persoalan yang berkepanjangan, karena kau
tahu, aku mempunyai seorang anak laki-laki yang ingin aku tempatkan diatas tahta
pula. “
“ O “ terasa kerongkongan Anusapati menjadi
panas.
Namun tiba-tiba Putc-ra Mahkota itu
terkejut ketika ia mendengar Sri Rajasa mengumpat “ Jahanam, jahanam kau
Anusapati. Tentu kau yang menyuruh pengatasan itu membunuh aku. Agaknya kau
sudah tahu rencana yang aku susun sebiak-baiknya untuk membinasakan kau dan
Mahisa Agni. Dengar, bahwa Tohjaya tidak akan merelakan pembunuhan ini terjadi.
“
“ Tetapi, tetapi hamba tidak pernah
berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membunuh ayahanda. Memang kadang-kadang
terbersit ingatan untuk melakukannya. Namun hamba selalu berhasil
mengendalikannya. “
“ O “ kepala Ken Arok seakan-akan terkulai.
Tubuhnya menjadi semakin lemah. Katanya “ Ya, kau memang tidak bersalah. Karena
itu, lakukanlah pesanku, agar kau tidak dicurigai oleh siapapun. Agaknya memang
keturunan Ken Dedes yang pantas untuk menggantikan kedudukanku di Singasari ini.
Anusapati tidak segera menjawab.
Dipandanginya saja Sri Rajasa yang semakin lama menjadi semakin lemah. Namun
yang tiba-tiba telah mengumpat sekali lagi “ O, kau telah berkhianat Anusapati.
Meskipun aku bukan ayahandamu sendiri, tetapi sejak lahir kau berada dibawahi
asuhanku. akulah yang memberikan kedudukan kepadamu sebagai seorang Putera
Mahkota. “
Sri Rajasa yang lemah itu seakan-akan ingin
meloncat dan meremas Anusapati menjadi berkeping-keping.
Tetapi tubuh itu benar-benar sudah sangat
lemah oleh racun yang keras dari keris mPu Gandring itu. Semakin lama Sri
Rajasa, Maharaja di Singasari itu menjadi semakin tidak mampu lagi untuk tetap
duduk. Akhirnya, perlahan-lahan Sri Rajasa seakan-akan telah membaringkan
dirinya sendiri sambil berkata “ Aku minta diri. Tidak ada yang pantas menunggui
kematianku selain kau Anusapati. Kau yang berjiwa samodra dan berhati seputih
kapas. “ namun kemudian “ tetapi, justru itulah yang menyiksaku, yang membuat
aku ingin membunuhmu sekarang. “ suaranya mulai surut, lalu “ jangan mendekat
Anusapati. Tungguilah aku dari kejauhan.
Sarungkan trisulamu supaya aku dapat menatap wajahmu, karena, trisula itu
membuat mataku bagaikan buta. “
Anusapati ragu-ragu sejenak. Namun ketika
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, maka trisula itupun disarungkannya
juga.
“ Hem “ Sri Rajasa bergumam “ terima kasih.
Aku minta diri. Tetapi jangan mendekat. Jangan sampai tersentuh jari-jari
tanganku. “
Anusapati melangkah maju. Tetapi ia tidak
dapat mengabaikan pesan Sri Rajasa.
Sejenak kemudian Sri Rajasa itu
menyilangkan tangan didadanya. Matanyapun terpejam dan mulutnya terkatub rapat.
Bahkan bibirnya tampak bagaikan tersenyum, seperti juga bibir Sumekar yang
terbaring tidak jauh dari Sri Rajasa itu.
Pada saat terakhir masih terdengar suara
Sri Rajasa lamat-lamat. “ Jahanam kau Anusapati kau telah berhasil merebut tahta
yang aku sediakan buat Tohjaya. “
Namun sejenak kemudian ia berdesah “ Hanya
kau yang pantas menggantikan kedudukanku Anusapati. Hanya kau. Aku serahkan
kekuasaan Singasari sepenuhnya kepadamu, kepada keturunan Ken Dedes yang
memiliki pertanda langsung dari Dewa-dewa bahwa ia akan menurunkan Maharaja bagi
Singasari. Bukan Ken Umang. Bukan Tohjaya tetapi Anusapati. “
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu sudah
berbaring bagaikan tidak bernyawa lagi. Namun masih terdengar suaranya meskipun
bibir itu sudah tidak bergerak “ Anusapati, kau adalah jahanam yang pantas
menjadi seorang Maharaja. “
Anusapati yang berdiri tegak itu masih
termangu-mangu, Hatinya tersentuh juga mendengar kata-kata Sri Rajasa yang
seakan-akan tidak diucapkan oleh mulutnya. Dan Anusapatipun memang tidak dapat
ingkar, bagi Sri Rajasa, ia adalah jahanam yang akan
menggantikan kedudukannya. Tidak ada orang
lain yang lebih berhak daripada dirinya untuk menggantikan kedudukan Sri Rajasa
pada waktu itu.
Dalam pada itu, longkangan itupun menjadi
sepi. Dengan hati yang tegang mereka memperhatikan Sri Rajasa yang terbaring
diam dengan tangan bersilang didada dan mata terpejam.
Namun tiba-tiba saja tetasa dada ketiga
orang itu bergetar. Mereka dapat melihat dengan jelas, bahwa dari ubun-ubun Ken
Arok itu seakan-akan meluncur perlahan-lahan sebuah cahaya yang berwarna
kemerah-merahan. Bagaikan gumpalan warna yang sangat ringan, maka cahaya yang
kemerah-merahan itupun terapung diudara-dan sejenak kemudian seolah-olah
dihembus oleh mulut bumi, sehingga cahaya itupun terbang keangkasa. Semakin lama
semakin tinggi dan akhirnya hilang dikebiruan wajah langit.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Sudah-pernah ia melihat cahaya itu diubun-ubun Ken Arok yang; bergelar Sri
Rajasa. Agaknya memang sudah datang saatnya Ken Arok yang kemudian bergelar Sri
Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu kembali keasalnya setelah beberapa lama ia
melakukan tugasnya dibumi.
Perlahan-lahan ketiga orang itupun kemudian
melangkah mendekatinya. Yang kemudian ada dihadapan mereka memang tidak ubahnya
sebagai tubuh manusia sewajarnya apabila ajal telah tiba. Karena Ken Arok yang,
tinggal itu adalah Ken Arok dalam bentuknya yang wadag.
“ Ia memang ujud dari kasih dewa atas
Singasari,. tetapi juga ujud yang paling mengerikan dari iblis yang paling
laknat “ berkata Mahisa Agni kemudian.
“ dan itu pulalah sikapnya atasmu
Anusapati. Ia menganggapmu sebagai penggantinya, sebagai saluran kasih dewa-dewa
atas Singasari, namun ia memandangmu sebagai orang yang paling mengganggu nafsu
ketamakan-nya. Dan tanggapan itulah yang tampak pada saat akhirnya. Ia ingin
menyerahkan Singasari kepadamu, namun sekaligus ingin meremasmu menjadi debu. “
Anusapati hanya dapat menundukkan
kepalanya.
“ Nah, sekarang Anusapati. Kau dapat
melakukan pesannya. Bawalah Sumekar kebangsalmu. Dan tentu saja kita akan minta
izin kepada Kuda Sempana, kakak seperguruannya, bahwa meskipun Sumekar sudah
meninggal, kau masih akan minta bantuannya. Dengan nama Pangalasan Batil, ia
harus mengorbankan bukan saja jiwanya, tetapi juga nama itu, karena setiap orang
akan menyangka, bahwa ialah pembunuh Sri Rajasa, dan kemudian pergi kebangsalmu
untuk membunuhmu juga, tetapi kau berhasil membinasakannya lebih dahulu “-
Anusapati masih menundukkan kepalanya.
Bahkan kemudian terasa betapa matanya menjadi panas. Sumekar adalah seorang yang
sangat baik kepadanya. Orang yang seakan-akan telah mewakili pamannya Mahisa
Agni apabila pamannya itu tidak ada di Singasari. Justru karena itu, maka iapun
ikut terlibat didalam persoalan yang ttumbuh didalam keluarga besar dari Sri
Rajasa. Sumekar seakan-akan terlibat dalam perebutan pengaruh antara. Anusapati
dan Tohjaya. Dan itulah sebabnya, maka Sumekar telah hanyut pula didalam arus
kebencian kepada Sri Rajasa. Bahkan melampaui dirinya sendiri sehingga ia tidak
dapat mengendalikan perasaannya dan dengan keris mPu Gandring yang sakti itu ia
ingin membinasakan Sri Rajasa. Namun Sri Rajasa bukannya manusia sewajarnya. Dan
itulah sebabnya Sumekar tidak berhasil menyentuhnya dengan keris itu, justru
dirinya sendirilah yang terbunuh karenanya.
Dan sekarang mayat itu harus dihinakan
sebagai seorang pembunuh.
Sulit bagi Anusapati untuk memenuhinya.
Terkenang olehnya ceritera tentang Kebo Ijo yang sama sekali tidak bersalah,
namun harus menebus dengan nyawa dan
namanya ketika Akuwu Tunggul Ametung
terbunuh.
“ Aku tahu keberatanmu Anusapati “ berkata
Mahisa Agni “ karena itu, maka sebaiknya kita menemui Kuda Sempana. Kakak
seperguruan Sumekar. Kita mendengar pendapatnya. “
“ Jadi, bagaimana dengan tubuh paman
Sumekar. ini? “ bertanya Anusapati.
“ Biarlah kita bawa lebih dahulu kelongkang
bangsalmu. “
Anusapati menganggukkan kepalanya. Ia
memang tidak dapat tinggal dtbangsal Sri Rajasa terlampau lama. Jika para
prajurit kemudian meronda kebagian belakang bangsal ini, maka mereka akan
menemukannya dan harus bertempur lagi. Jika ia salah langkah maka ia akan
membunuh bukan saja satu dua orang, tetapi beberapa orang. Apalagi jika kemudian
timbul pertentangan terbuka.
“ Baiklah paman “ berkata Anusapati
kemudian “ aku akan mencoba membawa tubuh paman Sumekar.
Tentu cukup berat. Kami akan membantumu.
Jika kita tidak harus menyusup diantara pengawasan para pra jurit, maka tidak
akan terlampau sulit kiranya Tetapi sekarang kita harus menerobos pengawasan
para prajurit.
Demikianlah maka dengan susah payah, ketiga
orang itu berhasil membawa Sumekar keluar dari dinding bangsal Sri Rajasa.
Dengan susah payah pula mereka berhasil membawa lewat rimbunnya tumbuh-tumbuhan
perdu di halaman istana Singasari dari bangsal Sri Rajasa, sampai kebangsal
Putera Mahkota.
Malam itu juga Kuda Semparta, Mahisa Agni
dan Witantra terpaksa melepaskan Sumekar menjadi seorang pengkhianat dengan nama
Pangalasan Batil. Tetapi ia bagi Anusapati adalah seorang yang paling baik, yang
telah mempertaruhkan nyawanya untuk kepentingannya, meskipun caranya kurang
disetujui. Namun niat terkandung didalam hati Sumekar adalah menempatkannya pada
kedudukan yang paling tinggi di Singasari.
Setelah semuanya dibicarakan dengan masak,
dan setelah Mahisa Agni, Kuda Sempana dan Witantra dengan dada yang
berdebar-debar menunggu dibangsalnya, apa yang akan terjadi diistana itu, maka
mulailah Anusapati memainkan peranannya.
Lebih dahulu ia berbisik ditelinga Sumekar
“ Maafkan aku paman. Aku sama sekali tidak berniat jelek. Kau bagiku adalah
seorang pahlawan. Bukan saja dikala hidup paman, tetapi juga sesudah paman
meninggal. “
Maka kemudian terjadilah keributan
dibangsal itu. Beberapa orang prajurit yang bertugas itupun berlari-larian
dengan senjata telanjang.
Keributan itupun segera menjalar kesegenap
halaman istana Singasari. Benar-benar diluar rencana yang sudah disusun oleh
beberapa orang Senapati. Tiba tiba saja seorang telah menyusup kedalam bangsa!
Anusapati dan mencoba membunuhnya. Namun ternyata usaha ini gagal, dan bahkan
orang yang dikenal sebagai pangalasan Batil itu telah mati terbunuh.
“ Cepat, lihat kebangsal ayahanda Sri
Rajasa “ Ini kata Anusapati “ pangalasan ini telah menyebut-nyebut nama
ayahanda. Ia akan membunuh ayahanda pula setelah membunuh aku, atau sebaliknya.
“
Halaman istana itu menjadi semakin gempar
setelah ternyata Sri Rajasa diketemukan telah meninggal dilong-kangan
bangsalnya, terbujur seperti orang tidur dengan tangan bersilang dan mata
terpejam.
Dalam keributan itulah Mahisa Agni telah
muncul pula dihalaman. Ternyata bahwa ia memiliki wibawa yang cukup bagi para
Senapati, meskipun mereka yang telah disiapkan untuk menangkapnya besok.
“ Tutup semua gerbang. “ perintah Mahisa
Agni.
Maka tidak seorangpun yang dapat lolos lagi
dari dinding istana. Namun Kuda Sempana, Witantra dan Mahendra sudah berada
diluar dinding.
Dalam pada itu, Anusapati yang masih
menggenggam keris telanjang memberikan aba-aba pula. Hampir diluar sadarnya para
prajurit yang dipersiapkan untuk membunuh Putera Mahkota itu justru melakukan
segala perintahnya.
“ Periksa setiap orang yang mencurigakan.
Aku tidak yakin bahwa pangalasan ini berdiri sendiri. “
Kegemparan itu benar-benar telah
mengguncangkan istana Singasari. Bahkan dalam sekejap, berita tentang
terbunuhnya Sri Rajasa itu telah menjalar keseluruh kota. Setiap orang yang
mendengar berita itu, segera mengetuk pintu rumah tetangganya dan menceriterakan
apa yang didengarnya, sehingga dengan demikian maka berita kemati-an Sri Rajasa
Batara Sang Amurwabumi segera menjalar.
Jenazah Sri Rajasa itupun segera diusung
masuk ke-dalam bangsalnya. Permaisuripun segera mendengar apa yang telah
terjadi. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa iapun pergi kebangsal Maharaja
Singasari itu.
Ketika tampak olehnya jenazah itu, terasa
kepala Ken Dedes menjadi pening. Jenazah itu tidak ubahnya seperti jenazah Akuwu
Tunggul Ametung, Dibeberapa tempat tampak noda kebiru-biruan, meskipun wajah Sri
Rajasa itu seakan-akan sama sekali tidak berubah seperti disaat ia tidur.
Ken Dedespun segera mengetahui, apakah yang
sudah terjadi. Ternyata bahwa keris mPu Gandring telah melukai Sri Rajasa
seperti keris itu telah melukai pula Akuwu Tunggul Ametung.
Bayangan yang bercampur baur itu membuat
kepala Ken Dedes menjadi semakin pening. Pandangannya menjadi berkunang-kunang.
Dan sejenak kemudian, Ken Dedes tidak mengetahui apakah yang telah terjadi.
Permaisuri itupun menjadi pingsan. Beberapa
orang emban menjadi kebingungan. Dengan segala macam cara mereka berusaha untuk
menolong Permaisuri itu.
Dalam pada itu, Ken Umangpun bergegas
datang pula kebangsal itu. Ketika ia datang, ternyata Permaisuri sudah dibawa
menyingkir untuk mendapat pertolongan.
Yang terdengar adalah jerit yang menyayat.
Ken Umang menelungkup dibawah jenazah Sri Rajasa. Tangis nya bagaikan bendungan
yang pecah. Sedang yang ter selip diantara suara isaknya adalah ratapan yang
pedih. ”Tuanku, kenapa Tuanku, sampai hati meninggal kah hamba dan putera -
putera tuanku. Justru dalam saat-saat perjuangan putera tuanku sedang memuncak.
Dengan demikian, maka lenyaplah segala harapan hamba, bahwa hamba akan dapat
menurunkan seorang Maharaja yang akan berkuasa di Singasari. “
Tidak ada yang mendengar ratap itu selain
seorang emban yang sedang mencoba menghiburnya. Ratapan itu diucapkannya terlalu
lirih. Orang2 yang sedang menunggui jenazah itupun sama sekali tidak mendengar
dengan pasti kata-kata yang diucapkannya. Namun emban itu sempat juga mengurut
dadanya. Ternyata yang paling menyedihkan bagi Ken Umang bukan kematian Sri
Rajasa. Tetapi adalah karena cita-citanya untuk menurunkan seorang Maharaja
telah gagal karenanya.
Dalam pada itu, para prajurit dihalaman
istana masih sibuk memeriksa setiap sudut halaman. Mereka mencoba untuk
menemukan orang yang mencurigakan, yang barangkali adalah kawan dari pangalasan
dari Batil itu.
Tetapi tidak seorangpun yang pantas
dicurigai. Yang ada didalam halaman itu adalah prajurit-prajurit yang justru
telah dipersiapkan oleh orang-orang yang ditentukan, untuk tujuan yang sama
sekali berbeda dari apa yang celah terjadi.
Ternyata yang telah terjadi itu
menghapuskan semua rencana dikepala beberapa orang Senapati itu. Dihadapan
Mahisa Agni, seorang Senapati Agung Singasari, mereka itu menjadi bingung.
Apalagi ketika kemudian hadir beberapa orang Panglima dan Senapati yang tidak
tahu me nahu tentang rencana itu.
Akhirnya, ketika matahari kemudian terbit
di Timur, sidang di bangsal paseban telah dipimpin langsung oleh Putera Mahkota
didampingi oleh Senapati Agung yang menjadi wakil Mahkota di Kediri. Didalam
sidang itu telah ditetapkan kesimpulan bahwa seorang pengalasan telah membunuh
Sri Rajasa dan kemudian berhasil dibunuh oleh Anusapati, Putera Mahkota
Singasari. Dan sidang itupun telah menetapkan upacara yang akan dilakukan untuk
menyempurnakan jenazah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.
Namun demikian, meskipun sidang itu
sependapat, bahwa pangalasan Batil telah membunuh Sri Rajasa dan kemudian
terbunuh oleh Anusapati, tetapi ternyata bahw«i Tohjaya tidak dapat menerima
keputusan itu didalam hatinya. Dengan beberapa orang kepercayaannya ia
menetapkan, bahwa pangalasan dari Batil itu telah mendapar perintah dari
Anusapati untuk membunuh Sri Rajasa, te tapi kemudian pangalasan itu telah
dibunuh sendiri oleh Anusapati, agar rahasia pembunuhan itu tidak akan pernah
didengar oleh orang lain.
Tetapi pengaruh Anusapati dan Mahisa Agni
ternyata lebih besar dari pengaruh Tohjaya. Karena itulah kemudian para pimpinan
pemerintahan menetapkan, Anusapati menggantikan kedudukan ayahanda Sri Rajasa
Batara Sang Amurwabumi yang telah gugur didalam jabatannya.
Dalam pada itu, dengan diam-diam Anusapati
berhasil menyingkirkan tubuh Sumekar yang telah mengorbankan segalanya untuknya.
Sejak hidupnya, masa-masa mudanya, masa-masa menjelang usia pertengahan dan
kemudian bahkan nyawanya dan bahkan namanya. Atas kehendak Anusapati, maka
jenazah Sumekarpun telah disempurnakan sebaik-baiknya oleh kakak seperguruannya
di padepokannya.
Namun kejutan peristiwa itulah agaknya yang
membuat kesehatan Ken Dedes menjadi semakin mundur. Namun demikian ia masih
sempat menunggui puteranya memerintah Singasari yang besar.
Tetapi yang terjadi bukannya akhir dari
pemerintahan yang damai di Singasari.
-ooo00ooo-